Ceritasilat Novel Online

Seruling Perak Sepasang Walet 3

Eps 3 Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Baca online Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Cersil Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung.

"Kalau begitu, kau betul-betul menginginkan hatiku?"

"Siapa bergurau denganmu?"

Ciok Giok Yin menghela napas panjang.

"Baiklah. Silakan ambil sendiri."

Dia memejamkan matanya, namun air matanya sudah meleleh.

Ternyata dia teringat akan asal-usulnya yang belum jelas, dendam gurunya dan lain sebagainya.

Kalau kini harus mati, bukankah segala-galanya ikut berakhir?

"Kau tidak rela?"

"Aku tidak bilang tidak rela."

"Kalau kau rela, mengapa kau menangis?"

"Ini adalah urusanku, sekarang kau boleh ambil hatiku."

"Sudah kubilang tadi, harus kau yang serahkan padaku."

"Aku tidak dapat melakukannya."

"Apa?"

"Kau jangan salah paham. Kalau aku mengambil hatiku sendiri, pasti nyawaku akan hilang. Bagaimana mungkin aku bisa menyerahkan hatiku? Maka kau yang harus mengambil sendiri."

"Kau tidak usah memusingkan itu. Asal kau bersedia membedah dadamu, aku bisa ambil sendiri. Tapi... harus kau berikan dengan rela."

Ciok Giok Yin berkertak gigi.

"Baiklah! Kalau begitu, harap kau bersiap-siap!"

Ciok Giok Yin menggunakan kedua jarinya, menusuk ke arah dadanya sendiri.

Namun ketika kedua jarinya hampir menyentuh dadanya, tiba-tiba tangannya terasa semutan, sehingga tak kuat diangkat.

Di saat bersamaan, terdengar helaan nafas panjang.

"Aaah! Sungguhkah kau ingin berikan padaku?"

"Kau menyelamatkan nyawaku, aku serahkan hatiku padamu. Itu berarti di antara kita sudah tiada hutang piutang lagi."

"Terus terang, hati yang kuinginkan itu, tiada bentuknya sama sekali."

"Aku tidak mengerti."

"Aku adalah roh, seandainya hatimu kauserahkan padaku, aku pun tidak dapat menjaganya."

Ciok Giok Yin menarik nafas dalam-dalam.

"Kalau begitu, harus bagaimana?"

"Apabila kau bersungguh-sungguh, selamanya memberikan hatimu padaku Bok Tiong Jin, itu sudah cukup."

"Ohya, bolehkah aku melihatmu?"

"Boleh, tapi sekarang belum waktunya."

"Kapan waktunya?"

"Sulit dikatakan."

"Kalau sekarang kau tidak perlihatkan dirimu, bagaimana kalau kelak aku bertemu denganmu? Bukankah aku akan sulit.

"Tentang ini akan kuberitahukan padamu. Dia berhenti sejenak.

"Sekarang..... kau boleh pergi!"

Lanjutnya.

"Terima kasih!"

Ciok Giok Yin bangkit berdiri. Namun ketika baru mau melangkah, mendadak Bok Tiong Jin berkata dengan dingin.

"Berhenti!"

Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin cepat-cepat meninggalkan tempat yang amat menyeramkan ini, tapi ketika Bok Tiong Jin menyuruhkan berhenti, dia pun langsung berhenti.

Dia tahu Bok Tiong Jin berada di belakangnya, tapi dia tidak berani membalikkan badannya.

Ternyata ketika Ciok Giok Yin masih kecil, kakek tua berjenggot putih pernah bercerita padanya, bahwa hantu wanita amat menyeramkan, berambut panjang, lidahnya panjang terjulur keluar dan sepasang matanya melotot.

Karena itu, dia tidak berani menoleh ke belakang.

Teringat akan cerita itu, bulu kuduknya menjadi bangun.

Memang menggelikan, dia berkepandaian tinggi, namun masih merasa takut terhadap hantu wanita.

"Kau harus ingat, hatimu telah diserahkan padaku!"

Kata Bok Tiong Jin.

"Aku... aku... tidak akan lupa,"

Sahut Ciok Jin dengan suara agak gemetar. Di saat bersamaan, dia melihat sosok bayangan berambut putih berkelebat, tapi dalam sekejap sudah menghilang.

"Hantu wanita!"

Serunya tanpa sadar sambil melesat ke luar.

Setelah itu dia memandang ke depan, ternyata di hadapannya terdapat sebuah kuburan.

Bukan main takutnya Ciok Giok Yin.

Dia segera melesat pergi laksana terbang.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah berhenti.

Dia menoleh ke belakang, lalu menarik nafas lega karena dia telah meninggalkan tempat yang menyeramkan.

Kini dia berjalan agak santai, justru mendadak jauh di depan terdengar suara rintihan.

Ciok Giok Yin tersentak.

Bersamaan itu, terngiang pula di telinganya suara yang tak dapat dilupakannya.

"Anak Yin, belajar ilmu pengobatan, harus didasari sikap gemar menolong. Meskipun orang jahat, kalau memerlukan pertolongan, harus kau tolong. Kalau kau berpegang teguh pada dasar itu, citra ilmu pengobatan tidak akan rusak."

Ini adalah pesan dari Tiong Ciu Sin Ie.

Teringat akan pesan tersebut, maka Ciok Giok Yin segera melesat ke arah suara rintihan itu.

Dalam sekejap dia sudah sampai di tempat suara rintihan itu.

Dilihatnya seorang pemuda tergeletak di bawah pohon dengan tubuh berlumuran darah.

Pemuda itu amat tampan, namun wajahnya pucat pias lantaran terluka dalam yang amat parah.

Nafasnya sudah lemah, namun masih mengeluarkan suara rintihan.

Ciok Giok Yin membungkukkan badannya untuk memeriksa bagian dada pemuda itu, lalu memanggilnya.

"Saudara! Saudara!"

Walau sudah memanggil dua kali. Namun pemuda itu tetap tidak membuka matanya. Ciok Giok Yin cepat-cepat memeriksa nadinya. Setelah itu dia menggeleng-gelengkan kepala.

"Jantungnya telah hancur, dewapun sulit menolongnya,"

Gumamnya.

Ciok Giok Yin menatapnya dengan iba, sambil berkata dalam hati.

'Aku memang tidak sanggup menyelamatkan nyawanya, namun paling tidak aku harus membuatnya siuman, agar tahu asal-usulnya.

Kalau tidak, dia pasti mati penasaran.' Karena itu, Ciok Giok Yin terus memanggil pemuda tersebut.

"Saudara! Saudara!"

Beberapa saat kemudian pemuda itu membuka sepasang matanya, namun sudah suram sekali. Bibirnya bergerak seakan ingin mengatakan sesuatu, namun ia segera mencegahnya.

"Kau harus menghimpun hawa murni sejenak, setelah itu barulah bicara!"

Ciok Giok Yin menatapnya, kemudian melanjutkan.

"Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan, akan berusaha mengobatimu."

Ciok Giok Yin adalah penerus ilmu pengobatan Tiong Ciu Sin Ie, tentu tahu bagaimana menghadapi orang sakit yang sudah sekarat.

Maka, dia menghibur pemuda itu agar bisa tenang.

Akan tetapi, pemuda itu malah tersenyum getir.

"Te..., terima kasih... atas maksud baikmu, jantungku... telah... hancur... tiada obatnya lagi..."

Katanya sangat lemah.

"Aku akan mencobanya."

Pemuda itu tersenyum getir lagi.

"Nama Anda?"

"Namaku Ciok Giok Yin."

"Kaukah orangnya yang telah menggemparkan rimba persilatan belum lama ini, bersama Heng Thian Ceng memperoleh Seruling Perak itu?"

"Aku memang Ciok Giok Yin. Namun mengenai kabar berita tentang diriku dan Heng Thian Ceng telah memperoleh Seruling Perak, sesungguhnya itu tidak benar. Aku dan Heng Thian Ceng sama sekali tidak pernah melihat Seruling Perak tersebut."

Pemuda itu manggut-manggut.

"Aku percaya."

"Ohya, siapa nama Saudara?"

Pemuda itu menarik nafasnya dalam-dalam.

"Namaku But It Coan, tahun ini berusia dua puluh lima."

"Saudara Bun, perlukah bantuanku?"

Bun It Coan berpikir sejenak.

"Aku lebih besar, harus memanggilmu adik."

"Kakak Bun, kau ingin mengatakan apa, katakan saja!"

Bun It Coan menghela nafas panjang. Beberapa saat kemudian barulah dia berkata perlahan-lahan.

"Tiga tahun yang lalu, aku mulai berkelana di dunia persilatan. Karena kurang berpengalaman, maka aku bergabung dengan perkumpulan Sang Yen Hwee. Setelah aku tahu latar belakang perkumpulan itu, aku ingin melepaskan diri, tapi sudah terlambat."

"Maksudmu?"

"Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee punya anak perempuan kembar, yang tua bernama Lan Lan dan adiknya bernama Hui Hui. Lan Lan menikah denganku, sedangkan Hui Hui belum menikah. Lan Lan bersifat jalang dan amat licik...."

Bun It Coan batuk-batuk beberapa kali, setelah itu baru lanjutkan penuturannya.

"Dia melihatku selalu menentang ayahnya, dan tahu bahwa aku berniat kabur. Maka dia menaruh racun pada makanan. Karena kurang waspada, aku menyantap makanan tersebut. Ketika aku tahu, racun telah menjalar ke jantungku. Meskipun begitu, aku tetap mencari tabib terkenal untuk mengobatiku. Karena itu, aku melarikan diri. Tapi aku dikejar oleh seorang yang memakai kain penutup muka, dan aku terkena pukulannya. Kalau ginkangku tidak tinggi, mungkin aku sulit kabur."

Mendengar itu, sepasang mata Ciok Giok Yin langsung membara, berkertak gigi seraya berkata.

"Kakak Bun, aku bersumpah akan menuntut balas dendammu! Ohya, siapa nama ketua perkumpulan Sang Yen Hwee?"

"Adik..."

Bun It Coan menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku sungguh tak berguna! Dalam tiga tahun itu, aku tidak pernah melihat ketua perkumpulan itu, bahkan tidak tahu mereka bermarga apa."

"Apakah Lan Lan tidak pernah memberitahukan padamu?"

"Wanita jalang itu, hatinya amat jahat. Bagaimana mungkin dia akan memberitahukan padaku? Yang baik hati adalah Hui Hui. Entah sudah berapa kali dia menyuruhku pergi, tapi dia takut, maka tidak berani banyak bicara padaku."

Bun It Coan menatap Ciok Giok Yin dengan mata suram.

"Adik, kau... kau harus menuntut balas dendamku!"

Lanjutnya dengan perlahanlahan. Ciok Giok Yin berkertak gigi.

"Legakanlah hatimu, aku pasti tidak akan melepaskan semua orang perkumpulan Sang Yen Hwee, aku pasti membasmi mereka semua!"

Katanya berjanji. Bun It Coan tersenyum tenang.

"Sebelum aku mati, bisa mendapatkan seorang teman sejati, aku... aku pasti mati dengan mata terpejam...."

Usai berkata begitu, Bun It Coan memejamkan matanya. Ciok Giok Yin mulai menangis sedih.

"Toako! Toako!"

Teriaknya memanggil Bun It Coan. Bun It Coan membuka matanya perlahan-lahan.

"Adik, tolong ambilkan cincinku di dalam baju."

Ciok Giok Yin mengangguk dengan air mata bercucuran, lalu merogoh ke dalam baju Bun It Coan, mengeluarkan sebuah cincin.

"Toako, cincin ini?"

Bun It Coan manggut-manggut, kemudian menatap cincin yang gemerlapan itu. Tak lama, air matanya pun meleleh.

"Adik, simpanlah baik-baik cincin ini! Bawalah cincin ini ke Liok Bun (Pintu Hijau), temui ayahku dan mohon padanya ajarkan kungfu tinggi padamu, agar kau dapat menuntut balas dendamku!"

"Toako, aku pasti ke sana memberitahukan pada orang tuamu."

Bun It Coan menggelengkan kepala.

"Adik, ayahku pernah mengalami pukulan batin yang amat berat. Kau... kau jangan... memberitahukan..."

Katanya terputus-putus kemudian berhenti di tengah kalimat. Sepasang matanya mendelik, ternyata nafasnya telah putus. Seketika Ciok Giok Yin menjerit.

"Toako! Toako...."

Kemudian dia menangis sedih.

Sejak Ciok Giok Yin menjejakkan kakinya di dunia persilatan, tidak pernah mempunyai teman yang sehati.

Kini tanpa sengaja dia bertemu Bun It Coan, tapi baru berkata beberapa patah, Bun It Coan sudah mati.

Berselang beberapa saat, Ciok Giok Yin berhenti menangis.

Dia menghapus air matanya, lalu bangkit perlahanlahan.

"Toako, kau tenanglah! Aku pasti membalas dendammu..."

Gumamnya sambil berkerak gigi. Mendadak terdengar suara yang amat dingin.

"Kau punya kepandaian itu?"

Ciok Giok Yin cepat-cepat membalikkan badannya. Dilihatnya seorang pemuda bertampang licik terus menatapnya dengan tajam, tapi Ciok Giok Yin tidak tahu siapa pemuda itu.

"Siapa kau?"

Katanya.

"Kalau aku sebut namaku, mungkin nyalimu akan pecah. Lebih baik tidak kuberitahukan, agar kau mati penasaran!"

Sahut pemuda itu dengan angkuh.

Usai menyahut, tangan kanan pemuda itu menunjuk mayat Bun It Coan, sedangkan tangan kirinya melancarkan sebuah pukulan ke arah dada Ciok Giok Yin.

Agin pukulannya menderu-deru.

Hati Ciok Giok Yin tersentak.

"Apakah kematian toakoku ada hubungan denganmu?"

Bentaknya sambil berkelit. Pemuda itu mendengus dingin.

"Hmm! Kepandaianmu cukup lumayan!"

Dia maju dua langkah, wajahnya penuh hawa membunuh, lalu menyerang Ciok Giok Yin dengan dahsyat.

Ciok Giok Yin berkertak gigi, lalu menangkis sekaligus balas menyerang.

Akan tetapi, Ciok Giok Yin terdesak muncur, dan agak kewalahan menghadapi pemuda itu.

Kalau begini, tidak sampai tiga jurus, Ciok Giok Yin pasti mati oleh seranganserangan yang dilcarkan pemuda itu.

Mendadak terdengar suara bentakan.

"Berhennti!"

Tampak sosok bayangan hitam melayang turun, langsung menyambar mayat Bun It Coan. Begitu melihat kemunculan orang itu, pemuda bertampang licik langsung melesat pergi.

"Mau lari ke mana?"

Bentak orang berpakaian hitam.

Dia langsung melesat mengejar pemuda itu.

Kedua sosok bayangan itu, dalam sekejap sudah melesat puluhan depa.

Kejadian yang mendadak itu sungguh membingungkan Ciok Giok Yin, sehingga membuatnya termangu-mangu.

Namun tiba-tiba dia teringat akan mayat Bun It Coan yang dibawa pergi oleh orang berpakaian hitam, maka seketika hatinya tersentak.

"Celaka!"

Serunya.

Dia ingin mengejar, tapi kedua bayangan itu sudah tidak kelihatan lagi.

Ciok Giok Yin sama sekali tidak menyangka, akan muncul seseorang menyambar mayat Bun It Coan.

Dia belum sempat mengubur mayat itu, pasti akan membuat Bun It Coan amat penasaran di alam baka.

Dia meninggalkan tempat itu dengan wajah sedih.

Dalam perjalanan, dia terus memikirkan langkah-langkah selanjutnya.

Mendadak Ciok Giok Yin melihat sesosok mayat orang tua terbujur di bawah pohon.

Dia mendekati mayat itu dan memperhatikannya dengan seksama.

Mayat orang tua itu tiada noda darah, namun wajahnya tampak kehijau-hijauan, pertanda orang tua itu mati keracunana.

Begitu melihat mayat orang tua itu, Ciok Giok Yin teringat akan mayat Bun It Coan yang dibawa pergi oleh orang berpakaian hitam.

Dia berkata dalam hati.

'Orang berpakaian hitam membawa pergi mayat toako, apakah juga akan dibuang di tempat sepi seperti mayat orang tua ini?' Di saat Ciok Giok Yin sedang berkata dalam hati, mendadak merasa ada serangkum angin pukulan mengarah punggungnya, dan dalam waktu bersamaan terdengar pula bentakan sengit.

"Bayar nyawa ayahku!"

Suara bentakan itu diiringi dengan tangisan yang penuh duka dan dendam.

Ciok Giok Yin cepat-cepat berkelit, sekaligus membalikkan badannya.

Tampak seorang gadis yang amat cantik berdiri di situ, namun kedua pipinya telah basah oleh air mata.

Sekonyong konyong gadis itu menyerang Ciok Giok Yin dengan sengit dan bertubi-tubi.

"Bayar nyawa ayahku!"

Bentaknya penuh kebencian. Serangan-serangan itu membuat Ciok Giok Yin naik darah.

"Berhenti!"

Bentaknya mengguntur.

Akan tetapi, gadis itu tetap menyerangnya, bahkan serangannya bertambah sengit dan dahsyat.

Ciok Giok Yin terpaksa terus mundur, kemudian mengerahkan enam bagian lwee kangnya, sekaligus mendorong ke depan seraya membentak.

"Kalau kau masih tidak berhenti...!"

Bukan main dahsyatnya tenaga dorongan Ciok Giok Yin, membuat gadis itu terdorong ke belakang beberapa langkah, mulutnya menyembutkan darah segar, badannya sempoyongan dan roboh terjeremab jatuh.

Namun sepasang mata gadis itu terus menatap Ciok Giok Yin dengan penuh dendam dan kebencian.

"Kalau aku tidak bisa membunuhmu tidak mau jadi orang lagi!"

Ciok Giok Yin maju dua langkah dengan sepasang matanya menyorot dingin.

"Dia ada hubungan apa denganmu?"

"Ayahku!"

"Tahukah kau bagaimana kematiannya?"

"Bangsat! Ayahku punya dendam apa denganmu? Mengapa kau turun tangan jahat padanya? Hari ini aku harus membunuhmu, lalu mencincangmu!"

Dia langsung berguling ke arah mayat itu, ingin memeluknya sambil menangis.... Akan tetapi mendadak terdengar suara bentakan yang memekakkan telinga.

"Nona, tidak boleh!"

"Ternyata yang membentak itu adalah Ciok Giok Yin, yang dikira oleh gadis itu sebagai pembunuh ayahnya. Ciok Giok Yin bergerak cepat mencengkeram lengan gadis itu, kemudian berkata.

"Nona, ayahmu mati keracunan. Kalau kau menyentuh pakaiannya, akibatnya sulit dibayangkan."

Ketika Ciok Giok Yin mencengkeram lengannya justru membuat hati gadis itu berdebar-debar.

Akan tetapi, begitu teringat akan kematian ayahnya, dan mengira Ciok Giok Yin akan berbuat tidak senonoh terhadap dirinya, dia langsung melancarkan pukulan ke dada Ciok Giok Yin.

Duuuk!

"Aaaakh...!"

Ciok Giok Yin menjerit, dan mulutnya langsung menyemburkan darah segar.

Tangannya yang mencengkeram lengan gadis itu terlepas, dan dia terhuyung-huyung ke belakang dua langkah.

Setelah melukai Ciok Giok Yin, gadis itu ingin menubruk mayat ayahnya.

Namun sekonyong-konyong terdengar suara seruan.

"Nona, jangan!"

Muncul seorang berpakaian hijau dengan kepala tertutup. Orang itu langsung menarik lengan gadis tersebut ke belakang.

"Benar perkataan saudara kecil itu, mayat ini tidak boleh disentuh!"

Katanya.

"Bagaimana kau tahu itu?"

Tanya gadis itu dengan sedih.

"Dari wajah mayat itu dapat diketahui."

"Kau yang meracuni ayahku?"

Bentak gadis itu.

"Bukan aku dan bukan saudara kecil itu, yang meracuninya,"

Sahut orang berpakaian hijau dengan suara dalam.

"Siapa?"

"Aku tidak melihatnya, namun harap Nona tenang! Coba ingat, apakah kalian ayah dan anak pernah bertemu orang yang mencurigakan?"

Orang berpakaian hijau itu melepaskan tangannya dan kemudian berdiri diam. Sedangkan gadis itu menatap mayat ayahnya dengan air mata bercucuran.

"Tadi aku ada sedikit urusan, maka membiarkan ayahku jalan duluan. tak disangka sampai disini, aku melihatnya berdiri di situ, sama sekali tidak melihat orang lain,"

Katanya terisakisak.

Usai berkata, gadis itu menunjuk Ciok Giok Yin.

Sepasang matanya yang indah bening, menyorotkan sinar yang penuh kebencian.

Sementara Ciok Giok Yin yang terkena pukulannya, pasti hatinya amat gusar.

Namun begitu teringat ayah gadis itu mati diracuni orang, seketika lenyaplah kegusarannya.

"Nona telah salah paham padaku. Aku baru sampai di sini, Nona muncul,"

Katanya sambil maju selangkah. Gadis itu melotot.

"Kalau begitu, kau berdiri di situ mengatakan apa?"

"Aku mengatakan apa, tidak perlu kuberitahukan padamu."

"Kau pasti pembunuh ayahku!"

"Nona tidak boleh menuduh orang secara sembarangan,"

Sela orang berpakaian hijau.

"Nona tidak boleh memfitnah orang,"

Ciok Giok Yin memandang orang itu.

"Mohon tanya siapa nama Anda?"

Orang itu tampak tertegun, karena tidak menyangka Ciok Giok Yin akan menanyakan namanya.

"Sudah sekian tahun aku tidak pernah ingat lagi namaku sendiri, harap dimaklumi!"

Sahutnya. Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Seseorang pasti punya nama. Kelak kalau berjumpa lagi, aku harus bagaimana memanggilmu? Lebih baik Anda jangan bersikap sedemikian misterius."

Orang itu tertawa gelak.

"Masuk akal apa yang kau katakan. Kita kebetulan berjumpa di sini. Kelak mungkin juga kita akan berjumpa kembali di suatu tempat, maka kau boleh panggil aku Lu Jin (Orang Jalanan)."

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Saudara kecil, bolehkah aku tahu namamu?"

Tanya Lu Jin.

"Ciok Giok Yin."

"Ciok Giok Yin?"

"Ng!"

Seketika sepasang mata Lu Jin menyorot bersinar-sinar. Dia menatap Ciok Giok Yin dari atas ke bawah, kemudian tertawa gelak.

"Wajah Saudara kecil cerah dan tampan, masa depan pasti cemerlang! Ohya, bolehkah aku tahu nama suhumu?"

"Suhuku adalah Sang Ting It Koay, namun aku tidak tahu nama beliau,"

Sahut Ciok Giok Yin dengan jujur. Badan Lu Jin tampak tergetar.

"Suhumu adalah tokoh aneh. Dengar-dengar empat belas tahun yang lampau, dia meningal di puncak gunung Muh San. Sedangkan usiamu belum begitu besar, bagaimana bisa berguru padanya?"

Mendengar itu, sepasang mata Ciok Giok Yin menyorot dingin.

"Tapi suhuku belum mati..."

Dia menutur tentang kejadian itu.

"Aku bersumpah akan membalaskan dendam suhuku!"

Tambahnya. Tanpa sadar Lu Jin mundur selangkah.

"Aku dengar Saudara Kecil telah membunuh Khiam Sin Hweshio, ketua Kuil Put Toan Si, benarkah itu?"

"Tidak salah."

"Setelah itu, kaupun pergi ke Hong Yun Cuang mencari Tui Hong Sin Cian-Cu Ling Yun. Ya, kan?"

Mendengar itu, timbullah kecurigaan dalam hati Ciok Giok Yin.

"Kok Anda tahu begitu jelas?"

Katanya.

"Tentang itu telah tersebar luas di dunia persilatan, aku cuma mendengar dari orang,"

Sahut Lu Jin. Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Ooooh!"

Lu Jin tidak berkata apa-apa lagi.

"Saudara kecil, sampai jumpa!"

Katanya sambil menjura.

Badannya bergerak melesat, tahu-tahu sudah masuk ke dalam rimba.

Bukan main cepatnya gerakan Lu Jin!

Ciok Giok Yin merasa kagum melihatnya.

Ciok Giok Yin membalikkan badannya memandang gadis itu, yang kebetulan juga sedang memandangnya.

Ciok Giok Yin tidak menghiraukannya.

Namun ketika dia baru mau pergi, mendadak sesosok bayangan menghadang di hadapannya, ternyata gadis itu.

"Tunggu sebentar!"

Katanya.

"Apa maksud Nona?"

Gadis itu mendengus dingin.

"Lelaki jantan harus gagah! Setelah menyaksikan kejadian yang mengenaskan ini, kau malah mau pergi! Bukankah kau amat tidak berperasaan?"

"Nona mau menyuruhku berbuat apa?"

"Bantu aku mengubur mayat ayahku! Oh ya, namaku Cen Siauw Yun. Tadi aku sembarangan menyalahkanmu, mohon jangan disimpan dalam hati!"

Ciok Giok Yin berpikir sejenak, kemudian mengangguk.

"Baiklah!"

Ciok Giok Yin segera menggali sebuah lubang.

Sesudah itu, dia menggunakan dua batang dahan pohon mengangkat mayat itu ke dalam lubang.

Tak lama, setelah selesai mayat itu dikuburkan, barulah Ciok Giok Yin bertanya.

"Nona mau ke mana?"

Saat itu Cen Siauw Yun sudah berhenti menangis. Namun ketika Ciok Giok Yin bertanya, gadis itu mulai menangis lagi.

"Ayahku telah dibunuh penjahat, kini tinggal aku seorang diri, entah mau ke mana?"

Sahutnya terisak-isak. Cen Siauw Yun terus menangis sedih. Ciok Giok Yin menatapnya dengan iba, lalu berkata.

"Tentunya Nona punya suatu tujuan, ya kan?"

Tanya Ciok Giok Yin sambil menatapnya dengan iba.

"Aku harus ke mana?"

Sahut Cen Siauw Yun seperti bertanya.

"Apakah kau tidak punya sanak famili?"

"Aku dan ayahku tinggal di desa, jarang berhubungan dengan orang, suruh aku ke mana?"

Cen Siauw Yun mulai menangis lagi.

Kali ini dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan kuburan ayahnya.

Ciok Giok Yin tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan suara tangisan Cen Siauw Yun semakin sedih memilukan.

Sudah barang tentu membuat Ciok Giok Yin berpikir.

'Bagaimana baiknya nih?

Diriku juga sebatang kara dan tiada tempat berteduh.

Lalu aku harus mengantarnya ke mana?' Yang satu terus menangis sedih dengan air mata berderai-derai, sedangkan yang satu malah berdiri termangu-mangu.

Bukan main kacaunya hati Ciok Giok Yin!

Dia maju ke hadapan Cen Siauw Yun lalu menariknya bangun.

"Tiada gunanya Nona terus menangis. Sekarang hari sudah mulai gelap, lebih baik kita mencari penginapan dulu. Setelah itu, barulah memikirkan jalan keluarnya."

Cen Siauw Yun menghapus air matanya.

"Seharusnya kau memikirkan jalan keluar untukku,"

Katanya terisak-isak. Ciok Giok Yin memang berhati luhur. Mendengar itu dia langsung manggut-manggut.

"Akan kupikirkan nanti."

Dia langsung menarik Cen Siauw Yun meninggalkan tempat itu.

Namun gadis itu masih menoleh melihat kuburan ayahnya.

Kelihatannya dia merasa enggan meninggalkan tempat itu.

Saat ini hari sudah gelap.

Salju dan angin dingin menderuderu mendirikar bulu roma.

Cen Siauw Yun merasa agak takut, sudah barang tentu dia berjalan melekat di badan Ciok Giok Yin.

Sedangkan Ciok Giok Yin mengira gadis itu merasa dingin, maka langsung merangkulnya erat-erat.

"Nona takut dingin?"

Katanya dengan suara ringan. Cen Siauw Yun mengangguk.

"Ng!"

Mendadak terdengar suara burung gagak yang menyeramkan, mengejutkan Cen Siauw Yun, sehingga langkahnya terhenti dan gadis itu segera mendekap di dada Ciok Giok Yin.

"Ka... kakak Yin, aku... aku takut sekali,"

Katanya dengan suara gemetar.

"Takut apa!"

"Kau tidak mendengar suara tadi?"

Ciok Giok Yin tertawa.

"Itu suara burung gagak, apa yang kau takutkan?"

Dia tertawa lagi, menepuk bahu Cen Siauw Yun.

"Legakan hatimu, ada aku!"

Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara yang amat dingin.

"Berdasarkan kepandaianmu dapat menjaga keselamatannya?"

Begitu mendengar suara itu, sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding.

"Bok Tiong Jin (Orang Dalam Kuburan)!"

Serunya kaget.

"Tidak salah!"

Sekonyong-konyong angin berhembus kencang, menerbangkan salju-salju yang di sekitarnya.

Di saat bersamaan, tampak bayangan-bayangan hantu bergerakgerak.

Namun setelah ditegasi, ternyata bayangan-bayangan pohon, dahan dan ranting pohon bergerakgerak terhembus angin.

Di saat ini Cen Siauw Yun mendongakkan kepala, lalu menengok ke sekeliling.

Sedangkan keringat dingin Ciok Giok Yin sudah mengucur.

"Bok Tiong Jin, aku sering menerima budi pertolonganmu. Suatu hari nanti, aku pasti akan membangun kuburanmu,"

Katanya dengan suara gemetar. Terdengar suara sahutan yang amat dingin.

"Terima kasih!"

Suara itu berhenti sejenak, setelah itu terdengar lagi.

"Jangan lupa akan janjimu!"

"Aku tidak akan lupa."

"Kalau kau lupa, aku akan membunuhmu, lalu mayatmu akan kubuang di hutan, biar disantap binatang buas!"

Mendengar itu, Ciok Giok Yin menjadi merinding.

"Legakan hatimu, aku tidak akan lupa!"

"Bagus begitu!"

Seketika suasana di tempat itu kembali menjadi hening. Cen Siauw Yun menatap Ciok Giok Yin dengan heran.

"Kakak Yin, kau sedang bicara dengan siapa?"

Katanya dengan suara rendah. Ketika melontarkan 'Kakak Yin' wajah Cen Siauw Yun tampak kemerah-merahan. Ciok Giok Yin tidak memperhatikan hal itu.

"Aku sedang berbicara dengan Bok Tiong Jin,"

Sahutnya.

"Bok Tiong Jin?"

"Ng!"

"Apakah Bok Tiong Jin itu roh?"

"Mungkin ya."

"Kau pernah melihatnya?"

"Tidak."

"Aku tidak percaya orang itu sudah mati, rohnya akan gentayangan. Itu cuma ingin menakuti orang saja."

Mendadak salju-salju di sekitarnya beterbangan, dan dalam waktu bersamaan terdengar suara 'Serr!

Serrr!' Cen Siauw Yun cepat-cepat mencelat ke atas, kelihatannya ingin melancarkan pukulan.

Namun dia mengeluarkan suara 'Hah' lalu melayang turun.

Wajahnya diliputi rasa takut, sepasang matanya melirik ke sana ke mari ingin melihat apakah di sekitarnya terdapat orang atau tidak.

Akan tetapi, selain salju yang masih beterbangan, tidak tampak apa pun.

Kini barulah hatinya mulai berdebar-debar tegang, dan dia langsung bersandar di badan Ciok Giok Yin.

Tiba-tiba telinga Cen Siauw Yun menangkap suara amat lirih.

"Harap kau jangan memikirkan yang bukan-bukan, aku akan mengawasimu!"

Walaupun suara itu amat lirih, namun Cen Siauw Yun dapat mendengarnya dengan jelas sekali, sepertinya suara itu amat dekat.

Cen Siauw Yun segera menyebarkan pandangannya kian kemari, tapi tidak melihat apa pun.

Itu membuatnya merinding, dan tidak berani memastikan roh itu asli atau palsu.

"Nona merasakan apa?"

Tanya Ciok Giok Yin dengan suara ringan. Cen Siauw Yun menggelengkan kepala.

"Tidak."

Jelas dia tercekam oleh rasa takut, namun tidak mau berterus terang.

Ciok Giok Yin tidak mau mengungkap itu, cuma merangkul pinggangnya erat-erat, lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu, agar tidak terus diikuti Bok Tiong Jin.

Berlangsung beberapa saat, mereka berdua tiba di sebuah kota kecil, Ciok Giok Yin dan Cen Siauw Yun berjalan perlahan memasuki kota kecil itu.

Mereka langsung menuju sebuah penginapan, dan memesan dua buah kamar.

Setelah itu, mereka makan malam di penginapan tersebut.

Kini mereka berdua duduk di dalam sebuah kamar sambil mengobrol.

Mendadak Cen Siauw Yun menangis, kemudian mendekap di dada Ciok Giok Yin.

Badan gadis itu bergerakgerak, kelihatannya hatinya amat sedih sekali.

Jelas dia teringat akan ayahnya yang sudah tiada.

Ciok Giok Yin segera menghiburnya.

"Nona, kau tidak boleh terus menangis. Ayahmu sudah tiada, tiada gunanya kau terus menangis. Jaga kesehatanmu dan cari jalan menuntut balas dendam ayahmu, itu baru benar."

"Semalam ayahku masih baik-baik, tapi malam ini sudah tiada. Bagaimana aku tidak sedih?"

Cen Siauw Yun menangis lagi dengan air mata berderai-derai.

Sebelah tangannya menggenggam baju Ciok Giok Yin eraterat.

Ciok Giok Yin menarik nafas dalam-dalam, sambil berkata dalam hati.

'Biarlah dia terus menangis, agar mengeluarkan semua kesedihan dalam hatinya.' Beberapa saat kemudian Cen Siauw Yun berhenti menangis.

Dia mendongakkan kepala memandangg Ciok Giok Yin seraya tersenyum.

Ciok Giok Yin mengira pikiran gadis itu telah terbuka, maka dia merasa girang.

Di tengah malam, berhadapan dengan gadis cantik, tentunya pikiran akan menerawang.

Akan tetapi, cepat sekali pikiran Ciok Giok Yin kembali tenang, bahkan menegur dirinya sendiri.

'Semua dendam masih belum terbalas, bagaimana sedemikian tidak tahu diri, memikirkan yang bukanbukan?

Sungguh tak pantas!' "Nona, sudah larut malam!

Harap kembali ke kamar beristirahat, esok pagi harus melanjutkan perjalanan!"

Katanya kepada Cen Siauw Yun.

Cen Siauw Yun mengangguk, lalu berjalan ke luar meninggalkan kamar Ciok Giok Yin.

Setelah Cen Siauw Yun kembali ke kamarnya, Ciok Giok Yin duduk menghimpun hawa murninya.

Mendadak terdengar suara 'Serr' yang amat halus.

Ciok Giok Yin cepat-cepat membuka matanya.

Dilihatnya sebuah bola kecil putih melucur ke arahnya.

Dia segera menjulurkan tangannya untuk menyambut bola kecil itu, yang teryata segumpal kertas.

Ciok Giok Yin cepat-cepat membuka gumpalan kertas itu lalu membacanya.

Seketika wajahnya berubah menjadi hebat.

Jilid 06 Ternyata tulisan itu berbunyi demikian.

Mohon maaf, aku harus menceritakan hal yang sebenarnya.

Orang tua yang mati itu, sesungguhnya bukan ayahku dan aku tidak saling mengenal.

Aku amat berterima kasih atas bantuanmu.

Sesungguhnya aku mendapat perintah untuk mencuri peta Si Kauw Hap Liok Touw yang ada di dalam bajumu.

Namun amat sulit bagiku untuk turun tangan mencuri peta itu.

Kebetulan aku melihat mayat orang tua itu, maka aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mengelabuhimu.

Aku langsung menangis meraung-raung, dan kemudian memukulmu.

Akhirnya aku berhasil memperoleh peta Si Kauw Hap Liok Touw itu.

Kumohon kau jangan membenciku, sebab aku melakukan itu karena terpaksa.

Aku tahu, meskipun kau menyimpan peta pusaka itu, namun tidak tahu benda pusaka itu tersimpan di mana.

Biar kuberitahukan, agar kau dapat memperolehnya selekasnya.

Esok subuh kau harus segera berangkat ke Gunung anya San.

Di sana terdapat Goa Cian Hud Tong (Goa Seribu Buddha).

Cari benda pusaka itu, jangan sampai terlambat!

Asal kau berhasil memperoleh benda pusaka itu, peta Si Kauw Hap Liok Touw pun sudah tiada gunanya.

Harap kau jaga diri baik-baik!

Dari Cen Siauw Yun.

Usai membaca, Ciok Giok Yin merogoh ke dalam bajunya, memang benar peta tersebut telah hilang.

Namun cincin pemberian But It Coan masih ada.

Ciok Giok Yin berkertak gigi.

"Kelak kalau bertemu, aku pasti tidak akan melepaskanmu!"

Katanya dengan penuh kegusaran.

Saking gusarnya dia mengerahkan Sam Yang Hui Kang menghancurkan kertas tersebut, sehingga kertas itu menjadi hangus, kemudian hancur bagaikan daun kering.

Dia tahu Cen Siauw Yun sudah pergi jauh, tidak mungkin akan berhasil mengejarnya lagi.

Ketika dia baru mau duduk kembali, tiba-tiba hatinya tergerak.

Ternyata dia teringtat akan kata-kata di dalam kertas itu "Gunung anya San, Goa Cian Hud Tong".

Dia harus berangkat subuh untuk mencari benda pusaka itu.

Cen Siauw Yun berpesan demikian, mengapa tidak ke sanam melihatlihat?

Pikir Ciok Giok Yin.

Apabila dia berhasil memperoleh benda puska itu, berarti dia tidak akan menyia-nyiakan maksud baik Ho Siu Kouw.

Kelak kalau berjumpa, harus berterima kasih padanya.

Begitu teringat pada Ho Siu Kouw, hatinya menjadi kebat-kebit, karena tidak tahu bagaimana keadaannya.

Apakah dia telah berhasil memutuskan rantai yang membelenggu dirinya?

Sembari berpikir, tanpa sadar dia pun bergumam perlahan.

"Kakak Siu, cepat atau lambat aku pasti ke Goa Toan Teng Tong mencarimu."

Di saat bersamanan, jendela berdiri sosok bayangan putih, menyambitkan ke dalam segulung kertas kecil.

Namun dalam sekejap bayangan putih itu telah lenyap.

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin ketika melihat ada suatu benda meluncur ke arahnya!

Tanpa banyak anya lagi dia langsung menyambut gulungan kertas itu sekaligus melesat ke luar melalui jendela, namun tidak melihat apa pun.

Dia sama sekali tidak menyangka, bahwa di dalam kota kecil ini terdapat begitu banyak pesilat tinggi.

Padahal gingkang yang dimilikinya sudah tinggi sekali, namun orang yang menyembitkan kertas itu ginkangnya jauh lebih tinggi darinya.

Dia berdiri di atas rumah, lalu membuka kertas itu, namun di dalamnya tidak terdapat huruf apapun.

Karena merasa dipermainkan, dia langsung mencaci.

"Kalau kau punya kepandaian, cepat perlihatkan dirimu! Kau jangan seperti kura-kura menyembunyikan kepala, itu bukan orang gagah!"

Namun tiada suara sahutan, hanya terdengar suara desirannya.

Ciok Giok Yin meloncat turun, lalu kembali ke kamarnya.

Dia melempar setael perak ke atas meja.

Ketika dia baru mau....

Ternyata di atas meja terdapat secarik kertas.

Padahal di saat melesat ke luar, dia sama sekali tidak melihat kertas itu.

Ciok Giok Yin cepat-cepat memperhatikan kertas yang di atas meja.

Ternyata pada kertas itu terdapat tulisan berbunyi demikian.

Kakak Siumu telah berhasil melepaskan diri.

Kalau berjodoh dia pasti akan mencarimu.

Namun, kalian pernah bertemu beberapa kali, hanya kau tidak mengenalinya.

Pada surat itu tiada nama penulisnya.

Yang jelas dia memancing Ciok Giok Yin keluar, kemudian masuk ke dalam.

Ciok Giok Yin masih memegang kertas itu, tapi dia tidak ingat kapan bertemu Ho Siu Kouw.

Lagi pula dia tidak tahu siapa sesungguhnya penulis surat itu.

Namun sepertinya penulis surat itu tahu jelas akan urusan Ciok Giok Yin.

Kalau begitu berarti dia sudah kenal, dengan Ciok Giok Yin.

Tapi mengapa orang itu justru bertindak sedemikian misterius?

Ciok Giok Yin terus berpikir.

Tiba-tiba dia teringat akan si penulis surat.

Itu membuat matanya terbelalak lebar, dan muncul sosok bayangan di depan matanya, apakah Cen Siauw Yun adalah kakak Siu?

Tapi kemudian Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala, tidak setuju akan kesimpulannya.

Sebab Cen Siauw Yun menerima perintah untuk mencuri peta Si Kauw Hap Liok Touw, bagaimana mungkin dia kakak Siu?

Itu tidak masuk akal sama sekali.

Akan Tetapi, dia justru tidak ingat lagi akan orang lain.

Dia terus berpikir, lalu teringat akan Yap Ti Hui.

Itu membuatnya nyaris tertawa geli.

"Bagaimana mungkin dia dibandingkan dengan kakak Siu?"

Gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Kemudian dia berpikir lagi, namun tetap tidak menemukan jawabnya.

Ciok Giok Yin menyambar kertas itu, kemudian melesat pergi melalui jendela, langsung menuju gunung anya San di tengah malam.

Agar tiada halangan dalam perjalanan, dia menempuh jalan kecil yang sepi.

Namun Gunung anya San amat luas, bagaimana mencari Goa Cian Hud Tong?

Sebetulnya dimana letak goa itu?

Di gunung yang begitu luas, mencari sebuah goa dalam waktu sehari sungguh tidak gampang!

Kelihatannya Cen Siauw Yun berniat mempermainkan Ciok Giok Yin.

Kalau gadis itu bermaksud baik, mengapa tidak menjelaskan letak goa itu?

Apabila mencari secara membabibuta, bukankah....

Di saat Ciok Giok Yin sedang berpikir, mendadak tampak beberapa sosok bayangan berkelebat di puncak seberang memasuki sebuah lembah.

Seketika hati Ciok Giok Yin tergerak, dan cepat-cepat melesat ke sana.

Di saat dia melesat ke tempat itu, juga melihat tiga kaum rimba persilatan menuju tampat yang sama.

Oleh karena itu, dia berkata dalam hati.

"Harus percaya goa itu ada, tidak boleh tidak percaya! Maka dia segera mengerahkan ginkang, mengikuti para kaum rimba persilatan itu. Orang-orang itu tampak berebut untuk tiba duluan. Mereka terdiri dari padri, pendeta taoisme, lelaki, wanita, tua dan muda. Mata mereka kelihatan serakah, seakan ingin memilki suatu benda. Sekonyong-konyong terlihat lagi beberapa orang, ternyata orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee. Karena memilki ilmu ginkang yang amat tinggi, tampak badan mereka berkelebatan. Sementara Ciok Giok Yin harus melesat cepat, di samping itu, dia pun harus terus mengamati mereka. Mendadak terdengar dua kali jeritan yang menyayat hati bergema menembus angkasa, membuat orang merinding. Ciok Giok Yin memandang ke sana. Ternyata orangorang perkumpulan Sang Yen Hwee sedang membunuh beberapa orang. Menyaksikan kejadian itu timbullah kegusarannya. Dia memang amat membenci orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee. Namun di saat dia baru mau melesat ke sana, tiba-tiba terdengar suara seruan di depan sana.

"Goa Cian Hud Tong!"

"Goa Cian Hud Tong!"

Seketika tampak begitu banyak bayangan melesat ke sana.

Orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee juga cepat-cepat melesat ke tempat itu.

Ketika mendengar suara seruan itu, hati Ciok Giok Yin menjadi tegang.

Tanpa banyak berpikir lagi, dia langsung melesat ke sana.

Akan tetapi, justru tiada tempat baginya untuk menaruh kakinya.

Apa boleh buat!

Dia tidak memikirkan peraturan apa pun lagi, menginjak bahu seseorang lalu melesat lagi.

Dengan cara demikian, akhirnya dia sampai juga di tempat itu.

Kini dia melihat begitu banyak orang berebut untuk memasuki sebuah goa.

Karena mereka semua ingin lebih dulu masuk, maka terjadilah pertarungan matimatian.

Terdengar suara bentakan-bentakan keras, jeritan menyayat hati, serta tampak berkelebatan cahaya padang, golok dan senjata lainnya.

Mereka bertarung mati-matian hanya demi satu tujuan, yaitu ingin memperoleh benda pusaka yang tersimpan di dalam goa Cian Hud Tong itu.

Oleh karena itu, mereka saling membunuh tanpa memberi ampun pada pihak lain.

Tentunya yang berkepandaian rendah mati duluan, yang menang langsung menerjang ke dalam goa.

Tapi, muncul pula orang lain menghadang, dan terjadilah lagi pertarungan.

Karena itu, banyak mayat bergelimpangan di depan goa, sedangkan pertarungan masih terus berlangsung.

Suara jeritan, bentakan dan suara rintihan membaur menjadi satu.

Justru karena itu tiada seorang pun yang mundur, juga tiada seorang pun yang berhasil memasuki goa tersebut.

Sementara mereka masih terus bertarung, mendadak terdengar suara bentakan mengguntur.

"Saat ini siapa pun tidak boleh memasuki goa ini! Kita bertanding di sini, siapa yang menang boleh masuk!"

"Masuk hitungan tidak perkataanmu itu?"

Sahut seseorang.

"Kenapa tidak?"

"Baik, mari kita bertarung!"

Kedua orang itu mulai bertarung mati-matian.

Terdengar suara pukulan beradu.

Plak!

Blam!

Tempat itu benar-benar menjadi tempat pembantaian.

Entah berapa banyak mayat bergelimpangan di tempat itu.

Darah berceceran, tampak pula mayat yang tiada kepala.

Tangan dan kakipun berserakan di manamana.

Sungguh merupakan pemandangan yang amat mengenaskan dan mengerikan!

Saat ini Ciok Giok Yin telah tiba di tempat itu.

Akan Tetapi, dia tidak berniat ikut membaurkan diri untuk ikut bertarung.

Dia mengerahkan ginkang melesat melewati orang-orang yang sedang bertarung.

Kalau dikatakan, memang sulit dipercaya.

Sebab semakin banyak kaum rimba persilatan berada di tempat itu, apakah tiada seorang pun yang dapat menyamai limu ginkangnya?

Tentu ada!

Boleh dikatakan banyak sekali!

Hanya saja tergantung dari keberuntungan masing-masing.

Bisa memperoleh benda pusaka itu atau tidak, memang tergantung dari jodoh.

Kini Ciok Giok Yin sudah berada di mulut goa, namun tiada berani langsung menerobos ke dalam.

Justru di saat bersamaan, terdengar suara seruan yang gemuruh.

"Sudah masuk ke dalam seorang bocah!"

"Cepat bunuh dia!"

"Dia berani memanfaatkan kesempatan di saat kita sedang bertanding, menerobos ke dalam goa!"

"Bunuh dia!"

Orang-orang yang sedang bertarung juga langsung berhenti, dan serentak menerjang menuju goa.

Bukan main!

Sebab mereka seling menginjak lantaran ingin cepat-cepat memasuki goa.

Sudah barang tentu timbul pertarungan lagi di mulut doa.

Cahaya pedang, golok dan senjata lainnya berkelebatan dan mulai terdengar suara bentakan dan jeritan lagi....

Sementara Ciok Giok Yin yang telah sampai di dalam goa, melihat begitu banyak gambar Budhha.

Semua gambar Buddha terukir di dinding goa, kelihatannya seperti hidup.

Pada gambar Buddha itu terdapat tulisan "Sembilan"

Dan tulisan "Enam"

Ciok Giok Yin berdiri sambil berpikir.

Saat ini sudah tampak belasan orang sampai di dalam, dan mereka juga sedang memperhatikan gambar-gambar Buddha.

Mendadak salah seorang menerjang kearah sebuah gambar Buddha.

Orang yang berdiri di belakang juga mengikutinya, begitu pula yang lain, termasuk beberapa padri dan pendeta To.

Sebetulnya para padri dan pendeta To, telah menyucikan diri, tidak boleh terpengaruh oleh urusan duniawi.

Akan tetapi benda pusaka itu memang luar biasa, dapat membuat mereka lupa daratan, bahkan juga melupakan ajaran-ajaran Buddha dan Taosme.

Kini di dalam Goa Cian Hud Tong telah dipenuhi kaum rimba persilatan, namun benda pusaka yang tercantum di dalam peta Si Kauw Hap Liok Touw, sesungguhnya berada di mana?

Ciok Giok Yin terus berpikir, kalau begitu terus, mungkin benda pusaka tersebut akan jatuh ke tangan mereka.

Tiba-tiba dia teringat akan tulisan "Sembilan"

Dan "Enam"

Itu mengandung makna apa? Mendadak telinga Ciok Giok Yin menangkap suara yang amat lirih.

"Kau memang bodoh. Kalau peta pusaka itu hilang, menimbulkan begitu banyak kaum rimba persilatan berdatangan kemari! Peta pusaka telah hilang, hanya dapat mencari benda pusaka lain, namun harus menaruh peta pusaka di atas tanah, barulah akan berhasil menemukannya!"

Ciok Giok Yin tersentak, lalu menengok ke sana ke mari, namun tidak melihat orang yang berkata lirih. Ketika dia tertegun, suara lirih itu terdengar lagi.

"Cepat hitung dari gambar Buddha yang paling besar di tengah itu..."

Suara itu amat lirih, namun kedengaran jelas memberi petunjuk.

Ciok Giok Yin tidak mencari tahu siapa orang itu, langsung mengikuti petunjuknya.

Di saat semua orang sedang lengah, dia cepat-cepat menekan sebuah gambar Buddha yang di hadapannya, kemudian nenekan lagi gambar Buddha yang lain sesuai petunjuk dari suara lirih.

Setelah itu, dia kembali ke gambar Buddha yang paling besar.

Tiada seorang pun memperhatikan perbuatannya.

Sebab mereka bertarung matimatian, sedangkan di luar juga sudah terdengar suara Heng Thian Ceng.

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin!

Kalau wanita iblis itu turun tangan merebut, entah harus bagaimana baiknya?

Dia tidak mau berpikir tentang itu lagi.

Jari tangannya bergerak menekan huruf "Sembilan"

Yang tertera pada bagian dada gambar Buddha yang paling besar.

Serrrt!

Perut gambar Buddha itu terbuka, ternyata di dalamnya terdapat sebuah botol giok.

Akan tetapi, perbuatannya itu terlihat oleh tiga orang, yaitu Bu Lim Sam Siu, yang pernah menyebabkannya jatuh ke dalam jurang.

Ketika Ciok Giok Yin menjulurkan tangannya, tiba-tiba terasa ada anya pukulan menerjang ke arahnya.

Apa boleh buat!

Ciok Giok Yin terpaksa menggeser sedikit lalu membalikkan badannya.

Ternyata Bu Lim Sam Siu sudah berdiri di belakangnya.

Begitu melihat kehadiran ketiga orang itu, mata Ciok Giok Yin langsung membara.

Siangkoan Yun San tertawa terkekeh.

"Bocah, nyawamu sungguh besar!"

Pada saat bersamaan tampak begitu banyak orang menerjang ke arahnya.

"Nah, di situ!"

Seru salah seorang dari mereka. Mendadak telinga Ciok Giok Yin mendengar suara yang amat lirih.

"Dasar bodoh! Cepat ambil dan kabur!"

Di saat bersamaan, dia melihat orang-orang yang menerjang ke arahnya, di antaranya ada yang menjerit dan beberapa orang terpental ke belakang dengan mulut menyemburkan darah segar.

Sedangkan Bu Lim Sam Siu terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah dengan wajah pucat pias.

Kesempatan itu dipergunakan Ciok Giok Yin untuk menyabar botol giok tersebut, sekaligus dimasukkan ke dalam bajunya.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara-suara bentakan.

"Cepat keluarkan!"

"Bocah, kau tidak dapat meninggalkan goa ini!"

Sepasang mata Ciok Giok Yin langsung menyorot dingin. Dia mendorongkan sepasang tangannya ke depan penuh mengandung hawa panas. Seketika terdengar suara seruan kaget dan bentakan yang susul-menyusul.

"Soan Hong Ciang!"

"Dia murid Sang Ting It Koay, jangan dibiarkan lolos!"

"Bunuh dia!"

"Cincang dia!"

"Pokoknya dia harus mampus!"

Menyaksikan keadaan di depan mata, mau tidak mau Ciok Giok Yin mengucurkan keringat dingin.

Namun dia tidak mau membuang benda tersebut.

Oleh karena itu, dia melancarkan dua pukulan ke depan dengan sepenuh tenaga.

Terdengar suara menderu-deru, bahkan terasa amat panas.

Siapa yang tidak menyayangi nyawa?

Maka orang-orang yang ada di depan langsung menggeser badannya ke samping.

Sudah barang tentu terbuka sebuah jalan untuk Ciok Giok Yin.

Di saat itulah terdengar lagi suara yang amat lirih.

"Bloon! Cepat terjang ke luar aku akan membantumu!"

Ciok Giok Yin sudah tidak mau mempedulikan siapa yang berkata lirih, langsung menerjang ke luar sambil melancarkan pukulan Soan Hong Ciang.

Tak lama dia telah berhasil menerjang ke luar.

Sampai di luar goa, tampak sosok bayangan merah berkelebatan dan terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

Selain itu tampak pula seorang yang memakai kain penutup muka, yaitu Lu Jin, yang pernah berjumpa dengan Ciok Giok Yin sedang berpikir, terdengar lagi suara lirih itu.

"Dasar bloon! Ayo, cepat pergi!"

Sudah beberapa kali dikatai "Bodoh"

Dan "Bloon"

Itu menimbulkan sifat anehnya yang bertular Sang Ting It Koay.

Maka, kali ini dia sama sekali tidak mau pergi, malah menerjang kearah orang-orang itu.

Akan tetapi, orang-orang itu melancarkan pukulan ke arahnya meskipun Ciok Giok Yin berkepandaian tinggi, namun diserang sedemikian banyak orang, tentu membuatnya kewalahan.

Dia terdesak mundur beberapa langkah dan nafasnya terasa sesak,.

"Uaaaakh...!"

Darah segar tersembur dari mulutnya, dan badannya bergoyang-goyang seakan mau roboh. Seketika terdengar suara-suara bentakan.

"Jangan biarkan bocah itu kabur!"

"Cepat ambil benda pusaka itu!"

"Cepat bunuh dia!"

"Dia yang membunuh Khiam Sim Hweshio!"

"Dia juga telah membunuh seorang anggota perkumpulan San Yen Hwee! Perkumpulan San Yen Hwee harus membunuhnya!"

Mendengar bentakan-bentakan itu, hati Ciok Giok Yin merasa dingin.

Akan tetapi, dia sudah ketularan sifat anehnya Sang Ting It Koay.

Dia tidak berniat melarikan diri, malah sepasang matanya menyorot penuh dendam kebencian.

Darahnya mulai begolak, ternyata dia sudah siap mengeluarkan ilmu Hong Lui Sam Ciang, yaitu jurus pertama Terbang!

Namun dia telah terluka parah, maka sebelulm melancarkan pukulan itu, dia merasa matanya berkunang-kunang, akhirnya roboh.

Melihat Ciok Giok Yin roboh, Heng Thian Ceng langsung mengeras dan sekaligus menerjang ke arahnya.

Tapi jaraknya agak jauh, lagipula begitu banyak orang menghadapnya, sehingga membuatnya tidak dapat mendekat Ciok Giok Yin.

Sementara begitu Ciok Giok Yin roboh, orang-orangpun menerjang ke arahnya dengan tujuan yang sama, yaitu ingin merebut benda pusaka.

Justru di saat bersamaan, tampak sosok bayangan putih dan sosok bayangan hitam melayang turun.

Bayangan hitam lebih cepat dan langsung menyambar Ciok Giok Yin, lalu melesat pergi laksana kilat.

Sosok bayangan putih, langsung mengejar bayangan hitam yang membawa pergi Ciok Giok Yin.

Bagi yang penglihatannya tajam, pasti melihat bayangan hitam itu adalah seorang tua bongkok, di punggungnya bergantung sebuah guci besar.

Sedangkan bayangan putih itu, adalah seorang wanita berambut panjang, namun wajahnya amat buruk.

Siapa kedua orang itu?

Tiada seorang pun tahu.

Apakah mereka berdua sehaluan, juga tiada seorang pun berani memastikannya.

Heng Thian Ceng dan Lu Jin begitu melihat Ciok Giok Yin dibawa pergi, mereka berdua pun langsung mengejar.

Menyusul adalah Bu Lim Sam Siu yang berhati licik.

Mereka bertiga juga menerjang ke tempat itu.

Setahun yang lalu, mereka bertiga terus berpikir ingin memiliki peta si Kauw Hap Liok Touw, maka terpikir oleh mereka suatu ide, yaitu menerima seorang murid wanita yang cantik jelita.

Mereka bertiga tahu Ciok Giok Yin belum mati, maka terus mencari jejaknya, lalu menyuruh murid wanita yang bernama Cen Siauw Yun mendekati Ciok Giok Yin untuk mencuri peta pusaka Si Kauw Hap Liok Touw itu.

Semula Cen Siauw Yun amat tertarik, sebab apabila berhasil mencuri peta pusaka itu, pasti ketiga gurunya akan menurunkan ilmu silat yang tertera di dalam peta pusaka tersebut.

Karena itu, dia berupaya dengan bersungguh hati agar memperoleh peta pusaka itu.

Setelah tahu akan jejak Ciok Giok Yin, Cen Siauw Yun memikirkan suatu cara untuk mendekatinya.

Memang kebetulan sekali, dia melihat Ciok Giok Yin mendekati mayat orang tua itu.

Akan tetapi ketika melihat Ciok Giok Yin begitu tampan dan gagah, bayangan pemuda itu langsung terukir di dalam hatinya.

Maka setelah berhasil mencuri peta pusaka tersebut, Cen Siauw Yun meninggalkan pesan agar Ciok Giok Yin segera berangkat kegunung anya San.

Mengenai ini, sudah diceritakan pada bagian atas.

Sementara itu, orang tua bongkok yang mengempit Ciok Giok Yin terus melesat pergi laksana kilat.

Berselang beberapa saat, barulah melambankan langkahnya.

Sampai di tempat sepi, dia menaruh Ciok Giok Yin ke bawah.

Orang tua bongkok itu duduk di samping Ciok Giok Yin.

Sepasang matanya terus menatap Ciok Giok Yin lekatlekat, dan kadang-kadang meneguk arak.

Sembali menatap dan minum, orang tua bongkok itu pun bergumam.

"Ini hal yang tak mungkin."

Dia meneguk lagi.

"Mengapa aku orang tua harus banyak berpikir? Peduli amat dengan dia!"

Dia bangkit berdiri, lalu menggeleng-geleng kepala.

"Bocah, hitung-hitung aku lagi sial!"

Lanjutnya.

Mendadak orang tua bongkok itu melesat pergi, dan sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya.

Di saat bersamaan, Ciok Giok Yin siuman.

Dia membuka matanya perlahan-lahan, lalu duduk dan menengok ke sana kemari.

"Ih! Tempat apa ini?"

Gumamnya.

Dia masih ingat, ketika berada di luar goa Cian Hud Tong, dia ingin melancarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang jurus pertama Terbang.

Namun mendadak merasa matanya berkunang-kunang dan gelap, akhirnya tak tahu apa-apa.

Kini dirinya berada di tempat ini, tentunya ada yang menyelamatkannya.

Siapa yang menyelamatkannya?

Mengapa setelah menyelamatkannya, penolong itu malah tidak kelihatan?

Bukankan sungguh aneh sekali?

Tiba-tiba dia teringat akan orang yang membantunya secara diam-diam, apakah dia yang membawanya kemari?

Akan tetapi, siapa orang itu?

Bagaimana orang itu begitu tahu jelas tentang peta pusaka Si Kauw Hap Liok Touw?

Lagipula kelihatan orang itu tahu jelas tentang benda pusaka yang berada di dalam goa Cian Hud Tong, mengapa dia tidak mengambilnya duluan?

Di dunia persilatan, masih cukup banyak orang baik, seperti halnya dengan Heng Thian Ceng.

Padahal dia dicap sebagai wanita iblis yang sepasang tangannya berlumuran darah, karena banyak membunuh orang.

Namun sungguh di luar dugaan, dia malah mau membantu Ciok Giok Yin, itu betul-betul di luar dugaan sama sekali.

Akan tetapi, ketika berada di luar goa Ciang Hud Tong, jarak Heng Thian Ceng dengan dirinya cukup jauh, tentunya tidak mungkin dia yang membawanya kemari.

Lagipula kalau dia, tentunya tidak akan pergi begitu saja.

Mendadak wajah Ciok Giok Yin tampak berubah, ternyata dia teringat akan satu hal, apakah dia telah membawa pergi benda pusaka itu?

Ciok Giok Yin segera merogoh ke dalam bajunya, dan seketika dia berlega hati.

Ternyata botol giok kecil itu masih berada di dalam bajunya.

Kenapa itu, dia menyesali dirinya sendiri karena terlampau banyak bercuriga, dan diapun merasa tidak pantas mencaci orang yang memanggilnya "Si Bodoh"

Atau "Si Bloon", sebab orang tersebut pun telah membantunya.

Setelah berpikir bolak-balik, Ciok Giok Yin berkesimpulan bahwa bukan Heng Thian Ceng yang berkata lirih menggunakan ilmu Coan Im Jip Kip (Ilmu Mengirim Suara Jarak Jauh)?

Lelaki atau wanita dia sama sekali tidak tahu.

Kalau ingin membantu, mengapa harus dengan cara bersembunyi-sembunyi?

Ciok Giok Yin tidak habis anya, juga tidak menemukan jawabannya.

Karena itu, dia tidak mau berpikir lagi, lalu duduk memejamkan mata untuk beristirahat.

Padahal sesungguhnya, Ciok Giok Yin tidak menderita luka parah, melainkan waktu itu dia terlampau emosi, dan ingin mengerahkan lwee kang sepenuhnya untuk melancarkan jurus pertama Hong Lui Sam Ciang, sehingga membuat aliran darah dan hawa murninya bergolak, maka membuatnya pingsan.

Setelah beristirahat beberapa saat, diapun sudah pulih seperti semula.

Dia bangkit berdiri, ternyata hari sudah gelap.

Saat ini dia sudah tampak segar, harus mencari penginapan untuk bermalam.

Oleh karena itu, dia langsung melesat pergi.

Tak seberapa lama, dia melihat lampu gemerlapan, ternyata jauh di depan terdapat sebuah desa kecil.

Dia segera berjalan ke sana, memasuki desa kecil tersebut.

Namun samua rumah di desa itu telah tertutup rapat.

Ciok Giok Yin menengok kesana kemari, kebetulan melihat seorang nenek tua sedang merapatkan pintu rumahnya.

Ciok Giok Yin cepat-cepat menyapa nenek tua itu dan memberi hormat.

"Nenek Tua, aku sedang melakukan perjalanan. Karena hari sudah malam, bolehkan aku bermalam di sini?"

Nenek tua langsung memperhatikan Ciok Giok Yin dari atas ke bawah.

"Di rumahku tiada kamar, lebih baik kau ke tempat lain."

Usai menyahut, nenek tua langsung menutup pintu rumahnya. Namun Ciok Giok Yin segera menjulurkan tangannya untuk mencegah.

"Nenek Tua, rumah orang lain sudah tutup pintu semua, tidak baik aku mengetuk pintu mereka. Esok pagi aku akan bangun pagi dan melanjutkan perjalanan, mohon Nenek Tua sudi menerimaku bermalam di sini!"

Nenek tua mengerutkan kening.

"Kami orang desa amat miskin, tidak ada makanan untukmu. Kelihatannya kau juga orang desa, tentunya tahu tentang ini."

Ciok Giok Yin tertawa dalam hati, sebab nenek tua mengiranya orang desa, tentunya tidak mampu memberi sedikit imbalan padanya. Dia tersenyum, kemudian mengeluarkan dua tael perak.

"Nenek Tua, dua tael perak ini untuk biayaku bermalam di sini."

Ketika melihat uang perak, nenek tua langsung terbelalak dengan mulut ternganga lebar.

"Nak, tidak usah begitu banyak, masuklah!"

Dia menjulurkan tangganya mengambil uang perak itu, sedangkan Ciok Giok Yin melangkah ke dalam.

Di bawah cahaya lampu yang remang-remang, tampak rumah itu tidak karuan.

Keadaan itu membuat Ciok Giok Yin teringat akan pengalamannya setahun yang lalu.

Setiap hari Cuma minum susu bumi, tidak pernah menikmati makanan lain.

Oleh karena itu, dia merasa iba pada nenek tua.

Dia mengeluarkan dua tael perak lagi dan dibagikan kepada nenek tua.

Tentu saya nenek tua itu terbelalak, tidak berani mengambil uang perak itu.

Lagipula dia tidak menyangka Ciok Giok Yin begitu royal.

Ciok Giok Yin tersenyum.

"Nenek Tua, ambillah!"

Dengan tangan gemetar nenek tua mengambil uang perak itu.

"Nak, duduklah, aku akan menanak nasi dulu!"

"Nenek Tua, cukup berikan aku air minum. Aku membawa makanan kering!"

Nenek tua cepat-cepat mengambil air minum.

"Nak, kau tidur saja di kamar anakku yang tak berguna itu!"

Kemudian nenek tua membawa Ciok Giok Yin ke dalam.

Setelah Ciok Giok Yin masuk ke kamar itu, barulah nenek tua pergi.

Ciok Giok Yin mengeluarkan makanan kering yang didbawanya.

Setelah makan dan minun, dia naik ke tempat tidur, namun setelah dia baru mau duduk bersemadi, tiba-tiba teringat akan benda pusaka yang disambilnya dari Goa Cian Hud Tong.

Dia langsung mengeluarkan botol giok kecil itu dari dalam bajunya rela berkorban nyawa demi benda pusaka tersebut?

Dia membuka tutup botol giok kecil itu, dan seketika tercium aroma yang amat harus sekali.

Hati Ciok Giok Yin bergerak dan terheran-heran.

Dia menuang botol giok kecil itu dan tertuanglah sebutir pil dan segulung kertas kecil, tidak terdapat benda lain.

Ternyata pit itu dibuat dari lilin.

Ciok Giok Yin memecahkan lilin itu, ternyata di dalamnya terdapat sebutir obat yang gemerlapan bagaikan mutiara.

Ciok Giok Yin segera membuka gulungan kertas itu dan dibacanya.

Pada kertas itu tertera beberapa huruf yang berbunyi "Pil Api Ribuan Tahun"

Bukan main girangnya Ciok Giok Yin, sehingga nyaris tertawa terbahak-bahak, Pit itu diperhatikan sejenak, lalu ditelannya.

Begitu Ciok Giok Yin menelan pil tersebut tenggorokannya terasa nyaman sekali.

Dia tahu siapa yang makan pit itu.

Lwee kangnya pasti bertambah tinggi.

Karena itu, dia cepat-cepat duduk bersemedi menghimpun hawa murninya.

Berselang beberapa saat, dia merasa sekujur badannya amat panas, sehingga keningnya mengucurkan keringat.

Dia cepat-cepat menghimpun hawa murninya untuk mendorong hawa panas itu ke dalam aliran darahnya.

Tak seberapa lama kemudian, rasa panas itu mulai sirna.

Dia membuka matanya.

Badannya terasa segar dan nyaman, bahkan merasa jalan darah Lang Tay Hiatnya bercahayacahaya.

Bukan main girangnya Ciok Giok Yin, karena ada tanda-tanda lwee kangnya sudah bertambah tinggi.

Kini dia membaca lagi tulisan di kertas itu.

Ternyata di balik kertas itu masih terdapat beberapa baris kelimat berbunyi demikian.

Pil Api Ribuan Tahun ini berasal dari seekor kura-kura api ribuan tahun yang hidup di sumber susu bumi.

Setiap hari kura-kura itu Cuma minum susu bumi.

Setiap seratus tahun kura-kura itu muncul satu kali, pada waktu tertentu untuk mengisap energi matahari, lalu kembali ke sumber susu bumi.

Pil Api Ribuan Tahun ini, dibuat dari mutiara kura-kura api.

Sebelum memperoleh ikan mas dari telaga dingin, lebih baik disimpan, agar dapat dimakan bersama ikan mas dari telaga dingin.

Apalagi tidak dimakan bersama ikan mas dari telaga dingin, maka orang yang makan pil tersebut akan mati terserang hawa panas.

Seandainya tidak mati, juga akan merusak hawa Yang yang dimiliki lelaki....

Membaca sampai di situ, Ciok Giok Yin langsung mengucurkan keringat dingin, sebab dia mengerti ilmu pengobatan, maka tahu apa akibatnya kalau hawa Yang lelaki rusak, itu berarti tidak dapat berhubungan intim dengan kaum wanita.

Apabila dapat, juga akan menghisap hawa Im wanita hingga wanita itu mati.

Kalau begitu, gadis mana yang akan menikah dengannya?

Keringat dingin terus merembes ke luar dari keningnya.

Kemudian dia membaca lagi.

.....Setelah makan pil ini harus mencari kitab Im Yang Ceng Koy (kitab Penjelasan Im Yang), barulah dapat melaksanakan hubungan suami isteri, dan tidak cukup satu dua wanita.

Ingat, ingat baik-baik!

Di bawah tertulis nama Ciak Hui Sianjin.

Usai membaca, pakaian Ciok Giok Yin basah oleh keringat.

Ternyata tadi dia belum membaca habis semua tulisan yang terdapat di kertas itu, langsung menelan Pil Api Ribuan Tahun itu, maka jadi begini.

Saking menyesalnya Ciok Giok Yin berkertak gigi, kemudian menghela nafas panjang.

"Bagaimana baiknya? Bagaimana baiknya?"

Gumamnya.

Dia tidak dapat seumur hidup tidak menikah, sebab dia harus punya isteri, namun juga tidak boleh mencelakai anak gadis orang.

Mendadak dia teringat akan kitab Im Yang Ceng Koy, tapi harus ke mana mencari kitab tersebut?

Lagi pula kitab tersebut dapat akan dipelajari oleh kaum golongan hitam, sedangkan kaum golongan putihan, tentu tidak akan menyimpan kitab itu.

Semakin berpikir, hatinya menjadi semakin kacau.

Akhirnya dia turun dari tempat tidur, lalu berjalan mondarmandir di dalam kamar itu.

"Bagaimana mungkin diriku akan dicelakai oleh Pil Api Ribuan Tahun ini? Sungguh tak masuk akal!"

Gumamnya.

Seandainya Ciok Giok Yin tidak pernah berlatih Sam Yang Hui Kang, dan juga tidak pernah berlatih di dalam sumur Susu Bumi serta di atas Batu Api, mungkin saat ini dia sudah membujur menjadi mayat.

Ternyata di dalam tubuhnya sudah terdapat hawa panas yang berasal dari Sam Yang Hui Kang, Sumur Susu Bumi dan Batu Api, maka tubuhnya masih dapat menahan hawa panas dari Pil Api Ribuan Tahun tersebut.

Akan tetapi, dia sama sekali tidak tahu akan hal itu maka tidak mengherankan kalau hatinya menjadi kacau dan berduka.

Berselang sesaat, kelihatannya hatinya bertambah kacau.

Akhirnya dia memasukkan botol giok kecil dan kertas itu ke dalam bajunya.

Tiba-tiba dia mendengar suara desiran di luar rumah sepertinya suara desiran pakaian yang terhembus.

Hatinya tersentak dan dia langsung mendengarkan suara itu dengan penuh perhatian sambil mengerutkan kening.

Dia sama sekali tidak menyangka, bahwa di desa kecil ini akan muncul pesilat tinggi.

Tak seberapa lama kemudian terdengar suara seruan kasar di luar rumah.

"Buka pintu! Buka pintu! Buka pintu!"

Terdengar suara seruan itu tiga kali, dan itu menimbulkan rasa kesal dalam hati Ciok Giok Yin.

Apabila mereka ternyata orang jahat, aku pasti membunuh mereka untuk melampiaskan kekesalan dalam hatiku!

Kata Ciok Giok Yin dalam hatinya.

Berselang beberapa saat, terdengar suara nenek tua.

"Nak, mengapa kau pulang larut malam? Sebetulnya kau pergi ke mana setiap hari? Tidak pedulikan soal makan ibu....! Kemudian terdengar suara pintu dibuka, yang disusul oleh suara kasar.

"Kau memang harus mati kelaparan!"

Mendengar kata-kata itu wajah Ciok Giok Yin langsung berubah menjadi dingin. Tak disengaja ada anak begitu kurang ajar dan tak berbakti kepada orang tua.

"Nak, jangan berisik!"

Kata nenek tua.

"Lho? Kenapa? Memang aku tidak boleh bicara? Apakah kau sudah begitu tua masih punya lelaki simpanan? Biar kulihat siapa dia!"

"Binatang! Kau berani bicara sembarangan!"

"Kalau begitu, kenapa?"

"Tadi ada seorang pemuda anya kemari untuk bermalam, dia tidur di dalam kamarmu, jangan membuatnya terbangun!"

Kata nenek tua.

"Pemuda?"

"Ng!"

"Bagaimana rupanya?"

"Pakaiannya sederhana, kelihatannya seperti pemuda desa, namun amat tampan sekali. Dia bermalam di sini, tadi dia memberi ibu lima tael perak, lihatlah!"

Mendadak lelaki itu merendahkan suaranya.

"Aku lihat sebentar."

Lelaki itu menerobos ke dalam, Ciok Giok Yin langsung meloncat ke tempat tidur, lalu berbaring.

Dia ingin melihat siapa lelaki itu, dan mempunyai maksud apa.

Pintu kamar itu terdorong perlahan-lahan, kemudian tampak seorang lelaki berwajah kasar melangkah ke dalam, dan langsung mendekat tampak tidur.

Ciok Giok Yin yang pura-pura tidur itu mengerutkan kening, ternyata dia tahu lelaki itu memiliki ilmu ginkang yang cukup lumayan.

Dia tetap tidak bergerak terus berbaring di tempat tidur.

Tibatiba sepasang mata lelaki itu menyorot aneh, dan dia langsung menerjang kearah Ciok Giok Yin.

"Bocah! Ternyata kau berada di sini! Cepat serahkan benda pusaka yang kau ambil dari Goa Cian Hud Tong!"

Bentaknya. Gerakan lelaki itu cukup cepat. Namun Ciok Giok Yin cepatcepat membalikkan badannya sambil mencelat ke atas, sekaligus menjulurkannya mencengkeram lengan lelaki itu.

"Siapa kau?"

Bentaknya. Sekujur badan lelaki itu terasa semutan, sama sekali tidak mampu bergerak lagi. Karena lelaki itu diam saja, maka Ciok Giok Yin mengerahkan tangannya seraya membentak.

"Cepat katakan!"

Bukan main sakitnya lengan lelaki itu! Keringat dinginnya mulai merembes ke luar dari keningnya dan dia menjerit-jerit.

"Aduh! Aduuuh...!"

Saat ini nenek tua telah mendengar suara anaknya, maka segera menghambur ke kamar itu. Begitu melihat keadaan di dalam kamar, bukan main terkejutnya nenek itu..

"Kenapa? Cepat lepaskan tanganmu!"

Serunya gugup.

Nenek tua sama sekali tidak menyangka, bahwa pemuda tampan itu mempunyai kemampuan begitu hebat, dapat menundukkan anaknya, maka tidak mengherankan kalau nenek tua tampak begitu gugup dan kaget.

Lelaki itu berkertak gigi menahan sakit.

"Tidak ada urusanmu...."

Tidak menunggu dia usai berkata, Ciok Giok Yin sudah menambah tenaganya hingga enam bagian.

Setelah itu, barulah melepaskan tangannya.

Lelaki itu langsung roboh dengan wajah pucat pias.

Ketika melihat anaknya roboh tak berkutik di lantai nenek tua berteriak histeris.

Namun ketika dia mau mendekati anaknya Ciok Giok Yin bergerak cepat menarik tangannya.

"Nenek Tua, tidak usah cemas! Tidak lama lagi dia akan siuman."

Berselang beberapa saat, lelaki itu membuka matanya perlahan-lahan, lalu berlutut di hadapan Ciok Giok Yin.

"Namaku Kwee Liok!"

Ciok Giok Yin menatapnya gusar.

"Dari mana kau tahu tentang urusan Goa Cian Hud Tong?"

Bentaknya. Kwee Liok mengusap lengannya yang masih terasa sakit, lalu menyahut.

"Aku dengar dari orang-orang Uah Hoa Po (Wisma Harimau)."

"Uah Hoa Po?"

"Ya!"

"Dimana wisma itu?"

Ternyata di dalam kitab tipis peninggalan Sang Ting It Koay juga mencantum nama wisma tersebut.

Majikan Uah Hoa Po adalah Hui Pian (Cambuk Terbang) Ma Khie Ou.

Dia termasuk salah satu Kang Ouw Pat Kiat yang sedang dicari Ciok Giok Yin.

Kini dia mendengar dari mulut Kwee Liok berpikir sejenak, kemudian baru menyahut.

"Dari sini seratus mil kearah barat."

Ciok Giok Yin membentak lagi.

"Dari tingkah lakumu, sudah dapat dipastikan kau seorang penjahat! Kalau aku tidak memandang muka ibumu, kau sudah kubunuh! Mulai sekarang kau harus baik-baik, dan berbakti pada ibumu! Kalau tidak, kelak bertemu berarti tamat riwayatmu!"

Kwee Liok manggut-manggut.

"Ya! Ya! Ya...."

Mendadak badan Ciok Giok Yin bergerak, tahu-tahu dia telah melesat pergi meninggalkan rumah itu.

Nenek tua dan Kwee Liok terbelalak, dan lelaki itu merasa bersyukur karena Ciok Giok Yin tidak turun tangan jahat padanya Sementara Ciok Giok Yin terus melesat, bagaikan panah terlepas dari busur.

Hati Ciok Giok Yin, terasa amat duka dan tersiksa karena dia telah menelan Pil Api Ribuan Tahun.

Yang membuatnya menyesal lantaran tidak membaca kertas itu terlebih dahulu.

Berselang sesaat Ciok Giok Yin menghentikan langkahnya berdiri di atas sebuat batu besar dan menengok ke sana kemari.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring di tempat jauh.

Ciok Giok Yin dapat memastikan, suara bentakan itu berjarak kira-kira beberapa mil.

Hatinya sedang kacau.

Sebetulnya dia tidak mau mencampuri urusan orang lain.

Namun timbul rasa heran dalam hatinya, sehingga tak kuasa menahan sepasang kakinya yang ingin melangkah ke tempat itu.

Karena itulah, dia langsung melesat ke sana.

Tak seberapa lama, dia telah tiba di tempat itu.

Tampak enam orang tosu tua, sedang mengeroyok seorang gadis.

Mereka bertarung dengan seru sekali.

Pakaian gadis itu, sudah berlumuran darah.

Kelihatannya keenam tosu tua itu ingin membunuh gadis tersebut.

Mereka berenam menggunakan pedang, mengeluarkan jurusjurus pedang yang mematikan.

Gadis itu berkepandaian cukup tinggi, namun dikeroyok begitu banyak orang, membuatnya kewalahan juga, pukulan-pukulan yang dilancarkannya mulai tidak karuan.

Sekonyong-konyong gadis itu menjerit, mulutnya menyembur darah segar, dan badanya sempoyongan.

Menyusul ialah seorang tosu tua melancarkan sebuah pukulan kearah gadis itu, membuat gadis itu terpental beberapa depa lalu roboh di tanah.

Lima tosu lainnya langsung menyerangnya dengan pedang, kelihatannya gadis itu akan mati di ujung pedang mereka.

Mendadak terdengar suara bentakan mengguntur.

"Kalian tosu-tosu bau, berani berbuat sewenang-wenang!"

Ternyata yang membentak itu adalah Ciok Giok Yin.

Dia amat gusar melihat keenam tosu itu mengeroyok seorang gadis, bahkan ingin membunuhnya.

Kemunculan Ciok Giok Yin yang tak terduga itu, amat mengejutkan keenam tosu itu.

"Siapa kau?"

Bentak mereka dengan serentak.

"Ciok Giok Yin!"

Mendadak Ciok Giok Yin melancarkan beberapa pukulan kearah mereka.

Ternyata dia amat gusar terhadap keenam tosu tersebut.

Keenam tosu itu langsung menangkis, lalu balas menyerang dengan pedang.

Kegusaran Ciok Giok Yin mulai memuncak, maka dia melancarkan pukulan dengan sekuat tenaga.

Salah seorang tosu menjerit dan langsung roboh tak berkutik.

Di saat bersamaan, Ciok Giok Yin terkejut karena melihat gadis itu masih mengeluarkan darah.

Dia langsung melancarkan beberapa pukulan dahsyat, untuk mendesak mundur mereka.

Kemudian dia melesat kearah gadis tersebut.

Wajahnya memang cantik, namun karena telah terluka, maka tampak pucat pias.

Nafasnya sudah lemah sekali, kelihatannya sedang sekarat.

Karena itu, Ciok Giok Yin segera mencari tempat sepi, untuk mengobati luka gadis itu.

Mendadak dia melihat sebuah papan di hadapannya.

Pada papan itu terdapat tulisan berbunyi "siapa masuk pasti mati!"

Tempat apa ini? Mengapa terdapat tulisan yang amat tak masuk akal di situ? Ciok Giok Yin berpikir sambil mendengus dingin.

"Hm! Aku justru ingin masuk, ingin tahu mati atau tidak!"

Sifat aneh Sang Ting It Koay memang telah menular pada dirinya.

Dia mengempit gadis itu dengan sepasang mata menyorot tajam, kemudian berjalan ke dalam.

Baru berjalan beberapa langkah, mendadak terdengar suara bentakan di depan.

"Bocah! Kalau kau berani maju lagi, pasti mati tanpa kuburan!"

Ciok Giok Yin tidak menghiraukan bentakan itu, melainkan terus melangkah maju.

Di saat bersamaan, terasa serangan bagaikan gelombang laut menerjang kearah dirinya.

Ciok Giok Yin segera berkelit sambil membentak keras.

"Tunggu!"

Dia memandang ke depan, tampak seorang tua berambut putih menghadang di sana.

Di sisi orang tua itu berdiri seorang pemuda berusia tujuh belasan, sepasang matanya menyorot penuh kegusaran.

Orang tua itu berkata dengan suara dalam.

"Kau melihat tulisan di papan itu?"

Kata orang tua itu dengan suara dalam.

"Lihat!"

"Kalau sudah lihat, mengapa kau masuk masuk?"

"Tidak salah!"

"Tahukah kau tempat apa ini?"

"Tempat apa ini?"

"Ini tempat Bwee Cuang (Perkampungan Bwee) yang tersembunyi!"

"Apakah Bwee Cuang ini terlarang untuk orang luar?"

"Betul!"

Sepasang mata orang tua itu menyorot bengis.

"Kau harus segera mundur! Mengingat usiamu masih muda, aku mengampuni nyawamu!"

Bentaknya keras.

"Kau melihat orang akan mati, tidak mau tolong sama sekali?"

Sahut Ciok Giok Yin gusar.

"Aku tidak peduli kalian akan mati atau tidak!"

"Adikku terluka oleh para penjahat, aku harus segera mengobatinya! Maka aku memberanikan diri memasuki daerah ini, Cuma bermohon berteduh beberapa saat!"

"Sesaat pun tidak boleh!"

Kata orang tua itu ketus. Kegusaran Ciok Giok Yin memuncak, akan wajahnya berubah dingin.

"Aku sudah memutuskan itu!"

"Aku akan menyuruhmu mampus!"

"Tidak begitu gampang!"

Ciok Giok Yin yang mengempit gadis itu, mulai mengayunkan kakinya. Akan tetapi, orang tua itu sudah menyerang dengan sebuah pukulan. Ciok Giok Yin berkelit, sambil berkata membentak.

"Mohon katakan siapa Anda!"

"Pak Hoat (Si Rambut Putih) Ong Tan Hiatt!"

Sahut orang tua itu kemudian membentak keras.

"Bocah, kalau kau mampu menyambut sebuah pukulan, aku akan mengizinkanmu tinggal setengah hari di sini!"

Dia langsung melancarkan sebuah pukulan kearah Ciok Giok Yin. Sedangkan Ciok Giok Yin mengeraskan hatinya, sekaligus mengerahkan hawa murninya untuk melindungi badannya.

"Bum!"

Ciok Giok Yin betul-betul menyambut pukulan yang dilancarkan orang tua itu. Tampak badannya terhuyung-huyung delapan langkah, kemudian kembali berdiri tegak.

"Uaaaakh!"

Namun dia memuntahkan darah segar.

"Perkataanmu tadi masuk hitungan tidak?"

Bentaknya.

"Tentu! Setengah hari kemudian, kalian harus meninggalkan tempat ini! Kalau tidak, lohu pasti membunuh kalian berdua!"

Sahut Ong Tan Hian. Orang tua berambut putih itu menoleh memandang pemuda yang berdiri di sisinya.

"Bawa dia ke dalam!"

Setelah berkata, Pek Hoat-Ong Tan Hian langsung melesat ke dalam.

Sedangkan pemuda berbaju hijau itu langsung membawa Ciok Giok Yin yang mengempit gadis itu ke dalam.

Tak seberapa lama, tampak sebidang taman yang penuh dengan bunga Bwee.

Bukan main harumnya tempat itu!

Setelah melewati taman bunga Bwee, terlihat pula beberapa rumah gubuk.

Sementara pemuda berbaju hijau itu tetap tidak bersuara.

Begitu pula Ciok Giok Yin, Cuma mengikuti pemuda berbaju hijau ke dalam salah sebuah gubuk.

Ciok Giok Yin menaruh gadis itu ke atas ranjang, kemudian mengeluarkan sebutir pil Giok Ju, dan dimasukkan ke mulutnya.

Setelah itu, dia pun memoleskan obat Ciak Kim Tan pada luka-luka bekas pedang di badan gadis itu, lalu menotok beberapa jalan darahnya.

Berselang beberasa saat, wajah gadis itu mulai tampak kemerah-merahan, dan nafasnya pun mulai normal.

Ciok Giok Yin tahu, bahwa gadis itu sudah mulai siuman.

"Nona, aku akan membantumu dengan lwee kang,"

Katanya dengan suara ringan.

Dia duduk di belakang gadis itu, kemudian sepasang telapak tangannya ditempelkan pada punggung gadis tersebut.

Setelah itu dia mulai menyalurkan lwee kang untuk mengobati luka yang diderita gadis tersebut.

Sedangkan gadis itupun mulai menghimpun hawa murninya.

Berselang beberapa saat, Ciok Giok Yin berkata.

"Nona boleh turun menghimpun hawa murni, agar lukamu cepat sembuh!"

Mendadak terdengar suara percakapan di luar gubuk.

"Dia telah melukai tiga orang Go Bi Pay, bagaimana aku melepaskannya? Lagipula dia membawa pergi gadis busuk perkumpulan Sang Yen Hwee itu!"

"Tidak dapat. Aku telah mengabulkannya tinggal di sini setengah hari."

Itu adalah suara Pek Hoat-Ong Tan Hian. Menyusul terdengar suara yang bernada gusar.

"Apakah kau tidak tahu aturan sama sekali?"

"Lalu kau mau apa?"

"Perkumpulan Sang Yen Hwee ingin menguasai rimba persilatan. Sedangkan gadis busuk itu adalah perintis perkumpulan Sang Yen Hwee, menyelidiki, kesana kemari, lagi pula pemuda itupun bukan orang baik!"

Hening sejenak, setelah itu terdengar lagi suara orang itu melanjutkan.

"Kau menyembunyikan orang perkumpulan Sang Yen Hwee, pasti mereka tidak akan melepaskanmu!"

"Jangan banyak bicara di sini! Kalau kalian masih tidak mau pergi, lohu akan mencabut nyawa kalian!"

Suasana di luar gubuk itu berubah menjadi hening sekali.

Rupanya orang-orang itu telah pergi.

Sedangkan Ciok Giok Yin menoleh, memandang gadis itu dengan bengis dan wajahnyapun penuh diliputi hawa membunuh.

Mendadak suara Tiong Ciu Sin Ie mengiang lagi di telinganya.

"Nak, ilmu pengobatan tidak membedakan orang jahat maupun orang baik. Menolong orang adalah perbuatan bajik. Lain urusan dengan masalah dendam, jangan dicampur adukkan...."

Walau suara itu masih mengiang di telinganya, namun orang yang berkata itu telah tiada.

Saat ini, kegusaran Ciok Giok Yin menjadi reda.

Kebetulan gadis itu mulai membuka matanya, lalu segera meloncat turun dari ranjang, dam memberi hormat kepada Ciok Giok Yin.

"Terimakasih atas pertolongan Anda!"

Ucapnya. Ciok Giok Yin amat membenci orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee, baik lelaki maupun wanita, maka dia Cuma mendengus dingin.

"Hmm!"

Setelah itu, dia berkata.

"Nona, aku menolong karena ingin mengobatimu! Kelak kita berjumpa kembali, aku tidak akan mengampuni kalian orangorang perkumpulan Sang Yen Hwee!"

Usai berkata, Ciok Giok Yin lalu melesat keluar.

Gadis itu tertegun.

Kemudian dia jug melesat ke luar mengejarnya, namun Ciok Giok Yin telah melesat jauh.

Ternyata ginkang gadis itu juga tidak lemah, dia terus melesat mengejar Ciok Giok Yin, dan tak seberapa lama kemudian jarak mereka hanya sepuluh depaan.

Mendadak gadis itu membentak.

"Berhenti!"

Suara bentakan gadis itu seakan memiliki suatu kekuatan, membuat Ciok Giok Yin langsung berhenti, tapi tidak membalikkan badannya.

"Ada urusan apa?"

Katanya dengan dingin. Gadis itu melangkah maju sambil menyahut.

"Memang tidak salah aku orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee, tapi aku tidak ada permusuhan apa-apa denganmu! Kenapa kau bersikap demikian terhadap seorang anak gadis? Apakah itu termasuk perbuatan orang gagah?"

"Aku punya dendam dengan perkumpulan Sang Yen Hwee!"

Kata Ciok Giok Yin dengan sengit. Usai berkata, barulah Ciok Giok Yin membalikkan badannya. Seketika hatinya berdebar-debar tidak karuan, ternyata gadis itu amat cantik sekali.

"Tapi aku tidak punya dendam denganmu!"

Bentak gadis itu.

"Benar!"

"Kalau begitu, mengapa sikapmu sedemikian kasar terhadapku?"

Ciok Giok Yin terdiam.

Padahal sesungguhnya tidak semua orang perkumpulan Sang Yen Hwee itu jahat.

Lagipula dia memang tidak punya dendam dengan gadis tersebut.

Lalu mengapa harus bersikap sedemikian kasar terhadapnya?

Ini sungguh tidak pantas!

Tiba-tiba gadis itu mengucurkan air mata, dan berkata perlahan-lahan.

"Tuan, kau punya dendam dengan perkumpulan Sang Yen Hwee, itu adalah urusanmu. Namun kau menyelamatkan nyawaku, itu merupakan budi yang amat besar. Bolehkah kau memberitahukan namamu?"

Akan tetapi, mendadak tampak sesosok bayangan merah berkelebat lalu menghilang.

Air muka gadis itu langsung berubah, dan dia segera melesat ke dalam rimba, Ciok Giok Yin tertegun.

Dia tidak habis anya, mengapa gadis itu melesat pergi mendadak?

Apakah dia melihat sesuatu di sana?

Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat sesuatu.

"Apakah dia?"

Serunya tanpa sadar. Ketika dia baru mau melesat ke sana, sekonyong-konyong tampak sosok bayangan putih, yang disusul oleh suara bentakan.

"Siapa?"

Ciok Giok Yin membelalakkan matanyaa.

Sosok bayangan putih itu ternyata Yap Ti Hui.

Wajahnya yang buruk itu tampak dingin sekali, terus menatap Ciok Giok Yin dengan tanpa perasaan.

Ciok Giok Yin segera menjura.

"Terimakasih Nona telah menolongku beberapa kali,"

Ucapnya.

"Gadis itu cantik sekali, siapa dia?"

Anya Yap Ti Hui. Pernyataan itu membuat Ciok Giok Yin menjadi serba salah dan merasa jengah.

"Dia... dia adalah orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee,"

Sahutnya gagap. Yap Ti Hui tertawa terkekeh.

"Gadis yang begitu cantik, dengan perkataannya, tentunya kau akan tertarik bergabung dengan perkumpulan Sang Yen Hwee, tak disangka kau akan punya tulang punggung itu!"

"Harap Nona bicara sopan sedikit!"

"Apakah salah perkataanku?"

Ciok Giok Yin mulai gusar.

"Sungguh keterlaluan!"

Sahutnya dingin. Yap Ti Hui tertawa cekikikan lagi.

"Mengapa harus gusar? Kalau kesehatanmu terganggu, tiada yang akan merawatmu lho! Menurutku, kau memang serasi dengan dia! Sungguh merupakan pasangan yang ideal! Peduli amat dengan permusuhan itu, lebih baik kalian.... Yan Ti Hui tidak melanjutkan ucapannya. Dia menatap Ciok Giok Yin sambil tertawa cekikikan lagi. Itu membuat sepasang mata Ciok Giok Yin menjadi membara.

"Kedatangan Nona Cuma untuk mengejek diriku?"

Bentaknya.

"Tidak bermaksud begitu, Cuma...."

"Cuma apa?"

"Kau sudah memperoleh benda pusaka dari Goa Cian Hud Tong itu?"

"Tidak salah!"

Sepasang bola mata Yap Ti Hui berputar.

"Serahkan padaku!"

"Apa yang diserahkan?"

"Benda pusaka itu!"

Ternyata kemunculan Yap Ti Hui hanya demi benda pusaka tersebut, oleh karena itu, Ciok Giok Yin tertawa dingin.

"Benda pusaka itu memang ada di tanganku! Kalau Nona punya kepandaian, silakan ambil!"

"Kau kira aku tidak mampu?"

"Aku tidak bilang begitu!"

Yap Ti Hui mendengus.

"Hmm!"

Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Kini aku ada sedikit urusan penting, lain hari aku pasti kemari mengambilnya!"

Badan Yap Ti Hui bergerak, dia sudah melesat beberapa depa, lalu masuk ke dalam rimba.

Ciok Giok Yin menggeleng-geleng kan kepala.

Ketika dia baru mau melesat pergi, mendadak terdengar suara yang amat dingin di belakangnya.

"Tunggu!"

Begitu mendengar suara tersebut, merindinglah sekujur badan Ciok Giok Yin.

"Bok Tiong Jin (Orang Dalam Kuburan)!"

Serunya tanpa sadar.

"Betul."

"Mohon anya ada petunjuk apa?"

Ternyata hingga kini, Ciok Giok Yin tetap menganggap Orang Dalam Kuburan adalah sesosok arwah.

Walau dia tahu Bok Tiong Jin berada di belakangnya, namun dia sama sekali tidak berani menoleh ke belakang.

Sebab dia telah dihantui oleh cerita kakek tua berjenggot putih, bahwa hantu wanita amat menyeramkan.

Rambut panjang, kukunya panjang dan lidahnya pun panjang berdarah.

Maka, dia tidak berani menoleh ke belakang untuk melihat hantu wanita tersebut.

"Aku Cuma mengingatkan janjimu,"

Kata Bok Tiong Jin.

"Aku tidak akan lupa."

"Syukurlah begitu! Namun hatimu sudah mulai menerawang."

"Maksudmu?"

"Kau berjumpa satu, menyukai satu."

"Siapa?"

"Gadis berbaju hijau yang kau tolong itu."

Ciok Giok Yin memang terkesan baik terhadap gadis tersebut, walaupun dia orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee, karena dia terhadap Ciok Giok Yin, sama sekali tidak berniat jahat.

Akan tetapi, mendadak Ciok Giok Yin teringat pada Bun It Coan yang dicelakai oleh ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, bernama Lan-Lan.

Seketika itu juga hatinya tersentak.

"Aku punya dendam terhadap perkumpulan Sang Yen Hwee. Meskipun gadis itu secantik bidadari, tetap tidak dapat menggerakkan hatiku. Aku berjumpa satu, pasti membunuh satu. Berjumpa dua, pasti membunuh dua."

"Sungguh enak didengar!"

"Pasti kubuktikan kelak!"

"Urusan kelak tidak dapat dipastikan sekarang, namun yang jelas, aku pasti mengambil hatimu itu kelak."

Seketika Ciok Giok Yin merinding.

"Sungguhkah kau ingin mencabut nyawaku?"

"Aku memang bermaksud demikian."

"Saat ini masih bermaksud demikian."

"Saat ini masih banyak urusan yang harus kuselesaikan. Setelah semua urusan beres, kalau kau menghendakiku menemanimu di alam baka, aku pasti tidak akan menyayangi nyawaku ini. Tentunya aku akan ke kuburan itu untuk menyerahkan nyawaku padamu."

"Tahukah kau di mana kuburanku?"

"Tempat kau memusnahkan racun ular emas itu."

"Jangan ingkar janji!"

"Tentu."

Terdengar desiran anya, lalu suasana tempat di tempat itu berubah menjadi hening.

Kini Ciok Giok Yin baru berani membalikkan badannya perlahan-lahan.

Ternyata Bok Tiong Jin telah pergi, tidak tampak seorangpun di tempat itu.

Kini dia bertambah yakin, bahwa Bok Tiong Jin itu adalah arwah, sebab desiran anya tadi telah membuktikan itu.

Bagaimana mungkin Ciok Giok Yin berani lama-lama di tempat itu?

Dia langsung melesat pergi.

Tak seberapa lama, dia sudah sampai di sebuah kota kecil.

Karena sudah mendekati tahun baru imlek, maka tidak mengherankan kalau kota itu ramai sekali, penuh sesak dengan orang berbelanja untuk merayakan tahun baru Imlek.

Agar tidak mengagetkan orang, Ciok Giok Yin berjalan perlahanlahan memasuki kota itu.

Tanpa sengaja dia melihat pakaiannya sudah lusuh.

Seketika dia berpikir.

Mengapa aku tidak membeli satu stel pakaian baru?

Karena itu, dia masuk ke sebuah dapat pakaian, membeli satu stel pakaian baru warna biru laut dan sebuah topi bulu.

Setelah mengenakan pakaian baru dan memakai topi baru, kini dia tidak mirip pemuda desa lagi, melainkan menyerupai seorang sastrawan muda yang amat tampan.

Sudah barang tentu dia amat menarik perhatian para gadis kota itu.

Mereka mengerlingnya sambil tersenyum-senyum.

Bahkan di antara gadis-gadis itu ada juga yang berani mengedipkan matanya kearah Ciok Giok Yin, namun Ciok Giok Yin Cuma mengangkat bahunya.

Ciok Giok Yin memasuki sebuah rumah makan, kebetulan dia melihat seorang tua bersama seorang gadis sedang memasuki rumah makan itu juga.

Kelihatannya mereka berdua adalah tamu yang sedang dalam perjalanan.

Gadis berbaju ungu itu melirik Ciok Giok Yin, dan wajahnya langsung tampak kemerah-merahan.

Beberapa langkah kemudian, gadis berbaju ungu itu melirik Ciok Giok Yin lagi, air mukanya agak serius, namun Cuma sekilas.

Orang tua itu Cuma membeli seguci arak, lalu meninggalkan rumah makan tersebut.

Gadis berbaju ungu terpaksa segera mengikutinya pergi namun sempat melirik lagi kearah Ciok Giok Yin.

Apa yang sedang dipikirkan gadis berbaju ungu itu, tiada seorangpun tahu, kecuali dirinya sendiri.

Sedangkan Ciok Giok Yin tahu bahwa gadis berbaju ungu itu memperhatikannya.

Memang harus diakui, gadis itu sungguh cantik dan tampak kalem dan alim Dari sikap dan gerak geriknya, Ciok Giok Yin tahu bahwa gadis berbaju ungu itu berkepandaian tinggi, begitu pula lwee kangnya.

Secara tidak langsung, wajah gadis berbaju ungu itu telah terukir dalam hati Ciok Giok Yin.

Namun mereka berdua Cuma kebetulan bertemu, maka terkesan baik juga tiada artinya.

Ciok Giok Yin menarik nafas dalam-dalam, kemudian duduk sekaligus memesan beberapa macam hidangan.

Seusai makan dan membayar makanan pesanannya barulah Ciok Giok Yin berkata dalam hati.

"Suhu, tenanglah hatimu! Murid akan pergi membunuh musuh suhu itu. Mereka harus membayar dengan nyawa!"

Setelah berkata dalam hati, sepasang matanya memancarkan sinar yang berapi-api.

Mendadak tampak dua sosok bayangan melesat cepat dari arah depan, Ciok Giok Yin menyingkir ke samping, agar kedua orang itu lewat.

Akan tetapi, kedua orang itu malah berhenti di hadapan Ciok Giok Yin dengan nafas tersengal-sengal.

Mereka bedua terus menatap Ciok Giok Yin dengan mata tak berkedip.

Kedua orang itu masih muda dan cukup tampan.

Namun wajah mereka berdua tampak agak gugup.

Itu membuat Ciok Giok Yin agak tercengang.

"Mohon tanya pada Anda berdua, ada urusan apa?"

Katanya sambil menjura.

"Maaf, bolehkan kami tahu nama Anda?"

Salah seorang dari mereka balik bertanya.

"Namaku Ciok Giok Yin."

"Ciok Giok Yin?"

"Ya."

"Bagus sekali!"

"Maksud Anda?"

Pemuda itu maju dua langkah.

"Kami dengar Anda berkepandaian tinggi sekali, Cuma seorang diri, Anda menyerbu ke kuil Put Toa Si, sehingga amat mengejutkan Kang Ouw Pat Kiat. Aku amat kagum sekali dan ingin berkenalan."

Mendengar ucapan pemuda itu, wajah Ciok Giok Yin pun jadi agak kemerah-merahan.

"Saudara terlampau memuji. Aku belum tahu nama Saudara berdua"

"Namaku Khouw Yun Yong,"

Sahut pemuda itu lalu menunjukkan pemuda yang berdiri di sampingnya.

"Dia adik angkatku bernama Feng Jauw Cang."

Selama ini, Ciok Giok Yin tidak pernah bergaul dengan pemuda seusia mereka.

Ketika berkelana dalam rimba persilatan, dia berjumpa Bun It Coan, dan mereka berdua menjadi teman.

Akan tetapi, baru berbicara sejenak, Bun It Coan sudah mati, membuat Ciok Giok Yin amat sedih.

Kini dia berjumpa dua pemuda yang cukup tampan, maka hatinya amat girang.

"Ooooh, ternyata saudara Khouw dan saudara Fang."

Dia memandang kedua pemuda itu.

"Mengapa kalian begitu terburu-buru melakukan perjalanan?"

Khouw Yun Yong menghela nafas panjang.

"Aaaaah! Saudara Ciok, tadi kami berdua berjumpa tiga penjahat. Mereka bertiga menghadang kami dan melontarkan kata-kata kasar..."

Wajah pemuda itu tampak kemerahmerahan.

"Lalu bagaimana?"

Anya Ciok Giok Yin. Khouw Yun Yong menggeleng-gelengkan kepala.

"Sulit kukatakan."

"Tidak jadi masalah."

Khouw Yun Yong manggut-manggut.

"Ketika penjahat itu kelihatannya ingin menghina kami. Mereka bertiga langsung menyerang kami dengan maksud menangkap kami berdua...."

Mendengar penuturan Ciok Giok Yin amat gusar.

"Sungguh keterlaluan ketiga penjahat itu, kemudian bagaimana?"

Khouw Yun Yong melirik Feng Jauw Cang sejenak, setelah itu baru menyahut perlahan.

"Tentunya kami berdua tidak rela dihina. Maka kamipun menangkis serangan-serangan mereka bertiga. Namun kepandaian ketiga penjahat itu amat tinggi...."

"Apakah kalian berdua berhasil menghajar ketika penjahat itu?"

"Bagimana segampang itu? Kelihatannya mereka bertiga tidak tega melukai kami. Rupanya mereka hanya ingin membuat kami kelelahan, lalu menangkap kami."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening, bertanya.

"Setelah itu, bagaimana?"

"Kami cepat-cepat melarikan diri, tak disangka bertemu Saudara Ciok di sini."

Ciok Giok Yin memang berhati ksatria. Lagi pula dia amat membenci para penjahat. Maka mendengar itu, dia langsung berkata.

"Saudara Khouw, mari kita ke sana! Aku akan membasmi mereka, agar tidak mencelakai orang lagi."

Pang Juaw Cang yang diam itu, terus mengerutkan kening. Namun sepasang matanya yang bening, juga terus menyapu kearah Ciok Giok Yin.

"Baik, kita perlahan-lahan,"

Sahut Khouw Yun Yong.

Mendadak jari tangannya bergerak cepat, menotok jalan darah Ciok Giok Yin.

Meskipun Ciok Giok Yin berkepandaian tinggi, namun sama sekali tidak siap, dia tidak menduga pemuda itu akan menyerangnya.

Maka dia tidak dapat berkelit, dan seketika roboh pingsan.

Khouw Yun Yong tertawa, dan cepat-cepat menahan badan Ciok Giok Yin agar tidak roboh ke tanah.

Setelah itu dia memandang Fang Jauw Gang seraya berkata.

"Ikat dia, bawa pulang!"

Fang Jauw Cang tetap tidak bersuara, hanya segera mengikat Ciok Giok Yin lalu mengempitnya.

Mereka berdua melesat, dan sekejap sudah hilang dari tempat itu.

Entah berapa lama kemudian, Ciok Giok Yin siuman perlahanlahan.

Dia membuka matanya, ternyata dirinya berada di sebuah kamar batu, yang amat gelap.

Namun kini lwee kangnya sudah tinggi, maka sepasang matanya dapat melihat di tempat gelap.

Sekeliling kamar baru itu tidak terdapat pintu, maka tidak salah lagi, kamar itu adalah sebuah penjara.

Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin.

Dia membalikkan badannya, Namun tidak dapat bergerak sama sekali.

Ternyata tangan dan kakinya telah terikat.

Dia tertawa dingin, lalu berkata dalam hati.

"Hanya dengan seutas tali, dapat mengikatku?"

Dia mulai mengerahkan lwee kangnya untuk memutuskan tali yang mengikat tangan dan kakinya.

Siapa sangka sekujur badannya tak bertenaga sama sekali, seperti orang yang tidak pernah belajar kungfu.

Itu amat mengejutkan.

Lebih terkejut lagi, ternyata dia tidak berpakaian sama sekali, alias telanjang bulat.

Selain itu, dia pun merasa ada hawa yang amat panas pada bagian Tantiannya, terus menerjang ke bawah.

Dia mengerutkan kening, ternyata sedang berpikir.

"Sebetulnya siapa Khouw Yun Yong dan Fang Jauw Cang?"

Mengapa kedua orang itu menangkapnya?

Ciok Giok Yin tidak pernah berjumpa dengan mereka, tentunya di antara mereka tidak terdapat permusuhan apa-apa.

Namun mengapa mereka menangkapnya?

Dia terus berpikir, akhirnya berkertak gigi.

Padahal ketika berjumpa dengan mereka berdua, dengan setulus hati dia ingin bersahabat dengan mereka berdua, tapi tak disangka mereka berdua malah berhati iblis.

Dia mencoba menghimpun hawa murninya, tapi tetap seperti tadi, hawa murninya tak dapat dihimpun sama sekali.

Sementara hawa panas di Tantiannya masih terus menerjang ke bawah.

Mendadak air mukanya berubah hebat, ternyata dia teringat akan sesuatu.

"celaka"

Serunya dalam hati.

Dia teringat akan perkataan Khouw Yun Yong, bahwa ada tiga penjahat ingin menghina mereka berdua.

Apakah mereka berdua justru yang ingin menghina dirinya?

Di sini kata menghina berarti memperkosa, maka Ciok Giok Yin tidak berani memikirkan itu.

Seandainya dirinya ternoda, selanjutnya bagaimana menjejakkan kaki lagi di dunia persilatan?

Dapat dibayangkan, betapa gusarnya Ciok Giok Yin!

Seketika ingin rasanya mencincang kedua pemuda itu, untuk melampiaskan kegusarannya.

Namun kini dia telah terjatuh ke tangan orang.

Kecuali terjadi suatu kemujizatan, kalau tidak, dirinya pasti ternoda.

Setelah rasa emosinya berlalu, barulah dan teringat akan beban-beban yang dibahunya, tiada satu bebanpun yang diselesaikannya.

Kematian Tiong Ciu Sin Ie, dan kematian Cak Hun Ciu....

Juga mengenai asal-usulnya....

semua itu terbayang di depan matanya.

Akhirnya hatinya terasa berduka sekali, sehingga air matanya mulai meleleh.

Dalam keadaan seperti itu, Ciok Giok Yin Cuma pasrah.

Sementara sang waktu terus berlalu, sedangkan di dalam kamar batu itu, sama sekali tidak terdengar suara apa pun.

Sebetulnya tempat apa ini?

Dan siapa sesungguhnya Khouw Yun Yong dan Fang Jauw Cang itu?

Di saat Ciok Giok Yin tercekam rasa duka, mendadak terdengar suara "serrr".

Tampak sesosok bayangan berkelebat ke dalam.

Ciok Giok Yin yang bermata tajam, begitu melihat sudah tahu orang itu adalah Fang Jauw Cang.

Ketika Ciok Giok Yin baru mau membuka mulut mencacinya, Fang Jauw Cang justru memberi isyarat agar Ciok Giok Yin tidak bersuara.

Disaat bersamaan, wajahnya juga kelihatan tegang sekali.

"Harap jangan bersuara!"

Katanya dengan suara rendah. Ciok Giok Yin tidak tahu akan maksud kemunculannya, maka menatapnya dengan mata membara.

"Bagaimana rasamu?"

Tanya Fang Jauw Cang. Ciok Giok Yin berkertak gigi, menekan kegusarannya yang bergolak di rongga dada.

"Aku...,"

Sahutnya dingin. Pang Jauw Cang cepat-cepat menutup mulut Ciok Giok Yin.

"Jangan keras-keras!"katanya. Wajahnya tetap tampak tegang, dia menoleh ke balakang. Dilihatnya diselangkangan Ciok Giok Yin, sesuatu yang cukup panjang mendongak-dongakkan kepala, bagaikan seekor ular yang sedang mencari mangsanya! Melihat itu, wajah Fang Jauw Cang langsung berubah menjadi merah, kemudian mengarah ke tempat lain, dan hatinya terus berdebar-debar tidak karuan. Dia tahu apa yang telah terjadi, maka dia cepat-cepat mengeluarkan sebutir pil warna merah.

"Cepat makan obat ini!"

Katanya lirih.

Dia menaruh obat itu ke mulut Ciok Giok Yin, namun Ciok Giok Yin tidak tahu dia berniat jahat atau baik, maka dia menutup mulutnya rapat-rapat.

Apa boleh buat!

Fang Jauw Cang terpaksa membuka mulutnya, lalu memasukkan obat itu.

Setelah itu dia berkata dengan suara rendah.

"Cepat himpun hawa murnimu! Jangan salah paham, aku kemari untuk menyelamatkanmu!"

Wajah Fang Jauw Cang tampak serius dan bersungguhsungguh.

Kini obat itu telah berada di mulut Ciok Giok Yin, namun dia masih ragu untuk menelannya.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya ditelannya juga obat itu.

Setelah menelan obat itu, rasa panas di Tantiannya hilang seketika.

Sedangkan Fang Jauw Cang cepat-cepat melepaskan tali yang mengikat kaki dan tangan Ciok Giok Yin, kemudian melempar sebuah buntalan ke hadapannya seraya berkata.

"Ini pakaianmu, cepat pakai!"

Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara melangkah di luar.

Jilid 07 Seketika wajah Fang Jauw Cang berubah menjadi pucat pias dan dia langsung meloncat ke sisi pintu, siap melancarkan pukulan.

Sedangkan Ciok Giok Yin cepat-cepat mengenakan pakaian.

Kini dia yakin Fang Jauw Cang memang ingin menyelamatkannya, hanya saja sepasang matanya yang bening sering melirik kearah selangkangannya, itu membuatnya merasa tidak enak.

Akan tetapi, suara langkah di luar itu makin lama makin jauh.

Setelah itu barulah Ciok Giok Yin berkata dengan suara rendah.

"Terima kasih Saudara Fang telah menyelamatkanku. Budi baikmu takkan kulupakan selama-lamanya."

Akan tetapi, sepasang bola mata Fang Jauw Cang malah berputar, kemudian dia berkata ringan.

"Kini bukan saatnya berbicara, cepat pergi!"

Wajahnya masih tampak tegang sekali.

Usai berkata, tangannya menekan dinding batu, dan seketika dinding batu itu terbuka sedikit.

Fang Jauw Cang melongok ke luar, ternyata di luar tidak tampak seorangpun.

Maka dia segera melambaikan tangannya kearah Ciok Giok Yin agar keluar.

Ciok Giok Yin cepat-cepat mengikutinya dari belakang.

Sambil berjalan, Ciok Giok Yin menengok ke kiri anya kanan.

Dilihatnya banyak kamar batu dan terdengar pula banyak suara, tapi tidak terdengar jelas suaranya.

Dia mendongakkan kepala melihat, hanya tampak batu, pertanda tempat itu adalah sebuah goa.

Ciok Giok Yin terus mengikuti Fang Jauw Cang melewati lorong yang berlikuliku.

Mendadak terdengar suara geraman di kamar batu sebelah kiri.

Ciok Giok Yin terperangah, sehingga langkahnya terhenti.

Fang Jauw Cang segera menariknya.

"Jangan lihat, harus segera meninggalkan tempat ini!"

Bisiknya.

Namun Ciok Giok Yin tidak bergerak, malah memandang kamar batu itu melalui jendela.

Seketika dia terbelalak, kemudian matanya berapi-api, ternyata di dalam kamar batu itu terdapat empat pemuda tampan dalam keadaan bugil dengan tangan dan kaki terikat.

Menyaksikan itu, timbullah kegusaran Ciok Giok Yin.

Dia mengangkat sebelah tangannya siap....

Akan tetapi, Fang Jauw Cang cepat-cepat menarik lengannya, seraya berkata dengan nada memohon.

"Kau tidak boleh turun tangan, sebab kalau menimbulkan suara, sulit bagimu meninggalkan tempat ini."

Usai berkata, Fang Jauw Cang Iangsung menariknya pergi. Ketika mereka berdua melewati sebuah pintu samping, mendadak terdengar suara bentakan.

"Siapa?"

Seketika wajah Fang Jauw Cang berubah dan dia segera menarik Ciok Giok Yin ke samping, lalu memberatkan langkahnya seraya menyahut.

"Aku!"

"Mau apa kau kemari?"

Anya seseorang dari dalam.

Ciok Giok Yin mengenali suara itu, tidak lain adalah suara Kouw Yun Yong.

Seketika mata Ciok Giok Yin membara, kelihatannya dia sudah siap....

Gerak-geriknya itu tidak terlepas dari mata Fang Jauw Cang, maka Fang Jauw Cang langsung memberi isyarat agar Ciok Giok Yin tidak bergerak sembarangan.

Namun Ciok Giok Yin berbisik tersendat-sendat.

"Aku... aku...."

"Kenapa kau?"

"Tidak ada apa-apa."

Mendadak terdengar suara Khouw Yun Yong.

"Apakah kau sudah gatal? Tapi kau masih belum waktunya. Kelak aku akan memberitahukan pada ayah, pilih yang terbaik untukmu."

Fang Jauw Cang menghela nafas panjang, lalu menarik Ciok Giok Yin pergi.

Akan tetapi, ketika Ciok Giok Yin baru berjalan beberapa langkah, mendadak terdengar suara aneh di kamar batu sebelah kanan.

Itu adalah suara rintihan kenikmatan lelaki, tentunya membuat Ciok Giok Yin terheran-heran.

Dia tidak mempedulikan isyarat Fang Jauw Cang, melainkan malah mendekati jendela kamar batu itu.

Setelah itu, dia mengintip ke dalam melalui cela-cela jendela tersebut.

Seketika wajahnya menjadi memerah, bahkan hatinya pun berdebar-debar tidak karuan.

Ternyata di dalam kamar batu itu, terdapat sebuah ranjang besar.

Di atas ranjang besar itu tampak berbaring seorang wanita dalam keadaan telanjang bulat.

Di atas tubuh wanita itu, terdapat seorang pemuda yang berotot kuat, juga dalam keadaan telanjang bulat, sedang berayun-ayun mengadakan hubungan intim dengan wanita itu.

Akan teapi, berselang sesaat, wanita itu mendorong pemudah berotot itu ke samping.

Saat ini di sini ranjang besar itu, masih berdiri enam pemuda tampan, diantaranya Khouw Yun Yong.

Salah seorang pemuda mendekati ranjang besar itu, seraya berkata dengan suara ringan.

"Suhu...."

Sebelum pemuda itu usai berkata, wanita itu sudah mengerlingnya seraya berkata.

"Kuberikan padamu."

Pemuda yang berotot tadi turun dari ranjang.

Pemuda tampan lain segera memasukkan sebutir pil ke dalam mulut pemuda berotot itu lalu berjalan pergi melalui pintu samping.

Wanita itu tersenyum, kemudian berseru merdu.

"Kemarilah? "

Tampak seorang pemuda tampan langsung meloncat ke atas ranjang bagaikan macam kelaparan.

Pemuda tampan itu segera memeluknya erat-erat.

Ketika dia sudah siap melakukan itu, kelima pemuda termasuk Khouw Yun Yong, tampak memerah wajah mereka dan tubuh mereka pun agak gemetar.

Mereka terus menelan ludah.

Rupanya terangsang oleh pemandangan itu, membuat nafsu birahi mereka bangkit.

Sementara Ciok Giok Yin sudah siap menerjang ke dalam, namun Fang Jauw Cang langsung menariknya pergi.

Karena mereka terburu-buru, mereka menimbulkan suara.

Mendadak terdengar suara bentakan.

"Siapa?"

Tiada sahutan.

Suasana ditempat itu menjadi hening.

Tampak sosok bayangan melesat ke luar mengejar.

Fang Jauw Cang mana berani menyahut?

Dia terus menarik Ciok Giok Yin berlari secepat-cepatnya.

Terdengar suara langkah di belakang mereka, kemudian terdengar suara bentakan keras.

"Berhenti!"

"Kalau tidak berhenti, kalian akan segera mati!"

"Ih! Fang Jauw Cang!"

"Kau sungguh berani, makan di dalam merusak di dalam pula!"

"Kau harus tahu kelihayan orang-orang Ban Hoa Tong (Goa Selaksa Bunga)!"

Akan tetapi, berselang beberapa saat kedua orang itu telah melesat keluar dari Ban Hoa Tong. Wajah Fang Jauw Cang sudah pucat pias.

"Saudara Ciok, kau harus cepat-cepat kabur!"

Katanya.

"Bagaimana Saudara Fang?"

"Aku...."

Wajah Fang Jauw Cang tampak muram, dan sekujur badannya gemetar.

"Mari kita kabur bersama!"

Ajak Ciok Giok Yin. Fang Jauw Cang membanting kaki saking gugupnya.

"Jangan pedulikan aku, kau cepat kabur! Kalau terlambat, pasti celaka!"

"Tidak!"

"Kau tidak tahu kelihayan Ban Hoa Tongcu (Majikan Goa Selaksa Bunga), kau lekas kabur saja!"

Akan tetapi, sudah tampak beberapa bayangan berkelebat kearah mereka.

"Kabur? Mau kabur ke mana?"

Bentak salah seorang dari mereka.

Seketika tampak tujuh delapan pemuda muncul di situ, termasuk Khouw Yun Yong.

Mereka telah mengepung Ciok Giok Yin dan Fang Jauw Cang.

Saat ini ditempat itu telah diliputi hawa membunuh!

Fang Jauw Cang merapatkan badannya pada Ciok Giok Yin.

Sekujur badannya terus bergemetar seperti kedinginan.

Khouw Yun Yong menatap Fang Jauw Cang dengan mata berapi-api.

"Kau sungguh berani melepaskan tawanan! Dengan susah payah aku menangkapnya, namun kau malah melepaskannya! Tahukah kau peraturan di sini?"

Bentaknya gusar.

"Aku... aku... suheng!"

Sebut Fang Jauw Cong dengan gemetar dan terputus-putus. Khouw Yun Yong maju melangkah.

"Bagus kau tahu! Kuperintahkan kau cepat tangkap dia, agar hukumanmu dapat diringankan!"

Fang Jauw Cang termundur dua langkah.

"Aku... aku..."

Katanya gagap.

"Kau berani membangkang perintahku? Mau cari mati?"

Bentak Khouw Yun Hang gusar. Mendadak sepasang tangannya bergerak, menyerang kearah Fang Jauw Cang.

"Dasar tak tahu malu, kau barani!"

Bentak Ciok Giok Yin mengguntur.

Dia amat membenci Khouw Yun Yong, maka mengerahkan delapan bagian lwee kangnya untuk menyerang Khouw Yun Yong.

Tentunya dapat dibayangkan, betapa dahsyatnya pukulan yang dilancarkannya itu.

Pukulan itu menimbulkan suara menderu-deru bagaikan topan.

Ternyata Ciok Giok Yin menggunakan ilmu pukulan Soan Hong Ciang.

Sang Ti It Koay terkenal karena ilmu pukulan tersebut, namun dia sendiri belum berhasil melatih ilmu pukulan itu seperti keberhasilan yang dicapai Ciok Giok Yin.

Kalau Sang Ting It Koay masih hidup dan menyaksikan hasil yang diperoleh Ciok Giok Yin, pasti merasa bangga sekali!

Namun masih ada satu orang yang telah berhasil menguasai ilmu pukulan Soan Hong Ciang hingga tingkat yang amat tinggi, tidak lain adalah Chiu Tiong Thau, murid murtad Sang Ting It Koay!

Demi menuntut balas dendamnya, justru tanpa sengaja Sang Ting It Koay telah menyelamatkan Ciok Giok Yin.

Ketika Ciok Giok Yin melancarkan pukulan itu, Khouw Yun Yong sudah tahu akan kehebatan ilmu pukulan tersebut, maka cepat-cepat berkelit.

Di saat bersamaan, pemuda-pemuda lain sudah menerjang kearah Fang Jauw Cang.

Demi menyelamatkan Ciok Giok Yin, Fang Jauw Cang terpaksa harus bertarung dengan saudara-saudara seperguruannya.

Dia berharap, sebelum mati dapat melihat Ciok Giok Yin pergi dengan selamat.

Itu merupakan harapan satusatunya.

Sementara kegusaran Ciok Giok Yin telah memuncak, bagaimana mungkin melepaskan Khouw Yun Yong begitu saja?

Oleh karena itu, dia menggunakan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang, mengeluarkan jurus pertama Terbang.

Tampak badan Ciok Giok Yin mencelat ke atas, kemudian berputar dan sepasang telapak tangannya berkelebatan.

Terdengar suara gemuruh, mengarah pada Khow Yun Yong.

Seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati, dan tampak darah segar muncrat ke mana-mana.

Ternyata Khouw Yun Yong sudah tergeletak binasa di lantai.

Kali ini Ciok Giok Yin menggunakan jurus tersebut, merasa lwee kangnya bergolak, tapi tidak merasa aliran darahnya mengalir terbalik.

Dia paham itu karena Pil Api Ribuan Tahun, telah menambah lwee kangnya.

Setelah berhasil membunuh Khouw Yun Yong, semangat Ciok Giok Yin menjadi bangkit.

Dia menengok kearah Fang Jauw Cang, kelihatannya sudah mulai kewalahan menghadapi mereka, bahkan mulutnya sudah mengeluarkan darah.

Itu pertanda dia telah terluka dalam.

Dia berusaha matimatian menyelamatkan Ciok Giok Yin, namun kini justru telah terluka parah.

Menyaksikan itu, Ciok Giok Yin menggeram.

"Yang tidak takut mati boleh maju!"

Tampak sepasang tangannya bergerak, dan seketika terdengar suara menderu-deru.

Ketujuh pemuda yang tadinya mengeroyok Fang Jauw Cang, kini berbalik mengeroyok Ciok Giok Yin.

Serangan yang mereka lancarkan sangat dahsyat, sehingga Ciok Giok Yin terdesak ke belakang dua langkah dan matanya terasa berkunang-kunang.

Di saat bersamaan, Fang Jauw Cang juga memuntahkan darah segar karena terpukul oleh seorang pemuda.

Badannya sempoyongan nyaris roboh.

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin!

Dia ingin menolongnya tapi terhadang oleh pemuda-pemuda itu maka dia jadi gugup.

Kelihatannya Fang Jauw Cang akan binasa di tangan pemuda itu.

Namun mendadak tampak sosok bayangan meluncur turun.

Seketika terdengar pula suara jeritan.

Ternyata pemuda yang ingin membunuh Fang Jauw Cang itu telah roboh berlumuran darah, dan tak dapat bangun lagu.

Begitu melihat orang yang baru muncul itu, bukan main girangnya Ciok Giok Yin!

"Lo cianpwee!"

Serunya. Siapa yang baru muncul itu? Ternyata Heng Thian Ceng.

"Bocah temanmu telah terluka parah, cepat bawa dia pergi!"

Kata Hen Tian Cang. Usai berkata Heng Thian Ceng pun menyerang pemuda-pemuda itu. Ciok Giok Yin segera mendekat Fang Jauw Gang, dan menggenggam tangannya seraya berkata.

"Saudara Fang merasa...."

Ucapan Ciok Giok Yin terputus karena tiba-tiba Fang Jauw Cang memuntahkan darah segar dan kemudian pingsan.

Ciok Giok Yin langsung mengempitnya ingin membawa pergi.

Akan tetapi mendadak terdengar suara tawa terkekeh-kekeh.

Suara tawa itu sepertinya mengandung suatu kekuatan, membuat hati Ciok Giok Yin tergetar-getar.

Tanpa sadar dia melesat ke tempat suara tawa itu.

"Bocah, kau masih belum membawa pergi temanmu yang terluka itu? Mau tunggu kapan?"

Bentak Hang Thian Ceng. Suara bentakan Heng Thian Ceng menyadarkan Ciok Giok Yin.

"Bagaimana lo cianpwee?"

"Aku akan menghadang mereka, cepat pergi! Kalau terlambat, sulit meloloskan diri!"

Sementara suara tawa itu masih terdengar terkekeh-kekeh tak henti-hentinya.

Heng Thian Ceng langsung mengeluarkan suara siulan panjang.

Ciok Giok Yin melihat wajahnya agak luar biasa, mana berani ayal lagi?

Dia langsung menyambar Fang Jauw Cang sekaligus membawanya pergi.

Suara tawa terkekehkekeh itu mulai tak kedengaran, namun Ciok Giok Yin sama sekali tidak berani melambankan langkahnya.

Dia terns melesat laksana kilat.

Tak terasa keringat dinginnya mulai mengucur.

Tampak sesosok bayangan merah berkelebat, ternyata Heng Thian Ceng sudah menyusulnya.

"Bocah, kau sungguh berani! Bagaimana kau cari gara-gara dengan Ban Hoa Tongcu? Apakah kau sudah bosan hidup?"

Katanya.

"Aku tidak pernah cari gara-gara dengannya,"

Sahut Ciok Giok Yin. Dia segera menutur tentang kejadian itu. Barulah Heng Thing Ceng mengerti.

"Coba kau lihat bocah yang kau kempit itu, bagaimana keadaannya?"

Kini mereka sudah memasuki sebuah rimba. Ciok Giok Yin menggeleng-geleng kepala.

"Demi menyelamatkanku, dia sama sekali tidak memikirkan nyawanya sendiri. Dia bertarung dengan saudara-saudara seperguruannya. Meskipun jantungnya belum anya, namun luka dalamnya amat parah. Apa yang harus kulakukan?"

"Bukankah kau telah mewarisi ilmu pengobatan Tiong Ciu Sin Ie? Apakah kau tidak mampu mengobatinya?"

Ciok Giok Yin menyahut dengan wajah murung.

"Aku memang menyimpan obat Giok Ju, namun Cuma dapat menahan luka dalam agar tidak bertambah parah. Kalau ingin mengobatinya, harus cari tempat yang sepi, menggunakan lwee kang untuk mengobatinya. Tapi... orang yang mengobatinya, dalam waktu setengah tahun, tidak boleh bergebrak dengan siapa pun."

Heng Thian Ceng menundukkan kepala, sambil berpikir, berselang sesaat dia berkata.

"Dapat tertolong."

"Mohon petunjuk lo cianpwee!"

"Agar temanmu ini cepat sembuh, harus pergi ke Bu Ceng Kok (Lembah Tanpa Perasaan), untuk memohon sebutir pil Sui Seng Tan (Pil Penyambung Hidup), Cuma ini jalan satusatunya, tiada jalan lain lagi."

"Bu Ceng Kok?"

"Ng!"

Ciok Giok Yin terperangah, seab selama ini dia tidak pernah mendengar tentang Bu Ceng Kok.

"Di mana lembah itu?"

"Kau mau ke sana?"

"Tentu."

"Tahukah kau peraturan di lembah itu apabila ingin memohon sebutir pil Sui Seng Tan?"

"Peraturan?"

"Tidak salah."

"Peraturan apa?"

"Bagi siapapun yang ingin memohon sebutir pil tersebut, harus menyerahkan diri padanya selama-lamanya. Lagi pula harus setulus hati."

Sahut Heng Thian Ceng dengan diam. Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Setelah menyerahkan diri pada Kokcu (Majikan Lembah), dia pula akan mengatur dirimu."

"Apakah masih diperbolehkah berkecimpung di dunia persilatan?"

"Tentang itu, aku tidak tahu sama sekali."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Lo cianpwee aku ingin ke sana melihat-lihat."

Heng Thian Ceng tampak tercengang.

"Kau tidak punya cara lain untuk mengobatinya?"

"Tidak."

Heng Thian Ceng berpikir sejenak.

"Mari berangkat!"

Katanya kemudian.

Heng Thian Ceng melesat pergi.

Ciok Giok Yin cepat-cepat mengempit Fang Jauw Cang, lalu melesat pergi mengikuti Heng Thian Ceng.

Dalam perjalanan, Ciok Giok Yin terus berpikir.

Apabila Bu Ceng Kokcu melarangnya berkecimpung di dunia persilatan lagi, lalu bagaimana dengan semua urusannya?

Bukankah akan kandas begitu?

Oleh karena itu, dia masih belum mengambil keputusan untuk berangkat ke Bu Ceng Kok.

Akan tetapi apabila tidak berangkat ke sana, tentunya tidak dapat menyembuhkan luka Fang Jauw Cang.

Seandainya dia yang mengobati Fang Jauw Cang dengan menggunakan lwee kang, sudah jelas dia harus beristirahat setengah tahun.

Selain itu, dia pun tidak boleh bertarung dengan siapapun kalau memaksa diri bertarung, akan membuatnya cacat seumur hidup, bahkan kemungkinan besar akan merenggut nyawanya.

Oleh karena itu, setelah berpikir berulang kali, akhirnya dia mengambil keputusan terus berangkat ke Bu Ceng Kok untuk bermohon sebutir pil Sui Seng Tan.

Asal Bu Ceng Kokcu memperbolehkannya berkecimpung di dunia persilatan setengah tahun, dia pasti menyelesaikan semua urusannya dalam waktu tertentu itu, barulah kembali ke lembah Bu Ceng Kok untuk menyerahkan diri.

Fang Jauw Cang adalah penolongnya.

Dia sama sekali tidak mementingkan nyawanya sendiri, bahkan rela berkorban demi Ciok Giok Yin.

Apabila dia tidak berupaya menyelamatkannya, apakah dia masih terhitung orang gagah?

Karena itu, Ciok Giok Yin harus berupaya menyelamatkannya, meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri.

Lagi pula dia telah mengambil keputusan untuk berkawan selama-lamanya dengan Fang Jauw Cang.

Entah berapa lama kemudian, mendadak Heng Thian Ceng menghentikan langkahnya.

"Sudah sampai,"

Katanya sambil memandang Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin memandang ke depan. Tampak puncak gunung menjulang tinggi ke langit menembus awan.

"Sungguh indah puncak gunung itu!"

Serunya tanpa sadar. Kemudian dia menoleh memandang Heng Thian Ceng.

"Lo cianpwee, Bu Ceng Kok terletak di mana?"

"Lembah itu,"

Sahut Heng Thian Ceng sambil menunjuk kearah kiri.

Ciok Giok Yin memandang ke tempat yang ditunjuk Heng Thian Ceng, tempat itu amat gelap, membuat orang merasa seram.

Dia menaruh Fang Jauw Cang di atas sebuah batu, kemudian berkata pada Heng Thian Ceng.

"Lo cianpwee, tolong jaga dia sebentar, aku mau ke sana!"

Ketika Ciok Giok Yin baru melesat, Heng Thian Ceng segera menjulurkan tangannya.

"Tunggu!"

"Ada petunjuk apa, lo cianpwee?"

"Sekarang kau ke sana. Seandainya mereka menjodohkanmu, lalu bagaimana tanggung jawabmu terhadap Cak Hun Ciu?"

Ciok Giok Yin tersentak ketika mendengar ucapan Heng Thian Ceng itu.

Sebelum mati, Cak Hun Ciu memang telah menjodohkan putrinya yang bernama Li Ling Ling pada Ciok Giok Yin.

Namun kini demi kawan baiknya, mau tidak mau dia harus mengeraskan hati memasuki lembah itu.

Kini setelah Heng Thian Ceng mengajukan pertanyaan tersebut, justru membuat Ciok Giok Yin tertegun.

"Sementara ini aku belum dapat memikirkan itu,"

Sahutnya.

"Jangan lupa! Masih ada Nona Ho yang di Goa Toan Teng. Harus bagaimana kau mengurusinya?"

Tanya Heng Thian Ceng lagi. Ciok Giok Yin termangu-mangu, kemudian memandang Heng Thian Ceng seraya bertanya.

"Lo cianpwee, urusan sudah begini, aku harus bagaimana?"

Heng Thian Ceng mengerutkan kening.

"Bocah, kau di sini saja, biar aku yang pergi melihat-lihat."

"Itu mana boleh?"

"Kenapa tidak boleh?"

"Aku tidak boleh membiarkan lo cianpwee ke Lembah Bu Ceng Kok, sebab Fang Jauw Cang adalah temanku."

Heng Thian Ceng mengibaskan tangannya.

"Usiaku sudah tua, tidak mungkin mereka akan mencari seorang tua anya."

"Lagi pula, berdasarkan sedikit mukaku, mereka masih harus memberi sedikit pengertian."

Usai berkata, tanpa menunggu persetujuan Ciok Giok Yin, Heng Thian Ceng langsung melesat kearah lembah itu.

Ciok Giok Yin terpaksa berdiri di sisi batu besar itu, menjaga Fang Jauw Cang.

Dia memperhatikan wajah Fang Jauw Cang, tampak begitu halus, Cuma pucat pias lantaran terluka parah.

Ciok Giok Yin berkata dalam hati.

"Dia mirip sekali seperti anak gadis."

Mendadak Ciok Giok Yin menegur dirinya sendiri dalam hati.

"Ciok Giok Yin! Kau sungguh keterlaluan! Dia telah menyelamatkan dirimu, malah kau memikirkan yang bukan atas dirinya!"

Dia segera memandang ke tempat lain.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan merah melayang turun di hadapannya, ternyata Heng Thian Ceng.

Ciok Giok Yin mengira Heng Thing Ceng telah berhasil memperoleh sebutir pil Sui Beng Tan, maka cepat-cepat menyapanya.

"Lo cianpwee kok sedemikian cepat?"

Heng Thaing Ceng menghela nafas panjang, menggelenggeleng kepala seraya menyahut.

"Tidak jadi!"

"Apa yang tidak jadi?"

"Ternyata lembah Bu Ceng Kok melarang kaum wanita memohon obat, walau aku sudah mendebat dengan mereka, namun mereka tetap melarangku masuk. Apa boleh buat, terpaksa kau yang ke sana."

"Kalau begitu, lo cianpwee tolong jaga dia."

Ciok Giok Yin segera melesat ke lambah itu. Ketika dia baru mau masuk, tiba-tiba terasa ada desiran anya yang amat kuat menahan dirinya. Dan disaat bersamaan terdengar suara yang amat dingin.

"Siapa kau? Besar sekali nyalinya mengacau di sini!"

Ciok Giok Yin berkelit ke samping.

Dia tahu diri.

Karena saat ini dia ada perlu memohon pada Bu Ceng Kokcu, maka tidak berani bertindak gegabah.

Dia mendongakkan kepala, tampak seorang lelaki berusia pertengahan.

Menghadang di depannya dengan wajah dingin.

Ciok Giok Yin segera memberi hormat.

"Aku bernama Ciok Giok Yin. Tujuanku kemari untuk memohon sebutir pil Sui Beng Tan."

"Kau tahu peraturan di sini?"

"Tahu.

"Silakan masuk!"

Lelaki itu menyingkir ke samping.

Ciok Giok Yin berjalan ke dalam.

Berselang beberapa saat, tampak sederet rumah bersandar pada tebing gunung.

Salah satu di antara rumah rumah itu amat besar dan megah.

Sedangkan orang-orang yang berlalu lalang di dalam lembah itu, semuanya kelihatan tak berperasaan, dan kelihatan seperti banyak urusan mengganjel dalam hati.

Ciok Giok Yin berjalan menuju rumah besar itu, dan langsung masuk ke ruang depan, akan tetapi muncul enam lelaki berusia pertengahan menghadangnya.

"Siapa kau?"

Anya selang seorang di antara mereka.

"Ciok Giok Yin."

"Ada urusan apa kau dong kemari?"

"Ingin memohon sebutir pil Sui Beng Tan."

"Harap tunggu!"

Lelaki itu masuk ke dalam, namun sesaat kemudian telah keluar lagi.

"Kokcu menunggumu di dalam, silakan masuk!"

Kata lelaki itu.

Ciok Giok Yin melangkah ke dalam, ternyata Bu Cing Koksu berada di situ di kursi, wajahnya dingin sekali.

Namun sepasang matanya bersinar tajam, menatap Ciok Giok Yin dengan penuh perhatian.

"Kau ingin memohon sebutir pil Sui Beng tan?"

Anya orang tua kecil kurus itu. Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya."

"Tahukah kau peraturan di lembah ini?"

"Tahu."

"Bagus!"

"Mohon tanya pada Kokcu, selanjutnya apakah aku boleh keluar?"

Tanya Ciok Giok Cu.

"Tidak boleh."

"Apakah seumur hidup aku harus tinggal di dalam lembah ini?"

"Itu rahasia lembah ini, sebelum kau resmi menyerahkan diri, rahasia itu tidak dapat diberitahukan."

"Aku ingin tahu sedikit."

"Tidak dapat diberitahukan."

Seandainya benar Bu Ceng Kokcu melarangnya meninggalkan lembah Bu Ceng Kok, bukankah seumur hidupnya akan habis di dalam lembah ini? Berselang sesaat, Ciok Giok Yin berkata.

"Aku dengar, orang yang kemari memohon obat, harus menuruti perkataan Kokcu, juga Kokcu akan menjodohkan orang tersebut. Apakah benar urusan ini?"

"Tidak salah."

"Aku akan menuruti semua perkataan Kokcu, hanya bermohon Kokcu sudi memberiku waktu setengah tahun, agar aku dapat menyelesaikan semua urusanku. Setelah itu, aku akan kembali ke sini."

Orang tua kecil kurus itu menyahut dengan wajah tak berperasaan.

"Selama ini tiada kecuali."

Berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

"Kau terlampau cerewet, kalau kau merasa kesulitan, , lebih baik pergi saja."

Usai berkata, orang tua kecil kurus itu bangkit berdiri, kelihatannya ingin meninggalkan ruang itu. Sudah barang tentu amat mencemaskan Ciok Giok Yin.

"Harap Kokcu tunggu sebentar!"

Serunya. Bu Ceng Kokcu tetap berdiri.

"Katakan!"

"Aku mohon sedikit petunjuk."

"Tentang apa?"

"Untuk apa Kokcu memiliki pil Sui Beng Tan?"

"Menolong orang."

"Kalau memang untuk menolong orang, mengapa orang yang memohon obat itu harus menyerahkan diri pada Kokcu?"

"Ini sudah merupakan peraturan di sini."

"Siapa yang membuat peraturan itu?"

"Lohu."

Ciok Giok Yin tertawa gelak.

"Aku ikut Tiong Ciu Sin Ie...."

Mendadak Bu Ceng Kokcu memotong cepat.

"Tiong Ciu Sin Ie?"

Sergah Bu Cing Koksu.

"Ng"

"Apa hubunganmu dengan Tiong Ciu Sin Ie?"

Wajah Bu Ceng Kokcu tampak aneh, begitu pula sepasang matanya, menyorot sinar aneh pula.

Sedangkan Ciok Giok Yin tidak tahu, antara Tiong Ciu Sin Ie dan Bu Ceng Kokcu terdapat budi atau dendam.

Namun tadi sudah mengatakan begitu, tentunya tidak dapat ditarik kembali.

Oleh karena itu, dia menyahut lantang.

"Sejak kecil aku ikut beliau, juga belajar ilmu pengobatan...."

"Kau telah mewarisi ilmu pengobatannya, kenapa tak mampu mengobati orang?"

Sergah Bu Ceng Kokcu lagi.

"Tentu mampu."

"Kalau begitu, mengapa kau kemari minta pil Sui Beng Tan?"

"Aku dengar pil tersebut amat mujarab."

"Baik, kuhadiahkan sebutir pil Sui Beng Tan padamu."

Kata Bu Ceng Kokcu. Kemudian dia memandang orang yang berdiri di ruangan itu seraya berkata.

"Ambilkan sebutir pil Beng Tan!"

Perubahan yang mendadak itu, sungguh membuat Ciok Giok Yin tertegun dan tidak habis anya.

Sebetulnya Bu Ceng Kokcu dan Tiong Ciu Sin Ie punya hubungan apa.

Bu Ceng Kokcu kembali duduk.

Suasana di ruangan itu berubah menjadi hening.

"Maaf! Bolehkah aku tahu ada hubungan apa Kokcu dengan Tiong Ciu Sin Ie?"

"Dulu dia pernah menyelamatkan nyawaku, maka kini aku menghadiahkan sebutir pil Sui Beng Tan padamu, hitunghitung aku membalas budinya."

Sahut Bu Cing Kokcu.

"Selain Tiong Ciu Sin Ie, apakah masih ada orang lain yang boleh minta obat tanpa syarat?"

Anya Ciok Giok Yin lagi.

"Kau terlampau banyak bertanyak."

Sementara orang yang masuk ke dalam tadi sudah kembali lagi.

"Berikan padanya, antar tamu!"

Kata Bu Ceng Kokcu.

Tampak badan Bu Ceng Kokcu berkelebat, kemudian menghilang di pintu samping.

Ciok Giok Yin menerima pil tersebut, kemudian tanpa banyak bicara lagi dia melesat pergi.

Dalam waktu sekejap dia sudah meninggalkan Lembah Bu Ceng Kok.

Akan tetapi, sungguh di luar dugaan!

Tidak tampak Heng Thian Ceng dan Fang Jauw Cang berada di tempat itu, dan sama sekali tidak meninggalkan jejak.

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin, dia bertanya dalam hati.

"Apakah telah terjadi sesuatu atas diri mereka?"

Mendadak terdengar suara bentakan keras menembus angkasa.

Ciok Giok Yin mengenali suara bentakan itu, tidak lain adalah suara bentakan Heng Thian Ceng.

Dia langsung melesat ka arah suara bentakan itu, dan dalam sekejap sudah tiba di tempat itu.

Tampak Heng Thian Ceng mengempit Fang Jauw Cang, sedang bertarung dengan tujuh pemuda.

Terdengar ketujuh pemuda itu membentak.

"Turunkan dia!"

"Kalau kau tidak turunkan dia, jangan harap dapat pergi dari sini!"

Heng Thian Ceng tertawa dingin. Mendadak dia melancarkan beberapa pukulan, namun Cuma membuat mereka mundur satu langkah. Setelah itu, mereka mulai mengepung Heng Thian Ceng."

Sebenarnya, tidak sulit bagi Heng Thian Ceng untuk meloloskan diri.

Sedangkan bagi ketujuh pemuda, untuk merebut Fang Jauw Cang dari tangannya, juga tidak gampang.

Menyaksikan itu, Ciok Giok Yin langsung berseru.

"Lo cianpwee tidak usah gugup!"

Dia menerjang kearah pemuda-pemuda itu, namun mendadak Heng Thian Ceng melempar Fang Jauw Cang ke arahnya seraya berseru.

"Sambut!"

Ciok Giok Yin bergerak cepat menyambut Fang Jauw Cang, lalu melesat jauh dari tempat itu.

Setelah itu, dia memasukkan pil Sui Bang Tan ke dalam mulut Fang Jauw Cang.

Jari tangannya juga bergerak menotok beberapa jalan darahnya, agar Fang Jauw Cang cepat pulih.

Saat ini Heng Thian Ceng sudah dapat bergerak leluasa.

Tampak sepasang tangannya berkelebatan seketika terdengar suara jeritan dan tampak dua pemuda roboh tak berkutik.

Di saat berasamaan terdengar suara tawa terkekeh-kekeh.

Begitu mendengar suara tawa itu, air muka Heng Thian Ceng langsung berubah.

Dia segera menoleh memandang Ciok Giok Yin, kebetulan Fang Jauw Cang sudah bangkit berdiri.

"Kalian berdua cepat pergi!"

Kata Heng Thian Ceng. Ciok Giok Yin tidak mengerti.

"Lo cianpwee...."

"Jangan banyak bicara, cepat pergi!"

Sekonyong konyong terdengar suara orang bertanya.

"Mau pergi ke mana?"

Ciok Giok Yin membalikkan badannya. Dilihatnya empat orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee, rata-rata berusia lima puluhan. Wajah mereka seperti mayat.

"Kau adalah Ciok Giok Yin?"

Tanya salah seorang dari mereka sambil tertawa dingin.

"Tidak salah."

"Ketua kami mengundangmu!"

"Ada urasan apa ketua kalian mengundangku?"

"Sampai di sana, kau akan mengetahuinya."

"Saat ini aku tidak punya waktu, lain hari aku pasti ke sana."

Sembari berkata, Ciok Giok Yin menarik Fang Jauh Cang. Namun ketika baru mau meninggalkan tempat itu, keempat orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee mendengus dingin.

"Hmmm! Kau mau ke mana?"

Mereka berempat mendorongkan tangan masing-masing ke depan. Seketika terdengar suara menderu-deru. Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin! "Kalian ingin memaksaku?"

Bentaknya.

"Kalau kau tidak bersedia ikut kami, terpaksa dengan cara demikian!"

"Cari mati!"

Ciok Giok Yin juga mendorong sepasang tangan ke depan. Keempat orang itu langsung melancarkan pukulan serentak, seketika terasa hawa yang amat dingin. Mendadak Heng Thian Ceng berseru kaget.

"Cepat mundur, Si Peng Khek (Empat Orang Es)!"

Ciok Giok Yin tersentak, dan cepat-cepat mencelat ke belakang sekaligus menarik Fang Jauw Cang.

Saat ini kening keempat orang itu mengeluarkan selapis kabut putih yang amat dingin.

Menyaksikan itu, sekujur tubuh Ciok Giok Yin menjadi merinding.

Dia sama sekali tidak tahu, kungfu apa itu.

Sepasang mata Si Peng Khek melotot, persis seperti mayat hidup, kemudian mereka berempat maju selangkah demi selangkah.

Sekonyong-konyong Si Peng Khek membentak, kemudian melancarkan pukulan serentak ke arah Ciok Giok Yin.

Namun di saat bersamaan, tampak sosok bayangan meluncur ke arah mereka sekaligus menyambar Ciok Giok Yin dan dibawanya melesat pergi.

"Lepaskan dia!"

Bentak Si Peng Khek.

"Dia buronan Perkumpulan Sang Yen Hwee!"

Bukan main cepatnya gerakan orang itu. Ternyata dia juga sempat menyambar Fang Jauw Cang. Berselang beberapa saat, barulah dia berhenti dan menaruh mereka ke bawah. Dia segera memberi hormat.

"Terimakasih atas pertolongan lo cianpwee!"

Ucapnya. Orang tua bongkok meneguk arak, lalu menyahut.

"Kelihatannya kita memang berjodoh, sudah tiga kali aku menolongmu."

Ciok Giok Yin tersenyum.

"Tiga kali?"

"Tidak salah."

"Kalau begitu, aku berhutang budi pertolongan tiga kali pada lo cianpwee"

Orang tua bongkok itu tertawa gelak, meneguk arak lagi seraya berkata.

"Itu tidak usah disimpan dalam hati. Aku menolongmu lantaran punya sebab lho!"

"Sebab apa?"

"Kau mirip seseorang."

"Siapa?"

Orang tua bongkok menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak usah dibicarakan, perlahan-lahan aku mencarinya."

Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat sesuatu.

"Oh ya! Bolehkah aku tahu nama lo cianpwee?"

"Kau ingin tahu namaku?"

"Ya."

"Tidak usah."

Badan orang tua bongkok bergerak, tahu-tahu sudah melesat pergi dan sudah tidak kelihatan lagi bayangannya. Fang Jauw Cang terbelalak menyaksikan itu.

"Ka..., kakak Yin, kau tidak kenal dia?"

"Tidak kenal."

"Dia bilang sudah tiga kali menolongmu."

"Aku cuma ingat dua kali dia menolongku, namun dia bilang tiga kali, aku tidak ingat yang satu kali itu."

Mendadak Ciok Giok Yin teringat sesuatu.

"Adik, sesungguhnya Ban Hoa Tong itu tempat apa?"

Mendengar pertanyaan tersebut, wajah Fang Jauw Cang langsung berubah menjadi kemerah-merahan.

"Ban Hoa Tong di dunia persilatan, merupakan tempat yang misterius pernahkah kau dengar di dunia persilatan terdapat Bun (Pintu), Tong (Goa), Kok (Lembah) dan Hu (Rumah)?"

"Bun Tong Kok Hu?"

"Ng!"

"Aku tidak pernah dengar."

"Bung Tong Kok Hu merupakan empat tempat yang amat misterius...."

Ciok Giok Yin menatap Fang Jauw Cang dengan mata terbelalak.

Memang benar, sejak Ciok Giok Yin berkelana di dunia persilatan, belum pernah mendengar tentang keempat tempat tersebut, maka dia terheran-heran.

Fang Jauw Cang melanjutkan.

"Bun adalah Liok Bun (Pintu Hijau)...."

"Liok Bun?"

"Ng! Kau pernah mendengar tentang Liok bun itu?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya, tapi aku tidak tahu berada di mana Liok Bun itu."

Fang Jauw Cang menggeleng kepala.

"Akupun tidak begitu jelas, karena mereka tidak berhubungan dengan dunia persilatan, maka tiada seorangpun tahu itu."

Mendengar itu, harapan Ciok Giok Yin pun jadi kandas.

Ternyata Bun It Coan menyuruhnya pergi ke Liok Bun, memperlihatkan sebuah cincin pemberiannya kepada ayahnya dan mohon agar diajarkan semacam ilmu silat, jadi bisa membalas dendam Bun It Coan.

Namun tidak tahu berada di mana Liok Bun tersebut.

"Adik, lanjutkan ceritamu!"

Katanya setelah termenung sejenak. Fang Jauw Cang melanjutkan.

"Yang lain adalah Ban Hoa Tong, Bu Ceng Kok dan Khong-Khong Hu...."

"Hah? Tadi aku baru keluar dari Bu Ceng Kok."

Air muka Fang Jauw Cang berubah.

"Kau ke sana?"

"Ng!"

"Kakak Yin, bagaimana kau ke sana?"

"Mohon pil Sui Beng Tan...."

Ciok Giok Yin menutur tentang semua itu. Saking terharunya sehingga air mata Fang Jauw Cang meleleh.

"Kakak Yin, kau... kau..."

Katanya terputus-putus. Fang Jauw Cang ingin mengatakan sesuatu, namun tak mampu mencetuskannya.

"Adik, demi menyelamatkanku, kau telah banyak berkorban. Apakah aku tidak boleh berkorban sedikit untukmu? Lagi pula kini Bu Ceng Kokcu tidak menahan diriku di sana."

Dia menatap Fang Jauw Cang.

"Adik, mengenai Ban Hoa Tong, kau belum menceritakan padaku,"

Lanjutnya. Fang Jauw Cang mendongakkan kepala, memandang Ciok Giok Yin dengan air mata bercucuran. Ciok Giok Yin menatapnya.

"Adik, kau sungguh cantik!"

Katanya tanpa sadar. Hati Fang Jauw Cang tersentak, sehingga tanpa sadar kakinya menyurut mundur satu langkah.

"Kau... kau..."

Katanya terputus-putus.

"Maaf! Aku keterlepasan omong!"

Barulah Fang Jauw Cang berlega hati, kemudian tertawa.

"Ban Hoa Tongcu mempelajari semacam ilmu silat aneh. Setiap tahun pasti menyuruh kaum pemuda, untuk melatih ilmu silatnya itu."

"Oh! Betulkah urusan itu?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Betul."

"Oh ya! Mengapa Adik mati-matian menyelamatkanku?"

"Karena aku melihat obat Ciak Kim Tan di dalam bajumu."

"Obat Ciak Kim Tan?"

"Ng!"

"Karena itu, kau mati-matian menyelamatkanku?"

"Dulu ketika ayahku berkelana di dunia persilatan, pernah menerima budi pertolongan Tiong Ciu Sin Ie, maka ayahku berpesan, apabila kelak aku berjumpa orang yang memiliki obat Ciak Kim Tan, aku harus membalas budi."

Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Ooooo! "

"Ketika aku melihat obat Ciak Kim Tan di dalam bajumu, aku yakin kau bukan Tiong Ciu Sin Ie, mungkin penerusnya. Karena itu, aku berusaha menolongmu."

Kini Ciok Giok Yin baru mengerti, maka dia manggut-manggut lagi. Mendadak air muka Fang Jauw Cang agak berubah.

"Kakak Yin, sekarang aku harus cepat-cepat pulang."

"Pulang?"

"Aku khawatir Ban Hoa Tongcu akan mencederai ayahku, maka aku harus cepat-cepat pulang, membawa ayahku bersembunyi, agar ayahku tidak dicelakainya."

"Kalau begitu kau harus segera pulang, jangan membuang waktu lagi!"

"Kakak Yin, setelah memberi tahu pada ayahku, aku akan segera mencarimu. Boleh kan?"

"Lebih baik kau menemani ayahmu! Banyak bahaya di dunia persilatan, kalau kurang hati-hati, nyawa akan melayang. Kalau aku sempat, aku pasti pergi mencarimu."

"Tidak, setelah kuberitahu tentu ayahku akan pergi bersembunyi. Lalu kau harus ke mana cari aku? Kakak Yin, lain kali kita jangan berpisah lagi ya?"

"Aku memang berharap demikian, tapi...."

"Kenapa?"

"Aku tidak punya tempat tinggal tetap, lagipula banyak musuh, itu akan menyusahkanmu."

"Aku tidak takut. Asal aku berasamamu, aku tidak akan takut apa pun. Tempat mana kau pergi, aku pun bisa pergi."

Bukan main girangnya Ciok Giok Yin punya teman seperti itu! Saking terharunya dia menggenggam tangan Fang Jauw Cang erat-erat.

"Adik, sungguh girang hatiku punya teman kau!"

"Kakak Yin...."

"Adik, kau boleh pergi sekarang."

Seketika mata Fang Jauw Cang berkaca-kaca, kelihatannya dia merasa amat berat meninggalkan Ciok Giok Yin.

"Kakak Yin, sampai jumpa!"

Fang Jauw Cang melesat pergi.

Sedangkan Ciok Giok Yin masih berdiri termangu-mangu di tempat.

Akan tetapi, hatinya amat girang dan senang.

Sebab kini dia sudah punya teman yang sehat dan sejati.

Itulah yang amat menggirangkan hatinya.

Berselang sesaat, barulah Ciok Giok Yin melesat pergi.

Tak seberapa lama, tampak sosok bayangan melesat dari arah berlawanan bagaikan kilat.

Ciok Giok Yin cepat-cepat menyingkir ke samping, agar orang itu lewat duluan.

Akan tetapi oleh yang muncul dari arah berlawanan itu, malah berhenti di hadapan Ciok Giok Yin.

Mereka berdua saling memandang, kemudian sama-sama mengeluarkan suara 'Ih'.

Ternyata orang itu adalah Lu Jin (Orang Jalanan) yang memakai kain penutup muka.

Lu Jin tertawa.

"Saudara Kecil, kuucapkan selamat padamu."

Katanya. Ciok Giok Yin tertegun.

"Mengapa Anda mengucapkan selamat padaku? Memangnya ada apa?"

"Kau telah memperoleh benda pusaka yang dari Goa Cian Hud Tong. Bukankah aku harus mengucapkan selamat padamu?"

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang sambil menggelenggelengkan kepala.

"Tidak usah dibicarakan."

"Apakah Saudara Kecil khawatir aku akan merebutnya?"

"Aku tidak bermaksud demikian."

"Lalu kenapa?"

Ciok Giok Yin menceritakan tentang Pil Api Ribuan Tahun dan lain sebagainya, namun tidak memberitahukan tentang secarik kertas lain.

Ternyata dia juga memperoleh secarik kertas yang didalamnya tertera ilmu silat.

Dia khawatir Lu Jin akan merebut kertas tersebut.

Lu Jin tampak terkejut.

"Kalau begitu, tubuh Saudara Kecil berbeda dengan orang biasa."

"Ya."

"Saudara Kecil, bagaimana kelak kau menikah?"

Tanya Lu Jin setelah berpikir sejenak. Wajah Ciok Giok Yin memerah.

"Apa boleh buat. Aku terpaksa tidak menikah,"

Sahutnya perlahan. Lu Jin tertawa gelak.

"Itu tidak mungkin, tentunya ada jalan keluarnya."

"Aku mengerti ilmu pengorbanan, justru telah berpikir tentang itu, namun tiada jalan keluarnya sama sekali."

"Menurutku, pasti ada jalan keluarnya."

"Memang ada, tapi sulit dilaksanan."

"Apa?"

Sesungguhnya Ciok Giok Yin merasa enggan memberitahukan, namun akhirnya memberitahukan juga dengan wajah kemerah-merahan.

"Wanita harus memahami Im Yang Ceng Koy."

"Im Yang Ceng Koy?"

"Ya."

Lu Jin diam.

"Saudara kecil, tentang itu aku akan carikan untukmu,"

Katanya setelah berpikir sejenak.

"Kau bisa mendapatkannya?"

"Aku yakin bisa."

"Tapi, aku...."

"Tidak usah tapi, kita berjumpa sudah seperti kawan lama. Antara orang dengan orang, selain saling memperalat, sudah pasti saling membantu dan saling menolong. Lagi pula aku ingin membantumu dengan setulus hati."

Ciok Giok Yin segera memberi hormat seraya berkata.

"Terima kasih, Saudara."

Kemudian menatapnya.

"Kau mengatakan kita kawan lama. Apakah masih tidak memperbolehkan aku melihat wajahmu?"

Lanjutnya. Lu Jin tampak tertegun. Beberapa saat kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

"Orang berkawan berdasarkan hati, bukan berdasarkan wajah 'kan? Masa kini kebanyakan orang berwajah palsu, maka lebih baik aku memakai kain penutup muka, agar orang tidak tahu aku jahat atau baik."

Sepasang mata Lu Jin menyorot tajam.

"Saudara kecil, kini aku memang punya kesulitan, kelak kalau ada kesempatan kau pasti bisa melihat wajahku, aku minta maaf untuk sekarang."

Tambahnya. Ciok Giok Yin tidak mengerti akan maksud ucapannya.

"Saudara jangan berkata begitu."

Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara-suara bentakan berkumandang menembus angkasa. Lu Jin mengerutkan kening.

"Saudara kecil, mari kita ke sana melihat-lihat."

Ciok Giok Yin mengangguk, lalu mereka berdua melesat ke sana.

Dalam sekejap mereka berdua sudah tiba di tempat itu, kemudian bersembunyi di balik sebuah pohon sambil mengintip.

Tampak pula lima orang, namun Lu Jin dan Ciok Giok Yin tidak kenal kelima orang itu.

Delapan orang itu sedang menatap sebuah bungkusan yang tergeletak di tanah.

Bentuk bungkusan itu mirip sebuah kitab.

Mendadak salah seorang tua dari perkumpulan Sang Yen Hwee, tertawa terkekeh seraya berkata kepada kelima orang itu.

"Barang ada di situ, kalau kalian punya kepandaian boleh ambil."

Salah seorang berbadan kurus tinggi maju dua langkah sambil menatap bungkusan itu lalu membentak.

"Benda pusaka rimba persilatan! Orang berhati luhur boleh memilikinya!"

Orang kurus tinggi itu membungkukkan badannya.

Namun ketika baru mau mengambil bungkusan tersebut, sekonyongkonyong orang tua perkumpulan Sang Yen Hwee tadi langsung melancarkan pukulan ke arahnya.

Orang itu berkelit ke samping, dan gagal mengambil bungkusan tersebut.

Ciok Giok Yin memandang Lu Jin, sedangkan Lu Jin sedang menatap bungkusan itu dengan penuh perhatian, sepertinya tahu apa isinya.

Di saat bersamaan, orang kurus tinggi yang gagal mengambil bungkusan tadi membentak.

"Kitab Cu Cian ini bukan milik perkumpulan Sang Yen Hwee! Siapa yang melihat pasti punya bagian!"

"Kalau kau masih merasa penasaran, silakan ambil!"

Sahut orang tua dari perkumpulan Sang Yen Hwee itu dengan dingin.

Tiba-tiba seorang berusia pertengahan ingin memungut bungkusan itu, namun salah seorang tua dari perkumpulan Sang Yen Hwee langsung melancarkan pukulan ke arahnya.

Orang berusia pertengahan itu tidak berkelit, melainkan melancarkan pukulan pula.

Blam...!

"Aduuuuh!"

Orang berusia pertengahan itu terhuyung-huyung ke belakang lima langkah.

Badannya sempoyongan dan mulutnya menyembur darah segar, kemudian roboh.

Bukan main gusarnya keempat temannya.

Mereka menatap orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee dengan penuh dendam.

Akan tetapi, tiada seorang pun berani mencoba lagi mengambil bungkusan tersebut.

Ciok Giok Yin yang bersembunyi di balik pohon, kini sudah tahu apa isi bungkusan itu, ternyata Cu Cian yang diimpi-impikannya selama ini.

Justru tidak disangka Cu Cian tersebut berada di situ.

Oleh karena itu, mendadak dia bersiul panjang, kemudian melesat ke tempat itu, sekaligus menyambar bungkusan itu, dan berhasil.

Ciok Giok Yin masih ingat akan pesan suhunya.

'Kau harus memperoleh Seruling Perak dan Cu Cian, belajar ilmu kungfu yang paling tinggi di kolong langit...!

Kini dia telah memperoleh Cu Cian itu.

Sementara delapan orang termasuk yang terluka itu, terbelalak akan kemunculan Ciok Giok Yin namun kemudian mereka tampak gusar sekali.

Mereka melotot dan siap menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Akan tetapi, mendadak terdengar suara bentakan nyaring.

"Berhenti!"

Semua orang menoleh, tampak sosok bayangan hijau berkelebat ke tempat itu, bukan masin cepatnya! Ternyata seorang gadis berbaju hijau.

"Cepat mundur sepuluh depa, Sang Dewi mau datang!"

Ketujuh orang itu langsung mundur sejauh sepuluh depa, dan wajah mereka tampak agak pucat.

Namun Ciok Giok Yin masih tetap berdiri di tempatnya, suara bentakan gadis baju hijau itu dianggapnya sebagai angin lalu.

Ternyata dia ingin melihat, sebetulnya siapa yang dipanggil sang dewi, yang kewibawaannya dapat memundurkan ketiga orang tua dari perkumpulan Sang Yen Hwee.

Sementara sepasang mata gadis berbaju hijau itu sudah melotot, karena melihat Ciok Giok Yin tidak bergeming sama sekali.

"Kau tuli ya?"

Bentaknya. Ciok Giok Yin membalikkan badannya perlahan-lahan, lalu menyahut dengan dingin sekali.

"Kau yang tuli."

Usai menyahut dingin, Ciok Giok Yin juga melotot.

Bukan main gusarnya gadis berbaju hijau itu!

Dia tidak menyangka ada orang begitu berani, mendengar nama Sang Dewi, justru tidak merasa takut sama sekali.

Gadis berbaju hijau itu mau menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Namun begitu melihat Ciok Giok Yin yang amat tampan itu, sepasang matanya terbeliak dan hatinya juga berdebar-debar.

Dia berkata dalam hati, 'Sungguh tampan pemuda ini!' Karena itu, kegusarannya tidak dapat dilampiaskan, dan kemudian dia berkata dengan lembut.

"Sang Dewi akan segera tiba, cepat taruhlah kitab Cu Cian itu, lalu mundur sepuluh depa!"

"Mengapa aku harus mundur?"

Sahut Ciok Giok Yin angkuh.

"Kau tidak takut mati?"

Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hm! Aku belum pernah merasakannya!"

Gadis berbaju hijau berusaha menekan kegusarannya.

"Mengapa kau begitu keras kepala?"

"Sifatku memang demikian."

Air muka gadis berbaju hijau itu langsung berubah.

Di saat bersamaan tampak sebuah tandu yang amat indah, digotong dua wanita meluncur ke tempat itu.

Gadis baju hijau itu segera memberi hormat ke arah tandu.

"Selamat datang, suhu!"

"Kau sudah mengusir mereka semua?"

Terdengar pertanyaan yang amat halus dari dalam tandu. Gadis baju berhijau itu segera membalikkan badannya, kemudian berkata lantang.

"Perintah dari sang Dewi, kalian semua harus meninggalkan tempat ini!"

Ketika orang tua dari perkumpulan Sang Yen Hwee, menyahut dengan suara parau.

"Kami mengalah pada sang Dewi!"

Usai menyahut, mereka bertiga segera melesat pergi.

Sedangkan yang lain, menatap Ciok Giok Yin dengan penuh dendam, lalu bersama orang yang terluka tadi mereka berjalan pergi.

Ketika melihat mereka sudah pergi, Ciok Giok Yin juga tidak mau lama-lama di situ.

Ketika dia mau beranjak pergi, tiba-tiba terdengar suara dari dalam tandu.

"Adik kecil, kau jangan pergi dulu!"

"Ada apa?"

Sahut Ciok Giok Yin dengan gusar.

Saat ini Lu Jin yang masih bersembunyi di balik pohon, diamdiam mengucurkan keringat dingin untuk Ciok Giok Yin.

Sebetulnya dia tidak menghendaki Ciok Giok Yin memunculkan diri, namun saat itu telah terlambat.

Terdengar lagi suara yang amat halus dari dalam tandu.

"Siapa namamu?"

"Ciok Giok Yin!"

"Siapa suhumu?"

"Tidak dapat kuberitahukan!"

Terdengar suara tawa di dalam tandu, lalu berkata.

"Kau boleh bersikap dingin dan angkuh, namun di dunia persilatan, tiada seorang pun berani bersikap demikian kurang ajar terhadapku."

"Siapa kau?"

Bentak Ciok Giok Yin.

"Thian Thay Siang Ceng (Sang Dewi Dari Thian Thay)."

"Thian Thay Siang Ceng?"

Sementara gadis berbaju hijau sudah mengucurkan keringat dingin.

Kelihatannya gadis itu amat memperhatikan Ciok Giok Yin.

Diam-diam dia memberi isyarat kepada Ciok Giok Yin agar bicara lebih sopan, tapi Ciok Giok Yin justru tidak memperdulikannya.

Tiba-tiba nada suara Thian Thay Sian Ceng berubah menjadi dingin.

"Tidak salah! Kau pernah mendengarnya?"

Ciok Giok Yin tertawa dingin.

"Sayang sekali!"

"Apa yang disayangkan?"

"Aku sama sekali tidak pernah mendengar gelar besarmu itu!"

"Hari ini aku akan suruh kau ingat!"

"Aku pasti ingat! Maaf, aku mohon pamit!"

Terdengar suara tawa nyaring di dalam tandu, lalu membentak.

"Ciok Giok Yin, kau masih ingin pergi?"

"Apakah kau ingin menahanku?"

Usia bertanya dan ketika baru mau melesat pergi, tiba-tiba terasa serangkum tenaga yang amat lunak menerjang ke arahnya dari dalam tandu indah itu.

Tenaga lunak itu membut Ciok Giok Yin tidak dapat melesat pergi.

"Kau tidak bisa pergi!"

Terdengar lagi suara bentakan dari dalam tandu. Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin! Dia tidak tahu mengapa Thian Thay Sian Ceng berlaku seperti itu padanya.

"Kalau kau punya kepandaian harap keluar!"

Bentaknya. Ciok Giok Yin sudah siap menggunakan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang untuk menghadapi Thian Thay Sian Ceng. Namun Thian Thay Sian Ceng justru tertawa nyaring lalu berkata.

"Dalam dunia persilatan masa ini, tiada seorang pun sebelum mati dapat melihat wajahku. Maka sebelum kau mati, juga akan seperti mereka!"

"Aku punya permusuhan apa denganmu?"

"Tentu ada!"

"Permusuhan apa?"

"Kau tidak usah tahu, yang jelas kau harus bersiap-siap untuk menghadapi maut!"

Seketika terasa ada serangkum angin yang amat dahsyat menerjang dari dalam tandu. Di saat bersamaan telinga Ciok Giok Yin mendengar suara yang amat lirih.

"Cepat tiarap, hentikan pernafasan pura-pura mati!"

Hati Ciok Giok Yin tersentak.

Dia melihat bibir gadis berbaju hijau itu bergerak-gerak.

Jelas dia yang berkata lirih.

Dia pasti punya alasan tertentu.

Mengapa tidak mencoba menuruti petunjuknya?

Ciok Giok Yin lalu pura-pura menjerit dan merobohkan diri.

Kelihatannya dia persis seperti terserang oleh angin pukulan itu.

"Anak Yun, ambil bungkusan yang di tangannya!"

Kata Thian Thay Sian Seng.

Gadis berbaju hijau menurut, lalu mengambil bungkusan itu, dan langsung dilempar ke dalam tandu.

Berselang sesaat bungkusan itu terlemparkan ke luar dari dalam tandu, dan terdengar pula suara Thian Thay Sian Ceng.

"Barang palsu, mari kita pergi!"

Tampak tandu indah itu meluncur meninggalkan tampat itu.

Sedangkan gadis baju hijau masih sempat menoleh ke belakang memandang Ciok Giok Yin yang tergeletak di tanah.

Apa yang dikatakan Thian Thay Sian Ceng tadi, Ciok Giok Yin mendengar dengan jelas, bahwa Cu Cian itu palsu, sehingga membuatnya termangu-mangu.

Tiba-tiba tampak sosok bayangan melesat ke luar dari balik pohon, yaitu Lu Jin.

Sedangkan Ciok Giok Yin juga bangkit berdiri.

"Adik Kecil, kau tidak apa-apa?"

Tanya Lu Jin sambil menatapnya.

"Tidak apa-apa."

Lu Jin tampak tertegun.

"Sungguh merupakan hal aneh!"

Gumamnya.

"Saudara, sebetulnya siapa Thian Thay Sian Ceng itu?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Thian Thay Sian Ceng di dunia persilatan, boleh dikatakan merupakan seekor naga sakti yang tampak kepala tidak tampak ekornya. Memang tidak salah apa yang dikatakannya tadi, tiada seorang pun di dunia persilatan, sebelum mati dapat melihat wajahnya,"

Sahut Lu Jin.

"Adik Kecil punya perselisihan apa dengannya?"

Ciok Giok Yin menggelengkan kepala.

"Aku sama sekali tidak pernah mendengar julukannya itu, dari mana munculnya perselisihan kami?"

"Kalau begitu, mengapa tidak turun tangan terhadapmu?"

"Entahlah."

"Setahuku, tidak ada sama sekali orang bisa lolos dari tangan Thian Thay Sian Ceng. Bagaimana Adik Kecil tidak terjadi suatu apapun?"

Ciok Giok Yin segera menutur tentang apa yang dikatakan gadis berbaju hijau tadi. Lu Jin manggut-manggut.

"Oooo! Pantas kalau begitu!"

Ciok Giok Yin membungkukkan badannya memungut bungkusan itu, lalu dibukanya.

Ternyata bungkusan itu berisi sebuah kitab biasa, tidak terdapat tulisan apa pun.

Saking gusarnya dia langsung membuang kitab tersebut.

Mendadak Ciok Giok Yin teringat sesuatu.

"Ohya! Aku ingin bertanya tentang seseorang."

Katanya kepada Lu Jin.

"Siapa?"

"Tiat Yu Kie Su (Satria Baju Besi)."

"Tiat Yu Kie Su?"

"Ng!"

"Dia seorang pendekar yang tiada tempat tinggal tetap. Sudah beberapa tahun dia tidak pernah muncul di dunia persilatan, mungkin sudah meninggal! Mengapa Adik Kecil menanyakannya?"

Wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi dingin dan penuh diliputi bahwa membunuh.

"Membalas dendam."

"Membalas dendam?"

"Ng!"

"Usia Adik Kecil masih muda, bagaimana mungkin punya dendam dengannya?"

Ciok Giok Yin berkertak gigi.

"Suhuku Sang Thian Thay Sian Ceng dikeroyok Kang Ouw Pat Kiat, menyebabkannya hidup tidak mati pun tidak, amat menderita di lembah...."

Ciok Giok Yin menutur tentang apa yang dialami Sang Ting It Koay, setelah itu melanjutkan.

"Karena itu, aku harus membunuh orang itu."

Lu Jin berkata.

"Sudah beberapa tahun aku tidak melihat orang tersebut, aku kira dia telah meninggal."

"Kalau begitu, aku harus mencari kuburannya."

Kata Ciok Giok Yin dengan dingin.

"Adik Kecil, orang mati habis hutang. Kini suhumu sudah berada di alam baka, tentunya dapat memanfaatkan mereka. Lagi pula...."

Ciok Giok Yin menatapnya dingin sekali.

"Masih ada perkataan apa, katakan saja!"

Sepasang mata Lu Jin berputar sejenak.

"Aku lebih tua darimu, juga pernah berkecimpung di dunia persilatan. Tentunya aku pernah mendengar tentang Kang Ouw Pat Kiat. Ternyata mereka digosok oleh orang yang tak bertanggung jawab. Namun sudah terlambat, karena nasi telah menjadi bubur.

"Tidak begitu sederhana."

"Adik Kecil, kau dengar dulu! Setelah Kang Ouw Pat Kiat tahu mereka digosok oleh orang itu, merekapun segera pergi mencarinya, namun orang itu sudah hilang entah ke mana."

"Siapa orang itu?"

"Chiu Tiong Thau."

"Chiu Tiong Thau?"

"Ng!"

"Bagaimana kepandaian orang itu?"

"Amat tinggi sekali, boleh dikatakan sudah mencapai pada tingkat kesempurnaan."

"Bagaimana kelakuannya terhadap orang?"

Tanya Ciok Giok Yin serius.

"Orang itu banyak akal busuk, kejam dan berhati licik,"

Sahut Lu Jin.

Ciok Giok Yin tidak berani mengungkap tentang hubungannya dengan Chiu Tiong Thau.

Namun diam-diam sudah mengambil suatu keputusan, setelah berhasil menguasai ilmu silat tinggi, dia akan membasmi orang tersebut demi membersihkan nama baik perguruannya.

Setelah mengambil keputusan tersebut, Ciok Giok Yin lalu memberi hormat pada Lu Jin seraya berkata.

"Saudara, banyak-banyak terimakasih atas bantuanmu. Sampai jumpa!"

Ciok Giok Yin membalikkan badannya, langsung melesat perti.

Dia terus berpikir, apakah perkataan Lu Jin dapat dipercaya?

Mengapa dia berusaha membersihkan nama Kang Ouw Pat Kiat?

Apakah Lu Jin adalah teman baik Kang Ouw Pat Kiat?

Ini memang mungkin, sebab Lu Jin pernah berkecimpung di dunia persilatan, tentunya pernah berhubungan dengan orang-orang tersebut.

Akan tetapi tidak semestinya mendengarkan perkataannya.

Seandainya Kang Ouw Pat Kiat terhasut orang, mengapa kemudian Sang Ting It Koay tidak mengetahuinya?

Pokoknya harus membunuh Kang Ouw Pat Kiat itu, agar Sang Ting It Koay dapat tenang di alam baka!

Karena berpikir demikian, maka Ciok Giok Yin langsung berangkat ke Uah Hou Po.

Dia memutuskan malam itu harus tiba di tempat tersebut.

Karena itu, dia terus melesat tanpa berhenti sama sekali.

Berselang beberapa saat, hari sudah malam.

Samarsamar dia melihat sebuah bukit, yang bentuknya amat aneh, persis seperti seekor harimau sedang mendekam.

Tidak salah lagi, Uah Hou Po pasti berada di bukit itu Ciok Giok Yin mempercepat langkahnya, tak lama dia sudah sampai di depan sebuah gapura.

Pada gapura itu terdapat beberapa huruf, yaitu 'Uah Hou Po' Namun sungguh mengherankan, sebab saat ini sudah malam, tapi pintu gapura itu masih terbuka.

Suasana di dalam amat sunyi dan cukup menyeramkan.

Akan tetapi hati Ciok Giok Yin sedang diliputi dendam, maka tidak merasa seram maupun takut, langsung melangkah ke dalam.

Dia harus mencari Hui Pian-Ma Khie Ou membuat perhitungan.

Namun sampai di dalam, keadaan tetap sunyi, tidak tampak apapun dan tidak terdengar suara apa-apa.

Gelap gulita, suasana di tempat itu seperti di kuburan, menyeramkan dan amat mencekam.

Itu membuat Ciok Giok Yin bercuriga, bagaimana halaman yang begitu luas, tidak tampak seorang pun menjaga di situ?

Bukankah aneh sekali?

Dia sengaja memberatkan langkahnya, sehingga menimbulkan suara 'Sert!

Sert!

Sert!' Itu agar ada orang muncul.

Kalau ada orang muncul pasti tidak sulit untuk mencari Hui Pian-Ma Khie Ou.

Akan tetapi jangankan suara orang, suara hewan pun tidak kedengaran.

Baca Juga: Lembah Patah Hati Lembah Beracun 4

Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert