Eps 1 Lembah Nirmala - Khu Lung
Baca online Lembah Nirmala - Khu Lung
Cersil Lembah Nirmala - Khu Lung.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com. Lembah Nirmala Karya . Khulung Disadur oleh . Tjan ID
Jilid 01 BUKIT TENGKORAK Sejak dulu hingga sekarang.
bukit tersebut sesuai dengan namanya, selalu mendatangkan suasana menyeramkan dan menggidikkan hati.
Kegelapan malam telah menyelimuti seluruh angkasa, angin malam berhembus kencang menggoyangkan pepohonan dan ranting-ranting, mendatangkan suasana yang mengerikan bagi siapa pun yang kebetulan berada di situ.
Saat itulah, dari atas puncak bukit tengkorak, tiba-tiba berkumandang suara helaan napas panjang yang parau dan dalam.
"Aaaaai....."
Menyusul suara helaan napas itu, terdengar suara seorang tua berkata dengan nada yang parau.
"Nak, semenjak ibumu meninggal dunia, kau selalu ikut ayah hidup di tengah bukit yang sepanjang tahun tak nampak cahaya matahari ini. nah sekarang ayah hendak membeberkan sebuah rahasia kepadamu."
"Ooooh... cepat, cepat ayah"
Teriak bocah yang berada disisinya dengan suara keras, semenjak anak Sia dapat berbicara, setiap hari aku selalu menantikan kesempatan semacam ini, ayah, cepatlah kau beberkan rahasia tersebut..."
"Aaaai, kehidupan semacam ini pada hakekatnya memang tak akan sanggup ditahan oleh siapa saja, tak heran kalau kau sangat berharap dapat mengetahui kejadian. nak disaat ayah selesai membeberkan rahasia ini nanti mungkin jiwaku akan melayang meninggalkan ragaku, karena itu perhatikanlah dengan seksama dan ingat baik-baik setiap persoalan yang telah kuucapkan dengan begitu walaupun ayah mesti berpisah denganmu aku bisa berangkat dengan perasaan tenang dan lega...."
Bocah itu segera menjerit kaget, air matanya jatuh bercucuran dengan sangat derasnya, biar begitu sama sekali tak terdengar suara isak tangisnya.
karena bocah ini memang memiliki watak keras hati, semenjak dilahirkan dari rahim ibunya dia memang tak pernah menangis tersedu biar cuma satu kali pun.
"Nak, waktu yang tersedia tak banyak lagi, ayah pun tak akan mengucapkan kata-kata perpisahan yang hanya akan mengibakan hati saja, perasaan semacam ini lebih baik disimpan dalam lubuk hati saja dan tak berguna diutarakan. Sekarang, sebelum ayah menemui ajalnya, akan kuberitahukan tiga masalah kepadamu, ketiga persoalan ini merupakan tujuan dari kehidupanmu selanjutnya. karena itu kau jangan sampai melupakannya.
"Ke satu..."
Suara yang tua dan parau itu segera terhenti sejenak, kemudian terdengar suara gemerincingan nyaring bergema memecahkan keheningan, dari asal suara tadi nampak sekaligus cahaya yang berkelebat lewat lalu lenyap kembali, suasana pun pulih dalam keheningan yang mencekam.
"Pedang ini bernama Leng gwat ( rembulan sunyi ). merupakan senjata mestika yang tajamnya bukan kepalang tapi benda ini bukan milikmu, sekarang tak usah kau tanyakan mengapa, di kemudian hari kau tentu akan mengetahui sendiri latar belakangnya!"
Setelah mendehem dengan suara yang serak dan kering, kembali terusnya.
"Sejak kecil hingga besar kau selalu berdiam ditempat yang terpencil dan jauh dari keramaian dunia, tapi besok pagi ayah ijinkan kau turun gunung, hanya kau tak boleh pergi terlalu jauh, setibanya di jalan raya di bawah bukit sana berdirilah ditepi jalan dan nantikan kedatangan gurumu."
"Apa?"
Seru bocah itu sambil melompat bangun saking gelisahnya. ayah anak Sia belum pernah mendengar kalau anak Sia sudah punya guru."
"Hmm!, Kakek itu mendengus rendah-rendah.
"biarpun dia merupakan gurumu. sesungguhnya dialah yang akan menentukan nasib kehidupanmu selanjutnya, kau harus menuruti setiap perkataan yang dia ucapkan, misalnya dia menyuruh kau mati. kau harus mati. kalau dia menyuruh kau hidup, kau pun harus hidup. betapapun dia menyiksa dan mencemooh dirimu, kau tak boleh melawan atau membangkang karena kesemuanya ini gara-gara kesalahan ayah sendiri dan merupakan ketidak-becusan ayah, Oooh anak Sia, gara-gara perbuatanku kaulah yang menderita dan tersiksa, apakah kau membenciku?"
Bocah itu berpaling, ia jumpai paras muka ayahnya begitu kering dan kurus, rambutnya yang beruban banyak yang sudah rontok, padahal dia tahu ayahnya baru berusia empat lima-puluh tahunan, penderitaan dan siksaan yang dialaminya setiap hari telah merubah ia menjadi demikian rupa.
Tanpa terasa serunya.
"Anak Sia adalah anak ayah, sudah sepantasnya bila ananda yang memikul semua tanggung jawab tersebut, oooh ayah, mengapa aku harus membencimu?"
Sekali lagi kakek itu menghela napas dengan wajah yang kusut.
"Anak baik, kau memang tak malu menjadi keturunan keluarga persilatan dari Kanglam, ayah bangga mempunyai seorang anak seperti kau, dan aku tak menyesal untuk mati sekarang juga"
Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya.
"Hari ini adalah bulan dua belas tanggal empat, besok kau harus turun gunung dan menanti di tepi jalan. saat itu akan kau saksikan seseorang yang berpakaian perlente akan melewati jalanan tersebut, orang itu adalah gurumu, dia berwatak sangat aneh tapi termasyhur namanya seantero jagad, kau harus baik-baik menghadapinya, setiap saat mesti mawas diri, jangan beradu mulut dengannya dan tak usah membantah semua perkataannya, mengerti?"
Melihat bocah itu sudah manggut-manggut, si kakekpun melanjutkan kembali kata-katanya.
"Asal usulnya manusia berpakaian perlente itu masih merupakan sebuah teka-teki, usianya tidak terlalu besar, namun tiada orang di dunia ini yang tidak mengenalinya, dia berilmu tinggi dan tiada tandingannya di dunia ini dalam hal tersebut ayah merasa sedikit terhibur, Tentang apa sebabnya sampai ayah menghadiahkan kau menjadi muridnya, di kemudian hari kau akan mengetahui secara jelas sekarang ayah tak sanggup lagi membeberkan semua persoalan itu kepadamu. karena keadaanku kini tak ubahnya seperti lentera yang kehabisan minyak..."
Lalu terusnya lagi.
"Orang itu berwajah tampan, gagah dan menarik hati dilihat sekilas pandangan dia seperti seorang kongcu dari keluarga kaya yang lemah lembut tak bertenaga padahal ilmu silatnya luar biasa hebatnya, hanya di dalam setahun saja, secara berurutan dia sudah mengalahkan berbagai jago dari macam-macam aliran tiga belas propinsi di Kanglam dengan empat puluh tujuh buah sarang telah dijelajahi semua keadaannya waktu itu boleh dibilang merupakan daerah kekuasaannya, hampir semua pentolan Bu-lim menaruh rasa jeri kepadanya.
"Besok pagi, setelah kau bertemu dengannya, serahkan pedang rembulan sunyi ini kepadanya dan terangkan bahwa kau adalah putra tunggal ayah yang datang memenuhi janji, dia tentu akan menerima pedang ini serta mewariskan ilmu silat kepadamu."
Setelah menarik napas panjang-panjang, kakek berambut putih itu kembali berkata.
"Ayah tahu bahwa kau adalah seorang bocah yang berwatak keras hati dan ingin mencari kemenangan selalu, demikian juga dengan keluarga Kim kita, dari dulu sampai sekarang sifat kependekaran selalu mengalir didalam darah kita itulah sebabnya ayah pada dua puluh tahun berselang tak luput juga dari keadaan seperti itu."
"Ayah tahu, saban malam kau tentu berpekik sambil membawakan lagu yang penuh bersemangat ayah sadar kau adalah naga bukan katak dalam kolam, mengurungmu di dalam tanah perbukitan yang terpencil seperti ini sama artinya dengan suatu perlakuan yang keji dan tak berperasaan bagimu."
"Anak Sia, kau tak usah menyangkal ayah cukup mengerti akan kemasgulanmu itu sebagai seorang pemuda yang bercita-cita tinggi, memang tak baik hidup mengekang diri, tapi kaupun harus belajar silat dengan tekun, sebab hanya dengan jalan ini kau baru dapat muncul sebagai seorang manusia luar biasa, seseorang yang dipandang dan di hormati umat persilatan..."
Paras muka bocah itu tiba-tiba berubah menjadi semu merah namun sepasang matanya yang besar justru memancarkan sinar yang gemerlapan.
Ia terlalu gembira, kendatipun rasa sedih sempat menyelimuti perasaannya karena teringat bahwa ayahnya akan mati, namun sentuhan yang tepat pada rahasia hatinya membuat semangatnya segera berkobar kembali.
"Nak, mempersembahkan pedang mengangkat guru adalah tugasmu yang pertama, kedua, Pedang mestika rembulan sunyi ini merupakan mestika keluarga Kim yang sudah turun temurun. Bila kau merasa sudah berkemampuan di kemudian hari, janganlah sekali-kali kau biarkan orang lain mendapatkannya..."
Bocah itu menjadi tertegun setelah mendengar perkataan tersebut segera ujarnya.
"Ayah bukankah kau pernah bilang pedang mestika rembulan sunyi ini harus diserahkan kepada manusia berbaju perlente itu? Mengapa kau berkata demikian sekarang?"
Kakek itu menghela napas panjang.
"Benar, ayah memang pernah berkata begitu, tapi ini hanya berlaku saat kau hendak mengangkat guru dan belajar silat, disaat pelajaran silatmu telah selesai dan kau yakin sudah mampu mengalahkan gurumu, maka kau harus memaksanya untuk menyerahkan kembali pedang mestika rembulan sunyi kepadamu."
"Manusia berpakaian perlente itu pernah bilang, dia akan mewariskan segenap kepandaian silat yang dimilikinya kepada murid-muridnya dan suatu saat apabila ada diantara murid-muridnya yang berkemampuan hebat serta mampu mengunggulinya merekapun boleh membinasakannya atau memaksanya melakukan sesuatu perbuatan yang tak ingin dia lakukan..."
"Manusia berpakaian perlente itu benar-benar sangat aneh"
Gumam si bocah itu kemudian tertegun sejenak.
"Bila dia berbuat begitu terus dengan memperhatikan masalah di depan mata serta mengesampingkan keadaan dimasa mendatang, suatu ketika dia pasti akan mengalami nasib yang tragis."
Kakek itu mendehem pelan, lalu berkata lagi pelan-pelan.
Hampir semua yang menjadi muridnya merupakan hasil paksaan dengan mengandalkan ilmu silat, menurut apa yang ayah ketahui saat ini dia sudah mempunyai sembilan orang murid.
angkatan tua dari ke sembilan muridnya tampil semuanya merupakan tokoh-tokoh silat kenamaan di dalam dunia persilatan tapi semuanya telah ditaklukkan olehnya dengan kekerasan sehingga mereka terpaksa menyerahkan anaknya untuk di jadikan murid oleh orang itu."
Ketika berbicara sampai di sini, tiba-tiba ia tutup mulut karena teringat olehnya bahwa diapun merupakan salah satu diantaranya, rasa malu yang segera menyelimuti perasaannya membuat kakek itu nampak tersipu-sipu.
Dengan mata terbelalak lebar bocah itu mengawasi ayahnya sekejap kemudian katanya.
"Ayah tidak usah kuatir, perbuatan semena-mena manusia yang berbaju perlente itu pasti berakhir tragis baginya bila di kemudian hari anak Sia telah berkemampuan cukup, perkataan ayah tentu akan kulaksanakan dengan sebaik-baiknya--"
"Persoalan ke tiga merupakan persoalan yang paling penting, ayah merasa tak mampu membongkar teka-teki ini sekalipun sudah banyak pikiran dan tenaga yang ku korbankan untuk melakukan penyelidikan"
Ketika berbicara sampai di situ mendadak kakek itu merendahkan suaranya, seakan-akan dia kuatir rahasia besar yang hendak di utarakan itu sampai kedengaran orang lain, sebagai seorang bocah yang pintar, cepat-cepat bocah itu menempelkan telinganya di sisi mulut ayahnya.
Dengan suara agak gemetar kakek itu segera berkata.
"Disekitar daerah Ho-lam terdapat sebuah lembah yang berpemandangan alam sangat indah dan sepanjang tahun empat musim selalu hangat bagaikan di musim semi, lembah itu terletak di suatu daerah terpencil dikelilingi bukit karang yang menjulang tinggi ke angkasa.
"Menurut cerita penduduk setempat, lembah itu bernama lembah Nirmala. setiap hujan badai sedang melanda dan guntur serta kilat sedang menyambar dari balik lembah tersebut selalu akan bergema suara nyanyian merdu dari seorang perempuan. Suara nyanyian ini selalu menyebar sampai di punggung bukit dan menggema tiada hentinya.
"Bagi rakyat jelata disekitar lembah yang berpengetahuan rendah, mereka selalu menganggap suara nyanyian itu berasal dari bidadari yang baru turun dari kahyangan, itulah sebabnya lembah itu mereka namakan sebagai lembah Nirmala yang mengandung arti lembah yang suci dan tak ternoda.
"Maka peristiwa inipun memancing rasa ingin tahu bagi para pemuda di desa sekitar tempat itu berbondong-bondong mereka siapkan rangsum serta melakukan penyelidikan.
"Siapa tahu, kawanan pemuda yang berangkat ke lembah Nirmala karena terdorong rasa ingin tahu ini ibarat bakpao menimpuk anjing, setelah pergi tak seorangpun yang balik kembali. Lama kelamaan para penduduk setempat segera beranggapan sang bidadari telah gusar dan sengaja menghukum orang-orang itu, mereka menjadi was-was serta tak berani menyerempet bahaya lagi untuk melakukan penyelidikan.
"Waktu itu kebetulan sekali ayah baru lulus dari belajar silat dan turun gunung, ketika melewati desa sekitar lembah Nirmala dan mendengar cerita itu, timbul rasa ingin tahu dalam hatiku, sebagai seorang pemuda bersemangat tinggi dan baru turun dari gunung, maka berangkatlah ayah ditengah suatu malam yang gelap menuju ke lembah Nirmala itu.... Dengan meminjam cahaya bintang yang redup serta mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang sempurna, dalam waktu singkat ayah telah melalui beberapa buah lembah dan tiba di lembah Nirmala setengah harian kemudian.
"Ternyata lembah Nirmala itu merupakan sebuah lembah dengan pepohonan yang amat lebar batuan cadas berserakan dimana-mana, air terjun terbentang bagaikan sebuah tirai membuat suasana di sekelilingnya dilapisi kabut yang tipis.
"Lembah Nirmala memang sebuah sorga dunia, udara di situ hangat dan nyaman, kalau sewaktu berangkat ayah memakai mantel yang tebal untuk melawan udara dingin, maka setibanya didalam lembah harus dilepas semua sehingga tinggal pakaian ringkas yang tipis"
Ditengah suara air terjun yang gemuruh pepohonan siong yang bergoyang terhembus angin, suasana disekitar sana sangat hening dan tak kedengaran suasana yang lainnya...
"Sekalipun tempat itu subur dengan aneka bunga yang harum semerbak dan rerumputan nan hijau, tapi ayah justru merasa seolah-olah sedang memasuki neraka yang mengerikan sehingga bulu kudukku tanpa terasa pada bangun berdiri."
"Di bawah sinar rembulan yang redup, ayah menelusuri sebuah jalan setapak dengan langkah yang amat riang. Sementara tanganku tak pernah terlepas dari gagang pedang Leng gwat-kiam guna menghadapi segala sesuatu yang tak di inginkan.
"Ayah tahu, biarpun penduduk setempat mengatakan Lembah Nirmala sebagai tempat tinggal bidadari dari kahyangan dan menurut pendapatmu hal ini terlalu berkhayal dan mustahil namun ayah sadar, seseorang yang dapat bernyanyi ditengah hujan badai bahkan suaranya bisa terdengar sampai jauh di dusun sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa orang itu memiliki ilmu tenaga dalam yang amat sempurna. Betul kepandaian silat ayah terhitung tangguh, namun rasanya masih selisih jauh dibanding-bandingkan dengan orang itu.
"Maka dengan hati kebat-kebit menahan rasa ngeri dan seram, ayah berusaha keras untuk menyembunyikan diri dibalik batuan cadas begitu rapatnya aku bersembunyi meski ada orang yang lewat disisikupun tentu akan menemukan jejak ayah..."
Semakin lama berjalan ayah memasuki lembah itu semakin dalam, keadaan medan dalam lembah itupun kian lama kian bertambah melebar, tiba-tiba dari depan sana kutemukan banyak tulang belulang yang berserakan di atas tanah, ayah menjadi terkejut serta meneliti lebih seksama ternyata tulang belulang itu semuanya berada dalam keadaan utuh dan lengkap tapi ditangan masing-masing justru menggenggam sebongkah benda berwarna kuning, ayahpun mengambil sebuah dan diperiksa, benda itu berat sekali dan ternyata merupakan emas murni.
Ayah segera menghitung tumpukan tulang belulang yang berserakan di situ semuanya berjumlah dua ratus lebih, anehnya dalam genggaman mereka semua terdapat pula sebongkah emas murni, Andaikata ke dua ratusan bongkahan emas itu dikumpulkan jumlahnya pasti luar biasa sekali ayah tak mengira kalau lembah Nirmala merupakan sebuah tempat harta karun yang berjumlah begitu besar....."
"Waktu itu ayah bercita-cita tinggi, memandang harta dan perempuan bagaikan kotoran manusia. hatiku sama sekali tak tertarik oleh benda-benda berharga itu, hanya pikirku waktu itu.
"Bila dilihat dari suara nyanyian itu bergema dari sini, berarti ada seseorang yang berdiam dalam lembah tersebut, padahal emas-emas itu dibiarkan berserakan disini tanpa bermaksud dikumpulkan kembali. Sudah jelas peristiwa ini mengandung suatu rencana tertentu, siapa tahu kalau di atas bongkahan emas itu telah diolesi dengan racun keji sehingga mereka yang kemaruk akan harta tak dapat melanjutkan tujuannya untuk menyelidiki rasa ingin tahunya. Tapi tewas di sini."
Namun baru saja ayah berpikir sampai di situ, tiba-tiba lenganku mulai terasa kaku dan kesemutan, aku sadar kalau keadaan tak beres.
Hal ini pastilah dikarenakan tanganku telah menyentuh bongkahan emas tadi.
Namun dari sini pula membuktikan bahwa dugaan ayah betul, bongkahan tersebut telah diolesi seseorang dengan racun yang amat ganas.
"Untung saja tenaga dalamku cukup tangguh ditambah pula latihanku yang tekun membuat kemampuanku terhitung hebat juga, Dengan mengandalkan kemampuan inilah ayah menutup semua jalan darah ditangan kiri dan berusaha menahan menjalarnya racun itu, tapi ayah sadar keadaan seperti ini tak bisa berlangsung lama, mumpung masih bisa bertahan, dengan membawa kobaran hawa amarah yang meluap, ayah segera meneruskan perjalanannya ke dalam.
"Belum lama berjalan di bawah sebuah batu cadas kujumpai ada sesosok bayangan manusia sedang duduk di situ sambil menangis tersedu-sedu, ayah menjadi berteriak tapi tak berani mengusiknya maka akupun bersembunyi dibalik batu sambil mengawasi gerak-gerik orang itu?"
Bayangan manusia itu menangis amat sedih, suaranya sudah kedengaran parau namun dia masih menangis tiada hentinya bila dilihat dari rambutnya yang telah beruban, ayah tahu kalau usianya sudah lanjut tapi entah mengapa dia justru sedang dirundung kesedihan yang tak terhingga sekali menangis setengah jam sudah lewat, biarpun tangisannya keras tapi suaranya tak terdengar dari jarak sejauh sepuluh kaki.
Padahal ayah tahu, kakek berambut putih itu berilmu tinggi, hanya saja ia mampu mengendalikan suara itu sehingga tak sampai terpancar sampai ditempat kejauhan"
"Ayah semakin terkejut ketika mengetahui kesempurnaan tenaga dalamnya, aku makin tak berani bersuara, Siapa tahu tangisan kakek itu tiada hentinya sedang lengan ayah terasa makin kaku, pikirku kemudian bagaimanapun jua aku toh bakal mati, mengapa tidak kuselidiki persoalan aneh itu agar matiku lebih puas? Dengan hati yang mantap akupun segera munculkan diri.
"Ternyata kakek berambut putih itu memiliki ketajaman mata dan pendengaran yang luar biasa, baru saja ayah melangkah keluar ia sudah mengetahui jejakku, sorot matanya yang tajam segera dialihkan ke wajahku.
"Ayah mengerti, setelah ku intip rahasianya niscaya kakek itu tak akan berdiam diri begitu saja, cepat-cepat ku himpun tenaga dalamku sambil bersiap sedia melakukan perlawanan. Siapa tahu kakek itu hanya memandang sekejap ke arah ku dengan wajah tertegun, lalu setelah celingukan sekejap ke sekeliling tempat itu, tiba-tiba tanyanya.
"Kau datang dari mana?-"
"Aku datang dari alam semesta!"
Jawab ayah. Kakek itu segera berkerut kening dan menegur lagi dengan suara dingin.
"Kau anak murid siapa dan mau apa menghantar kematian kemari?"
Ayah menyahut.
"Aku murid siapa bukan urusanmu kalau memang kau berkemampuan, silahkan menghajar diriku lebih dulu. Waktu itu ayah menganggap dia orang jahat sehingga kata-kataku sama sekali tidak bersungkan-sungkan"
Ketika kakek itu melihat kekerasan kepalaku, sekali lagi dia amati ayah dari atas hingga ke bawah, sejenak kemudian dia baru berkata.
"Bila kulihat dari paras mukamu yang bersih dan cerah, jelas kau tak bernasib tragis, tapi buat datang kemari? Apakah tidak kau lihat tumpukan tulang belulang yang berserakan di depan sana ?"
Ketika ayah menjumpai kakek itu berwajah saleh, lembut dan tidak mirip orang jahat, tanpa terasa nada suaraku juga ikut berubah menjadi lebih lembut, segera sahutnya.
"Bukankah Locianpwe juga datang ke mari? Terdorong oleh rasa ingin tahu setelah mendengar cerita penduduk setempat di sepanjang jalan Boanpwe sengaja datang pula ke lembah Nirmala ini untuk melakukan penyelidikan."
"Apakah kau tidak takut mati?"
Tanya si kakek itu lagi dengan wajah serius.
"Jangan lagi didalam dada Boanpwe tidak terlintas ingatan.
"Takut,"
Sekalipun aku pengecut yang takut matipun saat ini tidak berharapan lagi untuk pulang dengan selamat."
Sahut ayah segera. Kakek itu menjadi tertegun dan segera bertanya.
"Apakah kau telah meraba emas itu?"
Ayah tersenyum dan manggut-manggut membenarkan. Tiba-tiba kakek itu menghela napas sambil berkata.
"Aaaai... anak muda, kau masih muda dan gagah perkasa, mengapa sih tidak mencari kesenangan hidup ditempat lain, sebaliknya justru bilang kemari untuk menghantar nyawa ?"
Satu ingatan segera melintas dalam benak ayah setelah melihat orang itu meski menegur namun wajahnya yang penuh welas kasih justru mencerminkan rasa kuatir dan menaruh perhatian yang serius, kataku kemudian.
"Berhubung situasi telah berkembang menjadi begini, Boanpwe pun tak ingin pulang aku hanya berharap bisa menggunakan selembar jiwaku yang berharga ini sebagai taruhan untuk memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang aneh ditempat ini."
"Baiklah"
Kata kakek itu kemudian sambil menghela napas.
"Kalau toh kau tidak takut mati akupun akan membiarkan kau mati dengan perasaan puas..."
Ketika berbicara sampai di situ, kakek itu kembali menarik napas panjang-panjang, kemudian setelah mencoba mempertahankan tubuhnya yang gontai, ia berkata lagi.
"Setelah selesai mengucapkan perkataan itu kakek berambut putih itupun mengajak aku menuju ke daerah yang lebih dalam lagi dari Lembah Nirmala. sepanjang jalan kujumpai banyak ruang gua yang berserakan. kabut tipis menyelimuti permukaan tanah. kendatipun sinar rembulan bersinar redup namun susah untuk melihat pemandangan sejauh lima kaki sepanjang jalan yang kami telusuri hanya jalan setapak yang serta suara memercik air yang lirih, selain itu hanya bayangan punggung si kakek yang kulihat di depan mata.
"Dalam perjalanan itu, tiba-tiba si kakek berpaling seraya berpesan.
"Anak muda. Kau harus mengingat baik-baik, kejadian aneh macam apapun yang kau jumpai nanti, jangan sekali-kali kau bersuara, kalau tidak maka kau akan mampus sebelum sempat melihat apapun.."
Biarpun ayah merasa keheranan, namun ayah tak ingin banyak berbicara pula, maka setelah mengiakan, ku ikuti terus perjalanannya.
Tak selang berapa saat kemudian, ayah mendengar banyak sekali suara rintihan yang memilukan hati.
suara rintihan tersebut bergema tiada putusnya dan hampir semuanya mengandung hawa murni yang sangat kuat, boleh dibilang kesempurnaan tenaga dalam orang yang merintih itu jarang ditemui dalam dunia persilatan.
Waktu itu ayah sangat terkejut bercampur keheranan tapi karena teringat akan pesan kakek berambut putih itu, aku tak berani bersuara, hanya kucoba untuk menentukan sumber dari suara rintihan tersebut.
Akhirnya aku berhasil menemukan sumber dari suara rintihan itu, ternyata gua suara tadi berasal dari balik gua-gua yang berserakan di sepanjang jalan, rasa ingin tahu segera menyelimuti perasaanku, tanpa sepengetahuan kakek tadi diam-diam ku intip gua-gua itu, Tapi..
begitu ku intip, hatiku menjadi amat terperanjat.
ternyata dibalik gua kecil yang gelap itu muncul sorot mata yang tajam bagaikan sembilu sedang mengawasi wajahku lekat-lekat, dengan hati terkesiap cepatcepat kutarik diri dan balik ke jalan setapak, Tapi dengan kejadian itu pula, aku jadi tahu bahwa dibalik goa-gua kecil yang mirip itu sebetulnya terkurung seseorang, biarpun ayah belum sempat menyaksikan kepandaian silat mereka, namun dari sorot mata yang tajam dapat kuketahui bahwa salah seorang saja diantara mereda sudah cukup menggoncangkan seluruh dunia persilatan.
Si bocah yang asyik mendengarkan kisah tersebut tiba-tiba menyela.
"Mengapa mereka bersembunyi dibalik gua kecil yang gelap sambil berkeluh kesah?"
"Soal ini tidak kuketahui, sudahlah kau jangan menyela dulu, dengarkan kisah ayah sampai habis dulu, kalau tidak, ayah kuatir tak sempat lagi menuturkan kisah tersebut hingga selesai"
Bocah itu segera menutup mulutnya kembali, ia tahu kisah cerita ayahnya sekarang berpengaruh besar bagi pengembaraannya dalam dunia persilatan di kemudian hari, Kembali kakek itu berkata.
"Tampaknya semua perhatian kakek itu sedang tertuju ke suatu tempat tertentu sehingga dia tak tahu kalau aku telah mengintip gua-gua kecil di sepanjang jalan. Selang beberapa saat kemudian kami telah melewati jalanan setapak itu dan tiba di depan sebuah kolam yang luas dengan teratai tumbuh subur dalam kolam, rumput nan hijau, aneka bunga yang harum semerbak membuat pemandangan alam di situ kelihatan sangat indah, ayah yang belum pernah menyaksikan pemandangan semacam ini kontan saja jadi lupa daratan dan menikmatinya dengan termangu."
Tempat dimana ayah berdiri tidak lain merupakan depan sebuah gua terakhir, sementara aku masih memandang terpesona, mendadak terdengar seseorang menegurku.
"Hey anak muda, apakah kau datang dari alam semesta ? "
Ayah terkejut dan segera mendongakkan kepala namun selain si kakek tadi yang sedang mencuci kaki", di sekeliling tempat itu tidak kujumpai orang ke dua.
Sementara aku masih diliputi perasaan kaget bercampur keheranan, terdengar suara tadi bergema lagi.
"Hey anak muda, benarkah kau datang dari alam semesta ?"
Saat itu ayah benar-benar merasa terkejut bercampur bingung.
Pikirku kalau bukan datang dari alam semesta, memang ayah datang dari neraka?
Lalu pikirku lebih lanjut.
tempat ini sesungguhnya masih berada di alam semesta, Mengapa orang itu justru mengucapkan perkataan itu, Mungkinkah dia adalah roh halus atau sukma gentayangan?
Makin dibayangkan aku merasa semakin takut, namun teringat dengan pesan si kakek berambut putih tadi, terpaksa aku hanya mengangguk sebagai pertanda mengiakan.
Maka suara orang itupun kembali bergema.
"Kau tak usah takut anak muda, aku dengan ilmu menyampaikan suara dengan kau tak melihat wajahku, Eeei!!!. Bila kulihat dari ilmu langkahmu, sudah jelas gerakan tersebut merupakan ilmu meringankan tubuh Jit seng san hoat dari Ang gwat it-kiam, apakah kau adalah muridnya Ang gwat it kiam?"
Ayah semakin terperanjat, orang itu bisa menyampaikan semua perkataannya ke dalam telingaku dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara.
hal ini membuktikan kalau tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, yang lebih mengherankan lagi adalah dia mengetahui nama guruku, ini yang membuatku amat tercengang.
Terdorong oleh perasaan heran dan ingin tahu, hampir saja aku membuka suara untuk bertanya, tapi suara tersebut cepat-cepat mencegahku.
"Ssst, jangan bersuara atau kau akan melanggar pantangan yang berlaku dalam lembab ini, akibatnya kati bisa digigitkan berpuluh ribu ekor ular beracun sampai mati"
Sementara ayah merasa kaget sampai tak mampu bersuara, suara tadi kembali berkumandang.
"Anak muda, kau tak perlu berpikir yang bukan-bukan, dari hubunganmu dengan Ang gwat it kiam berarti antara kau dengan akupun terjalin pula hubungan yang cukup erat. Atas dasar hubungan ini aku rela mempertaruhkan selembar jiwaku untuk melepaskan budi, kepadamu jangan bergerak du1u. Dengarkan semua keteranganku. Setelah berhenti sejenak, suara itu bergema lagi.
"Ikutilah semua petunjukku dalam tindak tandukmu selanjutnya, dengan berbuat demikian mungkin kau masih punya harapan untuk hidup terus, ingat baik-baik bila kau bertemu dengan seorang gadis cantik jelita bak bidadari yang mengutarakan rasa cintanya kepadamu, jangan sekali kali kau layani dirinya biarpun gadis itu memang cantik jelita dan memiliki daya pikat yang luar biasa sehingga siapa saja yang memandang sekejap ke arahnya, tentu akan dibuat tidak mampu mengendalikan diri. Belum habis keterangan tersebut diberikan kakek berambut putih yang menjadi petunjuk jalannya telah memberi tanda agar perjalanan dilanjutkan. Saat itulah satu ingatan melintas dalam benak ayah cepat-cepat ku alihkan sorot mataku ke arah lain dan berlagak seperti terpesona sehingga tidak melihat ajaknya padahal hatiku amat gelisah karena keterangan dari orang yang memberi petunjuk dengan ilmu menyampaikan suara itu belum selesai diutarakan . Agaknya orang itupun amat gelisah, keterangan yang disampaikan bertambah cepat, katanya lebih jauh.
"Kau mesti perhatikan baik-baik anak muda, bila menghadapi keadaan seperti ini, usahakan untuk menggigit lidahmu keras-keras kemudian meludahi wajah gadis cantik itu sambil berlagak mengumpatnya dengan kata-kata menghina.
"Hmm, perempuan rendah yang tidak tahu malu, mengapa tidak bercermin dulu untuk melihat betapa jeleknya tampangmu itu, huuuh, apa gunanya kau memikat diriku? Hmmm !"
Andaikata perempuan cantik itu menamparmu keras-keras bahkan memakimu dengan mempergunakan kata-kata yang kotor dan tak sedap didengar, maka kau pun harus balas menamparnya serta menggunakan rangkaian kata paling jelek untuk mencemooh raut wajahnya, dengan berbuat demikian mungkin kau masih ada harapan untuk hidup, sebaliknya bila kau tak mampu mengendalikan tujuh perasaan dan enam napsu, terutama sekali terpengaruh oleh "kecantikan"
Dan belas kasihan hingga sorot matamu memancarkan rasa cinta dan kasihan akibatnya benar-benar mengerikan bagimu, aaaai mungkin nasibmu akan seperti kami semua."
Perkataan orang itu mengandung kesedihan dan rasa sesal yang tak terhingga sehingga membuat hati ayah turut beriba... Tak selang berapa saat kemudian terdengar suara itu kembali berkumandang.
"Nah pergilah anak muda, sudah tiga puluh tahun aku belajar silat namun gagal mengendalikan tujuh perasaan enam napsu sehingga harus mengalami kehidupan tersiksa yang begini mengerikan dalam neraka dunia. aaaai, manusia bukan manusia, anjing bukan anjing, pada hakekatnya kami dijadikan sebagai kerbau dan kuda perahan, beginilah akhir dari sejarah kehidupan..."
Rintihan dan keluhan yang begitu menggelitik perasaan, membuat ayah tak mampu menahan emosi lagi hingga titik air mata tanpa terasa jatuh berlinang...
Tiba-tiba saja suara orang itu berobah menjadi periang kembali, katanya lebih jauh.
"Rupanya kau si anak muda adalah seorang yang berperasaan kalau begitu aku tak menyesal untuk mati bagimu, haaahhh.. haaahh... kehidupan manusia memang ibaratnya sebuah impian, disaat telah mendusin apa lagi yang perlu disesalkan? Haaah ... haaah ... berangkatlah bila kau memang bernasib baik dan diberi umur panjang, setelah bertemu dengan suhu hidung kerbau mu, sampaikan saja kepadanya. Biau-biau-cu dari Tiong-lam san yang telah menolong selembar jiwa muridnya, akan kulihat bagaimana caranya membalas budi kepadaku di alam baka nanti."
Ayah tidak mengetahui siapakah Biau biao-cu itu, namun secara lamat-lamat dapat kurasakan bahwa Biau-biau cu adalah, seorang tokoh silat yang berjiwa besar, tanpa terasa air mataku kembali berlinang setelah mendengar perkataan ini.
Dalam pada itu si kakek berambut putih yang menjadi petunjuk jalanku tadi sudah tak sabar lagi menunggu.
dia menghampiriku dengan cepat lalu mencengkeram bajuku dan di bawa lari.
Ayah hanya merasa angin berdesing tajam di sisi telinga membuat wajahku sakit bagaikan disayat, aku tak mengerti mengapa kawan jago aneh yang berilmu tinggi ini bisa disekap semua di sana, tapi bisa kuduga orang yang berhasil menyekap mereka pastilah seorang siluman iblis yang luar biasa hebatnya.
Sementara pikiran masih melintas, tiba-tiba terdengar kakek berseru kalau sudah tiba di tempat tujuan, ketika aku mencoba untuk memperhatikan keadaan disekitar itu nyatalah bahwa tempat itu berpemandangan alam lebih indah, pepohonan yang rimbun, aneka bunga yang berbau semerbak mengingatkan orang pada sorga loka yang sering dilukiskan orang lain tanpa terasa kembali ayah menghirup napas panjang.
Aneka bunga yang lebat mengitari sebuah bangunan besar berwarna kuning, semua perabot dalam gedung tadi hampir seluruhnya terbuat dari bahan kayu pilihan, terutama sekali sebuah hiolo kemala yang terletak di sudut meja dalam ruangan, terbuat diri batu kemala hijau yang bening dan tembus pandangan entah berapa nilainya di pasaran bebas.
Asap dupa mengepul lembut dari balik hiolo memercikkan bau harum yang lembut, kesemuanya ini menghilangkan kesan buruk bagi siapapun yang memandang, bahkan memberikan perasaan kerasan terutama bagi para jago persilatan yang sudah terlalu sibuk dengan masalah dunia persilatan.
Waktu itu mendadak kakek berambut putih tadi menunjukkan sikap yang sangat menaruh hormat.
dengan suara lirih ia berpesan.
"Anak muda, Jangan sekali-kali berbicara, kejadian aneh macam apapun yang bakal kau temui bertingkahlah seakan-akan tidak menaruh perhatian, kalau tidak maka saat ajalmu segera akan tiba."
Ayah menjadi merinding dan menghembuskan napas dingin setelah mendengar perkataan tersebut.
Dalam pada itu si kakek telah bertekuk lutut dan menyembah ke arah ruang tengah berwarna emas itu sambil berkata dengan penuh rasa hormat.
"Tecu Ing Goan san menantikan kehadiran dewi!"
Mendengar perkataan ini ayah-pun segera berpikir.
"Dewi apaan itu? Masa didalam Lembah Nirmala benar terdapat seorang dewi ?"
Sementara ayah masih dicekam rasa heran dan ingin tahu, tiba-tiba terdengar suara tertawa merdu bergema dari balik ruangan menyusul kemudian terdengar seorang gadis berkata dengan nada suara yang merdu merayu bagaikan kicauan burung nuri.
"Dewi sudah mengetahui maksudmu mengingat kau berwatak jujur dan berhati lurus, kita sama sekali tidak memikirkan kepentingan pribadi maka pelaksanaan di undur tiga hari kemudian nah bangunlah dan ajak masuk bocah cilik yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi itu"
Cepat-cepat kakek itu menyahut.
"Hamba berterima kasih sekali atas budi kebaikan dari dewi."
Sekalipun perkataannya penuh dengan nada terima kasih, namun paras mukanya sama sekali tidak menampilkan perasaan tersebut, malah sebaliknya justru memancarkan rasa benci dan dendam yang amat tebal, seakan-akan dia mendendam dan gusar namun tak berani mengutarakannya keluar.
Sebelum ayah sempat berpikir lebih jauh tubuhku telan diangkat oleh kakek itu dan bagaikan menenteng sebuah benda saja tubuh ayah langsung digotong ke dalam ruangan.
Sesampainya dalam ruangan ayah mencoba untuk memperhatikan keadaan disekitar sana kau tahu, ternyata ruangan tersebut gemerlapan penuh dengan kilauan cahaya emas yang berwarna kuning, kiranya setiap benda dan perabot yang berada di sana terbuat dari emas murni, tak heran kalau ayah pun mulai curiga dan berpikir darimana si dewi itu peroleh harta karun sebesar ini...
Berbicara sampai di situ, si kakek segera bangkit dan meluruskan duduknya, lalu dengan sorot mata memancarkan serentetan cahaya cinta yang aneh, ia menghela napas serta melanjutkan kisahnya.
"Di dalam ruangan itu berdirilah empat orang gadis berbaju hijau, mereka berparas cantik jelita, berkulit tubuh putih bersih dan berdiri di sisi ruangan dengan sikap yang lembut, sementara didekat jendela duduk seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. ia mengenakan pakaian putih bersih bagaikan salju memiliki sepasang mata yang jeli, sebaris gigi yang putih bersih dan rata, hidung yang mancung, bibir yang kecil mungil serta kulit tubuh yang putih bersih bersemu merah terutama sepasang lesung pipitnya yang begitu menawan, perempuan tersebut hampir boleh dibilang memiliki kecantikan daripada kecantikan seluruh perempuan tercantik di dunia yang digabungkan menjadi satu, anehnya lagi kecantikan perempuan itu begitu wajar, sedikitpun, tidak nampak aneh sehingga membuat orang bagaikan berada dalam alam impian serta melihat bidadari yang baru turun dari kahyangan"
Kembali kakek itu menghela napas panjang, melihat bocah itu mendengarkan kisahnya dengan asyik sambil tersenyum terusnya.
"Di sisi gadis itu duduk seorang bocah kecil berusia enam-tujuh tahun. raut wajah bocah perempuan itu persis seperti wajah sang "Dewi"
Atau tidak dibilang bagaikan pinang dibelah dua, dia berwajah mungil dan manis biarpun masih kecil namun memiliki daya pikat yang luar biasa, kesemuanya ini membuat ayah menjadi tertegun dan termangu-mangu dibuatnya.
"Tapi begitu teringat dengan pesan dari Biau biau cu. ayah menjadi terkesiap dan cepat-cepat menarik kembali sorot mataku yang penuh dengan perasaan cinta ini sambil berpaling ke arah lain padahal hatiku berdebar amat keras. Waktu itu sementara benakku penuh diliputi oleh bayangan wajah si nona berbaju putih yang cantik jelita bak bidadari dan kahyangan itu..."
Si bocah menjadi amat gelisah setelah mendengar sampai di situ, cepat, selanya.
"Ayah mengapa kau tak dapat melenyapkan napsu dari hatimu? Bukankah hal ini merugikan bagimu seperti apa yang telah di katakan Biau biau cu locianpwe ?"
Kakek itu tersenyum. Sahutnya.
"Selama mengembara didalam dunia persilatan ayah sudah menemui banyak kejadian besar maupun kecil tapi tak satupun yang patut dibanggakan hmm! Tapi dalam hal ini ayah justru merasa amat bangga saban kali disaat aku sedang putus asa. bila terbayang kembali kejadian ini maka semangat ayah segera berkobar kembali."
Berbicara sampai di situ diapun segera berhenti sejenak, agaknya orang tua ini merasa rikuh untuk menyombongkan diri di hadapan putranya, karena itu ujarnya lagi.
"Sebenarnya ayah sudah mulai terpikat oleh kecantikan wajahnya untunglah disaat yang kritis ayah teringat kembali dengan pesan kakek dimasa lalu yang pernah berkata begini. Bagi seseorang yang belajar ilmu maka mengendalikan perasaan merupakan kunci utama, apabila mengendalikan perasaan saja tak mampu dilakukan apalagi untuk belajar ilmu ?."
"Begitu ajaran tersebut melintas lewat pikiran ayah segera menjadi tenang kembali diam-diam kusalurkan hawa murniku untuk melindungi seluruh badan serta mengusir semua godaan napsu yang mulai menyerang tiba, dengan dasar ilmu tenaga dalam yang ayah pelajari, dalam waktu singkat pikiranku menjadi tenang kembali, kubayangkan perempuan cantik yang berada di hadapan mata bagaikan tengkorak yang berwajah mengerikan cukup membetot sukma, namun ayah tak pernah berkedip barang sedikitpun jua. Melihat putranya menunjukkan perasaan kagum dan hormat kakek itu tersenyum dan berkata lebih jauh.
"Belum lama setelah kakek petunjuk jalan tadi mengundurkan diri, gadis cantik berbaju putih itu telah datang mendekati ku sambil menegur.
"Hey, mengapa sih kau tak menggubrisku? Waah gaya mu sok amat..."
Ayah masih teringat selalu dengan pesan.
"Biau biau-cu, karena itu segera jawabku ketus.
"Kalau mau sok lantas kenapa? Kau tak usah cerewet terus menerus. ada urusan apa sih kau mengundangku kemari? Ayoh cepat sampaikan aku sudah tak sabar menanti!"
Paras muka nona berbaju putih itu segera berobah tapi sekejap kemudian telah putih kembali seperti sedia kala, malahan sambil tersenyum ibarat sekuntum bunga segar baru mekar dia berkata lagi.
"Oooh lagakmu memang amat besar ya, hal ini memang tak bisa disalahkan seseorang yang bernama semakin besar biasanya memang lagaknya makin besar pula kau masih muda, tampan dan berilmu tinggi, tentu saja tak terlepas dari kebiasaan tersebut."
Ayah sebagai seorang jagoan yang baru turun ke dunia persilatan seperti halnya dengan kaum muda lain, Biar tidak takut langit tidak takut bumi tapi paling takut kalau disanjung orang, apalagi yang menyanjung adalah seorang perempuan cantik yang tiada taranya di dunia ini.
Saking senangnya mendengar sanjungan tersebut pertahanan ayah menjadi buyar apalagi setelah mengendus bau harum dari tubuh nona itu di tambah lagi memandang wajah si nona yang begitu cantik, gelombang napsu yang secara bertubi-tubi lambat laun membuat ayah tak sanggup mengendalikan ke tujuh perasaan dan ke enam napsu ku.
Di saat yang amat kritis inilah, mendadak kudengar suara bentakan menggeledek bergema datang.
"Bocah muda, kau memang tak becus. patut mampus. patut mampus.."
Bentakan menggeledek ini segera menyadarkan kembali ayah dari pengaruh napsu, peluh dingin segera bercucuran membasahi sekujur tubuh berkerut kening dengan napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, sikap tersebut kontan saja membuat ayah menjadi terkesiap dan bergidik, aku tak berani lagi memikirkan yang bukan-bukan."
Tiba-tiba nada suara kakek itu berubah menjadi sedih dan murung, rasa sesal tercermin di atas wajahnya, lama setelah termenung dia baru melanjutkan kembali kisahnya.
"Kulihat nona cantik berbaju putih itu segera memberi tanda kepada ke empat orang dayangnya yang cantik itu sambil berkata.
"Biau-biau-cu telah melanggar pantanganku, hadiahkan pedang pemutus nyawa baginya!"
Ke empat dayang itu segera menyahut dan beranjak pergi, ayah saksikan salah seorang diantaranya membawa sebilah pedang yang gemerlapan.
sadarlah ayah, gara-gara ingin menyelamatkan jiwa ayah, Bia biau-cu telah mengorbankan selembar jiwanya.
Ayah menjadi gusar setali, sambit membentak keras kugunakan segenap kekuatan yang kumiliki untuk menyerang nona tersebut, dalam anggapanku dalam sekali ayunan tangan niscaya nona berbaju putih itu dapat kurubuhkan.
Siapa tahu belum lagi seranganku tiba dan belum lagi tenagaku dipancarkan, tahu-tahu lenganku ini sudah kena di cengkeram oleh nona berbaju putih itu entah dengan gerakan apa.
Ayah mencoba untuk meronta, dan berusaha melepaskan diri tapi usahaku ini sia-sia belaka maka ayahpun segera memakinya kalang kabut.
Siluman iblis perempuan jelek tak ku nyana kau bercokol di lembah Nirmala hanya bermaksud untuk melakukan tindak kejahatan yang tak berperikemanusiaan, hmm, suatu ketika kau pasti akan menerima pula pembalasan yang setimpal."
Dengan kening berkerut nona cantik berbaju putih itu segera melepaskan cekalannya lalu bertanya dengan wajah tertegun.
"Kau menyebutku sebagai apa ?"
Tanpa berpikir panjang ayah segera memaki dengan gusar.
"Kau adalah siluman perempuan, mau apa kau ?"
"Aku adalah siluman? Jelekkah wajahku?"
Tanya nona berbaju putih itu ragu-ragu.
"Tentu saja kau jelek bagaikan siluman"
Sahut ayah "hmm, kau mengira wajahmu cantik bukan?
Huuuh padahal dalam pandanganku, kau mempunyai wajah yang lebih jelek daripada perempuan manapun.
kalau tak percaya periksalah dirimu Hmm sudah jelek tak tahu diri !"
Oleh makian ayah yang bertubi-tubi itu si nona menjadi kebingungan dan berdiri melongo, dia tak tahu apakah wajahnya benar jelek seperti apa yang ayah katakan, maka cepat-cepat ia mengambil cermin untuk bercermin setelah itu baru katanya lagi.
"Sungguh aneh, mengapa aku tidak merasa kalau wajahku jelek ?"
Ayah beranggapan bahwa bagaimanapun juga toh jiwaku akan melayang, mengapa harus berbelas kasihan lagi kepadanya karena itu aku pun berseru lagi dengan lantang.
"Tentu saja kau tak akan merasa kalau wajahmu jelek, tak ada manusia di dunia ini yang mengatakan dirinya jelek hmm. kalau kubilang kau sudah jelek masih tak tahu diri. Rasanya perkataan ini memang tepat sekali."
Paras muka gadis yang berbaju putih itu berubah sangat hebat sekali.
Tiba-tiba saja dia merintih, tubuhnya membungkuk dengan penuh penderitaan saat itu ayahpun merasa tindakanku kelewat batas sehingga membuat seorang gadis yang begitu cantik harus menderita gara-gara dilukiskan terlalu jelek, baru saja aku hendak menghiburnya, tiba-tiba kulihat gadis berbaju putih itu berkerut kening, hawa napsu membunuhpun segera menyelimuti seluruh wajahnya Sadar kalau kematian tidak akan lolos, tak urung ayah mandi keringat dingin juga, sebab hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya itu benar-benar sangat tebal.
andaikata wajahnya tidak cantik bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan pada hakekatnya dia mirip sekali dengan seorang perampok yang membunuh orang tanpa berkedip......
Tanpa mengucapkan sepatah katapun si nona berbaju putih itu melepaskan tiga buah pukulan secara beruntun semua serangannya dilancarkan dengan cepat dan begitu ganas jangan lagi menghindarkan diri, bahkan kelopak mata ayah belum sempat berkedip, sekujur, badanku sudah terasa panas sesak bagaikan dibakar di atas api, sedemikian panasnya sehingga kalau bisa aku ingin terjun ke dalam gudang es yang paling dingin untuk melenyapkan hawa kering dan panas yang membara.
Aku merintih dan mengeluh kesakitan, tapi nona berbaju putih itu hanya tertawa dingin tiada hentinya "Sorot matanya yang dingin dan matanya yang melotot besar" mengawasi diriku tanpa berkedip seolah-olah penderitaan yang ku alami justru merupakan obat pelipur lara baginya.
Setelah tersiksa hampir setengah jam lamanya, aku mulai tak sanggup menahan diri tapi nona berbaju putih itu tetap membungkam dalam seribu bahasa.
ditatapnya keadaanku yang mengenaskan dengan pandangan dingin, tentu saja aku menjadi amat membencinya dan kalau bisa ingin membunuhnya dengan sekali pukulan..
Tapi apa daya kalau aku tak berkemampuan sebesar itu.
Bukan begitu saja, bahkan penderitaan dan siksaan yang ku derita pun tak dapat ku hapuskan dengan begitu saja.
Pada akhirnya nona berbaju putih itu seperti sudah tak sabar lagi, ia bertanya dengan suara dingin.
"Ayo cepat kau jawab, aku jelek tidak??"
Aku sadar, berbicara terus terangnya sama saja akan berakibat kematian bagiku, daripada membuatnya senang, apa salahnya kalau membuat siluman perempuan itu justru menderita untuk selamanya.
Oleh sebab itu sambil menahan siksaan dan penderitaan aku kembali mengumpat.
"Kau jelek, kau jelek sekali. sedemikian jeleknya sehingga tampangmu kelihatan lebih jelek daripada perempuan terjelek di dunia sekalipun."
Sekali lagi nona berbaju putih itu membungkukkan tubuhnya lantaran menderita.
Kulihat air matanya hampir saja jatuh berlinang, tapi perasaanku waktu itu justru gembira dan lega, begitu gembiranya sehingga tak terlukiskan dengan kata-kata, dengan geram ku ejek lagi.
"Manusia semacam kau sesungguhnya tak lebih cuma seekor ulat kecil yang patut dikasihani, mana wajahnya sudah jelek, sekarang diejek pula sebagai si jelek..... haaah haaah.,... haaah..."
Dengan gusar nona berbaju putih itu melotot besar dan menatap wajahku tanpa berkedip, dari balik matanya yang jeli memancar keluar dua rentetan sinar tajam bagaikan sembilu, begitu seramnya sorot mata tersebut membuat tubuhku menggigil dan tak mampu meneruskan perkataan lagi.
Selang beberapa saat kemudian, kudengar dia berseru pula dengan penuh amarah.
"Baiklah kau memakiku jelek, memakiku sebagai perempuan terjelek di dunia ini. maka akupun akan menggunakan siksaan yang paling keji di dunia ini untuk menghadapimu akan kucongkel keluar sepasang biji matamu, kupotong kaki dan lenganmu kubetoti semua otot-otot tubuhmu kemudian menggantungmu di atas pohon biar beribu ekor ular menggeragoti dagingmu menyayati kulitmu dan menggigit hatimu, coba kulihat apakah kau masih mengatakan aku jelek"
"Waktu itu ayah menjadi semakin geram, dengan amarah yang meluap-luap kembali aku memaki.
"Benar-benar tidak kusangka bukan cuma wajahmu yang jelek, ternyata hatimu juga amat busuk, Tak usah kuatir silahkan turun silahkan turun tangan untuk menyiksaku, suatu hari kau sendiripun akan dicincang oleh kaum jago dari kalangan lurus sehingga hancur berkeping-keping."
Nona cantik berbaju putih itu mendengus.
"Hmm, aku tak percaya kalau ilmu silat yang dimiliki para jago dunia bisa jauh lebih hebat dari padaku hmm, setelah mendengar perkataanmu itu, aku jadi tak berhasrat untuk berdiam lebih lama lagi dalam lembah ini, kaupun tak usah menguatirkan tentang keselamatan para gentong nasi kaum jago dunia persilatan Dewimu masih mampu untuk mengirim mereka satu persatu pulang ke rumah nenek nya."
Begitu kudengar perkataan itu, ayah jadi kaget dan sadar, gara-gara perkataanku itu bisa jadi para jago dunia persilatan harus menanggung akibatnya, maka dengan perasaan geram kembali aku memaki.
"Bila kau memang bukan dilahirkan manusia. lakukanlah seperti apa yang kau katakan. saya memang tak mampu menghalangimu, tapi bila kau merasa bahwa dirimu dilahirkan oleh manusia, hmm,..."
Nona cantik berbaju putih itu segera tertegun setelah mendengar perkataan ini segera gumamnya.
"Aku adalah dewi aku adalah dewi... dewi yang memegang kekuasaan terhadap kehidupan manusia di dunia ini siapa bilang aku tak boleh membunuh, omong kosong.""
Agaknya makin dipikir nona cantik berbaju putih itu merasa semakin mendongkol dia segera memerintahkan orang untuk melemparkan ayah ke dalam sarang ular beracun.
Di saat yang paling kritis itulah, tiba-tiba terdengar nona cilik itu berseru keras.
"Ibu, jangan kau bunuh orang itu dia bukan orang jahat, lepaskan dia anak Jin tak berani melihat, oooh ibu, lepaskan dia"
Biarpun gadis cilik itu masih berusia muda, namun suaranya justru amat merdu bagaikan burung nuri yang sedang berkicau pada hakekatnya tidak berbeda dengan ibunya.
Nona cantik berbaju putih itu kelihatan tertegun, lalu menyahut.
"Anak Jin. kau tak boleh mencampuri urusan ini. orang tersebut sangat jahat, aku harus membinasakannya !"
Tiba-tiba nona kecil yang bernama anak Jin itu mengucurkan air mata dari balik kelopak matanya yang besar, sambil menggoyang-goyangkan lengan ibunya dia berseru lagi.
"lbu kalau kau membunuhnya, anak Jin tak akan berbicara lagi denganmu..."
Biarpun nona itu masih kecil tetapi wataknya justru berbeda dengan ibunya dibalik wajahnya yang polos dan suci terpancar sinar kelembutan, aku yakin dia tentu seorang gadis yang penuh berwelas kasih, Kembali nona berbaju putih itu tertegun, dia mengerling sekejap ke arah nona kecil itu, kemudian termenung dengan wajah serius tampaknya dia sedang mempertimbangkan persoalan itu tapi dilihat dari mimik mukanya, ayah dapat melihat bahwa dia amat sayang pada siona kecil itu bahkan rasa sayangnya tak terlukiskan dengan kata-kata.
Selang beberapa saat kemudian, dia baru berkata dengan nada sedih.
"Baiklah, ibu mengabulkan permintaan mu !"
Nona kecil itu segera bertepuk tangan kegirangan, sedang selembar jiwa ayahpun berhasil diselamatkan oleh nona kecil itu..."
Sampai di sini, kakek itu mengawasi sekejap wajah putranya, lalu dengan wajah bersungguhsungguh dia berkata.
"Kebaikan hati nona kecil itu tak terlukiskan dengan kata-kata, anak Sia. bila di hitung, maka usianya sekarang tidak jauh dengan usiamu andaikata suatu hari kau bertemu dengan seorang gadis macam begini di dalam dunia persilatan maka kau mesti bersikap baik kepadanya, kau tak boleh membuatnya menderita atau sakit hati daripada arwah ayah dialam baka tidak peroleh ketenangan."
Bocah itu segera manggut-manggut sahutnya.
"Ayah tak usah kuatir, anak Sia tentu akan mengingatnya selalu didalam hati"
Kemudian katanya lagi.
"Bagaimana kemudian dengan cara apakah ayah berhasil meninggalkan perempuan keji itu ?"
Setelah tertawa kecil kakek itu berkata.
"Setelah membebaskan jalan darahku yang tertotok agaknya nona cantik berbaju putih itu melihat lenganku berubah menjadi hitam maka setelah mendengus dingin diapun memberi sebutir pil penawar racun kepada ayah.
"Sebelum pergi meninggalkan tempat untuk mencegah agar ayah tidak membocorkan rahasia ini ditempat luaran, diapun memerintahkan salah seorang diantara tempat dayangnya yang berparas cantik, Cing soat untuk menjadi istriku!"
"Oooh, dia adalah ibuku"
Teriak bocah itu keras-keras.
Nada suaranya penuh dengan rasa rindu cinta, sebab sejak dilahirkan di dunia ini dia memang tidak berkesempatan menjumpai ibunya itu.
Tatkala melahirkan dia, Cing soat mengalami pendarahan sehingga menyebabkan jiwanya tak tertolong lagi.
Dengan sedih kakek itu berkata.
"Ya benar. Cing soat adalah ibu kandungmu, sebetulnya ayah tak mau namun akhirnya tak kuasa menahan desakan dari bocah perempuan yang bernama "anak Jin"
Itli akhirnya ayahpun mengabulkan.
Mula-mula ibumu masih saja menguasai setiap gerak gerikku dengan penuh curiga tapi sejak dia berbadan dua, apalagi setelah benihmu berada dalam rahimnya, semua pengawasannya makin mengendor ia bersungguh-sungguh hidup sebagai suami istri yang berbahagia dengan ayah, siapa tahu kebahagiaan ini tidak berlangsung lama, ditengah malam yang hening dia telah berpulang ke alam baka setelah melahirkan kau, aaai .
Membayangkan kembali kasih sayang serta semua kenangan manis disaat mereka masih hidup dengan bahagia, kakek itu tak mampu menahan rasa pedihnya lagi, air matanya berceceran dengan deras sementara wajahnya nampak lebih pedih dan murung.
Tiba-tiba ia berpekik dengan penuh emosi, semua perasaannya yang terkekang selama ini dilampiaskan keluar semua, dia seperti lupa kalau dia adalah seorang yang hampir mati.
Sampai akhirnya semua tenaganya terkuras dan hawa darahnya bergejolak amat keras, darah segar segera menyembur keluar dari mulutnya dengan suara terbata-bata katanya lagi.
"Anak Sia. inilah tugasmu yang ketiga... rahasia besar yang menyelimuti semua penghuni gua tersebut tak mungkin dapat ayah bongkar... hanya kau.. kau .. anak ayah yang tersayang, dalam darahmu mengalir darah warisan dari leluhur nan yang anggun, aku... aku akan melindungimu dari alam baka.
"berbuatlah kebajikan demi kepentingan umum, aku... aku tak kuat lagi! baik, baiklah kau jaga dirimu."
Ketika berbicara sampai disitu, kakek tersebut tak mampu lagi menahan diri, tiba-tiba ia berkelejetan sebentar lalu menghembuskan napas terakhir.
Titik air mata jatuh bercucuran membasahi wajah bocah itu, namun ia tak bersuara, hanya pancaran sinar matanya yang nampak diliputi kepedihan yang tak terkirakan.
"Ayah--semua tugasmu akan kulaksanakan hingga selesai---"
Gumamnya.
"aku berjanji akan menyelesaikannya--aku akan selain mengingat perkataanmu,"
Perasaan yang tebal bukan untuk diperlihatkan di wajah lihatlah, bukankah aku tak menangis? Meski aku menaruh perasaan yang jauh mendalam daripada isak tangis."
Suasana amat hening hanya angin yang berhembus sepoi-sepoi.
xxXxx MATAHARI bersinar cerah menerangi seluruh jagad apalagi di musim gugur yang berangin kencang, tampak daun-daun kering berguguran memenuhi tanah.
Seorang pemuda berbaju putih pelan-pelan berjalan menuruni bukit tengkorak.
Pemuda itu berusia enam-tujuh belas tahunan berwajah tampan dan bertubuh tegap.
sekalipun ia tidak termasuk seorang pemuda tampan namun alis matanya yang tebal lagi hitam cukup mendatangkan daya rangsangan yang besar bagi setiap gadis remaja yang menjumpainya karena dari situlah terpencar sifat kejantanannya.
Bahunya amat lebar dengan perawakan yang tegap namun wajahnya nampak agak putih, Hal ini menunjukkan bahwa dia sudah lama berdiam di suatu tempat yang sama sekali tak tertimpa cahaya matahari.
Ia turun gunung sambil membawa sebilah pedang mestika sepanjang empat depa di tangan kirinya dan setibanya di tepi jalan diapun duduk di atas batu dan memandang ke tempat kejauhan sana sambil bertopang dagu.
Dari pagi sampai siang, dari siang sampai senja...
Waktu berjalan terus bagaikan merangkak, kalau semula matahari muncul di ufuk timur, kini sang surya telan menyembunyikan diri di ujung langit barat.
Jilid 2 Sisa-sisa cahaya berwarna merah memancar diatas tubuh pemuda berbaju putih itu membuatnya kelihatan lebih gagah dan perkasa.
Tampaknya pemuda berbaju putih itu mulai tak sabar, matanya berulang kali dialihkan keujung jalan raya dikejauhan sana.
Kemudian menghela napas dan mencengkeram batu kecil serta ditimpuk ke kejauhan dengan gemas.
Memandang pasir dan tanah yang berserakan disekelilingnya, pemuda berbaju putih itu bergema lirih.
"Kesatu, mempersembahkan pedang mengangkat guru, kedua, merebut kembali pedang itu setelah selesai belajar silat, ketiga menyelidiki serta membongkar rahasia dilembah Nirmala..........."
Mendadak.......
Suara derap kaki kuda berkumandang datang dari ujung jalan sana, dengan kening berkerut pemuda berbaju putih itu melompat bangun serta memperhatikan dengan seksama.
Dalam sekilas pandangan saja kelihatan sekujur tubuhnya bergetar keras dan menunjukkan rasa tegang yang luar biasa, bisiknya kemudian dengan suara gemetar.
"Kau datang juga.......akhirnya kau datang juga. Ayah bilang kau adalah penentu nasibku selanjutnya......."
Dari kejauhan sana tampak seekor kuda putih pelan-pelan bergerak mendekat, penunggangnya adalah seorang lelaki yang berpakaian perlente dan bertubuh jangkung, ia menunggang seekor kuda kurus yang berwajah amat lesu sehingga kelihatan amat tak sedap dipandang.
orang itu menunggang kudanya sambil sesekali mengayunkan cambuknya, bibirnya yang terkatup rapat membentuk garis setengah lingkaran busur kearah bawah garis yang membuat kelihatan dingin, angkuh menyeramkan.
sementara sekulum senyuman sinis diujung bibirnya penuh dengan nada ejekan dan sikap muak.
setelah menenangkan hatinya pemuda berbaju putih itu memburu kedepan tanpa memperhatikan wajahnya ia segera memberi hormat seraya berseru.
"Tecu Kim Thi sia atas perintah dari ayahku datang memenuhi janji dan akan mengangkat kau sebagai guruku"
Mengingat bahwa orang berbaju perlente ini disebut jago paling tangguh didalam dunia persilatan, dan lagi berwatak sangat aneh.
sudah jelas dia memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang lain, karenanya dia tak berani berayal.
sambil berkata dengan sikap yang amat menaruh hormat dia persembahkan pedang mustika Jeng gwat kiam itu.
Penumpang kuda itu sama sekali tak bersuara, bahkan memandang sekejap kearahnyapun tidak dengan sesekali mengayunkan cambuknya ia biarkan kuda kurus itu melewati samping pemuda tersebut.
Cepat-cepat pemuda berbaju putih itu memburu kedepan lalu berseru kembali.
"Tecu Kim Thi sia atas perintah dari ayahku datang memenuhi guruku harap kau sambut pedang mustika Jeng gwat kiam ini."
Penunggang kuda berbaju perlente itu sama sekali tak menggubris, kuda kurusnya dibiarkan berjalan terus sehingga dalam waktu singkat telah meninggalkan Kim Thi sia jauh dibelakang.
Kim Thi sia menjadi tak senang hati pikirnya segera.
"sombong amat manusia berbaju perlente ini. Bukankah ia telah berjanji dengan ayah menyuruh aku mengangkatnya menjadi guru? masa setelah bertemu muka sama sekali tak menggubris? Hmmm memangnya cuma kau yang berilmu silat paling hebat didunia ini? dan aku cuma bisa belajar silat darinya?"
Dasar pemuda ini masih berdarah panas, setelah tertawa dingin ia segera membalikkan badan dan berlalu dari situ Tiba-tiba sorot matanya yang tertuju penunggang kuda itu menemukan sesuatu ia segera tertegun dan melongo.
Ternyata lengan kiri serta kaki kiri manusia berbaju perlente itu sudah kutung, ujung bajunya dibiarkan berkibar ketika tertembus angin, penemuan ini membuatnya segera berpikir.
"Aaaaah, tidak betul, orang ini jelas bukan manusia berbaju perlente yang dimaksudkan ayahku."
Kemudian setelah memperhatikan penunggang kuda itu sekali lagi, kembali dia berpikir lebih jauh.
"Ayah bilang orang itu masih muda, berwajah tampan dan mempunyai tahi lalat hitam diantara keningnya. sekarang kecuali tahi lalat diatas kening yang kutemukan, sama sekali tidak kujumpai ciri yang lain. Andaikata dia memang cacad tangan dan kaki mustahil ayah tidak akan memberitahukan persoalan itu kepadaku, toh ciri semacam ini mudah dikenali?"
Bocah itu mencoba untuk mengamati kembali orang itu, dilihatnya meski kuda tunggangannya berjalan stabil, namun orang itu justru tergoncang kian kemari seakan-akan setiap saat dapat jatuh terjerembat.
sebagai seorang bocah yang berhati polos, bajik serta bijaksana, tiba-tiba saja muncul perasaan iba dan kasihannya terhadap orang itu, segera pikirnya lagi.
"Yaa, orang ini cacad tangan serta kakinya, diapun nampak loyo dan tak bersemangat. sudah pasti dia adalah orang yang sedang dirundung kesedihan, biasanya watak manusia semacam ini paling jelek mangapa aku mesti menyalahkan dia karena ia tak mau memperdulikan aku....."
Semakin dipikir rasa simpatinyapun makin tebal, satu ingatan tiba-tiba melintas dibenaknya, cepat ia memburu kemuka tegurnya sambil tertawa.
"Sobat, apakah aku bisa membantu sesuatu untukmu?"
Namun ketika sorot matanya menyapu lewat diatas wajah orang itu, dia semakin terkesiap lagi, pikirnya.
"Aaaaah ternyata selain cacad tangan dan kaki, daun telinga serta matapun telah dipotong dan dicukil sebelah. Ehmm.......tak nyana kau masih mempunyai keberanian untuk hidup lebih lanjut andaikata aku........"
Dengan wajah bersemu merah dia segera berkata lagi penuh rasa simpatik.
"Sobat, aku tahu kau tidak leluasa dalam segala hal, apakah aku bisa membantu sesuatu bagimu?"
Setelah berulang kali jalan perginya dihadang manusia berbaju perlente itu segera melirik sekejap kearah bocah itu dengan pandangan tak senang hati.
sesudah tertegun sesaat, tibat-tiba Kim Thi sia berseru keras.
"Yaa, diatas keningmu jelas terdapat tahi lalat hitam, kau pasti adalah guruku. suhu mengapa kau tidak memperdulikan aku kau tahu aku mendapat perintah dari ayahku untuk datang memenuhi janji......."
Tapi ingatan lain segera melintas lewat didalam benaknya.
jangan-jangan ayah membohongiku?
kalau dilihat dari bentuk badan orang ini, boleh dibilang sekujur badannya telah dipenuhi dengan bekas luka, mengapa ayah justru melukiskan dia sebagai seorang pemuda yang paling tampan didunia ini?
mungkinkah ayah kuatir aku menjadi muak setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya sehingga tidak bersedia menjadi muridnya?"
Akhirnya dengan anggapan bahwa ayahnya takut dia muak setelah mengetahui keadaan sebenarnya dari manusia berbaju perlente itu sehingga membohongi dirinya diapun berkata.
"suhu, biarpun bentuk tubuhmu macam begini rupa namun tecu tidak berpikiran memandang rendahmu, tentang hal ini harap kau orang tua berlega hati."
Manusia yang berbaju perlente itu hanya memandang sekejap kearahnya dengan pandangan dingin, kemudian menceplak kudanya dan lewat dengan begitu saja.
Kim Thi sia menyaksikan bahwa dari balik mata tunggal manusia berbaju perlente itu sering kali memancar keluar sinar kebencian yang amat tebal, entah sedang memandang kearahnya atau termenung sambil memandang angkasa atau memandang pemandangan alar tertunduk sambil termenung.
sorot mata kebencian yang amat tebal itu selalu memancar keluar tanpa terasa.
Menyaksikan kesemuanya ini Kim Thi sia menjadi amat terperanjat, tanpa terasa pikirnya keheranan.
"Dia tentu sedang memikirkan musuh besarnya pem bunuh yang berhati keji dan tak berperasaan itu telah memotong tangan, kaki serta mencukil mata sebelahnya, tapi enggan membinasakan dirinya sendiri sehingga membiarkan dia terus menderita sepanjang hidup, perbuatan yang begini kejam dan buasnya ini tak heran kalau membuat dia tak bisa melupakannya baik siang maupun malam."
Manusia berbaju perlente itu memiliki raut muka tampan dan gagah, disaat sorot mata Kim Thi sia menyentuh diatas wajahnya itu, tiba-tiba satu ingatan melintas pula didalam benaknya.
"Andaikata ia tidak dicelakai oleh musuhnya sehingga anggota tubuhnya menjadi tak sempurna, sudah pasti dia termasuk seorang yang tampan dan menarik."
Manusia berbaju perlente itu mengenakan topi lebar berwarna hitam, ketika angin berhembus lewat dan menggoyangkan topinya yang lebar, ternyata lelaki itu tak mampu menahan diri terhadap hembusan tersebut, tubuhnya segera kelihatan gontoi seolah-olah mau terjatuh dari atas kudanya.
Tanpa terasa Kim Thi sia berkerut kening, pikirnya.
"Tampaknya orang ini lemah sekali sehingga ibaratnya tenaga untuk memotong ayampun tak dimiliki, bahkan terhadap hembusan anginpun dia tak tahan, bagaimana mungkin manusia semacam ini dapat menjagoi dunia persilatan serta merebut gelar jago pedang nomor wahid dikolong langit? Aaaai.........kebohongan ayah kali ini benar-benar kelewatan."
Jalanan yang mereka tempuh saat ini merupakan sebuah jalan kecil yang sempit lagi panjang, begitu sepi dan terpencilnya tempat itu sehingga walaupun mereka berdua telah menempuh perjalanan sekian waktu, belum nampak rombongan lain yang melalui tempat tersebut.
Manusia berbaju perlente itu tetap meneruskan perjalanannya dengan mulut membungkam, sedangkan Kim Thi sia mengikuti dibelakangnya dengan membisu.
sebab dia tak ingin melanggar pesan terakhir dari ayahnya.
Apalagi sebagai seorang pemuda yang polos dan tebal perasaannya.
Baginya lebih baik menyiksa diri ketimbang mengingkari pesan ayahnya.
semakin cepat manusia berbaju perlente itu melarikan dirinya, semakin cepat pula dia mengikuti dibelakang, namun dia selalu mempertahankan suatu selisih jarak tertentu.
Tak lama kemudian jalan saus kambing itu sudah mencapai pada ujungnya.
Dihadapannya sana terbentang tanah perbukitan yang berjajar-jajar menjulang keangkasa, ternyata jalan tersebut merupakan jalan buntu.
Manusia berbaju perlente itu segera mengerutkan dahi sambil duduk termangu.
Menggunakan kesempatan tersebut Kim Thi sia segera berkata.
"Suhu, sekalipun kau seorang tua enggan menerima ku sebagai murid pun tak ada gunanya sebab ayahku telah meninggal dunia dan bagaimana pun juga aku tetap akan mempertanggungjawabkan diri terhadap dia orang tua......"
Tiba-tiba pemuda itu merasa bahwa ucapannya kelewat memaksa, seakan-akan dia mengharuskan orang itu untuk menerimanya sebagai murid, tanpa terasa pipinya berubah menjadi merah padam.
Manusia berbaju perlente itu mendengus dingin, lalu setelah memperhatikannya sekejap dengan pandangan ketus, dia menggapai dengan tangan tunggalnya menyuruh bocah itu mendekat.
Dengan perasaan gembira Kim Thi sia memburu kehadapannya, lalu berkata.
"suhu, apakah kau telah bersedia? tecu berjanji akan berlatih diri dengan tekun dan bersungguh-sungguh ."
Paras muka manusia berbaju perlente itu berubah, tiba-tiba ia mengayunkan jari tangannya menyerang jalan darah sang seng hiat yang merupakan salah satu diantara dua belas buah jalan darah kematian ditubuh bocah tersebut.
Mimpipun Kim Thi sia tidak mengira kalau manusia berbaju perlente itu akan melancarkan serangan keji terhadapnya, menanti dia menyadari akan datangnya bahaya, keadaan sudah terlambat.
sejak kecil dia telah berdiam dibukit tengkorak bersama ayahnya sekalipun ayahnya belum pernah mewariskan ilmu silatnya secara resmi namun tidak sedikit yang pernah dilihat atau didengar olehnya selama ini.
Didalam keadaan kritis, sepamjang alis matanya segera berkenyit diiringi bentakan keras dia mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya itu untuk menumbuk dada orang itu keras-keras.
Didalam pemikirannya, biarpun ia mesti menjadi setan gentayangan, paling tidak harus beradu jiwa dulu dengan manusia berbaju perlente itu semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata tahu-tahu ujung jadi telunjuk dan tengah dari manusia berbaju perlente itu sudah menyentuh diatas jalan darah sang seng hiat dari pemuda tersebut.
Tapi anehnya, Kim Thia sia sama sekali tidak merasakan sesuatu malah sebaliknya manusia berbaju perlente itu segera merintih kesakitan, peluh sebesar kacang segera bercucuran membasahi wajahnya, dengan rasa sakit ia menarik kembali tangannya sementara air mukanya tahu-tahu sudah berubah menjadi gelap.
Dengan perasaan keheranan Kim Thi sia berpikir.
"Bukankah menurut ayah sang seng hiat merupakan salah satu diantara dua belas jalan darah kematian ditubuh manusia? jangan lagi ditotok orang, tersentuh pelan saja dapat mengakibatkan kematian, tapi mengapa orang ini tidak berhasil? ataukah dia sama sekali tidak memiliki sedikit tenagapun?"
Rasa kecewa segera muncul dan menyelimuti perasaan hatinya, dia berpikir kembali.
"Mengapa ayah harus membohong iku dan menyuruh aku mengangkat manusia semacam ini sebagai guru? Yaa, mengapa ayah tak mau mewariskan ilmu silatnya saja kepadaku sehingga tak perlu belajar dari orang lain? kini aku telah hidup sebatang kara, ditengah kehidupan bermasyarakat bagaimana mungkin aku bisa mengangkat nama serta menjayakan kembali nama keluarga?"
Berpikir rampai hal ini, dia menjadi amat pedih, tiba-tiba diambilnya sebutir batu besar lalu sambil berteriak keras menimpuknya sekuat tenaga kedepan.
Tiba-tiba saja dia merasa dirinya dibohongi, ditipu oleh manusia berbaju perlente itu sehingga dia mesti menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan sia-sia.
Dengan kening berkerut kencang, ditudingnya manusia berbaju perlente itu lalu empatnya.
"Hmmm, semula kukira kau adalah seorang manusia yang dingin, aneh dan luar biasa, sungguh tak kusangka kau tak lebih cuma gentong nasi yang sama sekali tak berguna, bukankah jalan darah kematianku telah kau totok? tapi nyatanya aku masih tetap hidup segar bugar didunia ini. Hmmm coba bayangkan saja, manusia macam beginipun pantas diberi gelar jago pedang nomor wahid dari kolong langit?"
Umpatan yang diucapkan secara terang-terangan dan tajam ini segera membuat air muka manusia berbaju perlente itu berubah menjadi dingin dan kaku, tampaknya dia merupakan seorang yang tinggi hati dan belum pernah dimaki orang sedemikian rupa.
setelah mendengus penuh amarah sekujur badannya gemetar keras lantaran mendongkol, tiba-tiba saja dia menjadi gontai sehingga akhirnya terjatuh dari atas pelana kudanya.
Debu dan pasir segera beterbangan memenuhi manusia berbaju perlente itu menggeletak diatas tanah tanpa berkutik, seluruh badannya segera diliputi oleh debu yang amat tebal.
sinar matahari senja yang membiaskan cahaya kemerah-merahan menyoroti wajahnya yang hijau membesi serta pucat tak berdarah itu, Menyaksikan keadaannya yang mengenaskan, semua rasa mendongkol yang semula mencekam perasaan Kim Thia sia seketika hilang lenyap tak berbekas, segera timbul rasa sesalnya dihati, apakah dia tega menyiksa seorang manusia cacad seperti itu?
setelah mengumpat kebiadaban sendiri dia baru membantu untuk membangunkan orang itu namun ketika tangannya menyentuh lengan tiba-tiba terasa olehnya lengan itu sangat lembek seperti kapas dan sedikitpun tak bertenaga, keadaan tersebut jauh berbeda dengan keadaan manusia biasa.
Tanpa terasa pemuda itu menundukkan kepala serta memeriksa dengan lebih seksama.
Apa yang kemudian melihat membuat hatinya bergidik, teriaknya segera.
"Aaaaah.......rupanya seluruh otot badannya telah dipotong orang, tak aneh kalau kau tak mampu menotok jalan darahku......"
Kemudian setelah mengamatinya dengan lebih seksama kembali gumamnya.
"Lengan dikutungi, kaki dipotong, mata dicukil, telinga dipapas dan otot badanpun dipotong, manusia macam apakah orang berhati sekeji ini.......?"
Perasaan simpatinya segera tumbuh sepuluh kali lipat lebih besar, sementara dia masih memikirkan masalah itu.
Tiba-tiba dilihatnya butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia tahu air mata itu bukan mengartikan suatu penderitaan atau kesakitan tapi didorong oleh rasa duka yang mendalam......
Lalu air mata tersebut melambangkan apa?
mengartikan apa?
Manusia berbaju perlente itu sama sekali tak bersuara, lagi-lagi dia menggerakkan tangannya sambil menotok jalan darah kematian ditubuh bocah itu.
Biapun kepalanya tidak berpaling matanya tidak berputar, namun jari tangannya yang mengarah jalan darah kematian didada Kim Thi sia yang berada dibelakangnya mengenai secara telak ketepatan serangannya betul-betul mengagumkan.
sayang sekali Kim Thi sia tidak merasakan akibat dari totokan itu, malahan dia bertanya.
"suhu, apakah kau merasa agak baikan?"
Menyusul pertanyaan yang penuh perhatian itu, manusia berbaju perlente itu mengenyitkan alis matanya rapat-rapat, kemudian mengalihkan sorot matanya keangkasa mengawasi awan putih yang bergumpal disitu tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.
Kim Thi sia segera berpkir dengan keheranan-"Aneh betul orang ini dia seperti mempunyai persoalan yang tiada habisnya dipikir."
Dalam pada itu si kuda putih yang kurus kering itu seakan-akan sudah berapa hari tidak makan, waktu itu binatang tersebut telah lari kesisi jalan dan melalap setiap rumput yang ditemuinya.
"suhu"
Tanya Kim Thi sia lagi.
"Apakah perutmu merasa lapar? bagaimana kalau kucarikan makanan untukmu?"
Manusia berbaju perlente itu tidak menjawab, keningnya yang semula putih halus, kini muncul beberapa kerutan yang mendalam karena kelewat banyak berpikir.
Untuk sesaat Kim Thia sia tak berani mengusiknya kedua belah pihak sama-sama terbungkam dalam seribu bahasa.
Begitulah mereka berduapun melewatkan malam yang sepi ditengah pegunungan yang terpencil.
Walaupun Kim Thia sia merasa amat lapar namun ia tak berani banyak berbicara wataknya yang keras hati membuat pemuda itu enggan menunjukkan setiap kelemahannya dihadapan orang lain, sebab manusia berbaju perlente itupun tidak memberi tanggapan apapun.
Diam-diam Kim Thia sia menelan air liur berulang kali, dia betul-betul merasa tak tahan lagi, baru saja hendak berbicara mendadak dilihatnya manusia berbaju perlente itu mengambil sebatang ranting kering lalu diderekkan berulang kali diatas tanah yang gembur.
Kim Thia sia amat keheranan menyaksikan tingkah laku orang itu, dengan perasaan keheranan dia maju mendekat.
Ternyata diatas tanah telah tertera beberapa huruf yang berbunyi demikian.
"Apakah kau ingin belajar ilmu silatku?"
Satu ingatan segera melintas didalam benak Kim Thia sia, cepat-cepat sahutnya.
"Benar, disatu pihak aku mesti melaksanakan pesan ayahku, dipihak lain akupun ingin mencari nama didalam dunia persilatan."
Manusia berbaju perlente itu segera mendengus, sesudah menghapus tulisan semula, kembali dia menulis.
"Percayakah kau bahwa aku memiliki ilmu silat?"
Kim Thia sia menjadi tertegun segera pikirnya.
"Ehmmm, pertanyaan ini memang tepat bila dilihat dari kemampuan dalam menotok jalan darah kematianku tadi, anak yang berumur tiga tahunpun tak akan percaya kalau kau berilmu, apalagi aku?"
Maka segera jawabnya.
"Percaya atau tidak tergantung pada dirimu, asal kau menganggap dirimu berilmu, maka akupun percaya dan sebaliknya begitu pula......."
Manusia berbaju perlente itu kembali menulis.
"Aku mengerti, dalam hati kecilmu, kau menaruh curiga pada kemampuanku. HHmmm, coba kalau peristiwa ini terjadi beberapa hari berselang kau tak nanti berani berkata begitu."
"Maksudmu pada berapa hari berselang kau masih memiliki ilmu silat dan sekarang sudah tidak memiliki lagi?"
Tanya Kim Thia sia keheranan. Kembali manusia berbaju perlente itu menulis.
"Andaikata kau tahu siapakah aku, tatkala bertemu denganku tadi mungkin kau tak akan berani berbicara apalagi bertingkah macam begitu......"
Membaca tulisan tersebut Kim Thia sia segera berkerut kening lalu terikanya keras.
"siapa sih kau ini? begitu hina kaupandang diriku begitu manusia macam apapun sama saja kenapa aku mesti merasa takut menghadapi sesama manusia? Hmm, mengingat kau sekarang sudah cacad tubuh dan lagi tidak memiliki sedikit tenagapun, aku bersedia mengalah, hanya kuharap kau jangan menulis lagi ucapan yang dapat membangkitkan rasa mendongkol dan marah bagiku."
Manusia berbaju perlente itu tercengang sejenak kemudian baru tulisnya lagi.
"Ehmmmm, kau keras kepala dan tinggi hati, mirip sekali dengan watakku dimasa muda dulu"
"soal itu mah bukan urusanku"
Kembali manusia berbaju perlente itu termenung sejenak. lalu menulis.
"Sebenarnya aku amat berniat untuk mati dan menyelesaikan hidupku yang penuh derita ini namun watakku justru membuatku tak ingin mati dengan begitu saja, aku memang keras kepala. sejak berumur dua puluh tahun aku sudah mengarungi seluruh kolong langit. oleh karena itu secara diam-diam aku pernah bersumpah, aku harus hidup sebagai seorang jago yang keras hati dan mati sebagai serta yang keras hati juga. Watakmu mirip sekali denganku. Hal ini membuatku terkenang kembali masa mudaku dulu."
"Persoalan itu sama sekali tak ada sangkut pautnya denganku, harap kau berbicara kembali kepokok persoalannya, yaitu soal perintah ayahku yang menyuruh aku belajar silat darimu"
Manusia berbaju perlente itu mendengus gusar.
Tiba-tiba ranting yang dipakai untuk menulis ditekan lebih dalam pada lapisan tanah lalu mengguratnya dengan penuh tenaga sudah jelas orang itu telah dicekam perasaan gusar yang meluap.
Ia menulis begini.
"selain kau ingin belajar silat dariku agaknya kau tidak menaruh perasaan apapun terhadapku? hmmm, kau memberi pelajaran atau tidak terserah kepadaku, apalagi nasibmu selanjutnya toh masih berada didalam cengkeramanku"
Sementara Kim Thia sia masih tertegun manusia berbaju perlente itu telah menghapus tulisan serta menulis kembali.
"Yaa, aku memang tak bisa menyalahkan kau, siapa suruh aku menerima murid dengan cara memaksa diri Aaaai......."
Tampaknya seluruh perasaan sedih dan dukanya telah dilampiaskan keluar melalui suara helaan napas tersebut. Kim Thi sia menjadi iba hati, segera ujarnya.
"Perasaan seseorang tak mungkin bisa dipaksakan, siapa melepaskan budi kepadaku, akupun akan turut membalas budi itu kepadanya, siapapun yang menanam dendam kepadaku akupun akan membunuh siapa. Kejadian semacam ini sudah umum dan lumrah, aku rasa kaupetak perlu terlalu memikirkannya dihati."
Dengan termangu-mangu manusia berbaju perlente itu berpikir berapa saat lamanya kemudian sepatah demi sepatah dia baru menulis kembali.
"Anak muda, selama berapa hati belakangan ini siang malam aku selalu berpikir dan berhasil menyelami apa arti kehidupan ini, sesungguhnya kehidupan manusia didunia ini hanya melulu soal mati atau hidup. Tapi bedanya justru dalam peralihan dari hidup kemati. orang dibebani oleh pelbagai masalah dendam dan sakit hati, padahal berapa sih besarnya seorang manusia dalam jagad ini dan berapa lama kehidupannya disini? seharusnya mereka jangan persoalkan tentang dendam dan sakit hati, tapi apa mau dikata soal "
Benci"
Justru paling susah dihilangkan, contohnya saja aku, gara-gara soal "benci"
Biarpun aku sudah mengalami penderitaan, siksaan dan kehidupan yang paling berat, sekalipun toh tak sudi mati dengan begitu saja........."
Dari balik mata tunggal simanusia berbaju perlente yang berwarna kelabu dan mulai memudar terpancar keluar sinar kebencian yang amat menggelidikkan hati.
"Diatas tubuhku telah tertera luka dari sepersembilan penderitaan yang tidak akan kuat dirasakan oleh sembilan orang biasa, namun aku tetap hidup terus, mengapa begitu? soal ini akan kusampaikan kepadamu disaat aku telah mengambil keputusan nanti. Aku tahu kau mencarikan belajar silat karena terdorong oleh perintah ayahmu, sekalipun orang-orang dalam persilatan saat ini semuanya berharap dapat memperoleh sebagian dari ilmuku atau bahkan berapa petuahku saja. Namun aku enggan berbuat demikian andaikata kau bukan muridku yang kesepuluh, jangan lagi belajar silat dariku. Untuk bersua muka dengankupun lebih sukar daripada mendaki bukit Thay san. Tapi aku paling menepati janji, setiap patah kata yang telah kuucapkan tak pernah akan kusesali kembali......."
Sorot mata tunggalnya pelan-pelan dialihkan ketengah udara, kemudian seperti baru saja mengambil sebuah keputusan yang maha berat, dia manggut-manggut pelan dan menulis kembali.
"setelah mempertimbangkan persoalan ini seharian penuh, akhirnya aku memilih sebuah jalan. Aku hendak bertaruh sekali lagi dengan diriku sendiri, mungkin aku bersedia berbuat demikian."
"Berbuat bagaimana?"
Tanya sang pemuda.
"Mewariskan segenap ilmuku kepadamu."
"Hal ini sudah merupakan kewajiban bagimu, bukankah barusan telah kau katakan bahwa sepanjang hidupmu, kau paling menepati janji?"
Manusia berbaju perlente itu manggut-manggut, tulisnya.
"Benar, tetapi hal seperti itu hanya mencakup sepersepuluh dari ilmu silat yang kumiliki dan sekarang aku telah memutuskan hendak mewariskan kesepuluh bagian ilmu silatku itu kepadamu kesepuluh bagian ilmu silat itu sudah mencakup seluruh kemampuan yang kumiliki, dapat atau tidak dikuasai terserah kepadamu sendiri, hanya aku ingin kau mengabulkan sebuah permintaanku"
Diam-diam Kim Thi sia berpikir.
"Berapa banyak sih kepandaian silat yang sebenarnya kaupahami? Masa hanya sepersepuluh kepandaian silatnya saja yang diwariskan kepala murid-muridnya, benar-benar kejadian ini merupakan suatu kejadian yang aneh......."
Berpikir demikian disitu, diapun bertanya.
"Coba kau katakan akan kupertimbangkan kembali permintaanmu itu........"
"Berilah sedikit perasaan kepadaku"
Kim Thi sia tertegun-"Perasaan bukanlah barang yang dapat diperdagangkan atau dapat diberikan kepada orang lain dengan begitu saja."
Seluruh kulit wajah manusia berbaju perlente itu mengejang keras, segera tulisnya.
"Bila permintaanku itu tak bisa kau kabulkan, terpaksa aku hanya akan mewariskan sepersepuluh bagian ilmu silatku saja kepadamu, karena apa yang pernah kujanjikan dengan ayahmu dulu hanya sepersepuluh bagian saja."
Dengan tidak senang hati Kim Thi sia berkata.
"Aku toh sudah bilang, perasaan itu tak bisa dipaksakan dengan begitu saja, apalagi macam benda yang diperdagangkan saja, hal ini tak mungkin terjadi jangan lagi baru sepersepuluh sekalipun kau cuma mewariskan seperdua puluh bagian dari ilmu silatmupun bukanjadi masalah, toh ada atau tidak bagiku tetap merupakan seorang manusia biasa belaka."
Manusia berbaju perlente itu berkerut kening, kemudian menulis.
"Anak muda kau berani memandang hina terhadap sepersepuluh bagian ilmu silat yang akan kuwariskan kepadamu itu? terus terang saja aku beritahukan, apabila kau bisa menguasai sepenuhnya maka kau akan menjadi seorang jagoan kelas wahid didalam dunia persilatan........."
Kim Thia sia segera tertawa dingin.
"Heeeehhh......heeeehhh.....heeeehhh....aku justru tak percaya kalau dikolong langit terdapat kejadian sehebat ini, kau kelewat takabur dan membual, tapi aku tak akan menyalahkan dirimu......."
Tiba-tiba pemuda itu merasa bahwa kata selanjutnya pasti akan menimbulkan perasaan sedihnya sehingga diapun menahan diri untuk tidak diutarakan keluar.
Mendadak terdengar manusia berbaju perlente itu berkaok-kaok dengan nada suara yang tidak jelas, samar-samar, kaku dan amat tak sedap didengar......
Kim Thi sia tersekat tiba-tiba ia seperti menyadari akan sesuatu rupanya lidah orang itupun telah dipotong orang sehingga membuatnya menjadi bisu.
suara gemuruh yang keras dari kerongkongan manusia berbaju perlente itu menunjukkan kalau dia merasa tersiksa dan menderita akibat sindiran anak muda tersebut.
selang beberapa saat kemudian dia baru menulis lagi dengan tangan gemetar.
"Kalau toh kau enggan mengabulkan yaa sudahlah selama beberapa hari mendatang aku tetap akan memenuhi janji dengan mewariskan sepersepuluh bagian ilmu silatku itu kepadamu, lalu aku akan terjun kejurang untuk mengakhiri hidupku."
Ketika segulung angin gunung berhembus lewat, air mata yang meleleh keluar dari mata manusia berbaju perlente itu segera jatuh berlinang.....
Penderitaan dan siksaan yang dialaminya begitu tragis, rasanya tiada orang kedua didunia ini yang bisa menandinginya.
Kim Thi sia masih polos dan berhati suci, tiba-tiba ia merasa sikapnya terlalu kejam apalagi terhadap manusia cacad semacam ini masakah dia harus berkeras kepala dengena menampik permohonannya .....?
Tampak orang itu menulis kembali.
"Hukuman yang dilimpahkan Thian kepadaku benar-benar kelewat batas sekalipun aku pernah melakukan kesalahan, toh tidak seharusnya melimpahkan hukuman yang begini keji dan tak berperi kemanusiaan kepadaku.
Thian benar-benar tidak adil...."
Semua tulisan itu tertera dalam-dalam diatas tanah yang kering.
Kim Thi sia justru dapat merasakan bahwa dibalik setiap huruf tersebut seakan-akan mengandung kisah penderitaan yang luar biasa, hal ini membuat rasa simpatik dan jiwa pendekarnya berkobar kembali....
segulung angin bukit kembali berhembus lewat.
Tiba-tiba topi lebar yang dikenakan manusia berbaju perlente itu terlepas dari kepalanya.
Ketika Kim Thi sia berpaling diapun menjerit tertahan.
"Rambutmu juga dipapas orang."
Entah darimanda datangnya gejolak hawa amarah pemuda itu merasakan darah yang mengalir didalam tubuhnya serasa mendidih dengan hebatnya, dia segera berteriak.
"Aku bersedia mengabulkan permintaanmu, aku akan memberi perasaan kepadamu bahkan akupun bersedia membalaskan dendam bagimu"
Manusia berbaju perlente itu memandang sekejap kearahnya, tahu-tahu air mukanya ikut berubah, berubah amat terharu setitik pengharapanpun melintas dibalik sorot matanya.
Dengan cepat dia menulis diatas tanah.
"Baik, kita tentukan dengan sepatah kata ini akan kuwariskan segenap ilmu silat yang kumiliki kepadamu. semoga kau berhasil menguasainya dengan sempurna. Nak. setelah melewati hari-hari yang penuh penderitaan, dikemudian hari kau pasti akan menjadi seorang lelaki yang paling tangguh didunia ini. Kau pasti akan menerima sebala kekaguman, pujian dan sanjungan tapi kaupun akan menerima perasaan iri dan dengki dari sementara orang, kau harus menggantikanku didalam dunia persilatan."
Kim Thi sia sudah merasa amat menusuk pandangan setelah membaca tulisan itu pikirnya mengapa orang ini selalu menonjolkan kata-kata yang mengandung arti menjagoi kolong langit?
dari sini dapat disimpulkan kalau dulunya pasti tinggi hati dan takabur.
Maka ujarnya kemudian dengan suara hambar.
"Aku tidak acuh terhadap nama maupun kedudukan yang terpenting bagiku adalah membalaskan dendam bagimu, aku belum pernah mendengar atau melihat sebelumnya bahwa didunia ini terdapat manusia yang begitu kejam dan tak berperi kemanusiaan seperti orang yang telah mencelakai dirimu itu."
Dengan cepat manusia berbaju perlente itu menulis.
"Sebelum kuwariskan kepandaian silatku, akan kututurkan lebih dulu asal usul, pengalaman serta tugas yang harus kau laksanakan dikemudian hari, kau merupakan jelmaanku, setiap persoalan yang membutuhkan penyelesaian boleh kau putuskan menurut perasaanmu sendiri setiap saat aku tentu akan memperhatikan hasil dari pekerjaanmu itu dari alam baka......."
Lalu setelah berhenti sejenak. kembali dia menulis.
"Kisah ini panjang sekali untuk diceritakan, kau harus mendengarkan dengan seksama, sebab bukan saja cerita ini akan membuat kau menjadi satu-satunya orang yang mengetahui rahasia besar dunia persilatan yang diidamkan setiap orang, lagi pula akan menambah pengetahuanmu......"
Ketika melihat Kim Thi sia memperhatikan tulisannya dengan penuh perhatian diapun tersenyum.
Walaupun hanya senyum yang hambar namun justru mengandung banyak perasaan yang bercampur aduk.
rasa bangga, rasa tenang dan rasa lega.
"Tiga puluh tahun berselang ditanah perbukitan Pak thian san diluar perbatasan tepatnya dibagian utara bukit Koa gan hong, terdapat sebuah tempat yang disebut Boan kok. Kalau dikatakan sebagai lembah maka sesungguhnya tempat itu merupakan sebuah tebing yang agak tinggi dan terletak agak tersembunyi."
"Tempat itu dilapisi oleh salju sepanjang tahun sehingga tiada tetumbuhan yang bisa hidup disitu, udaranya amat dingin dan amat menusuk tulang."
"Sebetulnya tempat semacam ini tak mungkin bisa didiami manusia, tapi apa mau dibilang orang yang berdatangan dari berbagai daerah justru makin lama semakin bertambah banyak disekitar tempat itu banyak didirikan perkembahan dan perkampungan kecil pada mulanya tiada orang yang tahu apa gerangan yang terjadi kemudian lambat laun orang dari daratan Tionggoan itu baru mendapat tahu dari mulut para rakyat sekitar sana bahwa disitu tumbuh semua dahan obat-obatan "Pek leng"
Yang tak ternilai dan tak terhingga harganya.
Konon nilainya mencapai berapa ratus tahil perak setiap batangnya padahal dilembah Boan Kok tersebut bahan obat-obatan itu bisa ditemukan disetiap tempat, tidak heran kalau banyak orang yang berbondong-bondong mendatangi lembah tersebut......."
Lembah Boan Kok yang sepi dan terpencil itupun lamban laun bertambah ramai, asap dapur muncul dimana-mana, rumah rumput didirikan disekitar sana, yang datang mencari rejeki disitu bukan cuma kaum muda dan lelakinya saja bahkan ada yang memboyong seluruh keluarganya.
Tak heran kalau dalam waktu singkat orang yang berdiam dilembah Boan Kok tersebut hampir melebihi jumlah penduduk sebuah kota besar didaratan Tionggoan......."
Manusia berbaju perlente itu berhenti sejenak sambil termenung, kemudian tulisnya lebih jauh.
"Berhubung orang yang datang mencari obat makin lama semakin banyak sedangkan obat yang dicari justru makin berkurang akhirnya timbullah hukum rimba disitu, siapa kuat dia menang, siapa lemah dia tertindas."
"Apalagi pek leng tidak mudah tumbuh, puluhan tahun lamanya baru akan tumbuh sebesar kecambah, tapi orang-orang itu tak ambil perduli kecambahpun mereka gali keakar-akarnya, seperti kuatir kalau tidak kebagian rejeki saja."
"Tak heran kalau setahun kemudian, jumlah Pek leng dilembah Boan Kok itu tersisa tak seberapa lagi...."
"Demi kesejahteraan hidup keluarga, maka muncullah sejumlah orang yang berani menyerempet bahaya dengan menembusi bukit yang lebih tinggi dengan harapan bisa memperoleh hasil yang luar biasa."
"Pada mulanya cara ini memang mendatangkan hasil tapi setelah cara itu ditiru pula oleh penduduk yang lain, maka yang datang menyerempet bahaypun bagaikan jamur hujan, makin lama semakin tambah ramai."
"sayangnya, Pek leng memang benda mustika yang langkah, tak selang berapa waktu kemudian kemiskinan dan kelaparanpun melanda orang-orang itu......."
"Entah dipelopori oleh siapa, tahu-tahu ada orang yang mengusulkan untuk menggali setiap jengkal tanah perbukitan itu, kasihan penduduk yang sudah kelaparan itu. Usul tadi membuat mereka jadi nekad dan mulai menggali lapisan salju itu secara sembrono."
"Sesungguhnya mereka tahu bahwa cara ini berbahaya sekali, karena suatu saat salju dapat longsor yang menyebabkan timbulnya musibah yang beasr, tapi demi kehidupan keluarganya, mereka harus tetap nekad dan mempertaruhkan selembar jiwanya."
"Makin digali makin banyak tempat yang menjadi keropos dan berliang, makin dibongkar makin luas tanah yang disingkirkan. Lama kelamaan bukit itu mulai terkikis dan tak dapat dipertahankan lagi."
"Longsor salju yang ditakuti setiap orang akhirnya terjadi juga, yang diiringi suara gemuruh yang amat memekikkan telinga, salju yang berton-ton beratnya itu mulai longsor dan mengubur setiap bangunan rumah dan setiap penduduk yang berada disitu, tak seorangpun diantara mereka yang berhasil lolos dari musibah tersebut. semuanya mati terkubur akibat dari ulah mereka sendiri? Tak lama setelah longsor salju tiba-tiba dari daerah sekitar lembah Boan kok muncul sesosok bayangan manusia yang berkelebat lewat bagaikan sambaran kilat. Kalau dilihat dari gerakan tubuhnya orang bisa mengira ada dewa yang baru turun dari khayangan-"
"Ia berhenti sejenak ditumpukan salju yang membukit sambil menghela napas panjang, lalu dilepaskannya sebuah pukulan yang membuat gumpalan salju memancar keempat penjuru."
"saat itulah dia mendengar ada suara rintihan berkumandang dari sekitar sana, ketika ia berpaling dilihatnya ada sepasang bocah laki dan perempuan sedang meronta disana, maka dengan suatu gerakkan yang luar biasa diapun menyambar tubuh kedua orang bocah itu serta dibawa menyingkir."
"Orang itu pasti seorang pendekar yang berilmu luar biasa"
Sela Kim Thi sia.
"Dia bukan cuma seorang pendekar yang berilmu luar biasa, tapi dialah dewa pedang yang pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan selama dua puluh tahun lamanya. sejak merasa muak dengan kehidupan keduniawian, diapun hidup mengasingkan diri dibukit Pak thian san untuk menghindarkan segala kemelut hidup dan kerisauan."
"Beruntung sekali nasib sepasang bocah lelaki dan perempuan ini, dikemudian hari mereka tentu menjadi tokoh yang luar biasa"
Kembali Kim Thi sia berkata. Manusia berbaju perlente itu mengerutkan dahi lalu menulis.
"Kau jangan menyela dengarkan dulu semua kisah ceritaku........"
"Dewa pedang Kiam sianseng yang dianjung dan dihormati setiap umat persilatan ini berusia antara empat puluh tahunan, berwajah kurus serta mempunyai sepasang alis mata yang tebal lagi hitam. Tampangnya yang angker ini sudah cukup untuk menggetarkan hati setiap umat persilatan yang menjumpainya."
"sejak ditolong oleh pendekar aneh ini sepasang bocah lelaki dan perempuan ini selalu mengikuti disamping Kiam sianseng, sebagai anak yang pintar, mereka tahu kalau Kiam sianseng adalah seorang manusia yang berwatak aneh. Karena itu mereka selalu berusaha menyesuaikan diri dengan kemauan dan jalan pemikirannya, tak heran kalau hal tersebut menimbulkan perasaan simpatik dari Kiam sianseng. Akhirnya setelah mempertimbangkan selama beberapa hari, diapun menyanggupi untuk menerima kedua orang bocah itu sebagai muridnya. Biarpun Kiam sianseng adalah seorang jago yang bertampang bengis dan keren, sesungguhnya dia adlah seorang yang berhati penuh welas kasih sebagai orang yang berpengalaman. Kiam sianseng dapat mengetahui kalau kedua orang muridnya ini memiliki watak yang kurang baik, yang lelaki berjiwa sempit dan gampang menraruh dendam, sebaliknya yang perempuan jalang dan genit, sekalipun dia mengerti bahwa watak tersebut sukar dirubah, namun dia tetap berusaha untuk merubah watak itu secara pelan-pelan dia berharap setelah kedua orang muridnya menanjak dewasa nanti semuanya ini dapat berubah."
"Sepuluh tahun lewat dengan cepat, Kiam sianseng telah menggunakan waktu selama ini untuk mewariskan ilmu pedang, ilmu pukulan serta ilmu meringankan tubuhnya kepada kedua orang muridnya."
"Sementara itu kedua orang muridnya juga makin menanjak dewasa, yang lelaki tumbuh menjadi tampan dan gagah sedang yang perempuan cantik jelita bak bidadari dari kahyangan-Atas pendidikan Kiam sianseng yang keras dan ketat, watak jelek merekapun turut terhapus banyak."
"Melihat kedua orang muridnya berhasil menguasai semua pelajaran yang diwariskan. Kaim sianseng merasa gembira sekali karena menganggap usahanya selama ini tidak sia-sia, saban malam diapun melewatkan hari-hari yang tenang dengan minum arak dan bernyanyi."
"Sementara itu sepasang muda mudi yang dibesarkan bersama, selain berlatih silat, kedua orang itupun melewatkan sisa waktunya untuk berpacaran dan saling melimpahkan rasa cintanya."
"Suatu ketika tatkala mereka berdua berbincang-bincang soal ilmu silat, tiba-tiba mereka cekcok karena suatu masalah yang tidak sepaham sehingga menimbulkan pertarungan sengit. Kedua belah pihak sama-sama tak mau mengalah dan masing-masing mengeluarkan segenap kepandaian yang dipunyainya untuk saling menggempur, pertarungan yang berlangsung waktu itu benar-benar mengerikan sekali."
"Padahal ilmu silat yang mereka miliki terhitung sangat hebat, lima ratus gebrakan sudah mereka bertarung tanpa brhasil diantara siapa yang menang dan siapa yang kalah. Namun mereka sama-sama tak mau mengalah serta menyudahi pertarungan itu. lambat laun pertarunganpun berkobar makin sengit."
"seribu gebrakan kemudian kedua orang itu sama-sama mulai lelah, jurus serangan mereka makin melamban dan tenaganya terkuras, namun kedua belah pihak sama-sama tak mau mengalah, mereka bertarung terus mati-matian."
"saat itulah suatu peristiwa yang tak diduga sebelumnya telah terjadi tiba-tiba lelaki itu berpekik nyaring sambil melancarkan sebuah tusukan pedang yang menciptakan berkuntumkuntum bunga pedang, menyusul serangan itu dilepaskan pula sebuah pukulan yang ketika sampai ditengah jalan tiba-tiba berubah melingkar seperti sebuah jalan yang mengurung lawannya, serangan ini sangat aneh dan hebat."
"sinona segera mendengus menyambut serangan ini dengan jurus yang sama, siapa tahu akibat dari bentrokan ini ia kena dipukul mundur oleh pemuda tersebut sampai terhuyung sejauh satu kaki lebih."
"Padahal tenaga dalam mereka miliki seimbang jadi sesungguhnya keberhasilan pemuda itu untuk memukul mundur sinona merupakan suatu kejadian yang aneh."
"setelah menderita kekalahan itu, sinonapun berdiri termangu-mangu disitu sambil termenung, ketika pemuda itu minta maaf kepadanya ia tidak menggubris seakan-akan ada sesuatu persoalan yang sedang dipikirkan olehnya...... Ketika bercerita sampai disitu terlintas perasaan menyesal diatas wajah manusia berbaju perlente itu, sambungnya kemudian.
"selang beberapa saat kemudian gadis itu baru berkata secara tiba-tiba."
"Mari kita pulang, jangan biarkan suhu menanti dengan gelisah."
"Pemuda itu mengira gadis itu sudah memaafkan kejadian itu dengan rasa gembira diapun mengucapkan kata-kata yang hangat dan mesra. tapi nona itu tetap membungkam, entah setan mendengar atau memang tidak mendengarnya sama sekali....."
"Semenjak peristiwa itu, merekapun melewatkan kembali hari-hari dengan tenang nona itu tak pernah lagi menyinggung peristiwa itu Hanya saja semenjak saat itu dia seperti dibebani dengan banyak masalah dan pikiran ada kalanya dia berdiri seorang diri dipuncak bukit sambil memandang langit sepintas lalu nampak seperti lagi menikmati keindahan alam, tapi matanya berkedip-kedip dan wajahnya berubah tidak menentu."
"suatu hari, pemuda itu mendapat perintah gurunya untuk turun gunung serta membeli barang kebutuhan sehari-hari sebelum berangkat pemuda itu menyaksikan diatas wajah gadis tersebut menampilkan suatu perubahan yang aneh. Perubahan aneh itu seperti mengandung suatu kebulatan tekad, hal ini membuat pemuda itu tercekat dan merasa tak tenang, setelah turun gunung hatinya menjadi tak tenang, dia tahu kejadian semacam ini merupakan suatu hal yang luar biasa."
"Dengan membawa perasaan was-was akhirnya pemuda itu pulang kegunung beberapa hari lebih cepat, sampai digunung dia segera menemukan suatu perubahan yang amat besar."
"Suhu yang dihari-hari biasa penuh dengan senyum, kini justru bersandar diatas dinding sambil bermuram durja dan duduk bertopang dagu, kejadian ini menimbulkan rasa curiga pemuda itu sehingga cepat-cepat menghampirinya, namun Kiam sianseng seprti tidak merasakan kehadirannya, sampai itu memanggil suhu Kiam sianseng baru sadar kembali, maka diapun berkata setelah mengawasi pemuda itu sekejap.
"Disini tak ada urusan, kau boleh pergi beristirahat."
"sikap yang aneh ini semakin mengejutkan dan mengherankan pemuda itu tapi ia tak berani bertanya, hanya dalam hatinya tercengang. Dihari biasa suhunya memiliki ketajaman pendengaran yang tinggi bunga atau daun yang jatuh pada jarak sepuluh kakipun tak bisa mengelabui pendengarannya mengapa hari ini ia seperti tak mendengar walaupun dirinya sudah sampai dihadapan mata? andaikata ada musuh yang datang, bukankah ia akan mati secara tragis?"
"Dengan perasaan curiga pemuda itupun memperhatikan adik seperguruannya ia jumpai gadis itu seperti orang yang kehilangan sukma. Namun dibalik itu wajahnya justru mencerminkan rasa puas, suatu sikap yang amat bertentangan, ketika pemuda itu mencoba bertanya gadis itu justru menjawab secara kasar. Pemuda itu jadi marah dan segera menegur, tapi sebagai jawaban nona itu mendengus serta melepaskan sebuah pukulan yang membuat pemuda itu tergetar mundur sejauh tiga, empat kaki lebih-"
"Pemuda itu terperanjat dengan cepat dia melepaskan pukulan balasan, siapa tahu gadis itu cukup menggoyangkan tangannya tahu-tahu serangan pemuda tersebut hilang lenyap dengan begitu saja tanpa menimbulkan akibat apapun, kejadian ini tentu saja amat mengejutkan hatinya, dia tak menyangka hanya dalam berapa hari saja ilmu silat adik seperguruannya telah mengalami kemajuan yang begitu pesat, ketika soal ini coba ditanyakan, nona itu justru berlalu sambil tertawa terkekeh-kekeh."
Pemuda itu menjadi kesal dan amat murung, dia tak mempersoalkan tentang ilmu silatnya yang ketinggalan, tapi tidak tahan terhadap sikap sinona yang dingin dan tak berperasaan itu, berapa hari kembali lewat.
Paras muka Kiam sianseng yang semula merah bercahaya kini berubah menjadi kuning kepucat-pucatan dan kelihatan amat layu, pikirannya tak senang seperti kena tenung saja.
sebaliknya sinona itu justru makin sering melanggar peraturan perguruan, malah dalam sebutanpun makin tak sopan, terhadap kesemuanya ini Kiam sianseng hanya menghela napas sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
Sebagai seorang pemuda yang cermat, anak muda itu segera menjumpai sorot mata penuh penderitaan dibalik mata gurunya, jelas orang tua itu memendam sesuatu rahasia.
Merasa telah berhutang budi kepada gurunya yang telah memlihara, membesarkan dan mendidik ilmu silatnya.
pemuda yang berbaju perlente itu segera bertekad untuk membantu Kiam sianseng untuk melepaskan diri dari penderitaan itu, walaupun sebagai resikonya badan bakal remuk.
"Tapi Kiam sianseng tetap membungkam diri dalam seribu bahasa akhirnya untuk mengetahui rahasia tersebut pemuda itupun bertanya kepada sumoaynya serta memohon penjelasan darinya. siapa tahu sumoaynya malah tertawa dingin sambil mengejek.
"Apa sih yang kau tanyakan? toh persoalan macam begitu bukan masalah besar yang perlu ditegangkan?"
Pemuda itu menjadi tertegun, dia merasa sikap maupun cara berbicara sumoaynya belakangan ini sama sekali berbeda, bahkan ketika berada disamping gurunyapun, ia sama sekali tidak menunjukkan sikap menghormat malah kata-katanya memojokkan orang dan nadanya memerintah.........
Ketika pemuda itu naik darah dan bermaksud menegur gadis itu, saat itulah tiba-tiba pemuda tersebut mendengar suara Kiam sianseng yang berbicara dengan ilmu menyampaikan suara.
"Nak. kau tak perlu bertanya kepadanya tengah malam nanti datanglah kedalam kamarku. Akan kuberitahukan segala sesuatunya kepadamu, tapi jangan sampai didengar oleh sumoaymu itu ingat baik-baik."
Selesai mengucapkan perkataan itu Kiam sianseng segera kembali kedalam kamarnya.
sedangkan pemuda itu melongo dan tak mampu berbicara tapi ia sadar urusannya sudah amat gawat, karena itu sambil menahan diri diapun kembali kekamarnya.
"Tengah malam itu diam-diam pemuda itu menyelinap kedalam kamar tidur Kiam sianseng. Dilihatnya ruangan itu gelap dan sama sekali tak bersuara tapi dengan kesempurnaan tenaga dalamnya biarpun berada dalam kegelapan pemuda itu masih dapat memperhatikan keadaan pada jarak lima kaki dengan jelas. setibanya didalam kamar, ia menjumpai Kiam sianseng duduk bersandar diatas dinding dan sorot matanya sedang mengawasi semua hiolo dengan termangu-mangu. Baru saja dia hendak menyapa, tiba-tiba didengarnya Kiam sianseng berbisik dengan menggunakan ilmu menyampaikan suaranya.
"Nak, jangan berisik, tutup pintu rapat-rapat lalu duduklah disampingku."
Pemuda itu menurut dan segera merapatkan pintu kamar sementara dalam hati kecilnya timbul perasaan keheranan dan kaget atas ketelitian dan keseriusan Kiam sianseng sebagai seorang tokoh yang menjagoi seluruh kolong langit, apa pula yang dia takuti?
sementara pemuda itu masih termenung, Kiam sianseng telah berbisik lagi dengan ilmu menyampaikan suaranya.
"Nak. kau tentu merasa heran apa sebabnya gurumu selalu bermuram durja? Aaaai susah rasanya kemulai dengan keterangan ini, tapi dengarlah baik-baik dan jangan bersuara, daripada perbuatan kita sampai kedengaran olehnya."
Kiam sianseng berkata lebih laniut setelah berhenti sejenak.
"Aku telah melakukan suatu kesalahan yang amat besar, dan kesalahan besar yang kulakukan ini membuat aku tak punya muka lagi untuk hidup lebih lanjut. Aaaai...."
Ketika pemuda itu mendengar perkataan dari Kiam sianseng diucapkan dengan nada yang amat sedih, tanpa terasa dia turut melelehkan air mata meski tak berani bersuara kuatir kedengaran sumoaynya, dia memaksakan diri untuk menelan air mata serta kepedihannya kedalam perut.
Mendengar sampai disini, dengan keheranan Kim Thi sia segera bertanya.
"Persoalan apa sih yang membuat tokoh sakti itu menjadi gelagapan serta tak tahu bagaimana mesti mengatasinya?"
Manusia berbaju perlente itu termenung sejenak. kemudian menggerakkan rantingnya lagi dan menulis lebih jauh.
"Rupanya disaat pemuda itu sedang turun gunung untuk melaksanakan perintah gurunya, diatas gunung tinggal Kiam sianseng serta sumoaynya berdua. Kiam sianseng yang suka akan ketenangan ketika itu sedang berada didalam kemar sambil membaca buku, memang inilah satusatunya hobi dan kegemaran tokoh sakti itu dalam sepuluh tahun terakhir......."
"Waktu itu, dikala Kiam sianseng sedang memikirkan suatu persoalan dengan penuh pesona, tiba-tiba dari luar pintu kedengaran suara orang merintih disusul suara ketukan pintu yang lemah."
Kiam sianseng segera mengenali rintihan itu berasal dari suara murid perempuan sebagai seorang guru yang menyayangi muridnya cepat-cepat dia bangkit berdiri serta membukakan pintu.
segera terlihat olehnya murid perempuannya itu masuk kedalam ruangan dengan sempoyongan lalu jatuh diatas pelukan gurunya.
Kiam sianseng segera membopong tubuh muridnya dengan seksama, dilihatnya gadis itu pucat pias, mandi peluh dingin dan napasnya tersengkal-sengkal.
Maka dengan kening berkerut diapun bertanya.
"Muridku, siapa yang telah melukai kau?"
Sementara dia masih tercengang dan dilanda penuh rasa kaget karena melihat murid perempuannya yang hebat terluka, gadis itu telah menjawab dengan perkataan terputus-putus .
"Bukan......bukan orang lain yang melukainya. Aku.....aku sendiri yang kurang berhati-hati dalam latihan, se.....sehingga peredaran darah mengalir terbalik dan menyumbat jantung ."
Belum habis perkataan itu diutarakan, orangnya sudah tak sadar dan tubuhnya lemas tak bertenaga.
sebagai seorang tokoh yang berkepandaian silat tinggi, Kiam sianseng segera menotok semua jalan darah penting ditubuhnya dan membopongnya keatas pembaringan sendiri.
Tapi persoalan lain segera muncul untuk menyembuhkan luka yang diderita nona itu, yang penting adalah tangan menempel tubuh secara langsung, padahal disitu cuma ada Kiam sianseng seorang, tapi antara lelaki dan wanita toh ada batas-batasnya.
Betul Kiam sianseng sudah dapat menjauhi kehidupan keduniawian, tapi dia toh tak mungkin menelanjangi gadis itu untuk mengobati lukanya, persoalan inilah yang membuat Kiam sianseng jadi kelabakan.
Apalagi setelah melihat murid kesayangannya makin melemah, wajahnya yang semula merah bercahaya kini berubah menjadi kuning, lalu dari kuning berubah menjadi hijau dan akhirnya dari hijau menjadi kelabu.
sudah jelas ini merupakan pertanda tersumbatnya dan aliran darah dan terancamnya jiwa gadis itu.
Tentu saja Kiam sianseng tak bisa membiarkan muridnya mati karena lukanya itu, tapi untuk menolong jiwanya terpaksa dia harus menelanjangi gadis itu, dua pilihan yang segera membuat Kiam sianseng bingung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Akhirnya diapun teringat untuk menggunakan ilmu menotok jarak jauh untuk menahan makin meluasnya penyakit itu menyerang kejantung, tapi kesulitan lain timbul.
Cara ini hanya bisa bermanfaat selama satu hari, apalagi selewatnya satu hari belum tentu jiwanya bisa dipertahankan sekalipun tersedia obat mujarab.
Kiam sianseng segera merasa cara ini mustahil bisa dilaksanakan, karena dalam waktu satu hari diapun belum tentu bisa menjumpai seorang perempuan berilmu tinggi yang bisa mengobati luka muridnya itu, dengan demikian harapan Kiam siansengpun menjadi buyar.
sementara dia masih ragu, murid perempuannya telah merintih makin menghebat, kesemuanya ini membuat Kiam sianseng makin bingung dan kelabakan dia baru menyesal mengapa tidak menerima murid perempuan lain sehingga dalam keadaan begini ada yang bisa mengatasi kesulitan tersebut.....
Tiba-tiba Kim Thi sia menyela.
"Kiam sianseng toh seorang pendekar besar, mengapa dia bimbang untuk menyelamatkan murid kesayangannya?"
Manusia berbaju perlente itu memandang sekejap kearahnya, kemudian menulis.
"Kau ini mengerti apa, gadis itu masih suci bersih dan belum ternoda bagaimana mungkin tubuhnya dapat dilihat orang lain sekalipun mereka adalah guru dan murid tapi bila ia menelanjangi gadis itu serta mengobati lukanya, maka setelah kejadian itu sang murid tak akan punya muka untuk kawin dengan orang lain selain dengan gurunya sendiri."
Kim Thi sia segera terbungkam dalam seribu bahasa tapi dihati kecilnya merasa terkejut bercampur keheranan atas peraturan tersebut sebagai seorang pemuda yang semenjak kecil hingga dewasa hidup terpencil ditengah gunung.
Tentu saja dia tak akan memahami aturan semacam itu.....
Manusia berbaju perlente itu kembali menulis.
"setelah menderita seharian penuh, napas gadis itu makin bertambah lemah dan lirih menjumpai keadaan demikian akhirnya Kiam sianseng mengambil keputusan, ia rela mengorbankan diri untuk menyelamatkan muridnya. Maka sambil memejamkan mata diapun mencopoti pakaian yang dikenakan muridnya satu persatu."
"Dengan menggunakan tenaga dalamnya yang sempurna Kiam sianseng segera menotok seluruh jalan darah muridnya serta mendobrak sumbatan pada peredaran darahnya. Untuk itu, Kiam sianseng harus berjuang sampai setengah harian lamanya hingga paras mukanya menjadi pucat pias, dari sini dapat diketahui betapa sulitnya untuk mengobati luka tersebut."
"Sepertanak nasi kemudian gadis itupun sadar, ketika menjumpai tubuhnya berada dalam keadaan bugil serta berbaring dihadapan Kiam sianseng yang sedang duduk bersemedi dia segera menangis tersedu-sedu. Walaupun Kiam sianseng telah berusaha untuk membujuk dan menghiburnya tapi isak tangisnya belum juga mereda......"
Jilid 3
"Tangisan gadis itu benar-benar mengharukan sekali, dalam waktu singkat Kiam sianseng dibuat kelabakan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan-"
Dalam keadaan beginilah tiba-tiba gadis itu menjatuhkan diri kedalam pelukan gurunya serta merangkulnya erat-erat sambil membenamkan wajahnya diatas dada Kiam sianseng lalu dengan sedih dia berkata.
"Suhu, tecu sudah tak punya muka untuk hidup terus didunia ini kecuali kau bersedia mengawiniku suhu, kecuali cara ini, rasanya tak mungkin ada cara penyelesaian lain yang lebih tepat."
Kiam sianseng meniadi amat terkeiut, segera dia berseru.
"Tidak mungkin, hal ini tidak mungkin terjadi, kau adalah muridku. Bagaimana mungkin seorang guru akan mengawini muridnya sendiri? orang lain bisa metertawakan kita."
Tapi gadis itu mendesak terus bahkan mengancam kalau Kiam sianseng tidak bersedia mengawininya maka dia akan menggorok leher sendiri untuk melindungi kesucian tubuhnya.
Sudah barang tentu Kiam sianseng tidak membiarkan muridnya berbuat demikian, pada saat itulah gadis itu mulai menciumi pipi gurunya, Kiam sianseng terkejut dan segera membuka matanya.
Begitu mata dibuka maka musibahpun tak terelakkan lagi, kendatipun Kiam sianseng mempunyai ilmu yang kuat, namun gadis itu benar-benar merupakan bidadari dari kahyangan yang berparas cantik dan tubuh sangat montok dan menggiurkan hati.
sebagai seorang yang pernah putus cinta dan hidup menyendiri ditengah gunung yang sepi, Kiam sianseng tak sanggup mengendalikan gejolak hawa napsu birahinya, dan apa yang diharapkan gadis itupun segera terjadi...
Ketika peristiwa itu telah berlangsung Kiam sianseng amat menyesal, dia tak menyangka latihannya selama puluhan tahun akhirnya berantakan karena tak mampu menahan godaan, sejak itu setiap hari dia bermuram durja dan merasa tak tenang, apalagi atas desakan murid perempuannya itu dia harus menyerahkan ilmu Tay yu sin kang yang merupakan kepandaian andalannya...
Ternyata apa yang telah terjadi merupakan rangkaian siasat sigadis itu semenjak dia menderita kekalahan ditangan suhengnya tempo hari, rupanya hal itu selalu mengganjel didalam hatinya, dia mengira Kiam sianseng pilih kasih dan lebih banyak mewariskan ilmu sakti kepada suhengnya ketimbang dirinya karena itu diapun mempergunakan kecantikan wajahnya untuk menjebak Kiam sianseng kemudian memaksanya untuk mewariskan ilmu Tay yu sinkang kepadanya.
Tatkala Kiam sianseng menyadari akan hal ini, nasi sudah menjadi bubur dan keadaan tak mungkin bisa dirubah lagi, karena itu dia hanya bisa menyesali diri sendiri...
sang murid yang berhasil memperoleh ilmu Tay yu sinkang dengan akal ternyata tidak menjadi puas karena keberhasilannya itu.
sebagai seorang perempuan yang berwatak jelek.
dia memang setiap waktu berkeinginan mewakili kedudukan Kiam sianseng dalam dunia persilatan bahkan selalu berupaya agar Kiam sianseng menuruti semua perkataan dan permintaannya .
sebaliknya Kiam sianseng sendiri menjadi putus asa sejak melakukan kesalahan besar waktu itu, dalam sedih dan menderitanya diapun menjadi acuh tak acuh terhadap sikap kurang ajar muridnya itu.......
setelah mengatur napas sejenak.
manusia berbaju perlente itu menulis lebih jauh.
"sesungguhnya Kiam sianseng merupakan seorang manusia yang berwajah dingin tapi berperasaan hangat, dia kuatir murid perempuannya setelah mempelajari Tay yu sinkang akan mencelakakan umat persilatan dengan kepandaiannya itu, maka secara diam-diam diapun mewariskan ilmu Tay goan sinkangnya kepada sang murid lelaki dengan pesan untuk mengawasi gerak gerik seperguruannya itu. Apabila suatu ketika adik seperguruannya menunjukkan gejala hendak melanggar rel kebenaran maka dia diwajibkan untuk menandingi ilmu Tay yu sinkang tersebut dengan ilmu Tay goan sinkang."
"Ketika Kiam sianseng selesai mewariskan Tay goan sinkang dan mendapat tahu kalau murid lelakinya telah menguasai penuh kepandaian tersebut, ditengah suatu malam yang gelap diapun pergi dari situ.
Menunggu kedua orang muridnya menyadari hal ini, Kiam sianseng yang termasyhur selama dua puluh tahunan didalam dunia persilatan itu sudah pergi entah kemana........."
Semenjak kepergian Kiam sianseng sepasang kakak beradik satu perguruan inipun makin tidak cocok.
akhirnya mereka berpisah untuk turun gunung bersama.
Tak selang berapa waktu kemudian, dalam dunia persilatan mulai dihebohkan dengan munculnya seorang perempuan siluman yang berwajah amat cantik dan berilmu silat amat hebat, secara beruntun perempuan itu brhasil membinasakan puluhan orang jago lihay.
Ketika sang murid lelaki mendapat kabar itu dia segera tahu kalau peristiwa itu hasil perbuatan adik seperguruannya, serta merta dilakukan pencarian hampir satu bulan lamanya, terakhir dipuncak bukit Go bie san ia berhasil menemukan adik seperguruannya itu.
Waktu itu sang adik seperguruan belum tahu kalau kakak seperguruannya telah mempelajari ilmu Tay goan sinkang yang merupakan tandingan dari ilmu Tay yu sinkang melihat posisinya didesak terus, bukan saja dia enggan menerima nasehat, sebaliknya malahan menyerang dengan mengandalkan ilmu Tay yu sinkang tersebut.
"sesuai dengan pesan gurunya, sang murid lelaki itupun menghadapi ancaman dengan ilmu Tay goan sinkang, baru dua gebrakan sang adik seperguruan telah melarikan diri dengan membawa luka......sejak itu dunia pers ilatanpun tak pernah lagi mendengar kabar beritanya........"
Sang murid lelaki itupun mengembara dalam dunia persilatan seorang diri, tetapi dengan wataknya yang aneh dia sering merasa tak leluasa melihat suatu kejadian hingga selalu turut campur lama kelamaan dia sendiripun tak dapat mengendalikan semua nasehat Kiam sianseng dianggap angin berlalu peristiwa demi peristiwa berlangsung terus tanpa bisa dicegah lagi.
"Dengan kepandaian silatnya yang tinggi dan lagi memiliki Tay goan sinkang, ibarat harimau tumbuh sayap dalam satu tahun saja tak seorangpun bisa menandingi kemampuannya, maka kejayaan Kiam siansengpun terwakil kembali, semua orang menyebutnya sebagai malaikat pedang berbaju perlente karena orang itu gemar berdandan perlente."
Tiba-tiba Kim Thi sia melompat bangun, lalu sambil menuding manusia berbaju perlente itu serunya.
"orang itu adalah kau, sang murid lelaki adalah kau bukan? Yaa, pasti kau........"
Manusia berbaju perlente itu termenung sejenak. lalu menulis lebih jauh.
"Nama besar Malaikat pedang berbaju perlente segera menjadi lambang "Kematian"
Bagi kalangan hitam dan rimba hijau dan menjadi lambang "Kengerian"
Bagi golongan putih dan lurus sebab tinda tanduknya aneh dan tak menentu, selalu berbuat menurut perasaan sendiri Hingga orang menggolongkan dirinya sebagai manusia diantara lurus dan sesat....."
"suatu waktu dia berhasrat akan menerima murid, ketika berita itu tersiar maka dunia persilatanpun menjadi gempar, banyka putra putri raja muda dan hartawan kaya berbondongbondong datang melamar bahkan bersedia membayar tinggi."
"Tapi malaikat pedang berbaju perlente memandang harta kekayaan bagaikan sampah. Belum lagi orang-orang itu masuk kepintu, kebanyakan telah diusir pergi, tapi yang datang melamar justru makin meningkat sehingga hal ini mendatangkan perasaan muak."
Dalam keadaan inilah tiba-tiba muncul sebuah pikiran aneh dibenaknya, dia ingin menerima murid secara paksa dan ingin menonton betapa canggung dan lucunya orang-orang itu sewaktu belajar silat, karenanya diapun kembali berkelana.
"Suatu hari, disaat dia sedang berpesiar ditelaga see ou dikota Hangciu, dia telah bertemu dengan seorang gadis yang amat cantik, dengan cepat gadis itu mendapat tahu kalau manusia berbaju perlente yang sedang memandangnya sambil tersenyum-senyum tak lain adalah Malaikat pedang berbaju perlente yang termashur namanya itu, ia nampak tertegun lalu cemberut dan berlalu dengan wajah dingin."
Padahal semenjak termashur malaikat pedang berbaju perlente yang muda dan tampan itu sudah banyak menarik perhatian kaum wanita tapi selama ini tak seorangpun yang penuju dihati entah mengapa sejak bertemu dengan gadis itu timbul suatu perasaan yang aneh dalam hatinya, maka ketika gadis itu pergi diapun segera membuntutinya.
"sinona cantik berbaju hijau itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna tapi dibandingkan simalaikat pedang berbaju perlente justru ketinggalan jauh sekali, makin cepat dia berlalu makin cepat pula malaikat pedang mengikutinya."
Sepertanak nasi kemudian dia berpaling dengan wajah tersipu-sipu tapi ketika melihat malaikat pedang berbaju perlente masih mengikuti terus, dalam gelisahnya dia segera memakinya sebagai hidung bangor.
Tapi si malaikat pedang berbaju perlente bukannya marah malah menyahut sambil tertawa.
"Nona, kalau toh kau menganggapku sebagai hidung bangor, baiklah kali ini aku berperan sebagai hidung bangor, toh bagaimanapun juga aku telah kau maki."
Sinona berbaju hijau itu menjadi merah dadu selembar wajahnya, setelah mendengus dia berlarian lagi meninggalkan tempat itu dengan kecepatan lebih tiggi.....
Ketika berbicara sampai disitu, paras muka manusia berbaju perlente itu kelihatan agak berseri, seakan-akan dia membayang kembali kejadian manis saat itu.
Berapa saat kemudian, ia baru berkata lebih lanjut.
"Sambil tertawa ringan, malaikat berbaju perlente itu membuntuti terus dibelakangnya, lama kelamaan nona berbaju hijau itu menjadi sangat mendongkol sehingga hampir saja mau menangis."
Tiba-tiba ia membalikkan badan lalu sambil bertolak pinggang bentaknya keras.
"Dulu, nona mengira malaikat pedang berbaju perlente adalah seoang manusia luar biasa. Hmm lebih baik cuma mendengar namanya daripada bertemu dengan orangnya ternyata kau tidak lebih hanya seorang manusia hidung bangor yang tak tahu malu"
Mendengar perkataan ini malaikat pedang berbaju perlente segera menjawab sambil tertawa.
"Tapi, akupun mengira nona adalah seorang perempuan berkeras hati yang tak takut urusan dan gangguan kaum lelaki iseng oleh sebab itu aku segera menampakkan diri tak tahunya kau tak lebih hanya seorang perempuan pengecut yang berhati sekecil tikus."
"Jalanan ini toh milik negara, kau boleh memakainya, masa aku tak boleh memakainya pula? atas dasar apa kau melarangku melewati jalan ini?"
Nona berbaju hijau itu menjadi tertegun, lalu dengan pipi yang bersemu merah karena jengah ia menjawab.
"Hmm, mengapa kau mengikutiku terus menerus? biasanya manusia begini delapan puluh persen pasti manusia tidak genah."
"Wah kalau begitu aku masih punya kesempatan sebesar dua puluh persen untuk menjadi orang baik?"
Kata simalaikat pedang berbaju perlente kemudian seraya tertawa.
Nona berbaju hijau itu tidak apa-apa lagi dengan wajah tak senang hati dia segera berlalu dari situ.....
Dasar memang sudah jodoh setelah terjadinya pertemuan yang tak terduga itu, akhirnya dia menjadi istriku, ia memang lemah lembut dan amat setia dalam tahun-tahun berikut ia telah memberi tiga orang putri untukku.
Kehidupanku waktu itu bagaikan didalam sorga saja, ketika bicara sampai disini sorot matanya yang semula penuh pancaran sinar kebahagiaan itu tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan.
Ranting yang dipergunakan untuk menulispun ditekan keraskeras sehingga pasirpun beterbangan "Dikalau aku mendapat tahu kalau ayahnya telah tewas ditangan sekawan manusia menganggap dirinya sebagai perlente kaum lurus, aku menjadi marah sekali.
seluruh cinta kasih yang ia berikan kepadaku merubahnya menjadi sesuatu kekuatan untuk membalaskan dendam baginya, ia berusaha untuk membujukku agar menyudahi saja persoalan ini dengan begitu saja.
Tapi aku tak dapat menerimanya dengan begitu saja, maka kucari semua musuh besar yang pernah membunuh ayahnya, kemudian menghina mereka habis-habisan."
"Untung saja istriku memang berhati mulia, dia telah menganjurkan kepadaku agar mau mengampuni mereka patut diampuni. coba kalau tidak begitu, niscaya mereka telah kubereskan semua."
"Kawanan manusia itu hampir semuanya merupakan jago-jago kawakan dimasa itu namun setelah bertemu denganku, justru menjadi ketakutan setengah mati.
Dibawah desakanku, akhirnya merekapun harus mempersembahkan putra kesayangannya masing-masing untuk mengangkatku sebagai gurunya."
"Cara ku menerima murid dengan sistim paksaan ini boleh dibilang belum pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia.
Tak heran kalau berita itu begitu tersiar, semua orangpun melukiskan diriku sebagai seorang manusia yang dingin, sadis dan berwatak aneh.
Padahal meski watakku aneh, sifatku tak jauh berbeda dengan manusia lain pada umumnya."
Sinar mata kebencian mendorong semakin tebal dari balik mata manusia berbaju perlente itu, terusnya kemudian-"Adapun kesembilan orang itu adalah say Pak It siu (kakek sakti dari luar perbatasan), Pek Peh sin Kun (pukulan sakti seratus langkah), siJin cinjiu, Raja laba-laba, sin Heng ci, Ku Tiok tojiu, telapak tangan sakti dari Tiong Lam san, tiang le bagian hukuman dari Tay Kek Bun yang bernama Ih Ceng Yong serta iblis beracun mencabut nyawa.
Putra-putra mereka telah kupaksa menjadi murid-muridku setiap orang hanya berhak mempelajari sepersepuluh dari kepandaianku bahkan dengan sesumbar akupun berkata waktu itu.
Apabila suatu ketika mereka sudah yakin dapat mengalahkan diriku, mereka kupersilahkan untuk turun tangan setiap waktu."
"Menurut urutannya adalah Kim kim (pedang emas) Gin Kiam (Pedang perak) Tong Kiam (Pedang tembaga) Thi Kiam (Pedang baja) Bok Kiam (Pedang kayu) sul Kiam (Pedang air) Hwee Kiam (Pedang api) Toh Kiam (Pedang bumi) seng Kiam (Pedang bintang) setiap orang cuma dapat sepersepuluh bagian ilmu silatku saja hmm bukan aku sengaja mencemooh mereka, tapi dengan rasul pedang sebagai gurunya, tidak sulit bagi kesembilan orang itu untuk mendapatkan sedikit nama besar dalam dunia persilatan"
"Bagaimana ceritanya dengan ayahku?"
Tanya Kim Thi sia penuh curiga.
"Apa sebabnya diapun kau paksa........."
"Ayahmu tak tahu diri dan memaksaku untuk beradu kepandaian, sebelum bertarung masingmasing orang mengajukan syarat, bila aku yang kalah, maka batok kepalaku akan segera kupersembahkan, sebaliknya jika dia yang kalah maka selain pedang mustika Leng Gwat Kiam itu harus diserahkan padaku kaupun diwajibkan belajar silat dariku, tentunya sarat itu tidak terlalu merugikan bukan?"
Sebagai putranya, Kim Thi sia merasa lemas juga ketika mengingat ayahnya kehilangan muka, katanya kemudian agak tergagap.
"Akhirnya ayahku kalah?"
Manusia berbaju perlente itu mengangguk tulisnya.
"Walaupun kepandaian silatnya cukup tangguh, namun dia toh tak mampu bertahan sebanyak sepuluh gebrakan ditanganku."
"Tutup mulutmu"
Bentak Kim Thi sia tiba-tiba dengan kening berkerut.
Manusia berbaju perlente itu tertegun, tapi setelah menyaksikan raut wajahnya yang diliputi marah, dengan cepat dia memahami jalan pikiran pemuda itu, dengan kening berkerut segera tulisnya.
"Kau tak usah emosi karena memang demikianlah kenyataannya. Aku sama sekali tidak bermaksud menyombongkan diri"
Kemudian setelah berhenti sebentar, dia menulis lebih jauh.
"setelah memperoleh warisan sepersepuluh bagian ilmu silatku, kesembilan muridku itu menjadi lupa daratan, suatu ketika sewaktu aku pulang dari bepergian jauh. Kujumpai musibah besar telah menimpa keluargaku, bukan saja anak istriku terbunuh, bahkan mereka diperkosa secara bergilir oleh kawanan manusia yang lebih rendah dari binatang itu, bagaikan disambar guntur ditengah siang hari bolong aku jadi tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun......."
Sampai disitu, tangan manusia berbaju perlente itu nampak gemetar keras sehingga tulisannya menjadi miring tak karuan-Andaikata tidak diperhatikan dengan seksama, rasanya untuk mengenali tulisan itu..........
"Anakku tersayang, istriku tercinta terkapar ditengah ruangan bermandikan darah. Aku menjadi marah kalap, akhirnya setelah berteriak-teriak bagaikan orang gila, akupun roboh tak sadarkan diri......"
"Tatkala aku sadar kembali, kujumpai ilmu silatku telah musnah. Kesembilan jahanam yang terkutuk itu telah meninggalkan pelbagai macam luka cacad yang mengerikan ditubuhku. Mereka mengelilingi dan mencemooh aku, tapi tidak berusaha untuk menghabisi nyawaku. saat itu aku telah merasakan siksaan dan penderitaan yang paling keji didunia ini, aku tidak merintih waktu itu aku baru sadar bahwa pembalasan yang harus kuterima akibat kesalahan yang telah kuperbuat ternyata begitu kejam dan tak berperasaan-....kutatap mereka dengan pandangan penuh kebencian, tapi mereka selalu menghindar dan tak berani saling beradu pandang denganku, kobaran rasa benci dan dendam seketika menyelimuti seluruh benakku."
Dengan penuh emosi manusia berbaju perlente itu menghapus tulisannya dari atas tanah, kemudian ia tulis lebih jauh.
"Akhirnya mereka naikkan aku keatas seekor kuda kurus dan membiarkan kuda kurus itu membawaku berkelana kesuatu tempat yang jauh, aku memahami tujuan mereka. Kawanan biadab itu menginginkan agar semua orang didunia ini dapat menyaksikan keadaanku yang mengenaskan ini, perbuatan mereka benar-benar amat keji......kelewat keji..."
"Muridku, sebenarnya aku sudah merasa putus asa dan amat kecewa, tapi aku tak dapat melupakan dendam sedalam lautan ini. Aku memang salah dan tidak menyesal untuk mati. Tapi apa salahnya dengan anak istriku? mengapa mereka harus diperkosa dulu sebelum dibunuh......"
Tetesan darah segar jatuh bercucuran membasahi wajahnya yang sendu mendadak tulisannya kembali.
"Muridku, aku tak perduli apakah kau membenciku karena aku telah membuat malu ayahmu tapi kau harus membalaskan dendam bagi sakit hatiku ini segenap ilmu silatku akan kuwariskan kepadamu dan disaat kau tak tega untuk turun tangan, nyanyikanlah lagu ciptaanku ini. Kusebut lagu itu sebagai nyanyian sembilan dendam kesumat. setiap kali kau bawakan lagu itu, dalam benakmu pasti akan muncul bayangan kekejian dan kebuasan dari kesembilan manusia biadap itu, perhatikan baik-baik syairnya."
Dendam sakit hatiku jauh melebihi samudra.
Haruskah aku mati dalam keadaan begini?
Biar badan hancur, biar tubuh remuk.
akan kucuci semua sakit takit ini.....
Lidahku dipotong Mataku dicukil, Rambutku dipapas, Tulangku dikunci, Telingaku diiris, ototku dicabut, Lenganku dikutungi dan kakiki dipotong......
Rasa dendam merasuk tulang.
Aku merasa pedih, aku merasa sedih.
Dendam kusumat ini harus dituntut balas.
Dengan perasaan yang amat berat Kim Thi sia manggut-manggut katanya.
"Baik, aku bersumpah akan mengabulkanmu itu."
"Didalam hati kecilnya, dia merasa amat marah atas kekejaman dan kebengisan kesembilan orang "
Kakek seperguruannya"
Itu, sekalipun manusia berbaju perlente itu pernah melakukan kesalahan besar, toh cukup dia seorang yang pantas menerima hukuman, apa dosanya anak dan istirnya?"
"Mengapa mereka harus diperkosa dulu sebelum dibunuh?"
Manusia berbaju perlente itu kembali menulis.
"Dalam kehidupanku kini hanya ada dua keinginan yang ingin dapat terpenuhi, kesatu aku ingin tahu kemana kaburnya adik seperguruanku itu aku takut setelah sembuh dari lukanya dia akan melakukan keonaran lagi didalam dunia persilatan, kedua membalaskan dendam sakit hatiku bila kedua hal ini bisa terpenuhi biar matipun aku akan tersenyum didalam baka."
Dengan semangat berkobar-kobar Kim Thi sia segera berkata.
"Asal kau bersedia mempercayai aku, biarpun harus terjun kedalam lautan api aku tak akan menampik."
Pancaran sinar mata yang mencorong keluar dari balik matanya mencerminkan kobaran semangat yang tinggi.
Dengan tangan tunggalnya, manusia berbaju perlente itu menggenggam tangan Kim Thi sia erat-erat, selang berapa saat kemudian ia baru menulis lagi.
"Kau sebagai muridku yang kesepuluh, benar-benar memiliki kelebihan daripada orang lain-Moga-moga saja kau dapat teringat selalu dengan lagu.
"Sembilan dendam kusumat"
Serta mencuci bersih sakit hatiku ini."
Senja telah menjelang tiba, angin gunung yang berhembus kencang terasa membawa suasana yang penuh semangat.
Kim Thi sia melepaskan kancing bajunya dan membiarkan dadanya yang bidang dan berotot itu dihembus angin gunung.
Dia menarik napas panjang-panjang lalu berkata.
"Suhu, jadi kau tidak menghendaki pedang mustika Leng Gwat Kiam ini lagi?"
Manusia berbaju perlente itu menggelengkan kepalanya dan menulis.
"Coba kau perhatikan keadaanku ini, mungkinkah bagiku untuk bertarung lagi dengan orang lain? Leng Gwat Kiam sebagai pedang mustika milik keluarga Kim kalian, sudah sepantasnya kalau disimpan pula oleh keturuunan keluarga Kim."
Kim Thi sia menjadi sangat gembira, segera serunya.
"Ya, memang paling baik begitu, sebab terus terang saja suhu, seandainya pedang Leng Gwat Kiam itu sampai kau ambil. Maka disaat aku telah berhasil menguasai ilmu silat nanti, pedang tersebut akan kusebut kembali dari tanganmu."
Berubah hebat paras muka manusia berbaju perlente itu setelah mendengar ucapan tersebut pikirnya kemudian.
"Kesalahan apakah yang telah aku lakukan? mengapa setiap orang murid yang kuterima selalu berniat mengerjai diriku?"
Namun ketika dilihatnya Kim Thi sia berwajah gagah, jujur dan polos sedikitpun tidak menunjukkan sifat licik, keji atau sesat, hatinyapun segera menjadi tenang kembali, tulisnya kemudian.
"Muridku, apakah kau merasa lapar?"
Kim Thi sia tertegun, ia merasa gurunya amat memperhatikan sebuah kerlingan penuh rasa terima kasih kepadanya.
Pelan-pelan manusia berbaju perlente itu mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dari sakunya, kemudian menulis.
"Botol ini berisikan obat anti lapar, bila kau merasa kelaparan telanlah dua butir maka semua rasa laparmu akan hilang."
Dari gerak gerik serta tingkah laku Kim Thi sia, ia tahu pemuda itu polos, berpikiran sederhana dan tak mirip orang yang pantas menggunakan akal muslihat oleh sebab itu kendatipun dia menghadiahkan pil mustika yang dapat menambah tenaga murni seseorang ini kepadanya namun sama sekali tidak dijelaskan kalau obat tersebut.
sesungguhnya adalah buah Lian som ki yang berusia ratusan tahun dan merupakan benda langka dalam dunia saat itu.
Kim Thi sia dan segera menelan dua butir dalam waktu singkat dia merasakan seluruh mulut dan tenggorokannya terasa harum semerbak.
begitu kena ludah, pil tersebut segera mencair dan mengalir masuk kedalam perutnya.
Yang aneh rasa laparya seketika itu juga hilang lenyap tak berbekas.
satu ingatan segera melintas didalam benaknya, cepat-cepat dia berkata.
"Terima kasih atas pemberianmu obat ini sangat harum dan rasa laparku hiolang lenyap, bila dugaanku tidak salah isi botol itu pastilah obat mustika hasil bikinan suhu dengan susah payah, kasiatnyapun pasti luar biasa."
Diam-diam manusia berbaju perlente itu merasa terkeut setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Tak nyana dengan sikapnya yang begitu polos, sederhana dan kasar ternyata dia memiliki otak yang cerdas dan teliti, kalau begitu aku telah salah menilainya."
Berpendapat demikian, diapun segera menulis kembali.
"Muridku, ucapanmu tadi memang tepat sekali, pil itu memang terbuat dari sari buah Lian som ko yang telah berusia seratus tahun lebih, khasiatnya luar biasa, bawalah serta dalam sakumu. sebab ajal gurumu sudah tak jauh lagi, aku hanya berharap kau jangan lupa melaksanakan kedua permintaan itu."
Kemudian setelah berhenti sejenak. kembali dia menulis.
"Menurut pengamatanku, tenaga dalam yang kau miliki saat ini tidak terlalu tinggi itu berarti walaupun segenap ilmu silatku telah kuwariskan kepadamu, tak mungkin dapat kau serap dan manfaatkan secara penuh, karenanya kau harus giat berlatih terutama sekali ilmu Tay goan sinkang yang paling sulit dipelajari. sekalipun kau dapat menguasai dari semua teori-teori dan rahasianya secara matang-matang tapi tanpa disertai tenaga dalam yang sempurna tak nanti ilmu tersebut dapat kau pergunakan sebagai mana mestinya, tahukah kau bahwa berlatih rajin setiap hari, kemajuan pesat baru dapat dicapai disinilah letak rahasia orang belajar silat."
Dengan wajah serius dan sikap menghormat Kim Thi sia segera menyahut.
"Ucapan suhu memang tepat sekali, sejak kecil hingga dewasa tecu hidup menyendiri diatas sebuah bukit yang terpencil meski selama ini sudah banyak yang kudengar namun sedikit sekali yang kulihat sehingga tidak banyak mengandung manfaat yang dapat kuserap Apalagi ayahku belum pernah secara resmi memberi petunjuk ilmu silat kepadaku akibatnya dalam bidang tenaga dalam, tidak banyak kemajuan yang bisa kucapai."
Kembali malaikat pedang berbaju perlente menulis.
"Ilmu silatku memang sedikit berbeda dengan kepandaian silat aliran lain, lantaran kau belum pernah belajar tenaga dalam dengan sendirinya sulit pula bagimu untuk mendalami ilmu tenaga dalamku ini."
"Tapi kau tak usah kecewa, sekarang akan kuwariskan dulu rahasia ilmu pedang dan pukulan, setelah itu akan kuajarkan pula ilmu "Ciat Khi Mi Khi"
Yakni semacam ilmu sakti yang dapat menghisap tenaga dalam orang lain untuk memperkuat tenaga dalam sendiri.
Bila tenaga dalammu telah mencapai kesempurnaan dikemudian hari, kau bisa mulai melatih diri menurut teori yang akan kuturunkan kepadamu nanti, aku yakin kau pasti akan memperoleh kemajuan yang pesat sekali."
"Apakah ilmu Ciat Khi Mi Khi itu?"
Tanya Kim Thi sia keheranan.
"Kepandaian tersebut merupakan semacam ilmu rahasia tingkat tinggi dari perguruan kami.
Dan merupakan sebab suatu utama mengapa Kiam sianseng dapat menjagoi dunia persilatan sebelum berusia lima puluh tahun.
siapa saja dapat mempelajari ilmu ini, bahkan sekalipun tidak memiliki tenaga dalam, dia dapat bertarung melawan orang lain dengan mengandalkan kepandaian tersebut, justru disaat terjadi benturan kekerasan dengan secara diam-diam kita hisap tenaga dalam lawan.
Lambat laun tenaga dalam yang berhasil kita curi akan bertambah banyak.
Apalagi jika kau sering beradu tenaga dalam dengan orang lain, tenaga dalammu makin hari akan semakin sempurna, berapa tahun kemudian tenaga dalam seorang jago lihay manapun"
Kim Thi sia segera tertawa tergelak sesudah mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian.
"Hahaa.......hahaa......rupanya ilmu silat ini baru dapat terwujud apabila kita sering berkelahi, ayahku pernah bilang watak keluarga Kim kami paling ulet kami tidak takut bertarung. Tidak takut pula digebrak orang. Hahaa....hahaa.....hahaa....kalau sudah berhasil mempelajari ilmu Ciat Khi Mi Khi itu, aku pasti akan mencari beberapa musuh tangguh untuk diajak berkelahi."
"Anak muda tak boleh mempunyai pikiran semacam itu, dikemudian ahri kau bisa tersesat kejalan yang salah"
Tulis manusia berbaju perlente itu cepat dengan kening berkerut.
"Tapi suhu....bukankah kau sendiri yang bilang bahwa ilmu tersebut baru dapat terwujud apabila kita sering berkelahi dengan orang? siapa bilang aku hendak menjadi bandit."
Dengan kening berkerut, manusia berbaju perlente itu kembali menulis.
"Kancingkan pakaianmu itu, jangan kau perlihatkan dadamu dihadapan orang lain, karena cuma bandit yang bersikap demikian-sebagai seorang lelaki sejati yang belajar silat, kita harus bersikap sopan santun dan tak tahu adat, dengan begitu penampilan kita baru akan menarik simpati orang lain-"
Merah padam selembar wajah Kim Thi sia, cepat-cepat dia membetulkan kancing bajunya. setelah tersenyum manusia berbaju perlente itu baru menulis lagi.
"Ilmu Ciat Khi Mi Khi diciptakan oleh Leng Kong hweesio pada seribu tahun lalu, hingga jaman Kiam sianseng. sedikit sekali orang persilatan yang mengetahui tentang kehebatan ilmu tersebut, Kiam sianseng mengerti, apabila dia sampai membocorkan kehebatan dari kepandaian tersebut, sudah pasti kejadian tersebut akan menimbulkan kegemparan didalam dunia persilatan, kawanan jago lihay pasti akan berdatangan untuk memaksakannya menyerahkan ilmu sakti itu. Untuk menghindari segala macam kesulitan dan kerepotan, belum pernah Kiam sianseng membocorkan persoalan ini, tatkala mewariskan kepadaku, suhu berulang kali berpesan kepadaku agar tidak menceritakan masalah ilmu Ciat Khi Mi Khi tersebut kepada siapa saja. oleh sebab itu sekarang aku hendak berpesan pula kepadamu agar waspada dan jangan sampai membocorkan rahasia ini kepada orang lain, kalau tidak bibit rencana pasti akan menimpa dirimu."
Dengan perasaan kaget Kim Thi sia segera berseru.
"suhu, apakah kau juga mewariskan ilmu Ciat Khi Mi Khi tersebut kepada kesembilan orang muridmu yang lain?"
"Hmm, kawanan kurcaci macam mereka tak mempunyai rejeki sebesar itu Untuk mempelajari kepandaian tersebut maka seseorang harus mempunyai delapan prinsip yaitu, keras, lembut, jujur, yakin, damai, tenang, luwes dan cerdas. Kurang satu saja dari kedelapan unsur itu, tak mungkin kepandaian tersebut dapat dipelajari."
"Didalam menghadapi musuh, ilmu Ciat Khi Mi Khi ini mempunyai daya guna menghisap sari hawa murni lawan, tanpa disadari banyak manfaat yang diperoleh dari sini, tapi kau harus memperhatikan bila musuh yang dihadapi perempuan, maka kau harus menghadapi dengan unsur kelembutan, sebaliknya kalau musuhnya laki, kau harus menghadapi dengan unsur keras. Bagi mereka yang melatih ilmu ini, kemungkinan peredaran dari yang berbalik hampir tidak ada. Cuma dalam menghadapi musuh yang tangguh tenaga dalamnya, tak urung kau akan menderita luka dalam. Tapi kau tak usah kuatir, walaupun saat itu kau akan merasakan getaran yang keras sehingga tak mampu melanjutkan pertarungan lagi, tapi sebentar kemudian keadaanmu akan pulih kembali seperti sedia kala bahkan dari satu pukulan yang terhisap. kaki akan memperoleh manfaat yang tak terhingga......."
"Wah, kalau begitu bukankah aku akan menjadi kebal?"
Seru Kim Thi sia kegirangan. Dengan cepat manusia berbaju perlente itu menggelengkan kepalanya berulang kali tulisnya.
"Kau harus tahu setiap ilmu silat makin hebat daya gunanya, penyakit yang terkandungpun sering kali makin besar. Walaupun bagi orang yang berlatih ilmu Ciat Khi Mi Khi tersebut, tenaga dalamnya bertambah sempurna. Toh kau tetap memiliki titik kelemahan yang sama sekali tak terduga, misalkan saja sewaktu kau berlatih ilmu tersebut mata kau gunakan sebagai titik konsentrasi maka titik kelemahanmu akan terletak dimata, oleh sebab itu walaupun kau mempunyai kepandaian sakti setiap saat tetap harus waspada kalau tidak kemungkinan bagimu untuk tewaspun tetap besar........"
Diam-diam Kim Thi sia merasakan hatinya bergidik dan tak berani banyak berbicara lagi. selang sejenak kemudian, manusia berbaju perlente itu baru menulis lagi.
"Yang paing berbahaya bagi orang yang melatih Ciat Khi Mi Khi adalah titik kelemahan itu sendiri Karenanya kau harus selalu ingat bahwa rahasia titik kelemahanmu itu tak boleh kau ceritakan kepada siapapun termasuk terhadap orang yang paling kau kasihi sekalipun-Ketahuilah manusia licik yang berkeliaran didalam dunia persilatan tak sedikit jumlahnya, siapa tahu diantara sanak keluargamu itu terdapat pula manusia sebangsa itu........."
Peluh dingin jatuh bercucuran membasahi badan Kim Thi sia tanyanya kemudian-"Suhu, dimanakah letak titik kelemahanmu?"
"Berhubung saat ajalku telah dekat, tak ada salahnya kuberitahukan hal ini kepadamu. sesungguhnya titik kelemahanku terletak diatas rambutku tak nanti tenaga dalamku yang sangat sempurna itu bisa hilang lenyap kalau kesembilan manusia terkutuk itu tidak memapas habis rambutku?"
"Suhu, bagaimana dengan aku?"
Cepat-cepat Kim Thi sia berseru dengan perasaan cemas.
"setelah berlatih ilmu Ciat Khi Mi Khi nanti, dimanakah titik kelemahanku?"
"Anak bodoh, aku toh bukan malaikat, dari mana aku bisa tahu titik kelemahanmu itu? Tapi untuk mengetahui letak titik kelemahan tersebut, kita memiliki suatu ciri yang khas, yaitu disaat kau selesai mempelajari kepandaian tersebut, disuatu bagian dari tubuhmu akan terasa sakit sekali. Nah, bagian yang terasa sakit itulah terletak titik kelemahanmu, rasa sakit mana baru akan hilang setelah lewat dua minggu kemudian mengertikah kau sekarang?"
Sementara anak muda itu ingin bertanya lagi, manusia berbaju perlente itu sudah mengulapkan tangannya sambil menulis.
"saat ajalku sudah hampir tiba, kita jangan sampai membuang banyak waktu lagi dengan percuma, kemarilah suhu akan mulai mewariskan ilmu silat kepadamu, tapi oleh karena aku tak dapat berbicara maka penjelasan akan kutulis diatas tanah kau harus perhatikan dengan sungguhsungguh karena selewatnya hari ini, tiada kesempatan baik lagi bagimu bila kurang jelas, segera tanyakan jangan berlagak sok pintar sehingga merugikan dirimu sendiri....."
Kim Thi sia manggut-manggut dan segera bergeser kesisi gurunya. Mendaak ia saksikan sorot mata gurunya memancarkan sinar kebencian yang amat tebal lalu tampak ia menulis diatas tanah.
"Nyanyikan dulu lagu sembilan dendam kusumat"
Kim Thi sia manggut-manggut, kemudian dengan suara lantang ia bersenandung.
"Dendam sakit hatiku, jauh melebihi samudra. Haruskah aku mati dalam keadaan begini. Biar badan hancur, biar tubuh remuk. Akan kucuci semua sakit hatiku ini..... Lidahku dipotong, mataku dicukil. Rambutku dipapas, tulangku dikunci..... Telingaku diiris, ototku dicabut. Lenganku dikutung kakiku ditebas..... Rasa dendam serasa masuk ketulang. Aku merasa pedih, aku merasa sedih. Dendam kesumat ini harus kutuntut balas."
Membayangkan penderitaan dan siksaan yang dialami gurunya, pemuda itu merasakan luapan api berkobar-kobar.
semakin bersenandung suaranya semakin nyaring, apalagi ketika mencapai pada klimaksnya, aliran darah yang mengalir didalam tubuhnya serasa mendidih.
Manusia berbaju perlente itu sendiri hanya termangu-mangu sambil menikmati senandung tersebut, dia seakan-akan sedang membayangkan kembali semua nasib tragis yang telah menimpa dirinya selama ini.
Hingga Kim Thi sia menegurnya, ia baru tersentak bangun dari lamunannya.
sementara air mata telah membasahi seluruh wajahnya.
"Anak pintar"
Tulisnya kemudian-"Daya ingatanmu memang sangat hebat, tak sepatah katapun yang salah kau ucapkan-Moga-moga saja kau dapat mengingat selalu bait-bait syair didalam lagu sembilan dendam kesumatku ini"
Paras muka Kim Thi sia yang putih itu tiba-tiba nampak bersemu merah, dengan alis mata berkerut segera serunya.
"Suhu akan kuingat selalu dendam sakit hatimu, tak usah kuatir. selama aku masih bernapas dendam sakit hati kau orang tua pasti akan kubalas."
Manusia berbaju perlente itu segera menepuk-nepuk bahu Kim Thi sia lalu ia menulis.
"Kau memang anak yang hebat, belum pernah kujumpai bocah semacam kau"
Kedua orang itu segera saling bertukar pandangan sekejap. lalu sama-sama tertawa.
"Sekarang akan kuwariskan dulu bagaimana cara berlatih ilmu ciat Khi Mi Khi tersebut."
Menyusul tulisan tersebut, malaikat pedang berbaju perlente segera melukis delapan belas gambar manusia.
Ada yang berdiri ada yang berbaring, ada yang berjongkok ada pula yang duduk semuanya dalam posisi yang sangat aneh.
Dengan mengikuti petunjuk dari gurunya Kim Thi sia mulai melatih diri.
Pada mulanya ia merasa perkataan dari gurunya terlalu berlebihan tapi sejak menirukan gambar yang kelima entah mengapa setiap kali ia mencoba untuk menirukan gerakan tersebut, selalu ada saja kesalahannya, tidak seperti permulaan tadi berjalan lancar kali ini banyak sekali hambatan yang dijumpai sekarang ia baru sadar akan sulitnya kepandaian itu untuk dipelajari.
Baru saja ia mempelajari tujuh buah lukisan tiba-tiba manusia berbaju perlente itu menulis.
"Segala sesuatu tak boleh dipelajari kelewat cepat apalagi dalam waktu singkat kau bisa menguasai tujuh gerakan. itu sudah terhitung luar biasa, hayo berlatihlah kembali"
Kim Thi sia berpikir.
"Aaaaah, omong kosong. Buktinya aku sekaligus dapat menguasai enam buah gerakan tanpa menjumpai halangan, apa salahnya kalau aku berusaha mempelajari semua gerakan itu dalam waktu singkat?"
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba tangan dan kakinya terasa linu dan kaku, kepalanjya pening dan sekujur badannya terasa sakit sekali, tak kuasa lagi dia tertunduk diatas tanah sambil memegangi perutnya kencang-kencang.$ Malaikat pedang berbaju perlente segera tertawa menyaksikan keadaan itu, tulisnya kemudian.
"Nah bocah keras kepala, sekarang kau tentunya sudah percaya dengan perkataanku bukan? dulu suhupun keras kepala seperti kau sekarang tapi daya kemampuanmu jauh lebih hebat denganku karena sekaligus bisa menguasahi enam gerakan. Benar-benar tak kusangka dengan potongan wajahmu yang begitu sederhana ternyata memiliki kecerdasan otak yang luar biasa aku merasa gembira sekali karena ilmu silatku bakal ada pewarisnya."
Saking letihnya tanpa terasa Kim Thi sia jatuh tertidur ketika mendusin kembali ia jumpai alis mata gurunya yang semula hitam kini telah berubah menjadi kelabu wajahnyapun menjadi layu dan kering.
Dengan perasaan terkejut ia segera berseru.
"suhu mengapa wajahmu bisa berubah menjadi setua ini dalam waktu yang singkat?"
Manusia berbaju perlente itu tertawa hambar kemudian tulisnya.
"Tenaga dalamku telah hancur usiaku melaju tambah cepat, inilah pertanda ajalku telah mendekat."
Belum habis perkataan itu diucapkan ia sudah menutup matanya dan mengantuk seolah-olah ia merasa sangat penat hingga tak mampu menahan diri lagi.
Kim Thi sia merasa amat terkejut ia tahu kalau gurunya dibiarkan tidur, kemungkinan besar dia tak akan mendusin lagi.
Dalam keadaan demikian satu ingatan segera melintas dalam benaknya.
Tiba-tiba ia menyanyikan lagu sembilan dendam kusumat dengan suara lantang....
Benar juga malaikat pedang berbaju perlente segera mendusin dan membuka matanya lebarlebar.
setelah mendengar nyanyian tersebut sorot matanya yang kabur oleh air mata memancarkan sinar kebencian yang amat tebal, dia seolah-olah memperoleh semangat hidupnya, setelah mendengar lagu itu.
"Muridku kau sudah menguasai enam gerakan, berarti masih ada dua belas gerakan yang harus kau latih baik-baik, Mumpung gurumu belum mati berusahalah sebanyak-banyaknya dariku."
Kim Thi sia sadar saat-saat semacam ini merupakan detik yang paling berharga baginya, detik yang akan merubah seluruh kehidupan dimasa yang akan datang, ia segera memejamkan matanya dan mulai melatih kedua belas gerakan yang belum terselesaikan itu Entah berapa saat telah berlalu, kini fajar telah menyingsing diufuk timur, angin sejuk berhembus sepoi-sepoi dibawah timpaan cahaya matahari yang berwarna keemas-emasan Kim Thi sia merasa amat letih, seluruh tenaganya sudah terkuras habis, terutama ruas-ruas tulang belakangnya yang terasa begitu linu dan sakit seakan-akan hampir patah semua.
Tapi ia tahu kesempatan baik tak akan ditemui lagi dimasa yang akan datang, maka sambil menahan penderitaan yang luar biasa, ia pentangkan matanya yang merah membara lebar-lebar, kemudian dengan lantang nyanyikan lagi lagu sembilan dendam kusumat.
semangat manusia berbaju perlente itu kembali terpacu dengan cepat ia menulis.
"Kini kau telah menguasai ilmu Ciat Khi Mi Khi aku percaya dengan bakatmu yang baik, asal mau berlatih dengan sungguh-sungguh kemajuan pasti akan tercapai dalam waktu yang singkat sekarang pusatkan semua perhatianmu karena akan kuwariskan ilmu Tay Goan sinkang kepadamu."
Setelah berhenti sejenak.
kembali ia melanjutkan-"Tay Goan sinkang merupakan sejenis ilmu yang maha sakti, yang merupakan hasil ciptaan seorang tokoh dunia persilatan apakah nantinya kau berhasil menguasai ilmu tersebut atau tidak disamping tergantung pada bakatmu sendiri kaupun harus banyak melatih diri, perhatikan inilah jurus yang pertama Hawa sakti menembusi angkasa."
Dengan semangat yang menyala-nyala Kim Thi sia melatih jurus tersebut mengikugti petunjuk gurunya. Kemudian manusia berbaju perlente itu menulis kembali.
"Kau harus mengingat baik-baik teori ilmu Tay Goan sinkang ini, disaat Ciat Khi Mi Khimu sudah mendatangkan hasil yang lumayan-Ilmu tersebut akan nampak kehebatannya. Perhatikan jurus kedua "Sukma gentayangan dalam kebingungan, jurus keempat "
Kejujuran melumati batu emas", jurus kelima "Kepercayaan menyapu jagad", jurus keenam "Kepercayaan menguasai bumi", jurus ketujuh "
Kelembutan mengatasi bencana", jurus kedelapan "Ketenangan bagaikan awan mega", jurus kesembilan "Kedamaian membumbung kelangit sembilan"
Jurus kesepuluh "Hembusan angin mencabut pohon".......
secara beruntung ia mewariskan kesepuluh jurus ilmu Tay Goan sinkang tersebut kepada Kim Thi sia dengan semangat yang bernyala-nyala pula pemuda itu mempelajari dan mengingat semua pelajaran itu dalam benaknya.
sehari telah berlalu tatkala Tay Goan sinkang telah mewariskan semua kepada Kim Thi sia kondisi badan malaikat pedang berbaju perlente semakin memburuk.
setelah memuntahkan darah segar dan mewariskan ilmu pedang ngo Hud Kiam (ilmu pedang ilmu buddha) yang maha dahsyat itu kepada Kim Thi sia kondisinya menjadi amat lemah.
Tiba-tiba ia meronta untuk bangun lalu dengan gerakan tangan yang amat berat ia menulis kembali.
"setelah aku mati nanti kuburlah jenasah ku dibukit tengkorak ini, muridku bila engkau telah menguasai ilmu silatku nanti pergunakanlah seluruh batok-batok kepala dari sembilan jahanam tersebut untuk bersembahyang didepan kuburanku jangan lupa ukirlah lagu sembilan dendam kesumat didepan batu nisan, bila malam Tiong ciu tiba berilah seuntai bunga kepadaku dan nyanyikanlah lagu sembilan dendam kusumat untuk menghibur arwahku, sekarang......cepatlah.......nyanyikan laguku sekali lagi.....sampai matipun aku tak akan melupakan dendam kesumatku."
Kim Thi sia segera melompat bangun lalu sambil membusung-busungkan dadanya dia membawakan lagu itu dengan penuh semangat.
Manusia berbaju perlente itu tersenyum dan manggut-manggut, ditengah gema lagu sembilan dendam kesumat jago ini mengakhiri hidupnya dengan menghembuskan napasnya yang penghabisanseorang tokoh dari dunia persilatan yang pernah termahsur dan disegani setiap orang akhirnya harus mengakhiri hidupnya dibukit tengkorak yang jauh dari keramaian orang.
Matahari senja memancarkan sinarnya menyorotijenasah itu, ia pernah merasakan kebahagiaan hidup bagaikan dewata, tapi sekarang harus mengakhiri hidupnya sambil memendam dendam.
Kim Thi sia menangis tersedu-sedu air matanya jatuh bercucuran dengan amat derasnya, kemudian tubuhnya roboh terguling disisi gurunya dan tertidur nyenyak.
Entah berapa saat telah lewat, dari depan jalan bergema suara derap kuda yang amat nyaring, disusul munculnya sepasang muda mudi ditempat itu.
Mereka mempunyai wajah yang amat menarik.
yang lelaki berwajah tampan dan gagah sedang yang perempuan cantik bagaikan bidadari dari kahyangan-Rupanya pemuda berwajah tampan itu telah melihat adanya dua sosok tubuh yang tergeletak ditengah jalan, cepat-cepat ia menarik tali les kudanya sambil berseru.
"Adikku, coba kau lihat didepan sana ada mayat"
Nona berbaju merah itu agaknya tertegun lalu melompat turun dari kudanya gerakan yang amat ringan, diamatinya kedua sosok itu dengan seksama lalu katanya.
"Koko yang cacad telah mati dan yang muda itu masih bernapas rupanya ia sedang tertidur, kita tak usah mencampuri urusan orang lain mari kita pergi saja dari sini."
Kedua orang itu melanjutkan kembali perjalanannya tapi beberapa saat kemudian balik lagi kesana. Tampak sinona berbaju merah itu berkerut kening sambil mengomel.
"Koko, bagaimana sih kau ini, sudah setengah harian kita menempuh perjalanan tapi akhirnya balik lagi kesini. Huuh makanya jangan sok menyombongkan diri katanya saja kau menguasai daerah sekitar sini, tapi bagaimana kenyataannya sekarang?"
Dengan tersipu-sipu pemuda tampan itu tertawa.
"Kau memang benar adikku, koko mengaku salah. Gara-gara aku, kau jadi ikut menderita"
Sewaktu mereka berdua melewati lagi disamping tubuh Kim Thi sia serta manusia berbaju perlente itu, nona berbaju merah itu melirik lagi sekejap lalu berkata.
"Koko yang berbaju perlente itu sudah mati tapi siapakah pemuda itu? kalau dibiarkan tidur ditepi jalan bagaimana nanti kalau sampai diterkam binatang buas? bagaimana kalau kita tolong saja?"
Pemuda berwajah tampan itu memperhatikan sekejap mayat simalaikat pedang berbaju perlente, mendadak seluruh tubuhnya bergetar keras. Ditatapnya mayat itu dengan pandangan termangu, lalu gumamnya.
"Bu.....bukankah dia adalah......ia malaikat pedang berbaju perlente? Aaaah.....pasti dia.....tapi.......mengapa dia berada disini?"
Nona berbaju merah itu tersenyum geli ketika melihat pemuda itu mengawasi jenasah tersebut dengan pandangan termangu, segera tegurnya.
"Koko bagaimana sih kau ini? apanya yang aneh? memangnya dia kau anggap ia bukan manusia?"
Pemuda tampan itu seperti tidak mendengar perkataannya kembali dia bergumam.
"Ya h, pasti dia.....aku pernah bertemu dengannya terutama alis matanya yang tebal dan hidungnya yang mancung, aku tak eprnah akan lupa.....bukankah ia berilmu sangat hebat?"
"Mengapa tangannya, kakinya, telinganya, rambutnya.............dan segala sesuatunya dicacadin orang? Tidak mungkin mustahil ini bisa terjadi?"
Seperti mau mendusin dari impian buruk ia bergumam sambil menyeka keringat yang membasahi dahinya.
Rupanya sinona berbaju merah itu mulai merasakan keluar biasaan persoalan tersebut.
sepasang matanya yang bening dialihkan pula keatas mayat simanusia berbaju perlente itu tapi ia tidak menemukan sesuatu yang aneh, sehingga tanpa terasa serunya.
"Koko, siapakah ia kau kenal dengan orang itu?"
"Ya dia adalah simalaikat pedang berbaju perlente. Tokoh sakti yang menguasai seluruh jagad"
Nona berbaju merah itu terperanjat pandangan matanya menjadi kaku, meskipun ia belum bertemu dengan malaikat pedang berbaju perlente, namun sudah banyak cerita yang didengar olehnya.
Hampir saja dia tak akan mempercayai pendengarannya, bahwa manusia cacad yang berada dihadapannya adalah malaikat pedang berbaju perlente yang amat termasyur itu, serunya dengan gelisah.
"Masa dia adalah malaikat pedang berbaju perlente. Aku dengar simalaikat pedang itu berwajah tampan, sedang dia berwajah sayu dan cacad badan jangan-jangan kau salah melihat jangan kau anggap semua orang yang berbaju perlente adalah simalaikat pedang berbaju perlente itu, lagi pula bukankah ia berilmu sangat hebat mana mungkin bisa mati terbunuh disini?"
Cepat-cepat pemuda berwajah tampan itu menggelengkan kepalanya.
"Pasti dia, aku pernah berjumpa dengan orang ini dan selama hidup tak akan terlupakannya ."
Untuk sesaat suasana menjadi hening, dengan pandangan terkejut bercampur curiga mereka berdua mengawasi mayat itu tiada hentinya.
selang sesaat kemudian pemuda berwajah tampan itu baru berkata sambil menghela napas panjang.
"Celaka, ternyata simalaikat pedang berbaju perlente telah mati terbunuh orang yang sanggup membunuhnya pasti memiliki kepandaian silat yang sangat hebat, mendingan kalau hatinya bersifat baik, kalau hatinya jahat dan punya ambisi besar, bukankah dunia persilatan akan terancam kembali oleh badai pembunuhan yang mengerikan?"
"Koko"
Seru nona berbaju merah itu tiba-tiba dengan perasaan terkesipa.
"Mungkinkah pemuda ini yang membunuhnya?"
Paras muka pemuda tampan itu berubah tapi sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya sambil berkata.
"Tidak mungkin usia pemuda ini paling banter baru delapan belas tahun, sekalipun sedari dalam rahim ibunya dia sudah mulai belajar tenaga dalam tak mungkin ia mampu bertahan sebanyak sepuluh gebrakan saja bisa jadi ia adalah seorang diantara kesembilan orang murid simalaikat pedang berbaju perlente itu."
"Aku dengar kesembilan orang muridnya adalah sipedang emas, pedang perak-pedang tembaga, pedang besi, pedang kayu pedang api, pedang air, pedang tanah, dan pedang bintang, bukankah begitu? aku dengar kesembilan orang itu masing-masing memiliki sejenis kepandaian silat yang luar biasa, apakah kita perlu menolongnya?"
Pemuda tampan itu segera menghela napas panjang.
"Menolong selembar jiwa manusia berarti telah melakukan kebajikan yang terpuji, meski kesembilan orang murid simalaikat pedang berbaju perlente mempunyai watak yang liar dan memandang rendah orang lain, namun selama berada dalam pengawasan gurunya mereka tak berani banyak bertingkah. Koko kuatir setelah matinya simalaikat pedang ini, kesembilan orang muridnya jadi tak terkendalikan lagi sehingga menjadi bibit bencana bagi dunia persilatan-"
"Kalau begitu kita tak usah menggubrisnya lagi, biarkan saja dia diterkam binatang buas....."
Kata nona berbaju merah itu dengan kening berkerut. Tapi pemuda tampan itu segera mengulapkan tangannya sambil menukas.
"Adikku, kau jangan berbicara sembarangan, menurut pendapat koko, pemuda ini bukan salah seorang diantara kesembilan murid malaikat pedang berbaju perlente. sebab aku dengar usia yang termuda dari kesembilan orang murid simalaikat pedang telah mencapai dua puluh tiga empat tahunan, sedang orang ini baru tujuh belas delapan belas tahunan, tak mungkin dia adalah muridnya."
"Lantas siapakah dia? coba kau lihat, disisi tubuhnya terdapat sebilah pedang mustika?"
Cepat-cepat pemuda tampan itu memungut pedang tersebut, dia tahu pedang yang baik panjangnya hanya empat depa, tapi ia belum pernah mendengar ada pedang yang lebih panjang dari empat depa, maka pedang tersebut segera diloloskan dari sarungnya.
Namun setelah menyaksikan sinar tajam berwarna hijau yang memancar keluar dari pedang itu, pemuda tadi segera berseru memuji.
"Pedang bagus, pedang bagus, seandainya pedang ini adalah milikku. oooh...... betapa bahagianya hatiku."
"Koko"
Seru nona berbaju merah itu dengan tegang.
"Mungkin pedang itu merupakan salah satu diantara pedang yang digunakan kesembilan murid simalaikat pedang."
"Aku memang belum pernah menyaksikan kesembila orang murid dari malaikat pedang berbaju perlente menggunakan pedang tapi menurut cerita dan aku yakin sepenuhnya, pedang ini bukanlah termasuk salah satu diantara pedang "emas, baja, tembaga, perak, kayu, api, air, tanah, dan bintang"
Sebab cahaya yang memancar keluar dari pedang ini berwarna hijau lembut seperti cahaya rembulan. Namanya pasti tak akan terlepas dari kata rembulan."
Nona berbaju merah itu segera menghembus napas panjang.
"Lalu apakah koko akan menolongnya?"
"Tentu saja mari kita kubur dulu-jenasah dari simalaikat pedang berbaju perlente ini, meski hanya berapa tahun dia munculkan diri didalam dunia persilatan, namun dengan kemampuannya ia berhasil menjadi termashur diseantero-jagad, berbanggalah kita dapat melakukan sedikit bakti baginya."
Nona berbaju merah itu segera tertawa.
"Ya, siapa yang tak tahu kalau kau sangat menaruh hormat kepadanya, kalau ingin dikubur ayolah dikubur, apalah artinya banyak bicara lagi?"
Mereka berdua segera menggali sebuah liang sepanjang satu kaki dan lebar lima depa, kemudian dengan hormat mengubur jenasah simalaikat pedang berbaju perlente, setelah menimbun dengan tanah, merekapun mengukir berapa huruf pada sebuah batu cadas dengan pedang mustika Leng Gwat Kiam itu, tertulis pada batu nisan itu.
"Disini dimakamkan jenasah dari malaikat pedang berbaju perlente."
"Hormat kami. sechuan siang kiat"
Selesai bekerja, kedua orang itu saling berpandangan sekejap sambil tertawa. Nona berbaju merah itupun berkata.
"Koko, dengan meninggalkan nama kita berdia diatas batu nisan tersebut, andaikata ada yang membaca tulisan ini, tentu nama kita akan turut dihormati pula."
"Huuuusss kita kan belum mati masa engkau samakan dengan mereka yang sudah mati?"
Bersemu merah selembar wajah gadis berbaju merah itu dia segera mengayunkan cambuknya siap hendak memukul.
sambil tertawa nyaring pemuda tampan itu menyambar tubuh Kim Thi sia kemudian melompat naik keatas kuda dan beranjak pergi dari situ, sementara sinona sambil mencibirkan bibirnya cepat-cepat menyusul dari belakang.
sehari kemudian Kim Thi sia mendusin dari tidurnya ketika teringat kembali dengan kejadian yang dialaminya sejari berselang, ia menjadi terkejut sehingga tak mampu berkata-kata.
Ternyata dia telah menemukan tubuhnya berbaring diatas sebuah pembaringan yang indah dengan kelambu serta seprei yang putih bersih disamping pembaringan terdapat rak kain serta lukisan kuno yang menghiasi dinding.
sejak kecil sampai sebesar ini Kim Thi sia boleh dibilang menghabiskan waktu diatas bukit yang terpencil, tentu saja dia tak pernah menjumpai keadaan senyaman ini.
Tanpa terasa lagi teriaknya keras-keras.
"Hey, siapa yang menggotong aku kesini? mana guruku? hey, cepat kemari, kalau tidak aku akan bertindak kurang ajar."
Jilid 4 Pintu kamar segera dibuka dan muncul seorang pemuda tampan dengan senyuman dikulum, sambil meniura ia berkata.
"Saudara benar-benar telah tertidur nyenyak berhubung aku kuatir kau akan diterkam binatang buas bila dibiarkan tertidur ditempat alam terbuka, maka tanpa menunggu persetujuan saudara, aku telah memindahkan dirimu kemari. Untuk itu mohon saudara sudi memaafkan"
Sebelum Kim Thi sia sempat menjawab, dari balik pintu telah muncul kembali selembar wajah cantik terdengar nona itu menegur.
"Apakah sudah mendusin?"
Bayangan merah tampak berkelebat lewat, sinona yang berwajah cantik itu sudah muncul pula didalam ruangan-Dengan wajah tertegun Kim Thi sia berseru.
"Siapakah kalian? aku sama sekali tidak kenal dengan kalian berdua"
Perkataannya yang berterus terang tanpa embel-embel kata yang bernada sungkan membuat nona berbaju merah itu segera berkerut kening dan menunjukkan wajah tak senang hati.
cepat-cepat pemuda tampan itu mengerdipkan matanya mencegah nona itu berang, lalu sambil menjura dan tertawa katanya.
"Aku Nyoo Jin hut, sedang dia adalah adikku Nyoo Soat hong, kami dua bersaudara bernama szuchuan siang kiat, sepasang orang gagah dari szuehuan. Bolehkah aku tahu siapa nama anda?"
"Aku bernama Kim Thi sia."
Setelah mengucapkan kata-kata yang singkat itu, ia segera duduk kembali dan termenung.
Muda mudi berdua itu berpandangan sekejap.
agaknya mereka merasa tak enak hati atas sikap Kim Thi sia yang tak tahu sopan santun itu.
Pertama-tama sinona berbaju merah itu yang tak mampu menahan diri lebih dulu, dia segera berseru.
"Huuh, apa sih yang hebat dengan dirimu? kau tak usah berlagak sok......."
Selesai berkata ia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ. Tiba-tiba Kim Thi sia mengangkat kepalanya sambil menegur.
"Kau mengatakan aku?"
"Hmm, ya kau Apa sih yang hebat denganmu?"
Dengus nona berbaju merah itu sambil berpaling. sekali lagi Kim Thi sia tertegun, ujarnya keheranan.
"Kapan sih kukatakan kalau diriku hebat?"
Tampaknya pemuda tampan itu lebih berpengalaman dan lebih tebal imannya buru-buru dia menengahi sambil tertawa.
"Harap saudara jangan marah, karena adikku memang masih kecil dan tak tahu urusan, harap kau sudi memaafkan dirinya."
Kemudian dengan berlagak marah dia berkata kembali.
"Adikku, orang lain kan tamu, mana kau bersikap tak hormat dengan tamu kita? Hayo cepat minta maaf dan lain kali jangan berbuat demikian lagi."
Nona berbaju merah itu merasa amat tertekan batinnya.
Apalagi setelah mendengar ucapan dari kakaknya hampir saja air matanya jatuh bercucuran setelah mendengus ia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.
sementara itu Kim Thi sia telah berkata lagi.
"Aku kan tak pernah mengatakan dia bersalah, kenapa mesti dimaafkan-....."
Agaknya pemuda tampan itu tidak menyangka kalau tamunya bisa mengucapkan perkataan tersebut ia menjadi tersipu-sipu sendiri sinona berbaju merah yang berhasil mendapatkan kesempatan baik itu, dengan cepat memanfaatkan peluang tersebut dengan sebaik-baiknya, sambil tertawa dingin dia berseru.
"Hmm, orang berbaik hati ternyata tidak mendapat balasan yang setimpal, koko buat apa kau mesti mencari penyakit buat diri sendiri."
Terdengar suara langkah kaki bergema makin jauh dan akhirnya lenyap di kejauhan sana. Mendadak Kim Thi sia seperti teringat akan sesuatu, dia segera berseru.
"Nyoo Jin hui, mana pedang Leng Gwat kiam ku?"
Oleh karena semenjak kecil dia hidup dipegunungan yang terpencil dan belum pernah terjun dalam pergaulan manusia, karena itu diapun tidak mengetahui tentang sopan santun dan tata krama.
setelah mengetahui kalau pemuda itu bernama Nyoo Jin hui, diapun menyebut nama itu secara langsung.
Pemuda tampan itu tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya, dia menganggap tamunya tak tahu sopan santun, sudah berulang kali dia membantunya, namun selalu ditanggapi secara menghina.
Meski begitu, dia toh cukup berpengalaman dalam pergaulan, maka setelah menenangkan hatinya diapun berkata sambil tertawa.
"Pedang mustika anda memang berada ditanganku, bila anda menginginkannya, sekarang juga aku akan mengambilkan untukmu."
"oooh disimpan ditempatmupun tidak jadi soal lagipula aku belum membutuhkannya sekarang, tolong simpankan berapa hari bagiku."
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata.
"Nyoo Jin hui mana guruku? Dia orang tua telah meninggal dunia kau simpan jenasahnya dimana?"
Nyoo Jin hui segera merasakan hatinya berdebar keras cepat dia balik bertanya.
"Apakah si malaikat pedang berbaju perlente Loocianpwee?"
Kim Thi sia manggut-manggut.
"Benar, darimana kau bisa mengetahui nama dia orang tua?"
Terkejut juga Nyoo Jin hui setelah mendengar perkataan itu, tapi diapun segera tertegun pikirnya .
"Aneh benar orang ini nama besar Malaikat pedang berbaju perlente termasyhur diseantero jagad dan dikenal setiap orang, benar-benar aneh sekali sikap dan tindak tanduk pemuda ini."
Sambil tertawa diapun berkata.
"Kepandaian silat yang dimiliki gurumu menjagoi seluruh dunia persilatan, segenap umat persilatan menaruh hormat kepadanya karena itu mestinya aku tidak becus, nama besar malaikat pedang berbaju perlente masih dapat kukenal."
Kim Thi sia yang mendengar ucapan tersebut segera berpikir.
"Ternyata perkataan suhu memang benar, dia bergelar malaikat pedang tentu saja ilmu silatnya menjagoi seluruh dunia persilatan dan dihormati segenap umat persilatan benar-benar menggelikan jalan pikiranku, aku masih mengira dia lagi mengibul."
Berpikir begitu, diapun bertanya.
"Kau telah menguburnya dimana?"
"Dibukit tengkorak. sungguh minta maaf berhubung kami berdua harus melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa sehingga tak sempat bagi kami untuk mengubur jenasah dia orang tua disebuah tempat yang berpemandangan permai."
Dengan gembira Kim Thi sia berseru.
"Kau telah mengubur ditempat yang benar, sebab dia orang tua memang minta kepadaku agar dikubur dibukit tengkorak sungguh tak disangka kau telah membantuku untuk menyelesaikan tugas ini. Kalau begitu aku harus berterima kasih kepadamu."
Selesai berkata dia segera menjura dan memberi hormat.
Cepat-cepat Nyoo Jin hui balas memberi hormat selain itu timbul juga perasaan simpatiknya atas sikap keterbukaan pemuda itu ujarnya kemudian-"Bantuan yang tak seberapa buat apa mesti pikirkan, bolehkah kutahu anda adalah murid keberapa dari malaikat pedang berbaju perlente loocianpwee?"
"Murid yang keberapa?"
"ooooh, kau adalah sipedang bintang Go An bin? tapi mengapa kau mengaku bermarga Kim?"
Seru Nyoo Jin hui keheranan-"Aku memang berasal dari marga Kim, aku termasuk murid kesepuluh dari malaikat pedang berbaju perlente"
Baru sekarang Nyoo Jin hui memahami duduknya persoalan, katanya kemudian-"Tak heran kalau aku menaruh kesalah pahaman, rupanya kau adalah murid yang baru diterima oleh malaikat pedang berbaju perlente.
Ilmu silat malaikat pedang tiada tandingannya didunia ini, nama besarnya disanjung diseantero jagad, benar-benar mujur sekali nasib anda karena dapat diterima menjadi muridnya.
Hanya sayang......."
Tiba-tiba ia merasa kurang leluasa untuk melanjutkan kata-kata sehingga segera menutup mulut. Dengan perasaan tertegun Kim Thi sia segera bertanya.
"Apanya yang sayang?"
Setelah mempertimbangkan setengah harian, Nyoo Jin hui baru berkata.
"sayang sekali malaikat pedang berbaju perlente loocianpwee meninggal dunia kelewat cepat. Kalau tidak. ilmu silat yang anda miliki pasti sepuluh kali lebih hebat lagi."
Kim Thi sia segera tertawa.
"Apa gunanya memiliki ilmu silat yang hebat, seperti misalnya suhu, dia orang tua memiliki kepandaian silat yang luar biasa, tapi kenyataannya......"
Tiba-tiba ia merasa gurunya tak boleh dibocorkan, karena itu cepat-cepat membungkam kembali.
Ketika Nyoo Jin hui melihat pemuda itu menghentikan pembicaraannya ditengah jalan, dengan perasaan tegang ia segera bertanya.
"Maksud saudara, dengan kepandaian silat yang begitu hebat dari si malaikat pedang berbaju perlentepun akhirnya masih mati terbunuh ditangan orang?"
Namun dia segera merasa kata "mati terbunuh"
Mencerminkan sikap yang kurang sopan terhadap malaikat pedang berbaju perlente, maka cepat-cepat dia menengok sekejap kearah Kim Thi sia, dalam anggapannya pemuda tersebut tentu akan marah dan meninggalkannya.
siapa tahu Kim Thi sia masih duduk disitu dengan tenang, malah seakan-akan tidak mengambil perduli atas ucapannya yang tak senonoh itu.
Tanpa terasa diapun menjadi lega.
sementara itu Kim Thi sia telah berkata.
"Hari ini aku telah berbicara kelewat banyak, sebetulnya kata-kata itu tak baik kuucapkan, tapi entah kenapa setelah melihat wajahmu yang penuh senyuman itu, aku jadi tak tahan untuk mengutarakannya keluar. Aaaai......"
Melihat sewaktu berbicara, pemuda itu menunjukkan sikap yang polos dan jujur, Nyoo Jin hui segera tahu kalau apa yang diucapkan memang benar diam-diam ia menjadi terharu. segera pikirnya.
"orang ini jujur dan polos, kalau berbicara blak-blakan, dia adalah seorang teman yang sejati........"
Tanpa terasa ia semakin menaruh simpatik kepadanya. selang sejenak kemudian, Nyoo Jin hui berkata lagi.
"Aku ingin mengajukan sebuah permintaan yang kurang pantas, apakah saudara bersedia untuk mengabulkan?"
"Asal dapat kulaksanakan, tentu akan kupenuhi"
"Terus terang saja kukatakan sejak mengetahui saudara adalah murid malaikat pedang berbaju perlente loocianpwee, timbul suatu ingatan aneh dalam benakku, aku tahu malaikat pedang berbaju perlente menjagoi dunia persilatan dengan ilmu silatnya yang maha sakti, oleh sebab itu aku ingin mencoba kehebatan loocianpwee tersebut melalui tanganmu, apakah saudara bersedia memenuhi pengharapan yang sudah bertahun lamanya terpendam didalam hati ini?"
Kim Thi sia segera berkerut kening.
"Aku tidak mengerti ilmu silat"
Tapi secara tiba-tiba ia teringat kalau dasar tenaga dalamnya hanya akan memperoleh kemajuan bila sering melatih diri dengan menggunakan ilmu Ciat Khi Mi Khi, maka sambil tertawa nyaring dia bangkit berdiri seraya berkata.
"Baik, kalau memang saudara Nyoo mempunyai kegembiraan ini, baiklah kuturuti saja kemauanmu itu."
Ketika mendengar pemuda itu mengaku tak berilmu, Nyoo Jin hui mengira lawannya tak sudi beradu kepandaian dengannya, sementara dia masih tak senang hati, tahu-tahu mendengar teriakan mana dengan perasaan gembira dia segera berkata.
"Terima kasih banyak atas kesudian anda memberi muka, bila aku bodoh nanti harap kau sudi mengampuniku."
"Aaah, saudara Nyoo jangan berkata begitu mestinya kaulah yang mesti berbelas kasihan kepadaku"
Sahut Kim Thi sia sambil tertawa nyaring.
Ditengah ucapan saling merendah, mereka berdua berjalan keluar dari kamar dan selang sejenak kemudian telah tiba disebuah kebun yang amat luas, sekeliling kebun penuhi ditumbuhi pepohonan yang rindang serta aneka bunga yang berwarna warni, benar-benar sebuah taman yang indah dan permai.
Tak kuasa lagi dia berseru.
"Aaaah, Nyoo Jin hui, kau benar-benar bernasib baik tempat kediamanmu indah bagaikan disorga."
Nyoo Jin hui segera tertawa.
"Bila saudara mempunyai kegembiraan tak ada salahnya untuk berdiam disini, siauwte akan menyambutmu dengan senang hati."
Paras muka Kim Thi sia segera berubah menjadi redup, katanya kemudian.
"Maksud baik saudara Nyoo biar kuterima dalam hati saja, sesungguhnya aku tertarik dengan tawaranmu itu, tapi apa boleh buat masih banyak urusan yang harus kuselesaikan secepatnya lagipula masa depanku masih mengambang, mati hidupku masih menjadi tanda tanya aku tak ingin mengganggu ketenangan saudara Nyoo."
Nyoo Jin hui mengira dia mendapat pesan dari gurunya untuk membalaskan dendam bagi kematian gurunya, sedang lawannya berilmu tinggi sehingga mati hidup tidak menentu.
segera timbul perasaan simpatik dalam hati kecilnya cepat dia berkata.
"saudara tak usah sedih, nasib manusia berada ditangan Yang kuasa asalkan saudara mempunyai tekad yang besar dan jiwa yang lurus, aku percaya nasib jelekpun akan berubah menjadi baik. siauwte hanya menyesal tidak memiliki kepandaian silat yang hebat sehingga tak dapat membantumu, karenanya bisa suatu hari kau telah menyelesaikan perintah gurumu, silahkan datang kemari dan berdiamlah bersama kami."
Dengan perasaan amat berterima kasih Kim Thi sia berkata.
"Beruntung sekali aku Kim Thi sia bisa menjumpai sahabat macam saudara Nyoo dalam perjalanan turun gunungku saat ini, bila terjadi sesuatu apapun aku tentu akan mati dengan mata meram"
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar seorang nona menegur dengan suara merdu.
"Koko, apa yang sedang kalian lakukan"
Nona berbaju merah itu munculkan diri diiringi seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang berwajah saleh tapi bermata amat tajam bagaikan sembilu. Nyoo Jin hui segera berbisik.
"saudara Kim, ayahku sudah datang."
Kemudian dengan suara lantang serunya.
"Ayah, apakah kau orang tua sedang berjalan-jalan mencari angin?"
Dengan senyuman dikulum kakek berwajah saleh itu memperhatikan Kim Thi sia sekejap lalu katanya.
"Sobat kecil inikah yang menjadi murid Rasul dari selaksa pedang? sudah lama aku mengagumi nama besar Malaikat pedang berbaju perlente, sungguh tak nyana aku dapat bertemu dengan murid kesayangan dari malaikat pedang, benar-benar suatu kemujuran bagiku"
Dengan cepat Kim Thi sia maju memberi hormat seraya serunya.
"Empek, terimalah hormat dari Kim Thi sia"
Sambil tertawa kakek itu manggut-manggut.
"Bagus sekali, memang tak main menjadi seorang tokoh kenamaan tidak sombong tidak angkuh merendahkan diri dan tahu sopan santun-Ehmmm, murid orang kenamaan memang berbeda dengan manusia biasa, berapa usiamu ini sobat kecil?"
"Baru tujuh belas tahun-"
"Sungguh hebat"
Kembali kakek itu memuji sambil tertawa.
"dikemudian hari kau pasti akan menjadi sekuntum bunga ajaib dari dunia persilatan dan menjadi tenar diseluruh dunia."
Sementara itu sinona berbaju merah hanya memandang sekejap kearah Kim Thi sia dengan pandangan dingin, kemudian mendongakan kepala dan sama sekali tak mendongkol. Terdengar Nyoo Jin hui berkata lagi.
"Ayah, sudah lama anak Hui mengagumkan akan kelihayan ilmu silat yang dimiliki malaikat pedang berbaju perlente. Mumpung ada kesempatan baik hari ini, aku ingin mencoba berapa jurus dari saudara Kim. siapa tahu dari percobaan tersebut akan mendatangkan manfaat besar bagiku, entah bagaimana menurut pendapat ayah?"
"Bagus sekali, kalian dua orang bocah kecil yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi memang pantas diberi pelajaran agar kalian sadar bahwa diatas langit masih ada langit, diatas bukit masih ada bukit. Haaah......haaah......haaah....."
Kepada Kim Thi sia katanya pula.
"Sobat kecil sebagai murid dari malaikat pedang berbaju perlente tentu memiliki ilmu silat yang sangat hebat, kuharap kau sudi berbuat kebajikan dengan memperingan seranganmu nanti yang penting berilah pelajaran kepada putraku itu agar rasa angkuhnya bisa lenyap dari tubuhnya...."
Kim Thi sia merasa rikuh, sekalipun dia memiliki jurus rahasia yang amat hebat tanpa penunjang tenaga dalam yang sempurna bisa jadi dia akan menderita kekalahan total.
Kalau cuma dia saja yang malu masih mendingan.
Andaikata nama gurunya ikut tercemar bukankah hal ini menjadi berabe?
Maka dari itu dia segera berseru.
"Empek terlalu memuji, padahal siauwtit baru sempat belajar silat selama tiga hari ketika suhu meninggal dunia secara mendadak pelajaran silat yang kuperolehpun amat minim. Bila dibandingkan dengan saudara Nyoo sesungguhnya masih selisih jauh sekali."
Sementara ini wajah sinona berbaju merah itu sudah berseri ketika mendengar kalau dua orang pemuda tersebut akan beradu ilmu silat, tapi sesudah mendengar kata-kata merendah dari Kim Thi sia itu, disangkanya pemuda itu memandang rendah ilmu silat keluarganya sehingga tanpa terasa ia mendengus.
Kim Thi sia memandang sekejap kearahnya, rasa anti patiknya semakin tebal tapi ia tak ingin mengutarakan perasaan tersebut.
setelah menjura katanya.
"Silahkan saudara Nyoo"
Nyoo Jin hui sudah lama mengagumi nama besar serta kesaktian ilmu silat dari malaikat pedang berbaju perlente, diapun tidak merendah lagi, katanya sambil tertawa.
"saudara Kim, berbelas kasihanlah kepadaku nanti, maaf bila siauwte takan bertindak kasar lebih dulu."
Begitu selesai berkata, sepasang telapak tangannya secara direntangkan kesamping dengan melancarkan totokan berantai kearah dua buah jalan darah penting ditubuh Kim Thi sia.
sianak muda itu sama sekali tidak bergerak dari posisi semula.
sampai ancaman tersebut hampir mencapai diatas tubuhnya, ia masih belum tahu bagaimana caranya untuk mematahkan ancaman tersebut.
Dalam gelisahnya, pemuda itu merasa pikirannya makin cemas dan kalut, otomatis semakin tak mampu melancarkan serangan balasan-sebagai mana diketahui, baru pertama kali ia bertarung melawan orang, saking tegang dan boleh dibilang pemuda itu seperti lupa dengan semua pelajaran yang pernah diterima dari malaikat pedang berbaju perlente.
sampai serangan dahsyat dari Nyoo Jin hui hampir mengenai tubuhnya, ia tetap belum bergerak bergerak dari posisi semula.
Hanya rasa malu bagi ketidak mampuannya serta nama baik gurunya segera meliputi seluruh benaknya, tanpa terasa peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
Mendadak Nyoo Jin hui menarik kembali serangannya sambil mundur selangkah kebelakang, serunya kemudian dengan perasaan kagum.
"saudara Kim benar-benar bermata tajam rupanya sudah kau dugakan kalau seranganku ini hanya tipuan belaka. Kagum, sungguh mengagumkan-....."
Rupanya dia kelewat jeri terhadap kelihayan ilmu silat yang dimiliki simalaikat pedang berbaju perlente sehingga dalam jurus yang pertama dia melancarkan tipuan secara berhati-hati sekali dan tak berani memandang enteng lawan-Tentu saja ia tak menyangka kalau Kim Thi sia justru bisa bersikap demikian lantaran dia sendiri panik dan gugup sehingga tak tahu bagaimana caranya mengatasi ancaman tersebut.
Akan tetapi disaat Nyoo Jin hui melancarkan serangannya yang kedua, Kim Thi sia telah bulatkan tekad untuk menjaga nama baik gurunya dengan cara apapun, kendati dia harus pertaruhkan selembar nyawapun.....
Dengan cepat tangan kanannya mengeluarkan jurus babatan pedang menggetarkan ranting dari ilmu pedang lima Buddha untuk melancarkan sebuah sapuan kedepan, sementara telapak tangan kirinya mengeluarkan jurus kejujuran melebihi kerasnya emas dari ilmu Tay goan sinkang untuk menyongsong ancaman lawan secara ngawur.
Ia tak ambil perduli apakah gerakannya itu benar atau salah, pokoknya begitu serangan dilepaskan maka diapun mengikuti simhoat dari ilmu ciat Khi Mi Khi untuk berusaha menghisap tenaga dalam lawan sebanyak-banyaknya.
Jangan dilihat serangan tersebut dilancarkan secara mengawur, tapi sikakek dan Nyoo Hui yang mengikuti dari samping justru dibuat sangat terkesiap.
Nyata sekali kalau kedua jurus serangan tersebut memiliki daya kemampuan yang luar biasa.
Sekalipun tabokan dan bacokan itu dilepaskan dalam satu jurus, padahal setiap sendi gerakannya memiliki perubahan yang berbeda-beda.
Dalam setiap perubahan mengandung pula entah berapa banyak gerakan pembunuh yang secara lambat-lambat muncul susul menyusul ibarat sebuah jaring besar yang mengurung sekelompok ikan disamudra luas, membuat pandangan orang berkunang-kunang dan kepalanya terasa amat pening.....
Malaikat pedang berbaju perlente sendiri memang memiliki ilmu silat yang cukup menggemparkan seluruh daratan Tiong goan, ditambah lagi beberapa jurus ilmu pukulan dan pedang itu merupakan kepandaian yang dibanggakan olehnya selama ini.
sekalipun tenaga dalam yang dimiliki Kim Thi sia belum memadahi dan didalam ayunan tangannya tidak berapa banyak kekuatan yang terkandung tapi berbeda sekali hasil yang terpampang dihadapan Nyoo Jin hui saat itu......
Ketika ia berniat menarik kembali serangannya, keadaan sudah terlambat dan jurus serangan Kim Thi sia yang maha dahsyat itu sudah menyerang tiba seperti gulungan ombak ditengah samudra.
Dalam keadaan demikian, terpaksa dia harus mengeraskan kepala dan menyambut datangnya serangan tersebut dengan sepenuh tenaga.......
"Breeeeeeeeetttttt........."
Dibawah serangan Kim Thi sia yang maha dahsyat dan luar bisa itu Nyoo Jin hui tak mampu menghindarkan diri lagi sehingga baju dibagian bahunya kena tersambar dan robek besar.
sebaliknya disaat itu pula Kim Thi sia merasakan datangnya tenaga dorongan yang maha dahsyat menindih badannya tenaga itu begitu besar sehingga dia tak sanggup undur diri dan mundur beberapa langkah kebelakang.
Disaat itulah, mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya.
"Aaaah, bukankah dalam ilmu Tay goan sinkang terdapat sebuah jurus serangan yang bisa memanfaatkan gerakan mundur untuk melancarkan serangan?"
Begitu ingatan tadi melintas lewat, ia tidak berusaha untuk menghentikan gerak langkahnya yang menyusut kebelakang. sambil membentak nyaring, dia mengeluarkan jurus "sin seng mi li"
Untuk melakukan serangan balasan-Jurus serangan tersebut memang jauh berbeda dengan jurus-jurus serangan pada umumnya, tahu-tahu tubuhnya berputar setengah lingkaran busur, sikut kanannya segera ditekuk sambil menyodok.
sementara telapak tangan kirinya melancarkan tiga buah serangan berantai.
Menyusul kemudian telapak tangan kanannya secara tiba-tiba menggeliat masuk seperti seekor ular berbisa.
Tak terlukiskan rasa terkejut Nyoo Jin hui menghadapi ancaman tersebut, untuk mundur jelas sudah terlambat, padahal sekeliling tubuhnya tertutup oleh jaringan angin serangan yang begitu rapat dan dahsyat kesemuanya ini membuat ia tak mampu berkelit lagi.
sambil menggretak giginya kencang-kencang, dia segera menutup sepasang matanya.
"sreeeeett........"
Lagi-lagi sebagian baju diatas bahu kanannya tersambar sehingga robek besar.
Lengan kanan Kim Thi sia bagai seekor ular sakti saja melintas lewat dengan suatu gerakan yang luar biasa, kemudian dengan cepat menariknya kembali kebelakang.
Dengan wajah menyesal bercampur kagum, Nyoo Jin hui segera menjura seraya berkata.
"Terima kasih banyak atas belas kasihan saudara Kim, cukup menyaksikan kedua buah serangan yang lihay dan maha dahsyat tersebut, kesemuanya jauh berbeda diluar dugaan siauwte nyata sekali kalau ilmu silatmu luar biasa hebatnya, siauwte betul-betul merasa sangat kagum......"
Diam-diam Kim Thi sia bersyukur didalam hati, cepat-cepat hiburnya sambil tertawa.
"Kedua jurus serangan tersebut merupakan jurus sakti yang diandalkan suhuku dihari-hari biasa saudara Nyoopun tak usah putus asa atau malu kepada diri sendiri, sebab selama guruku mengembara diutara maupun selatan sungai besar dengan mengandalkan jurus serangan yang amat hebat itulah beliau tak pernah menjumpai tandingannya....."
Paras muka Nyoo Jin hui segera berubah hebat, tapi kemudian menghela napas panjang lagi setelah tertawa getir ujarnya.
"Suhumu memang seorang tokoh sakti yang tiada taranya didunia ini, beberapa jurus erangan yang sederhanapun cukup membuat siauwte takluk dan tunduk apalagi jurus serangan yang digunakan Kim tadi merupakan jurus serangan yang luar biasa biarkanlah iauwte merasa bangga mana mungkin aku jadi putus asa?"
Sikakek segera menimbrung juga.
"Ya, setelah menyaksikan kepandaian silat dari sobat kecil, pengetahuankupun bertambah satu bagian. Aaaai.....bila teringat kembali akan sepak terjangku dimasa muda dulu, begitu latah dan begitu sombong pada hakekatnya tidak memandang sebelah matapun terhadap orang lain-Perbuatanku waktu itu benar-benar tak tahu diri dan memalukan-Kini aku baru sadar bahwa diatas langit, diatas manusia pandai masih ada manusia pandai, tidak sedikitjago lihay yang tersebar luas didunia ini. Aaaaai........."
Rasa sedih yang amat tebal jelas membekas diatas wajahnya yang tua, seakan-akan dia memang sedang menyesali perbuatannya yang tak tahu diri dimasa lalu.
"Empek tak usah bersedih hati, sesungguhnya beberapa orang sih yang dapat menandingi empek didunia ini?"
Sinona berbaju merah yang selama ini tidak digubris dan berdiri seorang diri segera cemberut sambil bergumam.
"Huah apanya sih yang luar biasa, baru bisa menggunakan beberapa jurus serangan saja gayanya sudah hebat. Hmm, nonamu justru tak mau percaya dengan tahayul"
Entah disengaja entah tidak.
tapi yang pasti gumaman itu diutarakan dengan suara keras dan nyaring sehingga dapat terdengar oleh ketiga orang lainnya.
Kim Thi sia sesungguhnya merupakan seorang lelaki yang berlapang dada dan berjiwa terbuka, tapi diapun memiliki sifat keras hati.
Entah mengapa, ternyata gumaman tersebut menyinggung perasaan hatinya hawa amarah segera berkobar didalam dadanya, dengan suara keras serunya kemudian-"Kalau kau tak puas silahkan dicoba sendiri kau anggap aku takut kepadamu"
Nona berbaju merah itu segera berkerut kening, dengan sepasang matanya yang jeli dia memandang sekejap wajah Kim Thi sia, lalu serunya lagi sambil tertawa merdu.
"Nonamu justru tak percaya dengan segala macam tahayul kepingin kulihat, apa yang bisa kau lakukan terhadapku"
Sambil berkata dia segera meloloskan pedangnya, diantara kilauan cahaya hijau yang membias diangkasa, pelan-pelan dia berjalan menuju ketengah arena.
Hampir pada saat yang bersamaan, sikakek dan Nyoo Jin hui membentak bersama.
"soat hong, jangan bertindak kurang ajar, dia kan tamu kita......."
Hawa amarah yang berkobar didalam dada nona berbaju merah itu membara sambil menggertak gigi serunya.
"Tamu? Hmmm, kalau sudah tamu lantas kenapa? melihat tampangnya yang begitu sombong dan tak tahu diri, aku sudah muak rasanya......."
Sesudah terjadi bentrokan kekerasan dengan Nyoo Jin hui tadi, tak sedikit tenaga dalam yang secara diam-diam berhasil dihisap oleh Kim Thi sia ditambah pula pengalamannya dalam pertarungan tadi, diapun tak sudi memperlihatkan kelemahan dihadapan orang dengan suara lantang segera serunya.
"Kalau memang begitu, mari kita buktikan kehebatan kita berdua diujung senjata"
Dengan suatu gerak cepat Nyoo Jin hui menerjang ketengah arena dan merampas pedang ditangan nona berbaju merah, kemudian ujarnya dengan suara tak senang hati.
"Adikku, mengapa sih kau selalu memusuhi? Hayo cepat kau mesti minta maaf kepadanya"
"Tidak aku tidak mau, heran-.....kenapa sih kalian malah membantunya? apakah aku bukan anggota keluarga kalian?"
Nyoo Jin hui tertawa getir.
"Adikku, kau tak boleh berkata begitu jika kau tetap berkeras kepala semacam ini, bagaimana caraku untuk memberi penjelasan. Bagaimanapun juga, dia toh tamu kita, sekalipun ada hal yang kurang berkenan dihatimu sebagai tuan rumah kita harus bersikap sewajar mungkin, apalagi dia toh tak pernah menyalahi dirimu?"
"Hmmm tamu, tamu, tamu, tamu melulu.... sungguh membosankan Tamu begini, tak sudi kutolong dirinya tempo hari.... coba kau lihat. Huuuuh......gayanya saja soknya luar biasa"
Kim Thi sia jadi tertegun, mendadak ia berkata dengan suara bersungguh-sungguh.
"Baik, anggap saja aku memang bersalah, aku tak pantas berada disini, terima kasih banyak kuucapkan atas pertolongan kalian berdua yang telah membawaku kemari, budi kebaikan tersebut tak akan kulupakan untuk selamanya. sekarang juga aku akan pergi dari sini"
Selesai memberi hormat kepada semua orang, dengan langkah lebar ia beranjak pergi dari situ.
Betapapun sayangnya kakek tiu terhadap putrinya, ia tak bisa berpeluk tangan belaka setelah peristiwa itu berkembang lebih jauh dan membuat murid simalaikat berbaju perlente pergi lantaran marah.
Dengan suara keras bentaknya.
"soat hong, bila kau tidak segera minta maaf kepada sobat kecil ini serta menahannya disini, hubungan kita berdua sebagai ayah dan anak lebih baik berakhir sampai disini saja."
Setelah mengucapkan kata-kata tadi, agaknya sinona berbaju merah itupun sadar kalau perbuatan sudah kelewatan apalagi setelah ditegur ayahnya dengan muka dengan muka penuh amarah dan diancam akan putus hubungannya sebagai ayah dan anak ia makin kebingungan dibuatnya.
Tapi sebagai seorang gadis yang keras kepala, diapun enggan minta maaf dengan begitu saja kepada Kim Thi sia setelah terlanjur mengejeknya.
Karena itu untuk beberapa saat lamanya ia jadi tertegun dan berdiri melongo disitu.
sementara suasana diliputi serba rikuh mendadak kedengaran seorang berseru keras.
"Cengcu........"
Kemudian tampak seorang centeng berlari mendekat dengan wajah gugup dan langkah tergopoh-gopoh, kepada kakek tersebut dia membisikkan sesuatu.
Paras muka kakek itu segera berubah hebat, dengan suara keras bentaknya.
"sudahlah, kalau toh tiga setan dari szuchuan mempunyai keinginan tersebut akupun tak akan memikirkan hal yang lain lagi."
Kim Thi sia segera berpaling setelah mendengar perkataan itu, dia saksikan paras muka locengcu telah berubah menjadi hijau menyeramkan rambut dan jenggotnya serasa berdiri kaku bagaikan landak.
sudah jelas dia sedang dicekam rasa gusar dan yang luar biasa.
Perubahan tersebut tentu saja sangat mencengangkan hati sianak muda tersebut.
Nyoo Jin hui telah merasakan juga betapa gawatnya persoalan yang sedang dihadapi ayahnya, sementara dia masih termangu tiba-tiba dilihatnya Kim Thi sia berpaling.
satu ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya, dengan suara keras dia berseru.
"saudara Kim, pedangmu masih kusimpan sebentar biar kusuruh adikku minta maaf kepadamu, apalagi kita berduapun sudah cocok satu dengan lainnya, mengapa tidak menginap selama beberapa hari lagi disini."
Teringat kembali dengan pedang Leng Gwat po kiam miliknya, cepat-cepat Kim Thi sia berjalan balik sambil berkata.
"Maksud baik saudara Nyoo biar kuterima didalam hati saja, harap saudara Nyoo sudi mengembalikan prdang ku itu, soal menginap toh kemudian hari masih banyak kesempatan biar kupenuhi undanganmu itu dilain waktu saja"
Tapi sewaktu melihat sinona berbaju merah memandanganya dengan wajah penuh kegusaran, keningnya kembali berkerut pikirnya.
"Perempuan itu benar-benar keras kepala belum pernah kutemui perempuan macam begini......biar kujauhi saja perempuan semacam ini dikemudian hari......"
Untuk menghilangkan rasa mangkel yang menyesakkan napas diapun mengangkat kepala dan menarik napas panjang lalu kancing baju bagian dadanya dilepas.
Tiba-tiba ia saksikan paras muka nona berbaju merah itu berubah menjadi merah dadu dan melengos kedepan sikapnya yang tersipu-sipu itu jauh berbeda dengan sikap garang dan keras kepala yang diperlihatkan tadi.
"Sikap semacam ini adalah sikap yang begitu amat tak sopan"
Teringat kembali dengan nasehat gurunya itu cepat-cepat dia mengancingkan kembali pakaian dibagian dadanya. setelah itu dia berpikir lebih jauh.
"Heran, begitu banyak peraturan yang harus ditaati manusia didunia ini? padahal membuka kancing baju dibagian dada toh bukan suatu perbuatan asusila? Mengapa hal inipun dilarang? sungguh mengherankan-..."
Sementara itu sikakek telah menghela napas berulang kali dan pelan-pelan beranjak pergi dari situ.
Kim Thi sia dapat merasakan bahwa langkah sikakek itu begitu besar, penuh diliputi perasaan gusar bercampur sedih.
Hal ini menimbulkan rasa ingin tahu didalam hatinya.
Buru-buru dia berseru.
"Empek tua, apakah kau menjumpai sesuatu kesulitan?"
Kakek itu tertawa getir.
"Yaa, tiga setan dari Szuchuan telah datang mencari gara-gara.........benar-benar bedebah"
"Tiga setan dari szuchuan? HHmm didengar dari namanya saja sudah diketahui kalau mereka bukan manusia baik-baik. Empek. kalau toh ketiga setan dari szuchuan itu tanpa alasan datang mencari gara-gara, ini berarti merekalah yang bersalah. Keponakan bersedia untuk mewakili empek dalam menghadapi mereka.........."
Begitu mendengar perkataan tersebut, rasa murung dan sedih yang semula menyelimuti wajah kakek tersebut kontan hilang lenyap tak berbekas segera serunya dengan gembira.
"sungguh? sobat kecil benar-benar bersedia membantu diriku?"
"Tentu saja"
Sahut Kim Thi sia sambil bertepuk dada.
"setiap perkataan yang kuucapkan, tentu saja harus kulaksanakan. Apalagi sebelum wafat ayahpun telah berpesan demikian kepadaku, masa aku berani membangkang pesannya?"
Dengan perasaan gembira Nyoo Jin hui ikut berseru.
"Asal saudara Kim bersedia membantu kami, niscaya musibah yang mengancam perkampungan Liong lim ceng akan terhapus sama sekali, hayo jalan biar siauwte siapkan sedikit sayur dan arak untuk menyampaikan rasa terima kasih kami kepadamu."
Sekilas cahaya girang sempat pula memancar keluar dari balik mata nona berbaju merah itu, namun ketika Kim Thi sia berpaling kearahnya, dengan cepat dia menarik muka sambil mendengus.
Kepalanya didongakkan keatas dan menunjukkan sikap acuh tak acuh.
Untung saja Kim Thi sia tidak menggubris atas sikap gadis tersebut malah ujarnya sambil tertawa.
"Saudara Nyoo terlalu sungkan, urusan sekecil ini sudah sepantasnya kalau kuhadapi, buat apa sih kau persiapkan hidangan segala?"
"sudah dua hari lamanya saudara Kim tidur pulas, selama inipun kau belum pernah mengisi perut, apakah engkau tidak merasa lapar?"
"Aaaah, iya.......betul juga perkataan itu, ayoh berangkat, kita segera bersantap. Terus terang saja saudara Nyoo, selama hidup aku belum pernah minum arak, tapi ayahku sering bercerita, sebetulnya macam apa sih arak?"
Begitu ucapan tersebut diutarakan, suara tertawa cekikikan yang amat nyaring telah bergema memecahkan keheningan.
Menanti Kim Thi sia berpaling dengan perasaan tertegun dilihatnya sinona berbaju merah itu telah menunjukkan kembali sikapnya yang dingin dan kaku.
Tanpa terasa dia berpikir kembali.
"Bagaimana sih dengan perempuan ini? sebentar marah, sebentar tertawa, sebentar jengkel, sebentar lagi girang........ jangan-jangan taknya rada kurang waras?"
Ketika melangkah masuk kedalam ruangan, hidangan yang beraneka ragam telah disiapkan diatas meja, tanpa sadar pemuda itu berpikir kembali.
"Wah cepat betul sekejap mata saja hidangan telah siap."
Ketika melihat empat orang centeng berdiri mendampinginya tanpa mengucapkan sepatah katapun, Kim Thi sia mengangkat cawan araknya dan meneguk seteguk. lalu serunya.
"Hey, mari kalian berempatpun mencicipi secawan arak."
Tapi setelah dilibatkan keempat orang itu tetap berdiri dan berkutik dan sama sekali tak menggubris tawarannya, Kim Thi sia segera menggerutu.
"Kalau toh kalian tak berani minum, lebih baik jangan minum. Memang lebih baik jangan minum, atau mungkin kalian tak berani? Hayo cepat kemari dan rasanya enak kok."
Keempat orang centeng itu tetap tak bergerak dari posisinya semula. Akhirnya Nyoo Jin hui yang berpaling dan serunya sambil berkata.
"Kalau toh saudara Kim menghendaki demikian, kalian jangan menampik maksud baiknya itu, teguklah secawan-"
Keempat orang itu saling berpandang sekejap kemudian setelah menerima cawan dan meneguk isinya sampai kering dengan sikap hormat mereka mundur kembali ketempat semula.
melihat itu Kim Thi sia kembali berpikir.
"Bagus sekali, tadi kusuruh kalian minum, kalian enggan Nyoo Jin hui cuma menggapai, kalian segera datang. Kalian berempat memang terlalu menghina orang."
Ketika perjamuan telah berlangsung setengah jalan, mendadak terdengar Nyoo Jin hui berkata.
"Saudara Kim, aku rasa cita-cita dan jalan pemikiran kita berdua hampir sama dan sejalan, apa salahnya kalau kita mengangkat diri menjadi saudara saja?"
"Aku tak ada usul lain-Asal kau bersedia pokoknya aku menurut saja........"
Kontan saja Nyoo Jin hui kegirangan setengah mati dengan wajah berseri-seri.
"Bagus sekali, tak kusangka jiwa saudara Kim begitu terbuka, aku jadi malu sendiri karena keraguanku tadi anggap saja secawan arak ini sebagai ikatan persaudaraan diantara kita. Selanjutnya kita berdua tak akan terpisahkan oleh apapun-Tahun ini aku berusia dua puluh tahun, bagaimana dengan dirimu?"
"Aku tujuh belas tahun"
Sahut Kim Thi sia dengan wajah bersemu merah.
"Adikku, mari kita teguk habis isi cawan ini"
Ucap Nyoo Jin hui lagi. Tanpa banyak bicara, Kim Thi sia segera meneguk habis isi cawannya, sementara dalam hatinya berpikir.
"Tadi kau masih memanggil aku saudara kini berubah menjadi adik, besar amat perubahan ini."
Dalam pada itu, Nyoo Jin hui telah menuding kearah nona berbaju merah itu sambil berkata lagi.
"Dia adalah adi perempuan kita yang keras kepala dan selanjutnya menjadi adik perempuanmujuga. Kuharap kalian jangan saling mendongkol lagi, toh kita sudah menjadi orang sendiri......"
Tanpa sebab merah jengah selembar wajah nona berbaju merah itu, setelah melotot kearah kakaknya, dia menunduk dan membungkam dalam seribu bahasa.
sebaliknya Kim Thi sia segera berpikir sambil berkerut kening.
"Hmm, aku mah tak sudi menerima saudara dengan perempuan judes itu Aaaaai....tapi apa boleh buat?"
Sementara perjamuan berlangsung dengan meriah mendadak Kim Thi sia berjongkok kebawah.
Ternyata telapak kakinya terasa amat sakit sekali, tanpa berpikir panjang dia melepaskan sepatu dan memeriksa telapak kakinya itu, ternyata disitu telah muncul sebuah bisul kecil yang membengkak dan berwarna merah membara.
Tindakannya mencopot sepatu dihadapan orang banyak merupakan suatu perbuatan yang amat tak sopan, tak heran kalau para centeng yang berada disekitar sana kontan menutup mulut sambil tertawa geli.
Tapi Kim Thi sia tak ambil perduli sehabis memeriksa telapak kakinya itu segera pikirnya.
"Yaa, bukankah aku sudah berhasil menghisap tenaga murni orang dengan menggunakan ilmu Ciat Khi Mi Khi? kata suhu, bagian yang merasa sakit itu merupakan titik kelemahan, sudah pasti disitulah terletak titik kelemahan itu........"
Tapi diapun bersyukur karena titik kelemahannya justru terletak diatas telapak kakinya.
Padahal letaknya justru berada dipaling bawah dan paling tertutup dan aman, sekalipun sedang bertarung dengan orang lainpun mustahil orang bisa mengarah telapak kakinya itu.
sementara dia masih kegirangan, Nyoo Jin hui telah menegur dengan penuh perhatian.
"Adik Kim, adakah sesuatu yang kurang beres?"
"ooooh tidak. aku cuma merasa telapak kakiku gatal sekali."
"Jangan-jangann kena penyakit koreng?"
Maksudnya dia mengira Kim Thi sia menderita sakit maka pertanyaan tersebut diajukan dengan penuh rasa kuatir.
Tapi Kim Thi sia yang polos justru salah mengira kalau-kalau lawan telah mengetahui rahasianya, teringat kembali perkataan gurunya tempo hari ia menjadi amat terkesiap.
sambil melompat bangun segera teriaknya keras-keras.
"Ooooh bukan, bukan, siauwte bilang bukan yaa bukan"
Sambil berkata mukanya jadi merah membara dan terasa panas sekali.
Nyoo Jin hui dibuat tertegun, sebaliknya Nyoo soat hong atau nona berbaju merah itu segera tertawa cekikikan, seperti mengejek seperti juga mentertawakannya.
Buru-buru Kim Thi sia berpaling kebetulan Nyoo soat hong juga sedang menengok kearahnya empat mata segera saling bertemu.
Tiba-tiba Nyoo soat hong merasakan hatinya berdebar, suatu perasaan aneh timbul didalam hati kecilnya, segera pikirnya.
"Orang ini benar-benar aneh, sewaktu pertama kali bertemu dengannya, aku tidak merasakan sesuatu yang aneh, tapi ketika bertemu untuk kedua kalinya, dia seakan-akan lebih cakep.
dan sampai pada pandangan yang ketiga rasanya ia lebih ganteng dan menarik.
padahal jika diamati dengan seksama rasanya ia tak punya keistimewaan apa-apa.
Waaah............
jangan-jangan dia punya ilmu sihir sehingga membuat orang yang melihat makin menarik?"
Yaa, kalau berbicara yang sejujurnya, Kim Thi sia memang bukan termasuk pemuda yang ganteng, tapi ia justru memiliki banyak bagian yang jauh menarik kaum wanita ketimbang ketampanan wajahnya.
Dia seperti segulung api yang menyala-nyala dengan hebatnya, sifat jantan dan gagah yang memancar dari wajahnya, mendatangkan perasaan simpatik orang tanpa dia sadari.
Kini malam sudah makin larut suasana yang mencekam sekeliling tempat itupun bertambah hening....
Nyoo Jin hui pelan-pelan bangkit berdiri sambil mengangkat cawannya kemudian berkata.
"Kesediaan Kim siauwhiap membantu kami pada hari ini jauh melebihi bantuan dari seratus orang jago biasa. sebentar lagi kita akan mulai bertindak, untuk menghormati Kim siauwhiap kami ayah dan anak bertiga akan mengajak serta para centeng tersebut, sebab mereka lebih hanya gentong nasi yang sama sekali tak ada gunanya."
Kim Thi sia pun tidak banyak bicara lagi, bersama ketiga orang itu berangkatlah mereka meninggalkan tempat dengan langkah lebar.....
Entah berapa jauh mereka berjalan, yang jelas jalanan setapak yang dilewati penuh berliku-liku dan belok kesana belok kemari tiada hentinya, sampai akhirnya sampailah mereka disebuah tempat terpencil.
Tempat itu amat liar, semak belukar tumbuh amatr lebat dan subur, ranting pohon bercabang kian kemari daun kering hampir menutupi permukaan tanah, suasana betul-betul menyeramkan.
Dibawa h sinar rembulan yang redup ditambah lagi suasana disekitar situ gelap gulita, hembusan angin dingin yang sepoi-sepoi justru membuat bulu kuduk orang pada bangkit berdiri.
Ditepi batu gunung yang besar terhentang sebuah telaga yang luas, air telaga amat jernih, ketika angin berhembus permukaan air yang beriak memancarkan gelombang kecil seperti beribu-ribu ekor ular yang sedang berkelejitan.
Dengan perasaan hati yang kebat kebit ayah beranak dari marga Nyoo itu berdiri kaku ditempat, sebentar-sebentar mereka celingukan kian kemari dengan perasaan gugup dan tebang.
Hanya Kim Thi sia yang sama sekali tidak mengerti arti kata "Takut"
Ketika dilihatnya permukaan telaga amat tenang, tanpa terasa diawasinya tempat tersebut dengan termangu.
Mendadak dari balik permukaan air muncul tiga buah titik hitam yang pelan-pelan bergerak mendekati pantai.
"Waaah, besar amat ikan tersebut"
Pikir Kim Thi sia dalam hati. Dengan cepat ia mengambil sebutir batu besar lalu ditimpuk kemuka dengan sepenuh tenaga.
"Pluuuuuuuung .........."
Percikan air memancar keempat penjuru, tahu-tahu terdengar suara tertawa seram bergema memecahkan keheningan, lalu tampak tiga sosok bayangan hitam melompat keluar dari balik permukaan air dan melayang ketepi pantai.
Menyaksikan hal tersebut, dengan perasaan tak senang hati Kim Thi sia segera berpikir.
"Sialan, rupanya bukan ikan tapi manusia, kalau begitu aku sudah ditipu mereka habishabisan?"
Saat itulah terdengar Nyoo Lo enghiong berkata sambil tertawa nyaring.
"Tiga setan dari szuchuan, aku datang untuk memenuhi undangan kalian, tapi jika kalian memaksa aku untuk menyerahkan kotak wasiat Hong toh tersebut, biar matipun tak bakal kupenuhi."
Gerakan tubuh ketiga sosok bayangan manusia itu benar-benar amat cepat, begitu mencapai diatas daratan-serentak mereka melepaskan pakaian luarnya yang berwarna hitam sehingga tampaklah pakaian ringkas, yang dilengkapi dengan tiga buah ruyung besi yang sangat besar.......
orang yang berada dibagian tengah adalah seorang kakek bermuka putih bersih yang beralis pendek dan hidung pesek.
sambil tertawa seram ia segera berkata.
"setiap orang tahu kalau kotak wasiat Hong toh menyimpan rahasia yang amat besar jangan lagi kami tiga setan dari szuchuan, bahkan semua jago silatpun menginginkan benda tersebut. Nah Nyoo lo enghiong, banyak berbicarapun tak ada gunanya, sebagai sama-sama jago kenamaan yang bercokol didaerah szuchuan, mari kita saling beradu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih unggul diantara kita, kasihan para jago persilatan lainnya kalau tak punya bahan cerita untuk mengisi waktu senggang mereka."
Dalam pada itu Nyoo Jin hui telah berkata pula.
"Kim hiante, ketajaman matamu benar-benar mengagumkan sungguh tak nyana kau dapat melihat kalau tiga setan dari szuchuan telah bersembunyi didasar telaga. Menggelikan sekali diriku ini, aku masih menyangka mereka belum datang"
Kemudian setelah berhenti sejenak dia berkata lebih jauh.
"Kakek berwajah putih bersih itu merupakan pemimpin dari tiga setan orang menyebutnya sisetan berwajah putih, disampingnya sikakek bermuka hitam itu menduduki urutan kedua orang menyebutnya si setan bermuka hitam sedang yang ketiga adalah sisetan bermuka merah."
"Tiga setan dari szuchuan mulai angkat nama diwilayah szuchuan, masing-masing semuanya memiliki kepandaian silat yang begitu luar biasa dan malang melintang diwilayahnya tanpa tandingan, banyak sudah kejahatan yang telah mereka lakukan, namanya makin lama makin busuk. Tak nyana dia justru datang mencari gara-gara dengan ayahku"
Dengan kening berkerut Kim Thi sia berkata.
"Serahkan saja sisetan bermuka putih itu kepadaku, sedang saudara Nyoo berdua serta empek menghadapi kedua setan lainnya"
Sesungguhnya tiga setan dari szuchuan dapat termasyur didunia persilatan, separuhnya dikarenakan ilmu silat yang dimiliki sisetan berwajah putih amat lihay dan tiada taranya didunia ini, bahkan jauh melebihi loji maupaun losam.
oleh karena itu ketenaran tiga setan dari szuchuan boleh dibilang merupakan hasil karya sisetan bermuka putih seorang.
Kim Thi sia menyayangi untuk menghadapi sisetan bermuka putih ini berarti kedua orang lainnya akan lebih mudah untuk dihadapi Dengan perasaan amat berterima kasih Nyoo Jin hui segera berkata.
"Hiante, biarpun ilmu silatmu sangat lihay, tapi janganlah gegabah. Kau harus berhati-hati, sisetan bermuka putih ini selain berilmu tinggi, otaknya juga amat cerdas, kalau kurang waspada kau bisa dipecundangi olehnya"
Kim Thi sia segera manggut-manggut, kemudian dengan suara lantang serunya.
"Hey sisetan bermuka putih, hayo turut aku bila kau tak takut mampus, mari kita bertarung dibelakang sana"
Rupanya anak muda itu kuatir ia mendapat malu dihadapan keluarga Nyoo sehingga mengecewakan mereka, karenanya dia sengaja menantang sisetan bermuka putih agar bertarung dibelakang hutan saja.
Pikirnya kemudian-"Bagaimanapun juga aku toh sudah berlatih ilmu Ciat khi mi khi sehingga tidak takut digebuk, kenapa tidak kumanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk menghisap tenaga dalamnya?
menurut keterangan suhu, makin tinggi musuh yang dihadapi makin besar pula manfaat yang akan diperoleh.
Padahal sisetan bermuka putih adalah pentolan dari tiga setan, ilmu silatnya paling hebat, bukankah dia paling cocok untuk menambah tenaga dalamku?"
Maka tanpa menunggu jawaban dari sisetan bermuka putih, Kim Thi sia segera beranjak dari situ dengan langkah perlahansebagai seorang gembong iblis yang berilmu tinggi, tentu saja sisetan bermuka putih jadi amat mendongkol setelah melihat ada orang berani menantangnya untuk berduel, apalagi orang itu adalah seorang pemuda ingusan yang belum pernah dijumpai sebelumnya.
Dengan amarah yang berkobar-kobar segera pikirnya.
"sialan benar bocah keparat ini, sejak terjun kedunia persilatan, hampir semua jago kenal denganku sisetan bermuka putih, selama inipun belum pernah ada yang berani menantangku secara kasar macam begini. siapa sih orang ini? berani betul dia menantangku."
Tapi sebagai manusia yang licik biarpun hatinya jengkel perasaan tersebut tak sampai diutarakan keluar, malah serunya sambil tertawa nyaring.
"Kalau ingin mampus silahkan saja, bocah keparat. Tak nyana kalau kau bernyali besar sungguh hebat, sungguh hebat"
Padahal dalam hati kecilnya ia sudah memutuskan akan membunuh Kim Thi sia secepatnya.
Begitulah, dengan langkah cepat mereka berdua berjalan keluar dari hutan dan menuju ketanah lapang dibelakang hutan tersebut.
Begitu terlepas dari pengamatan keluarga Nyoo, nyali Kim Thi sia semakin membesar, sambil menjura ia tertawa licik segera serunya.
"Hey setan bermuka putih, aku dengar ilmu silatmu jauh melebihi kedua setan lainnya, apa betul berita ini?"
Setan bermuka putih ini yang sudah bertekad akan menyelesaikan dirinya secepat mungkin agar bisa membantu kedua orang saudaranya, tentu saja tak sudi banyak berbicara lagi.
Diiringi suara tertawa yang menyeramkan, dia segera menghimpun tenaga dalamnya dan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun melepaskan satu pukulan kedepan.
Dengan suatu gerakan cepat Kim Thi sia mundur sejauh lima enam langkah kebelakang, kemudian tegurnya dengan marah.
"Hey setan bermuka putih, kenapa sih kau menyerang tanpa bersuara?Huuh, sungguh memalukan-"
Terkesiap juga perasaan sisetan bermuka putih setelah melihat bocah muda itu sama sekali tidak roboh walaupun sudah terkena serangan, malah sempat memaki dirinya habis-habisan-Ditinjau dari hal ini bisa diketahui bahwa kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki sungguh diluar dugaan.
Menyadari akan kelihayan lawannya, dia tak berani untuk bertindak gegabah lagi dengan menambahi tenaga pukulannya dengan bagian tenaga murni, dia lancarkan kembali sebuah pukulan dahsyat.
Kali ini Kim Thi sia sudah melakukan persiapan, ia sambut datangnya serangan tersebut dengan kekerasan.
sementara simhoat ilmu ciat khi mi khi segera dilakukan guna menghisap tenaga dalam lawannya.
"Blaaaaaaammmmmm........."
Tubuh Kim Thi sia terpental sejauh satu kaki lebih dan roboh terjungkal keatas tanah, dadanya terasa sesak dan hawa darahnya bergolak amat kencang.
Dalam kagetnya tanpa terasa ia berpekik didalam hati.
"Habis sudah riwayatku kali ini. Tak nyana ilmu ciat khi mi khi yang diajarkan suhu kepadaku bukan saja tidak mendatangkan hasil apa-apa, keempat anggota badanku malah dibikin lemas tak bertenaga dan kepala jadi pusing tujuh keliling."
Sementara dia masih berpikir, sisetan bermuka putih itu telah berseru sambil tertawa seram.
"Heeeehhh......heeeehhh....heeeehhhh.... bocah keparat, rupanya kau cuma bisa begitu-begitu saja, hampir saja aku terkecoh. Heeehhh.....heeeeehhh..........."
Baca Juga: Anak Naga 10
Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 18