Ceritasilat Novel Online

Dendam Sejagad Legenda Kematian 10

Eps 10 Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung

Baca online Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung

Cersil Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung.

Namun dia merasa sangat lega setelah mendengar perkataan itu, coba kalau dia telah melakukan hubungan dengannya, sudah pasti ia tak punya muka lagi untuk hidup terus di dalam dunia ini, bisa jadi dia akan segera bunuh diri.

Sementara itu Ceng Lan hiang sedang dikejutkan oleh keteguhan iman Ku See hong.

Perlu di ketahui, dia mempunyai daya pikat yang amat besar bagi pandangan kaum lelaki, bahkan tidak sedikit diantara kaum pria yang bersedia main cinta satu kali saja dengannya meski harus dibayar dengan nyawa.

Tapi kenyataannya pemuda ini sama sekali tidak terpengaruh oleh segala rangsangan pikatannya yang beraneka ragam, pemuda itu seolah-olah berhati baja saja.

Kembali dia tertawa jalang, serunya.

"Oooh, rupanya kau hendak meniru Liu Hee hui si sastrawan banci itu..."

"Kau perempuan laknat, jangan dianggap kau paling cantik, padahal kau lebih jelek dari pada perempuan terjelek dikolong langit sekalipun"

Mendengar perkataan tersebut, Ceng Lan hiang segera berkerut kening, hawa pembunuhan segera menyelimuti wajahnya, namun hanya sebentar saja sudah lenyap tak berbekas.

"Saudara cilikku, bagian mana sih dari tubuh cici yang tak dapat memuaskan hatimu?"

Serunya sambil tertawa.

"coba kau lihat, tubuh cici begitu mulus dan bahenol, payudaraku begitu padat dan kenyal, boleh dibilang tiada duanya didunia ini, terutama sekali lubang sorgaku, ..ooh, sekali mencoba pasti akan disukai untuk selamanya, apalagi untuk memberi kesegaran bagimu, selama beberapa hari terakhir ini aku tak pernah menjamah lelaki lain.."

"Aaai, kau memang tolol, ada kenikmatan sorgawi di depan mata kau enggan menikmatinya"

"Kau.. kau benar-benar tak tahu malu!"

Bentak Ku See hong keras-keras. Ceng Lan hiang tertawa dingin.

"Kau sendiri yang tak tahu diri, baik.. bila kau bersikeras enggan menuruti perkataanku, terpaksa aku akan mempergunakan kekerasan."

Rupanya gagal menggunakan cara yang lunak, dia hendak memaksa dengan kekerasan.

Pada dasarnya Ku See hong memang seorang yang cerdik, dia menjadi amat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, satu ingatan segera melintas dalam benaknya.

"Kepandaian silat yang dimiliki perempuan jalang ini masih jauh diatas kepandaianku, lagi pula obat-obatan yang dimilikinya lihay sekali, apabila aku sampai bentrok dengannya, mungkin tiada kebaikan yang akan kuperoleh, satu-satunya cara menggunakan siasat untuk membunuhnya..."

Berpikir sampai disitu, Ku See hong segera menyusun siasat dalam hati kecilnya, kemudian setelah menghela napas sedih katanya.

"Hari ini aku orang she Ku sudah terjatuh ketanganmu, biar mati juga tidak menyesal karena kau memang pernah melepaskan budi kepadaku"

Ceng Lan hiang tertawa jalang.

"Saudara cilik she Ku, kau tak perlu kuatir, cici tidak akan mempergunakan tenaga Im-kang untuk mencelakai dirimu"

Rupanya Ceng Lan hiang memang perempuan siluman yang paling cabul dikolong langit, sebagai ketua Ban sia kau, maka setiap orang yang ingin bergabung dengan perkumpulan tersebut sudah pasti akan digaet olehnya dan diajak bermain cinta paling tidak satu kali setiap malam.

Namun setiap orang yang pernah berhubungan cinta dengannya, tanpa disadari telah terkena pula semacam hawa im kang yang sengaja dilepaskan perempuan itu.

Setiap orang yang sudah terkena hawa im kang, maka satu jam setelah berhubungan kelamin, racun dingin itu akan mulai bekerja.

Sang penderita akan merasakan jalanya peredaran darahnya seperti muncul berjuta-juta ekor semut yang menggigit hati dan tulang nya, tak terlukiskan rasa sakitnya waktu itu.

Apabila sang penderita tidak selekasnya minum obat penawar buatannya, maka satu jam kemudian dia akan mati tersiksa.

Akan tetapi, apabila racun itu mulai bekerja dan pada waktunya menelan obat penawar buatan Ceng Lan hiang, meski dapat memunahkan racun yang mungkin menyerang isi perut dan jantungnya, namun orang tersebut sudah tak dapat melakukan hubungan senggama untuk kedua kalinya dengan perempuan tersebut.

Sebab obat penawar itu khusus dipakai untuk memunahkan hawa Yang-khi dimiliki kaum pria, padahal bila hawa yang-khi kaum pria sudah menderita kerugian, bila melakukan senggama lagi, hal ini bisa mengakibatkan kematian.

Sekarang setelah Ceng Lan hiang mendengar perkataan dari Ku See hong, dia mengira masalah inilah yang dimaksudkan, maka itulah Ceng Lan hang segera memberikan jaminannya untuk tidak melakukan hal tersebut.

Padahal berbicara yang sebenarnya, Ceng Lan hiang memang tak ingin Ku See hong menderita kerugian, karena pemuda itu mempunyai daya perangsang yang kuat bagi kaum wanita, kecuali dia sudah bosan bermain cinta dengannya dan ingin mencari rangsangan baru, sesungguhnya dia tak ingin mengisap sari kelakian Ku See hong bahkan dia rela menderita sedikit kerugian 1137 asal bisa menambah kekuatan Ku See hong hingga permainan mereka lebih menggairahkan lagi...

Hal ini bisa terjadi karena Ku See hong telah memperoleh cintanya, kalau tidak Ceng Lan hiang yang kejam dan cabul itu tak nanti akan membiarkan dirinya di caci maki seenaknya oleh si anak muda itu.

Tentu saja asal dia mempergunakan obat perangsang maka ia sudah akan memperoleh beberapa kali kepuasan seks dari pemuda itu, namun ia tak tega berbuat demikian.

Ya, makhluk yang bernama manusia kadangkala sangat aneh, walaupun Ceng Lan hiang terhitung seorang manusia yang cabul dan jalang, toh dia terhitung seorang wanita, bagaimanapun jua dia akan tertarik dan mencintai juga seorang pria.

Yang sial adalah Ku See hong, karena dialah yang dipilih perempuan jalang tersebut untuk menjadi kekasihnya.

Ku See hong segera mengatur siasat dibalas dengan siasat, sambil tertawa dingin katanya.

"Huuuh... siapa yang percaya kau perempuan yang sudah terbiasa mempermainkan lelaki seenaknya bisa menaruh perhatian khusus terhadap aku orang she Ku?"

Menyaksikan Ku See hong yang begitu merangsang, Ceng Lan hiang kembali terangsang, dia merasa antara kedua belah pahanya mulai basah.

"Oooh... saudara cilikku yang tampan, mengapa sih kau tidak mau percaya kepadaku?"

Serunya merayu.

"Apa yang kau inginkan? Ayolah cepatan sedikit, aku sudah benar-benar tak tahan."

Belum selesai dia berkata, Ku See hong sudah dipeluk lagi kencang-kencang, bahkan tangannya bergerak cepat melepaskan pakaian yang menutupi badannya.

Pakaian berwarna putih itu segera terlepas dan jatuh ke tanah, tubuhnya yang putih mulus dengan segala lekukan yang menggairahkanpun segera terlihat di depan mata.

Tubuhnya yang bugil memang sungguh indah, terlalu merangsang napsu pria yang melihatnya, bila lelaki lain yang menghadapi kejadian seperti ini, mungkin mereka rela mampus meski dapat merasakan kenikmatan sorga dunia dengannya hanya semalam saja.

Tapi Ku See hong memang melebihi siapapun, dia masih tetap duduk tenang tak bergerak.

Kini otaknya sedang berputar terus mencari akal, bagaimana caranya membinasakan perempuan itu...

Pelan-pelan sorot matanya dialihkan ke samping dan akhirnya berhenti di atas dinding sebelah kiri...

dimana pedang Hu thian seng kiamnya tergantung.

Waktu itu birahi Ceng Lan hiang sudah memuncak, sambil membusungkan payudaranya yang menongol seperti dua bukit kecil, dia menggesek-gesekkan payudaranya itu di atas dada Ku See hong, sepasang tangannya memeluk pinggang pemuda itu kencang-kencang sedang tenggorokannya memperdengarkan suara yang aneh, pinggulnya digoyangkan kian kemari dengan penuh napsu...

Melihat keadaannya sekarang, dia seperti sungai kekeringan yang mengharapkan datangnya air yang akan membasahinya.

Mencorong sinar pembunuhan yang menggidikkan hati dari balik mata Ku See hong, pikirnya.

"Sekaranglah kesempatan yang terbaik bagiku untuk turun tangan..."

Mendadak ia mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya ke tangan kanan, sementara tangan kirinya pura-pura bermesraan meraba punggung dan pinggang perempuan itu, pelan-pelan tangan kanannya digeserkan ke arah kepalanya dan meraba rambutnya yang panjang.

Pelan-pelan...

pelan-pelan...

Akhirnya telapak tangan kanannya itu sudah bergeser ke atas jalan darah Pek hui hiat di atas kepala Ceng Lan hiang.

Perlu diketahui, jalan darah Pek hui dan Yong swan merupakan dua jalan darah kematian di tubuh manusia.

Betapapun sempurnanya tenaga dalam seseorang, bila kedua buah jalan darahnya itu tertotok atau terhajar pelan saja, niscaya orang itu akan tewas.

Jalan darah Yong swan-hiat terletak diantara kaki kita, tentu saja Ku See hong tidak dapat menyerang jalan darah Yong swan hiat tersebut.

Sementara itu, telapak tangan kanan Ku See hong sudah meraba jalan darah Pek hui hiat dikepala perempuan itu, ketika dilihatnya perempuan itu belum merasa, hawa murni yang sudah dipersiapkan diatas lengan kanannya itu tiba-tiba saja dipancarkan keluar....

Terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan..Namun yang roboh terjungkal ke atas tanah bukan Ceng Lan hiang, melainkan Ku See hong sendiri.

Perlu diketahui, Ceng Lan hiang adalah seorang manusia yang amat licik dan lihay, bagaimana mungkin perahunya akan karam didalam pecomberan!

Sewaktu Ku See hong berlagak bermesraan dengannya tadi, ia sudah menduga kalau Ku See hong hendak menyerangnya secara diam-diam, sebab dia tahu mustahil pemuda itu akan tunduk pada kemauannya dengan begitu cepat.

Bahkan sewaktu dia menggesek-gesekkan tubuhnya diatas badan pemuda tersebut, dia pun menemukan senjata andalan Ku See hong masih berada dalam posisi lembek dan amat lunak.

Ini menunjukkan kalau Ku See hong sedang memusatkan pikirannya untuk menghimpun tenaga dalam.

Maka Ceng Lan hiang pun memeluk pinggang pemuda itu kencang-kencang, padahal yang dipeluk justru jalan darah Siau yong hiatnya.

Disaat Ku See hong hendak mengerahkan hawa murninya itulah, mendadak Ceng Lan hiang miringkan kepalanya ke samping dan sepasang tangannya menekan ke pinggang keras-keras.

Kontan saja Ku See hong merasakan tenaga murninya buyar hingga roboh terjengkang ke tanah, berada dalam keadaan begini, dia hanya melototkan matanya bulat-bulat, sebab dia menduga dirinya pasti tewas kali ini.

Tapi Ceng Lan ping tidak melancarkan serangan keji ke arah Ku See hong, sewaktu pemuda itu dapat memulihkan kembali tenaga dalamnya dan melompat bangun, perempuan itu sudah mundurkan diri sejauh enam depa lebih.

Sambil terkekeh-kekeh Ceng Lan hiang segera berseru.

"Kau memang benar-benar tak becus, mengapa sih kau terjatuh? Masa tenaga untuk memelukpun tak punya? Padahal kau begitu kuat dan perkasa, tak nyana kalau senjatamu begitu lembek dan terkulai lemas.... haaaahh.... haaahhh.... haaaahhh...."

Kembali dia tertawa terkekeh-kekeh penuh kejalangan.

Kalau dilihat dari sikapnya itu, dia seperti tidak merasa kalau Ku See hong barusan hendak melancarkan serangan keji terhadap dirinya.

Padahal Ku See hong mana tahu kalau perempuan jalang ini makin keji dan buas makin manis senyuman yang menghiasi wajahnya, bahkan sikapnya pun seakan-akan tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun.

Mendengar ucapan tersebut, Ku See hong merasakan hatinya bergetar keras, segera pikirnya.

"Jangan-jangan dia menotok jalan darah Siau yong hiat ku tanpa sengaja...."

Berpikir demikian, dia lantas tertawa jengah sembari berkata.

"Yaa, belakangan ini kesehatan badanku makin hari semakin bertambah lemah."

Ceng Lan hiang menghela napas panjang.

"Aaai... tampaknya kesehatan badanmu benar-benar terganggu akibat dikerubuti kawanan manusia laknat itu, untung aku membawa beberapa macam obat yang dapat menambah tenaga untukmu, obat tersebut sesungguhnya amat mahal dan tak ternilai harganya sehingga aku sendiripun merasa sayang untuk memakainya, tapi biarlah ku korbankan sebutir untukmu sekarang, setelah menelan pil tersebut niscaya tubuhmu yang lemah akan menjadi kuat, sekalipun melakukan hubungan senggama beratus-ratus kali pun tak nanti akan merugikan kekuatan hawa murnimu"

Sembari berkata dia mengambil pakaiannya yang tergeletak ditanah, merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan sebutir pil berwarna merah darah. Buru-buru Ku See hong berseru.

"Jangan! Jangan! Sekalipun aku orang she Ku tidak becus, aku tak ingin meminjam kekuatan obat-obatan untuk..."

Sambil tertawa ringan Ceng Lan hiang segera menukas kata-katanya yang belum selesai.

"Berbicara sesungguhnya, entah mengapa sejak cici berjumpa denganmu, seluruh hatiku seakan-akan sudah tercomot olehmu, apakah kau mengira aku membohongi dirimu?"

"Kau dan aku sudah pernah tidur bersama dalam keadaan sama-sama bugil, meski belum sampai melakukan hubungan senggama, namun hubungan tersebut sudah cukup menggairahkan hati, tapi bila enggan melanjutkan pemainan sampai babak terakhir, akupun tak ingin memaksamu."

"Sekarang terimalah dulu obat ini, bila kau enggan maka segera akan kuhantar kau keluar dari sini, asal kau dapat teringat akan budi kebaikanku, aku pun sudah merasa cukup puas"

Selesai berkata, sambil tertawa kepada Ku See hong dia mengangsurkan pil tersebut ke depan.

Senyumannya yang manis itu entah sudah membinasakan berapa banyak lelaki didunia ini..Senyumannya itu memang lain dari pada yang lain, alis matanya yang melentik matanya yang jeli, bibirnya yang kecil mungil dan sepasang lesung pipinya yang menawan hati, cukup membuat hati pria menjadi rontok..

Namun yang membuat orang terperanjat adalah kecantikannya tidak menimbulkan perasaan muak bagi yang memandang, sebaliknya justru memiliki daya tarik yang membuat pria menjadi tak mampu untuk mempertahankan diri, hingga secara tak sadar menjadi terpikat oleh kecantikannya.

Sekalipun Ku See hong memiliki kemampuan yang melebihi orang, namun senyuman yang diperlihatkan olehnya itu benar-benar membetot sukmanya, sehingga tanpa di sadari dia mengulurkan tangan kanannya untuk menyambut pil tersebut.

Disaat tangan kanan Ku See hong hampir menyentuh pil itulah...

Dari balik mata Ceng Lan hiang yang jeli mendadak memancar keluar serentetan cahaya yang aneh sekali, di ringi suara tertawa jalangnya yang menusuk pendengaran, dia menyentilkan jari tangannya dan pil berwarna merah itupun meluncur ke depan di ringi suara letupan lirih.

Di ringi letupan tersebut, selapis bubuk merah menyebar kemana-mana dan menciptakan selapis kabut merah yang segera menyelimuti sekeliling tempat itu....

Ku See hong hanya mendengar suara tertawa genit, kesadarannya segera menjadi jernih kembali....

Di dalam gugupnya, dia mengira Ceng Lan hiang hendak melancarkan sergapan ke arahnya, dia menarik napas panjang dan hawa murni yang dimilikinya segera di himpun menjadi satu, dia bersiap sedia menyambut datangnya serangan tersebut dengan kekerasan.

Sungguh tak disangka Ceng Lan hiang tidak berniat membunuhnya, ketika bubuk merah itu menyebar ke angkasa, kebetulan sekali terhisap masuk ke dalam tubuhnya.

Begitu mengendus bau harum yang aneh, Ku See hong segera sadar kalau keadaan bakal runyam.

Sekalipun reaksi yang kemudian dilakukan cukup cepat, begitu mengendus bau harum buru-buru dia menutup pernapasannya, sayang keadaan masih tetap terlambat.

Perlu diketahui.

pil dari Ceng Lan hiang itu dibuat secara khusus dan mempunyai kasiat yang amat keras, barang siapa mengendus bau bubuk itu sedikit saja, niscaya racun itu akan bersarang ke dalam tubuhnya.

Walaupun dia memiliki kepandaian silat yang bagaimanapun baiknya, jangan harap dapat lolos dari ancaman mana.

Pil merah itu tak lain adalah Tong hun si kut mi wu (kabut pemabuk membuat sukma terangsang dan tulang lemas).

Seperti namanya, obat ini termasuk sejenis obat perangsang yang dapat mengacaukan pikiran orang, asal orang mengendus bau obat tersebut maka napsu birahinya akan memuncak, kejernihan otaknya hilang dan segera berkeinginan untuk melangsungkan hubungan senggama...

Tapi kabut bubuk Tong hun si kut mi wu ini jauh berbeda dengan daya pengaruh Im hwee si kut wan, karena obat perangsang ini tidak memiliki sifat beracun yang membahayakan jiwa manusia.

Asal orang itu sudah melakukan hubungan senggama, maka daya kerja tersebut akan lenyap dan hilanglah sudah seluruh racun obat tersebut.

Ceng Lan hiang memang tidak berniat mencelakai Ku See hong, apa yang menjadi keinginannya tak lebih hanya ingin memuaskan napsu birahinya belaka.

Di samping itu dia memang tertarik dan cinta kepada Ku See hong, ia tak tega mencelakai pemuda tersebut, itulah sebabnya dia mengampuni anak muda itu.

Coba kalau bukan demikian, berapa lembarpun jiwa yang dimilikinya sudah pasti habis ludas semenjak tadi.

Walaupun demikian, namun bila seseorang sudah menghisap udara yang mengandung obat perangsang Tong hun si kut mi wu, maka mau tak mau sang penderita harus melakukan hubungan senggama, bahkan selesai melakukan hubungan dia akan tertidur pulas sampai beberapa jam lamanya, semakin sempurna tenaga dalam yang dimiliki seseorang semakin pendek jangka waktu tidurnya.

Daya kerja obat perangsang Tong hu si kut mi wu benar-benar cepat sekali penyebarannya.

Dalam waktu singkat Ku See hong merasakan tubuhnya menjadi lemas, seluruh tenaga dalam yang dimilikinya sukar terhimpun kembali...

Yang lebih celaka lagi adalah saat itulah...

Segumpal hawa panas yang aneh tiba-tiba muncul dari bawah pusarnya dan menyebar ke mana-mana.

Bersamaan dengan munculnya hawa panas tersebut, kesadaran otaknyapun turut menjadi hilang.

Sekarang Ku See hong hanya bisa berusaha mempertahankan kejernihan pikirannya yang semakin memudar, matanya melotot besar, tubuhnya gontai, sementara sepasang tangannya berusaha untuk menekuk....

nya yang semakin menegang keras.

Benda itu sudah berubah bentuknya sekarang mana jelek, tak sedap lagi dipandang.

Ceng Lan hiang yang menyaksikan kejelekan benda itu, kontan saja tertawa terkekeh-kekeh penuh kejalangan.

Sedemikian gembiranya dia sampai seluruh tubuhnya bergoncang keras mengikuti gelak tertawanya yang berderai-derai.

Seperti orang kalap Ku See hong menjerit keras, dengan sempoyongan dia berjalan ke dinding sebelah kiri, dimana Hu thian seng kiamnya tergantung...

Rupanya dia ingin bunuh diri guna menjaga kebersihan nama baiknya.

Berbicara yang sesungguhnya, bila dia sampai mengadakan hubungan senggama dengan Ceng Lan hiang, maka peristiwa yang memalukan ini akan membuatnya kehilangan muka untuk terus hidup di dunia ini...

Sambil tertawa dingin Ceng Lan hiang segera berseru.

"Kau hendak membunuh diri? Mari, mari... biar ku ambilkan bagimu..."

Sambil berkata dia maju ke depan dan mengambilkan pedang Hu thian seng kiam yang tergantung di atas dinding tersebut.

Tapi Ku See hong sudah tak mampu menahan diri lagi, tubuhnya terjatuh ke atas tanah.

Sambil mengangkat kepalanya dia mulai berteriak keras.

"Bu... bunuhlah aku... bunuhlah aku..."

Ceng Lan hiang tertawa terkekeh-kekeh.

"Nih, ambil ah pedang tersebut, bukankah kau ingin bunuh diri... ?"

Sambil berkata dia menyodorkan pedang Hu thian seng kiam tersebut hingga jarak satu depa di hadapan anak muda tersebut.

Sementara itu Ku See hong sudah tak sanggup menahan bekerjanya obat perangsang dalam tubuhnya, dia berteriak keras 1146 dan sekuat tenaga menerjang ke muka, dengan cepat tangan kanannya menyambar pedang Hu thian seng kiam tersebut...

Gelak tertawa jalang kembali berkumandang memecahkan keheningan...

Tiba-tiba Ceng Lan hiang mundur dua langkah ke belakang.

"blaaak!"

Tak ampun Ku See hong terguling kembali ke atas tanah dengan napas tersengkal-sengkal.

Daya kerja obat perangsang yang kuat telah memunahkan sama sekali kejernihan pikirannya, sekarang dia hanya tahu untuk memuaskan kobaran api birahinya yang semakin memuncak.

Tiba-tiba terdengar Ku See hong menjerit keras.

"Ayo... ayo cepatan sedikit... oh ayo cepatan sedikit..."

Sekarang ucapannya telah berubah, kini dialah yang mendesak Ceng Lan hiang agar cepat-cepat memuaskan napsu birahinya yang berkobar, padahal kesadarannya sudah punah jadi dia sendiri tidak tahu apa yang telah diutarakan.

Coba kalau dia masih bisa menangkap suara sendiri, mungkin dia akan bunuh diri saking malunya.

Sesungguhnya Ceng Lan hiang sendiripun sudah tak mampu menahan diri lagi, memandang wajah Ku See hong yang tampan serta bendanya yang jelek tapi keras seperti baja itu, dia tertawa terkekeh-kekeh lagi.

"Saudara cilik, sekarang kau sendiri yang meminta kepadaku, jangan salahkan diriku lagi heehh... heeehh... heehh"

"Kau... cepatlah sedikit..."

Kembali Ku See hong menjerit keras. Ceng Lan hiang tertawa cabul.

"Baiklah, sekarang cici akan memberi kepuasan yang paling syahdu untukmu..."

Bersamaan dengan ucapan tersebut, di ringi dengan tertawa yang mengikik dia segera memeluk tubuh Ku See hong dan membaringkannya ke atas pembaringan.

Kemudian pelan-pelan dia melepaskan pakaian yang dikenakan olehnya...

Walaupun Ku See hong mengerti kalau perempuan itu sedang melepaskan pakaian, namun karena daya kerja Tong hun si kut mi wu membuatnya tak berpikir lebih lanjut, dia hanya tahu birahinya memuncak dan mengharapkan pelepasan dengan secepatnya.

Dengan sepasang mata melotot besar seperti kucing yang mengincar tikus, Ku See hong mengawasi sekujur badan Ceng Lan hiang yang telanjang itu tanpa berkedip.

Andaikata tubuhnya tidak lemas tidak bertenaga, mungkin Ku See hong tidak akan menunggu sampai Ceng Lan hiang melepaskan pakaian sendiri...

Dalam waktu singkat perempuan itu sudah berada kembali dalam keadaan telanjang bulat, tak sehelai benangpun yang melekat diatas tubuhnya.

Kemudian Ceng Lan hiang mulai membentangkan kedua belah pahanya, diantara belahan paha itu nampak...

Sambil tertawa cabul perempuan itu segera menerjang ke atas tubuh pemuda itu..

Tampaknya suatu pertarungan sengit akan segera berlangsung diatas pembaringan tersebut.

Tapi sayang, disaat yang amat kritis itulah justru muncul manusia tak tahu diri yang mengacaukan suasana syahdu dari Ceng Lan hiang...

Mendadak, pada saat itulah...

Terdengar seseorang berseru dengan suara merdu.

"Ceng kaucu, ada orang menyerbu ke dalam kamar bacamu, secara beruntun dia telah melukai beberapa orang jago lihay, kepandaian silatnya amat hebat..."

Mendengar seruan itu, Ceng Lan hiang segera membentak keras.

"Cun hwa, siapa suruh kau berteriak-teriak? Kalian Su wa berjaga-jaga saja di sekitar ruang Cun kiong tian, jangan biarkan siapa pun memasuki ruangan ini"

Ceng Lan hiang sedang diliputi napsu birahi, bahkan daging empuk sudah di depan mata, bagaimana mungkin dia akan melepaskan kesempatan emas ini dengan begitu saja?

Tidak heran kalau dia lantas mengucapkan kata-kata tersebut...

Baru selesai dia berseru, terdengar suara seorang pria berseru pula dengan parau.

"Kaucu perkasa menggetarkan dunia persilatan dan tiada keduanya di dunia"

Ooo0dwoooo BAB 53 CENG LAN HIANG segera mendengus dingin.

"Ciu hu kaucu, mau apa kau menyusul kemari?"

Ternyata orang yang muncul diluar ruangan tak lain adalah si Pedang ular perak Ciu Heng thian.

Sebenarnya dia adalah gendak kesayangan Ceng Lan hiang, namun semenjak lengannya dikutungi Ku See hong, Ceng Lan hiang makin bersikap dingin kepadanya.

Apalagi sekarang Ceng Lan hiang berhasil mendapatkan Ku See hong, sudah barang tentu dia semakin tidak memandang sebelah matapun terhadapnya, bahkan bisa jadi hubungan senggama mereka berikutnya merupakan hari naas bagi si pedang ular perak Ciu Heng thian....

Sementara itu si Pedang ular perak C iu Heng thian kembali berseru lantang.

"Salah satu daerah terlarang kita Bun ki kek, sudah dimasuki orang, sembilan pelindung hukum yang berjaga di pagoda tersebut sudah punah dibunuh lawan, kehebatan orang itu tak mampu aku orang she Ciu hadapi"

Ceng Lan hiang makin terkejut setelah mendengar perkataan itu, segera tanyanya dingin.

"Siapakah orang itu?"

"Hiat mo buncu...... manusia berkerudung warna warni!"

Mencorong sinar pembunuhan yang amat mengerikan dari balik mata Ceng Lan hiang setelah mendengar nama itu disebut, serunya penuh kebencian.

"Perempuan sialan, pun kaucu akan mencincang tubuhmu sehingga hancur berkeping-keping, kalau belum terlaksana hal ini sukar rasanya untuk menghilangkan rasa benci dalam hatiku"

Kemudian sambil berpaling kepada Ku See hong, katanya lagi dengan suara penuh kecabulan.

"Saudara cilik, enci akan pergi sebentar saja, sekarang berbaringlah dulu dengan tenang"

Seraya berkata jari tangannya yang putih halus segera menotok beberapa buah jalan darah penting didepan dada Ku See hong, tanpa bersuara tergeletaklah pemuda itu lemas di pembaringan.

Dengan cepat Ceng Lan hiang mengenakan pakaian putihnya kemudian ditutup dengan pakaian berwarna merah, setelah itu secepat sambaran kilat dia menerobos ke luar melalui ruang sebelah kanan.

Terdengar Ceng Lan hiang berkata dengan suara sedingin es.

"Su-wa (empat boneka), kalian masuk ke dalam ruang Cun Kiong tian dan lindungi kesayanganku, tapi ingat, siapa berani mencicipi buah terlarang dia kuhukum mati"

"Baik, silahkan kaucu berlalu!"

Sahut serentetan suara yang merdu. Menyusul kemudian Ceng Lan hiang berkata lagi dengan suara sedingin es.

"Ciu hu kaucu, kau jangan termangu-mangu saja disini, ayo segera berangkat"

Waktu itu, sipedang ular perak Ciu Heng thian tidak mengetahui lelaki mana lagi yang sedang digumuli oleh perempuan cabul ini, menyaksikan sikap Ceng Lan hiang yang dingin seperti es, entah mengapa timbul suatu perasaan dengki dan cemburu yang besar sekali.

Sebenarnya dia ingin melihat siapa gerangan lelaki yang sedang digumuli kaucunya ini, namun setelah mendengar perkataan tersebut, terpaksa dia harus menuruti perintah dan bersama-sama Ceng Lan hiang berangkat ke pagoda Bun ki kek.

Ku See hong yang tertotok jalan darahnya oleh Ceng Lan hiang sama sekali tak mampu berkutik, namun kesadarannya yang semula sudah terpengaruh oleh bubuk perangsang Tong hun si kut mi wu pun mereda kembali akibat pengaruh totokan tersebut.

Ketika menyaksikan keadaan sendiri yang telanjang, terutama benda jeleknya yang menegang bagaikan tombak, rasa malunya benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata, apa mau dikata tubuhnya justru tak mampu berkutik, sehingga terpaksa dia hanya bisa melototkan sepasang matanya bulat-bulat.

Perlu diketahui, bubuk perangsang Tong hun si kut mi wu merupakan sejenis obat perangsang yang mustajab sekali, walau pun beberapa buah jalan darahnya sudah tertotok oleh Ceng Lan hiang sekarang sehingga hawa sesat tersebut menjadi terbendung.

bukan berarti daya kerja obat perangsang tersebut telah punah.

Seandainya totokan jalan darahnya di bebaskan kembali, maka serta merta kesadaran otaknya pun turut menghilang kembali dan kobaran napsu birahi kembali akan menyerang.

Kecuali melakukan hubungan senggama satu kali untuk menghilangkan pengaruh racun tersebut, kalau tidak.

sekalipun seratus kali kejadian tersebut terulang, keadaannya tetap setali tiga uang ....

Kendatipun daya sebar pengaruh obat perangsang Tong hun si kut mi wu ini cepat sekali tapi setelah masuk kedalam badan, meskipun melalui waktu yang cukup lama tanpa melakukan pelampiasan, orang tak akan menjadi mati karena memecahkan nadi darah karena pergolakan yang menghebat.

Hanya saja orang tersebut akan merasakan suatu keanehan yakni selalu saja terbayang gambaran-gambaran erotik dan keinginannya untuk bersenggama besar sekali, benar-benar suatu siksaan hatin yang berat sekali.

Terdengar suara tertawa merdu bergema memecahkan keheningan...

Kemudian dari luar istana Cun kiong tian menyelinap masuk empat orang, perempuan yang berdandan menyolok sekali.

Mereka semua berwajah cantik jelita, namun hawa kecabulan menyelimuti muka mereka semua, tak usah diduga lagi mereka pun termasuk perempuan-perempuan jalang seperti Ceng Lan hiang.

Ternyata keempat orang perempuan muda ini bukan lain adalah dayang-dayang kepercayaan Ceng Lan hiang.

Cun wa, Hee wa, Ciu wa dan Tong wa.

Sudah cukup lama keempat orang ini berkumpul dengan Ceng Lan hiang, sudah barang tentu merekapun sudah ketularan sifat jalang majikannya, bahkan boleh di bilang keempat orang ini selain jalang, kejamnya luar biasa.

Empat perempuan itu mengenakan empat macam pakaian yang berwarna warni, Cun wa yang mengenakan pakaian merah tiba-tiba berkata kepada ke tiga orang rekannya sambil tertawa.

"Entah bagaimanakah tampang dari gendak baru kaucu kita itu ....?"

Tong wa yang berbaju putih tertawa ringan.

"Selama dua hari belakangan ini, kaucu selalu berada didalam istana Cun kiong tian dan bergumul dengan gendaknya terus, aku rasa wajahnya pasti tampan, lagi pula benda jeleknya besar, panjang dan lihay"

Ciu wa yang berbaju kuning tertawa dingin.

"Heeehhh.... heeehhh... heeehhh.... aku rasa orang ini tidak akan setampan Ciu hu kaucu, lagipula benda jeleknya tak nanti lebih besar, lebih kuat dari padanya"

"Ciu wa"

Seru Cun wa sambil tertawa.

"apakah kau sudah pernah melakukan hubungan gituan dengan Ciu kaucu?"

Paras muka Ciu wa berubah hebat setelah mendengar perkataan tersebut, dengan setengah merengek mohonnya.

"Ooh cici bertiga, janganlah kalian beritahukan peristiwa ini kepada Kaucu, kalau tidak, aku bisa..."

Mendadak Hee wa yang berbaju biru itu tertawa cekikikan, serunya dengan cepat.

"Ciu wa, jangan kau anggap hanya kau seorang yang pernah berhubungan gituan dengan Ciu hu kaucu?".

"Jadi kalian bertiga pun pernah gituan dengan Ciu hu kaucu?"

Kata Ciu wa sambil tertawa ringan.

"bagaimana? Menurut pendapatmu apakah orang ini juga lebih tampan dan lebih lihay barang jeleknya dari pada Ciu hu kaucu"

"Kita belum sampai berjumpa dengan orang itu, bagaimana mungkin bisa mengambil kesimpulan?"

Kata Hee wa dingin.

"tapi 1153 kalau dilihat dari sikap Ceng kaucu terhadap Ciu hu kaucu barusan, sudah dapat diduga kalau orang itu pasti jauh lebih mengungguli dirinya"

"Benar!"

Sambung Cun wa cemas.

"?kalau dilihat keadaannya, nasib romantis Ciu hu kaucu sudah akan berakhir, kalau begitu kita berempatpun tak akan memperoleh kehangatan benda jeleknya lagi, waaah... bagaimana baiknya?"

"Bagaimana lagi?"

Dengus Tong wa dingin.

"memangnya kau bisa menghalangi perbuatan yang hendak dilakukan kaucu?"

"Kalian benar-benar goblok"

Umpat Ciu wa tiba-tiba.

"Sekalipun kita bakal kehilangan Ciu hu kaucu, masa tak bisa menggaet orang ini secara diam-diam?"

"Mana lebih segar, lebih baru, lebih merangsang lagi? Sekaranglah kesempatan yang terbaik untuk kita, bagaimana menurut kalian bertiga?"

"Ciu wa, kau sudah bosan hidup rupanya?"

Umpat Cun wa sambil tertawa.

"Asal dia membungkam, kaucupun tak bakal tahu, coba buktinya hubungan kita dengan Ciu hu kaucu, bukankan kita sama-sama bisa hidup berbahagia cukup langgeng? Seandainya kalian tidak mengakui barusan, siapa sih yang bakal tahu kalau kita berempat sebenarnya punya hubungan dengannya?"

"Betul! Betul!"

Seru Hwe wa cepat, tapi kita tidak tahu mampukah menggaet orang itu untuk menyeleweng dengan kita"

"Aaah, berdasarkan kecantikan dan kepandaian kita, masa tidak dapat?"

Tong wa tertawa.

"Mumpung masih ada kesempatan bagus, mengapa tidak kita periksa dulu si benda jeleknya itu, kita mesti periksa dulu apakah benda jeleknya cukup besar, cukup panjang dan cukup keras sehingga sebeharga bagi kita untuk menyerempet bahaya?.."

"Apakah kalian bertiga sudah melupakan pesan kaucu sebelum berangkat tadi?"

Hee wa memperingatkan. Tong wa kembali tertawa dingin.

"Masih ingat bukan kalau kaucu menyuruh kita melindunginya? Asal kita tidak melalap buah terlarang, apa yang bakal terjadi? Hmmm! sudahlah, tak usah berlagak suci, siapa tahu setelah kau saksikan si muka jelek yang gede, kau menjadi kebelet dan menyerempet bahaya untuk melalap buah terlarang tersebut?"

"Kau dapat berkata demikian, berarti kau sendiri yang mempunyai niat tersebut"

Seru Hee wa gusar.

"Sudahlah, jangan ribut terus"

Cun wa menengahi.

"mumpung ada kesempatan mari kita tengok dia"

Ku See hong yang mendengar perkataan tersebut benar-benar merasa sakit hati, dia tidak menyangka kalau didunia ini terdapat begitu banyak perempuan cabul yang tak tahu malu, seandainya dia dapat berbicara sekarang, sudah pasti perempuan-perempuan itu akan diumpatnya habis-habisan.

Padahal perempuan semacam ini tak ada gunanya diumpat, sebab kecabulan mereka telah membuat muka mereka lebih tebal dari dinding satu meter, dari pada mengumpat lebih tepat untuk membinasakan saja mereka.

Tak selang berapa saat kemudian .....

Keempat perempuan cabul itu sudah tiba disekeliling pembaringan, sorot mata mereka serentak dialihkan bersama-sama ke arah pembaringan itu.

Ku See hong pun bagaikan barang pameran, tergeletak telanjang bulat diatas pembaringan dan membiarkan seluruh badannya dinikmati oleh ke empat perempuan jalang tersebut, tentu saja terutama sekitar daerah si "benda jelek"

Nya yang gede.

"Haaahhh.... haaahh.... haaahh... .haaahh..."

Bersamaan waktunya keempat perempuan jalang itu terbahak-bahak bersama.

"Sreet! Sreeet!"

Dua kali desingan lirih bergema.

Tahu-tahu kelambu pembaringan itu sudah disingkap oleh Hwe wa dan kawan-kawan.

Dengan begitu, seluruh badan Ku See hong terlihat semakin jelas lagi dalam pandangan keempat wanita tersebut.

Ku See hong betul-betul malu sekali, sepasang matanya segera dipejamkan rapat-rapat.

Empat wanita dengan delapan sorot matanya begitu terbentur dengan tubuh Ku See hong yang telanjang, kontan pandangan mereka menjadi membeku dan kaku.

Rupanya mereka sudah terpikat oleh kegagahan serta kekerasan tubuh Ku See hong, terutama sekali benda jeleknya yang berdiri menantang bagaikan seekor ular sendok yang liar memagut mangsanya...

Melihat buah manis yang tersedia didepan mata, empat dayang yang pada dasarnya memang rakus akan seks menjadi makin bernapsu, jantung mereka berdebar keras, api napsu birahi membara dan tubuh mereka gemetar keras....

Coba kalau kita tahu lebih ke dalam, maka akan terlihat kalau benda mereka diantara kedua belahan pahanya sudah gatal tak tertahankan.

Sambil menghela napas Ciu wa memuji tiada hentinya.

"Benar-benar seorang lelaki yang memukau hati, aku betul-betul sudah tak tahan lagi"

"Aaaai, akupun demikian!"

Sambung Cu wa sambil menghela napas pula. Hee wa tertawa cabul, usulnya tiba-tiba.

"Lebih baik kita melalapnya secara bergilir saja."

"Kalian ingin mampus rupanya, mengapa tidak kalian lihat dulu segel diatas tubuhnya?"

Seru Tong wa.

Rupanya mereka telah menganggap obat perangsang Tong hun si kut mi wu tersebut sebagai segel.

Dalam kenyataan keadaan tersebut memang seperti sebuah segel, siapa pun yang berani mencuri buah terlarang tersebut, Ceng Lan hiang akan segera mengetahuinya, kecuali merekapun mempunyai Tong hun si kut mi wu.

Dengan suara yang genit Cun wa berkata.

"Untuk bercinta dengan lelaki setampan ini, biar cuma satu kalipun aku rela segera mampus"

"Huuh, tak tahu malu!"

Umpat Ku See hong diam-diam. Mendadak Ciu wa berkata.

"Kalau dilihat dari obat perangsang yang bersarang ditubuhnya, sudah jelas orang ini tak sudi menuruti perkataan kaucu. aaai.... nampaknya kitapun tak akan bisa menggaetnya untuk bermain cinta dengannya"

"Siapa sih orang ini? Apakah kalian tahu?"

Tanya Hee wa tiba-tiba.

"Kalau begitu kau tahu?"

Ucap Tong wa dingin, Hee wa berlagak sok rahasia.

"Sebetulnya aku sendiripun kurang jelas, tapi aku hanya menduga-duga"

"Hee wa, cepat kau katakan siapakah dia?"

Seru Cun wa dengan perasaan gelisah.

"Tahukah kalian, dalam dunia persilatan dewasa ini terdapat seseorang yang bernama Leng hun koay seng Ku See hong"

Ciu wa segera berseru kaget.

"Kau maksudkan Leng hun koay seng Ku See hong, yang selalu memusuhi Ban sia kau kita? Aaah, tidak mungkin?"

"Kalau bukan dia, siapa lagi manusia di dunia saat ini yang tidak mempan terhadap bujuk rayu kaucu kita? Coba kalian lihat pedang yang tergeletak di tanah itu?"

"Oooh, Pedang Hu thian seng kiam"

Seru Ciu wa terperanjat.

"mari kita saksikan dulu macam apakah pedang mestika yang sudah digilai banyak umat persilatan ini?"

Sambil berkata, Ciu wa sudah siap menubruk kedepan... Pada saat itulah, mendadak terdengar Tong wa berseru.

"Aaaaah. Aku punya akal! Punya akal..."

Tampaknya Cun-wa memahami apa yang dimaksudkan, sambil tertawa cabul katanya.

"Tong wa, kau memang setan cilik yang licin, cepat katakan idee bagus apa yang berhasil kau peroleh?"

"Cun wa"

Bisik Tong wa sambil tertawa lirih.

"Berbicara sesungguhnya, daya tarik yang begitu memikat hati ini sungguh membuat akupun tidak tahan, kalau bisa aku segera bermain cinta dengannya, sekarang aku berhasil mendapatkan satu akal yang bagus, asalkan semua orang setuju, kita bisa bersama-sama merasakan kenikmatan yang luar biasa"

"Asal kau benar-benar mempunyai ide bagus, hal bermain pertama kali akan kami serahkan untukmu"

Tong wa tertawa dingin.

"Tentu saja hal pertama untukku!"

"Hei, kalau ingin berbicara cepatlah di utarakan, waktu bagi kita sekarang lebih berharga dari pada emas!"

Teriak Hee wa dengan suara lantang.

"Mulai sekarang kita boleh bermain cinta dengannya secara bergilir, selesai bermain kita bunuh dirinya dan kita kuburkan jenazahnya dan pedang Hu thian seng kiam tersebut setelah itu kita berempat saling menghantam satu kali ke tubuh kita, asal kita berlagak dihajar orang sampai terluka dan ia ditolong orang lain, maka kaucu tak akan menaruh curiga kalau kita yang melakukan perbuatan ini, apalagi dia toh musuh besar Ban sia kau kita, tak mungkin kaucu akan menyelidiki persoalan ini sampai jelas...."

Mendengar usul tersebut, Cun wa menghela napas panjang katanya kemudian.

"Siasat ini bagusnya sih bagus, cuma terlalu sayang kita harus membunuhnya"

"Kalau memang tidak tega, kitapun jangan harap bisa menikmati tubuh orang ini untuk selamanya"

"Tapi kalau kaucu pulang agak awal bukankah kita bakal celaka..."

Seru Hee wa.

"Kita tak usah banyak berbicara lagi, salah seorang diantara kalian berjagalah di luar ruang Cun kiong tian bila kaucu datang beri khabar secepatnya, aku pikir Hiat mo buncu sangat lihay sekali, mustahil kaucu bisa menangkan dengan cepat."

"Sekarang aku mendapat hak untuk bermain pertama kali, kalian boleh menunggu sampai aku selesai"

Tampaknya keempat perempuan ini jauh lebih keji dan cabul dari pada Ceng Lan hiang, mereka hanya tahu untuk melampias kan napsu birahi sendiri, bahkan untuk melakukan perbuatan terkutuk tersebut, mereka tak segan-segan melakukan tindakan yang amat keji....

Pada saat ini rasa benci Ku See hong benar-benar memuncak sehingga kalau bisa membunuh mereka dalam sekali hantaman, namun keadaan sudah menjadi berkembang begini, dia hanya bisa pasrah kepada Thian agar dia bisa lolos dari cengkeramam empat perempuan cabul itu.

Sementara itu, Tong wa sudah melepaskan pakaian putihnya, kini dia berada dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang melekat ditubuhnya.

Sebagai perempuan yang pada dasarnya memang cantik, perawakan tubuh mereka benar-benar memukau hati.

Sambil menggoyangkan pinggulnya dan tertawa cabul, Tong wa segera menubruk ke atas tubuh Ku See hong.

Mendadak terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan.

Tubuh Tong wa yang telanjang itu tahu-tahu sudah mencelat sejauh dua kaki lebih dan tergeletak tak berkutik diatas tanah, darah kental menyembur keluar dari mulutnya.

Jelas perempuan cabul yang berhati kejam ini sudah tewas seketika dan berangkat ke neraka.

Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini kontan saja mengejutkan Hee wa, Cun wa, dan Ciu wa, paras mereka berubah menjadi pucat pias seperti mayat, tubuh mereka gemetar keras sekali.

Rupanya mereka mengira Ceng Lan hiang telah muncul kembali disitu.

Akan tetapi setelah sorot mata mereka berhasil melihat jelas siapa gerangan orang itu, keberanian mereka muncul kembali.

Dengan suara menggeledek Cun wa segera membentak.

"Ooh, rupanya kau, mampus kau kali ini."

Rupanya ditengah ruangan sekarang telah berdiri seorang manusia berkerudung warna warni, dia bukan lain adalah Hiat mo buncu Keng Cin sin.

Saat ini dia sendiripun dibikin tertegun oleh pemandangan yang tertera diatas pembaringan tersebut.

Untuk beberapa saat lamanya dia menjadi termangu dan tidak tahu apa gerangan yang harus dilakukan.

Sewaktu Keng Cin sin berhasil membinasakan Tong wa tadi dia sama sekali tidak tahu siapa gerangan yang sedang berada diatas ranjang.

Namun setelah matanya berpaling kesana dan menyaksikan kalau lelaki yang telanjang bulat itu adalah kekasih sendiri, sedang pemuda itu kelihatan amat malu dan serba salah, tak terlukiskan rasa terperanjat hatinya sekarang.

Andaikata kain kerudungnya terlepas waktu itu, maka akan terlihat kalau paras mukanya berwarna merah padam.

Dalam pada itu Cun wa, Hee wa dan Ciu wa telah membentak nyaring, mendadak telapak tangannya diayunkan kedepan, beberapa gulung angin pukulan yang maha dahsyat langsung menyambar ketubuh Keng cin sin..

Perlu diketahui, empat dayang dari Ban sia kau ini termasuk jago kelas satu dalam dunia persilatan dewasa ini, serangan gabungan yang mereka lancarkan sekarang benar-benar luar biasa sekali.

Gulungan angin pukulan demi gulungan angin pukulan bagaikan selembar jaring raksasa yang amat besar langsung mengurung tubuh Keng Cin sin yang masih berdiri tertegun itu.

Ku See hong sendiri lantaran malu sekali berada dalam keadaan telanjang bulat, maka selama ini dia hanya memejamkan matanya rapat-rapat, itulah sebabnya dia tidak tahu siapakah yang barusan muncul!

Ditambah pula pikirannya sedang kalut dan sadar tak sadar, maka baik pembicaraan antara Ceng Lan hiang dengan Ciu Heng thian, maupun pembicaraan antara Cun wa dengan Hiat mo buncu tak secuwil pun yang terdengar olehnya.

Keng Cin sin benar-benar gusar sekali, sepasang matanya memancarkan cahaya pembunuhan yang sangat menggidikkan hati, sepasang telapak tangannya diayunkan berulang kali, serangan gabungan dari ketiga perempuan cabul itu segera dipunahkan sehingga hilang lenyap tak berbekas.

Dengan gerakan tubuh bagaikan sukma gentayangan, Keng Cin sin menerjang lebih ke depan lagi dan menerobos kemuka Ciu wa dengan kecepatan luar biasa, tangan kanan nya segera diayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang persis menghantam diatas dada Ciu wa.

Kembali jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan keheningan ....

Tubuh Ciu wa mencelat sejauh satu kaki lebih sambil muntah darah segar, isi perutnya hancur lebur seketika, otomatis jiwanya pun melayang meninggalkan raganya...

Menyusul kemudian...

Sekali lagi berkumandang suara jeritan ngeri yang memilukan hati ....

Rupanya Hee wa pun ikut menyusul ke alam akhirat.

Cun wa benar-benar sangat terperanjat, belum pernah dia saksikan situasi yang begini gawat seperti sekarang, sudah barang tentu dia semakin tak berani untuk beradu kekuatan dengan Keng Cin sin.

Dengan cepat dia menggerakkan sepasang bahunya dan siap mengegos ke sisi kanan pembaringan untuk menyelamatkan diri ....

Bagaimana mungkin Keng Cin sin membiarkan dia kabur dari tempat itu?

Pergelangan tangan kanannya segera dia putar dan segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat segera meluncur ke depan dan menyerang jalan darah Pay sim hiat serta Siau hiat di tubuh Cun wa.

Dengusan tertahan sekali lagi berkumandang memecahkan keheningan.

Dua semburan darah segar segera memancar keluar dari tubuh Cun wa, sementara tubuh perempuan cabul itu pelan-pelan terkulai ke atas tanah.

Empat manusia cabul yang berhati keji seperti ular berbisa ini, hanya didalam waktu yang amat singkat telah mampus semua dan menjadi setan-setan romantis.

Selesai membinasakan empat perempuan cabul tersebut dengan gerakan yang paling cepat, Keng Cin sin tak berani bertindak ayal lagi, tiba-tiba sepasang tangannya di ayunkan ke muka, segulung angin pukulan yang keras segera menyambar ke tubuh Ku See hong dan membebaskan jalan darahnya yang tertotok ....

Sesungguhnya Ku See hong memang berada dalam keadaan sadar, apalagi jalan darahnya sudah dibebaskan sekarang, tiba-tiba saja dan membuka matanya lebar-lebar.

Begitu melihat kehadiran keng Cin sin dihadapannya, ia menjadi malu setengah mati, buru-buru serunya cemas.

"Kau...... Kau... kau... cepat pergi......"

Sekuat tenaga Keng Cin sin berusaha mengendalikan gejolak perasaan di dalam hatinya, sambil tertawa dingin ia berseru.

"Cepat kenakan kembali pakaianmu..."

Ditegur demikian, Ku See hong baru teringat akan sesuatu, cepat-cepat dia menundukkan kepalanya.... Tampak si "Benda jelek"

Nya masih menegang seperti tombak yang siap bertempur, tampangnya kelihatan lebih jelek dan mengerikan lagi, Sambil menjerit kaget buru-buru dia menutupi "Benda jelek"

Tersebut dengan kedua belah tangannya, saking jengahnya hampir saja dia jatuh semaput.

Sebagaimana diketahui, kini Ku See hong berada dalam keadaan telanjang bulat, meski dia merasa malu sekali sewaktu berada di depan perempuan-perempuan cabul tersebut, namun rasa malunya tidak seberapa, berbeda sekali waktu berada di depan perempuan berkerudung warna warni ini, rasa malu yang dialaminya sekarang boleh dibilang sudah tak tertahankan.

Andaikata Ku See hong tahu kalau perempuan yang berada dihadapannya sekarang adalah Keng Cin sin, mungkin dia akan merasa lebih malu lagi.

Keng Cin sin menghela napas panjang, kemudian katanya pelan.

"Aaaai. inilah kemauan takdir"..." -ooo0dw0ooo-

Jilid 35 DENGAN cepat dia memungut pedang Hu thian seng kiam dari tanah dan menyambar pakaian dari Ku See hong serta mengenakan ditubuh pemuda tersebut, kemudian membopong tubuhnya dan secepat kilat kabur keluar dari ruangan....

Tak lama sepeninggal Keng C in sin, Ceng Lan hiang telah menyelinap masuk pula ke dalam ruangan tersebut dengan ke cepatan tinggi, akan tetapi setelah menyaksikan ke empat sosok mayat dari dayang-dayangnya., dengan wajah berubah hebat dia segera menyumpah.

"Perempuan rendah, akan kulihat hendak kabur kemanakah kau..."

Sambil menyumpah, tubuhnya segera menerjang keluar pula dari ruangan itu dengan cepat...

Dalam pada itu Keng Cin sin telah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya menyelinap keluar dari ruangan dengan kecepatan luar biasa, dia bergerak menuju ke arah bangunan loteng yang amat luas diantara bangunan bangunan rumah dalam markas besar Ban sia kau tersebut.

Agaknya Keng Cin sin hapal sekali dengan daerah disekitar tempat itu, apalagi ditengah hari bolong seperti sekarang, sesungguhnya markas besar perkumpulan Ban sia kau ini merupakan suatu tempat ibaratnya sarang naga gua harimau.

Tapi kenyataannya Keng Cin sin dapat bergerak dengan leluasa tanpa menjumpai seorang manusia pun diantara penjaga-penjaga yang diatur disekitar tempat sana.

Waktu itu, walaupun Ku See hong hampir semaput karena malunya, tapi berhubung obat perangsang tersebut sudah mulai menyebar daya kerjanya, maka lambat laun dia pun menjadi sadar kembali, hanya kejernihan pikirannya makin kabur...

Dengan sekuat tenaga menahan diri, ia berseru.

"Nona, aku... aku sudah terkena obat perangsang Ceng Lan hiang ....kau .."

Masih tetap meneruskan perjalanannya dengan cepat, Keng Cin sin menjawab dengan suara sedingin es.

"Aku tahu, sebentar akan kucarikan akal untukmu!"

"Nona, bila aku tak dapat mengendalikan pikiranku lagi, mungkin aku ...."

Ku See hong ingin menjelaskan kalau kemungkinan besar dia dapat melakukan perbuatan yang tak sopan, namun ucapan tersebut segera tertelan kembali setelah sampai ditengah jalan.

Kemudian ia berbisik lagi agak gemetar.

"Nona, lepaskan aku, biar kuhabisi nyawaku sendiri..."

Dia cukup tahu kalau dirinya sudah terkena obat perangsang nomor wahid dari Ceng Lan hiang, mustahil ada orang dapat memunahkan daya pengaruh obat tersebut, sebab toh akhirnya dia harus bersenggama dengan orang untuk memunahkan daya kerja obat tadi.

Kecuali kalau perempuan berkerudung warna warni ini bersedia membebaskan dia dari siksaan, tapi...

bagaimana mungkin ia dapat bersenggama dengan seorang perempuan yang tak punya hubungan apa-apa dengannya, apalagi perempuan itupun sudah mempunyai kekasih hati...

Tentu saja mimpipun Ku See hong tak pernah menyangka kalau perempuan berkerudung warna warni ini sesungguhnya adalah Keng Cin sin yang dirindukan olehnya siang maupun malam.

Waktu itu, Keng Cin sin tidak menjawab semua pertanyaannya, malah tubuhnya bergerak semakin cepat lagi meluncur ke arah depan sana.

Dalam waktu singkat dia sudah melewati beberapa buah bukit yang tinggi, dan sekarang dia sedang menuju ke sebuah tanah perbukitan yang keadaan medannya makin lama semakin bertambah berbahaya.

Sementara itu Ku See hong sudah mulai berteriak-teriak seperti orang gila, napsu birahinya sudah semakin memuncak sehingga sukar tertahankan, apalagi seluruh badannya berada didalam pelukan Keng Cin sin, sedang dari tubuh gadis itu menyiarkan bau harum aneh yang semakin merangsang napsu birahinya, bayangkan saja, betapa tersiksanya ai anak muda itu sekarang.

Kini, kesadarannya sudah benar-benar punah, sepasang tangannya memeluk tubuh Keng C in sin kencang-kencang sementara tubuhnya menggeliat kesana kemari.

Masih untung tenaga dalamnya sudah dibuyarkan oleh pengaruh obat, coba kalau tidak begitu, mungkin Keng Cin sin tak akan mampu memeluknya.

Makin lama semakin tak mampu menahan diri lagi, teriakannya pun semakin menjadi-jadi.

"Nona... kau... kau..."

Keng Cin sin sangat sedih, hatinya benar-benar terasa amat pedih, dia tak tega menyaksikan kekasih hatinya tersiksa dalam keadaan seperti ini, tapi...

dia sudah ternoda, sudah digagahi orang banyak secara bergilir, dia merasa malu untuk mempersembahkan tubuhnya yang telah ternoda ini kepada kekasih hatinya.

Dengan suatu gerakan yang sangat cepat Keng Cin sin menyelinap masuk ke dalam sebuah hutan pohon cemara yang luas, lalu pelan-pelan membaringkan tubuh anak muda tersebut ketanah.

Namun Ku See hong masih tetap memeluk pinggangnya kencang-kencang...

Terpaksa Keng C in sin ikut duduk diatas tanah dan memeluknya lagi ke dalam rangkulan.

Dengan sorot mata yang memancarkan api birahi yang berkobar-kobar, Ku See hong mengawasi kain kerudung warna warni itu lekat-lekat, kemudian teriaknya keras .

"Nona... marilah cepatlah.. aku sudah tak tahan lagi..."

Titik air mata mulai meleleh keluar membasahi sepasang mata Keng Cin sin, dia benar-benar amat sedih...

Pancaran mata Ku See hong semakin menunjukkan api birahi yang memuncak, napasnya tersengkal-sengkal, sekarang ia sudah tak mampu lagi mengendalikan kobaran api birahi dalam tubuhnya.

Mendadak tangan kanannya menyambar kain kerudung warna warni yang dikenakan di wajah Keng Cin sin itu...

Keng Cin sin membentak nyaring dan sepasang tangannya secara tanpa sadar menolak ke depan, tubuh Ku See hong segera terpental dan menggelinding sejauh enam depa lebih.

Rupanya dibalik kain kerudung itu Keng Cin sin tidak mengenakan topeng kulit manusianya, maka dikala Ku See hong menyambar kain kerudungnya itu, dia menjadi sangat gelisah dan tanpa sadar mendorong pemuda itu....

Tampak Ku See hong merangkak bangun dari atas tanah dan mendongakkan kepalanya, pancaran sinar kehangatan masih mencorong keluar dari balik matanya, dia mengawasi wajah Keng Cin sin tanpa berkedip, sementara cucuran air mata membasahi pipinya membuat seluruh tubuhnya gemetar keras.

Dilihat dari sini, dapat dibayangkan sampai dimanakah penderitaan yang dialaminya sekarang.

Memandang wajah Ku See hong yang begitu tersiksa dan menderita, Keng Cin sin mengira itulah akibat dari dorongannya barusan, hatinya menjadi kecut dan sedihnya makin menjadi-jadi, kemudian serunya dengan lirih.

"Engkoh Hong, aku... aku telah melukaimu..."

Tubuhnya segera menubruk pula kedepan, nada suaranya gemetar, pedih dan pilu, membuat orang yang mendengar turut menjadi sedih dan pedih.

Seruannya barusan bukan lain terpancar keluar dari dasar hati kecilnya yang murni, sedikitpun tiada nada kepura-puraan, andai kata Ku See hong berada dalam keadaan sadar sekarang, sudah pasti dia dapat merasakan kalau dia adalah Keng Cin sin.

Sembari berseru tadi, Keng Cin sin mementangkan tangannya dan memeluk tubuh Ku See hong kencang-kencang.

Kedua orang itu segera saling berpelukan dengan kencangnya...

Ku See hong memeluk tubuh gadis itu erat-erat, tangannya tidak menganggur begitu saja, dengan cepat dia mulai melepaskan semua pakaian yang dikenakan gadis tersebut..

Dalam waktu singkat....

Sesosok tubuh yang indah dan putih halus sudah muncul di bawah sinar matahari dalam keadaan telanjang bulat, begitu halus dan indah tubuhnya bagaikan sekuntum bunga yang muncul dari balik kolam..

Dengan tangan kanan gemetar keras sekali lagi Ku See hong membuka kain kerudung wajahnya, kali ini Keng Cin sin tidak menolak, sambil menggigit bibirnya dan menghela napas ia bergumam.

"Aaaai, kejadian ini benar-benar suatu takdir yang rupanya sudah ditentukan semenjak dulu..."

Dengan tangan yang gemetar keras pun dia membantu pemuda itu untuk melepaskan....

Dengan pandangan terperana Ku See hong mengawasi wajah Keng Cin sin yang cantik jelita itu tanpa berkedip, lalu setelah tertawa bodoh katanya.

"Nona... kau... kau amat cantik..."

Keng Cin sin merasakan hatinya bergetar amat keras, segera pikirnya.

"Jangan-jangan pikirannya sudah kabur sehingga dia tak mengetahui siapakah diri sendiri....?"

Yaa, waktu itu Ku See hong memang sudah tak kenal lagi perempuan ini sebagai Keng Cin sin, sebab di dalam benaknya memang tak pernah menduga kalau dia adalah Keng Cin sin, yang masih tertera dalam benaknya sekarang adalah apa yang barusan terlihat, yakni perempuan berkerudung warna-warni.

Dengan penuh bernapsu Ku See hong memeluk tubuhnya yang halus dan telanjang bulat itu ke dalam pangkuannya, dalam keadaan terpengaruh oleh napsu birahi, pemuda tersebut tak dapat mengendalikan diri lagi, dia menundukkan kepalanya dan mencium bibirnya yang mungil itu dengan penuh bernapsu.

Keng Cin sin yang seluruh tubuhnya dipeluk dan bibirnya di kecup dengan mesra oleh kekasih hati yang dipikirkan siang dan malam ini benar-benar tak mampu mengendalikan diri pula, hatinya berdebar keras apalagi dia memang sudah bertekad untuk menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati pemuda itu.

Sesungguhnya Keng Cin sin sangat mencintai pemuda itu, cuma dia merasa rendah diri, dia tak ingin menyerahkan tubuhnya yang sudah ternoda itu untuk kekasih hatinya..

Padahal Keng C in sin adalah seorang gadis yang suci bersih, betul tubuhnya sudah dinodai orang, namun itu terjadi bukan atas kemauannya sendiri, hatinya masih tetap suci dan bersih.

Dan sekarang, diam-diam Keng Cin sin sudah mengambil keputusan....

Tentu saja gadis itupun selalu berharap dapat memperoleh kesempatan untuk bermesraan seperti sekarang ini dengan Ku See hong, walaupun cuma sekali, namun baginya sudah lebih dari cukup.

Dia tahu Ku See hong tidak mengenal dirinya, setelah hubungan itu terjadi tentu saja dia akan menjumpainya dengan wujud manusia berkerudung warna warni dan menghadapinya dengan perkataan.

Kemudian bila dia bersama pemuda itu berhasil membunuh musuh besarnya, secara diam-diam dia akan pergi meninggalkannya dan mengembara sampai ke ujung langit.

Bau lelaki yang merangsang napsu menghembus lewat membuat perasaannya goyah dan tak terkendalikan, hawa napsu birahinya lambat laun mulai berkobar, sekarang dia pun balas menciumi pemuda itu.

Balas me....

Sekalipun dia pernah diperkosa seratus bahkan seribu kali oleh kaum laknat, apa yang dirasakan waktu itu hanya penderitaan dan siksaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Tapi kali ini, dia merasa begitu bahagia ....

Bahkan dia ingin memanfaatkan waktu ini untuk menikmati benar-benar apa yang disebut sebagai hubungan suami istri....

Dengan demikian dia baru akan mempunyai kenangan dimasa mendatang akan hari yang penuh kebahagian ini...

Setelah berakhirnya hujan badai yang penuh kesyahduan dan kenikmatan, akhirnya Ku See hong tertidur dengan nyenyaknya...

Cepat-cepat Keng Cin sin mengenakan pakaian sendiri dan memakaikan pula pakaian pemuda itu, lalu dipeluknya tubuh Ku See hong ke dalam rangkulannya dan memeluk dengan mesra.

Air mata telah membasahi seluruh wajahnya, dengan jari tangan yang halus dan lembut dia membelai rambut Ku See hong penuh perasaan cinta.

Ia nampak begitu hangat, begitu lembut dan penuh kasih sayang ....

Seperti seorang istri setia yang sedang menyayangi suaminya...

Memandang wajah kekasih hatinya yang sedang tertidur dengan senyuman menghiasi ujung bibirnya....

Mendadak dia merasa amat sedih dan pilu, air mata tanpa terasa jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Sedemikian dalamnya dia mencintai pemuda itu.

Betapa beratnya perasaan gadis itu untuk meninggalkan dirinya, dia ingin kalau bisa hidup berdampingan sepanjang masa dengannya....

Tapi, ia sudah ternoda...

dia pernah di perkosa secara bergilir oleh sekawanan manusia laknat sebanyak seratus bahkan seribu kali...

Bila teringat sampai disini, dia tak mampu untuk menahan perasaan pedih dalam hatinya lagi, dia menangis tersedu-sedu dengan begitu sedihnya ....

Dia mendendam, membenci ketidak adilan Thian, ketidak berperasaannya Thian, mengapa bersikap begitu kejam kepadanya.

ooo0dw0ooo BAB 54 Isak tangisnya yang memilukan hati itu bergema di angkasa dan menyebar sampai di mana-mana ....

Ia seperti hendak mengetuk hati Thian dan bertanya sampai kapankah penderitaan seperti itu baru akan berakhir?

Mendadak...

Keng Cin sin menghentikan isak tangisnya dan bergumam seorang diri dengan suara lirih.

"Keng Cin sin wahai Keng Cin sin.. apakah kau belum merasa puas? Kau telah melakukan satu kali hubungan yang hangat dan penuh kebahagian dengannya, padahal kau memang tak dapat hidup sebagai suami istri dengannya sepanjang hidupmu, sekarang apa yang kau inginkan lagi sekarang? Kau mengharapkan kebahagian hidup bersamanya sebagai suami istri? "

Aaaah, kesemuanya itu sudah musnah semenjak kau mengalami segala sesuatu musibah di istana Huan mo kiong, takdir telah menentukan kau untuk hidup sengsara Di saat kau menyatakan kesetiaanmu kepadanya, bukankah kau mengucapkan kata-kata yang bersifat jelek?"

"Waktu itu, tentu saja kau tak akan terbayang bila kebahagian yang bakal kau reguk begitu singkat, belum puaskah kau? Sekalipun kebahagian ini amat singkat, namun sudah cukup sebagai kenangan dimasa mendatang..."

Mendadak....

"Aaah...."

Dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan .....

Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat, Keng Cin sin mengenakan kembali baju warna warninya.

Ku See hong telah mendusin dari tidurnya, dia telah memperoleh kesadarannya kembali, ketika menggerakkan tangannya, ia merasa seluruh tubuhnya seakan-akan sedang berbaring diatas tubuh yang lembut dan halus, disamping itu diapun mengendus bau harum semerbak yang memabukkan.

Ia merasa seluruh tubuhnya segar, begitu bahagia, seperti melayang dalam awan yang tebal..

Dia tak ingin mendusin dari impian indah ini, karena dia kuatir kebahagian dan keindahan akan segera lenyap.

Tapi, Ku See hong mulai membayangkan kembali semua kejadian yang telah dialami nya selama ini, dia seperti sedang mengenang kembali suatu kejadian yang telah berlangsung puluhan tahun berselang .....

Teringat olehnya, dia berada dalam pelukan perempuan berkerudung warna-warni dan mengajaknya kabur dengan kecepatan luar biasa, sedang napsu birahinya waktu itu sedang berkobar dan mencapai puncak yang tak terkendalikan ..

Teringat sampai disini, Ku See hong merasa kepalanya seperti di sambar guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, telinganya terus mendengung keras.

Dia tak berani berdiam diri lagi dan buru-buru membuka matanya, pertama-tama yang terlihat olehnya adalah kain kerudung warna warni yang berlukiskan tengkorak.

Menyusul kemudian dia melihat dua baris air mata yang membasahi sepasang mata perempuan itu dan sedang memandang kearahnya dengan terperana.

Waktu itu, Ku See hong merasa sakit hatinya karena sedih, hatinya bagaikan di tembusi oleh berjuta-juta batang anak panah, dia merasa sedih, menyesal dan takut.

Untuk sesaat empat mata saling berpandangan tanpa berkedip, kedua belah pihak pun sama-sama membungkam dalam seribu bahasa.

Teringat olehnya kalau dia telah melakukan suatu kesalahan lagi dan dosa kesalahan ini tak pernah akan dapat ditebus olehnya, sebab perempuan itu bukan miliknya dan perempuan itu sudah mempunyai kekasih hati sendiri.

Keng Cin sin menghela nafas sedih, kemudian katanya.

"Mungkin inilah takdir yang sudah ditentu kan semenjak kita di lahirkan, semua kejadian seperti dalam alam impian saja...

"Padahal kehidupanku selama ini bagaikan di alam impian, tentu saja semua impian itu selalu indah, mesra, hangat dan syahdu, tapi bila sudah sadar dari impian maka yang tertinggal hanya kenangan yang pahit..."

Beberapa patah kita itu diucapkan dengan nada yang sayu dan memilukan hati.

Ku See hong dibikin menyesal dan sedih sekali atas ucapan tersebut, dia menyesal, mengutuk diri sendiri sementara air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya.

"Kini impian sudah lewat, keindahanpun sudah pergi, kau boleh bangun berdiri"

Kata Keng Cin sin lagi dingin. Sesungguhnya Ku See Kong tak ingin melepaskan diri dari pelukan gadis itu, sebab dia merasakan kehangatan dan kebahagian yang tak terhingga di dalam pelukannya..

"Nona... aku... aku telah merusak keperawananmu, aku pantas untuk mati"

Bisik Ku See hong dengan pedih. Keng Cin sin segera tertawa dingin.

"Semuanya ini bisa berlangsung karena muncul dari kemauanku sendiri, kau tak usah menyalahkan dirimu, anggap saja peristiwa ini sebagai suatu impian"

Ku See hong dapat melihat, dari balik mata perempuan itu terpancar sinar mata penuh kesedihan dan kedukaan terutama di kala mengucapkan kata-kata tersebut.

Kesemuanya ini menambah penderitaan dalam hatinya, ia segera berpekik.

"Nona, aku... aku telah menghancurkan hidupmu.... aku telah melakukan kesalahan besar..."

Sambil berpekik pemuda itu merentangkan sepasang lengannya dan memeluk pinggang Keng Cin sin erat-erat...

Sambil mendengus dingin Keng Cin sin mencampakkan tubuhnya ke belakang dan mendorong tubuh Ku See hong kuat-kuat, serunya dengan suara dingin.

"Hmm, kau ini bagaimana sih? Masa belum puas? Aku toh sudah menyuruhmu untuk menganggap kejadian ini sebagai suatu impian belaka...."

Ku See hong duduk bersila dihadapannya, lalu dengan wajah penuh perasaan menyesal, ujarnya dengan sedih.

"Nona, apa yang kau suruh kulakukan akan kulakukan"

"Kalau tidak begini, mau apa kau ....?"

Jengek Keng Cin sin sambil tertawa sedingin es. Mendengar ucapan mana, Ku See hong menjadi sangat terperanjat, segera pikirnya.

"Yaa, benar! Kalau tidak apa pula yang mesti kulakukan? Apakah aku harus mengawininya? Tapi, aku..."

Berpikir sampai disitu dia lantas menghela napas sedih, katanya kemudian.

"Aku hanya merasa diriku penuh dosa dan kesalahan, selamanya merasa bersalah kepada nona... lagipula kau pun sudah berulang kali menyelamatkan jiwaku ...."

"Sesungguhnya aku memang sudah ternoda dan tidak suci lagi"

Kata Keng Cin sin dengan sedih.

"dan sekarang apa salahnya kalau kukorbankan tubuhku demi menyelamatkan selembar jiwamu? Asalkan kau hidup sebagai manusia baik dan berbakti demi kebahagian umat manusia, kesemuanya itu sudah lebih dari cukup untukku!"

Ku See hong benar-benar merasa sangat terharu, dia merasa perempuan ini sangat agung dan bijaksana.

pengorbanannya sangat 1175 tulus dan murni, tapi .....

Ku See hong merasa ia telah berhutang budi kepadanya.

Pada dasarnya pemuda itu adalah seorang yang romantis dan kaya akan perasaan, pengorbanan dari gadis itu bagaimana mungkin bisa ditanggapi dengan begini saja?

Atau mungkin apa yang telah terjadi hanya suatu impian belaka!

Yaa, kejadian itu memang agak mirip dengan impian, hanya semacam khayalan belaka.

Agak tergugup Ku See hong berkata.

"Nona, sudah kau temukan kekasihmu itu?"

"Sudah, tapi aku tak ingin bertemu dengannya!"

Keng Cin sin tertawa dingin.

Sebenarnya Ku See hong mempunyai maksud lain, andaikata gadis itu mengatakan kalau belum ditemukan, maka dia bermaksud hendak mengawininya, atau...

Tapi sekarang, setelah mendengar perkataan itu, harapannya segera turut lenyap tak berbekas.

Tapi dengan nada menyelidik kembali Ku See hong berkata dengan wajah tersipu-sipu.

"Nona, kau sudah banyak melepaskan budi kebaikan bagiku, dan aku ingin mendampingimu untuk selamanya, demi membalas budi kebaikanmu selama ini."

Mencorong serentetan cahaya tajam dari balik mata Keng Cin sin, ditatapnya wajah Ku See hong sekejap, kemudian ujarnya dengan suara dingin.

"Apakah kau tak pernah memikirkan tentang Im Yan -cu yang sedang menghadapi maut serta Him Ji im yang masih berada didalam sarang harimau ....?"

Ku See hong salah mengira dengan maksud perkataannya itu, dianggapnya perempuan itu bersedia dikawini hanya kuatir menyusahkan Im Yan cu serta Him Ji im, maka buru-buru katanya lagi.

"Mereka berdua sangat mencintai diriku, tak mungkin akan timbul kejadian yang tidak menyenangkan hati!.."

"Kau manusia yang lupa budi, melihat sekarang mencintai seorang, sesungguhnya apa maksudmu?"

Umpat Keng Cin sin tiba-tiba.

Di damprat gadis tersebut, Ku See hong merasa kepalanya bagaikan diguyur dengan air dingin, wajahnya segera berubah menjadi merah membara, malunya bukan main.

Sambil menghela nafas sedih Keng Cin sin berkata lagi.

"Kau berniat membalas budi kebaikaan bukan? Padahal akupun mempunyai sedikit urusan dan mohon bantuanmu"

"Persoalan apakah itu?"

Buru-buru Ku See hong bertanya.

"harap nona memberi perintah, asal aku dapat melaksanakannya, biar matipun aku tak akan menyesal"

"Aku minta kepadamu untuk mendampingiku melakukan pertarungan dan membalas dendam, kemudian seusai pekerjaan tersebut kita berlalu sendiri-sendiri dan saling tidak punya hubungan lagi, jika kau setuju kita tetapkan dengan sepatah kata ini"

"Nona adalah tuan penolong yang telah beberapa kali menyelamatkan jiwaku, musuh besarmu merupakan pula musuh besarku, aku orang she Ku tentu saja akan mengabul kan permintaanmu, cuma aku merasa dengan berbuat demikian masih belum bisa membalas budi kebaikan yang telah kau lepaskan kepadaku"

"Kau ini mengapa sih cerewet amat? kalau kau masih saja berbuat demikian terus, aku tak akan memohon bantuanmu"

Ku See hong benar-benar dibikin kebingungan setengah mati, sebab menurut apa yang dia ketahui, setiap wanita selalu menganggap kesucian dirinya sebagai nyawa kedua, dan sekarang perempuan tersebut, bersedia mengorbankan tubuhnya demi menyelamatkan selembar jiwanya, tapi tidak mau menerima permintaan apapun darinya, bahkan permintaannya untuk mendampinginya sepanjang hidup pun ditolak mentah-mentah....

Walaupun paras mukanya menunjukkan sikap yang dingin seperti es, padahal ia sangat menyayangi pemuda itu, tanpa terasa Ku See hong mulai berpikir.

"Mungkinkah aku dapat memperoleh kasih sayangnya, karena wajahku hampir mirip dengan raut wajah kekasihnya dulu? Tapi mustahil masalahnya begini sederhana, bukankah dia menyatakan kalau kekasihnya sudah ditemukan? Mengapa dia tidak mencarinya tapi melayani aku ....? Ya, setelah bergaul sekian lama dengannya, dia seperti menyimpan sesuatu kepedihan hati dalam hati kecilnya ...."

Mendadak.....

Satu ingatan melintas didalam benak Ku See hong ....

Tiba-tiba saja ia teringat sewaktu sedang bermesraan dengan dirinya tadi, dia merasa paras muka perempuan ini cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, tidak seperti wajahnya dulu yang jelek dan aneh..

Ku See hong menghela napas panjang, lalu berkata.

"Nona, kau adalah penolongku yang besar, aku orang she Ku ingin sekali melihat wajah aslimu agar dalam benakku terlintas kesan wajahmu itu"

Diam-diam Keng Cin sin merasa terkejut setelah mendengar perkataan itu, segera pikirnya.

"Jangan-jangan dia sedang mengenang kembali wajah asliku yang telah disaksikan olehnya tadi?"

Berpikir sampai disini, dengan suara dingin, ia lantas menampik.

"Tidak usah, asal kau bersedia bekerja sama denganku untuk melawan musuh, budi kebaikan yang pernah kau terima boleh dianggap impas, siapapun tidak berhutang kepada siapa, tapi bila kau menampik, terpaksa aku harus pergi lebih dulu dari sini."

Sembari berkata, gadis itu segera bangkit berdiri dan siap berlalu dari situ.

"Eeeeh.... Nona.... nona ..! Tunggu dulu, Tunggu dulu!"

Buru-buru Ku See hong berseru dengan cemas. Padahal Keng Cin sin memang berpura-pura belaka, setelah mendengus dingin dia duduk kembali ke atas tanah, kemudian berkata dengan suara yang dingin.

"Apa yang hendak kau katakan? Katakan saja dengan cepat"

Setelah menghela napas panjang Ku See hong bertanya.

"Bolehkah aku tahu siapa nama musuh besar nona itu?"

Mendengar pertanyaan tersebut, tiba-tiba mencorong sinar gusar penuh kebencian dan perasaan dendam dari balik matanya, dengan gemas ia berkata.

"Mereka adalah manusia-manusia dunia persilatan dewasa ini!"

Terkesiap Ku See hong setelah mendengar perkataan itu, diam-diam ia lantas berpikir.

"Jangan-jangan ia sudah gila? Masa segenap umat persilatan adalah musuh besarnya? Kalau inilah permintaannya, urusan menjadi besar sekali...."

Sementara dia masih termenung, tiba-tiba Keng Cin sin berkata lagi sambil menghela napas.

"Ku See hong, tahukah kau masih tinggal berapakah anggota Hiat mo bun ku?

Ku See hong semakin tertegun lagi, apa maksudnya mengajukan pertanyaan tersebut?

Bukankah anggota Hiat mo bun berikut dirinya hanya dua belas orang?

Maka jawabnya pelan.

"Nona, apakah anggota perguruanmu berjumlah dua belas orang ..."

"Keliru, sekarang tinggal aku seorang!"

Seru Keng Cin sin setengah kalap.

"Jadi sisanya sudah mengkhianati dirimu?"

Ku See hong amat terperanjat.

Sejak Ku See hong dilarikan Ceng Lan hiang dan disekap kedalam istana Cun kiong tian nya, hingga kini dua tiga harian sudah lewat, sudah barang tentu dia tidak tahu kalau pada saat yang bersamaan dikala dia mencari rumput Im cu cau, Hiat mo bun telah mengalami suatu musibah yang amat menyedihkan.

"Tidak"

Sahut Keng Cin sin dengan sedih.

"mereka sudah dikerubuti kawanan jago dari dunia persilatan dan mati terbunuh" . Ku See hong benar-benar amat terperanjat, buru-buru dia bertanya lagi.

"Apakah dua bersaudara Ho dari Kang lam siang hou juga..."

Air mata segera bercucuran membasahi wajah Keng Cin sin, dia manggut-manggut.

"Dua bersaudara Ho telah berpulang ke alam baka, selain aku seorang, dari sebelas anggota Hiat mo bun telah kutemukan kesembilan sosok mayat mereka hanya dua orang diantaranya yakni Hoa siong si dan Kho It ki yang belum diketahui mati hidupnya."

Selama ini boleh dibilang Kanglam siang hou sudah banyak melepaskan budi dan perlindungan untuk Ku See hong, tatkala mendengar berita duka ini, tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, diam-diam dia pun berdoa agar arwah-arwah mereka berhasil memperoleh ketenangan yang kekal.

Kemudian dengan sedih dia bertanya.

"Mereka telah mati terbunuh ditangan siapa saja?"

"Aku tidak mengetahui secara pasti siapakah pembunuhnya, namun aku berani memastikan sembilan partai besar dari daratan Tionggoan turut serta dalam peristiwa ini, mereka dibantu oleh Bu lim jit hun yang baru muncul di dalam dunia persilatan"

"Jadi peristiwa berdarah itu hasil perbuatan dari sembilan partai besar dunia persilatan yang disebut jago-jago penegak keadilan itu?"

Ku See hong sangat terperanjat.

"Hmm, mereka menganggap dirinya sebagai anggota perguruan kaum lurus, padahal perbuatan yang mereka lakukan hanya perbuatan-perbuatan busuk yang rendah dan memalukan, aku bertekad akan memusnahkan segenap manusia dari sembilan partai besar dan membongkar kedok mereka."

"Ku See hong! Masih ingatkah kau dengan pertarungan berdarah Bun-ji koan su di bukit Soat san? Bukankah waktu itupun orang-orang dari sembilan partai besar terlibat pula dalam persekongkolannya dengan ketua Ban sia kau sekarang Ceng Lan hiang?"

"Coba kau saksikan perbuatan busuk dan jahat dari orang-orang Ban sia kau didalam dunia persilatan, mereka sudah sering mencelakai orang dan berbuat jahat, tapi kenyataannya orang-orang dari sembilan partai besar tidak mau tahu akan peristiwa ini, sudah jelas semuanya ini merupakan bukti-bukti yang menunjukkan kalau mereka adalah manusia-manusia yang tidak beres"

Mengungkap kembali peristiwa tragis yang menimpa Bun ji koan su, tanpa terasa Ku See hong teringat pula akan kematian kedua orang tuanya yang mengenaskan, semua kesedihan dan perasaan dendam yang bertumpuk-tumpuk dalam hati membuatnya terpengaruh emosi.

Mendadak ia mendongakkan kepalanya dan menyanyikan sajak lagu Dendam sejagad.

Suaranya keras dan penuh nada sedih, ketika mengalun di angkasa dan menggema sampai ditempat yang jauh, terasa begitu memukau dan menyayat perasaan.

Mengikuti suara nyanyian yang penuh dengan kesedihan ini, air mata Ku See hong segera jatuh bercucuran dengan amat derasnya.

Tanpa terasa Keng Cin sin terpengaruh juga oleh suara nyanyian yang memedihkan hati itu, titik air mata segera jatuh bercucuran pula membasahi pipinya...

Berbicara sesungguhnya, perasaan sedih yang dialaminya sekarang jauh melebihi perasaan Ku See hong, ia sedang membayangkan bagaimana ia membalas dendam sakit hatinya, kemudian secara diam-diam pergi meninggalkan kekasih hatinya ini untuk selama-lamanya...

Dia akan merasakan panderitaan, kesepian dan kesengsaraan ....

Aaai, nasib yang dialami Keng Cin sin terlalu tragis, dan dia pun harus hidup sengsara seorang diri, begitu mengenaskan dan memilukan hati peristiwa ini...

Begitulah, untuk beberapa saat lamanya ke dua orang itu membungkam dalam seribu bahasa ....

Pertama-tama Keng Cin sin yang menghela napas sedih lebih dulu lalu berkata.

"Kehidupan Bun ji koan su cianpwee memang terlalu mengenaskan, bait lagu yang dibuat olehnya pasti mengenaskan pula kedengarannya..."

"Nona"

Tiba-tiba Ku See hong menghela napas.

"konon kau telah memiliki se

Jilid kitab pusaka, entah kitab apakah itu?"

Rupanya Ku See hong mendengar orang bercerita, konon Keng Cin sin memiliki kitab pusaka Cang ciong pit kip, itulah sebabnya dia mengajukan pertanyaan ini..

(Perlu diketahui, musuh sebenarnya sudah dapat meraba maksud dari bait lagu Dendam sejagad secara samar-samar kecuali arti yang sesungguhnya dari bait terakhir dan bait ke dua).

Mendapat pertanyaan itu, Keng Cin sin segera menjawab.

"Kitab pusaka Cang ciong pit kip!"

Ku See hong menjadi tertegun setelah mendengar perkataan ini, tanyanya kemudian dengan suara pelan.

"Nona, sewaktu kau peroleh kitab tersebut, apakah kau melihat pula tulisan dari guruku?"

Kembali Keng Cin sin mengangguk.

"Benar! Semua musibah dan tragedi yang telah menimpa Bun ji koan su locianpwee telah ditulis dalam kitab pusaka Cang ciong pit kip bagian atas"

Mendengar perkataan itu, Ku See hong pun semakin terkejut lagi.

"Jadi kitab Pusaka Cang ciong pit kip terbagi menjadi bagian atas dan bawah?"

"Benar, kitab pusaka yang diperoleh gurumu itu merupakan bagian atas, dalam kitab mana termuat segala ilmu silat Sakti seperti ilmu telapak tangan, ilmu kepalan, Ilmu pedang dan lain-lain, sedangkan bagian bawahnya termuat ilmu silat yang bisa dipelajari secara singkat serta ilmu tenaga dalam dan cara menyembuhkan berbagai macam luka..."

Ku See hong segera menghela napas panjang, katanya lagi.

"Sewaktu guruku mengajarkan lagu Dendam sejagad kepadaku tempo hari, beliau pernah berpesan kalau rahasia kitab pusaka Cang ciong pit kip termaktup dalam bait lagu tersebut, sayang sekali aku bodoh sehingga sampai sekarangpun belum kupahami."

Nona adalah orang yang berhasil mendapatkan kitab pusaka tersebut, mungkin kau dapat memecahkan rahasia dibalik bait lagu tersebut, harap sudi memberi petunjuk.

"Bun ji koan su Him Ci sin locianpwee adalah seorang tokoh persilatan yang amat hebat, mungkin maksud yang terkandung dalam bait lagu itu bukan cuma menyangkut rahasia kitab pusaka Cang ciong pit kip belaka.

"Coba kau sebutkan bait bait lagu itu dan mari kita pikirkan bersama-sama."

Ku See hong tersenyum.

"Nona benar-benar amat pintar, mungkin dibalik bait lagu tersebut dia orang tua telah menyisipkan banyak rahasia"

Maka pemuda itu mulai menyanyikan bait pertama dari syair "Dendam Sejagad"

Dengan penuh seksama Keng Cin sin mendengarkan isi dari bait pertama ini, kemudian setelah termenung sejenak, dia berseru tertahan.

"Aaah, itulah dia! Him Ci sin locianpwee memang luar biasa dan berbakat hebat, dia betul-betul Bun bu cuan cay" (Mahir dalam ilmu sastra maupun ilmu silat)...

"Harap nona sudi memberi petunjuk, bagaimana caranya memecahkan teka-teki ini?"

Ketika mendengar perkataan tersebut Keng Cin sin segera tertawa cekikikan, tapi untuk mewujudkan kembali sikapnya yang dingin, terpaksa ia mendengus seraya berkata.

"Hmm, aku harap sikapmu jangan terlalu dibuat-buat...."

Sebenarnya Ku See hong ingin lebih mempererat hubungannya dengan perempuan itu, siapa tahu perempuan ini segera merasakan gejala tersebut dan bersikap ketus lagi kepadanya, tanpa terasa merah padam selembar wajahnya karena jengah, dia menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tidak berbicara lagi.

Menyaksikan sikapnya yang mengenaskan itu, lama kelamaan Keng Cin sin menjadi tidak tega sendiri, setelah menghela napas panjang dengan penuh kesedihan dia berkata.

"Ku See hong, tahukah kau semasa jaman Cun ciu Cian kok dulu, dinegeri Go terdapat seorang perdana menteri yang bernama Ngo Cu siu...."

Ku See hong manggut-manggut.

"Yaa, aku dengar ilmu silat yang dimiliki orang ini lihay sekali, konon kitab pusaka Cang ciong pit kip ini merupakan hasil ciptaannya yang ditinggalkan didunia ini?"

Kembali Keng Cin sin bertanya.

"Tahukah kau setelah Ngo Cu siu mati dengan perasaan dendam, rakyat telah membangunkan kuil untuk memperingati dirinya yang kemudian kuil itu dinamakan kuil Ngo siang bio?"

Dengan perasaan terkejut Ku See hong segera berseru..

"Waaah, kalau begitu bukankah arti dari bait pertama syair Dendam sejagad ini, mengartikan kalau kitab pusaka Cang ciong pit kip disimpan didalam kuil Ngo siang bio?

Mengapa aku tak dapat menebak sampai kesitu?"

Sambil tertawa dingin Keng Ciu sin segera berseru.

"Dikolong langit terdapat beribu-ribu buah kuil Ngo siang bio, tahukah kau kuil yang manakah dipakai untuk menyimpan kitab pusaka Ceng ciong pit kip tersebut?"

"Aaaah, sungguh memalukan"

Pikir Ku See hong. Maka sambil tersenyum diapun berkata.

"Harap nona, sudi memberi penjelasan!"

"Ketika Ngo Cun siu, di buatkan kuil untuk pertama kalinya, tahukah kau kuil tersebut dibangun dimana?"

"Di sungai Cho go kang, tapi tiada orang yang mengetahui dimanakah tempat tersebut berada!"

"Sekarang aku akan menjelaskan secara ringkas arti dari syair bait pertama dari Dendam sejagad tersebut!"

"Pada kata yang pertama, Dendam sejagad sepanjang masa, rasanya tanpa penjelasan dariku pun kau sudah mengerti, jadi aku tak perlu menjelaskan lebih jauh."

Sedangkan pada kata baris yang kedua, apabila digabungkan menjadi satu maka dapat ku artikan sebagai..

"Kitab pusaka Ceng Ciong pit kip itu disimpan dalam kuil Ngo siang bio yang dipakai untuk memperingati Ngo Cun siu dari negeri Go, dan kuil ini didirikan di tengah bukit yang jauh dari keramaian dunia."

"Selanjutnya dikatakan didepan kuil ada sungai yang beraliran deras, ini berarti didepan kuil Ngo siang bio yang dimaksudkan pasti mengalir sebuah sungai yang beraliran deras, menurut apa yang kita ketahui, Ngo siang bio dalam dunia saat ini hanya sebuah yang didirikan diujung sungai Cho go kang, maka kitab pusaka Cang ciong pit kip tersebut tak dapat disangkal lagi pasti tersimpan dalam kuil Ngo Siang bio disungai Cho go kang"

"Penjelasan nona memang benar tapi sayang nya tiada orang yang mengetahui secara, persis dimanakah kuil tersebut berada"

Keng Cin sin tertawa hambar.

"Andaikata tempat yang dipakai untuk menyimpan kitab pusaka ini dapat dikunjungi sembarang orang. mustahil Him Ci sin locianpwee akan menyimpan kitab tersebut disitu."

"Padahal dalam perkataan Him locianpwe tersebut bukankah sudah diterangkan letak kuil Ngo siang bio tersebut secara persis?"

"Di belakang kuil mungkin terdapat tanah perbukitan atau gunung yang tinggi, sedangkan sungai Cho go kang yang mengalir didepannya bukankah berarus deras? Maka ini bisa dibilang kuil Ngo siang bio tersebut terletak di bagian sungai Cho go kang yang dikelilingi bukit dengan arus yang deras dan ombak yang berbuih"

Kembali Ku See hong menghela napas sedih.

"Nona benar seorang yang pintar, setelah mendengarkan penjelasanmu sekarang, aku benar-benar merasakan pengalaman dan pengetahuanku bertambah"

Keng Cin sin tertawa dingin.

"Aku pernah berkunjung ke tempat tersebut dan mengalaminya sendiri, tentu saja aku dapat memberi penjelasan, kalau tidak, bagaimana mungkin bisa memahami arti yang sebenarnya dari bait syair tersebut?."

"Nah, coba kau bacakan pula bait ke dua dan bait ke tiga dari syair Dendam sejagad tersebut"

Ku See hong segera menyanyikan bait ke dua dan ketiga dari syair Dendam sejagad tersebut dengan lantang.

Selesai mendengar bait syair tersebut, kembali Keng Cin sin termenung beberapa waktu, kemudian baru berkata.

"Dari kedua bait syair ini, kecuali bait ke dua yang belum kupahami arti yang sesungguhnya, dapat kujelaskan bahwa arti dari balik syair yang lain adalah sebagai berikut.

"Rupanya Bun ji koan su Him Ci sin ingin mengungkapkan rasa dendamnya yang tak terlukiskan karena dikerubuti orang-orang Thi kiong pang (perkumpulan busur baja), Kim to pang (perkumpulan gelang emas) dan Jian khi pang (perkumpulan seribu penunggang kuda) ...."

Ku See hong tersenyum.

"Ucapan nona memang benar, bagaimana dengan penjelasan bait ke dua tersebut?"

"Bun ji koan su Him Ci sin locianpwe adalah manusia yang pintar dan lihay, tentu saja bait tersebut mempunyai maksud yang mendalam sekali, aku yakin tak lama kemudian arti tersebut pasti akan kita pahami" !"

"Kemudian apa yang dibilang pada bait yang terakhir?"

"Pada bait yang terakhir agaknya mengisahkan semua tragedi yang pernah menimpa guruku, cuma aku tak berani terlalu yakin."

"Coba bagaimana menurut pendapat nona, atas arti bait syair ini...?"

Berbicara sampai disitu, dia lantas membacakan bait terakhir dari syair Dendam Sejagad.

ooo0dw0ooo BAB 55 KENG CIN SIN yang pada dasarnya sedang diliputi kesedihan, sehabis mendengar bait lagu yang terakhir ini segera menghela napas pedih, ujarnya.

"Tampaknya di dalam bait lagu ini Him Ci sin locianpwee hendak menceritakan kisah tragis yang telah dialaminya serta seakan-akan melukiskan pula akhir dari kita manusia-manusia yang menginginkan keadilan dalam dunia persilatan.

"Aaaai..."

"Him locianpwe merupakan seorang tokoh sakti yang berpengetahuan amat luas, mungkin dia sudah menduga akan perubahan situasi yang bakal dialaminya hari ini, sebenarnya aku mengira dia belum berhasil mendapatkan kitab pusaka Cang Ciong pit-kip bagian bawah tapi kalau di tinjau keadaannya sekarang, sudah pasti dia telah memperoleh kitab pusaka itu, cuma sudah dikembalikan ketempat asalnya saja.

Ku See hong menghela napas pula.

"Nona, sesudah pembicaraan kita sekarang aku orang she Ku baru menyadari kalau nona adalah dewi diantara manusia, seandainya setiap wanita dikolong langit bisa berpendirian seperti kau, alangkah baiknya keadaan waktu itu, Apabila kau bersedia memberi muka untuk aku orang she Ku bersediakah kau memberitahukan siapa nama aslimu serta bagaimanakah asal usulmu?"

Dengan suara dingin Keng Cin sin berkata.

"Aku tak ingin menyinggung kembali kejadian pedih dimasa lampau, sedangkan mengenai namaku, seperti juga orangnya telah 1188 lama mampus, tentang hal ini harap kau jangan mendesak aku lebih lanjut ...."

Ku See hong benar-benar tak bisa menduga siapa gerangan perempuan ini, ada kalanya dari sikap maupun wataknya dia merasa perempuan ini mirip sekali dengan Keng Cin sin, tapi seandainya dia adalah Keng C in sin, mengapa pula tidak bersedia mengungkapkan keadaan yang sebenarnya.

Padahal mana dia tahu kalau perempuan ini sebenarnya tak lain adalah Keng Cin sin dan dia justru pernah mengalami musibah yang amat tragis sehingga membuat gadis ini tak berani mengungkapkan indentitas yang sebenarnya.

Mendadak Ku See hong bertanya.

"Nona, aku tidak mengerti mengapa kejadian ini bisa begitu kebetulannya, disaat yang persis kau telah datang ke markas besar Ban-sia-kau untuk menolong diriku.

"Apakah nona berhasil menemukan Im Yan cu serta Seng sim cian li Hoa Soat kun locianpwee?...

"Mereka telah kutemukan, dalam lima belas hari terakhir ini mungkin Im Yan-cu tak akan menderita siksaan akibat bekerja nya racun perangsang untuk kedua kali nya, tentang soal ini kau tak perlu kuatir cuma dari lima belas hari yang ada kini sudah lewat tiga hari, bila didalam sisa waktu yang dua belas hari ini kau tak berhasil menemu kan obat pemunahnya, maka besar kemungkinan selembar jiwanya akan terancam"

Tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi wajah Ku See hong, katanya kemudian dengan sedih.

"Nona, apakah kau sudah mendapat tahu apa nama dari obat perangsang yang amat beracun itu?"

"Im hwee si hun wan"

Jawab Keng Cin sin sambil menghela napas panjang.

"Konon racun itu tiada obat yang dapat menyembuhkannya, namun menurut pendapatku tiada racun didunia ini yang tak bisa dipunahkan, hanya sampai sekarang kita belum mengetahuinya saja."

Menurut dugaanku, dalam kitab pusaka Ban sia cin keng milik Ceng Lan hiang sudah pasti tercantum nama dari obat penawar tersebut, itulah sebabnya aku mengunjungi markas besar perkumpulan Ban sia kau dan mencuri kitab pusaka Ban-Sia cin-keng tersebut, padahal sebelum itu aku sama sekali tak tahu kau telah ditangkap oleh Ceng Lan-hiang ...."

Membayangkan kembali kejadian lalu, dimana benda jeleknya yang sedang "mengamuk"

Telah ditonton semua orang, merah padam selembar wajah Ku See hong karena jengah, sembari tertawa tersipu-sipu katanya kemudian.

"Sesungguhnya aku terkena tipu muslihat dari murid murtad guruku yakni si pedang Sakti kayu besi Cu Pok dan dikerubuti kawanan manusia laknat tersebut sehingga terluka parah, ketika sedang berusaha untuk meloloskan diri, aku berjumpa dengan perempuan cabul itu dan kena ditangkap, aku sendiri kurang tahu sudah berapa lama ditangkap mereka, mungkin sudah tiga hari lamanya.

"Nona, apakah sudah berhasil mendapatkan kitab pusaka Ban sia cin keng tersebut?.

"Belum, tapi kita akan berhasil mendapatkannya!"

Sahut Keng Cin sin sambil menghela napas.

"Apa maksudmu?"

"Aku telah bertemu dengan Him Ji im"

Mendengar nama Him Ji im disinggung, Ku See hong merasakan hatinya bergetar keras, buru-buru dia bertanya.

"Nona. Baik-baikkah dia"

"Baiknya sih baik, cuma wajahnya selalu bermuram durja, dia bilang setiap waktu setiap saat selalu merindukan dirimu"

"Mengapa dia tidak kabur bersamamu?"

Sebenarnya dia ingin menegur Keng Cin sin, mengapa tidak menolong gadis tersebut, tapi pemuda ini rikuh untuk mengutarakannya keluar.

"Begitu tiba di markas besar perkumpulan Ban sia kau, pertama aku pergi mencarinya lebih dulu, dan dia kutemukan sedang disekap dalam sebuah kamar yang sekelilingnya dijaga oleh jagoan lihay, dalam keadaan seperti ini mustahil baginya untuk dapat kabur dari kurungan, maka akupun mempergunakan tipu muslihat untuk bertemu dengannya sekalian menceritakan keadaan dari Im Yan cu."

"Kami berada bersama-sama hampir seharian lamanya, menggunakan kesempatan tersebut dia banyak memberitahukan keadaan situasi didalam perkumpulannya serta pelbagai masalah lain, coba kalau bukan demikian, bisa jadi gagal mencuri ayam, selembar jiwanya turut melayang, Ceng Lan hiang perempuan cabul itu memang lihay sekali, hingga kiri aku masih belum yakin dapat mengungguli dirinya....

"Menurut Him Ji im, kitab pusaka Ban sia cin keng disimpan sendiri secara rahasia oleh Ceng Lan hiang, dia berjanji akan membantu dari dalam untuk mendapatkan kitab pusaka itu" !"

"Kehadiran Him Ji im disitu berbahaya sekali"

Kata Ku See hong dengan sedih.

"ibunya amat cabul dan jalang, aku pernah mendengar ucapan dari Ceng Lan hiang yang menjanjikan kepada Gin coa kiam Ciu Heng thian untuk menyerahkan anak gadisnya kepada keparat itu, padahal keparat itu amat cabul, akibat yang diderita Im Yan cu sekarang pun sebagai akibat dari ulahnya, aku benar-benar kuatir bila ia sampai ketimpa musibah..."

"Dia adalah putri kandung Ceng Lan hiang, mungkin dia tak akan turun tangan keji terhadap putrinya sendiri, Him Ji im juga pernah berkata kepadaku, meski dia agak sengsara hidup disana, namun sama sekali tidak berbahaya"

"Nona, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Tanya Ku See hong kemudian. Keng Cin sin mendongakkan kepala dan memandang cuaca, waktu itu tengah hari sudah menjelang tiba, maka ujarnya.

"Menunggu sampai matahari terbenam nanti, kita berangkat kembali ke markas besar Ban sia kau, aku telah berjanji dengan Him Ji im akan bersua lagi malam nanti"

"Nona, kau memang terlalu baik terhadap kami"

Kata Ku See hong sambil menghela napas panjang.

"entah bagaimana cara kami untuk membalas budi kebaikan kepadamu dikemudian hari? Terutama sekali kebaikan mu terhadap aku orang she Ku, aku selalu merasa tak tenang setiap kali teringat akan hal ini, kau harus tahu, aku belum pernah menerima budi kebaikan orang dengan begitu saja ...."

Kembali Keng Cin sin menghela napas sedih.

"Hidup sebagai manusia didunia ini, membantu orang lain bukan berarti mengharap balas jasa dari orang, terus terang saja kukatakan, aku telah menganggapmu sebagai kekasihku dulu, sekalipun kejadian yang berlangsung hari ini tidak disengaja, tapi kenyataannya aku telah memperoleh kehangatan darimu, kejadian ini tidak menimbulkan sakit hati bagiku malah sebaliknya kepuasan dan kebahagian."

"Kau tak usah memandang serius akan persoalan ini, meskipun kaum wanita menganggap kesucian tubuhnya sebagai nyawa ke dua, namun bagiku soal kesucian sudah bukan masalah lagi, karena soal tersebut seakan-akan sudah tidak terdapat dalam hatiku lagi....."

Ku See hong sangat terkejut setelah mendengar perkataan itu, diam-diam dia berpikir.

"Mengapa dia berkata demikian! Apa maksud hatinya yang sebenarnya....? Manusia macam itukah dia! Tidak! Tidak! Dia bukan perempuan jahat seperti itu...."

Berpikir sampai disini, diapun lantas berkata.

"Nona, aku sangat bodoh sehingga tidak memahami maksud perkataan nona, dapatkah kau memberi penjelasan lebih jauh?"

Titik air mata telah membasahi kelopak mata Keng Cin sin, katanya dengan sedih.

"Aku sudah ternoda, aku adalah seorang perempuan yang sudah tidak suci lagi..."

"Nona, kau bukan perempuan semacam itu, kau suci bersih, anggun dan agung, kau ....kau terlalu merendahkan diri"

Tiba-tiba Keng C in sin menyeka air matanya, lalu dengan sorot mata yang amat lembut ditatapnya wajah Ku See hong lekat-lekat, kemudian ujarnya sedih.

"Ku See hong, ada satu persoalan ingin sekali kutanyakan kepadamu, kumohon kau sudi menjawab pertanyaanku ini dengan sejujurnya, kau jangan berbohong dan tidak berpura-pura, bersediakah kau ...?"

Ku See hong tak dapat menduga pertanyaan apakah yang hendak diajukan olehnya, terpaksa sahutnya dengan lantang.

"Nona, kau ada urusan apa? Katakan saja secara terus terang, aku pasti akan menjawab dengan sepenuh hati, tidak akan berbohong atau pun berpura-pura"

"Tahukah kau, apa sebabnya aku tak ingin bertemu dengan kekasih hatiku itu?, tanya Keng Cin sin kemudian dengan suara yang dalam dan berat.

"Aku tidak tahu, tapi aku yakin nona pasti mempunyai masalah yang memerihkan hatimu"

Keng Cin sin manggut-manggut.

"Benar! Aku telah mengalami suatu musibah yang membuatku hampir saja tidak mempunyai keberanian untuk hidup lebih jauh, di dunia ini setiap kali teringat akan kejadian ini, aku tak dapat menahan rasa pedih dalam hatiku"

"Nona, apabila kau mempunyai masalah pelik yang tak dapat kau selesaikan, tak ada salahnya kau utarakan secara terus terang, aku orang she Ku bersedia untuk membantu dengan sepenuh tenaga, agar akupun bisa turut memikul kepedihan hatimu itu..."

"Tadi telah kukatakan kalau aku adalah seorang perempuan yang sudah tidak suci lagi, perempuan yang ternoda, tahukah kau apa yang kumaksudkan?"

Ku See hong tidak menyangka kalau perempuan tersebut akan mengajukan pertanyaan itu, bagaimana mungkin seorang perempuan berani menanyakan persoalan semacam ini dihadapan seorang pria?

Perempuan yang ternoda biasanya dapat diartikan sebagai perempuan jahat yang tak tahu malu atau perempuan sebangsa pelacur.

Dengan wajah merah membara karena jengah, Ku See hong berkata dengan tergagap.

"Nona, apakah kau .... apakah kau ......"

Sebenarnya dia ingin berkata.

"Apakah nona sudah kehilangan perawanmu semenjak masih muda?"

Tapi dia rikuh untuk mengutarakan hal tersebut, apalagi dia sendiripun sudah pernah menikmati kehangatan tubuhnya. Keng Cin sin tertawa pedih, katanya dengan cepat.

"Apakah ...kenapa? Mengapa tidak kau lanjutkan kata-katamu itu...?"

Suara tertawa itu amat keras dan nyaring bahkan mendekati orang kalap, namun dibalik ke semuanya itu justru terlintas perasaan.

-Sedih.

-Duka.

-Dan keperihan hati yang tak terlukiskan dengan kata-kata apapun.

Tiba-tiba Keng Cin sin berkata lagi dengan suara sedingin salju.

"Aku pernah mengadakan hubungan senggama dengan seratus bahkan seribu orang lelaki"

Mendengar perkataan tersebut, Ku See hong merasakan pandangan matanya menjadi gelap dan matanya berkunang-kunang, ia merasa dadanya seperti dihantam dengan martil yang sangat berat.

Serunya kemudian dengan suara gemetar.

"Kau .... kau.... kau adalah manusia sebangsa itu ....?"

Berbicara sesungguhnya, dalam hati kecil Ku See hong sesungguhnya sudah tumbuh benih cinta terhadap perempuan ini, bisa dibayangkan betapa hancurnya perasaan pemuda itu setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Entah mengapa, tiba-tiba saja muncul suatu perasaan marah dan cemburu yang sangat besar dari dalam hati Ku See hong.

Dengan suara dingin kembali Keng C in sin berkata.

"Kau toh tiada hubungan apa pun denganku, mengapa harus emosi setelah mengetahui hal ini?"

Dengan marah Ku See hong berkata.

"Rupanya kau adalah perempuan macam ini, hari ini aku orang she Ku baru tahu kalau kau adalah perempuan semacam ini, aku baru tahu kalau sudah salah menilaimu, sekarang, maaf kalau aku tak dapat menemanimu lebih lama!"

"Berhenti!"

Bentak Keng Cin sin keras-keras.

"sudah selesaikah kau mendengarkan penjelasanku?"

Dengan wajah sedingin es Ku See hong berkata.

"Apa lagi yang hendak kau ucapkan? Cepat diutarakan secepatnya!"

Keng Cin sin menghela napas sedih, titik air mata tak terbendung lagi segera jatuh bercucuran membasahi pipinya, dengan perasaan pedih ia berkata.

"Ku See hong, tahukah kau kalau aku telah diperkosa secara bergilir oleh sekawanan manusia laknat?"

Setelah mendengar perkataan tersebut, Ku See hong baru menghela napas sedih katanya pula.

"Nona, mengapa tidak kau jelaskan hal ini semenjak tadi?"

Titik air mata semakin deras membasahi wajah Keng Cin sin, sembari menahan isak tangisnya yang menjadi ujarnya lagi.

"Tahukah kau, setiap kali teringat akan kejadian tersebut, hatiku menjadi sakit dan terasa seperti disayat-sayat dengan pisau yang tajam"

Buru-buru Ku See hong menghibur.

"Kejadian yang sudah lewat biarkan saja lewat, anggap saja peristiwa tersebut sebagai asap yang telah menguap diangkasa, kalau memang peristiwa itu hanya akan mengungkap kepedihan hatimu, lebih baik tak usah dibicarakan lagi!"

"Aku tak pernah dapat melupakan kejadian tersebut sepanjang hidupku di dunia ini."

Jerit Keng Cin sin sedih.

"Walaupun aku ingin melupakannya namun hal tersebut tak mungkin bisa terjadi, sebab roh ku sudah ternoda, bagaimana pun berusaha hendak dicuci, tak mungkin dapat kubersihkan noda-noda tersebut.

"Aku sengaja memberi tahukan kejadian ini kepadamu, karena aku ingin menanyakan satu hal kepadamu"

Ku See hong tahu kalau perempuan itu sedang dipengaruhi oleh emosi sekarang, terpaksa katanya dengan lembut.

"Nona, rohmu dan jiwamu tetap bersih dan suci, sama sekali tidak ternoda barang sedikitpun jua, kau tak usah terlalu merasa rendah diri!"

"Kau mengatakan jiwaku tidak ternoda? atas dasar apa kau dapat berpandangan demikian? "

"Nona, tahukan kau bahwa peristiwa tersebut terjadi karena suatu keadaan yang terpaksa? bukan atas kemauanmu sendiri, melainkan dipaksa orang dengan kekerasan. Peristiwa itu tidak membuat kau menjadi hina.. ."

Mendengar sampai disini, Keng Cin sin sudah tak dapat membendung perasaan sedihnya lagi, tiba-tiba saja dia menangis tersedu-sedu ....

Isak tangisnya kali ini, boleh dibilang sudah menumpahkan segenap kepedihan yang telah menumpuk dalam hati kecilnya selama ini .......

Butiran air mata bagaikan untaian mutiara yang putus talinya, jatuh berderai membasahi pipinya yang putih, isak tangisnya sungguh memedihkan hati.

Tanpa terasa Ku See hong maju kedepan menghampirinya dan merangkul bahunya.

Keng Cin sin mendesis sedih, tiba-tiba dia menjatuhkan diri ke dalam rangkulan Ku See hong dan menangis sejadinya.

Ku See hong balas memeluk pinggang gadis itu erat-erat, seakan-akan kuatir, kalau dia kabur dari sisinya, entah mengapa, walaupun dia belum tahu kalau dia adalah Keng Cin sin, namun dalam hati kecilnya seakan-akan sudah timbul perasaan cintanya terhadap gadis ini.

Keng Cin sin sendiripun segera memanfaatkan kesempatan ini untuk menangis sepuas hatinya dalam rangkulan kekasih hatinya yang paling dicintai.

Beberapa saat kemudian, sembari menahan isak tangisnya yang memilukan hati, ia berkata.

"Ku See hong, sejak dilahirkan di dunia ini aku sudah anak yatim piatu, akupun tak tahu semenjak kapan, tahu-tahu saja sudah berada dalam lingkungan sekelompok manusia jahat di laut timur sana, di saat aku menanjak dewasa dan mulai tahu urusan, timbul perasaan sedih dan menyesal yang tak terhingga dari hatiku, maka suatu ketika aku pun berjumpa dengan kekasihku itu, waktu itu kekasihku melanggar peraturan yang diterapkan oleh kelompok manusia jahat disekitarku, dia ditangkap dan disiksa dengan berbagai cara, tapi akhirnya aku berhasil menolongnya dan menyuruhnya kabur dari pengaruh jahat tersebut, sedang aku dicap sebagai penghianat oleh mereka sehingga akhirnya akupun menerima nasib yang paling tragis dunia ini..."

"Bagaikan seorang pelacur saja, aku menjadi mangsa kebiadaban dari beratus-ratus manusia laknat, aku tak mampu melawan, hanya merasakan siksaan didalam penderitaan, keadaanku waktu itu ibarat manusia hidup tak bisa, mau matipun tak dapat, dalam keadaan demikian aku telah kehilangan segala-galanya."

"Dari tubuh seorang gadis, aku disiksa sehingga menderita penyakit kotor dan sekujur tubuhku penuh dengan luka bernanah, keadaanku waktu itu ibarat manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan, dalam keadaan begini kawanan manusia laknat itupun meletakkan tubuhku yang busuk itu diatas sebuah sampan kecil dan melepaskannya ditengah samudra luas..." -ooo0dw0ooo-

Jilid 36 MAKA secara nyata, dan teliti Keng Cin sin menceriterakan semua pengalaman serta musibah yang telah dialaminya selama ini, hanya 1198 nama laut selatan telah diubahnya menjadi laut timur guna merahasiakan keadaan yang sesungguhnya.

Sewaktu mendengarkan kisah yang menyedihkan ini, Ku See hong ikut merasa terharu sehingga air matanya tanpa terasa jatuh bercucuran membasahi wajahnya, berbicara sebenarnya, musibah yang telah menimpa Keng Cin sin memang tragis sekali.

Dengan suara pedih Ku see hong berkata kemudian.

"Nona, aku tidak, tahu kalau kau pernah mengalami musibah sedemikian tragisnya. apakah musuh musuhmu sudah berhasil kau bunuh semua? Aku Ku See hong bersedia untuk membantu nona guna membalas dendam sakit hati ini serta mencincang tubuh kawanan manusia laknat tersebut ....."

Keng Cin sin tertawa pedih.

"Biang keladinya sudah kubunuh, bahkan aku telah menyuruh dia merasakan penderitaan dan siksaan yang paling keji di dunia ini, mula-mula kupenggal dulu lengannya lalu kupotong kakinya, mencongkel keluar matanya, memotong batang hidungnya, memotong telinganya menghancurkan wajah nya dan merusak pula otaknya sehingga dia menjadi kalap dan gila, kemudian kulepas kan pula sebuah pukulan beracun ke dalam tubuhnya agar setiap hari dia akan merasa kan satu kali siksaan yang hebat, pembalasan semacam ini sudah sepantasnya diterima oleh manusia macam begitu, entah bagaimana menurut pendapatmu?"

Diam-diam Ku See hong berpikir.

"Tindakan yang dilakukan olehnya itu memang terhitung sangat keji, cuma bagi seorang manusia laknat yang begitu brutal dan buas, hukuman dan siksaan yang keji tersebut memang cukup pantas untuk diterimanya ....."

Karena berpendapat demikian, maka sahutnya kemudian.

"Yaa, dosa yang bertumpuk-tumpuk dengan perbuatan yang begitu brutal memang pantas dijatuhi hukuman semacam itu"

"Hukuman yang ia terima itu kelewat enteng ataukah terlampau berat?"

Tiba-tiba Keng Cin sin bertanya lagi. Ku See hong agak tertegun, kemudian sahutnya.

"Jika berbicara menurut dosa dan kesalahan yang telah dilakukan olehnya, hukuman itu tidak termasuk enteng tidak pula terlampau berat, aku rasa tepat sekali!"

"Apakah kau telah menjawab dengan sejujurnya?."

Keng Cin sin tertawa.

"Tentu saja aku menjawab sejujurnya aku tidak akan membohongi nona dengan jawaban yang berpura-pura."

Padahal seandainya Ku See hong tahu bahwa perempuan ini tak lain adalah Keng Cin sin yang dicintainya, maka dia pasti akan mengatakan kalau hukuman semacam itu terlampau ringan.

Dengan nada yang pedih kembali Keng Cin sin berkata.

"Justru karena itulah, aku baru tak berani mencintai kekasihku, sebab aku merasa sudah ternoda, aku merasa kesucian tubuhku sudah dinodai oleh beratus-ratus manusia"

"Nona, kau bukan perempuan ternoda, kau tak boleh berkata demikian"

Seru Ku See hong dengan wajah merah membara karena jengah. Mendadak Keng Cin sin melepaskan diri dari pelukan Ku See hong, lalu ujarnya dengan dingin.

"Aku ingin bertanya kepadamu, seandainya kekasihku itu mendengar kisah tragis yang telah menimpaku itu, apakah dia masih akan mencintaiku? Tidak menganggap aku sebagai perempuan rendah yang ternoda?"

Ku See hong termenung beberapa saat lamanya setelah itu dia baru berkata.

"Aku tidak tahu sampai dimanakah watak kekasihmu itu, maka aku tak berani berbicara tentang hal ini" .

"Watak maupun sikapnya hampir sama dengan sikap dan watakmu, anggap saja kekasihku itu adalah kau dan boleh mengutarakan suara hatimu yang sejujurnya kepadaku, kau tak usah berpura-pura atau secara sengaja merahasiakan perasaan yang sesungguhnya, kuharap kau berbicara secara blak-blakan!"

Dengan wajah serius Ku See hong menjawab.

"Andaikata aku adalah kekasihmu yang dulu dan mengetahui musibah telah menimpa dirimu, maka aku akan lebih menghormati dirimu dan mencintaimu sepenuh hati!"

Mendengar jawaban mana, hampir saja air mata Keng Cin sin bercucuran dengan derasnya, ia lantas berpekik dihati.

"Engkoh Hong, oooh.. engkoh hong, tahukah bahwa kaulah kekasih hatiku? Cinta kasihmu yang begitu tulus dan suci membuat hatiku amat terharu dan berterima kasih sekali kepadamu, tapi tahukah kau bahwa kebesaran jiwamu ini semakin menyakitkan hatiku, membuat aku lebih malu dan rendah diri, aku semakin tak berani menampakkan diri yang sesungguhnya. ."

Berpikir sampai disini, dengan suara dingin dia lantas berkata.

"Terima kasih atas jawabanmu yang setulus hati."

Ku See hong segera bertanya pelan.

"Nona.. apakah kau ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya ini kepadanya?"

Keng Cin Sin termenung beberapa saat, kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak! Aku menginginkan agar dia melupakan aku untuk selamanya."

"Dapatkah dia melupakan kau?".

"Dapat, pasti dapat, sebab dia mengira aku sudah mati!"

Jawab Keng Cin sin pedih. Ku See hong agak tergagap, katanya kemudian.

"Nona, aku hendak mengutarakan sesuatu cuma. .. bolehkah hal tersebut kuutarakan?"

Keng Cin sin mengamati wajah si anak muda tersebut beberapa saat lamanya, dia segera mengerti perkataan apakah yang hendak diutarakan pemuda tersebut, namun di luar sahutnya dengan suara hambar.

"Apa yang ingin kau utarakan, Katakan saja secara blak-blakan ...."

"Setelah kuutarakan nanti, aku harap nona sudi memaafkan kelancanganku itu!"

"Sekalipun kau salah berbicara, aku tak akan menyalahkan dirimu ....."

Ku See hong merasa keberaniannya timbul kembali, dengan cepat ujarnya.

"Nona, aku... aku sangat menghormatimu... bahkan.... bahkan amat mencintai mu.... Sebab kau pun mirip sekali dengan seseorang yang paling kuhormati, bahkan aku pernah menyangka kau sebagai dirinya, dia bernama Keng Cin sin, pengalaman yang telah kau alami itu hampir mirip dengan pengalaman yang pernah kami alami, selagi berada di istana Huan mo kiong dulu, cuma dia tidak sampai mengalami kejadian tragis seperti apa yang kau ceritakan tadi, dia hanya mati karena bunuh diri ......"

Mendengar perkataan ini, titik air mata Keng Cin sin tak terbendung lagi, dia menangis tersedu-sedu dan ingin sekali segera bertemu dengan kekasih hatinya ini dalam wujud yang sebenarnya, tapi teringat kembali akan tubuhnya yang telah ternoda, rasa rendah dirinya segera mengendalikan kembali keinginannya tersebut.

Diam-diam gadis itu berpekik dihati.

"Keng Cin sin wahai Keng Cin sin, kau telah merasakan kehangatan dan kebahagian darinya, apakah semuanya itu masih belum memuaskan dirimu?

Dia tak akan menderita kesepian dan hidup sebatang kara, mengapa kau tidak membagikan cintamu itu untuk Im Yan cu dan Him J i im...?

Kau.

apakah kau masih punya muka untuk menggunakan tubuhmu yang telah ternoda ini guna berebut dengan mereka......

Berpikir sampai disini, dengan suara yang dingin dan ketus diapun berkata.

"Jadi kau mengira Keng C in sin sudah mati?"

Ku See hong menghela napas sedih.

"Hati kecilku tidak percaya kalau dia telah mati, namun aku telah mendengar sendiri jeritan ngerinya menjelang saat kematian, waktu itu aku benar-benar ingin menyusul nya ke alam baka, tapi api dendam yang membara dalam dadaku membuat aku mengurungkan niat tersebut dan berusaha untuk mempertahankan terus hidupku. Sebenarnya aku ingin berkunjung kembali ke Lam hay istana Huan mo kiong begitu dendam ku sudah terbalas, aku ingin menyelidiki apakah dia benar-benar sudah mati atau belum, andaikata dia sudah tiada maka aku akan menemukan tulang belulangnya dan menguburnya dalam satu liang bersama tubuhku."

Keng Cin sin benar-benar terharu sekali oleh perkataan tersebut, namun dia masih tetap berusaha untuk mengendalikan gejolak perasaannya itu, tanyanya kemudian.

"Jadi kau ingin menghabisi nyawamu demi cinta? Apakah kau tidak merasa kalau perbuatanmu itu suatu perbuatan yang sangat bodoh ?"

"Aaaai.... apakah kau belum tahu akan pengaruh cinta? Tapi .... sekarang aku masih mempunyai tugas dan tanggung jawab baru, tanggung jawab mana membuat aku tak dapat menghabisi nyawaku untuk menyusulnya!"

"Benar! Kau memang tak boleh menghabisi nyawamu demi cinta buta, kau harus melindungi Im Yan cu serta Him J i im"

"Berbicara yang sesungguhnya, tentu saja aku tak dapat menyia-nyiakan Im Yan cu serta Him ji im, tapi tingkatan cintaku terhadap mereka tak mungkin dapat melampaui cinta kasihku terhadap Keng 1203 Cin sin, meskipun dia telah tiada, namun setiap waktu setiap saat aku masih selalu terbayang akan bayangan tubuhnya, nada suaranya serta raut wajahnya. Terus terang saja, dia amat mirip dengan dirimu, maka aku...aku....."

"Cinta kasihmu terlalu luas dan kaya, seandainya Keng Cin sin masih hidup, maka siapakah yang akan kau cintai?"

Kata Keng Cin sin dingin. Ku See hong tertawa jengah.

"Keempat-empatnya akan kucintai semua!"

"Tidakkah kau merasa bahwa perbuatanmu ini kelewat serakah.?."

"Tidak mungkin, sebab mereka semua berharga bagiku untuk mencintai mereka dengan sepenuh hati, apalagi akupun tidak beralasan untuk tidak mencintai salah seorang diantara mereka, kecuali Keng Cin sin, kalian bertiga sudah pernah mengadakan hubungan suami istri"

Kembali Keng Cin sin menghela nafas sedih.

"Aaai, bagi seorang lelaki, mempunyai istri tiga orang gundik bukanlah suatu masalah yang berat, tapi seorang perempuan toh tak bisa mempunyai dua orang suami!"

Ku See bong segera mendesak lebih jauh katanya.

"Nona, jadi kau.. kau setuju?"

"Terima kasih banyak atas maksud baikmu itu, tapi aku telah menganggap kekasihku itu sebagai suamiku, maka aku tak dapat menerima cintamu itu, biarlah maksud baikmu kuterima didalam hati saja."

Bagaikan diguyur dengan air dingin sebaskom, Ku See hong segera merasakan separuh badannya menjadi dingin, katanya.

"Tapi, aku dan nona sudah pernah mengadakan....."

"Oleh karena kuanggap kau sebagai kekasihku, maka kuberikan kesucian tubuhku untukmu, apa salahnya aku berbuat demikian? Sudahlah, kau tak perlu banyak berbicara lagi, daripada menimbulkan kejemuan bagiku"

"Nona terlalu kesepian, terlalu menderita, aku merasa amat tidak tenang"

"Memang beginilah nasibku semenjak aku dilahirkan didunia ini, tiada orang yang dapat menolongku untuk melepaskan diri dari keadaan seperti ini"

Terpaksa Ku See hong menghela napas penuh kekecewaan, katanya lagi.

"Jendela cinta dalam hatiku selalu terbuka bagimu, aku akan selalu menunggu sampai kau dapat menghilangkan kekakuan dalam hatimu itu"

"Terima kasih banyak, sayang selama hidup aku tak pernah akan melangkah masuk melalui pintu cintamu yang terbuka lebar ini"

"Entah apa pun yang terjadi, aku akan tetap menantimu selalu....."

Sementara pembicaraan berlangsung, waktu pun turut beredar dengan cepatnya.

Kini sang surya sudah tenggelam dilangit barat, sinar cahaya yang berwarna ke emas-emasan memancar di seantero jagad.

Seluruh tanah dilapisi cahaya merah dan membiaskan suasana yang murung.

ooo0dw0ooo BAB 56 KENG CIN SIN mendongakkan kepalanya memandang cuaca, lalu ujarnya dengan suara dalam.

"Sekarang kita harus segera berangkat."

Mendadak paras muka Ku See hong berubah hebat, serunya dengan cepat.

"Ada orang datang, aah! Bahkan jumlahnya tidak sedikit..."

Sementara pembicaraan berlangsung, suara langkah manusia itu sudah berada didalam lembah bukit itu...

Mendadak berkumandang suara pekikan nyaring yang menggema diangkasa dan mendengung tiada hentinya.

Keng Cin sin termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia berkata.

"Aaaah, mungkin mereka yang datang, mari kita gunakan siasat melawan siasat dengan menghindari mereka langsung menyatroni markas besarnya"

"Pendapat nona memang tepat sekali, saat ini markas besar mereka tentu berada dalam keadaan kosong!"

"Urusan tak boleh terlambat lagi, mari kita berangkat dengan memutar kearah lain."

Mendadak....

Dari sekitar tempat itu berkumandang suara tertawa cekikikan yang amat merdu dan membetot sukma .....

Gelak tertawa mana amat merdu serta mempunyai semacam daya pikat yang dapat memukau hati orang Berubah hebat paras muka Ku See hong setelah mendengar suara tertawa itu, secepat kilat dia berpaling ke arah mana berasalnya suara tertawa tersebut.

Lebih kurang enam kaki di belakang tubuh mereka berdua, tepatnya di atas sebatang pohon siong yang amat besar, berdirilah seorang perempuan muda berbaju putih, yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Orang itu tak lain adalah ketua Ban sia kau, Ceng Lan hiang adanya...

Sesudah tertawa terkekeh tiada hentinya Ceng Lan hiang berkata dengan suara dingin.

"Saudara cilik, kau benar-benar amat tolol, cici yang begini cantik bagaikan bidadari enggan kau nikmati, sebaliknya kau malah senang dengan perempuan busuk yang jelek itu, hmmm, setelah mengadakan hubungan kelamin, apakah kau tidak merasa muak dan ingin muntah ....?"

Ku See hong mendengus dingin saking gusarnya, dengan suara lantang dia segera membentak.

"Perempuan jalang turun kau!"

Ceng Lan hiang tertawa dingin.

"Sekarang kau tak usah berkaok-kaok dulu. sampai kini kau masih tetap merupakan orang di bawah sepasang ketiakku"

"Aku heran, mengapa seorang wanita semacam kau bisa begitu tak tahu malu?"

Keng Cin sin dengan suara yang dingin hingga merasuk ke dalam tulang.

"Kau si budak jeleklah yang sesungguhnya tak tahu malu, sudah mengambil keuntungan, merasakan kenikmatan, sekarang berani mendamprat orang semaunya sendiri"

"Kau si perempuan jalanglah yang merupakan perempuan tak tahu malu yang betul-betul paling jelek didunia ini"

Bentak Ku See hong keras-keras.

"turun .... turun kau aku hendak membinasakan dirimu"

Ceng Lan hiang segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Saudara cilik, kau berani memukul istrimu sendiri?"

Serunya genit. Ku See hong benar-benar dibuat gusarnya setengah mati, sekali lagi dia membentak nyaring.

"Perempuan yang tak tahu malu, aku akan segera membinasakan dirimu..."

Sembari berseru, Ku See hong sudah bersiap-siap hendak menerjang ke muka. Tapi Keng Cin sin segera menahannya dan berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.

"Sekarang musuh tangguh berada di depan mata, aku minta kau jangan bertindak secara gegabah, sekarang kita harus keluar dulu dari hutan siong ini, sebab daerah sekitar tempat ini terlampau sempit, dengan jumlah mereka yang banyak, keadaan seperti ini sangat tidak menguntungkan kita"

Berbicara sampai disitu, pada saat yang hampir bersamaan Keng Cin sin dan Ku See hong segera menggunakan kecepatan yang amat tinggi menerjang keluar dari hutan pohon siong tersebut.

Namun tatkala kaki mereka baru saja menginjak kembali permukaan tanah, terasa segulung angin berhembus lewat, seakanakan sukma gentayangan saja, tahu-tahu Ceng Lan hiang telah menghadang kembali kurang lebih tiga kaki dihadapan mereka.

Baik Keng Cin sin maupun Ku See hong sama-sama dibuat terperanjat oleh keadaan tersebut, hampir bersamaan waktunya lantas berpikir.

"Cepat amat ilmu meringankan tubuhnya, tampaknya pertarungan yang berlangsung hari ini tak akan bisa diselesaikan secara sederhana."

Sementara itu Ceng Lan hiang telah menarik muka sambil tertawa dingin tiada hentinya, kemudian dia menegur.

"Saudara cilik, rupanya kau benar-benar sudah terpikat oleh perempuan jelek ini? Ku See hong mendengus dingin.

"Hmmm, kau tak usah tebal muka bersikap tak tahu malu, siapa sih yang menjadi saudara cilikmu"

"Biarpun aku jatuh cinta kepadanya, apa urusannya dengan dirimu..."

Teriak pemuda itu mendongkol. Ceng Lan hiang segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeehhh... heehhh... heeehhh... kionghi... kionghi ... aku mesti menyampaikan ucapan selamat untukmu, sebab saudara cilikku telah mempersunting seorang perempuan jelek sebagai istrinya"

Ternyata dalam dunia persilatan telah tersiar berita yang mengatakan kalau ketua Hiat mo bun adalah seorang perempuan yang sangat jelek.

Itulah sebabnya Ceng Lan hiang pun mengatakan kalau Keng Cin sin adalah seorang perempuan yang jelek sekali.

Padahal kecantikan Keng Cin sin yang sebenarnya tidak berada dibawah kecantikan wajah Ceng Lan hiang, apalagi Keng Cin sin memiliki mutiara Thian hong im yang sin cu yang berkasiat luar biasa, hal ini membuat kulit badannya jauh lebih cantik, indah dan lembut.

Ku See hong pernah menyaksikan wajah jelek Keng Cin sin, maka selama inipun dia selalu menganggap Keng Cin sin berwajah sangat jelek.

Namun dia tetap mencintai keanggunannya, kebersihan dan kesucian wataknya, dia menilai kebaikan hati dari perempuan itu bukan menilai keindahan lahiriahnya.

Tiba-tiba Keng Cin sin tertawa terkekeh-kekeh, kemudian jengeknya.

"Jadi kau menganggap wajahku jelek? padahal indahnya wajah tapi disertai hati yang jelek dan busuk, apa pula gunanya?"

Paras muka Ceng Lan hiang segera berubah menjadi jelek sekali sehingga tak terlukiskan dengan kata-kata, dengan suara dingin ujarnya kemudian.

"Apakah kau sangat indah dan cantik ? Bila wajah seseorang cantik maka hatinya pasti indah, sebaliknya kalau tampang seseorang jelek, sudah pasti hatinya sangat busuk"

Ku See hong tak dapat menahan diri lagi, tiba-tiba dia turut berteriak keras.

"Walaupun kau berwajah cantik menarik, sayang sekali hatimu jahat dan buruk seperti ular berbisa ...."

Ceng Lan hiang segera tertawa terkekeh-kekeh dengan nada yang memukau hati, serunya lembut..

"Saudara cilik, jadi kaupun memuji kecantikan wajahku"

Ku See hong mendengus dingin dengan nada yang amat sinis, dia tidak menjawab pertanyaan tersebut, sebab dalam kenyataan, Ceng Lan hiang memang seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Mendadak....

Serentetan tertawa yang menyeramkan bagaikan tangisan setan atau lolongan serigala berkumandang datang ....

Menyusul suara tertawa menyeramkan itu, dari puncak bukit sebelah kiri meluncur datang lima sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa ....

Dalam waktu singkat, dua sosok bayangan manusia yang berada dipaling depan sudah sampai dahulu ditempat tujuan, ternyata mereka adalah Thi bok sin kiam (Pedang sakti kayu baja) Cu Pok serta seorang sastrawan setengah umur yang berwajah tampan.

Orang ini tak lain adalah Han bun kim ciang (Telapak tangan emas sukma cacad) Tu Pak kim, hanya hari ini dia telah melepaskan topeng aneh yang dipakainya selama ini.

Dibelakang mereka segera menyusul datang empat manusia lagi, mereka terdiri dari tiga orang thamcu dari Ban sin kau yakni thamcu ruang angin dingin si Thian jian tee ciat (Langit dan bumi cacad) Si Hun sia, thamcu Thian leng tham Mo pit siu (Kakek lengan iblis) 1210 Khong Yu siang dan Tee hun thamcu si Penginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi.

Ke enam orang ini rata-rata merupakan jago berilmu silat amat lihay di dalam dunia persilatan saat ini, juga merupakan inti kekuatan dari perkumpulan Ban sia kau.

Sekalipun Ku See hong dan Keng Cin sin terhitung juga tokoh silat berilmu tinggi didalam dunia persilatan, namun posisi mereka saat ini boleh dibilang berbahaya sekali.

Apalagi Ceng Lan hiang si perempuan cabul tersebut merupakan tokoh kelas wahid dikolong langit dewasa ini dan belum pernah ada orang yang mampu mengungguli mereka.

Setelah menyaksikan kemunculan dari kawanan musuh, baik Keng Cin sin maupun Ku See hong sama-sama merasakan hatinya jadi berat dan serius.

Sadarlah ke dua orang ini bahwa situasi bagi mereka hari ini lebih banyak berbahaya nya dari pada keuntungan, namun perasaan tersebut tak sampai diperlihatkan, mereka tetap berdiri sekokoh batu karang ditempat.

Dengan wajah penuh senyuman paksa Si Pedang sakti kayu baja Cu Pok berkata kepada Ceng Lan hiang.

"Oooh... rupanya sumoay sudah berhasil menemukan mereka jauh mendahului kami heeehhh...... heehhh... heeehhh...."

"Aku menginginkan mereka berdua dalam keadaan hidup.. terutama sekali orang she Ku itu"

Kata Ceng Lan hiang cepat dengan wajah sedingin salju.

Telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim segera tertawa licik "Oooh, tentu saja!

Tentu saja!

Perintah sumoay sudah pasti akan kami laksanakan".

Keng Cin sin yang mendongkol sekali menyaksikan ulah orang-orang tersebut, mendadak ia menyela sambil tertawa dingin.

"Heeeehhhh .....

heeeehhh ......heeehhh .....

jangan kalian anggap dengan mengandalkan jumlah yang banyak lantas kemenangan bisa diraih secara gampang, hmm!

Siapa yang bakal menang siapa yang bakal kalah pada hari ini masih sukar untuk ditentukan mulai sekarang??

Ceng Lan hung sudah tak sabar lagi rupanya, dia segera menurunkan perintah.

"Suheng berdua, harap kalian bereskan budak jelek ini, terserah hukuman apa yang hendak kalian berikan, bila kalian berdua tidak merasa mual dengan kejelekan wajahnya, kuhadiahkan orang ini kepada kalian...."

"Terima kasih atas maksud baik sumoay, kami pasti akan menghukum orang ini dengan sebaik-baiknya!"

Sahut si pedang sakti kayu besi sambil tertawa.

Mencorong sinar mata buas yang penuh dengan hawa pembunuhan dari balik mata Keng C in sin, ditatapnya Ceng Lan hiang lekat-lekat, kemudian bentaknya nyaring "Kau perempuan cabul yang tak tahu malu, hari ini aku akan menyaksikan sendiri sampai dimanakah kelihayan yang kau miliki...."

Maksud ucapan dari Ceng Lan hiang tadi sudah jelas sekali, yakni dia telah memberi ijin kepada ke dua orang suhengnya untuk menggagahi Keng Cin sin secara bergilir, bayangkan saja bagaimana mungkin gadis tersebut tidak naik pitam.

Apalagi dia memang pernah menderita akibat kejadian yang sama.

Ditengah pembicaraan, tubuh Keng Cin sin menerjang ke arah Ceng Lan hiang dengan kecepatan luar biasa, sementara sepasang tangannya melancarkan serangkaian serangan berantai..

Terkejut juga Ceng Lan hiang setelah menyaksikan gerak serangan yang dilancarkan Keng C in sin.

Rupanya serangan dari Keng Cin sin kali ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa, begitu telapak tangannya diayunkan ke muka, 1212 diantara gerakan jeri tangannya tahu-tahu saja sudah mengancam di depan dada Ceng Lan hiang.

Sementara Ceng Lan hiang masih tertegun, telapak tangan yang putih bersih itu sudah mengancam di atas jalan darah yu bun hiat pada dadanya.

Dalam kejut dan terkesiapnya cepat-cepat Ceng Lan hiang berkelit ke samping kemudian melompat mundur.

Kemudian setelah tertawa cabul dia mengebaskan ujung bajunya yang berwarna putih ke depan, seperti awan yang sedang bergerak di angkasa, dengan membawa desingan angin dingin yang menusuk badan, dia berbalik mengancam wajah Keng Cin sin.

Jurus serangan yang dipergunakan olehnya ini benar-benar sangat hebat, bukan saja sambil mundur melancarkan serangan, gerakannya pun dilakukan dengan kecepatan luar biasa.

Dalam anggapan semua orang, serangan balasannya ini pasti akan berhasil mendesak Keng C in sin sehingga berada dalam posisi yang amat mengenaskan.

Siapa tahu tidak demikian dengan kenyataan, ketika ujung kaki Keng Cin sin menjejak permukaan tanah secara indah sekali tubuhnya sudah mengigos ke samping kemudian secara paksa menghajar ujung baju lawan dengan sabetan telapak tangannya.

Dimana angin serangannya menyambar lewat, desingan angin tajam bagaikan sayatan pisau segera menyapu ke muka.

Sekarang Ceng Lan hiang mulai merasakan bahwa Keng Cin sin merupakan musuh yang paling tangguh di dunia ini, dia tertawa dingin, ujung bajunya dikebaskan melancarkan serangan balasan, sementara pinggulnya berputar dengan lembut, kemudian dengan menggunakan tangan yang lain dia melancarkan dua kali serangan penuh.

Setelah itu ujung kakinya menjejak permukaan tanah dan tiba-tiba saja dia melepaskan tiga kali tendangan berantai dari tengah udara.

Kepandaian silat yang dimiliki Ceng Lan hiang memang betul-betul lihay sekali, dengan gerakan tubuhnya yang aneh dan sakti, kecepatannya merubah jurus betul-betul tak terlukiskan dengan kata-kata ....

Dua pukulan dan tiga tendangan ini pada hakekatnya dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan pada saat yang hampir bersamaan.

Walaupun gerak serangannya sangat enteng seperti hembusan angin, padahal tenaga serangannya itu benar-benar luar biasa hebatnya.

Akan tetapi Keng Cin sin sendiripun bukan manusia sembarangan, ia pernah mempelajari seluruh kepandaian silat yang tercantum didalam kitab pusaka Cang ciong pit kip.

Tampak bahunya digetarkan tiga kali, lalu di ringi bentakan nyaring, telapak tangan kirinya diayunkan kemuka, sementara kedua jari tangannya secepat kilat menotok jalan darah tiong gi hiat di sisi belakang tubuh Ceng Lan hiang, sementara telapak tangan kanannya langsung disodokkan ke depan.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat dan menusuk tulangpun langsung meluncur kedepan menghantam bagian tubuh yang mematikan di atas badan Ceng Lan hiang.

Berada ditengah udara, Ceng Lan hiang mengayunkan pula telapak tangannya.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur ke depan dan .....

"Blaaamm"

Suatu ledakan dahsyat di ringi serentetan suara ledakan beruntun bergema memecahkan keheningan"

Desingan angin tajam yang menyayat badan langsung memancar kemana-mana.

Hawa serangan yang menyebar itu segera berubah menjadi selapis hawa serangan yang ibaratnya sebuah jaring yang amat besar mengurung batok kepala Keng Cin sin.

Keng Cin sin sendiripun enggan memperlihatkan kelemahannya, tangan kanan nya yang semula dipakai untuk menghantam jalan darah Tiong ji hiat itu tiba-tiba saja dirubah, kelima jari tangannya di pentangkan lebar-lebar, lalu diantara sentilan dan getaran, lima gulung desingan angin tajam secepat kilat menembusi lapisan hawa serangan tersebut dan langsung menyergap lima buah jalan darah penting ditubuh Ceng Lan hiang.

Melihat lima gulung desingan angin jari lawan berhasil menembusi lapisan hawa serangannya secara mudah, Ceng Lan hiang terkesiap, tiba-tiba saja lima jari tangan kanannya dipentangkan lebar-lebar lalu hawa murninya yang menyebar ke empat penjuru segera dihimpun kembali menjadi satu .....

"Blaamn! Blaammm! Blaaammm! "

Di tengah serentetan suara ledakan yang memekikkan telinga, hawa murni menyebar kemana-mana dan bayangan manusiapun saling berpisah satu sama lainnya.

Tahu-tahu Ceng Lan hiang dan Keng Cin sin sudah saling perpisah sejauh dua kaki lebih.

Semua kejadian ini berlangsung hampir pada saat yang amat singkat, kontan saja semua yang hadir diarena sama-sama di bikin terkesiap dan terbelalak matanya karena kaget.

Dalam beberapa jurus serangan saja, mereka dapat menyaksikan betapa hebat nya kedua belah pihak saling berubah serangan untuk berusaha merobohkan lawannya.

Walaupun semuanya merupakan serangan yang berbahaya, namun keindahan jurusnya ternyata sama sekali tidak di tinggalkan.

Ku See hong menghela napas panjang setelah menyaksikan kejadian ini, diam-diam ia menyadari bahwa ilmu silat memang tiada batasnya, sekarang dia baru mengerti bahwa sebenarnya kepandaian silat yang dimilikinya hingga kini hanya setitik batu kecil ditengah samudra luas.

Sambil tertawa cabul Ceng Lin hiang berseru.

"Kau mampu menerima beberapa jurus seranganku, ini berarti kalau kepandaian silat yang kau miliki memang cukup tangguh, kau pantas disebut jago nomor dua di kolong jagat dewasa ini"

Perasaan Keng Cin sin saat ini berat sekali, dia dan Ceng Lan hiang sudah bergebrak beberapa jurus dan dia sadar kalau kemampuannya masih belum mampu untuk mengungguli dirinya, sekalipun demikian dia sama sekali tidak memperlihatkan perasaan jeri barang sedikitpun jua.

Dengan suara dingin katanya kemudian.

"Jadi kau anggap dirimu sebagai jago nomor wahid dikolong langit dewasa ini?"

"Tentu saja"

Sahut Ceng Lan hiang sambil tertawa dingin.

"jago nomor wahid memang pantas bagiku"

Ku See hong yang berada disamping dengan cepat menimbrung.

"Membual setinggi langit, kau benar-benar seorang manusia yang tak tahu malu."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata kembali.

"Terus terang saja kukatakan, jago lihay nomor wahid dikolong langit bukanlah dirimu"

"Saudara cilik, lantas siapakah jago lihay nomor wahid dikolong langit dewasa ini?"

Tanya Ceng Lan hiang sambil tertawa merdu penuh kegenitan.

"Siapakah orangnya, kau tidak berhak untuk tahu"

Kontan saja Ceng Lan hiang tertawa dingin.

"Kau maksudkan dia? Hmmm ... heeehhh... heeehhhh...heeehhh.... terus terang saja kukatakan, beberapa jurus serangan 1216 yang ia pergunakan barusan sangat hapal bagiku, siapa sih yang tidak tahu kalau jurus-jurus serangan itu berhasil dipelajari dari kitab pusaka Cang ciong pit kip? Tunggu saja nanti, tidak sampai sepuluh gebrakan aku dapat menaklukkan dirinya"

Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri Keng Cin sin setelah mendengar perkataan ini, berbicara dari hal ini, semakin jelaslah sudah kalau dia tak akan mampu mengungguli dirinya.

Perlu diketahui Ceng Lan hiang adalah istri Bun ji koan su Him Ci sin, sudah barang tentu segenap ilmu silat yang dipelajari Him Ci sin melalui kitab pusaka Cang ciong pit kip dapat di pelajari pula olehnya.

Padahal ilmu silat yang berhasil dicuri belajar oleh Ceng Lan hiang adalah ilmu silat yang termuat dalam kitab pusaka Cang ciong pit kip bagian atas, sedangkan ilmu silat yang dipelajari Keng Cin sin sebagian besar berasal dari ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka bagian bawah.

Meskipun diantaranya terdapat pelbagai persamaan dalam gerak serangannya, namun sesungguhnya berbeda sekali didalam kenyataannya.

Kalau dibilang Ceng Lan hiang ingin menaklukannya dalam sepuluh gebrakan saja sudah jelas ucapan itu hanya bersifat gertak sambal belaka, sebab dalam ratusan gebrakan kemudianpun belum tentu hal ini bisa dilakukan.

Dengan suara sedingin es Keng C in sin berkata.

"Tokoh nomor wahid dikolong langit belakangan ini sudah muncul kembali di dalam dunia persilatan, dia bukan lain adalah pendekar wanita yang pernah termashur dikolong langit pada lima puluh tahun berselang, Seng sim cian li (gadis suci berhati malaikat) Hoa Soat kun adanya"

Begitu mendengar nama Seng sim cian li Hoa Soat kun, paras muka Ceng Lan hiang seketika itu juga berubah hebat tapi hanya 1217 sejenak kemudian telah pulih kembali seperti sedia kala, dia tertawa dingin lalu berkata.

"Heeehh... heeh... heeh... jangan lagi Seng sim cian li Hoa Soat kun, sekalipun si tua bangka Bun ji koan su hidup kembali pun belum tentu dia mampu menandingiku"

Mendengar perempuan itu mengumpat gurunya, Ku See hong menjadi gusarnya bukan kepalang, segera bentaknya keras-keras.

"Ceng Lan hiang, kau benar-benar seorang wanita bedebah yang tak berperasaan"

"Mengapa kau mengatakan aku tak berperasaan?"

Ceng Lan hiang tertawa merdu.

"andaikata aku tak berperasaan, mungkin kau sudah mati di tanganku sedari dulu. kaulah yang tidak berperasaan dengan segala kelembutan dan kasih sayang kulindungi dan kubelai dirimu, tapi kau...kau telah membalas air susu dengan air tuba...."

"Kau... kau benar-benar manusia tak berperasaan"

Kembali Ku See hong berseru.

"mengapa tidak kau bayangkan kalau guruku Him C i sin adalah suamimu? Tapi kenyataannya kau telah mencelakainya dengan tipu muslihat, kau telah menghianatinya .."

Ceng Lan hiang kembali tertawa seram.

"Antara aku dengannya sama sekali tidak terjalin hubungan suami dan istri, dia adalah musuh besarku. Andaikata orang tuamu terbunuh apakah dendam sakit hati itu tak boleh dibalas? Apa salahnya kalau kubunuh dirinya?"

"Ayahmu adalah seorang manusia laknat yang licik, rendah dan tak tahu malu, guruku membunuhnya karena ingin melenyapkan bibit bencana dari muka bumi"

"Hmmm, aku ingin bertanya kepadamu"

Kata Ceng Lan hiang dengan suara dingin "

Dalam pandangan umat persilatan dari seluruh kolong langit, mereka bilang Bun ji koan su sebagai manusia laknat?

Ataukah ayahku si Thi kiam kim ciang ceng it huang (pedang baja telapak tangan emas yang menggetarkan jagad) sebagai manusia laknat ....?"

"Tentu saja Pedang baja telapak tangan emas menggetarkan jagad sebagai manusia laknat!"

Sahut Ku See hong tak kalah gusarnya. Tiba-tiba Pedang sakti kayu baja Cu pok tertawa dingin, lalu timbrungnya.

"Ku sute, aku ingin bertanya kepadamu, apa sebabnya segenap umat persilatan didunia ini ingin membunuh Bun ji koan su"

"Murid durhaka manusia laknat, kau pernah menerima budi kebaikan sedalam lautan darinya, tapi kenyataannya kau telah menghianatinya. bahkan menuduh guru sendiri sebagai manusia laknat, kau.... sesungguhnya kau ini manusia atau binatang"

Sambil tertawa Jian hun kim ciang (Telapak tangan emas sukma cacad) Tu Pak kim menimbrung.

"Di dalam pandangan orang, baik si pedang baja telapak tangan emas yang menggetarkan jagad maupun Bun ji koan su sama-sama merupakan guru kami, tentu saja kami berbicara menurut keadilan dan kebenaran tanpa bermaksud berat sebelah dengan membelai salah satu pihak. Waktu itu Bun ji koan su kasar dan jahat, berbuat sewenang-wenang tanpa tahu diri, coba bayangkan saja manusia macam itukah yang kau maksudkan sebagai orang baik? Hari ini kalau dibicarakan yang sesungguhnya kita semua masih terikat hubungan, asal kau bersedia untuk menggabungkan diri dengan perkumpulan Ban sia kau kami, sudah pasti aku berusaha untuk mendamaikan persoalan ini dan menyingkirkan segala pertentangan yang terjalin diantara kita selama ini"

Mendengar ucapan tersebut Ku See hong segera mendengus dingin dengan nada sinis dan menghina.

"Hmmmm, diantara kita terjalin dendami sakit hati yang lebih dalam dari pada samudra, sudahlah, tak usah banyak berbicara lagi, kalian kawanan manusia laknat yang berhati busuk, tak pantas untuk hidup terus didunia ini, aku telah bertekad hendak membunuh kalian semua."

"Kalau toh kau keras kepala terus, apa boleh buat, ini berarti kau sendirilah yang mencari penyakit untuk diri sendiri"

Kata telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim cepat. Ceng Lan hiang tertawa cabul, kembali dia berkata.

"Saudara cilik, lebih baik kau menyerah saja untuk masuk ke dalam pelukanku, pokoknya kujamin kau tak akan menderita kerugian barang seujung rambutpun"

Ku See hong benar-benar merasa gusar sekali, dia tak menyangka kalau dikolong langit terdapat perempuan yang begitu tak tahu malu seperti ini, saking gusarnya perasaan pemuda ini malah menjadi jauh lebih tenang, dengan suara dingin dia lantas berkata.

"Ceng Lan hiang, kau nampaknya sudah tak dapat merubah sifatmu, kecabulanmu tak ada obatnya lagi kecuali dibunuh sampai mampus."

"Saudara cilik, mengapa sih kau menuduh aku sebagai perempuan cabul? Kau masa belum tahu hingga sekarang aku belum pernah kawin secara resmi dengan siapa pun"

Kata Ceng Lan hiang sambil tertawa cekikikan.

Benar-benar tak disangka kalau perkataan semacam inipun dapat di utarakan olehnya, boleh dibilang perempuan semacam ini merupakan perempuan paling tak tahu malu didunia ini ....

"Ceng Lan hiang!"

Keng Cin sin segera menegur dengan suara dingin.

"Perempuan macam kau hanya akan merusak martabat perempuan-perempuan lainnya, malam ini aku bersumpah hendak melenyapkan dirimu dari muka bumi"

Ceng Lan hiang segera tertawa dingin.

"Heehh ..heehh. .. heehh .... dengan mengandalkan kemampuan yang kau miliki itu, kau ingin mengusik seujung rambutku! Hmmm, jangan bermimpi disiang hari bolong, hal ini akan lebih sulit kau lakukan ketimbang memanjat ke atas langit"

"Ceng Lan hiang, walaupun kau tidak menghormati Bun ji koan su sebagai suami mu, masa kaupun tidak mencintai putri kandungmu sendiri?"

Rupanya Keng Cin sin yang memperhatikan keadaan situasi hari ini segera menyadari betapa minimnya kekuatan mereka berdua, andaikata dia dan Ku See hong harus melangsungkan pertarungan secara kekerasan dengan mereka, sudah jelas kemenangan tak mungkin bisa diperoleh.

Apalagi kalau sampai tertangkap oleh musuh, sudah pasti penderitaan dan siksaan kembali akan dialaminya, malahan bukan jadi peristiwa tersebut akan merembet pula pada diri Him ji im pula serta Im Yan cu sekalian.

Itulah sebabnya dia ingin mengungkap sedikit sifat dari Ceng Lan hiang atau lebih tepatnya dikatakan hendak mengetuk hati perempuan ini melalui putrinya untuk memancing kembali munculnya sifat baik darinya.

Sambil tertawa Ceng Lan hiang segera berkata.

"Dia termasuk separuh dari darah dagingku, tentu saja aku sangat mencintai nya, kalau tidak masa dia dapat tumbuh menjadi dewasa..."

"Tahukah kau bahwa putrimu sudah menjadi istrinya Ku See hong ...."

Mendengar perkataan itu, paras muka Ceng Lan hiang berubah hebat, sekalipun dia cabul dan jalang, akan tetapi terhadap Him ji im boleh dibilang masih mempunyai perasaan cinta seorang ibu terhadap anaknya, dan perasaan ini sebagai perasaan alami manusia.

Itulah sebabnya dia menjadi sangat terkejut setelah mendengar perkataan itu, tapi rasa kaget tersebut hanya berlangsung sekejap saja, sebab napsu birahinya yang makin berkobar telah menutupi kesadarannya itu.

Yaa, sifat jalang perempuan ini memang sudah mencapai taraf yang tak dapat diohati lagi.

Sambil tertawa dingin Ceng Lan hiang segera berkata.

"Dia adalah putriku, dengan siapa dia akan kukawinkan, dia akan kawin pula dengan siapa"

"Hmm! Mengapa kau secara ngawur mengatakan kalau dia adalah istri Ku See hong? Memangnya kau adalah ibunya"

"Putrimu sangat mencintai Ku See hong, mereka pun sudah melangsungkan hubungan sebagaimana layaknya suami dan istri, andaikata kau masih mempunyai perasaan cinta sebagai seorang ibu terhadap anaknya, maka kau sudah seharusnya menjodohkan mereka, jika watak jahatmu ini belum juga kau rubah, suatu hari kau pasti akan merasa menyesal"

Ceng Lan hiang sudah tak mampu untuk menahan diri lagi, mendadak ia membentak dengan suara menggeledek.

"Suheng berdua thamcu bertiga! Kalian cepat bekuk orang ini, serahkan urusan Ku See hong kepadaku"

Dengan cemas Ku See hong segera berseru.

"Nona, kau saja yang menghadapinya, biar aku yang membunuh kawanan manusia laknat ini!"

Ditengah pembicaraan serentetan cahaya pelangi sudah menyambar di tengah udara...

Akan tetapi Ceng Lan hiang te!ah bertindak jauh lebih cepat lagi, dengan suatu gerakan yang aneh tiba-tiba saja dia mendesak kesisi tubuh Ku See hong, lalu jari tangannya disentilkan ke depan, serentetan hawa serangan yang amat tajam dengan cepat menyerang jalan darah penting di pergelangan tangan kanan Ku See hong.

Tanpa berpikir panjang lagi Ku See hong segera mengeluarkan gerakan tubuh Mi khi biau tiong sin hoat untuk berkelit ke kiri dan 1222 mengigos ke kanan, secara sakti dan aneh dia menghindarkan diri dari sergapan jari tangan lawan.

Sementara itu Pedang Hu thian seng kiam nya melancarkan serentetan cahaya tajam yang berkilauan, lalu bagaikan ular sakti menyelinap ke depan dan menggulung tubuh ke tiga orang thamcu tersebut.

Cahaya pedang yang berwarna merah secara berlapis-lapis menggulung diangkasa.

membuat siapa pun tak dapat menebak ke arah manakah serangan pedang itu di tujukan.

Tiga orang thamcu tersebut tak berani menghadapi serangan lawan dengan kekerasan, serentak mereka memisahkan diri ke empat penjuru.

Gagal dengan serangannya Ceng Lan hiang menggerakkan tubuhnya lagi siap menerkam Ku See hong.

Saat itulah tiba tiba Keng Cin sin membentak nyaring, tubuhnya menyelinap datang dari arah samping, kemudian sepasang telapak tangannya membuat satu gerakan melingkar didepan dada dan bersama-sama ditolakkan ke depan.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur keluar menyusul gerakan menolak tadi dan menyerang tubuh Ceng Lan hiang..

Serangan yang dilancarkan dengan mengerahkan segenap tenaga ini membawa serta pula desingan angin tajam seperti suara guntur yang menggelegar membelah bumi, dahsyatnya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Gulungan angin yang berpusing diikuti deruan angin puyuh langsung menyapu seluruh permukaan tanah dengan hebatnya.

Berubah hebat paras muka Ceng Lan hiang menghadapi datangnya ancaman tersebut, tubuhnya yang ringan segera menyelinap ke dalam gulungan angin serangan yang maha dahsyat tersebut, sementara ujung bajunya yang berkibar terhembus angin menggulung ke kiri dan ke kanan secara aneh.

Serangan angin puyuh yang dilancarkan oleh Keng cin sin ini seakan-akan terjerumus ke balik se lapis hawa kekuatan yang lembek, tiba-tiba saja hilang lenyap tak berbekas seperti menguap ke udara saja.

Tidak menunggu sampai pihak lawan merubah gerakan, Keng Cin sin segera mengayunkan kaki kirinya melancarkan sebuah tendangan kilat.

Deruan angin serangan yang tajam dengan cepat meluncur kemuka dan mengancam jalan darah Thian ci hiat dipinggang sebelah kiri Ceng Lan hiang.

Pertarungan antara jago lihay memang berbeda sekali dengan pertarungan-pertarungan biasa, sebab dalam satu gerakan yang amat sederhana sekalipun dapat membawa korbannya menuju ke tepi jurang kehancuran total .....

Tendangan kilat itu dilepaskan amat cepat, aneh, dahsyat dan mematikan.

Kendatipun Ceng Lan hiang memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, toh ia tak berani menyambut datangnya tendangan kilat tersebut dengan kekerasan.

Kaki kirinya segera berputar ke belakang, kemudian secara indah sekali dia melayang mundur sejauh tiga langkah ke belakang.

Keng Cin sin tahu pertarungan antar jago lihay sangat berbeda dengan pertarungan biasa, yang terpenting adalah berusaha merebut posisi yang lebih menguntungkan.

Maka sambil membentak nyaring, tidak sampai kaki kirinya ditarik kembali, tubuh nya sudah melambung ke udara, kemudian kaki kanannya sekali lagi diayunkan ke depan menendang jalan darah In hou hiat di tenggorokan lawan.

Ilmu tendangan semacam ini merupakan perubahan ilmu tendangan Lian huan tui dari aliran utara yang tertera dalam kitab pusaka Cang ciong pit kip, kedahsyatannya benar-benar luar biasa.

Ceng Lan hiang yang bermata jeli dan bertubuh gesit cepat-cepat miringkan kepala nya ke samping, telapak tangan kiri nya melancarkan bacokan miring kesamping, sementara telapak tangan kanannya diayun kan ke muka, dua gulung angin serangan yang dahsyat secepat kilat meluncur ke depan secepat kilat dan menyapu apa saja yang ditemui ......

Begitu serangan tersebut dilancarkan, dua gulung angin pukulan itu satu dari atas yang lain dari bawah tiba-tiba saling bertemu ditengah jalan, angin pukulan yang berpusing segera memancar ke empat penjuru...

Tiba-tiba saja kedua gulung angin serangan tersebut berubah menjadi belasan gulung desingan angin jari tangan yang mendesis diangkasa, lalu seperti sepuluh bilah pedang langsung menyergap sepuluh buah jalan darah penting di seluruh badan Keng Cin sin.

Ternyata dalam suatu gebrakan itu Ceng Lan hiang berniat hendak melukai Keng Cin sin, itulah sebabnya disaat melancarkan dua gulung serangan tadi, diam-diam ia telah mempersiapkan serangan lainnya.

Disaat yang terakhir inilah ke sepuluh jari tangannya mendadak disentilkan ke depan dan melepaskan serangan dahsyat.

Berada ditengah udara Keng Cin sin merasakan ditengah gulungan angin serangan yang dahsyat terselip sepuluh gulung desingan angin jari yang membawa desingan dahsyat, bahkan seperti jaring langit saja, langsung mengurung jalan darah penting disekujur badannya.

Dalam terkesiapnya buru-buru dia mengeluarkan ilmu simpanannya yang pernah dipelajari dari kitab pusaka Cang ciong pit kip, sepasang tangannya diputar kencang melancarkan selapis hawa serangan yang amat tangguh.

Rupanya kedua tangannya itu bukan sembarang berputar dengan begitu saja, tampak ke sepuluh jari tangannya mencakar dan menyambar tiada hentinya sehingga kesepuluh gulung angin serangan dari Ceng Lan hiang berhasil pula dipunahkan tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Keng Cin sin dan Ceng Lan hiang memang merupakan sepasang musuh bebuyutan yang seimbang, serentak mereka membentak nyaring dan maju bersama kedepan, jurus-jurus simpanan yang ganas, dahsyat dan mematikan pun dilancarkan tiada hentinya ....

Sodokan jari tangannya, bacokan tangan tendangan kilat.

Kebasan, getaran dan bentakan hampir semuanya dilancarkan secara beruntun.

Anggota badan mereka seakan-akan sudah berubah menjadi senjata yang mematikan, untuk beberapa saat tampak bayang kaki dan telapak tangan membukit diangkasa, seperti jaring langit yang disertai gulungan angin pukulan yang dahsyat seperti gulungan ombak ditengah samudra, pada hakekatnya sama sekali tidak ditemukan setitik tempat kosong pun.

Sebagaimana diketahui, kedua orang itu sama-sama bergerak dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, jurus-jurus serangan yang mereka pergunakan pun rata-rata merupakan jurus serangan yang jahat dan mematikan.

Sehingga ancaman yang tiba pun seperti hujan badai yang menyapu jagad.

Sebagai dua orang jago lihay yang sama-sama berilmu tinggi, yang satu merupakan ahli waris dari kitab pusaka Ban sia cinkeng, sedangkan yang lain adalah ahli waris dari kitab pusaka Cang ciong pit kip, kedua belah pihak sama-sama memiliki kelebihan mau pun kekurangan, jadi boleh dibilang pertarungan kedua orang ini menjadi pertarungan antara kaum sesat dan lurus.

Padahal kalau di bandingkan sesungguhnya, kitab pusaka Cang ciong pit kip masih terhitung paling tangguh, alasannya adalah Keng Cin sin baru setahun saja mempelajari isi kitab pusaka itu semenjak dia memperoleh nya, tentu saja masih banyak ilmu sakti yang mendalam sekali yang belum dapat dipelajari olehnya, bahkan jurus serangan yang dipelajari dalam waktu singkat pun tak bisa dipergunakan dengan matang, oleh sebab itu Keng Cin sin yang bisa 1226 bertarung seimbang dengan Ceng Lan hiang membuktikan kalau kitab pusaka Cang ciong pit kip masih setingkat lebih lihay.

Sedangkan mengenai tenaga dalam, kedua orang itu sama-sama mempunyai cara untuk menambah kekuatan, yang satu menggunakan cara sesat dengan menghisap sari lelaki untuk memperkuat tenaga, sedangkan yang lain mempergunakan bantuan dari mutiara sakti Thian hong im yang sin cu.

Walaupun demikian, tenaga dalam Keng Cin sin boleh dibilang jauh lebih lemah, karena waktunya untuk berlatih diri amat singkat, padahal kesempurnaan tenaga dalam seseorang terpupuk dari latihan yang cukup lama.

Dengan selisih kekuatan masing-masing inilah mereka berdua melangsungkan suatu pertarungan yang mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki...

Pertempuran ini boleh dibilang mengerikan sekali, tapi untuk sementara waktu keadaan masih tetap seimbang, siapa pun tidak dapat mengungguli lainnya.

Ku See hong sendiri memang berniat untuk membunuh beberapa orang dengan ilmu pedangnya yang sakti sehingga dapat melenyapkan kepercayaan musuh atas kemampuan sendiri.

Mendadak dia memperdengarkan suara pekikannya yang amat keras dan mendengung sampai ditengah udara.

Pedang Hu thian seng kiam yang berada di tangannya diputar kencang, cahaya tajam berkilauan diangkasa, dua gulung hawa pedang dengan membawa desingan tajam yang memekikkan telinga secara berpisah menyerang pedang sakti kayu besi Cu Pok serta Telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim.

Sedemikian cepatnya serangan tersebut, boleh dibilang jarang ditemui dikolong langit saat ini.

Pedang sakti kayu besi Cu Pok serta telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim menjadi terperanjat sekali, mimpipun mereka tidak menyangka kalau ilmu pedang yang dimiliki Ku See hong sudah mencapai taraf yang sedemikian cepatnya.

Berada dalam keadaan begini tidak sempat lagi bagi Cu Pok untuk meloloskan pedang kayu besinya, serentak mereka mengayunkan telapak tangan masing-masing dan melepas kan enam buah pukulan secara beruntun sehingga kedua orang itu melepaskan dua belas buah serangan dahsyat.

"Blammm, blammm, blamm, ....blamm....?"

Ledakan demi ledakan bergema memecahkan keheningan.

Ke dua gulung hawa pedang yang dilancarkan Ku See hong segera terdesak mundur oleh tenaga gabungan dari kedua orang itu.

Pekikan keras yang memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan .......

Pedang sakti Hu thian seng kiam yang berada ditangan Ku See bong segera diputar menciptakan lapisan cahaya yang membukit dan berlapis-lapis menggulung ke muka seperti air bah yang menjebolkan bendungan.

Ditengah lapisan bayangan pedang yang menyilaukan mata, pedang Hu thian seng kiam tersebut sudah melancarkan enam gulung hawa pedang yang tajam, angin pedang yang menyayat tubuh menggidikkan hati orang dan mendirikan bulu roma siapa pun.

Seluruh badan Ku See hong telah terlindung oleh cahaya tajam dari pedang Hu thian seng kiam tersebut, cahaya yang menyilaukan mata memancar ke empat penjuru, dahsyatnya bukan kepalang.

Yang membuat orang pusing adalah arah dari serangan tersebut sulit untuk ditebak, serangan itu hendak mengancam tubuh Cu Pok kah atau Tu Pak kim ataukah mengurung tiga orang thamcu yang kebetulan sedang menyerbu datang.

Sekalipun demikian, baik Cu Pok, Tu Pak kim ataukah ketiga orang thamcu tersebut cukup mengetahui betapa lihaynya jurus serangan tersebut, tanpa di sadari ke lima orang itu berdiri membentuk satu garis dan sepasang tangan mereka buru-buru diayun kan ke muka melepaskan segulung angin pukulan yang dahsyat seperti gulungan ombak samudra.

Menyusul serangan itu, tubuh ke lima orang itu bergerak mundur secepat angin puyuh.

Disaat mereka bergerak mundur itu, masing-masing orang melancarkan lagi dua gulung angin pukulan lagi yang segera membentuk segulung aliran hawa serangan yang kuat seperti angin puyuh langsung menggulung ke arah ke enam hawa pedang yang dilancarkan Ku See hong itu.

Tiba-tiba saja gulungan angin pukulan yang dahsyat seperti amukan ombak samudra itu sudah saling membentur dengan hawa pedang...

"Blaammm. blaaammm.... blaaammm! "

Serentetan ledakan yang memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan ....

Perlu diketahui lima orang tokoh kelas satu dari dunia persilatan ini memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, kendati pun Ku See hong memiliki tenaga dalam Kan kun mi siu khikang yang dahsyat, rasanya sulit juga baginya untuk memunahkan tenaga gabungan dari orang-orang itu.

Ku See hong merasakan dadanya bergetar keras, dan..

"Uaaak!"

Dia menumpahkan darah segar wajahnya mengejang keras sementara sepasang matanya memancarkan sinar kebuasan yang menggidikkan hati..

Pada saat itulah, tiba-tiba....

Pedang sakti kayu besi dan Thian jian tee ciat telah meloloskan senjata masing-masing, tapi sebelum menyerang dengan senjata tersebut, kelima orang tersebut kembali melancarkan sepuluh buah serangan dahsyat yang memekikkan telinga dan menyapu datang dari empat arah delapan penjuru...

Ku See hong melotot gusar, mendadak pekikan nyaring yang menggetarkan perasaan bergema memecahkan keheningan..

Tubuhnya melambung di tengah angkasa dan berputar tiga lingkaran, lalu seperti seekor burung raksasa dengan enteng sekali menyelinap kian kemari.

Ku See hong yang berada ditengah udara segera memutar badannya sambil membentak keras, setelah itu meluncur turun ke bawah, ujung bajunya yang berkibar seperti cahaya berkedip diangkasa yang gelap.

Hu thian seng kiam yang berada di tangannya tidak berdiam sampai disitu saja.

Gerakan serangan seperti hembusan angin puyuh menciptakan selapis bukit pedang yang memancarkan hawa pedang yang berlapis-lapis, kemudian menyerang tubuh Cu Pok yang menerjang datang lebih dulu serta Im hong thamcu Thian jian tee ciat Si Hun sia yang menyusul kemudian.

Perlu diketahui, jurus pedang yang dipergunakan oleh Ku See hong ini bukan lain adalah jurus pertama dari ilmu pedang Cang ciong ciat mia kiam dari Si to lojin yang disebut Hui hong cha ki hiat seng wi (Bianglala terbang bau darah memancar "

Baik Cu Pok maupun Thian jian tee ciat tiba-tiba saja merasa ada segulung hawa pedang yang menusuk tulang menyergap pula.

Cu Pok cukup mengetahui kelihayan dari jurus pedang itu, ia segera menjerit kaget.

"Si thamcu, Cepat mundur!"

Ditengah bentakan, tubuh Cu Pak melompat mundur pula sejauh dua kaki dengan gerakan tubuh yang sakti ajaran Bun ji koan su tempo dulu.

Sebaliknya Thian jian tee ciat Si Hun sia amat terkejut setelah mendengar seruan dari Cu Pok tadi, sayang keadaan sudah terlambat untuk berkelit, ia segera mendongakkan kepalanya dan 1230 memperdengarkan suara tertawa anehnya yang menyeramkan seperti tangisan setan atau lolongan serigala.

Dengan senjata bambu yang berada di tangannya ia melancarkan sebuah serangan yang mematikan, serentetan bayangan toya bagaikan anak panah yang tajam langsung meluncur ke muka menembusi lingkaran bayangan pedang dari Ku See hong...

Sudah barang tentu Ku See hong tidak memandang sebelah matapun terhadap jurus serangan tersebut, cahaya berwarna warni memancar dari pedang Hu thian Seng kiam nya, lalu diantara gerakan menusuk dan memuntah toya bambu yang berada ditangan Si Hun sia telah termakan oleh bayangan pedangnya yang tajam sehingga hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.

Si Hun sia yang buas dan jahat sekarang nyawanya sudah berada di ujung tanduk, mendadak timbul niat jahat didalam hatinya, dengan suatu gerakan yang tiba-tiba dia menerjang ke arah tubuh Ku See hong.

Sistim pertarungan yang lebih mendekati perbuatan nekad untuk beradu jiwa ini benar-benar membuat hati orang merasa bergidik dan ngeri.

Berkilat sepasang mata Ku See hong menghadapi ancaman tersebut, tiba-tiba tubuhnya yang masih melambung di udara miring kesamping, sementara cahaya pedang berkilauan sambil memutar....

Serentetan jeritan ngeri yang menyayat hati segera berkumandang memecahkan keheningan.

Menyusul kemudian..

Dengusan tertahan bergema di angkasa.

Ku See hong yang masih melambung di udara, tiba-tiba rontok ke atas tanah lalu agak sempoyongan dia terhuyung-huyung mundur sejauh tujuh delapan langkah lebih, paras mukanya yang semula memang pucat pias, kini semakin bertambah pucat.

-oo0dw0oo-

Jilid 37 RUPANYA menjelang saat kematian tadi, Si Hun sia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melancarkan sebuah pukulan maha dahsyat yang langsung menghantam bahu kiri Ku See hong, sebaliknya dia sendiri termakan bacokan Hu thian seng kiam sehingga tubuhnya terpapas menjadi tiga bagian.

Kepalanya menggelinding keujung lapangan, tubuhnya jatuh kebawah sementara bagian pinggang mencelat kebawah mencelat sejauh beberapa kaki dari situ...

Darah segar memancar membasahi seluruh permukaan rumput, tiga bagian potongan badan itu masih kelihatan bergetar-getar....

Menyaksikan pemandangan seperti ini orang akan merasa mual saking ngerinya.

Thian leng thamcu si Kakek berlengan iblis Khong Yu sian serta Tee hun thamcu si Penginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi yang menyaksikan Ku See hong menderita luka parah.

serentak membentak keras, kemudian bersama-sama menerkam ke arah Ku See hong dengan ganasnya .....

Thi bok sin kiam Cu Pok juga tidak ketinggalan, pedang kayu besinya segera di putar membentuk selapis cahaya hitam yang secepat sambaran kilat menusuk ke punggung Ku See hong.

Menghadapi ancaman yang bertubi-tubi ini secara aneh tubuh Ku See hong menggegos ke samping, begitu lolos dari ancaman pedang Cu Pok, telapak tangan kirinya diputar menciptakan selapis hawa serangan yang kuat dan membendung datangnya serangan gabungan dari kedua orang thamcu tersebut.

Sekulum senyuman menyeringai yang sinis dan penuh rasa bangga segera menghiasi wajah Cu Pok, di ringi bentakan nyaring pedang kayu besinya secepat kilat menerobos masuk melalui sebuah sudut yang sangat aneh sambil melancarkan selapis cahaya berwarna kehitam-hitaman.

Persis bagian tengah dari cahaya tersebut, pedang Thi bok kiam langsung menyergap jalan darah sin kin hiat ditubuh Ku See hong.....

Jurus serangan ini datangnya sangat tiba-tiba, gerakannya pun aneh sekali, di tambah lagi jarak antara kedua belah pihak begitu dekat, dalam waktu singkat Ku See bong sudah terancam diujung pedang Thi bok kiam tersebut.

Ku See hong benar-benar amat terkesiap, mendadak dia mengeluarkan ilmu gerakan tubuh Mi khi biau tiong sin hoat, badannya berputar dengan enteng lalu berkelebat ke samping.

Sekalipun begitu, gerakan serangan dari Cu Pok dengan pedang Thi bok kiamnya begitu cepat bagaikan sambaran kilat ......

"Sreeett....!"

Dengusan tajam bergema memenuhi seluruh angkasa, tahu-tahu pakaian bagian bahu kiri Ku See hong sudah tersambar robek, darah kental segera menyembur keluar bagaikan pancuran ....

Si kakek berlengan iblis Khong Yu siang dan si Penginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi tidak ambil diam, secara cepat dan ganas mereka berdua melancarkan terkaman lagi.

ooo0dw0ooo BAB 57 KU SEE HONG mendengus dingin, pedangnya diputar dengan cepat sambil melepaskan bacokan maut ......

Cahaya tajam yang menyilaukan mata segera membelah angkasa dan menguasai seluruh jagad ....

Hawa pedang yang menyeramkan diiringi suara desingan tajam mendengung memekik kan telinga.

Cahaya pedang yang amat dahsyat itu dengan cepat dan aneh membacok ketubuh dua orang thamcu tersebut.

Jurus serangan ini selain dilancarkan secara aneh, juga mencapai kecepatan yang mengerikan.

Si penginjak salju tanpa bekas dan kakek berlengan iblis merasa terperanjat sekali, gerakan tubuh mereka yang melakukan tubrukan segera ditahan ditengah jalan dan berputar ke samping kiri dan kanan....

Hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Ku See hong, dia tertawa seram.

Tubuhnya bagaikan sukma gentayangan, tahu-tahu sudah menyelinap ketengah-tengah musuhnya yang sedang berkelit kekiri dan kanan itu, kemudian sambil melakukan suatu gerakan berputar yang sangat aneh Pedang Hu thian seng kiamnya ikut berputar pula membentak suatu lingkaran...

Cahaya pedang kembali berkelebat...

jeritan ngeri yang menyayat hati pun bergema memecahkan keheningan, semburan darah segar seperti pancuran air memancar keluar dan menyembur ke mana-mana.

Tiga macam kejadian yang berbeda ternyata berlangsung pada saat yang hampir bersamaan.

Tubuh si penginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi dan kakek berlengan iblis Khong Yu siang terpapas kutung sebatas pinggang, darah kental menyembur keluar membasahi seluruh tubuh Ku See hong, sehingga membuat pemuda itu berubah menjadi manusia darah ....

Di bawah kerubutan lima orang tokoh persilatan yang berilmu tinggi, ternyata secara beruntun Ku See hong berhasil membinasakan tiga orang lawannya, kesempurnaan tenaga dalam seperti ini benar-benar menggidikkan hati.

Baru saja Ku See hong berhasil membinasakan ke dua orang thamcu tersebut dan berdiri tegak, suara tertawa seram telah berkumandang dari sisi kirinya...

Entah sedari kapan, si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim telah menyelinap ke sisi kiri Ku See hong bagaikan sukma gentayangan, tahu-tahu telapak tangan kanannya yang bersinar keemas-emasan telah menghantam enam inci di samping kiri Ku See hong.

Si anak muda itu hanya sempat mendengar gelak tertawa seram bergema dari sisi tubuhnya, lalu iga kirinya terasa sakit sekali di samping panas menyengat badan, semacam udara panas yang aneh segera menusuk tubuhnya dan merambat keatas...

Perlu diketahui, si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim adalah seorang manusia yang amat licik dan berakal busuk, sewaktu melancarkan serangan tadi tenaga dalamnya sama sekali tidak dipancarkan secara langsung.

Menanti telapak tangannya sudah hampir menyentuh tubuh lawan inilah, tenaga serangannya baru dilancarkan secara tiba-tiba..

Itulah sebabnya, tatkala Ku See hong menyadari datangnya ancaman bahaya maut dan bersiap sedia hendak menghindarkan diri, telapak tangan Tu Pak kim sudah berada hanya tiga inci saja dari sisi tubuhnya.

Dalam terperanjatnya, buru-buru Ku See hong mengeluarkan ilmu gerakan tubuh Mi khi biau tiong sin hoat nya untuk berusaha menghindarkan diri...

Sayang sekali keadaan sudah terlambat.

Baru saja Ku See gong memutar badannya setengah lingkaran, sebuah pukulan beracun Sian bun kim than dari Tu Pak kim sudah bersarang telak dipunggung kanan Ku See hong, Teriakan keras yang memekikkan telinga segera bergema memenuhi angkasa.

Terlihat tubuh Ku See hong mencelat sejauh satu kaki lebih dari posisi semula, namun dengan cepat dia meronta bangun dan melompat dari atas tanah...

Kini rambutnya sudah terurai kusut, seluruh badannya penuh bermandikan darah sedang dari ujung bibirnya darah kental masih meleleh keluar tiada hentinya.

Bukan cuma begitu, seluruh kulit wajah nya mengejang keras, sepasang matanya memancarkan sinar kebuasan yang menggidikkan hati, dipandangnya wajah si pedang Sakti kayu baja Cu Pok dan Telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim dengan penuh amarah.

Sikapnya yang seram dan mengerikan ini, cukup menggidikkan hati siapa pun yang memandangnya.

Pedang Hu thian seng kiamnya kini di genggam dalam tangan kanan, sementara kelima jari tangan kirinya dipentangkan lebar-lebar, cahaya pedang yang menyoroti wajahnya membuat pemuda itu selain mengerikan juga menggidikkan hati setiap orang.

Tangan kirinya bagaikan cakar iblis saja yang siap menerjang mangsa nya.

Keadaannya waktu itu cukup membuat orang merasa tegang dan berdiri semua bulu kuduknya.

Baik si Pedang Sakti kayu baja Cu Pok maupun telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim, kedua-duanya merasa bergidik setelah menyaksikan keadaan musuhnya, tanpa sadar mereka berdua bersama-sama mundur sejauh dua langkah.

Terutama si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim, hatinya lebih lebih merasa terkejut bercampur terkesiap.

Seperti yang diketahui, ilmu pukulan telapak tangan emas sukma cacadnya termasuk ilmu pukulan yang paling beracun di dunia ini, Ku See hong yang nyata-nyata sudah termakan sebuah pukulannya, ternyata tidak segera tewas, kejadian ini sudah cukup membuatnya terperanjat, apa lagi setelah terluka oleh pukulannya ditambah pula 1236 dengan beberapa pukulan yang lain, namun pemuda itu masih tangguh dan perkasa, ini baru membuat hatinya keder.

Ku See hong masih tetap berdiri tak berkutik ditempat semula.....

Suasana hening dan sepi yang mencekam seluruh angkasa, sekali lagi membuat perasaan Cu Pok serta Tu Pak kim bertambah tak tenang, mereka menduga serangan balasan yang dilancarkan Ku See hong berikut ini bisa jadi akan segera menentukan nasib mereka.

Suasana tegang, seram dan mengerikan segera menyelimuti seluruh angkasa.

Malam.....

Membuat suasana bertambah mengerikan.

Dipihak sini suasana hening dan sepi, sebaliknya dipihak lain pertarungan antara Keng Cin sin melawan Ceng Lan hiang masih berlangsung dengan serunya.

Mereka berdua sama-sama pernah memperoleh se

Jilid kitab pusaka, jurus sakti yang dilawan dengan jurus sakti membuat pertarungan itu berimbang dan sukar di tentukan siapa yang lebih unggul dan siapa yang lebih lemah.

Berbicara tentang kesempurnaan tenaga dalam, maka Ceng Lan hiang jauh lebih sempurna ketimbang lawannya, maka dari itu sepanjang pertarungan berlangsung.

Ceng Lan hiang selalu melakukan sistim pertarungan adu kekerasan.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat sekali lagi meluncur kedepan menghantam tubuh Keng C in sin.

Akan tetapi dengan suatu gerakan yang lincah dan cekatan serta mempergunakan jurus serangan yang lihay Keng Cin sin berhasil memunahkan hawa pukulan yang maha dahsyat itu.

Kendatipun demikian, adakalanya Keng Cin sin kena terdesak juga sehingga mundur terus berulang kali, tentu saja dia berada diposisi bawah angin.

Namun gerak serangan dari Keng Cin sin tidak menjadi kalut karena kejadian ini, malah jurus serangan yang dipergunakan makin lama bertambah aneh, angin pukulan yang dilepaskan juga makin lama semakin bertambah tangguh.

Ceng Lan hiang benar-benar dibuat terkejut, sebenarnya dia mengira Keng Cin sin tak akan mampu menahan sepuluh jurus serangannya, tapi kini walaupun seratus gebrakan sudah lewat, lawannya masih tetap tangguh.

Disamping itu, dia pun merasa jurus serangan yang digunakan Keng Cin sin rada mirip dengan jurus-jurus serangan yang di cantumkan dalam kitab pusaka Cang ciong pit kip, tapi bila diperhatikan lebih seksama, ternyata jurus serangan itu berbeda, pokoknya dia semakin dibuat kesemsem oleh kelihayan musuhnya.

Padahal dia mana tahu jurus serangan yang dipergunakan Keng Cin sin pun berasal dari kitab pusaka Cang ciong pit kip, hanya dia tak sempat mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Cang ciong pit kip bagian bawah saja.

Pertarungan antar jago lihay memang jauh lebih bermutu daripada pertarungan pertarungan lainnya, kadangkala gerakan mereka tampak enteng dan sederhana seakan-akan tiada sesuatu yang hebat, tapi ada kalanya serangan tersebut justru mengeledek dan cukup mengerikan hati.

Padahal setiap gerakan yang mereka lakukan sudah cukup menentukan mati hidup seseorang.

Pertarungan yang berlangsung di antara ke dua orang ini benar-benar menggidikkan dan menyilaukan mata siapa pun.

Tampak bayangan manusia saling menyambar, angin pukulan menyayat badan, membuat pasir dan rumput beterbangan di angkasa.

Suasana bertambah dahsyat dan mengerikan, seakan-akan dunia mau kiamat saja.

Ditengah berlangsungnya pertarungan sengit itu...

Mendadak satu ingatan melintas didalam benak Ceng Lan hiang..

Menyusul kemudian sekulum senyuman licik yang amat sinis menghiasi wajahnya.

Telapak tangannya yang putih mulus tiba-tiba diputar membentuk gerakan setengah lingkaran busur, lalu dengan cepat mendorongnya ke depan ....

Bagaimana mungkin Keng Cin sin bisa menduga kalau Ceng Lan hiang telah berbuat licik?

Rupanya disaat sepasang tangan perempuan jalang itu diputar membuat gerakan setengah lingkaran busur sambil melancarkan pukulan tadi, secara diam-diam jari tengah dan telunjuk tangan kirinya telah merogoh ke dalam sakunya mengambil sesuatu benda.

Angin pukulan Ceng Lan hiang yang maha dahsyat seperti gulungan ombak besar itu dengan cepat menggulung ke tubuh Keng Cin sin .....

Mencorong sinar benci yang mengerikan dari balik mata Keng Cin sin, telapak tangan nya balas diayunkan ke muka melepaskan pukulan yang tak kalah dahsyatnya.

"Blaaammm .....!"

Serentetan ledakan keras yang memekik kan telinga segera bergema memecahkan keheningan.

Akibat dari bentrokan kekerasan ini, Keng Cin sin serta Ceng Lan hiang sama-sama tergetar mundur sejauh satu langkah lebih....

Disaat kedua belah pihak mundur selangkah itulah, pelan-pelan Ceng Lan hiang mengangkat telapak tangan kirinya keatas dadanya, kemudian mengarahkan ujung jari tengah dan telunjuknya ke arah Keng Cin sin dengan tangan kanan melindungi mulut, sorot matanya yang tajam mengawasi terus gerak gerik lawannya tanpa berkedip.

Sebaliknya Keng Cin sin yang sedang mundur ke belakang menyilangkan pula sepasang telapak tangannya didepan dada, dia mengira Ceng Lan hiang kembali akan melancarkan serangan dengan sekuat tenaga.

Maka dia cepat-cepat menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Mendadak...

Keng Cin sin mengendus bau harum semerbak yang sangat aneh menyebar di seputar situ, segera menyadari kalau gelagat tidak beres, pikirnya.

"Habis sudah aku, rupanya keparat ini telah menggunakan siasat licik!" , bersamaan itu pula Ceng Lan hiang memperdengarkan suara tertawa jalangnya yang penuh diliputi rasa bangga .... Tubuhnya secepat kilat menerjang maju lagi ke depan. Dalam pada itu, begitu Keng Cin sin mengendus bau harum yang aneh, ia segera merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan matanya berkunang-kunang, segenap kekuatan yang dimilikinya ikut punah pula hingga lenyap tak berbekas. Ceng Lan hiang tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini, jari tangannya dengan cepat disodok ke muka menotok jalan darah Keng Cin sin.... Dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan. Akibat dari totokan itu, Keng Cin sin segera roboh lemas ke atas tanah. Gelak tertawa jalang sekali lagi berkumandang memenuhi angkasa .... Kini Ceng Lan hiang membalikkan badan, waktu itu Thi bok sin kiam Cu Pok, Tian hun kim ciang Tu Pak kim serta Ku See hong masih saling berhadapan dengan tubuh kaku, hanya ketiga pasang mata mereka yang berkilauan dan saling menatap dengan penuh amarah. Untuk beberapa saat lamanya Ceng Lan hiang tidak mengetahui permainan busuk apakah yang sedang mereka lakukan, sambil tertawa ringan tegurnya kemudian.

"Hei, memangnya kalian sedang beradu banteng? Atau sedang taruhan ayam jago?"

Rupanya si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim serta si Pedang sakti kayu besi Cu Pok sedang dibuat terkesiap oleh kemampuan Ku See hong melancarkan serangan.

Teguran dari Ceng Lan hiang barusan terdengar pula oleh mereka berdua, cuma kedua orang ini tak berani bersuara atau pun berkutik, sebab mereka sedang menghimpun segenap hawa murni yang dimilikinya untuk menghadapi setiap serangan yang mungkin akan ditujukan ke arahnya.

Kini Ceng Lan hang sudah berjalan mendekati pemuda itu, sepasang matanya yang tajam bagaikan sembilu memandang seluruh tubuh Ku See hong dari atas hingga ke bawah, kemudian sambil tertawa jalang tegurnya.

"Hei saudara cilikku, begitu parah luka dalam yang telah kan derita, Oooh... sungguh kasihan, biar cici segera mengobati luka mu itu"

Ditengah pembicaraan, Ceng Lan hiang telah menyusup ke depan dan berada hanya tiga depa saja dari sisi tubuh si anak muda itu.

Ku See hong mendengus tertahan, pedang Hu thian seng kiam yang berada ditangan kanannya segera digetarkan keras-keras...

"Cri ing!"

Mendadak pedang Hu thian seng kiam itu terjatuh dari genggamannya.

Menyusul kemudian seluruh tubuh Ku See hong gemetar keras, tampaknya dia segera akan roboh ke atas tanah.

Ceng Lan hiang tertawa merdu, tangannya bertindak cepat dengan menyambar tubuh Ku See hong yang terjatuh kemudian memeluk nya kencang-kencang.

Perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba ini sama sekali diluar dugaan siapapun, kontan saja si pedang Sakti kayu baja Cu 1241 Pok serta si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim menjadi melongo dan berdiri tertegun.

Ceng Lan hiang melirik sekejap wajah kedua orang itu, kemudian umpatnya sambil tertawa.

"Kalian berdua betul-betul bloon, begitu juga engkau sebagai kakak seperguruannya, Huuuh aku, lihat nyali kalian berdua sudah dibuat pecah oleh kehebatannya"

Rupanya luka parah yang diderita Ku See hong secara berulang-ulang telah membuat hawa darah didalam tubuhnya mengalami goncangan yang amat keras.

Sedangkan diapun secara beruntun harus menggunakan jurus-jurus gerangan sakti untuk meneter lawannya, kesemuanya itu membuat hawa murninya menderita kerugian yang amat besar.

Keadaan ini semakin bertambah parah setelah Tu Pak kim berhasil menyarangkan pukulan Jian hun kim ciangnya.

Waktu itu boleh dibilang seluruh tubuhnya sudah tidak nampak setitik tenagapun.

Akan tetapi wataknya sangat keras kepala membuat pemuda ini enggan roboh ke tanah sebelum tenaganya betul-betul habis terkuras, maka sambil memaksakan diri dia mempertahankan terus posisi pedangnya untuk menggertak lawan, padahal waktu itu dia sudah tidak berkekuatan lagi untuk melancarkan serangan.

Maka menggunakan kesempatan disaat Si Pedang sakti kayu baja Cu Pok dan si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim dibuat keder oleh gerakannya, diam-diam dia mencoba menghimpun tenaga dalamnya untuk memulihkan kembali kekuatannya didalam waktu singkat.

Tapi luka yang dideritanya terlampau parah, setiap kali hawa murninya coba digerakkan, ulu hatinya segera terasa sakit sekali bagaikan ditusuk-tusuk dengan pisau.

Tatkala Ceng Lan hiang mendekatinya, diapun mengetahui gerakan lawan tersebut, sebenarnya dia ingin menggunakan pedang Hu thian seng kiamnya untuk membunuh perempuan ini.

Tapi sewaktu dia menggerakkan tubuhnya untuk melancarkan tusukan, seluruh badannya segera menjadi sakit sekali, tulang belulangnya seperti pada terlepas dari badannya, disamping rasa sakit yang merasuk sampai ketulang sumsum.

Saking tak tahannya menghadapi siksaan badan ini, akhirnya dia roboh dan tidak sadarkan diri.

Ketika si pedang sakti kayu besi Cu Pok dan si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim mendengar perkataan itu, tanpa terasa mereka berpikir dihati.

"Haah, sungguh memalukan!" . Tapi Si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim segera berkata sambil tertawa nyaring.

"Kepandaian silat yang dimiliki sumoay betul-betul lihay dan luar biasa, Ih heng sekalian benar tak becus dan tak mampu menandingi lagi"

"Yaa, kalian berdua memang seperti gentong nasi saja"

Seru Ceng Lan hiang sambil tertawa ringan.

"Benar, benar sumoay, memang gentong nasi"

Pedang sakti kayu baja Cu Pok menimpali sambil tertawa licik.

"Hmmm, memangnya kalian gentong nasi semua, kalau tidak, manusia macam apakah kalian?"

Si pedang sakti kayu besi Cu Pok yang menyaksikan tingkah laku perempuan itu diam-diam merasa kegelian, umpatnya di hati.

"Kau perempuan jalang, tampaknya begitu tergila-gila dengan keparat busuk ini, sekarang dia sudah menderita luka yang begitu parah, akan kulihat dengan cara bagaimana kau hendak mengajaknya bermain cinta, hmm, suatu ketika kau si perempuan jalang pasti akan mampus lantaran kejalanganmu itu"

Si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim tidak ketinggalan dia berkata pula.

"Sumoay, seluruh tubuhnya penuh dengan darah, ini akan mengotori tubuhmu yang bersih, lebih baik ......."

Mendadak paras muka Ceng Lan hiang berubah sangat hebat, bentaknya nyaring.

"Mengapa menghajar dirinya sampai separah ini lukanya? Hmmm, makin lama kalian berdua semakin berani memandang rendah diriku . ....."

Pedang sakti kayu besi Cu Pok tertawa hambar.

"Tidak berani, tidak berani, kami hanya melaksanakan perintah dari sumoay, kalau tidak dengan kesalahan yang telah dilakukan nya terhadap perkumpulan kita, mungkin sejak dulu jiwanya sudah dicabut, masa dia masih dapat hidup sampai sekarang"

Ceng Lan hiang segera membungkukkan badannya memungut kembali pedang Hu thian seng kiam tersebut dan dimasukkan kembali kedalam sarungnya yang masih menggembol dibahu Ku See hong, setelah itu katanya dingin.

"Sudah, tak usah banyak berbicara lagi, cepat bawa mereka dari sini!"

Keng Cin sin terkena obat pemabuk, jalan darahnya tertotok pula, kini dia berada dalam keadaan tak sadar.

Pelan-pelan Jian hun kim ciang Tu Pok kim membopong tubuhnya dan berlalu dari situ menuju ke markas besar perkumpulan Ban sia kau .....

Waktu itu tengah malam sudah menjelang tiba.

Cahaya lentera tampak memancar ke luar dari beberapa deret bangunan yang berlapis-lapis dalam kompleks markas besar perkumpulan Ban sia kau, sementara suasana hening mencekam sekeliling tempat itu.

Didalam sebuah kamar kecil disuatu bangunan yang terpencil letaknya, tampak seorang gadis berbaju putih yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan sedang duduk dibawah cahaya lentera.

Selapis perasaan sedih dan murung menghiasi seluruh wajahnya yang rupawan.

Dia duduk tenang beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan berjalan menuju ke depan jendela.

memandang bintang yang bertaburan diangkasa, ia menggeleng sambil menghela napas sedih.

"Aaaai, hingga sekarang mengapa dia belum nampak juga......"

Ternyata gadis berbaju putih ini adalah Him Ji im, si nona yang punya janji dengan Keng C in sin untuk berjumpa tengah malam ini.

Sejak berpisah dengan Ku See hong, sampai kini dia disekap terus didalam ruangan tersebut.

Pada mulanya Him ji Im mengira Ku See hong sudah mati terjatuh kedalam jurang, tapi satu ingatan selalu memenuhi benaknya, dia yakin Ku See hong tak akan mati dalam keadaan begitu, namun seandainya di kemudian hari terbukti kalau pemuda itu sudah tewas.

maka dia pun tak ingin hidup seorang diri dikolong langit ini...

Dalam hatinya, dia benar-benar amat membenci ibunya Ceng Lan hiang.

Tapi, sekalipun dia amat membenci Ceng Lan hiang, gadis ini tak berani menentang apalagi melawannya secara terang-terangan.

Dalam hal ini Him Ji im sendiripun tidak tahu apa yang menyebabkan dia sampai begitu?

Mungkin saja hal ini dikarenakan perasaan hormatnya dari seorang anak terhadap ibunya, atau mungkin juga dikarenakan sifat Him Ji im yang penuh welas asih.

Tapi seandainya ada seorang yang dicintai mendukungnya agar berhianat kepada Ceng Lan hiang, maka tanpa memperdulikan segala akibatnya Him Ji im dapat menuruti perkataan orang itu, tentu saja orang itu adalah Ku See hong.

Tengah hari kemarin, tiba-tiba saja ia mendapat berita kalau kekasihnya berhasil ditangkap Ceng Lan hiang dan dibawa ke istana Cun kiong tian untuk diajak..

Mendengar berita busuk yang sangat memalukan ini, hampir saja dia mati saking malu dan gusarnya, sebab setiap manusia di dunia ini mengutuk dan menyumpahi hubungan senggama diantara manusia semacam ini.

Peristiwa tersebut benar-benar mengerikan dan menakutkan dirinya...

Untung kekasihnya berhasil diselamatkan oleh seorang manusia berkerudung warna warni, kalau tidak, mungkin dia sudah tak punya muka lagi untuk melanjutkan hidupnya didunia ini.

Maka dia semakin membenci ibunya, kalau bisa ingin membunuhnya sampai mati meski sebagai akibat dia harus menanggung dosa sebagai anak yang tak berbakti tapi ia bertekad hendak membunuhnya.

Bila niat tersebut dapat terlaksana, maka untuk menebus dosanya dia akan mencukur rambut menjadi pendeta dan hidup terpencil untuk menebus dosa sendiri maupun dosa ibunya.

Karena dia tahu, nasibnya amat sedih sudah ditakdirkan untuk hidup dalam penderitaan, sekalipun dia amat mencintai Ku See hong, namun bagaimanapun juga dia merasa tak punya muka untuk hidup bahagia dengannya.

Karena dia malu dengan perbuatan ibunya, dia malu menjadi putrinya, dalam hati kecilnya dia seolah-olah kekurangan sesuatu benda...

Mendadak Him Ji im merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan se

Jilid kitab, kemudian gumamnya dengan sedih.

"Bila enci itu tidak kemari, secara diam-diam aku akan pergi meninggalkan tempat ini dan menghantar kitab ini kepadanya, kalau tidak Im Yan cu cici, kekasih engkoh Hong pasti akan mati dalam keadaan mengenas kan, dengan demikian engkoh Hong tentu akan lebih menderita, lebih sengsara dan kesepian.

Engkoh Hong......

Ooooh Engkoh Hong, tahukah kau bahwa aku pun tak dapat hidup sebagai suami istri denganmu?

Aaaaa....

Enci Keng Cin sin yang hendak dicari engkoh Hong entah sudah ditemukan belum?

Engkoh Hong bilang dia amat mirip dengan ku, bukankah enci berkerudung warna warni pun sangat mirip dengan wajahku?

Entah siapakah enci itu?

Dia betul-betul amat misterius, sedang ilmu silatnya juga lihay sekali, apalagi enci itu begitu menyayangi aku, meski aku hanya berkumpul sehari saja dengannya, tapi dia menganggapku sebagai saudara sendiri saja, bila diapun mencintai engkoh Hong, hal ini pasti akan lebih baik.."

Menurut catatan didalam kitab Ban sia cin keng, obat yang merupakan pemunah racun Im hwee si hun wan adalah Han sia cau, tapi tumbuhan macam apakah rumput Han sia ciu tersebut?

Kemanakah harus di cari rumput itu.

Rupanya Him ji im telah manfaatkan kesempatan disaat Ceng Lan hiang dengan membawa kawanan jago lihay dari Ban sia kau untuk melakukan pengejaran terhadap Ku See hong tadi untuk menjumpai Keng Cin sin kemudian mencuri kitab pusaka Ban sia cin keng yang tiada ternilai harganya itu.

Dalam kitab pusaka Ban sia cin keng memang dicantumkan obat penawar racun bagi obat perangsang Im hwee si hun wan tersebut, yakni rumput Han sia cau.

Setelah bergumam seorang diri, pikiran Him Ji im kembali tenggelam ke dalam lamunannya, sementara titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya yang halus, mungkin dia sedang memikirkan kembali nasib jelek yang dialaminya selama ini.

Mendadak...

Serentetan suara tertawa licik yang menyeramkan dan menggidikkan hati memotong jalan pikirannya yang belum habis itu.

Dengan cepat Him Ji im memasukkan kembali kitab pusaka Ban sia cin kengnya ke dalam saku, kemudian membalikkan badan nya.

Didepan pintu kamarnya tahu-tahu sudah muncul seorang pemuda yang lengan kirinya belum lama terpapas kutung, wajahnya amat pucat sementara sekulum senyuman cabul yang keji dan menyeramkan menghiasi ujung bibirnya, membuat siapa pun yang berjumpa dengannya tentu timbul perasaan seram dan ngeri.

Begitu menyaksikan kemunculan pemuda itu, dengan gusar Him Ji im segera membentak.

"Ciu Heng thian, tahukah kau bahwa tempat ini merupakan daerah terlarang yang ditetapkan kaucu?"

Pemuda berwajah pucat ini tak lain adalah si Pedang ular perak Ciu Heng thian yang cabul, kejam dan tak berperi kemanusiaan itu.

Mendengar teguran mana, dia segera mencibirkan bibirnya dan memperdengarkan suara tertawa cabulnya yang memuakkan.

"Adik Im, mengapa kau harus menampik kebaikan orang yang bersusah payah datang menjengukmu? Orang lain boleh sampai disini, mengapa aku tak boleh kemari? Tahukah kau bahwa aku sangat mencintai mu."

Merah padam selembar wajah Him Ji im karena jengah setelah mendengar perkataan itu, segera bentaknya.

"Manusia laknat yang tak tahu malu, rupanya kau sudah bosan hidup ....?"

Dengan sikap yang sinis dan menghina si pedang ular perak Ciu Heng thian mendengus dingin.

"Hmmm, benarkah Ih heng adalah manusia laknat yang tak tahu malu? Apakah lebih laknat dan tak tahu malu ketimbang ibumu itu? Heeehh....heeehh.... heeehh...."

"Adik Im, tahukah kau bahwa ibumu sekarang sedang berangkat ke sorga dan ia bersama Ku See hong? Sedangkan manusia berkerudung warna warni yang sedang kau nantikan sekarangpun sedang disekap di ruangan hukuman?"

"Adik Im, aku sudah lama sekali menantikan dirimu, kalau toh ibumu begitu cabul dan jalang, sebagai anak kau tak usah menuruti perkataannya lagi. mari kita kabur sejauh-jauhnya dari sini malam ini juga, asal kita bersembunyi diujung langit sana, bukankah kitapun masih bisa hidup dengan bahagia?"

Ketika mendapat tahu kalau Ku See hong dan Keng Cin sin kembali tertangkap ibunya, Him Ji im benar-benar merasa amat terperanjat, dia merasa kepalanya seperti disambar geledek ditengah hari bolong, kontan pikirannya menjadi kalut dan dengan sempoyongan mundur kebelakang sebelum terjatuh ke atas pembaringan.

Yang membuat hatinya amat sedih adalah perbuatan ibunya yang sedang.....

dengan kekasihnya.

Si pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa licik, sorot matanya mulai memancarkan sinar penuh dengan napsu birahi, ditatapnya wajah Him Ji im yang cantik dan halus itu tanpa berkedip, sementara napsu birahinya makin lama semakin memuncak.

Pelan-pelan dia mulai menggeserkan badannya menghampiri Him Ji im, lalu sambil tertawa dingin katanya.

"Adik Im, kau anggap Ku See hong adalah seorang lelaki sejati ....?

Hmm....hmm ..

tahukah kau betapa tergila-gilanya dia atas ibumu ...

...

Ketika berbicara sampai disitu, mendadak si pedang ular perak Ciu Heng thian menerjang maju ke muka dan secepat kilat menubruk keatas tubuh Him J i im ......

Him Ji im membentak gusar, sambil membalikkan tubuhnya tahu-tahu dalam genggaman tangan kanannya telah bertambah dengan sebilah pisau belati yang tajamnya luar biasa, secara ganas dia tusuk perut Ciu Heng thian.

Tindakan yang dilakukan olehnya ini sama sekali diluar dugaan siapapun, sudah barang tentu tak sempat bagi si pedang ular perak Ciu Heng thian untuk menghindarkan diri.

Bahu kirinya disekitar bekas kutungan lengannya segera tersayat pisau belati itu, sehingga muncul sebuah mulut luka yang panjangnya tiga inci, darah kental segera memancar keluar dengan derasnya.

Ciu Heng thian menjerit kesakitan, sambil merintih dia mundur tiga empat langkah ke belakang dengan sempoyongan.

Mencorong sinar gusar yang penuh kekejian dari balik mata si pedang ular perak Ciu Heng thian, serunya sambil menahan rasa benci yang meluap-luap.

"Adik Im, dengan penuh kasih sayang aku selalu melindungimu secara diam-diam, siapa tahu kau justru tidak tahu diri, air susu kau dibalas dengan air tuba. ini berarti kau sendiri yang mencari penyakit, jangan salahkan lagi jika aku akan bertindak kejam kepadamu!"

"Manusia laknat tak tahu malu, aku akan membalaskan dendam bagi cici Im Yan cu,"

Bentak Him Ji im penuh amarah.

Sambil membentak nyaring, Him Ji im memutar senjata belatinya menciptakan selapis cahaya tajam, kemudian langsung ditusukkan ke dada Ciu Heng thian.

Menghadapi ancaman tersebut, si pedang ular perak Ciu Heng thian segera tertawa dingin, jengeknya.

"Kepandaian silatmu masih ketinggalan jauh sekali..."

Sedikit saja Ciu Heng thian miringkan tubuhnya, tusukan pisau belati itu sudah mengenai sasaran kosong, kemudian sambil menggerakkan sepasang bahunya bagaikan sukma gentayangan saja secara aneh tapi cepat dia sudah mendesak semakin mendekati tubuh Him Ji im..

Gerakan tubuhnya benar-benar cepat luar biasa, tak sampai Him Ji im menggerakkan pisau belatinya, telapak tangannya sudah melepaskan sebuah bacokan yang keras sekali memaksa gadis tersebut mundur terus ke belakang.

Perlu diketahui kepandaian silat yang dimiliki Him Ji im sesungguhnya sangat lihay, namun oleh karena pikirannya sedang kalut dan perasaannya kacau balau hal mana membuat tenaga dalamnya amat terpengaruh, coba kalau demikian, bukan suatu pekerjaan yang gampang bagi Ciu Heng thian untuk menaklukkannya dalam waktu singkat.

Disaat Ciu Heng thian mengayunkan telapak tangan kanannya melancarkan bacokan tadi, tubuhnya turut menerjang pula ke depan, lalu secepat kilat mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kiri Him Ji im.

Ilmu Ki na jiu hoat yang dipertunjukkan ini meski nampaknya seperti tiada keistimewaan apa pun, namun kecepatan nya selain luar biasa, bahkan arah sasarannya membuat orang sulit untuk menghindarkan diri.

Apabila orang-orang biasa selalu mencengkeram pergelangan tangan kanan musuh yang menggenggam pisau belati, maka sasaran yang diarah oleh Ciu Heng thian adalah pergelangan tangan kirinya, oleh karena itu Sebelum Him Ji im sempat mengetahui keadaan yang sebenarnya, dia sudah kena dicengkeram secara telak.

Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri Him Ji im menghadapi situasi seperti ini, secepat kilat pisau belati ditangan kanannya langsung ditujukan ke atas jalan darah sim kan hiat di tubuh Ciu Heng thian..

Ciu Heng thian segera menggoyangkan pergelangan tangan kiri si nona yang di cengkeram itu sehingga Him Ji im merasakan seluruh badannya menjadi kaku, darahnya bergolak keras dan kekuatannya seakan-akan punah dengan begitu saja.

Tusukan pisau belatinya persis menusuk diatas pakaiannya dan "Traangg!"

Senjata itu jatuh ke atas tanah.

Sepasang mata si pedang ular perak Ciu Heng thian yang diliputi cahaya kecabulan itu mulai memancarkan kobaran napsu birahi yang menyala-nyala, ditatapnya sekujur badan Him Ji im dari atas sampai ke bawah, kemudian sambil tertawa terkekeh-kekeh tiada hentinya dia berkata.

"Adik Im, apakah Im Yan cu yang tadi kau maksudkan itu adalah perempuan yang telah menelan pil Im hwee si hun wan tersebut...?"

"Heeehh....heeehhh....heehhh... adik Im, sesungguhnya aku sangat mencintaimu, namun kau tak tahu diri, maka terpaksa aku harus menempuh dengan caraku sendiri, sekarang aku masih mempunyai sebutir pil Im hwee si hun wan, dan pil ini akan kuhadiahkan untukmu"

Ketika mendengar ucapan tersebut, Him Ji im menjadi terperanjat sekali hingga paras mukanya berubah hebat, akan tetapi urat nadinya sudah tercengkeram sehingga kekuatannya punah, dalam keadaan begini dia tak mampu berkutik lagi.

Agaknya hawa napsu birahi yang membara didada si pedang ular perak Ciu Heng thian sekarang sudah mencapai pada puncaknya, dia sudah tak sabar untuk menunggu lebih lama.

Mendadak tangan kanannya mengendorkan cengkeremannya pada urat nadi di pergelangan tangan kiri Him Ji im.

kemudian menggunakan kesempatan di saat hawa murni gadis itu belum pulih, dengan gerakan cepat Ciu Heng thian mengayunkan kembali tangan kanannya untuk menotok jalan darah Him Ji im.

Setelah itu dia membopong tubuh si nona dan membaringkannya ke atas ranjang, sementara tangan kanannya merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan sebutir pil.

ooo0dw0ooo BAB 58 SEBAGAIMANA telah diketahui, pil yang baru saja dikeluarkan dari saku Ciu Heng thian itu tak lain adalah obat perangsang yang paling cabul didunia saat ini, Im hwee si hun wan.

Si pedang ular perak Ciu Heng thian kembali mengulangi cara yang pernah dilakukan untuk menghadapi Im Yan cu tempo hari, yakni pertama-tama ditotoknya jalan darah ya ci hiat dimulut Him J i im, kemudian menotok jalan darah yang tiong hiat pada sepasang lengannya agar gadis itu tak mampu menghabisi nyawa sendiri guna melindungi kesucian tubuhnya.

Kemudian sambil memperlihatkan pil perangsang Im hwee si hun wan yang berada ditangan kanannya, Ciu Heng thian memperdengarkan suara tertawa liciknya yang menyeramkan.

"Heeehh.....

heeehh..

.heeehh....

adik Im, aku yakin kau cukup memahami khasiat dari obat perangsang Im hwee si hun wan ini sehingga aku tak perlu menerangkan lagi, obat ini merupakan obat milik ibumu yang dihadiahkan sebanyak dua butir kepadaku, tentu dia tak pernah mengira kalau akhirnya putri sendiri yang menjadi korban, sekarang kau tentu sangat membenci ibumu bukan?

Yaa, ibumu memang perempuan paling cabul dikolong langit dewasa ini, heeehh ..heeehh...."

Kembali dia perdengarkan suara tertawa nya yang licik, sinis dan menyeramkan.

Titik-titik air mata kembali jatuh bercucuran membasahi wajah Him Ji im yang cantik, perasaan sedih yang dialaminya sekarang betul-betul tak terlukiskan dengan kata-kata.

Dia membenci kebuasan dan kecabulan manusia laknat ini.

Diapun membenci ibunya yang cabul dan banyak melakukan perbuatan terkutuk.

Dia membenci langit yang tidak adil kepadanya.

Dia membenci kepada diri sendiri karena tak bisa membela kesucian tubuhnya sampai mati .....

Dia benci karena tak dapat bersua dengan kekasih hatinya dan harus berpisah untuk selamanya.

Diapun benci karena tak dapat membantu kekasih Ku See hong yaitu Im Yan cu untuk membebaskan diri dari pengaruh racun.

Dia membenci karena tak dapat melihat jenazah ayahnya dan berziarah kesana untuk mewujudkan kebaktiannya sebagai seorang anak terhadap orang tuanya.

Tujuh macam kebencian ini segera mencabik-cabik hatinya sehingga hancur tak berwujud lagi.

Kini, Him Ji im tak mampu bersuara, tak bertenaga untuk meronta, ibarat seekor domba yang sudah diikat kencang-kencang, siap menerima perlakuan apapun dari orang lain.

Hanya bedanya, jika domba masih dapat memperdengarkan suara mengembiknya yang mengenaskan pada saat akhir hidup nya, maka ia tak dapat berbuat demikian.

Memandang rasa benci yang terpancar keluar dari balik mata Him Ji im itu, si pedang ular perak Ciu Heng thian memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang sinis dan keji, katanya.

"Heeehh....heeehh...heeehh. .. adik Im, tampak nya kau seperti sudah tak mampu menahan diri lagi, padahal akupun sudah tak sabar untuk menunggu lebih lama, mari kita manfaatkan kesempatan yang ada ini dengan sebaik-baiknya untuk bermain cinta, pil Im hwee si hun wan ini akan kuberikan kepadamu sekarang juga!"

Selesai berkata, Ciu Heng thian lantas mengambil pil berwarna merah itu dan siap dicekokkan kemulut si nona.....

"Siapa tahu disaat yang paling kritis itulah...

Mendadak...

Berkumandang suara tertawa panjang yang dingin, rendah dan amat berat!

Suara tertawa tersebut tinggi melengking dan amat menusuk pendengaran, tapi kedengarannya kecil bagaikan suara nyamuk.

Cuma saja dibalik gelak tertawa tadi terkandung rasa benci, sedih..

serta rasa dendam yang meluap-luap!

Begitu mendengar suara tersebut, si pedang ular perak Ciu Heng thian sudah tahu kalau orang yang datang berilmu sangat tinggi.

Tentu saja dia tidak akan menyangka kalau orang ini tak lain adalah manusia nomor wahid dikolong langit dewasa ini.

Ciu Heng thian segera memutar lengan kanannya yang masih utuh dan siap melancarkan sapuan kearah mana datangnya suara tertawa tadi.

Siapa sangka baru saja lengannya akan digerakkan, tahu-tahu dari belakang tubuh nya telah muncul sebuah tangan yang putih mulus dan langsung mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanannya, seketika itu juga hilang lenyap seluruh kekuatan yang dimilikinya.

Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri si pedang ular perak Ciu Heng thian menghadapi kejadian seperti ini, cepat-cepat dia berusaha untuk mengerahkan tenaga Tay ih kun goan khikang nya untuk mencoba membebaskan diri dari pengaruh cengkeraman maut itu.

Tapi kenyataannya, jangan lagi melepaskan diri dari cengkeraman, tenaga Tay ih kun goan khi kang saja sudah tak mampu lagi, dengan demikian dia baru betul-betul ketakutan setengah mati, sukmanya serasa melayang meninggalkan raganya, sebab dari sini dapat diketahui kalau kepandaian silat yang dimiliki orang itu jauh lebih tangguh dari pada dirinya.

Dengan cepat dia berpaling ke belakang, kebetulan sekali sorot matanya saling membentur dengan sorot mata yang tajam dari orang itu, tak kuasa lagi hatinya bergidik dan merinding.

Ternyata pihak lawan adalah seorang perempuan berwajah cantik, dan berambut putih.

Orang ini bukan lain adalah Seng sim-cian li Hoa Soat kun!

Sambil memberanikan diri si pedang ular perak Ciu Heng thian segera menegur.

"Siapakah kau? Apa maksudmu mendatangi markas besar perkumpulan Ban sia kau kami?"

Seng Sim cian li Hoa Soat kun tidak menanggapi pertanyaan dari Ciu Heng thian tersebut, sorot matanya yang tajam segera dialihkan kewajah Him Ji im yang masih tergeletak diatas pembaringan, kemudian ujarnya dingin.

"Kau adalah Him Ji im?"

Dalam keadaan tertotok jalan darahnya, tentu saja Him Ji im tak sanggup berbicara, sedang dihati kecilnya sungguh merasa terkejut atas ketangguhan ilmu silat yang dimiliki orang ini, bahkan yang lebih mengejutkan lagi adalah dia mengetahui namanya, ini menunjukkan bahwa...

Mendadak...

Seng sim cian li Hoa Soat kun mengebaskan tangan kirinya, segulung angin pukulan segera menyambar ke tubuh Him Ji im.

Tiba-tiba saja Him Ji im bersin berulang kali, jalan darahnya yang tertotok pun segera menjadi bebas kembali, Sambil melompat bangun, Him Ji im segera berseru.

"Him Ji im mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan dari locianpwee.. Seng sim cian li Hoa Soat kun manggut-manggutkan kepalanya sebagai tanda membalas hormat, lalu pujinya "

Kau memang cantik jelita, bagaikan bidadari dan tenang serta halus ...."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh.

"Semalam, bukankah ada seorang manusia berkerudung warna warni datang mencari mu? Apakah ia telah berhasil mendapatkan kitab pusaka Ban sia cin keng?"

Dengan wajah berseri karena gembira Him J i im segera berseru.

"Locianpwee, jadi kau adalah gurunya enci Im Yan cu, Seng sim cian li Hoa Soat kun locianpwee?"

Sementara itu si pedang ular perak Ciu Heng thian sudah merasakan hatinya dingin separuh, apalagi setelah mengetahui siapa gerangan manusia yang berada dihadapan nya sekarang, sadarlah dia bahwa nasibnya jauh lebih banyak buruk nya ketimbang satu keberuntungan.

Pelan-pelan Seng sim cian li Hoa, Soat kun mengangguk, lalu berkata dingin.

"Apakah Hiat mo buncu telah datang?"

Seakan-akan teringat akan sesuatu, tiba-tiba Him ji im menjerit kaget, kemudian katanya.

"Barusan manusia laknat ini mengatakan bahwa enci tersebut beserta Ku See hong telah tertangkap semua, mari kita segera menyelamatkan mereka"

"Untuk sementara waktu mereka tak bakal mati, kita tak perlu terlalu terburu nafsu untuk mencari mereka"

Ucapan mana kontan membuat Him ji ini menjadi tertegun lalu pikirnya kemudian.

"Aneh, mengapa sikapnya begitu dingin seperti es, seakan-akan dia memang seorang manusia berdarah dingin ....."

Sementara dia masih berpikir, Seng sim cian li Hoa Soat kun telah berpaling ke arah Ciu Heng thian, kemudian dengan sorot mata memancarkan hawa pembunuhan menggidikkan hati, ia berkata dengan suara sedingin es.

"Jadi kau yang bernama si pedang ular perak Ciu Heng thian....."

Dengan pandangan ketakutan bercampur ngeri, si pedang ular perak Ciu Heng thian memandang sekejap ke arah Hua Soat kun kemudian membungkam diri dalam seribu bahasa.

Kembali Seng sim cian li Hoa Soat kun berkata.

"Manusia laknat, kau ingin mampus dengan cara yang bagaimana ........?"

Waktu itu, si pedang ular perak Ciu Heng thian sudah benar-benar putus asa, tapi dasar licik dan banyak akal muslihatnya, tiba-tiba saja dia mendengus sinis, lalu dengan wajah yang tenang dan sama sekali tidak menampilkan perasaan takut barang sedikitpun jua, katanya dengan dingin.

"Kau adalah seorang Bu lim cianpwee, tapi dalam kenyataannya menggunakan cara yang begini licik dan rendah untuk menguasahi orang, hmm kejadian ini benar-benar membuat hatiku merasa sangat tidak puas..

"Manusia bedebah, laknat cabul yang tak tahu malu, dalam keadaan begini kau masih mencoba untuk gagah gagahan? Hmm, akan kubunuh kau!"

Bentak Him ji im dengan gusar.

Gadis itu menyambar pisau belatinya dari atas tanah, kemudian diantara kilatan cahaya tajam, ia sudah melancarkan sebuah tusukan kedada Ciu Heng thian.

Seng sim cian li Hoa Soat kun yang mencengkeram pergelangan tangan kanan Ciu Heng thian segera membetotnya kesamping, seluruh tubuh Ciu Heng thian segera terbetot sehingga bergeser sejauh tiga depa lebih dari posisi semula dan terhindar dari tusukan pisau belati Him ji im.

Menyaksikan kejadian ini Him ji im jadi tertegun dan berdiri melongo, dia tak habis mengerti mengapa manusia laknat tersebut tidak dibiarkan mampus saja.

Dengan suara sedingin salju Seng sim cian li Hoa Soat kun berkata.

"Keenakan jika manusia semacam ini dibiarkan mampus dengan begitu saja, paling tidak dia mesti merasakan dulu siksaan hidup"

Pucat pias paras muka pedang ular perak Ciu Heng thian setelah mendengar ucapan ini, sedemikian pucatnya wajahnya sampai seperti mayat yang muncul dari liang kubur, kulit wajahnya turut mengejang keras menahan penderitaan dan siksaan hatin yang menghebat.

lnilah siksaan hatin yang berat dari seseorang yang sedang menghadapi ancaman bahaya maut.

Dengan nada yang seram ia segera berteriak.

"Kau manusia laknat, bila berani menggunakan cara yang terkutuk untuk menyiksa diriku, sampai matipun aku orang she Ciu tak akan memejamkan mata dengan meram.

Dengan gusar Seng sim cian li Hoat Soat kun segera membentak nyaring.

"Lebih banyak manusia lain yang mati secara mengenaskan ditanganmu, toh mereka mati juga dengan mata yang meram.

"Hmm..siapa menanam pohon kebajikan, dia akan peroleh buah kebajikan siapa menanam pohon kejahatan, dia akan peroleh buah kejahatan pula, hari ini, aku akan mempergunakan cara yang pernah kau lakukan terhadap orang lain untuk menyiksa dirimu, akan kulihat sampai dimanakah kau si manusia laknat dapat mempertahankan diri.....

Walaupun pedang ular perak C iu Heng thian sendiri tak ingin cepat-cepat mati tapi dia tahu dirinya bakal menderita siksaan yang paling keji dan paling kejam terlebih dulu sebelum mati sungguhan, dari pada tersiksa dia lantas memutuskan untuk bunuh diri saja....

Berpikir demikian dia lantas membuka mulutnya dan siap akan menggigit putus lidahnya...

Sayang sekali Seng sim cian li Hoa Soat kun terlalu cermat, sorot matanya pun sangat tajam, baru saja dia menggerakkan bibirnya, tahu-tahu jalan darah Ya-si hiat Ciu Heng thian sudah ditembusi oleh desingan angin tajam sehingga menjadi kaku.

Dengan suatu gerakan cepat Hoa Soat kun melepaskan pula beberapa totokan yang menghajar seluruh jalan darah penting di tubuhnya, setelah itu dia baru mengendorkan cengkeramannya pada pergelangan tangan kanannya.

Kepada Him Ji im diapun bertanya.

"Apakah kau mempunyai cara yang paling keji untuk menghukum dia...?

Selamat hidup Him Ji im sangat jarang membunuh orang, lagipula diapun tidak mempunyai sesuatu tujuan, sudah barang tentu gadis ini tidak memiliki sesuatu cara untuk menyiksa pemuda cabul tersebut.

Dengan suara lembut Him Ji im lantas berkata.

"Hoa locianpwee, terserah dengan cara apa kau hendak menghukum dirinya"

Tiba-tiba dari balik mata Seng sim cian li Hoa Soat kun mencorong keluar serentetan cahaya tajam dan buas, katanya dengan gemas.

"Untuk menghadapi manusia laknat seperti ini, lonio ingin menyuruh dia rasakan cara kematian yang paling keji dan paling berarti di dunia ini"

"Dengan cara apakah locianpwee ingin membunuhnya?"

Pelan-pelan Seng sim cian li Hoa Soat kun mengangkat tangan kanannya, lalu menjawab dengan suara berat.

"Akan kucekokkan pil Im hwee si hun wan ini ke dalam mulut nya... Tiba-tiba merah selembar wajah Him Ji im karena jengah, ujarnya agak tergagap.

"Locianpwee, apabila dia menelan pil tersebut, sudah pasti perempuan lain akan menjadi korban dari kerakusannya"

Maksud Him Ji im, setelah menelan pil Im hwee si hun wan nanti, Ciu Heng thian tentu akan terangsang dan menjadi gila, dalam keadaan demikian sudah pasti dia akan mencari perempuan lain untuk melampiaskan napsu birahinya.

Sambil tertawa dingin Seng sim cian li Hoa Soat kun berkata.

"Akan kukutungi lengan dan sepasang kakinya, akan kulihat dengan cara bagaimana dia akan pergi meninggalkan tempat ini?"

Serasa terbang nyawa pedang ular perak Ciu Heng thian setelah mendengar perkataan itu, tiba-tiba saja dari balik matanya mencorong ke luar sorot mata minta belas kasihan, artinya dia memohon agar dapat diberi kematian secara utuh.

Perlu diketahui, barang siapa telah menelan pil Im hwee si hun wan tapi tak dapat melampiaskan napsu birahinya secara leluasa, dia akan merasakan sesuatu siksaan yang maha berat, nadinya akan meledak dan pecah, sudah barang tentu penderitaannya menjelang saat kematian tak akan terlukiskan dengan kata-kata.

Seng sim cian li Hoa Soat kun tertawa dingin lagi dengan sinis, kemudian ujarnya.

"Oooh, rupanya kau pun takut mati? Terus terang saja kukatakan kepadamu, mati karena pecahnya urat nadi masih belum terhitung kematian yang paling keji, sebelum itu akan kutotok dulu ke delapan urat nadi penting ditubuhmu agar nadimu tak sampai pecah, namun darah akan mendidih didalam tubuhmu kemudian memancar keluar melalui setiap pori-pori ditubuhmu, aku pikir hanya cara kematian semacam inilah yang paling sesuai untukmu"

Mendadak Him Ji im berseru dengan gelisah.

"?Hoa locianpwee, kalau hendak turun tangan, lakukanlah dengan segera, Enci Hiat mo buncu disekap mereka didalam ruang hukuman, sedangkan Ku See hong telah dibawa..... dibawa ibuku menuju ke istana Cun kiong tian, apabila kita tidak secepatnya menolong mereka, akan merasa menyesal sepanjang masa...."

Mendadak paras muka Seng sim cianli Hoa Soat kun berubah menjadi amat tak sedap dipandang, ujarnya dengan suara dingin.

"Him Ji im, tahukah kau akan dosa-dosa ibumu?"

Menyinggung kembali tentang dosa-dosa ibunya, Him Ji im merasakan hatinya amat sedih, sebab setiap perbuatan dari ibunya merupakan perbuatan terkutuk yang sangat memalukan, sebagai putri Ceng Lan hiang tentu saja dia sendiripun merasa tak punya muka untuk bertemu dengan orang.

Titik titik air mata segera jatuh bercucuran membasahi wajahnya, dengan sedih dia berkata.

"Hoa locianpwee, aku... aku mengerti akan hal ini. aku... aku hendak membunuhnya dengan tanganku sendiri..."

Saat itu, Him Ji im benar-benar merasa sedih sekali, dia merasa hatinya hancur lebur karena pedihnya.

Tiba-tiba Seng sim cian li Hoa Soat Kun ikut menghela napas panjang, nadanya pun penuh kedukaan.

Suara gemerincing nyaring bergema memecahkan keheningan.

Tahu-tahu Seng sim cian li Hoa Soat kun telah meloloskan pedang ular perak yang menggembol dibelakang bahu Ciu Heng thian .....

Kini wajahnya dingin dan kaku, sama sekali tidak berperasaan barang sedikitpun jua, tangan kirinya ketika diayunkan ke depan di ringi lekukan jari tangan, memancarlah delapan gulung hawa serangan yang serentak menghajar delapan buah jalan darah penting ditubuh Ciu Heng Thian.

Menyusul kemudian pil Im hwee si hun wan dilemparkan pula ke dalam mulutnya yang langsung mengggelinding ke dalam perut.

Ketika cahaya perak berkelebat lewat...

Semburan darah segar memancar ke empat penjuru ....

Dalam keadaan tertotok jalan darahnya, tak sempat lagi bagi Ciu Heng thian untuk memperdengarkan jeritan ngerinya, tahu-tahu kedua belah kakinya sebatas lutut sudah terpapas kutung, sementara badannya segera terjatuh ke atas tanah.

Secara beruntun Seng sim cian li Hoa Soat kun mengayunkan pula tangan kirinya melancarkan beberapa buah pukulan jari tangan.

Beberapa buah jalan darah disekitar lutut segera tertotok sehingga darah yang mengalir segera terhenti dan menghindarkan manusia laknat itu mati karena kehabisan darah.

Menyusul kemudian jalan darah diatas bahu lengan kanannya ikut tertotok pula.

Dimana cahaya tajam berkelebat lewat, lengan kanan Ciu Heng thian kembali terpapas kutung sebatas bahu.

Sekarang, Ciu Heng thian telah berubah menjadi seorang manusia yang sama sekali tidak beranggota badan, ia tidak mengeluh ataupun mengerang kesakitan, tapi wajahnya mengejang sangat keras, peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran bagaikan hujan, sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar kemerah-merahan.

Tampaknya rasa benci Seng sim cian li Hoa Soat kun belum mereda, pedang ular perak yang berada ditangannya tiba-tiba memancarkan cahaya tajam dan memperdengarkan suara yang memekikkan telinga...

Sekarang seluruh wajah Ciu Heng thian yang pucat pias bagaikan mayat berubah menjadi merah darah, sementara batang hidungnya lenyap entah ke mana.

Mimik mukanya kini sudah berubah menjadi mengerikan sekali seperti iblis buas Namun sepasang matanya masih melototi Hoa soat kun dengan pandangan gusar dan penuh kebencian...

Tentu saja sorot mata itu penuh dengan pandangan sinar benci dan dendam...

Dia seakan-akan hendak membalas dendam terhadap siksaan keji yang ditimpakan kepadanya sekarang.

Namun hal ini sudah jelas tak mungkin terjadi, karena mustahil dia dapat menuntut balas dengan keadaan seperti sekarang, dia hanya memperoleh bagian siksaan dan penderitaan belaka ....

Sambil mendengus dingin Seng sim cian li Hoe Soat kun berkata lagi.

"Hmmm"

Matamu berani melototi aku! Bagus, akan ku suruh kau jadi setan buta di akhirat nanti!"

Secara keji Hoa Soat kun mengangkat pedang ular peraknya lalu melakukan gerakan mencungkil ke depan, sepasang mata Ciu Heng thian segera terkorek keluar Tidak, bukan terkorek keluar ....

Coba lihatlah!

Sepasang biji matanya bukan melotot ke luar berikut kulit kelopak mata, melainkan biji kelopak mata itu menggelinding sendiri ke sisi telinga sebelah kiri dan kanannya, sambil bergetar tiada hentinya.

Namun berhubung biji matanya masih terikat oleh otot dan urat lainnya, maka kedua benda indera itu tidak sampai terjatuh ke bawah, melainkan hanya bergelantungan belaka.

Darah kental yang berbau amis mengucur ke luar dengan derasnya dari balik kelopak matanya yang berlubang mengalir lewat biji matanya dan membasahi kedua biji bola mata tersebut sebelum menetes ke atas tanah.

Pemandangan semacam ini benar-benar menggidikkan hati siapa pun yang memandangnya.

Bahkan orang akan merasa ngeri untuk memperhatikan lebih lanjut....

Him ji im segera berpaling ke arah lain, ia tak berahi menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu.

Untuk menghindari musuhnya keburu mati karena kehabisan darah sebelum siksaan di alaminya, cepat-cepat Seng Sim cian li Hoa Soat kun mengayunkan tangan kirinya melancarkan serentetan hawa murni untuk menyumbat jalan darah pada sepasang kaki lawan.

Kemudian tangan kanannya diayunkan ke depan dan pedang ular perak tersebut dengan berubah menjadi sekilas cahaya putih langsung meluncur keluar melalui jendela.

Dengan nada suara yang kaku dan tidak berperasaan, perempuan itu berkata.

"Nah, silahkan kau menunggu siksaan dan penderitaan yang lebih hebat dalam keadaan seperti ini!" -ooo0dw0ooo-BERBICARA sampai disitu, Seng sim cian li Hoa Soat kun berpaling kearah Him Ji im sambil berkata pula.

"Mari kita tinggalkan tempat itu!"

Dari balik mata Him Ji im tiba-tiba memancar keluar sorot mata yang penuh dengan nada memohon, katanya dengan sedih.

"Hoa locianpwee, kumohon kepadamu untuk mengampuni ibuku, bebaskanlah dia dari penyiksaan semacam ini, biar.... biarlah aku sendiri yang membunuhnya, harap kau..... kau jangan turun tangan kepadanya."

Bagaimanapun bejadnya moral Ceng Lan hiang, perempuan itu tetap merupakan ibunya, meski Ceng Lan hiang tak pernah memberikan kasih sayang seorang ibu kepadanya selama ini, namun 1265 ia merasa tak tega membiarkan ibunya mengalami siksaan dan penderitaan yang begitu kejam.

"Kau sungguh-sungguh berani membunuh ibumu sendiri?"

Tegur Seng sim cian li Hoa Soat kun dingin. Him Ji im menghela napas panjang.

"Ibuku jahat, kejam dan banyak mencelakai umat persilatan, meski sudah matipun sukar untuk menebus dosa-dosanya itu, apalagi dia telah membunuh ayahku, akupun akan membunuhnya, sebab aku harus membalaskan dendam bagi kematian ayahku"

Baca Juga: Medali Wasiat 7

Baca Juga: Warisan Jenderal Gak Hui 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert