Ceritasilat Novel Online

Kuda Putih 3

Eps 3 Kuda Putih - Okt

Baca online Kuda Putih - Okt

Cersil Kuda Putih - Okt.

Keputusan mereka dinantikan oleh orang-orang bangsanya.

Selang sekian lama, ketua yang usianya paling lanjut, yang kumisnya telah ubanan, berbangkit dari kursinya, lalu dengan suara nyaring dan tenang ia mengasih dengar perkataannya.

"Adalah aturan dari kaum kita semenjak seratus tahun yang lampau yang melarang pembunuhan di antara kita sendiri, bahwa siapa membunuh, hukumannya ialah hukuman mati. Supu telah membunuh Cherku, maka itu dia harus dihukum mati!"

Semua orang berdiam sambil berduduk. Supu sendiri seperti mendumal ketika ia berkata.

"Aku tidak membunuh Cherku... Aku tidak membunuh Cherku..."

Di dalam kesunyian itu, sekonyong-konyong seorang bangun berdiri. Dialah Sangszer, yang terus berkata dengan nyaring.

"Cherku ialah guruku, dia dibunuh Supu, perbuatan Supu tidak selayaknya. Tapi di samping itu, terlebih dulu guruku telah membunuh ayahnya Supu, bisa dimengerti yang Supu menjadi berduka dan bergusar hingga dia telah membuatnya pembalasan. Maka itu, kesalahan Supu tidak dapat dipandang dan disamakan dangan pembunuhan yang biasa."

Sangszer ini adalah musuhnya Supu, setiap orang mengetahuinya, sekarang dia menunjuki sikapnya ini, sikap dari satu laki-laki, dia membuatnya orang kagum hingga semua mata diarahkan kepadanya.

Supu pun mengawasi dengan sinar mata yang bersyukur.

Tatkala Supu berpaling kepada Aman, si nona menoleh ke lain arah, untuk mencegah bentroknya sinar mata mereka.

Si tertua yang kumisnya ubanan itu mengangguk.

"Kami bertiga pun sama pendapat,"

Ia berkata, tenang.

"Supu pun membilang bahwa dia telah menolongi suku kita mendapatkan suatu tempat penyimpanan harta besar dengan apa suku kita bisa menjadi makmur dan berbahagia, hingga jasanya itu bukannya kecil, hingga dapat dia menebus dosanya dengan jasanya itu. Supu dapat bebas dari hukuman mati tidak dari hukuman hidup, maka itu putusan sidang ialah.

"Mulai hari ini dia diusir untuk selamanya dari kaum Tiehyen kami, dia dilarang pulang, jikalau kedapatan dia pulang secara diam-diam, dia akan dihukum mati tanpa ampun pula!"

Supu tunduk, dengan perlahan ia kata.

"Aku tidak membunuh Cherku! Tapi, siapa pun tidak percaya aku, bahkan Aman tidak mempercayainya..."

VIII Supu pergi seorang diri dengan pikirannya tidak keruan rasa.

Ia menggendol sebuah bungkusan serta sebuah kantung air.

Ia berjalan di antara jalanan yang bersalju.

Ia telah diusir dari kaumnya, dari tanah tempat kelahirannya.

Ia diusir untuk selama-lamanya hingga tidak dapat ia kembali ke kampung halamannya itu.

Ayahnya, yang ia cintai, telah mati, dan kekasihnya, Aman, telah menjadi musuhnya.

Di dalam dunia yang luas ini, ia sekarang menjadi sebatang kara.

Ada satu pertanyaan yang tidak mau pergi dari dalam hatinya.

Itulah hal yang sangat membikin ia heran, yang tak ia mengerti.

Inilah dia.

"Terang sekali aku tidak membunuh Cherku! Kenapa golokku dapat nancap di dadanya? Ketika di saat itu api padam dengan tiba-tiba, aku cuma merasa ada orang menyamber dan merampas golok dari tanganku. Adakah perampas itu Cherku, yang karena telah membunuh ayahku, lalu menjadi malu sendirinya dan merampas golokku untuk membunuh diri? inilah tidak mungkin terjadi! Cherku bukan semacam laki-laki! Dia pun mempunyai goloknya sendiri, perlu apa dia merampas golokku? Mungkinkah, dalam saat murka itu, aku sampai lupa akan diriku, aku membunuh Cherku di luar tahuku? Ya, inilah mungkin, inilah mungkin..."

Ia berjalan terus, pikirannya itu pun bekerja teras. Ia menimbang-nimbang, ia menanya dirinya sendiri, tetapi tidak dapat ia memberikan jawabannya. Pikirnya pula.

"Tidak, itulah tidak mungkin. Ketika itu, pikiranku sehat sekali, pikiranku tidak kacau! Luar biasa aku membunuh orang tetapi aku tidak tahu! Cherku musuhku, sebab dia membunuh ayahku, dengan membunuh dia, aku tidak menyesal, hanya aneh adalah duduknya peristiwa! Aku tidak membunuh dia! Habis, siapakah? Mungkinkah benar, di dalam istana rahasia itu ada memedinya?"

Lama Supu berjalan, lama ia berpikir, akhirnya, ia mengarahkan kudanya ke istana rahasia.

Ia merasa kesepian.

Ketika beberapa hari yang lalu ia pergi mencari istana itu, ia ada bersama ayahnya serta Aman, juga beserta si nona Kang yang pendiam, yang sinar matanya bagus dan tajam "Sekarang setelah ayahku mati, aku hidup bersendirian.

Dengan Aman aku tidak bakai bertemu pula untuk selama lamanya.

Umpama kata kita dapat bertemu, dia sangat membenci aku.

Bagaimana dengan si nona Kang?

Dia pun setahu telah pergi ke mana...

Semenjak berlalu dari istana rahasia, terus aku tidak melihatnya...** Demikian pemuda-ini ngelamun dalam pikirannya.

Ia berduka, ia mendongkol, ia pun bercuriga, ragu-ragu.

Ia berada dalam kesunyian tetapi ia tidak takut.

Maka ia telah mengambil keputusan guna mencari sesuatu di dalam istana rahasia.

Ia menganggap lebih baik lagi kalau ia dibinasakan memedi gurun!

Bukankah di dalam dunia ini sudah tidak ada apa-apa lagi yang berarti?

Sementara itu di dalam salah saru kamar di Istana Rahasia Kobu, Hok Goan Liong dan Tan Tat Hian lagi duduk berhadapan, bergantian atau berbareng mereka tertawa terbahak-bahak, saking girangnya, saking puasnya, hati mereka.

Bersama mereka pula turut bergembira tiga puluh lebih pengikut-pengikut mereka.

Sebab kantong dari setiap dari mereka telah penuh isinya yang berupa barang-barang permata yang banyak sekali, bahkan umpama kata setiapnya membawa sepuluh buah kantong, tempat itu masih kekurangan guna dapat mengangkut semua harta karun dari kamar rahasia itu-tak satu perseratus atau satu perseribunya...

"Shatee,"

Berkata Goan Liong.

"kita telah berlalu dari rumah belasan tahun lamanya, sekarang ini barulah maksud hati kita tercapai. Semua ini ialah karena jasa kau yang bukan kecil itu. Duluhari kita bersusah hari karena kita tidak bisa mencari harta karun ini. sekarang ini kita bersusah hati disebabkan kita tidak sanggup mengangkut aemua harta ini karena jumlahnya harta sangat banyak! Bagaimana harta ini dapat diangkut semua?"

Tat Hian tertawa tetapi ia berkata.

"Apa yang aku buat susah hati sekarang adalah satu urusan lain..." -"Apakah itu, shatee?"

Goan Liong tanya.

"Adakah dia si tua bangka bongkok seperti unta itu? Kalau dia, meskipun dia terlebih lihai lagi, dengan dua tangannya dia tidak dapat melawan empat buah kepalan. Mungkinkah dia berani menepuk laler di kepalanya harimau?"

Ia menoleh kepada sebawahannya, yang menjadi tauwbak atau kepala rombongan seraya berkata.

"Eh, Lao Sin, pagi kau mengajak sepuluh saudara, kau tengok segala bagian dari istana ini, periksa biar tertib!"

Tauwbak she Sin itu mengangguk, dengan lantas ia berlalu bersama sepuluh kawannya. Di antara mereka itu ada yang tidak sabaran, sembari jalan dia mengoceh.

"Memeriksa saja tak hentinya! Di sini di mana ada si bungkuk unta?"

Supu di lain bagian telah menyembunyikan diri, ia mepet di tembok di belakang pintu, membiarkan rombongan si Sin itu lewat.

Ia tiba di dalam istana rahasia itu di saat yang tepat Beruntung untuknya, si Sin tidak bercuriga bahwa di belakang pintu ada yang bersembunyi, mereka itu lewat terus sambil membawa obor sebagai alat penerangan.

Supu lantas mendengar pula suaranya Tat Hian.

"Si tua bangka bungkuk tetaplah seorang tua bangka, orang yang aku kualirkan ialah si orang Kazakh.-"

Supu jadi sangat ketarik, hingga ia memasang kuping dengan perhatian sepenuhnya.

"Mereka itu terdiri dari lima orang, mereka telah mengikuti jejak tapak kakiku,"

Si orang she Tan melanjuti.

"Entah kenapa, dua di antaranya, dua orang,.pria yang telah berusia lanjut, telah kedapatan mati di dalam istana ini..."

Sebenarnya Supu mau menduga Cherku dibinasakan Tat Hian, tetapi mendengar perkataan ini, penyamun itu tidak dapat diterka. Maka itu, siapakah pembunuhnya Cherku? Hok Goan Liong tertawa.

"Mereka itu telah melihat harta karun ini, tidaklah aneh jikalau mereka jadi mata gelap dan saling bunuh,"

Katanya.

"Itu pun masuk akal."

"Yang aku paling kuatirkan,"

Kata pula Tat Hian.

"ialah itu tiga muda-mudi anjing Kazakh... Kalau mereka pulang kepada bangsanya, bisa jadi mereka bakal datang pula dalam satu pasukan besar untuk mengangkut semua harta karun ini..."

Mendadak Goan Liong berjingkrak bangun.

"Shatee, kau benari"

Serunya.

"Sebetulnya mereka itu bertiga harus bekerja diam-diam mengangkut harta ini, tetapi mereka muda dan tolol, memang mungkin mereka memberitahukannya kepada bangsanya. Taruh kata mereka berdiam-diam saja, di belakang hari, rahasia mereka itu bakal bocor sendirinya. Sekarang, shatee, bagaimana pikiranmu?"

"Telah lama aku pikirkan itu, aku masih belum berhasil memperoleh jalannya yang sempurna,"

Menyahut Tat Hian.

"Mereka berjumlah banyakan, jumlah kita kecil sekali, jikalau kita melawan bertempur, sulit untuk kita memperoleh kemenangan. Aku pikir, paling benar ialah kita yang turun tangan terlebih dahulu..."

"Bagaimana itu?"

"Secara diam-diam kita menyateroni ke tempat mereka. Kita menyerang sambil membakar..."

Perkataannya Tat Hian berhenti secara mendadak.

Kebetulan sekali, mereka mendengar jeritan nyaring, yang nadanya menyayatkan.

Keduanya kaget dan heran, keduanya lantas menyiapkan senjatanya masing-masing.

Segera setelah itu, mereka mendengar tindakan kaki berlari-lari, disusul munculnya seorang sebawahannya, yang terus melaporkan.

"Toa... toapiauwtauw dan sampiauwtauw, Lao Sin jatuh kecemplung!..."

"Jatuh kecemplung?"

Tanya Goan Liong heran.

"Benar. Lao Sin kena injak perangkap, dia terjeblos jatuh dalam..."

Tat Hian mengangguk.

"Di dalam istana rahasia ini ada perangkapnya, inilah tidak aneh,"

Katanya.

"Mari kita pergi melihat!"

Goan Liong setuju, maka berdua mereka pergi.

Si pelapor jalan di muka sebagai penunjuk, yang lainnya mengikuti Mereka melintasi delapan kamar, sampai di sebuah yang lain di mana berkumpul semua kawan, yang ribut bicara satu dengan lain, mata mereka melongok ke lantai, roman mereka tegang.

Di lantai ada sebuah liang besar luas setombak, tempo disuluhkan, di dalam liang itu tidak nampak apa-apa saking gelap dan dalam.

Jadi itulah liang seperti tanpa dasar.

"Tadi Lao Sin jalan di muka,"

Seorang memberi keterangan.

"mendadak dia terjeblos dan kecemplung..."

Tat Hian melongok ke liang perangkap.

"Lao Sin! Lao Sin!"

Ia memanggil-manggil.

Tidak ada jawaban kecuali jawaban sang kumandang dari dalam liang itu.

Tat Hian memandang Goan Liong, Goan Liong mengawasi padanya, hati mereka sama-sama bekerja.

Dengan sendirinya mereka merasa jeri.

"Di dalam istana ini disimpan harta besar, pantas kalau perangkap dipasang untuk menjaga gangguan pencuri,"

Kata Tat Hian kemudian.

"Mungkin masih ada perangkap lainnya lagi, maka itu selanjurnya kita harus berhati-hati."

Goan Liong tidak bilang suatu apa hanya ia memandang satu tauwbak she Pit "Lao Pit,"

Katanya.

"coba kau ikat tubuhmu dengan dadung, lalu kau turun, untuk lihat Lao Sin, untuk mencoba menolongi dia."

Tauwbak itu berdiam, wajahnya menunjuk kesangsiannya. Ia rupanya jeri memasuki liang itu, yang tak ketahuan dasarnya.

"Apa? Apakah kau tidak dengar?"

Tanya Goan Liong, wajannya suram.

"Toapiauwtauw,"

Sahut si tauwbak.

"Si Sin terjeblos lama juga, suaranya tidak ada sama sekali, tentu dia sudah mati..."

"Tapi aku menyuruh kau turun untuk melihat, untuk menolongi kalau perlu!"

Kata pemimpin itu, gusar.

"Kalau benar dia sudah mati, mayatnya harus diangkat."

"Apakah artinya kalau dia mati?"

Tauwbak ita tanya sambil tertawa.

"Untuk kita, matinya satu orang berarti kurangnya satu orang, dan itu berarti juga kurangnya bagiannya satu orang atau berarti kita mendapat bagian lebih banyak..."

Hok Goan Liong tertawa, ia mengangguk.

"Kau benar!"

Bilangnya.

"Mati satu orang berarti kurang satu orang!..."

Mendadak tangannya pemimpin ini melayang, dengan satu suara nyaring, tubuh si Pit terpelanting, jatuh ke dalam liang perangkap!

Bukan main si Pit merasakan sakit dan kaget, dia menjerit keras, tangannya menjambret, guna menolong dirinya.

Ia tidak herhasil memegang dadung, yang melongsor turun di pinggiran liang itu, dengan tangannya merosot, tubuhnya turun terus.

Karena tertarik, dadung itu membikin tembokan tergerak dan gempur.

Tat Hian kaget sekali, tetapi ia masih ingat untuk membabat ke arah dadung, hingga tembokan tidak tertarik terus, tidak turut gempur semuanya.

Cuma tubuhnya si Pit, yang tak tertahan lagi jatuhnya.

Semua orang kaget hingga mereka melongo.

"Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya!"

Kata beberapa orang.

"Syukur sampiauwtauw sebat, kalau tidak, kita bisa roboh semua dan keunikan pasir!"

Tat Hian tidak membilang apa-apa hanya lantas ia memeriksa liang perangkap itu.

la mendapatkan sebuah gelang, ketika ia menarik itu, papan batu jebakannya bergerak, naik sendirinya, hingga liang jadi tertutup pula seperti biasa, lenyap tanda-tandanya perangkap itu.

"Sungguh pandai orang yang memasang perangkap ini!"

Goan Liong memuji. Dia seperti ingat lagi bahwa baru saja dia menghukum satu tauwbak-nya.

"Kalau begini, pasti sudah si tua bungkuk itu telah mati di dalam istana ini, jadi tidak usah kita mencari dia terlebih jauh!"

Ia lantas mengajak semua orang kembali ke ruang kamar tadi "Toako, di luar dugaan kita menemui istana ini, itu artinya untung kita,"

Kata Tat Hian.

"Sekarang kita pun mendapatkan liang perangkap itu, maka aku pikir, kalau benar orang-orang Kazakh datang kemari, baik kita jebak mereka di liang perangkap itu. Aku percaya, seratus atau dua ratus musuh tidak ada artinya untuk kita..."

Goan Liong bertepuk tangan.

"Bagus!"

Serunya.

"Ya, kita jebak mereka! Datang satu mati satu, datang dua mati sepasang!"

Supu bergidik.

Ia telah mendengar dan melibat semua.

Ia menjadi ingat kepada Aman.

Nona itu tentu bakal mengajak orang-orang bangsanya datang ke istana ini untuk mengambil harta karun.

Kalau mereka datang, mereka pasti akan terancam bahaya besar.

Dapatkah ia berdiam saja?

Tidak, ia mesti cegah mereka itu-ia mesti menolongi mereka!

Maka tanpa ragu-ragu lagi, diam-diam ia berjalan keluar dari istana itu.

Ia mau melakukan perjalanan pulang, guna memegat rombongannya Aman, untuk memperingati mereka itu dari bahaya yang mengancam mereka.

Tengah ia berjalan itu, mendadak ia mendengar bentakan.

"Siapa kau?"

Bentakan itu disusul sama satu bacokan ke arah kepala.

Dalam kagetnya, Supu lompat berkelit-Ia tidak menjawab hanya lari terus.

Masih ada seorang lain yang merintangi pemuda ini Dia melihat si pemuda, si pemuda sebaliknya tidak.

Dia muncul dengan mendadak, tanpa bersuara, dia menyerang dengan kakinya dia menyapu.

Supu tidak berdaya lagi, ia roboh.

Tapi, ketika dia ditubruk, untuk dibekuk, ia ingat membela diri, maka ia lantas menyambut!

dengan tikaman.

Orang itu tidak menyangka, dia tidak bisa menangkis atau berkelit.

Cuma sekali dia menjerit keras, lantas tubuhnya roboh, jiwanya melayang.

Hanyalah Supu, tidak dapat ia meloloskan diri.

Belum lagi ia sempat berlompat bangun, sebatang golok sudah ditempelkan ke batang lehernya.

"Jangan bergerak!"

Demikian ia mendengar ancaman.

Selagi tengkurap, Supu tidak bisa melihat siapa orang itu.

Ia terpaksa berdiam saja sambil mendekam.

Orang itu sebaliknya mengawasi kepada kawannya, waktu dia mendapat kenyataan si kawan telah terbinasa, dia menjadi gusar, dia lantas mengayun goloknya kepada lehernya si pemuda Selagi Supu tidak berdaya dan tangan orang itu terayun, di situ terlihat menyambarnya barang putih berkilauan, barang mana —— serupa pedang kecil menancap di dada si pengancam itu, hingga dia menjerit dan roboh terjengkang, goloknya terlepas, jatuh di tanah.

Baru sekarang Supu, yang merasa heran, dapat berlompat bangun.

Ia mendapat kenyataan pedang pendek itu nancap di dada dan merampas jiwa kurbannya.

Ia menjadi heran.

Ia menduga-duga, siapa penolongnya itu.

Selagi ia berdiam, seorang nona muncul dari belakang pepohonan, nona itu lantas mengambil pedang pendek itu dari dada si penjahat, terus darahnya disusuri.

Melihat nona itu, Supu terkejut berbareng girang.

"Nona Kang"

Serunya.

"Terima kasih untuk pertolonganmu."

Nona itu Bun Siu adanya.

Dia bersenyum.

Lantas dia menggusur mayatnya kedua penjahat itu, di lelaki saling berhadapan, tangan mereka dibikin masing-masing mencekal pisau belati, pisau mana saling nancap di dada mereka.

Dengan begitu nampak mereka seperti saling menikam.

"Bagusi"

Berseru Supu memuji. Ia dapat membade maksud si nona.

"Kalau kawan mereka ini mendapati mereka, mereka itu bisa menyangka mereka saling bunuh. Nona Kang, setindak saja kau datang lambat, tentulah aku sudah bercelaka..."

Di dalam hatinya, Bun Siu tertawa "Kau mana tahu yang aku senantiasa mengintil di belakangmu? Mana bisa menjadi aku datang terlambat?"

Memang benar Nona Lie senantiasa menguntit Supu semenjak mereka ke luar dari istana rahasia.

Kalau Supu mengikuti Aman, untuk menghadap tertua mereka, ia diamdiam menghilang, untuk di lain saat menjadi seperti bayangan si anak muda.

Begitulah ia mendapat tahu Supu diusir, lalu Supu pergi tanpa tujuan, sampai orang menuju ke istana rahasia itu.

Supu mendengar dan melihat aksinya Tan Tat Hian semua, Bun Siu sebaliknya melihat gerak-geriknya itu.

la lihai ilmunya enteng tubuh, sedang Supu melainkan seorang kuat di antara pemuda-pemuda Kazakh.

"Sekarang mari kita lekas pergi,"

Kata Bun Siu kemudian.

"Kalau musuh keluar semua, tidak dapat kita melawan mereka."

Supu pun insaf akan bahaya, maka ia menurut.

Lebih dulu mereka masuk ke pepohonan lebat, dari situ mereka berjalan pulang.

Di sepanjang jalan, Supu memberi keterangan dari halnya dia telah diusir dari kaumnya.

"Nona Kang, benar-benar Cherku bukan dibunuh olehku,"

Kemudian ia memberi kepastian.

"kecuali saking gusar dan bersusah hati, aku membunuhnya di luar tahuku..."

Bun Siu kenal pemuda ini semenjak masih kecil, ia percaya kejujurannya, hanya pembunuhan terhadap Cherku memang aneh sekali.

Di dalam istana itu tidak ada lain orang.

Ialah yang mengunci pintu.

Kalau si pembunuh bukan Supu, habis siapa?

Tidak mungkin Aman membunuh ayahnya.

"Benarkah Aman membunuh ayahnya sendiri?"

Ia tanya dirinya. Ia menggigil kalau ia membayangi benar-benar Aman berbuat demikian.

"Tapi tidak, itulah tak dapat! Hanya, benar juga di dalam dunia suka terjadi hal yang luar biasa sekali... Sekarang satu dalam dunia, Supu jujur atau Aman si pembunuh..."

Perjalanan mereka berdua di lanjuti.

Sekarang mereka berada di jalan berpasir yang penuh salju.

Mereka berjalan dengan merendengi kuda mereka.

Inilah saat yang Bun Siu mengharap-harapnya.

Ia merasa senang berbareng berduka.

Supu sebaliknya senantiasa mengingat Aman, kalau ia membuka mulut, nama Aman adalah yang dibuat sebutan.

Demikian katanya.

"Kalau Aman membawa orang-orang bangsanya datang mengambil harta, mereka pasti bakal bercelaka di tangan kawanan penyamun yang licin itu, maka itu, nona Kang, mesti aku bicara dengan mereka, untuk memberi keterangan. Aman harus dikisiki."

"Benar. Dia mesti dipesan untuk waspada,"

Bun Siu bilang-Supu mengangguk.

"Nona Kang,"

Katanya pula selang sesaat.

"benar-benar bukan aku yang membunuh Cherku, maka itu tolong kau pikirkan jalan untukku dapat akur pula dengan Aman..."

Ia menjambak rambutnya saking masgul. Ia menambahkan.

"Kalau aku menemukan Aman, mungkin dia membunuh aku, kalau tidak, mungkin aku tidak bakal hidup lebih lama pula..."

"Sabar saja,"

Kata Nona Lie.

"Mungkin kau dapat melupakan dia. Kau tahu, duluhari, semasa aku masih kecil, aku sangat menyukai satu anak laki-laki. Sayang kemudian dia tidak mernperdulikan aku, hingga aku jadi bersusah hari, hingga aku menyesal tidak dapat aku mati saja. Selewatnya beberapa tahun, aku lantas tidak memikir pula untuk mati..."

"Kalau begitu, anak laki-laki itu satu telur busuk!"

Kata Supu.

"Kaulah satu nona yang baik sekali, mengapa dia tidak mempedulikanmu?" . Bun Siu menggeleng kepala.

"Bukan, anak itu bukan telur busuk,"

Katanya.

"Adalah ayahnya yang melarang aku menemuinya."

"Ah, kalau begitu, ayahnya itulah si manusia tolol dungu!"

Kata Supu pula. Ia mengawasi si nona, ia menambahkan.

"Ayahku adalah seorang ayah yang baik, dia senang dengan Aman, dia mengharap-harap aku menikah Aman, maka— — ah —— sayang sekali, Cherku telah membunuh ayahku..."

Bun Siu pun mengawasi.

"Kalau semenjak sekarang kau tidak melihat lagi Aman, mungkin kau dapat melupai dia,"

Katanya, suaranya rada bergemetar.

"Dan mungkin kau akan bertemu seorang nona lain yang cantik..."

"Tidak, untuk selamanya tidak dapat aku melupakan Aman!"

Kata Supu, tegas.

"Lain nona cantik tidak ada di mataku!"

Ia berhenti sebentar, lalu ia tertawa. Ia menyesal ketika ia berkata.

"Kaulah penolongku, terhadapmu aku sangat bersyukur. Pula aku sangat menghormati kau!"

Bun Siu berdiam, hatinya bekerja.

Magrib itu mereka singgah, untuk masing-masing menggali salju dan pasir, untuk menempatkan diri melewati sang malam Di antara kedua liang, mereka menyalakan unggun.

Di atas mereka terlihat langit yang biru dengan bintang-bintangnya berkelak-kelik.

Angin mendesir-desir, membuat salju beterbangan.

Kebetulan ada dua lempengan salju yang terbang berbareng, sambil menunjuk itu Bun Siu kata.

"Kau lihat, bukankah itu mirip sepasang kupu-kupu?"

"Ya, mirip sekali,"

Menyahut Supu.

"Sudah lama, lama sekali, ada seorang nona Han yang mendongeng kepadaku tentang seorang pemuda Han nama Nio San Pek serta seorang nona Han nama Ciok Eng Tay, bahwa mereka itu berdua bersahabat kekal satu pada lain, hanya kemudian ternyata, ayahnya Eng Tay melarang anaknya menikah sama San Pek. Atas itu, San Pek menjadi sangat berduka, dia jatuh sakit dan mati karenanya. Pada suatu hari Ciok Eng Tay lewat di tempat pekuburannya Nio San Pek, dia mampir, dia menangis di kuburan itu..."

Mendengar itu, Bun Siu membayangi kejadian pada kirakira sembilan tahun yang lalu.

Itu waktu di sebuah bukit kecil ada berduduk berendeng sepasang muda-mudi cilik, sambil menilik kambing mereka, mereka memasang omong.

Si pemudi bercerita, si pemuda, mendengari.

Bercerita sampai di bagian yang menarik hati, mata si pemudi mengembang air, wajah si pemuda berduka.

Sekarang Bun Siu tahu, si pemuda adalah Supu di depannya ini, Supu sebaliknya menganggap si pemudi telah meninggal dunia...

"Ciok Eng Tay mendekam di kuburan itu, dia menangis sedih sekali,"

Supu melanjuti ceritanya.

"Mendadak kuburan itu melekah, lantas Eng Tay lompat masuk ke dalamnya. Setelah itu, Nio San Pek dan Ciok Eng Tay tercipta menjadi sepasang kupu-kupu, dan untuk selanjutnya mereka tidak pernah berpisah lagi."

"Ceritamu ini menarik hati,"

Kata Bun Siu "Sekarang mana si nona yang bercerita padamu itu? Ke mana dia perginya?"

"Dia telah meninggal dunia. Itu sapu tangan dengan peta istana rahasia adalah sapu tangan yang dipakai membalut lukaku."

"Apakah kau masih ingat dia?"

"Tentu saja. Aku sering memikirkannya!*' "Kenapa kau tidak pergi menjenguk kuburannya?"

"Aku akan pergi melihatnya nanti setelah aku dapat mencari si orang tua bungkuk itu. Aku hendak mengajak dia bersama."

"Umpama kata kuburannya itu melekah, dapatkah kau lompat masuk ke dalamnya?"

Supu tertawa.

"Cerita itu ialah dongeng, itu bukan kejadian yang benar."

"Umpama kata nona itu sangat memikirkan kau dan dia mengharapi siang dan malam untuk kau senantiasa menemui dia, karena mana benar-benar terjadi kuburannya melekah, maukah kau melompatnya untuk dapat menemani dia?"

Supu menghela napas.

"Tidak,"

Sahurnya, jujur.

"Nona itu melainkan sahabat eratku semasa masih kecil, sedang aku sendiri, selama hidupku ini, aku cuma mengharapi Aman yang senantiasa menemani aku."

Bun Siu menanya terlebih jauh.

la telah menemui jawaban yang ia harap-harap.

Kalau ia menanya terus, mungkin ia akan jadi sangat bersusah hati.

Dalam kesunyian itu, tiba-tiba seekor burung malam nilam mengasih dengar suaranyasuara yang menggiurkan tetapi juga menyedihkan.

"Duluhari itu aku suka menangkap burung nilam untuk dibuat main hingga dia mati,"

Berkata Supu.

"akan tetapi setelah aku bertemu sama nona itu, aku dapat menyingkirkan kebiasaanku itu. Si nona sangat menyukai burung nilam, waktu aku menangkapnya seekor, ia mengasihkan aku gelang kumala asal aku melepaskan burung itu. Sejak itu aku talak menangkap lagi burung, hanya aku terus mendengari suaranya setiap malam Kau dengar, tidakkah lagunya sangat menarik hati?"

Bun Siu agak terkejut "Bagaimana dengan gelang kumala itu?"

Ia tanya.

"Apakah itu masih ada padamu?"

"Itulah kejadian sudah lama. Gelang itu telah pecah, sudah hilang."

"Ya, itu kejadian sudah lama, gelang itu telah pecah, sudah hilang..."

Katanya, mengulangi Sang burung bernyanyi terus. Supu tidur bermimpi, memimpikan Aman membujuk! ia agar ia jangan masgul. Ketika ia sadar, ia kata pada kawannya.

"Nona Kang, aku mimpi bertemu Aman..."

Tapi ia tidak memperoleh jawaban. Si "Nona Kang"

Telah tidak ada di dekatnya.

Entah kapan perginya dia.

Entah ke mana perginya...

IX Supu mengawasi ke tempat tidurnya Bun Siu.

Ia merasa si nona aneh kelakuannya.

Ia cuma heran, ia tidak memikirkan lama.

Lantas ia meraup salju, untuk mencuci mukanya, untuk dimakan juga.

Setelah itu ia naik kudanya dan pergi.

Kira-kira tengah hari, pemuda ini mendengar ramainya tindakan kaki kuda.

Ia menuntun kudanya mendekati bukit, untuk melihat Ia mengawasi sampai ia melihat nyata.

Itulah rombongan orang-orang Tiehyen yang menjadi suku bangsanya.

Ia mengenali dari dandanan mereka.

Mereka pada membeka!

senjata, jumlahnya lebih daripada tiga ratus jiwa.

Yang jalan di depan ada Aman serta tiga ketua mereka.

Di damping Aman masih ada seorang lain, satu pemuda, ialah Sangszer.

Setiap orang itu membawa kantung.

Terang mereka itu mau pergi ke istana rahasia untuk mengeduk harta karun.

"Syukur,"

Pikir Supu.

"coba aku tidak mendengar pembicaraan kawanan penyamun itu, yang hendak menggurui akal licin, pasti mereka ini akan terjebak semuanya ke dalam liang perangkap..."

Maka ia lantas lompat naik atas kudanya, ia melarikannya untuk memapak! rombongan bangsanya itu. Ia berteriak-teriak.

"Aku Supu! Aku hendak bicara! Ada urusan sangat penting!** Si ketua yang kumisnya ubanan mengenali si anak muda, ia menjadi gusar.

"Supu"

Tegurnya.

"apa maumu datang kemari? Tahukah kau aturan kaum kita terhadap orang yang sudah diusir?"

Bangsa Kazakh ini bangsa penggembala yang tidak ketentuan tempat kediamannya, mereka pergi ke mana mereka suka, meski begitu, ke mana juga mereka pergi, seorang bangsanya yang telah diusir tidak dapat menemui mereka pula, dan orang itu juga tidak dapat bicara sama mereka.

Maka itu, perbuatan Supu ini melanggar aturan mereka itu.

"Aku hendak membicarakan urusan sangat penting,"

Kata Supu, membelai.

"Kau masih tidak mau lekas pergi?"

Si ketua menegur.

"Asal kau berani bicara lagi satu patah, aku akan menitahkan melepaskan anak panah!"

Ia lantas meneruskan kepada Sangszer.

"Siapkan panahmu!"

Sangszer menurut, ia laatas bersiap. Tapi Supu tidak mau pergi, bahkan dia kaburkan kudanya datang mendekati "Aman!"

Katanya pada kekasihnya.

"jangan kau pergi ke istana rahasia! Berbahaya!"

Matanya si nona berlinang.

"Lekas kau pergi!"

Bilangnya.

"Jangan kau bicara sama aku!"

Sementara itu Supu melihat ancaman anak-anak panah. Tapi ia ingat baik-baik ancaman bahaya dari Hok Goan Liong. Maka ia kata.

"Aku mesti bicara denganmu!"

"Panah!" .berseru si ketua, murka. Sangszer lantas melepaskan cekatannya kepada tali panahnya, yang telah ditarik sedari tadi. Supu kaget. Tapi anak panah mengenai leher kuda tanpa melukakan. Anak panah itu telah dibuang tajamnya.

"Supu, dengar!"

Kata pemuda itu.

"Mengingat persahabatan kita duluhari, panahku itu tidak ada kepalanya, tetapi jikalau kau tetap tidak mau mendengar titahnya ketua kita, panahku yang kedua tidak mengenal kasihan lagi!"

Dan ia menyiapkan anak panahnya yang kedua itu. Benar, anak. panah ini berkepala tajam, kepala itu bersinar di cahaya matahari.

"Bapak ketua, istana rahasia berbahaya..."

Kata Supu. Dia belum menutup mulurnya, atau si ketua telah memerintahkan.

"Panah!"

Menyusul itu beberapa batang anak panah menyambar ke arah Supu, suaranya mengaung.

Hanya semua itu lewat di samping si anak muda.

Inilah tanda, orang masih mengingat sesama suku.

Si ketua lantas menyiapkan panahnya, ketika ia hendak memanah.

Aman maju dengan kudanya, menghalang di hadapannya.

Nona ini berkata kepada Supu.

"Supu, pergi lekas! Kau telah membunuh ayahku, untuk selamanya tidak dapat aku baik kembali denganmu!..."

Justru itu sebatang anak panah menyamber pundaknya anak muda itu!

Supu melihat bahwa ia telah tidak mempunyai harapan pula, dengan terpaksa, ia kaburkan kudanya.

Ia menahan sakit, setelah mencabut anak panah di pundaknya itu, ia membalut lukanya.

Ia masih melihat tiga ratus lebih orangorang bangsanya menuju ke arah istana rahasia.

Ia pun melihat Aman beberapa kali menoleh kepadanya, sinar matanya menunjuk entah dia mencinta atau membenci, berduka atau menyesal...

Sambil menungkuli rasa sakitnya, Supu berpikir.

Dapatkah ia membiarkan orang-orang bangsanya itu menempuh bahaya?

Di antara mereka itu banyak kawan-kawan akrabnya.

Tidak I Ia mengambil putusan.

Maka setelah rasa nyerinya berkurang, ia naik atas kudanya, untuk mengaburkannya, guna menyusul rombongan bangsanya itu.

Hari ini Supu mesti mundar-mandir tetapi ia melupakan letihnya.

Sampai sore baru ia dapat singgah, sedikit jauh diluar tendanya rombongan bangsanya itu.

Ia tidak berani menemui Aman atau lainnya orang.

Demikian pula pada besoknya.

Hanya ia melombai mereka, hingga ia sampai terlebih dulu di muka istana rahasia.

Ia bersembunyi di antara pepohonan.

Dari magrib ia menunggu sampai tengah malam, baru ia melihat rombongan bangsanya tiba.

Terus saja, dengan banyak berisik, rombongan itu masuk ke dalam gua.

Ia menguntit mereka Karena ia sudah kenal baik istana itu, ia mengambil lain jalan.

Aman yang memimpin rombongannya Ia mengambil jalan yang ia telah kenal.

Setibanya di dalam, ia berduka, lenyap kegembiraannya selama di tengah jalan.

Di sini ia ingat ayahnya, kebinasaan ayah itu serta ayah Supu, bagaimana karenanya ia menjadi berpisah dari Supu.

"Supu cuma menakut-nakuti kita!"

Berkata si ketua selagi mereka berjalan terus.

"Katanya istana rahasia ini berbahaya, buktinya di sini aman! Makin besar dia jadi makin tidak keruan, sampai dia berani mendustai"

Mereka maju terus.

Sesudah melewati beberapa kamar, lantas mata semua orang menjadi silau.

Di depan mereka berserakan banyak emas, perak dan mutiara.

Semua orang menjadi heran dan kagum.

Mereka girang luar biasa.

Sesudah tercengang sejenak, lantas semua bekerja, mengisikan kantung bekalan mereka dengan semua barang berharga itu.

Tengah mereka itu bekerja, tiba-tiba pintu di samping mereka terpentang, di situ muncul seorang Han dengan tangan memegang golok panjang.

Dia lantas membentak.

"Kawanan budak tidak tahu mampus! Kenapa kamu berani memasuki istana ini dan mencuri hartaku? Lekas antari jiwamu!"

Orang-orang Kazakh itu menjadi kaget "Berandal Han! Berandal Han!"

Mereka berteriak-teriak.

Lalu dua anak muda mendahului maju menyerang.

Berandal itu gagah, setelah beberapa jurus, ia berhasil melukakan pundaknya satu pemuda.

Atas itu, lagi dua pemuda maju, untuk membantui kawannya.

Si berandal mundur, ia dirangsak.

Tiba-tiba ada lagi pintu terbuka, lagi satu orang muncul.

Dia memegang tombak, ujung tombaknya tahu-tahu telah nancap di dadanya seorang muda, hingga dia ini lantas roboh, jiwanya melayang!

Semua orang Kazakh terkejut Si ketua menghela napas, ia berkata perlahan.

"Semua mengepung dulu berandal! Harta ini kita urus belakangan!"

Di dalam hatinya, ia pun pikir.

"Kalau begini, Supu tidak mendusta..."

Kedua penjahat Han itu dikejar melintasi beberapa kamar, lantas mereka memisah ke kiri dan kanan.

"Rombongan kesatu dan kedua pergi ke kiri, mengejar berandal itu!"

Si ketua berseru.

"Rombongan ketiga dan keempat turut aku ke kanan!"

Perintah itu diturut.

Rombongan Kazakh itu memang telah dipecah empat, masing-masing ada pemimpinnya sendiri.

Ketua ini dan rombongannya maju cepat.

Di sebuah pintu pinggiran, yang daun pintunya terpentang secara tiba-tiba, mereka dipegat seorang Han, yang menyerang mereka.

Mereka melawan.

Hanya sebentar, berandal itu lari balik.

"Kejar!"

Si ketua menitahkan. Berandal itu bertemu sama kawannya, terus mereka lari berpisahan.

"Rombongan ketiga mengejar ke kiri!"

Si ketua memerintahkan.

"Rombongan keempat turut aku"

Dan ia mengubar ke kanan.

"Bapak ketua!"

Mendadak Aman berkata.

"Jangan-jangan berandal menggunai tipu, mereka menghendaki kita berccraiberai!"

Si ketua mengangguk.

"Jangan takut! Orang kita besar jumlahnya!*' katanya kemudian. Benar saja, di sebelah depan muncul pula lain berandal, dia bergabung sama berandal yang lagi dikejar itu. Hanya sebentar, mereka pun lari berpisahan. Kali ini si ketua tidak memisah rombongannya, ia hanya menitah mengejar terus berandai yang lari ke kiri. Penjahat itu berlari bergantian ke kiri dan kanan, lantas dia menolak pintu, untuk masuk ke dalam sebuah kamar besar. Dia baru masuk atau dari belakang pintu berkelebat sebuah sinar mengkilap, terus dia berteriak dan roboh terluka, sebab kakinya kena terbacok dan goloknya terlepas mental. Segera rombongannya si ketua mengenali, penyerang itu ialah Supu. Ketua itu melengak. Tidak dapat ia mengusir orang yang membantuinya.

"Bapak ketua, inilah tempat perangkap!** Supu berkata.

"Benarkah?"

Tanya ketua itu singkat, ragu-ragu.

Melihat ketuanya menyangsikan ia, Supu mengangkat tubuh si penjahat dan melemparkannya ke tengah ruang.

Tubuh itu terbanting dan menerbitkan suara, lantai lantas menjeblak, memperlihatkan sebuah liang besar.

Ke dalam situ tubuh si penjahat kecemplung seraya penjahatnya berteriak menyayatkan hati, lalu suaranya sirap.

Semua orang Kazakh itu berdiri menjublak.

"Supu, syukur kau menolongi kami!"

Kata si ketua kemudian.

"Istana rahasia ini banyak perangkapnya,"

Berkata Supu.

"Mungkin tiga rombongan yang lainnya telah terjebak kawanan penjahat, yang pada menyembunyikan diri di sini."

Ketua itu sadar, dia kaget "Benar!"

Serunya.

"Mari kita lihat!"

Tanpa banyak bicara, Supu lantas membuka'jalan.

"Aduh!"

Mereka mendengar sesudah melewati beberapa pengkolan.

Mereka kaget, semua lantas memburu.

Lantas terlihat di depan mereka tubuhnya seorang Kazakh yang mandi darah, waktu diperiksa, dia telah putus jiwa.

Hal ini membangkitkan hawa amarah mereka itu.

Tengah mereka itu bergusar, di atasan kepala mereka terdengar suara berkeresek, lalu tertampak turunnya perangkap terali besi "Lekas lari!"

Supu berteriak.

Dialah yang paling dulu melihatnya, dia pun terus lompat ke luar kamar.

Empat pemuda turut berlompat yang lainnya kena terkurung.

Terali itu turun sangat cepat Di dalam kaget dan takutnya, orang-orang Kazakh itu menyerang terali itu.

Sia-sia saja usaha mereka.

Terali besi tidak mempan senjata, bahkan senjata yang menjadi gompal.

Selagi orang tidak berdaya, dari luar pintu muncul lima orang, yang jalan di muka ialah Tan Tat Hian.

Dia ini lantas menghampirkan pesawat rahasia, untuk dikerjakan, maka dari lelangit kamar lantas meluruk turun pasir dalam jumlah besar.

Kembali orang kaget, semua menjerit.

Supu dan empat pemuda, yang berada di luar, maju menerjang Tat Hian serta rombongannya itu.

Mereka lantas bertarung seru.

Selama itu, pasir masih meluruk turun, hingga sebentar saja sudah naik tinggi sebatas dengkul..

Supu bingung bukan main.

Kalau kawanan penjahat ini tidak dapat dipukul mundur, pasir itu bakal meluruk terus dan akan memendam mati semua orang bangsanya itu, sedang di antaranya ada Aman.

Tat Hian dan keempat kawannya itu Iihay, terutama Tat Hian sendiri.

Sebentar saja, dua pemuda telah roboh binasa dan yang ketiga roboh terluka.

Tinggallah Supu serta satu pemuda lainnya.

Di dalam terali, parir sudah lantas sampai di dada, hingga orang sukar menggeraki tubuhnya.

Supu menjadi lebih bingung lagi ketika kawannya yang terakhir pun roboh di tangannya Tat Hian, hingga lantas ia dikepung berlima.

Tat Hian juga lantas dapat memukul terlepas goloknya Supu, hingga di lain saat dia ini mesti berdiri diam saja di bawah ancaman pedangnya penjahat itu.

Mendadak saja di situ muncul seorang lain, yang bersenjatakan bandring.

Belum sempat Tat Hian berdaya, pedangnya sudah terhajar bandring itu dan jatuh ke lantai.

Empat penjahat kaget tapi mereka maju menyerang.

Atas itu Tat Hian bisa menjumput pula pedangnya, guna membantu mengepung.

Supu sadar, ia lantas lari ke pesawat rahasia, maka di lain saat, berhentilah meluruknya pasir.

Semua orang Kazakh itu bernapas lega.

Ketika mereka memandang ke arah penjahat serta orang yang baru datang itu, mereka heran.

Orang itu satu pemuda yang tampan, dengan dandanan Tionghoa mirip si kawanan penjahat.

Entah kenapa, mereka itu telah bertempur satu dengan lain.

Pemuda itu pandai menggunai bandringnya, setelah belasan jurus, dia berhasil merobohkan saling susul pada empat konconya Tat Hian, melihat mana, dia ini lantas kabur mengangkat kaki.

Supu lantas mencari pesawat rahasia lainnya, guna mengangkat naik terali besi itu.

Maka sekarang semua orang baru benar-benar bernapas lega.

Dengan susah payah mereka membebaskan diri dari urukan pasir itu.

Orang hendak membilang terima kasih pada si pemuda penolong, tapi orang sudah tidak ada, entah ke mana perginya.

Semua orang bersyukur berbareng heran.

"Tanpa dia, celakalah kita,"

Kata yang satu.

"Ke mana perginya dia ? Ah, kiranya di antara orang-orang Han ada juga yang baik..."

"Bapak ketua,"

Kata Supu tanpa mempedulikan suara Orang banyak itu.

"istana ini berbahaya, baiklah lekas rhengumpuli semua orang bangsa kita, supaya mereka tidak terjebak penjahat"

Ketua itu setuju.

"Mari kita bekerja!"

Katanya.

Ia menitahkan semua orang mengambil jalan mundur menuruti jalan dari mana tadi mereka masuk.

Mereka pun bunyikan terompet, tanda memanggil berkumpul tiga rombongan lainnya, untuk berkumpul di luar istana.

Rombongan ini tiba di luar, lantas mereka menantikan.

Mulanya muncul rombongan ketiga, kemudian rombongan kesatu.

Rombongan kedua dinantikan dengan sia-sia.

Kembali terompet ditiup nyaring dan riuh.

Istana tetap sunyi "Jangan-jangan mereka terjebak,"

Kata si ketua kemudian.

"Mari kita masuk bersama untuk melihat mereka."

Usul ini disetujui Lantas mereka berbaris rapi.

Belum lagi mereka bergerak, dari dalam terlihat munculnya orang-orang dari rombongan yang kedua itu.

Mereka ini muncul saling susul, dalam rombongan dari dua tiga orang, dengan roman mereka tidak keruan.

Dua orang pun menggotong satu orang, yang tubuhnya terpanah, yang mandi darah.

Yang muncul paling belakang ialah Sangszer, goloknya di tangan, mukanya berlepotan darah.

"Bagaimana?"

Tanya si ketua, kaget dan berkuatir.

"Hampir kita tidak dapat bertemu lagi,"

Menjawab pemuda itu.

"Kami telah masuk dalam perangkap penjahat. Di dalam sebuah kamar, mendadak kami diserang banyak anak panah, yang datangnya dari empat penjuru. Syukur ada satu anak muda kosen, yang membantu kami Dia telah menggagalkan bekerjanya pesawat rahasia."

Baru mereka bicara sampai di situ, di situ muncul si anak muda yang disebutkan Sangszer ini.

Anak muda itu menggusur satu penjahat, ialah Hok Goan Liong, yang dia lantas lempar roboh ke tanah.

Semua orang Kazakh bergarang "Terima kasih!

Terima kasih!"

Mereka mengucap. Si ketua menghampirkan anak muda itu, guna menghaturkan terima kasihnya yang hangat seraya menanyakan she dan nama orang.

"Aku she Lie,"

Menyahut si anak muda.

"Namaku tidak ada, panggil saja aku Lie Pek Ma."

Di antara mereka itu. Aman dan Supu segera mengenali si anak muda.

"Dia toh nona Kang,"

Pikirnya.

"Kenapa sekarang dia menjadi seorang muda bangsa Han? Bagaimana sebenarnya, apa dulu itu dia menyamar jadi wanita atau sekarang dia menyaru menjadi pria? Atau mungkin si nona Kang hanya lain orang dan orang itu melainkan mirip romannya?"

Supu tidak dapat menahan hati.

"Kau... kau toh nona Kang?"

Ia menanya. Lie Bun Siu tertawa lebar.

"Tadinya aku menyamar menjadi nona Kazakh, kamu tidak mengenali aku"

Katanya.

"Aku tahu kamu membenci orang Han, aku tidak berani berdandan seperti orang bangsaku."

Si ketua nampak likat.

"Baru hari ini kami ketahui, orang Han juga ada yang baik hatinya,"

Kata ia, mengaku.

"Tanpa pertolongan kau, tuan Lie, hari ini kami semua pasti bakal mati terpendam di dalam istana rahasia ini."

Bun Siu tidak menyahuti, ia hanya menoleh kepada Supu.

"Sayang ayahmu telah menutup mata,"

Pikirnya.

"maka ia menjadi tidak ketahui, di antara orang Han pun ada yang baik..."

Kemudian ia kata, tawar "Di antara bangsa Han ada orang-orang jahat dan orang baik pula, si jahat biasa mencelakai si baik. Tapi si jahat pun tidak bisa hidup selamat!"

Semua orang Kazakh itu berdiam. Mereka pikir pemuda ini benar.

"Tuan Lie, tolong kau menunjuki kami jalan,"

Berkata si ketua kemudian.

"Kami mau masuk untuk menyerang kawanan penjahat itu!"

"Ya, kita menyerbu, kita membalaskan sakit hatinya saudara-saudara kita yang terbinasa!"

Berseru orang-orang Kazakh itu.

"Istana rahasia ini banyak perangkapnya, tanpa peta, tidak dapat kita lancang memasukinya,"

Berkata Lie Bun Siu.

"Kalau kita memaksa masuk, kita bisa menjadi kurban. Kalau disetujui, aku mempunyai suatu pikiran. Ini hanya meminta tempo."

"Silahkan berikan petunjukmu, tuan Lie!"

Kata si ketua. Bun Siu bersenyum.

"Aku ingin mengajukan satu permintaan, maukah bapak ketua meluluskannya?"

Katanya.

"Tuan adalah penolong kami, titahkan saja, pasti kami akan kerjakan,"

Menyahut ketua itu. Bun Siu lantas menunjuk kepada Supu.

"Kakak Supu ini telah diusir dari kaumnya,"

Ia berkata.

"barusan dia telah bertempur dengan orang jahat, dia menolongi semua saudara dari perangkap musuh, dari itu aku pikir baiklah jasanya ini dipakai menebus dosanya, supaya bapak ketua menarik pulang hukuman kepadanya, agar dia dapat berkumpul pula dengan sesama bangsanya. Inilah permintaan yang kecil sekail Dapatkah bapak ketua menerimanya?"

Ketua itu berdiam untuk berpikir, terus ia berdamai sama dua pembantunya. Tidak lama, ia menghampirkan Bun Siu, untuk memberikan jawabannya.

"Mengingat budi tuan serta dia benar telah membelai kami, kami suka meluluskan permintaanmu, tuan,"

Berkata dia "Sekarang Supu dapat kembali kepada bangsanya."

Supu menjudi girang sekali.

Ia pun mengucap terima kasih kepada Bun Siu.

Ketua itu lantas bicara kepada orang-orang bangsanya, untuk mengumumkan bahwa hukuman buang Supu telah dihapus, karena mana pemuda itu dapat kembali di antara mereka.

Sebagai alasan dikemukakan permintaan Lie Bun Siu, penolong mereka, dan bahwa Supu telah berjasa sudah memperingati adanya ancaman bahaya dan tadi Supu juga telah mengadu jiwa menolongi mereka.

Pengumuman itu disambut sorak-sorai yang ramai.

Setelah sirap suara orang banyak itu, sang ketua lantas tanya Bun Siu bagaimana akalnya untuk membekuk semua penjahat Bun Siu menuding kepada Goan Liong.

"Dialah si kepala penjahat!"

Sahutnya.

"Coba geledah padanya, mungkin dia menyimpan peta bumi atau petanya istana ini."

Tanpa diperintah lagi, Supu maju.

Hok Goan Liong sudah tidak berdaya akan tetapi dia murka sekali, dia mementang matanya dan membuka mulutnya mencaci.

Bangsa Kazakh menghormati orang bernyali besar, mereka kewalahan.

"Peta itu telah kita bakar!"

Kata Goan Liong nyaring.

"Kamu, kawanan anjing Kazakh, jikalau nyalimu besar, kamu terjanglah istana ini! Mari kita bertempur! Untuk mendapatkan peta, jangan harap!"

Perkataan berandal ini benar. Supu menggeledah tanpa hasil.

"Sekarang begini,"

Berkata Bun Siu.

"Semua orang berdiam di sini, kita mendirikan tenda. Sejumlah orang harus pulang guna mengambil rangsum dan lainnya keperluan. Di depan istana kita menggali liang perangkap serta tambang-tambang kalakan. Kita menanti sampai kawanan penjahat kelaparan, mesti mereka keluar. Paling lama mereka dapat bertahan delapan atau sepuluh, hari. Jikalau mereka keluar, kita bekuk satu demi satu. Dengan begitu tidak usah kita menempuh bahaya dengan menyerbu ke dalam istana."

Pikiran ini baik, sang ketua menerimanya dengan girang.

Bahkan ia lantas bekerja.

Rombongan ketiga diperintah pulang, buat mengambil rangsum, dan yang lainnya terus bekerja, memasang tenda dan menggali liang jebakan yang lebar dan dalamnya rata-rata lima tombak, atasnya ditutup dengan rumput yang ditutup pula dengan salju.

Mata-mata pun dipasang.

Selang lima hari, rombongan ketiga kembali dengan rangsum berikut kerbau dan kambing hidup.

Dugaannya Bun Siu tepat.

Lagi dua hari, kawanan penjahat muncul saling susul.

Benar-benar mereka tak tahan lapar.

Mereka kelaparan hingga kepala mereka pusing, maka mereka kabur, tenaga mereka habis.

Mereka terjeblos ke dalam liang perangkap di mana mereka dibekuk tanpa perlawanan.

Hanyalah, ketika penjahat yang terakhir muncul, dia tidak diikuti Tan Tat Hian.

"Ke mana dia pergi?"

Tanya Bun Siu kepada setiap penjahat "Entahlah,"

Dia mendapat jawaban.

"Kita tak melihat dia selama beberapa hari yang paling belakang. Mungkin dia terbinasa di perangkap dalam istana."

Keterangan itu tidak lantas di percaya. Sang ketua masih bersabar menanti lagi dua hari. Habis itu barulah ia berlega hati "Sekarang mari kita masuk ke istana,"

Katanya, la mengajak orang untuk mengambil harta besar itu.

Bun Siu sendiri memikirkan Kee Loojin.

Sudah beberapa kali ia memasuki istana, tidak juga ia dapat menemui orang tua itu.

Ia jadi sangat berkuatir si orang tua telah roboh di tangan jahat dari Tat Hian.

Tentu sekali sukar ia melupai budi orang tua itu, yang ia telah pandang sebagai kakeknya sendiri.

Ia telah menanyakan beberapa penjahat, semua menerangkan tidak pernah melihat orang tua yang bertubuh bongkok bagaikan unta itu..

Yang aneh untuk nona Lie ini yang juga ia buat pikiran, ialah lenyapnya Hoa Hui, gurunya.

Guru itu bilang tidak keruan paran.

Pernah Bun Siu pergi ke tempat kediamannya, di sana dia tidak kedapatan.

Pula tidak ada tanda-tanda bahwa guru itu pernah pulang.

Orang-orang Kazakh itu lebih dulu mengurus mayatnya orang-orang bangsanya serta mayat-mayat si penjabat, selesainya itu baru mereka mengangkut harta karun itu.

Ketiga ketua mereka telah memutuskan, semua orang memperoleh hak sama rata.

Artinya, mereka tidak boleh berebutan.

Keluarga kurban jiwa mendapatkan bagian dua lipat Selagi orang mengambil harta, Supu melihat Lie Bun Siu diam saja di pinggiran, la lantas membawa sekantung harta dan meletakinya di depan orang.

"Saudara Lie,"

Katanya.

"ketua kami membilang, tanpa pertolongan kau, kami semua pasti membuang jiwa di sini, maka itu ia mengatakan, kau boleh mengambil harta ini sesukamu, umpama kata kau tidak dapat mengangkutnya, nanti kami menolong kau membawanya."

Bun Siu menggelengkan kepala.

"Aku tidak menghendaki emas dan perak serta mutiara,"

Sahutnya.

"Kau menginginkan apa, nanti aku pergi mengambilkan,"

Berkata Supu.

"Yang aku kehendaki, itu tak terdapatkan. Yang aku dapatkan, aku tidak menghendakinya,"

Berkata Bun Siu. Dan ia menuntun kudanya.

"Sekarang aku mau pergi..."

"Jangan, jangan, saudara Lie!"

Berkata Supu.

"Kau mesti mengambil sesuatu! Barang apa itu yang kau tidak mendapatkannya?"

"Itulah kejadian yang telah lama. Yang aku kehendaki itu ialah sehelai kulit serigala."

Tadinya Supu masgul, tetapi mendengar kata-kata orang, air mukanya menjadi terang.

"Kulit serigala?"

Katanya, gembira.

"Itulah gampang sekali. Nanti aku mengambilkan sepuluh helai untukmu!"

"Hanya sekarang ini aku tidak menghendaki itu..."

Kembali orang Kazakh itu menjadi heran, hingga ia menggaruk-garuk kepala.

Ia menganggap orang aneh sekali.

Mau, tidak mau-tidak mau, mau.

Habis bagaimana?

Maka ia membuka kantungnya, memperlihatkan isinya, semua mutiara bergemerlapan.

"Nah, ambillah apa saja!"

Bilangnya Lie Bun Siu mengawasi harta besar itu, ia menjumput sepotong gelang kumala yang kecil.

"Biarlah aku ambil ini saja,"

Bilangnya. Ia berhenti sebentar, untuk menambahkan.

"Dulu juga aku mempunyai sepotong gelang semacam ini, gelang itu aku telah berikan kepada seorang, yang telah membikinnya pecah hancur, hingga sekarang ini lenyaplah!"

Ia masuki gelang itu ke lengannya, terus ia melarikan kudanya.

Supu heran.

Ia menggaruk kepalanya pula.

Ia bengong mengawasi punggung orang sampai orang tak nampak lagi.

Lewat beberapa hari, selesai sudah orang-orang Kazakh mengangkut harta karun, lantas mereka berangkat pulang.

Mereka menyembelih kerbau dan kambing, untuk membikin pesta besar.

Itu waktu salju sudah lumer, maka di padang rumput mereka menyalakan unggun.

Terutama rombongan muda-mudi, gembiranya luar biasa.

Cuma Aman yang berada bersendirian.

"Aman,"

Kata si ketua, yang menghampirkannya.

"kau sebatang kara, baiklah kau menikah sama Supu."

"Apa, Supu?"

Aman kata.

"Dia telah membunuh ayahku! Mana dapat aku menikah padanya?"

"Memang benar dia telah membunuh ayahmu akan tetapi kemudian dia telah menolong kau dan kita semua,"

Berkata si ketua, membujuk.

"Kejadian itu ialah kehendak Allah junjungan kita dan sekarang permusuhan hendaknya dibikin habis."

"Jadi bapak membilang itulah kehendak Junjungan kita?"

Aman tanya.

"Benar."

"Bapak... Sebenarnya aku menyukai Supu, tetapi, tetapi, dia telah membunuh ayahku, hatiku jadi... aku selalu penasaran terhadapnya... Kalau peristiwa benar ada kehendak Junjungan kita, kalau aku mesti menikah pada Supu, itu baru bisa terjadi setelah satu pertandingan besar dan tak ada orang lain yang dapat mengalahkannya. .."

Ketua itu tertawa bergelak.

"Jadi kau menghendaki diadakan satu pertandingan besar, untuk melihat siapa yang paling kosen?"

"Untuk itu aku hendak bersembahyang dahulu kepada Allah Yang Maha Kuasa,"

Berkata Aman.

"Jikalau Junjungan kita dapat mengampuni dia, dia bakat menjadi si pemenang, jikalau tidak, dia bakal kena dikalahkan, dengan begitu, tidak dapat aku menikah dengannya."

"Bagusi"

Memuji si ketua.

"Kau percaya kepada Junjungan kita, itulah bagus sekail Pasti Junjungan kita akan memilihkanmu seorang suami jempolan."

Justeru orang-orang bangsanya itu lagi berkumpul, ketua ini berbangkit menghadap mereka, untuk menepuk tangan tiga kali.

Dengan serempak, semua orang berdiam, mengawasi dan mendengari.

Ketua itu mengawasi semua orang, ia berkata.

"Kita telah mendapatkan istana rahasia, kita berhasil mendapatkan harta besar serta membekuk juga musuh-musuh kita, dalam pada itu, orang yang paling berjasa ialah lima orang. Pertama-tama saudara Lie si orang Han. Sayang dia tidak ada di sini. Yang kedua ialah Suruke dan Cherku. Sayang sekali, mereka berdua telah menutup mata di dalam istana Yang dua lagi ialah Supu dan Aman. Jasa Supu sangat besar, sayang ia telah membunuh Cherku, hingga jasanya itu mesti dipakai menebus dosanya. Karena itu sekarang tinggal Aman satu orang. Bagaimana kita harus menghargai jasanya Aman ini?"

"Baiklah dia mendapatkan mutiara dua lipat!"

Seorang usulkan.

"Tambahkan dia dua puluh ekor kerbau serta seratus ekor kambing!"

Kata yang lain.

"Boleh kita memberikannya pula lima puluh pikul bulu kambing!"

Yang lainnya lagi memberi pikiran. Si ketua menggoyangi tangan, ia tertawa riang.

"Tidak, tidak tepat!"

Katanya.

"Aman tidak menghendaki kerbau dan kambing atau bulu kambing! Mutiara pun ia telah mempunyai banyak! Habis, dia membutuhkan apa? Dia masih belum menikah, maka perlulah kita mencarikan dia seorang suami!"

Semua orang girang sekali, semuanya bersorak.

"Akur! Akur!"

Seru mereka.

"Mari kita mencarikan suami jempol untuk Aman!"

Hati Supu berdebaran.

Semenjak mereka pulang, tidak pernah Aman bicara padanya.

Ia telah menanya dia, dia tidak mau menyahut Kalau ia mendekati, dia menyingkir.

Sekarang ada usul si ketua ini!

Bagaimana akhirnya?

Siapa yang si ketua pilih?

Atau, siapa yang Aman telah pilih sendiri?

Mungkinkah Sangszer?

"Siapakah bakal jadi suami paling baik bagi Aman?"

Berkata si ketua.

"Kami bangsa Kazakh, pria kami semuanya baik-baik sebagai penggembala, sebagai pemburu, sebagai penunggang kuda, sebagai orang kosen juga! Hanyalah, siapalah yang paling diberkahi Junjungan kita? Seharusnya saja, orang muda yang paling kosen dialah yang mesti mendapatkan isteri paling cantik!"

"Benar, benar!"

Orang banyak berseru-seru.

"Pemuda kita yang paling gagah mesti menikah dengan pemudi kita paling cantik!"

Semua mata lantas dialihkan kepada Supu dan Sangszer, ada juga kepada beberapa pemuda lainnya.

Aman, dengan wajah merah, juga memandang kepada setiap anak muda.

Setiap pemuda, yang sinar matanya bentrok, hatinya berdenyutan, otaknya bekerja, dia kata dalam hatinya.

"Siapa dapat menjadi suami nona begini cantik, ia sungguh beruntung!"

Sementara itu, Aman tidak memandang Supu, ia menyingkir dari sinar matanya si pemuda.

"Maka itu sekarang aku ingin diadakan pertandingan guna memilih pasangannya Aman,"

Berkata pula si ketua kemudian.

"Untuk itu orang harus dapat turut ambil bagian di dalam empat macam pertandingan. Tiga yang pertama ialah pacuan kuda, mengadu panah dan rebutan kambing. Untuk merebut kambing lima ekor, orang mesti tinggal lima Inilah calon terakhir, yang akan mengadu tenaga dan kepandaian satu dengan lain. Siapa yang menang dialah orang yang paling kosen."

"Dan dialah yang mendapatkan nona kita paling cantik!"

Orang banyak menyambungi. Si ketua mengangguk. Ia berkata pula.

"Sekarang sudah jauh malam! Siapa sudah mempunyai isteri, siapa sudah mempunyai kekasih, kamu boleh terus pelesiran! Siapa mau turut pertandingan, pergilah masuk tidur, untuk beristirahat untuk bersiap sedia! Kita akan mulai besok pagi! Nanti kita lihat, siapakah yang dipilih Junjungan kita!"

Bangsa Kazakh beragama Islam, maka itu mereka percaya, mati dan hidup mereka ada di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa, Junjungannya.

Besoknya pagi di padang rumput telah berkumpul seratus lebih pemuda, semua dengan kudanya masing-masing, kuda pilihan.

Cuma Supu yang berduduk dengan masgul.

Ia kata di dalam hatinya.

"Aman membenci aku, percuma aku mengalahkan orang, dia tidak bakal menikah padaku..."

Tidak lama terdengarlah suara terompet. Semua anak muda, dengan menuntun kuda mereka, lantas berdiri berbaris. Supu tetap berduduk saja, ia ragu-ragu. Mendadak kupingnya mendengar teguran.

"Kenapa kau tidak turut bertanding?"

Ia terperanjat.

Itulah suaranya Aman.

Ia menoleh.

Ia masih mau menduga nona itu bicara dengan lain orang.

Tapi di situ cuma ada ia sendiri.

Ia lantas melihat mata Aman ditujukan tajam kepadanya.

Mendadak ia menjadi girang sekali.

"Oh, Aman, kiranya kau dapat memaafkan aku?..."

Katanya. Nona itu menggelengkan kepala.

"Aku tidak tahu..."

Sahutnya. Ia berhenti sejenak, lalu ia menanya.

"Kau... kenapa kau tidak turut bertanding?"

Supu tidak menyahut, hanya dia berjingkrak bangun, terus dia menuntun kudanya dan pergi berbaris.

Segera juga terdengar pula suara terompet, setelah tiga kali, maka seratus lebih penunggang kuda itu sudah mulai membalap, dari barat mereka kabur ke timur.

Matanya Aman tidak pernah berpisah dari kuda bulu dawuk dari Supu.

Setindak derra setindak, kuda itu melewati yang lain-lainnya.

Tiba di timur, batas ujung, orang lari kembali dengan memutar.

Ketika orang akhirnya tiba di barat, di batas penghabisan, kuda Supu ialah yang kedelapan.

Kuda nomor satu, yang bulunya putih, penunggangnya mengenakan topeng dari sapu tangan, hingga nampak sepasang matanya saja yang bercahaya.

Si ketua segera mengumumkan, yang dapat bertanding terus ialah yang kudanya terhitung sampai nomor lima puluh.

Sekarang orang mulai dengan adu panah.

Untuk itu di tengah padang rumput itu ditancap papan sebagai tameng atau sasaran.

Sambil menunggang kuda, pemuda-pemuda itu.

memanah bergantian.

Setiap kali sasaran terkena tepat, orang semua bertepuk tangan bertampik sorak.

Setelah penghitungan ternyata, di dalam sepuluh kali panah, Supu dapat mengenai delapan kali.

Yang sepuluh kati memanah tanpa lolos ialah si penunggang kuda bertopeng.

"Eh, siapakah dia?"

Demikian orang saling bertanya.

"Kudanya lari paling keras, ilmu panahnya pun paling mahir!"

Si ketua sudah lantas mengumumkan siapa dalam sepuluh kali dapat memanah enam, dia berhak turut dalam pertandingan yang ketiga.

Acaranya ialah merebut kambing.

Lalu ternyata, dari lima puluh calon, tiga puluh berhak bertanding lebih jauh.

Rebutan kambing adalah olah raga kepelesiran paling digemari bangsa Kazakh.

Cara merebutnya ialah seekor kambing dilepas di tengah kalangan, lantas sambil menunggang kuda orang merebutnya, siapa yang akhirnya mendapatkan itu, dialah yang menang,, dia berhak memiliki kambing itu serta diakui juga sebagai orang kosen.

Untuk ini orang mesti pandai menunggang kuda, bermata celi, bertenaga besar dan sebal Itulah perebutan di antara puluhan lawan.

Kali ini digunakan lima ekor kambing.

Nampaknya perlombaan menjadi terlebih riang.

Tentu sekali, yang diperebuti bukan kambing lagi hanya Aman.

Maka juga perasaan setiap peserta menjadi tegang luar biasa.

Pula setiap sanak atau keluarga atau sahabatnya si pemuda bersorak menganjurkan anak atau sanaknya itu.

Maka ramailah gemuruh sorak-sorai.

Siapa telah mendapatkannya, kambing itu masih dapat dirampas lain orang.

Maka siapa berhasil, dia mesti bisa kabur naik ke atas bukit ialah tempat terakhir di mana orang tidak dapat merampasnya lebih jauh.

Kemudian ternyata, di antara lima calon yang berhasil itu, ada Supu, ada Sangszer, ada si penunggang kuda bertopeng itu.

Sampai di sini orang mulai dengan acara terakhir.

Mengadu kepandaian berkelahi.

Menurut undian, Sangszer dapat lawan seorang pemuda yang dijuluki si "banteng gede".

Lawannya Supu ialah seorang pemuda tinggi sekali dan kurus, hingga dia biasanya jalan dengan punggung melengkung agar tidak terlalu menyolok kalau dia jalan beramai-ramai.

Dia dipanggil si "unta".

Meski lawannya Sangszer ada satu banteng tetapi ia sangat gesit dan cerdik, belum lama, dengan satu gaetan kaki, ia dapat membikin lawan itu roboh, lalu ditindih hingga tidak berdaya.

Si unta sebaliknya sulit untuk dijatuhkan Supu.

Beberapa kali dia kena dirobohkan, saban-saban dia dapat meronta dan bangun pula, hingga dia mendatangkan ramai tempik sorak.

Tadinya orang menyangka Supu bakal menang, kemudian lalu menduga si unta yang ulat ini.

Supu bermandikan peluh, kaki dan tangannya berkurang kecekatannya, napasnya pun memburu.

Lawannya sebaliknya nampak lebih segar hanya dia pun tidak bisa merebut kemenangan.

Maka mereka jadi bertarung seru sekali.

Saking letih, kemudian Supu kena dibanting jatuh, tubuhnya terus ditindih.

Ia berontak, sia-sia saja.

Banyak orang lantas berkaok-kaok.

"Si unta menang! Si unta menang!*' Supu bergelisah bukan main. Tiba-tiba sinar matanya bentrok sama sinar matanya seorang lain. Itulah sinar mata yang bergelisah, yang seperti sangat memperhatikan padanya. Mendadak ia mendapat tenaga baru, ketika ia berontak, ia dapat menggulingkan si unta, hingga sekarang ialah yang berbalik menindih lawannya. Dengan tangan kirinya ia menekuk tangan kanan si unta, lehernya dia itu ia tekan. Maka habislah tenaga si jangkung kurus itu! Di antara sorakan riuh sekali, Supu dinyatakan menang, la bangun berdiri dengan napas menggotong. Justeru itu Sangszer berkata padanya.

"Supu, kau beristirahatlah! Aku akan melayani dulu ini saudara!"

Dia berbicara tanpa memberi ketika lawannya beristirahat dulu. Habis berkata, dia menghampirkan si calon yang nomor lima, yang belum ada tandingannya. Dia berkata dengan tangannya.

"Saudara, mari aku melayani kau bertanding. Sekarang kau tentu dapat meloloskan topengmu..."

"Tak dapatkah tanpa diloloskan?"

Menjawab si lawan.

Supu mendengar suara orang, hatinya bertekat Semenjak tadi ia menduga kepada si pemuda yang menyebut dirinya Lie Pekma, sekarang ia mendapat kepastian.

Hanya, karenanya, ia menjadi berpikir.

"Sudah terang Sangszer dan aku bukan tandingannya. Dia selalu berada di antara kita, kiranya dia pun mengarah Aman..."

Pemuda itu memang Lie Bun Siu. Sangszer tertawa dan berkata.

"Untukku sendiri, tidak ada halangannya aku tidak melihat wajahmu, tapi kita tinggal bertiga. kalau aku dan Supu kalah, mungkinkah Aman menikah suami yang tidak ada mukanya?"

"Baiklah "

Menjawab Bun Siu. yang lantas menarik sapu tangannya.

"Lie Pekma!"

Sangszer berseru kaget Orang banyak pun heran.

"Lie Pekma! Lie Pelana!"

Mereka berseru-seru.

"Dialah orang Han!"

"Tidak! Gadis cantik kita tidak dapat menikah sama orang Han!"

Ada lagi yang berteriak-teriak. Yang hebat adalah yang berteriak.

"Orang Han menjadi penjahat! Orang Han telah merampok dan membunuh orang bangsa kita!"

Mereka kurban-kurban keganasannya rombongan Hok Goan Liong.

"Orang gagah she Lie mi bukan orang jahat!"

Ada juga yang mengasih dengar suara lain.

"Dialah yang menolong kita di istana rahasia!"

"Dialah penolong bangsa kita! Dia lain dari orang-orang Han yang jahat!"

Maka ramailah suara-suara yang bertentangan itu.

"Baiklah kita mendengar ketua kita!"

Akhirnya ada yang berteriak. St ketua berbangkit, tiga kali ia menepuk tangan.

"Saudara-saudara, tenang!"

Ia berkata, nyaring.

"Saudara Lie ini bukannya orang jahat! Tanpa dia, kita semua tentu telah habis terbinasa di dalam istana rahasia! Maka itu benar, dialah penolong kita! Pula harus diketahui, di antara orang Han juga ada banyak yang baik, dan saudara Lie ini orang baik itu!"

Ia berhenti sejenak, lalu ia meneruskan.

"Sekarang mari kita bicara dari hal pertandingan ini. Inilah pertandingan yang mengenakan jodohnya Aman. Di dalam ini hal, kita mengharap petunjuk Allah Junjungan kita, ingin kita mendapat tahu Tuhan berkenan memberi ampun atau tidak kepada Supu. Jikalau Supu diberkahi, dia tentulah yang menang dan dia bakal menikah sama Aman. Kita ada penganut-penganut dari agama Islam, kita tidak dapat menikah sama orang dari lain agama."

Mendengar itu, Lie Bun Siu campur bicara.

"Di antara orang Han juga ada yang memeluk agama Islam,"

Katanya.

"Aku mempunyai minat untuk memuja Tuhan Junjungan kamu!"

Ketua itu menjadi serba salah.

Tidak ada alasan untuk menolak Bun Siu.

Pula, sebagai seorang budiman, ia tetap bersyukur dan berterima kasih pada pemuda ini.

Bun Siu bukan hanya menolong dia tetapi semua bangsanya.

Di sebelah itu, ia hanya terpengaruh sama hari kecilnya.

Ia juga tidak puas yang gadis bangsanya yang paling cantik dinikahkan kepada orang Han.

Ia terpengaruh keras rasa kebangsaannya.

"Soal ini sangat sulit, tidak dapat aku memutuskan sendiri,"

Akhirnya ia kata.

"Di dalam ini hal kita harus menanyakan pendapatnya Hapulam, tertua kita yang paling terpelajar*' Hapulam itu adalah orang tua suku bangsa Tiehyen yang paling paham tentang kitab suci. Si ketua lantas menghampirkan ahli kitab itu, yang berada di antara mereka "

Hapulam,"

Tanyanya, lantas.

"pernahkah bangsa kita mengalami peristiwa seperti ini? Aku minta sukalah kau memberikan keterangan yang jelas."

Ditanya begitu, Hapulam tunduk. Ia berpikir.

"Pelajaranku sangat rendah, apa pun aku tidak mengerti,"

Sahutnya selang sesaat.

"Jikalau Hapulam yang terpelajar masih menyebutkan tidak tahu apa-apa maka lain orang pastilah terlebih tidak tahu apaapa lagi!"

Kata si ketua. Didesak demikian, Hapulam berkata juga.

"Kuran Surah 49 ayat 13 mengajarkan.-'Manusia, seorang pria dan seorang wanita, membuatmu menjadi sekian bangsa dan agama, untuk menggampangkan kamu saling mengenal, maka dalam pandangan Tuhan, yang paling mulia di antara kamu ialah yang paling baik. Di dalam dunia ini, pelbagai bangsa dan agama, semua ada ciptaan Allah, maka juga Allah bilang, yang paling baik ialah paling mulia. Pula ada ajaran yang menganjurkan untuk kita mencintai tetangga kita dekat dan jauh, kawan, dan melayani baik-baik tetamu kita. Orang Han ialah tetangga kita yang jauh, asal mereka tidak mengganggu kita, kita harus mencintai serta melayaninya."

"Kau benar,"

Berkata si ketua.

"Tetapi anak perempuan kita, dapatkah dia dinikah orang Han?"

"Surah 2 ayat 221 membilang,"

Berkata Hapulam.

"'Jangan kamu nikah wanita yang memuja boneka sampai mereka telah mempercayai agama kita-jangan kamu menikahkan anak perempuan kepada pria yang memuja boneka sampai pria itu mempercayai agama kita. Surah 4 ayat 23 pun melarang menikah dengan wanita yang ada suaminya atau sanak langsung, selainnya itu, semua diperbolehkan sampai pun pada bujang dan budak. Maka kenapa dia tidak dapat menikah sama orang Han?"

Selama Hapulam berkhotbah itu, orang banyak berdiri mendengari dengan tenang dan perhatian, maka itu mereka menjadi mengerti baik sekali. Dari itu, lantas mereka pada membilang.

"Petunjuk Alto tidak bisa salah lagi!"

Pula ada yang memuji Hapunun dengan berkat* "Apa pun yang kita tidak mengerti, kita boleh pergi menanyakan kepada Hapolam, dia pasti dapat rnenjehtskannya dengan baik."

"Baiklah!"

Berkata si ketua.

"Kuran menyatakan demikian maka orang Han yang baik ialah saudara yang baik dari kita bangsa Kazakh! Saudara Lie hendak menikah sama Aman, Junjungan kita telah mengizinkannya, maka itu sekarang kamu boleh mulai!"

Semenjak kecil Lie Bun Siu tidak dapat melupai Supu, rintangannya ayah Supu membuat mereka renggang, sebab ayah Supu membenci orang Han, sekarang ia maju untuk memperebuti Aman, sengaja ia dandan sebagai pemuda, ingin ia membikin bangsa ini mempercayai bahwa orang Han juga ada yang baik.

Dengan begitu juga dengan sendirinya dapat ia memberi penjelasan kepada Supu hal kekeliruan pandangan ayah pemuda itu.

Mengenai pertandingan ini, ia mempunyai maksudnya sendiri, meski di muka umum terang nampak ia menyalak di antara Supu dan Sangszer untuk merebut Aman.

X Sangszer ketahui lihainya Lie Bun Siu di dalam hal mengguaai senjata tajam, la telah melihat bagaimana nona itu menempur kawanan berandal.

Maka ia bersangsi.

Sebaliknya, ia mempercayai benar ilmu gulat atau peluk banting bangsanya, dari itu ia memilih ilmu kepandaiannya ini.

Lantas ia memasang kuda-kudanya.

"Saudara Lie, silahkan maju!"

Ia menantang.

"Baik!"

Menyahut Bun Siu, yang lantas menyingkap ujung bajunya yang panjang, untuk diselipkan ke pinggangnya, setelah itu ia bertindak ke gelanggang, berdiri di depan penantangnya itu Di mana kedua pihak sudah siap sedia, Sangszer lantas membuka kedua tangannya, sambil mementang, ia maju untuk menubruk.

Atau mendadak Bun Siu berseru kaget, terus dia lari ke arah kiri dimana adapepohonan lebat Dia seperti melihat sesuatu, yang dia lantas kejar.

Semua orang menjadi heran, terutama Sangszer.

Semua orang tidak mengerti, kenapa di saat seperti itu, si pemuda Han lari kabur.

Hingga ada yang menduga-duga mungkin dia jeri terhadap si pemuda Kazakh...

Sangszer berdiri sekian lama, kemudian ia kata kepada Supu.

"Supu, saudara Lie telah pergi, maka itu marilah kita berdua saja yang bertempur.'' Supu menerima baik tantangan itu, meski sebenarnya ia masih mengherani Bun Siu.

"Ya, marilah!"

Ia menjawab, bahkan ia terus maju.

Maka tidak tempo lagi, keduanya lantas bergulat.

Dua orang muda ini ada tandingan yang setimpal.

Semenjak masih kecil mereka suka berkelahi, mereka menang dan kalah bergantian, hanya kali ini, dalam usia dewasa, mereka harus mencari keputusan,.

Maka bisa dimengerti yang mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh.

Sedari berumur lima belas tahun, Sangszer sudah menaruh hati kepada Aman, disebabkan rapatnya pergaulan Aman dengan Supu, ia menjadi tidak dapat menyelak di antara mereka, ia cuma bisa menindas hatinya sendiri.

Sampai sekarang ia masih tidak berani mendekati Aman walaupun Supu telah menjadi musuh Aman, disebabkan Supu dibuang karena tuduhan telah membunuh Cherku.

Barulah menit ini harapannya timbul.

Bukankah Aman sendiri yang menghendaki ini pertarungan umum?

Dengan ini nanti terlihat kesudahannya Allah mengampuni Supu atau tidak...

Umumnya Supu menang unggul sedikit daripada Sangszer, tetapi setelah tadi ia mesti membanting tulang melayani si untai ia masih terpengaruh keletihannya, dari itu, segera ternyata, lawannya itu menang di atas angin.

Pula ia keras memikirkan Lie Bun Siu, yang pergi tanpa sebab.

Sebenarnya Bun Siu kabur karena sejenak itu matanya melihat satu orang yang berkelebat di dalam rimba, berkelebat cepat bagaikan bayangan tetapi toh ia mengenali baik potongan tubuh Tan Tat Hian, tanpa pikir panjang lagi, ia lari mengubar.

Laginya untuk ia, pertandingan itu tidak ada artinya.

Taruh kata ia menang, ia toh tidak-bisa menikah dengan Aman-Di samping itu, Tat Hian ialah musuh besarnya.

Akan tetapi, sesampainya ia di dalam rimba, Tat Hian telah lenyap tidak keruan peran, sia-sia belaka ia mencarinya.

Kemudian ia mendengar suara kuda kabur ke arah barat daya, ia lantas menduga kepada musuh itu.

Saking tergesa-gesa, ia tidak dapat kembali kepada kuda putihnya, ia kabur menyusul dengan menjembat seekor kuda yang lagi makan rumput di dekatnya.

Sesudah berlari-lari beberapa lie, Bun Siu tiba di gurun pasir.

Ia mendaki tanjakan pasir bagaikan bukit, untuk melihat kehlingan.

Di sini ia bisa memandang ke sekitarnya dengan leluasa, tidak seperti tadi semasa di padang rumput Ia lantas melihat di arah barat daya itu —-jauh letaknya seekor kuda lagi berdiri diam dan di samping binatang itu ada satu tubuh manusia rebah tak berkutik.

Ia menduga kepada Tan Tat Hian, ia lantas mengeprak kudanya untuk lari keras ke arah itu.

Tidak lama maka tibalah ia di tempat kuda dan orang itu rebah menggeletak.

Ia berkuatir orang hanya berpura-pura mati, dari itu sebelum mendatangi dekat, ia menggunai bandringnya, guna menotok jalan darah tiongteng dari orang itu.

Setelah mendapat kenyataan orang terus berdiam sajasuatu bukti benar dia telah mati -barulah ia datang menghampirkan.

Benar-benar orang itu Tan Tat Hian adanya!

"Heran!"

Pikirnya.

Tat Hian mati dengan mulut mengeluarkan darah, suatu tanda bahwa ia telah teriuka di dalam.

Ia sudah putus jiwa akan tetapi tubuhnya masih hangat.

Jadi dia mati belum lama.

Bun Siu menggeledah tubuhnya, maka terlihat kulit dadanya bertanda mataag biru sebesar telapakan tangan dan tujuh atau delapan tulang iganya patah.

"Entah siapa yang menghajar dia?"

Pikir nona ini.

"Lihai penyerang itu!"

Karena ini, ia lantas melihat ke sekitarnya.

Ia masih sempat melihat satu titik hitam di tempat jauh.

Inilah satu penunggang kuda, yang kudanya dilarikan.

Ia menjadi mencurigai penunggang kuda itu, sebab kantung gendolan dan sakunya Tat Hian bekas dirobek dengan pisau, dan peta tidak ada di tubuhnya itu.

"Istana rahasia sudah didapatkan, apa perlunya orang itu dengan peta tersebut?"

Ia berpikir.

Ia berdiri berdiam sekian lama di samping tubuh musuhnya itu.

Lega juga hatinya walaupun musuh ini terbinasakan lain orang.

Kemudian ia lantas menaiki kudanya, untuk kembali kepada orang-orang Kazakh.

Tepat ia mendengar gemuruh ramai.

"Sangszer menang! Sangszer menang!"

Ia terperanjat. Pikirnya.

"Kalau Sangszer menikah dengan Aman dan aku memberitahukan Supu bahwa akulah kawannya semenjak masih kecil, bagaimana pilarnya?'' Memikir begitu, ia likat sendirinya. Tapi ia berjalan terus mendekati rombongan. Supu masih rebah di tanah, ia mencoba terbangkit bangun tetapi sukar. Ia merayap, ia berdiri, lalu terhuyung dan roboh pula. Sangszer mengasih bangun "

Supu,"

Katanya.

"jikalau kau penasaran, kau beristirahatlah, nanti kita mengulangi pertandingan kita ini."

Supu menggeleng kepala, matanya mengawasi Aman, sinar matanya itu menandakan remuknya hatinya. Aman bisa melihat sinar mata itu, tanpa merasa, air matanya mengalir.

"Benar-benar mereka sangat mencinta satu pada lain,"

Pikir Lie Bun Siu, yang bisa melihat roman muda-mudi Itu.

"Dalam hidupnya, pastilah Supu tidak dapat mencintai lain orang lagi Pula Aman, kalau dia menikah sama Sangszer, tidak nanti dia dapat melupai Supu, tidak nanti dia menyenangi Sangszer, maka untuk kedua belah pihak tidak ada kebaikannya..."

Kembali Bun Siu mengawasi Supu.

Pemuda itu pergi ke pinggiran, jalannya masih rada limbung, tangannya memegangi kepalanya, rupanya dia merasa pusing.

Di pinggiran itu, dia duduk dengan napasnya masih belum tenang.

Ia menjadi merasa kasihan pada kawannya itu.

Maka ia masuk ke dalam gelanggang.

"Sangszer,"

Katanya.

"tadi aku pergi mengejar satu orang, pertandingan kita gagal. Maka itu mari sekarang kita mengulanginya."

Ia berhenti sejenak, baru ia menambahkan.

"Kau tentunya masih lelah, aku sebaliknya masih segar, kalau kita bertanding sekarang, tidak adil. Maka ini baiklah kita atur begini, hari ini pertandingan ditunda sampai besok!"

Sangszer rada jeri pada lawannya itu.

"Baik,"

Sahutnya.

"Kita bertanding besok."

Bangsa Kazakh mengira, setelah Sangszer mengalahkan Supu, Aman bakal menikah sama si pemenang ini, tidak tahunya si pemuda gagah she Lie telah muncul pula dan menantang Sangszer, dengan begitu, urusan menjadi tertunda.

Karena itu, sampai malamnya, mereka masih menduga-duga entah siapa yang bakal menjadi pemenang terakhir.

Umumnya mereka menduga Bun Siu yang bakal menang, hanya mereka heran, pemuda itu bertubuh halus dan romannya tampan sekali, siapa tahu, dia bertenaga kuat dan ilmu berkelahinya mahir, lapi dia bakal berkelahi dengan tangan kosong.

Dapatkah dia mengalahkan Sangszer?

Kenapa tadi dia kabur tidak keruan?

Besoknya lohor, orang berkumpul pula di tegalan.

Setelah beristirahat dan dapat tidur satu malaman, Sangsfeer menjadi segar sekali.

Ia telah memikirkan siasat berkelahinya.

"Dia pandai silat, dari itu tidak dapat aku berkelahi renggang, sebaliknya, aku mesti merapatkan dia. Begitu bergerak aku mesti ringkus, untuk kita mengadu tenaga..."

Siasat ini benar-benar digunakan.

Lie Bun Siu berkelit ketika ia ditubruk, tangan kanannya dipakai menangkis berbareng menarik, sedang kaki kanannya membentur kaki orang.

Dengan begitu, tidak ampun lagi, robohlah lawan itu "Kau kurang berhati-hati!"

Ia kata tertawa.

"Mari maju lagi!"

Sangszer berlompat bangun.

Ia tetap sama siasatnya, yang ia telah pikir matang.

Begitu berhadapan, ia menubruk dengan gesit Bun Siu kembali menggunai Kimnaciu, ialah ilmu silat menangkap.

Ia menangkap dan memutar, tangan kirinya menolak.

Lagi sekali Sangszer roboh terguling, bahkan kali ini, tangannya keseleo sebab dia mencoba meronta.

Karena merasa sakit, terpaksa ia mendekam terus.

"Kau bangun!"

Berkata Bun Siu tertawa.

"Mari mencoba lagi!"

Nona ini mempelajari Kimnaciu yang terdiri dari tiga puluh enam jurus berikut pecahannya tiga puluh enam jurus lainnya, maka itu, mana bisa Sangszer melawannya?

Maka juga, lagilagi pemuda Kazakh itu kena dirobohkan.

Delapan kali dia diberikan ketika, akhirnya dia menggeleng kepala dan berkata.

"Aku tidak sanggup melawan kau, pergi kau nikah Amani..." -la mengundurkan dai sambit tunduk. Bun Siu tidak lantas rnenunta hadiahnya.

"Supu, mari!"

Ia kata pada si anak muda.

"Mari kini bertanding!"

Supu menggeleng kepada.

"Aku tidak sanggup melawan kau,"

Katanya. Ia tahu kekuatannya berimbang sama Sangszer, percuma ia melawan.

"Belum tentu,"

Kata Bun Siu.

"Mari kita coba dulu;"

Supu melirik kepada Aman, ia melihat sinar mata si nona seperti menganjuri.

"Baik!"

Sahurnya seraya terus menyingsat pakaiannyn.

Ia menggunai cara seperti Sangszer, begitu berhadapan, ia menubruk.

Bun Siu berkelahi seperti melawan Sangszer tadi, empat kali beruntun ia membuat lawannya mencium tanah, hanya ketika ke lima kalinya ia membikin orang roboh dan ia menekan punggung orang, ia berbisik.

"Kau meronta, kau sambar punggungku, nanti kau menangi"

Supu heran, tetapi ia tidak sempat berpikir lama.

Mendadak ia mengerahkan tenaganya, ia bangun, tangannya menyambar punggungnya lawan itu, maka di lain saat Bun Siu telah kena dirobohkan, ditekan pada tanah!

Bun Siu tidak dapat berontak.

Tapi Supu berpikir.

"Kemenangan ini bukannya kemenangan."

La mengasih orang bangun seraya berkata.

"Mari kita mencoba pula!"

Bun Siu menerima baik. Mereka kembali bergulat.

"Ingat tipu-tipu tadi,"

Kata Bun Siu, perlahan.

"Jangan lupa!"

Di saat genting, kembali Bun Siu membiarkan ia dirobohkan.

Saban-saban ia mengisiki akan lawan ingat tipunya itu.

Semua itu terjadi hingga enam kali.

Selama itu, tidak ada seorang jua yang mendengar kisikan itu, hingga orang cuma.

heran, tidak ada yang bercuriga.

Kelihatannya wajar Supu menjatuhkan lawannya itu.

Hanya Supu sendiri yang heran bukan main.

Terang ia kalah tetapi ia diajari tipu dan dibiarkan menang.

Ia tidak dapat membade hati orang.

Ia heran kenapa pemuda ini tidak mengharapi Aman yang demikian cantik manis.

Di akhirnya, habis dirobohkan, Bun Siu bangun berdiri dan berkata nyaring.

"Sudah, tidak sanggup aku melawan kau, aku tidak mau memperebuti Aman!"

Supu jujur, ia merasa tidak enak.

"Kau mengalah,"

Katanya.

"Jangan sungkan,"

Kata Bun Siu.

"Aku sudah kalah! Aku menyerah! Kalah dari kau, aku tidak malu!"

Si ketua pun heran, ia menjadi bingung juga.

Siapa si pemenang terakhir?

Supu kalah dari Sangszer, Sangszer terkalahkan Lie.

Bun Siu, tetapi Supu menang dari pemuda Han ini?

Bagaimana?

Beberapa orang menyatakan pikirannya.

"Kalau begitu, biarlah Supu dan Sangzer mengulangi pertandingannya. Mereka itu sama-sama kalah dan sama-sama menang."

Pikiran ini dapat kesetujuan umum .dan lantas diterima baik.

Bahkan pertandingan lantas diadakan seketika juga.

Kali ini mereka itu sama-sama habis bertempur, jadi mereka sama letihnya.

Supu dan Sangszer menerima baik pertimbangan itu.

Pertandingan dimulai setelah kedua pihak sudah siap sedia dan pertandaan diberikan.

Selama itu Supu mencoba mengingat-ingat tujuh jurus ajarannya Lie Bun Siu, ia mengingat baik hanya tiga tipu, tetapi ini pun sudah cukup.

Demikian, di saat ia terancam bahaya, ia menggunai tipu ajaran orang Han itu, karenanya, saban» saban ia menang di saat terakhir.

Sangszer kewalahan, akhirnya dia menyerah kalah.

"Sesudah bergulat dua hari, Supu memperoleh kemenangan terakhir!"

Berkata si ketua dengan keputusannya.

"Itulah bukti yang Allah telah mengampuni Supu, maka dapatlah dia menikah-sama Aman"

Muka Aman merah tetapi hatinya girang tidak terkirakirakan.

Orang banyak pun bergirang.

Itulah perjodohan yang hebat Supu hendak memberi hormat kepada Bun Siu, untuk menghaturkan terima kasih, tidak tahunya, ketika ia mencari pemuda itu, si pemuda sudah naik atas kuda putihnya dan pergi dengan diam-diam hingga dia tidak dapat disusul lagi!

Malam itu, dengan mengitari unggun, bangsa Kazakh membuat pesta.

Sangszer kalah tetapi dia terbukti gagah, ada empat nona manis lainnya yang mengerumuni, yang menghibur dan menyanyi untuknya.

Mulanya ia berduka.

Lama-lama ia terhibur juga.

Akhirnya ia bingung, siapa yang ia mesti pilih di antara empat nona-nona itu.

Mereka itu, kecuali cantik, masing-masing mempunyai kelebihannya sendiri, umpama yang satu halus budi pekertinya, yang lain' merdu nyanyiannya, yang lain lagi lemah gemulai tariannya...

"Apakah baik aku memilih yang lainnya saja?"

Demikian ia pikir.

Lalu, dia pun mengingat, yang kitab sucinya mengizinkan ia menikah empat isteri...

Tengah pesta berlangsung itu.

sekonyong-konyong ada terdengar tiga kail suara jeritan mengerikan seperti suara burung malam, datangnya dari arah barat.

Semua orang terkejut, semua mata memandang ke barat itu.

Suara yang membangunkan bulu roma itu keluarnya dari satu orang yang luar biasa.

Dia datang menyusuli suara anehnya itu, datangnya sambil berlari-lari keras, tubuhnya nampaknya putih.

Lantas dia berhenti di jarak empat tombak dari orang banyak.

Sekarang terlihat tegas dia mengenakan jubah putih yang berlepotan darah, seperti mukanya berdarah juga.

Dia lebih tinggi dua kaki dari orang yang kebanyakan.

Ketika dia mengangkat dan mengulur kedua tangannya, terlihat sepuluh jarinya panjang sekali dan sepuluh jari itu pun berdarah.

Semua orang mejengak, hati mereka berdebaran.

Hanya sebentar, manusia luar biasa itu lantas mengasih dengar suaranya yang tajam "Siapa sudah curi mustika dari istanaku?

Lekas bayar pulang!

Kalau tidak, satu demi satu, aku akan membuatnya mati tak wajar!

Sudah seribu tahun aku tinggal di dalam istanaku itu, siapa juga tidak berani memasukinya, tetapi kamu, kamu besar sekali nyali kamal"

Habis berkata, dengan perlahan dia memutar tubuhnya, dia menunjuk -kepada seekor kuda terpisah tiga tombak jauhnya, dia berkata.

"Mampuslah kau!"

Setelah itu mendadak dia memutar tubuhnya dan lari, sekejap saja, tubuhnya lenyap.

Semua -orang kaget dan tercengang.

Manusia aneh itu muncul dan leayap secara mendadak dan kelakuannya juga aneh.

Lantas menyusul lain keanehan.

Ialah kuda yang dia tunjuk itu mendadak roboh dan mati, ketika orang merumuninya, binatang itu tidak terluka, tidak keluar darah dari mulut dan hidungnya, agaknya mati wajar.

"Hantu.. Hantu!"

Kate banyak orang.

"Telah aku kata di Gobi ada setannya!"

"Sudah seribu tahun istana tua itu tidak didatangi manusia, pasti ada memedi yang menjaganya!"

"Katanya hantu tidak ada kakinya, mari kita lihat, dia ini ada tapaknya atau tidak..."

Beberapa orang membesarkan hati, dengan membawa obor mereka maju.

Tidak tampak tapak kaki, ada juga liang kecil setiap jarak lima kaki.

Tapak kaki manusia tidak sekecil itu.

Juga jarak tepak kaki tidak dapat serenggang itu.

Sampai di situ, orang menduga iblis penunggu istana main gila, maka ada yang berkata.

"Semua yang memasuki istana, dia akan celaka... Lihatlah Suruke dan Cherku! Bukankah mereka terbinasa di. sana? Tentu si hantu membikin Cherku kalap, Cherku disuruh, membinasakan Suruke, kemudian Supu dibikin tak sadar dan diperintahkan membunuh Cherku..."

"Ya, lihat itu kawanan penjahat Han, sudah sepuluh tabun mereka mengganas di gurun pasir, Orang kewalahan karenanya, tetapi sekali mereka memasuki istana rahasia itu, beginilah kesudahannya..."

"Dan orang bangsa kita, bukankah telah banyak yang mati di dalam istana itu?"

Kata lagi suara lainnya.

Di akhirnya ada yang memperingatkan suatu dongeng tua, begini.

Seorang secara mendadak mendapati harta karun di padaag pasir, harta itu diangkut pulang, hanya aneh, unta yang menjadi binatang tunggangannya tidak dapat pulang, cuma mondar-mandir di situ-situ juga.

Katenya, si penunggu tidak membiarkan orang mencuri harta itu, kaki unta "dipegangi".

Setelah harta itu dikembalikan, baru orang itu dapat pulang.

Inilah dongeng yang setiap orang Kazakh mengetahuinya.

Maka akhirnya seorang mengusulkan kepada ketuanya.

"Baiklah semua harta itu dikembalikan, supaya mereka terhindar dari mara bahaya. Tapi orang berat ' .untuk mengembalikannya, mereka bersangsi. Malam itu tidak ada kepatutannya. Segera datang malam yang kedua. Kembali orang berkumpul di tegalan itu. Semua berkuatir "

Hantu"

Tadi malam nanti datang pula.

Maka itu mereka lebih suka berkumpul bersama, hati mereka menjadi terlebih tenang.

Karena tidak ada orang suka berdiam sendirian di tenda mereka, jumlah mereka menjadi jauh terlebih besar.

Mulai tengah malam, dari arah barat daya terdengar suara jeritan seperti malam pertama.

Datangnya juga dari jurusan yang sama.

Semua orang menjadi kaget, bulu roma mereka lantas pada bangun.

Mereka tidak usah menanti lama akan melihat munculnya si "hantu"

Yang kemarin itu, yang bajunya putih dan berdarah. Dia datang bagaikan terbang, lantas dia terdiri di muka orang banyak. Dia pun segera mengasih dengar suaranya seperti kemarinnya.

"Siapa sudah mencuri mustika dari istanaku? Lekas bayar pulang! Kalau tidak, satu demi satu, akan aku membuatnya mati tak wajar! Sudah seribu tahun aku tinggal di dalam istanaku itu, siapa juga tidak dapat memasukinya, tetapi kamu, kamu besar sekali nyali kamu!"

Sehabis berkata, si hantu memutar tubuhnya. Dengan perlahan ia mengangkat tangannya, untuk menunjuk satu pemuda, yang terpisah jauh juga darinya. Lantas ia kata nyaring.

"Kau matilah!"

Kata-kata itu disusul sama gerakan tubuhnya, yang diputar balik, terus dia berjalan pergi, maka di lain derik lenyaplah dia dari pandangan mata semua orang!

Menyusul itu terjadi hal aneh dan hebat atas diri si anak muda yang ditunjuk tadi.

Dengan sendirinya pemuda itu menjadi lesu, sepatah kata juga dia tidak mengeluarkannya, lantas dia berubah kulit mukanya menjadi hitam, dan dia mati!

Kecuali itu, tidak ada tanda lainnya lagi.

Dia tidak terluka.

Tidak cukup kemarin malam membunuh seekor kuda, kali ini hantu itu membinasakan seorang muda segar bugar.

Ialah salah satu anak muda yang pernah turut memasuki istana rahasia.

Orang semua menjadi takut dan bingung, semua terbenam dalam kekuatiran.

Benar selewatnya tidak ada bahaya lagi, akan tetapi di lain malamnya-malam ketiga tidak ada seorang jua yang berani muncul di tegalan, semua menyekap diri-di dalam tenda, yang ditutup rapat-rapat Malam itu jadi sangat sunyi senyap.

Malam tenang-tenang saja sampai tiba jam haysie, seperti kemarin-kemarinnya.

Dengan tiba-tiba terdengar pula jeritan yang menakuti itu, disusul sama kata-kata yang serupa, disusul sama seman terakhir.

"Kau matilah!"

Habis ancaman itu kembali malam rnembuat.sunyi, hanya tidak lama, ketenangan terganggu tangisan sedih yang keluar .dari sebuah tenda.

Itulah bukti bahwa si hantu telah datangi tenda itu, menyingkap tendanya dan membunuh mati seorang mudai Orang menjadi takut, tetapi mereka tidak berdaya.

Juga di waktu siang, ketakutan mereka tetap tidak berubah.

Mereka lantas berdoa, memuji kepada nabi mereka memohon perlindungan.

Lain jalan tidak ada.

Sia-sia belaka doa mereka, di malam keempat, kembali seorang muda binasa secara serupa.

Maka itu, ketika tiba kurban yang ke empat, si ketua menjadi putus asa, terpaksa ia mengajak semua orang bangsanya mengangkut pulang harta karun ke istana rahasia, tidak ada orang yang berani menyembunyikan sekalipun sepotong kecil emas atau perak.

Sepulangnya barulah hati mereka lega sedikit.

Mereka mau percaya si hantu tidak bakal datang pula untuk mengganggu.

Akan tetapi, peristiwa tidak gampang-gampang habis...

Untuk pulang dari istana rahasia, di malam pertama, mereka mesti bermalam di tengah gurun pasir.

Malam itu si hantu muncul di antara mereka, bantu itu berkata.

"Kamu baik sekali, semua harta telah kamu kembalikan padaku. -Aku memajikan Semak kamu makmur, kamu sendiri selamat tidak kurang suatu apa! Hanya itu anak perempuan, yang mengantarkan kamu ke istaa rahasia, dia hendak aku menghukumnya!"

Habis berkata begitu, dia lantas lenyap.

Aman adalah si anak perempuan yang dimaksudkan itu, maka bukan main takutnya ia.

Dengan ia, turut berkuatir juga Supu, maka besoknya malam-bersama empat kawannya pemuda lain, dengan menyiapkan golok, Supu menjagai kekasihnya Itu.

Kapan sang tengah malam tiba, si hantu putih yang berlepotan darah itu muncul pula.

Supu berlima mengitari Aman, akan tetapi belum sempat mereka berbuat apa-apa, lantas mereka merasakan punggung mereka sesemutan dan kaku, lantas mereka roboh tak sadarkan diri.

Ketika mereka mendusin sesudah langit menjadi terang, Aman lenyap tidak keruan paran.

Mereka menjadi kaget Si empat anak muda lantas naik kuda mereka, untuk kabur pulang.

Supu pun menunggang kuda dan kabur, hanya dia mengambil arah kembali ke istana rahasia *Wah, Supu, kau mau bikin apa?"

Orang bertenak-teriak menanya. Sambil kabur terus, Supu menyahuti.

"Aku hendak mati bersama Aman!..."

Orang; hendak mencegah tapi pemuda itu sudah kabur jauh.

Supu hancur hatinya.

Ia pergi ke istana bukan untuk menolong kekasihnya, hanya benar-benar buat mati bersama Magribnya di hari keempat, tibalah Supu di depan pintu emas dari istana rahasia.

Dia benar-benar telah menjadi nekat.

Tepat di depan pintu, dia berteriak-teriak.

"Hai, hantu jahat dari istana rahasia! Kau telah membikin mati kepada Aman, maka kau bunuhlah aku sekaitan! Akulah yang bersama Aman mengantarkan orang-orang bangsaku datang, kemari untuk mengangkut harta karun! Aku Supu, aku tidak-takut mati!"

Supu telah menunjuk keberaniannya itu, akan tetapi sia-sia belaka ia berkaok-kaok di muka pintu emas dari istana itu, tidak ada orang yang menyahuti padanya, tidak ada orang yang melayani bicara.

Ia penasaran, maka ia berseru pula.

"He, hantu jahat, apakah kau takut padaku? Haha! Aku justeru tidak takuti kau, tidak takut meski kau hantu jahat!"

Ia lantas membulang-balingkan goloknya bagaikan orang kalap. Selagi pemuda ini masih kalap, mendadak ia mendengar suara halus di sebelah belakangnya.

"Supu, kau lagi bikin apa?"

Ia terperanjat; dengan segera ia memutar tabuhnya. Maka ia melihat seorang wanita Han. Malam remang-remang, sinarnya si pulen malam tidak cukup kuat untuk membikin wajah orang nampak jelas.

"Kau mencaci kalang kabutan, siapakah yang kau maki?"

Tanya pula wanita itu. Sapu mendengar nyata suara orang. Itulah suara yang ia kenal baik.

"Kau... kau toh tuan Lie?"

Tanyanya akhirnya.

"Mengapa kau... kau kembali menjadi wanita?"

Nona itu memang Lie Bun Siu. Dia bersenyum "Sebenarnya kau bikin apa di sini?"

Dia menanya tanpa menjawab.

"Lekas kau menyingkir!"

Kata Supu, yang jnga tidak menyahuti.

"Istana rahasia ini ada hantunya yang jahat! Kalau sebentar dia keluar, dia dapat membikin celaka padamu..."

"Kenapa kau sendiri tidak takut?"

Balik tanya si nona. Supu menjadi sengit.

"Setan jahat itu telah mencelakai Aman!"

Sahurnya.

"Aku tidak ingin hidup pula!"

Bun Sui nampak kaget .

"Bagaimana bisa ada bantu jahat di istana?"

Katanya-.

"Kenapa din mencelakai Aman?" . Supu lantas memberi penjelasan hal munculnya si hantu baju putih, yang mengganggu orang Kazakh hingga ada yang mati dan Aman diculik, karena mana ia datang menyusul, guna menyerahkan jiwanya juga. Bun Siu berdiam untuk berpikir. Ia heran dan curiga.

"Ada tanda apa di tubuhnya kurban-kurban jiwa itu?"

Ia tanya kemudian.

"Benar-benarkah tidak teriuka sama sekali?"

"Benar tidak ada tanda apa-apa,"

Menyahut Supu.

"Hanya….."

Tiba-tiba ia ingat suatu apa.

"hanya kulit muka mereka menjadi hitam seperti dilabur lumpur..."

Bun Siu berdiam, hatinya bekerja.

"Aku tidak percaya ada hantu di dalam dunia ini... Mungkin seorang lihai tengah main sandiwara dengan menyamar menjadi iblis. Hanya, mengapa tidak ada tapak kakinya di atas pasir? Kenapa hanya dengan satu kali mengulur tangan dia dapat membinasakan orang?..."

"Tuan Lie,"

Berkata Supu selagi orang berpikir.

"kau baik sekali, kau membantu aku mendapatkan Aman, maka sayang peruntunganku tipis, sekarang Aman dibikin celaka hantu.-Aku datang kemari untuk mengantarkan jiwa, biar si hantu -jahat membinasakan aku sekalian. Tuan Lie, mari kita berpisah, agar kita bertemu pula nanti di lain penitisan..."

Bun Siu terharu dan bingung. Menurut penuturan Supu.

"hantu"

Itu sangat lihai. Rasanya tidak sanggup ia melawan bantu itu. Ia bingung mengingat anak muda ini mengurbankan diri untuk Aman. Itulah cinta sejati. Itu membuatnya terbaru. Ia kata di dalam hatinya.

"Kau bersedia mati untuk Aman, kenapa aku tidak bersedia mati juga untuk kau?..."

Maka ia lantas kata.

"Mari aku temani kaul"

Supu terkejut Ia heran. Ia lantas mementang matanya lebar-lebar, sedang hadnya berpikir "Kenapa kau begini baik terhadap aku? Mustahilkah..."

Ia tidak berani memikir terus, hanya segera ia berkata.

"Lekas kau menyingkir dari sini! Lebih jauh lebih baiki"

Tapi si nona tidak pergi.

"Kau dengar aku,"

Ia berkata.

"Itulah bukannya hantu! Aku percaya dialah orang yang menyamarnya! Mari kita bekerja sama untuk menempur dia!"

Supu menggeleng, kepala.

"Kau belum pernah melihat hantu itu!"

Katanya.

"Kau tidak tabu dia lihai sekali! Tuan Lie, aku sangat berterima kasih kepada kau.tetapi.. kau baiklah lekas pergi, lekas!"

Lie Bun Siu tertawa, walaupun tertawa dengan air naiki berduka. Ia menghunus pedangnya, sedang dengan tangan yang lain ia menolak pintu istana rahasia itu.

"Kau pasang obor!"

Ia pun berkata.

"Mari kita menolongi Aman!"

Hati Supu tergetar mendengar suara orang itu. Tiba-tiba ia mendapat harapan "Apakah Aman belum mati?"

Dia bertanya, matanya mendelong.

"Aku percaya belumi"

Menjawab Bun Siu. Tiba-tiba pemuda Kazakh itu bergembira.

"Baik"

Dia berseru.

"Mari kita tolong! Aman!"

Dia lantas menyulut obor, bahkan dia mendahului masuk ke istana.

Demikian muda-mudi ini masuk ke dalam istana.

Mereka jalan berliku-liku.

Sudah sekian lama, mereka belum juga memperoleh hasil, Supu tidak takut, saban-saban ia berteriakteriak memanggil-manggil.

"Aman! Aman! Kau di mana?"

Tapi tidak juga ia memperoleh jawaban.

"Kau teriak bahwa pasukan besar kita datang menolongi,"

Bun Siu menganjur.

"Mungkin si hantu takut dan nanti menyingkirkan dirinya..."

Supu menurut, ia berteriak-teriak pula.

"Aman! Aman! Jangan takut! Kami datang dalam jumlah besar untuk meoolongi kau!"

Masib tidak ada jawaban, maka mereka maju terus.

Sekonyong-konyong terdengar jeritan di sebelah depan.

Itulah jeritan wanita.

Mungkin sekali itulah Aman.

Maka Supu lantas lari.

Di depan sebuah kamar, ia segera menolak daun pintu.

Untuk kagetnya, ia melihat Aman di satu pojok, tangan dan kakinya dibelenggu.

Dia kaget melihat Supu, dia menjerit, Supu juga menjerit saking terkejut, dan girangnya.

Supu lompat maju, untuk mendekati.

Dengan cepat ia meloloskan belengguan si nona.

"Mana dia si hantu jahat?"

Tanya dia selagi menolongi membebaskan.

"Dia bukannya hantu, hanya manusia,"

Aman menjawab.

"Hanya di dalam gelap, aku tidak bisa melihat tegas wajahnya. Dia bertangan panas. Barusan dia ada di sini, begitu dia mendengar suara kau, lantas dia pergi menyingkir!"

Supu bernapas lega.

"Orang macam bagaimana dia itu?"

Ia menanya.

"Kenapa dia menangkap dan menculik kau?"

"Entahlah,"

Aman menjawab.

"Selama di tengah jalan dia telah menutup mataku. Di dalam istana ini, seluruh ruangan gelap sekali, dari itu belum pernah aku dapat melihat jelas mukanya."

Supu berpaling kepada Bun Siu, sinar matanya menunjuki sangat bersyukur. Sebab benar katanya si nona. Aman belum mati.,. Bun Siu juga memandang si anak muda, ketika ia berkata.

"Supu! Bukankah kau bilang bukannya kau yang membunuh ayahnya Aman? Sekarang aku percaya kau! Si pembunuh mungkinlah.ini.manusia jahat yang menyamar menjadi hantu!" . Supu berjingkrak. Ia seperti telah disadarkan.

"Tidak salah! Tidak salah!"

Serunya.

"Mungkin dia jugalah yang membunuh ayahku! Mari kita cari dia!"

Begitu lekas mengetahui si hantu jahat hanya manusia belaka, keberaniannya pemuda Kazakh ini bangkit pula. Tapi, cuma sejenak, ia lantas ingat suatu hal lainnya.

"Tuan Lie, dapatkah kita melawan dia?"

Ia menanya. Ia baru ingat bahwa penjahat itu lihai sekali. Bun Siu pun berpikir, ia bersangsi, terus ia menggeleng kepala.

"Dalam sepuluh, sembilan kita susah menang,"

Sahutnya terus terang.

"Supu, baiklah kau bersama Aman lekas pulang, lantas kau mengajak rombongan bangsamu datang kemari, kau pasti bakal dapat membekuk dia."

"Rasanya sulit,"

Berkata Supu, juga Aman.

"Mereka,itu takut bantu, mana bisa mereka diajak datang kemari?"

Bun Siu berpikir pula.

"Aku ada akal, entahlah kau, kau berani atau tidak."

Katanya.

"Bilanglah, apa aku mesti kerjakan, nanti aku kerjakan!"

Kata si anak muda. Bun Siu berduka. Ia .kata di dalam batinya.

"Kalau aku menyuruh kau jangan mencintai Aman hanya aku, dapatkah kau mendengar kata-kataku?"

Tapi ia tidak mengatakan demikian. Dengan perlahan ia kata.

"Mari kita berdua berpurapura bertengkar dan bertempur, kita pergi ke itu kamar di mana ayahmu dan Cherku telah terbinasa. Mungkin si orang jahat muncul. Kalau benar, kita serang dia secara mendadak"

Supu setuju.

"Bagusi"

Katanya.

"Mari kita mulai!"

"Dia lihai sekali, kau mesti waspada,"

Bun Siu pesan. Supu mengangkat kepalanya, sikapnya gagah. Bun Siu lantas tertawa dingin.

"Kau bernyali besar! lihat golok!"

Dia berseru, lantas dia menyerang. Supu kaget, dia lompat berkelit "Tuan Lie..."

Serunya. Atau ia mendusta. Maka ia membalas membacok sambil menegur.

"Kau berani kurang ajar? Kau berani menyerang aku? Lihat, aku bunuh mampus padamu"

La lantas mengangkat goloknya. Aman sudah lantas mengerti peranannya. Ia mengangkat obor tinggi-tinggi ia berteriak-teriak.

"Jangan berkelahi! Jangan berkelahi! Eh, kenapa tidak keruan-keruan kamu berkelahi?"

Cegahan itu tidak diambil mumat, keduanya lantas saling bacok.

Golok dan golok bentrok, berbunyi nyaring tidak hentinya.

Dari kamar itu mereka berkisar ke arah kamar di mana Cherku dan Suruke terbinasa.

Supu di depan, Bun Siu di belakang.

Supu terdesak, dia lari, Bun Siu merangsak, mengejar.

Meskipun mereka bersandiwara, kedua muda-mudi ini kurang tenteram hatinya.

Bukankah mereka lagi bersandiwara untuk menghadapi ancaman bencana?

Tengah mereka "bertarung"

Itu, mendadak terdengar suara apa-apa yang nyaring di tembok, terus terasa menyambarnya angin dingin Hebat tiupan angin itu, obor di tangannya Aman padam seketika.

Supu dapat menjalankan peranannya baik sekait Ia menjerit "Aduh!"

Dan tubuhnya terus roboh terguling Di lain pihak Bun Sie terkejut.

Di dalam kamar yang gelap itu, ia merasa ada tangan yang dingin mengenakan lengannya, tangan mana mau merampas senjata di tangannya itu.

Ia memang sudah siap sedia, maka sambil mencoba mengelit tangannya, kaki kirinya terangkat, menendang ke perut orang.

Sebat gerakannya, tepat tendangannya, yang mengenai sasarannya hingga terdengar Suara keras.

Tapi penyerang gelap itu keras cekalannya, dia tidak mau melepaskan tangan orang tidak perduli dia telah tertendang.

Bun Siu mengayun tangan kirinya ke muka musuh.

Musuh itu berkelit sambil mendak, dengan tangan larinya, ia membalas menyerang.

Dengan begitu, mereka lantas bertempur.

Supu tidak lantas bangun, ia hanya berguling menghampirkan untuk menyambar kaki musuh itu.

Tapi ia salah memekik "Salah"

Berseru Bun Siu lekas.

"Inilah kakiku! Aman, nyalakan api!"

Justeru ia membuka suara, pundaknya Bun Siu kena ditinju.

Ia merasakan sakit hingga ia menjerit.

Atas itu, musuh bekerja terus.

Ia memegang keras lengan kanan si nona untuk mencoba merampas golok orang.

Di dalam keadaan yang berbahaya kembali terdengar siuran angin, tanda dari datangnya seorang lain, lantas terdengar bentakan;

"Jangan bergerak!"

Suara bentakan itu belum berhenti, atau menyusul yang lain.

"Jangan bergerak!"

Agaknya dua orang itu kaget, sebab berbareng terdengar suara mereka.

"Siapa kau?"

Inilah suara saling tanya.

Tapi mereka tidak menjawab satu pada lain sebaliknya, sebagai gantinya, terdengar suara beradunya senjata-Bun Siu terkejut dan heran.

Dengan mendadak ia menghajar dada orang.

Telak tinjunya ini, hanya orang itu berdiam saja, dia tidak berkelit, dia tidak berteriak kesakitan.

Karena orang berdiam saja dan tangannya yang dicekal pun bebas, Bun Siu lantas menyalakan api, maka sekarang ia bisa melihat dengan nyata keadaan di dalam kamar itu.

Tentu sekali, ia menjadi bertambah heran.

Dua orang yang lagi berkelahi itu ialah Kee Loojin serta Hoa Hui, yang satu penolongnya, yang lain gurunya.

dua-duanya orang yang ia buat pikiran, yang ia hendak cari.

"Suhu!"

Ia lantas berteriak.

"Kakek Kee! Tahan! Tahan! Semua orang sendiri!"

Teriakan itu membikin dua orang itu heran, keduanya sama-sama lompat mundur.

Bun Siu sendiri segera mengawasi orang yang mau merampas goloknya, yang masih berdiri diam saja Sebab dia kurban totokan pada jalan darahnya.

Ia tidak dapat mengenali orang, yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, mukanya berewokan, rambutnya awut-awutan, dan mukanya itu juga tersilangkan tapak golok.

"Suhu! Kakek Kee!"

Kemudian si nona berkata.

"Syukur kamu datang menolongi aku, jikalau tidak, aku bisa mati di tangannya ini manusia yang menyamar menjadi hantu!"

Orang itu tidak dapat berkutik tetapi ia bisa membuka mulutnya. Dia tertawa dingin dan berkata.

"Yang menyamar menjadi hantu bukannya aku hanya Ma Kee Cunl"

Dan tangannya menunjuk Mendengar disebutnya nama "Ma Kee Cun"

Itu, dua-dua Hoa Hui dan Kee Loojin terperanjat, mereka seperti merasakan tubuh mereka ditusuk jarum panas, keduanya sama-sama berlompat mundur.

Wajahnya Kee Loojin nampak bengis tetapi bergelisah, dan wajah Hoa Hui gusar sekali.

Kemudian Kee Loojin nampak menjadi kurangan bengisnya, tertukar dengan roman jeri.

Hoa Hui mengawasi orang tua she Kee itu, dan atas ke bawah dan sebaliknya.

Kee Loojin bertindak mundur lebih jauh.

sinar matanya berjelalatan.

Ia agaknya berniat mencari jalan untuk lari kabur.

Sekonyong-konyong Hoa Hui berseru;

"Kee Cun, diam!"

Kee Loojin berdiam, ia mengangkat goloknya, sikapnya mengancam. Ia mengawasi Hoa Hui.

"Bagus, bagus!"

Katanya.

"Kau benar belum mati!"

Suaranya perlahan. Hoa Hui juga mengawasi tajam sekali, tak sekejap jua ia mengedip. Kee Loojin tidak mundur lagi, ia terus menatap, rubuhnya lantas bergemetaran.

"Suhu!"

Tiba-tiba ia berseru, lalu dia menjatuhkan diri, berlutut di depan si orang she Hoa. Lie Bun Siu heran bukan kepalang.

"Kenapa Kee Yaya pun memanggil guru kepada guruku?"

Ia tanya dalam hatinya.

"Dia jauh terlebih tua daripada suhu..."

Hoa Hui tertawa dingin "Hm! kau masih ingat aku sebagai guru?"

Katanya tajam.

"Ketika dulu kau menggunai jarum beracun menyerang aku, kau toh tidak ingat gurumu, bukan?"

Kee Loojin mengangguk berulang-ulang.

"Ya, muridmu bersalah, muridmu bersalah"

Katanya.

"Muridmu harus mati."

Lie Bun Siu baru sadar.

"Ah, kiranya tiga batang jarum di punggung suhu dilepaskan oleh Kee Loojin/' "

Pikirnya.

Selagi yatim piatu, dan usianya demikian kecil, ia dirawat si kakek itu hingga sepuluh tahun, tentu sekali ia ingat budi kebaikan itu, maka sekarang, melihat sikap demikian galak dari gurunya kepada si kakek penolongnya itu, ia merasa berkasihan.

"Suhu,"

Ia berkata.

"Kee Loojin telah membokong kau, perbuatannya itu sangat tidak selayaknya, akan tetapi aku minta sukalah kau memberi ampun kepadanya. Selama sepuluh tahun Kee Yaya telah merawat aku baik-baik."

Hoa Hui tertawa dingin.

"Hm, apa itu Kee Yaya?"

Katanya, bengis.

"Dia she Ma, namanya Kee Cunl Apakah kau kira dia benar-benar bungkuk unta?"

Tanpa hening lagi, ia membentak pada Kee Loojin.

"Lekas singkirkan semua penyamaranmu"

Kee Loojin berbangkit dengan perlahan-lahan, terus ia membuka bajunya, hingga di punggungnya tertampak tergemblok sebuah buntalan besar.

Ia turunkan buntalan itu.

Kemudian ia menyusut mukanya dengan tangan bajunya, maka di lain detik, tampak mukanya yang putih dan tampan, la sekarang terlihat tegas sebagai seorang umur tiga puluh lebih, romannya gagah.

Lie Bu Siu sangat heran.

"Kee Yaya, kiranya.."

Katanya tertahan.

"kiranya kau masih begini muda?.,."

Kee Loojin menyeringai.

"Aku bernama Ma Kee Cun,"

Bilangnya.

"Bukankah selama sepuluh tahun aku telah merawati kau tanpa kecelaan?"

Bun Siu mengangguk.

"Kau memperlakukan aku baik sekali,"

Sahutnya.

"Selanjutnya baiklah aku memanggil kau paman Ma."

Hoa Hui mengambil buntalan orang, yang dijadikan alat membikin punggung bungkuk, ia membuka ikatannya dan membelarakkan, maka disitu terlihat sepotong jubah putih yang berlepotan darah, yang dilihatnya mendatangkan rasa ngeri "Ohl"

Supu berseru sedang sedari tadi dia berdiam saja.

"Kiranya kaulah yang menyamar menjadi si hantu jahat"

Terhadap Hoa Hui, Ma Kee Cun bersikap sangat menghormat, akan tetapi mengawasi Supu, ia beroman sangat garang.

"Benar aku!"

Jawabnya, jumawa.

"Dengan menyamar sebagai si bungkuk, aku berdiam di gurun pasir selama belasan tahun, selama itu aku sangat menderita; maka itu apa kau kira aku suka membiarkan harta karun di dalam istana rahasia diangkut kamu?"

Supu pun gusar.

"Dengan menggunai ilmu siluman kau telah membinasakan tidak sedikit orang bangsaku!"

Katanya bengis.

"Kenapa kau juga menculik Aman?"

Kee Cun tetap berlaku jumawa.

"Aku mempunyai harta besar begini, bagaimana aku bisa tidak mendapatkan isteri yang cantik sebagai kawan?"

Dia balik tanya. Dia lantas berpaling kepada Hoa Hui, gurunya, untuk berkata terus.

"Suhu, harta di istana rahasia ini, semua ada kepunyaanmu, aku melainkan ingin minta dibagi satu bagian saja dalam sepuluh, jumlah itu sudah dapat memuaskan batiku. Nanti aku membinasakan dulu ini bocah Kazakh, lantas kita berempat mengangkut harta ini pulang ke Tionggoan..."

"Tidak.. tidak dapat kau membunuh dia!"

Bun Siu menyelak. Ma Kee Cun menghela napas.

"Baiklah,"

Katanya.

"Aku tahu kau memang menyayangi bocah Kazakh ini. Bersama dia kau menggembala kambing dan bernyanyi, semua aku telah melihatnya! Jikalau bukannya kau sangat menyayangi dia, aku juga, tidak nanti menculik Aman. Baiklah, aku tidak akan membunuh dia. Kau dapat Supu, aku mendapat Aman, dan suhu mendapatkan harta besar! Jadi kita bertiga telah mendapatkan masing-masing bagiannya..."

"Kee Yaya..."

Berkata Bun Siu menghela napas.

"Eh, salah, aku harus memanggil paman padamu! Paman, suatu benda bukan kepunyaanmu, kau ingin memiliki itu untuk selamalamanya, itulah tak dapat.."

Selagi orang berbicara, Supu mengawasi si nona..la pun lantas mengingat banyak hal... Tapi Hoa Hui gusar.

"Anak Siul"

Katanya keras.

"orang ini berdosa besar, apakah kau masih mau meminta keampunan baginya? Kau tahu, semua kepandaiannya akulah yang mengajari, aku mengajak dia datang ke gurun pasir ini mencari istana rahasia, justeru kita mulai mendapat endusan, dia lantas timbul keserakahannya terhadap harta karun, dia menurunkan tangan jahat membokong aku dengan tiga batang jarum beracun, maka selama beberapa tahun, entah berapa hebat penderitaanku, coba aku tidak ditolong kau, tidak nanti aku hidup sampai sekarang ini."

Bun Siu memandang Ma Kee Cun.

"Paman, inilah salahmu!"

Katanya.

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 3

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 17

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert