Eps 2 Bulu Merak - Gu Long
Baca online Bulu Merak - Gu Long
Cersil Bulu Merak - Gu Long.
"Telur yang segar cocok untuk dimakan mentah-mentah, bisa juga diseduh dengan air panas lalu dimakan..."
Kata-kata nenek itu belum selesai, tiba-tiba terdengar suara desingan anak panah.
Panah itu menembus punggung nenek itu, wajah nenek itu tampak kesakitan tapi dia masih berusaha melempar telur itu, tapi dia sudah tidak tahan lagi kemudian pun roboh.
Kemudian terlihat bayangan seseorang berbaju hitam muncul dari belakang jalan kecil, dalam sekejap dia sudah tiba di pekarangan, dia tidak bicara apa-apa, hanya mengambil telur yang dibawa oleh nenek itu dan dilemparkannya ke arah sungai.
Terdengar suara ledakan, air sungai bercipratan ke mana-mana.
Kata orang berbaju hitam itu.
"Sangat berbahaya."
Wajah Qiu Feng Wu berubah, seperti sudah tidak bisa berkata-kata lagi karena ketakutan. Orang berbaju hitam itu berkata.
"Apakah Tuan sudah tahu siapa nenek tua itu?"
Qiu Feng Wu menggelengkan kepalanya. Dengan suara kecil orang itu berkata.
"Dia adalah pembunuh yang diperintah oleh perkumpulan 15 bulan 7."
Qiu Feng Wu terkejut dan berkata.
"Perkumpulan 15 bulan 7? Tuan ini adalah..."
Jawab orang berbaju hitam itu.
"Aku..."
Dia hanya bisa mengatakan satu kata, wajahnya sudah herubah dan mulutnya mengeluarkan darah.
Begitu keluar darahnya segera berubah warna menjadi hitam.
Jin Kai Jia dengan cepat berlari menghampiri mereka.
Orang berbaju hitam itu sudah roboh, kedua tangannya memegang perut, dia berusaha berdiri dan berkata.
"Cepat, cepat, di dalam pakaianku ada obat penawar..."
Jin Kai Jia ingin mengambilnya, tapi segera dihalangi dan tangannya ditarik oleh Qiu Feng Wu. Rasa sakit orang berbaju hitam itu bertambah lagi, dengan menangis dia berkata.
"Aku mohon cepat... cepatlah, tolong ambilkan obat penawarnya, bila terlambat, nyawaku tidak akan tertolong lagi."
Dengan dingin Qiu Feng Wu memandangnya dan berkata.
"Penawarnya ada di dalam bajumu sendiri, mengapa kau tidak mengambilnya sendiri?"
Jin Kai Jia dengan marah berkata.
"Apakah kau tidak melihat dia sudah tidak bisa bergerak lagi? Mengapa tidak kita tolong saja dia?"
Jawab Qiu Feng Wu dengan dingin.
"Dia tidak akan mati."
Wajah baju hitam itu kelihatan kesakitan, tapi tiba-tiba dia meloncat, segera dia melepaskan 7 buah senjata rahasia.
Nenek tua itu juga tiba-tiba bangun dan meloncat dari posisinya yang terbaring kemudian melepaskan dua butir telur.
Qiu Feng Wu tidak menghindar malah terus maju ke depan, dia sudah mengambil 2 butir telur dan memasukkan ke dalam lengan bajunya.
Nenek tua itu bersalto di tengah udara, begitu turun dia baru tahu bahwa Qiu Feng Wu sudah berada di depannya.
Segera dua kepalan tangan sudah didorongkan, 2 buah dada pun ikut bergoyang.
Tapi tangan Qiu Feng Wu sudah melalui 2 kepalan tangan itu.
Tangan nenek tua itu belum sampai, telapak Qiu Feng Wu sudah menepuk ke bagian dadanya.
Hanya ditepuk dengan ringan.
Badan si nenek tua ini seperti sudah menempel ke telapak tangannya, dua tangannya menjadi lemas, dia pun tidak bisa bergerak lagi.
Tiba-tiba dia mendengar ada suara tulang yang patah.
Jin Kai Jia dengan satu tangan menjepit si baju hitam kemudian dilepaskan.
Si baju hitam sudah seperti tanah lembek, dan langsung ambruk ke bawah.
Tulang rusuknya yang patah menembus baju hingga keluar.
Darah menetes dan merembes kedalam tanah.
Jin Kai Jia melihatnya, matanya penuh dengan kekesalan, sepertinya dalam seumur hidup belum pernah dia melihat darah yang begitu banyak.
Nenek tua itu masih gemetaran.
Dia ketakutan, apakah karena dia kaget dengan jurus Qiu Feng Wu atau karena mendengar suara tulang yang patah?
Qiu Feng Wu menarik rambut putihnya dan juga kulit wajahnya, dari balik wajah itu segera muncul wajah lain.
Wajah yang ketakutan dan pucat, tapi masih terlihat sangat muda.
Dengan dingin Qiu Feng Wu bertanya.
"Apakah kau pendatang baru?"
Orang ini mengangguk. Tanya Qiu Feng Wu lagi.
"Apakah kau tidak tahu siapa aku ini?"
Jawab orang itu.
"Aku pernah mendengarnya."
Kata Qiu Feng Wu.
"Kau harus tahu, aku mempunyai banyak cara untuk membuatmu merasa menyesal mengapa harus dilahirkan ke dunia ini."
Orang ini mengangguk wajahnya sudah bertambah pucat. Kata Qiu Feng Wu.
"Lebih baik kau berkata jujur saja."
Kata orang ini.
"Baiklah."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Kalian datang ke sini berapa orang?"
Jawab orang ini.
"Enam orang."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Mereka itu siapa saja?"
Jawab orang itu.
"Aku benar-benar tidak tahu."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Mereka berada di mana?"
Jawab orang itu.
"Di gunung sana menunggu kedatangan kami..."
Kata-katanya belum habis, sudah terdengar suara tulang patah.
Qiu Feng Wu sudah membalikkan badan dan tidak melihat dia lagi.
Dia membunuh manusia tidak pernah banyak melihat.
Jin Kai Jia terus melihat darah yang mengalir di tanah dan berkata.
"Sudah 6 tahun aku tidak membunuh manusia."
Kata Qiu Feng Wu.
"Enam tahun bukan waktu yang pendek."
Kata Jin Kai Jia.
"Usia tiga belas tahun aku mulai membunuh manusia, hingga sekarang aku baru tahu bahwa membunuh manusia itu sangat menjijikan."
Kata Qiu Feng Wu.
"Hanya sedikit lebih baik dibandingkan dibunuh."
Tanya Jin Kai Jia.
"Mengapa kau tahu mereka akan datang untuk membunuhmu?"
Dengan tertawa kecut Qiu Feng Wu menjawab.
"Karena dulu pun aku melakukan perbuatan seperti yang mereka lakukan."
Jin Kai Jia ingin bertanya lagi, tapi tiba tiba terdengar suara Shuang Shuang bertanya.
"Dulu kau pernah melakukan apa?"
Shuang Shuang duduk di pundak Gao Li, mereka berdiri di bawah sinar matahari.
Wajah Gao Li pucat dan tegang, tapi wajah Shuang Shuang tampak berseri-seri, tawanya lebih cerah daripada matahari.
Qiu Feng Wu tidak menyangka dia bisa berubah menjadi begitu cantik.
Di dunia ini kepercayaan diri dan kegembiraan akan membuat seorang perempuan berubah menjadi cantik.
Qiu Feng Wu tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaannya.
Shuang Shuang bertanya lagi.
"Sepertinya aku mendengar kalian mengatakan tentang membunuh orang."
Akhirnya Qiu Feng Wu menjawab.
"Kami sedang bercerita."
Tanya Shuang Shuang.
"Cerita tentang apa? Aku senang mendengar cerita."
Kata Qiu Feng Wu.
"Tapi cerita ini tidak enak untuk didengar."
Tanya Shuang Shuang.
"Mengapa?"
Jawab Qiu Feng Wu.
"Karena dalam cerita ini, ada kisah manusia yang membunuh manusia."
Wajah Shuang Shuang juga seperti terbawa oleh kesedihan Qiu Feng Wu, dia berkata.
"Mengapa ada orang yang senang membunuh orang?"
Jawab Qiu Feng Wu.
"Mungkin bagi mereka jika tidak membunuh orang, maka dia yang akan dibunuh."
Shuang Shuang mengangguk, tiba-tiba dia bertanya.
"Mengapa di sini tercium bau darah?"
Jawab Jin Kai Jia.
"Aku baru saja memotong seekor ayam."
Penduduk di daerah pegunungan semua memelihara ayam.
Hanya orang bodoh dari tempat yang jauh membawa telur ayam ke tempat ini untuk dijual.
Walau terkena racun apa pun darah yang keluar dari mulut tidak akan berubah warna menjadi hitam, lebih-lebih jika terkena racun dan langsung roboh, dengan jelas masih bisa mengisyaratkan sesuatu.
Ini bukan karena rencana perkumpulan 15 bulan 7 kurang sempurna, tapi karena orang yang berencana ini belum pernah pergi ke pegunungan yang jauh dan sepi.
Kedua orang yang datang tadi baru pertama kali melakukan pembunuhan dan yang mereka temui adalah lawan yang sudah berpengalaman.
Apalagi mereka belum pernah mengalami kegagalan.
Di belakang kedua orang tadi masih ada 4 orang lagi.
Keempat orang itu terasa begiru menakutkan.
Nasi harus dimakan.
Qiu Feng Wu malah makan lebih banyak karena setelah makan, dia tidak tahu entah kapan bisa makan untuk berikutnya.
Dia juga berharap Gao Li bisa makan banyak.
Tapi Gao Li terus melihat Shuang Shuang, matanya penuh dengan rasa khawatir.
Sepertinya banyak hal yang ingin dia tanyakan kepada Qiu Feng Wu, tapi karena Shuang Shuang berada di sana maka dia tidak bisa bertanya.
Di meja makan hanya Shuang Shuang saja yang merasa gembira.
Lebih mengetahui sedikit masalah, kekhawatiran pun akan makin sedikit, kadang-kadang tidak tahu apa-apa keadaannya malah lebih berbahaya.
Tiba-tiba Shuang Shuang bertanya.
"Mengapa kalian tidak minum?"
Terpaksa Qiu Feng Wu menjawab.
"Hanya setan arak bisa minum arak di siang hari."
Tanya Shuang Shuang.
"Apakah kalian bukan setan arak sungguhan?"
Jawab Qiu Feng Wu.
"Untungnya bukan."
Dengan suara kecil Shuang Shuang bertanya.
"Bagaimana jika arak pernikahan?"
Hati Qiu Feng Wu tiba-tiba seperti ditusuk oleh jarum.
Arak pernikahan?
Mereka juga sedang menunggu pernikahan Gao Li.
Qiu Feng Wu melihat Gao Li, tangan Gao Li gemetar dan wajahnya menjadi pucat.
Tidak ada pernikahan.
Apa pun tidak akan ada.
Hanya ada darah, mungkin darah orang lain mungkin darah mereka sendiri.
Darah yang mengalir tidak akan ada habis-habisnya.
Jika tangan pernah menyentuh setitik darah, seumur hidup kau akan bergelimang di dalam kubangan darah.
Qiu Feng Wu sedang minum kuah, dia merasa kuah itu pahit dan berbau amis seperti darah.
Wajah Shuang Shuang sudah memerah, merah karena rasa bahagia.
Dia berkata.
"Tadi Gao Li sudah mengatakan sesuatu kepadaku, dia bilang kalian sudah mengetahuinya."
Qiu Feng Wu berkata dengan nada bingung.
"Kami sudah tahu?"
Muka Shuang Shuang memerah dan berkata.
"Aku kira kalian akan memberi selamat kepadaku."
Kata Qiu Feng Wu.
"Selamat, selamat!"
Dia merasa mulutnya penuh dengan air pahit, ingin ditelan tidak bisa, ingin dibuang pun tidak bisa. Dia tahu hati Gao Li terasa lebih pahit dari dia. Kata Shuang Shuang.
"Ada hal yang bisa dilakukan untuk merayakan selamat, mengapa kalian tidak minum?"
Kata Gao Li.
"Siapa bilang kami tidak minum arak, aku akan mengambil arak sekarang."
Kata Shuang Shuang.
"Hari ini aku juga ingin minum, aku tidak pernah merasa begitu gembira."
Kata Gao Li.
"Aku pun demikian."
Meskipun dia berdiri, tapi badannya seperti membeku.
Mayat-mayat di pekarangan belum dikubur, terjemur oleh matahari, semakin mengering dan semakin mengkerut.
Orang yang ingin membunuh mereka sudah berada di sekitar sana, setiap saat bisa muncul.
Kehidupan Shuang Shuang yang tenang akan hancur mungkin nyawanya pun akan hilang.
Tapi seumur hidupnya dia belum pernah merasa begitu gembira.
Gao Li merasa pipinya semakin dingin.
Air mata sudah mengalir, dengan pelan mengalir...
Qiu Feng Wu tidak tega melihat wajah Gao Li juga Shuang Shuang.
Dia takut, jika dia melihat, dia juga akan ikut menangis.
Jin Kai Jia terus memasukkan nasi ke dalam mulutnya, sesuap demi sesuap, tiba-tiba dia menaruh sumpit dan berkata.
"Aku pergi sebentar."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Kau mau ke mana?"
Sebenarnya dia tahu Jin Kai Jia keluar ingin menghalangi pembunuh-pembunuh itu datang ke tempat ini. Kata Jin Kai Jia.
"Aku pergi jalan-jalan."
Kata Qiu Feng Wu.
"Kita pergi bersama-sama."
Kata Shuang Shuang.
"Kalian mau pergi tapi arak saja belum sempat diminum."
Dengan tertawa terpaksa Qiu Feng Wu menjawab.
"Setelah kami pulang nanti, arak baru akan diminum, kami mencari rebung yang segar untuk dimasak dengan ayam."
Gao Li tiba-tiba tertawa dan berkata.
"Kalian tidak perlu mencari, rebung sudah berada di pekarangan."
Suaranya sangat tenang, sangat tenang dan aneh.
Tenang dan menakutkan.
Begitu Qiu Feng Wu membalikkan kepala, hatinya sudah tenggelam.
Ada 4 orang dengan pelan memasuki pekarangan.
--Matahari yang cerah, banyak bunga-bunga mekar bersamaan.
Cuaca pun cerah.
Orang yang pertama sudah masuk dengan perlahan.
Dia melihat sekelilingnya dan berkata.
"Tempat yang bagus."
Wajah orang ini sangat panjang, seperti muka kuda.
Di wajahnya banyak daging-daging lebih yang menempel.
Matanya merah.
Ada orang yang begitu dilahirkan sudah berwajah galak, dia adalah orang seperti ini.
Pelan-pelan dia duduk dan mengeluarkan pisau yang panjang.
Pisau itu digunakan untuk memotong kukunya.
Gao Li mengenalnya, orang itu bemama Mao Zhan.
Dalam perkumpulan 15/7 yang paling banyak membunuh orang adalah dia.
Tiap kali saat dia membunuh orang kelakuannya seperti orang gila, begitu melihat darah, dia akan menjadi orang gila.
Kalau kali itu tidak ada tugas keluar, gerakan membunuh Bai Li Chang Qing dia pasti akan ikut serta.
Orang kedua pun dengan pelan-pelan masuk, dia juga melihat sekeliling rumah dan berkata.
"Tempat yang bagus, kalau bisa mati di sini, itu juga lumayan."
Orang itu berwajah pucat.
Wajahnya tidak ada daging.
Hidung seperti hidung elang, mata pun seperti burung pemakan bangkai.
Tangannya membawa pedang, cahaya pedang seperti wajahnya, mengeluarkan cahaya kehijauan.
Kelihatannya dia tidak segalak Mao Zhan, tapi kadang-kadang orang berwajah seram lebih menakutkan daripada orang yang berwajah galak.
Di pekarangan ada sebuah pohon.
Begitu masuk, dia sudah berbaring di bawah pohon karena dia paling benci dengan sinar matahari.
Gao Li Tidak mengenalnya, tapi kenal dengan pedangnya Yin Hun Jian, Ma Feng.
(Yin Hun Jian = pedang arwah).
Perkumpulan 15 bulan 7 membeli orang itu dengan harga tinggi.
Dia tidak mudah membunuh orang, boleh dikatakan jarang tapi orang yang ingin dia bunuh, pasti akan masuk peti mati.
Jika dia membunuh orang, tidak pernah ingin ada orang lain di sisinya karena dia sendiri juga merasa cara yang dia pakai untuk membunuh orang terlalu kejam.
"Jika kau ingin membunuh seseorang, kau harus membuatnya menjadi setan, dia tidak akan berani membalas dendam kepadamu."
Orang ketiga perawakannya tinggi dan besar, dia tidak lincah tapi langkah kakinya ringan seperti seekor kucing.
Gao Li kenal dengannya, orang ini kembali lagi ke perkumpulan.
Dia bernama Ding Gan.
Dengan pelan dia masuk dan melihat sekeliling lalu berkata.
"Benar-benar tempat yang bagus, bisa di tempat ini menunggu kematian, nasibnya sungguh mujur."
Dia juga duduk dan mengerik jenggotnya dengan pisau melengkung miliknya.
Dia adalah teman baik Mao Zhan, gerak gerik dia secara sengaja atau bahkan tidak sengaja meniru Mao Zhan.
Jika dihitung temannya, hanya Mao Zhan lah teman satu-satunya.
Orang keempat kelihatannya sangat ramah dan terpelajar.
Wajahnya putih dan bersih, janggut pun dicukur dengan rapi.
Dia masuk dengan pelan, wajahnya tersenyum, matanya juga ikut tersenyum.
Dia tidak bicara, dia juga tidak membawa senjata.
Kelihatannya dia seperti pelajar yang datang untuk mengunjungi teman.
Tapi begitu Gao Li dan Qiu Feng Wu melihat orang itu, mereka merasakan adanya hawa dingin naik dari bawah kaki.
Mereka merasa dia lebih menakutkan dibanding Mao Zhan, Ding Gan, dan Ma Feng.
Mereka kenal dengan orang itu, dia adalah pemimpin perkumpulan 15/7, orang memanggilnya dengan sebutan You Ming Cai Zi, Xi Men Yu.
(You Ming Cai Zi = orang berbakat dari dunia lain).
Gao Li sudah 3 tahun ikut dengan perkumpulan ini tapi belum melihat Xi Men Yu turun tangan sendiri.
Katanya dia membunuh orang sangat pelan.
Dia pernah membunuh satu orang hingga 2 hari lamanya.
Katanya orang yang dibunuhnya walau sudah mati, tidak ada yang menyangka bahwa itu adalah wujud orang.
Ini hanya kata-kata dari orang-orang.
Orang yang tidak percaya tidak banyak karena dia terlihat terlalu terpelajar, lembut dan sopan.
Orang yang terpelajar seperti dia apakah bisa membunuh orang?
Sekarang dia dengan senyum berdiri di pekarangan menunggu, tidak tergesa-gesa juga tidak marah sepertinya disuruh menunggu 3 hari pun tidak apa-apa.
Tapi Gao Li dan Qiu Feng Wu tahu sekarang adalah waktunya mereka keluar.
Mereka saling pandang.
Qiu Feng Wu menurunkan pedang dari dinding.
Gao Li dari sudut dinding mengambil tombaknya.
Tiba-tiba Shuang Shuan berkata.
"Di luar ada orang yang datang, apakah teman yang kau undang?"
Jawab Gao Li.
"Mereka bukan teman."
Tanya Shuang Shuang.
"Bukan teman, lalu mereka itu siapa?"
Jawab Gao Li.
"Mereka adalah perampok."
Wajah Shuang Shuang langsung berubah, dia seperti mau pingsan. Gao Li merasa hatinya sakit, dengan lembut dia berkata.
"Aku akan menyuruh si Gajah menemanimu ke kamar dan beristirahat, sedang aku segera mengusir perampok-perampok itu."
Tanya Shuang Shuang.
"Apakah kalian dapat dengan cepat mengusir mereka?"
Jawab Gao Li.
"Ya."
Dia berusaha menahan supaya air mata tidak keluar, mungkin ini adalah terakhir kalinya dia membohongi Shuang Shuang.
--Mao Zhan masih memotong kuku, Ding Gan sedang mengerik janggut dengan pisau lengkungnya.
Ma Feng masih berbaring di bawah pohon.
Di mata mereka Gao Li dan Xiao Wu hanya dua orang yang sudah mati.
Xi Men Yu menyambut Gao Li dan Qiu Feng Wu lalu berkata.
"Dua hari ini kalian tentu sudah merasa lelah."
Qiu Feng Wu masih bisa tertawa dan menjawab.
"Ya, lumayan juga."
Tanya Xi Men Yu.
"Apakah kemarin malam kalian dapat tidur nyenyak?"
Jawab Qiu Feng Wu.
"Kami tidur dengan nyenyak dan makan kenyang."
Xi Men Yu tertawa dan berkata.
"Bisa tidur dan bisa makan itu sangat beruntung. Waktu itu aku sudah memberi uang kepada kalian, apakah sudah habis?"
Jawab Qiu Feng Wu.
"Masih ada sedikit."
Kata Xi Men Yu tertawa.
"Pasti masih ada, karena Bai Li Chang Qing sangat dermawan."
Kata Qiu Feng Wu.
"Benar, dia memberi kami 50.000 tail, tidak disangka menolong orang lebih tinggi harganya daripada membunuh orang."
Xi Men Yu mengangguk dan berkata.
"Terima kasih, kau sudah memperingatiku. Kelak aku harus mengubah profesi."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Sekarang bagaimana?"
Jawab Xi Men Yu.
"Sekarang aku harus dengan gratis membunuh beberapa orang."
Qiu Feng Wu dengan nafas panjang berkata.
"Sebenarnya aku juga harus dengan gratis membunuh satu orang tapi sayang kulit orang itu terlalu tebal, aku akan lelah membunuhnya."
Kata Xi Men Yu.
"Apakah yang kau maksud itu Ding Gan?"
Kata Qiu Feng Wu.
"Aku merasa kulitnya begitu tebal, entah bagaimana janggutnya bisa tumbuh?"
Jawab Xi Men Yu.
"Dia benar-benar bermuka tebal dan tidak tahu malu, membunuh dua orang temannya sendiri, coba kau tebak bagaimana caraku harus menghadapi dia?"
Jawab Qiu Feng Wu.
"Aku tidak bisa menebak."
Kata Xi Men Yu.
"Aku memberinya 500 tail perak. Karena dia masih hidup dan bisa memberitahu kepadaku mengenai keberadaan kalian."
Dia tertawa lagi dan berkata, .
"Kau lihat, apakah aku sangat adil?"
Kata Qiu Feng Wu.
"Benar, kau sangat adil."
Xi Men Yu tiba-tiba menarik nafas dan berkata.
"Aku tahu kau menemaniku mengobrol, sebenarnya kau menunggu kesempatan untuk membunuhku. Sebenarnya aku menganggap kau adalah orang yang paling mengerti bagaimana cara membunuh orang karena itu aku merasa sangat sayang dengan keadaan ini."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Kau masih tahu mengenai apa?"
Jawab Xi Men Yu.
"Aku tahu kalian pasti menungguku di sini."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Mengapa?"
Jawab Xi Men Yu.
"Membawa seorang perempuan sambil berjalan itu yang sangat mengganggu, dan perempuan ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja."
Tiba-tiba dia tertawa kepada Gao Li.
"Apakah benar?"
Dengan dingin Gao Li berkata.
"Benar."
Kata Xi Men Yu dengan tersenyum.
"Aku sudah lama tahu bahwa istrimu secantik dewi, mengapa tidak mempersilakan dia keluar?"
Jawab Gao Li.
"Dia hanya mau bertemu dengan orang, tidak ingin bertemu dengan..."
Tubuhnya membeku, suara pun menjadi serak.
Karena dia sudah mendengar suara langkah Shuang Shuang.
Shuang Shuang yang dengan susah payah berusaha keluar dari rumah.
Mata setiap orang tiba-tiba menjadi membesar seperti melihat ada orang yang mempunyai tiga kaki.
Mao Zhan tertawa terbahak-bahak.
"Kalian lihat dia adalah istri Gao Li."
Ding Gan tertawa dan berkata.
"Apakah dia adalah manusia? Dia adalah siluman, siluman sungguhan!"
Kata Mao Zhan.
"Kalau harus menikah dengan siluman ini, lebih baik aku menjadi biksu."
Wajah Gao Li mulai berubah, dia tidak berani membalikkan badan melihat Shuang Shuang.
Tiba-tiba Gao Li seperti seekor binatang yang terluka berlari keluar.
Dia lebih memilih mati daripada melihat Shuang Shuang terluka hatinya.
Di mata si ahli tombak, jika dua buah tombak dipakai secara bersama-sama, itu bukan termasuk jurus dalam ilmu tombak.
Ilmu silat sama seperti hal-hal yang ada di dunia ini, semakin banyak yang dipakai belum tentu itu adalah hal yang terbaik.
Seseorang jika mempunyai 7 jari dalam satu tangan, belum tentu dia lebih mahir menotok daripada orang yang mmemiliki 5 jari.
Karena orang yang mahir menotok hanya dengan menggunakan satu jari saja sudah bisa melakukannya, orang yang menggunakan 2 buah pedang atau 2 buah pisau, mungkin mereka memiliki alasan khusus.
Kata mereka.
"Orang memiliki dua buah tangan, mengapa hanya menggunakan sebuah senjata?"
Apa pun alasannya, sekarang ini tidak ada yang menganggap bahwa Gao Li sudah membuat kesalahan.
Dua buah tombak Gao Li laksana tanduk naga beracun juga seperti sayap seekor elang terbang.
Dia berlari melewati Xi Men Yu dan tombak sudah keluar, artinya adalah pertarungan sudah dimulai.
Tapi Qiu Feng Wu tidak bergerak karena Xi Men Yu sendiri belum bergerak, dia juga tidak memandang ke arah Gao Li.
Matanya terus melihat tangan Qiu Feng Wu, tangan Qiu Feng Wu yang memegang pedang.
Qiu Feng Wu sudah merasa tangannya terus menerus mengeluarkan keringat dingin.
Xi Men Yu tiba-tiba tertawa dan berkata.
"Kalau aku menjadi dirimu, sekarang aku akan meletakkan pedang itu."
Tanggap Qiu Feng Wu.
"Oh!"
Kata Xi Men Yu.
"Jika kau meletakkan pedang itu, mungkin kau masih bisa hidup lebih lama."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Ada kemungkinan berapa persen aku masih bisa hidup?"
Jawab Xi Men Yu.
"Tidak banyak, tapi itu lebih baik dibanding tidak ada kesempatan sama sekali."
Kata Xi Men Yu.
"Ilmu tombak Gao Li benar-benar bagus, di antara semua orang yang memakai tombak, dia termasuk yang terbaik."
Kata Qiu Feng Wu.
"Perkataanmu sangat adil."
Kata Xi Men Yu.
"Aku pernah melihat caranya menggunakan tombak juga pernah melihat dia membunuh orang. Di dunia ini tidak ada orang yang lebih mengenalnya daripada diriku."
Kata Qiu Feng Wu.
"Aku tahu kau sangat memperhatikan dia."
Kata Xi Men Yu.
"Aku juga sangat mengenal Mao Zhan dan Ding Gan."
Kata Qiu Feng Wu.
"Kau menganggap mereka bisa menghadapi Gao Li."
Kata Xi Men Yu.
"Paling sedikit, kemampuan mereka hampir sama."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Bagaimana dengan diriku?"
Jawab Xi Men Yu.
"Aku juga sangat mengerti dirimu."
Kata Qiu Feng Wu.
"Kau dan Ma Feng bisa menghadapiku."
Kata Xi Men Yu.
"Bukan hanya bisa, tapi lebih dari itu."
Kata Qiu Feng Wu.
"Karena kau sudah memperhitungkan semuanya dengan matang, baru berani datang kemari."
Kata Xi Men Yu.
"Kita harus mengetahui keadaan musuh dahulu dan kemampuan sendiri, dan yakin akan 100% menang. Sekarang jika hanya 90% menang, aku tidak akan datang kemari."
Qiu Feng Wu tiba-tiba mengeluarkan nafas panjang seperti seseorang yang hampir mati tenggelam di dasar laut, tiba-tiba menemukan daratan.
Xi Men Yu yang teliti, dia tidak memasukkan Jin Kai Jia dalam perhitungannya, dia tetap salah perhitungan.
Mimpi pun dia tidak menyangka bahwa orang nomor satu di persilatan sepuluh tahun yang lalu, Jin Kai Jia berada di sini.
Kesalahan besar atau kecil mungkin ini adalah kesalahan yang bisa berakibat fatal.
Tapi ini adalah suatu kesalahan besar.
Qiu Feng Wu dengan pelan mengangguk dan berkata.
"Benar, perhitunganmu sangat tepat, kalian berempat cukup untuk menghadapi kami berdua."
Mereka tidak melihat Jin Kai Jia, tapi Qiu Feng Wu tahu pada saat yang tepat Jin Kai Jia pasti akan muncul.
Dia hampir tertawa memikirkan semua ini.
Dua buah tombak memancarkan cahaya perak berkilauan menyinari wajahnya, dia belum pernah merasa begitu santai.
Xi Men Yu memandang wajahnya, tiba-tiba tertawa dan berkata.
"Aku tahu di sini masih ada satu orang lagi."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Kau tahu?"
Xi Men Yu menjawab.
"Karena itu, yang datang kemari bukan hanya kami berempat saja."
Kata Qiu Feng Wu.
"Aku tidak melihatnya, tapi aku sudah sempat memikirkannya."
Senjata saling beradu, mengeluarkan suara yang mendenging, ayunan pedang yang kencang menghasilkan angin besar membuat rambutnya berantakan.
Tapi wajahnya tetap tidak bergerak.
Qiu Feng Wu benar-benar kagum, dia tidak pernah melihat ada orang yang begitu tenang.
Qiu Feng Wu juga tertawa dan berkata.
"Mana yang lain? Apakah mereka sudah bersiap-siap di belakang untuk membakar rumah?"
Jawab Xi Men Yu.
"Benar."
Kata Qiu Feng Wu.
"Menghalangi jalan mundurku, kemudian berputar ke depan bersamaan dengan kalian menyerang kami."
Kata Xi Men Yu.
"Kau sangat mengerti diriku."
Kata Qiu Feng Wu.
"Aku belajar dengan cepat."
Kata Xi Men Yu.
"Sebenarnya kau bisa menjadi asistenku."
Tiba-tiba pandangan dia bergeser kepada Shuang Shuang.
Shuang Shuang berdiri di ambang pintu, berdiri di bawah sinar matahari.
Tangannya yang kecil berpegangan ke pintu, seperti yang setiap saat dia bisa roboh.
Tapi dia tidak jatuh.
Tubuhnya membeku.
Ekspresi yang terpancar dari wajahnya membuat yang kita tidak tahu apa yang dia inginkan.
Biarpun dia tidak roboh, tapi hatinya sudah hancur.
Qiu Feng Wu tidak tega melihat Shuang Shuang seperti itu, tiba-tiba dia tertawa dan bertanya.
"Mengapa kalian tidak mulai membakar?"
Jawab Xi Men Yu.
"Belum saatnya."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Harus menunggu apa lagi?"
Jawab Xi Men Yu.
"Tidak perlu tergesa-gesa."
Kata Qiu Feng Wu.
"Aku takut mereka tidak akan bisa membakar rumah."
Jawab Xi Men Yu.
"Siapa pun akan bisa melakukannya."
Jawab Qiu Feng Wu.
"Hanya ada semacam orang tidak akan bisa melakukannya."
Jawab Xi Men Yu.
"Orang yang sudah mati."
Qiu Feng Wu tertawa.
Pada saat itu juga Xi Men Yu sudah lari dari sisi Qiu Feng Wu, dan berlari menuju ke tempat Shuang Shuang.
Ma Feng yang berada di bawah pohon juga ikut meloncat siap menusuk leher Qiu Feng Wu.
Tapi pada saat itu dari arah belakang ada 2 sosok bayangan orang yang meluncur.
Itu adalah dua sosok mayat.
Xi Men Yu tidak melirik kepada kedua orang ini, karena dia sudah tahu ini bahwa itu adalah mayat, dia mulai sadar bahwa dia sudah salah memperhitungkan keadaan di sana.
Sekarang sasarannya adalah Shuang Shuang.
Dia sudah melihat perasaan Gao Li terhadap Shuang Shuang.
Asal bisa menyandera Shuang Shuang pertarungan ini meskipun tidak akan dia menangkan, tapi setidaknya dia bisa mundur dengan selamat.
Shuang Shuang tidak bergerak juga tidak menghindar.
Tapi di belakangnya telah muncul seseorang.
Seorang raksasa yang wujudnya seperti dewa langit.
Jin Kai Jia hanya berdiri di pintu seperti tidak ada persiapan untuk bertarung.
Tapi semua orang bisa melihat bahwa untuk mengalahkannya bukan hal yang mudah.
Wajahnya tidak ada ekspresi, mata yang berwarna abu tua dengan dingin memandang Xi Men Yu.
Dia tidak mengeluarkan gerakan untuk mencegah serangan Xi Men Yu, tapi Xi Men Yu yang malah berhenti mendadak.
Dia seperti menabrak sebuah dinding yang tidak terlihat.
Ekspresi pak tua yang hanya mempunyai sebelah tangan, walaupun terlihat tidak siap bertarung tapi tubuhnya dipenuhi dengan hawa membunuh.
Sudut mata Xi Men Yu sepertinya sudah mulai membeku.
Dia memandang pak tua itu lalu bertanya.
"Siapakah nama Tuan?"
Jawab Jin Kai Jia.
"Margaku Jin."
Tanya Xi Men Yu.
"Apakah jin yang artinya emas?"
Tiba-tiba dia melihat kapak pak tua itu, segera tubuhnya mematung, membeku.
"Da Lei Shen!"
Tanya Jin Kai Jia.
"Kau tidak menyangkanya bukan?"
Xi Men Yu menarik nafas dan berkata.
"Perhitunganku salah, seharusnya aku tidak kemari."
Kata Jin Kai Jia.
"Tapi kau sudah kemari."
Tanya Xi Men Yu.
"Apakah aku boleh pergi?"
Kata Jin Kai Jia.
"Tidak!" -Kata Xi Men Yu.
"Aku bisa meninggalkan sebelah tanganku."
Kata Jin Kai Jia.
"Satu tangan saja tidak cukup."
Tanya Xi Men Yu.
"Kau masih mau apa lagi?"
Jawab Jin Kai Jia.
"Aku ingin nyawamu."
Tanya Xi Men Yu.
"Apakah tidak bisa ditawar lagi?"
Jawab Jin Kai Jia.
"Tidak!"
Xi Men Yu menarik nafas dan berkata.
"Baiklah!"
Tiba-tiba dia menyerang, sasarannya tetap Shuang Shuang.
Melindungi orang lain, lebih sulit daripada melindungi diri sendiri, mungkin Shuang Shuang merupakan kelemahan Jin Kai Jia.
Jin Kai Jia tidak melindungi Shuang Shuang.
Tapi dia tahu cara terbaik untuk bertahan adalah dengan menyerang.
Tangannya diayun, kapak besi sudah siap untuk membelah.
Caranya sederhana, mudah, tidak ada perubahan, ayunan kapak ini tidak perlu dilakukan untuk kedua kalinya.
Mengayun kapak untuk membelah, ini adalah cara yang paling mudah dalam ilmu silat.
Tapi jurus Jin Kai Jia sudah melalui ribuan kali perubahan, dan terus berubah.
Ayunan ini sudah hampir sempuma.
Tidak ada orang yang bisa melukiskan betapa dasyatnya tenaga ini, juga tidak ada yang bisa mengerti.
Xi Men Yu sendiri pun demikian.
Begitu dia melihat kapak mulai membelah, dia merasa kapak yang dingin itu sudah menancap ke dalam tubuhnya, dia juga mendengar suara tulang sendinya yang patah.
Dia tidak percaya ini benar-benar terjadi.
Mati, mengapa ada hal seperti itu?
Tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa takut.
Dia belum benar-benar memikirkan kematian tapi kematian sudah datang menjemputnya.
Kemudian yang ada hanyalah kegelapan.
Shuang Shuang tidak bergerak, tapi air mata sudah mengalir pelan-pelan menetes ke wajahnya.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan lagi.
Qiu Feng Wu merasa bahwa Ma Feng adalah musuh yang menakutkan, tapi saat itu Ma Feng sudah membuat kesalahan.
Dia mengayun pedang terlalu tinggi, dan posisi perutnya tidak terlindung.
Qiu Feng Wu tidak ragu lagi, langsung menusuk perutnya.
Ma Feng seperti seekor ikan yang sudah terpancing.
Begitu dia terjatuh, darah baru mengalir.
Dia mati begitu cepat.
Mao Zhan seperti orang gila karena dia sudah mencium bau darah.
Darah membuatnya seperti seekor binatang yang kelaparan.
Kegilaannya ini sudah mendekatkan dia pada kematian, dia tidak melihat orang lain, dia hanya melihat tombak Gao Li yang berayun-ayun.
Ding Gan sudah mundur selangkah demi selangkah.
Tiba-tiba dia membalikkan badan dan terpaku.
Qiu Feng Wu dengan dingin menunggu dia.
Qiu Feng Wu berkata.
"Kau ingin kabur lagi?"
Ding Gan menjawab.
"Sudah kukatakan, aku ingin terus bertahan hidup."
Kata Qiu Feng Wu.
"Kau juga mengatakan, demi bertahan hidup apa pun akan kau lakukan."
Jawab Ding Gan.
"Benar."
Kata Qiu Feng Wu.
"Sekarang demi diriku, lakukanlah satu hal."
Mata Ding Gan mengeluarkan sorot sedikit harapan. Segera dia bertanya.
"Hal apa?"
Tanya Qiu Feng Wu.
"Apakah Mao Zhan adalah teman baikmu?"
Jawab Ding Gan.
"Aku tidak mempunyai teman."
Kata Qiu Feng Wu.
"Baiklah, jika kau membunuh dia, aku tidak akan membunuhmu."
Ding Gan tidak berbicara.
Tangannya sudah mengayun.
Tiga pisau melengkung sudah terbang seperti petir.
Tiga pisau menancap ke dada kiri Mao Zhan.
Mao Zhan membalikkan badan untuk melihat.
Dia sudah tidak melihat Gao Li juga tombaknya yang berwarna perak.
Tombak sudah berhenti diayunkan.
Dia melihat Ding Gan dan selangkah demi selangkah berjalan ke depan.
Tapi darah terus mengalir dari dadanya.
Wajah Ding Gan sudah pucat dan selangkah demi selangkah mundur.
Dia berkata.
"Jangan salahkan aku, jika aku menemanimu mati, juga tidak akan ada gunannya."
Mao Zhan menggigit bibirnya menahan marah, darah pun keluar dari mulutnya. Tiba-tiba Ding Gan tertawa dingin dan berkata.
"Jangan kira aku takut kepadamu, sekarang jika aku mau membunuhmu, itu sangat mudah."
Dia mulai mengayunkan tangannya.
Tiba-tiba wajahnya berubah drastis karena dia sudah merasa bahwa tangannya sudah dipegang.
Mao Zhan masih berjalan maju selangkah demi selangkah.
Tapi Ding Gan tidak bisa bergerak juga tidak bisa mundur.
Tangan Qiu Feng Wu seperti tang dengan kencang menjepit tangannya.
Muka Ding Gan sudah pucat dan berkata.
"Lepaskan aku, kau sudah janji akan melepaskanku."
Kata Qiu Feng Wu.
"Aku tidak akan membunuhmu."
Kata Ding Gan.
"Tapi dia..."
Kata Qiu Feng Wu.
"Bila dia mau membunuhmu, tidak ada hubungannya denganku."
Tiba-tiba Ding Gan berteriak, suaranya seperti binatang yang masuk ke dalam perangkap.
Kemudian nafasnya juga berhenti.
Mao Zhan sudah berada di hadapannya, dengan pelan dia mencabut pisau melengkung yang berada di tubuhnya, kemudian menancapkan ke dada Ding Gan.
Dengan tiga buah pisau melengkung ditancapkan ke dada Ding Gan, dia masih berteriak kemudian roboh.
Mao Zhan melihat dia roboh tiba-tiba membalikkan badan, di depan Qiu Feng Wu dia memberi hormat.
Kemudian dia tidak berkata apa-apa lagi.
Dia memotong lehernya dengan pisaunya sendiri.
Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara.
Darah sudah menyatu dengan tanah.
Mayat mulai mengering.
Akhirnya Shuang Shuang juga roboh.
Qiu Feng Wu melihat dia seperti melihat sekuntum bunga yang semakin lama semakin layu...
--Matahari sudah bersinar terang.
Jin Kai Jia mengayunkan kapak besinya dengan tenaga besar untuk membelah kayu, sepertinya semua kemarahan ingin dia lampiaskan ke bumi ini.
Bumi tidak bersuara, dia bisa melahirkan nyawa, dia juga bisa menerima kematian.
Kuburan sudah digali.
Jin Kai Jia mengangkat mayat Xi Men Yu dan melemparkannya ke dalam.
Kegembiraan dan harapan orang-orang apakah dengan mudah dikubur?
Dia tidak bisa membayangkan, jika seseorang sudah tidak mempunyai harapan, apakah masih bisa bertahan hidup?
Dia masih hidup, dia tidak merasa gembira tapi dia masih mempunyai harapan.
Dia tidak pernah menangis, padahal juga tidak ingin menangis.
Tapi begitu memikirkan wajah Shuang Shuang yang selalu riang dan percaya diri, hatihya seperti ditusuk oieh jarum.
Sekarang dia berharap 2 pemuda itu bisa mengbibur Shuang Shuang supaya Shuang Shuang bisa bertahan hidup.
Dia merasa dirinya sudah tua.
Menghibur perempuan adalah tugas anak muda.
Orang tua hanya cocok menggali kuburan untuk orang mati.
Dia berjalan ke arah sana mengangkat mayat Ma Feng, badan Ma Feng masih hidup, ternyata Ma Feng tidak mati.
Karena perut bukan bagian vital dari orang, biarpun dia ditusuk oleh Qiu Feng Wu.
tapi begitu Jin Kai Jia mengangkat dia, pedang dia sudah ditusukkan ke pinggang Jin Kai Jia, yang tersisa hanya pegangan pedang.
--Pedang masih menancap di tubuh Jin Kai Jia.
Ma Feng sudah kabur.
Dia mengambil kesempatan yang terbaik untuk kabur, karena dia tahu bahwa Gao Li dan Qiu Feng Wu pasti sedang berusaha menolong orang, kemudian baru mengejar dia.
Karena itu dia tidak membuat Jin Kai Jia langsung mati.
Begitu Gao Li dan Qiu Feng Wu keluar, Jin Kai Jia sudah roboh.
Dia terbaring di bawah dengan terengah-engah bertanya.
"Bagaimana dengan keadaan Shuang Shuang?"
Yang dia perhatikan tetap orang lain. Gao Li menahan kesedihan dan menjawab.
"Dia terlalu lemah, sampai sekarang masih belum sadarkan diri."
Kata Jin Kai Jia.
"Kau harus membiarkannya tidur, begitu dia terbangun beritahu kepadanya bahwa aku sudah pergi."
Dia terbatuk dan berkata lagi.
"Kau jangan beritahu dia bahwa aku mati, jangan..."
Kata Gao Li.
"Kau belum mati, kau pasti tidak akan mati."
Kata Jin Kai Jia.
"Mati adalah hal biasa, jangan terlalu dipermasalahkan. Kalian jangan begitu, aku sedih melihatnya."
Qiu Feng Wu terpaksa tertawa, dia ingin mengucapkan kata-kata yang yang membuat hati orang-orang tidak menjadi sedih tapi dia tidak bisa berkata apa pun. Kata Jin Kai Jia.
"Tempat ini sudah tidak bisa kalian tinggali, semakin cepat pergi semakin baik."
Kata Qiu Feng Wu.
"Baiklah."
Kata Jin Kai Jia.
"Gao Li, kau harus membawa Shuang Shuang pergi."
Kata Qiu Feng Wu.
"Tenanglah, dia tidak akan pernah meninggalkan Shuang Shuang."
Kata Jin Kai Jia.
"Kau juga harus berjanji satu hal kepadaku."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Hal apa?"
Jawab Jin Kai Jia.
"Pulang. Aku ingin kau pulang kembali ke rumahmu."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Mengapa aku harus pulang?"
Kata Jin Kai Jia.
"Jika kau pulang, mereka tidak akan mencarimu, tidak ada yang tahu bahwa kau adalah Tuan Muda Wisma Kong Que."
Kata Qiu Feng Wu.
"Tapi..."
Kata Jin Kai Jia.
"Mereka tidak akan bisa menemukan dirimu, tapi bisa menemukan Gao Li. Demi Gao Li kau harus pulang ke rumahmu."
Qiu Feng Wu terdiam dan berkata.
"Aku bisa membawa mereka pulang ke rumahku."
Kata Jin Kai Jia.
"Tidak boleh."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Mengapa?"
Kata Jin Kai Jia.
"Wisma Kong Que banyak orang juga banyak mulut. Melihat kau membawa dua orang pulang, kabar pasti akan cepat menyebar."
Kata Qiu Feng Wu.
"Aku tidak percaya mereka berani datang ke Wisma Kong Que."
Kata Jin Kai Jia.
"Aku tahu kau tidak akan merasa terbebani oleh mereka, tapi aku tahu bagaimana sifat Gao Li."
Jin Kai Jia terbatuk lagi.
"Seorang Gao Li, dia paling tidak mau menyusahkan teman. jika kau adalah temannya, kau harus membiarkan dia membawa Shuang Shuang pergi dengan tenang untuk melewati masa-masa tuanya."
Kata Qiu Feng Wu.
"Tapi dia...â • € Kata Jin Kai Jia.
"Kalau dia pergi ke Wisma Kong Que, kalian pasti akan menyesal."
Kata Qiu Feng Wu.
"Mengapa?"
Kata Jin Kai Jia.
"Kau jangan terus bertanya mengapa, tapi kau harus percaya kepadaku..."
Dia berusaha benafas tapi sudah sulit baginya. Setelah lama dia berkata.
"Bila kau tidak setuju, aku pun tidak bisa mati dengan tenang."
Kata Qiu Feng Wu.
"Baiklah, aku setuju, asalkan bisa hidup, kita bersama-sama menghadapi Qing Long Bang. Jika Qing Long Bang sudah bubar, kita baru bisa hidup tenang."
Kata Jin Kai Jia.
"Kalian pasti bisa hidup tenang tanpa diriku."
Jin Kai Jia tertawa dan berkata.
"Kau harus ingat, menggulingkan Qing Long Bang tidak bisa mengandalkan satu orang, Walaupun dia adalah pemilik Wisma Kong Que."
Kata Qiu Feng Wu.
"Kau...â • € Kata Jin Kai Jia.
"Jika ingin menggulingkan Qing Long Bang, harus ingat dengan pepatah . bergotong royong dan bersatu hati."
Bergotong royong dan bersatu hati, ini adalah kata penggalan dari dunia persilatan.
Dia sendiri sekian lama berkelana di dunia persilatan tanpa teman tapi begitu dia akan meninggal, dia berpesan seperti itu.
Karena dia baru saja mengerti bahwa di dunia ini tidak ada tenaga yang bisa menandingi bila saling gotong royong bersatu hati.
Kata-kata yang ingin dia ungkapkan sudah selesai, dia merasa bahwa dia mati dengan berharga.
Hidup bisa berharga begitu juga dengan kematian.
--Sore.
Matahari sudah terbenam, cahaya yang bersinar lembut melalui jendela masuk ke dalam ruangan.
Di dalam rumah masih ada orang, ada tiga orang.
Gao Li dan Qiu Feng Wu berdiri di pinggir tempat tidur memandangi Shuang Shuang yang masih tertidur nyenyak.
Biarpun tikus mondar mandir di bawah kaki mereka tapi mereka tidak begerak juga tidak duduk.
Mereka seperti sedang menghukum diri mereka sendiri.
Semua tragedy ini dimulai dari mereka berdua.
Sewaktu tanah menutupi tubuh Jin Kai Jia, mereka tidak meneteskan air mata karena mereka ingat dengan kata-kata Jin Kai Jia .
'kematian bukan hal yang menakutkan, karena ada orang yang sudah mati tapi semangatnya masih tetap hidup'.
Hidup di hati orang-orang.
Karena itu kematian tidak perlu ditangisi.
Orang yang masih hidup yang akan bersedih.
Sekarang mereka melihat Shuang Shuang, air mata terus menetes.
Shuang Shuang sudah mulai sadar.
Begitu dia terbangun, dia sudah memanggil-manggil nama Gao Li.
Segera Gao Li memegang tangannya, dengan lembut dia berkata.
"Aku di sini, sejak tadi aku di sini."
Kata Shuang Shuang.
"Aku tahu, kau pasti tidak akan meninggalkanku dan pergi seorang diri."
Kata Gao Li.
"Aku harus memberitahu sesuatu kepadamu satu."
Kata Shuang Shuang.
"Aku sudah tahu."
Wajahnya tertawa lagi seperti bunga dan berkata.
"Aku tahu kau akan memberitahu sesuatu kepadaku, aku adalah si Cantik di dunia ini, orang yang tadi sengaja mengada-ada."
Kata Gao Li.
"Mereka bukan manusia, kata-kata mereka juga bukan kata-kata manusia."
Kata Shuang Shuang.
"Aku sudah mengerti."
Dia mengangkat tangannya dan mengusap muka Gao Li dengan ringan. Wajah Shuang Shuang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang kepada Gao Li. Dia berkata.
"Aku tahu kau takut aku merasa sedih. Sebenarnya aku sudah tahu aku adalah orang yang berwujud apa, tidak perlu mereka yang memberitahu kepadaku."
Kata Gao Li.
"Tapi kata-kata mereka tidak ada yang benar satu pun."
Dengan lembut Shuang Shuang berkata.
"Kau mengira aku adalah anak kecil dan tidak tahu kata-kata yang mana benar dan yang mana palsu?"
Hati Gao Li mulai dingin dan semakin dingin. Kata Shuang Shuang.
"Kau juga tidak perlu takut aku bersedih dan demi diriku kau pun merasa sedih, karena beberapa tahun yang lalu aku sudah tahu bahwa aku itu jelek. Aku adalah si jelek, si aneh juga si buta."
Suara Shuang Shuang masih sangat tenang, wajahnya tidak terlihat sedih atau merasa rendah diri. Shuang Shuang berkata lagi.
"Mula-mula aku juga sedih dan sakit hati, terakhir aku sudah mengerti setiap orang mempunyai nasibnya sendiri, setiap orang harus menerima nasibnya dengan terbuka dan terus bertahan hidup."
Dia mengusap wajah Gao Li dan berkata lembut.
"Walaupun aku lebih jelek dari orang lain, tapi aku tidak menyalahkan Tuhan, karena aku lebih beruntung daripada sebagian orang, aku mempunyai orangtua yang baik dan juga dirimu."
Tenggorokan Qiu Feng Wu tercekat.
Sekarang dia memandang Shuang Shuang bukan dengan sorot kasihan melainkan rasa hormat dan kagum.
Dia tidak menyangka di dalam tubuh yang kecil dan cacat, ada hati yang begitu kuat dan tegar.
Kata Gao Li.
"Kau sudah tahu, mengapa tidak memberitahuku?"
Jawab. Shuang Shuang.
"Semua demi dirimu."
Tanya Gao Li.
"Demi aku?"
Jawab Shuang Shuang.
"Aku tahu kau sangat baik kepadaku, aku berharap dari diriku kau dapat keceriaan bila aku berkata seperti itu kau akan merasa sakit hati dan sedih. Kau sangat baik kepadaku, aku tidak akan membiarkan kau merasa sakit hati."
Gao Li melihatnya.
Air mata terus menetes.
Tiba-tiba dia sadar, di antara mereka dialah yang paling lemah dan egois.
Dia mengurus Shuang Shuang dan melindungi dia mungkin hanya demi kesenangannya sendiri dan juga ketenangannya sendiri dan juga untuk menebus dosa.
Dia berharap di dalam tawa Shuang Shuang dia bisa membersihkan bau darah dari tangannya.
Dia selalu lari, lari dari orang lain, lari dari diri sendiri, lari dari kejaran dosa.
Hanya di pelukan Shuang Shuang, Gao Li baru dapat istirahat.
Dengan lembut Shuang Shuang berkata.
"Karena itu aku berharap kau jangan sedih karena diriku, karena aku tidak pernah merasa sedih karena keadaanku yang seperti ini. Jika kita berdua bisa senang, wujudku seperti apa juga tidak menjadi masalah."
Kata-kata ini seharusnya diucapkan oleh Gao Li, tapi sekarang malah keluar dari mulut Shuang Shuang.
Gao Li baru merasa selama beberapa tahun ini, Shuang Shuanglah yang mengurus dan melindungi dia.
Jika tidak ada Shuang Shuang mungkin dia sudah menjadi gila dan hancur.
Kata Shuang Shuang.
"Apakah kau sudah tahu maksudku?"
Gao Li tidak berkata apa-apa, dia masih berlutut.
Qiu Feng Wu melihat mereka, air mata pun ikut mengalir.
Tiba-tiba Qiu Feng Wu juga mengerti satu hal bahwa Tuhan selalu adil.
Tuhan tidak memberi Shuang Shuang wajah yang cantik tapi memberi Shuang Shuang hati yang mulia.
Kuburan baru seperti tidak ada kuburan.
Tanahnya sudah dipadatkan dan dari tempat lain dipindahkan rumput yang panjang dan ditanam di atas tanah ini.
Sekarang tidak ada yang tahu bahwa tanah ini pernah mengubur seorang pendekar nomor satu di dunia persilatan.
Ini adalah keinginan Gao Li dan Qiu Feng Wu, mereka tidak ingin ada orang yang mengganggu pendekar besar ini.
Tidak ada batu nisan, dia bukan dewa, dia adalah orang.
Orang yang berhati mulia, teman yang mulia.
Ilmu silatnya yang dahsyat mungkin akan dilupakan oleh orang tapi semua yang dia lakukan untuk mereka akan selamanya hidup di hati mereka.
Sore itu.
Mereka membawa arak.
Mereka minum dari gentong arak besar, sisanya mereka tumpahkan ke atas tanah ini.
Gao Li dan Shuang Shuang berlutut lalu berkata.
"Ini adalah arak pernikahan kami."
"Aku tahu kau selalu menunggu-nunggu arak ini."
"Aku pasti membawa Shuang Shuang pergi, dan akan selalu mengurusnya. Kemana pun kami pergi, aku tidak akan meninggalkan dia."
"Aku pasti menyuruh Shuang Shuang untuk terus bertahan hidup."
Mereka tahu Jin Kai Jia pasti berharap mereka hidup dengan baik.
Di dunia ini tidak ada hal lebih bisa menyatakan rasa hormat dan kesungguhan hati mereka kecuali hidup dengan baik.
Kemudian Shuang Shuang menjauh, membiarkan 2 teman yang sehidup semati saling berpamitan.
Sore semakin gelap, burung-burung berteriak pulang ke sarang dengan sedih sepertinya burung-burung ini juga ikut merasa sedih dengan perpisahan ini.
Qiu Feng Wu melihat Gao Li.
Gao Li melihat Qiu Feng Wu.
di dunia ini tidak ada bahasa yang bisa mengungkapkan perpisahan ini.
Akhirnya Qiu Feng Wu bertanya.
"Apakah kau tahu bahwa kau itu bernasib mujur?"
Gao Li menjawab.
"Aku tahu."
Kata Qiu Feng Wu.
"Sekarang kau sudah tidak perlu aku temani lagi."
Kata Gao Li.
"Apakah kau akan pulang?"
Jawab Qiu Feng Wu.
"Aku sudah berjanji maka aku harus pulang."
Kata Gao Li.
"Aku mengerti."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Bagaimana dengan kalian?"
Jawab Gao Li.
"Aku juga sudah berjanji harus hidup dengan baik."
Kata Qiu Feng Wu.
"Kemana kalian akan pergi?"
Jawab Gao Li.
"Dunia begitu luas, pasti akan ada tempat untuk kami pergi dan kami tinggal."
Qiu Feng Wu mengangguk dan berkata.
"Kalian berada di mana pun, kelak harus tetap mencariku."
Kata Gao Li.
"Ya, itu sudah pasti."
Kata Qiu Feng Wu.
"Bawa Shuang Shuang juga."
Kata Gao Li.
"Ya, itu pasti."
Tiba-tiba Qiu Feng Wu memegang erat tangan Gao Li dan berkata.
"Kau harus berjanji kepadaku."
Kata Gao Li.
"Katakanlah."
Kata Qiu Feng Wu.
"Jika kalian mengalami kesulitan, kau harus mencariku."
Malam sudah tiba. Qiu Feng Wu yang kurus dan kesepian sudah menghilang dalam kegelapan malam. Gao Li memeluk Shuang Shuang, hatinya merasa bahagia sekaligus sedih. Kata Shuang Shuang.
"Kau adalah orang yang bernasib baik."
Gao Li mengangguk. Kata Shuang Shuang.
"Jarang ada teman seperti dia."
Kata Gao Li dengan lembut.
"Jarang ada orang yang bisa mendapat istri seperti dirimu."
Gao Li memang merasa sangat bahagia.
Dia mempunyai teman yang baik, juga istri yang baik.
Bagi siapa pun ini sudah lebih dari cukup.
Tapi entah mengapa hati Gao Li dipenuhi dengan kesedihan dan ketakutan.
Ketakutan yang belum pernah dia rasakan karena dia merasa tidak yakin, apakah dia bisa hidup dengan baik.
Tanya Shuang Shuang.
"Apakah kau ketakutan?"
Jawab Gao Li dengan terpaksa.
"Aku takut? Takut apa?"
Kata Shuang Shuang.
"Takut kita tidak bisa hidup, takut orang itu kembali lagi, takut kita tidak mempunyai uang."
Gao Li diam. Dia tahu hidup itu sangat berat. Kata Shuang Shuang.
"Sebenarnya kau jangan merasa takut, asal kita mempunyai tekad pasti ada cara untuk bisa bertahan hidup."
Kata Gao Li.
"Tapi..."
Kata Shuang Shuang.
"Aku tidak takut hidup susah, asal selalu bersama denganmu, aku sudah tenang."
Kata Gao Li.
"Tapi aku harus memberikan kepadamu kehidupan yang baik."
Kata Shuang Shuang.
"Kehidupan yang baik itu seperti apa?"
Gao Li tidak menjawab. Karena dia tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Kata Shuang Shuang.
"Makan enak, pakaian bagus, itu bukan kehidupan yang baik. Yang paling penting hati merasa senang, yang lain aku tidak peduli."
Wajahnya yang lembut memancarkan kekuatan dan tekad yang tegar.
Gao Li segera menarik tangannya dengan gagah berjalan.
Hatinya sekarang juga mempunyai tekad dan kekuatan.
Dia tahu, di dunia ini tidak ada yang bisa membuat dia sedih dan takut lagi.
Karena dia sudah tidak sendirian.
Tidak sendirian, hanya orang yang pernah kesepian baru tahu perasaan seperti ini sangat menyenangkan.
--Mereka tidak ke gunung juga tidak lari ke perbatasan.
Mereka mencari sebuah desa yang tenang dan damai.
Orang-orang di desa biasanya baik dan jujur.
Seorang petani yang rajin dan seorang istri yang penyakitan, di sini tidak ada yang mencurigainya.
Pagi bekerja, malam beristirahat.
Kehidupan mereka tenang dan damai.
Tapi sayang itu bukan akhir dari cerita ini.
Gao Li sudah pulang dengan tubuh penuh dengan tanah.
Shuang Shuang dengan tangannya yang kecil sudah memasak 2 macam sayur untuknya, juga ada seguci arak yang hangat.
Barang-barang yang berada di-dalam rumah ini dia sudah hafal, dia bisa menggunakan tangan sebagai pengganti mata.
Sekarang dia jauh lebih sehat daripada dulu.
Kehidupan yang manis dan senang, bagi penderita yang mempunyai sakit apa pun itu adalah obat yang paling bagus.
Gao Li melihat sayur dan arak, tawanya seperti anak-anak dan berkata.
"Malam ini masih ada arak yang bisa diminum."
Jawab Shuang Shuang dengan manis.
"Beberapa hari ini, kau terlalu lelah, aku harus membuatkan makanan yang enak untukmu."
Gao Li duduk dan minum arak, dia tertawa.
"Aku berharap sesudah menyetor uang sewaan, bisa menyisakan beberapa pikul padi untuk ditukar dengan mainan."
Shuang Shuang seperti anak manja, duduk di pangkuannya dan berkata.
"Aku menginginkan sebuah benda."
Tanya Gao Li.
"Kau mau apa?"
Jawab Shuang Shuang.
"Kau."
Dengan tangan yang kecil, dia memencet hidung Gao Li.
Gao Li membuka mulutnya, pura-pura tidak bisa bernafas.
Tiba-tiba Shuang Shuang menumpahkan segelas arak ke dalam mulutnya.
Dia mengambil sepotong daging ingin memasuki ke mulut Shuang Shuang.
Tiba-tiba sumpitnya terjatuh, tangannya dingin seperti es karena yang dijepit bukan daging, melainkan seekor kaki seribu.
Kaki seribu yang sangat besar dan panjang.
Tanya Shuang Shuang.
"Ada apa?"
Wajah Gao Li berubah, tapi dia berusaha untuk tetap tertawa dan berkata.
"Tidak ada apa-apa, hanya di dalam sayur ada kaki seribu, mungkin baru jatuh dari atas atap. Kelihatannya malam ini aku tidak bisa makan daging."
Shuang Shuang juga terdiam dan dia berkata.
"Untung di dapur masih ada telur, kita goreng telur untuk dijadikan sayur."
Begitu dia berdiri, Gao Li segera berkata.
"Aku temani."
Kata Shuang Shuang.
"Aku saja, kau duduklah untuk minum arak."
Kata Gao Li.
"Aku temani, aku senang melihatmu menggoreng telur."
Tanya Shuang Shuang.
"Mengapa harus melihatku menggoreng telur?"
Jawab Gao Li.
"Karena aku senang melihatnya.â • € Meskipun mereka tertawa, tapi hati mereka sudah tertutup oleh bayangan hitam. Dapur sangat bersih. Kau pasti tidak akan menyangka bahwa perempuan seperti Shuang Shuang bisa membersihkan dapur dengan begitu bersih. Kekuatan cinta sangat aneh, dia bisa membuat orang melakukan apa pun, juga bisa membuat mujizat. Shuang Shuang masuk ke dapur, diikuti oleh Gao Li. Shuang Shuang mengambil telur, Gao Li ikut mengambil telur. Dia mengikuti Shuang Shuang, sedikitpun tidak lengah. Shuang Shuang membakar kayu, dia yang mengipasi api. Shuang Shuang mengambil kuali, Gao Li segera mengambil tutup kuali. Tiba-tiba tutup kuali terjatuh dari tangan Gao Li. Tangannya terasa dingin, begitu juga dengan hatinya. Kuali tidak kosong, di dalam kuali ada 2 buah boneka yang terbuat dari kertas. Kedua boneka itu tidak ada kepala. Kepalanya sudah sobek, leher merah karena darah. Api kompor sangat besar, dalam waktu sekejap sudah membakar boneka kertas itu. Kedua boneka kertas itu terlihat sangat misterius dan menakutkan. Wajah Shuang Shuang sudah pucat, seperti yang akan pingsan. Dia mempunyai indra ke 6, bisa merasakan ketakutan. Gao Li tidak pingsan, karena dia tahu pada saat seperti inilah mereka haras tegar. Tiba-tiba Shuang Shuang berkata.
"Apakah sekarang kita harus jujur?"
Kata Gao Li.
"Benar."
Kata Shuang Shuang.
"Kaki seribu bukan jatuh dari atap karena di sini tidak ada kaki seribu."
Gao Li mengangguk.
Wajahnya penuh dengan kesedihan karena mereka tahu, hidup tenang dan manis ini akan segera berakhir.
Harus mengakui hal ini terlalu sakit untuk mereka.
Tapi Shuang Shuang malah terlihat sangat tenang, dia memegang erat tangan Gao Li dan berkata.
"Bukankah kita sudah tahu bahwa mereka akan mencari kita?"
Jawab Gao Li.
"Benar."
Kata Shuang Shuang.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku karena aku sudah siap."
Suara Shuang Shuang lebih lembut lagi berkata.
"Kita sudah hidup 2 tahun dengan bahagia, walaupun sekarang harus mati, aku juga tidak merasa menyesal. Apalagi kita belum tentu akan mati."
Tanya Gao Li.
"Apakah kau mengira aku takut kepada mereka?"
Jawab Shuang Shuang.
"Kau pasti tidak akan takut, karena kau adalah seorang ksatria, tidak akan takut kepada pengecut yang bersembunyi-sembunyi."
Wajah Shuang Shuang terlihat bercahaya, karena dia memang bangga kepada Gao Li.
Tiba-tiba Gao Li juga merasa keberaniannya muncul.
Jika kau pernah mencintai seseorang, kau akan tahu keberanian ini datangnya dari mana dan semua itu sangat aneh.
Kata Gao Li.
"Itu hanya 2 buah boneka kertas saja."
Tanya Shuang Shuang.
"Boneka kertas?"
Kata Gao Li dengan dingin.
"Mereka ingin menakuti kita tapi kita tidak akan takut."
Kaki seribu dan boneka kertas tidak bisa mengancam nyawa orang tapi siapa pun tahu ini hanyalah sebuah ancaman dan peringatan.
Sepertinya mereka tidak ingin dia mati dengan cepat.
Shuang Shuang terdiam, tiba-tiba berkata.
"Kau mencuci panci, aku akan merebus telur, aku akan merebus 6 butir telur. Kau makan 4 butir dan aku akan makan 2 butir."
Tanya Gao Li.
"Kau masih bisa makan?"
Kata Shuang Shuang.
"Mengapa tidak, kalau tidak bisa makan berarti takut kepada mereka. Kita harus bisa makan dan makan yang banyak."
Gao Li tertawa dan berkata.
"Benar, aku makan 4 butir dan kau makan 2 butir."
Hanya telur yang ada mempunyai cangkang, itu yang paling aman. Mereka mulai makan telur. Kata Shuang Shuang.
"Telur ini sangat enak."
Jawab GaoLi.
"Lebih enak daripada daging."
Kata Shuang Shuang.
"Kalau mereka adalah ksatria dan berani keluar di depan wajah kita, kita akan mengundang dia makan telur."
Kata Gao Li.
"Tapi mereka tidak berani muncul, mereka pengecut."
Tiba-tiba dari luar jendela ada yang tertawa. Gao Li berdiri dan bertanya.
"Siapa kau?"
Gao Li ingin mengejar, tapi dia duduk kembali dan berkata.
"Benar-benar tidak ada keberanian untuk menemui orang."
Kata Shuang Shuang.
"Apakah kau tahu dengan cara apa memperlakukan orang seperti ini?"
Tanya Gao Li.
"Cara apa?"
Kata Shuang Shuang.
"Tidak perlu meladeni mereka."
Gao Li tertawa.
"Benar. Kelihatan aneh tapi mereka akan lelah sendiri. Itu cara yang terbaik."
Suara tawa orang itu sangat besar, apakah benar dia sedang tertawa?
Di luar jendela sangat gelap, kegelapan yang sangat luas.
Di dalam kegelapan tersembunyi banyak hal yang menakutkan juga orang yang menakutkan.
Di dalam rumah hanya ada mereka berdua.
Rumah yang kecil, orang yang kecil, kegelapan di luar sudah mengelilingi mereka.
Benarkah mereka tidak merasa takut?
Tombak sudah dikeluarkan dari peti.
Tombak yang penuh dengan debu, tapi tidak berkarat.
Ada hal yang tidak bisa berkarat seperti kenangan.
Gao Li teringat kepada Qiu Feng Wu.
"Bagaimana keadaan dia? Apakah dia juga sudah bertemu dengan mereka?"
Gao Li berharap dia tidak bertemu dengan mereka.
Dia berharap hal ini bisa diselesaikan di sini juga, diselesaikan olehnya sendiri.
Hanya satu-satunya yang membuat dia tenang adalah Shuang Shuang.
Kalau dia tidak ada, bagaimana dengan Shuang Shuang?
Dia tidak berani berpikir.
Shuang Shuang seperti tidak beipikir, dia sudah tertidur.
Shuang Shuang lebih kuat dan lebih berani dari yang dia sangka, bila sedang tertidur, dia seperti seorang anak kecil.
Bagaimana dia bisa meninggalkan Shuang Shuang?
Bagaimana bila dia mati?
Di luar jendela angin berhembus sangat kencang.
Malam lebih gelap lagi.
Gao Li memegang tombaknya, dengan sekuat tenaga menahan air mata yang menetes.
Tapi air mata tetap mengalir.
Tiba-tiba Shuang Shuang membalikkan badan dan berkata.
"Mengapa kau belum tidur?"
Ternyata dia juga belum tidur. Kata Gao Li.
"Aku belum ingin tidur."
Kata Shuang Shuang.
"Jangan lupa besok pagi kau masih harus ke sawah."
Kata Gao Li.
"Apakah besok aku boleh bolos bekerja sehari saja?"
Kata Shuang Shuang.
"Boleh, tapi bagaimana dengan lusa atau lusa lagi? Apakah bila mereka tidak muncul kau akan terus menemaniku di sini? Apakah kau mau seumur hidup terus menemaniku di rumah kecil ini?"
Tanya Gao Li.
"Mengapa tidak?"
Jawab Shuang Shuang.
"Kalau kau bisa melakukannya, kita bisa bertahan sampai kapan?"
Jawab Gao Li.
"Bertahan sampai mereka muncul, menunggu mereka mencariku."
Tanya Shuang Shuang.
"Kapan mereka muncul dan mencarimu?"
Jawab Gao Li.
"Mereka sudah datang, pasti tidak perlu menunggu lama."
Kata Shuang Shuang.
"Mereka melakukan begitu, mungkin mereka ingin mengurungku di rumah ini, begitu kau sudah merasa lelah baru akan muncul."
Kata Gao Li.
"Mereka tidak perlu menunggu, mereka tidak perlu melakukan hal seperti itu."
Tanya Shuang Shuang.
"Mengapa?"
Jawab Gao Li.
"Sekarang aku harus berkata jujur, aku hanya berharap kau melakukan satu hal untukku."
Tanya Shuang Shuang.
"Hal apa?"
Gao Li mengusap mukanya dan berkata.
"Kau haras berjanji, bila terjadi sesuatu padaku, kau harus hidup dengan baik."
Kata Shuang Shuang.
"Apa maksudmu?"
Kata Gao Li.
"Kau pasti mengerti."
Tanya Shuang Shuang.
"Apakah kau takut kepada mereka?"
Jawab Gao Li.
"Benar."
Tanya Shuang Shuang.
"Mengapa?"
Wajah Gao Li terlihat sedih, dia berkata.
"Kau tidak bisa membayangkan, mereka itu sangat menakutkan. Kali ini mereka datang, pasti sudah ada persiapan penuh."
Shuang Shuang terdiam. Dia sangat tenang, kemudian dia berkata.
"Jika mereka sudah siap, mengapa tidak turun tangan?"
Kata Gao Li.
"Mereka ingin membuatku ketakutan."
Kata Shuang Shuang.
"Sesudah mereka menangkapmu, kau juga takut?"
Gao Li terpaku. Tiba-tiba matanya terang dan dia meloncat lalu berkata.
"Sekarang aku sudah tahu."
Tanya Shuang Shuang.
"Kau tahu apa?"
Kata Gao Li.
"Orang Qing Long Bang tidak datang."
Tanya Shuang Shuang.
"Lalu siapa yang datang?"
Kata Gao Li.
"Yang datang hanya ada satu orang, dia ingin membuatku lelah, hingga aku menjadi gila. Kemudian dia akan pelan-pelan membunuhku."
Tanya Shuang Shuang.
"Kau tahu siapa dia?"
Kata Gao Li.
"Ma Feng, pasti Ma Feng."
Ma Feng jarang membunuh orang, tapi kalau dia mau membunuh orang, dia jarang gagal. Dia membunuh orang secara perlahan dan menakutkan.
"Bila kau mau bunuh orang, kau harus bisa membuat dia menjadi setan, sehingga tidak akan mencarimu untuk membalas dendam."
Ini adalah prinsip Ma Feng. Karena gembira, muka Gao Li memerah dan berkata.
"Aku tahu lambat laun dia pasti akan datang."
Tanya Shuang Shuang.
"Mengapa?"
Jawab Gao Li.
"Dia datang untuk balas dendam."
Tanya Shuang Shuang.
"Balas dendam?"
Jawab Gao Li.
"Ada orang bila dia melakukan hal yang tidak baik kepada orang lain, tapi orang lain tidak boleh melakukan hal seperti ini kepadanya, kalau tidak dia akan datang untuk balas dendam."
Kata Gao Li lagi.
"Dia lupa bahwa aku juga sedang menunggu dia."
Gao Li tidak lupa siapa yang membunuh Jin Kai Jia. Kata Shuang Shuang.
"Mengapa kau tahu dia tidak membawa orang Qing Long Bang kemari?"
Jawab Gao Li.
"Tidak akan."
Tanya Shuang Shuang.
"Mengapa?"
Jawab Gao Li.
"Karena balas dendam bagi dia adalah suatu kenikmatan, membunuh orang juga demikian, karena itu dia tidak akan berbagi dengan orang lain."
Kata Shuang Shuang.
"Dia pasti orang yang menakutkan."
Kata Gao Li.
"Benar, tapi aku tidak takut kepada dia."
Suara Gao Li tiba-tiba berhenti, karena di luar ada yang mengetuk pintu.
Suara ketukan pintu ringan dan pelan, tiap kali mengetuk seperti mengetuk jantung mereka.
Nafas Gao Li seperti sudah berhenti.
Tiba-tiba dia merasa dirinya tidak begitu kuat dan yakin karena selama 2 tahun ini yang dia pegang hanya pacul bukan tombak.
Suara ketukan pintu masih terus terdengar ringan, pelan, sekali demi sekali...
Tangan Shuang Shuang menjadi dingin.
Tiba-tiba Gao Li juga mengetahui Shuang Shuang tidak seberani yang dia kira.
Shuang Shuang berkata.
"Di luar seperti ada yang mengetuk pintu."
Kata Gao Li.
"Aku tahu."
Tanya Shuang Shuang.
"Mengapa kau tidak membuka pintu?"
Kata Gao Li tertawa dingin.
"Kalau dia masuk, tidak perlu membuka pintu untuknya, dia juga akan masuk sendiri."
Sebenarnya dia tahu ini hanya satu alasan.
Memang Gao Li ketakutan.
Karena dia tidak boleh mati dan dia takut mati.
Takut mati bukan hal yang memalukan, bukan berarti jika kau adalah ksatria dan ada perempuan seperti Shuang Shuang mencintaimu yang harus diurus, kau juga akan takut mati.
Hati Shuang Shuang seperti ditusuk jarum.
Dia sangat mengerti Gao Li, tidak ada orang lain lebih mengerti Gao Li daripada dia.
Mata Shuang Shuang keluar air mata.
Tanya Gao Li.
"Kau menangis?"
Kata Shuang Shuang.
"Kau tahu aku bangga kepadamu."
Kata Gao Li.
"Aku tahu."
Kata Shuang Shuang.
"Tapi sekarang aku sudah tidak mempunyai perasaan seperti itu."
Gao Li menunduk.
Dia tahu pikiran Shuang Shuang.
Tidak ada perempuan ingin suaminya seorang yang penakut, lebih-lebih tidak ada perempuan yang ingin suaminya lari dari kesulitan dan bahaya.
Kata Shuang Shuang.
"Aku tahu demi diriku kau menjadi seperti itu, tapi aku tidak mau kau begitu, aku tahu kau pasti sedih. Sebenarnya kau bukan penakut."
Kata Gao Li.
"Tapi kau..."
Kata Shuang Shuang.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, hal yang harus kau lakukan tetap lakukan, kalau tidak aku akan lebih sedih lagi."
Gao Li melihat dia, hanya istri yang baik baru bisa mengatakan demikian.
Tiba-tiba dia merasa bangga mempunyai istri yang begitu baik.
Dengan ringan dia mencium air mata Shuang Shuang dan membalikkan badan kemudian pergi.
Shuang Shuang menghitung langkah Gao Li.
Setiap pagi, dia selalu menghitung langkah Gao Li, dari tempat tidur berjalan sejauh 13 langkah sudah berada di luar pintu.
Satu..
.dua..
.tiga..
.empat..
.lima...
Kali ini Gao Li pergi, apakah akan kembali?
Shuang Shuang tidak tahu juga tidak berani berpikir, dia tidak akan melarang dia karena dia tidak bisa lari lagi.
Bab Kepercayaan Teman Lama Malam.
Kabut malam entah kapan mulai muncul, seseorang berdiri diam di tengah kabut malam.
Orang yang seram, wajah yang seram, mata tajam seperti burung pemakan bangkai.
Begitu Gao Li membuka pintu, dia sudah melihat orang itu, tidak ada perubahan dalam diri orang itu.
Gao Li sama sekali tidak menyangka, dia bisa berdiri di luar pintu rumahnya seperti akan mengunjungi seorang teman, menunggu tuan rumah membuka pintu.
Begitu matanya melihat Gao Li, tatapannya tetap seperti tatapan seekor elang lapar yang melihat daging.
Kata Gao Li.
"Akhirnya kau datang juga!"
Jawab Ma Feng.
"Benar, aku harus datang, siapa pun yang pernah menusuk perutku dengan pedang, aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang."
Kata Gao Li.
"Kau bisa hidup sampai sekarang itu sudah sangat beruntung."
Kata Ma Feng.
"Benar, itu memang tidak mudah, kau tidak tahu, aku menghabiskan harta benda dengan harga yang tinggi baru bisa ditukar kembali dengan nyawaku, karena itu aku tidak boleh mati juga tidak akan bisa mati."
Matanya menyipit dan berkata.
"Xiao Wu berada di mana?"
Tanya Gao Li.
"Kau mencari dia?"
Jawab Ma Feng.
"Benar."
Mulut Gao Li mengeluar tawa yang aneh dan berkata.
"Sayang, selamanya kau tidak akan bisa bertemunya lagi."
Tanya Ma Feng.
"Dia berada di mana?"
Jawab Gao Li.
"Apakah kau tidak pernah terpikirkan dia berada di mana?"
Tanya Ma Feng.
"Apakah dia sudah mati?"
Jawab Gao Li.
"Kalau dia tidak mati, dia tidak akan melepaskanmu."
Wajah Ma Feng berubah, seperti perutnya sedang ditusuk kembali dengan pedang. Kata Gao Li.
"Walaupun dia sudah mati, tapi aku tidak, aku masih hidup."
Dengan menarik nafas panjang, Ma Feng berkata.
"Benar, kau belum mati, untung kau belum mati. Dua tahun ini siang malam aku selalu berdoa, semoga kalian panjang umur."
Tiap kata yang dia keluarkan penuh dengan kebencian, membuat orang merasa bergidik. Gao Li tahu tangan kirinya sudah keluar keringat dingin, dia segera berteriak.
"Seharusnya kau berdoa agar aku cepat mati. Kalau aku tidak mati, kau yang akan mati, sekarang kau harus mati."
Ma Feng tertawa dingin. Gao Li juga tertawa dingin.
"Pekerjaan seperti kita ini jika melakukan kesalahan dia harus mati, kau sudah melakukan 3 macam kesalahan."
Kata Ma Feng dengan ringan.
"Aku mendengarnya."
Kata Gao Li.
"Pertama, kau tidak boleh datang seorang diri. Kedua, kau harus menyandera Shuang Shuang agar bisa mengancamku, tapi sekarang sudah terlambat. Ketiga, kau tidak boleh dengan cara seperti itu mengetuk pintu rumahku."
Jawab Ma Feng.
"Masuk akal juga.â • € Kata Gao Li.
"Sebenarnya kau mempunyai kesempatan secara sembunyi-sembunyi menyerangku."
Ma Feng tiba-tiba memotong kata-katanya, dengan dingin dia berkata.
"Aku tidak perlu menyerangmu secara sembunyi-sembunyi, juga tidak perlu menyandera istrimu supaya bisa mengancammu sebab kapan pun aku bisa membunuhmu."
Gao Li tertawa terbahak-bahak. Kata Ma Feng.
"Dua tahun ini tiap hari aku latihan selama 6 jam, bagaimana dengan dirimu?"
Tiba-tiba tawa Gao Li berhenti. Dengan dingin Ma Feng melihatnya dan berkata.
"Sekarang kau masih hidup, karena aku masih menginginkan kau hidup."
Gao Li tidak bicara, juga tidak bergerak.
Tiba-tiba dia merasa tidak nyaman, sikap Ma Feng semakin tenang, maka dia semakin merasa tidak nyaman.
Sorot mata Ma Feng yang seram pandangannya bergeser, dia memandang langit yang gelap dan berkata.
"Kau masih bisa hidup 7 hari lagi."
Suaranya mengandung kepercayaan yang menakutkan seperti hakim yang menjatuhkan vonis kepada tersangka.
Gao Li tertawa lagi, dia berusaha keras baru bisa membuat dirinya mengeluarkan suara tawa.
Ma Feng sama sekali tidak memandang dia dan berkata.
"Tujuh hari lagi adalah bulan purnama, aku membunuh orang selalu menunggu saat bulan purnama."
Kata Gao Li.
"Mungkin kau tidak perlu menunggu begitu lama."
Kata Ma Feng.
"Mungkin, tapi kau tidak perlu terburu-buru ingin mati. Masih banyak hal yang harus kau bereskan. Istrimu juga tidak mau kau mati sekarang."
Kata-kata yang terakhir seperti menusukkan pisau ke arah Gao Li. Dia merasa perutnya keram, dia ingin muntah. Kata Ma Feng.
"Aku akan tinggal di sini selama 7 hari, karena tempat di sini lumayan bersih."
Tanya Gao Li.
"Kau bilang apa?"
Kata Ma Feng.
"Aku bilang bisa hidup 7 hari lagi itu lumayan untukmu."
Gao Li melihatnya. Sebenarnya Ma Feng tidak tertawa. Wajahnya mengandung kekejaman, seram, dan tertawa penuh percaya diri. Kata Ma Feng.
"Tujuh hari ini kau boleh melakukan banyak hal, bila kau bisa mengatur, bila nanti kau mati istrimu juga bisa hidup dengan baik."
Gao Li menundukkan kepala melihat tombaknya yang berwarna perak.
Debu di atas tombak sudah dibersihkan, tapi cahaya tombak sepertinya terlihat sangat lemah.
Gao Li mengangkat kepala, keringat dingin mengalir dari wajahnya.
Suara Gao Li terdengar kering dan serak, dia berkata.
"Kau bisa menunggu selama 7 hari, mengapa aku tidak boleh?"
Ma Feng tertawa. Kali ini dia benar-benar tertawa. Dengan tersenyum dia berkata.
"Baiklah, besok pagi aku akan datang lagi. Di pagi hari aku senang makan mie."
Dia tidak mendengar kata-kata Gao Li lagi, dia membalikkan badan.
Dalam sekejap dia sudah menghilang di dalam kabut malam itu.
Gao Li juga tidak melihat dia lagi, dia membalikkan badan dan membungkukkan badan untuk muntah.
Muntah terus hingga air empedunya juga keluar.
Tiba-tiba dia merasa ada tangan kecil yang hangat mengangkat wajahnya.
Wajah Gao Li basah, apakah ini air mata atau keringat dingin?
Setelah lama Shuang Shuang dengan lembut berkata.
"Apakah kau merasa kali ini kau sudah melakukan kesalahan?"
Gao Li menggelengkan kepala.
Dia tidak salah 7 hari tidak pendek, dalam 7 hari cukup untuk melakukan banyak hal.
Dia harus bersabar.
Sebenarnya dia mempunyai kesempatan untuk mengalahkan orang lain tapi sekarang dia harus lebih bersabar dan harus menahan diri.
Shuang Shuang juga tidak banyak bertanya.
Asalkan Gao Li mengatakan benar, Shuang Shuang akan menerimanya.
Dengan berat dia berkata.
"Sekarang kita tidur, besok pagi kita akan makan mie."
Yamien. Mie yang sudah dingin. Gao Li melihat mie di atas meja, wajahnya tidak ada ekspresi apa pun. Kemudian dia melihat Ma Feng yang baru masuk. Kata Shuang Shuang.
"Apakah itu Tuan Ma?"
Jawab Ma Feng.
"Benar."
Kata Shuang Shuang.
"Mie sudah dingin, apakah harus dipanaskan lagi?"
Jawab Ma Feng.
"Tidak perlu."
Kata Shuang Shuang.
"Jika mie kurang asin, di sini masih ada kecap."
Suara Shuang Shuang terdengar lembut dan hangat, dia seperti seorang istri yang rajin yang meladeni teman suaminya. Ma Feng melihatnya, tiba-tiba menarik nafas dan berkata.
"Untung aku bukan mau membunuhmu karena kau lebih tenang daripada suamimu."
Shuang Shuang tertawa dan berkata.
"Perempuan seperti aku, apakah akan menaruh racun ke dalam mie?"
Ma Feng baru mengambil sumpit, segera dia menaruhnya lagi. Matanya yang seperti elang memandang Shuang Shuang dengan lama dan berkata.
"Kau tidak akan melakukannya."
Shuang Shuang mengangguk dan berkata.
"Aku pasti tidak akan menaruh racun ke dalam mie-mu."
Ma Feng tidak mengatakan sesuatu, segera dia berdiri dan masuk ke dapur. Tanya Shuang Shuang dengan tersenyum.
"Ada apa kau masuk ke dapur?"
Jawab Ma Feng.
"Aku membunuh orang ingin seorang diri, makan mie juga ingin memasak sendiri."
Di kamar tamu, terdengar suara dengkuran Ma Feng, tapi Gao Li tidak bisa tidur.
Wajahnya sarat dengan kesedihan, hatinya sangat kacau.
Dia ingin melakukan sesuatu, tapi dia ragu, apakah memang harus dilakukan?
Dia tidak percaya diri lagi.
Ini baru benar-benar menakutkan.
Ma Feng melakukan hal seperti itu mungkin ingin menghancurkan rasa percaya dirinya.
Tanya Shuang Shuang dengan lembut.
"Kau memikirkan apa?"
Jawab Gao Li.
"Tidak ada."
Kata Shuang Shuang.
"Tiba-tiba aku teringat pada satu hal. Dia ingin menunggu selama 7 hari, apakah karena dia tidak mampu dibanding dirimu?"
Kata Gao Li.
"Mungkin saja."
Gao Li yakin Ma Feng pasti lebih percaya diri daripada dirinya karena tanggung jawab Gao Li lebih berat.
Bila pesilat tangguh bertarung, biasanya yang mati adalah orang yang tidak ingin mati.
Kata Shuang Shuang.
"Aku tahu dia tinggal di sini hanya untuk menyiksamu, tapi aku juga tidak memberinya hidup enak."
Gao Li tertawa dengan terpaksa dan berkata.
"Memang kau tadi sudah bantuku menyiksa dia."
Kata Shuang Shuang.
"Sekarang aku terhadap dengan cara apa pun dia tidak akan membalas, karena..."
Suara Shuang Shuang sedikit berubah dan berkata.
"Jika tidak ada aku, kau tidak takut kepada dia, apakah benar?"
Gao Li melihat dia, tiba-tiba dengan suara gemetar dia berkata.
"Kau.. .kau mau apa?"
Gao Li menanyakan ini karena dia terpikir pada satu hal yang sangat menakutkan. Shuang Shuang tertawa dengan sedih dan berkata.
"Aku tidak memikirkan apa-apa."
Kata Gao Li.
"Aku tahu kau sedang memikirkan apa?"
Gao Li tiba-tiba dengan cepat berkata.
"Kau kira jika kau mati, aku akan dengan bebas menghadapi dia. Bisa bunuh dia? Kau salah! Salah total!"
Kata Shuang Shuang.
"Aku..."
Kata Gao Li.
"Kalau kau mati, aku segera menemanimu mati."
Shuang Shuang adalah manusia dan juga perempuan, dia tiba-tiba masuk ke dalam pelukan Gao Li dan menangis.
Di luar Shuang Shuang terlihat sangat kuat, tapi di dalam dia ketakutan dan merasa sedih.
Demi Gao Li dia rela mati, dia berharap Gao Li bisa menjadikan kesedihan ini menjadi kekuatan baginya.
Dia belum melakukan hal ini karena dia terlalu mencintai Gao Li, dia tidak tega meninggalkan Gao Li.
Tidak ada orang yang tahu bagaimana dalamnya perasaan mereka.
Gao Li membelai rambutnya dan berkata.
"Demi aku, kau harus bertahan hidup. Demi kau, aku juga akan berbuat seperti itu. Kita pasti mempunyai cara untuk terus bertahan hidup."
Suaranya kecil karena kata-kata ini memang dia katakan untuk dirinya sendiri. Tangis Shuang Shuang sudah berhenti, dia tahu Gao Li akan melakukan apa. Tiba-tiba dia mengangkat kepada dan berkata.
"Kau pergi saja."
Gao Li memegang erat tangan Shuang Shuang, sepatah kata pun tidak bicara.
Sekarang dalam kesedihan dan rasa tersiksa mereka bisa bertahan, bersama-sama bertahan.
Karena mereka mempunyai harapan, harapan yang begitu indah.
--Kong Que Ling.
Di dunia ini tidak ada senjata rahasia yang lebih menakutkan daripada Kong Que Ling, juga tidak ada senjata rahasia yang lebih indah daripada Kong Que Ling.
Tidak ada orang yang bisa melukiskan keindahannya juga tidak ada yang bisa menghindar atau bertahan dari Kong Que Ling.
Orang nomor saru di dunia persilatan yaitu Jin Kai Jia, dia juga tidak bisa bertahan dari Kong Que Ling.
Sampai saat mati pun dia masih ingat, bagaimana sewaktu senjata rahasia itu dilemparkan, begitu misterius, cemerlang, dan indah.
Pada waktu itu dia merasa pusing.
Tak lama, kemudian dia roboh ke tanah.
Wisma Kong Que sendiri sangat indah, indah seperti istana dalam dongeng-dongeng dewa dewi.
Atap yang hijau disinari oleh matahari, tampak berkilauan.
Tangga yang putih melintasi dinding yang kuning.
Sebuah istana seperti yang terbuat dari emas dan perhiasan.
Di taman ada beberapa ekor burung merak tampak sedang bersantai.
Di kolam ada Yan Yang (semacam bebek) sedang berenang.
Bunga-bunga merah, putih, ungu menghiasi wisma ini menambah keindahan seperti di dalam mimpi.
Beberapa gadis sedang berlari-lari menginjak padang rumput yang lembut, mereka menghilang di balik kerimbunan bunga.
Bunga chrysan akan segera mekar, angin membawa harum bunga yang membuat orang mabuk.
Dari sebuah rumah kecil ada seseorang yang meniup suling, suara suling inilah yang memecahkan kesunyian di sana.
Pintu pertama terbuka lebar, tidak ada penjaga pintu.
Gao Li berlari ke depan Wisma Kong Que, kemudian dia roboh.
Di tempat dupa sedang dibakar dupa yang wangi.
Ruangan itu penuh harum dupa.
Di luar jendela, hari sudah malam.
Gao Li membuka mata, mata memandang ke sekeliling mulai dari satu pot chrysan kemudian diteruskan ke depan, dia melihat seseorang yang sedang tersenyum kepadanya.
Seseorang yang belum dia kenal.
Seperti seorang pemuda, tapi ada kumis yang dicukur dengan rapi di atas mulutnya.
Rambut dan kumis sangat rapi dan mengkilat, di bawah rambut masih menempel sebuah mutiara sebesar ujung jari.
Pakaiannya sangat sederhana, tapi bahannya sangat mahal.
Di balik jubah sutranya, masih ada ikat yang pinggang yang berwarna putih.
Sekali melihat pun sudah tahu bahwa dia adalah orang yang mempunyai kedudukan dan terlihat berwibawa.
Orang seperti ini hidup di dunia yang berlainan dengan Gao Li, hanya sepasang mata yang tajam terus melihatnya...
Gao Li tiba-tiba ingat dengan mata ini, dia hampir berteriak.
Qiu Feng Wu.
Gao Li sama sekali tidak mempercayainya, tuan yang berwibawa ini adalah pemuda yang dulu pernah bersamanya, sehidup dan semati menempuh segala bahaya.
Tapi dia mau tidak mau harus mempercayainya.
Karena orang itu sudah berjalan menghampirinya, dengan tenaga yang kuat memegang Gao Li.
Mata yang bercahaya penuh dengan air mata.
Gao Li menarik nafas panjang dan berkata.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi."
Tangan Qiu Feng Wu lebih kencang lagi memegang Gao Li dan berkata.
"Akhirnya kau datang juga mencariku, kau tidak melupakanku."
Gao Li berusaha duduk. Tapi Qiu Feng Wu menekan pundaknya dan berkata.
"Kau tidak sakit, tapi terlalu lelah, lebih baik berbaring."
Gao Li memang terlalu lelah. Sudah 2 hari dia tidak pernah berhenti berlari, dia harus pulang sebelum bulan purnama. Melihat langit di luar jendela, dia segera bangun dan bertanya.
"Aku sudah tidur berapa lama?"
Kata Qiu Feng Wu.
"Tidak begitu lama."
Dia melihat keringat dingin di dahi Gao Li. Qiu Feng Wu bertanya.
"Kau pasti mempunyai hal penting yang harus disampaikan kepadaku?"
Gao Li mengepalkan tangan dannya berkata.
"Aku tidak ingin datang ke sini, tapi aku.. .aku."
Kata Qiu Feng Wu.
"Kau harus ingat, aku pernah mengatakan . bila kalian mengalami kesulitan apa pun, orang pertama yang harus dicari adalah aku."
Qao Li mengangguk.
Air mata sudah mengaburkan pandangannya.
Seseorang jika dalam keadaan bahaya, tapi masih ada teman yang mendukung, perasaan seperti ini tidak dapat digantikan oleh apa pun.
Kata Qiu Feng Wu.
"Apakah mereka sudah mengetahui keberadaanmu?"
Gao Li mengangguk. Wajah Qiu Feng Wu membeku, dia mundur beberapa langkah lalu duduk. Akhirnya Gao Li bangun dan duduk. Dia berkata.
"Tapi yang datang hanya satu orang."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Siapa?"
Jawab Gao Li.
"Ma Feng."
Qiu Feng Wu menghembuskan nafas dan berkata.
"Kau sudah membunuhnya?"
Gao Li menundukkan kepala dan berkata.
"Dua tahun ini yang aku pegang adalah pacul, aku merasa memacul lebih menyenangkan daripada membunuh orang."
Kata Qiu Feng Wu.
"Karena itu kau tidak mau membunuh orang."
Gao Li tertawa kecut.
"Tanah adalah benda mati, sepertinya ilmu tombakku juga sudah mati."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Kau takut kalah darinya?"
Jawab Gao Li.
"Aku tidak yakin bisa menang kali ini."
Kata Qiu Feng Wu.
"Karena itu dia masih hidup sampai saat ini."
Kata Gao Li.
"Benar."
Tanya Qiu Feng Wu.
"Sekarang dia ada di mana?"
Jawab Gao LI.
"Ada di rumahku."
Qiu Feng Wu terpaku. Dia tidak mengerti, setelah lama dia baru bertanya.
"Shuang Shuang berada di mana?"
Jawab Gao Li.
"Di sana juga."
Wajah Qiu Feng Wu berubah dan berkata.
"Kau meninggalkan Shuang Shuang di sana, dan kau sendiri yang datang ke sini?"
Wajah Gao Li mengeluarkan ekspresi sedih dan menjawab.
"Karena dia tidak menyangka aku akan berani melakukan hal ini, karena itu aku datang ke sini."
Qiu Feng Wu menarik nafas panjang dan berkata.
"Aku sendiri juga tidak menyangkanya."
Kata Gao Li.
"Asal aku pulang sebelum bulan purnama, Shuang Shuang tidak akan berada dalam keadaan bahaya."
Tanya Qiu Feng Wu, .
"Mengapa?"
Jawab Gao Li.
"Kami berjanji akan bertarung di bulan purnama."
Qiu Feng Wu terpaku lama lalu dia tertawa.
"Aku sudah mengerti."
Tanya Gao Li.
"Kau mengerti apa?"
Jawab Qiu Feng Wu.
"Apakah dia sendiri yang datang ke rumahmu?"
Jawab Gao Li.
"Benar."
Kata Qiu Feng Wu.
"Dia tidak yakin bisa membunuhmu karena itu dia sengaja menunggu selama beberapa hari karena dia tahu kau sendiri tidak yakin bisa membunuhnya. Dia ingin dalam beberapa hari ini terus menyiksamu hingga kau hancur karena ketakutan."
Gao Li tertawa kecut dan berkata.
"Mungkin dia ingin aku mati secara pelan-pelan karena caranya membunuh orang tidak ingin terburu-buru."
Qiu Feng Wu melihatnya.
Dia merasa orang di hadapannya ini sudah berubah dan sangat berubah banyak.
Dalam perkumpulan 15 bulan 7, dia adalah pembunuh yang paling dingin dan kejam, tapi sekarang dia tampak tidak percaya diri.
Apakah dia benar-benar sudah jatuh cinta?
Pembunuh tidak boleh mencintai seseorang, semakin kejam dia membunuh maka hidupnya akan semakin lama, karena perasaan cinta inilah yang bisa membuat hati orang menjadi lemah.
Tiba-tiba Gao Li berkata.
"Tapi dia tetap salah memperhitungkan satu hal."
Tanggap Qiu Feng Wu.
"Oh!"
Kata Gao Li lagi.
"Dia mengira Xiao Wu sudah mati, dia tidak menyangka aku masih mempunyai seorang teman."
Seorang pembunuh tidak pantas mempunyai teman, tidak boleh mempunyai teman juga tidak ada teman. Kata Qiu Feng Wu.
"Kau juga telah salah melakukan suatu hal."
Kata Gao Li.
"Oh."
Kata Qiu Feng Wu lagi.
"Kau tidak boleh meninggalkan Shuang Shuang seorang diri di sana, kau harus menyuruh ikut Shuang Shuang mencariku."
Kata Gao Li.
"Karena ada Shuang Shuanglah, aku takut kepada Ma Feng, dia tidak akan berani melukai Shuang Shuang."
Kata Qiu Feng Wu.
"Mungkin dia tidak berani, tapi dia bisa menyandera Shuang Shuang untuk mengancammu."
Kata Gao Li.
"Dia mempunyai banyak kesempatan, tapi dia tidak melakukannya."
Kata Qiu Feng Wu.
"Mungkin pada waktu itu, dia tidak tahu perasaanmu terhadap Shuang Shuang."
Qiu Feng Wu melihat Gao Li lalu berkata.
Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 6
Baca Juga: Pendekar Misterius Gan Kl