Ceritasilat Novel Online

Lembah Patah Hati Lembah Beracun 3

Eps 3 Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung

Baca online Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung

Cersil Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung.

Didepannya, sejauh kira2 delapan kaki, diatas sebuah tempat tidur duduk bersila seorang tua kurus kering yang rambutnya sudah putih seluruhnya.

Orang tua itu karena badannya kurus dan pakaiannya gerombongan, maka kelihatannya agak lucu.

Apa yang lebih menarik perhatian Ho Kie ialah sepasang matanya yang tajam yang pada saat itu tengah mengawasi dirinya dengan tidak berkesip.

Orang tua itu dengan perlahan mengulapkan tangannya yang kurus, Siu Gwat eng segera mengambil dua kursi untuk kedua tamunya.

Sekarang Ho Kie tidak berani angkat kepala lagi, sambil tunduk ia berkata pula ;

"Boanpwe, atas ajakan nona Siu datang kemari untuk menjumpai Locianpwee,"

Orang tua itu lantas menjawab dengan perlahan ;

"Lohu mengasingkan diri disini sudah hampir lima puluh tahun lamanya. Hari ini baru dapat bertemu dengan orang luar. Kalian berdua murid dari golongan mana?"

Belum lagi Ho Kie menjawab Siu Gwat Eng sudah menghampiri Yayanya dan berbisik bisik ditelinganya entah apa yang diucapkannya.

Orang tua itu angguk-anggukkan kepalanya, wajahnya yang kisut telah menunjukkan sikap yang seperti ketawa tapi bukan ketawa.

"Baik!! Kalau begitu memang ada jodoh."

Katanya. Ho Kie merasakan seperti sedang duduk diatas duri, entah apa sebabnya ia merasa sangat jemu terhadap orang tua dan cucuaya itu, maka ia lantas berbangkit dan berkata ;

"Boanpwe merasa telah mengganggu ketentraman Locianpwe, dalam hati merasa tidak enak sendiri, maka sekarang pula Boanpwe ingin minta diri."

Orang tua itu mendengar perkataan Ho Kie, wajahnya mendadak berubah.

"tunggu dulu, Lohu ingin bertanya kepadamu!"

Ia menahan.

Terpaksa Ho Kie harus duduk lagi.

Ketika ia melirik kepada Gouw Ya Pa, sang kawan itu sedang mengawasi padanya, maka keduanya lantas ketawa getir dan angkat pundak.

Orang tua itu dengan tiba2 bertanya.

"Lohu sudah lama tidak pernah dengar urusan dunia, apa Cian tok Jin mo Jie Hai ada baik?"

Ho Kie tidak senang mendengar pertanyaan itu maka lalu menjawab dengan suara dingin.

"Apakah Locianpwee menanyakan si iblis itu? Dia sekarang sudah menjadi kauwcu dari Hian kui kauw. Kambratnya tersebar dimana mana sehingga bisa malang melintang didunia dan merupakan satu iblis nomor satu pada dewasa mi ....... ."

Orang tua itu perdengarkan suara ketawanya yang aneh.

"Bagus! Bagus! Dia adalah seorang yang berhati kejam dan telengas, merupakan seorang luar biasa yang jarang ada dalam dunia."

Kata pula orang tua itu. Ho Kie membisu. Hanya dalam hati saja ia berpikir.

"Apa orang tua ini sedang memikirkan hubungan antara murid dan guru sehingga mau bekerja sama dengan Cin tok Jin mo?"

Selagi masih berpikir, orang tua itu mendadak berkata pula sambil mengawasi padanya dengan sorot mata yang tajam.

"Apa kau ingin ke Kui kok untuk menuntut balas?"

"Aku yang rendah dengan Hian kui kauw mempunyai permusuhan yang sangat dalam, maka pasti aku hendak menuntut balas."

Jawab Ho Kie dengan mendongkol, Pada saat itu, terhadap orang tua itu dalam hati mempunyai perasaan agak bimbang, maka kalau tadi membahasakan dirinya dengan boanpwe, sekarang telah merubahnya dengan perkataan "Aku yang rendah"

Yang mengandung maksud kurang menghormat.

Tetapi orang tua itu yang sedang mengawasi padanya dengan penuh perhatian, sedikitpun tidak menunjukkan rasa kurang senangnya terhadap sikap Ho Kie itu.

Setelah perdengarkan suara ketawanya yang aneh, ia lalu bertanya pula .

"Apa kau sudah yakin benar, dengan kepandaian yang sekarang kau miliki ini kau bisa menangkan Jie Hui?"

"Aku yang rendah, meskipun mengetahui kepandaian masih rendah, belum cukup untuk menjatuhkan diri si iblis tua, tetapi permusuhan itu dalam laksana lautan, tidak mau aku mundur."

"Bagus!!-Kau mempunyai nyali dan ambekan yang besar. Lohu sudah mempunyai daya upaya untuk membantu kau melaksanakan cita2mu. Tetapi entah kau suka atau tidak?"

Ho Kie merasa kaget dan girang, maka segera ia berseru "Locianpwe!! Kau kata bisa membantu aku menuntut balas?"

Orang tua itu menganggukkan kepalanya.

"Lohu sejak dibikin celaka oleh murid durhaka, Jie Hui itu, maka lantas mengasingkan diri ditempat ini yang sampai saat ini sudah hampir lima puluh tahun lamanya. Kau mau pergi ke Kui-kok, ini juga berarti mewakili Lohu menghukum murid murtad itu. Hanya saja kau dan aku masih belum begitu kenal betul. Kalau usaha untuk menundukkan Jie Hui itu kuajarkan padamu, siapa yang bisa tanggung kalau hatimu berubah serupa dengan perbuatan Jie Hui yang telah mencelakakan Lohu?"

"Kalau Locianpwe mau memberi bantuan, aku berani angkat tangan bersumpah, pasti tidak akan mengingkari janji atas budimu ini!......"

Tetapi orang tua itu ber-ulang2 menggelengkan kepalanya.

"Lohu sudah tertipu sekali, maka sekarang sudah tidak percaya lagi terhadap segala sumpah!"

Ho Kie merasa putus asa, ia berkata sambil menghela napas .

"Kalau Locianpwe mengatakan demikian, aku juga tidak berani memaksa."

Mendadak orang tua itu berkata sambil ketawa dingin ;

"Lohu cuma mempunyai satu cucu perempuan.

Kalau kau mau membantu Lohu untuk meneruskan bebanku ini, terhadap dirinya cucu perempuan.

Lohu akan menurunkan padamu semacam ilmu kepandaian luar biasa yang telah kuyakinkan selama beberapa puluh tahun lamanya.

Saat itu, jangan kata kau hanya hendak menuntut balas terhadap Jie Hui, sekali pun kau ingin menjagoi dunia apa susahnya?

Ho Kie tergerak juga hatinya, ia bertanya;

"Locianpwee, suruh aku bagaimana mengatur diri nona Siu? Apa suruh aku ajak dia bersama2 pergi ke Kui kok ?"

Mendadak orang tua itu tertawa tergelak-gelak.

"Sudah tentu suruh kau bawa dia sama2 pergi ke Kui kok, bahkan kau harus bawa dia pergi merantau didunia supaya dia bisa membantu kau menjagoi dunia,"

Ho Kie tidak mengerti apa maksud orang tua itu.

"Ha! ini......."

Tetapi orang tua itu mendadak memotong;

"Penemuan yang luar biasa ini, bagi orang lain yang meratap setiap hari juga mungkin sukar didapatinya, kau masih hendak berkata apa lagi?"

Eng-jie kau antarkan dia kekamar dulu. untuk siap sedia. Yayamu akan segera keluar dunia lagi untuk menyelesaikan urusan besar ini."

Siu Gwat Eng mendadak seperti orang malu2, ia menjawab sambil tundukkan kepala, kemudian menghampiri Ho Kie dengan tindakan perlahan. Ho Kie melihat gelagat kurang baik, maka buru2 berkata pula.

"Apa maksud Locianpwee itu, aku masih belum mengerti."

"Anak bodoh. Mulai hari ini dan untuk selanjutnya kau adalah seorang jago dan orang kuat nomor satu didunia. juga menjadi cucu menantunya Thian sat Sia kun. Apa kau tidak merasa girang?"

Bukan main kagetnya Ho Kie. dengan cepat lantas lompat bangun dari kursinya, Gouw Ya Pa juga lantas lompat berdiri, sambil menepuk pundaknya Ho Kie ia berkata .

"Saudara Ho, kau jangan sekali2 terima permintaannya. Nona itu parasnya menakutkan orang,"

Ho Kie berkata dengan suara gusar.

"Kalau locianpwe benar2 hendak membantu diriku yang rendah sudah tentu aku merasa sangat berterima kasih, tetapi suatu perkawinan adalah soal besar. Harus mendapat persetujuan kedua pihak yang bersangkutan dulu, bagaimana bisa dipaksa?"

"Kalau begitu, apa kau tidak suka?"

Tanya Thian sat Sin Kun dengan suara dingin.

"Maaf Locianpwe, aku ada seorang rendah tidak pantas untuk menjadi kawan hidup nona Siu."

Jawab Ho Kie sambil angkat tangan memberi hormat.

"Tidak apa. ucapan lohu sudah dikeluarkan, tidak pantas juga harus dibikin pantas."

Ho Kie jadi gusar .

"Dengan terus terang kukatakan, dengan wanita seperti cucu perempuan ini...,"

"Lohu tahu!!"

Orang tua itu memotong.

"Soal jelek bagus kalau jodoh itulah takdir. Kau tidak perlu memikirkan soal ini."

Ho Kie yang mendengar itu, benar2 merasa kewalahan. Setelah malongo sekian lamanya. ia baru bisa berkata dengan suara bengis ;

"Locianpwee, dalam segala hal aku boleh menurut, hanya dalam hal perjodohan, maafkan aku tidak sanggup menerima."

Orang tua itu matanya mendelik.

"Apa? Apa kau sudah mempunyai pacar lain ?"

Ia membentak. Ho Kie hatinya bergerak, maka lalu menjawab .

"Memang benar, aku sudah mempunyai tunangan, maka soal perjodohan ini aku tidak dapat menerima."

"Ini juga tidak apa. Lohu bukan seorang yang berpikiran cupat.. Seorang laki2 boleh mempunyai tiga atau empat isteri, maka lohu berikan ijin untuk kau kawin lagi saja sudah."

Keterangan itu agaknya sudah merupakan suatu keputusan yang susah untuk dirobah. Terpaksa Ho Kie harus berlaku keras juga. ia tetap dengan penolakannya, tidak mau mengalah sedikitpun juga.

"Cianpwe, paling baik jangan memaksa-Aku yang rendah tidak bermaksud apa2 dengan nona Siu. maka tidak dapat menerima soal perkawinan ini. Sampai disini saja. kami ingin minta diri.!!"

Sehabis berkata Ho Kie lalu menarik tangan Gouw Ya Pa dan berjalan keluar dengan tindakan lebar. Thian-sat Sin-kun tiba2 perdengarkan suara tertawanya yang aneh, lalu berkata dengan suara keras .

"Binatang! Sungguh besar sekali nyalimu!! Apa kau anggap Lohu ada satu patung? Disini kau tidak boleh berbuat sesuka hatimu. Eng-jie tangkap mereka !"

Siu Gwat Eng dengan cepat lantas bertindak, ia menghadang didepan mereka.

Gouw Ya Pa tahu kalau perempuan jelek ini sangat lihay, maka buru2 sembunyi dibelakang Ho Kie sambil berkata dengan suara perlahan .

"Saudara Ho, kedua lengan baju perempuan ini sangat lihay. Kau harus sangat hati hati"

Ho Kie ketawa dingin, sambil melangkah maju ia berkata dengan suara sungguh2.

"Nona, karena kami memandang kau sebagai kaum wanita, kami tidak suka turun tangan terhadapmu. Harap kau jangan mendesak keterlaluan."

"Yayaku sangat memandang tinggi dirimu"

Siu Gwat Eng menjawab dengan gusar.

"Tidak nyana kau adalah seorang yang tidak kenal budi orang, Hari ini nonamu akan suruh kau membuka mata."

Gouw Ya Pa yang berada dibelakang Ho Kie lantas memaki dengan suaranya yang kasar.

"Perempuan jelek tidak tahu malu!! Kau sudah menjadi gila ingin mendapatkan laki2. Orang sudah tidak suka kau, kenapa masih mau memaksa terus."

Siu Gwat Eng merasa sangat malu, maka setelah membentak keras, lengan kirinya lantas bergerak menyerang muka Gouw Ya Pa.

Ho Kie menggeram, ia lalu tarun tangan untuk menyambuti serangan Siu Gwat Eng, Siu Gwat Eng terperanjat, dengan gerakannya yang gesit ia menghindarkan serangan Ho Kie dan lompat mundur tiga langkah-Sambil menarik diri Gouw Ya Pa, Ho Kie berkata dengan suara perlahan.

"Gouw Toako lekas jalan!?"

Kedua orang itu dengan cepat lari menuju kepintu.

Mendadak terdengar suara nyaring, pintu yang mempunyai perlengkapan pesawat rahasia itu dengan cepat telah menutup sendirinya.

Ho Kie terperanjat, sambil menarik tangan Gouw Ya Pa ia memutar tubuhnya sehingga berdiri membelakangi pintu.

Thian sat Sin kun lalu berkata sambil tertawa aneh.

"Bocah ! Hari ini kalau kau tidak mau menurut, jangan harap bisa keluar dari kamar ini."

"Kalian dengan cara yang tidak tahu malu mendesak orang. Sekalipun mati, aku Ho Kie juga tidak akun menurut."

"Satu bocah yang sangat bandel!! Eng jie lekas turun tangan. Suruh mereka merasai rasanya Thian mo Sin ciang."

Sui Gwat Eng kakinya lalu berputaran, dengan bajunya yang panjang saling mengibas dan dengan secepat kilat sudah maju menotok tujuh jalan darah dibadan Ho Kie dan Gouw Ya Pa.

Ho Kie mengetahui kalau ia tidak mengeluarkan kepandaiannya sukar untuk menundukkan kedua orang itu.

maka setelah mengeluar bentakan keras, lalu sikutnya diputar, dengan menggunakan gerak tipu Liu sie thian tiaw, terus menyambar lengan bajunya Siu Gwat Eng.

Siapa sangka, ketika jari dan tangannya sudah hendak mengenai ujung lengan baju lawannya, mendadak terdengar ketawa dinginnya Siu Gwat Eng, lengan bajunya ditarik kembali, tangannya yang tadinya disembunyikan didalam lengan bajunya dengan cepat bagaikan kilat lantas keluar menyerang.

Ho Kie terperanjat, dengan cepat kibaskan tangan kirinya untuk menyambuti serangan lawan.

Setelah terdengar suara nyaring, kedua orang itu lantas masing2 mundur tiga langkah.

Siu It Cin yang menyaksikan pertempuran itu juga lantas berkata dengan heran .

"Kiranya kau hendak mengandalkan kepandaian yang tidak berarti ini,"

Setika Ho Kie mendapatkan kepandaian dari warisan Toan theng Lojin.

Ia percaya akan kekuatan sendiri, tidak nyana, setelah mengadu kekuatan dengan perempuan jelek itu, ia telah terdorong sampai mundur tindak, sehingga diam2 juga merasa terkejut.

Siu Gwat Eng juga kelihatannya terperanjat, tetapi ia lantas menghentikan serangannya dan tidak mendesak terus.

"Eng jie, kenapa tidak menggunakan Thian mo ciang hoat untuk membekuk dia?"

Perintah Thian sat Sin kun. Siu Gwat Eng agaknya segan menggunakan ilmunya itu, ia berada dalam keragu-raguan tidak mau turun tangan.

"Kalau kau tidak mau turun tangan lagi, nanti kalau yayamu sampai gusar, bocah itu tidak bisa hidup lagi......"

Kata Thian Sat Sin kun pula sambil ketawa dingin.

Siu Gwat Eng yang mendengar perkataan itu, mendadak keluarkan bentakan, kedua lengan bajunya menggetar, orangnya mundur selangkah.

Ho Kie tidak mengetahui sampai dimana kelihayan ilmu silat yang dinamakan Thian mo ciang hout, itu ia lantas siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan, Ia melihat Siu Gwat Eng mengangkat kedua tangannya dengan perlahan, sehingga lengan bajunya bergerak gerak dan mengeluarkan suara berisik.

Entah dengan cara bagaimana, baju luarnya mendadak terlepas, hanya ketinggalan baju dalamnya saja.

Gouw Ya Pa lantas berseru .

"Kurang ajar!!! Perempuan tidak tahu malu."

Belum habis ucapannya Gouw Ya Pa, telinganya mendadak seperti mendengar suara barang beradu, didepan matanya berseliweran sinar emas sehingga membuat silau mata yang melihatnya.

Ho Kie dan Gouw Ya Pa terkejut, ketika mereka melihat lebih jauh, ternyata pakaian dalam Siu Gwat Eng yang ringkas itu penuh dengan potongan2 kaca kecil beraneka warna.

Kalau badannya bergerak, bukan saja menerbitkan suara berisik, bahkan potongan2 kaca di seluruh badannya itu memancarkan sinar beraneka warna yang menyilaukan mata.

Selagi berada dalam keadaan keheran heranan, mendadak ada berkelebat sinar, dan Siu Gwat Eng sudah maju menyerang dengan cepat.

Dalam keadaan gugup dan tidak mengetahui dimana sang lawan, Ho Kie hanya menyambuti serangan itu dengan sembarangan.

Maka kedua serangannya meluncur, telinganya kembali mendengar suara kerincingan, sambaran angin yang sangat hebat sudah berada dibelakang dirinya.

Ko Kie buru2 memutar tubuh, tetapi selagi ia bermaksud hendak turun tangan, suara itu ternyata sudah pindah ke samping kirinya dan matanya dirasakan berkunang kunang.

Ho Kie tidak mengetahui ilmu silat apa itu yang kelihayannya tidak berada di bawahnya ilmw Hu-kut-hiankangnya.

Selagi dalam bingung, suatu kekuatan tenaga yang hebat sudah menyerang dadanya.

Ho Kie membabat dengan tangannya, tetapi tiba didengarnya suara Gouw Ya Pa yang ternyata sudah rubuh ditanah, Gouw Ya Pa yang mempunyai latihan ilmu kebal dan sudah mencapai tingkat kesempurnaan, bagaimana dalam waktu segebrakan saja bisa dirubuhknn oleh Siu Gwat Eng?

Ho Kie merasa bingung sendiri, mendadak didengarnya suara ketawa Siu Gwat Eng yang sekarang berada disebelah kanannnya.

selagi menoleh, sikutnya dirasakan kesemutan, jalan darah Tay-hian-hiat ditubuhnya sudah kena serangan.

Kekuatan dalam badan lantas lenyap dan lantas ia jatuh numprah di tanah.........

Thian sat Sin-kun setelah perdengarkan suara ketawanya yang aneh, sebentar kemudian Ho Kie sudah kehilangan ingatannya.

Tatkala ia siuman kembali, telah mendapatkan dirinya sudah berada diatas pembaringan yang empuk.

Lampu dari sepasang lilin kemanten telah menyilaukan matanya, Diam2 ia terkejut.

"apakah aku sudah........"

Sebenarnya ia ingin bangun, tetapi badannya tidak bisa digerakkan, ternyata totokan pada jalan darahnya belum dibuka.

Ia menghela napas panjang, rupa2, pikiran mengaduk dalam hatinya.

Sungguh tidak disangka kalau dirinya akan dijodohkan dengan perempuan jelek itu.

Untuk sesaat lamanya hayangan Lim Kheng berkelebat di depan matanya, Lim Kheng adalah seorang perempuan yang cantik, kalau dibandingkan dengan Siu Gwat Eng.

perbedaannya seperti langit dengan bumi, tetapi sekarang ini dimana adanya Lim Kheng?

Mungkin hanya bisa didapatkan dalam kenangan dan impian saja?!

Tetapi andaikata dikemudian hari bisa menemukan Lim Kheng, karena disamping ada perempuan jelek itu, apakah ia masih punya muka untuk menemui padanya?

Ia sungguh tidak berani membayangkan masa yang akan datang yang menyeramkan itu.

Rasa gamas dan sedih serta pikiran untuk menuntut balas sakit hati ayahnya, dalam menghadapi keadaan demikian itu, dadanya dirasakan seolah2 mau meledak.

Mendadak pintu kamar terbuka.

lalu masuk satu bayangan orang.

Tidak perlu diduga lagi siapa orangnya, orang itu sudah tentu Siu Gwat Eng adanya, pikir Ho Kie.

cepat2 Ho Kie memejamkan matanya, ia tidak mau melihatnya.

Orang itu perlahan2 mendekati pembaringannya, lalu mengusap2 jidatnya, kemudian bertanya dengan suara perlahan.

"Saudara Ho, apakah kau masih belum mendusin?"

Ho Kie terkejut, cepat2 matanya dibuka orang itu ternyata adalah Gouw Ya Pa.

Pada saat itu Gouw Ya Pa mengenakan pakaian warna merah.

Ketika ia memeriksa badannya Ho Kie pada wajahnya kelihatan perasaan yang tidak keruan.

"Gouw Toako, apa perlunya kau mengenakan pakaian begini?"

Tanya Ho Kie dengan heran.

"Bukankah karena kau? Engkongnya perempuan jelek itu mengatakan, tidak ada orang yang membantunya. Ia suruh aku membantu membereskan soal perkawinan ini dan ia memaksa aku memakai pakaian ini."

Jawab Gouw Ya Pa sambil tertawa getir.

"Ah!! Kau sendiri juga sengaja hendak menggoda aku?"

Kata Ho Kie dengan sangat mendongkol "Apa mau dikata.

kita tokh boleh tidak menurut?

Orang tua iiu lebih lihay daripada cucunya.

Baru sepatah aku maki padanya, hampir saja tulang punggungku dibikin patah......"

"Aku sudah di.... dikawinkan dengan dia. apa belum?"

Tanya Ho Kie.

"Masih belum. Hari baiknya katanya masih belum tiba. Perempuan jelek itu benar-sudah seperti kemanten baru, Sikapnya malu2 ia tidak mau menengoki kau, sehingga orang tua itu menyuruh aku kemari."

"Lekas kau buka totokanku. Kita segera kabur!!"

"Adikku yang baik, kalau aku mampu membuka totokan jalan darahmu, bagaimana mereka mau percayakan aku datang kemari?"

Hatinya Ho Kie sangat gelisah.

"Gouw Toako, benarkah kau hendak menyaksikan aku benar2 menikah dengan perempuan itu?"

"Sekarang keadaan sudah jadi begini, tidak bisa tidak harus menurut"

"Pergilah kau. Kenapa kau tidak kawin dengan dia?"

Kata Ho Kie dengan gusar, tetapi mendadak ia bisa berpikir lain, maka lantas berkata pula ;

"Gouw Toako, kau mau tolong aku atau tidak?"

"Aku ingin sekali dapat menolongi kau untuk binasa saja, tetapi sekarang...."

"Gouw Toako. kalau kau mau menolong aku, aku disini ada mempunyai suatu akal."

"Akal apa? Coba kau sebutkan."

Ho Kie lantas bisik-ditelinga Gouw Ya Pa wajahnya mendadak menjadi merah, ia lantas berkata ;

"Aku tidak mau. Kau sendiri anggap dia jelek, tetapi kau lantas mau geser kepadaku. Kalau begitu kau mau enaknya sendiri saja."

"Ini tokh cuma satu akal saja, bukan benar2 aku suruh kau kawin dengan dia. kalau kita berhasil, sudah tentu kita bisa kabur bersama-sama."

Gouw Ya Pa berpikir sejenak, lalu berkata .

"Taruh kata aku bisa berlaku menurut rencanamu, tetapi jalan darahmu masih belum bisa terbuka, juga percuma saja."

"Kita main sandiwara harus sungguh2, Pergilah kau beritahukan kepada mereka, katakan aku sudah menurut, tetapi harus buka totokanku dulu, baru bisa melakukan upacara."

"Akan kucoba,"

Jawab Gouw Ya Pa sambil anggukkan kepala dan ia lantas berlalu.

Belum berapa lama, benar saja Gouw Ya Pa sudah balik kembali bersama2 dengan Thian-sat Sin kun.

Thian Sat Sin Kun yang ternyata kakinya hanya tinggal sebelah, menunjang dengan tongkatnya perlahan lahan berjalan masuk kamar.

Lebih dulu ia memandang Ho Kie dengan sorot mata yang tajam, Kemudian berkata sambil ketawa dingin.

"Apa kau sudah mau benar?"

Dengan menahan perasaan gusarnya, Ho Kie menjawab sambil ketawa ;

"Boanpwe yang bertekad hendak menuntut balas sakit hati ayah, karena mengingat Locianpwe sanggup memberi bantuan, bagaimana boanpwe bisa menyia nyiakan maksud baikmu itu. Meskipun paras nona Siu itu jelek. tetapi jodoh yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa2. Maka boanpwe terima baik maksud locianpwe untuk melangsungkan perkawinan ini."

Thian sat Sin kun diam saja mendengarkan, setelah mendengar habis ucapan Ho Kie baru ketawa dan kemudian berkata .

"Semua ucapanmu ini agaknya sudah kau pikirkan masak2, kau tentu hendak menipu Lohu"

"Ucapan boanpwe ini adalah sejujurnya. harap locianpwe jangan banyak curiga."

"Kalau kau benar2 bermaksud mengawini cucu perempuanku, mengapa kau selalu menyebut perkataan locianpwe? Ini nyata benar kalau maksudmu itu tidak sejujurnya."

Ho Kie bungkam.

Sebaliknya Gouw Ya Pa yang berdiri disampingnya yang ber-ulang2 memberi isyarat kepadanya, Ho Kie terpaksa tebalkan muka untuk memanggil Yaya.

Thian sat Sin kun lantas ketawa ber-gelak2.

"Itulah baru benar!"

Katanya puas. Tiba-tiba ia lantas mengangkat tongkatnya, dengan cepat menotok kelima jalan darah ditubuh Ho Kie, kemudian mundur kepintu, lalu berkata pula sambil tertawa;

"Lohu hendak peringatkan kau. Tidak perduli perkataanmu ini benar atau bohong, jikalau kalian hendak kabur dengan sebelum melakukan upacara pernikahan, jangan kau sesalkan kalau Yayamu ini akan berlaku tidak pandang keluarga."

Sehabis berkata ia lalu ketawa bergelak. Ho Kie cepat2 lompat bangun, diam-diam coba kekuatannya, ternyata tidak ada halangan. Maka lantas berkata kepada Gouw Ya Pa;

"Tindakan pertama sudah berhasil, Gouw toako, sekarang aku mengandal bantuanmu sepenuhnya."

"Harap saja kau jangan tinggalkan aku setengah jalan!!"

Mengeluh sihitam Tidak antara lama, upacara perkawinan telah dilansungkan.

Siu Goat Eng dengan pakaian kemantennya karena wajahnya tertutup, dipandang dari potongan tubuhnya memang nampaknya sangat menarik.

Dengan tindakan malu2 ia masuk kekamar dan berduduk dipinggir pembaringan.

"Anak2 dunia kang ouw, tidak usah memakai segala upacara yang memusingkan kepala, kamu berdua saling menyoja, kemudian berlutut dan anggukkan kepala tiga kali di depanku sudah cukup."

Demikian kata Thiun sat Sin kun.

Dengan keadaan terpaksa, Ho Kie cuma bisa menurut saja.

Setelah selesai upacara, Thian Sat Sin kun dan Gouw Ya Pa meninggalkan kamar kemantin.

cuma tinggal Ho Kie dan Siu Goat Eng berdua.

Siu Goat Eng masih merasa malu, ia terus tundukkan kepalanya.

Ho Kie diam2 merasa kasihan kepada nona kemantin yang nasibnya jelek itu.

ia segan membuka tutup wajah Siu gwat Eng dengan tindakan perlahan ia menghampiri pintu kamar pura2 menutup kamarnya, kemudian padamkan api lilin, Siu Goat Eng tiba2 berkata .

"Engko Kie, kenapa kau bikin padam lampu lilin. Padahal itu harus dinyalakan sampai terang tanah!!"

"Aku tidak bisa tidur kalau ada penerangan!"

Jawab Ho Kie. Siu Goat Eng berkata pula sambil menghela napas.

"Aku tahu bahwa parasku sangat jelek, kau tentunya tidak suka melihat wajahku yang jelek itu. Ah meski wajahku jelek, tapi aku nanti bisa menyinta kau dengan setulus hati, supaya kau tidak membuang buang aku........"

Ho Kie yang mendengarkan ucapan nona kemantin itu hatinya merasa pilu. hampir saja ia memeluk nona itu. tapi kemudian di urungkan.

"Sudahlah, mari kita tidur!"

Demikian ia berkata sambil kertak gigi, Siu Gwat Eng kembali menghela napas panjang.

lalu membuka pakaian kamantinnya dan merebahkan diri dipembaringan.

tepat pada saat itu pintu kamar telah terbuka dengan perlahan, sesosok bayangan manusia telah berkelebat masuk, Ho Kie menggeser tubuhnya kepinggir pembaringan, kemudian menarik tangan orang itu dan menunjuk kepembaringan.

Orang itu tidak berkata apa2 lantas naik dipembaringan............

Ho Kie dengan secara gesit sekali sudah lompat turun menghampiri pintu dan menantikan sambil menahan napas........,.

Sang waktu perlahan-lahan telah berlalu, tidak diantara lama diatas tempat tidur terdengar suara keresekan!

Hati Ho Kie berdebaran, ia harus memperhatikan gerakan diatas pembaringan, dilain pihak harus pasang telinganya untuk memperhatikan keadaan diluar kamer.

Diluar pintu mendadak terdengar suara ketukan tongkat yang sangat perlahan, kalau tidak pasang telinga benar2, suara itu hampir sukar didengarnya.

Mendadak suara tongkat berhenti didepan pintu, Ho Kie tidak berani bernapas, ia takut di ketahui oleh orang tua yang sangat lihay itu.

Mendadak diatas pembaringan terdengar suara orang merintih .

"Aaaaaah. engko...."

Ho Kie terperanjat, diam2 herdoa ;

"Tolol!! kali ini kau jangan sampai timbulkan urusan....., ."

Suara rintihan terdengar pula, diluar pintu tongkat terdengar lagi, tapi perlahan-lahan kedengarannya makin jauh.

Ho Kie lantas menghela napas lega.

Tapi ia masih belum berani berlaku sembrono.

dengan hati2 ia terus menunggu satu jam lamanya.

Mendadak dari atas pembaringan lompat turun satu bayangan orang, Ho Kie lantas bertanya dengan suara perlahan .

"Bagaimana apa sudah berhasil?"

"Sudah!! mari kita pergi!!"

Terdengar suara Gouw Ya Pa.

Ho Kie sangat girang, dengan perlahan ia membuka pintu lantas keluar dari kamar kemanten.

Dengan sangat hati2 mereka berdua melalui jalan lorong, diujung lorong ada mulut goa yang menghadap jurang yang sangat dalam.

Tapi baru saja hendak keluar dari mulut goa, mendadak terdengar suara bentakan "Mau kemana?

Berhenti!"

Dua orang itu terperanjat, buru2 hentikan kakinya, ketika mereka menoleh, seketika itu lantas berdiri terpaku.

-oo0dw0oo-TERNYATA Thian-sat Sin-kun saat itu sudah berdiri sambil lintangkan tongkatnya dimulut goa.

"Oh, Tuhan! ......"

Berteriak Gouw Ya Pa, dan lantas hendak kabur balik ke-dalam.

Ho Kie menyambar tubuh Gouw Ya Pa dengan tangan kirinya, sambil lintangkan tangan kanannya diatas dadanya, ia berkata kepada si orang tua .

"Locianpwee. kau dengan aku tokh tidak ada permusuhan apa2, harap kau jangan terlalu mendesak!"

"Sungguh besar nyalimu, kau... kau perlakukan bagaimana dengan cucuku?"

"Nona Siu masih berada dalam kamar, boanpwee tidak..."

"Tutup mulut"

Membentak si orang tua itu, kalau ia masih berada didalam kamar dalam keadaan tidak apa2, dengan kepandaian yang dipunyai olehnya, masakan kamu bisa kabur dengan leluasa?

Tidak usah banyak mulut, sudah tentu kalian sudah turun tangan kejam terhadap dirinya !"

"Boanpwe meskipun tidak suka menikah padanya tapi juga tidak perlu harus mencelakakan dirinya. Kalau locianpwe tidak percaya, boleh periksa sendiri...."

Jawab Ho Kie gusar.

"Baik! Mari ikut aku masuk !"

Ho Kie dalam hati lantas berpikir, hanya satu orang tua ini saja sudah sulit dihadapi, kalau Siu Gwat Eng mendusin, kita terpaksa akan tertawan lagi.

Karena berpikir demikian, maka ia lantas menjawab sambil ketawa ber-gelak2.

"Silahkan Locianpwe periksa sendiri, maaf karena boanpwe masih ada urusan penting, terpaksa tidak bisa turut...."

Thian-sat sin-kun mendadak ketawa bergelak2. Setelah berhenti ketawa, sepasang matanya nampak sangat beringas, dengau sikap keren ia berkata.

"bocah she Ho. lohu sangat hargakan kau, hingga cucu perempuanku satu-satunya kujodohkan dengan kau. Bukan saja sudah membantu kau mendirikan rumah tangga bahkan hendak membantu kau menuntut balas untuk sakit hati ayahmu. Budi yang sebesar gunung ini kau anggap sepi, malahan dengan tangan keji menyelakakan diri cucuku, dan kemudian hendak melarikan diri? Malam ini kau menyerah secara baik, masih tidak apa tapi kalau kau tidak mau dengar kata. jangan sesalkan kalau aku nanti membuka pantangan membunuh. aku nanti bikin tubuhmu hancur lebur di bawah tongkatku!"

Perkataan itu setiap patah seperti martil yang mengetok hati nurani Ho Kie dan Gouw Ya Pa.

diucapkannya meski sangat perlahan, tapi kedengarannya sangat nyata dan seram.

Ho Kie bergidik, Tanpa terasa, kakinya mundur satu tindak, ia coba membantah.

"Perkawinan adalah urusan besar, bagaimana dapat dipaksa?"

"Perintah orang tua itu tidak boleh di bantah. Perkataan yang keluar dari mulutku aku tidak mengijinkan kau membantah!"

Ho Kie diam2 mengerahkan seluruh kekuatannya "Kalau locianpwe mau memaksa dengan kekerasan, jangan sesalkan kalau boanpwee berlaku kurang ajar!!"

"Kau mempunyai kepandaian apa. coba berani main gila didepan lohu........?"

Ho Kie mengerti bahwa sal ini tidak bisa dibikin beres secara damai.

Selagi orang tua itu masih meleng, ia lantas keluarkan bentakan keras dan menyerang dengan menggunakan ilmu Tay lek-kim kong ciang.

Dalam pikirannya Ho Kie, si orang tua yang berdiri membelakangi mulut goa apa lagi didalam lorong yang sempit ini, serangannya itu meski tidak bisa membinasakan jiwanya, tapi setidak tidaknya tentu ia akan menyingkir untuk mengelakkan serangannya.

sehingga ia dapat kesempatan untuk menerjang keluar dari mulut goa yang dirintangi oleh orang tua itu.

Siapa nyana siorang tua itu ternyata tidak menyingkir atau berkelit, bahkan menyambutipun tidak.

Ia masih tetap berdiri sambil ketawa dingin.....

Sebentar kemudian, kekuatan angin yang ditimbulkan oleh serangan Ho Kie telah menyambar pada orang tua itu.

Thian sit Sin kun cuma tergoyang sedikit pundaknya.

tapi sedikitpun tidaK berkisar dari tempat berdirinya !

Ho Kie kesima, Karena serangannya itu dilancarkan dengan menggunakan tenaga lebih dari 10 bagian, Jangan kata manusia, batu cadaspun mungkin hancur karenanya.

Tapi bagaimana orang tua itu tidak bergeming barang sedikit.

Selagi masih berada dalam keheran heranan, tiba2 mendengar suara Thian sat Sin-kun.

"Dengan kepandaianmu yang cuma seupil ini, kalau lohu berniat membunuh mati kau, sangat mudah seperti membalikkan telapakkan tangan. Tapi malam ini lohu mau suruh kau merasa takluk benar2, sekarang lohu berdiri disini, akan menyambuti seranganmu sampai tiga kali, kau boleh coba saja."

"Baik, kalau 3 seranganku tidak mampu merubuhkan kau, aku terima meyerah?"

Jawab Ho Kie gusar.

"Saat itu, sekalipun kau tidak mau menyerah juga sudah tidak ada lain jalan. Gouw Ya Pa, kau sekarang menjadi saksinya!"

Ho Kie sangat mendongkol, kembali ia hendak menggunakan tipu serangannya semula untuk menyerang si orang tua, tapi kali ini ia menggunakan tenaga sepenuhnya.

Serangan dahsyat telah dilancarkan oleh Ho Kie, kali ini badannya orang tua itu nampak tergoncang hebat, darah bergolak didadanya dan hampir keluar dari tenggorokkannya, kakinya tidak bisa berdiri tetap, hingga akhirnya mundur satu tindak.....

Orang tua itu lantas berubah wajahnya, ia berkata dengan suara dingin .

"bocah, kau benar hebat! Lohu sekarang hendak pertaruhkan tulang2 lohu yang sudah bangkotan, untuk menyambuti seranganmu lagi !"

Ho Kie semakin heran, karena kekuatan serangannya warisan dari Toan-theng Lojin, sudah cukup untuk menghadapi jago kelas satu yang mana saja didunia Kang ouw, tapi mengapa tidak mampu merubuhkan orang tua ini?

Ini sungguh Ajaib!

Selagi hendak melancarkan serangannya lagi, tiba2 ia ingat pelajarannya menghantam binatang nyamuk ketika masih berada di Lembah Patah Hati.

Karena serangannya kedua kali tadi tidak berhasil, maka sekarang ia hendak mencoba serangan yang biasa digunakan untuk menghantam binatang nyamuk.

Setelah mengambil keputusan tetap, ia lantas tarik kembali semua kekuatannya, lalu dipusatkan ketangan kanannya.

Kemudian melancarkan serangan dengan perlahan.

Serangan Itu tidak menimbulkan suara apa-apa, tidak keras seperti yang duluan..

Tapi orang tua itu mendadak merasakan ada semacam tenaga yang sukar ditahan, menyerbu dengan hebat!

Ia buru-buru kerahkan kekuatannya dikedua kakinya, siapa nyana serangan Ho Kie-kali ini jauh berlainan dengan yang duluan, agaknya mengalir terus tidak hentinya.

Thian sat Sin kun terperanjat, kekuatan coo Khie dalam dirinya ia perhebat sampai 80% untuk menahan serangan tersebut.

Tapi ketika kedua kekuatan itu saling beradu, ia rasakan seperti membentur tembok baja yang sangat kokoh, hingga dirinya sendiri yang terdorong mundur.

Ia semakin heran, selagi hendak melawan lagi, tapi sudah terlambat!

Kakinya terangkat dari tanah, badannya mundur sempoyongan.....

sebentar saja, sudah mundur kemulut goa-Thian sat Sin kun membentak keras, ia ayun tangan kirinya menyambuti serangan Ho-Kie yang luar biasa itu.

Ketika kedua kekuatan tenaga dalam itu beradu, lalu terdengar suara bergemuruh.

Lengan kanan Ho Kie dirasakan kesemutan, ia buruburu tarik kembali serangannya dan mundur beberapa langkah.

Tapi Thian sat Sin kun sebaliknya mundur beberapa langkah.

mulutnya menyemburkan darah segar, badannya sudah ada ditepi jurang.

Gouw Ya Pa kegirangan-.

"Saudara Ho mari lekas kita serbu!" 'ia berseru. Berbareng dengan itu, kakinya juga lantas melesat menubruk dirinya Thian -sat Sin kun. Si orang tua saat itu sudah tidak punya tempat mundur, apa lagi ia terluka didalam ketika menyambuti serangan Ho kie, hingga serbuannya Gouw Ya Pa yang dilakukan seperti kerbau gila membuat ia berada dalam keadaan yang berbahaya sekali. Tapi, biar bagaimana ia seorang jago tua yang sudah kenamaan, dalam keadaan sangat berbahaya seperti itu, ia masih bisa menahan supaya luka dalamnya tidak menghebat. Kemudian dengan menggunakan kekuatan yang dinamakan "Eng-jiaw-lek" (Kekuatan kuku Garuda) jari2-kanannya ditancapkan dibahu gunung, badannya melengak dengan gaya Thio pan-kio hingga dirinya bergelantungan disamping jurang. Ketika serbuannya menemui tempat kosong, Gouw Ya Pa tidak mau mengerti. Lalu maju lagi satu tindak tangannya menghantam kaki tunggal si orang tua. Thian-sat Sin-kun dalam keadaan menggelantung sambil mendongak, ia menyapu dengan tongkatnya, Justru serangannya itu berbareng dengan datangnya serangan tangan Gouw Ya Pa. Kalau Gouw Ya Pa bukannya Gouw Ya Pa, pasti akan menarik kembali serangan tangannya, hingga Thian-Sit Sinkun bisa balik lagi ke jalan goa. Menghadapi kekuatan si orang tua itu, buat Ho Kie dan Gouw Ya Pa bisa keluar dari mulut goa itu, sesungguhnya bukan soal gampang?! Tapi Gouw Ya Pa ada mempunyai ilmu kebal ia selalu tidak menghiraukan segala senjata tajam musuhnya yang ditujukan kepada dirinya. maka terhadap serangan tongkat si orang tua itu, ia juga tidak menggubris sama sekali. Bukan saja tidak menarik kembali serangannya, bahkan memperhebat serangannya. Serangan itu dengan cepat mengenakan kaki Thian-sat sin Kun, Sehingga tubuh orang tua itu meluncur kedalam jurang...... Tapi serangan tongkat si orang tua juga mengenakan, pinggang kanan Gouw Ya Pa, apa mau ilmu kebalnya Gouw Ya Pa kali ini tidak sanggup menerima serangan tongkat si orang tua, hingga pinggangnya dirasakan sakit dan mundur sempoyongan, kemudian duduk tumprah ditanah, jidatnya mengucurkan keringat dingin! Ho Kie lalu menghampiri sambil membimbing bangun, ia suruh kawannya itu mencoba menjalankan pernapasannya.

"Tidak apa, cuma pinggangku sedikit sakit!"

Demikian jawabnya pemuda bandel itu sambil ketawa meringis-.

"KEKUATAN tenaga lweekang Thian-sat Sin-kun bukan main hebatnya, jangan2 kau terluka bagian dalamamu."

"Dia sudah kuhajar sampai jasuh kedalam jurang, mungkin lukanya juga tidak ringan, mari kita lekas pergi!"

Ho Kie melongok kebawah jurang, ternyata dalamnya cuma kira2 5-6 tumbak saja, dalam hati merasa cemas.

"jurang ini tidak dalam, Bagaimana bisa melukai dia ? Mari kita lekas berlalu dari sini!"

Ia mengajak kawanya.

Lalu melayang turun dari mulut goa.

Ketika ia berada dibawahm ia menemukna tanda darah, tapi Thian-sat sin kun sudah tidak kelihatan lagi bayangannya!

Ia mendongak keatas, tapi Gouw Ya Pa tidak keliatan turun.

"Gouw toako, lekas turun."

Ia berkata kepada kawannya. Dua kali ia memanggil, baru kelihatan Gouw Ya Pa tongolkan kepalanya.

"Aku... aku tidak... bisa turun..."

Jawabnya.

Ia tampak Gouw Ya pa tengan kesakitan, kedua tangannya memegangi pinggangnya, napasnya memburu.

Tanpa banyak bicara, Ho kie lantas memondong sang kawan lantas meloncat turun ke bawah.

Ia terus lari kira2 tiga atau empat lie jauhnya, mendadak dirasakan Gouw Ya pa sudah tidak ada suaranya, Ia lalu hentikan kakinya, Gouw ya pa diletakkan ditanah.

Ia coba periksa pernapasannya, ternyata sangat lemah, sudah terang bahwa luka kawannya ini sangat berat.

Ia lalu duduk bersila, telapakan tangan kirinya diletakkan diatas jalan darah Leng thay-hiat, dengan kekuatan tenaga Iweekangnya sendiri ia salurkan kedalam dirinya Gouw Ya pa, untuk menyembuhkan lukanya.

Kira2 satujam lamanya diatas kepala Ho kie nampak mengepul ada hawa panas, napasnya tersengal2, maka ia terpaksa hentikan usahanya untuk sementara.

Ia coba memeriksa keadaan sekitarnya, ternyata disitu ada tempat yang penuh tumbuh2an rumput tebal dan bunga2 yang beraneka warna.

Tidak nyana setelah berlalunya malam, ia dapat menemukan tempat yang seindah itu.

Kala itu, disebelah timur sudah kelihatan sedikit sinar kuning, nampaknya sudah dekat terang tanah.

Ho kie menghela napas, selagi hendak melanjutkan usahanya untuk mengobati kawannya, mendadak terdengar suara orang berjalan, ia segera tarik kembali tangannya dan lompat bangun.

Ketiak ia membuka matanya tidak jauh dari tempat itu ada sebuah pohon, maka ia lantas gendong Gouw Ya Pa, dibawa sembunyi dibelakang pohon tersebut.

Tidak antara lama, kelihatan satu bayangan orang menghampiri padanya dengan gerakan yang amat gesit.

Orang itu memakai pakaian serba putih, tangannya membawa kipas.

bukankah itu Lim kheng?

tanya Ho kie pada dirinya sendiri.

Ho kie sungguh tidak nyana dalam keadaan demikian bisa bertemu dengan Lim kheng lagi, maka lantas lompat keluar dan memanggil padanya.

"Lim heng..."

Tapi mendadak ia ingat bahwa Lim kheng sebetulnya seorang wanita, tidak seharusnya ia panggil hengte. maka buru2 merubah.

"Enci Lim, aku mencari kau setengah mati." -ooo0dw0oo

Jilid ORANG BERBAJU PUTIH itu hentikan tindakannya, tapi ketika mengawasi Ho kie, parasnya menunjukkan perasaan heran, lantas hendak berlalu lagi.

Ho Kie sangat cemas, ia memanggil pula dengan suara keras .

"Enci Lim, harap suka tunggu sebentar, aka ada sedikit perkataan hendak disimpaikan padamu!"

Tapi orang itu tidak menoleh sama sekali, bahkan lari pergi dengan cepat.

Ho Kie terus mengejar, sebentar saja sudah melalui perjalanan beberapa lie jauhnya.

Ho Kie kuatir ia tidak dapat menyandak, ia juga kuatirkan lukanya Gouw Ya Pa, maka sambil mengejar ia terus bicara hampir meratap .

"Enci, aku mohon sukalah kau beri kesempatan padaku untuk menjelaskan duduknya perkara..."

Tapi orang yang diajak bicara terus kabur seolah2 tidak dengar perkataannya. Ho kie tambah penasaran, ia terus meratap.

"Enci, apa salahnya aku? apa kau tidak sudi memberi kesempatan untuk aku untuk menjelaskan? Berilah aku kesempatan, selanjutnya kau tidak mau perdulikan aku lagi, aku juga rela..."

Ucapannya itu agaknya menggerakan hatinya pemuda baju puti itu, maka lantas menhentikan tindakan kakinya. Ho kie girang sekali hendak mendekati, pemuda baju putih itu lantas membentak.

"Berdiri disitu!"

Ho kie terpaksa berhenti.

"enci, mau kah kau detar bicaraku?"

"Kau hendak bicara apa, kau bole ucapkan disitu saja, kalau kau berani maju lagi selangkah saja, aku akan segera menyingkir lagi!"

Jawabnya dengan tenang.

"Baiklah aku menurut, asal kau jangan lari lagi."

Pemuda itu ketawa.

Mereka berdiri terpisah kira2 tiga tumbak, tapi Ho kie merasakan seperti terpisah jauh sekali.

Ia ingin maju mendekati, tapi tidak berani.

Maka ia cuma bisa mengawasi dengan hati mendelu.

Pemuda baju putih itu lama menantikan, agaknya sudah tidak sabaran, maka lantas berkata dengan suara dingin.

"Bukankah kau hendak bicara? Mengapa kini membisau saja?"

"Yah."

Ho kie menjawab sambil anggukkan kepalanya.

Banyak perkataan yang hendak diucapkan, tapi saat itu mulutnya seperti terkancing, ia tidak tahu harus bagaimana memulainya.

Pemuda itu melirik, lalu berkata pula.

"Aku masih banyak urusan, kalau kau tidak lekas bicara, aku sekarang hendak pergi lagi."

"Mau...! Harap tunggu sebentar. aku nanti jelaskan..."

Kata Ho kie cemas. Tapi apa yang hendak diucapkan? Ia tidak tahu.

"Katakanlah!"

Tegur lagi sipemuda berbaju putih.

"Enci, aku hanya ingin bertanya, dalam hal apa aku telah membuat kesalahan terhadap kalian?"

Akhirnya Ho kie beranikan hati bertanya juga.

"Hanya itu saja?"

"Yah! aku hanya mohon kau suka memberitahukan padaku, kalau aku benar2 bersalah terhadap kau, sekalipun kau hendak memaki atau memukul, aku akan terima. Tapi aku mohon kau jangan perlakukan aku secara demikian. Saudara Gouw Ya Pa itu ada sebangsa orang kasar, dia tidak tahu kalau kau.... oh... dia telah bikin robek bajumu! Terang ini.... kau juga tidak boleh sesalkan kau..."

Pemuda baju putih itu setelah mendengar ucapannya. hatinya tergoncang Pikirnya.

"Ah!! dia begitu erat perhubungannya dengan perempuan she Lim itu. kalau dia tau aku bukanlah Lim kheng..."

Saat itu, ia sudah kepingin menjelaskan bahwa ia bukanlah Lim Kheng, melainkan Giok Sie seng Jie Peng dari Hian kui kauw.

Tapi, mendadak ia berpikir pula.

Ho kie bermusuhan dengan Hian kui kauw, juga mungkin masih gemas pada kejadian di Cit lie peng, maka lebih baik tidka dijelaskan.

Setelah mengambil keputusan demikian, ia lantas menjawab dengan suara dingin.

"Sepotong baju berapa harganya? Sama sekali aku tidak taruh di hati."

Mendengar keterangan itu, Ho kie merasa girang.

"Mengapa kau mendadak tinggalkan aku?"

Demikian katanya. Jie peng diam2 merasa geli, tapi mulutnya berkata dengan suara dingin "kalau aku berbuat demikian, siapa yang bisa melarang?"

Ho kie melongo.

"tpai perbuatanmu ini pasti ada sebabnya, apakah itu?"

"Tidak ada sebab apa2!"

Sehabis ucapkan perkataannya yang terakhir itu, ia hendak berlalu lagi.

Perasaan jelus telah menguasai dirinya, ketia Ho kie mengejar, karena dianggapnya dirinya Lim kheng, perasaan jelusnya ini semakin tebal, hingga akhirnya berubah menjadi benci....

Kalau ia tidak lekas2 tinggalkan pemuda itu, barang kali akan terbuka rahasianya yang ia telah mengaku sebagai dirinya Lim Kheng.

Dilain pihak, Ho kie yang anggap Jie Peng adalah Lim kheng, benar2 hatinya semakin gelisah, maka ketika melihat pemuda baju putih itu hendak berlalu lagi, ia lantas berkata pula.

"Enci, mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"

"Apa yang harus dijawab? Aku benci padamu!!"

Ho kie merasa seperti disambar geledek, ia menjerit.

"Enci, apa salahku sehingga kau mempunyai benci aku sedemikian rupa...?"

"Tidak ada, pendeknya aku merasa benci sekali padamu, sebabnya apa kau juga tidak tahu. Aku tidak kepingin bertemu lagi dengan kau, semoga selama hidupku ini aku bisa menyingkir dari kau, kau boleh anggap saja tidka pernah bertemu aku, aku tidak akan menjumpai kau lagi!"

Jawaban yang tidak terduga2 itu telah merupakan suatu pukulan yang hebat bagi Ho kie, sehingga seketika itu juga lantas berdiri terpaku disitu.

Apa sebabnya Lim kheng mendadak membenci padanya sedemikian rupa?

Apa lantaran bajunya dibkin robek oleh Gouw Ya Pa?

Tidak mungkin!

Tidak mungkin karena urusan sepele itu ia mendendam begitu rupa!

Tapi ucapannya itu begitu tegas, bukannya bikinan.

Lama ia berdiri bingung sendiri smabil pejamkan mata.

Apa sebabnya Lim kheng berbuat demikian?

Pertanyaan ini selalu berputaran diotakknya, tapi siapa yang mampu menjawab?

Ho kie memikirkan itu kepalanya seperti mau pecah dan tatkala ia membuka mata, Lim kheng sudah tidak kelihatan bayanganya.

Lim kheng sudah pergi jauh, mungkin seperti apa katanya sendiri, ia tidak akan menjumpainya lagi...

Yang ada cuma tinggal kenang2annya, yah..

suatu kenangan yang mengharukan.

Dalam kenaan dan pergaulan yang terjadi dalam watu singkat antara Lim kehngm tidak disangka akan meninggalkan bekas yang tidka enak buat dirinya.

Ia merasa benci, bencinya terhadap dunia yang kejam ini...

Sudah tentu ia tidak menduga sama sekali bahwa pemuda dengan sikap yang dingin yang mengaku Lim kheng, sebetulnya adalah Jie Pang dari Hian kui kauw.

Entah berapa lama Ho kie berdiri bingung demikian rupa mendadak terdengar suara rintihan dari seorang wanita, yang kedengarannya makin lama makin dekat.

"Engko Kie!! Engko Kie..."

Suara itu tegas terdengar dalam telinganya. Ho kie terperanjat, badannya gemetaran dengan tiba2.

"Aaa.!! itu ada suaranya Siu Goat Eng!"

Demikian ia berkata kepada dirinya sendiri.

Benar!

itu memang Siu Goat Eng, yang oleh Thian-sat sin kun dinikahkan padanya secara paksa.

Bukankah ia sudah ditotok jalan darahnya oleh Gouw Ya pa?

Mengapa bisa datang kemari?

Ho kie lantas ingat dirinya Gouw Ya pa yang masih terluka, maka buru2 balik menghampiri padanya.

Tapi ketika ia tiba ditempat belakang pohon, disitu telah berdiri seorang tua dengan satu kaki sambil menunjang dengan tongkatnya.

Orang tua itu adalah Thian sat sin kun yang jatuh kedalam jurang.

Ho kie diam2 mengeluh.

Gouw Ya pa telah menghajarnya sehingga orang tua itu terjatuh ke dalam jurang dan sekarang Gouw Ya pa yang sedang terluka parah telah terjauh dalam tangannyam sudah tentu banyak bahayanya.

Ah, kalau Gouw Ya Pa terbinasa didalam tangan orang tua itu, bukankah ia sendiri yang telah mencelakakan dirinya?

Mengingat samapi disitu, ia lantas maju menghampiri si orang tua dan memohon padanya dengan suara mengharukan.

"Locianpwe, semua yang telah terjadi telah timbul karena diriku siorang she Ho seorang,Harap kau mau melepaskan dia!"

Thian sat sinkun melirik padanya sejenak,lalu berkata dengan suara dingin.

"Kau juga sudah tahu berbuat salah?"

"Aku merasa tidak pernah berbuat yang sangat keterlaluan terhadap locianpwe..."

Orang tua itu mendadak membentak dengan suara bengis dan memotong perkataan Ho kie.

"Bocah she Ho, kalau kau tidak suka menikah dengan cucuku, mengapa kau cemarkan kehormatannya?"

Pertanyaan itu seperti geledek menyambar kepala, sehingga Ho kie gelagapan seketika lamanya.

"Perkataan locianpwe ini, sungguh aku kurang paham..."

"Kau masih hendak berlagak pilon dihadapanku? Malam ini yang kau membiarkan kau berdua anjing berlalu dari sini. aku akan bunuh diri dengan tongkatku ini...!"

Seiring dengan ucapannya, orang tua itu lantas membabat Ho kie dengan tongkatnya. Ho kie menggunakan ilmu Hoan-in sie sek, mengelakan serangan tersebut.

"Aku... aku tidak..."

Ia coba membantah.

Tapi serangan si orang tua terus mengancam jiwanya.

Sekejap saja, ia sudah terdesak mundur sampai 10 tombak leibh jauhnya.

Ho kie kini merasa sangat gelisah, Ia masih belum tahu bagaimana nasibnya Gouw Ya Pa.

Kembali harus berdaya menghindarkan diri dari serangan siorang tua yang nampaknya sudah kalap.

Ia lebih2 heran atas pertanyaan orang tua itu yang tentang dirinya Siu Goat Eng.

Terang ia belum pernah menjamah diri nona itu, mengapa orang tua itu mengatakan padanya sudah mencemarkan diri sinona?

MEndadak ia ingat sesuatu.

Ah!!

Cilaka!!

Apakah itu bukan perbuatan si tolol Gouw Ya Pa?

Ia masih ingat ketika sidogol itu menggantikan dirinya naik keatas pembaringan pernah dengar suara rintihan sinona, bukankah itu perbuatannya>?

Mengingat itu, perasaannya jadi kalut sendiri.

Pada saat itu Tongkatnya si orang tua sudah mengancam didepan matanya.

Ho kie buru2 miringkan kepalanya, tapi lantas mendengar bentakan siorang tua.

"Rebah!!!"

Ujung tongkatnya sudah mengenakan pundak kirinya. Ho kie yang merasakan sakit dipundak kirinya, terpaksa mundur tiga empat tindak.

"Bocah she Ho, lohu suruh kau merasakan bagaimana harus menebus dosa atas perbuatanmu yang menodakan diri gadis orang!"

Kata si orang tua, lalu menyerang pula dengan tongkatnya.

Ho kie yang pundaknya sudah sakit, hanya mengandalkan caranya berkeliat yang sangat luar biasa, tapi belum 10 jurus, ia sudah mandi keringat karenanya.

Dalam keadaan demikian, mendadak terdengar suara yang mengharukan "Engko Kie, Engko kie, kau ada dimana?"

Thian sat sin kum yang mendengar suara itu hatinya merasa pilu, serangannya lantas menjadi kendor. Menggunakan kesempatan itu, Ho kie lantas berakta.

"Locianpwe, kau dengar dulu keterangan ku, aku benar2 tidak..."

Belum haibs ucapannya itu, sudah dipotong oleh suara yang memilukan.

"Engko kie, Ah! kau ada disini..."

Berbarengan dengan itu, sesosok bayangan merah lari menghampiri.

Thian-sat sin kun yang menyaksikan keadaan demikian, cuma bisa menghela napas.

Siu Goat Eng masih mengenakan pakiannya kemantin,hanya rambutnya saja yang awut2an menutupi wajahnya, ia lari sambil pentang tangannya hendak menubru Ho kie.

"Nona siu, harap mengenal sedikit aturan!"

Berkata Ho kie sambil mundur. Siu Goat Eng tercengang dan hentikan tindakannya, ia mengawasi dengan sepasang matanya yang bening "Eh!! kita diantara suami istri masakan masih malu2..?"

Ketiak ia menampak yayanya berdiri disitudengan sinar mata gusar, ia agaknya mengerti, maka lantas berkata pula sambil ketawa.

"Ouw!! kiranya yaya ada disini,kau takut dicela oleh dia? Tidak apa, yaya paling sayang padaku. selanjutnya kau akan menjadi cucu menantunya, malu apa..."

Thian Sat Sin kun yang mendengar perkataan cucunya , air matanya mengalir turun dari kelopak matanya, sambil menuding dengan tongkat,ia berkata kepada Ho kie.

"Manusia berhati kejam, apa kau masih ada muka untuk bertemudengan dia?"

Siu Goat Eng bingung mendengar perkataan engkongnya, dengan perlahan ia mendekati engkongnya, lalu berkata dengan suara lemah lembut.

"Yaya, mengapa kau begitu marah? sekalipun dia salah, yaya juga harus pandang cucumu, ampunilah padanya!"

Thian Sat Sin kun hatinya seperti diiris2, sambil merangkul cucunya ia berkata dengan suara sedih.

"Anak tolol, apa kau masih membantui dia? Bocah berhati binatang ini..... Dia..... dia sudha tidak sudi kau lagi.... dia sekarang hendak kabur...!"

Siu Goat Eng agak tercengang, ia berpalng mengawasi Ho kie.

Ho kie menampak pandangan nona itu agaknya tidak mengandung rasa kebencian, bahkan lemah lembut, hingga hatinya merasa tidak enak sendiri.

Sambil ketawa getir, Siu Goat Eng berkata kepadanya.

"Engko kie, aku tahu parasku jelek, tidak pantas turut menjadi istrimu, tapi...."

Tiba2 ia menghela napas "Tapi....paras jelek itu pembawaan dari lahir, karunia Tuhan, bagaimana aku bisa merubah?

Kalau kau tidak menampik,seumur hidupku ini aku bisa melayani kau setulus hatiku, aku akan bantu mengurus rumah tanggamu, mencuci pakaianmu, memasak untuk kau.

Kalau kau hendak kawin lagi dengan wanita yang cantik, aku juga tidak melarang, aku cima menginginkan bisa merawat keturunan kitayang bagus dan cantik..

itu saja aku sudah puas....!"

Thian Sat Sin kun hatinya semakin pilu, dengan suara sedih ia berkata.

"Anak tolol, buat apa kau meminta2 padanya demikian rupa, dia ada seorang yang tidak berbudi dan tidak mempunyai perhatian, biarlah yayamu binasakan padanya. yayamu nanti carikan laki2 lain yang lebih cakap darinya..."

"yaya, kau jangan berkata demikian, Pepatah ada kata"

Nikah dengan ayam harus mengikuti ayam, nikah dengan Anjing,harus mengikuti anjing.

Eng ji meskipun jelek, tapi juga mengerti apa artinya kesucian dan kewajiban sebagai seorang perempuan.

Hidupku menjadi orang keluarga Ho, mati juga aku akan menjadi setannya keluarga Ho!"

Thian Sat Sin kun menghela napas panjang, ia kerutkan alisnya, yang sudah putih cuma bisa menjawab sambil anggukkan kepalanya..

"Anak baik!! anak baik!!"

Ho kie merasa malu dan pilu serta menyesal, ia lalu berkata sambil menyoja.

"Budi dan kecintaan nona, aku siorang she Ho merasa banyak2 terima kasih. tapi..........."

Tpai Siu Goat Eng lantas memotong.

"Tidak usah pakai tapi2 lagi, kalau kau merasa aku terlalu jelek, bawalah aku disampingmu, aku bisa membawa diri sebagai bujangmu yang akan melayani kau, tidka akan nanti aku akan membuat kau malu...."

Ho kie merasa sangat terharu, ia hampir tidak dapat menahan air matanya.

"Aku siorang she Ho, bukannya orang yang pamer paras cantik dan jemu terhadap paras jelek, cuma saja aku merasa tidak ada mempunyai peruntungan untuk menerima kebaikan nona!"

"Mengapa? kita toah sudak menikah.. bahkan sudah..."

"Ho kie mendadak memotong dengan suara agak keras.

"Noan Siu, harap kau suka dengar keteranganku, dimalam perkawinan kita itu, orang yang tidur bersam2 dengan nona bukanlah aku si orang she Ho.."

Ucapan itu telah membuat Thian Sat Sin kun dan Siu Goat Eng pada pucat, mereka lompat mundur beberapa tindak dan bertanya hampir berbareng.

"Apa benar? dan siapa dia?" -oo0dw0oo-DENGAN perasaan sangat malu Ho kie menjawab dengan suara perlahan.

"Dia adalah sahabat ku, ialah saudara Gouw Ya Pa yang terluka dibawah tongkat locianpwe!"

Siu Goat Eng mendengar keterangan itu lantas menjerit seketika dan jatuh pingsan....

Thian Sat Sin kun repot, buru2 menolongi dan menotok jalan darah sang cucu, kemudian berbangkit sambil pegang erat2 tongkatnya.

"Manusia rendah yang tidak tahu malu!"

Bentaknya dengan sangat gusar.

"Bagus sekali kalau mengandalkan akal bangsatmu, kau anggap apa si orang she Siu ini?"

"locianpwee aku....."

Perkataannya Ho kie belum lampias, Thian sat sin kun sudah menggeram sambil menyapu dengan tongkatnya.

Lengan kirinya Ho kie sudah tidak leluasa digerakkan, tapi dengan menggunakan kegesitan kakinya ia berhasil menghindarkan serangan tersebut.

"Locianpwee, kasihlah kesempatan aku untuk berikan penjelasan.."

"Binatang.. apa lagi yang kau hendak bicarakan?"

Orang tua itu rupanya sudah gelap pikirannya, ia menyerang lagi dengan senjata kalap.

Ia kepingin bisa membinasakan Ho kie pada seketika itu juga.

Ho kie merasa sakit dan gelisah, dengan terpaksa ia mengandalkan kegesitannya berkelitan, tapi nampaknya sudah hampir kewalahan.

Mendadak ia dapat satu pikirian.

"soal ini adalah sulit untuk dijelaskan, sebaiknya aku menyingkir dulu, kemudian mencari kesempatan suruh Gouw Ya Pa yang menebus dosa ini" . Setelah mengambil keputusan demikian, ia lantas mengeluarkan serangannya sambil mundur dan berseru.

"Locianpwee, harap kau jangan terlalu mendesak."

"Kalau kau mempunyai kepandaian boleh keluarkan, kalau aku si orang tua tidak bisa membinasakan kau, bagaimana ada muka untuk menemui cucuku?"

Ho kie pura2 gusar, ia melancarkan serangannya yang hebat, Thian sat sin kun terpaksa berlaku hati2.

tapi tidak urung Ho kie dengan menggunakan ilmunya yang aneh sekali dapat meloloskan diri dari bawah tongkatnya kemudian dengan cepat melesat ke tempatnya Gouw Ya Pa dibelakang pohon besar.

Keadaan Gouw Ya Pa sungguh menggenaskan, wajahnya kering pucat,ia rebah terlentang dengan napas sudah hampir hilang.

Ho kie tidak mempunyai waktu untuk memeriksa lukanya Gouw Ya Pa, dengan cepat ia pondong pergi.......

"Binatang, kau masih mengharap kabur?"

Suaranya si orang tua sudah sampai disusul oleh serangannya.

Dalamkeadaan kepepet, Ho kie terpaksa menggunakan ilmu Kim-na-khiu hoat, dengan tangan kirinya ia merebut ujung tongkat siorang tua.

Siapa nyana,siorang tua itu sudah seperti kerbau gila,dengan sekuat tenaga ia mendorong tongkat yang dicekal ujungnya oleh Ho kie.

sehingga anak muda itu mundur sempoyongan beberapa tindak, akhirnya jatuh duduk ditanah.

Thian sat sin kun perdengarkan suara ketawanya yang aneh, tongkatnya diayun, membabat kepalanya kedua pemuda itu.

Selagi dalam keadaan sangat berbahaya mendadak terdengar suara bentakan, kemudian disusul oleh munculnya dua bayangan orang.

Satu berpakaian putih, satu lagi berpakaian kelabu.

Orang berpakaian kelabu itu kakinya belum menginjak tanah, nampak sudah mengebutkan lengan bajunya, dari situ meluncur sebuah benda berkeredepan menyerang tongkat siorang tua.

"Trang!"

Suara beradunya barang keras terdengar nyaring.

Thian sat sin kun dan orang yang menyerang sama2 pada mundur dua tindak.

Thian sat sin kun terkejut.

Ketiak ia menegasi siapa lawannya ternyata seorang wanita tua yang wajahnya sudah keriputan, rambutnya putih seperti perak.

Bersama seorang pemuda yang berdandan seperti anak sekolah, sedang berdiri melintang didepan Ho kie dan memandang padanya dengan mata mendelik.

Siorang tua mendadak ingat dirinya seseorang.

Dalam kagetnya, kakinya mundur lagi setindak, lalu berkata dengan suara keren.

"Owh!! Kiranya kau masih belum mampus!"

Nenek2 itu ketawa dingin, matanya mengawasi dengan sorot mata keheran2an.

"Aku kira siapa? Kiranya adalah kau si tua bangka!"

Jawabnya dengan suara dingin.

"Kau Hun lie-go, adatmu yang kukoay itu benar2 masih seperti dulu! Apa kau masih ingat pertemuan kita diatas Cay Sak kie? Tidak nyana kita bertemu lagi disini. Nampaknya kau masih tetap merupakan seorang wanita tua yang masih cantik!"

Kata Thian sat sin kun dengan ketawa bergelak2.

"Pantas muridku mencari kau dimana2 tidak bisa menemukan., kiranya kau umpetkan diri sini? Aku siorang tua karena menghormati kau sebagai orang tingkatan tua, aku tidak jadi kecil hati. Tapi harap kau tahu diri sedikit, jangan nyeloncong tidak keruan!"

Jawabnya si nenek dingin.

"Tidak nyana Kau lun lie mo si wanita geniat yang dulu pernah membikin banyak laki2 tergila2,sekarang juga mengerti apa artinya tahu diri. Sungguh aneh bin ajaib. Hahahahaha...!"

Mengejek siorang tua.

"Tua bangka she Siu, kau hidup sampai begini tua, agaknya sudah masih tetap kotor mulutmu, apakah kau sudah bosan hidup?"

"Mendengar perkataan mu, apa barangkali kau sudah bekerja sama dengan muridku yang durhaka, Jie Hui itu, dalam perkumpulan Hian kui kauw?"

"Jie Hui ada sagat menghargakan orang2 tua, didalam Hian kui kauw khusus disediakan satu tempat yang disebut Cun-Hian-Koan, mengundang semua jago dari golongan tua untuk diberi kenikmatan dihari tuanya. Diantar begitu banyak jago2 tua, hanya kurang kau satu orang tua yang pernah menjadi gurunya. Disini ternyata kau punya adat dan martabat, bagaimana kau bisa sesalkan orang lain kalau tidak mau anggap kau sebagai sahabat, sedangkan muridmu sendiri juga tidak anggap kau sebagai guru?"

"Kalau begitu, murtadnya Jie Hui adalah karena diogok oleh bangsa kalian orang2 jahat. Bagus sekali lohu kepingin mengunjungi Kui kok. untuk menyaksikan orang2 tua yang dipandang jago2 tua itu sebenarnya orang macam apa?"

"Siu It Ciu, barang kali kau tidak cukup panjang umurmu untuk mencapai maksudmu itu!"

"Sekarang aku hendak mencoba kekuatan siwanita genit!"

Siu It Ciu membentak sambil delikkan matanya.

Sedang tongkatnya juga tidak kelihatan, lantas membabat kepalnya sinenek.

Si nenek yang disebut Kau Lun Lo mo itu tertawa dingin, sambil kakinya menyambuti serangan siorang tua dengan tongkatnya juga.

"Trang!!"

Suara keras terdengar nyaring. sinenek dibuat mundur tiga tindak. sedang Siu It Ciu sediri juga mundur beberapa tindak.

"Kau lun lie mo, sungguh tidka kecewa kau menjadi pujaan dalam Cun Hian koan, kekuatanmu ternyata lebih hebat dari dulu. coba kau sambut seranganku sekali lagi.!"

Demikian Thian sat sin kun mengejek,kemudian tongkatnya diangkat untuk menyerang lagi. Kau lun lie mo berdiri tegak dengan sepenuh tenagaia menyambuti lagi serangan siorang tua.

"Trang!"

Kembali suara beradunya kedua senjata tongkat terdengar nyaring.

KEdua fihak mundur beberapa tindak.

Tapi Siu It Ciu masih berdiri tegak diatas kaki tunggalnya, sedangkan Kau lun lie mo karena kekuatannya masih kalah setingkat, berdiri agak sempoyongan.

mulutnya mennyemburkan darah segar!

"Kau lun lie mo, sekarang kau sudah merasakan sendiri bagaimana tongkatku ini?"

Bertanya Thian sat sin lun sambil ketawa puas. Kau lun lie mo wajahnya pucat, tangannya yang digunakan untuk memegang tongkat bergemetaran.

"Siu It Cin, kapan kau hendak ke kui kok?"

"Setelah membereskan persoalanku,nanti aku akan kesana untuk melihat sahabat lamamku!"

"Baik!! Aku nanti yang akan menunggu kedatanganmu!"

Siu It Cin dengan gemas memandang Ho kie dan Gouw Ya Pa, lalu memondong cucunya dan lari laksana terbang. Sinenek lalu berkata kepada sipemuda baju putih yang berada disampingnya.

"Nona Peng mari kita pergi!"

Ho kie tadinya masih menganggap pemuda baju putih itu adalah Lim kheng, ketika mendengar panggilan si nenek , Nona Peng, hatinya hampir lompat keluar.

Lantas Gouw Ya Pa diletakkan ditanah dan ia sendiri lompat bangun.

Pemuda baju putih yang bukan lain dari pada Giok Sie seng Jie Peng melirik kepada Ho kie lalu menghampiri padanya dengan tindakan perlahan.

Ho kie buru2 melintangkan tangannya didepan dada dan bertanya dengan suara tidak lampias.

"Kau...kau adalah...."

"Aku adalah orang yang pernah kau jumpai didalam Thit lie kang dan dalam kuburan di Ngo kui-Cie. Apa kau sudah lupa?"

Jawab Jie Peng sambil tertawa. Bukan main herannya Ho Kie, sampai ia berseru dan kemudian mengedumel sendiri.

"Ya Allah, mengapa begitu mirip?"

Dengan sikapnya yang lemah lembut, Jie Peng berdiri sejarak lima kaki dihadapan Ho kie lalu berkata sambil menunjuk Gouw Ya Pa dengan kipasnya.

"apakah sahabatmu ini lukanya parah?"

"Benar! ilmu kebalnya sudah dibikin buyar oleh orang tua itu, lukanya tidak ringan."

Jie Peng keluarkan sebotol obat dalam sakunya, lalu disodorkan kepada Ho kie sambil berkata.

"Ini adalah obat yang khusus digunakan untuk luka di dalam. kau boleh berikan kepadanya!"

Ho kie ulurkan tangannya, tetapi mendadak hatinya tercekat, Tangannya ditarik kembali dengan cepat dan berkata dengan suara keras.

"Apakah kau orangnya Hian kui kauw?"

"Ini ada hubungan apa dengan Hian kui kauw?"

Balas Jie Peng sambil tersenyum.

"Kita dengan Hian kui kauw adalah mempunyai permusuhan yang dalam. Barusan meskipun kalian pernah memberi pertolongan kepada kami, tetapi rasanya tidak pantas memakan obat pemberianmu ini."

Kau hun lie mo yang mendengar perkataan itu, dalam hati merasa gusar, ia lantas berkata sambil tertawa dingin.

"Nona Peng, obat Kiu-Coan wan ini dibuat oleh ayahmu secara tidak mudah. Manusia yang tidak kenal budi ini, perlu apa kau perlakukan baik padanya. Sayang2 obat demikian mujarabnya."

Jie peng tidak ambil perduli omongn Kau hun lie mo, ia berkata pada Ho kie sambil tertawa manis.

"Meskipun betul kau mempunyai permusuhan dalam dengan Hian kui kauw, tetapi tidak demikian dengan sahabatmu ini. Obat ini aku berikan padanya, tolong kau yang memberikan, apakah itu tidak boleh?"

"Aku si orang She HO karena merasa pernah menerima bantuanmu, hari ini aku tidak mempersoalkan permusuhan kita. Tentang luka sahabatku ini, aku percaya masih bisa mengobatinya sendiri. Tidak perlu kau turut capaikan diri."

Jie Peng wajahnya berubah merah, terpaksa obatnya disimpan lagi, diam2 pula putar tubuhnya dan berlalu dengan tindakan perlahan.

Tetapi belum berapa jauh ia berjalan mendadak ia memutar tubuhnya dan bertanya dengan suara pilu.

"Kau sebetulnya ada permusuhan apa dengan Hian kui kauw?"

Ho kie menatap wajah Jie Peng.

dilihatnya dikedua pipi nona itu sudah basah dengan air mata.

sehingga membuat pikirannya agak terguncang...

Tetapi kematian ayahnya yang sangat menggenaskan kembali terbayang diotaknya, pengalamannya sendiri yang mengerikan telah menimbulkan rasa dendam yang sangat dalam.

Dendam.

Dendam!!!

ini merupakan suatu dendam Sakit hati yang tidak dapat dihapus untuk selama2nya dan harus dicuci dengan darah.

"Permusuhan aku si orang she Ho dengan orang2 Hian kui kauw mungkin tidak bisa dibikin habis untuk selama2nya. Ini saja keterangan yang dapat ku katakan. Bagaimana pikiran nona, itu terserah!"

Jawab Ho kie sambil angkat kepala. Kelihatan Jie Peng sangat berduka, Ia menghela napas berulang2, lama baru ia bisa berkata pula.

"Aku tidka bisa berkata apa2, aku hanya mengharap supaya permusuhan diantara mereka dari golongan tua jangan diperhitungkan dipundaknya golongan muda seperti kita. Ho Siaohiap, meskipun kau pandang musuh padaku, demikian rupa, tetapi aku masih menganggap kau sebagai sahabat baik."

Ho kie tertegun, Dengan tidak sadar ia lalu mundur beberapa langkah.

Kedua matanya memancarkan sinar aneh.

semua perkataan Jie Peng seperti palu besar yang mengetuk hatinya.

Memang sebenarnya meskipun ia sendiri bermusuhan dengan Kauwcu hian kui kauw, begitu pula dengan Pun-tui ciu, Do Pao, tetapi dengan cara Jin Peng yang lemah lembut ini ada permusuhan apa?

Hian kui kauw masih mempunyai ratusan, bahkan ribuan pengikut, apakah mereka itu semua adalah musuh2nya?

Dengan pikiran sangat kalut Ho kie mengawasi Jie Peng yang tengah terlalu meninggalkan padanya.

Ia merasa seperti tenggorokannya terkancing.

Sebetulnay banyak perkataan hendak diucapkan.

Tetapi tidak bisa dikeluarkan.

Bayangan Jie Peng makin lama makin jauh dan akhirnya hilang dari pandangan matanya.

Hati Ho kie merasa bingung seolah2 sedang berada ditengah kabut tebal yang tidak dapat membedakan jurusan mana yang hendak ditemptuh.

Kau lun lie mo mengawasi padanya, Lama baru berkata dengan suara dingin.

"Seorang bodoh yang tidak kenal budi!"

Ho kie terperanjat, ketika pentang matanya si nenek sudah melesat menyusul majikannya.

Ia menghela napas panjang, lalu menghampiri Gouw Ya Pa.

Setelah digendong lagi,ia lantas berlalu dengan tindakan lebar.

Malam sudah berlalu, sang pagi mendatangi.

Ho kie berjalan sambil tundukkan kepala, kakinya dirasakan sangat berat untuk melangkah.

Selama dalam perjalanan sudah 2 kali ia mengobati Gouw Ya Pa, tetapi hasilnya nihil.

Ia sangat kuatir dan gelisah.

Sambil kertak gigi ia menahan penderitaan dalam dirinya.

Auw Yang khia sudah mencuri kalajengking emas, pemunah racun.

Lim kheng juga sudah berlalu tanpa pamit.

Sekarang ditambah lagi lukanya Gouw Ya Pa yang sukar disembuhkan oleh usahanya sendiri.

Bagaimana Ho kie tidak jadi jengkel?

Sudah dua hari Gouw Ya Pa tidak makan dan minum, napasnya semakin lemah seperti orang mau mendekati ajalnya.

Ternyata ia mencari tempat sunyi dibawah kaki gunung untuk mengobati Gouw Ya Pa dengan kekuatan Lweekangnya.

Setelah berkutet satu jam lamanya.

Ho kie dijidatnya sudah bermandikan keringat, napasnya tersengal2.

Tapi Gouw Ya Pa saat itu parasnya sudah kelihatan merah, kemudian bisa mebuka matanya perlahan2 dan menatp wajah Ho Kie.

Ho kie menampak sorto mata Gouw Ya Pa ternyata suram, dalam hati merasa kaget, ia buru2 bertanya.

"Gouw Toako, apa kau merasakan sudah agak baikan?"

Gouw Ya Pa menjawab dengan susah payah sambil gelengkkan kepalanya.

"Aku... aku barang kali....... sudah tidak ada harapan lagi..."

Hati Ho kie seperti diiris2 dengan tanpa dirasa air matanya mengalir keluar.

"Gouw Toako, ini adalah gara2 aku yang mencelakakan dirimu..."

Demikian Ho kie berkata dengan suara pilu.

"Bagaimana bisa salahkan kau? Aku dengan kau sudah bergaul sudah seperti saudara saja. Untuk kau sekalipun aku sudah mati seratus kali aku juga merasa senang. Hanya... Dalam hatiku masih mempunyai sedikit urusan yang belum bisa dapat kulepaskan begitu saja..."

"Kau masih ada urusan apa? KAtakan saja kepadaku. ASal aku masih punya tenaga, sekalipun harus terjun kelautan api juga akan kulakukan..."

"Aku juga tidak mempunyai sanak keluaraga. Dengan kau sudah kuanggap sebagai saudara sendiri, Jika urusan ini hanya dapat diberitahukan kepadamu saja."

"Gouw toako, katakan saja, Pasti kubantu menyelesaikannya."

Gouw Ya Pa kelihatan susah untuk mengeluarkan ucapannya, lama baru ia bisa berkata dengan perlahan.

"Apa yang dalam hatiku kurasakan sukar dilepaskan adalah itu nona jelek didalam goa.."

Ho kie terperanjat.

"kau maksudkan, apakah cucu perempuan Thian sat sin kun itu?"

Tanyanya? Gouw Ya Pa anggukkan kepalanya.

"Benar! adalah cucu perempuannya orang tua itu. Deengan terus terang malam itu aku telah berbuat gelo!"

Ia mengakui dosanya. Ho kie lantas ingat apa yang dikatakan oleh Thian sat sin kun yang mengatakan bahwa ia telah mencemarkan kehormatan cucunya.

"Kau kata, apakah malam itu kau sudah berbuat tidak pantas dengan dia?"

"Eii, mengapa kau sudah tahu?"

"Toako, kau tidak usah bilang apa2 lagi. Soal ini aku sudah mengerti. Selanjutnya kau adalah cucu menantunya Thian sat sin kun. asal ada ksempatan sudah tentu aku akan menjelaskan persoalan itu padanya."

Gouw Ya Pa anggukkan kepala dengan perasaan bersyukur. Sambil menghela napas ia berkata pula.

"Ah! seumur hidup aku belum pernah mendekati orang perempuan. Tetapi pada saat itu entah apa sebabnya aku sudah berbuat begitu gelo. Saudara Hoa, kau toh tidak akan sesalkan aku?"

"Kenapa aku mesti sesalkan kau? soal ini......."

Pada saat itu mendadak ada orang memotong sambil ketawa dingin.

"Ho siaohiap, Lolap sudah lama menunggu kau."

HO kie terperanjat, ketika ia mengangkat wajahnya bukan main kagetnya.

Ternyata ia sudah dikurung oleh segerombolan manusia, diantara meraeka terdapat orang2 biasa, imam dan padri.

Jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang dan masing2 pada membawa senjata tajam.

Orang yang berdiri dibarisan terdepan ada tiga, satu memakai pakaian padri berwaran kuning, satu berdandan seperti orang biasa, dan yang satunya lagi memakai pakaian imam dan di punggungnya membawa pedang tua.

Terhadap orang2 ini, satupun tidak ada yang ia kenal, ia tidak mengerti, engapa mereka mengetahui namanya dan apa maksud mereka mengurung dirinya?

Ia berbangkit dengan perlahan, matanya menyapu kawanan orang2 itu dan akhirnya mengawasi si padri baju kunin.

Padri itu kira-kira sudah berusia tujuh puluhan tahun, alisnya yang panjang kelihatan menurun, matanya memancarkan sinar tajam.

Terang ia adalah seorang tua yang mempunyai dasar Iweekang yang sudah sempurna.

Ho kie bertanya dengan tenang.

"Lo suhu dari mana? mengapa mengetahui namaku yang rendah?"

"Ho siaohiap dalam waktu yang sangat singkat dengan mengandalkan kepandaianmu yang luar biasa telah membuat namamu terkenal di dunia kangouw. Sudah lama lolap mendengar kabar tentang dirimu, tetapi hari ini baru ada jodoh untuk kita saling bertemu."

Jawab sipadri baju kuning itu sambil tersenyum.

"Apa itu betul? Dan Lo suhu ada orang dari golongan mana?"

HO kie bertanya kaget.

"Lolap bergelar Hui-kat ketua dari Ngo bie pay."

Ho kie terperanjat, diam2 ia berpikir "Mengapa ciang bun jin Ngo bie pay juga datang kemari?"

Secepat2nya ia menindan perasaannya yang tegang lalu berkata pula sambil menyoja.

"Aku yang rendah baru saja terjun ke dunia kangouw, sehingga belum mengenal lo suhu.

Harap supaya Lo suhu suka memberi maaf.

Hui kak siansu cepat2 membalas hormat sambil merangkapkan kedua tangannya dan berkata sambil tertawa..

"Mana bisa begitu, sebaliknya adalah lolap yang terlalu ceroboh. Harap Ho siaohiap tidak kecil hati."

Ho kie lalu mengawasi orang tua yang berdandan biasa yang berdiri dikiri padri tadi, lalu berkata sambil menyoja dihadapannya.

"Harap cianpwe ini memberitahukna nama cianpwe yang mulia."

Orang tua yang berwajah kelimis dan berbadan kurus kering itu lantas menjawab sambil membalas hormat.

"Aku siorang tua bernama Tio Thian Ek, sekarang memangku jabatan ketua partay Tian-cong pay."

Kembali Ho kie terkejut. Kemudian memandang orang tua berpakaian imam. Belum membuka mulutnya, orang tua itu telah berkata dengan suara dingin.

"Nama pinto yang rendah, kiranya Ho siaohiap sudah pernah dengar!"

"Aku yang rendah masih belum mempunyai pengalaman apa2, bagaimana pernah dengar? "

Menjawab Ho kie heran.

"Pinto Thian-hian, ketua Hoa san pay, Ho siaohiap sudah melukai orang2 kami, dan menjatuhkan kedua sute pinto, apakah sudah lupa?"

Mendengar keterangan itu, Ho kie terkejut.

Ia menyapu orang2 disekitarnya.

mereka pada mengawasi padanya dengan sorot mata beringas, dengan tanpa banyak bicara mengurung dirinya.

Ia memang ada seorang muda beradat tinggi, menyaksikan keadaan demikian, sebaliknya lantas hilang rasa kedernya, lantas menjawab sambil ketawa dinign.

"Apa maksudmu totiang mengajak ketua Ngo-bie dan Tiam khong serta banyak orang ini mengurung aku yang rendah?"

"Ho siaohiap kita sebagai orang terang tidak perlu berbuat menggelap. Di Ngo kui cio kau telah membinasakan banyak jiwa, merampas benda pusaka kalajengking emas, kejadian ini belum berapa hari saja. apakah kau sudah lupa semuanya?"

Jawab Thian hian totiang sambil ketawa menyindir.

"Peristiwa di Ngo kui khiu, kenapa kau tidak berani menanyakan kepada Hian kui kauw?"

"Hian tancu dari Hian kui kauw, Li Hui Hoaw, juga terbinasa dalam kuburan tua. Ho siaohiap yang masih begini muda sungguh tidak nyana ada begitu cerdik, bisa menggunakan akal untuk melimpahkan dosanya kepada orang, supaya Hian kui kauw dengan Hoa san pay kedua partay saling bunuh dan kau sendiri akan memungut untungnya?"

Ho kie mendengar perkataan imam tua itu lantas gusar seketika.

"Totiang cuma berani menghina yang lemah dan takuti yang kuat. Kau tidak berani mengganggu Hian kui kauw, sebaliknya berlaku begini garang kepada diriku seorang yang lemah. Heh.. heh.. kau siorang she Ho meskipun cuma seorang diri, tapi tidak nanti takut kepada Hoa san pay yang mengandalkan jumlah banyak."

"Tutup mulut! Apa kau kira pinto tidak berani menempur kau sendirian?"

Hui kak siansu yang melihat kedua pihak sudah mau bergebrak cepat2 berkata dengan suara nyaring.

"Omitohud! Bolehkah Ho siaohiap dengar perkataan Lolap dulu?"

"Lo suhu adalah salah satu ketua dari partai besar, sudah tentu aku si orang she Ho akan hargakan perkataanmu!"

Jawab Ho kie.

"Hoa san pay telah kehilangan banyak orangnya di Ngo kui cio. Ho siaohiap boleh mengatakan tidak tahu tentang ini, tetapi itu kalajengking emas yang sangar berharga, apakah Ho siaohiap yang mengambil dari kuburan?"

Ho kie tercengang, dengan tidak berasa ia telah mundur satu tindak, Ia hanya bisa menjawab.

"Tentang ini....."

Ketua Tiam khong pay, Tio Thian Ek tiba2 nyeletuk.

"Orang she Ho! Seorang laki2 berani berbuat harus berani pula bertanggung jawab. Apakah kau hendak menurut perbuatannya manusia yang tidak tahu mau itu yang hendak cuci tangan begitu saja?"

Ho kie sangat gusar, mendadak ia mendongak dan ketawa bergelak-gelak..

Thian Hian totiang dengan sorot matanya yang beringas mendadak membentak dengan suara bengis "Bocah sombong!

apa yang kau ketawakan?"

"Ho kie adalah seorang laki2 sejati. Bagaimana tidak berani mengaku perbuatannya sendiir? Memang benar benda pusaka kalajengking emas itu adalah aku siorang she Ho yang mendapatkan. Tetapi bukannya didapatkan dari tangan orang2 Hoa san pay Lo Su Ie."

"Dari tangan siapa kau dapatkan barang itu?"

Memotong Thian hian Totiang.

"Aku dapat benda itu dari tangan siorang cebol, Shao Cu beng."

Thian hian totinga lalu mengawasi Hui kak siansu dan berkata padanya sambil ketawa dingin.

"Siansu sekarang kau bolehlah percaya bahwa ucapan pinto tidak bohong! Bocah she Ho ini perkataannya melantur tidak keruan. Benar2 menggemaskan."

"Omitohud! Anak muda jangan suka membohong."

"Perlu apa siansu banyak capaikan hati?"

Tio Thian Ek menyelak.

"Aku situa bangka sungguh tidak suka dengan sikap bocah yang kurang ajar ini. Lebih baik tangkap saja dan geledah dirinya."

Ho kie yang mendengar perkataan itu naik darah seketika.

"Ho siaohiap."

Hui kak Siansu berkata pula kepada Ho kie.

"Lolap hendak mengatakan sepatah kata yang mungkin tidak enak didengar. Kalajengking emas itu adalah kepunyaan Hoa san pay, sudah seharusnya kalau dikembalikan kepada Thian hian totiang. Dengan demikian, permusuhan kedua pihak boleh segera dihapuskan....."

"Tadi sudah kujelaskan dengan tegas, Benda itu sebenarnya bukan kepunyaan Hoa san pau, apalagi aku dapatkan itu dari tangannya si orang she Shao"

Jawab Ho kie gusar.

"Ho siaohiap tidak perlu membantah, Shao Cu beng sudah menjelaskan semua persoalan kepada Hoa san pau. Tidak seharusnya Ho siaohiap membunuh mati Lo Khungcu dan membawa kabur kalajengking emasnya."

"Mereka semua telah memfitnah aku. Apa yang bisa ku perbuat?"

"Orang she Ho, jangan banyak rewel. Kau mau keluarkan atau tidak?"

Membentak Tio Thian Ek.

"taruh kata kalajengking emas itu benar ada dibadanku, kau mau apa?"

Ho kie tetap tidak mau mengalah.

"Aku si tua bangka nanti suruh kau rasakan sendiri!"

Bentak Tio thian Ek yang lantas menghunus pedangnya. Ho kie lantas ketawa bergelak2 seraya berkata.

"Tuan2 telah mengandalkan pengaruh yang besar dan mendesak aku sedemikian rupa. Terpaksa aku melawan."

Tio Thian Ek hanya ketawa dingin.

ia lantas memutar pedangnya, dengan tipu serangan, Lo ma Hun ciong, pedangnya menikam dada Ho kie.

Ho kie hanya bertangan kosong, tidak membawa senjata apa2.

tetapi ia tidak takut...Kakinya digeser dan tangannya diputar, dengan berani ia menyambuti tangan Tio Thian Ek yang memegang pedang.

Gerak tipu anak muda itu yang sangat luar biasa cepatnya, membuat Tio Thian Ek terperanjat, sekalipun sudah merupakan seorang tua dengan banyak pengalaman ia juga masih merasa jeri.

Maka cepat2 ia menarik kembali serangannya dan sekali ini pedangnya digunakan untuk menyabet.

Ho kie yang sudah panas hatinya, telah turun tangan tanpa ragu2 lagi.

Dengan menggunakan tipu silatnya Hoan Eng sie sek, secara gesit sekali berseliweran diantara sinar pedang, sehingga membuat kawannya agak ripuh, Belum sampai lima jurus tangannya sudah berhasil nyelusup dan menepok sikut kanan lawannya.

Pedang lantas terlepas dari tangannya Tio Thian ek jatuh ketanah.

Tio Thian Ek hanya bisa berdiri menganga, keringat dingin membasahi badannya.

Orang2 yang mengepung Ho kie lantas pada berterika, sebentar saja sudah ada lima atau enam, orang yang maju menyerang berbareng.

Ho kie kembali menggunakan tangan kosong menyambuti serangan setiap orang.

Setelah terdengar beberapa kali suara benturan keras disusul oleh beberapa kali suara jeritan.

Ada empat atau lima orangnya Tiam cong pay yang sudah dibikin terpental dan jatuh ke tempat yang jauhnya lebih dari satu tombak.

"Sudah lama kudengar, sembilan partai besar yang katanya ada mempunyai banyak orang kuat. Tidak tahunya hanya begini saja!"

Kata Ho kie sambil ketawa dingin.

Orang2nya Ngo bie pay semua telah dibikin kesima oleh kekuatan Ho kie yang luar biasa itu, sehingga tidak ada seorang pun yang berani berlaku gegabah lagi.

Hui Kak siansu lalu berkata sambil rangkapkan tangannya.

"Omitohud! Ho siaohiap turun tangan terlalu kejam. Sebentar saja sudah melukai banyak orang. KEkejaman demikian barangkali akan menimbulan marahnya banyak orang!"

"Aku sebetulnya si orang she Ho tidak ingin melukai orang. Adalah kalian sendiir yang mendesak aku berbuat demikian."

jawab Ho kie sambil ketawa dingin. Tiba2 terdengar suara bentakan keras dan Thian hian Totiang sudah melompat menghadapi Ho kie.

"Bocah she Ho, jangan terlalu jumawa. Pinto hendak menghajar kau.!"

"Boleh coba saja!"

Ho kie menantang. Thian hian totiang lalu berseru kepada orang2nya dengan suara nyaring.

"Semua anak murid Hoa san hanya diperbolehkan menonton, dilarang bergerak jika tidak ada perintah."

Kiranya ia sudah mengetahui kekuatan Ho kie yang demikian hebat, ia kuatirkan jika dirinya sendiri kalah, nanti anak muridnya akan menyerbu dan tentu mengakibatkan jatuhnya banyak korban seperti apa yang telah terjadi pada anak muridnya Tiam cong pay.

"Sebetulnya Totiang tidak usah terlalu merendah, suruh saja mereka maju berbareng, aku tidak takut!"

Thian-hian Totiang yang sudah gusar benar benar lalu melancarkan serangannya dengan hebat.

Begitu juga Ho Kie yang sangat benci kepada imam yang hendak memfitnah dirinya ini, ia sengaja tidak menyingkir maupun berkelit, dengan kedua tangannya ia menyambut serangannya Thian-hian Totiang.

Kedua pihak telah menggunakan kekuatan lebih dari tujuh bagian, maka sebelum kedua kekuatan saling beradu, angin keras sudah mengaung lebih dulu.

Sebentar kemudian lalu kedengaran suara benturan hebat.

Ho Kie mundur satu tindak, pundaknya tergoyang, sedangkan Thian hian Totiang harus mundur sampai tiga tindak baru bisa berdiri tegak lagi.

Ketua Hoa-san-pay itu hatinya merasa kaget bukan main.

Pantas bocah ini berani berlaku begitu jumawa.

Dalam usia yang begini muda ternyata sudah mempunyai kekuatan begitu hebat.

Demikian siimam itu berpikir, dan seketika itu lantas tidak berani memandang ringan lawannya, diam2 ia memusatkan seluruh kekuatannya dikedua tangannya.

Ho Kie memandang gerak gerik Thian-hian Totiang dengan tidak bergerak-Mendadak terdengar bentakan Thian-hian Totiang yang dibarengi dengan serangan tangannya.

Kembali Ho Kie menyambuti serangan itu, sehingga suara benturan terdengar pula.

Sekarang masing2 mundur tiga tindak.

Ho Kie merasa luka lama dilengan kirinya jadi linu kembali, cepat2 ia mengatur pernapasannya untuk menghadapi kembali serangan lawannya, Sebaliknya Thian hian Totiang merasakan isi perutnya seperti diudal.

Hampir saja ia mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya.

Kini ia telah mengerti, bahwa anak muda dihadapannya ini mempunyai kekuatan yang tidak dibawah kekuatannya sendiri.

Kecuali terluka kedua duanya, ia sebetulnya sudah merasa tidak ungkulan untuk menundukkan padanya.

Dalam kedudukan sebagai ketua, jika sampai ia dikalahkan oleh musuhnya yang muda ini, bukankah akan menjadi buah tertawaan dunia rimba persilatan?

Otaknya diasah mencari akal, diam2 timbul pikiran jahatnya, bahkan lantas berkata sambil ketawa dingin ;

"Binatang, apa kau berani bertanding pedang dengan pinto?"

"Kau hendak menggunakan pedang? Terserah pedamu sendiri ! Aku siorang she Ho selamanya tidak pernah menggunakan senjata."

Thian hian totiang tidak menantikan Ho Kie selesai bicara, lantas ulapkan tangannya dan berseru .

"Minta pedang!"

Seorang laki laki berpakaian imam lantas menyahut dan melemparkan sebilah pedang Ceng kong kiam.

Thian hian Totiang menyambuti, kemudian ditancapkannya ditengah dan lantas berkata dengan suara dingin .

"Kalau pinto menggunakan pedang sendiri-meskipun dapat merebut kemenangan, tetapi itu tidak jujur. Sekarang kau boleh menggunakan pedang ini, mari kita main main beberapa jurus."

Ho Kie melihat pedang yang menancap itu masih menggetar, maka diam2 lantas berpikir.

"Kalau aku tidak mau menggunakan pedang, tentunya akan ditertawakan orang."

Setelah berpikir demikian ia lalu mengulurkan lengannya untuk mencabut pedang tersebut. -oo0dw0oo-

Jilid 8 THIAN HIAN Totiang ketawa bergelak gelak.

"bocah she Ho, kalau kita bertempur nanti, kau tidak usah sungkan2. Pinto akan pertaruhkan jiwa yang sudah tua ini. Kalau masih belum mendapatkan keputusan, siapapun tidak boleh berhenti !"

Sehabis berkata lantas menghunus pedangnya.

Pedang tua itu, seluruhnya memperlihatkan warna ungu kehitam hitaman serta memancarkan sinar yang berwarna serupa pula.

Terang pedang itu pedang pusaka, Sebaliknya pedang ditangan Ho Kie hanya merupakan pedang biasa saja, dengan perbandingan itu saja pedang Ho Kie bukannya tandingan pedang lawannya.

Thian-hian Totiang sebagai ketua dari salah satu partai besar, ternyata tidak malu menggunakan akal muslihat yang begitu rendah untuk merebut kemenangan.

jika hal itu tersiar di dalam Kang-ouw, pasti akan menjadi buah tertawaan orang banyak.

Tetapi pada saat itu ia sudah bernapsu benar hendak mengambil jiwanya Ho Kie, maka ia sudah tidak memikirkan lagi dirinya nanti akan dicaci maki dan mendapatkan nama busuk.

Setelah mempersilahkan Ho Kie bersiap, ia lantas mulai menyerang dengan pedangnya.

SejaK Ho Kie belajar ilmu silat dilembah Toa-thenp gay, belum pernah ia menggunakan senjata tajam, maka ilmu pedangnya tidak dapat dibandingkan dengan ilmu pedang Thiau hian Totiang yang sudah terkenal sebagai akhli pedang.

Ketika melihat pedang Thian hian Totiang sudah menikam dirinya, dengan tidak banyak pikir pula ia cepat2 menangkis dengan pedangnya.

Thian-hian Totiang ketawa dingin, ia memutar pedangnya sehingga membuat lingkaran besar.

Ho Kie terperanjat, dengan sendirinya lantas mengeluarkan serangan tangannya sambil mundur beberapa tindak......

Thian hian Totiang semula sabetannya hendak memapas pedang ditangan lawannya yang kemudian akan mengambil jiwa lawannya itu.

Sungguh tidak disangkanya Ho Kie ada demikian cerdik dan tangkas, begitu melihat gelagat kurang menguntungkan lantas mundur sambil mengeluarkan serangan tangannya, sehingga dapat mencegah maksud siimam yang jahat itu.

Thian hian Totiang sudah kalap benar.

Setelah serangannya yang pertama dibikin gagal, kembali mengeluarkan serangannya beruntun tiga kali, Ilmu pedang Hoa-san-pay memang sudah sangat terkenal didunia persilatan.

jangan kata Ho Kie yang tidak pernah menggunakan pedang sebelumnya, sekalipun bagi orang yang sering menggunakan pedang juga masih sukar menandingi Thian hian totiang yang sudah mempunyai latihan beberapa puluh tahun lamanya.

Betul saja, serangan pedang itu sudah membuat Ho Kie kelabakan.

Ia merasa seperti dirinya sudah terkurung oleh pedang imam itu.

Dalam kagetnya, mendadak ia dapatkan satu pikiran yang aneh.

Sekarang ia tidak lagi menangkis atau menyambuti, juga tidak balas menyerang, hanya dengan menggeser2kan kakinya ia melepaskan diri dari ancaman pedang lawannya dan perlahan lahan sudah berada dibelakaug imam itu.

Thian hian Totiang yang sedang merasa bangga, mendadak telah kehilangan lawan, kemudian dibelakangnya tiba2 suara Ho Kie berkata .

"Totiang, lihat pedang!"

Dan ternyata ujung pedang sudah menempel, dipunggungnya.

Thian hian Totiang terkejut, secepat kilat ia membalikan tangannya dan menyambuti.

Setelah suara Tranngg!!

Terdengar nyaring, tangan Ho Kie mendadak dirasakan ringan, ternyata pedangnya sudah terpapas kutung.

Dalam kagetnya, Thian hian Totiang sudah membalikkan badannya dan membabat dengan pedangnya.

Ho Kie terperanjat-Kembali ia menggunakan ilmu Hui kat hian kangnya dengan cepat kembali sudah berada dibelakang dirinya Thian hian Totiang, Kali ini ia sudah mempunyai pengalaman, ia tidak menggunakan pedangnya lagi, melainkan dengan tangan kirinya ia menyerang punggung si Imam.

Thian hian Totiang yang seumur hidupnya belum pernah menyaksikan ilmu silat yang demikian aneh, dengan cepat memutar kembali tubuhnya, tetapi kembali Ho Kie juga sudah menghilang.

Ia tahu, bahwa Ho Kie pasti sudah berada dibelakang dirinya.

Selagi hendak menyerang dengan pedangnya tiba2 Ho Kie sudah mengancam jalan darah Leng tay hiat pada panggungnya.

Bukan main terkejutnya imam itu, ia tidak keburu memutar tubuhnya lagi.

terpaksa harus lompat melesat tinggi dan setelah berjungkir balik ditengah udara lalu melayang turun sejauh satu tumbak lebih.

Meskipun gerakannya itu sudah cukup gesit, tetapi ketika orangnya melesat keatas, paha kirinya sudah kena serangannya Ho Kie sehingga ketika melayang turun ditanah ia sempoyongan dan hampir saja jatuh duduk ditanah.

Ho Kie ketawa dingin, ia lantas lemparkan pedangnya yang tinggal sepotong, kemudian memburu sambil ayun tangannya.

"jangan lari!! Sambut lagi seranganku!!"

Katanya Tian hian Totiang sudah tidak mempunyai tempat untuk menyingkirkan diri lagi.

jika ia menyambuti dengan tangannya, pasti akan terluka dibawah serangan Ho Kie yang hebat.

Oleh karenanya, maka ia lantas hendak berlaku nekad, pedangnya disambitkan dan meluncur kearah Ho Kie.

Tiba2 terdengar bentakan keras.

"Jangaa !!!"

Sesosok bayangan kuning dengan cepat telah maju, tangan kirinya diputar untuk menyambuti pedang Thian hian Totiang.

sedangkan tangan kanannya digunakan untuk menghalau serangan Ho Kie.

Meskipun tindakannya itu telah berhasil, tetapi karena kekuatan tangan dan pedang tadi ada sangat hebat, maka tidak urung dirinya sendiri juga terdorong sampai tiga tindak jauhnya.

Ho Kie melihat bahwa orang yang memisahkan tadi ternyata adalah ketua dari Ngo bie pay, Hui Kak Siansu.

Dalam hati ia merasa tidak senang, maka ia lantas berkata sambil tertawa dingin .

"Apa kalian hendak mengandalkan jumlah orang banyak hendak menghadapi aku siorang she Ho secara bergiliran?"

Setelah membalikkan pedangnya Thian hian Totiang, Hui Kak Siansu lalu menjawab pertanyaan Ho Kie sambil rangkapkan kedua tangannya "Omitohud!

Lolap karena memandang Buddha yang welas asih, hanya mengharapkan supaya permusuhan kalian kedua pihak dibikin hahis sampai disini saja."

"Tidak usah banyak bicara dihadapanku, sekalipun kalian maju semua, aku si orang sbe Ho juga tidak takut" .

"Ho siauhiap demikian mengagulkan diri sendiri, apa kau sudah menganggap bahwa kepandaianmu ini sudah tidak ada orang lagi yang mampu menandingi?"

"Apa kau juga ingin mencoba?"

"Meskipun lolap seorang bodoh dan tidak berguna, tetapi ingin mencoba kekuatan Siaohiap."

"Baiklah. Sambutlah seranganku ini !!"

Dengan cepat Ho Kie lalu mengerahkan serangannya yang segera disambut oleh Hui kak Siansu.

Ketika kedua kekuatan saling beradu, lantas terdengar suara nyaring.

Hui kak Siansu terdorong mundur dua tindak, maka dalam hati juga merasa heran.

"Sungguh hebat!"

Demikian pikirnya.

Ho Kie juga terpental mundur sampai tiga tindak, darah segar hampir saja keluar dari mulutnya, tetapi ia tidak mau menunjukkan kelemahannya, maka darah itu ditelan kembali dan kemudian berkata sambil tertawa .

"Siansu, kau rasa bagaimana?"

"Siancay!! Siancay!! Hampir saja lolap tidak sanggup."

"Toa suhu, sekarang sambut lagi seranganku!!"

Adu kekuatan untuk kedua kalinya telah terjadi, Meskipun Ho Kie mempunyai kekuatan sangat tinggi, tetapi ia yang sudah dengan beruntun menghadapi tiga musuh kuat.

kekuatan tenaganya sudab tentu berkurang.

Apa lagi harus menghadapi Hui-kak Siansu yang kekuatannya masih diatas kekuatan Thian hian Totinag dan Tio Thiao Ek, maka ketika mengadu kekuatannya yang kedua kali, Hui-kak Siansu terdampar mundur satu sampai lima tindak, dadanya dirasakan sakit, tetapi Ho Kie sendiri sudah terdampar sampai tujuh tindak, dan sekali ini darah segar sudah keluar dari mulutnya, maka ia lantas cepat2 duduk bersemedi untuk mengatur pernapasannya.

Tio Thian Ek yang menyaksikan itu, hatinya merasa girang, dengan tidak banyak rewel lagi ia lantas lari menghampiri.

Ia sudah napsu besar untuk mendapatkan Kalajengking emas itu, maka dangan tidak memperdulikan Ho Kie yang sedang terluka itu, ia lantas merobek bajunya.

Baju Ho Kie robek menjadi dua potong.

Selagi tangan Tio Thian Ek hendak mengambil Kalajengking emas, siapa tahu telah menemukan sesuatu benda yang tidak terdugaduga...

Ketika ia menyaksikan benda tersebut, wajahnya berubah seketika, kedua tangannya gemetaran, perasaannya menegang, kedua kakinya lemas kemudian berlutut dihadapan Ho Kie dengan lakunya yang sangat hormat seraya berkata.

"Ciang bun-jin Tiam-khong pay keturunan ketiga puluh, Tio Thian Ek disini menerima dosa."

Thian-hian totiang yang menyaksikan keadaan demikian merasa bingung sendiri ia buru2 menghampiri dan ketika ia dapat lihat benda itu, wajahnya juga berubah seketika, kemudian berlutut sembari berkata dengan sikap hormat .

"Ciang bun jin Hoa-san-pay keturunan ke-7 Thian Hian menerima dosa!"

Hui Kak Siansu mengerutkan alisnya setelah mengebutkan bajunya, ia lantas maju menghampiri.

Ketika menampak benda tersebut, buru2 mundur 3 tindak, sambil rangkapkan kedua tangannya.

Dengan sikap yang menghormat sekali ia berlutut sambil berkata.

"Ciang bun jin Ngo-bie pay keturunan ke 40, Hui Kak disini menerima dosa!"

Kejadian ini telah mengejutkan semua orang yang menjadi murid2nya ketiga partai besar itu.

mereka saling memandang, tidak mengerti apa sebabnya ketua mereka itu mendadak berlaku demikian terhadap lawannya!

Tapi, karena mereka semua merupakan anak murid ketiga partai besar itu, menampak ketua mereka berlaku demikian, terpaksa pada melemparkan senjata masing2 dan lantas berlutut dibelakang ketuanya.

-oo0dw0oo-SETELAH hening sekian lamanya, Ho Kie per-lahan2 membuka mata.

Ketika ia menampak semua orang2 dari ketiga partai itu berlutut dihadapannya, hatinya menjadi heran, maka lantas lompat bangun.

Mendadak ia rasakan dadanya dingin, ia baru tahu kalau bajunya telah terobek, hingga kelihatan dadanya.

Ia jadi semakin heran, apakah mereka semua sudah gila?

Tentu tidak!!

Hal ini mesti ada sebabnya.

Ia coba memeriksa keadaan dirinya sendiri, kecuali rantai dan tanda emas yang dikalungkan dilehernya oleh ayahnya, tidak kedapatan apa2 lagi Apakah benda ini yang menyebabkan orang2 ketiga partay berlutut dihadapannya?

ia bingung sendiri lalu meraba-raba kalungnya itu.

Itu hanya sembilan buah rantai yang terbuat dari emas biasa, dibawah masing2 rantai ada tergantung sebuah lempengan emas kecil yang ada lukisannya 9 orang dengan ber-macam2 dandanannya.

Ada yang berpakaian paderi, imam dan biasa ...

Benda itu tidak ada apa2 yang aneh apakah benda ini mempunyai pengaruh gaib?

Ia menebak3 dalam hati sendiri.

Ia memang ada seorang cerdas, setelah berpikir lagi, lantas dapat menduga bahwa sembilan buah rantai ini pasti ada mempunyai riwayatnya yang penting.

Ia coba berlaku tenang, dengan suara dingin ia berkata kepada mereka ;

"Apa kalian sudah tahu dosa sendiri?"

Hui Kak Siansu buru2 menjawab sanbil tundukan kepala.

"Kami sesungguhnya tidak tahu kalau Ho Siaohiap adalah Kiu hoa Sang. jeng Lengcu (pemegang kuasa tanda pusaka 9 partay}, atas kedosaan kami, kami semua rela menerima hukuman!"

Ho Kie terperanjat.

Benda dilehernya itu kiranya adalah Kiu-hoan Seng-leng yang dibuat oleh 9 partay besar dirimba persilatan.

Mengenai benda ini dahulu pernah diberitahukan kepada Toan-theng Lojin, tidak tahunya kalau itu berada dibadannya sendiri.

Kalau waktu itu ia tahu benda tersebut dibadannya, niscaya Toan-theng Lojin tidak perlu turun gunung lagi, sehingga dibikin celAka oleh orang-Cian-tok Jin-mo yang sampai sekarang belum ketahuan nasibnya.

Dengan pikiran kusut Ho Kie memegang rantai kalungnya itu.

setelah termenung sekian lamanya, mendadak ia ingat pesan ayahnya tentang benda yang menyangkut nasibnya 9 partai besar dirimba persilatan.

Itu adalah Kiu-hoan Seng leng!

Kalau tidak karena benda ini, ayahnya tidak akan binasa dilembah Kui-kok, Toantheng Lojin juga tidak akan menderita kecelakaan......

Kalau mengingat itu, Ia benci kepada 9 partai besar itu mengapa menciptakan benda yang membawa malapetaka demikian?

Ia bolak balik memeriksa benda emas itu, 9 orang yang terukir diatas lempengan emas adalah "Ciang-bun Cowsu dari 9 partai yang menciptakan Kiu-goan Seng-leng ini.

Mereka telah mengukirnya pada masing2 lempengan emas ini sebagai tanda perhubungan erat antara kesembilan partai supaya anak muridnya dari masing2 partai dikemudian hari menjunjung tinggi dan menghormati orang yang membawa tanda ini.

Tetapi benda itu sekarang dimata Ho Kie merupakan tanda yang telah menyebabkan kematian ayahnya, sehingga ia menjadi seorang piatu yang ter luntah2.

Perasaan itu telah membuat ia benci kepada Kiu hoan leng.

Mendadak ia menarik benda itu dari lehernya.

Para ketua dari Ngo bie, Hoa san dan Cian khong semua pada berseru kaget, Hui Kak Siansu lantas menanya dengan gelisah .

"Ho Siaohiap, kau menghendaki apa?"

Ho Kie tidak menjawab, ia hanya memegang Kiu hoan lengnya erat2. Akhirnya ia berkata .

"Baik! Aku hendak........"

Semula ia pikir hendak menghancurkan benda yang membawa malapetaka ini, tetapi kemudian dapat berpikir lain, benda ini adalah peninggalan ayahnya yang diberikan kepadanya dengan taruhan jiwa.

Kalau sekarang dirusak, bukankah itu berarti akan mengecewakan roh ayahnya?

Pada saat itu ia mendadak ingat Gouw Ya Pa yang sedang terluka parah, maka ia berkata dengan perlahan .

"Diantara kalian siapa yang membawa obat luka didalam ?"

Hui Kak Siansu menjawab dengan segera..

"Lolap ada membawa Sam-yang Pek-po wan. obat dan Ngo-bie-pay, khusus untuk luka dalam, Apa Ho siauhiap ingin menggunakannya?"

"Lekas kau keluarkan dan coba obati sahabatku yang luka itu."

"Baiklah."

Hui Kak Siansu lalu memeriksa luka Gouw Ya Pa, tetapi ia kemudian mengerutkan alisnya yang panjang dan berkata dengan suara sungguh2 ;

"Ho Siaohiap ilmu yang dilatih oleh sahabatmu ini telah dibikin buyar, ditambah lagi karena banyak bicara, barangkali,......."

"Bagaimana? Apa masih bisa disembuhkan dengan obatmu?"

Tanya Ho Kie cemas.

"Untuk menyembuhkan saja sih bisa tetapi harus dibantu oleh orang yang mempunyai ilmu lwekang yang mahir sekali supaya lekas berhasil" . jawab sipaderi.

"Kalau begitu, tolong Toa suhu saja yang melaksanakan itu."

"Kekuatan Lolap seorang ada batasnya, mungkin tidak sanggup melaksanakannya."

Ho Kie lantas berkata kepada Hoa-san dan Tiam khong dengan suara nyaring..

"Ciang bun jin Hoa san dan Tiam khong dengar perintah !"

Thian hian totiang dan Tio Thian Ek lalu majukan diri berbareng dan menjawab.

"Murid Hoa san dan Tiam khong disini menantikan perintah Lengcu."

"Kalian berdua membantu Hui Kak Siansu dengan secara bergiliran mengobati luka sahabatku itu!"

Kedua orang itu saling pandang, tidak ada yang berani membantah, lalu menghampiri Hui Kak Siansu.

Ho Kie mengawasi sambil berdiri.

Kini telah didapatkan kenyataan bahwa Ciang bun-jin dan ketiga partai besar itu sudah menurut segala perintahnya, maka dalam hatinya diam diam merasa senang juga.

Pada taat itu ia telah melihat anak muridnya ketiga partai itu masih terus berlutut, maka lantas diperintahkan supaya bangun semua.

Sekarang ia merasa seperti dirinya sudah menjadi seorang yang berkuasa atas semua orangdari ketiga partai itu.

Dua tahun berselang, ia masih merupakan satu anak piatu yang dikejar kejar oleh malaikat elmaut, tetapi hari ini, dua tahun kemudian, sungguh tidak disangka ia telah menjadi Bengcu dari sembilan partai besar, yang setiap waktu dapat memberikan perintahnya kepada orang2nya sembilan partai itu.

Pada saat itu, Hui Kak Siansu sudah mulai mengobati luka Gouw Ya Pa sehingga keadaan disitu menjadi sunyi sekali.

Sang waktu perlahan2 sudah berlalu.

Wajahnya Gouw Ya Pa per-lahan2 kelihatan memerah.

Ketika ia membuka matanya.

Ho Kie angkat bicara sambil tertawa;

"Gouw toako apa kau merasa baikan?"

Gouw Ya Pa tidak menjawab, sebaliktnya malahan bertanya;

"Ini.. ..apakah artinya?"

"Tidak apa2, aku hanya minta beberapa siansu ini untuk menolong mengobati lukamu!!"

Gouw Ya Pa mengawasi ketiga Ciang bun jin itu, lantas bertanya dengan terheran-.

"Eh. Dari mana kau dapatkan kawanan imam dan kepala gundul ini?"

Thian hian Totiang, Thio Thian Ek dan Hui Kak Siansu wajahnya merah seketika tetapi tidak berani buka suara.

"Gouw Toako."

Ho Kie berkata dengan sungguh2

"jangan membikin sakit hati orang. Siansu dan Totiang ini sudah menghamburkan tenaga dalam yang tidak sedikit untuk menyembuhkan lukamu."

Gouw Ya Pa lantas lompat bangun.

"Apa betul?"

Katanya dengan keheran heranan.

cepat ia memberi hormat kepada Hui Kak, Thian hian dan Tio Thian Ek bertiga untuk mengucapkan terima kasihnya sambil menyoja.

Hui Kak Siansu sambil rangkapkan kedua tangannya berkata .

"Omitohud! Gouw Sicu adalah seorang yang berwatak polos. Semua perkataannya hanya dimulut saja, tetapi tidak disengaja, maka tidak perlu dikesalkan!"

Setelah berpikir sejenak Ho Kie lalu berkata..

"Sekarang kaki tangan-Hian kui kau telah tersebar luas, Mereka sangat bernapsu hendak menguasai dunia, mengapa kalian orang dari sembilan partai besar seolah olah seperti menutup mata dan tutup telinga sehingga tidak ada seorangpun yang berani bertindak terhadap mereka?"

Hui Kak Siansu sambil bungkukkan badan, menjawab ;

"Lolap sekalian, meskipun sudah mampunyai pikiran begitu, tetapi apa mau Cian tok Jin mo itu mempunyai ilmu silat yang tinggi sekali, pengaruh Hian kui kauw juga sangat besar........."

"Menumpas kejahatan harus sungguh2 hati, bagaimana boleh merasa takut?

Sekarang aku sebagai Kiu hoan leng Lengcu memerintahkan kalian, orang2 dari ketiga partai, supaya segera memberitahu kepada para ketua dari enam partai besar lainnya, dalam waktu satu bulan semua sudah harus berkumpul dilembah Kui kok untuk mendengar perintahku lebih lanjut.

Thian hian Totiang dan lain2 ketika mendengar itu, pada berubah wajahnya.

"Perintah Lengcu sudah seharusnya kami taati."

Hui Kak Siansu berkata.

"Tetapi orang2 dari enam partai lainnya itu ada tersebar diseluruh dunia. satu bulan saja barang kali tidak cukup untuk menyampaikan perintah ini!!"

"Biar bagaimana, nanti pada tanggal sembilan bulan sembilan semua harus sudah berkumpul dilembah Kui kok. Siapa yang melanggar akan dapat hukuman berat!"

"Lolap akan perhatikan perintah ini, sekarang lolap akan segera memberi tahukan kepada Bu tong dan Kun lun yang terdekat dan sini."

Jawab Hui Kak sambil anggukkan kepala .

"Pinto akan menyampaikan perintah ini kepada Ceng sia dan Siauw Lim."

Tio Thian Ek juga berjanji.

"Aku situa bangka ingin mengabarkan kepada Khong thong dan Kiong Say "

"Baiklah! Harap Cuwie segera berangkat."

Ho Kie berkata sambil ketawa.

"Pada tanggal sembilan bulan sembilan nanti kita bertemu lagi dibawah bukit Pek kut nia!"

Setelah memberi hormat, ketua dari ketiga partai itu dengan mengajak anak murid masing2 lantas berlalu untuk melakukan kewajiban mereka sendiri2, Gouw Ya Pa yang menyaksikan para imam dan padri itu begitu hormat sikapnya terhadap Ho Kie.

dalam hati merasa heran dan tidak habis mengerti.

Mengapa sababatnya ini mempunyai pengaruh yang begitu besar.

Ho Kie lantas menanyakan bagaimana keadaan Gouw Ya Pa saat itu, siapa segera menjawab sambil anggukkan kepala .

"Kawanan kepala gundul itu benar2 mempunyai ilmu gaib. Sekarang keadaanku sudah sama seperti sebelum terluka."

Setelah mengetahui bahwa luka sahabat itu sudah sembuh benar, Ho Kie lantas ajak ia melanjutkan perjalanannya......

Beberapa bulan telah berlalu.

Ho Kie dau Gouw Ya Pa telah tiba dikaki bukit Pek kut nia.

Ho Kie menghitung waktunya yang di janjikan dengan sembilan partai besar itu, maka ia lantas mengajak Gouw Ya Pa dengan jalan memutar mereka pergi kelembah Patah hati.

Lembah yang merupakan tempat yang digunakan oleh Ho Kie untuk belajar ilmu silat, keadaannya sama seperti dahulu, sedikitpun tidak ada yang berubah.

Hanya untuk kedua kalinya Ho Kie datang disitu semua terjadi semua yang lampau.

Dengan tindakan perlahan ia ajak Gouw Ya Pa kegoa Pek giok kiong yang pernah di diami dua tahun lamanya.

Baru saja mereka tiba dimulut goa, mendadak hati Ho Kie terguncang.

ia hentikan tindakan kakinya dengan segera ia telah mendapat kenyataan bahwa keadaan dalam goa itu sudah berbeda sama sekali.

Dalam goa yang luas, yang tadinya kosong melompong, sekarang sudah penuh dengan segala perabotan rumah tangga, keadaan lantainyapun amat bersih.

Ho Kie memandang dengan melongo sebentar.

mendadak timbul rasa gusarnya sambil kertak gigi ia berkata .

"Siapa orangnya yang mempunyai nyali begitu berani menempati Pek giok kiong ini? Nanti kuberikan hajaran tanpa ampun1!!"

Dengan tindakan lebar ia terus berjalan masuk.

Ketika ia sudah berada didalam, dilihatnya pada satu sudut terdapat sebuah meja sembahyang.

Ho Kie lalu lompat menghampiri.

ketika ia dongakkan kepala ia merasa heran, dengan tidak merasa ia telah mundur tiga tindak.

Gouw Ya Pa cepat2 menghampirinya.

"Lautee, apa yang telah terjadi?"

Tanyanya heran. Ho Kie menjawab sambil manunjuk pada meja sembahyang .

"Entah ini perbuatan siapa......?"

Gouw Ya Pa mengawasi keatas meja sembahyang, kepapan yang bertulisan dengan tinta mas . Thoan theng Lojin, penghuni Pek giok kiong di Lembah Patah Hati.

"Aaa..! Apakah dia siorang tua sudah binasa?"

Gouw Ya Pa berseru kaget.

"Ngaco !"

Ho Kie membentak.

"Bagaimana dia bisa binasa? Ini pasti adalah perbuatan orang dengan sengaja, aku harus bisa menangkap orang yang menulis ini supaya bisa kuhajar mampus baru aku puas!!."

Dalam sengitnya Ho Kie sudah hendak menghajar meja sembahyang abu tersebut. Tapi Gouw Ya Pa cepat2 mencegah sembari berkata .

"Sabar dulu......"

Ho Kie lantas urungkan maksudnya dan bertanya dengan mata mendelik .

"Kenapa?"

"Kita masih belum tahu benar tentang mati hidupnya Thoan Theng Lojin, maka meja sembahyang ini baiknya kita biarkan dulu. Kalau kau hajar berantakan kemudiaa ternyata hal itu memang benar, bukankah kita harus membuat meja sembahyang lagi?"

Tapi Ho Kie tidak ambil pusing pikiran Gouw Ya Pa. sebab ia sudah menghajar meja sembahyang itu sehingga hancur berantakan.

"Sayang! Sayang!"

Gouw Ya Pa berkata sambil gelengkan kepala.

"Kalau aku yang binasa, barangkali tidak ada orang yang mau membuatkan meja sembahyang yang seperti ini."

Ho Kie yang masih belum reda amarahnya, lalu memeriksa keadaan disekitarnya.

Ketika mendapat kenyataan bahwa disitu sudah tidak ada orang lagi, ia lalu masuk ke bagian dalam.

Goa bagian dalam itu memang tidak begitu luas, dulu digunakan oleh Toan-theng Lojin untuk melatih ilmunya.

Waktu Ho Kie seorang diri tinggal disitu dua tahun lamanya, ia tahu bahwa dalam ruangan itu hanya terdapat sebuah kasur tua yang digunakan untuk bersemedi, tetapi sekarang, ketika ia tiba ditempat itu, sesaat lamanya ia telah dibuat kesima, Dalam ruangan itu, lantainya digelari permadani indah, sebuah tempat tidur baru diletakkan disitu sudut.

Diatas pembaringan ada kasur lengkap dengan bantal gulingnya, serta bau harum yang semerbak.

Didekat pintu ada sebuah meja tulis besar, dua meja teh dan dua kursi besar.

Diatas meja terdapat lengkap dengan perabot tulisnya serta beberapa

Jilid buku.

Diatas meja teh, situ diantaranya ada tempat hio yang masih mengepulkan asap.

Dari situ ternyata bahwa orang yang memasang hio itu mungkin belum lama berlalu.

Dengan diliputi oleh teka teki, Ho Kie, dengan tindakan perlahan berjalan masuk kedalam kamar, Diatas meja tulis terdapat sepotong kertas yang ada tulisannya berbunyi sebagai berikut ; Sudah kuduga, Longkun (sebutan wanita bagi kaum pria) pasti akan kembali, maka telah kusediakan tempat tidur dan hio.

Suhumu telah pulang kerakhmatulah karena lukanya.

Sebelum menarik napas yang penghabisan dia telah meninggalkan pesan kepada Ciat (sebutan diri sendiri bagi kaum wanita), jangan sekali kali Longkun sembarangan menempuh bahaya memasuki lembah Kui-kok sebelum berhasil dengan kepandaianmu sendiri, harus bisa menahan sabar.

Tulisan ini terang ditujukan kepada Ho Kie, tetapi tidak disebutkan namanya, begitu juga penulisnya, maka ia juga tidak mengetahui siapa orangnya yang meninggalkan surat itu.

Dengan badan bergemetaran dan air mata bercucuran Ho Kie terus mengawasi surat itu.

Akhirnya ia gelengkan kepala berulang2 sambil berkata sendiri .

"Tidak!!! ini tidak benar...."

Gouw Ya Pa lalu mendekati ketika melihat tulisan diatas kertas, ia lantas menggeram.

"Ini pasti adalah perbuatan bangsat, Kita jangan pencaya saja!!!"

Ho Kie berkata pula dengan suara sedih.

"Gouw Toako, aku minta tolong kau menyelesaikan satu urusan, apa kau terima?"

"Adikku yang baik, kau masih ada urusan apa? Apa bila aku mampu mengerjakan, apa juga perintahmu aku lakukan!"

Si tolol pelembungkan dada. Ho Kie lantas membuka rantai kalungnya dan diserahkan kepada Gouw Ya Pa sembari berkata ;

"Aku minta tolong kau, tiga hari kemudian dengan membawa tanda ini kau mewakili aku untuk mengadakan pertemuan dengan orang2 dari sembilan partai besar, kemudian ajak mereka langsung kelembah Kui-kok."

"Dan kau sendiri ?"

Tanya Gouw Ya pa heran.

"Aku sudah tidak sabaran dalam hal Toan Kheng Lojin. Aku akan berangkat dengan segera kelembah Kui kok. Kalau orangnya masih ada aku akan menemui orang, tetapi kalau orangnya sudah binasa, aku akan menemukan bangkainya......,."

"Ho Lauwtee, kau jangan perbuat demikian. Biar bagaimana kita harus tunggu dulu tiga hari dengan orang banyak mudah untuk ktta turun tangan. kalau kau pergi seorang diri bukankah seperti mengantarkan jiwa dengan percuma? Bila pergi tidak bisa kembali."

"jiwaku ini memang dulu ditolong Toan theng Lojin, sekalipun aku harus binasa di lembah Kui-kok, aku rela hitung2 membalas budinya dia siorang tua........"

Sehabis berkata ia sudah lantas berlalu meninggalkan ruangan, Gouw Ya Pa cepat2 mengejar.

"Lauwtee, tunggu sebentar......Aku akan pergi bersama2 dengan kau...."

Serunya.

"Gouw Taoko, kalau kau anggap aku sebagui saudaramu, sukalah kau turut pesanku. Kau terus berdiam disini. jika dalam waktu tiga hari aku masih belum kembali, aku minta kau lantas pimpin para ketua dan sembilan partai besar pergi kelembah Kui-kok untuk menuntut balas. Kalau kau tidak mau, itu berarti kau tidak pandang saudara denganku!!"

"Aku..... Aku sebetulnya tidak tega melepaskan kau seorang diri,.

"Mati atau hidup, itulah sudsh di takdirkan Tuhan. Gouw Toako, kau adalah seorag laki2 mengapa berlaku seperti orang perempuan?"

Gouw Ya Pa membisu.

Dengan sorot mata terkuatir ia mengawasi berlalunya Ho Kie.

Hari sudah mulai malam, Kabut tebal menutupi bukit Pek-kut-Nia yang menjulang tinggi diatas awan.

Lembah Kui-kok merupakan suatu lembah yang menyeramkan dikaki bukit tersebut.

Disuatu tempat yang luasnya kira2 beberapa puluh lie persegi, yang ditutupi oleh pohon2 rindang, disitulah ada markas besar perkumpulan Hian-kui-kauw.

banyak kamar2 dan rumah2 dibangun disekitar lamping jurang yang sukar didatangi oleh sembarang orang.

Hanya mulut lembah dibagian depan merupakan jalanan masuk dau keluar tempat tersebut.

Terpisah sepuluh lie dari tempat itu, hampir setiap jengkalnya didadakan pesawat pesawat baik yang menggelap, maupun yang terang2an untuk memperkokoh penjagaan tempat tersebut.

Sejak munculnya Hian-Kui-kauw di rimba persilatan, sudah sepuluh tahun lebih lamanya tidak ada orang lagi yang berani secara sembarangan memasuki lembah Kuikok, tetapi pada malam itu.

Sesosok bayangan manusia dengan cepat lari kemulut lembah, bayangan itu adalah bayangan Ho Kie yang dengan bertangan kosong dan seorang diri pula telah menerjang lembah Kui-kok yang sangat menyeramkan ini.

Kedukaan dan kegusaran telah membuat dia lupa, bahwa setiap jengkal tanah yang diinjak itu adalah tempat yang sangat berbahaya setiap saat bisa menjebloskan dirinya ke jurang neraka!

Ketika tiba didekat mulut goa, tiba2 ada dua laki2 tinggi besar yang membawa golok telah mencegat ia sembari membentak!

"Siapa?

jangan bergerak !!"

Ho Kie lantas melayang turun ke bawah sebatang pohon besar, setelah mengawasi kedua laki2 itu sejenak, lalu berkata dengan suara dingin.

"Kalau kalian masih belum kepingin mampus, lekas memberi jalan untukku! Jangan mencari mati sendiri!!"

Kedua laki2 itu memandang Ho Kie sejenak, dalam hati merasa heran dengan cara bagaimana anak muda ini bisa melalui segala rintangan dan tiba dimulut lembah dalam keadaan selamat?

Satu diantara mereka lantas berkata sambil lintangkan goloknya .

"Bocah, tahukah tempat apa ini? Bagaimana bisa sembarangan masuk ?"

"Kui-ok yang tidak ada artinya, tokh bukan goa macan, apa yang dibuat heran? Dengan kekerasan kalian coba hendak merintangi kau. Apakah kalian hendak meniru itu contohnya beberapa orang yang sembunyi di tempat ruangan dibagian depan?"

Orang itu terkejut mendengar ucapan Ho Kie, ia buru buru berkata kepada kawannya dengan suara rendah .

"Lie Hiocu, lekas bunyikan kentongan. bocah ini ada sedikit kepala batu!"

Siapa nyana Ho Kie bertindak lebih dulu, dengan kecepatan bagaikan kilat ia sudah berhasil menyekal sikut kedua orang itu.

"Kalau kalian masih menginginkan jiwa, jangan ribut2"

Demikian ia mengancam.

Orang tadi wayahnya berubah seketika, ia coba melawan, Golok ditangan kanannya, lantas dipakai untuk membabat.

Orang yang diparggil Lie Hiocu buru2 mengambil alat tanda bahaya dari dalam sakunya................

Ho Kie miringkan badannya untuk mengelakkan serangan golok orang itu, dengan sikutnya ia menumbuk, sedang tangan kirinya ia mengirim satu serangan dari jarak jauh kepada orang yang akan meniup alat tanda bahaya tadi.

Serangan dilancarkan sekaligus terhadap dua lawannya ini, Ho Kie telah lakukan dengan kecepatan bagaikan kilat, hingga kedua orang itu tidak ampun lagi lantas rubuh ditanah.

Setelah membereskan kedua perintang itu Ho Kie lantas melanjutkan perjalanannya.

Ia yang memang dibesarkan dilembah Kui-kok, Sudah tentu mengenal baik semua jalan dilembah tersebut, maka sebentar saja ia sudah memasuki kebagian dalamnya.

Cian-tok Jin-mo, Kauwcu dari Hian kui kauw, tinggal diatas loteng yang paling belakang.

Ho Kie tahu benar bahwa disitu siang malam ada terjaga keras oleh orang2nya Hian kui kauw yang berkepandaian tinggi.

oleh karenanya agak sukar untuk masuk.

Satu2nya jalan ialah dengan kekerasan.

Saat itu ia sudah nekad benar2, dengan tekadnya yang bulat, lantas lompat naik keatas loteng, terus menuju kebelakang lembah, Tapi baru saja melesat keatas, mendadak melihat bayangan putih, sekejap saja sudah menghilang keempat gelap dibelakaag lembah.

Ko Kie terkejut, dalam hati men-duga2.

"Apa mungkin dia?"

Dengan tanpa banyak pikir, ia lantas mengejar.

Bayangan putih itu setelah melalui dua payon rumah, mendadak lari menuju kekanan, tidak terus kebagian belakang.

Ho Kie lantas berhenti.

Diam2 hatinya berpikir .

"Dalam Hian kui kauw ada terdapat banyak orang berkepandaian tinggi, mengapa ia bisa masuk secara leluasa apa lagi dengan pakaian serba putih yang sangat menyolok demikian?"

Selagi masih berada dalam ke-ragu2an, tiba2 dengan suara tanda bahaya berulang2, datangnya dari mulut lembah!

Suara tanda bahaya itu telah menimbulkan panik, sebentar saja, beberapa rombongan orang pada lari menuju kemulut lembah sambil membawa obor.

Ho Kie menyesal tadi tidak menyingkirkan dua bangkainya penjaga pintu itu, mungkin dua bangkai itu diketahui oleh lain orang yang meronda, sehingga menimbulkan kegegeran ini.

Dengan tiba2-sda sebuah benda menyambar didepan mukanya.

Ho Kie dengan cepat miringkan kepalanya.

dengan tangan kanan ia menyambar benda tersebut yang ternyata ada segumpal kertas.

Ketika ia buka, diatas kertas itu ada terdapat tulisan yang berbunyi ;

"Ikut aku!!"

Ho Kie menduga bahwa itu ada perbuatannya sibaju putih tadi, hingga diam2 berpikir sambil menghela napas .

"ah, enci Lim, aku sudah tidak menghiraukan jiwaku sendiri masuk kegoa macan ini, mengapa kau juga menempuh bahaya ini ?"

Ia coba mencari dimana adanya bayangan putih tadi, ternyata dia tengah berdiri diatas sebuah rumah yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Terhadap keadaan yang kalang kabut dari orang-Hian-kui-kauw itu, ia agaknya tidak perdulikan sama sekali.

Selagi Ho Kie hendak melesat kesana, tiba2 ada sesosok bayangan hitam yang melayang menghampiri bayangan putih itu.

Ho Kie buru-buru sembunyi ke tempat gelap sambil siap2 menghadapi segala kemungkinan, bayangan hitam itu ketika didepan bayangan putih itu lantas berdiri, ternyata ia ada seorang tua berewokan.

yang berpakaian imam.

Kedengaran suaranya bayangan putih itu menegur lebih dulu.

"Cek Losu, ada urusan apa ?"

Imam itu agaknya kenal betul dengan bayangan putih itu, ia menjawab sambil tertawa;

"Nona Jie,apa kau tidak dengar suara tanda bahaya dimulut lembah? Selama 10 tahun lebih lamanya belum pernah ada seorangpun yang berani menginjak kelembah Kui-kok setindak saja, tidak nyana dimalam ini ada seorang goblok yang berani mati coba menyabut kumisnya macan!"

"Ada kau Hui tun Thian cun Cek Losu yang menjaga disini, siapa yang berani kemari untuk menghantarkan jiwa?"

Jawabnya nona Jie.

"Adakah nona Jie pernah melihat hal yang aneh?"

"Tidak, kalau Cek Losu masih ada urusan, silahkan."

"Baiklah, kalau begitu pinto akan menengok kemulut lembah!"

Setelah itu lantas ia melesat dan menghilang ketempat gelap.

Ho Kie terperanjat, diam2 mengagumi kepandaiannya si imam yang disebut Hui tun Thian Cun itu.

bayangan putih itu.

setelah imam tua itu pergi jauh, lantas gapaikan tangannya kepada Ho Kie seraya berkata .

"Ho Siaohiap, mari ikut aku."

Ho Kie saat itu sudah tahu bahwa bayangan putih itu bukan Lim Kheng. melainkan Jie Peng. Maka dalam hati merasa kurang senang. Dengan perlahan ia bangkit dan menjawab .

"Aku si orang she Ho yang tidak berguna dulu pernah menerima budi atas pertolongan nona, budi itu. aku ukir selamanya dalam hatiku. Tapi malam ini kedatanganku kemari, satu sama lain berdiri sebagai musuh, harap nona bertindak hati2!"

Jie Peng mengelah napas.

"Kau tidak perlu bicara terlalu banyak, kawan atau lawan, itu tergantung pada pikirannya orang sendiri. Apakah kedatanganmu ini bukannya hendak mencari beritanya Toan-theng Lojin ? Disini bukan tempat untuk bicara. mari kau ikut aku !"

Ho Kie tampak tertegun.

"Mengapa kau tahu maksud kedatanganku?"

Jie Peng ketawa hambar, mendadak dongakan kepala.

"Semua perbuatanmu dimulut lembah sudah kuketahui. Tidak lama lagi ada banyak orang2 yang berkepandaian tinggi akan mengadakan pemeriksaan ramai disini. Kalau kau ingin tahu sejelas jelasnya perihal si orang tua, harap kau suka ikut aku, nanti aku beritahu penjelasannya?"

Ho Kie bersangsi sejenak, kemudian lalu mengikuti dibelakang Jie Peng yang lompat turun dari atas genteng.

Jie Peng ajak Ho Kie melalui jalanan membelok kekanan dan kekiri, akhirnya sampai dibawah satu rumah.

Ho Kie lantas hentikan kakinya dan bertanya .

"Nona Jie hendak bicara apa? Harap sekarang suka dijelaskan, aku masih ada urusan yang hendak dibereskan!"

Jie Peng menyelinap kepinggir tembok rumah, ia berkata dengan suara perlahan.

"Apa kau dapat lihat surat yang kutinggalkan untuk kau ?"

Ho Kie yang mendengar pertanyaan itu, sekujur badannya menggigil.

"Apa? Surat itu ada tulisanmu.....?"

Demikian tanyanya. Jie Peng mengangguk, lalu menyahut dengan suara rendah ;

"Aku tahu kau pasti akan datang kelembah Kui kok, maka aku sengaja mengatur itu segala perabotan dan meninggalkan surat, minta kau jangan menempuh bahaya, kenapa kau tidak dengar kata....."

Dengan mendadak Ho Kie menyambar jalan darah Ciok ti hiat, si nona lalu berkata dengan suara tidak senang .

"Kiranya ini perbuatanmu? Sekarang aku hendak tanya, apa dia siorang tua benar sudah binasa?"

Jie Peng tidak berkelit atau menyingkir ia membiarkan lengan kirinya diceka oleh Ho Kie, kemudian menjawab dengan suara perlahan .

"Sssttt.. jangan bicara terlalu keras, hati2 nanti mengejutkan orang. Kalau sampai hal itu terjadi, kau nanti sukar meloloskan diri!!"

"Aku berani datang kemari, sudah tentu tidak takut mengagetkan orang2nya Hian kui-kauw. Harap kau suka jawab lekas, apakah Toan-theng Lojin sudah terjatuh kedalam tangan kalian ?"

Berkata Ho Kie gusar "

Dengan terus terang, Toan theng Lojin memang benar sudah terjatuh kedalam tangannya orang2 Hian kiu-kauw.

Aku justru mendapat pesan orang tua itu, baru pergi kelembah Patah Hati dan meninggalkan surat itu!"

"Sekarang dia ada dimana? Benarkah sudah teraniaya oleh orang2mu?"

"Dia siorang tua telah diketemukan orang2 kuat dari Hian-kui kauw, setelah dikepung oleh beberapa puluh orang, akhirnya karena kakinya tidak bisa bergerak dengan leluasa, maka lantas tertangkap dan dibawa kelembah Kuikok, Setiap hari dia disiksa untuk diminta keterangannya tentang kitab Hian Kui Pit kip

Jilid ke III yang entah disembunyikan dimana. Sampai hari ini, badannya sudah penuh bekas tanda siksaan, jiwanya mungkin cuma tinggal beberapa hari saja....."

"Kalau begitu, dia siorang tua masih belum binasa."

"Ai!! Siksaan demikian, meski tidak binasa, juga berarti tidak jauh dari saat kematiannya."

"Ngaco, dia tokh belum binasa, mengapa kau tinggalkan surat yang bunyinya tidak keruan itu serta menaruh segala meja sembahyang ? Apa kau sengaja hendak memancing aku?"

Sehabis berkata, ia menekan lebih keras. Jie Peng keluarkan seruan tertahan, keringat dingin mengucur deras dijidatnya. Tapi ia menahan rasa sakitnya, sambil ketawa getir ia menjawab .

"Kau jangan salahkan aku membohongi kau, itu semua meja sembahyang dan tulisan, adalah Toan-theng Lojin sendiri yang menyuruh aku berbuat demikian, aku cuma menurut perintahnya saja."

"Hmm ! Kau masih mau menyangkal, siapa orangnya yang sebelum mati menyuruh orang lain menyediakan meja sembahyang?"

"Ini karena kau tidak mengerti maksud siorang tua itu. Dia tahu kalau diberitahukan hal yang sebenarnya kepadamu, kau pasti akan menempuh bahaya datang kelembah Kui-kok untuk menolong dirinya. Biar bagaimana dalam dirinya sudah terkena racun. dia sudah tahu pasti kalau dirinya akan binasa, maka dia pikir supaya kau tidak lantas bertindak, sebaliknya bertekun melatih ilmu ilmumu dulu, untuk menuntut balas kelak ..."

Bicara sampai disitu ia mendadak berhenti, dengan mata layu ia memandang Ho Kie, kemudian tundukkan kepalanya.

Ho Kie hatinya sangat pilu, Ia melepaskan tangannya Jie Peng, kemudian berkata sambil mengucurkan air mata .

"Maksudnya orang tua itu memang baik, tapi aku setelah mengetahui keadaan sebenarnya, sekalipun harus korbankan jiwaku, aku juga tidak bisa tinggal peluk tangan.. !"

"Maka ketika aku melihat kau masuk ke lembah, lantas sengaja pancing kau kemari. Sekarang kepandaianmu belum cukup sempurna, sudah berani menempuh bahaya, barang kali bukan saja tidak berhasil menolong diri siorang tua, sebaliknya kau sendiri yang mendapat celaka. Kalau kau mau turut perkataannya orang tua itu, Kau harus segera berlalu dari sini, pulang untuk mempertinggi pelajaran ilmu silatmu dulu baru nanti balik lagi.."

Ho Kie tiba2 delikkan matanya dan memotong ;

"Aku telah menerima budinya begitu besar, lagi pula ia mempunyai permusuhan demikian dalam dengan Hian-kuikauw. Biar bagaimana, aku tidak mau bikin habis begitu saja. Nona Jie, kau adalah orang Hian-kui-kauw, dengan menempuh bahaya besar kau telah memberitahukan semua hal ini kepadaku, ini akan aku ingat baik-baik untuk selama lamanya, pasti ada satu hari aku nanti akan membalas budimu yang besar ini."

Sehabis berkata, ia lantas hendak berlalu Jie Peng agaknya sudah tidak dapat menguasai dirinya sendiri, dengsn cepat menarik tangannya Ho Kie dan berkata dengan suara rendah .

"Ho Siaohiap, kau hendak kemana?"

"Aku Ho Kie sekalipun harus mengucurkan darah dilembah Kui kok ini, juga harus menolong Toan theng Lojin supaya aku bisa membawa pulang keLembah Patah Hati."

"Tapi dengan kau seoraag diri, sekalipun mempunyai kepandaian luar biasa, juga masih sulit...."

"Aku sudah mengambil keputusan tetap, nona mencegah juga sudah tidak ada gunanya !"

Jie Peng menghela napas, akhirnya ia berkata .

"Ai ! Kau tidak mau dengar kata, terpaksa aku mengiringi kehendakmu, mari ikutlah aku!!"

Ia lalu ajak Ho Kie naik keatas genteng lagi, kemudian manunjuk kesebuah rumah batu sebelah kiri sembari berkata dengan suara perlahan .

"Disana adalah rumah penjara, aka tidak bisa mengawani kau, pergilah sendiri! Harap berlaku hati2!"

Ho Kie lantas angkat tangan memberi hormat seraya berkata .

"Terima kasih atas petunjuk nona, budi kebaikanmu ini kelak aku pasti membalas."

Jie Ping menjawab sambil tertawa getir ;

"Aku justru tidak mengharap pembalasanmu. Malam ini kedatanganmu sudah di ketahui orang, penjagaan didalam lembah pasti diperkeras, Kuasa rumah penjara itu, Pun-Tuikhiu Bo Pin, kepandaiannya cuma dibawah Kauwcu seorang saja, Ho Siaohiap, kalau kau bisa maju, kau boleh maju, tapi seandai tidak bisa, lebih baik kau bersabar, tunggu lain kesempatan lagi!"

Ho Kie ketika mendengar disebutnya nama Bo Pin, sakit hatinya mendadak berkobar, maka lantas menjawab deegan ketus.

"Kekuatannya Bo Pin, sudab lama aku pernah menghadapi, nona boleh tak usah kuatir"

Jie Peng tercengang, Selagi hendak menanyakan maksud arti perkataan itu.

Ho Kie sudah pergi jauh, Saat itu hati Ho Kie sangat gelisah memikirkan nasib Toan theng Lojin, disamping itu ia juga ingat sakit ayahnya.

maka sambil kertak gigi ia menuju kerumah penjara.

Rumah penjara itu mempunyai banyak kamar tahanan, dibangun disepanjang lamping jurang dengan batu yang amat kokoh kuat.

Ho Kie tidak tahu Toan-theng Lojin di sekap dikamar mana, terpaksa mencari di setiap lubang anginnya.

Dalam kamar itu ternyata sangat gelap, cuma diterangi oleh lampu kecil.

Ho Kie melongok kebelakang lubang, tetapi tidak menemukan dimana adanya orang tua itu, sebaliknya menyaksikan suata pemandangan yang mengerikan.

Orang2 yang disekap dan disika dalam kamar tahanan terdiri dari banyak macam.

Tua muda laki2 dan perempuan semuanya ditelanjangi, badannya dirangket dan dibakar dengan besi panas, sehingga badan mereka pada melepuh tidak keruan rupanya.

Hampir semua kamar Ho Kie sudah longok, tapi tidak menemukan Toan-theng Lojin hingga ia hampir menduga Jie Peng telah menipu dirinya.

Selagi hendak berlalu, tiba2 ia deagar suara orang berkata.

"Kauwcu masih memandang kau seorang yang mempunyai kepandaian tinggi dalam rimba persilatan maka sampai sekarang masih menahan jiwaku, aku nasehati kau, sebaiknya kau berikan saja barang itu. Kalau tidak jangan sesalkan aku siorang she Bo berlaku ganas. Kalau terpaksa aku nanti akan menggunakan siksaan yang dinamakan Pektok Kong-Sim, suruh kau merasakan kesengsaraan yang sangat hebat !"

Ho Kie terperanjat, ia tahu bahwa suara itu datangnya dari kamar paling belakang, maka dengan cepat gerakkan badannya mengintip dari lubang angin...

-oo0dw0oo KAMAR ITU penerangannya lebih terang dari pada kamar2 lainnya, tapi lubangnya sangat kecil.

Ho Kie tahu bahwa Bo Pin bukan orang sembarangan, maka ia sangat hati2 sekali sampai tidak berani bernapas.

Lebih dulu ia pusatkan semua kekuatannya, kemudian dengan ilmu cecak merayap didinding, perlahan2 ia mendekati lubang angin.

Ia bertindak sangat waspada.

ia tahu bahwa Toan theng Lojin tertawan dalam kamar itu, jika ia tidak hati2, bukan saja tidak akan dapat menolong keluar orang tua itu bahkan bisa mencelakakan dirinya.

Ia cuma bersendirian dalam sarang Hian-kui-kauw.

Untuk dapat menolong keluar seorang yang sudah tidak bisa bergerak dari tempat yang terjaga kuat oleh orang2 pandai, sesungguhnya bukan suatu perbuatan mudah.

Tapi, ia harus dapat melaksanakan itu, sekalipun harus mengorbankan jiwanya, ia juga akan membawa keluar diri Toan-theng Lojin.....

Karena tekadnya yang bulat, ia sedikitpun tidak merasa takut, setapak demi setapak ia mendekati lubang.

MENDADAK, ia dengar suaranya orang tertawa dingin, lantas disusul dengan suara jeritan............

Ho Kie hatinya berdebar keras, cepat2 melongok kedalam.

Kamar itu ternyata cuma kira2 satu tumbak persegi luasnya, adi 6 -8 orang laki2 sedang mengerubungi dua orang laki2 tua, Satu diantaranya, rambut jenggot dan alisnya putih, dipunggungnya ada menggemblok sebilah golok emas, orang tua itu adalah Pun lui khin Bo Pin, musuh basar yang membunuh mati ayahnya................

Orang tua lainnya, berusia kira2 50 tahun lebih, matanya seperti mata tikus, kepalanya kecil, mukanya tirus, dipundak kirinya ada tali panjang yang mengeluarkan sinar berkaredepan.

Didepan mereka kira2 tiga kaki jaraknya, ada sebuah kuali besar, yang dibawahnya ada api yang morong.

Dalam kuali terdapat sedikit air mendidih yang mengeluarkan bau amis, Di-tengah2 air mendidih itu duduk seorang tua berbadan kurus dan berambut putih seperti perak.

Orang tua itu duduk bersila, badannya telanjang, rambutnya yang putih terurai menutupi wajahnya, sehingga orang tidak bisa melihat dengan tegas.

Ia agaknya sedang menahan siksaan dari panasnya air mendidih itu, sedang sekujur badannya mengucur darah dan nanah.

Hati Ho Kie berdebar keras.

Apakah orang tua itu Toantheng Lojin?

ia sendiri tidak berani memastikan.

Karena orang tua itu telah menolong jiwanya, memberi pelajaran ilmu silat padanya serta sudah pernah tinggal bersama2 dalam satu goa sebulan lamanya, tapi kalau itu ia cuma tahu orang tua itu dengan dandanannya yang istimewa serta wajahnya tertutup oleh kedok putih, sehingga tidak mengenali wajah aslinya.

Meski api marong dan air mendidih, tapi orang tua itu tetap duduk tanpa bersuara atau melawan.

Lewat sejenak, tiba tiba terdengar suara siorang tua yang membawa tali panjang .

"Go tongtiu, tua bangka ini deagan mengandalkan kekuatan ilmunya, hingga dapat menahan siksaan ini. Perlu apa kita membuang buang banyak waku? Lebih baik kita segera menggunakan siksaanku yang paling sempurna Pektuk Keng-sim. Bikin rusak dulu isi perutnya , aku kepingin tahu apa dia masih dapat bertahan?"

"Sebaiknya memang begitu, cuma Tio losu boleh kira sendiri, karena perintah kaucu supaya jiwanya jangan sampai binasa."

Jawab Bo Pin sambil anggukkan kepala. Orang the Tio itu menyahut.."Biarlah!!"

Lalu mengeluarkan kotak kecil.

Ho Kie memandang tanpa berkedip.

Ia lihat orang she Tio itu ulapkan tangannya, memerintahkan orang-yang mengerumuni itu mengecilkan api.

Dengan tangan meraba2 kotak kecil itu ia maju 2 langkah, dan membuka kotak dengan hati2 sekali.,......

Apa yang terdapat dalam kotak itu ?

Ternyata terdapat binatang kelabang yang jumlahnya banyak sekali !

Tapi heran meski tutup kotak sudah terbuka, kelabang itu tidak ada yang keluar, Sambil mengajukan kelabang dalam kotak itu, si orang she Tio berkata kepada orang tua dalam kuali sambil ketawa dingin .

"Sahabat, kalau kau masih tidak mau mengaku, jangan sesalkan aku si orang she Tio nanti akan menggunakan siksaan ini!!"

Orang tua dalam kuali itu mendadak dongakan kepalanya dan menjawab dengan suara dingin .

"Tio Go, kau sudah banyak melakukan kejahatan, nanti ada suatu hari, kau pasti akan mendapat pembalasan!!"

Ho Kie pasang mata betul ketika orang itu mendongakkan kepalanya.

Dari sorot matanya Ho Kie dapat memastikan bahwa orang tua itu adalah Toan theng Lojin.

Dalam kagetnya, ia hampir saja menjerit !

Ia tidak tahan menyaksikan keadaan si orang tua yang menggenaskan itu, ia sudah hendak berlaku nekad.

Mendadak ia dengar siorang she Tio itu berkata pula .

"Tua bangka, dagingmu sudah hancur diseduh, sekalipun kau masih bertahan, tapi apa gunanya? Sskarang kalau kau akan kusiksa lagi dengan Pek to Kong sim ini, isi perutmu akan berubah menjadi darah semuAnya. Maka saat itu jiwamu juga tidak dapat dipertahankan lagi, maka apa perlunya kau kukuhi Pit kip itu? Lebih baik kau serahkan kepada kaucu barangkali masih bisa mengampuni jiwamu!"

Orang tua dalam kuali itu tertawa hambar.

"Nasibku memang jelek, selama hidupku, aku belum pernah memikirkan tentang matiku. Kalian mempunyai alat siksaan apa saja, boleh keluarkan semua tapi kalau menghendaki Pit kip, jangan harap !"

"Kalau kau memangnya mau mencoba, jangan sesalkan aku berlaku ganas!"

Jawab Tio Go sambil tertawa dingin, lalu mengambil sumpit, ia menjepit dua ekor kelabang dimasukkan kedalam telinganya Toan-theng Lojin.............

Sebentar kemudian badannya Toan theng Lojin kelihatan menggigil, wajahnya mengerut, agaknya sedang menderita hebat.

Dilain pihak, Tio Go sudah memerintahkan orang2nya membesarkan apinya, sehingga air didalam kuali mendidih lagi.

Sambil ketawa bangga Tio Go berkata ;

"Hei,, Kau mengaku saja. Aku cuma menggunakan dua ekor kelabang, ternyata kau sudah tidak tahan. Kalau aku menggunakan semuanya, kau pasti tidak akan sanggup menerima penderitaan ini."

Toan theng Lojin bungkam sambil kertak gigi, badannya menggigil semakin hebat, keringatnya mengucur dengan deras.

Sebentar sebentar kedengaran suara keluhannya kemudian perkataannya dengan tidak lampias ;

"Tio.....Go...Kau....terlalu....buas !"

Bo Pin lantas menyelak .

"Kita ada menghargai kau sebagai orang dari tingkatan tua, maka kita hanya menggunakan dua ekor kelabang saja. Kalau kau masih tetap tidak mau menyerah, jangan sesalkan......"

Tio Go kembali unjukkan ketawanya yang menyeramkan, mendadak ia maju selangkah, kembali ia membuka kotaknya.

Ho Kie yang berada diluar sudah tidak dapat menahan sabarnya lagi, sayang ia tidak mengetahui dimana adanya pintu kamar tersebut, lagi pula lubang angin itu amat kecil sehingga tidak dapat memasuki oleh badannya.

Dalam gusarnya ia sudah tidak perdulikan jiwanya sendiri lagi, dengan sekuat tenaga ia menggempur lubang kamar tersebut.

Gempurannya telah berhasil, dinding lubang telah hancur berantakan sehingga ia bisa segera melesat masuk melalui lubang besar akibat gempuran tadi, Orang2 didalam kamar telah dikejutkan oleh suara gempuran keras.

Bo Pin segera memutar tubuh sambil membetatak.

"Siapa?"

Sambil mencabut golok dipunggungnya. -oo0dw0oo-

Jilid 9 TIO GO mundur kepinggir pintu sambil menyiapkan senjata talinya.

Setelah berada didalam kamar, tanpa banyak rewel lagi Ho Kie dengan kedua lengannya menyerang Bo Pin dan Tio Go.

Karena ia sudah berlaku nekad, serangannya itu telah dilancarkannya dengan sepenuh tenaganya, Bo Pin dan Tio Go yang tidak pernah menyangka dalam tempat penting itu juga ada orang yang berani masuk, dalam kagetnya mereka hanya bisa mengelakan seranganya Ho Kie.

Apa mau serangannya Ho Kie yang hebat itu telah nyelonong menggempur dua orang laki-laki yang sedang menjalankan tugasnya memasang api, sehingga keduanya lantas pada rubuh binasa seketika itu juga.

Orang2 yang lainnya coba mengurung Ho Kie, tapi Ho Kie yang sudah kalap benar, sudah menyerang semua yang dihadapannya dengan hebat sekali, sehingga sebentar saja ada lima atau enam orang yang terbinasa di-bawah tangannya.

Segera ia sudah menyerbu kepinggir kuali hendak menolong dirinya Toan-theng Lojin, Mendadak didengarnya suara bentakan.

"Bangsat cilik, kau mencari mampus?"

Bentakan itu dibarengi dengan berkeredepnya sinar kuning didepan matanya Ho Kie.

Itu adalah senjata talinya si orang she Tio.

Tio Go adalah seorang yang namanya sudah terkenal dalam kalangan hitam.

senjata talinya yang dinamakan Tali Terbang itu entah sudah berapa banyak meminta korban jiwa manusia, sehingga menarik hatinya kaucu dan pada hari terakhir ini ia telah ditarik menjadi anggota Hian kuikauw.

Karena ia ingin membuat pahala, lagi pula melihat Ho Kie yang masih muda belia, maka agaknya tidak dipandang sama sekali.

Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 9

Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 16

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert