Ceritasilat Novel Online

Antara Budi Dan Cinta 3

Eps 3 Antara Budi Dan Cinta - Gu Long

Baca online Antara Budi Dan Cinta - Gu Long

Cersil Antara Budi Dan Cinta - Gu Long.

Undangan ini sangat tiba-tiba, aneh, jarang ada orang yang mengundang orang yang akan membunuhnya.

Dan ajakan seperti ini tidak ada yang mau menerimanya.

Tapi Meng Xing-hun berjalan menghampirinya, kemudian duduk dalam jarak beberapa meter dari Han Tang.

Tangan Han Tang masih memegang beberapa batang alat pancing begitu dilempar pancingan itu jatuh ke hadapan Meng Xing-hun.

Meng Xing-hun menangkapnya kemudian mengucapkan.

"Terima kasih!"

"Biasanya kau memakai umpan apa untuk memancing?"

"Biasanya aku memakai 2 macam umpan."

"Umpan macam apa?"

"Yang satu adalah umpan yang paling disukai oleh ikan dan semacam lagi adalah umpan yang aku sukai,"

Jawab Meng Xing-hun.

"Keduanya sangat baik,"

Han Tang Mengangguk.

"Lebih baik lagi bila tidak memasang umpan dan membiarkan itu memancingku."

Han Tang terdiam.

Sampai saat ini dia belum melihat wajah Meng Xing-hun dan tidak ada niat untuk melihat Meng Xing-hun.

Namun Meng Xing-hun ingin melihat Han Tang.

Wajah Han Tang sangat biasa, hidung, mata, mulut pun biasa.

Dia seperti orang biasa yang Meng Xing-hun temui sehari-hari.

Wajah yang biasa ini bila dipasang di tubuh orang lain tidak akan diperhatikan oleh siapa pun.

Tapi karena dipasang di tubuh Han Tang, hal itu sudah bukan hal yang biasa lagi, melihat Han Tang hati Meng Xing-.hun serasa tertekan dan dia merasa takut.

Hampir membuat Meng Xing-hun tidak dapat bernafas.

Meng Xing-hun mulai memasang pancingannya.

Tiba-tiba Han Tang berkata.

"Kau lupa memasang umpan."

Meng Xing-hun sangat terkejut setelah lama dia baru menjawab.

"Aku sudah bilang bila memancing aku tidak pernah menggunakan umpan."

"Kau salah, jika tidak ada umpan maka tidak akan ada ikan."

Meng Xing-hun memegang pancingannya dengan erat dan dia berkata.

"Dapat atau tidak mendapatkan itu tidak jadi masalah asal aku dapat memancing."

Han Tang mengangguk dan berkata.

"Betul juga."

Tiba-tiba Han Tang membalikkan tubuh dan melihat Meng Xing-hun, pandangan Han Tang seperti paku sudah memaku Meng Xing-hun hingga ke dalam daging dan talangnya.

Meng Xing-hun merasa wajahnya menjadi beku.

"Siapa yang menyuluhmu ke sini?"

Tanya Han Tang.

"Aku sendiri yang mau."

"Apakah kau sendiri yang akan membunuhku?"

"Benar."

"Mengapa?"

Meng Xing-hun menolak untuk menjawab karena memang tidak perlu untuk menjawabnya, dia yakin Han Tang sendiri sudah mengerti. Setelah lama Han Tang baru mengangguk kemudian berkata.

"Aku tahu siapa kau."

Meng Xing-hun terperanjat.

"Oh?"

"Dalam beberapa tahun ini telah muncul seorang pembunuh yang sangat menakutkan, dia membunuh orang yang sulit dibunuh."

"Oh?"

"Dan yang pasti pembunuh itu adalah kau."

Meng Xinghun hanya terdiam. Diam artinya Meng Xing-hun mengakuinya.

"Bila kau ingin membunuhku,sekarang masih belum dapat kau lakukan,"

Kata Han Tang.

"Mengapa?"

"Pembunuh jarang ada yang pintar tapi kau sangat pintar, cara berpikirmu pun sangat tinggi dan cenderung aneh."

Meng Xing-hun terus mendengarkan. Kata Han Tang lagi.

"Karena cara berpikirmu aneh dan tinggi karena itu kau tidak pernah bisa menjadi pembunuh yang baik. Seorang pembunuh tidak boleh terlalu pintar dan seorang pembunuh bukan tipe orang yang suka berpikir."

"Mengapa?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Karena orang yang pintar pada saat membunuh dia akan merasa takut."

"Bila aku takut aku tidak akan kemari."

Han Tang berkata lagi.

"Datang ke sini adalah hal yang berbeda dan takut pun adalah hal yang berbeda juga."

"Kau menganggapku takut, aku takut apa?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Kau takut kepadaku, kau ingin membunuhku tapi kau juga tahu aku lebih kuat darimu."

Pandangan matanya sangat tajam dan dengan perlahan dia berkata.

"Karena takut itulah kau akan melakukan kesalahan."

Meng Xing-hun bertanya dengan penasaran.

"Kesalahan apa?"

"Pertama, kau lupa memasang umpan. Kedua, kau tidak melihat pancingan itu sudah terpasang umpan."

Telapak tangan Meng Xing-hun keluar keringat dingin.

Dia merasa pancingannya bergoyang, artinya ada ikan yang terpancing.

Bila pancingan itu dapat menangkap ikan berarti pancingan itu memang sudah ada umpan sejak tadi.

Kalau pancingan itu memang sudah ada umpan artinya Meng Xing-hun benar-benar takut pada Han Tang.

Bila tidak takut kepada Han Tang dia pasti melihat bahwa pancingan itu memang sudah ada umpannya.

Kata Han Tang lagi.

"Seorang pembunuh tidak boleh melakukan kesalahan apalagi kau sudah melakukan kesalahan sebanyak dua kali."

Meng Xing-hun tiba-tiba tertawa dan berkata.

"Melakukan, kesalahan satu kali saja sudah fatal dan melakukan kesalahan dua kali adalah, mati."

"Kematian sebenarnya tidak boleh dijadikan mainan."

Meng Xing-hun hanya tertawa.

"Mengapa kau tertawa?"

Tanya Han Tang.

"Aku tertawa karena kau pun sudah melakukan kesalahan."

"Oh!"

Seru Han Tang. Kemudian Meng Xing-hun melanjutkan lagi.

"Sebenarnya kau tidak perlu memberitahu kata-kata tadi kepadaku karena kau sudah menceritakannya maka kau pun sudah melakukan kesalahan."

Karena merasa aneh Han Tang bertanya.

"Di mana letak kesalahanku?"

"Kau mengatakan semua ini sebab kau tidak sanggup membunuhku dan kau berusaha membuatku menjadi takut."

Pancingan Han Tang pun bergerak namun dia tidak mengangkatnya. Kata Meng Xing-hun lagi.

"Pengalamanmu lebih banyak, hatimu pun lebih kejam dari diriku. Pada saat menyerang aku tidak secepat dirimu semua ini sudah aku pikirkan."

"Bila semua sudah kau pikirkan, mengapa masih datang ke sini?"

"Karena aku masih mempunyai kelebihan lain."

"Oh!"

Kata Meng Xing-hun melanjutkan lagi.

"Aku lebih muda dari dirimu."

"Lebih muda bukan kelebihan tapi kekurangan."

Meng Xing-hun membantah.

"Anak muda memiliki tenaga dan stamina lebih kuat."

"Stamina?"

"Pembunuh profesional tidak akan melakukan hal yang tidak dapat dia lakukan. Kau tidak dapat membunuhku, itu artinya kau belum mulai."

Han Tang tertawa dingin.

Wajah Han Tang selalu tidak menunjukkan perasaan, yang ada hanyalah tawa dingin.

Bisa membuat orang seperti Han Tang menunjukkan perasaannya artinya cara itu sangat tepat, paling sedikit sudah mengenai titik kelemahannya.

Meng Xmg-hun menyambung lagi.

"Kau selalu menungguku lengah pada saat itu kau akan langsung menyerang namun aku tidak akan memberi kesempatan, karena, itu kita harus saling menunggu. Siapa yang kuat dia yang akan menang."

Han Tang terdiam lama baru berkata.

"Kau adalah orang yang menarik."

"Menarik?"

"Aku belum pernah membunuh orang seperti dirimu."

Meng Xing-hun berkata.

"Tentu saja sebab orang sepertimu tidak akan sanggup membunuh orang seperti diriku."

Han Tang tampaknya sedang berpikir dan sepertinya dia tidak mendengar kata-kata Meng Xing-hun, setelah lama dia baru berkata.

"Aku belum pernah membunuh orang seperti dirimu tapi aku pernah bertemu dengan orang seperti dirimu."

Meng Xing-hun hanya bisa mengucapkan.

"Oh."

"Orang seperti dirimu tidak banyak, tapi aku benar pernah bertemu dengan orang seperti dirimu,"

Kata Han Tang.

"Siapakah?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Ye Xiang."

Memang benar Han Tang mengenal Ye Xiang.

Hal ini dapat ditebak oleh Meng Xing-hun.

Tapi dia tidak dapat menebak dari mana mereka bisa saling mengenal?

Dan mereka memiliki hubungan apa?

Han Tang terus berkata.

"Dia sangat tenang, cepat, dan pemberani. Siapa pun yang dibunuh olehnya, dalam sekali pukul langsung melayang jiwanya. Dalam hal membunuh tidak ada yang lebih baik dari dirinya."

Meng Xing-hun pun berkata.

"Memang dia orang seperti itu."

"Apakah kau mengenalnya?"

Meng Xing-hun mengangguk.

Meng Xing-hun tidak ingin berbohong karena dia tahu bahwa Han Tang tidak suka dibohongi.

Sekarang Han Tang adalah musuhnya namun Meng Xing-hun merasa entah mengapa di depan oramg ini dia selalu mengatakan yang sebenarnya.

Orang yang mampu membuat Meng Xing-hun mengatakan hal yang sebenarnya tidak banyak.

"Kalian pasti saling mengenal, aku sudah dapat menebaknya dan kalian datang dari tempat yang sama."

"Bagaimana kau tahu kami datang dari mana?"

Tanya Meng Xing-hun. Han Tang menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata.

"Aku belum pernah menanyakannya karena aku tahu dia tidak akan pernah mengatakannya."

"Di mana kau mengenalnya?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Dia adalah satu-satunya orang yang dapat lolos dari tanganku."

Meng Xing-hun menanggapi.

"Aku percaya hal itu"

"Aku tidak membunuhnya bukan karena aku tidak sanggup melainkan aku yang tidak mau."

"Mengapa?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Semua perkerjaan membunuh bukan hanya kita saja, kecuali perkerjaan pembunuh, di dunia ini pembunuh profesional tidak banyak, Ye Xiang adalah salah satunya."

"Kau membiarkan Ye Xiang hidup karena kau ingin dia membunuh orang lebih banyak lagi,"

Tanya Meng Xinghun.

"Benar."

"Kau salah!"

"Apa yang salah?"

"Sekarang ini dia sudah tidak berani membunuh orang lagi."

"Mengapa?"

Tanya Han Tang heran.

"Karena kau sudah menghancurkan rasa percaya dirinya."

Sekarang Meng Xing-hun tahu mengapa Ye Xiang bisa seperti itu. Setelah lama Han Tang baru mengangguk dan berkata.

"Benarkah dia sudah tidak sanggup membunuh lagi? Seharusnya waktu itu dia langsung kubunuh saja."

Han Tang mengangkat kepalanya dan memandang Meng Xing-hun kemudian dia berkata.

"Hari ini aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama, aku tidak akan membiarkanmu hidup pada saat keluar dari sini."

Meng Xing-hun hanya menjawab.

"Aku tidak akan menyalahkanmu untuk hal ini karena aku pun tidak akan membiarkanmu hidup...."

Tiba-tiba Meng Xing-hun menutup mulutnya.

Mulut Han Tang pun sepertinya menjadi kaku.

Karena mereka mencium gerakan yang membawa hawa darah.

Bila ikan berada di antara gunung.

Senja sudah tiba.

Mereka berdua melihat ada 2 orang masuk.

Dua orang ini penuh dengan darah, seluruh tubuh tidak ada yang tidak ternoda oleh darah.

Bisa bertalian hidup sampai ke tempat itu hanya karena mereka masih ingin terus hidup.

Karena keinginan hidup membuat mereka bisa melakukan hal yang tidak mungkin.

Tiba di depan Han Tang barulah mereka roboh.

Han Tang masih memandang pancingannya, sepertinya langit runtuh pun tidak akan membuatnya gentar.

Meng Xing-hun melihat kedua orang itu, di antaranya ada seseorang dengan sorot mata meminta dan dengan suara terengah-engah dia berkata.

"Tolong, sembunyikan kami. Di belakang ada yang mengejar...."

Yang lainnya berkata.

"Kami adalah orang-orang suruhan Lao-bo, karena kecerobohan anak laki-laki Lao-bo, Sun Jian jadi terbunuh."

Meng Xing-hun melihat Han Tang, dia menyangka setelah mendengar berita ini, Han Tang akan bertanya sesuatu. Sepertinya Han Tang tidak mendengarkan ucapan mereka. Orang itu berkata lagi.

"Kami bukan orang penakut tapi kami harus memberitahu kabar ini kepada Lao-bo."

Yang seorang lagi berkata.

"Asal kau mau membantu kami, Lao-bo pasti akan sangat berterima kasih kepada tuan-tuan. Tuan-tuan pun pasti tahu bahwa Lao-bo sangat senang berteman."

Meng Xing-hun hanya mendengarkan ucapan mereka, sedikit pun tidak ada reaksi.

Dia menunggu reaksi Han Tang.

Han Tang tetap tidak bereaksi sepertinya dia pun tidak mendengar kata-kata tentang Lao-bo.

Meng Xing-hun sangat kagum kepada ketenangan Han Tang dan dia mulai merasa terkejut.

Dari sosok seorang Han Tang, Meng Xing-hun menjadi lebih mengenal Lao-bo, semakin mengenal Lao-bo semakin membuatnya takut.

Lao-bo dapat membuat seorang Han Tang begitu penurut dan setia.

Dari sini dapat diketahui bagaimana sosok seorang Lao-bo.

Melihat sorot mata orang itu yang begitu ketakutan, di luar sudah ada 3 orang yang masuk.

"Sudah kukatakan, kemana pun kalian pergi kalian tidak akan bisa lolos."

Teriak salah seorang. Orang yang kedua berkata.

"Kami sudah sampai di sini, paling sedikit kami harus berkenalan dengan pemilik kolam."

Orang yang ketiga bertanya.

"Siapa pemilik kolam ini?"

Matanya melihat Meng Xing-hun.

"Aku hanya memancing."

Orang pertama berkata lagi.

"Siapa pun tuan rumahnya, tidak menjadi masalah, asalkan orang-orang tadi kau suruh keluar kalian akan aman, bila tidak...."

Orang kedua pun berkata.

"Mereka adalah anak buah LaO-bo, mereka sudah membunuh orang-orang kami, yang kami cari adalah mereka berdua."

Orang yang terbaring di tanah mulai memberontak sepertinya mereka akan melarikan diri. Tiba-tiba Han Tang bertanya.

"Apakah mereka yang kalian inginkan?"

Begitu dia membuka mulut, Meng Xing-hun sudah tahu bahwa Han Tang akan bertindak. Pada saat dia bertindak, ketiga orang itu tidak akan hidup lebih lama lagi.

"Ya, Kami akan membawa orang ini,"

Jawab orang pertama.

"Baiklah!"

Pada saat kata 'baik' diucapkan dari mulutnya, dia sudah mulai bertindak, tidak ada yang melihat bagaimana Han Tang bergerak.

Hanya terdengar suara 'PUG' dan kepala dua orang yang terlihat terluka sudah pecah.

Terpaksa Meng Xing-hun mengelak karena darah bercipratan kemana-mana.

Han Tang tidak menoleh dan dia berkata.

"Cepat bawa orang ini pergi!"

Ketiga orang itu sangat terkejur dan mulai gelisah.

Mereka tidak tahu mengapa Han Tang membunuh anak buah Lao-bo, tapi Meng Xing-hun tahu alasannya.

Orang-orang pemberontak itu luka-lukanya tidak separah seperti yang terlihat dari luar dan dia mengetahui di lengan baju mereka tersimpan senjata rahasia.

Ini adalah tipuan.

Tipuan yang diperlihatkan kepada Han Tang.

Bila Han Tang percaya bahwa mereka adalah anak buah Lao-bo, Han Tang akan berada dalam posisi yang sulit.

Meng Xing-hun tidak tahu bahwa Han Tang bisa menebak hal itu karena Han Tang sama sekali tidak pernah memandang mereka.

Lawannya yang bertiga itu merasa lebih aneh lagi.

Meng Xing-hun memandang mereka dan dengan sorot mata aneh, mereka tampak bingung bagaimana harus bercerita kepada Han Tang.

Ucap orang kedua.

"Kami kemari hanya untuk meminta nyawa mereka, sekarang mereka sudah mati, sebaiknya kami permisi pulang."

Kata-kata orang ini selalu ramali dan sepertinya hanya untuk menutupi rencananya.

Setelah habis berkata mereka bertiga berbarengan mundur.

Pada saat itu pun terlihat berkelebat cahaya golok yang berkilauan.

Tiga orang berbarengan berteriak kemudian mematung, tiga buah kepala seperti tiga bola yang ditendang oleh orang dan terbang ke atas langit.

Golok yang sangat cepat.

Golok masih bersih tidak terlihat ada bercak darah sedikit pun.

Golok ini digenggam oleh seorang laki-laki yang tegap dan berbaju mewah.

Walaupun orang ini tidak memegang golok dia tetap akan membuat orang-orang gemetaran.

Dia datang dengan hawa membunuh.

Sekali melihat pun tahu bahwa orang ini biasanya senang memerintah.

Hanya orang berkedudukan, tinggi, bisa menjadi begitu angkuh.

Meng Xing-hun tahu bahwa orang ini bukan teman Laobo.

Hanya terdengar-suara berat berkata.

"Mereka berlima anak buah Wan Peng-wang. Sengaja membuat sandiwara ini untuk menipumu, seharusnya kau jangan membiarkan mereka melarikan diri."

Hati Meng Xing-hun terasa tenggelam. Orang ini adalah teman Lao-bo, bila dia bersatu dengan Han Tang, dia tidak alon mempunyai kesempatan untuk membunuh Han Tang lagi.

"Apakah kau mengenal Lao-bo?"

Tanya Han Tang. Orang ini tertawa dan berkata.

"Lao-bo pernah membantuku dan aku selalu mancari kesempatan untuk membalas budinya. Aku tahu bahwa Lao-bo sedang berselisih dengan Wan Peng-wang karena itu aku selalu mengawasi gerak gerik Wan Peng-wang."

Han Tang mengangguk dan berkata.

"Terima kasih."

Saat Han Tang mengucapkan kata terima kasih, Han Tang sudah merasa ada yang tidak beres.

Karena Meng Xing-hun merasa Han Tang bukan orang yang terbiasa mengucapkan terima kasih.

Saat itu Meng Xing-hun melempar pancingannya, terlihat benang pancingan itu sudah melilit leher orang itu.

Han Tang sepertinya akan membunuh orang yang sudah menolongnya.

Sepertinya Han Tang akan membunuh semua orang.

Tali pancing sudah melilit leher orang itu dengan erat dan kencang, dan tali itu kencangnya seperti urat sapi.

Nafasnya serasa berhenti.

Hanya tinggal sekali pukul, Han Tang akan berhasil membunuh orang ini.

Sekali pukul langsung mengenai sasarannya, cara seperti ini adalah cara Han Tang.

Juga cara Meng Xing-hun membunuh.

Tapi sepertinya kali ini Han Tang sudah melakukan kesalahan.

Karena semenjak orang itu datang, dia tidak pernah melihat golok yang dipegang oleh orang itu.

Saat goloknya diayun, tali yang melilit leher orang itu sudah putus.

Orang ini kemudian meloncat sangat tinggi, langsung mundur dan menghilang.

Han Tang sudah melakukan kesalahan dan dia terlalu percaya kepada kekuatan tali pancingan itu, juga terlalu percaya diri.

Bila seseorang terlalu percaya diri, dia akan melakukan kesalahan yang fatal, kadang-kadang seseorang itu lebih baik tidak memiliki rasa percaya diri.

Pertama kalinya Meng Xing-hun melihat wajah Han Tang yang berubah.

Han Tang dan.

Meng Xing-hun meragukan bahwa orang itu bukan teman mereka.

Dari dalam kegelapan muncul kembali 3 orang.

Saat melihat 3 orang itu, Han Tang terlihat sudah kembali tenang dan tiba-tiba orang-orang itu tertawa kepada Han Tang kemudian berkata.

"Mengapa kau tahu bahwa kelima, orang tadi adalah pembohong? Dan akulah yang akan membunuhmu?"

Han Tang tidak menjawab malah balik bertanya.

"Kalian semua adalah anak buah Wan Peng-wang."

"Aku adalah Tu Da-peng,"

Jawab orang itu. Orang yang baru tiba pun ikut berbicara.

"Aku adalah Jin-peng."

"Aku adalah In-peng."

"Aku adalah Nu-peng."

Sandiwara ini telah usai, mereka tidak perlu berbohong lagi.

Apalagi sejak awal.

mereka belum sempat membohongi Han Tang.

Mata Han Tang terus menyipit, dia mengenal 4 orang ini dan juga tahu mengenai kehebatan mereka.

Perlahan-lahan mereka mulai mendekat Han Tang.

Meng Xing-hun merasa posisinya saat ini sungguh lucu, dia datang ke sini untuk membunuh Han Tang dan sekarang ini Tu Da-peng menganggap dia adalah teman Han Tang.

Dan mereka tidak akan melepaskan Meng Xing-hun begitu saja.

Apakah Han Tang menginginkan dia menemaninya mati?

Satu-satunya cara untuk bertahan, hidup adalah membantu Han Tang membunuh keempat orang itu namun dia tidak dapat melakukan hal itu.

Meng Xing-hun tidak dapat memperlihatkan kepandaiannya di depan orang-orang itu.

Dia pun tidak sanggup membunuh keempat orang itu untuk tatap mulut.

Karena itulah dia harus ikut mati.

Tu Da-peng berbicara dilanjutkan oleh Nu-peng, Inpeng, dan Jin-peng.

"Han. Tang seharusnya kau merasa bangga karena pada saat kami membunuh Sun Jian, kami tidak perlu menggerakkan jari-jari kami tapi kali ini kami harus mengerahkan sekuat tenaga."

"Apakah kau tahu. mengapa kami harus membunuhmu? Karena kau adalah teman baik Sun Yu-bo. Saat ini Wan Peng-wang dan Sun Yu-bo sedang bermusuhan."

"Kau pasti bertanya-tanya mengapa kami tahu hubunganmu dengan Sun Yu-bo, karena ada orang yang memberitahu kami. Sayang seribu sayang, seumur hidupmu kau tidak akan mampu menebak siapa orang ini."

"Karena orang ini sangat dipercaya oleh Sun Yu-bo karena itu kami jadi. tahu bagaimana hubunganmu dengan Sun Yu-bo."

"Sun Yu-bo selalu menganggap semua anak buahnya sangat setia namun sekarang orang yang dia percayai sudah berani menjualnya, seperti sebatang pohon dengan akarnya yang sudah lapuk."

"Bila akarnya sudah lapuk pohonnya akan cepat tumbang."

"Tapi kau tenang saja sebab Sun Yu-bo akan menyusul ke neraka untuk mencarimu."

Han Tang terus mendengarkan, dia terlihat sangat tenang.

Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, otot mulutnya sepertinya sudah menjadi kaku.

Semenjak tadi Meng Xing-hun merasa aneh mengapa Tu Da-peng terus berbicara, sekarang dia baru mengerti, mereka terus berbicara hanya untuk membuat perhatian Han Tang menjadi buyar dan membuat Han Tang menjadi tegang.

Bila Han Tang tegang maka otot-ototnya akan menjadi keras dan kaku, bila sudah seperti itu akan membuat orang menjadi lemah dan gerakan pun menjadi lambat.

Meng Xing-hun sepertinya sudah dapat menebak bagaimana nasib Han Tang selanjutnya.

Bagaimana dengan Meng Xing-hun sendiri?

Tiba-tiba dia melihat Tu Da-peng melambai-lambaikan tangan kepada Meng Xing-hun, dan dia pun mendekati Tu Da-peng.

Meng Xing-hun begitu gemetaran saat mendekati Tu Dapeng.

Walaupun dia tidak pernah mendengar nasihatnasihat Lao-bo, namun Meng Xing-hun tahu bagaimana harus membuat musuh salah tafsir dan membuat musuh memandang enteng kepadanya.

Mata Tu Da-peng seperti sebuah pecut.

Dan pecut ini seperti sedang diayun-ayunkan olehnya.

Setelah lama Tu Da-peng bertanya kepadanya.

"Apakah kau ke sini hanya untuk memancing?"

Meng Xing-hun mengangguk.

"Apakah kau kenal dengan Han Tang?"

Meng Xing-hun menggelengkan kepalanya. Tanya Tu Da-peng lagi.

"Bila dia tidak mengenalmu, mengapa dia membiarkanmu memancing di sini?"

Meng Xing-hun hanya menjawab.

"Karena.... aku adalah seorang pemancing."

Kalimat itu sungguh tidak masuk akal dan sama sekali bukan penjelasan yang bagus. Tapi Tu Da-peng menganggukkan kepalanya dan berkata.

"Benar juga, karena kau hanya seorang pemancing, Han Tang menganggap kau bukan ancaman baginya karena itu dia mengijinkanmu memancing di sini."

"Aku pun menganggapnya seperti itu,"

Kata Meng Xinghun.

"Sayang, kau bukan orang tuli,"

Kata Tu Da-peng. Meng Xrng-hun tidak mengerti ucapan Tu Da-peng kemudian dia pun bertanya.

"Apa maksudnya aku bukan seorang yang tuli?"

"Bila kau adalah seorang yang tuli kami pasti akan melepaskanmu namun sekarang ini kau sudah mendengar begitu banyak. Dengan terpaksa kami harus membunuhmu untuk tutup mulut, sungguh kami sangat menyesal."

Kata-kata Tu Da-peng sangat ramah jarang ada orang yang bisa berkata begitu ramah.

Meng Xing-hun sudah dapat menebak mengapa Tu Dapeng sangat dipercayai oleh Wan Peng-wang.

Dia pun merasa untuk lolos dari tangan Tu Da-peng sungguh tidak mudah.

Tu Da-peng bertanya lagi.

"Apakah kau bisa silat?"

Meng Xing-hun menggeleng-gelengkan kepalanya. Kata Tu Da-peng lagi.

"Bila kau bisa silat kemungkinan masih memiliki sedikit kesempatan untuk hidup, di antara kami berempat kau boleh memilih satu sebagai lawanmu dan bila kau menang melawannya dengan satu jurus saja, aku akan membiarkanmu pergi."

Ini adalah tawaran yang sangat menarik.

Di antara mereka berempat dilihat dari mana pun mereka bukan lawan yang tangguh untuk seorang Meng Xing-hun.

Sungguh sulit menolak tawaran menarik ini tapi bila dia menerima tawaran, ini dia akan.

seperti seekor ikan yang siap menelan umpan.

Di luar gunung tampak banyak bayangan orang, golok dan pisau pun berkilauan.

Tu Da-peng tidak bohong, mereka telah mengerahkan tenaga penuh.

Saat ini orang yang senang memelihara ikan sudah menjadi seekor ikan.

Seekor ikan yang berada di dalam jala.

Meng Xing-hun tidak ingin menelan umpan tapi bila dia menolak, apakah orang-orang itu akan tahu bahwa dia adalah orang yang pintar?

Umpan yang disodorkan Tu Da-peng pun ada dua macam, dan kedua-duanya sangat disukai oleh Tu Da-peng.

Meng Xing-hun merasa lehernya yang kaku seperti sudah dililit oleh seutas tali.

Dengan sudah payah dia membalikkan kepalanya dengan tidak sengaja matanya melihat mata Tu Da-peng, dari pancaran matanya Meng Xing-hun melihat adanya sedikit harapan.

Karena pada saat matanya melihat mata Tu Da-peng, tidak terlihat adanya hawa membunuh, sebaliknya Tu Dapeng tampak memandang ringan Meng Xing-hun.

Meng Xing-hun menundukkan kepalanya dan secara tiba-tiba dia menubruk Tu Da-peng, dari pancaran mata Tu Da-peng terlihat dia sedang menahan tawa.

Kemudian golok pun sudah diayunkan.

Meng Xing-hun berteriak.

"Kau adalah orang yang aku pilih."

Meng Xing-hun berteriak sambil menubruk ujung golok Tu Da-peng.

Sepertinya dia tidak tahu bahwa golok itu bisa membunuh orang.

Ujung golok menusuk ke dalam dadanya, seperti seekor ikan meluncur masuk ke dalam air sangat licin dan cepat.

Meng Xing-hun sama sekali tidak merasa sakit.

Meng Xing-hun berteriak lagi dan jatuh kemudian tidak dapat bangun.

Dia jatuh dengan posisi wajah mencium tanah.

Suara teriakan berhenti dan darah mengalir mengikuti ujung golok kemudian menetes.

Tu Da-peng melihat Meng Xing-hun roboh seperti melihat seekor ikan yang mati.

Dengan perlahan dia berkata.

"Anak ini hanya tahu memancing."

Nu-peng pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, berkata.

"Aku pun tidak mengerti mengapa dia memilihmu?"

"Sebab memang dia ingin mati."

Pada saat dia berkata 'mati', tubuh Tu.

Da-peng sudah meloncat menjauh dan bersamaan dengan waktu itu Jinpeng, In-peng, dan Nu-peng juga ikut meloncat.

Mereka menggunakan cara dan kecepatan yang sama.

Keempat orang itu seperti empat panah dan pada saat yang sama dilepaskan dari busurnya dan sasarannya tidak lain adalah Han Tang.

Tidak ada orang yang bisa lolos dari panah ini, begitu pun dengan Han Tang.

Benar saja Han Tang roboh.

Cahaya golok semakin berkilauan dan menghilang dengan cepat.

Pertarungan yang seru dan begitu cepat selesai, sebab semua cahaya dan tenaga secara bersamaan dikeluarkan, mereka berempat sudah mengelilingi Han Tang.

Nyawa Han Tang benar-benar terancam.

Pada saat mereka meninggalkan Han Tang saat itulah Han Tang sudah roboh dan tidak akan pernah bisa bangun kembali.

Pertarungan hanya terjadi dalam waktu singkat dan cara menyelesaikannya pun sangat sederhana.

Sederhananya seperti mengeluarkan sebuah hembusan nafas.

Tapi Meng Xing-hun sangat seksama memperhatikan pertarungan itu.

Meng Xing-hun dengan sangat teliti memperhatikan gerakan mereka.

Jurus-jurus mereka tidak semudah yang dilihat paling sedikit mereka sudah, mengeluarkan 13 jurus.

Setiap jurus gerakannya sangat kejam dan cepat.

Meng Xing-hun tidak mati, dia sering membunuh orang dan dia tahu bagaimana dengan menusuk satu kali bisa langsung mematikan dan sebaliknya dia juga tahu bagaimana menusuk dengan cara yang tidak mematikan.

Karena itulah dia lebih suka bila dia sendiri yang menusuk ujung golok Tu Da-peng ke dadanya.

Meng Xing-hun membiarkan golok Tu Da-peng menusuk bagian tubuhnya yang tidak berbahaya walaupun bagian ini sangat dekat dengan jantung.

Cara membunuh yang paling sulit adalah harus tepat mengenai sasaran, sama sekali tidak boleh meleset.

Walau kepandaian Tu Da-peng sangat tinggi tetapi dia tidak mempunyai banyak pengalaman dalam membunuh orang, meskipun seseorang mempunyai ilmu kungfu yang tinggi tetapi belum tentu mengetahui cara untuk membunuh orang.

Seperti seseorang yang telah mempuyai 8 orang anak belum tentu dia mengetahui artinya cinta.

Sebenarnya tusukan Tu Da-peng tidak tepat menusuk pada sasaran tetapi dia menyangka sudah tepat menusuk ke jantung Meng Xmg-hun.

Meng Xing-hun dengan cepat merobohkan dirinya, dia tidak ingin ujung golok terlalu dalam menusuk dadanya.

Setelah dia menjatuhkan diri wajah Meng Xing-hun menghadap ke arah tanah karena dia tidak menginginkan banyak darah yang keluar, juga Meng Xing-hun ingin mengetahui cara mereka membunuh Han Tang.

Dia juga ingin mengetahui apakah Han Tang bisa melawan mereka.

Seorang Han Tang di.

dunia sulit dicari tandingannya.

Orang ini sewaktu hidup sangat aneh sekarang cara matinya pun aneh.

Bila kita ingin membunuh orang semacam itu pasti harus menggunakan cara yang istimewa dan hal ini jarang terjadi.

Oleh karena itu biarpun berbahaya Meng Xing-hun tetap ingin melihatnya.

Golok itu terlalu tajam, Meng Xing-hun yang sudah lama roboh dia baru merasakan sakit, beruntung dia masih dapat menutup luka dengan tangannya.

Waktu itu Tu Da-peng sudah mulai bertarung dengan Han Tang.

Sebenarnya Meng Xing-hun harus berpura-pura mati tetapi saat itu adalah kesempatan langka dan tidak dapat dibiarkan begitu saja.

Meng Xing-hun terus melihat jalannya pertarungan itu.

Begitu Tu Da-peng mendekati Han Tang dia sudah mengeluarkan beberapa jurus.

Tiap jurus yang dikeluarkan adalah jurus yang sangat mematikan, Han Tang ingin membuat mereka menganggap bahwa dia ingin mati bersama mereka.

Bila Han Tang tidak dapat hidup setelah pertarungan itu, di antara mereka berempat harus ada satu yang ikut mati dengannya.

Mereka mengetahui hal ini di dalam pikiran mereka masing-masing oleh karena itu mereka menjadi tidak tenang.

Di antara mereka, bila ada dua orang yang mempunyai pikiran seperti itu maka gerakan mereka akan menjadi lamban kemungkinan Han Tang mempunyai kesempatan untuk melarikan diri atau menyerang balik.

Tu Da-peng adalah orang pertama yang gerakannya menjadi lambat, hal ini tidak aneh sebab dia pernah bertarung dengan Han Tang sebelumnya.

Orang kedua yang gerakannya menjadi lambat adalah Inpeng.

Sebenarnya dia bertarung menggunakan golok tetapi golok yang biasa dia gunakan sekarang ini terjatuh ke tanah.

Gerakan Han Tang berubah lagi, sekarang dia berhadapan dengan Jin-peng dan Nu-peng.

Bila bisa mengalahkan mereka berdua tentunya yang lain akan segera menyusul.

Yang paling lamban gerakannya ternyata adalah orang yang paling cepat serangannya.

Han Tang tidak memperhitungkan hal ini, tetapi dia tidak mempunyai waktu lagi untuk mengubah gerakannya dengan terpaksa dia menyerang Jin-peng.

Jin-peng kesakitan karena serangan ini dia menggigit pundak Han Tang dan dari bahunya menetes darah.

Walaupun tangan Han Tang menjadi sedikit lamban tetapi dia tetap dapat memukul tulang rusuk Nu-peng.

Nu-peng tidak menghindar, biarpun tulang rusuknya patah dia menjepit tangan Han Tang dengan tangan kanannya.

Persendian tangan Han Tang sudah terkunci.

Walaupun dia mendengar suara tulang yang patah dia tetap tidak melepaskan tangan itu.

Golok Tu Da-peng dari arah depan sudah menembus perut Han Tang.

Semua otot badan Han Tang sudah tidak dapat dikendalikan lagi, air mata, ingus, air liur, dan air kencing keluar secara bersamaan.

Biji matanya pun menonjol keluar, akhirnya mereka berempat melepaskan Han Tang.

Jin-peng masih membungkuk seperti seekor udang, karena kesakitan wajahnya menjadi sangat pucat, air mata terus keluar karena kesakitan.

Di mulutnya masih ada sepotong daging yaitu daging Han Tang.

Wajah Tu Da-peng masih tercengang, dia berdiri dengan wajah, yang pucat.

Ini bukan karena dia kesakitan melainkan karena ketakutan karena melihat keadaan Han Tang.

Walaupun dia sering membunuh orang tetapi melihat hal ini tetap membuatnya ketakutan.

Han Tang tidak roboh karena golok Tu Da-peng masih menembus perutnya.

Meng Xing-hun sudah melihat semua kejadian dengan jelas.

Jika bukan wajahnya yang menghadap tanah dan tidak sedang dalam posisi menekan lambung, dia akan muntah.

Dia sendiri sering membunuh orang tetapi ini adalah pertama kalinya dia melihat orang dibunuh di depan matanya.

Meng Xing-hun tidak menyangka pembunuhan itu sangat kejam dan licik seperti pembunuhan terhadap seekor binatang.

Tu Da-peng setelah lama baru berbicara.

Suaranya terdengar serak dan sangat tegang seperti sebuah anak panah yang siap ditembakkan.

"Aku tahu bahwa kau tidak rela mati seperti ini. Mati pun kau akan tetap menjadi setan gentayangan, tetapi kau tidak boleh mencari kami, kau harus mencari orang yang telah menjualmu."

Han Tang sudah tidak dapat mendegar kata-katanya, tetapi Tu Da-peng terus berkata.

"Cepat kita pergi!"

Suaranya juga terdengar gemetar.

Mayat Han Tang terjatuh.

Mayat ini seakan-akan menarik-narik Tu Da-peng, sepertinya dia benar-benar menjadi setan penasaran yang ingin membalas dendam.

Jin-peng yang kakinya tidak dapat berjalan hanya menggulingkan tubuhnya di atas tanah, akhirnya dia dipapah oleh Nu-peng.

Dia membuka mulutnya dan membuang segumpal daging ke dalam kolam yang langsung diperebutkan oleh ikan-ikan.

Daging yang dimuntahkan itu adalah daging Han Tang.

Jika dia masih hidup, apakah pernah terpikir bahwa ikan peliharaannya memakan daging dan darahnya?

Dia biasa memakan ikan sekarang ikan yang memakannya, dulu dia membunuh orang sekarang dia dibunuh orang, ini adalah akhir hidup seorang pembunuh.

Suasana masih sepi dan angin yang berhembus masih berbau darah.

Meng Xing-hun masih dalam keadaan telungkup, darah dan keringat masih bercucuran.

Keringat dingin sudah membasahi bajunya.

Hari ini dia tidak tewas dalam pertarungan, semua sesuai dengan perhitungannya dan masih ada sedikit kemujurannya.

Apakah dia beruntung?

Bukan itu alasannya.

Ini bukan keberuntungan juga bukan perhitungannya yang tepat.

Melihat cara Tu Da-peng membunuh Han Tang dapat diketahui setiap langkah yang diambil dan gerakannya sudah sangat terlatih serta sangat terencana.

Gerakan mereka sangat licik dan kejam juga sangat terencana.

Tetapi mengapa golok Tu Da-peng bisa meleset dan Meng Xing-hun tidak tewas?

Dari awal dia sudah curiga sekarang dia mengerti semua ini.

Dia tidak tewas sebab Tu Da-peng tidak menghendaki dirinya tewas.

Apa yang dipikirkan oleh Meng Xing-hun sedikit pun tidak meleset.

Tu Da-peng percaya bahwa Meng Xing-hun sudah dianggap teman oleh Han Tang yang merupakan salah seorang anak buah Sun Yu-bo, oleh karena itu Tu Dapeng membiarkan Meng Xing-hun hidup untuk melaporkan hal ini kepada Sun Yu-bo bahwa yang menjual Han Tang adalah Lu Xiang-chuan, dan dialah yang menjadi pengkhianat.

Tetapi Lu Xiang-chuan bukanlah seorang pengkhianat.

Wan Peng-wang ingin Sun Yu-bo sendiri yang membunuh Lu Xiang-chuan.

Bila ingin membunuh Sun Yu-bo harus membunuh Lu Xiang-chuan terlebih dulu.

Rencananya sangat licik dan kejam.

Sekarang dia menyadari kedudukan Lu Xiang-chuan dan pentingnya kedudukan Lu Xiang-chuan dalam perkumpulan Lao-bo.

Sun Jian dan Han Tang sudah tewas orang yang tersisa hanya Lu Xiang-chuan.

Apakah dengan mengandalkan tenaga Lu Xiang-chuan bisa mengalahkan Wan Peng-wang?

Meng Xing-hun sedang berpikir, tapi dia sudah tidak sanggup untuk berpikir lagi karena dia merasa sangat kelelahan, Meng Xing-hun merasa sangat lelah dan juga sangat kedinginan sepertinya bila dia memejamkan mata mungkin dia akan langsung tertidur.

Karena cuaca sangat dingin bila dia tertidur maka dia akan mati kedinginan oleh karena itu dia tidak berani untuk memejamkan mata walau sebentar, tetapi dia sama sekali tidak mempunyai tenaga untuk berdiri.

Darah masih terus mengalir dari lukanya, akibat luka yang sangat parah ini banyak darah yang keluar dan menjadikannya kehilangan tenaga.

Dia hanya mempunyai sedikit tenaga untuk membalikkan tubuhnya.

Setelah berhasil membalikkan tubuhnya, Meng Xing-hun sudah sangat kelelahan, sepertinya dia sudah tidak dapat bertahan lagi.

Pada waktu itulah dia melihat Ye Xiang.

Ooo)dw(ooO Rumah itu sangat gelap dan lembab karena tidak terkena sinar matahari.

Rumah itu adalah tempat tinggal Han Tang, di sudut mangan terdapat sebuah kursi tinggi, bila duduk di atas kursi ini pasti tidak terasa nyaman.

Tetapi Han Tang selalu duduk di kursi ini dan dia duduk sangat lama.

Han Tang tidak suka dengan kenyamanan dan tidak suka menikmati sesuatu apa pun.

Han Tang hidup di dunia untuk siapa tidak seorang pun yang mengetahuinya.

Sekarang yang menduduki kursi ini adalah Ye Xiang.

Dia duduk dengan diam dan matanya menerawang sepertinya apa pun tidak terlihat dan tidak ada sesuatu yang dipikirkan.

Sewaktu Han Tang duduk di sana ekspresinya seperti Ye Xiang.

Meng Xing-hun berbaring di tempat tidur berseberangan dengan kursi itu.

Dia telah menceritakan semua yang terjadi, dia sedang menunggu Ye Xiang untuk berkomentar.

Sewaktu Ye Xiang mendengarkan cerita Meng Xing-hun tidak ada separah kata pun yang keluar dari mulutnya.

Dengan tenang dia berkata pada Meng Xing-hun.

"Hari ini kau sudah melakukan hal yang paling bodoh."

Meng Xing-hun mengangguk dan dia tertawa kecut, berkata.

"Aku tahu, sebenarnya aku tidak perlu menghindari tusukan golok Tu Da-peng, aku mengetahui dari matanya bahwa dia tidak berniat untuk membunuhku."

"Bagaimanapun dalam pertarungan tadi kau tidak seharusnya meneteskan darah,"

Kata Ye Xiang. Ye Xiang tertawa kecut dengan tenang dia berkata.

"Orang yang memiliki tubuh seperti kita tidaklah banyak dan darah yang tersisa pun sedikit."

Meng Xing-hun menatap langit-langit rumah itu.

Atap rumah itu sangat buruk, pintunya sudah seperti bagian bawah panci.

Apakah orang seperti Han Tang seumur hidup hanya mengalami penderitaan dalam menjalankan hidup?

Meng Xing-hun menarik nafas dan berkata.

"Kemungkinan masih ada yang lebih berharga dari pada darah."

"Apakah itu?"

Tanya Ye Xiang.

"Apakah itu air mata?"

"Benar, ada beberapa jenis orang lebih baik mengeluarkan darah dari pada harus meneteskan air mata."

"Orang-orang semacam itu adalah orang bodoh!"

"Kemungkinan semua orang kadang-kadang menjadi orang bodoh dan melakukan hal-hal yang bodoh."

Meng Xing-hun tertawa lagi dan berkata.

"Sepertinya Tu Da-peng tidak perlu membiarkan aku hidup."

"Benar, seharusnya tidak perlu."

"Sesudah Sun Yu-bo mengetahui Han Tang sudah tewas, orang pertama yang akan dicurigai adalah Lu Xiangchuan."

Kata Ye Xiang.

"Biasanya bila orang yang mempunyai kesulitan dan merasa terancam, dia akan dipenuhi oleh rasa curiga yang sangat besar. Mencurigai semua orang. Menganggap semua orang tidak dapat dipercaya,"

Dia tertawa kecut lagi.

"Ini adalah sebuah luka yang mematikan. Kesulitan dan rasa terancam tidak dapat melukainya, tetapi kecurigaan akan meminta nyawanya."

"Bila Sun Yu-bo benar-benar membunuh Lu Xiangchuan, dia akan tinggal seorang diri."

"Salah!"

"Mengapa salah?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Sebab salah bila menganggap dia akan seperti itu."

Kata Meng Xing-hun.

"Aku tahu bahwa Sun Yu-bo bukanlah jenis orang yang mudah dikalahkan tetapi bagaimanapun kuatnya sebuah pohon jika tidak ada yang menyangganya tertiup angin sedikit saja pohon itu bisa tambang."

Ye Xiang berkata.

"Sebatang pohon bisa tumbuh menjadi besar pasti akarnya menancap sangat dalam."

"Itu artinya....?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Artinya adalah akar pohon besar itu tumbuh di dalam tanah dan orang lain tidak dapat melihatnya."

"Apakah Su Yu Bo masih mempunyai anak buah yang lain dan mereka adalah anak buah yang bergerak 'di dalam tanah'?"

"Masih ada 2 orang lagi,"

Kata Ye Xiang.

"Dua orang tidak dapat mengalahkan 12 orang."

"Kemungkinan dua orang ini lebih menakutkan dari pada 120.000 orang."

"Apakah kau tahu siapa nama kedua orang itu?"

Ye Xiang diam setelah lama dia baru berkata.

"Aku hanya mengetahui sebuah nama yaitu Lu Chung."

Meng Xing-hun mengerutkan dahinya dan bertanya.

"Lu Chung yang kau maksud itu adalah Lu Man-tian?"

"Benar."

"Apakah hubungan antara Lu Man-tian dengan Sun Yubo?"

"Dia dan Sun Yu-bo mempunyai hubungan yang sangat dekat."

"Oh."

"Lu Xiang-chuan adalah keponakan dari Lu Man-tian."

Ye Xiang berkata lagi.

"Gerakan bawah tanah Sun Yubo dibagi menjadi 2 bagian, dia adalah salah satu kepalanya."

"Siapakah yang satunya lagi?"

Tanya Meng Xing-hun.

"Dia bernama Yi-qian-long, aku yakin kau juga mengenalinya."

Meng Xing-hun memang mengenalinya.

Orang-orang persilatan banyak yang mengenal nama Yiqian-long.

Di sepanjang Chang-jiang banyak penjahat, mereka bergerak dalam air dan darat.

Yi-qian-long adalah kepala dari para penjahat itu.

Kata Meng Xrng-hun.

"Itu apakah artinya Sun Yu-bo dapat memerintah mereka?"

Ye Xiang berkata dengan tenang.

"Sun Yu-bo tidak langsung memerintah mereka, sebab dalam beberapa tahun ini Sun Yu-bo berusaha untuk menjalankan perkumpulannya dengan benar, dia tidak ingin bergaul dengan penjahat-penjahat itu. Tetapi jika Sun Yu-bo menghadapi bahaya maka mereka akan berusaha menolong."

Meng Xing-hun berkata.

"Tak disangka bahwa akar Sun Yu-bo menancap sangat dalam."

"Sekarang terlihat bahwa Wan Peng-wang sedang berada di atas angin, tetapi pertarungan yang sebenarnya belum selesai. Sampai saat ini belum dapat diketahui siapa yang menang atau kalah."

Ye Xiang memandang Meng Xing-hun dan tiba-tiba bertanya.

"Apakah kau mengerti apa yang sudah kukatakan tadi?"

"Ya, aku mengerti."

"Apakah kau benar-benar mengerti?"

Tanya Ye Xiang. Meng Xing-hun balik bertanya.

"Apakah kau menyuruhku untuk melepaskan tugas untuk tidak membunuh Sun Yu-bo?"

"Aku tidak akan memaksamu melakukannya, aku hanya ingin menasehatimu untuk lebih berhati-hati dalam mempertahankan nyawamu."

"Aku mengerti."

Meng Xing-hun benar-benar mengerti, oleh karena itu dia sangat berterimakasih kepada Ye Xiang, seumur hidupnya dia sudah hancur, Ye Xiang hanya bisa bertumpu pada Meng Xing-hun saja.

Semua ini karena Meng Xing-hun merupakan bayangan diri Ye Xiang.

Ada suatu hal yang tidak dimengerti oleh Men Xiang Hun dan dia menanyakannya pada Ye Xiang.

"Sepertinya kau sangat mengenal SunYu Bo?"

Ye Xiang hanya terdiam.

"Bagaimana kau dapat mengenal Sun Yu-bo dengan begitu jelas?"

Meng Xing-hun bertanya-tanya dalam hatinya namun dia tidak menanyakanya lagi pada Ye Xiang karena dia mengetahui bahwa Ye Xiang tidak akan mau menjawabnya.

Ye Xiang tidak menjawab pertanyaannya pasti memiliki alasan yang cukup masuk akal.

Meng Xing-hun dan Ye Xiang sudah hidup bersamasama selama 6 tahun.

Sekarang dia baru mengetahui bahwa dia tidak begitu mengenal Ye Xiang.

Bila orang yang sudah hidup bersama tetapi tidak saling mengenal tentu hal itu sangat menyakitkan.

Meng Xing-hun menarik nafas dan berkata kepada Ye Xiang.

"Aku mengerti maksudmu tetapi aku tidak dapat melepaskan tugas ini, aku tetap akan melakukannya."

"Mengapa harus demikian?"

"Sebab aku masih memiliki kesempatan,"

Jawab Meng Xing-hun. Ye Xiang bertanya lagi.

"Apakah kau benar masih memiliki kesempatan?"

"Benar."

"Bila ada 2 pihak bertarung maka pihak yang ketigalah yang akan mengambil keuntungan. Antara Sun Yu-bo dan Wan Peng-wang adalah dua pihak yang sangat kuat, tetapi jika terjadi pertarungan di antara mereka tentu tenaga mereka akan terkuras, di sanalah kesempatan yang sangat baik untukku dan aku tidak akan melepaskan kesempatan itu begitu saja."

"Apa keuntungan yang kau dapatkan jika berhasil membunuh Sun Yu-bo?"

Tanya Ye Xiang.

"Aku sendiri tidak tahu, tetapi kereta sudah berjalan dan aku ada di dalam kereta itu aku harus terus mengikuti kereta itu berjalan."

Kadang-kadang Meng Xing-hun merasa dirinya seperti seekor kuda penarik kereta yang ditutup matanya dengan sehelai kain.

Dia merasa sudah berjalan jauh tetapi sebenarnya masih berputar-putar di tempat yang sama.

Sampai di manakah dia harus terus berjalan?

Dia tidak pernah memikirkannya dan tidak berani untuk memikirkannya, sebab bila terlalu banyak berpikir akan membuatnya menjadi gila.

Dengan pilu Ye Xiang berkata.

"Oleh sebab itukah kau ingin menunggu terus di sini?"

Meng Xing-hun tertawa dengan pahit lebih pahit dari rasa empedu ikan. Dia hanya menganggukkan kepalanya dan berkata.

"Menunggu adalah pekerjaan yang tidak enak. Tetapi aku sudah terbiasa untuk menunggu."

"Menunggu apa? Menunggu kematian atau menunggu hingga kau mati?"

Meng Xing-hun tiba-tiba berkata kepada Ye Xiang.

"Bila kau pulang beritahu pada Gao Lao-da bahwa dalam waktu yang telah ditentukan tugas yang diberikan bila belum bisa selesaikan aku tidak akan pulang."

Ye Xiang mengangguk dengan perlahan dan berkata pada Meng Xing-hun.

"Aku mengerti maksudmu, seumur hidupmu kau abdikan pada Gao Lao-da, aku sudah mengerti, sebab aku dulu pun seperti ini."

"Sekarang bagaimana?"

"Sekarang? Apa sekarang aku masih bisa dikatakan hidup?"

Dia merasakan mulutnya sangat pahit dan dia meneguk teh yang berada di atas meja.

Sudah lama Ye Xiang tidak pernah minum teh, tidak disangka sekarang yang diminum adalah arak, arak yang sangat keras dan bukanlah teh seperti dikiranya.

Ye Xiang tertawa dan berkata.

"Tidak disangka Han Tang juga peminum arak. Memang aku akan merasa heran jika orang seperti Han Tang bisa hidup tanpa arak."

Meng Xing-hun terus berkata.

"Kau sangat mengenal Han Tang?"

Meng Xing-hun mengira pertanyaannya tidak akan dijawab tetapi Ye Xiang malah menjawab pertanyaannya.

"Memang aku sangat mengenalnya seperti aku mengenal diriku sendiri."

"Kau dan dia tidak sama."

Ye Xiang tertawa kecut.

"Apa bedanya, aku dan dia hidup untuk orang lain, oleh karena itu aku tidak ingin kau seperti aku dan dia."

Ye Xiang menatap atap rumah itu dengan perlahan dia berkata.

"Seseorang harus hidup untuk dirinya sendiri walaupun hanya satu tahun itu pun tidak apa-apa. Aku merasa hidupku tidak pernah untuk diriku sendiri."

"Apa benar tidak ada satu hari pun?"

Dalam mata Ye Xiang tiba-tiba keluar cahaya terang.

Cahaya yang keluar ini seperti cahaya meteor, sangat singkat tetapi sangat berkilau.

Karena dia hanya pernah mengalami satu liari dan hari itu adalah hari yang sangat berkilau.

Karena hari itu jiwanya terbakar.

Tiba-tiba Ye Xiang membalikkan tubuh dan keluar dari rumah itu.

Hari itu merupakan hari yang paling ceria dan dia menyimpannya rapat-rapat hanya untuk dirinya sendiri.

Karena selain hari itu, dia tidak mempunyai kenangan yang indah.

Ye Xiang pergi lama.

Meng Xing-hun masih terus memikirkannya, memikirkan cara kerjanya dan rahasianya.

Antara dia, Sun Yu-bo dan Han Tang pasti memiliki hubungan yang istimewa.

Ye Xiang muncul di sini dan kemunculannya bukan untuk Meng Xing-hun melainkan untuk Han Tang.

Meng Xing-hun ingin bertanya tetapi dia segera membatalkannya sebab dia berpikir setiap orang pasti mempunyai kesulitan dan mereka berhak untuk merahasiakannya.

Meng Xing-hun merasa sangat lelah dan dia ingin tidur.

Begitu dia terbangun pasti Sun Yu-bo sudah mendapatkan kabar bahwa Han Tang Sudah tewas, dan dia pasti sudah menyusun rencana berikutnya.

Meng Xing-hun berharap Sun Yu-bo tidak melakukan kesalahan lagi.

Tetapi dia tahu bahwa seseorang pasti pernah melakukan kesalahan, termasuk Sun Yu-bo, dia pun tidak terkecuali.

Jalan yang berada di hadapan Ye Xiang sangat gelap, tetapi dia tidak peduli walaupun matanya ditutup dia masih bisa mengenali jalan ini, dia pernah menunggu di sini sambil berjongkok selama berhari-hari.

Dia menunggu seseorang yang pernah membakar kehidupannya.

Waktu itu dia rela mengorbankan segalanya hanya untuk bertemu dengan orang ini asalkan bisa bertemu dengan orang ini mati pun dia rela.

Tetapi sekarang, mati pun dia tidak ingin bertemu dengan orang itu.

Dia merasakan dirinya tidak pantas untuk bertemu dengannya.

Dia berharap bahwa orang ini bisa hidup dengan bahagia.

Jalan sangat gelap karena tidak ada cahaya bulan atau cahaya bintang yang menerangi jalan itu.

Di ujung jalan itu adalah taman bunga milik Sun Yu-bo.

Dia sangat mengenali jalan itu karena dia sering mengintip ke arah taman bunga itu.

Tetapi dia tidak pernah bertemu dengan seseorang yang sangat ingin dia temui, dia hanya bisa meratapi nasibnya yang menyedihkan.

Dari kejauhan dia dapat mendengar suara kuda yang berlari.

Dimalam yang sepi suara kuda yang berlari terdengar sangat jelas.

Ye Xiang berhenti berjalan dan bersembunyi dalam semak-semak.Gerakan Ye Xiang sangat cepat.

Dari arah depan ada 3 ekor kuda yang berlari sambil menarik sebuah kerera.

Kuda-kuda itu berlari sangat cepat.

Pada malam yang begitu gelap tidak ada orang yang dapat melihat jalan tetapi kereta kuda itu dapat melaju dengan kencang, Ye Xiang tidak dapat melihat keadaan di dalam kereta itu.

Dalam suara kuda yang sedang berlari itu terdengar pula ada suara lain yaitu suara lempengan besi yang beradu, suara itu.

sangat nyaring seperti suara lonceng.

Di mana ada suara seperti itu artinya Lu Man-tian ada di sana.

Ternyata benar Lu Man-tian telah tiba, kelihatannya Sun Yu-bo telah mengerahkan semua tenaganya.

Lu Man-tian adalah seorang yang sangat terangterangan, biasanya kemanapun dia pergi dia akan memberitahukan kedatangannya.

Tetapi malam ini berbeda.

Jalan yang dipilihnya adalah jalan yang sangat sepi.

Dan waktunya pun dipilihnya adalah ketika tidak ada cahaya bulan dan cahaya bintang.

Bila dia melakukan hal itu ada 2 kemungkinan.

Panggilan Sun Yu-bo sangat mendadak sehingga harus segera datang walaupun sudah larut malam.

Hubungan di antara mereka sangat dekat, tetapi mereka sangat merahasiakannya.

Mereka ingin membuat Wan Peng-wang menganggap bahwa Sun Yu-bo sudah tidak memiliki kekuatan hanya dengan cara ini dia mempunyai kesempatan untuk membalas.

Penbalasan yang dilancarkan oleh Sun Yu-bo pasti lebih kejam dan lebih dahsyat dari pada yang diperkirakan Wan Peng-wang.

Suara ketiga ekor kuda itu sudah menjauh.

Ye Xiang masih berdiri di bawah pohon beringin.

Kegelapan membuatnya tenang.

Ye Xiang ingin menyelidiki seberapa besar peluang Sun Yu-bo untuk menang.

Tetapi dia tidak mampu untuk melakukannya.

Pikirannya sangat kacau, begitu mulai memikirkan hal ini, pikiran terasa kosong melompong.

Dia merasakan bahwa kepalanya sangat sakit, sepasang kakinya mendadak lemas dan dia terpaksa berlutut.

Sekarang dia sudah tidak dapat berpikir dia hanya bisa berdoa.

Dia berdoa dengan sepenuh hati memohon agar jangan sampai terluka orang yang dia sayangi.

Ini adalah satu-satunya cara yang dapat dia lakukan.

Air mata mulai bercucuran.

Dia tidak mempunyai tenaga untuk membantu orang yang dicintainya.

Ye Xiang sebenarnya datang ke sana untuk menemui Sun Yu-bo tetapi dia sekarang hanya bisa berlutut dan berdoa.

Lempeng besi yang dibawa oleh Lu Man-tian masih terus dipegangnya.

Lempengan besi ini tidak mengeluarkan suara karena terlalu erat dipegang.

Karena terlalu kencang memegang lempengan ini, tangan Lu Man-tian berubah menjadi putih dan urat-urat tangannya bertonjolan.

Di atas meja sudah penuh dengan arak, Sun Yu-bo duduk di dekat arak-arak itu.

Sebenarnya Sun Yu-bo ingin minum dan ingin berbincang-bincang.

Tetapi dia tidak bisa melakukannya, hatinya sangat berat.

Hari hampir pagi, tidak ada orang di kediaman Sun Yubo.

Pengikut yang biasa mendampingi Lu Man-tian juga tidak tampak di sana.

Rencana yang akan mereka susun tentulah sangat rahasia dan merupakan suatu rencana besar.

Tiba-tiba Lu Man-tian bertanya pada Sun Yu-bo.

"Apakah kau dapat membuktikan bahwa Han Tang dan Sun Jian tewas dibunuh oleh Wan Peng-wang?"

Sun Yu-bo mengangguk, tiba-tiba gelas yang dipegang oleh Sun Yu-bo pecah, karena terlalu erat digenggam. Lu Man-tian bertanya.

"Apakah kau sudah mencari Yiqian-long?"

"Besok lusa dia akan ke sini, tidak perlu tergesa-gesa, karena...."

Kelihatannya Lao-bo begitu kelelahan, sambil melihat gelas yang pecah dengan perlahan dia berkata.

"Aku harus bicara denganmu."

Lu Man-tian berbicara.

"Aku mengerti, masalah Lu Xiang-chuan, akulah yang mesti bertanggung jawab."

Muka Lao-bo kelihatan sangat lelah dan. dia berkata.

"Aku selalu menganggap dia sebagai anak kandungku, kadang-kadang aku lebih mempercayai dia dari pada anakku sendiri, tetapi sekarang aku juga mencurigainya, sebab ada suatu permasalahan, kecuali dia tidak ada orang lain yang sanggup melakukan hal ini."

Bila mencurigai orang yang sangat kita percayai itu merupakan suatu hal yang sangat menyakitkan. Wajah Lu Man-tian sama tidak menampakkan suatu ekspresi, dengan suara kecil dia berkata.

"Aku akan meyakinkan kau untuk tidak mencurigainya."

Suara Lu Man-tian sangat tenang dan ringan dan orang lain tidak mengetahui maksudnya. Sudut mulut Lao-bo tiba-tiba menjadi kencang dan dia mengerti.

"Hanya orang yang sudah mati saja yang selamanya tidak akan dicurigai."

Setelah lama dia baru berkata.

"Ibunya adalah adik perempuanmu."

"Aku tahu, di perkumpulan tidak mengijinkan orang untuk dicurigai, seperti dalam mata tidak boleh ada sebutir pasir pun."

Lao-bo berdiri dan dia berjalan, bila ada masalah yang tidak dapat dipecahkan atau ada kesedihan biasanya Lao-bo akan melakukan hal ini.

Lu Mao Tian dan Lao-bo adalah teman seperjuangan, dia mengetahui kebiasaan Lao-bo juga mengetahui bahwa jika Lao-bo sedang memikirkan sesuatu dia tidak mau diganggu, lebih-lebih tidak mau ada orang yang mengganggunya dalam mengambil keputusan.

Agak lama Lau Bo baru berhenti berjalan-jalan dan bertanya kepada Lu Man-tian.

"Kau mencurigai Lu Xiangchuan berapa persen?"

Kalimat ini ditanyakan oleh Lao-bo dengan singkat tetapi Lu Man-tian tahu bahwa dia tidak boleh salah menjawab, walaupun hanya satu kata.

Bila salah menjawab ini akan berpengaruh pada nyawa orang lain.

Lu Man-tian juga berpikir lama dan perlahan dia menjawab.

"Pada hari pemakaman saudara Tie Cheng-gang apakah semua itu rencana Lu Xiang-chuan?"

"Benar."

"Apakah semua anak buah dia sendiri yang mengaturnya?"

"Semua dia yang mengaturnya."

Lu Man-tian bertanya lagi.

"Bagaimana dengan orangorang yang mencari Han Tang?"

"Dia juga yang mengaturnya."

Lu Man-tian kembali bertanya.

"Apakah karena Lu Xiang-chuan, kau bermusuhan dengan Wan Peng-wang?"

Lao-bo tidak menjawab. Lu Man-tian mengetahui bahwa pertanyaan ini tidak masuk akal. Dia terus melanjutkan.

"Bila bukan dia yang mengatur, Wan Peng-wang tidak akan. begitu cepat menyerang kita."

Lao-bo berkata.

"Benar, walaupun antara kita dengan Wan Peng-wang terjadi pertarungan, tetapi jika yang menyerang terlebih dulu adalah kita mungkin kerugian yang kita alami tidak begitu parah."

Tiba-tiba Lu Man-tian terdiam. Lao-bo memandangnya dan berkata.

"Aku menunggu kesimpulanmu."

Mengambil kesimpulan sangat sulit dan menyedihkan, tetapi Lu Man-tian tidak mempunyai pilihan lain. Dia berdiri dan menundukkan kepalanya, lalu dia berkata.

"Paling sedikit aku bisa mencurigainya sebesar %."

Kalimat ini sudah memvonis Lu Xiang-chuan dengan hukuman mati. Meskipun 10% saja dicurigai dia harus mati. Lao-bo terdiam lama, tiba-tiba dia mengeleng-gelengkan kepala, sambil berteriak dia berkata.

"Tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin."

"Apa yang tidak mungkin?"

Tanya Lu Man-tian.

"Aku tidak mengijinkan kau membunuhnya."

Lu Man-tian terdiam, dia bertanya lagi.

"Apakah kau sendiri yang akan membunuhnya?"

"Aku sendiri pun tidak sanggup."

"Orang yang bisa membunuhnya tidaklah banyak, mungkin Yi-qian-long akan sanggup...."

Lu Man-tian tertawa dingin dan berkata.

"Yi-qian-long hampir 15 tahun tidak pernah menggerakkan tubuh kemungkinan tangannya sudah sangat lemas seperti tangan perempuan. Tangannya hanya bisa digunakan untuk mengelus pantat perempuan."

Lao-bo tertawa, dia merasa lucu bila melihat hubungan antara Lu Man-tian dengan Yi-qian-long, dia juga tidak berusaha untuk menyatukan mereka.

Seseorang bila mau mengatur orang lain dengan baik, maka dia harus bisa belajar memakai cara ini, yaitu memakai ketidak-cocokan mereka.

Tanya Lu Man-tian lagi.

"Apakah Lu Xiang-chuan sudah mengetahui bahwa kita sudah mencurigainya?"

"Kemungkinan dia belum mengetahuinya."

"Kalau begitu segera kita ambil tindakan, jangan sampai menunggu dia menjadi waspada, jika dia sudah berada dalam keadaan waspada itu akan menyulitkan kita."

Lao-bo terdiam dan mengeleng-gelengkan kepala,setelah lama dia baru berkata.

"Sekarang belum waktunya untuk bertindak."

"Mengapa?"

"Kita harus memberikannya sebuah ujian lagi untuk menguji kesetiaannya."

"Bagaimana kita harus mengujinya?"

Tanya Lu Mantian.

Lao-bo tidak segera menjawab.

Lao-bo mencari gelas lagi, dan menuangkan arak ke dalam gelas, gerakannya ini menyatakan bahwa Lao-bo sudah kembali tenang, dan dia sedang menyusun sebuah rencana berikutnya.

Lao-bo dengan perlahan meminum arak itu dan berkata.

"Orang yang mencari Han Tang adalah orang suruhan Feng Hao, kau sudah tahu orang itu?"

"Aku tahu orang itu, dia adalah orang yang aku bawa dari tempat lain."

Lao-bo mengangguk, tertawa dan berkata.

"Kelihatannya kau sudah dapat menekan keinginan untuk minum dan main perempuan. Oleh karena itu konsentrasimu tidak buyar."

Lu Man-tian mengangkat gelas yang berisi arak tetapi dia tidak ingin meminum arak itu, dia hanya ingin menutup wajahnya dengan gelas arak supaya Lao-bo tidak dapat melihat wajahnya yang memerah.

Dalam beberapa tahun ini hobinya untuk minum arak dan main perempuan berkurang, bila dibandingkan pada masa mudanya kesempatan yang datang lebih besar dari pada sekarang.

Hari-hari tua digunakan untuk menikmati hidup.

Lu Man-tian sudah merasakan otot-otot pada tubuhnya mulai mengendur, nalurinya juga sudah berkurang, namun mengenai masalah Feng Hao dia tidak akan pernah melupakannya.

Anak buah Lao-bo yang sangat dipercaya itu adalah orang yang satu desa dengannya.

Orang ini tidak begitu tangguh namun kesetiaannya tidak ada yang bisa menandingi.

Apalagi anak buah Lao-bo yang bernama Feng Hao.

"Apakah Feng Hao juga orang yang diatur oleh Lu Xiang-chuan?"

Lao-bo menghela nafas.

"Aku sudah banyak memberi tugas kepadanya dan semuanya dapat dia lakukan dengan sangat baik dan belum pernah membualku kecewa."

Tiba-tiba Lao-bo tertawa.

"Yang bernama Feng Hao begitu mendengar berita kematian Han Tang, Dia langsung datang kemari dan sekarang masih menunggu di depan."

"Apakah berita kematian Han Tang belum tersebar?"

Lao-bo mengangguk dan berkata.

"Kecuali aku dan orang yang membunuh Han Tang."

"Apakah Lu Xiang-chuan sudah tahu?"

Tanya Lu Mantian.

"Bila dia tidak bersekongkol dengan Wan Peng-wang dia tidak akan tahu, oleh karena itu...."

Lao-bo menuang arak lagi dan berkata.

"Karena itu aku akan segera mencari Lu Xiang-chuan."

Lu Man-tian tidak begitu mengerti maksud Lao-bo. Dia mencoba menanyakan lagi.

"Apakah kau mengenal Feng Hao?"

Lu Man-tian menjawab.

"Apakah dia adalah anak buah Wan Peng-wang yang bernama Tie Peng? Katanya dia sudah meninggalkan tempatnya, dan tidak ada yang mengetahui ke mana dia pergi."

Wajah Lao-bo sangat puas dia berharap anak buahnya bisa seperti Lu Man-tian, mengetahui situasi yang terjadi. Lao-bo menuang arak dan memberikannya kepada Lu Mao Tian lalu dia berkata.

"Sudah tiga hari Tie Peng pergi dari rumahnya, besok dia akan sampai di kota Hang-chou dan akan tinggal di penginapan, karena itu Wan Peng-wang akan menyuruh orang untuk menghubungi orang itu."

"Apakah berita ini dapat dipercaya?"

Lao-bo tertawa dan berkata.

"Tujuh tahun yang lalu sudah ada orang yang tinggal di dalam perkumpulan Wan Peng-wang di antaranya ada seseorang pernah menjadi tangan kanan Rang Gong."

Lu Man-tian sangat kagum terhadap Lao-bo, Lao-bo bukan semacam orang yang bila ingin makan buah pir, dia baru menanamnya, tapi lama dia sudah menanam bibit, dan bibit itu sudah menjadi pohon yang siap diambil buahnya.

"Apakah kau sudah mengetahui maksudku?"

Tanya Laobo.

"Apakah kau menyuruh Lu Xiang-chuan untuk pergi mencari Han Tang?"

"Tidak salah, jika Lu Xiang-chuan tidak bersekongkol dengan Wan Peng-wang dia tidak akan tahu kabar kematian Han Tang dan juga tidak tahu kabar perjalanan Rang Gong, dia pasti akan pergi...."

Lao-bo berkata lagi.

"Tetapi dia bukan mencari Han Tang, tetapi membunuh Han Tang."

Ooo)dw(ooO Lu Xiang-chuan sangat terkejut ketika dia menerima tugas untuk membunuh Han Tang. Lao-bo dengan tegas berkata.

"Aku sudah menjelaskannya apakah kau masih belum mengerti?"

Lu Xiang-chuan menundukkan kepalanya, dia tidak berani untuk bertanya lagi. Perintah dari Lao-bo belum pernah dia curigai. Setelah lama Lao-bo baru berkata.

"Aku menyuruhmu membunuh Han Tang, karena aku sudah lama tahu dia tidak menyukaiku, dia menganggap bahwa aku telah meremehkannya dan dia berniat untuk bekerja pada orang lain."

Penjelasan ini sangat masuk akal dan dengan mudah dapat dipercayai orang. Lu Xiang-chuan dengan marah bertanya.

"Apakah dia bekerja sama dengan Wan Peng-wang?"

"Benar, dia sudah berjanji dengan Tie Peng akan berunding, tempat yang disepakati oleh mereka adalah penginapan di Hang-chou waktu pertemuan yang disepakati adalah esok malam."

"Apakah aku boleh membawa anak buahku?"

Tanya Lu Xiang-chuan.

"Jangan sebab di dalam perkumpulan kita ada pengkhianat, gerakan kali ini tidak boleh diketahui oleh orang lain."

Lu Xiang-chuan tidak bertanya lagi dan dia berkata.

"Aku sudah mengerti aku akan segara berangkat."

Perintah Lao-bo harus segera dilaksanakan, baik tugas yang mudah atau tugas yang sulit.

Baik tugas itu bisa diselesaikan seorang diri, semua itu bukan urusan Lao-bo lagi, walaupun Lao-bo memerintahkan untuk memindahkan gunung maka dia harus membawa cangkul untuk melaksanakan tugas tersebut.

Sejak awal Lu Man-tian.

mendengarkan pembicaraan mereka, sejak Lu Xiang-chuan masuk ke dalam rumah ini, Lu Man-tian terus mengawasi ekspresi Lao-bo saat memberi perintah kepada Lu Xiang-chuan.

Sekarang dia baru kagum kepada Lao-bo juga merasa sangat beruntung karena dia tidak melakukan sesuatu yang membuat Lao-bo curiga.

Siapa pun yang membohongi Lao-bo artinya dia sedang menggali lubang kuburnya sendiri.

Lu Man-tian berharap Lu Xiang-chuan tidak bertindak bodoh dia berharap Lu Xiang-chuan berhasil membawa pulang kepala Tie Peng, dengan itu.

dia dapat membuktikan kesetiaannya kepada Lao-bo, biar bagaimanapun Lu Xiangchuan adalah keponakannya sendiri.

Paman mana pun juga pasti akan berpikir demikian.

Lu Xiang-chuan mendorong pintu rumahnya dan masuk ke dalam, dia melihat Lin Xiu.

Kapan pun saat dia mendorong pintu rumah dia pasti dapat bertemu dengan Lin Xiu.

Lin Xiu adalah istrinya, mereka sudah menikah lama, tetapi perasaan mereka masih seperti dulu.

Lu Xiang-chuan tidak pernah meragukan kesetiaan istrinya, biarpun Lu Xiang-chuan pergi sangat lama tetapi istrinya tak pernah marah.

Sudah lama Lu Xiang-chuan tidak mendapatkan tugas, maka dia menghabiskan waktu di rumah untuk berkumpul.

Rumah mereka berada di dalam taman bunga Lao-bo.

Sebab setiap saat bila Lao-bo membutuhkan Lu Xiangchuan maka dia bisa langsung mencari di dalam rumah itu.

Mengenai ini, Lin Xiu tidak pernah mengeluh.

Lin Xiu juga seperti suaminya sangat hormat kepada Lao-bo.

Biarpun dulu pernikahan mereka tidak begitu, disetujui oleh Lao-bo, karena Lin Xiu adalah orang bagian selatan.

Laobo berharap istri Lu Xiang-chuan satu desa dengan dia.

Lin Xiu berdiri dengan tersenyum menyambut suaminya pulang.

Dia dengan lembut bertanya.

"Tidak disangka kau sudah pulang. Aku takut kau tidak bisa sarapan hari ini, oleh karena itu aku sudah menyiapkan seekor ayam untuk dimasak dengan sayur yang kau suka."

Begitu habis cerita, dia sudah membalikkan tubuh. Untuk mempersiapkan masakan dia tidak sempat melihat ekspresi Lu Xiang-chuan. Dengan tertawa Lin Xiu berkata lagi.

"Ibuku pernah berkata, bila sarapan kenyang maka seharian penuh orang ini akan teras bersemangat."

Lu Xiang-chuan terus melihat pinggang istrinya, dia tidak mendengar Lin Xiu sedang berbicara apa.

Pinggang istrinya tidak selangsing dulu lagi tapi bagi seorang perempuan yang sudah lama menikah ini sudah cukup lumayan.

Tiba-tiba Lu Xiang-chuan memeluk pinggang istrinya.

Lin Xiu tertawa dan berkata.

"Lepaskan aku dulu, aku akan melihat apakah kuah ayam sudah dingin."

"Aku tidak mau makan ayam, aku mau memakanmu."

Wajah Lin Xiu memerah, dengan malu dia berkata.

"Paling sedikit pintunya harus ditutup dulu."

Di mata orang lain Lu Xiang-chuan adalah orang yang dingin dan kejam tapi hanya Lin Xiu yang mengetahui bahwa Lu Xiang-chuan adalah orang yang sangat hangat.

Kehangatan Lu Xiang-chuan tidak pernah pudar.

Tapi hari ini Lin Xiu merasa gerakan Lu Xiang-chuan sangat lamban, sepertinya dia tidak begitu, berkonsentrasi.

Lin Xiu membuka matanya.

Betul saja Lu Xiang-chuan tidak konsentrasi.

Segera Lin Xiu bertanya.

"Apakah kau mau pergi?"

Lu Xiang-chuan tertawa kecil, istrinya sangat memahami dia. Dengan lembut istrinya berkata.

"Kau jangan khawatir, aku akan menunggumu pulang."

Lu Xiang-chuan dengan lembut memeluknya.

Dia merasa salah meninggalkannya seorang diri.

Dengan lembut Lin Xiu.

memandang suaminya.

Dari wajah Lu Xiang-chuan, Lin Xiu melihat bahwa tugas kali ini pasti sangat berat dan membahayakan.

Biarpun dia merasa takut tapi dia tidak menanyakannya.

Biasanya suaminya akan menceritakannya sendiri.

Hanya di depan Lin Xiu, Lu Xiang-chuan akan mengungkapkan rahasianya.

Tapi kali ini Lin Xiu menunggu lama Lu Xiang-chuan baru berkata.

"Apakah kau tahu penginapan Da Fang di Hang-chou?"

Lin Xiu pasti mengingatnya. Di awal pernikahan, mereka sering berjalan-jalan di daerah sana karena tidak jauh dari penginapan ini adalah See-ouw yang pemandangannya sangat indah. Kata Lu Xiang-chuan.

"Hari ini aku harus pergi ke sana lagi untuk membunuh orang yang bernama Han Tang."

Lin Xiu mengerutkan dahi dan berkata.

"Sepertinya orang ini tidak begitu ternama, apakah harus kau sendiri yang membunuhnya? Sebab aku belum pernah mendengar nama orang ini."

"Dia tidak begitu ternama, orang yang menakutkan belum tentu orang yang sudah mempunyai nama."

"Apakah orang itu yang sangat menakutkan?"

Lu Xiang-chuan menarik nafas.

"Dia adalah orang yang paling menakutkaa"

Lin Xiu melihat Lu Xiang-chuan begitu ketakutan begitu dia mengatakan Han Tang.

Lin Xiu tahu bahwa Lu Xiangchuan tidak mau pergi tapi dia tidak akan melarangnya pergi.

Lin Xiu tahu perintah Lao-bo harus dilaksanakan.

Setelah lama Lin Xiu berkata.

"Maukah kau minum kuah ayam dulu baru pergi?"

"Aku tidak bisa minum dulu karena aku tidak bisa minum kuah ayam baru pergi."

Begitu perkataannya habis, dia sudah melangkah keluar. Dia tidak tega melihat mata istrinya. Pandangan mata ini membuat laki-laki hilang keberaniannya. Begitu Lu Xiang-chuan keluar, Lin Xiu berteriak.

"Apakah kau bisa pulang lusa karena hari itu adalah hari ulang tahunku."

Lu Xiang-chuan tidak menjawab, dia membalikkan tubuh dan memeluk istrinya dengan erat.

Pelukan ini sangat erat sepertinya ini adalah pelukan terakhir.

Hati Lin Xiu hancur karena pelukan ini, tapi dia berusaha tabah supaya air matanya tidak tumpah di depan suaminya.

Setelah lama Lu Xiang-chuan baru melepaskannya, tibatiba dia berkata.

"Jangan lupa mengantarkan dua pasang burung merpati untuk Feng Hao sebab dia sudah lama memintanya."

Lin Xiu membawa sangkar burung merpati, air matanya masih menetes.

Burung merpati adalah binatang yang dia sukai, tapi dia lebih cinta suaminya.

Biarpun dia tidak rela memberikan merpati yang dia besarkan dengan susah payah tetapi katakata suaminyalah yang lebih kuat dari pada perintah Laobo.

Ooo)dw(ooO Feng Hao menerima merpati itu dengan sangat senang dan berterima kasih.

Dia berkata.

"Mengapa harus nyonya sendiri yang mengantarkannya?"

Lin Xiu tertawa terpaksa dan berkata.

"Sebelum Lu Xiang-chuan pergi dia sudah berpesan kepadaku."

Tanya Feng Hao.

"Sebelum nyonya pergi, apakah Tuan Muda sudah pergi?"

"Dia baru pergi."

Feng Hao mengerutkan dahi dan berkata.

"Aneh, kenapa begitu tergesa-gesa?"

"Apakah kau ada perlu apa mencarinya?"

"Aku yang diperintah Tuan Muda untuk mencari orang, seharusnya dia menunggu kabar dariku dulu, baru pergi,"

Jawab Feng Hao ragu.

"Siapa orang yang dicarinya?"

Tanya Lin Xiu. Dengan lama Feng Hao baru menjawab.

"Marganya Han."

"Apakah namanya Han Tang?"

"Apakah nyonya mengenalnya?"

Lin Xiu menggelengkan kepalanya. Dengan tertawa kecut Feng Hao berkata.

"Waktu aku ke sana, Han Tang sudah meninggal."

Sebenarnya tugas mereka sangat rahasia tapi karena sudah lewat tugasnya membicarakannya juga sudah tidak masalah.

Apalagi Lin Xiu adalah istri Lu Xiang-chuan, tapi begitu Lin Xiu mendengarkan ceritanya Feng Hao wajahnya berubah dan tubuhnya pun gemetaran.

Seperti kemasukan roh.

Dengan kaget Feng Hao bertanya.

"Ada apa denganmu, nyonya?"

Lin Xiu sepertinya sudah tidak bisa mendengar lagi. Dia hanya berbicara.

"Han Tang sudah meninggal, mengapa Lao-bo menyuruh Lu Xiang-chuan membunuhnya.... mengapa?"

Tiba-tiba dia membalikkan badannya, seperti seekor binatang yang sudah terkena panah.

Dengan terkejut Feng Hao memandangnya.

Feng Hao juga terpaku.

Lao-bo sudah keluar dari semak-semak, waktu ini adalah waktunya Lao-bo jalan-jalan santai.

Lao-bo melihat sangkar yang dipegang Feng Hao, dengan tersenyum Lao-bo bertanya.

"Apakah malam ini kau akan memasak burung merpati ini sambil minum arak?"

Feng Hao cepat-cepat membungkukkan tubuhnya dengan tersenyum dia berkata.

"Sepasang burung merpati ini tidak bisa dimakan"

"Mengapa tidak bisa dimakan?"

Tanya Lao-bo. Dengan tersenyum Feng Hao berkata.

"Karena ini adalah burung merpati yang dipelihara oleh Liu nyonya. Merpati ini adalah jenis merpati pos, jika aku memasaknya Liu nyonya akan marah dan mungkin dia akan membunuhku."

Mata Lao-bo mengecil tapi wajahnya tetap tidak ada ekspresi. Dengan tersenyum Lao-bo bertanya.

"Aku belum tahu dia suka memelihara burung merpati."

"Hobi ini baru dia lakukan dan merpati pertama adalah Tuan Lu Xiang-chuan yang membawanya dari utara."

Dari mata Lao-bo melihat dia sedang berpikir, dengan pelan Lao-bo bertanya.

"Hubungan suami istri itu apakah baik?"

Apakah hubungan suami istri sangat baik? Orang yang di luar tidak akan mengerti. Tapi pertanyaan Lao-bo harus dijawab.

"Sangat baik, seperti baru menikah,"

Jawab Feng Hao.

"Suami istri jika hubungannya baik, apa pun akan diceritakannya, apa ini betul?"

Feng Hao hanya bisa menjawab 'betul' karena dia belum mempunyai istri. Lao-bo tidak memperhatikan jawaban Feng Hao dan Lao-bo bertanya lagi.

"Menurutmu apakah Lu Xiang-chuan akan. memberi tahu dia akan pergi ke mana kepada isunya?"

Kata-kata ini sudah bukan percakapan lagi. Jika salah dijawab oleh Feng Hao akibatnya akan sangat fatal. Dengan lama berpikir, Feng Hao baru menjawab.

"Aku pikir.... tidak akan diberitahu, karena Tuan Lu Xiang-chuan tahu bahwa tugas kita sangat rahasia dan tidak akan mengatakannya kepada siapa pun."

Lao-bo mengangguk, dia puas mendengar jawaban ini. Dia juga bersiap mengakhiri percakapan ini. Dengan tertawa Feng Hao berkata.

"Walaupun Lu Xiang-chuan sudah mengatakan kepada istrinya, itu juga bukan yang sebenarnya. Nyonya kira kali ini Tuan Lu Xiang-chuan pergi membunuh Han Tang."

Tiba-tiba Lao-bo merasa tubuhnya sangat dingin.

Sudah lama dia tidak mempunyai perasaan seperti ini karena dia sudah lama tidak melakukan kesalahan.

Kesalahan kali ini kemungkinan adalah kesalahan yang mematikan.

Lao-bo sudah merasa telapaknya penuh dengan keringat dingin dan dia langsung bertanya.

"Dimana nyonya Lim sekarang?"

"Dia pergi dengan tergesa-gesa sepertinya ingin pulang."

Tiba-tiba Lao-bo menggulungkan baju bagian lengan dan meloncat keluar dengan suara rendah berkata.

"Ikut aku!"

Belum habis perkataannya, bayangannya sudah menghilang.

Feng Hao tidak segera mengikutinya karena dia sangat terkejut.

Pertama kali dia melihat kepandaiannya Lao-bo, dia belum pernah melihat ada orang yang bisa meloncat begitu tinggi.

Kelihatannya sangat tidak mungkin, tapi ini adalah Laobo.

Dia sering melakukan hal yang tidak mungkin.

Ooo)dw(ooO BAB Tempat tinggal Lu Xiang-chuan seperti bajunya, bersih, sederhana dan tampak biasa.

Dia sangat tidak suka berlebihan.

Dia tidak melakukan hal yang aneh juga tidak mengeluarkan kata-kata yang berlebihan karena dia menganggap berlebihan adalah suatu pemborosan.

Hanya orang bodoh baru melakukan pemborosan.

Orang yang bodoh pasti akan kalah akhirnya.

Di rumah Lu Xiang-chuan sangat sepi, tidak terlihat ada Lin Xiu, hanya ada dua pembantu sedang menjahit baju.

Begitu melihat Lao-bo, mereka sangat terkejut.

Lao-bo seperti kilat langsung memasuki rumah, dengan berteriak Lao-bo bertanya.

"Di mana nyonya kalian?"

Dua pembantu itu dengan gemetar menjawab.

"Di kandang kuda."

Pesilat selalu senang kuda yang bagus tidak terkecuali Lao-bo.

Dia tidak suka menganggap kuda itu sebagai suatu mainan, dia menganggap kuda adalah alat transportasi.

Lao-bo jarang mengatur kandang kudanya, dan penjaga kandang kuda yang melakukankan tugas itu, oleh sebab itu kuda-kudanya terpelihara dengan baik.

"Apakah istri Lu Xiang-chuan pernah kemari?"

"Nyonya baru saja keluar setelah membawa kuda lewat pintu samping."

Wajah Lao-bo masih tidak menunjukkan suatu ekspresi. Tiba-tiba Lao-bo berkata.

"Feng Hao."

Biarpun Lao-bo tidak membalikkan tubuhnya, tetapi dia tahu bahwa Feng Hao pasti ada di sisinya. Betul saja, tidak lama Feng Hao menjawab panggilan itu.

"Ya."

"Kejar dia, bawa dia kembali!"

Feng Hao tidak bersuara, ternyata dia sudah ada di atas kuda, tetapi kuda yang ditumpanginya belum dipasang pelana.

Kuda yang ditumpanginya melesat keluar dengan cepat.

Feng Hao sudah mengerti apa maksud Lao-bo, 'bawa dia kembali'.

Artinya hidup atau mati harus membawa dia kembali.

Ooo)dw(ooO Selembar kertas biasa, di atas kertas itu terdapat tulisan; Lin Xiu.

Orang Hang-chou, anak tanggal.

Ayah.

Lin Zhong-yan, mempunyai satu adik laki-laki yang bernama Lin Zhong-he.

Menguasai kepandaian Shaolin, senang berjudi, dan mempunyai istri muda.

Ibu.

Li Qi.

Sudah meninggal.

Dengan perlahan Lu Man-tian mengembalikan selembar kertas itu kepada Lao-bo dan Lao-bo menyimpan kembali kertas itu di dalam sebuah buku.

Buku-buku seperti itu banyak dimiliki olah Lao-bo.

Lu Man-tian tahu apabila seseorang belum meninggal pasti Lao-bo mempunyai data-data orang tersebut.

Lao-bo kemudian mengeluarkan selembar kertas yang berbeda.

Lin Zhong-he.

Orang tua sudah meninggal, mempunyai seorang kakak laki-laki.

Suka berjudi, menguasai kepandaian Shao-lin, banyak hutang yang tiba-tiba semuanya dapat dilunasi dalam waktu 2 tahun.

Orang yang melunasi hutang-hutangnya adalah Wan Peng-wang yang diwakili oleh Jin-peng.

Tangan Lu Man-tian yang memegang kertas itu tiba-tiba menjadi kaku, sepertinya dia sedang memegang sebongkah es.

Lao-bo terus memandanginya menunggu untuk mengeluarkan pendapat.

Tanya Lu Man-tian.

"Apakah istrinya adalah seorang mata-mata?"

"Menggunakan burung merpati untuk memberitakan kabar lebih baik dari pada dimasak untuk menemani minum arak."

Lu Man-tian bertanya.

"Apakah Lu Xiang-chuan mengetahuinya?"

Lao-bo tidak segera menjawab pertanyaan ini, setelah lama Lao-bo baru berkata.

"Bila Lu Xiang-chuan menjadi mata-mata dia tidak akan memberitahukan pada Lin Xiu."

"Kemanakah dia akan pergi? Perempuan yang serakah belum tentu adalah seorang perempuan yang pintar."

Lu Man-tian menarik nafas.

"Kalau begitu, kita sudah salah paham terhadap Lu Xiang-chuan. Ternyata dia bukan orang semacam itu."

Lao-bo juga menarik nafas dan berkata.

"Aku tidak mengetahui bahwa dia bisa begitu percaya kepada seorang perempuan."

Kata Lu Man-tian.

"Beruntung dia masih bisa mengalahkan Tie Peng."

"Kecuali Tie Peng masih banyak orang di penginapan itu dan Wan Peng-wang juga sudah mempersiapkan umpan untukku agar aku mengantarkan Lu Xiang-chuan ke penginapan itu."

Wajah Lu Man-tian segera berubah, tiba-tiba dia meloncat dan berkata pada Lao-bo.

"Aku akan pergi, kita tidak bisa membiarkannya mati."

"Kali ini aku yang berangkat."

Wajah Lu Man-tian berubah.

"Anda akan pergi sendiri? Mengapa Anda yang harus pergi sendiri menghadapi semua bahaya ini?"

"Semua orang dapat melakukan hal ini, mengapa aku tidak bisa?"

Kata Lu Man-tian.

"Wan Peng-wang sudah memasang umpan, mungkin umpan itu bukan ditujukan untuk Lu Xiang-chuan melainkan kepadamu."

"Biarlah mereka berhadapan denganku, akan kuperlihatkan bahwa seorang Sun Yu-bo tidak mudah untuk dikalahkan."

Tubuh Lin Xiu menempel pada kuda seakan-akan dia adalah bagian dari kuda itu.

Kuda yang ditunggangi oleh Lin Xiu adalah kuda yang paling cepat diantara tiga ekor kuda yang paling bagus.

Mulai umur 5 tahun Lin Xiu sudah mahir menunggang kuda.

Waktu itu ayah dan pamannya sangat senang berjudi, kadang-kadang mereka berjudi dan memenangkan banyak uang, kehidupan Lin Xiu juga lumayan baik, sehingga dia dapat membeli kuda.

Tetapi hal itu tidak lama, sebab berjudi seperti rawarawa, setelah melangkah ke dalam sulit untuk kembali lagi.

Di dalam kandang sudah tidak ada seekor kuda pun, maka dia tidak pernah merasa senang lagi.

Yang di wariskan ayahnya hanya hutang yang menumpuk, dia menasihati ayahnya sampai lelah tetapi tetap saja ayahnya berjudi.

Demi mendapatkan uang banyak maka itu dia menikahi Lu Xiang-chuan.

Namun Lin Xiu tidak pernah menyesali pernikahannya dengan Lu Xiang-chuan, sebab dia adalah seorang suami yang baik, teman yang terbaik dan kekasih yang paling lembut.

Lu Xiang-chuan sangat menyayangi istrinya, dan istrinya membalas perasaannya.

Tangannya sudah basah, air mata Lin Xiu terus mengalir dan menetes pada tangannya.

Dia sangat ketakutan, takut ketika kuda yang ditungganginya roboh dan tidak bisa bangun lagi.

Tiba-tiba kuda yang ditungganginya roboh, seakan-akan ada sebuah palu raksasa dari langit yang memukul kuda itu.

Lin Xiu terjatuh dari kuda dan dia merasa sangat pusing, dia merasakan rasa asin di sudut mulutnya.

Apakah ini darah?

Lin Xiu berusaha untuk bangun tetapi seketika itu juga dia menjerit, dia melihat kuda yang tadi dia tumpangi.

Dia mencuri seekor kuda berwarna putih tetapi kuda itu sekarang berubah menjadi warna kehitam-hitaman.

Darah yang keluar dari mulut kuda itu pun berwarna merah kehitaman.

Pada tubuh kuda itu tidak ada luka, apakah kuda itu keracunan?

Siapa yang meracuni kuda itu?

Untuk apa kuda ini diracuni hingga mati?

Apakah semua ini termasuk rencana mereka dan ada yang mengetahui bahwa dia akan menunggang kuda ini?

Tubuh Lin Xiu tiba-tiba menjadi dingin, segera dia berlari.

Belum jauh berlari, dia sudah menabrak seeorang.

Tubuh orang ini sangat keras dia pun segera terjatuh, dari bawah dia melihat ke arah orang ini.

Tawa orang ini sangat menyeramkan.

Di dalam hati Lin Xiu, Feng Hao adalah seorang teman yang baik dan anak buah Lu Xiang-chuan yang paling setia dia tidak menyangka bahwa Feng Hao bisa tertawa begitu seram.

Sekarang dia sudah mengerti bahwa semua ini adalah bagian dari rencana busuknya.

Yang meracuni kuda putih itu pun pasti dia, namun dia tidak mengerti untuk apa Feng Hao merencanakan hal ini?

Kebanyakan perempuan ditakdirkan untuk bisa menjadi pemain sandiwara yang baik.

Begitu pula dengan Lin Xiu, dia berdiri.

Wajahnya yang tadi ketakutan dan penuh dengan kemarahan sudah tidak terlihat lagi, sebaliknya dia kelihatan sangat senang dan ceria.

Sambil tertawa Lin Xiu berkata.

"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini, ini pasti hari keberuntunganku."

Feng Hao memandanginya pelan-pelan dan menggelenggelengkan kepalanya, berkata.

"Bukan, hari ini bukanlah hari keberuntunganmu"

Lin Xiu menarik nafas dan mengatakan.

"Seharusnya aku tidak memilih kuda ini."

"Sebenarnya kuda yang di dalam kandang hanya kuda inilah yang sudah dipasang pelana."

"Waktu itu aku merasa sangat beruntung, karena aku tidak tahu bahwa kuda ini dapat berlari sangat cepat."

Lin Xiu melihat kuda yang ditunggangi oleh Feng Hao, kuda itu belum dipasang pelana dan dia bertanya pada Feng Hao.

"Kuda yang kau tunggangi apakah kuda yang tercepat pula?"

"Kuda tercepat baru bisa mengejar kuda cepat lainnya."

"Apakah kau sengaja mengejarku?"

Tanya Lin Xiu purapura. Feng Hao mengangguk.

"Mengapa?"

"Lao-bo menyuruhmu untuk pulang."

Lin Xiu tertawa, katanya.

"Sebetulnya aku juga ingin pulang tetapi dalam beberapa hari ini aku merasa sangat bosan dan kesal, oleh sebab itu aku menunggang kuda ini untuk berjalan-jalan. Apakah kau tahu bahwa aku selalu menunggang kuda?"

Lin Xiu menepuk-nepuk tanah yang menempel di bajunya dan bertanya.

"Bagaimana kita pulang? Apakah menunggang satu kuda berdua?"

"Sepertinya harus demikian."

Lin Xiu pelan-pelan mendekati Feng Hao dengan tertawa dia berkata.

"Sejak dulu aku menunggang kuda hanya dengan Lu Xiang-chuan tidak pernah bersama orang lain. Apakah kau ingin membuatnya cemburu?"

Tiba-tiba dia lari dari sisi Feng Hao dan berkata.

"Lebih baik aku pulang sendiri dengan menunggang kuda ini, dan kau belakangan baru pulang."

Belum habis kata-kata ini dia sudah ada di punggung kuda itu, siap untuk melarikan diri.

Tiba-tiba tangannya dipegang oleh seseorang.

Segera dia diseret turun dari kuda dan Lin Xiu terjatuh ke tanah.

Lin Xiu berteriak.

"Mengapa kau tidak sopan kepadaku?!"

Dengan dingin Feng Hao memandangnya dan berkata.

"Aku tidak mau melayani sandiwaramu."

"Sandiwara apa? Apa maksudmu?"

"Kau tentu tahu maksud kedatanganku kemari, dan aku juga tahu kemana tujuanmu sebenarnya."

Tiba-tiba Lin Xiu mengangkat kepalanya dengan mata yang penuh kesedihan dia berkata.

"Mengapa kau tidak membiarkanku pergi, Lu Xiang-chuan sudah berbaik hati kepadamu. Aku hanya ingin memberitahumu untuk tidak melakukan suatu kebodohan."

Dengan dingin Feng Hao berkata.

"Hal yang diperintahkan oleh Lao-bo bukanlah hal yang bodoh."

"Tapi.... tapi kali ini tidaklah sama, Han Tang sebenarnya sudah meninggal tetapi dia masih tetap memerintahkan Lu Xiang-chuan untuk membunuhnya."

"Aku hanya melakukan tugas yang diberikan Lao-bo padaku tidak pernah menanyakan hal lainnya. Kali ini dia memerintahkanku untuk membawamu pulang."

Lin Xiu menangis dan berkata.

"Kau dapat mengatakan pada Lao-bo bahwa kau tidak bertemu denganku."

Dengan dingin Feng Hao bertanya.

"Mengapa aku harus melakukan hal itu?"

Kata Lin Xiu dengan lirih.

"Karena.... karena aku akan membalas kebaikanmu."

"Dengan cara apakah kau akan membalas kebaikanku?"

Lin Xiu menegakkan dadanya dan berkata.

"Asal aku bisa bertemu dengan Lu Xiang-chuan, apa pun yang kau minta akan kuberikan padamu."

Feng Hao segera tersenyum, senyuman ini mengandung niat yang tidak baik. Dia melihat tubuh Lin Xiu yang putih dan mulus dengan sekata demi sekata dia berkata.

"Apakah betul semua akan kau berikan?"

Biarpun Lin Xiu sudah menikah lama tetapi tubuhnya masih tetap bagus dan seksi.

Dia mengenal tubuhnya dengan baik dia selalu membanggakan tubuhnya.

Hal ini membuat suaminya selalu bergairah padanya.

Tetapi dia belum pernah memikirkan laki-laki lain selain suaminya.

Di matanya hanya ada suaminya dia tidak ingin laki-laki lain memegang tubuhnya.

Tetapi tawa Feng Hao membuatnya Lin Xiu berpikir demikian.

Bila seorang perempuan demi menolong suaminya dan kehilangan kesuciannya apakah perbuatan itu masih dapat dimaafkan?

Yang lebih penting apakah suaminya mengetahui perbuatannya dan apakah suaminya dapat memaafkan perbuatannya?

Feng Hao dengan diam memandanginya dan sedang menunggu jawabannya.

Lin Xiu menggigit mulutnya sendiri.

"Bila aku memenuhi permintaanmu apakah kau akan melepaskanku?"

Feng Hao mengangguk. Luka dimulut Lin Xiu mulai mengeluarkan darah lagi dan dia menelan kembali darah itu kemudian bertanya.

"Kapan kau mau melakukannya?"

"Sekarang."

Lin Xiu mengepalkan tangannya dengan perlahan mengikuti Feng Hao.

Jalan ini menuju taman bunga milik Lao-bo, kecuali tamu Lao-bo biasanya tidak ada orang lain yang akan lewat jalan ini.

Di sisi jalan itu adalah hutan yang lebat.

Feng Hao berdiri di bawah pohon yang besar dan dia menunggu Lin Xiu.

Pelan-pelan Lin Xiu mendekati Feng Hao tetapi wajahnya tidak menampakkan ekspresi apa-apa.

Lin Xiu menganggap orang ini adalah seekor anjing siapa pun juga pasti bisa digigit anjing.

Nafas Feng Hao jadi berat dan kasar, dia berkata kepada Lin Xiu.

"Bagaimana bila disini? Aku jamin kau pasti belum pernah menikmati hal seperti ini."

"Aku bukanlah seekor anjing."

"Lambat laun kau akan mengerti bahwa kadang-kadang lebih baik menjadi anjing dari pada menjadi manusia."

Dengan kasar dia menarik Lin Xiu ke hadapannya. Tubuh Lin Xiu kaku seperti sebuah kayu, dia menggigit bibirnya dengan giginya sendiri dan berkata.

"Cepat kau selesaikan dan aku akan segera pergi."

Tangan Feng Hao sudah menyelip masuk dalam baju Lin Xiu, dia meremas dada Lin Xiu yang hangat.

Jari-jari tangannya sudah memainkannya.

Tangannya kasar dan gemetar.

Tubuh Lin Xiu pun gemetaran.

Tadinya dia menyangka bisa menahan penghinaan ini, tetapi sekarang dia tidak sanggup menahannya lagi.

Tiba-tiba dia mendorong tubuh Feng Hao dan menampar wajahnya.

Karena ditampar Feng Hao menjadi bengong.

Lin Xiu mendorongnya kuat-kuat dan dia sendiri mundur sampai menabrak sebuah pohon yang besar, sepasang tangannya menutup dadanya dan dia berkata.

"Lebih baik kau bawa aku menghadapi Lao-bo!"

Feng Hao hanya memandanginya dari matanya yang makin lama memancar kemarahan. Tiba-tiba Feng Hao tertawa dengan sinis.

"Pulang? Apa kau masih mempunyai kesempatan untuk pulang?"

"Kau ingin membunuhku?"

Tanya Lin Xiu terkejut.

"Kau Harus mati!"

"Mengapa harus begitu?"

"Karena kau harus menjadi kambing hitam."

Semua bagian tubuh Lin Xiu menjadi dingin, tetapi wajahnya menjadi panas.

"Mengapa kau masih ingin aku melakukan hal itu?"

"Seorang laki-laki jika mempunyai kesempatan pasti tidak akan melepaskannya begitu saja,"

Jawab Feng Hao tenang.

Lin Xiu menjadi sangat marah, dia mendekati Feng Hao ingin rasanya dia mencekik leher orang ini.

Lin Xiu seorang yang tidak sanggup memotong ayam tetapi sekarang dia ingin membunuh orang yang ada di hadapannya.

Tetapi sayang, tangan Feng Hao lebih cepat dari padanya, suatu benda yang seperti besi sudah mengenai hidungnya.

Sakit pun sudah tidak sempat dirasakannya lagi, dia sudah roboh.

Setelah lama dia baru merasakan sakit dan kesedihan.

Sekarang dia sudah tidak marah atau terhina, dia hanya terus menerus memanggil nama suaminya.

Hanya satu keinginannya yaitu kematian, lebih cepat mati lebih baik.

Dia tetap tidak dapat melupakan suaminya.

Dia hanya ingin suaminya tahu bahwa dia sangat mencintainya.

Dan dia ingin tahu bahwa demi suaminya dia bisa menahan semua penghinaan dan siksaan.

Apakah Lu Xiang-chuan akan mengetahuinya?

Lu Xiang-chuan melihat sepiring ayam yang masih hangat, sebenarnya dia sangat menyukai hidangan itu.

Ayam yang dicampur dengan jamur, dia lebih suka lagi dengan ayam bakar.

Dua macam sayur ini sering dimasak oleh istrinya.

Setiap kali Lu Xiang-chuan mengalami kesulitan dalam pekerjaannya atau sedang menghadapi kejenuhan, istrinya selalu menyiapkan kedua hidangan ini.

Sudah lama dan menjadi kebiasaan Lu Xiang-chuan selalu menghabiskan hidangan-hidangan itu.

Hal ini hanya dia sendiri yang mengetahuinya.

Sepuluh tahun yang lalu dia ingin makan ayam pun sangat sulit dan pada waktu itu bisa makan saja merupakan suatu keberuntungan.

Semenjak kecil Lu Xiang-chuan tidak mempunyai orang tua.

Dia hanya tinggal bersama pamannya Lu Man-tian, tetapi dalam satu tahun dia belum tentu bisa bertemu dengan pamannya itu.

Dia selalu ingat jika pamannya pulang pasti dengan tergesa-gesa kalau tidak pasti pulang dengan keadaan luka parah.

Dia tidak mengetahui pekerjaan pamannya yang sebenarnya.

Sampai pada 2 hingga 3 tahun lalu, Lu Man-tian memberitahu pada Lao-bo untuk menjadikannya sebagai pelayan, makin lama dia makin mengetahui jenis pekejaan yang mereka lakukan.

Dia ikut pula dalam perkumpulan itu.

Pekerjaan itu bukanlah kesenangannya, tetapi dia percaya bahwa pekerjaannya akan membuatnya menjadi terkenal oleh karena itu dia belajar dengan cepat dan rajin.

Sekarang setiap hari dia dapat makan ayam bakar, hal ini sangat tidak mudah.

Hal ini adalah hasil perjuangannya dengan susah payah dan kerja keras.

Sekarang ayam bakar sudah terhidang di hadapannya tetapi dia tidak menikmatinya.

Apakah ini adalah sebuah karma?

Apakah dalam hatinya juga merasa ada sesuatu yang akan terjadi?

Atau dia merasa kedudukannya terancam?

Atau dia merasakan adanya bahaya yang mendekatinya?

Atau merasa susah untuk bertemu dengan istrinya lagi?

Hari menjelang sore Tie Peng dan Han Tang belum muncul.

Mengapa sampai sekarang mereka belum muncul?

Apakah rencana mereka berubah?

Apakah mereka mengetahui bahwa Lu Xiang-chuan sedang menunggu di sini?

Lu Xiang-chuan percaya bahwa Han Tang tidak akan bisa mengenalinya, karena dia sudah merubah mukanya dengan menggunakan obat dan dia menambahkan dengan kumis palsu.

Dia terlihat 20 tahun lebih tua dari usia sebenarnya.

Waktu dia datang, tamu-tamu sudah memenuhi 2 meja, sekarang sudah menjadi 4 meja.

Dari tempatnya dia dapat mengawasi orang yang datang dan keluar.

Lampu pintu besar sudah dinyalakan.

Lu Xiang-chuan sudah memesan arak lagi.

Biarpun harus menunggu lama dia harus tetap menunggu.

Dia tidak suka minum arak, dia meminta arak karena terpaksa, bila seorang menunggu lama tidak minum arak itu adalah hal yang aneh.

Dia juga sebenarnya tidak suka menunggu orang, tetapi dia harus tetap melakukannya.

Ooo)dw(ooO Sebuah kereta kuda berjalan ringan dan kokoh.

Kuda yang menarik kereta itu adalah kuda pilihan.

Kusirnya pun seorang yang handal, kereta kuda itu berjalan sangat cepat.

Lu Man-tian sedang duduk miring di dalam kereta, kelihatannya dia sangat santai.

Tetapi lempeng besi yang dipegangnya terus berbunyi.

Lao-bo memandanginya dan bertanya.

"Kau sedang memikirkan apa?"

Lao-bo mengetahui jika lempeng itu terus berbunyi maka Lu Man-tian pasti sedang berpikir keras.

Lu Man-tian hanya tertawa tetapi dia tidak mengatakan apa-apa.

Tidak lama Lao-bo juga tertawa dan berkata.

"Aku tahu kau sedang memikirkan apa?"

"Oh."

"Apakah kau sedang teringat ketika kita dulu hidup sangat sengsara?"

Lu Man-tian mengangguk. Kata-kata Lao-bo tidak salah. Dulu kehidupan mereka sangat tidak enak. Mereka pernah melakukan banyak hal. Mata Lao-bo berkilau dan dia bertanya.

"Apakah kau ingat ketika kita menghadapi Yuan Lao-da?"

Lu Man-tian tentu saja ingat, sampai mati pun dia masih ingat kejadian itu.

Yuan Lao-da adalah ketua perkumpulan, dia menguasai pedagang-pedagang kaya sepanjang Chang-jiang.

Ilmu silat yang digunakan Yuan Lao-da adalah ilmu setan pengisap darah.

Mengenai kepandaian, jenis ini banyak cerita di dalam dunia persilatan, gerakannya sangat misterius dan sangat menakutkan.

Banyak orang menganggap bahwa ini bukan suatu ilmu kepandaian melainkan suatu ilmu gaib.

Tidak ada orang yang berani melawan ilmu gaib tetapi Lao-bo mencobanya.

Lao-bo dan Yuan Lao-da mengadakan perjanjian untuk bertemu disuatu tempat.

Lao-bo membuat Yuan Lao-da percaya bahwa mereka menunggu di tempat yang disepakati tetapi Lao-bo dan anak buahnya menggerebek tempat tinggal Yuan Lao-da, menarik dia keluar dari selimut yang hangat.

Lao-bo memakunya di pintu besar rumahnya sendiri.

Yuan Lao-da mati dia hanya mengucapkan satu kata.

"Kalian sangat cepat datang."

Cepat, dengan kecepatan akan membuat orang tidak mempunyai persiapan dan tidak bisa melawan.

Itu adalah salah satu rahasia Lao-bo dalam memimpin.

'Cepat' kata ini mudah diucapkan tetapi seumur hidup Lu Man-tian hanya seorang yang dapat melakukannya, orang itu adalah Lao-bo.

Tetapi kejadian itu sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu, apakah Lao-bo masih tetap seperti dulu?

Mata Lu Man-tian sangat tegang.

Lao-bo hanya tersenyum dalam senyum dia berkata.

"Memang hari-hari seperti dulu tidaklah enak tetapi sangat menyenangkan."

Tiba-tiba Lu Man-tian bertanya.

"Apakah kau masih ingat ketika kita menghadapi si Jenggot Couw?"

Kali itu gerakan mereka juga sangat cepat, dengan cepat mereka masuk dalam wilayah si Jenggot Chou, mereka berangkat dengan 13 orang tetapi yang tersisa hanya 2 orang.

Setelah pulang Lu Man-tian harus beristirahat di tempat tidur 2 bulan setelah itu dia baru bisa duduk untuk makan.

Dengan perlahan Lao-bo berkata.

"Aku masih ingat, semenjak itu aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi."

Lu Man-tian bertanya.

"Bagaimana kali ini?"

Lao-bo tetap tertawa, tetapi mukanya terlihat sedikit kaku.

Ooo)dw(ooO BAB Lu Xiang-chuan tidak mengenal Rang Gong, karena dia belum pernah bertemu dengannya.

Tapi begitu masuk ke penginapan Tai-hong, Lu Xiangchuan langsung mengenalnya.

Fang Gang adalah Tie Peng, orang ini benar-benar seperti terbuat dari besi.

Baju yang dia pakai berwarna putih tapi bagian tubuh yang tidak tertutup baju, hitam seperti besi.

Di bawah sinar lampu, tubuh ini berkilauan dan tampak berminyak.

Pandangannya begitu tajam, mulutnya selalu dikatupkan.

Langkah berjalannya pun sangat aneh setiap dia melangkah sepertinya mengeluarkan tenaga yang besar sehingga rumah terasa ada gempa kecil.

Lu Xiang-chuan belum pernah bertemu dengan orang yang begitu sehat dan kokoh seperti ini selain Sun Jian.

Saat Fang Gang memasuki penginapan, semua orang menahan nafas karena tiba-tiba napas mereka merasa sesak.

Masih ada orang yang berjalan di depannya, tidak perlu ditanyakan lagi, mereka tentunya adalah pengawal Fang Gang yang merupakan pengawal pilihan.

Kemana pun dia pergi, dia selalu menjadi sorotan mata orang-orang.

Fang Gang segera duduk setelah menemukan tempat yang strategis, secara otomatis para pengawalnya berdiri di belakangnya.

Biasanya pada saat dia duduk semua orang harus berdiri, karena orang-orang tidak mau duduk berbarengan dengannya.

Lu Xiang-chuan merasa lega.

Lu Xiang-chuan teringat kepada kata-kata Sun Jian.

"Bila Fang Gang minum dia akan selalu mengangkat kepalanya dan pada saat itu pula matanya akan melihat keadaan di sekelilingnya."

Tapi pada saat Lu Xiang-chuan minum kepalanya selalu ditundukkan, sepertinya yang menarik bagi dia adalah arak.

Orang pertama yang dilihat olehnya adalah Lin Zhong-he.

Orang yang belajar kepandaian Shao Lin selalu terlihat berotot.

Lin Zhong-he pun seperti itu, Namun beberapa tahun belakangan ini hidupnya membaik karena hutangnya sudah lunas maka perutnya lebih maju dari pada dadanya.

Begitu dia memasuki penginapan dia segera menghadap Fang Gang, dia membungkukkan badannya memberi hormat kepada Fang Gang.

"Apakah kau yang bermarga Lin?"

Tanya Fang Gang.

"Betul, aku adalah Lin Zhong-he."

Fang Gang mengangkat gelasnya dan bertanya lagi.

"Apakah kau jago minum?"

"Aku masih bisa minum 2 gelas arak lagi,"

Jawab Lin Zhong-he tertawa.

Lin Zhong-he memindahkan kursi mendekati Fang Gang kemudian menuangkan arak ke dalam gelas.

Tiba-tiba Fang Gang menyiramkan arak itu ke wajah Lin Zhong-he kemudian dengan sinis dia bertanya.

"Kau ini siapa?! Apa kau merasa pantas minum arak bersamaku!"

Lin Zhong-he terpaku dan wajahnya menjadi merah.

Sun Jian terlihat lebih kuat dari Fang Gang, mungkin itu yang menyebabkan Sun Jian mati lebih awal.

Tapi bagaimana dengan Han Tang?

Lu Xiang-chuan dengan perlahan menghirup araknya, Fang Gang pun terlihat sedang minum arak hanya dengan satu kali teguk saja araknya sudah memasuki tenggorokannya.

Di kota Hang Zhou walaupun Lin bukan orang yang terkenal, pada saat dia masih memiliki banyak hutang, dia belum pernah dihina orang sampai separah itu.

Fang Gang dengan suara yang bernada kasar berkata.

"Keluar kau! Keluar!"

Lin Zhong-he tiba-tiba menggebrak meja kemudian meloncat dengan marah sambil berkata.

"Siapa kau! Berani menyuruhku pergi!"

Kata-kata Lin Zhong-he belum habis perutnya sudah kena kepalan tangan Fang Gang.

Kepalan tangannya keras seperti besi dan perut Lin Zhong-he sangat lembek, karena itu Lin Zhong-he merasa sangat kesakitan hingga membungkukkan badannya.

Fang Gang membalikkan meja makan yang berada di hadapannya dan meja itu mengenai kepala Lin Zhong-he, kuah panas telah menyirami kepalanya.

Melihat keadaan Lin Zhong-he seperti itu malah membuat para pengawal Fang Gang tertawa terbahakbahak.

Lu Xiang-chuan mulai merasa marah, karena bagaimana pun Lin Zhong-he adalah paman Lin Xiu, istrinya.

"Bawalah orang ini keluar! Tinggalkan dia di hutan, sebelum hari terang jangan biarkan dia pulang!"

Kata Fang Gang dingin.

Segera 2 orang pengawal menyeret Lin Zhong-he keluar dari penginapan.

Lin Zhong-he mulai memberontak, walaupun perutnya lembek namun tangannya masih memiliki tenaga, dia pernah belajar kepandaian Shao Lin.

Meskipun orang-orang yang menyeretnya sangat kuat namun pada saat dia memberontak tangannya bisa terlepas dari cengkraman orang-orang itu bahkan ada yang terjatuh.

Lin Zhong-he membalikkan tubuhnya dan memukul pengawal yang satunya lagi.

Tiba-tiba dia mendekati Lu Xiang-chuan dengan terengah-engah dia berkata.

"Pergi! Cepatlah pergi! Mereka datang ke sini hanya untuk membunuhmu!"

Keluarga adalah keluarga, Lin Zhong-he masih bisa mengenali Lu Xiang-chuan. Lu Xiang-chuan merasa sangat terkejut namun dia berusalia untuk menutupinya.

"Aku tidak mengenalmu."

Lin Zhong-he dengan marah berkata.

"Kau tidak perlu membohongiku lagi, saat kau tiba di tempat ini, mereka sudah tahu...."

Kalimat ini belum habis dikatakan.

Orang yang didorong olehnya tadi sudah menghampirinya.

Seorang menarik leher bajunya, yang satu lagi mengangkat kursi kemudian dipukulkan ke arah Lin Zhong-he.

Fang Gang memukulnya dengan keras dengan sinis dia berkata.

"Hei, kau yang bermarga Lu, keluarlah untuk bertarung denganku!"

Mulut masih berbicara namun orang tersebut sudah seperti seekor macan siap mencakar Lu Xiang-chuan.

Perubahan ini sungguh tidak disangka-sangka, sangat mengejutkan semua orang.

Sepertinya Lu Xiang-chuan belum siap menerima pembahan yang mendadak.

Dia masih duduk di kursi bahkan bergerak pun dia belum sempat.

Tetapi pada saat Fang Gang mendekatinya tiba-tiba tubuhnya sudah meluncur ke bawah, seperti seekor ikan yang meluncur melewati meja.

Tangannya sudah memegangi kaki orang yang berada di dekatnya.

Orang ini baru saja memukul kursi ke pinggang Lin Zhong-he, tiba-tiba ada sepasang kaki yang mengenai pinggang orang itu dan dalam sekejap orang itu sudah melayang terbang jauh.

Ternyata Lu Xiang-chuan yang melempar orang itu dan kaki sebelah kanan menendang pengawal yang lain.

Orang ini terlihat sangat kesakitan, sepasang kalanya tidak bisa berdiri lagi, air mata dan keringat dingin samasama mengalir keluar.

Dan dia pun tahu bahwa seumur hidupnya dia tidak akan bisa berdiri lagi.

Lu Xiang-chuan menarik Lin Zhong-he yang terjatuh kemudian berkata.

"Cepat carilah Lao-bo!"

Lin Zhong-he mengangguk mengerti dia segera berlari keluar tapi di depan dia sudah dihadang oleh 3 orang pengawal.

Golok yang dipegang oleh mereka tampak berkilauan.

Lin Zhong-he selangkah demi selangkah mundur, dia melihat ada cahaya hitam yang melewati tangannya, dan tiba-tiba saja 2 orang pengawal yang berada di hadapannya sudah roboh.

Lin Zhong-he pun tahu bahwa Lu Xiang-chuan sudah mengeluarkan senjata rahasianya.

Tiba-tiba Fang Gang berteriak.

"Awas dengan senjata rahasianya!"

Fang Gang mengangkat kursi yang berada di hadapannya kursi ini dijadikan perisai olehnya dan dia berusaha mendekati Lu Xiang-chuan sekali lagi.

Lu Xiang-chuan berdiri sambil terus menunggu Fang Gang.

Dia mendekati Fang Gang seperti seekor kalajengking.

Saat dia diam dia seperti orang yang sopan dan terpelajar.

Wajahnya selalu tersenyum, saat melihat Fang Gang dia berkata.

"Kau sendiri pun harus hati-hati dengan senjata rahasiaku."

Fang Gang terlihat sangat marah dan dia meloncat.

Tiga buah kilauan benda mendekati bagian bawah tubuhnya.

Namun pada saat itu dia belum melihat Lu Xiang-chuan mengeluarkan senjata rahasianya sepertinya cahaya ini keluar dari bawah tanah, mungkin bila dia tidak sempat menghindar dia tidak akan bisa bangun lagi.

Dengan tersenyum Lu Xiang-chuan berkata.

"Aku sudah memberitahumu, hati-hati dengan senjata rahasiaku."

Lu Xiang-chuan terlihat sangat tenang karena dia tahu dia yang akan menang.

Tubuh Fang Gang masih melayang di udara, tubuhnya sangat besar dan menjadi sasaran empuk senjata rahasia Lu Xiang-chuan.

Lu Xiang-chuan selalu membawa 4 jenis senjata rahasia.

Setiap jenis terdapat tiga buah benda semuanya dilontarkan pada saat yang bersamaan.

Saat itu senyum Lu Xiang-chuan tiba-tiba menjadi kaku.

Dia merasa ada sepasang tangan yang memeluk pinggang dan tangan ini sepertinya mempunyai tenaga yang sangat besar.

Lu Xiang-chuan tahu bahwa dia tidak akan bisa melepaskan cengkraman tangan ini.

Bila saja dia tadi bersikap hati-hati, tidak akan ada orang yang bisa memeluk pinggangnya dari belakang dan tidak ada orang yang dapat membokong dirinya.

Tubuh Lu Xiang-chuan sudah dibanting oleh Lin Zhonghe, tubuh Fang Gang berputar kemudian mendarat di hadapan Lu Xiang-chuan.

Satu kaki menginjak dadanya dan kaki yang lain menginjak perutnya.

Seperti seorang pemburu yang sedang menginjak seekor kambing hutan yang sudah terkena panah.

Wajah yang hitam sudah tertawa dengan penuh kemenangan.

Dengan tertawa terbahak-bahak dia berkata.

"Hei, kau yang bermarga Lu, orang-orang sering berkata bahwa kau adalah seorang yang banyak akal, namun dengan cara seperti ini saja kau sudah tertipu mentah-mentah."

Mata Lu Xiang-chuan terlihat keras seperti batu hitam yang dingin, kemudian dia berkata.

"Sebenarnya kau yang harus berterima kasih kepadaku."

"Mengapa aku harus berterima kasih kepadamu?"

Tanya Fang Gang.

"Bila bukan karena saudaraku yang membantu, apakah kau bisa memang?"

"Benar. Kau mempunyai saudara yang baik, seharusnya pada saat kau menikah kau sudah harus berhati-hati,"

Kata Fang Gang tertawa. Lin Zhong-he mulai berdiri, dari sorotan mata yang dilihat oleh Lu Xiang-chuan terlihat ada penyesalan, kemudian dengan perlahan dia berkata.

"Jangan salahkan aku, karena aku bekerja untuk orang lain."

Lu Xiang-chuan dengan ringan berkata.

"Bila aku jadi dirimu aku juga akan berbuat hal yang sama."

Kemudian Lu Xiang-chuan bertanya.

"Hanya ada satu hal yang tidak kumengerti...."

"Mengenai apa?"

Tanya Lin Zhong-he.

"Di dalam perkumpulan Wan Peng-wang banyak orang yang kuat, mengapa kau memilih keledai bodoh ini menjadi temanmu dan membiarkan dia menghina dirimu?"

"Siapa yang kau maksud?"

Kata Fang Gang marah.

"Kecuali dirimu tidak ada keledai bodoh yang kedua."

Kaki Fang Gang masih menginjak dada Lu Xiang-chuan dengan marah Fang Gang kembali menjejakan kakinya keras-keras ke tubuh Lu Xiang-chuan.

Tubuh Lu Xiang-chuan gemetar karena menahan sakit namun dia tetap mengatupkan mulutnya erat-erat supaya suaranya tidak keluar.

"Bagaimana rasanya sekarang?"

Tanya Fang Gang. Lu Xiang-chuan hanya diam memandangnya dengan perlahan dia tertawa, dan berkata.

"Kau terlihat sangat pintar, tapi bila sedang bertarung kau seperti seorang perempuan."

Fang Gang benar-benar sangat marah kemudian dia meloncat, dia langsung menendang tulang rusuk Lu Xiangchuan.

Sekali pun Lu Xiang-chuan memejamkan matanya karena menahan sakit, Fang Gang tetap tidak berhenti.

Dan Lu Xiang-chuan tetap tidak mengeluh mau pun mengelak.

Lin Zhong-he membalikkan tubuhnya, dia tidak tega melihatnya.

Tiba-tiba tendangan Fang Gang berhenti dengan tertawa dia berkata.

"Sekarang aku sudah mengerti maksudmu."

Lu Xiang-chuan menggentakkan giginya dan berusaha berbicara.

"Apakah seekor keledai bodoh bisa mengerti maksud orang?"

Wajah Fang Gang berubah lagi tapi dia berusaha untuk tertawa kemudian dia berkata.

"Kau ingin mati lebih cepat bukan?"

Lu Xiang-chuan mengatupkan mulutnya lebih erat lagi.

"Tenanglah, kau tidak akan mati semudah itu, aku akan membuatmu menyesal karena pernah hidup."

"Bila kau terus membiarkan aku hidup, kau akan menyesal."

"Apakah kau menunggu seseorang yang akan menolongmu?"

Dengan dingin dia berkata lagi.

"Aku berharap akan ada orang yang menolongmu. Siapa pun yang datang, aku akan menjadikannya seekor landak."

Dia melirik ke arah dinding kiri dan kanan dari sudut matanya dia memandang orang-orang yang dia bawa.

Delapan orang pengawal hanya tersisa empat orang, dan keempat wajah orang ini tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

Jantung Lu Xiang-chuan berdetak lebih kencang lagi.

Dia mengenal sorot mata keempat pengawal itu, sangat berbeda dengan orang biasa dan istimewa, orang seperti mereka tidak akan menjadi pengawal orang lain.

Lu Xiang-chuan pun tahu keempat orang ini sangat sulit dihadapi oleh dirinya sendiri.

Mereka berjaga-jaga di dekat dinding, menjaga bila ada seseorang yang akan menolong Lu Xiang-chuan.

Lu Xiang-chuan berharap Lao-bo jangan datang untuk menolongnya.

Fang Gang duduk dengan santai di kursi dan berkata.

"Aku harus menunggu 2 jam lagi untuk melihat...."

Dia tidak perlu menunggu lama lagi Tiba-tiba datang sebuah kereta kuda yang ditarik oleh sepasamg kuda hitam, berlari masuk. Kusir sedang memecut kuda-kuda itu. Kereta kuda sudah memasuki ruang makan.

"Sudah datang!"

Teriak Fang Gang.

Dalam suara teriakan itu terdengar suara 'HUNG'.

Dinding kiri dan kanan secara serentak keluar lubang, kurang lebih ada 20 hingga 30 lubang, tiap lubang terpasang satu busur.

Dan panah-panah melesat dari lubang itu.

Dada si kusir sudah terkena panah dan dia pun jatuh dari kereta.

Tubuh kuda-kuda itu pun penuh dengan darah, tapi kuda-kuda itu tetap meringkik dan menabrak dinding, barulah kereta kuda terguling karena kuda-kuda itu sudah, roboh.

Fang Gang mengayunkan tangannya.

Panah sudah tidak terhitung lagi jumlahnya, semuanya menancap di kereta dan membakar kereta kuda itu.

Kobaran api dengan cepat menjalar hanya dalam sekejap saja semua sudah terbakar, bila orang yang berada di dalam tidak segera keluar, mereka akan ikut terbakar bersama kereta kuda itu.

Tapi bila mereka keluar maka panah-panah akan segera dilontarkan menyambut mereka.

Walaupun mereka adalah pesilat tangguh sekalipun pasti tidak akan bisa lolos dari hujan panah itu.

Fang Gang tertawa dan berkata.

"Sun Yu-bo, kali ini kau tidak akan kemana-mana!"

Tapi tawa Fang Gang tidak lama.

Tiba-tiba dinding terbelah menjadi dua dan terdengar suara orang yang dibunuh, busur-busur dilempar keluar disusul oleh orangorang yang bertugas memanah di balik dinding itu.

Sekarang Lu Xiang-chuan baru mengetahui bahwa kedua dinding itu ruangan kosong dan semenjak tadi orang-orang Fang Gang sudah menunggu, di sana.

Tapi mengapa mereka tiba-tiba terlempar keluar dan mengapa mereka pada roboh?

Wajah Fang Gang berubah dia menarik salah seorang pengawal yang wajahnya sudah menjadi hitam dan mulutnya mengeluarkan darah, nafas orang itu sudah berhenti.

Fang Gang melihat tubuh orang itu, sama sekali tidak terdapat luka, orang ini pasti dipukul oleh orang yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi, dalam sekali pukul saja sudah mati.

Di balik tembok itu sebenarnya ada 48 orang pemanah.

Sekarang 39 orang lebih sudah roboh dan sisanya melarikan diri.

Fang Gang mengangkat sebuah meja kemudian melemparkannya ke dalam kobaran api.

Meja itu langsung hancur namun ternyata di dalam kereta kuda tidak ada orang.

Fang Gang sudah mengerti, ternyata dia sudah tertipu, kemudian dia berteriak.

"Hei, Sun Yu-bo! Bila kau sudah datang, mengapa tidak berani keluar?"

Di balik dinding yang hancur ada suara orang yang tertawa dingin, Fang Gang mendekati dinding itu tapi tidak terlihat ada orang, hanya terdengar suara lempengan besi yang saling beradu.

Hati Lu Xiang-chuan terkejut, 'Ini pasti lempengan besi milik Lu Man-tian.' Lempengan besi masih dipegang oleh Lu Man-tian, dengan tenang dia masuk dari pintu besar, dia tampak begitu tenang seperti seorang tamu yang masuk ke rumah makan yang biasa di singgahi.

Fang Gang bertanya dengan nada galak.

"Siapa kau?"

Dengan tersenyum Lu Man-tian membuka telapak tangannya di tengah lempengan besi itu keluar asap yang berkilauan.

"Apakah kau Lu Man-tian?"

Tanya Fang Gang. Lu Man-tian malah balik bertanya.

"Apakah kau mengenalku?"

"Dimana Sun Yu-bo?"

"Apakah kau ingin bertemu dengannya?"

"Dari dulu aku selalu ingin bertemu dengannya."

"Apakah kau tidak takut kepadanya?"

Dengan marah Fang Gang berkata.

"Apa yang perlu kutakuti?"

Dengan tenang Lu Man-tian berkata.

"Kalau begitu balikkan kepalamu dan kau akan melihatnya."

Fang Gang terkejut dengan segera dia membalikkan tubuhnya dan terlihat seseorang yang terdiam berdiri di puing-puing dinding yang hancur, wajahnya sama sekali tidak ada ekspresi.

Dilihat dari pakaiannya, dia seperti seorang desa yang lugu tapi dari sorot matanya memancarkan sinar yang sangat berwibawa.

Tanpa sadar Fang Gang mundur beberapa langkah dan bertanya.

"Kau Sun Yu-bo?"

Lao-bo mengangguk. Fang Gang tiba-tiba mendekati Lu Xiang-chuan dan berteriak.

"Apakah kalian masih ingin dia hidup?"

"Tentu saja!"

Jawab Lao-bo. Fang Gang berteriak lagi.

"Bila ingin dia hidup, kalian jangan berbuat macam-mcam!"

"Bila kau berani melukai sehelai rambutnya saja, aku akan meminta nyawamu!"

Kata Lao-bo. Fang Gang tertawa sinis.

"Mengapa aku tidak berani melukainya?"

Fang Gang masih ingin menendang Lu Xiang-chuan tapi tanpa terasa secepat kilat Lao-bo sudah berada di hadapannya.

Seumur hidupnya belum pernah dia melihat orang yang dapat bergerak begitu cepat.

Dengan dingin Fang Gang bertanya.

"Apakah kau masih berani bertarung satu lawan satu denganku?"

Lao-bo tidak menjawab, dengan perlahan dia berjalan mendekati Fang Gang. Orang yang mengambil kursi untuk memukul Lin Zhong-he tiba-tiba berdiri dan menunjuk mereka berempat dan berkata.

"Hati-hati dengan mereka! Mereka adalah orang yang harus diawasi."

Begitu kata-kata dilontarkan semua menjadi terkejut.

Walaupun Lu Xiang-chuan sudah tahu bahwa salah satu di antara 8 orang yang dibawa Fang Gang, diantaranya pasti ada orang Lao-bo, dia sempat terkejut juga.

Sebab ternyata Lao-bo selalu mengetahui gerak-gerik Fang Gang.

Orang itu adalah orang Lao-bo, Lu Xiang-chuan sungguh tidak menyangkanya tapi Fang Gang lebih terkejut lagi, dengan marah dia berkata.

"Ternyata kau adalah matamata!"

Empat orang yang berada di sisi Fang Gang segera mengeluarkan senjata.

Empat senjata itu ada yang sangat pendek bahkan ada yang sangat panjang.

Senjata yang pendek sangat berbahaya sedangkan yang sangat panjang sangat keras.

Walau panjang atau pendek semua itu adalah senjata yang sulit dikuasai.

Melihat senjata mereka, bisa di nilai bahwa kepandaian mereka sebanding dengan Fang Gang.

Walaupun senjata mereka dikeluarkan tapi tidak mempunyai kesempatan untuk digunakan.

Lao-bo tiba-tiba bergerak.

Walaupun orang itu mengeluarkan pecut namun tangan Lao-bo lebih cepat menotok ke arah tenggorokan Fang Gang, dengan seketika juga dia roboh.

Tidak ada kesulitan, ketiga orang yang lainnya pun mengalami nasib yang sama.

Itu adalah keistimewaan kepandaian Lao-bo dan Lu Man-tian.

Tidak ada huruf apa pun yang dapat menggambarkan kepandaian mereka.

Hanya ada satu huruf yang tepat yaitu 'cepat'.

Cepat hingga tidak dapat diuraikan dengan kata-kata, cepat hingga tidak dapat ditahan, cepat hingga orang-orang tidak dapat melihat perubahan kepandaian mereka.

Lu Man-tian cepat, Lao-bo lebih cepat lagi.

Sejak awal hingga akhir hanya terdengar satu suara teriakan saja.

Suara teriakan itu berasal dari Fang Gang yang terjatuh ke arah kereta yang sedang terbakar.

Begitu dia terjatuh dia bisa tidak keluar lagi.

Artinya orang sudah hilang dari dunia.

"Kau mau membakar mati aku, aku akan membalas membakarmu."

Ini adalah kata-kata Lao-bo, ini yang disebut 'memakai darah untuk membayar darah'.

Lu Xiang-chuan beristirahat selama 3 hari di tempat tidur baru dapat berjalan kembali.

Dia segera menemui Lao-bo.

Dia berlutut.

Pertama kali dia berlutut kepada Lao-bo sudah terjadi 17 tahun yang lalu, sekarang ini adalah untuk kedua kalinya.

Karena Lao-bo tidak suka orang lain berlutut kepadanya.

Lao-bo menganggap berlutut adalah malah membuat anak buahnya terlihat tidak berwibawa, dia tidak mau anak buahnya hilang wibawa di hadapannya.

Di depan Lao-bo hanya orang bersalahlah yang berlutut.

Lao-bo mengangkatnya berdiri.

Dari mata Lao-bo terpancar sorot bijaksana dengan lembut dia berkata.

"Kau tidak bersalah."

Lu Xiang-chuan menundukkan kepalanya dan berkata.

"Aku terlalu ceroboh, karena itu telah membuat Han Tang masuk ke dalam perangkap."

Lao-bo tertawa dan berkata.

"Han Tang sudah mati."

Walaupun Lu Xiang-chuan terkejut tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak bertanya. Lao-bo juga tidak menceritakannya, segera dia berkata.

"Walaupun kali ini kau terbuka namun kita juga mendapatkan hasilnya."

"Ya,"

Kata Lu Xiang-chuan.

"Sekarang Wan Peng-wang dan anak buahnya hanya tersisa 7 cabang perkumpulan dari jumlah keseluruhan 12 cabang."

Dengan terkejut Lu Xiang-chuan bertanya.

"Apakah keempat orang itu juga anak buah Wan Peng-wang?"

Lao-bo mengangguk.

Dari matanya terlihat bahwa Lu Xiang-chuan sangat mengagumi Lao-bo karena anak buah Wan Peng-wang adalah para pesilat tangguh namun di depan Lao-bo mereka sama sekali tidak ada apa-apanya.

Kata Lao-bo.

"Paling sedikit kita sudah memberi pelajaran kepada Wan Peng-wang. Mulai saat ini dia tidak akan berani berbuat macam-macam lagi."

Lu Xiang-chuan terdiam setelah lama dia bertanya.

"Bagaimana dengan kita?"

Lao-bo berdiri dengan lambat dia berkata.

"Sementara ini kita tidak perlu bergerak dulu."

Mengapa sudah berada di atas angin, tidak menuntaskannya, malah tidak bergerak?

Ini bukan kebiasaan Lao-bo.

Lu Xiang-chuan walaupun tidak bertanya namun dari wajahnya tampak ada kecurigaan.

Kata Lao-bo.

"Karena kerugian yang kita alami pun sangat besar, sekarang adalah waktunya untuk memulihkan diri."

Lu Xiang-chuan mengangkat kepalanya dan memandang Lao-bo, dari kata-kata yang dikeluarkan Lao-bo dia tahu bahwa Lao-bo menutupi sesuatu.

Lao-bo membalikkan kepalanya memandang pohon yang berada di luar.

Tiba-tiba Lao-bo menarik nafas dengan perlahan dia berkata.

"Musim gugur akan berakhir dan musim dingin akan segera tiba."

Lu Xiang-chuan bertanya.

"Mengapa hingga saat ini Yiqian-long belum datang?"

Dengan perlahan Lao-bo menjawabnya.

"Dia tidak akan datang."

Pertama kalinya wajah Lu Xiang-chuan tampak ketakutan, dia tahu bahwa kedudukan dan posisi Yi-qianlong dalam perkumpulan Lao-bo sangat penting.

Bila Yiqian-long keluar dari perkumpulan Lao-bo seperti sebuah rumah besar yang salah satu tiang penyangganya dibongkar.

Lao-bo dengan perlahan berkata.

"Sekarang aku sudah menyuruh pamanmu menanyakan kepada dia, mengapa dia tidak datang kemari. Aku percaya dia mempunyai alasan yang tepat."

Lu Xiang-chuan agak sedikit curiga dan bertanya.

"Bila dia tidak mau mengatakannya, bagaimana?"

Lao-bo membalikkan kepalanya, karena itu Lu Xiangchuan tidak dapat melihat wajah Lao-bo hanya melihat tangan Lao-bo yang dikepal. Setelah lama kepalan tangan Lao-bo dibuka dan berkata.

"Lukamu belum sembuh, beristirahatlah dahulu, bila tidak ada penting tidak perlu bertemu denganku."

"Ya!"

"Tugasmu yang sekarang adalah hanya beristirahat karena tugas yang akan datang akan semakin banyak."

Kalimat ini menggambarkan bahwa kedudukan Lu Xiang-chuan semakin penting dalam perkumpulan juga menggambarkan kepercayaan Lao-bo kepadanya makin kuat.

Lu Xiang-chuan sangat berterima kasih dan berkata.

"Aku bisa menjaga diri. Tuan...."

Tiba-tiba Lao-bo membalikkan kepalanya dan tertawa.

"Siapa yang tadi mengatakan aku sudah tua? Kau melihatku pada saat menghadapi Fang Gang apakah seperti orang yang sudah tua?"

Lu Xiang-chuan ikut tertawa.

"Ada sebagian orang tua, selamanya dia tidak akan bisa tua. Mungkin mereka akan meninggal tapi mereka tidak akan bisa tua."

Lao-bo adalah orang macam itu. Kata Lu Xiang-chuan lagi.

"Aku juga berharap Yi-qian-long memiliki alasan yang tepat bila tidak...."

"Bila tidak, bagaimana?"

Tanya Lao-bo. Lu Xiang-chuan menarik nafas dan berkata.

"Dulu dia sangat baik terhadapku, aku juga akan mengurus semua pemakamannya bila dia meninggal."

Lao-bo tertawa, tawanya terlihat sedih, setelah lama dia berkata.

"Kau istirahatlah!"

"Baik!"

Dia membalikkan badan untuk segera keluar dari ruangan itu, tiba-tiba Lao-bo berkata.

"Tunggu sebentar!"

Lu Xiang-chuan berhenti melangkah. Lao-bo kembali bertanya.

"Sepertinya kau masih ingin bertanya satu hal kepadaku?"

Lu Xiang-chuan menundukkan kepalanya.

"Aku tidak mempunyai pertanyaan."

"Apakah kau tidak ingin tahu kemana perginya Lin Xiu?"

Lu Xiang-chuan terdiam kemudian dia berkata.

"Aku tidak ingin tahu dia pergi kemana, namun bila dia pergi dia pasti mempunyai alasan yang tepat."

Lao-bo memandang Lu Xiang-chuan dengan tertawa dia berkata.

"Akhirnya kau menjadi seorang laki-laki sejati. Kau pun tidak mengecewakanku." 'Laki-laki sejati' ini adalah pujian Lao-bo, pujian terbesar dari Lao-bo terhadap orang. Lu Xiang-chuan mengetahuinya karena itu pada saat dia keluar dari pintu, dia bisa tersenyum. Pada saa dia keluar tampak Feng Hao yang sedang menunggu. Karena mereka sudah berjanji akan minum arak bersama-sama malam ini. Mereka memasak burung merpati untuk dijadikan teman minum arak. Ooo)dw(ooO BAB Permukaan tanah tampak rata tidak ada kuburan. Lao-bo menyuruh orang memindahkan bunga Chrysan ke tempat itu. Dia sendiri yang menanam pohon yang pertama. Dia tahu bunga Chrysan yang tumbuh di tanah ini akan mekar lebih cerah dari pada di tempat lain karena tanah di sini sangat subur. Pada saat bunga Chrysan ditanam wajah Lao-bo masih tersenyum namun di dalam hatinya dia merasa sakit. Anak laki satu-satunya dan teman-temannya yang paling setia, dikubur di dalam tanah ini. Walaupun mayat mereka membusuk namun roh dan jiwa mereka selamanya akan tenang di tempat itu. Lao-bo tidak ingin orang lain mengganggu mereka, karena itu dia tidak ingin orang tahu di mana mereka dikubur. Kelak pada saat bunga Chrysan mekar pasti akan banyak orang yang memuji bunga ini. Tapi tidak akan ada orang yang tahu dan selamanya tidak akan tahu, kekuatan apakah yang membuat bunga ini berwarna lebih cerah. Selamanya tidak akan ada orang yang tahu, hanya Laobo saja, hanya dia sendiri yang tahu. Dia sudah menyatukan roh anaknya dengan tanah ini. Hari mulai gelap, orang yang menanam bunga sudah pulang. Hingga saat ini air mata masih Lao-bo bercucuran. Sun Jian, Han Tang, Wen Hu, Wen Bao, Wu Lao-dao, dan masih banyak lagi orang yang setia kepadanya, orangorang ini adalah anak buahnya dan juga teman-temannya. Mereka semua sudah meninggal, sekarang Lao-bo baru tahu bahwa dia sangat kesepian dan juga tahu bahwa dirinya semakin tua. Kecuali dia sendiri, dia tidak akan membiarkan orang lain tahu perasaannya, selamanya tidak akan. Ooo)dw(ooO Sewaktu meteor melewati kegelapan langit, Meng Xinghun berada di bawah sinar bintang, dia melihat bintangbintang berkilauan, juga melihat meteor yang menghilang. Dia bertanya kepadanya dirinya sendiri.

"Apakah nyawa orang seperti meteor itu?"

Kupu-kupu selalu hidup selalu di musim semi.

Musim semi akan lewat, namun akan segera datang lagi.

Asal kau masih hidup, akan ada musim semi berikutnya.

Kupu-kupu ini sudah mati, paling sedikit ada 3 bulan namun warna sayapnya masih seperti saat dia hidup, begitu cerah.

Kupu-kupu diselipkan di sebuah buku puisi, sayap yang indah itu diselipkan menjadi tipis hingga menjadi tembus pandang.

Tubuhnya masih sempurna karena itu terlihat bahwa kupu-kupu itu masih seperti hidup, sepertinya kapan waktu pun dia bisa terbang.

Begitu dia membuka buku puisi itu, dia melihat kupukupu itu, karena di lembaran buku.

yang berisi puisi itu yang paling dia sukai.

Bila bunga sudah layu pasti akan mekar kembali.

Musim semi bila sudah lewat pasti akan datang kembali lagi.

Namun bagaimana dengan kupu-kupu itu?

Puisi itu indah seperti kupu-kupu.

Namun bagaimana dengan orang yang membuat puisi ini?

Orang yang membuat puisi ini apakah nyawanya seperti kupu-kupu itu?

Bila orang terlalu berperasaan apakah dia akan seperti seekor kupu-kupu?

Orang yang perasa lebih mudah disiksa oleh orang lain.

Orang perasa kesedihannya pun lebih banyak dari orang biasa.

Orang perasa nyawanya lebih lemah dan pendek.

"Nona, air sudah disiapkan."

Pelayannya yang bernama Lan-lan dengan tergesa-gesa masuk. Melihat kupu-kupu yang dipegang oleh nonanya, wajah yang seperti apel, tersenyum dia berkata.

"Nona, apakah kupu-kupu ini sangat indah?"

Dia mengangkat kepalanya dan bertanya.

"Apakah kupu-kupu ini kau yang menangkapnya?"

Lan-lan menjawab.

"Aku sudah lama menangkapnya dan dengan susah payah pula, untung saja sayapnya tidak rusak."

Dia menarik nafas dengan pelan berkata.

"Walaupun kau tidak mematahkan sayapnya namun sudah membuat kupu-kupu ini mati, apakah hatimu tidak sedih?"

Lan-lan tertawa dan menjawab.

"Biasanya memang kupu-kupu lebih cepat mati,"

Dan dia berkata lagi.

"Manusia pun akan cepat mati, bukankah begitu?"

"Tapi.... tapi...."

Dia mengerutkan dahinya dan berkata.

"Tapi bagaimana? Apakah kupu-kupu ini melukaimu?"

"Tidak."

Dia bertanya lagi.

"Apakah kupu-kupu ini pernah melukai orang lain?"

"Tidak."

Dia menarik nafas lagi dan berkata.

"Kalau begitu mengapa kau melukai kupu-kupu ini?"

Dia selalu tidak mengerti mengapa orang selalu bertindak kejam terhadap kupu-kupu?

Orang membunuh binatang karena binatang melukai orang.

Orang membunuh kambing dan sapi karena binatang itu dipelihara oleh manusia.

Namun kupu-kupu, dia begitu jujur, begitu tidak bersalah dan selalu membantu penyerbukan bunga, memberi keindahan kepada dunia ini.

Dia juga tidak minta imbalan.

Mengapa orang begitu kejam terhadap kupu-kupu?

Lan-lan menggigit bibirnya dan berpikir, setelah lama dia berkata.

"Aku menangkapnya karena dia sangat indah."

"Apakah keindahan itu adalah suatu dosa?"

"Mengapa nyawa yang semakin cantik, akan lebih mudah dilukai?"

"Sebenarnya aku tidak ingin melukainya,"

Jawab Lanlan. Kemudian dia menyambung lagi.

"Kau tidak ingin melukainya tapi dia sudah mati di tanganmu."

"Namun sekarang dia masih secantik pada waktu dia hidup, bila aku tidak menangkapnya kemungkinan dia sudah mati di dalam parit atau dimakan oleh laba-laba,"

Jawab Lan-lan.

Si nona terpaku dan tidak dapat bicara.

Dia harus mengakui bahwa kata-kata Lan-lan masuk akal.

Walaupun kupu-kupu itu sudah mati namun keindahannya tetap abadi dan dapat dinikmati oleh orangorang.

Nyawanya masih berharga.

Begitu dengan kupu-kupu begitu pula dengan orang.

Orang hidup atau mati tidak penting, yang terpenting adalah apakah kehidupan ini berharga?

Mati ada yang ringan seperti bulu juga ada yang seberat gunung.

Apakah artinya pun seperti itu?

Kata Lan-lan.

"Nona, air sudah mulai dingin, cepatlah mandi!"

Dia mengangguk.

Dengan perlahan dia meletakkan kembali kupu-kupu itu ke dalam lembaran buku.

Orang yang menciptakan puisi sudah meninggal tapi puisi-puisinya tetap abadi, karena itu namanya pun tetap abadi.

Walaupun dia sudah meninggal namun dia lebih berharga dari pada orang yang masih hidup.

Dia mati pun tidak menjadi masalah.

Air belum dingin namun malam sudah tiba.

Waktu yang dijanjikan sudah lewat.

Dia tidak terburu-buru, dia masih dengan santai berendam di dalam air hangat, dia tahu orang yang berjanji dengannya pasti akan menunggu.

Apalagi dia akan menunggu atau tidak, itu tidak menjadi masalah.

Dia muda dan tampan, membuat banyak perempuan mabuk kepayang.

Dia pun sangat sayang kepadanya.

Selalu menganggapnya sebagai seorang dewi.

Dengan segala cara memikatnya.

Namun nona itu sama sekali tidak peduli.

Semua, orang pun tidak dipedulikan olehnya.

Kadang-kadang dia sendiri pun merasa dirinya sangat menakutkan.

Kadang-kadang karena dia tidak peduli dengan pemuda itu membuat laki-laki itu penasaran memburunya.

Bila dia benar-benar mencintai laki-laki itu dan menikahinya kemungkinan laki-laki itu malah jadi tidak peduli kepadanya.

Manusia adalah binatang yang sangat aneh.

Barang yang sudah didapatkan olehnya dia tidak akan menyayanginya.

Tapi pada saat kehilangan dia akan merasa sedih dan menyesal.

Mengapa manusia senang menyiksa dirinya sendiri?

Nona ini jarang memikirkan hal seperti itu karena itu dia sangat bosan terhadap semua hal seperti itu.

Seharusnya pada saat dia masih muda jangan mempunyai pikiran seperti itu.

Yang mengelilinginya pasti lebih tua dari dia namun mereka sangat senang terhadap semuanya.

Bahkan kadangkadang masalah kecil saja dapat membuat mereka tertawa.

Kadang-kadang nona ini merasa mereka terlalu menganggur dan sangat tidak dewasa.

Melihat air yang jernih, tiba-tiba dia teringat kepada pemuda yang pernah ditemuinya di tepi sungai.

Mata pemuda itu penuh dengan kesedihan dan kelihatan gelisah Pemuda itu masih sangat muda namun kelihatannya dia bosan terhadap kehidupan ini.

Mengapa?

Nona itu menarik nafas dan berkata.

"Sebenarnya aku harus membiarkan dia mati, karena aku tidak dapat memberi dia kesempatan."

Lan-lan menundukkan kepalanya pada saat masuk, kemudian memberi nona itu sehelai saputangan sutra yang bersih. Dengan tertawa Lan-lan berkata.

"Apakah Nona sudah mencuci muka? Tuan Muda sedang menunggu."

Dengan ringan nona itu berkata.

"Biarkan dia menunggu."

"Nona, apakah kau tidak menyukainya walau sedikit pun?"

Nona ini menggelengkan kepalanya.

"Mengapa Nona mau mengikutinya pergi main?"

Tanya Lan-lan. Nona ini memandang air dan berkata.

"Kemungkinan tidak ada orang lain lagi yang mengajakku."

Tuan muda Hua sedang menunggu di bawah pohon. Malam sudah larut.

"Mengapa Nona belum sampai juga?"

Benar saja Tuan muda Hua sedang menunggu, dia ingin segera masuk ke rumah perempuan muda ini dan menanyakannya.

Namun dia tidak berani.

Dia tidak berani melakukan hal yang membuat nona itu tidak suka.

Kadang-kadang Tuan muda Hua pun sering marah kepada dirinya sendiri karena selalu mau dipermainkan oleh nona itu.

Dia pun sering berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan pernah mencari nona itu lagi....

.Namun dia tidak bisa.

Dia seperti diikat oleh seutas tali yang menariknya untuk terus mencari nona ini.

Pada saat melihat nona itu kemarahannya langsung hilang dan hatinya dipenuhi oleh rasa cinta.

Tiba-tiba dalam kegelapan muncul sesosok bayangan orang.

Tuan muda Hua merasa gemetar dan berbisik.

"Dia sudah datang."

Ternyata bukan....

Yang datang ternyata adalah seorang pemabuk, cara berjalannya sempoyongan, topi di kepalanya pun miring, dari jauh sudah tercium bau arak.

Tuan muda Hua mengerutkan dahinya, bila dia sedang tidak minum dia benci orang yang mabuk.

Bila dia sedang mabuk, dia menganggap dirinya menjadi lucu dan jantan.

Tuan muda Hua berharap si pemabuk itu cepat lewat.

Namun si pemabuk itu malah sengaja mendekatinya, tibatiba dia bertanya.

"Apakah kau sedang menunggu seseorang?"

Tuan muda Hua mengangkat kepalanya tidak sudi untuk menjawab pertanyaan si pemabuk. Si pemabuk itu terus bicara sendiri.

"Aku juga sedang menunggu orang. Aku menunggu orang yang memang pantas untuk ditunggu. Bagaimana denganmu?"

Dengan dingin Tuan muda Hua menjawab.

"Jangan banyak tanya!"

Si pemabuk itu tertawa.

"Aku tidak akan bertanya namun bila orang yang kau tunggu adalah pelacur itu, sungguh sangat tidak adil."

Tuan muda Hua sangat marah dan berkata.

"Kau bilang apa!"

"Bila kau bukan menunggu si pelacur apakah kau menunggu seorang ratu?"

"Kalau memang benar, memangnya kau mau apa?"

"Mungkin bagimu dia adalah seorang ratu, tapi bagi diriku dia adalah seorang pelacur."

Tuan muda Hua sangat marah dan memukul wajah si pemabuk ini.

Tiba-tiba dia melihat sepasang mata si pemabuk bersinar tajam seperti sebilah pisau dan tidak terlihat lagi wajah mabuk.

Si pemabuk dengan dingin melihatnya, mata yang tajam itu sepertinya masih mengandung ejekan kepada Tuan muda Hua.

Tuan muda Hua merasa kaget dan bertanya.

"Apakah kau tahu aku sedang menunggu siapa?"

"Kau menunggu Xiao Tie, bukan?"

"Apakah kau mengenalnya?"

Tanya Tuan muda Hua lagi. Si pemabuk itu mengangguk dan berkata.

"Aku sangat mengenalnya, kau menganggap dia ratu, tapi aku menganggapnya pelacur."

Kemarahan Tuan muda Hua tidak bisa dibendung lagi, kepalan tangan diayunkan.

Pada saat kepalan itu mendekati wajah si pemabuk, dia merasa perutnya jadi sakit, dia merasa sebatang jarum telah menusuk perutnya.

Dia kesakitan hingga membungkukkan badannya dan lutut si pemabuk sudah memukul wajah Tuan muda Hua.

Ketika itu juga Tuan muda Hua roboh dan darah keluar dari hidung, sangat banyak.

Si pemabuk melihat Tuan muda Hua dan berkata pada dirinya sendiri.

Baca Juga: Kelelawar Tanpa Sayap 2

Baca Juga: Pengelana Rimba Persilatan 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert