Eps 9 Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung
Baca online Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung
Cersil Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung.
Si pedang emas Cia Tiong giok paling seram keadaannya, noda darah meski membasahi ujung bibirnya, rambutnya kusut terurai tak karuan wajahnya menyeringai seram.
Jalan darah mereka sekarang subdah tertotok, tdak mungkin bagia mereka untuk mbencaci maki kalang kabut.
yang bisa mereka lakukan kini hanya memutar biji matanya kesana kemari dengan wajah mengerang keras .....
Berada dalam keadaan seperti ini, mereka hanya bisa pasrah kepada nasib, terserah perbuatan dan siksaan apa saja yang akan dilimpahkan keatas bahu mereka.
Dengan suara sedingin es, Keng Cin sin berkata lagi.
"Tentu saja aku dapat menjatuhi hukuman kepada mereka sesuai dengan berat ringannya kesalahan yang telah mereka lakukan.
"Kalian bertiga merupakan manusia-manusia keji yang berdosa paling besar, kalianpun harus tahu, hukuman macam apakah yang bakal kalian terima atas perbuatan yang pernah kalian lakukan selama ini!"
Keadaan dari Keng C in sin pada saat ini tak ubahnya seperti seorang raja akhirat, seorang raja akhirat yang sedang memeriksa roh-roh berdosa..
Pelan-pelan dia berjalan maju ke hadapan Ceng hong mi tan Cin Khi sin, kemudiam ujarnya sambil tertawa dingin.
"Ciu Khi sin, kau dan Mao Soh san akan mengalami nasib yang sama.
"Tentunya kalian tahu bukan kalau dalam dunia persilatan terdapat semacam ilmu-ilmu menyiksa badan yang dinamakan Khi im ciok meh (memintir urat memotong nadi)?"
Begitu mendengar nama tersebut, paras muka Ceng hong mi tan dan Siangbin tok ci berubah hebat sekali, rasa kaget, seram dan benci bercampur aduk diatas wajah mereka.
Keng Cin sin tertawa rendah, kembali ujarnya.
"Kalian tak usah kuatir, aku tak mempergunakan ilmu Khi im ciat meh untuk menghukum kalian, tapi akan kugunakan ilmu menyiksa badan yang sepuluh kali lipat lebih keji dari ilmu Kim ciat meh itu untuk menghukum kalian semua."
Kepandaian tersebut merupakan hasil ciptaanku sendiri, aku menyebutnya sebagai ilmu Cui si san hun (Melumat mayat penghancur sukma).
"Tentunya kalian merasakan kalau nama tersebut kelewat seram bukan.....? Hmm, seperti apa yang kalian saksikan dengan kebdua orang hiangdcu tadi, merekaapun merasakan iblmu melumat mayat penghancur sukma tersebut cuma saja mereka merasakan cincangan tersebut setelah menemui ajalnya, sedangkan kalian akan merasakan cincangan tersebut disaat kalian masih hidup"
Setelah mendengar perkataan tersebut, Ciu Khi sin maupun Mao Soh sat merasakan hatinya amat terkesiap, wajahnya mengejang keras dan menunjukkan penderitaan serta siksaan batin yang luar biasa..Bibir mereka bergerak seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah katapun yang mampu diutarakan keluar.
Mereka seolah-olah hendak berkata begini.
"Keng Cin-sin, mengapa kau bersikap begitu kejam dan tak berperikemanusiaan. Tampaknya Keng Cin sin memahami maksud hati mereka, ujarnya sambil tertawa dingin.
"Untuk menghadapi manusia-manasia laknat seperti kalian, aku harus menggunakan cara yang paling keji pula untuk menyiksa kalian, dengan begitu semua dosa dan kesalahan yang pernah kalian lakukan baru memperoleh pembalasan yang setimpal!
Dan didalam penitisan sekalian yang akan datang, tak berani melakukan kejahatan lagi.
"Sewaktu kalian menyiksa diriku tempo hari, apakah kalian tidak merasa kalau perbuatan kamu semua itu jauh lebih kejam dan tak berperi kemanusiaan daripada yang kulakukan sekarang.
"Tahukah kalian?. Semenjak aku kehila-ngan kesucian badanku, selama hidup aku tak dapat mencuci bersih aib serta noda yang melekat diatas tubuhku? Sekalipun aku telah membalas dendam kepada kalian sekarang. namun kebahagian hidupku kini telah kalian hancurkan? "
Oleh sebab itu, kalian harus menerima siksaan dan penderitaan ini dengan berani, sebab dengan begitu maka roh kalian setelah mati nanti akan bebas dari siksaan dan penderitaan "
Selesai mendengarkan perkataan itu, paras muka mereka yang pucat pias itu berubah semakin mengenaskan, kulit muka mereka mengejang keras penuh penderitaan, mata menjadi merah dan rambut terurai kaku, keadaan mereka sungguh mengerikan sekali.
Si Pedang emas Cia Tiong giok pun sadear, apalagi setelah mendengar perkataan Keng Cin sin yang keji dan tidak berperasaan itu, dia mengerti bahwa siksaan yang akan diterima olehnya sudah pasti berrlipat kali lebith hebat daripadqa siksaan yang rdi terima rekan-rekannya.
Tapi jalan darahnya sekarang tertotok, dia sudah tak mampu bergerak lagi, dalam keadaan begini, dia hanya berdoa dalam hati kecilnya, moga-moga ada orang yang datang kesitu dan menyelamatkan jiwanya.
Keng Cin sin sendiri boleh dibilang sudah tidak mengenal belas kasihan lagi terhadap musuh-musuh besarnya itu, sebab penderitaan dan siksaan yang telah diterimanya selama ini benar-benar terlalu keji dan tak kenal ampun.
Ujarnya kemudian sambil tertawa dingin.
"Ceng hong mi tan, siang bin tok ci sekarang dipersilahkan kalian rasakan bagai mana nikmatnya ilmu Cui sui san hun tersebut!' Selesai berkata, sepasang telapak tangan nya beruntun menotok beberapa buah jalan darah di tubuh kedua orang itu, kemudian telapak tangan kanannya menambahi dengan sebuah tekanan berat keatas jalan darah Khi pay hiat mereka.
Tentu saja Ceng hong mi tan dan Siang bin tok-ci tak mampu untuk menghindarkan diri dari serangan maut tersebut, mereka hanya bisa pasrah pada nasib dan menerima hukuman tersebut.
Pada saat Keng Cin sin memberi tekanan dahsyat diatas jalan darah Khi hay hiat mereka itulah.....
Kedua orang tersebut segera merasakan didalam urat nadi mereka seperti timbul suatu kekuatan yang seolah-olah mencabik-cabik seluruh isi perutnya, peredaran darah pentingnya jadi terrsmbat dan didalam tubuh mereka seakan-akan muncul berjuta-juta ekor semut gatal yang menggigit sekujur tubuh mereka, sakitnya bukan kepalang.
Penderitaan semacam ini sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata, seakan-akan terdapat sebilah pedang tajam yang mencong-kel urat dan otot tubuh mereka, kemudian mencincangnya sedikit demi sedikit.
Peluh dingin sebesar kacang kedelai bercucuran keluar dengan cepatnya dari balik pori-pori diseluruh tubuhnya....
Wajah yang memucat kian memucat, matanya terbelalak lebar, bibirnya terkatup rapat, wajah mereka yang sesungguhnya sudah nampak mengerikan, kini berubah semakin seram.
Keng Cin sin segera tertawa dingin, katanya kemudian.
"Di dalam istana Huan mo kiong terdapat lima macam siksaan yang kejam, tentu saja kalian pun mempunyai cara ilmu menotok jalan darah untuk menyiksa orang, sekarang silahkan kalian bandingkan sendiri, bagai mana kah andaikata ilmu Cui si san hun milikku ini dibandingkan dengan berbagai macam alat siksaan didalam Huan mo kiong? "
Sekarang, tentunya kalian sudah merasakan kenikmatan bukan?
Terus terang kuberitahukan kepada kalian, apa yang kalian resakan sekarang tak lebih baru pembukaan, baru awal dari suatu penderitaan yang berkepanjangan, mengikuti berubahnya waktu, kalian akan merasakan penderitaan yang lebih nikmat dan lebih asyik!"
Baru saja dia selesai berkata, kejangan diatas wajah ke dua orang itu sudah makin menghebat, penderitaan yang mereka rasakan pun berlipat ganda, peluh bercu-curan seperti air hujan, sementara suara rintihan dan erangan kesakitan merupai jeritan binatang buas.
Ternyata, didalam tubuh mereka sekarang mulai merasakan suatu jenis siksaan yang lain.
Kini, mereka rasakan hawa darah yang mengalir terbalik ditubuh mereka mulai bergolak kencang dan mengalir dengan derasnya menuju ke arah paru-paru.
Tumbukan, terjangan dan pergolakan yang menghebat dari hawa darah tersebut membuat mereka merasakan penderitaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, apa lagi setelah merasakan tenaga gelombang dahsyat yang menerjang tiada hentinya, membuat kedua orang itu merasakan kesakitan luar biasa.
Bukan hanya begitu saja, kuilt dibadan ikut terasa tersayat-sayat pisau, tulang belulangnya menjadi linu dan sakit bagaikan mau retak dan hancur...
Dari dalam urat nadi maupun jalan darahnya terasa pula rasa linu, gatal dan kaku yang menghebat, seolah-olah digigit oleh semut yang berjuta ekor banyaknya.
Kalau penderitaan tersebut dapat dilukiskan maka siksaan tersebut mungkin beratus-ratus kali lebih hebat daripada siksaan di dalam neraka tingkat delapan belas.
Sekarang, sepasang biji mata mereka melotot keluar dan memancarkan sinar lemah mohon belas kasihan, seolah-olah mereka sedang berkata begini.
"Berbuatlah kebajikan untuk kami, berikanlah kematian yang utuh untuk kami... Keng Cin sin sama sekali tidak beriba hati, wajahnya masih dingin seperti es, katanya dengan suara menyeramkan. Kini, siksaan yang sebenarnya dari ilmu melumat mayat penghancur sukma sudah akan dimulai."
"Sekarang, dari dalam tubuh kalian mulai merasakan suatu perasaan yang sukar ditahan bukan? Bukankah diantara daging dan kulit tubuh kalian seperti ada binatang yang sedang merambat sambil menggigit.? "
Haahhh.. haaahhh... haaahhh... aku tahu, kalian merasakan adanya jarum yang sedang menusuk-nusuk tubuh bukan? Seolah-olah terdapat beberapa juta ekor ulat gatal yang sedang merambat lewat...? "
Penderitaan yang dialami dua manusia laknat itu memang makin mencapai pada puncaknya, rasa sakit, gatal datang secara beruntun dan bersambungan, malahan makin lama semakin bertambah dahsyat ....
Sesudah hening sesaat, Keng Cin sin berkata lagi dengan suaranya yang dingin menyeram kan.
"Bagaimana? "
Merasa kegatalan?
Kalau begitu aku akan mengarukkan untuk kalian!' Selesai berkata, Keng Cin sin mengambil pedang emas milik Cia Tiong giok itu dari atas tanah dan mulai menusuk seluruh tubuh mereka.
Dimana ujung pedang tersebut menyambar, pakaian robek dan darah segar bercucuran keluar.
Dengan mengucurnya darah tersebut, tampaknya mereka merasa agak baikan, hanya rasa sakit yang tak terlukiskan dengan kata-kata muncul kembali secara beruntun.
Kini, mereka seakan-akan merasa kalau garukan yang dilakukan dengan menggunakan ujung pedang tersebut kurang nikmat.
Keng Cin sin tertawa dingin lagi, ejeknya.
"Bagaimana? Kurang nikmat rasanya? Sayang sekali aku tak bisa menusukkan pedang ini lebih keras lagi, sebab dengan begitu maka permainan bagus akan segera berakhir .... hmmm, begini saja, garuklah dengan menggunakan sepasang tangan kalian" ! Sembari berkata, Keng Cin Sin menggerak kan tangannya dengan cepat untuk membebaskan totokannya pada jalan darah sepasang lengan ke dua orang itu. Perlu diketahui, semua totokan jalan darah yang dilakukan oleh Keng Cin sin itu boleh dibilang dilakukan dengar suatu ilmu totokan khusus, sekarang boleh dibilang dia telah mengendalikan setiap alat didalam tubuh mereka. Seperti juga totokannya itu, serasang jalan darah diatas pipi mereka, hal ini dilakukan untuk mencegah mereka menggigit putus lidah sendiri dengan giginya hingga mati?. Ia menotok pula jalan darah bisu mereka agar mereka tak bisa berbicara namun hanya bisa mengerang kesakitan. Dan sekarang, dia telah membebaskan totokannya pada jalan darah diatas lengan mereka, itupun hanya dibatasi dengan sejumlah kekuatan yang cuma bisa dipakai untuk merobek kulit badan sendiri dengan garukannya, dalam keadaan begini mereka tak mampu untuk menghimpun tenaga dalam nya guna dipakai untuk bunuh diri. Begitu Keng Cin sin membebaskan totokannya pada jalan darah diatas lengan mereka, suatu kenyataan yang tak bisa di percayai dengan akal sebat pun mulai ber langsung didepan mata. Rupanya mereka berdua sudah tak mampu lagi untuk menahan rasa gatal yang menyiksa didalam tubuh mereka, begitu tangannya bisa bergerak, merekapun segera menggerakan sepasang tangannya yang berotot pada menonjol keluar dengan kelima jari tangannya yang terpentang seperti cakar garuda itu. Bahkan dengan cakar tersebut sekuat tenaga mereka mulai mencakari dada sendiri, garis-garis merah yang panjang segera bermunculan dimana-mana, sementara darah segar pun bercucuran membasahi tubuhnya.. Seluruh badan mereka mulai gemetar keras, hal ini menandakan kalau garukan mereka diatas dada tadi menimrbulkan kenikmattan yang tak terqkirakan bagi orrang-orang itu. Sekarang seolah-olah mereka sudah tak mampu untuk melawan pancingan itu lagi, sepasang tangannya mulai menggaruk dan mencakar bagian lain dari tubuhnya dengan penuh bernapsu. Dari dada kini beralih keperut, kemudian beralih lagi ke atas wajah sendiri... Dalam waktu singkat, seluruh tubuh mereka sudah tak ada yang utuh lagi, darah segar mengucur keluar dari mana-mana, kulitnya pada robek dan merekah, keadaan nya mengerikan hati. Keadaan seperti itu membuat tampang wajah mereka berubah menjadi menyeram kan, jauh lebih seram dari pada wajah setan iblis. Hampir kalap si pedang emas Cia Tiong giok setelah menyaksikan keadaan rekan-rekannya yang mengerikan hati itu, kalau bisa dia ingin berteriak-teriak keras atau kalau bisa kabur, dia ingin melarikan diri sekencang-kencangnya meninggalkan tempat yang terkutuk itu. Sayang sekali tubuhnya kaku dan sama sekali tak mampu berkutik, dia harus tetap berdiri diposisi semula sambil menyaksikan berlangsungnya siksaan yang terjadi yang belum pernah disaksikan olehnya selama hidup di dunia ini. Kenikmatan yang tak terlukiskan dengan kata-kata itu seakan-akan datangnya bagai kan sumber mata air, mengikuti garukan ke sepuluh jari tangan mereka, seperti gulungan ombak disamudra saja, makin lama datangnya semakin menghebat. Tapi .... kesemuanya itu hanya terjadi di luar saja. 'Dalam waktu singkat daging tubuh mereka dibawah kulit yang telah hancur bermun-culan diantara tulang belulang berwarna putih, rasa sakit yang luar biasa mulai bermunculan pula menyelimuti tubuh mereka berdua. Dimana kesepuluh jari tangan mereka menggaruk lewat pancuran darah segar berhamburan kemana-mana. Penderitaan baru sekali lagi mengurung mereka dan mencekam mereka berdua makin lama siksaan itu semakin kuat, semakin keras dan dahsyat. Penderitaan tak tertuliskan yang datangnya makin menghebat itu, membuat mereka tak sanggup lagi untuk mempertahankan diri. Dalam tubuh mereka seakan-akan muncul segulung daya tekanan dahsyat yang seperti hendak mengepres mereka jadi hancur, seperti hendak melumat tubuh mereka sehingga hancur berkeping-keping. Tulang belulang ditubuh mereka sudah linu dan sakit, bagaikan hendak retak dan hancur, lalu melumat menjadi hancuran kecil-kecil yang beribu-ribu banyaknya. Keadaan seperti ini, memang tak salah lagi jika dikatakan sebagai melumat mayat penghancur sukma. Mereka sendiri yang menghancur lumatkan tubuh sendiri hingga hancur, mereka sendiri pula yang melumat sukma sendiri sehingga punah dan buyar. Namun penderitaan yang berbeda dari setiap bagian tubuhnya itu bukan lenyap karena keadaan tersebut. malahan sebaliknya mengikuti datangnya sang waktu, makin lama semakin bertambah dahsyat, seolah-olah penderitaan itu baru akan berakhir apabila nyawa mereka sudah melayang meninggalkan raganya. Sepasang biji mata mereka sudah melotot keluar, dari balik mata tersebut memancar keluar sinar mohon pengampunan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, sepertinya mereka mohon diberi kematian secepatnya. Keng Cin sin mendengus dingin, sorot matanya yang dingin dan keji hanya memandang sekejap ke tubuh mereka. Pada waktu itu, pakaian yang mereka kenakan sudah hancur tak berbentuk lagi, pada hakekatnya mereka sudah berada dalam keadaan telanjang bulat. Darah kental membasahi seluruh tubuhnya dan mengucur keluar tiada hentinya, daging yang hancur, tulangnya yang menonjol keluar dicampur dengan bau amisnya darah, membuat udara disitu berbau busuk sekali. Menyaksikan kesemuanya ini, Keng C in sin seperti memperoleh sedikit kepuasan, ujar nya kemudian sambil tertawa dinginb.
"Silahkan kaldian menggaruk taerus tubuh kaliban sampai hancur, silahkan menggaruk seluruh bagian badan kalian sampai punah, darah yang mengucur keluar pun sampai habs, sebelum kalian mampus karena kehabisan darah..."
Berada dalam keadaaa demikian, ia benar-benar kejam sekali.
Ya, keadaannya sekarang ibarat seekor binatang buas yang terluka, ganas sekali tiada perasaan belas kasihan.
walau hanya sedikitpun juga.
Beginikah wataknya yang sebenarnya?
Tidak, tentu saja tidak!
siksaan dan penderitaan hebat yang pernah dialaminya yang membuat dia berubah menjadi begini rupa.
Cuma, tindakan keji dan buas seperti itu, hanya khusus ditujukan kepada musuh-musuh besarnya.
khususnya terhadap manusia-manusia laknat yang pernah menodainya.
Ceng hong mi tan dan Siang bin tok ci kembali memandang kearah Keng Cin sin dengan sorot mata minta ampun.
Dibalik sorot mata tersebut, penuh diliputi perasaan yang sedih yang tak terlukiskan.
Mereka seperti merasa menyesal sekali, menyesal yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Yaa mereka memang sangat menyesal, menyesal atas perbuatan yang pernah mereka lakukan selama ini, sayang sekali keadaan sudah terlambat.
Baru pertama kali ini mereka menyadari kalau perbuatan yang telah mereka lakukan selama ini sesungguhnya merupakan suatu perbuatan yang amat terkutuk, merekapun merasakan pula bahwa selama ini mereka sudah terlalu banyak melakukan kejahatan dan kebuasan.
Sorot mata Ceng hong mi tan dan Siang bin tok ci yang penuh memohon belas kasihan itu tiba-tiba berubah menjadi rasa penyesalan yang amat mendalam.
Sepasang tangan mereka yang menggaruk seluruh badan itu pun pelan-pelan terkulai lemas, mungkin mereka sudah tak bertenaga lagi untuk menggaruk, seakan-akan juga mereka telah menyadari akan makna yang sebenarnya dari suatu kehidupan, kegembiraan yang muncul didalam hati seakan-akan telah menutupi siksaan hidup dari tubuhnya.
Yaa, dalam hati kecil mereka mbemang muncul keddua perasaan seamacam itu hampibr bersamaan waktunya.
Saat menjelang berakhirnya kehidupan mereka didunia ini, untuk pertama kalinya mereka merasa menyesal dan bertobat.
Sekarang mereki sadar, kehidupan manusia didunia ini adalah suatu kehidupan yang tak adil.
Tapi kematian selamanya berlaku adil terhadap setiap insan manusia di dunia ini.
Sebab, cepat atau lambat maut akan te'tap menggapai kepadamu, entah kau sedang berada didalam rombongan orang banyak atau sedang bersembunyi disuatu tempat yang rahasia, tiada manusia didunia ini yang bisa terhindar dari kematian.
Dan disaat ajal sudah hampir tiba, dia pun tak akan memberikan pilihan apa-apa kepadamu.
Yang ada hanya perbedaan antara mati dalam ketenangan dan mati dalam kesadisan.
Begitulah kehidupan manusia didunia ini, tak sedikit mereka yang jahat seringkali menjadi sadar dan menyesal atas dosa-dosanya setelah merasakan siksaan dan penderitaan menjelang saat tibanya ajal yang akan merenggut nyawa mereka..Hanya sayang, pada waktu itu selalu terlambat, karena kehidupan mereka akan segera berakhir.
Di dalam keadaan seperti inilah Ceng hong mi tan Ciu Khi sin dan Siang bin tok ci Mao Soh sat mengakhiri kehidupan mereka yang penuh dosa dan kejahatan itu, mereka tewas karena kehabisan darah, tubuh mereka yang kaku pun segera roboh terkapar ditanah dan tak berkutik lagi untuk selamanya.
Hanya bedanya saja, menjelang saat kematian tersebut, mereka tidik memperde-ngarkan jeritan kesakitan lagi.
mereka mati di dalam ketenangan dan kedamaian.
Dengan wajah yang dingin kaku tanpa perasaan, Keng Cin sin memaadang sekejap ke atas mayat mayat yang menggeletak kaku di tanah itu.
Sesaat kemudian ....
Pelan-pelan dia membalikkan badannya, sorot mata yang tajam bagaikan sembilu kini dialihkan ke atas wajah si pedang emas Cia Tiong giok.
Begitu sepasang mata pedang emas Cia Tiong giok bertemu dengan sepasang mata nya, ia merasakan kengerian dan keseraman yang jauh melebihi kematian, dari dalam tubuhnya seakan-akan darah mulai bercucuran keluar...
Sorot mata Keng Cin sin itu, bagaikam beribu bilah pedang tajam yang menusuk hatinya...
"Sekarang, tiba giliranmu untuk menerima bagian hukuman yang setimpai dengan dosa-dosamu!"
Kata Keng Cin sin dingin. Ucapan yang kaku tanpa perasaan, menimbulkan perasaan yang mengerikan dihatinya, membuat bulu kuduknya pada bangun berdiri. Kembali Keng Cin sin berkata.
"Kau adalah pentolan dari semua dosa dan penderitaan ini, maka pembalasan yang harus kau rasakan berlipat kali lebih keji dari pada mereka semua.
"Aku ingin bertanya kepadamu, siksaan apakah yang merupakan siksaan paling buas di dunia ini? "
Apakah siksaan seperti mereka itu? Menderita hebat kemudian mati ...? Tidak, bukan! Penderitaan yarg mereka rasakan itu hanya bersifat sementara, bukan suatu penderitaan yang selamanya..."
Dari perkataan tersebut, dengan cepat si pedang emas Cia Tiong giok dapat menarik kesimpulan siksaan dan penderitaan macam apakah yang akan diberikan kepadanya itu?
Ia membenci, dia benar-benar membenci.
Dia tidak menyesali melainkan membenci kepada diri sendiri, dia membenci kepada sendiri mengapa tidak melimpahkan siksaan yang lebih hebat terhadap perempuan tersebut dimasa lalu.
kesemuanya itu segera terpancar keluar dari balik matanya yang melotot besar itu....
Sorot matanya dipenuhi dengan perasaan marah, menyesal, benci dan mendendam.
Kembali Keng Cin sin berkata dengan suara sedingin es.
"Gara-gara perbuatanmu, hidupku menjadi tersiksa, menjadi menderita untuk selama-lamanya, kau telah memberikan penderitaan yang berkepanjangan kepadaku, oleh sebab itu sekarang aku pun akan memberikan penderitaan sepanjang hidup untukmu. Aku tetap akan mempertahan hidupmu, agar selama hidup kau merasakan siksaan dan penderitaan tersebut. ' Heehhh...heeehhh ...heehhh... tahukah kau, penderitaan dan siksaan macam apakah yang akan kulimpahkan kepadamu?"
Mendengar kalau ia tak akan dibiarkan mati, si Pedang emas Cia Tiong giok segera berpikir.
"Bajingan perempuan. asal kau membiar kan aku hidup, maka dendam kesumat ini pasti akan kutuntut kembali disuatu saat, aku hendak menghancur lumatkan dirimu, akan kucincang tubuhmu menjadi berkeping-keping, agar sebelum ajalmu tiba, kau akan merasakan siksaan dan penderitaan yang lebih hebat lagi daripada apa yang pernah kau terima dulu..."
Keng Cin sin seperti dapat membaca suara hatinya itu, sambil tertawa dingin ia berkata.
"Cia Tiong giok, lebih baik mati nyaman daripada hidup tersiksa bukan? Jika kau berpendapat demikian maka anggapanmu itu keliru besar, aku akan membuatmu setengah mati setengah hidup, agar selama hidup kau tak akan bisa membalas dendam lagi"
Mendengar perkataan ini, Cia Tiong giok menjadi lemas dan sedih, dia tak tahu hukuman semacam apakah yang bisa membuatnya setengah hidup setengah mati?
Mencorong sinar kebuasan dan penuh dendam yang meluap dari balik mata Keng Cin sin, katanya kemudian keras-keras.
"Aku akan merusak kesadaran otakmu, lalu kupotong kaki-kakimu itu. Akan kupotong otot dan nadi pada sepasang tanganmu. Kupotong lidahmu agar tak bisa berbicara. Ku korek gendang telingamu agar kau tuli untuk selamanya. Kupotong hidungmu agar kau nampak seram. Lalu kucokel sebuah biji matamu. Dan kuhancurkan raut wajahmu itu. Kemudian kuberi sebuah pukulan beracun keatas tubuhmu, agar setiap hari kau merasa tersiksa untuk satu jam lamanya"
Selesai mendengar perkataan itu, si pedang emas Cia Tiong giok segera menjerit keras bagaikan orang bgila, hatinya bdetul-betul hancaur remuk hinggab tak berwujud lagi.
Siksaan semacam ini benar-benar kelewat keji dan sama sekali tak berperi-kemanusiaan.
Siksaan semacam ini benar-benar merupakan siksaan yang paling brutal di dunia ini.
Dari sini dapat diketahui betapa bencinya Keng Cin sin terhadap orang itu, sebab kebersihan tubuhnya dan kebahagiaan hidupnya telah dihancurkan olehnya.
Dengan suara yang menyeramkan ia segera berteriak.
"Sekarang, aku akan menghancurkan pikiranmu, agar kau menjadi orang sinting, orang yang tak berotak"
Ditengah bentakan, jari tangan Keng Cin sin yang putih itu secara beruntun menotok tiga kali keatas belakang kepalanya.
Menyusul kemudian...
Keng Cin sin mengayunkan tangan kanannya, sekilas cahaya emas berkelebat lewat disusul jeritan kesakitan yang memilukan ha-ti berkumandang memecahkan keheningan.
Kaki kiri Cia Tiong giok sebatas lutut telah terbabat putus oleh pedang emas itu hingga seluruh tubuhnya roboh terjungkal ke tanah.
Keng Cin sin tak menginginkan dia mati, maka dengan cepat dia menotok beberapa buah jalan darah disekitar kaki kirinya itu, agar darah yang mengucur keluar segera berhenti.
Kemudian....
Dengan suatu gerakan cepat Keng Cin sin memotong semua otot yang berada di tangannya, agar dia tak bisa bunuh diri.
Dia pun memotong lidahnya agar dia tak dapat berbicara.
Kemudian secara beruntun dia memotong telinganya, menyodok pecah kendang telinga tersebut, memotong hidungnya dan mencokel mata kirinya.
Dengan pedang dia pun mencincang wajahnya yang tampan sehingga hancur tak berwujud.
Akhirnya dia melepaskan sebuah pukulan beracun Jian tok im-kang di atas tubuhnya.
Ilmu pukulan beracun ini tak akan membuat orang menjadi mampus, tapi akan mendatangkan siksaan dan penderitaan yang luar biasa, setiap hari akan kambuh selama satu jam.
Gelak tertawa yang seram dan menusuk pendengaran segera berkumandang memenuhi seluruh angkasa.
Akhirnya Keng C in sin berangkat meninggalkan tempat itu.
Walaupun dia telah melampiaskan perasaan dendam dan bencinya, namun semua perbuatannya itu tidak mendatangkan manfaat apa-apa terhadap kesucian tubuhnya.
Didengar dari gelak tertawanya yang menyeramkan, dapat disimpulkan betapa sedih dan pilunya hati perempuan itu.
Mayat yang hancur berserakan dimana-mana, darah kental melapisi seluruh permukaan tanah, hanya sesosok tubuh yang masih berkelejitan tiada hentinya, Itulah tubuh dari si pedang emas Cia Tiong giok, sekarang dia sedang menjalani siksaan hidup yang paling keji dan paling brutal ..
...
Walaupun dosa dan penderitaan tersebut harus diterimanya sebagai buah dari semua kejahatan dan kebusukan yang pernah dilakukannya selama ini.
Tapi kebrutalan, kekejaman, kesadisan serta kebuasan yang tertera didepan mata sekarang, cukup membuat orang merasa tak tega dan ngeri.
Siapa pun akan merasakan bulu romanya pada bangun berdiri setelah menyaksikan keadaan disitu, siapapun akan merasakan hatinya tercekat dan seram melihat kesemua nya itu.
Kini si pedang emas Cia Tiong giok sedang bergulingan diatas tanah sambil mengerang kesakitan.
Rambutnya terurai kalut, wajahnya penuh dibasahi oleh darah segar, wajahnya yang jelek dan menyeramkan jauh lebih mengeri kan dari pada wajah setan iblis.
Sementara dari mulutnya terdengar bunyi aah, aah, uuh....
tiada hentinya.
Suara tersebut cukup mengibakan hati siapapun yang mendengarkan, cukup menimbulkan rasa kasihan orang.
Yaa, beginilah akhir dari seoraug yang terlalu banyak melakukan kejahatan.
Dia bergulung krian kemari, bertguling menuruniq bukit tersebutr untuk merasakan siksaan dan penderitaan sepanjang masa hidupnya.
Sinar keemas-emasan telah condong ke langit barat, saatnya senja memenuhi seluruh angkasa.
Menyusul kemudian ...
Kabut kegelapan yang tebal menutupi seluruh udara yang membentang di atas jagad raya.
Bukit Im cu san....
Suasana terasa sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun, angin gunung berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan ranting pohon dan dahan, bayangan daun serta suara gemerisik dari semak belukar, mendatangkan semacam suasana yang menakutkan.
Di saat seperti inilah, tampak sesosok bayangan manusia meluncur mendekat dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Dia berdiri diatas puncak bukit dan menghela napas sedih, gumamnya lirih.
"Sudah berjam-jam lamanya kucari, namun tak sebatang rumput Im cu cau pun yang kutemukan, bukit Im cu san yang begini luas pada hakekatnya telah kucari semua dengan teliti... aaai, mungkinkah aku telah salah jalan atau tersesat? Atau mungkin bukit ini bukan bukit Im cu san?"
Orang ini tak lain adalah Leng hun koay seng (Sastrawan aneh bersukma dingin) Ku See hong yang berpisah dengan Keng Cin-sin.
Untuk mendapatkan rumput Im cu cau, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sempurna serta melakukan perjalanan siang malam tak hentinya, ia berangkat kemari.
Namun, kendatipun seluruh bukit Im cu san sudah hampir dicari semua, kolam Im cu tham yang dimaksudkan Thi bok sin kiam Cu Pok belum juga ditemukan.
Malam itu awan tipis dan bintang amat jarang, suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap dan tiada kedengaran sedikit suara pun.
Tapi dibalik kesemuanya itu, secara lamat-lamat justru secara mengandung hawa pembunuhan yang mengerikan hati.
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat, Ku See hong mengawasi sekeliling tempat itu...
Dimana-mana batu gunung berdiri berserakan dengan pepohonan cemara yang menjulang ke angkasa, keadaannya sangat menyeramkan.
Ditengah kegelapan malam, sekeliling situ seolah-olah penuh dengan bayangan setan yang setiap saat bakal muncul saja.
Kesemuanya itu mendatangkan semacam perasaan seram, ngeri dan memedihkan hati.
Mendadak mencorong sinar tajam yang memancarkan sinar kebencian dari balik mata Ku See hong, serunya tiba-tiba.
"Jangan jangan Thi bok sin kiam Cu Pok sengaja membohongi aku agar dia dapar meloloskan diri .....
Mendadak......
Serentetan suara tertawa dingin yang menyeramkan bergema memecahkan kehe-ningan dan memotong gumamannya itu..
Suara tertawa dingin yang amat mengerikan hati bagaikan segulung angin dingin yang berhembus keluar dari gudang salju.
Dengan suara dalam Ku See hong membentak keras.
"Setan dedemit dari mana yang telah hadir disini?
Mengapa tidak segera menampakkan diri!' Baru selesai dia membentak, dari beberapa puluh kaki dihadapannya muncul sesosok bayangan manusia yang meluncur tiba dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
ooo00dw00ooo BAB 44 KU SEE-HONG menjerit kaget.
"Haah, rupanya kau! Sudahkah kau temukan rumput Im cu cau tersebut...?"
Rupanya orang yang baru saja munculkan diri itu adalah Thi bok sin kiam Cu Pok. Sambil mencibirkan bibirnya dia perdengar kan suara tertawa seram yang penuh kelicikan, katanya.
"Ku sute, sudah lama rupanya kau sampai disini, oleh karena aku kuatir sute tak berhasil menemukan rumput Im cu cau tersebut, maka aku khusus datang kemari untuk memberi petunjuk, baru saja sampai disini, aku telah bertemu dengan sute. 'Coba kalau sute tidak mengeluarkan suara dari kejauhan sana aku pasti mengira kau sebagai setan dedemit atau orang jadi-jadian"
Ku See hong segera mendengus dingin.
"Hmm, benarkah ditempat ini terdapat rumput Im cu cau?"
Tegurnya kemudian. kembali Thi bok sin kiam Cu Pok tertawa licik.
"Sute mengapa kau jadi banyak curiga sih? Masa aku akan bergurau denganmu? Apalagi kita toh melakukan suatu usaha barter? "
Rumput Im cu cau berada di sebelah sana, aku akan segera membawamu ke situ. cuma... apakah sute telah menurunkan isi bait lagu dari Dendam sejagad tersebut di atas kertas? "
"Asalkan rumput Im cu cau tersebut telah kutemukan, sudah pasti bait lagu Dendam sejagad akan kuserahkan kepadamu seperti apa yang telah kita janjikan"
Mendengar ucapan mana, Thi bok sin kiam Cu Pok nampak agak tertegun, kemudian katanya sambil tertawa.
"Boleh aku bertanya kepada sute, apakah bait lagu tersebut telah kau salin diatas kertas?"
"Belum! "
Paras muka Thi bok sin kian Cu Pok segera berubah sangat hebat, tapi hanya sebentar saja sudah lenyap tak berbekas, kembali dia berkata lagi.
"Ku sute, mengapa kau begitu tak memegang janji?..
"Seandainya bait lagu Dendam sejagad tersebut telah kusalin, memangnya kalian hendak membegalnya? "
Boleh saja bila kau menginginkan bait lagu tersebut, tapi kalian harus mendapatkan rumput im cu cau lebih dulu dan mengobati pengaruh racun Im hwee si hun wan dan nona Im Yan cu, asal racun tersebut sudah punah, pasti bait lagu tersebut akan kuserahkan kepadamu' Thi bok sin kiam Cu Pok tertawa seram.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... Ku sute begitu menaruh curiga terhadap orang lain, kau anggap orang lain juga bersedia untuk mempercayai dirimu?"
"Aku orang she Ku bukan manusia laknat sepertimu, yang sukanya melakukan penghianatan terhadap perguruan dan bicaranya mencla-mencle tak bisa dipercaya!"
Mendengar perkataan itu, paras muka Thi bok sin kiam Cu Pok segera berubah menjadi hijau membesi, serunya sambil tertawa seram.
"Mana, mana! Ku sute memang orangnya kelewat jujur dan berhati mulia..."
"Tak usah banyak berbicara lagi, sekarang lebih baik segera membawa aku untuk mencari rumput Im cu cau tersebut"
Thi bok sin kiam Cu Pok tertawa dingin.
"Heeehhhh...heeehhh...heeehhh...Ku sute, mengapa kau harus terburu napsu? "Baiklah, ikutilah aku!"
Apa yang dipikirkan oleh Ku See hong sekarang adalah secepatnya mendapatkan rumput Im cu cau dan menyembuhkan racun cabul yang mengeram didalam tubuh Im Yan cu.
Boleh dibilang dia sudah kehilangan kecerdasan otak maupun ketelitian, kalau tidak sudah pasti akan dirasakan olehnya akan kelicikan serta kebohongan orang tersebut.
Sementara itu, Thi bok sin kiam (pedang sakti kayu besi) Cu Pok telah berangkat menuju ke depan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.
Ku See hong mengikuti terus secara ketat di belakangnya, dia membuntuti dari jarak tiga kaki di belakang Thi bok sin kiam Cu pok.
Ditengah kegelapan malam, terasa angin gunung berhembus kencang dan menggoyangkan daun ranting pohon di sekeliling tempat itu, bayangan aneh seperti dedemit bermunculan di sana sini dan seolah-olah sedang menantikan korban yang datang untuk menghantar kematian.
Baik Thi bok sin kiam Cu pok maupun Ku See hong, kedua-duanya merupakan jago lihay kelas satu dalam dunia persilatan, ilmu meringankan tubuhnya telah mencapai tingkatan yang luar biasa sekali, tak selang berapa saat kemudian mereka berdua sudah melalui beberapa buah puncak bukit.
Tak jauh di depan sana terdapat sebuah selat yang ke dua belah sisinya terbentang dua bukit yang terjal, sejauh mata memandang hanya batuan cadas saja yang berserakan dimana-mana, makin ke dalam selat keadaan medannya semakin bertambah bahaya.
Tak tahan lagi Ku See hong segera menegur.
'Hei, masih berapa jauh lagi?"
Oleh karena tengah hari tadi, Ku See hong merasa seakan-akan pernah sampai disitu dan waktu itu dia seperti tidak melihat adanya telaga di sana. Thi bok sin kiam Cu Pok tertawa licik dengan seramnya.
"Heeeehhh....heeehhh... heeehhh asal sudah masuk ke dalam selat nanti, kau toh akan mengetahui dengan sendirinya!"
Ditengah pembicaraan tersebut, mendadak tubuh Cu Pok melejit ke tengah udara dan menerjang ke dalam lembah tersebut bagaikan seekor burung elang yang akan menerkam mangsanya.
Ku See hong tidak curiga kalau ada tanda bahaya, dia ikut pula menerjang masuk ke dalam dengan kecepatan yang tak kalah hebatnya.
Mendadak pada saat itulah..
Cu Pok yang berada di depan begitu mencapai permukaan tanah, dia segera memperdengarkan suara tertawa liciknya yang seram dan tajam amat menusuk pendengaran.
Begitu gelak tertawa seramnya dikumandangkan, tubuhnya segera berputar cepat, sepasang telapak tangannya segera membentuk gerakan melingkar di udara.
Ditengah kegelapan malam yang mencekam terasa gulungan hawa dingin yang menusuk badan bagaikan amukan angin topan saja langsung menerjang ke tubuh Ku See hong dengan kecepatan luar biasa.
Padahal waktu itu Ku See hong sedang menerjang ke depan dengan kecepatan luar biasa, dia sama sekali tidak menyangka kalau Cu Pok bakal melancarkan serangan secara tiba-tiba.
Begitu merasakan datangnya ancaman bahaya maut, tubuhnya telah berada hanya satu kaki saja di atas tubuh Cu Pok.
Sementara pukulan dahsyat bagaikan amukan angin puyuh tersebut telah menggulung tiba pula dengan kecepatan luar biasa..Tindakan semacam ini benar-benar luar biasa, jangankan lagi manusia biasa, jago lihay yang berilmu amat tinggi pun belum tentu akan berhasil untuk menghindarkan diri.
Orang bilang serangan secara terang-terangan gampang dihindari, serangan secara gelap sukar diduga.
Segulung angin pukulan yang maha dahsyat itu secara telak segera bersarang di atas tubuh Ku See hong.
Namun Ku See bong sama sekali tidak muntah darah dan mati, tubuhnya hanya melejit ke tengah udara, lalu seenteng selembar bulu segera melayang di tengah angkasa mengikuti berhembusnya angin serangan yang maha dahsyat itu.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 31 TERNYATA disaat yang kritis Ku See hong telah mengeluarkan ilmu gerakan tubuh Mii khi biau tiong sin hoat yang maha dahsyat itu, dengan mengandalkan hawa murninya dia membuat seluruh tubuhnya menjadi enteng bagaikan selembar bulu, hal mana membuat angin pukulan maha dahsyat yang menyergap tubuhnya itu sama sekali tidak menghasilkan apa-apa kendati pun bersarang secara telak diatas badannya, Perlu diketahui, Kepandaian silat yang dimiliki Ku Se hong sekarang sangat lihay, terutama sekali dalam ilmu meringankan tubuh serta ilmu pukulan, kemajuan yang berhasil dicapai sangat pesat.
Kesemuanya ini berkat dia telah minum darah mestika Tee liong hiat poo serta melatih ilmu Kan kun mi siu sin kang yang maha dahsyat tersebut.
Thi bok sin kiam Cu Pok yang menyaksikan kejadian tersebut marasakan hatinya bergetar keras, dengan cepat dia berpikir.
"Kepandaian silatnya telah berhasil mencapai tingkatan yang luar biasa sekali, bila malam ini tidak banyak jago lihay yang turut hadir disini, sulit rasanya untuk menaklukkan bajingan cilik ini"
Sementara itu Ku See hong telah melayang turun kembali ke atas tanah dengan enteng nya, dengan suara menggeledek dia segera membentak.
"Cu Pok, kau benar-benar sudah bosan hidup?"
Thi bok sin kiam Cu Pok tertawa seram.
"Heeehhh...heeehhh...heeehh... Ku sute. kau sendirilah yarg sudah bosan hidup, terus terang kuberitahukan kepadamu, kau sudah terperangkap oleh jebakanku"
Mendadak...
Suara tertawa seram yang menggidikkan hati berkumandang hampir bersamaan waktu nya dari empat arah delapan penjuru di sekeliling lembah tersebut, lalu mengikuti hembusan angin malam tersebar sampai dimana-mana.
Suara tertawa seram tersebut ibarat suara tangisan setan atau lolongan serigala membuat siapapun yang mendengar suara tertawa tersebut segera berdiri semua bulu romanya.
Terdengar suara aneh yang menyeramkan tadi bersahut-sahutan dan menggema di seluruh lembah tersebut, bahkan dari setiap sudut lembah itu seakan-akan berkuman-dang pula suara aneh yang memekikkan telinga itu.
Begitu seram dan kacaunya suasana ketika itu, membuat perasaan orang bertambah ngeri rasanya.
Dengan paras muka berubah hebat, Ku See hong tertawa dingin, kemudian tegurnya.
"Cu Pok, rupanya watak bangsatmu masih belum juga berubah, sesunguhnya aku orang she Ku masih ingin memberi sebuah kesempatan kepadamu untuk memperbaiki hidupnya, tak nyana kalau kau masih tetap berhati licik dan buas.
Terpaksa aku harus melakukan pembunuhan secara besar-besaran pada malam ini!
Mengapa kawanan anak buahmu tidak kau suruh keluar semua agar aku orang she Ku bisa sekalian mengirim mereka pulang ke akhirat?
Lebih baik tak usah meniru cara dedemit untuk menakut-nakuti orang lagi, aku tak bakal menjadi ketakutan oleh permainan jelekmu itu.
Baru selesai dia berkata, mendadak dari balik kegelapan sana berkumandang suara gelak tertawa yang keras sekali.
Suara tertawa tersebut bagaikan ada selaksa kuda yang sedang berlari bersama, begitu keras dan melengkingnya hingga menusuk pendengaran dan menggetarkan seluruh lembah tersebut.
Di tengah gelak tertawa yang amat nyaring, dari balik kegelapan segera bermunculan sesosok bayangan manusia bertubuh pendek dan sesosok bayangan manusia bertubuh jangkung.
Tampak orang itu menggunakan kecepatan yang mengaburkan pandangan mata, hanya didalam beberapa kali kelebatan saja sudah tiba disisi badan Cu Pok.
Menyusul kemudian bermunculan lagi empat sosok bayangan manusia yang di ikuti pula oleh belasan sosok bayangan lainnya.
Ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki rata-rata amat tinggi dan sempurna, hanya di dalam waktu singkat semua gembong iblis tersebut telah mengepung tubuh Ku See hong rapat-rapat.
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu Ku See hong memandang sekejap wajah-wajah manusia yang berada disana kemudian hatinya amat terkesiap, dia tahu lebih banyak bahaya daripada keuntungan baginya pada malam ini.
Kakek pendek dan jangkung yang bermunculan lebih dahulu tadi adalah dua orang pangcu yang termashur namanya dari Thi kiong pang dan Jian khi pang.
Yang bertubuh pendek dan memelihara jenggot kambing berkulit hitam dan bermata tajam itu adalah ketua dari perkumpulan Thi kiong pang yang disebut orang sebagai Thi bie hui ki (tombak terbang berwajah baja) Song Ko piau.
Sedangkan kakek kurus jangkung itu adalah pangcu dari perkumpulan Jian khi pang yang bernama Ma kiam (si pedang iblis) Toan Gi cong, dia berwajih pucat, bermata besar dengan tulang dahi yang menonjol tinggi serta sepasang alis mata yang amat tebal, raut wajahnya menyeramkan sekali.
Sedang empat sosok bayangan manusia yang mengikuti dibelakang mereka berdua adalah ke empat toa thamcu dari perkumpulan Ban shia kau, orang pertama adalah Sin hwee thamcu (ketua ruangan api sakti) Ang bin mo kun (Iblis sakti berwajah merah) Si Bu bong, orang ini belum pernah dijumpai Ku See hong sebelumnya, tampak orang tersebut berwajah merah darah dengan bulu penrdek berwarna hittam tumbuh padaq kedua tulang pripinya, jenggot yang pendek seperti tombak membuat tampangnya bertambah mengerikan.
Ilmu silat yang dimiliki orang ini lihay sekali, dalam perkumpulan Ban shia kau dia menempati kursi nomor lima.
Selanjutnya adalah Thamcu ruang Im hong, Thian jian tee ciat (langit cacad bumi merekah) Si Hun sia, Thamcu dari ruang Thian leng Mo pit siu (kakek berlengan iblis) Khong Yusiang) serta Thamcu ruang Tee hun.
Ta soat bu liang (menginjak salju tanpa bekas) Tam Cun khi..
Sedangkan puluhan orang lainnya adalah para Hiangcu dari perkumpulan Ban sia kau, Jian khi pang serta Thi kiong pang, kepandaian silat yang mereka miliki pun rata-rata merupakan jagoan kelas satu di dalam dunia persilatan.
Bila Ku See hong dengan kekuatan seorang diri ingin bertarung melawan kawanan gembong iblis tersebut, pada hakekatnya sulit sekali seperti mendaki kelangit saja..Diam-diam dia mengeluh dalam hati kecilnya setelah menyaksikan betapa banyak nya kawanan musuh yang bermunculan disitu, meski dalam hati kecilnya merasa amat terkejut, namun paras mukanya tetap dingin kaku seperti es.
Setelah mendengus dingin, katanya dengan suara menghina.
"Cu Pok, gara-gara kau seorang, apakah kau sengaja mendatangkan begini banyak begundalmu?"
Thi bok sinkiam Cu Pok tertawa seram.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... mana-mana! Terpaksa aku harus berbuat demikian oleh karena Ku sute memang bikin orang gemes sekali"
Sementara itu, ketua perkumpulan Thi kiong pang, si tombak terbang berwajah besi Seng Ko piau telah berseru pula sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh...haaahhh...haaahhh... Ku See hong, terus terang saja kami katakan, semua orang menaruh perasaan benci dan jeri kepadamu, oleh karenanya hari ini kami datang bersama-sama untuk menghabisi dirimu"
"Hmmm, kalian semua adalah musuh besar dari aku orang she Ku, bagus sekali, malam ini juga kita dapat menyelesaikan pula persoalan diantara kita semua"
Secara diam-diam, Thi bok sin kiam Cu Pok harus mengagumi juga akan kebesaran nyali Ku See hong.
kendati pun sudah dikurung oleh begitu banyak jago lihay, ternyata dia tidak memperlihatkan rasa seram atau gugup, bahkan paras mukanya pun sama sekali tidak berubah..
Tee hun thamcu, si Penginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi tertawa dingin.
"Heeehhh... heeehh...heeehhh... orang she Ku, kau tak usah menghajar bengkak wajah sendiri mengaku sebagai si gemuk. malam ini kau sudah berada dibayah kepungan begini banyak jago lihay kami, janganlah berlagak seperti naga sakti yang bersayap lagi, sebab pada hakekatnya keadaanmu seakan-akan katak yang sudah masuk dalam keranjang"
Dengan sinis dan nada menghina, kembali Ku See hong mendengus ketus.
"Hm....hmm, kalian tak lebih hanya manusia-manusia rendah yang tak tahu malu, lebih baik tak usah banyak berbicara lagi, malam ini adalah malam sial bagi kalian semua, karena kamu semua berani mencari gara-gara denganku"
Sin hwee than-cu si iblis Sakti berwajah merah Si Bu Long tertawa keras pula dengan suaranya yang macam gembrengan bobrok.
"Haaahhh... haaaahh... haaahhh-kalau didengar dari nada pembicaraanmu, tampak nya kau si bajingan tengik memang sombong nya bukan kepalang, sebentar aku orang she Si harus mencoba lebih dulu akan kemampuanmu, aku ingin tahu sampai dimanakah kehebatan ilmu silat yang kau miliki sehingga begitu berani bersikap latah kepada kami semua"
Sementara itu, Ku See hong telah menyadari betapa seriusnya persoalan yang mereka hadapi, oleh sebab itu dia berusaha keras untuk menenangkan hatinya, kemudian tertawa dingin.
"Heeeeehhh...heeeeehhh....heeehhh.. siapakah kau? Bila kudengar dari nada pembicaraanmu itu, mungkin kau termasuk seorang manusia yang punya nama dan kedudukan, baiklah, aku orang she Ku pasti akan melayani keinginanmu itu"
"Ku sute!' Thi bok sin kiam Cu Pok segera berkata.
"kau tak usah berbicara sombong lagi, dia adalah Sin hwee thamcu dari perkumpulan kami, hari ini sengaja kubawa untuk melayani kebinalanmu itu. Tapi sebelum segala sesuatunya berlangsung, lebih dahulu aku hendak mengajakmu untuk berunding secara baik-baik, apa lagi mengingat kita berdua masih mempunyai hubungan perguruan.' "
Sekarang, asal kau bersedia untuk mempersembahkan pedang Ang soat kiam yang tergantung dipunggungmu serta bait lagu Dendam sejagad, maka kami tak akan menyusahkan dirimu lagi, sebagai orang pintar tentunya kau sudah dapat melihat dengan jelas keadaan disekeliling tempat ini bukan?
Dan aku pikir tak usah banyak pembicaraan lagi..?' Begitupun lebih baik lagi, maka orang she Ku juga secara ringkas ingin mengucapkan sepatah kata, bila kalian merasa punya kepandaian silat yang hebat, silahkan saja untuk mengambil sendiri kedua macam benda tersebut "
Ketua Jian khi pang, si pedang lblis Toan Ghi kong tertawa seram.
' Heeehhh...heeehhh...heeehhh.
apakah kau lupa kalau dirimu itu cuma seorang diri?
apakah kau yakin bisa menghadapi kami semua?
Ketahuilah, orang-orang tersebut tak akan bersikap sungkan terhadap dirimu"
Ku See hong tahu kalau ini penuh dengan kemunafikan, kelicikan serta kebusukan.
Sudah pasti kawanan manusia laknat tersebut tak akan mengajak dirinya untuk berbicara keadilan dan kebenaran dari dunia persilatan.
Perasaan hatinya sekarang benar-benar bergolak keras, namun paras mukanya sama sekali tak berubah, malahan sambil tertawa nyaring dia berkata dengan santai.
"Cara istimewa kalian ini sudah pernah dilakukan satu kali ketika berlangsungnya pertarungan dibukit Soat san tempo hari, tapi kenyataannya toh cuma begitu-begitu saja dan tiada sesuatu yang luar biasa, aku seorang she Ku sudah banyak mendengar dan banyak melihat akan perbuatan kalian tersebut"
Tentu saja yang dimaksudkan oleh Ku See hong adalah pengerubutan oleh kawanan jago dari dunia persilatan atas diri Bun ji koan su Him Ci seng dibukit Soat san tempo hari.
Diam-diam para jago lihay yang pernah mengikuti pertarungan di bukit Soat san tempo hari merasa amat terperanjat, mereka tak bisa menduga apa sebabnya Ku See hong bisa memiliki keberanian yang begitu luar bibasa?
Mungkinkahd dia memiliki kaepandalan luar bbiasa yang bisa dipakai untuk menghadapi kerubutan mereka...?
Thian jian tee ciat Hun sia tertawa seram, lalu berseru.
"Orang she Ku, malam ini meskipun kau memiliki kepandaian silat yang maha dahsyat pun, jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat. Ku See-hong tertawa lebar.
"Kalau memang begitu, mengapa tidak kita buktikan saja dengan kekuatan tantangnya. Thi bok sin kiam Cu Pok, turut tertawa pula.
"Ku sute, orang bilang, seorang Enghiong harus tahu keadaan, tapi sekarang kau begitu tak tahu diri, berbicara dari kepandaian 1034 silat yang kau milikt, cukup ke empat orang Thamcu ku pun belum tentu bisa kau hadapi, lebih baik pentangkan dulu matamu lebar-lebar, daripada kita harus menggunakan kekerasan' Kembali Ku See hong tertawa dingin.
"Cu Pok, tahukah kau bahwa seorang enghiong memiliki semangat pantang menyerah dan keberanian untuk menghadapi maut?"
"Aku orang she Ku tob belum tentu akan terkurung oleh kalian semua atau mati terbunuh ditangan kalian, sekarang apa salahnya kalau kalian utus saja ke empat orang thamcu yang diandalkan itu unjuk kekuatan.."
Maksud Ku See hong dengan ucapannya tersebut adalah ingin memancing kemarahan dari ke empat thamcu tersebut sehingga mereka terjun ke arena pertarungan dan menghadapinya bersama.
Bila hal tersebut sampai terjadi, maka dengan mengandalkan kepandaian silatnya yang maha dahsyat, akan dibunuhnya beberapa orang itu lebih dulu, setelah beberapa orang itu mampus, niscaya keberanian mereka pun akan menjadi luntur pula.
Thi bok sin kiam Cu Pok tertawa licik.
"Heeeeehhh... heeeehhh... heeeehhh... Ku sute, apakah kau hendak keras kepala mempertahankan pendapatmu itu? Apakah kau hendak memaksa kami untuk menundukkan kau dengan menggunakan kekerasan?"
"Tepat sekali! Ucapanmu itu memang tepat!"
Sin hwe thamcu si iblis sakti berwajah merah Si Bu bong tak sanggup mempertahankan diri lagi, dengan suara dalam dia segera membentak keras.
"Pimpinan Cu, ijinkanlah kepadaku untuk memberi pelajaran lebih dulu kepada bajingan cilik inì "
Su thamcu, kalian boleh bersama-sama membekuk bajingan keparat ini!"
Perintah Thi bok sin kiam Cu Pok dengan cepat. Dengan nada menghina Ku See hong tertawa dingin.
"Sin hwee thamcu, kalau dilihat dari tampang mu tadi, waduh sok nya bukan kepalang, lagaknya saja seakan-akan hendak mengajakku untuk berduel satu lawan satu, mengapa kau main kerubut sekarang ? Huuuh.. kalau berbicara tolong yang lebih jelasan sedikit, sesungguhnya kau ingin mengajak ke tiga orang rekanmu agar bisa mampus bersama?"
Sin hwee thamcu si Iblis sakti berwajah merah Si Bu bong merupakan seorang jago lihay yang kepandaian silatnya cuma setingkat dibawah Cu Pok serta ketua Jian khi pang dan Thi kiong pang, kecuali dengan mereka bertiga, dialah berilmu paling tinggi.
Pada dasarnya dia memang seorang manusia sombong yang terlampau mengung-gul kan kepandaian sendiri, dia sudah terbiasa berlagak jumawa dan ingin mencari menangnya sendiri.
Bayangkan saja, bagaimana mungkin dia bisa menerima ejekan dari Ku See hong tersebut?
Di ringi suara bentakan yang menggeledek, dia segera membentak keras.
"Bocah keparat, aku orang she Si akan menghajarmu sampai merangkak ditanah!"
Ditengah bentakan keras, tubuh si Iblis sakti berwajah merah Si Bu hong yang tinggi besar itu menerjang maju seperti hembusan angin puyuh, sepasang telapak tangannya diayun kan ke depan dan segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat bagaikan sambaran geledek cepatnya langsung menerjang tubuh Ku See hong.
Si anak muda itu tertawa dingin, mendadak dia berkelebat ke samping dengan suatu gerakan aneh, bukan saja berhasil meloloskan diri dari lingkaran hawa pukulan lawan, sebaliknya dia justru berhasil menyelinap ke sisi kanan lawannya.
Waktu itu, hawa membunuh sudah menyelimuti seluruh benak Ku See hong, dia tahu kalau dirinya sedang berada dikeru-butan banyak jago lihay, dalam posisi seperti ini tak mungkin lagi baginya 1036 untuk bersi-tegang atau tarik urat dengan mereka.
Tindakan satu-satunya yang paling tepat adalah turun tangan keji serta membinasa kan mereka semua satu persatu.
Tampak dia menyelinap ke sisi sebelah kiri dari si Iblis sakti berwajah merah, kemudian sambil membentak keras telapak tangan kanannya diayunkan ke muka, dan secepat kilat menotok lima buah jalan darah penting ditubuh si iblis sakti berwajah merah tersebut, yakni jalan darah Yang wang hiat, Hi han hiat, Wi cong hiat, pit bun hiat serta Ki si hiat.
Sementara telapak tangan kirinya dengan ke lima jari tangan dipentangkan, segera menyentil bersama ke muka ...
'Sreeet!
Sreet!
Sreeet!"
Ditengah desingan angin tajam yang menderu-deru, lima gulung angin serangan yang tajam bagaikan pisau langsung menyerang bagian tubuh yang mematikan diatas badan lawan.
Bukan saja gerak serangannya dilakukan dengan jurus serangan yang dahsyat, kecepatannya pun luar biasa, serangan tangan kiri dan tangan kanannya dilancarkan seolah-olah pada saat yang bersamaan..
Iblis sakti berwajah merah Si Bu hong adalah seorang yang berhati keji, begitu serangannya yang pertama mengenai sasaran kosong, secara beruntun sepasang telapak tangannya diayunkan bersama ke depan, sementara kakinya juga secepat kilat bergeser ke samping, secara tepat sekali dia berhasil meloloskan diri dari sambaran Ku See hong tersebut.
Tidak sempat Ku See hong berganti gerakan untuk melancarkan serangan berikutnya, dia sudah membentak keras, sepasang telapak tangannya diayunkan bersama-sama dan secara beruntun melepaskan tiga buah serangan berantai ke tubuh Ku See hong.
Didalam ketiga buah serangan ini, hampir semuanya digunakan jurus serangan yang maha dahsyat, bahkan setiap gerakanbnya dilepaskan dmelalui suatu saudut posisi yanbg sangat aneh.
Angin serangan yang dahsyat dan men-deru-deru, langsung menyapu ke depan.
Paras muka Ku See hong berubah hebat setelah menyaksikan kedahsyatan itu, diam-diam dia berpikir.
"Tenaga dalam yang dimiliki bajingan ini sungguh luar biasa, aku tak boleh memandang enteng kepadanya"
Dia tak berani memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melancarkan serangan ba-lasan, lagipula waktu itu memang tiada kesempatan baginya untuk dimanfaatkan, dalam keadaan demikian terpaksa dia harus melayang mundur ke belakang.
Dengan sombongnya Iblis sakti berwajah merah Si Bu hong tertawa seram.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh.. bocah keparat, rupanya kau cuma si tombak yang terbuat dari lilin. kemampuan hebatmu kau sembunyikan dimana? Dalam jurus serangan mendatang aku akan menyuruhmu mundur sejauh lima langkah..!"
Ditengah seruan mana, telapak tangan kiri Si Bu hong sudah diayunkan ke depan secepat sambaran petir, beribu-ribu ba-yangan telapak tangan segera diciptakan di tengah udara dan segulung demi segulung meluncur bersama ke depan.
Serangan tersebut dilancarkan dengan kekuatan yang luar biasa, jurus serangannya pun sangat hebat, ditengah udara segera tercipta beribu bayangan telapak tangan yang seakan-akan sedang melakukan ancaman bersama.
Selapis hawa pukulan maha dahsyat seperti amukan angin puyuh saja langsung menghantam ke tubuh lawan.
Mencorong sinar tajam yang menggidikkan hati dari balik mata Ku See hong, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan berpekik panjang dengan suara yang menggidikkan hati.
Setelah itu dengan mengeluarkan jurus ke tiga dari gerakan Ho han seng huan, yakni jurus Tee jian hun gi dia lepaskan sebuah ancaman maut ke muka.
Tampak si anak muda itu bukannya mundur sebaliknya malah mendesak maju ke depan, disambutnya angin pukulan yangb meluncur datandg dari depan itau dengan keras blawan keras, kemudian ketika angin serangan mana sudah berada tiga inci saja dari tubuhnya, tiba-tiba sepasang lengan nya digerakkan menciptakan suatu gerakan yang sangat aneh...
"Blaaaam! Blaaammmm"
Angin serangan yang dilancarkan oleh Iblis sakti berwajah merah itu bersarang telak ditubuh Ku See hong, namun kedahsyatan nya justru kena dipunahkan oleh hawa sakti Kan kun mi siu khikang yang terpancar keluar dari tubuhnya itu ....
Menyusul kemudian tampak serentetan cahaya putih bersih yang menyilaukan mata mendadak meluncur ke depan dan menerjang bagian mematikan bawah tubuh Iblis sakti berwajah merah tersebut...
Thi bok sin kiam Cu Pok yang menyaksikan kejadian tersebut segera berteriak kaget.
'Sin hwee thamcu, cepat mundur!.' Tapi waktu sudah terlambat, sebab Ku See hong tahu bahwa semua jago yang hadir di arena sekarang rata-rata mengetahui tentang keampuhan dari jurus serangan Ho han seng huannya itu, dia kuatir bila serangan mana dikeluarkan dan orang lain mengetahuinya sehingga menyerbu ber sama, niscaya usahanya untuk membinasakan si lblis sakti berwajah merah akan menemui kegagalan.
Itulah sebabnya dengan menyerempet bahaya bisa terhajar oleh serangan lawan yang dahsyat, dia menunggu sampai serangan musuh tinggal tiga depa dari tubuh nya ancaman maut tersebut baru dilancar kan secara tiba-tiba.' "Sreet!
Sreet!"
Desingan angin tajam yang memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan ......
Menyusul kemudian, serentetan jeritan ngeri yang memilukan hati bergema memenuhi seluruh angkasa.
Jalan darah Thian ki hiat dibawah jalan darah Khi hay hiat dibawah lambung iblis sakti berwajah merah Si Bu hong tahu-tahu sudah muncul sebuah lubang besar tertem-bus oleh sambaran cahaya putih tersebut, darah segar segera keluar menyembur keluar seperti semburan darah segar memaksa tubuh Si Bu hong mundur sejauh empat lima langkah.
Kemudian "Bluuurkkkk!"
Tubuhnyat yang tinggi beqsar itu roboh trerjengkang ke atas tanah dan tewas seketika itu juga.
Selama ini, Iblis sakti berwajah merah Si Bu hong terhitung jagoan kelas satu di dalam dunia persilatan, sungguh tak disangka dia tak tahan juga menghadapi serangan Hoo han seng huan yang maha dahsyat tersebut.
Dari sini dapat diketahui sampai dimanakah dahsyatnya serta mengerikannya jurus serangan tersebut.
Tindakan Ku See hong Yang membinasa kan Iblis sakti berwajah merah dengan jurus ketiga dari gerakan Ho han seng huan tersebut boleh dibilang dilakukan dalam waktu singkat, sedemikian mendadaknya sehingga para jago yang berada di sekitar arena sama sekali tak sempat untuk memberikan pertolongannya ....
Begitu berhasil membunuh iblis sakti berwajah merah, sekali lagi Ku See hong mempedengarkan suara pekikan anehnya yang memekikkan telinga....
Suara pekikan tersebut amat keras mengu-mandang dan mendirikan bulu roma orang..
Ditengah pekikan inilah, tubuh Ku See hong melejit ke tengah udara dan seperti burung raksasa yang terbang diangkasa, dia berputar satu lingkaran lalu menerjang ke depan.
Pada saat yang bersamaan pula, pedang mustika Hu thian sengkiam diloloskan dari sarungnya kemudian serentetan cahaya pedang seperti bianglala yang menyilaukan mata meluncur kedepan dan menyambar belasan orang hiangcu diluar arena tersebut.
Semua orang hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, empat orang hiangcu yang berdiri paling dekat dengan arena tahu-tahu sudah terkapar mati tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, semburan darah segar menyembur kemana-mana dan membasahi seluruh badan orang-orang yang berdiri disekitar situ.
Ku See hong cukup menyadari betapa berbahayanya posisi dirinya saat ini, dia bertekad untuk turun tangan lebih dahulu guna melenyapkan sebagian dari musuh-musuhnya sehingga dapat mengurangi kekuatan yang bakal menekan dirinya nanti.
Itulah sebabnya setelah berhasil membina-sa kan Iblis sakti berwajah merah tadi, dia segera mengeluarkan jurus pertama dari ilmu pedang Cang ciong ciat mia dari Si hong lo jin yang disebut Hui hong cha ki hiat seng wi.
Betul kawanan hiangcu dari Ban sia kau, Jian khi pang dan Thi kiong pang tersebut terhitung jago-jago kelas satu didalam dunia persilatan, namun bagaimana mungkin mereka bisa tahan menghadapi jurus pedang maha dahsyat yang diwariskan Si hong lo jin sejak tiga ratus tahun berselang itu?'.
Tampak Ku See hong melayang ditengah udara dengan gaya naga sakti melingkar kemudian pedangnya digetarkan sambil di putar kencang, gerak serangan pedangnya segera melesat diudara dan memancarkan cahaya tajam yang menyilaukan mata.
Dua jeritan ngeri yang memilukan hati kembali berkumandang memecahkan kehe-ningan, ditengah percikan darah segar kembali ada dua orang yang mampus sebagai setan tanpa kepala.
Sementara itu, Ku See hong yang kehabisan tenaga telah melayang kembali ke atas tanah, tapi ia sama sekali tidak berhenti, pedangnya kembali digetarkan menciptakan serentetan cahaya tajam yang menggulung seperti amukan ombak ditengah samudra.
Angin serangan tersebut dengan dahsyat nya pula menyambar ke tubuh kawanan Hiangcu tersebut dengan kecepatan yang luar biasa.
Sementara itu, kawanan Hiangcu yang berada disekitar sana telah bersama-sama meloloskan senjata masing-masing, ditengah jeritan kaget yang keras, busur baja pedang panjang maupun angin pukulan bersama-sama diayunkan ke depan menyongsong datangnya serbuan dari si anak muda tersebut.
Sekali lagi Ku See hong tertawa seram..
Kali ini pedang mestika Hu thian seng kiamnya diputar dan digetarkan menciptakan serentetan cahaya bianglala yang menyilau kan mata ....
"Trrringg ! Trrringg! Traaang! Traaang!"
Serentetan bunyi dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan.
Kembali Ku See hong melancarkan sebuah bacokan maut ke arah depan...
Kali ini berkumandang dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati, lagi-lagi ada dua lembar jiwa manusia yang melayang meninggablkan raganya.
Serentetan tindakan dari Ku See hong dalam usahanya membunuh delapan orang Hiangcu ini, boleh dibilang dilakukan dalam sekejap mata saja...
Tindakan dahsyat yang menggetarkan sukma ini kontan saja menimbulkan kehebohan bagi para Hiangcu sisanya yang telah kehilangan senjata tajam mereka karena terpapas kutung senjata mestika lawan tadi, tak bisa dicegah lagi mereka semua pada membubarkan diri dan mengundurkan diri dari situ dengan ketakutan.
Dalam pada itu, Ku See hong telah di pengaruhi oleh hawa pembunuhan yang menggidikkan hati, ditambah lagi kawanan manusia tersebut merupakan musuh-musuh besar yang harus dibunuh, dia lebih-lebih tidak mengenal ampun.
Bagaikan raja akhirat yang baru muncul dari dalam neraka saja, pedangnya diayunkan kian kemari melancarkan serangkaian serangan dahsyat untuk membantai kedua hiangcu tersebut.
Mendadak, pada saat inilah ....
Thi bok sin kiam Cu Pok dan ketua Jian khi pang si Pedang Iblis Toan Gi cong secara diam-diam menyelinap datang dari arah belakang, kemudian melancarkan sergapan secara tiba-tiba.
Segulung cahaya pedang berwarna hitam, dan segulung cahaya pedang berwarna putih, bagaikan sambaran bintang ditengah udara, satu dari kiri yang lain dari kanan langsung menusuk ke punggung Ku See hong dari arah belakang.
Kecepatan serangannya itu benar-benar lihainya bukan kepalang.
Begitu merasakan datangnya hawa pedang yang menyergapnya dari arah belakang, buru-buru Ku See hong melejit ke samping dengan ilmu gerakan tubuh Mi khi biau tiong sin hoat untuk meloloskan diri.
' Sreeet..!"
Desingan angin tajam bergema membelah angkasa.
Ku See hong mendengus tertahan, tahu-tahu bahu kirinya sudah tersambar oleh pedang kayu besi milik Thi bok sin kiam Cu Pok sehingga terluka, darah segar dengan cepat menyembur keluar dan membasahi seluruh tubuhnya.
Akan tetapi disaat Ku See hong melejit ke samping inilah, pedang Hu thian seng kiam nya dengan disertai hawa pedang yang menggulung-gulung diiringi suara desingan angin tajam menggulung ke tubuh kawanan Hiangcu tersebbut.
ooo0dw0ooo BAB 48 SISA enam orang hiangcu yang masih hidup sama sekali tidak menyangka kalau Ku See hong begitu bernapsu untuk membinasa kan mereka, sebelum orang-orang itu mengetahui apa yang terjadi, kembali terdengar dua jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan keheningan Menyusul kemudian kembali ada dua orang hiangcu yang terkapar diatas tanah.
Kejadian ini kontan saja mengejutkan empat orang Hiangcu lainnya, mereka menjadi amat ketakutan serasa sukma melayang meninggalkaa raganya saja.
Berada dalam keadaan demikian mereka tak berani melakukan perlawanah lagi, di iringi bentakan nyaring, mereka bersama-sama menyebarkan diri untuk mencari selamat.
Waktu itu seluruh tubuh Ku See hong sudah basah oleh darah, seperti seekor binatang buas yang sedang gila saja, dia membentak amat keras.
Pedang mestika Hu thian seng kiam kembali meluncur ke angkasa menciptakan selapis cahaya bianglala, hawa pedang yang tajam menyapu rata kearah depan, lalu terdengarlah serentetan jeritan ngeri yang memilukan hari bergema memecahkam keheningan.
Suara jeritan yang menusuk pendengaran dan mendirikan bulu roma itu segera mengalun diseluruh angkasa.
Empat belas orang hiangcu dari Ban Sia kau, Jian ki pang serta Thi kiong pang telah tewas semua secara mengenaskan diujung pedang Ku See hong, mereka tewas kalau bukan dengan lengan kutung tentu kaki mereka terpapas, darah berbahu amis tersebar dimana-mana dan menyiarkan bau yang amat memualkan.
Pemandangan waktu itu benar-benar mengerikan sekali.
Di saat Ku See hong telah berhasil membinasakan Hiangcu yang terakhir, Thi bok sin kiam Cu Pok, si pedang iblis Toan Gi cong, si tombak terbang berwajah besi Song Ko piau, Thian jian te-jiat Si Hun sia, si kakek berlengan iblis Khong Yu siang dan si penginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi, enam orang jago lihay dari dunia persilatan bersama-sama melancarkan serangan dahsyat ke tubuh Ku See hong.
Jurus pedang, tenaga pukulan, bayangan kaki, seperti badai dahsyat yang menyapu seluruh jagad.
Bersama-rsama ditujukan tkebagian yang mqematikan dituburh Ku See hong..Mendadak berkumandarg suara pekikan panjang yang menusuk pendengaran bergema diangkasa...
Tiba-tiba saja Ku See hong melejit ke tengah udara dan berputar tiga lingkaran di tengah angkasa, lalu bagaikan naga sakti yang menembusi langit tingkat sembilan, pedang mestika Hu thian seng kiam ditangannya seperti bianglala panjang segera menusuk kedepan secepat sambaran petir, bagaikan bendungan yang ambrol saja, serentak ancaman itu menggulung batok kepala orang jagoan tersebut.
Jurus serangan ini benar-benar merupa kan suatu ancaman yang amat mengerikan hati.
Keenam orang jago lihay itu membentak bersama, serentak mereka membuyarkan serangan sambil melompat mundur ke belakang.
Gerakan tubuh Ku See hong yang sedang berputar-putar di angkasa pun lambat laun bertambah lambat, tampaknya dia akan segera melayang turun keatas tanah.
Mendadak tebuhnya melengkung kemudian melejit, cahaya pedangnya diputar kencang, hawa pedang menderu-deru dan membiaskan serentetan cahaya tajam yang menyilaukan mata, secepat sambaran kilat meluncur ke arah Jian khi pangcu si pedang iblis Toan Gi cong serta Thi kiong pangcu si tombak terbang berwajah besi Seng Ko piau.
Gerak serangan pedang ini benar-benar ibaratnya bayangan setan yang menyambar-nyambar.
Inilah jurus ketiga dari ilmu pedang Cang ciong ciat mia kiam yang disebut Keng biau keng tee pai kut hui (angin puyuh menyapu tanah, tulang hancur tubuh menjadi cacad).
Si pedang iblis Toan Gi cong dan si tombak terbang berwajah baja Seng Ko piau merasa kan ada segulung hawa dingin yang menyayat badan menggulung tiba dengan kecepatan luar biasa.
Kedua orang itu menjadi amat terkesiap, buru-buru Toan Gi cong menggerakkan pedangnya memainkan sebuah gerak serangan yang khusus dipakai untuk menggetarkan pedang lawan, maksudnya dia hendak mengandalkan hawa pedang untuk mementalkan serangan tersebut.
Sebaliknya si tombak terbang berwajah baja Seng Ko piau menggunakan senjata busur bajanya memainkan suatu pertahanan yang kuat dan rapat untuk melindungi diri dari ancaman lawan.
Tapi kenyataan berbicara lain, mendadak terdengar dua kali suara dentingan nyaring..
"Cri ing! Crii nggg!"
Dua kali dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan.
Tahu-tahu senjata tajam yang dipergunakan kedua orang itu sudah terpapas kutung oleh ayunan pedang Hu thian seng kiam yang sangat tajam itu.
Ku See hong dengan gerak serangan yang sama sekali tak berubah segera memapaskan pedangnya keatas batok kepala kedua orang itu, ancaman mana segera mengejutkan hati mereka hingga sukma serasa melayang meninggalkan raganya.
Tampaknya ketua dari Thi kiong pang dan Jian khi pang segera akan terluka diujung pedang Hu thian seng kiam tersebut.
Tapi disaat yang kritis itulah, Thian jian tee ciat Si Hun sia yang berada di samping arena bersama-sama si Penginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi dan si kakek berlengan iblis Khong Yu siang telah mengayunkan senjata tajamnya sambil menerjang datang.
Dalam posisi demikian, andaikata Ku See hong melanjutkan serangannya untuk melukai kedua orang itu.
dia sendiripun pasti akan terluka juga, bahkan ancaman itupun merupakan suatu ancaman yang bisa merenggut selembar jiwanya.
Terpaksa dia harus membuyarkan jurus serangan dan sambil melompat mundur ke belakang, tubuhnya mengigos ke samping dengan suatu gerakan yang sangat aneh.
Disaat ujung kakinya baru menyentuh permukaan tanah itulah.
Kembali terdengar suara tertawa dingin yang memekikkan telinga bergema tiba di sisi kiri Ku See hong..
Pedang kayu besi dari Thi bok sin kiam Cu Pok secepat kilat telah menusuk ke arah pinggangnya dari arah belakang, bersamaan juga..
'Weees telapak tangan kiri Cu Pok dengan disertai desingan angin pukulan yang maha dahsyat menghantam ke iga sebelah kirinya.
Sergapan yang dilakukan tersebut selain berkekuatan dahsyat, juga membawa suatu ancaman yang berbahaya.
Ku See hong memang hebat, sambil membentak keras dia mengerahkan tenaga dalamnya sambil melepaskan sebuah pukulan dengan tangan kirinya, kemudian tubuhnya berkelit ke samping dengan kecepatan seperti bayangan setan.
Thi bok sin kiam Cu Pok boleh di bilang merupakan seorang manusia yang licik dan berbahaya.
Sesungguhnya sergapan yang dilakukan olehnya itu hanya merupakan suara serangan tipuan belaka, disaat Ku See hong mengayunkan telapak tangan kirinya sambil berkelit ke samping itulah ....
Waktu itu dia telah membuyarkan serangannya sambil mundur kebelakang, dia memang bermaksud untuk menantikan serangan selanjutnya dari Ku See hong, Waktu itu, pedang kayu besinya sudah di pindahkan ke tangan kiri, sedangkan telapak tangan kanannya dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat menghajar ke punggung Ku See hong.
Thi bok sin kiam Cu Pok mengetahui kalau Ku See hong memiliki hawa sakti Kan kun mi siu khikang yang tidak takut menghadapi serangan musuh yang bagaimana pun hebatnya, oleh sebab itu serangan yang dilancarkan olehnya sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun.
Serangan berat semacam ini merupakan suatu serangan yang berbahaya sekali, sebab tatkala ancaman dilakukan pada hakekatnya tidak menimbulkan sedikit suara pun, tapi setelah menyentuh pada tubuh sang korban, kekuatannya baru terpancar keluar.
Ancaman semacam ini pada hakekatnya merupakan suatu ancaman yang dahsyat, dan amat berbahaya, Tatkala Ku See hong menghindar ke samping tadi, dia sama sekali tidak menyang-ka kalau Cu Pok sudah menanti di belakang tubuhnya, menanti dia merasakan adanya sesuatu yang aneh dibelakang tubuhnya, telapak tangan kanan Cu Pok telah berada satu inci saja dibelakang punggungnya.
Dalam terkejutnya, mendadak dia berjongkok sambil menjatuhkan diri kemuka.
Dengusan tertahan segera bergema memecah kan keheningan.
Bahu kiri Ku See hong yang terluka bekas bacokan tadi telah tersapu oleh hantaman Cu Pok, kontan saja Ku See hong muntah darah, dia mundur sejauh tujuh delapan langkah dengan sempoyongan.
Dalam pada itu, Thian jian tee jiat, Si penginjak salju tanpa bekas, si Kakek berlengan iblis serta si pedang iblis dan si tombak terbang berwajah besi telah mengambil sebilah pedang dan busur besi dari tangan mayat mayat Hiangcu itu, kemudian bersama-sama mengerubut kedepan.
Ku See hong membentak nyaring.
"Siapa yang berani maju lagi!"
Rupanya dia telah menggunakan sebuah jurus pertahanan dari ilmu pedang Cang ciong-ciat mi kiam untuk mempertahan diri.
Dengan menghunus pedang Hu thian seng kiamnya melintang didepan dada dan tubuh berdiri ke arah samping, telapak tangan kirinya diayunkan ke muka dengan suatu gerakan yang aneh sekali, dibalik serangan yang aneh inilah sesungguhnya mengandung hawa pembunuhan yang luar biasa sekali.
Enam orang yang berada diarena sekarang merupakan gembong-gembong iblis yang luar biasa, mereka semua tentu saja mengetahui akan kelihayan jurus pedang yang dilakukan Ku See hong sekarang, karena itu untuk sementara waktu mereka tak berani maju menyerang secara gegabah, melainkan hanya mengurung Ku See hong ditengah arena saja.
Sambil mencibirkan bibirnya dan memper-dengarkan suara tertawa dingin yang menyeramkam Thi bok sin kiam Cu Pok berseru.
"Ku sute, sekarang kita sudah ibaratnya binatang buas yang masuk perangkap, lebih baik letakkan senjata saja, daripada harus mengorbankan selembar jiwamu dengan percuma"
Ku See hong tertayya seram. 'Haaaahhh... haaahh.. haaahhh . Cu Pok bila kau tidak takut, silahkan saja untuk melancarkan serangan lebih dahulu!' 'Ku See hong"
Si pedang iblis Toan Gi cong berseru pula dengan suara dingin.
"caramu amat keji, kendatipun malam ini kau letak kan senjata, aku masih tetap akan membuat perhitungan berdarah dengan mu..."
Ku See hong mendengus dingin, katanya kemudian dengan suara yang menyeramkan.
"Jangan berbicara sesumbar dulu, sebentar lagi bahkan kalian berenampun akan mampus semua diujung tanganku"
"Hmmm... aku kuatir apa yang kau ingin kan tak bisa terpenuhi dengan begitu saja!"
Jengek Thi bok sin kiam Cu Pok sambil tertawa dingin.
"sekarang, tentunya kau pun merasa amat tersiksa dalam tubuhmu bukan?"
Bahu kiri Ku See hong telah tertusuk dan terhajar oleh serangan Cu Pok, sesungguh nya luka yang dideritanya amat parah, kendatipun tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna sehingga tak sampai tewas seketika, namun mulut lukanya terasa panas dan amat sakit sekali...
Telapak tangan kirinya yang terangkat di tengah udara sekarang pun agak gemetar menahan sakit, dari sinilah Cu Pok berhasil menemukan keadaan tersebut.
Diam-diam Ku See hong menggigit bibir menahan rasa sakit yang luar biasa, dengan cepat dia berpikir.
"Bila aku terkurung begini terus disini, pada akhirnya aku pasti akan tewas juga disini, lebih baik aku mencari akal lain untuk meloloskan diri saja dari tempat ini, sedangkan dendam sakit hati pada malam ini biar dikemudian hari saja baru kutuntut balas, asal gunung masih menghijau, mengapa aku harus kuatir tak memperoleh kayu bakar..."
Belum habis dia berpikir, Thi bok sin kiam Cu Pok telah berkata sambil tertawa seram.
"Ku Sute, bila kau tak mau menyerahkan bait lagu Dendam sejagad kepadaku, setelah berhasil kutangkap nanti, jangan salahkan bila kupaksa kau dengan siksaan keji. 'Kau harus tahu bahwa beberapa orang yang hadir di arena sekarang adalah manusia-manusia yang membedakan antara budi dan dendam secara jelas, kini kau sudah terikat hubungan dendam sakit hati sedalam lautan dengan kami, ibaratnya api bertemu dengan air, siksaan yang bagaimana pun kejinya masih bisa kami gunakan untuk menghadapimu, mengerti. ..?' "
Huuuh, kepandaian seberapa besar sih yang kalian miliki sehingga begitu berani menangkap aku?
Tak usah ngebacot yang bukan-bukan?' jengek Ku See hong sinis.
Mendadak mencorong sinar mata yang amat buas dari balik mata si Pedang sakti kayu besi Cu Pok, bentaknya dengan penuh kebencian.
'Ayo semuanya maju bersama, dia tak akan mampu menahan serangan gabungan dari kita berenam!"
Ditengah bentakan tersebut, Cu Pok melancarkan serangan paling dulu, dengan suatu gerakan yang sangat aneh, pedang kayu besinya diayunkan ke muka melepas kan sebuah serangan dahsyat yang langsung menyodok ke dada Ku See hong.
Si anak muda itu mendengus dingin, tubuhnya melejit dan pedang mestika Hu thian seng kiamnya dengan cepat digetarkan keras, bertitik-titik cahaya bintang tiba-tiba saja memancar ke empat penjuru dan mengancam jalan darah Thian hun jiat, Pek kut hiat, jian ji hiat dan Pit hok hiat empat buah jalan darah penting dibahu kanan Cu Pok..
Gerak serangan pedang yang sangat aneh, menyerang bagaikan sambaran petir, dalam sekali gebrakan saja empat buah jalan darah penting sudah diancam..
kedahsyatannya benar-benar mengerikan hati.
Sesungguhnya tutukan pedang dari Thi bok sin kiam Cu Pok tadi hanya bersifat memancing saja, karena dia tak tahu kalau dibalik gerak pertahanan dari Ku See hong itu sebenarnya terkandung suatu jurus serangan yang begitu lihaynya.
Ia lebih-lebih tak menyangka, kalau di balik gerakan pedangnya itu terdapat pula gerakan yang begitu aneh dan sakti.
Didalam terkesiapnya, diam-diam ia menghimpun tenaganya untuk melindungi badan, kemudian diantara berkilauannya cahaya hitam, secara bderuntun dia lepaskan tiga buah bacokan berantai.
Tiga buah serangan yang dilancarkan secara beruntun itu mempunyai kekuatan maha dahsyat, seluruh angkasa segera dipenuhi oleh hawa pedang yang luar biasa, jurus serangan yang keji dan dahsyat betul-betul mengerikan hati.
'Cri ng...
Cri i ng!' suara dentingan bergema memecahkan keheningan.
'Pedang sakti kayu besi dari Cu pok telah bersentuhan beberapa kali dengan pedang mestika Hu thian seng kiam tersebut dan mematahkan serangan pembunuhannya itu.
Begitu berhasil mendesak Ku See hong dengan jurus serangannya, Cu Pok segera mengembangkan serangkaian serangan yang gencar.
Pedang Thi bok sin kiam itu diputar sedemikian rupa menciptakan lingkaran cahaya hitam yang terbang ke atas dan ke bawah seperti naga sakti yang sedang me-nari-nari, hawa serangan yang menggulung segera mendesak Ku See hong mundur dua langkah secara beruntun.
Dalam pada itu, pedang yang berada di tangan si pedang Iblis Toan Gi cong telah berputar kencang menciptakan selapis cahaya perak yang berkelebat lewat disertai selapis desingan angin yang menderu-deru, serangan tersebut langsung mengancam bagian mematikan ditubuh Ku See hong.
Di ikuti kemudian Thi Kiong pangcu si Tombak terbang berwajah baja seng ko piau melancarkan serangan pula dengan busur bajanya yang disertai suara desingan aneh.
Si penginjak salju tanpa jejak Tham Hun khi tak ambil diam, sepasang telapak tangan nya disilangkan di depan dada kemudian sambil menerjang kemuka secepat sambaran petir dia lepaskan serangkaian serangan gencar.
Jurus serangan yang dilepaskan ibarat angin puyuh disertai hujan badai melanda permukaan bumi, bayangan telapak tangan dan bayangan kaki membukit, ditujukan ke tubuh Ku See hong.
Thian jian tee ciat Si Hun sin dan kakek berlengan Iblis Khong Yu siang bergerak pula bersama melancarkan serangan gencar.
Sepasang mata Ku See hong berapi-api, sambil membentak keras, pedang mestika Hu thian seng kiam ditangannya diputar dengan menciptakan serentetan sinar tajam yang ber-lapis2 seperti sebuah sarang laba-laba, semuanya itu bersusun-susun pula di tengah angkasa membentuk selapis dinding cahaya yang sangat kuat.
Kendatipun demikian, dia toh kena didesak juga oleh serangan gabungan dari ke enam orang jago lihay itu.
sehingga tubuhnya mundur lagi sejauh beberapa langkah.
"Sreeet...!"
Desingan angin tajam menderu-deru, Jian khi pangcu Toan Gi cong secara tiba-tiba melancarkan sebuah tusukan pedang yang dilancarkan dari suatu sudut yang sangat aneh, kemudian membabat pergelangan tangan kanan Ku See hong.
Apabila tusukan ini sampai bersarang secara telak, tak pelak lagi Ku See hong akan tewas seketika atau paling tidak akan terluka amat parah.
Ku See hong amat terkesiap, cepat-cepat tubuhnya mengigos kesamping kiri, semen-tara pedang mestika Hu thian seng kiam nya melancarkan sebuah babatan cepat.
Sayang keadaan sudah terlambat, terdengar dua kali dengusan tertahan berku-mandang memecahkan keheningan.
Punggung sebelah kanan Ku See hong tertusuk lebih dulu oleh pedang lawan, namun pedang Toan Gi cong terpapas kutung pula oleh babatan pedang Hu thian seng kiam sehingga berikut pergelangan tangan nya kena tertabas kutung.
Kontan saja dia jatuh terduduk sambil mengerung kesakitan.
Ku See hong yang tertusuk punggungnya, merasakan darah segar menyembur keluar dengan amat derasnya, kepalanya segera terasa pening, gerak serangannya juga ikut berhenti ....
Thi bok sin kiam Cu pok tertawa dingin, mendadak telapak tangan kirinya diayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan udara dingin yang amat dahsyat.
Pedang kayu besi dilengan kanannya secepat kilat melancarkan tusukan pula kearah lingkaran sebelah luar.
Telapak tangan dan pedang yang melepas kan serangan tersebut dilakukan hampir pada saat yang bersamaan.
Kedahsyatan mau pun kekejiannya sungguh menggidikkan hati.
Ku See hong menggigit bibirnya kencang-kencanqg, telapak tangran kirinya diayunkan pula kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat untuk membendung serangan tersebut.
Sementara pedang Hu thian seng kiamnya diputar sambil dihentakkan, hawa pedang segera menyelimuti seluruh angkasa, cahaya pelangi yang menyilaukan mata menyambar kearah empat orang lain yang sedang menyerbu tiba.
Serangan pukulan serta pedang yang digunakan si anak muda inipun aneh sekali, kontan kelima orang itu terdesak hebat, mereka harus membuyarkan serangannya, tapi hanya sebentar kemudian mereka sudah berganti jurus sambil maju menyerang lagi.
Ku See hong tahu kalau luka yang dideritanya sangat parah, bila gagal untuk menenangkan hatinya, malam ini sudah pasti akan tewas secara mengenaskan...
dendam perguruan, dendam ayahnya...
hampir semuanya belum terbalas, dia tak akan mati dengan mata meram ..bila kesemuanya itu belum dilangsungkan...
Berpikir sampai disitu, semangatnya segera bangkit kembali, jurus serangannya juga dilancarkan secara berulang-ulang, hawa serangan yang kuat bagaikan dinding baja tersusun diudara berlapis-lapis, keadaannya begitu rapat membuat orang lain tak sanggup menembusi pertahanan tersebut.
Sekalipun ada lima orang jago lihay sedang mengerubutinya seorang, namun setelah anak muda itu bertahan dengan sekuat tenaga, untuk sementara waktu sulit untuk melukainya.
Jian khi pangcu si pedang iblis Toan Gi cong yang tertebas kutung pergelangan tangan kanannya oleh bacokan Ku See hong tadi, kini telah membenci sianak muda tersebut hingga merasuk ketulang sum-sum nya, sebab dengan tertabas kutungnya pergelangan tangan kanannya, berarti banyak sekali kepandaian simpanannya yang tak mungkin dapat dipergunakan lagi.
Setelah menghentikan darah yang mengalir keluar dari tubuhnya, dengan tangan kirinya dia memungut sebilah pedang dari atas tanah, kemudian bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak di nginkan, disamping itu dia pun berusaha untuk menusuk anak muda tersebut sampat mati.
Awan gelap menutupi cahaya rembulan, suasana didalam itu terasa semakin kelabu.
Mendadak....
Saat itulah dari luar lembah berkuman-dang suara tertawa aneh yang dingin dan menyeramkan.
Menyusul kemudian tampak sesosok bayangan manusia meluncur tiba bagaikan bayangan setan dedemit, Begitu menangkap suara tertawa dingin itu, paras muka Thi bok sin kiam Cu Pok berubah hebat, tapi sejenak kemudian ia telah berteriak keras.
"Cu sute, cepat datang membantuku"
Yang datang adalah seorang manusia berkerudung yang aneh dan menyeramkan, dia tak lain adalah salah satu diantara dua murid murtad Bun ji koan su Him Ci seng, Yakni Jian hun kim ciang (Tangan emas sukma dacad) Tu Pak kim.
Begitu mengetahui siapa yang muncul, diam-diam Ku See hong mengeluh didalam hati.
"Mampus aku kali ini!"
Sementara itu, si Tangan emas sukma cacad Tu Pak kim telah tertawa dingin dengan suara yang dalam, kemudian berseru.
"Cu suheng, tampaknya pekerjaanmu benar-benar cukup rahasia'? "
Aaah, apa maksud Tu sute berkata demikian?"
Seru Thi bok sin kiam Cu Pok cepat' "oleh karena aku tak berhasil menemukan kau, maka persoalan ini tak sempat kuberitahukan kepadamu"
Tangan emas sukma cacad Tu Pak kim tertawa dingin, kembali serunya.
"Suheng, kalau memang tak bisa menemukan aku, mengapa pula kau bisa membawa begini banyak pembantu? Heeee....hehhh.. heeehhh .."
"Sute, hanya kau seorang yang datang?' "
Soal itu aku kurang begitu tahu, tapi besar kemungkinan sumoay juga ikut datang."
Paras muka Thi bok sin kiam Cu Pok segera berubah hebat, tapi hanya sebentar saja telah berubah menjadi tenang kembali, serunya kemudian dengan cepat.
'Sute, cepat datang membantuku, kita bekuk dulu bajingan ini, dia sangat berman-faat untuk kita suheng sute berdua' Mendadak...
Ku See hong berpekik nyaring, suaranya tinggi melengking dan mengalun di angkasa dengan di sertai nada penuh dendam, benci sedih dan kesal...
Baru saja pekikan bergema, tubuhnya menerjang ke muka dengan garangnya.
Segulung hawa pedang memancar keluar dari pedang Hu thian seng kiam yang berada ditangannya, itu secepat kilat menyambar ke tubuh Thi bok sin kiam Cu Pok.
Sementara telapak tangan kirinya menciptakan beribu-ribu bayangan telapak tangan yang berlapis-lapis, jurus serangan nya aneh lagi dahsyat, angin puyuh yang menderu-deru bagaikan amukan topan menyelimuti tubuh Jian tee ciat, Tam hiat bu liang, Ma pit siu dan Thi bin hui ka.
Dengan dasar tenaga dalamnya yang begitu sempurna, angin pukulannya menghasilkan kekuatan bagaikan angin topan yang sangat membetot sukma.
Termakan oleh deruan angin pukulannya itu, ke empat orang tersebut kena terdesak sehingga mundur sejauh tiga empat langkah.
Waktu itu Thi bok sin kiam Cu Pok sedang berbincang-bincang dengan Jian hun kim ciang Tu Pak kim, oleh karena perhatiannya bercabang, maka dikala hawa pedang menyambar tiba, untuk menghindar sudah tak sempat lagi.
Tak ampun lengan kanannya tersambar oleh hawa pedang sehingga muncul sebuah mulut luka yang melebar.
Dalam keadaan begini, bila Ku See hong tidak angkat kaki, dia mau menunggu sampai kapan lagi?
Tubuhnya yang melejit ke tengah udara segera bersalto beberapa kali dengan gerakan yang indah, tahu-tahu ia suduh meluncur sejauh tujuh delapan kaki dari posisi semula.
Sambil tertawa licik Jian hun kim ciang Tu Pak kim segera berseru keras.
`Ku sute, tunggu sebentar!"
Segulung angin pukulan yang dalam bagaikan samudra tahu-tahu sudah meluncur ke depan dan menerjang Ku See hong dengan amat dahsyatnya ....
Waktu itu Ku See hong telah menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya sambil mengawasi sekeliling sana dengan sorot mata yang tajam, dia segera membentak keras, suaranya nyaring bagaikan geledek ditengah hari bolong, secepat kilat telapak tangan kirinya membentuk gerakan setengah lingkaran busur, kemudian dilontarkan ke depan secara tiba-tiba.
Segulung angin puyuh dengan cepat menyongsong datangnya terjangan dari Jian hbun kim ciang.
Serangan ini dilancarkan dengan kekuatan penuh, tampak pukulan tersebut begitu dilepaskan, angin pukulan yang tajam segera meluncur ke muka dengan dahsyatnya, desingan yang menggetar seperti gempa bumi, angin pukulan yang menggulung bagaikan air bah, membuat keadaan disitu sungguh mengerikan.
Kekuatan yang maha dahsyat tersebut ibaratnya membendung samudra menggeser bukit, mengerikan sekali.
"Blaaammm..!"
Suatu benturan nyaring yang memekakkan telinga berkumandang memenuhi seluruh angkasa.
Jian hun kim ciang (pukulan emas sukma cacad) Tu Pak kim mendengus tertahan, tubuhnya tergetar keras hingga mundur sejauh satu kaki dari posisi semula.
Begitu berhasil memukul mundur Jian hun kim ciang Tu pak kim.
kembali Ku See hong melejit ke udara, kemudian meluncur ke muka seperti seekor burung rajawali.
"Sreeet...!' segulung desingan angin tajam mendesis di tengah angkasa.
Pedang yang digenggam ditangan Jian khi pangcu si Pedang iblis Toan Gi cong tahu-tahu sudah meluncur dari tanrgannya menyambar ke punggung Ku See hong.
Sambitan pedangnya ini dilakukan dengan kekuatan yang besar, kedahsyatannya tidak terlukiskan dengan kata-kata.
Tampak sekilas cahaya bianglala berwarna putih meluncur ke muka seperti bintang lewat, dalam waktu singkat ancaman tersebut sudah berada hanya satu kaki dari punggung Ku See hong.
Sekalipun Ku See hong sedang berusaha untuk melarikan diri waktu itu, bukan berarti dia menutup telinga terhadap keadaan disekelilingnya, cepat-cepar dia menggetarkan sepasang lengannya, serta merta tubuhnya melejit ke udara, namun kecepatan pedang yang menyambar jauh diluar dugaan.
"Sreeet...!"
Tak ampun paha kiri Ku See hong tersambar mata pedang, tubuhnya yang berada ditengah udara pun turut bergoncang keras, meski begitu ia berhasil meluncur ke depan sejauh enam tujuh kaki dari posisi semula.
Thi kiong pangcu si tombak terbang berwajah baja Seng Ko piau segera membentak nyaring;
"Bocah keparat, serahkan selembar jiwa mu!' Ia menyerang dengan mengandalkan kepandaian andalannya, tiga batang senjata belalang terbang yang panjangnya lima inci dengan cepat meluncur ke udara mengikuti getaran tangannya.
Di dalam forrnasi segi tiga, dengan membawa desingan suara aneh yang meme-kikkan telinga langsung meluncur datang.
Jerit kesakitan segera berkumandang.
Ku See hong berhasil meloloskan diri dari dua batang belalang terbang yang pertama namun gagal menghindari serangan yang berikutnya, belalang terbang yang ketiga segera menancap dipunggungnya sedalam tiga inci.
Tubuhnya yang berada diudara segera melundur ke bawah dan roboh terjungkal.
Tapi Ku See hong memang keras kepala, mendadak dia menghimpun tenaganya lalu berpekik nyaring.
Tubuhnya melejit kembali ke udara seperti burung elang, dalam dua tiga lompatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata ....
Hampir semua jago yang hadir dalam lembah sekarang adalah jago-jago berilmu tinggi, namun kenyataan-kenyataan mana membuat mereka terbelalak dan berdiri melongo, mimpipun mereka tidak menyangka kalau kepandaian silat Ku See hong begitu tangguh, meski tubuhnya sudah menderita dua luka parah yang mematikan, ia toh berhasil juga melepaskan diri dari kepungan.
Mendadak ....
suara bentakan nyaring bergema memecahkan keheningan.
Para jago lihay yang berada dalam lembah tersentak kaget dan sadar kembali dari lamunan, serentak mereka mengejar ke arah mana Ku See hong melarikan diri tadi.
Padahal Ku See hong tidak pergi terlalu jauh, dia tahu lukanya sangat parah, hawa murninya sudah habis, meski dia bisa kabur sambil menahan sakit, namun sesampainya ditengah jalan, bila lukanya sudah tak sanggup ditahan, bukankah dia bakal tertawan oleh mereka?
Maka setelah melompat keluar dari dalarri lembah, dia berbelok kekiri dan balik kebelakang sebuah batu karang didepan mulut lembah, menanti semua orang sudah berlalu, dia baru membalikkan badan dan berbalik kabur menuju kedalam selat.
Diujung selat itu kebetulan terdapat sebuah jalan tembus, sementara itu seluruh badan Ku See hong telah basah oleh darah, keadaannya mengenaskan sekali.
Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, dia lari menuju kearah jalan tembus tersebut.
Tapi disaat Ku See houg sudah melarikan diri dengan sekuat tenaga inilah, sesosok bayangan merah nampak mengikutinya dari belakang dengan ketat.
Agaknya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang ini sudah mencapai tingkat yang sempurna, meskipun berlarian hanya lima kaki dibelakang Ku See hong namun sama sekali tidak menimbulkan desingan suara, seakan-akan tanpa bersuara saja dia mengikuti terus kemanapun pemuda itu pergi.
Tak selang beberapa saat kemudian, Ku See hong yang kabur sambil menahan luka telah berhasil melampaui beberapa buah bukit, dengan gerak langkahnya kian lama kian bertambah lambat.
Akhirnya......
-ooo0dw0ooo-
Jilid 32 SAMBIL mendengus tertahan pemuda itu muntah darah segar, tubuhnya turut roboh terjengkang ke tanah.
Namun kesadarannya masih tetap jernih, ia merasa seakan-akan dibelakang tubuhnya terdapat desingan angin lirih.
Dengan cekatan dia segera berpaling dengan cepat sorot matanya yang jeli menangkap sesuatu.
"Siapa kau?"
Bentaknya kemudian dengan perasaan terkejut bercampur terkesiap.
Ternyata berapa kaki dibelakangnya telah berdiri seorang perempuan muda yang cantik jelita, dia berusia dua puluh tujuh delapan tahunan...
Perempuan muda itu memakai baju berwarna putih, matanya jeli, bibirnya mungil dengan dua baris gigi yang putih bersih, hidungnya mancung, kulitnya putih ke-merah-merahan, begitu cantik dan semampai nya perempuan tersebut, ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan...
Ditengah hembusan angin malam yang silir semilir, dimana ujung bajunya yang putih dan rambutnya yang hitam bergoyang-goyang, kesemuanya ini menambah daya tarik perempuan itu.
Kecantikan perempuan itu ibaratnya dapat menghimpun semua kecantikan wanita yang berada di dunia ini, sedemikian cantiknya sehingga tak terlukiskan dengan kata-kata.
Yang mengejutkan lagi adalah kecantikan nya yang sama sekali tak genit, begitu wajar, begitu sederhana namun sangat memukau hati orang.
Perempuan muda ini bukan lain adalah iblis perempuan yang paling termashur akan kecabulannya...
Ban sia kaucu Ceng Lan hiang.
Sebagaimana diketahui, Ku See hong pernah diberi hadiah pukulan Hou kut jian hun im kang oleh Ceng Lan hiang sehingga terjatuh ke dalam jurang, kemudian ditengah malam yang penuh kabut.
dia menyaksikan Ceng Lan hiang melakukan hubungan senggama dengan Gin coa kiam (pedang ular perak) Ciu Heng thian.
Walaupun ia mendengar suara pembicaraannya, namun sesungguhnya belum per-nah melihat orangnya, maka saat ini Ku See hong sama sekali tidak tahu kalau orang ini tak lain adalah perempuan paling cabul di dunia Ceng Lan hiang.
Dengan sepasang biji matanya yang jeli dan bening, Ban sia kaucu Ceng Lan hiang memperhatikan sekejap wajah Ku See hung, kemudian tersenyum manis.
' Ku See hong!"
Dia menegur dengan suaranya yang merdu bagaikan burung nuri, ' masa kau tidak kenal siapakah aku?' Senyumannya benar-benar sangat indah, senyuman tersebut dapat membuat orang kehilangan sukma rasanya, penuh dengan daya tarik, penuh dengan rangsangan.
Apalagi nada suaranya yang merdu merayu, sungdguh membuat tulaang belulang serasa menjadi lemas.
Tak terlukiskan rasa terperanjat Ku See hong sewaktu itu, dengan suara agak gemetar ia berseru.
"Kau...kau adalah...kau adalah Ban sia kaucu Ceng Lan hiang...
"Kenapa?"
Ceng Lan hiang tertawa cekikikan.
"kau hanya bisa mengenaliku dari suaranya saja?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan.
"Kalau kudengar dari perkataanmu itu tampaknya kau sangat takut kepadaku! Tak usah kuatir, kali ini aku tak akan mencelakai jiwamu..."
"Perempuan lonte, kubunuh kau!' teriak Ku See hong dengan sorot mata memancarkan sinar berapi-api yang penuh kebencian.
Sembari berseru, dia meronta bangun kemudian siap menerjang ke depan.
Tiba-tiba ia mengeluh tertahan, lalu muntahkan darah segar dan roboh terduduk diatas tanah.
Kini ia benar-benar kehabisan tenaga, kekuatan untuk berdiri pun tak dimiliki lagi.
Ceng Lan hiang segera tertawa cekikikan.
"Ku See hong, luka yang kau derita? Aaaai...memang sangat tak adil, masa satu orang dikerubuti banyak musuh..."
Rasa benci Ku See hong terhadap perempuan jalang ini boleh dibilang sudah merasuk sampai ke tulang sum-sum, namun sayang ia tak bertenaga sama sekali waktu itu, akhirnya dengan penuh kebencian dia ber seru.
"Bila aku orang she Ku harus mati di tanganmu malam ini, anggap saja nasibku memang lagi sial, mau bunuh mau cincang terserah kepadamu, tapi kau pun harus tahu, seorang lelaki boleh dibunuh pantang di hina, bila kau berani menghina aku, akan ku umpat dirimu sampai habis-habisan.."
Sekilas perubahan yang amat tak sedap menghiasi wajah Ceng Lan hiang, katanya dingin.
"Kegagahan semacam inikah yang kau miliki.?"
"Kalau ingin membunuh, cepatlah kau bunuh, aku tak sudi bertemu denganmu"
Tiba-tiba Ceng Lan hiang menghela napas sedih.
"Aaai... kau memarng tak pandai mtembe-dakan oranqg yang baik danr orang jahat, terus terang saja kuberitahukan kepadamu, senadainya aku ingin membunuhmu, aku sudah membunuhmu sejak semual, sejak kau merasakan siksaan yang pertama sehabis terkena pukulan Hou kut jian hun im kang, buat apa aku mesti menanti sampai sekarang?"
Menyinggung kembali aib yang dideritanya malam itu, Ku See hong merasakan api amarah yang berkobar di dalam dadanya semakin menjadi-jadi segera bentaknya.
"Waktu itu aku sudah tahu kalau kau menyembunyikan diri di tepi jarang ... Hmmm, perempuan jalang, memang benar-benar tak tahu malu!"
Mengumpat sampai disitu, dia merasakan hawa darah didalam dadanya bergelora keras, napasnya jadi sesak dan ucapannya terputus sampai ditengah jalan.
Sedangkan Ceng Lan hiang yang mendengar perkataan itu segera mendengar kan suara tertawa cekikikannya yang meleng-king dan memekikkan telinga...
Suara tertawanya itu penuh dengan nada cabul, jalang, keji dan pelbagai macam sifat lainnya.
Kemudian setelah berhenti tertawa ia berteriak lagi.
"Bagus sekali!
Ku See hong, aku akan membuktikan apakah kau tahu malu atau tidak, aku akan membuatmu tunduk diantara kedua belah pahaku, aku akan mengajakmu bermain cinta setiap hari, mencari sorga dunia dan kenikmatan hidup...
Ditengah pembicaraaa itulah, tiba tiba ia mengebaskan ujung bajunya ke arah Ku See hong.
Segulung bau harum melintas lewat, begitu Ku See hong mengendus bau itu, tubuhnya yang terduduk pelan-pelan terkulai ke atas tanah.
Ceng Lan hiang bertindak cepat, dipeluk nya tubuh Ku See hong kemudian secepat kilat berlalu dari situ..Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.
Suasana pun pulih kembali dalam keheningan, seakan-akan disana tak pernah terjadi suatu peristiwa apa pun.
-oo0dw0oo-BAB 49 MANUSIA berkerudung warna warni...
Keng Cin sin mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna meluncur ke arah kota, baru saja dia turun tangan keji dengan menghukum cincang si pedang emas Cia Tiong giok.
Kurang lebih seperminum teh kemudian, Keng Cin sin telah sampai didepan bangunan besar di sebelah barat kota, walaupun letak bangunan tersebut tak jauh dari kota, namun oleh karena bangunan tersebut berdiri disamping sebuah kompleks kuburan yang terbengkalai dan amat luas, maka kendatipun disiang hari pun tiada manusia yang berkunjung kesitu.
Tak heran kalau keadaan diseputar situ amat terpencil, sepi dan menyeramkan.
Tapi siapakah yang tahu kalau didalam bangunan gedung yang besar dan menyeramkan itu baru saja berlangsung suatu pertempuran berdarah yang dahsyat dan mengerikan hati, membuat ke sebelas jago Hiat mo bun hampir saja musnah semua.
Kini Keng Cin sin sudah berada disamping bangunan gedung itu dibawah kuburan yang berlapis-lapis.
Mendadak pada saat itulah....
Dari balik kuburan yang berlapis-lapis berkumandang suara tertawa dingin yang menyeramkan..
Suara tertawa itu amat dingin, seperti anbgin yang berhembus keluar dari gedung di bawah tanah.
Serentak Keng Cin sin menghentikan gerakan tubuhnya, suatu firasat tak enak segera muncul dalam hatinya, sebab baru pertama kali ini dia mendengar suara tertawa semacam ini dari balik kuburan..
Tempat itu merupakan daerah yabng terpen-cil, djauh dari jangkaauan umat persiblatan, bila sekarang muncul jagoan persilatan dekat dengan markas besarnya, ini berarti orang datang untuk mencari gara-gara dengan pihaknya.
Baru selesai suara tertawa dingin tadi berkumandang, tiba-tiba...
Serentak suara aneh yang menyeramkan berkumandang susul menyusul dari balik kuburan liar itu, kali ini bukan hanya seorang saja yang tertawa, melainkan diatas tujuh delapan orang, jumlahnya sukar dihitung.
Gelak tertawa yang berkumandang dari balik kompleks tanah pekuburan yang menyeramkan itu kedengarannya sangat mengerikan, seperti suara setan iblis saja, meski berada di siang hari bolongpun orang akan bergidik di buatnya.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Keng Cin sin, tiba-tiba dia mengalihkan pan-dangannya dan mnulai melakukan pemeriksaan yang seksama atas tanah pekuburan tersebut.
Ia dapat mendengar suara tertawa tersebut tinggi melengking dan amat menusuk pende-ngaran, seakan-akan dipancarkan dengan hawa murni yang sempurna, ditinjau dari hal ini dapat dibuktikan kalau pihak lawan memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.
Suara pekikan yang mengacaukan pikiran, mendatangkan keseraman dan kengerian yang luar biasa...
Keng Cin sin memiliki kepandaian silat yang maha sakti, walaupun dia tidak takut menghadapi manusia-manusia laknat yang datang mencari gara-gara dengannya, toh timbul juga perasaan kuatir dalam hati kecilnya, dia menguatirkan keselamatan dari anggota perguruannya.
Mungkinkan anggota perguruannya telah tiba kembali di dalam gedung ini?
Kalau tidak, mengapa mereka membiarkan orang-orang tersebut bersembunyi di sini sambil bermain setan?
Tapi bila ia teringat kembali kalau ke sebelas orang anggota perguruannya memiliki kepandaian silat yang luar biasa, perasaan kuatirnya itu segera lenyap kembali.
Berbicara yang sebenarnya, sebelas anggota perguruan Hiat mo bun boleh di bilang memiliki kemampuan yang luar biasa, kepandaian silat mereka telah mencapai tingkatan yang luar biasa, meski anggota Ban sia kau sendiripun tak akan nanti berani memandang rendah jago-jago Hiat mo bun.
Oleh sebab itu disaat dia hendak menjagoi seluruh dunia persilatan, tiada orang pula yang berani mencabut kumis harimau.
Tapi tidak demikian dengan kenyatannya, dari mana dia tahu, kalau jumlah pihak lawan sangat banyak dan tenaga dalam mereka rata-rata amat sempurna.
Sesudah mengamati sekejap suara tertawa aneh seperti suara tertawa setan iblis itu, Keng Cin sin memperdengarkan kembali suara tertawa dinginnya yang menusuk tulang, dia menghimpun hawa murninya, Dan dengan mengerahkan ilmu Ban li coan im (menyampaikan suara dari selaksa li) semacam kepandaian sakti dalam kitab pusaka Cang C iong pit kip, serunya lantang.
"Setan iblis dari manakah yang telah muncul disini? Bila ingin mencari gara-gara dengan Buncu mu, unjukkan saja dirimu, buat apa mesti main sembunyi diantara mayat-mayat membusuk? Tidakkah kuatir perbuatan kalian hanya akan menurunkan derajat?"
Bersama dengan selesainya ucapan itu, suara tertawa aneh ikut berhenti pula, namun pihak lawan sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
' Suasana disekeliling tempat itu kembali dicekam dalam keheningan, kesepian yang luar biasa, bahkan lamat-lamat terasa pula suasana mengerikan dan hawa pembunuhan yang luar biasa.
Mendongkol juga Keng C in sin ketika pihak lawan tidak menyahut, sekali lagi dia menegur.' "'Hei, tampaknya kalian semua hanya sukma-sukma gentayangan dalam kuburan?"
Namuh suassna tetap hening, tak ke dengaran sedikit suara pun ....
Sejauh mata memandang hanya batu nisan dengan gundukkan tanah pekuburan yang berserakan dimana-mana, semua benda di situ seolah-olah menjadi kaku, tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak, sepertinya suara tertawa tadi dipancarkan oleh sukma gentayangan.
Suasana yang tegang dan menyeramkan menyelimuti seluruh angkasa, membuat suasana menjadi sesak dan tegang ....
Tanpa terasa mucul pula hawa pembunuhan yang kian lama kian bertambah menebal.
Kini Keng Cin sin mulai agak kaget dan ngeri, ia bukan takut terhadap manusia-manusia tersebut, melainkan terkerjut oleh kemamptuan serta kesabqaran lawan menyrem-bunyikan diri terus secara tenang...
Selama berapa saat terakhir ini, Keng Cin sin telah mengerahkan kemampuannya untuk mendengar dan melihat untuk meme-riksa napas lawan dan gerak-gerik musuh, namun dia tak berhasil menemukan sesuatu apa pun, hal ini membuktikan kalau pihak lawan menggunakan ilmu napas kura-kura Ku si tay hoat untuk menutup pernapasan nya.
Mendadak...
Satu ingatan bagus melintas didalam benaknya.
Ia mendapat satu akal bagus untuk memaksa lawannya agar menampakkan diri.
Tanpa hanyak berbicara lagi Keng Cin sin membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ, tapi pihak lawan seperti sama sekali tak termakan oleh tipu muslihatnya itu, suasana tetap hening, tiada 1068 terdengar sedikit suara pun, sementara Keng Cin sin telah berada belasan kaki jauhnya dari posisi semula.
Mendadak...
Dari balik tanah pekuburan itu berkuman-dang suara tertawa dingin yang amat menusuk pendengaran, lalu seseorang berkata.
'Hei manusia berkerudung warna warni, bila kau bernyali, silahkan memasuki barisan Tee gi mi hun tin (barisan neraka pembingung sukma) kami!"
Suara itu amat lembut seperti bisikan nyamuk, namun setiap patah katanya sangat jelas dan menggetarkan pendengaran.
Bagaikan seekor burung walet, Keng Cin sin segera membalikkan badannya dan secepat sambaran kilat meluncur ke arah mana berasalnya suara peringatan tersebut.
Kemudian dia berhenti sejenak disisi sebuah kuburan dan memeriksa keadaan disekeliling sana, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya sangat terkejut.
Disitu tak nampak manusia hidup, hanya ada tengkorak-tengkorak manusia yang menyeramkan berjajar dimana-mana.
Keng Cin sin sungguh merasa amat terkejut, diam-diam dia berpikir dihati.
Sudah jelas kudengar kalau suara pembicaraan itu munculnya dari sini, mengapa tak nampak sesosok bayangan manusia pun disini?
Masa kawanan tengkorak itu yang bersuara?
Aaaah, masa di dunia ini benar-benar ada setan?"
Sementara dia masih berdiri termenung, tiba-tiba terdengar lagi suara tadi berkumandang memecahkan keheningan.
"Manusia berkerudung warna warni, meski sekarang kami berwujud orang mati, dulunya pun kami termasuk orang hidup!
Hanya kini daging kami sudah membusuk sehingga tinggal tulang belulangnya belaka.
mari-mari bersahabat dengan kami!, tempat kami disini disebut dunianya sukma pria, paling bagus bila ada seorang perempuan yang mau meramaikan suasana.
Kembali suasana menjadi hening...
Keng Cin sin segera menerjang ke sisi kuburan yang lain, namun apa yang terlihat disitupun tiada berbeda dengan pemandangan yang pertama tadi, disana tiada sesosok bayangan manusia pun, yang ada hanya sesosok tulang belulang manusia, seonggokan tengkorak.
Kali ini Keng Cin sin benar-benar di buat terperanjat sekali hingga berdebar keras jantungnya.
Disaat inilah, suara pembicaraan yang menyeramkan berkumandang lagi dari arah lain.
"Kau tak usah takut! Hidup manusia di dunia ini akhirnya tak akan lolos juga dari kematian, tapi sesungguhnya kami pun belum mati, coba lihatlah kami masih bernyawa, masih dapat berbicara, bukankah demikian ....?"
Gerakan tubuh Keng Cin sin kali ini jauh lebih cepat lagi, didalam sekali berkelebat dia sudah melayang turuh keatas permukaan tanah, namun pemandangan yang di jumpai nya masih tetap seperti apa yang dilihat sebelumnya.
Sambil berkerut kening, Keng Cin sin mulai berpikir.
Kalau berbicara menurut kecepatan gerak ku sekarang, siapakah manusia di dunia ini yang mampu menandingi kecepatanku tersebut?
Masa mereka sungguh-sungguh adalah setan iblis?"
Mendadak sinar kaget terpancar keluar dari balik mata Keng Cin sin...
Perasaan kaget tersebut jauh lebih hebat daripada perasaan semula, sebab secara tiba-tiba saja dia teringat kalau pembicaraan lawan dipancarkan melalui semacam ilmu Hui sian mo ing (irama iblis berpusing) yang maha dahsyat.
Biasanya irama iblis berpusing atau Hui sian mo ing tersebut dipancarkan seseorang dari suatu tempat tertentu, namun gelombang iramanya sengaja digetarkan ke suaru sasaran tertentu, kemudian dari situ baru kembali menuju ke gendang telinga orang yang dituju.
Oleh karena kepandaian semacam ini amat sakti dan luar biasa, jarang sekali ada jago persilatan dari daratan Tionggoan yang berhasil mempelajarinya.
Konon orang-orang dari Tibet banyak sekali yang mengkhususkan diri untuk mempelajari ilmu Hui siang mo ing itu, jadi bisa disimpulkan kalau orang-orang yang sedang dihadapinya sekarang bisa jadi adalah orang-orang dari Tibet.
Perlu diketahui, jarang sekali anggota perguruan dari Tibet datang mengunjungi daratan Tionggoan, bila bukan dikarenakan masalah yang terlampau besar, biasanya mereka enggan untuk bermusuhan dengan bangsa persilatan dari daratan Tionggoan.
Lantas karena persoalan apakah mereka datang mencari gara-gara dengan pihaknya hari ini?
Seandainya orang-orang tersebut benar-benar berasal dari Tibet, itu berarti dia harus meningkatkan kewaspadaannya.
Sambil tertawa dingin Keng Cin sin segera berseru.
"Saudara sekalian pandai sekali mempergunakan ilmu Hui sian mo ing, nampaknya kalian semua adalah anggota perguruan dari wilayah Tibet."
Mendadak terdengar seseorang menyahut.
"Manusia berkerudung warna warni pengetahuanmu memang sungguh amat luas, tepat sekali!
Kepandaian yang kami pergunakan sekarang adalah irama Hui sian mo ing.
Hmmm....
hmmmm...namun kami bukanlah si keledai-keledai gundul dari Tibet kami adalah jago persilatan yang asli berasal dari daratan tionggoan.
Timbul berbagai kecurigaan dan ketidakmengertian dalam benak Keng Cin sin setelah mendengar perkataan itu, segera pikirnya.
"Jika kudengar dari pembicaraan mereka, sudah jelas memakai bahasa Han yang luwes dan lancar, tapi ilmu rahasia dari Tibet itu tak pernah diwariskan kepada sembarangan orang, apalagi mereka mengaku asli dari daratan Tionggoan, mengapa mereka pun pandai menggunakan ilmu Hui sian mo ing tersebut?"
Berpikir sampai disitu Keng C in-sin berkata lagi dengan suara sedingin es.
"Pun Buncu tidak ambil peduli apakah kalian hwesio-hwesio gundul dari Tibet atau jagoan dari daratan Tionggoan, manakala kalian datang mencari gara-gara denganku, berarti kalian ada maksud terhadap diriku, mengapa tidak kalian utarakan saja sekarang, agar kita dapat memperbincangkan nya?"
Sudah jelas Keng Cin sin telah menyadari kalau orang-orang itu berilmu sangat lihay, jejaknya amat mencurigakan maka nada pembicaraannya pun turut menjadi lebih lembut dan halus.
Salah seorang diantara lawan segera menyahut.
"Manusia berkerudung warna warni, dugaanmu memang tepat sekali, kami memang datang dengan membawa maksud-maksud tertentu, cuma kau jangan bersusah hati setelah kami utarakan nanti"
Keng Cin sin tertawa dingin.
"Heeehh .... Heehh... heeeh betapapun sulitnya persoalan di dunia ini, tak nanti akan menyulitkan Hiat mo buncu"
"Apa gunanya kalau kau hanya tinggal seorang diri?"
Tiba-tiba seorang menimpali dengan dingin.
Sesungguhnya ucapannya itu mengandung maksud lain, namun mimpipun Keng Cin sin tidak menyangka kalau ke sebelas orang anggota Hiat mo bun nya sudah pada tewas atau terluka parah sehingga kini tinggal dia seorang yang tetap sehat walafiat.
Sambil mendengar Keng Cin sin berkata.
"Biarpun jumlah kalian sekarang berapa kali lipat lebih banyak dari padaku, biar aku hanya seorang diri, namun aku masih sanggup untuk mengirim kau berpulang ke alam baka"
"Mungkin saja kau memiliki kemampuan tersebut, tapi sayangnya kau tak akan berhasil menemukan kami"
Jengek seseorang. Mendadak terdengar suara lain yang menyeramkan menyambung.
"Lo su, kau terlalu merendahkan diri sehingga memadamkan semangat sendiri saja"
Orang yang semula cepat berseru.
"Lo ngo, dia tak lebih hanya seorang manusia yang hampir mampus, apa sih keberatannya membiarkan dia berbangga dulu? Mulai detik ini, dalam dunia persilatan hanya ada Bu lim jit hun (tujuh sukma dari dunia persilatan) yang merajai kolong langit, siapa pula yang mampu mengungguli kami!"
Seseorang yang lain segera menyahut sambil tergelak.
"Haaahhh.. haaahhh... haaahhh... benar! benar! Ucapan dari Lo su memang amat tepat, walaupun sembilan partai besar dari daratan Tionggoan atau kawanan ciangbunjin yang bernama kosong, selanjutnya mereka toh akan mampus juga di ujung tangan kami bertujuh"
"Lo lak "
Seseorang yang lain lagi menimpali.
"sejak kini, kita pun dapat menikmati kehangatan tubuh serta kehebatan tehnik bermain diranjang dari Ban sia kaucu Ceng Lan hiang"
"Lo jit, kau ini memang kelewat suka bermain perempuan"
Seseorang mendamprat sambil tertawa.
"Tahukah kau bahwa Ceng Lan Hiang telah menguasahi ilmu Im kang yang sangat hebat? Bila kau tidak kuatir mampus, silahkan saja bersenang-senang dengannya, tanggung kau akan merasakan kenikmatan hingga sampai di sorga."
Si Lo Jit segera tertawa cekikikan.
"Lo Sam, bukankah kau mengatakan tiada manusia didunia ini yang bisa lolos dari kematian? Meski siaute harus mati, tapi jadi setanpun harus romantis, hii ihh....hi ihhh... hi ihh... lagipula aku memiliki benda ajaib yang keras bagaikan baja, tak nanti "
Benda"
Ku akan tertindih sampai patah olehnya"
Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya lagi.
"Bukankah ilmu Im kang tak akan tahan menghadapi ilmu Yang kang."
Keng Cin sin merasa mendongkol sekali setelah mendengarkan pembicaraan kotor dan cabul yang sedang mereka langsungkan, ia paling benci dengan lelaki hidung bangor seperti ini, dia mendendam terhadap manusia semacam Lo jit dengan sekali membinasakannya.
Mendadak seseorang berseru kembali.
"Lo jit, bukankah didepan mata sudah tersedia barang jadi tinggal dipakai?"
Tentu saja yang dimaksudkan adalah Keng Cin sin. Hampir meledak dada Keng Cin sin saking gusarnya, hawa darah mendidih di dalam dadanya, ia segera membentak nyaring.
"Manusia laknat, cepat keluar untuk menerima kematian!"
Walaupun Keng Cin sin marah-marah besar, hal inipun sama sekali tak berguna, sebab hingga sekarang dia belum berhasil menemukan tempat persembunyian dari orang-orang tersebut.
Perlu diketahui, pembicaraan yang berlangsung selama ini dilakukan oleh orang-orang tersebut dengan menggunakan ilmu Hui sian mo ing yang maha dahsyat tersebut.
Terdengar Lo jit berkata lagi.
"Lo su, tak mungkin! Tak mungkin! Tidak kau saksikan raut wajahnya yang menyeramkan itu? Hii ihhh... hi ihhh... hi ihhh... meski siaute bertampang jelek. Tapi benda ajaibku masih terhitung 1074 benda yang paling indah, paling kuat dan gagah di dunia ini, mana boleh benda ini kupergunakan terhadap sembarangan perempuan..."
"Lo jit, kau bilang dia jelek, tapi aku pikir dia pasti cantik sekali, mengapa tidak kau saksikan bentuk tubuhnya bahenol, itu?"
Seseorang menyambung. Si Lo jit itu segera tertawa dingin.
"Lo ngo, aku rasa kau masih belum berpengalaman didalam hal ini, meski seorang wanita memiliki perawakan tubuh yang indah, belum tentu wajahnya pasti sangat indah, bila dia cantik, tak nanti wajah nya ditutup dengan kain kerudung, perempuan mana sih yang tak ingin memamer kan kecantikan wajahnya?"
"Lo jit, bagaimana kalau kita bertaruh saja, kau mengatakan dia cantik atau jelek?"
"Baik, baik! Bila dia cantik, siaute bersedia melepaskan hakku untuk melalapnya paling dulu"
Keng Cin sin bukan manusia sembarangan bagaimana mungkin dia bisa tahan menghadapi ucapan-ucapan yang amat kotor itu?
Walaupun ia pernah diperkosa banyak orang, meski kesucian tubuhnya telah dinodai orang secara beramai-ramai, namun jiwanya masih tetap suci bersih.
Mencorong sinar tajam penuh hawa pembunuhan dari balik matanya, tiba-tiba saja ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, suaranya tinggi melengking dan amat menusuk pendengaran ....
Keng Cin sin segera menerjang ke muka bagaikan segulung angin puyuh, sedemikian cepatnya dia bergerak, sehingga menyilaukan mata siapa saja.
Dengan kecepatan luar biasa dia berputar satu lingkaran mengitari kompleks tanah pekuburan tersebut.
Ternyata dia tak berhasil menemukan tempat persembunyian lawan, namun dia tahu pihak lawan pasti berada pada jarak dua puluh kaki di sekeliling tempat ini.
Maka dia hendak melakukan penggeledahan yang seksama atas setiap kuburan yang berada dua puluh kaki di sekililing tempat ini, dia ingin membuktikan apakah mereka benar-benar bersembunyi di bawah tanah.
Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang paling sempurna dan jarang di temui dalam kolong langit dewasa ini, secepat kilat berputar mengitari daerah seluas dua puluh kaki di sekitar situ, beratus-ratus kuburan diperiksa dengan seksama, namun ia belum berhasil juga menemukan bayangan tubuh mereka.
Rasa terperanjatnya sekarang tak terlukiskan lagi dengan kata-kata...
Keng Cin sin merasakan dirinya seakan-akan telah bertemu dengan setan tulen, belum pernah ia mendengar dalam dunia persilatan terdapat manusia lihay yang menyebut dirinya sebagai Bu lim jit hun.
Sementara dia masih berdiri tertegun dengan perasaan terkejut bercampur tercengang ..
Kembali terdengar seseorang berkata.
"Gerakan tubuhnya sangat lihay dan melebihi kemampuan umat persilatan pada umumnya, lo ji disebut orang Tiang kui tui (setan berkaki panjang) namun aku rasa masih ketinggalan jauh dibandingkan dengan dirinya"
Sang lo ji segera tertawa seram. Heeehhh... heeehhh... heeehhh... lo ngo, meskipun gerakan tubuhnya amat cepat, tapi untuk mengungguli aku rasanya masih sulit sekali? "
Keng Cin sin benar-benar mati kutunya terhadap orang-orang tersebut, dia benar-benar merasa tak mampu untuk menemukan titik kecurigaan disekitar sana.
Namun dengan wataknya yang keras hati, dia pantang menyerah dengan begitu saja, otaknya segera berputar keras, dia mencoba untuk mengingat-ingat apakah didalam kitab pusaka Cang ciong pit kip tercantum kepandaian yang dapat digunakan untuk mematahkan kepandaian Hui sian mo ing tersebut.
Sementara dia masih termenung, Lo ngo telah berkata lagi sambil tertawa seram.
"Lo ji, lebih baik jangan menempeli emas di atas wajah sendiri, kalau toh kau lebih unggul darinya, berani tidak tampilkan diri untuk berduel dengannya?"
Hmmmm....! Aku si lo ji masih pingin hidup beberapa waktu lagi, bila harus mampus, lebih baik kita tujuh bersaudara berangkat bersama-sama menuju ke langit barat."
"Lo ji, hatimu amat busuk"
Damprat yang lain.
"kalau kau mau mampus, mampuslah sendirian, mengapa harus mengajak kami semua untuk benar-benar menjadi setan"
"Heeehh... heeehhh... heeehhh... kita tujuh bersaudara tak pernah berpisah satu dengan lainnya, misalnya harus turun ke neraka pun sudah sepantasnya turun bersama"
Lo ji menimbrung sembari tertawa dingin.
"Betul! Betul! Perkataan lo ji memang masuk diakal"
"Hei, mengapa sih kalian berkaok-kaok melulu!"
Mendadak seseorang menegur dengan suara sedingin salju.
"agaknya dia sudah tahu kalau kita berada didalam neraka."
"Lo toa, apa yang mesti ditakuti? Memangnya dia akan membalik lapisan tanah disini"
"Siapa tahu? Aku lihat dia sudah membenci kita setengah mati, agaknya rasa benci itu sudah merasuk sampai ke tulang sum-sum" .
"Lo toa, kami Bu lim jit hun tiada tandingannya dikolong langit, mengapa harus jeri terhadap dia seorang?"
Sang lo toa segera tertawa tergelak.
"Haaahhh... haaahhh.. haaahhh.. kalau sekarang mah kita belum mencapai tingkatan tiada tandingan dikolong langit"
"Maksudmu kita belum berhasil mendapat kan kitab pusaka Cang ciong pit kip serta, mutiara Thian hong im yang sin cu miliknya?.
"Benar! Bukankah benda-benda tersebut berada di dalam sakunya...?"
"Lo toa, lantas apa yang mesti kita lakukan sekarang?"
Suara menyeramkan yang lain bertanya.
"Ehmmm, tak ada salahnya kalau kita bertujuh berunding kembali..."
Seusai perkataan itu diutarakan, suasana disekeliling tempat itu menjadi hening dan sepi kembali, mungkin mereka sedang merundingkan persoalan tersebut dengan seksama.
Keng Cin sin benar-benar tidak habis mengerti, dia tak tahu permainan busuk apakah yang sedang dilakukan ke tujuh orang tersebut terhadap dirinya, yang lebih menggemaskan lagi adalah ia tak berhasil menemukan tempat persembunyian mereka.
Setelah mendengar pembicaraan mereka barusan, ia telah mengetahui kalau kepandaian silat yang dimiliki orang-orang itu sangat lihay dan luar biasa, tapi mengapa dia tak berani munculkan diri untuk berhadapan muka dengannya?
Padahal dia mana tahu kalau Bu lim jit hun adalah manusia berwatak aneh, tak pernah orang dapat meraba maksud hati mereka yang sesungguhnya.
Hanya saja ke tujuh orang itu amat licik, dan berotak cerdas, ditambah lagi kekejaman nya luar biasa, kesemuanya ini membuat mereka lihay sekali.
Keng Cin cin merasa tak ada gunanya tetap berdiam diri terus disitu, sedang mereka pun tidak menaruh dendam yang berat dengan nya, ia cuma mendongkol atas ucapan mereka yang kotor dan menghina tersebut.
"Aaaai.. sudahlah"
Demikian ia berpikir.
"percuma ribut dengan kawanan manusia setengah setan macam begitu, anggap saja aku sedang sial sehingga bertemu dengan mereka ..."
Berpikir demikian, dia lantas melejit ke udara dan meluncur turun dari bukit kecil tersebut. Mendadak... Serentetan suara teguran yang amat dingin berkumandang memecahkan keheningan.
"Manusia berkerudung warna warni, Mengapa kau lari ketakutan? Apakah takut terhadap kami? Heeehhh.... heeehhh ... heeehhh...."
Ucapan tersebut segera menimbulkan satu ingatan dalam benak Keng Cin sin, diam-diam ia mengutuk diri sendiri.
"Goblok amat aku ini. Hmmm, kali ini akan kulihat mau kabur kemana kalian semua? "
Tiba-tiba saja dia membalikkan badan dan berjalan ke sisi kuburan dimana terdapat tengkorak manusia yang pertama, kemudian bentaknya keras-keras.
"Kalian tujuh setan gentayangan mengapa tidak segera menongolkan diri?"
"Aduh celaka!"
Seruan kaget berkumandang kembali "kuntilanak itu berhasil mendapat tahu kalau kita bersembunyi di dalam kuburan"
"Lo su, mengapa kau memberitahukan tempat persembunyian kita kepadanya?"
Damprat yang lain. Lo su segera tertawa dingin.
"Kuburan yang terdapat ditempat ini beribu-ribu jumlahnya, masa dia benar-benar dapat menemukan tempat persembunyian kita?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Keng Cin sin, sambil tertawa dingin ia segera berseru.
"Mengapa kalian tidak segara menampakkan diri? Hmmm! Jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji terhadap kalian"
Ternyata secara tiba-tiba Keng Cin sin menduga kalau mereka telah menyembunyikan diri didalam kuburan, sedang tengkorak manusia yang berada disamping kuburan merupakan hasil pembongkaran mereka dari dalam liang kubur.
Ketika Keng Cin sin melakukan pemeriksaan terhadap beberapa ratus kuburan yang berada empat puluh kaki disekitar tempat itu, dia hanya berhasil menemukan ke tujuh sosok tengkorak itu, maka dia lantas menduga kalau ke tujuh orang itu bersembunyi di dalam tujuh buah kuburan disisi tengkorak.
Serentetan suara dingin menyeramkan lagi-lagi berkumandang.
"lo toa, hasil dari perundingan kita adalah jangan temui dia untuk sementara waktu, kalau begitu kita pun tak usah menggubris dia lagi..."
Padahal berbicara dari kekejaman serta kebuasan Bu lim jit hun, mereka tak nanti akan melepaskan Keng Cin sin dengan begitu saja, sebab mereka memang datang untuk mencari gara-gara dengan Keng cin sin.
Akan tetapi Bu lim jit hun yang licik dan mempunyai banyak akal busuk ini telah menderita luka parah yang cukup parah, apalagi merekapun telah menyaksikan kelihayan dari gerakan tubuhnya, sadar kalau tiada pegangan untuk mengungguli dia maka untuk sementara waktu mereka putuskan untuk melepaskan korbannya dengan begitu saja.
Keng Cin sin yang mengetahui keadaan mereka yang sesungguhnya, bagaimana mungkin bisa menduga sampai ke situ?
Dengan suara menggeledek Keng Cin sin membentak.
"Aku akan membinasakan kalian didalam kuburan, agar tak usah menguburkan jenazah kalian lagi."
Sambil mengancam sepasang telapak tangannya segera dilontarkan bersama ke depan.
Segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur ke depan dan menghantam kuburan tersebut.
Angin pukulan yang menderu-deru bagai kan amukan puyuh, kedahsyatanya benar-benar luar biasa.
Blaammmmmm ....
Suatu ledakan dahsyat berkumandang memecahkan keheningan.
Menyusul kemudian ...
Jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang pula memecahkan keheningan...
Setelah itu suasana disekitar sana pulih kembali dalam keheningan, sedemikian heningnya sehingga menakutkan.
Waktu itu Keng cin sin telah dipengaruhi hawa pembunuhan yang berkobar-kobar, dia mendatangi kuburan yang lainnya, kemudian berseru sambil tertawa dingin.
"Hmmm, sudah mampus seorang diujung telapak tanganku, sekarang tiba giliranmu mau keluar atau tidak?
Namun suasana didalam kuburan itu tetap hening sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun.
Keng Cin sin mendengus dingin, sepasang tangannya segera diputar membentuk satu gerakan lingkaran busur disisi tubuhnya, kemudian segulung hawa pukulan yang dalam bagaikan samudra, seperti letusan gunung berapi memuntah keluar.
"Blaaammm..!"
Sekali lagi berkumandang suara ledakan keras yang memekikkan telinga...
Di kuti pula jerit kesakitan yang memilukan hati...
Kini Keng Cin sin mendatangi sisi tengkorak yang ketiga, seperti yang lain, diapun membentak nyaring.
"Bila kalian tak segera menampakkan diri, akan kubunuh kalian satu per satu tanpa perasaan belas kasihan"
Tapi pihak lawan masih juga tidak menimbulkan suara apa pun.
Mencorong sinar buas yang menggidikkan hati dari balik mata Keng Cin sin, sepasang telapak tangannya dengan cepat diputar membentuk satu gerak melingkar, kemudian gulungan angin puyuh seperti amukan topan menyapu ke arah kuburan itu.
Ledakan keras yang di ringi jerit kesakitan lagi-lagi bergema memecahkan keheningan ...
Secara beruntun Keng Cin sin memusnahkan lagi tiga buah kuburan yang lain, dimana angin pukulannya menyambar lewat, segera berkumandang jeritan ngeri yang menyayat hati.
Sekarang ia telah tiba disisi kuburan dengan tengkorak yang ke tujuh, mendadak hatinya menjadi lembek, ia teringat kalau Bu lim jit hun sesungguhnya tidak mempunyai dendam kesumat yang terlalu dalam dengan dirinya, padahal tanpa sebab dia telah membinasakan enam orang diantara mereka secara beruntun, terhadap orang yang ke tujuh ia benar-benar merasa tak tega untuk menindaknya.
Dengan suara keras Keng Cin sin segera membentak.
"Sekarang tinggal kau seorang, mau keluar atau tidak?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia membentak lagi.
"Bila kau bersedia menampakkan diri secara baik-baik, bisa jadi aku pun bersedia memberi kesempatan hidup bagimu"
Tapi suasana di dalam kuburan itu tetap hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun. Keng Cin sin menjadi tertegun, segera pikirnya.
"Aneh betul ke tujuh orang ini, mereka sekarang lebih suka mengorbankan diri daripada menampakkan diri dari balik liang kuburan"
Berpikir sampai disitu, sekali lagi Keng Cin sin membentak keras.
"Bila kau enggan menampakkan diri lagi jangan salahkan kalau aku akan bertindak kejam"
Belum juga ada suara yang berkumandang dari balik kuburan itu..
Berkobar kembali hawa napsu membunuh dalam dada Keng Cin sin, sepasang telapak tangannya segera diayunkan ke depan, segulung angin puyuh yang maha dahsyat seperti selembar jaring yang besar dan kuat, langsung menggulung ke arah kuburan tersebut.
"Blaaammm..!"
Suatu ledakan dahsyat kembali berkumandang datang.
Menyusul kemudian jeritan ngeri pun bergema memecahkan kesunyian...
Kini suasana didalam kuburan itu pulih kembali dalam keheningan, keseraman dan kesepian.
Keng Cin sin menghela napas panjang, gumamnya.
"Banyak sekali keanehan terdapat di dalam dunia ini, seperti juga ke tujuh orang itu"
Dia membalikkan badan dan pelan-pelan berlalu dari tempat tersebut ...
Mendadak pada saat itulah...
Dari sekeliling kompleks kuburan itu bergema suara tangisan yang aneh, rendah berat dan menyeramkan, suara itu sahut bersahutan membuat setiap sudut kuburan itu dipenuhi oleh suara dengungan yang sangat aneh....
Bergidik Keng Cin sin menghadapi situasi seperti ini, berdiri semua bulu kuduknya karena ngeri, untuk beberapa saat dia sampai berdiri tertegun ditempat.
Ditengah jeritan dan tangisan yang mengerikan, tiba-tiba berkumandang pula seruan seseorang dengan suara yang dingin menyeramkan.
"Kami tujuh bersaudara benar-benar telah sampai di neraka tingkat ke delapan belas, .... uuuh...."
"Saudara sekalian, roh kita akan menjadi roh penasaran, mari kita tangkap dia dan menyeretnya ke neraka..."
Keng Cin sin yang dipermainkan oleh mereka benar-benar dibuat mendongkol sekali tanpa terasa bentaknya keras-keras.
"Bagus sekali! Kalian memang tujuh sukma gentayangan, bila pun buncu tak mampu meratakan kuburan ini dengan tanah, aku bersumpah tak akan menyudahi persoalan ini hingga disini."
Bagaikan orang kalap Keng Cin sin segera mengayunkan sepasang telapak tangannya berulang kali, segulung angin pukulan yang maha dahsyat pun mengikuti gerakan tubuhnya menghajar kuburan tersebut satu persatu...
Ditengah ledakan keras yang memekikkan telinga terjadi rentetan letusan dan getaran yang keras, angin pukulan memancar ke empat penjuru dan berpusing kian kemari.
Dalam waktu singkat Keng C in sin telah memusnahkan enam buah kuburan secara beruntun.
Dengan tenaga dalamnya yang sempurna serta desingan angin pukulannya yang tajam bagaikan sembilu, pasir dan batu segera beterbangan di angkasa, membawa peti mati yang telah lapuk dan tulang belulang yang hancur segera berserakan dimana-mana.
Bau busuk mayat yang menusuk hidung dengan cepat menyebar ke mana-mana membuat orang serasa mau tumpah.
Tindakan kalap dari Keng Cin sin ini benar-benar mengerikan sekali .....
Kasihan dengan tulang belulang serta mayat-mayat tersebut, mereka harus merasa kan bencana tersebut disaat-saat jiwa mereka telah peroleh ketenangan.
Isak tangis macam jeritan setan itu kini sudah sirap dan tak kedengaran lagi.
Sambil tertawa seram Keng Cin sin berseru.
"Kalian belum juga mau menampakkan diri? Rupanya kau memaksa aku untuk meratakan beribu kuburan ini rata dengan permukaan tanah ....?"
Ditengah gelak tertawa keras, telapak tangan kirinya melepaskan kembali sebuah pukulan angin puyuh yang maha dahsyat, lagi-lagi sebuah kuburan hancur berantakan menjadi korban amukannya.
Tenaga pukulannya memang dahsyat bagaikan samudra yang bergelombang besar, cukup membuat wajah orang berubah.
Mendadak....
Disaat telapak tangan kanannya diangkat dan siap melepaskan sebuah pukulan lagi.
Tiba-tiba, ditengah keheningan bergema suara pujian kepada Sang Buddha yang berat dan nyaring.
"Omitohud..."
Buru-buru Keng C in sin menarik kembali serangannya lalu membalikkan tubuh dengan cekatan, dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi orang di hadapannya tanpa berkedip.
Entah sejak kapan, tiga kaki di hadapannya telah bertambah dengan tiga orang pendeta tua berjubah kuning, Salah seorang diantaranya berwajah saleh dengan alis mata yang panjang, waktu itu dia lagi menegur dengan suara dalam.
"Li sicu, tindakanmu yang brutal ini sungguh keterlaluan, tidakkah kau merasa bahwa perbuatan ini melanggar peri kemanusiaan?"
Keng Cin sin terkejut, cepat dia berpikir.
"Yaa, mengapa aku berbuat begini brutal? Tindakanku ini keji dan tak berperi-kemanusiaan, toh mereka yang telah mati tiada ikatan sakit hati denganku? Mengapa aku harus menghancurkan kuburan mereka .. ?"
Timbul penyesalan dihati kecilnya setelah berpikir sampai di situ, rasa menyesal dan malu yang bercampur aduk, membuatnya terbungkam dalam seribu bahasa, pelan-pelan kepalanya ditundukkan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membalikkan badan dan beranjak meninggal kan tempat itu .....
Tak selang beberapa saat kemudian, ia telah keluar dari kompleks tanah pekuburan tersebut.
Tiba-tiba bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu ke tiga orang pendeta tua berjubah kuning itu telah menghadang jalan pergi Keng Cin sin.
"Apa maksud kalian menghadang jalan pergiku"
Keng Cin sin segera menegur sambil menatap ke tiga orang itu lekat-lekat.
"Li sicu!"
Ujar pendeta kurus disamping kiri.
"kau telah bertindak brutal, merusak kuburan umum, setelah berbuat apakah kau akan pergi dengan begitu saja? Mana pertanggungan jawabmu?"
Sekali lagi Keng Cin sin terperanjat, ia lantas berpikir.
"Rupanya mereka pun datang untuk mencari gara-gara denganku, biasanya tempat ini jarang dikunjungi umat persilatan, aneh, mengapa begitu banyak kejadian aneh yang berlangsung hari ini?"
Berpikir demikian, si nona pun berkata.
"Boleh aku tahu, Sin ceng bertiga datang dari mana?"
"Omitohud!"
Pendeta berjubah kuning yang berada ditengah merangkap tangannya didepan dada.
"kami berasal dari Siau lim si, pinceng Hoat hian, sedangkan ke dua suteku adalah Hoat khong dan Hoat hong"
Keng Cin sin semakin terperanjat, dia tak menyangka kalau ke tiga pendeta ini adalah tiga diantara lima tianglo Siau lim pay.
Sebagaimana diketahui, Siau lim pay merupakan pemimpin dari sembilan partai besar di daratan Tionggoan.
selama ini jarang sekali melibatkan diri dalam pertikaian Bu lim.
Lantas apa maksud kedatangannya kali ini kemari ?
"Maaf, maaf..
rupanya kalian adalah tiga orang pendeta agung dari Siau lim pay"
Kata Keng Cin sin kemudian sambil tertawa.
"Li sicu tentu keheranan bukan? Mengapa Siau lim pay ikut mencampuri pertikaian dunia persilatan?"
Kata Hoat khong taysu yang berada ditengah. Kembali Keng Cin sin tersenyum.
"Memang begitulah, apakah aku boleh tahu? "
"Ringkasnya kami datang karena perguruan Hiat mo bun kalian"
Kata Huan hong taysu yang berada di sebelah kiri.
"kami tak ingin partai kalian bertindak semena-mena dalam dunia persilatan dan mencelakai umatnya. kami pun tak ingin menyaksikan dunia persilatan yang sudah banyak tahun berada dalam keadaan tenang menjadi bergolak dan tak aman lantaran ulah kalian"
"Omong kosong!"
Bentak Keng C in sin.
"Sebagai anggota Siau lim pay yang terhormat, kalian jangan menfitnah orang semaunya sendiri, Hiat mo bun adalah kelompok manusia lurus dalam dunia persilatan, tujuan kami adalah menegakkan keadilan dan kebenaran didalam dunia, membantu kaum lemah menindas kaum kuat dan menenteramkan dunia persilatan yang sedang kacau dan tak aman!"
"Bukti nyata berada didepan mata, buat apa kau menyangkal lagi?"
Seru Hoat khong taysu dengan dengan nada berat. Keng Cin sin naik pitam, teriaknya sewot.
"Apa bukti kalian? Ayo tunjukkan dihadapanku!?."
"Hiat mo bun menghimpun sebelas orang jago karena ingin merajai dunia persilatan, dalam lembah Cui yu kok kalian telah membunuh tujuh delapan puluh orang, hari ini kaupun berbuat brutal dengan merusak kuburan umum sehingga jenasah yang berada disini berantakan tak karuan, Bebeapa kejadian ini sudah cukup sebagai bukti bahwa kau adalah manusia kejam, manusia buas yang tak berperi kemanusiaan, dosa-dosa kalian pantas kalau ditebus dengan hukuman mati" -oo0dw0oo-BAB 50 DIDAMPRAT secara terang-terangan, Keng Cin sin menjadi sangat mendongkol, dia segera tertawa dingin.
"Kami orang-orang Hiat mo bun tak akan berbuat keji bila tanpa alasan, kami terpaksa membunuh orang sewaktu berada dalam lembah Cui yu kok karena kawanan manusia laknat itu mengincar mestika perguruan kami, demi menyelamatkan partai dan diri sendiri, mau tak mau kami harus bertindak kejam"
"Omitohud!"
Kembali Hoat hian taysu berseru.
"dari pembicaraan li sicu, dapat disimpulkan bahwa kau memang kejam dan buas, apa gunanya mesti menyangkal lagi"
"Hmmm, mengapa aku harus banyak berbicara dengan kalian?"
Seru Keng Cin sin sambil tertawa dingin..
"bila kalian menganggap aku kejam dan buas, mau apa sekarang? Apa yang hendak kalian perbuat."
"Terus terang kuberitahukan kepada kalian, aku hanya kejam terhadap manusia laknat yang berhati rendah dan busuk"
"Kalian sebagai pendeta agung dari perguruan tinggi, tidak seharusnya gara-gara denganku, hmmm! Nampaknya kalian memang bermaksud tertentu? "
Kalau toh ingin menghadapiku, katakan saja blak-blakan, buat apa mesti menggunakan ucapan yang membosankan? "
"Hingga kini kau belum mau mengakui kesalahan sebaliknya malah menuduh kami menfitnahmu, hmmm.... rupanya li sicu memang tak bisa ditolong lagi"
"Bukannya membaca buku dan berdoa didalam kuil Siau lim si, kalian malah menjelajahi dunia persilatan. tampaknya kalian sendiri sama berniat mencari gara-gara untuk mengacaukan dunia"
Balas Keng Can sin sambil membentak.
"Omitohud"
Sekali lagi Hoat hian taysu berseru.
"Perkataan li sicu memang betul, pinceng sekalian sebagai pendeta sudah puluhan tahun hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia dan tidak mencampuri urusan orang lain, tapi setelah mendengar ulah sicu belakangan ini, kami kuatir umat persilatan akan menjadi kacau dan tak karuan, Oleh sebab itu atas prakarsa dari sembilan partai besar, pinceng bertiga khusus datang kemari untuk melenyapkan bibit bencana ini dari dunia persilatan" . Keng Cin sin tertawa seram.
"Kebesaran jiwa serta kewelasan hati taysu bertiga sangat mengagumkan hatiku, tapi kalian keliru, kalian salah menuduh Hiat mo bun yang sesungguhnya bercita-cita menegakkan keadilan dalam dunia persilatan, mengapa kalian tidak menghimpun kekuatan untuk menindak Ban sia kau yang banyak melakukan kejahatan? Mengapa kalian tidak menghadapi Thi kiong pang, Jian khi pang dan Huan mo kiong yang lebih banyak melakukan kekejaman serta kebrutalan? "
Mumpung sekarang belum terlambat, kuanjurkan kepada kalian agar cepatlah sadar dan kembali ke jalan yang benar "
Didalam kenyataan, Keng Cin sin tak pernah menyangka kalau ke sebelas orang-orang Hiat mo bunnya telah mati atau terluka akibat 1089 kerubutan jago-jago lihay tersebut, dia tak mengira kalau sekarang dirinya berdiri seorang diri.
Dengan sinis Hoat khong taysu berseru.
"Ban sia kau memang keji dan banyak melakukan kejahatan tapi kami harus menghadapimu terlebih dulu sebelum menghadapi mereka, kau tak perlu banyak berbicara?"
"Sebagai pendeta agung dari Siau lim pay, semestinya kalian bermata jeli dan pandri membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, tapi kenyataannya kalian bermata tapi tak berbiji, kalian terus menerus menuduh orang-orang Hiat mo bun sebagai kaum laknat, baiklah, kalau toh demikian aku pun tak akan banyak ribut lagi dengan kamu semua."
"Hiat mo bun merasa tak bersalah, kebersihan kami akan disaksikan sendiri oleh Thian, suatu waktu kalian akan mengetahui kebenaran kami, Maaf aku tak bisa menemani kalian lebih lama lagi..."
Selesai berkata, dia lantas melejit ke udara dan meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi.
"Li sicu, apakah kau akan kabur dengan begini saja?"
Bentakan keras segera bergema.
Hoat hong taysu mengebaskan ujung bajunya, segulung tenaga pukulan segera meluncur ke depan dan menghadang jalan pergi Keng Cin sin.
Sungguh dahsyat pukulan itu, bagaikan terbentuk selapis dinding baja yang kuat, Keng Cin sin tak mampu melanjutkan perjalanannya.
Menghadapi hal demikian.
Keng Cin sin mendengus dingin, tubuhnya bersalto beberapa kali kemudian balik kembali ke posisi semula dengan suatu gerakan indah.
"Rupanya kalian memang bermaksud menyusahkan aku!"
Bentaknya kemudian sambil melotot dengan sorot mata tajam.
"Hari ini kau akan menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatanmu selama ini"
Seru Hoat khong taysu ketus.
Mendadak...
Keng Cin sin mendongakkan kepalanya, lalu tertawa panjang dengan suara yang keras dan memekikkan telinga..
Suara tertawa itu mendengung sampai ke tengah udara, begitu keras dan nyaring sehingga menggetarkan seluruh jagad.
Kemudian setelah berhenti tertawa Keng Cin sin berkata lagi dengan suaranya yang dingin dan kaku.
"Aku dengar ilmu silat Siau lim pay menjagoi seluruh dunia persilatan, hari ini Pun Buncu akan mencoba apakah berita itu benar atau tidak..."
"Sebentar lagi kaupun akan masuk neraka, akan kami buktikan untukmu..."
Ejek Hoat hong taysu.
"Hmmm.. tak usah tekebur lebih dulu, ditambah dengan kekuatan tiga kali lipat pun jangan harap bisa menaklukkan aku"
"Suheng, akan kubinasakan dulu manusia tekebur ini!"
Teriak Hoat hong taysu marah.
Sambil membentak, sepasang telapak tangannya dilontarkan bersama-sama ke depan.
Segulung angin puyuh yang maha dahsyat seperti sambaran kilat cepatnya langsung menggulung ke depan dan menghadang jalan pergi Keng Cin sin di empat arah delapan penjuru.
Menyusul serangan tersebut, seperti elang kelaparan mencari mangsa, dia langsung menerjang ke tubuh Keng Cin sin.
Hoat hong taysu sebagai satu diantara lima tianglo Siau lim pay boleh dibilang memiliki kepandaian silat yang luar biasa, kemampuan nya tak dapat dibandingkan dengan jagoan persilatan setarafnya.
Tubrukkan yang dilakukan saat ini amat dahsyat dan cepat seperti sambaran petir.
Keng Cin sin yang menyaksikan kejadian mana merasa terperanjat juga dibuatnya, buru-buru sepasang telapak tangannya di lontarkan ke depan melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat, langsung menyongsong datangnya terkaman dari Hoat hong taysu.
Sebenarnya Hoat hong taysu berniat untuk membunuh musuhnya dalam sekali gebrakan, namun melihat datangnya ancaman yang begitu dahsyat, buru-buru dia gunakan ilmu bobot seribu untuk memaksa badannya mendarat di permukaan tanah sebelum waktunya.
Sementara itu Keng Cin sin berniat untuk memberi pelajaran kepada pendeta sombong ini, sepasang telapak tangannya di putar lalu disentil ke depan, segulung angin pukulan yang sangat aneh menerjang kembali ke arah mana Hoat hong taysu sedang meluncur ke bawah.
Baru saja ujung kaki Hoat hong taysu menyentuh tanah, dia merasa segulung angin pukulan yang maha dahsyat dan menyesakkan napas telah menekan ke arah dadanya.
Ia betul-betul terperanjat, mimpipun dia tak menyangka kalau Keng Cin sin memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna dengan perubahan jurus serangan yang begitu cepat.
Cepat-cepat dia menghimpun tenaga dalamnya dan mengayunkan sepasang lengannya ke muka, segulung tenaga pukulan yang sangat kuat segera meluncur ke muka menyongsong datangnya ancaman lawan.
Blaaammm....!
Ketika dua gulung tenaga pukulan itu saling beradu satu sama lainnya, segera berkumandanglah suara ledakan dahsyat yang memekikkan telinga, angin berpusing menyambar ke empat penjuru, daun pasir beterbangan memenuhi seluruh angkasa.
Akibat dari bentrokkan kekerasan ini, Hoat hong taysu merasakan darah panas dalam dadanya bergolak keras, tak kuasa lagi tubuh nya mencelat sejauh enam depa lebih dari posisi semula.....
Namun disaat kakinya menginjak kembali ke tanah, segera dia maju menyerang lagi, kali ini tangan dan kakinya dipergunakan bersama-sama.
Di dalam waktu singkat enam pukulan dan lima tendangan kilat telah dilepaskan olehnya.
Semua pukulan maupun tendangan yang dilancarkan pendeta tua bertubuh kurus kecil ini hampir semuanya dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, hawa serangannya memancar ke empat penjuru bagaikan sayatan angin tajam, deruan angin yang memekikkan telinga menyelimuti seluruh angkasa.
Serangkaian serangan bertubi-tubi ini bukan hanya dilakukan dengan kecepatan luar biasa, bahkan setiap gerakan disertai dengan tenaga dalam yang amat sempurna.
Dengan gerakan tubuh yang luwes, gesit tapi lincah, Keng Cin sin menghindar ke sana kemari dengan gerakan yang aneh tapi sakti, sementara sepasang tangannya digerakkan kian kemari memunahkan seluruh serangan nya.
Betapa gusar dan mendongkolnya Hoat hong taysu setelah menyaksikan berapa jurus serangan kilatnya menemui sasaran kosong, dia membentak dengan suara keras bagaikan guntur membelah bumi, lalu menerjang lagi ke depan secara gencar, kali ini dia menyerang lebih buas lagi.
Bagaikan malaikat raksasa yang kelebihan lengan, bayangan tangan, bayangan kaki di kombinasikan dengan hawa serangan yang menyayat badan memenuhi seluruh angkasa, demikian dahsyat dan hebatnya ancaman tersebut membikin hati siapa pun menjadi keder dan ngeri rasanya.
Keng Cin sin mendengus dingin, mendadak dia melancarkan serangan balasan, tiba-tiba saja sepasang telapak tangannya menciptakan bayangan tangan yang menyelimuti angkasa bagaikan sarang laba-laba, begitu ketat, rapat dan gencarnya serangan balasan ini sehingga seluruh angkasa seolah-olah sudah terjaring oleh ancamannya tersebut ....
Hawa pukulan segulung demi segulung menghambur kemuka seperti amukan ombak samudra yang menyapu semua benda, akan bergidik orang bila menyaksikan keadaan tersebut.
Serangan demi serangan yang dipancarkan beruntun dan bersambungan satu sama lainnya mengandung inti silat yang amat mendalam dan lebih-lebih menggetarkan hati orang.
Hoat hong taysu betul-betul terdesak hebat sehingga harus mundur berulang kali sambil berkaok-kaok marah.
"Kena.!"
Suatu bentakan nyaring yang memekikkan telinga tiba-tiba berkumandang dari mulut Keng Cin sin.
Ditengah sambaran angin pukulan yang memenuhi angkasa, tiba-tiba badannya mendesak ke sisi kiri Hoat hong taysu dengan suatu gerakan aneh, telapak tangannya bagaikan sambaran kilat menghajar langsung bahu kiri pendeta tersebut.
"Duuuukkk. .. !"
Dengan kerasnya pukulan tersebut bersarang telak ditubuh lawan, tak ampun Hoat hong taysu terhajar sampai mundur sejauh tujuh delapan langkah dengan sempoyongan.
Sambil tertawa dingin Keng Cin sin segera berkata.
"Hmmm, ilmu silat aliran Siau lim pay ternyata cuma begini saja, huuuh! Berani amat berbicara sesumbar dihadapanku!"
Diantara tiga pendeta Siau lim pay ini, ilmu silat yang dimiliki Hoat hian taysu terhitung paling tinggi, dalam beberapa jurus pertarungan tadi, sudah melihat Keng Cin sin dapat berputar kesana kemari dibawah serangan gencar adik seperguruannya Hoat hong taysu.
Kendatipun sekilas pandangan orang akan mengira gadis itu terdesak hebat dan terjerumus dalam posisi yang amat berbahaya, namun bagi seorang ahli silat dapat dilihat betapa hebat dan lihaynya perempuan tersebut dalam menghadapi teteran musuh.
Terutama sekali jurus serangan yang di pakai untuk menghajar Hoat hong taysu barusan, gerakan tubuhnya hakekatnya seperti sambaran setan saja, tak terlukiskan rasa ngeri dan tercekatnya pendeta itu.
Perlu diketahui, Lima sesepuh dari Siau lim pay ini merupakan tokoh angkatan tua dalam kuil Siau lim si, namun tak pernah mereka sangka kalau kemampuan mereka berhasil dikalahkan oleh lawannya secara begitu mudah.
Bila kejadian semacam ini sampai tersiar didalam dunia persilatan, jelaslah sudah hal tersebut akan merusak nama baik serta pamor Siau lim pay di mata masyarakat.
Tak heran kalau hawa napsu membunuh segera menyelimuti wajah Hoat hian taysu, mendadak serunya dengan suara dalam.
"Sute berdua, tenangkan dulu pikiran dan nantikan perintah selanjutnya"
"Aku rasa kalian Siau lim sam ceng (tiga pendeta dari Siau lim pay) boleh maju bersama-sama"
Ucap Keng Cin sin dingin.
"Sebab ditempat kuburan ini, selain tujuh lembar sukma gentayangan tak mungkin ada orang lain yang mengetahui kejadian ini, siapa tahu dengan kerja sama kalian bertiga nanti, kalian dapat berhasil membunuhku?
-ooo0dw0ooo-
Jilid 33 MENCORONG sinar pembunuhan yang menggidikkan hati dari balik mata Hoat khong taysu, serunya dengan cepat.
"Untuk menghadapi manusia jahat yang tidak berperi kemanusiaan macam kau, tentu saja kami tak usah mengikuti peraturan dunia persilatan"
Keng Cin sin mendengus dingin dengan nada sinis dan menghina, katanya kemudian.
"Aku memang tahu, kalian manusia-manusia yang tergabung dalam sembilan partai besar dunia persilatan, pada hakekat nya cuma memakai kedok kebajikan dan kebenaran, padahal yang betul hanya manusia manusia rendah yang munafik, hmmm! Tentu saja manusia-manusia seperti ini tak usah menuruti peraturan dunia persilatan"
Semenjak musibah yang menimpa dirinya, Keng Cin sin sudah amat membenci terhadap manusia dalam masyarakat ini, dia tahu setiap orang pasti memakai kedok kehalusan dan kejujuran untuk menutupi kejelekan serta kebusukan hatinya....
Itulah sebabnya dia bersumpah akan menumpas habis setiap manusia laknat dan manusia jahat yang ada dalam dunia ini.
Justru karena itu, terhadap mereka yang jahat dan munafik, dia selalu bertindak kejam, tak berperasaan dan tidak mengenal peri kemanusiaan.
Sekarang, andaikata dia tahu kalau ke sebelas orang anggota perguruan Hiat mo bunnya sudah dibunuh orang, sudah pasti dia tak akan bersikap sungkan-sungkan terhadap ke tiga orang pendeta dari Siau lim pay ini.
"Omitohud!"
Puji syukur Hoat hian siansu.
"Li sicu, ucapanmu barusan betul-betul keterlaluan!"
"Apanya yang keterlaluan?"
Jengek Keng Cin sin dingin.
"toh perbuatan maupun tindakan kalian yang sesungguhnya memang demikian? Nama kosong, pura-pura sok suci, memakai cara yang rendah dan kotor untuk menggerutui orang.... Huuuh! Pokoknya dunia persilatan hampir dipenuhi oleh kaki tangan kalian, apa yang 1096 bisa kalian kerjakan pun tidak lebih hanya memutar balikkan kenyataan, mengadu domba, menghasut"
"Tutup mulut!"
Bentak Hoat khong taysu amat gusar.
"kau jangan menfitnah orang semaunya sendiri, apa buktimu menuduh kami berbuat demikian?"
Yaa, manusia memang seringkali tak tahu malu, padahal belum lama berselangpun mereka telah mengerubuti sebelas orang jago dari Hiat mo bun secara beramai-ramai, bahkan bekerja sama dengan Bu lim jit hun (tujuh sukma gentayangan dari dunia persilatan) tokoh paling bengis, keji dan licik dari dunia persilatan.
Bukan cuma begitu, disaat mereka berhasil memusnahkan Hiat mo bun tadi, merekapun berniat jahat dengan niat melenyapkan pula Bu lim jit hun yang telah membantu mereka.
"Apa buktinya?"
Keng Cin sin tertawa dingin dengan sinis.
"sewaktu terjadi pengerubutan atas Bun ji-koan su pada dua puluh tahun berselang di bukit Soat san, bukankah orang-orang dari sembilan partai besarpun turut ambil bagian? Bahkan kalian telah memfitnah dan menjebak dirinya, hmmm! Bukankah mula-mula kalian menyuruh Thi kiam kim ciang (pedang baja telapak tangan emas) memf itnah nya lebih dulu, kemudian menyuruh putrinya mempersiapkan rencana Bi jin ki (siasat perempuan cantik) ..... Putri Ceng It huang atau si pedang baja telapak tangan emas bukan lain adalah ketua Ban sia kau Ceng Lan Hian yang termashur karena kecabulan dan jalangannya saat ini, konon selesai menghadapi diriku nanti, kalau hendak melenyapkan Ban sia kau dari muka bumi?"
"Hmm! Katakan saja kenyataan bukan ucapanku ini?"
"Terus terang saja kukatakan kepada kalian manusia-manusia yang menganggap dirinya sebagai orang-orang sembilan partai besar, jangan menganggap diri sendiri paling bersih, ketahuilah setiap perbuatan busuk yang pernah dilakukan didunia ini, tidak mungkin akan selalu dapat dirahasiakan."
"Sebagai akhir kata, aku ingin memperingatkan kepada kalian. Jika tak ingin perbuatan kalian diketahui orang, lebih baik janganlah melakukan"
Oleh ucapan dari Keng Cin sin ini, paras muka tiga orang pendeta tua dari Siau lim pay itu berubah menjadi hijau membesi, mereka betul-betul dibikin terkejut dan ngeri atas perkataan tersebut, anehnya mengapa perempuan ini bisa mengetahui kenyataan tersebut?
Dengan kejadian tersebut, maka niat mereka untuk melenyapkan Keng Cin sin dari muka bumi pun semakin menjadi-jadi, sebab mereka tahu tetap membiarkan Keng C in sin hidup didunia ini berarti memelihara bibit bencana untuk kemudian hari.
Sekarang kenyataan sudah berada didepan mata, maka demi keselamatan pamor serta nama baik sendiri, mereka harus melenyapkan orang-orang yang tahu akan kejadian tersebut.
Selesai perempuan ini, masih ada Leng hun koay seng Ku See hong yang mengetahui hal ini, tapi bisa jadi ia sudah mampus oleh rencana busuk Ban sia kau, Jian khi pang, atau dengan perkataan lain asal perempuan inipun dilenyapkan, maka selamatlah mereka.
Bagaimana mungkin Keng Cin sin dapat mengetahui kejadian yang sebenarnya di bukit Soat san yang pernah menimpa Bun ji koan su....?
Rupanya setelah Bun ji koan su Him Ci seng mengalami tragedi di bukit Soat san sehingga hidup dalam keadaan cacat, maka dia menyimpan kembali kitab pusaka Cang ciong pit kip bagian atas kedalam kuil Ngo siang bio lagi.
Namun dia kuatir jiwanya keburu meninggal sedang dendam berdarahnya tidak di ketahui orang, maka dalam separuh bagian kitab pusaka Cang ciong pit kip tercatat pula tinggalkan semua kisah tragedi yang pernah dialaminya dengan catatan mengharapkan bantuan dari orang yang beruntung mendapatkan kitab pusaka itu untuk membalaskan dendam sakit hatinya serta menegakkan kembali keadilan serta kebenaran di dalam dunia persilatan.
Selain dari pada itu, Bun ji koan su telah meninggalkan pula beberapa buah tanda pengenal dari beberapa orang tokoh sakti dari dunia persilatan, dia berharap orang yang berhasil mmemperoleh tanda pengenal itu berusaha untuk mengendalikan beberapa tokoh persilatan tersebut serta mendirikan suatu organisasi yang tangguh untuk mencapai cita citanya.
Itulah sebabnya dalam waktu, singkat Keng cin sin telah berhasil mengumpulkan tokoh-tokoh sakti seperti Bian ih siusu Hoa Siong si, tiga gembong iblis dari pulau Tang hay dan lain-lainnya serta membentuk organisasi Hiat mo bun.
Dalam pada itu, hawa pembunuhan yang amat tebal dan menggidikan hati kini sudah mencorong keluar dari balik mata Hoat hian taysu, sekalipun dia tidak turut hadir dalam pertarungan berdarah dibukit Soat san tempo dulu, namun Siau lim pay jelas-jelas terlibat dalam peristiwa berdarah itu.
Mendadak Keng Cin sin berkata dengan suara dingin.
"Jika taysu sekalian tidak segera turun tangan, jangan salahkan kalau aku tak akan menemani lebih lama lagi"
Hoat hian siansu tertawa dingin.
"Li sicu kalau toh kau mendesak terus menerus, terpaksa kami harus turut perintah" , Telapak tangan kirinya segera di kepalkan kemuka, segulung tenaga pukulan segera meluncur kedepan dengan kecepatan luar biasa..."
Keng Cin sin tertawa ringan, telapak tangannya yang putih bersih ditolak pula ke depan pelan-pelan, hawa serangan musuh segera berhasil dipunahkan.
Disaat itulah...
Bayangan manusia berkelebat memenuhi angkasa, Hoat hian taysu, Hoat khong taysu dan Hoat hong taysu dengan membentuk sudut segitiga langsung menerjang kemuka.
Sewaktu berada ditengah udara, tiba-tiba ketiga orang itu menolakkan telapak tangan nya kedepan, angin pukulan yang sangat tajam segera meluncur ke muka secepat guntur dahsyatnya bukan alang kepalang dan cukup menggetarkan perasaan siapa pun yang memandangnya....
Terlihat pasir dan debu beterbangan di seluruh angkasa, udara menjadi panas dan sesak sekali.
Sambil tertawa dingin, Keng Cin sin mengeluarkan ilmu silat maha dahsyatnya, dengan ke lima jari tangan kirinya yang dipentangkan lebar-lebar mendadak ia melepaskan tiga kali cengkeraman ke arah tubrukan ke tiga musuhnya, sementara telapak tangan kanannya didorong ke muka secepat kilat.
"Weeesss...! Weeesss!"
Deruan angin pukulan yang memekikkan telinga segera bergema memenuhi seluruh angkasa...
Anehnya, ternyata seluruh tubuh Keng C in sin tidak terpengaruh oleh desakan ke enam hawa pukulan yang maha dahsyat tersebut, dia masih tetap berdiri tegak bagaikan batu karang.
Rupanya ke enam pukulan dahsyat yang dilepaskan tiga orang pendeta dari Siau lim pay itu sudah terpancing oleh gerakan tangan Keng Cin sin sehingga meleset dari sasarannya dan meluncur ke tengah udara, dengan begitu secara otomatis diapun tidak terpengaruh oleh angin serangan musuh.
Hoat Hian taysu,, Hoat khong taysu serta Hoat hong taysu yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi amat terperanjat, mereka tak dapat menebak gerak serangan apakah ini.
Di ringi bentakan yang menggelegar memenuhi angkasa, kembali ke tiga orang itu bergerak maju seperti sukma gentayangan, jari tangan, bacokan tangan, tumbukan sikut dan tendangan kilat malang melintang di arahkan semua ke seluruh badan Keng Cin sin, agaknya mereka telah mengembangkan serangkaian serangan kilat.
Didalam waktu singkat bayangan telapak tangan sudah menyelimuti seluruh angkasa, kiri kanan atas maupun bawah hampir 1100 semuanya tertutup olah bayangan telapak tangan yang berlapis-lapis.
Keng Cin sin tertawa nyaring, suaranya keras, merdu tapi menggidikkan hati siapapun yang mendengarnya...
Ditengah gelak tertawa tersebut, mendadak saja tubuhnya berputar kencang.
Di dalam perputaran inilah sepasang telapak tangannya melontarkan serentetan angin pukulan yang kuat dan berlapis-lapis, begitu dahsyatnya serangan tersebut bagai kan gelombang samudra yang meluncur tiba tiada hentinya, sungguh dahsyat dan mengerikan keadaannya.
Rupanya di dalam pertarungan tubuhnya yang sangat gencar tersebut secara beruntun dia telah melancarkan dua puluh empat buah serangan dan sembilan buah tendangan kilat.
Di dalam waktu yang relatif sangat singkat inilah, angin pukulan dan bayangan tendangan seperti bayangan ombak di tengah samudra meluncur tiba dengan hebatnya, begitu dahsyatnya membuat berdirinya bulu roma setiap orang.
Keadaan Keng Cin sin saat ini benar-benar ibaratnya malaikat raksasa berlengan banyak, angin pukulan bayangan kaki di kombinasikan dengan hawa serangan yang menyayat badan membuat suasana semakin mengerikan..
Ditengah amukan angin pukulan yang menderu-deru ketiga orang pendeta dari Siau lim pay itu sama-sama mendengus tertahan...Dengan tubuh sempoyongan mereka bertiga sama-sama tergetar mundur sejauh enam tujuh langkah...
Jubah yang mereka kenakan itu kini sudah tercabik-cabik menjadi hancur dan beterbangan terhembus angin.
Paras mukanya hijau membesi, diantaranya Hoat hong taysu yang paling parah keadaannya, kulit wajahnya sampai mengejang keras karena menahan rasa sakit, sementara sorot matanya memancarkan sinar kebencian dan perasaan dendam yang meluap-luap, seakan-akan hendak menembusi tubuh Keng Cin sin.
Sudah jelas kawanan sesepuh dari Siau lim pay ini merasa amat sakit hati karena harus menderita kekalahan total ditangan seorang angkatan muda.
sedemikian menderitanya mereka hingga jauh lebih enakan mati.
Dengan suara sedingin es Keng C in sin berkata.
"Sekali lagi aku hendak memberitahukan kepada kalian, Hiat mo bun adalah kawanan manusia penegak keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan, kami bukan manusia-manusia pengecut yang munafik dan tak tahu malu. Mengingat kalianpun termasuk manusia-manusia penegak keadilan dan kebenaran, hari ini aku tak akan mempersoalkan fitnahan kalian terhadap diri kami lebih lanjut, namun jika kalian berani berbuat huru-hara lagi dikemudian hari, hmmm untuk membela diri, terpaksa kami akan mempertaruhkan jiwa raga kami untuk menuntut keadilan dari kalian."
"Terus terang saja kukatakan kepada kalian, sembilan partai persilatan dari daratan Tionggoan sekarang hanya terdiri dari manusia-manusia tak becus, Kepandaian silat kalian sudah tidak termasuk hitungan lagi didunia saat ini, apabila kalian masih saja mencari gara-gara, suatu ketika akan tumpaslah perguruan kalian itu, sebaliknya bila kalian masih bersedia melakukan kebenaran dan berjuang, untuk mencapai kemajuan, siapa tahu kalau suatu ketika perguruan kalian akan menjadi tenar kembali?"
"Nah, aku yakin kalian pasti mengerti, dengan kepandaian silat yang kalian bertiga miliki itu, masih belum sanggup untuk menghadapi diriku, sekarang kita tak perlu melangsungkan lagi suatu pertarungan yang tak berguna, nah, selamat tinggal!"
Seusai berkata, dia lantas melesat ke depan dan meluncur ke arah perkampungan yang tak jauh letaknya dari sana.
Kali ini ke tiga orang pendeta dari Siau lim pay itu tak berani lagi menghalangi kepergian Keng Cin sin, jelas mereka sadar kalau kemampuan yang mereka miliki masih belum sanggup untuk melebihi musuhnya.
Mendadak Hoat hian taysu seperti teringat akan sesuatu, setelah menghela napas sedih dia berkata.
"Sute berdua, kini dunia persilatan sudah terancam oleh bahaya besar, kita harus secepatnya mengundurkan diri dari tempat yang berbahaya ini dan selekasnya kembali ke siong san!"
"Hoat hian suheng, bagaimana dengan orang-orang dari delapan partai besar lainnya"
Kata Hoat khong taysu sedih.. Hoat hian taysu menghela napas sedih.
"Aku pikir orang-orang dari delapan partai besar tidak akan menuruti perkataan kita, aaai..! Sekalipun kita orang-orang Siau lim pay mundur dari sini, namun disaat Hiat mo buncu sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya, sudah pasti dia tak akan melepaskan kita dengan begitu saja."
"Sekarang, kita tak boleh berdiam terlalu lama lagi disini, ayo secepatnya tinggalkan tempat ini sebelum mengambil keputusan lain...."
Tiga orang pendeta dari Siau lim pay itu tak berani berayal lagi, secepat kilat mereka meluncur meninggalkan tempat tersebut menuju ke arah kota.
Ditengah keheningan yang mencekam tanah pekuburan tersebut, mendadak berkumandang suara gelak tertawa yang amat menyeramkan, kemudian terdengar seseorang berseru.
"Kita tujuh bersaudarapun harus selekasnya meninggalkan tempat ini, kalau tidak bila kuntilanak itu sampai datang kembali, bisa jadi seluruh tanah pekuburan ini akan dibongkar olehnya dan menyeret kita keluar dari neraka tingkat delapan belas"
"Lo toa"
Terdengar suara lain berkata.
"mengapa sih kau begitu takut kepadanya! Dengan kemampuan kita tujuh bersaudara, masa tidak mampu untuk menaklukkan dirinya!"
Sang Lo toa segera tertawa tergelak, teriaknya.
"Lo liok, kau lupa kita tujuh orang dua belas lembar sukma sudah kehilangan beberapa lembar sukma? Masa kita dapat bertarung mati-matian lagi dengannya? bila setiap orang dengan dua belas lembar sukma berada dibadan, separuh dari kita tujuh bersaudara sudah sanggup untuk membinasakan dirinya"
Seseorang yang lain segera tertawa cekikikan, kemudian berseru dengan keras.
"Lo toa, kita tak usah mengibul lagi, ke tiga orang keledai gundul dari Siau lim pay toh gagah dan keren, tapi nyatanya berhasil dibikin keok secara gampang, bagaimana mungkin kita tujuh bersaudara mampu untuk mengungguli dirinya?"
"Lo jit, kau si setan romantis"
Umpat sang lo toa sambil tertawa tergelak.
"tampaknya kau tertarik oleh kecantikan wajahnya sehingga membantu dia berbicara? Ayo jalan! Kita harus selekasnya meninggalkan tempat ini, siapa yang tidak takut mampus boleh tetap berdiam disini!"
"Aduuuh, tahun ini aku berusia tujuh puluh tahun, aku masih ingin hidup bersenang-senang selama belasan tahun lagi"
Ditengah pembicaraan tersebut, dari balik tujuh buah kuburan yang porak poranda, tiba-tiba muncul tujuh sosok mayat hidup, ada yang kehilangan sebuah kaki, ada yang kehilangan sebuah mata, kehilangan sebuah telinga dan ada pula yang kehilangan sebuah lengan.
Di ringi gelak tertawa aneh yang menyeramkan, mayat-mayat hidup itu secepat sambaran kilat meluncur dari kompleks tanah pekuburan itu dan berlalu dari sana.
Dalam pada itu, Keng Cin sin dengan gerakan secepat sambaran petir telah memasuki bangunan rumah gedung itu.
Namun baru saja dia menembusi gedung lapisan ke empat, apa yang terlihat membuatnya menjadi tertegun dan melongo.
Mayat-mayat berlepotan darah bergeleparan diatas permukaan tanah...Kematian dari orang-orang itu sungguh mengenaskan sekali, membuat siapa saja yang melihat hal ini menjadi bergidik dan merasa seram ....
Padahal perempuan itu sudah banyak membinasakan kaum laknat dan manusia-manusia jahat dikolong langit, mayat yang bergelimpangan sudah merupakan pemandangan biasa baginya, betapa pun seram dan ngerinya suatu keadaan tak mungkin akan menimbulkan rasa kaget atau ngeri lagi baginya.
Tapi kali ini, Keng Cin sin nampak begitu terperanjat dan tertegun setelah menyaksikan tujuh delapan sosok mayat yang terkapar ditengah halaman dalam keadaan kepala hancur, isi perut berceceran, apa yang sebenarnya terjadi?
Padahal mayat-mayat yang tergelepar di atas tanah sekarang, tak seorangpun yang dikenal olehnya.
Rupanya dia kaget karena menyaksikan bangunan rumah yang sebelumnya tak pernah dikunjungi manusia itu sudah berubah menjadi ajang pertempuran, kalau dilihat dari suasana seram yang menyelimuti tempat tersebut, dapat diketahui kalau pertarungan tersebut berlangsung antara orang-orang tak dikenal itu dengan orang-orang Hiat mo bun pimpinannya.
Yang paling dia kuatirkan sekarang adalah keselamatan dari orang-orang Hiat mo bun, sebab ditanah pekuburan tadi ia telah bersua dengan Bu lim jit hun (tujuh sukma gentayangan dari dunia persilatan) serta tiga pendeta agung dari Siau lim pay, itu berarti orang-orang yang telah ditemuinya barusan pasti turut serta dalam pertempuran berdarah ini.
Padahal orang-orang itu berhasil meninggalkan tempat itu tanpa cedera, dari sini dapat disimpulkan pula kalau pihak Hiat mo bun telah menderita kekalahan total.
Sekarang suasana dalam perkampungan yang luas itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, suasana terasa begitu menyeramkan dan menggidikkan hati.
Tiba-tiba Keng Cin sin mendongakkan kepalanya lalu berseru dengan suara nyaring.
"Iblis darah menggetarkan dunia persilatan....
Tengkorak Manusia menggetarkan setan gentayangan.....
Dari kejauhan sana bergema suara pantulan dari teriakannya itu dan menggema tiada hentinya di angkasa.
Namun suasana tetap sepi, tiada jawaban apapun yang terdengar ....
Keng Cin sin sangat terperanjat, gumannya kemudian.
"Aneh, mungkinkah mereka semua telah mengundurkan diri dari tempat ini? Atau mungkin mereka sudah tertimpa musibah?"
Berpikir demikian, sekali lagi dia berteriak dengan suara lantang.
"Hiolo kumala memunahkan amisnya darah... Umat persilatan menghormati bunga bwee, Kengerian berubah ketenangan, Kegelapan hilang muncul ah terang. Kegagahan menggetarkan angkasa, Panji sakti bagaikan sang surya!"
Secara beruntun dia meneriakkan keenam patah kata sandi dari Hiat mo bun itu dengan suara yang lantang dan nyaring, suaranya begitu keras hingga mendengung di seluruh angkasa.
Namun suasana dalam ruangan itu masih tetap sepi hening, seram dan mengerikan hati...
Hanya suara angin lembut yang menerpa lewat menggoyangkan dedaunan dan ranting, hingga menerbitkan suara gemerisik yang sangat lirih..
Keng Cin sin merasakan hatinya berat sekali, pelan-pelan dia mulai ke depan, mengitari halaman gedung ruangan kelima dan melangkah masuk melalui pintu bulat kecil.
Tiba-tiba terendus bau amisnya darah yang amat tebal menyelimuti seluruh angkasa disekitar tempat itu.
Sejauh mata memandang, yang nampak hanya mayat-mayat yang bergelimpangan dalam keadaan mengerikan serta senjata tajam yang berserakan diatas tanah.
Mayat yang tergeletak disekitar sana berjumlah dua puluhan sosok, suatu jumlah yang tidak kecil.
Dibawah sinar matahari senja yang merah membara, noda darah yang melumer diatas tanah terasa lebih menyala dan menggidikkan hati orang yang memandangnya.
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, Keng Cin sin mengawasi setiap mayat yang tergeletak ditanah itu tanpa berkedip.
Namun mayat-mayat yang ditemukan pun bukan jenasah dari orang-orang Hiat mo bun.
Agak lega Keng Cin sin menyaksikan hal tersebut, dia berharap moga-moga anggota Hiat mo bun bisa mundur dari situ dengan aman dan berharap selamat.
Mendadak......
Sepasang mata Keng Cin sin terhenti di atas tiga sosok mayat yang berdiri kaku disisi gunung-gunungan samping gedung tersebut.
Sambil menjerit kaget dia menerjang ke muka dengan cepatnya, sementara sorot matanya memancarkan sinar kepedihan yang luar biasa...
Dia merasa sedih dan sangat berduka.....
Rupanya ke tiga sosok mayat itu tertancap oleh tiga batang pedang panjang, setiap pedang menembusi bagian yang mematikan ditubuh mereka, sementara wajah mereka masih mengenakan topeng tengkorak lambang Hiat mo bun.
Dengan suara gemetar Keng C in sin segera berseru.
"Ang yang kui si (utusan setan merah menyala) Sin Kiu si, Lik im pok si, Hay lo tocu Su siok su, kalian bertiga..... kalian bertiga telah pergi ...."
Ternyata ke tiga sosok mayat tersebut adalah tiga gembong iblis dari pulau lautan timur.
Walaupun Keng Cin sin tahu bahwa tiga Iblis dari pulau lautan timur sombong, buas, kejam dan tak berbelas kasihan, namun bagaimanapun jua mereka adalah anggota setia dari Hiat mo bun, maka secara otomatis kematian mereka menimbulkan juga perasaan sedih yang mendalam bagi perempuan itu.
Pelan-pelan Keng Cin sin, mengalihkan pandangan matanya ke arah sekitar situ, lebih kurang lima kaki dari tempat semula lagi-lagi ditemukan dua sosok mayat yang berada dalam keadaan sangat menyedihkan.
Sambil berpekik keras Keng Cin sin segera menubruk ke depan, teriaknya dengan suara pilu.
"Ciu Jian hiong , Ban Tun Jiang, kalian Tiang pek siang to juga turut tewas..."
Perasaan terkejut dan sedih yang mencekam perasaan Keng Cin sin sekarang benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata.
Sekarang dia mulai merasakan betapa seriusnya persoalan ini, dia cukup mengetahui tentang kelihayan ilmu silat yang dimiliki kelima korban tersebut, namun kenyataannya mereka toh tewas juga ditangan orang, ini berarti mereka yang lainpun...
Keng Cin sin tidak berani berpikir lebih jauh...
Mendadak tubuhnya melejit ke tengah udara dan langsung menerjang ke arah bangunan kecil disisi sebelah selatan.
Tapi disaat tubuhnya melayang turun ke dalam halaman gedung tersebut dan melihat apa yang tertera disitu, dadanya terasa sakit dan sesak sekali seolah-olah di hantam dengan martil yang beratnya beberapa ribu kati.
Suasana didalam gedung mungil itu sudah hancur dan porak poranda tiada berwujud lagi, pepohonan dan aneka bunga tersebar dimana-mana, sementara tiga puluhan sosok mayat terkapar ditengah halaman tersebut.
Tepat dimuka pintu ruang mungil tersebut tergeletak sesosok mayat dengan dandanan anggota Hiat mo bun, sedang disisi pintu terkapar pula dua sosok mayat anggota Hiat mo bun, topeng tengkorak yang mereka kenakan sudah terlepas dan jatuh ke tanah.
Mereka berdua adalah seorang lelaki kekar yang berjenggot hitam serta seorang kakek berwajah hitam yang kurus dan pendek.
Kedua orang ini bukan lain adalah Kanglam siang hui, Pek lek jiu Ho Kian dan Thian kun tee ciang Khong Tang lun.
Keng Cin sin segera berteriak keras.
"Oooh Thian. mengapa kau begitu kejam? kau tumpas Hiat mo bun sebelum cita-citanya terwujud..."
Saking sedihnya, dia sampai terisak dan tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.
Kini, dia betul-betul membenci sekalian manusia-manusia laknat yang tidak berperi kemanusiaan itu.
Perasaan Keng Cin sin sekarang boleh dibilang telah dipenuhi oleh perasaan sedih, gusar dan dendam yang berlipat-lipat.
Sepasang matanya memancarkan sinar pembunuhan yang menggidikkan hati, dia bersumpah hendak membunuh semua manusia yang terlibat didalam peristiwa berdarah ini.
Berapa saat kemudian, Keng Cin sin dapat menenangkan kembali hatinya, dengan sedih dia bergumam.
"Dari sebelas anggota Hiat mo bun, kini sudah kuketahui ada sembilan orang yang tewas, yang belum ditemukan sekarang hanya Sian ih siusu Hoa Siong si, adik Khi serta Siang hong kek Hoo Gi dari Kang lam Siang hou, mungkinkah merekapun..."
Tiba-tiba......
Keng Cin sin menangkap suara gemerisik yang sangat lirih, dengan sorot mata yang mencorongkan sinar tajam ia segera berpaling ke arah sisi barat dekat dinding ruangan, disini tergeletak pula sesosok tubuh manusia yang bermandikan darah.
Waktu itu, tubuh yang terkapar ditanah itu mulai bergerak-gerak, walaupun sangat lirih.
Bagaikan sukma gentayangan Keng Cin sin segera memburu ke depan, lalu membalikkan mayat tersebut dengan ujung kakinya.
Wajah manusia itu penuh berpelepotan darah, rambutnya terurai kusut namun tak dapat menutupi matanya yang besar, alis matanya yang tebal serta wajahnya yang bulat..
"Aaaah, rupanya Siang hong kek Hoa Gi!"
Pekik Keng Cin sin dengan perasaan pedih.
Yaa, benar!
Dia adalah Sian hong kek Hoo Gi dari Kang lam siang hou, sebenarnya Keng Cin sin mengira orang ini lolos dari musibah tersebut, tak tahunya dia justru muncul dihadapan matanya dalam keadaan yang mengerikan.
Tiba-tiba....
Tubuh Sian hong kek Hoo Gi yang kaku itu mengejang keras dengan penuh penderitaan.
"Aaah, dia belum putus nyawa"
Kembali Keng Cin sin menjerit kaget.
"Saudara Ho, saudara Ho!"
Sambil berteriak keras Keng cin sin merogoh kedalam sakunya dan mengeluar kan dua butir pil berwarna putih bersih dan sebuah botol porselen, kemudian dicekokkan ke dalam mulutnya yang tertutup rapat.
Kemudian sepasang tangannya secepat kilat menguruti delapan nadi penting di seluruh tubuh Sian hong kek Ho Gi.
Akan tetapi Sian hong kak Ho Gi masih tetap tergeletak kaku di tanah, bergerakpun tidak.
Keng Cin sin tahu kalau isi perutnya sudah berhenti bekerja karena hawa murninya terlalu lama tersumbat, sekalipun ada pil Kiu coan si mi yok wan yang dapat menyelamatkan orang dari kematian, namun daya kerja obat tersebut sudah tak dapat menyebar lagi keseluruh anggota tubuhnya.
Tiba-tiba Keng Cin sin berseru tertahan dengan cepat dia memasuki ruangan mungil itu langsung menuju ke ruang dalam.
Setelah mengambil secawan air putih, dia balik kembali ke sisi tubuh Sian hong kek dan mengeluarkan sebuah kotak kemala kecil dari sakunya...
Segulung cahaya warna warni yang tebal segera membumbung tinggi ke angkasa ....
Rupanya dia telah memasukkan mutiara Thian hong im yang sin cu tersebut ke dalam air bersih tadi.
-ooo0dwooo-BAB 51 TAK lama setelah mutiara mestika Thian hong im yang sin cu tersebut di masukkan kedalam air bersih, mendidihlah air didalam cawan itu sebelum akhirnya berubah menjadi merah membara.
Tak lama kemudian, air bersih di dalam cawan tersebut sudah berubah menjadi merah darah, Keng Cin sin segera menjepit keluar mutiara tersebut dari dalam cawan dan menyimpannya kembali kedalam kotak kemala dan disimpan kedalam sakunya.
Sementara air merah darah tadi dicekok kan kemulut Sian hong kek Ho Gi belum lama berselang.
Keng Cin sin pernah pula menggunakan cara yang sama dimana ditambah pula dengan beberapa macam bubuk obat untuk membuat cairan kental berwarna merah untuk menyembuhkan Ku See hong dari siksaan ilmu Hou kut jian hui im kang.
Sekarang, Walaupun hawa murni Sian hong kek Ho Gi belum putus, namun luka yang dideritanya parah sekali.
kendatipun demikian mutiara Thian hong im yang sin cu memang benar-benar maha dahsyat.
Coba kalau bukan begitu, mungkin isi perut Sian hong kek Ho Gi yang sudah hancur dan terluka parah itu akan mempercepat kematiannya.
Sementara itu suatu kejadian aneh telah terjadi, paras muka Sian hong kek Ho Gi yang berwarna merah membara itu mendadak mengejang keras, kemudian dari lubang hidungnya seperti terdapat dengusan napas kembali.
Lalu terdengar dia mendengus tertahan, sepasang matanya yang terpejam rapatpun pelan-pelan membuka kembali, dengan serentetan sorot mata yang lemah dia mengawasi Keng Cin sin.
Itulah sorot mata penuh kebencian dan perasaan seram .....
Buru-buru Keng Cin sin berseru dengan cemas.
"Saudara Ho! Saudara Ho! Kau masih kenal denganku? Aku adalah manusia berkerudung warna warni dari Hiat mo bun "
Tampaknya Sian hong kek Ho Gi sudah tidak mendengar ucapan dari Keng cin sin lagi, atau mungkin matanya sudah tak dapat menangkap bayangan manusia lagi, dia masih tetap memandang kearah depan dengan wajah termangu-mangu.
Dengan gelisah Keng Cin sin kembali berseru.
"Dengar...... dengarkah kau dengan suaraku?"
Mendadak Sian hong kek Ho Gi sudah gerakkan bibirnya dan menyahut dengan suara lirih.
"Kau .... kau adalah nona Im? Mengapa kau mendatangi neraka ini?"
"Apakah kau ...... kaupun sudah mati?"
Keng Cin sin tahu kalau dia mengira dirinya sebagai Im Yan cu dan dia mengira dirinya sudah mati serta bertemu dengannya didalam neraka, dengan perasaan yang amat sakit karena pedih, serunya agak gemetar.
"Saudara Ho! Kau masih hidup, aku adalah manusia berkerudung warna warni, Buncu dari perguruan Hiat mo bun..."
Ketika mendengar ucapan tersebut, paras muka Sian hong kek Ho Gi yang semula menyeramkan itu terlintas suatu perubahan wajah yang sangat aneh, bibirnya tampak bergetar lalu berbisik dengan lirih.
"Ooh, kau.. kau adalah Buncu, pembunuh-pembunuh bedebah.."
Agaknya Sian hong kek Ho Gi sangat di pengaruhi oleh gejolak perasaan, sekujur tubuhnya gemetar lagi dengan kerasnya, sementara paras mukanya kembali mengejang keras penuh penderitaan.
Kata-kata selanjutnya pun turut tersumbat.
Buru-buru Kong Cin sin berseru.
"Saudara Ho, untuk sementara waktu ini legakan dulu perasaanmu, aku datang untuk menyembuhkan lukamu ....."
Suara gemerutuk mulai kedengaran dari dalam tenggorokkan Sian hong kek Ho Gi, kemudian dia berkata lagi diiringi helaan napas yang sedih dan lirih.
"Aku sudah.... sudah tiada harapan lagi. .. aku sangat gembira dapat bersua kembali denganmu ...."
"Saudara Ho, kau ... kau pasti akan sehat kembali ...."
Seru Keng Cin sin cemas.
"Buncu!"
Suara Sian hong kek Ho Gi kedengaran lebih gemetar lagi.
"kau tak usah membuang waktuku dengan percuma, menggunakan kesempatan yang amat singkat ini, ingin kuberitahukan kepadamu, siapa-siapa saja musuh besarmu..."
Keng Cin sin pandai sekali dalam ilmu pertabiban, tentu saja diapun tahu meski Hoa Tuo, si Tabib sakti dari jaman Sam kok menitis kembalipun mustahil bisa menyelamatkan selembar jiwanya.
Sekarang dia bisa sadar karena mengandalkan hawa murni yang masih dimilikinya serta kasiat dari pil kiu coan sa mia sin wan dan air mustika mutiara Thian hong im yang sin cu, seandainya kasiat dari kesemuanya itu sudah punah, tentu saja pengaruh obat mana tak bisa mencegah cakar maut malaikat elmaut untuk mencabut nyawanya.
Dengan perasaan pedih bertanya Keng Cin sin.
"Katakanlah, siapa musuh-musuh kita? Apakah sebelas saudara kita sudah mengalami musibah semua?"
"Sungguh tak disangka sembilan partai besar yang menganggap diri sebagai partai bersih pun bisa bertindak begitu kotor, munafik dan tak tahu malu..." . kata Sian hong kek Ho Gi sambil menahan rasa dendam.
"Haaah, sembilan partai besar dari daratan Tionggoan?."
Keng Cin sin amat terperanjat.
"Benar.... ciangbunjin dari sembilan partai besar..."
Ditambah dengan manusia aneh yang menyebut dirinya Bu lim jit hun sekalian tujuh delapan puluh jago lihay, kami sebelas saudara mungkin sudah gugur sembilan orang, tapi pihak lawanpun banyak yang jatuh korban, cuma pembunuh dan dalangnya tidak mampus."
"Bin ih siausu Hoa Siong si beserta saudara cilik Kho It khi telah menerjang keluar dari kepungan dengan membawa luka yang parah, tidak kuketahui bagaimanakah nasib mereka sekarang."
"Aku pasti akan memberikan pembalasan yang setaraf dan kematian yang sama kejamnya terhadap pembunuh-pembunuh keji yang rendah, tak tahu malu dan munafik itu"
Sian hong kek Ho Gi mendehem dua kali, Kemudian berkata.
"Sekarang aku baru memahami betapa jelek dan busuknya kawanan manusia yang mengaku dirinya sebagai pendekar sejati itu, sama-sama memperlihatkan wajah mereka yang buas dan liar. Aaai, mereka telah mempergunakan cara yang rendah dan tak tahu malu untuk menyergap kami."
"Dunia persilatan memang penuh dengan kemunafikan dan kelicikan, setiap orang selalu menggunakan tipu muslihat yang busuk untuk memperkaya diri, mencari nama dan kedudukan, tindak tanduk mereka sukar diduga sebelumnya. Buncu! Sekarang kau harus hidup sebatang kara, sedang didalam dunia persilatan hanya tinggal Leng hun koay seng Ku See hong seorang yang dekat denganmu, sedang sisanya, ... sisanya hampir semuanya merupakan musuhmu, dapat .... dapatkah kau membalas dendam..?"
Selembar nyawa Sian hong kek Hoo Gi pun mengikuti sang waktu makin lama makin menyusut pendek, cengkeraman malaikat elmaut sudah semakin mendekatinya.
Dengan napas yang tersengkal-sengkal dan tenggorokkan mengorok keras, dia berbisik lagi, dengan suara semakin lirih.
"Buncu, sebelum ajalku tiba, ada beberapa persoalan ingin kutanyakan kepadamu, betulkah kau adalah Keng C in sin yang di kenal oleh Ku See hong dan selama ini di anggap telah mati?"
Keng Cin sin sangat terperanjat, dia tak habis mengerti mengapa anak buahnya ini bisa tahu kalau dia adalah Keng Cin sin? Namun setelah menghela napas sedih sahutnya juga.
"Saudara Ho, akulah Keng Cin sin!"
Sekulum senyuman segera menghiasi wajah Sian hong kek Ho Gi yang mengenaskan itu, kembali dia berbisik dengan suara yang lirih sekali.
"Buncu, Leng hun Koay seng Ku See hong sangat mencintai dirimu, dia menganggap kau belum mati, aku tahu, dihati kecilmu pasti ada rahasia besar yang sukar diutarakan, namun bagaimanapun juga kau harus mengutarakan keadaanmu yang sebenarnya kepada dia, berdiri disatu garis yang sama, dengan begitu kalian baru dapat membasmi kaum jahanam dan kaum laknat dari muka bumi."
"Nona Keng Cin sin, kenapa hubunganmu dengan Ku See hong .......?"
"Saudara Ho"
Tukas Keng Cin sin sedih.
"aku belum dapat menyatakan identitasku kepadanya, karena sekarang aku harus mencari dulu semacam obat ....."
Siau hong kek Ho Gi yang mendengar perkataan tersebut menjadi sangat terperanjat tapi justru karena itu pula darahnya semakin membeku sehingga tak dapat mengalir kedalam isi perutnya, seketika itu juga jantungnya berhenti berdetak dan matanya membalik keatas, tampak ajalnya sudah tiba.
Namun sesaat menjelang ajalnya tiba, mendadak dia berbisik lagi dengan lirih.
"Ku See hong telah terjebak oleh tipu muslihat orang-orang Ban sia kau...."
Berbicara sampai disitu, sepasang kakinya segera menjejak keras-keras ke depan, seluruh tubuhnya mengejang keras dan darah mengucur keluar dari ujung bibirnya.
Seorang lelaki sejati yang gagah perkasa ini, akhirnya harus meninggalkan dunia yang penuh kekejian untuk kembali ke alam baka dan beristirahat untuk selamanya.
Kini segenap kekuatan Hiat mo bun telah punah, korban yang berjatuhan cukup besar dan parah, tak terlukiskan rasa sedih dan pedih yang dialami Keng Cin sin saat ini ...
Dengan membawa pengharapan yang besar dia mendirikan perkumpulan Hiat mo bun, maksudnya ingin menegakkan keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan demi kesejahteraan umat persilatan, sungguh tak disangka sebelum cita-citanya yang luhur itu tercapai, segenap kekuatan partai nya harus ditumpas orang dan punah dengan begitu saja.
Pukulan hatin yang demikian beratnya ini benar-benar telah meninggalkan bekas luka yang mendalam sekali didalam sejarah perjalanan hidupnya.
Sekarang Keng Cin sin tak dapat mengendalikan rasa sedih dalam hatinya, air mata jatuh bercucuran dari kelopak matanya dan membasahi pipinya ....
Kesedihan yang tak bersuara ini terasa jauh lebih membekas dalam hatinya dari pada isak tangis yang keras, sebab perasaan pedih yang dialaminya saat ini benar-benar tak terlukiskan lagi dengan kata-kata.
Pancaran sinar dendam, benci dan marah yang mengerikan hati mencorong ke luar dari balik matanya, dia mengawasi wajah Sian hong kek Ho Gi yang sudah menjadi mayat itu tanpa berkedip.
Dari balik sorot mata mana, terkandunglah pelbagai perasaan yang bercampur aduk tak karuan.
Diantaranya terselip perasaan dendam dan benci....
Penderitaan....
Kemarahan....
Kenangan.
Hawa napsu membunuh yang berkobar kobar ....
Mendadak....
Keng Cin sin mendongakkan kepalanya dan memperdengarkan suara tertawa panjangnya yang keras dan menusuk pendengaran.
Sedemikian kerasnya suara tertawa itu sehingga seluruh langit dan bumi seakan-akan turut bergetar keras, suasana betul-betul mengerikan sekali.
Suara tertawanya itu begitu keras dan menggidikkan hati...
Suara tertawa itu penuh dengan kebencian yang meluap-luap....
Tapi terdengar pula begitu memedihkan hati sehingga sanggup mencabik-cabikkan perasaan setiap orang.
Dari gelak tertawanya itu, kita dapat merasa kan bahwa dalam dunia persilatan bakal terjadi suatu tragedi yang paling mengerikan didalam sejarah dunia persilatan selama ini.
Sementara itu, matahari senja sudah condong ke arah barat, sinar matahari kemerah-merahan memancar ke seluruh angkasa.
Mendadak...
Segulung angin lirih berhembus lewat dan memecahkan keheningan yang mencekam sekeliling tempat itu...
Tahu-tahu dalam ruangan tersebut telah menyelinap masuk seorang perempuan berambut putih yang berwajah bersih bagaikan kemala, didalam bopongan perempuan tersebut, terdapat pula seorang gadis yang berwajah cantik.
Tak perlu diduga lagi, ke dua orang ini bukan lain adalah Seng sim cian li Hoa Soat kun serta Im Yan cu yang telah terkena obat perangsang Im hwee si hun wan.
Setelah mengetahui siapa yang datang, buru-buru Keng Cin sin mengendalikan gejolak perasaannya lalu menegur dengan lirih.
"Bolehkah aku tanya, apakah kau adalah Seng sim cian li Hoa Soat kun locianpwe beserta muridnya Im Yan cu?"
Seng sim cian ti Hoa Soat kun amat terkejut setelah mendengar teguran itu, segera pikirnya.
"Heran, bagaimana mungkin dia bisa mengetahui akan hal ini ....?."
Dengan nada suara yang dingin bagaikan es, sikap yang merupakan kebiasaan bagi nya, dia menghela napas panjang lalu menjawab.
"Hiat mo buncu, mungkin kau sudah mengetahui maksud kedatanganku kemari"
"Hoa locianpwe, apakah Leng bun kuay seng Ku See hong telah berkunjung ke rumah penginapan Yang tang?"
Rupanya Keng Cin sin mengira Hoa Soat kun bisa datang mencarinya atas petunjuk dari Ku See hong, sebab hanya Ku See hong seorang yang tahu kalau gedung terpencil ini merupakan pusat hubungan dari perkumpulan Hiat mo bun.
"Sudah seharian penuh lo nio belum berhasil menemukan bajingan cilik she Ku itu"
Sahut Seng sim cian li Hoa Soat kun dengan suara dingin. Mendengar perkataan itu Keng Cin sin sangat terkejut, dalam benaknya segera terlintas kembali kata-kata terakhir dari Sian hong kek Ho Gi.
"Jangan-jangan Ku See hong benar-benar sudah terkena siasat busuk dari bajingan Ban sia kau..."
Demikian dia mulai berpikir.
Rupanya Sian hong kek Ho Gi yang sesaat menjelang ajalnya mendengar kalau Ku See hong sedang pergi mencari obat-obatan, mendadak saja ia teringat akan kisah pertemuan antara Ku See hong dengan Thi bok sin kiam Cu Pok, ditambah pula sejak musibah yang menimpa Hiat mo bun barusan, ia semakin menaruh perasaan was-was terhadap jalan pemikiran orang persilatan.
Atas dasar itulah dia lantas menduga kalau Ku See hong sudah ditipu oleh kaum laknat, maka dari itu sebelum ajalnya tiba dia pun menyatakan kalau Ku See hong sudah terjebak oleh siasat busuk musuh.
Tatkala Seng sim cian li Hoa Soat kun menyaksikan Keng C in sin hanya membungkam diri dalam seribu bahasa, dengan suara dingin dia berkata lagi.
"Hiat mo buncu, apakah kaupun sudah tahu kalau muridku ini telah keracunan?"
Tentu saja Keng Cin sin memahami maksud hatinya, buru-buru jawabnya.
"Locianpwe, atas pemberitahuan dari Ku See hong, aku sudah tahu kalau Im Yan cu telah keracunan, sayangnya aku hanya sanggup memperpanjang saat kambuhnya saja, dan tak mampu menyembuhkan secara tuntas. ."
"Aku telah berjanji dengan Ku See hong, paling lambat besok pagi untuk berjumpa dengannya dirumah penginapan Yang tang, pada saat itulah kita akan bersama-sama menyelesaikan persoalan ini....."
Ketika mendengar perkataan tersebut, sekilas perasaan sedih sempat menghiasi wajah Seng sim cian li Hoa Soat kun, jelas kesedihan yang dikarenakan perasaan kecewa.
Keng Cin sin menghela napas sedih, kemudian katanya.
"Hoa locianpwe, aku sudah berjanji kepada Ku See hong untuk menyembuhkan luka racun dari tubuh adik Im Yan cu, sudah pasti akan kulakukan hal ini dengan sebaik-baiknya"
"Bukankah sudah kau katakan bahwa kau tak mampu untuk menyembuhkannya, sama sekali?"
"Kepandaianku memang masih belum lengkap untuk menyembuhkan luka beracunnya, namun setiap benda yang ada didunia ini pasti ada cara untuk memecahkannya. Aku pikir didalam kitab pusaka Ban sia cinkeng sudah pasti akan tercantum obat penawar dari racun cabul tersebut."
"Maksudmu, kau hendak mengunjungi markas besar Ban sia kau dan berusaha untuk mencuri kitab Ban sia cin keng itu?"
"Yah, kejadian telah berkembang menjadi begini rupa, terpaksa aku harus menempuh cara ini"
Sungguh terharu perasaan Seng sim cian li Hoa Soat kun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Sudah pasti perempuan ini mempunyai hubungan yang mendalam sekali dengan Ku See hong, kalau tidak mengapa dia bersedia untuk menyembuhkan luka beracun dari im Yan cu, bahkan bersedia pula mempertaruh kan jiwanya untuk mengunjungi markas besar Ban sia kau dan berusaha mencuri kitab pusaka Ban sia cin keng milik Ceng Lan hiang ...."
Berpikir demikian, dia menghela napas panjang, kemudian katanya pelan.
"Terima kasih banyak atas petunjukmu barusan, kalau dalam kitab pusaka Ban sia cin keng tercantum resep obat penawar untuk memunahkan pengaruh racun cabul tersebut, soal mengunjungi perkumpulan Ban sia kau, aku pikir tak perlu merepotkan dirimu lagi."
"Hoa cianpwee, aku sudah mengabulkan permintaan orang tentang hal ini, jadi aku tak ingin mengingkari janji"
"Bolehkah aku tahu bagaimana hubunganmu dengan Ku See hong. ..?"
Keng Cin sin menghela napas sedih.
"Panjang sekali untuk diceritakan tentang kepedihan hatiku ini, harap Hoa cianpwee jangan menyinggungnya kembali, terus terang saja kukatakan, dahulu dia adalah kekasihku, tapi sekarang aku sudah tak dapat mencintainya lagi, oleh sebab itu aku hanya bisa berusaha dengan sepenuh tenaga untuk membantunya hidup senang dan bahagia, dengan begitu hatiku akan turut merasa puas"
Berubah hebat paras muka Seng sim cian li Hoa Soat kun setelah mendengar perkataan ini, serunya terkejut.
"Jadi kau adalah Keng Cin sin, kekasih pertama dari Ku See hong..."
Keng Cin sin pun merasa terkejut sekali setelah mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian.
"Heran, mengapa diapun bisa mengetahui namaku..."
Tapi dengan cepat dia mengangguk, sahutnya sedih.
"Benar, aku adalah Keng Cin sin, harap locianpwe jangan memberitahukan hal yang sesungguhnya kepadanya"
"Mengapa?"
Tanya Seng sim cian li Hoa Soat kun tidak mengerti. Air mata segera bercucuran membasahi wajah Keng Cin sin.
"Hoa locianpwe! harap kau jangan menanyakan persoalan ini, sebab kesemuanya itu hanya akan menambah kesedihan dan kepedihan didalam hatiku saja"
Pada dasarnya Seng sim cian li Hoa soat kun memang seorang yang patah hati, tentu saja diapun dapat merasakan kesedihan yang mencekam perasaan Keng Cin sin sekarang.
Oleh sebab itu dia lantas mengalihkan pokok pembicaraannya ke soal lain, katanya.
"Nona Keng, kau dapat memperpanjang kambuhnya dari racun cabul yang mengeram dalam tubuh muridku ini sampai berapa lama?"
"Kurang lebih lima belas hari"
"Masalah ini tak bisa ditunda-tunda lagi, harap nona Keng segera turun tangan menolong muridku ini"
"Hoa locianpwe, sekarang kita harus pergi ke rumah penginapan Yang tang dan menanti kedatangan Ku See hong lebih dulu"
"Sekarang dia telah pergi ke mana?"
"Ku See hong sedang mencari sebatang rumput Im cu cau, rumput tersebut sangat langka dan sukar dicari didunia ini, bisa jadi ia sudah ditipu oleh kaum laknat"
"Siapakah yang menyuruh dia pergi mencari rumput tersebut.. ?"
"Soal ini aku sendiripun tidak jelas tapi bisa jadi kaum laknat dari Ban sia kau apabila kita tidak berhasil menemukannya di rumah penginapan Yang tang, masalahnya menjadi semakin sukar diduga lagi, namun bila dia terkena siasat licik dari Ban sia kau, sudah pasti jiwanya terancam bahaya maut"
"Baiklah, mari kita menanti kedatangannya di rumah penginapan Yang tang sampai besok, bila dia tak datang juga, kita segera menyusulnya ke markas besar Ban sia kau"
Maka Seng sim cian Hoa soat kun bersama Keng Cin sin berangkat ke rumah penginapan Yang tang untuk menunggu kedatangan Ku see hong. -oooo0dw0oooo-
Jilid 34 KU SEE HONG roboh tak sadarkan diri setelah terkena bubuk pemabuk milik Ceng Lan hiang.
Entah berapa lama sudah lewat...
Dalam keadaan samar-samar dan antara sadar tak sadar, Ku See hong merasa didalam mulutnya seakan-akan sedang menghisap sebutir buah anggur yang manis dan segar.
Cairan yang harum dan segar memercik dan mengalir melalui kerongkongannya.
Dia mengira masih berada dalam impian, namun mulutnya memang benar-benar dipenuhi oleh cairan yang harum baunya.
Selain itu terendus pula bau harum semerbak yang menusuk penciumam.
Dia merasa pikirannya masih kabur, keadaan tersebut bagaikan dalam impian seperti lamunan, seperti juga kenyataan.
Dia tak dapat memastikan secara pasti, sebab benaknya terasa kosong dan hampa.
Lama...
lama kemudian, impian yang indah tersebut mendadak lenyap tak berbekas.
Ku See hong merasakan ingatannya mulai jernih kembali, tiba-tiba ia teringat bagaimana dia telah berjumpa dengan ketua Ban sia kau yang cabul lagi kejam, Ceng Lan hiang.
Mendadak benaknya seperti disambar oleh geledek ditengah hari bolong, dengan cepat Ku See hong membuka matanya kembali....
Apa yang kemudian terlihat olehnya hampir saja membuatnya menjerit keras.
Ternyata seluruh pakaian yang dikenakan kini sudah dilepas orang, sekarang dia sedang berbaring ditengah sebuah pembaringan yang harum baunya dan indah bentuk nya dalam keadaan telanjang bulat, sekeliling pembaringan dilapisi oleh kain tirai berwarna kuning yang halus dan lembut.
Seluruh ruangan tidur itu dihiasi dengan aneka warna yang dapat membangkitkan napsu birahi, gambar-gambar porno dan lain sebagai nya, pokoknya siapa saja yang berada disitu pasti akan terpaku dan terpesona.
Ku See hong tahu dimanakah dia berada sekarang, dengan sorot matanya yang tajam dia mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, ternyata tak seorang manusiapun yang nampak.
Dia mencoba untuk menarik hawa murninya dan bangkit berdiri, namun seluruh tubuhnya lemas seakan-akan tak bertenaga, hawa murninya tak mampu dihimpun kembali.
Menyaksikan kenyataan ini, dia menghela napas sedih, lalu berpikir dihati.
"Habis sudah riwayatku kali ini! Habis sudah riwayatku kali ini! Aku benar-benar sudah terjatuh ketangan perempuan jalang itu. Ooh, mengapa dia tidak memberi kematian yang utuh kepadaku! Mengapa dia...."
Berpikir sampai disitu Ku See hong tak berani berpikir lebih jauh, dia mencoba untuk membalikkan badannya namun sama sekali tak mampu berkutik.
Ternyata jalan darahnya sudah ditotok orang, dan ilmu menotok jalan darah yang digunakan sedemikian luar biasanya sehingga dapat membuat kesadaran orang tetap jernih, namun tubuhnya tak mampu mengerahkan sedikit tenagapun.
Mendadak...
Serentetan gelak tertawa yang amat jalang bergema memecahkan keheningan ruangan itu...
Lalu terendus segulung angin harum menerpa lewat, dari luar pembaringan berkelambu kuning dimana Ku See hong berbaring sekarang, tahu-tahu sudah muncul seorang perempuan cantik bagaikan seekor ular, dengan suatu gerakan cepat dia langsung menubruk ke atas pembaringan di mana Ku See hong berada.
Selembar wajah perempuan cantik yang memikat hati segera muncul pula di depan mata Ku See hong.
"Bocah sayang, kau telah mendusin"
Teguran lembut di ringi senyuman yang memukau muncul di depan mata.
Gelak tertawa yang jalang itu membuat Ku See-hong tanpa terasa berpaling, dalam sekejap mata itulah Ku See-hong dapat menyaksikan banyak sekali tempat terahasia dari wanita.
Ia segera mendengus dan buru-buru memejamkan matanya rapat-rapat...
Ternyata perempuan cantik yang telanjang bulat bagaikan seekor ular itu bukan lain adalah ketua Ban shia kau Ceng Lan hiang.
Rambutnya yang panjang terurai bagaikan sebuah air terjun, payudara yang montok dengan sepasang puting susunya yang merah tertutup oleh rambut yang panjang itu sehingga setengah terlihat setengah tertutup, namun justru karena itulah dia nampak lebih merangsang napsu birahi kaum pria...
Kulit tubuh perempuan itu lembut, halus dan putih bersih, sedemikian halusnya ibarat patung yang terbuat dari batu porselen saja...
Tapi yang paling menggairahkan hati lelaki adalah bagian bawah perutnya yang menonjol keluar bagaikan sebuah kuburan, terutama rumput lebat berwarna hitam yang tumbuh di sekitar kuburan membuat hati pria terasa mendidih saja.
Ku See-hong sempat menyaksikan gundukan tanah pekuburan dengan rumput nan lebat itu, diapun sempat menyaksikan dua bukit tinggi di atas dada perempuan tersebut, semuanya merupakan pemandangan yang menggelorakan napsu birahi, oleh karenanya buru-buru dia memejamkan matanya rapat-rapat.
Sekali lagi Ceng Lan hiang tertawa jalang.
"Engkoh bagus, bukankah kau sudah berpengalaman beberapa kali menyaksikan keindahan tubuh perempuan? Mengapa sih kau masih kelihatan malu?"
Sementara pembicaraan berlangsung, tiba-tiba saja Ku See-hong merasakan ada dua lembar bibir yang empuk dan lembut menempel di bagian bawah perutnya...
Ternyata Ceng Lan hiang yang ramping tapi padat berisi itu sudah menindihi tubuhnya yang telanjang bulat itu diatas tubuh Ku See-hong yang bugil.
Ku See-hong malu sekali, kalau bisa dia ingin menghajar perempuan itu sampai mati, namun berhubung seluruh badannya lemas tak bertenaga, maka sedapat mungkin dia hanya bisa bergeser ke kiri.
"Perempuan jalang yang tak tahu malu kau... kau bunuhlah aku saat ini juga"
Teriaknya. Ceng Lan hiang tertawa terkekeh-kekeh.
"Aduuuuh... saudara cilikku, mana cici tega untuk melukai dirimu?"
"Coba kau lihat, bukankah luka yang kau derita sudah cici sembuhkan dengan susah payah selama dua hari belakangan ini?"
"Dua hari dua malam kita sudah hidup berdampingan dalam keadaan bugil tanpa busana, tahukah kau bahwa cici sudah tak tahan lagi untuk melihat pemuda yang begitu tampan dan gagah macam dirimu ini? Tahukah kau kalau aku sudah kebelet untuk segera... akhirnya lukamu telah sembuh hari ini, yaa tak apalah, biar terlambat sedikit asal puas kedua belah pihak, ayolah cepatan sedikit, telukku sudah siap menanti datangnya perahumu untuk berlabuh..."
Berbicara yang sebenarnya, Ceng Lan hiang memang sangat cantik dan memiliki perawakan badan yang memukau hati kaum pria, tapi diapun belum pernah menyaksikan pemuda setampan Ku See-hong, apalagi kegagahan dan kekerenannya cukup mendatangkan daya pikat bagi kaum wanita.
Sewaktu di kerubuti Thi bok sin kiam Cu Pok sekalian manusia laknat, Ku See-hong memang menderita luka parah, namun berkat perawatan yang halus dan penuh kasih sayang dari Ceng Lan hiang, luka itu lambat laun menjadi sembuh.
Selama dua hari tidur bersama dalam keadaan bugil, sesungguhnya Ceng Lan hiang sudah tak tahan, namun berhubung luka pemuda itu belum sembuh, terpaksa dia harus menahan napsu birahinya.
Tadipun dia sedang mencium Ku See-hong dan menindihi tubuhnya untuk mencari kepuasan sebelum pergi membersihkan badan.
Sebagai manusia jalang yang besar napsu birahinya, sekarang dia benar-benar tak mampu lagi untuk mengendalikan rangsangan napsu birahi yang menggelora dalam hatinya, wajahnya berubah menjadi merah dan matanya mulai bersinar-sinar....
Begitu selesai berkata, seperti angin puyuh saja Ceng Lan hiang langsung menubruk tubuh Ku See hong dan menindihinya.
Pada dasarnya Ceng Lan hiang adalah seorang wanita yang amat jalang, begitu besar nafsu birahinya sehingga boleh dibilang tiada tandingannya di dunia ini.
Selama beberapa hari belakangan ini dia sudah tidak melakukan permainan tersebut maka tidak heran kalau dia begitu terangsang hawa nafsu birahinya setelah menyaksikan tubuh Ku See hong yang telanjang dan penuh dengan otot tersebut.
Begitu hawa nafsunya berkobar, keadaan tersebut ibarat gelombang samudra yang melanda tepian, begitu dahsyatnya sehingga sukar terbendung lagi.
Di saat seorang wanita sudah berada dalam keadaan terangsang dan bila kebutuhannya akan kepuasan sudah mencapai pada puncaknya, maka sering kali dia akan lebih gila daripada kaum pria.
Dia akan melupakan segala sesuatunya kecuali mencari kepuasan, tiada persoalan lain yang akan terpikirkan olehnya, begitu juga keadaan Ceng Lan hiang sekarang, kendatipun dia memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, toh tak akan terlepas juga dari keadaan semacam itu.
Apalagi dia memang seorang perempuan histeris.
Keadaan Ceng Lan hiang saat ini benar-benar mengerikan sekali, namun cukup merangsang nafsu birahi kaum lelaki yang sempat menyaksikan adegan tersebut....
Di dalam keadaan seperti ini, Ku See hong hanya bisa merasa benci dan malu......
Sekuat tenaga dia berusaha meronta dan melepaskan diri dari tindihan perempuan itu, sebab perempuan jalang yang berada di hadapannya sekarang adalah istri gurunya yang berkhianat, bahkan dia adalah ibu kandung dari Him Ji im yang pernah berhubungan suami isteri dengannya.
Tentu saja dia tak boleh berbuat demikian dengannya...
tidak heran kalau dia meronta seperti orang gila, berteriak-teriak keras sambil mengumpat...
Namun sayang sekali seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga, apalagi jalan darahnya sudah tertotok.
Sementara itu Ceng Lan hiang makin lama semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh pemuda itu, makin memeluk semakin kencang, sehingga hampir saja Ku See-hong tak dapat bernapas.
Sementara seluruh tubuh Ceng Lan hiang yang indah dan mempersona hati itu gemetar keras, bukan cuma begitu, bahkan bergoyang kian kemari tanpa aturan.
Sedang Ku See-hong pun merasakan rontaan yang makin lama semakin menghebat, dia berteriak semakin menjadi-jadi...
Mendadak, pada saat itulah...
Ku See-hong merasakan dua lembar bibir lembut yang semula menempel di atas perutnya itu mulai bergeser terus ke arah bawah...
Tak lama kemudian, dua senjata sudah saling beradu satu sama lainnya...
Sambil menggoyangkan pinggulnya kian kemari, Ceng Lan hiang tertawa cekikikan sambil mengumpat.
"Sialan kau! Mengapa bendamu itu begitu tak berguna...!"
Rupanya Ku See-hong dengan mengandalkan keteguhan imannya berusaha untuk mengendalikan perasaannya yang bergolak keras, oleh sebab itu senjatanya tetap berada dalam keadaan lembek tak berkekuatan...
Dalam keadaan demikian, sudah barang tentu Ceng Lan hiang tidak mampu untuk melaksanakan hajatnya...
Tiba-tiba Ku See-hong merengek.
"Ceng kaucu, kumohon janganlah berbuat demikian denganku? Mau bukan? Tahukah kau, perbuatan ini berdosa sekali?"
Sesungguhnya Ku See-hong amat benci dan mendendam terhadap perempuan ini, dia tahu setelah terjatuh ke tangannya maka tak ada gunanya melawan dengan kekerasan.
Maka sambil menahan kobaran hawa amarah dan bencinya, dia memohon kepada perempuan itu agar tidak berbuat demikian.
Ceng Lan hiang segera mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian sambil tertawa katanya.
"Saudara Cilikku, buat apa kau mesti berbicara begitu serius? Kau toh tahu, inilah kebahagian yang paling dicari oleh setiap manusia?"
Ooo0dw0ooo BAB 52 Sembari berbicara, Ceng Lan hiang dengan sepasang matanya yang menggiurkan tiada hentinya mengawasi sekujur badan Ku Seehong, terutama bagian vitalnya.
Berpapasan dengan sorot matanya yang begitu hangat dan merangsang serta menyaksikan bagian tubuhnya yang memikat hati, Ku See hong merasakan darahnya mendidih, hampir saja senjata andalannya menegang.
Dia lantas berpikir di dalam hati.
"Perempuan cabul ini memang benar-benar mempunyai daya pikat yang merangsang hati pria, tidak heran kalau suhu yang berkepandaian silat begitu tinggipun terpukau oleh senyumannya yang merangsang, berbicara sesungguhnya,coba kalau aku tidak mengetahui jelas akan dosa dan kebejatan moralnya, siapa yang akan menduga kalau perempuan cantik bak bidadari dari kahyangan ini sesungguhnya adalah seorang perempuan yang amat jalang?
Aaai...
Thian memang benar-benar suka mempermainkan umatnya...
Dipandang secara telanjang oleh perempuan itu, lama kelamaan Ku See hong mulai tak tenang, dengan wajah merah membara serunya dengan gelisah.
"Tahukah kau... apa hubunganku dengan suamimu dan putrimu...?"
Ceng Lan hiang segera tertawa terkekeh-kekeh, tukasnya cepat.
"Siapapun dirimu, buatku adalah sama saja, sudahlah, kau tak perlu mempersoalkan hal ini, ayo, cepatan sedikit..."
Dengan sepasang kakinya yang telanjang Ceng Lan hiang mengempit tubuh bagian bawah Ku See hong, sehingga membuat pemuda tersebut sama sekali tak mampu berkutik.
Ku See hong tidak menyangka sama sekali kalau perempuan tersebut begitu jalang dan tak tahu malu, dalam keadaan demikian, ia benar-benar kasihan dan sedih untuk nasib gurunya, dia sedih mengapa gurunya bisa mempersunting perempuan semacam ini dan Him Ji im bisa mempunyai seorang ibu seperti ini...
Segulung hawa panas menerjang ke atas secara tiba-tiba, mendadak Ku See hong merasakan jalan darahnya yang tertotok menjadi bebas...
Kenyataan tersebut kontan membuat hatinya bergetar keras, sambil membentak gusar teriaknya.
"Kau perempuan cabul, benar-benar perempuan yang tak tahu malu..."
Rupanya Ceng Lan hiang sedang melakukan rangsangan untuk menggairahkan napsu birahi lawan jenisnya, sekarang tangan kanannya justru sedang mencomot...
dan mempermainkannya dengan penuh gairah.
Ku See hong membentak keras, telapak tangan kanannya segera menyapu ke depan keras-keras.
"Plaaaakkk..."
Benturan nyaring berkumandang memecahkan keheningan.
Tubuh Ceng Lan hiang yang sedang menggeliat ke sana ke mari seperti seekor ular itu sudah terhajar telak sehingga mencelat ke belakang dan terlempar keluar dari pembaringan.
Disaat melancarkan pukulan tadi, Ku See hong turut melompat pula meninggalkan pembaringan tersebut, matanya yang tajam segera memandang sekejap sekeliling tempat itu.
Tampak olehnya diatas meja dekat dinding tergeletak pakaian lelaki, dengan cepat dia menyambar pakaian tersebut dan mengenakannya dengan terburu-buru.
Namun sewaktu dia memandang kembali ke arah Ceng Lan hiang yang tergeletak di tanah, tampak olehnya perempuan itu sudah mengenakan pula satu stel pakaian berwarna putih, sepasang payudaranya yang besar masih kelihatan menonjol ke luar, sedang rambutnya yang terurai menutupi sebagian payudara tersebut.
Dia berdiri dengan sekulum senyuman menghiasi wajahnya, begitu cantik dan menawan seperti bidadari dari kahyangan.
Pakaian berwarna putih yang dikenakan tidak tertutup rapat, sehingga bagian rahasia dari kaum wanita masih setengah terlihat, ini semua menambah merangsang pandangan pria.
Ku See hong terkejut sekali, dia tak mengira kalau serangannya barusan tidak berhasil melukainya barang seujung rambutpun, padahal dia mana tahu kalau serangan tersebut dilancarkan kelewat cepat, dengan kekuatannya yang belum pulih serta kepandaian silat Ceng Lan hiang yang begitu lihay, tentu saja serangan tersebut tidak sampai melukai lawannya.
Dengan cepat Ku See hong mengenakan kembali pakaiannya, kini jalan darahnya sudah bebas, tenaga dalamnya pun sudah pulih kembali seperti sedia kala, keberaniannya otomatis bertambah besar.
Melihat Ceng Lan hiang berjalan mendekat, dengan suara menggeledek ia segera membentak.
"Perempuan jalang! Berhenti kau...!"
Ceng Lan hiang tertawa terkekeh-kekeh.
"Kau benar-benar tidak mengerti bermain cinta, tidak tahu pula bagaimana menyayangi perempuan, untung saja aku menerima seranganmu, coba kalau berganti orang lain, mungkin tubuhku sudah hancur berantakan"
"Aaaai... kau memang mempunyai wajah yang menawan hati, membuat aku merasa tak tega saja untuk mencelakaimu sedang kaupun begitu tak tahu diri, kau harus mengerti, setiap lelaki yang sudah cici penujui, tak seorangpun yang bisa lolos dari sepasang tanganku, tentu saja tidak terkecuali kau sendiri, aku lihat lebih baik kau menyerah saja untuk bermain cinta denganku, kalau tidak..."
"Perempuan jalang bedebah, aku akan membinasakanmu"
Bentak Ku See hong lagi.
Ditengah bentakan keras, telapak tangan kanannya segera diayunkan ke depan melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat ke depan, segulung hawa pukulan yang menusuk tulang segera menggulung ke luar menyusul gerak serangan tadi.
Namun Ceng Lan hiang hanya mengebaskan telapak tangan kirinya, tahu-tahu serangan tersebut sudah hilang lenyap tak berbekas.
Sambil tertawa genit Ceng Lan hiang segera berseru.
"Saudara cilik, kau memang lelaki yang tak berperasaan."
"Siapa bilang aku lelaki tak berperasaan?"
Ku See hong membentak gusar.
"kau lah perempuan jalang yang tidak setia, berkhianat kepada suami dan banyak melakukan kejahatan ....."
Ucapan mana bukan disambut dengan amarah oleh Ceng Lan hiang, sebaliknya perempuan itu malah tertawa cekikikan.
"Saudara cilik, saudara cilik... tahukah kau siapa yang telah memungut selembar jiwamu?"
Sambil berkata pelan-pelan dia berjalan mendekati Ku See hong!
Bagaikan melihat ular beracun atau kalajengking yang berbahaya, Ku See hong segera mundur beberapa langkah dengan ketakutan, bentaknya keras-keras.
"Bila kau tidak berhenti lagi, aku akan...."
Ceng Lan hiang tertawa cekikikan.
"Terus terang saja kuberitahukan kepada mu, ilmu silatmu masih terpaut jauh sekali dariku, lagipula kaupun tak nanti bisa lolos dari tempat ini, kau tahu berada dimanakah dirimu sekarang?"
"Haaahh..... haaahh..... haaahhh tempat ini adalah istana Cung Kiong tian dalam markas besar Ban sia kau siapa yang sudah berada disini, maka kecuali aku sendiri yang mempersilahkan dia pergi, hanya jalan kematian saja yang tersedia!"
Ku See hong sangat terperanjat sesudah mendengar perkataan itu, segera pikirnya.
"Jika kepandaian silatku tak mampu menandinginya, berarti aku betul-betul sudah terperosok kedalam sarang harimau"
Sementara dia masih melamun Ceng Lan hiang sudah maju dua langkah lagi dengan lemah gemulai, tiba-tiba saja tangannya menepuk bahu anak muda tersebut, namun tidak menotok jalan darahnya.
Dengan perasaan terperanjat Ku See hong segera mundur beberapa langkah ke belakang.
Ceng Lan hiang memutar biji matanya berulang kali, lalu sambil mengerling genit bisiknya.
"Saudara cilik Ku, cici sudah dua hari bermesraan denganmu di atas ranjang, masa kau tidak berperasaan sama sekali? Coba lihatlah, aku toh merasa tak tega untuk melukaimu?"
"Kau sudah melakukan...."
"Belum"
Tukas Ceng Lan hiang lembut.
"Sekarang baru siap-siap melakukan untuk pertama kalinya.."
Rupanya Ku See hong mengira selama dua hari ini dia sudah diperkosa olehnya.
Baca Juga: Pengelana Rimba Persilatan 7
Baca Juga: Kelelawar Tanpa Sayap Huang Ying