Eps 2 Antara Budi Dan Cinta - Gu Long
Baca online Antara Budi Dan Cinta - Gu Long
Cersil Antara Budi Dan Cinta - Gu Long.
Nama pemuda itu adalah Chen Zhi-ming.
Lao-bo sangat menyukai pemuda yang bernama Chen Zhi-ming.
Dia merasa asal di arahkan dan dilatih sebentar pemuda ini akan menjadi pembantu yang sangat berguna.
Tapi sayangnya semenjak liari itu pemuda itu tidak pernah muncul lagi.
"Kemungkinan aku sudah semakin tua, banyak hal tidak dapat dijalankan dengan sempurna, sampai lupa meminta alamat rumahnya."
Lao-bo menarik nafas dan menepuk-nepuk pinggangnya sendiri.
Dia memandang matahari yang terbenam, Lao-bo merasa dia seperti matahari yang terbenam itu.
Apalagi Lu Xiang-chuan.
Tiap kali Lu Xiang-chuan sedang melakukan tugasnya Lao-bo tidak pernah khawatir dia akan gagal.
Tapi kali ini lain, kali ini Lao-bo tidak setenang biasanya karena Lao-bo tahu kekuatan Wan Peng-wang dan juga sangat tahu cara apa yang akan dipakai oleh Wan Pengwang.
Terlalu mengkhawatirkan dia menjalankan tugasnya ini adalah perasaan orang tua.
Lao-bo terus menerus menarik nafas.
Di bawah sinar matahari senja dia berjalan menuju rumahnya.
Sekarang terpikir oleh Lao-bo sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk melepaskan segala kegiatan.
Tapi itu adalah pemikiran yang sekejap saja begitu matahari terbit pada pagi hari Lao-bo akan mengubah pemikirannya lagi.
Di dunia ada semacam orang tidak bisa dikalahkan oleh apa pun termasuk 'tua' dan 'kematian'.
Orang semacam itu tidak banyak, Lao-bo termasuk salah satunya.
Sewaktu Lu Xiang-chuan berada di dalam kereta yang dipikirkan olehnya bukan bagaimana cara.
memperlakukan Wan Peng-wang, yang dia pikirkan adalah si pembunuh berbaju abu yang membunuh orang seperti memotong rumput.
Sewaktu si baju abu membunuh 3 orang Huang-shansan-you, Lu Xiang-chuan tidak sempat melihat wajahnya.
Tapi dia sudah bisa menebak siapakah orang ini?
Namun Lu Xiang-chuan tidak berani bertanya kepada Lao-bo.
Hal yang Lao-bo tidak mau bicarakan tidak ada orang yang bisa memaksanya.
Jika Lao-bo tidak mau membicarakannya bertanya kepadanya itu akan sia-sia.
Perasaan Lu Xiang-chuan mengatakan bahwa si baju abu ini adalah Han Tang.
Cara orang ini membunuh orang sangat kejam dan cepat.
Lu Xiang-chuan belum pernah melihatnya.
Pekerjaan Hari Tang tidak pernah dilakukan oleh orang lain, nanti pun tidak ada orang yang bisa menggantikannya.
Kedudukan Lu Xiang-chuan semakin tahun semakin tinggi.
Kekuasaannya pun semakin hari semakin besar.
Dia sudah memimpin banyak orang biarpun dia memakai semua cara untuk mencari tahu tentang seorang Han Tang tapi semua percuma saja.
Tidak ada orang yang tahu siapakah dia?
Sekarang apa yang dilakukannya?
Dan kepandaiannya belajar dari mana?
Semua orang pasti mempunyai masa lalu, tapi orang ini tidak ada masa lalu.
Di dunia sepertinya tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Kereta kuda yang dinaiki oleh Lu Xiang-chuan sangat indah.
Kereta ini seperti sebuah tempat tidur yang nyaman.
Tempat tidurnya empuk, getaran kereta pun sangat kecil.
Tidur di kereta seperti tidur di tempat tidur di rumah sendiri terasa begitu nyaman.
Bila Lu Xiang-chuan menjalankan tugas, dia akan melakukan dengan sepenuh hati.
Hal-hal yang lain tidak terlintas di otaknya.
Dia tahu tugas kali ini sangat sulit.
Laki-laki harus seperti seorang laki-laki.
Kata-katanya harus seperti laki-laki dan kerjanya pun harus seperti seorang laki-laki.
Kalimat ini sering diucapkan oleh Lao-bo.
Orang lain akan merasa aneh.
Karena hal yang kecil Lao-bo sampai bermusuhan dengan Wan Peng-wang.
Hanya Lu Xiangchuan saja yang mengerti maksud Lao-bo.
Wan Peng-wang sebenarnya adalah sasaran dari misi Lao-bo.
Jika kali ini Wan Peng-wang membiarkan gadis itu pergi artinya dia sudah tunduk kepada Lao-bo dan dia akan berteman dengan Lao-bo.
Bila tidak dia akan menjadi musuh Lao-bo.
"Aku tidak begitu mengerti orang, di dunia hanya ada 2 jenis manusia. Satu, dia adalah lawan dan yang lain adalah kawan. Apakah ingin jadi lawan atau kawan, tergantung sendiri. Tidak ada yang bisa memilih lagi."
Ini adalah salah satu perkataan Lao-bo.
Sebenarnya Lao-bo tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk memilih karena siapa pun yang memilih jadi musuh dia akan mati.
Masalahnya sekarang adalah.
Wan Peng-wang bukan seorang penakut.
Pilihan yang dia ambil kemungkinan tidak sama seperti orang lain.
Kalau dia memilih menjadi musuh, banjir darah akan terjadi.
Biarpun itu terjadi, Lao-bo tetap masih bisa menang meski resikonya pun pasti sangat tinggi.
Lu Xiang-chuan sangat teliti, sebelum menjalankan tugas dia sudah menyelidiki Wan Peng-wang dengan sedetil mungkin.
Wan Peng-wang, dia bukan she Wan juga bukan she Wang.
Katanya dia adalah anak hasil hubungan gelap tapi tidak ada orang yang bisa membuktikannya.
Sebelum berumur 17 tahun tidak ada yang tahu dari mana asalnya, sesudah berumur 17 tahun dia sudah bekerja di sebuah perusahaan.
Setengah tahun kemudian dia sudah naik jabatan.
Pada umur 19 tahun dia membunuh bos perusahaannya kemudian dia menjadi bos perusahaan itu.
Tapi setahun kemudian dia menjual perusahaan dan menjadi seorang polisi di tempat itu.
Dalam 3 tahun dia sudah menangkap 29 orang penjahat, membunuh 8 orang dan sisanya dilepaskan.
Sejak itu dia mempunyai 21 orang pembantu yang sangat setia kepadanya.
Waktu berumur 24 tahun dia keluar dari kepolisian dan mendirikan perkumpulan Da-peng.
Mulamula hanya memimpin kurang lebih 100 orang tapi sekarang anak buahnya sudah mencapai puluhan ribu orang dan kekayaannya sudah tidak terhitung lagi.
Dulu kata-katanya tidak ada yang peduli, sekarang katakatanya adalah perintah.
Semua datangnya bukan tiba-tiba melainkan dengan pertarungan hidup mati.
Apalagi beberapa tahun ini terdengar kabar bahwa Giam telah mendapatkan sebuah rahasia ilmu silat yang aneh.
Dia memberi nama 'Hui-hong-su-cap-kau-su ilmu telapak tangan ini sangat dasyat.
Jarang ada yang bisa menandinginya.
Lu Xiang-chuan merasa tugasnya sangat berat.
Pertarungan, antara Lao-bo dan Wan Peng-wang takan bisa dihindari?
Bagaimana akhirnya, Lu Xiang-chuan belum bisa memastikannya.
Bila bukan terpaksa Lu Xiang-chuan tidak mau melihat pertentangan ini terjadi.
Lu Xiang-chuan khawatir Wan Peng-wang tidak sudi bertemu dengannya.
Sengaja dia mengajak Nan Gong Yuan menemaninya.
Nan Gong Yuan adalah turunan keluarga Lamkiong yang terakhir.
Dia adalah seorang terpelajar juga pesilat dan juga seorang play boy yang terkenal.
Orang seperti dia sangat senang menghambur-hamburkan uang, kekayaan keluarganya semakin lama semakin menipis dan dia selalu meminjam uang kepada Lao-bo.
Lu Xiang-chuan percaya bahwa Nan Gong Yuan tidak akan.
mau kehilangan teman seperti Lao-bo.
Kebetulan Nan Gong Yuan juga teman Wan Peng-wang.
Wan Peng-wang seorang laki-laki berduit.
Selama 40 tahun kesenangannya kepada perempuan, kedudukan makin tinggi, hobinya juga semakin banyak.
Kecuali perempuan dia juga senang berjudi dan berkuda juga senang belajar etika.
Kebetulan kesenangannya itu seperti Nan Gong Yuan dan Nan Gong Yuan adalah ahli di bidang itu.
Karena itu Wan.
Peng-wang bisa berteman dengan orang seperti Nan Gong Yuan.
Kereta kuda berhenti di luar hutan.
Ada seseorang sedang berdiri di tepi hutan itu.
Tubuhnya tinggi dan gagah, memakai baju putih seperti salju.
Di bawah pohon ada meja dan kursi juga ada guci arak, kecapi dan seekor kuda yang sangat tinggi dan bagus.
Dari jauh dia terlihat seperti masih sangat muda tapi sudut matanya sudah mulai berkeriput.
Dia begitu dewasa dan luwes, tidak bisa dibandingkan oleh siapa pun.
Lu Xiang-chuan turun dari kereta dan mendekati Nan Gong Yuan, dia melihat wajah Nan Gong Yuan yang sedang kesal segera dia menghentikan langkahnya.
Nan Gong Yuan mendekatinya.
"Apa dia tidak mau bertemu denganku?"
Tanya Lu Xiang-chuan. Nan Gong Yuan menarik nafas dan berkata.
"Dia menolak bertemu denganmu."
"Kau tidak menceritakan maksud Lao-bo?"
"Dia tidak pernah berhubungan dengan Lao-bo, kelak juga tidak akan ada hubungan apa-apa,"
Jawab Nan Gong Yuan.
"Bisakah dia mengubah pikirannya?"
"Tidak ada yang bisa mengubah pikirannya,"
Kata Nan Gong Yuan.
Lu Xiang-chuan tidak bertanya lagi, dia sudah tahu jika teras menerus bertanya pun akan sia-sia saja.
Wajah Lu Xiang-chuan tidak ada ekspresi, tapi hatinya mulai terasa kusut.
Lu Xiang-chuan tidak ada cara lagi untuk membereskan benang kusut dalam pikirannya.
Dia hanya tahu hal ini harus berhasil, tidak boleh gagal.
Jika gagal akan berakibat fatal.
Tiba-tiba Nan Gong Yuan berkata.
"Tiap bulan tanggal satu adalah hari Wan Peng-wang membeli barang-barang antik dan kuno."
Lu Xiang-chuan dengan gembira berkata.
"Besok adalah tanggal satu."
Nan Gong Yuan mengangguk sambil menarik nafas yang panjang dengan suara pelan berkata.
"Waktu berlalu sangat cepat hari berganti bulan, dulu masih muda sekarang rambut sudah memutih. Kehidupan orang seperti mimpi, tiap hari menghabiskan waktu entah untuk apa?"
Lu Xiang-chuan tertawa kecil dia mengeluarkan sebuah amplop dan berkata.
"Kemungkinan demi ini."
"Barang apa ini?"
Tanya Nan Gong Yuan.
"Cek 5.000 tail emas ini adalah penghonnatf.n dari Laobo."
Nan Gong Yuan memandang amplop besar itu dan tertawa. Dengan nada sinis dia berkata.
"Orang seperti diriku tidak pantas diberi penghormatan."
Tiba-tiba Nan Gong Yuan membalikkan tubuhnya berjalan menuju meja dan dia mulai memainkan kecapi. Nan Gong Yuan sedang bernyanyi.
"Hidup orang seperti mimpi bila sadar dari mimpi kita akan menghadapi kenyataan."
Tiap hari sibuk apa sebabnya?
Lagu yang sedih denting kecapi pun terdengar sungguh memilukan, matahari senja menyinari hutan.
Bumi dan langit tiba-tiba terasa hening.
Lu Xiang-chuan dengan diam terus berdiri.
Kedudukan dan keberhasilannya lebih tinggi dari Nan Gong Yuan namun, di depan Nan Gong Yuan dia merasa ada yang kurang.
Kekurangannya adalah 'masa lalu'.
Lu Xiang-chuan hanya memiliki 'masa sekarang' dan 'masa depan' namun Nan Gong Yuan memiliki 'masa lalu'.
Hanya masa lalu yang tidak dapat dibeli oleh orang.
Walau dibayar dengan harga berapa pun tetap tidak akan terbeli.
Lu Xiang-chuan memikirkan masa lalunya yang sulit, dalam hatinya timbul kemarahan.
Dia meletakkan amplop itu dan melihat Nan Gong Yuan, sepatah demi sepatah kata dia berbicara.
"Mimpiku selamanya tidak akan bisa terbangun karena aku belum pernah bermimpi."
Nan Gong Yuan tidak mengangkat kepalanya hanya menjawab.
"Sebenarnya kau tahu kadang-kadang orang harus bermimpi, bagaimana menurutmu?"
Lu Xiang-chuan tahu itu.
Penyakitnya adalah tidak bisa bermimpi karena itu dia merasa tegang.
Ketegangan membuatnya sangat lelah.
Namun itu menjadi pilihannya.
Setiap orang mempunyai kehidupannya sendiri, yang dipilihnya adalah kehidupan yang rumit.
Denting kecapi sudah berhenti.
Dia melangkah berjalan ke arah kereta kuda, mengeluarkan perintah singkat.
"Gu-hua-Xian."
Tanggal satu semua pedagang barang antik sudah tiba di kaki gunung.
Bahkan ada yang datang dari tempat yang sangat jauh.
Karena hari ini adalah hari di mana Wan Peng-wang memilih barang-barang antik.
Karena Wan Peng-wang adalah seorang pembeli dan kolektor yang baik.
Di antara para pedagang antik mereka sudah saling mengenal.
Di antara mereka ada seorang pemuda yang terlihat sangat tenang dan dia belum dikenal oleh orangorang itu.
Menurut cerita mereka dia adalah perwakilan dari Ku-hoa-cian.
Terlihat awan sedang bergerak.
Rumah Wan Peng-wang seperti ada di atas awan, sangat tinggi dan tidak bisa dijangkau.
Terdengar suara lonceng seperti keluar dari awan.
Semua orang berjalan menuju rumah Wan Pengwang.
Saat Lu Xiang-chuan melihat Wan Peng-wang, dia sangat terkejut.
Dia belum pernah melihat orang seperti Wan Peng-wang.
Wan Peng-wang seperti seorang raksasa yang berada di dalam dongeng dewa dewi.
Pada saat dia duduk tingginya hampir sama dengan orang normal yang sedang berdiri.
"Bila orang tubuhnya tinggi besar, otaknya pasti lebih sederhana."
Tapi Wan Peng-wang merupakan pengecualian.
Pandangannya sangat dingin, tajam, dan kuat.
Arti dari.
pandangan itu adalah memancarkan kecerdasan dan keteguhannya.
Dia juga penuh dengan rasa percaya diri, membuat orang tidak berani berkata macam-macam tentangnya.
Telapak tangannya lebar, besar, dan tebal.
Setiap saat dia selalu mengepalkan tangannya dengan erat sepertinya kapanpun siap memukul orang yang akan menyerangnya.
Di depannya orang-orang selalu bicara dengan hati-hati namun mendengarkannya dia merasa enggan.
Hingga Lu Xiang-chuan mendekatinya, matanya tibatiba menyorotkan sinar seperti pisau.
Dan pisau itu seakanakan mendekati Lu Xiang-chuan.
Setelah lama pelan-pelan dia bertanya.
"Apakah kau berasal dari Gu-hua-Xian?"
"Bukan,"
Jawab Lu Xiang-chuan.
Lu Xiang-chuan mengerti orang macam Wan Pengwang.
Di depan orang seperti dia lebih baik jangan berbohong.
Karena kata-kata bohong itu sangat sulit untuk menipu orang semacam Wan Peng-wang.
Tiba-tiba Wan Pengwang tertawa dan berkata.
"Baiklah! Kau orang yang pintar, bosmu pasti orang yang lebih pintar lagi."
Ooo)dw(ooO Tawa Wan Peng-wang tiba-tiba berhenti, kemudian dia memelototi Lu Xiang-chuan dan bertanya.
"Apakah bosmu Sun Yu-bo?"
Dalam hati Lu Xiang-chuan sebenarnya dia menghormati orang ini. Dia membawa piring dan mendekati Wan Peng-wang.
"Piring ini terbuat dari giok dari Dinasti Han. Dan di atasnya adalah sebuah guci yang dibuat pada jaman dinasti Qing."
Lu Xiang-chuan berkata lagi.
"Benda ini adalah pemberian Lao-bo untuk ketua Bang sebagai rasa hormat. Harap ketua bisa menerimanya."
Setiap kali bila Lao-bo meminta bentuan kepada orang lain selalu mengantarkan hadiah yang mewah.
Artinya dalam menjalin persahabatan, dia selalu memberikan hadiah bila hadiah itu ditolak artinya dia menentang.
Namun kali ini bukan maksud Lao-bo mengantarkan hadiah.
Ini semua adalah ide Lu Xiang-chuan.
Lu Xiangchuan berharap masalah ini dapat diselesaikan dengan damai.
Walau mata Wan Peng-wang menatap terus piring itu namun sebenarnya dia sedang berpikir.
Setelah lama Wan Peng-wang baru membuka mulut.
"Katanya Wu Lao-dao adalah perantau dari Jiang-bei. 30 tahun yang lalu dia menetap di Jiang-nan."
Wan Peng-wang mengangkat kepalanya kemudian dia memelototi Lu Xiang-chuan dan berkata lagi.
"Sun Yu-bo pun demikian, apakah benar?"
"Lao-bo dan Wu Lao-dao berasal dari desa yang sama, sama-sama menetap di Jiang-nan,"
Kata Lu Xiang-chuan.
Dia sudah tahu bahwa Wan Peng-wang sudah dapat menebak maksud kedatangannya dan dia tidak perlu menutup-nutupinya lagi.
Lu Xiang-chuan sedikit demi sedikit merasa Wan Pengwang lebih menakutkan dari pada yang dibayangkannya.
"Lao-bo menyuruhmu datang ke sini, apakah untuk kepentingan anak laki-laki Wu Lao-dao?"
Kata Wan Pengwang marah.
"Lao-bo mengetahui masalah hubungan antara perempuan dan laki-laki, Ketua pasti bisa mengijinkan mereka bersama. Apalagi gadis itu hanyalah seorang pelayan yang dibeli oleh Ketua."
Kata-kata Lu Xiang-chuan sangat sopan dan tidak langsung pada sasaran.
Namun dia memberikan penjelasan mengenai keuntungan dan kerugian mengenai masalah ini.
Demi seorang pelayan kemudian bermusuhan dengan Laobo sungguh tidak pantas.
Tapi Wan Peng-wang dengan marah menjawab.
"Ini bukan masalah antara perempuan dan laki-laki, namun ini adalah aturan perkumpulan di sini. Tidak diijinkan siapa pun boleh melanggar peraturan ini."
Hati Lu Xiang-chuan serasa tenggelam, dia dapat melihat harapannya semakin menipis.
Tapi belum sampai pada putusnya sebuah harapan dia tidak akan melepaskannya begitu saja.
Lu Xiang-chuan ingin menjelaskan lebih rinci lagi masalah ini, kemudian dengan coba-coba dia berkata lagi.
"Lao-bo senang berteman, bila Ketua bisa berteman dengannya, semua orang akan menyambutnya."
Wan Peng-wang tidak menjawab, tiba-tiba dia berdiri dan berkata.
"Ikut aku!"
Lu Xiang-chuan tidak dapat menduga maksud Wan Peng-wang, dia akan membawanya kemana dan akan melakukan apa.
Walaupun dia mencoba untuk menebak, sekarang dia merasa ada sedikit rasa takut.
Bila Wan Pengwang ingin membunuhnya, mungkin sekarang dia sudah mati.
Begitu keluar dari ruangan tadi, Lu Xiang-chuan baru bisa melihat rumah itu begitu megah dan mewah.
Warna rumah itu karena bangunannya sudah lama.
sudah berubah warna menjadi abu kehijauan membuat rumah terlihat lebih megah dan kuno.
Di sekelilingnya tidak ada penjaga.
Sepinya membuat orang merasa tempat ini membuat orang lemah.
Tapi Lu Xiang-chuan tidak memiliki perasaan salah dan lengah.
Lu Xiang-chuan tidak ada perasaan seperti itu.
Dia mengerti bila di rumah itu banyak penjaga dia akan melihat sosok Wan Peng-wang yang sebenarnya.
Orang seperti Wan Peng-wang tidak mudah mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya.
Begitu juga dengan Lao-bo.
Lebih baik musuh tidak pernah tahu kekuatan yang sebenarnya.
Bila tidak lebih baik jangan mempunyai musuh.
Hanya orang desa yang baru kaya memakai semua kekayaan di tubuhnya.
Di beranda tampak gelap dan sunyi.
Di ujung beranda ada sebuah pintu dan pintunya tidak dikunci, terlihat ruangan itu sepertinya kosong.
Bila pintu dibuka kau akan menyadari bahwa tebakanmu salah besar.
Ruangan itu penuh dengan barang-barang kuno dan antik.
Di istana pun belum tentu ada barang-barang antik sebanyak itu.
Orang seperti Lu Xiang-chuan pun merasa entah harus melihat yang mana dulu.
Wan Peng-wang membawanya berkeliling kemudian dia berkata.
"Kau boleh pilih 2 macam barang, anggap saja untuk membalas pemberian Lao-bo."
Lu Xiang-chuan tidak menolak, kadang-kadang omongan orang ditolak pun tidak ada gunanya, malah merasa heran.
Dia benar-benar memilih 2 macam barang.
Yang dipilih adalah lempengan giok dan sebuah pisau dari Persia.
Harga kedua macam barang ini hampir sama dengan hadiah yang diberikan Lu Xiang-chuan kepada Wan Pengwang.
Ini artinya Lu Xiang-chuan segera mengetahui barang bagus dan juga memberitahu Wan Peng-wang bahwa seorang Lu Xiang-chuan tidak ingin mengambil keuntungan dari orang lain.
Benar saja mata Wan Peng-wang menyorot ekspresi memuji.
"Kapan pun bila kau sudah tidak bekerja lagi dengan Sun Yu-bo atau bertengkar dengannya, datanglah kemari aku tidak akan menolakmu."
"Terima kasih"
Jawab Lu Xiang-chuan.
Diperhatikan oleh orang semacam Wan Peng-wang, Lu Xiang-chuan merasa sedikit bangga.
Namun hatinya kembali menjadi dingin.
Karena dia tahu artinya bahwa sekarang sudah tidak ada jalan keluar lagi.
Wan Peng-wang tidak akan memberi kesempatan lagi.
Mereka kembali melewati jalan yang lain.
Begitu keluar dari pekarangan, terdengar ringkikan kuda.
Wan Peng-wang menghentikan langkahnya kemudian bertanya.
"Apakah kau mau melihat kuda-kudaku?"
Pertama kati Lu Xiang-chuan melihat Wan Peng-wang terlihat senang.
Dia merasa undangan ini tidak ada maksud lain.
Seperti seorang tuan rumah memanggil anaknya untuk menemui tamunya, dengan maksud agar tamunya memuji anaknya.
Memuji orang adalah keahlian dari Lu Xiangchuan.
Karena memuji orang bisa membuat orang lain merasa senang dan dirinya pun mendapat keuntungan.
Hanya orang bodoh saja yang menolak.
Saat ini dia belum tahu di mana keuntungannya.
Kandang kuda bentuknya panjang dan terlihat bersih.
Hampir semua kuda adalah kuda pilihan yang terbaik.
Ada seekor kuda menggunakan sebuah kandang yang besar.
Bulunya mengkilat dan tampak licin.
Walaupun dia adalah seekor kuda namun pembawaannya sangat anggun dan sombong, seperti tidak ingin berteman dengan manusia.
Semua kuda yang dilihat sebelumnya bila di jumlahkan harganya tidak bisa menyaingi harga kuda ini.
Lu Xiang-chuan langsung memuji.
"Kuda ini sangat istimewa, apakah turunan dari Han-xue?"
"Kau sangat mengetahui barang bagus."
Giam Peng-ong tertawa.
Tawa Wan Peng-wang terlihat senang dan bangga.
Hal ini pertama kali dia melihat Wan Peng-wang seperti itu.
Walaupun Wan Peng-wang berdiri di tengah rumah yang penuh dengan kekayaannya, dia tidak pernah berekspresi seperti itu.
Tiba-tiba melintas di hati Lu Xiang Chuan sebuah harapan.
Terpikir olehnya sebuah cara yang mungkin bisa membuat Wan Peng Wang tunduk.
Ia tidak tahu seberapa efektifkah caranya itu.
Tapi, jika tidak dicoba, bagaimana ia bisa tahu?
Karena itu, tidak ada salahnya jika mencoba.
Ooo)dw(ooO BAB Hari sudah malam, jalan itu sebenarnya jalan yang paling ramai di kota.
Sekarang toko-toko sudah tutup.
Di jalan tidak terlihat sedikit pun cahaya dan tidak terdengar suara apa pun.
Wu Lao-dao mengikuti Lu Xiang-chuan berjalan ke arah sana.
Namun Wu Lao-dao tidak tahu ke mana tujuan sebenarnya, dia tidak berani bertanya.
Lu Xiang-chuan walaupun masih muda tapi dia sangat sopan.
Wu Lao-dao adalah sesepuh dunia persilatan.
Sejak awal dia sudah melihat bahwa anak muda ini berbeda dengan orang lain.
Dia tidak seperti Lao-bo selagi muda dulu, begitu bercahaya.
Namun Lu Xiang-chuan lebih sulit ditebak hati dan kemauannya.
Masa depannya pasti tidak akan jauh berbeda dengan Lao-bo.
Wu Lao-dao sangat ingin berteman dengan anak muda ini karena itu dia sangat menghormati.
Lu Xiang-chuan.
Rumah makan yang terbesar di jalan itu bernama Baxian-lou (Rumah makan 8 dewa).
Sekarang tiap jendela di rumah makan itu terlihat gelap dan semua pelayanpelayannya sudah tidur.
Namun Lu Xiang-chuan langsung mendorong pintu, pintu itu sama sekali tidak dikunci.
Di atas loteng lampu masih menyala dengan terang benderang, hanya saja tiap jendela, dipasang gorden yang tebal dan hitam karena itu dari luar tidak terlihat ada cahaya lampu.
Banyak orang sedang menunggu di sana.
Dilihat dari cara berpakaian mereka, mereka datang dari berbagai, macam lapis masyarakat.
Tapi mereka memiliki satu persamaan yaitu mereka sangat tenang dan memiliki sepasang tangan yang tampak kasar dan bertenaga.
Kelihatannya, mereka tidak saling kenal, tapi begitu mereka melihat Lu Xiang-chuan mereka membungkukkan badan memberi hormat.
Waktu itu Wu Lao-dao baru mengetahui bahwa kekuasaan Lao-bo lebih menakutkan dari yang selama ini dia bayangkan.
Dia belum pernah melihat Lu Xiang-chuan mengumpulkan begitu banyak orang, sekarang mereka semua sudah datang.
Dia tinggal di kota ini sudah 20 tahun lebih dan dia tidak mengenali orang-orang itu.
Yang lucunya adalah bos rumah makan itu termasuk satu di antara mereka.
Dan yang pertama menyambut Lu Xiang-chuan adalah dia sendiri.
Wu Lao-dao sudah berteman dengan bos rumah makan ini selama 20 tahun tapi tidak tahu bahwa dia memiliki hubungan dengan Lao-bo dan kelihatannya dia juga adalah anak buah Lao-bo.
Lu Xiang-chuan sangat menghormati dan bersikap ramah kepada bos rumah makan ini.
Seperti seorang raja yang pintar menghadapi perdana menterinya yang berprestasi.
Bos rumah makan itu bernama Yu Ba-le, dia membungkukkan tubuhnya dan berkata.
"Kecuali beberapa orang yang berada di luar kota, semua sudah tiba, silahkan memberi perintah."
Lu Xiang-chuan tersenyum dan mengangguk. Kemudian berkata.
"Saudara-saudara silahkan duduk! Lao-bo mengirim salam untuk saudara-saudara."
Semua orang membungkukkan badan dan berkata.
"Hamba pun selalu mendoakan dan mengingat Lao-bo, apakah Lao-bo sehat-sehat saja?"
Lu Xiang-chuan tertawa dan berkata.
"Yang mulia seperti sebuah benda yang terbuat dari besi, kalian teman lama beliau pasti lebih tahu dari diriku, dewa penyakit pun bertemu dengannya pasti akan lari ketakutan."
Semua orang tertawa. Tadinya semua orang terlihat tegang dan sekarang sudah hilang. Lu Xiang-chuan berkata.
"Hari ini aku pertama kali bertemu dengan kalian, seharusnya kita minum-minum. Tapi aku takut bos Yu akan sakit hati karena kita akan menghabiskan araknya."
Semua orang kembali tertawa. Setelah tawa mereka reda, sikap Lu Xiang-chuan berubah menjadi serius dan berkata.
"Kali ini aku datang ke tempat ini karena beban dan tugasku sangat berat. Bila masalah ini tidak dapat dibereskan aku malu bertemu kembali dengan Lao-bo. Sekarang mana bisa ada minat untuk minum arak."
Tiba-tiba ada yang bertanya.
"Tuan Lu mempunyai kesulitan apa? Kekurangan uang atau kekurangan orang, silahkan utarakan."
"Terima kasih,"
Jawab Lu Xiang-chuan. Dia menunggu perhatian orang-orang terfokus padanya kemudian dia melanjutkan lagi.
"Yang aku inginkan sekarang ini hanya satu hal yaitu kuda milik Wan Pengwang."
Hari semakin malam, Wu Lao-dao dan Lu Xiang-chuan sedang menuju perjalanan pulang.
Sekarang Wu Lao-dao lebih hormat lagi kepada pemuda ini.
Teknik bicaranya lebih bagus dari tetua persilatan mana pun dan memiliki daya tarik yang khusus membuat orang pada saat pertama berjumpa dengannya ingin mendekati dia tapi tidak menurunkan wibawanya.
Dari pengalamannya selama berpuluh-puluh tahun, Wu Lao-dao tahu bahwa seseorang bila ingin dihormati oleh orang-orang itu sangat sulit.
Yang membuat Wu Lao-dao terharu adalah walaupun kedudukan dan nama Lu Xiang-chuan sudah tinggi namun dia tidak lupa bahwa Lao-bo adalah atasannya.
Tiba-tiba Lu Xiang-chuan bertanya kepadanya.
"Apakah ada yang ingin kau tanyakan?"
Wu Lao-dao terlihat ragu, di depan pemuda ini dia bicara tampak lebih hati-hati lagi. Akhirnya Wu Lao-dao bertanya.
"Apakah kau benarbenar menginginkan kuda itu?"
Kata Lu Xiang-chuan.
"Seumur hidup Lao-bo belum pernah berbohong, aku sangat setia kepada Lao-bo. Hal lain aku tidak dapat menandinginya. Tapi hal seperti ini paling sedikit aku bisa melakukannya."
Wu Lao-dao dalam kegelapan mengacungkan jempolnya setelah lama dia coba-coba bertanya lagi.
"Penjagaan rumah Wan Peng-wang sangat ketat harus mencuri seekor kuda yang bisa berteriak dan bisa lari sepertinya bukan hal yang mudah. Walaupun penjaga kuda itu adalah teman Lao-bo, itu juga bukan hal yang mudah."
"Memang tidak mudah, dan boleh dikatakan tidak mungkin dilakukan,"
Kata Lu Xiang-chuan.... Tiba-tiba dia tertawa dan berkata.
"Tapi aku tidak mengatakan akan membawa keluar kuda itu hidup-hidup."
Wu Lao-dao terpaku dan wajahnya berubah kemudian dia berkata.
"Maksudmu?! Asal bisa mengeluarkan kuda itu baik dalam keadaan hidup atau mati?"
"Benar, aku memang bermaksud seperti itu."
Wu Lao-dao bertanya lagi.
"Kuda itu dianggap oleh Wan Peng-wang lebih penting dari semua kekayaannya. Bila kita membunuh kuda itu akibatnya sungguh fatal."
Lu Xiang-chuan berkata.
"Bila tidak dibunuh akibatnya pun akan fatal."
"Mengapa?"
"Kau tahu bahwa Lao-bo tidak senang dibantah oleh orang lain, kali ini Lao-bo sengaja memberitahuku asal Wan Peng-wang mau melepaskan kekasih anakmu tidak perlu memikirkan hal lain lagi."
Dia menepuk-nepuk pundak Wu Lao-dao dan berkata.
"Teman lama Lao-bo sangat banyak namun teman Lao-bo dari kecil dapat dihitung dengan jari. Dia bersedia mengorbankan segalanya hanya karena tidak ingin membuat kau kecewa dan sedih."
Wu Lao-dao merasa dadanya panas, tenggorokan pun seperti tersekat. Kemudian dengan perlahan dia berkata.
"Apakah demi diriku Lao-bo akan beimusuhan dengan Wan Peng-wang?"
"Kami sudah mempersiapkan semuanya,"
Jawab Lu Xiang-chuan.
Kata-kata Lu Xiang-chuan walaupun sangat ringan tapi Wu Lao-dao mengetahui bahwa kekuatan Wan Peng-wang dan juga pengorbanan Lao-bo.
Wu Lao-dao terlihat ragu, di depan pemuda ini dia bicara tampak lebih hati-hati lagi.
Akhirnya Wu Lao-dao bertanya.
"Apakah kau benarbenar menginginkan kuda itu?"
Kata Lu Xiang-chuan.
"Seumur hidup Lao-bo belum pernah berbohong, aku sangat setia kepada Lao-bo. Hal lain aku tidak dapat menandinginya. Tapi hal seperti ini paling sedikit aku bisa melakukannya."
Wu Lao-dao dalam kegelapan mengacungkan, jempolnya setelah lama dia coba-coba bertanya lagi.
"Penjagaan rumah Wan Peng-wang sangat ketat harus mencuri seekor kuda yang bisa berteriak dan bisa lari sepertinya bukan hal yang mudah. Walaupun penjaga kuda itu adalah teman Lao-bo, itu juga bukan hal yang mudah."
"Memang tidak mudah dan boleh dikatakan tidak mungkin dilakukan,"
Kata Lu Xiang-chuan.... tiba-tiba dia tertawa dan berkata.
"Tapi aku tidak mengatakan akan membawa keluar kuda itu hidup-hidup."
Wu Lao-dao terpaku dan wajahnya berubah kemudian dia berkata.
"Maksudmu?! Asal bisa mengeluarkan kuda itu baik dalam keadaan hidup atau mati?"
"Benar, aku memang bermaksud seperti itu."
Wu Lao-dao bertanya lagi.
"Kuda itu dianggap oleh Wan Peng-wang lebih penting dari semua kekayaannya. Bila kita membunuh kuda itu akibatnya sungguh fatal."
Lu Xiang-chuan berkata.
"Bila tidak dibunuh akibatnya pun akan fatal."
"Mengapa?"
"Kau tahu bahwa Lao-bo tidak senang dibantah oleh orang lain, kali ini Lao-bo sengaja memberitahuku asal Wan Peng-wang mau melepaskan kekasih anakmu tidak perlu memikirkan hal lain lagi."
Dia menepuk-nepuk pundak Wu Lao-dao dan berkata.
"Teman lama Lao-bo sangat banyak namun teman Lao-bo dari kecil dapat dihitung dengan jari. Dia bersedia mengorbankan segalanya hanya karena tidak ingin membuat kau kecewa dan sedih."
Wu Lao-dao merasa dadanya panas, tenggorokan pun seperti tersekat. Kemudian dengan perlahan dia berkata.
"Apakah demi diriku Lao-bo akan bermusuhan dengan Wan Peng-wang?"
"Kami sudah mempersiapkan semuanya,"
Jawab Lu Xiang-chuan.
Kata-kata Lu Xiang-chuan walaupun sangat ringan tapi Wu Lao-dao mengetahui bahwa kekuatan Wan Peng-wang dan juga pengorbanan Lao-bo.
Seorang sahabat mengorbankan dirinya untuk seorang Wu Lao-dao, air matanya pun mengalir.
Lu Xiang-chuan berkata.
"Aku juga tidak berharap akan terjadi pertarungan karena itu aku nekat melakukan hal ini."
Wu Lao-dao menghapus air matanya, dia ingin bicara tapi kata-katanya tidak bisa keluar.
"Aku hanya berharap tindakan ini akan mengejutkan Wan Peng-wang dan dia akan melepaskan gadis itu,"
Kata Lu Xiang-chuan. Wu Lao-dao mengangguk dan dalam hatinya penuh dengan rasa terima kasih. Kata Lu Xiang-chuan.
"Aku memilih kuda itu bila kita belum terpaksa bertindak, jangan sampai melukai orang, apalagi aku tahu bahwa seseorang bila sudah tahu bahwa barang kesayangannya rusak kecuali rasa marah dam sedih dia juga akan merasa ketakutan."
Wu Lao-dao dengan nada kecil menjawab.
"Namun Wan Peng-wang bukan orang yang mudah ditakuti."
Lu Xiang-chuan tertawa dengan ringan.
"Tadi aku sudah bicarakan semua akibat yang akan timbul dan kita sudah siap menghadapi."
Wu Lao-dao menunduk, hatinya terasa berat, membuat kepalanya tidak dapat diangkat.
Dia menyesal menceritakan masalah ini kepada Lao-bo.
Tapi dia tidak tahu walaupun dia tidak mengatakan hal itu, lambat laun pertarungan ini akan terjadi juga.
Setiap pagi saat Wan Peng-wang bangun kebiasaannya adalah marah-marah.
Semua gadis yang tidur dengannya pasti akan mencuri kesempatan untuk kabur.
Sesudah dia menghabiskan sarapan, bara kemarahannya sudah reda.
Makanan Wan Peng-wang berbeda dengan orang lain, sarapannya adalah sepanci kuali dimasak dengan ayam betina yang tua dan jamur.
Kemudian dicampur dengan daging ham.
Masih harus ditambah 10 butir telur, 20 buah bakpau.
Bila orang lain melihat sarapannya yang begitu banyak pasti akan merasa terkejut.
Namun hari ini sarapannya tidak sama, begitu Wan Peng-wang membuka tutup panci, wajahnya berubah menjadi hijau.
Di dalam panci tidak ada jamur, daging ham, juga tidak ada ayam.
Di dalam panci hanya ada kepala kuda yang masih mengeluarkan darah.
Wan Peng-wang mengenali kepala kuda ini, lambungnya menjadi keram dan menciut seperti sudah dipukul oleh orang lain.
Kemudian timbul kemarahan yang membara.
Sepertinya dia ingin loncat dari tempat tidur dan keluar untuk mencekik mati orang yang pertama dia temui.
Kemudian mencekik mati semua orang yang mengurus kudanya, dan mencekik mati 10 kali orang yang mengantar panci ini.
Tapi yang membuat heran adalah Wan Peng-wang ternyata bisa menahan kemarahannya biasanya karena hal yang sepele dia bisa marah seperti guntur malah mungkin bisa membunuh orang.
Namun begitu dia bertemu dengan masalah yang besar dia malah tampak tenang dan dingin.
Dia tahu bila dia marah malah menghancurkan dirinya sendiri.
Dia juga tahu siapa yang melalaikan semua ini.
Lao-bo pasti melakukan gebrakan awal dan sudah diperhitungkan.
Namun dia tidak menyangka Lao-bo akan melakukan secepat ini.
Wan Peng-wang tidak menyangka bahwa Lu Xiangchuan berani melakukannya.
"Bila kau ingin menyerang satu orang harus menggunakan kesempatan pertama, bila tidak kau harus menunggu kesempatan akhir yaitu pada saat musuh sedang lengah. Menunggu begitu lama tentu tidak akan dapat bersabar."
Ini adalah kata-kata Lao-bo.
Lu Xiang-chuan tidak pernah melupakan kata-kata Lao-bo dan dia menggunakan kesempatan pertama karena dia mengetahui bahwa lawannya belum siap.
Bila Wan Peng-wang sedang sarapan tidak ada yang berani dekat-dekat dengannya.
Wan Peng-wang tidak menyukai orang melihat dia pada waktu sedang makan dengan lahap.
Untung di ruangan itu tidak ada orang karena itu dia dapat berpikir dengan tenang.
Lao-bo adalah benar-benar lawan yang sangat menakutkan 10 kali lipat dari apa yang dia bayangkan selama ini.
Anak buah Lao-bo selain Lu Xiang-chuan, apakah masih ada yang lain?
Wan Peng-wang menutupi panci itu dengan sikap gusar.
Begitu dia keluar ruangan, wajahnya tidak ada ekspresi, dia hanya berpesan satu kalimat.
"Segera antarkan Dai-dai ke rumah Wu Lao-dao."
Meng Xing-hun berbaring di tempat tidur di sebuah penginapan, dia sudah berbaring kurang lebih selama 7-8 jam.
Dia tidak makan, tidak bergerak, juga tidak tidur.
Sekarang batas waktu yang diberikan Gao Lao-da tinggal 90 hari lagi.
Namun dia mengetahui keadaan Lao-bo masih sama seperti 29 hari yang lalu.Dia mengetahui bahwa Laobo adalah orang yang istimewa tapi hal yang lainnya dia tidak tahu.
Ilmu silat nya berasal dari aliran mana?
Apakah dia lihai atau tidak?
Meng Xing-hun sama sekali tidak tahu.
Hari itu jari-jari Lao-bo tidak bergerak.
Ketenangan Lao-bo membuat Meng Xing-hun merasa ketakutan.
Sebenarnya anak buah Lao-bo ada beberapa orang diantaranya adalah pesilat tangguh?
Tapi siapakah mereka?
Meng Xing-hun tidak mengetahuinya sama sekali.
Hari itu yang dilihatnya hanya seorang pemuda yang kelihatan terpelajar dan di balik bajunya banyak tersimpan senjata rahasia sedangkan untuk Sun Jian, dia memiliki sifat seperti api membara.
Meng Xing-hun mengetahui bahwa kedua orang itu sudah meninggalkan kota.
Apakah di sisi Lao-bo masih ada anak buah yang tangguh seperti kedua orang itu?
Si baju abu, berada di mana dia sekarang?
Meng Xinghun adalah seorang pembunuh yang cukup ahli namun dia juga merasa bahwa orang itu begitu kejam dan dingin.
Tepat dan cepat langsung mengarah sasaran saat membunuh orang.
Meng Xing-hun melihat cara membunuh seperti itu terasa timbul rasa takutnya.
Meng Xing-hun pernah mencari tahu mengenai orang itu.
Namun Lu Xiang-chuan saja tidak tahu apalagi dia.
Kebiasaan dan kehidupan sehari-hari Lao-bo seperti apa?
Dan biasa dia sering ke mana?
Meng Xing-hun tidak tahu.
Dia juga tidak tahu di mana tempat tinggal Lao-bo karena taman bunga Chrysan itu sangat besar dan di dalam taman itu ada 17 ruangan.
Sebenarnya di ruangan mana Lao-bo tinggal?
Apalagi taman bunga Lao-bo bukan hanya ada satu bagian, di sisi taman Chrysan masih ada taman bunga mei, mawar, Mu-dan, dan masih ada kebun bambu.
Semua taman-taman saling berhubungan, tidak ada yang tahu berapa luas taman itu sebenarnya.
Hanya dia mengetahui bila seseorang yang berjalan dengan cepat mengelilingi taman itu, dalam satu hari pun belum tentu bisa mengelilingi seluruhnya.
Yang membuat Meng Xing-hun pusing adalah semenjak hari itu dia tidak pernah melihat Lao-bo lagi.
Orang ini seperti raja di jaman kuno, selamanya tidak akan menginjakkan kaki di luar wilayah kekuasaannya.
Di dalam taman bunga itu apakah ada penjaga, berapa orangkah yang menjaga?
Meng Xing-hun tidak tahu.
Dia pun tidak berani masuk ke wilayah Lao-bo.
Dia tidak mau bertindak gegabah.
Hari sudah malam, Meng Xing-hun baru bangun.
Makanannya sangat sederhana saja karena dia menganggap makan terlalu banyak pikirannya lama-lama akan menjadi lamban.
Dia merasa badannya seperti mirip beberapa jenis binatang, seperti kelelawar pada pagi hari tidur, malam hari keluar.
Seperti anjing pemburu yang suka mengejar mangsanya.
Seperti elang yang cakarnya sangat tepat mencengkram mangsanya.
Seperti kelinci yang berlari sangat cepat.
Seperti kura-kura bisa menahan penghinaan dan memikul beban yang berat.
Meng Xing-hun makan hanya satu kali, dia bisa bertalian selama berhari-hari setelah itu baru makan lagi.
Dia memilih rumah makan yang tidak begitu besar, juga tidak begitu kecil.
Tidak begitu sepi juga tidak begitu ramai.
Meng Xing-hun selalu memilih tempat yang tidak menyolok sebab dia tidak mau memancing perhatian orang lain.
Rumah makan tempat dia makan tampak terang benderang.
Ada beberapa orang keluar dari rumah makan itu diantaranya ada laki-laki dan perempuan.
Mereka masih muda dan dari penampilan mereka dapat diketahui mereka adalah orang kaya.
Meng Xing-hun berharap dia bisa seperti mereka.
Dia tidak seperti Lu Xiang-chuan.
Biarpun berharap seperti orang lain tapi dia tidak iri.
Masa lalu yang pahit tidak membuat dia merasa sedih dan marah.
Terdengar suara tawa sangat besar, cara bicaranya pun besar.
"Hari ini siapa yang minum arak paling banyak? Yang minum paling banyak adalah Xiao Tie."
Gadis yang memakai baju merah itu adalah Xiao Tie.
Tiba-tiba ada seorang pemuda masuk ke rumah makan itu dan membawa satu guci arak.
Dia mengantarkan arak itu ke hadapan Xiao Tie.
Xiao Tie tidak bicara juga tidak menolak, dia hanya tersenyum.
Kemudian menghabiskan arak yang berada di dalam guci itu.
Gadis yang jago minum tidak banyak, karena Meng Xing-hun juga jago minum maka dia terus memperhatikan gadis itu.
Dia merasa gadis itu sangat istimewa.
Gadis ini sangat cantik, biasanya gadis cantik tahu bahwa dirinya menarik dan selalu mengingatkan hal itu kepada orang lain.
Tetapi gadis ini tidak seperti gadis lain, sepertinya gadis ini tidak peduli dia cantik atau tidak.
Diantara begitu banyak orang, dia juga tertawa tapi tawanya tidak sama seperti gadis lain.
Walaupun di sisinya banyak orang tapi dia sepertinya sedang seorang diri.
Biarpun berkumpul dengan banyak orang dia tetap seperti berdiri sendiri di tengah-tengah lapangan yang dingin dan sepi.
Kuda dan kereta kuda datang silih berganti.
Orang-orang lain sudah mengikuti temannya pergi, hanya tinggal Xiao Tie dan seorang pemuda yang memakai baju hitam.
Pemuda ini sangat tampan, tubuhnya pun tinggi, sarung pedangnya pun sangat berkilauan.
Pemuda ini sangat pantas menjadi pelindung gadis seperti Xiao Tie.
Masih ada satu kereta kuda yang berhenti di pinggir jalan.
"Mari kita naik ke atas kereta,"
Kata pemuda baju hitam. Xiao Tie menggelengkan kepala.
"Apakah kau masih ingin minum?"
Tanya pemuda itu. Xiao Tie tetap menggelengkan kepalanya.
"Apakah kau mau berdiri di sini semalaman?"
Xiao Tie tetap menggelengkan kepala dengan ringan dia berkata.
"Aku ingin jalan-jalan."
"Baiklah! Aku akan menemanimu,"
Kata pemuda itu.
Mereka terlihat sangat dekat.
Pemuda itu masih muda, dia tidak takut orang melihat dia, juga tidak peduli dengan pandangan orang.
Karena itu dia memegang tangan gadis itu.
Xiao Tie tidak melepaskan pegangan pemuda itu.
Dia tetap dengan ringan berkata.
"Aku ingin jalan-jalan sendirian, apakah boleh?"
Pemuda itu terpaku, akhirnya melepaskan tangan yang dipegangnya. Dia bertanya kepada. Xiao Tie.
"Apakah besok aku boleh mencarimu lagi?"
"Kalau kita masing-masing punya waktu, mengapa tidak?"
"Tunggulah aku besok pagi,"
Kata pemuda itu tertawa.
Xiao Tie tidak bicara lagi dan terus berjalan.
Biarpun jalannya sangat lamban tapi akhirnya hilang dalam kegelapan.
Biasanya anak gadis takut pada kegelapan tapi Xiao Tie tidak.
Meng Xing-hun tidak mengenal Xiao Tie, apalagi pemuda yang memakai baju hitam itu.
Meng Xing-hun dan mereka tidak saling mengenal tapi dia tetap merasa mereka sangat serasi.
Begitu mendengar Xiao Tie pergi seorang diri dan meninggalkan, pemuda itu di pinggir jalan, hati Meng Xinghun malah merasa senang.
Pemuda itu terus memandang bayangan Xiao Tie sampai hilang di kegelapan.
Setelah lama dia berbalik lagi ke rumah makan dan dia berkata kepada bos rumah makan itu.
"Aku minta seguci arak, gucinya harus yang besar."
Meng Xing-hun juga sering minum arak untuk menghilangkan kekesalannya, tapi melihat cara yang dipakai oleh pemuda itu dia merasa pemuda itu sangat bodoh dan lucu.
Dengan cepat arak sudah tinggal setengah lagi.
Pemuda ini melambaikan tangan kepada Meng dan berkata.
"Sendirian minum arak sangat membosankan, marilah temani, aku minum, bagaimana? Aku yang akan mentraktirmu."
"Aku tidak minum arak,"
Kata Meng Xing-hun.
"Apakah kau tidak pernah minum?"
Meng Xing-hun tidak menjawab sebab dia tidak mau membohongi nya juga tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Pemuda itu menarik nafas dan berkata.
"Kalau kau bertemu dengan gadis seperti dia, kau juga akan minum sampai mabuk."
"Oh...."
"Gadis yang aku maksud, adalah gadis yang memakai baju merah Apakah kau pernah melihatnya?"
"Gadis-gadis seperti itu sangat banyak,"
Kata Meng Xing-hun.
"Tapi dia tidak sama dengan gadis lain, kadang-kadang dia sangat sensual, kadang-kadang dingin seperti es."
Tiba-tiba pemuda itu menggebrak meja dan berteriak.
"Bertemu dengan perempuan seperti dia, aku tidak tahu harus berbuat bagaimana?"
"Banyak cara untuk mengatasinya, diantaranya adalah mencari perempuan lain saja,"
Kata Meng Xing-hun.
Meng Xing-hun tidak mau teras berbicara, dengan, pemuda itu karena tidak akan ada gunanya.
Dia lalu pergi meninggalkan pemuda itu.
Sampai keluar dari pintu dia masih mendengar pemuda itu berkata.
"Xiao Tie, Xiao Tie apakah kau cinta kepadaku? Mengapa kau selalu membuatku penasaran?"
Di depan adalah kegelapan.
Jalan ini adalah jalan yang tadi dilewati oleh Xiao Tie.
Tanpa sengaja Meng Xing-hun juga berjalan ke arah yang sama.
Biarpun Meng Xing-hun tidak mengakui tapi di lubuk hatinya yang paling dalam dia juga berharap bisa bertemu dengan gadis itu lagi.
Meng Xing-hun tidak melihat gadis itu.
Gadis itu seperti setan gentayangan, hilang di kegelapan malam.
Meng Xing-hun pulang ke penginapan tempat dia menginap.
Hari sudah larut, di pekarangan sudah sepi dan sunyi.
Kamar yang dia sewa pasti juga tidak ada cahaya lampu.
Dia tidak pernah menyalakan lampu karena dalam kegelapan Meng Xing-hun merasa lebih aman.
Waktu dia pergi pintu dan jendela sudah ditutup, tapi sekarang sebelum dia masuk langkahnya langsung terhenti.
Meng Xing-hun seperti seekor anjing pemburu yang sudah terlatih tiba-tiba mencium adanya mangsa.
Tubuh Meng Xing-hun meloncat sangat tinggi dan berhenti di pekarangan belakang.
Jendela belakang masih tertutup, dia mengetuk-ngetuk jendela dan tiba-tiba meloncat lagi ke depan.
Gerakannya ringan dan cepat seperti seekor burung elang dan kelelewar.
Saat itu terlihat ada bayangan orang keluar dari jendela depan.
Gerakan bayangan orang ini sangat cepat.
Begitu tubuhnya turun dia merasa ada orang yang menguntit dan dia langsung meloncat ke atas tapi dia juga merasa tetap ada yang mengikutinya.
Tiba-tiba terdengar suara yang berkata.
"Untung kau Xiao He, kalau tidak sudah kubunuh."
Bayangan ini menarik nafas, dia sudah tahu yang menguntit dia adalah Meng Xing-hun.
Bayangan ini terdiam dan dia mendorong pintu kamarnya.
Meng masuk ke dalam kamar.
Meng Xing-hun berdiri di luar pintu, wajahnya tidak menampakkan ekspresi apa pun.
Hingga lampu kamarnya dinyalakan barulah dia masuk dan duduk.
Dia duduk di depan Xiao He.
Dia menatap Xiao He tapi Xiao He tidak mau memandangnya.
Dia mengenal Xiao He sudah 20 tahun namun dia tidak pernah mengerti orang ini.
Perasaan mereka seharusnya seperti adik kakak namun mereka tidak terlihat seperti itu, mereka seperti tidak kenal.
Meng Xing-hun, Shi Qun, Ye Xiang, dan Xiao He, semua adalah anal yatim piatu.
Mereka bisa bertalian hidup karena bergantung kepada Gao Lao-da.
Di antara mereka berempat umur Xiao He paling kecil dan dia yang pertama kali bertemu dengan Gao Lao-da.
Dia selalu menganggap Gao Lao-da sebagai kakaknya sendiri.
Waktu Gao Lao-da mengangkat 3 anak yang lain sebagai anaknya, dia menjadi iri dan marah.
Dia sering mengadu domba mereka.
Dia menganggap mereka bertiga merebut makanan dari Gao Lao-da juga.
merebut kasih sayang Gao Lao-da darinya.
Bila tidak ada mereka bertiga dia akan makan lebih kenyang dan hidup lebih nyaman.
Dari awal dia sudah menggunakan segala cara menyuruh Gao Lao-da mengusir mereka bertiga.
Saat itu usianya baru 6 tahun.
Umur 6 tahun Xiao He sudah bisa berbuat licik.
Jalan pikirannya pun sudah jahat.
Ada suatu kali Gao Lao-da menyuruh dia memberi tahu mereka bertiga untuk berkumpul di sebelah barat kota, namun Xiao He malah memberi tahu mereka bahwa tempat berkumpul adalah disebelah timur kota.
Mereka menunggu di sebelah timur kota selama 2 hari dan mereka hampir mati kelaparan bila bukan Gao Lao-da yang tidak terus menerus mencari mereka kemungkinan saat itu mereka sudah mati.
Masih ada lagi, suatu kali Xiao He memberitahu polisi yang sedang berpatroli bahwa mereka bertiga adalah para pencuri dan sengaja meletakkan barang yang dia curi ke dalam pakaian mereka.
Saat itu kecuali orang yang mendapatkan hukuman mati, semua penghuni yang berada di dalam penjara akan dilepaskan kembali karena di dalam penjara tidak cukup makanan untuk semua terhukum.
Saat mereka bertiga hampir dihukum mati.
Bila bukan Gao Lao-da yang menyogok polisi patroli, mereka bertiga hampir dilempar ke dalam sungai dan menjadi setan air.
Saat itu cara polisi menghukum pencuri bukan dimasukkan ke dalam penjara melainkan dilempar ke sungai.
Hal-hal semacam itu masih banyak lagi.
Walaupun Gao Lao-da memarahi Xiao He tapi tidak sampai mengusirnya karena Gao Lao-da merasa umur Xiao He masih kecil melakukan kesalahan seperti itu adalah wajar dan harus dimaafkan.
Gao Lao-da melakukan sesuatu hanya menurut kata hatinya, yang mana salah yang mana benar, tidak jelas batasnya karena tidak ada seorang pun yang memberitahunya.
Karena itu Gao Lao-da selalu menganggap asalkan bisa bertahan hidup melakukan tindakan apa pun boleh dianggap benar.
Sudah 20 tahun berlalu, Xiao He terus menerus melakukan hal yang merugikan teman dan cara-caranya pun semakin lihai dan semakin tidak meninggalkan jejak.
Apalagi perlakuannya terhadap Meng Xing-hun, dia sangat iri kepadanya karena saat mereka berlatih kepandaian secara bersama-sama kepandaian.
Meng Xinghun lebih unggul dari dia.
Dan posisi Meng Xing-hun di hati Gao Lao-da semakin hari semakin penting.
Ini membuat Xiao He semakin membencinya.
Meng Xing-hun memandang wajah Xiao He yang cantik.
Dia cantiknya hampir tidak seperti laki-laki.
Gao Lao-da selalu berkata, bila Xiao He mengenakan pakaian perempuan dan rambutnya diturunkan, banyak laki-laki akan tergoda melihatnya.
Apalagi kulit Xiao He lebih putih dan lebih lembut dari pada wanita.
Banyak orang tidak mengerti orang seperti Xiao He yang tumbuh di bawah terik matahari dan angin, mengapa bisa mempunyai kulit yang begitu putih?
Namun saat ini dia sedang marah wajahnya menjadi hijau, sepasang tangan yang lembut dan kecil tampak gemetaran sepatinya dia sedang menekan kemarahan.
Hati Meng Xing-hun tiba-tiba merasa tidak enak.
Walau bagaimanapun Xiao He adalah teman dari kecil dan umurnya lebih kecil 2 tahun darinya.
Sebenarnya dia menganggap Xiao He sebagai adiknya sendiri.
Meng Xing-hun tertawa dengan terpaksa kemudian berkata.
"Tidak kusangka kau yang datang, seharusnya kau memberitahu aku terlebih dahulu."
Tiba-tiba Xiao He tertawa.
"Kau tadi menganggap siapa yang berada di kamar ini?"
"Orang apa pun mungkin saja karena orang seperti kita melakukan hal apa pun harus hati-hati."
Xiao He tampak cemberut dan berkata.
"Apakah semua orang mungkin akan datang ke tempat ini? Apakah kecuali Gao Lao-da masih ada yang tahu kau ada di sini?"
Tawa Meng Xing-hun tiba-tiba hilang dan bertanya.
"Apakah Gao Lao-da yang menyuruhmu ke sini?"
Xiao He terdiam.
Diam berarti dia sudah mengaku.
Wajah Meng Xing-hun pun tidak ada ekspresi namun dari matanya terlihat ada bayangan gelap.
Biasanya pada saat dia keluar untuk melaksanakan tugas, Gao Lao-da belum pernah mengikuti gerakannya hingga bertanya pun belum pernah.
Gao Lao-da sangat mempercayainya namun saat ini sepertinya lain sama sekali.
Meng Xing-hun teringat suatu saat Gao Lao-da pernah menyuruh dia menguntit Ye Xiang, karena menganggap Ye Xiang tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik.
Xiao He diam-diam melihat Meng Xing-hun, di dalam matanya tiba-tiba menyorotkan sinar.
Sepertinya dia sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Meng Xing-hun.
Sengaja dia tertawa dan berkata.
"Bukan Gao Lao-da sudah tidak mempercayaimu lagi, dia hanya menyuruhku memberimu beberapa pesan."
Tawa Xiao He terlihat sangat rahasia dan juga sangat menyebalkan.
Semua orang pun tahu bahwa tawanya mengandung niat yang jahat.
Dia sengaja membuat Meng Xing-hun merasa seperti itu.
Meng Xing-hun terdiam lama baru dia bertanya.
"Gao Lao-da berpesan apa kepadaku?"
Xiao He dengan suara kecil menjawab.
"Dua anak buah Sun Yu-bo yang paling lihai saat ini sedang melakukan tugas dari Lao-bo, apakah kau tahu mengenai ini?"
"Apakah mereka adalah Sun Jian dan Lu Xiang-chuan?"
Xiao He mengangguk kemudian dengan tertawa dia berkata.
"Ternyata kau sudah tahu, tapi Gao Lao-da takut kau belum tahu." 'Takut kau tidak tahu' artinya adalah Gao Lao-da sudah tidak mempercayai Meng Xing-hun. Meng Xing-hun sudah mengerti arti dari kata-kata ini. Xiao He pun tahu bahwa Meng Xing-hun sudah mengerti kemudian Xiao He berkata.
"Begitu kedua anak buah Laobo pergi, Sun Yu-bo seperti kehilangan kedua tangannya, bila seseorang sudah kehilangan tangan kiri dan kanan tidak akan menakutkan lagi."
Xiao He berkata lagi.
"Sekarang adalah waktumu untuk beraksi. Mengapa kau yang sudah tahu bahwa sekarang adalah waktu yang tepat kau belum beraksi?"
Meng Xing-hun menatap Xiao He, tiba-tiba kemarahannya timbul dan berkata.
"Tugas ini aku yang melakukannya atau kau!"
"Tentu saja kau."
"Bila aku yang melakukannya tentu saja aku yang memilih caraku sendiri."
"Tentu saja kau yang menentukan aku hanya bertanya saja tidak mempunyai maksud apa pun."
Tiba-tiba Xiao He tertawa lagi dan berkata.
"Gao Lao-da selalu berkata bahwa kau mempunyai kepala yang paling dingin, tidak kusangka kau ternyata cepat marah."
Meng Xing-hun merasa seperti dipecut, sebenarnya dia tidak boleh marah.
Marah bagi orang seperti Meng Xinghun lebih menakutkan dari pada racun.
Dia merasa ujung jari-jarinya semakin dingin.
Xiao He menatapnya dan dahinya berkerut kemudian berkata.
"Mengapa dengan dirimu? Apakah kau sedang tidak enak badan?"
Meng Xing-hun terdiam lama kemudian berkata.
"Aku lelah."
Setelah mendengar perkataan ini, Xiao He malah terlihat senang dan bertanya.
"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, apakah boleh?"
"Apa itu?"
Kelihatannya Xiao He sangat senang tapi tiba-tiba dia menggeleng gelengkan kepala dan berkata.
"Lebih baik aku tidak jadi saja."
"Bicaralah?"
Xiao He menghela nafas dan dia berkata.
"Dua tahun yang sangat melelahkan, sudah seharusnya kau beristirahat sebentar. Bila kau tidak mau melakukan tugas ini biar aku menggantikanmu."
Meng berdiri dengan pelan dan dia bertanya.
"Apakah kau tahu Sun Yu-bo orang macam apa?"
Xiao He tidak menjawab malah balik bertanya.
"Kau kira aku tidak bisa membunuhnya?"
"Kemungkinan aku juga tidak bisa membunuhnya."
Xiao He dengan dingin berkata.
"Kalau kau tidak bisa membunuhnya, apa lagi aku, pasti juga sama?"
Wajah Xiao He karena marah menjadi hijau dan dia berkata lagi.
"Kepandaianmu lebih tinggi dariku, tapi membunuh tidak hanya mengandalkan kepandaian saja, selain itu, apakah kau merasa tega membunuhnya. Dalam ilmu silat, Ye Xiang juga tidak kalah denganmu."
Meng Xing-hun diam dengan lama baru berkata.
"Kalau kau mau menggantikanku, pergilah!"
Meng Xing-hun. merasa sudah lelah, lelah membuat dia malas berbicara. Lelah juga membuat dia malas melakukan semua hal. Tapi masih ada satu kalimat yang harus dia ucapkan.
"Sebelum menjalankan tugas kau harus tahu tugas ini sangat berbahaya,"
Kata Meng Xing-hun. Xiao He langsung menjawab.
"Aku tidak takut karena aku sudah memperhitungkannya."
Bahaya tidak membuat Xiao He mundur karena kesempatan ini sudah lama ditunggu-tunggu olehnya.
Asal dia bisa melakukan tugas ini dengan baik, dia akan menggantikan posisi Meng Xing-hun.
Meng Xing-hun sama sekali tidak peduli.
Biarpun dia sudah mengetahui keinginan Xiao He.
Dia hanya mau istirahat dan tidur, yang lain dia tidak peduli.
Tapi sampai dini hari pun dia belum bisa memejamkan mata.
Pagi sudah tiba, dia berdiri dan keluar dari kamar.
Kabut pagi tebalnya seperti asap rokok yang dikeluarkan dari pipa rokok.
Dia berjalan keluar dari kota itu, kabut pagi masih belum hilang.
"Entah berjalan ke arah mana. Dan jalannya sampai kapan baru bisa berhenti."
Dia tidak tahu dan sama sekali tidak memikirkan karena sedang banyak pikiran otaknya pun jadi kosong.
Angin pagi berhembus, suara air mengalir, dia menghampirinya dan duduk di pinggir sungai itu.
Dia suka mendengar suara air mengalir.
Air yang mengalir kadang-kadang bisa mengering tapi air tidak akan berhenti mengalir.
Sepertinya air tidak bisa lelah, begitu bersemangat tidak pernah berubah.
Mungkin di dunia hanya orang yang dapat merasakan bosan dan lelah.
Meng Xing-hun.
menghela nafas, dalam pikirannya terbayang apakah bila nyawanya dipadukan dengan air sungai akan lebih baik nasibnya?
Saat itu.
dia melihat ada seseorang dalam kabut yang sudah mulai menipis, dia merasa ada seseorang tidak jauh dari dia.
Dari tadi dia tidak merasa ada orang karena orang ini seperti batu yang berada di pinggir sungai diam duduk di sana.
Orang itu berjalan mendekatinya, ternyata seorang gadis.
Gadis ini memakai baju merah tapi wajahnya sangat pucat.
Matanya terlihat sangat terang biarpun ada kabut tipis yang menghalanginya.
Dia menghampiri Meng Xing-hun dan memandangnya.
Warna bajunya merah cerah, seperti air sedang mengalir.
Rambut hitam dihembus angin seperti sedang menari-nari.
Dari mata yang terang memancarkan perasaan kasihan dan simpati.
Dia kasihan kepada kebodohan orang di dunia, juga simpati kepada orang di dunia yang tidak tahu mengenai arti hidup karena dia bukan orang melainkan dewa.
Dia cantik seperti dewi yang keluar dari sungai.
Tenggorokan Meng Xing-hun tercekat begitu melihat gadis itu.
Dia merasa ada darah segar muncul dari dadanya dan terus naik ke tenggorokannya.
Dia mengenali gadis itu dan mengetahui bahwa dia bukan seorang dewi, kemungkinan dia lebih cantik dari dewi, lebih misterius dari pada dewi, meski dia hanya manusia biasa.
Gadis itu adalah Xiao Tie.
Xiao Tie masih terus memandang dia dan tiba-tiba bertanya.
"Apakah kau mau bunuh diri?"
Pertama kali ini Meng Xing-hun mendengar dia berbicara. Suaranya lebih merdu dari pada air mengalir di musim semi. Meng Xing-hun ingin bicara tapi dia merasa gugup.
"Kalau kau ingin mati, aku tidak akan melarangnya tapi aku hanya ingin bertanya satu kalimat saja."
Meng Xing-hun mengangguk. Tiba-tiba pandangan Xiao Tie beralih ke tempat yang sangat jauh. Tempat yang jauh itu tertutup oleh kabut dan menghalangi pandangannya.
"Apakah kau pernah menjalani kehidupan?"
Meng Xing-hun tidak menjawab karena dia tidak sanggup untuk menjawabnya.
"Apakah aku pernah menjalani kehidupan? Apakah kehidupannya termasuk dalam kehidupan yang normal?"
Dia membalikkan tubuh, dia takut air matanya akan menetes. Suara Xiao Tie sepertinya semakin jauh dan dia berkata.
"Seseorang bila belum mempunyai kehidupan tapi sudah memikirkan kematian, bukankah orang ini sangat bodoh?"
Meng Xing-hun ingin memukul gadis itu.
"Apakah kau juga pernah punya kehidupan?"
Dia tidak bertanya juga tidak perlu bertanya karena gadis ini masih begitu belia, begitu cantik pasti dia pernah mempunyai kehidupan.
Mengapa dia memilih tempat yang sunyi ini, apakah dia ke sini sendiri untuk menikmati kesepian?
Kesepian juga kadang-kadang bisa dinikmati.
Setelah lama Meng Xing-hun baru membalikkan badannya tapi gadis itu sudah tidak ada.
Datang seperti kabut dan hilang pun seperti angin.
Pertemuan mereka begitu singkat.
Tapi entah mengapa di dalam lubuk hati Meng dia merasa sudah lama mengenal gadis ini.
Sepertinya sebelum dia dilahirkan sudah mengenalnya dan gadis itu pun juga sudah lama menunggunya.
Kehidupan Meng Xing-hun sepertinya hanya untuknya.
"Apakah ini adalah pertemuan yang terakhir?"
Meng Xing-hun pun tidak tahuTidak ada yang tahu dia datang dari mana?
Dan juga tidak ada orang yang tahu dia akan pergi kemana?
Dia tidak bisa ditunggu juga tidak bisa ditebak.
Meng Xing-hun memandang ke tempat yang jauh.
Tiba-tiba dia merasa sedih.
Ooo)dw(ooO Kabut di kejauhan sudah mulai menipis.
Beberapa hari sudah berlalu, tetapi tidak ada kabar berita dari Xiao He....
Orang ini sepertinya hilang ditelan bumi.
Meng Xing-hun tidak mempunyai kegiatan apa pun.
Dia berusaha melupakan Xiao Tie yang pernah hidup di dunia ini.
Dia mengambil keputusan pulang dulu ke Kwie-ho-goan.
Orang-orang di dalam Kwie-ho-goan selalu berwajah gembira.
Gao Lao-da selalu tersenyum dengan manis dan saat melihat Meng Xing-hun pulang, tawanya pun lebih manis lagi.
Gao Lao-da belum benar-benar memandang Meng Xinghun, begitu juga dengan Meng Xing-hun.
Semenjak terjadi peristiwa di rumah kayu itu, Gao Laoda selalu ingin melupakannya tapi dia tidak sanggup.
Meng Xing-hun menundukkan kepalanya.
"Kau sudah pulang?"
Meng Xing-hun pasti sudah pulang, tapi dia menggelenggelengkan kepalanya.
Dia tahu yang ditanya Gao Lao-da bukan dia sudah pulang melainkan bertanya apakah tugasnya sudah selesai, karena jika dia pulang pasti tugasnya sudah rampung.
Gao Lao-da mengerutkan dahi dan bertanya.
"Mengapa tugasmu belum selesai?"
Meng Xing-hun terdiam lama, tiba-tiba dia bertanya.
"Dimana Xiao He?"
"Xiao He? Dia tidak punya tugas jadi sekarang aku tidak tahu dia berada di mana?"
Gao Lao-da tertawa dan terus berkata.
"Kita semua sama, kalau tidak ada tugas orangnya pun entah berada di mana?"
Hati Meng Xing-hun serasa tenggelam.... lama dia baruberkata.
"Aku pernah bertemu dengannya."
"Di mana kau pernah bertemu dengannya?"
"Dia datang mencariku."
Gao Lao-da dengan marah bertanya.
"Mengapa dia mencarimu?"
Meng Xing-hun tidak menjawab. Gao Lao-da bertanya lagi.
"Apakah kau tahu sekarang dia berada di mana?"
Meng Xing-hun tidak bisa menjawab.
Wajah Gao Lao-da langsung berubah sangat marah.
Gao Lao-da sangat mengetahui sifat Xiao He, juga tahu dia selalu menyombongkan diri.
Meng Xing-hun membalikkan kepalanya, ingin keluar.
Dia tidak perlu tanya lagi.
Xiao He secara tidak sengaja mengetahui ke mana dia pergi dan sengaja mencarinya, maksudnya adalah ingin menjatuhkan kepercayaan dirinya supaya dapat menggantikan posisinya.
Hal serupa ini sering dilakukan Xiao He tapi kali ini Xiao He salah dan kesalahannya sangat fatal dan begitu menakutkan.
Xiao He tidak tahu Lao-bo adalah orang yang sangat berbahaya.
Gao Lao-da tiba-tiba berkata.
"Jangan pergi! Aku ingin bertanya apakah Xiao He menggantikan posisimu mencari Lao-bo?"
Akhirnya Meng Xing-hun menganggukkan kepalanya.
"Apakah kau membiarkan dia pergi begitu saja?"
"Dia sudah pergi."
"Kau sudah tahu seorang Sun. Yu-bo adalah orang yang bagaimana. Kau sendiri paling-paling hanya 70% bisa berhasil. Kalau Xiao He yang pergi berarti dia mengantar kematiannya. Mengapa kau tidak melarangnya?"
Meng Xing-hun membalikkan tubuh, dengan nada marah berkata.
"Kenapa dia bisa tahu aku berada di sana?"
Mulut Gao Lao-da seperti disumpal.
Tugas yang dilakukan oleh Meng Xing-hun selalu tugas yang paling berat dan rahasia.
Kecuali Gao Lao-da tidak ada orang lain yang tahu.
Tapi mengapa Xiao He bisa tahu?
Setelah lama Gao Lao-da baru menghela nafas dan berkata.
"Aku tidak menyalahkanmu, hanya mengkhawatirkan Xiao He. Siapapun dia aku tetap akan mengkhawatirkannya."
Meng Xing-hun menundukkan kepalanya.
Di depan orang lain, kepala Meng Xing-hun belum pernah menunduk tapi di depan Gao Lao-da keadaannya tidak sama.
Meng Xing-hun tidak akan bisa melupakan budi Gao Lao-da.
"Kau akan ke mana?"
Tanya Gao Lao-da.
"Ke tempat sana aku akan pergi."
Gao Lao-da menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata.
"Kau sudah tidak bisa ke sana lagi."
"Mengapa tidak bisa?"
"Bila Xiao He benar sudah ke tempat Sun Yu-bo biarpun Xiao He sudah mati atau tidak Sun Yu-bo akan lebih waspada. Kalau kau pergi lagi akan berbahaya bagi jiwamu,"
Kata Gao Lao-da.
"Tiap kali menjalankan tugas selalu mendapat tugas yang berbahaya."
Meng Xing-hun tertawa.
"Tapi kali ini tidak sama,"
Kata Gao Lao-da.
"Sama saja, aku sudah menjalankan tugas dengan baik."
Asal sudah ada titik terang tidak akan dilepaskan begitu saja di tengah jalan.
"Bila kau memaksa, harus menunggu situasi yang agak tenang dulu,"
Kata Gao Lao-da dengan berat.
"Bila menunggu situasi agak tenang tubuh Xiao He pun sudah dingin,"
Jawab Meng Xing-hun.
"Sekarang tubuhnya mungkin sudah dingin."
"Paling sedikit aku harus melihat-lihat,"
Kata Meng Xing-hun.
"Tidak bisa. Aku tidak mengijinkan kau pergi demi siapa pun."
Mata Meng Xing-hun berekspresi aneh.
"Apakah demi Xiao He pun hal ini tidak bisa?"
Gao Lao-da bersikap sangat keras.
"Demi dia juga tidak bisa. Aku tidak bisa demi seseorang yang sudah meninggal mengorbankan orang yang masih hidup."
"Tapi dia adalah saudara kita,"
Kata Meng Xing-hun.
"Saudara dan tugas tidak bisa dicampur adukkan, kalau kita tidak bisa membedakan tugas dan saudara, hari-hari yang akan akan datang yang mati mungkin kita."
Mata Gao Lao-da yang sudah menjadi sangat berat dengan perlahan dia berkata.
"Bila kita semua meninggal tidak ada orang yang akan menguburkan mayat kita."
Meng Xing-hun merasa Gao Lao-da terus berubah.
Dia berubah menjadi sangat dingin dan kejam dan berubah menjadi orang yang tidak mempunyai perasaan.
Semenjak Ye Xiang gagal melaksanakan tugas, Meng Xing-hun sudah merasakannya.
Tapi mengapa dia tidak takut Xiao He membocorkan rahasia?
Terdengar ada yang mengetuk pintu.
Pintu itu adalah pintu rahasia Gao Lao-da.
Bila bukan hal yang sangat penting tidak ada yang berani mengetuknya.
Gao Lao-da membuka jendela kecil di pintu itu dan bertanya.
"Ada apa?"
"Tuan Tu mengajak Nona minum arak."
"Apakah dia yang bernama Tu Cheng?"
"Betul,"
Jawab yang di luar.
"Baiklah aku segera datang."
Gao Lao-da memandang Meng Xing-hun dan berkata.
"Tu Cheng adalah seorang pedagang besar tapi dia juga anak buahnya Wan Peng-wang dan sebagai tangan kanannya juga."
"Apakah namanya Tu Da-peng?"
Tanya Meng Xing-hun.
"Betul."
"Apakah kau tahu Sun Yu-bo pernah menyuruh Lu Xiang-chuan pergi tapi tidak tahu apa yang dilakukannya, siapapun juga tidak bisa bertanya,"
Tanya Meng Xing-him. Hal yang tidak ada hubungan dengan tugasnya dia tidak pernah bertanya. Gao Lao-da berkata.
"Lu Xiang-chuan adalah orang penting Lao-bo. Kalau bukan hal yang sangat penting Laobo tidak akan mengijinkan Lu Xiang-chuan pergi."
Meng Xing-hun mengangguk. Dia juga merasa Lu Xiang-chuan tidak bisa dipandang sebelah mata.
"Kalau Sun Yu-bo berbeda pendapat dengan Wan Pengwang akan lebih menguntungkan untuk kita. Tu Cheng kali ini meninggalkan tempatnya pasti berkaitan dengan Sun Yu-bo,"
Kata Gao Lao-da. Gao Lao-da langsung membuka pintu dan berjalan keluar, tidak lupa berpesan kepada Meng Xing-hun.
"Lebih baik kau tunggu di sini, biar kita mencari berita dulu."
Berita yang diterima Gao Lao-da selalu paling cepat karena cara kerjanya sangat tepat.
Meng Xing-hun tidak mau terus menunggu di sini karena dia juga ingin mencari tahu.
Ooo)dw(ooO BAB Ye Xiang berbaring di bawah pohon rindang di padang rumput yang luas.
Rumput-rumput tampak berwarna kuning karena kekeringan.
Dia melemaskan tangan dan kakinya, sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal itu karena tidak ada waktu tapi sekarang keadaannya sudah tidak sama.
Sekarang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
Ternyata kegagalan pun ada nikmatnya dan orang yang sukses belum tentu dapat menikmati hal ini.
Ye Xiang tertawa kecut, tiba-tiba terdengar langkah orang yang berjalan di atas rumput.
Suaranya terdengar sangat ringan seperti seekor kucing yang berjalan.
Ye Xiang tidak segera bangkit walaupun tidak melihat dia sudah tahu siapa yang datang itu.
Kecuali Meng Xing-hun tidak ada orang yang dapat berjalan begitu ringan.
Setelah Meng Xing-hun mendekati Ye Xiang, dia baru bertanya.
"Kapan kau pulang?"
"Baru saja,"
Jawab Meng Xing-hun. Ye Xiang tertawa kemudian berkata.
"Kau baru pulang tapi bisa ke tempat ini untuk mencariku, benar-benar sahabat yang baik."
Dalam hati, Meng Xing-hun sebenarnya malu disebut seperti itu.
Selama 2 tahun ini orang-orang sudah menjauhi Ye Xiang sebenarnya Meng Xing-hun pun seperti itu.
Ye Xiang menepuk-nepuk tanah di sampingnya dan berkata.
"Duduklah! Minumlah arak ini setelah itu. baru kau katakan maksudmu mencariku."
Meng Xing-hun menerima arak dari tangan Ye Xiang dalam hati dia berjanji bila dia selesai menjalankan tugasnya dan kembali dalam keadaan selamat, dia akan minum sepuasnya dengan Ye Xiang.
Hari demi hari dia menjauhi Ye Xiang karena dia adalah orang yang sombong, juga bukan karena Meng Xmg-hun tidak mau menerimanya, karena dia merasa takut bila dia melihat Ye Xiang dia merasa seperti melihat dirinya sendiri.
Kemudian Ye Xiang berkata.
"Baiklah, ayo katakan sebenarnya apa yang membawamu kesini?"
Meng Xing-hun menjawab dengan perlahan.
"Kau selalu berkata di dunia ada 2 macam orang, pertama adalah orang yang membunuh, kedua adalah orang yang dibunuh."
Ye Xiang tertawa mendengar perkataan Meng Xing-hun.
"Tidak ada seorang pun yang bisa membagi jenis orang dengan sama, mungkin caraku membagi jenis orang juga salah."
Meng Xing-hun menanggapi.
"Kau bisa membagi jenis orang seperti itu karena kau bukan tipe orang yang suka membunuh."
Ye Xiang tertawa dengan kecut kemudian berkata.
"Kebanyakan pembunuh berakhir hidupnya dengan dibunuh juga."
Meng Xing-hun bertanya lagi.
"Apakah tidak ada pengecualian?"
Ye Xiang menanggapi pertanyaan Meng Xiang Hun.
"Maksudmu adalah apakah ada orang yang selalu membunuh tapi akhirnya dia tidak terbunuh?"
"Benar!"
Ye Xiang menjawab.
"Orang seperti itu sangat jarang, kemungkinan malah tidak ada."
"Kau tahu ada berapa orang seperti itu?"
Tanya Meng Xing-hun.
"Aku adalah salah satunya, sudah tidak ada orang yang berniat membunuhku,"
Kata Ye Xiang sambil tertawa kecut. Meng Xing-hun dengan perlahan mengangguk. Tiba-tiba Ye Xiang terduduk kemudian dia memandang Meng Xiang Hun dan bertanya.
"Dia orang macam apa?"
Meng Xing-hun berpikir sejenak kemudian menjawab.
"Orangnya sangat biasa, tidak tinggi juga tidak pendek, tidak gemuk juga tidak kurus."
"Apakah kau pernah melihat wajahnya?"
Tanya Ye Xiang lagi.
"Tidak pernah."
"Apakah bila dia membunuh orang selalu mengenakan baju abu?"
Meng Xing-hun malah balik bertanya.
"Apakah kau mengenalnya?"
Ye Xiang tidak menjawab dia malah terus bertanya.
"Setelah dia membunuh orang apakah dia mengoleskan darah korban ke wajahnya?"
"Benar, dia orangnya!"
Wajah Ye Xiang berubah menjadi kaku kemudian dengan pertalian dia berkata.
"Tidak ada yang tahu mengenai dia, hanya.... bila lain kali kau bertemu dengannya, larilah sejauh mungkin, semakin jauh semakin baik."
Meng Xing-hun merasa aneh kemudian bertanya.
"Mengapa?"
"Pembunuh bayaran seperti kita bukan hanya kita berdua saja tapi masih banyak,"
Jawab Ye Xiang.
"Oh!"
"Pembunuh adalah suatu pekerjaan yang sangat aneh."
Meng Xing-hun mengangguk dan berkata.
"Kau pernah berkata, menjadi seorang pembunuh jangan memiliki nama, bila kau mempunyai nama artinya kau bukan pembunuh profesional."
"Karena kita adalah pembunuh kita harus berkorban seperti itu. Nama baik, keluarga, kedudukan, anak, teman, semua tidak dapat kita miliki."
Dia menghela nafas dan dengan kecut berkata lagi.
"Karena itu tidak ada seorang pun yang mau menjadi pembunuh kecuali bila dia sudah gila."
Meng Xing-hun setuju dengan pendapat Ye Xiang.
"Walau sekarang dia tidak gila, lambat laun dia akan jadi gila."
Ye Xiang berkata lagi.
"Tapi ada juga orang yang memang ditakdirkan menjadi pembunuh, orang seperti itu yang dinamakan sebagai pembunuh profesional karena pada waktu mereka membunuh mereka tidak menggunakan perasaan. Selamanya mereka tidak akan merasa lelah, tangan pun tidak dapat berhenti untuk membunuh."
Ye Xiang terus memandang gelas arak kemudian dengan pelan dia berkata.
"Orang yang tadi kau ceritakan adalah salah satu pembunuh yang paling gila."
Meng Xing-hun bertanya lagi.
"Apakah dia adalah seorang pembunuh terbaik?"
"Benar, di dunia tidak ada yang paling hebat kecuali dia."
Ye Xia.ng terus menatap Meng Xing-hun kemudian berkata.
"Kau tidak dapat menandinginya.... memang kau lebih tenang dan dingin, lebih pintar dari dia, gerakanmu pun lebih cepat dari dia. Tapi kau tidak dapat menjadi seorang pembunuh yang terbaik karena kau bukan orang gila."
Setelah lama Meng Xing-hun baru bertanya kepada Ye Xiang.
"Apakah kau pernah melihat dia membunuh orang?"
Ye Xiang mengangguk.
"Kecuali melihat dengan mata kepala sendiri, tidak ada orang yang dapat menggambarkan caranya membunuh. Pada waktu membunuh dia tidak menganggap lawannya adalah manusia."
Meng Xing-hun berkata.
"Mungkin waktu itu dia pun tidak menganggap bila dia sendiri adalah manusia."
"Ada yang berkata bahwa dia sudah pensiun, di mana kau bertemu dengannya?"
"Di taman bunga Sun Yu-bo."
"Siapa yang dibunuh olehnya?"
Tanya Ye Xiang.
"Huang-shan-san-you."
"Mengapa bisa terjadi hal seperti itu?"
"Karena mereka bertiga sudah menyinggung perasaan Sun Yu-bo."
"Aku sudah menduga bahwa dia mempunyai pelindung yang kuat tidak kusangka pelindungnya adalah Sun Yu-bo."
Tiba-tiba dia memegang tangan Meng Xing-hun dan berkata.
"Lupakanlah rencana membunuh Sun Yu-bo."
Kata Meng Xing-hun.
"Tapi aku tidak dapat melupakannya."
Ye Xiang terus berkata.
"Berusahalah untuk melupakannya bila tidak kau akan mati dalam waktu dekat, walaupun kau dapat membunuh Sun Yu-bo namun orang ini akan terus mengejarmu kemudian membunuhmu kemana pun kau pergi."
Ye Xiang menyambung kembali.
"Siapapun tidak tahu siapa yang ingin membunuh Sun Yu-bo sehingga susah melacaknya, tapi orang ini akan mampu untuk melacaknya."
Meng Xing-hun memandang Ye Xiang cukup lama kemudian bertanya.
"Apakah orang itu juga mengenalmu?"
Ye Xiang mengangguk dengan sedih.
"Dia mengenalku, begitu dia melihatku dia sudah tahu apa pekerjaanku."
Kemungkinan orang lain tidak mengerti perkataan Ye Xiang namun Meng Xing-hun sangat mengerti.
Mereka adalah manusia biasa tidak lebih istimewa daripada orang lain dan mereka sedapat mungkin tidak memancing perkelahian dengan orang lain.
Penampilan mereka tidak sama dengan orang lilin, mungkin orang biasa tidak akan merasa demikian namun bagi mereka yang berasal dari lingkungan pembunuh begitu kau melihat, kau sudah dapat membedakannya.
Ye Xiang bertanya lagi.
"Bila dia dapat menyelidikimu, pasti dia pun dapat menyelidikiku juga."
"Dia tidak sempat melihatku tapi.... ,"
Kata Meng Xinghun.
"Tapi apa?"
"Dia sudah mengenalmu, bila Sun Yu-bo mati dia pasti akan datang kemari mencarimu."
Ye Xiang hanya berkata.
"Aku tidak bisa melupakannya."
Sudah dua kali dia mengucapkan kalimat itu, dia pun dua kali mengucapkannya dengan tegas. Kata Ye Xiang lagi.
"Walaupun dia tidak membunuhmu, bila kau sudah dicurigai orang ini, dia akan selalu menguntitmu, menunggumu, apakah kau masih bisa hidup?"
Meng Xing-hun terdiam lama kemudian berkata.
"Karena itu aku harus lebih dulu membunuhnya."
Ye Xiang sangat terkejut kemudian berkata.
"Apa? Kau mau membunuhnya? Apakah orang itu juga akan membunuhmu?"
"Sebenarnya diapun seorang manusia,"
Kata Meng Xinghun.
"Dia orang macam apa, kau sendiri pun tidak tahu bagaimana kau bisa membunuhnya?"
Meng Xing-hun terus menatapnya.
"Memang aku tidak mengenalnya tapi kau kan mengenalnya."
Wajah Ye Xiang menjadi sedih, dia berbaring kembali di hamparan rumput kemudian berkata.
"Aku tidak tahu."
Meng Xing-hun melirik Ye Xiang kemudian dia berdiri bersiap meninggalkan tempat itu.
Dia sudah tahu bahwa Ye Xiang dan orang itu memiliki hubungan yang misterius.
Namun Meng Xing-hun tidak memaksa Ye Xiang untuk mengatakannya.
Meng Xing-hun tidak pernah memaksa orang.
Dia tahu bahwa memaksa orang untuk mengatakan sesuatu baginya adalah suatu hal yang tidak pantas.
Tiba-tiba Ye Xiang berseru.
"Tunggu sebentar!"
Meng Xing-hun menghentikan langkahnya. Setelah lama Ye Xiang baru berkata.
"Dia membunuh karena dia tidak menyukai manusia, namun dia menyukai darah."
Meng Xing-hun dengan terkejut dan bertanya.
"Apa? Darah?"
"Dia tidak suka makan ikan, tapi dia suka memelihara ikan. Orang yang senang memelihara ikan tidak banyak."
Meng Xing-hun masih ingin bertanya tapi Ye Xiang sudah menutup mulutnya dengan botol arak.
Matahari senja menyinari pepohonan dan muka Ye Xiang.
Roman Ye Xiang sudah berubah.
Meng Xing-hun memandang Ye Xiang dengan sorot mata penuh rasa terima kasih.
Meng Xing-hun mengetahui tidak ada seorang pun yang dapat memaksa Ye Xiang untuk mengatakan hal yang tidak ingin dia katakan.
Hanya Meng Xing-hun yang dapat melakukannya.
Meng Xing~hun adalah teman Ye Xiang juga saudaranya.
Rasa persaudaraan lebih kental dan tidak dapat diganti oleh apa pun.
Sewaktu Meng Xing-hun kembali ke rumahnya, ternyata Gao Lao-da sudah menunggunya.
Kelihatannya Gao Lao-da sangat gembira, begitu melihat kedatangan Meng Xing-hun dia malah berubah menjadi marah dan berkata.
"Mengapa kau tidak menungguku?"
"Aku tidak ke mana-mana,"
Jawab Meng Xing-hun.
"Sepertinya antara kau dan Ye Xiang masih banyak yang ingin diceritakan,"
Kata Gao Lao-da. Setelah terdiam lama Gao Lao-da baru berkata dengan wajah berseri-seri.
"Aku sudah mengetahui mengapa Sun Yu-bo memerintahkan Lu Xiang-chuan untuk menemui Wan Peng-wang."
"Oh iya?"
Tanggap Meng Xing-hun. Kata Gao Lao-da lagi.
"Teman lama Sun Yu-bo bernama Wu Lao-dao. Dan anak laki-laki Wu Lao-dao mencintai pelayan Wan Peng-wang namun Wan Pengwang tidak merestui hubungan mereka. Oleh sebab itu Sun Yu-bo memerintahkan Lu Xiang-chuan pergi ke tempat Wan Peng-wang untuk meminta restunya."
Walaupun Gao Lao-da adalah seorang perempuan dia mampu menjelaskan semuanya dengan singkat dan sesederhana mungkin. Meng Xing-hun bertanya.
"Bagaimana kemudian?"
"Akhirnya Wan Peng-wang merestui mereka dan dia pun menyediakan semua tetek bengek untuk pernikahan gadis itu."
Meng Xing-hun bertanya lagi.
"Apakah dengan begitu masalahnya sudah selesai?"
"Belum selesai, malah baru dimulai,"
Jawab Gao Lao-da. Dengan wajah tertawa Gao Lao-da berkata lagi.
"Orang semacam Wan Peng-wang tidak akan menyerah begitu saja."
Meng Xing-hun tidak berkata lagi karena dia sendiri tidak mengenal Wan Peng-wang, hal yang tidak diketahui dengan pasti tidak pernah dia utarakan. Gao Lao-da berkata lagi.
"Menurut perkiraanku cara Wan Peng-wang seperti itu adalah untuk membuat Sun Yubo lemah dan saat itulah dia akan menyerang Sun Yu-bo."
"Bila Wan Peng-wang mulai menyerang, pasti akan sangat hebat."
Meng Xing-hun berkata.
"Oleh karena itu Wan Pengwang memerintahkan agar Tu Da-peng kembali ke sisinya."
"Kecuai Tu Da-peng dan Jin-peng, Nu-peng pun sedang dalam perjalanan ke tempat Wan Peng-wang."
"Apakah mereka akan menyerang Sun Yu-bo?"
Tanya Meng Xing-hun.
"Benar, pada saat mereka menyerang saat itulah kesempatan emas bagimu,"
Kata Gao Lao-da.
"Kalau begitu aku harus menguntit Tu Da-peng?"
Gao Lao-da mengangguk.
"Benar, kau harus mengetahui gerak-gerik mereka dan menunggu kesempatan yang baik, namun kau tidak boleh membiarkan orang lain mengambil kesempatan emas ini, kau harus membunuh Sun Yu-bo dengan tanganmu sendiri."
"Aku mengerti."
Meng Xing-hun memang sudah mengerti, hanya dia yang dapat membunuh Sun Yu-bo.
Honor baru dapat diterima oleh Gao Lao-da bila dia berhasil membunuh Sun Yu-bo.
Dia pun harus menjaga nama baik Gao Lao-da sebagai seorang pembunuh bayaran.
"Berapa banyak orang yang datang dengan Tu Cheng?"
"Mereka hanya bertiga, dari sini sudah terbukti bahwa gerak gerik mereka saat ini sangat dirahasiakan."
"Siapa kedua orang lainnya?"
Tanya Meng Xing-hun.
"Yang satu adalah tangan kanan Tu Cheng yang bernama Wang Er-tai tapi dia bukan orang bodoh (tay= bodoh). Dia sangat lihai, memang dia terlihat bodoh hal itu hanya untuk mengelabui orang-orang."
Meng Xing-hun mengangguk dia tahu bahwa Gao Laoda tidak pernah salah menilai orang.
"Yang satu lagi bernama Ye-mao-zi (kucing malam), dia adalah seorang pencuri. Disamping kepandaiannya tinggi dia juga sangat mahir memakai racun bius. Kali ini Tu Cheng membawanya kemari, pasti dia diberi tugas yang penting."
Meng Xing-hun bertanya.
"Kapan mereka akan berangkat?"
"Walaupun rencana Tu Cheng terkesan sangat tergesagesa namun dia tidak segera berangkat karena Jin-er saat ini sedang menemaninya, namun Jin-er hanya bisa merayunya supaya tinggal sehari lagi."
Meng Xing-hun tampak sedang berpikir.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Tanya Gao Lao-da. Meng Xing-hun dengan enteng menjawab.
"Orang yang bisa dirayu untuk tinggal sehari lagi dia tidak akan pernah bisa menjadi anak buah Wan Peng-wang yang utama."
"Rasanya semakin hari kau semakin pintar,"
Gao Laoda tertawa.
"Sebab aku harus belajar menjadi pintar."
Ooo)dw(ooO Wu Lao-dao sudah mulai mabuk namun dia merasa berterima kasih kepada Lao-bo.
Hari ini adalah hari pernikahan anak laki-lakinya.
Dia berharap Lao-bo dapat menghadiri pesta ini namun dia pun tahu bahwa Lao-bo tidak mungkin datang.
Walaupun Wu Lao-dao merasa kecewa dia tidak merasa sedih karena Lu Xiang-chuan sudah hadir di pesta itu.
Setelah pesta usai dia baru pergi.
Tamu-tamu sudah pulang, para pelayan sedang minumminum di.
dapur.
Putra Wu Lao-dao dan menantunya sudah lama masuk kamar.
Di ruang tamu hanya tinggal Wu Lao-dao sendiri.
Melihat lilin yang hampir terbakar habis, pikirannya merasa senang sekaligus sedih.
Wu Lao-dao merasa dirinya sudah tua.
"Anak laki-lakiku sudah menikah dan aku merasa semakin tua."
Setelah melewati tahun ini dia akan mencari suatu tempat yang sepi dan tenang untuk menghabiskan masa tuanya.
Saat itu dia mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya.
Orang ini sepertinya sedang mabuk.
Dia berjalan dari halaman menuju ruang tamu.
Orang ini terlihat sudah mabuk dan dia terlihat seperti orang bodoh.
Penampilannya sangat lugu, di antara temanteman Wu Lao-dao tidak pernah ada orang yang terlihat begitu bodoh dan lugu.
Wu Lao-dao tidak mengenalnya namun orang itu sepertinya mengenal Wu Lao-dao, dia menghampirinya.
"Orang ini tampaknya lebih mabuk dari diriku sendiri."
Wu Lao-dao mengerutkan dahinya tapi tidak menyalahkannya. Tanya Wu Lao-dao.
"Apakah kau mencari Lo Sung? Mereka sedang minum-minum di dapur."
Lo Sung adalah tukang masak Wu Lao-dao, dia menyangka orang ini adalah teman Lo Sung. Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian dengan suara mabuk dia berkata.
"Yang aku cari adalah kau!"
Wu Lao-dao merasa aneh.
"Kau mencariku? Ada urusan apa?"
Sebelum sempat mengatakan apa pun orang ini sudah ambruk. Walaupun orang ini sudah ambruk dia masih sempat melambaikan tangannya.
"Apakah kau ingin bicara denganku?"
Tanya Wu Laodao Orang ini terus mengangguk. Terpaksa Wu Lao-dao menghampiri orang itu dan membungkukkan badannya.
"Bicaralah!"
Orang ini dengan terengah-engah berkata.
"Aku mau...."
Suaranya serak dan mabuk, Wu Lao-dao tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan orang itu. Terpaksa dia lebih mendekati orang itu lagi.
"Apa yang ingin kau katakan?"
Nafas orang ini lebih berat kemudian berkata.
"Aku ingin.... membunuhmu!"
Setelah mendengar kata-kata ini Wu Lao-dao merasa tertegun karena pada saat orang itu membuka mulutnya untuk bicara tidak tercium bau arak, hanya sedetik namun semua sudah terlambat.
Orang itu sudah memegang seutas tali saat dia mengucapkan kata 'bunuh', tali itu sudah berada di leher Wu Lao-dao, begitu, tali ditarik berbareng sebuah pisau yang tajam telah menggorok lehernya.
Nafas Wu Lao-dao serasa tersentak, dia seperti seekor ikan yang meloncat dari permukaan air kemudian terjatuh ke darat, mengelepar-gelepar kemudian diam untuk selamalamanya.
Orang ini masih berdiri beberapa saat melihat mayat Wu Lao-dao dengan tertawa dungu dia berkata.
"Sudah kukatakan aku akan membunuhmu dan aku tidak pernah berbohong."
Xiao Wu dan Dai-dai sedang berpelukan.
Pelukan mereka begitu erat serasa pelukan pertama untuk mereka.
Mereka memang merasa memiliki perasaan seperti itu, begitu bergembira dan bergairah.
Mereka tidak langsung menikmati kebahagiaan ini.
Kehidupan mereka masih panjang, dengan lembut Xiao Wu berkata.
"Selamanya kau. adalah milikku"
Suara Dai-dai terdengar lebih lembut lagi.
"Seumur hidupku aku adalah milikmu."
Xiao Wu memejamkan mata bersiap-siap untuk menikmati kebahagiaan ini.
Nafas Dai-dai begitu harum.
Semakin harum dan membuat orang menjadi mengantuk.
Sekejap Xiao Wu merasa ada yang tidak beres, dia ingin bangun namun kaki dan tangannya terasa lemas, tenaga serta pikirannya pun serasa kosong melongpong.
Xiao Wu berusaha membuka matanya, dia tidak dapat melihat dengan jelas.
Antara sadar dan tidak sadar Xiao Wu seperti melihat wajah seseorang.
Wajah itu seperti setan dan tawanya pun seperti iblis dia berkata.
"Pengantin perempuanmu sekarang adalah milikku."
Xiao Wu hanya bisa bengong saat melihat Dai-dai, ingin marah pun tidak bisa.
Setelah itu semua seperti hilang ditelan kegelapan.
Ooo)dw(ooO Meng Xing-hun sedang berada di atap rumah di seberang rumah Wu Lao-dao.
Dia melihat Wang Er-tai masuk ke rumah Wu Lao-dao seperti seorang idiot.
Tidak lama setelah itu dia melihat Ye-mao-zi meloncat dari tembok dan masuk ke rumah Wu Lao-dao.
Mereka tidak masuk secara bersamaan tapi mereka keluar secara bersamaan.
Begitu keluar dari rumah Wu Lao-dao, Wang Er-tai masih terlihat seperti seorang idiot.
Tapi di pundaknya dia memanggul seseorang yang sudah meninggal.
Ye-mao-zi sedang menggendong bungkusan besar, karena begitu besar dia seperti kelelahan.
Pada saat itu ada sebuah kereta yang berhenti di depan mereka.
Pintu kereta terbuka, Wang Er-tai dan Ye-mao-zi segera melempar benda yang mereka panggul dan mereka pun naik kereta itu.
Kereta itu entah akan membawa mereka kemana.
Semua terjadi dalam waktu yang singkat.
Di dalam rumah Wu Lao-dao sama sekali tidak ada keributan dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Tapi Meng Xing-hun mengetahui bahwa mereka sudah mengajar Sun Yu-bo dengan telak.
Meng Xing-hun tahu, Sun Yu-bo tidak akan diam begitu saja dan dia akan membalas Wan Peng-wang lebih kejam lagi.
Setelah mendengar penjelasan Lu Xiang-chuan, wajah Lao-bo berubah menjadi sangat serius.
Lu Xiang-chuan tidak mengerti mengapa Lao-bo seperti itu, tugas yang dia laksanakan kali ini begitu sempurna dan sangat sukses.
Biasanya Lao-bo akan langsung memujinya.
Lu Xiang-chuan melihat tangan Lao-bo menggenggam kancing bajunya dengan kencang seperti ingin memencet mati sebuah binatang.
Biasanya bila Lao-bo memencet suatu benda dengan erat artinya dia sedang berpikir dan sedang marah.
Dan juga siap menyerang.
Siapa yang akan dia serang kali ini?
Tiba-tiba Lao-bo berdiri dan berkata kepada pengawal yang berada di luar pintu.
"Beri kabar kepada kelompok merpati agar semua anggotanya siap siaga dan segera cari Sun Jian. Walaupun Sun Jian sedang berada di mana pun suruh dia pulang, jangan sampai terlambat."
"Ya! Siap!"
Kemudian Lao-bo berkata lagi.
"Langsung bawa kelompok elang."
Kelompok merpati bertanggung jawab saling memberi kabar sedangkan kelompok elang bertanggung jawab menjaga keamanan.
Kecuali Lao-bo dan Lu Xiang-chuan tidak ada orang ketiga yang tahu dan biasanya mereka berada di mana.
Lao-bo belum pernah menggerakkan kedua kelompok ini.
Bila sudah menggerakkan kelompok ini artinya masalah yang dihadapi sudah sangat serius.
Namun sekarang, apa sudah timbul masalah serius?
Lu Xiang-chuan memikirkan kata-kata yang sering diucapkan oleh Lao-bo.
Untuk selalu membuat musuh salah tafsir kepadamu tapi kau sendiri tidak boleh salah menafsir musuh.
Apakah aku sudah salah menafsir Wan Peng-wang?
Karena tugasnya terlalu lancar, saking lancarnya seolah berjalan dengan tidak wajar.
Perjuangan Wan Peng-wang sudah puluhan tahun, dengan susah payah dia telah bisa mencapai kedudukan seperti sekarang memang tidak mudah.
Kali ini bagaimana dengan mudah dia bisa menerima kegagalannya begitu saja?
Memikirkan hal itu kembali, Lu Xiang-chuan segera merasa pakaiannya sudah basah.
Lao-bo sedang memandangnya, melihat ekspresi wajahnya Lao-bo berkata.
"Apakah kau sudah mengerti?"
Lu Xiang-chuan mengangguk dan keringat dingin menetes.
"Kau sudah mengerti."
Dia tidak marah kepada Lu Xiang-chuan karena dia tahu orang seperti Lu Xiang-chuan tidak perlu dimarahi tapi dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Lu Xiang-chuan sangat berterima kasih kepada Lao-bo tapi di sisi lain dia juga sangat malu.
Tiba-tiba dia berdiri dengan suara seperti tercekik berkata.
"Aku harus bertemu dengan Wu Lao-dao, kemungkinan dia dalam keadaan yang berbahya."
"Tidak perlu lagi,"
Jawab Lao-bo.
"Mengapa?"
Tanya Lu Xiang-chuan terkejut. Dengan sedih Lao-bo berkata.
"Sekarang Wu Lao-dao pasti sudah mati."
Lu Xiang-chuan merasa hatinya menjadi dingin dan dia berkata.
"Kemungkinan...."
Lao-bo memutuskan kata-katanya.
"Tidak ada kemungkinan, bagi orang seperti Wan Peng-wang, orang lain tidak akan merasakan adanya suatu bahaya. Begitu dia merasa semua sudah terlambat."
Lu Xiang-chuan dengan perlahan duduk kembali, hatinya terasa tenggelam kedalam jurang yang dalam sekali.
Dia tidak tahu bagaimana harus memperbaikinya dan entah bagaimana bisa menebusnya.
Saat itu sudah ada orang seperti terburu-buru masuk dari pintu.
Orang itu masih sangat muda namun tampan hanya sayang hidungnya bengkok karena dipukul orang.
Sudut matanya pun sudah dipukul hingga sobek.
Tangan sebelah kiri tergantung sebuah kain.
Begitu dia masuk dia sudah jatuh terkapar, tidak dapat bangun lagi.
Semua orang melihat bahwa orang ini sudah mendapat banyak siksaan.
Sudah lama Lao-bo tidak suka dengan kekerasan namun kali ini merupakan pengecualian.
Sepertinya orang ini sudah melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan.
"Siapa Orang ini?"
Tanya Lu Xiang-chuan.
"Tidak tahu!"
Jawab Lao-bo.
Lu Xiang-chuan merasa aneh, kelihatannya orang ini seperti orang yang tahan menderita sehingga meski sudah melewati begitu banyak siksaan masih dapat bertahan.
Kemungkinan dia takut bila membocorkan rahasia akan lebih menderita lagi.
Di belakang semua ini pasti ada orang yang lebih menakutkan lagi.
Sepertinya Lao-bo sudah dapat menebak pikiran Lu Xiang-chuan kemudian Lao-bo berkata.
"Dia tidak mau bicara bukan karena takut sesuatu. Bila kita menyiksanya terus dia akan pingsan."
Dia berpura-pura ingin pingsan tapi itu bukan pekerjaan yang mudah dan dia memilih suatu cara untuk pingsan dan cara ini malah membuatnya menderita.
Dia ingin tidak dapat bicara.
Lu Xiang-chuan bertanya.
"Dia sudah melakukan kesalahan apa?"
"Dia hendak membunuhku."
Lu Xiang-chuan baru merasa terkejut. Siapa pun yang berani membunuh Lao-bo orang itu pasti orang gila atau setidaknya dia adalah seorang yang sangat berani.
"Coba kau tanya lagi kepadanya, mungkin masih ada informasi yang bisa kita dapatkan,"
Kata Lao-bo.
Lu Xiang-chuan dengan perlahan berdiri, dia memilih arak yang paling keras kemudian mencekokkan arak ke mulut orang itu.
Karena arak itu akan membuat orang mengatakan yang sejujurnya.
Dia melihat wajah pemuda itu mulai berubah menjadi merah matanya pun menjadi merah.
Walaupun pemuda itu adalah seorang yang jago minum tapi bila tiba-tiba dicekoki dengan satu botol arak sekaligus dia pasti akan mabuk.
Kemudian Lu Xiang-chuan bertanya.
"Apa shemu?"
"Margaku He,"
Jawab pemuda itu. Lu Xiang-chuan bertanya lagi.
"Siapa Namamu?"
"Margaku He."
Berapa kali ditanya orang itu selalu menjawab, 'Margaku He.' Kecuali 3 kata ini yang lain dia tidak mengatakan apa pun.
"Orang ini sudah sangat terlatih dia bisa melatih anak buahnya menjadi seperti ini,"
Kata Lao-bo. Mata Lu Xiang-chuan tampak berpikir dan dia berkata.
"Kau menyangka orang ini adalah...."
Lao-bo mengangguk. Lu Xiang-chuan tidak menyebutkan nama orang itu begitu juga dengan Lao-bo namun mereka sudah mengerti siapa orang yang dimaksud. Lu Xiang-chuan dengan suara rendah bertanya.
"Apakah harus mengantarkan dia pulang?"
Lao-bo menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.
"Lepaskan saja dia!"
Antarkan dia pulang dan lepaskan dia, artinya tidak sama.
Mengantarkan dia pulang artinya orang pulang dalam keadaan sudah mati.
Lepaskan dia untuk pulang berarti dia pulang dalam keadaan masih hidup.
Setelah lama Lu Xiang-chuan baru mengerti maksud Lao-bo.
Lao-bo membereskan masalah dengan cara paling tepat.
Meng Xing-hun tidak ingin mengelilingi taman bunga Lao-bo dia tidak mau sebelum melaksanakan tugasnya, gerak-geriknya sudah diketahui orang.
Namun sekarang masalahnya tidak sama.
Dia sudah tahu bahwa Lao-bo sudah mulai bergerak.
Di depan taman bunga adalah hutan yang lebat.
Meng Xing-hun memilih sebatang pohon yang paling lebat dan memanjatnya kemudian dia seperti seekor burung hantu bersembunyi di balik pohon.
Di taman bunga sama sekali tidak terdengar suara, tidak ada orang yang masuk dan tidak ada orang yang keluar.
Pada saat Meng Xing-hun mulai kecewa, di taman bunga itu muncul sesosok bayangan.
Orang itu terlihat gerakannya lumayan cepat namun kakinya sempoyongan dan sebelah tangannya seperti sudah putus.
Pakaian yang lengket di tubuhnya entah berwarna ungu.
atau biru.
Dan bajunya tampak compang-camping.
Meng Xing-hun merasa mengenal pakaiannya.
Waktu itu orang ini mengangkat kepala untuk membedakan arah.
Sinar bulan menyoroti wajahnya.
Hampir saja Meng Xing-hun berteriak.
"XiaoHe!"
Xiao He tidak dibunuh oleh Lao-bo dan masih dapat melarikan diri.
Wajahnya terlihat sangat lelah dan kesakitan, namun sorot matanya masih tampak begitu sombong.
Sepertinya Xiao He sangat kagum kepada dirinya sendiri.
Melihat wajah Xiao He, Meng Xing-hun sudah tahu bahwa Xiao He tidak membocorkan rahasia Gao Lao-da.
Meng Xing-hun pun tahu bagaimana keadaan Xiao He.
Dia tidak akan bisa melarikan diri dari cengkeraman Laobo.
Di dunia tidak ada orang yang dapat kabur dari cengkeraman Lao-bo.
Namun mengapa Xiao He bisa melepaskan diri?
Meng Xing-hun tampak sedang berpikir dan dia segera mengerti apa yang dimau oleh Lao-bo.
Lao-bo pasti sengaja membiarkan Xiao He melarikan diri dan akan mengikuti Xiao He ke mana pun dia pergi kemudian akan menyelidiki siapa dalang di balik semua kejadian ini.
Mengingat hal ini, Meng Xing-hun keluar keringat dingin.
Tidak, dia tidak akan membiarkan Xiao He pulang dan dia pun tidak dapat mencegah Xiao He untuk pulang.
Karena sekarang sudah ada orang yang menguntit Xiao He.
Meng Xing-hun pun tidak dapat membocorkan identitasnya.
Dari sinar bulan Xiao He sudah dapat membedakan arah, tanpa berpikir dia langsung berlari keluar.
Melihat Xiao He yang lari begitu cepat sepertinya dalam satu langkah dia ingin tiba di Kuai-huo-ling.
Meng Xing-hun merasa sangat marah dan benci, dia ingin memukul hidung dan kepalanya sendiri.
Dan ingin bertanya, mengapa dia begitu bodoh?
Sebenarnya Xiao He adalah orang yang sering mencelakai orang mengapa sekarang dia begitu bodoh?
Sekarang bila ingin mencegah Xiao He membocorkan rahasia Gao Lao-da, hanya ada satu cara.
Bunuh dia!
Meng Xing-hun tidak ingin melakukan hal itu dan dia sendiri pun tidak tega.
Untung dia memiliki cara kedua yaitu membunuh orang yang menguntit Xiao He.
Meng Xing-hun terus menunggu.
Betul saja di dalam kegelapan muncul 3 sosok orang.
Mereka berlari mengikuti jalan yang dilalui Xiao He.
Mereka bertiga memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat lihai dan mereka selalu ditugaskan untuk menguntit.
Menguntit dengan cara seperti ini, bila ada satu orang yang ketahuan, yang lainnya masih dapat terus menjalankan tugas.
Namun yang dituju oleh Meng Xinghun adalah orang yang terakhir.
Orang ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang paling tinggi, setelah cukup lama Meng Xing-hun baru dapat mengejarnya.
Kemudian dengan ringan Meng Xing-hun menepuk pundak orang itu.
Orang ini sangat terkejut dan dia menoleh.
Dengan tertawa Meng Xing-hun melihat dia, tiba-tiba dia menotok tenggorokan orang itu, sekejap melihat Meng Xing-hun dia sudah roboh.
Totokan Meng Xing-hun cepat seperti kilat.
Dia menghadapi 2 orang yang menguntit Xiao He dengan cara yang sama.
Cara yang sangat sederhana, saking sederhana hingga membuat orang tidak percaya.
Memang kadang-kadang cara yang sederhana malah cara yang paling efektif.
Cara yang digunakan oleh Lao-bo, juga cara yang sering digunakan oleh Meng Xing-hun.
Orang yang berpengalaman biasanya memakai cara sederhana.
Xiao He terus berlari melewati kota Huang-su yang sepi.
Di sebuah toko kelontong yang ada di kota Huang-shi, sebenarnya sudah tutup, tiba-tiba ada 2 orang yang muncul keluar.
Yang satu berkata.
"Itulah dia!"
"Kita harus terus menguntit dia,"
Kata Yang satu lagi.
Mereka memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi dan mereka mengerahkan seluruh kemampuan mereka.
Mereka tidak takut kehabisan tenaga karena mereka tahu di kota berikutnya sudah akan ada orang yang mengganti mereka.
Kali ini Lao-bo menguntit Xiao He dengan cara yang sangat rumit.
Walau bagaimana pun memakai dua cara sekaligus pasti ada satu yang berhasil.
Bila Lao-bo sudah mengambil keputusan untuk melakukan suatu hal dia pasti banyak cara, hingga saat ini dia belum pernah gagal.
Begitu terbangun Sun Jian masih merasa sangat lelah.
Dia bukan orang yang terbuat dari besi apalagi perempuan yang tidur di sisinya membuat dia kelelahan.
Sebenarnya dia masih ingin tinggal di tempat itu selama 2 hari lagi.
Tapi saat itu ada suara aneh dari luar jendela.
Suara itu seperti suara suling yang membuat ular kobra menari, setelah berbunyi 2 kali baru berhenti.
Sun Jian langsung dapat membedakan, itu adalah tanda darurat yang dikirim oleh Lao-bo.
Mendengar suara bila tidak langsung pulang, seumur hidupnya akan menyesal.
Tidak ada orang yang berani melakukannya, demikian pula dengan Sun Jian.
Segera dia bangun dari tempat tidur kemudian memakai sepatu, dia berani tidak mengenakan baju keluar rumah tapi kakinya harus memakai sepatu, sepatu seperti nyawanya.
Tubuh Sun Jian seperti terbuat dari besi namun sepasang kakinya sangat halus.
Perempuan yang berada di tempat tidur membalikkan tubuhnya dan menarik tangan Sun Jian.
"Apakah kau akan pergi?"
"Ya,"
Jawab Sun Jian.
"Mengapa kau tega meninggalkanku?"
Jawabannya hanyalah sebuah tamparan.
Sun Jian tidak menyukai perempuan yang terlalu mengekangnya.
Begitu matahari terbit, Sun Jian sudah menunggang kuda sejauh 200 li.
Dia sangat cemas karena sudah lama Lao-bo tidak pernah mengeluarkan tanda darurat ini.
Dia tidak dapat menebak apa yang telah terjadi.
Walaupun di sisi jalan ada orang yang menjual kue, daging dan arak.
Walaupun dia merasa lapar dan haus dia tetap tidak berhenti.
Lao-bo adalah ayahnya juga temannya, untuknya dia rela mati.
Di dunia tidak ada yang bisa menghentikannya.
Matahari pagi menyinari jalan.
Batu-batu yang berada di jalan panasnya seperti baru diambil dari kuah.
Matahari musim gugur kadang-kadang lebih menyengat dari musim panas.
Sun Jian melepas topi kemudian mengelap keringat.
Walaupun dia masih dapat bertahan tapi kudanya mulai kelelahan.
Kuda tidak sekuat dia.
Sun Jian tidak perlu berlari dan tidak ada yang memecut dia.
Sun Jian sedang mencari tempat untuk mengganti kuda di sisi jalan.
Tiba-tiba ada orang yang melempar sesuatu benda.
Itu adalah sebuah batu yang dibungkus kertas.
Tertulis di kertas itu.
"Apakah kau ingin tahu siapa yang hendak membunuh Lao-bo?"
Sun Jian menghentikan kuda dan loncat turun dari kuda.
Dia melihat ada orang yang bergerombol di bawah pohon.
Mereka semua dengan terkejut melihat Sun Jian.
Sun Jian pun tidak tahu siapa yang melempar batu itu.
Tiba-tiba dia melihat seraut wajah yang dikenalnya.
Dia langsung mengenal bahwa itu adalah kelompok anjing.
Orang-orang yang masuk ke dalam kelompok anjing anggotanya paling sedikit dan ilmu meringankan tubuh mereka sangat tinggi, juga jago menguntit.
Sun Jian melambaikan tangan menyuruh orang itu menghampiri.
Orang ini pasti sudah mengenal Sun Jian.
Dengan suara berat Sun Jian berkata.
"Siapa yang kau ikuti?"
Orang itu tidak mau membocorkan tugasnya tapi dia juga tahu sifat jelek Sun Jian.
Apalagi dia bukan orang lain melainkan anak Lao-bo.
Orang itu terpaksa memandang orang yang berada di bawah pohon.
Sun Jian mengikuti pandangannya, dia sudah melihat ada Xiao He di sana.
Xiao He sedang duduk di bawah pohon, sedang makan kue yang dibungkus oleh daging sapi.
Xiao He sangat sulit menggigit daging itu karena tangannya hanya berfungsi sebelah.
Walaupun Xiao He ingin cepat-cepat pulang namun dia juga tidak mungkin di siang bolong seperti itu menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Apalagi dia sudah merasa haus, lapar juga sangat kelelahan.
Untung saja masih ada uang di dalam kantungnya.
Dia ingin menyewa sebuah kereta kuda dan tidur di kereta kuda begitu terbangun dia sudah berada di Kuai Huo Ling.
Dia tidak takut, dikuntit orang karena dia mempunyai kemampuan untuk melarikan diri.
Walaupun Lao-bo tahu dia sudah kabur dan menyuruh orang mengejarnya tapi gerakan mereka tidak cepat baginya.
Dia merasa pelarian ini sangat seru.
Mereka mengira aku sudah mabuk, sedikit pun mereka tidak curiga dan meninggalkanku sendiri di dalam kamar.
Sekarang mereka tahu bahwa aku pintar dan mampu.
Orang yang memiliki niat jahat kadang-kadang sikapnya tidak dewasa.
Licik dan dewasa sebenarnya dua hal yang bertentangan.
Xiao He merasa sangat senang dan hampir tertawa sendiri.
Belum sempat tertawa dia melihat seseorang yang menghampirinya.
Dia belum pernah melihat ada orang yang begitu besar, begitu bersemangat.
Saat dia berjalan batu-batu di jalan sepertinya hancur diinjaknya.
Ditambah lagi dengan sepasang matanya yang seperti dua bola api yang terbakar.
Siapa pun yang dipandang oleh sepasang mata seperti itu akan merasa gelisah.
Xiao He menggigit kue daging sapi itu tapi karena kaget dia lupa untuk mengunyahnya.
Orang itu sudah berada di depannya dan terus memelototinya.
"Margaku Sun, di panggil Sun Jian."
Wajah Xiao He segera berubah daging dan kue yang dipegang terlepas dari tangannya.
Dia sudah tahu bahwa dia adalah orang yang dicari.
Bila bukan karena sudah berbuat salah kepada Lao-bo saat mendengar namanya orang itu akan terkejut.
Siapa yang tidak sopan kepada Lao-bo, dia harus mati.
Sun Jian tertawa sinis.
Xiao He sudah melihat mata Sun Jian yang galak, tibatiba dia meloncat.
Tangan yang tinggal satu itu mencekik leher Sun Jian.
Kepandaian Xiao He dan Meng Xing-hun adalah satu aliran, sangat kejam, tepat, dan cepat.
Begitu dipukul oleh pukulan Xiao He sangat jarang orang bisa hidup.
Tapi sayang dia masih kalah cepat.
Biasanya bila dia bergerak semuanya akan mudah, kadang-kadang hanya berbeda dalam hitungan detik saat itulah penentuan antara hidup dan mati.
Tidak ada yang mengetahui seberapa cepat gerakan yang dikeluarkan dan tidak ada yang mengakui bahwa dirinya paling cepat.
Cepat itu tidak ada batasnya.
Bila kau cepat masih ada orang yang lebih cepat darimu.
Bila sekarang kau yang paling cepat mungkin nanti akan ada orang yang lebih cepat lagi darimu.
Xiao He tidak pernah mengetahui kecepatan gerakannya.Sekarang dia sudah tahu.
Karena Sun Jian tidak mengelak sebaliknya dia malah maju menghadang dan tepat menangkap tangan Xiao He.
Segera Xiao He mendengar suara lengannya patah tapi dia tidak berteriak karena sebelah tangan Sun Jian yang lain sudah memukul mukanya.
Giginya sudah pada copot dan darah segar mengalir dari hidung Xiao He.
Orang yang berada di sisi jalan tampak terkejut hingga mematung.
Tidak ada orang yang pernah melihat orang yang begitu kuat, galak, dan begitu cepat, langsung memukul lawannya tanpa sempat mengeluarkan jurus terlebih dahulu.
Semua orang melihat kejadian itu sangat terkejut tapi hanya ada seseorang yang tertawa sembunyi-sembunyi.
Orang itu adalah Gao Lao-da.
Semua kejadian sudah berada dalam perhitungannya.
Dia sangat percaya kepada dirinya sendiri.
Namun melihat keadaan Xiao He, dia juga merasa sedikit kasihan.
Tapi laki-laki semacam Xiao He tidak pantas dikasihani lebih-lebih tidak pantas dicintai.
Dia berniat untuk secepatnya melupakan dia, semakin cepat semakin baik.
Dulu Gao Lao-da tidak begitu kejam namun sekarang dia tahu bila seseorang ingin hidup lebih baik dia harus memiliki hati yang keras, lebih keras lebih baik.
Untuk kekayaan dan kemauan laksana cuka dan air.
Bila air ditambah cuka pasti akan berubah asam.
Bila telah memiliki kekayaan maka kemauan orang ini akan cepat berubah.
Sun Jian membanting Xiao He ke tanah, seperti seorang kuli membanting karung yang dipanggulnya.
Karung dalam posisi berdiri namun karena Xiao He tulang punggungnya sudah patah dia lemas seperti sebuah karung kosong.
Ooo)dw(ooO Lao-bo dengan diam memandang anaknya, wajahnya sama sekali tidak ada ekspresi.
Lu Xiang-chuan sangat mengkhawatirkan Sun Jian.
Biasanya bila wajah Lao-bo tidak ada ekspresi itu menunjukkan bahwa Lao-bo sedang marah.
Namun wajah Sun Jian masih tampak senang dan berkata.
"Aku sudah menangkap dan membawa pulang orang ini."
"Di mana kau menemukan dia?"
Tanya Lao-bo.
"Dijalan."
"Di jalan banyak orang, mengapa tidak semua orang kau tangkap dan bawa pulang?"
Sun Jian terpaku kemudian berkata.
"Aku tahu bahwa orang ini akan membunuhmu dan dia juga melarikan diri dari tempat ini."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Ada yang memberitahu."
"Siapa?"
Sun Jian memperlihatkan batu yang dibungkus oleh kertas. Lao-bo melihatnya tapi wajahnya tetap tidak memperlihatkan ekspresi apa pun, kemudian dengan perlahan dia berkata.
"Hanya ada satu yang ingin kutanyakan, siapa yang pernah melarikan diri dari sini?"
"Tidak ada seorang pun,"
Jawab Sun Jian. Lao-bo bertanya lagi.
"Bila ada orang yang bisa melarikan diri dari sini, artinya dia adalah orang macam apa?"
"Artinya dia adalah seorang yang sangat lihai."
"Bila dia orang yang sangat lihai, apakah pernah terpikir olehmu dengan satu kali pukul saja kau sudah dapat merobohkannya, bukankah itu sangat aneh?"
Sun Jian terpaku.
Sekarang Sun Jian baru menyadari bahwa Xiao He bukanlah orang yang sangat lihai dan dia pun sudah mengerti bahwa dia sudah diperalat oleh orang lain.
Sun Jian berharap Lao-bo marah kepadanya atau setidaknya memukul dia seperti waktu dia kecil dulu.
Perasaannya mungkin akan terasa lebih baik.
Tapi Lao-bo tidak peduli.
Dia tidak peduli kepada Sun Jian, ini merupakan bentuk hukuman dari Lao-bo.
Tapi bagi Sun Jian hukuman seperti ini malah lebih menyakitkan.
Lao-bo berkata kepada Lu Xiang-chuan.
"Walaupun Sun Jian sudah melakukan tindakan bodoh tapi bukan berarti semua itu tidak ada gunanya."
Lu Xiang-chuan mengatupkan mulutnya, dalam keadaan seperti itu dia tahu lebih baik jangan ikut campur dalam urusan ayah dan anak.
Apalagi Lu Xiang-chuan sudah mengerti maksud Laobo.
Sebenarnya Lao-bo sengaja ingin membuat Sun Jian marah.
Bila Sun Jian marah dia akan kehilangan kendali dirinya.
Tenaga yang dikeluarkan pada saat dia marah membuat orang takut bahkan Lao-bo pun takut kepadanya.
Di dunia jarang ada yang bisa bertahan terhadap kekuatannya.
Itulah yang dilakukan oleh Lao-bo di pagi hari.
Pagi-pagi Wan Peng-wang sudah mengantarkan empat buah peti.
Empat peti itu diisi oleh empat mayat dan seorang yang masih hidup.
Tiap mayat wajahnya sudah tidak dapat dikenali lagi tapi Lu Xiang-chuan dapat mengenal mereka.
Mereka adalah Wen Hu, Wen Bao, Wu Lao-dao, dan Dai-dai yang telanjang bulat dan badannya penuh luka.
Xiao Wu sendiri disatukan di dalam peti dengan Dai-dai.
Walaupun Xiao Wu masih hidup tapi tulang-tulang di seluruh tubuhnya sudah remuk.
Xiao Wu sangat menyesal mengapa hanya dia sendiri yang masih hidup dan dia melihat istrinya diperkosa dan dibunuh di depan matanya.
Begitu peti dibuka Lao-bo melihat sepasang mata Xiao Wu.
Bola matanya hampir keluar seperti seekor ikan yang sudah mati dan mata ini terus memandang Lao-bo.
Tidak ada orang yang dapat menggambarkan kesedihan dan kemarahan yang terpancar dari mata Xiao Wu.
Seumur hidup Lao-bo sudah terbiasa melihat mayat tapi sekarang dia merasa ada hawa dingin yang muncul dari tangan dan kakinya.
Keringat dingin mulai mengalir.
Apalagi Lu Xiang-chuan, dia merasa ingin muntah.
Lu Xiang-chuan kagum kepada Lao-bo, dalam situasi seperti ini Lao-bo masih bisa menatap langsung ke mata Xiao Wu dan berkata.
"Aku akan membalaskan dendammu."
Mendengar kata-kata Lao-bo mata Xiao Wu baru menutup karena Xiao Wu percaya Lao-bo akan melakukan semua yang dijanjikan kepadanya.
Saat mengingat wajah kelima orang yang sudah mati itu Lu Xiang-chuan masih merasa mual.
"Paling sedikit kita dapat membuktikan orang she Ho itu bukan orang suruhan Wan Peng-wang."
Lu Xiang-chuan mengangguk.
"Sekarang Wan Peng-wang sudah berani menunjuk hidungku dan mengajak perang. Bila orang itu adalah suruhannya dia tidak akan membunuh orang itu untuk menutup mulut."
Lu Xiang-chuan sangat terkejut, bila orang itu bukan suruhan Wan Peng-wang lantas siapa yang menyuruh pemuda itu?
Hal itu tidak terpikirkan Lu Xiang-chuan.
Apakah Lao-bo masih memiliki musuh yang lain?
Lao-bo menarik nafas dan berkata.
"Sebenarnya kita masih dapat menyelidiki siapa orang itu tapi sayang...."
Dengan dingin Lao-bo memandang Sun Jian dan berkata.
"Sayang ada orang yang mengira dirinya paling pintar akhirnya semua malah berantakan."
Nadi di dahi Sun Jian mulai bermunculan. Lu Xiang-chuan dengan perlahan berkata.
"Kita masih bisa menyelidikinya perlahan-lahan."
"Hal itu bisa kita bicarakan nanti, sekarang kita harus siap-siap untuk melakukan penyerangan kepada Wan Pengwang."
"Biar aku yang ke sana!"
Teriak Sun Jian. Lao-bo hanya tertawa dingin.
"Kau yang ke sana? Untuk apa? Dia sedang menunggumu mengantarkan nyawa."
Sun Jian menunduk. Orang yang di luar pintu pun dapat mendengar suara tulangnya yang berderak.
"Wan Peng-wang menunggu kedatangan kita namun kita tidak perlu ke sana. Dia bisa menunggu dan kita harus lebih sabar menunggu."
"Benar,"
Jawab Lu Xiang-chuan.
"Kira-kira mereka akan melakukan gerakan apa lagi?"
Lu Xiang-chuan tampak berpikir. Lu Xiang-chuan tahu kapan dia harus pintar kapan dia harus bodoh.
"Besok adalah hari pemakaman saudara-saudara Tie Cheng-gang, Wan Peng-wang menganggap bahwa kita akan mengirim orang ke sana untuk mengucapkan bela sungkawa dan dia akan melakukan penyerangan. Kita harus membuat dia salah tafsir."
Belum habis kata-kata Lao-bo, Sun Jian sudah keluar dari ruangan.
Lao-bo tidak menggubrisnya sedangkan Lu Xiang-chuan masih berpikir cara-cara menghadapi Wan Peng-wang.
Setelah lama Lao-bo baru berkata.
"Apakah kau sudah siap menghadapi pemakaman besok?"
Kata Lu Xiang-chuan.
"Orang yang menggotong peti, yang menggali lubang dan tosu-tosu yang diundang untuk membacakan doa. Semua sudah digantikan oleh orangorang kita, yang kita takutkan adalah Wan Peng-wang malah tidak melakukan tindakan apa pun."
"Sun Jian pasti mempunyai cara membuat Wan Pengwang bertindak,"
Kata Lao-bo.
"Begitu melihat Sun Jian di sana, mereka pasti akan langsung bertindak."
"Sepertinya kali ini Wan Peng-wang tidak akan keluar sendiri karena itu aku juga tidak akan muncul di depan umum,"
Kata Lao-bo.
"Tapi aku ingin ke sana melihat-lihat,"
Kata Lu Xiangchuan. Jawab Lao-bo tegas.
"Kau tidak dapat pergi, begitu mereka melihatmu mereka bisa langsung menebak bahwa kita sudah mempersiapkan semuanya, apalagi...."
Pandangan Lao-bo dengan perlahan pindah ke Xiao He yang masih pingsan dan berkata.
"Kau masih ada tugas lain."
"Ya."
"Aku yang akan menghadapi Wan Peng-wang dan kau yang menelusuri siapa bos orang ini. Walau pakai cara apa pun aku berharap hal ini tidak diketahui oleh orang ketiga."
Lu Xiang-chuan menatap Xiao He dengan lama kemudian berkata.
"Asalkan dia tidak meninggal aku masih memiliki cara lain."
LuXiang-chuan berkata lagi.
"Aku tidak akan membiarkan dia mati begitu saja."
Tie Cheng-gang mengenakan baju putih-putih.
Baju ini biasanya dipakai oleh orang yang menghadiri upacara pemakaman.
Luka-luka Tie Cheng-gang belum sembuh tapi semangatnya sudah kembali.
Yang membuat heran adalah dia tidak terlihat berduka atau bersedih.
Di hadapan Tie Cheng-gang ada peti mayat saudarasaudaranya, dengan diam memandang mayat saudarasaudaranya.
Tie Cheng-gang tidak meneteskan air mata, dia terlihat begitu tabah.
Orang yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa tidak banyak tapi Tie Cheng-gang tidak peduli dengan mereka.
Pandangan Tie Cheng-gang tidak pernah bergeser dari peti mati itu.
Hari sudah siang, angin musim gugur tidak begitu dingin tapi membuat orang menjadi sedih.
Tiba-tiba Tie Cheng-gang membalikkan tubuhnya menghadapi orang-orang yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa dan berkata.
"Saudara-saudaraku semua dibunuh dan difitnah sedangkan aku sendiri melarikan diri seperti seekor anjing."
Tidak ada ucapan terima kasih kepada orang-orang itu atau pun kata-kata yang sedih.
Begitu mulai percakapan sudah berkata seperti itu.
Apa maksud semua itu?
Tidak ada seorang pun yang tahu karena itu orang-orang di sana hanya bisa terdiam.
Tie Cheng-gang terus berkata.
"Aku melarikan diri bukan karena takut mati melainkan aku menunggu hingga hari ini. Untuk membersihkan nama baik mereka, sekarang nama baik mereka sudah pulih aku pun tidak mempunyai alasan untuk bertalian hidup...."
Sebelum habis kata-katanya dia sudah mengeluarkan sebilah pisau.
Pisau itu sangat tajam, dia langsung menggorok lehernya sendiri.
Perubahan ini terlalu cepat, begitu cepatnya hingga tak dapat dicegah oleh orang-orang di sana.
Darah segar sudah menetes ke mana-mana namun tubuhnya masih tegak berdiri.
Setelah lama baru roboh di atas peti mati saudara-saudaranya.
Saat dia roboh orang-orang baru sadar dan berteriakteriak.
Ada yang mundur dan ada yang maju ke depan.
Hanya Sun Jian yang tidak bergerak dan tidak berdiri di antara orang-orang itu.
Sun Jian melihat ada 4 orang yang akan menabraknya tapi dia sama sekali tidak berkelit.
Tiba-tiba 4 orang ini berbarengan mengeluarkan pisau.
Empat pisau dari empat arah berbarengan menusuk Sun Jian.
Sekejap mereka sudah dekat dengan Sun Jian, ujung pisau hampir mengenai baju Sun Jian.
Tiba-tiba Sun Jian mengayunkan kepalan tangannya.
Kepalan tangan memukul wajah salah satu dari mereka dan tangan yang satu menyikut wajah yang lain.
Begitu dia mengayunkan kepalan tangan dan 4 orang itu sudah roboh.
Masih ada 20 orang lebih yang berkain putih terikat di tangan sebelah kanan.
Tiba-tiba dari kerumunan orang itu ada yang berteriak.
"Perhatikan orang-orang yang masih ada tali putih di tangan sebelah kanan."
Orang yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa kebanyakan mengikat tali kain putih di tangannya.
Tapi kebiasaan mengikat adalah di tangan kiri dan 4 orang itu mengikat di sebelah kanan.
Tiba-tiba kerumunan orang bubar hanya tersisa 20 orang yang berdiri di tengah-tengah.
Sun Jian berdiri di antara ke 20 orang itu.
Suara teriakan sudah berhenti, orang yang menggotong peti mati, yang menggali lubang dan biksu-tosu sudah berbarengan menghadapi kedua puluh orang ini.
Tangan mereka masing-masing memegang sebilah pisau.
Terdengar suara teriakan yang berbarengan dari ke 20 orang.
Suara itu begitu menakutkan.
Tersisa 3 orang yang belum tumbang.
Ketiga orang itu paling dekat dengan Sun Jian.
Orang tidak membunuh mereka karena mereka menyisakan untuk dibunuh oleh Sun Jian.
Sun Jian memelototi mereka.
Ketiga orang itu tampak gemetaran dan baju mereka sudah basah oleh keringat dingin.
Dan basahnya seperti disiram air.
Di antara mereka ada satu orang yang membungkukkan badan dan segera tercium ada bau yang menyengat.
Ternyata celananya sudah basah kemudian dia dengan berlutut dan menangis berkata.
"Aku bukan teman-teman mereka...."
Kata-katanya belum selesai, orang yang berada di sisinya sudah mengayunkan pisau memenggal kepalanya.
Kepalanya jatuh terguling ke tempat jauh tapi matanya masih meneteskan air mata.
Yang seorang lagi terkejut hingga tercengang.
Orang yang mengayunkan pisau berteriak.
"Mati ya mati, tidak perlu disesali."
Dia sudah mengangkat pisau dan ingin menggorok lehernya sendiri.
Tiba-tiba Sun Jian mengeluarkan tangannya dan memegang pergelangan tangan orang itu.
Tulang pergelangan tangannya hancur dan pisau pun terjatuh, karena kesakitan air mata pun mengalir.
Dengan suara serak dia berkata.
"Mengapa aku tidak boleh mati?"
"Tidak boleh,"
Jawab Sun Jian. Wajah orang itu karena kesakitan sudah berubah dengan tenaga yang tersisa dia bertanya.
"Kau mau apa?"
Mulut Sun Jian tidak menjawab, yang menjawab adalah tangannya.
Tangan Sun Jian tidak berhenti, dalam waktu singkat tulang-tulang orang ini sudah pada remuk.
Kemudian Sun Jian membalikkan badan melihat wajah orang yang kaget itu dan berkata.
"Suruh orang ini pulang, beri tahu Wan Peng-wang, bagaimana cara Wan Pengwang memperlakukan kami maka kami akan membalas 10 kali lipat dengan cara yang sama."
Pertarungan ini dimenangkan oleh Sun Jian tapi kemarahannya belum reda.
Sun Jian merasa sedikit heran pertarungan ini sangat penting tapi Wan Peng-wang tidak mengerahkan orang andalannya.
Darah sudah meresap masuk ke dalam tanah, mayat pun berubah semakin kaku.
Orang yang disuruh Lao-bo sedang membersihkan tempat pertarungan tadi, dengan perlahan Sun Jian mendekati mayat Tie Cheng-gang.
Walaupun mayat Tie Cheng-gang tergeletak di peti mati tapi dalam perasaan Sun Jian, Tie Cheng-gang masih dalam keadaan berdiri dan tegak.
Tie Cheng-gang adalah temannya, benar-benar temannya.
Walaupun Tie Cheng-gang sudah meninggal tapi kematiannya akan selalu dikenang oleh orang dunia persilatan.
Tiba-tiba Sun Jian merasa air matanya sudah penuh dengan perlahan dia berlutut.
Seumur hidupnya belum pernah dia berlutut, walaupun orang itu masih hidup atau sudah meninggal tidak akan membuat dia berlutut.
Namun sekarang dia dengan rela berlutut karena hanya dengan berlututlah hal itu menggambarkan penghormatannya kepada Tie Cheng-gang.
Angin berhembus.
Awan hitam menutup sinar bulan.
Di bumi tampak sepi dan gelap.
Sun Jian menutup matanya kemudian berdoa.
Baru saja dia memejamkan matanya tiba-tiba dia mencium wangi yang sangat aneh.
Wangi ini.
keluar dari peti mati di mana Tie Cheng-gang roboh tadi.
Sun Jian marah dan dia mengayunkan tangannya kemudian menghancurkan peti mati itu.
Dari peti itu keluar teriakan kaget.
Sebilah pedang mengikuti suara teriakan kaget menusuk dari peti yang sudah hancur.
Walaupun Sun Jian mengelak tapi tubuhnya terasa lemas tidak bertenaga, tubuhnya tidak dapat dikendalikan lagi olehnya.
Sebilah pedang secepat kilat berkelebat, pedang itu sudah berhasil menusuk dadanya dan menembus hingga ke punggungnya.
Darah segar mengalir hingga ke ujung pedang.
Darah Sun Jian pun seperti darah yang lain berwarna merah segar.
Matanya karena marah hingga menonjol keluar dan terus memelototi orang yang memegang pedang itu.
Darah pun mengalir juga dari sudut matanya yang sobek kemudian mengalir ke wajahnya.
Orang yang memegang pedang itu begitu menyerang tepat dan cepat pada sasaran, dalam waktu, yang singkat berusaha meloloskan diri.
Dari sudut matanya dia masih sempat melihat Sun Jian, tapi segera dia merasa tangannya terasa lemas dan terjatuh.
Setelah rasa lemasnya mulai hilang dia sudah melihat ada cahaya pisau yang berseliweran.
Pisau itu sudah memotongnya menjadi seperti daging cincang.
Tidak ada yang mengeluarkan suara dan tidak ada seorang pun yang bergerak.
Sepertinya nafas pun ikut berhenti.
Semua orang terus memandang mayat Sun Jian, mereka merasa tangan dan jari menjadi dingin begitu pula dengan jari kaki.
Keringat dingin menetes dari punggung.
Sun Jian benar-benar sudah meninggal, orang yang begitu kuat seperti Sun Jian dapat mati juga.
Tidak ada yang percaya namun semua ini memang harus dipercaya karena mereka melihat dengan mata kepala sendiri.
Tidak ada orang yang berani membawa mayat Sun Jian ke hadapan Lao-bo.
Siapa orang yang di dalam peti mati?
Mengapa bisa bersembunyi di dalam peti mati itu?
Ini tidak mungkin.
Karena di dalam kereta jenazah semua sudah diganti oleh orang-orang Lao-bo.
Di antara mereka beberapa orang mengalihkan pandangan dari mayat Sun Jian kepada orang yang ada di depan.
Dua orang itu adalah penggotong peti mati.
Semua orang sekarang memelototi mereka berdua dan setiap pasang mata menyorotkan kebencian dan kemarahan.
Kedua orang itu tampak gemetaran hingga tulangnya seperti lepas.
Tiba-tiba mereka berdua berteriak.
"Ini bukan ide kami. Ini semua ide...."
Saat itu juga ada sebuah suara yang terdengar berwibawa berteriak.
"Bunuh!"
Ooo)dw(ooO Lao-bo seperti patung.
Di depannya ada sebuah peti.
Yang terbaring di dalam peti adalah mayat anaknya.
Pedang masih berada di dada Sun Jian.
Lao-bo sangat mengerti anaknya.
Lao-bo tidak percaya di dunia ini ada orang yang dapat menusuk dada Sun Jian dengan pedang.
Siapa yang menusuk Sun Jian?
Siapa yang memiliki kepintaran yang begitu tinggi?
Di gunung itu sebenarnya apa sudah terjadi?
Tidak ada yang tahu karena semua orang yang pergi ke gunung itu tidak ada yang hidup.
Dengan diam Lao-bo berdiri, wajahnya tidak ada ekspresi apa pun.
Tiba-tiba air matanya mengalir.
Lu Xiang-chuan pun menunduk.
Dulu dia tidak berani melihat Lao-bo sekarang dia pun masih tidak berani memandang Lao-bo.
Orang seperti Laobo pun bisa menangis artinya hal ini sangat menyedihkan dan menakutkan.
Hati Lao-bo sudah hancur berkeping-keping sudah lama dia belum pernah melakukan kesalahan.
Tapi kesalahan sudah terjadi satu kali.
Kesalahan ini sudah membuat anak laki-laki satusatunya mati.
Sampai sekarang pun dia belum tahu di mana letak kesalahannya.
Mungkin kesalahan yang sama akan terulang lagi.
Memikirkan hal itu tubuh Lao-bo menjadi kaku dan beku.
Perkumpulan Lao-bo sebenarnya sangat sempurna.
Sempurna seperti sebuah telur tapi sekarang kumpulan ini ada celahnya.
Walaupun celah ini seperti lubang jarum namun akan membuat telur putih atau kuning menetes hingga habis.
Bila isi telur sudah habis maka telur ini akan kosong.
Walaupun tidak pecah telur ini sudah tidak berharga lagi.
Lao-bo rela mengorbankan segalanya untuk mencari celah ini, namun dia tidak menemukannya.
Malam sudah tiba tapi tidak ada orang yang menyalakan lampu.
Semua orang sepertinya sudah bercampur dalam kegelapan.
Kemungkinan tiap orang yang ada di sana yang membuat celah itu.
Hanya seorang yang dapat dipercaya.
Lao-bo membalikkan badan mengeluarkan perintah singkat.
"Pergi, carilah Han Tang!"
Ooo)dw(ooO BAB Han Tang tidak mirip dengan orang yang senang memelihara ikan, namun pada kenyataannya dia memang memelihara ikan.
Ikan yang dipeliharanya cukup banyak.
Ada yang dipelihara di akuarium, kadang-kadang dia memeliharanya di sebuah mangkuk arak.
Dia menghabiskan waktunya diam di sisi kolam atau duduk di sisi akuarium memandangi ikan-ikan yang berenang hilir mudik.
Saat itulah dia melupakan kesulitan dan dia merasa dirinya seperti, seekor ikan yang berenang dengan tenang.
Dia pun pernah memiliki keinginan untuk memelihara burung.
Burung dapat terbang dengan bebas dari pada ikan yang hanya berenang, tapi sayang dia tidak dapat memelihara burung di alam bebas.
Namun bila burung dikurung di dalam sangkar maka akan hilang kebebasannya, dan dia bukan lagi sebagai seekor burung yang bebas.
Dia lebih menyukai memelihara ikan.
Orang yang senang memelihara ikan adalah orang yang kesepian.
Han Tang pun seperti itu.
Dia tidak memiliki keluarga, tidak mempunyai teman maupun pelayan.
Karena dia adalah orang yang tidak mau didekati orang dan juga tidak mau mendekati orang lain.
Dia menganggap di dunia tidak ada orang yang dapat dipercaya, kecuali Lao-bo.
Tidak ada orang yang setia kepada Lao-bo melebihi dirinya, bila dia mempunyai ayah, demi Lao-bo dia rela membunuh ayah kandungnya sendiri.
Han Tang pun senang memancing.
Cara memancingnya sama seperti orang lain hanya tujuannya tidak sama.
Dia senang melihat ikan yang menggelepar di pancingannya.
Tiap ikan cara menggeleparnya tidak sama seperti orang bila menghadapi kematian, ekspresi tiap orang tidak sama.
Dia senang melihat ikan menggelepar di dalam pancingannya, dia pun senang melihat orang menggelepar menjelang kematiannya.
Namun sampai hari ini dia belum pernah melihat orang yang tidak takut menghadapi kematian.
Mungkin hanya Lao-bo yang mampu.
Dalam hati Han Tang, Lao-bo bagai seorang dewa.
Walau Lao-bo melakukan apa pun dia tetap menganggap semuanya benar.
Walau Lao-bo memperlakukan dia seperti apa pun dia tidak akan marah.
Kadang dia pun tidak tahu mengapa Lao-bo melakukannya tapi dia yakin Lao-bo pasti memiliki alasan yang khusus.
Dia sering membunuh orang namun Lao-bo tidak senang membunuh orang.
Bila kesepian dia akan datang ke kolam ikan.
Oleh karena itu dia sering melampiaskan keinginan membunuhnya kepada ikan.
Kadang kala dia menaruh ikan ke dalam sebuah sangkar dan menjemurnya di bawah sinar matahari.
Dan ikan itu akan mati perlahan-lahan.
Dia sangat menikmati pada saat ikan itu mulai mati perlahan-lahan, demikian juga perasaannya kepada orang.
Seringkali dia berpikir bila kematian menjemputnya, apakah saat itu akan seru?
Orang senang memelihara ikan di pekarangan atau di belakang rumah.
Selain memelihara ikan mereka memiliki pekerjaan yang lain.
Orang lebih mementingkan pekerjaan dari pada memelihara ikan.
Tapi untuk orang yang betulbetul senang memelihara ikan, mereka menganggap memelihara ikan adalah hal yang sangat penting, Orang yang senang memelihara ikan biasanya memiliki sifat yang aneh.
Mencari orang yang aneh tidaklah sulit bagi seorang Meng Xing-hun.
Akhirnya Meng Xing-hun menemukan tempat Han Tang.
Matahari senja menyinari kolam ikan dan tampak berkilauan.
Meng Xing-hun pun berada di bawah matahari senja.
Dia melihat ada orang yang sedang duduk di sisi kolam, pancingan ditarik dan sudah ada seekor ikan yang terpancing.
Orang itu sedang menikmati ikan yang sedang menggelepar-di pancingannya.
Meng Xing-hun tahu orang itu tidak salah lagi adalah.
Han Tang.
Dia sudah sering berpikir bagaimana cara menghadapi Han Tang.
Tapi sampai hari ini tidak ada satu cara yang bisa dipakai.
Akhirnya Meng Xing-hun memilih cara yang paling mudah dan langsung.
Dia bersiap menghadapi Han Tang langsung kemudian membunuhnya.
Bila tidak ada kesempatan terbunuh pun tidak menjadi masalah.
Membunuh orang seperti Han Tang harus berani mempertaruhkan nyawa, bila tidak dengan cara apa pun tidak akan ada gunanya.
Sekarang Meng Xing-hun sudah bertemu dengan Han Tang dan langsung menghampirinya.
Dia membunuh Han Tang semua ini demi Gao Lao-da dan juga dirinya sendiri.
Orang yang selalu mencari sesuatu, dalam hatinya selalu merasa sedih, walaupun dia selalu mencari sesuatu namun dia sendiri tidak tahu apa yang dicarinya.
Terus menerus mencari malah membuatnya merasa kelelahan.
Meng Xinghun sudah lelah.
Dia berharap setelah membunuh Han Tang dia akan kembali seperti dulu.
Tiap orang pasti berharap mendapat lawan yang kuat dan dapat menandinginya, untuk hal ini mereka rela mengorbankan apa pun.
Saat Meng Xing-hun mendekati Han Tang hatinya sangat tegang sekaligus gembira seperti seorang prajurit yang berada di medan tempur untuk pertama kalinya.
Langkah Meng Xing-hun begitu ringan seperti seekor kucing yang mengendap-endap hendak menangkap seekor tikus.
Dia tidak sengaja meringankan langkahnya semua ini karena dia sudah terbiasa berjalan seperti itu.
Melatih langkah yang begitu ringan bukan hal yang mudah.
Han Tang tidak membalikkan tubuhnya juga tidak mengangkat kepalanya, dia pun tidak mengalihkan pandangannya dari kolam.
Ikan yang berada dalam pancingan Han Tang sudah berhenti menggelepar karena ikan itu sudah mati.
Tiba-tiba Han Tang bertanya.
"Apakah kau kemari untuk membunuhku?"
Meng Xing-hun menghentikan langkahnya.
Han Tang tidak melihatnya dan Meng Xing-hun belum sempat bicara padanya.
Apakah orang ini bisa mencium hawa membunuh dari Meng Xing-hun?
"Kau sudah membunuh berapa orang?"
Tanya Han Tang.
"Sangat banyak,"
Jawab Meng Xing-hun.
"Pasti sudah sangat banyak, bila tidak langkah kakimu tidak akan begitu ringan."
Han Tang tidak senang bicara bertele-tele.
Namun di balik semua itu dia mempunyai maksud lain.
Hanya orang yang memiliki hati tenang mala langkah kakinya bara begitu ringan.
Orang yang berniat membunuh hatinya tidak akan tenang.
Apalagi niat Meng Xing-hun ke sini adalah untuk membunuh Han Tang hatinya lebih tidak tenang lagi.
Walaupun Han Tang tidak mengutarakannya tapi Meng Xing-hun sudah tahu maksudnya.
Dia mengakui bahwa Han Tang adalah orang yang sangat menakutkan.
"Apakah kau sudah tahu siapa aku?"
Tanya Han Tang.
"Aku tahu!"
Tiba-tiba Han Tang mengatakan sesuatu yang aneh.
"Baiklah kalau begitu mari kita memancing."
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 9
Baca Juga: Bulu Merak 2