Ceritasilat Novel Online

Lembah Patah Hati Lembah Beracun 1

Eps 1 Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung

Baca online Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung

Cersil Lembah Patah Hati Lembah Beracun - Khu Lung.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com Lembah Patah Hati ~ dh . Lembah Beracun ~ Karya . Khu lung (Chin Yung ) ??? Saduran . OPA

Jilid 1 SUATU MALAM........

Itu merupakan suatu malam yang seram, kesunyian meliputi seluruh jagad.

Kilat dan guntur saling meyusul memecahkan suasana sunyi malam itu.

Keadaan pada saat itu sungguh menakutkan.

Pada suatu gunung yang tinggi dengan jurangnya yang curam dan berhutan belukar tidak kelihatan barang seekor binatang buas sekalipun.

seolah2 disitu sudah tidak ada penghuninya.

Sesosok bayangan manusia yang pendek kecil, dapat kelihatan bergerak atau lebih mirip kalau dikatakan tengah merayap keatas gunung yang seram sunyi itu.

Bayangan itu sebentar jatuh sebentar bangun, terus merayap keatas gunung, gerakannya seperti juga gerakan binatang liar yang sedang melarikan diri dari kurungannya dan hendak kembali ke hutan.

Pakaiannya compang camping, pada badannya disana sini kedapatan banyak luka dan berlumuran darah......

Tetapi ia seperti didorong oleh suatu pengaruh gaib, ia masih dapat bertahan terus atas semua penderitaan.

Kilat yang menyambar nyambar menyeramkan, disusul oleh suara geledek yang mengelegar2 membuat gunung tersebut rasanya seakan2 hendak ambruk, tetapi hujan turun dengan sangat lebatnyaa.

Bayangan kecil itu kelihatan berhenti dibawah sebuah pohon yang besar yang rindang, rupanya hendak meneduh sejenak untuk beberapa saat disitu.

Sesaat kemudian, ia mendongakan kepalanya mengawasi langit yang gelap gulita.

"Oh Ayah... ayah.........."

Terdengar ia mengeluh perlahan.

Ia ternyata seorang anak tanggung yang usianya kira2 baru tiga belas atau empat belas tahun.

Sehelai kain yang menutupi badannya kelihatan sudah mesum dan compang camping, kini sudah menjadi basah kuyup karena kehujanan.

Air hujan yang menerpa wajahnya yag kecil cakap, telah membuat penglihatannya menjadi guram.

Dengan perasaan sedih, ia memesut air hujan dimatanya dengan lengan bajunya.

Apakah itu air mata atau air hujan, ia sendiri juga tidak dapat membedakannya lagi.

Keletihan dan kedukaan dengan tajam telah menggilas gilas jiwa bocah yang masih belum dewasa ini.

Ia melanjutkan perjalanannya, tidndakan kakinya makin lama makin berat.

Sebentar2 ia menoleh kebelakang sambil menghela napas panjang.

ia ingin secepat mungkin dapat memasuki rimba guna mencari tempat untuk meneduh dari serangan air hujan.

Sayang sebelum maksudnya tercapai, ia telah rubuh karena amat lelah dan lapar.

Ia kertak gigi, berkata pada dirinya sendiri.

"Ho kie, Ho Kie, kau tidak boleh mati, kau pasti akan dapat bertahan sampai melewati bukit Pek-Kat Nia didunia ini! Kau harus secepatnya mencapai puncak gunung Sin hong untuk mencari itu orang aneh berkepandaian tinggi yang sedang menyembunyikan diri disana........"

Apa mau, ketika ia mementang matanya, didepan hanya kelihatan deretan gunung yang menjulang tinggi yang pada saat itu tengah disirim air dari langit.

"Akh! Dimana adanya puncak gunung Sin hong? Dimana adanya temapt untuk mencari orang aneh yang berkepandaian tinggi itu?"

Kembali ia berkata2 sendirian.

Ia coba berbangkit, hendak meneruskan perjalanannya.

Kakinya semakin lama semakin berat bertindak.

Tenaganya yang terakhir sudah hampir digunakan habis.

Tetapi ia kuatkan hati dan paksa berjalan terus.

Mendadak telinganya mendengar suara seorang yang tertawa dingin.

Dalam suasana yang menyeramkan, suara tertawa itu membuat bulu roma pada berdiri.

Dengan bergemetaran, ia menghentikan tindakaannya.

Ia memasang telinganya, kemudian berpikir dengan perasaan takut..Aaaa, apakah mereka mengejar aku?

Perasaan takut membikin ia tidak perdulikan lagi adanya geledek dan hujan, dengan sisa tenaganya yang masih ada, ia terus lari keatas gunung.

Dijalanan pergunungan itu penuh dengan lumpur.

Belum berapa jauh ia lari kakinya terpeleset, badannya yang kecil itu tergelincir kedalam lumpur.

Tetapi ia terus keraskan hatinya.

ia bangkit kembali dan lari lagi.

Sebentar saja ia sudah berhasil mencapai jarak sepuluh tombak lebih.

Mendadak dilihatnya disebelah depan ada bayangan hitam yang sedang mendatangi dan menghampiri dirinya.

Ia niat menyingkir, tetapi bajunya kena kecandak.

Ia menjerit kaget, lal berbalik dan tangannya yang kecil menyerang.

Apa maum tangannya kontan dirasakan sakit.

Ketika ditegasinya rombongan bayangan hitam itu ternyata cuma pohon yang banyak durinya, yang dikiranya orang yang menghampirinya, padahal ia sendiri yang lari menghampiri pohon2 itu.

Bajunya robek dan badannya berdarah, napasnya tersengal2.

Dalam keletihannya ia coba melongok lagi kebawah gunung.

Gelap gulita, tak tampak bayangan seorang manusia pun disana.

Ia sesali dirinya sendiri.

Nyalinya terlalu kecil.

Meskipun gerakan mereka lebih cepat, tetapi untuk mencapai jenazah ayaj, setidak2nya harus makan waktu satu jam lebih.

tidak mungkin mereka dapat mengejar kemari.

Tetapi belum lenyap pikirannya itu, mendadak didengarnya suara orang berkata.

"Be Tongcu, jangan kasih lolos anjing kecil itu, sebag dibadan bangsat tua tiu tidak kita dapati barang yang dicari."

Bocah itu ketakutan setengah mati. Sepasang matanya berjelilatan didalam kegelapan. Badannya gemearan, diam2 ia mendoa.

"Ayah, mohon kau melindungi Kie-jie supaya bisa lolos dari cengkraman mereka...."

Pada saat itu, kilat telah menerangi jalanan gunung yang kecil.

dari penerangn itu kelihatan beberapa bayangan hitam yang sedang lari dengan cepat ke atas gunung.

Si bocah tidak dapat melihat tegas wajah mereka, ia hanya dapat melihat bergemerlapannya sinar golok yang terkena sinar kilat.

Sudah terang, bahwa orang2 itu sedang mengejar kearahnya dan hendak mengambil jiwanya.

Untuk sesaat lamanya, ia berdiri dengan wajah ketakutan, tetapi dalam hatinya masih terus berkata .

Aku tidak boleh mati!

Keturunan keluarga Ho cuma tinggal aku seorang.

Kalau aku mati, siapa yang akan menuntut balas untuk kematian ayah yang menggenaskanitu?

Lagi pula sebelum ayah menutup mata, beliau telah suruh aku lekas menyingkirkan diri, malah beliau mengatakan bahwa atas diriku ada sangkut pautnya tentang mati hidup sembilan partai besar dalam rimba persilatan......benarkah aku ada sangkut pautnya dengan nasib seluruh rimba persilatan?

Benarkah kedudukanku sedemikian pentingnya?

Rupa2 pertanyaan, kekuatiran dan rasa ketakutan yang tercampur aduk dalam otaknya.

Ketiak ia tersadar dari pikirannya yang mleayang, ia dapatkan bahwa orang2 yang mengejar padanya sudah terpisah kira2 1 tombak jauhnya.

Bukan kepalang kaget dan takutnya dia, buru2 ia angkat kaki dan mabur lagi....

Air hujan terus seperti dituang dari langit.

Gunung itu seolah2 seekor binatang yang hendak menelan bocah yang belum apa2 itu.

Mendadak ia dengar pula suara orang yang bicara dengan nada yang menyeramkan.

"Anjing kecil, ajalmu sudah didepan mata, kau masih mau kabur kemana?"

Suara itu kedengarannya sangat nyata.

terang pengejar sudah berdada dekat dibelakang dirinya.

Bocah itu nyalinya hampir copot, dengan kekuatan yang masih ada, dia terus lari sambil berseru "Tolong....tolong....."

Tetapi suara permintaan tolongnya itu telah ditelan oleh sang malam yang gelap, oleh air hujan dan guntur yang bersambung tak henti2nya.

Dipergunungan yang sepi, siapa yang bisa dengar seruannya?

Dan andai kata ada yang mendengar, siapakah yang mau mencampuri urusan2 orang lain?

Saat itu kembali terdengar pula suara yang seram itu.

"Tongcu, anjing kecil itu sudah dekat dipuncak gunung! Kita harus lekas turun tangan, sekalian jangan biarkan dia lolos dari tangan kita....!"

Sibocah thau bahwa orang yang bicara tadi tentunya adalah kauwcu dari Hian kui kauw yang mempunyai gelar Cian Tok Cian Mo atau Manusia Iblis Sangat Jahat, yang sedang menggunakan ilmunya menyampaikan suara sampai ribuan lie, untuk memberi perintah pada orang2nya supaya segera menangkap atau membinasakan diriny sibocah yang bernasib malang itu.

Ayahnya sibocah sudah binasa ditangan merea!

Mereka itu sungguh kejam.

sesudah membinasakan ayahnya sekarang mereka masih hendak menumpas keturunannya.

Mereka anggap hidupnya bocah itu seperti juga menanam bibit bencana bagi mereka dikemudian hari.

Dari suaranya kauwcu yang memberi komand itu, sibocah sekarang sudah tahu bahwa dirinya sudah berada diujung paling tinggi dari bukit Pek-Kut nia.

Jadi puncak gunung Sin hong tempat kediaman orang aneh ang berkepandaian tinggi itu sudha tidak jauh lagi dari situ.

Ini ada merupakan suatu titik sinar pengharapan bagi jiwanya Ho Kie yang terancam bahaya maut itu.

Maka, ia lari terus sambil berteriak-teriak minta tolong."Cianpwe, tolong.....!"

Tetapi pada saat itu terdengar suara guntur.

hingga suara permintaan tolongnya ditelan oleh bunyi guntur.

Apakah itu sudah kemauan takdir, Ho Kie harus binasa digunung yang sepi itu dalam usianya yang masih begitu muda?

Suara seram tadi terdengar pula.

"Anjing kecil, sekalipun kau berteriak sampai pecah tenggorokanmu, siapa yang akan mendengar? Perintah kauwcu sudah keluar. sebaiknya kau menyerah saja. Kami tongcu mungkin masih memandang usiamu yang masih begitu muda, dapat memberi kelonggaran membinasakan kkau dalam keadaan tubuhmu utuh."

Pada saat waktu suara itu berhenti.

orangnya sudah dibelakang Ho Kie.

si bocah ketika menoleh kebelakang, melihat tidak jauh darinya ada beridir seorang tua yang berbadan tegap dan wajahnya keren sambil menyoren golok.

Dibawah sinar kilat.

Ho Kie melihat wajah yang sudah serem.

ketika tertawa lebih menyeramkan lagi tampaknya.

Wajah itu masih teringat betul dalam otaknya Ho Kie, peristiwa berdarah yang masih belum lama terjadi kembali terlintas dalam otakknya.

Belum lama berselang, ketika sang malam baru tiba, orang ituah yang memimpin sekawanan manusia buas berkepandaian tinggi, mengejar dan membunuh ayahya.

Dan sekarang ia kembali muncul didepan matanya, sudah tentu bermaksud hendak membinasakannya sekalian.

Ho Kie ketakutan, ia berteriak dan lari ke luar lagi....

Mendadak terdengar pula suara perintah kauwcu.

"Bo tongcu, lekas turun tangan, jangan biarkan bocah itu sampai menginjak tanah telarang sisetan tua Cit Cie Sijari Tujuh.!"

Orang tua itu tertawa dingin, lalu gerakan badannya, secepat kilat sudah memburu ke arah sibocah tadi.

Ho Kie tiba diatas gunung, mendadak didepan matanya tampak semua kosong.

Ia hentikan larinya dan apa yang terlihat, membikin semangatnya terbang seketika.

Ternyata ia sudah tiba ditepi sebuah jurang yang sangat dalam.

Keadaan jurang itu sangat berbahanya, di kanan dan dikiri tebing jurang tampak menjulang tinggi, kecuali itu jalanan kecil yang barusan dilalui, sudah tidak ada jalan keduanya lagi.

Ho Kie berpaling ke belakang dengan penuh ketakutan, dimana orang tua berwajah seram itu sudah berada dekat sekali dibelakangnya, seolah2 terus dia dibuntuti, seperti kucing mempermainkan tikus.

Ho kie sekarang menghadapi jalan buntu.Didepan ada jurang, dibelakang sudah tidak ada jalan untuk mundur.....

Kecuali terjun kedalam jurang, jalan mundur berarti mengantarkan jiwanya kedalam tangannya orang tua yang kejam itu.

Ho Kie gemetaran bdannya menekankan rasa takut dan ngeri, tanpa sadar ia mundur dua tindak, terpisah dengan jurang cuma tinggal 1 tombak saja.

"Anjing kecil, aku ingin tahu kau masih bisa lari kemana?"

Demikian orang tua berwajah seram itu berseru. Menganggap sudah tidak ada harapan untuk hidup, Ho Kie jadi nekad. Dengan mata mendelik lebih dulu ia memaki orang tua itu.

"Bangsat tua! Kejam benar kau. Ayahku ada permusuhan apa dengan kau? mengapa kau bunuh dia? Aku seorang anak kecil saja kau masih tidak mau lepaskan, apa kau bermaksud hendak menumpas habis seluruh keluarga Ho?"

"Ayahmu si anjing tua itu, sejak menjadi anggota Hian Kui kauw. kauwcu dengan kami semua perlakukan padanya dengang baik, siapa nyana dia telah menghianati perkumpulan dan hendak mabur. Selain daripada itu, dia juga mencuri sebuah...."

Belum habis ucapan orang tua itu, kembali terdengar suara kauwcu yang amat dingin.

"Be tongcu, lekas turun tangan! Jangan sampai si setan tua Cit-Cie Lo kui nanti dapat dengar perkataannya dan memberi pertolongan kepadanya.!"

Orang tua yang dipanggil Bo Tongcu itu lantas menjawab sambil bungkukkan badan.

"Bo Pin menjunjung tinggi perintah kauwcu!"

Orang she Bo itu lantas angkat kepalanya, matanya memancarkan sorot beringas.

Ho Kie terkejut, Ia pernah mengikuti ayanya yang menjadi anggota perkumpulan Hian Kui kauw hingga ia tahu benar sifat2 orang she Bo yang bergelar Pai Lui Khiu atau sitangan geledek ini.

Orang ini ada memangku jabatan sebagai kepala badan hukum dari perkumpulan Huan kui kauw, boleh dibilang mirip seorang tukang pukul.

pada waktu biasa, sukar sekali untuk mengetahui wajah orang she Bo ini.

Oleh karena ayahnya terbinasa justru oleh orang she Bo ini, maka timbul niatnya Ho Kie untuk mengawasi dulu dengan sepuas hati ia mencongor pembunuh ayahnya itu sebelum ia menemui ajahnya.

Apa mau, pada saat itu sinar kilat sudah tidak kelihatan lagi, malam juga semakin gelap.

Kecuali cambang dan alisnya yang putih yang nyata sekali kelihatan, wajah orang she Bo itu tidak dapat dilihat dengan tegas.

Ho Kie sambil mengertek gigi, berkata gentas.

"Orang she Bo, Aku ingat benar bagimana raut muka cecongormu ini. Sekalipun aku menjadi setan dialam baka, aku juga akan menangkap kau untuk menuntut balas dendam sakit hati ayahku..."

Perkataan Ho Kie belum keluar habis, Bo Pin sudah keluarkan bentakan keras sambil menyerang dan menjambret pundak kirinya. Ho Kie kegusarannya sudah meluap.

"Bangsat tua, aku akan adu jiwa dengan kau..!"

Bentaknya nyaring.

Dengan cepat tangannya menghajar perut Bo Pin.

Ho Kie tau kekuatannya sendiri, yang tentu saja tidak sebanding dengan kekuatan Bo Pin.

tetapi ia tidak mau mandah menerima kemaitan dengan begitu saja.

Serangan itu telah dilancarkan dengan menggunakan kekuatan tenaga sepenuhnya.

Sebagai tukang pukul, ilmu silat Bo Pin sudha tentu diatas kepandaian kawan2nya, maka dengan cara bagaimana sibocah dapat menjamah tubuhnya?

Bo Pin hanya ganda ketawa atas serangan Ho Kie, lalu menangkis dengan seenaknya.

Ho Kie mundur terhuyung2 dan jatuh ditanah.

Ingin mempertahankan jiwanya, Ho Kie telah melupakan keadaan dirinya sendiir.

Baru saja terjatuh ia sudha lompat bangun lagi, dan kali ini ia telah menggunakan kakinya menendang bagian bawah tubuh Bo Pin.

Ho Kie cuma mengerti ia tidak mau mati begitu saja, maka kepandaian ilmu silatnya yang serba sedikit sudah dikeluarkan semua untuk menyerang musuhnya.

Bo Pin sungguh tidak menyangka bahwa bocah sekecil itu juga berani turun tangan terhadap dirinya.

Dalam gusarnya, setelah menghindaran satu serangan dari Ho Kie, ia menyerang kepala bocah tersebut.

Siapa sangka, sibocah sudah berlaku nekad benar2.

Ketika satu tendangan Bo Pin sudah meluncur keluar, bukannya mundur, sebaliknya malah maju menerjang.

Ia mementang kedua tangannya, maksudnya hendak merangkul kaki lawannya dan hendak digigitnya sekuat tenaga.

"Anjing kecil, serahkan jiwamu!"

Bo Pin membentak sangat gusar.

Ho Kie terkejut, ternayta tubrukannya tadi telah mengenai tempat kosong.

Mendadak ia merasakan gegernya disambar oleh angin yang sangat kuat.

Ho Kie memang sudah mengerti, bahwa kalau cuma mengandal pada kepandaiannya yang tidak berarti, suka untuk ia dapat melawan Bo Pin.

Tetapi ia mempunyai kemauan yang keras, ia tidak mau mandah binasa begitu saja.

Pada saat2 demikian itu, telinganya seperti mendengar pesan ayanya pula waktu hendak menutup mata.

"Kie-jie, kau tdak boleh mati! Kau harus lekas lari! Awas dirimu bukan saja ada menyangkut keluarga Ho, tapi juga kau mempunyai hubungan erat dengan bangun atau jatuhnya sembilna partai besar dalam rimba persilatan."

Semua perkataan itu sepatah demi sepatah seperti jarum yang menusuk ulu hatinya.....

Dengan tabah ia kuatkan diri.

Karena ia ditugaskan untuk hidup, sekali2 ia tidak boleh binasa.

Selagi berpikir demikian, serangan Bo Pin yang hebat tiba2 menggempur belakang dirinya.

Entah dari mana datangnya kekuatan tenaganya, mendadak semangatnya bangun untuk melawan musuhnya.

Tetapi serangan itu seperti juga telur menghantam batu.

Terdengar suara Beleduk.

Matanya berkunang2, mulutnya berteriak2 ketakutan.

Ia hanya merasakan bahwa tubuhnya telah terlempar ketengah udara, sementara mulutnya sudah menyemburkan darah segar....Matanya makin gelap, dan badannya melayang masuk kedalam jurang.

Dalam keadaan separuh sdara lapat2 Ho Kie ingat, dirinya seperti sudah meninggalkan dunia yang fana ini, badannya seperti kosong, melayang ditengah udara.

Diantaranya kosong, tidak ada apa2 yang dapat dijambret untuk menolong dirinya.

Ia terus meluncur turun kebawah.

Dalam keadaan demikian hatinya malah menjadi tenang.

Air muka orang yang dikenal betuh oelhnya dengan tegas terbayang didalam otaknya.

Siapa dia?

itu adalah ayahnya sendiri yang berlepotan darah, sepasang matanya yang sayu memandang padanya dengan penuh kasih sayang.

Sang ayah mengharapkan sangat agar anaknya bisa meloloskan diri dari cengkraman kawanan manusia iblis itu, karena perlu untuk menyambung turunan keluarga Ho dan penting artinya buat jatuh bangunnya sembilan partai besar dalam dunia rimba persilatan.

Tetapi akhirnya ia tidak terlepas dari kemauan takdir.

Sesudah dekat berada dipuncak gunung Sin hong, sehingga terjerumus masuk kedalam jurang.

Kesemuanya itu telah terbayang dalam otaknya yang makin lama makin tidak nyata, dan akhirnya perlahan2 kehilangan perasaannya sendiri..

-oo0dw0oo-MALAM, tanpa dirasakan lagi telah berlalu perlahan.

Hujan angin, kilat dan geledek telah berhenti dengan sendirinya.

suasana mulai terang kembali.

Entah berapa lama sang waktu telah berlalu....

Ho Kie si bocah itu, perlahan2 telah tersadar dari impiannya yang buruk.

Ia mengucak2 matanya dan mengawasi keadaan disekitarnya.

Ia melihat bahwa tempat tersebut ternyata adalah suatu tempat yang amat sunyi.

Tak ada hujan, tidak ada angin, tidak ada kilat ataupun geledek, juga tidak lagi terdengar suara Pun-Lui khiu yang amat menyeramkan....

Tempat apakah ini?

Itu seolah2 suatu tempat yang tenang tentram, bebas dari segala gangguan dunia, juga seperti suatu kuburan kuno yang luas.

Gelap dan sunyi.

Ia mendadak terkejut, hatinya berdebaran, maka lantas bertanya2 kepada dirinya sendiri.

"Ah.. apa aku sudah mati? atau mungkinkah aku sedang mimpi...?""

Benar!

tapi ia pernah dikejar2 oleh Bo Pin, terdesak sampai ditepi jurang dari bukit Pek Kut-nia, dan kemudian diserang oleh orang she Bo itu.

semua kejadian yang sudah lalu kembali berlintasan didalam otaknya.

Apakah dirinya berada didalam akherat...?

Mendadak ia angkat tangannya, dengan sekuat tenagan ditepokkan keatas batok kepalanya sendiri....

"Plak.."

Terdengar suara nyaring, kepalanya dirasakan sakit Ia tertawa, sebab dengan rasa sakit itu membuktikan bahwa ia belum mati, juga bukan sedang mimpi, melainkan sadar sesadar2nya.

Ia masih berada didalam dunia.

Kembali ia pentang lebar kedua matanya, ia dapatkan dirinya berada didalam sebuah goa yang dingin hawanya.

Disekitar goa itu berdinding batu hijau terang, diatas ada sebuah pelita yang memancarkan sinar hijau.

Dalam goa itu dipenuhi oleh sinar hijau, angin dingin meniup sepoi2, orang yang berada didalam goa seperti berada didalam air laut....

Disitu tidak kelihatan bayangan seorangpun juga, sesungguhnya amat sunyi, barang perabotan rumah tangga seperti meja atau kursi juga tidak terdapat sama sekali.

Dengan perasaan heran ia berduduk, lalu menanya kepada dirinya sendiri.

"Ah! ini tempat apa?"

"Ini adalah Lembah Patah Hati."

Jawaban yang tidak terduga2 itu terdengar dibelakang Ho Kie.

Dalam kagetnya ia lantas berpaling.

Dan apa yang disaksikan, membuat ia hampir saja menjerit.

Dibelakang dirinya kira2 berjaram enam kaki jauhnya, ada berdiri satu orang yang aneh bentuknya.

Orang aneh itu dari ujung kepala sampai kakinya dibungkus oleh kain berwarna putih dan hitam, kecuali sepasang amtanya yang memancarkan sinart tajam, rambutnya juga terbungkus rapat.

Nampaknya ia tengah mengawasi Ho Kie dengan heran, sorot matanya yang tajam terus menatap wajah Ho Kie, sementara mulutnya terus mengeluarkan suara tertawa yang sangat aneh.

Ho Kie dengan hati berdebaran mulai memikir, mana boleh jadi didalam dunia ada makhluk yang aneh seperti ini?

Apakah itu bukan setan atau dedemit yang biasanya terdapat didalam akherat?

Berputarlah rupa2 pertanyaan dalam otaknya pada saat itu.

Kalau mau dikatakan akherat, mengapa pula orang itu menyebut tempat ini sebagai Lembah Patah Hati?

Apakah diakherat ini ada lembahnya yang dinamakan Lembah Patah Hati?

Ia lalu besarkan nyalinya dan coba2 bertanya.

"Hai, kau ini manusia atau setan?"

Makhluk itu kembali perdengarkan suaranya yang aneh seram, sampai bulu romanya Ho Kie pada berdiri semua dan badannya terasa mengigil. Mendadak makhluk itu menghentikan ketawanya dan berkata perlahan.

"Kalau aku setang, siang2 sudah aku bawa kau keneraka. Tapi malah sebaliknya, aku sudah bisa narik kembali dirimu dari ancaman bahaya maut.!"

Suaranya kedengaran sangat dining, sedikitpun tidak seperti orang yang mempunyai perasaan welas asih.

Ho Kie adalah seorang anak yang cerdik.

Dari keterangan itu segera ia mengerti bahwa jiwanya tentu sudah ditolong dari ancaman bahaya maut oleh siorang aneh.

Apakah orang ini adalah orang aneh yang berkepandaian tinggi yang pernah disebut oleh ayahnya ketika masih hidup?

Ia sebenarnya hendak menanyakan nama orang aneh itu.

tetapi perasaannya telah dibikin takut oleh sorot mata orang tersebut yang bercahaya begitu bengis dan kejam, sehingga akhirnya dia tidak berani membuka mulut, sampaipun ucapan terima kasih tidak berani di keluarkan dari mulutnya.

Kiranya orang aneh itu bukan hanya tajam penglihatannya, dikedua matanya juga seperti memancarkan sinar biru seperti binatang buas diwaktu malam hari.

Kalau dilihat dari sini, mana dia mirip dengan manusia?

Adalah elbih mirip kalau mau dikatakan sebagai makhluk jejadian atau setan.

Karena perasaan takut yang menghingapi dirinya, sesaat lamanya ia seperti orang kesima.

Orang aneh itu mendadak tertawa serta berkata.

"Setan cilik! kau takut apa? aku toh tidak akan menelan kau? Apa kau sekarang sudah merasa sedikit enakan?"

Meskipun pertanyaan itu mengandung maksud perhatian yang ditujukan si anak kecil itu, tetapi karena pada logat suaranya itu agak ketus dan dingin, maka orang yang mendengarkan bisa menjadi merasa kurang enak.

Dalam hati Ho Kie merasa agak mendongkol dan timbul dalam pikirannya dugaan begini.

Orang ini pasti bukan yang disebuh ayah dulu, karena dari suaranya yang ketus, kelihatannya seperti orang yang tidak mempunyai perasaan terhadap sesama manusia.

Maka ia juga lantas menjawab dengan suara dingin.

"Atas perbuatanmu yang sudah menolong selembar jiwaku itu, disini aku Ho Kie mengucapkan banyak2 terima kasih. Tetapi kalau kau anggap adanya aku disini akan mengganggu ketentramanmu, mengapa tidak kau antarkan aku kelembah Muikok lagi supaya aku dibunuh oleh kauwcu Hian Kui-kauw?"

Orang aneh itu tertawa terbahak2, kemudian berkata.

"Kau mau mati? Tidak begitu gampang. Sekarang kematianmu sudha lewat. Sekalipun kau ingin mati, raja akherat belum tentu mau menerima kau. Hai setan kecil, siapa namamu?"

"Namaku Ho Kie"

Orang aneh itu tiba2 ketawa pula bergelak2.. Dengan tangannya ia menuding Ho Kie seraya berkata.

"Ho Kie.. Ho Kie.. Nama ini boleh juga! Mo ciok wie kie (apa yang perlu diherankan) Cuma satu bocah cilik yang tiada berarti. Apa yang perlu dibuat heran?"

Ho Kie yang digoda demikian, hatinya semakin mendongkol.

Ia pikir ia hendak berlalu dari depan orang aneh iut.

Tetapi baru saja bergerak.

kepalanya mendadak dirasakan puyeng, badannya dirasakan tidak lagi bertenaga, maka akhirnya ia terjatuh numprah lagi ditanah.

"Setan kecil, kau mau apa?"

Tanya orang aneh itu dengan suaranya yang dingin ketus.

"aku mau perti dari sini!"

"Aku disini mempunyai satu aturan, orang hidup yang datang kemari berarti mencari kematian, tetapi kalau orang yang mau mati masuk kemari, itu berarti akan terbuka jalan hidup baginya. Kalau ada salah satu orang yang mau mati dapat ku pungut dilembah Patah Hati ini, maka selanjutnya orang itu cuma bisa mengikuti aku melewati penghidupan antara mati tidak, hiduppun tidak. Kau mau pergi? Tidak begitu mudah! lebih baik kau berdiam disini dengan tenang."

"Itu toh kau sendiri yang suka menolong aku bukan? Pada saat itu aku sendan dikejar dan dipukul orang"

"Jikalau kau tidak bermaksud mencari aku, mana bisa kau lari ke Lembah Patah Hati yang jarang didatangi oleh manusia ini."

"Ngaco! Maksudku hendak mencari orang aneh berkepandaian tinggi yang berdiam dipuncak gunung Sin hong. Aku sendiri tidak mengetahui kau ini setan atau manusia, mana bisa lantas kau kata aku mencari kau?"

"ha..Ha...! Apa orang yang ingin kau cari itu bukannya orang berjari tujuh si tua bangka Cit cie?"

"Aku tidak mengetahui nama orang tua itu, tapi ayah menyuruh aku...."

"Apa kau kira ia lebih kuat dari pada aku? Kita bertiga adalah . Sin hong, Kui kok, dan Toan Theng Gay (Lembah Patah Hati). kekuatannya ada berimbang. Siapapun tidak ada yang lemah dari yang lainnya. Lebih baik kau mengikuti aku, mungkin ada lebih baik dari pada mencari dia.."

Ho Kie merasa sedikit heran, maka lalu bertanya lagi.

"Tempat ini mengapa sampai bisa dinamakn Lembah Patah Hati?"

Siapa tahu, dengan dikeluarkannya pertanyaan itu si orang aneh badannya kelihatan gemetaran dengan beruntun ia mundur dua langkah dan lantas membentak dengan suara tertahan.

"Aku melarang kau menanyakan soal ini lagi!"

Ho Kie tambah tidak mengerti, maka lalu bertanya pula.

"kalau begitu, siapa namamu?"

Orang aneh itu kelihatan terperanjat, dengan terhuyung2 ia mundur lagi tiga tindak. sinar matanya yang biru kelihatan bertambah menakutkan. Dengan perasaan aneh Ho Kie kembali bertanya.

"Kau telah menolong selembar jiwaku, apakah terhadap nama saja kau berkeberatan memberitahukan padaku?"

Mendadak orang aneh itu bergerak badannya, dengan cepat sudah berada disampingnya Ho Kie. Tangannya sudah mencekal pundak Ho Kie, Lantas ia membentak dengan suaranya yang keras.

"Aku tidak ijinkan kau bertanya...."

Ho Kie yang merasa pundaknya dicekal merasakan tulang pundaknya seolah2 telah hancur.

Ia tidak mengerti, apa kesalahan dari pada pertanyaan tadi.

Apakah menanyakan anma saja juga tidak boleh sehingga telah membuat orang itu gusar sedemikian rupa?

Apakah ia mempunyai rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang kedua?

Kalau benar demikian halnya, orang itu benar2 merupakan orang aneh nomor satu dalam dunia.

Pertanyaan itu telah berputaran didalam otaknya, tetapi selalu tidak mendapatkna jawaban yang tepat.

Rasa sakit dipundaknya itu telah menambah penderitaan pada dirinya sehingga keringat dingin membasahi sekujur badannya.

Tetapi kemudian ia balik berpikir.

Jikalau telah ditolong olehnya, kalau ia tidak suka ditanya, buat apa aku mesti menanyakan terus?

Begitulah maka terpaksa ia menahan rasa sakit dipundaknya itu.

Sambil menunjukkan ketawa getir, lalu berkata dengan perlahan.

"Baiklah kalau kau tidak sudi mengatakan padaku, aku akan ingat2 saja pakaianmu yang akan kuukir selamanya dalam hatiku. Aku tidak akan melupakan budimu yang telah menolong jiwaku, begitu saja rasanya sudah cukup."

Mendadak badan orang aneh itu menggetar, ia melepaskan tangannya dan mundur tiga tindak.

Karena wajah orang aneh ini terbungkus oleh kain hitam dan putih, maka siapapun jadi tidak dapat melihat perubahan apa sebenarnya yang terjadi diwajahnya itu.

Hanya, dari sinar mata orang tersebut yang dari bringas telah berubah menjadi guram, dapat diduga rupanya hati orang ini sedang mengalami penderitaan hebat.

Ho Kie sambil memijit2 pundaknya yang kembali terasa sakit, lalu berkata sambil tertawa getir.

"Kau... kau pasti pernah mengalami penderitaan hidup pada masa yang lalu, menyesal karena aku ingin dapat membalas budimu, sehingga pertanyaanku tadi agak menusuk persaanmu. Locianpwe, sudkah kau tidak sesalkan perbuatanku tadi?"

Orang aneh itu mendadak menghela napas panjang, dikelopak matanya telah mengembang air matanya. Ho Kie terperanjat, dalam hatinya diam2 ia berpikir.

"Benar saja, dugaan ku ternyata tidak keliru, ia psati pernah....."

Selagi Ho Kie berpikir demikian, tiba2 ia mendengar orang aneh itu berkata sambil menghela napas.

"ah, sudah beberapa puluh tahun lamanya tidak pernah ada orang yang menanyakan namamku, sampai aku sendiri rasanya sudah melupakan namaku."

"Locianpwe, akalu kau sudah tidak ingat namau, ya sudahlah. Jangan locianpwe terlalu memikirkan hal itu lagi."

Kata Ho Kie sambil ketawa getir.

Meskipun dimulutnya Ho Kie mengatakan demikian, tetapi dalam hatinya tidak mau percaya bahwa dalam dunia ini ada orang yang melupakan namanya sendiri.

Tetapi orang aneh itu setelah mendengar perkataan Ho Kie, sebaliknya malah berkata sambil menganggukan kepala.

"Kalau kau kepingin tahu juga namaku dan siapa aku ini, Panggil saja aku Toan-theng lojin"

Toan-theng Lojin sama artinya dengan Orang tua yang patah hati.

Alangkah menyedihkan sebutan nama itu.

Bagaimana ia bisa menggunakan nama sebutan yang kejam ini?

Soal apakah sebetulnya yang telah membuat ia sampai patah hati?

Ho Kie benar2 tidak habis mengerti, karena ia masih kecil, sudah tentu ia tidak mengerti banyak urusan dalam dunia.

Toan-theng lojin kembali berkata.

"Disini ada berdiam seorang tua yang berhati duka karena pengalaman hidupnya menyedihkan. Hampir segala penderitaan hidup dalam dunia telah menimpa diri orang tua yang bercelaka itu. Akh... Habis nama apalagi yang akan kupakai. kalau tidak menyebut begitu? Dan bagaimana pula kalau aku tidak menyebut tempat kediamanku sebagai Lembah Patah Hati?"

Perkataan yang diucapkan dengan nada menyedihkan, segala penderitaan hidup yang menyedihannya, seolah2 telah terbayang kembali didepan matanya.

Meskipun Ho Kie masih merupakan seorang anak kecil dan belum mengerti seluk beluknya penghidupan orang dewasa, namun hatinya merasa sedih juga mendengar penuturan orang tua itu, sehingga terhadap orang aneh tersebut mendadak telah bersemu dihatinya semacam perasaan simpati.

Hening sejenak, orang aneh itu lantas berkata pula .

"Enam puluh tahun lamanya, pengalaman hidup ku boleh dikatakan sangat tidak beruntung. Hampir semua perkara membuat aku patah hati... Akh. aku barangkali merupakan satu-satunya manusia yang paling tidak beruntung didalam dunia ini..."

Ho Kie mengangguk2kan kepalanya, lama sekali barulah ia dapat menjawab sambil tertawa getir "Locianpwe, dunia ini memang selalu kejam.."

Ia sebetulnya masih ingin mengeluarkan beberapa patah lagi untuk menghiburi orang tua itu.

tetapi ia tidak mengerti perkataan apa yang rasanya paling tepat untuk menghibur hati orang tua tersebut.

ORang aneh itu mengangguk2kan kepalanya seraya berkata lagi.

"Aku lihat, diwajahmu nampak gelap.

Rupa-rupanya dalam keluargamu pernaht erjadi sesuatu pembunuhan yang sangat hebat.

Kalau aku mau menduga, kau tentunya pernah mengalami penderitaan yang sangat hebat dalam penghidupanmu.

Tetapi kalau kau merasa susah hati, lebih baik jangan kita bicara soal ini..

Mendadak hati Ho Kie tergerak .

"Tidak!! Aku pasti akan memberitahukan kepadamu. Meskipun peristiwa itu sangat menggenaskan, tetapi aku tidak akan terlalu sedih kalau cuma menuturkan saja......"

Sekalipun mulutnya mudah mengatakan perkatan demikian, tetapi air matanya telah mengalir bercucuran.

Toan-theng lojin angguk2an kepalanya, ia menghampiri Ho Kie, lalu mengulurkan tangan kanannya, dengan perlahan tangan itu diletakkan diatas jalan darah Kiu bwee hiat dibadan Ho Kie.

"Kalau begitu, kau jangan terlalu bersedih. Kau boleh beritahukan padaku secara perlahan2 saja. Bagaimana kau bisa menaruh permusuhan dengan Hian-kui kauw? Dan perlu apa kau hendak pergi kepuncak gunung Sin hong untuk mencari Cit-cie siorang tua?"

Dari telapak tangan orang aneh itu, Ho Kie telah merasakan hawa hangat yang mengalir ke dalam dirinya, Hawa hangat tersebut telah membuat badannya terasa lebih segar.

Sebentar saja hawa hangat itu telah menyusuri sekujur badannya.

Kelihatannya Ho Kie sekarang bersemangat, ekduaan yang menggetarkan hatinya tadi kini juga sudah lenyap sebagian, maka ia dapat menuturkan kejadian2 yang dialaminya dengan tenang.

"Dalam usia tujuhtahun aku telah ditinggal mati oleh ibuku. Oleh karena kami adalah keluarga miskin, maka untuk mengubur jenazah ibuku, ayahku telah menjual semua harta bendanya. sejak aku berusia sepulu tahun, aku lantas mengikuti ayah merantau didunia kangouw...."

"siapa nama ayahmu?"

Orang tua aneh itu mendadak memotong.

"Ayahku bernama In Bo. dulu beliau pernah belajar silat dari seorang padri, beliau mengajak aku merantau didunia Kang ouw setengah tahun lamanya, kemudian karena bujukan orang lain, beliau telah masuk ke dalam perkumpulan Hian-kui kauw."

"Aaaa.. ia tidak seharusnya berbuat demikian.."

Nyeletuk Toan-theng lojin.

"Ayah dan aku berdiam di lembah Kui kiok, empat tahun lamanya. Ayah menjabat kedudukan sebagai Hiacu dari bagian tata hukum Hian kui kauw. Kemudian ayah dapat melihat bahwa Hian kui kauw mengandung maksud jahat untuk menjagoi rimba persilatan, dimana pengaruh Hian-kui kauw juga sudah mulai meluas dan akhirnya pasti akan menimbulkan bencana bagi orang2 dalam rimba persilatan. Meskipun ayah mengetahu hal itu, tetapi beliau tidak mampu membebaskan dirinya."

"Kemudian bagaimana mendadak bisa tertanam permusuhan dengan Hian kui kauw?"

Tanya Toan-Theng lojin.

"Tentang hal ini, aku juga tidak mengetahui dengan jelas apa maksudnya, Aku hanya mengetahui bahwa pada suatu malam, mendadak ayah mengajak aku pergi. Beliau mengatakan bahwa kami tidak bisa berdiam lama2 dilembah Kui kiok. Kami harus segera meninggalkan tempat tersebut. Tidak disangka, ditengah perjalanan kami telah dikejar oleh utusan Kauwcu kami. Kasihan, ayah telah binasa ditangan Bo Pin, kepala dari bagian tata hukum yang mempunyai gelar, Si Tangan Geledek..."

Bicara sampai disitu, peristiwa berdarah yang sangat menggenaskan diatas gunung pada malam yang sangat menggenaskan itu, kembali terbayang dipelupuk matanya....

Wajah yang menyedihkan dari ayahnya ketika mendekati ajalnya setelah terkena serangan tangan Bo Pin membuat Ho Kie tidak mampu lagi mengendalikan perasaan dukanya.

Air mata kembali menitik keluar, terus membasahi pipinya.

Dengan perlahan orang aneh itu mengusap kepala Ho Kie dan kemudian ia berkata dengan suara lemah lembut.

"ayahmu setelah mengetahui tidak bisa tinggal lama2 dibawah pengaruhnya Hian-kui kauw, tentu ada banyak tempat yang dapat dikunjungi olehnya. Tapi mengapa ia lari justru menuju keatas gunung belukar ini?"

"Menurut kata ayah, kami datang kegunung belukar ini maksudnya ialah hendak mencari seorang aneh yang mengasingkan diri diatas puncak gunung ini, ayah mengatakan pula bahwa ada satu persoalan penting yang menyangkut mati hidupnya sembilan partai besar dalam rimba persilatan."

Mendadak orang aneh itu terkejut.

"Akh..Ada kejadian begitu janggal? Apa kau mengetahui urusan apa itu. yang ada begitu penting?"

"Tentang hal ini sebelum ayah binasa tidak keburu beritahukan kepadaku, ia hanya menyuruh aku lari untuk menyelamatkan diri. kalau jiwaku masih hidup, soal itu nanti pasti akan kuketahui sendiri, katanya."

"Tidak apa. Aku nanti akan turun gunung sebentar, sudah tentu akan dapat tahu persoalannya. Hanya... Ayahmu telah terbunuh oleh Bo Pin, orangnya Cian tok Lo Mo, sakit hatimu ini barangkali suliat untuk kau tuntut."

Ho Kie terperanjat.

"Ini apa sebabnya?"

"Kau tidak mengetahui kelihayan Cian tok La Mo. Kepandaian ilmu silatnya iblis tua itu mungkin berimbang dengan si orang tua Cit cie yang berdiam dipuncak gunung Sin hong ini. sekalipun aku yang turun tangan sendiri, belum bisa diramalkan siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah."

"Locianpwe apa ucapanmu ini benar?"

"Perlu apa aku membohongi kau?

Mengenai kepandaian ilmu silat kami bertiga, sebetulnya berasal dari satu cabang.

Semuanya berasal dari kitab ilmu silat Hian ku pit kip.

Iblis tua itu mempelajari ilmunya dari

Jilid kedua dan aku dari

Jilid ketiga, sedangkan

Jilid pertama jatuh ditangan si orang tua Cit-cie yang berdiam diatas puncak gunung Sin hong. Pelajaran-pelajaran yang terdapat dalam ketiga

Jilid kitab itu, sebetulnya masing-masing sama hebatnya. Siapapun tidak dapat memenangkan yang lainnya.

Jilid pertama mengutamakan gerak tipu yang aneh2, yang penting untuk gerak melindungi diri.

Jilid kedua merupakan pelajaran gerak tipu serangan yang diutamakan untuk menyerang musuh, sedangkan

Jilid ke tiga yang aku dapatkan ada mengutamakan pelajaran ilmu Iweekang. kalau dibandingkan yang satu dengan yang lainnya, meskipun ada beberapa bagian yang melebihi dari

Jilid yang berlainan, tetapi dalam hal ilmu menyerang, tidak sehebat dari pelajaran yang terdapat dalam

Jilid kedua dan pertama. Kau pikir saja, Taruh kata kau berhasil mempelajari ilmu silat dari aku, bagimana kau dapat mempergunakannya untuk menuntut balas? "

Ho Kie yang mendengar keterangan yang panjang lebar itu, hatinya jadi sangat berduka, Air matanya lantas mengalir dengan deras, lalu berkata dengan terisak2.

"Kalau begitu, kematian ayah tentu akan sangat kecewa dan musuh ini untuk selamanya tidak dapat kubunuh."

Toan-theng lojin lantas berkata sambil menepok2 pundak Ho Kie.

"Kau juga tidak perlu terlalu bersusah hati. Untuk menuntut balas, bukan tertutup jalannya sama sekali, itu harus dilihat pada kegiatan dan keberuntungan sendiri bagaimana. Hati Ho Kie agak tergerak, lalu berlutut ditanah sambil meratap "

Locianpwe, harap kau suka menerima aku, bocah yang bernasib malang ini, aku hendak angkat kau sebagai guru untuk belajar ilmu silat yang nanti akan kugunakan untuk menuntut balas sakit hati ayahku "

Orang aneh itu mendadak mundur dua tindak.

Dengan perlahan dia kebutkan lengan bajunya, angin kuta yang tidak kelihatan dapat menahan dirinya Ho Kie.

Dengan suara besar orang aneh ini selanjutnya berkata.

"Aku belum memikirkan untuk memungut murid. Urusanku sangat menyedihkan, sudah lama pikiranku seperti telah terpendam. Sekalipun kau anggukkan kepalamu sampai pecah juga tidak akan ada gunanya."

"Locianpwe, kalau kau tidak mau menerima kau, aku akan berlutut disini untuk selama-lamanya."

"Kalau begitu, kau boleh berlutut terus! Aku akan keluar untuk mengadakan penyelidikan, barang kali tiga hari kemudian baru bisa pulang."

Kata siorang aneh itu.

Tanpa menanti jawaban Ho Kie lagi ia sudah menghilang dari situ.

Dengan seorang diri Ho Kie berlutut dalam goa itu.

Mengingat apa yang telah terjadi barusan, ia seperti berada dalam mimpi.

Dengan perasaan murung ia mengawasi dinding tembok, tempat yang penuh rahasia itu telah membuat dalam pikirannya timbul semacam perasaan yang sukar dikatakan.

Semuanya dengan sebisa-bisanya ia ingin supaya dapat menggunakan ketulusan hatinya untuk menggerakkan hati orang aneh yang sangat kukoay itu.

Tetapi hatinya mendadak bergolak.

ia tidak dapat menenangkan pikirannya lagi.

Semua kejadian yang menggenaskan telah terbayang2 begitu nyata didepan kelopak matanya, kesemua itu seperti juga gambar hidup yang terpeta jelas sekali didepan matanya.

Jiwanya yang masih muda bergelora terpengaruh oleh adanya kejadian buruk yang menimpa dirinya itum dengan mendadak ia berteriak.

"Ayah! Ayah! Tolong!!Tolong!"

Tetapi ia tidak mendapatkan jawaban dan apa yang terbayang didepan matanya sudha lenyap semuanya.

Ia masih tetap berlutut didalam goa yang disekitarnya dikelilingi oleh dinding biru, dibawahnya ada batu keras dingin, sedangkan diatasnya ada tergantung sebuah pelita kecil yang memancarkan sinarnya yang biru pula..

Keringat sudah mulai turun bermanik2, kedua lututnya dirasakan sakit sekali, perutnya sudah mulai keroncongan.

Pada saat itu, kalau dia diberikan kesempatan untuk melonjorkan kakinya atau makan barang sejenak atau minum seteguk air alangkah segarnya.

Tetapi.....

ia tidak mau berbuat demikian.

Sebab, jika ia tidak bisa berlutut sampai tiga hari, tidak nanti ia akan dapat menggerakkan hati orang kukoay itu, juga akan berarti tidak dapatkan pelajaran yang tinggi sebagai bekal untuk menuntut balas sakit hati ayahnya.

Ia bertekad bahwa ia harus dapat bertahan dan harus sanggup menerima penderitaan, harus tahan berlutut dengna hati sujut.....

Berlutut terus sampai tiga hari.

Ya, sampai tiga hari, yaitu sampai orang tua Patah hati itu kembali.

Pinggangnya dirasakan sudah mulai sakit, tetapi ia kertak gigi, ia bertahan terus tanpa bergerak.

Sehari lewat sehari, hari telah berlalu dengan tenang.

Hanya detakan ulu hatinya yang seolah2 masih memberitahukan padanya bahwa ia pada saat itu masih hidup.

Kesengsaraan badan sudah membuat matinya perasaan Ho Kie.

Kelaparan sudah melampaui batas.

Kecuali ulu hatinya yang masih tetap berdenyut, semuanya seperti dirasakan sudah kaku.

Didalam goa itu tidak kelihatan muncul dan terbenam matahari.

Berapa lama sebenarnya ia sudha berlutut itu, ia sendiri juga tidak lagi mengetahuinya.apa yang diketahuinya adalah si orang tua Patah Hati itu masih belum juga kembali.

Dengan kemauannnya yang keras seperti baja, ia tidak mau melepaskan janjinya sendiri.

Ia tetap berlutut dengan kedua lututnya diatas batu yang keras dan dingin.

Akhirnya, matanya dirasakan berkunang2, badannya rubuh tersungkur....

Tepat pada saat itu, satu bayangan orang berkelebat.

Si orang tua Patah HAti kembali muncul didepan matanya.

Ho Kie seolah2 masih mempunyai sedikit ingatannya.

Dengan susah payah ia dongakkan kepalanya, sambil berkata hambar.

"Locianpwe, Locianpwe, akhirnya aku dapat menantikan kau kembali."

Orang tua yang aneh itu menatap wajah Ho Kie dengan pandangan matanya yang sayu lalu menganggukkan kepalanya, kemudian berkata sambil menghela napas.

"Benar saja ada satu anak yang berkemauan keras. Tapi mengapa kau berbuat begitu bodoh sekali, mau terus berlutut terus tujuh hari lamanya?"

"sudah lewat tujuh hari?"

Ho Kie lompat bangun bahna kagetnya. Locianpwe apa sejak kau pergi dilu sampai sekarang ini sudah ada tujuh hari?"

"Benar.Aku telah menyerapi rahasia yang dikatakan ayahmu ada menyangkut mati hidupnya sembilan partai besar didunia rimba persilatan. Didekat pusat perkumpulan Hian Kui-kauw, di lembah Kui kiok, aku sudah bersembunyi tujuh hari lamanya... akh.. aku sungguh tidak menyangka bahwa kau sibocah goblok ini sudah berlutut terus selama tujuh hari itu."

"Apakah locianpwe sudah mendapatkan keterangan jelas?"

"aku mencoba mencari keterangan dari berbagai pihak, mengetahui bahwa Hian kui kauw pernah mendapatkan sebuah benda yang berharga sekali yang telah dibawa kabur oleh ayahmu, sehingga mereka lantas..."

"Aaaa.... tidak! Locianpwe kau jangan dengar ucapan merak yang mengaco belo! ayahku tidak pernah mau mencuri barang sesuatu apapun milik mereka."

Menyela Ho Kie.

"Cian tok Lo Mo juga merasa bersangsi sebab benda itu dibawa kabur oleh ayahmu, sebab dibadan ayahmu mereka tidak dapat menemukan benda yang dicari itu. tepapi benda itu memang betul sangat berharga. Kalau tidak dapat diketemukan, benar2 memang akan menyangkut nasibnya sembilan partai besar dalam kalangan persilatan."

"Benda apakah itu?"

"Benda itu benda apa. aku sendiri juga tidak tahu dengan jelas, Kabarnya adalah suatu peristiwa yang terjadi pada seratustahun berselang. Bit cie dari daerah See hek telah menyerbu Tionggoan, sembilan partai besar yang terkenal kuta pada masa itu karena bermaksud hendak secara bersama2 melwana musuh dari luar itu, bersama2 telah membuat semacam benda. Siapa yang membawa benda itu dapat memberikan perintah apapun yang ia mau pada siapapun orang2 sembilan partai besar itu, tidak peduli hidup atau mati, harus ditaati benar. Kau pikir sendiri, apa bila benda itu benar2 berada dalam Hian kui Kauw, itu berarti runtuhnya kita."

Ho Kie terperanjat. Seketika itu ia lantas melupakan keletihan dalam dirinya.

"Kiranya benda itu ada begitu penting. Tetapi mengapa ayah cuma menyuruh aku supaya dapat melepaskan diri dari cengkraman mereka? Dan apakah hubungannya urusan itu dengan diriku?"

"Barang kali ia inginkan kau menyampaikan berita ini kepada Cit-cie si orang tua itu, tetapi sudah tidak keburu menjelaskan lagi."

"Kalau begitu, kematian ayah lebih tidak jelas lagi sebabnya. Locianpwe, aku mohon kau supaya sudi menerima aku sebagai muridmu."

Orang tua itu berpikir sejenak lalu berkata sambil tertawa.

"Mengingat akan ketulusan hatimu, menyimpang dari kebiasaan ku, aku bersedia hendak memberikan beberapa rupa pelajaran ilmu silat untuk kau. Ini mungkin sudah jodohnya. tetapi hanya sekedar sebagai peringatan atas pertemuan kita ini. Kau tidak usah anggap aku sebagai gurumu"

Ho Kie merasa sangat girang, dengan perasaan yang sangat terharu, ia berkata.

"Locianpwe, kau telah melepas begitu banyak budi kepadaku, sebaliknya tidak memberikan sedikit kesempatanpun kepadaku supaya aku dapat membalas budimu."

"Maksudmu toh cuma ingin bisa menuntut balas sakit hati atas kematian ayahmu bukan? Apa perlunya kau harus merecoki segala soal tentang ilmu silatku ini kau dapatkan dari mencuri atau memungut? Aku juga tidak menghendaki kau untuk membalas budi, satu sama lain tidak ada sangkutan apa2, bukankah ada lebih baik? cuma kalau kau hendak menuntut balas untuk ayahmu, dengan hanya menganadalkan kepandaiaan yang kau dapatkan dari aku si orang tua, sebetulnya tidak cukup untuk memenangkan Cian-tok lo mo. Sebaiknya kau belajar lagi dari Cit-cie si orang tua itu. Kalau kau sudah dapatkan kepandaian orang tua itu, itu berarti juga bahwa kau dua lawan satu dan harapan untuk menang ada lebih besar."

Ho Kie yang pada saat itu sudah terlalu lelah keadaannya, sesudah mendengarkan keterangan si orang tua, hatinya mulai lega dan rasa ngantuknya lantas menghebat dan akhirnya tertidur pulas sekali.

Toan-theng lojin menyaksikan Ho Kie tidur pulas, lalu berkata seorang diri sambil menghela napas.

"Ah, Bocah! Kau tidak mengetahui bahwa paling lama aku cuma bisa mengajar kau satu bulan saja. Sekalipun aku berikan pelajaran padamu siang malam tanpa berhenti2. tetap saja tidak cukup waktunya untuk menurunkan pelajaranku semuanya. Dan sekarang kau telah tertidur, apa ini bukan berarti menelantarkan pelajaranmu......"

Dalam tidurnya itu Ho Kie lapat2 seperti mendengar perkatan orang tua aneh itu. Tiba2 hatinya terkejut lalu bertanya sambil membuka matanya.

"Locianpwe, kau tadi kata apa?"

Toan-theng lojin mengambil sebutir pil dan diberikan kepada Ho Kie.

"Obat ini boleh kau makan."

Katanya.

Selambatlambatnya satu bulan, aku akan muncul di dunia kangouw lagi.

Sekarang waktunya itdak banyak lagi.

Selama satu bulan ini aku akan memberitahukan padamu semua isi pelajaran dalam kitabku Hian kui Pit kip,

Jilid ketiga.

Tetapi sampai dimana kau dapat memahaminya, itu semuanya tergantung atas kecerdasan otakmu.

WAktunya sudah terlalu mendesak.

Kita tidak perlu banyak bicara lagi, supaya kau bisa berhasil dengan cepat, aku sudah berkeputusan dengan tidak menyayangi kekuatan tenaga gdalamku, telbih dulu aku akan membuka otot2 dan urat2 nadimu supaya dapat menyalurkan kekuatan tenaga dalamku."

Ho Kie yang mendengar itu, bukan kepalang rasa girangnya, maka ia lantas makan obat berbentuk pil itu.

ia hampir tidak percaya dengan pendengarannya sendiri, sebab kalau urat nadinya sudah terbuka dan dapat menerima saluran kekuatan tenaga dalam, itu artinya bahwa dia sudah mendapatkan dasar ilmu kepandaian yang tinggi.

Sedangkan tokoh2 rimba persilatan yang tinggi kepandaian ilmu silatnya setingkat dengan itu, sungguh sedikit sekali jumlahnya.

Ia seperti bersangsi atas dirinya sendiri, semnetara Toantheng lojin sudah berkata lagi sambil anggukkan kepalanya.

"Setan kecil, keu kemari!"

Pada saat itu, Ho Kie sudah merasakan bahwa panggilan Setan kecil itu tidak terlalu menusuk hatinya lagi.

Sebaliknya sebutan itu dianggapnya lebih meriah dan lebih sedap didengarnya, maka ia lantas menghampiri orang tua anhe itu sambil ketawa berseri2.

Toang-theng lojin dengan cepat mengerakkan jari2 tangannya, sebentar saja sudah dapat menguasai tiga ratus enam puluh tempat jalan darah dibadan Ho kie.

Darah disekujur badan Ho kie seolah2 berhenti mengalir dengan mendadak.

Stelah berdiri kaku sejenak, badannya lantas rubuh dalam pelukan siorang tua.

Toan-theng lojin lantasi mulai memale.

Sebentar kemudian, dari telapakan tangannya telah mengeluarkan hawa putih semcam kabut tebal.

Kabut itu hanya mengurung kepalanya Ho Kie dan telapakan tangan si orang tua.

Sebentar kelihatan tebal, sebentar kemudian tipis.

KemudiaN masuk ke jalan darah Pek-Hwee hiat.

Orang tua itu tidak bergerak barang sedikitkpun juga.

sorot matanya yang hijau kelihatan semakin mencorong.

Mulutnya terkancing, kadang2 mengeluarkan suara keretekan.

Keadaan demikian itu berlangsung sesaat lamanya, diwajah orang aneh yang terbungkus kain hitam dan putih itu kelihatannya sudah basah dengan air keringat.

Ho Kie berdiri sambil pejamkan matanya seolah2 tengah tidur nyenyak.

Lewat lagi sejenak, orang tua itu perlahan-lahan menggeserkan telapakan tangan kanannya.

ia dapat melepaskan napas lega.

Sinar matanya yang Tajam sudah mulai berkurang.

Mata itu bahkan kelihatannya mengembang air.

Ia meletakkan dirinya Ho Kie di atas tanah dengan sangat hati2.

Kembali dari sakunya ia mengeluarkan tiga butir pil yang seperti tadi, lantas dimasukkan kedalam mulutnya Ho Kie.

-oo0dw0ooo-

Jilid 2 SELANJUTNYA ia lantas membebaskan dirinya Ho Kie dari totokan tadi.

Ho Kie mula2 pernapasannya kelihatan memburu, tetapi sebentar kemudian keadaan telah berobah menjadi sabar dan kemudian tertidur nyenyak pula.

Diwajahnya terlintas senyumannya yang manis, badannya dirasakan sangat nyaman.

Toan-theng lojin memandang Ho kie sejenak, lantas angguk2kan kepalnya dan berkata kepada dirinya sendiri.

"Sudah empat puluh tahun, sekarang aku kembali menciptakan suatu kemukjijatan dalam rimba persilatan, tapi entah kali ini akan memusingkan kepalaku atau tidak?"

Ucapan itu seolah2 mengandung banyak arti.

Sayang Ho kie tengah tidur nyenyak sekali, hingga tidak mungkin dapat mendengar atau melihat sikap orang aneh itu.

Kalau ia tahu, barang kali ia tidak akan dapat melupakan untuk selamanya.

Toan theng lojin duduk disampingnya Ho kie, agaknya seluruh perhatiannya tengah dicurahkan melulu untuk sibocah yang sedang tidur nyenyak tersebut.

sebagai suatu kewajiban tetap, setiap 2 jam sekali, ia menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya kedalam diri bocah itu.

Ho kie dalam tidurnya nampak seperti tersenyum, wajahnya perlahan-lahan berubah menjadi merah.

Sepuluh hari lamanya ia berada dalam keadaan demikian.

Toan-theng lojin selama itu tidak makan, tidak minum, tanpa tidur, tanpa ngaso, sorot matanya main lama makin sayu.

Seperti pelita yang hampir kehabisan bahan pembakarnya, seluruh kekuatan tenaga dalamnya telah disalurkan ke dalam badan Ho Kie.

Wajah Bocah itu perlahan-lahan kelihatan menjadi merah, hingga nampaknya sangat segar dan tambah cakap kalau dilihat.

Orang tua itu ketawa bangga.

Wajahnya tertutup rapat, tapi dari sorot matanya kelihatan jelas kebanggaannya.

Ia tahu bahwa tindakannya hari itu akna membuat bocah ini nanti akan menjadi seorang kuat yang sukuar dicari tandingannya didalam dunia rimba persilatan.

Sepuluh hari kemudian, ia sudah kehabisan tenaga, ia duduk numprah, napasnya tersengal-sengal.

Ho Kie perlahan-lahan membuka matanya.

Sekarang sudah sangat berlainan keadaannya dengan Ho Kie pada 10 hari berselang.

Dalam matanya yang jernih, nampak memancarkan sinar terang tajam, jidatnya samar2 ada sinarnya, setiap gerakannya menunjukkan kegesitannya.

Tapi, perubahan besar itu ia sendiri agaknya masih belum tahu.

Apa yang ia dapat rasakan ialah badannya seperti sangat ringan dan lincah, didalam badannya seperti mempunyai semacam kekuatan yang tidak kelihatan.

Ketika ia melihat orang tua Patah Hati itu duduk numprah, diam2 merasa kaget, maka lalu bertanya.

"Locianpwe, apa kau merasa kurang enak badan?"

Orang tua itu gelengkan kepalanya, menjawab dengan perlahan"

"Setan kecil, otot dan urat2 nadi mu sudah kusaluri dengan kekuatan tenaga dalam yang dinamakan Giok liong Cao Khie! Dengan kekuatan tenaga dalam yang kau miliki sekarang. meskipun belum dapat menandingin kekuatan Cian tok Lo mo, tapi sudah cukup untuk menjagoi dunia rimba persilatan..."

Ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula.

"Setan kecil, sekarang kita tidak boleh membuang tempa lagi. WAktu sangat berharga, satu bulan sudah kita gunakan sepuluh hari, tinggal 20 hari lagi. Aku harus memberikan pelajaran kepadamu dengan ilmu silat yang terdapat dalam ktiba Hian kui Pit kip

Jilid ke tiga, kau harus memperhatikan baik-baik"

Ho kie duduk bersila ditanah.

Orang tua itu setelah mengheningkan cipta sejenak, dengan perlahan dan jelas sekali ia menerangkan dan mengajarkan semua pelajaran ilmu silat yang terdapat dalam kitab ilmu silat Hian kui Pit kip

Jilid ketiga kepada Ho Kie.

Tiga hari berlalu cepat.

Selama tiga hari itu, Toan theng lojin tanpa kenal lelah memberikan pelajarannya yang ia miliki kepada Ho Kie, bocah itu karena kemauannya yang keras, ditambah lagi dengan kecerdasan otakknya yang luar biasa, maka dalam waktu sesingkat itu telah dapat mengingat semua pelajaran dengan baik.

Tiga hari kemudian, orang tua itu berkata kepada Ho kie dengan bersungguh-sungguh.

"SEmua kepandaian ilmu silat yang ada pada dirimu, sudah aku wariskan semua kepadamu. Kalau kau bisa ingat dan gunakan dengan baik-baik, dalam tempo singat kau akan menjadi seorang kuat kelas satu dalam rimba persilatan. Tapi pelajaran-pelajaran yang agak sulit seperti tipu silat Hoa ing sie sek dan Hu kut hien kang, serta tipu serangan untuk menundukan musuh yang luar biasa hebatnya. Hian kui Cap she sek Kin na khiu harus kau pelajari lebih teliti. SEdangkan ilmu silat Giok liong Hoa khie masih kudu memakan tempo yang agak lama, pelajaran ini tidak dapat dicapai dalam waktu yang sangat singat. Tapi kalau kau sudha mahir tiga tipu silat itu, sudah cukup untuk kau melindungi dirimu tidak samapi dapat dikalahkan oleh musuhmu. Selain dari pada itu, selama 40 tahun aku berdiam disini, aku telah menciptakan serupa ilmu silat yang kunamakan Tay Iet Kim kong ciang hoat, meski cuma tiga jurus, tapi sudah cukup untuk melayani musuh yang bagaimanapun tangguhnya. Semua ini kau harus ingat baik2 dan melatih dengan rajin."

Ho kie terima baik pesan orang tua itu dengan perasan terharu. Toan theng lojin anggukkan kepala dan berkata pula .

"Sejak hari ini, kau harus bertekun dalam pelajaranmu didalam lembah yang sukar diinjak oleh manusia ini, kau harus baik2 meyakinkan semua pelajaran yang sudah kuturunkan padamu. Waktuku cuma msaih ada setengah bulan, sekarang kekuatan tenaga dalamku sudah dihamburkan terlalu banyak, maka aku harus menutup diri untuk 10 hari lamanya guna memulihkan kekuatanku. Setelah satu bulan cukup, aku nanti akan menguji kau lagi..."

Demikianlah, selanjutnya Ho Kie dengan tekun setiap hari melatih ilmu silatnya dari pelajaran Taon theng Lojin.

Karena ia tidak memperhatikan lewatnya waktu, maka ia tidak mengetahui sudah berapa lama ia belajar sendiri secara demikian.

Didalam goa itu kadang2 ada banyak nyamuk dan lalat yang sering menggangu Ho kie pada waktu ia melatih ilmunya.

Semula ia dibikin jengkel oleh adanya gangguan binatang-binatang kecil itu.

Lama-kelamaan mendadak ia dapatkan suatu pemikiran.

Mengapa aku tidak menggunakan binatan terbang ini untuk melatih ilmu Kin na khiu dan Hu kut Hian kang?

Didalam goa sinarnya tidak cukup terang, tetapi mata Ho kie sekarang sudah menjadi terang.

Ia sudah mulai dapat mengenal barang yang bagaimana halusnya sekalipun dalam keadaan remang-remang.

Ia menggunakan binatang terbang itu sebagai musuh dirinya melancarkan ilmu Kinna0khiu-nya, sebentar ia menangkap dan sebentar kemudian ia melepaskannya lagi.

Perbuatan demikian itu agaknya menggembirakan hatinya.

Tidak antara lama, dengan mudah ia dapat menangkap binatang nyamuk yang halus, gerakannya itu belum pernah gagal.

Setelah ia mahir betul mempelajari ilmunya itu, nyamuknyamuk atau lalat-lalat sudah tidak berdaya untuk mengganggu dirinya lagi.

Ada kalanya kalau ia sedang bergembiri, ia lantas bergerak kesana dan kemari diantara gerombolan nyamuknyamuk, tetapi tidak memberikan kesempatan pada nyamuk-nyamuk itu menyenggol badannya.

Didalam goa yang tidak ada isinya apapun, kala itu dimata Ho kie sedikitpun tidak merasakan kekosongan.

Ia telah mendapatkan kawan berupa nyamuk, lalat dan binatang-binatang kecil lainnya sebagai teman karib selama ia melatih ilmu silatnya.

Pada suatu hari, selagi Ho kie sedang asyik melatih ilmu silatnya dengan cara yang luar biasa itu, tiba-tiba dibelakang dirinya terdengar oarang yang memberikan pujian kepadanya.

"Tidak nyana kau sisetan kecil ini telah mendapatkan pikiran untuk melatih dengan cara demikian"

Ho kie berpaling. Dilihatnya Toan-theng lojin sudah berdiri dimulut goa. Ia buru-buru menghampiri dan berlutut dihadannya sembari berkata.

"Locianpwe, coba locianpwe uji aku. Selama beberapa hari ini apakah aku telah mendapatkan kemajuan?"

"Aku sudah lama mencuri lijat, caramu melatih ini memang cukup baik, tidak perlu ku uji lagi. Tetapi cara melatih serupa ini hanya dapat menambah kelincahan gerakan tubuh, sedangkan ilmu pukulan yang dapat membuat lawan mundur kau rupanya tidak memperhatikannya."

"Aku hanya mengetahui kalau aku menggunakan binatang nyamuk dan lalat ini untuk melatih ilmu Kin na khiu dan Hin Kut hian kang....

tipu serangan, meskipun ku latih dengan tidka berhenti-hentinya, tetapi aku masih belum mengetahui ilmuku ini apakah telah mendapat kemajuan atau tidak.

"Ini mudah saja! Asal kau dapat menangkap binatang itu satu demi satu kemudain kau hajar dengan kekuatan telapakan tangan mu, kalau kau mampu menghajar sampai binatang-binatang itu terpental keluar dari dalam goa ini, maka kekuatan tangan mu itu sudah tidak perlu disangsikan lagi."

"Berapa si kekuatan binatang-binatang seperti nyamuknyamuk itu? Aku akan segera mencobanya."

Orang itu hanya kedengaran suara ketawanya tidak menjawab.

Ia mengeluarkan sebuah kantung kecil dan menyuruh Ho kie melancarkan ilmu Kin-na-khiu-nya untuk menangkapi binatang-binatang nyamuk kemudian diletakkan di dalam kantong tersebut.

Dengan sangat mudah sekali Ho kie sudah berhasil menangkap tiga-empat puluh ekor nyamuk yang kecil-kecil itu.

"Bagus! Sekarang kau lepaskan lagi satu demi satu. Kalau kau sudha melepaskan seekor, kau boleh terus menghajar dengan telapakan tanganmu. Apa kau mampu membikin terpental binatang itu atau tidak?"

Ia lalu mengajak ho kie berdiri disuatu temapt terpisah kira-kira 10 tombak dari mulut goa untuk sebagai temapt latihan.

Dengan penuh keyakinannya Ho kie melakukan apa yang diperintahkan oleh orang tua itu.

Ketika ia mengeluarkan serangannya yang pertama, memang betul hebat sekali serangan dari telapakan tangannya itu.

Dinding-dinding batu yang berdekatan dalam lingkaran satu tombak lebih sampai pada hancur berantakan, tetapi ketika ia melihat nyamuk tadi, ia lantas merasakan kaget dan terheran-heran.

Kiranya binatang kecil itu meskipun kecil badannya dan juga enteng, karena dapat berterbangan ditengah udara, maka serangan Ho kie yang pertama kali itu walaupun cukup keras, tetapi ternyata masih belum mampu membuat nyamuk itu terpental sampai sejarak lima kaki.

Bukan saja tidak mati, malah nyamuk itu berterbangan berputar-putar tidak henti-hentinya.

ORang tua itu lantas tertawa bergelak-gelak.

"Gedung besar mudah dirubuhkan, tapi selembar bulu susah dicabut!"

Katanya "

Kau jangan pandang enteng binatang kecil ini.

Dengan kekuatan tenaga yang kau miliki sekarang ini, untuk dapat membikin terpental binatang keicl itu sampai sepuluh tombak jauhnya, rasanya masih harus berlatih beberapa tahun lagi."

Ho kie merasa agak malu, ia mencoba sekali lagi dengan melepaskan sepuluh lebih nyamuk-nyamuk itu.

Tetapi meskipun kali ini kekuatannya sudha ditambah lagi, tetap ia tidak berhasil membuat nyamuk-nyamuk tersebut terpental keluar ke mulut goa.

"Kekuatan dengan kekerasan mudah dilatih, tetapi kalau mau memusatkan kekuatan pada satu tempat, pada satu tangan atau satu jari misalnya, sungguh tidak mudah. Apa kau mengerti sebabnya teori ini?"

Kata siorang tua Patah Hati.

Ho kie meskipun mau menerima pelajaran itu smabil membungkukkan badannya, tetapi dalam hatinya masih merasa penasaran.

Sebagai satu bocah, ia tidak terluput dari sifatnya yang tidak mau mengalah mentah-mentah.

Mendadak ia mengerahkan kepandaiannya, sebentar saja ia sudah berhasil menangkapi kembali beberapa puluh nyamuk itu dan dibinasakan semuanya...

Toan-theng lojin yang menyaksikan perbuatan Ho kie dalam hatinya bercekat.

Dengan mata tidak berkedip ia menatap wajah Ho kie, sedangkan mulutnya mendumel.

"Bocah, Napsu membunuhmu sungguh keterlaluan. Ini agak menakutkan."

Mendengar perkataan itu HO kie buru-buru berlutut seraya berkata.

"Locianpwe, aku hanya membunuh beberapa ekor nyamuk ini saja, apakah itu bisa dibilang keterlaluan?"

"Seekor nyamuk atau semut sekalipun, juga ada mempunyai jiwa. Kau telah mempelajari ilmu silat, kalau ilmu silatmu digunakan untuk membasmi kejahatan atau untuk menuntut balas sakit hati ayahmu itu memang tidak dapat disalahkan. Tetapi kalau kepandaianmu itu kau pergunakan hanya untuk mengambil jiwa yang tidak berdosa, itu terang sudah melanggar hukum Tuhan."

"Locianpwe, sekarang aku telah mengerti akan kesalahanku. Lain kali aku tidak berani berbuat kesalahan semacam itu lagi."

Ho kie mengakui kekeliruannya.

"Sekarang batas waktu satu bulan sudah cukup, aku harus segera turun gunung untuk menyelidiki itu persoalan yang menyangkut nasibnya sembilan partai besar dalam rimba persilatan. Baik-baiklah kau melatih diri didalam goa ini. Sampai pada waktu kau sudah bisa membikin terpental nyamuk sehingga sepuluh tombak jauhnya, itulah tandanya bahwa latihanmu sudah cukup sempurna dan pada waktu itu lah kau baru boleh turun gunung."

"Locianpwe, kapan kau akan kembali?"

"Selambat-lambatnya ya setengah tahun, secepatcepatnya tiga bulan.

Tetapi kalau lewat batas waktu yang kutetapkan itu aku masih belum kembali.

kau juga tidak perlu menantikan aku lagi.

kau boleh pergi turun gunung.

Tetapi ada satu hal yang harus kau ingat betul-betul.

Sebelum kau dapatkan kitab pelajaran ilmu silat Hian-Kui pit-kip

Jilid pertama, sekali-kali kau jangan coba-coba melanggar dirinya Cian-tok lo mo di lembah Kui-kok! mengerti kau maksudku?"

"Locianpwe, Aku pasti akan menunggu kau. Harap kau supaya lekas kembali."

Orang tua itu berdiri sekian lama, agaknya mereka sangat terharu akan perpisahan itu. Tangannya mengelus kepala Ho kie, ia berkata sambil menghela napas.

"Akh.. Bocah! Sudah cukup aku mengalami berbagai kedukaan, apakah sebelum meninggalkan tempat ini kau hendak menyuruh au menjumpai kedukaan orang yang akan berpisahan lagi?"

Sehabis berkata demikian mata orang tua itu mengembang air. Ho kie lebih terharu lagi, ia sudha menangis tersengguksenguk..

"Locianpwe"

Katanya"

Kau tidak mau menerima aku sebagai muridmu, setidak-tidaknya kau harus memberitahukan kepadaku kemana kau hendak pergi.

Supaya kalau aku nanti sudah berhasil dengan latihanku, aku bisa mencari padamu."

Toan-theng lojin mendadak mengertak gigi, ia mengibaskan tangannya dan mundur beberapa tombak jauhnya, lalu berkata sambil tertawa dingin.

"Satu laki-laki dimana saja dapat mendirikan rumah tangganya. Kau boleh pergi dengan urusanmu sendiri, aku akan melakukan tugasku pula. Taruh kata kau dapat menemukan aku, apa yang akan kau perbuat? Lebih baik kau melatih ilmu silatmu dengan rajin. Perlu apa mengambil sikap seperti anak perempuan?"

Sehabis mengucapkan perkataannya yang terakhir itu ia lantas menggerakkan kakinya, sebentar kemudian ia sudah menghilang dari mulut goa.

Dengan hati sedih, Ho kie terus berlutut ditanah, dengan hormat sekali lagi ia mengangguk-anggukan kepalanya sampai tiga kali....

Satu tahun berlalu dengan pesatnya.

Orang tua yang patah hati itu telah pergi meninggalkan Ho kie seorang diri, sedikitpun tidak ada lagi kabar beritanya.

Hari berganti hari, bulan bertemu bulan.

Setahun kembali sudah dilewatkan lagi oleh Ho kie didalam goa itu, tetapi kekuatan tangan Ho kie hanya mendapat kemajuan sedikit, cuma dapat membikin nyamuk terpental lima tombak saja jauhnya.

Sering kali ia berdiri bingung dimulut goa, memandang gunung-gunung dan bagai tiada bertepi, ia memandang segala perubahan alam, karena bergantinya musim demi musim.

Ia sendiri hampor-hampir tidak mengetahui sudah berapa lama ia telah melewatkan penghidupannya didalan goa yang sesunyi itu.

Mengingat akan kematian ayahnya dan mengingat dirinya siorang tau Patah Hati yang sudah lama meninggalkan dirinya, rasa duka didalam hatinya sungguh sukar untuk dapat ditindasnya, maka kadang-kadang ia tidak dapat lagi menahan perasaan dukanya.

Ia percaya bahwa orang tua Patah Hati itu tentunya sudah mengalami nasib buruk.

Sebab kalau tidak demikian, tidak nantinya sampai sudah begitu lamanya belum kembali.

"Akh! kalau sampai terjadi apa-apa atas diri orang tua itu, bukankah itu berarti akulah yang telah mencelakai dirinya?"

Ho kie ngedumel sendiri.

Sebab jika ia tidak datang ke lembah patah hati itu, sudah dengan sendirinya orang tua itu tidak akan mengetahui duduk persoalan yang menyangkut sembilan partai besar dalam dunia persilatan dan dengan sendirinya pula orang tua itu juga tidak akan dengan secara mendadak meninggalkan goa-nya yang sudah didiami empat puluh tahun lamanya.

Ia menyesalkan dirinya sendiri, ia menyesal tidak terhingga.

Ditahun ketiga ia sudah mampu membikin terpental binatang nyamuk sampai lewat lebih dari tujuh tombak jauhnya.

Ia sudah tidak sabaran buat menantikan lebih lama lagi, maka ia lantas mengambil keputusan untuk keluar dari Lembah Patah Hati.

Sejak ia mendapatkan kepandaian ilmu dari siorang tua, ditambah lagi dengan latihannya yang rajin tanpa mengenal lelah, badan dan tulang seta otot-ototnya telah mengalami banyak perubahan.

Ketika ia terjerumus di Lembah Patah Hati, ia masih merupakan satu bocah yang belum cukup empat belas tahun, tetapi sekarang ia sudah merupakan jejaka yang sudah hampir tujuh belas tahun usianya.

Parasnya cakap dan badannya tegap kekar.

IA sudah seperti seorang pemuda cakap, ganteng yang sudah berusia dua puluh tahunan.

Dengan perasaan duka ia memandang semua keadaan didalam goa itu meskipun dalam goa itu tidak ada apaapanya, tetapi setelah hendak ditinggalkan, hatinya merasa berat.

Disatu sudut ia menemukan satu bungkusan kecil.

Tatkala dibukanya, isinya ternyata adalah satu stel pakaian dan sedikit uang.

Karena ia sedang membutuhkan pakaian dan uang untuk bekal dalam perjalanannya, maka ia lantas mengambil bungkusan tersebut.

Dengan Hati berat ia meninggalkan goa Pek-Giok-Kiong di dalam Lembah Patah HAti itu yang sudah didiami hampir tiga tahun lamanya.

Dalam perjalanan satu hari ia baru tiba disebuah kota kecil.

Dengan tindakan perlahan ia memasuki sebuah rumah makan dan memesan beberapa rupa hidangan.

Seorang diri juga ia makan dan minum hidanganannya.

Selagi enakenaknya makan telinganya tiba-tiba menangkap suatu suara yang kedengarannya sangat menyenangkan.

"Hei pelayam! hitung uangnya!"

Ho kie terperanjat oleh suara tadi, Ketika ia memperhatikan dengan seksama, disatu meja yang terletak didekat jendela, ada duduk seorang diri pemuda yang berdandan seperit anak sekolah dalam pakaian seragam putih.

Pemuda itu juga usianya paling-paling juga baru delapan belas tahun.

Wajahnya yang putih bersih bersemu dadu serta dikedua pipinya ada sebuah sunyen dengan bibirnya yang merah.

ada lebih mirip dengan seorang wanita.

Anak muda itu dengan tenang mengipas-ngipas dirinya dengan kipasnya yang indah.

Baik parasnya, maupun sikapnya kelihatan sangat menarik hati bagi siapa saja yang menghadapinya.

Ho Kie seumur hidupnya belum pernah melihat pemuda secakap demikian, dengan tidak sadar mulutnya lantas memberikan pujiannya.

"Aaaa, sungguh cakap pemuda itu!"

Meskipun suaranya itu diucapkan perlaha, siapa sangka anak sekolah berbaju putih itu mempunyai pendengaran yang sangat tajam. Dengan mendadak ia lantas melipat kipasnya lalu menegur.

"Dari mana datangnya manusia liar yang begitu kasar? sungguh menjemukan!"

Ho kie yang mendengar teguran yang serupa itu, parasnya merah seketika, pada pikirnya.

"Aku toh memuji dirimu dan bukan bermaksud menjeleki! kenapa sebaliknya kau malah memaki-maki tidak keruan?"

Ia juga tidak mau mengalah mentah-mentah, dengan suara dihidung ia berkata.

"Dasar dogol, Anak tidak tahu adat!!"

Pemuda berbaju putih berdiri alisnya, mendadak ia lompat bangun. sambil menuding dengan kipasnya pada Ho kie ia membentak.

"hei manusia liar, kau memaki siapa?"

Ho kie mendongkol, lantas menjawab dengan suara agak heran.

"Aku suka memaki siap saja, perduli apa dengan kau?"

Pemuda berbaju putih itu agaknya sudah gusar benarbenar.

"Kalau tidak karena didepan umum ini ada rasa kurang pantas, hari ini tentu aku sudah memberi sedikit hajaran pada kau si manusia liar yang tidak mengenal aturan!"

"Apa kalau tidak dihadapan umum kau kira aku takut padamu?"

"Kalau kau mempunyai kepandaian sebentar malam jam tiga kau boleh datang di Cit-Lie kang!"

"Baik! aku nanti tepati janjimu!"

Pada saat itu pelayan rumah makan sudah berdiri dekat pemuda berbaju putih itu untuk menantikan bayaran.

Pemuda berbaju putih itu juga tidak berkata apa-apa lagi, ia memberikan sedikit uang pada pelayan rumah makan, kemudian lantas berlalu.

Selagi melewati Ho kie, mendadak ia menghentikan tindakan kakinya dan berkata dengan suara dingin.

"Pertempuran antara mati dah hidup! kalau tidak mendapatkan keputusan, aku tidak mau sudah."

Setelah mengucapkan perkataannya itu, ia lantas berlalu dengan langkah lebar. Ho kie jadi ketawa geli, diam-diam berpikir.

"Bocah ini sungguh sombong. Entah orang golongan apa?"

Karena hatinya sedang mendongkol, maka napsu makannya juga berkurang.

Dengan cepat ia membayar rekening dan kembali kerumah penginapannya.

Entah sudah berapa lama ia rebahkan dirinya dipembaringan.

secara begitu, tetapi tidak juga tidur pulas.

Hatinya selalu memikirkan itu pemuda sekolah berbaju putih.

Kalau dilihat dari paras dan sikapnya, kelihatannya ia bukan orang jahat.

Tetapi kenapa ia begitu jumawa?

Apakah ia mempunyai kepandaian yang luar biasa?

Berpikir sampai disitu, ia merasa geli sendiri, ia menganggap bahwa pemuda itu hanya mempunyai pengertian sedikit tentang ilmu silat yang tidak mungkin dibandingkan dengan kepandaian yang dimilikinya.

Baru pertama kali ia keluar lembah sudah lantas diajak bertanding, maka dalam hatinya merasa sangat gembira, karena itu adalah merupakan suatu kesempatan untuk menguji kepandaiannya.

Oleh karena itu juga ia tidak dapat tidur pulas.

Kentongan baru berbunyi sekali, ia sudah turun dari pembaringannya lalu membuka jendela dan lompat keatas genteng.

Menurut jurusan yang ditunjul oleh pelayan rumah makan ia lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya lari ke Cit-lie kung.

Malam itu ada malaman terang bulan.

Keadaan diluar kota sangat terang benderang.

Ho Kie yang sedang berlarilarian menuju ketempat yang telah dijanjikan, dalam hati merasa sangat gembira, tetapi juga merasa agak kuatir.

Bukan disebabkan karena tidak mengetahui dimana tingginya kepandaian ilmu silat pemuda baju putih itu, tetapi karena sejak ia mendapatkan pelajaran ilmu silatnya dari si orang tua Patah Hati, serta sudah memahami ilmunya yang terdapat dalam kitab Hian kui Pit-kip, boleh dikatakan ia masih belum mendapat kesempatan untuk digunakna dalam menghadapi lawan dalam arti kata pertempuran yang sebenarnya.

Maka malam itu dapatlah diartikan sebagai suatu ujian untuk menjajal kepandaiannya yang telah dipelajari dengan rajin selama hampir tiga tahun itu, maka diam-diam ia mengharapkan supaya kepandaian pemuda itu ada lebih tinggi sedikit daripada kepandaian dirinya sendiri, sebab kalau kepandaian pemuda itu berselisih terlalu banyak dengan kepandaian yang dimilikinya, juga tidak akan ada artinya.

Tidak antara lama kemudian ia sudah sampai pada sebuah rimba yang lebat.

Rimba itulah yang dinamakan Cit-Lie kang!

Tiba-tiba ia mendengar orang menegur dengan suara merdu, yang kedengarannya keluar dari dalam rimba.

"Siapa?"

Pertanyaan itu lalu disusul oleh munculnya satu bayangan putih yang bergerak dengan gesit, menghadang didepan mata Ho kie.

Ketika mendengar suara itu, Ho kie sudah lantas menghentikan gerakan kakinya.

Ternyata orang yang sedang berdiri didepan matanya itu adalah seorang pemuda berbaju putih seperti anak sekolah yang tadi siang dijumpai dirumah makan.

"Kau datang terlalu pagi sahabat!"

Ho kie ketawa dingin. Anak sekolah berbaju putih itu menunjukkan sikap yang terperanjat, lantas menyahut dengan suara dingin.

"Kedatanganku cepat atau lambat, ada hubungan apa dengan kau?"

"Mengapa tidak ada hubungannya? Aku justru datang kesini hendak menepati janjimu"

Anak sekolah berbaju putih itu kembali tercengang.

"Menepati janji? Dengan siapa kau berjanji?"

Mendengar ucapan yang ketus dingin yang seolah-olah tidak memandang dirinya sama sekali, hati Ho kie merasa mendongkol.

"Anak dogol yang jumawa!"

Katanya gemas,"Apa kau sudah hitung pasti bahwa kepandaiannya ada diatas kepandaianku?"

Anak sekoah itu kelihatannya seperti benar-benar heran.

"Sama-sanam anak sekolahan, dengan alasan apa kau memaki aku anak dogol?"

Tanyanya.

"Alasan apa? Itulah karena sikapmu yang terlalu jumawa yang telah kau unjukkan dirumah makan tadi siang, rasanya tidak cukup dengan hanya memaki kau saja, andaikan aku hajar kau sampai pingsan juga sudah sepantasnya..."

Anak sekolahan berbaju putih itu berpikir sejenak, ia lalu ketawa sehingga kelihatan kedua baris giginya yang putih berkilat.

"apa kau ingin berkelahi? Coba saja kau turun tangan".

"Itulah yang dijanjikan, aku datang kemari. Apa kau hendak mangkir?"

Anak sekolah berbaju putih itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kapan aku janji kepadamu? Dengan caramu gerabk gerubuk seperti ini, apa kau kira aku suka janjikan kau?"

"Anak dogol, kau mau berpura-pura?"

"Hai! kita sama-sama orang sekolahan, sebaiknya kau jangan membuka mulut sembarangan. Kalau aku anak dogol, lalu kau sendiri anak apa?"

Ho kie sudah tidak dapat menahan sabarnya lagi. Ia berseru.

"Bocah yang mengingkari janji! kita tidak usah banyak mulut lagi. Mari kita adu kekuatan!"

Berbareng Ho kie menyerang.

Serangan itu adalah tipu serangan Tay-Lek kin kong ciptaan Toan-theng lojin yang diyakinkan si orang tua selama empat puluh tahun lamanya.

Tidak heran kalau serangannya itu sangat hebat, sehingga tujuh atau delapan batang pohon telah tersapu rubuh oleh kekuatan angin serangan itu.

Ho Kie tidak menyangka bahwa kekuatan serangannya itu ada begitu hebat, maka ia sendiri juga lantas kesima.

Dalam hatinya agak menyesali dirinya, pada pikirannya "Ah, kalau aku mengetahui seranganku bakal begitu heba, aku tidak akan turun tangan sembarangan.

Aku dengan dia tidak mempunyai permusuhan apa-apa.

kalau aku sampai memukul mati padanya, apakah itu bukan keterlaluan?"

Siapa sangka, belum lenyap peikirannya itu, disampingnya terdengar suara anak sekolah berbaju putih itu.

"Aaaa, dengan mengandalkan kepandaian yang begini saa, kau lantas hendak menyombongkan dirimu untuk mengadu kekuatan? he.. he... masih belum cukup bung!"

Bukan main kagetnya Ho kie, dengan lekas ia memutar tubuhnya, Ia meliaht anak sekolah itu sedikitpun tidak terluka.

Ia sedang berdiri dengan tenang sambil goyanggoyangkan kipasnya dan memandang Ho kie sambil tertawa.

Karena terkejut oleh kepandaian yang aneh dari si pemuda itu, dalam hatinya Ho Kie merasa terheran-heran.

"Aku masih mempunyai urusan penting!"

Kata pemuda baju putih ketawa.

Aku tidak mempunyai waktu untuk melayani segala orang kasar seperti kau ini, Melihat sikapmu yang begitu galak, benar-benar telah membuat orang tiga hari tidak enak makan.

Ingatlah lain kali kau jangan terlalu gegabah menunjukkan kepandaianmu dihadapan orang lain."

Sehabis berakata begitu, ia lalu berkelebat menghilang ke dalam rimba.

"Jangan pergi"

Bentak Ho kie.

Tetapi sang lawan sudah tidak kelihatan lagi bayangannya sekalipun.

Ia telah dibikin mendongkol oleh ucapan anak sekolah baju putih yang terakhir itu.

Ia coba mengerahkan seluruh kepandaian yang dimilikinya untuk mengejar anak sekolah itu.

Mengejar orang didalam rimba sesungguhnya tidak mudah, apa lagi pemuda baju putih itu kelihatannya mempunyai kepandaian yang sangat luar biasa.

Dengan perasaan mendongkol Ho Kie berputaran didalam rimba, tetapi ia tdiak dapat menemukan anak sekolah tersebut.

maka mulutnya lantas mulai memaki-maki tidak berhentinya.

KArena tidak berhasil menemukan orang yang sedang dicarinya, terpaksa ia pulang ke rumah penginapannya dengan perasaan gemas serta masgul..

Keesokan harinya, pagi-pagi seklai hawa udaranya sejuk.

Pagi-pagi itu juga Ho kie sudah melanjutkan perjalannya.

Ketika ia melewati sebuah rimba, tiba-tiba ia mendengar orang berakat.

"Manusia tidak tahu malu! kalau merasa takut, jangan terima baik perjanjian orang. Mengapa kau mengingkari janji seenaknya saja? Apa itu juga perbuatannya satu lakilaki?"

Ho kie terkejut.

mana kala ia menegasi siapa orangnya yang bicara itu, bukan main gusarnya.

Kiranya orang itu sedang berdiri menggendong tangan.

Ia adalah sianak sekolah berbaju putih yang telah menjanjikan padanya untuk bertanding di Cit-lie kang.

Mengingat semua kejadian tadi malam, hati Ho kie semakin gusar.

Maka dengan cepat ia menghampiri anak sekolah itu, mulutnya memaki dan membentak.

"Anak dogol, tadi malam hitung-hitung kau tahu gelagat sudah kabur dengan cepat. Sekarang kita bertemu lagi, aku harus memberikan hajaran padamu sepuas-puasnya."

Sehabis berkata demikian, ia lantas hendak menyerang. Pemuda berbaju puth itu menggeser kakinya dan minggir kesamping dua tindak, kemudian berkata.

"Hmmn, tadi malam kenapa kau tidak berani menepati janji untuk datang ke Cit lie kang?"

"Ngaco! adalah kau sendiri yang telah kabur lebih dulu. Kau hendak menyuruh aku mencari kemana?"

"Tadi malam, sejak jam tiga aku menantikan kau sampai jam empat. Sam sekali aku tidak pernah melihat batang hidungmu. Dan toh kau sekarang berani gede bacot lagi. Sungguh tidak tahu malu.!"

Ho kie terkejut, seketika lamanya ia berdiri melongo.

"Mana bisa?!"

Katanya "Kau sendirilah yang ngaco belo!

Lama aku mencari, kemudian aku pikir barang kali kau takut sehingga kau tidak berani menepati janjimu, aku lalu mencari kau diseluruh rumah penginapan dalma kita, sampai pagi aku tidak bisa menemukan tempat persembunyianmu.

Coba kau jelaskan dimana kau sembunyi tadi malam?

Kalau berani mengoceh lagi tidak keruan aku tidak mau gampang-gampang mengampuni kau"

Ho kie kelihatan semakin gusar, alisnya berdiri, kemudian ia membentak.

"Terang kau sendiri yang memutar balik dudukan perkara. sebaliknya menuduh orang mengoceh tidak keruan. Kita tidak perlu banyak rewel, biar ku hajar dulu kau buat melampiaskan kemendongkolanku!"

Dengan cepat HO kie lantas mementang kelima jari tangannya menyambar pundak kiri si anak sekolahan berbaju putih.

Menyaksikan tipu serangan Ho kie yang aneh itu, sianak sekolahan agaknya terkejut.

Ia tidak berani berlaku ayal lagi, dengan cepat ia sudah menggeser tubuhnya sampai lima tindak untuk menghindarkan sambaran tangan Ho kie.

Sepasang matanya yang jernih dengan keheran-heranan menatap wajah Ho kie dengan tidak berkedip.

Ternyata begitu turun tangan Ho kie lantas menggunakan tipu serangan Hian-kui cap sha sek na khiu, karena menurut keterangan Toan-theng lojin, serangan itu sangat luar biasa, dengan serangan mana sudah cukup untuk menjagoi dirimba persilatan.

Siapa sangka, untuk pertama kalinya ia mengunakan serangan itu untuk menghadapi musuh, ternyata telah mengalami kegagalan.

Ia heran, apakah anak sekolahan itu kegesitannya melampaui binatang nyamuk atau serangannya sendiri yang kurang tepat.

Ia lantas mengerahkan seluruh kekuatannya dengan secepat kilat ia maju menyerang lagi.

Kali ini tangan kanannya mengarah jalan darak Ciok tie hiat.

Sebentar saja sudah menekan sikut kiri anak sekolah berbaju putih itu.

Dalam pikirannya kali ini pasti berhasil.

ooo0dw0ooo SIAPA NYANA, kesudahannya adalah diluar dugaannya.

Kelima jarinya baru saja tiba, sang lawang badannya tiba-tiba berkelit kekiri, sebentar saja seperti sudah berubah menjadi tiga bayangan putih...

Ho kie terperanjat.

Dalam kagetnya ia sudah kehilangan jejaknya si pemuda berbaju putih.

"Tahan dulu!"

Bentak sibaju putih.

"Kenapa kau suruh aku hentikan serangan? apa kau takut akan aku gebuk?"

"Hmnn,apa kau kira aku takut kepadamu?"

"Dan mengapa kau suruh aku menghentikan seranganku?"

"Aku merasa gerak tipu silatmu ini mirip dengan salah seorang yang berkepandaian tinggi, maka aku ingin menanyakan dulu siapa nama suhumu?"

"Kau tidak berhak menanyakan apapun dalam hal ini. Aku justru hendak menanya kau".

"Kalau begitu, kau harus bisa memenangkan kau dulu, baru kau boleh bertanya."

"Hmmn, bocah yang terlalu jumawa!"

"Kau jangan mengiri bahwa kepandaianmu lebih hebat daripada kepandaianku. Kalau dalam tiga jurus aku tidak mampu menundukkan kau, aku segera angkat kau menjadi guru. Bagaimana?"

Ho kie pikir, bocah dihadapannya ini terlalu tidak memandang mata kepadanya, maka lantas menjawab sambil tertawa dingin.

"Sekarang kita tetapkan seperti katamu tadi. Kalau dalam tiga jurus, kau tidak bisa menangkan kau, kau harus berlutut dihadapanku untuk manggut-manggut sampai tiga kali. Maukah kau berjanji?"

"Ehm.. jangan kata cuma tiga kali, tiga puluh kali juga tidak akan ku pungkiri."

"Kalau begitu, siap sedialah!"

Sehabis berkata demikian, kembali Ho kie pentang kelima jari tangannya untuk mengarah jalan darah Kian kie hiat. Mulutnya berkaok "Awas! ini adalah jurus pertama"

Siapa nyana, jarinya hampir saja mengenai pundak pemuda berbaju putih itu, mendadak terdengar suaranya yang nyaring, pemuda itu dengan caranya yang sama seperti pertama sudah berhasil mengelakkan serangannya.

Ho kie celingukan, kali ini ia tidak berhasil menemukan kemana perginya anak mudah sekolahan berbaju putih tadi.

Keadan disekitar tempat mereka bertempur amat sunyi.

Pemuda berbaju putih itu seolah-olah setan yang bisa menghilang dengan mendadak.

Dia tiba-tiba bergidik.

Mulutnya lantas berseru.

"Anak dogol itu manusia atau setan?"

Mendadak didengarnya suara orang ketawa.

"Nah! Aku ada disini!"

Ho kie buru-buru berpaling, wajahnya berubah seketika, kiranya pemuda berbaju putih tadi sudah berdiri diatas ranting sebuah pohon kira-kira satu tombak jauhnya dari situ.

Dengan sikapnya yang tenang sekali pemuda tersebut mengawasi Ho kie sambil tersenyum.

Ho kie gusar bukan kepalang, mendadak ia lompat maju, tangannya mengeluarkan serangan yang sangat hebat ditujukan keatas pohon sambil berseru .

"Baik! kau sambutlah serangan ku yang kedua ini."

Serangan itu ternyata hebat sekali.

ranting-ranting dan daun-daun pohon yang ditempati pemuda berbaju putih tadi sampai pada putus terkena sambaran angin serangannya, tetapi si pemuda berbaju putih ternyata telah menghilang lagi entah kemana.

Sekali lagi Ho kie mencari keatas pohon lainnya, tidak disangka pemuda itu sudah berada dibelakang dirinya, siapa telah berkata kepadanya sambil tertawa dingin.

"Anak sombong, Perlu apa kau menghajar segala batangbatang pohon yang tidak bisa apa-apa untuk mengumbar amarahmu?"

Ho kie benar-benar telah dibikin tidak berdaya oleh kegesitan anak muda tadi, dalam keadaan apa boleh buat ia ingin mencoba sekali lagi.

Dengan gesit sekali ia telah memutar tubuhnya.

Pemuda baju putih itu kelihatannya sangat tenang, ia berdiri disitu sambil mengipas dan ketawa-ketawa mengawasi pada Ho kie.

Karena sudah dua kali serangannya gagal selalu, sekarang Ho kia tidak berani sembarangan turun tangan lagi.

Sambil memikirkan bagaimana caranya yang baik untuk menjatuhkan lawannya, ia berkara.

"Dalam tiga jurus, dua jurus seranganku sudah lewat. Kalau kau masih menggunakan cara berlompat-lompatan seperti caranya monyet, setelah tiga jurus ini lewat, kau dihitung kalah. Kau berhati-hatilah."

Pemuda berbaju putih tersebut, mendadak ketawa cekikikan..

"Aku liaht, kau hanya satu bocah yang baru turun dari atas gunung. Tiga jurus itu cuma boleh dihitung aku sengaja membiarkan kau menyerang. Setelah cukup tiga jurus, aku nanti baru turun tangan, supaya kau tahu bahwa diatas langit masih ada langit lagi, diatas manusia, masih ada manusia yang lebih tinggi lagi."

"Ooo.. jadinya kau hendak mengingkari janjimu yang tadi?"

"Bagaimana aku pungkir janji? Tadi sudah kita tentukan, bahwa dalam tiga jurus aku akan tundukkan kau. Yang ku maksudkan, sudah tentu mesti aku yang turun tangan sampai tiga jurus, bukannya kau yang menyerang untuk tiga jurus."

Ho kie lalu berpikir, Apakah bocah ini hendak mencari tahu asal usul ilmu silatku kemudian mencari akal pula hedak memperdayaiku? Berpikir sampai disitu, ia lalu menjawab sambil ketawa dingin.

"Sekarang kau harus berhati-hati benar! Jurus ketiga ini namanya Malaikat menangkap setan, makanya kau harus waspada."

Pemuda berbaju putih dongakkan kepalanya dan ketawa terkekeh-kekeh.

"Kau boleh turun tangan sepuas hatimu. Sebentar lagi kita lantas bisa dapat tahu...!"

Jawabnya.

Ho kie ternyata sangat nakal.

selagi pemdua berbaju putih itu masih mendongak dan ketawa, tiba-tiba ia sudah menggerakkan kedua tangannya untuk meyerang pada tujuh tempat bagian jalan darah dibadan pemuda berbaju putih tersebut.

Serangan secara demikian itu benar-benar diluar dugaan si pemuda berbaju putih.

Ketika ia tersadar kalau dirinya sudah diakali, Ho kie sudah berada dekat sekali didepan matanya.

Kedua tangan lawannya itu sudah menghantam bagian-bagian yang berbahaya pada badannya.

Dalam keadaan demikian, ia sudah tidak mampu lagi mengeluarkan gerak badannya yang gesit tadi, terpaksa ia berlaku nekad dan merangsek Ho kie.

Tangan kanannya bergerak menyerang dada Ho kie, sedangkan ia sendiri menggunakan kesempatan selagi mengirim serangannya , badannya sudah melompat mundur.

Ho kie ketawa dingin.

Tiba-tiba ia memutar tangan kirinya, kakinya digeser maju, denganmudah saja dapat mengelakkan serangan pemuda berbaju putih itu.

Bersamaan dengan itu, ia mengulurkan tangan kanannya menotok jalan darah Ciang Tay hiat didada kiri lawannya.

Selagi jari tangannya itu menempel pada dada kiri pemuda berbaju putih itu, mendadak dirasakan seperti ada apa-apa yang tidak wajar, sebab jarinya seperti menyentuh barang lunak yang agak melembung.

Semacam barang yang seperti balon melembung, bentuknya sebesar kepalan tangan.

Tadinya ia ingin menjambret, tetapi suatu pikiran mendadak terkilas dalam otaknya.

Ia terperanjat hampir lompat dan buru-buru tarik kembali serangannya.

Telinganya mendengar suara bentakan pemuda itu.

"Kau mau mampus!"

Kemudian Ho kie merasa matanya berkunang-kunang karena pipinya kean tamparan dengan telak.

Cepat ia mundur tiga tindak sambil mengusap-usap pipinya, dengan bingung ia mengawasi pemuda berbaju putih itu.

Sipemuda berbaju putih tampaknya selembar wajahnya berubah merah, ia tundukkan kepalanya, agaknya merasa sangat malu...

Tetapi sebentar saja ia kelihatannya sudah mulai tenang kembali.

Setelah merapikan pakaiannnya lantas berkata.

Sekarang tiga jurus sudah berlalu, tibalah gilirannya untuk menghajar kau!"

Setelah dengan susah payah Ho kie menenangkan pikirannya kembali, lantas menjawab dengan perasaan tidak puas.

"Dalam jurus ketiga tadi kau sudah berhasil menepuk jalan darahmu. Kau sudah kalah, bagimana masih punya muka untuk bertanding lagi?"

"Ngaco! kapan aku terkena totokanmu? Bukankah kau lihat sendiri aku masih berdiri disini dalam keadaan segar bugar?"

"Kau ini juga ada sedikit keterlaluan. Kau mau menang sendiri saja, sudah kalah masih tidak mau ngaku. Barusan terang-terangan aku sudah berhasil menotok jalan daran Ciang tay hiat didadamu. Kaalu bukan karena didadamu ada menyimpan suatu benda, niscaya siang-siang aku sudah...."

Pemuda berbaju putih itu tidak menunggu sampai Ho kie bicara habis, dengan wajah kemerah-merahan ia membentak.

"anak sombong! lihat seranganku!"

Badannya benar saja telah bergerak melancarkan satu serangan.

Saat itu ia sudah seperti melupakan perjanjian bahwa siapa yang menang dalam tiga jurus, yang kalah harus berlutut dan manggut-manggut tiga kali dihadapan yang menang.

Anak muda itu terus melancarkan serangannya yang bertubi-tubi.

Sebentar saja tujuh atau delapan jurus sudah dilalui, saat itu cuma kelihatan bayangan putih yang berkelebatan serta sambarang anginnya yang hebat.

Ho kie tidak berlaku ayal, dengan menggunakna ilmu silat Hoan eng-sie-sek-nya, semacam ilmu yang memerlukan kelincahan gerak badan, terus ia menghindarkan setiap serangan pemuda berbaju putih itu.

"Tahan dulu!"

Tiba-tiba Ho kie berkata dan lompat mundur..

"Perlu apa berhenti? Kalau belum ada keputusannya, jangan harap kau bisa lari!"

Kata sang lawan, gemas kelihatannya.

"Kita tadi sudah berjanji hanya boleh bertempur dalam tiga jurus, sekarang kau sudah melancarkan serangan sampai delapan jurus dan toh masih belum mampu menundukkan aku, kenapa kau tidak lekas-lekas berlutut dihadapanku?"

Pemuda berbaju putih itu melongo, tetapi kemudian ia lantas menjawab sambil ketawa dingin.

"Siapa kata aku kalah, dalam setiap jurus seranganku mengandung enam belas rupa perubahan. Delapan jurus tadi cuma bisa dihitung delapan rupa, sebetulnya satu juruspun belum ada."

"Apa ucapanmu semula boleh dipercaya?"

"Mengapa tidak? kalau benar-benar kau mempunyai kepandaian, sambuti serangan-seranganku yang tiga jurus ini sampai habis dulu."

"karena kau tetap hendak mengingkari janji, biarlah kita adu tenaga sampai ada keputusan."

"Kau sendiri yang tidak tahu malu msaih berani memaki orang lagi."

Karena tidak ada yang mau mengalah, maka keduanya lantas saling menyerang lagi.

Lewat lagi sepuluh jurus, Ho kie diam-diam terkejut, sebab kepandaian ilmu silat pemuda berbaju putih itu memang benar masih berada diatas kepandaiannya sendiri.

Dan apa yang mengherankan, ialah semua gerak tipu silatnya mirip dengan ilmu silatnya sendiri, maka sangat sukar untuk ia menjatuhkan lawannya yang tangguh itu.

Dalam jengkelnya, ia mencoba mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Beberapa kali ia sudah mengganti cara bersilatnya supaya dapat menundukkan lawannya.

Siapa tahu, pemuda berbaju putih itu sangat licin.

Setiap kali serangan Ho kie hampir mengenakan dirinya, selalu dapat dielakkan dengan cara yang enak sekali.

Pada suatu ketika, anak muda berbaju putih itu mendadak telah lompat mundur beberapa tindak sembari bertanya.

"Apakah kau anak murid golongan Hian kui kauw?"

Ho kie tercengang. Ia lantas menghentikan serangannya, menjawab.

"Mungkin kau sendiri ada muridnya Hian kui kauw. Apakah lantaran tidak mampu merebut kemangan, kau lantas hendak mencari alasan untuk kabur?"

"Kalau kau bukan anak murid Hian kui kauw, bagimana kau dapat menggunakan tipu serangan Kin-na-khiu hoat dalam kitab pelajaran Hian kui pit kip, dengan baik?"

Hati Ho kie curiga, diam-diam ia berpikir.

Bocah ini tinggi sekali ilmu silatnya, bahkan dalam setiap serangan dia selalu mencoba mengatasi seranganku.

Apakah dia sendiri anak murid golongan Hian kui kauw?"

Begitu mengingat Hian kui kauw, ia lantas ingat kematian ayahnya, maka rasa gemasnya lantas timbul seketika itu. Dengan suara keras ia lantas menjawab.

"Aku dengan Hian kui kauw mempunyai permusuhan yang sangat dalam. Kalau kau murid Hian kui kauw, hari ini aku akan membunuhmu terlebih dahulu!"

Pemuda berbaju putih itu tidak marah, sebaliknya malah menunjukkan roman girang.

"Kalau kau bukannya anak murid Hian kui kauw,"

Katanya.

"Kenapa ilmu silatmu mirip seperti ilmu silat dari kitab pelajaran Hian kui Pit kip? Kau tentunya mempunyai hubungan dengan Toan-theng lojin di Lembah Patah Hati."

Ho kie terperanjat.

"Kau siapa? Bagaimana kau mengetahui nama Toan-theng Lojin?"

"Bukan cuma mengetahui saja, aku malah bertetangga dengan dia, dan tidak cuma sekali saja aku melihat padanya yang mengenakan pakaiannya yang aneh itu yang kadangkadang berlari-lari diatas bukit Pek-kut nia..."

Mendadak ia menghela napas perlahan.

"Tetapi.. ia agaknya ketimpa oleh nasib malang, seperti seorang yang sedang dirundung kedukaan hebat. Kadangkadang ia menangis seorang diri, bahkan tidak mau menemui orang, juga tidak mau bicara..."

HO kie semakin heran, sebab kepandaian ilmu silat Toan-theng lojin itu sangat luar biasa hebatnya.

Adatnya juga sangat aneh.

Menurut keterangan Toan-theng lojin sendiri, ia sembunyi dibukit Pek-kut-nia sudah lebih dari empat puluh tahun lamanya, sedang anak sekolah berbaju putih ini, usianya masih belum cukup dua puluh tahun.

Bagaimana ia bisa berada dibukit Pek-kut nia dan cara bagaimana ia bisa melihat Toan-theng lojin serta dapat mengetahui semua sifat-sifatnya begitu jelas?

Hatinya mulai tergerak, maka lantas ia menanyakan dengan suara terputus-putus.

"kau... kau siapa?"

"Aku sejak masih kecil sudah berdiam di bukit Pek-kut nia, terpisah tidak jauh dari tempat tinggalnya Toan-theng lojin. kau boleh menerka aku ini siapa?"

"Ouw... sekarang kau tahu. Kau pasti murid Cit-cie Sin hong locianpwe di puncak gunung Sin hong."

Pemuda berbaju putih itu tertawa dan menganggukanggukan kepalanya.

"Benar saja! Dengan demikian, juga berarti kau telah mengakui bahwa kau adalah muridnya Toan-theng locianpwe."

"Pantas ilmu silatmu hampir setiap jurus dapat merebut kesempatan lebih dahulu. Gerak tipu silatmu sangat aneh. Aku benar-benar sangat tolol, sudah melupakan pada Citcie Sin hong Locianpwe.."

Ho kie lalu angkat tangan memberi hormat, kemudian berkata pula.

"Orang yang tidak mengetahui, tidak boleh dianggap bersalah. Aku ingin numpang tanya, siapakah nama saudara yang mulia?"

"Aku orang she Lim, namaku Kheng"

Jawab sianak muda.

"Sejak aku masih kecil telah belajar ilmu silat di puncak gunung Sin Hoa. tentang diri Toan theng locianpwe, meskipun sudah lama aku mengenalnya, tetapi aku belum pernah medengar kalau dia ada menerima murid."

Ho kie lalu memberitahukan namanya sendiri, kemudian sambil menghela napas berkata.

"Ilmu silat ku meskipun dapat pelajaran darinya, tetapi aku belum mengangkat guru padanya. Aku berdiam disana dengan dia hanya satu bulan saja..."

"Aku benar-benar telah kesalahan mengira kau murid golongan Hian-kui kauw. Sekarang sudah terang, sebetulnya kita masih terhitung orang-orang sendiir. Tetapi entah apa sebabnya saudara Ho meninggalkan lembah seorang diri? Ada urusan penting apa yang hendak dilakukan?"

Ho kie lalu menceritakan hal ikhwalya Toan-theng lojin, yang kin telah muncul lagi didunia kang ouw.

dan sudah 3 tahun belum kembali.

Karena ia merasa kuatir atas dirinya, maka lantas keluar lembah untuk menyelidiki dimana adanya orang tua yang bernasib malang itu.

Lim Kheng lalu berkata.

"Sekarang Hian-kui kauw sangat menonjol didunia rimba persilatan."

Kata Lim Kheng.

"Mereka ingin menjagoi dunia persilatan. Toan-theng lojin karena urusan Hian kui kauw telah meninggalkan lembah, mengapa saudara Ho tidak langsung menuju kesarangnya Hian kui kauw untuk mencari kabar?"

"Aku sebenarnya juga ada itu maksud. tapi karena Toanotheng lojin waktuk pergi telah meninggalkan pesan, sebelum pelajaran ilmu silatku mahir, tidak boleh sembarangan masuk kesarangnya Hian-kui kauw untuk mencari setori, maka sehinggal saat ini aku masih merasa bimbang."

"Apasih kepandaian Hian kui kauw yang bisa dibanggakan? Kalau saudara Ho tidak keberatan, aku mesipun seorang yang tidak berguna, juga ingin memberi sedikit bantuan tenaga kepada saudara Ho untuk mengadakan penyelidikan."

Sudah tentu Ho kie tidak keberatan atas tawaran tersebut.

Saat itu ia mendadak ingat kejadian aneh yang tadi malam telah dialami di Cit-lie kang, dimana ada seorang pemuda lain yang mengenakan pakaian serupa dengan Lim Kheng.

Lim Kheng yang diberitahukan hal itu lantas menjadi gusar.

"Manusia siapa yang tidak tahu malu begitu rupa, beraniberani menyaru pakaian lain orang? mari kita pergi cari lagi dimana adanya bocah itu sekarang?"

"Aku lihat pemuda itu ilmu silatnya sangat luar biasa. kepandaiannya tidak dibawah aku dan kau, apakah dia mungkin..."

Ho kie berkata.

"Tidak perlu kita menduga-duga, mari kita lekas cari, jangan sampai dia kabur"

Memotong Lim Kheng, yang lantas gerakkan kakinya dan sebentar saja sudah berada kira-kira tiga tombak jauhnya.

Ho kie terpaksa mengikuti, hingga dua orang itu berlarilarian dijalanan yang sunyi itu.

Sebentar saja mereka sudha meninggalkan bukit.

Sedang enak-enaknya mereka berlari-larian, tiba-tida mendengar suara beradunya senjata tajam.

Lim Kheng lalu hentikan tindakannya, ia berpaling dan berkata kepada kawannya.

"Saudara Ho, disana ada orang mari kita pergi lihat!"

"Baiklah..!"

Baru saja ucapan itu keluar dari mulutnya, Lim Kheng sudah lompat melesat keatas bukit.

Dari atas bukit kecil itu mereka dapat lihat seorang taoto dengan wajahnya yang keren, sedang memutar senjata Siantung(tongkat) bertempur dengan seorang laki-laki tua yang kurus kering.

Taoto itu badannya tinggi besar, dandannya cukup mewah.

Di pinggangnya maish ada membawa sebilah golok Kayto yang sangat berat tampaknya.

Putaran tongkatnya itu mengeluarkan sambaran angin yang sangat hebat mengurung dirinya siorang tua, mulutnya tidak berhentihentinya membentak-bentak..

"Anjing, apakah kau sudah buat? berani menggerayangi kanto aku?"

Laki-laki kurus kering itu juga tidak mau mengalah mentah-mentah. ia balas memaki.

"Kaulah yang buat. Toaya mu disini banyak uang, dirumah ada mempunyai 4 orang istri, masakan memerlukan uang segala kurcaci seperti kau ini?"

"Anjing tua, kau masih berani mungkir?"

Bentak pula si taoto sambil ayun tongkatnya yang berat menyerang lawannya.

Orang tua itu mengerakan badannya, seolah-olah belut nyelusup dari bawah ketiaknya Taoto, kemudian dengan sebat sekali tangannya menyambar gagang golok si Taoto yang menyelip dipingganya.

Sebenar saja golok itu sudah berada ditangannya si orang tua.

Taoto itu terperanjat, sambil mundur beberapa tindak ia lantas berkata.

"tidak nyana aku Sam Ciok To oh solah mata, Anjing tua, beritahukan namamu."

Orang tua itu mengurut-urut jenggotnya yang seperti jenggot kambing, sambil ketawa cengar dengir menjawab.

"aku adalah cukongmu, perlu apa harus memberitahukan nama?"

Taoto itu semakin mendongkol.

"Aku tahu kau tentunya orang yang diminta bantuan tenaga oleh orang Hoa-sanpay. kalau kau mempunyai kepandaian kau boleh pergi ke Ngo-ku cio. Orang tua seperti kau yang bisanya cuma melakukan perbuatan mencuri, merampas, apa kau tidak takut membikin rusak nama Hoa-san pay salah satu partai terbesar dari 9 partai besar dirimba persilatan?"

"Kalau Hoa-san pay medapat malu ada hubungan apa dengan aku si orang tua?"

Taoto itu merasa dirinya digoda, kegusarannya semakin memuncak, maka ia lantas menyerang dengan cepat sambil membentak keras.

"Anjing tua! Kau cari mampus?"

Kali ini orang tua itu tidak menyingkir atau berkelit, sebaliknya malah menyambut serangan lawannya dengan goloknya.

Setelah terdengar suara beradunya senjata.

masingmasing lantas mundur tiga tindak.

Orang tua itu memeriksa senjatanya, ternyat pada senjatanya itu telah kedapatan sedikit kerusakan, maka wajahnya lantas berubah seketika.

Ia lantas melemparkan goloknya sambil mendumel.

"Aku kira golok pusaka, tak tahunya golok rongsokan."

Taoto itu yang melihat goloknya rusak, hatinya merasa duka, sambil kertak gigi, ia memaki-maki.

"akau aku tidak mampu membikin hancur kepalamu, benar-benar aku tidak puas."

Kembali ia memutar tongkatnya menyerang orang tua itu. Si orang tua melompat tinggi mundur satu tombak lebih, kemudian lari kabur keatas bukit, sambil sebentar-sebentar menolej dan mengejek taoto.

"Hai taoto, kalau berani, kau boleh naik kemari."

Si taoto memungut goloknya sambil berseru keras ia mengejar keatas bukit.

Ho kie yang menyaksiakn kejadian itu sudah ingin bertindakk, tetapi telah dicegah oleh Lim Kheng.

Orang tua itu dengan cepat telah berada dibelakang Ho kie, dengan perlahan ia mendorong tubuh anak muda itu sambil berkata.

"Saudara kecil, tolong bantu aku. Taoto itu bukan orang baik-baik."

Ho kie belum menjawab, orang tua itu sudah melesat kebelakang Lim Kheng dan berkata dengan suara cemas.

"Kongcuya, Hweesio itu hendak membunuh orang. Apa kalian tidak mau menolong aku?"

Lim Kheng agaknya merasa kurang senang.

selagi ia hendak menjawab orang tua itu tiba-tiba ketawa dan lantas mundur tiga tindak.

Gerakannya geist sekali, sebentar saja ia sudah melesat sejauh sepuluh tombak lebih.

Lapat-lapat masih terdengar suara ketawanya dan nyanyiannya.

"Ngo-kui-Khio, Ngo-kui-Khio segalamacam orang berkumpul disitu, masing-masing saling berebut, tetapi apa yang didapat? semua hampa belaka..."

Suaranya itu kedengarannya makin lama semakin jauh, dan perkataannya yang terakhir itu kedengarannya sudah tidak nyata lagi.

Ho kie karena melihat si taoto itu terus mengejar, maka setelah berpikir sejenak, ia lalu berkata.

"Lim heng, ditempat yang disebut Ngo-Kui-Khio itu tentu akan terjadi apa-apa, mari kita juga pergi kesana, kau pikir bagaimana?"

"Tidak! kita cari dulu itu manusia yang tidak tahu malu..!"

Tetapi pikirannya mendadak tergerak, buru-buru ia merogoh sakunya. Sebentar wajahnya berubah dan lantas berseru.

"Aaa... benar-benar dia!"

"Lim-heng, kau katakan siapa?"

"Jalan..! mari kita ke Ngo kui Khio. Bangsat tua itu sungguh jahat...."

"Siapa? siapa yang kau maksudkan dengan Bangsat tua?"

"Coba kau raba sakumu, Apa barangmu masih ada?"

Ho kie meraba-raba sakunya, seketika ia lantas melongo.

"Celaka !! uangku sudah tidak ada lagi."

"Demikian juga dengan kau. Sudah dicuri oleh sibangsat tua tadi."

"Apakah itu perbuatannya orang tua tadi?"

"Mengapa tidak? Dia adalah sicopet sakti yang terkenal dikalangan golongan hitam. si taoto tadi sudah memakimaki dengan nyata, dan toh sekarang kita masih kena diingusi."

"kalau begitu, kita jangan buang-buang tempo lagi, mark lekas kejar."

"Tidak apa! Dia pasti ke Ngo-kui-khio! kita juga kesana saja."

Keduanya lalu meninggalkan bukit itu dengan mengikuti jejak orang tua tadi mereka dengan cepat mengejar.

Setelah berjalan kira-kira enam atau tujuh lie jauhnya, jalanan sudah sepi, tidak kelihatan bayangan seorang pun juga.

-oo0dw0oo-

Jilid 3 HO KIE lalu merasa kurang enak, maka lalu bertanya "Lim-heng, kemana kita harus mencari Ngo-kui-Khio?"

"Tempat yang disebut Ngo-kui Khio itu rasanya tentu ada suatu tempat yang ditanami lima batang pohon Kui. mari lekas kita kejar. Kita coba lihat-lihat keadaan disekitarnya."

Masing-masing lalu mengeluarkan kepandaian lari melesatnya, maka sebentar saja mereka sudah melalui lima atau enam lie.

Makin lama keadaan makin sunyi.

Disepanjang jalan, yang dapat dilihatnya lapangan yang luas tidak kelihatan sebuah rumahpun juga.

Mendadak Ho kie mengehentikan gerakan kakinya, sambil menuding ke tempat tinggal sejauh kira-kira sepuluh tombak ia berkata.

"Coba kita berada ditempat yang agak tinggi itu, nanti kita mencari daya upaya lagi."

Lim Kheng mengangguk, keduanya lantas menuju ketempat yang ditunjukkan oleh Ho kie.

Di sebelah barat, sejarak kira-kira lima lie dari tempat mereka berdiri itu, kedapatan suatu lapangan yang luas.

Disitu terdapat suatu bangunan, semacam perkampungan.

Dipingirnya bangunan itu terlihat berdiri lima batang pohon Kui yang teratur rapi.

Ho kie lantas berkata dengan giran "Lim-heng, kau lihat?

Apa itu bukan tempat yang dsebut Ngo-Kui-khio?"

Sehabis berakta lantas ia lari menuju ke tempat tersebut.

Ketika mereka tiba didepan perkampungan itu, keduaduanya lantas terperanjat.

Mereka lantas menghentikan tindakan kaki mereka dengan perasaan terheran-heran.

Karena tempat itu sangat sunyi.

Tidak ada suara manusia maupun binatang.

Ditanah lapang kosong kelihatan beberapa puluh bangkai manusia yang telah mati menggeletak dalam keadaan yang tidak utuh tubuhnya.

Dimana-manadarah berhamburam.

Senjata-senjata berserakan ditanah.

Terang bahwa ditempat tersebut belum lama berselang sudah terjadi suatu pertempuran yang sangat hebat.

sehingga telah meminta korban yang begitu banyak.

Orang-orang itu kesemuanya adaah orang-orang dari dunia Kangouw.

Tetapi sekrang mereka sudah rebah bergelimpangan dengan tidak bernyawa.

Siapakah mereka itu?

Mengapa mereka bertempur ditanah lapang ini?

Sudah berapa lama mereka binasa?

Lim Kheng mengawasi keadaan disekitarnya sejenak, lalu berkata dengan menghela napas.

"ah! kita terlambat sedetik saja!"

"Tempat ini sungguh aneh, Apakah orang-orang didalam rumah binasa semuanya?"

Mendadak angin dingin meniup, sehingga badan Ho kie mengigil.

"Lim-heng, mari kita masuk untuk melihat-lihat"

Kata Ho kie dengan perlahan. Lim Kheng mengawasi keadaan kampung sejenak lantas menyahut sambil angguk-anggukkan kepala.

"Baiklah! sebaiknya kau ikuti aku saja, kita jangan bertindak sembarangan."

Ho kie merasa tersinggung, Pikirnya, Apa kau kira aku ini lebih rendah darimu?

Tetapi selagi ia hendak menjawab, ia telah menyaksikan sorot mata yang halus dari mata Lim Kheng yang sedang menatap wajahnya...

Hati Ho kie lantas berdebaran, dengan tidak terasa lantas tundukkna kepalanya dan menjawab.

"Baiklah! silahkan Lim-heng jalan lebih dulu!"

Lim Kheng anggukkan kepala sambil tersenyum, kemudian dengan gerakan gesit ia lompat melesat melalui lapangan dan telah berdiri didepan pintu perkampungan.

Ho kie sangat kagum menyaksikan kepandaian meringankan tubuh Lim Kheng, kemudian dia juga bergerak menyusul padanya.

Pintu itu tertutup dari sebelah dalam, tetapi keadaan dalam sangat sunyi, sedikitpun tidak kedengaran suara manusia.

Seluruh perkarangan seperti tempat kuburan yang luas, tidak mirip dengan tempat kediaman manusia.

Lim Kheng mengulur tangan kirinya, dengan perlahan ditempelkan keatas pintu sambil mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya.

Mendadak telapak tangannya digerakkan, setelah mendengar barang patah, tulak pintu yang berada disebelah dalam ternyata sudah dibikin patah.

Lim Kheng lalu menoleh dan tersenyum pada Ho kie, pintu lantas dipentang dan orangnya lantas melompat masuk.

APA yang terlihat didalamnya?

Sungguh merupakan pemandangan yang mengejutkan.

Karena didekat pintu masuk ada berdiri tiga laki-laki berbadan tegap dengan masing-masing tangan membawa golok atau pedang, telah berdiri tegak tanpa bergerak.

Ho Kie lalu menegur dengan suara perlahan .

"Sahabat........"

"Sttttt.........."

Lim Kheng dengan telunjuk jarinya ditempelkan pada bibirnya memberi isyarat supaya Ho Kie tidak mengeluarkan suara.

Hening sejenak.

Heran, ketiga orang itu tidak menunjukkan gerakan apa-apa dan kelihatannya mereka sekarang berdiri seperti patung.

Lim Kheng lalu ketawa seorang diri, kemudian berkata pada Ho kie.

"Saudara Ho, coba kau periksa, apa sebabnya mereka tidak dapat bergerak?"

Ho kie lalu memeriksa hidung ketiga orang itu, lantas berseru kaget.

"Aaaaa, kiranya mereka sudah binasa semuanya."

"Kalau merek bukan karena sudah binasa, bagaimana mereka mau membiarkan kita masuk begitu saja?"

Kata Lim Kheng sambil tertawa.

"Lim-heng sungguh cerdik! Mengaap aku tidak memikirkan soal itu sehinggal hampir saja kena tertipu."

Lim Kheng lalu mulai masuk kedalam untuk memeriksa rumah itu.

Disitu ternyata ada satu ruangan yang luas dikanan kirinya berdiri banyak kursi, dikedua sisinya ada pintu yang menghubungi ruangan luar dengan ruangan dalam.

Kursi dan lantainya kelihatan sangat bersih.

Terang bahwa ruangan itu sudah pernah ditinggali orang belum lama berselang.

Lim Kheng berpikir sejenak lalu berkata dengan perlahan.

"Kalau dugaanku tidak keliru, disini pasti sudah terjadi peristiwa hebat. Musuh kuat sudah masuk kedalam. ketiga orang tadi tentunya hendak keluar untuk mengadakan pemeriksaan, tidak dinyana, sebelum membuka pintu. mereka sudha kena ditotok oleh tangan jahat dari musuhnya sehingga mereka binasa semua."

"Dugaan Lim-heng memang ada beralasan. Sudah terang kalau disini pernah didatangi oleh musuh yang kuat. Dilapangan tadi terdapat banyak orang yang sudah binasa, dalam rumah ini sekarang mungkin sudah tidak ada manusianya lagi yang hidup yang dapat kita mintakan keterangan"

"Ini masih susah dikatakan. Menurut dugaanku, bangsat tua dan taoto tadi, pasti ada hubungannya dengan peristiwa berdarah ini. Tetapi mereka toh hanya lebih dulu sedetik dari kita, sesudah menyaksiakn pemandangan ini, kemana pula mereka pergi?"

Kata Lim Kheng sambil menganggukkan kepalanya dan lalu mengadakan pemeriksaan yang teliti pada dirinya ketiga orang yang sudah binasa tadi. Mendadak ia berkata dengan suara kaget.

"Eeeiii Apa ini bukannya perbuatan orang-orang dari Hian kui kauw?"

Ketika mendengar disebutnya nama Hian kui kauw, semangat Ho kie lantas terbangun.

"Bagaimana Lim kheng bisa tahu kalau itu adalah perbuatan orang-orang Hian-kui kauw?"

Ia bertanya pada lim kheng.

"Coba kau lihat dibadannya orang-orang itu. Bukankah ada tanda matang biru bekas telapakan tangan, yang kini sudah mulai menyenyah?"

Lim kheng sambil menunjuk pada salah satu mayat.

Ho kie lantas membuka baju mayat yang diunjuk, benar saja digegernya orang itu ada tanda telapak tangan yang mengandung darah hitam yang pada saat itu sudah mulai menyenyah.

Ia bercekat dan berseru.

"Benar saja! orang ini binasa karena serangan ilmu Husie biat kut ciang dari golongan Hian-kui kauw."

"Orang yang melakukan serangna ini masih belum cukup hebat kekuatan tenagnya. Jikalau yang melakukan Kauwcunya sendiri, Cian-tok lo mo, serangannya dapat menembusi badan sehingga isi dada hancur semua, dadanya juga menyenyeh dan sebentar saja akan menjadi darah hitam."

Mendadak Ho kie mengingat kembali akan kematian ayahnya ditangan Bo Pin, dan Bo Pin ini yang kedudukannya semacam algojo dari Hian-Kui Kauw, sepantasnya mempunyai kekuatan yang cukup tinggi.

Kalau begitu, kematian ayahnya juga tentunya menggenaskan seperti orang-orang ini.

Perasaan gemas dan gusar lalu timbul diotaknya, sambil kertak gigi ia berkata kepada kawannya.

"Lim-heng,kalau benar dalam peristiwa ini adalah perbuatan orang-orang Hian-kui kauw. kita tidak boleh berpeluk tangan saja."

"Ini sudah tentu! Kita yang sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, biar bagaimana harus menyelidiki sampai kedasar-dasarnya."

Sehabis berkata demikian, ia lalu pentang kipasnya untuk melindungi dadanya, kemudian ia melesat kedepat pintu disebelah kiri lalu menoleh dah berkata kepada kawannya.

"Saudara Ho, kita masing-masing memasuki satu pintu, kita lihat didalmnya ada terjadi apa lagi yang aneh"

Ho kie yang menyaksikan ketawa kawannya, tiba-tiba hatinya berdebaran.

Diotaknya lantas terbayang gerakgeriknya yang mengarahkan dari tingkah laku seorang wanita.

Mungkinkah kawannya ini adalah seorang wanita yang menyaru menjadi seorang pria?

Selagi Ho Kie bepikir demikian Lim Kheng sudah masuk jauh kedalam maka ia terpaksa masuk kelain pintu.

Dari pintu yang dimasuki Ho kie terdapat jalan yang lurus, dipinggir jalan ada tanaman rumput dan bunga-bunga yang lebat.

Ho kie memasang telinganya, sedikit suara pun tidak kedengaran, maka ia terus masuk kedalam salah satu kamar yang ada disitu.

Dengan sangat hati-hati sekali, Ho kie mengadakan penyelidikan, ia mendapat perasaan bahwa keadaan ditempat itu sangat seram.

Kecuali suatu angin yang membuat daun pintu dan jendela bergoyang, seluruh tempat disekitarnya sangat sunyi.

Tidak lama kemudian, ia sudah dapat melalui tiga buah bangunan rumah, tetapi tetap ia belum berhasil menemukan bayangan seorangpun juga.

Setelah berjalan kesana kemari, ia tiba disebuah ruangan kecil yang indah pemandangan dari kamarnya.

Dalam kamar itu terdapat dua buah lemari buku, sebuah meja besar, didinding ada banyak gambar-gambar dan tulisan-tulisan orang terkenal, sehingga Ho kie dapat menduga bahwa kamar itu adalah kamar bagi tuan rumah.

Selagi ia hendak keluar berlalu, tiba-tiba melihat sehelai kertas tulis diatas meja yang masih ada bekas tanda belum lama orang menulisnya.

Karena merasa tertarik, ia lantas memeriksa tulisan tersebut.

ternyata tulisan itu adalah surat yang belum selesai ditulis semuanya.

Karena sepasang mata Ho Kie dapat melihat dalam keadaan gelap dengan tidak usah menggunakan penerangan apa-apa, maka ia dapat membaca bunyi surat itu dengan berbunyi demikian.

"Rahasia tentang Kalajengking emas sudah terbuka. Musuh-musuh yang kuat sekarang sedang mengepung, sehingga sukar untuk bertindak barang sedikitpun juga. Hal ini harap supaya lekas disampaikan kepada Ciang-bun-jiu supaya segera mengutus...."

Surat itu masih belum selesai ditulis semuanya, maka ia tidak mengetahui surat itu ditujukan pada siapa.

Barangkali orang yang menulis surat itu sudah berlalu dengan sangat tergesa-gesa dan tidak akan kembali lagi, maka surat itu ditinggalkan begitu saja diatas meja.

Tetapi siapakah orangnya yang menulis surat itu, Benda apakah yang dimaksudkan dengan Kalajengking emas itu?

Apakah orang itu juga sudah binasa ditangan musuhnya?

Rupa-rupanya dugaan timbul dalam otaknya Ho Kie, ia menduga bahwa Kalajengking mas itu adalah sebuah benda pusaka yang sangat berharga yang sudah didapatkan oleh majikan dari rumah gedung ini.

Semula tentunya benda itu ingin diberikan kepada Ciang bun jiu partainya, tetapi kemudian telah diketahui oleh orang lain yang timbul maksudnya hendak merampas benda tersebut, maka ia lantas meninggalkan surat untuk minta bantuan ....

Kalau dugaannya itu tidak salah.

Cungcu dari perkampungan ini tentunya juga adalah orang dari rimba persilatan.

Ho Kie masukkan surat itu kedalam sakunya, lalu memandang keadaan diatas meja.

Diujung kanan meja ada terdapat sebuah kotak kecil.

Ketika ia coba mengangkat, ternyata sangat berat.

Ia kelihatan bersangsi.

Menurut pantas, barang yang ada didalam peti, sudah tentu kepunyaan orang lain yang tidak seharusnya dibuka sembarangan.

Tetapi karena disini sekarang tidak ada seoraug manusiapun yang masih bernyawa, suatu perasaan ingin tahu mendorong padanya untuk membuka kotak itu.

Tepat pada saat itu, dibelakangnya seperti terdengar suara orang ketawa dingin.

Ho Kie terperanjat.

Ia cepat-cepat memutar tubuhnya dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Diluar pintu kamar tampak seperti ada berkelebat bayangan hitam yang telah menghilang dengan cepat.

cepat2 ia meletakkan kotak itu diatas meja, segera ia lompat melesat untuk memburu kaarah bayangan tersebut.

Tetapi diluar kamar ternyata sudah kosong melompong, tidak kelihatan bayangan seorang pun juga.

Diam-diam Ho Kie merasa kaget.

Karena suara tadi memang benar adalah suara orang, tidak disangkanya bahwa gerak geriknya sendiri sudah dalam pengintaian orang.

Kalau orang itu adalah orang-orangnya Hian-kui kauw, pasti ia akan hajar mampus, maka ia sengaja ketawa dingin juga lalu berkata .

"Hai, kawanan tikus. Perlu apa main sembunyisembunyi? Kalau betul berani, lekas kau unjukkan diri !"

Tetapi biar bagaimanapun ia sudah mengejek, tetap tidak ada orang yang menjawab.

Ia lalu balik lagi kedalam kamar dan hendak membuka kotak itu untuk melihat apa isinya.

Rupa-rupa pikiran telah mengaduk dalam otak Ho Kie.

Hampir semua benda yang sangat berharga itu diingininya.

Tetapi akhirnya pikiran sehat dapat menindas semua perasaan serakahnya, ia lantas membungkus barang2 berharga itu dengan sehelai kain dan diletakkan kembali ditempat asalnya.

Ia mengerahkan kekuatannya dengan sekali tepok saja ia sudah dapat menghancurkan kotak itu.

Apa yang dilihatnya?

Ho Kie kesima, kiranya isi kotak itu adalah mutiara, berlian, emas dan batu giok yang sangat berharga.

Ia menghela napas dalam-dalam, sesaat lamanya ia hampir-hampir tidak mau melepaskan barang2 berharga itu.

Dalam hatinya berpikir, bahwa keadaan dirinya sendiri dan Lim Kheng berdua, pada saat itu sudah tidak mempunyai uang barang sepeser dan emas beserta barang permata itu justru sangat dibutuhkan oleh mereka untuk ongkos dalam perjalanan.

Apa lagi jika benar Lim Kheng adalah seorang wanita yang sedang menyaru, batu batu giok ini pasti disukainya "

Benda-benda ini mungkin sudah tidak ada pemiliknya lagi.

Bukankah sangat sayang kalau diletakkan didalam rumah kosong........?

Diantara barang-barang berharga itu ia telah menemukan dua buah kunci kecil yang terbuat dari emas murni.

Kuncikunci itu sangat halus buatannya, mungkin bukan barang perhiasan biasa, ia lalu mengantongi kedua buah kunci itu kemudian keluar dari dalam kamar itu.

Karena disitu ia sudah membuang banyak waktu, ia kuatirkan kalau kawannya, Lim Kheng mendapat bahaya, maka dengan tidak banyak pikir lagi ia lantas cepat melesat ke-atas genteng.

Ia melihat dirumah paling belakang ada berkelebat sinar terang, tetapi ketika ia memasang telinganya, kembali ia sudah tidak ragu-ragu ia lantas lompat melesat kebagian rumah yang ada berkelebat sinar terang tadi.

Dengan sangat hati hati ia memeriksa keadaan rumah tersebut, ternyata rumah itu di bangun diatas sebuah bukit kecil yang terpisah agak jauh dari pada rumah rumah yang terdapat dibagian depan.

Ia berdiri ditengah tengah, terpisah oleh sebuah lapangan yang seluas sepuluh tumbak lebih, sehingga bangunan tersebut kelihatannya mencil sendirian.

Karena Ho Kie ada seorang yang berkepandaian tinggi dan bernyali besar, maka ketika ia melihat bahwa pintu rumah itu tidak terpalang, ia lantas mendorong dengantangan kanannya.

Setelah berada didalam rumah, baru diketahuinya bahwa keadaan di dalam situ ternyata banyak berlainan dengan yang sudah-sudah ia masuki, ternyata rumah itu sangat sederhana.

Di dalamnya tidak terdapat perlengkapan perabot apa-apa, hanya dibagian yang berdekatan dengan bukit, ada sebuah bangunan berupa kuburan besar yang terbuat dari batu pualam.

ooo0dw0ooo HO KIE TERPERANJAT.

Ia heran, mengapa kuburan bisa terdapat didalam rumah?

Kalau mau dikatakan bahwa tempat itu digunakan untuk tempat abu leluhur, tidak perlu dibuat berbentuk semacam kuburan.

Apa lagi seluruh rumah itu, kecuali sebuah bangunan berupa kuburan, sudah tidak ada lagi tempat abu yang lain-lainnya.

Ia menduga bahwa batu kuburan itu pasti mengandung rahasia, maka dengan sikap yang hati-hati sekali ia maju mendekati.

Didepan batu kuburan itu berdiri sebuah batu kecil yang bertulisan sudah tidak kelihatan lagi apa dan bagaimana bunyinya.

Ho Kie memeriksa mengitari kuburan tersebut, Tetapi tetap ia tidak mendapatkan apa-apanya yang aneh.

Selagi berada dalam keragu-raguan, tiba2 kedengaran lapat-lapat suara tindakan kaki orang.

Ia terkejut, buru2 bersembunyi dibelakang kuburan.

Sebentar kemudian, dari luar pintu telah muncul seorang jangkung dan seorang cebol.

Ho Kie yang mengintai dari belakang kuburan telah mengenali orang yang jangkung itu adalah padri buas yang menyebut dirinya Sam-ciok Taoto, sedangkan yang cebol berpakaian hijau berusia kira-kira 40 tahun.

Taoto itu tidak kelihatan membawa tongkatnya.

Ditangannya hanya memegang sebilah golok, matanya memandang buas dan sikapnya sangat keren.

Sedangkan kawannya sangat aneh bentuknya, badannya dibagian atas tidak berbeda dengan badan orang biasa umumnya tetapi kedua kakinya amat pendek, sehingga kelihatan seperti anak-anak yang masih belum dewasa.

Begitu masuk, Taoto itu lantas bertanya dengan suara rendah .

"Shao-heng, kau kira apa kita tidak datang terlambat? Dalam kuburan ini apa tidak ada orang lain yang sudah masuk lebih dahulu?"

Si Cebol memandang sepasang matanya yang tajam lalu menyahut sambil anggukkan kepalanya .

"Tidak salah! Kelihatannya seperti sudah ada orang lain yang masuk lebih dahulu. Barang itu masih ada atau tidak, susah dikatakan."

"Ini semua gara3 simaling tua yang mau mampus itu. Kalau dia tidak mencuri uang dan senjata rahasia kita, bagaimana aku bisa terlambat sampai sekarang baru menemui kau?"

"Aku sudah tahu bahwa kau kalau melihat arak lantas lupa daratan. maka begitu mendengar beritanya tentang siorang tua she Lo itu, aku lantas memanggil kau kemari dan memesan wanti-wanti jangan sampai kau minum arak.., Kau tahu, selama beberapa hari ini berapa cemas hatiku, disuatu pihak aku harus melayani Lo su ie. jangan sampai dia mengabarkan kepada Hoa-san. dilain pihak aku harus berhati-hati terhadap orang-orangnya Hian kui-kauw, jangan sampai mereka menganggap aku ini berkomplot dengan orang she Lo itu dan mereka turun tangan lebih dulu kepadaku....Akh! Sekarang ini kukatakan semuanya juga sudah tidak ada gunanya. Mudah-mudahan usaha kita tidak didahului oleh lain orang, sehingga benda pusaka itu dibawa kabur."

"Shao heng, kau sudah mengetahui benar jalan masuk kedalam kuburan ini? Apa kau pikir tidak bisa salah?"

"Kalau kau takut akan terjebak, kau tunggu saja, aku diatas jangan turut masuk."

"Mana bisa begitu! Kita merupakan sahabat-sahabat dari banyak tahun. Senang dan susah kita rasakan bersama-sama bagaimana aku tidak mau ikut masuk?"

Si cebol ketawa dingin, dengan tindakan lebar ia berjalan kedepan kuburan.

Dengan kedua tangannya ia mengangkat batu kuburan, Ia coba goyang sampai dua kali, mendadak wajahnya berubah.

Si cebol tegang sendiri sikapnya, ia memutar-mutar batu itu kekanan dan kekiri, mendadak memaki sendiri .

"Kurang ajar! Sungguh aneh. Rasanya benar2 seperti sudah ada orang yang masuk kedalam batu kuburan ini, mari kita lekas sedikit"

Pada saat itu, dari dalam kuburan mendadak telah terdengar suara keresekan. Mata si cebol membelalak "Cilaka"

Ia berseru dengan suara perlahan.

Setelah berseru, dengan cepat ia lalu lompat mundur kesampingnya si Taoto.

Keduanya lalu sama-sama lompat melesat keatas penglari rumah.

Ho Kie yang menyaksikan kegesitan si Taoto dan sicebol diam-diam merasa gusar.

Sebentar kemudian suara tadi kedengarannya semakin nyaring.

Batu kuburan itu perlahan-lahan menjeblak kebelakang, disitu lantas kelihatan sebuah pintu goa.

Tidak lama kemudian, dari dalam goa itu lantas kelihatan munculnya seorang ,tinggi kurus berpakaian hitam yang berjalan sempoyongan.

Orang itu sekujur badannya penuh darah, rambutnya kusut, wajahnya mesum, pada pakaiannya dibadannya terdapat beberapa bagian yang pecah.

Ia membawa sebilah golok Kui taoto terang ia sedang menderita luka-luka.

Baru berjalan kira-kira 5 tindak, mendadak ia muntahkan darah segar.

Tapi ia masih kuatkan dirinya dengan golok untuk menunjang tubuh jangan sampai rubuh.

Setelah mengaso sejenak, lalu memesut darah dimulutnya, kembali ia berjalan hendak keluar pintu, Mendadak si cebol dan si Taoto melayang turun dan menghadang didepannya.

Orang itu terkejut, buru-buru angkat goloknya untuk melindungi dadanya, lalu mundur dua tindak.

"Ko hiocu, aku yang rendah adalah Shao Cu Bung, apa kau sudah tidak kenal aku lagi ?"

Si cebol berkata. Orang itu memandang dengan mata yang layu, setelah mengeluarkan seruan kaget, lantas turunkan goloknya dan berkata sambil tertawa getir .

"Kiranya Shao Losu, kau.... kau kenapa juga datang kemari ?"

Si cebol dengan tajam mengawasi orang itu, tidak menjawab pertanyaannya, sebaliknya balas bertanya.

"Ko hiocu baru keluar dari dalam kuburan ini, kiranya Ko tancu juga sudah datang sendiri, apa sekarang masih berada didalam?"

Orang she Ko itu berdiam sejenak, lantas menjawab sambil menganggukkan kepala;

"Dengan terus terang, tancu sekarang ini sedang terkurung dibawah tanah, dia suruh aku melarikan diri untuk meminta bala bantuan Hoa-san-pay ada mempunyai beberapa orang kuat yang melindungi, fihak kita sudah ada 4 atau 5 orang yang binasa."

"Apa benar? Kalau begitu kita harus lekas masuk kedalam lobang untuk membantu Li tancu!"

"Kalau Shao losu mau berbuat demikian, kita Hiau-kuikauw pasti akan mengucapkan banyak terima kasih kepada Shao losu di kemudian hari pasti akan membalas budimu ini."

"Tak usah kuatir. Ko hiocu boleh lekas minta bala bantuan, disini ada aku si orang she Shao yang akan membantu Li Tancu, tidak nanti meleset!"

Orang she Ko itu tampaknya merasa sangat berterima kasih atas bantuan kedua orang itu, dengan tanpa curiga apa-apa, ia lantas memberi hormat sambil angkat tangannya, kemudian melanjutkan perjalanannya dengan sempoyongan.

Si cebol terus mengawasi, setelah orang itu berjalan kirakira 5 tindak, sicebol tiba-tiba menyerang dan tepat mengenakan gegernya orang she Ko itu, hingga tengkurap ditanah dan binasa seketika, Ho Kie yang menyaksikan kejadian itu, hatinya merasa bergidik.

Dalam hati berpikir orang she Ko itu meski seorang dari Hian-kui-kauw yang sudah sepantasnya mendapat bagian karena dosa-dosanja, tapi sicebol juga agaknja terlalu telengas, terang dia bukan bangsa baik-baik.

Si cebol setelah membinasakan orang she Ko itu lalu berkata kepada sitaoto.

"Hun tancu dari Hian-kui-kauw Lie Hui Hauw, sekarang sedang berada didalam lobang kuburan. Orang itu mempunyai kekuatan tenaga pemberian alam yang luar biasa. Sekarang ternyata dia telah terkurung, dari partay Hoa-san-pay pasti ada datang orang-arang yang berkepandaian sangat tinggi. Kita sebaiknya menggunakan kesempatan kedua pihak itu bertarung mati-matian lekaslekas turun tangan, kalau terlambat nanti tidak keburu lagi!"

Taoto itu menganggukkan kepala sebagai tanda menyetujui usul kawannya, ia buru-buru membuka kantong senjata rahasianya dari badan Ko hiocu yang sudah jadi bangkai, lalu diikatkan pada pinggangnya sendiri.

Berjalan belum beberapa tindak, si taoto mendadak berhenti dan bertanya.

"Ya, kau tadi mengatakan orang tua kurus kecil yang mencuri uang dan senjata rahasiamu, apakah bukan seorang tua yang mempunyai jenggot seperti kambing dan matanya sebelah kiri agak kurang leluasa kalau berkedip?"

"Benar, dia memang mempunyai jenggot seperti kambing, Tapi bagaimana keadaan matanya kurang jelas..."

"Kalau begitu pasti itu pencuri ulung si Auw-yang Khia, yang namanya sangat kesohor dalam kalangan hitam, Bangsat tua itu banyak akalnya, kekuatannya juga hebat, pula merupakan kakek moyangnya pencuri, terhadap kita, ancamannya tidak lebih kurang dari pada Lie Hui Hauw. Kita harus lebih berhati-hati terhadapnya."

Bersama si taoto ia lantas mulai masuk ke dalam lobang kuburan itu.

Ho Kie yang melihat pintu rahasia lubang itu tidak ditutup, ia tidak mau menghilangkan kesempatan sebaik ini, maka diam2 ia mengikuti dibelakang kedua orang tadi.

Jalanan masuk kedalam lobang itu merupakan suatu lorong sempit yang berliku-liku.

Oleh karena Ho Kie mengintai segala tindak tanduknya kedua orang tadi, maka ia sengaja berjalan sangat perlahan dan harus menahan napas supaya jangan sampai dipergoki.

Lorong itu kira-kira ada dua tombak panjangnya.

Sehabis melalui lorong itu, ada terdapat sebuah kamar batu yang luas.

Ho Kie dengan jalan sembunyi mengawasi keadaan kamar itu.

Begitu melihat, ia menjadi bingung sendirinya, sebab dalam kamar itu, selain jalanan masuk dari lorong tadi, ketiga dinding lainnya juga ternyata masih mempunyai pintu yang berderet deret yang tidak kurang dari tujuh lubang banyaknya.

Karena kedatangannya itu sedikit terlambat, maka ia sudah tidak dapat melihat si cebol dan si taoto itu tadi memasuki pintu yang sebelah mana.

Ini membuat ia bingung sendiri, Ia berdiri ditengah tengah ruangan dan mengawasi keadaan disekitarnya, tetapi juga tidak kedengaran suara gerakan apa-apa.

Dalam keadaan yang demikian itu terpaksa ia harus mencari sendiri.

Dengan tidak banyak pikir lagi ia lantas mendorong pintu ketiga didinding sebelah kanannya.

Dalam pintu itu, kelihatan juga seperjalanan lorong yang sangat dalam.

Setelah merasa ragu-ragu sejenak, ia lalu bertindak maju lagi.

Dengan cepat ia sudah berjalan kira-kira tujuh atau delapan tombak jauhnya, kembali ia tiba disebuah kamar batu, Kamar ini kelihatannya lebih kecil dari pada kamar yang pertama sekali ditemuinya, dan apa yang mengherankan ialah, disitu juga terdapat kira-kira enam atau tujuh buah pintu.

Ho Kie berpikir keheranan.

Berapa luasnaja kuburan ini, diingat dari perjalananku tadi, saat ini barangkali sudah berada jauh dari luar gedung tadi.

Pada saat itu, ia agaknya lantas mengerti apa sebabnya gedung dalam perkampungan ini dibangun menurut keadaan dibawah kaki bukit dan apa pula sebabnya dibagian depannya terdapat sebidang tanah lapang yang sepuluh tumbak lebih luas.

Menurut perhitungannya sendiri, pada saat itu ia seharusnya sudah berada ditengah-tengah bukit.

Ia merasa menyesal tadi telah mengikuti tindakannya sicebol, Ia lebih menyesal lagi, mengapa tadi ia tidak mau mengintai dari jarak dekat, sehingga sekarang ini dirinya berada dalam suatu tempat yang tidak mengetahui menuju kemana.

Apakah Lim Kheng juga memasuki jalanan dibawah tanah ini?

Kalau ya, sekarang ini dia entah berada dibagian mana?

Hatinya menjadi jeri.

Ho Kie tidak berani gegabah lagi, sebab didalam tanah itu, jalanan simpang terlalu banyak jumlahnya, sekali saja salah bertindak ia tentunya akan kesasar.

Selagi berada dalam keadaan bingung, suara jeritan mengerikan mendadak masuk kedalam telinganya.

Ia mencoba mengamat-amati suara itu, rasanya keluar dari pintu keempat, Ia lalu maju mendekati dan menyerang pintu batu dengan menggunakan kedua tangannya.

Ketika pintu itu terpukul hancur dan terbuka, dari dalam telah menerobos keluar sesosok bayangan orang, Ho Kie dengan cepat mundur empat tindak, lalu menegur dengan keras ;

"Siapa?"

Orang yang ditanya tidak menjawab.

Hanya dengan kedua tangannya mendekap kepalanya, Ia berputaran didalam kamar sambil menjerit jerit, agaknya sedang menderita rasa sakit yang agak hebat.

Setelah lari berputaran dua kali putaran-orang itu mendadak menubruk Ho Kie....

Sambil membentak keras Ho Kie lalu mengayun tangannya menyerang.

Orang itu setelah terserang jatuh bergelimpangan dan jungkir balik, tubuhnya dengan tepat telah membentur dinding, sehingga kepalanya pecah dan ia binasa seketika itu juga.

Ho Kie mengambil batu api.

Setelah menyalakan api, ia telah menyaksikan keadaan yang sangat mengerikan.

Kiranya, sekujur badan orang itu penuh digerumuti semut besar-besar, sehingga keadaan badannya sudah tidak karuan macam.

Pada saat itu, dari dalam lubang pintu itu merayap keluar puluhan ribu binatang semut.

Ho Kie yang menyaksikan itu, hatinya berdebaran badannya sampai dirasakan bergetar, buru-buru ia padamkan apinya dan masuk kedalam pintu yang lain.

Dalam keadaan tergesa-gesa ia sudah tidak keburu melihat pintu mana yang telah dimasukinya, ia segera menutup pintunya.

Setelah kakinya tenang kembali, barulah ia memeriksa keadaan tempat yang dimasukinya.

Apa lacur, pintu itu ternyata merupakan jalan buntu yang disekitarnya terkurung oleh dinding batu yang tebal.

Ia menghela napas dalam-dalam.

Sekarang, kecuali menempuh bahaya dengan jalan menerjang kepungan binatang semut dan menerobos keluar diri situ, sudah tidak ada jalan lain lagi baginya, Tetapi kalau diingatnya bagaimana keadaan orang yang dikerubuti oleh semut-semut tadi, bulu romannya telah berdiri dengan tidak terasa lagi.

Ia lebih suka mati terkurung dalam kamar itu dari pada dirinya dibuat santapan oleh binatang semut itu.

Dalam keadaan demikian.

Ia lantas duduk bersemedi sambil memikirkan jalan keluar.

Kira-kira tiga jam sudah berlalu, keadaan di luar kamar mungkin sudah, hampir malam.

Entah dimana adanya Lim Kheng sekarang?

Apakah ia dapat menemukan jalanan dibawah tanah itu?

Andaikata ia dapat menemukan jalanan, ia juga tidak akan mengetahui kalau dirinya sekarang sedang terkurung disitu.

Memikir sampai disitu, ia lantas mulai putus asa.

Tetapi apakah ia pun mandah binasa didalam kamar kecil itu?

Tidak!

Ia masih harus mencari dimana adanya itu orang tua yang memberikan pelajaran padanya ilmu silat yang demikian tingginya dan ia masih memerlukan belajar ilmu silat lebih tinggi lagi untuk dapat menuntut balas pada Hian kui-kauw atas kematian ayahnya.

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia telah mengingat kembali pesannya siorang tua Toan theng Lojin yang menyuruh ia belajar silat dari Cit-cie Sin-hong.

Bukanlah Lim Kheng itu mengaku sebagai muridnya Cit-cie Sinhong?

Tetapi apakah, ia mau mengajak dia untuk belajar ilmu silat pada Cit-cie Sin hong suhunya itu?

Tetapi kemudian ia merasa geli sendirinya, sebab untuk meloloskan dirinya sendiri sekarang ini saja ia sudah tidak mampu, bagaimana ia mau memikirkan belajar ilmu silat pada Cit-cie Sin hong?

Entah berapa lama telah berlalu dalam keadaan demikian.

Tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu yang amat perlahan, Ia coba memasang telinganya, benar saja, suara itu terdengar dari dinding sebelah kanannya.

Meskipun suara itu halus, tetapi terdengarnya nyata didalam telinganya.

Ho Kie girang, ia buru buru mendekati dinding dan mengetuk ngetuk dua kali.

Benar saja, suara ketukan dilain kamar itu lantas berhenti.

Sebentar lagi, Ho Kie coba mengetuk sambil menanya dengan suara perlahan .

"Siapa disana?"

Berulang-ulang ia memanggil, tetapi ia tidak mendapat jawaban.

Ho Kie melompat bangun, dengan seluruh kekuatan tenaga ia coba menggempur dinding tersebut.

tetapi kecuali ada sebagian yang runtuh batunya, dinding itu tidak mendapat keretakan lainnya.

Baca Juga: Bakti Pendekar Binal 5

Baca Juga: Renjana Pendekar 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert