Ceritasilat Novel Online

Legenda Kematian 5

Eps 5 Legenda Kematian - Gu Long

Baca online Legenda Kematian - Gu Long

Cersil Legenda Kematian - Gu Long.

"Kau jarang berkelana, karena itu kau bertindak ceroboh, di dalam kereta ada orang tapi kalian malah meninggalkan mereka dan pergi begitu saja, kalau bukan karena aku...."

Ling Ying berhenti, dia melihat Guan Ning dan bertanya.

"Xiao Guan, kenapa kau tidak bicara sepatah katapun?"

Melihat wajah Guan Ning, Ling Ying mulai merasa marah.

"Baiklah, ternyata kau tidak mendengar kata-kataku, kau sedang memikirkan apa?". Guan Ning menenangkan hatinya dan mencoba tertawa.

"Aku berpikir tentang siapa pemilik telinga itu? Mengapa kau memotong telinganya?"

Sebenarnya dia mendengar kata-kata Ling Ying, hanya tidak terlalu jelas. Tapi jawabannya masih ada kaitannya. Ling Ying dengan senang berkata.

"Aku akan memberitahumu, dua pedang dan satu golok adalah milik Luo Yang San Xiong, pemilik telinga itu, aku hanya kenal yang bernama Zhui Feng Shou, mereka adalah orang yang terkenal. Sedangkan yang satu lagi aku tidak kenal."

Begitu Guan Ning mendengar penjelasan Ling Ying, dia sangat terkejut.

Karena yang bernama Luo Yang San Xiong, namanya sering diceritakan oleh gurunya, Si Tu Wen.

Mereka adalah pesilat tangguh di bagian utara.

Guan Ning kaget dia berkata.

"Luo Yang San Xiong memiliki ilmu silat sangat tinggi, apakah kemampuan silatmu lebih tinggi dari mereka? Apakah merekapun mempunyai dendam kepada Xi Men Yi Bai?"

Ling Ying melihat ke sekeliling, dengan suara kecil dia menjawab.

"Jujur bicara, nama Xi Men Yi Bai di dunia persilatan sangat buruk. Guruku juga mengatakan kalau dia bukan orang baik, tapi setelah mendengar ceritamu, aku tahu kali ini dia sudah terkena getahnya."

Dengan senang Ling Ying tertawa.

"Ilmu silat Luo Yang San Xiong memang lihai. Tapi yang bernama Zhui Feng Shou ilmu silatnya lebih tinggi lagi, mereka pernah dikalahkan dan bahkan pernah dipermainkan oleh Xi Men Yi Bai. Entah dari mana mereka bisa tahu kalau Xi Men Yi Bai ada di rumahmu dan sedang diobati, karena itu mereka datang untuk membalas dendam. Untung saja...."

Dia tertawa.

"Untung aku ada di sana."

Guan Ning tertawa.

"Sejak awal aku sudah tahu semua ini pasti kau yang melakukannya."

"Apakah benar?"

"Kecuali kau, siapa yang mau membantuku?"

Wajah Ling Ying menjadi merah.

"Kau benar-benar sangat pandai bicara."

Dia merasa sangat senang.

"Untung selama beberapa hari itu, yang datang bukan pesilat tangguh, kalau yang datang adalah Kun Lun Huang Guan, aku pasti tidak bisa berbuat apa-apa.... Wei! Apakah kau tahu di depan pintumu ada beberapa pendeta yang datang dari Kun Lun Pai, aku takut mereka akan menyelinap ke rumahmu pada malam hari, kalau tidak bagaimana cara menyuruh mereka pergi?"

Guan Ning mengangguk, dia benar-benar kagum.

"Murid-murid Kun Lun datang dari perkumpulan terkenal. Mereka bertindak secara terang-terangan dan disiplinnya sangat tinggi."

Pemimpin Kun Lun Pai, yaitu Pendeta Huang Guan sifatnya sangat keras dan sangat disiplin, perlakuannya kepada murid-murid Kun Lun Pai sangat ketat.

Bila ada yang berani melanggar aturannya, dia tidak segan-segan menghukum murid itu.

Karena itu walaupun Pendeta Xian Tian menaruh curiga, tapi mereka juga tidak berani melanggar aturan Kun Lun Pai yaitu malam-malam menyelinap ke rumah penduduk."

Roda kereta terus berputar, kereta berjalan sangat cepat.

Ucapan mereka hanya beberapa kalimat, kereta sudah berjalan cukup jauh, kebakaran di hutan itu sudah tidak terlihat, yang terlihat sekarang ini hanya langit terang di ufuk timur.

Hari mulai terang, sekarang musim dingin, udara terasa dingin dan cuaca di sekitar sana masih gelap.

Selama sehari tidak terlihat matahari karena itu sekarang langit tampak sangat gelap.

Guan Ning berkata.

"Malam di musim dingin benar-benar sangat panjang!"

Dia melihat kereta yang ada di depan mereka berbelok ke kanan, mereka berjalan ke arah barat, belok ke kanan adalah perjalanan menuju arah utara.

Guan Ning tahu mereka menuju ke jalan Miao Feng Shan.

Udara terasa semakin dingin.

Ling Ying menyerahkan pecut dan tali kekang kuda kepada Guan Ning lalu dia tertawa.

"Hari sudah terang, aku tidak mau menjadi kusir lagi, kau saja yang menjadi kusir sekarang."

Dia tertawa dan berkata lagi.

"Udara terasa sangat dingin, tanganku sudah membeku."

Dia menyandar ke tubuh Guan Ning.

"Aku sangat beruntung mempunyai kusir cantik dan baik hati."

Tiba-tiba dia bertanya.

"Aku heran di mana kau bisa bertemu dengan Shen San Niang dan bisa membawanya kembali?"

"Kau tidak perlu merasa aneh, kau berterima kasih kepadaku saja itu sudah cukup. Kau dan pemuda itu meninggalkan kereta dan masuk begitu saja ke dalam penginapan. Aku sendiri kedinginan sambil menjaga kereta kalian. Kemudian ada dua orang yang keluar dari penginapan, mereka ingin mencuri barang-barang kalian, begitu melihat ada orang di dalam kereta, mereka sangat terkejut. Salah satu dari mereka malah berkata, 'Kita bunuh mereka dulu.' Aku kaget ketika melihat mereka sudah bersiap-siap dan mengambil pisau belati, aku segera meloncat dari belakang dan menusuk mereka dengan pedangku."

"Kau benar-benar kejam."

Ling Ying marah dan berkata.

"Tidak disangka kau ternyata seorang tuan yang begitu baik, kalau kau tidak membunuh, maka orang lain yang akan membunuhmu. Hei! Kau benar-benar tidak tahu berterima kasih!"

Dia tertawa karena Guan Ning sudah mengulurkan tangannya dan memegang pundaknya. Kemarahan segera berubah menjadi tawa, dia menyandar lagi ke tubuh Guan Ning dan lebih mendekat lagi kepada Guan Ning.

"Setelah aku membunuh mereka. Dengan ujung pedang aku menggores 2 kalimat. Apakah kau sudah membacanya?"

Guan Ning mengangguk kemudian tertawa, dengan ringan dia memukul pundaknya.

Hati Ling Ying benar-benar terasa hangat walaupun saat itu udara terasa sangat dingin.

Tapi dia tidak merasakannya.

Sambil tertawa dia berkata.

"Setelah selesai menggores kalimat itu, aku mendengar ada orang yang keluar dan ternyata gerakan tubuh orang itu sangat ringan. Lalu aku bersembunyi di balik dinding dan melihat semuanya, ternyata dia adalah temanmu yang bernama Wu Bu Yun, dia lari ke dalam kereta, lalu dia melihat ada 2 orang monyet yang tergeletak di bawah, dia sepertinya sangat kaget, kemudian dia melihat ke sekeliling. Aku takut dia melihatku. Karena itu dengan cepat aku bersembunyi lagi, tidak lama kemudian, ketika aku melihatnya lagi dia sudah menghilang."

"Apa? Menghilang?"

"Betul, dia menghilang, karena di sekeliling sana tidak terlihat bayangannya sama sekali, seperti hilang ditelan bumi, waktu itu aku berpikir ilmu meringankan tubuh orang itu benar-benar lihai."

"Kenapa dia bisa menghilang, apakah dia bersembunyi di dekat sana dan tidak jadi pergi?"

Tanya Guan Ning.

"Waktu itu akupun berpikiran seperti itu, dan aku tidak berani keluar untuk melihat...."

Tiba-tiba Guan Ning bertanya.

"Pisau belati yang digunakan oleh perampok itu untuk membunuh, apakah kau yang mengambilnya?"

"Tidak, apakah kau tidak melihatnya?"

Tanya Ling Ying.

"Aku tidak melihat pisau belati itu, kalau begitu pasti sudah diambil oleh Gong Sun Yong,"

Kata Guan Ning. Dengan aneh Ling Ying berkata lagi.

"Waktu itu aku baru memasukkan untuk disembunyikan, hanya dalam waktu singkat dia sudah memungut pisau belati itu kemudian pergi, setelah itu tidak terlihat bayangannya.... Ilmu Shen San Niang benar-benar sangat tinggi."

Ling Ying memuji ilmu Shen San Niang yang tinggi, karena Shen San Niang berhasil menangkap Gong Sun Yong, bukankah ilmu Shen San Niang lebih tinggi!

"Tidak disangka di dunia persilatan ada perempuan yang ilmu silatnya begitu lihai dan masih muda pula."

Guan Ning bertanya lagi.

"Setelah itu kau melihatku keluar, kau bahkan tidak mau keluar menemuiku...."

Ling Ying tertawa.

"Waktu itu aku benar-benar tidak ingin bertemu denganmu, karena.... karena kau jahat."

Guan Ning ingin bertanya, apakah dia telah bertemu dengan Nona Du, tapi dia memutuskan untuk tidak bertanya. Terdengar Ling Ying berkata lagi.

"Aku melihat kau hanya berdiri terpaku, aku ingin tertawa kemudian aku melihatmu membawa kereta juga melihat kudamu direbut oleh Shen San Niang, aku melihatmu berteriak-teriak sambil mengejarnya, aku berpikir, walaupun kau sudah jahat kepadaku, tapi aku tetap harus berbuat baik kepadamu karena itu aku membantumu mengejar, aku mengejar melalui jalan pintas, aku sudah tiba terlebih dahulu di jalan yang akan dilewati kereta itu dan akupun naik ke atas kereta itu, aku mengira gerakanku sangat ringan, tidak akan mengeluarkan suara sedikitpun,...."

Dia tertawa.

"Tapi baru saja tanganku memegang badan kereta, terdengar suara perempuan dari atas kereta yang membentak, 'Siapa! Mau apa?' Aku menjawab, 'Aku seorang polisi yang ingin menangkap orang yang telah mencuri kereta.' Kata-kataku belum selesai, orang yang ada di atas kereta itu kuda membalikkan badannya dan memecutku, aku melihat kusir kereta itu ternyata seorang gadis, pecutannya tidak keras dan aku menyambut pecut itu dengan tangan. Walaupun gadis itu masih muda, tapi ilmu silatnya tidak kalah dariku, aku tidak berani memandang enteng kepadanya, hampir saja aku tertipu."

Sambil mendengar, tampak Guan Ning mengerutkan dahinya, dia diam, dia hanya mendengar cerita Ling Ying, tidak ada waktu untuk berpikir hal lainnya. Ling Ying berkata.

"Begitu aku menyambut pecut itu, pergelangan tanganku terasa bergetar. Hampir saja aku terjatuh, segera dengan sekuat tenaga aku menarik pecut itu dan mencoba bertahan dengan posisi itu. Gadis itu sudah tidak tahan lagi dengan berat tubuhku, tubuhnya tampak bergoyang, aku melihat dia akan segera terlempar ke bawah, aku tidak tega melihatnya maka akupun memutuskan untuk menjepitnya. Gadis itupun melihatku yang ternyata seorang perempuan, dia tertawa kepadaku.... Tawanya Terlihat sangat manis, siku hanya bisa bengong!"

Dia seperti masih mengenang tawa manis gadis itu.

"Kau mengatakan orang lain bila tertawa akan manis, bagaimana dengan dirimu?"

Tanya Guan Ning.

"Kau jahat, tawaku jelek, jangan lihat,"

Ling Ying menutup mulut dengan tangannya. Tapi dia merasa senang, dia menurunkan tangannya, Ling Ying berkata.

"Sewaktu aku sedang bengong, di sisi gadis itu tampak seorang perempuan cantik. Dia tertawa melihatku. 'Gadis kecil, kau mau apa?' Sebenarnya aku ingin bertarung dengan mereka saat itu, tapi begitu melihat mereka, aku sudah tidak berniat melakukannya. Terdengar dia berkata lagi, 'Aku harus cepat tiba di ibukota. Aku meminjam kereta kuda ini, apakah boleh?' Suaranya sangat enak didengar. Pada saat dia bergerak atau diam, gerakan tubuhnya sangat indah. Aku terpaku kemudian berkata.

"Aku akan memberi pinjam kereta ini kepadamu tapi pasien yang ada di dalam kereta itu sedang sakit parah, dia adalah temanku, aku bersusah payah membawanya dari Wisma Si Ming Orang itu sangat dikasihani, siapa dia akupun tidak tahu dan dia sudah terkena racun pula, walaupun aku tidak kenal dengannya tapi aku melihat dia bukan orang biasa, baju putihnya tidak seperti yang biasa dipakai orang-orang, waktu itu aku tidak tahu kalau pasien yang ada di dalam kereta itu adalah Xi Men Yi Bai, karena pada dasarnya aku merasa tidak bermusuhan dengannya, maka akupun tidak berniat membohongi mereka."

Guan Ning tertawa memuji sikap Ling Ying, dia merasa sangat puas terhadap kejujuran Ling Ying. Ling Ying berkata lagi.

"Awalnya aku bicara, dan dia mendengar dengan seksama, tapi begitu aku selesai bercerita, wajahnya tampak berubah dan bertanya, 'Apa yang kau katakan tadi?' "Aku merasa aneh melihatnya dan aku menceritakan semua yang sudah terjadi dengan singkat, maksudku melakukan semua ini tak lain karena aku berharap dia akan mengembalikan kereta itu kepadamu, supaya kau bisa merasa tenang-Tapi begitu aku selesai bercerita, dia malah meneteskan air mata dan membalikkan kereta menuju arah di mana dia datang tadi, ternyata dia adalah Jue Wang Fu Ren, Shen San Niang. Dia melakukan perjalanan ke Bei Jing dengan maksud mencari Xi Men Yi Bai...."

"Karena itu aku merasa kaget, aku baru tahu kalau pelajar berbaju putih itu adalah Xi Men Yi Bai, kami kembali ke penginapan itu, tapi kau sudah pergi dari sana, untung masih terlihat jejak roda keretamu, karena semalaman telah turun salju dan tidak ada orang yang lewat di sana, secara otomatis jejak roda kereta terlihat sangat jelas."

"Kalian benar-benar sangat teliti,"

Puji Guan Ning.

"Ini bukan disebut teliti. Jika kau sering berkelana, kaupun pasti akan segera mengetahuinya,"

Jelas Ling Ying sambil tertawa.

"Karena itu kalian mengikut jejak rodaku dan kalian bisa menemukanku, untung saat itu turun salju jika musim panas kalian akan celaka,"

Guan Ning tertawa.

"Bila musim panas, kami juga tetap bisa mencarimu, hanya saja mingkin gerakan kami lebih lambat."

"Kalau terlalu lambat, selamanya kau tidak akan bisa bertemu denganku,"

Guan Ning tertawa kecut.

"Selamanya tidak bisa bertemu denganmu.... selamanya tidak bisa bertemu. Aku harus bagaimana? Begitu aku melihat Shen San Niang yang telah bertemu dengan Xi Men Yi Bai, aku benar-benar merasa sedih juga senang, tapi sebenarnya.... hehh! Sewaktu aku melihatmu, kalau dilihat oleh orang lainpun akan k ah sama seperti itu?"

Hati Guan Ning dipenuhi dengan kehangatan, sepertinya tenggorokan tercekat, dia diam tidak bisa berbicara, tangan yang masih berada di pundak Ling Ying terasa mengencang, seperti ingin membuktikan kalau Ling Ying masih ada di sisinya.

Ling Ying memejamkan mata menikmati kehangatan cinta Guan Ning.

Angin berhembus sangat kencang, kereta bergoyang-goyang, tapi Ling Ying merasakan kalau tempat ini adalah tempat yang paling membahagiakan.

Lama dan lama!

Dengan puas Ling Ying menghembuskan nafas.

"Apa yang telah terjadi terakhir ini kau pasti sudah tahu, tapi masih ada satu hal di mana aku tetap merasa aneh."

"Tentang apa?"

Tanya Guan Ning.

"Laki-laki berbaju hitam dan bertubuh pendek itu sangat mengetahui jurus pedangku, dia sangat hafal dengan gerakanku, saat ini aku mengeluarkan jurus ini, berikutnya dia sudah tahu aku akan menggunakan jurus apa. Aku.... aku tidak berbohong, walaupun ilmu pedangku bukan yang tertinggi di dunia persilatan tapi jarang ada orang yang tahu."

"Ada berapa orang yang tahu?"

Tanya Guan Ning. Ling Ying memejamkan mata untuk berpikir. Dia menghitung.

"Aku hanya tahu sekitar 2-3 orang, kecuali aku sendiri dan guruku, masih ada orang yang seperguruan dengan guruku. Tapi orang itu sudah pindah ke luar negeri dan tinggal di sebuah pulau terpencil, masih ada 2 teman baik guruku, tapi mereka tidak tahu terlalu banyak...."

Guan Ning bertanya lagi.

"Apakah masih ada yang lainnya?"

"Yang lainnya adalah Nyonya Yu Ru Yi dan satu lagi di mana aku ingin bertarung dengannya, yaitu Nyonya Si Ming Hong Pao, tapi dia sudah mati bukan?"

Guan Ning sekali lagi tenggelam dalam pikiran lamanya, otaknya kadang bisa berpikir sangat jernih tapi terkadang sangat keruh.

Ling Ying melihat sikap Guan Ning berubah.

Dia menundukkan kepalanya, dia meletakkan kepalanya di bahu Guan Ning yang kokoh, dia tidak ingin memikirkan hal lainnya lagi.

Akhirnya hari benar-benar terang.

Tapi gunung tidak terlihat tenang, sepertinya akan turun salju lagi.

Jalan yang sudah dipenuhi salju sangat jarang dilewati orang, kereta ini hampir tiba di kaki gunung Miao Feng Shan.

"Pisau belati itu hilang, apakah karena diambil oleh Gong Sun Yong?"

"Mengapa dia juga bisa tiba-tiba menghilang, kemudian muncul di luar kuil itu?"

"Kata-katanya tidak jelas, apa maksud semuanya ini? Siapa Yu Ru Yi? Nyonya Hong Pao? Siapa laki-laki berbaju hitam itu?"

Guan Ning terus memikirkan semua pertanyaan itu.

Dia terpaku karena merasa Ling Ying telah tertidur dalam pelukannya.

Kuda berjalan dengan cepat dan tiba-tiba kereta terasa bergoyang, di kedua sisi jalan itu adalah parit.

Walaupun di dalam parit tidak ada airnya, tapi begitu roda kereta masuk ke dalam parit tetap terdengar suara bergetar.

Guan Ning kaget, tiba-tiba dia merasakan tempat duduknya seperti dipukul dengan benda berat.

Kudanya terus meringkik, kereta pun dihentikannya segera.

Dengan bingung Ling Ying membuka kelopak matanya, masih tersisa mimpinya yang manis, tapi dia melihat Guan Ning yang sedang melompat dari tempat duduknya.

Wajahnya terlihat gembira, seperti menemukan tambang emas di bawah tempat duduknya.

Guan Ning teringat pada kata-kata Gong Sun Yong yang sangat sederhana.

"Di bawah kereta...."

Sepanjang jalan dia selalu teringat arti ketiga kata itu. Sampai sekarang dia baru tahu kalau ketiga kata itu tersimpan sebuah rahasia besar. Ling Ying mengerutkan dahinya heran.

"Xiao Guan, ada apa?"

Tapi Guan Ning tidak mendengar kata-katanya, begitu kakinya menginjak tanah dengan benar, dia langsung menarik Ling Ying turun dari kereta, tangannya memegang badan kereta dan mulai mengangkat....

Tempat duduk itupun terangkat.

Guan Ning berteriak.

"Benar, ternyata ada!"

Ling Ying melotot dan merasa aneh. Dia bertanya.

"Apa yang terjadi? Ada apa?"

Ling Ying melihat semua yang terjadi, kabut pagi hampir menghilang, matahari pagi mulai terbit.

Di bawah sinar matahari di bawah tempat duduk kosong, di dalam tempat itu terlihat ada sesuatu yang berkilau, setelah dilihat dengan teliti ternyata benda itu adalah pisau belati yang mereka cari.

Hati Ling Ying bergetar.

"Apa benar ini adalah pisau belati yang kita cari?"

Ling Ying teringat pada kata-kata dia tanyakan tadi. Dia berteriak.

"Kau jahat!"

Guan Ning mengambil pisau belati itu, begitu mendengar teriakan manja Ling Ying, dia bisa merasakan percintaan hangatnya bisa menghilangkan berbagai macam kesulitan.

Begitu dua pasang mata itu beradu pandang, Guan Ning melihat ada cahaya di mata Ling Ying, sepertinya mata itu tampak lebih terang dari pisau belati itu.

Dia memegang erat tangan Ling Ying dan berkata.

"Apa benar aku telah berbuat jahat?"

Ling Ying menghitung lagi.

"Kau sangat jahat. Kejahatanmu tidak terhitung. Pertama, kau.... kedua, kau.... ketiga, kau...."

Ling Ying menutup mulutnya untuk menahan tawa senangnya, sekalipun kau telah melakukan kesalahan beribu-ribu kali, tapi di mata orang yang kau cintai kesalahan itu bisa dimaafkan, apalagi Guan Ning tidak terlihat kekurangannya.

Empat pertanyaan terus dipikirkan Guan Ning.

Mengapa pisau belati itu bisa hilang?

Apakah Gong Sun Yong yang mengambilnya?

Mengapa Gong Sun Yong bisa menghilang?

Mengapa dia bisa muncul di kuil itu?

Kata-katanya sederhana sehingga tidak jelas, di bawah tempat duduk kereta....

apa arti perkataannya?

Yu Ru Yi, nyonya berbaju merah?

Siapa laki-laki berbaju hitam itu?

Sekarang dia sudah mendapatkan jawabannya, dia memegang pergelangan Ling Ying dan berkata dengan pelan.

"Di depan penginapan itu, sewaktu kau bersembunyi di tempat gelap. Gong Sun Yong memungut pisau belati itu dan menyembunyikan di bawah tempat duduk. Kita mencarinya sampai mengelilingi tempat itu tapi tidak berhasil menemukannya. Kita mengira dia sudah pergi jauh, sebenarnya dia tidak pernah meninggalkan kereta ini, maka begitu tiba di kuil, tiba-tiba dia muncul dan memberitahukan rahasia ini."

"Temanmu itu benar-benar sangat pintar, jika bukan dia sendiri yang mengatakan rahasia ini, dan secara tidak sengaja kau mengetahuinya, hal ini membuat orang lain tidak habis berpikir, banyak penjahat yang telah melakukan kejahatan mereka dikejar-kejar orang, mereka akan memanfaatkan kelemahan manusia, bersembunyi di tempat paling terbuka dan tempat yang paling tidak diperhatikan orang lain, membiarkan orang berputar-putar dan menghabiskan banyak tenaga, dan mengejar orang itu sampai berpuluh kilometer, tidak disangka ternyata dia bersembunyi di keretanya di balik pintu!"

Guan Ning mendengar semuanya dan berkata pada dirinya sendiri.

"Hal yang paling mudah, tapi yang paling sulit ditemukan...."

Tiba-tiba dia mengangkat kepala.

"Kau pikir siapa kedua laki-laki berbaju hitam itu? Siapa yang membunuh para pendekar di Wisma Si Ming? Apakah sebenarnya ini juga adalah hal sederhana? Tapi membuat kita harus berputar-putar mencari pembunuhnya, dan kita tidak bisa menebak siapa pelakunya."

"Biasanya yang berlaku seperti itu, tapi tidak semua persoalan di dunia ini bisa disamakan seperti itu!"

Guan Ning menundukkan kepala.

Dia berpikir lagi....

Begitu dia melihat, kereta yang ada di depan mereka sudah menjauh.

Dia segera berlari ke keretanya sambil memegang pisau belati itu, di bawah sinar matahari, pisau itu tampak berkilauan, banyak masalah bisa diselesaikan dengan ditemukannya pisau belati ini.

Kereta mulai berjalan lagi.

Ling Ying berkata.

"Akupun meyimpan satu pertanyaan, semua masalah ini bila dilihat sepertinya hanya hal mudah, tapi setelah lama dipikir, aku tetap tidak menemukan jawabannya."

"Soal apa?"

Tanya Guan Ning.

"Temanmu, Gong Sun Yong, dalam keadaan begitu tergesa-gesa, mengapa dia masih sempat memungut pisau belati itu Kemudian bersembunyi di tempat rahasia itu? Sebenarnya ini tidak begitu penting, aku hanya iseng bertanya."

"Tempat rahasia, pisau belati adalah senjata untuk menjaga diri, dia takut kalau tempat persembunyiannya diketahui orang maka diapun memungut pisau belati untuk menjaga diri.... ,"

Jelas Guan Ning.

"Hal ini sudah pernah kupikirkan, alasan ini bisa dipakai semua orang, tapi bila dikemukakan Gong Sun Yong tampaknya sangat tidak cocok karena dia mempunyai ilmu silat tinggi. Pisau belati seperti ini di tangan pesilat tangguh atau tidak, itu sama saja, tidak akan berbeda jauh. Kalau tidak ada alasan yang jelas, dia tidak akan memungut pisau itu, kecuali...."

Ucap Ling Ying. Guan Ning mengerutkan dahi dan bertanya.

"Kecuali untuk menjaga diri, masih bisa digunakan untuk apa?"

Dia menarik nafas dan memungut pisau itu.

"Ternyata bisa digunakan untuk mengukir kata di sini!"

Segera tangan Guan Ning membawa kudanya memutar arah, sinar matahari terlihat dari ufuk timur dan bisa menyinari tempat duduk kereta serta huruf-huruf yang terukir di papan itu.

Tulisannya diukir dengan bentuk bengkok dan tidak teratur.

Jika tidak teliti melihat, tidak akan bisa terlihat dengan jelas.

Guan Ning dan Ling Ying bersama-sama membaca huruf-huruf itu.

Di atas papan terukir kata-kata demikian.

"Kata-kataku ini tidak boleh dikatakan kepada siapapun, aku mengukir ini hanya untuk membuang kekesalanku, jika ada orang yang tidak sengaja membacanya...."

Huruf berikutnya tidak begitu jelas. Guan Ning dan Ling Ying saling memandang. Mereka tidak bisa menebak arti keempat kalimat itu. Mereka membaca sekali lagi tulisan berikutnya.

"Ayahku bersifat keras, sering melakukan perbuatan keras. Ada yang baik juga ada yang jahat, benar-benar sulit dibedakan. Beberapa waktu lalu dia telah melakukan suatu hal. Aku tidak ingin melihatnya, jika ada yang marah atau mengatakan kalau aku berdosa, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, hanya saja hatiku tidak tenang...."

Berikutnya terlihat ada beberapa kata tapi kemudian terlihat huruf itu dihapus dengan dicorat-coret.

Tapi huruf itu terlihat lebih jelas dibandingkan dengan keempat kalimat tadi.

Ling Ying membaca lagi.

"Beberapa puluh tahun lalu, ayahku dan Si Ming Hong Pao adalah teman baik. Begitu mereka terkenal, mereka jarang keluar dari tempat mereka,tapi hubungan mereka tetap terjalin sangat erat, hanya saja orang-orang dunia persilatan tidak ada yang mengetahuinya...."

Membaca sampai di sini, Ling Ying berhenti membaca dan membacakannya lagi.

"Si Ming Hong Pao dan Tai Hang Zi Xue, sama-sama terkenal dan mempunyai kedudukan yang sama, mereka seperti tidak mempunyai masalah. Tapi menurut Gong Sun Yong sepertinya ada rahasia yang tersimpan. Rahasia apa sebenarnya?"

Guan Ning mengerutkan alis dan berpikir. Pelan-pelan dia menarik nafas. Terdengar Ling Ying berkata.

"Sewaktu mereka masih muda mungkin mereka telah melakukan kejahatan, setelah masing-masing terkenal, mereka takut kalau hal ini akan diketahui oleh orang-orang, maka...."

Guan Ning menghentikan kata-kata Ling Ying, dia terus menghembus nafas tapi tetap tidak mengatakan apapun.

Sebenarnya Guan Ningpun sempat berpikir seperti itu, hanya karena sifatnya jujur dan berteman dengan Gong Sun Yong, maka dia tidak ingin mengatakan apa yang menjadi pikirannya.

Tapi mulut Ling Ying bergerak lebih cepat, dia dengan cepat mengatakan semuanya.

Huruf-huruf berikutnya mungkin karena hati orang itu sedang kacau atau karena kereta terus bergoyang, maka goresannya lebih tidak jelas.

Di sana tertulis .

"Si Ming Hong Pao benar-benar sangat berbakat. Ilmu silat mereka tinggi, senjata rahasia, racun, keterampilam mengubah wajah, dapat mereka lakukan dengan sangat mahir!"

Ling Ying terkejut.

"Ternyata kalangan persilatan tidak tahu tentang kemahiran mereka, Akupun tidak tahu, ini sangat aneh...."

Guan Ning mengerutkan alisnya.

Dia membaca lagi kalimat berikutnya, kata-kata berikutnya digores dengan huruf agak besar dan goresannya agak dalam, tampaknya setelah berpikir lama dia baru berani menggores lagi.

"Juan Shan Shuang Can, Zhong Nan Wu Shan, mereka mengganggap orang-orang teratas adalah musuh. Shao Lin, Wu Dang Luo Fu dan lain-lain dianggap tidak akur dengan mereka.,"

Huruf itu diubah menjadi.

"Si Ming Hong Pao baru saja melakukan suatu hal. Aku mengira aku pasti akan mati...."

Hurufnya berhenti. Kata-kata berikutnya tidak menyambung, akhirnya tertulis.

"Akal nomor satu di dunia.... nelayan yang beruntung.... sangat sempurna dan masuk akal.... .jahat.... licik.... durhaka.... apakah durhaka itu?.... dari dulu memang hanya ada mati...."

Di bawah sudah tidak terlihat ada huruf lainnya.

Guan Ning dan Ling Ying bersama-sama membacanya sampai habis, mereka saling memandang dan terdiam, mereka tahu di balik kata-kata yang tidak beraturan itu pasti mengandung arti yang sangat penting.

Apakah arti dari tulisan itu?

Walaupun mereka adalah orang yang sangat teliti, tapi mereka tetap tidak bisa menebaknya.

Ling Ying menghembus nafas panjang.

"Temanmu ini benar-benar aneh, dia ingin mengungkapkan sebuah rahasia besar tapi kata-kata yang diucapkan tidak jelas, sehingga orang hanya bisa menebak-nebak, bagaimana cara kita bisa menebaknya?"

Guan Ning masih terpaku dan pelan-pelan berkata.

"Seorang putra tidak boleh menjelek-jelekan nama ayahnya sendiri, tapi karena keadilan dan rasa kebenaran di hatinya, membuat dia harus bicara seperti itu. Heehh.... kalau kau berada di posisinya, apa yang akan kau lakukan?"

Ling Ying bengong, dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa mengungkapkannya. Lama dan lama sekali dia baru berkata.

"Apakah ayahnya yang bernama Tai Hang Zi Xue mempunyai hubungan dengan peristiwa yang terjadi di Wisma Si Ming?"

"Tampaknya memang begitu!"

Guan Ning menjawab sambil menarik nafas.

"Coba kita berpikir lebih teliti lagi. Huruf yang digoreskan, dibandingkan dengan tebakan dan perkiraan kita ini, mungkin bisa menebak apa yang dimaksud olehnya."

Ling Ying mengangguk. Dia naik ke atas kereta kemudian berteriak.

"Hei! Kereta Shen San Niang sudah tidak terlihat, sekarang kita harus bagaimana?"

Kereta lebih dipacu untuk berlari lagi.

Jue Wang Fu Ren, Shen San Niang mengkhawtirkan luka suaminya, dengan cepat dia sudah berada di Miao Feng Shan.

Dia membalikkan kepalanya untuk melihat, ternyata kereta yang sejak tadi berada di belakang sekarang tidak terlihat bayangannya, walaupun di wajahnya dia tidak terlihat kecemasan, tapi di dalam hati dia merasa sangat cemas.

"Apakah telah terjadi sesuatu pada mereka?"

Dia menunggu tapi bayangan itu tidak terlihat, dengan tergesa-gesa dia makan nasi, dia merasa semakin cemas, matahari sudah terlihat siap terbenam lagi.

Dia membalikkan kereta menuju jalan pada saat dia datang tadi.

Dia berharap di tengah perjalanan nanti dia bisa bertemu dengan Guan Ning dan kuda dipacu berlari lebih cepat, dalam waktu setengah jam masih tidak terlihat kereta Guan Ning, dia mulai merasa marah.

"Apakah mereka begitu kurang ajar, tidak tahu yang mana yang harus dipentingkan dulu? Dalam keadaan seperti ini mereka masih bisa berpacaran. Apakah mereka tidak takut terlambat sampai di Miao Feng Shan?"

Tapi setelah mereda kemarahannya dia berpikir lagi.

"Sifat mereka tidak seperti itu."

Karena itu sekarang dia bertambah cemas.

"Apakah di perjalanan telah terjadi sesuatu?"

Dia melihat jalan yang ada di depannya, jalan yang lurus itu tidak terlihat ada debu yang beterbangan, tapi di atas tanah yang berwarna kuning tampak jejak roda kereta yang masih baru, dia tadi tidak melihatnya.

Di tanah berwanra kuning terlihat sebuah kereta yang sedang berjalan.

Di depan kereta duduk sepasang anak muda....

mereka tidak lain adalah Guan Ning dan Ling Ying.

Kalimat yang kacau, arti yang sulit ditebak, dalam pikiran mereka teranyam menjadi sebuah ikatan yang teratur.

Sesudah lama Guan Ning baru menghembus nafas dan berkata.

"Kenapa kereta Shen San Niang sampai sekarang belum terlihat? Apakah dia sudah salah jalan?"

"Tidak mungkin dia bisa salah jalan!"

Sanggah Ling Ying.

"Apakah kaupun tidak tahu jalan menuju Miao Feng Shan?"

Tanya Guan Ning. Ling Ying mengangguk.

"Kalau begitu kaupun tidak tahu di mana tabib sakt itu tinggal?"

Tanya Guan Ning. Ling Ying mengangguk lagi.

"Tapi kau yang memberitahu tempat tinggal tabib sakti itu,"

Kata Guan Ning.

"Aku hanya tahu kalau dia tinggal di sekitar Miao Feng Shan, tapi untuk persisnya aku tidak tahu,"

Jawab Ling Ying sambil tertawa.

"Aku tidak pernah mengatakan kalau tabib sakti itu tinggal persis di mana bukan?"

Mata terlihat seperti air, nafasnya terasa seperti bunga.

Membuat Guan Ning hanya bisa terpaku melihatnya, walaupun dia merasa kesal tapi dia tidak bermaksud memarahi Ling Ying.

Kereta berjalan dengan pelan, tiba-tiba di depan mereka tampak seekor kuda berlari cepat datang ke arah mereka.

Guan Ning berpikir.

"Lebih baik aku bertanya kepada orang itu jalan menuju Miao Feng Shan."

Guan Ning masih terlihat ragu, tapi kuda itu berlari secepat kilat ke arah mereka. Guan Ning merasa aneh.

"Apakah orang itu datang untuk mencariku?"

Orang ini berbaju biru muda, badannya kurus kecil tapi terlihat sangat lincah, teknik menunggang kudanya sangat tinggi tapi wajahnya kekuningan seperti baru sembuh dari sakit berat.

Begitu kuda itu sampai di depan Guan Ning.

Dia bertanya.

"Apakah Tuan datang bersama nyonya?"

Suaranya terdengar serak, walaupun berteriak tetapi nadanya sangat rendah. Guan Ning menjawab.

"Benar."

Orang yang di atas kuda itu seperti tertawa kepadanya. Dia berkata.

"Untung aku bertemu dengan Tuan di sini, kalau tidak kami akan berputar-putar terus mencari Tuan."

Kemudian dia mengangkat pecutnya, gerakannya sangat lincah, giginya yang putih terlihat dari mulutnya yang bersih seperti giok.

"Kawan, apakah Anda adalah orang yang diperintahkan oleh Shen San Niang untuk mencari kami?"

Tanya Guan Ning.

"Benar, Nyonya Shen takut kalau kalian berdua tidak tahu jalan maka beliau menyuruhku menunggu kalian."

"Kalau begitu Kakak -pasti datang dari jauh untuk mencari kami...."

"Namaku adalah Zhang Pin. Guruku di dunia persilatan terkenal dengan 'pengobatan' nya. Rumah kami ada di sana. Nyonya Shen sudah lama menunggu di sana,"

Jelas pemuda itu.

Kereta sudah berjalan sejauh 30-40 meter.

Guan Ning baru tahu kalau tempat tinggal tabib itu bukan berada di jalan besar.

Zhang Pin berjalan di depan lalu berbelok ke kiri.

Di persimpangan jalan, dia berjalan lagi sejauh puluhan meter kemudian berbelok lagi, belok, naik, turun, Zhang Pin merasa tidak enak berkata.

"Jalan di pegunungan sangat sulit ditempuh. Kalau kalian merasa kereta kalian terlalu bergoyang, kalian bisa menjalankan kereta dengan perlahan."

"Tidak apa-apa!"

Guan Ning menjawab.

"Orang-orang dunia persilatan tahu kalau gurumu tinggal di tempat yang sangat terpencil, di dalam benakku sudah terbayang sulitnya perjalanan ini,"

Kata Ling Ying.

(Oo-dwkz-lav-oO) BAB 11 .

Orang pintar di puncak gunung Zhang Pin tertawa tapi dia tidak menjawab pertanyaan Ling Ying.

Kereta melaju lebih cepat lagi tiba-tiba mereka memasuki jalan bercabang dan memasuki sebuah hutan.

Di hutan terlihat ada beberapa tempat kosong.

Tidak tahu apakah tanah lapang ini terbentuk secara alami atau dibuat oleh manusia?

Di tanah kosong itu terdapat sebuah rumah, dari kejauhan terlihat seperti rumah seorang penebang kayu, sedikitpun tidak menarik perhatian.

Zhang Pin tertawa lalu berkata.

"Kita sudah sampai."

Guan Ning melihat keadaan di sana, di belakang rumah terlihat ada sebuah kereta, dalam hati dia berpikir, kekuatan cinta benar-benar besar.

Jika Shen San Niang tidak terlalu memperhatikan luka Xi Men Yi Bai, mana mungkin dia bisa begitu cepat tiba di tempat tujuan.

Dengan cepat dia turun dari keretanya, terdengar suara dari rumah itu.

"Tamu datang dari jauh, aku tidak bisa keluar menjemput. Aku mohon maaf!"

Dari dalam muncul seorang pak tua dengan perwarakan tinggi dan jenggotnya terlihat panjang.

Segera Guan Ning memberi hormat kepadanya, dia menurunkan Gong Sun Zou Zu dari dalam kereta.

Ling Ying mengikuti mereka dari belakang.

Dia berpikir.

"Menurut kalangan persilatan, tabib ini bersifat aneh, dalam satu tahun tidak pernah ada yang melihatnya tertawa walaupun hanya satu kali, tapi hari ini setelah bertemu dengannya, dia tampak begitu ramah dan tertawa dengan lepas. Mengapa dia bisa tinggal di sini? Tapi kabar yang beredar di dunia persilatan memang bukan sekedar kabar bohong."

Ling Ying melihat keadaan di sana, tampak dia mengerutkan dahinya dan berpikir.

"Rumah ini memang terlihat rapi tapi mengapa begitu kotor? Debu ada di mana-mana dan banyak sarang laba-laba di sudut-sudut rumah. Jika aku tidak melihatnya sendiri, mungkin aku tidak percaya kalau dia adalah seorang tabib sakti yang sombong dan tinggal di sebuah tempat kotor."

Dengan hati-hati Guan Ning meletakkan Gong Sun Zou Zu di dua bangku yang telah dijadikan satu. Dia melihat ke sekeliling dan berpikir.

"Rumah ini seperti tempat tinggal penebang kayu, tapi meja dan kursi tersusun dengan rapi, jendelanya tampak bersih. Itu bukan kebiasaan seorang penebang kayu atau pemburu. Tabib ini tidak peduli dengan manusia atau dunia, ada sayur atau tidak, dia hidup dengan sederhana, hanya saja aku tidak akan bisa seperti dia yang mempunyai kebesaran hati begitu luas, kalau mencari sebuah tempat sepi, menjauhi keramaian kota dan bersembunyi di sini, adalah merupakan suatu kehidupan yang menyenangkan dan nyaman."

Satu masalah yang sama pada satu tempat dan pada orang yang sama.

Jika memandang dari sudut lain, hasilnyapun tidak akan sama.

Ling Ying dan Guan Ning dalam hati mereka masing-masing timbul berbagai macam pendapat tapi pendapat mereka tidak ada yang sama.

Terlihat pak tua berjenggot panjang itu sambil tertawa menerima para tamunya kemudian dia berjalan menghampiri Gong Sun Zuo Zu.

Guan Ning terus mencari Shen San Niang tapi bayangannya tidak terlihat, lalu dia bertanya.

"Karena salah jalan sehingga aku terlambat datang, apakah Tetua melihat Nyonya Shen?"

Pak tua itu tersenyum. Dia masih memperhatikan Gong Sun Zuo Zu dan membuka bajunya dan segera memeriksa lukanya. Dia menjawab.

"Kalau Nyonya Shen tidak datang terlebih dulu, dia pasti akan merasa menyesal seumur hidupnya!"

"Apakah luka Tetua Xi Men bertambah parah lagi?"

"Sepanjang perjalanan tubuh Tetua Xi Men terbanting-banting sehingga lukanya memburuk, nyawanya sudah berada di ujung tanduk, kalau terlambat sedikit saja, sekalipun Hua Tuo (Tabib Tiongkok yang paling terkenal) hidup kembali, beliau juga tidak akan bisa menolongnya."

Dia berkata lagi.

"Adik, kau sekarang tidak perlu merasa khawatir lagi. Tuan Xi Men sudah memakan obat yang kubuat. Dia sedang beristirahat. Nyonya Shen dan gadis itu sedang mengurusnya. Mereka tidak boleh diganggu saat ini, setelah melewati 3-5 jam, dia akan terlepas dari masa kristis."

Guan Ning menjawab dengan 'oh' panjang dan dia melihat ke arah pintu kamar lalu berkata.

"Sungguh berbahaya!"

Diam-diam dia berpikir.

"Orang baik nyawanya pasti akan tertolong. Kalau Tuan Xi Men bisa sembuh kali ini, maka semua rahasia di Wisma Si Ming bisa terungkap."

Dia menghapus keringatnya, dan dia merasa sudah tenang. Terdengar Ling Ying berkata.

"Tetua Xi Men telah meminum obat Cui Xiu Hu Xin Dan dariku, mengapa lukanya bisa bertambah parah?"

Dia melihat pak tua berjenggot panjang, sepertinya dia ingin mencari tahu rahasia tabib yang terkenal di dunia persilatan itu.

Pak tua itu memegang nadi Gong Sun Zuo Zu.

Pelan-pelan dia membalikkan kepalanya.

Sambil tersenyum dia melihat Ling Ying dan berkata.

"Ternyata Nona adalah murid Huang Shan Cui Xiu yang terkenal di dunia persilatan itu, benar-benar membuatku kagum."

Kata-katanya baru selesai, tawanya seperti ditarik dan dia melanjutkan lagi.

"Cui Xiu Hu Xin Dan adalah obat yang selama ini selalu diributkan oleh orang-orang dunia persilatan tapi fungsinya hanya untuk menjaga kesehatan jantung dan membuat racun di tubuh Tetua Xi Men berhenti bereaksi. Kecuali tubuhnya terkena racun dia masih terluka dalam cukup parah. Racun memang berhasil dicegah oleh Cui Xiu Hu Xin Dan tapi luka dalamnya bertambah berat...."

Ling Ying mengerutkan dahinya dan berkata.

"Ternyata seperti itu...."

Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan berkata.

"Ilmu silat Tetua Xi Men begitu tinggi, siapa yang telah membuatnya terluka parah? Tabib adalah orang yang sangat berpengalaman, apakah Anda bisa melihat luka Tetua Xi Men berasal dari perkumpulan mana?"

Pelan-pelan pak tua ini bicara.

"Aku bisa melihatnya tapi karena hal ini berhubungan dengan suatu masalah besar, sebelum mendapatkan bukti yang cukup kuat, aku tidak bisa sembarangan bicara...."

Muridnya yang bernama Zhang Pin membawakan 2 cangkir teh panas dan diletakkan di depan Ling Ying.

Warna teh itu hijau dan sangat harum tapi cangkir teh itu sangat kasar dan jelek.

Guan Ning lahir dari kalangan keluarga kaya.

Begitu melihat cangkir teh itu, dia tahu kalau teh yang disuguhkan kepada mereka adalah teh yang terkenal.

Setelah menempuh perjalanan jauh sekarang dia merasa haus dengan penuh semangat dia mengambil cangkir itu, Ling Ying tiba-tiba menepuk meja dan berkata.

"Benar!"-Meja dan kursi terbuat dari kayu kasar, setelah meja itu dipukul dengan semangat oleh Ling Ying, meja itu terlihat bergoyang dengan sangat kencang, membuat dua cangkir yang berisi teh itu panas bergeser dan terjatuh. Teh tumpah ke mana-mana, sorot mata pak tua itu tampak sedikit berubah, sepertinya Ling Ying tidak sadar. Dia berkata.

"Menurutku, orang yang telah memukul Tetua Xi Men sampai terluka begitu parah adalah orang yang mempunyai ilmu silat tinggi, dan di dunia persilatan diapun mempunyai kedudukan tinggi. Tetua tidak mau memberitahukannya kepada kami mungkin karena Tetua takut akan sesuatu, apakah benar?"

Pak tua itu menjawab.

"Itu sudah pasti."

Dia berpesan kepada Zhang Pin.

"Pin Er, ambilkan lagi 2 cangkir teh!"

Ling Ying tertawa dan berkata.

"Tetua begitu perhatian kepada kami, aku merasa sangat berterima kasih, kami tidak berani meminta teh lagi. Kakak Zhang, tidak perlu mengambilkan teh lagi untuk kami."

Pelan-pelan dia membungkukkan badan dan membuang cangkir yang sudah pecah itu keluar ruangan.

Guan Ning tampak mengerutkan dahinya, dia merasa marah karena Ling Ying telah berbuat begitu ceroboh.

Terlihat pak tua itu memeriksa luka Gong Sun Zuo Zu lagi, dia tidak melihat Ling Ying.

Muridnya yang bernama Zhang Pin tampak berdiri dengan bengong di depan pintu.

Matanya tampak berputar-putar, entah apa yang sedang dipikirkannya, tapi tampaknya dia tidak bermaksud ingin membantu Ling Ying memungut pecahan cangkir itu.

Guan Ning mulai merasaan apa yang terjadi hari ini, menimbulkan banyak kecurigaan.

Sorot mata Zhang Pin yang tampak kebingungan melihat ke arah pecahan mangkuk yang terlempar oleh Ling Ying, dalam benaknya kembali terpikir pada 17 mangkuk teh-yang dilihatnya di Wisma, tapi mayat yang ditemukannya hanya ada 15, sedangkan ada 17 mangkuk teh di sana, sedangkan sisa dua cangkir itu....

Terdengar pak tua itu menarik nafas, pelan-pelan dia mengangkat kepalanya dan berkata.

"Pak tua ini karena merasa marah telah bertindak dengan tergesa-gesa, gerakannya menyerang ke bagian hatinya. Dia juga telah melewati pertarungan sengit kemudian masuk angin. Kelihatan penyakitnya sangat berat tapi setelah memakan obat yang akan kuberikan nanti dia pasti akan sehat kembali."

Guan Ning merasa pikiran yang mengganjal sekarang bisa menjadi lega.

Dia melihat Ling Ying yang saat itu sepertinya tidak mendengar perkataan tabib itu, dia terus melihat ke bawah.

Guan Ning merasa aneh....

Pak tua itu melotot pada muridnya, Zhang Pin.

Dia berkata.

"Kedua tamu kita datang dari jauh, sekarang mereka pasti merasa sangat haus, apakah kau tidak mendengar pesanku tadi?"

Zhang Pin menyahut lalu dengan pelan berjalan ke belakang rumah.

Guan Ning mengira Ling Ying akan melarangnya tapi sekarang dia malah berterima kasih tapi dia terus menatap sosok belakang Zhang Pin, matanya bersorot aneh.

Guan Ning mengikuti pandangan Ling Ying yang melihat Zhang Pin tapi Zhang Pin sudah masuk ke dalam.

Pak tua itu berjalan ke sudut ruangan dan membuka kotak obat yang tersimpan di sana.

Dia mengeluarkan sebuah botol kecil dan tersenyum.

"Mungkin kalian berdua sangat memperhatikan kondisi pasien dan perasaan kalian tidak tenang. Sebenarnya kalian tidak perlu merasa khawatir. Aku jamin dalam waktu 1 jam ini, pak tua Gong Sun akan sadar kembali."

Guan Ning menyahut, dalam hati dia berpikir.

"Sepertinya aku mengenal sosok pak tua ini.... dan suaranya juga...."

Tiba-tiba Ling Ying berputar, dia masuk ke ruangan yang pintunya tertutup!

Pak tua itu sedang membungkukkan badan berniat akan memasukkan obat ke dalam mulut Gong Sun Zuo Zu.

Melihat keadaan itu dengan cepat dia menghalangi gerakan Ling Ying, tapi terlambat.

Tangan Ling Ying sudah mendorong pintu itu....

Di sana....

Sekarang bayangan biru itu secepat kilat berjalan ke depan Ling Ying, kedua tangannya membawa 2 cangkir teh yang masih tampak mengepul, ternyata dia adalah murid pak tua yang bernama Zhang Pin.

Terpaksa Ling Ying menurunkan tangannya, dia membalikkan badannya dan dengan ramah berkata kepada pak tua itu.

"Aku mengkhawatirkan luka Tetua Xi Men, apakah lukanya tidak mengalami masalah? Aku lupa dengan pesan Tetua tadi, aku benar-benar minta maaf."

Kemudian dengan pelan dia berjalan kembali ke sisi meja. Pak tua itu dengan nada tidak senang berkata.

"Aku tidak berbohong, anda tenang saja, Nona!"

Dia berjalan ke sisi Gong Sun Zuo Zu lagi.

Wajah Zhang Pin tampak datar, dia meletakkan cangkir itu di atas meja, setelah itu tangannya tampak terkulai di kedua sisi tubuhnya.

Sekarang Guan Ning bisa mengerti apa maksud Ling Ying tadi, ternyata semua itu mengandung makna tertentu, karena itu diapun tidak terburu-buru minum tehnya, dia terus melihat Ling Ying.

Ling Ying sama sekali tidak melihat ke arah cangkir itu, dia terus melihat gerak-gerik pak tua.

Pak tua itu membuka mulut Gong Sun Zuo Zu, dan bersiap-siap memasukkan obat ke dalam mulutnya....

Tiba-tiba Ling Ying berkata kepada Zhang Pin.

"Tadi kulihat ilmu silat Kakak Zhang sangat cepat, tapi.... rasanya aku mengenal jurus itu, aku sekedar ingin bertanya, biasanya Kakak Zhang berkelana ke daerah mana saja?"

Sewaktu Ling Ying menanyakan hal itu, gerakan pak tua tampak berhenti seolah sedang mendengarkan percakapan mereka.

Segera dalam benak Guan Ning terbersit suatu bayangan yang sangat jelas, dia melihat Zhang Pin, wajah Zhang Pin seperti tertawa juga seperti tidak, hanya mengangkat sudut mulutnya saja, matanya tampak berkedip-kedip.

Dia berkata.

"Nona terlalu memuji, aku selalu mengikuti guru mempelajari ilmu ketabiban, dan sampai saat ini belum lulus, mana mungkin aku bisa berkelana di dunia persilatan?"

Ling Ying tersenyum, dia tidak bertanya lagi.

Guan Ning adalah orang yang sangat pintar, menghadapi hal seperti ini dia selalu berhati-hati, bayangan yang sempat melintas dalam pikirannya, dia seperti menangkap sesuatu dan diapun menangkap logat bicara Zhang Pin, segera semuanya terangkai dengan jelas....

Dia sadar ternyata Zhang Pin adalah salah satu dari laki-laki berbaju hitam itu yang pernah ditemuinya di kuil, dan dia adalah laki-laki berbaju hitam dengan perawakan pendek.

Tapi Guan Ning tidak segera mengambil kesimpulan bahwa Zhang Pin adalah orang itu, dia hanya melihat Ling Ying dengan sorot mata bertanya.

Ling Ying membalas tatapannya dan tersenyum mengerti.

Zhang Pin mendekati pak tua itu dan dengan suara kecil dia bertanya.

"Mereka tidak mau minum, sekarang bagaimana?"

Walaupun suaranya kecil dan berbisik tapi karena Ling Ying sepenuh hati mendengarkan ucapannya dia bisa mendengar dengan jelas.

Kata-katanya sangat sederhana, tapi Ling Ying mendengar semuanya dengan jelas....

Tiba-tiba dia berteriak.

"Nyonya Hong Pao (baju merah)!"

Zhang Pin dengan cepat membalikkan kepalanya melihat Ling Ying, dia kelihatan marah. Pak tua itu segera mundur ke pinggir.... Ling Ying meloncat menunjuk Zhang Pin dan berkata.

"Kau adalah ketua Wisma Si Ming, Hong Pao Ke!"

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba membuat Guan Ning seperti menemukan titik terang, tapi segera menghilang lagi, dia berpikir.

"Suami istri Wisma Si Ming sudah mati dan aku sendiri yang menyaksikan mayat mereka ada di sana, mengapa Ying Er begitu yakin kalau mereka berdua ini adalah suami istri Hong Pao, apalagi...."

Pikirannya belum selesai dijalin, dia mendengar suara tawa yang menyeramkan, ternyata suara itu berasal dari pak tua berjanggut itu, dia mengenal suara itu, dan diapun menolehkan kepalanya untuk melihat.

Kedua mata pak tua itu terlihat sangat bersemangat dan saat ini dia sedang menatap Ling Ying, lalu berkata.

"Nona benar-benar sangat pantas menjadi murid Huang Shang Cui Xiu, pikiranmu bergerak sangat cepat, membuat orang kagum kepada Nona, tapi...."

Sambil tertawa dengan keras dia membersihkan wajahnya. Setelah tawanya berhenti wajah pak tua itu sudah berubah menjadi laki-laki setengah baya yang tampan.

"Sayangnya kalian sudah berada di tangan kami, Nona harus menunggu reinkarnasi dulu baru bisa menyampaikan rahasia besar ini kepada dunia persilatan."

Nada bicaranya penuh dengan penghinaan.

Zhang Pin memutar tubuhnya, wajahnya yang terlihat kuning seperti sakit sekarang berubah menjadi seraut wajah yang cantik, sambil tertawa dia berjalan mendekati Ling Ying dan berkata.

"Nona, ilmu silatmu sangat bagus, selain itu kau pintar dan cantik."

Dia menghela nafas dalam-dalam seperti menyesali sesuatu dan dia berkata lagi.

"Aku benar-benar tidak tega mengirimmu ke neraka."

Sekarang Guan Ning tidak ragu lagi, ternyata laki-laki dan perempuan yang ada di depan matanya sekarang ini adalah suami istri pemimpin Wisma Si Ming, yang pernah dilihatnya dalam bentuk mayat di Wisma Si Ming.

Anehnya di dunia persilatan ini, ternyata ada orang yeng begitu mirip.

Sekarang suami istri ini menganggap bahwa kematian orang-orang di Wisma Si Ming adalah hal yang sepele dan bukan merupakan sesuatu yang aneh.

Dia marah dan berkata.

"Aku lihat wajah kalian tampan dan cantik, tapi hati kalian beracun seperti ular berbisa, pantas Tuan Muda...."

Tiba-tiba dia teringat kalau dia menyebut nama Gong Sun Yong itu bukanlah suatu hal yang baik, karena itu segera dia mengalihkan pembicaraan.... Hong Pao Ke meloncat ke depannya dan membentak.

"Diam! Waktu itu kalau bukan karena terjadi kebakaran di kuil kau pasti sudah mati di tanganku, kali ini aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi!"

Guan Ning baru mengerti.

"Ternyata dua laki-laki berbaju hitam itu adalah suami istri Wisma Si Ming, waktu itu kalau bukan karena Shen San Niang datang, aku dan Ying Er pasti sudah mati, tapi kali ini...."

Mengingat hal ini dia merasa tegang dan tanpa terasa dia mundur beberapa langkah. Terdengar Ling Ying berteriak.

"Nanti dulu!"

Terlihat Ling Ying tertawa, dia masih bisa tenang dalam keadaan seperti ini, dia melihat Nyonya Hong Pao. Guan Ning berpikir.

"Ying Er sangat pintar, mungkin dia sudah terpikir suatu cara untuk melawan mereka."

Nyonya Hong Pao tersenyum kepada Ling Ying.

"Nona, apakah ada kata-kata terakhir yang ingin kau sampaikan?"

Ling Ying mengangguk dan diapun tertawa.

"Benar, Nyonya tadi mengatakan kalau aku adalah gadis pintar, sebenarnya kalau dibandingkan dengan kepintaran Nyonya aku masih kalah jauh."

Nyonya Hong Pao tertawa.

"Sudahlah, kau jangan memujiku lagi. Ada hal apa lagi yang ingin kau sampaikan, cepat katakan sekarang, nanti tidak akan sempat lagi!"

Tiba-tiba wajah Ling Ying memerah, dia menundukkan kepalanya dan berkata.

"Tidak ada hal lain yang ingin disampaikan, hanya saja dia...."

Kepalanya lebih ditundukkan lagi, suaranya semakin rendah dan sudut matanya melirik Guan Ning. Nyonya Hong Pao tertawa.

"Aku mengerti, adik kecil, kau tidak perlu merasa malu, kalian adalah sepasang Yuan Yang (nama burung) yang bernasib sama, bila ada kata-kata yang belum sempat terungkapkan, nanti sepanjang perjalanan kalian menuju neraka, kalian bisa mengobrol dengan puas!"

Dia berjalan dua langkah. Ling Ying sedikit mengangkat kepalanya dan berkata.

"Nyonya sangat pintar, masa Nyonya tidak melihat kalau si bodoh itu tidak mengerti isi hatiku?"

Guan Ning terpaku.

"Kau sayang kepadaku, masa aku tidak tahu itu?"

Tapi setelah dipikir-pikir, segera dia mengerti dan pura-pura seperti baru tersadar, dengan suara bergetar dia berkata.

"Apakah perkataanmu itu benar, Ying Er?"

Dia segera berjalan mendekati Ling Ying dan mencium Ling Ying. Hong Pao Ke membentak.

"Diam di sana!"

Sambil tertawa seram dia berkata lagi.

"Kalian berdua baru makan nasi beberapa hari, sudah berani menipuku!"

Segera dia berkata kepada Nyonya Hong Pao.

"Lebih baik cepat kirim mereka ke neraka, kalau tidak aku takut akan terjadi perubahan yang tidak terduga!"

Mereka mulai menyerang. Guan Ning berteriak.

"Nanti dulu!"

Dia mundur beberapa langkah. Hong Pao Ke mendekat dan bertanya dengan dingin.

"Apa lagi pesan terakhir yang ingin kau sampaikan?"

Tanya Guan Ning dengan tenang.

"Tuan telah membunuh 15 orang, semua tujuan itu adalah untuk mendapatkan Ru Yi Qing Qian yang sulit ditemukan, apakah Tuan tidak ingin tahu di mana keberadaan Ru Yi Qing Qian sebenarnya?"

Hong Pao Ke berhenti melangkah, sorot matanya yang tajam terus menatap Guam Ning, seperti ingin mengorek isi hati Guan Ning....

Senyum Nyonya Hong Pao menghilang, dia melihat Guan Ning sedangkan Ling Ying tidak berkata apa-apa.

Dalam hati Guan Ning menghela nafas.

"Kekuatan sihir Ru Yi Qing Qian benar-benar hebat, bisa membuat seseorang yang kecanduan membunuh melepas keinginannya. Berarti kabar yang mengatakan kalau Ru Yi Qing Qian adalah benda sial, ternyata benar, tapi aku...."

Hong Pao Ke tampak mengerutkan dahi dan tertawa dingin.

"Di depan malaikat maut kau masih berani berbuat macam-macam?"

Dia menyerang dengan cepat.

Guan Ning telah berhasil menenangkan dirinya, lalu diapun melihat serangan Hong Pao Ke, dia mengangkat tangan kirinya dan tangan kanannya dengan cepat menepis tangan kanan lawan.

Jurus aneh ini Guan Ning ambil dari catatan yang terdapat di dalam Ru Yi Qing Qian, Hong Pao Ke pernah melihat dan mengalami sendiri jurus itu kemarin malam, walaupun dia tahu Guan Ning tidak dapat meneruskan jurus ini tapi dia tetap tidak dapat mencairkan serangan Guan Ning karena itu terpaksa Hong Pao Ke mundur beberapa langkah.

Sedangkan Ling Ying sudah bertarung dengan Nyonya Hong Pao, terlihat kilatan cahaya sepanjang setengah meter dan muncullah 9 kuntum cahaya pedang yang tampak berkilau, gerakannya cepat seperti kilat.

Menyerang ke arah nadi penting Nyonya Hong Pao....

Nyonya Hong Pao tampak tertawa dan berkata.

"Adik kecil, ternyata kau ingin melawanku!"

Dia berhasil menepis serangan pedang Ling Ying dan dia segera menotok nadi pundak Ling Ying.

Tapi Ling Ying membungkukkan badannya dan pedang yang diputarnya tampak membentuk lingkaran, kemudian pedang itu naik ke atas, menepis pergelangan lawan, dari sudut matanya dia bisa melihat Guan Ning yang sedang memaksa Hong Pao Ke untuk mundur, Ling Ying merasa sedikit tenang dengan cepat dia mengeluarkan tiga serangan, tenaga yang keluar seperti hujan dan air bah.

Nyonya Hong Pao tersenyum, dia hanya beberapa kali menghindar dan berhasil mencairkan serangan Ling Ying, sekarang dia mulai menyerang tempat-tempat penting di tubuh Ling Ying.

Dari pertarungan kemarin malam di kuil itu, Ling Ying tahu walaupun Guan Ning menguasai beberapa jurus aneh tapi jika bertarung dalam waktu yang lama dia pasti akan dikalahkan oleh Hong Pao Ke, karena itu dari sudut matanya dia selalu memantau gerakan Guan Ning.

Walaupun Guan Ning hafal dengan jurus-jurus yang terdapat di dalam Ru Yi Qing Qian tapi itu hanya berupa teori sedangkan prakteknya dia sama sekali tidak ada, maka dia hanya bisa mengeluarkan jurus yang pernah digunakannya-Hong Pao Ke tertawa dengan sinis.

"Ternyata jurusmu hanya sedemikian rupa!"

Kemudian tangan Hong Pao Ke mulai bergerak, bayangan telapak tangannya mengelilingi tubuh Guan Ning, membuat Guan Ning kalang kabut dibuatnya.

Ling Ying merasa cemas dan gerakannya terburu-buru, tapi dia juga sudah terkurung oleh jurus-jurus Nyonya Hong Pao, dia sama sekali tidak bisa membebaskan diri.

Tiba-tiba Guan Ning membentak, tubuhnya melenting, satu kakinya berputar dan ternyata dia bisa melepaskan diri dari serangan Hong Pao Ke.

Guan Ning berdiri dengan tegak, dia tampak sedang berpikir, terhadap keadaan di sekelilingnya sepertinya dia tidak peduli.

Hong Pao Ke merasa aneh melihat bocah itu, apa yang sedang dilakukan.

Ternyata Guan Ning sedang memikirkan kembali jurus yang tiba-tiba saja dikeluarkan, menurut catatan di dalam Ru Yi Qing Qian, jurus ini sangat dahsyat kalau sudah benar-benar dilatih.

Walaupun menyerang secara bertubi-tubi, dia masih bisa dengan tenang mengeluarkan serangan dan bahkan bisa membalas serangan lawan.

Tadi dia telah mengeluarkan jurus itu, benar-benar seperti yang tertulis di dalam catatan itu, dalam hati dia merasakan kegembiraan besar, dia merasa catatan itu banyak manfaatnya, sekalipun dia berada dalam bahaya dia tidak tidak merasakan bahaya bahkan lupa dengan keadaan di sekelilingnya.

Ling Ying melihat keadaan Guan Ning seperti itu, dia membentak menyadarkan Guan Ning.

"Xiao Guan, kau sedang apa?"

Dia memaksa Nyonya Hong Pao mundur dan siap bergabung dengan Guan Ning tapi Nyonya Hong Pao malah tertawa.

"Jangan macam-macam, jika masih ada yang ingin disampaikan, bicarakan saja nanti di neraka!"

Dia menghindari serangan pedang Ling Ying, tiba-tiba dia menyerang, membuat Ling Ying mundur lagi. Tiba-tiba Guan Ning berteriak.

"Berhenti semua! Dengarkan dulu perkataanku!"

Bayangan orang yang bertarung segera berhenti, Nyonya Hong Pao dan Ling Ying pun segera berhenti, mereka berdiri dengan diam. Sambil membereskan rambutnya Nyonya Hong Pao bertanya.

"Apakah adik kecil ingin mengobrol terlebih dulu dengan kekasihmu?"

Wajah Guan Ning berubah, dia berkata kepada Hong Pao Ke.

"Kau tidak bisa memecahkan jurus tadi, apakah kau tahu jurus itu berasal dari mana?"

Hong Pao Ke terpaku, dia berpikir.

"Bocah ini tidak terlalu banyak menguasai ilmu silat, tapi jurus yang dikeluarkannnya sangat tidak masuk akal, bahkan membuat orang menjadi bingung dibuatnya, apakah...."

Tapi di bibir dia tetap dengan masa bodoh berkata.

"Ilmu silatmu memang sedikit aneh, tapi tidak terlalu mengagumkan, dari segi mana kau membanggakannya?"

Guan Ning tersenyum dengan santai dia menjawab.

"Ilmu silat yang selama ini selalu kau inginkan dan tercatat di dalam Ru Yi Qing Qian, apakah kau tidak...."

Suami istri Hong Pao terlihat mengangguk dan mereka sudah saling mengerti. Guan Ning pura-pura tidak melihatnya, dia terus bicara.

"Aku hanya mengeluarkan sebagian jurus, dan kau sudah menyaksikan kehebatannya, tapi aku tidak ingin memiliki ilmu itu seorang diri, aku ingin...."

Hong Pao Ke membentak dan melotot kepadanya.

"Kau menginginkan apa?"

Guan Ning menatap matanya yang tampak serakah, dengan sengaja dan pelan-pelan dia berkata.

"Tapi dia...."

Dia menunjuk Ling Ying.

"Begitu dia membuka kedok istrimu, aku langsung mengetahui kalau peristiwa di Wisma Si Ming, 15 nyawa telah melayang, dengan cara apa kalian berhasil melenyapkan mereka, kecuali ada suatu hal yang terlihat sedikit tidak menyambung, demi memenuhi keingin-tahuanmu, aku ingin menyampaikan di mana keberadaan Ru Yi Qing Qian yang asli, bagaimana menurutmu, Tuan?"

Hong Pao Ke tertawa dingin.

"Kau mengatakan kalau kau sudah mempelajari ilmu rahasia itu, ternyata kau berbohong lagi!"

Dia maju beberapa langkah. Nyonya Hong Pao tertawa dingin, dia menghalangi langkah Ling Ying, kemudian tertawa.

"Adik kecil, jangan merasa takut dia belum mengatakan kalau Ru Yi Qing Qian ada di tubuhnya bukan?"

Guan Ning pelan-pelan berkata.

"Ru Yi Qing Qian yang asli berjumlah 18 buah, aku hanya mendapatkan satu, sedangkan 17 lainnya.... Tuan dan Nyonya bisa memikirkan ada di mana bukan"

Suami istri itu saling pandang, seperti saling bertanya, apakah kata-kata Guan Ning tadi benar atau dia hanya sekedar menipu mereka?

Keadaan menjadi sunyi dan sepi.

Di luar sana, di jalanan menuju gunung, Jue Wang Fu Ren Shen San Niang sedang mengkuti jejak roda kereta, dia memacu keretanya bergerak dengan cepat.

Sambil berjalan Jue Wang Fu Ren berpikir.

"Ling Ying pernah mengatakan kalau tabib sakti itu tinggal di Miao Feng Shan, mengapa dia bisa menempuh jalan bercabang? Dan masih ada jejak seekor kuda yang berjalan bersama dengan kereta itu, siapakah penunggang kuda itu?"

Karena semua ini terasa mencurigakan, dia memacu keretanya berjalan lebih cepat.

Di dalam rumah, dalam suasana sepi dan hening, Ling Ying menunggu dan mendengar apa yang akan terjadi, semua terlihat di wajahnya.

Hanya Guan Ning yang terlihat santai menunggu jawaban suami istri itu.

Suami istri Hong Pao sudah lama terkenal, mereka sangat berpengalaman dan penglihatan mereka sangat tajam.

Hanya dalam waktu sekejap mereka sudah tahu ada sesuatu yang harus dicurigai.

Hong Pao Ke membentak.

"Tak tahu diri! Kau hanya mimpi! Sebelum kau mati, Ru Yi Qing Qian akan jatuh di tanganku, untuk apa kau mengajukan beberapa syarat?"

Tangannya diayunkan dan dengan cepat menyerang Guan Ning.

Walaupun wajah Guan Ning terlihat santai tapi dalam hati dia merasa sangat cemas, rasa cemasnya lebih dari Ling Ying, semua hanya akal-akalannya saja supaya bisa mengulur waktu, ternyata siasatnya diketahui oleh suami istri Hong Pao, dia merasa takut dan tidak tenang, tiba-tiba dia mengangkat tangan kirinya dan tangan kanannya mulai menyerang.

Walaupun Hong Pao Ke menertawakan Guan Ning karena hanya memiliki ilmu hanya sedemikian rupa tapi dia tetap waspada.

Begitu melihat lawan membalas dengan mengayunkan tangan, dia segera menggeser kakinya, dan menarik tangan kanannya, kemudian dia berputar ke belakang Guan Ning, mencoba untuk menotok nadi Guan Ning.

Guan Ning dengan cepat memutar tubuhnya, dan tangannya membalik ke atas, tangan kiri mengeluarkan serangan, kelima jarinya sedikit dilipat, dia mencengkram pergelangan tangan kanan Hong Pao Ke.

Tangan kanan, jari telunjuk, dan jari tengah siap menyolok ke arah lawan.

Jurus ini sangat aneh, menotok musuh yang sedang menyerang, semua posisi dan waktunya sangat tepat, maka dalam waktu yang singkat ini Guan Ning berhasil mengeluarkan satu jurus aneh lagi!

Hong Pao Ke masih terus menyerangnya, tiba-tiba Guan Ning berteriak.

"Siapa yang menginginkan Ru Yi Qing Qian, kejar aku!"

Siapa yang akan tahu-Tiba-tiba di depannya Hong Pao Ke sudah menghalangi langkahnya, dia tertawa.

"Apakah adik ingin meninggalkan kekasihmu dan melarikan diri? Aku tidak setuju dengan perbuatanmu!"

Dia menyerang dengan tenaga seperti angin ribut, seperti gelombang di Zhang Jiang dan Huang He.

Ling Ying ternyata juga dihalangi oleh Hong Pao Ke, membuat kakinya tidak bisa bergeser sedikitpun.

Ling Ying mulai tahu mengapa Hong Pao Ke bisa terkenal?

Ketika menyerang, jurus yang mereka lancarkan tidak akan mendapatkan hasil banyak, hanya meminta supaya mereka tidak kalah.

Setelah beberapa jurus dikeluarkan, dia teringat pada pertarungan terakhir kemarin di kuil tua itu.

Dia memarahi dirinya sendiri.

"Dasar pikun!"

Segera dia mengubah jurus-jurusya, pedangpun digerakan, walaupun ilmu silat Hong Pao Ke hebat tapi menghadapi ilmu pedang Huang Shan Cui Xiu, dia tidak terlalu mengerti.

Karena dia diserang oleh Ling Ying terus menerus maka dia hanya bisa mengandalkan gerakan tubuhnya yang cepat dan kekuatan telapak untuk menghindari semua serangan Ling Ying, dia hanya menyerang sekali-kali.

Tapi Guan Ning yang sedang berada di sebelah sana dipaksa menghadapi jurus-jurus ganas milik Nyonya Hong Pao, membuat dia tidak ada waktu untuk berpikir, walaupun mempunyai teknik banyak tapi gerakannya tidak tersusun.

Jika tadi dia tidak menggunakan jurus secara bergantian sehingga dia bisa menghindari bahaya beberapa kali, mungkin sejak tadi dia sudah terbunuh oleh Nyonya Hong Pao.

Tapi jika terus berlanjut....

Nyonya Hong Pao tahu kalau kemenangan sudah ada di tangannya, dengan tersenyum dia melihat Guan Ning kemudian dia berhasil menepuk pundaknya.

Guan Ning merasa sakit, Tubuhnya mulai limbung.

Tiba-tiba Nyonya Hong Pao mengubah tangannya membentuk cakar, dia mencengkram nadi tangan kanan Guan Ning dan berkata.

"Kau berbaring baik-baik di sini!"

Tapi Guan Ning berusaha memberontak....

Nyonya Hong Pao merasa ada tenaga besar datang dari pergelangan tangan Guan Ning, membuat kelima jarinya tidak kuat memegang.

Terlihat Hong Pao Ke terus berteriak, suaranya menggetarkan bubungan rumah.

Nyonya Hong Pao melihat suaminya terdesak oleh Ling Ying, posisinya berada di sudut ruangan, kaki dan tangan tidak bisa digerakkan, tampaknya dia akan terluka di bawah pedang Ling Ying, maka ketika dia melihat Guan Ning berusaha memberontak dia ingin segera membanting Guan Ning.

Tapi sekarang dia malah berlari ke arah Ling Ying dan berkata.

"Adik kecil, aku akan menemanimu bermain-main."

Segera dia menotok nadi Ling Ying di bagian pinggang. Ling Ying berusaha menghindar dan membalikkan badan untuk menusuk Nyonya Hong Pao. Tapi dia bertanya.

"Xiao Guan, bagaimana perasaanmu sekarang?"

Sambil bicara dia mulai menyerang Nyonya Hong Pao.

"Tidak apa-apa! Kau harus berhati-hati...."

Kata-kata Guan Ning baru selesai, Hong Pao Ke diam-diam menghampiri mereka.

Tangan kiri berusaha memukul ke arah dada dan tangan kanan menebas ke rusuk Guan Ning.

Rasa sakit di siku Guan Ning belum menghilang, badan bagian kanannya sedikit kaku.

Begitu melihat Hong Pao Ke mulai menyerangnya, dia berusaha menghindar.

Tapi kakinya tersandung oleh kursi dan tubuhnya mulai limbung lalu terjatuh.

Hong Pao Ke tertawa sinis, kedua tangannya siap menebas.

Saat Hong Pao Ke merasa senang, tidak ada seorangpun yang tahu bahwa ada kereta datang dan sesosok bayangan langsing dan tinggi tiba-tiba muncul di depan pintu, dia mengerutkan dahi, tangan terangkat, jarinya menunjuk....

Segera Hong Pao Ke memegang pinggangnya kemudian diapun terjatuh.

Sepasang matanya memancarkan rasa sakit, ketakutan, dan kecewa melihat ke arah pintu.

Sambil terengah-engah dia berkata.

"Kau, kau lagi...."

Suaranya semakin kecil semakin tidak terdengar.... Guan Ning berhasil lolos dari maut. Dia berteriak.

"Nyonya, kau datang tepat pada waktunya...."

Tiba-tiba dari sudut rumah ada yang menjerit, kemudian Nyonya Hong Pao terlihat sedang memegang dadanya, lalu dia keluar terburu-buru, badannya sempoyongan.

Kedua kakinya terasa lemas dan diapun terjatuh di sisi Hong Pao Ke, dari sela-sela jari terlihat darah segar mengalir.

Ling Ying memegang pedangnya, lalu pelan-pelan mendekati Nyonya Hong Pao, melihat sebentar, kemudian pedang dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.

Nyonya Hong Pao dengan marah berkata.

"Apakah orang yang bertemu denganmu harus selalu merasa putus harapan?"

Jue Wang Fu Ren tertawa, dia menunjuk Guan Ning dan Ling Ying, dengan lembut dia menjawab.

"Mereka berdua tidak merasa putus harapan, sebaliknya mereka malah mempunyai harapan besar!"

Kata-kata ini membuat Guan Ning dan Ling Ying tertawa. Tiba-tiba Guan Ning berteriak.

"Nyonya, mana tetua Xi Men? Apakah Anda sudah bertemu dengan tabib sakti itu?"

Jue Wang Fu Ren Shen San Niang menggelengkan kepala dan berkata.

"Aku sengaja berbalik arah untuk mencari kalian supaya kalian bisa menunjukkan jalan. Siapa yang bakal menduga kalau kalian akan bertemu dengan suami istri ini. Apa yang telah terjadi?"

"Ceritanya panjang, lebih baik kita cari tabib sakti itu dulu,"

Jawab Ling Ying.

Setelah berkata seperti itu dia tidak melihat ke arah suami istri Si Ming lagi, dengan cepat dia naik ke atas kereta.

Guan Ning menggendong Gong Sun Zuo Zu keluar dari pintu.

Dalam hati dia menarik nafas.

"Kalian berdua sebenarnya adalah sepasang suami istri yang serasi, karena serakah maka akibatnya menjadi seperti ini, sekarang kalian berlumuran darah dan roboh, bukankah keadaan kalian sekarang seperti keadaan suami istri yang mati di Wisma Si Ming? Tuhan memang adil!"

Guan Ning masih merasa tidak enak. Ling Ying sudah berteriak.

"Xiao Guan, apakah kau tidak tega meninggalkan mereka?"

Dengan cepat Guan Ning menggendong Gong Sun Zuo Zu meninggalkan rumah yang seumur hidup tidak akan pernah dilupakannya.

Dia menaruh Gong Sun Zuo Zu ke dalam kereta kemudian diapun naik ke atas kereta dan duduk bersama dengan Ling Ying, kereta menggelinding ke jalan besar.

Matahari sudah berada di sebelah barat.

Dua kereta berjalan dijalan besar membuat jalan dipenuhi dengan debu berwarna coklat.

Setelah tiba di Miao Feng Shan, kereta baru berjalan dengan pelan.

Begitu memasuki pegunungan kira-kira setengah kilometer, turun seorang pemuda yang tampan dari kereta-Guan Ning.

Pelan-pelan dia bertanya kepada petani yang sedang membereskan alat bercocok tanamnya.

"Permisi, apakah di Miao Feng Shan sini tinggal tabib sakti?"

Pak tani yang sudah tua itu menjawab sambil menggelengkan kepala.

"Di gunung ini hanya ada seorang tabib biasa, sifatnya aneh. Kami tidak pernah tahu kalau di Miao Feng Shan tinggal tabib sakti."

Guan Ning merasa sangat senang, dia menanyakan dengan jelas jalan menuju Miao Feng Shan kemudian dia berunding dengan Jue Wang Fu Ren.

Mereka mengambil suatu keputusan, tidak masalah bila tabibnya tabib biasa, kemudian mereka menggendong Gong Sun Zuo Zu dan Xi Men Yi Bai turun dari kereta, dengan ilmu meringankan tubuh mereka berlari ke atas gunung.

Hanya memakan waktu kira-kira waktu untuk makan nasi, mereka sudah memasuki pegunungan mengikuti petunjuk pak tani itu.

Terlihat ada beberapa rumah papan berada di dalam hutan itu, dengan cepat mereka berlari ke arah sana dan mengetuk pintu.

Lama baru terdengar ada jawaban dari seorang tua.

"Masuk!"

Suaranya bernada dingin.

Ling Ying mendorong pintu dan masuk kemudian disusul dengan Shen San Niang yang sedang memapah Xi Men Yi Bai dan Guan Ning menggendong Gong Sun Zuo Zu .

Perabot rumah itu sangat sederhana, tapi jendela dan pintu terlihat sangat bersih.

Lantai disapu dengan bersih, di tengah-tengah ruangan terlihat ada dipan yang terbuat dari batu, di atas dipan terlihat ada seorang pak tua kurus yang sedang duduk bersila.

Dengan mata setengah terbuka dia melihat mereka masuk, tiba-tiba dia melambaikan tangan kepada Jue Wang Fu Ren dan berkata.

"Kemarilah!"

Kata sederhana ini terdengar oleh Jue Wang Fu Ren. Dengan cepat dia sudah menggendong Xi Men Yi Bai ke depan pak tua itu dan berkata.

"Yi Bai terkena racun dari orang jahat, dia kehilangan ingatan dan keadaannya sangat berbahaya, aku berharap pak tua...."

Pak tua itu mengangguk, dia memberi kode supaya Jue Wang Fu Ren tidak banyak bicara lagi.

Kemudian kedua matanya yang tajam melihat Xi Men Yi Bai dari kepala hingga kaki.

Kedua alisnya yang putih semakin berkerut seperti menemukan hal yang sangat sulit.

Jue Wang Fu Ren, Shen San Niang melihat tingkah laku pak tua itu, dia merasa sangat tegang jantungnya seperti siap meloncat keluar dari rongga dadanya.

Kedua matanya menatap lurus ke arah tabib itu, mungkin tabib ini akan membuatnya kecewa, tapi dia tidak berani membuka mulut untuk bertanya.

Suasana di dalam ruangan terasa sangat sepi seperti sedang berada di kuburan.

Mereka masing-masing hanya bisa mendengar detak jantung mereka sendiri.

Waktu seakan ikut berhenti,harapan Shen San Niang ikut berubah.

Tiba-tiba pak tua kurus itu menarik nafas panjang kemudian pelan-pelan dia menggelengkan kepalanya dan menyuruh Shen San Niang kembali.

Shen San Niang dengan putus asa berteriak.

"Maksud Anda adalah...."

Pak tua tidak berekspresi, dia hanya mengangguk dan sekali lagi menyuruhnya mundur. Shen San Niang berlutut dan berteriak.

"Tidak! Tidak! Yi Bai tidak boleh mati. Dia.... dia tidak boleh mati!"

Pak tua kurus itu menjawab.

"Semua orang akan mati, apakah dia pengecualian?"

Ling Ying berkata.

"Tetua Xi Men sudah meminum obat Cui Xiu Hu Xin Da, bila pak tua...."

Pak tua itu tetap menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Jantungnya memang belum berhenti tapi organ tubuhnya sudah cacat, kalian masih bisa membiarkan jantungnya terus berdetak, kalian sudah harus merasa puas."

Kemudian dia memerintah Guan Ning naju ke depannya. Guan Ning menggendong Gong Sun Zuo Zu ke depan pak tua itu. Dia memberi hormat.

"Tetua ini sakit berat tapi aku tetap berharap pak tua bisa mengobati Tetua Xi Men terlebih dulu...."

Tapi pak tua itu langsung berjalan melewati Jue Wang Fu Ren dan mengambil alih Gong Sun Zuo Zu dari pelukan Guan Ning dan dibawa ke ruangan sebelah, dia tidak melihat mereka lagi.

Guan Ning tidak menyangka kalau tabib sakti itu begitu dingin.

Dia berteriak.

"Tuan Besar...."

Tapi pintu sudah ditutup dengan rapat. Guan Ning bengong berdiri di depan pintu. Lama.... lama.... tiba-tiba dia mendengar desah nafas ringan. Ling Ying yang berada di sisinya berkata.

"Xiao Guan, jangan bengong lagi! Kau lihat keadaan Jue Wang Fu Ren, sekarang kita harus bagaimana?"

Shen San Niang masih berlutut di bawah, dia terus menangisi Xi Men Yi Bai yang berada di dalam pelukannya.

Wajahnya tampak kebingungan, air matanya terus bercucuran, setetes demi setetes berjatuhan ke tubuh Xi Men Yi Bai.

Cahaya kehidupan yang biasa terlihat di matanya seperti menghilang mengikuti kematian Xi Men Yi Bai.

Guan Ning dan Ling Ying tahu jika orang yang kita cintai pergi dan tidak akan kembali, ini adalah hal yang paling menyedihkan di dunia ini, orang ketiga tidak akan bisa merasakan kesedihan ini.

Guan Ning melihat Jue Wang Fu Ren, tangannya terus menggenggam tangan Ling Ying dan berkata.

"Kita jangan berpisah lagi."

Ling Ying membiarkan tangannya dipegang, dari sorot mata Guan Ning, dia 'bisa mendengar jeritan hati Guan Ning....

Setelah melewati waktu yang lama-Tiba-tiba Jue Wang Fu Ren Shen San Niang menarik nafas panjang, pelan-pelan dia melihat Ling Ying dan berkata.

"Sudah.... waktunya.... kita pergi!"

Kata-kata singkat ini seperti telah menghabiskan tenaga sangat besar, setiap kata mengandung kesedihan dan keputus-asaan.

Dalam hidupnya dia sering membuat orang menjadi putus asa, sekarang dia mendapat gilirannya.

Guan Ning dan Ling Ying saling memandang.

Merekapun ikut menarik nafas.

Ling Ying berkata.

"Betul, sudah waktunya kita pergi."

Guan Ning ikut menarik nafas.

"Mari kita pergi!"

Angin yang berhembus membuat Guan Ning menggigil kedinginan, dia menolehkan kepalanya melihat Ling Ying karena sekarang selain dari sorot mata Ling Ying, dia tidak bisa menemukan kehangatan lainnya.

Musim dingin sudah berlalu, musim semi akan segera tiba tetapi angin yang berhembus masih terasa dingin.

Angin sepoi-sepoi membawa harum bunga Ding Xiang, masuk melalui jendela dan melewati rambut seorang perempuan yang sedang duduk di sana, matanya terlihat penuh dengan kesedihan.

Salju yang mencair mengalir melalui batu yang ada di belakang dan masuk ke sebuah parit kemudian bermuara di kolam teratai.

Malam segera tiba....

Dia tidak bergerak hanya duduk di sisi jendela.

Malam gelap menenggelamkan bumi tapi dia tetap tidak berniat menyalakan lilin.

Pintu yang ada di belakangnya tampak terbuka sedikit, ada cahaya masuk dari luar, tampak dua orang gadis membawa rantang.

Dengan pelan mereka memasuki taman, di belakang mereka terlihat seorang laki-laki dan seorang perempuan berwajah cantik.

Wajah merekapun seperti penuh dengan kesedihan.

Gadis ini memegang tangan pemuda.

Dia berkata pelan.

"Di taman tidak ada lampu, apakah Shen San Niang sudah tidur?"

Pemuda menghembuskan nafas dan berkata.

"Mungkin belum."

Gadis itu mengerutkan alis.

"Aku berharap dia bisa tidur walau sebentar, beberapa hari ini dia terlihat sangat lelah."

Kemudian terdengar dua hembusan nafas panjang mengikuti arah angin. Nafasnya terdengar begitu ringan tapi perempuan berbaju duka itu segera tahu.

"Adik Ying, masuklah!"

Gadis ini dengan cepat berjalan memasuki kamar yang letakanya berada di sebelah selatan dan berkata.

"San Niang, ini aku."

Pelayan meletakkan r antan g yang berisi sayur dan nasi di atas meja kemudian mereka menyalakan lilin, dengan bantuan cahaya lilin yang redup, terlihat San Niang begitu lelah dan sedih.

Perempuan itu berkata.

"Xiao Guan, masuklah!"

Perempuan itu tidak bergerak, kesedihan telah menekan tubuh dan pikirannya.

Pada saat membuka rantang terlihat ada, 6 macam sayur yang kelihatan enak dan 3 pasang alat makan serta cangkir.

Ling Ying dengan suara kecil berkata.

"San Niang, aku dan Xiao Guan datang untuk menemanimu makan, bagaimana?"

Di bibir perempuan itu terlihat senyuman, senyuman itu bukan berarti dia merasa gembira, karena dia merasa sangat berterima kasih kepada perhatian yang diberikan Ling Ying dan Guan Ning.

Dia menghela nafas.

"Kalian.... kalian benar-benar baik kepadaku."

Kemudian dia berkata lagi.

"Adik Ying, sepertinya kau terlihat lebih kurus."

Kata-kata sederhana ini sudah mengandung banyak perasaan dan perhatian, selama ini gadis itu belum pernah merasakan perhatian dari seseorang.

Mata yang bersinar dan tampak bening itu terlihat berusaha menahan air mata diapun tertawa.

"San Niang, jika kau tidak mau makan, aku juga tidak mau makan. Apa kau.... kau tega menyuruhku lebih kurus lagi?"

Bibir perempuan yang mengenakan baju duka ini terlihat bergerak tapi tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya, hanya terlihat air matanya terus menetes.

Pemuda itu terpaku melihat keadaan mereka.

Sikapnya yang terlihat luwes dan ringan, sekarang bertambah gagah dan kuat.

Ruangan itu begitu sepi.

Perempuan berbaju duka itu menghapus air matanya.

Dia tertawa dengan terpaksa.

"Kalian menyuruhku makan, kalianpun harus makan. Xiao Guan, mana araknya? Sewaktu sedih tidak ada arak, bukankah seperti pada saat sedang gembira tapi tidak ada teman untuk berbagi, dan ini sama artinya dengan sedih?"

Guan Ning menyuruh kedua pelayan tadi membawakan arak untuk mereka, dia terus memikirkan kedua kalimat yang diucapkan San Niang.

"Waktu sedih tidak ada teman untuk berbagi, itu tidak menjadi masalah. Tapi jika sedang gembira, teman akrab tidak berada di sisi kita, itu lebih menyedihkan lagi."

Dia melihat Ling Ying, kedua kalimat tadi tidak menyambung, tapi setelah dipikir-pikir sepertinya mengandung makna yang lebih dalam.

Dia terpaku melihat cangkir keramik yang ada di depannya, mereka bertiga minum tanpa bersuara, tidak terasa poci teh telah kosong, diisi kembali, dan kosong lagi.

Lilin sudah terbakar banyak.

Tiga orang yang sedang sedih mulai bicara.

Mereka adalah Shen San Niang, Guan Ning, dan Ling Ying.

Perjalanan dari Miao Feng Shan hingga ke ibukota selalu diliputi perasaan seperti itu, rumah sepi dan bersih seperti ini adalah tempat yang cocok bagi mereka.

Setelah beberapa lama, mereka tidak ingin mengungkit kembali hal yang membuat orang merasa sedih karena mereka tahu hal ini malah akan melukai perasaan orang.

Sampai saat ini....

Guan Ning menghabiskan araknya lagi, dia meletakkan cangkir lalu menghembuskan nafas.

"Peristiwa ini sudah ada buktinya, tapi...."

Ling Ying memberi isyarat kepada Guan Ning, tapi Guan Ning tidak melihatnya. San Niang tertawa dengan sedih.

"Adik Ying, kau jangan mencegahnya bicara, semua sudah berlalu, orang yang sudah mati tidak akan bisa hidup kembali. Kesedihanku.... sepertinya semakin berkurang.... Biarkan dia bicara. Banyak masalah tersimpan di dalam hati, lebih baik dikeluarkan sekarang."

"Demi menyingkirkan musuh, Si Ming Hong Pao menyingkirkan mereka dengan segala cara, melenyapkan nyawa Jue Shan Shuang Can, Zhong Nan Wu Shan, ketua Shao Lin, dan juga Wu Dang. Sebenarnya di antara mereka dan Si Ming Hong Pao tidak ada dendam. Mengapa Si Ming Hong Pao harus melakukan semua ini?"

Tanya Guan Ning.

"Alasannya tidak sulit untuk ditebak. Orang dunia persilatan jika ada sedikit selisih paham, mereka pasti ingin membalas dendam, mungkin Si Ming Hong Pao adalah orang semacam itu,"

Jelas Ling Ying. Guan Ning tampak mengerutkan dahi, dia merasa tidak puas mendengar penjelasan Ling Ying. Tiba-tiba Ling Ying berseru, mungkin kaerna dia teringat sesuatu dan berkata.

"Mungkin yang terpenting adalah karena dulu Si Ming Hong Pao pernah melakukan hal tersembunyi dan tiba-tiba diketahui oleh seseorang, orang tersebut kemungkinan bisa menyebarluaskan, maka...."

Lanjut Guan Ning.

"Pasti seperti itu."

Guan Ning teringat pada huruf yang tergores di bawah tempat duduk yang ada di kereta mereka, ditambah lagi dengan ucapan Ling Ying tadi semuanya menjadi suatu bukti, itulah kenyataan sebenarnya.

Guan Ning sambil tersenyum melihat Ling Ying.

Dia memuji jalan pikiran Ling Ying.

Tapi Ling Ying tiba-tiba mengeluh.

"Dia telah membunuh orang-orang yang mengetahui rahasianya, apa yang dirahasiakannya, tidak ada seorangpun yang tahu."

San Niang meletakkan cangkir araknya dan berkata.

"Sejak dulu banyak rahasia yang tersimpan dengan rapat. Itu bukan hal yang aneh, apalagi.... hheehhh! masalah itu tidak ada hubungannya dengan kita, tidak perlu dipikirkan lebih jauh lagi!"

Ling Ying dan Guan Ning saling memandang, walaupun merasa kata-kata San Niang sedikit tidak benar tapi mereka tidak bisa membantah perkataannya. San Niang berkata lagi.

"Si Ming Hong Pao bisa menjadi seperti itu karena mereka merasa ketakutan, dan rasa takut itu sudah berada di luar batas, maka mereka mencari orang yang mirip dengan mereka kemudian dengan ketrampilan tangan mereka, mereka mengubah orang-orang itu menjadi mirip dengan mereka. Kemudian mengatur supaya ada orang yang melihat mayat mereka, maka kalangan dunia persilatan akan tahu kalau mereka sudah mati dan tidak akan menyangka kalau merekalah yang menjadi pembunuhnya."

Guan Ning menghembuskan nafas panjang dan berkata.

"Mereka berdua demi membalas dendam yang bersifat pribadi, bahkan tega membunuh murid-murid mereka sendiri, benar-benar sangat kejam dan sadis."

Guan Ning berkata lagi.

"Aku tidak sengaja masuk ke Wisma Si Ming, tapi bukan mereka yang atur!"

Kata Ling Ying.

"Kau bukan diatur oleh mereka, tapi kau tidak sengaja masuk ke sana, itu lebih baik daripada diatur oleh mereka."

Guan Ning merasa aneh dan bertanya.

"Apa maksudmu?"

"Orang-orang yang diatur oleh mereka nasibnya pasti akan sama seperti Si Zhuan, E Mei Bao Nang, dia adalah orang yang telah membunuh Nang Er, dan merekalah yang membokong kita dengan senjata rahasia pada saat kita berada di jembatan."

Sekarang Guan Ning baru mengerti dan berkata.

"Benar, Si Ming Hong Pao sengaja membuar dua bersaudara Tang sedikit terlambat tiba di gunung, supaya mereka bisa melihat mayat kedua suami istri itu, siapa yang menyangka secara tidak sengaja aku memasuki Wisma Si Ming, dua bersaudara Tang melihat keadaan ini, mereka mengira kita telah mendapatkan Ru Yi Qing Qian, karena itulah mereka berniat membunuh kita, sayangnya.... heehh! Nang Er yang tidak tahu apa-apa harus mati dengan mengenaskan,"

Dia menghela nafas panjang. Ling Ying dengan pelan berkata.

"Kakak Nang Er...."

Dia berhenti bicara dan dengan cepat menyambung lagi.

"Walaupun Nang Er mati dengan sangat mengenaskan, tapi dua bersaudara Tang itu mati lebih mengenaskan lagi, akhirnya kaupun bisa membalaskan dendam Nang Er."

Guan Ning menundukkan kepalanya, kemudian dia berkata.

"Kau mengatakan kalau aku tidak sengaja masuk ke Wisma Si Ming, itu lebih bagus daripada aku diatur oleh mereka masuk ke sana, apa alasanmu mengatakan itu?"

Ling Ying tersenyum.

"Karena kau sama sekali tidak mengetahui persoalan yang terjadi di dunia persilatan, juga tidak perlu mengetahui bahwa orang-orang yang mati itu sebenarnya bukan terluka parah tapi karena mereka telah diracun, bahkan kau juga menguburkan mereka satu per satu."

"Apa? Mereka terkena racun? Racun apakah itu? Mengapa kau bisa mengetahuinya?"

Tanya Guan Ning.

"Para pesilat tinggi di dunia persilatan mempunyai ilmu yang tinggi, kalau bukan karena diracun, apakah mungkin mereka bisa mati secara berbarengan? Tadinya akupun merasa aneh, aku mengira Tetua Xi Men yang telah membunuh mereka, kemudian aku membaca huruf-huruf yang tergores di bawah tempat duduk yang ada di kereta itu, saat itu aku sadar kalau Si Ming Hong Pao sangat menguasai ketrampilan tangan untuk mengubah wajah. Bahkan mereka telah menguasai ilmu racun. Aku baru mengerti mayat-mayat yang kau lihat yang mempunyai ilmu silatnya lebih rendah tampak mati di jalanan semua karena racun mereka, racun itu menyebar lebih cepat. Sedangkan bagi mereka yang berilmu silat tinggi seperti Gong Sun You Zu dan Zhong Nan Wu San mati di ujung jalan di dekat pondok yang ada di gunung itu, karena racun yang menyebar di dalam tubuh mereka bergerak lebih lambat. Setelah itu merekapun pingsan, suami istri Si Ming Hong Pao memukul dahi mereka dengan telapak tangan, itu hanya untuk mengelabui pandangan orang-orang,"

Jelas Ling Ying. Ling Ying terus bicara, membuat ekspresi di wajah Guan Ning terus berubah.

"Ru Yi Qing Qian menjadi umpan, lalu mereka memancing orang-orang dunia persilatan datang ke Wisma Si Ming, tapi dengan cara apa mereka bisa mengundang Tetua Xi Men datang ke sana...."

Jawab San Niang dengan pelan.

"Kalau dia mengundang Yi Bai, Yi Bai pasti tidak akan pergi, mungkin dia mencari Yi Bai dan mengajaknya bertarung, untuk alasan lain Yi Bai pasti tidak akan pergi."

Guan Ning terdiam dan hanya menarik nafas, lalu dia berkata.

"Shen San Niang benar-benar orang yang sangat mengerti Tetua Xi Men, di kehidupan ini bila bisa mendapatkan pendamping yang mengerti kita, walau harus mati dia tidak akan mati dengan sia-sia. Tetua Xi Men sudah dimakamkan di Xi Shan, dia akan merasa tenang di sana."

Ling Ying menyambung.

"Si Ming Hong Pao dengan siasat mereka mencoba untuk menipuku dan Tetua Xi Men, begitu kedua bersaudara Tang melihat keadaan ini, dia masih mengira kalau mereka telah dibunuh oleh Tetua Xi Men, dan setelah membunuh mereka tidak kuat maka Tetua Xi Men akhirnya meninggal. Mereka ingin Tetua Xi Men setelah meninggal mendapatkan nama buruk, benar-benar siasat yang busuk!"

Mereka bertiga masih terus minum, sepertinya mereka sedang bersembahyang di depan kuburan Xi Men Yi Bai. Kemudian Shen San Niang berkata.

"Adik Ying, walaupun kau masih muda tapi kau sangat pintar, kalau bukan karena dirimu yang menemukan Si Ming Hong Pao yang sebenarnya, mungkin ceritanya akan lain lagi."

"Aku mulai merasa curiga semenjak kejadian di kuil itu, dengan ilmu silat E Mei Bao Nang mereka bisa dipaksa mundur hingga ke dalam kuil, dan mereka kalah begitu menyedihkan, berarti orang yang mengejar mereka adalah orang yang memiliki ilmu silat lebih tinggi dari kedua E Mei Bao Nang. Tapi orang yang memiliki ilmu lebih tinggi dari mereka bisa dihitung dengan jari, yang paling aneh lagi adalah, kedua laki-laki berbaju hitam, terutama yang bertubuh pendek sangat mengenal jurus pedangku. Waktu itu aku berpikir orang yang mengetahui ilmu pedangku kecuali Si Ming Hong Pao, tidak ada yang berada di Zhong Yuan, tapi Si Ming Hong Pao sudah mati, lalu siapakah orang itu?"

"Kemudian aku merasa kalau orang itu bicara seperti yang dibuat-buat, orang biasa tidak akan berbuat seperti itu, kecuali kalau dia adalah seorang perempuan dan memaksa agar suaranya terdengar seperti laki-laki."

Guan Ning tampak terus mengangguk-angguk.

"Betul, betul!"

Guan Ning memang pintar tapi pengalamannya sangat sedikit, dan pandangannya tidak sejauh Ling Ying, sebenarnya waktu itupun Guan Ning sudah merasa curiga hanya saja dia tidak mempunyai bukti, sekarang dia mendengar Ling Ying mengungkapkan semuanya, dia baru merasa semua kecurigaannya ternyata sangat bertepatan.

Ling Ying tersenyum dan berkata lagi.

"Kemudian aku membaca lagi kata-kata yang terdapat di bawah kereta, dan aku terus memikirkannya, barulah aku menemukan sesuatu yang mencurigakan, pertama, dengan cara apa para pesilat itu bisa terkena racun?"

Guan Ning tampak berpikir, kemudian menjawab.

"Mungkin karena cangkir itu, pada saat aku kembali setelah melihat-lihat keadaan di belakang wisma, cangkir-cangkir itu sudah lenyap."

"Benar, karena racun itu dimasukkan ke dalam teh, terakhir cangkir-cangkir itu lenyap ini semua pasti perbuatan orang yang telah meracuni mereka, mereka mencoba melenyapkan cangkir-cangkir itu, dari sanalah kita bisa mengetahui orang yang menaruh racun itu belum mati,"

Jelas Ling Ying. Guan Ning mengangguk, lalu Ling Ying melanjutkan lagi.

"Dalam keadaan seperti itu kecuali tuan rumah yang bisa melakukannya, siapa lagi yang bisa meletakkan racun di dalam teh? Kecuali dia yang mengetahui racun dan bisa membuat para pesilat tangguh tidak mengetahui kalau mereka telah terkena racun. Dengan kedua keadaan ini ditambah dengan perkataan dua bersaudara Tang, akhirnya aku mengambil suatu kesimpulan, bahwa Si Ming Hong Pao belum mati, tapi mengapa kau bisa melihat mayat mereka? Karena itu aku terus mencari tahu, sebelumnya mereka pasti telah mencari dua orang yang wajahnya mirip dengan mereka, kemudian mendandani orang-orang itu supaya mirip dengan mereka, sedangkan mereka berdua berdandan menjadi kacung dan pelayan yang melayani para pesilat tangguh itu dari pinggir, setelah itu mereka mengambil kesempatan untuk turun tangan. Karena itu mereka mengundang orang yang tidak mengenal mereka ke Wisma Si Ming, karena mereka takut kalau orang yang tahu tentang mereka akan segera mengetahui ada sesuatu yang tidak beres."

Guan Ning menghembuskan nafas, sekali lagi lalu dia menghabiskan araknya, dia terus memuji.

"Sewaktu berada di sisi kereta. kau mengatakan akan membereskan tiga masalah, semua sudah terbukti, waktu itu aku masih sempat menertawaimu, siapa yang tahu-kau memang lebih pintar dariku."

Shen San Niang berkata.

"Masih ada apa lagi yang belum terungkap?"

Ling Ying tersenyum sambil melihat Guan Ning.

"Setelah satu per satu dihubungkan, aku langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sampai saat terakhir pada saat kita memasuki rumah mereka, aku mencurigai beberapa hal, karena itu aku langsung segera tahu bahwa guru dan murid itu ingin menipuku dan Guan Ning, ternyata mereka ingin kita meminum teh beracun itu, tapi aku pura-pura menumpahkannya."

Guan Ning tertawa malu.

"Waktu itu aku menyalahkanmu karena telah berbuat ceroboh, hanya saja aku tidak sempat mengucapkannya."

Ling Ying menundukkan kepalanya dan berkata.

"Kalau kau ingin memarahiku, seharusnya kau langsung mengatakannya."

Dia merasa hatinya diliputi dengan perasaan hangat, dia merasa sudah beberapa lama ini dia merasa lelah, takut, dan kaget, sekarang telah digantikan dengan perasaan hangat.

Tangan Shen San Niang memegang cangkir, dia menatap sepasang muda mudi di depannya yang tampak sedang jatuh cinta, dia teringat kepada Xi Men Yi Bai yang wajahnya pucat dan tampan.

Shen San Niang menarik nafas panjang, dia sadar seumur hidup akan dilewatinya dengan rasa sepi.

Air matanya mulai mengalir lagi, pelan-pelan melewati pipinya dan terjatuh ke dalam cangkir.

Dia menghabiskan arak yang telah bercampur dengan air matanya, lilin yang berada di atas meja hampir habis, cairan lilin terus menetes ke meja, seperti tetesan air matanya.

Beberapa bulan kemudian peristiwa Wisma Si Ming mulai menghilang dari pikiran orang-orang, tapi di dunia persilatan tersebar peristiwa aneh lainnya.

Di kota Bei Jing di Xi Shan, ada sebuah kuburan yang telah digali oleh seseorang, di dalam peti mati tidak ada barang apapun, jenasah orang yang dikubur itu telah menghilang.

Orang-orang persilatan tahu kalau kuburan itu adalah tempat peristirahatan terakhir Xi Men Yi Bai, dalam benak mereka sosok Xi Men Yi Bai adalah sosok yang misterius, mereka menyebarkan kabar.

"Sebenarnya Xi Men Yi Bai belum meninggal, dia hidup kembali."

Tai Hang Zi Xue bersembunyi di tempat yang tidak diketahui orang-orang, posisi Zi Xue masih kosong.

Huang Shan Cui Xiu yang sudah lama tidak muncul di dunia persilatan tiba-tiba terlihat ada di kota Bei Jing, hari kedua dia membawa muridnya yang terlihat terus menangis, mereka kembali ke Huang Shan, dia berkata kepada khalayak umum kalau ilmu silat seorang laki-laki tidak bisa lebih tinggi darinya, dia tidak akan bisa menikahkan muridnya.

Walaupun orang persilatan tahu muridnya yang bernama Ling Ying sangat cantik tapi tidak ada seorangpun yang berani menghadapi pedang hijau Huang Shan Cui Xiu.

Kun Lun, Wu Dang, Shao Lin Luo Fu, Zhong Nan E Mei....

Semua pesilat tangguh tiba-tiba turun gunung bersama-sama.

Di daerah Zhang Jiang dan Huang He, di semua tempat, itu sering terlihat pesilat tangguh berkeliaran di sana, tabib sakti yang tinggal di Miao Feng Shan tiba-tiba saja menghilang, dia pergi ke mana, tidak ada seorangpun yang tahu.

Peristiwa ini hanya terjadi dalam beberapa bulan, tapi setelah berlalu selama 10 tahun baru diketahui jawabannya.

Orang-orang persilatan seperti gelombang laut yang saling mendorong dan tidak pernah berhenti.

Tidak ada orang yang bisa menghalangi terpaan gelombang ini.

Apa yang terjadi di dunia persilatan yang seperti gelombang itu, sejak dahulu sampai sekarang tidak ada seorangpun yang tahu, apa yang akan terjadi di dunia persilatan.

Semua ini menjadi rahasia langit dan bumi.

Tamat Bandung, 22 September 2006 Salam hormat

Baca Juga: Antara Budi Dan Cinta 4

Baca Juga: Anak Rajawali 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert