Ceritasilat Novel Online

Antara Budi Dan Cinta 4

Eps 4 Antara Budi Dan Cinta - Gu Long

Baca online Antara Budi Dan Cinta - Gu Long

Cersil Antara Budi Dan Cinta - Gu Long.

"Aneh, walaupun hidungnya sudah bengkok tapi dia tidak terlihat jelek."

Tuan muda Hua ingin berdiri. Namun kaki si pemabuk sudah diayunkan, dia hanya merasa pinggangnya sangat sakit dan wajahnya sudah babak belur. Si pemabuk dengan pelan mengangguk kemudian berkata.

"Lebih baik begitu, aku akan mengubahmu menjadi lebih bagus lagi."

Tuan muda Hua tidak marah lagi sekarang dia tampak ketakutan, dengan gemetar dia bertanya.

"Mengapa kau memukulku?"

Si pemabuk dengan ringan berkata.

"Karena dia adalah pelacurku, dia hanya milikku seorang, bukan milikmu."

Xiao Tie berdiri di sana, menghadap ke arah kegelapan.

Baju yang dipakainya terlihat berubah warna menjadi ungu.

Warna ungu ini seperti warna darah beku.

Permukaan tanah tampak berantakan, membuat Xiao Tie ingin muntah.

Sekarang dia tidak ingin muntah lagi, dia pun tidak marah dan tidak takut.

Namun dia harus berpikir tapi bila berpikir dia akan sedih.

Tuan muda Hua masih sangat muda, dia sudah melakukan kesalahan apa?

Seorang pemuda yang sehat dan mencintai seorang perempuan yang cantik, siapa yang berkata bahwa dia salah?

Sekarang dia seperti seekor anjing liar, digantung di atas pohon, seperti seekor anjing liar yang sudah dipukul mati.

Apa kesalahannya?

Kesalahannya adalah mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai.

"Dari dulu aku sudah memberitahunya, aku bukan kekasih yang baik. Dari dulu aku tahu pasti akan terjadi hal seperti ini."

Xiao Tie memejamkan mata, tiba-tiba dia teringat pada kejadian beberapa tahun yang lalu.

Waktu itu dia masih anak-anak, dari anak-anak berubah menjadi, seorang perempuan, menghadapi kehidupan dan percintaan dengan sangat indah.

Waktu itu adalah musim semi.

Bunga mekar di manamana.

Dia seperti sekuntum bunga, dihembus oleh angin musim semi, terlihat cerah dan harum.

Bunga yang mekar pasti akan ada kupu-kupu.

yang mendekatinya.

Perempuan seperti bunga?

Tiba-tiba dia merasa ada seorang pemuda sedang memperhatikan dia, dia merasa sepasang mata pemuda yang terang itu mengikuti ke mana pun dia pergi.

Pemuda itu terlihat sangat pendiam, mungkin juga dia pemalu.

Namun dari sepasang matanya mengandung kobaran api.

Dari wajahnya dapat terlihat apa yang ingin disampaikan tanpa harus mengeluarkan kata-kata.

Dia menyukai pemuda itu dan ingin mendekatinya.

Asalkan memberi mereka kesempatan, mereka akan saling mengenal dan akan saling menyayangi.

Namun kesempatan itu tidak pernah datang.

Begitu mereka baru mengenal tiba-tiba pemuda itu menghilang.

Sejak saat itu Xiao Tie tidak pernah melihatnya lagi.

Tadinya Xiao Tie merasa aneh, tidak dapat menebak alasan mengapa tiba-tiba pemuda itu menghilang?

Setelah lama dia baru mengerti sedikit demi sedikit, siapa pun yang mencintai dia, orang ini dengan segera menghilang.

Xiao Tie mengetahui siapa yang melakukan semua ini.

Orang ini sudah mengikrarkan Xiao Tie menjadi miliknya, dia tidak akan mengijinkan orang lain menyentuh Xiao Tie walaupun hanya menyentuh ujung jarinya.

Awalnya Xiao Tie merasa kaget dan marah.

Dia marah hingga ingin membunuh orang itu.

Namun Xiao Tie tidak sanggup.

Dia tidak memiliki tenaga dan keberanian.

Saat dia mengikrarkan dirinya menjadi milik orang itu, Xiao Tie sama sekali tidak dapat melawan.

Semenjak itu dia hanya bisa menahan dirinya dan terus bertahan.

Pada saat bertahan hampir membuatnya gila, dia akan mencari laki-laki lain.

Tapi Xiao Tie hanya membawa kesialan kepada orang lain.

Akhirnya selalu sama, seperti sekarang ini.

Nasib Tuan muda Hua sangat tragis namun nasib Xiao Tie 10 kali lipat lebih menyedihkan.

Tuan muda Hua tidak bersih Xiao Tie pun tidak bersih.

Xiao Tie tidak mempunyai kesalahan.

Kesalahan dia satu-satunya adalah dia tidak mencintai orang itu dan orang itu terus menerus mengancam dia.

Xiao Tie tidak dapat melarikan diri, sembunyi pun tidak bisa.

Xiao Tie dengan pelan berjalan ke depan menghadapi kegelapan.

Dia tidak menolehkan kepala lagi melihat Tuan muda Hua yang digantung, namun air matanya mulai menetes.

Kemungkinan air matanya bukan untuk orang lain melainkan untuk dirinya sendiri.

Xiao Tie tidak menyelusuri jalan menuju rumahnya, dia tidak ingin pulang karena dia tahu orang itu sedang menunggunya, dan merentangkan tangannya menunggu dia masuk pelukannya.

Sepasang tangan yang sudah membunuh orang pasti sudah dicuci hingga bersih namun bau darah di tangan orang itu selamanya tidak akan bisa hilang.

Setiap kali pada saat sepasang tangan ini memeluknya, dia merasa ingin mati saja.

Namun Xiao Tie tidak dapat mati.

Dia memiliki sebab dan alasan mengapa dia tidak dapat mati.

Hanya ada satu alasan, alasan ini tidak dapat diterima oleh perempuan mana pun.

Xiao Tie tidak dapat menerima pelukannya, menerima mulutnya yang bau arak yang menciumi wajahnya.

Ini membuat Xiao Tie makin membencinya.

Orang ini bila sudah mabuk akan mencari Xiao Tie atau bila ada keperluan dengannya, dia baru akan mencarinya.

Dia mencari Xiao Tie hanya demi satu hal, ini yang membuat Xiao Tie ingin muntah.

Xiao Tie tidak mampu menolak dan tidak berani menunjukkan ekspresi enggan karena orang ini selalu memberi peringatan kepada Xiao Tie.

"Bila kau tidak mencintaiku dan berani meninggalkanku, aku akan membunuhmu."

Xiao Tie berjalan sudah sangat lama namun, tempat yang berada di depan dan di belakangnya sama, begitu gelap.

Semakin dia berjalan kemungkinan akan lebih gelap lagi.

Dia tidak tahu, harus berjalan ke arah mana?

Dan akan menuju ke mana?

Di dunia tidak ada tempatnya untuk bersembunyi.

Walaupun dia tahu orang itu ada di rumahnya dia tidak ingin pulang.

Bila teringat sepasang tangan itu, rasanya ingin muntah saja.

Di hadapannya terdengar suara air yang mengalir.

Dengan berjalan perlahan dia menuju ke arah itu.

Di bawah cahaya bulan, air sungai tampak tenang seperti seutas tali putih yang mengikat bumi yang luas dan sunyi.

Dia pun menunduk.

Melihat embun yang bermuculan dari air sungai, begitu lembut begitu cantik.

Tapi dengan segera embun itu menghilang.

Dia ingin besama mengikuti embun itu.

Seolah-olah semua kesusahan dan kerisauannya akan cepat menghilang bersama embunembun itu.

Dia sangat ingin melompat.

Saat itu dia mendengar ada suara seseorang.

"Apakah kau ingin mati?"

Suara, itu sepertinya datang dari tempat yang sangat jauh, sepertinya juga datang dari kegelapan dan menanyakan rahasianya. Dia hanya mengangguk. Suara itu bertanya lagi.

"Apakah kau ingin punya kehidupan lain?"

Dia membalikkan badan dan mencari suara itu dan dia menemukan sepasang mata.

Matanya tampak terang dan dingin, namun dalam sorot mata yang dingin masih ada sedikit api.

Xiao Tie hampir menganggap dia adalah salah satu lakilaki yang pernah hilang.

Hanya saja pemuda itu lebih muda dan mulutnya sedang tersenyum dan bicara kepadanya.

"Kau ingat, kau pernah menanyakan kalimat ini kepadaku?"

Xiao Tie ingat kepadanya walau pertemuannya hanya satu kali. Dan orang itu pun ingat kepadanya. Meng Xing-hun adalah orang itu. Xiao Tie memandangnya dan bertanya.

"Kau belum mati?"

Mulut Meng Xing-hun tersenyum lebih lebar lagi dan berkata.

"Orang yang belum pernah menikmati hidup, apakah dia rela mati?"

Tanpa terasa Xiao Tie ikut tertawa dan berkata.

"Kapan kau kemari?"

"Bila ingin kemari ya datang,"

Jawab Meng Xing-hun.

"Kapankah itu?"

Tanya Xiao Tie.

"Aku merasa aku masih berhutang kepadamu karena itu aku...."

Kata Xiao Tie lagi.

"Apakah kau menganggap aku sudah menolongmu karena itu kau pun harus menolongku?"

Meng Xing-hun tertawa dan berkata.

"Jujur saja, aku tidak menyangka orang seperti dirimu mempunyai keinginan untuk mati."

Xiao Tie menundukkan kepalanya kemudian mengangkat kepala lagi dan berkata.

"Apakah kau selalu bicara dengan cara seperti itu?"

"Aku berkata yang sejujurnya."

"Kata-kata yang jujur kadang-kadang bisa melukai orang."

"Kata-kata bohong tidak bisa melukai orang, namun bisa melukai hati orang,"

Kata Meng Xing-hun. Xiao Tie memandangnya, matanya bertambah terang dan berkata.

"Bila hari itu aku tidak datang, apakah benar kau akan bunuh diri?"

Meng Xing-hun terdiam dengan pelan dia berkata.

"Aku hanya ingin mati, tapi apakah aku bisa mati, itu adalah dua hal yang berbeda."

"Mengapa dua hal yang berbeda?"

"Banyak orang ingin mati, banyak pula orang yang tidak bisa mati."

Xiao Tie tertawa dan berkata.

"Karena itu artinya aku tidak pernah menolongmu, kau pun tidak pernah menolongku."

"Bila orang benar-benar ingin mati, tidak ada yang dapat menolongnya,"

Kata Meng Xing-hun. Dengan pelan Xiao Tie mengangguk dan berkata.

"Oleh karena itu kau tidak berhutang kepadaku, dan aku pun tidak berhutang kepadamu."

Meng Xing-hun berkata lagi.

"Tapi aku berhutang kepadamu."

"Kau berhutang apa kepadaku?"

Mata Meng Xing-hun tampak seperti ada embun kemudian dia memandang Xiao Tie dan berkata.

"Sekarang aku jadi tidak ingin mati."

"Kalau begitu aku berhutang kepadamu,"

Kata Xiao Tie tertawa.

"Kau berhutang apa?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Aku tidak menyangka malam ini aku bisa tertawa."

"Kau suka tertawa?"

"Suka atau tidak suka tertawa. Dan tertawa atau tidak ingin tertawa, itu adalah dua hal yang berbeda."

Tanya Meng Xing-hun.

"Apakah karena kau melihatku baru tertawa?"

"Ya."

"Apakah kau menganggapku lucu?"

"Bukan lucu, tapi menyenangkan,"

Kata Xiao Tie.

"Kalau begitu, mengapa kau tidak mau menemaniku minum?"

Xiao Tie mengerjapkan mata dan berkata.

"Siapa bilang aku tidak mau minum?"

Arak tidak begitu bagus.

Malam begitu larut tidak dapat mencari arak yang bagus.

Arak tidak bagus itu tidak jadi masalah, ada orang yang datang bukan untuk minum arak tapi mencari teman atau hal yang lain Meng Xing-hun mengangkat gelas dan berkata.

"Aku tidak akan bersulang untuk orang lain."

Xiao Tie pun bicara.

"Aku pun tidak suka orang lain bersulang untukku."

"Aku lebih tidak suka orang lain minum terlalu sedikit."

Xiao Tie tertawa dan berkata.

"Orang yang senang minum biasanya memiliki penyakit semacam ini, selalu berharap orang lain mabuk dahulu. Walaupun dia sendiri ingin mabuk tapi dia juga berharap orang lain mabuk terlebih dahulu."

"Kau sangat mengerti hati seorang pemabuk,"

Kata Meng Xing-hun.

"Sebab aku adalah salah satunya."

Dengan tersenyum Meng Xing-hun berkata.

"Sepertinya kau pun tidak suka berbohong."

Dengan tersenyum Xiao Tie menjawab.

"Karena aku tidak perlu berbohong kepadamu."

"Kalau memang perlu berbohong, bagaimana?"

Xiao Tie dengan pelan mengangkat gelas arak dan melihat arak di dalam gelas. Dengan pelan dia berkata.

"Bila perlu aku juga sering berbohong, namun bila telah berbohong diri sendiri pun tidak akan mempercayainya."

"Harus bagaimana termasuk perlu?"

"Keadaan seperti itu sangat banyak,"

Jawab Xiao Tie.

"Seperti apa?"

"Seperti bila kau terus menatapku dan tertangkap basah olehku bahwa kau menyukaiku...."

Dia tertawa dan menghabiskan sisa arak di dalam gelas dan berkata.

"Itu tidak mungkin."

Meng Xing-hun dengan pelan mengangkat gelasnya namun dia tidak memandang arak di dalam gelas. Matanya terus memandang Xiao Tie dengan pelan dia berkata.

"Mengapa tidak mungkin?"

"Karena kita tidak saling mengerti, boleh dibilang kita tidak saling kenal."

"Bukankah sekarang kita sudah saling kenal?"

Dengan cepat dia menenggak habis sisa araknya dan menambah kemudian menenggak lagi. Lalu dia berkata.

"Mengerti adalah persoalan yang lain. Suka atau tidak adalah hal yang lain lagi. Aku percaya orang yang mengerti dirimu tidak banyak tapi orang yang menyukaimu pasti banyak."

Xiao Tie tersenyum dan berkata.

"Kau ini kau sedang memujiku atau sedang menertawakanku?"

Meng Xing-hun tertawa dan berkata.

"Aku hanya bicara apa yang ada di dalam hati ini."

"Apakah kau selalu mengatakan isi hatimu kepada orang lain?"

"Aku tidak pernah mengatakannya."

"Tapi hari ini kau...."

"Hari ini merupakan pengecualian."

"Mengapa?"

Setelah terdiam lama dia menarik nafas dan berkata.

"Aku pun tidak tahu."

Xiao Tie pun terdiam.

Xiao Tie merasa dia pun memiliki perasaan yang sama, merasa bisa mengungkapkan isi hatinya di hadapan orang ini tanpa rasa khawatir.

Mengapa bisa seperti itu?

Xiao Tie sendiri pun tidak tahu.

Dia hanya tertawa dan berkata.

"Penyakitmu adalah terlalu banyak bicara dan minum arak terlalu sedikit."

"Aku sedang menunggumu."

"Menungguku?"

Tanya Xiao Tie.

"Karena kau lebih sedikit minum dibandingkan diriku."

"Apakah kau ingin aku minum sama banyak dengan dirimu?"

Meng Xing-hun menjawab dengan tegas.

"Ya!"

"Apakah kau ingin mencekokku hingga mabuk?"

"Ya, aku mempunyai maksud seperti itu."

"Kau berani? Ingin mencekokiku hingga mabuk itu hal yang tidak mudah?"

Kata Xiao Tie tertawa.

"Karena tidak mudah itulah maka sangat menyenangkan."

Ooo)dw(ooO Meng Xing-hun sangat menyukai rumah kayu Han Tang.

Mungkin dia dan Han Tang ada kemiripan.

Rumah kayu itu tidak nyaman namun sangat sepi.

Setelah Han Tang meninggal, rumah kayu tidak ada yang mendatangi karena arti Han Tang adalah sepasang tangannya, bila dia meninggal semua sudah tidak berharga lagi.

Meng Xing-hun menganggap rumah kayu itu menjadi miliknya.

Waktu mereka minum arak adalah di luar rumah kayu itu.

Sekarang malam sudah larut.

Arak di dalam guci pun hampir habis.

Kata Meng Xing-hun.

"Tiba-tiba aku merasa bila aku bersamamu kata-kataku lebih banyak keluar dan arak pun lebih banyak kuminum."

"Seseorang hanya dengan teman lama baru bisa seperti itu, apakah benar?"

Tanya Xiao Tie.

"Ya!"

Jawab Meng Xing-hun.

"Tapi kita bukan teman lama."

"Memang benar kita bukan teman lama."

Xiao Tie menatap Meng Xing-hun, matanya tampak lebih terang lagi, lebih terang dari bintang di langit.

"Katanya bila kau minum arak makin banyak, matamu bertambah terang. Apakah itu benar?"

Xiao Tie tertawa dan berbicara.

"Kau tahu mengenai diriku cukup banyak."

"Aku tahu kau jago minum, juga tahu bahwa orangorang memanggilmu Xiao Tie."

"Apakah masih ada yang lain?"

Tanya Xiao Tie.

"Tidak ada."

"Hingga saat ini aku belum tahu namamu."

"Margaku Meng...."

Xiao Tie memotong kata-katanya dan berbicara.

"Aku tidak tahu namamu karena di antara kita tidak ada hubungan. Dulu tidak ada, sekarang pun lebih-lebih tidak ada."

Meng Xing-hun merasa hatinya semakin tenggelam dan dia bertanya.

"Mengapa?"

"Karena aku tidak suka,"

Jawab Xiao Tie tegas. Tiba-tiba dia berdiri dan berjalan keluar.

"Apakah kau akan pergi?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Dari tadi aku memang harus pergi."

"Aku akan mengantarmu."

"Tidak perlu, tidak perlu, tidak perlu."

Dia tidak melihat ke arah Meng Xing-hun dan berkata.

"Aku mempunyai kaki, kakiku belum putus."

"Bagaimana dengan nanti?"

"Nanti? Kita tidak punya nanti. Nanti kau pun tidak akan mengenaliku lagi, begitu pun dengan diriku."

Orang ini tiba-tiba dalam waktu yang singkat sudah berubah Berubah menjadi dingin dan kejam.

Tidak ada orang yang dapat menebak mengapa tiba-tiba dia berubah.

Hati perempuan memang tidak ada yang bisa mengerti.

Hati Meng Xing-hun seperti ada rasa sakit seperti ada sebatang jarum menusuk dadanya.

Dia tidak bicara lagi, dengan diam melihat kepergian Xiao Tie.

Dia tidak suka memaksa orang apalagi memaksa seorang perempuan.

Tiba-tiba Xiao Tie menolehkan kepalanya dan berkata.

"Kau membiarkanku pergi begitu saja?"

"Apa yang dapat kulakukan?"

"Kau tidak menahanku? Kalau orang lain pasti menggunakan segala cara untuk menahanku."

"Aku bukan orang lain, aku adalah aku,"

Kata Meng Xing-hun. Xiao Tie memelototinya dan tertawa kemudian berkata.

"Kau orang yang sangat menyenangkan."

Tiba-tiba Xiao Tie kembali lagi, dia ingin minum lagi namun semua gelasnya sudah kosong. Dia mengangkat guci arak dan menuang isi guci itu ke dalam mulutnya.

"Kau sudah mabuk,"

Kata Meng Xing-hun. Xiao Tie tertawa dan berkata.

"Kau tidak suka aku mabuk? Bila perempuan sedang mabuk, laki-laki mempunyai kesempatan mengambil keuntungan."

Terdengar suara 'PING', guci yang dipegang oleh Xiao Tie terjatuh dan hancur. Tiba-tiba Xiao Tie terduduk di bawah, dia menangis sekerasnya dan berkata.

"Aku tidak mau pulang. Tidak mau pulang!"

Xiao Tie tidak pulang, begitu dia sadai-, dia terbaring di sebuah tempat tidur yang kecil dan keras.

Baju yang di tubuhnya masih rapi seperti kemarin malam, sepatu pun masih ada di kakinya.

Pemuda she Bong itu duduk di hadapannya.

Sepertinya dari kemarin dia seudah duduk di sana, bahkan tidak bergerak sama sekali.

Xiao Tie memandang dia dengan pandangan berterima kasih.

Dengan tersenyum Xiao Tie bertanya.

"Kemarin malam apakah aku mabuk?"

Meng Xing-hun balas tersenyum dan berkata.

"Setiap orang pasti ada saatnya mabuk."

Wajah Xiao Tie memerah dan berkata.

"Biasanya aku tidak cepat mabuk."

Kata Meng Xing-hun.

"Aku tahu kemarin malam kau sedang tidak enak liati."

"Kau tahu aku sedang tidak enak hati?"

"Bila orang sedang enak hatinya, dia tidak akan sendirian berada di tepi sungai dan berniat untuk meloncat ke sungai."

Xiao Tie menundukkan kepalanya setelah lama dia baru berkata.

"Setelah aku mabuk, aku sudah mengatakan apa saja?"

"Kau bilang kau tidak ingin pulang,"

Jawab Meng Xinghun.

"Kemudian aku masih mengatakan apa lagi?"

"Kemudian kau tidak pulang."

"Apakah aku tidak membicarakan hal yang lain?"

Meng Xing-hun malah balik bertanya.

"Kau kira kau akan mengatakan apa?"

Xiao Tie tidak menjawabnya, dia malah berdiri dengan tersenyum dia berkata.

"Sekarang aku harus pulang."

"Aku tahu."

"Kau tidak perlu mengantarku,"

Kata Xiao Tie.

"Aku tahu."

Tiba-tiba Xiao Tie mengangkat kepalanya dan berkata.

"Mengapa semenjak tadi kau memelototi diriku?"

"Karena aku takut,"

Jawab Meng Xing-hun.

"Takut? Kau takut apa?"

"Takut kelak tidak dapat bertemu denganmu lagi."

Hati Xiao Tie tiba-tiba bergetar seperti pohon putri malu yang ditiup oleh angin musim semi. Xiao Tie melihat mata Meng Xing-hun penuh dengan kesedihan. Meng Xing-hun dengan pelan berkata.

"Aku berharap kita akan bertemu lagi."

"Jangan!"

Teriak Xiao Tie. Suaranya besar hingga dia sendiri pun kaget karena itu dia berhenti bicara setelah lama dia baru melanjutkan.

"Bila kau mencariku, kau akan menyesal."

"Mengapa bisa menyesal?"

"Aku tidak berguna untukmu, aku pun tidak berguna untuk semua orang. Siapa pun yang bertemu dan mengenal diriku, dia akan sial."

Kata Meng Xing-hun.

"Itu adalah masalahku, sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau mau aku mencarimu?"

"Kau tidak boleh mencariku."

Xiao Tie menundukkan kepalanya, dia merasa hatinya mulai melemah dengan lembut dia berkata.

"Kelak mungkin aku yang akan mencarimu."

Xiao Tie sudah pergi.

Meng Xing-hun tetap duduk dalam diam.

Hatinya terasa sakit tapi juga merasa ada sedikit rasa manis, ada rasa kecewa juga terasa ada kehangatan.

Meng Xing-hun sudah merasa bahwa dalam hati Xiao Tie banyak rahasia yang tidak dapat diungkapkan.

Dia sendiri pun seperti itu.

Keadaan mereka sangat mirip karena itu mereka sama-sama merasa sedih.

Bila seseorang sudah mempunyai perasaan maka akan mengalami kesedihan.

Karena kata-kata itulah dia merasa sedih.

Apakah benar dia akan datang mencarinya?

Meng Xing-hun menghela nafas dan berdiri namun dia memutuskan berbaring kembali.

Dia masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, namun sekarang ini apa pun dia enggan melakukannya.

Bantal masih tersisa harum rambut Xiao Tie, Meng Xing-hun meciumi bau harum itu.

Dia sudah bertekad.

Bila Xiao Tie tidak datang dia akan segera melupakan Xiao Tie.

Walaupun Meng Xing-.hun sudah bertekad, apakah dia mampu untuk melakukannya?

Xiao Tie pasti akan dengan cepat melupakannya.

Bantal sudah menjadi dingin namun harumnya masih tercium.

Meng Xing-hun ingin melempar keluar bantal ini.

Tiba-tiba pintu terbuka.

Meng Xing-hun mendengar pintu yang terbuka, dia mengangkat kepalanya dan dia melihat Xiao Tie datang.

Xiao Tie berdiri di ambang pintu, wajahnya sangat segar, sama sekali tidak ada sisa mabuk kemarin malam.

Terlihat begitu segar dan cantik seperti sekuntum bunga yang baru mekar.

Meng Xing-hun merasa senang hingga ingin meloncatloncat.

Seumur hidupnya belum pernah dia merasa begitu gembira.

Xiao Tie sedang tertawa, tawanya lebih ceria dari bunga dan Xiao Tie sedang memandang Meng Xing-hun kemudian berkata.

"Kau tebak, aku datang membawa apa?"

Sengaja Meng Xing-hun menggelengkan kepalanya.

"Kemarin kau mentraktirku, kali ini aku yang mentraktirmu."

Dia mengangkat tangannya kemudian memperlihatkan makanan yang tampak memenuhi keranjang. Dengan tertawa Xiao Tie bertanya.

"Apakah kau lapar?"

Meng Xing-hun akhirnya meloncat berdiri, dengan tertawa dia berkata.

"Aku sudah lapar dan mampu menelan seekor kuda."

Mereka berlarian masuk ke dalam hutan.

Di dalam hutan, rumput sangat hijau sepertinya angin musim gugur belum berhembus sampai ke tempat itu.

Kemudian mereka berbaring di, padang rumput dan menikmati harumnya rerumputan.

Setelah lewat beberapa lama Xiao Tie menghela nafas dan berkata.

"Sudah lama aku tidak berbaring di padang rumput seperti ini, bagaimana denganmu?"

"Aku sering berbaring di padang rumput, namun hari ini perasaanku tidak sama,"

Jawab Meng Xing-hun. Tanya Xiao Tie merasa aneh.

"Apa yang tidak sama?"

"Rumput hari ini sepertinya sangat hijau."

Xiao Tie tertawa, tawanya begitu lembut dan berkata.

"Kau sangat pandai bicara dan sangat enak didengar."

Meng Xing-hun melanjutkan.

"Kata-kata yang jujur kadang kala tidak enak didengar dan kata-kata bohong kadang kala lebih enak didengar."

Xiao Tie menggigit bibirnya, setelah lama dia baru bicara.

"Apakah kau pernah berpikir?"

"Mengenai hal apa?"

"Apakah pernah terpikir olehmu bahwa aku tidak akan pernah kemari lagi?"

"Benar, namun kau datang begitu cepat, tidak kusangka."

"Tahukah kau mengapa, aku lebih cepat datang kemari?"

"Aku tidak tahu, yang aku tahu pada saat kau pergi aku merasa begitu kesepian."

Xiao Tie tidak bicara lagi, apakah kata-kata Meng Xinghun sudah mewakilinya menceritakan apa yang ada di dalam benaknya?

Kesepian?

Kesepian yang begitu menakutkan?

Namun kegembiraan sangat sulit didapat.

Kadang kala kau dikelilingi oleh banyak orang namun kau malah merasa kesepian.

Dengan pelan Meng Xing-hun berkata.

"Mungkin kita bukan teman tapi entah mengapa bila bersamamu aku tidak merasa kesepian?"

Hanya orang yang sering merasa kesepian baru dapat merasakan bahwa tidak kesepian lagi adalah hal yang sangat membahagiakan.

Mata Xiao Tie makin basah.

Dia pun ingin berkata 'aku pun sama'.

Namun dia tidak bicara.

Dia adalah perempuan, perempuan tidak ingin mengungkapkan kata hatinya.

Tiba-tiba Xiao Tie meloncat dan tertawa.

"Walau bagaimanapun aku sudah datang, kau harus menemaniku main seharian."

"Aku akan menemanimu, walau kau melakukan hal apa pun aku akan menemanimu,"

Kata Meng Xing-hun. Xiao Tie mengerjapkan mata dan berkata.

"Kita menggali harta karun, bagaimana?"

"Menggali harta karun?"

Tanya Meng Xmg-hun.

"Di suatu tempat di dalam hutan ada harta karun."

Meng Xing-hun tertawa dan berkata.

"Di dalam hutan ada harta karun, pasti juga ada dewa dan dewi. Ada yang senang mengubah orang menjadi keledai, kau harus hatihati."

"Apakah kau tidak mempercayai kata-kataku?"

Kata Xiao Tie. Meng Xing-hun tertawa dan berkata.

"Apakah kau juga tidak mempercayai kata-kataku?"

"Bila kau tidak percaya aku akan membawamu untuk mencarinya. Bila sudah menemukannya kau akan percaya."

Meng Xing-hun hanya tertawa. Xiao Tie menghirup nafas.

"Aku sudah mencium baunya."

"Kau menghirup bau apa?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Aku mencium bau harta karun."

"Di mana?"

"Harta karun ada di sini, ada di bawah tempat kau berbaring tadi."

Meng Xing-hun berdiri dan bertanya.

"Apakah di bawah sana ada harta karun?"

"Kau masih tidak percaya?"

Meng Xing-hun tertawa dan Xiao Tie berkata lagi.

"Bagaimana bila aku menggalinya keluar?"

"Bila kau dapat menggalinya, kau dapat mencari seorang dewa dan menyuruhnya menyulapku menjadi keledai."

"Baiklah! Ucapan seorang laki-laki sejati tidak boleh dilanggar."

Segera Xiao Tie mencari sepotong kayu dan mulai menggali.

Meng Xing-hun pun membantunya.

Mereka menggali, tidak lama kayu Meng Xing-hun sudah menyentuh suatu benda yang keras.

Benda itu berbentuk seperti peti.

Xiao Tie tertawa kemudian melihat Meng Xing-hun.

"Sepertinya ada seseorang yang akan berubah menjadi keledai."

Meng Xing-hun terpaku kemudian dia tertawa terbahakbahak. Harta karun sudah diangkat dari dalam tanah. Ternyata benda itu adalah guci arak. Meng Xing-hun tertawa dan berkata.

"Aku sudah masuk perangkap. Seguci arak ini pasti tadi kau yang menguburnya."

"Aku tidak mau tahu, aku hanya ingin bertanya kepadamu apakah ini adalah harta karun?"

"Ya, ini adalah harta karun,"

Kata Meng Xing-hun tertawa. Xiao Tie dengan tenang berkata.

"Harta karun sudah ada, bagaimana dengan keledai?"

"Keledai ada di hadapanmu, apakah kau tidak melihatnya?"

Xiao Tie tertawa sambil membungkukkan tubuhnya dan berkata.

"Keledai ini sepertinya hanya memiliki 2 kaki."

"Keledai berkaki 2 lebih baik dari pada keledai berkaki ."

"Apanya yang lebih baik?"

"Keledai berkaki 2 bisa minum arak."

Mata Xiao Tie tampak lebih bercahaya lagi.

Itu artinya arak di dalam guci.

sudah hampir habis.

Di dalam hembusan angin tidak ada harum rumput hanya ada wangi arak.

Bila seseorang perutnya sudah terisi oleh setengah guci arak, kecuali wanginya arak apakah dia masih dapat menghirup wangi yang lain?

Xiao Tie berbaring di hamparan rumput, dia pun tidak bicara.

Namun dalam benaknya banyak hal yang dia pikirkan.

Biasanya banyak hal yang tidak ingin dan tidak berani dipikirkan, sekarang semua melintas dalam pikirannya.

Siapa bilang arak dapat menghilangkan stress?

Meng Xmg-hun pun tidak bicara, apa pun tidak dia pikirkan, dia hanya terdiam menikmati suasana sepi di antara mereka.

Kata-kata dapat membuat orang gembira namun bila seseorang tidak dapat menikmati suasana diam seperti ini, dia bukan orang yang benar-benar bisa bicara.

Bahasa yang membuat orang gembira hanya orang yang mengerti arti 'diam' itu sendiri.

Meng Xing-hun mengira Xiao Tie sedang menikmati suasana diam ini.

Hubungan antara orang harus bisa saling mengerti, lebihlebih harus mengerti hati seorang perempuan bila tidak kau akan menyesal.

Malam kembali sudah larut.

Xiao Tie tiba-tiba duduk dan berkata.

"Aku mau pulang."

Dia mengatakan kalimat ini terlalu cepat seperti tidak ingin didengar orang lain. Kemungkinan kalimat ini tidak ingin diucapkan olehnya. Meng Xing-hun hanya mendengar kata 'aku', dia bertanya.

"Kau mau apa?"

Xiao Tie melotot ke arahnya.

"Kau sengaja dan purapura tidak mendengar kata-kataku."

Meng Xing-hun tertawa dan berkata.

"Mengapa aku harus pura-pura tidak mendengar?"

Xiao Tie tiba-tiba berteriak dan berkata.

"Yang tadi kukatakan adalah aku mau pulang."

Karena Xiao Tie terlalu keras bicara hingga dirinya pun ikut terkejut, setelah lama Xiao Tie baru berkata.

"Apakah kali ini kau mendengar?"

Meng Xing-hun terpaku dan dia menjawab.

"Ya, aku sudah mendengarnya."

Xiao Tie bertanya lagi.

"Hal apa yang masih ingin kau bicarakan?"

"Tidak ada."

"Mengapa kau tidak bertanya mengapa aku tiba-tiba ingin pulang?"

"Kau pasti mempunyai alasan yang tepat bukan?"

"Memang ada, tapi mengapa kau tidak memikirkan cara menahanku untuk tidak pulang?"

Tanya Xiao Tie.

"Apa aku dapat menahanmu?"

"Memang tidak dapat, kau kira kau itu siapa?"

"Aku tidak akan memaksamu pulang."

Xiao Tie menjadi kebingungan, akhirnya dia berkata.

"Kau tidak mempunyai maksud untuk menahanku karena itu aku harus pergi dari sini."

"Aku tidak bermaksud seperti itu."

"Apakah kau itu batu?! Dan bukan orang?! Mengapa selalu bicara seperti itu?"

Meng Xing-hun tidak bicara lagi. Tiba-tiba dia merasa Xiao Tie mulai berubah menjadi sangat galak dan marah-marah tanpa alasan.

"Benar bukan? Kau tidak bisa bicara apa-apa lagi,"

Kata Xiao Tie. Meng Xing-hun tertawa kecut, dia tidak dapat bicara lagi.

"Baiklah, bicara pun sudah tidak mau. Aku pergi pun tidak apa-apa bagimu,"

Kata Xiao Tie. Dia bangkit dari duduknya kemudian berlari, dan berteriak.

"Selamanya aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Bila kau berani mencariku, aku akan membunuhmu."

Meng Xing-hun tercengang, apakah dia harus merasa sedih atau dia harus marah? Dia merasa hatinya sangat sakit, dia pun hampir berteriak.

"Kelak aku pun tidak mau bertemu denganmu lagi, jangan cari ke tempat ini!"

Kemungkinan ini adalah cinta.

Bila kau mau menikmati manisnya cinta, kau harus menahan pahitnya dan permasalahan yang timbul karena cinta.

Xiao Tie sudah pergi, sosoknya sudah tidak terlihat.

Hutan terlihat sangat gelap.

Kegelapan seperti ini membuat orang mudah putus asa.

Meng Xing-hun berdiri tapi dia kembali duduk, dia ingin mencari arak namun malas bergerak.

Dia hanya ingin menyendiri dan duduk dalam kegelapan.

Namun duduk pun dia merasa sedih, berdiri pun masih merasa sedih.

Pada waktu sadar sedih, mabuk pun sedih.

Walau melakukan hal apa pun tetap merasa sedih.

Kadang kala dia merasa sangat bosan, kadang-kadang juga dia merasa sangat hampa dan juga merasa khawatir namun dia belum pernah merasa sangat sedih.

Apakah dulu dia tidak pernah merasa gembira?

Tiba-tiba dari kegelapan terdengar suara orang menangis.

Walaupun Meng Xing-hun pura-pura tidak mendengar tapi suara itu tetap terdengar.

Dia berdiri dan mendekati, suara itu.

Xiao Tie ada di balik pohon sedang menangis seperti seorang anak kecil yang menangis tersedu-sedu.

Mengapa Xiao Tie menangis?

Hal apa yang membuatnya sangat sedih?

Dengan perlahan Meng Xing-hun mendekatinya.

Rambut Xiao Tie tergerai sangat lembut dan mengkilat.

Hati Meng Xing-hun sudah tidak marah dan bingung lagi.

Sekarang dia dipenuhi oleh rasa sayang dan kasihan kepada Xiao Tie.

Dia berharap dia bisa mengucapkan beberapa kata yang dapat menghibur Xiao Tie namun entah harus memulai dari mana.

Dengan lembut dia membelai rambut Xiao Tie.

Tiba-tiba Xiao Tie menarik tangannya.

Matanya yang bersimbah air mata di bawah cahaya bulan seperti bunga Li yang ditetesi oleh embun pagi.

Xiao Tie menangis sambil berteriak.

"Aku tidak mau pulang! Kau jangan mengusirku. Aku benar-benar tidak ingin pulang!"

Meng Xing-hun berlutut, dengan erat memeluknya. Air matanya pun ikut mengalir dan berkata.

"Tidak ada yang mengusirmu juga tidak akan ada orang yang dapat mengusirmu untuk pulang."

Benar memang tidak ada orang yang ingin mengusirnya pulang.

Dia sendiri yang mengusir dirinya untuk pulang.

Karena dalam hatinya ada sebuah pecut.

Xiao Tie tidak pulang.

Pada saat dia bangun dia terbaring di tempat tidur yang keras dan dingin.

Meng Xing-hun sedang duduk di bawah, kepalanya dekat dengan kaki Xiao Tie.

Dia tidur sangat nyenyak seperti seorang anak yang tertidur di sisi ibunya.

Di mata kekasih walaupun kau melakukan hal apa pun terlihat seperti seorang anak kecil, tertawa seperti anak kecil, menangis pun seperti anak kecil.

Orang selalu merasa bahwa orang yang dicintai olehnya selalu terlihat tidak dewasa.

Dengan lembut Xiao Tie membelai rambutnya.

Xiao Tie melihatnya, dalam hatinya dipenuhi oleh rasa cinta.

Pada saat Xiao Tie membelainya seperti seorang ibu sedang membelai anaknya yang tercinta.

Saat itu pun Xiao Tie sudah melupakan semua rasa bingung dan kesedihannya.

Nafas Meng Xing-hun tiba-tiba menjadi ringan.

Segera Xiao Tie menarik tangannya.

Wajah yang pucat menjadi merah.

Dengan suara gemetar dia berkata.

"Kau sudah bangun."

Meng Xing-hun tidak bergerak juga tidak bersuara, setelah lama dia baru mengangkat kepalanya dan memandang Xiao Tie. Kepala Xiao Tie ditundukkan dan berkata.

"Apakah kemarin malam aku kembali mabuk?"

"Benar."

Wajah Xiao Tie menjadi merah dan berkata.

"Setelah aku mabuk pasti berubah menjadi galak dan pasti kata-kata yang keluar dari mulutku membuatmu marah."

"Aku tidak marah karena aku sudah tahu."

"Tahu apa?"

Dengan lembut Meng Xing-hun berkata.

"Tiap orang di dalam hatinya pasti ada kebingungan dan kesedihan. Dia harus mencari tempat untuk menumpahkannya."

Xiao Tie terdiam lama kemudian bertanya.

"Apakah kau pun memiliki kesedihan?"

"Tadinya tidak ada,"

Jawab Meng Xing-hun.

"Apakah setelah kau mengenalku baru merasa arti sedih?"

Tanya Xiao Tie.

"Ya."

Xiao Tie menggigit bibirnya dan berkata.

"Kau pasti menyesal telah mengenalku."

"Aku tidak menyesal, aku malah gembira."

Xiao Tie bertanya karena aneh.

"Senang? Aku membuatmu bisa sedih tapi kau bilang senang?"

Kata Meng Xing-hun.

"Bila tidak ada sedih pasti tidak ada kegembiraan yang sesungguhnya. Hanya bersamamu aku baru merasakan gembira."

Kata-kata ini bila didengar orang lain pasti akan terdengar gombal namun di antara kekasih bila mendengar hal ini terasa lembut seperti angin di musim semi dan indah seperti lagu.

Memang kata-kata di antara kekasih bukan untuk didengar oleh orang lain.

Setelah lama Xiao Tie baru berkata.

"Aku pun sama."

Begitu dia mendengar kalimat ini, dia tidak berani menatap Meng Xing-hun dan berkata.

"Sekarang aku benar-benar akan pulang."

"Aku tahu,"

Kata Meng Xing-hun.

"Kau tidak perlu mengantarku pulang."

"Aku tidak akan mengantarmu."

"Kalau begitu aku pergi sekarang."

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi,"

Kata Meng Xing-hun. Xiao Tie membalikkan tubuhnya dengan mata melotot dia bertanya.

"Kau tidak mengijinkanku pergi?"

Meng Xing-hun mengulang sekari lagi, bahasanya lebih tegas.

"Aku tidak mengijinkanmu pergi!"

Dengan cepat dia berkata lagi.

"Karena aku tahu sebenarnya kau tidak ingin pulang."

Mata Xiao Tie dari ekspresi terkejut menjadi sedih, air matanya kembali mengalir dan berkata.

"Benar, kadangkadang aku ingin lari, lari ke tempat yang sangat jauh namun aku tetap harus pulang."

"Mengapa?"

Tiba-tiba Xiao Tie berubah menjadi marah.

"Mengapa? Apakah seumur hidup aku harus tidur di sini?"

"Mengapa tidak?"

"Tidak! Tidak bisa!"

Teriak Xiao Tie.

Dia membalikkan tubuh tapi Meng Xing-hun.

menarik tangannya.

Tiba-tiba sebelah tangan Xiao Tie menampar wajah Meng Xing-hun.

Setelah ditampar Meng Xing-hun malah menjadi bengong.

Xiao Tie pun ikut bengong.

Setelah lama dengan dingin dia berkata.

"Lepaskan tanganku! Lebih baik lepaskan!"

"Tidak!"

Tiba-tiba Meng Xing-hun menarik dan memeluknya.

Tubuh Xiao Tie dingin dan kaku, seperti sebatang kayu, selempengan besi, atau sepotong es.

Meng Xing-hun merasa hatinya menjadi dingin kemudian dia melepaskan Xiao Tie.

Meng Xing-hun merasa lambungnya dengan cepat berkerut, karena menahan sakit tubuhnya menjadi gemetar.

Xiao Tie berdiri tidak bergerak dan dengan dingin memandangnya.

Meng Xing-hun masih gemetaran, berdiri pun tidak sanggup.

Sambil terus gemetar dia mundur hingga ke dekat dinding kemudian membalikkan tubuhnya, dan air mata pun menetes, dan dia berkata.

"Baiklah! Pergi kau! Pergi!"

Saat dia mengucapkan kata-kata itu dia sudah roboh.

Xiao Tie tidak pergi.

Xiao Tie mendekati Meng Xinghun dan memeluknya dengan erat.

Es sudah mencair, besi sudah terbakar, tubuh Xiao Tie berubah menjadi lembut dan panas seperti api.

Air matanya sudah memenuhi seluruh wajahnya.

Tubuh Xiao Tie menempel di tubuh Meng Xing-hun.

Gemetar tubuh Meng Xmg-hun semakin mereda, dia menggigit bibirnya dan berkata.

"Kau tidak perlu berbuat seperti ini."

"Memang tidak perlu, namun aku rela. Asal kau tidak menyesal aku rela memberikan semuanya untukmu."

Xiao Tie memeluk Meng Xing-hun lebih erat lagi. Dengan meneteskan air mata dia berkata.

"Apakah kau menyesal? Tapi aku tidak menyesal walaupun kelak kau akan menjadi apa, sekarang aku adalah milikmu."

Setiap kata yang dikeluarkan oleh Xiao Tie adalah katakata yang keluar dari lubuk hatinya.

Dia sudah bertekad akan menyerahkan dirinya kepada orang asing ini, ini pertama kalinya dia rela memberikan dirinya kepada orang lain.

Karena dia tahu bahwa dia sudah sepenuh hati mencintai laki-laki ini.

Walaupun dia tidak begitu mengerti Meng Xing-hun, dia sudah jatuh cinta kepadanya.

Perasaan ini datang terlalu cepat, terlalu dahsyat, membuat dirinya tidak percaya.

Namun perasaan ini begitu nyata memaksa dia untuk percaya.

Cinta adalah perasaan yang sangat aneh tidak ada orang yang dapat mengerti, tidak ada orang yang dapat menguasainya.

Dia tidak seperti persahabatan Persahabatan itu dikumpulkan secara lambat laun akan menjadi tebal.

Tapi cinta itu datang dengan tiba-tiba.

Tidak ada yang memaksa, semuanya terjadi secara alamiah dan mereka duduk berdua.

Xiao Tie berbaring di sisi Meng Xing-hun.

Nafas Meng Xing-hun sangat ringan seperti angin musim semi.

Bumi dan langit begitu damai serta tenang.

Setelah lama Xiao Tie mulai, menangis kembali.

Dia membalikkan tubuh memunggungi Meng Xing-hun dan berkata.

"Sekarang kau harus tahu, aku pernah dimiliki oleh laki-laki lain."

Wajah Meng Xing-hun tampak lembut dan damai, dengan lembut dia berkata.

"Aku sudah tahu."

"Apakah kau tidak menyesal? Atau kau tidak peduli sedikit pun?"

Suara Meng Xing-hun terdengar lebih lembut lagi, dia berkata.

"Hal yang sudah terjadi, mengapa aku harus peduli?"

Tiba-tiba Xiao Tie membalikkan tubuhnya lagi dengan erat dia memeluk Meng Xing-hun. Air mata Xiao Tie membasahi wajah Meng Xing-hun. Sambil meneteskan air mata dia berkata.

"Walaupun kau percaya atau tidak, aku tetap akan memberita.hu, dulu aku pernah dimiliki oleh laki-laki lain, ini terjadi pertama kali dalam hidupku."

"Aku mengerti."

Ada kekuatan yang tidak bisa ditahan oleh orang, karena itu apakah seseorang yang sudah, diperkosa di matanya sudah tidak begitu penting yang penting adalah hatinya.

Asalkan perempuan itu benar-benar mencintainya dan asalkan hati perempuan itu bersih dan suci.

Walaupun dia perempuan atau pelacur sama sekali tidak menganggu kehormatan dan rasa cintanya.

Dengan erat Xiao Tie memeluknya, air matanya terus bercucuran.

Ini adalah air mata kebahagiaan dan air mata terima kasih.

Tidak ada orang yang dapat menggambarkan kegembiraan Xiao Tie.

"Siapa orang itu?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Bila kau tidak peduli, mengapa masih bertanya?"

"Karena dia terus mengancammu."

"Apakah kau ingin membunuhnya?"

Kalimat ini sebenarnya tidak perlu dijawab karena semua pun tahu bagaimana kemarahan yang timbul dari mata Meng Xing-hun, karena dia adalah seorang laki-laki.

Perasaan seperti ini tidak dapat ditahan begitu saja.

Xiao Tie menggigit bibirnya dengan pelan dia berkata.

"Aku pun dari dulu ingin membunuhnya!"

"Kalau begitu kau harus memberitahu kepadaku siapa orang itu."

"Aku tidak dapat memberitahumu."

"Mengapa?"

"Karena aku tidak ingin demi diriku kau membunuh orang. Lebih-lebih tidak mau kau menempuh bahaya demi diriku."

"Bahaya apa?"

Tanya Meng Xing-hun tiba-tiba.

"Dia orang yang sangat menakutkan, kau.... kau...."

Meng Xing-hun tertawa dingin dan berkata.

"Kau menganggapnya lebih kuat dari diriku, dan kau mengira aku bukan lawannya?"

Xiao Tie memegang tangannya dengan erat.

"Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya...."

"Hanya apa?"

Xiao Tie menggelengkan kepalanya. Kata Meng Xing-hun.

"Mengapa kau tidak melanjutkan kata-katamu?"

Xiao Tie terus menangis sambil berkata.

"Kau harus mengerti maksudku, mengapa aku membicarakan masalah ini."

Setelah terdiam lama Meng Xing-hun menjawab.

"Ya. Aku sudah mengerti."

Dia benar-benar mengerti, namun dia tidak bisa tidak cemburu.

Hanya ada cinta baru timbul rasa cemburu.

Mungkin ada yang berkata bahwa cinta adalah pengabdian bukan untuk dimiliki, bila mengabdi tidak harus ada rasa cemburu.

Orang yang berkata seperti itu pasti adalah orang yang terlalu muluk kata-katanya.

Orang seperti itu tidak akan pernah bisa benar-benar mencintai seseorang.

Meng Xing-hun bukan orang seperti itu.

Dia mengerti namun dia merasa cemburu, marah dan sedih.

Xiao Tie terus menatap mata Meng Xing-hun dan.

dengan pelan melepaskan pegangannya kemudian dia berkata.

"Aku hanya ingin kau tahu, di dalam hatiku hanya ada dirimu. Orang itu tidak usah digubris."

Meng Xing-hun tiba-tiba berdiri dan berteriak.

"Kau tidak perlu bicara lagi. Aku sudah tahu semua!"

Dia berjalan ke meja menuang segelas arak dan langsung meneguk habis.

Meng Xmg-hun tidak mengenakan alas kaki, dia berdiri di tempat basah.

Dia tidak membalikkan kepalanya memandang Xiao Tie.

Xiao Tie memandangnya, dia merasa hatinya hancur.

"Apakah aku sudah melakukan kesalahan lagi?"

"Bila melakukan kesalahan, dia tidak akan begitu sedih."

"Aku membuat orang lain sedih dan juga membuat sendiri sedih."

"Aku sudah tahu hal ini tidak mungkin, mengapa masih terus memaksa?"

Diam-diam Xiao Tie berdiri dan pelan-pelan mengenakan bajunya. Tiba-tiba Meng Xing-hun berteriak.

"Apa yang ingin kau lakukan?!"

Xiao Tie menundukkan kepala dan melihat jari kakinya dan dia berkata.

"Aku sudah. 2, 3 hari tidak pulang."

"Apakah kau ingin pulang?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Benar."

Meng Xing-hun memelototi dia dan berkata.

"Kau selalu ingin pulang dan tidak mengijinkanku mengantarmu, apakah orang itu sedang menunggumu?"

Hati Xiao Tie menciut.

"Kau bilang di dalam hatimu hanya ada aku namun mengapa kau tidak mau menemaniku di sini? Bila benar di hatimu hanya ada aku, kau harus melupakan orang itu."

Meng Xing-hun tertawa dingin dan berkata.

"Kecuali kau berbohong kepadaku."

Xiao Tie mengangkat kepalanya dan berteriak.

"Tidak salah, aku memang berbohong kepadamu. Aku masih merindukan dia."

Meng Xing-hun berlari menghampiri Xiao Tie dan memegang dia dengan sekuat tenaga, seperti ingin menghancurkan tulang tangannya.

Xiao Tie merasa sakit hingga air matanya menetes, tapi dia tetap bertahan.

Dia mengatupkan giginya setelah itu baru dia berkata.

"Aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu, mengapa kau masih menarikku?"

Tubuh Meng Xing-hun mulai gemetar, tiba-tiba dia melayangkan tangannya dan menampar wajah Xiao Tie.

Hanya terdengar suara 'PLAK.

Kemudian rumah itu berubah menjadi sunyi seperti di kuburan.

Meng Xing-hun seperti sudah dikubur di dalam tanah.

Dia melepaskan tangan dan selangkah demi selangkah mundur ke belakang.

Dengan gemaetar Xiao Tie berkata.

"Kau sudah memukulku. Kau bisa memukul seorang perempuan."

Xiao Tie membalikkan tubuh dan berlari keluar.

Dia bertekad tidak akan kembali lagi ke sini.

Baru saja dia berlari keluar dia mendengar suara tangis Meng Xing-hun.

Dia menangis seperti anak kecil.

Dia mengira dia hanya bisa meneteskan darah tidak akan menangis.

Walaupun harus menangis, harus bersembunyi terlebih dahulu.

Langkah Xiao Tie langsung berhenti, seperti ditarik oleh seutas tali.

"Sewaktu aku menangis, hanya dia yang menenangkanku."

Dan dia pun kembali ke rumah itu, mendekati Meng Xing-hun. Dengan ringan membelai rambutnya. Meng Xing-hun menahan tangisnya dan berkata.

"Seharusnya aku jangan memukulmu, aku pun tidak boleh dengan sengaja menyakitimu, Apakah kau dengan sengaja menyakitiku?"

Xiao Tie menghela nafas dan dengan lembut berkata.

"Apakah kau percaya bahwa aku sedang membohongimu? Mengapa aku harus berbohong kepadamu?"

Meng Xing-hun berdiri dan memeluk Xiao Tie dengan erat, dia kembali tertawa dan berkata.

"Benar, mengapa kau harus membohongiku? Buat apa aku harus berbohong kepadamu? Aku benar-benar seperti binatang telah memukul seorang perempuan."

"Benar, kau bukan orang,"

Jawab Xiao Tie.

Ini adalah cinta.

Ada sedih, ada manis, ada suaru daya tarik yang tidak dapat dijelaskan dan daya tarik ini sangat aneh.

Ada orang yang berjauhan dan mereka sama sekali tidak ada hubungan apa-apa namun pada saat bertemu tiba-tiba sudah menempel, ditarik pun tidak bisa.

Meng Xing-hun dan Xiao Tie seperti itu.

Ooo)dw(ooO BAB Dini hari.

Meng Xing-hun berdiri di sisi jalan kecil itu, melihat sebuah rumah tembok yang kecil dengan dindingnya berwarna merah hati dan atapnya berwarna abu.

Di luar adalah sebuah taman bunga yang kecil dan ditanami oleh beberapa jenis bunga yang sedang mekar.

Entah itu bunga Mawar atau bunga Chrysan.

Tidak terdengar ada suara juga tidak terdengar ada langkah orang.

Dari luar tampak sebuah jendela yang lampunya masih menyala.

Di dalam rumah itu pasti ada yang menunggu dari kemarin malam dan dia menunggu hingga larut.

Xiao Tie terus memandang jendela itu, dengan pelan dia berkata.

"Itu adalah rumahku yang sekarang."

"Rumahmu yang sekarang? Apakah kau mempunyai rumah yang lain?"

"Ya."

"Rumahmu banyak juga,"

Tanya Meng Xing-hun. Xiao Tie hanya tertawa dan menjawab.

"Sebenarnya hanya ada. satu, tempat yang sekarang tidak bisa disebut rumah."

"Kenapa dengan rumah yang dulu?"

Xiao Tie menjawab dengan sedih.

"Bukan aku tidak mau tinggal di rumah itu, tapi rumah itu tidak mau menerimaku lagi."

Sepertinya Xiao Tie tidak ingin membicarakan masa lalunya, dengan segera mengganti topik pembicaraan. Xiao Tie berkata lagi.

"Karena di sini bukan rumahku, oleh sebab itu aku. selalu tidak mau diantar olehmu."

"Mengapa sekarang kau mau kuantar?"

"Sekarang aku sudah tidak peduli. Aku ingin memperkenalkan...."

"Memperkenalkan siapa?"

Mata Xiao Tie berubah menjadi lembut dan dia berkata.

"Memperkenalkan seseorang, aku berharap kau bisa menyayanginya sama seperti aku menyayangi dia."

Wajah Meng Xing-hun berubah.

"Aku pikir sebaiknya aku tidak usah bertemu dengannya dulu."

Xiao Tie memandang Meng Xing-hun dan berkata.

"Apakah kau kira aku akan memperkenalkanmu pada orang itu?"

Meng Xing-hun balik bertanya.

"Bukankah itu maksudmu?"

"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku yakin kau tidak ingin bertemu dengannya."

"Apakah orang itu ada di sini?"

"Dia tidak ada di sini."

"Kalau begitu siapa yang akan kau perkenalkan kepadaku?"

Xiao Tie tidak langsung menjawabnya tapi menarik tangan Meng Xing-hun masuk ke dalam rumah itu.

Jalan sangat sepi.

Dengan perlahan mereka berjalan di jalan yang penuh dengan batu kerikil dan orang yang berada di dalam rumah mendengar suara langkah mereka.

Ada yang berteriak.

"Apakah ibu sudah pulang? Bao-bao ingin melihat."

Pintu terbuka dan ada seorang gadis kecil dengan mata mengantuk menuntun seorang anak kecil keluar.

Anak kecil itu kelihatan masih mengantuk, pada saat melihat Xiao Tie dia segera tertawa dan berlari menghampirinya.

Kemudian anak itu berteriak.

"Ibu sudah pulang, Baobao kangen Ibu, Ayo gendong Bao-bao!"

Xiao Tie pun berlari menghampiri anak itu dan berkata.

"Sini, ibu gendong dan cium."

Xiao Tie dengan erat menggendong anak itu, seperti tidak ingin melepaskannya lagi.

Anak kecil itu terus memandangi Meng Xing-hun.

Meng Xing-hun membalikkan tubuhnya, hatinya sangat kacau, entah apa yang dirasakannya, entah itu manis, pahit, atau asam.

Setelah lama Meng Xing-hun baru tahu bahwa Xiao Tie sedang menggendong anak kecil itu dan sudah berdiri di hadapannya dengan mata yang lembut memandangnya kemudian berkata.

"Ayo Bao-bao, panggil paman."

Anak itu tertawa seperti malaikat, kemudian dia segera memanggil.

"Paman......."

Dan dia bertanya lagi.

"Apakah paman baik?"

Dengan lembut Xiao Tie berkata.

"Paman ini sangat baik seperti Bao-bao."

"Bila paman baik, Bao-bao ingin cium paman."

Dan anak iu berlari memeluk Meng Xing-hun.

Tiba-tiba Meng Xing-hun merasa dadanya panas, dia hampir meneteskan ah mata.

Dia menggendong dan memeluknya dengan erat.

Ini adalah pertama kalinya dia menggendong anak, dia berharap anak yang berada dalam gendongannya adalah anak kandungnya sendiri.

Hatinya mulai sedih lagi.

Xiao Tie memandang mereka, sorot matanya menjadi lembut dan tidak terasa ah matanya menetes.

Dengan lembut dia berkata.

"Di luar sangat dingin, lebih baik Bao-bao ikut kakak masuk."

Wajah tawa anak itu segera menghilang dan hampir menangis, kemudian berkata.

"Apakah ibu mau pergi lagi?"

"Ibu tidak akan pergi. Ibu hanya ingin ngobrol dengan paman setelah selesai akan menemani Bao-bao kembali."

"Apakah ibu tidak membohongi Bao-bao?"

"Bao-bao anak baik, ibu tidak akan membohongi Baobao."

Anak itu segera tertawa lagi dan turun dari gendongan Meng Xing-hun, dengan tawa yang lucu anak itu berkata.

"Bao-bao anak baik, Bao-bao masuk dulu, ibu akan senang."

Segera dia berlari masuk, di ambang pintu dia mengeluarkan kepalanya kemudian melambaikan tangan ke arah Meng Xing-hun.

Meng Xing-hun pun membalas lambaian tangannya, dia ingin tertawa namun wajahnya kaku.

Pada saat anak itu sudah masuk, Xiao Tie membalikkan badan melihat Meng Xing-hun.

Meng Xing-hun tertawa dengan terpaksa dan berkata.

"Anak itu sangat manis dan lucu."

Xiao Tie mengangguk, dengan sedih dia berkata.

"Dia sangat manis, sangat lucu, tapi juga sangat kasihan."

Meng Xing-hun pun menarik nafas dan berkata.

"Benar, sungguh sangat kasihan."

Xiao Tie menundukkan kepalanya dan berkata.

"Sekarang kau sudah tahu mengapa aku harus pulang."

Meng Xing-hun mengangguk. Dengan suara sedih Xiao Tie berkata.

"Dia sudah tidak punya ayah, sekarang dia tidak boleh tidak mempunyai ibu."

Meng Xing-hun menjawab.

"Aku mengerti."

Meng Xing-hun pasti mengerti, di dunia ini tidak ada orang yang lebih mengerti dari dia bahwa anak yang tidak punya ayah dan ibu sangat menyedihkan.

Dia sendiri pun sering bangun tengah malam karena bermimpi buruk.

Pada saat dia terbangun wajahnya sudah penuh dengan air mata.

Dengan sedih Xiao Tie berkata.

"Walaupun orang tua sudah melakukan kesalahan namun anak-anak tidak bersalah. Aku tidak tega melihat dia bersedih seumur hidupnya."

Meng Xing-hun lama terpaku kemudian dia berkata.

"Aku harus pergi, kau tidak perlu mengantarku."

"Kau mau pergi begitu saja?"

"Kau tidak tega, begitu pun denganku."

"Bila aku tinggal di sini, pasti akan merasa sedih tapi bila pergi akan lebih sedih lagi."

Xiao Tie menariknya dan berkata.

"Kau jangan pergi. Masih banyak yang harus dibicarakan."

"Katakanlah, aku siap mendengar,"

Kata Meng Xinghun.

"Sekarang kau sudah tahu anak ini adalah anak orang itu."

"Ya."

"Pada saat tahu aku hamil, aku sangat benci, sangat membenci orang itu juga membenci diri sendiri dan juga membenci anak itu. Aku bertekad bila anak ini sudah lahir akan ditenggelamkan sampai mati."

Meng Xing-hun mendengar.

"Begitu anak ini lahir, pertama kali melihatnya, melihat wajah kecil yang merah, kebencian di dalam hati berubah menjadi cinta."

Suara Xiao Tie masih seperti mimpi, pelan dia melanjutkan lagi.

"Aku melihat dia tumbuh menjadi besar, melihat dia semakin lucu. Saat menyusuinya pun aku merasa daya hisapnya makin liari makin kuat. Aku merasa waktu itulah aku baru dapat melupakan kesedihan dan kegalauan."

Meng Xing-hun terbatuk, bila dia tidak batuk akan meneteskan air mata lagi.

"Waktu itu aku baru tahu seumur hidup tidak akan bisa meninggal kan dia. Dia butuh diriku, aku lebih membutuhkan dia. Demi dia semua kesedihan bisa ditahan. Aku juga memutuskan untuk bertahan hidup."

Dia menghela nafas dan melanjutkan.

"Bila aku tidak rela meninggalkan anak ini, pasti tidak bisa meninggalkan orang itu. Orang itu tahu karena itu dia belum pernah berpikir aku bisa berubah dan melawannya."

"Kau sudah berubah,"

Kata Meng Xing-hun.

"Benar, aku sudah berubah, bila tidak ada dirimu mungkin selamanya aku tidak akan berani. Tapi kau memberiku keberanian, sekarang aku bertekad akan meninggalkan dia."

Mata Meng Xing-hun tiba-tiba menjadi terang.

"Apakah benar kau bertekad seperti itu?"

Xiao Tie berhadapan dengannya dan bertanya.

"Sekarang aku hanya ingin bertanya kepadamu, apakah kau mau menerima diriku dan anakku?"

Meng Xing-hun memeluknya erat dan dengan lembut berkata.

"Kau pernah berkata bahwa anak itu tidak berdosa. Anakmu adalah anakku."

"Apakah benar seperti itu?"

"Ya, aku sungguh-sungguh."

"Kelak bila kita menemui banyak kesulitan, apakah kau tidak akan menyesal?"

"Aku tidak akan menyesal, mati pun tidak akan menyesal."

"Apakah benar mati pun tidak akan menyesal?"

"Asal sudah pernah hidup, mati pun tidak apa-apa. Bila bersamamu, aku baru bisa hidup."

Mereka berdua berpelukan sepertinya dunia ini sudah ada dalam pelukan mereka. Angin berhembus pelan, kabut dengan perlahan mulai menghilang.

"Apakah kau suka kupu-kupu?"

Tanya Xiao Tie tiba-tiba.

"Ya,"

Jawab Meng Xing-hun heran.

"Aku sangat senang kupu-kupu, karena aku merasa nasib sebagian orang seperti kupu-kupu, terlebih untuk diriku."

"Kau?"

"Pada suatu hari aku melihat pelayanku memasukkan kupu-kupu ke dalam lembaran buku, waktu itu aku sangat marah namun pelayanku mengatakan sebuah pendapat dan membuatku terharu."

"Apa yang dia katakan?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Dia berkata bahwa kupu-kupu mati kerena dia, tapi dia menjaga keindahan kupu-kupu itu, hidupnya sudah sangat berharga. Walaupun dia tidak menangkap kupu-kupu itu, kupu-kupu itu akhirnya akan mati juga, mungkin cara matinya lebih menyedihkan."

Dan Xiao Tie tertawa berbareng sedih dan berkata.

"Oleh karena itu bila aku tiba-tiba meninggal, kau pun tidak perlu bersedih karena akhirnya hidupku berharga juga. Aku tahu ada kau akan selalu mengingatku."

"Mengapa kau bicara seperti itu? Kau kan tidak akan meninggal."

Xiao Tie tidak bicara lagi dan diam dalam pelukan Meng Xing-hun. Entah berapa lama dia baru berkata.

"Kau pulang dulu, dan tunggulah aku."

"Bagaimana dengan dirimu?"

"Aku harus membereskan barang, kemudian aku akan membawa anakku mencarimu."

Meng Xing-hun menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Lebih baik aku menunggu di sini."

"Mengapa?"

"Karena aku khawatir."

"Anak bodoh! Tidak perlu khawatir, aku tidak akan membohongimu."

"Kau pasti tidak akan membohongiku tapi bila ada apaapa bagaimana?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Tidak akan terjadi apa-apa. Orang itu sementara ini tidak akan datang. Aku akan membereskan semua barangbarang di sini biar selamanya dia tidak akan bisa mencariku."

Xiao Tie dengan lembut membelai wajah Meng Xinghun.

"Kau tidak perlu khawatir, aku akan mencarimu segera. Aku sudah memutuskan untuk hidup bersamamu, meskipun hanya satu hari, aku rela."

Bila kau pernah jatuh cinta, kau akan mengerti maksud Xiao Tie dan kau pun akan menyetujuinya asalkan dapat saling mencintai, sehari saja kau sudah merasa bahagia.

Dengan perlahan Meng Xing-hun menyusuli jalan pulang, jalannya sangat sempit dan berliku-liku, tapi dia terus berjalan.

Tiap orang harus terus melangkah, apa pun jalan yang dia pilih.

Meng Xing-hun sudah terbiasa hidup sendiri namun sekarang ini dia merasa sendirian itu sangat menyakitkan dan menyiksa.

Meng Xing-hun percaya bahwa Xiao Tie akan mencarinya namun hatinya tidak tenang, dia merasa sepertinya akan terjadi suatu hal yang buruk.

Perasaan ini membuatnya tidak nyaman.

Seekor anjing pemburu yang sudah terlatih namun bila sedang birahi, gerakannya akan menjadi lambat.

Meng Xing-hun tidak merasa ada seseorang yang berada di dalam kegelapan terus menguntitnya.

Mata orang itu memandang Meng Xing-hun penuh kebencian dan cemburu.

Bila sorotan mata itu bisa membunuh orang, mungkin sekarang Meng Xing-hun akan mati tergeletak di pinggir jalan.

Meng Xing-hun sudah menjauh, barulah orang itu keluar dengan marah dia berkata.

"Kalian akan menyesal, walaupun aku tidak membunuh kalian tapi pada suatu hari kalian akan menyesal mengapa tidak cepat-cepat mati."

Walaupun dia marah namun hatinya segera tenang kembali.

Seseorang yang sedang marah masih terlihat tenang artinya dia akan melakukan apa yang sudah dia ucapkan.

Meng Xing-hun mendorong pintu dan dia baru menyadari bahwa Gao Lao-da sudah ada di dalam rumah.

Dia sedang duduk di atas tempat tidur.

Di bawah sinar lampu dia terlihat begitu muda dan cantik.

Kecantikannya dapat membuat laki-laki menjadi sesak begitu pula dengan Meng Xing-hun.

Gao Lao-da menatap wajah terkejut Meng Xing-hun dengan tersenyum dia berkata.

"Kau tidak menyangka aku ada di sini bukan? Kau kaget?"

Meng Xing-hun mengangguk. Dengan marah Gao Lao-da berkata.

"Dulu bila ada orang yang berdiri dalam jarak beberapa puluh meter saja kau dapat segera merasakannya, sekarang kau menjadi lamban Apa yang membuatmu berubah?"

Meng Xing-hun menunduk karena dia tidak dapat menjelaskan dan tidak mungkin menjelaskan kepada Gao Lao-da. Dengan dingin Gao Lao-da berkata.

"Bila rubah sedang birahi, dia akan masuk ke dalam perangkap si pemburu, bagaimana denganmu?"

"Aku adalah manusia bukan seekor rubah."

"Orang pun ada masa pubernya."

"Di sini tidak ada perangkap dan kau bukan pemburu."

"Kalau aku adalah pemburu, bagaimana?"

Tanya Gao Lao-da.

"Sekarang kau sudah mati."

Gao Lao-da memelototinya dengan lama akhirnya dia tertawa dan berkata.

"Kau masih seperti dulu, tidak membuatku kecewa."

Dan Gao Lao-da melanjutkan lagi.

"Apakah kau tahu, apa julukanmu?"

"Dijuluki apa pun tidak masalah bagiku."

Gao Lao-da tertawa dan berkata.

"Kau dijuluki, sebagai 'paku' karena siapa pun yang bertemu denganmu kepalanya pasti akan berlubang, begitu pula denganku."

"Kalau begitu, seharusnya kau tidak perlu kemari, tugas yang kau berikan aku tidak pernah lupa,"

Kata Meng Xinghun.

"Apakah aku tidak boleh menjengukmu? Jangan lupa sewaktu kau kecil dulu, sehari pun kau tidak mau kutinggal."

Meng Xing-hun menundukkan kepalanya setelah lama bara dia berkata.

"Aku tidak pernah akan lupa, selamanya tidak akan lupa."

Dengan lembut Gao Lao-da berkata.

"Ye Xiang sudah memberitahuku mengenai dirimu. Aku tahu kau terluka, maka aku ke sini untuk menjengukmu. Walaupun aku sangat sibuk tapi aku menyempatkan diri untuk bertemu denganmu."

Gao Lao-da tertawa manis dan berkata.

"Dulu kau pernah mencuri talas di sawah orang lain kemudian digigit oleh anjing pemilik sawah itu selama beberapa hari kau harus berbaring di tempat tidur tidak dapat berjalan."

"Ya, aku ingat, saat itu kau teras menjagaku sampai sembuh."

Meng Xing-hun bukan tipe orang yang kacang lupa akan kulitnya. Namun setiap kali dia teringat kepada masa lalunya, membuat dia merasa sedih.

"Kelihatannya lukamu sudah sembuh,"

Kata Gao Laoda.

"Sudah lebih baik."

"Kalau begitu, kapan kau akan kembali melakukan tugasmu? Bukan aku mendesakmu tapi sekarang adalah kesempatan yang paling tepat."

"Kesempatan apa?"

"Diam-diam Lao-bo sedang bersiap-siap untuk bertarung melawan dengan Wan Peng-wang. Bila orang sepertimu menjadi anak buah Lao-bo, dia akan sangat senang."

"Lao-bo akan menyelidiki aku terlebih dahulu."

"Benar juga."

"Bila dia tahu aku berasal dari mana, dia akan melakukan sesuatu terhadapku."

Namun di dunia persilatan tidak ada yang tahu Meng Xing-hun adalah orang yang bagaimana, seolah-olah dia itu datang dari langit.

"Lao-bo akan terus menyelidiki dirimu namun bila dia masih tidak tahu identitasmu dia akan langsung membunuhmu."

"Apakah aku yang akan membunuhnya atau membiarkan dia membunuhku?"

Kata Meng Xing-hun. Gao Lao-da tertawa dan berkata.

"Kau bukan orang yang tidak punya identitas, aku sudah mempersiapkan identitas palsumu."

"Siapa identitasku?"

"Margamu Qing, bernama Tiong-thian, rumah di Ludong, kau adalah keponakan Tuan Qing yang kedua, dari kecil mengikuti pegawai Tuan Qing berdagang di luar negeri, karena itu kau jarang ada di Tiongkok dan tidak ada yang mengenalmu."

Gao Lao-da tertawa kemudian melanjutkan.

"Kau tahu bahwa Tuan Qing berhutang budi kepadaku bila aku mengatakan kau adalah keponakannya, dia tidak akan berani menolak."

"Apakah saudara-saudara Tuan Qing pun ingin berteman dengan Lao-bo?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Karena kau selalu ingin menjadi yang terbaik, pertentangan antara Lao-bo dan Wan Peng-wang sudah mengguncang dunia persilatan. Anak muda bila ingin mencari nama dan ingin terkenal, tentunya ini adalah kesempatan yang paling baik."

Meng Xing-hun terus menatap Gao Lao-da, dia sangat mengagumi Gao Lao-da walaupun dia adalah seorang perempuan dan masih muda, tapi rencana yang disusunnya sangat sempurna.

Mungkin seorang tetua dunia persilatan pun akan kalah pintar dengannya.

Gao Lao-da pun terus memandangi Meng Xing-hun, sorot matanya sangat tenang, melihat sorot mata Gao Lao-da seperti itu, Meng Xing-hun merasa curiga, perempuan yang ada di hadapannya adalah perempuan yang sangat kejam.

Dia ragu apakah perempuan ini yang pernah menolongnya waktu mereka kecil kemudian membesarkan mereka?

Dan demi mereka supaya tidak kelaparan dia rela mengorbankan semuanya.

Kadang-kadang Meng Xing-hun merasa curiga kepadanya, apakah karena rasa kasihan ataukah mempunyai maksud lain maka perempuan ini menolong mereka?

Mungkin Gao Lao-da ingin menjadikan mereka sebagai modalnya di masa yang akan datang, namun Meng Xing-hun berusaha mengenyahkan pikiran seperti itu.

Meng Xing-hun tidak ingin menjadi orang yang tidak tahu diri.

Dari kantung pakaiannya, Gao Lao-da mengeluarkan dua buah buku tulis dan dia berkata.

"Ini adalah catatan keluarga Qing. Keluarga Qing di Lu-dong adalah sebuah keluarga besar, kau harus ingat ada yang bernama Qing Xiong-tian, dia adalah ayahmu. Pada waktu usiamu 10 tahun dia sudah meninggal."

"Dia meninggal karena apa?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Meninggal karena sakit."

Gao Lao-da berpikir sebentar lalu berkata.

"Katanya Qing Xiong-tian mati karena suatu penyakit yang memalukan, lebih baik kau tidak menjawabnya, bila ada yang menanyakannya."

"Buku yang satu lagi berisi apa?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Ini adalah catatan pribadi Qing Xiong-tian sewaktu dia berlayar. Di dalam buku ini pun tercatat mengenai kehidupannya, dan juga orang-orang yang dikenalnya, juga berisi tempat-tempat yang pernah disinggahinya, tempat yang pernah dia tinggal. Kau harus mengingatnya."

"Bagaimana dengan pegawai Tuan Qing?"

"Mereka sudah ke luar negeri lagi, dalam waktu 2 hingga 3 tahun mereka tidak akan pulang. Kau tidak perlu khawatir mereka tidak akan membocorkan rahasia ini."

"Aku hanya mengkhawatirkan satu hal."

"Apakah kau takut Lao-bo akan mencari Qing Xiongtian yang asli."

"Benar."

"Kau tidak perlu khawatir, dia tidak akan bisa mencari yang asli."

"Mengapa?"

Dia merasa aneh, dia tahu biasanya Gao Lao-da bila ingin melenyapkan satu orang itu sangat mudah. Gao Lao-da terus memandang Meng Xing-hun dan bertanya.

"Apa yang kau pikirkan lagi?"

"Tidak ada."

"Sekarang giliranku yang bertanya, apakah kau akan pergi?"

Meng Xing-hun menatap ke luar jendela. Angin berhembus dari tempat yang jauh. Daun berguguran dihembus oleh angin, dengan pelan Meng Xinghun berkata.

"Bila bukan kau yang mengasuhku aku tidak akan bisa bertahan hidup hingga sekarang, kau tahu kapan pun aku akan melakukannya demi dirimu."

Sorot mata Gao Lao-da berubah menjadi lembut.

"Aku tidak mau demi diriku kau harus mati, aku ingin demi diriku kau harus terus hidup."

"Aku sudah tidak memiliki orang tua lagi juga saudarasaudara, demi dirimu aku rela mati juga rela tetap hidup, tapi sekarang...."

"Sekarang ini mengapa?"

Dengan erat Meng Xing-hun memegang daun jendela lalu berkata.

"Sekarang aku harus tetap hidup demi diriku sendiri."

Mata Gao Lao-da yang lembut tiba-tiba berubah menjadi dingin dan bertanya.

"Apakah kau ingin meninggalkanku?"

"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin...."

Gao Lao-da memotong kata-katanya.

"Apa yang ingin kau sampaikan, aku sudah mengerti."

Sorot matanya sangat dingin tapi suaranya berubah menjadi sangat lembut.

"Apakah kau sudah mempunyai kekasih?"

Meng Xing-hun terdiam, diam artinya dia mengakuinya. Kata Gao Lao-da lagi.

"Kau tidak perlu berbohong, ini adalah suatu kabar baik, aku pun senang mendengarnya hanya saja...."

"Dia sangat baik."

Gao Lao-da tertawa namun tawanya sama sekali tidak ada kehangatan, kemudian dia berkata.

"Aku ingin tahu orang yang sudah membuatmu jatuh cinta, pasti perempuan itu sangat cantik."

"Apakah kau menyetujui hubunganku dengannya."

"Aku setuju saja, sudah waktunya bagimu untuk berkeluarga. Bila kau sangat mencintainya aku pun akan menyetujuinya."

Meng Xing-hun membalikkan badannya, matanya bersorot penuh rasa terima kasih. Gao Lao-da malah membalikkan badannya dan bertanya.

"Kalian akan pergi ke mana?"

"Sekarang ini masih belum tahu, tapi aku akan mencari suatu tempat yang tenang."

"Kapan kalian akan pergi."

Meng Xing-hun mengambil dua buah buku yang diletakkan di atas meja oleh Gao Lao-da dan berkata.

"Setelah aku menyelesaikan tugas ini."

Ini adalah tugas terakhir yang dilakukan Meng Xing-hun untuk membalas budi kepada Gao Lao-da. Gao Lao-da masih menatap Meng Xing-hun, sorot matanya sangat lembut dan berkata.

"Tugas kali ini sangat berbahaya, bila kau tidak ingin melakukannya, aku tidak akan menyalahkanmu."

Meng Xing-hun menjawab.

"Aku tetap akan pergi, karena aku sudah berjanji kepadamu."

"Apakah kau sanggup melakukannya?"

Dengan tersenyum Meng Xing-hun menjawab.

"Kau tidak perlu khawatir, orang yang harus merasa khawatir adalah Sun Yu-bo."

Meng Xing-hun tidak pernah merasa sangat percaya diri walaupun kali ini tugas yang diberikan sangat berbahaya dia tetap akan menyelesaikan nya.

Dia merasa dirinya bertambah dewasa dan lebih pintar, apakah semua ini disebabkan oleh cinta?

Cinta membuat orang lebih kuat, lebih berani, dan lebih percaya diri.

Cinta dapat membuat segalanya berubah tidak terkecuali yang satu ini....

cinta mengubah dirimu tapi tidak dapat mengubah orang lain.

Gao Lao-da dengan tersenyum kemudian melenggang pergi.

Di tempat yang agak jauh ada sebuah kereta kuda yang mewah sedang menunggunya, dengan tersenyum Gao Laoda masuk ke dalam, si kusir yang tadinya merasa tidak sabar menunggu, sekarang tampak sangat riang dan berkata.

"Nyonya begitu gembira, pasti ada hal yang membuat Anda begitu gembira."

Si kusir belum pernah melihat tawa Lao-pan-niangnya yang begitu senang, riang, siapa pun yang melihatnya pasti akan ikut merasa gembira.

Setiba di Kuai-huo-lin, hari belum begitu gelap.

Gao Lao-da menemani tamu-tamunya minum.

Wajahnya selalu tertawa manis hingga tamu-tamunya merasa heran dan bertanya.

"Lao-pan-niang, mengapa hari ini tampak begitu gembira?"

Setelah larut malam, Gao Lao-da pulang ke rumah, pelayannya pun merasa aneh.

Walaupun air untuk mandi sudah dingin tapi dia tidak marah.

Dengan tersenyum dia menyuruh pelayannya tidur dan menutup pintu kamar.

Tiba-tiba dia membalikkan badan dan menghancurkan semua barang yang ada di kamar.

Meng Xing-hun terus menunggu di depan pintu rumah.

Pada saat Xiao Tie datang dia langsung melihatnya.

"Betul saja dia datang, anaknya pun dibawa."

Seumur hidup Meng Xing-hun belum pernah merasa begitu bahagia dan gembira.

Dia merasa pada waktu mempunyai perasaan yang tidak enak malah terdengar lucu.

Anak itu sedang tidur, dengan lembut Xiao Tie membaringkannya di tempat tidur.

Dia melihat anaknya kemudian menatap Meng Xing-hun.

Sorot matanya penuh dengan kebahagiaan dan kepuasan, lembut seperti air danau di bawah sinar matahari senja.

Meng Xing-hun merentangkan tangannya menyambut Xiao Tie untuk masuk ke dalam pelukannya, dengan suara puas dia berkata.

"Sekarang aku adalah milikmu."

Dengan lembut Meng Xing-hun mengelus kulit yang licin itu dan berkata.

"Ya, sekarang kau adalah milikku."

Xiao Tie memejamkan mata dan bertanya.

"Apakah kau ingin memakanku?"

"Benar, pelan-pelan aku akan memakanmu."

Dan Meng Xing-hun dengan pelan menggigit telinga Xiao Tie. Xiao Tie tertawa geli dan berkata.

"Jangan, nanti anak ini akan terbangun."

Anak kecil itu sudah duduk dengan sepasang matanya yang besar memandang mereka berdua.

Xiao Tie mendorong Meng Xing-hun, walaupun di depan anak kecil dia merasa malu.

Anak kecil itu tertawa dan berkata.

"Ibu mencium paman, pasti paman sangat baik."

Meng Xing-hun pun tertawa kemudian menggendongnya dan berkata.

"Bao-bao juga baik, paman ingin mencium Bao-bao."

"Aku sudah mengantuk, mari kita pulang, Bu."

Xiao Tie berkata dengan lembut.

"Bao-bao tidurlah di sini, sekarang rumah ini adalah rumah kita."

Anak kecil itu menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Bao-bao tidak mau tinggal di rumah ini, rumah ini sangat kotor dan berantakan. Bao-bao tidak bisa tidur."

Xiao Tie memandang Meng Xing-hun dengan terpaksa dia berkata.

"Bao-bao tidurlah dulu, nanti paman akan membawa kita ke tempat yang lebih nyaman."

Anak itu tertawa dan berkata.

"Kalau paman berbohong, ibu tidak akan mau mencium paman lagi."

Dia menarik tangan ibunya kemudian memejamkan matanya lagi, dia berkata.

"Paman akan membawa Bao-bao ke tempat yang lebih nyaman, di sana banyak bunga dan tempat tidurnya pun sangat nyaman."

Dia melihat tempat itu di dalam mimpinya dan segera dia tertidur pulas.

Meng Xing-hun merasa hatinya sangat sakit, dia memang akan mencari tempat yang lebih nyaman, dia ingin kelak keluarganya hidup sehat.

Tiba-tiba dia merasa dia tidak sanggup memenuhi permintaan Bao-bao.

Cinta tidak dapat mengubah segalanya, tidak dapat menyulap rumah gubuk ini menjadi rumah yang hangat dan tidak dapat menyulap rumput dan sinar matahari menjadi makanan Bao-bao.

Xiao Tie melihat Meng Xing-hun, dia sudah mengetahui isi hati Meng Xing-hun, dengan lembut Xiao Tie berkata.

"Kau jangan khawatir asal kita dapat berkumpul, hidup susah pun tidak apa-apa."

Sebenarnya Xiao Tie memiliki beberapa perhiasaan namun dia tidak membawanya.

Xiao Tie bertekad meninggalkan semua yang dia miliki.

Meng Xing-hun sangat berterima kasih kepada Xiao Tie, dia tahu Xiao Tie akan meninggalkan semua miliknya tapi anak itu....

Tiba-tiba Meng Xing-hun menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata.

"Walau bagaimanapun aku tidak dapat membiarkan anak ini hidup susah."

Dia bertekad untuk segera membereskan tugasnya. Saat tugasnya selesai, honor yang diterima dari Gao Laoda pasti sangat besar.

"Apakah kau mau menungguku selama 10 hari di sini?"

"Paman tidak berbohong bukan?"

"Mengapa harus menunggu selama 10 hari?"

Tanya Xiao Tie.

"Aku masih ada pekerjaan, begitu selesai aku akan mendapat honor yang lumayan dan hidup anak ini akan lebih terjamin."

Xiao Tie berkata.

"Namun kau harus meninggalkan kami selama 10 hari."

"Hanya 10 hari, mungkin aku bisa pulang lebih cepat."

Xiao Tie menundukkan kepalanya.

"Dulu aku merasa 10 hari itu sangat cepat namun sekarang sudah tidak sama lagi. Walau sehari aku sangat sulit melewatinya."

Dengat erat Xiao Tie memeluk Meng Xing-hun dan berkata.

"Karena setiap saat aku selalu mengkhawatirkanmu bila kau tidak berada di sisiku, aku entah bagaimana?"

Dengan lembut Meng Xing-hun berkata.

"Kau harus bertahan, demi masa depan kita, masa depan, anak ini, maka aku harus pergi."

"Bisakah kau memberitahuku ke mana kau akan pergi?"

Meng Xing-hun ragu untuk menjawabnya namun dia berusaha tertawa dan berkata.

"Kelak aku akan memberitahumu, tapi sekarang ini aku tidak bisa."

Dengan sedih Xiao Tie berkata.

"Apakah yang kau lakukan sangat berbahaya maka itu kau tidak memberitahuku karena kau takut aku khawatir."

"Kau tidak perlu merasa cemas, walaupun pekerjaan ini berbahaya aku mampu mengatasinya."

"Apakah kau pasti akan pulang?"

"Ya, aku pasti pulang,"

Jawab Meng Xing-hun dengan pasti. Lalu dengan tertawa dia pun mencium Xiao Tie dan berkata.

"Walaupun kakiku dipatahkan orang, aku tetap akan merangkak pulang."

Xiao Tie memandang sosok Meng Xing-hun sampai menghilang di kejauhan, setelah itu dia menangis kembali.

Entah mengapa hatinya merasa tidak tenang, Xiao Tie merasa akan terjadi sesuatu kepada Meng Xing-hun.

Apalagi saat mendengar kata-kata Meng Xing-hun yang tidak enak.

"Walaupun kakiku dipatahkan, aku tetap akan pulang."

Xiao Tie ingin selalu berada di sisinya tapi dia tidak dapat melakukannya.

Karena dia tahu untuk urusan lakilaki, perempuan lebih baik jangan ikut campur dan Xiao Tie pun tidak mau ikut campur, karena hal itulah akan membuat Xiao Tie menyesal seumur hidup.

Namun bila Xiao Tie tahu bahwa apa yang akan dilakukan oleh Meng Xing-hun tidak lain adalah membunuh orang dan tahu siapa yang akan dibunuh, dia tidak akan menyesal karena sudah ikut campur.

Karena yang dilakukan oleh Meng Xing-hun akan membuat mereka berdua menyesal seumur hidup.

Gao Lao-da melihat keping-keping barang yang sudah dilempar dan hancur karena dibanting olehnya.

Sepasang tangannya tampak gemetar.

Seumur hidupnya belum pernah dia merasa semarah itu.

Selama ini apa pun yang dia inginkan dengan cara apa pun dia bisa dapatkan.

Begitu barang yang diinginkannya sudah diperoleh dia tidak akan melepaskannya lagi, kecuali barang tersebut sudah hilang nilainya.

Dia sudah membuang semua barang-barang yang tidak berharga juga membuang orang-orang yang sudah tidak berguna lagi.

Seperti saat dia membuang ingusnya.

Sekarang ini Meng Xing-hun yang sudah dibesarkan dengan susah payah akan meninggalkannya demi perempuan lain, semua ini membuat dia tidak dapat menerimanya.

Kemarahannya seperti kobaran api membakar hati dan juga pikirannya.

Dan dia harus melampiaskannya.

Walaupun sudah banyak barang yang rusak, namun kemarahannya belum berkurang.

Dia adalah seorang perempuan yang berusia 37 tahun.

Dia ingin melampiaskannya di tubuh seorang laki-laki.

Kulit yang baru saja dimandikan, di bawah sinar lampu terlihat sangat putih dan mulus, seperti kulit wajah bayi.

Baju tidur yang terbuat dari sutra dilepaskannya, kaki yang panjang dan mulus keluar dari baju yang teronggok.

Perutnya rata, tubuhnya masih langsing dan menarik.

Perempuan semacam dia masih banyak laki-laki yang menginginkannya.

Pada saat laki-laki memandangnya seperti melihat sepotong daging empuk.

Dia tidak salah mengukur daya tariknya namun dia tidak ingin melakukannya.

Tubuh perempuan seperti umpan hanya bisa dilihat lakilaki tapi tidak dapat diperoleh.

Baginya laki-laki itu sejenis ikan yang aneh.

Pada saat umpannya tertelan, dia tetap akan melarikan diri.

Istri muda lebih baik dari istri tua.

Pelacur lebih baik dari istri muda.

Diam-diam mencuri lebih baik dari pada pelacur.

Sudah lama Gao Lao-da mengetahui cara berpikir lakilaki, sudah lama dia menaklukkan laki-laki dengan daya tarik sex.

Oleh karena itu pada suatu malam di tahun-tahun yang lalu, pada saat musim panas yang sangat panas, dengan tubuh telanjang dia mengguyur air dingin ke tubuhnya, dia pun tahu ada beberapa pasang mata sedang memandangi tubuh telanjangnya.

Malam itu yang melihat dia telanjang ternyata bukan Meng Xing-hun saja.

Dia tidak melarang mereka melihatnya, dia juga tidak menutupi tubuh telanjangnya, sebaliknya dia dengan perlahan membiarkan tubuh mulusnya dilihat dengan jelas oleh anak-anak asuhnya.

Dia merasa senang dilihat oleh orang secara sembunyisembunyi.

Setiap kali pada saat ada yang mencuri pandang ke arahnya, dia akan merasa senang.

Pada malam itu, dia sudah mengetahui dua hal.

Anakanak asuhnya sudah dewasa.

Dalam hati mereka, dia bukan hanya sebagai seorang ibu dan teman tapi juga seorang perempuan.

Dia mengetahui hal ini karena itu dia yakin anak-anak asuhnya tidak akan mengkhianatinya.

Pertama kalinya dia gagal, adalah saat di rumah kayu Meng Xing-hun.

Gao Lao-da tidak menyangka bila Meng Xing-hun bisa menahan diri sejauh itu.

Pada saat Meng Xing-hun berlari keluar dari rumah kayu itu, Gao Lao-da sangat marah dia ingin mencincang Meng Xing-hun menjadi daging cincang.

Seorang perempuan bila ditolak laki-laki dia akan merasa malu dan marah, mungkin emosi seperti ini tidak dipahami oleh laki-laki.

Saat itu Gao Lao-da menahan kemarahannya karena dia tahu kesempatan lain akan datang.

Dia sungguh tidak menyangka Meng Xing-hun akan tega meninggalkannya.

Dia membuka jendela, angin berhembus sangat dingin.

Nafsu birahinya seperti kobaran api, angin yang dingin pun tidak dapat memadamkannya, malah kobaran itu semaian besar.

Xiao He sekarang sudah tidak berguna namun Gao Laoda tahu di mana dia dapat mencari Ye Xiang.

Botol arak sudah kosong.

Botol arak yang dipegang Ye Xiang selalu kosong.

Dia tidur dengan posisi telungkup di tanah, dia menekan tanah dengan sekuat tenaga, dia menganggap tanah itu adalah jelmaan istrinya.

Walau hatinya sudah retak namun badannya tidak cacat.

Seperti seorang laki-laki normal yang berusia 30 tahun setiap saat dia bisa melampiaskan nafsu birahinya.

Apalagi setelah minum arak, arak selalu membuat seorang laki-laki menginginkan perempuan.

Apalagi arak pun dapat membuat seorang perempuan begitu menginginkan lakilaki.

Benar.

Satu-satunya yang tidak sama adalah bila laki-laki sudah mabuk yang dia pikirkan adalah banyak perempuan, tapi bila perempuan yang mabuk dia hanya memikirkan seorang laki-laki.

Laki-laki yang dipikirkan oleh perempuan itu adalah laki-laki yang sudah meninggalkannya.

Ye Xiang adalah seorang laki-laki, maka dia memikirkan banyak perempuan, dari perempuan pertama yang dikenalnya hingga perempuan terakhir, dia memiliki banyak perempuan tapi kebanyakan adalah pelacur yang dapat dibeli dengan uang.

Namun perempuan yang pertama untuknya sudah dijual oleh Ye Xiang seumur hidupnya.

Perempuan itu berbeda dengan perempuan lainnya.

Tiba-tiba terdengar ada yang tertawa, suaranya seperti lonceng.

Ye Xiang membalikkan badannya, dia melihat Gao Laoda sudah berdiri di hadapannya.

Dia menahan kemarahannya, dengan dingin dia berkata.

"Aku sudah tahu kau ke sini untuk mencariku."

"Oh?"

"Kau seperti seekor anjing betina, bila tidak ada laki-laki, anjing liar pun kau cari juga."

Gao Lao-da tertawa mendengar ucapan Ye Xiang.

"Dan kau adalah anjing liar yang kucari."

Dia sengaja membiarkan baju sutranya terbuka tertiup angin, supaya tubuh yang biasa dilihat oleh Ye Xiang dapat terlihat dengan jelas.

Tiba-tiba Ye Xiang menarik kaki Gao Lao-da, dan Gao Lao-da terjatuh di tubuh Ye Xiang.

Angin masih berhembus.

Nafas Ye Xiang sudah mulai tenang.

Gao Lao-da sudah berdiri dengan pandangan dingin, dia melihat Ye Xiang dan berkata.

"Aku tahu kau sudah tidak dapat melakukan tugas dengan baik, sekarang melakukan hal. ini pun kau tidak sanggup."

Dengan dingin Ye Xiang tertawa.

"Karena aku menganggap kau adalah seekor anjing betina, kau tidak pantas mendapatkan kenikmatan ini."

Karena sangat marah wajah Gao Lao-da menjadi sangat merah dia mengetatkan giginya kemudian berkata.

"Kau jangan lupa, siapa yang mengijinkanmu bisa hidup sampai sekarang. Aku bisa membuatmu tetap hidup atau membuatmu mati."

"Aku tidak pernah akan lupa, aku selalu hormat dan berterima kasih kepadamu, sampai aku tahu bahwa kau tidak lebih dari seekor anjing betina. Kau pun menganggap kami adalah anjing-anjing yang kau beri makan dan hanya ingin kami menggigit orang demi dirimu."

Gao Lao-da memelototinya, tiba-tiba dia tertawa dan berkata.

"Kau selalu bicara seperti itu tapi aku tahu hatimu selalu teringat padaku."

"Benar, aku selalu memikirkanmu. Bila aku mau melampiaskan nasfuku aku selalu memikirkanmu tidak pernah memikirkan perempuan itu, aku tidak berani membayangkan dia."

"Dia siapa?"

Tanya Gao Lao-da. Ye Xiang tertawa dan menjawab.

"Dia seorang perempuan."

"Apakah di hatimu ada perempuan lain?"

Ye Xiang kembali tertawa dan berkata.

"Benar, hanya ada dia seorang."

"Sebenarnya dia siapa?"

"Dia lebih cantik darimu dan lebih anggun darimu, dan dia lebih baik darimu."

Setelah mendengar kata-kata Ye Xiang, Gao Lao-da sangat marah, tiba-tiba Gao Lao-da. malah tertawa terbahak-bahak dan bertanya.

"Apakah kau tahu bahwa Sun Yu-bo mempunyai seorang anak perempuan?"

Wajah Ye Xiang langsung membeku.

"Pergilah dan tanyakan kepada Sun Yu-bo, apakah dia mengakui dia mempunyai seorang anak perempuan? Karena anaknya sudah mencoreng wajah Sun Yu-bo, sebelum menikah dia sudah hamil terlebih dahulu."

Karena sedih wajah Ye Xiang berubah, dia pun tahu tidak ada rahasia yang tidak diketahui oleh Gao Lao-da. Kata Gao Lao-da lagi.

"Yang lucu adalah begitu anaknya sudah lahir, masih belum diketahui siapa ayah anak itu."

Di mata Ye Xiang, sudah terbayang seorang perempuan yang cantik dan suci sedang berdiri di bawah sinar matahari senja melihat sepasang kupu-kupu yang sedang terbang.

Dia adalah dewi di dalam hatinya dan juga kekasih dalam setiap mimpi Ye Xiang.

Ye Xiang meloncat dan berkata.

"Tidak! Kau bohong! Dia bukan perempuan seperti itu!"

"Apakah kau tahu sebenarnya dia perempuan yang bagaimana? Apakah kau benar-benar mengenalnya?"

Ye Xiang tidak mau menjawabnya.

Ini adalah rahasianya yang paling dalam, dia ingin rahasia ini tetap terkubur hingga dia mati.

Tapi dia pun tahu bila bukan karena perempuan ini, Sun Yu-bo tidak akan menyuruh Han Tang mencarinya.

Dan dia pun tidak akan menjadi Ye Xiang yang sekarang ini.

Dengan tertawa Gao Lao-da tertawa.

"Sebenarnya Sun Yu-bo sangat ketat menjaga anak perempuannya, tidak mengijinkan laki-laki mana pun mendekatinya. Begitu melihat ada laki-laki yang mendekatinya orang ini akan langsung lenyap."

Tawanya lebih kejam dari kata-kata Ye Xiang tadi. Gao Lao-da berkata lagi.

"Namun Sun Yu-bo lengah, saat melihat perut putrinya membuncit dia merasa sangat menyesal demi menjaga nama baik dan martabatnya, Sun Yu-bo mengusir putrinya keluar dari rumahnya. Semenjak itu Sun Yu-bo tidak mengakui dia sebagai putrinya lagi."

Dengan gemetar Ye Xiang berkata.

"Semua perkataanmu bohong, aku tidak percaya sedikit pun."

Gao Lao-da tertawa dan berkata.

"Sebenarnya kau harus percaya pada semua omonganku, kau sudah pernah bertemu dengan putri Sun Yu-bo, kau pun sudah pernah bertemu dengan anak yang sudah dilahirkannya bukan?"

Ye Xiang mundur beberapa langkah kemudian dia terjatuh dan terduduk di tanah.

"Ada satu hal lagi, mungkin kau tidak akan percaya karena aku pun seperti itu. Perempuan yang begitu genit masih saja ada orang yang mencintainya."

Tanya Gao Lao-da sambil tertawa.

"Coba kau tebak, siapa laki-laki itu?"

Ye Xiang mengetatkan giginya. Gao Lao-da tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Kau pasti tidak dapat menebaknya karena yang mencintai putri Sun Yu-bo itu tidak lain adalah Meng Xing-hun."

Tubuh Ye Xiang dingin seperti es. Gao Lao-da berkata lagi.

"Yang lebih lucu lagi, putri Sun Yu-bo juga mencintai Meng Xing-hun dan mereka bertekad untuk kawin lari."

Dengan gemetar Ye Xiang berkata.

"Aku tidak percaya, jika benar apa yang kau katakan aku menduga kau pun tidak tahu."

Dengan ringan Gao Lao-da berkata.

"Siapa yang bilang aku tidak tahu, aku lebih tahu banyak dari dirimu."

"Bila kau sudah tahu mengapa masih menyuruh Meng Xing-hun membunuh ayahnya."

Dengan dingin Gao Lao-da berkata.

"Ini adalah tugasnya dan harus dilaksanakan, bagaimana pun Meng Xing-hun tidak tahu siapa ayah perempuan ini."

Kalimat terakhir diucapkan dengan suara kecil oleh Gao Lao-da, seakan-akan dia bicara kepada dirinya sendiri. Ye Xiang tidak mendengarnya karena dia sudah tidak ingin mendengar lagi.

"Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah ingin memberitahu Meng Xing-hun?"

Ye Xiang sambil tertawa berkata.

"Aku mengira kau sangat mengerti hati seorang laki-laki, sekarang aku mengerti kecuali menjadi anjing betina tidak ada hal lain yang kau ketahui."

Dengan marah Gao Lao-da berkata.

"Bila kau mengerti hati seorang laki-laki, kau pun harus tahu laki-laki pun seperti perempuan, bisa cemburu bila sudah cemburu lebih menakutkan dari perempuan."

Gao Lao-da tertawa melihat Ye Xiang, seorang laki-laki yang tenang bisa menjadi gila. Bila sedang cemburu dia akan melakukan hal yang tidak disangka olehnya sendiri. Gao Lao-da tertawa dan berkata.

"Benar, bila Sun Yu-bo mengenal putrinya dan dia pun akan tahu siapa pembunuh ayahnya, mungkin saat itu kau masih ada kesempatan."

Ye Xiang memejamkan matanya dan berkata.

"Sekarang aku hanya mengkhawatirkan satu hal."

"Kau mengkhawatirkan apa?"

"Aku khawatir Meng Xing-hun tidak akan sanggup membunuh Sun Yu-bo."

Wajah Gao Lao-da berubah menjadi misterius dengan pelan dia berkata.

"Kau tidak perlu khawatir sebab dia mempunyai kesempatan yang baik, sangat sangat baik."

Ye Xiang mengerutkan dahinya dan bertanya.

"Mengapa?"

"Kau pasti tidak menyangka, dan siapa pun tidak akan menyangka."

Ye Xiang bertanya lagi.

"Musuh Sun Yu-bo kan sangat banyak?"

"Yang menyuruhku untuk membunuh Sun Yu-bo bukan musuhnya melainkan temannya sendiri."

Dan Gao Lao-da berkata lagi.

"Kau harus ingat, musuh tidak begitu menakutkan yang lebih menakutkan adalah teman sendiri."

Dengan diam Ye Xiang termenung kemudian berkata.

"Aku tidak mempunyai teman."

"Meng Xing-hun adalah temanmu,"

Kata Gao Lao-da.

Ada pepatah yang mengatakan, lebih baik percaya kepada musuh dari pada teman.

Banyak yang dikhianati oleh teman, kau hanya waspada pada musuh tidak waspada pada teman sendiri.

Gao Lao-da adalah perempuan yang pintar namun dia sudah salah bicara.

"Teman tidak menakutkan, yang lebih menakutkan adalah kau tidak tahu yang mana teman dan yang mana musuh."

Ooo)dw(ooO Meng Xing-hun menggali lubang di bawah sebuah pohon, seorang Meng Xing-hun yang teliti tidak akan meninggalkan jejak karena sedikit saja berbuat ceroboh maka akan membuat nyawanya melayang.

Nama-nama yang tercantum di buku itu semua sudah dihafalkan oleh Meng Xing-hun dan dia yakin dia akan ingat semua nama itu.

Dia akan mulai menjalankan tugasnya.

Tugas pertama biasanya dia jalankan dengan tidak tenang namun selanjutnya dia akan terbiasa.

Namun kali ini hatinya tidak setenang biasanya.

Apakah ini karena tugastugasnya yang dulu hanya merupakan, balas budi kepada Gao Lao-da?

Sedangkan kali ini dia ingin menggapai tujuan hidupnya?

Meng Xing-hun mengakui kali ini dia membunuh orang karena sangat berharap bisa mendapat honor yang besar.

Honor ini akan dia berikan kepada orang-orang yang dia cintai.

Dia pun tidak berani berpikir karena dia sendiri tahu pikiran semacam ini sungguh memalukan.

"Sun Yu-bo harus dibunuh."

"Membunuh demi kebenaran adalah hal lain, ini semua karena honor yang sangat aku butuhkan."

Hati Meng Xing-hun penuh dengan kesedihan, dia sangat ingin lari dari semua ini.

Dia berdiri dan menghela nafas, berjalan menuju taman bunga milik Lao-bo, walaupun sudah malam, dia tidak ingin menunggu lagi.

Hanya satu hal yang dia tahu.

"Sudah tahu salah namun masih ingin melakukan."

Artinya walaupun membuatnya sedih dia masih ingin melakukannya.

Taman bunga Lao-bo di bawah sinar bulan terlihat sangat indah, tidak terlihat ada orang dan juga suara.

Hanya tercium wangi bunga yang dihembus oleh angin malam.

Tidak ada penjaga taman bunga, bahkan pintunya tidak dikunci.

Meng Xing-hun melangkah masuk.

Dia berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar bunyi lonceng dan 18 buah panah keluar dari semak-semak.

Meng Xing-hun pun bergerak seperti panah, meloncat dengan cepat dalam sekejap mata sudah berdiri di taman bunga chrysan.

Bunga terlihat begitu cantik.

Taman ini lebih aman, pikirnya.

Tapi di dalam bunga chrysan, golok sudah beterbangan.

Empat buah golok.

Satu menusuk kaki, satu menusuk ke arah pinggang dan satu lagi dalam posisi menunggu, entah akan menusuk ke arah mana.

Satu lagi jatuh dari atas kepala, siap untuk memenggalnya.

Karena pohon bunga chrysan sangat pendek, dia tidak dapat bersembunyi atau membantu meloncat ke tempat yang lebih tinggi, terlihat Meng Xing-hun akan terkena tusukan golok-golok itu.

Mungkin hanya satu kali tusukan atau bahkan empat buah tusukan.

Tapi Meng Xing-hun tidak terkena tusukan itu, memang dia tidak bisa meloncat namun dia menurunkan tubuhnya sejajar dengan pohon bunga Chrysan.

"Bila satu jalan sudah buntu, kau harus mencari jalan yang lain."

Kepandaian Meng Xing-hun tidak semua didapat dari gurunya, kepandaian gurunya tidak lincah tapi kepandaian Meng Xing-hun sangat lincah, bila tidak lincah dari dulu dia sudah mati.

Dia banyak belajar dari pengalamannya.

Tubuhnya sudah masuk ke dalam semak-semak bunga.

Begitu dia masuk dia langsung menginjak golok yang mengarah ke kakinya dan mengayunkan tangan memukul tangan yang memegang golok yang akan menusuk ke arah pinggangnya.

Karena badannya diturunkan, golok yang akan memenggal kepalanya pun meleset dan golok yang satu lagi ditendang olehnya.

Dia tidak menggunakan jurus yang aneh.

Jurusnya biasabiasa saja.

Tapi gerakannya sangat tepat dan cepat.

Walaupun tangan Meng Xing-hun memegang golok ternyata di balik semak-semak tampak lebih banyak golok lagi.

Tubuhnya belum turun sudah ada golok yang terbang siap menyerangnya lagi.

Tiba-tiba ada suara yang berwibawa berkata.

"Berhenti!"

Suara ini lebih ampuh dari mantra-mantra untuk menghentikan setan.

Segera taman bunga itu menjadi sepi kembali seperti semula, tidak ada penjaga, tidak ada suara dan tidak ada orang, hanya tercium wangi bunga yang dihembus oleh angin.

Tapi Meng Xing-hun tahu bahwa Lao-bo sudah datang.

Hanya perintah Lao-bo yang dapat berpengaruh begitu dasyat.

Begitu dia turun dia sudah melihat Lao-bo.

Sebenarnya di tempat itu banyak orang namun Meng Xing-hun hanya melihat Lao-bo seorang diri.

Walaupun saat itu Lao-bo berdiri di antara banyak orang namun yang tetap terlihat adalah Lao-bo.

Dia memakai baju berwarna abu, terlihat sangat tenang, sepasang matanya berkilau, dia memandang Meng Xinghun dari atas ke bawah dan tertawa kemudian dia berkata.

"Sobat, kepandaian mu sangat bagus."

Meng Xing-hun tertawa dan dengan dingin berkata.

"Sebenarnya kepandaian ku disiapkan untuk menghadapimu namun sekarang...."

"Sekarang bagaimana?"

Tanya Lao-bo.

"Sekarang aku jadi tahu bagaimana cara seorang Lao-bo menghadapi teman, aku sangat kecewa."

Meng Xing-hun tertawa dengan dingin, dia ingin berlalu dari tempat itu. Lao-bo pun tertawa.

"Kau menganggap tempat ini bisa masuk dengan seenaknya keluar pun dengan seenaknya?"

Dengan marah Meng Xing-hun berkata.

"Memangnya aku sudah mencuri apa darimu?"

"Tidak ada."

"Apakah aku sudah membunuh anak buahmu?"

"Juga tidak."

"Lalu mengapa aku tidak boleh pergi?"

"Karena aku tidak tahu apa alasanmu datang ke sini?"

"Bukankah tadi sudah kukatakan,"

Kata Meng Xing-hun.

"Bila kau ingin berteman denganku, ini bukan waktunya karena orang yang datang malam-malam begini biasanya adalah seorang pencuri atau perampok bukan seorang teman."

"Bila aku ingin berteman, tidak perlu memilih waktu bila aku ingin membunuhmu aku pun tidak perlu memilih waktu yang tepat."

"Apa sebabnya?"

Dengan dingin Meng Xing-hun menjawab.

"Kapan pun sama saja, hanya orang idiot yang menganggapmu selalu tidak waspada kemudian bisa membunuhmu."

Lao-bo tertawa dan berkata.

"Apakah orang ini seperti orang idiot?"

Di belakang Lao-bo berdiri Lu Xiang-chuan dan Lu Man-tian. Kata Lu Xiang-chuan.

"Tidak mirip."

Dengan dingin Meng Xing-hun berkata lagi.

"Aku adalah orang idiot, aku tidak menyangka hanya waktu siang hari Lao-bo baru mau berteman."

Kata Lao-bo.

"Siang hari pun kau pernah datang kemari, mengapa kau tidak mau berteman denganku waktu itu?"

Meng Xing-hun terkejut, dia tidak menyangka bahwa Lao-bo bisa mengenali wajahnya yang biasa di antara sekian banyak orang. Walaupun dia terkejut dia berusaha tetap tenang dengan ringan dia berkata.

"Waktu itu aku datang bukan untuk berteman."

"Apakah waktu itu kau ke sini hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku?"

"Tidak juga, aku hanya ingin melihat siapa yang bisa aku kenal lebih dekat, Anda atau Wan Peng-wang?"

"Mengapa aku yang kau pilih?"

"Karena aku tidak pernah berteman dengan Wan Pengwang."

Lao-bo tertawa terbahak-bahak kemudian membalikkan badannya dan bertanya.

"Apakah kalian tahu orang ini memiliki satu kebaikan?"

Lu Xiang-chuan tersenyum dan berkata.

"Orang ini sangat jujur."

"Aku rasa, kau pasti masih ingat namanya."

"Tadinya aku memang ingat, namun sekarang aku sudah lupa."

Lao-bo mengerutkan dahi dan berkata.

"Mengapa kau bisa lupa?"

"Waktu itu dia datang bukan untuk berteman, dan dia tidak pernah menggunakan nama aslinya, untuk apa kita masih mengingat namanya."

Lao-bo mengangguk dan berkata.

"Apakah kau mempercayai kata-katanya?"

"Kata-katanya tidak enak didengar namun biasanya kata-kata yang tidak enak didengar adalah kata-kata yang sebenarnya, kecuali orang idiot bila ada yang berbohong pasti sangat enak didengar di telinga."

"Apakah dia seorang yang idiot?"

Lu Xiang-chuan melihat Meng Xing-hun dengan tersenyum kemudian berkata.

"Dia bukan orang idiot."

Meng Xing-hun pun melihat dia kemudian berkata.

"Paling sedikit aku berniat berteman denganmu."

Lao-bo tertawa terbahak-bahak.

"Benar, kau bukan seorang idiot dan kau baru saja mendapat seorang teman baik."

Lao-bo menepuk pundak Lu Xiang-chuan dan berkata.

"Bawalah dia masuk. Malam ini kau yang menjamu tamu."

Semenjak tadi Lu Man-tian terus memandang Meng Xing-hun, sekarang dia baru berbicara.

"Tunggu! Kita belum tahu namanya."

Lao-bo tersenyum dan berkata.

"Namanya mungkin palsu tapi teman tidak ada yang palsu, dia adalah temanku, tidak perlu menanyakan namanya lagi."

Meng Xing-hun melihat Lao-bo.

Lao-bo adalah orang yang bisa diajak berteman.

Walaupun dia hanya berpura-pura atau memang benarbenar ingin berteman, pengaruhnya sangat besar.

Di depan orang seperti Lao-bo jarang ada orang yang dapat berbohong.

Namun Meng Xing-hun dapat berbohong karena dia memakai nama Qing Xiorig-tian.

Lu Man-tian bertanya.

"Qing Xiong-tian, kau lahir di mana?"

"Lu-dong."

Mata Lu Man-tian seperti seekor elang, dia bertanya lagi.

"Kau siapanya Tuan Qing?"

"Keponakannya."

Lu Man-tian bertanya lagi.

"Apakah kau pernah bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu?"

"Pernah."

"Apakah penyakit asmanya sudah membaik?"

"Dia tidak mempunyai penyakit asma,"

Jawab Meng Xing-hun.

Jawaban Meng Xing-hun membuat dia puas.

Meng Xing-hun menganggap orang itu adalah 'si bodoh' karena siapa pun.

tahu bahwa Tuan Qing tidak mempunyai penyakit asma.

Menguji orang dengan cara seperti itu sangat bodoh dan terlihat lucu.

Meng Xing-hun ingin tertawa, tapi begitu mendengar Lu Man-tian memainkan lempengan besinya dia tahu bahwa pertanyaan Lu Man-tian tadi tidak bodoh dan lucu.

Dia pun ingat dia pernah bertemu dengan Lu Man-tian di Kuai Huo Lin, saat itu dia memegang lempengan besinya melewati jembatan, semua orang sangat hormat kepadanya.

Waktu itu Meng Xing-hun merasa aneh dan sekarang dia sudah mengerti.

Orang yang ingin membunuh Sun Yu-bo adalah dia, Lu Man-tian.

Waktu itu Lu Mao Tian datang ke Kuai Huo Lin untuk menyewa anak buah Gao Lao-da untuk membunuh Sun Yu-bo.

Sekarang dia sedang menguji Meng Xing-hun hanya untuk mendapat kepercayaan Lao-bo lebih dalam lagi.

Sebenarnya orang itu sudah tahu siapa Meng Xing-hun sebenarnya.

Orang itu tidak bodoh namun sangat menakutkan, golok yang dipegang lebih menakutkan, walaupun Sun Yu-bo teliti dia akan menjadi lengah.

Rumah Lu Xiang-chuan sangat rapi semua barangnya pun tersusun rapi.

Karena rumah itu tidak ada nyonya rumah maka rumah ini selalu tidak terlihat seperti rumah.

Lu Xiang-chuan membuka pintu kamar dan berkata kepada Meng Xing-hun.

"Kau bisa tidur di sini, selimut dan seprai baru diganti."

"Terima kasih."

"Kau pasti lapar."

"Sangat lapar dan lelah, tidak makan pun dapat dengan cepat terlelap."

"Lebih baik kau makan dulu baru tidur,"

Kata Lu Xiangchuan. Lu Xiang-chuan membawa lampu dan berkata.

"Ikutilah aku!"

Mereka berjalan menuju pintu lain, begitu membuka pintu itu di dalamnya adalah dapur."

Lu Xiang-chuan memasang lampu, dia sudah siap untuk memasak, dengan tersenyum dia bertanya.

"Kau suka makanan manis atau asin?"

"Aku tidak suka makanan yang manis."

"Aku pun begitu, di sini ada sosis dan ayam. Aku rasa memasak nasi goreng saja sudah cukup."

"Itu pun sudah cukup."

Meng Xing-hun merasa aneh orang seperti Lu Xiangchuan masih mau masuk dapur dan memasak sendiri.

Lu Xiang-chuan tahu bahwa Meng Xing-hun akan merasa aneh melihatnya seperti itu, dengan tersenyum dia berkata.

"Semenjak Lin Xiu pergi, aku sering terbangun tengah malam dan memasak, mungkin dengan memasaklah aku baru merasa senang."

Meng Xing-hun tertawa dan berkata.

"Aku belum pernah masuk dapur untuk memasak."

Lu Xiang-chuan mengambil 3 butir telur dari dalam lemari, tiba-tiba dia bertanya.

"Mengapa kau tidak bertanya siapa itu Lin Xiu?"

"Apakah aku boleh bertanya?"

Sepertinya Lu Xiang-chuan tidak mendengar kata-kata Meng Xing-hun, setelah lama dia baru berbicara.

"Lin Xiu adalah istriku."

"Dimana dia sekarang?"

Setelah lama dia baru menjawab.

"Dia sudah mati."

Lu Xiang-chuan memecahkan 3 butir telur itu, dia merasa sedih tapi tangan yang mengocok telur terlihat mantap.

Meng Xing-hun merasa Lu Xiang-chuan seperti dirinya sangat kesepian sulit mendapatkan teman untuk mengobrol.

Dengan pelan Lu Xiang-chuan mengocok telur itu, tibatiba dia tertawa dan berkata.

"Orang seperti diriku walau sudah mempunyai kedudukan yang tinggi malah tidak mempunyai teman."

"Ya, aku mengerti."

"Mari kita makan, sepertinya kita bisa menjadi teman atau mungkin dapat berubah lagi."

Lu Xiang-chuan melanjutkan lagi.

"Mungkin kau akan jadi anak buahku atau malah akan bersaing ketat denganku, mungkin waktu itu kita tidak bisa menjadi teman lagi."

"Namun ada satu hal yang tidak bisa berubah."

"Hal apa?"

Meng Xing-hun tertawa dan berkata.

"Seperti nasi goreng dimasak dengan telur, terbuat dari nasi dan telur, tidak mungkin menjadi nasi dimasak daging."

Lu Xiang-chuan ikut tertawa dan berkata.

"Semenjak pertama kali melihatmu, aku sudah tahu kau bisa menjadi temanku dan aku berharap persahabatan kita akan seperti nasi dimasak dengan telur."

Nasi goreng telur itu sangat enak, masakan sosis dengan ayam pun tidak kalah lezatnya. Pada waktu nasi diisi ke dalam mangkuk, Lu Xiangchuan mengeluarkan seguci arak dan bertanya.

"Kita minum dulu baru makan atau kau lebih suka makan dulu baru minum?"

"Aku tidak minum arak."

"Apakah kau takut bila sedang mabuk kau akan mengatakan hal yang sebenarnya?"

"Ada orang walaupun sudah mabuk tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya,"

Kata Meng Xing-hun tertawa. Dia mulai makan. Lu Xiang-chuan terus menatapnya dan berkata.

"Kelihatannya bila kau sudah menentukan sesuatu orang lain akan kesulitan mengubahnya."

"Memang aku seperti itu."

"Mengapa kau memutuskan ke sini?"

Kata Lu Xiangchuan tertawa. Meng Xing-hun tidak menjawabnya, sepertinya dia memang tidak ingin menjawabnya.

"Bukankah kau tahu, nasib kita belakangan ini sedang tidak mujur,"

Kata Lu Xiang-chuan.

"Nasibku baik-baik saja."

"Apakah kau percaya kepada nasib?"

Tanya Lu Xiangchuan.

"Aku seorang penjudi, biasanya penjudi selalu percaya kepada nasib."

"Penjudi, itu dapat dibagi ke dalam beberapa jenis, kau jenis yang mana?"

Tanya Lu Xiang-chuan.

"Penjudi hanya ada dua macam, yang menang dan yang kalah."

"Artinya kau tipe penjudi yang menang."

Tanya Lu Xiang-chuan.

"Sebab aku selalu teliti dan selalu memasang taruhan dengan tepat,"

Kata Meng Xing-hun dengan tersenyum.

"Aku berharap kali ini kau pun jangan kalah."

Dia tidak minum arak, hanya makan nasi. Meng Xing-hun dengan tertawa berkata.

"Aku belum pernah makan nasi begini lezat, bila kau berganti profesi, kau pasti akan menjadi koki yang terkenal."

"Bila aku berganti profesi menjadi penjudi, bagaimana?"

"Sekarang pun kau sudah menjadi seorang penjudi sepertinya kau pun akan selalu menang,"

Jawab Meng Xing-hun. Lu Xiang-chuan tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Tidak ada orang yang mau kalah, kecuali bila nasibnya tiba-tiba menjadi buruk."

Meng Xing-hun menghela nafas dan berkata.

"Sayangnya semua orang pasti akan mengalami nasib yang kurang mujur, mungkin ini adalah masalah seorang penjudi."

"Karena itu, bila kita sedang mujur, kita harus mendapatkan keuntungan yang banyak. Bila sedang sial, kalah bukan berasal dari uang kita,"

Kata. Lu Xiang-chuan. Lu Xiang-chuan berdiri dan menepuk-nepuk pundak Meng Xing-hun, dengan tertawa dia bertanya.

"Kau masih menginginkan apa?"

"Sekarang aku ingin sebuah tempat tidur,"

Jawab Meng Xing-hun.

"Laki-laki sepertimu pada saat memikirkan tempat tidur, pasti juga sedang memikirkan hal yang lain."

"Apa itu?"

"Perempuan."

Dia membuka pintu dan setelah itu berkata.

"Bila kau menginginkan seorang perempuan, bukalah pintu ini."

Meng Xing-hun menggelengkan kepalanya.

"Kau tidak perlu sungkan dan tidak perlu malu, ini adalah hal yang wajar seperti bila kau sedang lapar kemudian makan nasi."

Meng Xing-hun menggelengkan kepalanya lagi. Lu Xiangchuan agak terkejut dan bertanya.

"Apakah kau tidak suka perempuan?"

"Aku suka perempuan, tapi aku lebih suka kalau perempuan itu adalah perempuanku,"

Jawab Meng Xinghun. Mata Lu Xiang-chuan terlihat menyorot dengan tidak enak kemudian dia bertanya.

"Apakah kau sudah memilikinya?"

Meng Xing-hun mengangguk dan tersenyum.

"Apakah kau setia kepadanya?"

Meng Xing-hun mengangguk tegas.

"Apakah dia pantas untukmu?"

"Dalam hatiku di dunia ini tidak ada perempuan yang lebih baik dari dirinya."

Sebenarnya Meng Xing-hun tidak ingin mengatakan halhal yang sangat pribadi.

Namun kali ini dia sangat membanggakannya, biasanya laki-laki akan mengatakan hal seperti ini kepada teman-temannya.

Seperti seorang perempuan tidak akan menyimpan bajunya di dalam lemari paling bawah dia akan memakai dan memamerkannya.

Wajah Lu Xiang-chuan berubah seperti ada orang yang menusuk ke dalam hatinya.

Apakah dia pernah dibohongi oleh seorang perempuan?

Setelah agak lama dia baru berkata.

"Di dunia ini jarang ada orang yang mau berkorban demi seorang perempuan, apalagi seorang penjudi yang begitu mempercayai perempuan, dia akan kalah"

Tiba-tiba dia tertawa dan menepuk-nepuk pundak Meng Xing-hun.

"Kali ini aku berharap kau tidak salah bertaruh."

Di luar hampir terang.

Ooo)dw(ooO BAB 10 Meng Xing-hun belum tidur, dia merasa senang sekaligus takut.

Dia merasa Lao-bo bukan orang yang susah untuk didekati dan Lao-bo bukan orang yang pintar menurut perkiraan Meng Xing-hun.

Lao-bo adalah orang bukan dewa yang tidak dapat dikalahkan.

Seumur hidup Lao-bo yang dia banggakan adalah caranya bersahabat.

Sekarang temannya sendiri yang mengkhianati Lao-bo.

Meng Xing-hun merasa kasihan kepada Lao-bo.

Lu Xiang-chuan pun orang yang aneh.

Bila dilihat dari penampilan luar dia sangat kejam dan dingin, mempunyai banyak kesedihan dan rahasia yang tidak dapat dibicarakan kepada orang lain.

Yang paling aneh dia menganggap Meng Xing-hun adalah temannya, dia tidak mengintrogasi Meng Xing-hun, malah membicarakan masalah pribadi dengannya.

Hal ini malah membuat Meng Xing-hun merasa sedih.

Dia tidak ingin mengkhianati orang yang menganggap dia sebagai teman namun sekarang dia harus melakukannya.

Dia teringat kepada Xiao Tie hatinya menjadi hangat dan rasa bahagia menyelimuti dirinya.

Apa yang sedang dilakukan Xiao Tie sekarang?

Apakah sedang memeluk anaknya dan tidur, atau sedang merindukan dirinya?

Teringat Xiao Tie hanya seorang diri, diam di sebuah rumah yang kecil dan kotor, dan sedang menunggu kepulangannya, merindukan dia, hati Meng Xing-hun merasa sakit dan risau.

Meng Xing-hun bersumpah, bila tugasnya selesai dia akan segera pulang dan kembali ke sisi Xiao Tie.

Dia pun bersumpah akan setia kepada Xiao Tie, tidak akan meninggalkan Xiao Tie demi perempuan lain.

Meng Xing-hun teringat kata-kata Lu Xiang-chuan.

Di dunia ini jarang ada perempuan yang bisa mengubah seorang laki-laki.

Tapi Meng Xing-hun tidak beranggapan seperti itu, karena Lu Xiang-chuan tidak mengerti pribadi Xiao Tie, bila dia mengenal Xiao Tie, dia akan setuju dengan semua perbuatan Meng Xing-hun.

Sayangnya Lu Xiang-chuan tidak akan pernah mengenal Xiao Tie.

Meng Xing-hun menghela nafas dan hatinya sudah tenang, karena dia memiliki orang yang setia kepadanya dan Meng Xing-hun pun percaya Xiao Tie tidak akan mengkhianatinya.

Bila seorang lelaki memiliki seorang perempuan yang begitu setia, ini adalah hal yang sangat baik.

Tiba-tiba dari luar jendela terdengar suara yang sangat ringan.

Meng Xing-hun langsung loncat seperti seekor kucing dan melihat ke luar jendela.

Dia membuka jendela, di dalam kabut pagi ada seorang yang melambaikan tangan kepadanya, dia adalah Lu Mantian.

Akhirnya Lu Man-tian muncul juga Meng Xing-hun memasuki taman bunga Chrysan dengan bertelanjang kaki berdiri di atas tanah yang kering, embun yang berada di atas bunga terasa dingin.

Sorot mata Lu Man-tian tampak lebih dingin dari embun pagi.

Lu Man-tian memelototi Meng Xing-hun dengan suara berat dia berkata.

"Sekarang apa kau tahu siapa aku?"

Meng Xing-hun mengangguk.

"Siapa kau?"

Tanya Lu Man-tian.

"Seharusnya kau tahu siapa aku,"

Tanggap Meng Xinghun. Lu Man-tian terus melihatnya, akhirnya berkata.

"Mengapa kau baru datang sekarang? Seharusnya setengah bulan yang lalu kau sudah ada di sini."

"Kalau aku datang lebih awal, aku pasti sudah ada di dalam peti. mati sekarang."

Lu Man-tian tertawa.

"Kau sangat hati-hati."

"Aku bukan orang yang gegabah karena itu sekarang aku masih dapat hidup."

"Seharusnya kau tidak perlu begitu hati-hati karena aku ada di sini, kau tidak perlu takut,"

Kata Lu Man-tian.

Wajah Lu Man-tian di dalam kabut seperti orang yang sudah mati, bila dia tertawa wajahnya tampak lebih jelek lagi.

Dalam liati Meng Xing-hun tiba-tiba muncul kebencian yang amat sangat, dengan dingin dia berkata.

"Kau adalah sahabat Lao-bo, aku tidak menyangka kau tega mengkhianatinya."

Lu Man-tian tidak marah dengan ringan dia berkata.

"Banyak hal yang tidak kau pahami. Ini adalah kehidupan. Bila seseorang ingin mencapai kedudukan yang lebih tinggi dia harus menginjak kepala orang supaya bisa naik."

Meng Xing-hun berbicara.

"Aku tidak mengerti dan tidak ingin mengerti."

"Apakah Gao Lao-da belum memberitahu sesuatu kepadamu?"

Meng Xing-hun menggelengkan kepalanya. Tanya Lu Man-tian lagi.

"Apakah kau tahu kau datang ke sini dengan tujuan apa?"

Meng Xing-hun mengangguk.

"Baiklah, kapan kau akan mulai bekerja."

"Begitu ada kesempatan."

"Tidak akan ada kesempatan, Lao-bo selalu tidak memberi kesempatan, menunggu 10 tahun lagi pun belum tentu ada kesempatan."

Lu Man-tian tertawa dan berkata lagi.

"Kau harus bisa membuat keputusan."

"Karena itu...."

"Karena itu kau sama sekali tidak perlu menunggu, kau dapat membuat kesempatan kapan saja,"

Potong Lu Mantian.

"Kapan aku mulai bergerak?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Hari ini, sore hari."

Lu Man-tian membalikkan badannya pelan-pelan dan berkata.

"Kadang-kadang kita harus bergerak dengan cepat, semakin cepat semakin baik, jangan memberinya kesempatan untuk bertahan."

Sejak tadi Meng Xing-hun hanya mendengar. Kata Lu Man-tian lagi.

"Lao-bo sangat menyukai bunga, setiap sore dia pasti akan jalan-jalan di taman bunga sambil melihat-lihat bunganya. Ini adalah kebiasaan yang dia lakukan selama berpuluh-puluh tahun dan tidak pernah berubah."

"Apakah dia berjalan-jalan hanya seorang diri?"

"Dia tidak mau ditemani, karena pada waktu sore dia gunakan untuk berpikir, banyak hal yang penting yang dia putuskan pada saat berjalan-jalan."

"Mungkin di dalam taman bunga banyak perangkap."

Lu Man-tian mengangguk dan tiba-tiba dia berhenti di sebuah pohon bunga chrysan, tiap hari Lao-bo pasti berhenti di sini.

"Apakah di sini ada perangkap?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Ada, tapi aku bisa membuat perangkap ini tidak berfungsi."

Tiba-tiba dia jongkok dan mencabut sebuah pohon bunga Chrysan. Karena pohon itu masih hidup, bila dicabut akarnya pun akan ikut tercabut. Di bawah pohon Chrysan terdapat sebuah lubang.

"Turun dan lihatlah,"

Kata Lu Man-tian.

"Tidak perlu."

"Baiklah, hari ini di sore hari kau bisa bersembunyi di sini dan jangan lupa membawa senjatamu."

Tiba-tiba dia bertanya lagi.

"Kau memakai senjata apa?"

"Tergantung,"

Jawab Meng Xing-hun.

"Bila keadaannya seperti ini, bagaimana?"

Tanya Lu Man-tian.

"Aku memakai senjata rahasia."

"Senjata macam apa?"

"Senjata yang cepat dan tepat."

Dia merasa puas dan berkata lagi.

"Baiklah, biasanya Lao-bo melihat bunga dengan teliti, karena ini wilayahnya, dia tidak akan menyangka akan ada orang yang mau membunuhnya."

Tanya Meng Xing-hun.

"Berapa persen kesempatan untuk membunuh?"

"70%, kecuali...."

Meng Xing-hun memotong kata-katanya.

"70% sudah cukup, biasanya 50% saja aku sudah bisa membunuh."

"Dengar-dengar kau belum pernah gagal,"

Kata Lu Mantian. Dengan tersenyum Meng Xing-hun berkata.

"Masalahnya bukan terletak pada berapa persen kesempatan itu datang melainkan apakah kau dapat memanfaatkan kesempatan itu."

Dengan tersenyum Lu Man-tian berkata.

"Kelihatannya aku tidak salah mencari orang."

"Benar."

"Apakah kau masih ada pertanyaan yang lain?"

"Kapan aku harus ke sini? Apakah akan ada orang yang tahu kalau aku ke sini?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Pertanyaan yang bagus!"

Lu Man-tian menanam kembali pohon itu baru dia berkata.

"Di sini waktu makan malam lebih awal, pada waktu makan biasanya ditandai dengan suara lonceng, waktu itu walaupun kau berada di mana pun kau harus segera datang ke sini."

"Segera?"

"Benar, segera. Hanya pada saat itulah aku dapat menjamin tidak akan ada orang yang melihatmu."

Dan dia melanjutkan lagi.

"Bila kau salah melangkah, kau akan mati."

Meng Xing-hun membersihkan kakinya yang penuh tanah dia kembali ke tempat tidurnya.

Sekarang persiapannya sudah matang, hanya menunggu waktu yang tepat.

Seperti menggambar seekor liong yang hampir selesai tinggal menggambar titik matanya saja.

Semua berjalan dengan lancar.

Tidak seperti yang disangkanya pada waktu awal, seharusnya dia merasa puas.

Namun dia tidak tahu mengapa dia masih merasa ada kesalahan yang tidak nampak?

Dia sendiri pun tidak mengerti.

Rencananya begitu sempurna, sedikit dipermudah karena dibantu oleh orang lain.

Biasanya Meng Xing-hun selalu menyusun rencananya sendiri.

Meng Xing-hun tidak mau nasibnya bergantung kepada orang lain, sekarang ini pun dia tidak terlalu percaya kepada Lu Man-tian.

Lu Man-tian adalah dalang pembunuhan ini.

Dia ingin membunuh Lao-bo dan juga dia.

Tidak ada alasan mencurigai Lu Man-tian karena Meng Xing-hun yakin Lu Man-tian tidak akan mengkhianati dia.

Meng Xing-hun berusaha membuat hatinya tenang.

Dia tidak mempunyai kegiatan lain, hanya menunggu sore tiba.

Siang hari.

Bila Lao-bo sedang makan siang, biasanya dia senang mengobrol, dia menganggap dengan mengobrol bisa mengumpulkan banyak informasi.

Orang yang bisa bercakap-cakap dengan Lao-bo adalah teman yang dapat dipercaya dan juga teman dekatnya.

Namun hari ini Lao-bo tidak seperti itu.

Karena Meng Xing-hun diundang makan siang bersama Lao-bo.

Dengan tersenyum Lao-bo berkata.

"Biasanya anak muda senang makan daging, bisa menambah tenaga, bila 2 hari tidak makan daging aku akan merasa lesu."

Meng Xing-hun tidak sungkan lagi, dia mulai makan daging itu, dengan tertawa Lao-bo berkata.

"Dulu kau sering berlayar, apakah makanannya enak?"

"Lumayan."

"Kokinya pasti berasal dari bagian selatan, apakah benar?"

"Koki di kapal kami ada 3 orang, hanya ada satu orang yang berasal dari selatan, yang lain adalah orang utara, karena itu makanan kami ada yang berasal dari utara dan selatan."

Wajah Meng Xing-hun tetap tenang, namun hatinya mulai takut.

Meng Xing-hun yakin dalam waktu setengah hari Lao-bo sudah tahu siapa itu Qing Xiong-tian.

Kalau bukan karena catatan dari Gao Lao-da yang sempurna, Meng Xing-hun pasti sudah kalang kabut.

Pertanyaan Lao-bo sangat biasa namun bila Meng Xinghun tidak menjawab dengan hati-hati, makan siang ini tidak akan selesai dimakannya.

Untung saja jawaban Meng Xing-hun tidak ada yang salah.

Makan siang seperti ini tidak nyaman untuk Meng Xing-hun, dia pun tidak tahu sejak tadi dia sudah makan sayur apa saja.

Dia hanya merasa celananya sudah basah oleh keringat dingin yang terus menerus keluar.

Lu Xiang-chuan yang duduk di sisinya tidak banyak bicara, begitu selesai makan dia langsung keluar menuju taman bunga Chrysan, dia baru berkata dan tersenyum.

"Tadi Lao-bo menyuruhku untuk membawamu berkeliling melihat-lihat taman bunganya, apakah kau mengerti maksudnya?"

Meng Xing-hun menggelengkan kepalanya, sekarang dia berpura-pura menjadi orang bodoh. Kata Lu Xiang-chuan lagi.

"Maksud Lao-bo adalah kau sudah hampir menjadi orang kami, artinya kau hampir diterima menjadi anak buah Lao-bo."

"Hampir menjadi anak buah Lao-bo?"

"Ya, hampir."

"Mengapa hampir? Apakah ada yang kurang?"

"Yang kurang adalah kau belum pernah membunuh seseorang demi dia."

Lu Xiang-chuan tertawa dan berkata lagi.

"Kau tidak perlu tergesa-gesa, kesempatan akan datang dengan sendirinya."

Meng Xing-hun pun ikut tertawa dan berkata.

"Kesempatan apa? Membunuh orang? Atau dibunuh?"

Lu Xiang-chuan diam dengan lama baru dia berkata.

"Bila kita tidak membunuh pasti akan dibunuh. Ada orang yang mengira dia tidak akan mati, dia baru sadar pada saat dia hampir dibunuh dan kesempatan membunuh pun seperti itu."

"Apakah kau juga tidak menyangka bahwa Sun Jian akan terbunuh?"

Wajah Lu Xiang-chuan langsung berubah dan bertanya.

"Apakah kau kenal dengannya?"

"Terbunuhnya Sun Jian sudah bukan rahasia di dunia persilatan."

Lu Xiang-chuan tertawa kecut.

"Benar, ini adalah kemenangan Wan Peng-wang, mereka menjebaknya."

Meng Xing-hun bertanya lagi.

"Yi-qian-long mengkhianati Lao-bo juga sudah bukan rahasia lagi."

Lu Xiang-chuan terdiam lama kemudian dengan dingin dia berkata.

"Dia bukan pengkhianat."

"Apakah itu benar?"

Lu Xiang-chuan dengan dingin berkata.

"Dia belum pantas disebut pengkhianat karena menjadi seorang pengkhianat harus berani namun dia adalah seorang pengecut."

"Mengapa dia disebut pengecut?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Sebenarnya dia adalah teman baik Lao-bo tapi pada saat dia tahu Lao-bo dalam bahaya, dia langsung melarikan diri dan dia membawa semua harta benda Lao-bo."

"Mengapa kalian tidak mencarinya?"

"Kami sudah mencarinya namun tidak pernah menemukannya, katanya dia sudah ada di suatu pulau di negeri Jepang karena istrinya adalah orang Jepang."

Ooo)dw(ooo BAB 11

"Kalau begitu Lao-bo tidak mempunyai musuh,"

Kata Meng Xing-hun. Dengan ringan Lu Xiang-chuan berkata.

"Apakah kau merasa taruhannya tidak tepat?"

Meng Xing-hun tertawa dan berkata.

"Teman juga diperhitungkan apakah banyak atau sedikit, yang harus diperhitungkan adalah apakah dia adalah teman yang sesungguhnya."

Meng Xing-hun memandang ke tempat yang jauh kemudian berkata.

"Teman itu kadang -kadang harus kurang dari satu atau lebih dari satu."

Meng Xing-hun melihat Lu Man-tian yang sedang berjalan di.

jembatan kecil.

Lu Xiang-chuan tidak melihatnya.

Sekarang sudah lewat tengah liari dan sore akan segera tiba.

Awan hitam menutup langit, liari mulai gelap.

Angin mulai berhembus dingin.

Seseorang mengenakan baju hijau sedang melewati jembatan, di ujung jembatan adalah menuju kebun bambu.

Jendela terbuka dan Lu Man-tian duduk di depan jendela, dia sedang memegang kuas tapi dia tidak menulis, hanya termenung sambil menatap ke luar jendela.

Seseorang yang memakai baju abu masuk ke dalam kamar Lu Man-tian dan jendela segera ditutupnya.

Begitu jendela ditutup, si baju abu baru mengangkat kepalanya, terlihat wajahnya yang biasa.

Hanya wajah yang biasa-biasa saja, orang-orang tidak akan menyangka bahwa dia adalah seorang pengkhianat.

Karena itu tidak ada yang tahu bahwa Feng Hao adalah seorang pengkhianat, Lu Man-tian berkata kepada Feng Hao.

"Semua rencana sudah diatur, dia sudah putus asa. Sore ini akan mulai bergerak."

Wajah Feng Hao terlihat sangat puas namun dia masih bertanya.

"Apakah dia akan mengubah keputusannya?"

"Tidak mungkin karena perintah Gao Lao-da belum pernah dibantah olehnya, apalagi...."

Feng Hao tertawa dengan kejam dan berkata.

"Dia tidak begitu pandai kelihatannya."

Feng Hao tertawa dan berkata lagi.

"Pada dasarnya rencana ini dia tidak tahu, siapa pun tidak akan ada yang tahu."

Hari sudah sore.

Udara sangat dingin tapi taman bunga Chrysan tetap tenang seperti biasanya.

Meng Xing-hun dan Lu Xiang-chuan bersiap-siap untuk pulang.

Sejak tadi mereka terus berjalan berkeliling, hampir semua sudut taman sudah dijelajahi.

Sekarang Meng Xinghun merasa dia tidak melihat sesuatu yang istimewa di taman bunga itu.

Yang dilihatnya hanya bunga dan pohon, dia sudah menyelidiki kalau-kalau ada hal yang terlewat dari pandangan matanya dan taman bunga itu seperti tamantaman yang lain, biasa-biasa saja.

Yang Meng Xing-hun tidak tahu adalah di tempat itu ada berapa orang tinggal, dan perangkapnya di pasang di mana saja?

Kapan mereka bergantian menjaga rumah Lao-bo?

Kekuatan Lao-bo sudah sampai sejauh mana?

Hanya kata-kata Lu Man-tian yang dia ingat.

'Lao-bo tidak akan memberi kesempatan kepada orang lain untuk membunuhnya.' Bila bukan Lu Man-tian yang mengkhianati Lao-bo, Meng Xing-hun pun tidak mempunyai kesempatan untuk membunuh Lao-bo.

Tidak ada yang mengetahui bagaimana pola pikir Lao-bo dan tidak ada yang tahu sampai di mana kekuatan Lao-bo yang sesungguhnya.

Meng Xing-hun berpikir, 'apakah bila dia sudah menjadi teman Lao-bo hatinya akan lebih senang'?

Lao-bo adalah sosok yang sangat menakutkan tapi dia tidak menyebalkan.

Kadang-kadang bisa dikatakan sangat lucu, di dunia masih banyak orang yang lebih jahat dari Lao-bo.

Dan Lu Man-tian adalah salah satunya, orang seperti ini harus dibunuh.

Meng Xing-hun merasa bila dia disuruh untuk membunuh Lu Man-tian, dengan senang hati dia akan melakukannya dan hatinya pun akan lebih tenang.

Di dalam taman bunga sangat sepi, tidak ada orang maupun suara.

Apakah Lao-bo tahu akan ada orang yang membunuhnya?

Sebenarnya Meng Xing-hun tidak ingin membunuh Laobo, dia dan Lao-bo sama sekali tidak ada permusuhan dan juga kebencian.

Biasanya bila ingin membunuh seseorang alasannya adalah benci kepada orang itu atau sangat marah.

Hati Meng Xing-hun sudah tenang begitu pula dengan wajahnya.

Tiba-tiba Lao-bo tertawa dan berkata.

"Kau belum tahu mengenai hal ini tapi bila sudah bertahun-tahun kau akan bisa mendengar dan merasakan bila ada seseorang yang akan membunuhmu."

Lao-bo melanjutkan.

"Bila mendengar sesuatu harus menggunakan telinga dan juga pengalaman. Pengalaman berasal dari saat kita menghadapi bahaya dan kesedihan. Dan itu adalah pengalaman yang sangat berharga. Pengalaman membuat orang menjadi lebih pintar dan hidupnya lebih panjang."

Meng Xing-hun menatap wajah Lao-bo yang penuh dengan guratan pengalaman dan kesedihan. Meng Xing-hun diam-diam menghormati Lao-bo, dengan tulus dia berkata.

"Kata-kata Anda tadi, akan kuingat selalu."

Tawa Lao-bo sangat hangat, dengan tersenyum dia berkata.

"Aku selalu menganggap Lu Xiang-chuan sebagai anakku sendiri. Sekarang aku pun berharap demikian kepadamu."

Meng Xing-hun menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap wajah Lao-bo.

Meng Xing-hun merasa Lao-bo sudah berdiri di hadapannya seperti seorang raksasa dan dia adalah orang kerdil.

Dia pun merasa bahwa dia adalah orang yang sangat licik.

Saat itu Lu Xiang-chuan sudah kembali dan ada orang yang memakai baju abu-abu berdiri di belakangnya, orang itu menggendong kotak obat dan tangannya memegang sebuah lonceng.

Tiba-tiba tubuh Meng Xing-hun menjadi kaku.

Dia tidak menyangka si penjual obat itu adalah Ye Xiang.

Sudah lama tidak melihat Ye Xiang yang begitu bersemangat.

Dia terlihat bersemangat dan tenang, sewaktu melihat Meng Xing-hun, dia tidak melihat dengan sembunyi-sembunyi dan wajahnya tidak menampakkan ekspresi apa pun.

Ye Xiang seperti tidak mengenali Meng Xing-hun.

Setelah lama Meng Xing-hun baru dapat tenang kembali, pertama kalinya dia merasa dirinya lebih bodoh dari Ye Xiang.

Dan dia tidak tahu maksud Ye Xiang datang ke sini.

Sepertinya Lao-bo pun tidak tahu, dengan tersenyum Lao-bo bertanya.

"Kau datang tepat pada waktunya, karena kami saat ini membutuhkan seorang tabib."

Dengan tertawa Ye Xiang bertanya.

"Apakah di sini ada yang sakit?"

"Tidak ada, hanya ada orang yang terluka dan mati."

"Orang yang mati? Aku tidak bisa menolong orang mati."

"Kalau orang yang terluka, kau punya obatnya bukan?"

Tanya Lao-bo.

"Aku tidak mempunyai obat itu juga."

"Jadi kau bisa mengobati penyakit apa saja?"

"Aku tidak dapat mengobati semua penyakit."

"Kalau begitu, kau menjual obat apa?"

"Aku pun tidak menjual obat, di dalam kotak obat ini hanya ada sebilah golok dan sebuah guci arak."

Wajah Ye Xiang sama sekali tidak ada ekspresi, dengan ringan dia melanjutkan kembali.

"Aku tidak dapat mengobati orang sakit hanya bisa meminta nyawa orang."

Begitu kalimat ini diucapkan dan mulut Ye Xiang, hati Meng Xing-hun hampir meloncat keluar. Lao-bo malah tertawa dan berkata.

"Kau kemari untuk membunuh orang. Baiklah, di sini banyak orang, kau ingin membunuh yang mana?"

"Bila aku ke sini untuk membunuh, orang, orang yang akan kubunuh adalah kau, namun sekarang ini aku tidak ingin membunuhmu "

"Oh?"

Kata Ye Xiang lagi.

"Aku belum pernah memilih orang sebelum membunuh syaratnya kalau cocok, siapa pun akan kubunuh kecuali kau."

"Mengapa?"

Tanya Lao-bo. Wajah Lao-bo seperti tertawa, sepertinya dia tertarik dengan kata-kata Ye Xiang.

"Aku tidak mau membunuhmu karena aku tahu aku tidak akan sanggup membunuhmu."

Dengan tertawa Ye Xiang berkata lagi.

"Di dunia ini, bila masih ingin hidup dia tidak akan mau membunuhmu. Orang yang ingin membunuhmu adalah orang gila. Sedangkan aku bukan orang gila."

Lao-bo tertawa terbahak-bahak.

"Kau bukan orang gila, tapi kau terlalu tinggi menilaiku."

"Karena aku ingin selamat,"

Kata Ye Xiang.

"Orang hidup mungkin akan dibunuh, dan aku masih hidup."

"Kaupun akan dibunuh orang hanya saja waktunya belum tiba."

"Kapan?"

Tanya Lao-bo.

"Bila kau sudah tua."

"Apakah sekarang aku sudah tua?"

"Sekarang kau belum tua, masih lincah dan masih teguh memegang prinsip, tidak seperti orang tua yang lain yang memiliki pikiran sempit."

Dengan dingin Ye Xiang berkata lagi.

"Tapi aku yakin suatu hari nanti juga akan mati, begitu juga dengan semua orang."

Lao-bo tertawa lagi tapi sorot matanya sudah berubah dan dia berkata.

"Kau datang kemari bukan untuk membunuh lalu kau ke sini untuk apa?"

"Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya."

Dengan tersenyum Lao-bo berkata.

"Kau jangan berbohong walau hanya satu kata."

Akhirnya Ye Xiang mengaku.

"Aku kemari untuk mencari putrimu."

Tiba-tiba wajah Lao-bo berubah, dengan sinis dia berkata.

"Aku tidak mempunyai anak perempuan."

"Kalau begitu aku mencari orang lain yang bernama Sun Tie."

"Aku tidak mengenalnya."

"Aku tahu kau tidak akan mengakui dia sebagai putrimu karena aku ke sini untuk membawanya pergi,"

Kata Ye Xiang lagi.

"Membawa dia pergi?"

Tanya Lao-bo heran.

"Kau tidak menginginkannya, tapi aku masih mau."

"Kemana kau akan membawanya?"

Tanya Lao-bo galak.

"Kau sudah membuang dia, biar aku saja yang membawanya pergi ke tempat yang dia inginkan."

Mata Lao-bo menyorot tajam dan tampak lebih merah, rambutnya pun sudah berdiri sehelai demi sehelai. Tapi Lao-bo masih mencoba menahan diri, dia terus melihat Ye Xiang dan bertanya lagi.

"Sepertinya aku kenal denganmu."

"Memang kau pernah bertemu denganku,"

Kata Ye Xiang.

"Beberapa tahun yang lalu aku pernah bertemu denganmu dan...."

Ye Xiang memotong kata-katanya.

"Dan menyuruh Han Tang mengusirku, mengusirku ke tempat yang aku sendiri pun tidak tahu ke tempat mana."

"Kau tidak mati?"

Ye Xiang hanya tertawa, sebelum sempat dijawab Laobo sudah berdiri di hadapannya, menarik baju dan mengangkat tubuh Ye Xiang. Dengan nada galak Lao-bo bertanya.

"Apakah anak Xiao Tie adalah anakmu?"

Ye Xiang tidak menjawab.

"Bicara! Ayo bicara!"

Kata Lao-bo dengan sangat marah.

Lao-bo mengguncang-guncangkan tubuh Ye Xiang, sepertinya tulang-tulang tubuh Ye Xiang hampir lepas semua.

Wajah Ye Xiang tidak berubah sedikit pun, dengan ringan dia berkata.

"Kalau kau terus menarik bajuku, aku tidak dapat bicara."

Mata Lao-bo terus melihat Ye Xiang, bola matanya seperti akan keluar, urat nadi di dahinya pun sudah bertonjolan.

Lu Xiang-chuan sangat terkejut dia belmu pernah melihat Lao-bo begitu murka dan belum pernah melihat Lao-bo tidak dapat menahan emosinya.

Meng Xing-hun sangat terkejut, mendengar nama Sun Tie, dia lebih terkejut lagi.

Mimpi pun dia tidak menyangka orang yang akan dibunuhnya adalah ayali dari kekasihnya.

Sekarang dia sudah tahu apa tujuan Ye Xiang ke sini, tidak lain adalah memberitahu hal ini, jangan membuat kesalahan yang akan membuat kau menyesal seumur hidupmu.

Demi Meng Xing-hun dan Sun Tie, Ye Xiang rela mengorbankan segalanya, termasuk nyawanya.

Sekarang Meng Xing-hun beru mengerti orang yang dicintai oleh Ye Xiang adalah Sun Tie, demi Xiao Tie dia rela mati.

"Mengapa? Mengapa?"

"Apakah ayali anak Xiao Tie adalah Ye Xiang?"

Meng Xing-hun merasa bumi dan langit berputar sangat kencang, semua hancur di depan matanya.

Baca Juga: Pendekar Misterius 2

Baca Juga: Bulu Merak Gu Long

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert