Ceritasilat Novel Online

Dendam Sejagad Legenda Kematian 8

Eps 8 Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung

Baca online Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung

Cersil Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung.

"Apabila aku diharuskan berjumpalitan terus ditengah udara, maka lama kelamaan akan kehabisan napas juga, bila sampai terperosok ke bawah, bukankah aku bakal tewas juga diujung senjata rahasia tersebut"

Sementara dia masih ragu, suara peringatan tadi kembali berkumandang dengan ilmu menyampaikan suara.

"Mengapa kau tidak mempergunakan pedang Ang soat kiam mu untuk mematah kan keempat rantai tersebut?"

Peringatan itu dengan cepat menyadarkan kembali Ku See-hong dari lamunannya, diam-diam ia mengumpat diri sendiri. ' Aku benar-benar seorang-manusia yang tolol!"

Serentetan suara pekikkan nyaring yang membetot sukma pun segera berkumandang memecahkan keheningan....

Seperti seekor burung elang raksasa, Ku See hong melejit lagi ditengah udara, kemudian berputar sebanyak tiga kali.

Tiba-tiba saja berkumandang suara gemerincing yang amat nyaring, tahu-tahu pedang Hu thian seng kiam sudah diloloskan dari sarungnya, ditengah udara segera terpancar keluar serentetan cahaya tajam yang sangat menyilaukan mata.

Disaat pedangnya melepaskan serangan, tubuh Ku See hong segera bersatu dengan cahaya pedang itu dan seperti naga sakti di angkasa, secepat sambaran kilat segera menerjang kebawah.

Kecepatan tubrukannya itu membuat orang lain sukar membedakan mana yang cahaya pedang dan mana yang cahaya pelangi....

Mendadak pedang Hu thian seng kiam tersebut memancarkan berlapis-lapis cahaya pelangi yang berwarna-warni menciptakan selapis cahaya pedang yang membukit dengan secepat kilat menyelundup ketengah udara yang kosong.

"Sreeeet....! Sreeeet...."

Dari empat penjuru segera berkumandang suara desingan yang pelan.

Bayangan cahaya yang amat tajam dan terdiri dari empat jalur putih yang mengejar tubuh Ku See hong itu seketika lenyap tak berbekas, keempat bilah pedang kecil J iu sim siau kiam itu pun segera jatuh dan rontok kedalam kolam.

Pada saat yang bersamaan, cahaya pedang berwarna merah darah itu pun sirap dan lenyap dari pandangan mata.

Ku See hong tahu-tahu sudah melayang turun dihadapan kedua belas orang anggota Hiat mo bun itu dengan tangan kosong dan wajah dingin membesi.

dia berdiri kaku di tempat sambil mengawasi manusia berkerudung warna-warni itu dengan sorot mata setajam sembilu.

Ia sedang merasa sedih, ataukah..?

Sungguh membuat orang tidak habis mengerti.

Ternyata dari balik mata manusia berkerudung warna-warni itu sedang memancar keluar serentetan cahaya bengis yang penuh dengan hawa napsu membunuh.

Kesemuanya ini membuat dia tak berani percaya, kalau orang ini adalah sorot mata dari Keng Cin-sin..

kekasihnya yang berhati lembut dan suci bersih itu, diapun tidak percaya kalau dua kali suara bisikan yang dipancarkan melalui ilmu menyampaikan suara tadi berasal dari perempuan misterius ini.

Dalam pada itu, kawanan jago dari Hiat mo bun sudah dibikin tertegun dan berdiri kaku karena terperanjat atas ilmu meringankan tubuh Ku See hong yang amat dahsyat serta ilmu pedang dari pedang mestika yang di mpikan oleh setiap orang itu.

Pada saat itulah..

Kawanan jago persilatan yang berada disekeliling tempat itu bersama-sama menampakkan diri, banyak manusia berkelebat lewat dan dalam wakku singkat semua orang sudah mengurung telaga tersebut dalam posisi setengah rembulan.

Apakah kedatangan mereka untuk menonton keramaian tersebut ?

Atau untuk menyaksikan kegagahan dari Leng hun Koay seng Ku See hong?, Ataukah karena ada rencana busuk lainnya, Tak seorangpun yang tahu dengan pasti.

Empat orang anggota Hiat mo bun yang senjata rahasianya kena dibabat kutung oleh ayunan pedang Ang-soat' kiam dari Ku See hong tadi tak lain adalah ke empat orang gembong iblis dari pulau Tang hay to, sifat mereka bengis, licik, sadis dan kejam, banyak perbuatan jahat yang sudah dilakukan olehnya.

Bahkan malam ini pun sudah berapa banyak jago persilatan yang telah menemui ajalnya terhajar oleh senjata rahasia mereka yang teramat keji itu, sudah barang tentu mereka tak sudi melepaskan Ku See-hong dengan begitu saja.

Ke empat gembong iblis dari lautan Tanghai to itu masing-masing mengenakan jubah panjang berwarna biru, ada yang gemuk, ada yang kurus, ada yang tinggi, ada pula yang pendek.' Sementara itu, gembong iblis yang bertubuh gemuk pendek itu, Hay lo tocu Su siok Cu sedang tertawa dingin dengan raut seramnya, lalu berseru sinis.

"Hei bocah kecil, apakah kau yang bernama Leng hun kuay seng Ku See hong" ' 'Pada waktu itu Ku See hong sedang memutar otak untuk berpikir apakah manusia berkerudung itu Keng Cin sin atau bukan, mendengar pertanyaan mana segera sahutnya dingin.

"Kalau sudah mengetahui akan nama besarku, lebih baik simpanlah kembali sikapmu yang tengik dan amat memuakkan itu!"

Sastrawan berbaju perlente Hoa siong-si yang berada didepan sana mendadak tertawa terbahak-bahak, lalu serunya.

"Haaah... haahh... haaahh... ternyata adalah Leng hun koay seng (manusia aneh bersukma dingin) Ku See hong yang termashur namanya dalam dunia persilatan itu, kehadiranmu dalam lembah sempit Ya-cui lok pada malam ini sungguh membuat nama Hiat mo bun kami bertambah tenar" , Ku See-hong tertawa dingin.

"Heeeeehnh...

heeehhh..

heeeeehhh, sinar dari kunang-kunang bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan terangnya sinar rembulan dari Buncu Kalian?' Sastrawan berbaju perlente Hoa Siong si segera tertawa.

"Aaaaah, mana, mana .... Ku sauhiap, selama ini antara kau dan kami orang-orang Hiat mo bun berasal dari satu aliran, selama nya tak pernah ada sangkut pautnya antara yang satu dengan lainnya, entah dikarenakan persoalan apakah kau datang kemari malam ini"

Sastrawan be,baju perlente Hoa Siong si adalah seorang jago kawakan yang sudah lama menggetarkan dunia persilatan, sebelum berbicara dia telah mengatur segala sesuatunya secara teratur, kemudian baru bertanya kepada Ku See hong apa maksud kedatangannya, setelah itulah baru mengambil keputusan lebih jauh.

Sebab diapun tahu bahwa Ku See hong adalan seorang jago persilatan yang sudah termashur sebagai seorang jagoan berhati keji, kalau dia bukan datang dikarenakan untuk menuntut balas, anggota perguruan nya juga tak usah mengikat tali permusuhan dengan dirinya, sebaliknya jika dia datang untuk membuat gara-gara, barulah dia akan segera mengambil tindakan tegas.

Paras muka Ku See hong segera berubah kembali menjadi lebih lembut, tapi nada suaranya tetap dingin dan kaku, sahutnya ketus.

'Saudara adalah seorang Hu Buncur dari perguruan Hiat mo bun, tak heran kalau caramu berbicara mencerminkan seorang ketua persilatan, baiklah, aku orang she Ku akan berbicara terus terang 878 kepadamu, benar, malam ini aku memang datang karena membawa maksud-maksud tertentu "

"Persoalan apakah itu?' tanya sastrawan berbaju perlente Hoa Siong si cepat.

"katakan saja berterus terang, agar setiap anggota perguruan kami tahu dan kemudian menyampaikan kepada Buncu kami agar diambil suatu keputusan"

"Urusan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan orang-orang dari Hiat mo bun kalian, aku datang hanya untuk mencari manusia berkerudung warna-warni.? Bun cu kalian"

Jawab Ku See hong dengan suara dingin. Manusia berkerudung itu segera melayang maju ke depan dengan gerakan yang enteng dan cepat kemudian tanyanya dengan suara dingin.

"Selama ini kita tak pernah saling mengenal satu sama lainnya, entah ada urusan apakah kau datang mencari aku?"

Paras muka Ku See hong agak berubah setelah mendengar perkataan itu, tapi sekejap kemudian sudah lenyap tak berbekas, selapis hawa dingin segera menyelimut seluruh wajahnya.

"Apakah saudara pernah menyembuhkan seorang manusia yang hampir mati karena terkena pukulan Hou kut jian hun im kang.." ' "Tidak pernah!"

Jawab manusia berkerudung itu dingin.

"apa maksudmu mengajukan pertanyaan itu? "

Pernah atau tidak kau yakin pasti mengerti, orang yang pernah menerima pengobatan darimu selama hidup tak sudi menerima budi kebaikan dari orang lain, setelah penyakit yang dideritanya itu sudah disembuhkan, dia berusaha menemukan penolongannya itu kemanapun juga, akhirnya ditemukan beberapa buah bukti dan petunjuk yang menunjukkan bahwa orang itu adalah salah seorang di antara kalian anggota Hiat Mo bun.."

Manusia berkerudung itu segera mendengus dingin, mendadak tukasnya dengan cepat.

"Hei mengapa sih kau cerewet sekali? Sesungguhnya mau apa kau datang kemari malam ini? Mengapa tidak kau utarakan secara 879 terus terang. Kalau ingin berbicara, katakan saja terang-terangan, tak usah berputar kayun kesana kemari lagi, terutama membicarakan apa-apa yang sama sekali tak ada artinya itu"

Sambil menahan diri Ku See hong berkata.

"Aku orang she Ku hanya memohon kepada anggota Hiat mo bun kalian yang telah menolong orang yang mengidap penyakit Hou kut jian hun im kang tersebut untuk sekali lagi menolong seorang sahabatku dari penyakit parahnya.

"Siapakah dia? penyakit parah apakah itu?"

Tanya manusia berkerudung itu dengan sama dingin.

'Orang yang pernah menyembuhkan orang yang mengidap penyakit Hou kut jian hun im kang tersebut pernah meninggalkan surat kepadanya, maka orang yang akan saya mohon itu tentu saja kenal juga dengannya, sedangkan mengenai penyakit parah apakah itu, berhubung masalahnya tak leluasa untuk ku utarakan, maka aku seorang she Ku hanya memohon kepada tokoh silat tersebut agar bersedia untuk datang kesana "

Baik Kho it klti maupun Kanglam Siang hou sudah barang tentu tahu dengan jelas bahwa orang itu adalah manusia berkerudung tersebut, sebaliknya yang lain tetap dibikin kebingungan setengah mati, namun mereka semua tahu bahwa orang yang dapat menyembuhkan penyakit Hou kut jian hun im kang tersebut sudah pasti bukan manusia sembarangan, itulah sebabnya secara lamat-lamat mereka sudah menduga kalau orang itu adalah Buncu mereka sendiri.

Manusia berkerudung itu termenung beberapa saat, lalu sambil tertawa dingin katanya.

"Kalau toh kau sedang memohon bantuan orang lain, mengapa sikapmu begitu angkuh dan tinggi hati'?"

"Tentang soal ini, harap kau jangan salah paham"

Ujar Ku See hong dengan suara lantang.

"asalkan tokoh silat itu bersedia untuk menolong sahabatku itu, budi kebaikan mana pasti akan selalu terukir dalam hati kecil aku orang she Ku dan suatu ketika tentu akan kubalas" ."

Sebenarnya kau hanya memintakan bantuan untuk menyembuhkan sahabatmu itu ataukah masih ada maksud tujuan tertentu, Sebenarnya Ku See hong menganggap perempuan itu sebagai Keng Cirn sin, tapi setelah menyaksikan sinar matanya yang buas dan kejam itu, semua kegembiraan di dalam hatinya kontan tersapu lenyap hingga tak berbekas.

Sebenarnya waktu itu, dia memang hanya ingin memohon bantuannya untuk menyem-buhkan keadaan Im-hwee-si hun wan dari tubuh Im Yan cu, namun setelah mendengar ucapan mana, hatinya kontan saja bergetar keras, segera pikirnya.

"Baik nada pembicaraannya maupun tindak tanduknya, bukankah kesemuanya itu menunjukkan kalau dia adalah Keng Cing sin'? Sorot matanya yang diperlihatkan tadi sudah jelas dipancarkan keluar secara paksa, aah! Benar, dia sudah pasti adalah Keng Cin sin, bukankah dalam surat tersebut dengan jelas sudah diterangkan bahwa dia tak ingin aku mengetahui akan dirinya..."

Perasaan hati Ku See hong kembali terasa bergoncang keras, dengan penuh emosi serunya kemudian...

"Aku orang she Ku hanya memohon kepada tokoh sakti itu untuk menyembuhkan penyakit yang diderita oleh sahabatku saja"

Sinar mata manusia berkerudung itu masih tetap dingin dan tajam seperti cahaya sembilu, tanya nya dengan dingin.

"Sekarang sahabatmu itu berada dimana?

Cukup kau sebutkan saja, aku akan pergi ke sana untuk menyembuhkan penyakit itu' Mendengar perkataan tertebut, Ku See hong menjadi tertegun, berapa saat kemudian dia baru berkata.

"Sahabatku itu sudah diajak pergi oleh gurunya, kedatanganku sekarang hanya ingin bertanya lebih dulu kepada tokoh silat itu, apakah dia mampu untuk menyembuh kan penyakit atau tidak..."

Belum habis dia berkata, manusia berkerudung itu telah memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang merasuk tulang, tukasnya secara tiba-tiba.

"Hmm, rupanya kau memang sengaja menggunakan alasan tersebut untuk mencari gara-gara dengan kami perguruan Hiat Mo bun... ."

"Bukan! Bukan!"

Seru Ku See hong cemas.

"berhubung penyakit yang diderita oleh sahabatku itu benar-benar amat sukar untuk di sembuhkan maka ........."

"Tutup mulut!"

Bentak si manusia berkerudung itu dengan suara amat dingin. Kemudian sesudah tertawa sinis terusnya.

"Malam ini, kau begitu berani mencari gara-gara dengan orang-orang Hiat mo bun kami, tampaknya kau menganggap kepandaian silat yang kau miliki sangat hebat maka kau begitu berani memandang rendah perguruan kami."

"Hmm, kalau toh memang begitu, pun buncu ingin sekali mencoba-coba kepandaian mu, ingin kuketahui sesunggunnya Leng hun koay seng memiliki kepandaian silat sampai dimana hebatnya.} Ku See hong adalah seorang pemuda yang angkuh dan dingin, menyaksikan Kesombongan dari manusia berkerudung tersebut kontan saja nada amarahnya berkobar dengan hebatnya, dari balik matanya pun memancar keluar serentetan cahaya yang menggidikan hati.

"Kalau toh engkau begitu tak tahu aturan dan mendesakku terus menerus, baiklah, aku orang she Ku akan melayani kehendakmu itu dengan mempertaruhkan selembar jiwaku" . Sejak tadi keempat orang gembong iblis dari pulau Tang hay to sudah mendendam kepada pemuda itu, bahkan ingin membinasa kannya oleh karena senjata rahasia andalan mereka telah dihancurkan Ku See hong tapi berhubung ia sedang bertanya jawab 882 dengan Buncunya, maka selama ini pula mereka tak berani bertindak secara sembarangan. Kini setelah menyaksikan Buncu mereka mendesaknya untuk bergebrak, sudah barang tentu merekapun tak akan melewatkan kesempatan tersebut dengan begitu saja. Tiba-tiba saja Hay losu tocu Su Siok cu menampilkan diri ke depan dan berseru kepada manusia berkerundung itu.

"Buncu, manusia tak berguna ini jangan dibiarkan bertingkah semaunya sendiri, biar aku orang she Ku saja yang menghabisi nyawanya" 'Kalau begitu berilah pelajaran lebih dahulu kepadanya, orang ini mempunyai banyak rahasia dunia persilatan yang belum terpecahkan dan bisa diselidiki dari mulutnya, tangkap saja dia dalam keadaan hidup-hidup dan jangan biarkan jiwanya terancam "

Hawa napsu membunuh segera menyeli-muti seluruh wajah Ku See hong, dia mendengus dingin kemudian katanya dengan suara seram.

"Kalian orang-orang dari Hiat mo bun menganggap dirinya jagoan tiada bandingannya didunia ini, hmmm! Malam ini juga aku orang she Ku akan melakukan pembantaian secara besar-besaran terhadap anggota Hiat mo bun kalian, untuk menyingkat waktu lebih baik kalian berdua belas maju bersama-sama saja"

Ucapan tersebut selain takebur juga amat tak pandang sebelah matapun terhadap lawannya.

Padahal kedua belas orang anggota Hiat mo bun itu merupakan jago-jago kelas satu di dalam dunia persilatan dewasa ini, namun kenyataannya si anak muda itu berani menentang mereka semua, keberanian dan kegagahannya membuat orang merasa amat kagum.

Manusia berkerudung itu tertawa dingin.

'Asal anggota kami tak sanggup memperta-han kan diri, setiap saat pasti akan maju seorang lagi, asal kau memang punya kepandaian yang hebat, sudah pasti keinginanmu itu akan terwujud' Sementara itu, Hay lou tocu Su Siok cu sudah membentak keras, lengan kanannya yang gemuk penuh daging membuat getaran yang keras, segulung tenaga pukulan yang dingin dan dahsyat secepat sambaran kilat meluncur ke depan dengan hebatnya.

Ku See hong segera mengebaskan telapak tangan kirinya, segulung hawa pukulan yang lembek dan dalam seperti samudra tanpa mengeluarkan sedikit suara pun memunah kan datangnya ancaman dari Su Siok cu tersebut.

Kemudian menampilkan sekulum senyuman yang amat dingin diujung bibirnya, dia berkata dengan angkuh.

"Dengan kepandaian silat yang kau miliki itu masih belum pantas untuk menyembunyi kan indetintas sendiri, lebih baik lepaskan saja topeng tengkorakmu itu agar aku orang she Ku bisa menyaksikan sampai di manakah jeleknya tampangmu itu."

Menghadapi kelihaian dari lawannya, sifat buas dan ganas dari Hay lou tocu Su Siok cu segara berkobar, sambil berteriak aneh dengan menghimpun tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, secepat sambaran petir langsung dilontarkan ke muka.

Dimana angin serangan meluncur, angin puyuh serasa meratakan permukaan tanah, sebelum hawa dingin yang ganas dan mengerikan bagaikan ambruknya sebuah bukit karang saja langsung menggulung ke depan dengan membawa suara desingan yang memekikkan telinga.

Untuk mendemontrasikan kelihayan dari ilmu silat sendiri, Ku See hong sama sekali tidak menghindar ataupun berkelit, dia malah mendongakkan kepalanya sambil memandang bintang yang bertaburan di angkasa berdiri dengan sikap yang sangat angkuh.

Sikap jumawa tersebut kontan saja membangkitkan rasa terperanjat dari semua orang, diam-diam mereka berpikir.

Hebat sekali Leng hun koay seng ini !

Rupanya dia sudah bosan hidup lebih jauh.

Sebaliknya Hay lou Tocu Sin Siokcu yang menjumpai kejadian mana...diam-diam segera menyumpah.

"Bocah keparat. kau begitu sombong dan takabur, rasain sekarang pukulan dahsyatku ini, aku akan membuat tubuhmu remuk rendam hingga tiada wujudnya lagi. Belum habis makian itu dilontarkan, angin pukulan mana yang maha dahsyat itu sudah menghajar diatas tubuh Ku See hong secara telak. Pada saat itulah hawa khikang Kan kun mi siu khangkhi dari tubuh Ku See hong telah menghasilkan kegunaan yang luar biasa. Mendadak...."

Blamm? Blaaaam....?'"

Disekeliling tempat itu sudah berkumandang suara letusan-letusan yang amat memekikkan telinga.

Hawa pukulan yang dilancarkan Hay lo Tocu Su Siok cu itu seakan-akan di telan ombak dahsyat saja, segera tersapu lenyap sehingga hilang lenyap tak berbekas.

Kenyataan ini kontan saja membuat Su Siok cu yang bengis dan ganas itu menjadi terkesiap sekali, dia mengira seperti sudah berjumpa dengan setan saja.

Yaa, berbicara yang sesungguhnya, entah jagoan lihay dari mana pun di dunia ini mustahil bila dia bisa selamat tanpa cedera sesudah terkena oleh serangan yang maha dahsyat itu.

Bukan cuma dia yang kaget, kecuali manusia berkerudung serta Jian hun im ciang Tu Pak kim sekalian bertiga, yang lain sama-sama dibikin terkesiap sampai membelalakkan matanya dengan mulut melongo.

Ku See hong segera tertawa dingin, ujarnya dengan suara amat sinis.

"Nah orang-orang dari Hiat mo bun, sekarang, tentunya kalian sudah tahu bukan kalau di atas langit masih ada langit, dan diatas manusia masih ada manusia yang lain, haha.... Haaaah..... haaahh...."

Gelak tertawa yang amat keras itu kontan saja melengking dan menembusi angkasa hingga bergema sampai dimana-mana.

Ku See hong dengan menggunakan ilmu gerakan tubuh Mi khi biau tiong sin hoat telah menyelinap ke samping secara aneh kemudian meluncur ke samping tubuh Su Siok cu, setelah itu tangan kanannya meluncur ke depan dan secepat kilat menyambar topeng tengkorak yang menutupi wajah Hay lou tocu tersebut.

Bukan begitu saja, bahkan telapak tangan kirinya tanpa ampun segera meluncur ke depan dengan kecepatan tangan bagaikan sambaran kilat.

Bagaikan baru sadar dari impian saja, Hay lou tocu Su Siok cu baru terkejut setelah topeng tengkoraknya disingkap orang, saking terkesiapnya dia sampai mundur beberapa langkah dengan sempoyongan.

Tapi justru karena tindakannya itu, secara kebetulan sekali dia berhasil meloloskan diri dari sergapan telapak tangan kiri Ku See hong.

Ku See hong sama sekali tidak melakukan pengejaran, sembari memperlihatkan topeng tengkorak itu, dia tertawa terbahak-bahak dengan amat nyaringnya.

"Haahh...

haahh....

haahh...

kawan-kawan persilatan sekalian, malam ini aku orang she Ku akan menyuruh kalian semua menyaksikan bagaimanakah raut wajah asli dari kedua belas anggota Hiat mo bun ini..-ooodwooo-BAB 41 BERBICARA sampai disitu, Ku See hong segera mengerahkan tenaga dalamnya ke dalam lengan kanan, lalu meremas-remas topeng tengkorak itu sehingga hancur menjadi bubuk, ketika tangan kanannya di tolak kedepan, bubuk berwarna putih itu pun segera menyambar ke mana-mana..

Tindakannya ini benar-benar merupakan suatu penghinaan bagi Hiat mo bun, suatu perbuatan yang terlalu memandang rendah orang-orang Hiat mo bun...

Kontan saja semua anggota Hiat mo bun menjadi marah, dari balik sorot mata mereka segera memancar keluar sinar kebuasan yang penuh diliputi rasa dendam dan benci.

Sedangkan manusia berkerudung itu pun memancarkan serentetan sinar yang sukar dilukiskan maksudnya dari balik sepasang matanya yang jeli....

Apakah itu cinta?

Apakah itu Kasih?

Ataukah kesedihan?

Mungkin kemurungan!

Mungkin juga keperihan hati yang tak terkirakan.

Ku See hong tidak melihat akan perubahan dari sorot matanya itu, lain halnya dengan Kho It khi, si bocah laki-laki itu, dengan melototkan sepasang matanya bulat-bulat dia sedang mengawasi sorot mata perempuan itu tanpa berkedip.

Hay lou tocu Su Siok cu yang topeng tengkoraknya kena dihancur lumatkan oleh h Ku See hong merasa malu bercampur gusar, kulit wajahnya yang gemuk dan penuh berdaging itu mengejang keras seperti menahan gejolak emosi yang amat besar.

Sepasang lengannya diluruskan ke bawah sepasang matanya memancarkan sinar buas yang penuh dengan rasa benci dan dendam yang membara, tubuhnya yang gemuk pelan-pelan bergerak ke depan mendekati Ku See hong, sementara tiga orang gembong iblis lainnya dari Tang-hay-to juga telah memencarkan diri dan mengurung Ku See hong.

Ketika sorot mata Ku See-hong memandang sekejap ke wajah orang-orang itu, dia segera tahu kalau pihak lawan hendak mengeluarkan jurus serangan yang paling ganas dan keji untuk menghadapinya.

Tadi, pemuda yang angkuh dan tinggi hati itu hanya memandang musuh-musuhnya dengan angkuh, bahkan sekulum senyuman dingin yang sinis dan penuh dengan pandangan menghina tersungging diwajahnya.

"Apalagi kalian memiliki kepandaian simpanan, lebih baik keluarkan saja semua tak usah sungkan-sungkan lagi.."

Jengeknya dengan suara sinis.

Hay lou Tocu Su Siok membentak gusar, sepasang tangannya yang diturunkan kebawah itu mendadak di angkat kedepan dada kemudian setelah membentuk gerakan gangsingan mendadak sepasang telapak tangannya digunakan bersama untuk menyerang musuh.

Ternyata, dia telah mengeluarkan ilmu silat andalannya, ilmu pukulan Hay-lou-kang.

Rupanya dia tahu kalau Ku See hong memiliki hawa khikang yang amat dahsyat yang melindungi tubuhnya, maka ilmu Hay lou kang nya kini disertai dengan tenaga dalam sebesar dua belas bagian, tampaknya dia bermaksud untuk membinasakan Ku See hong dalam sekali pukulan.

Sampai dimanakah kedahsyatannya itu tak bisa dibayangkan dengan perkataan.

Begitu serangan dilancarkan, segera muncullah desingan angin berpusing yang berputar seperti gasingan, segulung demi segulung menggulung keluar dengan sangat hebatnya, pepohonan yang berada di sekeliling tempat itu kontan saja bergoncang dengan sangat hebatnya.

Seluruh badan Ku See hong kontan saja tergencet dibawah dorongan angin berputar tersebut, sedemikian rapatnya angin serangan mana sehindgga pada hakekatnya tidak dijumpai setitik ruang kosongpun.

Mendadak ............

Telapak tangan Hay-lun-tocu Su-Siok-cu yang sedang berputar kencang itu berhenti bergerak, setelah itu ke sepuluh jari tangan nya, dipentangkan dan disentilkan ke muka bersama-sama..

Sreet....

Sreet...

serentetan cahaya tajam yang disertai dengan desingan angin pukulan yang rapat meluncur keluar menyambar ke tubuh lawan.

Angin serangan jari yang tajam itu segera bergabung dengan tenaga pukulan yang berpusing tadi dan secepat kilat meluncur ke depan mengancam sepuluh buah jalan darah penting di tubuh Ku See hong.

Menyaksikan kejadian mana, paras muka Ku Se hong berubah hebat, ternyata kesepuluh gulung angin jari yang berputar itu meluncur datang dengan kecepata luar biasa, sehingga sulit bagi orang untuk menghindarkan diri.

Dia segera merasakan datangnya desingan angin tajam seperti tusukan pedang yang mulai menyusup ke dalam tubuhnya.

Berada dalam keadaan demikian, dia tak berani bertindak gegabah lagi, terpaksa dengan mengerahkan ilmu Kan kun mi siu khi khang nya yang maha dahsyat menyambung datangnya ancaman tersebut.

Mendadak saja tubuhnya berputar seperti amukan ombak di tengah samudra, aliran hawa yang lembekpun segulung demi segulung menyambar ke atas tubuhnya dan menyeret dia ke tengah gulungan angin berpusing tersebut.

"Blaaam! Blaaam! Blaaam....!"

Secara beruntun berkumandang suara benturan keras yang memekikkan telinga.

Sekali lagi pukulan Hay lou kang dari So Siok cu yang amat dahsyat itu menemui kegagalan total, tapi Ku See hong sendiri pun merasakan hawa darah di dalam tubuhnya bergolak keras sekali.

Dengan secepat sambaran kilat Ku See hong meluncur ke hadapan So Siok Cu kemudian secara keji dia melancarkan sebuah serangan mematikan ke depan.

Mendadak pada saat itu..

Tiga orang gembrong iblis lainntya dari Tang Hay to membentak keras, bayangan manusia berkelebat lewat, tiga gulung angin secara berbarengan sudah meluncur ke depan dan menerpa tubuh Ku See hong Ku Sehong tertawa dingin, jengek nya.

"Serangan yang bagus sekali, aku toh sudah bilang, lebih baik kalian turun tangan bersama-sama, siapa suruh kalian tidak menurut?"

Walaupun dimulut dia berkata demikian, kakinya sama sekali tidak berhenti, dengan suatu kelebatan yang aneh, sepasang telapak tangannya sudah melepas kan beberapa angin pukulan yang memunahkan datangnya serangan gabungan dari ke tiga orang itu.

Begitu ketiga orang gembong iblis dari Tang hay to itu melepaskan pukulan, dengan suatu gerakan cepat tubuh meraka pun ikut menerjang ke sisi tubuh Ku See hong, telapak tangan dan kaki mereka di ayunkan bersama melepaskan serangan-serangan secara ganas dan keji.

Bagaikan titiran angin puyuh dan hujan badai saja, mereka serentak mendesak Ku See hong dengan pukulan-pukulan yang mematikan.

Mimpipun Ku See hong tidak menyangka kalau gerakan tubuh mereka sedemikian cepatnya, dia segera terdesak dan harus mundur lagi ke belakang untuk menghindar kan diri.

Sejak gagal dengan seranganya Hay lou kangnya, Su Siok cu merasa gusar sekali, pada saat itulah secara diam-diam ia sudah menyelinap ke belakang tubuh Ku See hong, lalu segenap hawa murni yang dimilikinya disalurkan ke dalam telapak tangannya dan secara tiba-tiba saja menyerang jalan darah Hian ki hiat dan Siau yau hiat di tubuh Ku See hong.

Ku See hong memang memiliki ilmu silat yang sangat lihay, ketajaman pendengaran nya juga mengagumkan, dia segera tertawa sinis, kemudian secara tiba-tiba saja berjongkok ke bawah, kaki kirinya lalu diayun kan ke depan menendang dada So Siok cu.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 27 SERANGAN ini di lancarkan dengan indah sekali, sembari berkelit melancarkan serangan, benar-benar sebuah jurus yang luar biasa...

Melihat seragannya mengenai sasaran yang kosong, Hay lou tocu Su Siokcu sudah menyadari bakal celaka, dengan cepat dia menjatuhkan diri berguling kesamping.

Tapi..."Sreeeet....!"

Tendangan dari Ku See hong menyerempet lewat dari sisi bahu kirinya, benar-benar merupakan suatu keadaan yang amat kritis.

Tapi pada saat itulah Ku See hong yang berjongkok ditanah kembali menerima serangan dari tiga gembong iblis pulau Tang hay to secara dahsyat.

Bayangan kaki, angin pukulan seperti sambaran petir ditengah mega menyapu dan menyambar datang dengan sangat hebatnya.

Ku See hong benar-benar memiliki kepandaian silat yang lihay sekali, di saat yarg kritis itulah mendadak tubuhnya melejit ketengah udara, dengan begitu sergapan dari ke tiga orang gembong iblis itupun mengenai sasaran yang kosong.

Dalam keadaan begini, ia tidak sudi memberi kesempatan lagi bagi musuhnya untuk berganti jurus, tubuhnya yang melambung ditengah udara mendadak berjumpalitan, lalu dengan kaki di atas kepala di bawah, dia menukik ke bawah sambil melancarkan sergapan, sepasang telapak tangannya secara beruntung melancarkan serangkaian pukulan dahsyat yang mengurung seluruh tubuh ke tiga orang gembong iblis itu.

Kepandaian silat yang dimiliki ketiga orang gembong iblis itupun luar biasa sekali, begitu serangan dahsyat tersebut dilontarkan ke hadapan mereka, ke tiga orang itu segera mengundurkan diri sambil berkelit ke samping.

Dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa Ku See hong harus melayang turun kembali ke atas tanah, tapi saat itulih serangan dari Su Siok cu, kembali menyambar datang dari sisi sebelah kiri Ku See hong.

Cara pertarungan bergilir dan bergerilya semacam ini benar-benar merupakan sebuah taktik pertarungan yang sangat luar biasa dan membuat orang susah untuk menahan diri.

Sekalipun Ku See hong memiliki kepandaian silat yang sangat tangguh, tak urung dia dibikin kerepotan juga menghadapi kerubutan dari ke empat orang gembong iblis dari pulau Tang hay to itu sehingga keteter hebat dan dibikin apa boleh buat.

Pada saat itulah...

Dari balik kawanan jago dpersilatan yang mengurung sekeliling kolam tersebut berkumandang suara tertawa geram di susul pujian terdengar seseorang berseru dengan suara lantang.

"Sute jangan kuatir, aku datang membantu mu!' Orang itu tak lain adalah Jian hun kim ciang Tu Pak kim, tubuhnya bagaikan sukma gentayangan berkelebat ke depan, Begitu sampai ditengah arena, ujung baju nya segera dikebaskan ke depan segulung angin yang maha dahsyat secara langsung menghantam ke tubuh Hay to tocu So Siok Cu.

Agak kaget Hay lou Toucu Su Siok cu merasakan datangnya ancaman, dia segera berpaling, tapi perasaannya semakin bergetar lagi setelah menyaksikan seorang manusia aneh berwajah jelek sudah berada di depan mata, buru-buru dia manyelinap ke samping untuk meloloskan diri.

Di saat lain, Thian kun tee ciang Khong Tang lun sudah membentak dengan suara mengeledek.

"Jian hun kim ciang Tu Pak kim, lohu akan menemani dirimu untuk bermain-main!"

Sambil menerjang datang, telapak tangan kirinya melancarkan bacokan kemuka sementara telapak tangan kanannya melepas kan sebuah pukulan melintang.

Dua gulung tenaga pukulan dengan tenaga yang berbeda satu lembut dan satu keras bersama-sama menyergap ke atas tubuh Jian hun kim ciang Tu Pak kim.

Maka terkesiap juga, Jian hun kim ciang Tu Pak kim sewaktu namanya kena disebut orang, dengan suatu gerakan yang aneh cepat-cepat dia meloloskan diri dari serangan Thian kun tee ciang Kong Tang lun tersebut, kemudian serunya sambil tertawa seram.

"Siapa kau? Tajam amat penglihatanmu ...heeehhh.. heeehhh...heehhh..."

"Tu Pak kim!"

Kembali Thian kun tee ciang Khong Tang lun membentak dingin.

"Sekalipun kau tidak kenal dengan lohu, aku justru kenal siapakah dirimu itu, haaahhh... haaahhh... haaahhh... sambutlah sekali lagi seranganku ini!"

Tubuhnya secepat kilat menerjang majun ke depan, sepasang lengannya berputar membentuk satu lingkaran bayangan busur, lalu sambil membentak keras sepasang tangan kiri kanannya secara bersilang melancarkan bacokan ke muka.

Dua gulung tenaga pukulan yangb sangat dahsyatd dan dalam bagaaikan samudra, lbangsung menerjang ke atas jalan darah Ciang tay hiat dan Ciang bun hiat di atas tubuh Jian hun kim ciang Tu Pak kim, Serangan yang dilepaskan ini, dilakukan dengan kecepatan amat luar biasa.

Kehebatannya pun bagaikan amukan ombak ditengah samudra, cukup membuat semua orang amat terkesiap.

Mencorong sinar tercengang dari balik mata Jian hun kim ciang Tu Pak kin, sepasang telapak tangannya ikut dilontarkan pula kemuka melancarkan serangan.

Begitu pukulan dilepaskan, segulung angin pukulan yang kuat seperti amukan ombak yang besar dan kuat menggulung ke depan, kedahsyatan cukup menggetarkan sukma setiap orang...

"Pleeetakkk..!"

Suara benturan nyaring seperti ledakan guntur pun menggellegar memecahkan keheningan...

Akibat dari benturan keras itu, Thian kun te ciang Khong Tang lun mundur sejauh tiga empat langkah dengan sempoyongan.

Sebaliknya sepasang bahu Jian hun Kim ciang Tu Pak kim juga turut bergoncang keras.

Tiba-tiba ia menjerit kaget.

'Aaaah !

Kau...

kau adalah Thian kun tee ciang Khong Tang lun.."

Thian kun tee ciang khong Tang lun segera tertawa.

"Semua rahasia dari Ban sia kau kalian sudah berhasil kuselidiki dengan jelas sekali.. hingga kini kau baru tahu akan indentitas lohu? Haaahh... haaahhh... kasihan, benar-benar patut dikasihani.."

Jian hun kim ciang Tu Pak kim tertawa dingin.

"Heeehhh.. heeehhh.. heehhh kagum! Sungguh amat kagum! Tapi nyawamu juga hanya akan hidup sampai pada malam ini juga..!"

Begitu selesai berkata, tubuh Jian hun kim ciang segera mendesak ke muka seperti sambaran setan gentayangan, sepasang telapak tangan dan kakinya digunakan bersama menotok tubuh Thian kun tee ciang Khong Tang lun..

Sementara itu, dia pun pada saat yang bersamaan berteriak keras-keras.

"Kawan-kawan perrsilatan, mari kita ber-sama-sama menumpas anrggota Hiat mo bun!"

Ditengah bentakan nyaring itu, tujuh orang tongcu Jian khi pang dan Thi kiong pang sudah menerjang ke depan dengan melom-pati telaga selebar tiga kaki itu.

Tiba-tiba saja dari balik mata manusia berkerudung itu memancar keluar serentetan sorot mata yang menggidikkan hati, kemudian ia membentak nyaring...

Tubuhnya bagaikan sambaran petir menyerbu ke muka dan menyangsong datangnya orang pertama dari Jian khi pang.

Tampak telapak tangan kirinya yang putih halus itu digetarkan keras-keras ke depan...

Mendadak berkumandang suara jeritan ngeri yang memilukan hati...

Rupanya didalam satu gebrakan saja Tongcu dari Jian khi pang itu sudah dibikin mampus.

Gerakan tubuhnya sama sekali tidak terhenti akibat kematian dari korban pertamanya, dengan gesit dia menyambut pula kedatangan orang ke dua dan orang yang ketiga.

Sepasang telapak tangannya segera digerakan ke depan dengan gerakan Pok hok tian ci (burung bangau mengembangkan sayap).

Tongcu ke dua dari perkumpulan Jian khi pang kembali menemui ajalnya sebelum berhasil menangkis ancaman mana...

Empat orang tongcu dari Thi kiong pang yang menyusul kemudian menerjang tiba itu segera membentak bersama-sama, ke empat pasang telapak tangan mereka diayunkan bersama, segulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan amukan ombak ditengah samudra pun segera menggulung ke arah depan.

Dua orang diantaranya dengan cepat meloloskan busur besi yang tergantung di belakang bahu mereka, setelah itu turut menerjang pula kedepan.

Busur baja mereka dengan membentuk dua gulung kabut cahaya berwarna hitam langsung dibacokkan ke atas tubuh manusia berkerudung itu.

Kepandaian silat yang dimiliki manusia berkerudung itu benar-benar telah mencapai tingkatan yang luar biasa, tubuhnya tanpa berhenti barang sekejap pun tahu-tahu telah berhasil menembusi lingkaran hawa pukulan yang tajam dan kuat itu.

Mendadak tubuhnya melejit ke udara dan melambung setinggi satu kaki lebih dari permukaan tanah, sepasang kakinya secepat kilat melepaskan serangkaian tendangan berantai..

Dua orang Tongcu dari Thi kiong pang yang sedang menerjang tiba itu tak mengira datangnya ancaman mana, tak ampun lagi batok kepala mereka segera kena tertendang sampai hancur berantakan, dua lembar nyawa mereka pun ikut melayang..

Ketika melihat gelagat tidak menguntung kan, dua orang tongcu dari Thi kiong pang lainnya segera membalikkan badan sambil mencoba untuk melarikan diri.

Agaknya manusia berkerudung itu sudah dipengaruhi oleh hawa napsu membunuh yang mengerikan, bagaimana mungkin dia membiarkan ke dua orang itu kabur dengan selamat?

Berada di tengah udara, tiba-tiba sepasang telapak tangannya melancarkan sentilan ke depan, sepuluh gulung desingan angin tajam secara terpisah menyambar lima buah jalan darah penting di tubuh masing-masing orang.

Desingan angin serangan yang tajam segera menyapu ke muka membelah angkasa.

Disusul kemudian...

Kembali terdengar dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan...

Dari atas punggung ke dua orang Tongcu dari Thi kiong pang itu segera menyembur keluar lima buah pancuran darah yang muncrat ke angkasa, sementara tubuhnya yang termakan oleh dorongan sisa kekuatan mana segera mencelat sejauh beberapa kaki dan terlempar ke tengah kolam.

Begitulah, hanya dalam waktu yang amat singkat manusia berkerundung itu telah berhasil menghabisi tujuh orang tongcu dari Thi kiong pang dan Jian khi pang.

Demonstrasi kepandaian silat yang sangat lihay ini kontan saja membuat semua orang terbelalak dengan mulut melongo.

Perlu dikerahui, ke tujuh orang Tongcu itu sesungguhnya bukan manusia sembarangan, mereka merupakan jagoan kelas satu dari masing-masing perkumpulan, juga merupakan jagoan kelas satu dalam dunia persilatan, tapi kenyataannya dalam waktu sing-kat mereka sudah habis dibantai oleh manusia berkerudung itu tanpa ada kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.

Sedangkan ilmu kepandaian yang digunakan manusia berkerudung itu untuk membunuh lawannya pun cukup membuat para jago terkesiap, tanpa terasa muncul perasaan ngeri dan berdiri semua bulu kuduk mereka.

Tentu saja tak seorang manusia pun yang berani mempertaruhkan jiwanya dengan sembarangan.

Dalam pada itu, para anggota Hiat mo bun yang semula mengelilingi hiolo kemala itu, sekarang sudah berlarian cepat ke hadapan manusia berkerudung itu dan berdiri berjajar dihadapannya.

Dengan suara yang amat dingin dan menggidikkan hati manusia berkerundung itu berkata.

"Hiat mo bun adalah sekelompok manusia penegak keadilan dan kebenaran di dalam dunia persilatan, kami khusus membunuhi manusia-manusia jahat yang sering melaku kan kejahatann, apabila 897 kalian sama sekali tidak ada hubungannya dengan kami, paling baik jangan mempertaruhkan jiwa sendiri untuk menyerempet bahaya, tapi jika kalian masih saja tak tahu diri terpaksa anggota Hiat mo bun kami akan membunuh kalian tanpa ampun lagi...."

Dalam pada itu Ku See hong dibawah kerubutan ke empat orang gembong iblis dari Tang hay to sudah kena didesak sehingga cuma bisa menangkis dan mempertahankan diri belaka..

Suatu ketika, mendadak tiga orang gembong iblis dari Tang hay to itu menyentilkan jari tangan kirinya melancarkan segulung pukulan berhawa dingin yang disusul dengan gerakan tubuh mereka yang memburu ke depan, enam buah telapak tangan mereka dengan berubah menjadi beribu-ribu bayangan telapak tangan bagaikan titiran angin puyuh dan hujan badai langsung mengurung seluruh tubuh Ku See hong, malah kaki-kaki merekapun sama sekali tidak berhenti, serangkaian tendangan berantai yang amat dahsyat dan keji serentak dilontarkan kemuka.

Hay lou tocu Su Siok cu tidak tinggal diam, saat yang bersamaan tubuhnya segera ber-jongkok, kemudian seperti angin berpusing sepasang telapak tangannya menyerang tubuh bagian bawah dari Ku See hong dengan kedahsyatan yang luar biasa.

Dengan begitu maka tubuh bagian atas tengah, bawah dan empat arah delapan penjuru Ku See hong telah berada dibawah ancaman musuh yang ganas dan keji.

Dengusan tertahan segera berkumandang memecahkan keheningan...

Karena kurang cepat sewaktu berkelit, pinggang belakang Ku See hong sudah terkena tendangan dari salah seorang dari gembong iblis itu sehingga tubuhnya bergoncang keras dan mundur sejauh tiga empat langkah..Melihat musuhnya kena tendangan, ke empat orang gembong iblis dari Tang hay to tersebut makin bersemangat, di ringi bentakan nyaring, jurus-jurus serangan mereka kembali dilontarkan bagaikan 898 titiran air hujan, hawa serangan yang kuat seperti dinding baja pun bagaikan ambruknya bukit karang langsung menekan ke bawah.

Tiba-tiba, mencorong hawa pembunuhan yang amat mengerikan dari balik mata Ku See hong, serentetan suara gelak tertawa panjang dan memekikkan telingapun menggema diseluruh angkasa..

Sepasang lengan Ku See hong diputar dengan amat kencangnya ditengah udara, di tengah desingan angin tajam yang memekikkan telinga segera terbias segulung demi segulung bayangan cahaya yang membuat orang merasa pusing kepalanya.

Menyusul kemudian...

Disaat sepasang lengannya menciptakan cahaya yang berlapis-lapis, mendadak tubuh nya miring ke samping, lalu secara aneh sekali seluruh badannya bergeser lima depa dari posisi semula.

Mendadak..

sepasang kakinya bergetar sebentar ditengah udara lalu melayang turun kembali ke atas permukaan tanah.

Bersamaan dengan sepasang kakinya menempel tanah, tiba-tiba Ku See hong menerjang maju ke depan dan menyusup ke tengah gulungan angin pukulan yang dilepaskan ke empat orang gembong iblis itu kemudian sepasang telapak tangannya direntangkan ke kiri dan ke kanan..

'Sreet!

Sreet!' dua desingan tajam bergema..

Disaat yang amat kritis, tiba-tiba terdengar manusia berkerudung itu berteriak keras.

"Kalian berempat cepat..."

Belum sempat karta "mundur"

Diutarakan, manusia berkerudung itu sudah melepaskan sebuah pukulan dari kejauhan, segulung angin pukulan yang sangat aneh pun seperti jaring langit langsung mengurung tubuh Ku See hong dan ke empat gombong iblis dari Tang hay to.

Disaat inilah dua gulung cahaya putih secepat petir sudah menyergap jalan darah Thian si hiat dibagaian bawah tubuh dua orang gembong iblis.

Jurus serangan yang dipergunakan itu tak lain adalah gerakan ke tiga dari jurus Ho han seng huan yang bernama Tee jian hun gi (tanah musnah sukma neraka)' Sekalipun manusia berkerudung itu sudah melancarkan sebuah pukulan aneh dengan cepat untuk memunahkan hawa yang maha dahsyat tersebut, namun tak urung toh mengakibatkan ke dua orang gembong iblis itu menderita luka dalam yang cukup parah.

Terdengar dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecah kan keheningan...

Dua orang gembong iblis itu kena terhantam sampai mencelat sejauh dua kaki lebih dari posisi semula dan jatuh terduduk diatas tanah, sementara gumpalan darah menyembur keluar dari balik lubang kecil dibalik topeng tenggorokan tersebut, lalu tubuh mereka yang terduduk itupun pelan-pelan roboh terjengkang ke tanah.

Dua orang gembong iblis lainnya seakan-akan tak tahu diri saja, sambil memutar sepasang lengannya, mereka melancarkan serangan lagi dengan amat dahsyat.

Napsu membunuh Ku See hong segera berkobar, tanpa terasa perdengarkan suara tertawa dingin yang amat sinis.

Tiba-tiba sepasang lengannya diputar lagi secara aneh, rupanya dia hendak melukai musuhnya lagi dengan gerakan kedua jurus Ho han seng huan.

Pada saat itulah manusia berkerudung itu sudah menerjang datang ke arah belakang Ku See hong bagaikan sukma gentayangan, segulung hawa pukulan yang berhawa dingin pun turut meluncurkan ke depan secepat sambaran petir.

Ku See hong amat terkesiap, dengan mengeluarkan gerakan tubuh Mi ki biau tiong mendadak saja dia menyelinap ke luar secara 900 aneh, telapak tangan kanannya cepat diulurkan ke belakang punggungnya..

"Cri ing!"

Dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan...

Tahu-tahu pedang mestika Hu thian seng kiam sudah diloloskan dari sarungnya..

Kaki kiri Ku See hong segera bertekuk ke belakang sementara kaki kanannya diluruskan ke muka, gagang pedang dalam tangan kanannya diayun ke belakang, sementara jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya melakukan gerakan aneh.

Serentetan cahaya tajam yang membetot sukma memancarkan keluar dari balik mata pemuda ini, keningnya berkerut, tanpa terasa tercerminlah suatu kewibawaan yang luar biasa.

Sementara itu.

kawanan jago dari Hiat mo bun yang sebetulnya berdiri berjajar menghadang dihadapan kawanan jago itu dengan cepat membalikkan tubuhnya setelah mendengar dua kali dengusan mengerikan tadi, Akan tetapi mereka segera merasa bergidik setelah menyaksikan Ku See hong meloloskan pedang mestika bercahaya merah itu sambil melakukan gerak serangan, tak seorangpun diantara mereka yang berani maju untuk melancarkan serangan.

Sebab dari balik gaya serangan yang diambil Ku See hong sekarang, terbentuklah segulung hawa pembunuhan yang mengeri kan, barang siapa berani melakukan serangan secara gegabah, niscaya dia akan tewas secara mengerikan ditangan Ku See hong.

Dari balik mata sastrawan berbaju perlente Hoa Siong si segera memancar keluar rasa kaget yang tebal, sepasang telapak tanganya segera diangkat sejajar dada kemudian selangkah demi selangkah pelan-pelan berjalan mendekati Ku See hong.

"Ho Buncu, jangan bertindak gegabah!"

Manusia berkerudung itu segera memperingatkan.

"orang ini mempunyai riwayat yang luar biasa, coba kau saksikan pedang tersebut..."

Pada saat yang bersamaan, kawanan jago persildatan yang berdiri disamping jebmbatan bambu itu sudah terjadi kegaduhan. kemudian terdengar ada orang menjerit kaget.

"Pedang Ang soat kiam! Pedang Ang soat kiam, pedang yang berada ditangan Leng hun koay seng adalah pedang Ang soat kiam!"

Yaa, pedang Ang soat kiam merupakan pedang yang digandrungi oleh setiap umat persilatan, ketika pedang tersebut berada ditangan Si hong lo jin dulu, senjata itulah yang telah menetapkan nasibnya yang tragis, membunuh istri sendiri, membunuh putra sendiri, membunuh kakak sendiri, membunuh adik sendiri...

Dua orang gembong iblis diri Tang hay to yang berhasil lolos dari ancaman maut jurus Ho han seng huan dari Ku See hong tadi, kembali membentak keras setelah mendengar senjata ditangan anak muda itu adalah pedang Ang soat kiam, bagaikan sukma gentayangan saja mereka langsung menubruk ke arah Ku See hong.

Serentetan cahaya pedang bergetar keras, dua kali dengusan tertahan segera berku-mandang memecahkan keheningan...

Rupanya bahu kiri dari ke dua orang gembong iblis itu sudah kena tersambar robek hingga muncul sebuah mulut luka sepanjang tiga inci lebih, darah segar sedang memancar keluar dengan amat derasnya dari mulut luka tersebut.

Ku See hong masih tetap berdiri pada posisi semula, berwajah angker dan sekulum senyuman keji tersungging di ujung bibirnya.

Dia seakan akan sedang mengejek, seperti juga...

Tapi yang pasti sikapnya pada saat itu sangat angkuh!

Waktu itu sudah terdapat belasan orang jago persilatan yang semula mengepung telaga itu berlarian mendekat dan siap merampas pedang Ang soat kiam dari tangan Ku See hong.

Tapi setelah menyaksikan jurus pedangnya yang begitu aneh ketika melukai lawan, hati mereka menjadi bergidik dan serentak 902 orang-orang itu menghentikan langkahnya, tak seorang pun diantara mereka yang berani maju lagi.

Kembali Ku See hong tertawa sadis, ujarnya kemudian dengan suara yang amat menyeramkan.

"Wahai kawanan jago persilatan, dengarkan baik baik! Bila kalian bermaksud untuk merebut pedang ini, jangan salahkan aku orang she Ku akan melakukan pembantaian secara kejam dan tidak mengenal ampun"

Selesai memperingatkan kawanan jago silat itu, kembali Ku See hong berpaling ke arah manusia berkerudung itu, kemudian, seru nya.

'Siapa lagi diantara jago jago Hiat mo bun kalian yang ingin menjajal kepandaianku?"

Dari balik mata Sastrawan berbaju perlente Hoa Siang si segera mencorong keluar sinar amarah yang tebal, serunya dengan suara dingin dan ketus.

`Ku See hong!

Tak kusangka kalau kau begitu kasar dan sombong, baik lohulah yang akan mencoba kehebatanmu itu!"

Selesai berkata, sastrawan berbaju perlente Hoa Siong si melangkah menuju ke posisi Tiong kiong dan menyongsong ke ujung pedang Hu thian seng kiam tersebut.

Tatkala tubuhnya maju ke depan tadi jubah yang dikenakannya nampak bergetar keras, Ku See hong segera merasakan muncul nya gulungan hawa murni yang tak berwujud mendesak dan menekan ke arah dadanya.

Sementara si anak muda itu sedang tertegun, sastrawan berbaju perlente Hoa Siong si telah mengebaskan telapak tangan kirinya.

"Cri ingg..!"

Tahu-tahu pedang Hu thian seng kiam yang berada ditangan Ku See hang sudah kena dihantam oleh sebilah pedang kecil Jui sim kiam hingga miring ke samping.

Dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat itulah, sastrawan berbaju perlente itu sudah mementangkan ke lima jari tangan kanannya dan menyambar ke arah perge-langan tangan kanan Ku See hong yang menggenggam pedang itu.

Menghadapi ancaman tersebut, Ku See hong menjadi sangat terperanjat, segera pikirnya "Sungguh tidak kusangka kalau orang ini memiliki tenaga dalam yang begitu lihay"

Dalam terkesiapnya, tubuh Ku See hong segera berputar setengah arah, lalu pergelangan tangan kanannya diangkat ke atas secara aneh sekali.

tahu-tahu mata pedang tersebut sudah membabat pergelangan tangan kanan Hoa Siong si yang sedang melancarkan serangan mencengkeram.

Jurus pedang ittu benar-benar memiliki perubahan yang luar biasa dan sama sekali tak terduga oleh siapa pun.

Hampir semua gerakanya merupakan jurus-jurus maut yang tertuju untuk menyerang dan menghabisi lawan secara ganas, keji dan sadis.

Sastrawan berbaju perlente Hoa Siong si menggerakkan bahu kanannya ke samping, kemudian tubuhnya mundur setengah langkah ke belakang, agaknya dia bermaksud untuk berganti jurus sembari melancarkan serangan berikutnya.

Tapi pada saat itulah pedang Hu thian seng kiam yang berada ditangan Ku See hong telah menggertakan selapis cahaya pelangi yang memeningkan kepala orang, seolah-olah muncul seribu batang bayangan pedang yang bersama-sama mengurung seluruh tubuh sastrawan berbaju perlente Hoa Siang si.

Menyaksikan datangnya gerakan pedang tersebut, dengan suatu gerakan yang sangat cepat tiba-tiba saja Hoa Siong si berputar keluar ke sisi sebelah kanan.

Tapi pedang Hu thian seng kiam yang berada ditangan Ku See hong itu segera memperdengarkan suara gemerincing yang amat nyaring.

Serentetan hawa pedang yang lembut tapi tajamnya bukan kepalang hagaikan sambar-an petir menyambar ke jalan darah Khi hay hiat di tubuh Hoa Siong si.

Serangan hawa pedang itu datangnya cepat dan sama sekali belum pernah di jumpai dikolong langit.

Mendadak manusia berkerudung itu membentak keras.

"Cepat melejit ke atas!"

Waktu itu Sastrawan berbaju perlente Hoa song si sedang terkesiap dan berpekik dalam hati. 'Habis sudah riwayatku kali ini!"

Maka begitu mendengar suara peringatan itu, serta merta tubuhnya melejit ke tengah udara sejauh delapan sembilan depa lebih. Ku See hong kembali membentak dengan suara dingin.

"Siapa yang bisa lolos dari serangan mautku ini?"

Ditengah seruan mana, tiba-tiba saja pedang Hu thian seng kiam tersebut kembali berubah arah dan langsung menusuk ke jalan darah Tong suan hiat di dasar telapak kaki kiri Hoa Siong si.

Jalan darah yong swan hiat dan Pek hway hiat merupakan dua buah jalan darah mematikan ditubuh manusia, terutama bagi kawanan jago yang ilmu silatnya telah mencapai tingkatan yang luar biasa, asal kedua buah jalan darah tersebut kena terserang orang, niscaya jiwa mereka akan lenyap tak berbekas.

Perubahan jurus pedang dari Ku See hong ini diputar secara aneh dan cepat sekali, mimpipun Hoa Siong si tidak menyengka kalau perubahan tersebut bisa dilakukan dengan kecepatan seperti ini, disaat dia hendak berkelit ke samping inilah, segulung desingan hawa pedang yang tajam telah tiba di dasar telapak kakinya.

Sastrawan berbaju perlente Hoa Siong si segera tertawa seram, tampaknya dia bermaksud untuk melancarkan jurus ampuh untuk mengajak Ku See hong beradu jiwa.

Sewaktu manusia berkerudung itu memberikan peringatan yang pertama kali tadi, dia sudah berada disisi Ku Se hong maka ketika dilihatnya si anak muda itu sama sekali tidak berperasaan bahkan bersiap melancarkan serangan keji, tiba-tiba saja katanya sambil menghela napas sedih.

"Ku See hong apakah kau berhati begitu kejam?"

Disaat pembicaraan tersebut berlangsung, jalan darah Thian ci dan ciang tay hiat ditubuh Ku See hong telah kena ditekan pelan oleh jari tangan si manusia berkerudung yang lembut dan halus itu.

Ketika Ku See hong menyaksikan kedua jari tangannya yang putih halus dan mendengar perkataan itu.

hatinya terkesiap buru-buru dia menarik kembali pedangnya sambil melompat mundur sejauh lima enam langkah dengan terkejut, dengan sorot mata yang sedih dan murung dia mengawasi manusia berkerudung itu termangu..

"Kau... kau.. adalah.."

Sebelum kata "adik Seng diucapkan, manusia berkerudung itu sudah membentak nyaring.

`Ku See hong, barusan kau telah terkena ilmu menotok jalan darahku...

Hmm sekarang, kau pun boleh merasakan bagaimana enaknya menghadapi kematian!"

Bentakan yang keras serta pancaran sinar matanya yang kejam dab buas ibaratnya guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, kontan saja membuat Ku See hong menelan kembali kata "adik Seng"

Yang belum sempat diutarakan itu.

Serentak sorot mata yang dingin dan mengerikan pun segera memancar pula dari balik matanya, masih tetap mengambil posisi dengan jurus pedang yang tangguh, dia berkata dingin.

`Hmmm, kalau kudengar dari kemampuan mu untuk memecah jurus pedangku tadi, nampaknya kepandaian silatmu sangat tinggi pula, mengapa tidak turun tangan sendiri untuk menjajal kemampuanku?

Kalau toh aku sudah terkena serangan gelapmu.

Baik lah, akan kugunakan sisa nyawaku yang pendek ini untuk membacok mampus dirimu!"

Secara diam-diam Ku See hong telah mencoba untuk memeriksa hawa murni dalam tubuhnya, ternyata dia tidak menemu kan sesuatu gejala yang tak beres, maka dia lantas menduga kalau serangan kejinya itu belum sampai menyebabkan luka tersebut kambuh...

Manusia berkerudung itu tidak menggubris pertahanan dari Ku See hong lagi, Sembari berpaling ke arah anggota Hiat mo bun nya, dia berseru.

"Segenap anggota Hiat mo bun segera mundur dari lembah Yu cui kok! Hoa hu buncu biar aku yang menghadapi orang ini, kau segera pimpin segenap anggota perguruan untuk mundur dari sini!' 'Buncu, kita akan berjumpa lagi dimana?"

Tanya sastrawan berbaju perlente Hoa Siong si.

Manusia berkerudung itu segera berpaling ke arah bocah berkerudung topeng tengkorak itu sembari berseru.

'Adik Khi, bawa semua angggota perguruan menuju ke tempat itu!"

Dari balik mata Kho It khi segera terpancar keluar serentetan sinar yang amat lembut, ditatapnya perempuan itu, lalu ujarnya dengan pelan.

"Cici, kau harus bekerja dengan berhati-hati!' Selesai berkata, dia menyelinap kembali ke depan hiolo tersebut, lalu sambil membopong hiolo kemala tadi teriaknya.

"Kawan-kawan dari hiat mo bun, mari kita mundur!"

Sementara itu kawanan jago lihay dunia persilatan yang berada disekeliling tempat itu telah membentak keras.

serentak mereka menyerbu ke muka, ada yang mengejar orang-orang Hiat mo bun, ada juga yang mengerubut Ku See hong.

Dengan suara nyaring kembali manusia berkerudung itu membentak.

"Semua anggota Hiat mo bun mundur, biar aku yang menghadapi keadaan disini!"

Ditengah pembicaraan mana, tubuhnya seperti sukma gentayangan telah menerjang masuk ke dalam rombongan manusia tersebut.

Serentetan suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati pun bergema diseluruh lembah tersebut.

Dalam waktu singkat, berapa puluh orang jago persilatan yang sedang menyerbu ke arah orang-orang Hiat mo bun itu sudah menemui ajalnya di ujung telapak tangan manusia berkerudung yang amat lihay itu.

Sebaliknya Ku See hong juga tidak ambil diam, cahaya pedang nampak bergetar keras dan darah serta daging manusia pun beterbangan memenuhi seluruh angkasa.

Ditengah jeritan ngeri yang memekikkan telinga, secara beruntun dia telah membacok mati tujuh delapan orang.

Semut saja masih ingin hidup apalagi manusia.

Pembantaian secara keji dan sadis itu seketika membuat kawanan jago persilatan lainnya sama sama mundur ke belakang dengan wajah ngeri, seram dan takut.

Tapi apa pula yang bisa mereka lakukan?

Yang dapat lakukan hanya membenci atas ketidak kemampuan diri sehingga mereka hanya bisa menyaksikan anggota Hiat mo bun mengundurkan diri dari situ dengan mata melotot tanpa bisa berbuat apa-apa.

Mereka pun hanya bisa membelalakkan mata sambil mengawasi pedang mestika Hu thian seng kiam di tangan Ku See hong.

Dipihak lain, Jian hun kim ciang Tu Pak kimpun sedang melangsungkan suatu pertempuran yang amat sengit melawan Thian kun tee ciang Khong Tang lun.

Sekalipun Thian kun tee ciang Khong Tang lun merupakan seorang pendekar besar yang sudah termashur namanya semenjak dua puluh tahun berselang diluar perbatasan, tapi dibawah serangan gencar dari Jian hun kimi ciang Tu Pak kim yang keji dan ganas, dia kena dipaksa juga sampai tubuhnya sempoyongan dan pakaiannya robek beberapa bagian disana sini..

"Khong tayhiap, cepat mundur dari situ, biar aku yang menghadapi dirinya!"

Tiba-tiba manusia berkerudung itu membentak keras.

Sementara tubuhnya berkelebat, tahu-tahu ia sudah menerjang ke tengah-tengah tubuh kedua orang itu, jari tangan kirinya dari suatu sudut posisi yang sengat aneh langsung menyerang ketubuh Jian hun kim Ciang Tu Pak kim.

Thian kun tee ciang Khong Tang lun segera berpekik nyaring dengan suara yang memilukan hati, lalu secepat sambaran petir berkelebat dari situ.

Seperti diketahui, Jian hun kim ciang Tu Pak kim adalah murid Bun ji koan su, kelihayan ilmu silatnya bisa dibayangkan, siapa sangka dalam satu gebrakan saja dia sudah kena dipaksa mundur oleh manusia berkerudung tersebut.

Begitu manusia berkerudung tersebut melancarkan serangan dengan tangan kirinya, sepasang kakinya turut diayunkan pula ke depan, sementara telapak tangannya melancarkan serangkaian pukulan berantai.

Dalam waktu singkat, sodokon jari tangan, tendangan maupun pukulan telapak tangan sudah dilontarkan semua secara beruntun.

Bagaikan malaikat bertangan banyak saja, tahu-tahu dia sudah melancarkan dua belas buah pukulan dan delapan buah tendangan kilat.

Telapak tangannya seperti gulungan samberan petir dan curahan hujan badai nelanda ke depan dengan sangat hebatnya.

Ganasnya serangan dan kejinya ancaman ibarat bendungan yang ambrol diterjang air bah, keadaannya benar-benar mengerikan hati.

Kendatipun ilmu silat yang dimiliki Jian hun kim ciang Tu Pak kim sangat lihay dan luar biasa, tak urung dia didesak juga sampai gugup dan kalang kabut tak karuan.

Jurus-jurus serangan ampuh segera dilontarkan berulang kali, dengan mengim-bangi segulung angin puyuh yang amat dahsyat segera melakukan penghadangan demi penghadangan.

Begitulah, didalam waktu singkat ke dua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru, jurus serangan yang tangguh dan dahsyat pun dilontarkan berulang kali, meski seru dan ramai, namun jurus-jurus ampuh yang digunakan cukup membuat para penonton lantas memutar otak dengan keras.

Tiba-tiba Ku See hong membentak nyaring, pedang Hu thian seng kiam yang berada ditanganya berubah menjadi serentetan cahaya pelangi yang dengan cepat mengurung seluruh badan manusia berkerudung itu.

Melihat datangnya ancaman dari Ku See hong, manusia berkerudung itu segera menggerakkan bahunya dan menyelinap keluar.

Jian hun kim ciang Tu Pak kim segera memanfaatkan peluang tersebut untuk mengundurkan diri.

Setelah berhasil mendesak mundur manusia berkerudung itu, Ku See hong juga juga tidak melakukan pengejaran lebih jauh, ia segera menghentikan gerakkannya.

Jian hun kim ciang Tu Pak kim segera tertawa terkekeh-kekeh dengan liciknya, lalu berseru.

' Ku sute, banyak terima kasih atas bantuan untuk membebaskan aku dari kepungan"

"Tu Pak kim!"

Ucap Ku See hong dengan suara dingin.

"sekarang aku membantumu untuk meloloskan diri dari bahaya karena tadi kaupun membantu aku, sekarang hutang kita sudah impas dan kau tetap merupakan musuh besar pembunuh guruku."

"Cuma kali ini aku bersedia melepaskan dirimu untuk sementara waktu, bila lain waktu kita bersua lagi, saat itulah merupakan saat naas bagimu!` Mendadak terdengar manusia berkerudung itu berteriak keras. `Ku See hong, malam ini kau sudah banyak melukai anggota Hiat mo bun kami, dendam sakit hati ini harus kita selesaikan pada saat ini juga..' "

Alangkah baiknya kalau kita bisa menyelesaikan pada detik ini juga disini!"

"Tempat ini kurang leluasa. lebih baik kita berpindah ke tempat yang lebih terpencil"

"Baik, terserah bamampuanmu! " ' Tiba-tiba Jian hun kim ciang Tu Pak kim tertawa licik, kemudian berseru.

"Ku sute, jangan sampai tertipu oleh akal muslihatnya' "

Bajingan goblok, kau jangan mencoba untuk mencari keuntungan di air keruh"

Hardik manusia berkerudung itu dengan suara dingin."

"Mana-mana... tak ada salah nya untuk dicoba,"

Jengek Jian hun kim ciang Tu Pak kim sambil tertawa. Mencorong sinar tajam penuh hawa napsu membunuh dari balik mata manusia berkerudung itu, segera bentaknya keras-keras.

"Kau benar-benar ingin mampus?"

Ku See hong mendengus dingin, tiba-tiba selanya.

"Saudara lebih baik tak usah membuang banyak waktu lagi!"

Kemudian sambit berpaling ke arah Jian hun kim ciang Tu Pak kim.. bentaknya pula.

"Tu Pak kim, kau tak usah berpura-pura dan bermain sandiwara terus dihadapanku, terus terang saja kuberitahukan kepadamu, aku orang she Ku sudah cukup memahami watak busuk kalian manusia-manusia munafik yang berhianat, dendam sakit hati di antara kita selamanya tak akan pernah berakhir, keadaan kita kita tak ubahnya seperti api dengan air.

"Hari ini, aku orang she Ku tidak melakukan pembersihan terhadap perguruan karena aku menginginkan kau untuk hidup beberapa saat lagi, jika kau tetap menginginkan kematian secara tragis.

baik!

Tak ada salahnya bagimu untuk segera maju sekarang juga..

Terdengar manusia berkerudung itu kembali berseru dengan suara lantang.

"Ku See hong!

Ayo kita segera berangkat' Suaranya amat merdu tapi nyaring dan penuh dengan pancaran kewibawaan yang hebat.

Tubuhnya melambung dan berputar satu lingkaran ditengah udara, gerakkannya enteng, lincah dan indah, kemudian dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya langsung meluncur ke sisi tebing dimana air terjun tersebut berada.

Kelihayan ilmu meringankan tubuhnya benar-benar mengagumkan setiap orang yang memandangnya.

Diam-diam Ku See hong pun mengagumi kelihayan ilmu meringankan tubuh lawan, dia segera berpekik nyaring.

Tubuhnya mendadak melejit pula ditengah udara, lalu diantara berkibarnya ujung baju seperti kilauan cahaya tajam menyusul ke arah mana perempuan itu berlalu.

Tatkala para jago persilatan lainnya yang berkumpul dalam lembah Yu cui kok menyaksikan ke dua orang itu sudah pergi jauh, serentak mereka pun bersama-sama menyebarkan diri.

Mendadak...

pada saat itulah.

Pendeta tua berbaju Lhasa yang semula bersembunyi diatas pohon siong dimana Ku Se hong bersembunyi tadi, dengan suatu gerakan yang sangat enteng melayang turun keatas tanah.

Pada saat yang bersamaan pula, dari atas dahan pohon dari balik selat bukit yang sempit berlompatan keluar tujuh delapan orang, diantara pekikan nyaring semua orang segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh masing-masing untuk meluncur pula ke depan.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki beberapa orang itupun amat lihay, tak kalah dengan gerakan tubuh dari seorang ketua dari suatu perguruan besar' Dalam waktu singkat rombongan manusia-manusia berilmu tinggi itu telah lenyap ditengah kabut fajar..

Tiba tiba....

Dari balik selat sempit itu meluncur kembali sesosok bayangan manusia bagaikan sukma gentayangan, orang itu tak lain adalah Jian hun Kim ciang Tu Pak kim yang licik seperti rase itu.

Tampak dia mendongakkan kepalanya lalu tertawa terkekeh-kekeh dengan amat seram nya.

Ketika suara tertawa aneh itu berakhir, bayangan tubuhnya juga turut lenyap di balik lembah sempit tersebut.

Pelan-pelan matahari fajar muncul dari ufuk timur, menembusi kabut nan tebal dan memancarkan sinrar keemas-emasannya ke seluruh lembah Yu cui rkok.

Pemandangan alam yang dulunya indah menawan dan mempersonakan hati itu, kini berubah sama sekali, berubah oleh suasana yang menyeramkan, berubah karena mayat-mayat yang bergelimpangan diatas tanah....

Angin menembus lewat terasa dingin di badan, noda darah yang berceceran dimana-mana kelihatan lebin menyolok di bawah pantulan sinar yang tajam.

Tempat itu menjadi sepi, hening, tapi bertambah mengerikan dan menyeramkan.

Sementara itu, manusia berkerudung warna warni dan Ku See hong dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat sempurna, secara beruntun telah melewati beberapa buah bukit dan jurang.

Kelihayan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ke dua orang ini hampir boleh di bilang sukar dibedakan mana yang lebih unggul dan mana lebih rendah.

Pemandangan alam disekelilingnya melin-tas lewat dalam sekejap mata, tubuh ke dua orang itu meluncur lewat seolah-olah tidak menjamah permukaan tanah.

-oo0dw0oo-BAB 44 SELAMA ini, Ku See hong tetap mempertahankan jaraknya berada tiga kaki di belakang perempuan itu, dengan sikap maupun gerak geriknya yang begitu santai dan lembut, jelas terlihat kalau dia belum mengerahkan segenap tenaganya untuk berlari.

Kurang lebih seperminum teh kemudian, ke dua orang itu sudah mendaki ke atas sebuah bukit, diatas bukit tiada pepohonan yang besar, empat penjuru sekeliling sana hanya ada aneka bunga rerumputan yang lembut.

Ditengah hembusan angin pagi yang silir semilir, lamat-lamat terendus bau harum bunga yang semerbak.

Bukit itu tingginya mencapai tiga puluh kaki, tatkala manusia berkerudung itu mencapai dipuncak tebing tersebut, tiba-tiba saja dia menghentikan pula gerakan tubuh nya yang cepat.

Pada jarak dua kaki dibelakang perempuan tersebut, Ku See hong menghentikan pula gerakan tubuhnya.

Kini mereka berdua saling berhadap-hadapan dan membungkam dalam seribu bahasa, namun ke empat mata mereka yang dingin dan tajam justru saling bertatapan pandangan.

Dibalik biji mata Ku See hong sebenarnya terbawa hawa, napsu membunuh yang dingin dan menyeramkan, tapi mengikuti berlalunya sang waktu, hawa napsu itu kian lama kian bertambah pudar.

Kini hanya selapis kabut kebingungan, selapis kabut kebimbangan yang menyelimuti wajahnya, selapis kesedihan dan kemu-rungan yang terpercik dibalik kebimbangan nya.

Setitik harapan tiba-tiba muncul dan terlihat dari balik hati kecilnya ....

Dan harapan inipun lambat laun dari yang kecil berubah semakin besar, dan berubah semakin meyakinkan...

Tentu saja dia berharap kalau orang yang berada dihadapannya sekarang adalah Keng Cin sin dari istana Huan mo kiong di Lam hay.

Mendadak Ku See hong memecahkan keheningan yang mencekam di sekeliling tempat itu, dengan suara yang bernada agak gemetar dia bertanya.

' Ssii ...sia...siapakah kau?'' Dari balik sepasang mata manusia berkerudung yang jeli tiba-tiba mencorong ke luar serentetan cahaya tajam yang menggidikkan hati, sahutnya dengan suara yang dingin hingga merasuk ke tulamg sum-sum.

"Aku adalah Hiat mo Buncu, manusia berkerudung warna warni, ada apa kau menanyakan persoalan ini kepadaku?"

"'Kau tak usah membohongi aku, kau adalah adik Sin..."

"Tutup mulut!"

Bentak manusia berkeru-dung itu.

"siapakah yang menjadi adik Sin mu?"

Pikiran Ku See hong kembali menjadi kacau dan kalut.. dia terjerumus kembali dalam lamunan .... Selang berapa saat kemudian, mendadak dia bertanya lagi.

"Sewaktu aku orang she Ku terkena pukulan Hou kut jian hun im kang, apakah kau yang telah menyelamatkan jiwaku?"

"Betul, ada apa?"

Jawab manusia berkerudung warna warni itu dengan suara dingin.

"Mengapa kau hendak menolong aku?"

Manusia berkerudung itu segera tertawa dingin.

"Heeeehhh-heeeehhh..heeeehhh...menolong mereka yang membutuhkan bantuan merupakan cita-cita dari kami orang-orang perguruan Hiat mo bun"

"Tatkala aku orang she Ku dua kali mendapat sergapan senjata rahasia dari anggota Hiat mo bun tadi, apakah kau yang memperingatkan aku dengan ilmu menyampaikan suara sehingga jiwaku lolos dari ancaman mara bahaya?"

Manusia berkerudung warna warni itu nampak agak tertegun, sesudah termangu beberapa saat dia menjawab.

"Yaa betul .Memang aku!"

Bagaikan seorayg hakim yang sedang memeriksa pesakitan saja, Ku See hong segera mendesak lebih jauh.

"Mengapa kau harus melanggar peraturan dari perguruanmu sendiri untuk membantu aku meloloskan diri dari bahaya."

"Pertanyaan yang kau ajukan ini apakah tidak merasa sedikit kelewatan?"

Ku See hong menghela napas sedih.

"Aaaai... selama hidup, aku orang she Ku paling pantang menerima bantuan orang, sungguh tidak kusangka tiap kali harus menerima bantuan dan budi kebaitkan darimu, justru karena itulah aku ingin mencari tahu dimanakah alasannya sehingga kau berbuat demikian, sebab sebelum teka-teki ini bisa kupecahkan, hatiku tak pernah akan menjadi tenteram. 'Sekarang aku orang she Ku ingin bertanya lagi kepadamu, mengapa kau membantuku berulang kali?"

"Hmmm, kau anggap karena kutolong dirimu, berarti aku sayang kepadamu?-Haha!

Benar-benar manusia tekebur yang tak tahu malu, terus terang, ai!

kuberitahukan kepadamu, aku menolongmu hanya mengharapkan kau lebih banyak membunuh kawanan manusia laknat dari dunia persilatan sehingga bisa turut andil dalam menegakkan keadilan dan kebenaran didunia ini.

"Sungguh tak kusangka kalau kau adalah seorang manusia yang tak kenal budi, bukan saja tak membalas budi kami, malahan secara beruntun telah melukai beberapa orang jago lihay dari perguruan Hiat mo bun, nah katakan sendiri sekarang, hukuman apa yang pantas dijatuhkan untukmu?"

Ucapan tersebut kontan saja membuat Ku See hong membungkam dalam seribu bahasa, dia menjadi tertegun dan berdiri termangu-mangu.

Mendadak....

Satu ingatan melintas didalam benaknya, dari sakunya Ku See hong mengeluarkan kertas surat tersebut dan membacanya setengah bergumam.

"Adik Im Yan cu, Luka Hou kut jian hun im kang yang diderita olehnya akan sembuh kembali esok pagi, dia akan menjadi seorang enghiong yang jauh lebih tangguh dari pada sewaktu-waktu berselang.

"Dia amat berterima kasih atas budimu dan mencintaimu, semoga kau pun mencintainya, melindunginya, agar hatinya yang terluka dan pedih bisa memperoleh sedikit kehangatan dan hiburan.

Kumohon kepadamu untuk merahasiakan surat ini.

jangan sampai diketahui olehnya, sebab bila ia sampai tahu, sudah pasti hal mana akan merugikan dia dan aku sendiri.

Seorang bernasib jelek dari seberang lautan sana mengucapkan semoga kalian berbahagia.

Dalam waktu singkat Ku See hong telah membaca habis isi surat tersebut.

Disaat membaca surat tadi, dengan sepasang matanya yang jeli secara diam-diam mengamati terus perubahan mimik wajahnya, tapi pemuda itu segera kecewa, sebab sorot mata dibalik kelopak matanya itu begitu dingin, kaku dan tanpa emosi.

Ku See hong menghela napas panjang, katanya kemudian.

"Isi surat ini mengungkapkan suatu perasaaa sedih dan mendalam serta cinta kasih tak terlukiskan, setelah bukti di depan mata, apakah kau masih berusaha untuk mengelabuhi diriku lagi? "

Adik Sin! tahukah kau betapa cintaku kepadamu? Kau..kau akuilah, katakanlah kepadaku bahwa kau adalah adik Keng Cin sin."

Adik Sin!

Tahukah kau betapa sedih dan hancurnya hatiku tatkala mendengar suara jeritan ngerimu sewaktu berada di pulau Huan mo to dulu, waktu itu aku ingin sekali menyusulmu, tapi karena dendam berdarah ku belum dibalas, maka terpaksa aku harus melanjutkan hidup terus di dunia ini.."

Waktu itu, aku tidak percaya kalau kau bakal mati, karena kau nampak begitu anggun dan saleh, Thian pasti akan menyayangi dirimu, Thian tidak akan merenggut selembar nyawamu dengan begitu saja..."

Justru karena setiap saat setiap detik, aku tak pernah dapat melupakan dirimu, maka sewaktu bertemu dengan adik Him J i im dibukit Soat hong tempo hari, aku telah salah mengira dia sebagai dirimu, dan akibatnya terjadilah peristiwa yang menyedihkan itu...yaa..peristiwa itu terjadi karena wajah nya terlampau mirip dengan wajahmu..."

Tapi sekarang, kau yang asli telah muncul didepan mataku, tapi kau justru menutupi raut wajah aslimu yang lembut dan anggun itu dengan selembar kain kerudung berwarna warni..."

Adik Sin, aku tahu, kau tak ingin berjumpa denganku karena dalam hati kecilmu tentu ada suatu peristiwa yang membuat kau amat sedih dan pedih."

Sedang peristiwa yang membuat hatiku pedih itu semuanya gara-garaku adik Sin, katakanlan!

Katakanlah!

Aku selalu menanti kan ucapanmu, cepatlah katakan ......

Ku See hong seperti orang gila saja, berbicara dan bergumam terus tiada hentinya.

Tapi justru dari balik ucapannya mana, dapat terungkap betapa suci dan agungnya cinta kasih yang berakar dalam hatinya.

Bagaimanapun kerasnya hati pemuda ini, toh ia dibuai dan dikuasahi pula oleh luapan rasa cinta.

Namun manusia berderudung warna-warni itu justru memperdengarkan suara tertawa panjangnya yang keras, tajam dan memekik kan telinga.

Dari balik gelak tertawanya itu terselip pula pelbagai ungkapan perasaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Tapi yang pasti rasa sedih dan dukalah yang mempengaruhi gelak tertawa mana, suatu kepedihan dan kedukaan yang amat luar biasa..

Mendadak...

Perempuan itu menghentikan tertawanya, ia kemudian sambil tertawa dingin ia berkata.

"Ku See hong, tahukah kau mengapa aku menulis surat itu! terus terang saja ku beritahukan kepadamu! "

Secungguhriya persoalan ini merupakan persoalan yang selama ini merupakan rahasia dalam hatiku, orang lain tak boleh mengetahui akan hal ini, tapi aku merasa bosan melihat sikap dan desakanmu yang tak ada ujung pangkalnya itu, aku hanya merasa gemas kepada diriku sendiri, mengapa telah salah menilai dirimu "

Ketika selesai, mendengar ucapan tersebut, harapan Ku See hong semula berkobar-kobar tiba-tiba saja menjadi dingin separuh, dengan perasaan kaget serunya.

"Masa kau benar-benar bukan Keng C in sin?..

"Bukan"

Jawab manusia berkerudung itu ketus. Setelah berhenti sejenak , dia berkata lagi.

"Dimasa lalu, aku telah mengalami suatu musibah yang mengenaskan, seorang yang ku cintai telah terbunuh oleh kawanan manusia laknat, akibatnya kami harus berpisah, kemudian aku memperoleh se

Jilid kitab pusaka dan berhasil mempelajari ilmu silat yang amat lihay.

namun sukmaku yang dulu sudah turut terkubur bersama manusia laknat tersebut, aku tak punya muka untuk bertemu lagi dengannya.

tapi aku selalu mencarinya dimana-mana, dalam rumah penginapan itulah aku telah salah mengira kau sebagai bekas kekasihku dulu.

itulan sebabnya aku lantas menolongmu dan meninggalkan surat tersebut.

"Kemudian, kutemukan kalau kau bukan kekasihku itu, tapi aku amat mencintainya meski kau bukan dia, tapi bentuk badanmu mirip sekali dengannya, maka dengan segala usaha aku selalu membantumu, aku berbuat demikian tak lain karena ingin mencurahkan rasa cintaku dulu terhadapnya, Nah, sekarang persoalan yang sesungguhnya sudah kuterangkan, dendam kesumat diantara kita pun harus segera diselesaikan ditempat ini"

Walaupun dia telah membeberkan duduknya persoalan secara jelas, namun Ku See hong masih tetap menganggapnya sebagai Keng Cin sin, sebab banyak bagian dari perempuan itu yang terlalu mirip dengan dirinya...

Nada suaranya, potongan badannya dan terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli itu ..

Ku See hong menghela napas sedih pintanya kemudian.

"Bersediakah kau untuk memperlihatkan raut wajah aslimu itu kepadaku...? Manusia berkerudung itu segera mendengus dingin. 'Hmmm, bila l mu silatmu bisa mengungguli aku, setiap saat kau boleh melepaskan kain kerudung mukaku ini!. cuma ku peringatkan kepadamu, lebih baik jangan terlalu mengharapkan hal itu"

"Aku harus melihat dahulu raut wajah aslimu sebelum dapat memadamkan keinginanku ini."

Berulang kali aku orang she Ku telah menerima budi kebaikanmu, sepantasnya aku memang tak boleh melukai orang-orang Hiat mo bun kalian, sekarang aku akan meminta maaf kepadamu dan moga-moga kau sudi mengampuninya...

"Apalagi dalam pertemuan kali ini, aku tak boleh mengajakmu untuk bertarung lagi, namun untuk membuktikan apakah kau adalah adik Sin ku atau bukan terpaksa mau tak mau aku harus menyalahi dirimu kali ini. ' Dalam suatu pertarungan, menang atau kalah, terluka atau cedera sudah merupakan suatu kejadian yang lumrah, tapi bila kau bersedia menghilangkan pertarungan tersebut dengan memperlihatkan raut wajahmu sehingga aku orang she Ku bisa melihat wajah asli mu, hal ini tentu saja jauh lebih baik lagi, Setelah kejadian ini orang she Ku sudah pasti tak akan melupakan budi kebaikanmu ini"

Manusia berkerudung itu segera tertawa dingin.

"Heeehh ... heeeehhh... heeeehhh... tiada kejadian yang bisa tercapai dengan begitu gampang di dunia ini, kau telah melukai orang-orang Hiat mo bun kami, dendam kesumat ini dalamnya melebihi lautan, kau anggap masalahnya bisa diselesaikan hanya berdasarkan dua patah kata saja?"

Sebagai seorang lelaki yang berjiwa tinggi hati, Ku See hong segera berseru setelah mendengar ucapan mana.

"Apabila kau bersikeras hendak melangsungkan juga pertarungan ini, terpaksa aku orang she Ku akan mempertaruhkan selembar nyawaku untuk melayani keinginanmu itu"

"Mengapa kau tidak mencabut keluar pedang Ang soat kiam mu?"

Jengek manusia berkerudung itu dingin. Ku See hong segera tertawa.

"Pertarungan yang berlangsung toh bukan suatu pertarungan yang mempertaruhkan jiwa raga kita, maaf kalau aku tak akan mencabut keluar pedang tersebut' "

Sekalipun kau bertangan kosong belum tentu keinginanmu itu dapat terkabul, bahkan bisa jadi akan kehilangan selembar nyawamu diujung telapak tanganku' Kembali Ku See hong tertawa getir.

"Seandainya sampai menemui ajalnya ditanganmu, sudah pasti aku orang she Ku tak akan menggerutu"

"Baik! Ini berarti kau sendiri yang mencari katian buat dirimu sendiri..."

Begitu ucapan terakhir diutarakan, tubuhnya seperti sukma gentayangan saja segera menerjang ke depan, segulung tenaga pukulan yang amat dahsyat dengan membawa hawa yang dingin merasuk tulang kontan saja menggulung ke dopan.

Ku See hong segera menggeserkan kakinya ke samping menghindarkan diri dari sergapan pukulannya itu, kemudian tangan kirinya secepat kilat menyambar kain kerudung diwajahnya, sementara tangan kanannya dengan jari tangan yang kaku seperrti tombak langsung menyodok jalan darah Ki hay hiat dilambung perempuan itu.

Jurus serangan tersebut selain ampuh juga sama sekali diluar dugaan orang.

Manusia berkerudung itu membentak nyaring, cepat kepalanya dimiringkan ke samping menghindari ancaman lawan, kemudian telapak tangan kirinya yang tajam seperti pisau membacok pergelangan tangan kanan Ku See hong, sedangkan telapak tangan kanannya secara beruntun melepas kan tiga buah serangan berantai.

Setiap serangannya hampir semuanya tertuju ke bagian yang berbahaya di tubuh lawan, angin pukulan yang berputar bagai kan roda secepat kilat menyambar kian kemari..

Karena dipaksa sehingga apa boleh buat, terpaksa Ku See hong membuyarkan ancamannya sambil melompat mundur ke belakang.

Perempuan berkerudung itu membentak nyaring, tubuhnya mendesak lebih ke depan, sepasang tangannya seperti kupu-kupu yang menari di tengah aneka bunga, berputar dan menyambar kian kemari.

Serangan yang dilancarkan perempuan ini seakan-akan sama sekali tidak beraturan dan menyerang secara mengawur, namun kein-dahan dan kehebatan jurus serangannya, ditambah pula dengan kesempurnaan tenaga pukulannya cukup membuat orang merasa bergetar hatinya.

Mendadak Ku See hong menggeserkan kaki kanannya ke samping, kemudian seluruh tubuhnya bergerak miring ke samping, tapi pada saat itulah kaki kirinya diayunkan ke depan menjejak tubuh lawan yang sedang menerjang datang.

Jejakan ini sama sekali diluar dugaan dan kecepatannya luar biasa, arah yang di jejakpun merupakan satu-satunya tempat terbuka dari seluruh tubuhnya.

bila tidak di atasi dengan segera, niscaya jejakan tersebut akan bersarang secara telak.

Namun ilmu silat yang dimiliki manusia berkerudung benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan, baru saja kaki kiri Ku See hong melepaskan jejakan, badannya yang ramping tahu-tahu sudah mengikuti sisi kakinya seperti seokor ular lincah, kemudian kaki kirinya balas menggaet tekukan lutut pada kaki sebelah kiri Ku See hong yang sedang di julurkan ke depan itu.

Begitu gagal dengan jejaknya, Ku See hong tahu bakal celaka, dengan cepat dia menarik kembali kaki kirinya.

yang melancarkan jejakan tersebut.

Tapi gaetan yang dilancarkan perempnan itu ternyata dilakukan dengan kecepatan yang berlipat kali lebih cepat.

Ku See hong segera merasakan datangnya segulung tenaga dahsyat yang membuat seluruh tubuhnya terlempar sejauh berapa kaki dari semula.

Untung saja ditengah jalan dia sudah berhasil mengerahkan tenaganya untuk menguasahi keseimbangan badannya, kalau tidak, bisa jadi dia akan jatuh terlentang dengan empat kaki menghadap ke atas.

Sekali lagi manusia berkerudung itu menerjang tiba bagaikan bayangan setan, lengan kirinya diputar sambil diayunkan hingga menciptakan serentetan cahaya bintang yang berkilauan, bagaikan serenteng mercon saja.

segera meledak-ledak ditengah adara.

Mencorong sinar tajam diri balik mata Ku See hong, dia mendengus, lalu dengan suatu gerakan cepat lengan kanannya diayunkan ke muka melepaskan sebuah pukulan yang sangat dahsyat, dia berniat untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Manusia berkerudung itu tertawa dingin, mendadak tangan kirinya dibetot ke belakang.

Ku See hong segera merasakan tenaga pukulan yang dilancarkan olehnya tadi kena dipancing sampai tergusur ke samping, rasa kagetnya benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata.

Sementara itu manusia berkerudung yang berhasil membawa serangannya itu segeta melepaskan sebuah pukulan lagi, dengan telapak tangan kanannya menghajar tubuh Ku See hong.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 28 SERANGAN yang dilepaskan olehnya ini aneh sekali, dimana serangannya dilepaskan segera terasa deruan angin pukulan yang kedahsyatannya bagaikan amukan gelom-bang samudra, langsung menggulung ke arah depan...

Ku See hong berkerut kening, dengan cepat lengan kirinya membuat satu lingkaran busur dan secepat sambaran kialt didorong ke depan menyongsong datangnya ancaman tersebut, segulung hawa murni yang lembut tanpa menimbulkan sedikit suara pun langsung menyongsong datangnya ancaman lawan.

' Blaaammm...!' suatu benturan nyaring segera bergema memecahkan keheningan.

Hawa murni yang menggulung segera menyebar ke empat penjuru dengan membawa suara yang menderu-deru.

Ku See hong menjerit tertahan, kemudian dengan tubuh sempoyongan mundur se jauh tiga empet langkah.

Setelah dua tiga kali mengalami pukulan yang dahsyat, akhirnya membara juga hawa amarahnya, dengan suara menggeledek dia segera membentak nyaring.

"Sekarang, sambutlah sebuah gerak serangan Ho han seng huanku yang bernama Thian ciu cuan im ini!"

Ditengah seruan tersebut, sepasang lengan Ku See hong berputar secara aneh, diantara berputarnya sepasang lengan tersebut, terlihatlah pancaran hawa murni yang memancarkan keluar dari seluruh tubuhnya.

Tatkala manusia berkerudung itu menyaksikan Ku see hong hendak mengeluarkan gerak serangan Thian ciu cuan im dari jurus Hoa han seng huan, mendadak dari balik matanya memancar keluar sinar, murung yang diliputi kesedihan, sepasang telapak tangannya yang putih muluspun mendadak diangkat, dan disilangkan di depan dada, namun sama sekali tidak melakukan gerak serangan apapun.

Menyaksikan sorot matanya yang murung dari sedih itu, Ku See hong merasakan hatinya bergetar keras, sepasang lengannya yang sedang berputar aneh pun tiba-tiba berhenti bergerak dan ia tidak jadi mengeluarkan ilmu Ho han seng huan yang terdiri dari tiga jurus serangan maha dahsyat itu.

Mendadak manusia berkerudung itu membentak keras.

`'Ku See hong, cepat menyingkir.."

Ditengah bentakan tersebut, sepasang lengannya yang semula berhenti di depan dada itu melancarkan sebuah cengkeraman yang aneh sekali...' "Blaaam!

Blaaamm!

Blaaammm....!` Seretatetan suara benturan yang amat nyaring dan memekikkan telinga segera bergema memecahkan keheningan.

Ku See hong muntahkan darah segar secara tiba-tiba, paras mukanya pucat pias seperti mayat, selangkah demi selangkah dia mundur kebelakang Sehingga akhirnya tubuh itu terkulai lemas ke atas tanah.

Manusia berkerudung itu segera berpekik sedih.

"Kau... mengapa kau tidak mempergunakan jurus Thian cin cuan im.."

Secepat kilat tubuhnya menerjang ke muka, lalu tangannya yang lembut digunakan untuk memayang bangun tubuh Ku See hong yang terkulai lemas...

Ternyata, sewaktu manusia berkerudung itu mengangkat telapak tangannya ke depan dada itu, segulung tenaga pukulan yang maha sakti segera menyebar keluar tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

Dia cukup tahu kalau ke tiga gerakan serangan dari jurus Ho han seng huan dari Ku See hang tersebut amat jahat dan dahsyat, dan bermaksud untuk mematah kan, gerak serangan tersebut dengan pukulan hawa murni.

siapa tahu Ku See hong tidak jadi mempergunakan Thian ciu cuan im tersebut untuk melancarkan serangan, padahal hawa murninya yang dipancarkan keluar sudah terlanjur meluncur ke depan...

Maka dia lantas berteriak agar Ku See hong cepat menyingkir, sementara dia sendiri melepaskan kembali beberapa buah pukulan hawa murni untuk memunahkan kedahsyatan dari serangan tersebut.

Tapi kenyataannya, Ku See hong sama sekali tidak menghindar, tubuhnya segera terkena sisa hawa pukulannya yang memancar ke mana-mana itu...

Untung saja Ku See hong memiliki hawa khikang Kan kun mi siu kang khi untuk melindungi badan, kendatipun begitu, toh ia tak tahan juga menghadapi gempuran tenaga yang amat dahsyat tersebut.

Hawa darah didalam rongga dadanya segera bergolak keras, isi perutnya pun terasa sakit sekali.

Dengan sorot yang sayu Ku See hong mengawasi tatapan mata lawan yang berkaca-kaca itu, kulit wajahnya segera mengejang karena menahan penderitaan, lalu ujarnya sedih.

"Kau...benarkahr kau adalah adik Sin? Katakan terus terang..."

Manusia berkerudung itu tidak menjawab pertanyaannya, tapi berseru pula dengan cemas.

"Parahkah lukamu?' "

Bila kau adalah adik Sin, luka seringan ini sudah pasti masih dapat kupertahankan!' Tampaknya manusia berkerudung itu di buat terharu sekali oleh luapan rasa cinta Ku See hong yang begitu dalam dan sangat terhadap Keng Cin sin, dia berpekik sedih, mendadak dipeluknya Ku See hong, kencang-kencang.

Dari balik kelopak matanya yang jeli nampak titik air mata jatuh bercucuran dengan derasnya.

"Aku ...aku bukan...Keng Cin sin"

Sahutnya kemudian dengan suara yang memilukan hati.

Ditinjau dari tubuhnya yang gemetar keras, terasa nada suaranya yang sedih dan gemeter, bisa diduga betapa penderitanya dia sewaktu mengutarakan ucapan tersebut.

Ku See hong menghela napas sedih.

"Adik Sin, mengapa aku harus membohongi dirimu? Bolehkah kulepaskan kain kerudungmu itu?"

Sementara berbicara, sepasang kakinya gemetar keras, manusia berkerudung yang sedang memeluk tubuhnya pun ikut jatuh ke tanah dan berada dalam pelukan anak muda tersebut.

Apabila seorang gadis bukan sedang berhadapan dengan kekasih hatinya, tidak mungkin dia akan berbuat seperti ini.

Manusia berkerudung itu menghela napas sedih, katanya kemudian dengan suara lembut.

"Benarkah kau hendak memeriksa raut wajahku?"

Paras muka Ku See hong pucat pias seperti mayat, bahkan ada kalanya mengejang keras penuh penderitaan, sehingga membuat siapa pun akan beriba hati bila menyaksikan keadaan itu.

Dengan sorot mata yang sayu, dia menatap perempuan itu lekat-lekat, kemudian me-ngangguk.

"Benar! Aku harus melihat jelas paras muka aslimu!."

Manusia berkerudung itu nampak lebih sedih lagi, katanya kembali dengan suara lirih.

"Seandainya aku bukan orang yang kau bayangkan, apa pula yang hendak kau lakukan?"

Sekulum senyuman segera menghiasi wajah Ku See hong yang pucat pias itu.

"Kau sudah pasti adalah adik Sin, aku yakin seratus persen pasti benar...!"

Manusia berkerudung itu segera menghela napas sedih.

"Aaaaai...kalau begitu, lepaslah!"

Pelan-pelan Ku See hong mengangkat tangan kanannya yang nampak gemetar sangat keras, dia seperti merasa ketakutan?

Atau mungkin disebabkan oleh luka dalamnya yang parah?

Padahal perasaan Ku See hong waktu itu pun berat sekali, napasnya seolah-olah terhenti, untuk sesaat, sementara sepasang matanya mengawasi ke depan tanpa berkedip.

"Sreeeet...!"

Akhirnya kain kerudung tengkorak putih dengan dua belas kuntum bunga bwee itu berhasil disingkap juga... 'Haaaahh..?"

Suatu jeritan kaget bergema memecahkan keheningan.

"Kau.. benar kau benar bukan...bukan Keng Cin sin?"

Seru Ku See hong kemudian dengan perasaan pedih.

Ternyata paras mukanya amat memucat, tiada hawa darah, dingin, kaku dan mengerikan.

inilah sebuah wajah yang jelek dan menyeramkan siapa pun yang melihatnya.

Tentu saja berbeda sekali dengan wajah cantik dan lembut dari Keng Cin sin yang berada di istana Huan mo kiong di Lam hay.

Beberapa tetes air mata segera jatuh berlinang membasahi wajah perempuan itu, kemudian sesudah menghela napas sedih, bisiknya dengan lembut.

"Tentunya wajahku amat jelek dan mengerikan hati bukan?' Dalam hati kecil Ku See hong masih tetap terkandung setitik harapan, dia segera bertanya lagi.

"Apakah kau adalah adik Sin? Bila kau benar benar adik Sin, sekalipun wajahmu telah berubah menjadi begini rupa, aku tetap masih akan mencintaimu, katakanlah kepadaku secara berterus terang, apakah kau adalah Keng Cin sin"

Ada kalanya, paras muka seseorang dapat berubah menjadi jelek dan susah dipandang lantaran menelan obat beracun, sebab ditinjau dari sudut mana pun dia sama sekali mirip total dengan Keng Cing sin dari istana Huan mo kiong di Lam hay, itulah sebabnya Ku See hong lantas menganggap dia sebagai Keng Cin sin.

Sekarang, walaupun Ku See hong sudah melihat jelas paras mukanya dan terbukti kalau dia bukanlah Keng Cin sin yang dulu, namun tatkala dia terbayang kembali dengan tulisan yang tercantum dalam kertas surat tersebut, kemudian menghubungkan dengan kepedihan hati yang dimaksudkan, siapa tahu kalau gadis itu takut bertemu dengan nya lantaran paras mukanya telah berubah menjadi jelek?

' Sebaliknya manusia berkerudung itu merasa makin sedih lagi sesudah mendengar perkataan Ku See hong yang penuh dengan pancaran rasa cinta yang tak terhingga itu, titik-titik air mata segera jatuh bercucuran membasahi wajahnya terkena air mata tersebut, secara lamat-lamat segera tampak ada selapis kulit tipis yang terkelupas.

Mungkin kulit yang terkelupas itu amat kecil, atau mungkin pikiran dan perasaan Ku See hong waktu itu kelewat kalut, ternyata dia tidak menemukan pertanda yang mencurigakan itu.

Sementata itu, perempuan tersebut telah mengenakan kembali kain kerudungnya untuk menutupi kembali paras makanya yang menyeramkan itu, kemudian katanya pelan.

"Ku See hong, paras muka asliku telah berhasil kau saksikan dengan amat jelas, apakah kau masih belum dapat menentukan aku adalah Keng C in itu atau bukan? Aaaai .. Setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Bila aku teringat kembali dengan kekasih hatiku di masa lalu, dia pun begitu cinta kepadaku seperti apa yang kau lakukan sekarang, tapi meski cintanya sedalam lautan, namun setiap perubahan yang terjadi di dunia ini sungguh membuat orang sukar untuk mengingatnya..."

Dahulu, setelah aku berpisah dengannya, tak lama kemudian aku telah dinodai oleh manusia-manusia laknat, peristiwa itu membuat aku menjadi ternoda, bila aku benar-benar bersua kembali dengan kekasihku.

aku benar-benar tak punya muka lagi untuk berjumpa dengannya.

"Ku See hong, kau harus percaya dengan perkataanku, aku bukan Keng Cin sin yang sedang kau cari, tapi oleh karena wajah maupun gerak gerikmu amat mirip dengan nya, maka diantara kita berdua baru terjadi kesalahan paham seperti ini, sekarang adalah saat bagi kita untuk menyelesaikan kesa-lahan paham tersebut"

Ku See hong mendongakkan kepalanya memandang awan yang sedang bergerak di angkasa, kemudian menghela napas sedih.

Di dengar dari helaan napas tersebut, jelas terdengar betapa kecewa dan sedih hatinya.

Kemudian terdengar dia bergumam seorang diri seperti orang yang sedang mengigau saja.

"Lagi-lagi suatu impian kosong belaka... Ooh, adik Sin! Benarkah kau sudah tiada di dunia ini lagi? "

Oooh, adik Sin!

Tahukah kau betapa tidak percayaku kalau Thian bisa merenggut nyawamu dengan begitu saja...?

Sepasang mata si manusia berkerudung itu telah basah oleh air mata, dia pun seperti bergumam.

"Yang hidup apa faedahnya? Yang mati apa menderitanya? Bila seorang mempunyai tubuh tanpa roh, apa bedanya pula dengan suatu kematian... -oo0dw0oo-BAB 43 UNTUK beberapa saat lamanya, susana menjadi sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suara pun, ke dua belah pihak sama-sama membungkam diri dalam seribu bahasa. Mendadak manusia berkerudung itu ber bisik lirih. 'Ku See hong, kalau toh ia sudah tiada di dunia ini lagi, mengapa kau tidak melupakan saja kehadirannya dalam hatimu?"

"Tidak! Tidak! Sampai matipun aku tak akan melupakan dia, seperti pula sikapmu terhadap kekasih hatimu, meskipun kau tak ingin bertemu dengannya, tapi bukankah siang dan malam selalu mencari dirinya? "

Dia dapat menempati seluruh hatimu, karena cintanya kepadamu tidak bisa di-tawar-tawar lagi, begitu pula keadaan Keng Cin sin bagiku, bayangan tubuhnya sudah melekat dalam-dalam dihatiku! "

Manusia berkerudung itu menghela napas panjang, kembali dia berkata.

'Manusia yang sudah mati tak bisa hidup kembali, tapi kesedihan yang melampaui batas justru akan merugikan kesehatan badanmu sendiri...' Dengan cepat Ku See hong menukas kata-kata selanjutnya yang belum selesai di utarakan itu, teriaknya keras.

"Dia belum mati! Dia belum mati! Aku tidak percaya kalau dia sudah mati ......

"Sudah begini lama kau mencarinya, namun tak pernah menemukan kabar beritanya, apalagi bukankah kan pernah berkata. Dengan mata kepala sendiri kau saksikan tewas ditangan kawanan manusia laknat sewaktu berada di istana Huan mo kiong? Apakau kau menganggap dia belum mati?"

Sesudah mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba saja Ku See hong seperti mendengar suara teriakan yang memilukan hati itu, hatinya terasa perih sekali, sakit dan seakan-akan mengucurkan darah.

Seperminum teh kemudian, Ku See hong baru berkata kembali.

"Seandainya dia benar-benar mati, maka selesai kubalas dendam kesumat tersebut, aku pun tak akan hidup lebih lama lagi di dunia ini"

Mendadak manusia berkerudung itu menegur dengan suara yang dingin bagaikan es.

"Sebagai seorang lelaki sejati, tidak seharusnya kau sembarangan mengorbankan diri hanya disebabkan masalah perempuan, paling tidak, kau harus melakukan suatu pekerjaan yang menggemparkan dalam dunia persilatan, dengan demikian baru bisa terpancar jiwa dan semangatmu sebagai seorang lelaki yang jantan!"

Ku See hong tertawa sedih.

"Aaaah terus terang saja aku sudah sama sekali tidak berteriak lagi oleh masalah-masalah kemanusiaan seperti itu lagi."

Sebenarnya aku menganggap cinta muda-mudi hanya suatu cinta yang palsu belaka, cinta yang lain dimulut lain dalam hati, tapi sejak aku berjumpa dengannya, dia telah memberikan cinta yang suci dan murni ke padaku, dan telah mengorbankan diri untuk diriku, untuk menyelamatkan selembar jiwaku.

"Tatkala aku mendengar jeritan ngerinya menjelang saat kematian itu tiba, sebenarnya aku sudah tak punya keinginan lagi untuk hidup lebih jauh, waktu itu, seandainya tiada api dendam kesumat yang menunjang diriku, mungkin aku sudah tidak berada di dunia ini lagi. 'Sejak saat itu juga, dalam hatiku aku telah mengambil keputusan, bila dendam kesumat ku sudah berhasil dibalas, dan terbukti kalau ia mati karena aku, maka aku pun akan mengorbankan pula selembar jiwaku sebagai pernyataan rasa cintaku kepadanya"

Tatkala manusia berkerudung itu mendengar ucapan tersebut, dia segera memperdengarkan suara helaan napasnya yang sedih dan sukar dilukiskan dengan kata-kata. Mendadak ia bertanya.

"Ku See hong!

Bila kau mengorbankan nyawamu demi kekasihmu yang telah mati itu, lantas bagaimana dengan seorang gadis lemah lainnya?

Bagaimana cara mereka untuk melanjutkan kembali hidupnya?

'Bila kau berbuat demikian, apakah kau tidak merasa terlampau mementingkan diri sendiri?

Kau harus tahu.

sekarang kau sudah tak bisa berbuat sekehendak hati sendiri seperti dulu, mau berbuat apa lantas berbuat apa."

Sebab saat ini kau telah mempunyai dua orang perempuan lagia Him Ji im ....antara kau dengannya telah mengadakan hubungan suami istri, dengan In Yan cu... betapa dalamnya dia mencintaimu.

"Apakah kau akan meninggalkan mereka semua dengan begitu saja, meninggalkan mereka secara keji sehingga menbiarkan mereka menderita sepanjang masa?"

Bagaikan baru sadar dari impianrya, Ku See hong segera berseru bagaikan orang kalap.

"Ku See hong, wahai Ku See hong.... mengapa nasibmu begitu tragis...? Mengapa nasibmu begitu tidak menguntungkan!"

"Benarkah kau akan nekad? Tidak! Kau tidak boleh benar-benar berbuat demikian! "

Boleh!... dengan Him Ji im dan Im Yan cu aku telah mempunyai hubungan suami istri sekarang aku sudah mempunyai tanggung jawab..Tiba-tiba manusia berkerudung itu menjerit kaget.

"Apa? Im Yan cu... kau telah merenggut pula kehormatan dari Im Yan Cu.. Merah padam selembar wajah Ku See hong karena jengah, sesudah menghela napas sahutnya.

"Dia... dia sudah hampir mati...' "Ku See hong!"

Manusia berkerudung itu segera berseru dengan perasaan cemas "kemarin malam bukankah kau datang mencariku untuk memohonkan pengobatan baginya?

Yaa, mengapa aku begitu pikun hanya bersantai-santai denganmu saja sehingga melalaikan persoalan yang maha penting tersebut "

Dalam pada itu, kesadaran Ku See hong pun sudah menjadi terang kembali, ketika menyaksikan kepanikan dan kecemasan dari perempuan berkerudung itu, selintas rasa heran dan tidak habis mengerti kembali meliputi wajahnya, dia tak habis mengerti apa sebabnya orang itu demikian memper-hatikan dirinya, Him Ji im serta Im Yan cu?

Seandainya diantara mereka semua tidak saling mengenal sebelumnya, mengapa pula dia bersedia memperlihatkan semuanya itu?

Ku See hong menghela napas pelan, lalu ujarnya.

"Sekarang Im Yan cu telab dibawa pergi oleh gurunya, untuk sementara waktu sukar buat kita untuk menemukannya, Sekarang, aku orang she Ku ingin bertanya kepadamu, apakah engkau dapat mengobati luka akibat racun tersebut?"

"Cepat katakanlah, racun apakabh yang telah menyerang tubuhnyaa?` Ku See honbg agak ragu sejenak, tapi akhirnya menjawab juga.

"Dia telan dipaksa oleh seorang manusia laknat untuk menelan pil beracun Im hwee si hun wan...

"Apa? Pil beracun Im hwee si hun wan"

Manusia berkerudung itu menjerit kaget.

Dilihat dari jeritan kagetnya, Ku See hong sudah tahu kalau perempuan berkerudung inipun tidak mampu untuk menyembuhkan luka beracun mana, suatu firasat tak enak segera melintas di dalam benaknya.

Sesudah bergumam sejenak, akhirnya dia ber kata.

"Benar, pil Im hwee si hun wan! Disaat yang paling kritis itulah kebetulan aku datang, akibatnya... akibatnya aku pun mengadakan hubungan dengannya... sebab bila aku tidak berbuat demikian. maka dia..dia akan mati karena nadinya pecah"

Sesudah mendengar perkataan tersebut, manusia berkerudung itu berdiri termangu-mangu, tampaknya dia sedang berusaha memutar otak untuk menemukan cara rahasia untuk mengobati luka keracunan tersebut.

Selama beberapa saat kemudian, dia baru tertawa lagi dengan perasaan sedih...

' Apakah gurunya dapat menyembuhkan luka beracun dari pil jahat tersebut?'?

Ku See hong menjadi gelisah, bukan menjawab, dia malah balik bertanya.

"Jadi kaupun tidak sanggup untuk menyembuhkan racun cabul ini?"

"Barusan aku telah memikirkan isi kitab pusaka yang pernah kupelajari, dalam halaman buku yang mencantumkan masalah Im hwee si hun wan tersebut, buku itu berkata demikian.

"Racun obat ini merupakan semacam obat perangsang bersifat keras yang amat keji, berhubung racun itu kelewat ganas dan janat maka sewaktu kitab tersebut di tulis, cara pembuatan obat Im hwee si hun wan tersebut sudah hilang dari peredaran dunia' "

Kalau begitu, di dalam kitab tersebut tidak terdapat catatan mengenai obat penawar nya?"

Tanya Ku See hong sedih.

'Padahal menurut apa yang kudengar Im hwee si hun wan merupakan semacam obat cabul yang tidak mempunyai obat penawar nya.

'Tapi aku percaya di dunia ini sudah pasti terdapat semacam obat yang bisa menandingi keganasan racunr tersebut, hanya kita masih beqlum mengetahui saja apa nama dari obat tersebut "

Tatkala mendengar perkataannya yang terakhir itu, tiba tiba saja Ku See hong teringat kembali dengan rumput Im cu cau yang pernah di katakan Thi bok sin kiam Cu Pok kepadanya tempo hari.

"Yaa, siapa tahu kalau rumput Im cu cau tersebut dapat digunakan untuk menyembuh kan luka racun tersebut?"

Demikian dia berpikir kemudian. Berpikir sampai disitu, Ku See hong segera berkata.

"Kalau begitu, kau benar benar tak mampu untuk menyembuhkan dirinya? Dia-apakah dia harus ...."

Kata-kata selanjutnya tak berani dia utarakan lagi, sebab kematian Im Yan cu baginya tak kalah pentingnya dengan Keng Cin sin, hal tersebut akan memberikan pukulan batin yang amat berat baginya.

Sebab, bagaimanapun juga dia tetap mencintai gadis tersebut, sedangkan gadis itu pun tampak begitu suci bersih dan menaruh cinta yang begitu mendalam terhadap dirinya.

Terdengar manusia berkerudung itu berkata lagi.

"Walaupun dalam kitab tidak dicantumkan tentang obat penawar dari racun Im hwee si hun wan, namun aku yakin masih bisa disembuhkan dengan suatu cara pengobatan yang istimewa, paling tidak dapat memper-panjang saat kambuhnya, kemudian aku baru akan pergi mencarikan obat yang bisa memunahkan racun itu.

"Ban sia kaucu Ceng Lan hiang memiliki se

Jilid kitab Ban sia cin keng, dan pil tersebut dibuat olehnya berdasarkan catatan dalam kitab itu, aku rasa kemungkinan besar dia pun mengerti apa obat penawar dari racun itu "

Segera muncul kembali setitik harapan dalam hati Ku See hong, perasaannya yang tegang pun segera mengendor kembali, sekalipun harapan tersebut masih amat kecil, namun jauh lebih baik daripada sama sekali tiada harapan lagi.

Ku See hong segera berkata pelan.

"Nona bolehkah aku tahu, mengapa kau bersikap begitu baik terhadap kami? Aku orang she Ku benar-benar merasa amat menyesal, dimana kemarin malam aku telah mengganggu ketenangan kalian."

Manusia berkerudung itu menghela napas sedih.

"Sebagai sesama umat persilatan, sudah sewajarnya apabila kita saling bantu membantu, hal ini tidak terhitung seberapa.

"Terus terang saja kukatakan! Aku memang melindungi dan memperhatikan dirimu jauh melebihi yang lain, sebab wajahmu mirip sekali dengan kekasihku dulu. Sekalipun dalam hidupkuini aku bakal kehilangan cintaku terhadapnya, tapi aku bersedia untuk membantu cinta kasih orang lain, dengan demikian paling tidak aku akan memperoleh sedikit pembayaran cintaku yang hilang"

Ku See hong benar-benar merasakan hati nya bergolak keras sesudah mendengar ucapan tersebut, perempuan ini benar-benar mirip sekali dengan Keng Cin sin, terutama sekali keanggunan dan kebesaran jiwanya.

Tampaknya manusia berkerudung itu seperti lagi menunjukkan sesuata, kembali ia berkata.

"Padahal cinta yang sebenarnya bukan cinta yang menguasahi, melainkan suatu pemberian. `Seandainya aku berhasil menemukan yang dulu, dan menyasikan dia seperti juga kau sekarang, telah mempunyai dua orang kekasih yang lain, maka aku pun akan membantunya pula agar mereka dapat hidup berbahagia"

"Aaaai, banyak persoalan di dunia ini yang tak bisa dibayangkan dan dipikirkan dengan begitu mudah"

Ku See hong turut menghela napas panjang ..'Aaaai, aku orang she Ku telah berkenalan lagi dengan seorang perempuan sejati, apabila tidak keberatan aku ingin sekali mendapat tahu siapa nama nona."

Mendengar permintaan tersebut, perem-puan berkerudung itu merasakan hatinya bergetar keras, segera berpikir..'Aku tidak dapat bergaul lagi dengannya lebih jauh, manusia adalah makhluk yang kaya akan perasaan, bila aku seringkali bbergaul denganndya maka batasana-batasan perasaban yang kuatur selama ini, pada akhirnya bisa berantakan tidak karuan, aku sudah tidak memiliki tubuh yang suci dan bersih lagi untuk menyambut datangnya cinta dari dia..."

Berpikir demikian, cepat-cepat katanya dengan suara sedingin es.

"Ku See hong! Namaku telah hilang lenyap bersama-sama dengan jiwaku, maaf bila aku tak dapat memberitahukan soal tersebut kepadamu"

Mendengar ucapan mana, Ku See hong segera tahu kalau dia tak ingin berkenalan dengannya, tanpa terasa ia menghela papas sedih.

"Berulang kali nona telah memberikan cinta kasih kepada aku orang she Ku, budi kebaikan ini tak akan kulupakan untuk selamanya. suatu ketika budi kebaikan itu pasti akan kubayar.

"Sekarang, apabila nona mempunyai sesuatu tugas untuk menyuruhku. Katakan lah segera! Meskipun harus terjun ke lautan api sekalipun, aku orang she Ku tak akan menampik" ' Aku membantumu karena aku teringat kembali dengan kekasihku dahulu, aku sama sekali tidak mengharapkan balas jasamu, harap kau jangan mempersoalkan hal ini di dalam hati "

Ku See hong merasa semakin sedih.

"Selama hidup aku orang she Ku tak pernah menerima budi kebaikan orang lain, tapi Kini, tanpa sebab musabab aku telah berulang kali menerima kebaikanmu, lama kelamaan hatiku menjadi tidak tenteram sendiri...

Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, perempuan berkerudung itu sudah menukas.

"Ku See hong, bila kau masih memikirkan budi kebaikanku itu, baiklah! Aku pun akan memohon beberapa persoalan kepadamu"

"Harap nona sampaikan, aku orang she Ku sudan pasti akan menerimanya tanpa membantah" 'Pertama. harap kau jangan memusuhi orang-orang dari perguruan Hiat mo bun kami lagi. Kedua. Harap kau segera pergi meninggal kan aku "

Ucapan mana pada hakekatnya merupakan suatu pengusiran secara paksa, kontan saja membuat paras muka Ku See hong berubah hebat, sebagai pemuda yang tinggi hati, ia merasa amat gusar dan mendongkol seteblah diusir secadra demikian.

Coba kalau bukan Ku See hong sudah terlanjur dibikin kagum atas perempuan tersebut dalam pembicaraan tadi, mungkin suatu pertarungan sudah pasti tak bisa dicegah lagi.

Dengan sedih dia menghela napas panjang, katanya kemudian.

' Entah kejelekan apakah yang dipunyai itu orang she Ku, sehingga kau bersikap begitu tak berperasaan kepadaku?

Harap nona suka memberi petunjuk yang jelas'` Manusia berkerudung itu menghembuskan napas panjang.

"Ku Se-hong, aku harap kau jangan mendekati aku, apakah hanya soal ini saja tak dapat kau kabulkan? Aaaai... ' Terus terang saja kuberitahukan kepadamu, berhu-bung kau kelewat mirip dengan kekasihku, maka setiap kali bertemu dengan kau, aku lantas teringat akan dirinya, terutama cinta kasihnya dahulu, kau harus tahu, penderitaan semacam itu paling sukar ditahan, maka itulah aku terpaksa harus bersikap kurang sopan dan tak berperasaan kepadamu, tentang soal ini, aku harap kau sudi memaafkan"

Apabila nona memang bersikeras untuk berbuat demikian, tentu saja aku orang she Ku tidak akan menyusahkan orang, namun selama hidup aku pun tak ingin menerima budi kebaikan orang dengan begitu saja, sekarang aku telah bertekad untuk melaku kan suatu pekerjaanuntuk nona.

"Aku akan mencarikan kekasihmu yang dahulu itu sampai ketemu, harap kau bersedia memberitahukan kepadaku nama dari kekasih hatimu itu..."

Mendengar ucapan tersebut, manusia berkerudung itu tak dapat mengendalikan rasa pedihnya lagi, pancaran sinar kepedihan segera mencorong keluar dari balik matanya itu.

Dia benar-benar tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, tapi teringat betapa kotor nya tubuh sendiri yang telah dinodai orang, dengan cepat ia mengendalikan kembali perasaannya yang sedang bergolak tersebut...

Begitu dalam cintanya kepada pemuda ini, tapi dia merasa rendah diri, serendah-rendahnya sampai tak berani menunjukkan wajah aslinya, dia rela menerima siksaan tersebut daripada mengungkap hal yang sesungguhnya.

Setelah menghela napas sedih, katanya kemudian.

`Ku See hong!

Maksud baikmu biar ku terima di dalam hati saja.

"Kau harus tahu, betapa sedihnya dan hancurnya hatiku bila dapat berdua kembali dengan kekasihku itu, rasa sedih tersebut sudah pasti tak akan terlukiskan dengan kata-kata, Kau....

kau tak usah bersusah payah untukku lagi.

"Padahal, sekalipun kau hendak mencari kekasihku itu sampai ke ujung langit pun, jangan harap bisa kau temukan jejaknya... 'Apakah dia sudah mati..?'` tanya Ku See hong dengan perasaan tidak hampir mengerti. ' Tidak. dia belum mati! Kuharap kau jangan bertanya lagi, bersedia bukan? Kau ... kau harus selekasnya meninggalkan tempat ini!"

Dari balik matanya yang jeli sudah mengembang air mata yang setiap saat berpisah kembali untuk selamanya.

Tapi..

tapi kenapa?

Karena mahkota kehormatannya sebagai seorang gadis telah dinodai oleh sekawanan manusia laknat.

Keadaan waktu itu benar-benar membuat nya menjadi amat mengenaskan, bukan dinodai oleh seorang saja waktu itu, melainkan oleh berpuluh-puluh orang secara bergilir, tak ubahnya seperti seorang pelacur yang sedang melayani langganannya saja, selesai satu datang yang lain, demikian seterusnya tiap hari...

Maka dia tak ingin lagi mempersembahkan tubuh dan jiwanya yang telah ternoda itu untuk kekasih hatinya.

Dia tahu bakal kehilangannya selama hidup, dia membenci!

Membenci ketidak adilan Thian, membenci kawanan manusia laknat yang telah menghancurkan kesucian tubuhnya, ia menggigit bibir menahan diri, dan harus membunuh kawanan manusia laknat tersebut.

Tiada berperasaan!

Kejam, penuh dengan genangan darah kental...

Telah menjadi prinsip hidupnya semenjak peristiwa itu, dan bersumpah hendak membasmi kawanan manusia laknat tersebut dengan darah mereka sendiri, menggunakan darah dan mayat untuk mencuci bersih tubuh dan jiwanya yang ternoda tersebut.

Tapi kesemuanya itu hanya untuk kesejahteraan hidup umat manusia, sedang dia sendiri akan selamanya terjerumus dalam jurang penderitaan dan siksaan..sukmanya yang bernoda tak pernah akan menjadi bersih kembali.

kendatipun dicuci dengan segenap air yang mengalir di sungai Tiangkang sekali pun.

Padahal jiwanya tak pernah ikut ternoda, dia masih tetap anggun dan suci bersih.

Ia tidak berbeda jauh dengan keadaan dahulu, tetap dikagumi dan dihormati setiap orang.

Memandang kepedihan hati yang mence-kam perasaan si nona.

Ku See hong merasakan hatinya bergetar keras.

tanpa terasa, pikirnya lagi.

"Biji matanya begitu mirip dengan adik Sin, aaaai ....benarkah manusia ciptaan Thian bisa dibentuk dengan kesamaan yang persis sama antara yang satu dengan lainnya? Kalau perasaan mungkin saja bisa sama, tapi panca indera, tubuh, suara dan gerak geriknya tak mungkin bisa sama antara yang satu dengan lainnya, dia benarkah Keng C in sin...? Berpikir sampai disitu, Ku See hong meng-hela napas sedih, pelan-pelan dia berkata. 'Nona! Aku orang she Ku akan melaksana kan seperti apa yang kau inginkan, tapi sebelum pergi, harap kau perlihatkan wajah aslimu sekali lagi, agar terbentik sedikit kenangan dalam hatiku dimasa mendatang"

Setelah mendengar ucapan mana, dari balik mata manusia berkerudnng itu mencorong kembali setitik cahaya tajam, secara beruntun ia mundur sejauh tiga langkah ke belakang, kemudian katanya dengan suara dingin lagi ketus.

'Tidak usah!

?paling baik kalau kau bisa segera melupakan aku" 'Kau...kau adalah Keng Cin sin..."

Tiba-tiba manusia berkerudung itu mengangkat kepalanya lalu memperdengar kan suaranya tertawanya yang keras, tajam dan menusuk pendengaran..

Kemudian selang berapa saat kemudian, dia baru menghentikan suara tertawanya dan berkata dengan suara yang dingin hinggba merasuk ke tudlang.

"Kau benar-benar tak bibsa dinasehati, sudah dibilang aku bukan Keng Cin sin, kau masih saja nekad menuduhku dengan yang bukan-bukan.

Hmmm!

Jika kau masih saja bersikeras mengatakan yang bukan .

bukan, jangan salahkan kalau aku tak akan bersikap sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu.

Ketika mendengar perkataan yang dingin tak berperasaan itu, sekali lagi Ku See hong berpikir.

"Tidak! Tidak! Sikap semacam ini jelas tak akan pernah dilakukan oleh adik Keng Cin sin, dia bukan adik Sin! Dia bukan adik Sin..."

Perasaan hatinya saat ini sungguh amat gundah, perasaan bertentangan serasa berkecamuk di dalam benaknya.

adakalanya dia merasa gadis itu sebagai Keng Cin sin, ada-kalanya ia justru menyangkal perasaan nya tersebut.

Akhirnya sekilas rasa sedih dan senyuman getir menghiasi raut wajah Ku See hong, katanya kemudian.

"Nona!

Kalau begitu, aku harus merepot kan dirimu sekali lagi untuk menyembuhkan penyakit yang diderita Im Yan cu.

Semua budi kebaikanmu kepadaku selama ini, asal aku orang she Ku masih dapat bernapas selamanya tidak akan pernah kulupakan' `Tentang soal Im Yan cu aku pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga untuk membantunya..

harap kau jangan merisaukan, tukas manusia berkerudung itu cepat.

"cuma dimanakah ia berada saat ini?"

Ku See hong menjadi terperanjat sesudah mendengar pertanyaan itu, segera pikirnya.

"Sekarang ia telah dibawa pergi oleh gurunya.

--Seng sim cian li Yap Soat kun, ke manakah aku harus pergi mencarinya?

Aaaai.-.!

Mungkin gurunya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan luka tersebut.' Berpikir demikian, diapun, lantas berkata.

"Im Yan cu telah dibawa pergi oleh gurunya, ia tidak mengatakan hendak ke mana. tapi dia pernah bilang, Jika ia gagal menyembuhkan penyakit itu, maka dia ia akan segera datang mencariku, mungkin mereka masih berada didalam kota"

Mendengar jawaban mana..

manusia berkerudung itu menghela napas panjang.

`Benar-benar pikun!

Langit dan jagad begini lebar, kau hendak ke mana untuk mencarinya' ' Sekalipun gurunya merupakan seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi, namun setelah menghadapi racun cabul Im hwee si hun wan, sudah pasti racun tersebut tak akan mampu di sembuhkan olehnya, cuma aku pikir dia pasti berkemampuan untuk mencegah menjalarnya racun itu serta menunda saat kambuhnya selama beberapa hari.

"Begini saja? Bila ia datang mencarimu atau kau berhasil menemukan mereka, suruhlah mereka menungguku di rumah penginapan Yang tang"

"Nona, apakah kau hendak mengunjungi markas besar Ban sia kau seorang diri?.` "

Cepat atau lambat kami, orang-orang Hiat mo bun sudah pasti akan melangsungkan suatu pertarungan antara mati dan hidup dengan pihak Ban sia kau, sekarang mumpung ada kasus tentang Im Yan cu ini, maka aku harus mengunjungi markas besar Ban sia kau, kalau bisa akan kucuri kitab pusaka Ban sia cinkeng milik Ceng Lan hiang tersebut "

"Nona! persoalan ini toh merupakan masalahku, soal mencuri kitab ban sia cinkeng lebih baik serahkan kepadaku untuk mengerjakannya!"

"Kau tidak boleh ke situ?"

Jawab manusia berkerudung itu dingin.

"andaikata racun cabul yang berada ditubuh nona Im kambun kembali, apa yang harus kau lakukan? Sekarang, paling baik kalau kau pergi mencarinya lebih dahulu, kemudian setiap saat setiap detik mendampinginya"

"Nona, dapatkah kau menunggu satu hari lagi sebelum berkunjung ke markas besar Ban sia kau?" 'Tentu boleh saja, sampai waktunya mungkin aku bisa menduga disaat nona Im kau kambuh untuk kedua kalinya itu apakah dia sudah menerima pengobatan dari gurunya atau belum, kemudian baru pergi mencari kitab Ban sia cinkeng..

" 'Biasanya, apabila racun cabul itu sudah kambun untuk ke dua kalinya, maka racun mana akan lebih sukar untuk disembuhkan, sekalipun bisa dipunahkan pengaruh racun cabul itu, namun dia sendiri menderita akan kerugian yang amat besar, keselamatan jiwanya pun akan terancam bahaya besar. Mendengar ucapan mana, Ku See hong menjadi semakin pedih hatinya, dia segera berpikir.

"Kalau begitu aku harus segera berangkat ke bukit Im cu san untuk mencari rumput Im cu cau, siapa tahu kalau rumput tersebut dapat menyembuhkan racun cabul itu?"

Setelah mengambil keputusan, dia pun berkata dengan sedih.

"Kini, waktunya sudah amat mendesak, terpaksa aku orang she Ku harus mohon diri lebih dahulu, besok pagi aku akan menunggu mu dl rumah penginapan Yang tang saat Im Yan cu dan gurunya tolong kau sudi mencarikan..."

"Harap kau jangan kuatir, keselamatan Im Yan cu.."

Sebenarnya dia hendak berkata bahwa keselamatan lm Yan cu mempunyai arti yang sangat penting baginya.

Tapi karena kuatir Ku See hong akan menaruh curiga kepadanya, terpaksa ia membungkam dalam seribu bahasa.

"Nona!"

Kata Ku See hong lagi..

"kita berjumpa lagi lain waktu, sekarang aku hendak mohon diri lebih dahulù Ku See hong, sekarang kau hendak ke mana?"

Tiba-tiba manusia berkerudung itu bertanya.

"Aku hendak mencari semacam obat, paling lambat besok pagi pasti sudah kembali ke rumah penginapan Yang tang' Selesai berkata, dengan suatu gerakan yang amat cepat Ku See hong meluncur ke depan sejauh dua puluhan kaki lebih.

"Hei, apa nama rumput itu?"

Teriak manusia berkerudung itu dengan keras-keras.

"Rumput Im Cu cau!?"

Jawaban itu melayang tiba secara lamat-lamat, sementara tubuhnya dengan cepat sudah meluncur naik keatas sebuah puncak bukit dan sekejap kemudian telah lenyap dibalik lapisan bukit tersebut.

Memandang bayangan punggung sang pemuda yang menjauh, perempuan itu segera bergumam.

"Rumput Im cu cau! Rumput Im cu cau.. Yaa. di dalam kitab pusakaku memang pernah disebut tentang rumput aneh itu, tapi rumput tersebut sangat sulit ditemukan, hendak ke manakah dia mencari rumput Im cu cau tersebut? Mungkinkah rumput terse-but bisa menawarkan racun cabul tersebut? Aaaai..."

Dia manghela napas panjang.

Sorot matanya yang jeli pelan-pelan di alihkan ke tengah udara, memandang mega yang melayang terhembus angin, dibawan sorot cahaya matahari, tampak beberapa tetes air mata sempat membasahi matanya.

Dengan perasaan yang pedih, kembali dia bergumam.

"Engkoh Hong, maafkanlah daku! Aku tahu kau sangat mencintaiku, tapi... aku ...aku sudah tak dapat menerima cinta kasihmu lagi."

"Dia! Seperti yang kau duga, telah mati, selama hidup kau tak akan pernah bisa berjumpa lagi dengannya. 'Oooh Thian! Mengapa begitu jeleknya nasibku ini..."

Bergumam sampai disitu, tak tahan lagi dia menangis tersedu-sedu, menangis dengan sangat sedihnya.

Yaa, sesungguhnya nasib gadis ini memang tragis dan mengibakan hati...

Sebenarnya ia sudah tak ingin hidup terus di dunia ini semenjak terjadinya peristiwa yang mengenaskan itu.

Tapi, kobaran api dendam dan bencinya yang menyala-nyala membuat gadis itu berusaha keras untuk mengendalikan diri, terutama sekali betapa besarnya keinginan gadis itu untuk dapat berjumpa muka sekali lagi dengannya, maka sambil menahan malu dia melanjutkan hidupnya sampai kini...

Sungguh tidak disangka, justru karena tekadnya itu, tanpa disengaja ia telah menemukan sesuatu keajaiban, dia menemu bkan kitab pusakda yang berisikaan ilmu silat ambat lihay yang mana membuatnya berubah menjadi seorang perempuan berilmu tinggi.

Ternyata Buncu dari perguruan Hiat mo bun ini atau yang lebih dikenal sebagai manusia berkerudung warna warni ini, bukan lain adalah Keng C in sin dari Istana Huan mo kiong di lautan Lain hay, Keng Cin sin, saat ini ia sedang menangis tersedu sedu, menangis dengan amat pedih nya..

Suara isak tangis yang memilukan itu mengalun dan menyebar ditengah bukit yang hening itu.

Suasana begitu sedih, begitu mengenas kan, membuat hati siapa pun terasa pilu.

Dia telah melampiaskan seluruh rasa sedih dan pilunya dalam isak tangis yang memedihkan hati tersebut.

Suaranya seperti suara teriakan monyet dari selat wu shia, begitu memilukan, begitu mengibakan hati, membuat siapa saja merasa turut beriba hati.

Peristiwa mengerikan yang pernah di alaminya dimasa lalu, kini terlintas kembali dalam benaknya...

(Berikut ini akan dikisahkan musibah yang telah menimpa Keng Cin sin serta penemuan yang dialaminya) Peristiwa itu terjadi pada setahun berselang di istana Huan mo kiong laut lam hay, diawali pada senja yang kelabu tersebut.

Waktu itu, Keng Cin sin seorang diri harus menghadang melawan Kim kiam (si pedang emas) Cia Tiong giok sekalian belasan orang jago-jago lihay.

Demi kekasihnya Ku See hong agar bisa lolos dari tempat tersebut dengan memperta-ruhkan jiwa raganya dia melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga.

Apabila seseorang sudah berada diujung tanduk, dimana keselamatan jiwanya dijadikan taruhan, kekuatan yang terpancar keluar dari tubuhnya memang selalu diluar dugaan siapa saja.

Keadaan Keng Cin sin ketika itu ibaratnya seekor harimau betina yang sedang kalap, dia menerjang ke sana melompat kesini, dengan sekuat tenaga mencegat terjangan orang-orang itu.

Dengan kegarangannya, dalam waktu singkat dia telah berhasil merobohkan bebe-rapa orang, akan tetapi pakaian yang dikenbakan juga telahd hancur dan robaek-robek, darahb segar bercucuran dimana-mana, namun dia masih mencoba mengerahkan sisa kekuatan yang dimilikinya untuk melancarkan serangan.

Suatu ketika dia berhasil melukai si pedang emas Cia Tiong giok dan merebut pedang emasnya.

Mendadak, pada saat itulah...

Tubuhnya pun secara beruntun terkena beberapa buah pukulan dahsyat yang membuat nya memuntahkan darah segar.

Berada dalam keadaan begini sadarlah gadis lersebut bahwat dia tak akan mampu untuk bertahan lebih jauh, sudah pasti dia akan ditawan mereka dan mengalami siksaan yang paling keji..

Maka sambil memperdengarkan jeritan ngeri yang memilukan hati, dia segera mengayunkan pedangnya untuk bunuh diri.

Siapa tahu saat yang tepat inilah Cia Tiong giok telah menyambitkan senjata rahasia untuk merontokkan pedang emas ditangan gadis itu, kemudian dengan suatu gerakan cepat menotok beberapa buah jalan darahnya.

Begitulah, diapun mengalami nasib yang paling tragis di dalam kehidupannya.

Dia pun harus mengalami kejadian memalukan yang membuatnya amat sakit hati.

Ternyata si Pedang emas Cia Tiong giok sangat mencintai Keng Cin sin, secara diam-diam dia telah menganggap gadis itu sebagai istrinya sendiri, sungguh tak pernah di sangka olehnya kalau gadis itu akan menghianati dirinya.

Pada dasarnya si Pedang emas Cia Tiong giok memang seorang manusia yang kejam, buas dan sama sekali tak berperasaan.

Pada saat itu dia sudah amat membenci terhadap Keng Cin sin, dia hendak mengguna kan semacam siksaan yang paling keji dan paling buas untuk menyiksa gadis tersebut.

Maka dengan menggunakan semacam obat beracun yang dapat membuat ke empat anggota badan orang menjadi lemas, dia cekoki obat tersebut ke mulut Keng Cin Sin agar supaya gadis itu tak mampu melakukan usaha bunuh diri.

Setelah itu dia perkosa Keng Cin sin sampai puluhan kali banyaknya, ketika ia sudah mulai bosan, maka ia serahkan Keng Cin sin kepada anak buahnya agar diperkosa secara beramai-ramai.

Begitulah, sekuntum bunga yang sangat indah, akhirnya dirusak dan dilalap oleh kawanan manusia laknat itu sehingga tak karuan lagi bentuknya.

Berada dalam keadaan seperti ini, Keng Cin sin sama sekali tak berkemampuan lagi untuk melakukan perlawanan, dia harus menghadapi siksaan dan penderitaan tersebut dengan tabah, terpaksa dia pun harus menerima perkosaan tersebut sekali demi sekali secara bergilir ....

Alat rahasia dibawah tubuhnya boleh di bilang sudah digagahi mereka hingga robek, terluka dan mengucurkan darah, setiap kali dia tentu jatuh tak sadarkan diri karena sakitnya.

Namun semua penderitaan tersebut hanya penderitaan lahiriah, sementara siksaan dan penderitaan hatinya entah berapa puluh ribu kali jauh lebih berat.

Dia ingin hidup sayang tak bertenaga, ingin mati sayang tak berkemampuan.

oooOdwOooo BAB 44 BEGITULAH seterusnya, selama satu bulan penuh, hampir setiap hari setiap waktu harus menerima siksaan yang tak berperi kemanusiaan itu, hampir setiap waktu dia digagahi oleh kawanan manusia laknat tersebut secara bergilir.

Akhirnya karena sering dan terlalu banyak nya orang yang menggagahi dia, gadis itu kejangkitan penyakit kotor, penyakit kelamin yang entah ditularkan oleh siapa.

Tubuhnya yang berkulit putih dan bersih itu mulai tumbuh luka-luka bernanah yang mengeluarkan bau busuk.

seluruh tubuhnya menjadi busuk baunya dan rasa sakitnya tak terlukiskan lagi dengan kata-kata.

Namun, tak seorang manusia pun yang menaruh simpatik kepadanya, tiada orang yang berbelas kasihan kepadanya.

Si pedang emas Cia Tiong giok sesungguh nya berbuat demikian diluar pengetahuan ayahnya Han thian it kiam Cia Cu kim, oleh sebab itu Cia Cu kim sama sekali tak tahu kalau Keng Cin sin telah mengalami siksaan dan penderitaan sehebat itu.

Ahirnya, setelah seluruh tubuh Keng Cin sin kejangkitan penyakit kotor dan baunya busuk sekali, orang mulai mencampakkan dia, orang tak sudi menjamah tubuhnya lagi, ia pun dinaikkan ke atas sebuah sampan kecil kemudian di lepaskan ditengah samudra yang luas seorang diri...

Waktu itu, racun dari penyakit kelamin yang dideritanya sudah menjalar hampir menyeliputi seluruh bagian tubuhnya.

Kesadarannya sudah menjadi kabur..

keadaan gadis itu boleh dibilang berada dalam keadaan sadar tak sadar, dia sendiri sama sekali tak tahu kalau tubunya telah diletakkan diatas sebuah sampan dan dilepaskan di tengah samudra.

Dengan penyakit kotor yang begitu parah menyerang tubuh Keng Cin sin, tubuhnya dilepaskan pula ditengah samudra luas dan dibiarkan terapung entah ke mana..

pada hakekatnya tiada harapan sama sekali baginya untuk hidup lebih jauh.

Tapi mati hidup manusia didunia ini semuanya telah diatur oleh suatu kekuatan yang maha besar yang jauh diatas langit sana.

Setelah terombang ambing selama sehari semalam, lambat laut Keng Cin sin menjadi sadar kembali.

Sekujur tubuhnya terasa amat sakit, ia membenci langit karena memberikan siksaan dan penderitaan yang begitu keji kepadanya.

Ditengah samudra yang begitu luas tak bertepian, berteriak kelangit tiada yang menyahut, menjerit ke bumi tiada yang menggubris, beberapa kali dia hendak terjun ke laut untuk bunuh diri, namun setiap kali teringat kembali dengan dendam kesumat yang membara di dalam dadanya, keinginan nya untuk hidup segera tumbuh kembali.

Selain itu, dia ingin bertemu sekali lagi dengan kekasih hatinya, agar dia tahu betapa keji dan mengenaskannya musibah yang telah menimpa dirinya.

Namun kesemuanya itu hanya berupa suatu lamunan belaka, sebab dia tahu, keselamatan jiwanya hanya bisa bertahan selama sepuluh hari saja.

Saat itu, tengah malam sedang menjelang tiba, cahaya rembulan dan bintang yang redup menyoroti diatas sampan yang terombang ambing ditengah lautan.

Pakaian yang dikenakan Keng Cin sin sudah hancur dan compang camping tak karuan bentuknya.

kulit badannya merah membengkak, pada hakekatnya ia sudah tersiksa hingga tak berwujud manusia lagi, wajah nya pucat bias seperti mayat, rambutnya awut-awutan tak karuan, bau busuk amat menusuk hidung.

Cahaya rembulan memancarkan sinarnya di atas permukaan laut dan memantulkan raut wajahnya yang mengerikan seperti kuntilanak, dia mencoba untuk meronta bangun, namun seluruh tubuhnya terasa sakit dan mengejang keras.

Sepasang matanya yang merah membeng-kak mengucurkan titik-titik darah kental...

Ia tahu tiada harapan lagi baginya untuk melanjutkan hidup, soal membalas dendam, meski dia tahu bahwa kekasihnya akan mewakilinya untuk menuntut balas, namun dia tetap tak ingin mati dengan begitu saja, oleh karena itu dengan menghimpun sisa kekuatan yang dimilikinya, dia harus bertarung melawan maut.

Ia menangkap ikan-ikan segar yang berlompatan diatas permukaan laut untuk mengisi perutnya yang lapar, tiada air tawar maka diapun menggunakan isi perut ikan serta darah untuk menghilangkan rasa dahaga tersebut...

Hidup seorang diri ditengan samudra yang begini luas, boleh dibilang sungguh berat dan payah.

Tapi dengan tabah dia menahan penderitaan tersebut, dia harus menahan hembusan angin laut yang kencang, ditam-bah lagi tubuhnya yang penuh dengan luka bernanah, penderitaan dan rasa sakit yang dialaminya jelas berapa puluh kali lipat lebih menyiksa...

Tanpa terasa dia telah sepuluh hari sepuluh malam melakukan pergulatan seru menentang maut, hidup tersiksa ditengah samudra luas seorang diri...

Akhirnya Keng Cin sin berhasil mengung-guli, karena kesadarannya berangsur-angsur pulih kembali, namun siksaan dan penderitaan pada tubuhnya justru hari demi hari semakin bertambah menghebat.

Hari ini adalah hari kesebelasan dia bertarung menentang maut ditengah samudra luas, matahari senja sudah mulai tenggelam dilangit sebelah barat.

Dengan termangu-mangu ia memandang matahari merah yang makin lama tenggelam semakin kebawah diujung langit sana, dia tak tahu berapa hari lagi dia hidup terombang-ambing ditengah samudra yang luas tersebut...

Rupanya sampan tersebut bukan saja tidak dilengkapi dengan alat pendayung, layar pun tiada, maka perahu itu hanya bisa bergerak mengikuti arus...dia tak tahu akhirnya dia akan terbawa arus sampai ke mana...?

Dalam keadaan ini, dia hanya pasrah pada nasib, yaa sesungguhnya bagaimana mungkin dia bisa menentang nasib dan takdir yang telah mengatur segala sesuatunya itu?

Keng Cin sin, si gadis yang bernasib jelek sekali lagi harus menghadapi perjuangannya menentang maut.

Kiranya setelah matahari senja tenggelam tak lama dibalik laut...

Mendadak seluruh angkasa diliputi oleh kabut hitam yang amat tebal, angin puyuh bagaikan berjuta-juta prajurit berkuda, secepat kilat menggulung tiba dengan amat dahsyatnya.

Ombak pun mulai membukit dan menghempaskan setiap benda yang berada di sekeliling tempat itu.

Keng Cin sin amat terkejut.

dia sadar habis sudah riwayatnya kali ini...

Sebuah sampan yang kecil, bagaimana mungkin bi a menentang hembusan angin puyuh serta gulungan ombak yang membukit?

Suara deruan angin yang memekikkan telinga, membuat hati orang menjadi ngeri dan seram, bulu kuduk pada bangun berdiri semua...

"Oooh Thian!"

Pekik Keng Cin sin di dalam hati.

"mengapa kau bersikap begitu keji terhadap diriku? "

Dosa besar apakah yang kuperbuat dalam penitisanku yang lalu?

Belum cukupkah siksaan dan penderitaan yang kau berikan kepadaku selama ini?

"Mengapa kau hendak merenggut pula sisa kehidupan yang kumiliki ini.."

"Aku harus hidup!

Aku hidup, hidup untuk selamanya...

aku harus menuntut balas, membalas sakit hatiku yang membara ini.

Teriakan tersebut memilukan hati siapa pun yang mendengar, namun sayang jeritan tersebut segera tenggelam dibalik deruan angin puyuh yang amat dahsyat itu...

Keng Cin sin duduk kaku diatas sampannya, dengan sorot mata yang merah membara dan memancarkan sinar penuh dendam dan sakit hati, ia menatap awan hitam yang menyeli-muti angkasa itu tanpa berkedip..

Angin puyuh yang tajam menyambar pakaiannya yang compang camping dan mengoyak pakaiannya yang sudah hancur itu, dalam waktu singkat, ia berada dalam keadaan telanjang bulat, rambutnya yang hitam terurai tak karuan dimainkan angin.

Sekarang, keadaannya tak berbeda dengan seorang setan perempuan yang telenjang bulat.

Wajah ,yang menyeramkan tapi menegas kan membuat orang merasa seram, namun juga beriba hati...simpatik...

Entah Thian terharu oleh jeritannya yang memilukan hati, entah karena apa, akhirnya awan hitam yang menyelimuti angkasa itu tersapu lenyap dari angkasa dan hilang lenyap tak berbekas.

Ombak putih yang menggulung-gulung di permukaan samudra pun mulai mengocok dunia dan bergulung gulung dengan hebatnya.

Dimainkan oleh ombak yang deras, sampan yang ditumpangi Keng Cin sin itu segera meluncur ke depan dengan cepatnya, mengikuti arus laut meluncur ke arah depan.

Keng Cin sin sendiri karena luka dan penyakit yang dideritanya, kini berada dalam keadaan tak sadarkan diri, tubuhnya yang telanjang terkapar diatas sanpan tak bisa berkutik.

Menanti dia sadar kembali, dari pingsannya...

Meskipun Keng C in cin masih mendengar suara gulungan ombak yang memecah te-pian, suara ombak samudra yang menggelegar masih mendengung disisi telinga nya..

Namun dia merasa seakan-akan sudah tidak berada diatas sampan lagi, melainkan berbaring diatas permukaan tanah yang basah, bukan pasir, melainkan batu karang yang keras dan licin.

Keng Cin sln sedikit kurang percaya kalau dia masih bisa hidup di dunia yang penuh dosa ini..Ia mencoba untuk menggerakkan tubuh nya, sekujur badan segera terasa sakit, terutama tulang belulangnya, rasanya linu dan sakit nya seperti pada retak.

Akan tetapi, rasa sakit dalam tubuhnya terasa tersapu lenyap oleh rasa gembira didalam hatinya, pelan-pelan dia membuka matanya, kemudian berteriak dengan suara parau.

"Aku masih hidup! Aku masih hidup! Benar aku masih hidup?"

Ia mendongakkan kepalanya dan meman-dang ke depan sana.

Tiba-tiba muncul suatu kejadian didepan matanya.

Ia saksikan sebuah bangunan kuil muncul disana, sebuah bangunan kuil yang kokoh dan megah...

Kuil tersebut, berdiri tegak di tengah gulungan ombak yang menggulung-gulung.

Saat itu malam sudah menjelang tiba, rembulan bersinar dengan terangnya di angkasa.

Tiada hembusan angin yang berhembus lewat, namun ombak laut masih saling menggulung dengan kencangnya.

Suara ombak yang memecah ditepi pantai, menimbulkan suara getaran yang memekik kan telinga.

Tapi anehnya, meskipun kuil tersebut di kelilingi oleh ombak yang menggulung-gulung, namun sepuluh kaki disekelilingnya, air laut justru amat tenang, lembut tanpa ombak.

Peristiwa itu benar-benar jauh diluar dugaan siapa pun...

Keng Cin sin menghela napas sedih, gumamnya.

"Aku masih berada di alam semesta? Ataukah sedang berada dalam alam impian.?"

Tidak, segala sesuatunya merupakan kenyataan, kadangkala apa yang berada dihadapannya memang sukar dipercaya oleh siapa pun.

Nun jauh disana tampak bukit yang berlapis-lapis dengan hutan yang lebat, siapa pun tak akan menyangka kalau dibalik bukit di tepi samudra dengan ombak yang deras, terdapat sebuah kuil dalam bentuk sedemikian anehnya.

Sekeliling kuil itu penuh dengan batu karang berwarna hitam yang berkilauan.

Dalam keadaan bugil, Kang Cin sin berbaring diatas batu karang itu...

Mendadak...

Gadis itu menjerit kaget...paras dukanya yang pucat pias berubah menjadi semu merah.

Rupanya dia baru menyadari kalau ia sedang berada dalam keadaan bugil, tanpa secuwil kainpun yang melekat ditubuhnya.

Kendatipun ia pernah bertelanjang bulat, seluruh bagian tubuhnya pernah dilihat dan dinikmati oleh kawanan manusia laknat, pernah di perkosa dan melewati kehidupan bagaikan seorang pelacur selama hampir sebulan lamanya....

Namun kesemuanya itu bukan terjadi atas kehendaknya sendiri, dia tak mampu memberikan perlawanan.

Tapi sekarang dia telah melepaskan diri dari penderitaan tersebut sudah lolos dari garang iblis yang melakukan itu.

Sekaramg dia masih tetap merupakan seorang gadis yang suci bersih.

Karenanya setelah mengetahui kalau dirinya berada dalam keadaan telanjang bulat, tentu saja ia merasa malu sekali.

Memandang bisul-bisul bernanah yang memenuhi seluruh tubuhnya yang telanjang, Keng Cin sin merasa amat sedih sekali, titik air mata tanpa terasa jatuh bercucuran membasahi pipinya.

-oo0dw0oo-

Jilid 29 SAMBIL menggertak gigi, dia berseru dengan penuh perasaan dendam.

"Aku harus membalas dendam, akan ku bunuh seluruh manusia laknat dari istana Huan mo kiong di lautan Lam hay..."

Terbayang kembali musibah yang menimpa dirinya, kembali dia menangis terisak dengan amat sedihnya.

Suara tangisan Keng Cin sin kedengaran begitu lemah dan parau...

Ini semua membuktikan kalau hawa murninya sudah banyak yang hilang, ia tak lebih hanya seorang manusia yang sudah tak jauh dari saat kematiannya...

Isak tangis yang begitu sedih dan memedihkan hatinya membuat kesadaran Keng Cin sin kembali terlelap dalam keadaan sadar tak sadar.

Untuk kesekian kalinya dia jatuh tidak sadarkan diri.

Menanti ia sadar kembali, tengbah hari sudah ldewat.

Cahaya maatahari meneranbgi seluruh tubuh nya yang bugil, ia mendongakkan kepalanya, memandang bangunan kuil di atas bukit tersebut, namun suasana masih tetap hening, seakan-akan tiada berpenghuni.

"Mungkin tiada orang yang berdiam dalam kuil itu..."

Guman gadis itu lirih."

Tapi seandai nya ada penghuninya. bila mereka saksikan aku muncul dengan tubuh bugil... Ia tak berani membayangkan lebih jauh, diam-diam dia hanya bisa berdoa didalam hati.

"Moga-moga saja tiada orang dalam kuil itu...."

Kendatipun begitu, dia tak berani mendaki keatas bukit itu, apalagi memasuki bangunan kuil tersebut, sebab dia berada dalam keadaan telanjang bulat, ia malu bila sampai bertemu orang lain.

Padahal kuil itu kosong tanpa penghuni, andaikata ada orang yang berdiam disitu, maka setelah berdiam selama sehari semalam disini, tentu saja jejak Keng Cin sin sudah diketahui oleh penghuni 959 kuil tersebut.

Keng Cin sin tidak mempunyai keberanian untuk merangkak masuk ke dalam kuil dalam keadian beginilah dia menanti terus hingga matahari tenggelam dan senja menjelang tiba.

Dalam keadaan demikian, akhirnya gadis itu mulai berpikir.

"Kalau aku harus berada dalam keadaan begini terus, akhirnya pasti akan mati kelaparan, daripada mati, lebih baik aku menahan rasa malu untuk melongok ke dalam..."

Berpikir demikian, ia mulai menggerakkan tubuhnya siap bergerak ke atas bukit, tapi begitu badannya bergerak, ia segera merintih karena kesakitan.

Jelas luka yang berada didalam tubuhnya menjadi pecah dan menimbulkan rasa sakit yang bukan kepalang hebatnya.

Keng Cin sin menggertak giginya kencang-kencang, lalu merangkak maju beberapa langkah ke depan, sementara rintihan kesakitan bergema tiada hentinya dari mulutnya...

Tulang belulangnya bagaikan dipatah-patahkan orang, kulit tubuhnya terasa panas dan sakitnya bukan kepalang.

Setiap kali merangkak tiga langkah, Keng Cin sin segera berhenti beristirahat sebentar, wajahnya yang memucat seperti setan natpak mengejang keras penuh penderitaan.

Rintihan kesakitan dan dengusan tertahan, berkumandang tiada hentinya dari bibir si nona yang pucat itu...

Wajahnya, tubuhnya basah kuyup oleh peluh sebesar kacang kedelai yang bercu-curan amat deras.

Untung saja permukaan tanah dari bukit itu merupakan batu karang yang hitam dan halus, kalau tidak.

sudah dapat dipastikan seluruh badan Keng Cin sin akan terluka lecet dan berdarah.

Kurang lebih setengah jam kemudian, akhirnya Keng Cin sin berhasil mendaki bukit yang empat kaki panjangnya itu.

Dengan menempelkan tubuh bagian bawah serta dadanya diatas bermukaan tanah didepan pintu kuil, dia mendongakkan kepalanya dan menatap ke dalam ruang kuil dengan sayu.

Terasa olehnya kuil tersebut amat sepi, hening, dan tak kedengaran sedikit suara pun.

"Ada orangkah dalam kuil?"

Dengan suara yang parau Keng Cin sin berteriak.

Suaranya parau lagi lemah, namun suasana dalam ruangan kuil itu masih tetap hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun.

Setengah perminum teh sudah lewat, Keng Cin sin yang berbaring diatas tanah pun sudah terengah-engah.

namun belum juga terdengar suara sahutan.

Maka dia berteriak lagi.

"Adakah seseorang didalam ruangan?"

Suasana tetap hening, sepi dan tak kedengaran suara apapun.

"Aaah, mungkin tiada orang didalam sana..."

Pikir Keng Cin sin kemudian.

Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, dia merangkak masuk ke dalam ruangan kuil itu.

Setelah melalui pintu, disana terlihal sebuah ruangan yang amat besar, dalam ruangan tampak beberapa patung pemujaan, tapi lantaran sudah dimakan usia, maka meskipun patung itu masih utuh, namun warnanya sudah luntur.

Permukaan lantai berupa lapisan batu bata merah, semuanya berada dalam keadaan bersih, Sekeliling dinding ruangan tampak pula butiran mutiara yang memancarkan selapis cahaya lembut.

Melihat betapa bersihnya ruangan itu, selain tanpa debu, sarang laba-laba pun tak ada, kembali Keng Cin sin berpikir.

"Sudah jelas ada penghuninya disini, kalau tidak, mengapa ruangan disini tampak begitu bersih?!' Berpikir sampai disitu, tanpa terasa, dia memandang kembali tubuh sendiri yang berada dalam keadaan bugil, merah padam selembar wajahnya yang memucat karena jengah.

Berapa saat kemudian ia berseru lagi dengan sedih.

"Ada orangkah disini? Adakah orang yang sedang bertapa ditempat ini? Harap sudi ke luar sebentar dan menolong aku si perempuan yang bernasib jelek..."

Kecuali suara sendiri yang memantul dari empat dinding, take kedengaran sedikit suara pun bahkan dikala suaranya sirap, sekeliling ruangan itu kembali dicekam keheningan.

Secara beruntun Keng C in sin berteriak lagi sampai beberapa kali, tapi suasana di sekeliling tempat itu masih tetap sepi tak kedengaran sedikit suara pun.

pada hakekat nya tempat itu merupakan sebuah kuil yang tak berhuni.

Melihat hal itu, si nona lantas berpikir.

"Aaaah, mungkin tokoh silat itu sedang pergi atau mungkin juga kuil ini memang kosong tak berpenghuni...

Dia meronta untuk bangun dan berlutut didepan altar, kemudian gumamnya dengan lirih.

Sin ceng sekalian, maafkan aku Keng Cin sin gadis yang bernasib jelek, karena sudah mengotori ruangan sucimu dengan tubuhku yang telanjang..`.

Kemudian dengan susah payah dia mendekati meja altar itu dan berusaha keras untuk merangkak bangun dan berdiri.

Ketika ia berhasil berdiri tegak, dengan cepat hidungnya mengendus bau harum semerbak yang membuat tubuh orang menjadi segar kembali.

Di dalam ruangan tengah kuil terdapat mutiara yang memancarkan sinar terang bagi pengamatan orang persilatan, cahaya mutiara tersebut sudah cukup menerangi seluruh ruangan tersebut bagaikan di siang hari saja, dengan cepat Keng Cin sin mengamati meja altar tersebut...

Diatas altar terdapat sebuah hiolo yang terbuat dari tembaga, bau harum semerbak tadi muncul dari dalam hiolo tersebut.

Sebagaimana diketahui, selama beberapa hari ini Keng Cin Sin hanya menggunakan ikan mentah untuk mengisi perutnya yang lapar, maka dikala ia mengendus bau harum semerbak, perutnya segera menjadi geruyukan karena lapar.

Berbicara sesungguhnya, sekarang dia merasa lapar sekali.

"Aaaah, mungkin benda yang disimpan dalam hiolo itu adalah makanan"

Demikian dia berpikir.

"Karena bau harum semerbak itu seperti bau buah apel, seperti juga buah li...' Makin tajam bau harum yang terendus Keng Cin sin, semakin lapar perut si nona tersebut, sehingga tanpa disadari dia lantas membuka penutup hiolo tersebut.

Begitu penutup hiolo itu dibuka, bau harum yang semerbak terendus makin tajam, sementara semangatnya juga tiba-tiba saja bertambah segar...

Biji matanya yang jeli dengan cepat melongok ke dalam hiolo tersebut ternyata isi hiolo itu hanya sebutir pil berwarna hijau.

Melihat pil itu, Keng Cin sin menghela napas panjang, gumamnya.

'Pil ini sudah pasti hasil bikinan dari pertapa yang menghuni disini, aaaai...

aku tidak pantas mengambil, benda yang bukan menjadi milik sendiri...' Bergumam sampai disitu, dia lantas menutup kembali hiolo tersebut dan diletakkan kembali.ke tempatnya semula.

"Cri ngg.. !"

Berkumandang suara gemerincingan nyaring memecahkan keheningan. Menyusul kemudian...

"Bruuukkk!"

Dari atas penutup hiolo tersebut tiba-tiba saja terjatuh sebuah lencana tembaga tipis yang panjangnya tiga inci.

Dengan cepat Keng Cin sin mempberhatikan lencadna tembaga itu,a ternyata di atbas lencana itu nampak penuh dengan ukiran tulisan.

Buru-buru dia mengambil lencana tembaga itu dan membaca tulisan yang tertera disana, terbaca olehnya tulisan tersebut ber bunyi demikian.

"Pil yang berada didalam hiolo itu merupakan sebutir pil mestika Pit ku sin wan, bila kau telah menelannya maka dapat bertahan selama enam bulan tanpa lapar.

Kuil ini merupakan kuil Ngo siang bio dari jaman kerajaan Go, kau bisa sampai disini hal ini membuktikan kalau kau berjodoh, lagipula tidak kemaruk oleh benda yang bukan menjadi miliknya.

ini semua menunjukkan kalau kau berbudi luhur.

Terimalah pil Pit ku sin wan tersebut sebagai hadiah dariku!

Tapi seandainya kau mempunyai ingatan serakah dengan mengambii pil tersebut, maka sekarang kau sudah mati cukup lama, sebab didalam hiolo tersebut dilengkapi dengan berbagai alat rahasia, disaat kau mengambil pil tersebut maka semua alat rahasia yang berada didalamnya akan mulai bekerja."

Dari dalam hiolo itu akan memancar keluar jarum-jarum beracun, sekali pun ilmu silatnya amat lihay pun jangan harap bisa meloloskan diri dari ancaman."

Jarum itu amat beracun dan mematikan, bila bertemu dengan darah, betul tenaga dalam yang kau miliki amat sempurna, namun jangan harap jiwamu dapat diselamat kan.

Kini, alat cahasia yang berada dalam hiolo tersebut telah hancur dan musnah dengan diletakkannya kembali penutup hiolo itu keatas hiolo tersebut, bila kau mendengar suara gemerincing, berarti alat rahasia itu sudah punah, sekarang kau boleh mengambil pil tersebut dengan berlega hati."

Dalam kuil ini penuh dengan benda mestika, bila kau punya jodoh, semua benda tersebut tentu akan kau temukan, baik-baiklah dipergunakan.

"Orang pertama yang memasuki kuil ini, Bun ji koansu Him Ci-seng"

Ketika selesai membaca tulisan yang tertera diatas lencana tembaga itu, Keng Cin sin merasa terkejut bercampur gembira.

Ia terkejut karena hampir saja tewas di situ.

Ia girang karenra pil Pit ku sit wan tersebut dapat menghilangkan rasa lapar yang sedang mencekam dirinya, bila pil tersebut sudah dimakan, berarti dia dapat mengobati lukanya dengan tenang ditempat tersebut...

Sambil menghela napas sedih Keng C in sin bergumam.

'Bun ji koan su Him Ci seng, bukankah ia adalah guru kekasihku Ku See hong?"

Dia bilang kuil ini adalah kuil Ngo siang bio dari peninggalan kerajaan Go, itu berarti kuil ini didirikan oleh perdana menteri kerajaan Go, Ngo Cu siu.

Konon kitab pusaka Cang ciong pit kip dibuat oleh Ngo Cu siu, jangan-jangan kitab pusaka tersebut memang disimpan ditempat ini?

"Namun..bukankah Bun ji koan su locianpwee sudah memasuki kuil ini lebih dahulu?

Bisa jadi kitab pusaka tersebut sudah dibawa pergi olehnya ..."

Aaaai.

coba kalau bukan begitu, dalam enam bulan mendatang aku bisa mempelajari ilmu silat maha sakti ditempat ini, kemudian pergi menuntut balas atas sakit hatiku...' Bergumam sampai disitu, dia lantas mengambil pil Pit ku sin wan tersebut dan dimasukkan ke dalam mulutnya lalu di telan ke dalam perut.

Tapi begitu pil tersebut ditelan, ia segera menjerit kaget.

"Aaaah, obat beracun, obat beracun....

Ternyata begitu pil Pit ku sin wan itu ditelan ke dalam perut oleh Keng Cin sin, dia segera merasakan perutnya teramat sakit seperti di sayat-sayat dengan pisau, darah yang mengalir didalam tubuhnya serasa mendidih dengan hebatnya, tak terlukiskan rasa sakit yang mencekam tubuhnya waktu itu.

Akhirnya Keng Cin sin tak sanggup menahan diri lagi, seluruh tubuhnya menjadi panas bukan kepalang, ia tak mampu me-ngendalikan diri lagi, tubuhnya yang telan-jang mulai bergulingguling diatas tanah...

Ia merintih kesakitan, mendengus terta-han, seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat, bau busuk yang memuakkan memancar keluar dari sekujur badannya.

Suhu udara yang membara dalam tubuhnya kian lama kian bertampah panas.

sekarang dia tidak merintih lagi bahkan mulai menjerit-jerit seperti babi yang akan disembelih.

Kini dia merasa benci, benci terhadap semua manusia yang ada didunia ini, membenci akan kebusukan serta kemunafikan mereka.

Sampai-sampai manusia yang paling di hormati di duniapun ...

Bun ji koan su Him Ci seng tak lebih hanya mengenakan kedok kebaikan, padahal sebetulnya adalah manu-sia licik yang berhati keji.

Kalau bukan manusia keji, mengapa dia menggunakan lencana tembaga yang berisi tulisan itu untuk memancingnya agar menelan pil beracun tersebut dan mencelakai seorang manusia yang sama sekali tiada dendam atau sakit hati dengannya?

Sekujur tubuh Keng Cin sin sekarang sudah tersiksa sekali, seluruh badannya se-akan-akan digigit oleh beribu ribu ekor semut beracun.

Selurun darah dan dagingnya seperti dl letakkan di atas panggangan api dan digarang, dengan api yang membara.

Tulang belulangnya seperti ditekan oleh semacam kekuatan yang amat besar sehingga hampir menjadi remuk dan hancur berantakan.

Makin lama dia semakin tak mampu untuk mengendalikan siksaan dan penderitaan yang mencekam tubuhnya itu, hilanglah kesadaran gadis tersebut....

Kini, tubuhnya sama sekali tak berkutik lagi.

Tapi dari rongga-rongga tubuhnya yang berpuluh-puluh ribu banyaknya itu nampak air keringat yang berbau busuk mulai meleleh keluar dengan amat derasnya.

Entah berapa lama, Keng C in sin mulai mengeluh kemudian memperdengarkan suara helaan napas panjang.

Ketika dia melompat bangun dari atas tanah, ternyata seluruh badannya tidak terasa sakit lagi, bahkan semangatnya nampak segar dan semua rasa lemas hilang lenyap tak berbekas.

Dengan cepat dia menundukkan kepalanya dan memperhatikan kulit tubuhnya.

Semua bisul-bisul bernanah yang semua menyelimuti seluruh tubuhnya kini sudah hilang lenyap tak berbekas sekalipun masih nampak sisa bintik-bintik berwaarna merah.

Menyaksikan kesemuanya itu, setelah menghela napas panjang diapun bergumam.

"Aaaaai, selembar nyawaku kembali berhasil dipungut dari dalam pintu neraka. Bun ji koan su locianpwe, maafkanlah daku tadi, aku telah salah menuduhmu..."

Ternyata Pit Pit ku sin wan tersebut merupakan sebuah obat mestika yang berkasiat luar biasa, bukan cuma dapat menyembuhkan berbagai keracunan, dapat pula menambah tenaga dalam seseorang yang belajar silat.

disamping dapat menghilangkan rasa lapar.

Sejak diperkosa secara beramai-ramai oleh kawanan manusia laknat, seperti diketahui Keng Cin sin telah mengidap penyakit kelamin yang kotor, namun setelah menelan pil Pit ku sin wan tersebut, semua racun dalam tubuhnya telah tersapu hingga lenyap tak berbekas.

Sekalipun selembar jiwanya berhasil diselamatkan, namun setiap kali memandang bintik-bintik merah bekas keracunan diatas tubuhnya, air matanya segera jatuh bercucuran.

Seorang gadis cantik jelita, kini berubah menjadi buruk dan penuh dengan noda, bayangkan saja, bagaimana mungkin hatinya tidak merasa sedih...

Suka akan kecantikan dan keindahan merupakan kelemahan setiap manusia, terutama kaum wanita, disaat mereka menemukan kalau tubuhnya berubah menjadi jelek, tak bisa dihindari lagi kalau hatinya menjadi sedih dan pilu.

Sebab apabila seseorang memiliki seraut wajah yang tak bisa diterima oleh orang banyak, maka dia (pria) maupun dia (perempuan) tentu akan merasakan kesepian dan penderitaan..

Entah orang itu memang berwatak lincah atau berwatak hambar, dalam hati kecilnya, sudah pasti akan timbul perasaan rendah diri.

Sementara itu, fajar telah menyingsing kembali, sang surya memancarkan cahaya nya kemana-mana dan membuat suasana disekitar situ dapat terlihat jelas.

Setelah kenyang mengucurkan air mata, Keng Cin sin menghela napas sedih, katanya.

"Yaa, inilah yang dinamakan nasib, sekarang aku sudah seharusnya merasa puas, karena harapanku untuk melanjutkan hidup telah tercapai, aku punya harapan untuk bersua lagi dengan kekasih hatiku, memberitahukan semua musibah yang menimpaku, kemudian menghabisi nyawaku sendiri... 'Ilmu silat yang kumiliki amat rendah, tak mungkin aku bisa membalas sakit hatiku ini, yang terpenting bagiku sekarang andalah 968 mendapatkan sebuah pakaian dan menutupi badanku, sekalipun disini tak ada orang lain, namun bertelanjang bulat tetap merupakan aib bagi kaum wanita"

Maka Keng Cin sin mulai melakukan pencarian di dalam kuil Ngo siang bio tersebut untuk mendapatkan pakaian, namun meski sudah di cari setengah harian, ia belum berhasil juga menemukan pakaian yang dibutuhkan....

Akhirnya dia berhasil menemukan sebuah ruangan rahasia yang lain, ketika masuk ke dalam ruangan tersebut, dengan cepat dia menarik napas dingin...

Ternyata di dalam ruangan itu hanya terdapat sebuah peti mati saja, selain itu tidak terdapat sebuah bendapun.

Menyaksikan kesemuanya itu, Keng Cin sin menghela napas sedih, kembali dia ber-gumam.

' Sudah kucari seluruh ruangan kuil ini hampir setiap pelosok kuteliti, namun tak sebuah pakaianpun yang berhasil kutemu kan untuk menutupi tubuhku, apakah aku harus bertelanyang bulat terus menerus?

Tanpa mengenakan pakaian, bagaimana mungkin aku bisa keluar dari sini untuk bertemu dengan orang..."

Mendadak...

Satu ingatan melintas didalam benaknya, ia segera bergumam lagi seorang diri.

'Aku benar-benar seorang tolol, bukankah disitu terdapat peti mati?

Biasanya di dalam peti mati, tentu terdapat pula pakaian..

Walanpun dia tahu kalau pakaian dalam peti mati adalah pakaian milik orang yang telah mati, namun setelah berada dalam keadaan seperti ini, sekalipun benda milik orang matipun akan diambilnya juga untuk dipakainya menutupi tubuhnya.

Sebab bila ia tak berhasil menemukan pakaian, berarti untuk selamanya dia tak akan keluar dari kuil .

'Peti mati adalah tempat untuk menyimpan jenasah, betapapun besarnya nyali sese-orang, tak nanti mereka berani membongkar peti mati untuk mencari pakaian.

Tapi keadaan Keng Cin sin sekarang sudah berada dalam keadaan apa boleh buat, dia tak akan memperduli soal-soal semacam itu lagi.

Pertama-tama dia mencongkel dulu penutup peti mati itu, kemudian mengerah kan tenaga murninya dan mengangkat secara paksa .

"Blaamm.... blaamm....!"

Dua kali benturan nyaring bergema memecahkan keheningan.

Ternyata penutup peti mati yang beratnya mencapai tiga empat ratus kati itu telah berhasil disingkap.

Disaat penutup peti mati itu terbuka..

serta merta tubuhnya turut melompat mundur ke belakang, dia kuatir mayat yang berada dalam peti mati itu berubah menjadi setan atau iblis yang melompat keluar dari peti mati untuk mencari mangsa.

Siapa tahu suasana tetap hening sepi tanpa terdengar sedikit suara pun meski penutup peti mati itu sudah terbuka, setelah yakin keadaan aman, gadis itu baru berjalan mendekati peti mati itu serta melongok ke dalam, Begitu melihat Keng Cin sin merasa semakin keheranan lagi.

Ternyata peti mati yang terbuat dari batu itu kosong melompong, bukan saja tak tampak jenazahnya, juga tidak tampak dasar dari peti mati tersebut.

Atau dengan perkataan lain, dasar peti mati itu merupakan sebuah mulut lorong, sedangkan peti mati yang besar itu tak lebih hanya menutupi pintu masuk menuju ke lorong rahasia tersebut.

Terdorong oleh rasa ingin tahu dan ingin melihat apa gerangan yang terdapat di dalam lorong rahasia tersebut, Keng Cin sin segera melompat ke dalam peti mati tersebut.

"Pluuunggg ....!' Dengan aman dan selamat Keng C in sin berhasil menginjak didasar lorong seperti apa yang diduga olehnya, tempat itu memang merupakan sebuah lorong rahasia yang menjorok jauh ke dalam sana.

Lorong tersebut panjangnya bukan kepalang, berdiri dalam lorong tersebut, Keng Cin sin merasakan angin berhembus amat kencang dan amat menusuk badan.

Sekeliling dinding lorong penuh dengan butiran mutiara yang menerangi sekeliling tempat itu, maka semua benda yang berada empat kaki disekeliling lorong dapat terlihat amat jelas.

Pelan-pelan Keng Cin sin berjalan menelusuri lorong rahasia tersehut, setelah berjalan kurang lebih belasan kaki lebih, mendadak dari depan sana terlihat cahaya emas berkilauan, gadis itu jadi terperanjat dan cepat cepat mengalihkan sorot matanya ke depan sana.

Ternyata cahaya emas itu berasal dari kopyah emas dan seperangkat pakaian perang yang terbuat dari emas, benda-benda itu tersandar didinding, kopiah emas menutupi tulang kepala sesosok tengkorak sedang dibalik pakaian perang terbuat dari emas itupun merupakan seperangkat tulang manusia lengkap.

Keng Cin sin menjadi amat kegirangan, pikirnya.

"Nah, kali ini aku mendapatkan pakaian untuk menutupi badanku, sebentar akan ku cuci dulu pakaian perang emas itu, lakun kukenakan dulu untuk sementara waktu..."

Berpikir demikian, Keng Cin sin lantas menghimpun tenaga dalamnya ketangan kanan lalu disapu pelan ke arah tulang belulang di bagian dada tengkorak tersebut.

Dimana angin pukulan Itu berhembus lewat, kerangka manusia itu segera hancur berantakan dan bertumpukan tak karuan lagi wujudnya.

Dia tahu, tulang belulang itu sudah terlalu lama hingga lapuk semua, itulab sebabnya meskipun didorong oleh sedikit kekuatanpun, tengkorak manusia itu menjadi berantakan.

Keng Cin sin mengumpulkan tulang belulang itu dan ditumpuk menjadi satu kemudian melanjutkan perjalanannya ke depan, belum sampai sepuluh langkah, kembali di temukan kerangka manusia yang berkopiah dan berpakaian perang terbuat dari emas.

Seperti juga apa yang dilakukan pertama kali tadi.

Keng Cin sin memporak porandakan tengkorak manusia itu serta menyingkirkan nya ke samping lorong.

Ternyata selanjutnya dia menemukan lagi berpuluh sosok tengkorak manusia, dimana satu persatu disingkirkan semua olehnya ke tepi lorong rahasia.

Ujung dari lorong rahasia tersbebut merupakan dsebuah ruangan ayang terbuat dari bata.

Ditengah batu ruangan terletak sebuah peti mati berwarna kuning emas, rupanya sebuah peti mati emas, dalam ruangan tidak nampak benda apapun kecuali peti mati tersebut.

Melihat kesemuanya itu, Keng Cin sin segera berpikir.

"Peti mati yang berada diatas merupakan peti mati palsu, makanya orang kuno memang suka berbuat demikian untuk mengelabuhi orang, ini berarti dibawah ruangan inilah merupakan kuburan yang sebenarnya untuk menyimpan jenasah...

Tapi dengan cepat satu ingatan lain melintas dalam benak King Cin sin, dengan perasaan curiga pikirnya lagi.

"Kuil kuno ini didirikan oleh perdana menteri Ngo Cun siu dari kerajaan Go, mengapa bisa berubah menjadi sebuah kuburan? Sedangkan kuburan disini mirip sekali dengan kuburan seorang kaisar dari jaman dahulu kala? Sungguh mencurigakan sekali..."

Dia mencoba mengamati sekeliling peti mati tersebut, disana pun terdapat kerangka manusia yang mengenakan kopiah dan pakaian perang terbuat dari emas. Sekali lagi gadis itu berpikir.

"Kalau ditinjau dari keadaan ditempat ini, seharusnya gua rahasia ini merupakan makam dari seorang kaisar pada jaman dahulu kala, sedangkan berpuluh sosok kerangka manusia berkopiah dan pakaian perang emas itu merupakan tulang belulang dari para Busu yang dikubur bersama-samanya."

Ternyata menurut catatan Kuno.

Apabila ada seorang raja meninggal dunia, sering kali dia akan mengajak sejumlah orang hidup untuk menemaninya mati bersama, kecuali para permaisuri, selir, dayang, taykam terdapat juga para pasukan pengawalnya.

Bahkan ada pula raja yang mengurung sekalian para pekerja pembuat kuburan tersebut dan membuat mereka mati kelaparan didalam.

Sementara itu, Keng Cin sin sedang berpikir lagi.

"Tujuan kedatanganku kemari hanya ingin mencari berapa pakaian saja untuk menutupi badanku yang bugil, sekarang itu sudah menemukan pakaian perang berwarna emas ini, berarti urusannya sudah tercapai buat apa aku harus memperdulikan kerangka-kerangka manusia dalam kuburan emas tersebut"

Bepikir sampai disitu, dia lantas membalik kan badan dan siap berlalu dari situ.

Mendadak....

Didalam benaknya teringat kembali akan catatan yang ditinggalkan Bun ji koan su Him Ci seng dalam lencana tembaga tersebut, bukankah telab diterangkan kalau didalam kuil ini masih terdapat banyak sekali benda mestika lainnya?

Teringat akan hal ini, rasa ingin tahunya segera muncul kembali...

Dengan cepat gadis itu berjalan mendekati peti mati emas tersebut, kemudian mengerahkan tenaga dalam ke dalam telapak tangannya dan berusaha untuk membuka penutup peti mati emas tersebut.

Siapa sangka, walaupun dia telah mengerahkan segenap tenaga yang dimiliki pun belum berhasil juga untuk membongkar penutup peti mati emas itu.

Keng Cin sin menjadi sangat keheranan, pada hal peti mati emas itu sangat kecil, penutup peti matinya paling banter cuma lima ratus kati, padahal tenaga murni yang dikerahkan keluar paling tidak mencapai seribu kati lebih, tapi anehnya mengapa peti mati emas itu sama sekali tak berkutik?

Semakin dipikir dia merasa semakin tidak percaya, sekali lagi dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk mengangkat penutup peti mati emas tersebut ke atas, namun usaha tersebut kembali mengalami kegagalan total.

Tanpa terasa Keng Cin sin menjadi tertegun dan termangu-mangu, ditatapnya peti mati emas tersebut tanpa mengeluarkan sedikit suarapun...

Mendadak terlintas satu ingatan didalam benak gadis tersebut...

Tiba-tiba saja Keng Can sin menemukan sebuah tombol rahasia yang berada disebelah kiri penutup peti mati emas tersebut.

"Aaaah, jangan-jangan tombol rahasia tersebut dipakai untuk membuka peti mati tersebut?"

Demikian dia berpikir. Berpikir sampai disitu, dengan cepat dia menekan tombol emas tersebut dengan jari tangan kanannya.

"Cri ing...!"

Suara gemerincingan nyaring bergema memecahkan keheningan...

Dengan cepat Keng Cin sin merasakan pandangan matanya menjadi silau.

Di hadapan mukanya tahu-tahu muncul selapis cahaya tajam yang berkilauan...

Ternyata isi dalam peti mati emas itu adalah intan permata serta mutu manikam yang tak bernilai harganya.

Benda-benda berharga tersebut begitu banyak jumlahnya sehingga pada hakekatnya bisa membeli sebuah kerajaan besar.

Keng Cin sin tidak pernah meyangka kalau di dalam peti mati emas itu bisa tersimpan begitu banyak intan permata yang tak ternilai harganya itu.

Sebagai seorang gadis yang menganggap emas bagaikan kotoran manusia, tentu saja Keng Cin sin tidak tertarik oleh kilauan permata, tiba-tiba saja dia menemukan di antara tumpukan intan permata tersebut terdapat pula dua buah kotak kemala yang gemerlapan.

satu besar yang lain agak kecil.

Keng Cin sin segera mengambil kotak kemala yang agak besar, disitupun terlihat tombol rahasianya, sewaktu ditekan tombol tersebut ....

"Cri ing!"

Segera bergema suara nyaring. Tiba-tiba Keng Cin sin menjerit keras dengan perasaan terkejut bercampur gembira.

"Aaasah! Kitab pusaka Cang ciong pit kip, kitab pusaka Cang ciong pit kip ...."

"Dendam kesumatku ada harapan untuk dituntut balas lagi, aku bersumpah akan membunuh habis semua manusia laknat tersebut dari muka bumi"

Buru-buru dia membuka pula kotak kemala yang agak kecilan itu, sekali lagi gadis tersebut menjerit keras dengan pera-saan terkejut bercampur gembira...

Ternyata didalam kotak kemala kecil itu terletak sebuah mutiara yang memancarkan panca warna yang indah dan amat menyilaukan mata, mutiara tersebut tak lain adalah mutiara Thian hiang lm yang sin cu yang tak ternilai harganya itu.

Ternyata sewaktu Bun ji koan su Him Ci seng datang ke kuil Ngo siang bio dulu, dia hanya berhasil mendapatkan kitab pusaka Cang ciong pit kip bagian atas, sedangkan kitab yang ditemukan Keng Cin sin sekarang adalah bagian bawahnya.

Menyusul kemudian, secara tak disengaja Keng Cin sin berhasil mendapatkan pula kitab pusaka Cang ciong pit kip bagian atas yang rupanya disimpan kembali didalam kuil tersebut oleh Bun ji koan su Him Ci seng dimasa dulu.

Kalau dalam kitab pusaka Cang ciong pit kip bagian atas berisikan pelbagai ilmu pukulan, ilmu pedang serta kepandaian sakti lainnya.

Maka pada bagian bawah berisikan berbagai cara untuk menyembuhkan penyakit serta cara untuk berhasil melatih kepandaian silat aliran lain.

Bahkan didalamnya tercantumkan pula berbagai cara penggunaan serta kasiat dari mutiara Sakti Thian hong im yang sin cu tersebut.

Setelah menemukan benda-benda mestika tersebut, pertama-tama Keng Cin sin mempe-lajari dulu ilmu penyembuhan dan mengguna kan kasiat dari mutiara Thian hong im yang sin cu tersebut untuk menyembuhkan noda-noda diatas kulit badannya.

Dengan cepat dia berhasil memulihkan kembali wajah aslinya.

ooo 00dw00 ooo BAB 45 KINI paras mukanya menjadi cantik kembali, kulit badannya menjadi putih mulus dan halus, keindahan dan kecantikannya bahkan jauh melebihi keadaan dulu.

Sayangnya dia merasa tetap ternoda, sebab apa yang menimpa dirinya tak mungkin bisa dihilangkan dengan benda apa pun.

Begitulah, hanya didalam wattu setengah tahun yang singkat, dia telah berhasil mempelajari seluruh kepandaian silat yang tercantum dalam kitab pusaka Cang ciong pit kip tersebut, kemudian mempergunakan mutiara Thian hong im yang sin cu untuk menambah kekuatan tenaga dalamnya ....

Itulah sebabnya, ilmu silat yang dimiliki Keng Cin sin, hanya dalam setengah tahun yang singkat pun telah memperoleh kemajuan yang luar biasa pesatnya.

Dari seorang anak gadis yang biasa, kini berubah menjadi seorang manusia luar biasa.

Diam-diam ia bersumpah.

Dia akan membasmi semua kejahatan dan kebejatan moral dan kemunafikan dari kolong langit, sekalipun harus melakukan suatu pembantaian yang akan mengucurkan darah segar.

Padahal musibah yang menimpa dirinya benar-benar kelewat mengenaskan hati.

Seandainya anak gadis lain yang menga-lami tragedi seperti apa yang dialaminya sekarang, sudah dapat dipastikan mereka tak akan mempunyai keberanian lagi untuk melanjutkan hidup.

Kini, walaupun Keng Cin sin telah berhasil menemukan Ku See hong, namun ia tak mempunyai keberanian untuk menuturkan musibah yang telah menimpa dirinya.

Sebab dia merasa kejadian itu sangat memalukan, amat keji dan sulit untuk diutara kan.

Selain daripada itu, dia merasa tubuhnya sudah ternoda, ia sudab tidak perawan, tidak suci lagi, naif bila tubah yang kotor itu harus dipersembahkan untuk kekasih hatinya.

Akan tetapi ia tahu bahwa cintanya kepada Ku See hong sudah mendarah daging, dia ingin hidup berdampingan untuk selamanya disisi pemuda pujaan hatinya ini.

Namun, setiap kali teringat akan tubuhnya yang telah ternoda, dia harus berusaha keras untuk mengendalikan rasa sedih dalam hatinya, dia harus membuang jauh-jauh ingatan tersebut.

Dia tahu, selama hidup jangan harap dia punya muka lagi untuk bertemu dengan ke kasih hatinya, berjumpa dengan raut wajah aslinya.

Sebab Ku See hong masih mencintainya dengan begitu dalam, seandainya pemuda tersebut tahu kalau dia adalah Keng Cin sin, maka dia tak pernah akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.

Disaat dia memahami musibah yang telah menimpa dirinya, bisa jadi pemuda itu akan semakin mencintai dirinya.

Tapi, justru karena hal itu pula, Keng Cin sin semakin tak ingin mempersembahkan tubuhnya yang tak bersih lagi itu untuk pemuda kekasih hatinya.

Maka dia selalu berusaha untuk menutupi wujud aslinya, membohongi kekasihnya, sekalipun harus menghantamnya, mendam-pratnya, dia tak ingin membuat pemuda tersebut tahu akan indentitas dirinya.

Sedang dia selalu berusaha berdoa dan berharap agar kekasihnya bisa hidup berbahagia bersama gadis lain.

Sekalipun dia sendiri harus menekan rasa sedih dan kosong yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Demikianlah, dengan penuh kesedihan dan perasaan yang hancur, Keng Cin sin menangis sejadi-jadinya dipuncak bukit tersebut.

Suara tangisannya sungguh mengharukan hati orang, membuat hati siapa pun merasa iba.

Setengah jam kemudian Keng Cin sin baru pelan-pelan menghentikan isak tangisnya itu.

Dengan sepasang mata yang jeli dia mengawasi awan yang bergerak di angkasa, lalu gumamnya sedih.

"Kehidupan manusia memang selalu berubah-ubah, seperti udara yang kadang kala cerah, kadangkala mendung, rembulan pun kadang-kadang purnama, kadang kala tinggal separuh...

"Sekarang, aku telah memperoleh cinta kasihnya yang suci, sudah sepantasnya aku merasa puas, apa lagi yang kuharapkan sekarang? "

Kini dia sudah mempunyai Him Ji im, Im Yan cu, hatinya sudah tidak kesepian lagi, bukankah tindakanku sekarang hanya suatu tindakan yang berlebihan saja..Sekalipun dimulut dia berkata demikian, namun titik air mata toh bercucuran juga membasahinya.

Aaaaai..

dasar gadis yang bernasib malang, apa lagi yang bisa dia lakukan sekarang' Mendadak..

pada saat itulah..

Dari bawah punggung bukit dibawah bukit sana, tiba-tiba muncul belasan sosok bayangan manusia sambil mendengarkan suara pekikan panjang yang aneh secepat sambaran kilat mereka bergerak mendekat.

Sebenarnya Keng Cin Sin, hendak menghindarkan diri dari beberapa orang itu, sebab dia sudah tidak memiliki sisa waktu yang terlalu banyak lagi.

Namun, ketika ia mendengar suara pekikan aneh tersebut, tiba-tiba saja dari balik mata Keng Cin sin memancar keluar sinar pembunuhan yang menggidikkan hati.

"Keparat dari Lam hay, manusia laknat dari Huan mo kiong, akhirnya kalian menghantar diri ke pintu neraka... Hmmm. rupanya otak yang mencelakai diriku... si pedang emas Cia Tiong giok telah datang sendiri... bagus bagus sekali hari ini juga aku akan menyuruh kalian merasakan siksaan yang paling keji didunia saat ini..!"

Sreet, sreet, sreet...!

Desingan angin tajam berkumandang memecahkan keheningan.

Empat sosok bayangan manusia bermun-culan diatas puncak bukit itu disusul kemudian oleh delapan orang lainnya dari belakang.

Dari ke empat orang yang berdatangan lebih dulu tak lain adalah si pedang emas Cia Tiong giok, Siang bin tok ci (kakek beracun berwajah duka) Mao Soh sat, Ceng bong mi tan (peluru pemabuk penggetar jagad) Cui khi sin serta seorang kakek jangkung bertubuh ceking, dia adalah Thamcu panji putih Hee Nay bok dari Huan mo kiong.

Sedang, ke delapan orang lelaki setengah umur yang berada di dibelakangnya tak lain adalah para hiangcu dari golongan Huan mo kiong.

Menyaksikan kehadiran orang-orang itu, Keng Cin sin merasakan darah yang mengalir didalam tubuhnya mendidih keras, dari sekian banyak orang yang hadir dihadapan nya sekarang, kecuali Thamcu Panji putih, yang lain adalah orang-orang yang pernah memperkosa dirinya.

Teringat akan musibah yang menimpa dirinya, hampir saja Keng Cin sin menjadi kalap, dia mendongakkan kepalanya lalu menjerit dengan suara yang tinggi melengking dan mengerikan sekali ....

Tidak sampat kawanan iblis dari Huan mo kiong itu sempat berbicara, secepat sambaran petir dia sudah menerjang ke arah delapan orang hiangcu tersebut dan secara ganas menggerakkan sepasang tangan dan kakinya melancarkan serangan-serangan buas dan keji.

Mimpipun kawanan iblis dari Huan mo kiong tersebut tak pernah memyangka kalau manusia berkerudung warna warni yang berada dihadapan mereka sekarang tak lain adalah Keng Cin sin yang mempunyai dendam kesumat sedalam lautan dengan mereka.

Sedang mereka pun tidak pernah menyang-ka kalau Keng Cin sin bakal melancarkan serangan secara begitu keji terhadap semua orang tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sejak semula, ke delapan orang hiangcu tersebut sudah dibikin keder hatinya oleh kewibawaan manusia berkerudung warna warni itu, maka ketika dilihatnya orang itu menerjang datang secara tiba-tiba, serentak mereka menganyunkan sepasang telapak tangannya dan masing-masing melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Menyusul kemudian delapan sosok bayangan manusia itu segera melompat mundur ke belakang dan masing-masing meloloskan senjata tajam yang di milikinya.

Ilmu silat yang dimiliki Keng C in sin sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, terhadap ilmu pukulan mereka tentu saja tak di pandang sebelab mata pun.

Tampak tubuhnya berkelebat lewat dengan kecepatan luar biasa, tahu-tahu saja ia sudah mundur ke samping dua orang hiang-cu.

Ilmu silat yang dimiliki kedua orang hiangcu itupun tidak lemah, serentak mereka membentak keras, senjata yang berada di tangan diayunkan cepat menciptakan selapis cahaya tajam yang berkilauan, kemudian mengurung seluruh tubuh Keng Cin sin dengan ketatnya.

Akan tetapi, baru saja senjata tajam mereka digerakkan sampai ditengah jalan, tahu-tahu dadanya terasa sakit sekali....

Dua kali jeritan ngeri yang mebnyayatkan hati dsegera berkumanadang memecahkanb ke-heningan, dua sosok nyawa segera melayang meninggalkan raganya.....

Setelah membunuh dua orang, Keng C in sin baru seolah-olah sadar dari ingatan, dengan cepat serunya lantang.

"Mengapa aku bertindak begitu bodoh? Mengapa mereka dibiarkan mampus dengan begitu ke enakan?"

Ditengah teriakan keras, Keng Cin sin segera memungut sebilah pedang dari atas tanah, kemudian dengan penuh kebencian mencincang tubuh ke dua sosok mayat tersebut hingga hancur berkeping-keping, hancuran daging dan percikan darah segera berhamburan ke mana-mana.

Untuk beberapa saat lamanya kawanan iblis dari Huan mo kiong itu dibuat tertegun dan termangu-mangu saking kagetnya oleh kecepatan gerak Keng Cin sin serta caranya membunuh orang yang begitu keji.

Untuk beberapa saat lamanya, enam orang hiangcu lainnya menjadi lupa untuk melancarkan serangan ke arahnya.

Keng Cin sin mengorek keluar hati, jantung serta isi perut mayat-mayat tesebut, kemudian setelah mencincang mayat-mayat itu sehingga hancur, dia baru mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

Dibalik suara tertawanya itu-terkandung nada benci, dendam, sedih dan puas.

'Gelak tertawanya seperti tangisan setan Seperti juga lolongan serigala..

amat menu-suk pendengaran dan sangat tak sedap.

Mendengar suara tertawanya yang begitu menyeramkan, semua orang merasakan hatinya bergidik dan paras mukanya pada berubah hebat.

Selesai tertawa seram, Keng Cin sin menghentikan sepasang matanya yang seram dan penuh hawa napsu membunuh itu diatas wajah ke enam orang hiangcu lain nya.

Terhadap kawanan iblis dari Huan mo kiong ini, dia bertekad akan membasminya semua, tak seorangpun diantara mereka akan dibiarkan loldos dengan selamat.

Ditatap olbeh sorot mata yang begitu mengerikan, ke enam orang hiangcu itu menjadi bergidik sehingga tanpa terasa bulu romanya pada bangun berdiri.

Pelan-pelan Keng C in sin mengangkat pedangnya yang penuh berlepotan darah itu, kemudian selangkah demi selangkah pelan-pelan berjalan mendekati ke enam ortang hiangcu itu.

Tanpa sadar, ke enam oramg hiangcu itu dengan serentak mundur ke belakang dengan ketakutan.

"Kalian tak usah kuatir!"

Seru Keng Cin sin kemudian dengan suara yang mengerikan.

"Aku tak akan membiarkan kalian mampus sedemikian cepatnya, aku akan menyuruh kalian merasakan betapa nikmatnya disiksa lantas mati secara pelan-pelan..' Dengan cepat si Pedang emas C ia Tiong giok mencabut keluar pedang emasnya, kemudian dengan suara nyaring membentak.

"Manusia berkerudung warna warni, kau jangan bersikap kelewat tekebur...."

Ditengah bentakan nyaring, pedanrg emas nya dengan membawa desingan angin tajam yang menggidikkan hati langsung meluncur ke arah belakang tubuh Keng Cin sin.

Menghadapi serangan yang maha dahsyat tersebut, Keng Cin Sin segera tertawa seram.

'Heeeehhh...heehhh...heeehh .

Cia Tiong giok, giliranmu jatuh pada paling akhir, kau pun --bakal merasakan siksaan yang paling keji lebih dulu sebelum menemui ajalmu...!"

Di tengah seruan mana, tangan kirinya segera dikebaskan ke belakang, segulung desingan angin lembut dengan cepat memaksa Cia Tiong giok mundur sejauh dua kaki dengan sempoyongan.

Tak terlukiskan rasa kaget pemuda itu, dia tak berani melancarkan serangan lagi.

Karena dia tahu bahwa tenaga dalam yang dimiliki manusia berkerudung itu masih jauh diatas kepandaiannya, menyerang secara menggelap hanya akan merugikan diri sendiri.

Mendadak terdengar salah seorang diantara ke enam orang hiangcu itu membentak dengan nada takut.

"Siapakah kau? Dendam sakit hati apakah yang terjalin antara kau dengan kami...

"Keng Cin sin segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

"Haaaahhh.. haaraahhh... haaaaathhh.. siapakah qaku? `Kalian sermua kenal dengan diriku, setelah kalian merasakan siksaan dan penderitaan, dikala ajal sudah didepan mata, aku baru akan memberitahukan kepada kalian antara aku dan kalian mempunyai dendam sakit hati..apa... heeehhh... heeehh... heehhh, dendam yang terjalin diantara kita lebih dalam dari samudra, mengerti!"

Keenam orang hiangcu itu, serentak membentak keras, senjata mereka dengan menciptakan selapis cahaya tajam yang berkilauan tiba-tiba saja meluruk bersama ke arah manusia berkerudung itu.

Keng Cin sin tertawa seram.

"Heehhh.... heehhh... heeeehhh.. sekarang, aku akan memenggal kaki kalian lebih dahulu"

Ditengah seruan tersebut, tubuh gadis tersebut menerjang ke muka dengan suatu gerakan aneh, pedangnya secara aneh membacok ke arah depan.

Tiga kali jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan kehe-ningan...

Percikan darah segar berhamburan ke-mana-mana, enam buah kaki dari tiga orang hiangcu terpapas kutung dari batas lutut, sambil menjerit-jerit seperti setan mereka bergulingan diatas tanah dengan tubuh kesakitan...

Tiga orang Hiangcu lainnya menjadi ketakutan setengah mati, Apalagi setelah menyaksikan kelihayan dari Keng Cin sin, jurus pedang yang mereka lancarkan segera dibuyarkan, kemudian bersama-sama melompat mundur ke belakang...

Tentu saja Keng C in sin tak akan membiarkan mereka kabur dengan begitu saja, sambil membentak nyaring, cahaya tajam segera berkelebatan lewat kembali ...

Sekali lagi berkumandang tiga kali jeritan ngeri yang amat memilukan hati...

Separang kaki dari ke tiga orang Hiang cu itu pun secara beruntun kena ditebas kutung oleh bacokan pedang tersebut sehingga berjatuhan.

Kepandaian silat yang dimiliki Keng Cin sin sungguh mengerikan sekali, serangan yang dilancarkan untuk menebas kutung kaki-kaki mereka itu boleh dibilang hanya sekejap mata saja.

Kecepatan geraknya boleh dibilang jarang di jumpai sebelumnya di dunia ini.

Pek Ki thamcu Hee Jin bok membentak nyaring.

"Manusia berkerudung warna warni, mengapa kau berhati keji dan tak berperasaan seperti ini?"

"Heeeehhhh.. heeeehhh...heeeehhh...Pek ki thamcu Hee Jin bok, bila kau mengundurkan diri saat ini juga, aku bersedia untuk melepaskan selembar jiwa anjingmu, tapi bila kau masih saja tak tahu diri dan mengendon terus disini, akhirnya kaupun tak akan lolos dari kematian, cuma kematian yang kau peroleh biar kau dapatkan secara utuh dan nyaman"

Perkataan mana diucapkan dengan nada sombong, dingin dan sangat tekebur.

Pek ki thamcu He J in bok merupakan seorang gembong iblis yang sudah terbiasa bersikap sombong dan buas, kendatipun dia tahu kalau bukan tandingan Keng Cin sin apabila harus turun tangan seorang diri namun dia pun tak akan membiarkan dirinya dipandang hina oleh musuhnya, Apalagi dipihaknya masih terdapat empat orang jago lihay kelas satu.

Maka deng;an suara yang menyeramkan dia tertawa dingin, setelah itu ujarnya.

"Heeeehhh...heeehh...heeeehh.., jika ku tinjau dari sikapmu yang kenal dengan aku orang she Hee, besar kemungkinan kita pernah berkenalan dimasa lalu, hmm!! Akan kulihat sesungguhnya kau adalah manusia berkepala tiga berlengan enam macam apa. Sorot mata Keng Cin sin yang dingin dan sadis menyapu sekejap ke enam orang Hiangcu yang masih bergulingan di tanah sambil mengerang kesakitan itu, kemudian dengan tanpa perasaan barang sedikit pun pelan-pelan dia membalikkan tubuhnya. Dengan suara sedingin es dia berseru. 'Hee Jin bok! Bila kau tidak segera mengundurkan diri, maka aku akan membunuhmu lebih dulu!."

Sembari berkata, tubuhnya yang menyeramkan itu bergerak selangkah demi selangkah menghampiri si Pedang emas Cia Tiong giok sekalian berempat...

Ke empat orang itu hampir semuanya merupakan seorang iblis yang sudah sering terjun ke kuali panas, mendaki bukit golok dengan pelbagai kesulitannya, namun disaat mereka saksikan sepasang biji mata lawan yang mencorongkan sinar kebengisan, tak urung mereka mundur juga sejauh dua langkah.

"Siapakah kau?"

Si pedang emas Cia Tiong giok segera membentak keras. Keng Cin sin tertawa seram.

"Heeeehhh... heeehhh... heehnh... siapa aku? kau tidak kenal dengan diriku ? ' Sebelum saat ajalmu tiba, tunggulah sejenak lagi, sampai waktunya kau akan tahu dengan sendirinya siapakah diriku ini? Harap kau jangan gelisah, aku pun akan memberi bagian pula untukmu agar kau turut merasakan bagaimana nikmatnya siksaan ini!"

Si Pedang emas Cia Tiong giok benar-benar tak bisa menduga siapa gerangan manusia berkerudung tersebut?

Sebab, pada waktu itu Keng Cin sin telah mengidap penyakit kelamin yang parah dan telah menjalar sampai ke seluruh tubuhnya, lagipula tubuhnya yang telanjang di taruh di atas sebuah sampan kecil yang dialirkan ke tengah samudra bebas, mustahil kalau gadis tersebut masih ada harapan untuk melanjut kan hidup lebih jauh.

Apalagi racun penyakit kelamin yang di derita Keng Cin sin waktu itu sudah membuat nya tak sadarkan diri sepanjang hari, seluruh tubuhnya tak mampu berkutik lagi, pada hakekatnya keadaan tersebut tak ubahnya dengan sesosok mayat.

Tapi Thian menakdirkan dia untuk tidak mati, kekuatan tubuh serta daya tahannya yang kuat membuat dia keluar sebagai pemenang didalam pergulatannya melawan maut, akhirnya dia berhasil mendapat penemuan luar biasa yang mengubahnya menjadi seorang manusia luar biasa.

Sesungguhnya Keng Cin sin adalah anggota dari istana Huan mo kiong di laut selatan.

orang yang telah mereka lupakan, bagaimana mungkin mereka bisa menduga kalau di dunia ini bisa muncul kembali se orang Keng Cin sin.

Siang bin tok ci (kakek beracun berwajah sedih) Mao Soh san, Ceng tong mi tan (peluru pemabuk penggetar jagad) Ciu Khi sin sbudah beberapa kdali ingin melancarkan sergapan untuk membinasakan Keng Cin sin, malah Ciu Khi sin telah merogoh ke dalam sakunya siap mengeluarkan peluru pemabuknya untuk memabukkan dia.

Tapi sepasang mata Keng Cin sin yang jeli dan tajam mengawasi gerak-geriknya terus dengan seksama, malah beberapa orang bajingan tersebut memang merupakan orang-orang yang diketahui secara pasti olehnya.

Oleh sebab itu dia mendengus dingin, lalu dengan suara yang bernada memandang hina katanya.

"Ceng bong mi tan Ciu Khi sin, kau tak usah memggunakan permainan busukmu lagi.

"Siang cin tok ci Mao Soh san, kau hanya belajar ilmu beracun selama berapa hari saja, bagiku kepandaian tersebut sama sekali tak ada gunanya. Lebih baik, nantikanlah masibmu yang sadis dan mengerikan itu menimpa diri kalian semua!"

Keadaaa pada saat ini hakekatnya ibarat bertemu setan di tengah hari bolong bagi kawanan manusia laknat dari Lam hay Huan mo kiong tersebut, kemunculan perempuan ini didalam dunia persilatan hanya berapa bulan saja, tapi anehnya mengapa dia bisa mengetahui semua nawa dari jago-jago Huan mo kiong tersebut secara jelas?

Si pedang emas Cia Tiong giok tertawa seram, dengan wajah yang menyeringai licik dia berkata.

"Kau memang hebat sekali, tak nyana kalau nama kami semua kau bisa sebutkan satu persatu, Tapi... kau pun harus mempertimbangkan dulu kemampuan itu, dengan kekuatanmu seorang, apakah mampu untuk menahan serangan kami berempat?"

Keng Cin sin tertawa seram.

"Aku adalah malaikat elmaut bagi manusia-manusia dari Huan mo kiong, tentu saja aku dapat menyebutkan nama kalian satu persatu untuk menerima kematian...

hmmm!

dalam pandangan mataku, kalian berempat tak lebih hanya empat gentong nasi yang tak berguna, terus terang saja kuberitahukan kepada kalian, tak lama kemudian aku akan meratakan istana Huan mo kiong kalian dengan bumi, kemudian menggunakan darah segar kalian untuk mencuci bersih semua kemaksiatan danr kemunafikan yatng telah menodai pulau Huan mor to.

Setelah mendengar perkataan itu.

Kemudian menyaksikan pula sorot matanya yang keji dan penuh perasaan dendam itu, sadarlah ke empat jago tersebut bahwa ucapan itu bukan gertak sambal belaka.

Mereka seakan-akan merasakan seolah-olah istana Huan mo kiong berubah menjadi pulau dengan mayat-mayat yang berserakan 988 dimana-mana, seperti tiada darah segar menggenangi seluruh permukaan pulau itu dan mengalir ke laut..Membayangkan sampai disitu, tanpa terasa semua orang menghembuskan napas dingin, sekujur tubuh mereka gemetar keras menahan rasa menggidik yang mencekam seluruh perasaan mereka.

Dengan perasaan tegang ke empat orang itu berdiri bersama berjajar-jajar, mereka ingin menggunakan kekuatan gabungan dari mereka berempat untuk menyambut serangan yang bagaimanapun dahsyatnya dari Keng Cin sin.

Kini, tubuh Keng Cin sin sudah berada hanya beberapa kaki saja dari hadapan mereka, ia berdiri tegak disitu sambil tertawa dingin tiada hentinya.

"Hmmm, kalian manusia-manusia laknat yang berhati licik, keji dan membunuh orang tak berkedip, hari ini tentunya kalian sudah merasakan bukan bagaimanakah ngerinya menghadapi kematian yang mengerikan...!"

"Siapakah kau sebenarnya? Ayo cepat sebutkan namamu untuk menerima kema-tian!"

Bentak si pedang emas Cia Tiong giok dengan suara menggeledek. Keng Cin sin tertawa dingin, suaranya rendah, berat dan menggetarkan sukma.

"Bila kusebutkan namaku, mungkin kalian akan segera mampus karena ketakutan! "

Kini, aku akan merenggut dulu selembar nyawa dari Pak ki thamcu Hee Jin bok, kemudian menyusul kalian bertiga! "

Begitu selesai berkata, Keng Cin sin segera menggerakkan sepasang telapak tangannya yang putih bersih dan secara beruntun melancarkan serangkaian serangan gencar.

Si Pedang emas Cia Tiong giok, Siang cin tok ci Mao san dan Ceng hong mi tan Cin Khi sin bertiga segera merasakan ada segulung tenaga pukulan yang dahsyat dan berat seperti ambruknya 989 bukit karang, menekan ke atas dada mereka dan hampir saja membuat mereka sesak napas.

Serta merta ke tiga orang itu melompat mundur ke belakang.

Berbeda sekali dengan Pek ki thamcu Hee Jin bok, apa yang dirasakan jauh berbeda dengan apa yang dirasakan ketiga orang itu, dia merasa adanya segulung tenaga hisapan kuat yang membuat kuda-kudanya hancur dan maju tanpa sadar sejauh beberapa langkah dengan sempoyongan.

Sebaliknya Keng Cin sin seperti sesosok sukma gentayangan saja tahu-tahu sudah berdiri dihadapan Hee Jin bok, jari tangan nya yang putih bersih pelan-pelan disodok kan ke depan menotok jalan darah sim kan hiatnya.

Pek ki thamcu Hee Jin bok benar-benar merasa terperanjat yang tak terkirakan, secepatnya dia melejit ke samping, sepasang telapak tangannya direntangkan ke kiri dan kanan, kemudian secepat kilat balik menghantam dua buah jalan darah kematian di tubuh Keng Cin sin.

Perubahan ini benar-benar dilakukan dengan gerakan yang cepat sekali ...

Tapi entah menggunakan gerakan apa, didalam berapa kali gerakan saja, tahu-tahu tubuh Keng Cin sin sudah berubah posisinya semula.

Ketika Pek ki thamcu He Jin bok merasakan jurus serangannya mengenai sasaran yang kosong tadi, ia segera merasakan datangnya desingan angin dingin yang keras ke atas punggungnya.

Dalam perasaan kaget dan terkesiapnya buru-buru dia berpaling ke belakang, segera dilihatnya jari tangan Keng Cin sin yang putih bersih itu sudah muncul didepan mata.

Dia menjerit keras lalu menggeserkan tubunnya dengan sekuat tenaga ke samping arena.

Siapa tahu baru saja tubuhnya berhasil berdiri tegak, jari tangan yang putih halus itu sudah muncul kembali hanya tiga inci di atas jalan darah Sim kan hiat diatas dadanya.

Kenyataan ini benar-benar membuat Pek ki thamcu Hee Jin bok menjadi ketakutan setengah mati sehingga sukmanya serasa melayang meninggalkan raganya, satu ingatan segera melintas didalam benaknya, ia bertekad hendak beradu jiwa.

Tubuhnya segera mundur ke belabkang, kemudian dmenggunakan kesaempatan terse-bbut dia melepaskan sebuah tendangan kilat dengan kaki kirinya mengarah selangkangan Keng Cin sin.

Betapa gusarnya Keng Cin sin menyaksi kan He Jin bok melancarkan serangan dengan jurus yang begitu cabul dan tak tahu malu, dia mendengus dingin, hawa membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya.

Tiba-tiba kaki kanannya bertekuk ke depan, tatkala tendangan dari Hee Jin bok menyambar lewat di atas pakaian lawannya jari tangan Keng Cin sin segera menyodok ke muka dan menghajar jalan darah sin kan hiat di atas dadanya.

Suatu jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan.

Darah segar menyembur keluar diri mulut Pek ki thamcu Hee Jin bok, lalu tubuhnya roboh terkulai ke tanah, berkelejetan sebentar dan tewas seketika itu juga.

Sedangkan Keng Cin sin tahu-tahu sudah berdiri kaku di hadapan si pedang emas Cia Tiong giok sekalian sambil tertawa dingin tiada hentinya, wajah yang sinis kaku memancarkan cahaya membunuh yang menggidikkan hati.

Ceng bong mi tan Ciu Khi sin tak dapat menahan diri lagi, mendadak ia bertindak, dengan cepat tangannya diayunkan ke depan, sebatang peluru sakti pemabuk sukma segera meluncurkan ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Sementara tubuh mereka bertiga pun bergerak mundur ke belakang secara bersama-sama.

Tapi, ketika baru saja mereka berhasil untuk berdiri tegak, suara tertawa dingin yang mendirikan bulu roma itu tahu-tahu sudah berkumandang pula di hadapan mereka.

Cia Tiong giok melintangkan pedang emasnya di depan dada lalu bentaknya keras-keras.

Manusia berkerudung warna warni, dendam sakit hati apakah yang telah terjalin antara kami orang-orang Huan mo kiong dengan dirimu?

Mengapa kau bersikap begitu keji dan tak berperikemanusiaan dengan membunuh sembilan orang anggota kami..."

Sorot mata Keng Cin sin dingin kaku dan menggidikkan hati, dengan wajan kaku tanpa perasaan dia berkata seram.

"Antara aku dengan kalian terikat dendam sakit hati yang lebih dalam dari samudra, Hmmmm! Bukan hanya kalian beberapa orang saja yang akan kubunuh, seluruh anggota Huan mo kiong di Lam hay akan kubantai semua hingga ludas"

"Siapakah kau? Cepat katakan"' bentak si pedang emas Cia Tiong giok lagi.

"bila kau benar-benar mempunyai dendam kesumat sedalam lautan dengan orang-orang Huan mo kiong kami, tentu saja kami akan melayanimu dengan sebaik-baiknya, cuma bila kau membunuhi orang kami tanpa sebab, maka kau harus menerima hukuman yang setimpal dari umat persilatan di dunia ini"

Keng Cin sin mendengus sinis, dengan wajah menghina katanya.

`Cia Tiong giok?

Sejak kapan sih kau menjadi begitu gagah perkasa dan berjiwa adil?

Mirip benar dengan perbuatan seorang pendekar besar yarg mengutamakan keadilan?

Huuhhh..."

Sekali lagi perempuan itu mendongakkan kepalanya dan mendengarkan suara tertawa anehnya yang seram dan menusuk pendengaran.

Suara tertawa itu amat keras dan nyaring, menggetarkan gendang telinga ke tiga orang itu sehingga mereka rasakan seakanakan ada pedang tajam yang menggorek telinga nya.

Tak tahan ke tiga orang itu melompat mundur sejauh dua langkah dengan wajah memucat.

Mendadak Keng C in sin berhenti tertawa lalu dengan suara yang dingin menyeramkan, katanya.

'Cia Tiong giok masih ingatkan kalian dengan seorang gadis yang telah diperkosa secara bergilir oleh kalian manusia-manusia laknat dari istana Huan mo kiong?

Kalian manusia-manusia Iblis dari Huan mo kiong sudah terlalu sering memperkosa perempuan, mungkin untuk sesaat kalian tak bisa menduga siapakah diriku bukan?

Baiklah.

aku akan memberitahukan kepada kalian dengan lebih jelas lagi.

perempuan itu telah kalian perkosa secara bergilir secara berulang kali.

kemudian kalian letakkan tubuhnya di atas sebuah sampan kecil yang dialirkan ke tengah samudra luas"

"Kau... kau adalah Keng Cin ......"

Pedang emas Cia Tiong giok tak sanggup menahan diri lagi, ia menjerit kaget. Sekali lagi Keng Cin sin mendengarkan suara tertawa panjangnya yang aneh dan menyeramkan. -oo0dw0ooo-

Jilid 30 CARA tertawanya itu seperti jeritan kuntilanak ditengah malam buta, seperti jeritan monyet diselat wu shia, begitu mengerikan, menyeramkan dan menggidik kan hati.

Ditengah gelak tertawa itulah Keng Cin sin merobek kain kerudung bersulam tengkorak manusia itu.

Kemudian tangannya yang lain segera mencakar pula raut wajah yang jelek dan menyeramkan itu.

'Sreeet!" .

Tahu-tahu ditangannya telah bertambah dengan selembar topeng kulit manusia ....

Paras muka si Pedang emas Cia Tiong giok, Ceng hong mi tan Ciu Khi sin dam Siang bin tok ci Mao Soh sat segera berubah menjadi pucat pias seperti mayat, bibir mereka hijau membesi, sementara sepasang kaki mereka gemetar keras sekali.

Dilihat dari sini, dapat diketahui betapa tegang, ngeri dan seramnya mereka bertiga.

Keng Cin sin masih tetap berparas cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, rambut nya yang hitam terurai sebahu berkibar terhembus angin, diantara alis matanya yang indah nampak sepasang biji matanya yang murung dan sedih.

Penampilan perempuan itu seperti teratai putih dalam kolam, masih nampak begitu suci bersih dan anggun.

Kulit tubuhnya seperti juga dulu, begitu putih, bersih dan menawan hati.

Hanya saat ini wajahnya dingin seperti es, bahkan disertai pula dengan selapis hawa pembunuhan yang menggidikkan hati.

Sepasang matanya memancarkan sinar tajam menggidikkan, sorot mata itu memancarkan sinar buas, keji dan sadis yang membikin hati orang terasa bergidik bila memandangnya.

Dengan suara sedingin es, Keng Cin sin berkata lagi.

"Mimpi pun kalian tak pernah menyangka bukan kalau aku masih hidup segar bugar didunia ini? Heeh. heeeh...heeh.. sekarang tentunya kalian sudah tahu bukan perem-puan yang telah kalian gagahi secara bergilir, kini akan menuntut apa dari kalian laki-laki terkutuk? "

Kalian anggap aku hanya akan merenggut jiwa anjing kalian saja?

Haaa...haahha Tidak!

Aku bukan hanya menginginkan jiwa kalian, aku akan melimpahkan semua penderitaan dan siksaan lahir batin yang telah dialaminya dimasa lalu ke atas tubuh kalian, bahkan akan menyuruh kalian merasakan penderitaan yang lebih hebat, siksaan yang berlipat ganda lebih dahsyat daripada apa yang pernah dialaminya dulu!"

Ooo0dw0ooo BAB 64 KINI si pedang emas Cia Tiong giok sekalian sudah dicekam oleh perasaan tegang dan seram, mereka terbungkam dalam seribu bahasa, sebab apa yang diucapkan semuanya merupakan kenyataan.

Dari mereka yang hadir ditengah arena sekarang, kecuali Pek ki thamcu Hee Jin bok seorang yang tak pernah memperkosanya, dalam kenyataan hampir semuanya pernah merasakan hangatnya tubuh gadis tersebut.

Terutama sekali si pedang emas Cia Tiong giok, dialah orang pertama yang menghancur kan kehidupan yang suci, sedangkan Ceng hong mi-tan dan Siang bin tok eci merupakan orang yang mengusulkan agar gadis itu di gagahi secara bergilir oleh setiap manusia laknat yang berminat seperti seorang pelacur.

Dengan mata kepala sendiri mereka saksikan bagaimana Hee Jin bok yang tidak ikut memperkosa gadis itupun mengalami nasib yang tragis, maka dari sini bisa dibayangkan betapa seram dan brutalnya siksaan serta penderitaan yang bakal dia limpahkan terhadap mereka semua.

Enam orang Hiangcu yang masih berguling di tanah sambil mengerang kesakitan itu merasa makin ketakutan lagi setelah mbengetahui bahwad manusia berkeraudung warna warbni yang berada dihadapan mereka sekarang ternyata tak lain adalah Keng Cin sin, murid perempuan Kiongcu mereka.

Kini mereka lebih putus asa, lebih ngeri dan ketakutan lagi.

Mereka tahu, Keng Cin sin tak nanti akan merengggut nyawa mereka dengan begitu saja sehabis memotong sepasang kaki mereka, sudah pasti dia akan memberikan yang paling brutal dan paling kejam didunia ini untuk menyiksa lahir batin mereka sebelum akhirnya mencabut nyawa mereka Setelah sepasang kaki mereka dipenggal tadi, mereka masih tak ingin segera bunuh diri, mereka berusaha untuk mempertahan kan kehidupan mereka.

Tapi sekarang, setelah menyaksikan ortang itu adalah Keng Cin sin, serta merta ingatan itupun turut lenyap tak berbekas dari dalam benak mereka.

Daripada harus tersiksa dan menderita luar biasa sebelum mati, lebih baik menghabisi jiwa sendiri agar bisa lolos dari siksaan hidup tersebut.

Salah seorang diantaranya keenam orang Hiangcu itu segera meronta bangun, meng-himpun segenap tenaganya kedalam telapak tangan kanan, kemudian sekuat tenaga dihantamkan keatas ubun-ubun sendiri.

Jeritan ngeri yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan, orang itu telah menghabisi nyawa sendiri dengan batok kepalanya hancur lebur tak karuan lagi bentuknya.

Menyusul kemudian jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul.

Mengikuti jeritan ngeri tadi, enam orang hiangcu tersebut bersama-sama menghajar batok kepala sendiri sampai hancur, sementara nyawa mereka yang kotor dan penuh dosa itupun turut meninggalkan dunia yang ramai ini.

Tak terlukiskan amarah Keng Cin sin menyaksikan orang-orang itu menghabisi nyawa sendiri, saking gusar dan mendongkolnya ia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

Saat itulah dalam benak si Pedang emas Cia Tiong giok bertiga terlintas satu ingatan yang sama.

"Kabur!"

Begitu ingatan tersebut melintbas lewat serentdak ketiga oranga itu membalikkabn badan dan melejit kearah udara.

Arah yang diambil ketiga orang itu untuk kabur ternyata berlawanan semua, in.iah cara yang telah dilatih secara baik oleh setiap anggota istana Huan mo kiong di Lam hay.

Dengan mengambil arah yang berlawanan didalam usahanya untuk melarikan diri, otomatis pihak lawan akan dibikin kebingungan, ini berarti paling tidak ada satu di antara mereka akan berhasil meloloskan diri dengan selamat.

Keng Cin sin adalah anggota istana Huan mo kiong, sudah barang tentu dia pun mengetahui ciri khusus dari orang-orang Huan mo kiong untuk meloloskan diri dari bahaya tersebut.

Pada saat ketiga orang itu akan menggerakkan badannya untuk melarikan diri ....

Keng Cin sin tertawa dingin, tubuhnya secepat sambaran kilat menyelinap ke samping menghadang jalan pergi Ceng hong mi tan Cin Khi sin.

Menyaksikan hal tersebut, Ceng hang mi tan Cin Khi sin berteriak keras.

"Kalian cepat kabur, biar aku yang menghadang..."

Sebelum dia sempat menyelesaikan perkataannya, segulung angin dingin sudah berhembus lewat, tahu-tahu jalan darah diatas tubuh Ceng hong mi tan Ciu khi sin telah tersambar oleh kebasan ilmu Hud hiat jiu hoat dari Keng Cin sin sehingga tertotok, tubuhnya kontan saja berdiri kaku seperti sebuah patung arca.

Sementara itu, si pedang emas Cia Tiong giok dan Siang bin tok ci Mau Soh sat telah melarikan diri sejauh satu kaki lebih menuju kearah yang berlawanan.

Ilmu meringankan tubuh Keng Cin-sin telah mencapai puncak kesempurnaan, kendatipun mereka sudah kabur lebih dulu menuju ke dua arah yang berlawanan, namun dia cukup menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu perempuan tersebut sudah sampai dibelakang tubuh Siang bin tok ci Mao Soh sat, telapak tangan kanannya segera dikebas kan ke muka menotok jalan darahnya.

Si pedang emas Cia Tiong giok segera memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, dalam waktu sinrgkat dia sudah melesat sejauh lima kaki lebih dari posisi semula.

Keng Cin sin berteriak keras, lalu tertawa terkekeh-kekeh dengan suara yang tajam memekikkan telinga.

Tubuhnya seperti seekor bangau putih yang terbang diangkasa, dengan suatu lejitan kilat tahu-tahu dia sudah melayang diatas kepala si pedang emas Cia Tiong giok, kemudian dengan suatu gerakkan jumpalitan yang sangat indah, secara tepat sekali dia sudah menghadang jalan pergi pemuda laknat tersebut.

Dengan nada menghina Keng Cin sin segera berkata.

"Cia Tong giok! Katanya seorang lelaki jantan yang luar biasa? Tak tahunya penampilanmu pada hari ini sungguh memalukan, tak kusangka kalau kau cuma seorang pengecut yang bernyali begini kecil, Mengapa kau jadi ketakutan setengah mati setelah bertemu denganku? " 'Bukankah kalian hendak menyerbu ke daratan Tionggoan untuk merajai dunia persilatan' Kalau kau ingin kabur sambil menggoyang-goyangkan ekor macam anjing perbuatan semacam ini benar-benar memalu kan sekali kalau memang mempunyai kepandaian mari kita bertarung dengan mati-matian "

"Agaknya si pedang emas Cia Tiong giok mengetahui kalau keadaannya pada hari ini lebih banyak bahayanya daripada untung, 998 maka dia sudah nekad untuk beradu jiwa dengan perempuan tersebut.

Dia tak percaya kalau dengan mengandal kan kepandaian silat yang dimilikinya itu, dia tak akan mampu bertahan sebanyak ratusan gebrakan dari lawannya?

Sayang sekali jalan pemikirannya itu terlalu tinggi, dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang, apabila dia bisa bertahan sebanyak lima gebrakan dibawah serangan gencar dari Keng Cin sin tanpa cedera, hal mana sudah dapat dikatakan hebat.

Dengan suara menggeledek Si pedang emas C ia Tiong giok segera membentak nyaring.

"Perempuan rendah!' Kau anggap aku jeri kepadamu?

Pedang emas ditangannya segera diputar dengan kecepatan luar biasa lalu secepat kilat diayunkan kedepan membelah angkasa diantara kilatan cahaya tajam tahu-tahu dia sudah membabat ketubuh musuh dengan sekuat tenaganya.

Dia telah bertekad untuk beradu jiwa, maka begitu melancarkan serangan, Jurus serangan yang dipergunakan olehnya adalah jurus serangan yang paling dahsyat dan keji.

"Cia Tiong giok!, jurus seranganmu ini masih belum cukup sempurna.."

Jengek Keng Cin sin sinis.

Ditengah pembicaraan, tubuhnya sudah berputar dan keluar dari lingkaran cahaya pedang tersebut, kemudian telapak tangannya diayunkan kedepan, segulung tenaga serangan yang dahsyat merasuk ke dalam tulang segera menekan ke atas dadanya, memaksa Cia Tiong giok mundur sejauh dua langkah lebih.

Dia tertawa seramn, cahaya pedangnya berputar bagaikan gulungan ombak ditengah sungai Tiangkang, dengan membawa hawa pedang yang dingin menusuk tulang, dia bendung sekeliling tempat tersebut dengan serapat-rapatnya.

Sayang sekali Keng Cin sin bukan anak kemarin sore, kepandaian silat yang dimilikinya benar-benar amat lihay dan luar biasa sekali...

Sekali lagi tubuh perempuan itu menerobos keluar melalui kurungan hawa pedang musuh yang berlapis-lapis itu dan menyelinap kesamping, lalu telapak tangan kirinya diayunkan ke depan menghajar jalan darah Thian ki hiat ditubuh lawan.

"Cia Tiong giok, jurus serangan itu-itu lagi-lagi akan mendesakmu mundur sejauh tiga langkah!' ejeknya ketus.

Si Pedang emas Cia Tiong giok memang menurut sekali dengan perkataannya, tiba-tiba dia membuyarkan serangan pedangnya dan mundur sejauh tiga langkah dengan sempoyongan.

Oleh keadaan seperti itu, Cia Tiong giok benar-benar dibikin gusar setengah mati, pedang emasnya segera diayunkan ke atas menyambar ke bawah dengan kecepatan luar biasa, hawa pedangnya yang bergulung-gulung dan berlapis-lapis seperti bianglala diangkasa, semuanya mengancam ke atas jalan darah kematian ditubuh Keng Cin sin.

Sementara itua telapak tangan kirinya juga tidak ambil diam, dengan cepat dia melepaskan segulung hawa serangan dingin yang maha dahsyat, hawa pukulan bagaikan amukan angin puyuh itu segera menggulung ke tubuh Keng Cin sin dan memaksanya miring ke samping untuk menghindar...

Perlu diketahui, ilmu Pedang dari Lam hay Huan mo-kiong merupakan ilmu pedang yang tiada tandingannya didalam dunia persilatan dewasa ini.

Setelah Cia Tiong giok mengeluarkan ilmu pedang gabungan dengan ilmu pukulannya yang luar biasa itu.

maka kedahsyatannya menjadi berlipat ganda.

Semua ancamannya boleh dibilang cukup menggetarkan sukma setiap orang.

Hawa napsu membunuh segera menyeli-muti seluruh wajah Keng Cin sin, dengan suara dingin ujarnya kemudian.

"Di dalam serangan yang akan kulancarkan kali ini, aku akan menggunakan tenaga pukulanku untuk memaksamu mundur sejauh satu kaki lebih ....!"

Sembari berkata, telapak tangan kanannya berputar dan melontarkan pukulan dengan suatu gerakan yang sangat aneh, hawa pukulan seperti rentetan suara bunyi mercon yang meledak diangkasa, dengan cepatnya meluncur ke udara dan menyongsong kedatangan hawa pedang serta angin pukulan lawan yang luar biasa itu.

"Blaammm...!"

Suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan.

Si Pedang emas Cia Tiong giok mendengus tertahan, tubuhnya benar-benar terpental sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.

Hawa pukulan yang menyebar ke empat penjuru segera berputar kencang mencipta kan desingan angin berpusing yang menderu-deru.

Tubuh Keng Cin sin berputar, dan berkelebat seperti sambaran bayangan setan, telapak tangan kirinya kembali diayunkan ke depan sembari membentak keras.

"Sekarang, kau harus mundur lagi sejauh dua kaki!"

Segulung hawa pukulan yang aneh dan lembut menyusul perkataan tersebut meluncur keluar seperti bendungan air sungai yang jebol.

Hawa serangan yang memiliki kekuatan luar biasa itu, dengan membawa kekuatan dahsyat seperti gulungan ombak ditengah samudra segera menggulung tiba dari sudut-sudut yang aneh dan luar biasa, kemudian menyusup melalui setiap celah sempit diudara yang berada disekeliling sana....

Hawa kekuatan yang mengerikan sungguh menggetarkan sukma setiap orang yang kebetulan menyaksikannya.

Setelah termakan oleh pukulan yang maha dahsyat tadi, sesungguhnya si pedang emas Cia Tiong giok sudah merasakan hawa darah didalam dadanya bergolak keras, tak terlukiskan rasa terkesiapnya dan setelah melihat datangnya hawa serangan yang begitu dahsyat menerkam dirinya lagi.

Sambil menjerit kaget, buru-buru dia melompat mundur sejauh dua kaki ke belakang.

Serangan yang dilancarkan Keng Cin sin sekarang sungguh aneh sekali, kekuatan tersebut memaksa musuhnya hanya bisa melompat mundur ke belakang dan tak mungkin melejit ke samping untuk meloloskan diri dari ancaman mana.

Begitulah, menyusul dilontarkannya serangan yang maha dahsyat tadi, Keng Cin sin ikut pula melompat maju ke depan, katanya kemudian sambil tertawa dingin.

'Setelah melompat mundur kembali keposisi semula, maka kau pun tak usah pergi kemana-mana lagi.

silahkan saja berdiri terus untuk selamanya disini!"

Si Pedang emas Tiong giok tahu kalau nasib jelek telah berada didepan mata, dia mendengus gusar, pedang emasnya segera diputar menciptakan cahaya bintang yang segera mengurung seluruh jalan darah penting di tubuh Keng Cin sin.

Melihat datangnya jurus serangan tersebut Keng Cin sin segera memutar tubuhnya dan menyelinap ke sisi kiri lawan.

Waktu itu Cia Tiong giok masih tetap berdiri tegak di posisi semula, tiba-tiba pedang emasnya direndahkan ke bawah lalu melalui suatu sudut yang aneh dia berbalik menusuk jalan darah gi hi hiat serta seng tiong hiat ditubuh lawan.

Perubahan jurus ini dilakukan dengan suatu gerakan yang aneh, ganas, buas dan membuat orang lain sama sekali tak menduganya.

Sementara itu, selisih jarak antara ke dua belah pihak sudah semakin bertambah dekat, gerakan tubuh yang dilakukan juga semakin cepat, nampaknya Keng Cin sin segera akan terkena sambaran cahaya emas lawan..

Mendadak terdengar suara benturan nyaring yang memekikkan telinga...

Bersama itu juga, cahaya emas yang berkilauan di angkasa tadi lenyap tak berbekas.

Entah terkena ilmu serangan apakah yang digunakan oleh Keng Cin sin, tahu-tahu pedang emas ditangan Cia Tiong giok sudah kena terhajar sampai jatuh ketanah, malahan jalan darahnya kena disambar pula sehingga tubuhnya berdiri kaku bagaikan sebuah patung arca.

Selisih jaraknya dengan Cong hong mi tan Ciu Khi sin yang berdiri kaku itu tak lebih hanya delapan depa.

Dengan kening berkerut dan wajah menunjukkan sikap buas dan kejam, Keng Cin sin berkata dengan suara dingin.

"Sekarang, aku akan mempersilahkan kau untuk menyaksikan dulu, bagaimana caraku menjatuhi hukuman yang paling kejam atas diri Ceng hong mitan serta Siang bin tok ci!

Seusai berkata, pelan-pelan Keng Cin sin berjalan menuju kesampinq Siang bin tok ci yang berada sejauh satu kaki di depan sana, telapak tangannya segera diayunkan dan segulung tenaga lembek segera mendorong tubuh Mao Soh sat tersebut menggelinding kearah dimana kedua orang rekan lainnya berdiri kaku.

Ketika Keng Cin sin menggaet dengan ujung kaki kirinya, tubuh Siang bin tok ci Mao Soh sat pun berdiri kaku kembali disitu.

Sekarang posisi dari mereka bertiga membentuk sudut segi tiga, enam buah mata saling berpandangan satu sama lainnya dengan jelas sekali .....

Perasaan tegang dan seram menghadapi saat kematian dengan jelas tertera diatas wajah-wajah mereka..

Sikap tersebut terlihat lebih jelas lagi dari balikkeenam sorot mata mereka yang sayu itu.

Dengan pandangan yang tajam Keng Cin sin memperhatikan sekejap wajah ketiga orang itu, kemudian ujarnya sambil tertawa dingin.

"Bagaimana? Dengan perbuatan kalian manusia-manusia laknat yang tak takut langit tak takut bumi, perbuatan jahat apa pun berani dilakukan semaunya sendiri, apakah sekarang menjadi ketakutan mengha-dapi saat kematian kalian. Mengapa tidak kaliaan pikirkan sekarang, disaat kalian hendak membunuh orang lain, bagai manakah perasaan korban-korban kalian menjelang saat ajalnya? "

Inilah yang dinamakan pembalasan! Karena kalian terlalu kejam, terlalu buas dan tak berperi kemanusiaan, maka akupun tak akan membiarkan kalian mampus secara gampang dan enak.

"Waktu itu, tentunya kalian tak pernah menyangka bukan, kalau aku bisa berumur begini panjang."

Terus terang kuberitahukan kepada kalian, mungkin roh-roh dari para perempuan lain yang mati karena kalian perkosa telah membantuku secara diam-diam, maka kini aku memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menjatuhkan hukuman atas diri kalian semua.

"Aku bersumpah akan meratakan istana Huan mo kiong dengan tanah, akan kubantai setiap manusia laknat yang berada di situ hingga ludas, tak seorang pun diantara mereka yang akan kubiarkan hidup dengan bebas merdeka"

Perasaan kaget, ngeri dan seram memancar keluar dari balik mata ketiga orang itu, paras muka mereka menjadi pucat pias seperti mayat'.

Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 5

Baca Juga: Pendekar Setia 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert