Eps 5 Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung
Baca online Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung
Cersil Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung.
Lembah Kui kok telah berubah menjadi lembah neraka, saat itu yang tertampak hanya reruntuhan puing.
Tapi kemana perginya orang-orang dari Hian kui-kauw ?
Mungkin mereka sudah pada meninggalkan tempat itu untuk menghindarkan diri dari ledakan.
kalau benar demikian halnya, mereka tentunya masih berada didekat situ, belum berlalu jauh.
Sekarang orang-orang sembilan partay cuma ketinggalan tiga orang kalau terpegat oleh mereka, benar-benar sangat Sulit untuk meloloskan diri.
Gouw Ya Pa merasa pilu hatinya ia lalu berkata dengan cemas.
"Taysu kalian lekas pergi!"
Tiauw Goan Taysu perlahan-lahan mengangkat kepalanya, dengan sorot mata tajam ia menjawab dengan suara dingin.
"Pergi ? Kau suruh kita pergi kemana ?"
"Kalian sudah mengeluarkan sepenuh tenaga untuk kepentingan partai semua, sekarang boleh keluar dari Kui kok."
Tiauw Goan Taysu mendadak matanya kelihatan merah beringas, ia berkata dengan suara gusar.
"Perbuatannya Hian kui kauw begitu kejam. Mereka telah membunuh banyak kawan-kawan kita, Kalau kita lantas pergi begitu saja, apa masih ada muka berkelana didunia Kang-ouw ? Kalian boleh berusaba keluar dari Kui kok, tetapi lolap belum puas sebelum bertanding dengan Cian tok Jin mo."
Lim Co Ek juga lantas lompat bangun dan berkata dengan suara bengis.
"Benar! Aku si orang she Lim rela mengorbankan jiwaku yang tua ini, biar bagaimana juga aku harus menuntut balas sakit hati kawan-kawan kita ini."
Sehabis berkata demikian. sambil menenteng pedangnya, ia berjalan menuju kedalam lembah dengan tindakan lebar. Tindakannya ia segera di ikuti oleh Bu Wie Totiang. Tiauw Goan Taysu berkata pula.
"Gouw Sicu yang membawa tanda pusaka dan minta pertolongan buat kawan2 sekarang ternyata telah mendapat kekalahan begitu hebat, lolap sungguh merasa malu, Mengapa sicu tidak mau meninggalkan tempat yang berbahaya ini dulu, lalu dengan tanda pusaka itu mengumpulkan lagi semua orang gagah didunia untuk kembali lagi kesini?"
Alisnya Gouw Ya Pa kelihatan berdiri, ia menjawab dengan suara gagah.
"Kalian semua telah bersedia mengorbankan jiwa untuk membela kawan, kalian yang sudah binasa, apakah kalian kira aku Goaw Ya Pa yang juga hendak membela sahabatku harus sayangi selembar jiwaku ?"
Sehabis berkata begitu, ia lantas lari menyusul Bu Wie Totiang.
Empat manusia yang keras kepala ini meskipun sudah mengalami kekalahan yang hebat, tetapi ternyata masih bertekad bulat hendak mencapai maksud mereka.
Lim Co Ek yang keadaannya sudah mirip dengan banteng terluka, berjalan lebih dulu.
dengan kecepatan bagaikan kilat sebentar saja sudah berada dilembah Kuikok.
Tetapi, apa yang mengherankan.
ialah disepanjang jalan itu mereka tidak menemukan orang2nya Hian kui kauw.
Kalau begitu mungkin orang-orang itu sudah mempersiapkan diri lebih dulu maka keadaan yang kelihatannya sesunyi itu mungkin sebenarnva ada lebih berbahaya.
Mungki juga mereka dengan sengaja hendak menjebak musuhnya sampai masuk ke dalam, kemudian dibasmi semuanya.
Tetapi orang sisa-sisa dari sembilan partai dan Gouw Ya Pa itu semua sudah tidak menghiraukan lagi semua bahaya yang akan mengancam mereka, dengan berani pula mereka terus menerjang maju.
Tidak berapa lama, mereka sampai didepan serentetan bangunan rumah, tetapi disitu pun keadaannya sangat sunyi.
Lim Co Ek lantas membentak dengan suara keras.
"Kawanan penjahat dari Hian kui kauw! kalau tidak lekas unjukkan diri. jangan sesalkan kalau aku si orang she Lim nanti akan membakar habis tempat ini."
Perkataan baru saja ditutup, mendadak terdengar suara orang yang berkata sambil tertawa dingin.
"Kalian sudah dekat mampus, masih mau jual lagak?"
Lim Co Ek lantas mencari-cari darimana datangnya suara tadi.
Ia sudah mengetahui bahwa suara itu adalah suaranya Bo Pin, tetapi suara itu sebentar kedengarannya dari sebelah kiri sebentar kemudian dari sebelah kanan sehingga hal ini telah membuat orang sukar mendapatkan tempat sembunyinya yang jitu.
Pada saat itu, ia sudah tidak mampu lagi mengendalikan hawa amarahnja.
dengan tidak ayal lagi ia lantas mengeluarkan alat pembakarannya, dan sudah bersedia hendak membakar rumah.
Siapa tahu, tiba-tiba kedengaran suara aneh seperti burung hantu yang keluar dari rumah tinggi dan kemudian disusul oleh melayang turunnya bayangan orang.
Lim Co Ek setelah mengawasi, baru kenali orang yang baru tiba itu ternyata adalah satu nenek-nenek berambut putih yang membawa tongkat kepala naga.
Lim Co Ek dengan tidak berpikir panjang gerakan pedangnya menikam nenek-nenek itu.
Perbuatannya itu telah mengejutkan si nenek.
Sebab dalam suatu ilmu silat, orang harus mengutamakan keadaan dirinya sendiri lebih dahulu, kemudian baru melakukan serangan terhadap musuhnya.
Tetapi, bagi Lim Co Ek yang kesetanan tidak ada pikiran demikian.
Serangan tongkat sinenek tidak digubris, ia malah menyerang dengan pedangnya, maksudnya ialah supaya sama-sama rubuh, Maka, sekalipun serangan nenek itu bisa melukai dirinya, tetapi nenek itu sendiri juga mungkin akan binasa oleh karenanya.
Dalam keadaan yang membahayakan demikian, terpaksa si nenek harus melindungi dirinya lebih dulu, maka tongkatnya lantas memapak pedang lawannya!
Suara 'trang', lalu terdengar nyaring, Lim Co Ek merasakan kesemutan pada lengannya, kakinya mundur tiga langkah.
Tetapi nenek itu lantas lompat mundur sejauh setumbak lebih, kemudian berkata sambil ketawa dingin .
"Lim Co Ek kenalkan kau padaku?"
Lim Co Ek lantas memandang, lalu ketawa bergelakgelak.
"Aku kira siapa."
Jawabnya.
"Tidak tahunya adalah kau, Kauw hun Lie mo, manusia tidak tahu malu itu, Apa kau juga menyerahkan dirimu menjadi budak Hian-kui kauw untuk sesuap nasi! Jangan pergi! Sambuti seranganku ini..."
Setelah berkata, dengan cepat ia maju menyerang. Tiauw Goan Taysu yang pada saat itu juga sudah sampai disitu lantas mencegah perbuatan Lim Co Ek seraya berkata.
"Lim Sicu, silahkan mundur dulu. Biarlah serahk.an iblis ini padaku."
Kauw hun Lie mo ketawa terkekeh-kekeh sejenak.
"Pantas didepann tadi ada begitu ramai. Tenyata kalian kawanan kepala gundul dan hidung kerbau telah datang semuanya...."
Perkataannya diteruskan setelah berhenti sejenak.
"Aku situa bangka sudah banyak tahun tidak mau campur urusan luar, tetapi hari ini kita harus bertempur sampai puas he...he..."
Tiauw Goan Taysu tidak menjawab.
ia segera menentang kedua tangannya dan menjambar pundak Kauw hun Lie mo.
Ternyata padri tua itu sudah membuka pantangan membunuhnya.
begitu turun tangan ia sudah menggunakan ilmu Liong-jiauw-kangnya yang sangat hebat.
Dari ujung jarinva saja sudah mengeluarkan suara yang hendak menembusi badan orang.
Kauw hun Lie mo.
sebangsa orang berkepala batu juga, tetapi ia tahu benar kelihayan padri tua itu, maka ia tidak berani bertindak gegabah dihadapannya, dengan tongkat kepala naganya ia mencoba menangkis serangan Tiauw Goan Taysu.
Ketua Siao-lim-pay itu ketawa dingin, mendadak gerakan tangannya dirubah, kali ini tidak menyambar pundak orang, tetapi menyekal dan merebut tongkat.
Kedua orang itu sama-sama mengeluarkan seluruh kekuatannya dan disalurkan ke tongkat sehingga seketika itu keduanya lantas berkutetan.
Gouw Ya Pa yang menyaksiksn itu, karena menganggap sudah hendak nekad-nekadan maka tidak perdulikan peraturan dunia Kang-ouw lagi.
Setelah berpikir sejenak ia lantas memutar pecutnya sambil menggeram hebat ia menghajar kepala Kauw hun Lie mo.
Pada saat itu, Kauw hun Lie mo sedang memusatkan kekuatannya pada tongkatnya untuk mengadu kekuatan dengan Tiauw Goan Taysu, bagaimana dapat menahan serangan Gouw Ya Pa ini, maka sebentar saja pecut Gouw Ya Pa sudah hampir menghajar punggungnya.
Ternyata Kauw hun Lie mo cukup lihay sebelum pecut Gouw Ya Pa mengenai dirinya, mendadak ia membentak dan melepaskan tangan kirinya untuk menyerang balik, sehingga Gouw Ya Pa sampai jungkir balik.
Tetapi ia sendiri yang melepaskan tangan kirinya itu, telah terdesak oleh kekuatan Tiauw Goan Taysu, sehingga darah segar keluar dari mulutnya.
Gouw Ya Pa merayap bangun lagi, kembali menyerbu dengan pecutnya.
Kauw hun Lie mo yang sudah luka didalam tidak dfj-Et n enjirgl ir diri.
maka serangan Gouw Ya Pa kali ini telah mengenai dirinva dengan telak.
Ia lalu mundur sempoyongan lagi beberapa tindak, kembali memuntahkan darah segar.
Lim Co Ek tidak mau tinggal diam, pedang ditangannya bergerak hendak mengambil kepala Kauw hun Lie mo.
Mendadak terdengar suara bentakan keras.
"Tahan!"
Yang lain disusul oleh munculnya dua bayangan orang.
Lim Co Ek terpaksa menarik kembali serangan pedangnya, pada saat itu dilihatnya didepannya berdiri satu padri dan satu imam tua.
Pada pundaknya imam tua itu menggemblok dua batang genta, jenggotnya yang putih panjangnya sampai dada, Ternyata ia adalah seorang gagah yang terkenal dari golongan hitam pada tiga puluh tahun berselang namanya Song Pin bergelar Tiok beng le su, Disampingnya, ada seorang padri berjubah merah yang membawa sebuah bokor tembaga, yang sangat berat kelihatannya.
Dengan ketawa dingin padri itu berkata.
"Kalian semua adalah orang-orang ternama dari golongan orang-orang baik, tetapi ternyata hendak mengandalkan jumlah yang banyak untuk meraih kemenangan, sekarang aku ingin mencoba kepandaian kalian."
Bu Wie Totiang segera maju menghampiri seraya berkata.
"Toa Ho Siang ini apa bukan Tong Pun Hwesshio yang pada empat puluh tahun berselang diusir dari Ngo tap san ?"
Si Paderi merah wajahnya, ia menjawab dengan suara bengis.
"Manusia sombong, kau berani membikin jelek namaku, hari ini aku nanti suruh kau merasai bokor tembagaku !"
Baru habis berkata, bokor tembaganya yang berat sudah melesat keluar dari tanggannya dan menyambar diri Bu Wie Totiang.
Bu Wie Totiang terperanjat, ia buru-buru menyontek dengan pedangnya.
Siapa nyana dalam bokor itu ternyata ada rahasianya, ketika ujung pedang Bu Wie Totiang menotol badan bokor, badan itu lantas berputaran, lalu menyemburkan barang cair berwarna hijau.
Bukan kepalang kagetnya Bu Wie Totiang dengan cepat ia menggunakan lengan bajunya untuk menutupi wajahnya, kemudian lompat mundur.
Tapi gerakannya itu ternyata masih agak terlamoat, sebab barang cair itu sudah jatuh dilehernya laksana air hujan.
Sebentar saja kulit leher Bu Wie Totiang sudah terbakar.
Bu Wie Totiang kesakitan setengah mati, ia lantas bergelidingan ditanah.
Tong Pun Hweeshio maju menghampiri, dengan tangan kirinya ia menyambuti bokornya, tangan kanannya sudah bersedia hendak menghantam kepala Bu Wie Totiang.
Tapi Lim Co Ek sudah lompat maju merintangi sambil membentak.
"Padri ganas, kau berani melukai sahabatku ?"
Gouw Ya Pa buru-baru memondong dirinya Bu wie Totiang, siapa nyata sudah terkena racun jahat, napasnya memburu, lehernya penuh air kuning berbau busuk.
Tiauw Goan Taysu gelengkan kepala.
dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebuah obat pil.
lalu dimasukkan kedalam mulut Bu wie Totiang sembari berkata.
"Gouw sicu, kau baik-baik melindungi dirinya lolap akan menuntut balas untuk dia."
Gouw Ya Pa mengangguk.
Tiauw Goan Taysu lalu keluarkan pekikan nyaring.
dari dalam pinggangnya ia mengeluarkan sepasang roda terbang yang menancarkan sinar gemerlapan.
Tatkala sepasang roda terbang itu dirangkap lantas terdengar suara yang amat nyaring.
Kemudian ia berkata dengan suara bengis.
"Hian kui kauw telah menggunakan senjata beracun yang sangat ganas, jangan sesalkan lolap hendak turun tangan jahat !"
Secepat kilat ia sudah menerjang diri Tong Pun Hweeshio! Siok Beng le su lantas berseru.
"Taysu apa juga ingin aku turun tangan sekalian?"
Ia lantas maju sambil lintangkan kedua gaetannya.
Tiauw Goan Taysu tidak menjawab, roda ditangan kirinya diputar, tapi roda ditangan kanannya yang melesat keluar.
Siok Beng le su tidak tahu sampai dimana kelihaian sepasang roda itu, ia tidak berani menyambuti dengan kekerasan.
Ia putar tubuhnya, kedua gaetannya dipakai untuk melindungi tubuhnya.
Tiauw Goan Taysu ketawa dingin.
tangan -knannya menggapai, roda terbang itu segera balik kembali berbareng dengan itu, roda ditangan kirinya lantas melesat keluar!
Siok Beng le su mencoba beberapa kali melindungi diri dengan gaetannya.
Melihat sepasang roda itu cuma beterbangan bergantian, tidak ada apa-apanya yang luar biasa, dalam hati mulai merasa lega.
Diam diam hati mulai berpikir.
"Ilmu kepandaian Siao-lim pay ternyata cuma begitu saja."
Karena ia pandang ringan senjata lawannya, sekarang ia coba menyambuti dengan kekerasan. -ooo0dw0ooo-
Jilid 11 SIAPA tahu dengan demikian ia telah terjebak !
Ketika kedua senjata itu beradu, lantas terdengar suara 'crak' sepasang gaetannya Siok-beng Ie su lantas dibabat olah rodanya Tiauw Goan Taysu.
Siok-beng Ie su terperanjat, ia kerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, hendak menarik kembali senjatanya.
Siapa tahu saat itu dari samping ada angin tajam yang menyambar badannya.
Ternyata Tiauw Goan Taysu ketika roda ditangannya sedang melibat senjata lawannya tangan kanannya lantas bergerak, roda yang tajamnya luar biasa itu dengan cepat lantas menyambar Song Pin !
Siok beng Ie su tidak keburu menyingkir, bawah ketiaknya lantas terbelah, setelah mengelurkan jeritan ngeri, ia lantas rubuh.
Tong Pun hweeshio yang menyaksikan kejadian tersebut, bukan kepalang kagetnya, hampir saja tertikam oleh pedang Lim Co Ek.
Setelah menyingkirkan serangan Lim Co Ek ia buru-buru mundur tubuhnya dan loncat naik keatas genteng.
Lim Co Ek tidak mau menperti, ia memburu dan lompat naik keatas genteng juga.
Tapi baru saja menginjak genteng, dari empat penjuru lantas terdengar suara riuh.
"Lepaskan anak panah 1"
Sebantar saja, anak panah dari berbagai panjuru lantas menyambar seperti hujan.
Betapapun tingginya kepandaian Lim Co Ek.
apa lagi lengan kirinya sudah kutung dan mengeluarkan banyak darah serta sudah lama bertempur, sudah tentu tidak sanggup melayani datangnya anak panah seperti hujan.
Sebentar saja sudah ada beberapa batang anak panah yang menancap dibadannya.
Ia merasa pundaknya yang kena anak panah itu seperti kesemutan, maka lantas mengerti kalau anak panah itu ada racunnya.
ia lalu lompat melesat keatas genteng yang berdekatan, pedangnya diputar laksana titiran, ia menyerbu kepala orang-orang yang melepaskan senjata gelap itu.
Sebentar saja dari sana sini terdengar suara jeritan saling berganti, ternyata sudah ada kira-kira delapan orang binasa dibawah pedangnya.
Tapi badannya Lim Co Ek sendiri juga sudah seperti binatang landak, penuh dengan anak panah yang menancap.
Sebentar saja dari sana sini terdengar suara jeritan saling berganti, ternyata sudah ada kira-kira delapan orang binasa dibawah pedangnya.
Tapi badannya Lim Co Ek sendiri juga sudah seperti binatang landak, penuh dengan anak panah yang menancap.
Sambil dongakkan kepala dan ketawa bergelak-gelak ia berseru.
"Puas ! Puas. ...!"
Kemudian badannya menggelinding dari atas genteng.
Sekarang diantara ketua sembilan partai itu, keculi Bu Wie Totiang yang terluka, cuma tinggal ketua Siao-lim pay, Tiauw Goan Taysu seorang saja yang masih hidup dalam keadaan utuh.
Gouw Ya Pa mengucurkan air mata, dalam hati berkata;
"Saudara Ho, jangan salahkan aku tidak bisa menolong dirimu, siapa nyana ketua dari sembilan partai, hari ini hampir semuanya binasa dilembah Kui kok."
Diluar dugaan, dalan keadaan putus asa itu, tampak satu bayangan orang yang muncul dari lembah bagian belakang dan mendatangi kearah mereka dengan cepat sekali.
Gouw Ya Pa berdin dengan mata beri-ngas, lalu berkata kcpada Tiauvv Goan Tay-su .
"Taysu harap kau suka keluar dari lembah ini, biarlah aku yang adu jiwa dengan kawanan bangsat dari Hian kui kauw ini !"
Sababis berkata, sambil menenteng pecutnya, ia maju menyambuti orang itu. Siapa nyana ketika orang itu sudah berada dekat lantas berseru.
"Gouw Toako, apakah kau yang berada disitu ?"
Gouw Ya Pa hampir saja menjerit kegirangan....bukankah itu saudara Ho nya yang ia hendak ditolong ?
Memang besar!
Orang itu adalah Ho Kie yang pada tiga hari berselang menyerbu kelembah Kui kok dengan seorang diri.
Gouw Ya Pa dalam girangnya lantas melompat keatas genteng, tapi baru saja kakinya menginjak genteng, anak panah sudah menyambar dari berbagai penjuru.
Karena ia ada mempunyai ilmu kebal yang tidak takut segala senjata terhadap anak panah yang menyambar dirinya seperti hujan ia tidak hiraukan sama sekali.
Bahkan ia lantas menerjang kearah orang-orang yang melepaskan anak panah itu.
Maka sebentar saja sudah banyak jiwa melayang ditangannya, sisanya terpaksa pada melarikan diri.
Gouw Ya Pa lantas menghampiri Ho kie dengan suara sember ia berkata.
"Saudara Ho, aku mencari kau setengah mati !"
Ho Kie belum sempat menjawab, tiba-tiba ada satu bayangan putih dengan kecepatan bagaikan kilat lari keluar dari belakang lembah.
Ketika Ho Kie melihat siapa orangnya.
wajahnya nampak aneh sambil menarik dirinya Gouw Ya Pa berkata.
"Gouw Toako, mari kita lekas pergi!"
Dari sikapnya Ho Kie rupa-rupanya merasa segan bertemu dengan orang baju putih itu. Ketika Gouw Ya Pa mengawasi, orang baju putih itu ternyata ada Lim Kheng, ia lantas berkata.
"Saudara Ho, itu apa bukannya nono Lim Kheng?"
"Dia bukan nona Lim, melainkan anak perempuannya Cian tok Jin Mo dari Hian kui kauw !"
Gouw Ya Pa yang mendengar keterangan itu matanya lantas merah, ia berkata pelan "Kita jangan pergi dulu.
para ketua dari partai telah binasa ditangan ayahnya, biarlah kita dari dirinya mencari sedikit modal."
Sehabis berkata, ia lantas maju memapaki sambil menenteng pecutnya. Ho Kie buru-buru menarik tangannya seraya berkata.
"Gouw toako mari kita pergi! Kita tinggalkan lembah Kui kok ini dulu!"
Sebentar kemudian, Jie Peng sudah berada didepan mereka.
Nona itu dengan air mata berlinang tanganya membawa sebuah panji kecil warna merah.
Begitu berada didepan Ho Kie, lantas berkata dengan suara duka.
"Engko Kie, sekalian kalau hendak pergi. seharusnya juga mengijinkan aku yang bernasib malang ini turut mengantarkan. Bendera kecil ini kau boleh bawa!"
"Terima kasih atas budi kebaikan nona, budi kebaikanmu ini aku siorang she Ho tidak akan melupakan untuk selama-lamanya."
"Sayang, kita satu sama lain berdiri sebagai musuh. Dengan perbuatanmu yang mencuri bendera untuk mengantarkan aku, apakah tidak takut nanti akan dapat marah Kaucu?"
Berkata Ho Kie dengan suara terisak-isak.
"Aku merasa bersyukur bisa mendapat kecintaanmu, badanku ini mesti akan hancur lebur juga tidak mampu membalas kecintataanmu. Sekalipun untuk kau aku harus dihukum mati oleh ayah, aku juga rela !"
Ho Kie merasa sangat terharu, ia tidak bisa menjawab apa-apa, kemudian berpaling dan berkata kepada Gouw Ya Pa.
"Mari kita pergi !"
DENGAN mata mendelong dan mulut menganga. Gouw Ya Pa merasa heran atas perhubungan nona itu. dengan sahabatnya, ada apa sebetulnya diantara mereka ? "Kau.... dia?"
Tapi apa yang hendak ditanyakan, ia kebingungan sendiri. Ho Kie nampak bimbang. tapi kemudian bisa mengambil keputusan dengan cepat, ia segera melompat melesat sambil mengajak kawannya;
"Gouw-toako jangan sia-siakan waktu! Kita bisa masuk, masakah tidak bisa keluar?"
Sehabis berkata, orangnya sudah berada tiga tombak lebih jauhnya.
Tapi baru saja ia melayang turun, mendadak dari atas sebuah rumah ada melayang turun dua bayangan didepan matanya, kemudian berkata sambil ketawa dingin.
"Bocah she Ho, kau anggap sepi lembah Kui kok ini ?"
Dua orang itu satu adalah Hiantun Thian cun Cee Kong Han.
seorang satunya lagi adalah seorang perempuan pertengahan umur berwajah putih kelimis, yang Ho Kie belum pernah lihat.
Ia adalah Ong Hoa Cu, salah satu Tongcu dari Hian Kui kauw.
Ho Kie yang sedang gusar dan cupat hatinya, dengan tanpa banyak bicara lantas menyerang kedua orang itu dengan hebat.
"Anjing cilik, sungguh besar nyalimu!"
Bentaknya Cee Kong Han, seraya menyambuti serangan Ho kie, Tiauw Goan Taysu yang saat itu sudah menyusul lantas maju dan berkata dengan suara bengis;
"Dengan berduaan mengerubuti satu orang apa itu perbuatan orang gagah? Marilah kalian mencoba mengadu dengan tulang-tulangku yang sudah bangkotan ini !"
Sehabis berkata.
lalu mendorong kedua tangannya.
dari situ meluncur keluar satu kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat.
Hui tun Thian-cun ketawa terkekeh-kekeh bersama Ong Hoa Cu coba menyambuti serangan Tauw Goan Taysu.
Setelah terdengar suara beradunya kekuatan tenaga dalam dari kedua pihak, ketiga orang itu nampak pada mundur satu tindak.
Ong Hoa Cu sambil menenteng tongkatnya yang bentuknya aneh, maju memlbntak.
"Kepala gandul, kematianmu sudah berada didepan mata, apa kau masih berani berlaku ganas?"
Tiauw Goan Taysu dengan kedua rodanya.
menyambuti tongkatnya Ong Hoa Cu.
Hui tun Thian cun turut menyerbu, dengan berduaan mengerubuti Tiauw Goan Taysu.
Pertempuran berjalan sepuluh jurus lebih.
Tiauw Goan Taysu lalu mengeluarkan bentakan keras, sepasang rodanya melesat keluar dari tangannya.
Ong Hoa Cu berdua lantas memencarkan diri, mereka lalu pentang jalannya yang terbuat dari benang baja untuk menjaring Tiauw Goan Taysu.
Roda Tiauw Goan Taysu yang berbentuk jaring telah jatuh ditanah.
Saat itu dari empat penjuru lantas muncul Siang Hong Siang, Bo Pin, Tong Pun Hweeshio Tio Go dan lain-lainnya mengurung Tiauw Goan Taysu.
Tiauw Goan Taysu menampak keadaan demikian.
telah menghela napas panjang, lalu berkata pada Gouw Ya Pa dan Ho Kie.
"Lolap sudah keluarkan kepandaian dan tenaga, apa mau musuh terlalu kuat, rupa-rupanya agak sukar keluar dari kepungan ini, Biarlah Lolap korbankan jiwa sendiri biar bagaimana juga akan berusaha untuk melindungi sicu keluar dari bahaya!"
"Bagaimana Taysu bisa berkata begitu? Kita bersamasama mati juga kita bersama-sama !"
Menjawab Ho Kie.
"Ucapan Ho sicu benar. Kalau begitu biarlah lolap dengan sepasang tangan ini yang membuka jalan, untuk kawanan iblis ini..."
Berkata Tiauw Goan Taysu sambil anggukkan kepala, Kemudian keluarkan pekikkan nyaring dan gerakkan kedua tangannya, benar saja ia menerjang lebih dulu!
Ho Kie dan Gouw Ya Pa cepat menyerbu untuk menerobos keluar dari kepungan.
Orang-orang Hian Kui kauw jumlahnya semakin banyak.
hingga mereka bertiga terkurung semakin rapat.
Tapi karena Tiauw Goan Taysu bertiga sudah bertekad bulat hendak melawan sampai titik darah penghabisan, maka sedikitpun tidak merasa keder !
Bertempur sudah hampir satu jam lamanya badan Ho Kie bertiga sudah pada terluka.
hingga darah membasahi tubuh mereka.
Pertempuran demikian berlangsung terus sampai setengah hari lamanya, Tiauw Goan Taysu sudah membinasakan 5-6 hiucu, di badannya sudah penuh darah.
Tapi orang-orang Hian Kui kauw bukan menjadi kurang, bahkan semakin banyak jumlahnya.
Tiauw Goan Taysu lalu berkata sambil menghela napas.
"Jika sicu kalau tidak mau dengar perkataan lolap, sekarang aku terkubur bersama-sama dalam lembah Kui kok. sehingga tidak seorang pun juga yang bisa menyampaikn kabar!"
"Satu laki-laki bisa binasa dimedan perang. juga merupakan satu kehormatan besar. Taysu kita bunuh saja. ..."
Jawab Ho Kie.
Tapi baru berkata sampai disitu, tiba-tiba terdengar seruan Gouw Ya Pa yang sudah terkena senjata bokornya Tong pun Hweeshio, sehingga badannya sempoyongan.
Tiauw Goan Taysu buru-buru mendekati Gouw Ya Pa untuk memberi perlindungan.
tiba-tiba didampingnya ada menyambar angin dingin, ia menyambuti, tangannya telah beradu dengan tangan Bo pin.
Pada saat itu juga, lengan kiri Tiauw Goan Taysu mendadak merasa sakit, agaknva ada hawa dingin yang menyusup masuk terus masuk terus kedalam dada !"
Tiauw Goan Taysu terperanjat, ia buru-buru kerahkan kekuatan tenaga dalamnya untuk menutup jalan darahnya.
Dengan demikian ia cuma bisa melayani musuh2nya dengan satu tangan kanan saja.
Tidak antara lama Ho Kie pundaknya juga keserempet senjatanya Hui tun Thian Cun dan ketika menerjang maju kebetulan berpapasan dengan Bo pin.
Bo Pin lantas berkata sambil ketawa dingin.
"Bocah, apa kau masih ingin menuntut balas? Orang she Bo akan suruh kau merasai rasanya Hui sie Biat kut Ciang !"
Ucapan Bo Pin itu ditutup dengan satu serangan yang dinamakan Hui sie Biat kut-ciang itu.
Ho Kie terpaksa menyambuti dengan kedua tangannya.
Ketika tangan mereka beradu, bau amis lantas menusuk hidung Ho Kie.
ia lantas merasa seperti ada hawa dingin menyerbu kedalam badannja, kepalanya pujeng, sehingga mundur sempoyongan.
Siang Hong Siang yang menampak keadaan demikian, senjatanya lantas meluncur keluar dari tangannya mengarah geper Ho Kie.
Tiauw Goan Taysu menampak Ho Kie seperti orang bingung, bukan main kagetnya.
lalu menyambar senjata pecutnya Gouw Ya Pa, kemudian disambitkan menyambuti serangan Siang Hong Siang.
Tatkala kedua senjata itu beradu, kedua duanya lantas jatuh ditanah.
Saat itu mendadak terdengar suara bentakan nyaring halus.
"Kaucu ada perintah, semua berhenti bertempur !"
Hui-tun Thian cun yang mendengar itu, terpaksa urungkan maksudnya ketika ia berpaling, lantas dapat lihat Jie Peng berdiri diatas genteng sambil membawa lengkie (bendera perintah).
Orang-orang Hian kui-kauw yang melihat Leng kie itu lantas pada berhenti dan bergerak mundur.
Bo Pin lantas maju dan bertanya sambil menyoja.
"Nona Peng, bukankah kau sedang tak enak badan? Mengapa tidak mengaso dikamar, sebaliknya datang kemari menyampaikan perintah ?"
"Kaucu ada perintah, supaya mengantar keluar Ho Siaohiap bertiga dari lembah Kui-kok siapa saja dilarang merintangi, barang siapa yang melanggar perintah ini akan mendapat hukuman berat,"
Jawab Jie Peng sambil ketawa hambar. Semua orang yang mendengar itu pada saling memandang. Ho Pin agaknya tidak percaya tapi ia tidak berani mengutarakan hanya serunya.
"Benarkah Kauwcu ada perintah mengeluarkan mereka bertiga dari lembah ini?"
"Bo Tongcu, ucapanku mungkin bisa bohong, tapi apakah lengkie ini juga palsu?"
Bo Pin merah wajahnya.
tapi ia masih merasa sangsi.
Maka diam-diam memberi isyarat kepada salah satu hiocu supaya berlaku dengan diam-diam untuk mencari keterangan pasti, kemudian ia berkata pula sambil ketawa.
"Kalau benar nona Jie ada membawa perintah kaucu, sudah tentu Kita akan turut,"
Sehabis berkata, ia lantas ulapkan tangannya, hingga orang-orang yang mengurung Ho Kie bertiga lantas membuka jalan.
Tiauw Goan Taysu yang menyaksikan orang-orangnya Hian kui kauw benar saja lantas pada mundur, lalu ajak Gouw Ya Pa berlalu.
Gouw Ya Pa meski tolol.
tapi dalam saat bahaya masih ingat sahabatnya.
Ketika hendak berlalu ia masih ingat dirinya Ho Kie yang dalam keadaan pingsan.
Ia lantas gendong sahabatnya itu, lalu berjalan dengan tindakan lebar.
Jalan belum berapa jauh tiba-tiba dibelakangnya ada suara orang berkata.
"Taysu harap suka tunggu sebentar!"
Tiauw Goan Taysu hentikan tindakannya, ia dapat lihat bahwa orang yang menyusul itu ternyata Jie Peng adanya, Karena belum tahu apa maksudnya, paderi itu diam-diam sudah waspada.
Jie Peng menyaksikan Tiauw Goan Taysu masih bersangsi.
ia tahu bahwa paderi itu ternyata salah faham, maka lalu berkata padanya.
"Taysu jangan bingung, aku datang ada membawa obat buat Ho Siaohiap."
Ia lalu mengeluarkan dua botol kecil dan diberikan kepada Tiauw Goan Taysu. Setelah menyambuti obat itu, Tiauw Goan Taysu sudah hendak berlalu lagi.
"Taysu tunggu dulu aku hendak bicara."
Jie Peng berkata pula dengan cemas.
"Harap Li sicu lekas sedikit, pinceng tidak bisa tunggu lama-lama!"
"Obat dalam botol itu ada obat pemunah racun khusus bikinan kami, sebetulnya sangat berbisa, maka hanya khusus untuk menyembuhkan orang yang kena serangan Hu sie Biat kut ciang. Kalau digunakan buat penyakit lainnya, bukan saja tidak berhasil. bahkan sangat membahayakan jiwanya. Dan lagi kalian hendak keluar dari depan ada sangat sukar karena disana telah terjaga ketat. Tapi dibelakang kosong... ."
Jie Peng selagi masih bicara mendadak bernenti, kemudian berkata pula dengan perasaan gelisah.
"Mereka sudah mengejar lagi, lekas ikut aku."
Iauw Goan Taysu pasang telinga, benar saja ada suara riuh.
yang makin lama makin dekat.
maka lantas menarik tangan Gouw Ya Pa, mengikuti jejaknya Jie Peng lari kebelakang lembah.
Bo Pin sebetulnya mencurigai perbuatan Jie Peng, tapi takut kepada Lengkie, ia tidak berani merintangi berlalunya Tiau Goan Taysu bertiga.
Pada saat itu mendadak orang yang disuruh oleh Bo Pin sudah balik sambil berseru.
"Bo Tongcu, celaka. perintah norn Jie Peng tadi adalah palsu, lengkie juga ia dapat mencuri. Kaucu kini sedang gusar, perintahkan kita supaya lekas kejar mereka !"
Bo Pin sangan gusar, ia segera perintahkan semua orang2 Hian kui kauw mengejar serta menjaga semua tempat, jangan sampai mereka lolos.
Sedang ia sendiri bersama dua dua hiocu lari mengejar kebagian belakang.
Jie Peng yang memimpin Tiaow Goan Taysu bertiga, ketika tiba dibelakang lembah telah dapat lihat ada empat anak buah Hian kui kauw yang menjaga.
Jie Peng memberi isyarat kepada Tiauw Goan Taysu, paderi tua itu mengerti, lalu kerahkan kekuatan tenaga dalamnya.
sebentar kemudian sambaran angin hebat menyerang pada empat orang itu.
Kasihan bagi mereka yang belum tahu apa yang sedang terjadi.
tahu-tahu sudah dibikin terpental oleh serangan Tiauw Goan Taysu bersama Jie Peng sampai empat tombak jauhnya dan lantas binasa seketika itu juga.
Menampak empat orang itu sudah binasa.
Jie Peng buruburu berkata.
"Mereka segera akan mengejar kalau terlambat barangkali sulit keluar dari lembah ini. Tolong Taysu lindungi Ho Siaohiap berlalu dari sini, Biarlah disini aku yang merintangi mereka."
Tiauw Goan Taysu memandang Jie Peng sejenak, lalu menjawab.
"Bagaimana nona bisa berkata demkian? Menolong Ho sicu adalah kewajiban lolap, kalau nona berada disini sendiri, lolap merasa tidak enak, mengapa tidak bersama lolap keluar dari lembah kui kok ini, kemudian kita mencari daya upaya lagi!"
"Taysu tidak boleh berdiam disini terlalu lama, kalau terlambat sedikit, barangkali tidak bisa keluar lagi. Aku memang aaa orang Hian kui kauw. mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap diriku. Aku cuma ada sedikit perkataan, tolong Taysu sampaikan kepada Ho Siaohiap, katakanlah saja bahwa aku Jie Peng yang bernasib malang akan menantikan padanya di lembah Kui kok. ..."
Belum habis perkataannya, Jie Peng sudah menangis sedih sekali.
Sesaat itu, suara riuh sudah semakin dekat, maka Jie Peng lantas mendesak Tiauw Goan Taysu supaya lekas berlalu.
Ketika Bo Pin bersama orang-orang Hian kui kauw tiba disitu, Tiauw Goan Taysu bertiga sudah berada enam tombak lebih dari lembah kui kok, maka terpaksa ia balik ke Kui kok untuk memberi laporan.
Setelah berada jauh dari Kui kok dan melihat sudah tidak ada orang mengejar.
Tiauw Goan Taysu baru bisa bernapas.
Tapi ketika menampak Ho Kie Keadaannya sangat payah, lantas berkata kepada Gouw Ya Pa;
"Gouw sicu, aku lihat Ho sicu lukanya sangat parah, mari kita mencari tempat untuk menolongi Ho sicu lebih dulu."
Gouw Ya Pa mendengar perkataan Tiauw Goan Taysu, baru ingat kalau Ho Kie masih pingsan, maka lantas menjawab.
"Aku tidak mempunyai pikiran apa-apa. asal bisa menolong jiwanya saudara Ho, bagaimana saja kehendak Taysu, aku menurut."
Tidak antara lama, mereka menemukan sebuah kuil tua yang sudah rusak keadaannya, mungkin sudah banyak tahun tidak pernah ada orang menempati.
Tiauw Goan Taysu tidak mau ambil perduli, ia buru2 menbersihkan meja bekas sembahyang, lalu letakkan diri Ho Kie diatasnya, ia suruh Gouw Ya Pa yang menjaga sedang ia sendiri pergi mencari air.
Setelah kembali dengan air, ia lantas keluarkan obat pemberian Jie Peng, kemudian dimasukkan kedalam mulutnya Ho Kie.
Gouw Ya Pa menampak Ho Kie yang sudah minum obat, tapi masih saja belum segar hatinya sangat gelisah.
Sebentar duduk sebentar bangun dan sebentar berjalan mondar-mandir sambil menghela napas.
Sebentar lagi mendadak perutnya Ho Kie terdengar keruyukan, baru saja Gouw Ya Pa hendak melihat apa yang terjadi, Ho Kie sudah menyemburkan air warna hitam darinya, air itu berbau busuk.
Sebentar kemudian dari lubang pantatnya juga mengeluarknn air yang serupa.
Muntah dan berak air hitam berbau busuk itu kira-kira satu jam lamanya baru berhenti.
Kasihan bagi Gouw Ya Pa yang hendak membela kawannya, dengan tanpa merasa jijik, ia membersihkan semua kotoran yang ada dibadan dan pakaian Ho Kie, kemudian diganti dengan pakaian baru Setelah semua selesai, ia baru duduk disampingnya.
Tapi, Ho Kie meski sudah muntah-muntah dan berakberak begitu banyak, namun masih belum mendusin, bahkan tidur pulas.
Saat itu cuaca sudah gelap, Tiauw Goan Taysu telah selesai bersemedi, sedang Gouw Ya Pa baru meram hendak tidur Mendadak terdengar Ho Kie menjerit.
"Aduh mati aku!"
Gouw Ya Pa yang baru saja pejamkan matanya mendadak kaget dan lantas menghampiri dan bertanya.
"Saudara Ho, apa kau sudah baikan ?"
Ho Kie membuka mata memandang keadaan sekitarnya.
Ia telah dapatkan dirinya berada didalam kuil tua, disampingnya ada Gouw Ya Pa dan Tiauw Goan Taysu.
Ia merasa heran maka lantas bertanya pada Gouw Ya Pa.
"Gouw Toako. bagaimana kita bisa berada disini. Dimana orang-orang yang lainnya?"
Ia hendak bangun, tapi baru saja badannya bergerak, ia sudah pingsan lagi.
Ilmu Hui se Biat kut-ciang, ciptaan Cian tok Jin mo benar-benar lihay, Ho Kie meski sudah makan obat dan mengeluarkan banyak racun, tapi kekuatannya belum bisa lantas pulih.
Gouw Ya Pa yang menyaksikan keadaan demikian, sudah ketakutan setengah mati.
sehingga menangis menggerung-gerung seperti anak kecil.
Tiauw Goan Taysu terkejut, ia buru-buru memeriksa keadaan Ho Kie, ternyata Ho Kie cuma tidur, tidak ada halangan apa-apa maka lantas berkata kepada Gouw Ya Pa.
"Gouw sicu, harap sedikit tenang, Ho-sicu yang terluka karena serangan ilmu Hui-se Biat kut ciang, barusan sudah muntah2 dan berak, sehingga tenaganya keluat terlalu banyak. untuk sementara tenaganya belum bisa pulih kembali. Tidak ada bahaya apa-apa, kau boleh tak usah kuatir,"
Gouw Ya Pa masih belum mau percaya, tapi ketika melihat wajah Ho Kie perlahan-lahan berubah merah, ia baru merasa lega.
Kira-kira setengah jam Ho Kie telah siuman lagi, ia coba gerakkan badannya ternyata sudah tidak terasa sakit maka lantas duduk.
Gouw Ya Pa nampak sahabatnya sudah sembuh, lalu menceritakan bagaimana ia telah terluka dan bagaimana sudah terlolos dari Lembah Kui kok.
Ho Kie buru2 menghampiri Tiauw Goan Taysu ia berlutut seraya berkata.
"Terima kasih atas pertolongan Taysu, selama Ho Kie masih hidup budi ini tidak akan Ho Kie lupakan."
Tiauw Goan Taysu buru2 pimpin bangun Ho Kie, ia menjawab.
"Lolap terhadap Ho sicu tidak melepas budi apa-apa, hanya anak perempuannya Jie Hui, nona Jie Peng ia sudah keluarkan banyak tenaga untuk memberi sicu Budi. kecintaan nona itu kepada sicu benar-benar sungguh besar sekali."
Paderi itu lalu menceritakan bagaimana Jie peng dengan tidak menghiraukan segala bahaya sudah memerlukan mengantar obat. Setelah berhenti sejenak. Tiauw Goan Taysu melanjutkan perkataannya.
"Gadis itu sungguh mulia hatinya tidak boleh disamakan dengan orang-orang Hian kui kauw lainnya. Kali ini barang kali akan menanggung dosa atas perbuatannya yang sudah mengkhianati ayahnya dan perguruannya. mungkin agak sukar terhindar dari bahaya. Maka dikemudian hari Ho Sicu harus baik-baik perlakukan padanya."
Ho Kie tundukkan kepala tidak menjawab, sedang hatinya berpikir Jie Peng ada begitu cinta terhadap diriku, beberapa kali ia telah turun tangan menolong, tanpa menghiraukan bahaya apa yang menimpa dirinya sendiri.
Jika di ingat bagaimana kejamnya orang-orang Hian kui kauw.
barangkali jiwanya kini ada terancam bahaya.
Tapi, ia sendiri sekarang keadaannya masih lemah sekalipun hati ingin menolong si nona, percuma saja tidak mempunyai kemampuan.
Ho Kie ada seorang yang berbudi luhur serta penuh cinta, terhadap kecintaannya Jie Peng, bagaimana ia tidak tahu.
Maka akan ia ingat itu semua, air matanya lantas mengalir turun.
Tiauw Goan Taysu lantas menghibur padanya.
"Ho sicu harus pentingkan kesehatan sendiri, kita tidak boleh meneruti perasaan hati. Soal membalas budi masih ada banyak waktu."
"Aih! Lantaran urusanku seorang, dari sembilan partay sudah ada delapan yang kehilangan ketuanya didalam lembah kui kok."
Jawab Ho Kie sambil menghela napas. Gouw Ya Pa yang mendengarkan lalu nyeletuk.
"Saudara Ho, perkatannmu ini salah, kau harus tahu bahwa mereka telah datang karena takut tanda pusaka Kiu hoan leng hal ini tidak bisa menyalahkan kau."
"Tapi bagaimara dengan nona Jie Peng? Apa sebabnya ia membela aku? Pendak kata aku Ho Kie meski binasa masih belum mampu membalas budinya!"
Kata Ho Kie.
"Saudaraku yang baik, jangan sekali-sekali kita berbicara tenang kematian. Apa yang kau ucapkan tadi sebetulnya sangat mudah dibereskn. Tunggu kalau lukamu sudah sembuh betul, kita pergi kepuncak gunung Sin-heng, minta kepada Dit cie Sin liong locianpwee supaya mau mengajari ilmu silat yang ada didalam kitab bagian pertama. Lalu kita balik lagi ke lembah Kui kok. bunuh habis semua orang Hian kui kauw dan tolong diri nona Jie Peng, kemudian kawin padanya. Bukankah sudah beres ?"
Ho Kie selagi hendak berkata.
tiba-tiba terdengar suara orang ketawa kemudian disusul oleh munculnya dua orang didalam kuil tua.
Tiauw Goan Taysu mengira ada orang-orangnya Hian kui kauw yang datnng hendak menantikan mereka, maka bersama Ho Kie dan Gouw Ya Pa, hampir dalam saat berbareng telah melancarkan satu serangan yang hebat.
Tapi kedua orang itu tidak menyingkir atau berkelit, bahkan maju menghampiri mereka dengan kecepatan bagaikan kilat.
sudah menyekal pergelangen tangan Tiauw Goan Taysu kemudian berkata dengan suara perlahan.
"Taysu jangan kaget. akulah yang datang."
Sehabis berkata lantas keluarkan ketawanya bergelak-gelak.
Ketika ketiga orang itu menegasi lantas pada berdiri melongo.
Oo0dw0ooO KIRANYA ORANG YANG menyekal tangan Tiauw Goan Taysu tadi adalah seorang tua yang berambut putih.
tapi mukannya masih kelihatan merah segar.
Orang tua itu memakai pakaian ringkas warna kelabu, alisnya jang putih meletak itu panjang sekali hingga hampir menutupi matanya.
Tongkat kanannya lebih panjang dari pada tangan kirinya.
Dengan mata yang tajam ia mengawasi ketiga orang didepannya.
Ketiga orang itu tidak kenal pada orang tua yang baru datang itu.
Selagi mereka masih pada merasa keheranheranan, dibelakang orang tua itu tiba-tiba terdengar suara orang tertawa.
Gouw Ya Pa yang adatnya tolol beranggasan tidak memikirkan apa yang akan terjadi, sudah lantas lompat mau menghajar orang yang ketawa barusan.
Tapi...
ketika melihat siapa orangnya ia bengong sejenak, kemudian berseru.
"Saudara Ho, apakah orang ini bukannya nona Lim Kheng yang kau pikiri siang hari malam?"
Pada saat itu. Ho Kie baru bisa melihat tegas bahwa orang tua itu memang bukan lain Lim Kheng adanya, dengan girang ia lantas berseru.
"No...."
Lim Kheng tidak menantikan Ho Kie melanjutkan pertanyaannya, dengan wajah merah jengah ia menegur.
"Saudara Ho Kie, kau bagaimana sih !"
Ho Kie mengerti, maka ia lantas merubah perkataannya.
"Lim...Lim Hiantee, apa selama ini kau ada baik?"
Lim Kheng lalu menjawab sambil kedipkan matanya.
"Apa saudara Ho juga baik-baik saja ?"
Ho Kie menanya pula sambil menunjuk si orang tua beralis putih.
"Cianpwee ini apakah...."
Dengan cepat Lim Kheng menjawab.
"Oh, ia... Aku belum perkenalkan kepada kalian. Ini adalah suhuku."
Ia lalu menunjuk, Ho Kie dan berkata kepada suhunya.
"Ini adalah Ho Siaohiap, Ho Kie."
Ho Kie juga diperkenalkan Tiauw Goan Taysu dan Gouw Ya Pa kepada Cit-cie Sin ong. Orang tua itu lalu berkata;
"Aku siorang tua pernah mendengar Kheng-jie berkata bahwa kau ingin pergi ke Kui kok untuk menuntut balas sakit hati ayahmu. Sayang aku datang terlambat, sampai Taysu sekalian mengalami kesulitan. Harap Taysu dapat memaafkan."
Kemudian ia berkata kepada Ho Kie.
"Kau sungguh sangat berani. Dengan seorang diri berani menerjang Kui kok, benar-benar nyalimu tidak dapat dibandingkan dengan orang biasa, cuma... ."
Ho Kie tidak menantikan orang tua itu berkata sampai habis, ia segera memotong.
"Boanpwa bukan tidak tahu akan kekuatan diri sendiri, karena Cian-tok Jin Mo itu dengan Boanpwee mempunyai permusuhan yang sangat dalam. Boanpwee juga tahu bahwa diri sendiri tidak bisa menandingi dia, tapi Boanpwee baru merasa puas jika sudah menyerbu Kui kok sekalipun harus mengorbankan jiwa."
"Apa dengan tindakanmu ini tidak menyia-nyiakan harapan dari ayahmu dialam baka?"
Ho Kie tidak bisa menjawab, ia berdiri sambil menundukkan kepala.
Tiba-tiba ia ingat kembali akan kematian ayah dan suhunya maka dengan tidak terasa lagi air matanya mengalir deras.
Cit cie Sin ong melihat keadaan yang mengharukan demikian, lalu menghela napas berulang-ulang.
kemudian berkata pula.
"Urusan sudah menjadi begini, sebaiknya tidak perlu menyalahkan kau, Lohu yang masih bertetangga dengan suhumu dan dengan Kheng-jie kau juga bersahabat, biarlah aku sekarang menbantukan supaya kau dapat mencapai maksudmu. Semua pelajaran terdapat dalam Hian kui pit kip bagian pertama lohu akan ajarkan kepadamu."
Tetapi Ho Kie lantas menjawab.
"Maaf Locianpwee, suhu boanpwee Toan-theng Lojin, sebelum menutup mata telah memerintahkan boanpwee menyelesaikan satu urasan besar. Sampai kini belum sempat Boanpwee melaksanakan, maka andaikata Boanpwce turut locianpwee ke Sin-hong, rasanya tidak tidak mempunyai hati untuk belajar, oleh karenanya mungkin akan mengecewakan jerih payah boanpwe. Tentang pelajaran ilmu silat itu, terpaksa boanpwe akan terima setelah boanpwe kembali dari Lam hay."
"Aiyaa, kau sungguh berbakti. Toan-theng Lojin yang mempunvai murid seperti kau ini, aku percaya arwahnya dialam baka tentu merasa puas,"
Kata Cit cie Sin ong sambil menghela napas. Ho Kie lalu berkata kepada Gouw Ya Pa.
"Gouw-toako, kau boleh temani taysu ikut Cit cie Locianpwe pergi ke puncak gunung Sin hong untuk berdiam sementara waktu lamanya. Kalau nanti aku berdiam sementara lamanya. Kalau nanti aku sudah kembali dari Lam hay, nanti aku akan mencari kau lagi... ."
Tetapi Gouw Ya Pa lantas menjawab sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
"Tidak bisa, tidak bisa kau mau suruh aku tinggal seorang diri, aku tidak mau. Kemana saja kau pergi aku mau ikut. Sekali pun kau pergi mati, aku juga mau turut terus..."
Lim Kheng mendengar ucapan orang tolol itu yang mengoceh tidak keruan, lantas membentak! Gouw Ya Pa mendelikkan matanya dan berkata dengan suara gusar.
"Ada urusan apa dengan kau lelaki palsu? Saudara Ho adalah sahabat karib. Aku boleh sesuka hati mengucapkan apa saja, ada hubungan apa dengan kau ?"
Perkataan Gouw Ya Pa ini membuat Lim Kheng malu dan gusar, maka ia jadi sengit dan menyerang.
Gouw Ya Pa yang diserang Lim Kheng.
jatuh jungkir balik dan membentur tembok, tetapi Gouw Ya Pa segera lompat bangun lagi dan berkata pula dengan suara gusar.
"Kau berani-berani permainkan aku? Apa kau kira Gouw Toayamu takut padamu?"
Cepat-cepat ia mencabut pecutnya lalu dengan senjata ini ia menantang Lin Kheng berkelahi. Ho Kie yang menyaksikan keadaan demikian lalu menarik tangan Gouw Ya Pa.
"Gouw Toako,"
Katanya.
"Kau benar-benar keterlaluan. Sedikit-sedikit hendak marah. Masih banyak urusan yang harus kita selesaikan dan nona Lim ini tokh tidak mengatakan apa-apa kepadamu, buat apa kau jadi gusar serupa ini ?"
Tetapi Gouw Ya Pa yang hatinya masih mendongkol, lantas menjawab.
"Kenapa dia maki-maki orang, aku Gouw Ya Pa tokh bukan anak kemarin sore ?"
Ho Kie sudah mengetahui, memang begitu tolol adatnya sahabatnya ini, maka hanya bisa gelengkan kepala sermbari berkata.
"Sudah, sudah. Aku ajak kau jalan sama-sama, jangan ribut-ribut lagi dengan nona Lim."
Gouw Ya Pa baru kegirangan, lalu simpan kembali senjatanya. Lim Kheng yang masih mendongkol, lalu menarik tangan suhunya sambil berkata.
"Suhu, mari kita pergi. Kelihatannya mereka tidak bisa ikut kita."
Tapi Cit cie Sin ong lantas menjawab sambil tersenyum.
"Kheng-jie. kau jangan marah dulu. Bocahh she Gouw itu tidak jahat, cuma adatnya agak kasar, lagi pula tolol."
"Suhu masih mengatakan dia tidak jahat. tadi dia memaki Kheng-jie begitu rupa, nanti Kheng-jie akan hajar mulutnya sampai giginya rontok."
"Kheng-jie jangan membawa adatmu sendiri, kalau kau tidak mau dengar perkataan suhumu, nanti suhumu tidak sayang lagi padamu."
Lim Kheng justru paling takut kalau tidak disayang oleh Suhunya maka ketika mendengar ancaman suhunya itu lantas diam. Cit cie Sin ong lalu berkata kepada Ho Kie.
"Begitu juga baik, kalau kau sudah kembali dari Lam hay, lekas datang ke puncak gunung Sin hong mencari aku, jangan membuang-buang waktu."
Sehabis berkata begitu, bersama Tiauw Goan Taysu dan Lim Kheng meninggalkan kuil tua itu.
Beberapa lama kemudian Ho Kie bersama Gouw Ya Pa juga berangkat menuju ke Lam-hay.
Hari itu mereka tiba disatu kota dipantai laut.
Kota itu sangat ramai.
tapi Ho Kie tidak mempunyai kegembiraan menikmati keramaian kota, ia hanya mencari rumah penginapan untuk bermalam.
Esok paginya setelah menanyakan kepada pelayan rumah penginapan tentang jalanan yang menuju ke Lam hay, lantas berlalu.
Tiba-tiba dibelakangnya ada orang yang memanggil.
"Ho Siaohiap, apakah kau hendak ke Lam-hay ?"
Ho Kie terperanjat, mengapa ada orang yang tahu kalau ia hendak ke Lam hay? Ketika ia berpaling ternyata orang yang menegur padanya itu adalah Auw yang Khia.
"Auw yang Cianpwce, mengapa kau juga berada disini ?"
Ia balik bertanya.
"Aku barusan tanya kau, sekarang sebaliknya kau yang tanya aku. Sungguh bagus sekali perbuatan kalian, kabur keluar dari Kui-kok meninggalkan aku sendirian disana. hampir saja tulang-tulangku yang bangkotan ini hancur dilembah Kui kok."
Ho Kie tidak bisa menjawab, mukanya merah seketika.
"Kau.jangan kesal dulu."
Auw Yang Khia berkata pula.
"Masih ada soal yang mengenaskan, aku nanti beritahukan kepadamu. Hmm, asal kau jangan gelisah."
"Auw Yang Cianpwee,..soal apakah ini?"
Ho Kie bertanya.
Auw Yang Khia lalu menceritakan bagaimana Jie Peng telah berhasil mencuri Leng-ki dan kemudian mengeluarkan perintah palsu untuk menolong Ho Kie dan kawankawannya keluar dari Kui kok.
Setelah Ho Kie dan kawankawannya berlalu Cian-tok Jien mo lalu mengejar sendiri, tapi tidak berhasil menyandak diri mereka.
Dalam gusarnya, ia lantas tangkap Jie Peng dan dimasukkan kedalam penjara.
Ho Kie yang mendengar berita itu lantas naik darah.
Tapi ia tahu bahwa saat itu meskipun ia kembali ke kui kok juga tidak ada gunanya, bahkan akan mengantar jiwa saja.
Maka lalu berkata kepada Auwyang Khia .
"Lo Cianpwee, kita sekarang hendak mencari perahu itu untuk ke Lam hay. Loo-cianpwee hendak kemana silahkan !"
Tapi Auw yang Khia lantas menjawab sambil tertawa.
"Ho Siaohiap, aku juga akan ke Lam-hay."
"Apa ? Kau juga akan ke Lam-hay?"
Ho Kie melengak.
"Aku bahkan sudah menyediakan perahu untuk kalian."
Ho Kie memandang Auw Yang Khia dengan sorot matanya penuh keheranan.
"Apa kau tidak percava? Baiklah aku beritahukan padamu. Setelah aku kabur dari Kui kok, aku terus mengikuti jejakmu. Tadi malam ketika kau dan Gouw Ya Pa menumpang dirumah penginapan, aku lantas pergi kepantai menyewa satu perahu besar, untuk kita pakai belayar hari ini. Sekarang kau tentunya akan percaya ucapanku!"
Ho Kie sangat girang. berulang-ulang ia berkata.
"Locianpwee kau begitu baik terhadap aku, sungguh aku tidak tahu harus bagaimana aku membalas budimu ini."
"Kita berkenalan bukan satu hari saja, apaka perlu bicara tentang budi? Mari kita jangan menyia-nyiakan waktu lagi kita segera berangkat."
Bertiga lalu naik perahu yang sudah disewa oleh Auw Yang Khia lalu belayar.
Dalam perjalanan di atas air itu.
Auw-yang Khia dengan duduk dibagian kepala perahu sambil menenggak arak sepuas-puasnya.
Ketika sang malam tiba, Auw Yang Khia masih saja belum mau masuk kedalam, nampaknya ia sudah mulai mabuk.
Saat itu mendadak geledek berbunyi kemudian disusul oleh jatuhnya badai dan angin puyuh.
Tapi, Auw Yang Khia tetap enak-enakan minum arak, tidak perdulikan datangnya hujan dan angin, seolah-olah itu semua tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan dirinya.
Hujan dan angin makin lama makin lebat.
Tukang perahu berusaha sebisa-bisanya untuk menahan perahunya jangan sampai terkena oleh ombak tapi nampaknya tidak berhasil.
Setelan keadaan sudah sangat berbahaya sekali.
tukang perahu lantas memanggil Ho Kie supaya ekas ajak Auw-yang Khia masuk kedalam.
Ho Kie nampak orang tua itu sudah basah kuyup dengan air hujan, tapi nampaknya masih tidak ambil perduli, ia masih enak-enak minum araknya.
Terpaksa Ho Kie pondong padanya dan setelah berada didalam, lalu disuruh tukar pakaiannya.
Mendadak seperti ada benda keras menimpa badan perahu, kemudian disusul oleh suara tukang perahu yang memberikan peringatan.
"Tuan-tuan...hati-hati...!"
Tapi kemudian perahu itu lantas disapu oleh badai, setelah terdengar suara jeritannya tukang perahu, badan perahu itu lantas hancur berkeping-keping.
Ho Kie hendak menolong kedua kawannya tapi sudah tidak keburu, maka lantas menyambar sepotong kayu yang mengembang diatas air.
Meski mengamuknya badai itu tidak lama, tapi sudah tidak dapat menolong nasibnya tukang perahu itu.
Ho Kie seorang diri terumbang ambing sambil peluki sepotong kayu dalam keadaan setengah pingsan.
Tidak tahu sudah berapa lama sang waktu sudah berlalu tahu-tahu sinar matahari sudah kelihatan disebelah timur.
Tatkala ia mendusin dan membuka matanya, ia telah dapatkan dirinya sudah menggelatak di pantai.
Ia tahu saat itu ia masih belum aman.
Ia ingin berduduk, tapi ketika menggerakkan tangannya ia merasa tidak bertenaga.
Bahkan seperti terikat oleh tambang lemas.
Ia merasakan mulutnya kering dengan susah payah ia baru keluarkan perkataannya.
"Air, aku mau minum !"
Lapat-lapat ia seperti mendengar suara orang berkata.
"Hati2, dia sudah mendusin."
Ia lantas merasa ada setetes air masuk ditenggorokannya.
Air dingin itu telah membuat Ho Kie sadar benar-benar.
Ia telah dapat kenyataan bahwa disekitarnya ada enam atau tujuh orang wanita muda dalam pakaian setengah telanjang.
Rambutnya yang panjang dan hitam, kelihatan terurai melambai-lambai.
Mendadak ia mendengar orang berkata.
"Kalian gotong orang ini dan bawa kedalam rumahku."
Ramai terdengar suara orang banyak, Ho Kie mendapatkan dirinya diletakkan diatas sepotong papan, tapi tidak begitu keras seperti papan biasanya.
Ho Kie tidak merontak, ia membiarkan dirinya digotong.
Tak antara lama, Ho Kie sudah digotong masuk kedalam sebuah kamar, ia lalu diletakkan diatas sebuah pembaringan yang empuk.
Bau harum lantas menusuk hidungnya, ia merasakan sangat segar.
Sekarang ia sudah sadar benar-benar, diam-diam telah mengeluh.
Apa maksudnya kawanan wanita itu membawa dirinya kedalam kamar itu?
Bau harum tadi sangat mencurigakan hatinya, entah apa namanya tempat ini?
Dan sahabat Gouw Ya Pa serta Auw yang Khia apakah sudah mati tertelan oleh ombak?
Apa yang mengherankan, ialah kenapa tidak tertampak barang satu orang laki-laki?
Apakah itu suatu pulau kaum hawa seperti apa yang pernah ia dengar dari cerita orang?
Kalau demikian halnya, ini sesungguhnya akan menyulitkan dirinya.
Pikiran Ho Kie tidak keruan..
Tiba-tiba terdengar suara wanita yang dipinggir pantai tadi.
"Melihat sikap kalian, tidak beda seperti kucing menemukan tikus. Orang tokh sudah dibawa masuk, perlu apa kalian berdiri disini?"
Sebetulnya beberapa wanita itu sedang pada berebutan menonton diri Ho Kie.
Mereka nampak ramai membicarakan diri Ho Kie, meski keadaan mereka setengah telanjang, tapi nampaknya tidak malu.
Ketika mendengar perkataan tadi.
agaknya mereka merasa takut maka lantas pada berlalu.
Kembali terdengar suara itu lagi.
"Kalian jangan cuma memikirkan baiknya saja, kalau yang satunya itu nanti sampai mendapat kesempatan meloloskan diri, hati-hati dengan tulang-tulangmu."
Ho Kie terperanjat, dalam hatinya berpikir, dalam mulut mereka yang dikatakan yang satu tadi entah siapa orangnya?
Gouw Ya Pa ataukah Auw yang Khia?
Rasanya dua-duanya tidak mungkin, karena ketika perahu yang ditumpangi tadi malam telah hancur, ia masih ingat benar bahwa Gouw Ya Pa masih tidur menggeros, sedang Auwyang Khia masih dalam keadaan mabuk, bagaimana bisa ingat dirinya?
Selagi Ho Kie memikirkan perkatan-perkataannya wanita tadi, tiba-tiba seorang dengan suara kasar berkata.
"Hai! Kau sudah mendusin atau belum? Bagaimana enak-enakan tidur saja? Kita disini bukan rumah penginapan, lho?"
Ho Kie tidak tahu suara kasar itu ditujukan kepada siapa, ia lantas bangun dan duduk, melihat kearah bicara orang tadi.
Tapi ketika ia menampak keadaan orang itu, wajahnya merah seketika, hatinya berdebaran, buru-buru tundukan kepalanja.
Kiranya orang yang suaranya kasar itu juga seorang wanita.
Alisnya tebal, matanya lebar, badannya gemuk dan kulitnya hitam persis seperti tong leger, rambutnya mengurai panjang sampai dikibulnya.
Seperti juga yang lainnya, wanita ini juga dalam keadaan telanjang.
Sambil pentang lebar sepasang matanya yang gede, terus mengawasi diri Ho Kie.
Wanita itu ketika melihat Ho Kie duduk dan lantas tundukan kepala serta tidak bicara apa-apa, bahkan memandang saja tidak berani, mendadak menjadi marah.
Dengan suara yang keras dan kasar ia berkata pula.
"Bocah! nonamu sedang bicara dengan kau, kau dengar apa tidak? Mengapa kau tidak menggubris?"
Ho Kie masih tidak berani angkat kepala hanya gerakan sedikit badannya lantas menjawab.
"Nona ada disini, aku merasa kurang leluasa. Harap nona keluar dulu, aku baru menjawab pertanyaan nona."
Wanita itu ketawa geli.
"Kau hendak berbuat apa suruh aku keluar? Apa hendak kabur ?"
"Nona jangan salah mengerti, aku sekali pun ada mempunyai pikiran itu, ditempat yang masih asing ini, sekalipun ada sayap juga lidak bisa terbang. Harap nona jangan kuatir."
"Kalau begitu apa sebabnya?"
"Tidak apa-apa, cuma kalau nona ada disini aku merasa tidak leluasa saja."
"Apa yang tidak leluasa? Tocu kita suruh aku bawa kau kekamar penjara untuk diperiksa, Perlu apa bicara leluasa atau tidak ?"
Ho Kie menampak wanita itu ngotot membawa caranya sendiri, dalam hati merasa mendongkol, maka lantas berkata dengan sengit.
"Aku maksudkan, kau tidak memakai pakaian, aku tidak enak melihat kau, kau sudah mengerti atau tidak !"
Tapi wanita itu malah ketawa terkekeh-kekeh.
"Kau ini sungguh keterlaluan."
Katanya dengan terangterang.
"kuberitahukan padamu, pulau kami ini semua penduduknya adalah kaum wanita, tidak pernah melihat orang lelaki. Kedatangan kalian berdua adalah untuk pertama kalinya ini. Kami sejak kanak-kanak sudah biasa dalam keadaan begini, apa yang tidak enak atau leluasa ?"
Ho Kie yang mendengar keterangan wanita itu, merasa setengah percaya dan setengah tidak, dalam hatinya berpikir tapi barusan ketika berada dipantai, sebetulnya memang tidak pernah melihat ada satu orang laki-laki kalau tidak bagaimana mereka bisa tidak kenal malu seperti ini?
Memikir sampai disitu, Ho Kie cuma bisa gelengkan kepala dan lantas turun dari pembaringan.
Sebentar lagi tiba-tiba ia sudah diserbu oleh 5-6 orang yang membawa pergi dirinya.
Ho Kie coba memberontak, tapi badannya merasa lemas tak bertenaga maka terpaksa mudah dibawa oleh mereka.
Sebentar kemudian Ho Kie telah tiba disatu ruangan besar, ia didudukan diatas sebuah kursi, wanita wanita yang membawa dirinya itu lantas pada berlalu.
Ruangan itu dihiasi sangat mewah, terutama gambargambar yang tergantuhg didinding, semua merupakan buah tangannya ahli seni lukis yang terkenal.
Dibawah digelari permadani hijau muda, begitu pula semua meja dan kursinya juga berwarna hijau muda.
Selain dari itu, dalam ruangan itu ada tersiar bau harum menyegarkan semangat.
Ditengah tengah ruangan, diatasnya sebuah kursi besar, ada duduk seorang wanita muda berusia kira-kira dua puluh tahun, sedang mengawasi padanya sambil bersenyum.
Wanita itu berbeda dengan yang lain ia mengenakan pakaian sutera putih, alisnya lentik.
bibirnya kecil merah, matanya hitam jeli cantik menarik dilihatnya.
-oo0dw0oo-
Jilid 13 HO KIE saja yang memandang sejenak, hatinya lantas merasa berdebaran, hingga tidak berani memandang lagi. Wanita itu memanggil Ho Kie, baru membuka mulutnya berkata.
"Kongcu datang dipulau kami, mendapat perlakuan selayaknya, harap Kongcu tidak kecil hati."
Ho Kie tidak bisa menjawab.
Dalam hatinya diam-diam berpikir, wanita ini sungguh cantik sekali, budi bahasanya juga sangat sopan santun, adakah mungkin ia sebangsa peri.
Berpikir sampai disitu Ho Kie menggigil dan tak berani memandang wajah sinona.
Wanita itu ketika menampak Ho Kie tundukkan kepala tidak menjawab perkataannya telah menduga Ho Kie tentu merasa malu karena disekitarnya ada banyak wanita muda dalam keadaan setengah telanjang.
Maka buru-buru memberi isyarat kepada orang-orangnya sambil berkata.
"Kalian mundur dulu, kalau aku tidak panggil jangan sembarangan masuk."
Setelah orang-orang bawahannya berlalu, wanita itu berkata pula.
"Sudah, sekarang mereka sudah pergi semua kau tak usah malu lagi. Dipulau kami ini, kecuali tidak ada orang lelakinya, yang lainnya tak ada yang kelewat aneh."
Hok Kie angkat kepala perlahan setelah mengawasi wanita yang sangat misterius itu sejenak, baru menjawab.
"Aku yang rendah bernama Ho Kie, hendak pergi ke Lam hay, apa mau dikata telah terdampar oleh badai, sehingga perahunya pecah. Aku yang rendah sangat bersyukur telah mendapat pertolongan tocu, disini aku ucapkan terima kasihku."
Ho Kie Coba berdiri hendak memberi hormat.
siapa nyana baru saja bergerak, dalam badannya merasa sakit sekali sehingga ia urungkan berdiri.
Wanita itu buru-buru berbangkit menghampiri Ho Kie, lalu ulur tangannya diletakan diatas pundak Ho kie dengan suara seolah-olah orang yang sedang merayu ia berkata.
"Kongcu jangan bergerak dulu. ketika kau kecebur kedalam laut, sudah lima hari lima malam berada didalam air, Maka tentu saja lantas merasa sakit dadamu kalau mau bergerak."
Ho Kie pikirannya lantas bekerja wanita ini mengapa tahu begitu banyak, apakah ia juga seperti mengerti ilmuu silat ?
Apa yang diduga oleh Ho Kie tidak salah wanita muda itu bukan cuma pandai ilmu silat saja.
bahkan ilmu silatnya tinggi sekali.
Ketika Ho Kie terdampar dipulau itu dan dapat ditolong oleh orang-orangnya, begitu melihat ia sudah tahu bahwa pemuda itu adalah seorang gagah yang berkepandaian tinggi.
maka tidak menunggu sampai Ho Kie sadar, diam-diam sudah dikerjai, maka Ho Kie merasa lemas sekujur badannya, kalau bergerak sedikit saja lantas merasa sakit.
Wanita itu ketika menampak wajah Ho Kie berubah.
lantas mengerti apa yang sedang dipikiri, tapi ia tidak berkata apa-apa.
Dengan tindakan perlahan ia balik lagi ke tempat duduknya, lalu berkata pula.
"Kongcu jangan takut. Penduduk dipulau ini bukan sebangsa peri atau iblis, cuma mereka sejak kecil dibesarkan dalam pulau tanpa laki-laki, tidak pernah melihat orang laki-laki lebih-lebih tidak kenal urusan suami-isteri, maka jadi tidak kenal perasaan malu. Sebetulnya ini juga tidak apa-apa, harap Kongcu legakan hatimu."
"Aku ada sesuatu urusan, ingin bertanya kepada tocu... ."
Menyahut Ho Kie sambil anggukan kepala. tapi perkataannya itu lantas dipotong oleh si nona.
"Kita semua adalah orang yang mengerti pelajaran ilmu silat, maka Kongcu tak usah terlalu merendah. Kongcu kalau ingin menyatakan apa-apa, harap bicara saja terus terang supaya kita bisa merundingkan bersama."
Aku sudah ditolong oleh tocu, budi ini aku tidak bisa lupakan, Tapi entah apa sebabnya setelah aku sadar, telah dibikin tidak berdaya, apakah ini memang merupakan sesuatu peraturan memperlakukan tetamu dari pulau tocu ini ?"
Wanita itu agaknya tidak merasa kaget dari atas pertanyaan Ho Kie, bahkan menjawab sambil ketawa.
"Kongcu, jangan gusar, ini adalah perbuatannya orangorangku itu yang tidak kuketahui pada sebelumnya. Sebentar aku pasti suruh mereka minta maaf kepada kongcu. Ada suatu hal yang ingin aku menyatakan, tapi rasanya susah membuka mulut. Asal kongcu terima baik semua urusan mudah dirundingkan,"
"Asal aku Ho Kie mampu melakukan, seharusnya aku suka memberi bantuan, harap tocu sebutkan saja."
Sepasang mata wanita itu memandang Ho Kie dengan tidak berkedip, wajahnya nampak merah seringah, tiba-tiba tundukkan kepalanya, nampaknya sangat malu untuk membuka mulut.
Ho Kie yang menyaksikan sikapnya wanita itu, dalam hatinya juga timbul rasa heran, tetapi ia hanya sebentar saja lantas berkata.
"Tocu hendak memerintahkan apa? Silahkan."
Setelah didesak oleh Ho Kie, wanita muda itu rupanya baru tersadar, kemudian baru kembali kepada keadaan semula.
"Urusanku ini mudah sekali. Asal kau mempunyai hati jujur. segera bisa dilaksanakan. Kalau kau sudah terima baik soal ini, aku tanggung kau akan dapat mencicipi segala kesenangan dunia,"
Demikian si nona berkata sambil melirik Ho Kie. Ho Kie yang diperlakukan secara demikian, hatinya berdebaran, ia menundukkan kepala, tidak bisa menjawab. iba-tiba terdengar suara si nona pula.
"Bagaimana? Apa kau tidak sudi ?"
Ho Kie didalam hati berpikir. Wanita ini sebenarnya mau apa? Mengapa tidak mau menjelaskan persoslannya secara terus terang. Berpikir demikian ia lantas menjawab.
"Tocu masih belum menjelaskan persoalannya bagaimana aku sudi atau tidak menerima tocu sudah ketahui?"
Wanita itu melirik kepada Ho Kie kemudian berkata sambil gertak gigi.
"Baiklah aku jelaskan padamu Kongcu. Aku berdiam di pulau ini sudah beberapa puluh tahun, selamanya belum pernah ada orang laki-laki yang datang kemari. Beberapa hari berselang, setelah angin puyuh mengamuk, anak buahku telah memberikan laporan bahwa banyak papan dan barang-barang yang mengapung diatas permukaan laut. Kala itu aku lantas berpikir. tentu ada perahu yang hanyut atau tenggelam, maka aku lantas menyuruh mereka memeriksa diseluruh pulau untuk mencari jika ada orang yang terdampar di pulau ini. Benar saja. mereka lantas memberi laporan pula bersama seorang laki-laki kasar hitam. Ini seolah-olah ada pemberian dari Tuhan yang merasa kasihan kepada umatnya yang hidup tersendiri dipulau ini, sehingga telah mengantarkan kau kemari. kalau kau suka berjanji mau berdiam disini, aku tidak akan mengecewakan kau. Aku rasa kau tentunya tidak akan menampik,"
Sehabis berkata, nona itu lantas unjukkan ketawanya yang menggiurkan. tetapi Ho Kie lantas menjawab sambil menggoyangkan tangannya.
"Tocu terhadap diriku yang merendah telah membuang budi yang sangat besar, budi ini dikemudian hari pasti akan kubalas...Tetapi kalau tocu menyurah aku tinggal disini, ini bagiku merupakan soal yang berat, sebab aku masih ada dendam sakit hati atas kematian ayahku yang sampai sekarang masih belum bisa dibalas. Disamping itu, juga pesan suhuku untuk menyelesaikan satu urusannya juga belum kulaksanakan, maka dalam hal ini aku harap agar Tocu suka memberi maaf."
Wanita itu lantas nyeletuk.
"Semua urusan ini tidak perlu Kongcu urus sendiri. Beritahukan saja nama dan alamatnya musuhmu itu, nanti aku akan menyuruh orang-orangku pergi untuk menyelesaikan. Harap Kongcu tidak usah banyak pikiran."
"Urusan ini hanya aku sendiri yang dapat melaksanakan, kalau meminjam tangan orang lain, sudah tentu akan gagal, maka harap tocu memberi maaf saja."
Wanita muda itu melihat Ho Kie bersikap keras, tidak mau menerima permintaannya, maka lantas memberi perintah kepada orang-orangnya membawa keluar kawan Ho Kie yang turut ditawan disitu juga.
Sebentar kemudian, rombongan wanita muda telah menggotong seorang lelaki yang terikat kencang, kemudian dilemparkan ketengah ruangan.
Ketika Ho Kie menegasi, lelaki yang dilemparkan itu bukan lain adalah Gouw Ya Pa.
Melihat Ho Kie juga berada disitu.
Gouw Ya Pa lantas uring-uringan.
"Saudara Ho, aku tidak tahu, kawanan perempuan liar ini pada menggunakan ilmu gaib apa. sehingga ilmuku sendiri menjadi tidak berguna lagi..."
Ho Kie kuatirkan kawannya yang tolol ini nanti mengacau belo tidak karuan.
maka lantas pendelikan matanya supaja ia jangan banyak bicara.
Gouw Ya Pa mengerti, Maka ia lantas menutup mulutnya.
Wanita muda itu lantas berkata kepada Ho Kie dan Gouw Ya Pa berdua.
"Ho Kongcu orang ini barangkali juga kau kenal."
"Benar, ia adalah sahabatku."
Jawab Ho Kie "Kalau bsgitu, soal ini mudah sekali dipecahkan.
Tapi bukankah kau mengatakan bahwa masih ada urusan yang masih belum kau selesaikan?
Sekarang aku mendapat suatu cara yang paling baik, asal kau setuju.
aku boleh mengantar pulang sahabatmu ini dan urusanmu itu dipasrahkan saja padanya.
suruh dia yang membereskan."
"Dalam hal apa saja aku suka menerima tetapi hanya dalam soal ini aku tidak dapat menyetujui."
Jawab Ho Kie.
"Demikian juga dengan aku. segala apa bisa dibereskan. hanya tidak akan membiarkan kau berlalu dari pulau ini."
Wanita itu juga kukuh. Ho kie melihat si nona kukuh hendak memendam ia dalam pulau itu, maka ia segera berkata dengan suara gusar.
"Mengapa Tocu memaksa orang yang sedang berada dalam kesulitan? Aku sekalipun harus binasa,tidak nanti akan menurut permintaanmu."
Wanita muda itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Aku tidak takut kau tidak menurut, kalau kau tidak percaya, tunggulah saja. sekali pun kau mempunyai dua sajap juga jangan harap bisa keluar setengah tindak saja dari pulau ini."
Setelah berkata, ia lalu gapaikan tangannya orangorangnya dan memerintahkan supaya pemuda itu dikurung dalam kamar tahanan.
Rombongan wanita muda itu dengan cepat telah bertindak.
mereka menggotong dirinya Ho Kie dan Gouw Ya Pa kesebuah rumah batu yang letaknya tidak berjauhan dengan pantai laut.
PADA saat itu, hari sudah gelap Ho Kie dan Gouw Ya Pa yang ditutup dalam kamar batu itu, sudah merasa agak dingin, ketika hendak bersemedi untuk melawan hawa dingin ternyata jalan darahnya sudah tertotok.
"Saudara Ho, nasib kita sesungguhnya sangat jelek dalam waktu beberapa hari ini, rupa-rupa kejadian yang sial telah menimpa diri kita, dan sekarang kembali terjatuh kedalam tangan kawanan kaum wanita liar ini."
Berkata Gouw Ya Pa.
"Gouw toako biar bagaimana kita harus bersabar, jangan sembarangan bertindak, kita sudah tertotok jalan darah kita, kalau kita salah bertindak. akibatnya lebih hebat."
Ho kie menasehati.
Gouw Ya Pa pikir perkataan Ho Kie itu memang benar sekalipun ia mempunyai ilmu kebal tapi sekarang dalam keadaan tidak berdaya, dan juga tidak ada gunanya.
Bahkan kalau sampai menimbulkan kegusaran para wanita itu, salah-salah bisa mati konyol.
Maka ia lantas bertanya kepada Ho Kie.
Ho Kie, saat itu sebetulnya juga sudah tidak berdaya, terpaksa cuma menghela napas.
dan menjawab dengan perlahan.
"Terpaksa kita melihat peruntungan kita sendiri bagaimana, siapa tahu kalau masih ada harapan!"
Mendadak pintu terbuka, lalu disusul oleh suara seorang wanita.
"Ho kongcu bolehkah aku masuk untuk beromongomong?"
Ho Kie dengar seperti suara wanita lagi, maka ia segera menjawab.
"Asal nona tidak takut badanmu kotor silahkan masuk saja."
Kamar batu itu biasanya untuk menyekap orang yang membuat salah maka didalamnya tak ada perlengkapan apa-apa.
Wanita muda itu ketika berada didalam.
lalu mencari tempat sembarangan untuk duduk, lantas berkata pada Ho Kie.
"Dengan demikian kita berlaku tidak pantas terhadap kongcu, harap kongcu tidak kecil hati."
"Mana bisa begitu, aku yang rendah sudah ditolong oleh nona, sehingga tidak binasa didalam laut, untuk mengucapkan syukur dan terima kasih saja rasanya masih belum cukup!"
Wanita itu perdengarkan suara ketawanya yang manis.
"Aku sengaja menengoki kau, apakah kongcu merasa betah berada didalam tanah ini? Barusan permintaanku terhadap kongcu, harap kongcu suka pikir baik-baik, besok saja kau beri jawabannya."
Berkata wanita.
itu, yang lantas memandang Ho Kie dengan sorot mata yang mengandung arti.
Kemudian lantas berbangkit dan meninggalkan kamar itu.
Ho Kie tundukan kepala tidak berkata apa-apa.
Sebenarnya ia merasa sangat jemu terhadap kelakuan wanita yang terus menerus mengganggu.
Gouw Ya Pa yang menampak kawannya begitu kesal, memberi nasehat padanya.
"Saudara Ho, kau terima baik saja permintaannya! Kalau dia sudah melepaskan aku nanti, aku datang lagi untuk menolong dirimu. Kalau tidak, kita berdua tak ada yang hidup satupun."
Perkataan Gouw Ya Pa ini benar telah membuat sadar pikiran Ho Kie maka ia lantas berkata;
"Benar, kalau kau tidak katakan, aku tidak tahu akan akal ini, besok aku akan bicara padanya."
Dua orang itu selagi enak ngobrol, tiba-tiba terdengar suara nyaring, kemudian muncul diri seorang.
Ho Kie mengira orang yang datang itu adalah itu wanita muda, selagi hendak berkata tiba-tiba ia melongo mengawasi orang yang datang itu.
Kiranya orang yang baru muncul itu adalah si pencuri sakti Auw yang Khia.
Dalam keadaan demikian Ho Kie bertemu dengan Auw-yang Khia, bukan main girangnya.
"Saudara Ho, ini bukankah Auw-yang locianpwee? Sekarang kita telah tertolong."
Begitulah Gouw Ya Pa lantas berseru ketika munculnya orang tua itu.
Auw yang Khia buru-buru taruh telunjuk dimulutnya, untuk memberi isyarat supaya mereka jangan berisik.
Setelah berada didalam, ia lantas rapatkan pintu, baru mendekati Ho Kie dan berkata dengan suara perlahan.
"Ho Siaohiap bagaimana nona-nona ini tokh boleh juga ? Ha ha !..."
Ho Kie membiarkan dirinya digoda, ia balas bertanya.
"Locianpwee bagaimana bisa terlepas dari bahaya ?"
"Kau jangan cemas, nanti aku ceritakan dengan perlahan,"
Jawab orang tua itu sambil tersenyum, Kiranya, ketika badai mengamuk hebat, Auw-yang Khia sedang mabuk arak.
Tapi ketika terdampar oleh air laut, ia telah tersadar.
Dan ketika melihat perahunya sudah pecah serta dirinya telah ditelan ombak, keinginan untuk hidup telah membuat ia terus berusaha mencari potongan kayu.
setelah mendapatkan kayu pecahan perahu, dengan itu ia terus mengambang di atas lautan.
Di lautan ia terumbang ambing tiga hari tiga malam lamanya.
seperti juga Ho Kie, ia juga terdampar ke pulau kaum Hawa itu.
Ia juga melihat bagaimana ketika Ho Kie dan Gouw Ya Pa ditolong dan dibawa pergi oleh gerombolan wanita muda itu.
Ia kuatir dirinya dapat dilihat oleh kawanan wanita itu, maka dengan sisa kekuatannya tenaga yang masih ada, ia coba selulup didalam air.
Kira-kira setengah jam lamanya, ia baru berani muncul lagi.
Setelah dapat kenyataan kawanan wanita muda itu sudah berlalu, ia baru berani muncul lagi dan mencari tempat untuk sembunyikan diri.
Ditempat sembunyinya ia mencari buah-buahan untuk tangkal perutnya dan tempat tidurnya diatas pohon.
Ketika ia bangun, ternyata itulah hampir malam.
Ia buru-buru lompat turun, memakai pakaiannya, dan coba atur pernapasannya ternyata tidak mendapat halangan suatu apa, hingga hatinya mulai merasa lega.
Mendadak ia ingat diri Ho Kie dan Gouw Ya Pa, bakankah dibawa pergi oleh kawanan kaum wanita itu ?"
Auw-yang Khia bisa mengambil keputusan dengan cepat, sebentar saja sudah tiba di sebuah perkampungan.
Dengan akalnya yang cerdik akhirnya ia dapat menemukan tempat tawanannya Ho Kie dan Gouw Ya Pa.
Disekitar batu itu berputar-putaran sambil mencari pikiran untuk menolong diri Ho Kie dan Gouw Ya Pa.
Kebetulan pada saat itu teorang wanita muda dengan anak kuncinya yang khusus dibuat telah memasuki kamar tawanan, setelah agak lama berdiam didalam, lalu keluar.
Sebagai seorarg pencuri ulung, dengan mudah saja Auwyang Khia dapat mengambil anak kunci dari tangannya wanita yang sedang bertugas itu.
Begitulah ia akhirnya dapat masuk ke kamar tahanannya Ho Kie dan Gouw Ya Pa.
Setelah mendengarkan cerita Auw-yang Khia.
Goaw Ya Pa lantas berkata.
"Locianpwee, dengan sejujurnya aku Gouw Ya Pa semula tidak menandang mata atas perbuatanmu sebagai pencuri itu, tapi kali ini aku sungguh merasa sangat kagum atas kecerdikanmu."
"Kepandaian yang cuma sebegitu saja apa lagi artinya, Kau terlalu memuji "
Jawab Auw-yang Khia sambil ketawa.
"Auw-yang Cianpwee, sekarang sudah masuk, tapi sebaiknya cianpwee mencari akal lagi bagaimana supaya kita bisa lolos dari sini."
Kata Ho Kie.
"Hal ini tidak usah kalian kuatirkan. Aku sudah siap.., ."
"Apa? Kau sudah siap hendak lari dengan kita?"
Tanya Gouw Ya Pa kaget.
Dengan tidak memikirkan keadaan sendiri ia lantas hendak berdiri.
Tetapi baru saja ia bergerak, lantas ia menjerit dan lantas roboh pingsan.
Auw-yang Khia tidak mengetahui apa sebabnya ia hanya mengira bahwa Gouw Ya Pa mendapat sakit keras.
maka sesaat itu ia serdiri tertegun.
Ho Kie cepat-cepat memberikan keterangannya.
"Locianpwee, Gouw toako bukan karena sakit, dia sama keadaannya dengan boanpwee entah dengan cara bagaimana jalan darah kita telah dikuasai. Begitu bergerak lantas merasakan sakit sekali. Barusan Gouw toako karena menggunakan tenaga terlalu banyak, maka lantas jatuh pingsan. Sebentar dia pasti bisa siuman sendiri."
Auw-yang Khia coba membuka totokan mereka, ternyata telah berhasil.
Ho Kie dan Gouw Ya Pa lantas berdiri keduanya, setelah menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, begitu pula jalan pernapasannya, ternyata sudah tidak ada halangan apa lagi, maka legalah perasaan hati mereka.
Auw-yang Khia segera mengajak Ho Kie dan Gouw Ya Pa lantas berlalu tetapi Ho Kie lantas memegang tangan Auw-yang Khia sembari berkata.
"Sabar dulu, para wanita yang menjaga disekitar rumah ini, mungkin akan mengetahui semua gerakan kita."
Gouw Ya Pa juga tidak menantikan sampai siorang itu menjawab lantas sudah nyeletuk.
"Saudara Ho. kau sebetulnya terlalu hati-hati. Dulu aku Gouw Ya Pa tertotok jalan darahku oleh orang-orang perempuan itu, sehingga tidak berdaya terhadap mereka tetapi sekarang aku sudah bebas, kalau mereka mau cobacoba merintangi aku nanti akan menghajar mereka dengan pecut bajaku ini supaya mereka juga tahu rasa !"
"Auw-yang Khia yang mendengar Gouw Ya Pa nyerocos terus, cepat-cepat berkata sambil goyangkan tangannya.
"Jie-wie jangan terlalu ribut. Tempat yang sebetulnya tidak ada orang. kalau saudara Gouw begitu ribut, bukanlah berarti menarik perhatian mereka? Ji-wie tidak usah gelisah. wanita yang menjaga disekitar kamar tahanan satu persatu telah kubikin tidak berdaya. Kita boleh jalan dengan leluasa."
Orang tua itu lalu memimpin kedua kawanannya dan diam-diam mereka meninggalkan kamar tahanan tersebut. Belum jauh mereka berjalan tiba-tiba terdengar suara riuh.
"Celaka, kedua orang itu sudah kabur. Lekas laporkan kepada Tocu!.. ."
Suara itu lantas disusul dengan suara tanda bahaya.
Sebentar seluruh pulau itu sudah menjadi ramai sekali.
Ho Kie bertiga ketakutan mereka lari semuanya kedalam rimba.
Sekali hendak bersembunyi mendadak terdengar suara bentakan.
"Manusia goblok yang tidak tahu diri. Apakah kalian ingin cari kematian?"
Ho Kie lalu memasang matanya, yang bicara itu ternyata adalah perempuan muda yang sekarang sedang berdiri didepannya sejauh kira-kira satu tombak.
Ia mengawasi ketiga orang itu dengan wajah dingin.
Ho Kie mundur tiga langkah lalu berkata.
"Nona jangan terlalu mendesak. Harus kau ketahui bahwa Ho Kie juga bukan sembarang orang yang boleh kau perlakukan seenaknya saja."
"Nonamu justru kepingin tahu sampai dimana kepandaianmu. kalau kau tahu gelagat lekas balik kekamar batu kalau tidak, berarti mencari mampus sendiri."
"Adakah nona yakin benar kalau usaha nona itu akan berhasil?"
"Dalam pulauku ini ada satu ketentuan orang-orang yang datang kepulau ini, barang siapa yang menurut kehendakku hidup, dan yang melawan berarti mati. Nonamu tidak percaya kau mempunyai sayap bisa terbang dari sini,"
Kata si nona dengan mata melotot. Menampak sikap si nona yang membawa caranya sendiri. Ho Kie juga menjadi tidak senang, maka ia lalu menjawab.
"Aku si orang she Ho kepingin melihat kepandaian nona, aku kepingin coba, bisa keluar dari pulau ini atau tidak?"
Sehabis berkata, ia memberi isyarat kepada Auw-yang Khia dan Gouw Ya Pa supaya masing-masing siap sedia.
Wanita itu dengan tanpa bicara apa-apa lagi, lantas maju kira-kira lima tindak didepannya Ho Kie kemudian menyerang dengan tangannya.
Ho kie menyaksikan serangan wanita itu begitu ganas, tidak berani menyambuti, buru-buru mengelakkan dirinya dari serangan tersebut.
Tetapi kasihan bagi Gouw Ya Pa yang berdiri dibelakang Ho Kie.
Ia mengira Ho Kie akan menyambuti diri.
hingga serangan wanita itu dengan telak mengenakan dirinya.
sampai ia terpental satu tumbak jauhnya dan jungkir balik.
Kalau ia tidak mempunyai ilmu kebal.
niscaya sudah binasa seketika itu juga.
Dengan wajah dan badan penuh debu, Gouw Ya Pa segera melonpat bangun, kemudian menerjang ke arah si wanita sambil berkata dengan gusarnya.
"Perempuan liar, kau berani menghina orang, aku Gouw Ya Pa kepingin mencoba sampai dimana kepandaianmu."
Begitu berkata lantas hendak mengeluarkan senjata pecut bajanya.
tapi ternyata pecutnya sudah tidak ada ditempatnya.
Kiranya pecut Gouw Ya Pa sudah terbawa oleh ombak ketika terjadi kecelakaan dilaut betul-betul lucu lagaknya si tolol.
Wanita itu rupanya tidak mau memberi hati kepada lawannya, begitu melihat Gouw Ya Pa tercengang lalu maju menyerang lagi.
Serangan itu hebat sekali, Gouw Ya Pa hendak menyingkir, tapi sudah tidak keburu.
Selagi dalam keadaan sangat berbahaya, Ho Kie, dari samping dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, menyambuti serangan wanita itu.
Ketika kekuatan itu beradu, lalu menimbulkan suara gemuruh, batu-batu dan daun-daun pohon pada berterbangan, Sedang badannya Gouw Ya Pa yang turut kesambar anginnya juga tidak bisa berdiri tegak dan jatuh di tanah.
Ho Kie merasa dadanya bergolak, mulutnya menyemburkan darah segar.
Wanita itu yang maksudnya hendak membinasakan diri Gouw Ya Pa tidak nyana mendapat perlawanan begitu hebat dari Ho Kie, Untung ia berlaku gesit, sebelum serangan Ho Kie mengenakan dirinya dengan telak sudah mundur beberapa tindak sehingga terhindar dari kematian, Tapi tidak urung serangan Ho Kie, ia sendiri juga lantas terpental sejauh satu tombak lebih, lantas duduk sambil menyemburkan arah dari mulutnya.
Ho Kie buru-buru menghampiri Gouw Ya Pa untuk menanyakan keselamatannya.
Ketika menampakkan pemuda tolol itu tidak terluka apa-apa baru merasa lega.
Tapi apa yang disaksikan pada saat itu?
Kiranya ada beberapa ratus wanita penduduk pulau tersebut, ketika menampak tocunya terluka, setiap orang nampaknya sangat gusar dengan membawa anak panah dan gendawa.
mereka telah mengurung diri Ho Kie bertiga.
Ho Kie yang menyaksikan keadaan demikian, diamdiam mengeluh.
Kalau kawanan wanita itu nanti benarbenar melepaskan anak panahnya bagi Gouw Ya Pa yang mempunyai ilmu kebal masih tidak mengapa.
tapi ia sendiri dan Auw Yang Khia pasti akan terpanggang dibawah hujan panah itu.
Mengingat akan diri Auw Yang Khia.
ia lantas berpaling mencari orang tua itu, tapi ternyata sudah tidak kelihatan batang hidungnya, Ho Kie semakin cemas.
"Saudara Ho. perla apa kau merasa gelisah, ilmu kebalku justru dapat digunakan untuk menghadapi senjata anak panah ini. Masih ada aku disini, perlu apa takut?"
Dalam keadaan terpaksa, Ho Kie lalu panggil Gouw Ya Pa, mereka lalu berdiri saling membelakangi, Jika benar kawanan wanita itu nanti menghujani anak panah Ho Kie akan melindungi depannya dengan sepasang tangannya, Sedang Gouw Ya Pa melindungi bagian belakang.
Para wanita sembari memegang gendewa masing-masing dan mengawasi Ho Kie dan Gouw Ya Pa dengan mata mendelik perlahan geser maju kakinya, Kepungan makin lama jadi makin ciut.
Sebentar kemudian, pulau misterius itu telah diliputi oleh hawa peperangan dan kekuatiran.
Mendadak terdengar suara bentakan nyaring, kemudian disusul dengan menyambarnya anak panah yang datang seperti hujan kearah Ho Kie dan Gouw Ya Pa.
Ho Kie menampak lawannya sudah mulai melakukan serangannya anak panah, dengan kedua tangannya yang digunakan secara bergantian untuk menangkis setiap anak panah yang menyambar kearah dirinya.
Sedangkan Gouw Ya Pa juga tidak tinggal diam dengan kedua tangannya juga ia repot menyambuti setiap batang anak panah yang meluncur kebadannya.
Tapi karena jumlah musuh makin lama makin banyak kedua orang itu perlahan-lahan sudah mulai kewalahan.
Selagi dalam keadaan ripuh demikian, mendadak terdengar suara riuh yang mengatakan.
"Api, api.... Kebakaran! Kebakaran! Ada orang melepas api!"
Wanita-wanita itu ketika mendengar jeritan ada api, wajahnya pada berubah kaget dan khawaiir, dengan tanpa menghiraukan Ho Kie dan Gouw Ya Pa, mereka lantas bubar.
pada lari kekampung untuk menolong bahaya api.
Ho Kie buru-buru menarik tangan Gonw Ya Pa, juga hendak lari menuju kekampung.
Gouw Ya Pa mengira Ho Kie mau ajak bantu menolong memadamkan api, maka lantas menolak sambil berkata.
"Saudara Ho, apa sudah gila! Kita baru saja terlepas dari keganasan mereka, mengapa kau hendak lari kesana? Apakah kau sudah tidak ingin pergi ke Lam-hay?"
Ho Kie tidak sempat memberi keterangan, ia hanya berkata.
"Lekas kita cari kesana, entah dia ada atau tidak?"
Jawaban Ho Kie tambah membikin bingung Gouw Ya Pa.
Ho Kie baru hendak menjelaskan bahwa ia hendak mencari Auw-yang Khia, tiba-tiba orang tua itu ternyata sudah muncul didepan matanya.
Ho Kie menampak Auw-yang Khia dalam keadaan selamat, hatinya merasa lega.
Orang tua itu dari badannya mengeluarkan sebuah benda.
lalu diberikan kepada Ho Kie sambil berkata.
"Ho Siaohiap, barang ini tentunya ada kepunyaanmu!"
Ho Kie terperanjat, karena barang yang ditunjukkan itu adalah tanda pusaka Kiu-hoan leng yang berada dilehernya.
"Locianpwee, dari mana kau dapatkan barang ini?"
Demikian ia bertanya.
"Barusan kau dan saudara Goaw Ya Pa melayani musuh, aku telah menyingkir, diam-diam nyelundup kekampung. Maksudku semula ialah hendak mencari barang makanan, tak nyana aku ketemukan barang ini, maka aku lantas bawa balik untuk dikembalikan padamu."
Berulang-ulang Ho Kie menyatakan terima kasihnya. Ia masih ingin menyatakan apa-apa lagi Gouw Ya Pa yang berdiri disamping sudah merasa tidak sabaran lagi, maka lantas berkata.
"Saudara Ho, orang-orang perempuan itu kini sudah berlalu semua, perlu apa kita masih berada disini mengobrol saja, bukan lekas pergi menyelamatkan diri?"
Auw-yang Khia lalu berkata;
"Kalian tidak usah cemas, hal ini aku sediakan, mari ikut aku!"
Orang tua itu lalu ajak mereka kesatu tempat dekat jurang, lalu berkata pula sambil menunjuk kesana.
"Dibawah sana aku telah dapatkan beberapa potong kayu, sekarang kita tinggal cari talinya untuk mengikat kayu-kayu itu, kita duduk diatasnya bukankah urusan akan menjadi beres?"
Selagi mereka repot mencari-cari tali, tiba-tiba terdengar suara keresekan. Itu ternyata suara sebuah sampan yang didayung oleh seorang tua. Ho Kie lalu pentang mulutnya, berkata dengan suara nyaring.
"Locianpwee tolong bawa sampanmu kemari!"
Tapi orang tua itu seperti tidak mendengar, ia masih mendayung sampannya sambil menyanyi, tidak menghiraukan panggilannya Ho Kie.
Ho Kie menganggap orang tua itu mendengar, maka lantas lari turun mendekati, lantas berkata pula;
"Locianpwe tolong dekatkan sampanmu, boanpwe Ho Kie disini menjumpai Locianpwe." 0rang tua itu angkat kepalanya, lalu menjawab dengan suara seperti gusar.
"Orang begitu muda, mengapa terlalu bawel ?"
Ho Kie agak mendelu, tapi ia lantas berkata pula.
"Loncianpwe jangan marah. Tolong dekatkan sampanmu nanti boanpwe beritahukan lagi tentang pengalaman boanpwe sekalian."
Orang tua itu meskipun tadi nampaknya, gusar ia tidak urung ia dayung juga sampannya menghampiri Ho Kie.
Tatkala sudah berada dekat, Ho Kie baru tahu bahwa sampan itu ternyata cuma kira-kira satu kaki lebarnya, panjangnya kira-kira satu tumbak lebih.
Kalau orang biasa.
jangan kata buat berlayar dilautan, sedang buat berdiri saja rasanya masih sulit.
Orang tua itu rambutnya sudah putih seluruhnya, pelipisnya nampak sangat menonjol tinggi, sinar matanya tajam sekali begitu melihat sudah dapat diduga kalau ia itu ada orang rimba persilatan yang bukan sembarang orang.
Ho Kie buru-buru memberi hormat, dengan sikapnya yang sangat sopan ia berkata pula.
"Locianpwee, boanpwee Ho Kie dengan kedua kawan, tadinya hendak ke Lam-hay dengan menumpang sebuah perahu, apa lacur ditengah jalan perahu telah tenggelam diterjang badai, sehingga kita bertiga terdampar sampai kesini. Entah locianpwee bisa memberikan pertolongan untuk memecahkan kesulitan kita atau tidak."
Orang tua itu tertawa tergelak-gelak, suara ketawanya itu begitu lama tidak bisa buyar, sehingga membuat pemgng telinga yang mendengarnya. Setelah merasa puas ketawa barulah ia berkata.
"Bocah cilik kau berkata setengah harian selalu mengucapkan cianpwee boanpwee, aku siorang tua sesungguhnya tidak dapat menangkap maksudmu. Bicaralah yang terang supaya orang bisa mengerti !"
Ho Kie mengerti bahwa orang tua itu sengaja berlagak pilon, maka juga lantas berkata dengan sewajarnya.
"Boanpwee bertiga ingn pergi ke Lam-hay. disini tidak ada perahu, bolehkah kau si orang tua tolong antarkan kami kesana, entah kau orang tua sudi utau tidak?"
"Kau tanya aku sudi atau tidak? Aku sekarang beritahukan padamu, aku siorang tua tidak sudi carilah orang lain!"
Menampak orang tua itu tidak mau, Ho Kie tidak bisa berkata apa-apa. Selagi masih berada dalam kesangsian, Gouw Ya Pa tiba tiba berkata dengan suara gusar.
"Hai tua bangka, tidak perduli kau mau atau tidak aku Gouw Ya Pa juga hendak menumpang sampanmu!"
Sehabis berkata, lantas lompat dan berdiri didalam sampan.
Ho Kie menampak perbuatan Gouw Ya Pa yang sangat ceroboh.
Ia kuatirkan akan membikin gusar orang tua itu hingga tambah tidak mau ditumpangi, maka lantas membentak kepada kawannya itu.
"Gouw-toako jangan berlaku tidak pantas terhadap orang tua. Kalau Locianpwee ini tidak sudi, kita juga tidak bisa memaksa."
Sehabis berkata lalu berkata pula kepada orang tua itu.
"Barusan sahabatku ini berlaku kasar terhadap Locianpwee, boanpwee disini mohon locianpwee supaya suka memberi maaf."
Jawaban orang tua itu sungguh-sungguh diluar dugaan orang bukan saja tidak gusar terhadap Gouw Ya Pa yang perlakukan padanya begitu kasar sebaliknya malah berkata kepada sitolol itu sambil tertawa.
"Mendingan sitolol yang berterus terang, aku siorang tua justru tidak suka banyak pernik. Mari, mari aku nanti antar kau kesana."
Menggapai kepada Ho Kie dan Auw-yang Khia.
"Mengapa kalian berdua masih berdiri seperti patung? Apakah kalian masih ingin mencari isteri dipulau ini?"
Ho Kie dan Auw-yang Khia lantas lompat kedalam sampan. Selagi hendak mencari tempat duduk mendadak orang tua itu berkata pula.
"Aku antar kalian kesana tidak apa tapi kalian haras menpunyai liangsim, tidak boleh mencuri barangbarangku."
Auw-yang Khia yang mendengar perkataan si orang tua itu, hatinya merasa tidak boleh mencuri barang-barangku.
Auw-yang Khia yang mendengar perkataan siorang tua itu hatinya merasa tak enak, wajahnya merah seperti kepiting direbus.
Siapa tahu orang tua itu malah menggoda padanya.
"Hai, laoko ini bagaimana sih? Apakah terserang penyakit panas mendadak? Mengapa wajahnya begitu merah?"
Auw-yang Khia sejak melihat orang tua itu belum pernah membuka mulut.
Ia merasa seperti pernah kenal dengan orang tua ini, tapi tak ingat lagi dimana pernah bertemu.
Tatkala dengar perkataan orang tua itu yang seolah-olah menggoda dirinya, ia sadar maka cepat ia memberi hormat seraya berkata.
"Locianpwee. ini tentu adalah orang tua yang disebut mempunyai gelar Nelayan empat penjuru lautan yang namanya sangat kesohor! Disini Auw yang Khia memberi hormat!"
Orang tua itu lantas tertawa bergelak-gelak, kemudian berkata.
"Auw-yang Khia, aku kira kau sudah tidak kenal aku siorang tua lagi!"
"Boagpwee tadi kesalahan mata, kalau tidak locianpwee yang mengingatkan, hampir saja tidak berani mengenali."
Jawab Auw-yang Khia sambil tertawa.
Kiranya si Nelayan empat penjuru lautan ini adatnya sangat kukoay ia benci sekali terhadap kejahatan, asal saja urusan begitu terjatuh ditangannya, Kalau tidak binasa pasti orang bersangkutan akan cacad seumur hidupnya.
Tapi, ia sebaliknya ada orang yang paling gemar menolong orang yang berada dalam kesulitan.
Ho Kie bertiga kali ini kalau tidak bertemu dia, jangan kata bisa sampai ke Lam bay, mungkin jiwanya sudah hilang ditengan jalan.
Tidak sampai setengah hari, Nelayan empat penjuru lautan itu sudah mengantarkan Ho Kie.
Kala hendak meninggalkan padanya, ia masih memberi pesanan demikian.
"Kau sampaikan kepada Cit-cie Sin ong bahwa aku si nelayan tua tidak lama kemudian hendak menjumpai padanya."
Ho Kie bertiga setelah mengucapkan terima-kasih, lantas berjalan menuju ke Pho-tho untuk mencari si Nikouw tua Thian sim Sin-ni ..Tidak antara lama dari jauh mereka sudah dapat melihat ada sebuah kuil yang dikelilingi oleh banyak pohon, hingga nampaknya seperti rimba.
Saat itu cuaca sudah mulai gelap, didalam kuil lapatlapat ada sinar lampu.
Ho Kie lalu berkata kepada Auw-yang Khia.
"Auw-yeng cianpwee, tempat ini terpisah dari Pho tho rasanya sudah tidak jauh lagi, bagaimana kalau kita jalan cepat sedikit?"
Belum sampai Auw-yang Khia menjawab, Gouw Ya Pa sudah nyeletuk.
"Pergilah kalian berdua. aku Gouw Va Pa memang ada seorang yang tidak ada gunanya, pergi dangan kalian tidak beda sebagai rintangan, ada lebih baik kalian jalan dengan jalan kalian sendiri, dan aku akan jalan dengan jalan sendiri."
Ho Kie menampak ia ngadat, buru-baru lompat mencegah padanya seraya berkata.
"Gouw toako, kau kecapa? Tanpa sebab mengapa kau ngambek?"
Gouw Ya Pa sebetulnya belum pernah berani ngambek terhadap Ho kie, kali ini entah apa sebabnya ia mendadak jadi demikian.
"Kau masih tanya aku mengapa tidak tanya dirimu sendiri? Kalian berdua dengan mengandalkan ilmu lari pesat yang lebih atas dari padaku si orang she Gouw. sengaja lari semaunya, ini masih tidak apa, dan sekarang setelah sudah dekat ditemgat tujuannya, kau lantas minta orang jalan lebih lekas, bukankah ini berarti kau sengaja hendak meninggalkan aku si orang she Goow ?"
Ho Kie pikirannya selalu ditunjukan kepada Thian Sim Sin-nie, sehingga tidak memperhatikan keadaannya Gouw Ya Pa.
Dan setelah Gouw Ya Pa mengucapkan demikian ia baru lihat bahwa sahabatnya ini memang benar keadaannya sudah sangat lelah sekali, keringatnya sudah membasahi sekujur badannya, napasnya memburu seperti kerbau.
Maka ia buru-buru menghibur.
"Gouw toako, barusan karena aku memikiri ingin lekaslekas bisa menemui Thian sim Sin-nie sehingga tidak memperhatikan keadaan toako, harap toako maafkan saja kekeliruanku ini."
Auw-yang Khia juga membujuk supaya Gouw Ya Pa jangan mengambil dihati terus.
Dengan demikian barulah sitolol itu menjadi tenang.
Tiga orang itu sekarang terpaksa jalan perlahan-lahan, ketika sudah gelap baru tiba didepan kuil.
Kuil itu dibangun dibawah kaki bukit, ternyata ada merupakan bangunan yang megah.
Disamping kuil yang sangat besar, masih ada bangunan rumah yang tidak kurang dari ratusan jumlahnya.
Ruangan sembahyang berada ditengah-tengah kuil kamar tempat semedi terpisah di kedua sisi.
Disamping itu masih ada lagi ruangan belakang yang terpisah beberapa tombak dengan ruangan tengah, mungkin untuk kepentingan menginap para tamu.
Kuil itu terpancang sebuah papan nama yang tertulis dengan huruf emas PHO THO SIE.
Ketika mereka bertiga tiba didepan pintu kuil, selainnya suara ketokan bokhie dan suara membaca kitab, tidak terdengar suara lainnya juga tidak kelihatan ada orang berjalan mundar mandir.
Ho Kie diam-diam lantas berpikir, nampaknya disini ada tempatnya orang-orang beribadat tinggi kalau kita bertiga masuk sekarang sembarangan para padr yang tidak tahu apa sebabnya, mungkin akan menimbulkan kesalah paham.Lebih baik aku masuk dulu untuk menyampaikan maksud kita semua, Ia lalu minta Auw Yang Khia dan Gouw Ya Pa menunggu dulu diluar.
Auw Yang Khia adalah seorang kang-ouw ulung, sudah tentu mengerti.
Tapi Ho Kie kuatir nanti Gouw Ya Pa ngambek lagi, maka ia lantas memberi penjelasan.
Dengan seorang diri Ho Kie masuk kedalam kuil.
Dalam kuil itu ternyata sunyi sekali, tidak kelihatan satu orang pun juga.
Tapi lampu didalam kamar pada menyala.
hingga keadaannya terang benderang.
Sedang suara orang membaca kitab bisa terdengar sangat nyata.
Ho Kie tidak berani berlaku semberono, tapi kalau menunggu terlalu lama ia kuatir Gouw Ya Pa dan Auw Yang Khia tidak sabar.
Oleh karenanya, maka terpaksa memberanikan diri.
ia ulurkan tangannya untuk mengetok pintu dengan perlahan.
tapi tidak ada jawaban apa-apa.
Pada saat itu, entah sejak kapan Goaw Ya Pa sudah berada dibelakang dirinya, menampak ketokan pintu Ho Kie tidak dapat mendapat jawaban.
sebagai seorang yang beradat kasar menyaksikan keadaan demikian.
sudah tentu lantas menjadi gusar.
Maka dengan tidak banyak bicara, ia lantas mengetok pintu dengan kepalan tangannya sedang mulutnya lantas berkaok-kaok.
"Hei, didalam ada orang apa tidak? Lekas bukakan pintu! Aku Gouw Toaya ada sedikit urusan hendak menanya kalian."
Kuil Pho tho sie yang selamanya tenang malam ini entah dari mana telah dapat kunjungan orang sembrono yang gembar-gembor sembari mengetok-ngetok didepan pintu., Kalau hal ini terjadi ditempat lain, mungkin sudah bisa menirmbulkan kerewelan.
Namun para paderi didalam kuil ini semuanya ada orang-orang beribadat tinggi-tinggi, selamanya tidak pernah menyampuri urusan luar, juga tidak ada orang yang datang Kesitu untuk mencari satori.
Dan kini perbuatan sitolol yang tidak tahu diri itu benarbenar mengejutkan para paderi didalam kuil tersebut.
Sebentar kemudian pintu yang besar dan tebal itu telah terbuka, dari dalam keluar seorang paderi tua yang usianya kira-kira sudah seratus tahun lebih.
Paderi tua itu lantas dapat melihat seorang muda sedang mengomeli seorang pemuda tinggi besar berwajah hitam.
"Gouw toako, bagaimana kau berbuat begini sembrono? tahukah kau ini tempat apa? Apakah kau kira boleh kita memasuki secara sembarangan? Kalau toako berbuat demikian, bukan saja menggagalkan pesan suhu, tapi juga akan membahayakan jiwaku dan toako sendiri. Selanjutnya aku harap toako suka berpikir dulu sebelum bertindak."
Gouw Ya Pa rupanya tahu kalau dirinya telah bersalah, maka ia diam saja diomeli oleh Ho Kie.
Padri tua itu yang menyaksikan keadaan demiklan kembali melihat dandanannya sang tetamu lantas mengetahui kalau mereka dari tempat jauh, maka ia juga tidak terlalu menpermasalahkannya.
Sambil merangkapkan kedua tangannya padri tua itu lalu memberi hormat seraya berkata.
"Sicu datang dari mana dan ada keperluan apa mengunjungi gereja kami ini?"
Ho Kie menampak padri itu memperlakukan padanya dengan sikap yang sopan santun, ia juga tidak berani berlaku ayal, dengan cepat ia menghampiri untuk memberi hormat kemudian baru menjawab.
"Boanpwee Ho Kie. datang dari lembah Patah Hati, atas perintah suhu almarhum, datang kegereja ini hendak mencari Thian sim Sin-nie Locianpwee. entah Losiansu sudi memberitahukan atau tidak ?"
Padri tua itu setelah mendengar perkataan Ho Kie nampak berpikir kemudian baru berkata pula.
"Sicu datang dari tempat yang sangat jauh lagi pula juga ada membawa tugas suhu. lolap seharusnya... ."
Ho Kie yang melihat padri tua itu agaknya mempunyai kesulitan apa-apa yang tidak bisa dijelaskan kepada orang lain, ia mengetanui bahwa dalam hal ini pasti ada sebabsebabnya maka lantas baru-buru berkata.
"Losiansu, ijinkan boanpwee memberi sedikit keterangan lagi. Suhu boanpwee adalah Toan-theng Lojin, ketika hendak menutup mata telah memberikan pesan terakhir, Boanpwee diminta dengan sangat agar setelah suhu meninggalkan dunia, boanpwee harus mengunjungi gereja ini untuk menjumpai Thian sim Sin-nie untuk menyampaikan berita tentang kematian suhu. Lain dari itu boanpwee tidak mempunyai niat apa-apa lagi. Mohon Losiangu memaafkan banyak-banyak."
Padri tua itu melihat Ho Kie berkemauan keras dengan sujud, maka lantas berkata.
"Lolap bukannya tidak mau mengantarkan sicu kesana, hanya orang yang hendak kau ketemui itu adatnya sangat aneh luar biasa. Sejak datang kegereja kami ini, sampai sekarang sudah dua puluh tahun lebih lamanya, selama itu ia tidak suka menemui siapa saja. Barangkali sicu juga tidaK akan dikecualikan."
"Ucapan Locianpwee memang benar. Suhu boanpwee sebelum menutup mata juga pernah menyebutkan tentang adatnya Thian sim Sin-nie Locianpwee, maka ia memesan boanpwee harus bisa menahan sabar?"
Paderi tua itu menghela napas dan akhirnya berkata.
"Baiklah, kalau sicu berkeras hendak menemui dia, lolap akan mencoba membantu sebisanya."
Lalu ia panggil paderi kecil seraya berkata.
"Kau ajak ketiga sicu ini pergi ke Pek-in-gay dibelakang gunung untuk menemui Thian-sim Sin-nie. Kau antar mereka sampai ditepi bukit dan segera balik."
Selanjutnya paderi tua itu berpesan kepada Ho Kie.
"Ho sicu, jika dia berkeras tidak suka menerima kau. kau juga tak usah memaksa, lekas kembali saja."
"Losiansu tidak usah kuatir. boanpwee sudah mengerti."
Jawab Ho Kie sambil menjura. Paderi tua itu lalu memberi hormat.
"Sicu pergilah, Hati-hati sedikit, segala hal semua tergantung pada kemauan Tuhan. maaf lolap tidak bisa mengawani kau lama-lama."
Setelah berkata begitu si padri tua itu lantas masuk kedalam gereja lagi.
Si paderi kecil yang mengantarkan Ho Kie bertiga tidak lama kemudian sudah sampai dibelakang bukit yang dimaksud.
Paderi kecil itu lalu menunjuk kesebelah kiri bukit dan berkata kepada Ho Kie.
"Itu adalah Pek-in gay. Silahkan sicu pergi sendiri Siaoceng tak berani mengawani lebih lanjut."
Ho Kie mengucapkan terima kasihnya pada paderi kecil ini dan kemudian berkata kepada Gouw Ya pa dan Auwyang Khia.
"Disini adalah kediamannya Thian Sim Sin-nie locianpwee. Kalau kita mengunjungi bersama-ama, Locianpwee pasti tidak suka menemui kita. Aku lihat lebih baik jiewie suka bersabar sedikit aku akan menjumpai seorang diri. Jika Thian sim Sin-nie mengijinkan aku mengunjungi padanya, itu ada lebih baik. Seandainya tidak, aku pasti akan memberitahukan kepada jiewie."
Auw-yang Khia lalu berkata.
"Adat orang tua itu kalau betul-betul begitu aneh, barangkali tidak berhasil, kau harus berusaha sedapat mungkin agar tak kecewa pesan Suhu."
Kala itu Ho Kie hatinya berduka maka ia hanya menjawab sambil pejamkan mata.
"Aku mengerti."
Ketika Ho Kie sudah dekat berada dimulut goa, keadaan disekitarnya sangat indah pemandangannya dan tenang suasananya.
Pohon-pohon kembang dengan menyiarkan bau harum yang semerbak hampir memenuhi sekitar lapangan didekat goa itu.
Di kedua sisi mulut goa terdapat air mancur yang mengalirkan airnya yang jernih.
Diam-diam Ho Kie berpikir.
"Diluar goa saja yang mempunyai pemandangan yang begini menarik hati, siapa sangki didalamnya di diami seorang luar biasa dari rimba persilatan yang dirundung nasib malang."
Ho Kie sudah tidak mempunyai kegembiraan untuk menikmati pemandangan disekitar tempat itu maka lantas berjalan menuju kemulut goa!
Baru saja kakinya menginjak mulut goa tepat didepan Ho Kie kira-kira tiga tindak jauhnya Ho Kie dengan cepat mundur beberapa tindak, diamdiam ia merasa bersyukur yang kepalanya tidak kena ketimpa batu besar itu.
Selagi hendak berjalan terus, tiba-tiba dari dalam goa terdengar suara wanita yang sangat dingin.
"Bocah dari mana? Apakah kau tidak tahu kalau Pek-in gay tidak mengijinkan orang luar menginjakkan kakinya disini?"
Ho Kie yang mendengar suara itu diam-diam merasa bergidik. Setelah berpikir sejenak, ia lalu menjawab dengan suara nyaring.
"Boanpwee adalah Ho Kie, dengan membawa pesan suhu boanpwee sengaja datang kemari untuk menemui Locianpwee hendak menyampaikan soal pentingnya dihadapan Locianpwee sendiri."
"Tidak perduli kau datang dari mana juga. aku tetap melarang kau masuk kemari. Lebih baik kau lekas berlalu. Kalau tidak, Kau nanti hendak pergi juga sudah tidak keburu lagi."
Katanya pula dari dalam goa dengan suaranya yang tetap dingin. -oo0dw0oo-
Jilid 14 Tamat KALAU DIRINYA ditolak untuk menemui Nikouw tua itu. hal itu menang sudah diduga oleh Ho kie semula, maka ia tak terlalu susah hati dan masih bisa menjawab dengan tenang.
"Boanpwee hanya ingin menemui Cianpwee sekejap saja. Jika boanpwee sudah menyampaikan pesan suhu. boanpwee akan segera berlalu, tidak mempunyai permintaan lainnya."
Suara dari dalam goa itu menjawab dengan gusar.
"Aku suruh kau segera pergi! Dengar atau tidak. Perlu apa mesti banyak rewel?"
Ucapan itu lalu disusul oleh suara bentakan dan sambaran angin kuat kearah diri Ho Kie.
Ho Kie yang tidak berjaga-jaga, selagi hendak maju lagi setindak mendadak merasa disambar oleh angin yang kuat.
Cepat ia memutar tubuhnya hingga terhindar dari sambaran angin dahsyat itu.
Sesaat itu hampir saja Ho Kie naik darah menghadapi perlakuan yang agak keterlaluan dari Thian-sim Sin-nie, tetapi ketika ia ingat pula pesan suhunya almarhum, maka sebisanya ia menahan perasaan gusarnya.
Dengan tekad bulat, perlahan-lahan Ho Kie masuk lagi kedalam goa seraya berkata.
"Locianpwe, sekalipun kau binasakan boanpwee dissni, boanpwee juga ingin menjumpai kau dulu barang sekejap."
"Baiklah! Kalau kau benar-benar tidak takut mati, bolehlah coba-coba!"
"Boanpwee bukannya tidak takut mati, kalau Lociapwee menghendaki boanpwee mati, terpaksa boanpwee akan menantikan kematian itu dengan pejamkan mata."
Selagi bicara itu. Ho Kie berjalan sudah semakin dekat sehingga suara itu terdengar semakin jelas. Selagi Ho Kie hendak maju lagi, mendadak terdengar suara bentakan bengis.
"Berdiri disitu! Tidak boleh maju setengah langkah lagi. Kalau tidak, aku akan benar-benar bikin kau binasa."
Ho Kie tundukkan kepala, tidak menjawab masih tetap berjalan kedalam goa. Pada saat itu terdengar pula ketawa dinginnya Thian sim Sin-nie yang lalu disusul oleh ucapannya.
"Baik! Kau benar-benar tidak takut mati!"
Sebentar saja kelihatan debu berbamburan keadaan dalam goa itu menjadi sangat gelap.
Ho Kie mengetahui bahwa kekuatan tenaga dalam itu sangat hebat sekali.
maka ia tidak berani menyambari.
Cepar-cepat ia mendekati dinding goa dan dia berpegangan teguh pada dindingnya sambil mempersiapkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.
Tapi pada saat hendak bersiap-siap, kekuatan yang hebat itu sudah menyambar kearah dirinja.
Ho Kie hanya merasakan seperti ada batu ribuan kati beratnya yang menerjang dari depan dadanya, sehingga dadanya dirasakan bergolak hebat dan lantas hilang ingatannya.
Ternyata Ho Kie yang terpental oleh kerena serangan tangan Thian Sim Sin-nie tadi telah melayang seperti layang-layang yang putus talinya dan akhirnya jatuh ditanah tidak ingat orang lagi.
Entah berapa lama, ketika Ho Kie siuman kembali.
ia merasakan badannya sudah tidak mempunyai kekuatan jang berarti lagi, ia coba merayap bangun, tetapi akhirnya jatuh lagi.
Dadanya dirasakan sakit darah segar keluar dari mulutnya.
sehingga membasahi sekujur badannya dan lantai didalam goa.
Tetapi semua penderitaan itu tidak mau membuat Ho Kie melupakan pesanan suhunya.
Asal jiwanya masih ada ia pasti tidak akan mengecewakan mendiang suhunya.
Keadaan Ho Kie saat itu sesungguhnya sangat mengenaskan, ia kertak gigi untuk mempertahankan dirinya jangan sampai terseret oleh tangan maut, Dengan sempoyongan ia coba masuk kedalam goa lagi.
tetaoi baru saja jalan beberepa tindak.
kembali jatuh tengkurap.
Mulutnya menyemburkan darah segar.
Entah sudah beberapa banyak waktu dibuang dengan jatuh bangun ia terus memasuki goa.
Ketika ia membuka matanya yang lain, dilihatnya didalam goa itu ada sedikit penerangan.
Lapat-lapat ia dapat melihat seorang wanita berbaju hijau sedang duduk bersila pejamkan mata, ia pikir, ia tidak boleh membiarkan wanita itu mengetahui keadaan mukanya, karena hal itu mungkin akan menunjukkan kelemahannya sendiri.
Sesuatu pikiran yang kuat telah memaksa Ho Kie terus bertahan.
Sambil kertak gigi dan mengerahkan sisa tenaganya yang tersisa ada ia paksa berdiri.
Dengan badan sempoyongan ia berjalan maju lagi, apa alia kemudian ketika lima tindak didepan Thian sim Sinnie, mendadak kepalanya dirasakan puyeng dan akhirnva jatuh rubuh.
Thian sim Sin-nie yang sedang bersemedi, agaknya dikejutkan oleh suara jatuhnya Ho Kie, ketika ia membuka matanya mengawasi Ho Kie, lantas berbangkit dan dari sakunya ia mengeluarkan sebuah botol Kecil, ia keluarkan dua butir obatnya dimasukkan kedalam mulut Ho Kie, setelah mana ia duduk lagi ditempat semula.
-oo0dw0oo-APA sebabnya Thia sim Sin-nie yang semula begitu dingin turunkan tangan telengas pada Ho Kie, sekarang ketika melihat Ho Kie dalam keadaan pingsan lantas memberikan obat untuk menolong jiwanya ?
Sejak ia meninggalkan Toan-theng Lojin.
dengan hati patah ia telah datang kegereja Pho tho ini.
tetapi ia tidik mau tinggal didalam gereja yang dianggapnya masih ramai, ia mengasingkan dirinya didalam goa Pek-in gay yang sunyi tenteram.
Sudah dua puluh tahun lebih lamanya ia berdiam didalam goa yang sunyi itu.
diam-diam telah bersumpah tidak akan menemui siapa juga.
Selama dua puluh tahun ini hatinya sudah tenang jernih seolah-olah air dari sumber mata air.
ia sudah bisa hidup menyendiri secara demikian, tidak menghendaki orang lain datang mengganggu padanya.
Ho Kie baru tiba didepan mulutnya goa, ini sudah mencegah sedapat mungkin.
Karena peringatannya tidak digubris, maka dalam gusarnya ia lantas melancarkan serangan tangannja.
Tetapi setelah ia melancarkan serangan lantas timbul perasaan penyesalnya, ia menyesalkan dirinya sendiri yang tidak seharusnya turunkan tangan begitu berat terhadap orang yang belum dikenalnya.
Semula ia mengira Ho Kie pasti binasa karena serangannya tadi, Maka ia tadi pejamkan mata untuk menghilangkan rasa menyesalnya.
Tiba-tiba ia telah dikejutkan oleh rubuhnya badannya Ho Kie.
ia girang si korban tak sampai binasa, maka ia lantas memberikan obatnya.
Setelah menelan obat pilnya Thian sim Sin-nie yang sangat mujarab, tidak berapa lama kemudian Ho Kie sudah siuman kembali.
Ia coba menjalankan pernapasannya, ia merasa tidak ada yang sakit urat-urat dan darahnya sudah jalan seperti biasa.
Ketika ia mendongak, dilihatnya Thian-sim sin-nie tengah mengawasi dirinya maka lantas hendak berbangkit.
Tetapi baru saja hendak menggerakkan badannya.
Thian sim Sin-nie sudah berkata padanya.
"Lukamu sangat parah nak, meskipun sudah makan obatnya yang sangat mujarab, tetapi untuk sementara belum bisa memulihkan kesehatanmu."
Ho Kie melihat wanita itu tidak begitu dingin lagi sikapnya, bahkan katanya sudah memberi obat kepadanya, hatinya merasa sangat terharu, maka lantas berkata dengaan suara terputus-putus.
"Locianpwee, kau....kau....kau...."
Thian Sim Sin-nie lantas cepat-cepat mencegah.
"Sudah, sudah, kau mengaso dulu sebentar. Nanti aku hendak bertanya beberapa hal kepadamu."
Sehabis berkata ia lalu memejamkan lagi matanya membisu.
Ho Kie melihat Thian sim Sin-nie memejamkan mata tidak berani mengganggu.
terpaksa hanya bisa duduk didepannya sambil bersemedi untuk memulihkan kekuatan tenaga.
Hanya oleh karena merasa badannya terlalu letih, dengan tidak terasa ia telah tertidur kepulasan.
Ketika ia mendusin dilihatnya Thian-sim Sin-nie masih duduk bersila.
sambil pejamkan mata.
Ho Kie tidak berani mengganggu, terpaksa ia menantikan lagi didepannya.
Lama sekali sang waktu berlalu..,.
Tiba-tiba Thian sim Sin-nie membuka matanya dan bertanva kepada Ho Kie.
"Kau kata kau bernama Ho Kie sebetulnya atas perintah siapa kau datang kemari?"
Ho Kie cepat-cepat berlutut dan menjawab.
"Kedatangan boanpwee adalah atas pesan suhu untuk menyampaikan beberapa kata dihadapan Locianpwe"
"Siapa suhumu itu? Pesan apa yang hendak disampaikan kepadaku? Dan bagaimana dia mendapatkan kematiannya. coba kau jelaskan."
"Suhu boanpwe adalah Toan-theng lojin."
Thian sim Sin-nie ketika mendengar disebutnya nama Toan-theng Lojin. wajahnya yang dingin kelihatan berobah. Tetapi sesaat kemudian sudah pulih menjadi tenang kembali.
"Dengan cara bagaimana dia mendapat kematiannya? Dan pesan apa yang dia suruh kau sampaikan padaku?"
Ho Kie lantas menceritakan bagaimana Toan-theng Lojin telah dibikin celaka oleh Hian kui-kauw.
Ia menuturkan ceritanya itu sembari menangis terisak-isak, sehingga orang yang berhati bajapun rasanya juga tidak dapat menahan rasa pilunya.
Akhirnya Ho Kie berkata.
"Sesaat sebelum menarik napas yang penghabisan Suhu telah berkata demikian; 'Aku telah hidup menyendiri telah beberapa puluh tahun lamanya, Aku merasa sangat menyesal terhadap semua kesalahan yang sudah lalu. Tetapi yang sudah aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya memperbaiki kesalahanku untuk menebus dosa. dosaku yang sudah lalu."
Thian sim Sin-nie yang mendengarkan bicaranya Ho Kie tadi, sesaat seolah-olah seperti sudah berobah menjadi seorang yang linglung, mulutnya berkemak-kemik berkata pada dirinya sendiri.
"Sudan dua puluh tahun. Ya sekejap saja dua puluh tahun sudah berlalu, dilain penitisan hendak memperbaiki kesalahan. Sekalipun ada lain penitisan. apa yang akan bisa diperbaiki?"
Setelah mengeluarkan kata-kata ini matanya kelihatan mengembang air matanya.
Thian sim Sin-nie adalah seorang wanita yang kukuh dengan adatnya sendiri apa yang sudah dilakukan selamanya belum pernah ia merasa menyesal.
Tetapi dalam soal itu, rupa2nya ia mempunyai sedikit penjelasannya itu, apakah patut diceritakan kepada pemuda yang berada didepannya sekarang ini?
Tidak!
Riwayat yang mengenakan atas dirinya itu akan disimpan didalam lubuk hatinya sendiri untuk selamanya, juga terpaksa seperti apa yang dikatakan oleh Toan-theng Lojin, ia akan memperbaiki dilain penitisan.
Setelah ia menenangkan pikirannya kembali, lalu ia berkata kepada Ho Kie.
"Yang kau sebutkan Hia kui kauw tadi sebetulnya ada orang berupa apa? Mengapa partai besar pada peluk tangan saja ?"
"Cianpwee masih belum tahu, boanpwe karena berusaha hendak menolong diri suhu telah masuk kelembah Kui-kok dengan menempuh bahaya, sedangkan diantara sembilan ketua partai besar yang juga datang kelembah Kui Kok itu, delapan diantaranya sudah binasa. Menurut pikiran boanpwee, untuk dewasa ini barangkali sudah tidak ada orang lagi yang dapat menandingi Hian kui kauw lagi."
"Apa kau tidak ingin menuntut balas untuk suhumu ?"
"Boanpwee bukan saja hendak menuntut balas bagi suhu tetapi juga hendak menuntut balas sakit hati ayah serta jiwanya delapan ketua partai besar yang binasa dilembah Kui kok."
"Apa kau yakin kuat menandingi Hian kui kauw ?"
"Sekalipun boanpwee harus binasa dilembah Kui kok juga akan mencoba."
Thian sim Sin-nie berpikir sejenak, lalu berkata.
"Aku seharusnya juga mesti turut membantu kau terapi sudah berapa puluh tahun lamanya aku tidak muncul didunia Kangouw, lagi pula aku juga tidak ingin ceburkan diri dalam kancah pergolakan itu. Tetapi biar bagaimana juga aku tidak akan membiarkan kedatanganmu ini secara cuma-cuma. Beberapa puluh tahun lamanya, kediamanku ini aku tidak ijinkan dimasuki oleh seekor burungpun. Tetapi ketulusan hatimu terhadap suhumu sehingga tidak menghiraukan jiwanya sendiri kau telah masuk kedalam goaku ini, kuanggap kau berjodoh denganku, maka aku hendak memberikan sedikit bantuan padamu dengan beberapa pil obat ini yang mungkin ada paedahnya bagimu dikemudian hari."
Ia lalu mengeluarkan dua botol yang berwarna merah dan kuning, Sambil perlihatkan dua botol itu ia berkata;
"Aku telah gunakan waktuku beberapa puluh tahun lamanya, baru berhasil membuat dua macam obat ini. Obat dalam botol kuning ini isinya hanya tiga butir pil kalau kau hendak bertanding dengan musuh, lebih dulu kau ambil satu butir, taruh dalam mulutmu. Ia adalah pemunah terhadap segala macam racun berbisa. Sedangkan obat yang berada dalam botol merah ini tadi kau sudah makan. Dalam botol ini masih ada delapan butir. Asal orang yang terluka masih bernapas sesudah minum pil ini dalam waktu satu jam pasti akan bisa sembuh kembali."
Selagi hendak menyerahkan dua botol obat itu, mata Thian Sim Sin-nie menatap wajah Ho Kie.
"Aku seperti merasakan,"
Katanya pula.
"dirimu telah diliputi napsu membunuh yang sangat hebat, maka obat ini setelah kuberikan padamu. kau harus ingat betul nasehatku."
"Nasehat Cianpwee, sudah tentu boanpwee akan memperhatikannya baik-baik."
"Sebetulnya juga bukan apa-apa, hanya kali ini kau pergi menuntut balas, sedapat mungkin jangan sampai membinasakan jiwa orang yang tak berdosa. Kau harus tahu bahwa dalam pelajaran Buddna ada kepercayaan adanya hukum timbal balik. Apakah dalam hal ini kau sanggup menerima?"
Ho Kie menyahut sambil angguk kepala.
"Nasehat Cianpwe yang sangat berharga akan boanpwee ingat selamanya."
Thian sim Sin-nie lalu menyerahkan kedua botolnya itu.
Ho Kie menyimpan dua botol itu dalam sakunya dan mengucapkan terima kasih kepada Thian sim Sin-nie.
Baru saja ia hendak berlalu tiba-tiba dipanggil oleh Thian sim Sin-nie.
Ho Kie merasa heran, ia mengira Nikow tua itu masih mempunyai pesanannya apa-apa lagi, maka buru-buru urungkan maksudnya berlalu.
Ia lihat Thian sim Sin-nie dengan air mata berlinang memandang dirinya, Ho Kie dengan hati haru bertanya.
"Locianpwce, masih ada yang hendak dipesan kepada hoanpwee?"
Ditegor demikian, Thian sim Sin-nie agaknya tersadar dari lamunannya, maka buru-buru menjawab.
"Aaa.. ! Tidak apa-apa, pergilah!"
Tetapi kemudian ia berkata pula.
"Yah, Ho-siaohiap kepergianmu ini entah kapan kau akan balik lagi untuk menengok aku?"
Pertanyaan ini diluar dugaan Ho Kie.
hingga ia tidak bisa menjawab.
Sesaat lamanya ia berdiri terpaku.
Thian sim Sin-nie mengira anak muda itu masih ingat perlakuannya yang kurang pantas barusan, maka dengan tak terasa telah mengucur air mata.
Ho Kie merasa aneh orang tua itu telah mengucurkan air mata, buru-buru berkata.
"Locianpwee, jangan terlalu bersedih hati. Ho Kie asal urusan pribadinya selesai pasti akan balik lagi untuk menengok Locianpwee."
Mendengar jawaban jang sungguh-sungguh itu, Thiansim Sin-nie agaknya merasa puas, maka lantas berkata pula sambil angguk-anggukkan kepala.
"Sudah. kau pergilah! Asal kau sudah berkata demikian, aku mati juga mataku meram ...."
Sekarang kita balik melihat Go Ya Pa dan Auw-yang Khia yang menunggn Ho kie dipinggir goa Dengan tanpa dirasa, dua hari dua malam sudah berlalu, tapi masih belum kelihatan Ho Kie Keluar dari dalam goa.
Selagi mereka hendak menerjang masuk untuk mendapat kepastian tentang nasibnya Ho Kie, pada saat itu justru telah dapat melihat anak muda itu berjalan keluar dari dalam goa.
Begitu melihat Ho Kie keluar dalam keadaan selamat.
Gouw Ya Pa lantas maju menghampiri dengan lagak seperti arak kecil.
"Saudara Ho apa kau tidak mendapat halangan? Mengapa begitu lama kau berada didalam? membuat aku gelisah. Karena tidak mendapat izinmu. aku tak berani masuk ke goa. Kini setelah dapat melihat kau, barulah lega hatiku!"
Ho Kie lantas bercerita pengalamannya didalam goa kepada kedua kawannya. Auw-yang Khia lalu bertanya.
"Nikouw tua tu adalah seorang yang beradat sangat aneh luar biasa. Biasanya untuk dapat menemukannya saja sangat sulit. Bagaimana dia mau memberikan ooat yang telah berhasil dibuatnya selama seumur hidupnya."
Ho Kie lantas menjawab sambil menghela napas.
"Auw-yang Cianpwee. kita dulu hanya mendengar saja, Thian Sim Sin-nie Cianpwee ternyata seorang ketus. Kali ini aku setelah menemui orang tua itu telah merasa bahwa dia sebetulnya adalah seorang yang penuh cita rasa. Cuma oleh karena terpengaruh oleh terjadinya sesuatu perubahan dalam hidupnya sehingga telah membuat dia merubah sifatnya demikian rupa."
"Aih, kalau begitu, kita juga tak boleh salahkan dia. Memang nasib manusia kadang-kadang dapat merubah jalan penghidupan dan siapakah yang dapat menduga hari akhir kita nanti?"
Kata Auw-yang Khia sambil menghela napas. Ho Kie lalu mengalihkan perkataannya kelain soal, ia berkata kepada Auw-yang Khia dan Gouw Ya Pa.
"Kita sudah hampir tiga bulan lamanya meninggalkan Cit cie Sin ong Locianpwee. Barangkali ia sudah merasa kesal menantikan kedatangan kita. Aku pikir, sebaiknya kita lekas pulang."
Malam itu juga mereka kepantai, kebetulan saat itu ada perahu besar yang menunggu muatan Ho Kie lalu berunding dengan kapten kapal, mereka segera berangkat keteluk Tin-hay.
Oleh karena tidak ada gangguan angin dan ombak, perjalanan mereka kali ini sangat lancar, maka belum cukup satu hari sudah sampai kekota yang dituju.
Dari teluk Tin-hay ini Ho Kie bertiga lantas berjalan kaki menuiu bukit Sin hong.
Belum berapa lama bukit Sin hong itusudah kelihatan nyata didepan mereka.
Mendadak sesosok bayangan putih dengan melompat kilat kelihatan lari turun dari atas bukit Sin hong menuju kearah datangnya mereka.
Goaw Ya Pa yang pertama-tama dapat melihatnya lantas berkata.
"Apa itu bukannya silelaki palsu Lim Kheng ?"
"Gouw Toako, kau jangan begitu."
Sahut Ho Kie.
"Mengapa kau begitu buka mulut lantas mau melukai orang? Kalau perkataanmu tadi didengar olehnya bukankah akan menimbulkan keonaran lagi?"
Gouw Ya Pa coba memikir, ia merasa bersalah maka ia tidak berani menjawab.
Kedua orang itu selagi masih bicara, bayangan putih itu sudah berada didepan mereka.
Ketika melihat sibaju putih memang benar nona Lim Kheng, bukan main rasa girangnya Ho Kie, maka ia cepat-cepat bertanya.
"Lim-hiantee. bagaimana kau tahu kalau kami akan kembali hari ini?"
Lim Kheng segera menyahut.
"Siapa yang mengetahui kalian pulang hari ini. Aku hanya kebetulan saja menjumpai kalian disini."
Ho Kie yang mendengar jawaban itu, merasa seolah-olah kepalanya diguyur air dingin.
Kedengaran Lim Kheng sebetulnya memang hendak menyambut Ho Kie, tetapi karena melihat Gouw Ya Pa dan Auw-yang Khia yang juga ada disitu, maka ia merasa malu untuk mengakui maksud sebenarnya.
Sebaliknya, Gouw Ya Pa yang merasa mendongkol.
lantas nyap-nyap (menggerutu) yang bukan-bukan.
hingga Lim Kheng panas hatinya.
"Tolol ! Siapa suruh kau banyak mulut."
Bentaknya.
Gouw Ya Pa tidak mau mengalah.
sehingga keduanva lantas bertengkar dan hampir berkelahi.
Auw-yang Khia yang menyaksikan keadaan demikian, hanya bisa geleng-gelengkan kepala dan minta supaya Ho Kie yang memisahkan.
Sebetulnya Ho Kie juga tidak berdaya menghadapi Gouw Ya Pa, maka hanya bisa memberi nasehat dengan perkataannya yang layak.
Siapa tahu, Gouw Ya Pa yang biasanya dengar segala perkataan Ho Kie, kali ini entah apa sebabnya ia tidak mau mendengar lagi, bahkan ia menganggap Ho Kie mengeloni Lim Kheng sehingga keadaan jadi semakin runyam.
Auw-yang Khia terpaksa turut campur tangan, dengan susah payah akhirnya baru bisa meredakan amarah kedua pihak, Dengan demikian, mereka berempat lalu berjalan menuju ke bukit Sin hong.
Disana kedatangan mereka sudah dinantikan oleh Cit cie Sin ong dan Tiauw Goan Taysu.
Setelah memberi hormat kepada mereka, Ho Kie lantas menceritakan semua pengalamannya.
Cic ki Sin ong yang mendengar penutur-an itu lantas berkata sambil menghela napas.
"Asmara ...Manusia karena asmara banyak yang menjadi rusak dirinya dan namanya. Laki-laki yang betapapun keras hatinya. juga tidak akan luput dari cengkramannya..."
Kemudian ia berkata kepada Ho kie.
"Kelihatannya kalian semua sudah terlalu lelah, sebaliknya pergi mengaso dulu, sebentar kita berunding lagi."
Ho Kie bertiga lalu masuk kekamar belakang untuk beristirahat.
Esok harinya.
pagi-pagi sekali Ho Kie sudah menemui Cit cie Sin ong dan Tiauw Goan Taysu diruang depan.
Tidak lama kemudian Auw Yang Khia, Gouw Ya Pa dan Lim Kheng juga pada datang saling susul.
Cit cie Sin-ong setelah mengawasi semua orang dengan matanya yang tajam lalu berkata.
"Lohu telah mendengar kabar bahwa pengaruhnya Hian kui kauw makin lama makin besar. Banyak orang kuat yang ditarik olehnya. Sebetulnya bukan orang kuat sembaringan dari dunia Kang Ouw yang dapat ditandingi. Bukan Lohu hendak mengecilkan artinya kekuatan diri sendiri menurut kemampuan kita dewasa ini. kalau hendak menggempur Hian kui kauw. sebetulnya seperti telur membentur batu dan akan mengantarkan jiwa dengan secara cuma-cuma."
Ho Kie tidak menantikan Cit-cie Sin ong berkata habis sudah lantas berbangkit dan berkata.
"Locianpwee, meskipun boanpwee tahu benar tidak mampu menandingi Cian tok Jit-mo, tetapi setiap kali boanpwee teringat kematian ayah, dan delapan ketua partay besar yang binasa ditangan mereka, boanpwee merasa sangat gemas dan ingin segera menuntut balas bagi mereka."
Setelah mengatakan demikian. air matanya mengalir bercucuran. Cit cie Sin ong lalu berkata sambil menghela napas.
"Barusan ucapan lohu masih belum habis, Lohu bukannya hendak merintangi pergi menuntut balas pada Hian kui kauw, lohu hanya menganggap bahwa soal ini sangat penting. Kita harus rundingkan baik-baik supaya gerakan kita kali ini nanti jangan sampai gagal."
"Kali ini menuntut balas kelembah Kui kok, boanpwee tidak ingin merembet-rembet orang lain lagi. Dulu karena soal ini telah mengakibatkan binasanya delapan ciangbunjin dari partai besar. boanpwee merasa tidak enak terhadap sembilan partai besar itu, maka kalau boanpwee ingin menuntut balas seorang diri saja kelembah Kui kok."
Lim Kheng yang berdiri disamping lantas berkata.
"Ho Kie. kau sudah gila? Apakah kau hendak antarkan jiwa secara cumu-cuma?"
Ho Kie mengawasi Lim Kheng dengan matanya yang guram, lalu menjawab dengan suara duka.
"Ho Kie masih belum ingat mati, cuma Ho Kie tidak ingin merembet-rembet diri orang lain. Sekalipn lembah Kui kok merupakan sarang macan dan sarang naga Ho Kie juga akan menyerbunya."
Tiauw Goan Taysu lantas berkata.
"Ho Kie, harap kau suka sedikit tenang. Soal ini bukan hanya menyangkut dirimu seorang saja, tetapi juga ada hubungannya dengan keselamatannya seluruh orang-orang rimba persilatan, terutama kami dari sembilan partai besar yang sudah mempunyai permusuhan yang begitu dalam terhadap Hian kui-kauw. Sekalipun orang lain hendak peluk tangan tetapi bagi kami, Siao-lim pay. tidak gampang menghapuskan permusuhan begitu saja. Kalau kau berbuat tanpa perhitungan, bukankah seperti apa yang dimaksudkan dengan Cit cie Locianpwee tadi, bahwa perbuatanmu ini seperti juga telur membentur batu?"
Auw-yang Khia lantas turut berkata juga.
"Aku sipencuri sakti ada satu akal tetapi entah boleh dijalankan atau tidak?"
"Coba kau sebutkan. Nanti kita pelajari bersama-sama,"
Jawab Tiauw Goan Taysu.
"Maksudku ialah kalau menurut pendapat Ho Siaohiap hendak membiarkan dirinya dengan sendirian menyerbu kelembah Kui kok, ini sesungguhnya memang sangat berbahaya dan selali-kali jangan sampai dilakukan. Tetapi kelihatannya dia tidak bolen tidak pergi. maka disini aku ada mempunyai satu akal yang rasanya cukup sempurna, tetapi terpaksa harus minta pertolongan Tiauw Goan Taysu untuk capaikan hati mengundang orang-orang kuat dari sembilan partai supaya semua berkumpul dibukit Sin hong ini Untuk sementara, Ho Siaohiap boleh tinggal disini, belajar kepandaian ilmu yang tertera dalam Hian-kui pit kip kepada Cit cie Locianpwe. Setelah orang-orang yang diundang oleh Tiauw Goan Locianpwee itu semua datang berkumpul kepandaian yang dipelajari oleh Ho Siaohiap juga mungkin sudah berhasil, saat itulah baru nanti kita pergi bersama-sama. Bagaimana kalian pikir rencanaku ini?"
"Caramu itu cocok beasr dengan pikiranku."
Cit cie Sin ong berkata.
"Baiklah, begitu saja kita atur,"
Ia lalu menoleh dan berkata kepada Tiaow Goan Taysu.
"Pikiran Taysu bagaimana? Kalau setuju harap Taysu suka capaikan hati sedikit."
Tiauw Goan Taysu juga menyetujui pikiran itu, maka ia lantas berbangkit dan berkata kepada semua orang.
"Selambat-lambatnya satu bulan dan secepat-cepatnya dua puluh hari lolap akan balik lagi kesini beserta orangorang kuat dari berbagai partai, sekarang Lolap hendak minta diri dulu."
Dan saat itu juga ia lantas meninggalkan ruangan untuk berlalu melakukan tugasnya.
Ho Kie juga sejak hari itu dibawah pengunjukan Cit cie Sin ong setiap hari sampai malam bertekun menyakinkan ilmu kepandaian yang terdapat dalam Hian kui kip
Jilid pertama. Dalam Hian kui pit kip
Jilid pertama itu ada satu tipu serangan yang dinamakan San Pek Tui hun ciang.
Ini adalah tipu serangan dengan tangan kosong yang hanya terdiri dari tiga jurus, tetapi setiap jurusnya mengandung rupa-rupa tipu yang sangat luar biasa hebatnya dan setiap jurus juga mempunyai rupa-rupa perubahan.
Mula-mula belajar, memang Ho Kie menemukan beberapa kesulitan, tetapi ia seorang yang cerdik, ditambah lagi dengan pengunjukan yang cermat dari Cit cie Sin ong maka dalam waktu beberapa hari saja ia sudah berhasil mempelajari ilmu serangan yang sangat hebat itu, selain dari pada itu, semua pelajaran yang terdapat dalam Hian kui pit kip
Jilid pertama itu juga selama beberapa puluh hari itu sudah dapat dipelajari seluruhnya dengan baik.
Pada suatu hari, Tiauw Goan Taysu telah kembali bersama para ketua delapan partai besar yang menggantikan ketua lama mereka yang telah binasa.
Cit cie Sin ong telah mengajak para tetamunya berkumpul disebuah ruangan besar.
lalu menuturkan maksud dikumpulkannya orang-orang kuat dari berbagai partai besar itu, alah hendak diajak bersama-sama menumpas Hian kui kauw yang semakin lama hidupnya merupakan bencana bagi rimba persilatan.
Pengganti ketua dari partai Kun lun pay Leng Hie Totiang lantas berbangkit dan berkata.
"Hian kui kauw sangat ganas dan bermaksud hendak menguasai dunia Kangouw sudah diketahui oleh semua orang rimba persilatan maka setiap orang boleh membinasakan pada mereka. Jangan kata Cit cie sicu mengajak kami, sekalipun tidak diajak juga kami tentu akan pergi kelembah Kui kok untuk menuntut balas atas kematian Ciangbunjin kami yang lalu."
Para ketua partai lainnya juga semuanya menyatakan setuju atas ucapan ketua partai Kun lun pay ini dan ingin segera pergi kelembah Kui kok.
Maka oleh Cit cie Sin ong ditetapkan bahwa besok pagipagi akan berangkat kelembah Kui-kok.
Keesokan paginya, Cit cie Sin-ong lantas mengusulkan supaya orang itu dibagi menjadi dua rombongan.
Tiauw Goan Taysu bersama delapan ketua partay besar dalam rombongan yang menyusul dari belakang lembah untuk menyerepi keadaan Hian kui kauw.
Jika belum mendapat tanda dari orang-orang dari sebelah depan, tidak boleh bergerak.
Ho Kie.
Gouw Ya Pa, Auw Yang Khia dan Lim Kheng dibawah pimpinan Cit cie Sin ong sendiri masuk dari lembah depan.
Ho Kie ditugaskan yang keluar menantang perang.
Setelah pertempuran terjadi, lalu dengan api sebagai tanda akan memberitahukan kepada rombongan Tiauw Goan Taysu.
dengnn demikian lembah kui kok akan diserbu diri dua jurusan dengan berbareng.
Demikian rombongan orang-orang kuat dalam waktu beberapa jam saja sudah tidak jauh terpisahnya dari lembah Kui kok.
Sekarang kita ajak pembaca menengok keadaannya Hian kui kauw.
Sejak mereka berhasil menbinasakan ketua dari delapan partai mereka telah mengatur penjagaan sangat kuat untuk menjaga pembalasan dari delapan partai besar itu.
maka kedatangan mereka untuk kedua kalinya ini bukan merupakan soal luar biasa.
Tidak heran kalau kedatangan Cit cie Sin ong dan kawan-kawannya sudah disambut oleh orang-orang Hian kui kauw dalam keadaan siap, Si tangan geledek Bo Pin dengan memimpin para Tongcu yang lainnya, berdiri diatas bukit kira-kira sepuluh tumbak jauhnya dari mulut lembah.
Ketika melihat kedatangan orang-orang yang dipimpin oleh Cit cie Sin ong sendiri.
lantas maju menghampiri dan berkata sambil memberi hormat.
"Hian kni kauw ada mempunyai kebijaksanaannya sampai mendapat kunjungan Cit cie Locianpwee, Bo Pin sekalian belum menyambut kedatangan Locianpwee sekalian hanya mewakili Kauwcu minta maaf sebesarbesarnya."
Orang she Bo ini meskipun mulutnya berkata, tapi sepasang matanya terus mengawasi orang2 kaucu dengan bergiliran.
Maka diam2 ia merasa begitu aneh, mengapa orang tua ini hanya membawa beberapa gelintir bocah cilik, mengapa tak kelihatan bayangan orang-orang dari sembilan partai besar?
Tapi siorang she Bo ini seorarg yang sangat lihay, setelah berpikir sejenak, ia lalu mengambil keputusan dengan diamdiam.
Karena ia adalah seorang yang sangat licin, meski dihati heran, tapi diluarnya tidak menunjukkan perubahan, bahkan masih ber-kata2 manis terhadap Cit cie Sin ong.
Gouw Ya Pa yang berdiri di samping nyeletuk.
"Bo Pin, kau tak perlu jual lagak, kedatangan kami ini hendak ambil batok kepalamu. Kematian sudah didepanmu, perlu apa pura2 tak tahu?"
Dengan sorot matanya yang tajam dan dingin, Bo Pin mengawasi Gouw Ya Pa sejenak tapi ia tidak berubah sikap apa-apa, ia hanya memberi isyarat kepada Hui tun Thian cun, yang berdiri disamping.
Hui tun Tnian cun lantas lompat maju dan berkata sambil tertawa dingin.
"Kui kok ada tempat apa? Apa kira orang macam kau ini boleh bertingkah? Aku siorang she Cek hendak memberi hajaran pada orang goblok seperti kau ini."
Gouw Ya Pa yang dimaki-maki sebagai orang goblok, darahnya naik seketika, ia lalu mencabut senjatanya pecut yang khusus dibuat oleh Cit cie Sin ong, dengan tanpa banyak rewel lantas menghajar kepala orang she Cek itu.
Serangan Gouw Ya Pa itu tidak memakai peraturan lagi ia merasa senjata ganas, sebab hatinya sudah merasa panas terhadap orang Hian kui kauw.
Sebagai seorang Kang-ouw kawakan, Cek Kong Han.
atas segala tingkah laku Gouw Ya Pa, ia hanya berkelit kesana kemari untuk menghindarkan serangan pecutnya.
dan setelah dapat kesempatan baik, ia lalu meluncurkan senjata perisai ditangan kanannya menyodok pundak kiri GouW Ya Pa.
Gouw Ya Pa keluarkan seruan tertahan, badannya mundur sempoyongan sampai beberapa tindak, akhirnya jatuh ditanah.
Hui tun Thian cun Cek Kong Han yang sangat ganas, segera lompat maju hendak menghabiskan jiwa Gouw Ya Pa.
Ho Kie yang menyaksikan dari samping lantas mengirim satu serangan yang amat dahsyat.
Karena tujuannya hendak menolong jiwa sahabatnya, maka serangannya itu ditujukan kedada siorang she Cek.
Bo Pin terlambat memperingatkan kawannya, sebab serangan Ho Kie sudah bersarang didada Cek Kong Han, sehingga orang she Cek itu badannya lantas terpental satu tumbak jauhnya, kemudian jatuh ditanah untuk tidak bangun lagi.
Gouw Ya Pa ternyata tak terluka, ketika ia merayap bangun.
ia telah menyaksikan bahwa musuhnya sudah binasa ditangan Ho Kie.
Maka ia lantas berseru.
"Saudara Ho, tindakanmu sangat tepat, mari kita maju!"
Pada saat itu, seorang yang berwajah mirip dengan setan, tiba-tiba sudah muncul didepan Ho Kie. Ho Kie mengawasi manusia seperti setan itu sejenak, lalu berkata;
"Orang-orang Hian kui kauw dengar hari ini Siaoya menyerbu kelembah Kui-kok untuk kedua kalinya, hanya ditujukan kepada Cian tok Jin-mo dan Bo Pin berdua. Aku tidak akan membunuh orang2 yang tidak berdosa, maka siapa yang kenal gelagat harap lekas keluar dari Hian kui kauw. Mungkin aku dapat mengampuni jiwa kalian. Tapi jika masih tetap kepala batu, saat itu nanti jangan sesalkan aku siorang she Ho kalau berlaku keterlaluan!"
Siang Hong Siang yang mendengar perkataan Ho Kie, lantas membentak.
"Bocah sombong, jangan kau agulkan diri, mari rasakan tumbak yayamu!"
Ho Kie melihat datangnya serangan yang begitu ganas, buru-buru berkelit kesisi.
Siang ketika nampak serangannya mengenakan tenpat kosong, lalu maju lagi setindak, kemudian ia putar senjatanya, sehingga Ho Kie terkurung dalam putaran senjata tombaknya.
Tapi Ho Kie dengan tenang-tenang saja melayani dengan ilmunya Hoan ing Sie sek, bukan saja sudah dapat menyingkirkan serangannya Siang Hong Siang, bahkan sudah berhasil mengirim sekali serangan tangannya yang dahsyat.
Siang Hong Siang yang tidak berhasil menyenggol diri Ho Kie, lantas menjali kalap serangannya.
Ho Kie yang menampak Siang Hong Siang sudah seperti binatang terluka, lalu mengerti bahwa orang she Siang ini tidak mau diberi pengertian begitu saja, maka ia lancarkan serangan dahsyat.
Badan Siang Hong Siang melesat tinggi sambil menjerit, darah berceceran sepanjang jalan.
Kiranya setelah lengan Siang Hong Siang sudah terkutung oleh serangan Ho Kie tadi.
Cit cie Sin ong tahu bahwa pertempuran sudah dimulai.
maka buru-buru bisiki Auw-yang Khia, supaya menyalakan api pertandaan untuk memberi tanda kepada rombongan yang dipimpin oleh Tiauw Goan Taysu, agar segera bergerak, Bo Pin menyaksikan Auw Yang Khia rmenyalakan api, lantas mengetahui bahwa gelagat tidak baik, maka buru2 suruh beberapa Tongcu pergi kelembah belakang disamping itu ia mengirimkan orang untuk melaporkan kepada Kauwcunya.
MENAMPAK dalam waktu sekejap saja sudah membikin luka dua musuh2nya, Ho Kie semangatnya makin meluap-luap.
Pada saat itu, mendadak terdengar suara orang ketawa dingin, kemudian disusul oleh sesosok bayangan orang yang segera berdiri di depan Ho Kie.
Ketika Ho Kie mengawasi.
ternyata dia adalah musuh besarnya Bo Pin !
Seketika itu juga darah Ho Kie lantas mendidih sambil kertak gigi dan mata mendelik ia berkata.
"Bo Pin. ajahku dengan kau mempunyai permusuhan apa? Mengapa kau dengan menggunakan pengaruh Jie Hui telah membinasakan ayahku ? Karena perbutanmu itu maka hari ini aku datang hendak menagih hutang!"
"Bocah yang tidak tahu diri. Tempo hari aku sudah mengampuni jiwamu. juga karena peruntunganmu yang bagus sehingga kau tidak binasa. Hari ini rupanya kau datang untuk mengantarkan jiwa. Apa boleh buat aku terpaksa membantu keinginanmu."
Sehabis berkata demikian, dengan gerakannya yang cepat luar biasa ia sudah menyerang Ho Kie.
Serangannya itu kelihatannya sangat bernapsu, agaknya ingin sekali pukul saja sudah dapat membinasakan musuh.
Ho Kie yang datang dengan tekad yang bulat serta dengan persiapan yang cermat maka sebelum menghadangi Bo Pin, ia sudah menelan obat pil yang diberikan oleh Thian Sim Sin-nie, begitu ia melihat Bo Pin menjerang dengan sengaja ia hendak memperlihatkan kelihayannya dihadapan Bo Pin.
Ia tidak menyingkir atau berkelit, hanya mengibaskan tangan kirinya untuk menghalaukan sebagian tenaga lawannya dan dengan tangan kanannya ia menyambuti serangan Bo Pin.
Bo Pin yang melihat Ho Kie tetap berdiri ditempatnya, diam-diam merasa girang.
ia lalu menambah kekuatannya.
Ketika kekuatan kedua pihak beradu Ho Kie merasakan lengan kanannya kesemutan, ia mundur tiga tindak baru bisa berdiri tegak.
Baca Juga: Medali Wasiat 1
Baca Juga: Kuda Putih 3