Eps 4 Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung
Baca online Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung
Cersil Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung.
"Bangsat kecil!! Kau tidak lekas2 menyerah? Nanti Tio Go-ya mu suruh kau...."
Siapa tahu, perkataan kau baru saja keluar dari mulutnya, Ho Kie sudah lenyap dari pandangannya.
Tio Go terperanjat.
Pada saat itu suatu kekuatan yang maha dahsyat telah menerjang dari belakang dirinya.
Tio Go yang masih belum mengenal ilmu silat Hong eng sie sek, seketika itu terjadi kelabakan.
Cepat2 ia menyabet balik dengan talinya, Meskipun gerakannya itu dilakukan dengan cepat, tetapi tidak urung pundaknya telah terkena serangan Ho Kie dengan telak.
Ho Kie yang sudah merasa gemas sekali terhadap orang tua itu, telah melancarkan serangannya dengan kekuatan penuh, sehingga Tio Go ter-huyung2 dan mulutnya menyemburkan darah segar,.....
Bo Pin sangat kaget, ia lantas memburu pada Ho Kie, Sambil lintangkan goloknya, ia menegur dengan bengis ;
"Bangsat cilik, kau siapa begitu berani bikin onar dalam goa harimau ?"
Dengan mata merah, beringas Ho Kie menjawab sambil ketawa dingin ;
"Bo Pin, apa kau sudah tidak kenali Siao-yamu? Ha, ha ! Siaoyamu hendak menagih atas serangan tanganmu tempo hari diatas lembah Patah Hati!"
"Kau....apa kau..."
Bo Pin berseru tidak lampias.
"Rasakan dulu seranganku. Nanti kau mengetahui siapa adanya Siaoyamu ini"
Kata Ho Kie yang segera menggunakan ilmu "Tey lek kim kong cian"nya menggempur dadanya Bo Pin.
Bo Pin sudah lama melupakan peristiwa diatas lembah Patah Hati, maka ketika itu ia tidak dapat menduga siapa adanya pemuda dihadapannya ini Tapi melihat pemuda itu dengan hanya sekali pukul saja sudah dapat merubuhkan Tio Go sampai terluka parah, segera ia mengerti bahwa bocah dihadapannya ini bukannya bocah sembarangan.
Maka ia tidak berani memandang ringan lawannya, setelah mengelakkan serangannya Ho Kie.
dengan kecepatan bagaikan kilat yang nyambar mukanya sianak muda.
Bo Pin yang mempunyai gelar Pun lui khiu (tangan kilat), terang ia mahir dalam pertempuran kilat, Sekali ini ia menyambar pundak Ho Kie yang dibarengi dengan kekuatan Iweekang Liong jiauw kang, bukan main hebatnya.
Tetapi malam itu Ho Kie bukan lagi merupakan Ho Kie yang masih anak anak pada dua tahun berselang!
Ho Kie yang sudah bertekad bulat hendak menuntut balas, sedikitpun tidak mempunyai rasa jeri atas serangan Bo Pin.
Ketika diserang secara demikian, ia kelit secara gesit sekali dan kemudian menggunakan Ilmu Hu kut hian kangnya, sehingga sebentar saja ia sudah berada dibelakang Bo pin, Bukan main kagetnya Bo Pin.
Untung ia tidak memandang ringan pada musuh mudanya itu.
Melihat Ho Kie menghilang dari pandangan matanya.
dengan tidak menoleh lagi, goloknya lantas menyambar kebelakang dirinya sedangkan mulutnya bersamaan dengan itu lantas bar-kaok2 mendamprat orangnya ;
"Manusia goblok!! Mengapa tidak lekas bunyikan kentongan ?"
Beberapa orang yang masih hidup, saat itu pada berdiri melongo tidak berani berbuat apa2.
Ketika mendengar bentakan Bo Pin, mereka baru sadar, maka cepat2 mereka lari keluar kamar.
Ho Kie mengetahui, jika mereka berhasil membunyikan kentongan, tidak lama kemudian kamar itu tentu akan berada dalam kepungan dan saat itu lebih sulit lagi baginya untuk meloloskan diri.
Oleh karena itu, maka ia segera meninggalkan Bo Pin dan lompat ke-depan pintu sambil menyerang seorang yang sudah berada dipintu.
Tidak ampun lagi sikorban lantas binasa disitu juga.
Bo Pin yang menyaksikan kejadian itu, amarahnya memuncak segera ia menyerang Ho Kie dengan goloknya.
Dengan kekuatan Bo Pin pada kala itu, Sebetulnya Ho Kie belum merupakan tandingannya yang setimpal, tetapi Ho Kie sudah mata merah ( kesetanan ).
Dengan tangan kosong ia mencegat didepan pintu, tidak membiarkan seorangpun bisa keluar dari dalam kamar, Dua di antara orang2 yang masih hidup telah menggunakan kesempatan selagi Ho Kie sedang bertempur dengan Bo Pin, telah molos dari lubang angin.
Ho Kie yang harus melawan Bo Pin dengan sekuat tenaga, hanya dapat menyaksikan keluarnya kedua orang itu dengan hati gelisah dan mata mendelik.
Tepi heran, orang2 yang keluar dari lubang tadi, bukannya lekas membunyikan kentongan untuk meminta pertolongan, sebaliknya malah tidak ada kabar ceritanya.
Bo Pin jadi gelisah hatinya.
Mendadak pada saat itu kelihatan sesosok bayangan molos dari jendela, kemudian disusul pula oleh bayangan yang lain.
Kedua bayangan itu ternyata adalah kedua orang yang baru keluar tadi yang kini sudah balik kembali dalam keadaan sudah menjadi mayat.
Bukan saja Bo Pin, Ho Kie sendiri juga merasa heran karenanya.
"Bangsat cilik, kau datang dengan berapa kawan?, Mengapa kau tidak suruh mereka menempur aku sendiri?"
Kata Bo Pin dengan suara gusar.
Sudah tentu Ho Kie tidak bisa menjawab karena ia datang hanya seorang diri saja.
Siapakah gerangan orang dimuka itu?
Apakah mungkin dia ada nona Jie Peng?
sebab yang mengetahui Ho Kie menyerbu kekamar hukuman itu, kecuali Jie Peng, tidak ada orang keduanya lagi.
Tetapi kalau betul Jie Peng mengapa membantu dirinya dan membinasaksa orang2nya sendiri?.
Ho Kie juga sudah tidak ragu2 lagi akan pertolongan orang kedua, semangatnya lantas berkobar, serangannya diperhebat dan dapat mendesak mundur Bo Pin.
"Orang she Bo!!"
Bentaknya dengan suara dingin.
"Sekarang dalam kamar ini hanya tinggal aku dan kau berdua! Kalau aku membunuh kau, sudah tentu tidak ada orang lain yang mengetahuinya."
"Apa kau kira aku takuti kau? Hmm!! Mari kita adu kekuatan"
Bo Pin lemparkan goloknya "Kau tidak usah berteriak!
sekalipun tenggorokannya pecah, juga tidak ada yang bisa dengar.
Malam ini hanya kematian saja akan menjadi bagianmu.
Sebelum kau mati, biarlah kau ketahui dulu siapa adanya aku ini, Apakah kau masih ingat itu bocah kecil yang kau kejar2 pada dua tahun berselang ?"
Bo Pin terperanjat, ia sekarang lapat2 mulai ingat kembali, maka lantas lompat mundur sambil berseru.
"Aaii ! Kau adalah anaknya Ho In Bo."
"Benar! Kalau begitu ingatanmu masih terang. Masih ingatkah kau peristiwa berdarah itu?"
"Apa kau kira dengan kepandaianmu sekarang ini kau dapat menggunakannya untuk menuntut balas kepada Hian-kui-kiauw? Setan cilik. Kau sudah salah hitung !!"
"Belum tentu! Malam ini seolah2 ada kekuatan gaib yang membimbing aku, telah mempertemukan kita berdua didalam kamar ini. Orang she Bo, Perbuatanmu yang sudah membinasakan ayahku, malam ini harus kau ganti dengan jiwamu."
Bo Pin menoleh kepada Tio Go yang terluka dan kemudian mengawasi Toan-theng Lojin yang berada didalam kuali serta orangnya yang sudah pada rubuh binasa.
Memang bebar, malam itu seperti ia berada berdua hanya dengan pemuda itu.
Dengan tidak dirasa, hatinya mulai keder.
Ia yang mempunyai kekuatan masih diatasnya kekuatan Ho Kie, tetapi karena ia mengetahui bahwa dirinya pernah berbuat salah, mau tidak mau hatinya merasa gentar juga.
Tiba2 ia lantas membentak dengan suara keras, disusul dengan serangannya yang hebat.
Ho Kie ketawa dingin, dengan berani ia, menyambuti serangan lawannya itu.
Setelah kekuatan kedua orang itu beradu, kedua pihak terpental mundur masing2 dua tindak-.
Bo Pin menggeram hebat, dengan mata beringas ia menyerang lagi, Ho Kie pusatkan kekuatannya dikedua tangannya, untuk kedua kalinya ia hendak menyambuti serangannya Bo Pin.
Tetapi kali ini serangaannya Bo Pin ada lebih hebat, Ho Kie merasakan dadanya bergolak .....
Bo Pin sendiri juga pucat wajahnya, matanya mengawasi Ho Kie sambil kerutkan alisnya.
Terang ia sendiri, setelah mengadu kekuatan, telah terluka parah didalamnya.
Kedua pihak hanya saling pandang sambil mengatur pernapasan masing2, siapapun tidak berani bergerak, sehingga keadaan menjadi lebihsunyi.
Mendadak Ho Kie mendengar suara elahan napas panjang, kemudian ada suara yang memanggil padanya.
"Anak, apakah kau......?"
Ho Kie terperanjat, sampai kekuatannya yang sudah akan pulih kembali hampir buyar semuanya. Ia lihat mata Toan theng lojin sedang mengawasi padanya. Dengan badan bergemetaran Ho Kie berkata perlahan .
"Locianpwe, memanglah aku.....Dengan susah payah aku mencari dirimu...."
Tian theng Lojin kembali menghela napas panjang.
"Kau.....Kau!! Mengapa tidak mau dengar perkataanku? Dan mencari aku kemari?"
Ho Kie merasa sangat pilu, air mata mengalir keluar, tetapi ia masih bisa menjawab dengan suara mantap.
"Aku hendak menolong kau keluar dari sini. Locianpwe, aku hendak membunuh semua orang2 yang menyiksa dirimu "
"Anak bodoh, dengan kepandaianmu yang dimiliki sekarang, apa kau kira bisa menolong aku? Kau tidak mau dengar pesanku, dengan sembrono berani menerjang kemari. Itu berarti antarkan jiwa dengan cuma2."
"Sekalipun harus binasa, aku juga akan binasa dengan kau bersama2."
Pada saat itu mendadak Bo Pin membuka matanya dengan per-lahan2, kemudian dengan meringis berkata .
"Kecuali binasa bersama2m memang kalian tidak mempunyai jalan keduanya..."
"Tutap mulut!"
Ho Kie membentak, segera melancarkan serangannya.
Bo Pin menyambuti dengan kertak gigi, setelah terdengar suara benturan dari beradunya kedua kekuatan, keduanya terpental mundur untuk kedua kalinya dan jatuh duduk bersama2 ditanah.
Bo Pin kemudian jatuh pingsan karena benturan kekuatan yang hebat tadi.
Ho Kie merasakan dadanya bergolak hebat, tetapi ia masih tidak mau melupakan Toan-theng Lojin, Ia tidak perdulikan lukanya sendiri, sambil memandang dengan matanya yang layu ia berkata kepada Toan theng Lojin.
"Locianpwe, aku,.....aku barangkali....... benar2 tidak mampu.... menolong dirimu.... keluar dari sini...."
"Aih ! ya sudahlah, kau anggap saja aku tidak pernah menolong kau. Dua tahun berselang kau sudah binasa dilembah Patah Hati...."
Toan theng Lojin mengeluh.
Ho Kie yang mendadak dengar perkataan itu, hatinya tergetar dan ia melompat berdiri sempoyongan, matanya berkunang-kunang.
Tetapi ia paksakan berdiri.
Dengan suara nyaring ia berkata .
"Tidak! Kita tidak boleh mati disini......Aku pasti dapat menolong kau keluar, dari sini .....Locianpwee, apa kau masih bisa bergerak ?"
Toab-theng Lojin gelengkan kepalanya dan menjawab .
"Kau lenyapkan saja pikiranmu itu, badanku sudah kena racun Thian tok Cin mo. Kedua pahaku sudah bercacat, jalan darahku sudah ditotok, kepandaianku sudah musnah semua. Sekarang kembali disiksa oleh Tio Go dengan Pektok Kong-sim, Aku rasa, ajalku sudah hampir tiba. Sekalipun kau bisa menolong aku keluar dari sini percuma saja jiwaku tidak bisa tertolong."
Ho Kie tidak mau pencaya, dengan berjalan sempoyongan ia mau menubruk Toan-theng Lojin, Tak disangka, tiba2 ia dengar Toan theng Lojin membentak .
"Diam !"
Ho Kie terkejut, terpaksa urungkan maksudnya.
"Locianpwe,"
Ia meratap,"
Harap supaya kau suka turut aku sekali ini saja,"
Toan theng Lojin dongakkan kepala lalu berkata dengan suara sungguh2.
"Lekas berlutut !"
Ho Kie tidak mengerti apa maksudnya, tetapi ia menurut saja.
Hatinya berdebaran, entah kenapa orang tua itu demikian gusar.
Pada saat itu.
Tio Go yang rebah dilain sudut perlahan lahan membuka matanya.
Toan theng Lojin berkata pada Ho Kie dengan suara perlahan.
"Kau dengar aku meskipun mempunyai hubungan seperti murid dengan guru, tetapi namanya masih belum menjadi muridku benar-benar. Sekarang, kalau aku binasa masih ada dua soal yang masih belum kuselesaikan. Inilah yang membikin aku mati tidak meram. Anak, asal kau bisa keluar dari Kui-kok. dengan selamat, apakah dua soal ini mau kau selesaikan ?"
"Locianpwe, kalau kau tidak mau ikut dengan aku pergi bersama sama, aku juga tidak mau pergi dari sini.........."
Toan theng Lojin segera memotong .
"Ngaco ! Aku memberikan pelajaran ilmu silat padamu, apakah pesan teakhirku ini juga tidak mau kau dengar ?"
"Aku suka turut pesan Locianpwe......"
Jawab Ho Kie, gemetar suaranya , Toan theng Lojin tersenyum, dan anggukkan kepala.
"Kau dengar baik2 dua soal penting yang kukatakan tadi,"
Katanya.
Ho Kie berlutut ditanah untuk mendengarkan pesannya si orang tua, pada saat itu Tio Go yang sudah sembuh dari luka2nya ia sudah menggeser tubuhnya dengan perlahan dan hendak berdiri.
Toan-theng Lojin agak berpikir sejenak, lalu berkata .
"Pertama, setelah aku binasa kau harus meloloskan diri. Sebelum kepandaianmu sempurna betul, aku larang kau menyatroni lembah Kui kok ini-Selama kau mempertinggi ilmu mu itu, kau harus pergi ke Lam hay pho tho mencari seorang Nikow tua yang bergelar hian sim. Beritahukan padanya tentang kematianku ini......"
Ho Kie terperanjat, ia bertanya sambil mengalirkan air mata ;
"Hanya untuk memberi kabar sajA, apakah tidak ada soal lainnya?"
Toan theng Lojin geleng2kan kepalanya, air mata mengalir turun, ia berkata pula dengan suara parau .
"Kau katakan saja bahwa sebelum aku meninggal dunia, aku telah hidup menyendiri beberapa puluh tahun lamanya dan merasa sangat menyesal terhadap semua kesalahan dimasa lampau yang sudah tinggal sudah, harap saja di lain penitisan kita membalas untuk menebus dosaku !"
"Dan soal yang kedua?"
Ho Kie bertanya. Toan theng Lojin menghela napas panjang, matanya tiba2 memancarkan sinar aneh.
"Kalau kau tiba di Pho tho"
Jawabnya "Dia pasti akan perlakukan kau dengan sikap yang dingin, tetapi kau harus bersabar. Kalau dia menanyakan kau pernah apa dengan aku, kau......."
Baru saja berkata sampai disitu.
mendadak sepasang matanya jadi beringas, kedua tangannya menekan pinggiran kuali, badannya melesat tinggi dan menubruk belakang Ho Kie.
Ho Kie terperanjat, ia tidak mengetahui apa sebabnya, maka ia merasa serba salah Dalam keadaan demikian tiba2 terdengar suara jeritan ngeri.
Tatkala Ho Kie menoleh dilihatnya Toan-theng Lojin sudah jatuh ditanah, tangannya menggenggam erat seutas tali emas, mulutnya tersungging senyuman puas, suara jeritan itu datangnya dari luar kamar dan lama tidak berhenti.
Tatkala Ho Kie mengawasi keadaan disekitar kamar itu.
ternyata sudah tidak kelihatan bayangan Tio Go, ia lalu mengerti apa yang telah terjadi, maka cepat2 menubruk dan memeluk dirinya Toan-theng Lojin seraya berkata ;
"Locianpwee, Locianpwee."
Napasnya Toan-theng Lojin memburu, tetapi masih bisa tersenyum bangga. Dengan susah payah ia berkata .
"Tidak sangka, selagi mendekati ajalku, aku masih bisa memberi hajaran kepada Tio Go yang ganas itu...,!"
"Locianpwe, aku benar-benar seorang yang tidak berguna,"
Kata Ho Kie dengan suara terharu, Toan-theng Lojin mendadak berkata dengan suara keren .
"Panggil aku suhu! Dengar tidak ?"
Ho Kie tercengang, tetapi lantas saja merasa girang.
"Suhu!! Suhu, kau...."
Serunya. Toan theng Lojin anggukkan kepalanya dengan puas.
"Kalau dia tanya kau ada mempunyai hubungan apa dengan aku. katakan saja bahwa kau adalah murid satu2nya dari aku."
Orang tua itu berkata puas.
"Suhu, suhu boleh legakan hati. Muridmu sudah mengerti,"
Sinar matanya Toan theng Lojin makin lama makin guram, ia menyuruh Ho Kie mendekatkan telinganya, kemudian berkata dengan suara terputus putus ;
"Suhumu masih ada hal lain yang hendak dikatakan padamu. Kau harus ingat, kau ...... harus ingat .... baik2!"
Ia terhenti sebentar untuk bernapas, sebentar kemudian baru ia berkata pula ;
"Mereka siang hari malam mendesak aku mengeluarkan Kian kui-pit kip
Jilid ketiga, tetapi semua kepandaian yang terdapat dalam kitab itu sudah kuberikan padamu. Kitab itu sudah lama kubakar, coba pikirkan, bukankah mereka itu bodoh sekali?"
Ho Kie tidak tahu bagaimana harus menjawab, maka hanya anggukkan kepala saja.
"Aku membakar se
Jilid kitab yang mati, tetapi mendapatkan kitab yang hidup berupa dirimu. Sekalipun aku binasa, akupun akan merasa puas......"
Toan theng Lojin tersenyum. Ho Kie sangat pilu hatinya.
"Suhu, aku gendong kau keluar dari sini."
Demikian ia bersuara sekali lagi memohon.
Sebelum sang suhu menjawab, dari jauh mendadak terdengar suara terompet dan kentongan yang kemudian disusul oleh suara ramainya orang2 berjalan kaki semakin mendekati.
Toan-theng lojin berubah wajahnya, lantas berkata sambil ulapkan tangannya .
"Jejakmu sudah diketahui. Lekaslah pergi ! Nanti tidak keburu lagi."
Ho Kie tidak mau meninggalkan suhunya begitu saja, ia coba pondong dirinya orang tua yang bernasib malang itu.
Tapi, karena lukanya sendiri sangat parah, ia tidak bisa berdiri dengan tegak, sudah tentu tidak dapat memondong dirinya Toan-theng Lojin.
Maka baru saja hendak berjalan, ia sudah rubuh lagi Toan theng Lojin tersenyum puas, lantas bisik2 ditelinganya .
"Giok Sie seng Jie Peng dari Hian kui-kauw, meskipun berada dalam lumpur tapi tidak kena kotoran, orang demikian jarang didapatkan. Maka kau harus baik2 perlakukan padanya!"
Setelah itu, mendadak angkat tangan kanannya, menepok diatas jalan darah Khun-sim hiat Ho Kie sambil berseru "Pergilah!!"
Ho Kie terkejut, tiba2 badannya gemetar, tapi segera perasaannya tenang kembali, luka2 dalam badannya seketika lantas lenyap sebadan!
Dengan cepat ia lompat bangun dan hendak pondong dirinya Toan theng Lojin lagi, Tapi orang tua itu ternyata sudah tidak bernyawa, Dengan memondong tubuhnya Toan theng Lojin yang sudah dingin, Ho Kie berdiri kesima........
Diluar kamar suara orang yang datang hendak menangkap padanya.
tapi ia masih tetap berdiri seperti orang linglung.
Orang2 Hian kui kauw lantas menyerbu masuk.
mereka dipimpin oleh Hui tun Thian-cun Tie Kong Han .
Dibelakangnya ada 7-8 hiocu yang pada membawa golok dan pedang terhunus.
Tapi ketika melihat Ho Kie, tampaknya hanya pemuda biasa saja mereka terheran heran.
"Bangsat kecil!! Kau mau kabur?"
Bentaknya Cek Kong Han.
Ho Kie tidak ambil pusing, ia pondong Toan theng Lojin diikat dengan sobekan pakaiannya sendiri.
Cek Kong Han yang tidak digubris sama sekali oleh Ho Kie, lantas menjadi gusar, lalu perintahkan para hiocu lantas turun tangan.
Dua hiocu lantas maju menyerang dengan goloknya, mereka mengira Ho Kie bersedia menyerahkan diri maka bermaksud hendak di tangkap hidup2.
Siapa nyana saja bergerak, Ho Kie sudah melancarkan serangannya yang hebat!!
Meskipun dirinya masih terluka.
hingga kekuatannya agak berkurang, tapi sudah cukup untuk bikin lawannya sungsang sumbel.
Ketika menampak kedua kawannya dibikin rubuh, yang lainnya segera maju mengurung.
Ho Kie tidak berani berlaku ayal, ia sekarang mengerti keadaannya sendiri sangat berbahaya, maka ia berkelahi seperti kerbau gila.
Sekejap saja sudah melancarkan serangannya yang sangat hebat.
Dengan sisa tenaga yang masih ada.
Ho Kie melawan musuh2nya yang berjumlah lebih banyak.
Karena ia berkelahi secara nekad, sebentar saja sudah berhasil merubuhkan 3 atau 4 musuh.
Cek Kong Han lalu turun tangan sendiri.
Ho Kie tahu bahwa musuh ini bukan orang sembarangan, ia tidak berani bertindak dengan kekerasan, dan kini memikirkan caranya untuk meloloskan diri.
Dengan cepat ia menggunakan ilmunya Hoan in Sie sak, hingga sebentar saja sudah memutari sekitar kamar, 10 lebih obor lampu telah dibikin padam, hingga keadaan dalam kamar hukuman itu menjadi gelap gulita.
"Bangsat kau ingin kabur!"
Demikian bentak Cek Kong Han yang segera menyerang dengan senjatanya.
Secara gesit sekali Ho Kie mengelakan serangan tersebut, kemudian lompat melesat melalui lobang angin.
Cek Kong Han ketika mengetahui bahwa Ho Kie sudah lolos dari lobang angin, ia segera msngejar.
Ho Kie setelah berada diluar, ketika mendongak kelangit, keadaannya ternyata gelap gulita, tidak ada satu bintangpun juga.
Karena lukanya belum sembuh sama sekali, lagi pula harus menggendong diri Toan-theng Lojin, sudah tentu tidak bisa menyingkir jauh2.
Tapi tempat itu sekitarnya adalah merupakan sarang Hian kui kauw, kemana ia harus menyembunyikan diri?
Selagi masih bingung memikirkan untuk sembunyikan diri, Cekc Kong Han sudah menyusul dibelakangnya.
Terpaksa ia lari terus sambil kertak gigi !
Karena sudah tidak mengenali jurusan, Ho Kie lari sekena kenanya, sedang Cek Kong Han yang mengejar nampaknya makin lama makin dekat.
Ketika menampak didepannya ada sebuah rumah yang menghalangi, dengan tanpa ragu2 Ho Kie lantas lompat melesat keatas genteng !
Apa mau, baru saja menginjak genteng, dari samping tiba tiba muncul satu bayangan hitam, sebentar saja sudah berada di depan matanya........
-oo0dw0ooBAYANGAN hitam itu bergerak cepat sekali, sebentar saja sudah berada didepan matanya.
Ho Kie tidak mendapat kesempatan untuk menegaskan wajahnya orang itu, sambil kertak gigi ia hendak menyerang.
Tapi tiba-tiba bayangan itu berkata dengan suara perlahan.
"Ho Siaohiap, mari ikut aku!"
Ko Kie dengar suara orang itu seperti bukan suara Jie Peng, buru2 bertanya sambil urungkan menyerang ! "Kau siapa?"
Bayangan hitam itu menjelinap ketempat gelap.
"Sekarang jangan tanya dulu, mari ikut aku !"
Ia berkata sambil gapaikan tangannya.
Karena orang itu agaknya tidak mengandung maksud jahat, Ho Kie lantas mengangguk.
Dibelakangnya kembali terdengar suara bentakan Hui tun Thian cun yang kemudian loncat naik keatas genteng.
Bayangan hitam itu tidak berkata apa2, ia hanya ayun tangan kirinya sambil membentak dengan suara perlahan ;
"Mampus kau !"
Sinar merah lantas meluncur, menyerang Hui-tun Thiancin yang masih menginjak genteng.
Hui tun Thian cun ada membawa perisai yang berat, maka ia tidak takuti senjata rahasia tersebut.
Siapa nyana sinar merah itu bukan senjata rahasia biasa, begitu membentur perisai lantas meledak dan apinya berkobar hebat !
Hui tun Thian cun terperanjat, ia buru2 mundur, apa mau terpelanting jatuh kebawah!
Bayangan hitam itu kembali menggapai, dengan cepat lari kebelakang lembah !
Ho Kie terus mengikuti, tapi ketika menampak bayangan hitam itu lari menuju ketempat kediamannya Cian tok Jin mo-lantas berhenti sembari bertanya .
"Sahabat, kau sebenarnya siapa ?"
Bayangan hitam itu nampak sangat gelisah, selagi hendak menjawab, tiba2 terdengar suara orang ketawa aneh dan menyeramkan, Kemudian disusul dengan munculnya sesosok bayangan putih.
Ho Kie angkat kepala, ia lihat bayangan putih itu ternyata adalah seorang aneh tinggi kurus dengan pakaiannya serba putih sambil memegang ruyung orang mati.
Orang itu wajahnya sangat seram, kepalanya terikat sepotong kain putih seperti seorang sedang kematian orang tuanya, matanya mendelong, mirip dengan malaikat penunggu kelenteng......
Ho Kie mengawasi wajah orang itu seperti setan, hatinya agak ragu2, dengan tanpa terasa ia mundur setengah tindak.
"Kamu berdua benar2 bernyali besar. Kenal kah kamu aku siorang she Siang yang tidak berguna ini?"
Katanya orang aneh itu dengan suara dingin, Dari caranya orang itu mengunjukan diri, Ho Kie segera mengerti bahwa orang yang seperti setan itu mempunyai kepandaian tinggi.
Dan oleh karena ia sendiri belum sembuh benar dari lukanya, apa lagi sedang menggendong jenazah suhunya, kalau harus bertempur padanya, rasanya sulit dapat menyingkirkan diri.
Dalam keadaan demikian terpaksa ia cuma bisa kerahkan seluruh tenaganya dikedua tangannya, apa bila perlu ia akan gempur manusia seperti setan itu dengan secara nekad.
Tapi orang berbaju hitam yang membawa Ho Kie kemari itu lantas menghadang didepannya, dengan tenang ia berkata kepada si-orang she Siang.
"Sahabat, kau menyebutkan dirimu orang she Siang, apakah kau adalah Siang Seng-seorang kejam dan ganas yang bergelar Im San Tiauw khek itu ?"
"Tepat ! Kau tokh kenal baik tabiatku, kenapa bukan lekas menyerah ?"
Jawabnya orang aneh itu.
Tapi sibaju hitam tidak menjawab, sebaiknya lantas bergerak dengan cepat, tangannya menghajar jalan darah Ciang thay hiat di dada orang itu.
Setelah melakukan serangannya, lantas berkata kepada Ho Kie.
"Ho Siaohiap, harap segera menerjang ke luar, biarlah aku yang melayani orang ini...."
Siang Seng berkelit, dengan cepat lantas balas menyerang, kemudian berkata .
"Satupun jangan harap bisa lolos. Aku si orang she Siang selamanya tidak suka kasih lolos korbannya yang sudah berada ditangannya!!"
Tapi si baju hitam itu terus mendesak dalam waktu sekejapan saja mereka sudah bertempur sengit.
Ho Kie menampak sibaju hitam ternyata bisa menahan Siang Seng, untuk sementara barangkali tidak sampai kalah, maka ia segera kabur.
Siapa nyana baru saja bertindak, ia rasakan ada angin menyambar dengan hebat dan ia hampir saja terjungkal.
Saat itu dengan suaranya Siang Seng .
"Sahabat kecil, kau juga harus rasakan pentungan loyamu !"
Ho Kie terkejut, buru2 mengeluarkan ilmunya Hoan ing sie sek , dengan secara gesit sekali dapat menghindarkan serangannya orang she Siang itu.
Namun Ho Kie sudah keluarkan keringat dingin, ia sungguh tidak menduga kepandaian orang itu ada demikian tingginya, selagi masih bertempur dengan si baju hitam itu, ia masih bisa menggunakan kesempatan menyerang padanya.
Ho Kie meski berhasil menyingkirkan serangannya orang she Siang itu.
tapi nampak kepandaian orang she Siang itu masih diatasnya sibaju hitam hingga buat bisa kabur dengan selamat, rasanya tidak mudah.
Maka-diam2 ia mengeluh.
Siapa nyana dalam keadaan putus asa, mendadak terdengar suara bentakan nyaring.
kemudian disusul dengan suara jeritan.
Ternyata Siang Seng badannya sudah sempoyongan, sedang sibaju hitam itu nampak lengan kirinya sudah diturunkan, agaknya juga sudah terluka.
Namun ia masih bisa ulapkan tangan kanannya sambil berkata kepada Ho Kie .
"Ho Siaohiap, lekas pergi........"
"Sahabat apa kau terluka........?"
Tanya Ho Kie kaget, Tapi pada saat itu mendadak terdengar suara dan beberapa bayangan orang datang menyerbu kesitu. Si baju hitam lompat menghampiri Ho Kie dan berkata dengan suara perlahan.
"Dari sini jalan kebelakang lembah, dibawah sebuah loteng dilamping gunung itu, ada sebuah goa tersembunyi, kau lekas sembunyikan diri disana............"
Karena mereka berdua berdiri dekat, Ho Kie segera mengenali wajah orang itu maka lantas berseru .
"Aaaa! Kau bukankah Auw yang......"
Tapi orang itu segera ulapkan tangannya.
"Jangan berisik! Lekas pergi!"
Katanya.
Ho Kie sudah mengenali bahwa sibaju hitam itu adalah Auw-yang Khiu yang membawa kabur kalajengking emasnya.
Dalam keadaan kepepet ia mendapat pertolongan, malah perbuatannya dilakukan nekad untuk membela padanya, dalam hati merasa tidak enak atas anggapannya dulu terhadap diri siorang tua itu.
Maka ia marasa tidak tega hati meninggalkan orang tua itu untuk menghadapi bahaya sendiri......
"Locianpwe kau......"
Demikian ia berkata dengan suara gemetar.
Tapi Auw yang Khiu tidak memberi kesempatan untuk ia banyak rewel, maka Ho Kie terpaksa meninggalkan orang tua itu untuk lari ketempat yang ditunjuk.
Saat itu ia lantas teringat akan beberapa kawannya yang pada membela dirinya begitu nekad.
Pertama ia ingat dirinya Gouw Ya Pa.
sitolol yang hampir binasa karena diirinya, kemudian Jie Peng yang tidak segan menghianati peRguruannya sendiri dan Auw-yang Khia yang bersedia pertaruhkan jiwanya untuk menyelamatkan dirinya....
Dibelakangnya lapat2 terdengar suara orang bertempur, ini membuat ia merasa sedih dan malu terhadap dirinya sendiri,..
Ia tidak tahu apakah Auw-yang Khia mampu menghadapi semua musuhnya?
Apakah Auw yang Khia mempunyai akal yang sempurna untuk menyingkirkan diri dari kepungan musuh-musuhnya?, Beberapa kali ia ingin balik untuk memberi bantuan kepada Auw-yang Khia, tapi bila mengingat jenazah suhunya, terpaksa ia menghela napas dan melanjutkan perjalanannya.
Mendadak dibelakang dirinya kelihatan sinar merah, suara bentakan terdengar saling susul..
Sinar merah itu ternyata adalah api yang dilepas oleh Auw-yang Khia.
mungkin itu adalah senjata rahasia si orang tua untuk menolong dirinya lolos dari musuhmusuhnya.
Ho kie terkejut, selagi ia menghentikan kakinya, ternyata ia sedang lari menuju kebawah sebuah kamar bertingkat.
Taida ia lari tanpa tujuan, sehingga sudah lupa, rumah bertingkat mana yang ditunjuk oleh Auw-yang Khia.
Loteng didepan matanya itu ternyata tingginya setumbak lebih, disekitarnya ada taman bunga yang menawan hati.
Disisinya tidak ada rumah2 lain.
Ho kie mengetahui bahwa dirinya sekarang berada dalam pusatnya perkumpulan Hian Kui Kauw, jika kuran ghati2 sedikit saja, setiap saat jiwanya bisa melayang.
Ia berdiri diam dibawah loteng, sama skelai tidak berani bergerak karena ia harus memperhatikan keadaan loteng itu terlebih dahulu.
Ternyata loteng itu tidak mempunyai penerangan lampu, keadaan didalamnya gelap gulita.
Disebelah kanan kira-kira sepuluh tombak jauhnya terdapat sebarisan rumah-rumah yang pendek2 bangunannya, sedangkan disebelah kirinya terdapat sebuah rimba pohon bambu serta gununggunungan buatan manusia.
Taman bunga didekat rumah bertingkat itu ditanami bunga2 beraneka warna.
Dalam taman itu ada sebuah jalanan kecil berliku liku yang menuju ke sebuah empang.
Melihat taman yang terhias sangat indah itu dapat diduga bahwa orang yang bertempat tinggal diatas loteng itu pasti salah satu orang terpenting dari Hian Kui Kauw.
Kemungkinan besar adalah tempat berdiamnya Cian Tok Jin mo sendiri.
Pikiran Ho kie mulai bimbang.
Ia memandang kearah rimbunan pohon bamgu, pikirnya ia hendak menyembunyikan diri disitu dahulu.
Tetapi beru saja kakinya bergerak, tiba-tiba didengarnya orang bicara dengan sangat perlahan.
"Ho siao hiap..."
Ho kie terperanjat, dengan cepat ia membalikan tubuhnya.
Segera diketahuinya bahwa disebuah pohon yang tidak berjauhan dengan tempatnya berdiri itu kelihatan seorang wanita berbaju putih.
Meskipun ia tidak dapat melihat parasnya dengan tegas, tetapi dari bentuk badan serta suaranya, dapat diduga bahwa wanita itu pasti cantik.
Ho kie merasa heran, mengapa wanita itu bisa mengetahui namanya dan bagaimana pula ia bisa berada didekat dirinya tanpa diketahuinya?
Ia lalu menjawab dengan sopan.
"Nona siapa? Mengapa mengetaui namaku yang rendah?"
Wanita itu ketawa halus, dengan perlahan ia berjalan menghampiri Ho kie "Ho siao hiap, apa kau sudah tidak mengenali aku?"
Tanyanya merdu. Ho kie terpesona, Ia kini kenali wanita itu siapa, matanya terbelalak "Aaaa., kau adalah Jie...."
Ucapan "Peng"
Belum keluar dari mulutnya, wanita baju putih itu kelihatan bergerak pundaknya, secepat kilat ia sudah berada di dekatnya Ho kie dan dengan jari telunjuknya ia mendekap mulut Ho kie.
"Jangan ribut2/. Hati2 nanti kedengaran oleh orang luar."
Katanya dengan suara perlahan.
Ho kie tercengang, tetap disamping itu ia juga merasa girang, takut dan malu.
Dengan seorang yang mempunyai kepandaian seperti Ho kie pada saat itu, sebetulnya tidak mudah untuk mendekati dirinya.
siapa tahu Jie Peng dalam sekejap mata saja sudah bisa berada di depannya, bahkan dengan sekali bergerak jari si nona sudah berhasil mendekap mulunya.
Ini benar2 merupakan suatu kejadian yang sangat luar biasa.
"Kiranya adalah nona Jie Peng. Aku yang rendah sangat menyesal dengan perbuatanku yang kurang hormat tadi."
Demikianlah ia berkata kepada si nona. Jie Peng yang berdandan sebagai wanita kelihatannya bersikap malu, dengan tangannya ia menepok kepalanya sendiri, sambil ketawa berkata perlahan.
"Ouw, aku sungguh keterlaluan. Bagaimana aku telah melupakan kau masih belum sembuh dari lukamu dan lantas berlaku kasar terhadap kau. Ho siao hiap, kau toh tidak begitu kaget bukan?"
Ho kie bertambah merasa tidak enak sendiri, maka ia juga ketawa seraya berkata.
"Tidak apa, aku telah lari sampai disini, Tidak nyana nona juga berada didekat sini."
Jie Peng memandang padanya sejenak, tiba2 ia mengerutkan alisnya.
"Ah!! Aku hampir saja lupa. Dari rumah penjara kan kau menolong Toan theng lojin, mereka pasti akan mencari kau kemana2. Lekas!! mari ikut aku sembunyi."
Ia mengajak Ho kie jalan melalui taman bunga menuju ke loteng.
Ho kie yang terus mengikuti dibelakang dirinya si nona, seolah-olah terpengaruh oleh kekuatan gaib.
Ketika berada dibawah loteng mendadak seperti baru tersadar, maka ia bertanya.
"Nona, apakah loteng ini...."
"Loteng ini adalah tempat kediamanku, tidak akan berani sembarangan masuk kemari. Kau boleh legakan dirimu, tidak nanti mereka bisa menemui kau."
Ho kie mengangguk, ia mengikuti si nona naik ke loteng.
Dalam loteng itu hana terdapat dua kamar, satu kamar buku dan satu lagi kamar tidur.
Ho kie lalu meletakan jenazah Toan theng lojin diatas kursi dalam kamar buku.
Matanya mengawasi keadaaan disekitarnya, ternyata bersih dan rapi sekali.
Saat itu Jie Peng sudah menghampiri sambil membawa lampu lilin.
Dengan sikap sopan sekali ia tanya Ho kie .
"Ho siao hiap, apa lukamu berat?"
"Barangkali tidak seberapa..."
Tetapi sebelum ucapannya itu habis, mendadak dirasakannya puyeng, sehingga hampir saja ia jatuh dan cepat-cepat duduk diatas sebuah kursi.
"Aaaa... lukanya tidak ringan, Parasmu sampai berubah."
Seru Jie Peng "Didalam rumah penjara aku telah bertempur dengan Bo Pin. Barang kali karena menggunakan tenaga terlalu banyak, badanku terluka..."
"Pantas. Bo Pin terkenal dengan juluka Tangan Geledek. Kekuatan lweekangnya sangat hebat. Baru2 ini ia kembali telah mendapatkan kepercayaan Kaucu, ia mulai melatih ilmu serangan Hu sie Hiat kut ciang lik. KAu telah oleh serangan tangannya. Kalau tidak lekas diobati, akibatnya akan hebat sekali."
Si nona lalu masuk kamar dan mengambil sebuah botol kecil, lalu mengeluarkan tiga butir pil dari dalamnya dan diberikan kepada Ho kie, kemudian menyuruh Ho kie rebahkan diri diatas kursi.
Dalam hati Ho kie merasa bersyukur terhadap nona ini, ia lantas berkata sambil menyoja.
"Meskipun nona berada dalam Hian Kui Kauw, tetapi tidak ketularan oleh perbuatan kotor dan jahat. Aku yang rendan telah beberapa kali mendapatkan bantuanmu, entah bagaimana aku dapat membalas budimu ini."
Wajah Jie Peng segera memerah, lalu menjawab sambil ketawa.
"Kau dengna kau meskipun belum lama berkenalan, tetapi aku sudah mengetahui bahwa kau merupakan orang gagah dijaman ini. Bisa berkenalan dengan kau saja aku merasa bangga...."
"Bagaimana nona bisa berkata begitu? Sebelum suhu menarik napas yang penghabisan, ia masih memuji diri nona. Nona juga merupakan penolongku, maka selama hidupku tidak nanti aku melupakan kau."
Jie Peng kelihatan terperanjat, matanya terbuka lebar2, ia bertanya dengan suara cemas.
"Apa? Kau kata Toan-theng lojin...."
"Ah, suhu sudah menderita sangat hebat? waktu aku datang, sudah tidak keburu menolong jiwanya,"
Jie Peng seolah-terpukul hebat, mendadak ia lompat dari kursinya dan berseru .
"Haaa, apa dia siorang tua sudah,......"
"Suhu sudah menderita seumur hidupnya."
Ho Kie menjawab dengan sedih.
"Waktu, dekat pada ajalnya, kembali dia harus menerima siksaan yang sangat hebat. Kalau diingat penderitaan siorang tua, sungguh membikin, orang punya kegusaran meluap dAn ingin membikin habis orang2 Hian kui kauw...."
Bicara sampai disini, mendadak ia ingat bahwa Jie Peng juga termasuk orang dari Hian kui kauw, maka ia segera menutup mulus dan tidak berani melanjutkan perkataannya, tetapi sebaliknya Jie Peng lantas menyahut sambil ketawa getir.
"Jangan kau keliru, karena aku juga orannnya Hian kui kauw, lantas kau juga membenci diriku!"
"Nona Jie, kau sudah mengetahui bahwa Hian kui kauw merupakan bencana besar bagi dunia dan banyak kejahatan2 yang sudah dilakukan oleh mereka mengapa kau masih...."
"Dalam hal ini, aku mempunyai kesulitanku sendiri!"
Jie Peng tiba2 memotong.
"Sebaiknya kita jangan bicarakan soal itu. Lukamu tidak ringan. Sungguh tidak kusangka kau bisa lolos dari tangan Bo Pin. Aku sekarang hendak pergi sebentar. kau baik2 mengaso disini."
"Aku mempunyai seorang sahabat,"
Kata Ho Kie.
"Oleh karena dia hendak menolong aku bisa meloloskan diri. sekarang ini dia telah kena dikurung oleh orang2nya Hiankui-kauw. Kepergian nona ini jika mempunyai sedikit kesempatan, tolong berikan bantuan nona kepadanya atau tolong dengar kabar apakah dia sudah lolos dari kepungan."
Jie Peng anggukkan kepala.....
Setelah Jie Peng berlalu, dengan seorang diri Ho Kie menunggui jenazah Toan theng Lojin.
Mengingat akan nasibnya, air mata telah mengalir turun tanpa terasa.
Sekujur badan dirasakan sangat lelah, keringat mengucur deras, ia tahu bahwa itu adalah reaksi dari bekerjanya obat, Maka ia lantas merebahkan diri diatas kursi, sebentar kemudian lama2 tidur pulas.
Entah berapa lama telah berlalu, mendadak ia dengar suara tindakan kaki, hingga tersadar.
Tindakan kaki itu saagat perlahan, tidak berapa lama sudah berada didepan pintu kamar Ho Kie mengira Jie Peng yang kembali, buru2 berduduk ia sudah kepingin tahu kabar tentang Auw-yang Khia.
Siapa nyana ketika pintu terbuka, yang melangkah masuk ternyata ada satu nona tanggung.....
Nona itu berusia kira kira baru 14 atau 15 tahun, parasnya sangat cantik.
Ho Kie terperanjat, entah dari mana datangnya kekuatan, seketika itu lantas lompat turun dari kursinya.
Nona kecil itu rupanya juga tidak menduga dalam kamar itu ada orang laki-laki, maka seketika itu juga terkejut, kemudian keluarkan suara bentakan ;
"Siapa ? Sungguh berani mati! Ini tempat apa, kau berani masuk semborangan?"
Ho Kie takut nona itu nanti akan membuat gaduh, sehingga ia susah terlolos, maka secepat kilat lantas menjual pergelangannya. supaya nona itu jangan sampai membikin ribut.
"Siapa nyaua nona kecil itu ternyata mempunyai kepandaian cukup berarti, dengan secara bagus sekali ia bisa menghindarkan cekalannya Ho Kie, kemudian ia membentak pula .
"Manusia liar dari mana? Kau bsnar2 hendak mencari mampus ?"
Ho Kie tercengang, ia juga tidak menjawab, hanya ulur tangan kanannya, kembali menyambar jalan darah Ciok tiehiat si nona.
Nona kecil itu alisnya berdiri, sekali lagi ia berhasil mengelakan sambaran tangan Ho Kie..
kemudian ulur tangannya dan menyerang dada Ho Kie.
Ho Kie tidak menduga nona kecil itu mempunyai kepandaian begitu tinggi karena sudah tidak keburu menyingkir, terpaksa menyambuti serangan si nona !
Kalau pada waktu biasanya, nona kecil itu sudah tentu bukan tandingan Ho Kie, tapi saat itu Ho Kie yang masih belum sembuh betul dari lukanya, setelah kedua tangan beradu, lantas mundur dua tindak dan duduk lagi dikursi.
Nona kecil itu juga mundur setindak, ia nampaknya terkejut, tapi dengan cepat sudah maju hendak menyerang lagi.
Tiba2 terdengar suara bentakan .
"Ah Bwee, kau mau apa ?"
Nona kecil itu buru2 menarik kembali serangannya dan lompat mundur.
"Nona, kau.........."
Ia berkata dengan suara gugup "Kau tidak boleh banyak mulut, Ho Siao-hiap ini adalah sahabatku, bukan kau lekas minta maaf padanja?"
Berkata orang yang di panggil nona, yang ternyata adalah Jie Peng Nona kecil itu menatap nonanya dan Ho Kie dengan bergantian, lalu ketawa sambil menekap mulutnya, selagi hendak bertanya, Jie Peng sudah membentak lagi.
"Ah Bwee, kau dengar perkataanku tadi atau tidak?"
Nona kecil itu benar saja lantas memberi hormat dan minta maaf kepada Ho Kie.
"Nona Jie, nona ini adalah....."
Bertanya Ho Kie.
"ia adalah pelayanku yang aku boleh andalkan, tapi dia agak berandalan, tidak tahu adat, harap Ho Siaohiap suka memaafkan padanya !"
Jawab Jie Peng.
Ho Kie melongo, ia tidak nyana pelayannya saja sudah mempunyai kepandaian begitu tinggi.
Jie Peng perintahkan Ah Bwee mengambil barang hidangan, ia sendiri lantas duduk di sampingnya Ho Kie, kemudian bertanya dengan suara lembut .
"Badanmu terluka, lagi pula tidak mendapat waktu cukup untuk merawat diri sudah itu harus melakukan pertempuran pula, bukankah itu tambah berat lukanya? Kau baik2 beristirahat dalam kamarku ini dua hari. kalau sudah sembuh betul, nanti kita pikirkan lagi bagaimana baiknya!"
"Nona tadi keluar, apakah sudah dengar kabar tentang sahabatku itu ?"
Tanya Ho Kie tidak sabaran.
"Sahabatmu itu bukankah Auw yang Khia, si pencuri sakti yang terkenal digolongan hitam?"
"Sedikitpun tidak salah, entah bagaimana nasibnya dia dikepung oleh orang Hian-kui kauw? Apakah bisa meloloskan diri....?"
"Sahabatmu itu benar licin. entah dari mana dia dapat mencuri senjata rahasia Ong kee-po yang mengandung api, bukan saja sudah berhasil meloloskan diri dari kepungan 4-3 orang kuat dari Hian kui kauw, bahkan sudah melukai Hui tun Thian cun dan lain2nya, serta sudah membakar habis dua buah rumah. Sekarang seluruh lembah sudah terjaga keras, segala orang dilarang keluar masuk, pemeriksaan dilakukan dengan teliti!!"
Hati Ho Kie baru merasa lega ketika mendengar keterangan itu, ia lantas berkata sambil menghela napas .
"Kalau begitu syukurlah! Aku terus merasa kuatir memikirkan nasibnya, karena jika ada terjadi apa2 atas dirinya, sekalipun aku sendiri bisa terlolos dari bahaya, hatiku juga merasa tidak enak !"
Jie Peng bantu Ho Kie membungkus jenazahnya Toan theng Lojin dengan kain putih setelah itu mengawasi Ho Kie mengobrol, sikapnya sangat open sekali.
Hari2 yang penuh kemesraan itu telah dilewati dengan sangat cepat sekali rasanya, Ho Kie yang berada diloteng kecil itu tahu2 sudah dua hari.
Sekarang lukanya sudah mulai berangsur2 sembuh seperti sedia kala.
Hari itu, selagi Jie Peng dan Ho Kie asyik mengobrol, Ah Bwee tiba-datang tergopoh2.
Dengan suara gugup ia berkata kepada Ho Kie.
"Ho Siaohiap, lekas sembunyi. Lebih cepat lebih baik........."
Jie Peng lantas lompat bangun.
"Ah Bwee apa yang telah terjadi ? Tidak perlu ribut2"
Katanya.
"Celaka, kaucu segera akan datang sendiri kesini."
Jawab Ah Bwee. Bukan main kagetnya Ho Kie mendengar keterangan itu, ia lantas lompat bangun dan hendak menggendong jenazahnya Toan-theng Lojin dibawa keluar. Jie Peng mencegah seraya berkata .
"Tunggu dulu!!"
Kemudian ia berpaling dan menanya kepada Ah Bwee .
"Dari mana kau dapat kabar ini ? Bicaralah dengan tenang!!"
"Kaucu sudah dua hari tidak melihat kau menengoki dia, maka dia kuatir kau tidak enak badan. Barusan dia sudah keluarkan perintah, dia segera hendak datang kemari dengan membawa tabib........."
Jie Peng berubah wajahnya seketika.
"Apa benar?"
Tanyanya dengan suara perlahan.
"Siapa yang main2 dengan nona. Ho Siao-hiap, lekas kau sembunyi. Sebentar lagi barangkali kaucu akan tiba!!"
Ho Kie lantas memberi hormat kepada Jie Peng.
"Terima kasih atas kebaikan nona yang sudah memberikan tempat untuk aku merawat diri. Budimu ini tidak akan kulupakan. Sekarang aku hendak pergi. Aku tidak bisa membiarkan nona kerembet rembet oleh karena urusanku!"
Sehabis berkata, kembali ia hendak berlalu. Jie Peng dengan erat sekali memegang baju Ho Kie, setelah berpikir sejenak ia lalu berkata .
"Tengah hari bolong seperti ini, dirimu mudah dapat diketahui orang. Apalagi selama dua hari ini penjagaan dilembah dilakukan sangat keras, bagaimana kau mampu menerjang keluar? Lebih baik kau sembunyi dalam kamarku, mungkin lebih selamat."
"Meskipun itu ada benarnya, tetapi jika sampai diketahui oleh Thian tok Jin mo, bukankah akan menyusahkan diri nona....?"
"Tidak apa. Sudah tentu aku bisa menghadapinya sendiri."
Dengan cepat Jie Peng bersama Ah Bwee mengajak masuk Ho Kie kekamar tidurnya.
Lebih dulu ia meletakkan jenazahnya Toan theng Lojin dibawah pembaringan, kemudian membuka lemari pakaian yang besar dan menyuruh Ho Kie sembunyi didalamnya.
Ketika menutup pintunya, Jie Peng memesan supaya Ho Kie menahan napas, jangan sampai kedengaran suaranya.
Jie Peng berkata pula dengan sungguh2.
"Aku tahu bahwa kau mempunyai permusuhan yang sangat dalam dengan dia. tetapi sekarang kau hanya seorang diri saja. Kepandaianmu diduga masih belum bisa menandingi kepandaiannya. Aku minta supaya bisa bersabar sedikit, jangan mengadakan gerakan apa2, apa kau suka terima permintaanku ini?"
Sekalipun aku dengan dia mempunyai permusuhan yang sangat dalam, tetapi sekali kali aku tidak mau berbuat untuk menjerumuskan diri nona kedalam bahaya kecelakaan maka sudah barang tentu aku bisa bersabar."
Jie Feng ketawa puas, ia lantas mengulap tangannya, dengan perlahan ia menepok pundaknya Ho Kie dan berkata dengan suara yang lemah lembut sambil unjukan ketawanya yang manis .
"Benar, Itulah baru namanya orang yang bisa dengar kata........"
Sebentar kemudian pintu lemari ditutup, keadaan didalamnya menjadi gelap.
Ho Kie duduk bersih bersemedi, sedikit pun tidak berani bernapas, karena Toan tok Jin-mo mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, jika kurang hati2 akibatnya bisa lenyap bagi dirinya,, Mati?
Ia tidak takut mati, tetapi kalau ia mati siapa yang akan menuntut balas sakit hati ayahnja?
Siapa pula yang akan menuntut balas sakit hati suhunya?
Apa lagi jika hal itu nanti akan merembet rembet dirinja Jie Peng, sekalipun ia mati, juga rasanya tidak akan bisa meram.
Setelah mempasrahkan dirinya Ho Kie, Jie Peng lalu membuka pakaiannya dan sengaja bikin kusut paras mukanya dan rambutnya, kemudian lompat naik keatas pembaringan, menutupi dirinya dengan selimut, seolah2 seorang yang tengah menderita sakit, Tidak lama kemudian, dibawah loteng sudah kedengaran suara ramai.
Seorang kacung sudah naik Iebib dahulu untukc memberitahukan kedatangan Kaucunya.
Ah Bwee menyambut dengan sikapnya yang sangat hormat, ia berlutut dipinggir pintu.
Kedatangan Kaucu ini seperti raja saja, ia diapit oleh 4 anak laki2 kecil yang membawa pedang, kebutan, tetabuhan dan buli2 merah, Dibelakangnya sianak kecil itu diikuti oleh si tangan geledek Bo Pin, Im-san Tiauw Khek Siang Seng dan seorang imam tua berambut dan berjenggot putih.
Orang2 itu pada masuk kekamar buku menunggu cukongnya.
Sebentar kemudian seorang tua berpakaian sangat perlente dengan jenggotnya yang panjang serta badannya yang tegap telah masuk dengan tindakan perlahan sambil menggendong tangannya.
Ah Bwee lantas mengangguk2kan kepalanya sembari berkata .
"Budakmu yang rendah disini Ah Bwee menyambut kedatangan Kaucu!!"
Orang tua itu ternyata adalah iblis dunia persilatan. Hian-kui-kuw Kaucu, Thian-tok Jin-mo Ujie-Hui !"
"Bangunlah, tidak perlu peradatan !"
Er kata Jie Hui sambil ulapkan tangannya.
Ah Bwee lantas berbangkit dan berdiri di samping dengan sikap sangat hormat.
Jie Hui duduk diatas sebuah kursi, dengan matanya yang tajam memandang Ah Bwee sembari bertanya;
"Beberapa hari ini tidak kelihatan nonamu, apa badannya kurang enak ?"
Ah Bwee buru2 menjawab .
"Tidak seberapa penyakitnya, cuma ada sedikit tidak enak badan saja, nona pesan hendak beristirahat dengan tenang kira2 dua hari saja "
Jie Hui anggukan kepalanya, diwajahnya yang sangat dingin nampaknya ada sangat perhatikan anaknya. Si tangan geledek Bo Pin tiba2 berkata.
"Kaucu tidak usah kuatir, kiranya nona Peng cuma sedikit kurang enak badan, rasanya sudah cukup Leng-ho Cianpwe memberian resep dan obat untuk diminum, sakitnya tentu lekas sembuh."
"Baiklah mari kisa tengok keadaannya"
Jawab Thiam-tok Jin-mo sambil anggukkan kepala.
Jin Hui lalu ajak imam tua yang bernama Leng-Ho Ko itu masuk kedalam kamar Jie Peng, diikuti oleh anak kecil pengiringnya.
Jie Peng sudah dapat menangkap semua pembicaraan mereka, maka baru saja Thian tok Jin-mo melangkah masuk, lalu sengaja angkat dirinya sambil menunjang dengan tangannya, kemudian berkata sambil ketawa .
"Ayah, kau datang ...."
Ucapan itu telah membikin terkejut Ho Kie yang sembunyi didalam lemari !
Karena saking kagetnya, dengan tidak disengaja hatinya telah tergetar sehingga badannya agak tergetar juga.......
Siapa nyana gelaran itu telah menimbulkan suara halus !
Bagi Cian tok Jin mo, seorang yang sudah mempunyai kepandaian begitu tinggi, sedikit suara saja sudah cukup menimbulkan kecurigaannya, maka ia lantas berhenti sejenak, matanya memancarkan sinar tajam yang menakutkan.........
-oo0dw0oo-JIE PENG juga terkejut, tapi ia sangat cerdik.
Dengar cepat ia tepok2 pinggir tempat tidurnya sembari berkata dengan suara lemah lembut .
"Ayah.. Duduklah disini!!"
Cian tok Jin mo matanya berputaran sejenak, kemudian anggukkan kepalanya sembari ketawa, lalu duduk dipinggir pembaringan anaknya, ia bertanya .
"Sudah berapa hari tidak melihat kau, ada-apa yang kurang enak? Sekarang ayah membawa tabib kenamaan pada dewasa ini Lang ho Locianpwee untuk melihat penyakitmu!"
Jie Peng lalu memberi hormat kepada ho Kow dan berkata ;
"Sebetulnya tidak ada sakit apa2, bagaimana sampai membikin repot Leng-ho Locianpwee ?"
Leng ho Kow tertawa bergelak .
"Ah Bwee ambilkan sebuah kursi untuk ia duduk. Setelah memeriksa sejenak, tabib itu lantas berkata .
"Keadaan nona ada baik, barangkali tidak mendapat gangguan apa2, nanti pinto berikan sedikit obat, sebentar pasti baik."
Cian tok Jin mo, menghela napas perlahan, kemudian berkata ;
"Lohu cuma mempunyai satu anak perempuan ini, ibunya meninggalkan ia terlalu pagi, sudah tentu agak aleman. Sianseng tidak perlu merendah terhadap anak2, kalau perlu diberi nasehat apa2, katakanlah saja terus terang, supaya dia bisa beujar baik !"
Jie Hui yang gelarnya saja Thian tok Jin mo ( manusia iblis beracun ), didalam rimba persilatan, orang yang baru saja mendengar namanya sudah merasa jeri.
Tidak nyana begitu melihat anaknya, ternyata mempunyai perasaan welas asih seperti manusia umumnya-Perkataannya dan sikapnya yang begitu menyayang terhadap anaknya sesungguhnya membuat orang susah percaya kalau ia ada seorang manusia yang seperti iblis kejamnya.
Selagi tabib tua itu memeriksa nadinya Jie Peng, Cian tok Jin mo sudah pasang telinga dengan ilmunya Cian thong jie.
Tidak antara lama tabib tua itu selesai memeriksa nadinya Jie Peng, setelah menghibur sebentar, lain mundur kekamar buku untuk menulis resep obatnya.
Cian-tok Jin-mo membuka matanya, ia mengawasi anaknya, tiba2 berkata sambil ketawa .
"Peng-jie, kali ini kau pergi pesiar dengan Kao-him Liemo. apa selama beberapa hari itu tidak mendapatkan pengalaman yang agak aneh ? coba ceritakan kepada ayahmu !"
Jie Peng bingung atas pertanyaan ayahnya itu, ia cuma bisa menjawab sambil gelengkan kepalanya .
"Tidak ada!! Bukankah aku begitu pulang lantas memberi tahukan kepada ayah?"
"Maksud ayah, dalam perjalananmu itu apakah tidak menemukan sahabat yang erat perhubungannya dengan kau ?"
"juga tidak!!"
Jawabnya Jie Peng agak tercengang.
"Dua hari berselang ada orang dengan berani mati masuk kelembah Kui-kok, ia memasuki penjara dan membawa kabur Toan-theng Lojin, apakah peristiwa ini kau ada dengar ?"
"Dengar sih dengar, tapi saat itu aku sedang tidak enak badan, tidak keluar kemana mana......"
Siapa nyana belum habis ucapannya, Cian tok Jin-mo mendadak wajahnya berubah ia berkata dengan suara dingin .
"Peng jie, kau tidak seharusnya membohongi ayahmu. Malam itu, Cek siok siokmu telah melihat sendiri kau datang kedepan lembah, berdiri tidak jauh diatas-genteng rumah dengan rumah penjara itu, bagaimana kau mengatakan tidak keluar pintu ?" -oo0dw0oo-
Jilid 10 MENDENGAR pertanyaan itu bukan main kagetnya Jie Pang-Tapi ia seorang cerdik. sebentar lantas dapat satu pikiran, maka ia lantas pura2 gusar dan berkata .
"Ayah begitu menanya pada anak, apakah ayah mencurigakan anak yang menolong dirinya orang itu, bukan? jahanam tua she Tiek itu sungguh kurang ajar, dia telah berani mengatakan ucapan yang tidak pantas terhadap diriku didepan ayah. Anak tidak mau mengerti ! Sekarang anak hendak membikin perhitungan dengan dia !"
Sembari berkata ia mendorong selimutnya dengan uring2an, ia berlagak hendak turun dari pembaringan sambil berkaok kaok .
"Ah Bwee, lekas ambilkan pakaianku...."
Aksinya Jie Peng itu nampaknya sungguh2, sehingga seorang yang licin seperti Cian tok Jin mo juga sudah kena diselomoti. Ia lalu menahan anaknya dan berkata sambil ketawa .
"Adatmu masih seperti anak kecil saja! Ayahmu tokh cuma iseng menanya saja, kau lantas gerubukan seperti orang kebakaran jenggot. Lekas rebahkan lagi, hati2 nanti masuk angin !"
Jie Peng makin tidak mau mengerti, sambil menekap parasnya ia menangis terseduh-seduh. mulutnya berkaok kaok .
"Semua adalah gara2nya simanusia tua bangka keparat itu. setiap hari gawenya cuma makan tidur. Karena takut tidak terpakai tenaganya, maka lantas cari2 muka, sampai bapak juga hendak diadu domba dengan anaknya. Ayah, lebih baik kau bubarkan saja perkumpulan Hian kui kauw ini ! Sebelum maksud mu hendak menjadi jago tercapai, kau sudah anggap anakmu sendiri menjadi maling. Aih!! Apa artinya aku hidup ? Oh ibu ! Ibu.. Semua lantaran kau meninggalkan aku terlalu pagi!! sehingga anakmu hidup sendirian didalam dunia dan harus menerima penghinaan segala manusia keparat!!"
Ia menangis sembari banting badannya dan kakinya sehingga tempat tidurnya menjadi murat marit tidak keruan.
Cian tok Jin mo kewalahan benar2.
Karena ia terlalu sayang kepada anaknya itu, maka lantas ia menghibur .
"Peng jie, Peng jie, jangan begitu. Kalau nanti kedengaran oleh Bo Siok siok sekalian bukankah, akan menjadi buah tertawaan?"
Jie Peng masih tidak mau mengerti.
"Aku masih perlu menjaga muka apa lagi? Orang tokh sudah menganggap aku sebagai maling, namaku sudah dibikin tergoda."
"Anak tolol, kau jangan mengucap demikian."
Bo Pin, Siang Seng dan Leng-ho Kouw yang berada didalam kamar buku telah dikejutkan oleh kejadian itu, maka mereka buru2 masuk.
Jie Peng ketika melihat orang2 itu datang, Ia menangis semakin keras.
Cian -tok Jin -mo yang melihat anaknya hanya memakai pakaian tipis, lalu berkata sambil kerutkan alisnya .
"Peng-jie, badanmu kurang enak, kenapa pakai pakaian begitu tipis ? Haii... nanti kena hawa dingin, benar2 kau menjadi sakit."
Kemudian ia berpaling, dan berkata kepada pelayannya .
"Ah Bwee, ambilkan pakaian tebal untuk nonamu."
Ah Bwee yang mendengar perintah itu menjadi kebingungan, sebab Ho Kie sedang bersembunyi didalam lemari pakaian.
jika lemari itu dibuka, sudah pasti Ho Kie akan dapat diketahui.
Tetapi perintahnya Kauwcu tidak boleh tidak harus diturut.
Sebentar kelihatan ia bersangsi, Cian tok Jin mo yang menyaksikan itu sudah merasa tidak sabaran, maka ia lantas membentak pula .
"Aku suruh kau ambilkan pakaian tebal untuk nonamu, kau dengar tidak ? Lekas!!!"
Terpaksa Ah Bwee keraskan hati, dengan cepat ia berjalan menuju kearah lemari pakaian.
Dengan badannya menghadang didepan lemari, tangan kirinya perlahan2 menarik pmtu tangan kanannya dengan cepat menyambar sepotong pakaian, kembali menutup pintu lagi Ho Kie yang sedang berada dalam lemari sudah ketakutan setengah mati.
Apa mau si Ah Bwee karena terburu2, telah kesalahan mengambil baju sutra.
Cian tok Jin mo lantas berbangkit sembari berkata ;
"Dasar anak tolol. Nanti Ayahmu akan ambilkan sendiri."
Jie Peng terperanjat, cepat2 ia berkata ; Ayah, aku tidak kedinginan..,....kau tidak usah capaikan hati."
"Lihat, kau masih seperti anak kecil saja-Kau adalah anak satu2nya dari ayahmu apakah menjadi baju untuk kau saja lantas menjadi repot?"
Orang tua itu sembari berkata, tangan yang lain menarik pintu lemari......
Ah Bwee ketakutan setengah mati, wajahnya berubah, badannya gemetaran, hampir saja ia jatuh pingsan.
Ho Kie sudah mendengar semua pembicaraan mereka, terpaksa ia kerahkan seluruh kekuatan tenaganya siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.
Asal Cian tok Jin mo menarik pintu lemari, terpaksa ia berlaku nekad karena sudah tidak ada jalan lain.
Sesaat suasana dalam kamar tersebut menjadi tegang.
Apa yang akan terjadi selanjutnya sukar sekali dapat diduga.........
Meskipun Jie Peng orangnya cerdik, tetapi dalam keadaan gawat yang seperti itu, ia juga tidak berdaya.
Tangan Cian-tok Jin mo sudah menempel dipinggang lemari, begitu ia menarik, Ho Kie sudah tidak dapat sembunyikan dirinya lagi.
Jie Peng pejamkan matanya, terpaksa ia hanya menantikan nasib jeleknya yang akan menimpa dirinya.
Siapa nyana, dalam keadaan yang sangat berbahaya itu, tiba2 terdengar suara terompet yang ditiup berulang ulang.
Dalam kagetnya, Cian tok Jin mo dengar, sendirinya lantas urungkan maksudnya membuka lemari.
Tidak lama, seorang anak murid dari Hian kui kauw, kelihatan lari naik keatas loteng.
Empat orang anak kecil yang menjaga Kaucunya, melihat kedatangan orang itu, lantas mencegat dipintu dan membentak .
"Kaucu ada disiai, lekas berhenti."
Orang itu lantas berlutut, dengan suara gugup ia memberikan laporannya.
"Hunjuk beritahu kepada Kaucu, bahwa Para ketua dari sembilan partai besar dari rimba persilatan telah berkumpul menyatroni lembah Kui-kok dan sekarang sudah berada dimulut lembah."
Semua orang yang mendengar laporan itu, lantas pada berubah wajahnya. Hanya Cian tok Jin mo yang kelihatan masih tenang saja.
"Sungguh besar sekali nyali mereka, Bo Tongcu kau pimpin dulu para Tongcu dan Hiocu pergi menyambut. Lohu segera akan menyusul."
Kauwcu keluarkan perintah, Bo Pin terima baik perintah itu, bersama-sama dengan Siang Seng lalu lari turun dari atas loteng.
Cian tok Jin mo kembali menghibur anaknya, kemudian baru mengajak empat pengiringnya bersama Leng ho Kouw pergi meninggalkan kamar Jie Peng........
ooo0dw0ooo Sekarang kita kembali kepada Gouw Ya Pa.
sejak ditinggal pergi oleh Ho Kie, didalam goa Pek giok kiong setiap hari ia merasa gelisah.
Sebetulnya ia sudah hendak cepat2 menyusul kelembah Kui kok, tetapi karena harus mentaati pesan Ho Kie, terpaksa ia harus menunggu sampai tiga hari lamanya.
Karena sampai tiga hari kemudian ia juga tidak mendapatkan kabar beritanya tentang diri Ho Kie, maka pagi2 sekali ia sudah meninggalkan lembah Patah Hati sambil membawa benda pusaka Kin hoan leng.
Siapa tahu, ketika ia tiba dibawah bukit Pek kit nia, disitu keadaaannya tetap sunyi, tidak kelihatan bayangan para ketua dari sembilan partai besar.
Gouw Ya Pa mencari berputar-putaran, Tidak berhasil menemukan walaupun orang2nya dari sembilan partai besar itu, ia lantas naik darah, lalu memaki-maki dengan suara keras.
"Kurang ajar!! Hweeshio bangsat, Imam jahanam! Perkataan kalian seperti kentut saja. Hari ini kalau kalian tidak muncul, nanti Gouw Toaya akan mendatangi sarang kalian sambil membawa Hou hoan-leng dan memerintahkan kalian pada bunuh diri " ... Tiba tiba dibelakangnya ada orang yang berkata dengan suara dingin .
"sicu ini kelihatannya marah2 sendirian. Siapakah yang sicu maki2 tadi?"
Gouw Ya Pa berpaling, segera dilihAtnya seorang iman yang sudah lanjut usianya sedang berdiri disebuah batu besar yang tidak jauh dibelakang dirinya.
Karena ia sedang mendongkol, maka imam itu lantas dibuat bulan-bulanan.
Ia membentak dengan suara bengis .
"Jahanaaammm ! Kau dari golongan mana ?"
Imam itu tercengang, ia menjawab dengan suara dingin ;
"Pinto adalah Siong Leng, sekarang menjabat ketua Butong pay......"
Gouw Ya Pa merasa girang, ia lalu membentak dengan suara keras .
"Siong Leng, sungguh besar sekali nyalimu. Mengapa tidak lekas berlutut?"
Siong Leng Totiang adalah Cian-bun dari Bu-tong-pay pada waktu itu, sebetulnya ia adAlah seorang tua yang sudah kenamaan dalam rimba persilatan, tetapi mendengar perkataan dan juga melihat sikap Gouw Ya Pa yang, begitu kasar, dalam hati juga merasa heran maka ia menanya dengan sikapnya yang sungguh sungguh .
"Numpang tanya, sicu ada murid dari golongan mana? Mengapa berani berlaku kasar dihadapan pinto ?"
"Kau berani bertanya aku murid dari golongan mana ? Kalau aku sebutkan, nyalimu akan lompat keluar !"
Sahut Gouw Ya Pa sambai ketawa dingin, kemudian tangannya merogoh sakunya untuk mengambil Kiu hoan Leng yang lalu diangkatnya tinggi-sembari berkata .
"Kenal tidak ? Ini permainan apa? Aku adalah muridnya ini.......,..."
Ketika melihat benda pusaka itu, seketika itu wajah Siong Leng Totiang berubah, cepat cepat ia memberi hormat sembari berkata ;
"Melibat tanda pusaka seperti melihat Cau-wu. Pinto Ciang-bun dari Bu-tong-pay keturunan kelima puluh dua disini menghadap Seng Leng."
Gouw Ya Pa merasa sangat bangga, tetapi ia tidak merasa puas, maka kembali ia membentak .
"Apa begitu sudah cukup ? Lekas berlutut!!"
Siong Leng Totiang ada ketua dari satu partai besar, diperlakukan secara demikian sudah tentu agak mendongkol.
Tetapi karena anak tolol itu membawa tanda pusaka, tidak boleh tidak harus ia menurut perintahnya, maka dengan terpaksa ia berlutut.
Dalam hati diam2 ia memaki .
Thian Hian lojin sungguh membikin susah orang.
Kalau aku tahu pembawa tanda pusaka ini ada seorang kasar macam ini, biar bagaimana juga aku tidak mau menemuinya lebih dulu."
Kembali Gouw Ya Pa berkata dengan suara keras;
"Hai jahanam! Suruh kalian datang semua kenapa kau cuma sendiri yang muncul? Dimana itu kepala gundul dan imam2 yang lainnya?"
Siong Leng Totiang benar2 sangat mendongkol, tetapi juga merasa geli, dengan terpaksa ia menahan amarahnya, Ia menjawab dengan, lakunya yang hormat sekali.
"Pinto yang kebetulan pesiar telah berpapasan dengan Thian Hiao toyu dari Hua-san pay. Dari padanya pinto mendapat kabar tentang maksud Leng-cu, maka malam itu juga pinto sudah menuju kemari. Tentang partai lainnya pinto tidak tahu."
"Bohong ! Kalian berani tidak menepati janji. semua harus dibunuh!!."
Siong Leng Totiang terperanjat, diam2 ia berpikir .
"Kelihatannya Leng cu ini orang kasar, kalau begitu, kita tidak boleh membuat ia gusar, Kalau dia perintahkan aku bunuh diri, apa boleh aku tidak menurut?"
Berpikir sampai disitu, dia terperanjat, menahan rasa marahnya, lalu menyahut dengan sangat hormat .
"Hari ini adalah tanggal sembilan bulan sembilan. Ciang bun dari partai lainnya barangkali sebentar lagi akan datang semua."
"Dalam waktu yang begitu lama, apa masih belum cukup ? Apakah perlu harus berias segala baru menemui orang?"
Perkataan itu benar2 telah membuat Siong Long Totiang tidak bisa menjawab.
"Baiklah.. Kau berlutut saja disini, kapan mereka datang, saat itulah kau boleh berdiri,"
Kata Gouw Ya Pa pula. Siong Leng Totiang terperanjat, ia berkata dengan suara cemas .
"Pinto............"
"Tidak perlu segala pinto pinto. Aku yang suruh kau berlutut sampai tiga hari tiga malam."
Selagi berkata begitu, kembali ia mendengar suara orang berjalan, sebentar kemudian lantas kelihatan muncul dua bayangan orang, Gouw Ya Pa menoleh, seketika itu lantas berkata sambil ketawa .
"Bagus ! Kembali datang dua orang yang akan menalangi kau."
Kedua orang yang baru datang itu ternyata adalah Tio Thian Ek, ketua Tiam khong pay dan satunya lagi adalah seorang yang sudah berusia kira-kira enam puluh tahun, dipunggungnya menggemblok sebuah pedang panjang tetapi belum dikenal oleh Gouw Ya Pa.
Tio Thian Ek yang melihat Siong Leng Totiang berlutut dihadapan Gouw Ya Pha dengan laku yang sangat hormat, dalam hati merasa sangat heran, maka ia lantas bertanya kepada Gouw Ya Pa sambil menjura.
"Numpang tanya, Kiu hoan leng Lengcu, Ho siaohiap sekarang ini ada dimana ?"
Gouw Ya Pa memandang kepadanya dengan sorot mata dingin, ia menjawab.
"Hmmmm, apa kau masih ingat Ho Siaohiap. kalau kau datang lebih lambat lagi mungkin dirinya Ho Siaohiap sudah dicincang orang."
Tio Thian Ek kenal Gouw Ya Pa ini sahabatnya Ho Kie, pada pikirnya tidak perlu terlalu merendah terhadap orang muda, maka ketika mendengar perkataan itu, hatinya merasa kurang tenang.
"Aku telah mendapat perintah untuk menyampaikan berita kepada khong-thong dan Kiong lay kedua partai, lalu terus menuju kemari. Kalau aku tiba disini tidak menemukan Ho Siaohiap, tokh tidak boleh disalahkan kalau aku melanggar perintah."
Gouw Ya Pa melototkan matanya, ia lalu mengangkat Kiu hoan lengnya tinggi-tinggi sambil membentak.
"Kau masih mau membantah, lihat! ini apa ?"
Tio Thian Ek yang melihat Kiu hoan leng itu berada ditangan anak tolol itu, ia diam-diam mengeluh sendiri. Terpaksa ia tundukkan kepala, kemudian berlutut sambil berkata.
"Tio Thian Ek menyumpai lengcu."
Orang tua yang berdiri disampingnya juga lantas berlutut sambil berkata.
"Cian bun Tecu dari Khong thong pay keturunan ketiga puluh empat Lim Co Ek disini menjumpai Lengcu,"
Gouw Ya Pa berkata dengan suara dingin;
"Kedatanganmu berdua sungguh kebetulan sekali. Sekarang yang lainnya tidak perlu dibicarakan. Imam dari Bu tong ini tadi sudah berlutut lama, sekarang kalian menggantikan dia untuk menantikan yang lainnya. Jika yang lainnya itu tidak datang, kalian jangan bangun."
Siong Leng lantas berbangkit sambil mengucapkan terima kasih. Tio Thian Ek coba membantah.
"Aku siorang tua sudah memerlu menyampaikan kabar dan kedatanganku juga tidak terlambat, Kenapa....."
"Aku juga tidak berkata kalian terlambat."
Gouw Ya Pa memotong.
"Hanya kuatir kalian mengaso sebentar."
Si tolol nyengir.
Tio Thian Ek menjadi gusar, ia mengawasi Lim Co Ek sebentar.
kelihatannya orang itu juga tidak puas terhadap Lengcu ini, ma ka timbulah pikiran jahatnya.
diam-diam ia memberi isyarat kepada Lim Co Ek.
Kedua orang tua itu lantas melesat dari kanan dan kiri.
Lim Co Ek menyerang Gouw Ya Pa, sedangkan Tio Thian Ek hendak merampas Kiu boan leng.
Siong Leng Totiang yang berdiri disampingnya juga sudah siap sedia.
Tio Thian Ek berhasil, ia juga akan turun tangan.
Siapa tahu, selagi mereka bergerak Gouw Ya Pa yang tadinya kelihatan memejamkan matanya mendadak menbuka lebar-lebar matanya dan membentak.
"Kalian hendak berbuat apa?"
Tio Thian Ek terperanjat, cepat2 tangannya ditarik kembali dan lompat mundur.
Tetapi Lim Co Ek yang sudah turun tangan, ketika mendengar bentakan itu.
ia memaksa menarik kembali serangannya.
kembali berlutut ditanah.
Gouw Ya Pa lantas berkata sambil tertawa nyengir.
"Aku tahu, bahwa kalian berdua tua bangka pasti tidak puas, tetapi kalian berani hendak merampas Kiu hoan leng kalau tidak dikasih ajaran, Kalian nanti tidak tahu diri."
Ia lalu mengangkat Kiu hoan lengnya dan berkata pula.
"Ketua Tiang khong dan Khong thong tidak menurut perintah Lengcu serta sudah timbul pikiran jahat. Sekarang harus dihukum tampar pipi masing-masing sepuluh kali."
Tio Thian Ek, Lim Tio Ek saling pandang akhirnya sama2 berkata. Gouw Ya Pa lalu berkata kepada lim co ek.
"Orang tua she Lim, kau pukul dia dulu."
Terpaksa Lim Co Ek angkat tangannya, sembari berkata dengan suara perlahan.
"Tio heng ini jangan sesalkan aku."
Dan lantas menampar pipi Tio Thian Ek sampai sepuluh kali.
Kasihan Tio Thian Ek sebagai seorang jago kenamaan.
karena merasa malu terhina demikian rupa maka dengan mendadak lantas menghunus pedangnya dan kemudian hendak menggorok lehernya sendiri....
Mendadak ada sebuah benda menyambar, Tio Thinn Ek.
merasakan lengannya kesemutan.
pedangnya lantas terlepas jatuh ditanah, kemudian disusul oleh suaranya orang yang berkata nyaring.
"Tio-heng adalah satu Ciangbunjin dari satu partai besar. Apa artinya baru dihukum oleh Lengcu begitu saja sudah berpikiran seperti seorang wanita ?"
Gouw Ya Pa menoleh, ia melihat dikanan kirinya sudah berdiri seorang padri dan tiga orang imam.
Orang yang bicara tadi ada adalah ketua Ngo-bie pay, Hui Kak Siansu.
Padri tua itu lalu menghampiri Gouw Ya Pa dan lantas berkata sambil rangkapkan kedua tangannya.
"Gouw Sicu yang telah mewakili Ho Siaohiap menyampaikan kabar dengan membawa tanda pusaka, sudah tentu kita orang harus menurut. Tetapi tidak tahu Ho Siaohiap sekarang berada dimana?"
Gouw Ya Pa lantas merasa gusar, ia berkata dengan suara bengis.
"Kau juga tanya aku, siapa suruh kalian datang begitu lambat. Dia sudah pergi menerjang sendiri kelembah Kui kok. Sampai hari ini, sudah tiga hari lamanya, tetapi masih belum ada kabar beritanya. Kebanyakan tentu dia sudah binasa."
Hui Kak Siansu berubah wajahnya seketika.
"Lembah Kui kok bukan tempat sembarangan, dengan seorang diri Ho Siaohiap menempuh bahaya, barangkali betul-betul akan menemukan bahaya."
Katanya agak gugup. Gouw Ya Pa kembali membentak.
"Hei! Kalian tiga imam, apa kalian datang untuk bertemu? Lekas beritahukan nama kalian supaya kita bisa lekas berangkat."
Hui Kak Siansu buru-buru ajak ke tiga imam itu memberi hormat kepada Kin hoan leng, mereKa itu ternyata adalah ketua Kun-lun pay keturunan kelima puluh satu Bu wie Totiang ketua Ceng shia pay keturunan ketiga puhluh sembilan.
Liauw Tim Totiang dan ketiga Kiong lay pay keturunan ketiga puluh tuiuh.
Bun Hie Totiang.
Gouw Ya Pa menghitung jumlahnya orang, ternyata masih kurang dua.
Bu wie Totiang dari Kun lun pay lantas memberi keterangan.
"Thian-hian Toyu dari Hoa san pay mungkin sebentar lagi bisa datang,"
"Aku siorang tua juga pernah mengabarkan kepada Tiauw Goan Taysu dari Siao-lim pay' Sebelum tengah hari pasti ia akan sudah sampai."
Hui Kak Siansu turut bicara.
Goauw Ya Pa terkejut, sebab ia sendiri adalah orang dari Siao-lim-sie, terhadap ketua Siao-lim-sie Tiauw Goan Taysu, selamanya ia sangat takut dan menghormat.
Tapi ia bisa sesukanya memberi perintah sama sekali tidak memikirkan itu, maka bukan main kagetnya ketika mendengar keterangan Hui Kak tadi.
cepat berkata.
"Kita tidak usuh tunggu mereka. Mari kita pergi menolong orang yang sangat penting. Sudah ada kalian bertujuh. mungkin sudah cukup."
Selagi ia hendak memberi perintah lebih lanjut. Lim Co Ek tiba-tiba menunjuk dengan jarinya serta berkata.
"Apakah itu bukan Tiauw Goan Taysu dan Thian Hian Totiang ?"
Benar saja, dari jauh kelihatan seorang hweesio dan seorang imam yang berlari mendatangi dengan cepat.
Gouw Ya Pa memang kenal kepada mereka seketika itu lantas kelabakan, Cepat ia menarik tangan Hui Kak Siansu seraya berkata.
"Toa Hosiang, lekas kau suruh Touw Goan Taysu dari Siao lim-pay itu pulang sana. Hui Kak Siansu terperanjat, lalu bertanya.
"Apa artinya ini? Tiaaw Goan Taysu adalah seorang yang berkedudukan tinggi. Untuk menyerbu kelembah kui kok, justeru membutuhkan dia sebagai ketua. Bagaimana kalau dia disuruh pulang?"
Gouw Ya Pa menjawab sambil meringis.
"Kau tidak tahu. aku tidak bisa bertemu muka dengan dia."
Kembali Hui Kak Siansu terperanjit.
"Kenapa tidak berani bertemu dia ?"
"Aih ! Kau benar benar cerewet."
Pada Saat itu Tiauw Goan Taysu dan Thian Hian Totiang sudah sampai dan terus berkata kepada semua orang sambil memberi hormat.
"Tuan-tuan sudah datang terleblh dulu, kami agak terlambat. Harap dimaafkan."
Goaw Ya Pa buru-buru menjawab sambil membalas hormat.
"Ooo, tidak apa, tidak apa."
Semua orang merasa heran, mengapa Lengcu itu adatnya sangat aneh.
Tadi sikapnya begitu galak, tapi kenapa terhadap Tiauw Goan Taysu dan Thian Hian Totiang sikapnya begitu rendah?
Tiauw Goan Tayau agaknya tidak mengenali Gouw Ya Pa, ini memang tidak mengherankan sebab gereja Siao limsie mempunyai murid murid jumlahnya ribuan orang, bagaimana Tiauw Goan Taysu bisa mengenali satu demi satu, apa lagi Gouw Ya Pa yang merupakan muridnya tukang masak dan sebagai orang biasa saja.
"Sicu inikah pemegang benda pusaka dari partai kita, Ho Siaohiap adanya?"
Ia bertanya. Gouw Ya Pa yang tidak tahu ketua Siao lim sie itu tak mengenali padanya. ketika ditanya iapun gugup, cepat ia jawab sambil goyangkan tangan.
"Aku bukan orang she Ho. Aku hanya mewakili saudara Ho membawa pusaka untuk mewakili tuan tuan sekalian, bagaimana berani disebut Lengcu?"
Gouw Ya Pa lalu angsurkan benda itu.
"Ini adalah Kiu hoan leng harap taysu periksa."
Katanya hormat. Tiauw Goan Taysu yang melihat Kiu hoan leng itu adalah benda pusaka yang dibuat beberapa tahun berselang, cepat ia mundur tiga tindak dan lantas berlutut seraya berkata.
"Melihat tanda partai, seperti melihat Couwsu, pinceng Tiauw Goan, Ciangbunjin Soao lim sie keturunan Kelima puluh enam, disini menghadap beng leng."
Gouw Ya Pa juga cepat berlulut.
"Lo-suhu lekas bangun, jangan menyulitkan aku Gouw Ya Pa."
Siapa tahu, perbutannya itu telah mengejutkan ketua dari delapan partay yang lainnya, maka semuanya berlutut.
Tauw Goan Taysu juga terperanjat, cepat cepat ia memimpin bangun Gouw Ya Pa sehingga semua lantas pada bangkit.
"Ho Siaahiap membawa tanda partay menyampaikan kabar menyuruh kita semua berkumpul disini. Apakah karena urusan Hian kui kauw dari lembah Kui kok?"
Bertanya Tiauw Goan Taysu.
"Benar. Sekarang dia sudah pergi sendiri kelembah Kui kok, sudah tiga hari lamanja sampai kini masih belum kedengaran kabar ceritanya."
Jawab Gouw Ya pa.
"Kalau begitu, kita tidak boleh terlambat kita orang orang dari sembilan partai rasanya harus menemui juga Cian Tok Jin Mo."
Thian Hian Totiang mendadak ingat kalajengking emasnya, maka ia lantas berkata dengan suara gusar.
"Hian kui kauw telah mengganas didunia. sudah lama ia ingin membasmi sembilan partai besar kita. Taysu dan para toyu sekalian, hari ini sangat beruntung kita bisa berkumpul disini, mengapa tidak segera berangkat kelembah Kui kok? pertama kita segera menolong dirinya Ho Siaohiap, kedua kita suruh Hian Kui kauw juga kenal kelihayan kita sehingga dikemudian hari tidak berani memandang rendah lagi !"
Tiam cong, Khong tong, Kiong lay dan Ceng shia yang anak muridnya sudah pernah dibikin susah oleh orangorang Hian kui kauw, segera mrnyetujui usul itu.
Sebaliknya dengan Hui kak Siansu yang berpikir panjang.
ia ini berkata.
"Hian kui kauw meski belum lama muncul dirimba persilatan, tapi belakangan ini mengumpulkan banyak orang-orang pandai. apa lagi lembah kui kok merupakan markas besarnya, kalau kita hendak pergi, harus membuat rencana yang sempurna, baru bisa bergerak,"
"Aku seorang kasar, tidak mengerti perkara begitu, mengapa tidak mengangkat Tiaw Goan Taysu saja sebagai pemimpin?"
Kata Gouw Ya Pa.
"Lolap cuma mendapat perintah untuk mengumpulkan orang, bagaimara boleh berlaku melewati batas?"
Berkata Tiauw Goan Taysu sambil ketawa.
"Taysu seorang berilmu tinggi. memang seharusnya yang bertindak sebagai pemimpin."
Kata orang banyak.
"Terima kasih atas kecintaan serta kepercayaan saudara2. lolap merasa berat untuk menolak. Tapi menurut pikiran lolap, Hian kui kaw ada mempunyai banyak orang berkepandaian tinggi apa lagi ilmunya Hu sie Biat kut orang dari cian tok Jin mo, barangkali disini tidak ada yang mampu menandingi. Maka kali ini kita pergi kesana, sebaiknya dengan secara hormat lebih dahuku, untuk menanyakan dimana adanya Ho Siaohiap, kita lihat bagaimana jawabannya?"
Usul itu telah diterima baik oleh semua orang, maka lantas mereka berangkat bersama-sama menuju kelembah Kui kok.
Ketua dari partai itu semua mempunyai kepandaian ilmu lari pesat, maka sebentar saja sudah pada melesat meninggalkan bukit Pek kutnya.
Tapi dengan secara demikian kasihan bagi Gouw Ya Pa yang tidak mempunyai kepandaian ilmu pesat, hingga untuk mengikuti mereka sudah empas empis dan toh masih ketinggalan jauh.
Terpaksa ia keluarkan Kin hoan leng, paksa mereka berjalan agak lambat.
Terpisah kira satu lie dari lembah Kui kok.
tiba-tiba dari sebuah rimba melesat seekor burung yang membawa kabar.
"Penjagaan lembah kui kok ini benar-benar sangat kuat, masih sejauh 10 lie, perjalanan kita sudah diketahui oleh mereka,"
Kata Hui Kak Siansu sambil tertawa.
"Kita lebih dulu menghadap dengan secara hormat, sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi, kita harus tunjukan diri secara terang,"
Kata Tiaw Goan Taysu, Kembali berjalan beberapa li, kini sudah mendekati mulut lembah.
Tiba-tiba muncul dua orang, masing-masing bawa pedang dipunggungnya.
Ketika tiba didepan rombongan Tiauw Goan Taysu.
lantas berkata sambil angkat tangan memberi hormat.
"Bo Tongcu dari Hian kui kauw telah mendapat perintah dari Kauwcu mewakilinya menyambut kedatangan Ciangbunjin dari sembilan partai. Sekarang dia dimulut lembah menantikan Ciangbunjin sekalian."
"Kuarang ajar! Apa dia tidak bisa keluar menyambut sendiri? Mengapa harus menunggu disana?"
Gouw Ya Pa membentak. Gouw Sicu tidak boleh begitu. Ini hanya orang yang menyampaikan kabar saja. Kita tidak perlu ribut dengan mereka,"
Kata Tiauw Goan Taysu, kemudian berpaling kepada kedua orang itu sembari ketawa berkata.
"Tolong kalian sampaikan kepada Bo Tongcu, katakan saja bahwa Ciangbun dari Kun lun, Ngo-bie. Bu tong, Khong-tong' Ceng shia. Kiong lay, Hoa san Siao lim dan Tiam cong sembilan partai, karena mempunyai sedikit urusan, ingin bertemu dengan Kauwcu sendiri."
Kedua orang itu angkat kepala. mengawasi Gouw Ya Pa dengan sikapnya yang dingin lalu bertanya .
"Ingin tanya, Eng hiong ini dari partai mana ?"
Gouw Ya Pa gusar, ia lantas membentak.
"Aku adalah ketua dari partai sundel yang khusus mengurus kalian bangsa sundel."
Kedua orang itu menjadi gusar. mereka mundur dua langkah. agaknya segera hendak turun tangan. Gouw Ya Pa lantas menghunus pecutnya dan membentak pula.
"Kurang ajar! apa kalian mengajak aku berkelahi? Nanti kubikin patah tulang2 kalian dulu!"
Tiauw Goan Taysu lalu maju dan menghadang ditengah, berkata kepada dua orang itu.
"Tuan ini adalah Lengcu yang memegang tanda pusaka partai Kiu hoan leng yang hari ini memimpin sembilan partai untuk berkunjung kepada ketua kalian."
Mereka mendengar keterangan itu pada terkejut, wajahnya berubah seketika, agaknya merasa sangsi. Gouw Ya Pa lalu berkata sambil acungkan Kiu hoan lengnya.
"Kawanan bangsat, apa kau tidak percaya, Gouw Toayamu tidak mempunyai apa-apa hanya ini saja hari ini akan mencari setori dengan Hian kui kauw!"
Dua orang itu matanya membelalak, mereka lantas angkat tangan menberi hormat, kemudian undurkan diri.
Tiauw Goan Taysu dan lain-lainnya pada merasa tidak puas dengan sepak terjangnya Gouw Ya Pa, tapi karena Kiu hoan leng berada d tangannva, apa yang mereka bisa berbuat terhadap padanya?
Ketika rombongan Tiauw Goan Taysu tiba dimulut lembah, dari jauh sudah kelihatan barisan yang menyambut kedatangan mereka.
Ditengah-tengah rombongan barisan penyambut itu ada berdiri seorang berewokan dengan alis yang putih ia itu adalah ketua bagian kepengajaran Bo Tongcu, si tangan geledek Bo Pin.
Di kedua sisinya berdiri Cek Kong Han, si Toata Tan Liang.
Giok bin Kim kong Ong Hoa Cu, Sie Lek, Siang Hong Siang, Cian Siu, Tio GO, Siang Seng dan lainlainnya.
Dalam Hian kui kauw kecuali kaucunya sendiri dan beberapa orang golongan tertua, boleh dibilang semua sudah keluar menyambut menemui ketua dari partai persilatan.
Inilah buat pertama kalinya Hian kui-kauw mengajukan barisan yang demikian kuat sehingga membuat para ketua partai itu pada terkejut.
Bo Pin yang maju lebih dulu dan berkata pula para tamunya sambil menjura.
"Hari ini sungguh beruntung kami dapat menyambut kedatangan tuan, siorang she Po atas nama kaucu, disini mengucapkan selamat datang kepada tuan tuan!"
"Kau adalah Tongcu dari Hian kui kauw siapakah kaucumu?"
Gouw Ya Pa nyeletuk. Bo Pin tercengang, dengan matanya yang tajam ia menyapu Gouw Ya Pa kemudian berkata pula sambil ketawa seram.
"Tuan ini tentunya adalah sahabat yang membawa Kiu hoan leng?"
"Sedikitpun tidak salah, kau siorang tua benar-benar pintar!"
Jawab Gouw Ya Pa.
"Kiu hoan leng sebetulnya adalah benda kepunyaan partai kami, yang dicuri dan dibawa kabur oleh seorang murid yang berkhianat, sehingga terjatuh ketangan orang dunia Kang-ouw, apa yang dibuat heran? Lagi pula perkumpulan kami bukan orang-orang dari partai. dulu tidak pernah turut membuat tanda kepartaian itu. Benda itu tidak ada dimata aku siornng she Bo."
Ucapan Bo Pin itu sangat jumawa sekali, Se0lah-olah dalam matanya tidak pandang sama sekali.
semua ketua sembilan partai besar itu, sehingga membuat mereka lantas pada berubah wajahnya.
Tiauw Goan Taysu lalu maju dan berkata sambil rangkap kedua tangannya.
"Bo Tongcu tidak kecewa menjadi kepala penjara, kegagahanmu membuat kagum kita semua. Cuma saja lolap sekalian hari ini hanya datang untuk menemui Kaucu untuk merundingkan soal lain, bukan urusan Kiu hoan leng !"
"Aku si tua bangka juga untuk itu menyambut kedatangan tuan-tuan, tapi lembah ini tempatnya sangat kotor, tidak dapat dibandingkan dengan kediaman Taysu di gereja Siao lim-sie. Maka kalau kurang sempurna penyambutan Kami, harap minta dimaafkan banyakbanyak!"
Sehabis berkata ia lantas perkenalkan mereka dengan semua orangnya, Kemudian serombongan anak-anak kecil menyuguhkan arak berikut cawannya.
Setelah upacara penyambutan selesai para tetamunya diajak oleh Bo Pin untuk menemui Kaucunya.
Mereka diajak mengasoh didalam satu kupel yang luas didalam lembah itu.
Tidak diantara lama, tiba tiba muncul dua anak kecil yang tangannya masing-masing membawa panci berwarna kuning lantas berkata dengan suara nyaring.
"Kaucu mengucapkan selamat datang kepada para Ciangbunjin sekalian!"
Semua orang pada berdiri.
hanya Gouw Ya Pa yang masih tetap duduk tidak bergerak.
Sesaat kemudian, dari lembah bagian dalam muncul sebuah tandu kecil yang indah, dipikul oleh delapan orang laki-laki kuat.
serta diiringi dua anak laki-laki kecil.
Tandu itu dilarikan sangat pesat sekali, sebentar saja sudah berada didepan kupel.
Tiauw Goan Taysu yang menyaksikan itu diam-diam merasa terkejut.
Diam-diam ia mengakui bahwa Jie Hui ini benar-benar bukan orang sembarangan, orang-orang bawahannya saja kepandaiannya sudah demikian tingginya, apa lagi ia sendiri.
Maka kalau Hian kau kauw tidak lekas dibasmi mungkin sepuluh tahun lagi akan merupakan bencana besar bagi rimba persilatan !
Pada saat itu tandu itu sudah diletakan ditanah dari dalamnya lalu kelihatan turun keluar seorang tua berbadan tegap dengan dandanannya yang sangat mewah.
Orang-orang hian kui kauw yang bera da dalarn kupel semuanya membungknkkan badan memberi hormat Tiauw Goan Taysu dan lainnya cepat-cepat rangkapkan kedua tangan memberi hormat.
Cian tok Jin mo dengan matanya yang tajam menyapu semua orang.
kemudian lantas berkata sambil ketawa bergelak-gelak.
"Hari ini entah angin apa yang telah membawa para ketua yang berkedudukan tinggi dalam rimba persilatan kelembah yang seperti hutan belukar ini ?"
Tiauw Goan lalu menjawab sambil tersenyum.
"Lolap sekalian agak gegabah, harap Kaucu suka maafkan banyakbanyak."
Cian tok Jin mo ketawanya bergelak gelak, suara ketawanya itu menggema lama didalam lembah. Mendadak Gouw Ya Pa menggeram, kemudian berkata.
"Ketawai apa ? Ada apa yang lucu? Kita datang untuk mencari sotori bukan untuk mengandalkan tali persahabatan, kau tua bangka ketawai apa ?"
Ucapan itu telah menggusarkan semua orang-orang Hian Kui kauw, Cian tok Jin mo menghentikan ketawanya, dengan sorot mata dingin ia mengawasi Gouw Ya Pa sejenak.
"Apakah Tuan ini adalah Gouw Insu yang membawa Kui hoan leng ?"
Ia bertanya.
"Kalau tokh sudah tahu, mengapa tidak lekas keluar saudara Ho kita perlu apa masih berlagak?"
Jawab Gouw Ya Pa dengan sikapnya yang angkuh. Tiba-tiba Cian tok Jin-mo ketawa dengan perlahan, ia memasuki kupel seraya berkata.
"GOuw losu ada seorang yang polos dan berbicara seraya terang-terangan. Aku situa bingka sangat merasa kagum."
Sehabis berkata ia mempersilahkan Tiauw Goan Taysu dan lain-lain dnduk ditempat masing-masing dan ia sendiri duduk di atas kursi kulit macan.
Setelah semuanya sudah minum, Tiauw Goan Taysu berbangkit dan berkata sembari memberi hormat.
"Aku si tua bangka sudah lama mendengar nama besar Kaucu, hari ini sungguh beruntung dapat menjumpai sendiri. Lolap ada sedikit urusan, mohon Kaucu suka memberi muka untuk memberi bantuan."
"Taysu ada seorang pemimpin rimba persilatan dan seorang beribadat tinggi. Ada urusan apa yang ingin minta bantuank ? jika aku si tua bangka masih mampu melakukan. sudah tentu tidak merasa keberatan."
Jawab Cian tok Jin mo.
"Dulu kami sembilan partai telah membuat Seng leng dan disumpah, siapa jang memegang Seng leng itu adalah pemimpin dari sembilan partai kami. Lolap sekarang sebagai muridnya sambilan partai itu, sudah tentu tidak dapat tidak mentaati perintah Seng leng. Sekarang kita telah mendapat kabar bahwa Kiu hoan leng Ho Siaohiap tiga hari berselang telah datang kesini dan sampai sekarang masih tidak ada kabar beritanya. Lolap sekalian hari ini dengan menebalkan muka menjumpai kaucu, sadikah kiranya kaucu memandang muka kita untuk memberi petunjuk. dimana adanya Ho Siaohiap sekarang? Mengenai perselisihan antara Ho Siohiap dengan Kaucu, lolap sekalian bersedia menjadi orang pertengahan untuk membereskan soal permusuhan itu."
Cian tok Jin mo yang mendengar itu, tiba-tiba kerutkan alisnya dan berkata dengan heran.
"Perkataan Taysu ini, sungguh membuat aku siorang tua tidak mengerti, partai kami selamanya tidak mencampuri urusan permusuhan dalam dunia Kang-ouw, juga tidak mempunyai musuh seorang she Ho. juga tidak tahu bahwa beberapa hari ini ada Ho siaohiap yang kesasar dalam perkumpulan kami, apakah Taysu hanya mendengar berita saja yang belum pasti kebenarannya ?"
Gouw Ya Pa yang mendengar jawaban itu lantas menjadi gusar, mendadak ia berbangkit dan membentak dengan suara bengis.
"Enak saja kau pungkir. Saudara Ho tiga hari berselang sudah datang, sampai sekarang belum kelihatan bayangannya. sudah tentu kalian yang sudah mencelakakan jiwanya. SeKarang kau apakan dia? Hari ini kalau kau serahkan orangnya, kita masih bisa berunding dengan cara baik-baik. kalau tidak, aku akan mengubrak-abrik sarangmu Hian kui kauw ini."
Kaucu Hian kui kauw yang merasa terhina demikian rupa, sudah menunjukkan sikap kurang senang, tetapi ia tidak menjawab, hanya dengan matanya ia melirik Siang Seng sejenak.
Siang Seng mengerti, ia lalu maju dan berkata dengan suaru dingin.
"Lembah Kui kok apa kau kira bisa dibuat sembarangan oleh manusia tolol seperti kau ini? Kalau merasa tidak puas, aku si orang she Siang nanti suruh kau tahu tingginya langit dan tebalnya bumi."
Gouw Ya Pa lantas beringas, sambil mengeluarkan pecutnya ia memaki dengan gusar.
"Jahanam, Gouw Toayamu sedang bicara dengan Kauwcu kalian, kau adalah makhluk apa begitu berani turut campur mulut?"
"Gouw Losu ini matanya tidak memandang orang tentunya mempunyai kepandaian tinggi. Siang-heng boleh coba-coba main-main beberapa jurus dengan dia,"
Kata Cian tok Jin mo sambil tertawa seram.
Perkataan Kaucu ini tidak bedanya dengan menyuruh Siang Seng turunkan tangan jahat untuk membinasakan Gouw Ya Pa yang mulutnya bawel itu.
Siang Seng terima perintah dari kaucunya, lalu dengan senjatanya ia menantang Gouw Ya Pa.
Kalau bicara tentang kepandaiannya, sekali pun sepuluh Gouw Ya Pa juga masih bukan tandingan Siang Seng, tetapi Gouw Ya Pa tidak mau perdulikan itu semua.
Dengan suara gusar ia menceburkan dirl kedalam kalangan, tanpa banyak rewel lagi ia lantas menghajar Siang Seng dengan pecutnya.
Siang Seng hanya mengganda ketawa dingin, lalu mengangkat senjata pentungannya untuk menangkis pecut Gouw Ya Pa.
Tangan Gouw Ya Pa merasakan kesemutan.
pecutnya hampir terlempar dari tangannya.
Hatinya terkejut.
badannya mundur sampai empat tindak.
Orang-orang Hian kui kauw tidak menyangka bahwa pemuda wajah hitam yang galak itu ternyata tidak ada gunanya, baru segebrakan saja sudah mundur oleh Siang Seng maka lantas semuanya pada ketawa.
Wajah Gouw Ya Pa menjadi merah, dengan mata mendelik ia menggeram hebat, kemudian menyapu lagi dengan pecutnya ia sudah berlaku nekad, tidak memikirkan lagi apa akibatnya, ia terus menjerbu Siang Seng dengan pecutnya.
Kembali Siang Seng hanya mengganda dengan ketawa dingin, dengan cepat ia berkelit, kemudian senjatanya setelah menyingkirkan pecut Gouw Ya Pa lalu mengnajar pundak kiri si tolol.
Serangan Siang Seng itu amat gsnas, pada pikirannya anak tolol itu kalau tidak binasa, pasti akan terluka parah.
Tetapi apa yang telah terjadi sesungguhnya sangat diluar dngaan semua orang.
Meskipun serangannya itu sudah berhasil mengenakan dengan telak tetapi Gouw Ya Pa hanya kelihatan mundur beberapa tindak, sedikitpun tidak terluka.
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu pada terheran-heran tidak akan menyangka bahwa pemuda tolol itu menpunyai kepandaian ilmu kebal yang sudah sempurna.
Selagi masih kesima, Siang Seng sudah diserang lagi dengan pecutnya Gouw Ya Pa.
Siang Seng dalam kagetnva menyambuti pecutnya Gouw Ya Pa dengan senjatanya sendiri, pikirnya, ia hendak membikin pecut itu terlepas dulu, baru kemudian membinasakan jiwanya, siapa nyana bahwa perbuatannya itu sudah masuk perangkapnya Gouw Ya Pa.
Kiranya, Meskipnn Gouw Ya Pa adalah orang yang kasar, tetapi juga masih mempunyai akal licik.
Dalam gebrakan pertama tadi ia telah mendapatkan kerugian, maka sekali ini hendak menarik keuntungan dengan menggunakan akal licik.
Serangannya tadi tidak dilakukan dengan sungguhsungguh, maka ketika ada sambutan senjata Siang Seng, pecut itu lantas terpental ditengah udara, Saemua orang pada ketawa geli menyaksikan ketololannya Gouw Ya Pa.
Siapa tahu, selagi ketawanya belam lagi sirna, pecut Gouw Ya Pa yang ada ditangan kanannya dengan kecepatan bagai kilat sudah merabu dada Siang Seng.
Siang Seng yang sedang merasa bangga tidak mengira kalau Gouw Ya Pa bisa berbuat demikian, ia baru kaget ketika pecut baja itu sudah berada didepan dadanya.
Cepatcepat ia mendongakkan badannya, tetapi pecut yang sudah didepan dadanya itu lantas didorong oleh Gouw Ya Pa sehingga sudah menyodok janggutnya Siang Seng hingga terhuyung-huyung rubuh.
Siang Seng kesakitan.
ketika ia lompat bangun, ternyata giginya sudah copot empat atau lima biji, darah mengucur dari mulutnya.
Meskipun luka itu tidak berarti apa-apa baginya tetapi nama Siang Seng sebagai jago kenamaan telah ludes ditangan pemuda itu.
Gouw Ya Pa menarik kembali serangannya, sambil ketawa dingin ia berkata.
"Kau bukan tandingan. Aku ampuni jiwamu. Suruh orang lain yang maju."
Siang Seng, jago yang kenamaan telah terjatuh ditangan Gouw Ya Pa, jangan kata orang-orangnya Hian Kui kauw, sekali para ketua dari sembilan partay semuanya melongo heran.
Mendadak terdengar suara bentakan bengis.
"Bocah she Gouw, kau jangan jual lagak. Aku si orang tua bangka ingin menemui kau main-main berapa jurus."
Gouw Ya Pa menoleh, keringat dingin mengucur seketika karena rasa kagetnya ....
APA YANG IA LIHAT?
Kiranya ada seorang laki-laki tinggi besar dengan bengis dan rambut merah.
Tangan kirinya membawa senjata kecer dan tangan kanannya membawa sebuah tombak berujung tajam, sedang mengawasi dirinya dengan mata mendelik.
Meskipun Gouw Ya Pa orangnya bernyali besar, tetapi ketika melihat wajah orang yang seperti setan itu, dengan tidak terasa badannva sudah gemetaran.
Tetapi kemudian ia dapat berpikir lain, ia sekarang sebagai Lengcu, masakah bisa kaget oleh orang semacam begitu saja, maka ia bungkukan badanya dan maju sambil membentak;
"Bocah! Kau siapa? Manusia atau setan?"
"Aku adalah salah satu Tongcu dari Hian kui-kauw, Namaku Siang Hong Siang."
"Kau bukan tandinganku. aku harap supaya kau mundur saja."
Tetapi belum habis ucapannya, orang ita sudah membentak dengan nyaring.
"Ngaco. kau orarg macam apa, begitu berani menghina aku si orang tui ?"
"Perlu, a apa kau ribut2! Kau hendak berkelahi atau perlu ribut ?"
"Bocah jumawa, rasakan senjataku!"
Orangnya membentak, lalu tombaknya menyerang kearah Gouw Ya Pa.
Gouw Ya Pa miringkan badannya, lalu menangkis dengan pecutnya, tetapi tangannya dirasakan sakit seketika dan pecut yang tinggal satu-satunya itu telah terbang ketengah udara.
Siang Hong Siang ketawa terkekeh-kekeh lalu maju menyerang Goaw Ya Pa dengan kedua senjatanya berbareng.
Gouw Ya pa sekarang sudah tidak memegang senjata ditangannya.
cepat-cepat ia lompat mundur sambil berteriak.
"Bocah, tahan dulu!"
Siang Hong Siang terkejut, maka dengan terpaksa ia menarik kembali serangannya dan berkata.
"Kau sudah mau mampus masih mau meninggalkan pesan apa lagi ?"
Gouw Ya Pa putar matanya sambil berkata.
"Kau hanya merupakan salah satu Tongcu dari Hian kui kauw dan aku adalah Lengcu. Bagaimana bisa berpikir seperti itu? Kau tunggu sebentar, aku nanti perintahkan orang lain untuk melayani kau."
Siang Hong Siang gusar, senjatanya diangkat dan sudah hendak turun tangan lagi ...
Mendadak Gouw Ya Pa putar tubuhnya dan lompat balik kedalam kupel dan kemudian mengeluarkan Kiu hoan lengnya yang diangkat tinggi-tinggi.
Cian tok Jin mo yang menyaksikan Kiu hoan leng itu, seketika matanya terbuka lebar lalu saling pandang dengan Bo Pin agaknya merasa terheran-heran.
Mereka sungguh tidak habis pikir, mengapa malam itu, sehabis menewaskan Ho In Bo dan menghajar anaknya, Kiu hoan leng yang dicari-cari setengah mati itu mengapa bisa terjatuh ditangan bocah tolol ini.
Tetapi Kiu hian leng itu memang benar yang aslinya, sedikitpun tidak salah.
Pada saat itu Gouw Ya Pa sudah berkata dengan suara nyaring.
"Ketua Tiam Khong pay. dengar perintah !"
Tio Tian Ek terperanjat, terpaksa ia harus berdiri sambil menyahut.
"Orang she Tio disini menantikan perintah Leng Cu."
"Kau ambil kepalanya itu bocah !"
Perintah Gouw Ya Pa sambil menuding Siang Hong siang.
Tio Thian Ek.
karena ia sudah mengetahui bahwa Siang Hong Siang sangat tinggi kepandaiannya, ia merass sangsi apakah ia dapat menandinginya, tetapi Gouw Ya Pa sudah berkata pula.
"Kalau kau berani melanggar perintah. bawa kepadamu sendiri kemari !"
Ucapan itu telah membuat Tiaw Goan Taysu sendiri juga diam-diam merasa kaget.
Tetapi perintah sudah dikeluarkan, siapa yang berani menentang ?
Terpaksa Tio Thian Ek keraskan kepala, lantas menyerbu kedalam kalangan, Ia sudah tahu bahwa pertempuran ini bukan saja ada menyangkut jiwanya sendiri, tetapi juga ada hubungannya dengan nama baiknya Tiam khong pay.
Kalau ia tidak bisa merebut kemenangan.
dimana harus menaruh mukanya?
Maka selagi masih melayang di tengah udara.
pedang Tui hun kiamnya sudah dihunus dari serangkanya.
Ia menghampiri Siang Hong Siang.
Tio Thian Ek, sebagai ketua dari salah satu partai besar ilmu pedangnya sudah terkenal dalam dunia persilatan, Orang-orang dan Hian kui kauw diam-diam pada kuatirkan Siang Hong Siang mempunyai kepandaian tinggi dan tangannya telengas maka diam2 mereka kuatirkan dirinya Tio Thian Ek.
Hanya Gouw Ya Pa, setelah keluar perintahnya dapat bernapas lega, dengan tenang ia duduk kembali.
Dengan mata mendelik Siang Hong Siang memandang Tio Thian Ek.
"Orang she Tio."
Katanya.
"Kau adalah ketua dari salah satu partai. mengapa mau diperintah oleh satu bocah tolol?"
"Perintah dan Seng leng tidak dapat kubantah, aku tidak bisa berbuat apa-apa."
Jawabnya.
"Kalau kau ingin ada jiwa dengan aku siorang she Siang, jangan sesalkan kalau aku nanti berlaku telengas!"
"Kau boleh keluarkan semua kepandaianmu."
Sebelum ucapannya selesai, Siang Hong Siang sudah keluarkan bentakan nyaring yang segera maju menyerang Tio Thian Ek dengan senjata tumbaknya.
Tio Tian Ek geser kakinya, dengan ujung pedang ia sambut tumbak Siang Hong Siang.
Kemudian kedengaran suara beradunya senjata, orangnya masing-masing mundur dua tindak.
Tio Thian Ek yang mendongkol mendadak berpekik nyaring, ia maju menyerang dengan pedangnya.
Begitu turun tangan, ia sudah menggunakan ilmu pedangnya Tui hun kiam -hoat, yang terdiri dari dua belas jurus sehingga sebentar saja dirinya Siang Hong Siang sudah terkurung dalam sinar pedang.
Tetapi Siang Hong Siang juga bukannya orang lemah, kecernya diputar bagaikan titiran sehingga menimbulkan suara berisik dengan itu ia bernasil membendung serangan pedangnya Thio Thian Ek.
Ketua Tiam cong pay tidak berhasil dengan serangannya, selanjutnya serangannya mulai kendor, kesempatan itu telah digunakan se-baik2nya oleh Siang Hong Siang untuk rebut kedudukan berbalik sebagai penyerang.
Pertempuran sengit itu sebentar saja sudah berlangsung dua atau tiga puluh jurus, kekuatan kedua pihak kelihatannya berimbang satu sama lain masih belum kelihatan siapa yang menang.
Diantara 9 partai itu, hubungannnya ketua Khong tong pay Lim Co Ek dengan Tio Thian Ek paling rapat, maka ketika melihat Thio Tniang Ek masih belum mampu merubuhkan lawannya, ia berkali-kali sudah ingin turut campur tangan.
Sebentar terdengar suara nyaring dari beradunya dua senjata, Tio Thian Ek dan Siang Hong Siang pada mundur tiga tindak, wajahnya berubah, pada kecerannya Siang Hong Siang terdapat lobang dalam bekas tusukkan pedang Tio Thian Ek.
Siang Hong Siang merasa sakit hati, wajahnya yang jeiek nampak semakin jelek, dengan suaranya seperti gembreng pecah ia berkata.
"Orang she Tio, kau sambuti lagi seranganku tumbak terbang!"
Baru saja menutup kata-katanya, senjata tumbaknya yang bergigi tiga sudah meluncur keluar dari tangannya bagaikan terbang!
Tio Thian Ek matanya ditujukan kearah tumbak, siapa nyana sebelum tumbak sampai matanya telah dibuat kabur oleh sinarnya yang gemerlapan menyilaukan matanya, sehingga tidak dapat menangkap kemana arahnya tumbak itu ....
Ia terperanjat, sjeera mengetahui gelagat tidak baik.
Maka lantas putar pedangnya, tapi ternyata sudah terlambat.
Tiba-tiba ia merasakan sambaran angin dingin.
Tio Thian Ek terpaksa berkelit, tapi pundak kirinya dirasakan sakit sekali, sehingga ia mengeluarkan seruan tertahan, badannya mundur sampai lima enam tindak.
Tiauw Goan Taysu dan lain-lainnya semua pada pucat wajahnya sedang Lim Co Ek saat itu lantas loncat keluar sambil berseru.
"Tio heng, jangan takut siaotee... ."
Belum habis ucapannya itu.
Tio Thian Ek sudah menarik tumbak yang menancap dipundak kirinya sehingga darah menyembur keluar seperti air mancur.
Tio Thian Ek nampak pucat Wwajahnya, keringatnya keluar menetes, ia lalu mendongak keatas sambil berkata dengan suara bengis.
"Tiam cong pay Khay-san Couwsu, teecu Thio thian Ek telah menbuat malu nama baik perguruan, tak ada muka untuk hidup, maka hanya ingin mati saja untuk menebus dosa!"
Begitu habis mengucapkan perkataannya pedangnya lantas diangkat hendak menggorok lehernya sendiri.... Lim Co Ek segera berseru.
"Tio heng, jangan!...."
Ia coba melesat dan dengan jari tangannya ia coba menotok jalan darah Yang ko-hiatnya Tio Thian Ek, tapi sebelum jarinya sampai, Tio Thian Ek tiba-tiba menyerang dengan tangan kiri yang luka.
Lim Co EK terkejut.
selagi merandek, kepala Tio Thian Ek sudah menggelinding ditanah, sedang badannya masih tetap berdiri sambil memegang pedang....
Tiauw Goan Taysu rangkapkan dua tangannya.
menyebut nama Buddha, sedang Hui Kak Siansu, Bu Wie Totiang dan lain-lainnya pada mengucurkan air mata.
Orang-orang dari Hian kui kauw yang menyaksikan keadaan itu juga pada kesima.
Siang Hong Siang sendiri juga merasa bergidik, tanpa berasa mundur dua tindak.
Lim Co Ek dengan mata beringas membentak dengan suara bengis.
"Orang she Siang jangan bergerak !"
Siang Hong Siang terkejut, tapi ia masih berlaku tenang.
"Kau mau apa ?"
Tanyanya.
"Aku si orang she Lim ingin belajar kenal dengan tumbakmu yang terkenal namanya didunia Kang-ouw !"
"Apa kau lihat karena ditanganku cuma ada kecer pecah ini, maka hendak mencari keuntungan?"
"Ambil tumbakmu, mari kita bertempur lagi."
Siang Hong Siang ketawa terkekeh-kekeh dengan perlahan menghampiri mayat Tio Thian Ek! Tiba-tiba ada berkelebat satu bayangan orang.
"Siang Tongcu! Silahkan mengaso dulu, orang she Lim ini biarlah aku situa bangka yang melayani!"
Kata bayangan tadi.
Lim Co Ek lintangkan pedang didadanya ia melihat orang itu sudah putih seluruh rambutnya, usianya mungkin sudah lebih enam pulah tahunan.
Badannya kurus kering, kulit mukanya sudah keri^putan.
ditangannya membawa tongkat bambu hijau.
Orang tua itu menghadang didepannya Siang Hong Siang, lalu berkata.
"Aku situa bangka adalah Cian Siu. salah satu Tongcu dari Hian kui kauw Kini ingin mewakili Siang Tiongcu untuk menyambuti ilmu silat Khong-tong pay!"
"Kau tentunya ada itu orang tua yang bergelar orang tua sakti bertongkat hijau yang namanya sangat kesohor didunia Kang-ouw, bukan ?"
"Julukkan yang tidak berarti itu. bagaimana bisa direndengkan dengan nama Lim-heng ?"
"Baiklah aku si orang she Lim ingin belajar kenal dengan senjata tongkatmu yang ternama itu!"
Lim Co Ek lalu angkat pedangnya, badannya bergerak laksana kilat menyerang lawannya.
Cian Siu tidak menyambuti, dengan gesit ia egoskan dirinya untuk mengelakkan serangan tersebut.
Tongkatnya sekali menotol ke tanah, dirinya lantas melesat keudara.
Lim Co Ek menarik kembali serangannya dengan perasaan kagum, sambil memutar pedangnya ia bergerak mundur.
Siapa tahu Cian Siu yang masih berada ditengah udara mendadak memutar tubuhnya.
tongkatnya hendak mengemplang kepala Lim Co Ek.
Sambil membentak keras, Lim Co Ek kerahkan seluruh kekuatannya untuk menangkis serangan lawan.
Sebertar kemudian, pedang dan tongkat saling beradu sehingga menimbulkan suara nyaring.
Cian Siu melayang turun, lalu berkata sambil tertawa.
"Tidak kecewa Khong tong pay termasuk salah satu partai besar. Dengan mengadu kekerasan ini, baru kelihatan kekuatan aslinya!"
Dalam mengadu kekuatan tadi, Lim Co Ek sudah mengetahui bahwa orang tua itu.
kecuali mempunyai ilmu mengentengkan tubuh yang luar biasa, ternyata kekuatan tenaga dalamnya tidak begitu mahir.
Dengan tidak banyak bicara pula ia maju lagi menyerang.
Benar saja, Cian Siu tidak berani menyambuti serangan secara kekerasan, ia selalu mencari kesempatan untuk melesat ke udara.
Kedua orang itu sebentar saja sudah bertempur sepuluh jurus lebih.
Lim Co Ek keluarkan seluruh kepandaiannya, setelah berhasil dengan pedangnya ia menyingkirkan tongkat lawannya, tangan kirinya secepat kilat mengirim satu serangan kearah Cian Siu yang sedang berada ditengah udara.
Cian Siu sudah tidak mempunyai tem-pat lagi untuk berkelit, maka terpaksa harus menyambuti dengan kekerasan.
Karena Lim Co Ek mengeluarkan seluruh kekuatan tenaganya, maka Cian Siu tidak sanggup menyambuti serangan itu dirinya terpental sampai jungkir balik tiga kali, lalu melayang turun sejauh tujuh tombak.
Ketika kakinya menginjak tanah.
badannya sempoyongan....Tiba-tiba timbul pikiran keji Lim Co Ek.
ia lalu mengambil senjata tombak Siang Hong yang dilemparkan oleh Tio Thian Ek, kemudian membentak dengan suara keras.
"Orang she Cian, kau juga boleh menyambuti tombak terbang ini."
Ia lantas menyambit dengan tombak itu orangnya berbareng juga melesat menerjang Cian Siu yang sudah terluka didalam barusan berhasil menyingkirkan senjata tombak, tahu-tahu Lim Co Ek sudah berada didepan matanya yang hendak menikam dengan pedangnya.
Kelihatannya terhadap serangan tersebut Cian Siu sudah tidak mempunyai daya untuk menyambutnya.
Lim Co Ek yang sudah bernapsu hendak membalas sakit hati Tio Thian Ek, ia memutar pedangnya untuk mengurung dirinya Cian Siu supaya tidak mempunyai tempat untuk meloloskan diri lagi.
Siapa tahu, selagi ia hendak turun tangan, dibelakang dirinya tiba-tiba merasa ada sambaran angin kuat.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 11 LIM CO Ek tahu bahwa dibelakangnya ada orang yang membokong dengan senjata gelap, dilam gusarnya ia menyampuk dengan tangan kirinya, pedang ditangan kanannya tetap meneruskan serangannya.
Sesaat lalu terdengar suara jeritan ngeri, darah berhamburan.
Telapak tangan Lim Co Ek dirasakan seperti ada benda yang menembus dalam.
Sambil kertak gigi, ia menarik kembali pedangnja dada kiri Cian Siu sudah berlubang dan badannya lantas rubuh ditanah.
Lim Co Ek ketika memeriksa tangannya, ternyata ada jarum halus, Hong bwee ciam yang sangat berbisa menancap ditelapak tangannya.
Racunnya kelihatan sudah mulai menjalar.
Ia keluarkan suara ketawanya yang menyeramkan, lantas mengangkat pedangnya untuk membacok tangan kirinya, kemudian ia menutup jalan darah dilengan kirinya itu dan lantas membentak dengan suara bengis;
"Manusia keparat. siapa yang tidak tahu malu, membokong orang dengan senjata gelap. Lekas unjukkan diri!"
Dari dalam kupel saat itu lantas muncul seorang yang menjawab dengan suara dingin.
"Sungguh mengecewakan kau menjadi ketua dari partai yang baik-baik. Ternyata begitu kejam turun tangan terhadap lawan. Aku hanya memberikan kau sebuah jarum kecil sekedar untuk memberi peringatan padamu, itu hanya terhitung sebagai suatu tanda peringatan saja."
Lim Co Ek melihat orang itu, usianya tidak lebih dari empat puluh tahun, dipunggungnya terlihat sebuah golok tanto. Diketiak kanan dan kirinya tergantung tujuh atau delapan kantong kulit.
"Kiranya adalah Siek Lek Losu. Aku si orang she Lim cuma tinggal satu tangannya. Apakah Losu berani mengeluarkan senjatamu untuk kita main-main beberapa jurus?"
Demikian Lim Co Ek menantang.
Siek Lek ketawa dingin, ia lantas menghunus golok tantonya.
Siapa tahu, Lim Co Ek pada saat itu sudah gusar benarbenar, begitu Siek-lek muncul, diam-diam ia sudah mengambil keputusan untuk membinasakan orang-orang yang membokong dirinya itu.
Saat itu, Siek-lek sedang mengangkat lengannya untuk merghunus golok, hingga ketiak kanannya terbuka satu lowongan.
Lim Co Ek ketawa dingin, mendadak pundaknya bergerak, ia menggunakan kesempatan itu, ujung pedangnya menotok jalan darah Ciang bun-hiat dibawah ketiak kanan!
Perbuatan itu sudah tentu berlawanan dengan peraturan Kang-ouw, juga membikin jelek nama baiknya Khong tong pay.
Tapi Lim Co Ek yang hendak membalas sakit hati Tio Thian Ek, dalam keadaan gusar ia sudah tidak perdulikan itu semua.
Siek Lek sama sekali tidak menduga perbuatan Lim Co Ek, maka bukan kepalang kagetnya.
Dalam keadaan gugup ia buru-buru loncat mundur, berbareng dengan itu ia gerakkan pundak kirinya dan bawah pundaknya meluncur keluar batang senjata rahasia yang sangat berbisa.
Siek Lek yang mempunyai julukan manusia biruang berlengan, hampir sekujur badannya terdapat senjata rahasia, Dalam keadaan kepepet demikian ia masih bisa menolong dirinya, dengan melepaskan tiga batang senjata rahasia, yang mengarah muka dan dada Lim Co Ek.
Lim Co Ek terpaksa menangkis dengan pedangnya.
tapi dengan demikian Siek Lek sudah dapat kesempatan untuk singkirkan dirinya dari ancaman pedang.
Selagi Siek Lek hendak menyerang musuhnya.
tiba-tiba berkelebat bayangan merah menghalang ditengah mereka, kemudian terdengar suaranya.
"Orang she Lim, percuma saja kau menjadi ketua dari satu partay besar. apakah kau sudah tidak tahu malu ?"
Orang itu badannya tegap, suaranya seperti genta, rambutnya diikat dengan benang emas, berpakaian seperti taoto, ia adalah Tongcu dari Hian kui-kauw.
Ang-in Taoto tan-liang.
Tiauw Gouw Taysu dengan suara perlahan-lahan berkata kepada Hui kak Siansu yang berada disampingnya.
"Urusan hari ini barangkali tidak bisa dibereskan dengan baik. Liu Sicu sudah terluka, tolong Siansu bawa balik dia !"
Hui kak Siansu lantas bangkit dari tempat duduknya menghampiri mereka dan berkata kepada Tan Liang sambil rangkapkan kedua tangannya.
"Apa Taysu menpunyai kegembirapn untuk main-main beberapa jurus dengan pinceng ?"
Ang-in Taoto melirik sejenak, hatinya bercekat.
Sebab ia tahu bahwa ketua partay Ngo-bie-pay ini bukan saja sangat tinggi kepandaian ilmu silat dan kekuatan tenaga dalaamnya.
tapi juga merupakan satu ahli senjata rahasia yang kenamaan.
Dengan munculnya ia, Siek Lek barangkali akan terancam kedudukannya.
Saat itu, Lim Cu Ek sudah bertempur sengit dengan Siek Lek.
Angin Taoto lantas menghadang didepan Hui kak Siansu sambil berkata.
"Sudah lama aku mendengar nama Ngo-bie pay sudah tentu suka sekali menerima pelajaran Siansu!" ' Keduanya lalu saling menyerang. Mendadak terdengar suara bentakan, kemudian disusul dengan suara beradunya senjata. Ketika Ang-in Taoto menoleh, ternyata Siek Lek sudah terpukul mundur oleh Lim Co Ek. Oleh karena hatinya tergoncang, pundak kirinya telah terkena serangan Hui Kak Siansu, dirasakan sakit sekali dan kekuatan dalamnya juga lantas merasa buyar, maka buruburu lompat mundur! Hui Kak Siansu tidak mau mendesak, ia membiarkan lawannya itu berlalu, kemudian menyerbu Siek-lek. Badannya masih ditengah udara, tangan kanannya diayun mengirim empat buah Pho-tih cu, untuk mengempur panah beracun yang dilancarkan oleh Siek Lek, hingga jatuh berhamburan ditanah. Lim Co Ek semakin kalap, ia sudah seperti banteng mengamuk. Dalam serangannya yang sangat hebat, lengan kanan Siek Lek telah terkutung dan terlepas dari badannya. Lim Co Ek masih belum mau berhenti, pedangnya masih hendak menyambar kepala musuhnya. Hui Kak Siansu yang melayang turun lalu mencegah.
"Lim-sicu, kalau kita masih bisa mengampuni, ampunilah jiwanya. Dia bukan penjahat utamanya, biarlah tinggalkan dia hidup !"
Melihat dalam sekejapan saja sudah ada orangnya terluka. Cian tok Jin-mo wajahnya mendadak berubah, ia sudah hendak berbangkit untuk turun tangan sendiri. Tapi Bo Pin lantas maju kedepan dan berkata.
"Bo Pin minta izin untuk menemani Hui Kak Siansu dari Ngo bie pay!"
Cian tok Jin mo ketawa dan ia angguk-anggukkan kepalanya.
"Siansu adalah seorang beribadat tinggi, namun kesohor dalam kalangan rimba persilatan. Bo kongcu harap hati-hati menghadapi dia, dan suruh mereka semua balik."
Bo Pin terima baik pesan cukongnya, lalu masuk kekalangan pertempuran. Setelah suruh Ang-in Taoto dan lain-lainnya balik kedalam kupel, ia lantas berkata kepada Hui Kak Siansu.
"Aku siorang she Bo sudah lama mendengar lihaynya ilnu silat Thay hun Jin khiu-hoat dari dari Ngo-bie pay yang namanya ke sohor diseluruh dunia, hari ini dengan berani mati ingin mendapat sedikit pelajaran dari Siansu!"
Ucapan Bo Pin ini merupakah satu tantangan terangterangan terhadap diri Hnu Kak Siansu, siapa lantas menjawab sambil merangkapkan tangan;
"O Mie To Hud, orang beribadat tidak mempunyai kepandaian apa-apa, bagaimana bisa dibandingkan dengan Tongcu?"
"Kita hanya belajar kenal dengan kepandaian masingmasing, perlu apa Siansu merendahkan diri? Silahkan!"
Si tangan geledek kata dengan suara dingin.
Perkataan yang terakhir itu baru saja keluar dari mulutnya, mendadak badannya sudah bergerak maju, dengan kecepatan kilat telah melancarkan serangan.
Ia menggunakan tenaga kekerasan serta menerjang secara tidak kepalang tanggung, kesombongannya orang she Bo itu benar-benar sangat nyata.
Kalau Hui Kak Siansu tidak menyambuti keras lawan keras bukan saja akan memalukan Ngo bie pay, tapi juga akan kehilangan kesempatan untuk menyerang dan selanjutnya orang she Bo itu pasti akan mendesak terus.
Hui Kak Siansu meski seorang beribadat tinggi, melihat musuhnya yang bersikap congkak dan tidak memandang mata, seketika itu juga lantas marah.
Ia lantas tancap kaki, tidak menyingKir dan berkelit, lengan kirinya dikibaskan untuk menyingkirkan kekuatan serangan Bo Pin, sedang tangan kanannya digunakan untuk menyambuti serangan.
Bo Pin tertawa, kekuatannya mendadak ditambah 3 bagian lagi.
ketika kedua kekuatan beradu, lantas terdengar suara benturan keras.
Bo Pin merasa kesemutan tangannya orangnya mundur tiga tindak.
Tapi Hui Kak Siansu terkena serangan telah terpental mundur sampai tujuh delapan tindak, dadanya bergolak dan mulutnya menyemburkan darah segar.
Tiauw Goan Taysu yang menyaksikan kejadian itu, bukan kepalang kagetnya.
Tapi sebelum turun tangan untuk memberi pertolongan, Bo Pin sudah mengirim satu serangan lagi.
Hui Kak Siansu dengan sisa tenaganya yang masih ada, mengeluarkan ilmunya Toy-hud Khiu in dari Ngo-bie pay, pada menyambut serangan Bo Pin.
Getaran angin pukulan telah membuat rontok daun-daun diatas pohon yang jauhnya dua tombak lebih.
Kedua orang itu terpental mundur masing-masing empat tindak.
Hui Kak Siansu sudah kehabisan tenaga tidak mampu menahan bergolaknya dada, maka kembali menyemburkan darah segar ....
Ketua Bu tong pay Siong Leng Totiang yang menyaksikan kejadian itu lantas kerutkan alisnya, kemudian berkata dengan suara nyaring.
"Biarlah pinto menyambut serangan Bo Tongcu !"
Dengan cepat ia sudah menghadang didepannya Hui Kak Siansu, Ketua Ngo bie pay itu mengawasi padanya dengan sorot mata bersyukur.
lantas duduk ditanah sambil pejamkan mata untuk mengatur pernapasannya.
Bo Pin sendiri setelah mengadu kekuatan dua kali itu juga sudah mendapatkan luka tidak ringan.
dan sekarang harus menghadapi Bu tong pay yang kekuatannya cuma dibawah Siao lim sie, sudah tentu tidak berani gegabah.
maka segera menjawab.
"Maksud Totiang, apakah juga hendak mengadu kekuatan tangan ?"
"Kekuatan tangan Bo Tongcu barusan pinto sudah menyaksikan sendiri. sayang pinto selamanya tidak suka menggunakan tangan. sudilah kiranya tongcu mengadu kekuatan memakai senjata ?"
Tanpa memperdulikan orang she Bo itu setuju atau tidak, ia sendiri sudah menghunus pedangnya.
Dengan demikian, terpaksn Bo Pin harus melayani dengan senjata juga dan lantas mengelurkan goloknya yang tebal.
Sambil menenteng golok emasnya yang tebal Bo Pin berjalan berputaran, matanya terus mengawasi Siong Leng Totiang.
Siong Leng Totiang tetap tidak bergerak, ia hanya berdiri tenang sambil memegang pedangnya, siap sedia untuk menghadapl segala kemungkinan.
Sebentar saja Bo Pin sudah berpular tiga kali.
Tetapi Siong Leng Totiang hanya mengawasi tingkah lakunya orang itu sambil tersenyum, sehingga Bo Pin tidak mempunyai kesempatan untuk menerjang.
Kembali ia memutar lagi tiga kali, keadaan demikian telah memperhatikan suasana yang sangat tenang, tetapi bagi orang yang mengerti satu diantara kedua orang itu juga sudah mengeluarkan serangannya, sudah pasti sangat hebat.
Ilmu pedang Bu tong pay, meskipun hebat, tetapi Bo Pin yang dalam dua gebrakan telah menjatuhkan diri ketua Ngo bie pay, juga bukan orang sembarangan.
Orang banyak dalam kupel itu tidak ada seorang pun yang berani buka suara, masing-masing menguatirkan pihaknya sendiri.
Sang waktu sedikit demi sedikit berjalan terus, dalam suasana sesunyi itu mendadak terdengar suara bentakan keras, golok Bo Pin dengan mengeluarkan sinar kekuningkuningan dibarengi sambaran angin yang hebat sekali telah menyerang diri Siong Leng Totiang.
Siong Leng Totiang ketawa dingin, ia menantikan serangan itu dengan tenang sampai ujung golok sudah berada dekat dirinya, baru ia bertindak secara mendadak.
Secepat kilat pedangnya menangkis, sehingga suara beradunya kedua senjata kedengaran njaring sekali.
Masing-masing lalu mundur serta memeriksa senjatanya....
Begitu memeriksa goloknya mendadak kelihatan Bo Pin menjadi gusar.
Kiranya golok emas yang sangat di sayangnya itu ternyata sudah dibikin gompal oleh pedang Siong Leng Totiang.
"Sungguh tidak kusangka. ketua dari Bu tong pay ternyata hanya mengandalkan tajamnya pedang saja!"
Ia mengejek dengan muka beringas. Siong Leng Totiang lalu menjawab sambil ketawa dingin.
"Meskipun senjata ini tajam sakti, tetapi masih harus dilihat berada ditangan siapa. Meskipun pinto tidak menggunakan senjata, apa kau kira pinto takut padamu?"
Sambil simpan pedangnya.
Diam-diam Bo Pin merasa terheran-heran iapun lantas menyimpan goloknya dan menyerang hebat dengan tangan kosong.
Siong Leng Totiang melindungi dadanya dengan tangan kirinya, tangan kanannya dengan mendadak melancarkan serangannya.
Sambaran angin yang tajam dan sangat hebat telah menyambar diatas kepala Bo Pin.
Bo Pin terperanjat, ia mundur dua langkah.
Ketika ia memeriksa kepalanya, ternyata rambutnya yang panjang sudah terpapas oleh karena serangan Siong Leng totiang tadi.
Bukan kepalang kagetnya siorang she Bo, Ia selamanya sangat jumawa, ia menganggap kecuali Cian tok Jin mo seorang didunia ini sudah tidak ada orang lain yang mampu menandingi dirinya.
Tidak nyana, diantara para ketua dari sembilan partai besar itu ternyata masih ada juga orang yang mampu menandingi dia.
Ia merasa keder, hanya kuncup seketika, sikap jumawanya lantas lenyap dengan sendirinya.
Karena mengingat bahwa dirinya merupakan ketua penjara Hian Kui kauw, kalau hari ini terguling ditangan Siong Leng Totiang, bagimana masih ada muka untuk unjukan muka didunia Kang-ouw, Maka sekarang ia tidak berani memandang ringan musuhnya, kekuatannya dipusatkan seluruhnya, setindak demi setindak ia berjalan mendekati Siong Leng.
Siong Leng Totiang masih tetap seperti tadi, menantikan musuhnya dengan tenang, sedikitpun tidak menunjukkan sikap jumawa.
Diam-diam sudah mengerahkan ilmu Bu-sie biat kut ciang leknya baru-baru ini dipelajari dari Cian tok Jin mo yang dipusatkan pada kedua lengannya.
Kemudian, diantara gerakan tangannya yang melancarkan serangan, ada sambaran angin yang berbau amis.
Siang Leng Totiang mengetahui benar nsampai dimana kelihayan seorang she Bo itu, sebentar kemudian ia membentak keras, lalu tangannya diayun.
Ia mengeluarkan kekuataa tenaga dalam yang sangat dahsyat.
Bo Pin perdengarkan suaranya yang menyeramkan, kedua tangannya bergerak dengan cepat, sekaligus sudah melancarkan tujuh atau delapan kali serangan, sehingga Siang Leng Totiang terpaksa harus mundur.
Sebentar saja pertandingan sudah berlangsung sepuluh jurus lebih.
Siong Leng Totiang dengan tenang menghadapi Bok Pin, setelah diserang begitu gencar dan setelah berhasil mengalahkan semua serangan itu, barulah ia melancarkan serangan simpanannya dari partai Bu-tong, ia balas menyerang dengan kekuatan yang hebat.
Perlahan-lahan mundur sampai setumbak lebih jauhnya.
Kekuatan tenaga keras dan lunak dari dua orang itu saling bentur, kesudahannya ternyata seri.
Setelah bertempur lima puluh jurus Bo Pin kelihatan sudah mulai kewalahan.
Selagi Siong Leng sudah mau turun tangan terhadap lawannya yang sudah tidak berdaya itu, mendadak terdengar suara bentakan seram.
"Tahan !"
Meskipun suara itu tidak begitu keras tetapi Siong Leng Totiang yang mendengar itu terperanjat, dengan sendirinya serangannya lantas ditarik kembali dan segera lompat mundur.
Ketika ia dongakkan kepalanya, didalam kalangan ada bediri Cian tok Jin mo sendiri.
Dengan wajah seram Cian tok Jin-mo berkata sambil kebutkan lengan bajunya.
"Bo Tongcu mundur biarlah aku sendiri, jangan kau menemui para ketua partal besar ini."
Si tangan geledek Bo Pin lantas undurkan diri. Cian tok Jin-mo setelah berada dikalangan, lalu berkata kepada Siong Leng Totiang sambil menjoya;
"Jie Hui ada seorang pegunungan yang kasar, mendirikan perkumpulan Hian kui kaw maksudnya cuma hendak mencari suatu tempat untuk tancap kaki didalam masyarakat. Totiang sekalian yang anggap diri sebagai ketua dari golongan orang baik-baik hari ini dengan beramai-ramai telah memasuki lembah Kui kok, kalau Jie Hui tidak menyambut sendiri tentunya akan ditertawakan oleh orang-orang dari rimba parsilatan, harap Totiang suka memberi pengajaran, tak usah merendah."
"Sudah lama pinto mendengar nama besar dan kepandaian yang luar biasa dari Kauwcu, hingga selamanya tidak pandang mata kepada 9 partai, justru inilah maka pinto ingin minta pelajaran dari Kauwcu sendiri."
Jawabnya Siong Leng Totiang.
"Totiang ada seorang yang berterus terang, kalau begitu tidak perlu banyak berkata yang tidak ada gunanya lagi, silahkan To tiang turun tangan !"
Dengan gerakannya yang sangat gesit, Kauwcu itn sekeiap saja sudah berada didepan lawan lawannya.
Siong Leng Totiang terkejut menyaksikan gerakan demikian gesit.
ia buru-buru mundur dua tindak sambil bersiap-siap.
Meskipun ia belum pernah bertanding dengan Kauwcu Hian kui kauw ini namun sudah lama ia dengar kepandaiannya, maka ia tidak berani gegabah.
"Totiang mengapa tidak lekas turun tangan?"
Tanya Cian tok Jin Mo sambil ketawa aneh.
"Pinto adalah tamu, bagaimana berani lancang tangan."
Jawab Siong Leng.
"Kalau Totiang begitu merendah. jangan heran kalau lohu berlaku kurang ajar!"
Berkata Ciau tok Jin Mo sambil ketawa.
Kemudian dengan tiba-tiba kebutkan lengan bajunya, entah dari mana datangnya angin yang mengandung bau amis tahu-tahu sudah menyambar muka Siong Leng Totiang !
Sudah tentu Siong Leng Totiang tidak berani menyambuti dengan kekerasan.
Ia geser kakinya, badannya segera bergerak hendak menyingkir....Tapi ia lantas dengar suara bentakkan Cian tok Jin Mo.
"Totiang hendak kemana ?"
Siong Leng Totiang merasakan suara itu seolah-olah keluar dari belakang dirinya dalam kagetnya, buru-buru melesat tinggi keatas !
Tapi baru saja melesat tinggi kira-kira tiga kaki, mendadak merasakan ada bau amis luar biasa menusuk hidungnja, rasa mual segera menusuk ulu hati, sehingan seluruh kekuatannya menjadi buyar, Ia masih hendak mengatur pernapasannya, tapi sudah tidak bisa lagi !
Badannya tampak bergoyang, wajahnya pucat, kakinya lemas, dan lantas rubuh ditanah.
Dari dalam kupel segera melayang turun seseorang yang lantas menghadang didepannya.
Cian tok Jin Mo, sambil anggukan kepala orang itu berkata.
"Kaucu benar-benar lihay, Pinto tidak mengukur kekuatan sendiri, ingin meminta sedikit pelajaran dari kauwcu !"
Cian tok Jin Mo mengawasi orang yang baru datang itu, ternyata ia adalah ketua dari Kun lun pay. Bu Wie Totiang.
"Kedatangan Totiang sangat cepat, mengapa tidak bimbing dulu dirinya Siong Leng Totiang kedalam kupel?"
Berkata Cian tok Jin Mo dengan suara kaku.
Bu wie Totiang wajahnva merah, lalu ia menyambar lengan Siong Leng Totiang kemudian dengan sekali gentak, ia sudah berhasil mengangkat tubuh Siong Leng Totiang, yang besar kedalam kupel, Tubuh Siong Leng Totiang segera disambut oleh Tiauw Goan Taysu, lalu diletakkan diatas kursinya dan diberi pertolongan sebagai mana mestinya.
Cian tok Jin Mo yang menyaksikan perbuatan Bu wie Totiang ini, bukan saja tidak terkejut, sebaliknya malah ketawa menhhina.
"Benar tidak kecewa Totiang sebagai seorang gagah dalam rimba persilatan, lohu sangat kagum. Tapi entah Totiang bisa menggunakan senjata kebutanmu ini untuk membikin lohu menggeser sampai dua tindak atau tidak?"
Demikian katanya.
"Coba saja!"
Jawab Bu wie sangat mendongkol.
Segera maju dan kebutannya digunakan untuk menotok jalan darah Kian kin-hiat, Kun lun pay yang selamanya mengutamakan ilmu kekuatan tenaga dalam atau lweekang, maka meski begitu kecil tidak berarti seperti kebutan itu, didalam tangan Bu wie Totiang bisa berubah menjadi senjata yang tidak kalah tajamnya dengan pedang atau pecut baja.
Cian tok Jin Mo lantas kebutkan lengan bajunya, badannya menggeser, berada dikirinya Bu wie Totiang , Kemudian ulur tangan kirinya, sehingga kelihatannya kaku dari lima jari tangannya.
dengan kecepatan bagaikan kilat menyambar geger lawannya, Bu wie yang gagal serangannya pertamanya, dalam hati merasa kaget, buru-buru ia memutar tubuhnya, kebutan ditangannya berbalik menyapu.
Tapi Cuma dengan suara ketawanya Ciat tok Jin Mo.
orangnya sudah menghilang dari samping dirinya.
Mendadak angin keras menyambar punggungnya.
Belum sampai memikirkan apa akan terjadi, pundak kiri Bu wie Totiang tiba-tiba merasa sakit, ternyata sudah kena ditepok oleh tangan Cian tok Jin Mo.
Ia lantas keluarkan seruan tertahan, badannya sempoyongan, keringat dingin mengucur keluar.
Dengan perasaan malu Bu wie Totiang terpaksa balik ketempat duduknya sambil tundukkan kepalanya.
Dari kupel kembali melayang keluar dua imam tua, Dengan berdiri berendeng kedua imam itu maju kedepan Cian tok Jin Mo.
"Kaucu benar-benar seorang gagah yang bukan cuma nama kosong belaka. Pinto berdua dengan tidak memikir diri sendiri. ingin minta sedikit pelajaran dari Kauwcu!"
Demikian mereka berkata sambil memberi hormat. Cian tok Jin Mo memandang dengan mata dingin, mereka ternyata adalah ketua Ceng shia pay Liao Tim Totiang dan ketua Kiong lay pay Goan Hie Totiang.
"Di daerah Sucuan benar ada terdapat banyak orang gagah, diantara sembilan partay besar Ngo bie dan Kiong lay sudah mendapati dua bagian. Ini benar-benar merupakan suatu pertemuan yang jarang terjadi!"
Cian tok Jin Mo berkata sambil ketawa.
"Kita hendak adu tenaga, tidak ingin adu lidah."
Goan Hie Totiang membentak.
Dengan tidak sungkan-sungkan lagi, keduanya lantas melancarkan serangan dari kanan dan kiri dengan berbareng.
Jie Hui perdengarkan suara ketawanya yang aneh, kemudian mengebutkan kedua lengan bajunya, badannya dengan gesit sudah mundur lima kaki, sehingga serangan kedua imam itu mengenai tempat kosong.
Sebaliknya, karena terpengaruh oleh kekuatan kebutan Jie Hui, kedua kekuatan Goan Hie dan Liauw Tim terdorong sehingga keduanya harus mundur sejauh dua tindak.
Kedua imam itu meujadi gusar, mereka lalu maju lagi dan sekali lagi melancarkan serangan berbareng.
Serangan yang dilancarkan karena dengan tenaga penuh, anginnya saja sudah menyambar hebat bajunya Cian tok Jin Mo.
Orang-orang Hian kui kauw yang menyaksikan itu pada terperanjat dan beruban wajah seketika.
Meskipun mereka semuanya orang-orang yang selamanya mengagulkan dirinya sendiri, tetapi melihat serangan yang demikian hebatnya, mau tidak mau jadi merasa sangsi atas kesanggupan kauwcunya menghadapi serangan tersebut.
Mendadak Cian tok Jin Mo mengebutkan kedua tangannya, tapi badannya kelihatannya terdorong mundur oleh kekuatan serangan tadi.
Bo Pin sendiri ketika menyaksikan kejadian itu merasa terkejut, ia kuatirkan kalau nanti kauwcu akan kalah, Hian kui kauw pasti akan ludes Siapa tahu, badan Cian tok Jin Mo yang terhuyunghuyung mundur itu, setelah kekuatan kedua imam tadi ditarik kembali lagi, badannya juga sudah melesat balik lagi.
Bersamaan dengan itu, dalam medan pertempuran lantas tercium bau busuk yang sangat hebat, Goan Hie Totiang dan Liaw tim totiang berdua yang tengah kegirangan, tidak menduga sudah kena diserang oleh kekuatan membalik yang dibareng dengan bau busuk tadi.
maka pada saat itu juga rasa mual lantas mengaduk dadanya, kepala mereka dirasakan puyeng, sehingga harus mundur sempoyongan sampai lima tindak jauhnya.
Tiauw Goan Taysu yang menyaksikan kejadian itu, mereka tidak puas, kemudian ia melesat dan turun sendiri di medan pertempuran.
Dengan tangan kirinya ia melancarkan serangannya jarak jauh untuk mencegah sambaran bau busuk, sedangkan tangan kanannya mengeluarkan ilmu kekuatan tenaga dalamnya untuk mendorong diri Goan Hie dan Liau tim.
Dengan denikian, kedua imam itu telah terhindar dari serangan Cian tok Jin Mo yang amat dahsyat.
Melihat kedatangan Tiauw Goan Taisu sendiri, Cian tok Jie mo lantas berkata;
"Apakah Taysu juga ingin main-main dengan aku ?"
"Kauwcu, kau dalam waktu sekejapan saja sudah merubuhkan empat ketua partai. Kepandaian semacam ini sungguh jarang didapatkan. Kepandaian lolap yang tidak ada artinya ini, bagaimana bisa dibandingkan dengan kepandaian Kauwcu? Segala apa didalam dunia ada batasnya dan takdirnya, tapi Kauwcu telah berlaku sewenang-wenang dengan mengandalkan kepandaian sendiri untuk mencelakakan banyak jiwa, hal ini barangkali tidak diinginkan oleh Tuhan,"
Jawab Tiauw Goan Taysu sambil rangkapkan kedua tangannya.
"Lohu bukan orang dari golongan Buddha, maka tidak mengerti apa artinya welas asih segala, aku hanya tahu bahwa rimba persilatan selama ini telah dikuasai oleh sembilan partai besar, sehingga orang-orang gagah dan golongan orang kasar tidak mendapat tempat untuk tancap kaki. Bukannya aku si orang she Jie bicara takabur, taysu sekalian hari ini telah memasuki lembah Kui kok cuma ada dua jalan yang dapat kalian tempuh, kecuali jika taysu dengan kepandaian sesungguhnya dapat menandingi Lohu, kalau tidak ... Ha...,ha...Hanya tinggal satu jalan, ialah kematian saja !"
Perkataan Cian tok Jin mo yang terakhir itu seolah-olah suara geledek ditengah hari bolong, sampai-sampai Gouw Ya Pa yang sejak tadi tidak pernah buka mulut juga lantas lompat bangun dan membentak dengan suara keras.
"Kentut ! Kau kehendaki kami mati, kami juga akan suruh kau tidak bisa hidup lagi."
Pemuda dogol itu selain memaki kalang kabut, tangannya tidak tinggal diam.
Sepasang pecutnya bergerak, sehingga poci dan cawan arak dimeja pada hancur berantakan.
Ia masih belum puas agaknya, maka sambil angkat hiu hoan lengnya tinggi-tinggi, ia mengeluarkan perintah dengan suara nyaring.
"Para ketua dari sembilan partai dengar! Kalian tidak perlu banyak mulut dengan dia. Semua harus maju berbareng."
Tetapi pada saat itu, diantara ketua dari sembilan partai tersebut, selain Tio Thian Ek yang sudah binasa, Tiauw Goan Taysu berhadapan dengan Cian tok Jin mo, disitu yang masih ada dan bisa dengar perintahnya hanya Lim Co Ek, Bu Wie Totiang dan Thian Hian Totiang bertiga.
Sementara Siong Leng, Liauw Tim dan Goan Hie serta Hui Kak Siansu semuanya masih terluka dan dalam keadaan pingsan, Tadi mereka datang dengan sebarisan dari sepulah orang dan sekarang, yang masih bisa bergerak hanya tinggal lima orang lagi.
Dengan demikian, kerugiannya adalah separuhnya, sedangkan pihak Hian kui kauw kecuali Cian Sin yang binasa dan Siang Hong bersama Siang seng yang terluka, masih ada lagi Kaucunya sendiri yang belum mendapatkan tandingan yang setimpal, maka dalam pertandingan itu selanjutnya, sudah terang bahwa sembilan partai itu yang akan menderita kerugian besar.
Tiauw Goan Taysu yang mengetahui keadaan dipihaknya sendiri, sangat menguatirkan Gouw Ya Pa keluarkan perintah tidak karuan, maka cepat-cepat menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga orang, ia berkata kepada Wie Totiang sekalian.
"Lim Sicu dan Jiwie Totiang harus melindungi yang terluka, berdaya keluar dari lembah ini. Disini lolap akan berusaha mencegah tindakan mereka selanjutnya."
Thian hian Totiang dan Bu Wie Totiang berdua cepatcepat menghampiri Siong Leng dan Goan Hie, bersedia hendak menerjang keluar.
Tetapi Gouw Ya Pa yang menyaksikan itu, lantas marah dan berkata dengan suara keras.
"Semua jangan bergerak sembarangan. Kalau tidak bisa berhasil menolong keluar saudara Ho, kalian juga jangan harap bisa hidup terus!"
Bu Wie Totiang dan lain-lainnya jadi saling pandang, terpaksa urungkan maksud mereka.
Dilain pihak, Bo Pin sudah memimpin orang-orang Hian kui kauw keluar dari kupel sambil menghunus senjata masing-masing.
Keadaan demikian telah membayangkan segera akan terjadinya suatu pertempuran hebat.
Tiauw Goan Taysu hanya bisa berkata sambil menghela napas.
"Siancay, siancay, begitu dimulai, pembunuhan ini akan merupakan suatu malapetaka untuk selama -amanya."
Cian tok Jin-Mo sambil tertawa dingin kebutkan lengan bajunya, dirinya mundur setombak lebih, sedangkan dua belas anak buahnya yang berada dibelakangnya lantas maju mengurung dirinya Tiauw Goan Taysu.
Para ketua yang berada didalam kupel, semua sudah terkurung rapat oleh orang-orangnya Hian kui kauw.
Gouw Ya Pa sedang berdiri diatas meja sambil angkat Kiu goan lengnya tinggi-tinggi.
Pada saat itu, Bo Pin lantas keluarkan suara.
"Para ketua dari sembilan partai, dengar, Kalau sudah separuh lebih yang terluka dan terbinasa semuanya sekarang terkurung didalam kupel yang sudah ditanami bahan peledak maka mati atau hidup kalian hanya dalam waktu sekejapan saja. Kalau tidak segera menyerah, begitu bahan peledak dinyalakan, semuanya akan hancur lebur."
Bu Wie Totiang terperanjat, ia berkata keoada kawankawannya dengan suara perlahan.
"Benar saja kita sudah kena jebakan. Kopel ini pasti tempat yang berbahaya, mari kita menerjang keluar"
Sehabis berkata, ia lantas bertindak cepat, tetapi baru saja badannya bergerak, mendadak didengarnya suara bentakan nyaring.
Ang-in Taoto dan Hui tun Thian cun sudah bergerak berbareng melancarkan serangan tangan dari jarak jauh.
Bu Wie Totiang lantas menyambuti dengan tangannya, setelah kedua kekuatan itu beradu, meskipun Ang-in Taoto dan Hui tun Thian cun terpental mundur, tetapi Bu Wie Totiang sendiri yang dengan seorang diri harus melawan dua orang, sudah terpental mundur lagi kedalam kupel.
Lim Co Ek lantas membentak keras, kembali bergerak hendak menerjang keluar, tetapi segera dicegah oleh Siek Lek dan Ong Hoa Cie yang sejak tadi belum pernah turun tangan.
Thian hian Totiang merasa gelisah, ia berkata denpan suara perlahan.
"Kita harus bergerak bsrbareng. masingmasing menerjang keluar."
Ketiga orang itu lalu menerjang keluar kupel sambil menghunus pedang masing-masing, tetapi baru saja mereka melangkah keluar, dari empat penjuru sudeh dihujani oleh rupa-rupa senjata gelap, maka Thian hian Totiang dan kawan-kawannva terpaksa harus kembali lagi kedalam kupel.
Sementara itu orang-orang Hian kui kauw juga tidak mendesak.
asal musuhnya balik kedalam kupel, mereka juga menghentikan serangannya, hanya mengurung dari jarak jauh.
Gouw Ya Pa sendiri juga sangat gelisah mulutnya memaki-maki kalang kabut.
Baru saja ia hendak mengeluarkan perintahnya lagi, mendadak mendengar suara Tiaw Gaon taysu berseru.
"O mie to hud! Maafkan lolap akan memDuka pantangan membunuh !"
Padri tua itu lantas kebutkan lengan jubahnya memukul mundur bocah yang yang mengurung dirinya kemudian melayang keluar dengan tangan kirinya melancarkan dari jarak jauh menyerang Ang-in taoto.
Ang-in taoto coba menyambuti serangan itu, tetapi kesudahannya ia mundur sampai 5 tomdak.
Tiauw Goan Taysu melancarkan serangannya bagaikan kilat cepatnya setelah memukul mundur dirinya Ang-in Toato, tangan kanannya melancarkan tinjunya kim kong cie, salah satu ilmu terhebat, 2 macam ilmu kepandaiannya Siao lim pay, menyerang dirinya Siek Lek.
Tidak ampun lagi Siek Lek lantas keluarkan seruan tertahan, tubuhnya mundur sempoyongan Sebentar saja Tiauw Goan Taysu sudah berada dipinggir kupel.
Lalu berkata kepada kawan-kawannya.
"To-heng sekalian. lekas ikut lolap menerjang kepungan !"
Lim CnoEk sambil menggeram lebih dulu menerjang keluar dengan pedang terhunus.
Thin Hian Totiang dan Bie wa Totiang juga lantas bergerak.
Gouw Ya Pa mengawasi keadaan disekitarnya, ia cuma dapat melihat diri Tio Thian Ek yang sudah menjadi bangkai dan Hui kak siansu.
Liao Ham.
Siong Leng serta Goan Hie Totiang yang sudah terluka tidak ingat orang.
Saat itu ia sudah tidak perdulikan mereka lagi, sambil tenteng pecutnya, juga lompat keluar dari dalam kupel.
Baru saja Gouw Ya Pa berlalu, mendadak terdengar suara ledakan hebat, sampai Gouw Ya Pa tidak bisa berdiri dan jatuh tengkurap.
Setelah suara ledakan berhenti, ia baru angkat kepalanya.
Ketika ia melihat keadaan kupel tadi, ternyata sudah menjadi tumpukan puing.
Tidak usah dikatakan lagi, dirinya para ketua Ngo bie pay, Bu tong-pay dan Kiong-lay pay beserta bangkainya Tio Thian Ek juga sudah menjadi hancur lebur.
Ini ada suatu pembunuhan yang sangat keji partai besar didunia Kang-ouw, dalam waktu sekejapan saja sudah kehilangan lima ketuanya !
Semua kejadian ini seolah-olah ditimbulkan oleh Gouw Ya Pa seorang.
Dengan perasaan tertegun pemuda tolol itu memandang sekitarnya, orang-orangnya Hian kui kauw ternyata sudah tidak kelihatan bayangannya.
Dalam keadaan sunyi itu, Gouw Ya Pa melihat Tiauw Goan Taysu dan Bu Wie Totiang berlutut ditanah sembari membaca doa.
Lim Co Ek keadaannya seperti orang gendeng ia duduk bersila ditanah pedangnya menggeletak ditanah matanya keluar airnya.
Gouw Ya Pa tiba-tiba ingat dirinya Thian Hian Totiang dari Hoa san pay.
Ketika ia mencari-cari ditempat sejauh sepuluh tombak lebih ia dapat lihat dirinya seorang'imam yang tubuhnya tengkurap tidak bergerak pedangnya terlempar jatuh ditempat sejauh satu tombak lebih.
Dengan cepat Gouw Ya Pa menghampiri tapi ia lantas merendek.
Karena imam tua itu digegernya sudah terpantek oleh sepotong kayu yang menembus sampai kedadanya ...
Baca Juga: Harimau Kemala Putih Khu Lung
Baca Juga: Medali Wasiat 2