Ceritasilat Novel Online

Kuda Putih 2

Eps 2 Kuda Putih - Okt

Baca online Kuda Putih - Okt

Cersil Kuda Putih - Okt.

Lantas nona ini memotong-motong bajunya si penyamun she In, untuk membuat juiran-juiran, guna nanti dipakai menepas darah dan membalut, setelah itu, lebih dulu ia memperhatikan jalan darah pekhu hiat, lalu dia mulai bekerja.

Ketika kulit dan daging Hoa Hui dipotong, darahnya lantas mengalir keluar.

Hoa Hui tidak kesakitan, mengeluh pun tidak.

"Sudah kelihatan?"

Bahkan dia menanya.

Bun Siu tidak lantas menyahuti, ia mencabut tusuk kondenya, guna memakai itu untuk mencari jarum.

Selang sejenak, ia berhasil.

Jarum itu telah nancap ke tulang.

Maka ia lantas memakai dua jari tangannya, akan menjepit gagang jarum, buat terus menariknya.

Hoa Hui menjerit, dia pingsan.

Bun Siu tidak heran atau kaget, bahkan itu ada baiknya, untuk mengurangi rasa nyeri orang, la menggunai ketika baik ini untuk lekas-lekas membelek lagi dua kali, untuk mencabut dua batang jarum lainnya.

Maka tak lama, selesailah ia.

Terus ia membalut lukaluka itu.

Selang sekian lama, Hoa Hui tersadar perlahan-lahan.

Ia membuka matanya.

Lantas ia melihat tiga batang jarum, yang hitam warnanya, la tahu itulah jarum beracun, yang telah menyiksa padanya.

Maka ia kata sengit pada jarum itu.

"Dua belas tahun lamanya kamu mengeram di dalam dagingku, baru hari ini kamu keluar!"

Terus ia menghadapi Bun Siu, akan berkata.

"Nona Lie, kau telah menolongku, aku tidak dapat membalas budimu, maka ini tiga batang jarum aku haturkan kepadamu. Jangan kau mencela karena jarum ini telah dua belas tahun terpendam di dalam tubuhku, sebenarnya racunnya tidak menjadi berkurang."

Bun Siu menggeleng kepala.

"Aku tidak menghendaki itu,"

Bilangnya. Hoa Hui heran.

"Bukankah kau telah menyaksikannya sendiri lihainya jarum ini?"

Katanya.

"Dengan kau mempunyai sebatang saja dari jarum ini, orang sudah jeri bukan main terhadapmu."

"Aku tidak menginginkan lain orang takut padaku,"

Kata si nona perlahan. Di dalam hatinya, ia pikir.

"Asal orang menyukai aku, itulah terlebih baik daripada jarum ini..."

Hoa Hui berdiam.

Karena ia mengeluarkan banyak darah bekas dibelek dagingnya ia menjadi lemah, akan tetapi sebaliknya, ia merasa lega, semangatnya terbangun.

Ia lantas merapatkan matanya, untuk beristirahat, untuk tidur.

Kira satu jam kemudian, ia mendusin dengan kaget.

Ia mendengar suara berisik, dari cacian dan teriakan berulang-ulang di luar gua.

Itulah suaranya si penyamun she Song, yang rupanya telah datang pula.

Ia mengeluarkan kata-kata kotor, untuk alamatnya Bun Siu dan Hoa Hui.

Ia tidak berani lancang masuk, ia sengaja memancing agar orang menjadi panas hatinya dan keluar.

Hoa Hui berbangkit dengan hatinya panas.

"Jarum di tubuhku telah dicabut keluar, orang mengira aku takut!"

Katanya mendongkol. Akan tetapi ketika ia mengerahkan tenaganya, ia gagal. Ia masih terlalu lemah. Ia menghela napas. Ia kata.

"Sudah terlalu lama jarum mengeram di dalam tubuhku, agaknya dengan beristirahat tiga empat bulan, belum tentukesehatan dan tenagaku pulih kembali..."

Di luar, si Song masih saja memuntahkan kata-katanya yang kotor. Berulangkali dia mendamprat.

"Bangsat tua! Bangsat tua bangka!"

Dalam panasnya, Hoa Hui kata.

"Apakah aku mesti menanti kau mencaci aku sampai empat bulan lamanya?"

Lantas ia mendapat satu pikiran. Maka ia kata pada Bun Siu.

"Nona Lie, mari aku ajarkan kau ilmu silat, lantas kau keluar, kau hajar binatang itu!"

"Berapa lama aku mesti meyakinkannya untuk aku bisa menggunainya?"

Bun Siu tanya.

"Toh tidak dapat terlalu lekas, bukan?"

"Jikalau aku mengajarkan kau ilmu jari tanganku, untuk menotok,"

Menjawab Hoa Hui.

"atau lainnya ilmu seperti tangan kosong atau golok, sedikitnya kau membutuhkan tempo setengah tahun, tetapi sekarang temponya mendesak, kau harus belajar dengan cepat. Untuk ini ada jalannya, ialah kau membutuhkan senjata yang istimewa. Cukup kau menggunai satu atau dua jurus. Hanya di dalam gua ini, di mana bisa didapatkan alat senjata yang diperlukan itu?"

Habis berkata begitu, Hoa Hui berdiam, otaknya bekerja.

Bun Siu pun berdiam saja, ia tidak tahu apa itu yang dimaksudkan senjata istimewa.

Hanya sejenak Hoa Hui berpikir, segera ia mengasih lihat roman girang.

"Ada!"

Katanya.

"Pergi kau ambil itu dua buah labu dan juga sehelai rotan. Mari kita main bandering liusengtwie!"

Ia menunjuk.

Bun Siu melihat buah labu tergantung di mulut gua, semuanya sudah kering.

Ia pergi mengambil dua buah, yang ia kutungi, lalu mengambil juga rotan yang diminta.

Ia serahkan itu kepada si empee kurus kering.

"Bagus!"

Kata Hoa Hui girang.

"Coba kau membuat sebuah liang kecil pada labu itu, lalu isikan pasir."

Si nona menurut, ia lantas bekerja. Benarlah labu itu, setelah diisi pasir dan beratnya masing-masing tujuh atau delapan kati, dapat merupakan bandering.

"Sekarang aku akan mengajari kau satu jurus Senggoat cenghui,"

Kata Hoa Hui sambil menyambut! buah labu dari tangan si nona.

"Aku akan menjalankan jurus itu, kau lihatlah baik-baik dan ingati di luar kepala."

Benar-benar, dengan perlahan, jago Selatan itu memutar banderingnya yang istimewa itu. Bun Siu mamasang mata, ia mengingat baik-baik.

"Senggoat cenghui"

Itu, yang berarti jurus "Bintang dan rembulan bersaingan kegemilangan" , yang kiri untuk menyerang jalan darah siangkiok hiat di antara dada dan perut, yang kanan guna menyerang punggung di mana ada jalan darah lengtay hiat.

"Sekarang kau coba,"

Kata si pelajar kemudian.

Bun Siu menuruti, menelad pelajar itu.

Ia telah mempunyai dasar, ia dapat mengingat dengan baik dan cepat.

Setelah beberapa kali penghunjukan, ia bisa menjalankannya dengan baik, maka itu, mulai dari perlahan, ia mencepatkan.

Sesudah paham benar, ia baru berlatih dengan sungguh-sungguh.

Ia telah bermandikan keringat setelah berlatih satu jam tanpa salah.

"Aku bebal, belajar sebegini saja aku memakai banyak tempo,"

Katanya seraya menyusuri peluhnya.

"Kau tidak bebal, sebaliknya kau cerdas sekali!"

Hoa Hui memuji.

"Kau jangan meragukan kefaedahannya jurus ini. Untuk lain orang, dia perlu tempo delapan sampai sepuluh hari untuk dapat belajar lekas seperti kau ini. Untuk melawan seorang ahli, jurus ini tidak berarti, tetapi buat merobohkan dua bangsat di luar, itulah berlebihan. Sekarang kau beristirahat dulu, sebentar kau ke luar dan kau labraklah mereka!"

Bun Siu heran bukan main.

"Cukup dengan ini satu jurus?"

Ia tanya. Hoa Hui bersenyum.

"Ya,"

Sahutnya.

"Dengan ini satu jurus, kau telah terhitung sebagai muridku. Muridnya Itcie Cin Thianlam tak memerlukan dua jurus guna menghadapi kedua kurcaci itu! Apakah kau pun tidak kuatir nanti merusak nama gurumu?"

Bun Siu girang sekali.

Ia pun sangat cerdik, maka lantas ia berlutut, untuk mengangguk-angguk dengan hormatnya, guna mengangkat guru.

Ia pun menghaturkan terima kasihnya.

Hoa Hui girang berbareng duka.

"Tidak kukira, di saat kematianku, aku dapat menerima murid secerdik kau ini,"

Katanya, bersyukur.

"Murid pun, kecuali yaya Kee Loojin itu, tidak punya sanak atau kadang lagi,"

Berkata Bun Siu, menjelaskan.

"Aku justeru merasa sangat beruntung memperoleh guru sebagai suhu."

"Sudahlah,"

Kata Hoa Hui.

"Hari bakal lekas malam, pergi kau ke luar, kau labrak kedua kurcaci itu! Kau cari tempat yang lega di mana kau bisa bersilat dengan leluasa."

Bun Siu bersangsi. Sebenarnya, ia rada jeri.

"Jikalau kau tidak percaya aku, buat apa kau mengangkat aku jadi gurumu?"

Hoa Hui lantas menjadi gusar.

"Kau tahu, dulu hari, Binpok Sianghiong, yaitu dua jago dari Hokkian Utara, telah terbinasa dua-duanya dengan jurus ini! Apakah kau kira Binpok Sianghiong kalah daripada dua kurcaci itu?"

Bun Siu tidak kenal dua jago dari Hokkian Utara yang disebutkan itu tetapi karena orang bergusar, ia paksa membesarkan nyalinya, ia membuka sumbatan pintu gua, lantas ia nerobos keluar, tangan kanannya memegang banderingnya yang istimewa itu, tangan kirinya mencekal jarum berbisa.

Ia pun membarengi berseru.

"Kurcaci, lihat jarum berbisa!"

Penjahat itu, ialah si orang she Song bersama si orang she Coan, yang menjaga di mulut gua, terkejut mendengar disebutnya jarum berbisa, dengan lantas keduanya lari mundur.

Si orang she Song mundur juga meskipun ia telah memikir, kalau si nona menyerang dengan jarum, tidak nanti nona itu mengancam dulu...

Bun Siu sampai di luar dengan terus lari ke tempat lega jauhnya belasan tombak, ketika ia berhenti dan berpaling, ia melihat si Coan memburu kepadanya, ia lantas mengayun tangan kirinya ke arah penjahat itu.

Si Coan terkejut, dia hendak berkelit, apamau dia terpeleset, terus saja dia terguling.

Si Song melihat kawannya roboh, dia kaget, dia lantas memburu.

Tapi kawannya itu sudah lantas bangun pula.

Maka berdua mereka merangsak.

Hampir berbareng mereka kata.

"Di sini kita bereskan budak ini! Kalau dia menggunai jarumnya, kita bisa melihatnya!"

Ketika itu matahari telah bersinar layung, kedua penjahat itu justeru menghadapi matahari, maka mereka lantas melengos.

Sekarang mereka dapat melihat nyata senjata di tangan si nona.

Keduanya tertawa.

Hatinya Bun Siu berdebar juga.

Ia benar-benar menyangsikan ilmu banderingnya itu, sedang ilmu silat ajaran ayah dan ibunya belum berarti.

Kedua musuh itu sebaliknya nampak sangat bengis.

Tapi ia cerdik, ia berseru.

"Jikalau kamu tidak lekas mengangkat kaki, guruku bakal segera keluar! Kau tahu guruku--Itcie Cin Thianlam? Awas kamu terhadap jarum berbisanya! Beranikah kamu menyaterukan guruku itu? Berapa besar nyalimu? Guruku dapat mengambil jiwa kamu sama gampangnya seperti ia merogoh sakunya!"

Meski mereka ada orang-orang kangouw, si Coan dan si Song itu tidak kenal Hoa Hui, dari itu sambil saling melirik, mereka pikir.

"Paling benar aku lekas-lekas membekuk dia untuk dihadapkan kepada Hok Toaya dan Tan Jieya! Inilah jasa! Peduli apa aku dengan Itcie Cin Thianlam?"

Maka berbareng mereka maju dari kiri dan kanan. Hati Bun Siu gentar.

"Dia maju berbareng, bagaimana aku mesti menghajar mereka?..."

Pikirnya, ragu-ragu dan berkuatir.

Maka bukan ia maju melawan, ia justeru lompat mundur tiga tindak.

Si Coan, diikuti si Song, maju terus.

Nona Lie menjadi terdesak, ia merasa ia terancam bahaya, tidak bisa lain, terpaksa ia menggeraki tangannya, menggunai banderingnya.

Syukur ia masih ingat latihannya.

Si Coan maju di sebelah kanan, ia belum datang dekat ketika tahu-tahu dadanya ialah jalan darah siangkiok hiat, kena terhajar bandering istimewa itu, sedang bandering yang kanan menghantam terbang goloknya.

Hanya celaka, labu itu pecah terbacok, pasirnya lantas terbang berhamburan!

Si Song lagi maju, tentu sekali dia tidak menduga kepada pasir itu, maka dengan lantas dia kelilipan, hingga dia menjadi kelabakan, tangannya dipakai untuk menutupi matanya, untuk dikucak-kucak.

Justeru dia repot sendirinya, bandering yang lain menyambar tubuhnya, hingga segera dia terhuyung ke arah si nona, yang dia terus sambar.

Nona Lie kaget hingga ia berteriak, dengan tangan kirinya ia menolak tubuh si kurcaci.

Tepat jarum di tangannya menusuk perut si Song itu, hingga dia menjerit.

Cuma sekejap, penjahat ini lantas roboh binasa.

Hanya, karena dia telah dapat menjambret, dia tetap masih memeluki, si nona sendiri tidak dapat segera berontak melepaskan diri.

Ketika itu Hoa Hui telah menyusul keluar, ketika ia melihat keadaan muridnya itu, ia menghela napas dan berkata.

"Ha, budak tolol, budak tolol! Tadi kau dapat berlatih bagus sekali, sekarang kau kaget dan bingung, kacau ilmu silatmu..."

Ia lantas maju mendekati, untuk mendupak si Song, atas mana barulah penjahat itu melepaskan rangkulannya dan roboh binasa.

Bun Siu berdiri diam, saking bingung, ia tidak dapat pulang ketabahannya dengan lekas.

Sinar matanya telah benterok sama matanya si Song, yang tubuhnya rebah jengkar, matanya melotot, sebab dia pun mati tiba-tiba.

Kemudian ia mengawasi mayat si Coan.

Hatinya lantas bekerja, memikirkan bagaimana dalam tempo yang pendek ia telah membinasakan lima jiwa manusia.

Benar dengan begitu ia berhasil membalaskan sakit hati ayah dan ibunya, toh hatinya tidak tenang.

Ia agaknya berduka "Bagaimana?"

Berkata Hoa Hui tertawa.

"Bukankah telah terbukti kefaedahannya satu jurus ilmu silat ajarannya gurumu ini?"

"Hanya sayang muridmu menjalankannya tidak sempurna,"

Kata si nona menyesal.

"Tidak apa,"

Kata guru itu, sabar.

"Kau tunggu pulihnya tenaga dan kepandaianku, nanti aku mewariskan semua itu kepadamu, setelah itu kita kembali ke Tionggoan, untuk malang melintang! Siapa dapat menghalang-halangi kami? Sekarang mari kita kembali ke rumah, untuk minum teh!"

Tanpa menanti jawaban, guru ini menarik tangan muridnya.

Mereka pergi ke kiri rimba, melewati sekumpulan pohon yangliu, lantas sampai di sebuah gubuk.

Bun Siu turut masuk ke dalam gubuk yang buruk perlengkapannya tetapi segalanya bersih, bahkan di tengahtengah ruang ada sepasang papan dengan masing-masing bertuliskan lian atau syair.

Ia belum mengerti banyak surat.

Lian yang sebelah ia dapat baca, yang sebelah lagi, gelap baginya.

Tanpa ia merasa, ia membaca berulang-ulang lian yang sebelah itu, yang berbunyi.

"Bersahabat sama-sama sehingga tua ada seumpama memegang gagang pedang."

"Apakah kau pernah baca syair ini?"

Hoa Hui tanya.

"Belum,"

Menjawab si murid.

"Suhu, apakah artinya itu?"

Guru itu berdiam sejenak.

Ia menjadi ingat bahwa telah dua belas tahun ia mengeram di wilayah Hweekiang ini.

Dulunya ia mempelajari ilmu surat, lalu batal, ia menukar dengan ilmu silat, meski begitu, ia tetap dandan sebagai pelajar.

Inilah disebabkan ia masih menggemari pelajaran surat itu.

"Itulah syairnya Ong Wie,"

Ia menyahut sesaat kemudian.

"Yang di atas itu berarti, meskipun kau mempunyai seorang sahabat kekal dengan siapa kau hidup bersama-sama sampai di hari tua, kau toh tetap tidak dapat mempercayai sahabatmu itu, sebab secara diam-diam dia dapat mencelakai kau, maka, meskipun dia berjalan di sebelah depan, baiklah kau terus meraba gagang pedangmu. Tegasnya, hati manusia itu jungkir balik bagaikan gelombang. Artinya syair yang di bawah yakni bahwa sahabatmu itu telah menjadi beruntung dan telah menjadi orang berpangkat besar, meski begitu seandai kau mengharap bantuannya, untuk membantu mengangkat kau, pengharapanmu itu melainkan membangkitkan tertawaannya saja."

Mendengar keterangan itu, Bun Siu mengerti kenapa guru ini senantiasa mencurigai ia, meskipun terhadap si guru tidak ada niatnya mencelakai.

Maka ia mau percaya, mungkin tadinya guru ini pernah dicelakai orang, karena mana dia menulis syair peringatan itu untuk mencatat hati manusia yang gampang berubah.

Habis itu, Nona Lie masak air, untuk menyeduh teh, maka tidak lama kemudian, setelah minum air panas, mereka merasa segar sekali.

"Suhu, aku hendak pulang,"

Kata Bun Siu sekian lama. Hoa Hui melengak, ia mengawasi. Agaknya ia putus asa.

"Kau mau pergi?"

Katanya, menyesal.

"Jadi kau tidak mau turut aku untuk belajar silat lebih jauh?"

"Bukan begitu, suhu,"

Kata si nona, menerangkan.

"Satu malam aku tidak pulang, tentulah Kee Loojin berkuatir dan memikirkannya tak habisnya. Sekarang aku hendak pulang untuk memberi keterangan padanya, habis itu, baru aku akan kembali."

Mendadak Itcie Cin Thianlam menjadi gusar.

"Jikalau kau memberi keterangan padanya, nah untuk selamanya kau jangan kembali padaku!"

Ia membentak. Bun Siu kaget dan takut, ia menjadi bingung.

"Aku tidak dapat tidak memberi keterangan pada Kee Loojin,"

Katanya perlahan.

"Dia itu baik sekali dan sangat menyayangi aku..."

"Terhadap siapa pun kau tidak boleh omong tentang kita di sini!"

Kata Hoa Hui, bengis.

"Kau mesti angkat sumpah untuk tidak menyebutkan apa juga mengenai kita, atau aku akan tidak ijinkan kau berlalu dari sini!"

Baru ia menyebut "sini"

Itu atau ia menjerit "Aduh!"

Keras sekali dan tubuhnya segera roboh, bahkan ia terus pingsan.

Itulah disebabkan ia berbicara keras-keras, lukanya mendatangkan rasa nyeri yang hebat.

Bun Siu kaget sekali, tapi ia masih ingat untuk mengasih bangun, guna menolongi.

Ia membasahkan jidat orang dengan air dingin.

Selang sesaat, Hoa Hui mendusin.

"Eh, kau masih belum pergi?"

Tanyanya heran.

"Suhu, apakah punggungmu masih sakit?"

Si nona balik menanya. Ia tidak sempat menjawab.

"Sedikit mendingan,"

Sahut guru itu.

"Kau membilang hendak pergi pulang, kenapa kau belum pergi?"

"Sebelum suhu sembuh, aku tidak mau pergi,"

Sahut Bun Siu.

"Biar aku menanti pula beberapa hari lagi."

Di dalam hatinya, ia pikir.

"Kee Loojin paling juga memikirkan aku tetapi suhu perlu rawatan."

Senang Hoa Hui mendengar jawaban itu, karenanya ia tidak bergusar terus.

Bun Siu pun senang.

Ia hanya merasa sulit untuk tabiat aneh guru ini.

Ia lantas mencari rumput kering, untuk dijadikan kasur darurat, yang mana ia gelar di ruang depan itu.

Ketika ia tidur pulas, beberapa kali ia mendusin dengan mendadak.

Ia terganggu impian-impian yang dahsyat, umpamanya penjahat datang membekuk padanya, atau setannya si penjahat, dengan berlepotan darah, datang menagih jiwa terhadapnya...

Besoknya pagi, Bun Siu mendusin dengan hati lega.

Ia mendapatkan gurunya segar sekali.

Ia lantas masak nasi, untuk mereka dahar.

Setelah datangnya waktu senggang, Hoa Hui lantas memberikan pelajaran silat.

Dia mulai dengan pokoknya lweekang, atau ilmu dalam.

"Kau telah berusia tinggi, untuk belajar silat, kau memerlukan tempo lebih banyak daripada seharusnya,"

Hoa Hui memberi keterangan.

"Tapi kau jangan kuatir, meski usiamu tinggi, itu dapat ditutup dengan kecerdasanmu serta dengan adanya guru bukan sembarang guru. Didalam lima tahun aku tanggung kau akan jarang tandingannya di dalam Rimba Persilatan."

Bun Siu tidak bilang apa-apa kecuali menghaturkan terima kasih.

Ia belajar dengan rajin dan tekun.

Didalam tempo delapan hari, ia telah memperoleh kemajuan, sedang lukanya Hoa Hui mulai sembuh.

Baru setelah itu ia kasih tahu gurunya ini untuk pulang dulu, guna menemui Kee Loojin.

Kali ini Hoa Hui tidak main bentakbentak lagi, dia tidak sampai memaksa muridnya mengangkat sumpah.

Begitulah ia pulang dengan menunggang kuda putihnya.

Ia menetapi janji, ia tidak mengasih tahu Kee Loojin tentang pertemuannya sama Hoa Hui disebabkan ia terancam bahaya, la mendusta bahwa ia kesasar di Gobi, sampai ia bertemu dan ketolongan serombongan kafilah.

Kee Loojin percaya keterangan itu, maka dia tidak menanya melit-melit, dia hanya merasa girang.

Semenjak itu setiap sepuluh hari atau setengah bulan, Bun Siu pergi kepada Hoa Hui, untuk berdiam dengannya beberapa hari.

Selama beberapa hari itu, ia belajar dengan rajin sedang gurunya mengajari dengan sungguh-sungguh.

Karena ia tidak memikirkan lain, gangguan apa jua tidak ada, ia memperoleh kemajuan pesat.

Jadi benar pembilangan gurunya, ialah murid cerdas, dan si guru bukan sembarang guru...

Tanpa merasa, tiga tahun telah lewat.

Satu kali dengan girang Hoa Hui kata pada muridnya.

"Dengan kepandaian kau sekarang, kau telah termasuk kaum kangouw kelas satu. Kalau kau pulaug ke Tionggoan, asal kau memperlihatkan kepandaianmu, kau akan menjadi kesohor."

Bun Siu merasa senang tetapi ia tahu ia baru menyangkok kepandaian gurunya dua tiga bagian, maka ia belajar terus dengan tetap rajin.

Karena itu selanjutnya lebih sedikit harinya ia berdiam sama Kee Loojin, lebih banyak ia tinggal bersama gurunya itu.

Beberapa kali sudah Kee Loojin menanya ia pergi ke mana saja, ia menggunai pelbagai alasan untuk menutup rahasianya, agar ia tidak melanggar pesan gurunya.

Selanjutnya, Kee Loojin tidak pernah menanyakan lagi.

Pada suatu hari Bun Siu pulang dari rumah gurunya.

Biasanya ia mengambil jalan mutar, tidak mau ia melintasi bukit kecil tempat terbunuhnya serigala, tetapi kali ini, ia terpaksa jalan di situ.

Sebabnya ialah mega mendung dan angin utara bertiup keras, tandanya bakal datang badai salju.

Ia pun melarikan kudanya keras-keras.

Ia melihat kawanan penggembala repot menggiring kambing mereka pulang.

Di tengah udara tak nampak seekor jua burung gagak.

Justeru itu, untuk herannya, ia mendapatkan satu penunggang kuda tengah mendatangi dengan binatang tunggangannya dikaburkan.

Ia menjadi heran.

"Badai salju segera bakal datang, kenapa dia justeru keluar dari rumahnya?"

Ia pikir.

Maka ia mengawasi.

Kapan penunggang kuda itu telah datang cukup dekat, Bun Siu melihat seorang nona Kazakh yang mengerobongi tubuh dengan mantel merah.

Ia pula lantas mengenali Aman, yang tubuhnya langsing dan romannya cantik.

Karena, ia tidak ingin menemui nona itu, ia larikan kudanya ke belakang bukit, untuk mengintai.

Tiba di depan bukit, Aman bersiul nyaring, atas mana, siulannya itu mendapat jawaban yang serupa, disusul munculnya seorang anak muda, yang datang menghampirkan, maka sebentar saja, keduanya sudah saling rangkul.

Pula ramai suara mereka tertawa.

"Badai salju bakal lekas datang, kenapa kau keluar juga?"

Demikian si pemuda tanya. Bun Siu mengenali suaranya Supu, sahabat kekalnya itu.

"Hai, si cilik tolol!"

Kata Aman, tertawa.

"Kau tahu badai salju bakal turun, kenapa kau juga keluar dan menantikan aku di sini?"

Supu tertawa "Setiap hari kita bertemu di sini"

Katanya, gembira.

"Pertemuan kita ini lebih penting daripada makan nasi! Biarnya ada ancaman golok atau pedang, pasti aku akan menunggui kau di sini!"

Aman tertawa pula.

Keduanya lantas duduk berendeng di bukit kecil itu, keduanya bicara tak hentinya.

Mereka bicara tentang asmara Bun Siu mengintai di balik beberapa pohon besar, ia berdiri tercengang.

Ia telah mendengar nyata setiap perkataan pemuda dan pemudi itu, kecuali di saat mereka itu seperti berbisik.

Kemudian lagi, ia terkejut ketika tidak keruan-keruan pasangan muda-mudi itu tertawa dengan keras.

Nona Lie mendengar seperti tidak mendengar.

Melihat tingkah laku muda-mudi itu, di depan matanya berbayang peristiwa dari masa ia masih kecil.

Di situ pun ada berduduk berendeng dua bocah, yang satu pria, yang lain wanita.

Mereka itu erat sekali perhubungannya.

Merekalah Supu dan ia sendiri.

Di sana mereka biasa saling mendongeng, sampai itu hari mereka diserang serigala yang ganas.

Apa yang mereka biasa omongi, ia seperti sudah lupa.

Sebab sepuluh tahun telah berselang.

Hanya sekarang, melihat Supu bersama Aman itu, ia terkenang akan masa yang lampau itu.

Segera sang salju mulai turun, sedikit demi sedikit, tetapi lama-lama, kuda mereka, pula kepala mereka bertiga, mulai putih ketutupan bunga salju.

Juga tubuh mereka mulai ketutupan.

Supu dan Aman seperti tidak menghiraukan salju itu.

Dan Bun Siu pun tidak mempedulikannya.

Lagi sekian lama, barulah Supu dan Aman dibikin kaget hingga keduanya berlompat bangun.

Di pohon kayu di dekat mereka terdengar suara berisik.

"Ha, air batu turun!"

Seru si pemuda.

"Mari lekas pulang!"

Aman menurut, tanpa banyak omong lagi, mereka naik kuda mereka dan melarikannya.

Bun Siu bagaikan tersadar mendengar seman mereka itu.

Ia pun lantas merasakan jatuhnya hujan air batu itu, yang mengenakan kepalanya, mukanya dan tangannya, hingga ia merasa sakit.

Tanpa ayal lagi, ia lari pulang.

Begitu ia tiba di depan rumahnya, ia heran.

Di muka rumah ada tertambat dua ekor kuda, satu antaranya ia kenali adalah kudanya Aman.

"Mau apa mereka datang ke rumahku?"

Pikirnya.

Sambil menerka-nerka, ia turun dari kudanya, untuk dituntun ke belakang.

Hujan air batu bertambah keras turunnya.

Setelah ia memasuki ruang belakang dari rumahnya, Bun Siu mendapat dengar suaranya Supu, katanya.

"Paman, hujan es turun secara besar-besaran, terpaksa kita mesti berdiam lamaan di sini."

"Tetapi ingat, di hari-hari biasa, walaupun aku mengundang, tidak nanti kau datang ke mari,"

Terdengar suaranya Kee Loojin.

"Tunggu, nanti aku mengambil air teh."

Memang juga, sekarang ini sukar untuk Kee Loojin, umpamanya......

hendak mengundang Supu.

Semenjak orangorang Chin Wie Piauwkiok mengganas, orang Kazakh jadi sangat mencurigai orang Han.

Benar Kee Loojin sudah tinggal lama di antara mereka itu dan terkenal baik, tetapi orang jadi tidak suka bergaul dengannya.

Bagusnya, dia tidak sampai diusir pergi.

Sebaliknya, tendanya Supu dan Aman telah dipindah semakin jauh, hingga sukar mereka datang ke rumah Kee Loojin itu.

Kali ini kebetulan saja mereka ini ditimpa hujan es.

Kee Loojin pergi ke dapur.

Ia heran melihat Bun Siu sudah pulang dan lagi berdiri bengong muka merah.

"Kau... sudah pulang?"

Katanya.

Orang tua itu heran akan tetapi ia mengangguk.

Tidak lama maka Kee Loojin sudah keluar dengan membawa susu kambing, koumiss dan teh merah, untuk menyuguhkan tetamunya.

Bun Siu duduk di dekat dapur, sambil menghangatkan diri, ia memasang kuping.

Ia mendengar suaranya Supu dan Aman, yang kadang-kadang tertawa.

Hampir ia berbangkit, untuk pergi ke luar, untuk berbicara sama mereka itu.

"Tidak ada halangannya toh?"

Pikirnya Hanya, dalam sekejap, ia menahan hati.

Itulah sebab ia lantas ingat sikapnya ayah Supu, yang galak, mulutnya gampang mendamprat, cambuknya gampang merangket.

Ketika Kee Loojin kembali ke dapur, untuk membagi susu dan teh pada si nona, ia heran melihat sinar mata nona itu.

Sudah belasan tahun mereka tinggal bersama, mereka mirip kakek dan cucu sejati, tetapi mereka tetap bukan asal sedarah sedaging, si empee sukar menjajaki hati si nona.

Setelah mengawasi, mendadak Bun Siu kata pada si empee.

"Aku hendak menyamar sebagai seorang nona Kazakh, aku akan datang untuk numpang berlindung dari hujan es, jangan yaya membuka rahasia."

Tanpa menanti jawaban, ia lekas pergi ke kamarnya, untuk dandan, pula ia rubah sanggulnya.

Sudah lama ia tinggal di wilayah Hweekiang ini, ia jadi mirip dengan bangsa Kazakh.

Habis dandan, ia pergi pula ke dapur, kepada si empee, memberi tanda dengannya.

Baru ia pergi ke luar, untuk berlalu dengan kudanya dengan manda ditimpa hujan es.

Hanya kabur belum satu lie, ia sudah lari kembali.

Di depan rumahnya, ia mengetuk pintu.

Ia jeri juga ketika melihat cuaca yang luar biasa.

Sudah sepuluh tahun lebih ia tinggal di Hweekiang ini, belum pernah ada hujan es lebat begini, dan awan pun mendung sekali.

Sambil mengetuk-ngetuk pintu, ia mengasih dengar suaranya.

"Mohon numpang! Mohon numpang!"

Kee Loojin membukai pintu.

"Nona ada urusan apa?"

Ia tanya.

"Hujan es hebat sekali, aku mohon menumpang berlindung,"

Menyahut Bun Siu.

"Boleh, boleh!"

Menyahut si empee, yang terpaksa main sandiwara.

"Di dalam pun ada dua sahabat lagi menumpang berlindung. Mari masuk, nona!"

"Aku hendak pergi ke Huangsha Weitze, dari sini perjalanannya masih berapa jauh lagi?"

Bun Siu berlagak menanya. Ia menggunai bahasa Kazakh. Ia senang si empee dapat main sandiwara baik sekali. Kee Loojin berlagak kaget.

"Nona mau pergi ke sana? Ah, tidak dapat! Dengan cuaca seburuk ini, tidak nanti kau dapat tiba di sana. Lebih baik nona singgah satu malam di sini, besok baru kau melanjuti perjalananmu. Kalau kau tersesat, itulah celaka..."

Bun Siu bertindak masuk, ia menggibriki es dari bajunya. Ia melihat Supu dan Aman duduk berendeng menghadapi api. Aman melihat yang datang adalah seorang nona, ia lantas berkata manis.

"Kakak, kita ketimpa hujan, mari menghangatkan diri di sini!"

"Baiklah, terima kasih!"

Bun Siu menyahuti.

Ia lantas duduk di samping nona Kazakh itu.

Supu mengangguk seraya bersenyum.

Ia tidak mengenali nona itu, yang telah berpisah dari ianya selama delapan atau sembilan tahun.

Sekarang si nona cilik telah menjadi dewasa, dandanannya pun lain sekali.

Kee Loojin menambah susu dan teh, ia bicara sama tetamunya ini seperti mereka adalah orang-orang asing benar benar.

Bun Siu pun belajar kenal pada pemuda dan pemudi itu.

Ia sendiri mengaku bernama Tangsanli, gadisnya pemilik sebuah peternakan di tempat jauhnya dua ratus lie dari situ.

Supu beberapa kali melongok ke jendela, untuk melihat udara, meskipun sebenarnya, dengan mendengar suara hujan, ia sudah dapat tahu hujan tak akan berhenti lekas-lekas.

Aman berkuatir, diam-diam ia tanya Supu kalau-kalau gubuknya si orang tua ini tidak bakal ambruk diserang hujan dan angin keras itu.

"Aku hanya menguatirkan wuwungan tidak dapat menahan beratnya es dan salju,"

Kata Supu.

"Nanti aku naik ke atas, untuk menyingkirkannya."

"Awas, nanti kau kena tertiup angin dan terbawa pergi!"

Kata si pemudi. Supu tertawa ketika ia menjawab.

"Di tanah telah bertumpuk banyak salju, umpama kata benar aku jatuh, toh tidak nanti membahayakan!..."

Pikiran Bun Siu kusut.

Ketika ia mengangkat cawannya, tangannya bergemetaran.

Ia mesti menyaksikan eratnya hubungan muda-mudi itu.

Ia sendiri tidak tahu mesti mengatakan apa.

Sahabatnya di masa kecil duduk dekatnya tetapi mereka tidak dapat bicara satu dengan lain dengan leluasa seperti duluhari.

la pun memikirkan apa benar-benar Supu tidak mengenalinya.

Di lain pihak, ia ingin Aman tidak mengetahui tentang persahabatan mereka...

Hari makin gelap.

Diam-diam Bun Siu menggeser diri, supaya Aman dan Supu dapat ketika untuk saling menggenggam tangan mereka, untuk bicara tanpa terdengar lain orang.

Cahaya api, yang memain, pula memain di antara mukanya muda-mudi itu.

Cuma muka Bun Siu tak terlihat, sebab ia berpisah cukup jauh dari unggun itu.

Kembali Kee Loojin menyajikan barang makanan.

Hanya mereka bertiga agaknya tidak ada napsu daharnya...

Selagi ruang ada sangat sunyi itu, di luar terdengar suara larinya kuda di atas salju.

Bun Siu mendengar, orang lagi mendatangi ke gubuknya itu.

Ia pun mengetahui, kuda itu seperti sudah letih sekali.

Kee Loojin dapat mendengar suara kuda setelah datangnya sudah dekat sekali.

"Kembali ada orang berlindung dari angin dan hujan..."

Katanya Supu berdua Aman mungkin mendengar dan mungkin tidak, mereka tidak mempedulikan, mereka lebih asyik menggenggam terus tangan mereka satu dengan lain, untuk bicara saling berbisik...

Hanyalah sesaat, seorang penunggang kuda tiba lebih dulu.

Lantas terdengar ia menggedor pintu, bukan lagi mengetuk, dan suaranya pun keras dan kaku, tidak miripnya orang yang mau mohon menumpang singgah.

Dengan alis berkerut, terpaksa Kee Loojin membukai pintu.

Di depannya terlihat seorang yang tubuhnya besar, yang mengenakan baju lapis kulit kambing, sedang di pinggangnya tergantung pedang.

"Angin dan salju besar sekali, kudaku tidak dapat berjalan terus!"

Dia kata keras. Dia bicara dalam bahasa Kazakh akan tetapi tidak lancar dan suaranya pun tidak wajar. Dengan mata tajam, ia memandangi semua orang yang berada di dalam ruang itu.

"Silahkan masuk,"

Kee Loojin mengundang.

"Silahkan duduk! Mari minum arak!"

Tuan rumah yang tua ini ramah-tamah, ia lantas menuangi arak dan menyuguhkannya.

Tetamu itu meminum araknya sekali cegluk, lantas dia duduk di dekat api.

Dia membuka baju luarnya, hingga di kiri kanan pinggangnya terlihat juga sepasang pedang kecil dengan gagang emas yang berkeredepan.

Bun Siu dapat melihat sepasang pedang itu, hatinya bercekat, kerongkongannya seperti tersumbat sesuatu.

Yang lebih hebat matanya menjadi kabur, kepalanya menjadi pusing.

Tapi ia masih dapat berkata di dalam hatinya.

"Inilah pedang ibu!"

Meskipun waktu ibunya terbinasa ia masih berusia belum sepuluh tahun, pedang ibunya itu Bun Siu ingat baik sekali, ia mengenalinya tanpa keliru.

Maka ia lantas melirik pada ini tetamu yang kasar.

Segera ia ingat orang ini ada satu di antara tiga kepala penyamun yang mengejar-ngejar mereka satu keluarga.

Ia sendiri telah berubah banyak tetapi penjahat itu, yang dulu berumur tiga puluh lebih dan sekarang menjadi empat puluh lebih, sedikit perubahannya.

Tapi ia kuatir orang nanti mengenali padanya, ia tidak mau mengasih lihat mukanya.

Ia pikir pula.

"Coba angin dan salju tak sebesar ini tidak nanti aku bertemu sama Supu dan ini manusia jahat."

"Tuan dari mana?"

Kee Loojin bertanya.

"Tentu dari tempat jauh ya?"

"Hm!"

Jawabnya tetamu itu, yang kembali menenggak secawan arak.

Itu waktu tibalah penunggang kuda yang kedua.

Kali ini pintu diketuk dengan perlahan, seperti juga orang itu takut membikin kaget tuan rumah.

Kee Loojin kembali membukai pintu, mengundang tetamunya masuk.

Tubuh orang itu menggigil, mukanya pun ditutupi sabuk bulu kambing dan kopiahnya dibelesaki menutupi seluruh jidatnya, hingga ia terlihat saja kedua matanya.

Ia mengasih dengar suara aa-u-u dan kedua tangannya digerak-geraki.

Nyata ia seorang gagu.

Dengan gerakan tangan, Kee Loojin mengundang orang berduduk, terus ia menyuguhkan arak.

Si gagu memberi hormat sambil menjura dalam, kepalanya digoyangi.

Ia menolak meminum arak.

Dengan itu ia menghaturkan terima kasihnya.

Ia kedinginan sangat, meski sudah mendampingi api, ia masih tidak mau membuka baju atau kopiahnya atau sabuknya.

Ia bahkan duduk merengkat.

"Kau minum arak, rasa dingin akan berkurang,"

Kata Bun Siu, yang merasa berkasihan. Kembali si gagu aa-u-u ia seperti tak mengerti omongan orang.

"Siapa gagu, dia pun tuli,"

Kata Kee Loojin.

"Dia ini tidak mendengar suara orang."

Bun Siu tertawa "Ya, aku lupa!"

Katanya Di situ berkumpul semuanya enam orang bersama mereka, Supu dan Aman tidak dapat lagi berbisik-bisik. Ketika Supu sudah mengawasi tuan rumah sekian lama, ia berkata.

"Empee, kaulah orang Han. Dapatlah aku menanyakan tentang sesuatu orang?"

"Siapa ya?"

Si empee balik menanya.

"Dialah seorang nona Han dengan siapa aku pernah hidup bersama selagi kita masih kecil, sering kita main-main berdua,"

Menerangkan Supu. Bun Siu terkejut, ia lekas melengos.

"Dia bernama Lie Bun Siu,"

Supu menambahkan sebelumnya si orang tua menyahuti.

"Sudah selang delapan atau sembilan tahun kita berpisah lantas kita tidak bertemu pula satu dengan lain. Aku ingat dia membilangnya bahwa ia tinggal bersama seorang tua yang bungkuk punggungnya. Bukankah orang tua itu empee adanya?"

Kee Loojin batuk-batuk. Ia ingin memperoleh penghunjukan dari Bun Siu tetapi si nona lagi berpaling ke lain arah. Ia menjadi bingung hingga ia cuma dapat berkata.

"Ah, ah..."

"Dialah nona yang nyanyinya paling merdu,"

Berkata pula Supu.

"hingga orang mengatakan suaranya lebih merdu daripada nyanyiannya si burung nilam. Selama beberapa tahun ini tidak pernah aku mendengar pula nyanyiannya itu. Empee, apakah dia masih tinggal bersama empee disini?"

"Tidak... tidak..."

Kata si empee, tak lancar.

"Dia tidak..."

"Oh, kau maksudkan si nona Han yang dulu tinggal bersama empee ini..."

Tiba-tiba Bun Siu campur bicara.

"Aku kenal dia Dia telah meninggal dunia pada enam atau tujuh tahun yang lalu!"

Pemuda Kazakh itu kaget.

"Ah, dia telah meninggal dunia!"

Serunya.

"Kenapa dia mati?"

Kee Loojin melirik Bun Siu.

"Dia sakit... sakit..."

Ia menyahuti. Matanya Supu menjadi merah.

"Ketika kita masih kecil, biasa kita menggembala kambing bersama,"

Ia bilang, suaranya parau.

"Dia sering bernyanyi untuk aku mendengari, dia juga gemar mendongeng. Baru beberapa tahun tidak bertemu, aku tidak sangka dia telah menutup mata."

"Ya, kasihan anak itu..."

Kata Kee Loojin. Supu mendelong mengawasi perapian.

"Dia pernah membilangi aku bahwa ayah dan ibunya telah dibinasakan orang jahat,"

Katanya pula kemudian.

"karenanya dia jadi hidup sebatang kara dan menderita di sini..."

"Apakah nona itu cantik?"

Aman tanya. Baru sekarang dia turut bicara.

"Ketika itu aku masih kecil, aku tidak ingat jelas,"

Menjawab Supu.

"Aku cuma tahu dia pandai bernyanyi, suaranya merdu, serta dia gemar bercerita, dan ceritanya menarik hati..."

Sekonyong-konyong si orang kasar menyeletuk.

"Kau maksudkan si bocah Han? Kau bilang dia she Lie? Bahwa ayah dan ibunya terbinasakan orang hingga dia terlantar seorang diri?"

Nyerocos pertanyaannya orang asing ini.

"Benar. Kau juga kenal dia?"

Supu menjawab seraya balik bertanya. Orang itu tidak menjawab, hanya dia menanya pula.

"Dia menunggang seekor kuda putih, bukankah?"

"Benar,"

Menyahut Supu.

"Jadi kau pun telah mengenal dia."

Mendadak orang itu berbangkit.

"Dia mati di sini?"

Dia tanya Kee Loojin, bengis.

"Ya,"

Menyahut si orang tua, yang terpaksa bersandiwara terus.

"Kau tentunya menyimpan baik-baik segala barang peninggalannya?"

Tanya orang asing itu. Kee Loojin heran, ia mengawasi orang sambil melirik.

"Apa hubungannya barang orang itu denganmu?"

Ia tanya.

"Ada serupa barangku telah dicuri nona itu!"

Menyahut si tetamu kasar.

"Aku telah cari dia di mana-mana kiranya dia sudah mampus..."

Tiba-tiba Supu berbangkit.

"Kau ngoceh tidak keruan!"

Bentaknya.

"Cara bagaimana Nona Lie dapat mencuri barangmu?"

"He, kau tahu apa?"

Balik tanya orang itu.

"Nona Lie bersama aku hidup bersama-sama semenjak masih kecil,"

Kata Supu.

"Aku tahu dialah satu nona yang baik hatinya, tidak nanti dia mencuri barang orang!"

Orang itu melirik, sikapnya tawar.

"Dia justru telah mencuri barangku!"

Ejeknya. Supu memegang gagang golok di pinggangnya.

"Siapa namamu?"

Dia tanya.

"Aku lihat kau bukan orang Kazakh! Mungkin kaulah si penyamun bangsa Han!"

Orang itu tidak menyahuti, dia hanya bertindak ke pintu, lalu mementangnya, hingga angin dingin menghembus masuk, membawa sekalian banyak lempengan salju.

Di luar, salju melulahan di mana-mana orang dan binatang pasti tidak dapat berlalu-lintas lagi di sana Dia pikir.

"Di waktu begini tentulah tidak bakal ada orang datang kemari! Di sini ada dua nona yang lemah, seorang tua yang lemah juga dan si gagu itu yang bercacad, asal aku menggeraki tanganku, dia tentu roboh! Tinggal ini satu pemuda, yang romannya kekar, dia mungkin memerlukan beberapa jurus untuk merobohkannya."

Karena berpikir demikian, ia lantas mengambil keputusan.

"Benar aku orang Han!"

Katanya, menantang.

"Habis kau mau apa? Aku she Tan, namaku Tat Hian, orang kangouw menyebutnya Cheebong Kiam, si Pedang Ular Naga Hijau! Binatang cilik, kau dengar tidak?"

Supu tidak mengetahui tentang kaum kangouw ia menggeleng kepala.

"Aku belum pernah mendengar,"

Sahutnya.

"Kau jadinya penyamun bangsa Han?"

"Tuan besarmu satu piauwsu, hidupnya justru membasmi perampokan!"

Kata Tat Hian pula "Mengapa kau bilang aku penyamun?"

Mendengar orang bukannya penyamun dan keterangan itu ia mau percaya, sikapnya pemuda Kazakh ini menjadi sabar. Ia kata.

"Bagus kalau kau bukan penyamun bangsa Han! Aku memang tahu banyak orang Han orang baik-baik, tetapi banyak bangsaku yang tidak mempercayainya. Untuk kau, baiklah kau jangan menyebut-nyebut pula bahwa Nona Lie itu telah mengambil milikmu!"

Tapi Tan Tat Hian tertawa dingin.

"Perempuan itu sudah mati, untuk apa kau masih mengingati dia?"

Katanya.

"Semasa hidupnya, kita adalah sahabat-sahabat baik,"

Berkata Supu.

"maka itu setelah dia menutup mata, dia tetap sahabatku. Aku melarang orang omong jelek tentangnya!"

Tat Hian tidak ingin berebut mulut, maka ia menoleh kepada Kee Loojin.

"Mana barang-barangnya si nona?"

Tanyanya. Sementara itu Bun Siu bersyukur yang Supu masih ingat ia dan membelanya.

"Dia tidak melupai aku, dia tidak melupai aku,"

Katanya dalam hatinya "Dia tetap baik terhadapku..."

Tapi ia heran untuk sikapnya Tat Hian itu. Pikirnya.

"Tidak pernah aku mengambil barang dia, kenapa dia menuduh aku mencurinya?"

Ia tak sadar akan kelicikan orang.

"Kau kehilangan barang apa, tuan?"

Tanya si empee Kee.

"Nona kecil itu polos dan jujur, inilah aku ketahui, maka itu tidak dapat dia mengambil barang lain orang."

"Itulah sehelai peta!"

Menyahut Tat Hian setelah berdiam sejenak.

"Untuk lain orang, peta itu tidak ada artinya, sebab... Itulah gambar lukisan yang dibuat almarhum ayahku, maka perlu aku mendapatkannya pulang. Nona Lie tinggal di rumahmu ini kau tentunya pernah melihat itu."

"Bagaimana sebenarnya lukisan itu? Apakah gambar sansui atau orang?"

Kee Loojin menanya pula.

"Ya, gambar sansui..."

Sahut Tat Hian.

"Hm!"

Supu tertawa dingin.

"Gambar atau peta apa masih tidak tahu tetapi berani sembarang menuduh orang!"

Gusar Tat Hian, maka ia menghunus pedang kecilnya.

"Bangsat kecil, apakah kau sudah bosan hidup?"

Dia menegur.

"Tuan besarmu biasa membunuh orang tanpa menutup matanya!"

Supu pun menghunus golok pendeknya.

"Tidak gampang untuk membunuh seorang Kazakh!"

Katanya menantang, suaranya dingin.

"Supu, jangan ladeni dia!"

Berkata Aman.

Supu mendengar kata, dengan ayal-ayalan ia masuki goloknya ke dalam sarungnya.

Telah bulat tekadnya Tan Tat Hian mendapatkan peta dari Istana Rahasia Kobu, untuk itu sudah belasan tahun dia dan kawan-kawannya hidup di wilayah Hweekiang ini di mana mereka merantau ke banyak tempat, sekarang dia mendapat endusan tentang si Nona Lie, turunannya Pekma Lie Sam, mana dia mau melepaskannya dengan gampang?

Dia memang bangsa kasar, tetapi dia bisa berpikir.

Dia mengerti, tak sabar artinya gagal.

Maka dia cuma mendelik kepada Supu, lalu dia berpaling pula kepada tuan rumah yang tua itu.

"Peta itu ialah sebuah gambar,"

Katanya.

"Itulah lukisan dari pemandangan alam di suatu tempat di gurun pasir, ada gunungnya, ada kalinya..."

Hati si empee terkesiap, sedang tubuh si gagu menggigil.

"Kenapa kau ketahui peta atau gambar itu ada di tangannya si Nona Lie?"

Empee Kee tanya pula kemudian.

"Apa yang aku bilang ini ada hal yang benar,"

Menyahut Tat Hian.

"Jikalau kau serahkan peta itu padaku, suka aku memberi hadiah besar padamu."

Ia lantas merogoh keluar dua potong goanpoo emas, yang ia terus letaki di atas meja. Uang emas itu mengeluarkan sinar berkeredepan yang menggiurkan. Empee Kee berdiam berpikir.

"Sebenarnya aku belum pernah melihat barang itu,"

Katanya.

"Aku hendak melihat semua barang peninggalannya nona kecil itu!"

Kata Tat Hian.

"Ini... ini..."

Empee itu bersangsi. Tangan kirinya Tat Hian bergerak, maka sebatang pedang kecilnya nancap di meja.

"Ini... ini...apa?"

Bentaknya.

"Nanti aku lihat sendiri!"

La menyulut sebatang lilin, dengan bengis ia menolak pintu dalam, untuk masuk ke kamar.

Paling dulu ia masuki kamarnya si empee.

Ia membalik-balik tempat pakaian.

Kemudian ia masuk ke kamarnya Bun Siu.

Di sini ia mendapatkan baju si nona, yang tadi dia loloskan, untuk menyalin pakaian sebagai nona Kazakh.

"Ha dia mati sesudah besar!"

Katanya si piauwsu penyamun.

Ia lantas memeriksa dengan terliti.

Di situ ada pakaiannya Nona Lie semenjak dia masih kecil, benar pakaian itu sudah tidak dapat dipakai tetapi sebab itu buatan ibunya sendiri, dia menyimpannya terus.

Melihat pakaian itu, Tat Hian samar-samar mengingat roman dan potongan tubuh Bun Siu semasa kecilnya itu, ketika mereka mengejar-ngejarnya di gurun pasir.

"Benar! Benar!"

Katanya girang.

"Benar dia!"

Hanya setelah mencari sekian lama, ia tidak mendapatkan barang yang ia cari.

Supu gusar bukan main menyaksikan orang mengadukaduk pakaian Bun Siu, beberapa kali sudah ia memegang goloknya, untuk dicabut, saban-saban Aman mencegahnya.

Kee Loojin sendiri saban-saban melirik kepada Bun Siu, sinar mata siapa menyala bagaikan api, hanya nona itu, mengenai sepak terjangnya Tat Hian, seperti tidak melihatnya.

Maka masgullah orang tua ini.

Ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Bagaimana kalau penyamun ini mengenali si nona?

Bun Siu memperhatikan sikapnya Supu.

Ia berduka, ia pun merasa puas.

"Benar-benar dia masih ingat aku,"

Pikirnya.

"Agaknya dia bersedia bertempur untuk membelai barang-barangku."

Di lain pihak, ia tetap heran atas sikapnya si orang jahat. Pikirnya.

"Mengapa dia berkeras menuduh aku mencuri barangnya? Peta apakah itu?"

Memang duluhari Bun Siu disesapkan peta oleh ibunya hanya ia belum tahu apa-apa, ibunya pun tidak sempat lagi memberi keterangan padanya, la juga tidak tahu yang kawanan piauwsu dari Chin Wie Piauwkiok, yang berubah menjadi penyamun, telah mencari itu selama sepuluh tahun lebih.

Sia-sia Tat Hian menggeledah sekian lama, ia nampak masgul dan putus asa.

Tapi tidak lama, mendadak dia menanya bengis.

"Di manakah kuburannya?"

Kee Loojin melengak. Itulah pertanyaan yang ia tidak sangka.

"Dia dikubur jauh, jauh sekali..."

Sahutnya gugup. Tat Hian menurunkan pacul dari dinding.

"Mari antar aku!"

Katanya. Supu berbangkit.

"Kau hendak bikin apa?"

Ia tanya.

"Perlu apa kau campur urusanku?"

Bentak Tat Hian.

"Aku hendak membongkar kuburannya, untuk memeriksa. Mungkin dia membawanya peta itu ke liang kubur!"

Supu menghunus goloknya, ia menghalang di pintu.

"Aku larang kau menggali kuburannya!"

Ia kata nyaring.

"Minggir!"

Bentak Tat Hian. la mengayun paculnya, menyerang. Supu berkelit ke kiri, terus ia menyerang. Tat Hian melemparkan paculnya, ia mencabut pedangnya. Maka "Trang!"

Kedua senjata mereka beradu keras.

Atas itu keduanya sama-sama lompat mundur setelah mana, mereka maju pula, untuk bertempur di dalam ruang yang tak lebar itu.

Kee Loojin lantas menyingkir ke pinggiran, juga si gagu dan Aman.

Cuma Bun Siu yang berdiri diam di dekat jendela.

Kemudian Aman mencabut pedang pendeknya Tat Hian, yang nancap di meja, dia berniat membantu Supu akan tetapi dia tidak memperoleh kesempatan guna menyelak di antara mereka Supu telah mendapatkan pelajaran dari ayahnya, ia berkelahi bengis sekali.

Tat Hian heran hingga ia berpikir.

"Aku tidak menyangka bocah Kazakh ini gagah sebagai erang gagah dari Tionggoan..."

Tengah ia berpikir itu, ia kaget akan mendengar suara angin di belakangnya, dari datangnya senjata tajam.

Sebab Aman, yang tidak bisa maju, lantas menimpuk dengan pedang pendek.

Ia berkelit ke kanan.

Justeru ia berkelit, justeru tiba serangannya Supu, maka lengannya kena tergores golok, siasia ia mencoba berkelit lebih jauh.

Ia menjadi gusar sekali, lantas ia membalas menyerang.

Tiga kali beruntun ia menikam dengan jurus-jurus dari ilmu silat pedangnya.

"Cheebong Kiamhoat"

Atau Ilmu Pedang Ular Naga Hijau.

Supu kaget melihat datangnya serangan saling susul, sedang sinar pedang membuat matanya silau.

Tahu-tahu lehernya telah kena dimampirkan pedang lawan itu hingga darahnya mengalir keluar.

Tat Hian memperoleh hati, ia mendesak terus.

Di lain saat, lengan Supu kena kelanggar pedang, sampai dia merasakan sakit, goloknya terlepas dari cekalannya dan jatuh.

Di saat tikaman yang ketiga mengancam dan Supu agaknya mati daya, Bun Siu maju satu tindak, untuk menolongi.

la hendak menggunai ilmu Tay Kimna Ciu, guna menangkap tangannya Tat Hian.

Akan tetapi mendahului ia, Aman telah berlompat ke depan Supu sambil berseru.

"Jangan melukakan dia!"

Melihat nona Kazakh yang elok itu, tapi yang romannya ketakutan, batal Tat Hian menikam terus. Dengan mengancam sama ujung pedangnya, ia tertawa dan tanya nona itu.

"Kau begini memperhatikan dia! Adakah dia kekasihmu?"

Muka Aman merah tetapi ia mengangguk.

"Kau menyayangi dia, baik!"

Kata Tat Hian pula.

"Aku nanti memberi ampun padanya asal besok badai berhenti, kau turut aku!"

Supu menjadi sangat mendongkol, sambil berseru, ia maju ke depan Aman, hendak ia menerjang musuhnya itu.

Tat Hian berlaku awas dan sebat, dengan ujung pedangnya masih mengancam, ia menggeraki kaki kirinya ke kaki orang, maka tanpa ampun lagi, robohlah pemuda Kazakh itu.

Coba pedang ditusukkan terus, akan tertumblaslah tenggorokannya si anak muda Didalam keadaan seperti itu, Bun Siu masih mengawasi saja Ia memasang mata, ia bersiap sedia menggunai ilmu totoknya, karena peryakinannya atas ilmu Itcie Cin Thianlam, telah menyampai kemahiran tujuh atau delapan bagian.

Hanya Aman tidak tahu bahwa seorang penolong siap sedia di dampingnya, karena mana, ia menyerah atas desakan si penyamun.

Ia memberikan penyahutannya.

"Baiklah, aku terima permintaanmu, asal kau jangan bunuh dia!"

Tat Hian girang sekali. Tapi pedangnya ia masih belum mau mengisarkannya.

"Kau menerima baik akan turut aku besok, jangan kau menyesal,"

Ia bilang.

"Aku tidak menyesal,"

Jawab Aman seraya menggigit giginya.

"Singkirkan pedangmu!"

Tat Hian tertawa lebar.

"Taruh kata kau menyesal dan menyangkal kau toh tidak bakal lolos dari tanganku!"

Katanya, la menarik pedangnya, untuk dikasih masuk ke dalam sarungnya, terus ia menjumput goloknya Supu. Ia memandang ke luar jendela, lantas ia berkata.

"Sekarang kita tidak dapat pergi membongkar kuburan kita tunggu saja sampai langit sudah terang."

Ia menjadi berbesar hati, karena di situ cuma ia sendiri yang bersenjata.

Sampai sebegitu jauh, ia belum melihat gerak-geriknya Bun Siu.

Aman mempepayang Supu untuk dibawa ke pinggir.

Ia melihat darah masih mengalir keluar dari leher si pemuda.

Ia menjadi bingung, hingga ia mau menyobek ujung bajunya untuk dipakai membalut.

"Pakai ini saja,"

Kata Supu, ia mengeluarkan sehelai sapu tangan dari sakunya.

Aman membalut, habis itu, sendirinya ia menangis.

Ia memikirkan nasibnya, yang telah terjatuh ke tangan penyamun itu.

Dapatkah ia nanti meloloskan dirinya?

"Bangsat anjing!

Jahanam!"

Supu mendamprat perlahan.

Ia tidak berdaya tetapi ia tidak takut.

Kalau terjadi orang memaksa membawa Aman, ia bersedia untuk mengurbankan jiwanya guna melindungi nona itu.

Setelah pertempuran itu, ke enam orang itu duduk diam mengitari perapian, akan tetapi suasana tetap tegang.

Sebelah tangannya Tan Tat Hian tidak pernah melepaskan goloknya.

Untuk menenggak arak, ia menggunai tangan kiri.

Senantiasa ia memandang Aman dan melirik Supu.

Di luar, badai masih mengamuk.

Sering lempengan salju beterbangan menghajar tembok atau wuwungan hingga mendatangkan rasa kaget dan kuatir.

Semua orang menutup mulutnya.

Sang waktu dilewatkan Bun Siu dengan segala ketenangan hatinya.

Sejak semula ia sudah pikir untuk berlaku sabar.

Tadi pun ia baru menindak atau Aman mendahului ia.

Katanya di dalam hatinya.

"Biarlah jahanam ini bertingkah lagi sekian waktu, tak usah aku tergesa-gesa..."

Dalam kesunyian itu, mendadak api meletus.

Ada kayu yang terbang terbakar meledak, mulanya gelap, lalu terang luar biasa hingga mereka dapat melihat tegas sekali wajah masing-masing.

Bun Siu tercengang ketika ia mendapat lihat sapu tangan di lehernya Supu, hingga ia mengawasi terus.

Kee Loojin, yang memperhatikan nona ini, turut melihat ke arah Supu, hingga ia melihatnya juga sapu tangan itu.

Bahkan ia lantas menanya.

"Eh, Supu, dari mana kau dapatkan sapu tanganmu itu?"

Si anak muda Kazakh melengak. Ia meraba ke lehernya.

"Kau maksudkan sapu tangan ini?"

Dia balik menanya.

"Inilah si nona Lie yang telah mati itu yang memberikannya padaku. Di waktu masih kecil kita menggembala kambing bersamasama, pada suatu hari ada serigala yang menerkam kami berdua, lantas aku membinasakan anjing liar itu. Aku terluka sedikit, si nona membalutnya dengan sapu tangan ini..."

Bun Siu mendengar kata-kata itu, matanya terus mengawasi sapu tangan.

Sekarang penglihatannya rada kabur.

Tanpa merasa, air matanya telah mengembeng.

Empee Kee masuk ke dalam kamarnya, untuk mengambil sehelai sapu tangan putih.

Si penyamun mengawasi gerakgeriknya, ia tidak menghiraukan.

"Kau balut lukamu dengan sapu tangan ini,"

Kata si empee pada si pemuda "Mari sapu tanganmu itu, kasih aku lihat."

"Kenapakah?"

Tanya Supu heran. Oleh karena pembicaraan itu, Tat Hian turut memperhatikan sapu tangan di leher si pemuda. Mendadak ia berlompat bangun, goloknya diangkat.

"Kau disuruh membuka sapu tangan itu, kau bukalah!"

Ia membentak.

Nampaknya ia seperti gusar sebab si anak muda main ayal-ayalan atas permintaannya si tuan rumah.

Supu berdiam, dengan mata gusar, ia memandangi penyamun itu.

Aman takut orang menggunai kekerasan, lantas ia mewakilkan Supu membuka sapu tangan itu, untuk diserahkan kepada Kee Loojin, terus dengan sapu tangan yang putih, ia membalutnya pula luka si pemuda Tuan rumah lantas membeber sapu tangan yang berlepotan darah itu di atas meja.

Ia pun membesarkan pelita minyaknya.

Dengan terliti ia lantas mengawasi.

Tan Tat Hian turut mengawasi juga.

"Benar! Benar!"

Mendadak dia berseru seorang diri, sesudah meneliti sekian lama.

"Inilah itu peta Istana Rahasia Kobu!"

Dan ia mengulurkan tangannya untuk merampas!

Sebat tangannya piauwsu ini tetapi lebih sebat si empee Kee, ketika tangannya lagi tiga dim akan mengenai sapu tangan itu, sapu tangannya sendiri sudah tersambar si empee.

Berbareng dengan itu, suatu sinar terang menyambar bagaikan kilat, lantas Tat Hian menjerit kesakitan, sebab sebatang pisau belati sudah nancap di belakang tangan kanannya itu, pisaunya tembus nancap ke meja sebatas gagangnya Pula si empee menunjuki lain kesehatannya, ialah dengan tangan kirinya ia sudah merampas golok panjang dari si penyamun, untuk segera diancamkan ke tenggorokan penyamun itu!

Hebat empee bungkuk sebagai unta ini, ia gesit luar biasa, ia lihai sekali.

Tan Tat Hian berdiri dengan muka meringis, tubuhnya menggigil, tangan dan kakinya tidak berani digeraki, terutama tangan kanannya yang terpanggang pisau belati itu.

Cuma matanya yang dapat main, mengawasi si empee dan ke sekitarnya Bun Siu kagum bukan main.

Selama sepuluh tahun ia tinggal bersama si empee, cuma satu kali ia menyaksikan empee itu mempertunjuki kepandaiannya, yaitu ketika dia membinasakan Liangtauw Coa Tang Yong si Ular Kepala Dua.

Pula ketika itu dapat dibilang karena kebetulan.

Sekarang Kee Loojin memperlihatkan kepandaiannya yang istimewa.

Pertama-tama tikaman pisau belatinya yang sangat cepat dan tepat.

Kedua ialah caranya ia merampas goloknya Tat Hian.

Jurusnya ini ialah yang dinamakan "Menunjang penglari, menukar tiang" , suatu jurus lihai dari ilmu tangan kosong merampas senjata tajam.

Itulah sama dengan ilmu Kimna Ciu, yang gurunya Hoa Hui mengajarinya.

Ia sendiri, ia percaya, tidak nanti dapat bergerak dengan sebat.

Habis itu Kee Loojin mengulur pula tangannya, untuk mengambil pedang pendek bergagang emas dan perak dari pinggangnya si penyamun, terus ia menyerahkan itu kepada si nona seraya ia berkata.

"Nona, tolong kau mengambilkan sehelai tambang."

Bun Siu menyambuti pedang ibunya, tangannya bergemetaran, lantas ia lari ke belakang, untuk mengambil tambang yang diminta si empee, maka di lain saat empee itu sudah lantas mencabut pisau belatinya yang memanggang tangan si penyamun, tangan siapa terus ditelikung ke belakang sambil ia berkata pula.

"Nona, belenggulah bangsat jahat ini!"

Bun Siu berdiri bengong, tangannya masih memegangi pedang pendek ibunya, sedang kedua matanya basah dengan air matanya.

Ia seperti tidak mendengar perkataannya si empee.

Karena itu Supu yang menghampirkan, membantu tuan rumah mengikat Tat Hian, kedua tangan dan kedua kakinya, kedua tangannya itu tetap ditelikung.

Setelah itu, di antara sinar api, Kee Loojin mengawasi sapu tangan yang si penyamun menyebutnya peta Istana Rahasia Kobu.

Terang ia nampak heran.

"Bolehkah kau menyerahkan sapu tangan ini padaku?"

Kemudian ia tanya Supu.

Supu memperlihatkan roman bersangsi dan bersusah hati.

Empee ini sudah menolongi ia dan Aman, sepantasnya ia mesti membalas budi, tidak peduli dengan mustika.

Hanya...

hanya inilah sapu tangan tanda mata dari si nona Lie.

Mana dapat ia menyerahkan itu kepada lain orang?

Empee Kee mengawasi, ia dapat menduga hati orang.

"Begini saja,"

Katanya kemudian.

"Kau kasih aku pinjam lihat untuk satu hari, besok aku akan membayar pulang padamu."

Mendengar ini, girang Supu.

"Asal empee sudi membayar pulang, kau boleh pinjam itu untuk sepuluh hari atau setengah bulan."

Aman tidak mengerti, ia heran sekali.

"Empee,"

Ia tanya.

"barusan penyamun ini menyebut bahwa sapu tangan ini ialah peta, entah peta apa Sebenarnya, apakah artinya ini?"

Kee Loojin melirik kepada Bun Siu.

"Sebenarnya aku pun belum mengerti jelas,"

Sahutnya.

"Aku masih hendak memikirkannya dahulu."

"Bangsat tua!"

Mendadak Tan Tat Hian mencaci tuan rumah.

"Kau telah menangkap aku! Mau apa sekarang? Kau hendak membunuh aku atau menghukum picis? Lakukanlah! Kalau aku mengerutkan saja alisku, aku si orang she Tan bukannya satu hoohan!"

Kee Loojin mengawasi, ia menyahuti dengan tawar.

"Kita tidak berselisih, kita tidak bermusuhan, perlu apa aku membunuh kau? Kau dan kawan-kawanmu telah mengganas di gurun pasir ini, kamu main rampas, main membakar, main membunuh manusia, sangat banyak kejahatanmu, untuk itu bakal ada orang yang nanti membuat perhitungan denganmu. Kau tunggulah sampai besok terang tanah, Supu nanti menggusur kau kepada ketuanya, di sana orang nanti menghukummu!"

Supu berjingkrak.

"Empee!"

Katanya, separuh berseru.

"apakah manusia jahat ini dari rombongannya penyamun itu?"

"Kau tanyalah dia sendiri!"

Menjawab si empee singkat. Supu mengangkat goloknya, ia menghampirkan Tat Hian.

"Kawanan bangsat yang membunuh ibu dan kakakku, jadi itulah rombonganmu, jahanam?"

Dia tanya.

"Memang kawanan penyamun di gurun pasir itu ialah rombongan tuan besarmu ini!"

Menyahut Tat Hian dengan berani, mulutnya dipentang lebar, untuk sekalian mencaci.

"Jikalau kau berani mengganggu selembar saja rambutku maka besok nusa semua saudaraku bakal meluruk kemari untuk menuntut balas! Nanti semua kamu dibasmi berikut segala ayam dan anjingmu!"

Supu gusar sekali, ia ingat sakit hati ibu dan kakaknya. Maka ia mengayun goloknya. Tan Tat Hian tertawa dingin, ia kata pula mengejek.

"Orang lain yang menangkap aku, kaulah yang enak saja hendak membacoknya! Sudah aku bilang memang orang Kazakh bangsa bernyali kecil dan sangat tidak tahu malu!"

Supu batal membacok, tapi ia pun tertawa ewah, ia kata.

"Baiklah, sekarang aku tidak akan bunuh mampus padamu, tetapi besok, besok aku akan minta ayahku yang membikin perhitungan denganmu! Kau tahu, orang tuaku itu telah mencari kawanan bangsatmu sampai sepuluh tahun tetapi masih belum bertemu juga! Besok kau nanti lihat sifatnya orang-orang gagah bangsa Kazakh!"

Supu tahu memang keinginan utama dari ayahnya ialah membinasakan dengan tangan sendiri musuh isteri dan puteranya itu, maka adalah paling benar menyerahkan penyamun ini kepada ayahnya.

Karena itu, ia lantas kembali ke tempatnya duduk.

Tan Tat Hian tertawa dingin.

Dia kata.

"Anak tolol, lekas kau rampas pulang sapu tanganmu itu! Dengan mengasih pinjam sapu tangan itu satu hari pada tua bangka ini maka itu berarti bahwa harta besar dan mustika bangsamu, bangsa Kazakh, telah..."

"Tutup bacotmu!"

Menyelak Kee Loojin.

"Kau ngaco belo! Apakah kau hendak adu kami satu dengan lain? Hm!"

Tan Tat Hian membandel.

"Itulah peta dari Istana Rahasia Kobu, bukankah?"

Kata dia pula.

"Eh, Supu, apakah kau menyangka tua bangka ini manusia baik-baik? Haha! Anak tolol! Dia justeru hendak mengangkangi harta karun kamu!"

Kee Loojin seperti habis sabarnya, maka sebelah tangannya terayun, sebilah pisau belatinya menyambar ke arah uluhati penyamun besar kepala itu!

Tat Hian terikat kaki tangannya, ia melihat datangnya serangan, ia tidak bisa berbuat lain daripada berkelit bersamasama tubuhnya.

Mungkin, masih tidak dapat ia bebas anteronya.

Di saat ia terancam bahaya maut itu, tangannya Bun Siu terayun, lantas pedang pendeknya meleset, menyambar pisau belati si empee, maka kedua senjata beradu, terus membentur tembok di mana keduanya nancap!

Orang kaget menyaksikan kepandaiannya Bun Siu itu, seorang nona yang nampaknya bertubuh lemah, yang sekian lama berdiam saja.

Kee Loojin heran hingga ia melongo, mulutnya celangap.

Bukankah ia telah tinggal bersama nona itu sepuluh tahun lebih?

Adalah si gagu yang tertawa a-a-u-u sambil bertepuk tangan.

"Kee Lootiang,"

Berkata Bun Siu tawar.

"saudara ini telah membilangnya besok pagi orang ini hendak diserahkan kepada orang tuanya untuk diperiksa dan dihukum, oleh karena itu sekarang ini tak usahlah kau membinasakan dia. Hanya, mengenai istana Rahasia Kobu itu, aku ingin mendengarnya! Bagaimana itu sebenarnya? Umpama dia hanya ngaco belo, kita boleh membiarkannya, kita mengganda tertawa saja! Buat apa kita bersungguh-sungguh terhadapnya?"

"Kakak ini benar,"

Berkata Aman.

"Supu, tidakkah ini aneh? Kenapa sapu tangan sahabatmu itu justeru suatu peta?"

Kee Loojin kenal baik tabiatnya Bun Siu, biarnya dia lemah lembut, kemauannya keras, sukar dicegah, maka itu, ia suka membiarkan Tan Tat Hian bercerita. Penyamun itu kata dengan nyaring.

"Tuan besarmu telah terjatuh ke dalam tangan kamu, tuan besarmu tidak takut apa juga! Biarlah aku menuturkan tentang peta ini! Lukisan di dalam sapu tangan ini adalah lukisan atau peta dari Istana Rahasia Kobu itu. Coba kamu mengawasinya dengan saksama, kamu meneliti sutera dan benang yang dipakai menyulam dan menjahitnya, yang merupakan gunung, air dan gurun. Tidakkah itu ada sutera dan benang wol kuning, yang sama warnanya hingga sangat sukar untuk dibedakannya? Coba itu sutera dan benang wol terkena darah, lantas menjadi nyata perbedaannya. Lihatlah sekarang? Bukankah benang wol itu lebih banyak menyedot darah daripada benang sutera?"

Bun Siu mengangkat sapu tangan itu, untuk meneliti.

Benarlah keterangan Tat Hian itu.

Benang yang menyedot darah menjadi merah, yang tidak, tetap kuning, karena mana, gambar nampak menjadi jelas sekali.

Baru sekarang ia mengerti, sapu tangan itu menggenggam rahasia, dan itulah peta Istana Rahasia Kobu.

Tan Tat Hian melanjuti kata-katanya.

"Rahasianya Istana Kohii itu dibawa oleh seorang edan. Inilah kejadian pada belasan tahun yang lampau. Di kota Lokyang ada hidup satu jago tua she The bernama Kiu In. Pada suatu hari dia mengadakan pesta ulang tahun kedelapan puluh. Banyak orang gagah yang datang untuk memberi selamat padanya. Selagi pesta berjalan, muncullah si edan itu, dia tertawa lebar, tangannya menggenggam pelbagai macam mutiara, kumala dan lainnya batu permata. Dia lantas meletakinya semua itu di atas meja sambil berkata. 'Suhu, aku membawa hadiah untukmu!"

Memang benar, ialah muridnya The Kiu In.

Semua tetamu menjadi berkunang-kunang matanya menyaksikan harta besar itu, yang semuanya indah.

Aneh adalah si edan itu, habis tertawa, dia menangis, lalu dia tertawa pula, menangis lagi.

Ketika dia ditanya, dari mana dia memperolehnya barang-barang permata itu, dia menjawab.

"Istana Rahasia Kobu! Istana Rahasia Kobu! Istana Rahasia Kobu!"

Ketika itu The Kiu In tidak mau banyak tanya-tanya lagi, ia menyuruh membawa muridnya itu masuk untuk beristirahat.

"Inilah cerita yang menarik hati, orang banyak ketarik untuk mendengarinya. Tat Hian melanjuti pula.

"Di antara hadirin ada banyak orang yang lihai, di antara mereka banyak juga yang matanya menjadi merah sebab melihat permata-permata yang berharga besar itu, mereka itu menanya si gila di mana letaknya Istana Kobu itu. Si gila menjawab tidak keruan, omongannya putar balik. Pertanyaan The Kiu In sendiri dijawab sama tidak keruan junterungannya. Tiga hari telah lewat atau pada tengah malamnya tuan rumah kedapatan terbunuh secara gelap. Berbareng dengan itu, si edan pun lenyap. Di dadanya The Kiu In menancap senjata yang menyebabkan kebinasaannya itu, ialah sebatang pusut yang menjadi senjatanya si edan, sebelah sepatu siapa pun ketinggalan di depan pembaringan, sepatu itu berlepotan darah. Di lantai ada tapak-tapak kaki, yang cocok waktu diakuri sama sepatunya si edan. Maka orang menduga si edan kalap dan membunuh gurunya sendiri dan terus menghilang. Karena itu orang melainkan bisa menyesali nasibnya jago tua yang malang itu. Hanya, apa yang heran, kenapa The Kiu In yang demikian lihai kalah oleh muridnya dan kenapa di kamarnya tak ada bekasbekasnya pertempuran atau pergulatan? Keluarga The, dan juga beberapa sahabatnya, lantas pergi mencari si edan itu, tetapi dia tidak kedapatan, dia tidak ada tanda-tanda atau bekas-bekasnya, hingga orang mau menduga, kalau dia tidak terjeblos di jurang mungkin dia mati membuang diri ke sungai. Di lain pihak semenjak itu, halnya Istana Rahasia Kobu itu lantas menjadi buah pembicaraan dan lantas juga menjadi semacam gelombang di antara kaum Rimba Persilatan. Dua tahun setelah itu, lalu tersiar kabar angin bahwa ada orang yang menemui peta istana rahasia itu di tengah jalan. Peta itu dihubungi sama harta besar itu, yang orang percaya masih tersimpan banyak di dalam istana rahasia. Karena ini, peta itu menjadi perebutan di antara jago-jago, hingga ada jago-jago yang membuang jiwanya secara sia-sia. Kemudian lagi, ialah belasan tahun yang lalu, peta itu terjatuh di tangannya Pekma Lie Sam dan isterinya Kimgin Siauwkiam Sam Niocu. Sedapatnya peta itu, Lie Sam dan isterinya itu sudah lantas berangkat ke Hweekiang. Hanyalah, entah kenapa, kemudian kedapatan suami isteri itu telah mati di wilayah asing itu..."

VI Mendengar sampai di situ, Bun Siu kata dengan dingin.

"Menurut apa yang aku dengar, Lie Sam suami isteri telah terbinasa di tangannya rombongan orang-orang Chin Wie Piauwkiok. Itulah artinya perbuatan kau sendiri, Tan Toapiauwtauw!"

Tan Tat Hian bercekat hati, tubuhnya menggigil. Ia pun merasa tertusuk dengan sebutan toapiauwtauw itu, artinya, piauwsu yang terbesar. Tapi ia berani, ia menjawab dengan terus terang.

"Tidak salah!"

Katanya.

"Suami isteri Lie Sam itu dibinasakan oleh aku dan saudara-saudaraku itu. Kami telah menggeledah tubuh suami isteri itu, peta tersebut tidak kedapatan pada mereka Maka itu mestinya peta ada di tangan anak perempuan mereka, yang lolos dari tangan kami. Maka kami lantas mencari anak itu, sampai sekarang ini sudah belasan tahun, tanpa ada hasilnya. Selama itu kami telah menjelajah bagian selatan dan utara pegunungan Thiansan. Sungguh kebetulan, hari ini aku menemuinya di sini! Bukankah itu berarti Thian telah menakdirkan kita berenam supaya menjadi beruntung? Kamu hendak membunuh aku, tidak apa! Tapi, kalau kamu memikir sebaliknya; umpama dari musuh kita menjadi sahabat-sahabat, bukankah itu ada baiknya? Nanti aku mengajak kamu pergi mencari Istana Rahasia Kobu itu, jikalau kita berhasil, kita membagi rata. Tidakkah itu berarti kita sama-sama memperoleh harta besar? Jikalau peta ini terjatuh ke dalam tangan si tua bangka bongkok sebagai unta, pastilah dia menelannya sendiri harta besar itu!"

Sengaja Tat Hian mengucapkan kata-kata terakhir itu, untuk mengadu Bun Siu sekalian terhadap Kee Loojin, supaya mereka berselisih dan saling bunuh.

Ia mengharap mereka itu timbul keserakahannya.

Kee Loojin tertawa dingin.

"Dengan telah mempunyai petanya, mustahilkah kami tidak dapat pergi mencarinya sendiri?"

Kata dia. Tan Tat Hian berkata pula. Kalau tadi ia menggunai bahasa Kazakh, sekarang ia mengubahnya dengan bahasa Tionghoa. Ia kata.

"Umpama kata kamu dapat mencari istana rahasia itu dan mengambil memperolehnya harta besarnya, tetapi ingat, harta itu ialah hartanya bangsa Kazakh, maka maukah bangsa ini menyerahkannya kepada kamu? Kamu bangsa Han?"

"Menurut kau, bagaimana?"

Kee Loojin tanya Ia ingin ketahui pikiran orang.

"Marilah kita bekerja sama,"

Mengajak Tat Hian.

"Paling dulu kita binasakan semua orang Kazakh di dalam rumah ini. Perbuatan ini cuma kau dan aku yang mengetahuinya, dari itu tidak ada kekuatiran untuk nanti bocor. Lantas kita pergi mencari harta karun itu. Kalau kita berhasil, kau boleh ambil tujuh bagian, untukku cukup tiga bagian saja..."

"Kenapa kau suka mengalah demikian banyak?"

Si empee tanya.

"Aku kalah gagah dari kau, kau berhak mendapat lebih banyak. Umpama kata kau suka menyerahkan nona Kazakh yang cantik ini padaku, aku suka mengalah lebih jauh, kau boleh ambil delapan bagian."

Pembicaraan itu tidak dimengerti oleh Supu dan Aman, mereka berdiam saja. Tidak demikian dengan Bun Siu, yang menjadi marah sekali. Di dalam hatinya, ia kata.

"Bangsat, kau sangat jahat! Bukankah kematianmu sudah di hadapan mata? Kenapa kau masih memikir busuk sekali?"

Kee Loojin berkata.

"Ini satu nona Kazakh lihai sekali, belum tentu kita dapat melawan dia..."

"Kau dapat membokong dia. Dia tentunya tidak bersiaga."

Kee Loojin berdiam, agaknya ia berpikir.

"Ah, begini saja,"

Katanya sesaat kemudian.

"Diam-diam aku mengutungi tambang belenggumu, aku berikan kau golok, lantas kau menghampirkan dia, untuk kau membacok punggungnya..."

"Nona ini sangat cantik, sayang kalau dia terbinasa,"

Kata Tat Hian.

"Karena tidak ada lain jalan, baiklah..."

Bun Siu dapat menerka maksudnya Kee Loojin.

Terang si orang tua ingin ialah yang membinasakan penjahat ini.

Selagi Tat Hian dan Kee Loojin berdamai sampai di situ, dari kejauhan terdengar suara orang memanggil.

"Supu! Supu!"

Disusul sama "Aman! Aman!"

Hampir berbareng, Supu dan Aman berlompat bangun.

"Ayah, aku di sini!"

Mereka pun menyahuti.

Kemudian keduanya berlari-lari ke luar, Supu di depan, Aman di belakang.

Mereka tidak menghiraukan lagi angin besar dan salju berhamburan, hingga mereka sukar bernapas.

Hari itu Cherku minum arak di rumah Suruke, ketika turun hujan salju dan angin keras dan sampai sore anak-anak mereka belum muncul, keduanya menjadi berkuatir, mereka lantas pergi mencari, di sepanjang jalan mereka memanggilmanggil.

Girang mereka akan menemui anak mereka tidak kurang suatu apa.

Supu dan Aman lantas mengajak mereka ke rumah Kee Loojin.

Tiba di depan pintu, mendadak Suruke berkata.

"Bukankah ini i umahnya si orang Han yang harus mampus? Tidak, aku tidak sudi masuk ke rumahnya!"

"Tidak mau masuk?"

Kata Cherku.

"Habis kita berlindung di mana? Kupingku, hidungku, telah pada beku..."

Suruke ada membekal buli-buli berisi arak, di sepanjang jalan ia menenggak araknya untuk melawan hawa dingin, karena itu, ia sudah terpengaruhi susu macan. Maka ia kata.

"Aku lebih suka batok kepalaku beku semua, tidak nanti aku masuk ke rumah orang Han ini!"

"Lihat anakku yang menjadi mustikaku ini,"

Berkata Cherku.

"Kalau dia kenapa-kenapa karena beku, akan aku membuat perhitungan denganmu! Aman, mari kita masuk!"

Suruke tidak menyahuti, sebaliknya, ia melirik puteranya. Mendadak ia berseru.

"Hm, kau telah pergi ke rumahnya orang Han, anak mau mampus!"

Terus ia mengayun tangannya hingga tubuh Supu terhuyung. Anak ini tidak menangkis atau berkelit. Ia membentur Aman, hingga si nona roboh ke salju. Cherku menjadi gusar.

"He, kau berani memukul anakku?"

Ia menegur.

"Dia belum menjadi nona mantumu, sudah berani kau memukulnya! Tidakkah di belakang hari dia bakal disiksa mampus olehmu?"

"Kalau aku suka memukul, aku memukul, mana dapat kau melarang aku?"

Kata Suruke sembarangan. Tidak dapat ia mengatasi lagi pengaruh air kata-katanya. Cherku pun menjadi gusar.

"Kalau kau laki-laki, mari kita bertempur pula!"

Dia menantang.

"Baik, mari, mari!"

Suruke menyambut, dan lantas kepalannya melayang, bahkan tepat mengenai dadanya lawan.

Cherku pun sudah mulai dipengaruhi arak, maka beda dari biasanya, ia melayani.

Ia tidak roboh karena tinju itu, lantas ia membalas, dengan mengayunkan sebelah kakinya, guna menggaet.

Tanpa ampun, Suruke roboh.

Tapi dia jatuh sambil tangannya menyambar ke paha, maka keduanya jatuh berguling ke salju di mana mereka berkelahi terus sambil bergulingan.

Supu dan Aman menjadi bingung, sia-sia belaka mereka mencoba memisahkan.

Dengan suara saja, mereka tidak berhasil.

Selagi bergulat itu, Suruke menjumput salju, ia menyumbat mulut Cherku, hingga lawan ini gelagapan.

Ia tertawa lebar.

Justeru itu, Cherku memuntahkan salju di mulutnya itu, terus dia meninju, telak mengenai hidung.

Suruke tidak kesakitan, hanya hidungnya mengeluarkan darah.

Masih ia tertawa.

Sekarang ia menjambak rambutnya Cherku.

Merekalah orang-orang kosen bangsa Kazakh tetapi di dalam sinting itu, lagak mereka mirip dua orang bocah.

Kee Loojin bersama Bun Siu lari ke luar, mereka mendengar suara berisik dari dua orang yang bergulat itu.

Si gagu turut keluar juga.

Sekarang ini, Supu dan Aman tidak bingung lagi, sebaliknya, mereka tertawa.

Mereka ketahui ayah mereka lagi sinting.

Dalam pergulatan lebih jauh, Suruke jatuh di bawah, dia kena tertindih, sia-sia dia berontak, akhirnya dia diam saja.

Supu kaget.

"Lepaskan ayahku!"

Ia berteriak seraya menghampirkan, untuk menarik Cherku.

Ia kuatir ayahnya terluka.

Di luar dugaannya, setelah mendekati, ia mendapatkan ayahnya itu lagi tidur menggeros...

Akhirnya semua orang tertawa.

Suruke dikasih bangun, diajak masuk ke dalam.

Cherku dipegangi Aman, ia turut masuk.

Suruke lantas ngoceh.

"Haha! Kau tidak dapat melawan aku! Akulah jago Kazakh nomor satu, Supu yang nomor dua, nanti anak Supu yang nomor tiga! Kau, Cherku, kau yang nomor empat..."

Lantas ia bernyanyi.

Cherku pun sinting tetapi ia turut tertawa.

Begitu mereka tiba di dalam, Bun Siu berseru kaget.

Di situ tidak ada Tan Tat Hian, yang ada hanya beberapa helai tambang belengguannya, yang ujungnya pada hangus, tandanya si penyamun membakar tambang itu untuk membebaskan diri dan lalu kabur dari pintu belakang.

Di atas meja, selainnya golok, sapu tangan yang merupakan peta pun lenyap.

Dalam kagetnya, Kee Loojin lari ke belakang untuk mengejar.

Pintu belakang madap ke utara, begitu pintu dipentang, angin dan salju meniup keras, sampai empee Kee itu bersangsi untuk nerobos terus.

Tengah ia bersangsi itu Bun Siu menghampirkan padanya, untuk berkata dengan perlahan.

"Angin dan salju begini besar, dia tidak dapat kabur jauh, kalau dia paksa menyingkir juga, mesti dia mati di tengah jalan. Baiklah kita menanti sampai langit sudah terang dan badai reda, baru kita pergi mencari mayatnya."

Kee Loojin setuju, ia mengangguk.

Ia menutup pula pintunya, lalu berdua mereka kembali ke ruang depan.

Di sana tak nampak si gagu yang agak tolol.

Bun Siu merasa kasihan pada si gagu itu, ia membuka pintu depan.

Ia memanggil berulang-ulang, tanpa ada yang menyahuti.

"Dia tuli, dia tidak mendengar!"

Kata empee Kee.

Bun Siu masih melihat kelilingan, baru ia kembali ke dalam.

Sampai fajar, baru badai mulai reda.

Suruke sadar dengan tidak ingat lelakonnya di waktu mabuk, melihat Kee Loojin, ia menjadi gusar, tapi Supu dan Aman segera membujuki seraya menuturkan bahwa orang tua bangsa Han inilah yang menolongi mereka dari penyamun.

"Oh, kaulah yang menolongi anakku!"

Kata Suruke.

"Kau orang baik, aku berterima kasih padamu!"

Ia lantas memberi hormat. Kemudian ia menambahkan.

"Mari kita susul penyamun itu, agar dia tidak lolos!"

Cherku pun turut menghaturkan terima kasih.

Sebenarnya Kee Loojin tidak setuju pergi beramai-ramai tetapi sebab tidak dapat alasan untuk menolak, ia terpaksa pergi bersama.

Ia membekal rangsum kering.

Tan Tat Hian menyingkir selagi hujan salju, tapak kakinya telah lenyap pula, tetapi Suruke dan Cherku ada penduduk gurun asli, mereka bisa lihat tanda-tanda yang luar biasa, tanda itu membuatnya menduga si orang jahat.

Tujuan mereka ke arah barat.

Itu artinya tujuan gurun pasir besar.

Empat orang Kazakh itu lantas ingat dongeng hal memedi di gurun, air muka mereka lantas bersinar lain.

Suruke besar nyalinya, ia kata nyaring.

"Biarnya benar-benar kita bertemu memedi, mesti kita bekuk manusia jahat itu! Supu, mau tidak kau membalaskan sakit hati ibu dan kakakmu?"

"Tentu, ayah!"

Jawab sang anak.

"Aku akan turut ayah! Aman, kau baiklah pulang."

Si nona pun berani.

"Kau dapat pergi, aku dapat!"

Jawabnya. Di dalam hatinya ia hendak membilang.

"Kalau kau mati, mana bisa aku hidup sendiri saja?"

"Aman, lebih baik kau turut ayahmu pulang,"

Suruke membujuk.

"Cherku bernyali kecil, dia paling takut setan!"

Mata Cherku mendelik, dia lantas melombai jalan di depan.

Berjalan di gurun, yang ditakuti ialah tidak ada air, maka air itulah bekal utama.

Kali ini habis hujan salju, pasir pun tidak beterbangan, perjalanan rombongan ini tak ada rintangannya.

Makin ke barat, tanda-tandanya Tan Tat Hian makin nyata.

Bahkan kemudian, terlihat tegaslah tapak kakinya, yang tidak ketutupan salju lagi.

Itulah bukti bahwa dia telah tiba di situ sesudah salju berhenti.

"Sungguh lihai jahanam itu!"

Kata Kee Loojin seperti mendumal.

"Tadi malam badai dahsyat tetapi dia tidak mampus dan dapat berjalan terus hingga kemari!"

"Eh, masih ada tapak kaki seorang lain!"

Suruke berseru mendadak. Dia menunjuk tapak kaki Tan Tat Hian.

"Orang ini jalan tepat di tapak kakinya si manusia jahat! Tanpa perhatian, tak akan terlihat tapak kaki yang menyusun ini."

Mendengar begitu, semua orang membungkuk, untuk meneliti. Benar, tapak kaki itu berbekas lebih mendalam daripada biasanya.

"Mustahilkah ini tapak kaki si gagu?"

Kata Bun Siu.

Tadi malam ia telah melihat sinar mata aneh dari si gagu dan itu mendatangkan kecurigaannya.

Hanyalah tapak kaki yang kedua ini rada enteng, bukti bahwa orang ringan tubuhnya.

Mungkinkah benar dia si gagu dan dia sebenarnya lihai?

Kee Loojin tidak membilang apa-apa, dengan mengikuti tapak kaki itu, ia berjalan terus.

Ia ingin cepat menyandak.

Tat Hian seorang ia tidak begitu kuatirkan, ia takut penyamun itu memperoleh kawan yang lebih lihai.

Jalan di salju ini sulit juga.

Makin ke depan, salju makin tebal, sampai mendam ke lutut.

Perlahan jalan mereka, hingga kejadian mereka mesti singgah, bermalam di tengah jalan.

Mereka menggali salju, hingga nampak pasir, untuk rebah di dalam liang, tubuh mereka digulung dengan permadani.

Mereka tidur bergeletakan di atas pasir.

Ketika besoknya pagi Bun Siu mendusin, ia mendengar Suruke dan Cherku membikin banyak berisik.

Sebabnya ialah Kee Loojin telah lenyap, rupanya dia berangkat malam-malam atau mendekati fajar.

Ia heran sekali sedang ia tahu, selama perkenalan kira-kira sepuluh tahun, empee itu agaknya tawar sama harta.

Kenapa, setelah mendengar halnya istana rahasia, dia menjadi demikian ketarik hatinya, hingga dia seperti berubah menjadi seorang lain?

Dari enam orang, sekarang jumlah mereka menjadi tinggal lima.

Mereka melanjuti perjalanan mereka, untuk menyusul si penjahat, untuk menyusul juga Kee Loojin, si kawan yang menjadi aneh kelakuannya itu.

Bun Siu kemudian mengenali, jalanan yang dilalui ialah jalanan yang ia kenal baik.

Itulah jalanan untuk pergi ke rumah Hoa Hui, gurunya.

Ia jadi berpikir.

"Baiklah aku ajak suhu pergi bersama. Dia luas pengetahuannya, dia dapat membantu banyak..."

Bun Siu mau mencari Istana Rahasia Kobu bukan untuk hartanya.

Ia hanya ingin mewujudkan cita-cita ayah dan ibunya, untuk dapat tiba di sana.

Segera mereka mulai memasuki daerah pegunungan.

Di sini Bun Siu sengaja berjalan perlahan hingga ia ketinggalan jauh di belakang.

Lekas-lekas ia pergi ke gubuk gurunya.

Untuk herannya, sang guru tidak kedapatan.

Ia menduga guru itu lagi pergi berburu atau mencari bahan obat-obatan.

Perbuatan itu biasa dilakukan setiap habis hujan salju.

Karena ia tidak dapat menanti, ia lantas mencoret-coret beberapa huruf di atas tanah, untuk gurunya itu, lalu lekas-lekas ia menyusul rombongan Suruke.

Mereka memasuki wilayah pegunungan, yang makin lama makin sukar dilaluinya, banyak pohon duri dan lainnya.

Syukur, tapak kaki masih terlihat di antara sisa-sisa salju.

Maka mereka maju terus.

Herannya ialah, istana rahasia belum tampak tandatandanya...

Aman memangnya berkuatir ia menjadi takut.

Ia ingat cerita halnya di gurun pasir ada mernedinya.

Tapak-tapak kaki yang mereka ikuti itu, di matanya, ada bagaikan jalanan untuk ke neraka...

Juga Suruke dan Cherku bersangsi, mereka berkuatir, hanya di mulut, mereka masih omong besar, mereka tidak mau saling kalah, bahkan mereka bertengkar.

"Cherku, kau lihat, tubuhmu bergemetar,"

Kata Suruke.

"Kalau kau jatuh sakit karena ketakutan, inilah bukannya main-main. Baiklah kau berdiam di sini saja menantikan kami, jikalau aku mendapatkan harta, tentu aku akan membagi kau satu bagian..."

"Di saat ini jangan orang berlagak kosen!"

Kata Cherku.

"Lihat sebentar, kalau memedi muncul, siapakah yang bakal kabur lebih dulu? Mungkin kau atau anakmu!..."

"Memang, kami ayah dan anak, kalau kami melihat memedi, kami bakal lari kabur!"

Kata Suruke pula.

"Tapi kami bukannya seperti kau, melihat memedi, kau ketakutan sampai kau bertekuk lutut di tanah dan tubuhmu menggigil?"

Pulang pergi, mereka itu menyebut-nyebut iblis gurun... Jalan lagi sekian lama, langit mulai gelap.

"Ayah, mari kita bermalam di sini,"

Berkata Supu.

"Besok pagi kita berangkat pula."

"Bagus!"

Berkata Cherku tertawa sebelum Suruke menyahuti anaknya.

"Kamu dan anak boleh singgah di sini, untuk menyingkir dari bahaya! Aman, mari kau ikut ayahmu!"

"Fui!"

Suruke berludah, lalu ia maju di depan, mendahului yang lain.

Supu memunguti cabang-cabang kering, untuk membuat obor.

Maka itu, malam-malam, di dalam hutan, mereka berjalan terus.

Sulit perjalanan itu, sebab mereka sekalian mesti mencari tapak kaki TatHian.

Suasana pun seram kapan sang burung malam mengasih dengar suaranya.

Orang kaget setiap kali dari atas pohon terjatuh kepingan salju, yang mendatangkan suara berisik, hingga hati mereka berdebaran.

"Ah, celaka!"

Berseru Aman tiba-tiba selagi ia berjalan dengan hati kebat-kebit.

"Ada apa?"

Tanya Supu kaget.

"Lihat, itulah gelangku yang kemarin ini aku kena bikin lenyap!"

Kata Aman, tangannya menunjuk ke depan di mana ada sebuah benda dengan cahaya berkilauan. Gelang itu terletak sejarak tiga tombak dari lima orang itu. Memang aneh gelang itu didapatkan di situ.

"Tadinya aku memikir untuk mencarinya, kenapa sekarang gelang ini berada di sini?"

Kata Aman.

"Kau periksa dulu, benar atau tidak itulah kepunyaanmu,"

Kata Cherku, sang ayah. Aman jeri, ia tidak berani pergi menghampirkan. Maka Supu yang maju dan memungutnya.

"Memang, inilah kepunyaanmu!"

Kata si pemuda sebelum si pemudi memeriksanya. Lantas dia menyerahkannya. Aman masih takut untuk menyambuti.

"Kau buang saja,"

Katanya. suaranya parau.

"Mustahilkah ini perbuatan memedi?"

Kata Supu, yang air mukanya lantas berubah, demikian juga yang lain-lainnya. Semua berdiam.

"Mungkinlah ini lebih bebat dari gangguan memedi,"

Kata Bun Siu kemudian.

"Mari kita ambil jalan yang kuna, jalanan ini ada jalanan bekas kita..."

Mereka terpengaruh oleh kepercayaan halnya sesat jalan, hingga mereka bakal terputar-putar di situ juga sampai mereka mati sendirinya...

Suruke mau menyangsikan kekuatiran Bun Siu tetapi buktinya ialah keanehan dari gelangnya Aman itu.

Tanpa banyak omong, mereka itu berjalan terus.

Gelang diletaki di tanah.

Mereka berjalan sekian lama, lantas mereka melihat gelang itu!

Suruke dan Cherku bungkam.

Mereka tidak berani bicara besar lagi atau saling mengejek.

"Kita mengikuti si penyamun dan Kee Loojin,** berkata Bun Siu.

"kalau mereka kesasar, mereka pun bakal kembali kemari, maka itu mari kita berhenti di sini. Kita menantikan mereka itu..."

Pikiran ini mendapat kesetujuan, maka mereka, lantas pada menyingkirkan salju, untuk mencari tempat duduk masingmasing.

Supu menyalakan api, membuat unggun, mereka duduk mengitari itu.

Masih mereka berdiam, tidak ada yang niat berbicara, tidak ada yang berkeinginan tidur.

Semua menantikan munculnya Tan Tat Hian dan si empee Kee, semua mereka berdenyutan hatinya.

Bagaimana kalau benarbenar Tat Hian dan Kee Loojin tersesat dan muncul di depan mereka?

Tidakkah itu berarti celakanya nasib mereka semua?...

Sekian lama mereka berdiam dalam kesunyian, atau mendadak kuping mereka menangkap suara tindakan kaki.

Mereka terkejut, hati mereka terkesiap.

Hampir berbareng, mereka berlompat bangun.

Hanya sejenak, suara tindakan kaki itu lenyap Hingga tinggallah hati mereka yang berdebaran, yang memukul.

Lagi sejenak, tindakan kaki itu terdengar pula, agaknya lagi menuju ke arah barat daya, malah terdengarnya main jauh, akan kemudian lenyap sebab diganggu berkesirnya angin yang keras, yang membawa datang salju, hingga unggun mereka padam dalam sekejap kena tertimpa salju itu.

Dengan padamnya api, gelaplah pandangan mata mereka.

Justeru itu, kuping mereka mendengar suara apa-apa.

Kecuali Aman, Suruke berempat menghunus senjata mereka.

Aman menjerit, ia menubruk Sapu ke dada siapa ia menyedapkan kepalanya.

Kembali terdengar suara tindakan kaki itu yang teras lenyap di kejauhan.

Habis itu, terus sampai fajar tidak ada terjadi peristiwa apa juga.

Munculnya matahari membuat hati mereka tenang kembali.

Dengan lantas mereka melanjuti perjalanan mereka itu.

Aman berlaku hati-hati maka ia melihat di kirinya, ada cabang-cabang pohon yang rebah dan patah.

"Lihat ini!"

Katanya tiba-tiba Supu menyingkap cabang yang rebah itu, di bawah itu ia melihat dua buah tapak kaki, hingga ia menjadi girang luar biasa.

"Di sini mereka!"

Ia berseru.

"Inilah jalan yang mereka ambil!"

"Mungkin penyamun itu keliru melihat petanya,"

Kata Aman.

"Dia tersesat, dia kena jalan terputar-putar di sini hingga dia menyebabkan kagetnya kita semua..."

Suruke tertawa lebar.

"Benar!"

Katanya nyaring.

"Dua anggauta keluarga Cherku bernyali kecil, mereka ketakutan mernedi selama satu malaman! Keluarga Suruke sebaliknya gagah, mereka justeni mengharap-harap munculnya si memedi, untuk dijiwir kupingnya, guna melihatnya tegas-tegasi"

Cherku tidak melayani, dia pun memandang ke lata arah, hanya mendadak dia memutar tubuh, sebelah tangannya menyambar!

Suruke tidak menyangka jelek, tahu-tahu sebelah kupingnya telah kena tercekal dan tertarik Cherku, hingga dia kaget Tidak ayal lagi, dia meninju.

Meski begitu, Cherku tidak roboh, karena tubuhnya terhnyung, ia menarik kuping orang yang dipeganginya itu.

Suruke kaget dan kesakitan, kupingnya itu pecah dan mengeluarkan darah.

Kalau kuping itu terlarik lebih keras sedikit, mungkin akan copot Bun Siu mau tertawa melihat kelakuannya dua orang Kazakh yang Jenaka itu, tidak peduli usia mereka sudah empat puluh lebih, lagak mereka mirip bocah, sebentar baik, sebentar bertengkar, sebentar lagi bertarung.

Ketika mereka terpisah, disebabkan saling tinju, yang satu hidungnya matang biru, yang lain matanya bengap!

Mereka melanjuti terus perjalanan mereka.

Jalanan kali ini berliku-liku, sukar dilaluinya.

Ada kalanya mereka melintasi mengitari bukit, ada kalanya masuk kedalam gua, melintasi terowongan wajar.

Syukur ada salju, terus-terusan mereka melihat tapak kaki, yang terus mereka ikuti.

Aman bermata celi, kalau tapak suram atau lenyap, dialah yang meneliti.

Dalam batinya Bun Stu kata.

"Istana rahasia itu benarbenar luar biasai Tanpa peta, bagaimana dia dapat dicari?"

Jalan sampai tengah hari, sebab satu malam mereka tidak tidur, semua orang menjadi letih sekali, kecuali Bun Siu, yang ilmu dalamnya sudah ada dasarnya, dia masih segar seperti biasanya.

"Ayah, Aman sudah tidak kuat jalan, kita singgah di sini,"

Kata Suptt pada ayahnya.

Belum lagi ayah itu menyahuti atau mereka mendengar seruannya Cherku, yang jalan di paling depan.

Suruke lompat ke depan, guna menghampirkan kawannya, yang teraling dengan segumpalan pepohonan.

Selewatnya itu, matanya dibikin silau dengan cahaya kuning emas yang berkilauan, hingga sukar untuk ia melihatnya.

VII Dengan terpaksa ayahnya Supu ini memeramkan matanya.

Sampai sekian lama, baru ia membukanya perlahan-lahan.

Masih ia merasa silau, sampai berkunang-kunang.

Untak dapat melibat terus, ia memiringkan tubuhnya.

Ketika ia telah melihat tegas, ia menjadi heran dan kagum.

Di depan ia ada sebuah bukit, di atas itu ada sebuah pintu yang terlapiskan emas.

Itulah sinar yang menyilaukan mata, sebab emas itu ditojo matahari dan menjadi memancarkan sinar berkeredepan itu.

Cherku melihat pintu itu maka dia berseru.

Suruke pun mengasih dengar seruannya, disusul oleh Bun Siu, Supu dan Aman» yang menyusul belakangan ini juga, mulanya merasa silau.

"Istana Rahasia Kobu!"

Demikian suara mereka serempak.

Mereka tidak sangsi pula atas penemuan mereka itu.

Suruke lari menghampirkan pintu, ia menolak dengan kedua tangannya.

Pintu itu tidak bergerak.

Cherku maju bersama, untuk membantui, sia-sia saja, meskipun mereka telah mencoba menggunai pundak mereka.

Pintu, yang berdaun dua, kuat sekail "Penyamun jahanam itu berada di dalam, dia menguncikan pintu!"

Kata Suruke gusar.

Aman memandangi pintu itu, ia tidak melihat apa-apa yang mencurigai.

Ia lantas meraba gelang pintu, ia putar itu ke kiri.

Pintu itu tetap tidak bergerak.

Ia memutar pula, sekarang ke kanan.

Untuk herannya, ia merasa putarannya longgar.

Ia lantas memutar pula, terus, sampai beberapa kali.

Suruke dan Cherku mencoba pula membentur pintu dengan tubuh mereka.

Kali ini mereka berhasil.

Dengan mendadak kedua daun pintu menjebtak terbuka.

Ini pun di luar dugaan mereka.

Tentu sekali, mereka menjadi sangat girang.

Sambit tertawa, mereka merayap bangun, sebab dengan menjeblaknya pintu, mereka roboh bersama!

Di sebelah dafam tampak gelap.

Itukah bukan ruang hanya lorong, jalanannya seperti gang.

Maka Supu lantas menyalakan obor, untuk menyuluhi.

Dengan sebelah tangan menyekat goloknya, ia maju di muka.

Tiba di ujung lorong, mereka menghadapi jalan cagak tiga.

Di dalam istana ini tidak ada salju, jadi tidak dapat mereka melihat tapak kakinya si penyamun atau empee Kee.

Cagak mana mereka harus ambil?

Kembali Aman menunjuk keterlitiannya.

Ia membungkuk untuk dapat memperiapkan lantai.

Ia mendapatkan, cagak kiri dan kanan ada tapak kakinya yang enteng, yang tipis sekali.

Ia memberitahukan apa yang ia lihat itu.

"Sekarang begini,"

Berkata Suruke.

"Kita pun memecah diri, ialah tiga di kiri, dua di kanan. Di dalam baru kita bertemu."

"Tidak dapat kita berbuat demikian,"

Kata Bun Siu.

"Istana ini dinamakan istana rahasia, sudah pasti jalannya pun jalan terahasia. Menurut aku paling benar kita tetap berjalan bersama-sama."

Suruke menggeleng kepala.

"Berapakah luasnya gua ini?"

Katanya.

"Anak perempuan bernyali kecil, sungguh aku kewalahan!"

Meskipun ia membilang demikian, kejadiannya mereka berlima berjalan bersama, mereka tidak memecah diri.

Lebih dnlu mereka mengambil jalan cagak kanan, yang kelihatan lebar.

Baru jalan sepuluh tombak, Suruke berpikir.

Sekarang ia baru percaya Bun Siu berpikiran lebih panjang.

Pula di depan mereka terdapat lagi jalan pecahan.

Maka lagi sekari mereka memperhatikan lantai, untuk mengambil jalan yang ada tapak kakinya.

Sekian lama mereka berjalan, mereka melihat bahwa saban-saban ada jalan cagak.

Aman berlaku cerdik, senantiasa ia menggunai pisau membuat tanda di tembok yaag dilewati.

Dengan begitu mereka bisa mencegah yang mereka mundar-mandir di situsitu juga Akhir-akhirnya tibalah mereka di tempat yang terang.

Mereka mendapat sebuah ruang kosong.

Di tempat terbuka ini, mereka mendapatkan pula sebuah pintu berdaun dua.

Supu memegang gelang pintu, ia memutar itu.

Pintu itu lantas terbuka.

Mereka lantas melihat sebuah ruang bagaikan pendopo yang di tembok sekitarnya penuh dengan pelbagai patung malaikat, ada yang terbuat dari emas, ada yang terbikin dari batu kumala dengan biji matanya dari mutiara atau batu permata lainnya, hingga semua mata itu menjadi hidup.

Maka tercenganglah lima orang ini.

Melewati ruang ini, mereka mendapatkan pelbagai ruang lainnya, mirip dengan kotak-kotak kamar di mana pun ada masing-masing patungnya beserta batu-batu permatanya.

Di sini pun antaranya ada terdapat tulisan-tulisan huruf Tionghoa di tembok, seperti "Raja dari negara Kao diang".

"Wen Tai"

Dan "Kerajaan Tong, tahun Cengkoan XIII".

Kao Chang itu adalah sebuah negara jaman dahulu di wilayah barat yang rakyatnya makmur dan pemerintahannya kuat.

Di jaman Tong tahun Cengkoan, raja Kao Chang yang bernama Chu Wen Tai, menyatakan takluk kepada kerajaan Tong, akan tetapi karena negaranya makmur dan kuat, dia berlaku tidak menghormati kaisar Tong itu, dari itu kaisar Tong mengirim utusannya ke Kao Chang-Kepada utusan itu, raja Kao Chang itu mengatakan.

"Burung garuda terbang di langit, ayam hutan betina mendekam di gunung, kucing pesiar di ruang dalam, tikus bersembunyi di liangnya. Mereka itu mendapati tempatnya masing-masing, bagaimana mereka tidak memperoleh kemerdekaannya?"

Dengan itu raja maksudkan.

"Meskipun kaulah burung garuda yang bengis dan aku hanya ayam hutan yang tidak mempunyai guna, tetapi kau terbang di udara, aku sembunyi di dalam hutan, kau tidak nanti sanggup membunuh aku! Meskipun kau adalah kucing dan aku hanya tikus, tetapi kau mundar-mandir di dalam ruang saja, aku sembunyi di dalam liangku, apa kau bisa bikin terhadap aku?"

Itulah tantangan.

Mendengar itu.

Kaisar Tong Tay Cong menjadi gusar.

Sudah begitu lantas terjadi negeri Kao Chang itu menyerang tetangganya, Yenchi, negara yang menghormati sekali Tong itu.

Negara Yenchi itu lantas minta bantuan, atas mana kaisar Tong mengirim panglima perangnya, Hauw Kun Cip, menyerang negeri Kao Chang itu.

Ketika Chu Wen Tai mendengar kabar negerinya mau diserang, dia kata pada sekalian menterinya.

"Negara Tong itu terpisah dari kita tujuh ribu lie, di antaranya dua ribu lie jalanan gurun pasir di mana tidak ada rumput dan air, yang anginnya meniup tajam seperti golok dan panasnya terik bagaikan membakar diri ini, cara bagaimana dia dapat mengirim angkatan perangnya tiba kemari? Jikalau jumlah angkatan perangnya terlalu besar, pasti dia tidak dapat mengangkut cukup rangsumnya. Dan kalau jumlah lenteranya kurang dari tiga puluh ribu jiwa maka kita tidak usahlah takut Kita nanti melayani musuh dengan sabar, kita main melindungi kota kita saja, di dalam tempo dua puluh hari, nanti rangsumnya habis, lantas dia bakal mundur sendirinya!"

Chu Wen Tai mengetahui baik kegagahannya angkatan perang kerajaan Tong itu maka ia lantas menetapkan siasat tidak berperang itu, siasat menjaga diri saja.

Ia mengumpulkan banyak kuli, di sebuah tempat yang tersembunyi dia membangun sebuah istana rahasia.

Inilah untuk persediaan guna mengundurkan diri andaikata ia tidak sanggup melawan musuh/ Negeri Kao Chang sedang makmur, di wilayah barat itu banyak tukang yang pandai, maka itu ia dapat membuat istana yang luar biasa itu di mana pun ia menyembunyikan hartanya yang berupa pelbagai batu permata.

Ia telah memikir, umpama kata musuh dapat menyerbu ke istana rahasia itu, ia dan hartanya itu tidak bakal dapat diketernukan.

Hauw Kun Cip adalah seorang panglima yang pernah turut Lie Ceng belajar ilmu perang, dia pandai memimpin angkatan perangnya, di sepanjang jalan ia dapat maju-dengari cepat, setiap pasukan musuh yang menghadang dapat dilabrak, dari itu ia berhasil melintasi gurun pasir besar.

Maka kagetlah raja Kao Chang itu ketika ia.

dilaporkan tibanya musuh demikian pesat, dia kaget dan ketakutan hingga dia mati.

Dia lantas digantikan oleh pulennya, Chu Oun Sheng.

Dia ini membuat perlawanan, tapi setiap Hauw Kun Cip datang menyerang di luar kota, pasukannya kena dikalahkan.

Didalam peperangan ini, Hauw Kun Cip menggunai alat yang dinamakan "Kereta Sarang" , yang tingginya sampai sepuluh tombak, hingga mirip dengan sarang burung, hingga alat itu mendapat namanya itu.

Kereta itu ditolak sampai di tembok kota, hingga keadaannya lebih tinggi dari tembok kota itu, lalu dari atas, tentera Tong menyerang dengan hujan panah dan batu.

Tentara Kao Chang kewalahan, akhirnya Chu Chih Sheng menyerah.

Negara Kao Chang itu dibangun oleh Chu Chia Li, turun temurun sampai sembilan turunan, lamanya seratus tiga puluh empat tahun, sampai pada tahun Cengkoan ke 14 dari Kerajaan Tong itu, bara dia musnah.

Dialah sebuah negara besar di wilayah barat, sebab luasnya daerah ialah delapan ratus lie di timur dan barat dan lima ratus lie di selatan dan utara.

Hauw Kun Cip pulang perang dengan mengangkut Raja Kao Chang beserta seratus pembesamya sipil dan militer dan lainnya, dibawa pulang ke kota raja Tiang-an.

Raja Kao Chang menjadi orang tawanan, tetapi istana rahasia buatan ayahnya itu tidak tercocorkan.

Selama seribu tahun lebih, di gurun pun terjadi perubahan, di sana tumbuh pepohonan, maka juga istana itu menjadi bagaikan terlebih terahasia pula, tanpa peta, tidak nanti orang dapat menemuinya.

Suruke berjalan terus, memasuki sebuah kamar, melewatinya, lalu memasuki kamar yang lain dan melewatinya pula.

Kebanyakan kamar itu sudah rusak, ada temboknya yang gempur.

Di sana-sini pun kedapatan tumpukan-tumpukan pasir kuning, hingga ada pintu kamar yang telah teruruk tertutup.

Jalanan berliku-liku, ditambah sama segala yang uruk itu, dilaluinya jadi semakin sukar, kepala pun menjadi pusing.

Di samping itu orang kadang-kadang melihat tulang belulang manusia, yang putihmeletak, pula uang emas dan perak dan barang permata, yang membuatnya mata silau.

"Entah ke mana kaburnya Tan Tat Hian si jahanam,"

Pikir Bun Siu.

"Dia tidak kedapatan di sini. Mungkin, walaupun dia berada di sini, sukar untuk mencarinya. Harap saja istana ini tidak ada pintu belakangnya-, agar dia dapat dipegat di pintu depan di saat dia hendak mengangkat kaki dengan mengangkut harta karun ini..."

"Mana ayahku?"

Mendadak Nona Lie mendengar suaranya Aman selagi ia seperti ngelamun itu.

Ia lantas menoleh, la menampak Aman dan Supu memasuki sebuah kamar kiri, Suruke dan Cherku tidak kelihatan, la lantas mendekati kedua muda-mudi itu.

"Nona Kang,"

Tanya Supu pada Bun Siu----yang sekian lama oleh. empee Kee disebut "Nona Kang"----"apakah kau melihat ayah kami?"

"Tidak,"

Menyahut Bun Siu.

"Baru saja kita ada bersama, kenapa mereka lantas tak nampak? Mari kita cari! Awas, istana ini istana rahasia, jangan kita nyasar."

Supu dan Aman menurut, maka bertiga mereka lantas mencari.

Supu saban-saban berteriak memanggil ayahnya serta Cherku, akan tetapi ia tidak memperoleh jawaban, hanya kupingnya mendengar kumandang yang mendengung di ruang itu.

Bernapsu mereka bertiga mencari sampai Aman lupa membuat tanda di tempat-tempat yang mereka lewatkan, hingga untuk sementara, sukar dibedakan mereka telah kembali ke tempat yang telah dilewatkan itu atau belum.

Juga mereka tidak dapat melihat rata ke depan, karena kedudukan istana rahasia itu ada di lamping gunung, jadi ada kalanya kedudukannya tinggi, ada kalanya pun sangat rendah hingga orang mesti berdiri di tempat yang tinggi untuk dapat memandang ke bawah itu.

Oleh karena wuwungan adalah bagian atas dari gunung, orang tidak dapat melihat dari atas.

Orang tidak bisa naik ke atas wuwungan, yang sebenarnya tidak ada, sebab yang dinamai wuwungan mirip lelangit lauwteng.

Aman menjadi sangat berkuatir-..

dan berduka hingga air matanya berlinang-linang.

Sia-sia Supu membujuki dan menghibur.

Saking ruwetnya pikirannya itu, nona itu sampai tidak memanggil-manggil pula ayahnya.

Mereka lagi berjalan terus ketika dengan mendadak mereka mendengar suara keras di tembok sebelah kamar.

"Eh, Cherku, kenapa kau membacok aku?"

Ketiga muda-mudi itu mclcngak. Itulah suaranya Suruke. Segera terdengar suaranya Cherku.

"Kau---kau bikin apa ini?"

Setelah itu kuping mereka mendengar suara beradunya senjata tajam, disusul pula oleh bentakan-bentakan kemarahan Suruke dan Cherku saling ganti. Mereka ini bertiga girang berbareng kaget dan kuatir.

"Ayah!"

Aman berteriak.

"Jangan berkelahi …Jangan berkelahi!"

Di kanan mereka tidak ada pintu, maka Supu lari ke kiri.

Ia bermaksud menghampirkan ayahnya dan Cherku, sang paman itu, untuk melihat, guna memisahkan mereka.

Sebab aneh mereka itu bertempur satu dengan lain.

Hanyalah, pintu yang ada teras menerus di sebelah kiri, dengan begitu, ia bukan tiba ke kamar sebelah itu, ia justeni pergi semakin jauh...

Bun Siu dan Aman mengikuti, mereka pun tidak berdaya.

Maka kemudian mereka lari balik.

Justeni itu mereka dengar, dari kamar di sebelah itu, jeritan yang menyayatkan hati dari Suruke, lantas sunyilah segala apa.

Mereka kaget bukan mam.

Supu menjadi seperti kalap, dia lompat menubruk dengan pundaknya.

Tapi ia gagal.

Pintu itu kuat sekali dan tak bergeming.

Aman yang terliti memasang mata.

Ia melihat sebuah batu di pojokan, yang agaknya terlepas, maka ia menghampirkan itu, ia mencekalnya, lantas ia menarik.

Ia gagal.

Ia lantas dibantu Bun Siu dan Supu.

Kali ini mereka berhasil, dengan begitu, dari bekas lolosnya batu itu, mereka bisa mengintai ke kamar sebelah sana.

Supu bekerja terus membongkarnya, hingga ia dapat memasuki tubuhnya, molos dari liang itu.

"Ayah! Ayah!"

Ia memanggil berulang-ulang.

Segera juga pemuda ini nampak apa yang hebat.

Di kamar sebelah itu terlihat tubuh seorang rebah di lantai, di dadanya menancap sebatang golok panjang.

Ia mengenalinya, ia lompat menubruk, untuk mengangkat.

Atau ia mendapatkan ayahnya itu telah putus jiwanya!

"Ayah!

Ayah!"

Ia berteriak-teriak, sambil menangis.

Bun Siu dan Aman menyusul masuk, mereka berdiri diam di samping Supu.

Mereka bingung dan berduka.

Supu mencabut galat di tubuh ayahnya itu.

Itulah goloknya Cherku.

"Supu..."

Aman memanggil seraya ia menarik tangannya si pemuda.

Ia niat menghibur, hanya tak tahu ia harus mengatakan apa.

Supu tengah sangat berduka dan gusar, tangannya melayang ke arah si nona sambil mulutnya menanya bengis.

"Mana ayahmu? Mana ayahmu?"

Ketika itu di mulut pintu nongol kepala dari satu orang, yang tubuhnya terlihat hanya bagaikan bayangan.

Cuma sejenak, kepala itu lantas ditarik pulang, terus dia lari pergi.

Walaupun sejenak, itu sudah cukup untuk Supu guna mengenali orang adalah Cherku yang mukanya berlumuran darah, Supu berteriak, tubuhnya bergerak, niatnya memburu.

"Supu!"

Memanggil Aman, tangannya menarik.

"Lepas!"

Bentak si anak muda.

"Supu"

Kata si nona.

"aku mau bicara; sepatah kata saja."

"Baik! Bilanglah!"

Kata Supu, mendongkol.

"Ingatkah kau aturan kaum kita tentang perkelahian perseorangan?"

Tanya Aman. Supu mengertak gigi.

"Ingat!**sahumya kaku. Dengan lantas pula wajahnya tampak kesangsian Bangsa Kazakh bangsa gagah, di antara mereka, asal benterok, perselisihan biasa diakhiri dengan menghunus senjata. Demikian di antara kaumnya Supu, yang termasuk golongan Tiehyen. Dulunya kaum ini gemar sekali berkelahi, lama-lama, jumlah pria mereka jadi tinggal sedikit, sebaliknya, wanitanya tambah banyak, berlebihan. Maka itu, melibat ancaman bahaya itu bahwa golongannya akan kekurangan pria, selang seratus tahun yang lalu satu ketuanya mengadakan aturan untuk mencegahnya. Ialah.

"Siapa membunuh orang, hukuman atasnya hukuman mati."

Biarnya orang piebu, yaitu bertempur satu sama satu dengan cara terang, ancamannya tetap hukuman mati.

Karena adanya hukuman ini, pertempuran menjadi dapat dicegah, .pertambahan anggauta pria lantas bertambah.

Aturan ini, aturan lisan, dituturkan oleh setiap orang tua kepada anakanak muda, agar semua orang mengetahuinya.

Maka itu, aturan itu ditaati turun-temurun.

Aman menangis, ia kata.

"Ayahku telah kesalahan membunuh ayahmu, dia bakal diadili oleh, tertua-tertua kita yang akan menghukumnya, maka itu kau.. jangan kau membunuh ayahku."

Nona ini bingung bukan main.

Ia menginsafi kesalahan ayahnya, kalau ayah itu sampai dihukum, bercelakalah ia.

Sedangnya ia bingung ini, sekarang ia melihat sikapnya Supu.

Ia bisa mengerti yang pemuda ini hendak menuntut balas.

Biar bagaimana, tidak ingin ia si pemuda melakukan pelanggaran pula seperti ayahnya itu.

Supu memandang mayat ayahnya.

Ia pun menginsafi aturan, yang keras itu.

"Baik,"

Katanya.

"aku tidak akan bunuh ayahmu. Aku cuma hendak menangkapnya!"

Lantas anak muda ini lari, mulutnya berkaokan.

"Cherku! Kau hendak kabur ke mana?"

Tidak lagi ia memanggil paman. Tiba-tiba datang jawabannya Cherku.

"Aku di sini! Kenapa aku mesti kabur?"

Cherku berada tidak jauh dari situ.

Dia benar berlepotan darah pada mukanya.

Dengan golok di tangannya dia berdiri tegar, romannya bengis.

Supu menghampirkan.

Ia membawa goloknya tetapi senjata itp ia tidak lantas menggunakannya.

Cuma obor di tangan kirinya, yang ia tancapkan di pasir.

Ia kata dengan keren.

"Letaki senjatamu! Aku tidak akan bunuh kau!"

"Kenapa aku mesti meletaki senjataku?"

Cherku membaliki.

"Hm! Apakah kau mengira kau dapat membunuh aku?"

Bun Siu dan Aman menyusul. Mereka mendapatkan dua orang itu berdiri berhadapan dengan masing-masing senjatanya di tangan, roman mereka bengis, sikap mereka tegang.

"Ayah, sukalah kau lepaskan golokmu,"

Berkata Aman kepada orang tuanya itu.

"Supu telah berjanji tidak akan membunuh kau..."

"Kau suruh dia meletaki senjatanya!"

Kata Cherku dengan jumawa.

"Aku juga berjanji tidak akan membunuh dia!"

"Benarkah kau tidak hendak melepaskan senjatamu?"

Tanya Supu bengis, hatinya panas.

"Mungkinkah kau benar hendak membunuh aku?"

Cherku tertawa berkakak "Kau, bocah, kau memikir untuk membunuh aku?"

Dia kata, mengejek.

"Jikalau kau mempunyai kepandaian, nah, kau cobalah!"

"Kenapa kau membunuh ayahku?"

Tanya Supu sengit. Ia berteriak.

"Aku... aku hendak menuntut balas untuk ayahku itu!"

Belum lagi Cherku menyahuti ketika mendadak ada angin bertiup keras, hingga obor padam seketika.

Hingga ruang menjadi gelap petang.

Tibanya sang gelap gulita itu dibarengi sama bentakan dari kemurkaan dari Supu, disusul sama benteroknya senjata, disusul pula dengan robohnya tubuh Cherku...

"Jangan berkelahi! Jangan berkelahi!"

Aman berteriakteriak, kuatimya bukan main.

Bun Siu sendiri lantas berdaya menyulut api.

Setelah obor menyala pula, terlihat Cherku rebah dengan tubuhnya tertancap golok.

Dia mati sama seperti matinya Suruke.

Di situ Supu berdiri diam dengan tangan kosong, dia menjublak saja.

Aman lantas menubruk mayat ayahnya, ia pingsan.

Bun Siu maju, guna menolongi nona itu.

Sebentar kemudian, Aman tersadar.

"Bagaimana, Aman?"

Tanya Supu, menghibur. Aman gusar. Ia menjawab sengit.

"Kau telah membunuh ayahku! Semenjak hari ini, jangan kau bicara pula denganku!"

Ia mencabut tusuk kondenya, terus ia mematahkannya, terus ia melemparkannya ke tanah.

"Aku tidak membunuh ayahmu!"

Berkata Supu, menyangkal.

"Kau masih menyangkal?"

Kata Aman, sengit sekali. Dia menuding kepada golok di dada ayahnya Dia kata pula.

"Apakah itu bukan golokmu? Jikalau bukannya kau yang membunuh ayahku, habis apakah aku? Ataukah kakak Kang?"

Supu terdesak hingga ia tidak dapat bicara, kepalanya tunduk.

*** ( )*** Didalam suku Kazakh bagian Tiehyen itu ada tiga orang tertuanya.

Mereka telah mengadakan sidang di mana mereka mendengari tuduhannya Aman serta penyangkalan atau keterangannya Supu, setelah itu mereka berunding sekian lama.

Baca Juga: Raja Silat 10

Baca Juga: Pendekar Budiman Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert