Ceritasilat Novel Online

Kemelut Blambangan 4

Eps 4 Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo.

Sebaliknya kalau kita mengalami sesuatu, baik maupun buruk, itu adalah buah daripada pohon yang kita tanam sendiri.

"Para Bibi, Paman, dan saudara sekalian! Jangan memuja dan berterima kasih kepada aku, melainkan selalu pujalah dan berterima kasihlah kepada Gusti Allah. Aku mohon pamit akan meninggalkan dusun ini melanjutkan perjalanan hidupku. Selamat tinggal!"

Setelah berkata demikian Maya Dewi berjalan keluar dari pendopo, diikuti oleh Lurah Ganjar bersama semua keluarganya.

Setelah tiba di luar pekarangan dan hendak meninggalkan dusun Sampangan, semua penduduk mengantar Maya Dewi dan banyak di antara para wanita dusun itu menangis!

Anak-anak kecil pun mengikuti sehingga peristiwa ini amat mengharukan hati Maya Dewi, memperkuat keyakinannya bahwa hanya kalau dalam hidup ini dipenuhi kasih sayang yang melahirkan tindakan baik terhadap orang lain, maka hidup terasa berbahagia sekali.

Setelah tiba di luar gapura dusun dan melihat para penduduk masih juga mengikutinya walaupun ia sudah minta agar mereka mengantar sampai disitu saja, Maya Dewi berkata lantang.

"Selamat tinggal!"

Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat dan lenyap dari situ.

Ketika semua orang mencari-cari, mereka melihat bayangan Maya Dewi sudah jauh sekali dan sebentar kemudian lenyap di sebuah tikungan.

Dipimpin Lurah Ganjar, penduduk kembali ke dusun mereka dan merasa kehilangan.

Setelah berlari cepat sampai jauh meninggalkan Dusun Sampangan Maya Dewi kini berjalan santai.

Tentu saja ia tidak mau terlihat orang selagi ia berlari cepat, karena hal itu akan menarik perhatian orang.

Ia melangkah dalam perjalanannya menuju ke timur karena ia mengambil keputusan untuk pergi ke Pasuruan.

Ia tertarik mendengar bahwa Kadipaten Blambangan hendak menyerbu Pasuruan dari Lurah Ganjar tadi.

Ia akan mengikuti jejak Bagus Sajiwo, yaitu membela Kerajaan Mataram di mana ia sudah melakukan banyak kejahatan yang merugikan Mataram.

Ia hendak menebus semua kejahatannya itu dengan membela Mataram apalagi mendengar bahwa mungkin sekali Blambangan dibantu oleh Kumpeni Belanda.

Kini ia mempunyai perasaan tidak suka kepada Belanda dan ia mengerti bahwa Belanda sedang berusaha untuk memperluas kekuasaannya di Nusa Jawa.

Hal ini harus ditentang dan mengingat bahwa yang gigih menentang Belanda hanya Mataram, maka ia akan mendukung Mataram.

Ketika datang perasaan kesepian mengganggunya, ia merasa lemas.

Semenjak berpisah dari Bagus Sajiwo, ia merasa seolah kehilangan segala-galanya, ia merasa kesepian, tidak mempunyai siapa-siapa lagi, hidupnya kosong tanpa arti.

Ingin Maya Dewi menangis kalau ia teringat akan Bagus Sajiwo dan membayangkan pemuda itu mengeluarkan kata-kata yang lembut dengan sikap yang amat ramah dan akrab kepadanya.

Akan tetapi ketika ia mengingat kembali banyak ucapan pemuda itu yang berkesan dalam hatinya, ia teringat ucapan Bagus Sajiwo tentang kemilikan dan kemelekatan.

Kita manusia ini sesungguhnya tidak memiliki apa-apa, demikian antara lain Bagus Sajiwo berkata.

Segala sesuatu di alam mayapada ini adalah milik penciptanya, yaitu Gusti Allah, Sang Maha Pencipta.

Keluarga kita, harta benda kita, apa saja yang ada pada kita, adalah milik Gusti Allah.

Bahkan badan kita sendiri bukanlah milik kita!

Bagaimana dapat dikatakan milik kita kalau sehelai rambut pun kita tidak dapat menguasainya, tidak dapat mengatur pertumbuhannya?

Semua milik Gusti Allah, milik Yang Menciptakan sehingga setiap saat kalau Dia menghendaki, dapat Dia ambil, berpisah dari kita.

Siapa yang mampu mencegah datangnya kematian, kalau Dia Yang Maha Memiliki berkenan mengambil milikNya?

Kita tidak memiliki apa-apa.

Kita hanya mempunyai.

Punya yang sifatnya seperti pinjam.

Kita hanya meminjam semua yang ada pada kita ini, termasuk badan kita.

Sekali waktu yang kita pinjam itu pasti akan diambil kembali oleh Si Pemilik.

Kalau kita merasa memiliki, perasaan yang palsu dan keliru, maka akan tumbuh kemelekatan.

melekat pada benda, pada manusia lain, kepada apa saja yang kita anggap milik kita.

Dan muncullah duka kalau kita dipisahkan dari sesuatu yang kita anggap milik kita itu.

Demikian ucapan Bagus Sajiwo yang masih terngiang dalam sanubarinya.

Ucapan-ucapan pemuda itulah yang membuat ia kuat menahan segala kedukaan.

"Duh Gusti Allah, terjadilah segala kehendakMu seperti yang Engkau rencanakan."

Maya Dewi berbisik kepada dirinya sendiri dan kini wajahnya cerah berseri mengembangkan senyum ketika ia melihat keindahan alam yang terbentang luas di sana, tampak dari atas bukit yang dilaluinya itu.

Seluruhnya itu, termasuk dirinya, adalah milik Gusti Allah.

Ia tiada berdaya, hanya dapat berserah diri sebagai landasan semua usahanya untuk hidup selaras dengan kehendakNya.

Berserah diri berarti taat akan segala perintahNya.

Karena semua yang dipunyainya itu hanya benda pinjaman, terutama badan ini, jiwa raga ini, maka sudah semestinya kalau ia menjaga baik-baik agar badan dan batin tetap terpelihara dengan baik, tetap dalam keadaan baik dan bersih.

Rumah mungil itu berada di sudut kota Pasuruan.

Tidak sangat besar, namun mungil dan terpelihara baik sehingga dinding, pintu dan jendelanya tampak bersih.

Juga halamannya ditanami pohon-pohon buah, terutama sawo sehingga tampak teduh dan sejuk.

Di samping kiri rumah itu terdapat sebuah taman kecil namun penuh tanaman bunga.

Di belakang terdapat kebun yang ditanami jagung dan beberapa macam sayuran.

Kebun itu cukup luas.

Pada pagi hari itu, sepasang suami isteri pemilik rumah itu duduk di serambi depan.

Sang suami berusia sekitar tiga puluh tujuh tahun, bertubuh sedang namun tegap.

Wajahnya cukup tampan, dengan sepasang mata yang sinarnya lembut, hidungnya mancung dan wajah itu cerah, selalu mengembangkan senyum.

Pakaiannya sederhana saja, namun bersih dan rapi.

Dia duduk di atas sebuah kursi, memandang ke arah halaman dan menerawang seperti melamun.

Sang isteri yang duduk di kursi lain berhadapan dengan meja, adalah seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun.

Wajahnya bulat dan cantik, mulutnya menggairahkan.

Biarpun usianya sudah sekitar tiga puluh lima tahun, namun tubuhnya masih ramping padat.

Suami isteri itu adalah sepasang pendekar yang sakti mandraguna, terutama sang suami.

Dia bernama Parmadi dan isterinya bernama Muryani.

Suami isteri ini, seperti para satria dan pendekar yang lain, adalah orang-orang yang setia kepada Mataram dan berjasa ketika terjadi perang antara pasukan Mataram melawan pasukan Kumpeni Belanda.

Juga mereka selalu menentang pengacauan yang dilakukan para telik sandi (mata-mata) Kumpeni Belanda.

Karena jasa-jasa mereka, Sultan Agung, raja Mataram berkenan memberi hadiah kepada suami isteri ini.

Karena seperti kebanyakan para satria, mereka tidak ingin terikat dengan kedudukan, maka sebagai penggantinya, Sultan Agung menghadiahkan sebidang tanah dan rumah mungil itu di Pasuruan.

Suami isteri ini hidup dengan tenang dan tenteram di Pasuruan.

Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang berusia enam tahun.

Setelah menikah selama kurang lebih tujuh tahun, barulah mereka dikaruniai anak.

Anak tunggal yang mereka beri nama Joko Galing.

Pada hari itu Parmadi dan Muryani duduk di serambi rumah mereka, makan jagung rebus yang muda dan manis sambil bercakap-cakap.

Biasanya, setelah sarapan mereka lalu bekerja di ladang sayuran membantu dua orang pembantu mereka.

Mereka mempunyai dua orang pembantu pria yang merawat taman dan kebun, dan seorang pembantu wanita setengah tua yang membantu Muryani melakukan pekerjaan rumah.

Akan tetapi pagi ini mereka tampak santai, namun bercakap-cakap dengan serius.

mereka telah mendengar berita malam tadi akan persiapan Kadipaten Blambangan untuk menyerbu Mataram dan banyak kemungkinan pasukan Blambangan akan menyerbu Pasuruan sebagai benteng pertama Kerajaan Mataram.

"Kakangmas Parmadi, agaknya perang akan berkobar lagi, sekarang Mataram akan diserbu Blambangan. Kehidupan yang aman tenteram ini akan terguncang kekacauan perang."

Kata Muryani.

"Benar, Diajeng. Akan tetapi selama enam tujuh tahun ini, setelah perang melawan Belanda usai kita hidup tenteram di sini, kita tidak pernah lengah dan berhenti latihan. Kalau memang Mataram akan diserang Blambangan kita akan membela Mataram seperti dulu. Apalagi aku menduga bahwa kalau Blambangan berani menyerang Mataram, tentu kadipaten itu mengandalkan bantuan yang kuat. Mungkin Belanda berada di belakangnya. kita tidak perlu khawatir."

"Aku tidak takut, Kakangmas, akan tetapi memang agak khawatir. Keadaan kita tidak seperti dulu lagi, sekarang kita harus menjaga keselamatan anak kita."

"Tentu saja, akan tetapi kita tidak perlu khawatir. bukankah kita dapat mengerahkan segala kemampuan kita untuk membela Mataram? Ini berarti kita juga menjaga keselamatan anak kita. Pula, kepercayaan kita dan penyerahan diri kita kepada Gusti Allah mendasari ikhtiar kita untuk melindungi diri kita dan anak kita, Dalam penyerahan diri itu kita harus membebaskan semua pengaruh kehendak akal pikiran kita sendiri."

"Aku mengerti, Kakangmas. Akan tetapi, bagaimana juga, hati seorang ibu pasti tidak terlepas dari kekhawatiran akan keselamatan anaknya. Karena itu, Kakangmas, menghadapi ancaman perang ni, aku mempunyai gagasan yang baik."

"Hemm, gagasan apakah itu, Diajeng?"

"Begini, Kakangmas. Sebelum pasukan Blambangan menyerbu Pasuruan, lebih baik kita antarkan anak kita ke perguruan Bromo Dadali di Gunung Muria. Biarpun sekarang Bapa Guru Ki Ageng Branjang sudah tua, namun kalau Joko Galing berada di sana, dia akan terlindung. Dengan adanya anak kita berlindung di sana, tentu hati kita akan menjadi lebih tenang dan tenteram sehingga kita dapat memusatkan perhatian kita untuk membela Mataram. Bagaimana pendapatmu, Kakangmas?"

Parmadi mengangguk-angguk.

"Ah, gagasanmu itu baik sekali, Diajeng! memang itulah agaknya jalan terbaik mengatasi persoalan ini. di sana, dibawah bimbingan Ki Ageng Branjang, Joko Galing dapat memperdalam dasar-dasar ilmu silat. Apalagi di sana terdapat banyak murid Bromo Dadali sehingga dia mendapat kesempatan bergaul. Nah, kapan kita berangkat ke sana?"

"Secepatnya, Kakangmas."

Pada saat itu terdengar derap kaki kuda dan seekor kuda besar dengan seorang anak laki-laki di punggungnya, berjalan congklang memasuki pekarangan rumah itu.

Anak laki-laki itu berusia enam tahun, akan tetapi tubuhnya tegap dan tampak kuat dan trengginas ketika dia melompat turun dari atas punggung kudanya setelah kuda itu tiba di depan serambi rumah di mana ayah ibu anak itu sudah berdiri dan tersenyum memandangnya.

Joko Galing, anak itu, berkulit coklat bersih.

Wajahnya bulat dan bentuk mulutnya manis seperti wajah dan mulut Muryani, sedangkan mata dan hidungnya mirip mata dan hidung Parmadi.

Seorang anak laki-laki yang tampan dengan rambut hitam agak berombak.

"Ayah! Ibu! aku melihat pasukan berbaris dan latihan perang-perangan di alun-alun!"

Joko Galing berseru girang sambil menambatkan kudanya pada batang pohon sawo terdekat. Parmadi dan Muryani saling pandang dan Muryani berkata.

"Kalau begitu kita harus cepat berangkat!"

"Berangkat ke mana, Ibu?"

Muryani merangkul puteranya.

"Joko, kita akan pergi mengunjungi Eyang Gurumu."

"Eyang Guru Resi Tejo Wening, Ibu? Apakah Ayah sudah menemukan di mana Eyang guru itu berada?"

Tanya Joko Galing.

Bocah ini sudah mengetahui bahwa guru ayahnya adalah Resi Tejo Wening yang menurut ayahnya tidak pernah muncul di dunia ramai dan ayahnya sendiri tidak tahu di mana kakek itu berada.

Ada pun guru ibunya adalah Ki Ageng Branjang, ketua perguruan Bromo Dadali di gunung Muria.

"Bukan, Joko. Kita akan mengunjungi Eyang Guru Ki Ageng Branjang."

"Wah, ke Perguruan Bromo Dadali di gunung Muria, Ibu? Aku senang sekali, akan dapat bertemu dengan Eyang Guru Ki Ageng Branjang! Sayang sekali aku tidak dapat bertemu dengan guru Ayah, Eyang Resi Tejo Wening. Kata Ayah, beliau sudah tua sekali. Ayah, kalau Ayah tidak tahu di mana Eyang Resi itu berada, lalu bagaimana Ayah dapat menghubunginya?"

"Eyang gurumu itu sudah tua sekali. Ketika terakhir kali aku bertemu dengan beliau, usianya sudah tujuh puluh lima tahun. Sejak itu, hampir lima belas tahun aku tidak mendengar beritanya. Kini usianya tentu sudah sembilan puluh tahun!"

"Wah, sudah tua sekali, Ayah!"

"Ya, kelak kalau ada waktu dan kesempatan, engkau akan kuajak mecari beliau di gunung Lawu."

Joko Galing merasa girang sekali.

Mereka bertiga lalu berkemas dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berangkat meninggalkan Pasuruan.

Perjalanan dari pasuruan ke Gunung Muria cukup jauh, maka mereka bertiga menunggang kuda dan membawa bekal pakaian dalam buntalan yang ditaruh di atas punggung kuda masing-masing.

Beberapa hari kemudian mereka memasuki Kadipaten Surabaya.

Parmadi mengajak isteri dan anaknya untuk singgah di Kadipaten Surabaya, menhadap Pangeran Pekik, Adipati Surabaya.

Dahulu, pangeran pekik pernah bermusuhan dengan Mataram.

Akan tetapi ketika Mataram menyerbu Surabaya, setelah melalui pertempuran-pertempuran dahsyat, Surabaya dapat dikalahkan.

Sultan Agung yang ingin mempersatukan seluruh Nusa Jawa untuk menjadi kuat menghadapi Kumpeni Belanda, tidak menghukum Pangeran Pekik, bahkan mengangkatnya menjadi Adipati Surabaya dan menikahkan Pangeran Pekik dengan Ratu Wandansari, Puteri Mataram sehingga kalau tadinya mejadi musuh, kini Pangeran Pekik menjadi keluarga Sultan Agung.

Parmadi sudah mengenalnya, maka kunjungan Parmadi dan Muryani yang membawa puteranya itu diterima dengan gembira.

Setelah tinggal di Kadipaten Surabaya selama dua hari dan mempergunakan kesempatan itu untuk membicarakan masalah Blambangan yang dikabarkan hendak menyerbu Mataram.

Pada hari ke tiga, pagi-pagi sekali, Parmadi dan anak isterinya melanjutkan perjalanan menuju Gunung Muria.

Pada siang harinya, mereka sudah jauh meninggalkan Surabaya dan tiba di jalan yang melalui hutan lebat.

setelah tiba di jalan simpang tiga, mereka membelok ke kanan, ke arah utara.

Matahari telah berada di atas kepala, panasnya bukan main.

"Kita berhenti mengaso di bawah pohon itu sebentar dan kita makan bekal makanan yang kita bawa dari Surabaya."

Kata Muryani yang melihat betapa Joko Galing tampak kelelahan.

Juga kuda mereka sudah tampak lelah.

Mereka segera membuka bekal makanan dan makan di bawah pohon yang sejuk itu.

Melihat Joko Galing makan dengan lahapnya, Muryani tertawa.

"Nah, seharusnya begini kalau engkau makan, Joko! Makan banyak agar tubuhmu kuat dan dapat menolak datangnya penyakit. Engkau biasanya kalau makan di rumah hanya sedikit."

Joko Galing tersenyum memandang kepada ibunya.

"Ibu, mengapa makan di sini rasanya enak sekali? Rasanya jauh lebih enak daripada kalau makan di rumah. Padahal, makanan ini kan biasa saja, kalau makan di rumah Ibu membuat lebih banyak masakan dan disini kita makan di tempat terbuka, di bawah pohon dan hanya duduk di atas tanah bertikar rumput!"

Biar Ayahmu yang memberi penjelasan untuk menjawab pertanyaanmu itu, Joko! "

Kata Muryani sambil tersenyum memandang kepada suaminya.

"Kita selesaikan dulu makan kita, nanti kuberi penjelasan."

Kata Parmadi. Mereka melanjutkan makan dan setelah selesai, Muryani membereskan sisa bekal makanan dan membungkusnya lagi. Parmadi lalu memandang puteranya yang duduk di depannya.

"Pengalaman merupakan pelajaran yang paling baik, Joko, karena merupakan kenyataan yang dialaminya sendiri, bukan hanya mendengarkan keteranan orang lain. Engkau tadi merasakan sendiri betapa nikmatnya makan seperti ini. Pengalaman tadi mengajarkan kenyataan kepadamu bahwa kelezatan makan hanya memegang peran kecil saja untuk membuat orang dapat menikmati makanan. Yang membuat orang dapat menikmati makanan adalah badan sehat, hati bahagia, pikiran tenteram, dan dapat menerima apa yang ada sebagai karunia Gusti Allah."

"Masih ada lagi, Ayah."

"Apa itu?"

"Perut lapar!"

"Ha-ha-ha, tentu saja! Keadaan di tempat terbuka, di alam bebas seperti ini membuat kita merasa bersatu dengan alam, merasa bebas dari semua ikatan dan urusan dunia yang ruwet. Hal ini menimbulkan perasaan bersyukur kepada berkat Gusti Allah yang berlimpah-limpah. Menerima segala macam keadaan apa adanya tanpa menilainya sebagai baik atau buruk, mendatangkan rasa bersyukur dan berterima kasih kepada Gusti Allah dan inilah yang membuat hati bahagia dan pikiran tenteram itu sehingga kita dapat menikmati hidup ini."

"Wah, Kakangmas, jangan terlalu tinggi, nanti Joko malah menjadi pusung dan tidak mengerti."

Muryani mengingatkan.

"Bagaimana, Joko, apakah engkau mengerti?"

Tanya Parmadi. Joko Galing mengangguk.

"Menurut pengertianku, pendeknya aku tidak boleh mengeluh dan menerima apa adanya dengan bersyukur dan berterima kasih, benarkah ini, Ayah?"

"Benar, hanya perlu ditambah sedikit, yaitu bersukur dan berterima kasih kepada Gusti Allah."

"Nah, ini yang ingin kuketahui dengan jelas, Ayah. Aku sering mendengar dari Ayah dan Ibu yang menyebut-nyebut Gusti Allah. Sesungguhnya, siapakah Gusti Allah itu, Ayah?"

Parmadi saling pandang dengan Muryani.

Karena pertanyaan ini diajukan oleh anak berusia enam tahun, walaupun mereka tahu akan kecerdasan Joko Galing, maka jawabannya harus disesuaikan pula dengan alam pikiran dan pengertian seorang anak kecil.

"Dengar baik-baik, Joko. Yang kita sebut gusti allah itu adalah Sang Maha Pencipta, yang menciptakan dan mengadakan segala sesuatu di permukaan bumi, juga yang berada di dalam bumi dan di awing-awang. Segala tumbuh-tumbuhan, dari lumut sampai pohon beringin, segala hewan, dari semut sampai gajah, semua manusiam apa saja tidak akan ada kalau tidak diadakan oleh Gusti Allah. Juga cacing-cacing di dalam tanah, ikan-ikan dalam airm burung-burung di udara, segala sesuatu tang hidup dan yang mati, adalah ciptaan Gusti Allah, juga awan, hujan, kilat, badan, matahari, bintang, pendeknya apa saja, semua itu ada karena dibikin ada oleh Gusti Allah Yang Maha Kuasa! Sebutir pasir pun tidak akan ada kalau tidak diadakan atas kekuasaan Gusti Allah. Nah, sudah jelas, bukan?"

Joko Galing bengong mendengar ini. Pikirannya melayang-layang mencoba untuk membayangkan kekuasaan yang demikian hebatnya.

"Kalau begitu kekuasaan Gusti Sultan Agung juga masih kalah besar, Ayah!"

Ayah ibunya tertawa dan Muryani merangkulnya.

"Tentu saja! Biarpun Gusti Sultan Agung itu besar kuasanya, namun itu hanya kekuasaan seorang manusia dan beliau juga merupakan ciptaan Gusti Allah. Kekuasaan Gusti Allah tidak dapat kau bandingkan dengan apa atau siapapun juga. Kekuasaan manusia, betapapun pandai dan saktinya dia, hanya merupakan setetes air dibandingkan kekuasaan Gusti Allah tiada batasnya. Bahkan air samudera itu hanya merupakan sebagian kecil saja dari ciptaan Gusti Allah."

Joko Galing semakin bengong, terheran-heran karena baru sekarang dia mendengar tentang kekuasaan Gusti Allah yang demikian besar, tak terbayangkan oleh akal pikirannya.

"Hayo kita lanjutkan perjalanan kita. Joko, tidak perlu engkau pusing memikirkan semua yang telah kau dengar tadi. Kelak engkau akan mengerti sendiri."

"Baik, Ayah."

Mereka menunggang kuda mereka yang sudah mengaso dan makan rumput sejak tadi, lalu melanjutkan perjalanan mereka.

Setelah matahari mulai condong ke barat, jalan umum yang sepi itu membawa mereka keluar dari hutan.

Tiba-tiba terdengar derap kaki banyak kuda dari arah belakang.

Mereka berhenti dan menengok ke belakang.

Debu mengebul tinggi dan Parmadi dapat menduga bahwa yang datang itu adalah rombongan yang terdiri dari sedikitnya sepuluh orang, melihat tebalnya debu mengebul dan suara derap kaki kuda.

"Minggir, Diajeng, Joko, ambil tempat di belakangku!"

Kata Parmadi untuk menjaga segala kemungkinan.

Setelah rombongan itu tiba dekat, Parmadi mendapat kenyataan bahwa mereka terdiri dari tiga belas orang.

Tiga orang yang berada terdepan agaknya yang memimpin rombongan itu karena pakaian mereka berbeda dari sepuluh orang yang lain.

Terutama pemuda tampan yang berada paling depan.

Pemuda ini berusia sekitar dua puluh lima tahun, pakaiannya mewah dan dari pakaian dan kain kepalanya, dapat diduga bahwa dia berasal dari Nusa Bali.

Ada pun yang dua orang lagi, menunggang kuda dan kini mengapit pemuda itu, berpakaian seperti bangsawan Bali pula.

Yang pertama berusia sekitar empat puluh satu tahun, bertubuh tinggi kurus, bermata sipit hidungnya pesek dan mulutnya cemberut terus.

Ada pun orang kedua berusia sekitar tiga puluh enam tahun, tubuhnya tinggi besar, mukanya bopeng (bekas cacar), matanya lebar hidungnya besar dan mulutnya menyeringai terus.

Parmadi, Muryani, dan Joko Galing berada di atas kuda mereka, bersikap tenang berhadapan dengan rombongan itu.

"Kisanak, engkau tentu yang bernama Parmadi dari Pasuruan yang berjuluk Si seruling Gading itu, bukan?"

Tanya pemuda tampan berpakaian bangsawan Bali itu.

Dari logat bicaranya pun dapat diketahui bahwa dia adalah seorang dari Bali.

Parmadi tidak mengenal tiga orang yang memimpin rombongan berkuda itu.

Kalau rombongan ini dapat mengejar dan menusulnya, berarti mereka tahu ke arah mana dia dan anak isterinya pergi dan hal ini berarti mereka telah mencari keterangan di Pasuruan, mungkin mendapatkan keterangan dari para pelayan di rumahnya yang mengetahui bahwa dia sedang melakukan perjalanan menuju ke Gunung Muria.

"Benar, sekali, Kisanak. Aku adalah Parmadi. Siapakah Andika dan ada keperluan apakah Andika mengejar kami?"

"Aku bernama Tejakasmala, utusan Sang Adipati Blambangan."

Kata pemuda itu engan nada suara yang membayangkan kebanggan terhadap dirinya sendiri sehingga terdengar congkak sekali.

"Dan aku pembantunya, Cakrasakti senopati terkenal dari Klungkung."

Kata orang yang tinggi kurus.

"Aku Cakrabaya, juga senopati dari Bali."

Kata orang yang tinggi besar bermuka bopeng. Parmadi merasa heran.

"Kalian bertiga ini adalah orang-orang Bali, bagaimana dapat menjadi utusan Adipati Blambangan? Dan mengapa mengejar kami yang tidak mempunyai urusan apapun dengan Bali dan Blambangan?"

Hemm, Parmadi.

Apakah Andika tidak tahu bahwa Blambangan dan Bali tidak dapat dipisahkan?

Kami adalah utusan dari Kerajaan Klungkung di Bali yang diperbantukan kepada Adipati Blambangan.

Sekarang kami menjadi utusan yang berkuasa penuh dari Adipati Blambangan.

Beberapa bulan yang lalu kami mencari Andika di Pasuruan, akan tetapi Andika tidak berada di rumah.

Sekarang kami datang lagi di Pasuruan, akan tetapi mendapat keterangan bahwa Andika pergi menuju Gunung Muria.

Karena itu kami segera mengejar dan dapat menyusul Andika di tempat ini."

Parmadi mengangguk-angguk.

Dia memang mendengar dari para pelayannya bahwa ketika dia dan anak isterinya pergi membawa Joko Galing melihat lautan, ada tiga orang berpakaian Bali datang mencarinya.

Kiranya tiga orang ini, dan kini mereka membawa sepuluh orang anak buah!

"Lalu apa keperluannya Andika bertiga diutus Adipati Blambangan untuk mencariku?"

"Parmadi, kami diutus Sang Adipati Blambangan untuk mengundang Andika menghadap beliau di Blambangan, sekarang juga."

Kata Tejakasmala dengan suara membujuk.

Melihat keadaan suami isteri yang elok dan agah ini, dalam hatinya Tejakasmala merasa kagum.

Suami isteri yang tenang dan tampak berwibawa ini lebih menguntungkan dijadikan kawan daripada lawan.

Pandangan Tejakasmala yang tajam dapat menegenal orang sakti mandraguna dari sikapnya.

"Maafkan kami, Tejakasmala, kalau kami terpaksa tidak dapat memenuhi undangan itu. Selain kami tidak mempunyai persoalan dengan Kadipaten Blambangan, juga kami hendak pergi ke Muria dan tidak ada waktu luang. Tejakasmala mulai mengerutkan alisnya, mulai berkurang kesabarannya. Pemuda ini bukan orang jahat walaupun dia memang berwatak sombong dan suka mengagulkan diri sendiri. Dia setia kepada Bali dan menganggap diri sendiri seorang pahlawan. Akan tetapi, belum pernah dia melakukan kejahatan.

"Parmadi, kami adalah utusan Adipati Blambangan yangtelah diberi hak dan kekuasaan untuk bertindak. Maka, sekali lagi kutegaskan bahwa Sang Adipati Blambangan memerintahkan agar Andika sekarang juga ikut bersama kami menghadap beliau di Blambangan!"

Parmadi mengerutkan alisnya.

"Tejakasmala, aku bukan kawula Blambangan. Adipati Blambangan tidak berhak memerintahkan aku menghadapnya di Blambangan dan aku pun tidak merasa berkewajiban untuk mentaati perintahnya."

"Babo-babo, Parmadi! Andika menantang? Ingat, kami telah diberi kekuasaan untuk memaksamu pergi menghadap ke Blambangan!"

"Hei, bocah lancing keparat Tejakasmala! Siapakah engkau ini, berani memaksa orang untuk mentaati kehendakmu? Kalau suamiku tidak mau, kalian mau apa?"

Muryani dengan marah meloncat turun dari punggung kudanya. Tejakasmala tersenyum. Biarpun usia Muryani sudah tiga puluh lima tahun, namun masih tampak cantik dan luwes. Dia menjawab sambil tersenyum.

"Maaf, kalau tidak mau, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan karena perintahnya, Parmadi harus dibawa menghadap, hidup atau mati."

"Hidup atau mati? Jahanam busuk, engkaulah yang akan mati lebih dulu!"

Wanita itu dengan gerakan cepat sejaki tekah menerjang ke depan dan kedua tangannya memukul. Hawa panas sekali menyambar ke arah Tejakasmala.

"Hyaaaatttt!"

Itulah Aji pukulan Bromo Latu yang mengandung tenaga sakti yang amat panas.

Tejakasmala terkejut juga menghadapi serangan yang dahsyat itu.

Tubuhnya mencelat ke atas untuk menghindar dari hawa pukulan yang menyambar itu.

Terdengar kuda yang ditunggangi Tejakasmala meringkik keras yang roboh dengan kepala pecah dan tewas seketika!

"Diajeng....!"

Parmadi hendak mencegah namun sudah tidak keburu. Dia pun segera melompat turun dan berkata kepada Joko Galing.

"Engkau tunggu dibawah pohon sana."

Joko Galing tidak takut melihat betapa ayah ibunya dihadapi tiga belas orang itu.

Dia yakin akan kesaktian ayah ibunya maka ketika ayahnya berkata semikian, dia lalu menjalankan kudanya ke bawah pohon besar tak jauh dari situ.

Dia turun, menambatkan kudanya pada batang pohon dan berdiri menonton.

Dia menahan diri untuk tidak bertepuk tangan melihat betapa pukulan ibunya tadi merobohkan dan menewaskan kuda besar yang tadi ditunggangi laki-laki sombong yang mengaku bernama Tejakasmala itu.

Tejakasmala marah bukan main, akan tetapi dia pun terkejut.

Dia memang sudah mendengar keterangan dari Blambangan bahwa selain Parmadi itu sakti mandraguna, juga isterinya memiliki kesaktian.

Akan tetapi sama sekali tidak disangkanya bahwa isteri Parmadi sedahsyat itu pukulannya!

Karena kudanya dipukul mati, Tejakasmala marah dan dia segera menerjang ke arah Muryani dengan Aji Condromowo yang amat ganas dan dahsyat.

Kedua telapak tangan pemuda itu menjadi merah membara dan hawa panas terasa sampai jauh.

"Haiiittt....!"

Dia menerjang sambil menghantamkan tangan yang dipenuhi Aji Condromowo itu.

"Biar aku menyambutnya!"

Kata Parmadi dan tubuhnya sudah berkelebat kedepan isterinya, lalu dia menggerakkan tangan menyambut pukulan tangan membara itu dengan Aji Surya Hasta.

"Wuuutttt.... wessss....!!"

Pukulan panas tangan Tejokasmala itu seolah bara api bertemu air dingin.

Uap dan asap mengepul ketika dua tangan itu bertemu dan kedua orang itu terdorong ke belakang sampai beberapa langkah.

Keduanya terkejut akan tetapi Parmadi memandang heran.

Pemuda itu ternyata memiliki tenaga yang amat dahsyat sehingga ketika dia menangkis, pertahanannya hampir saja bobol!

Dia bersikap hati-hati sekali dan lebih banyak menghindarkan diri mengandalkan keringanan tubuh dan gerakannya yang membuat tubuhnya seperti bayangan yang sukar diserang.

Tejakasmala yang merasa penasaran menyerang terus.

Dia sudah mengambil keputusan untuk membunuh suami isteri yang amat berbahaya bagi Blambangan itu.

Juga ini sesuai dengan rencana yang sudah diatur oleh Bhagawan Kalasrenggi atas nama Adipati Santa Guna Alit dan para pimpinan persekutuan yang terdiri dari Blambangan, Klungkung Bali, orang-orang Madura yang memusuhi Mataram di luar tahunya Pangeran Cakraningrat yang oleh Sulan Agung telah diangkat menjadi penguasa di Madura.

Selain itu, juga terdapat pula wakil Kumpeni Belanda.

Mereka sudah sepakat untuk membunuh Parmadi dan isterinya yang sakti itu.

Tugasnya adalah membujuk Parmadi untuk menyerah kepada Blambangan.

Kalau suami isteri itu tidak mau menyerah, mereka harus dibunuh karena kelak mereka akan menjadi penghalang besar bagi Blambangan yang ingin menyerbu Pasuruan sebagai langkah pertama untuk menyerang Mataram.

Terjadilah pertandingan yang amat seru dan menarik antara Parmadi dan Tejakasmala.

Keduanya adalah orang-orang yang memiliki kesaktian yang hebat.

Tejakasmala adalah murid terkasih dari Bhagawan Ekabrata, seorang pertapa yang sakti mandraguna di Gunung Agung, Bali.

Akan tetapi sekali ini dia bertemu dengan Parmadi, murid terkasih mendiang Ki Tejo Wening yang juga seorang pertapa yang sakti mandraguna.

Gerakan kedua orang yang saling serang ini mendatangkan hawa pukulan yang menyambar-nyambar sehingga mengguncang ranting dan daun-daun pohon, bahkan orang lain dapat merasakan getaran yang melanda tanah di sekitar tempat pertempuran itu!

Sementara itu, melihat pemimpin mereka sudah saling serang dengan Parmadi, Cakrasakti dan Candrabaya, dua orang senopati Klungkung Bali itu tidak tinggal diam.

Mereka berdua lalu mencabut senjata mereka, yaitu keris yang besar panjang dan mengkilap, kemudian sambil mengeluarkan suara gerengan seperti harimau, mereka menyerang Muryani.

Wanita cantik gagah ini sama sekali tidak merasa gentar.

Ia menggerakkan tangan kanan meraih ke punggungnya dan tampak sinar kilat ketika ia sudah mencabut sebatang pedang tipis yang sinarnya berkilauan ketika tertimpa sinar matahsri.

Jarang sekali wanita ini mempergunakan senjata.

Biasanya, cukup dengan kedua tangannya saja yang terisi berbagai ajian yang amat dahsyat, ia dapat mengalahkan para lawannya.

Akan tetapi kini ia tahu bahwa ia menghadapi lawan-lawan tangguh.

Buktinya, baru pemuda tampan itu saja sudah dapat menandingi suaminya yang selama ini jarang bertemu tanding yang setimpal.

Dua orang senopati dari Bali itu sudah cepat menerjang ke arah Muryani dengan keris mereka.

Murani menggerakkan pedangnya.

"Trang! Cring!"

Buna api berpijar ketika dua batang keris itu tertangkis pedang dan dua orang itu terkejut bukan main karena dari tangkisan itu, tahulah meeka bahwa wanita cantik ini tidak boleh dipandang rigan.

Tangan mereka tergetar ketika keris mereka bertemu pedang Muryani.

Karena tidak ingin gagal, Cakrasakti memberi isarat kepeda sepuluh orang anak buahnya dan mereka pun segera bergerak dan menggunakan senjata mereka untuk mengeroyok Muryani!

Mereka tidak berani membantu Tejakasmala karena maklum bahwa pemuda ini dapat marah kalau dibantu.

Pula, mereka juga jerih terhadap Parmadi yang gerakannya demikian dahsyat.

Tentu saja Muryani menjadi repot.

Menghadapi pengeroyokan Cakrasakti dan Candrabaya saja ia sudah kewalahan.

Apalagi kini ditambah sepuluh orang jagoan Bali yang rata-rata memiliki ketangkasan dan cukup tangguh.

Ia mulai terdesak dan menhadapi hujan senjata dari dua belas orang yang mengeroyoknya, ia hanya mampu memutar pedang dan menggunakan keringanan dan kecepatan gerak tubuhnya untuk melindungi dirinya agar jangan terkena sambaran senjata yang bertubi-tubi datangnya itu.

Wanita perkasa yang tidak pernah gentar menghadapi bahaya apapun itu menjadi marah dan mulailah ia menggunakan tangan kirinya untuk menampar pengeroyok terdekat.

Tangan kirinya itu tidak kalah dahsyatnya dibandingkan pedang di tangan kanannya karena Muryani menampar dengan pengerahan Aji Gelap Sewu dan tubuhnya bergerak dengan Aji Kluwung Sakti yang membuat tubuhnya ringan dan gerakannya cepat sekali.

Terdengar dua orang pengeroyok menaduh dan mereka roboh terpelanting.

Biarpun tangan kiri Muryani tidak menyentuh tubuh mereka, akan tetapi sambaran angin pukulannya cukup kuat untuk membuat dua orang terdekat itu roboh dan menderita luka dalam yang rasanya panas.

Akan tetapi Muryani semakin terdesak ketika dua orang senopati dari Bali itu memperhebat serangan mereka, dibantu oleh sisa anak buahnya yang masih delapan orang itu.

Tiba-tiba ketika ia berada dalam keadaan terdesak, kaki Cakrasakti yang panjang itu mencuat dan mengenai paha kiri Muryani.

"Bukk....!"

Tubuh Muryani terdorong dan terhuyung ke belakang.

Namun ia masih dapat memutar pedangnya sehingga dapat melindungi dirinya dari kejaran dan serangan para pengeroyoknya.

Melihat keadaan isterinya, Parmadi terkejut dan cepat dia melompat dan membantu isterinya yang terdesak.

Sambaran suling gadingnya membuat empat batang kelewang (golok) para peneroyok terlempar dan orang-orangnya terdorong ke belakang.

Akan tetapi Tejakasmala sudah mengejar dan menyerang Parmadi dengan dahsyat sekali sehingga terpaksa Parmadi meninggalkan isterinya untuk menghadapi serbuan Tejakasmala yang amat berbahaya itu.

Dua orang ini sudah bertanding lagi dengan seru.

Akan tetapi Muryani, walaupun paha kirinya terasa nyeri, kini sudah dapat memperkuat pertahanannya karena empat orang pengeroyok yang senjatanya terlempar tadi kini kebingungan mencari senjata mereka yang terlempar.

Bagaimanapun juga, karena paha kiri Muryani sudah terluka dan ia pun sudah merasa lelah, kembali ia terdesak dan hanya mampu melindungi dirinya dengan putaran pedangnya.

Sementara itu, Parmadi juga mulai terdesak oleh Tejakasmala karena dia tidak dapat memusatkan perhatiannya yang sebagian tertarik untuk memperhatikan keadaan isterinya.

"Ayah ....! Ibu....! Tolong....!"

Parmadi dan Muryani terkejut bukan main mendengar jerit putera mereka itu.

Mereka cepat menengok dan melihat betapa Joko Galing ditangkap dan dipondong seorang laki-laki yang melompat ke atas kuda yang tadi ditunggangi Joko Galing, lalu membalapkan kuda melarikan diri membawa anak laki-laki itu.

"Jahanam, lepaskan Joko!"

Bentak Parmadi, akan tetapi dia tidak berdaya karena Tejakasmala memperhebat serangannya dan tidak memungkinkan dia melakukan pengejaran terhadap penculik anaknya.

"Joko....!"

Muryani juga menjerit, akan tetapi ia pun tidak dapat melepaskan diri dari kepungan para pengeroyoknya.

Tentu saja suami isteri ini menjadi gelisah sekali memikirkan anak mereka dan hal ini membuat pertahanan mereka juga menjadi lemah.

Mereka terdesak semakin hebat dan keadaan mereka menjadi gawat.

BahkanMuryani telah tergores golok pada pangkal lengan kirinya, dan Parmadi juga terkena tendangan Tejakasmala.

Walaupun tidak parah karena Parmadi melindungi tubuhnya dengan tenaga sakti, namun tendangan yang mengenai pinggangnya itu terasa cukup nyeri dan mengurangi kecepatan gerakannya.

Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan suami isteri itu, tiba-tiba terdengar derap kaki banyak kuda dan muncul perajurit Pasuruan sebanyak dua losin orang!

Mereka adalah pasukan penjaga perbatasan yang mendapat laporan dari seorang yang kebetulan lewat dan menyaksikan perkelahian antara suami isteri pendekar yang dikeroyok banyak orang itu.

Parmadi dan Muryani merupakan pasangan yang dihormati dan dikenal baik oleh semua perajurit dan penduduk Pasuruan, maka mendengar laporan itu perwira pasukan jaga lalu membawa dua losin orang perajurit menuju ke tempat itu.

Akan tetapi sebelum pasukan Pasuruan itu turun tangan membantu Parmadi dan Muryani, tiba-tiba tampak bayangan putih berkelebat dan sinar keemasan yang panjang menyambar ke arah Tejakasmala yang sedang mendesak Parmadi.

Tejakasmala terkejut sekali, melompat ke samping untuk menghindar lalu dari samping dia menyerang dengan pukulan Aji Condromowo.

Tangannya yang merah membara itu menyambar ke arah penyerangnya, akan tetapi yang diserang dengan tenangnya menyambut dengan dorongan tangan kirinya.

"Wuuuttt.... darrrr....!"

Tejakasmala terdorong ke belakang.

Dia terkejut bukan main ketika melihat bahwa orang yang menyerangnya dan yang kuat menahan serangan Aji Condromowo itu adalah seorang wanita cantik yang berpakaian sederhana serba putih!

Pada saat itu Parmadi sudah menerjangnya dan merasa bahwa dia tidak akan menang kalau menghadapi Parmadi yang dibantu wanita sakti itu, Tejakasmala segera melompat kebelakang.

Wanita pakaian putih itu kini menggerakkan tubuh dan tubuhnya seolah melayang ke dekat Muryani.

Kembali sinar emas dari sehelai sabuknya berkelebat, Cakrasakti dan Candrabaya cepat menangkis dengan keris mereka.

"Cring.... tranggg....!!"

Dua orang senopati itu terkejut dan cepat melompat ke belakang karena keris mereka patah ketika bertemu sabuk cinde keemasan itu!

Pada saat itu pasukan Pasuruan sudah melompat dari atas kuda dan menyerang orang-orang yang tadinya mengeroyok Muryani.

Melihat ini, Tejakasmala dan dua orang pembantunya, Cakrasakti dan Candrabaya, maklum bahwa keadaan mereka kini terancam bahaya, maka tanpa banyak cakap lagi mereka lalu melarikan diri, diikuti beberapa orang anak buah yang masih belum terluka dan sempat lari, meninggalkan teman-teman mereka yang tewas atau yang tidak mampu lari karena terluka parah.

Pasukan penjaga lalu merawat teman-temanya yang terluka.

Permadi dan Muryani juga tidak melakukan pengejaran terhada orang-orang Bali yang menyerang mereka tadi karena kini seluruh perhatian mereka ditujukan kepada anak mereka yang dilarikan orang.

Akan tetapi mereka bingung karena tidak tahu ke arah mana anaknya dilarikan orang tadi.

Parmadi memandang kepada isterinya yang juga tampak termenung.

"Diajeng, aku merasa seperti mengenal orang yang melarikan Joko tadi...."

Muryani memandang suaminya dengan alis berkerut dan sinar matanya membayangkan kegelisahan.

"Benar, Kakangmas. aku pun mengenalnya. Biarpun tampak lebih tua daripada dulu, akan tetapi tidak salah lagi, dia adalah si jahanam Setyabrata! Ah, ke mana dia tadi melarikan anak kita?"

Suami isteri itu memandang ke sekeliling dan tampak oleh mereka wanita berpakaian putih yang berdiri di belakang mereka, dalam jarak tiga tombak.

Suami isteri itu memandang dengan mata terbelalak, lalu hampir berbareng mereka berdua berseru.

"Maya Dewi....!!"

Wanita berpakaian serba putih itu memang Maya Dewi.

Ia sedang dalam perjalanan menuju ke Pasuruan setelah mendengar dari Lurah Ganjar bahwa mungkin sekali Blambangan akan menyerang Pasuruan yang merupakan benteng pertama kerajaan mataram.

Ia akan membela Mataram, membela Pasuruan.

Ketika tadi ia tiba di situ, ia melihat Tejakasmala dan kawan-kawannya mendesak Parmadi dan Muryani.

Seperti kilat terbayang dalam ingatannya betapa dulu, ia menjadi musuh besar Parmadi dan Muryani.

Akan tetapi sekarang ia menyadari sepenuhnya bahwa suami isteri itu adalah orang-orang gagah perkasa dan bijaksana.

Dan ia sendiri sudah pernah bertemu dan bertanding melawan Tejakasmala yang curang dan jahat.

Maka ia segera turun tangan membantu suami isteri itu.

Dulu, ketika ia dan Bagus membantu ayah ibu Bagus Sajiwo, yaitu Ki Tejomanik dan Nyi Retno Susilo, yang dibela Lindu Aji dan Sulastri, menghadapi Tejakasmala bersama banyak kawannya, ia sudah merasakan betapa saktinya Tejakasmala.

Hanya Bagus Sajiwo yang mampu mengalahkannya, maka melihat Tejakasmala mendesak Parmadi, ia segera turun tangan membantunya, baru ia membantu Muryani sehingga Tejakasmala dan kawan-kawannya melarikan diri karena di situ muncul pula pasukan Pasuruan.

Melihat suami isteri itu mengenalnya Maya dewi tersenyum, merangkap kedua tangan depan dada sebagai sembah penghormatan lalu berkata dengan lembut.

"selamat berjumpa, Parmadi dan muryani. benarkah bahwa putera Andika dilarikan Satyabrata?"

Dengan alis berketut dan mata bersinar tajam, Permadi berkata tegas.

"Maya Dewi, katakan ke mana Satyabrata sahabatmu itu melarikan anakku Joko Galing!"

"Maaf, Parmadi. Bagaimana aku dapat mengatakan karena aku sama sekali bukan sahabat Satyabrata lagi."

"Bohong....!!"

Muryani membentak marah, matanya mengeluarkan sinar berapi.

"Engkau adalah mata-mata Kumpeni Belanda, seperti juga dia! Kalian adalah pasangan yang amat jahat dan keji! Siapa tidak mengenal Maya Dewi Si Iblis Betina Cantik dari Banten? Siapa tidak tahu bahwa Maya Dewi itu antek penjilat sepatu Belanda dan seorang iblis betina hina dan cabul, mempermainkan banyak pemuda lalu membunuhnya? Hayo, katakan ke mana anakku dibawa kekasihmu Satyabrata itu?"

Wajah Maya Dewi menjadi pucat dan sejenak ia memejamkan kedua matanya.

merasakan betapa kata-kata itu seperti ujung keris-keris yang runcing menikami hatinya.

Ia menggigit bibirnya dan setelah Muryani berhenti bicara, baru ia membuka matanya dan berkata, suaranya masih lembut.

"Muryani, aku mengaku bahwa dulu aku menjadi wanita sesat dan semua yang kau katakan tentang diriku itu benar, akan tetapi aku telah bertaubat dan aku bukan mata-mata Belanda lagi, tidak bersahabat dengan para penjahat."

"Bohong! Siapa tidak atahu bahwa Maya Dewi selain jahat dan kejam, juga amat curang dan licik?"

Maya Dewi tersenyum sabar.

"Untuk membuktikan, aku akan mencari Satyabrata dan merampas kembali anakmu, Muryani!"

"Mampuslah!"

Muryani sudah menyerang dengan pedangnya.

Akan tetapi Maya dewi cepat menghindar dengan lompatan jauh ke belakang.

Muryani hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba lengannya dipegang suaminya.

Pada saat itu, pasukan dari Pasuruan yang mendengar bahwa wanita itu adalah Maya Dewi yang terkenal jahat, menjadi marah.

"Bunuh mata-mata Belanda!"

"Bunuh perempuan jahat itu!"

Para perajurit itu mengambil batu dan mereka menghujani Maya Dewi dengan lemparan batu-batu sebesar kepalan tangan!

Kembali Maya Dewi merasa jantungnya seperti disayat-sayat.

Pedih dan sakit sekali, akan tetapi ia tidak mempedulikan batu-batu itu mengenai dirinya.

Tak-tuk-tak-tuk batu-batu itu mengenai tubuhnya, bahkan ada yang mengenai kepalanya.

Akan tetapi ia tidak peduli karena ia sudah melindungi tubuhnya dengan kekebalan, lalu ia berkata.

"Kalau kalian mengejar, mungkin saja Satyabrata membunuh anak kalian lebih dulu."

Setelah berkata demikian, Maya Dewi meninggalkan tempat itu dengan langkah tenang.

"Jangan dikejar!"

Teriak Parmadi ketika melihat pasukan itu hendak mengejar.

"Ia sakti dan berbahaya sekali. Kalian hanya akan bunuh diri kalau mengejar dan menyerangnya."

Mendengar teriakan Parmadi itu, pasukan berhenti dan tidak berani mengejar sehingga bayangan Maya Dewi lenyap di tikungan.

Parmadi mengucapkan terima kasih kepada perwira yang memimpin pasukan, kemudian mengajak isterinya menunggang kuda mereka dan melarikan ke arah utara karena seorang dari para perajurit ada yang memberitahu bahwa Joko Galing tadi dilarikan orang di atas kuda menuju ke arah utara.

Dalam perjalanan itu, Muryani yang sudah dapat memulihkan ketenangan hatinya, berkata kepada suaminya dengan suara mengandung penasaran.

"Kakangmas, mengapa engkau menghalangi aku mengejar iblis betina tadi? Aku tidak takut padanya!"

Sambil memandang kepada suaminya dengan alis berkerut, ia melanjutkan.

"Apa engkau percaya bahwa ia sudah bertaubat? Siapa mau percaya? Iblis sejahat itu, mana mungkin dapat berubah menjadi baik?"

"Aku juga tidak percaya begitu saja, Diajeng. Akan tetapi ada beberapa hal yang membuat aku mencegah engkau mengejarnya."

"Hemm, apakah alasan itu?"

"Pertama, kalau memang ia sekutu Satyabrata yang melarikan anak kita, mungkin saja ia memancing agar kita mengejarnya sehingga memberi kesempatan kepada satyabrata untuk pergi dengan aman."

"Hemm, kurasa masuk diakal pendapatmu itu, Kakangmas."

"Dan ke dua, kalau ia benar-benar bukan sekutu Satyabrata, kata-katanya tadi mengandung kebenaran, yaitu bahwa kalau kita mengejar Satyabrata dan memaksanya menyerahkan anak kita, mungkin saja jahanam itu membunuh Joko."

"Ah, kalau begitu, bagaimana baiknya, Kakangmas? Aduh, bagaimana kita dapat merampas kembali Joko dari tangan penjahat itu?"

Suara Muryani mulai gemetar, wajahnya pucat.

"Tenanglah hatimu, Diajeng dan kita serahkan saja anak kita kepada Gusti Allah, sementara kita mencoba untuk mencari jejaknya. Kita harus tetap tenang, dengan perhitungan bahwa kalau Satyabrata menculik Joko, itu berarti dia tidak ingin membunuhnya. Kalau bermaksud membunuh, tidak perlu bersusah payah membawanya lari, bukan? Nah, kita mencari jejaknya dan kalau sudah dapat kita temukan, kita mengikutinya dan mencari jalan dan kesempatan untuk merampas anak kita. Kita harus tabah dan tenang agar pikiran kita tetap jernih untuk mempertimbangkan semua tindakan yang harus kita ambil."

Muryani mengangguk-angguk dan membiarkan suaminya yang memandu perjalanan itu.

Ia lebih banyak termenung dan mengenang kembali masa silam, ketika ia masih gadis dan bertemu dengan orang yang bernama Satyabrata itu.

Ia berusia sekitar dua puluh tahun ketika bertemu dengan Satyabrata yang ketika itu merupakan seorang pemuda yang tampan sekali, tinggi tegap dengan rambut berombak dan mata agak kebiruan.

Pemuda itu menolongnya ketika ia dikeroyok tiga puluh lebih orang jahat.

Tentu saja ia menganggap Satyabrata seorang pemuda yang amat baik, tampan, sakti mandraguna dan sopan.

Tidak mengherankan kalau ia merasa tertarik dan jatuh cinta, apalagi ketika mengetahui bahwa Satyabrata amat mencintanya.

Ia melakukan perjalanan bersama pemuda itu dan Satyabrata selalu membantu dan mati-matian membelanya menghadapi lawan-lawan tangguh.

Hanya karena ia sudah lebih dulu jatuh cinta kepada Parmadi, maka ia masih ragu dan menolak rayuan Satyabrata.

Ia tahu dan dapat merasakan bahwa Setyabrata sungguh mencintanya, akan tetapi hatinya condong memilih Parmadi.

Akhirnya ia mengetahui bahwa Setyabrata adalah seorang utusan Kumpeni Belanda memusuhi Mataram dan pemuda itu akrab sekali dengan Maya Dewi!

"Ah, tidak mungkin....!"

Ia sendiri kaget mendengar ucapan yang tidak disengaja itu.

"Apa yang tidak mungkin, Diajeng?"

Tanya suaminya.

"Ah, aku melamun!"

Kata Muryani dan mereka menjalankan kuda mereka dengan santai karena kuda-kuda itu sudah mulai kelelahan.

"Aku masih memikirkan Maya Dewi. Tidak mungkin kalau ia kini berubah dan hendak merampas dan mengembalikan anak kita. Dahulu, ia akrab sekali dengan Satyabrata, mereka adalah mata-mata Belanda dan mereka saling mencinta. Agaknya benar dugaanmu tadi bahwa ia ingin agar kita mengejarnya sehingga tidak dapat melakukan pengejaran terhadap Satyabrata."

Suami isteri itu dengan prihatin lalu mulai mencari jejak Styabrata dengan mencari keterangan kepada orang-orang didusun-dusun yang meraka masuki.

Maya Dewi merasa betapa tubuhnya lemas seolah semua urat syarafnya hampir lumpuh.

Semua ini timbul dari perasaan hatinya yang tertekan.

Bajunya kotor dan terobek di sana-sini karena hujan batu tadi.

Kembali orang-orang menghinanya, memakinya dan menyerangnya karena menganggap ia seorang wanita jahat.

Memang, penduduk dusun Sampangan dengan lurahnya, Ki Ganjar, bersikap baik dan hormat kepadanya.

Akan tetapi hal itu adalah karena pertama, mereka belum pernah mendengar Maya Dewi, dan kedua, karena ia telah berjasa menolong dusun mereka.

Semua orang membencinya, semua orang yang pernah mendengar namanya.

Semua orang, kecuali Bagus Sajiwo!

Setiap kali hatinya risau dan ia merasa dihina dan direndahkan orang, ia pasti teringat kepada Bagus Sajiwo dan tak dapat ditahannya pula, beberapa butir air mata menggelinding keluar dari kedua matanya.

Ia terkenang masa lalunya, ketika ia bertemu dengan Satyabarata.

Ia kini harus dapat bertemu dengan Satyabrata dan merampas anak Parmadi dan Muryani yang bernama Joko Galing itu.

Terbayang kembali hubungannya dengan Satyabrata di waktu dahulu.

Ketika itu ia berusia sekitar dua puluh tahun.

Ia bertemu dan segera akrab dengan Satyabrata karena mereka berdua memiliki persamaan watak dan kebiasaan, juga kedudukan mereka sama.

Keduanya adalah mata-mata Kumpeni Belanda, bahkan Satyabrata merupakan pemimpin mata-mata yang amat dipercaya Belanda karena dia adalah keturunan orang kulit putih.

Keduanya sama menjadi hamba nafsu masing-masing.

Maka, mereka merupakan pasangan yang cocok, bersama mereka berenang di lautan nafsu, tidak pantang melakukan segala macam kejahatan!

Mereka berdua lalu membantu Madura yang berperang melawan Mataram.

Setelah pihak Madura kalah, mereka berdua melarikan diri.

Akhirnya Satyabrata oleh Kumpeni Belanda dikirim ke Negeri Belanda untuk dididik menjadi seorang yang pandai, sedangkan ia sendiri melanjutkan petualangannya sebagai mata-mata yang dipercaya oleh (Lanjut ke

Jilid 12) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 Kumpeni Belanda.

Ia bertualang, melakukan segala macam kejahatan sampai akhirnya ia sadar setelah merasa tidak menemukan kebahagiaan lalu meninggalkan Kumpeni, tidak mau lagi menjadi mata-mata Belanda.

kemudian ia bertemu dengan Bagus Sajiwo dan berubahlah seluruh jalan hidupnya.

Sekarang ia harus memetik buah yang pahit dan memakannya, dari pohon yang ia tanam sendiri.

Pohon beracun yang menghasilkan buah beracun yang harus dimakannya!

Ketika ia tiba di sebuah daerah persawahan yang luas, berjalan di atas jalan umum yang kasar dan sepi sekali itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang bertembang.

Suara itu terbawa angin dan terdengar sayup-sayup, namun kata-katanya yang amat sederhana dapat tertangkap dengan jelas.

"Manungsa urip ing donya Mung saderma anglakoni Kersaning Hyang Maha Agung Kanthi pasrah jiwa raga Yaiku narimah lan nyenyuwun Apa bae kang tinampa Tuhu sihe Sang Hyang Widi." (Manusia hidup di dunia, hanya sekedar mengalami kehendak Tuhan yang Maha Agung, dengan berserah jiwa raga yaitu menerima dan memohon, apa pun yang diterima sesungguhnya merupakan kasih Yang Maha Kuasa). Tembang Sekar Pangkur itu dinyanyikan dengan suara tua yang parau, kata-katanya amat sederhana, namun mengandung getaran yang mendatangkan keharuan dalam hati Maya Dewi. Ia lalu mempercepat langkahnya menuju ke arah suara. Kakek itu tentu sudah enam puluh tahun lebih usianya. Namun, tubuhnya yang terbakar sinar matahari sehingga kulitnya berwarna coklat kemerahan itu masih tampak tegap dan kuat ketika dia mencangkul tanah persawahan itu. Tubuhnya bagian atas telanjang sehingga tampak tulang-tulang pundak dan iga menonjol dilingkari otot-otot yang menggembung karena sering bekerja berat. Tubuh bagian bawah memakai celana hitam sebatas lutut. Tubuh kurus namun kokoh itu membungkuk ketika dia mencangkul tanah. Agaknya hanya dia seorang yang bekerja di sawah pada saat itu. Para petani lain agaknya masih menunggu turunnya hujan baru mereka akan mencangkul tanah dan siap menanam padi. Akan tetepai kakek itu dengan sabar dan tekun mencangkuli tanah yang kering itu. Tanah yang luas itu, sinar matahari yang sudah naik tinggi, kesunyian itu dan hanya seorang kakek bekerja seorang diri sambil bertembang, suasananya begitu menyentuh perasaan Maya Dewi sehingga ia kini berdiri di tepi jalan memandang ke arah kakek yang agaknya tidak melihatnya. Maya Dewi memandang seperti terpesona. Seolah baru terbuka matanya kini, atau seolah matanya kini mempunyai penglihatan yang baru. Sebelumnya, melihat seorang kakek seperti itu, tentu merupakan penglihatan biasa saja dan mungkin hanya mendatangkan perasaan iba melihat seorang tua seperti bekerja berat dan keadaannya miskin. Akan tetapi saat itu, Maya Dewi melihat keindahan tang menggetarkan kalbu. Tubuh kakek tua kurus itu, kulit tubuh atas telanjang yang coklat tua berkeriput di sana-sini bermandikan keringat sehingga berkilauan ditimpa sinar matahari, kepala yang rambutnya putih terikat kain kepala yang sudah usang, wajah yang kurus keriputan, juga basah oleh keringat, tampak begitu cerah, semua itu tampak olehnya demikian indah dan agung! Keindahan yang bukan muncul karena perbandingan dan penilaian, keindahan yang timbul karena kesadaran bahwa itulah wujud seorang manusia, mahluk teragung di antara semua ciptaan Gusti Allah. Sesungguhnya, hasil ciptaaan Gusti Allah itu sempurna! Hati akal pikiran penuh nafsu yang membeda-bedakan karena membandingkan dan menilai. Seorang raja sekalipun, kalau dia sudah setua kakek petani itu, berpakaian hanya celana hitam seperti itu, dan mencangkul di sawah, keadaannya akan sama saja! Yang membedakan antara manusia hanyalah pakaiannya, baik pakaian itu berupa kain penutup tubuh, maupun kedudukan, harta benda, kepandaian dan sebagainya. Kalau mereka itu ditelanjangi dari semua pakaian itu, keadaannya tidak berbeda dari orang lain. Buktinya, apakah perbedaan di antara orang-orang mati, di antara mayat-mayat yang sudah dilepaskan dari semua pakaian itu? Agaknya pandang mata Maya Dewi yang penuh perhatian itu terasa oleh kakek petani yang mecangkul. Tiba-tiba dia menoleh ke kiri dan ketika melihat seorang wanita cantik berpakaian putih berdiri memandangnya, dia melepaskan gagang cangkulnya dan mengusap keringat dari matanya dengan menggunakan lengannya. Ketika kakek itu memandangnya dengan heran Maya Dewi tersenyum dan berkata lembut.

"Selamat siang, Paman. Maaf kalau aku mengganggu pekerjaan Andika."

"Wah, sama sekali tidak, Mas Ayu! Aku memang sudah lelah dan ingin mengaso."

Kata kakek itu, lalu dia meninggalkan cangkulnya dan keluar dari sawah, mencuci tangannya di selokan air.

Kemudian dia mengambil baju hitamnya yang dia taruh di atas batu besar, menyusut keringat dari muka dan leher, juga menyusut air dari lengan dan tangannya, kemudian memakai baju hitam itu, mengambil sebuah kendi dan sebuah bungkusan daun pisang yang berada di atas batu itu pula.

Lalu sambil tersenyum dia melangkah menghampiri Maya Dewi dan duduk di atas batu di tepi sawah.

"Andika lelah sekali, Paman?"

Maya Dewi bertanya sambil duduk di atas batu di depan Kakek itu.

"Ah, lelah yang enak. Mas Ayu. Kelelahan ini yang membuat singkong rebus ini lezat rasanya, air kendi ini segar sekali, dan makan minum di sini sambil mengaso dan dikipasi angin semilir, bukan main nikmatnya!"

Kakek itu membuka bungkusan daun pisang yang ternyata berisi singkong rebus yang cukup banyak dan mempur (gembur), menawarkannya kepada Maya Dewi.

"Silahkan, Mas Ayu. Singkong ini kurebus sendiri tadi dan sudah kuberi garam. Enak sekali!"

Maya Dewi tersenyum dan mengambil sepotong.

Ia tercengang betapa lezatnya singkong rebus itu!

Padahal, itu hanya makanan sederhana sekali, murah dan merupakan makanan umum rakyat petani miskin.

Anehnya, bercakap-cakap dengan petani sederhana ini, duduk di tepi sawah dan makan singkong rebus bersamanya, ia mendapat kenyataan pula bahwa semua perasaan yang tidak enak tadi ketika ia melamun, lenyap seketika tanpa meninggalkan bekas!

Ia merasa bersatu dengan kesemuanya itu.

Tanah kering, air selokan, sawah luas, langit cerah dengan awan-awan putih tipis, sinar matahari, kakek petani ini, semua itu demikian akrab dan keadaannya menjadi bagian dari semua keindahan itu!

Ia merasa bersatu dengan semuanya, tiada apa pun yang perlu dipikirkan, jiwanya terasa bebas dari semua akal pikiran dan emosi, semuanya mengendap dan jernih, bebas dan bahagia!

Belum pernah ia merasakan keadaan seperti ini.

Ia memang sudah sering merasakan kesenangan, namun itu pun hanya merupakan perasaan hati yang tiada bedanya dengan kekecewaan, kepuasan, kesusahan, kekhawatiran, yang semua itu hanya sementara belaka, hanya di permukaan, pergi datang silih berganti, hanya permainan hati akal pikiran yang mempermainkan perasaan, terkadang diangkat, terkadang dibanting.

Akan tetapi saat ini lain sama sekali.

Tidak ada lagi Maya Dewi, tidak ada lagi kakek petani, yang ada hanya dua insan, dua manusia ciptaan Gusti Allah di antara segala ciptaanNya yang lain di sekeliling mereka, sejauh mata dapat memandang, sejauh pikiran mampu menjangkau!

Inikah bahagia?

Maya Dewi kembali kealam fana dan ia memandang kakek itu.

Kakek itu menawarkan air kendi, itulah yang membuat ia sadar kembali bahwa ia tadi mengembara di alam sorgawi.

"Minumlah, Mas Ayu. Air kendi ini segar sekali dan bersih karena aku mengambilnya dari sumur, bukan air kali."

Kakek itu lalu menuangkan air dari lubang pancuran di perut kendi, Dia membuka mulutnya dan air kendi memancur masuk ke mulutnya dengan tepat walaupun air itu mancur dalam jarak sehasta dari mulutmnya.

Maya Dewi sampai menelan ludah melihat betapa kerongkongan kakek itu bergerak-gerak ketika menelan air.

Begitu segar dan enak!

Maka ia pun menyambut ketika kendi diserahkan kepadanya.

Tentu saja minum air kendi bukan merupakan hal asing baginya, jari-jari tangan kanannya mencekik leher kendi, lalu ia menuangkan air ke dalam mulutnya seperti yang dilakukan kakek tadi.

Tanpa malu-malu ia membuka mulut lebar-lebar agar air kendi tidak sampai tumpah.

Dan bukan main nikmat dan segarnya!

Apalagi kerongkongannya memang agak seret (tersendat) setelah makan singkong rebus yang mempur tadi.

Setelah mereka kenyang mereka berhenti makan minum dan Maya Dewi memandang wajah kakek itu sambil tersenyum gembira.

"Terima kasih, Paman. Singkong rebusnya lezat sekali dan air kendinya segar bukan main!"

"Wah, Mas Ayu. Aku hanya dapat menyuguhkan makanan dan minuman desa! Biasanya para priyayi dari kota tidak mau makanan dan minuman seperti ini. Akan tetapi Andika menikmatinya! Aku merasa senang sekali. Mas Ayu ini tentu seorang priyayi dari kota pula, mengapa berada di sini dan sudi bercakap-cakap dengan aku, bahkan sudi pula menerima suguhanku?"

"Ah, Paman. Aku bukan priyayi. Aku orang biasa saja. Namaku Maya Dewi dan aku sedang melakukan perjalanan."

Maya Dewi berhenti sebentar dan mengamati wajah kakek itu, hatinya sudah merasa tegang dan khawatir kalau-kalau kakek ini sudah mendengar nama busuknya pula dan lari ketakutan.

Akan tetapi ternyata tidak.

Kakek itu bersikap biasa saja dan senyumnya masih ramah.

Maka ia pun melanjutkan dengan gembira.

"Andika tentu seorang yang berbahagia, Paman."

Petani itu memicingkan matanya memandang Maya Dewi dengan lagak lucu akan tetapi sinar matanya memancarkan keheranan karena selain dia menganggap pertanyaan itu aneh dan lucu, dia pun sama sekali tidak mengerti.

"Mas Ayu, aku ini seorang petani, hidup sebagai seorang duda tanpa anak isteriku meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Aku seorang duda petani yang hidup sendiri di dusun sana, bukan seorang yang.... apa tadi yang Andika maksudkan?"

"Seorang yang berbahagia."

"Aku tidak mengerti apa itu berbahagia."

Maya Dewi menjadi bingung karena sesungguhnya ia sendiri juga belum yakin benar bagaimana rasanya bahagia itu, kecuali pada saat-saat tertentu dan kemudian hilang kembali.

Karena tidak mungkin menerangkan bagaimana bahagia itu, maka ia akan bertanya tentang hal-hal yang menghilangkan kebahagiaan.

"Paman, Paman bilang kehilangan isteri dan hidup sebatang kara tanpa ada orang yang menemani hidup Paman, apakah Paman tidak merasa kesepian dan nelangsa hidupmu?"

"Wah, tidak samasekali, Mas Ayu. Semua penduduk dusun mengenalku dan aku hidup rukun dengan mereka semua. Mereka itu kuanggap keluargaku sendiri. Kita merupkan keluarga besar. Aku sama sekali tidak kesepian, Mas Ayu."

Maya Dewi mengerutkan alisnya.

Tentu saja Bagus Sajiwo pernah memberi tahu kepadanya bahwa seluruh manusia di dunia ini sesungguhnya adalah keluarga kita sendiri.

Akan tetapi begitu banyak orang membencinya, memusuhinya.

"Paman, bagaimana kalau ada penduduk yang membencimu?"

"Membenciku? Mengapa? Kalau aku baik dan sayang kepada mereka, tentu mereka juga baik dan sayang kepadaku, Mas Ayu. Akan tetapi andaikata ada yang membenciku, ya biar saja, itu urusannya. Yang penting aku tidak membenci siapa-siapa, sehingga dapat enak makan dan enak tidur."

"Akan tetapi keadaanmu yang miskin, apakah hal itu tidak menyusahkan hatimu, Paman? Apakah Paman tidak ingin keadaanmu lebih makmur seperti banyak orang lain?"

Kakek itu tertawa memperlihatkan mulutnya yang ompong.

"Heh-heh, aku tidak pernah susah dengan keadaanku dan aku tidak pernah iri kepada orang lain, Mas Ayu. Aku selalu nrima ing pandum (menerima dengan syukur apa yang menjadi bagiannya). Boleh jadi aku miskin, akan tetapi aku tidak merasa miskin, karena aku tidak merasa kurang. Aku mempunyai sepetak sawah ini, punya rumah gubuk, mau apa lagi? Aku bekerja giat sebagai kewajiban hidupku, akan tetapi bagaimana hasil akhirnya, hal itu bukan kekuasaanku untuk menentukan."

"Apakah engkau tidak pernah merasa bersedih, Paman?"

"Tentu saja. Orang hidup bagaimana mungkin tidak penah merasa sedih? Misalnya ketika isteriku meninggal dunia, tentu aku merasa sedih. Atau ketika tanaman di sawahku gagal. Akan tetapi kesedihan itu hanya mampir sebentar karena aku tahu bahwa disedihkan bagaimanapun juga, kesedihan itu tidak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik, bahkan mungkin bertambah buruk. Itu tadi, Mas Ayu, nrima ing pandum."

Maya Dewi tersenyum.

"Kalau begitu, Andika adalah orang yang berbahagia, Paman."

"Entahlah, Mas Ayu. Akan tetapi, terus terang saja, aku sama sekali tidak butuh bahagia. Biarlah aku seperti sekarang ini. Bahagia atau tidak, aku tidak ingin kehidupanku ini berubah."

"Satu pertanyaan lagi, Paman. Bagaimana kalau kelak sewaktu-waktu Paman jatuh sakit karena usia tua padahal Paman tidak mempunyai keluarga? Apakah itu tidak menyedihkan hatimu?"

"Heh-heh-heh, Andika ini aneh-aneh saja, Mas Ayu. Aku tidak mau memusingkan hal-hal yang belum terjadi. Bagaimana nanti sajalah! Siapa sih yang mengetahui apa yang akan menimpa dirinya? Maaf, mas Ayu, aku mau melanjutkan pekerjaanku."

Petani itu bangkit berdiri dan Maya Dewi juga bangkit berdiri.

"Terima kasih atas keramahanmu, Paman. Engkau baik sekali dan aku yakin kini bahwa Paman tentu seorang yang berbahagia, walaupun miskin dan hidup sebatang kara!"

"Terserah anggapan Mas Ayu saja."

Maya Dewi meninggalkan tempat itu, melanjutkan pejalanannya, akan tetapi ia berhenti menengok, lalu bertanya kepada petani yang sudah memegang cangkulnya itu.

"O ya, Paman. Apakah Paman melihat seorang laki-laki menunggang kuda membawa seorang anak laki-laki?"

"Laki-laki menunggang kuda? Ah, ya, aku ingat sekarang. Kemarin sore aku melihat seorang laki-laki membalapkan kudanya dan dia memboncengkan seorang anak laki-laki di depannya."

"Ke mana dia pergi, Paman?"

"Dia membalapkan kudanya ke arah sana!"

Kakek itu menunjuk ke arah utara.

"Terima kasih, Paman!"

Maya Dewi berkata girang dan ia lalu berlari cepat sekali sehingga kakek petani itu memandang dengan bengong, merasa seperti dalam mimpi karena wanita cantik yang tadi makan singkong bersamanya, tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat dan lenyap dari situ.

Setelah jauh meninggalan daerah pertanian itu dan mulai melewati dusun, Maya Dewi berjalan biasa.

Ia beberapa kali senyum sendiri, teringat akan percakapannya dengan kakek petani tadi.

Ia mendapatkan pengertian baru tentang kebahagiaan.

Kalau aku tidak keliru, kata hatinya, setiap orang hidup sebetulnya telah bahagia.

Gusti Allah menciptakan manusia bukan untuk ditakdirkan menderita.

Ciptaan yang Maha Sempurna itu sudah tentu sempurna pula.

Kalau kita merasa tidak berbahagia, hal itu berarti ada sesuatu yang menghalanginya.

Kalau penghalang itu disingkirkan, maka bahagia ada di sana, di dalam hati setiap orang manusia!

Jadi ketidak bahagiaan itu timbul karena ulah kita sendiri.

Kalau hidup ini wajar dan berserah diri kepada Gusti Allah Yang Maha Kasih, dapat narima ing pandum, yaitu menerima segala hal yang menimpa dirinya dengan rasa syukur karea semua itu terjadi atas kehendakNya, tanpa meninggalkan ikhtiar kita sekuat tenaga, maka kebahagiaan tidak akan terhalang dan bersinar seperti matahari tak terhalang mendung.

Ia dibenci orang, mengapa harus berduka?

Kalau ia menerima kenyataan itu sebagai hal yang wajar, karena memang ia sendiri yng bersalah, dan ia berikhtiar sekuatnya untuk melaksanakan kehendak Gusti Allah, menjadi penyalur berkatNya kepada orang lain yang membutuhkannya, maka berarti ia menghilangkan penghalang bagi kebahagiaannya.

Ia harus menerima semua perlakuan pahit tehadap dirinya itu sebagai buah perbuatannya yang dulu sebagai imbalan hukuman yang sudah sepatutnya diterimanya.

Dan dalam penyesalan dan pertaubatannya, setiap melakukan sesuatu, ia harus menganggap sebagai menanam bibit yang akan tumbuh dan kelak mengeluarkan buah sesuai bibit yang ditanamnya.

Ia masih teringat akan kata-kata Bagus Sajiwo bahwa Gusti Allah itu Maha Pengampun dan Maha Adil, setiap sa untuk menanggung semua hukuman ini."

Maya Dewi berdoa dalam hatinya lalu mengusir semua perasaan iba iri itu denganat akan mengampuni setiap orang berdosa yang mau bertaubat dengan sungguh-sungguh seperti seorang ayah yang amat mencinta anaknya akan selalu menerima kembali anak yang hilang dan sesat jalan, menerimanya kembali dengan kasih sayang.

Bahkan hukuman yang diberikan kepada si anak yang bersalah juga merupakan bukti kasih sayang si ayah agar si anak menjadi sadar bertaubat tidak melakukan kesalahan seperti itu lagi.

"Duh Gusti Allah, Pangeran Yang Maha Kasih, kasihanilah hamba dan berilah kekuatan kepada hamba untuk menanggung semua hukuman ini."

Maya Dewi berdoa dalam hatinya lalu mengusir semua perasaan iba diri itu dengan mencurahkan perhatiannya terhadap pengejarannya kepada Satyabrata yang melarikan Joko Galing, putera Parmadi dan Muryani.

Siapakah laki-laki berusia sekitar empat puluh satu tahun yang menculik Joko Galing dan dikenal oleh Parmadi sebgai Satyabrata itu?

Satyabrata lahir di Cirebon.

Ibunya seorang wanita pribumi bernama Marsinah, sedangkan ayahnya adalah seorang pedagang bule berbangsa Portugis bernama Henrik.

Ketika Satyabrata terlahir dan anak itu berkulit gelap dan berambut hitam, hanya matanya yang agak kebiruan, lebih mirip pribumi daripada bule, Henrik lalu meninggalkan ibu dan anak itu ketika dia kembali ke negaranya.

Marsinah membesarkan anak itu seorang diri.

Ketika Satyabrata berusia empat belas tahun, seorang perwira Kumpeni Belanda bernama Willem van Huisen merasa suka kepadanya dan Satyabrata lalu diambil sebagai anak angkat dan disekolahkan.

Willem van Huisen sendiri hanya mempunyai anak perempuan Eisye van Huisen.

Satyabrata lalu diberi nama Belanda, yaitu Jan van Huisen.

Akan tetapi kalau berada di luar rumah, dia lebih suka memakai nama Satyabrata.

Sebagai anak angkat perwira Belanda, Satyabrata mudah saja berguru kepada orang-orang sakti di Cirebon, mempelajari olah kanuragan.

Bahkan dia pernah belajar di perguruan Dadali sakti.

Setelah dia berusia dua puluh satu tahun, menjadi seorang pemuda yang tampan dan terpelajar, juga digdaya, ayah angkatnya Willem van Huisen mulai memberi tugas kepadanya sebagai pemimpin mata-mata Kumpeni.

Ketika dia menyusup hendak menyelidiki keadaan Jatikusumo sebagai tempat para pendekar yang setia kepada Mataram, dia ketahuan, berkelahi dan terjatuh ke dalam sumur tua di belakang perguruan Jatikusumo.

Sumur ini dikeramatkan dan menjadi tempat larangan bagi para murid Jatikusumo.

Semua orang mengiara Satyabrata mati, akan tetapi sebaliknya dia malah dapat mempelajari ilmu-ilmu yang hebat dan aneh peninggalan mendiang Resi Ekomolo yang mati dalam sumur itu.

Dia mendapatkan keris pusaka Ilat Nogo dan catatan ilmu-ilmu yang aneh.

Dia mempelajarinya selama bertahun-tahun dan akhirnya dia menjadi seorang yang sakti mandraguna.

Dia berusia sekitar dua puluh enam tahun ketika bertemu dengan Muryani dan jatuh cinta kepada gadis itu.

Akan tetapi walaupun Muryani juga terpikat oleh ketampanan dan rayuan Satyabrata, namun gadis itu sudah saling mencinta dengan Parmadi sehingga menolak cinta Satyabrata.

Akhirnya Muryani yang setia kepada Mataram itu mengetahui bahwa Satyabrata seorang yang jahat dan cabul, juga antek Kumpeni Belanda sehingga Muryani meninggalkannya dan bahkan memusuhinya.

Setelah Satyabrata membantu Madura dalam perangnya melawan Mataram di mana dia bertemu dengan Muryani yang membela Mataram, kemudian Madura dapat dikalahkan Mataram, Satyabrata melarikan diri bersama Maya Dewi yang ketika itu menjadi rekan dan juga kekasihnya.

Setelah tiba di rumah ayah angkatnya, Wilem van Huisen mengirim dia ke negeri Belanda di mana dia mempelajari banyak ilmu.

Ilmu pengetahuan dan juga ilmu militer termasuk kemahiran mempergunakan senjata api.

Pada suatu hari dia bertemu dengan Elsye, puteri kandung Willem van Huisen, atau adik angkat Satyabrata.

Dahulu, ketika remaja, terjadilah hubungan cinta antara Satyabrata dan Elsye.

akan tetapi ketika mereka bertemu di negeri Belanda, Elsye telah menjadi isteri Piet Meijer, Suami isteri ini belum mempunyai anak walaupun mereka sudah menikah selama lima tahun.

Pertemuan itu menggugah cinta diantara mereka dan dengan pengalaman dan aji pengasihannya, akhirnya Satyabrata membuat Elsye jatuh dan menyeleweng dengannya.

Hal ini berlangsung berbulan-bulan dan Piet Meijer tidak mengetahuinya karena dia tahu bahwa Satyabrata adalah kakak angkat Elsye.

Akan tetapi pada suatu hari, Piet Meijer memergoki perjinahan mereka.

Tentu saja dia marah, akan tetapi sebelum dia dapat berbuat sesuatu, Satyabrata mendahuluinya dan membunuhnya.

Pada malam harinya, Satyabrata membawa mayat Piet Meijer ke dalam taman umum yang sudah sepi dan meninggalkan mayat itu di sana.

Tentu saja peristiwa pembunuhan ini menggegerkan pemerintah Belanda.

Akan tetapi polisi tidak dapat melacak pembunuhnya.

Tak seorangpun mencurigai Satyabrata dan akhirnya, setahun kemudian Satyabrata menikah dengan Elsye secara resmi.

Akan tetapi pasangan ini juga tidak mempunyai keturunan.

Sudah menjadi watak Satyabrata, cintanya kepada wanita hanyalah cinta berahi.

Kalau gejolak berahinya sudah terpuaskan, cintanya pun menguap dan terbang lenyap seperti uap.

Dia mulai bosan setelah hidup sebagai suami isteri dengan Elsye selama bertahun-tahun.

Dia sudah menghibur dirinya dengan penyelewengan-penyelewengan, namun akhirnya dia merasa bosan dengan itu semua, bosan dengan wanita-wanita Belanda dan mulai rindu kepada wanita bangsa ibunya.

Terutama sekali dia merasa amat rindu kepada Muryani yang pernah dicintanya, dicintanya dengan sungguh-sungguh, bukan sekedar cinta berahi.

Maka, giranglah hatinya ketika dia menerima tugas dari Kerajaan Belanda untuk membantu Kumpeni Belanda di Tanah Jawa!

Dia dapat bertemu dengan ibunya, Marsinah, kalau masih hidup.

Dan terutama sekali dia akan dapat bertemu dengan Muryani yang tidak pernah dapat dia lupakan.

Ketika isterinya, Elsye ingin ikut, dia melarangnya dengan alasan bahwa kini keadaan di Tanah Jawa sedang gawat, banyak terjadi bentrokan dengan Mataram dan berbahaya sekali bagi seorang wanita kulit putih untuk berada di sana.

Akhirnya, Satyabrata berangkat sendiri.

Demikanlah, begitu tiba di Batavia dia mendapat laporan dan gambaran tentang keadaan di Pulau Jawa, tentang gerakan Blambangan yang hendak menyerbu Mataram dan mendapat dukungan dari Bali, Madura, dan Kumpeni walaupun bantuan Kumpeni dilakukan secara diam-diam dan hanya menyumbangkan senjata.

Politik Belanda adalah mengadu domba antara para penguasa di Pulau Jawa agar saling bentrok sehingga akhirnya melemahkan mereka sendiri.

Kalau mereka sudah lemah karena perang saudara, akan lebih mudah bagi Belanda untuk menundukkan Mataram.

Satyabrata bertugas untuk menghimpun semua mata-mata dan membantu agar perang saudara itu semakin menghebat.

Tugas pertama adalah urusan diri sendiri diutamakan, yaitu mencari Muryani.

Setelah mendengar bahwa Muryani tinggal bersama suaminya, Parmadi di Pasuruan dan sekarang sudah mempunyai anak laki-laki berusia enam tahun, dia langsung berangkat seorang diri ke Pasuruan!

Secara kebetulan sekali, ketika dia melakukan perjalanan menuju Pasuruan, dia melihat Parmadi dan Muryani dikeroyok orang-orang yang menurut pakaiannya adalah orang Bali.

Dia dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang Bali yang menjadi sekutu Blambangan.

Tadinya dia hendak menyelamatkan Muryani yang tampak terdesak walaupun tentu saja menurut tugasnya dia harus membantu orang-orang pendukung Blambangan.

Akan tetapi tiba-tiba dia melihat seorang wanita pakaian putih membantu suami isteri itu dan sepak terjang wanita itu demikian hebat sehingga dia tahu bahwa Muryani tidak terancam bahaya lagi.

Maka timbul akalnya.

Kiranya tidak akan mudah merampas Muryani begitu saja dari Parmadi yang menjadi suaminya.

Selain Parmadi tentu akan menghalanginya, juga Muryani belum tentu mau.

Maka dia harus menggunakan akal.

Melihat putera mereka, Joko Galing seorang diri, dia cepat menangkap anak laki-laki itu dan membawanya lari!

Menurut perhitungannya, perbuatan ini akan mendatangkan dua keuntungan baginya.

Pertama, Adipati Blambangan tentu akan senang mendengar dia telah menawan putera Parmadi pembela Mataram setia itu.

Kedua, dia akan dapat menggunakan anak laki-laki itu untuk memaksa Muryani mau menjadi isterinya!

Semula Joko Galing meronta-ronta dan memaki-maki ketika dia dilarikan di atas kuda oleh Satyabrata.

Akan tetapi Satyabrata diam saja dan pegangan tangan kirinya membuat anak itu tidak mampu banyak meronta lagi.

Setelah semua usaha perlawanannya tidak ada gunanya, Joko Galing yang memiliki kecerdikan maklum bahwa tidak ada artinya kalau dia melawan.

Dia lalu duduk di atas punggung kuda, di depan penculiknya itu dengan tenang, tidak memaki atau mencoba untuk meronta lagi.

Satyabrata merasa senang dan dia pun tidak lagi menekan pundak anak itu dengan tangan kirinya.

Kuda dilarikan dengan cepat dan baru berhenti setelah malam tiba.

Karena malam tiba ketika mereka masih berada di tengah jalan, jauh dari kota atau desa, Satyabrata berhenti di kaki sebuah bukit, di bawah sebatang pohon johar besar yang tumbuh dekat sebatang anak sungai yang airnya bersih.

Tanpa bicara dia menurunkan Joko Galing dari atas kuda, lalu mengumpulkan ranting pohon dan rumput kering, membuat api unggun karena di situ terdapat banyak nyamuk dan mimik yang amat mengganggu.

Joko Galing merasakan juga gigitan nyamuk, maka dia menghampiri api unggun dan duduk dekat api unggun, berhadapan dengan Satyabrata.

Anak ini mulai memperhatikan keadaan laki-laki itu.

Sekarang dia mendapat kesempatan untuk mengamati orang itu.

Seorang laki-laki yang agaknya sedikit lebih tua daripada ayahnya.

Tubuhnya tinggi tegap mengenakan pakaian dari kain tebal berwarna biru.

Kakinya memakai sepatu kulit yang menutupi kaki sampai ke betis, berwarna hitam mengkilat.

Rambutnya berombak dan indah, wajahnya tampan dan matanya tampak aneh, agak kebiruan.

Joko Galing pernah mendengar cerita ayah ibunya tentang bangsa Belanda yang berkulit bule dan bermata biru bahkan ada yang rambutnya kuning!

Orang ini kulitnya tidak bule walaupun cukup putih, rambutnya yang berombak itu pun hitam seperti rambutnya sendiri.

Hanya matanya memang agak kebiruan, tidak biru benar.

Satyabrata juga memperhatikan Joko Galing dan hatinya merasa senang.

Anak ini mirip benar dengan Muryani.

Dia mengeluarkan bungkusan dari buntalan pakaian yang tadi digendongnya.

Ternyata bungkusan itu berisi sepotong besar roti.

Dia membagi roti itu menjadi dua potong lalu menyodorkan yang sepotong kepada Joko Galing.

Anak itu menerimanya dan tanpa berkata-kata lalu keduanya makan roti.

Rasanya asin manis, enak bagi Joko Galing, maka dimakannya roti itu sampai habis.

Satyabrata mengeluarkan sebuah botol dan mendekatkan botol itu ke mulutnya lalu dia minum beberapa teguk, lalu menyerahkan botol yang berwarna hijau itu kepada Joko Galing.

Anak itu pun menerimanya dan meniru perbuatan penculiknya, minum isi botol.

Wah, enak sekali rasanya, terasa air jeruk yang manis!

"Apakah engkau seorang Belanda?"

Joko Galing bertanya sambil menatap mata yang kebiruan itu, yang baginya tampak aneh ketika mata itu terkena sinar api unggun.

Mendengar pertanyaan ini, Satyabrata tersenyum dan wajahnya memang masih tampan ketika dia tersenyum.

"ibuku seorang Jawa, seperti juga Ibumu."

"Engkau mengenal Ibuku?"

"Tentu saja, juga Ayahmu. Aku mengenal baik Parmadi dan Muryani, terutama sekali Muryani."

Joko Galing menjadi semakin berani. penculiknya ibi sikapnya lembut, tidaj kasar seperti penjahat.

"Siapakah namamu, Paman?"

"Namaku Satyabrata. Ayah Ibumu, terutama Ibumu, mengenal aku dengan baik."

"Kalau benar Paman merupakan kenalan baik Ayah Ibuku, mengapa Paman sekarang menculikku?"

Tanya Joko Galing penasaran sekali. Satyabrata menghela napas panjang.

"Apa yang terjadi sekarang ini adalah kesalahan Parmadi, akibat dari perbuatannya menyakitkan hatiku. ketahuilah.... eh, siapa sih namamu?"

"Namaku Jaka Galing."

"Nama yang bagus. Nah, dengarlah. Dahulu, ketika Ibumu Muryani itu masih gadis, ia adalah pacarku. Kami saling mencinta dan ia tentu menjadi isteriku yang tercinta kalau tidak muncul Parmadi yang merampas Muryani dariku."

"Ayah merampas Ibu dari Paman? Apa maksud Paman?"

"Parmadi muncul, merayu dan menggunakan guna-guna sehingga Muryani tergila-gila kepadanya, melupakan dan meninggalkan aku, lalu menjadi isteri Parmadi."

Hening sejenak. Joko Galing yang baru berusia enam tahun itu tentu saja tidak mengerti benar apa yang diceritakan Satyabrata itu.

"Akan tetpi mengapa sekarang Paman menculik aku? Apa hubungannya dengan cerita Paman tadi?"

"Aku akan menuntut hakku! Muryani hars menjadi isteriku karena aku adalah pria yang pertama kali dicintanya dan sampai sekarang aku masih sangat mencintanya. Ia harus menjadi isteriku. Karena itu membawamu agar Muryani mau menjadi isteriku. Kita bertiga hidup berbahagia menjadi sebuah keluarga.."

Joko Galing mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi .... bagaimana dengan Ayah?"

"Ah, biar tahu rasa dia! Sudah belasan tahun lamanya dia menjadi suami Muryani yang sebetulnya harus menjadi isteriku. Kalau dia hendak menghalangi niatku ini, dia akan kubunuh!"

Joko Galing melihat betapa mata yang kebiruan itu mengeluarkan sinar aneh dan mendorong mengerikan.

Akan tetapi dia tidak takut.

Jati anak kecil ini panas dan marah sekali mendengar ibunya hendak dipaksa menjadi isteri Satyabrata dan ayahnya hendak dibunuh.

"Hemm, enak saja engkau bicara! Jangan harap engkau akan dapat membunuh Ayahku. Engkau tidak akan mampu menandinginya, bahkan kalau engkau berani melawannya, engkaulah yang akan mati! Ayahku adalah seorang yang sakti mandraguna, terkenal sebagai Si Seruling Gading!"

Tiba-tiba Satyabrata tertawa dan Joko Galing merinding (meremang bulu tubuhnya) karena ngeri.

Dia pernah melihat seorang gila dan seperti itulah tawanya.

Seperti bukan tawa manusia, melainkan tawa hantu dalam dongeng!

"Hyeh-heh-heh!

Lihat kelelawar terbang itu!"

Dia menuding ke atas. Joko Galing memandang ke atas. Ada beberapa ekor kelelawar terbang di atas pohon. Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan yang mengejutkan hati anak itu.

"Dar! Dar!"

Dua ekor kelelawar itu jatuh dengan tubuh pecah dihantam peluru.

Joko Galing memandang dan melihat Satyabrata sambil terkekeh memegang sebatang pistol yang masih berasap!

"Nah, apa artinya kesaktian Parmadi menghadapi pistolku ini?

Dan aku mahir menggunakan dua buah pistol!"

Kini tangan kirinya meraih ke pinggang, lalu dengan kedua tangan masing-masing memegang sebuah pistol, beberapa kali dia menembakkan pistolnya ke atas.

"Dar-dar-dar-darrr....!!"

Dua buah pistol itu memuntahkan bunga api dan mengepulkan sedikit asap.

Dengan cepat kedua tangan Satyabrata bergerak dan senjata api itu telah kembali ke pinggangnya.

Joko Galing memang pucat melihat kehebatan ini, juga terkejut oleh suara ledakan-ledakan nyaring, akan tetapi dengan muka angkuh dia berkata.

"Ayahku memiliki kekebalan! Tidak takut senjata apimu!"

"Heh-heh-heh! Kalau pistolku berpeluru emas, ayahmu tidak akan mampu menahan dengan kekebalan. Dan selain pistol-pistol ini, lihat, apakah Parmadi lebih sakti daripada aku!"

Satyabrata bangkit berdiri lalu dengan kedua kaki terpentang dan kedua lutut ditekuk dia lalu mendorong kedua tangannya ke arah sebatang pohon yang tumbuh dalam jarak dua tombak di depannya.

"Heeeiihhh....!"

Mulutnya membentak. Hawa yang dahsyat menyambar ke arah batang pohon sebesar tubuh manusia itu.

"Wuuuttt.... braaakkk....!"

Pohon itu tumbang, mengeluarkan suara berisik, tidak kuat menahan Aji Pukulan Margopati yang dilakukan dengan tenaga sakti yang amat dahsyat.

"Heh-heh-heh, apa Parmadi mampu menahan tembakan pistol dan pukulanku tadi?"

Satyabrata tertawa-tawa. Biarpun hatinya berdebar menyaksikan kehebatan Satyabrata, namun Joko Galing memang memiliki ketabahan luar biasa. Dia tidak mengenal takut dan sama sekali tidak cengeng.

"Hemm, belum tentu Andika akan dapat mengalahkan Ayahku. Dan ada satu hal lagi yang Andika lupakan, Paman Satyabrata."

"Hemm, apa itu?"

"Bagaimanapun juga, Ibuku dan aku sudah pasti tidak sudi menjadi isteri dan anakmu!"

Satyabrata mengerutkan alisnya dan mukanya yang tampan bersih itu berubah kemerahan, matanya yang bersinar aneh itu semakin mencorong karena marah. Dia tidak tersenyum atau tertawa lagi.

"Begitukah pendapatmu? Kita sama lihat saja nanti! Muryani harus dan pasti mau menjadi isteriku kalau ia menghendaki kamu selamat dan hidup. Kalau ia menolak, aku akan meledakkan kepalamu dengan peluru pistolku!"

Mendengar ancaman yang mengerikan terhadap ibu dan ayahnya itu, Joko Galing marah sekali.

Lebih baik mati sekarang agar dia jangan dipergunakan untuk memaksa ibunya menjadi isteri orang jahat ini, tekadnya.

"Keparat kau! Iblis jahat kau!"

Setelah berkata demikian, Joko Galing melompat dan menyerang Satyabrata dengan nekat, menggunakan kedua tangan dan kepalanya untuk menyeruduk perut Satyabrata.

Akan tetapi tentu saja serangan seorang anak kecil berusia enam tahun itu tidak ada artinya bagi seorang yang demikian saktinya seperti Satyabrata.

Sekali kaki kirinya mencuat terdengar suara berdebuk dan tubuh anak itu terlempar dan jatuh bergulingan sampai empat lima tombak jauhnya!

Pada saat itu tampak sesosok bayangan putih berkelebat dan seorang wanita cantik berpakaian putih sudah berdiri membelakangi Joko Galing dan menghadapi Satyabrata dengan senyumnya yang manis.

Satyabrata terkejut dan heran melihat betapa tiba-tiba muncul seorang wanita tetapi setelah dia memandang penuh perhatian, wajahnya berseri, matanya bersinar gembira.

"Maya Dewi....!"

Dia berseru girang.

"Senang sekali dapat bertemu denganmu di sini. Sudah lama aku mencarimu kemana-mana tanpa hasil."

Maya Dewi tersenyum dan sikapnya tenang sekali.

Hal ini sudah mengherankan hati Satyabrata karena dia mengira bahwa wnita cantik yang pernah menjadi kekasihnya itu akan menubruk, merangkul dan mencumbunya kalau mereka saling bertemu.

Semenjak dia datang di Tanah Jawa dari negeri Belanda, dia mendengar pemberitahuan Mayor Jakues bahwa Maya Dewi telah keluar dari pekerjaannya sebagai mata-mata Kumpeni Belanda, bahkan wanita itu berani memberontak dan menentangnya, tentu saja Mayor Belanda ini tidak menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi.

Tidak menceritakan bahwa dia hendak memaksa Maya Dewi menjadi isterinya.

Satyabrata lalu berusaha menemukan bekas kekasihnya itu.

Akan tetapi sampai berbulan-bulan dia tidak berhasil menemukan Maya Dewi.

Maka tentu saja dia girang bukan main melihat Maya Dewi tiba-tiba muncul di malam hari itu.

"Satyabrata, setelah usiamu bertambah belasan tahun, ternyata watakmu masih juga belum berubah! Engkau menyerang anak ini yang tentu saja bukan tandinganmu."

Satyabrata tertawa geli dan menambahkan beberapa potong kayu kering ke dalam api unggun sehingga api bernyala semakin terang.

"Hua-ha-ha, Maya Dewi, bagaimana manusia dapat berubah? Mungkin aku lebih tua sekarang, akan tetapi semakin tua makin matang dan berpengalaman bukan? Kulihat engakau pun makin tua akan tetapi malah semakin manis dan menggairahkan, heh-heh-heh!"

"Satyabrata,"

Kata Maya Dewi dengan sabar akan tetapi suaranya mengandung wibawa.

"Aku melarang engkau memukul anak ini!"

Kembali Satyabrata tertawa.

"Ah, tentu saja! Aku tahu akan kesenanganmu. Maya Dewi. Anak itu memang tampan dan sejak dulu engkau paling menyukai pemuda yang tampan dan kuat! Akan tetapi ingat, anak ini bukan pemuda, hanya anak-anak yang masih kecil! Untuk apa engkau menginginkannya? Tidak ada gunanya bagimu, Maya Dewi! Nanti aku bantu mencarikan pemuda-pemuda pilihan untukmu. Kita seperti dulu lagi!"

"Cukup, Satyabrata! Aku tidak ingin mengobrol denganmu. Aku hanya ingin engkau tidak memukul anak ini dan membebaskannya!"

"Maya Dewi, kekasihku yang manis! Lupakah engkau akan hubungan kita yang mesra pada masa lalu? Jangan bersikap menentangku seperti itu. Engkau tidak tahu siapa anak ini. Dia adalah anak dari sepasang suami isteri musuh kita, Maya. Dia anak muryani dan Parmadi."

"Hemm, kalau dia anak mereka, mau kau apakan dia?"

"Maya, engkau tahu betapa aku mencinta Muryani. Sampai sekarang pun aku masih rindu untuk memperisteri wanita itu. Aku menculik anaknya agar Muryani suka menjadi isteriku. Bantulah aku, Maya Dewi."

"Engkau salah sangka, Setyabrata. Aku bukan Maya Dewi yang dulu, yang suka melakukan segala macam kejahatan. Aku tidak mau lagi membantumu. Aku telah bertaubat, Setyabrata. Aku bahkan akan menentang semua perbuatan jahat. Aku tidak sudi lagi menjadi hamba Setan melakukan kejahatan, aku ingin menjadi hamba Gusti Allah untuk menyalurkan berkahNya, melakuan kebaikan dan menentang kejahatan."

Setyabrata tertawa, sekali ini tawanya nyaring seolah dia mendengar sesuatu yang lucu sekali.

"Hua-ha-ha-ha-ha! Engkau, Maya Dewi Si Iblis Betina Cantik dari Banten, bertaubat dan menjadi hamba Gusti Allah menentang kejahatan? Ah, Maya Dewi, jangan main-main! Mana mungkin seorang seperti engkau ini, berkeinginan untuk bertaubat dan menebus dosa? Kalau ada dosa, maka dosamu sudah bertumpuk setinggi gunung! Kalau dikatakan kotor, kekotoran dirimu sudah berkarat tebal, rasanya tidak mungkin dibersihkan lagi. Ha-ha, lucu sekali, jangan engkau membadut, Maya!"

Kembali Satyabrata terpingkal-pingkal menertawakan Maya Dewi.

Tentu saja hati Maya Dewi kembali terpukul hebat oleh ucapan Satyabrata itu, akan tetapi ia mampu mengendalikan perasaannya dan menerima pukulan batin itu sebagai satu kewajaran.

Sama sekali semua ucapan yang menghantam perasaannya itu tidak dipikirkan karena pikirannya sedang dicurahkan untuk mencari jalan terbaik sehingga ia dapat menyelamatkan anak itu.

Ia masih ingat bahwa Satyabrata adalah seorang yang memiliki kepandaian luar biasa dan hebat sekali.

Dia sakti mandraguna, memepelajari ilmu-ilmu yang selain membuat dia sakti sekali, juga membuat dia seperti orang yang terkadang tidak waras pikirannya.

Seorang yang berbahaya sekali.

Dulu, ia sama sekali tidak akan mampu menandingi pria ini.

Sekarang, tentu saja dengan ilmu yang ia pelajari bersama Bagus Sajiwo, mungkin ia akan mampu menandinginya.

Akan tetapi ia belum yakin karena tingkat kesaktian Satyabrata memang sudah tinggi sekali dan kalau ia tidak mampu mengalahkannya, tentu ia tidak dapat menyelamatkan putera Parmadi dan Muryani.

Padahal yang penting bukannya bertanding dan mengalahkan Satyabrata, melainkan menyelamatkan anak itu.

Maya lalu menoleh dan melihat anak laki-laki itu sudah bangkit berdiri dan memandang kepadanya dengan mata penuh selidik.

"Anak yang baik, engkau ikutlah aku."

"Tidak!"

Joko Galing berteriak.

"Engkau adalah sahabatnya, engkau sama jahatnya dengan dia!"

"Hua-ha-ha, ia malah lebih jahat!"

Satyabrata tertawa mengejek.

Tiba-tiba Maya Dewi mendorongkan kedua tangannya ke arah api unggun.

Angin menyambar dahsyat dan kayu-kayu yang terbakar itu tersapu angin, cerai berai dan apinya padam.

Cuaca menjadi gelap dan pada saat itu Maya Dewi sudah menyambar tubuh Joko Galing dan dipanggulnya.

"Lepaskan! Aku tidak mau ikut denganmu. Lepaskan aku!"

Anak itu meronta-ronta dan karena Maya Dewi memanggulnya dengan memegangi kedua kakinya, tubuh bagian atas anak itu berada di belakang.

joko galling tidak dapat menggerakkan kedua kakinya maka dia meronta dengan kedua tangan, memukuli punggung yang lunak akan tetapi yang agaknya tidak merasakan pukulan kedua tangan, memukuli punggung yang lunak akan tetapi yang agaknya tidak merasakan pukulan kedua tangan Joko Galing itu.

"Maya! Apa yang kaulakukan ini!"

Bentak Satyabrata terkejut ketika api unggun padam dan cuaca menjadi gelap.

Dia tidak mendengar wanita itu menjawab, akan tetapi ketika mendengar teriakan Joko Galing, Setyabrata maklum bahwa Maya Dewi menangkap anak itu dan agaknya hendak merampas anak itu darinya, Ia dapat mendengar gerakan Maya Dewi yang mulai berjalan pergi, maka cepat dicabutnya sebuah pistol dari balik bajunya.

Pistol ini berbeda dengan dua buah yang terselip di ikat pinggangnya.

Hanya sebuah pistol kecil dan suaranya pun tidak terlalu bising.

"Tar-tar-tarrr....!"

Tiga kali moncong pistol kecil itu mengeluarkan bunga api, akan tetapi tidak terdengar sesuatu dan Satyabrata tidak dapat mengejar Maya Dewi karena selain cuaca amat gelap, juga wanita itu memiliki keringanan tubuh dan kecepatan yang luar biasa.

Joko Galing masih meronta-ronta sambil memaki-maki.

"Hemm, anak yang gagah pantang menangis dan berteriak-teriak!"

Kata Maya Dewi dan mendengar ini, Joko Galing berhenti berteriak, akan tetapi masih memukuli punggung wanita yang memanggulnya.

Diamnya Joko Galing semakin mempersulit Satyabrata melakukan pengejaran terhadap Maya Dewi.

Dia hanya menyumpah-nyumpah.

Akan tetapi dia masih tidak percaya bahwa Maya Dewi kini sudah bertaubat dan pantang melakukan kejahatan lagi.

Dia menduga bahwa tentu Maya Dewi suka kepada pemuda remaja itu, walaupun masih terlalu kecil dan Maya Dewi merampasnya untuk dimilikinya sendiri.

Biarlah, biar anak itu menjadi korban Maya Dewi.

Ini berarti bahwa dia telah membalas dendam kepada Parmadi dan Muryani.

Dia akan mencari cara lain untuk mendapatkan diri Muryani, kalau perlu dengan kekerasan.

Dulu dia tidak mau melakukan kekerasan terhadap Muryani karena dia memang sungguh mencintanya dan ingin memperisterinya.

Akan tetapi setelah kini Muryani menjadi isteri orang lain, dia hanya ingin merampasnya dari Parmadi dan ingin memuaskan nafsu berahinya terhadap wanita yang dicintanya akan tetapi yang memilih laki-laki lain menjadi suaminya itu.

Menjelang pagi, ketika matahari mulai mengirim cahayanya lebih dulu ke permukaan bumi sebelum dia sendiri muncul, Maya Dewi yang tadinya berlari, kini berjalan biasa memasuki sebuah hutan kecil.

Joko Galing tidak meronta lagi.

Anak itu kelelahan setelah sejak dipanggul dia menggunakan kedua tangan yang tergantung di belakang tubuh Maya Dewi untuk memukuli punggung wanita itu.

Saking lelahnya, tubuhnya menjadi lemas dan dia tidak meronta lagi.

Setelah tiba di dalam hutan dan matahari mulai meneroboskan sinarnya melalui celah-celah daun pohon, Maya Dewi berhenti di bawah sebatang pohon lalu menurunkan tubuh anak yang sejak malam tadi dipanggulnya.

Karena lelah, setelah diturunkan dan kedua kakinya menyentuh tanah, Joko Galing segera membiarkan dirinya jatuh terduduk dengan lemas.

"Anak yang baik, engkau tidak apa-apa, bukan?"

Maya Dewi membungkuk akan tetapi tiba-tiba ia agak menyeringai dan memejamkan kedua matanya menahan nyeri yang membakar pangkal lengan kanannya.

Sebutir peluru telah menembus pangkal lengannya dan biarpun peluru itu tidak mengenai tulang dan menembus kulit daging pangkal lengannya, namun rasanya panas dan perih sekali.

Ketika tadi terdengar tiga kali suara tembakan, Maya Dewi sudah mengerahkan kekebalan tubuhnya dan miringkan tubuh agar badan anak itu terlindung di belakang badannya sendiri.

Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya tergetar ketika pangkal lengan kannanya terasa nyeri ditembusi peluru.

Ternyata kekebalannya tidak mampu menahan terjangan sebutir peluru emas!

Ia tidak merintih dan terus berlari sehingga Joko Galing tidak tahu bahwa wanita yang memanggulnya itu terluka.

Kini, ketika ia membungkuk hendak memeriksa keadaan Joko Galing, Maya Dewi baru merasa betapa nyerinya luka itu.

"Tidak perlu membujuk-rayu aku dengan sebutan anak baik!"

Kata Joko Galing ketus.

"aku tahu bahwa enkau adalah seorang jahat!"

Kini Maya Dewi dapat melihat wajah anak laki-laki itu dengan jelas.

Ia tersenyum melihat wajah yang tampan dan sinar mata yang tajam penuh keberanian itu.

Ia mengambil saputangan putih untuk membalut lengannya sambil bertanya.

"Bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa aku orang jahat?"

"Tentu saja aku tahu! Aku mendengar engkau bercakap-cakap dengan penculik itu. Engkau adalah sahabatnya, engkau musuh ayah ibuku!"

"Anak yang baik, dan engkau percaya kepadanya?"

"Tentu saja!"

"Dan engkau tidak percaya padaku? Engkau tidak percaya kalau aku mengatakan bahwa aku tidak mempunyai niat jahat terhadap dirimu?"

"Aku tidak percaya! Kalau tiak jahat, mengapa engkau menculik aku?"

Agak sukar bagi Maya Dewi untuk dapat membalut pangkal lengan kanannya hanya dengan tangan kiri dan ia gagal terus.

Joko Galing melihat betapa baju putih di pangkal lengan itu berlepotan darah dan melihat wanita itu tidak juga berhasil membalut lengannya yang agaknya luka itu.

"Mengapa lenganmu itu?"

Dia bertanya.

"Terkena tembakan tadi."

Jawab Maya Dewi sambil lalu dan mencoba lagi untuk membalut pangkal lengannya.

"Mari kubalutkan!"

Kata Joko Galing.

Anak itu memang keras dan pemberani, namun dia mewarisi kelembutan dan kepekaan hati ayahnya sehingga dia mudah merasa iba kepada orang yang menderita.

Melihat wanita itu terluka dan sukar membalut lukanya, timbul perasaan iba dan dia siap membantu, seketika melupakan kemarahannya.

Maya Dewi tersenyum dan menyerahkan saputangan putih itu kepada Joko Galing yang segera membalutnya dengan kuat dan rapi.

"Terima kasih."

Kata Maya Dewi dan ia segera terkenang kepada Bagus Sajiwo.

Anak ini ternyata dapat bersikap dan berbuat baik penuh kelembutan seperti Bagus Sajiwo.

Ia menghela napas panjang.

Tidak mengherankan, anak ini adalah putera Parmadi dan Muryani, dua orang pendekar yang gagah perkasa dan budiman.

Semakin yakinlah hatinya akan kenyataan betapa jauh bedanya antara watak para satria dan watak tokoh-tokoh dunia sesat di mana ia dahulu termasuk di dalamnya.

Ia merasa bersukur dan berbahagia bahwa ia telah dapat membebaskan diri dari dunia sesat itu.

Setelah selesai membalut pangkal lengan wanita itu, Joko Galing mengulangi pertanyaannya.

"Bibi, kalau engkau tidak jahat, mengapa engkau menculik aku?"

Maya Dewi memandang anak itu dan menjulurkan tangan kirinya, mengusap rambut kepala yang hitam tebal itu.

"Engkau aneh sekali, Setyabrata yang menculikmu dengan niat jahat tadi kau percaya, sedangkan aku yang membebaskanmu dari tangan penculik, yang berniat menolongmu dan mengembalikanmu kepada Ayah Ibumu, tidak kau percaya!"

Joko Galing memandang wajah Maya Dewi dengan mata terbelalak.

"Bibi, engkau.... engkau menolongku dan hendak mengembalikan aku kepada Ayah Ibuku?"

Maya Dewi mengangguk.

"Tentu saja, kalau tidak hendak menolongmu dan mengembalikanmu kepada Ayah Ibumu, habis untuk apa aku membebaskanmu dari Satyabrata?"

Joko Galing lalu bangkit berdiri dan mengepal kedua tangannya, memandang ke arah dari mana dia dilarikan Maya Dewi dan mengamangkan tinjunya.

"Kalau begitu, jahanam keparat si.... siapa tadi namanya?"

"Satyabrata,"

Maya Dewi tersenyum.

"Keparat Satyabrata itu! Dia telah bicara bohong tadi tentang dirimu, Bibi!"

"Dia tidak berbohong. memang aku bukan seorang manusia yang baik...."

"Ah, tidak! Siapa bilang? Engkau adalah seorang yang gagah perkasa dan berbudi baik, seperti Ibuku! Bibi yang baik, siapakah nama Bibi? Namaku Joko Galing!"

"Namaku Maya Dewi, Joko."

"Bibi Maya Dewi, aku berterima kasih sekali kepadamu. Engkau telah menolongku dan mengorbankan diri sehingga lenganmu terkena senjata api jahanam Satyabrata itu. Apakah Bibi sahabat baik Ayah Ibuku?"

Mendengar pertanyaan ini, Maya Dewi tersenyum pahit. Ia dahulu adalah musuh Parmadi dan Muryani, musuh yang amat dibenci mereka karena memang ia melakukan segala macam perbuatan jahat.

"Aku mengenal Parmadi dan Muryani, Ayah Ibumu itu, Joko. Marilah, kita lanjutkan perjalanan kita dan agar kita dapat berjalan cepat, mari kugendong di punggungku. Engkau tampaknya lelah dan kalau berjalan sendiri, tentu tidak akan segera bertemu Ayah Ibumu."

"Akan tetapi, Bibi Maya. Engkau sendiri terluka, bagaimana masih akan menggendongku? Biarlah aku jalan sendiri."

"Tidak, Joko. Kalau engkau berjalan, tentu kita akan dapat disusul Satyabrata dan sukar melindungimu karena dia seorang yang amat sakti. Jangan khawatir, luka lenganku tidak menghalangi aku menggendongmu." (Lanjut ke

Jilid 13) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 Maya Dewi lalu berjongkok di depan Joko Galing dan anak ini tidak menolak lagi.

Dia lalu menempel di punggung Maya Dewi sambil merangkulkan kedua lengannya di pundak wanita itu, berhati-hati menjaga agar tidak menyentuh pangkal lengan yang terluka.

"Berpeganglah kuat-kuat, Joko, agar jangan terlepas dan jatuh. Aku akan berlari cepat."

Kata Maya Dewi. Joko Galing tidak asing dengan ini karena dia pernah dingdong ayahnya atau ibunya dan dibawa lari cepat.

"Jangan khawatir, Bibi. Aku tidak akan jatuh."

Maya Dewi lalu berlari cepat, mengerahkan seluruh tenaganya karena ia ingin cepat-cepat menyerahkan anak ini kepada orang tuanya.

Hatinya gembira karena ia mendapat kesempatan untuk melakukan kebaikan terhadap suami isteri itu.

Biarlah perbuatannya ini biarpun hanya sedikit dan tidak berarti, dapat menebus dan agak mengurangi semua kesalahan yang pernah ia lakukan kepada Parmadi dan Muryani belasan tahun yang lalu.

Mula-mula Joko Galing gembira dibawa lari cepat oleh Maya Dewi.

Akan tetapi segera dia memejamkan kedua matanya karena kini Maya Dewi berlari cepat seperti terbang!

Belum pernah Joko Galing dilarikan orang tuanya secepat itu sehingga dia merasa ngeri juga.

Angin bersuitan di kedua telinganya dan rambutnya menjadi awut-awutan.

"Takut, Joko?"

Suara Maya Dewi disapu angin sehingga terdengar seperti bisikan bagi Joko Galing.

"Ah.... sedikit, Bibi. Habis engkau terbang begini cepat!"

Maya Dewi tersenyum dan memang tubuhnya berkelebat cepat sekali.

Ia menggunakan tangan kirinya yang tidak terluka untuk memegangi tangan Joko Galing agar anak itu tidak sampai melepaskan rangkulannya dan terancam jatuh terguling.

Lengan kanannya terasa semakin nyeri dan panas.

Biarlah, kalau Joko sudah kembali kepada orang tuanya, baru ia akan mencari obat untuk menyembuhkan luka di pangkal lengan kanannya.

Ia tidak harus pergi jauh.

Setelah matahari naik tinggi dan Maya Dewi berjalan cepat tidak berlari lagi, keluar dari sebuah hutan, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari depan.

Ia berhenti di tepi jalan untuk memberi ruang kepada dua orang penunggang kuda itu.

Akan tetapi setelah mereka dekat, ia mengenal mereka yang bukan lain adalah Parmadi dan Muryani.

Agaknya suami isteri itu berusaha untuk mencari jejak penculik yang melarikan putera mereka.

Ketika mereka melihat Maya Dewi menggendong Joko Galing yang tampaknya tertidur di gendongan wanita itu, tidur atau mungkin juga pingsan, suami isteri itu berloncatan turun.

"Maya Dewi, Iblis jahat! Kembalikan anakku!"

Muryani sudah membentak marah dan ia sudah menerjang ke depan, tangan kanannya siap menerjang ke depan, tangan kanannya siap merampas anaknya dan tangan kirinya menampar dengan Aji Pukulan Bromo Latu yang berhawa panas sekali ke arah kepala Maya Dewi.

Maya Dewi yang tidak sempat bicara, tahu-tahu diserang sedemikian hebatnya, terpaksa menggerakkan lengan kanannya untuk menangkis karena selain tangan kirinya ia pergunakan untuk memegang kedua tangan Joko Galing yang tertidur, juga kalau ia mengelak, ia khawatir bahkan akan membahayakan keselamatan Joko Galing yang dapat terkena pukulan nyasar.

"Wuuuttt.... desss....!"

Maya Dewi merasa betapa lengannya yang menangkis itu nyeri bukan main, kiut miut rasanya menusuk tulang dan menikam jantung.

Ia tak dapat menahan dirinya lagi dan terpelanting.

Ia khawatir kalau-kalau Joko Galing terbanting, maka cepat ia menggunakan kedua tangannya, walaupun lengan kananya terasa lumpuh, untuk mengangkat tubuh anak itu di depannya sehingga ketika ia terbanting telentang, tubuh Joko Galing tidak tertindih atau terbanting.

Akan tetapi Muryani menyangka bahwa Maya Dewi mengangkat tubuh Joko Galing di depannya untuk dipergunakan sebagai perisai.

Ia marah sekali dan mencabut pedangnya, hendak menyerang Maya Dewi yang sudah roboh.

"Diajeng, tahan....!"

Parmadi berseru, petama karena dia tidak ingin melihat isterinya membunuh lawan yang sudah roboh, dan kedua karena kalau Maya Dewi nekat, bisa saja ia membunuh Joko Galing lebih dulu sebelum ia diserang Muryani dengan pedang.

Seruan suaminya ini menahan gerakan Muryani dan ia memandang Maya Dewi dengan sinar mata penuh kebencian.

Joko Galing yang tadinya tertidur ketika dibawa lari cepat oleh Maya Dewi, segera terbangun ketika Maya Dewi roboh.

dia melihat Maya Dewi roboh telentang dan ibunya dengan marah memegang pedang hendak membunuhnya.

Dia cepat melepaskan diri dari pegangan Maya Dewi, lalu meloncat ke depan menghadapi ibunya dengan alis berkerut dan mata menyinarkan keheranan dan kemarahan!

"Joko....!"

Muryani hendak merangkul anaknya akan tetapi Joko galling mundur mendekati Maya Dewi yang sudah bangkit duduk dengan muka pucat dan rambut terurai lepas.

"Ibu boleh membunuh aku lebih dulu sebelum membunuh Bibi Maya Dewi!"

"Joko....!!"

Teriakan ini keluar dari mulut Muryani dan Parmadi karena mereka terkejut bukan main.

"Jangan, Joko....!"

Kata Maya Dewi lembut dan suaranya tergetar, ia bangkit berdiri, mengelus rambut kepala Joko Galing lalu berlari pergi dengan cepat walaupun agak limbung.

"Bibi Maya....! Jangan pergi dulu....!"

Joko Galing berteriak an hendak mengejar. muryani maju dan merangkul anaknya.

"Joko, apa artinya sikapmu ini?"

Muryani membalikkan tubuh anaknya dan menatap wajah anaknya penuh perhatian karena ia merasa khawatir sekali.

Ia menduga bahwa tentu anaknya telah diguna-gunai dengan sihir oleh iblis betina itu.

Joko Galing meronta dan melepaskan diri dari rangkulan ibunya, lalu dia berdiri menghadapi ayah ibunya yang memandang bingung itu dan berkata lantang.

"Apakah sekarang Ayah dan Ibu sudah menjadi jahat?"

"Joko....!"

Muryani berseru kaget.

"Joko Galing, sadarlah engkau! Ini Ayah dan Ibumu yang akan membebaskanmu dari pengaruh sihir!"

Parmadi mendekat lalu meletakkan telapak tangan kirinya ke atas kepala anaknya. Joko Galing merasa hawa yang hangat menjalar ke dalam kepalanya. Akan tetapi dia pun meronta lepas dari tangan ayahnya.

"Jawablah dulu, Ayah. Apakah Ayah dan Ibu sudah berubah menjadi manusia-manusia jahat yang tidak mengenal budi?"

Muryani memandang suaminya.

Dari pandang mata ini Parmadi tahu bahwa isterinya bertanya apakah anak mereka itu terpengaruh sihir guna-guna.

Dia menggeleng kepala karena mendapat kenyataan tadi bahwa tidak ada hawa jahat mempengaruhi anaknya.

"Joko!"

Kata Parmadi dengan suara yang berwibawa.

"Katakanlah, apa maksudmu mengatakan Ayah dan Ibumu berubah jahat dan tidak mengenal budi? Wanita tadi Maya Dewi, adalah seorang wanita jahat seperti iblis yang sejak dahulu menjadi musuh kami. Jelas bahwa ia tidak berniat baik terhadapmu, Joko. Kami mengenalnya baik dan ia dahulu adalah sahabat baik dan sekutu Satyabrata yang kemarin menculikmu!"

"Ayah, Bibi Maya Dewi itu sama sekali tidak jahat! Malam tadi ia datang dan membawa aku lari dari Satyabrata yang mennculikku itu. Bahkan ketika menolong dan melarikan aku, ia terkena tembakan yang dilepas Satyabrata sehingga peluru menembus pankal lengan kanannya dan ia terluka parah. Ia sudah menolongku dengan taruhan nyawa sehingga lengannya terluka parah dan ia tadi sedang membawaku kembali kepada Ayah dan Ibu. Akan tetapi Ibu malah menyerangnya dan hendak membunuhnya!"

".... aahhhh....!"

Muryani berseru, mukanya berubah pucat. Ia menubruk anaknya, merangkul dan menciuminya sambil menangis.

".... duh Gusti.... apa yang telah hamba lakukan....? Ah, Joko.... maafkan Ibumu.... sungguh aku tidak menyangka...."

Joko Galing yang baru saja terlepas dari ketegangan semenjak dia diculik, kini dirangkul ibunya yang menangis tanpa suara karena dia pantang mnangis, apalagi dengan suara nyaring.

"Ibu.... ah, kasihan sekali Bibi Maya...."

"Ya Allah....!"

Parmadi juga berseru.

"Siapa yang akan mengira? Joko, Ibumu tidak bersalah. Kami sama sekali tidak pernah mengira kalau Maya Dewi benar-benar menolongmu seperti itu. Percayalah, Ayah Ibumu bukan orang jahat. Nanti kami ceritakan kepadamu siapa Maya Dewi itu yang kami kenal dahulu, belasan tahun yang lalu sebelum engkau terlahir."

"Kakangmas, kasihan ia, pergi kejar dan susullah. Kalau ia mau, undang ia ke sini agar kita dapat membantunya, mengobatinya. Kalau ia menolak, sampaikanlah maafku yang sebesar-besarnya...."

Parmadi menangguk dan cepat tubuhnya berkelebat dan berlari cepat mengejar ke arah larinya Maya Dewi.

Muryani mengajak anaknya duduk di bawah pohon menanti kembalinya Parmadi.

Akan tetapi tidak lama kemudian Parmadi datang sambil menggeleng kepala.

Dia tidak berhasil menemukan jejak Maya Dewi.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju Perguruan Bromo Dadali di gunung Muria.

Karena kuda tunggangan Joko Galing sudah hilang ketika dilarikan Satyabrata, maka Joko Galing lalu diboncengkan ayahnya.

Di dalam perjalanan itu Joko Galing menceritakan segala yang didengarnya dari Satyabrata yang bermaksud merampas Muryani dari Parmadi.

Diceritakannya pula tentang pertolongan Maya Dewi malam tadi dan tentang luka yang diderita Maya Dewi ketika ia ditembak Satyabrata.

Setelah anak itu selesai bercerita, Muryani yang duduk di atas kudanya yang berjalan di samping kuda yang ditunggangi suami dan anaknya, menghela napas panjang.

"Aahhh.... siapa dapat mengira bahwa Maya Dewi kini telah benar-benar bertaubat dan mengubah jalan hidupnya. Aku menyesal sekali telah salah sangka tadi."

"Tidak perlu menyesali diri, Diajeng. Bagaimanapun juga, perlakuan kita terhadap Maya Dewi itu kukira memang perlu baginya, agar ia semakin menyesali perbuatannya yang dulu-dulu dan benar-benar bertaubat. Aku yakin bahwa terjadi suatu keajaiban sehingga orang seperti Maya Dewi dapat berubah menjadi baik. Sungguh menakjubkan sekali."

"Dan aku merasa heran sekali melihat munculnya Satyabrata. Telah belasan tahun dia tidak pernah menampakkan diri, juga kita tidak pernah mendengar akan beritanya. Akan tetapi, bagaimana kini secara tiba-tiba manusia sesat itu dapat muncul dan mengganggu kita?"

"Entahlah, Diajeng. Mungkin selama itu dia tekun memperdalam ilmunya atau mendapat tugas kai dari Belanda, Akan tetapi, apa yang baru saja terjadi merupakan peringatan bagi kta bahwa kita harus waspada terhadap Setyabrata karena jelas bahwa dia mempunyai niat yang tidak baik terhadap kita."

"Ih, menyebalkan sekali orang itu! Heran, kukira tadinya bahwa orang jahat itu telah mati! Kalau kita bertemu lagi dengan dia, Kakangmas, kita harus membasminya karena orang seperti Satyabrata itu amat berbahaya bagi masyarakat pada umumnya dan terutama sekali bagi Mataram karena dia adalah orang penting dari Kumpeni Belanda."

"Engkau benar, Diajeng. Kita harus berhati-hati. Keadaan menjadi gawat. Persekutuan yang kuat agaknya dibentuk Blambangan yang mengancam Mataram dan kini muncul pula Satyabrata. Kita harus membantu Mataram untuk menentang mereka yang hendak memerangi Mataram dan hendak mengacaukan kehidupan rakyat. Akan tetapi kita mempunyai titik kelemahan dan mereka tentu akan menyerang kami pada titik kelemahan itu. Marilah kita mempercepat perjalanan kita ke Muria."

Berkata demikian, Parmadi mengerling kepada Joko Galing yang duduk di depannya.

Muryani mengerti apa yang dimaksudkan suaminya.

Memang, anak mereka itu merupakan titik kelemahan mereka dan para lawan yang memusuhi mereka, seperti Satyabrata, tentu akan menyerang mereka melalui anak mereka dan kalau hal ini terjadi, mereka itu sudah berada di tempat aman, dititipkan di Perguruan Bromo Dadali, maka mereka berdua akan dapat mencurahkan seluruh perhatian dan tenaga untuk menentang persekutuan yang memusuhi Mataram itu.

Mereka mempercepat perjalanan menuju Gunung Muria di tepi Laut Utara (Laut Jawa) Maya Dewi tertatih-tatih mendaki bukit yang penuh tumbuh-tumbuhan itu.

Setelah tiba di tengah hutan lebat di lereng bukit, ia terkulai lemas, jatuh terduduk di bawah pohon besar dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon.

Pangkal lengan kanannya terasa nyeri bukan main.

Panas, pedih, dan berdenyut-denyut.

Lukanya menjadi semakin parah karena pertemuan tenaganya dengan tenaga Muryani yang menyerangnya dan ditangkisnya tadi.

Pertemuan tenaga itu mengguncang seluruh lengan kanannya dan membuat luka di pangkal lengannya semakin parah.

Namun, rasa ngilu dan nyeri pada pangkal lengan kanannya itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan rasa nyeri dalam hatinya.

Kembali ia tidak dipercaya, dihina, bahkan diserang oleh golongan pendekar.

Ia memang dapat menerima semua sikap dan perlakuan terhadap dirinya itu sebagai buah pahit yang ia petik dari pohon tanamannya sendiri.

Akan tetapi bagaimanapun juga, ia adalah seorang manusia biasa yang merasa memiliki harga diri.

Kini harga dirinya berulang kali dibanting hancur berkeping-keping!

Kalau golongan penjahat seperti Satyabrata membenci dan menentangnya, hal ini dapat ia terima sebagai suatu kewajaran karena ia sudah mengambil keputusan untuk menentang kejahatan membela kebenaran dan keadilan.

Akan tetapi ternyata golongan pendekar juga menolaknya.

Golongan ini tidak percaya kepadanya dan menganggap bahwa ia kini berpura-pura menjadi baik sehingga ia menjadi bahan ejekan dan tertawaan, bahkan dimusuhi.

Golongan sesat tentu saja tidak dapat menerima perubahan ini dan hendak menyeretnya kembali ke jalan sesat mereka.

Kedua belah pihak tidak mau menerimanya, menolaknya sebagai orang yang tidak berharga !

"Bagus....

apa yang harus kulakukan....

Ia berbisik lemah dan tanpa suara ia menangis.

"Duh Gusti.... hamba mohon kekuatan untuk menerima semua hukuman ini...."

Kemudian ia seolah mendengar lapat-lapat sebuah diantara nasihat-nasihat yang diberikan Bagus Sajiwo kepadanya.

"Dewi, keadaan apapun yang menimpa dirimu, yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, terimalah semua itu seperti apa adanya. Kewajibanmulah untuk berikhtiar sekuat tenagamu untuk mengubah keadaan yang tidak baik menjadi baik, yang tidak enak menjadi enak, yang tidak menyenangkan menjadi menyenangkan. Akan tetapi dilandasi keyakinan bahwa hasil terakhir sepenuhnya berada dalam kekuasaan Gusti Allah. Tidaklah mungkin bagi seluruh manusia untuk mengubah keadaan apa adanya kalau tidak dikehendaki Gusti Allah. Maka, kalau usahamu tidak berhasil, jangan putus asa, usahakanlah lagi disertai kepasrahan kepada Gusti Allah Yang Maha Kasih."

Dalam kenyerian lahir batin itu teringat akan ucapan Bagus Sajiwo, Maya Dewi tersenyum! "Terima kasih, Bagus!"

Katanya dan seolah mendapat kekuatan baru ia bangkit berdiri, menghapus air matanya.

Kemudian, dengan penuh keyakinan, ia merangkap kedua tangan depan dada, memejamkan kedua matanya dan mengucapkan kata-kata lirih penuh khidmat.

"Terima kasih, Gusti. Terjadilah semua kehendakMu."

Pangkal lengannya masih terasa nyeri sekali, akan tetapi itu hanya kenyerian sebuah anggauta badan.

Dan ia bukanlah lengan itu!

Ia harus menggunakan akal untuk menghilangkan perasaan nyeri itu dengan mengobati lukanya.

Ia harus berikhtiar dengan landasan keyakinan bahwa Gusti Allah akan menolongnya, namun apapun yang akan terjadi dengan dirinya, tidak akan meleset seujung rambut pun dari apa yang telah ditentukan olehNya.

Segala kehendakNya pasti terjadi, terhadap siapa pun, kapan pun dalam keadaan yang bagaimana pun!

Mulailah Maya Dewi mencari tanaman yang dapat dipergunakan untuk mengobati lukanya.

Akan tetapi karena ia tidak tahu dimana tumbuhnya bahan-bahan yang ia perlukan sedangkan di situ hanya terdapat pohon-pohon besar, Maya Dewi lalu pergi ke sebuah dusun di kaki bukit.

Ia memasuki sebuah pondok sederhana dan diterima oleh penghuninya, seorang wanita berusia sekitar enam puluh tahun.

"Wah, Den Ayu, Andika hendak mencari siapakah?"

Tanya wanita itu ramah dan seperti kebanyakan orang dusun, ia genbira sekali menerima kunjungan seorang yang dianggapnya sebagai priyayi (bangsawan)!

"Bibi, aku datang untuk minta pertolongan andika, akan tetapi harap jangan sebut aku Den Ayu, sebut saja namaku, Maya Dewi."

"Hemm, Maya Dewi.... alangkah indahnya nama itu, seindah orangnya. Baiklah, Maya, silakan masuk dan duduk di dalam. Kita bicara di dalam saja."

Maya Dewi merasa girang karena wanita ini menerimanya dengan begitu ramah!

Kalau saja para pendekar mau menerimanya seperti sikap nenek ini ketika menerimanya, alangkah akan senang hatinya.

Mereka memasuki pondok dan duduk di atas tikar yang berada di ruangan itu.

Dari keadaan prabotan rumah, Maya Dewi tahu bahwa nenek itu seorang miskin.

Setelah duduk di atas tikar, Maya memandang ke sekeliling.

Rumah itu sunyi, tak tampak ada seorang pun.

"Bibi, dengan siapakah Bibi tinggal di sini? Dan siapakah nama Bibi?"

"Aku dikenal sebagai Mbok Rondo Wiji (Ibu Janda Wiji) dan aku hidup sebatang kara, tinggal di sini seorang diri. Nah Maya Dewi, bantuan apakah yang dapat diberikan orang seperti aku ini, seorang janda tua miskin kepada seorang wanita muda cantik seperti Andika?"

"Bibi, saya terluka...."

Kata Maya Dewi dan tadi ketika ia bercakap-cakap sehingga perhatian terpecah, luka di pangkal lengannya tidak begitu terasa nyeri, akan tetapi begitu kini membicarakan lukanya dan perhatiannya tercurah, ia menyeringai.

"Terluka, Maya Dewi? Apamu yang terluka, nak?"

Janda itu bertanya penuh perhatian dengan wajah tampak membayangkan iba dan kekhawatiran.

Melihat ini saja, terasa keharuan dan kebahagiaan menyelinap dalam hati sanubari Maya Dewi.

masih ada orang yang menaruh iba dan memeperhatikannya!

"Pangkal lengan kanan saya ini, Bibi Wiji...."

Maya Dewi merasa heran dan gemas kepada diri sendiri mendengar betapa suaranya itu mengandung kemanjaan!

Ia lalu membuka bajunya yang berlubang di bagian pangkal lengan bawah pundak dan tampaklah pangkal lengannya yang masih ada bekas darah dan luka itu tampak mengerikan.

Masih untung bagi Maya Dewi bahwa peluru pistol yang terbuat dari emas itu tembus dan tidak mematahkan tulangnya, melainkan tembus di bagian agak pinggir.

Namun karena peluru itu berbau obat peledak, rasanya panas dan perih seperti dibakar di bagian dalam.

"Aduh, kenapa terluka sampai seperti ini. Maya Dewi?"

"Panjang ceritanya, Bibi. Sekarang saya minta tolong kepadamu, carikan bahan obat, yaitu Getah Pohon Gondang, Akar pohon Trengguli, Daun Bayam Duri, dan madu murni. Kalau perlu belilah, Bibi, dan ini uangnya."

"Baik, Nak Maya."

Janda iru menerima uang pemberian Maya Dewi.

"O ya Bibi. Obat-obat tadi hanya obat luar, carikan juga Temu Lawak, Asam Trengguli, dan Gula Aren agar dimasak untuk obat minum."

Nyi Wiji lalu cepat keluar dari rumah.

Maya Dewi lalu mencari di dapur dan setelah menemukan prabotnya ia lalu menjerang air untuk mencuci lukanya.

Tak lama kemudian Nyi Wiji datang membawa semua bahan obat yang dibutuhkan Maya Dewi.

Daun Bayam Duri lalu digerus lembut dan dicampur madu murni untuk mengompres luka di bagian depan dan belakang pangkal lengan di mana peluru masuk dan menembus keluar.

Kemudian Akar Pohon Trengguli ditumbuk halus, dicampur Getah Pohon Gondang dan Madu Murni dan dipanaskan di atas api kecil.

Kemudian disaring dan disiramkan di atas luka dan dibalut.

Kemudian temu Lawak, Asam Trengguli, dan Gula Aren dimasak dan diminum.

Setelah minum jamu yang membersihkan darah menolak keracunan, dan memakai jamu yang ditempelkan pada luka, Maya Dewi merasa lega.

Perlahan-lahan rasa panas perih pada pangkal lengan kanannya menghilang, diganti rasa sejuk dan nyaman.

Tahulah ia bahwa jamu itu telah bekerja dengan cepat dan ia yakin bahwa dalam beberapa hari saja lukanya akan sembuh.

Selama tiga hari Maya Dewi tinggal di rumah Mbok Rondo yang melayaninya dengan ramah dan gembira.

Wanita ini, seorang desa yang sederhana dan polos, merasa terhormat sekali dapat menerima seorang priyayi atau orang kota bermalam di rumahnya.

Pada pagi hari ke empat, karena lukanya sudah sembuh, bahkan sudah mengering dan tidak perlu dibalut lagi, hanya diparami obat luar, Maya Dewi sudah siap untuk melanjutkan perjalanan meninggalkan rumah janda tua di dusun itu.

Nyi Wiji yang sudah tahu bahwa tamunya akan pergi pagi hari itu, sibuk di dapur.

"Nanti dulu, Nak Maya Dewi! Aku sedang membuatkan sarapan yang enak untukmu, sarapan terakhir di gubukku! Harap engkau suka menunggu dan jangan pergi dulu sebelum sarapan!"

Maya Dewi tersenyum.

Selama tiga hari hidup di pondok miskin bersama Nyi Wiji, ia mengalami keadaan yang amat menyenangkan hatinya.

memang, setiap hari makan minumnya amat sederhana, tidurnya pun hanya di atas lincak (bangku dari bambu) reyot.

Akan tetapi, sikap Nyi Wiji yang selalu tersenyum dan amat ramah kepadanya bagaikan sinar matahari yang menerangi semua kegelapan dam relung-relung hatinya.

Betapa sudah teramat lama ia merindukan sinar kasih sayang seperti itu!

Kasih sayang seorang ibu atau ayah, seorang saudara, sahabat yang mengasihi bukan karena keadaan lahiriahnya belaka.

Pagi ini Nyi Wiji melarang ia untuk membantu di dapur.

Ini sarapan istimewa yang harus ia buat sendiri, demikian katanya.

Maya Dewi menanti masaknya makanan yang akan dihidangkan sebagai sarapan itu dan ia keluar dari dalam pondok.

Udara pagi itu cerah sekali.

Semua tampak bersih setelah semalam dicuci air hujan.

Kini semua itu, pohon-pohon, tanaman-tanaman sampai rumput hijau, tanah dan apa saja yang masih tampak basah, seolah-olah pakaian yang habis dicuci dan kini dijemur di bawah sinar matahari pagi yang hangat.

Suasana pagi hari yang cerah itu mendatangkan kenikmatan dalam hati Maya Dewi dan ia pun tersenyum cerah sehingga wajahnya yang cantik tanpa polesan atau hiasan itu tampak berseri.

Ia lalu duduk di atas bangku panjang depan rumah, memberi keleluasaan kepada badannya untuk menikmati semua keindahan itu.

Matanya seolah berpesta memandang segala sesuatu yang mandi cahaya, telinganya menikmati suara burung-burung berkicau, desah angin lembut pada daun-daun pohon, teriakan anak-anak agak jauh di sana, dan lapat-lapat terdengar tangis seorang bayi disusul gumam sayang dari ibunya.

Hidungnya juga menikmati keharuman tanah yang segar, bunga dan daun, terutama seluruh dirinya menikmati hawa udara segar sejuk yang memasuki dada dan perutnya.

"Pagi yang indah sekali....!"

Maya Dewi menoleh ke kanan dan di sana, sekitar dua tombak dari tempat ia duduk, berdiri deorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun.

Tubuhnya jangkung kurus sehingga mukanya seperti tengkorak terbungkus kulit.

Sepasang matanya nakal, dan mulutnya tersenyum penuh arti, jelas membayangkan bahwa dia terpesona dan terkagum-kagum.

Dia tadi berkata memuji keindahan pagi, akan tetapi mata dan sikapnya menunjukkan bahwa bukan pagi indah yang dia kagumi, melainkan wanita yang duduk di atas bangku reyot di depan pondok itu.

Bagi Maya Dewi, tatapan mata pria seperti itu bukan hal yang aneh atau asing lagi.

Ia tahu benar bahwa laki-laki tinggi kurus ini sedang mengagumi kecantikannya secara terbuka, tidak disembunyikan sehingga mendatangkan kesan kurang ajar.

Akan tetapi Maya Dewi tidak marah atau dongkol karena ia menganggap kelemahan laki-laki seperti itu masih wajar saja.

Ia pun melihat bahwa dari pakaiannya, laki-laki ini bukan seorang desa yang miskin.

Pakaiannya cukup mewah dan dari cara dia membawakan dirinya, mengandung sikap congkak atau tinggi hati yang menjadi ciri khas sikap orang-orang yang memiliki kedudukan, harta, atau nama besar yang membuat dia merasa lebih daripada manusia pada umumnya.

Maya Dewi hanya memandang sejenak lalu menundukkan muka, pura-pura tidak tahu dan tida mengacuhkan agar orang itu segera pergi dan tidak mengganggunya lagi.

"Nimas, siapakah Andika? Andika cantik jelita seperti bidadari dari kahyangan! Manusia atau bidadarikah Andika?"

Laki-laki itu maju menghampiri sehingga berdiri di depan Maya Dewi dalam jarak sedepa.

Maya Dewi dapat mencium bau harum bunga kenanga dari orang itu.

Agaknya dia suka memakai wangi-wangian dari bunga kenanga.

"Saya orang biasa, nama saya Maya Dewi."

Katanya jujur.

"Adu-aduh....!"

Namanya indah seperti orangnya! Ketahuilah Nimas Maya Dewi yang cantik jelita. Aku adalah Ki Lurah Samin, lurah Dusun Waru ini. Eh, di mana Andika tinggal, Nimas?"

"Saya tinggal di sini menjadi tamu Bibi Wiji selama tiga hari, Ki Lurah."

"Sudah tiga hari? Ah, mengapa aku tidak tahu? Kalau aku tahu, tentu Andika kujadikan tamuku yang kami hormati, tinggal di kamar terbaik dalam rumah kami!"

Maya Dewi tidak menjawab.

Ki Lurah Samin itu sudah mulai merayu dan kalau diberi hati, tentu akan semakin berani.

Ia diam saja sambil menundukkan mukanya.

Ki Lurah Samin lalu menghampiri pintu depan pondok dan berteriak ke dalam.

"Hei.... Nyi Wiji! Aku datang! Keluarlah engkau!"

Dari dalam terdengar suara Nyi Wiji menjawab dan segera tampak wanita itu keluar dari pondok.

"Aduh, kiranya Ki Lurah yang datang! mohon maaf, Ki Lurah, saya tidak tahu bahwa Panjenengan (Andika, Paduka) yang rawuh (datang). Perintah apakah yang harus saya lakukan, Ki Lurah?"

Nyi Wiji berkata dengan sikap ramah yang tidak wajar, keramahan dibuat karena takut.

"Nyi Wiji, engkau ini bagaimana sih? Ada tamu yang begini cantik jelita seperti bidadari, mengapa tidak memberi tahu padaku? Keluargamukah Nimas Maya Dewi ini?"

"Ampun, Ki Lurah. Nak Maya Dewi ini bukan sanak keluarga saya. Bahkan sebelumnya saya tidak pernah mengenalnya. Ia datang sebagai tamu dan ingin mondok beberapa hari di rumah saya. Ia tinggal di sini selama tiga hari tiga malam dan pagi ini sudah akan pergi meninggalkan rumah saya, Ki Lurah."

"Meninggalkan tempat ini? Nimas, andika hendak pergi ke manakah?"

Tanya Ki Lurah Samin sambil menatap tajam wajah Maya Dewi yang baginya tampak semakin lama semakin menggairahkan itu.

"Hendak melanjutkan perantauan saya, ki Lurah."

"Merantau? Seorang wanita cantik jelita seperti Andika ini merantau? Di manakah rumah Andika?"

Maya Dewi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Saya tidak punya rumah."

"Aduh kasihan....! Di mana keluargamu.... dan .... eh, suamimu....?"

Maya Dewi tetap tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Saya hidup sebatang kara."

Sepasang mata Ki Lurah Samin terbelalak, lalu bersinar gembira.

"Ah, kalau begitu sungguh tidak adil! Seorang wanita secantik bidadari seperti Andika ini sepatutnya tinggal di dalam istana, dipuja dan dihormati semua orang! Nimas Maya Dewi, kalau begitu marilah Andika ikut aku! Andika pantas menjadi sisihanku (pendampingku) yang paling kusayang. Andika akan diperlakukan sebagai seorang permaisuri, dipuja dan dihormati orang seluruh Dusun Waru, akan kusayangi dan kusanjung sebagai mustika! Marilah, Nimas, kuboyong ke dalam gedungku."

Maya Dewi tersenyum geli. Melihat tingkah Ki Lurah Samin, ia merasa seperti sedang nonton seorang dagelan (pelawak) bergaya di atas panggung ketoprak.

"Terima kasih Ki Lurah, atas kebaikan hati dan tawaran Andika. Akan tetapi maaf, saya tidak dapat menerimanya karena saya lebih suka hidup sendirian dan merantau."

"Aeh, Nimas Maya Dewi! Apa enaknya hidup sendirian dan merantau, tak menentu tempat tinggalmu dan hidup serba kurang dan sukar? Kalau engkau menjadi sisihanku, beberapa almari penuh pakaian baru dan indah siap kau pakai, makanan apapun yang kau kehendaki, akan tersedia, gedung yang paling indah di dusun ini akan menjadi tempat tinggalmu! Sudah cukup terpenuhi dengan baik sandang pangan dan papan bagimu. Ditambah lagi kasih sayang dariku, sanjungan dan penghormatan dari seluruh warga Dusun Waru. Nah, apalagi yang kurang bagi kehidupan seorang wanita?"

Maya Dewi tersenyum, manis sekali.

Diam-diam ia merasa iba kepada laki-laki ini.

Pria seperti ini, seperti yang telah banyak dikenalnya dahulu, adalah seorang hamba nafsu dan yang dikenal pria seperti ini hanyalah cinta nafsu berahi belaka!

"Ki Lurah, kalau sebuah rumah tangga itu diumpamakan sepiring masakan, apa yang kaujanjikan dan sediakan itu merupakan bahan-bahan dan bumbu-bumbu yang serba baik dan lengkap.

Akan tetapi sayang, semua bahan masakan berikut bumbunya itu belum tentu menghasilkan sepiring masakan yang lezat.

"Ah? Mengapa tidak? Kalau sayur mayurnya, dagingnya, dan bumbunya lengkap, bagaimana hasilnya tidak lezat? Kalau sandang, pangan, papan dan segala perlengkapannya sudah kusiapkan untukmu, bagaimana mugkin hidupmu tidak akan senang?"

"Andika lupa satu bumbu yang terpenting bagi masakan itu. Tanpa bumbu yang satu ini, masakan itutidak akanenak dimakan, Ki Lurah."

"Hemm, bumbu apa itu"

"Garam!"

"Ahh, tentu saja! Akan tetapi apa maksudmu dengan sebuah pernikahan, sebuah rumah tangga?"

"Garam itu adalah cinta kasih, Ki Lurah."

"Aiihh, kalau itu, aku sudah menyediakan segudang! Aku akan membanjirimu dengan cinta kasih dariku yang segudang banyaknya! Jangan khawatir, Nimas Maya Dewi. Aku bersumpah, aku sungguh cinta kepadamu!"

"Cinta kasih tidak mungkin menghasilkan kebahagiaan kalau hanya sepihak, Ki Lurah. Mungkin Andika mencintaku, akan tetapi sayang, aku tidak mencintamu seperti yang andika maksudkan. Aku tidak ingin menjadi isterimu. Maaf, Ki Lurah."

Wajah Ki Lurah Samin menjadi pucat, lalu berubah merah sekali.

Alisnya berkerut dan muka yang kurus seperti tengkorak itu muram dan tampak menyeramkan.

Dia menoleh kepada Mbok Rondo Wiji yang sejak tadi hanya berdiri di depan pintu mendengarkan, tidak berani ikut bicara.

"Nyi Wiji! Mengapa engkau diam saja seperti patung?!"

Ki Lurah Samin membentak marah. Wanita ini terkejut dan untuk dapat mengatakan sesuatu sebagai jawaban, ia lalu berkata, agak gagap.

"Maaf, ki Lurah..... anu.... saya kira.... Paduka tergesa-gesa.... eh, maksud saya , nak Maya Dewi ini tentu saja malu dilamar secara tiba-tiba begini...."

Ki Lurah Samin mengangguk-angguk dan tangan kanannya bertolak pinggang, tangan kiri mengelus kumisnya yang hanya beberapa helai seperti kumis kucing.

"Hemm.... malu, ya?"

Dia melihat betapa wajah cantik Maya Dewi itu sama sekali tidak memperlihatkan kemarahan, bahkan wanita itu tetap tersenyum dengan muka ditundukkan.

"Ya, engkau benar, Nyi Wiji! Ia malu! Nah, kalau begitu, engkau kuserahi tugas. engkau bujuklah ia sampai mau menjadi sisihanku. Kalau hal itu dapat terjadi, ganjaranmu besar. Rumah gubukmu ini akan kubangun menjadi rumah besar, lengkap dengan prabotnya. Dan akan kuhadiahi pakaian dan uang! Nah, lakukanlah. Aku menanti di Kelurahan! Nimas, aku pergi dulu. berbincang-bincanglah dengan Nyi Wiji. Aku akan mempersiapkan segalanya untukmu, Nimas."

Setelah berkata demikian, Ki Lurah Samin memutar tubuh, akan tetapi baru dua langkah dia berjalan, dia berhenti dan memutar tubuh kambali, menghadapi Mbok Rondo Wiji.

"Ingat, Nyi Wiji. Kalau engkau gagal membujuknya, akan kubakar gubukmu ini dan engkau akan dihukum rangket dengan lima puluh kali cambukan!"

Setelah berkata dengan nada penuh ancaman yang membuat Nyi Wiji seketika pucat dan tubuhnya gemetaran itu, Ki Lurah Samin kembali memutar tubuhnya pergi dari situ.

Akan tetapi baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba pundaknya ditepuk orang dari belakang dan suara merdu Maya Dewi terdengar.

"Tunggu dulu, Ki Lurah!"

Ki Lurah Samin memutar tubuhnya dan wajahnya yang seperti tengkorak itu berseri ketika melihat siapa yang tadi menyentuh pundaknya.

Maya Dewi yang secantik bidadari baginya itulah yang menyentuh pundaknya!

"Aduh, manisku!

Engkau mau ikut denganku sekarang juga?"

Katanya sambil mengembangkan kedua lengannya seperti hendak merangkul.

Akan tetapi kini senyuman telah menghilang dari wajah ayu itu.

Mulut Maya Dewi membentuk garis yang tegas dan sepasang matanya memandang dengan kilatan tajam menembus, suaranya juga terdengar mengandung teguran.

"Ki Lurah Samin, ingatlah bahwa rencana perbuatanmu ini jahat dan menyimpang dari kebenaran yang akhirnya akan menyeretmu ke dalam jurang kesengsaraan."

"Apa.... ??"

Ki Lurah terbelalak memandang Maya Dewi, lalu dia tertawa bergelak. Wajahnya yang seperti tengkorak itu menjadi semakin mengerikan ketika dia tertawa terbahak-bahak seperti itu.

"Ha-ha-he-he-hah....!"

Aku, lurah di dusun ini, orang yang paling berkuasa di seluruh desa.

Kalau aku hendak mengambil seorang wanita sebagai selirku, apakah salahnya?

Itu tidak menyimpang dari kebenaran dan tak seorang pun di dusun ini boleh melarangku!"

"Ki Lurah, bagi seorang laki-laki hendak mengambil seorang wanita sebagai selir, barulah hal itu dianggap benar kalau si wanita bersedia dan dengan suka rela mau menjadi selirnya. Akan tetapi engkau hendak memaksakan kehendakmu, itulah kesalahanmu yang pertama. Kemudian, kesalahanmu yang kedua, yang tidak kalah jahatnya, engkau memaksa Bibi Wiji membujukku dengan ancaman, kalau gagal engkau akan membakar rumahnya dan menghukumnya dengan siksaan cambuk. Kalau di dusun ini tidak ada orang yang berani melarangmu melakukan kekejian itu, akulah yang melarangmu, Ki Lurah!"

Ki Lurah Samin membelalakkan matanya.

"Engkau? Engkau berani melarang aku? Ha-ha-ha, kalau begitu sekarang juga engkau akan kuboyong ke rumahku, coba, engkau hendak melarang dengan cara bagaimana? Mari kupondong engkau, manis!"

Ternyata Ki Lurah Samin yang kurus kering itu, dapat bergerak dengan sigap juga.

Gerakannya cepat dan mengandung tenaga kuat ketika tiba-tiba dia menerkam ke depan, ke arah Maya Dewi bagaikan seekor harimau menubruk domba.

Maksudnya, sekali terkam dia akan merangkul dan memondong tubuh yang sintal itu lalu membawanya pulang ke rumahnya.

Dia yakin tidak akan ada seorang pun yang berani mencegah atau menghalangi karena selain dia dianggap sebagai orang yang digdaya, juga dia mempunyai pasukan jaga baya yang namanya saja disebut penjaga keamanan akan tetapi ulah dua losin anggauta pasukan keamanan ini sebaliknya malah perusak keamanan karena mereka menindas rakyat dengan perbuatan sewenang-wenang!

Kalau pemimpinnya buruk watak, bagaimana mungkin anak buahnya dapat berwatak baik?

Maya Dewi tidak marah, hal ini memang akan mengherankan semua orang yang dulu pernah mengenalnya.

dulu, sebelum Maya Dewi bertemu dengan bagus sajiwo, kalau ada laki-laki bersikap seperti Ki Lurah Samin, jangan harap dapat lolos dari tangnnya yang kejam.

Sekarang marah pun ia tidak biarpun ulah Ki Lurah Samin itu amat merendahkan dan menghinya.

dalam hati Maya Dewi telah terukir banyak hal yang pernah diucapkan.

"Mengampuni kesalahan orang lain kepada kita merupakan jalan satu-satunya agar kita mendapat ampunan dari Gusti Allah."

Suara hati sanubari ini melenyapkan kemarahan dan dendam.

Maya Dewi selalu ingat akan semua dosanya yang pernah ia lakukan.

Kejahatan Ki Lurah Samin ini tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan semua kejahatan yang pernah ia lakukan.

Kalau kejahatan Ki Lurah Samin yang demikian kecilnya saja ia tidak mampu memaafkannya, lalu bagaimana mungkin ia menghendaki pengampunan dari Gusti Allah atas dosa-dosanya yang jauh lebih banyak dan lebih jahat?

Maka, Maya Dewi membatasi tenaganya ketika ia mengebutkan tangan kirinya ke arah penyerangnya, seperti orang mengusir lalat dengan kibasan tangannya.

Akan tetapi akibatnya cukup hebat bagi Ki Lurah Samin.

Ketika dia tadi menerkam dan tidak melihat Maya Dewi mengelak, dia senang sekali, seolah sudah dapat merangkul dan merasa betapa tubuh yang denok lembut hangat itu meronta-ronta dalam pelukannya ketika dia pondong.

Akan tetapi tiba-tiba Maya Dewi mengibaskan tangan kirinya dan Ki Lurah Samin berteriak kaget.

Tubuhnya seperti sehelai daun kering terbawa angin!

Dia tidak mampu mempertahankan diri dan terlempar sejauh dua tombak dan terbanting ke atas tanah.

Terdengar suara berdebuk disusul bunyi ngek ketika pantat yang tak berdaging itu terbanting ke tanah dan debu mengebul.

Marahlah Ki Lurah Samin.

Selama bertahun-tahun menjadi Lurah, tidak pernah ada orang yang berani menentangnya dan kini wanita muda cantik itu telah membuat dia malu dan pantatnya tersa nyeri.

Terseok-seok dia bangkit dan menghampiri Maya Dewi.

"Berani engkau melawan aku?"

Bentaknya dan biarpun pantatnya masih nyeri sekali, karena marah, dia memaksa diri menerjang maju dengan tangan kanan menampar kepala Maya Dewi, tangan kiri mencengkeram ke arah dada yang montok itu.

Maya Dewi menggerakkan kaki kirinya mencuat ke depan dan sebelum kedua tangan Ki Lurah Samin mengenai sasaran, lebih dulu perutnya dihantam ujung kaki mungil Maya Dewi.

"Blegg....!"

Kembali tubuh ceking itu terlempar ke belakang dan sekali ini, sambil meringis Ki Lurah Samin merangkak bangun dengan tangan kiri meraba pantat, tangan kanan menekan perut.

Entah mana yang lebih nyeri, perutnya yang mulas atau pantatnya yang dua kali terbanting ke tanah itu.

Dia tidak tahu bahwa kalau Maya Dewi tidak membatasi tenaganya, sudah sejak tadi dia rebah tanpa dapat bangun lagi selamanya!

"Ki Lurah Samin, kuperingatkan Andika.

Sadarlah dan bertaubatlah.

Kehidupan Andika akan menjadi jauh lebih baik dan bahagia!"

Akan tetapi Ki Lurah Samin yang kini menyadari bahwa wanita cantik itu sakti mandraguna dan dia maklum bahwa kalau melawan terus, dia akan celaka, segera melontarkan ancamannya.

"Maya Dewi, kau tunggu saja! aku akan kembali untuk membalas penghinaan ini!"

Setelah berkata demikian, sambil masih meraba pantat dan perut, dia lari terpincang-pincang menju kelurahan.

Mbok Rondo Wiji dengan tubuh gemetar menghampiri Maya Dewi lalu berkata dengan wajah ketakutan.

"Maya Dewi.... cepat, larilah! Pergi dai sini karena.... karena...."

Saking takut hatinya, Nyi Wiji menjadi gagap dan sulit bicara.

"Mengapa, Bibi? Mengapa aku harus melarikan diri?"

"Ah, cepatlah Maya. Engkau tidak tahu! Ki Lurah Samin itu terkenal jahat, sewenang-wehang. Cepat pergilah!"

"Aku tidak takut, Bibi."

"Tapi.... tapi.... dia mempunyai dua losin anak buah yang kejam-kejam, para tukang pukul itu tidak mengenal kasihan dan akan menyiksa siapa saja yang berani menentang Ki Lurah Samin."

Maya Dewi menatap wajah Nyi Wiji dan bertanya.

"Akan tetapi, Bibi, bagaimana dengan Andika sendiri? Bukankah Andika tadi diancam, akan dibakar rumahmu dan Andika sendiri akan disiksa, dicambuki? Mengapa Andika begini mengkhawatirkan aku, sedangkan dirimu sendiri terancam?"

"Ah, aku sudah tua, Maya. Aku hidup seorang diri dan miskin. Kalau mereka mau membakar gubukku, silakan. Kalau hendak menyiksa aku sampai aku mati, juga tidak mengapa! Akan tetapi engkau.... ah, engkau masih muda, Maya. Tidak boleh mati sia-sia. Maka, pergilah, Nak. Cepat larilah selagi masih ada kesempatan."

Untuk ucapan Nyi Wiji itu saja rasanya Maya Dewi mau untuk membela wanita tua itu dengan taruhan nyawanya sendiri!

Betapa sejuk rasa hatinya mendengar ada orang mau membelanya, memperhatikannya dan menyayangnya setelah berulang kali ia hanya menerima hinaan dan permusuhan dari orang-orang lain.

Ia merangkul pundak Nyi Wiji dan mengajaknya memasuki pondok.

"Jangan khawatir, Bibi. Aku akan menghadapi mereka dan kalau mereka bersikap buruk, aku akan menghajar mereka. Sekarang lebih baik kita sarapan dan jangan ingat mereka lagi!"

Mereka berdua makan sarapan pagi.

Kalau Nyi Wiji makan tidak tenang, berulang kali menoleh ke arah pintu dengan wajah ketakutan, Maya Dewi sebaliknya bersikap tenang saja dan makan dengan enak, seolah ia telah lupa akan ancaman Ki Lurah Samin tadi.

Baru saja mereka seleai makan dan mencuci tangan, terdengar suara ribut-ribut di luar pondok.

Nyi Wiji menggigil ketakutan.

Maya Dewi bangkit berdiri dan menjenguk ke luar.

Ia melihat Ki Lurah Samin berjalan, masih agak pincang, menghampiri pondok, diikuti dua losin orang laki-laki berusia antara tiga puluh sampai emapat puluh tahun.

Rata-rata mereka bertubuh besar dan kokoh, berwajah bengis dan dipinggang mereka tergantung sebatang kewang.

Ki Lurah Samin bertolak pinggang dan berteriak dengan suara lantang, penuh kemarahan.

"Nyi Wiji....! Cepat suruh Maya Dewi keluar atau kubakar gubuk ini agar kalian berdua menjadi arang!"

Dengan tubuh menggigil Nyi Wiji masih menasihati Maya Dewi.

"Maya Dewi, cepat lari.... melalui pintu belakang!"

Maya Dewi tersenyum dan memegang kedua pundak janda yang ketakutan itu.

"Bibi, duduklah saja di sini dan jangan keluar. Aku akan menghadapi mereka. Tenanglah!"

Setelah berkata demikian, Maya Dewi melangkah keluar dari pintu depan pondok.

Langkah dan sikapnya tenang sekali dan dua losin tukang pukul itu terbelalak kagum melihat wanita cantik itu.

Maklumlah mereka mengapa juragan mereka sampai mengerahkan dua losin orang untuk mendapatkan wanita ini.

"Waduh cantiknya1"

"Kalah dewi kahyangan!"

"Ini baru namanya wanita cantik!"

"Wah, sekali ini Ki Lurah memiliki pilihan yang tepat!"

Mereka menjadi ribut bicara sendiri, memuji-muji Maya Dewi dan tertawa-tawa seperti kebiasaan para pria yang kasar dan tampak kekurangajarannya kalau melihat wanita.

Maya Dewi tetap tersenyum dan sabar.

"Ki Lurah Samin, apa kehendak Andika datang bersama banyak kawanmu ini?"

Tanyanya dengan lembut.

"Maya Dewi, hayo cepat engkau berlutut, lalu engkau ikut denganku pulang ke rumahku dan menjadi selirku!"

"Hemm, bagaimana kalau aku tidak mau?"

Tanya Maya Dewi.

"Tidak mau? Akan kupergunakan kekerasan! Mau atau tidak mau engkau harus ikut aku menjadi selirku!"

"Ki Lurah Samin, sudah kuperingatkan kepadamu, kejahatan akan menyeretmu kepada kehancuran dan kesengsaraan. Bertaubatlah dan kembali ke jalan kebenaran agar engkau dapat hidup tenteram bahagia."

Mendengar ucapan ini, dua losin tukang pukul itu tertawa bergelak. Ki Lurah Samin menjadi marah sekali. Dia menudingkan telunjuk kirinya ke arah Maya Dewi dan memberi aba-aba kepada anak buahnya.

"Tangkap perempuan ini!"

Dua losin orang tukang pukul yang sudah biasa memukuli, menyiksa bahkan membunuh orang itu, bersorak mendengar perintah ini.

Mereka merasa gembira diberi kesempatan untuk meringkus tubuh sintal wanita cantik itu.

Bagaikan sekawanan anjing berebutan tulang, dua losin orang itu sambil tertawa-tawa berlumba maju untuk menerkam dan meringkus Maya Dewi.

Akan tetapi terjadi kenehan.

mereka yang lebih dulu mendekati Maya Dewi dan menerkam ke arah wanita itu, tiba-tiba terpental dan terlempar ke belakang!

Teman-teman yang lain menyusul dengan terkaman mereka, namun mereka juga terpental dan terlempar ke belakang!

Ketika menubruk itu mereka merasa seolah tubuh Maya Dewi dilindungi hawa yang amat kuat, yang membuat tenaga tubrukan mereka membalik sehingga mereka terpental ke belakang.

Bergantian dua puluh empat orang ini menubruk dan mereka semua berpelantingan terpental ke belakang.

Itulah Aji Sari Bantala yang ia pelajari bersama Bagus Sajiwo.

menghadapi serangan dari lawan yang tidak memiliki tenaga sakti tingkat tinggi, tanpa menggerakkan tubuhnya Maya Dewi dilindungi hawa sakti yang amat kuat sehingga para penyerangnya terpental sendiri oleh tenaga serangan mereka yang membalik!

Melihat betapa orang-orangnya berpelantingan, Ki Lurah Samin marah dan penasaran, mengira bahwa anak buahnya tidak turun tangan dengan sungguh-sungguh.

"Hayo tangkap perempuan itu! Tangkap!"

Ia berteriak-teriak dan melihat betapa anak buahnya bersikap ragu-ragu, dia sendiri melompat dekat memimpin anak buahnya untuk meringkus Maya Dewi.

Akan tetapi seperti juga yang lain, ketika tubuhnya sudah dekat dan kedua lengannya yang dikembangkan hendak merangkul, tiba-tiba tubuh Ki Lurah Samin terpental dan terlempar ke belakang, bahkan lebih kuat daripada yang dialami anak buahnya karena ketika menubruk dia pun menggunakan tenaga yang lebih kuat.

Tenaganya itu membalik dan dia terlempar lalu terbanting jatuh, membuat dia pringisan (menyeringai) karena pantatnya yang belum sembuh betul dari bantingan tadi kini terasa semakin nyeri selah tulang-tulangnya retak!

Orang yang biasa mengagulkan diri sendiri, merasa paling berkuasa dan paling kuat, tidak pernah dapat menyadari akan kelemahan sendiri dan karenanya sukar dapat menerima dan mengakui kekalahannya.

Demikian pula Ki Lurah Samin.

Biasanya, kalau sudah maju mengerahkan dua losin orang tukang pukulnya, apa pun yang dikehendakinya pasti dapat diperoleh, baik dengan bujukan halus maupun dengan jalan kasar memaksakan kehendak.

Kini, melihat kekalahannya, dia tidak dapat menerimanya, bahkan kegagalan itu membuat dia menjadi pensaran dan marah sekali.

Saking marahnya, dia melupakan rasa nyeri dipantatnya, bangkit dan mencabut goloknya.

"Bunuh perempuan setan ini!"

Teriaknya sambil mengacung-acungkan goloknya.

Semua rasa kagum tergila-gila dan cintanya kini tidak berbekas lagi, terganti oleh perasaan benci dan dendam!

Didahului Ki Lurah Samin, dua puluh empat orang itu mencabut kelewang dan kini mereka menerjang kepada Maya Dewi, seolah hendak berlumba membunuh wanita yang tadi mereka kagumi itu.

Maya Dewi mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada mereka karena lurah itu tidak dapat dibujuk dan disadarkan.

Tubuhnya berkelebat dan dua puluh orang itu terkejut bukan main ketika tubuh Maya Dewi tiba-tiba lenyap dan yang tampak hanya bayangan menyambar-nyambar.

Mereka mencoba menyerang bayangan ini, akan tetapi Maya Dewi telah dulu membagi-bagi tamparan sehingga para pengeroyoknya berpelantingan, mengaduh-aduh dan hanya mampu bangkit duduk, tidak kuat atau tidak berani bangkit berdiri, apalagi mengeroyok lagi.

Gerakan Maya Dewi yang seolah pandai menghilang dan tamparan-tamparannya yang membuat kepala mereka serasa hampir pecah itu menyadarkan mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang sakti mandraguna!

Dalam waktu singkat saja dua losin jagoan itu telah roboh semua dan hanya dapat duduk dan merintih kesakitan.

Hanya tinggal Ki Lurah Samin yang belum roboh karena dia tadi memang agak menjauh ketika melihat Maya Dewi berubah menjadi bayangan yang mengamuk.

Kini, melihat anak buahnya roboh semua, Ki Lurah Samin segera membalikkan tubuhnya dan melarikan diri.

Memang beginilah watak seorang pengecut.

Dia biasanya bertindak keras dan kejam terhadap korbannya kalau dia memperkuat kedudukan dengan banyak anak buah.

Kekejamannya itu menunjukkan bahwa sebetulnya pada lubuk hatinya perdapat rasa takut yang menghantuinya sehingga dia bertindak berlebihan untuk menyembunyikan rasa takutnya.

Akan tetapi kalau dia sadar bahwa keadaannya terancam bahaya, tanpa segan atau malu lagi dia tentu akan melarikan diri!

"Ki Lurah Samin, berhenti!"

Maya Dewi membentak, suaranya mengandung wibawa yang amat kuat.

Wania ini sekarang tidak lagi mau menggunakan kekuatan sihir, bahkan kekuatan sihirnya telah dilepaskannya, tidak mau ia mempergunakan kekuatan sihir lagi.

Akan tetapi karena ia memiliki tenaga sakti yang kuat sekali, maka ketika ia membentak dan memerintahkan berhenti, otomatis Ki Lurah Samin berhenti seolah tubuhnya ditahan kekuatan yang hebat.

"Ki Lurah Samin, Andika ke sinilah, aku mau bicara!"

Kembali Maya Dewi berkata dan lurah itu seperti terpesona, lalu perlahan-lahan berjalan menghampiri Maya Dewi.

Akan tetapi setelah dekat, dia merasakan ketakutan hebat dan tiba-tiba dia menggerakkan goloknya menyerang Maya Dewi dengan bacokan sekuat tenaga ke arah muka wanita itu!

Maya Dewi maklum bahwa serangan ini merupakan serangan untuk membunuh dengan nekat dari seorang yang putus asa dan ketakutan.

Betapa kejamnya manusia yang hati akal pikirannya sudah menjadi hamba nafsu dan segala daya upayanya ditujukan semata untuk kemenangan dan kesenangan diri sendiri tidak segan untuk melakukan kejahatan sekejam apa pun kepada orang lain!

Orang seperti ini kalau tidak dapat disadarkan, akan menjadi bahaya bagi keselamatan orang-orang lain.

Ada dua cara untuk menyadarkan orang.

Yang pertama adalah dengan kelemah lembutan, membuka kebodohannya sehingga dia mengerti dan sadar.

Akan tetapi ada yang sudah sedemikian kuatnya nafsu menguasai dirinya sehingga perlu dilakukan cara kedua, yaitu dengan kekerasan dan (Lanjut ke

Jilid 14) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14 hukuman sehingga dia dapat merasakan akibat yang tidak enak dari kejahatannya!

Menghadapi Ki Lurah Samin, Maya Dewi mengambil cara yang kedua karena maklum bahwa cara bujukan halus tidak akan berhasil.

Ketika golok di tangan Ki Lurah Samin sudah menyambar dekat, Maya Dewi miringkan tubuhnya ke kiri, kemudian memutar tubuh, menggunakan tangan kanan untuk menangkap tangan Ki Lurah Samin yang memegang golok, mendorongnya dengan sentakan kuat sehingga golok itu membalik dan membacok ke arah telinga kirinya sendiri.

"Crakk! Aduuhhh....!"

Golok terlepas dan darah muncrat dari bagian kiri kepala di mana telinganya tadi menempel.

Daun telinga itu telah terbabat putus dan kini Ki Lurah Samin yang merasakan kenyerian hebat, jatuh berlutut, mengaduh-aduh sambil mendekap kepala sebelah kiri dengan kedua tangannya!

"Masih hendak kau lanjutkan pengumbaran kekuasaanmu?"

Maya Dewi berkata dan sekali ini, Ki Lurah Samin benar-benar mati kutu.

Semua kegarangan dan keberaniannya lenyap, terganti rasa takut yang hebat.

Dua losin orang tukang pukulnya sudah roboh semua dan dia sendiri terluka parah, daun telinganya buntung dan darah mengalir deras dari lukanya.

"Ampun...., hamba mohon ampun.... Den Ayu....!"

Ki Lurah Samin merintih ketakutan karena dia benar-benar merasa ngeri dan takut dibunuh wanita yang sakti mandraguna itu.

Tiba-tiba dengan cepat sekali jari tangan Maya Dewi bergerak dan sebelum Ki Lurah Samin tahu apa yang terjadi, jari tangan wanita perkasa itu telah menotok leher sebelah kiri di bawah telinga kiri yang terluka.

"Aduh, mati aku....!"

Ki Lurah Samin berteriak dan terguling. Akan tetapi dia tidak merasa sakit dan darah yang tadi bercucuran dari lukanya kini berhenti mengalir. Dia bangkit dan berlutut sambil menyembah-nyembah.

"Ampunkan hamba.... jangan bunuh hamba...."

"Hemm, kalau engkau minta-minta ampun begini, apakah engkau tidak ingat kepada mereka yang pernah minta-minta ampun kepadamu? Mintalah pengampunan dari Gusti Allah dan sejak saat ini sadarlah bahwa perbuatanmu yang kejam dan jahat hanya akan mendatangkan malapetaka bagi dirimu sendiri dan sekeluargamu. Seorang lurah kepala dusun bukan diangkat untuk menindas warganya, melainkan untuk mengatur agar warganya hidup aman tenteram dan sejahtera. Aja dumeh (jangan mentang-mentang) engkau menjadi lurah lalu mengumbar hawa nafsumu, mencari kesenangan diri sendiri dengan mengorbankan dan menindas warga dusun ini. Jangan bersikap sebagai raja! Engkau hanya lurah, masih banyak atasanmu yang lebih besar kekuasaannya. Bahkan raja sekali pun tidak boleh sewenang-wenang, karena di atas raja pun masih ada kekuasaan yang jauh melebihinya, yaitu kekuasaan Gusti Allah! Semua pamong praja termasuk rajanya dapat memperoleh kedudukannya karena ada rakyatnya. Tanpa adanya rakyat, lurah seperti engkau ini, atau bahkan raja sekali pun, tidak ada artinya dan bukan apa-apa! Karena itu, kepentingan rakyat haruslah diutamakan, harus dilayani karena sesungguhnya engkau ini hanyalah pelayan rakyat!"

Ketika Maya Dewi berhenti bicara, Ki Lurah Samin kembali minta-minta ampun dan sekali ini, dua losin anak buahnya juga ramai-ramai mohon ampun dari Maya Dewi.

"Aku tidak berhak mengampuni kalian. Hanya Gusti Allah yang berhak menentukan, apakah kalian dapat diampuni atau tidak. Akantetapi ingatlah ini, Ki Lurah Samin. Kalau lain kali aku lewat di sini dan mendengar bahwa engkau masih bertindak sewenang-wenang menindas warga dusun ini, tidak menjadi lurah yang baik, bukan hanya sebelah telingamu yang buntung, akan tetapi lehermu!"

"Ampun.... Den Ayu....!"

"Dan kalian para anak buah Ki Lurah Samin. Mulai sekarang, kalian harus benar-benar menjadi jogo-boyo yang baik, mejaga keamanan dusun ini, membela warga dan menentang kejahatan! Kalian ingat selalu, pada suatu hari aku akan lewat di sini dan aku akan bertindak keras untuk menghukum siapa di antara kalian yang masih menggunakan kekuatan untuk menindas warga dusun!"

Terdengar suara berisik dan ketika Maya Dewi menoleh, kiranya penduduk dusun itu telah berdatangan ke tempat itu, menonton dari tempat aman, agak jauh.

Akan tetapi mereka semua melihat dan mendengar semua yang terjadi dan wajah mereka tampak gembira dan mereka saling bicara sendiri sambil tersenyum.

Tentu saja peristiwa itu membuat semua orang lega dan gembira melihat Ki Lurah Samin dan anak buahnya yang ditakuti semua warga kini mendapat hajaran keras.

Melihat semua orang berkumpul, Maya Dewi tidak ingin disanjung dan dipuji, maka sekali lagi ia membentak.

"Ki Lurah Samin dan kalian semua para jogo-boyo, aku pergi dan pada suatu saat aku pasti kembali untuk melihat apakah kalian sudah berubah baik."

Setelah berkata demikian, Maya Dewi menggunakan kepandaiannya, sekali tubuhnya berkelebat ia sudah berloncatan dan berlari cepat sekali sehingga tahu-tahu bayangannya sudah tiba kauh dari situ.

Semua orang, termasuk ki Lurah samin dan anak buahnya, terkejut bukan main.

Tindakan Maya Dewi ini ternyata sangat menolong.

Terjadi perbahan besar di dusun Waru.

Ancaman Maya Dewi yang mengatakan bahwa sewaktu-waktu ia akan muncul kembali di dusun itu membuat Ki Lurah Samin dan anak buahnya ketakutan.

Mereka benar-benar merasa jera dan sedikit terjadi perubahan pada watak dan sikap mereka.

Mula-mula memang perubahan ini mereka paksakan, Semua gejolak nafsu mereka tekan karena rasa ngeri dan takut kepada ancaman Maya Dewi.

Akan tetapi setelah terbiasa bersikap baik terhadap warga dusun dan mereka mulai dapat merasakan betapa senangnya dalam suasana damai seperti itu, melihat betapa sikap baik mereka pun mendatangkan rasa suka, hormat, dan patuh kepada warga dusun, mereka mulai merasa senang dengan keadaan itu!

Memang sesungguhnya bahwa sikap baik atau buruk seseorang dapat disebabkan oleh kebiasaan dan lingkungan.

Keadaan lingkungan mempengaruhi sikap orang, dan sikap ini kalau sudah terbiasa menjadi watak.

Pelakunya tidak melihat kesalahan apa pun dalam sikapnya itu.

Tejakasmala dan dua orang senopati Klungkung, yaitu Ki Cakrasakti dan Ki Candrabaya, terpaksa melarikan diri karena Parmadi dan Muryani yang dibantu Maya Dewi, juga menculnya pasukan Pasuruan membuat anak buah mereka banyak yang roboh dan tewas.

Setelah melarikan diri jauh dari tempat pertempuran tadi, diikuti oleh dua orang senopati Bali dan sisa anak buah mereka, Tejakasmala berhenti dan mengusap keringatnya.

Dia merasa kecewa dan marah sekali.

Apalagi mengingat bahwa usahanya membunuh suami isteri yang menjadi penghalang bagi persekutuan Blambangan itu gagal, dan putera mereka itu pun tak dapat dia tawan.

Kalau saja tadi dia dapat menawan anak laki-laki itu, tentu anak itu dapat di pergunakan sebagai sandera untuk memaksa suami isteri itu menyerah dan membantu Blambangan!

Melihat anak buahnya tinggal bersisa empat orang saja, dia lalu menyuruh mereka kembali ke Blambangan.

Dia sendiri lalu berjalan seenaknya bersama Cakrasakti dan Candrabaya, disepanjang perjalanan dia cemberut dan marah-marah.

"Aku tadi melihat ada seseorang yang melarikan anak laki-laki mereka. Apakah kalian juga melihatnya?"

Tanya Tejakasmala kepada dua orang rekannya.

"Saya tidak melihatnya, anakmas Tejakasmala."

Kata Cakrasakti.

"Saya melihatnya tadi. Dia seorang laki-laki berpakaian mewah. Gerakannya cepat sekali. Jelas bahwa dia memiliki kesaktian yang tinggi."

Kata Candrabaya.

"Hemm, aku sendiri tidak melihat mukanya dengan jelas. Apakah engkau melihat bagaimana wajahnya, Paman?"

"Tidak jelas karena hanya sekejap, akan tetapi jelas dia seorang laki-laki berwajah tampan dan usianya sekitar empat puluh tahun."

"Hemm, siapakah dia itu? Kawan ataukah lawan? dan apa maksudnya menculik putera Parmadi?"

Tejakasmala merasa kecewa bukan main.

Dia merasa tidak puas karena sejak datang ke Blambangan dan mendapat tugas, selalu saja dia mengalami kegagalan.

Pertama kali, ketika menyerang Ki Tejomanik dan Retno Susilo yang dibantu Lindu Aji dan Sulastri.

Dia dan kawan-kawannya mengalami kegagalan karena ketika itu muncul Bagus Sajiwo dan Maya Dewi.

Dan sekarang, menyerang Parmadi dan Muryani dia juga gagal!

Yang menyakitkan hati, dia terpaksa melarikan diri dan kehilangan enam orang anak buahnya.

Dia harus melarikan diri semalam suntuk dan baru pada keesokan harinya dapat melakukan perjalanan santai bersama dua orang senopati Bali setelah menyuruh empat orang sisa anak buahnya pergi dulu, kembali ke Blambangan.

Hati Tejakasmala kesal sekali dan uring-uringan, ingin ia menumpahkan kemarahannya, akan tetapi kepada siapa?

Tejakasmala mengepal tinju kanannya.

"Hah, kalau saja si bedebah itu tidak menculik putera Parmadi, tentu sebelum lari kita dapat meangkap dan menawannya. Jahanam keparat betul penculik anak itu! Dia mengacaukan urusan kita!"

Tiba-tiba terdengar suara dari atas.

"Ho-ho! Kotor benar mulutmu! Mudah saja memaki-maki orang sebelum mengatahui duduknya perkara!"

Tiga orang itu terkejut dan memandang ke atas.

dari puncak sebatang pohon trembesi yang besar dan tinggi, tampak seorang laki-laki duduk di atas cabang tertinggi yang terayun-ayun hampir tidak kuat menyangga tubuhnya.

Laki-laki itu tersenyum dan kedua tangannya bergerak, menyambitkan sesuatu ke bawah.

tampak sinar-sinar kecil hitam menyambar ke arah tubuh Tejakasmala.

Cakrasakti dan Candrabaya.

Tejakasmala menepiskan tangannya dan beberapa buah benda kecil terpukul runtuh.

Candrabaya dan Cakrasakti melakukan hal yang sama, akan tetapi mereka merasa tangan mereka yang terkena benda kecil-kecil hitam itu terasa panas.

Kiranya benda-benda itu adalah biji buah trembesi yang kecil-kecil yang biasa disebut godril!

"Babo-babo, keparat!"

Tejakasmala yang sedang uring-uringan itu marah sekali.

Dia mengambil beberapa biji godril dari atas tanah dan melontarkannya ke atas, ke arah orang yang duduk ongkang-ongkang (kedua kaki tergantung) itu.

Laki-laki itu tiba-tiba melayang turun dan kedua tangannya melakukan gerakan mendorong dan beberapa buah godril itu pun terpukul runtuh oleh angin pukulannya.

Tubuhnya kini tiba di atas tanah dengan ringan seperti seekor burung hinggap di atas tanah saja.

Tejakasmala memandang penuh perhatian.

Orang itu berusia sekitar empat puluh satu tahun, tubuhnya tinggi tegap, mukanya bulat berkulit bersih dan agak putih, sepasang matanya kebiruan dan rambutnya berombak.

Sungguh seorang pria yang tampan dan pakaiannya mewah sekali.

"Ini dia jahanam yang menculik anak itu!"

Ki Candrabaya berteriak dan dia sudah menyerang orang itu dari sebelah kiri dengan kerisnya yang besar dan panjang.

"Wusss....!"

Serangan itu luput karena laki-laki itu telah dapat mengelak dengan gerakan ringan dan indah.

"Wirrrr....!"

Keris besar panjang di tangan Ki Cakrasakti menyambar dari belakang, menusuk ke arah punggung orang itu.

Akan tetapi tubuh orang itu bergerak lincah sekali sehingga kembali tusukan keris itu luput.

Dua orang senopati Bali itu merasa penasaran sekali.

Mereka segera mengeroyok orang itu dengan serangan bertubi-tubi.

Akan tetapi lawannya seolah sesosok bayangan yang tidak pernah dapat disentuh keris mereka.

Tiba-tiba orang itu berseru.

"Lepaskan keris !"

Dia membuat gerakan berputar kedua tangannya menyambar.

"Plak! Plak!"

Pergelangan tangan kedua orang senopati Bali yang memegang keris ditampar dan seketika terasa lumpuh sehingga keris mereka terlepas jatuh ke atas tanah.

Laki-laki itu melompat ke belakang sambil tertawa.

"Ha-ha-ha!"

Suara tawanya aneh sekali, seperti hanya berada di kerongkongannya sehingga terdengar menyeramkan, seperti suara tawa setan dari dalam kuburan! "Kalian berdua masih terlalu lemah untuk melawan aku!"

Mendengar ejekan ini, dua orang senopati yang merasa tangan kanan mereka sudah pulih kembali, cepat menyambar keris mereka dan siap untuk menyerang lagi.

"Tahan ....!"

Tiba-tiba Tejakasmala berseru dan memberi isarat kepada dua orang pembantunya untuk mundur.

Dia melihat betapa orang ini memiliki ilmu kepandaian tinggi dan melihat kenyataan bahwa dia tidak melukai dua orang pembantunya, menjadi bukti bahwa dia bukanlah seorang musuh.

Maka dia kini berdiri menghadap orang itu dan diam-diam Tejakasmala mengerahkan kekuatan sihirnya lalu berkata dengan nada memerintah.

"Ki sanak! Katakan siapa Andika dan apa maksud Andika menemui kami!"

Tejakasmala merasa yakin nahwa suaranya itu akan memepengaruhi lawan dan memaksanya dari dalam untuk menjawab sejujurnya.

Akan tetapi orang itu tertawa!

Suara tawanya yang khas, seperti tawa setan atau tawa seorang yang miring otaknya, bergema dan dia menjawab, logat bicaranya agak asing.

"Ha-ha-ha-ha! Andika masih muda remaja dan aku jauh lebih tua. Sudah sepantasnya kalau Andika yang lebih dulu memperkenalkan diri kepadaku!"

Tejakasmala diam-diam terkejut.

Orang ini sama sekali tidak terpengaruh kekuatan sihirnya!

Dia semakin yakin bahwa orang ini sakti mandraguna dan merupakan lawan yang tangguh, melihat cara dia tadi membuat keris dua orang senopati Bali itu terlepas dari pegangan.

Dia lalu sengaja memperkenalkan gurunya untuk mendatangkan kesan yang membuat lawan jerih.

"Baiklah, aku bernama Tejakasmala. Murid utama dari sang Bhagawan Ekabrata dari Gunung Agung di Bali-dwipa!"

Orang itu adalah Satyabrata.

Ketika dia melihat kemarin betapa Parmadi dan Muryani yang dibantu Maya Dewi menghadapi serbuan belasan orang, dia menggunakan kesempatan itu untuk menculik Joko Galing, putera Muryani.

Dia lakukan itu untuk dapat memaksa Muryani ikut dengan dia menjadi isterinya karena sampai sekarang dia masih benar-benar amat mencintai Muryani.

Akan tetapi usahanya digagalkan Maya Dewi yang entah bagaimana kini berpihak kepada Parmadi dan Muryani.

Joko Galing dapat terampas Maya Dewi.

Usahanya gagal dan dia ingin sekali mengetahui siapa rombongan orang yang memusuhi Parmadi dan Muryani.

Baca Juga: Suling Naga 2

Baca Juga: Petualang Asmara 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert