Ceritasilat Novel Online

Lembah Patah Hati Lembah Beracun 2

Eps 2 Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung

Baca online Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung

Cersil Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung.

Selagi ia merasa putus asa, mendadak mendengar suara orang bicara padanya.

"Kau berbuat demikian, sekalipun kau gempur sampai satu tahun juga tidak bisa bikin hancur tembok dinding ini!"

Ho Kie kaget, ia bertanya ;

"Kau siapa?"

"Siapa aku? Sama dengan kau yang harus menantikan kematian didalam kamar ini!"

Suara itu agaknya pernah ia dengar, tapi sesaat itu Ho Kie sudah tidak ingat lagi di-mana ia pernah dengar suara itu.

"Pembicaraan antara kita bisa dapat di dengar dengan jelas, disekitar kamar ini tentunya ada terdapat lobang angin, coba kau periksa dengan teliti!"

Berkata Ho Kie.

"Kau sendiri bagaimana tidak bisa cari, kita belum kenal sudah berani memerintahi orang!"

Jawabnya orang itu dingin.

Ho Kie merasa mendongkol dan geli sendiri.

Tanpa banyak bicara, ia lantas keluarkan ilmunya merayap didinding, dengan hati hati ia mencari lobang hawa.

Benar saja, di ujung bagian atas kamar itu, terdapat tiga buah lobbang kecil.

Ia coba mengintai dari lobang itu, tapi keadaan gelap gulita, tidak dapat ia melibat apa-apa.

Ho Kie lompat turun dan berkata dengan suara agak keras ;

"Hai! Sahabat! Aku sudah menemukan lobang hawa!"

"Kau bisa berbuat apa dengan lubang hawa itu, Siangsiang aku juga sudah menemukan, Semua ada tiga lobang tapi dirimu tokh tidak bisa berubah menjadi binatang kecil lalu kau bisa keluar dari lubang sekecil itu."

"Kau ini bagaimana sih? Kita berdua terkurung dalam kamar tutupan, namun tampaknya sedikit pun tidak memiliki perasan?"

"Kau suruh aku berbuat bagaimana? memangnya aku harus bertekuk lutut dihadapanmu yang dibatasi oleh tembok dinding itu?"

Kalau aku bisa lihat kau, aku pasti sedikit memberi sedikit hajaran padamu seorang yang sombong, congkak? "

"Kau jangan banyak lagak siapa yang sombong congkak ?"

Sekarang Ho Kie mendadak ingat, bahwa suara itu ternyata sama dengan suaranya si anak muda yang berdandan seperti anak sekolah yang mirip dengan Lim Kheng. Dengan penuh perhatian ia berseru ;

"Apakah Lim Kheng?"

Orang itu ketawa geli.

"MaAf, aku bukan seorang she Lim"

Ho Kie tercengang, ia mencoba sekali lagi .

"Lim Kheng, apa kau sudah tidak kenali suaraku? Aku Ho Kie di sini."

"Maaf, aku juga tidak kenal siapa Ho Cit atau Hopat."

Ho Kie menjadi gusar.

Dengan gemas ia menggempur dinding dengan kepalannya.

tanpa memperdulikan runtuhnya reruntuh batu dinding, ia terus menggempur secara berulang-ulang, akan tetapi dindingnya sedikitpun tidak bergeming.

Tapi Ho Kie yang keras kepala benar-benar tidak memperdulikan bisa membikin runtuh dinding itu atau tidak, terus menggempur tidak hentinya.

sehingga benar saja.

dalam kamar itu sudah penuh pecahan batu dan abu.

Mungkin karena lelah.

Ho Kie berhenti sendiri, napasnya memburu.

Orang itu tidak mendengar suara Ho Kie lagi, ia lantas menegur sambil tertawa dingin;

"Mengapa tidak menggempur lagi? Kalau kau terus berbuat demikian, barangkali tidak usah menunggu tiga tahun, kau benar-benar sudah bisa bikin ambruk gedung ini. coba saja terus! Siapa tahu ?"

Sehabis berkata demikian ia lantas tertawa bergelak.

Ho Kie yang sudah letih, membiarkan diri-nya diejek seolah-olah tidak mendengarnya.

Lama, setelah tenaganya pulih kembali, dengan tidak disengaja ia menemukan sebuah lubang anak kunci kecil, disebuah tempat yang sudah runtuh, ia telah mendapatkan suatu lubang kunci yang sangat terrahasia.

Kalau tidak karena temboknya pada berarakan lubang itu sungguh tidak mudah dapat dilihat, Ia lalu ingat pada kedua anak kunci emas yang didapatnya dari kotak kecil, ia lalu keluarkan dari sakunya dan dicoba satu demi satu kelubang itu.

Tiba-tiba terdengar suara Greeek, benar saja dinding itu telah memperlihatkan sebuah pintu.

Dengan tidak berayal iagi Ho Kie lantas melompat masuk kedalam kamar disebelahnya sembari membentak .

"Bocah kau.........."

Siapa nyana, ketika ia berhadapan dengan orang yang berada disebelah kamar, seketika lantas melongo dan tidak dapat melanjutkan ucapannya bahwa kagetnya.

Ho Kie anggap orang itu Lim Kheng, tapi sebenarnya ia itu adalah anak sekolah yang mirip Lim Kheng, maka ia berkata .

"Di Cit-cie-kang, Kau sudah kabur dari tanganku tapi sekarang kita sama terkurung dalam kamar ini, kemana kau mau lari?"

"Apa kau kira aku takut padamu ?"

Demikian jawab anak sekolah itu dengan tenang.

Ho Kie yang mengingat bagaimana dirinya telah dipermainkan oleh anak muda itu, ia sudah tidak dapat mengendalikan lagi amarannya.

Dengan cepat ia mengulur tangan kirinya untuk menyambar tangan anak sekolah itu.

Anak muda berbaju putih itu mementang kipasnya menangkis tangan Ho Kie, kakinya bergerak secara cepat, dengan aneh pula telah berbelit kesamping.

"Kau cari mampus!"

Ia membentak keras.

"Siapa mampus, siapa hidup? Sekarang masih terlalu pagi untuk diramalkan. Bocah tolol, sambuti seranganku!"

Jawab Ho Kie sumbil ketawa dingin.

Ia lantas maju menyerang dengan ilmu silatnya Hiankui-cap-sa-sek-kin-na-khiu, ia ingin dalam segebrakan saja dapat menundukkan lawannya.

Tetapi-sang lawan secara indah sekali sudah dapat menghindarkan serangan Ho Kie.

Ho Kie terus mendesak dan melancarkan serangan bertubi-tubi, apa mau lawannya itu sangat licin.

Ia terus terusan berkelit kesana kemari, kegesitannya ternyata tidak berada dibawahnya Lim Kheng.

Hampir sepuluh jurus Ho Kie telah melancarkan serangannya, tetapi semuanya dapat dielakkan oleh anak sekolah itu dengan caranya yang enak sekali.

Sambil ketawa dingin anak muda itu mengejek Ho Kie .

"Hanya mempunyai kepandaian sebegini saja kau sudah berani unjukkan diri didunia Kang-ouw. Hmm! Benar-benar tidak tahu diri."

Ho Kie yang sudah mendongkol benar-benar, lantas mengeluarkan tipu serangannya warisan Toan-theng Lojin yang dinamakan Tay-lek kim kong-ciang.

Benar saja, dengan menggunakan tipu serangan ini, telah membuat anak sekolah baju putih itu sukar menyingkirkan diri.

maka terpaksa ia harus menyambuti dengan kekerasan.

Setelah kekuatan kedua tangan beradu, masing masing mundur satu tindak.

Diantara sambaran angin dari beradunya serangan tersebut, lantas tercium hawa busuk yang memenuhi dalam kamar.

Ho Kie terkejut, dalam hatinya diam-diam telah berpikir.

Apakah bocah ini bukan orang Hian kui kauw?

Selagi ia memikirkan diri lawannya, anak sekolah itu sudah menggetarkan badannya dan mencelat dari lubang pintu masuk kekamar bekas kurungan Ho Kie.

Sambil membentak keras Ho kie mengejar, tetapi gerakan anak sekolah itu gesit sekali, sebentar saja sudah berada dipintu.

Ho kie coba mencegah sembari membentak.

"Jangan bergerak! Pintu itu tidak boleh dibuka......."

Tapi anak sekolah baju putih itu tanpa menghiraukan peringatan Ho Kie, dengan cepat tangannya sudah menarik pintu yang tertutup rapat.

Begitu pintu terbuka, dikamar sebelah, terlihatlah binatang semut yang bergerak-gerak diseluruh ruang dalam kamar itu.

Anak sekolah baju putih itu sambil ketawa lantas melesat dan di tengah udara ia memutar tubuhnya dengan menggunakanilmunya merembet ditembok, sekali bagus seklai ia sudah geser tubuhnya ke dekat pintu.

Ho Kie kesima menyaksikan perbuatan anak muda itu, ketika ia melongok kebawah, bangkai yang dikerubuti semut tadi ternyata cuma tinggal tulangnya saja dan binatang semut yang demikian banyaknya itu kini sudah mulai merayap masuk kedalam kamarnya.

Ia tidak berani meniru cara anak muda tadi, terpaksa mundur ke dalam kamar bekas terkurungnya anak muda tadi dan buru-buru menutup pintunya.

Dengan demikian, anak sekolah baju putih tadi sebaliknya sudah berhasil keluar dari dalam kurungan, sedang ia sendiri lantas terkurung sendirian dalam kamar kecil yang gelap itu.

Dengan perasaan sangat masgul ia duduk ditanah, mendadak ia ingat anak kuncinya.

ia coba mencari cari lubang kunci, untung di situ juga terdapat sebuah lubang kunci.

Dengan tidak ayal lagi, ia keluarkan anak kuncinya...dimasukkan kedalam lubang kunci dan lantas telah terbuka sebuah pintu.

Sinar yang dari luar situ lantas menyorot masuk, ternyata disitu terdapat sebuah lorong yang dikanan kirinya terdapat obor api.

Disana pula menggeletak bergelimpangan enam-tujuh mayat manusia.

Dengan demikian ia telah memperlihatkan segenap tempat tersebut.

Tanpa banyak berpikir pula Ho Kie lantas melewati dan lari mengikuti jalan lorong itu.

Disuatu tikungan, ia mendengar dari depannya seperti ada orang ketawa.

Dengan cepat ia sembunyikan dirinya, badannya digeser maju dengan perlahan.

Ia mendengar ada seorang berkata dengan suaranya yang keras.

"Kalajengking emas pemunah racun itu adalah benda pusaka yang jarang terdapat dalam dunia. Aku siorang she Li dengan mengambil resiko menanam bibit permusuhan dengan orang-orang Hoa-san pay setelah aku membunuh mati Lo Su le, benda itu sekarang ada dibadanku. Kalau kalian tidak takut, kekuatan Tay-lek sin-koan ku kalian boleh mencoba."

Kemudian suata itu disusul oleh suara orang lain.

"Li tan cu, kita bukannya takuti kau! Sebetulnya karena melihat kau sedang terluka parah, tidak pantas kita turun tangan, sehingga kau nanti akan binasa dengan mata tidak meram "

Terdengar pula suaara orang yang pertama bicara;

"Baik! kalau begitu, kalian boleh coba saja,"

Setelah suara ini berhenti, lalu disusul oleh suara menderunya angin dan beradunya tenaga......

Ho Kie karena mengira Lim Kheng ada di situ, maka tubuhtnya terus mendesak masuk kedalam, Disitu ternyata adalah sebuah kamar yang luas, keadaannya terang benderang.

Baru saja ia tiba didepan pintu, tiba2 terdengar beradunya dua kekuatan tenaga yang keras, disusul oleh suara rubuhnya tubuh orang..........

Ho Kie terperanjat, ia tidak dapat menduga siapa adanya orang yang telah jatuh terluka itu.

Mendadak ia mendengar suara orang berkata;

"Kalian orang-orang dari Hian kui-kauw semuanya ganas dan telengas. Aku siorang she Shao, meskipun tidak berguna, juga ingin mencoba-coba kekuatan kalian"

Ho Kie mendengar suara orang itu adalah suara si cebol Shao Cu Beng, seketika itu lantas masuk kedalam kamar.

Disitu ternyata sudah terdapat banyak mayat yang berserakan di tanah, sedangkan Sam ciok Taoto tengah duduk bersamadi untuk mengatur pernapasannya.

Shao Cu Beng dengan mata beringas mengawasi seorang berewokan yang berbadan besar yang sedang berdiri dihadapannya, Wajah orang itu keren sekali, usianya kira-kira 40 tahun.

Dididpan dadanya sudah terdapat banyak darah, tetapi wajahnya masih bisa perlihatkan ketawa dingin.

Munculnya Ho Kie secara tiba-tiba telah mengagetkan Shao Cu Beng dan orang tinggi besar itu.

Shao cu Beng menggeser tubuhnya dan mundur tiga tindak.

Ho Kie memandang mereka sambil tertawa dingin.

Tidak usah menanya, ia sudah mengetahui bahwa orang laki berewokan itu adalah Li Hai Houw dan Shao Cu Beng semuanya tidak mengenal Ho Kie, sehingga mereka pada saling pandang, masing-masing pada menduga, siapakah yang akan dibantu oleh anak muda itu?

Ho Kie tiba2 bertanya kepada Lie Hui Houw ;

"Apakah kau orang Hian kui kauw?"

Lie Hui Houw terkejut, ia buru buru siapkan diri, kemudian menjawab dengan suara dingin .

"Benar! Aku si orang she Lie, salah satu tancu dari Hiankui-kauw,"

Ho Kie lalu berpaling dan berkata kepada sicebol.

"Aku tahu, kau adalah Shao Cu Beng. betul tidak?"

Shao Cu Beng juga terkejut, buru buru ia melindungi dada dengan kedua tangannya dan menjawab .

"Benar! Bagaimana saudara kecil bisa mengetahui namaku?"

Ho Kie ketawa dingin, kemudian berkata, dengan perlahan lahan ;

"Hian-kui-kauw telah merusak ketentraman dunia, Sudah sepantasnya kalau ditumpas. Shao Cu Beng? kau bunuhlah dia!"

Lie Hui Houw terperanjat, dalam hatinya-berpikir .

"Aku sudah terluka berat, anak buahku sudah terbinasa semuanya, Meskipun aku sudah berhasil melukai Sam-ciok Taoto, tetapi dengan Shao Cu Beng seorang saja sudah sukar melayani, dan bocah ini kelihatannya ada permusuhan dengan Hian-kui-kauw, pasti ada orang Hoasan-pay, Kalau benar demikian, sangat berbahaya bagi diriku."

Sebaliknya bagi Shao Cu Beng, ia lantas bisa bernapas lega. Sambil ketawa ia menyahut .

"ucapan saudara kecil ini sedikitpun tidak salah. Dosanya Hian kui kauw sudah terlalu banyak. Sudah sepantasnya kalau ditumpas. Aku si orang she Shao, meskipun tidak berguna, ingin menghajar kaki tangannya Hian kui-kauw ini sampai mampus untuk mengamankan dunia rimba persilatan ........."

Ho Kie menjawab sambil ketawa dingin .

"Sungguh enak didengarnya perkataanmu, hanya saja aku mengetahui juga, kau ini ada seorang yang ganas dan telengas, lagi pula sangat licik, juga bukan merupakan manusia baik2......"

Shao Cu Beng wajahnya berubah seketika, dalam hati diam-diam berpikir .

"Meskipun bocah ini tidak akan membantu ia, tetapi kelihatannya juga menghendaki kalajengking emas itu juga, maka aku harus menjaga jaga dirinya. Ho Kie melihat berubahnya wajah sicebol.

"Kau jangan takut!"

Katanya ketawa.

"Meskipun aku mengatakan kau bukan orang baik-baik, tetapi dengan kau, aku tidak mempunyai permusuhan apa-apa. Tidak nanti aku membantu dia untuk membinasakan kau!"

Hati Shao Cu Beng agak lega, maka lantas bisa berkata sambil tertawa bergelak-gelak.

"Kalau begitu, saudara kecil bermaksud hendak menonton atau sebagai saksi kita?"

Shao Cu Beng diam-diam sudah mendapat pikiran, Sambil mengerahkan kekuatannya, perlahan-lahan ia mendekati Lie Hui Houw. Lie Hui Houw merasa kuatir, ia coba menggertak padanya.

"Shao Cu Beng, kau jangan terlalu mendesak. Aku siorang tua she Lie juga tidak akan mandah dipermainkan begitu saja."

"Lie Tancu, dalam keadaan demikian ini aku tidak bisa berbuat lain........."

Shao Cu Beng seorang yang kejam.

Baru saja ia menutup mulutnya, orangnya sudah menerjang Lie Hui Houw laksana macan kelaparan, sebentar saja ia sudah mengirim empat kali serangannya saling susul.

Serangannya itu semuanya ditujukan pada bagian-bagian terpenting didadanya Lie Hui Houw.

sedikitpun ia tidak memberikan kesempatan pada lawannya untuk bergerak.

Lie Hui Houw terpaksa menggunakan sisa tenaganya yang penghabisan, sambil membelakangi tembok dia menyambuti serangan si cebol.

Ketika kekuatan kedua pihak itu beradu.

Shao Cu Beng telah terpental mundur lima tindak, hampir saja jatuh ditanah, sedangkan Lie Hui Hauw, karena ia membelakangi dinding tidak mempunyai tempat mundur lagi, maka serangan si cebol itu telah membuat lukanya didalam bertambah hebat, sehingga mulutnya mengeluarkan darah.

Ho Kie yang menyaksikan hal itu, dalam hati merasa girang.

Sambil bertepuk tangan ia berkata .

"Benar! Shao Cu Beng! Hajarlah lagi Orang-orang Hiankui-kauw harus dibunuh mampus semuanya."

Shao Cu Beng sangat girang, sambil menggeram hebat ia menyerang lagi.

Lie Hui Houw mengetahui bahwa dirinya sudah tidak mempunyai harapan untuk hidup lagi, maka sambil mengertek gigi ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya untuk menyambuti sekali lagi serangan sicebol.

Kali ini Shao Cu Beng telah dibikin terpental sejauh satu tombak lebih dan lantas terjatuh ditanah, sedangkan Lie Hui Hauw sendiri, lukanya bertambah parah, tenaganya sudah habis, maka setelah menyemburkan banyak darah, ia juga rubuh ditanah......

Dengan susah payah dan mengorbankan banyak jiwa, ia baru berhasil mendapatkan benda pusaka yang sangat langka itu.

Kasihan baginya belum sampai ia keluar dari jalanan dibawah tanah, ia sudah terbinasa ditangan Shao Cu Beng.

Sebelum menarik napas yang penghabisan, ia masih bisa menanyakan pada Ho Kie dengan suara keras.

"Kau!...... Kau mempunyai permusuhan apa dengan Hian-kui kauw?"

"Dalam laksana lautan!"

Jawab Ho Kie dengan dingin.

Mendengar jawaban itu, Lie Hui Hauw lantas menggeram dan putus nyawanya.

Shao Cu Beng yang telah jatuh terluka parah, ketika menyaksikan Lie Hui Hauw sudah binasa dengan tidak memperdulikan lukanya sendiri, ia lantas merangkak menghampiri mayatnya Lie Hui Hauw.

Dari saku mayat itu ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang terbuat dan emas murni, tetapi sebelum ia pindahkan kedalam sakunya sendiri, Ho Kie sudah membentak.

"Bawa kemari,"

"Saudara kecil mau apa?"

Shao Cu Beng masih berpurapura bertanya.

"Kalajengking emas,"

"Apa saudara kecil ini adalah orang Hoa San pay ?"

"Bukan!! Tetapi kalajengking emas ini juga bukan kepunyaanmu, bagaimana kau dapat memilikinya?"

"Kalau begitu, kau juga mempunyai hati temaha hendak merampas benda pusaka ini."

"Ah, tidak!! Aku hanya tidak menginginkan benda ini terjatuh ditangan orang jahat dan ganas seperti kau ini."

Shao Cu Beng sudah mempunyai rencana sendiri, ia berpikir sejenak, sedikitpun tidak melawan. Tetapi baru saja ia hendak menyerahkan benda itu, tiba-tiba ditariknya kembali dan berkata.

"Kua telah menganggap aku seorang jahat, aku juga tidak membantah! Tetapi benda ini adalah benda pusaka yang jarang ada didalam dunia. Sebelum kau bawa pergi, bolehkah kau menyembuhkan lukanya sahabatku ini?"

Ho Kie mengerti bahwa sicebol ini tentu mempunyai maksud tertentu, tetapi karena sudah memajukan permintaan, hatinya lalu merasa tidak enak, maka ia lantas menjawab.

"Sebetulnya, Taoto ini juga bukannya orang baik, Tetapi karena mengingat benda ini kau dapatkan boleh merebut dari tangan Lie Hui Houw, baiklah!! Aku terima permintaanmu, menggunakan benda ini sekali saja."

Shao Cu Beng lantas berdiri menghampiri Sam-ciok Taoto.

Ia berlega mengobati Sam-ciok Taoto sambil berdiri membelakangi Ho Kie, tetapi kotak itu diam-diam telah dimasukkan kedalam sakunya.

Diam2 ia menotok jalan darahnya Sam-ciok Taoto itu supaya tidak banyak bicara-sehingga menggagalkan rencananya.

Ho Kie ingin melihat bagaimana ia mengobati kawannya memakai benda pusaka itu.

Baru saja melongok sicebol yang kejam itu lantas membalikkan badan, dengan secepat kilat ia menyerang pusarnya Ho Kie.

Dalam keadaan tidak menduga duga itu, hampir saja Ho Kie terluka ditangannya.

Untung ia keburu lompat mundur.

Shao Cu Beng yang melihat seranganna tidak berhasil, buru buru lantas angkat kaki hendak kabur.

Ho Kie gemas sekali melihat perbuatannya sicebol ini, maka lantas membentak.

"Mau kemana?"

Kemudian sudah mengirimku satu serangan dahsyat.

Shao Cu Beng mengeluarkan satu jeritan ngeri, lalu mundur sempoyongan.

Kedua tangannya menekap dadanya, keringat dingin mengucur dari jidatnya.

ooo0dw0ooo MELIHAT KEADAAN Shao Cu Beng itu, ia seperti terkena serangan didepan pintu, Ho Kie merasa girang, maka lantas menjambret dirinya dan menampar pipinya sambil memaki .

"Manusia busuk!! Kau berani membokong-tuan rumah mudamu."

Shao Cu Beng mulutnya mengeluarkan darah, giginya rontok, tetapi ia masih bisa berkata.

"Cilaka!! Ada setan. Ada setan!......"

Mendengar disebutnya setan, Ho Kie juga heran.

Setelah menotok jalan darahnya si cebol, ia lalu melongok keluar.

Didepan pintu ternyata ada berdiri seorang tua yang rambutnya sudah putih semua dengan badan berlumuran darah.

Ho Kie terkejut, ia buru-buru kerahkan kekuatan dikedua lengannya dan lantas membentak dengan suara keras .

"Kau siapa?"

Orang tua itu kelihatan menggerakkan pundaknya lalu maju sempoyongan dan menjawab dengan suara dingin.

"Aku Lo Su le."

"Lo So le?.........."

Ho Kie terkejut tidak mengetahui siapa adanya Lo Su le, maka ia lantas mundur satu tindak. Orang tua itu lantas anggukkan kepalanya lalu berkata pula dengan suaranya yang parau .

"Aku adalah Khungcu dari gedung ini. Aku telah binasa ditangannya Lie Hui Houw, Rohku belum buyar, maka aku hendak menagih jiwanya.........."

Ho Kie mendadak ingat bahwa orang tua itu adalah yang telah meninggalkan surat di kamar bukunya untuk orangorang Hoa-san-pay, Meskipun bernyali besar, tetapi menyaksikan orang yang sudah mati bisa hidup kembali, bulu roma Ho Kie juga berdiri, dengan tidak dirasa ia lantas mundur lagi dua tindak sembari membentak.

"Kau mau apa?"

"Aku hendak menuntut balas!"

"Orang she Lie itu sudah binasa."

"Orang she Lie sudah binasa ? Aku hendak berhitungan dengan kau!"

Sehabis berkata orang tua itu lantas pentang kedua tangannya dengan gerakan yang kaku ia menerjang Ho Kie.

Dalam ketakutannya, Ho Kie menyambuti serangan orang tua dengan kedua tangan sambil memejamkan matanya.

Orang tua yang hidup kembali itu telah dibikin terpental dan jatuh disatu sudut karena serangan Ho Kie yang hebat.

Tiba-tiba ia mendengar suara orang ketawa yang kemudian disusul oleh perkataannya;

"Benar-benar tidak mempunyai nyali. Baru melihat orang mati saja sudah ketakutan."

Ho Kie terperanjat, ketika membuka matanya, didepan telah berdiri seorang pemuda anak sekolah baju putih yang bukan lain adalah Lim Kheng.

Ia baru tersadar bahwa tadi semua adalah perbuatan nakal dari Lim Kheng ini yang bermaksud untuk menggoda dirinya.

Ho Kie merasa kurang senang, lalu berkata kepada kawannya itu .

"Barusan seandainya aku kesalahan tangan, bukankah akan mencelakakan diri Lim heng?"

"Baru saja ketakutan setengah mati, sekarang sudah omong besar! Kalau bukan aku, apa sisetan cebol ini kau kira mau balik mundur padamu? Kau tidak mengucapkan terima kasih padaku, sebaliknya menyesalkan aku."

Jawab Lim Kheng sambil tertawa cekikikan.

"Orang she Lo itu toh sudah mati, buat apa kau permainkan mayatnya?"

"Orang she Lo dari Hoa san pay ini juga bukan manusia baik-baik. Didalam salah satu kamar gedung ini aku telah menemukan beberapa wanita muda cantik2. mereka itu semuanya adalah wanita baik-baik yang dirampas kemudian dibuat gundik oleh Lo Su Ie ... Oleh karena wanita-wanita itu aku telah membuang banyak waktu. Didalam pekarangan aku tidak dapat menemukan kau, dengan susah payah baru menemukan kuburan ini, dan kemudian tiba disini. Tidak nyana baru saja tiba diluar pintu, aku lantas dapat lihat sicebol ini telah menotok jalan darah si Taoto, setelah tidak berhasil membokong kau, lantas hendak kabur maka aku lantas menggunakan mayat Lo Su Ie untuk menakuti dia !"

Dari dalam sakunya Shao Cu Beng. H0 Kie mengambil kotak yang berisi kalajengking emas.

"Dua manusia ini juga bukan dari golongan baik2, kau pikir bagaimana membereskan mereka?"

"Mereka cuma karena temaha hendak memiliki benda pusaka itu saja, tidak ada kejahatan lainnya yang kita lihat, kita tutup saja pintu batu itu, biar mereka menentukan nasibnya sendiri."

Lim Kheng dan Ho Kie lalu turun tangan menutup pintu dari batu itu, kemudian berlalu dari tempat tersebut. -oo0dw0oo-

Jilid 4 BARU saja keluar dari jalanan dibawah tanah, Ho Kie mendadak ingat sesuatu ia lantas hentikan tindakannya dan berkata kepada kawannya ;

"Nanti dulu, masih ada seorang penting, entah dia sudah keluar atau belum, mari kita cari dulu sebenar !"

"Siapa yang kau maksudkan?"

"Dia adalah itu anak muda berbaju putih yang dulu aku pernah cerita padamu."

"Dia? Mari kita lekas cari! jawab Lim Kheng terkejut, dan gusar, kemudian dengan cepat lompat masuk kelubang kuburan. Siapa tahu baru bergerak, dari atas penglari mendadak dengan suara tertawa dingin .

"Tak usah dicari lagi, orangnya toh sudah lama berlalu.........."

Ho Kie dan Lim Kheng urungkan maksudnya, mereka mendongak keatas payon, dari atas penglari melayang turun satu orang.

Ketika melihat orang itu, mereka lantas naik darah.

Ho Kie yang lebih dulu lari menghampiri dan berkata kepada kawannya .

"Lim-heng, jangan kasih dia pergi dari sini !"

Lim Kheng menghadang dimulut kuburan sembari berkata .

"Tak usah kuatir, aku tanggung bangsat tua ini tidak bisa lolos dari tanganku."

Orang itu ketawa, satu tangannya mengurut jenggot kambingnya, lain tangannya mengangkat tinggi sebuah bungkusan, kemudian berkata .

"Aku si tua bangka sengaja datang untuk mengantar harta kepada kalian berdua, mengapa kalian perlakukan aku begini macam?"

Orang tua itu adalah si pencuri kenamaan dari golongan hitam, Auw-yang Khia.

Ho Kie menampak bungkusan ditangannya itu adalah barang-barang permata yang ia letakan diatas meja dikamar tulis, seketika itu lantas gusar.

"Auw yang Khia, berkali kali kau mencuri, hari ini dengan harap kau bisa lolos dari tanganku!"

Bentaknya. Dengan cepat ia menghajar dirinya orang tua itu. Auw yang Khia wajahnya berubah seketika, dengan cepat ia memutar tubuhnya, dengan cara demikian ia lolos dari ketiak Ho Kie.

"Hai, jangan keburu napsu, mari kita bicara dulu secara baik-baik, bagaimana baru bertemu lantas turun tangan, apa kau memang sengaja hendak memereteli tulangku yang sudah tua ini?"

"Kami dengan kau tidak ada permusuhan apa-apa, mengapa kau mencuri uang kami?"

"Ini benar-benar penasaran, kapan aku mencuri uang kalian ?"

"Kau masih hendak pungkir?"

Bentaknya Lim Kheng, lantas bergerak tangannya menyekal urat nadi si orang tua.

Auw-yang khia melenggakan dirinya kebelakang, dengan satu tangan menunjang tubuhnya ia memutar laksana gasing, kemudiaa melesat dan menyelusup di sampingnya Lim Kheng.

Kemudian ulapkan tangannya sembari berkata ;

"jangan menuduh orang secara sembarangan, coba kalian periksa dulu badan sendiri, kalau uang kalian kurang sepeser saja, aku Auw-yang Khia bersedia mengganti sepenuhnya!"

"Lim heng jangan dengar mulutnya, bangsat tua ini mengaco belo......."

Berkata Ho Kie dengan sengit.

Tapi diam-diam ia meraba sakunya, benar saja lantas dapat meraba benda keras, yang ternyata adalah bungkusan uangnya sendiri!.

Maka seketika itu lantas melongo.

Lim Kheng yang menyaksikan itu, juga lantas meraba sakunya, ternyata uangnya sendiri juga sudah balik sendiri.

Meski ia tahu bahwa pencuri ulung itu sedang permainkan mereka, tapi mau tidak mau merasa kagum juga atas kepandaiannya copet ulung itu.

"Meski kau sudah kembalikan uang kami yang kau curi, tapi didalam tanganmu masih terdapat barang curian, nyata tabiatmu masih belum diubah."

Berkata Ho Kie.

"Aku si tua bangka malang melintang dari Selatan sampai utara, badanku tidak pernah membawa uang barang sepeser, perlu apa dengan barang emas berlian ini? Aku cuma hendak menggunakan barang ini untuk membeli sebuah barang pusaka saja."

"Barang pusaka apa yang mempunyai harga begitu besar?"

"Barang itu ada dibadan kalian, berdua!"

Ho Kie lantas mengerti, maka lantas meraba kotak dibadannya.

"Owh! yang kau maksudkan adalah kalajengking pemunah racun ini?"

Demikian Ho Kie bertanya.

"cepat!! Kalajengking emas ini merupakan benda pusaka didalam dunia, dalam 50 tahun cuma kedapatan seekor saja. Binatang ini sangat berbisa, tapi dapat memunahkan segala racun apa saja dari dunia. Buat kalian berdua, untuk sementara mungkin tidak ada gunanya, mengapa tidak kalian jual saja kepada aku situa bangka, untuk menolong jiwanya seorang yang sedang menderita luka berat?"

"Kau tokh seorang pencuri yang terkenal, mengapa tidak bisa turuti tangan sendiri untuk mengambil? Sebaliknya hendak membeli dari tangan orang lain? Dan cara bagaimana kau bisa tahu kalau barang itu ada pada kami?"

Tanya Lim Kheng.

"Sebelum kalian berdua masuk kedalam perkampungan ini aku si tua bangka sudah dapat tahu dari tempat sembunyiku, cuma oleh karena Lie Hui Houw si cebol Shao Cu Beng dan Sam-ciok Toato. semuanya ada merupakan manusia yang kejam dan ganas, maka aku si orang tua merasa segan berhadapan dengan mereka. Apa lagi sudah ada kalian berdua, perlu apa aku harus turun tangan sendiri untuk merampas dari tangan mereka?"

Jawab Auw yang Khia sambil ketawa.

"Hm ! Kau sungguh pintar, kau membiarkan lain orang yang susah payah dan kau sendiri mau menerima eunaknya saja! Kuberi tahukan padamu, kami tidak kenal barang pusaka itu?"

Kata Lim Kheng tegas.

"Mengapa saudara kecil mengambil keputusan begitu getas? Barang pertama dalam buntalanku ini hampir semuanya merupakan barang yang tidak ternilai harganya, sudah cukup untuk membeli benda pusaka itu."

"Barang dalam buntalan itu bukan kepunyaanmu, siapa sudi berurusan dengan seorang yang berlagak kaya dengan kekayaan orang lain?"

Berkata Ho Kie sambil ketawa dingin.

"Kalian berdua meski tidak kepingin barang berharga, tapi menolong jiwa manusia, berarti sudah menunaikan perikemanusiaan. Apakah kalian tega menyaksikan orang yang terluka kena racun itu binasa begitu saja?"

Berkata Auw-yang Khia sambil angkat pundak.

"Siapakah sahabatmu yang terluka itu? cara bagaimana dia terluka kena racun?"

Tanya Lim Kheng heran. Auw-yang Khia menghela napas panjang, dalam matanya mengembang air! Lama ia berdiam, baru bisa menjawab dengan perlahan lahan .

"Dia adalah seorang yang benar-benar paling dikasihani dalam dunia ini, tidak mempunyai kawan, tidak mempunyai keluarga. Meskipun dalam dirinya mempunyai kepandaian yang sudah tidak ada taranya, tapi tidak nyana telah kena dibokong oleh orang, sudah setahun lebih lamanya berada dalam keadaan mati tidak hiduppun tidak, sejengkal saja tidak bisa bergerak dari tempatnya........"

Ho Kie merasa tertarik, selagi hendak bertanya, tidak nyana sudah didahului oleh Lim Kheng .

"Dalam perkataanmu ini terdapat banyak pertentangan, kau katakan dia tidak mempuyai kawan dan keluarga, kalau begitu kau ini pernah apa dengan dia? Buat apa begitu repot terhadap dia?"

"Empat penjuru lautan, semua merupakan saudara. Aku si orang tua meski tidak kenal dia, tapi ketika dengan tidak sengaja aku ketemukan dia menderita kesengsaraan dalam tempat persembunyiannya, setelah kita beromong-omong, baru tahu kalau dia adalah seorang aneh didalam dunia, buat dewasa ini...."

"Dia siapa?"

Tanya Ho Kie agak gelisah, Auw yang Khia menghela napas, lalu menjawab dengan perlahan .

"Dia kata tidak mempunyai she dan nama, cuma mempunyai gelar katanya adalah Toan-theng Lojin, atau orang tua patah hati...."

Ho Kie terperanjat, wajahnya berubah seketika, badannya gemetar..... Lim Kheng melirik ia sejenak, lalu berkata dengan suara perlahan ;

"Apa benar dia......?"

Mendadak dengan secepat kilat Ho Kie melesat dan menyekal pergelangan tangan Auw yang Khia, kemudian bertanya dengan suara gemetar .

"Dia ada dimana? Lekas antar kita ketemui padanya......"

Menampak sikapnya yang aneh itu, Auw-yang Khia lalu bertanya dengan suara heran.

"Apa kalian berdua kenal padanya......?"

Ho Kie pejamkan matanya, dari kelopak matanya merembes keluar air mata.

"Kau tidak usah tanya lagi!!......lekas ajak kita.... ketemui dia....!"

"Baiklah, menolong jiwa seperti juga menolong kebakaran, kita harus lekas berangkat!!"

Mereka bertiga dengan Auw-yang Khia yang selaku petunjuk jalan berlari-larian dengan cepat menunjuk ketempat sembunyinya Toan theng Lojin Ho Kie yang paling gelisah, ia mengharap bisa lekas berada disamping orang tua yang bernasib malang itu.

Sebab dalam hatinya Ho Kie, eorang tua itu sudah dianggap sebagai satu-satunya orang yang pernah membesarkan dan mendidiknya, kalau tidak ada orang tua yang aneh itu, mungkin jiwanya sudah melayang di tangan Bo Pin, sitangan geledek.

Kalau tidak ada orang tua itu, ia tidak hidup sampai sekarang, yang sudah merupakan seorang gagah yang mempunyai kepandaian sangat tinggi.

Maka jiwa dan semua harapannya, seolah olah dihidupkan oleh orang tua itu.

Dan kini, orang tua itu telah menderita luka parah, bagaimana ia tidak gelisah dan berduka?...

Ia merasa heran, mengapa Toan theng Lojin yang mempunyai kepandaian luar biasa juga bisa terluka?

Dengan hati kusut Ho Kie sepanjang jalan menanyakan keterangan kepada Auw-yang Khia, tapi orang tua itu cuma bisa gelengkan kepalanya sembari menjawab.

"Aku sendiri juga kurang jelas, sebab ketika aku bertemu padanya, sudah dalam keadaan terluka parah, hanya dari keterangannya saja aku dapat tahu Ia dibokong oleh Siang koan Tuat, dan Hian-kui-kauw. sehingga dalam badannya terkena racun yang sangat berbisa. Dengan seorang diri dia kabur kedalam gunung, akhirnya tidak tahan dan jatuh. Selama itu, cuma mengandalkan kekuatan tenaga Lweekangnya yang sangat sempurna, dapat menutup setengah dari jalan darah dibadannya, sehingga jiwanya tidak binasa. Sekarang kedua kakinya sudah tidak bisa digerakkan, setiap hari duduk dimulut goa dengan binatang burung dan air mancur untuk menangsal perut......."

"Kau tahu dia luka begitu berat mengapa tidak dibawa berobat kadalam kota yang terdekat?"

Berkata Ho Kie sembari mengucurkan air matanya.

"Aku juga bermaksud demikian, tapi dia tidak mau. Dia kata bahwa Kaucu Hian-kui-kauw sudah mengetahui tempat sembunyinya, barangkali tidak lama lagi akan datang padanya untuk paksa dia mengeluarkan sebuah benda. Dia suruh aku lekas mencarikan obat yang bisa memunahkan racun. Aku lalu meninggalkan dia, secara kebetulan aku dapat dengar bahwa disini ada terhadap kalajengking emas yang bisa memunahkan segala racun, maka aku lantas datang kemari."

"Sudah berapa lama kau meninggalkan dia?"

Tanya Ho Kie.

"Kira-kira sudah 4 atau 5 hari lamanya!"

Ho Kie nampak semakin gelisah, sebab ia tahu bahwa Toan-theng Lojin kali ini turun, maksudnya ialah hendak mencari benda yang ada menyangkut nasibnya 9 partai besar dalam rimba persilatan.

Menurut keterangan Auwyang Khia, mungkin Toan-theng Lojin sudah menemukan benda itu, tapi di ketahui oleh kaucu Hian-kui-kauw, hingga dengan rupa-rupa akal muslihat hendak paksa ia menyerahkan benda tersebut.

Selagi berlari larian dengan cepatnya, Lim Kheng mendadak berkata dengan suara perlahan .

"Tunggu dulu, didepan ada orang."

Ho Kie dan Auw-yang Khia hentikan tindakannya, ketika mereka pasang telinganya, benar saja ada dengar suara gerakannya kaki orang.

Ia jadinya tidak mau ambil pusing, tapi Auw-yang Khia beranggapan lain.

berkata dengan sungguh-sungguh.

"Orang yang menandingi itu rupa-rupanya bukan cuma seorang saja, sebaiknya kita sembunyi dulu, setelah mereka berlalu, baru melanjutkan perjalanan kita."

Ho Kie terpaksa menurut.

Baru saja berada dibelakangnya sebuah pohon besar, dijalanan sudah kelihatan 3 imam lari mendatangi.

Imam itu pada membawa pedang, dari sinar mata mereka dapat diduga bahwa imam-imam itu ada mempunyai kepandaian tinggi.

Mereka sudah merupakan orang-orang yang usianya lebih dari setengah abad, satu diantaranya bahkan rambutnya sudah putih semua, diduga usianya sudah lebih dari 50 tahun, tapi gerakan badannya ringan sekali, boleh jadi merupakan orang terkuat dari mereka bertiga.

Tiga imam itu ketika tiba didepan tempat Ho Kie smbunyi, mendadak berhenti.

Satu diantaranya lantas berkata dengan suara perlahan-lahan.

"Terang tadi ada suara orang bicara. mengapa dalam sekejap saja sudah tidak kelihatan?"

Seorang imam lainnya lantas berkata dengan nyaring;

"Sahabat dari mana? Mengapa tidak mau unjukan diri?"

Ho Kie sudah ingin unjukan diri, tapi di cegah oleh Lim Kheng. Karena tidak mendapat jawaban, masing-masing imam itu lantas menghunus pedangnya. Imam yang bicara lebih dulu tadi lantas berkata pula.

"Main sembunyi, pasti ada orang-orangnya Hian kuikauw, Toa suheng, mari kita cari!"

Dengan cepat imam itu lantas hendak bertindak. Imam rambut putih itu lantas ulapkan tangannya dan berkata sambil ketawa dingin.

"Perlu apa kita cari?"

"Jika ia tidak lantas unjukkan diri, tidak perlu banyak basa-basi lagi!"

Sehabis berkata lalu ia itu.

Dengan cepat salah seorang imam menggerakan tangannya mengeluarkan serangan dahsyat kearah rimbunan pohon tersebut.

Ho Kie tahu bahwa jejak mereka sudah kepergok, maka lantas sambuti serangan si imam.

Kedua kekuatan lantas saling bentur, imam tua tadi tampak mundur sempoyongan dua tindak, wajahnya berubah seketika.

Ho Kie juga terdesak mundur dua tindak.

diam-diam juga merasa terkejut.

Imam tua itu memandang wajahnya Ho Kie dari atas sampai kebawah, ia agaknya tidak menduga bahwa orang yang mampu membikin mundur dirinya tadi ternyata ada satu pemuda belia.

Dalam kagetnya, ia mundur lagi dua tindak dan berkata dengan suara dingin.

"Siao sicu, kau tergesa-gesa melakukan perjalanan, sebetulnya hendak kemana?"

"Kau tidak perlu tahu urusan orang lain"

Jawab Ho Kie ketus.

"Toa suheng, mereka datang dari Ngo-kui khio, pasti ada hubungannya dengan soal permintaan bantuan dari Lo sutee, buat apa banyak bicara, Hajar saja habis perkara"

Berkata lagi imam lainnya. Ho kie mengerti bahwa imam ini tentunya adalah bantuan yang dikirim oleh Hoa san pay untuk menolong Lo Su Ie.

"Apakah kalian berasal dari Hoa-San pay?"

Demikian ia bertanya. Tiga imam ini saling pandang, lalu berkata "Kami adalah Hoa san pay Sam kiam, dan kau siapa anak muda ?"

"Bukankah kalian, hendak ke Ngo kui khio untuk menolong Lo Su Ie?, Sayang sungguh sayang sudah terlambat. Lo sutee kalian itu siang-siang sudah binasa ditangannya Li Hui Houw.."

Mendengar keterangan Ho Kie, ketiga Imam seketika itu wajahnya pada berubah.

"Apa bicaramu ini benar?"

Tanya imam yang berambut putih.

"Kalau kalian tidak percaya, boleh pergi lihat sendiri."

"Toa suheng, kita benar telah datang terlambat."

Kata salah satu imam itu dengan cemas.

"Orang ini pasti komplotan Hian kui kauw, sebaiknya kita tangkap padanya dulu!"

Kata seorang imam lainnya, yang lalu menghunus pedangnya dan menyerang Ho Kie.

Dengan ilmu Hoan-eng-sie-sek, Ho Kie telah berhasil singkirkan diri dari serangan pedang imam itu.

Kedua imam yang lainnya, ketika menyaksikan caranya Ho Kie mengegoskan diri, mereka pada terperanjat.

Buru-buru pada menghunus pedangnya untuk membantu kawannya.

Ketiga imam itu sekarang sudah mengurung dan mengerubuti Ho Kie, Gerakan pedang mereka kelihatan sangat rapi, rupanya Sam kiam (tiga pedang) dari Hoa sanpay ini benar benar sudah mempunyai latihan yang istimewa.

Tetapi Ho Kie adalah seorang yang mempunyai kepandaian luar biasa, meskipun ketiga orang imam itu lihay semuanya, tetapi masih tidak dipandang mata olehnya.

Dengan kegesitannya yang luar biasa, ia menyelusup ke sana dan kemari diantara sambaran pedang lawannya, seolah-olah sengaja ia mempermainkan lawannya itu.

Pertempuran secara demikian itu sebentar saja sudah berlalu sepuluh jurus lebih.

Pedang panjang para imam itu sedikitpun tidak berhasil menyentuh bajunya Ho Kie.

Lim Kheng dan Auw-yang khia juga sejak tadi belum mau unjukkan diri, telah keluar dan tempat sembunyinya.

Auw-yang Khia lalu membentak dengan suaranya yang keras .

"Hai, para Imam!! Apa kalian tidak malu mengerubuti seorang Bocah?"

Imam berambut putih itu ketika melihat Auw yang Khia, wajahnya berubah seketika.

"Ahaaaa, kau si bangsat tua juga berada disini!!"

Katanya.

"It Tim, kau boleh datang, mengapa aku Auw-yang Khia tidak?"

Jawab Auw-yang Khia sambil ketawa.

"Bangsat Auw yang Khia turut campur tangan dalam urusan Ngo-kui-khio. Kalajengking emas pasti sudah hilang. Jiewie sutee, kita sekali kali jangan membiarkan mereka lolos!"

Berseru si imam berambut putih.

"Hal ini, kalian tak usah banyak kuatir. Kalau tidak kami berikan sedikit pelajaran kepada kalian, tentunya kalian tidak tahu kami ini siapa!"

Lim Kheng ikut bicara sambil ketawa, lalu membuka kipasnya dan menyerbu kedalam kalangan pertempuran.

Ho Khie dengan seorang diri saja melawan tiga orang itu masih tidak kalah, apa lagi sekarang mendapat bantuan Lim Kheng, terang Imam-imam itu merasa kewalahan.

It Tim Tojin yang lompat keluar dan menghadapi Auwyang-Khia, kelihatannya Auw yang-Khia yang dengan tangan kosong melawan pedangnya si imam, sudah mulai keteter.

Ho Kie yang pikrrannya selalu mengingat kepada Toan theng Lojin, tidak mau membuang tempo melayani para imam itu, maka ia lantas lompat mundur dan berkata kepada lawannya.

"Kita masih mempunyai urusan penting, tidak ada waktu untuk melayani kalian. Kalau kalian masih tidak tahu diri, jangan sesalkan aku nanti berlaku telengas."

"Hari ini kalau kalian tidak menyerahkan itu kalajengking emas, jangan harap kalian bisa pergi dari sini!"

Jawab seorang imam. Ho Kie jadi mendongkol, lalu berkata sambil kertek gigi.

"Baik! Tuan mudamu nanti kasih kau sedikit rasa!"

Lalu ia mengeluarkan ilmu serangannya yang paling hebat.

Tay shio Kim kong khiang, menyerang iman tadi.

Imam itu merasa kaget, dengan cepat taruh pedangnya di belakang sikut, telapakan tangan kanannya dipakai untuk mendorong-Ia menggunakan 100% kekuatannya bertekad hendak menyambuti serangan Ho Kie!!

Kedua lawan terpisah cuma kira-kira 3 kaki, begitu angin dari kekuatan kedua pihak beradu lalu terdengar suara benturan keras .

Si imam merasakan dadanya seperti tertindih barang berat, seketika itu badannya lantas mundur sempoyongan sampai 4 tindak dan mulutnya menyemburkan darah segar.

It Tim Tojin yang menyaksikan keadaan demikian, segera meninggalkan Auw-yang thia lompat memburu sambii melintangkan pedangnya untuk melindungi dirinya sang sutee.

"It Siu sutee, kau rasakan bagaimana?"

Ia bertanya dengan gugup. It Siu Tojin gelengkan kepalanya, menjawab.

"Bocah itu ada mempunyai tenaga gaib. Tadi, ketika aku menyambuti dengan kekerasan, serangannya seperti menembus kedalam dadaku. Sekarang dadaku rasanya seperti tergoncang hebat."

It Tim Tojin yang berambut putih itu, hampir berdiri semua rambutnya, badannya bergemetaran. Dengan mata mendelik ia mengawasi Ho Kie.

"Bocah, perbuatanmu agak sedikit telengas!"

Katanya dengan suara dingin.

Imam ini merupakan salah seorang imam terkuat dari golongan Hoa-san-pay.

Baik ilmu pedangnya, maupun kekuatan Iweekangnya, semua sudah mencapai kepuncaknya kesempurnaan.

Kekuatan tenaga dalamnya, diantara murid-murid Hoa san-pay, ia hanya berada dibawah ketua dan Hoa-san-pay Tian Hian Totiang.

Kali ini, menghadapi Ho Kie, merasa tidak mudah merebut kemenangan, maka ia tidak berani memandang ringan lagi.

Ho Kie juga tidak berani berlaku sembrono lagi.

ia lalu mengeluarkan ilmunya Ho-kut-hian-kang, sambil memutar kakinya, sebentar saja sudah berada dibelakangnya It Tim Tojin.

It Tim Tojin yang mengirim serangannya, telah kehilangan sasarannya dari dibelakangnya dengan mendadak ada satu tangan yang menotok jalan darahnya Yu-hong bu-hiat.

Bukan main kagetnya It Tim Tojin, cepat-cepat ia membungkukkan badannya, kaki kanannya melangkah maju, pedangnya lalu membalik membacok lawannya.

Diserang secara demikian, mau tidak mau Ho Kie lantas urungkan serangannya.

Dengan cepat It Tim Tojin sudah membalikkan badannya untuk menghadapi Ho Kie.

Tetapi, ketika ia memutar tubuhnya, Ho Kie ternyata sudah menghilang lagi dari depan matanya.

It Tim Tojin dibikin terkejut lagi, tengah ia merasa terheran-heran, kembali jalan darah Hong ga hiat-nya sudah diserang lawan.

Ilmu Ho kut hian kang ini hanya terdapat didalam kitab pelajaran ilmu silat Hian kui pit kip,

Jilid ketiga, maka Lim Kheng sendiripun yang menyaksikannya tidak mengenalnya.

Beberapa jurus telah berlalu, It Tim Tojin sudah mulai kewalahan benar-benar.

Pedangnya teruskan menyapu kebelakang, tetapi selalu saja mengenakan tempat kosong.

Selagi dalam keadaan bingung itu, mendadak terdengar suara tertahan, kemudian disusul oleh meluncurnya sesosok bayangan yang menyambar padanya........

Dengan tidak banyak pikir lagi, It Tim Tojin lantas mengayun tangannya, sehingga bayangan orang lantas terlempar jatuh ditanah, kemudian disusul oleh suara ketawanya Lim Kheng cekikikan.

"Iman tua!! Ini adalah kau sendiri yang turunkan tangan kejam. Kau tidak boleh sesalkan aku...."

Kata Lim Kheng.

Ketika pertama kali Ho Kie menggunakan kepandaian menghadapi Lim Kheng, dua kali ia telah menggunakan ilmunya Hian-kui-cap sha-sek-na-cjhiu, tetapi tidak berhasil, maka dalam hatinya lantas menganggap bahwa apa yang dipelajarinya itu tidak begitu hebat seperti apa yang dikiranya semula.

Siapa kira, kali ini menggunakan ilmu Hu-kui-thian-kangnya kelihatannya ada begitu hebat, sampai lawannya kerepotan.

Karena ilmu ini se-olah-olah kutu yang melekat ditulang, sekalipun memutar kemana saja, tidak bisa terlepas.

It Tim Tojin terperanjat, ketika ia mengawasi orang yang terpental jatuh tadi ternyata adalah suteenya sendiri, It Beng Tojin.

Pada saat itu, It Beng Tojin menutup matanya, napasnya lemah, ia telah dihajar pingsan oleh tangan suhengnya sendiri.

It Tim Tojin dalam pikiran kalut, pundak kirinya telah kena terhajar oleh Ho Kie, Ia mundur sempoyongan sampai lima tindak.

separuh badannya dirasakan mati kaku, sehingga pedangnya terlepas dari tangannya.

It Tim Tojin yang mempunyai nama juga didalam kalangan Kang-ouw, hari itu dalam tempo sekejap saja sudah terjungkal ditangannya dua anak muda, membuat nama baiknya Hoa-san-Sam-kiam seketika itu, menjadi guram, Ia sangat berduka, beberapa kali ia menghela napas menantikan kematiannya.

Ho Kie yang sudah merasa gemas terhadap imam tua itu, sudah mengangkat tangan kanannya hendak menepok batok kepala It Tim Tojin.

Mendadak terdengar suara orang berseru ;

"Ho Siaohiap jangan!"

Ho Kie tercengang, ia menarik kembali tangannya. Pada saat itu, Auw-yang Khia tampak sudah menghadang didepannya.

"Hoa-san-pay merupakan partay dari golongan orang baik-baik dalam rimba persilatan. Dengan mereka kita tidak mempunyai permusuhan apa-apa. Oleh karena kejadian ini disebabkan kesalahan paham, sebaiknya Ho Siaohiap ampuni jiwa mereka."

Demikian kata Auw-yang Thia.

"Baiklah! Dengan memandang muka auw yang Losu, hari ini aku ampuni jiwa kalian. Hayo lekas pergi!!"

It Tim Tojin merasa sangat malu, Karena kedua suteenya sudah terluka parah, maka dengan menahan malu ia memondong kedua Suteenya. Sebelum berlalu ia masih berkata dengan penasaran .

"Pinto hari ini mengaku kalah. Tetapi untuk selanjutnya Hoa-san-pay akan bermusuhan dengan kalian. Apakah kalian berani meninggalkan nama?"

Ho Kie tertawa dingin.

"Aku she Ho nama Kie, kalau kau merasa tidak puas dikemudian hari kau boleh cari aku saja."

"Lambat, atau cepat, Hoa-san pay pasti akan membuat perhitungan dengan kalian!"

Berkata It Tim Tojin pula, yang lantas berlalu meninggalkan musuh-musuhnya.

Setelah imam itu berlalu, Ho Kie mengajak Auw-yang Khia melanjutkan perjalanannya.

Hari itu, mereka tiba disebuah kota kecil.

Karena cuaca sudah mulai gelap, hati Ho Kie amat cemas, maka dia lalu bertanya kepada Auw yang Khia .

"Apa kau ingat benar dan tidak salah jalan?"

"Nama tempat itu, meskipun aku tak mengetahuinya, tetapi jalanan ke tempat itu harus melalui jalanan puncak gunung Tay pek san sebelah selatan, Ini tidak bisa salah lagi"

Jawab Auw-yang Khia.

"Tay pek san masih berapa jauh dari sini?"

"Kalau kita dapat jalan cepat, tiga hari saja. rasanya sudah sampai."

"Kalau begitu, kita terburu buru juga tidak ada gunanya. Lebih baik malam ini kita bermalam disini, besok baru melanjutkan perjalanan kita."

Mereka lalu mencari rumah penginapan. Apa mau dalam kota itu hanya ada satu rumah penginapan dan tempatnyapun hanya ada dua buah kamar kosong. Auw yang Khia lantas berkata secara bergurau .

"Untuk satu malam saja, biarlah kita tidur berdekatan. Dua kamar juga rasanya sudah cukup,"

"Aku mau sendirian, kalian boleh berdua dalam satu kamar."

Lim Kheng nyeletuk. Ho Kie lantas berkata sambil tertawa "Lim-heng, mengapa kau tidak mau tinggal sama-sama satu kamar dengan aku saja, supaya kita bisa mengobrol untuk melewatkan sang malam."

Mendadak Lim Kheng merasa jengah dan kelihatan dimukanya, agaknya merasa tidak senang. Tetapi kemudian ia dapat menindas perasaannya sendiri dan menjawab sambil ketawa .

"jangan salah mengerti, aku mempunyai semacam penyakit. Aku harus tidur sendiri, baru bisa pulas"

"Tadi aku katakan juga untuk melewatkan waktu. Justru kalau tidak bisa tidur, Kita bisa mengobrol satu malaman."

"Siapa mau mengobrol dengan kau. Tadi malam aku sudah tidak tidur dan besok masih melanjutkan perjalanan."

"Orang seperti kita sudah cukup dengan duduk semedi sebentar saja, Dua tiga hari tidak tidur juga tidak menjadi soal."

Lim Kheng kewalahan sampai tidak bisa menjawab lagi, sehingga akhirnya ia terima tinggal satu kamar dengan Ho Kie.

"Kau tidurlah sendiri, aku menyender dikursi saja sudsh cukup."

Kata Lim Kheng telah berada dalam kamar.

Ho Kie melihat sikap Lim Kheng yang kemalu maluan, dugaannya semakin kuat bahwa kawannya ini adalah seorang wanita yang menyaru sebagai pria, tetapi masih berlagak pilon.

"Ini mana boleh,"

Katanya.

"Kau dengan aku sudah seperti saudara saja. Kalau kau suruh aku tidur sendiri ditempat tidur, aku juga tidak akan dapat tidur pulas. Sebaiknya kita sama-sama saja!"

"Aku tiba-tiba telah mengingat satu pelajaran ilmu Iweekang. Diwaktu sunyi nanti aku akan mencoba melatih dan kau jangan mengganggu aku."

"Kalau begitu terpaksa aku menurut. Sebaiknya setelah Lim heng menyelesaikan pelajaranmu, boleh naik saja dipembaringan."

Lim Kheng menyahut dengan sembarangan, lantas duduk dikursi.

Apakah betul Lim Kheng melatih ilmunnya?

Tidak.

Ia hanya pejamkan mata, tetapi hatinya dak dik duk tidak keruan.

Setelah Ho Kie meaggeros, diam-diam ia membuka matanya melongok kepembaringan.

Ketika menyaksikan kecakapan Ho Kie dalam hati diam-diam berpikir.

Pemudia ini, baik wajahnya maupun kelakuannya sungguh tidak tercela.

Apalagi dia juga murid Toan-theng lodin.

Dipandang dari kelakuannya atau kepandaiannya, cukup pantas untuk menjadi jodohku, tapi....

Tapi apa?

Ia sendiri tidak mampu meneruskan katakatanya.

Ia cuma merasa kalut pikirannya hampir tidak mamu mengendalikan.

ooo0dw0ooo TIBA -TIBA DARI MULUT Ho Kie mencetuskan perkataan .

"Lim Kheng, kau lagi ngapain?"

Lim Kheng terperanjat, kembali pejamkan matanya. Ia kira Ho Kie telah mengetahui perbuatannya. Tapi kemudian terdengar suaranya pula ;

".....Suhu.....suhu....kau sungguh tidak beruntung....ai...."

Lim Kheng baru merasa lega, kiranya anak muda itu sedang mengigo.

Ia membuka matanya pula, ketika melihat wajah Ho Kie yang nampaknya berduka, dalam hati lalu berpikir.

anak ini sungguh mengenal budi, dengan Toan-theng Lojin ia tidak mempunyai hubungan guru dengan murid, tapi mendengar orang tua itu dalam bahaya, hatinya lantas gelisah begitu rupa.

Selagi melamun, Lim Kheng dengar suara Ho Kie pula .

"Lim-heng......Lim-heng!"

Lim Kheng terkejut, tapi Ho Kie tidak melanjutkan perkataannya.

Hatinya Lim Kheng berdebaran, pikirnya, dia dengan aku belum erat perhubungannya mengapa dalam mimpinya dia menyebut nyebut namaku?

tiba-tiba ia dengar suara Ho Kie pula .

"Lim heng, ah, aku lihat kau agak mengherankan......"

Lim Kheng betul-betul terkejut, hampir lompat dari kursinya, wajahnya berubah seketika. Pikirnya . apakah dia sudah tahu rahasiaku? Sebentar kemudian kembali ia dengar suara Ho Kie .

"Adik...."

Dan sebentar pula memanggil "Enci......"

Lim Kheng mulai bingung. Entah siapa yang dimaksud dengan adik dan enci itu. Apakah ia sudah mempunyai kenalan seorang wanita? "

Mengingat sampai disitu, agaknya ia merasa terharu, maka dengan tidak dirasa, dengan gemas ia lantas berseru .

"Hmmmm......"

"Lim Heng kau, kenapa?"

Lim Kheng membuka matanya, melihat Ho Kie sedang mengawasi padanya dengan mata terbuka lebar. Lim Kheng gugup, buru-buru ia memejamkan matanya lagi.

"Lim Kheng, aku tadi dengar kau seperti sedang gusar kepada seseorang, Siapa dia?? "

Tanya Ho Kie sambil ketawa. Wajah Lim Kheng mendadak berubah merah, sambil tundukkan kepalanya ia bicara dengan suara perlahan.

"Perlu apa kau mau ketahui rahasia orang?"

"Aku bukannya mau tahu rahasia orang, aku tanya karena kau aku dikejutkan dari mimpiku. Tadinya aku mengira tengah melatih ilmumu, sehingga keluarkan rintihan"

Perkataan HO kie itu membuat Lim Kheng berdebaran.

"Bohong!"

Katanya sambil ia kerlingkan matanya yang bagus.

Ho kie jadi ketawa bergelak.

Suara ketawa itu telah mengejutkan Auw yang khia yang berada dilain kamar.

Orang itu kucek-kucek matanya, sambil geleng-gelengkan kepalanya ia berkata seorang dari .

"Dasar anak muda, lagi senang, tidak perduli tengah malam buta juga bisa ketawa begitu keras........"

Gunung Tay pek san yang mempunyai banyak puncak yang tinggi-tinggi, kelihatan berdiri megah diantara gumpalan awan.

Dibawah kaki gunung itu ada berjalan tiga orang yang sedang mendaki melalui jalanan yang berliku liku.

Mereka itu adalah si pencuri sakti Auw yang Khia, si baju putih Lim Kheng dan Ho Kie yang hatinya sangat berduka.

Ketika tiba ditengah tengah gunung, Auw-yang Khia menghentikan tindakan kakinya, kelihatan berdiri sejenak memeriksa keadaan, lalu berkata kepada kedua kawannya .

"Jalanan yang kita lalui sedikitpun tidak salah. Aku masih ingat dengan jelas, ketika aku turun gunung, aku pernah melalui itu tebing tinggi. Cari sini keatas kira kira berjalan lagi setengah hari, kita bisa sampai kegoa tempat Toan theng Lojin menyembunyikan dirinya."

Ho Kie hanya menganggukkan kepalanya, matanya memandang keadaan disekitarnya lalu berkata dengan suara sedih.

"Tempat ini keadaaanya begitu menyedihkan, rupanya jarang didatangi manusia. Entah bagaimana dia seorang tua bisa datang kemari?"

"Sebetulnya gunung Tay-pek-San ini, ke selatan bisa menembus ke Hut-peng, ke Utara dengan melalui Kok-koan bisa sampai dikota Cao toan. Kadang-ada juga tukang kayu yang sampai keatas gunung, tidak sesunyi seperti apa yang kau duga. Hanya saja, goa yang didiami Toan-theng Lojin, keadaannya agak terpencil sendiri"

Berkata Auw-yang Khia sambil tertawa.

"Mudah-mudahan orang tua itu tidak mendapat halangan apa-apa."

Berkata Ho Kie sambil ketawa getir.

"Kau jangan memikiri yang bukan-bukan. Dia si orang tua, meskipun terkena racun, tetapi kekuatannya belum tentu musnah. Kalau tidak, bagaimana dia bisa lolos didalam gunung ini sampai setahun lebih?"

Berkata Lim Kheng.

Ho Kie diam-diam anggukkan kepala, Ia mengikuti Auw-yang Khia terus mendaki gunung.

Kelihatannya orang tua itu jarang mengunjungi gunung ini, maka berjalan belum lama sudah berhenti untuk mengenali atau, mengingat-ingat jalanannya.

Dengan demikian maka perjalanan mereka itu sangat lambat, Sepanjang jalan itu Ho Kie yang kelihatannya paling gelisah.

Ia tidak berani membayangkan bagaimana keadaan orang tua Toan-theng Lojin itu yang pada dua tahun berselang pernah memberikan pelajaran ilmu silat padanya.

Apa ia masih mengenakan pakaian Hitam putih yang aneh itu?

Apakah ia masih tetap suka menghela napas?

Apakah sorot matanya yang hijau masih tetap berpengaruh seperti dulu?...-.

Bermacam-macam pertanyaan itu telah mengaduk didalam otaknya.

Pada saat itu, ia benar-benar sudah ingin lekas-lekas menemui orang tua yang pernah melempar budi padanya itu.

Meskipun ia membawa benda Kalajengking emas untuk memunahkan racun, tetapi apakah benda itu dapat menyembuhkan lukanya juga masih merupakan pertanyaan, Makin dekat pada tujuannya, pikirannya dirasakan makin gelisah.

Setelah melalui baberapa puncak gunung, matahari keiihatan sudah mendoyong ke barat.

Mendadak Auw-yang Khia menghentikan tindakan kakinya, matanya mengawasi suatu tempat yang letaknya kira-kira sepuluh tumbak lebih jauhnya, Sikapnya tiba2 berubah, mulutnya mendumel sendiri.

"Eh, Kenapa salah?"

Ho Kie terperanjat lalu bertanya dengan cemas .

"Salah bagaimana?"

"Aku masih ingat betul, ketika aku berlalu, tatkala aku berjalan sampai ditempat ini, aku pernah menoleh mengawasi padanya. Dari sini menengok keatas, masih bisa melihat setengah badannya......Tetapi, kenapa......goa itu sekarang kelihatannya seperti kosong?"

Ho Kie berdebaran hatinya, dengan tidak dirasa ia telah menyambar lengannya Auw-yang Khia seraya bertanya .

"Bagaimana, dimana?? Dimana adanya goa?"

"Disana, Dibawah batu batu gunung."

Jawab Auw yang Khia sambil menunjuk kesebuah batu gunung menonjol yang letaknya beberapa puluh tumbak jauhnya.

Ho Kie memasang matanya.

benar saja, dibawah itu batu gunung terdapat sebuah mulut goa, tetapi kelihatan kosong, tidak kelihatan bayangan manusia.

Dalam cemasnya, ia lalu mendorong diri Auw yang Khia sampai orang tua itu hampir jatuh tergelincir.

Lim Kheng lalu berseru kaget .

"Saudara Ho...."

Ho Kie sudah melesat terbang laksana burung, sebentar saja kelihatan orangnya sudah berada dimulut goa yang ditunjuk Auw yang Khia.

Dimulut goa itu benar kosong, tidak kelihatan bayangan Toan theng Lojin.

Auw yang Khia pernah mengatakan bahwa orang tua itu badannya sudah kena racun.

Sudah setahun lebih tidak bisa bergerak, tetapi kenapa sekarang bisa mendadak menghilang?

Pertanyaan itu selalu mengaduk didalam otak Ho Kie.

Ketika ia memeriksa lebih jauh keadaan dalam goa itu, Ho Kie terperanjat, karena di situ terdapat banyak tanda darah.

Bagaimana nasibnya orang tua itu?

Ini masih merupakan suatu pertanyaan besar.

Tetapi hatinya Ho Kie sudah hancur luluh.

Ia buru-buru masuk kedalam goa sembari berseru.

"Lociaapwe!! Locianpwe !"

Tetapi hanya suaranya saja yang berkumandang sebagai jawabannya.

Hatinya penuh dengan rasa kuatir, ia berdiri bengong dengan tubuh menggigil.

Pada saat itu Lim Kheng dan Auw yang Khia juga sudah tiba dimulut goa.

Lim Kheng melihat Ho Hie sudah masuk kedalam goa, lantas berseru .

"Saudara Ho hati-hati kalau didalam ada orang bersembunyi."

"Tidak apa. Goa ini tidak terlalu dalam,"

Kata Auw-yang Khia, Selagi mereka berbicara, Ho Kie tampak keluar dari dalam dengan tindakan lesu sambil kertak gigi.

"Bagaimana? Apa dia seorang tua ada di dalam?"

Lim Kheng bertanya.

Ho-Kie tidak menjawab, seperti yang hilang ingatannya setindak demi setindak keluar dari dalam goa.

Lim Kheng terperanjat, buru-buru menyambar tangannya dan bertanya dengan suara keras .

"Bagaimana, apa dia tidak ada didalam goa?"

Ho Kie geleng-geleng kepala, kemudian menjawab dengan suara perlahan .

"Didalam goa tidak ada orang. Dia....... dia, siorang tua pasti sudah diketahui oleh orang-orang Hian kui kauw, dan dibikin-celaka oleh mereka..."

"Kau jangan berkata sembarangan. Kau tidak melihat sendiri, bagaimana kau sudah tahu kalau dia mendapat kecelakaan?"

Kata Lim Kheng.

"Kau lihat!! Darah ini adalah darahnya yang mengalir dari badannya...."

Berkata Ho Kie sambil menunjuk darah yang bercecer ditanah.

"Ho Siaohiap jangan menduga sembarangan, tanda darah ini adalah bekas dia si orang tua, ketika membunuh burung-burung untuk santapannya ..."

Berkata Auw yang Khia,. Siapa nyana, belum lagi habis ucapannya, Ho Kie mendadak mendelikkan matanya dan lantas tangannya menyambar pergelangan tangan Auw-yang Khia dan berkata dengan suara bengis .

"Mengapa kau tinggalkan, padanya seorang diri didalam goa ini? Mengapa kau tidak membawa dia berlalu dari sini,......... Ini adalah kau yang telah mencelakakan dirinya. Kau yang membunuh dia...?"

Setelah berkata demikian, Ho Kie lantas mengayun tangan kanannya hendak menghajar kepala Auw yang Khia.

Sekalipun Auw yang Khia mempunyai seratus mulut, pada saat itu tentu tidak bisa membantah.

Karena pergelangan tangannya sudah tercekal, ia sudah tidak berdaya lagi, maka terpaksa ia hanya dapat menghela napas untuk menantikan kematiannya .....

Justru saat itu Lim Kheng maju menghalangi .

"Saudara Ho, kau hendak berbuat apa?"

Ia bertanya.

"Aku hendak membunuh dia untuk mengganti jiwa Toan theng Lojin."

Jawab Ho Kie beringas. Lim Kheng yang mendengar itu, merasa jengkel dan geli sendiri.

"Sungguh kecewa"

Katanya, Kau membunuh dia, menganggap dirimu sebagai seorang gagah.

Saudara Hokau harus ingat, ketika Toan-theng Lojin mendapat kecelakaan, Auw-yang Losu dengan menempuh segala bahaya telah mencari obat pemunah racunnya, Secara kebetulan telah memberikan kabar padamu yang kemudian membawa kau kemari untuk memberikan pertolongan.

Kesemuanya ini, apakah ada yang dibuat salah oleh Auw yang Losu?"

"Meskipun dia tidak membunuh Toan-theng Lojin, tetapi mengapa dia membiarkan orang yang sudah terkena racun itu berdiam sendiri dan didalam goa sesunyi ini sampai dia telah diketemukan oleh musuh-musuhnya ?"

"Sebelum diketemukan oleh Auw-yang Losu, bukanlah Toan-theng Lojin berdiam sendiri disini sudah setahun lebih lamanya? Jikalau pada saat itu ada kejadian apa-apa, kau harus menyalahkan kepada siapa?"

Ho Kie yang mendapat pertanyaan demikian, seketika itu lantas bungkam. Lama ia berdiam, dalam keadaan itu kemudian ia melepaskan tangannya Auw-yang Khia. Sambil memesut air matanya ia berkata .

"Kalau begitu, adalah aku yang telah mencelakakan dirinya si oraag tua. Mengapa aku tidak bisa datang lebih cepat....?"

"Diantara kata siapapun tidak ada yang salah. Kalau dia binasa, cuma kaucu Hian-kui kauw yang dapat membinasakan dirinya."

Berkata Lim Kheng. Ho Kie lompat dan berkata dengan suara beringas.

"Benar! Kita harus segera ke Kui-kok mencari padanya!"

Sehabis berkata lalu kabur turun gunung, sekejap saja ia sudah berada 10 tumbak lebih jauhnya. Lim Kheng segera keluarkan ilmunya lari pesat dengan cepat sudah dapat menyusul.

"Kau hendak kemana ?"

Tegurnya.

"Aku mau pergi ke Kui-kok untuk menolong Toan-theng Lojin."

Lim Kheng merasa geli, sambil menghela napas ia berkata .

"Siaoyaku, Kui-kok terpisah dari sini tokh bukan cuma beberapa puluh kaki saja. perlu apa kau demikian tergesagesa? Marilah kita pikirkan dulu daya upaya dengan tenang dan yang paling sempurna."

Ho Kie yang sudah kalut pikirannya, tat-kala mendengar Lim Kheng lantas melongo.

"Apa yang harus kita pikirkan lagi? Paling betul kita segera pergi ke Kui-kok supaya bisa lekas-lekas menolong jiwanya siorang tua ,....."

Lim Kheng agak jengkel, ia berkata sambil ketrukkan kakinya .

"Aih! Kau ini bagaimana sih... ?"

Ia hentikan ucapannya, matanya celingukan.

"Eh, kemana dia?"

"Siapa? Kau maksudkan siapa yang pergi?"

Tanya Ho Kie heran.

"Celaka, bagaimana dalam waktu sekejapan saja, Auwyang Khia losu sudah menghilang?"

Mendengar jawaban itu Ho Kie terperanjat, ia menengok kearah belakang, benar saja Auw-yang Khia sudah tidak kelihatan bayangannya!

Kepandaian Ho Khie dan Lim Kheng semuanya didapatkan dari kitab ilmu silat Hian-kui-pit-kip boleh dikatakan sudah termasuk jago kelas satu didunia Kangouw, tetapi bagaimana sampai menyingkirkannya Auwyang Khia saja tidak diketahuinya?

Ini benar-benar aneh.

Mendadak wajah Ho Khie berubah.

Dengan, cepat ia mencari ditempat-tempat sekitarnya, tetapi hasilnya nihil semua, maka ia lantas berkata dengan suara gusar.

"Jangan-jangan si bangsat tua memancing kita kemari dan mempunyai lain maksud,"

Setelah berpikir sejenak. Lim Kheng lantas menjawab sambil gelengkan kepala .

"Rasanya tak mungkin. Kalau dilihat dari sikapnya, tidak bisa jadi dia hendak menipu kita."

"Kalau begitu, mengapa dia berlalu secara diam-diam?"

Mendadak Lim Kheng seperti ingat sesuatu "Celaka"

Serunya.

"Coba kau lihat, itu kalajengking emas apa masih ada?"

Ho Kie merogoh sakunya, seketika itu lantas pucat wajahnya.

"Bagaimana? masih ada atau tidak?"

Tanya Lim Kheng pula, Dari dalam sakunya Ho Kie mengeluarkan sebuah benda, tetapi benda itu bukannya kotak emas yang berisikan kalajengking emas, melainkan sepotong papan hitam yang kira-kira tiga Khun besarnya.

Lim Kheng lalu memeriksa papan itu, ternyata hanya sepotong papan biasa warna hitam diatasnya ada terlukis tiga tangan orang yang disusun menjadi bentuk tiga segi.

Selain dari itu kelihatan juga empat huruf kecil yang berbunyi "Biauw Khiu Kong Kong."

"Tidak nyana, benar dia telah mengambilnya."

Kata Lim Kheng sambil menghela napas.

"Bangsat tua itu memang bukan orang baik-baik tentunya dia inginkan benda pusaka itu, maka lantas mengarang cerita bohong demi menipu kita datang kemari, lalu mencari kesempatan untuk turun tangan. Mari lekas kita kejar."

Kata Ho Kie dengan gusar, Lim Kheng berpikir sejenak, baru menjawab.

"Meskipun benda pusaka itu betul dia yang mencurinya, tetapi kelihatan apa yang dikatakan olehnya belum tentu dusta."

"Apa kau masih tetap percaya akan obrolannya?"

"Menurut pikiranku, dia bisa menyebutkan namanya Toan-theng Lojin serta dapat melukiskan wajahnya si orang tua, sudah tentu bukan bohong. Dia rupanya merasa tidak enak dirinya dipersalahkan dan kau suruh dia mengganti jiwa Toan-theng Lojin, maka dalam keadaan gusarnya dia lantas kabur sambil membawa lari benda pusaka itu."

"Kalau dugaanku tidak keliru dia tentu pergi ke Kuikok."

"Apa iya?"

Ho Kie kaget.

"Kalau begitu mari kita kejar !"

"Betapapun cepatnya dia lari, aku yakin dia tidak nanti bisa lebih cepat dari kita. Tapi lebih lebih dulu aku perlu nasehat padamu, setelah kita berhasil menyandak dia sekali kali kau jangan timbulkan urusan lagi. Sebaiknya kita berunding secara tenang untuk pergi ke Kui kok."

"Sekarang kita jangan bicarakan soal itu dulu. Paling penting kita kejar dia dulu."

Kata Ho Kie sambil anggukanggukkan kepala, Kemudian lalu mengajak kawannya itu lari kebawah gunung.

Dalam hal ilmu lari pesat, kedua pemuda itu sama-sama mahir, maka dalam waktu sekejap saja, mereka sudah mencapai perjalanan dua puluh lie lebih.

Lim Kheng bermata tajam.

Didalam sebuah rimba pohon cemara yang jauhnya kira-kira sepuluh tumbak lebih, agaknya dapat melihat berkelebatnya sesosok bayangan manusia maka ia lalu memberitahukan kepada Ho Kie apa yang telah dilihatnya.

Ho Kie lalu lari menuju ketempat yang ditunjukkan Lim Kheng, Benar saja.

bayangan orang itu sudah lari menyeberangi sebuah sungai kecil.

Ho Kie dan Lim Kheng dengan cepat mengejarnya, sebentar kemudian mereka sudah berada didepan rimba.

Lim Kheng yang pertama bergerak, ia lompat melesat menyeberangi sungai kecil itu.

Selagi masih berada ditengah udara, matanya sudah.

dapat melihat bahwa orang itu sedang lari memutari sebuah bukit secara tergesa-gesa, maka ketika ia turun diseberang sana, lalu berkata kepada Ho kie.

"Kau jangan ribut. Kau boleh mengintai dibelakang dan aku akan mencegat dari depan."

Ho Kie anggukkan kepala, maka ia lantas mengejar dengan cepat.

Maksudnya Lim kheng menyuruh Ho Kie yang mengejar dan ia sendiri yang akan mencegat didepannya, itu hanyalah untuk mencegah supaya Ho kie jangan turun tangan melukai Auw Yang khia yang kelihatannya masih sangat mendongkol terhadap orang tua itu.

Siapa sangka, karena dalam diri Ho kie sudah mendapat warisan ilmu Toan-theng lojin, maka dalam hal ilmu lari pesat dan kekuatan tenaga Iweekang sebetulnya ia masih berada diatas Lim kheng.

Maka tatkala kedua orAng itu berpencaran, dengan cepat sekali Ho Kie sudah tiba dibelakangnya batu gunung.

Ia sudah benci sekali terhadap Auw-yang Khia yang sudah mencuri kalajengking emasnya, maka kali ini ia sudah bertekad tidak akan melepaskan padanya begitu saja.

Begitu melesat, setelah melalui sebuah batu gunung, dengan tidak melihat lagi siapa orangnya, ia lantas angkat tangannya menyerang belakang orang itu.

Sesudah turun tangan, ia baru membentak dengna suara keras.

"Bangsat tua, kau mau lari kemana?"

Meskipun ia hanya menggunakan tiga bagian dari kekuatannya, tetapi sambaran angin serangannya cukup hebat.

Orang itu karena sedang lari dan tidak berjaga-jaga, maka serangan Ho kie telah mengenai sasarannya dengan telak.

Setelah mengeluarkan seruan kaget, orang itu telah dibikin terpental dan setelah jungkir-balik ditengah udara lantas jatuh ngusrak setumbah lebih jauh.........

Ho Kie segera nunyusul, tetapi apa yang dilihatnya telah membuat kesima.

Kiranya tidak jauh dari tempat itu yang tadinya kealingan oleh batu gunung, ternyata tebing jurang yang sangat dalam, dan orang yang jatuh tadi hampir menggelinding kebawah jurang.

Ho Kie merasa menyesal atas perbuatannya, tetapi pada saat itu, karena terpisah agak jauh ia tidak berdaya menolong diri orang tersebut.

Mendadak kelihatan berkelebatnya bayangan putih bayangan itu ternyata adalah bayangan Lim kheng yang tibanya pada saat yang tepat.

Karena ia mengambil jalan memutar, maka Ho Kie sudah muncul duluan.

Ketika menyaksikan orang itu dibikin terpental, ia lantas menyambar dengan tangannya.

tetapi badan orang itu ternyata sangat berat, sehingga hampir saja ia sendiri ikut menggelinding kedalam jurang.

APA MAU,selagi ia hendak menegur Ho kie, orang itu mendadak membentuk keras dan menyerang perut Lim Kheng sembari berseru.

"Anak kurang ajar. Kau berani membokong orang tuamu?"

Karena kejadian itu secara mendadak, Lim kheng juga tidak menyangka orang itu berani menyerang padanya, maka dengan cepat ia melepaskan tangannya dan melompat mundur.

Tetapi baru saja ia melewatkan serangan pertama, serangan kedua sudah menyusul.

Lim Kheng berkelit ke samping ketika ia menegasi, baru tahu kalau itu bukan nya Auw yang Khia, melainkan seorang laki-laki bermuka hitam dan berbadan tegap.

Dalam kagetnya, ia lantas menyabut kipasnya seraya berkata.

"Tahan! kau siapa?"

Laki-laki hitam itu mendelikkan matanya, lantas keluarkan senjatanya berupa pecut baja yang sangat berat. Ia memaki-maki Lim Kheng sambil menuding-nuding.

"Bocah busuk! kau sudah memukul orang, sekarang masih berani menggunakan senjata? Sekarang orang tuamu ingin mencoba-coba kepandaianmu beberapa puluh jurus saja."

Pada saat itu, Ho kie juga sudah dapat melihat tegas orang itu dan sudah mengetahui kalau ia sudah kesalahan tangan, maka buru-buru ia menghadang didepannya orang itu sambil berseru.

"Saudara. Perkenalkan dulu kau siapa?"

Bukan main gusarnya laki-laki hitam itu, ia membentak dengan sengit.

"Kurang ajar! Siapa adanya orang tua mu juga tidak kau kenali, dan toh kau berani lancang turun tangan."

"Justru, kesalahan lihat, maka dengan tidak sengaja aku telah melukai kau"

Kata Ho kie sambil ketawa.

"Kentut! kesalahan lihat orang, apa kau sudah cukup dengan begitu saja?"

Lim Kheng yang menyaksikan orang itu sangat kasar, dalam hatinya juga merasa sangat mendeluh, maka lantas turut nyeletuk.

"Dia kesalahan tangan memukul kau, memang tidak seharusntya, tetapi aku turun tangan menolong kau menarik dirimu dari pinggir jurang, mengapa kau lantas memukul aku?"

Laki-laki itu delikkan matanya.

"Aku perduli apa itu semuanya? Kalian adalah merupakan satu kelompotan, satu pun tidak kuberi keampunan!"

Katanya dengan tembereng.

"Manusia yang tidak tahu adat! Beritahu kan namamu supaya aku bisa memberikan hajaran kepadamu!"

Kata Lim Kheng gusar.

"Bocah busuk! Kau mau tahu nama orang tuamu? Rasakan dulu lima puluh pecutan ini!"

Orang itu berkata sambil mainkan pecutnya, tangan kirinya menotok dada dan pecut ditangan kanannya membabat pinggang Lim Kheng.

Serangan itu hebat dibarengi dengan menderunya angin keras, nyata seklai kalau tenaga orang itu sangat besar., Menyaksikan serangan yang sangat hebat itu Lim Kheng tidak berani menggunakan kegesitannya, ia hanya menggunakan kegesitannya, berkelit dan lompat kebelakang orang itu.

Ketika serangannya mengenakan tempat kosong, sihitam melongo.

"Bocah busuk, kau licik!"

Ia memaki Lim Kheng dengan sengit, lalu menyerang kembali dengan sangat gencarnya.

Lim Kheng sangat gesit gerakannya, dengan secara lincah pula ia dapat menghindarkan tiap-tiap serangan sihitam.

Ketika ia mendapat kesempatan, kipasnya lantas mengetok pundak kirinya orang itu.

Kipas itu adalah barang yang ringan, tetapi dalam tangannya Lim Kheng, ketokan itu berarti sedikit beratnya ratusan kati.

Siapa sangka, keMka serangannya itu mengenakan sasarannya dengan telak, orang itu hanya kelihatan mundur dua tindak, lalu berkata sambil meraba2 pundaknya.

"Kurang ajar!!Apa kau betul2 berani?"

Lim Kheng mengetahui kalau lawannya itu adalah seorang kasar dan dogol, maka ia lantas maju lagi sambil ketawa, kipasnya menotok berkali-kali sehingga sebentar saja, badan orang itu sudah terkena totokan tujuh atau delapan tempat, tapi ia masih rasakan semua totokan itu.

Ho kie yang menyekalkan itu lantas berseru kepada kawannya.

"Lim heng, lekas rubuhkanlah padanya. Kita toh masih mempunyai urusan."

Perkataan Ho kie itu justru telah membuat orang itu bertambah gusar, ia lantas lemparkan pecutnya, dengan tangan kosong ia menubruk Lim kheng.

Serangan itu kelihatannya tidak teratur nampaknya hanya main seruduk main tubruk, main sambar dan kalau bisa dia mau bergulat saja.

Kipas Lim kheng berulang-ulang telah mengenai dirinya tetapi ia kelihatan tidak takut, agaknya seperti tidak merasakan apa-apa.

Ia terus merangsek lawannya dengan tangan kosong.

Lim kheng sudah mulai mendongkol, dengan kegesitan ia menyelinap kebelakang lawan dan menendang pantat orang itu.

Sang lawan jungkir balik, tetapi dengan tidak ragu-ragu ia bangkit dan menerjang Lim kheng lagi.

Dalam tempo sekejapan saja kipas ditangan Lim Kheng telah dipakai berkali-kali menghajar dirinya laki-laki itu, sehingga harus jatuh bangun berulang kali sampai hidung dan mukanya pada matang biru.

Tetapi adan orang itu betul-betul kebal.

sedikitpun ia tidak mengeluh.

Kalau ia belum mati, rupanya ia maish mau melawan terus.

Dengan jatuh bangun iat erus melawan dengan sangat bandel.

Lim kheng sudah timbul amarahnya, lalu pentang senjata kipasnya.

Ho Kie mengetahui kalau kawannya ini hendak menurunkan tangan kejam, hatinya merasa tidak tega.

Selagi hendak mencegah, kipasnya Lim Kheng yang tajam seperti pisau itu sudah menyambar leher laki-laki tersebut.

Tetapi sungguh mengherankan.

Kipas yang demikian tajam itu yang menggores lehernya hanya meninggalkan goresan putih tetapi sedikitpun tidak luka.

Baok Ho kie maupun Lim Kheng, kedunia merasa terkejut.

Mereka segera mengerti bahwa orang dogol ini mempunyai ilmu kebal Kim Ciong co yang tidak mempan senjata tajam.

Lim Kheng yang masih dalam kesima, tiba-tiba badannya kena sambar oleh orang itu dan bajunya sudah kena dirobek pecah sehingga kelihatan pakaian dalamnya.

Ho kie sekarang bisa mengetahui betul, bahwa pukulan dalam yang dipakai oleh Lim Kheng itu ternyata adalahkain sutera yang sebagaimana umumnya dipakai oleh kaum wanita.

Dibelakang kainnya yang putih itu kelihatan tegas dua buah dadanya yang montok menonjol.

-ooo0dw0ooo

Jilid LIM KHENG selebar wajahnya menjadi merah seketika, ia berseru kaget lalu menutupi kedua dadanya dengan kedua tangannya dan mundur dengan cepat.

Ketika laki-laki itu mengetahui bahwa pemuda itu sebenarnya adalah kaum hawa yang sedang menyari, buruburu ia melepaskan tangannya dan berkata sambil nyengir.

"Huh! kiranya kau seorang perempuan!"

Lim Kheng merasa malu dan gusar, lalu memutar tubuhnya dan lari kedalam rimba. Ho kie coba mencegah sambil katanya.

"Kau... kau kenapa?"

Tetapi Lim kheng lantas menyambuti dengan serangan tangannya sehingga Ho kie harus mundur dua langkah, Lim kheng menggunakan kesempatan itu lantas kabur lagi. Ho kie jadi bingung, lalu berseru.

"Kau hendak kemana?"

Dengan tidak menoleh lagi,Lim kheng menyahut.

"Kau ini bagaimana sih! orang toh harus tukar pakaian."

Ho kie baru sadar.

"kalau begitu, kau lekas-lekas kembali."

"Biar bagaimana, kau harus tahan manusia dogol ini, jangan sampai dia kabur."

Ho kie terima baik permintaan Lim kheng. Laki-laki itu rupanya merasa tidak enak sendiri, maka lantas maju menghampiri HO kie dan berkata sambil tertawa.

"Aku sungguh tidak mengetahui kalau dia adalah istrimu. Kalau aku tahu, sungguh mati aku tidak berani menyobek bajunya."

Ho kie hanya mengawasi padanya sambil menutup mulutnya membisu.

"Aku Gouw Toaya, benar-benar tidak takut segala apa juga, aku hanya takut kaum wanita yang bercampuran dengan kaum pria. Kali ini aku benar-benar sial. Lain kali, kalau kau bawa nyonyamu berpergian jauh, sebaiknya suruh dia berpakaian wanita dan suruh dia duduk didalam tandu..."

Sebab berkata demikian, ia lantas hendak berlalu.

"Jangan pergi dulu!"

Tiba-tiba Ho kie membentak. Laki-laki itu tercengan.

"kenapa? aku toh cuma membikin robek sepotong bajunya, apa kau mau suruh kau mengganti?"

"Enak benar kau bicara. Kau sudah berbuat salah, mana boleh hendak berlalu begitu saja."

Laki-laki itu mendelikkan matanya.

"Apa kau kata? Kau tadi sudah memukul aku dan dia bahkan sudah menyerang aku dengan gagang kipasnya berulang-ulang. Sekarang aku sudah ampuni kau. Apa kau masih belum mau terima?"

Ho kie yang melihat lagak dan bicaranya orang laki-laki itu. memang benar adalah seorang dogol, merasa tidak enak terlalu menyalahkan padanya, maka lantas berakat.

"Kau jangan pergi dulu. Aku hendak minta sedikit keterangan dari kau."

"Kau jangan coba-coba gunakan perkataan manis untuk menipu aku. Jangan-jangan dia nanti kembali lagi hendak membikin perhitungan dengan kau. Aku memberitahukan padamu, aku si orang she Gouw, benar tidak takut mati! kalau mau ajak aku berkelahi, mari kita berkelahi."

"Dia adalah seorang nona. Bukan apa-apaku. kalau kau terus ribut begini kau harus hati-hati dia nanti benar-benar tidak mau mengerti."

"Mana aku tahu dia ada apamu. BAgaimanapun juga, kalian wanita dan pria yang berjalan bersama-sama, sedikit banyak tentu ada apa-apa yang tidak beres."

Ho kie hanya ganda ketawa, ia coba alihkan pembicaraan ke lain soal.

"Sahabat, aku lihat ilmu kebalmu sungguh hebat sekali. Siapakah namamu?"

"Namaku Gouw ya Pa. Didunia kangouw tidak boleh diganggu. Siapa saja yang berani mengganggu aku biarpun sampai sepuluh atau seratus tahun, aku tidak mau sudah."

Ho kie tercengang."Apa? Namamu Ya Pa?"

"Kau tidak tahu, Ibuku pernah melahirkan sebelas anak, tetapi lahir satu mati satu. Tidak ada yang hidup. Kemudian ketika ibu mengandung aku, ayah ingin sekali mendapatkan anak perempuan dulu supaya anak selanjutnya ada yang bantu mengurus. Siapa tahu ibu telah melahirkan aku. Ketika bidan memberi tahukan dan memberi selamat kepada ayah, ayah yang mendengar kembali lahir satu anak laki-laki lantas menghela napas sambil mengeluh, ."

Ah Ya Pa! (artinya. Yah Sudahlah). Maka selanjutnya ayah memberi nama padaku Ya Pa. Ho kie yang mendengarkan keterangan itu lantas ketawa.

"Dan mengapa kau bisa hidup sampai dewasa?"

Tanya Ho kie. Gouw Ya Pa lalu menyahut sambil gelengkan kepala.

"Aii, au mana tahu. Ayahku karena menganggap aku tidak bisa dipelihara sampai besar, maka aku diberikan kepada seorang hweesio yang kemudian menjadi suhuku. Selama masih kanak-kanak, aku sudah banyak mengalami penderitaan."

"Hweeshio dari kelenteng mana?"

"Tidak perlu kusebut, rasanya kau juga tahu.

Itu adalah kelenteng Siao lim sie di bukit Siong-san yang sudah banyak orang-orang yang mengetahuinya.

Ho kie yang mendengar disebutnya Siao-lim sie hatinya lantas bergetar.

Sebab didalam rimba persilatan, meskipun banyak terdapat partai persilatan dan tidak sedikit jumlahnya orang-orang yang mempunyai kepandaian tinggi, tetapi diantara sembilan partai terbesar dalam dunia persilatan, Siao lim pay adalah merupakan pemimpin dari berbagai partai itu.

Siao lim sie banyak mempunyai muridmurid dari golongan orang biasa.

sedangkan padri-padrinya yang berada didalam gereja hampir semuanya mempunyai kepandaian yang luar biasa.

Didalam duni kang ouw, banyak orang merasa kagum dan jeri terhadap murid-murid siao-lim sie.

Diam-diam ia lalau berpikir .

Pantas ilmu kebalnya sudah mahir betul.

Tidak nyana kalau dia adalah anak murid Siao lim sie.

Berpikir demikian, ia lantas berkata sambil tertawa.

"Nama Siao lim pay sangat terkenal diseluruh jagad. Didalam rimba persilatan juga sangat dijunjung tinggi. Tetapi entah saudara Gouw ini ada muridnya siapa?"

"Apa kau kenal hweesio-hweesio didalam gereja itu?"

Tanya Gouw Ya Pa heran.

"Meskipun aku belum pernah kebukit Siong-san. tetapi aku tahu Ciangbunjin dari Siao lim pay itu adalah Tay Goan Taysu. Beberapa padri angkatan tua yagn menjabat sebagai pelindung hukum dibagian Tat mo ie siapa bukan jago-jago yang terkenal didalam rimba persilatan, sedikit banyak aku pernah mendengar."

"Tetapi suhuku itu pasti kau tidak mengenalnya."

"Siapa dia?"

"Dia bukan ketua, juga bukan golongan tetua dari Tatmo-ie tetapi ketua dari golonga tertua dari Tat mo ie serta hweesio lainnya. semuanya harus mengandalkan dia untuk makanan mereka."

Ho kie terkejut.

"Aaaa, entah dia siapa? Apakah hweesio tertua yang sudah mengundurkan diri?"

"Juga bukan. Dia adalah hweesio yang pangkatnya sebagai Tukang masa. Namanya Laytao Hweesio"

Ho kie masih mengira bahwa orang dogol ini sedang bergurau, maka ia merasa tidak senang. Tidak nyana, Gouw Ya Pa berkata pula dengan suara sungguh-sungguh.

"Dia sebetulnya memang bukan hweesio dari Siao lim sie menurut keterangannya. Dia datang dari See hek (Daerah barat) yang berpesiar ke bukit Siong san. Karena disini sangat ramai baginya, maka dia lantas berdiam di Siao lim sie. Didalam mata suhuku, kepandaian silat Siao lim sie benar-benar tidak merupakan apa-apa."

Selagi mereka lagi asyik mengobrol itu, terbawa tiupan angin tiba-tiba terdengar suara berkereseknya orang berjalan. Ho kie terperanjat, lalu bertanya.

"saudara Gouw, apa kau masih ada kawan lain?"

"Cuma aku sendiri"

Jawab Gouw ya pa heran. Ho kie buru-buru menoleh kearah rimba. ternyata sudah tidak kelihatan bayangannya Lim kheng lagi.

"Dia pasti sudah pergi sendiri"

Kata Ho kie cemas.

"Siapa? siapa yang sudha pergi? mari kita tengok!"

Gouw ya pa bertanya dengan heran.

Ho kie sudha tidak mempunyai napsu untuk meladeni Gouw ya pa, maka ia lantas lompat melesat menuju kebelakang rimba.

Benar saja disitu hanya kedapatan baju Lim kheng yang sudah robek, tetapi Lim kheng sendiri sudah tidak kelihatan lagi mata hidungnya.

Dengan pikiran bimbang, Ho kie berdiri menjublek.

Gouw Ya Pa yang menyusul dan tiba disitu, lantas bertanya dengan suara heran..

"Ei! Mengapa nyonyamu tidak kelihatan?"

Ho kie tidak menjawab, sebaliknya lantas lompat melesat untuk mencari Lim kheng.

"Hei, Tunggu sebentar! Aku hendak ikut mencari bersama-sama.!"

Kata Gouw ya pa.

Tetapi Ho kie sudah berada pada jarak sepuluh tombak lebih jauhnya, Kala itu pikiran Ho kie sangat kalut.

Toan theng lojin entah masih hidup atau sudah mati dan dimana adanya dia sekarang, sedangkan Auw yang khia sudah kabur meninggalkannya sambil membawa benda pusakanya, Kalajengking Emas, dan sekarang Lim kheng juga meninggalkan padanya tanpa pamitan....

Semua kejadian yang tidak menyenangkannya itu sangat menindih perasaannya dan ketenangannya.

Seperti orang yang sudah kalap, ia kabur tidak melihat arah.

Dia cuma mempunyai satu maksud.

Biar apa yang akan terjadi, ia harus mencarai dimana adanya Lim kheng.

Ia sudah merasa seperti kehilangan apa2, meskipun antara ia dan Lim kheng belum mengadakan suatu perjanjian yang tegas.

Dengan larinya yang tidak melihat arah itu.

entah sudah berapa jauh yang sudah dilaluinya, ia cuma lari terus seolah2 sudah melupakan lapar, haus dan letih.

Dalam otaknya, hanya ada satu suara ialah suara orang yang berjalan kaki perlahan sekali.

SEbetulnya suara itu sudah tidak ada, sudah lenyapp entah kemana.

Dalam keadaan demikian, Ho kie mendadak berpapasan dan dicegat oleh tiga orang tua yang mengenakan pakaian imam dengna wajah yang seram.

Dalam uring2annya, Ho kie segera menegur dengan suara ketus.

"Kalian hendak berbuat apa?"

Kiranya diantara ketiga orang imam itu, satu adalah It Tim tojin, salah satu dari Hoa-san-Sam kiam. Sambil ketawa dingin, It Tim tojin berkata kepada kedua imam yang disisinya "

Jiwi susiok, Ini adalah bocah she Ho yang didalam Ngo kui khio sudah membunuh Lo sute, merampas kalajengking emas dan kemudian melukai It Siu dan It Beng sute. Semua adalah perbuatan dia seorang."

Kedua imam yang dipanggil susiok itu mengangguk2an kepalanya, dengan sorot mata tajam mereka menatapi wajah Ho kie.

Sedikitpun Ho kie tidak merasa takut, sebaliknya malah ketawa dingin kemudian berkata.

"Dari mana kau dapat begitu banyak cerita? Kalau kau kenal gelagat, lekas minggir. Kalau tidak, jangan kau sesalkan aku siorang she Ho akan berindak dengan tidak mengenal kasihan lagi."

Seorang imam yang berambut putih berkata sambil mengangguk2an kepalanya.

"Benar saja, ada satu bocah yang sangat jumawa. It Tim sutit, menurut perintah Ciang bun jin kita harus menggunakan ilmu perguruan kita, keliningan emas yang membikin kabur semangat untuk menangkap padanya."

It Tim Tojdin menyahut sambil membungkukkan badannya.

"Baik. It Tim menerima titah susiok."

Sehabis berkata, ia lalu mencabut pedangnya, tangannya yang lain lalu mengeluarkan sebuah benda yang mengeluarkan sinar gemerlapan dari dalam sakunya.

Dengan menggengam benda tersebut, ia maju setindak dan membentak dengan suara keras.

"Bocah she Ho, kau bukannya lekas menyerah!"

HO kie yang melihat sikapnya si tojin yang nampaknya tidak kuatir sama sekali, tidak dapat menduga benda apa yang digengam dalam tangannya itu dan apa gunanya.

Tetapi, pada saat itu pikirannya sedang dicurahkan ke suatu tujuan saja, ialah.

Lekas2 mencari Lim kheng kembali.

Ia tidak memperdulikan musuh kuat yang berdiri didepannya.

Dengan tidak banyak bicara lagi, ia lantas bergerak dan maju menyerang.

Kedua imam rambut putih itu masing2 kebutkan jubahnya, mundur beberapa tindak.

It Tim tojin segera putar pedangnya, mengarah tenggorokan Ho kie.

Ho kie dengan ilmu silatnya Hoan-sing-sie sak yang aneh luar biasa, sekejap saja sudah berada disamping It Tim.

Ia sudah bertekad hendak mempercepat jalannya pertempuran, tidak mau mengulur waktu, maka setelah mengerahan seluruh kekuatannya dilengan kanan, ia lantas menyerang punggung It Tim tojin.

It Tim tojin buru2 tarik kembali pedangnnya dan badannya memutar dengan cepat, siapa nyana bahwa serangan Ho ie itu dilakukan dengan kekuatan sepenuhnya, sekalipun It Tim tojin sudah berkelit dengan cepat, tidak urung pundaknya tersapu.

It Tim tojin lantas keluarkan seruan tertahan, badannya mundur sempoyongan beberapa tindak.

Ho kie terus membayangi, sebentar saja tangan kanannya sudah bergerak hendak menghajar batok kepalanya.

Mendadak terdengar seruan bentakan keras.

"Bocah!! kau mencari mampus!!"

Kemudian disusul datangnya sambaran angin yang amat dahsyat, menyerang sisi perut Ho kie, siapa terpaksa tarik kembali serangannya, dengan memutar tubuh ia menyambuti serangan tersebut.

Mendadak telapakan tangan Ho kie dirasakan kesemutan, seolah2 ketusuk barang tajam.

Dalam kagetnya, Ho kie lantas lompat mundur.

Setelah memeriksa tangannya, ia lihat ditengah2 telapakan tangannya ada terdapat titik hitam yang ekcil sekali.

"Kau sudah kena senjata pinto yang dinamakan Toanbeng-coa-hoan, Hari ini jangan harap kau bisa lolos."

Berkata siimam tua sambil ketawa dingin.

Ho kie tau bahwa tangannya sudah terkena senjata beracun.

Ia buru2 menutup jalan darahnya.

Sambil membentak keras ia maju menyerang lagi.

Selagi bergerak, dadanya mendadak dirasakan sesak, kekuatan tenaga dalamnya yang baru dipusatkan telah lenyap secara tiba2.

Bukan kepalang kagetnya Ho kie, selagi belum mendapat kesempatan mundur, mendadak dengan ketawa It Tim tojin kemudian menyerang dengan beberapa buah benda yang mengeluarkan sinar berkerdepan....

-oo0dw0oo-KEPALA Ho Kie sudah kleyengan, badannya sempoyongan, dilihatnya kliningan emas pada berterbangan diudara, ia tahu rupanya sukar untuk meloloskan diri, maka ucma bisa menghela napas dan pejamkan matanya.

Beberapa puluh kliningan Ie-han Kim-lang saling beradu, menimbulkan suara ting-ting, tang-tang, yang sangat riuh, sebentar saja sudah berada diatas kepala Ho kie.

Tapi dengan tiba2 suara kliningan itu mendadak berhenti.

Selagi Ho kie berada dalam keheran2an mendadak bau harum telah menusu hidungnya, kemudian lantas rubuh tidak ingat orang.

It Tim tojin lantas maju menghampiri dengan pedang terhunus, tapi seorang imam tua yang berambut putih telah mencegah sambil membentak.

"Sutit, jangan kau ganggu jiwanya, kita tangkap saja dan bawa pulang kegunung Hoa-san, biarlah ciangbunjin yang mengambil keputusan."

It Tim tojin yang benci sekali terhadap Ho kie terpaksa tidak bisa berbuat apa2, ia lantas kempit dirinya Ho kie dibawah ketiaknya.

Tiga imam itu selagi hendak berlalu, mendadak mendengar orang membentak dengan suara yang seperti geledek.

"Hai kawanan kurcaci, tengah hari bolong kalian berani melakukan perampokan, sungguh besar nyali kalian."

Tiga imam itu terkejut, lalu hentikan tindakannya.

Ketika berpaling, mereka lihat seorang muda berbadan kekar dah berwajah hitam, matanya melotot memandang mereka sambil menggengam dengan senjata pecutnya Kiu Ciat Pian.

Pemuda hitam itu adalah Gouw Ya Pa.

Dengan sangat murka Gouw Ya Pa membentak lagi sambil menuding kawanan imam itu..

"Manusia keparat, lekas tinggalkan orang itu."

It Tim tojin mundur 2 tindak, sambil menghunus pedangnya ia bertanya dengan suara dingin.

"Kau siapa?"

"Kau tidak usah perdulikan siapa tuanmi ini! Aku suruh kau tinggalkan orang, kau harus segera menurut. Kalau kau bermain2 banyak bicara, tunamu nanti akan menghajar kau dulu sampai mampus!"

It Tim tojin sangat mendongkol, ia mengawasi susioknya, agaknya hendak bertanya apakah ia boleh turun tangan atau tidak?

Imam yang menggunakan senjata Toat-beng Coa hoat mempunyai nama gelasr Tee Tian, Dengan Jin Hian Totiang dan Cangbinjin dari Hoa san pay ada dewasa ini Thian Hian totiang merupakan tiga serangkai dari golongan tetua yang masih hidup.

Ketiga orang imam itu didunia Kang ouw disebuat sebagai Sam Hian tojin.

Diantara ketiga Hian itu, adalah Tee Hian totiang yang meyakinkan ilmu silat dari golongan keras(Gwa kang).

Adatnya paling berangaasan.

Melihat sikap Gouw Ya Pa yang sangat kasar, maka lantas ia berkata dengan suara dingin.

"Sutit, letakkan dulu bocah She Ho itu. Hajarlah manusia goblok ini."

It Tim tojin sangat girang mendengar perkataan susioknya, segera Ho kie diletakkan diatas tanah dan lantas lompat menghampiri Gouw Ya pa.

Gouw Ya Pa mendengar dirinya dimaki sebagai manusia goblok, bukan main gusarnya.

"Manusia kepara! Siapa yang kau katakan goblok?"

It Tim tojin menyahuti.

"Manusia sekasar kau ini, kalau bukannya manusia goblok habis apa?"

"Fui!! Apa tenggorokanmu itu cakap. kamu cuma merupakan imam busik yang dimulutnya saja membaca doa, tetapi dalam hatinya yang dipikiri selalu kaum wanita."

"Manusia goblok mulut kotor, lihat pedang ini. Aku nanti cincang dirimu!"

Setelah memaki demikian, It Tim tojin dengan pedangnya lalu menusuk kedada Gouw Ya Pa.

Pedang It Tim tojin itu tidak dipandang sama sekali oleh Gouw Ya Pa, bahkan ia menyerang leher dan kaki It Tim dengan sepasang pecutnya.

It Tim tojin agak kesima atas keberanian pemuda itu, dengan cepat ia mengelakkan dirinya dan sudah berada dikiri Gouw Ya Pa.

Gerakan badan Gouw Ya Pa memang agak kurang gesit, bahkan kelihatannya sangat kaku.

Sebelum ia keburu memutar tubuhnya, pedang It Tim tojin sudah membacok pinggangnya.

It Tim tojin tidak menghendaki jiwanya Gouw Ya Pa, maka untuk serangan itu hanya menggunakan tiga bagian kekuatan saja.

Siapa tahu, serangan pedang itu cuma membikin robek baju Gouw Ya Pa saja, sedangkan kulitnya tidak apa2.

"Hai, Imam keparat! Rupanya kau tukang jahit kampungan, dengan sengaja kau membikin robek bajuku!"

Kata Gouw Ya Pa sambil ketawa bergelak2.

Bukan kepalang kagetnya It Tim tojin, dengan cepat ia memburu, sambil memutar kedua pecutnya ia mengarah batok kepala It Tim tojin.

Tee Hian dan Jin-hian, kedua imam tua yang menyaksikan kejadian itu, wajah mereka keduanya lantas berubah, mereka lalu berseru.

"Sutit, hati2!"

It Tim tojin menyambuti serangan pecut Gouw Ya Pa dengan pedangnya, ketika kedua senjata beradu, ia merasakan kesemutan dan pedangnya terlepas dari tangannya.

Gouw Ya Pa tidak mau memberi hati lagi, kaki kanannya digeser maju kedepan, pecut ditangan kirinya kembali telha menyabet pinggang It Tim tojin.

Selagi It Tim tojin berada dalam bahaya, tiba2 kelihatan sinar putih berkeredepan yang datang mengancam wajah Gouw Ya Pa.

Meskipun mempunyai ilmu kebal, yaitu badannya tidak mempan akan segala macam senjata tajam, tetapi untuk panca inderanya, ancaman itu tidak boleh dibuat main2.

Oleh karena pada kedua tangannya membawa dua pecut, maka pecutnya yang berada ditangan kanannya masih tetap mengarah It Tim tojin, sedang pecut yang ada ditangan kirinya dipergunakan untuk menyampok senjata yang mengancam mukanya.

It Tim tojin berseru tertahan, gegernya dengan telak telah terkena pecutan Gouw Ya Pa, matanya berkunang-kunang, badannya jatuh ngusruk kedua langkah mulutnya telah mengeluarkan darah segar.

Bersamaan dengan itu, pecut ditangan kiri Gouw Ya Pa telah kebentrok dengan bendan yang lunak.

Benda itu adalah seutas benang yang terbuat dari pada emas muri, diujungnya ada serupa senjata baja yang berbentuk kepala ular, besarnya kira2 tiga dim.

Lidah ular kelihatan berwarna hitam.

Benang dilain ujung berada ditangan Tee hian Tojin.

Gouw Ya Pa kibaskan tangannya, senjata berupa kepala ular lantas melibat pecutnya Gouw Ya Pa dan telah mengenakan lengan kirinya.

Gouw Ya Pa lompat mundur sambil berseru.

"Eiii, bisa mengigit orang."

Karena ia mempunyai ilmu kebal yang sudah mencapai puncak kesempurnaan, maka jarum berbisa yang berada di ujung lidah senjata itu ketika mengenakan lengannya, ia hanya merasakan seperti ditusuk paku saja dan hanya meninggalkan bekas bintik putih kecil pada lengannya itu.

Gouw Ya PA memutar lagi pecutnya, sekarang ia hendak melibat benang emasnya Tee Hian totiang.

Imam tua itu ketawa dingin, ia menarik kembali senjata Toat Beng Coa hoannya kemudian menggeser maju kakinya, tangannya menghajar batok kepala Gouw Ya Pa.

Meskipun badan Gouw Ya Pa tidak mempan dengan senjata tajam, tetapi serangan Tee-hian tojin yang disertai kekuatan tenaga dalam dan diarahkan kepada jalan darah Thian leng hiat, dibagian batok kepala Gouw ya Pa, jika serangan itu mengenakan dengan tepat, ilmu kebal Gouw Ya pa akan buyar seketika dan orangnya juga tentu binasa.

Gouw Ya Pa yang merupakan seorang kasar dan bodoh, sudah tentu ia tidak mengenal akna serangan imam tua itu.

Sedikitpun ia tidak mau mengambil perhatian atas ancaman lawannya, sebaliknya malah maju merangsek dan kedua senjatanya mengarah kaki Tee hian lojin, sedangkan mulutnya lantas mengeluarkan bentakan.

"Imam keparat! rasakan pecut Toayamu!"

Tee hian Tojin ganda ketawa dingin dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyerang batok kepala Gouw Ya Pa....

Dalam saat yang sangat berbahaya bagi dirinya Gouw Ya Pa, mendadak kedengaran suara bentakan halus yang kemudian disusul oleh munculnya sesosok bayangan putih dan disertai oleh sambaran angin yang sangat dahsyat.

Kekuatan Lweekang Tee hian Tojin ketika saling bentur dengan sambaran angin tadi, seketika telah terpental balik, bersamaan dengan itu, ditengah udara lantas penuh dengan hawa busuk.

Tee hian Tojin berubah wajahnya, buru2 ia mundur sejauh mungkin.

Ketika ia membuka lebar-matanya, lantas melihat seorang pemuda berdandan seperti anak sekolah sedang berdiri didepan Gouw Ya Pa, sambil tersenyum menggoyang2kan kipasnya.

Tee hian Tojin diam2 menyedot napasnya.

ia merasakan bahwa jalan pernapasannya telah terhalang, maka wajahnya lantas pucat seketika, buru2 ia berkata kepada suteenya.

"Cilaka!! Bocah ini mempunyai ilmuu Hu-sie hiat kut cang lek. Pasti dia adalah orang Hian kui kauw."

Belum selesai perkataannya, badannya dirasakan sempoyongan, maka buru-buru ia mengambil obat dari dalam sakunya dan segera di telannya.

Jin hian Tojin terperanjat, dengan cepat ia menghunus pedangnya.

Pemuda sekolahan itu lantas berkata sambil ketawa ;

"Tidak perlu begitu tergesa gesa. Kaiau aku mau mengambil jiwanya, dapat kulakukan dalam tempo sekejapan saja, Seranganku tadi hanya memakai empat bagian dari kekuatan tenagaku dan sudah cukup untuk dia mengaso beberapa bulan lamanya."

Gouw Ya Pa yang melihat pemuda seperti anak sekolah itu ternyata Lim kheng adanya, wajahnya lantas berubah marah karena malunya, kemudian ia berkata sambil nyengir.

"Nona, kau pergi tukar baju kenapa begitu lama?"

Pemuda itu mendadak berubah wajahnya dan membentak dengan suara keras ;

"Apa kau kata?"

"Baiklah!! Aku tidak akan berkata apa2 lagi. Aku nanti panggil kau Kongcuya. Kau bukanlah satu nona, akulah baru yang harus disebut nona........"

Pemuda itu selembar wajahnya menjadi merah padam, lalu membentak .

"Jangan kau ngaco belo! Lekas gendong dia dan ikut aku."

Gouw Ya Pa lalu menghampiri Ho Kie dan menggendongnya. Jin hian Tojin lintangkan pedangnya dan berkata sambil tertawa dingin .

"Sicu! Orang kau boleh bawa, tetapi kau harus tinggalkan nama supaya pinto setelah kembali kegunung bisa memberi laporan kepada Ciang bun-jin."

"Kalian sudah tahu nama ilmu serangan tanganku tadi, apa kalian tidak dapat menduga siapa adanya aku ini?"

Jawab anak muda seperti anak sekolah itu sambil ketawa hambar.

"Kalau begitu, Sicu benar2 adalah murid dari Hian-kui kauw yang disebut oleh orang2 sebagai Giok-sie-seng Jie le Peng."

Berkata Jin-hoan Tojin dengan suara berat.

"begitulah kiranya"

Anak muda itu mengangguk. Jin-hian lojin ketika mendengar jawaban itu, matanya lantas beringas, badannya lantas gemetaran, berulang ulang ia tertawa dingin kemudian berkata .

"Baik! Hoa-san-pay dengan Kian kui kauw tidak mempunyai permusuhan apa2, tapi kalian telah menyerbu Ngo-kui khio dan merampas kalajengking emas dari perguruan kami serta sudah membunuh banyak sekali orang2 kami, dan sekarang kembali dengan mengandalkan, ....."

"Urusan itu tidak ada hubungannya dengan aku."

Pemuda itu memotong ucapan Jin hian Tojin sambil tertawa.

"Kalau kalian mempunyai kepandaian, datang saja ke Kui-kok untuk membikin perhitungan."

"Apa kau sudah pastikan bahwa kami Hoa san pay tidak berani menyerbu Kui-kok?"

"Aku tokh tidak bilang demikian. Setiap waktu kalian boleh datang."

"Kalau begitu persoalan hari ini nanti kami akan bereskan di Kui kok sekalian."

Sehabis berkata, Jin hian Tojin lalu membimbing Tee hian Tojin dari It Tim Tojin yang terluka segera berlalu dengan perasaan mendongkol.

Pemuda itu hanya melihat mereka sambil ketawa dingin, kemudian mengawasi Gouw Ya Pa.

Pemuda tolol itu ternyata sedang mengawasinya dengan melongo dan mulut ternganga.

Pemuda itu wajahnya merah seketika lalu membentak dengan suara perlahan.

"Kau lihat apa? Lekas jalan.."

Gouw Ya Pa sebetulnya sedang mengagumi wajah dan kulitnya pemuda itu yang cakap putih dan bersih laksana salju.

Hatinya merasakan tidak keruan, entah apa yang dipikirkan.

Ketika mendengar bentakan si anak muda, ia tersadar dari lamunannya dan buru buru angkat kaki, Ketika menyaksikan keadaan Gouw Ya Pa seperti seorang linglung, diam2 pemuda itu ketawa geli, kemudian bertanya kepadanya.

"Kau hendak kemana?"

"Tadi, bukankah kau yang suruh aku jalan."

Sambil berkata demikian. Gouw Ya Pa melongo dan buru2 menghentikan tindakannya.

"Aku suruh kau berjalan kemari, siapa suruh kau mengikuti kawanan imam tadi."

Gouw Ya Pa seperti baru tersadar dari mimpinya, sambil memondong Ho Kie ia mengikuti pemuda seperti anak sekolah itu, menuju kearah rimba lebat.

Pemuda itu menyuruh Gouw Ya Pa meletakkan Ho Kie, kemudian ia mengangkat mukanya Ko Kie dan diperiksanya dengan teliti, kemudian ia berkata pada diri sendiri .

"Tidak nyana imam tua keparat itu juga satu akhli racun. Masih untung ia ketemu dengan aku, Kalau tidak sungguh sukar di obati."

Gouw Ya Pa tidak mengerti apa yang dikatakan sipemuda, lalu bertanya .

"Kecuali kau siapa lagi yang harus mengobati?"

Pemuda itu tidak msmpedulikan padanya lagi.

dari dalam sakunya lalu mengeluarkan dua buah botol berisi obat.

Ia melongok mengawasi keadaan disekitarnya sejenak, tiba2 berkata kepada Gouw Ya Pa dengan suara dingin;

"Pergilah cari sedikit air!!"

Siapa njana dua kali ia menyuruh, Gouw Ya Pa masih tetap tidak bergerak. Pemuda itu merasa jengkel, maka lantas membentak;

"Hai tolol! Aku suruh kau pergi cari air. Dengar tidak!"

"Cari air sih gampang, mengapa kau bilang aku tolol ?"

"Kau tidak tolol!! Lekas pergi cari air. Kalau kau tidak mau, jangan sesalkan aku nanti berlaku tidak sungkan2 lagi padamu."

Gouw Ya Pa dalam hati sangat mendongkol, Ia menggerutu sendiri.

"Aku siorang she Gouw apapun tidak takut, sayang aku hanya takuti seorang perempuan yang bercampur dengan orang laki" ........ Anak muda itu mempunyai pendengaran yang sangat tajam. ia telah mendengar semua apa yang diucapkan oleh Gouw Ya Pa tadi, maka ia segera membentak .

"Diam! Siapa yang kau katakan orang perempuan."

Gouw Ya Pa juga sudah mulai gusar, maka lantas menjawab dengan kasar.

"Kecuali kau siapa lagi? Ehh, aku beritahukan padamu, aku bukannya takut kepadamu, cuma aku merasa menyesal telah merobek bajumu dan kedua karena aku memandang muka Ho Toako. Kau jangan berlagak main perintah kepada Gouw Toayamu seperti terhadap seorang budak, barangkali pecut ini akan mampir dibadanmu untuk membikin patah.........."

Sebetulnya ia ingin mengucapkan membikin patah tulangmu yang rendah, Tapi untungnya mendadak ia bisa berpikir dan bisa kendalikan amarahnya, Baru saja sampai ditenggorokkannya, perkataan itu sudah dapat ditelan kembali.

Matanya sipemuda kelihatan berputaran, ia tidak gusar, sebaliknya malah ketawa.

"Aaaaa Kau pasti salah lihat orang,"

Dalam hati Gouw Ya Pa berpikir. Salah? sekalipun kau dibakar sampai hangus juga masih tetap dapat kukenali. Meskipun dalam hatinya ia berpikir demikian, tetapi dimulutnya berkata .

"Taruh kata aku salah lihat orang, apa kau sendiri juga bisa salah lihat orang? Kalau kau tidak kenal, apa perlunya mencari Ho Toako.,......"

Pemuda seperti anak sekolah itu tidak mau memberikan penjelasan, ia hanya berkata sambil ulapkan tangannya ;

"Jangan banyak mulut, lekas pergi cari air. Kita perlu menolong orang "

Gouw Ya Pa pergi mencari air, setelah mendapatkan yang dicari, lekas2 ia balik kembali.

Tetapi baru saja ia sampai dipinggjr rimba, ia lantas berdiri kesima.

Kiranya ia telah dapat melihat pemuda seperti anak sekolah itu sedang mengangkat wajah Ho Kie sambil dekatkan mulutnya kepada mulut pemuda itu......

Meskipun betul Gouw Ya Pa itu seorang yang tolol, tetapi juga mengerti tentang urusan percintaan, maka dalam hati lantas berkata sendiri.

Bagus, Apa kau masih hendak mungkir ?

Sekarang aku lihat dengan mata kepala sendiri.

Ia lantas membuang airnya, dengan tindakan indap2 ia berjalan menghampiri mereka.

Pemuda anak sekolah iiu rupanya sedang terbenam dalam pikirannya sendiri.

Sambil memeluk Ho Kie, ia menciumi ber-ulang2.

Meskipun ia adalah seorang berkepandaian tinggi, tetapi saat itu ia tidak merasa ketika Gouw Ya Pa sudah berada didekatnya.

Gouw Ya Pa menyaksikan kelakuan pemuda itu dengan hati berdebaran tidak keruan.

Sebentar kemudian, ia mendengar pemuda seperti anak sekolah itu berkata seorang diri.

"Ah! Akhirnya aku dapat kesempatan yang baik juga. Kemesraan dalam waktu sesingkat ini, sekalipun aku mati juga sudah merasa puas."

Gouw Ya Pa terperanjat!! dalam hati dia berpikir "Eh!! Orang tidak apa apa mengapa pikirkan mati?"

Pemuda itu dengan mata guram mengawasi Ho Kie, kembali berkata seorang diri ;

"Dalam dunia, banyak orang laki laki mengapa aku cuma cintai dirimu seorang. Aiii, cinta semacam ini sesungguhnya amat menyulitkan diriku, tetapi aku rela menerima, aku tidak menyesal."

Mendadak wajahnya kelihatan seperti orang gusar, lalu mendorong Ho Kie yang tidak tahu apa apa, mulutnya berkata sendiri lagi .

"Hmm, kau masih anggap aku sebagai musuh saja, Sudah tentu kau ada dia yang mengawani. Bagaimana bisa ingat diriku, siperempuan yang bernasib malang ini?"

Gouw Ya Pa diam diam merasa geli sendiri karena pemuda seperti anak sekolah itu sudah mengaku sendiri sebagai seorang wanita. Pemuda itu berkata pula dengan suara gemas.

"Aku benar2 ingin membunuh kau, supaya kau benar2 tidak bisa bersama sama dengan dia ......"

Gouw Ya Pa terperanjat, ia mengertak gigi. Dalam hatinya menyumpahi.

"Sungguh kejam hati kaum wanita.

Kalau kau benar2 membunuh dia.

aku Gouw Toaya akan adu jiwa denganmu.

Sebentar kemudian, pemuda seperti anak sekolah itu kembali memeluk diri Ho Kie dan berkata pula dengan suara terharu.

"Aaaa bagaimana aku bisa berlaku kejam terhadapmu?? Sejak malam itu kita bertemu didalam rimba Cit jie kang, aku sudah merasa bahwa aku jatuh cinta padamu, tetapi kau sedikit pun tidak ambil tahu."

Pada saat itu, ketika orang itu berlainan keadaannya.

Ho Kie berada dalam keadann pingsan, sudah tentu tidak mengetahui apa yang telah terjadi, sedangkan pemuda saperti anak sekolah tu sudah seperti orang mabuk, mulutnya mengoceh sendiri ia telah tenggelam dalam arusnya gelombang asmara.

Hanya Gouw Ya Pa yang keadaannya sangat tidak enak.

Ia yang menyaksikan adegan demikian, sebentar merasa girang sendiri, sebentar merasa kuatir dan sebentar lagi merasa gusar.

Ia sudah lupa kalau ia disuruh ambil air, dan pemuda seperti anak sekolah itu agaknya juga sudah lupa pada air yang dimintanya itu......

Mendadak pemuda itu tersadar, ia ingat akan airnya, maka lalu mendorong tubuh Ho Kie dari berkata seorang diri pula.

"He!!!Mana airnya ?"

Gouw Ya Pa juga terperanjat, ia mengeluh "Celaka, airnya tadi sudah kubuang."

Dengan cepat ia lari kepinggir kali untuk mengambil air, ia balik lagi kepada pemuda seperti anak sekolah tadi.

Setelah menyambuti air, mendadak wajah pemuda itu berubah merah dan bertanya dengan suara perlahan.

"Mengapa kau pergi bwgitu lama?"

"Perjalanan sangat jauh. Aku harus lari dua kali, baru kembali."

Jawab Gouw Ya Pa membohong. Pemuda itu lalu mengeluarkan tiga butir obat berbentuk pil yang segera dimasukan ke dalam mulut Ho Kie. Ia lalu berbangkit dan memberi pesanan kepada Gouw Ya Pa .

"Kira2 setengah jam nanti, ia pasti akan berak2. Kau harus siap ssdia, setelah racunnya keluar semua, suruh ia beristirahat dulu, jangan melanjutkan perjalananya."

"Kalau begitu, kau sendiri?"

Tanya Gouw Ya Pa dengan heran.

"Aku hendak pergi!"

"Dengan susah payah baru bisa ketemu lagi! biar bagaimana kau tidak bisa tinggalkan dia."

"Kau hendak menahan aku? Kalau nanti dia sudah siuman, pasti akan sesalkan kau."

"Aku tidak perduli, Biar bagaimana kau jangan pergi lagi."

"Tidak! Lebih baik aku pergi"

Gouw Ya Pa lantas gusar. sambil lintangkan pecutnya ia berkata .

"Kalau kau memaksa mau pergi juga, terpaksa aku mau menahan dengan kekerasan."

"Apa kau mampu?"

Tanya pemuda itu sambil ketawa geli.

"Tidak mampu juga harus kutahan sebisanya-."

"Kalau begitu, kau boleh coba saja "

Setelah menyelesaikan perkataannya pemuda itu lantas melesat beberapa kaki jauhnya. Kembali Gouw Ya Pa melintangkan pecutnya seraya berkata .

"Aku tidak ingin turun tangan terhadap kau, Kau......"

Siapa nyana, belum selesai ucapannya Gouw Ya Pa, pemuda seperti anak sekolah itu sudah menggerakan badannya dan mlayang melalui samping dirinya.

Gouw Ya Pa sangat gelisah, ia lantas mengejar sambil menggenggam pecutnya.

Tetapi baru saja ia berjalan beberapa tindak mendadak didengarnya suara Ho Kie muntah2 mengeluarkan air kuning dari dalam mulutnya.

Gouw Ya Pa lantas berpaling, tetapi pemuda seperti anak sekolah tadi sudah lantas menghilang.

Gouw Ya Pa lalu memaki-maki dalam hati.

"Benar2 satu perempuan yang tidak tahu diri. Dibelakang orang berlaku begitu mesra, tetapi didepan orang berlagak alim."

Ia menghela napas, terpaksa ia kembali, karena hendak menolong Ho Kie yang muntah2 dan berak2.

Setelah keluar semua racun dan tubuhnya per-lahan2 Ho Kie membuka matanya.

Menyaksikan keadaan sendiri, ia merasa agak heran, lantas bertanya kepada Gouw Ya Pa .

"Hei! Di mana itu semua kawanan imam ?"

Gouw Ya Pa yang rupanya sedang mendongkol, lalu menjawab dengan suara dingin .

"Imam? Imam tokh adanya didalam kuil!! Buat apa kemari, apa mau minta makan ?"

Ho Kie melongo. Ia seperti ingat tatkala dirinya kena racun, maka lantas berduduk dan berkata pula .

"Kiranya saudara Gouw yang menolong aku......."

"Sudah!! Sudah! Aku sendiri hampir cilaka. Siapa sih yang mempunyai kepandaian menolong dirimu?"

"Aku masih ingat betul, bahwa aku ini telah dilukai oleh senjata rahasianya imam itu. Siapa sebetulnya yang telah menolong aku?"

"Siapa lagi kalau bukannya nyonyamu itu."

Ho Kie terperanjat.

"Kau maksudkan Lim Kheng ?"

"Sudah tentu dia, kecuali dia, siapa lagi yang masih mempunyai kepandaian begitu yang tinggi? Dia telah melukai dua orang imam dari Hoa san pay dan satunya lagi lari terbirit birit,"

Bukan main kagetnya Ho Kie, ia lantas lompat bangun tetapi segera dicegah oleh Gouw Ya Pa.

"Jangan bergerak! Nyonyamu tadi sudah memesan supaya kau banyak mengaso dulu, jangan sembarangan bergerak."

Demikian kata sitolol.

"Dia, dia... dia sekarang ada di mana ?"

"Kau tanya aku, dan aku harus bertanya kepada siapa?"

"Gouw Toako, tadi bukankah kau yang mengatakan.... Adakah dia yang datang menolong aku??..."

"Siapa kata bukan."

"Kalau begitu, sekarang kemana orangnya?"

"Orangnya sudah pergi,"

"Mengapa kau biarkan dia pergi?"

Ho kie mulai cemas lagi.

"Apa kau sesalkan aku? Siapa tahu hubungan apa yang ada diantara kau berdua. Satu hendak pergi, satunya lagi mengejar. Bukankah baik kalau tinggal bersama2. didepan orang pura2 malu, tetapi dibelakang orang berlagak begitu mesra. Mengapa sekarang kau sesalkan aku? Tadi kalau bukan karena melihat kau banyak muntah dan berak , siang2 aku sudah menghajar nyonyamu itu dengan pecutku itu!!"

Jawab Gouw Ya Pa yang sudah mendongkol, maka ucapannya juga kasar.

Karena sudah tahu kalau Gouw Ya Pa ini seorang yang tolol, maka Ho Kie tidak mau banyak ribut dengan dia, ia hanya merasa sedikit cemas, mengapa Lim Kheng yang sudah kembali lagi, entah apa sebabnya pergi lagi.

Karena hatinya sangat gelisah maka ia hendak lompat bangun lagi, Gouw Ya Pa lalu berkata dengan suara keras .

"Aku suruh kau rebah, kau dengar atau tidak?"

"Lekas kita kejar padanya! Biar bagaimana aku harus dapat mengejar dia."

"Orang perempuan begituan, apa perlunya di-kejar?, Sudahlah!! Kau jangan pikirkan saja dia. Kalau kau malan tidak bisa tidur karena tidak ada kawan perempuan, aku nanti carikan yang lebih cantik"

Ho Kie tidak mau ambil pusing akan perkataannya.

ia balikkan badan hendak lompat bangun.

Tetapi baru saja ia berdiri, kepalanya dirasakan puyeng, matanya ber-kunang2 hampir saja jatuh lagi.

Gouw Ya Pa mulai jengkel, ia lantas menghantam perut Ho Kie.

Karena badan Ho Kie masih lemas maka seketika lantas jatuh lagi.

"Kau sungguh bandel!! Orang suruh kau rebah, mau keluyuran saja. Sekarang rebahlah dulu baik2. Aku nanti carikan air untukmu-"

Demikian kata Gouw Ya Pa yang lalu meninggalkan Ho Kie seorang diri.

Kasihan keadaannya Ho Kie yang badannya sudah lemas, kembali harus kena hajaran si tolol, maka ia hanya dapat rebah telentang, dengan hati yang sangat gelisah.

Ia tidak habis mengerti memikirkan dirinya Lim Kheng, sebab dalam hubungan mereka, ia belum pernah berlaku salah terhadap Lim Kheng, tetapi mengapa karena bajunya terobek oleh Gouw Ya Pa sehingga terbuka rahasianya, lantas kabur tidak mau balik lagi padanya.

Ia juga merasa heran, kalau seandainya benar Lim Kheng meninggalkan padanya, mengapa ia menolong dirinya dari kekuasaan orang2 Hoa san pay .

Tetapi setelah berhasil menolong dirinya mengapa harus berlalu lagi?

Pikir punya pikir, ia tidak dapat menduga duga hati Lim Kheng, Gouw Ya Pa yang sedang mencari air, setelah ia sendiri sudah minum sepuas puasnya.

dengan hati2 sekali ia menyenduk air sedikit untuk diberikan kepada Ho kie.

Selagi dalam perjalanan kembali melalui rimba itu, mendadak didengarnya suara seram, didepan matanya seperti ada berkelebat bayangan orang.

Gouw Ya Pa hentikan tindakan kakinya, coba pasang mata dan telinganya, tetapi disitu ternyata sunyi sepi tidak kelihatan bayangan seorang manusiapun juga.

"Kurang ajar!! Apa dalam rimba ada setannya?"

Demikian sitolol itu menggerutu seorang diri, lalu melanjutkan perjalanannya.

Mendadak suara tadi itu terdengar pula dan kali ini dapat dilihatnya dengan tegas satu bayangan orang yang sedang melesat lari disampingnya, kira2 setumbak lebih dan melayang turun kedalam gerombolan rumput alang alang.

Gouw Ya Pa lantas menegur, ia lalu mengejar kedalam gerombolan rumput itu.

Rumput alang2 luas.

Ketika Gouw Ya Pa tiba disini, ia melihat bayangan orang tadi sedang mendekam didalam gerombolan rumput dengan tidak bergerak.

Dengan tidak banyak pikir ia lantas menyerang punggung orang itu sambil memaki maki ;

"Kurang ajar kau masih mau berlagak?"

Katika serangan itu mengenakan sasarannya, orang itu kelihatan terpental, tetapi tidak menunjukkan reaksi apaapa.

Gouw Ya Pa heran, ketika ia pergi memeriksa, hampir saja ia lompat mundur kiranya orang itu adalah It Tim Tojin dari hoa san pay, yang entah sudah dibinasakan oleh siapa dan meringkuk disitu sebagai mayat.

Ia merasa sangat heran, karena ia sudah tahu sendiri bahwa imam itu mempunyai kepandaian yang cukup tinggi, entah siapa orangnya yang kepandaiannya melebihi dari si imam dan membinasakan padanya demikian rupa?

Ia melihat keadaan disekitarnya, dari rimba yang jauhnya kira2 beberapa tumbak, Ia dengar suara orang ketawa perlahan.

Gouw Ya Pa buru2 memutar tubuhnya dan membentak dengan suara keras;

"Manusia keparat dari mana yang main gila didepan Toayamu?"

Ketika mendengar bentakan Gouw Ya Pa, suara ketawa itu lantas berhenti, sebagai gantinya sebuah benda melayang menyambar batok kepala Gouw Ya Pa, Dengan cepat Gouw Ya Pa tundukkan kepalanya tangannya lantas menyambar benda tersebut.

dan ternyata itu cuma selembar daun saja.

Bukan kepalang kagetnya Gouw Ya Pa, ia menduga orang itu pasti adalah pembunuh si imam, karena dengan kepandaiannya yang sudah mampu menyambit dengan daun enteng seperti batu yang berat, sudah tentu kepandaiannya pun lebih tinggi dari pada imam itu.

"Manusia dari mana yang main sembunyi2an!! Keluar Gouw Ya Pa-mu ingin menguji kepandaianmu"

Tapi tantangannya itu cuma dijawab dengan suara ketawa dingin, tidak kelihatan ada orang muncul.

Mendadak ia ingat diri Ho Kie, karena lukanya masih belum sembuh, jika dapat dilihat oleh orang itu, bukankah runyam?

Maka dengan cepat ia lantas larit keluar rimba!

Baru saja bergerak, dibelakangnya tiba2 mendengar suara orang ketawa geli, kemudian disusul oleh perkataannya.

"Eh, tolol, apa kau hendak mencari kawanmu itu?"

Suara itu ternyata adalah suara seorang perempuan, yang sangat merdu kedengarannya, maka Gouw Ya Pa lantas berhenti dengan mendadak, Benar saja tidak lama lantas muncul seorang wanita yang berjalan dengan perlahan dari dalam rimba.

Wanita itu memakai pakaian warna merah, rambutnya terurai kepunggungnya diikat dengan seutas tali sutera.

Mukanya tertutup oleh kain sutera tebal, Hingga orang tidak bisa lihat tegas paras mukanya, Hanya dari gerakan dan tindak tanduknya, bisa diduga bahwa wanita itu masih muda usianya.

Ketika ia muncul dari dalam rimba, gerakan badannya yang sangat menggairahkan membuat Gouw Ya Pa kesima.

"Tolol, apa namamu?"

Tanya wanita itu sambil ketawa.

Kalau pertanyaan itu keluar dari mulut orang lain, Gouw Ya Pa pasti berjingkrak tidak mau mengerti, tapi karena keluar dari mulutnya seorang wanita muda dan kedengarannya begitu merdu, Gouw Ya Pa hatinya lemas berdebaran.

setelah keluarkan ketawanya ia menjawab agak gelagapan ;

"Aku..,.,.....aku she Gouw!"

"Dan namamu?"

"Namaku Ya Pa!"

"Benar? Koko lucu!!! Ada juga baik, tidak adapun sudah, bukan begitu artinya?"

Gouw Ya Pa mengangguk. Mendadak ia ingat sesuatu, maka lantas berkata ;

"Apakah imam itu kau yang membunuhnya?"

"Tidak salah!!"

Jawab si wanita sambil anggukkan kepala dan kemudian keluar dan rimba dengan tindakan perlahan, Gouw Ya Pa terperanjat, karena seorang wanita yang begitu lemah gemulai dan cantik pula kira2nya, mengapa hatinya begitu ganas dan kejam?

"Tahukah kau, bahwa imam ini adalah orang dari Hoa san-pay...?"

Tanya Gouw Ya Pa sambil memburu.

"Aku tahu dia adalah It Tim Tojin dari Hoa san pay, kenapa kalau dia Hoa-san-pay? Apa kau kira aku takut pada mereka? Kepandaian orang2 dari partay persilatan terbesar tokh cuma sepele saja. Tolol, tahukah kau siapa aku ini?"

"Ini ...... aku tidak tahu."

Jawabnya gugup.

"Kalau aku sebutkan, kau pasti lompat kaget."

"Ah, yang benar?? coba sebutkan siapa kau?"

"Aku she Siu....."

Wanita baju merah itu cuma mengatakan she Siu saja lantas tutup mulutnya, sepasang matanya memandang dingin kepada Gouw Ya Pa.

"Aku lihat kepandaian ilmu silatnya mirip dengan kaucu dari Hian kui kauw, kalau sahabatmu she Ho itu berkepandaian serupa dengan dia, apakah kalian orang2 dari Hian kui kauw?"

Ya Pa, kemudian bertanya dengan suara ketus.

"Gouw Ya Pa, pemuda disana itu apamu?"

"Dia she Ho bernama Kie, sahabat karib ku!"

"Dan siapakah itu pemuda baju putih yang berdandan seperti anak sekolah?"

Gouw Ya Pa kira yang ditanyakan itu adalah Lim Kheng, maka lantas menjawab dengan hati mendongkol.

"Nona Siu, kau tak usah sebut2 dia, pemuda itu bukan seorang laki2, tetapi seorang wanita muda yang menyaru, namun ada seorang wanita yang tidak tahu malu....."

Mendadak ingat bahwa nona baju merah ini juga adalah seorang wanita, kerena kuatir menyinggung perasaannya, tiba2 ia tutup mulutnya.

Tapi nona baju merah itu tidak gusar, sebaiknya malah ketawa sambil anggukkan kepalanya.

"Aku bukan orang2nya Hian kui kauw, engko Ho Kie juga bukan. Wanita itu dari golongan mana, aku juga tidak tahu. Dia mungkin adalah orang dari Hiau kui kauw!"

Wanita baju merah itu berdiam sekian lamanya, baru berkata pula sambil ketawa.

"Kalau begitu, aku beritahukan padamu juga tidak halangan. Aku she Siu, yaya-ku Thian sat Sin kua, Siu It Cu yang namanya menggetarkan dunia pada 50 tahun berselang. Cian tok Jin mo (manusia iblis berbisa ) Jie Hui, kaucu dari Hian kui kauw yang sekarang, adalah murid yaya yang telah murtad pada waktu itu. Apa kau pernah dengar?"

Gouw Ya Pa terperanjat.

Meski ia belum pernah dengar nama Thian sat Sin kun, tapi tentang Thian tok Jin mo yang mendirikan perkumpulan Hian kui kauw hendak menjagoi dunia persilatan, hampir semua orang sudah tahu, Kalau keterangan wanita ini benar kepandaiannya wanita ini tentunya ada hebat.

Tapi ia aganya tidak mau percaya keterangan wanita itu.

Wanita she Siu rupanya dapat menebak jalan pikiran si tolol, ia diam sejenak, lalu bertanya .

"Apa kau tidak percaya?"

"Aku pernah dengar orang cerita, kaucu Hian kui kauw Cian tok Jin mo, kepandaiannya didapatkan dari kitab pelajaran ilmu silat, tidak ada seorang yang mengatakan dia punya guru."

"Itu semua bohong, Jin Hui sebelum mendapatkan Hiankui pit-kip, sebagai murid yayaku, memang sudah mempunyai kepandaian luar biasa. Kemudian yaya dapatkan kitab Hian-kui-pit-kip

Jilid II. Jie Hiu timbul pikiran jahatnya, ia diam2 telah mencelakakan diri yaya, kemudian mencuri kitab Hian kui-pit-kip dan mendirikan perkumpulan Hian kui kauw..,........,."

Ketika bicara sampai disini, wanita itu nampaknya gemas, setelah mengertek gigi, lalu berkata pula.

"Kepandaian yaya yang luar biasa hebatnya sudah akan selesai, ada satu hari nanti akan bikin Cian tek Jin mo Jie Hui tidak dapat lolos dari pembalasannya.........."

Dengan gusar ia lantas meninggalkan rimba itu untuk menghampiri Ho Kie rebah, sambil diikuti oleh Gouw Ya Pa.

Ho Kie saat itu masih tidur nyenyak, terang racunnya sudah habis dikuras keluar.

Wanita baju merah itu berhenti disisinya, ia mengawasi Ho Kie sejenak, tiba2 menghela napas, lalu berkata kepada Gouw Ya Pa .

"Gouw Ya Pa kau gendong dia!!"

"Apa perlunya menggendong dia?"

Tanya Gouw Ya Pa heran.

"Kau tak usah tanya, aku suruh kau gendong, gendong saja!"

"Dia sudah bisa berjalan sendiri, suruh dia bangun!"

Ia lalu goyangkan tubuh Ho Kie "Hai..Hai... bangun!! mengapa tidur seperti orang mati?"

Tidak nyana Ho Kie cuma balikkan badannya sebentar lantas tidur lagi.

Menyaksikan keadaan demikian, Gouw Ya Pa merasa sangat heran.

-oo0dw0oo-GOUW YA PA sudah tahu benar bahwa racun dalam diri Ho Kie sudah keluar semua, tapi mengapa sekarang kembali berada dalam keadaan seperti pingsan ?

Ia tidak mau mengerti berulang ulang ia goyang2kan badannya sembari memanggil-manggil.

"Hai, engko Ho, bangun !"

Wanita baju merah itu lalu berkata dengan suara dingin .

"Tidak perlu dibangunkan, dia sudah kutotok jalan darahnya, kalau aku tidak buka mana bisa mendusin?"

Gouw Ya Pa yang mendengar keterangan itu, lantas lompat bangun.

Meski ia agak jeri terhadap wanita baju merah itu, tapi karena dengan Ho Kie, ia sudah mengikat tali persahabatan yang akrab, bagaimana ia mau mengerti sahabatnya diperlakukan begitu rupa?

Dengan nekad ia menyerang kepada wanita baju merah itu.

"Kau mencari mampus!"

Bentuk wanita baju merah itu.

Lalu gerakkan pundaknya, dengan secara gesit sekali sudah bisa mengelakan serangan si tolol.

Kemudian kebutkan lengan bajunya.

menggulung pergelangan tangan Gouw Ya Pa.

Lengan baju itu meski tidak cukup satu kaki panjangnya, tapi ketika diputar, ternyata dapat mengeluarkan angin yang amat dahsyat.

Gouw Ya Pa ketika agak lalai, pergelangan tangan kirinya sudah kena digulung.

Gouw Ya Pa terperanjat, ia menarik sekuat tenaga, tapi ia merasakan bahwa lengan baju wanita itu seolah olah ular berbisa yang melibat tangannya, jalan darahnya segera dapat dikuasai, sebingga tidak bisa mengeluarkan tenaga.

Mendadak ia menggeram, tangan kanannya kembali menyerang dengan hebat.

Wanita baju merah itu ketawa, dengan lengan baju tangan kirinya kembali ia melibat tangan kanan Gouw Ya Pa.

Gouw Ya Pa seorang yang kasar dan sangat handal, karena mempunyai ilmu kebal, ia bisa bertempur secara membabi buta tanpa takuti senjata musuhnya.

Kala itu meski kedua tangannya sudah terlibat, tapi ia masih melawan terus dengan kedua kakinya menendang perut lawannya.

Wanita baju merah itu nampaknya sudah sangat mendongkol, mendadak ia tarik kembali lengan kirinya, sedang tangan kanannya ia kebutkan.

Dengan demikian, maka tubuhnya Gouw Ya Pa yang besar lantas terlempar sejauh tiga tumbak dan jatuh menggeletak ditanah.

"Gouw Ya Pa, kau menyerah apa tidak?"

Tanya wanita itu dingin.

Tapi Gouw Ya Pa pantang menyerah kepada musuh, kembali ia merangkak bangun, kemudian nyeruduk seperti banteng.

Wanita baju merah itu sangat gusar, dengan cepat egoskan dirinya, sehingga Gouw Ya Pa kenjukejuk sampai kira2 1 tindak baru bisa tancap kakinya.

Wanita itu lalu kebutkan lengan bajunya dengan telak mengenakan pantatnya.

Serangannya itu ada hebat, bagi lain orang barangkali sudah tidak ampun lagi, pasti disaat itu juga melayang jiwanya.

tapi bagi Gouw Ya Pa yang mempunyai ilmu kebal, cuma sempoyongan dan akhirnya jatuh ngusruk ditanah.

Tapi ia tidak mau sudah, kembali merangkak bangun nyeruduk lagi!

Untuk sementara wanita baju merah itu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap dirinya, sekalipun jungkir balik ber-ulang , si tolol itu tetap membandel tidak mau menyerah.

Wanita itu tiba2 mendapatkan suatu akal, setelah memancing lagi supaya Gouw Ya Pa menyeruduk, ia lalu menyambar tubuhnya dan melibat lehernya, setelah itu dengan kencang ia mencekik leher Gouw Ya Pa seraya berkata.

"Kau menyerah mau tidak? Kalau kau tidak mau menyerah, aku nanti jerat mampus padamu!!" -oo0dw0oo-

Jilid 6 GOUW YA PA tetap berkepala batu, meskipun lehernya sudah kena jerat, tetapi kaki dan tangannya masih bisa digunakan untuk melawan, tetapi lama kelamaan ia merasakan seperti sudah sukar bernapas tenaganya sudah mulai berkurang, lehernya dirasakan terjerat semakin erat, sehingga keringat dingin mengalir membasahi tubuhnya.

Wanita baju merah itu kembali membentak.

"Menyerah atau tidak !"

Dalam keadaan demikian itu, sudah tidak ada jalan lain bagi Gouw Ya Pa kecuali menyerah.

Karena ia sudah tidak bisa mengeluarkan suara ,maka ia hanya menganggukan kepalanya.

Wanita baju merah itu lalu melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah.

berkata kepada Gauw Ya Pa .

"Gendong dia !"

Kasihan keadaannya Gouw Ya Pa, seorang yang pantang menyerah kepada musuhnya kini terpaksa harus menyerah terhadap seorang wanita, bahwa hampir saja jiwanya melayang.

Kalau memikir itu, hatinya merasa malu dan mendongkol.

dengan terpaksa ia menurut semua perintah wanita itu, ia menggendong diri Ho Kie.

Wanita itu kemudian mengajak Gouw Ya Pa masuk lagi kedalam rimba.

Rimba yang letaknya dikaki bukit ternyata sangat luas, sehingga keadaannya dalam rimba itu sangat gelap.

Wanita itu yang berjalan lebih dulu, setelah melalui jalanan berliku2, kira2 setengah jam lamanya, tibalah mereka didepan mulut sebuah goa.

Mulut goa itu terpisah lima tumbak tingginya dari permukaan tanah.

Lamping gunung kelihatan licin seperti cermin, sukar untuk didaki oleh manusia, tetapi sekali dengan enak saja dapat melalui rintangan itu.

"Aku tidak bisa naik."

Kata Gouw Ya Pa sambil kerutkan alisnya.

"Kau letakan dia ditanah, kemudian naik dulu sendiri."

Kata wanita itu sambil tonjolkan separuh badannya.

"Begini tinggi aku tidak bisa naik."

Wanita itu mengomel sendiri, lantas melayang turun kebawah lagi, dengan tangannya ia menjambret lengan baju Gouw Ya Pa dan lantas melesat lagi keatas.

Sebentar kemudian Gouw Ya Pa sudah di bawa kedepan mulut goa.

Gouw Ya Pa terheran, Wanita yang mempunyai bentuk badan yang begitu langsing bagaimana bisa dengan secara enak saja menenteng badannya dua orang sambil melesat begitu tinggi, betul-betul merupakan suatu Kepandaian yang sangat luar biasa.

Dengan seksama Gouw Ya Pa melihat keadaan dalam goa itu, dinding goanya ternyata sangat licin seperti kaca saja.

Dalam goa itu tidak terdapat penerangan api, tetapi penerangan dari luar goa dapat masuk kedalamnya melalui dindingnya yang seperti kaca muka itu.

Wanita itu berjalan didepan sebagai penuntun.

Tidak lama kemudian tibalah mereka kedalam sebuah kamar batu yang sangat luas.

"Letakkan dia disana!"

Dengan sikap dan suara dingin wanita itu memerintah Gouw Ya Pa sambil menuding dengan jarinya ke suatu tempat.

Gouw Ya Pa hanya bisa, menurut saja, wanita baju merah itu lantas masuk kesebuah pintu kecil.

Ia tidak mengucapkan perkataan apa apa.

seolah olah tidak kuatirkan dirinya Gouw Ya Pa.

juga tidak takut kalau Gouw Ya Pa bisa kabur.

Gouw Ya Pa yang sudah mempunyai tekad membela diri Ho Kie, duduk disampingnya, Setelah menanti begitu lama, ternyata Gouw Ya Pa tidak melihat bayangan wanita baju merah itu lagi.

Ho Kie berbaring merasakan matanya sepat, maka lantas tidur lagi, Dalam keadaan demikian ia hanya mengharapkan kedatangan seorang penolong.

Kembali waktu telah berlalu dengan cepat.

Hampir kira-kira satu jam lamanya, goa itu keadaannya masih tetap sunyi, seolah olah kuburan yang tidak ada orangnya.

Gouw Ya Pa bangkit, mulutnya memaki-maki tidak berhentinya.

"Kurang ajar! Apa artinya ini semua? Tawanan bukan tawanan, tamu tidak diperlakukan seperti tamu !"

Ia berjalan mundar mandir dimulut goa, mulutnya terusterusan mengomel saja,.

tetapi perutnya dirasakan suduh lapar sekali.

Dengan perasaan mendongkol ia menghampiri Ho Kie, lalu berkata sambil menendang dengan kakinya.

"Hai? Kau juga harus bangun untuk mencari daya upaya, kau tidak boleh tidur terus terusan begitu rupa!"

Siapa nyana, tendangan itu justru membikin sadarnya Ho kie dengan tiba-tiba sambil kucek-kucek matanya Ho Kie lantas bertanya dengan heran .

"Hai Gouw Toako, ini tampat apa?"

"Sssst........"

Dengan tiba2 Gouw Ya Pa menjadi punya pikiran sehat, ia memberi isyarat kepada Ho Kie supaya tidak bersuara, kemudian ia memeriksa keadaan dalam goa lalu berbisik ditelinga Ho Kie .

"..Ssssttt! jangan ribut ya!! Kita berdua sudah kena tertawan."

Ho Kie terperanjat lantas lompat bangun.

"Apa benar? Siapa yang menawan kita?"

Tanyanya.

"Aku juga tidak tahu siapa dia. Dia adalah seorang wanita cantik. Menurut keterangannya, engkongnya adalah suhunya Kauwcu dari Hiau-kui-kauw.........."

Bukan main kagetnya Ho Kie, lantas ia mengeluh;

"Mengapa bisa terjatuh kedalam-tangan orang Hian kui kauw.

Ia coba bersemedi, ternyata tidak mendapat rintangan apa2, sedangkan racun yang berada ditubuhnya juga sudah tidak ada lagi.

Ia merasa lega dan mencoba melihat lihat keadaan sekitarnya.

ternyata keadaannya dalam goa itu amat terang.

"Gouw Toako, apa kita tidak bisa kabur?"

Ia bertanya.

"Benar, mengapa kita tidak kabur saja?"

"Benar-aku sangat goblok......."

Tapi kemudian ia menghela napas ;

"Ah! Kita tidak bisa kabur. Mulut goa ini berada dilamping gunung kira2 lima tumbak tingginya, barangkali aku tidak bisa melompat turun..........."

Ho Kie lalu menarik tangannya Gouw Ya Pa .

"Gouw toako, mari kita pergi lihat!"

Sapa nyana belum sempat mereka bertindak, dibelakang ada orang berkata dengan suara dingin.

"Apa yang mau dilihat? Mulut goa ini meski tidak ada apa-apanya tapi kalau kalian hendak pergi, benar2 tidak begitu mudah."

Ho Kie putar tubuhnya dan menengok ke dalam, hatinya bergoncang.....

Dipinggir pintu kecil dalam goa, ada berdiri seorang wanita muda yang parasnya jelek sekali, hidungnya pesek, bibirnya tebal, pipinya bopeng.

Tapi, dengan dandanannya baju merah, tubuhnya yang ceking langsing itu sungguh sangat menggairahkan.

Wanita jelek itu dengan tindakan kakinya yang lemah gemulai menghampiri mereka sambil ketawa hambar.

Ho Kie hatinya berdebaran, sedangkan Gouw Ya Pa memandang dengan mulut menganga, Lama sekali, Ko Kie baru berani bertanya dengan heran.

"Kau.... kau siapa?"

Wanita itu ketawa cekikikan.

"Aku she Shiu, namaku Gwat Eng. Sahabatmu ini sudah mengetahui asal usulku, apa dia tidak memberi tahukan padamu?"

Demikian ia berkata. Gouw Ya Pa melompat, membuka lebar matanya seolah2 tidak percaya akan penglihatannya.

"Oh Tuhan.........Kau adalah.........,."

Ia mengeluh tak lampias.

"Aku adalah Siu Gwat Eng, cucu perempuan Thian sat Sin kun, Siu It ciu. Kenapa memangnya? Gouw Ya Pa, apa kau sudah tidak kenali aku lagi?"

Gouw Ya Pa masih merasa heran dalam hatinya, ia menjawab sambil gelengkan kepala;

"Tidak, tidak... Dia bukannya kau dan kau bukannya dia.,.."

"Mengapa bukan? Barusan aku memakai kerudung kain maka kau tidak bisa melihat wajah asliku. Nah, lihatlah ini!"

Siu Gwat Eng lalu mengenakan kain kerudungnya dan dipakai untuk menutupi wajahnya yang jelek, dengan demikian ia lantas berubah menjadi seorang wanita yang berbadan langsing dan kelihatannya menarik.

Gouw Ya Pa sungguh tidak menyangka bahwa wanita yang mempunyai bentuk badan begitu bagus, tetapi wajahnya begitu jelek.

Ho Kie menenangkan pikirannya.

"Apa kalian adalah orang2nya Hian kui kauw?"

Ia bertanya.

"Cuma boleh dibilang kalau Hian kui kauw adalah orang kami."

Jawab si wanita jelek sambil ketawa dingin.

"Aku dengan Hian kui kauw ada mempunyai hubungan dengan Hian kui kauw, paling baik kau segera kenal gelagat. Kalau tidak jangan sesalkan kami akan berlaku kurang sopan terhadapmu,"

"Kau juga bermusuhan dengan Hian-kui kauw?"

"Benar ! Cian tok Jin-mo telah membinasakan ayahku, aku sedang mencari dia untuk menuntut balas,"

"Kalau begitu sungguh kebetulan, Mari, mari, aku akan ajak kau temui Yaya"

"Kita satu sama lain tidak mempunyai sangkut paut, perlu apa harus menemui Yaya mu?"

"Bagaimana kau kata tidak ada sangkut pautnya? Kami juga menpunyai permusuhan dalam dengan Cian-tok Jinmo. Mari ikut aku, Yaya pasti akan memberitahukan suatu kebaikan, yang tidak akan kau sangka2."

Setelah berkata begitu ia lalu menggapaikan tangannya dan masuk kedalam. Ho Kie merasa tertarik, ia berkata kepada kawannya dengan suara perlahan ;

"Gouw Toako bagaimana kalau kita pergi lihat?"

"Melihat saja tidak menjadi soal, cuma wajahnya itu perempuan jelek yang membikin aku mual."

Ho Kie tertawa, ia lalu menarik tangan kawannya dan lantas mangikuti jejaknya nona Siu.

Begitu mereka melalui sabuah pintu batu, didalamnya ternyata masih terdapat lorong yang panjang.

jalanan itu sangat bersih, terang adalah buatan manusia.

Dikedua sisi lorong ada terdapat tujuh atau delapan pintu batu yang semuanya tertutup.

Ketiga orang itu setelah melalui jalanan lorong tadi, Siu Gwat Eng tiba2 berhenti dan berkata sambil tertawa .

"Yayaku sudah empat puluh tahun menutup diri. Belum pernah menemui orang luar. Kalau nanti kalian masuk. harap suka sedikit bersabar."

Setelah berkata ia lalu membuka sebuah pintu batu yang ternyata diperlengkapi dengan pesawat rahasia.

Ho Kie dan Gouw Ya Pa saling pandang, mereka sungguh tidak menyangka bahwa didalam goa tersembunyi itu juga diperlengkapi dengan pesawat rahasia.

Barangkali orang tua yang dinamakan Thian-sat Sin kun itu bukannya orang sembarangan.

Belum habis mereka berpikir, mata mereka telah disilaukan oleh pemandangan didepan nya.

Ternyata saat itu mereka sudah berada didepan pintu sebuah ruangan yang luas dan mentereng, Dengan perasaan ter-heran2 Ho Kie melangkah masuk dengan tindakan perlahan.

Mendadak Siu Gwat Eng berbisik .

"Lekas kalian berlutut!!"

Ia sendiri lalu berlutut lebih dulu dan berkata dengan suara perlahan;

"Yaya, Gwat Eng sudah ajak mereka datang kemari untuk menemui Yaya."

Mengingat pantas menghormati orang tua, bersama Gouw Ya Pa lantas Ho Kie turut berlutut.

Mendadak dari depan mereka terdengar suara orang ketawa berat.

Meskipun suara itu rendah, tetapi ditelinga kedengaran sangat nyata.

sehingga diam2 Ho Kie terperanjat atas ketinggian Ilmu Iweekang orang tua itu.

Maka ia lantas berkata sambil tundukan kepalanya.

"Boanpwee, Ho Kie dan Gouw Ya Pa di sini memberi hormat kepada Locianpwe."

Suara ketawa lantas berhenti, disusul dengan suara yang dingin ;

"Baik! Bangunlah !"

Ketika Ko Kie angkat mukanya, seketika lantas berdiri kesima!

Baca Juga: Rumah Judi Pancing Perak Khu Lung

Baca Juga: Duel Di Butong Khu Lung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert