Ceritasilat Novel Online

Lembah Patah Hati Lembah Beracun 6

Eps 6 Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung

Baca online Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung

Cersil Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung.

Tetapi keadaan Bo Pin sungguh mengenaskan, ia telah terpental mundur sepuluh tindak lebih oleh kekuatan Ho Kie, dadanya dirasakan bergolak, hampir saja muntah darah, hampir tidak percaya hanya dalam beberapa bulan saja kekuatan Ho Kie sudah bertambah demikian pesatnya.

Sebagai seorang Kang-ouw kawakan sekalipun hatinya tidak percaya.

tetapi ia tidak berani memandang ringan lagi pada lawannya itu.

Ia lantas kertak gigi dan memusatkan seluruh kekuatannya, setindak demi setindak ia maju menghampiri Ho Kie lagi.

Ho Kie juga mengerahkan seluruh kekuatannya.ia memandang segenap gerakan musuhnya, dengan penuh perhatian.

Secara diam-diam Bo Pin sudah mengerahkan ilmu Hu sie hiat kut ciang pada kedua tangannja.

Ketika ia melancarkan serangannya, sambaran angin yang keluar dari tangannya itu mengandung bau busuk dan semua rumput dan daun-daun pohon yang kena diterjang sambaran angin itu telah berubah menjadi hitam.

Tetapi Ho Kie yang sudah mengisap obat pemberian Thian sim Sin-nie, ternyata masih berdiri tegak tidak mengalami perubahan apa-apa.

Kemudian dengan mendadak Ho Kie membentak keras, tangan kanannya diputar mengirim satu serangan yang dahsyat kearah Bo pin.

Pertempuran berlangsung dengan sengit, kelihatannya kekuatan kedua pihak seimbang.

Bo Pin tidak akan menyangka bahwa bocah kemarin sore itu ternyata merupakan tandingannya yang amat kuat, maka dengan tidak ayal lagi ia mengeluarkan serangannya yang paling ampuh, sebentar saja pertempuran sudah berjalan beberapa puluh jurus lamanya.

Ho Kie memberikan lawannya terus beraksi setelah serangan ber-tubi2 itu sudah agak reda, barulah ia mengeluarkan ilmu serangan Tay liek kim kong ciang yang terdapat dalam kitab Hian kui kip.

Dengan kecepatan sangat luar biasa Ho Kie sekaligus sudah melancarkan tiga kali serangannya Serangannya makin lama semakin hebat.

Semula Bo Pin masih kelihatan berimbang kekuatannya, tetapi serangannya yang dilancarkan bertubi-tubi itu tidak berdaya menggerakkan musuhnya, hatinya mulai ciut, perlahan2 ia mulai keteter.

Tan Liang yang berdiri disamping sebagai penonton telah dapat menyaksikan seluruh pertempuran itu dengan tegas maka lantas berseru;

"Bo Tongcu, aku Tan Liang mesti bantu kau!"

Sambil menenteng golok Kayto ini orang she Tan itu sudah menyerbu kedalam kalangan. Auw-yang Khia yang menyaksiksn perbuatan Tan Liang itu lantas menggeram.

"Toako. kalau kau merasa gembira, aku Auw-yang Khia nanti menemani kau !"

Ia lalu mengeluarkan senjatanya untuk melayani Tan Liang.

Tio Go dan dan Cian Su dari pihaknja Hian kui kauw yang turut menyerbu lantas sudah disambut oleh Gouw Ya Pa dan Lim Kheng.

Hanya Cit cie Sin ong yang kelihatan dari penonton.

Sekarang kita tengok Tiauw Goan Taysu dengan rombongannya yang masuk dari bagian belakang lembah.

Kedatangan mereka itu telah disambut oleh Siok lek Ong hoa Cie dan Siang Seng serta orang2 kuat lainnya.

Siang Seng adalah orang yang pertama bertempur dengan It Sin Tojin.

ketua Hoa san pay yang baru.

Kedua orang itu kelihatannva sama-sama kekuatannya sehingga pertempuran berlangsung dengan amat sengitnya.

Sedangkan ketua dari Thiam cong pay, Tio Thian Kui yang mendapatkan musuh Si ek tek ternyata kelihatannva agak unggul sehingga Si ek tek tidak berdaya.

ia hanya bisa melawan sambil mundur, napasnya senin kemis, badan berkeringat.

It Hie Totiang dari Ceng shia pay dan Leng Hie Totiang dari Kan lun pay berdua mengerubuti Ong Hoa Cie.

Belum sampai sepuluh jurus, Ong Hoa Cie napasnya sudah senin kemis juga.

Orang-orang kuat Hian kui kauw lainnya telah disambut oleh para ketua dari Kiong-lay pay, Bu tong pay dan Khong tong pay hingga pertempuran kelihatannya kalut.

Karena jumlah orang-orang Hian kui-kauw lebih banyak maka mereka bisa bertempur bergiliran.

Tapi pihak sembilan partai yang sudah diliputi perasaan dendam.

Maka selama pertempuran berlangsung suara jeritan korban terdengar dimana-mana, korban tangan para ketua partai itu.

Pertempuran belum lagi berlangsung satu jam, pihak Hian kui kauw sudah separuh lebih yang binasa atau terluka, tetapi orang-orang Hian kui kauw terus menerus mendapat bala bantuan, maka para ketua dari sembilan partai itu dengan terpaksa berlaku seperti kerbau gila, membunuh setiap orang.

Sebentar saja lembah Kui-kok merupakan tempat jagal manusia, bangkai berserakan dimana-mana.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara bentakan keras.

"Anjing! Kau bendak lari kemana? Serahkan jiwamu!"

Tiauw Goan Taysu terkejut mendengar suara bentakan tadi, ketika ia menengok, ia melihat Bo Pin dengan rambut riap-riap dan pakaian compang camping serta badan yang penuh dengan darah telah lari kepihaknya seperti anjing kena pukul.

Ho Kie mengejar sambil berseru pada Tiauw Goan Taysu.

"Harap Taysu tolong pegat anjing buduk itu. Jangan kasih dia lolos!"

Tiauw Goan Taysu lantas mengangkat tangannya merintangi kaburnya Bo Pin.

Kiranya Ho Kie dan rombongan Cit Cie Sin ong dibagian depan, dalam pertempuran sengit telah membinasakan beberapa tongcu.

Bo Pin sendiri telah terluka parah karena merasa tidak sanggup melawan musuhnya, maka ia hendak kabur.

Dalam keadaan tergesa-gesa ia lari sekenanya dan akhirnya terjatuh ditangan rombongan Tiauw Goan Taysu.

Bo Pin yang mengetahui dirinya sudah terkurung, lantas menghela napas panjang, kemudian mengayunkan tangannya menghajar batok kepalanya sendiri sehingga kepalanya hancur berantakan dan mati seketika.

Ho Kie lantas mengambil kepala Bo Pin kemudian berlutut dan berdoa kepada arwah ayahnya.

Pada saat itu mendadak terdengar suara orang dengan bentakannya yang menyeramkan.

"Semua berhenti!"

Suara itu tidak keras, tetapi semua orang yang berada disitu terkejut, dengan tidak terasa semua menghentikan gerakannya.

Ketika semua mata ditujukan kepada orang yang baru datang itu, semua orang pada berubah wajahnya.

Kiranya orang itu adalah Cian tok Jie-mo sendiri.

Orang itu dengan mata yang tajam mengawasi semua orang sejenak, lalu perdengarkan suara ketawanya yang bisa membuat bulu roma berdiri.

Sesudah itu dengan tindakan perlahan ia menghampiri Tiauw Goan Taysu, lalu berkata sambil angkat tangan menyoja memberi hormat.

"Jie Hui cuma ada seorang kasar. Kalau Jie Hui berani mendirikan perkumpnlan Hian kui kauw ini, maksudnya hanya ingin mencari tempat meneduh dikalangan masyarakat ini. Tuan-tuan semua merupakan orang-orang dari golongan orang baik-baik serta beribadat tinggi, mengapa berkali-kali menyatroni lembah Kui kok dan membinasakan anak muridku. Jie Hui meskipun merupakan orang yang tidak berguna, tetapi ingin minta keadilan dari tuan-tuan. Kalau tidak, jangan harap satu pun bisa keluar dari lembah Kui kok ini!"

Sebelum ada orang yang menjawab, tiba2 terdengar suara orang ketawa, yang kemudian disusul oleh munculnya sesosok bayangan orang yang berdiri beberapa tindak jauhnya didepan Jie Hui, orang itu berkata.

"Benar saja Tidak kecewa kau sebagai Kauwcu dari suatu perkumpulan. Barusan ucapanmu yang kau katakan, aku si orang tua yang mendengarkannya juga merasa sangat kagum. Cuma aku si orang tua juga ingin mengajukan beberapa pertanyaan harap Kaucu suka menjawab terlebih dahulu."

Sehabis berkata orang tua itu lalu tertawa pula.

Cian tok Jin mo yang mendengar itu semula merasa sangat heran, tetapi kemudian pikirannya tenang kembali.

Setelah mengetahui siapa adanya orang yang baru datang ini, diam-diam juga ia merasa kaget.

Ia lalu membungkukan badan sambil menjawab.

"Cit cie Locianpwee, mengapa tidak menikmati kesenangan dipuncak bukit Sin-hong? Ada urusan apakah yang menuntun Locianpwee datang ke lembah Kui kok ini? Harap Cianpwee suka maafkan yang Jie Houi tidak menyambuti dari jauh."

Cit cie Sin ong lantas menjawab sambil ketawa.

"Kauwcu tidak perlu merendahkan diri. Lohu hanya ingin bertanya sedikit urusan. harap Kauwcu suka memberikan sedikit petunjukmu."

"Cianpwe hendak menanyakan apa? Silahkan. Kalau Jie Hui mengetahui. tentu Jie Hui akan memberikan jawaban sepuasnya."

"Ada tiga hal yang lohu tidak habis mengerti, Pertama, beberapa tahun berselang, salah satu tongcu dari perkumpulan yang bernama Ho In Bo, apa sebabnya Kauwcu membinasakan dia?"

"Ho In Bo itu sebetulnya adalah seorang penghianat dari perkumpulan kami, sudah seharusnya mendapatkan kematian. Mengapa cianpwe menyebutkan orang itu?"

"Sungguh bagus ucapanmu itu. Kalau Ho In Bo adalah seorang penghianat dari perkumpulanmu, memang seharusnya dihukum mati, tetapi anaknya Ho In Bo ini yang kala itu belum dewasa apa dosanya terhadap perkumpulamu? Mengapa kau juga hendak membinasakannya sekarang Lohu ingin tahu. Aii, ketika anaknya Ho In Bo terkurung dilembah Kui kok, para ketua dari sembilan partai yang hendak menolong diri bocah itu telah kau binasakan delapan diantaranya. kalau kau tadi minta keadilan dari mereka. apakah kau sendiri juga tidak harus memberikan keadilan kepada mereka?"

Cian tok Jin-mo Jie Hui yang mendapat teguran demikian wajahnya merah padam, akhirnya cuma bisa menjawab secara serampangan.

"Anaknya Ho In Bo telah mencuri barang pusaka perkumpulan kami, sudah tentu kami hendak minta kemhali. tidak bermaksud untuk membinasakan jiwanya. sementara mengenai urusan para ketua dari sembilan partai mereka tidak memandang mata pada perkumpulan kami maksud mereka ialah hendak membasmi perkumpulan kami, sehingga berkali-kali menyetroni tempat ini. Kalau delapan orang ketua itu binasa ditempat kami itu adalah karena kepandaian mereka yang pangpak (rendah) bagaimana bisa menyalahkan aku siorang she Jie?"

It Siu Totiang dari Hoa-san pay mendengar jawaban yang melantur itu harus maju kedepan Jie Hui dan membentak dengan suara gusar.

"Manusa tidak tahu malu! Kembalikan jiwa suhengku!!"

Ia lalu menyerang dengan pedangnya sampai tiga kali.

Cian tok Jin-mo ketawa, entah dengan cara bagaimana ia bergerak.

hanya terlihat pundaknya saja sedikit bergerak.

ia sudah berhasil memusnahkan serangan It Siu yang hebat itu, kemudian ia membalas menyerang dengan tangan kosong Mendadak It Siu Totiang mencium bau yang amis menusuk hidung dalam kagetnya cepat-cepat ia melesat keatas, Tetapi baru saja ia lompat kira-kira tiga kaki, bau amis itu seperti memenuhi dadanya maka dengan tidak ampun lagi It Siu Totiang lantas rubuh ditanah.

Jie Hui ketawa girang, selagi hendak mengajukan tangannya lagi tiba-tiba seorang lompat menghadang dihadapannya sambil berkata.

"pinto ingin melayani kauwcu beberapa jurus saja."

Kemudian kebutannya digerakan menuju jalan darah kiun kin-hiat.

Imam itu adalah Leng Hie Totiang dari Kun lun pay.

Jie Hui memandang padanya dengan sorot mata dingin, kemudian berkata sambil ketawa hambar.

"Aku kira siapa, tidak tahunva cuma satu manusia yang tidak berguna. Baiklah Kauwcu nanti akan membantu kau."

Belum habis ucapan Jie Hui itu, tangannya sudah bergerak dengan kecepatan luar biasa, dengan jari kukunya yang tajam itu menyambar pinggangnya Leng Hie Totiang.

Belum sempat Leng Hie Totiang memutar tubuhnya.

pinggang kirinya dirasakan sakit sehingga sempoyongan beberapa tindak kebelakang, dadanya dirasakan bergolak, muluynya lantas menyemburkan darah.

Belum turun tangan Jie Hui dengan mudah telah dapat melukai dua orang kuat.

Selagi masih merasa bangga, sesosok bayangan orang telah berkelebat didepan matanya sembari keluarkan bentakannya yang keras.

"Cian tok Jin-mo serahkan jiwamu!"

Orang itu ternyata bakan lain adalah si jago muda Ho Kie sendiri.

Dengan mata mendelik dan gigi bercatrukan Ho Kie mengawasi Cian tok Jin-mo dengan tidak berkedip.

Begitu pun keadaan Cian tok Jin-mo.

Kedua-duanya saling pandang dengan mata beringas.

siapapun tidak berani mulai turun tangan secara sembarangan.

Setelah berhadapan beberapa menit lamanya kedua musuh besar itu lalu mulai bergebrak.

Sementara suara keras dari beradunya kekuatan kedua pihak telah terdengar nyaring, masing-masing telah terpental mundur.

Cian tok Jin-mo mundur tiga tindak baru bisa berdiri tegak dadanya dirasakan sakit, hampir saja ia tidak tahan.

Sedangkan Ho Kie terpental tujuh atau delapan tindak, mulutnya mengeluarkan darah segar.

Cepat-cepat ia mengeluarkan obat pemberian Thian sim Sin-nie dan dimamah dalam mulut.

Semua orang yang menonton tidak dapat melihat dengan tegas, dengan cara bagaimana mereka berdua bertempur.

Setelah Ho Kie menenangkan pikiran lantas lompat maju lagi.

Tetapi tidak demikian halya dengan Cian tok Jin-mo.

Orang tua itu berpikir keras, 'Bocah ini beberapa hari tidak kulihat, mengapa kekuatan tenaga dalamnya bertambah begitu pesat?' Serangannya Ho sie biat kut ciang ternyata tidak dapat melukai padanya.

Benar-benar sangat mengherankan.

Ketika ia melihat Ho Kie maju lagi, ia tidak berani berlaku ayal.

Dengan tidak banyak bicara Ho Kie lantas melancarkan ilmu Sam Pek Tui bun yang baru didapatkan dari Cie cie Sin ong, Dengan sekaligus ia melancarkan tiga kali serangan.

Baru saja Jie hui hendak balas menyerang mendadak ia merasakan suatu kekuatan yang hebat secepat kilat telah menghantam dirinya.

Jie Hui terkejut ia hendak menyingkirkan diri, tetapi sudah terlambat, maka terpaksa sambil kertak gigi ia menyambuti serangan tersebut.

Mendadak terdengar suara amat nyaring sampai menggetarkan tempat sekitar satu tormbak dan sebetar kemudian dalam kalangan pertempuran itu telah terjadi kekacauan hebat!

Kiranya Cian-tok Jien Mo yang mendapat serangan Ho Kie dengan sekaligus melancarkan tiga jurus, telah terpental dua tumbak jauhnya dan lantas jatuh mendekam ditanah.

Didekatnya kelihatannya darah berceceran terang Kwaucu itu sudah terluka didalamnya oleh karena serangan Ho Kie tadi.

Gouw Ya Pa yang menyaksikan itu lantas lari menghampiri leher Jie Hui sehingga kepala Cian tok Jien Mo kutung seketika itu juga.

Melihat Cian tok Jien Mo binasa anak murid Hian kui kauw lantas menerjang seperti kerbau gila.

Ho Kie dan kawan-kawannya terpaksa harus melawan sehingga terjadi lagi pertempuran kalut.

Tidak sampai setengah jam kemudian orang-orang Hian kui kauw itu sebagian besar telah binasa.

Siapa yang masih hidup terpaksa melarikan diri serabutan.

Selagi pertempuran sudah hendak siap, sesosok bayangan manusia telah melayang dihadapan Ho Kie yang berkata sambil ketawa.

"Bocah yang masih muda begini mengapa melakukan pembunuhan besar-besaran? Sudahlah, Berhenti saja,"

Ketika Ho Kie mendongak, baru diketahui bahwa orang itu adalah si Nelayan Empat Penjuru Lautan maka ia lantas berseru.

"Loeianpwee, kau... ."

"Tidak usah. tahukah kau pelajaran kaum buddha? Sudahlah! Hentikan pertempuran."

Saat itu Cit cie Sin ong juga sudah menghampiri lalu berkata sambil tertawa.

"Aku kira siapa, kiranya adalah kau nelayan tua bangka yang belum mati ini, angin apa yang membawa kau kemari ?"

"Aku belum tanya, kau, sebaliknja kau sudah menanya aku, sebetulnya aku hendak kebukit Sin hong hendak melihat kau, Tidak nyana sudah terlambat dan kau sudah datang kelembah Kui kok ini, maka terpaksa aku menyusul kau kemari, Kau memimpin banyak orang dan merusak rumah tangga orang. Apakah kau juga tega hati?"

"Jo ! Sejak kapan kau menganut agama Buddha? Mengapa hatimu menjadi begini welas asih? Kalau kau si tua bangka ini datang yang lebih siang sedikit saja. Lembah Kui-kok ini barangkali tidak ada sejengkal tanah yang masih utuh."

Kedua orang tua itu berkelekar sambil ketawa bergelakgelak.

Pada saat itu hari sudah mulai malam.

Tiauw Goan Taysu dengan para ketua partai lain-lainnya sudah pada berlalu.

Cit cie Sin ong juga mengajak Ho Kie dan lain-lainnya balik kembali ke Sim hong.

"Celaka ! Hampir saja aku lupa !"

Mendadak Ho Kie berseru.

Tanpa penjelasan persoalannya, ia lantas lari menuju ke pusat Hian kui kauw.

Semua orang yang tidak mengerti terpaksa mengikuti saja dibelakangnya.

Setibanya Ho Kie ditempat pusat perkumpulan itu, kelihatannya tengah mencari apa-apa.

Tidak lama kemudian ia lantas lari kebagian taman dan berhenti didepan sebuah kamar batu.

Kamar batu itu tertutup dengan pintu besi yang terkunci secara istimewa, sekitarnya tertutup rapat.

hanya ada sebuah lubang kecil yang digunakan untuk memasukkan barang makanan.

Ho Kie kelihatannya sangat gelisah, merasa tidak ungkulan membuka pintu besi itu, tapi ia coba menggempur dengan tangannya, pertama kali tidak berhasil.

setelah menggunakan seluruh kekuatannya, akhirnya pintu itu terbuka juga.

Dengan tidak memperdulikan didalamnya ada bahaya atau tidak, Ho Kie lantas lompat masuk kedalam.

Keadaan dalam kamar itu sangat gelap, hawa demak memasuki hidungnya.

Dengan tidak menghiraukan itu semua Ho Kie terus berjalan masuk.

Tiba-tiba kakinya membentur satu tubuh orang hingga Ho Kie sangat terperanjat.

Ketika ia jongkok memeriksa, kiranya Jie Peng dalam keadaan yang sangat mengenaskan tengah meringkuk didalam kamar itu, kelihatannya sudah payah betul.

Ho Kie dengan rasa sangat terharu lalu memondong tubuh Jie Peng.

dibawa keluar dan diletakkan di atas rumput.

Wajah Jie Peng sudah kotor penuh tanah matanya kelihatan pada benggul, mungkin karena ia menangis setiap hari dan malam.

Ho Kie sangat pilu menyaksikan keadaan si nona, saat itu tidak bisa berkata apa-apa hanya air matanya yang mengalir turun bercucuran.

Ketika air mata Ho Kie netes diwajah Jie Peng, nona itu lantas membuka matanya tetapi setelah mengawasi Ho Kie sejenak lalu pejamkan matanya pula.

Ho Kie lalu berkata dengan suara parau;

"Adik Peng, kau mendusinlah. Apa kau masih kenal aku? Aku adalah Ho Kie ?"

Dengan pejamkan matanya Jie Peng berkata dengan suara terputus-putus.

"Ho ...Kie kau adalah, ..Ho Kie. .. bagaimana ..bisa datang kesini?"

Ho Kie yang mendengar ia bisa bicara, hatinya sangat girang, maka lantas menjawab.

"Ya. aku adalah Ho Kie, adik Peng, aku datang hendak menolong kau ..."

"Kau ..Benarkah engko Ho Kie ..Mengapa . .kau ..sudah tidak membenci aku lagi?"

"Adik Peng, aku bukan saja tidak benci padamu bahkan aku suka padamu. Cinta padamu. Mendusinlah. bukalah matamu untuk melihat aku."

Ho Kie menyerocos. Jie Peng sudah kehabisan air matanya, maka ia cuma bisa menghela rapas, kemudian berkata dengan suara terputus-putus;

"Tetapi.. engko Ho Kie...kedatanganmu..sudah terlambat . aku.. aku.. sudah tidak ada harapan lagi. Cuma.. .sebelum... aku mati aku bisa . .melihat... kau lagi, aku ...sudah merasa puas...."

"Adik Peng, kau mendusinlah! Kau tidak boleh mati. Aku akan menolong kau keluar dari sini, kau bisa sembuh. Adik Peng, adik Feng!" ' ia menggoyang-goyang tubuh sinona. Tetapi benar seperti apa yang dikatakan oleh Jie Peng, Kedatangan Ho Kie sudah terlambat, sekalipun Ho kie menjerit sampai pecah tenggorokannya atau menangis sampai kering matanya juga percuma saja, sebab pada saat itu Jie Peng sudah putus jiwanjy. Ho Kie memeluk jenazah Jie Peng sambil menangis menggerung-gerung seperti anak kecil. Pada saat itu Cit cie Sin ong dan lain-lainnya juga sudah sampai disitu. Ketika mereka melihat Ho Kie memeluk jenazahnya Jie Peng sambil menangis gegerungan mereka juga pada mengucurkan air mata turut berduka atas kematian nona yang berhati mulia itu. Setelah diberi nasihat oleh Cit-cie Sin ong, Ho Kie membuat lubang untuk mengubur jenazahnya Jie Peng, sehabis itu Ho Kie seperti orang yang kalap telah membakar pusat Hian kui kauw. Sebentar saja pusat Hian kui kauw yang megah telah menjadi abu dimakan si jago merah. Ho Kie diantara berkobarnya api telah perdengarkan ketawanya yang aneh, kemudian menghilang ditempat gelap. Cit cie Sin ong cuma bisa menghela napas sambil berkata.

"Ooh asmara. Oleh karena soal asmara entah berapa banyak pemuda dan pemudi yang menjadi korbannya, Berapa banyak orang yang gagah dalam rimba persilatan karena soal asmara telah hancur lebur nama baiknya. Ho Kie dan Jie Peng juga lantaran asmara. Yang mati, tinggal mati, tetapi yang hiduap kemana perginya. Ah! Manusia...."

Cit cie Sin ong sehabis menghela napas berulang-ulang lantas mengajak orang-orangnya yang masih ada pulang kebukit Sin-hong. -T A M A T

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Baca Juga: Amarah Pedang Bunga Iblis 4

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert