Eps 9 Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong
Baca online Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong
Cersil Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong.
Hari itu mereka sudah dekat dengan kota Kayhong.
Gak Put-kun dan istrinya membicarakan tokoh-tokoh Bu-lim di kota itu.
Menurut pendapat Gak Put-kun di kota Kayhong boleh dikata tiada jago silat yang berarti.
Tapi Gak-hujin berkata.
"Ada seorang tokoh ternama di sini, mengapa Suko melupakan dia?"
"Tokoh ternama? Sia ... siapa yang kau maksudkan?"
Tanya Put-kun.
"Mengobati seorang bunuh seorang, bunuh seorang mengobati seorang, bunuh orang mengobati orang sama banyaknya, dagang rugi tak mau. Siapa dia itu?"
Ucap Gak-hujin dengan tertawa.
"Aha, 'Sat-jin-beng-ih' (tabib sakti pembunuh orang) Peng It-ci memang benar sangat ternama,"
Ujar Gak Put-kun tertawa.
"Tapi biarpun kita berkunjung padanya juga belum tentu dia mau menemui kita."
"Sungguh aneh, sudah disebut tabib sakti, mengapa pembunuh pula? Apa sebabnya, ibu?"
Tanya Leng-sian heran.
"Peng-losiansing itu adalah seorang ajaib di dunia persilatan,"
Tutur Gak-hujin.
"Ilmu pengobatannya memang mahasakti, betapa pun berat penyakit seorang asalkan dia mau mengobati ditanggung pasti akan sembuh kembali. Cuma dia mempunyai suatu sifat yang aneh. Ia bilang manusia hidup di dunia ini sudah ditentukan oleh takdir, bila dia terlalu banyak menyembuhkan orang sehingga mengurangi orang mati, tentu akibatnya dunia akan terlalu banyak orang hidup dan sedikit orang mati, kelak jika dia sendiri mati tentu Giam-lo-ong (raja akhirat) akan minta pertanggungjawabannya ...."
Sampai di sini anak muridnya sama tertawa geli. Tapi Gak-hujin telah melanjutkan.
"Sebab itulah dia mengadakan suatu ketentuan, setiap kali menyembuhkan seorang, maka dia juga harus membunuh satu orang sebagai imbalannya. Sebaliknya kalau dia membunuh satu orang tentu pula akan menghidupkan seorang sakit sebagai gantinya. Dengan demikian supaya Giam-lo-ong tidak dibikin rugi."
Kembali para muridnya sama tertawa. Leng-sian bertanya pula.
"Tabib sakti Peng It-ci itu benar-benar sangat kocak. Tapi mengapa dia pakai nama It-ci (satu jari), memangnya apakah dia hanya punya sebuah jari tangan?"
"Tidak, Peng-tayhu (tabib Peng) punya sepuluh jari seperti orang biasa,"
Tutur Gak Put-kun.
"dia mengaku bernama It-ci, maksudnya baik membunuh orang atau mengobati orang cukup memakai sebuah jari saja."
"O, kiranya demikian. Jika begitu tentu ilmu Tiam-hiat sangat lihai?"
Kata Leng-sian.
"Jarang sekali ada orang bergerak dengan Peng-tayhu itu,"
Sahut Gak Put-kun.
"Yang terang setiap orang Bu-lim mengetahui ilmu pertabibannya sangat lihai, boleh jadi setiap waktu memerlukan pertolongannya, maka setiap orang rada segan padanya. Tapi kalau tidak sangat terpaksa juga tak berani minta pengobatan padanya."
"Sebab apa?"
Tanya Leng-sian.
"Habis kalau menurut ketentuannya menyembuhkan seorang harus membunuh pula seorang sebagai imbalannya, bilamana orang itu kebetulan adalah sanak kadang atau sobat handainya, bukankah hal ini akan membuatnya serbasulit?"
"Ya, Peng-tayhu itu benar-benar sangat aneh perangainya,"
Kata para murid.
"Jika demikian, penyakit Toasuko tak dapat minta pertolongannya,"
Ujar Leng-sian.
Sejak tadi Lenghou Tiong hanya mendengarkan cerita sang guru dan ibu gurunya tentang tabib sakti pembunuh yang aneh itu.
Demi mendengarkan ucapan Siausumoay, ia hanya tersenyum hambar dan berkata.
"Ya, jangan-jangan dia sudah menyembuhkan aku, lalu menyuruh aku membunuh Siausumoayku sendiri."
Para murid Hoa-san-pay kembali tertawa riuh. Leng-sian juga tertawa dan berkata.
"Peng-tayhu itu tidak kenal aku, buat apa dia menyuruhmu membunuh aku?"
Lalu ia berpaling kepada Gak Put-kun dan bertanya.
"Ayah, sebenarnya Peng-tayhu itu tergolong orang baik atau jahat?"
"Menilik sifatnya yang aneh dan kelakuannya yang tak menentu, dia boleh dikata berada di antara yang baik dan yang jahat,"
Ujar Put-kun.
"Ah, mungkin orang Kangouw sengaja membesar-besarkan persoalannya,"
Kata Leng-sian.
"Setiba di Kayhong nanti aku ingin berkunjung pada Peng-tayhu itu."
"Hus,"
Bentak Put-kun dan istrinya berbareng.
"Jangan kau cari gara-gara. Orang aneh begitu masakah dapat kau kunjungi sesukamu? Kedatangan kita ini adalah untuk pesiar dan bukan ingin mencari perkara."
Melihat ayah-bundanya marah, Leng-sian tidak berani bicara lagi walaupun penuh keheranan terhadap si tabib sakti pembunuh itu.
Besok paginya lewat tengah hari perahu mereka sudah sampai di dermaga Kayhong, cuma untuk masuk ke kota masih ada beberapa li jauhnya.
"Di sebelah barat daya Kayhong ada suatu tempat, di mana leluhur Gak kita pernah sangat terkenal, tempat itu harus kita kunjungi,"
Demikian kata Put-kun dengan tertawa.
"Ya, betul, tempat itu pasti Cu-sian-tin adanya,"
Seru Leng-sian sambil tertawa senang.
"Di situlah kakek moyang kita Gak Peng-ki (Gak Hui) mengalahkan tentara Kim secara besar-besaran."
Dan begitu perahu mereka merapat ke dermaga, segera Leng-sian mendahului melompat ke daratan dan berseru.
"Ayo, lekas berangkat ke Cu-sian-tin, lalu makan malam di kota Kayhong."
Beramai-ramai semua orang lantas ikut mendarat. Sebaliknya Lenghou Tiong masih tetap duduk di buritan perahu.
"Ayo, Toasuko, apa engkau tidak ikut?"
Seru Leng-sian.
Sesudah kehilangan tenaga dalam Lenghou Tiong selalu merasa lelah dan malas bergerak, maka kepergian semua orang itu kebetulan baginya untuk belajar memetik kecapi.
Apalagi dilihatnya Lim Peng-ci berdiri di sisi Leng-sian dengan sangat mesra, semakin dinginlah hatinya, maka jawabnya.
"Tidak, aku tidak sanggup berjalan terlalu lama."
"Baiklah, boleh mengaso saja di sini, dari kota nanti akan kubawakan beberapa kati arak enak,"
Kata Leng-sian pula.
Begitulah dengan perasaan pedih Lenghou Tiong menyaksikan keberangkatan si nona yang didampingi Peng-ci itu, Jing-sim-boh-sian-ciu yang dilatihnya itu sudah berhasil menyembuhkan luka dalamnya, tapi apa artinya lagi hidup di dunia ini?
Seketika itu ia merasa segala macam pahit getir orang hidup seakan-akan membanjir tiba, dadanya terasa sesak, napas tersengal-sengal, segera perutnya kesakitan pula ....
Sementara itu Gak Leng-sian dan Lim Peng-ci yang jalan bersama itu asyik bicara dengan kasih mesra sehingga tanpa terasa mereka sudah jauh meninggalkan rombongan.
Gak-hujin mengedipi sang suami dan memandang kedua muda-mudi yang berjalan jauh di depan itu.
Gak Put-kun tahu maksud sang istri, ia tertawa sambil mempercepat langkahnya.
Hanya sekejap saja suami istri itu sudah menyusul sampai di belakang Leng-sian dan Peng-ci.
Dengan tindakan mereka yang cepat, mereka tanya arahnya kepada orang di tepi jalan, lalu empat orang mendahului menuju ke Cu-sian-tin.
Ketika hampir sampai di kota kecil itu, terlihat di tepi jalan ada sebuah kelenteng, papan di atas pintu kelenteng itu tertulis "Nyo-ciangkun-bio" (kelenteng panglima Nyo).
"Ayah, kutahu kelenteng ini adalah tempat pemujaan panglima Nyo Cay-hin yang kejeblos di dalam sungai Siau-sian-ho yang beku itu sehingga mati dihujani panah pasukan musuh,"
Kata Leng-sian.
"Betul,"
Sahut Put-kun.
"Nyo-ciangkun gugur di medan bakti, sungguh membikin orang kagum padanya. Marilah kita masuk ke dalam untuk melihatnya."
Karena muridnya yang lain masih ketinggalan jauh di belakang, tanpa menunggu lagi mereka berempat lantas masuk ke dalam kelenteng.
Patung Nyo Cay-hin yang dipuja itu tampak sangat gagah dan tampan, Leng-sian memandang sekejap ke arah Peng-ci, diam-diam timbul maksudnya membandingkan Toapekong yang tampan itu dengan Lim Peng-ci.
Belum lagi mereka sempat bicara, pada saat itu juga di luar kelenteng tiba-tiba ada suara orang berkata.
"Aku tahu Toapekong yang dipuja di dalam kelenteng panglima Nyo ini pasti Nyo Cay-hin adanya."
Mendengar suara orang itu, seketika air muka Gak Put-kun dan istrinya berubah pucat berbareng mereka sama meraba pedang yang tergantung di pinggang masing-masing.
Dalam pada itu terdengar seorang lain lagi bicara.
"Di zaman dahulu panglima she Nyo teramat banyak, dari mana kau yakin Toapekong yang dipuja ini adalah Nyo Cay-hin dan bukan Nyo Leng-kong dan panglima Nyo yang lain?"
"Tidak, aku tahu pasti adalah Nyo Cay-hin,"
Demikian orang yang pertama tetap ngotot.
Kiranya dari suara orang-orang itu dapatlah Gak Put-kun dan istrinya mengenali mereka bukan lain daripada Tho-kok-lak-sian.
Cepat ia memberi isyarat, segera bersama sang istri serta Peng-ci dan Leng-sian mereka sembunyi di belakang patung.
Ia dan istrinya sembunyi di sisi kiri, Leng-sian dan Peng-ci di sebelah kanan.
Diam-diam Put-kun merasa cemas bilamana sebentar lagi rombongan Lo Tek-nau dan lain-lain datang, tentu mereka akan kepergok dan ini berarti malapetaka bagi mereka.
Dalam pada itu karena pertengkaran mengenai Toapekong yang dipuja di kelenteng itu, akhirnya salah seorang dari manusia aneh itu berkata.
"Coba kita melihatnya ke dalam kelenteng."
Menyusul seorang di antaranya lantas berteriak.
"Aha, coba lihat! Bukankah di atas situ jelas tertulis patung yang dipuja ini adalah patung Nyo Cay-hin?"
Ternyata yang bicara itu adalah Tho-ki-sian. Kemudian ia berseru pula.
"Wahai Nyo Cay-hin, asalkan kau memberkahi Lakte kami agar jangan mati, boleh juga aku menjura beberapa kali padamu. Biarlah sekarang juga aku memberi persekot lebih dulu."
Habis berkata ia terus berlutut dan menyembah. Mendengar itu, Put-kun saling pandang sekejap dengan sang istri, air muka mereka sama memperlihatkan rasa lega dan girang. Pikir mereka.
"Dari ucapannya tadi agaknya orang yang tertusuk pedangnya itu belum mati."
Sementara itu Tho-hoa-sian lagi ikut berkata.
"Tapi bagaimana kalau Lakte jadi mati?"
"Kalau Lakte sampai mati, tentu patung ini akan kuhancurkan, lalu akan kukencingi pula,"
Sahut Tho-ki-sian.
"Tapi kalau Lakte benar-benar mati, apa gunanya kau mengencingi dan bahkan memberaki sekalipun juga percuma,"
Ujar Tho-hoa-sian.
"Benar juga,"
Sahut Tho-ki-sian.
"Mari kita kembali ke sana untuk tanya dia apa Lakte dapat disembuhkan, bila sudah sembuh baru kita datang ke sini untuk sembahyang, kalau tidak dapat sembuh akan kita beraki."
"Wah, kalau Lakte tidak dapat disembuhkan, lalu kita tidak kencing dan tidak berak, apa perut kita takkan kembung?"
Kata Tho-kin-sian.
"Ya, betul, jika kita tidak berak dan tidak kencing, tentu kita akan mati kembung,"
Seru Tho-kan-sian. Maka menangislah dia dengan sedih. Mendadak Tho-ki-sian bergelak tertawa.
"Jika Lakte tidak mati, bukankah sia-sia saja kau menangis? Ayo pergi ke sana, kita harus tanya yang jelas kalau perlu baru menangis."
Begitulah kelima orang itu sambil ribut mulut terus keluar lagi dari kelenteng dengan langkah cepat.
"Entah bagaimana keadaan orang aneh yang kau tusuk itu? Sumoay, hendaknya kau tunggu di sini bersama Peng-ci dan Sian-ji, biar kuperiksa ke sana,"
Kata Put-kun.
"Daripada sendirian menghadapi bahaya, biar kupergi bersamamu,"
Kata Gak-hujin, habis itu segera ia mendahului keluar kelenteng.
Gak Put-kun juga tidak banyak bicara pula, segera mereka berdua mengikuti jejak kelima orang aneh tadi.
Dari jauh tertampak Tho-kok-ngo-koay itu membelok ke suatu tanah tanjakan melalui suatu jalan kecil.
Sepanjang jalan kelima orang itu masih terus ribut mulut sehingga memudahkan penguntitan Gak Put-kun berdua.
Sesudah menyusuri jalan pegunungan itu, tertampaklah di balik beberapa puluh pohon Liu yang rindang di depan sana ada sebuah sungai kecil, di tepi sungai sana ada beberapa buah rumah genting.
Terdengar suara ribut kelima orang aneh itu menggema masuk ke rumah genting itu.
"Mari kita mengitar ke belakang rumah,"
Ajak Put-kun kepada istrinya.
Dengan Ginkang yang tinggi suami istri lantas mengitar jauh ke belakang rumah-rumah genting itu.
Sesudah dekat, terlihat di belakang rumah itu pun terdapat sebaris pohon Liu yang rindang, kedua orang lantas sembunyi di balik semak pohon.
Terdengar suara Tho-kok-ngo-koay lagi berkaok-kaok di dalam rumah.
"He, kau telah membunuh Lakte kami."
"Wah ken ... kenapa kau membedah dadanya?"
"Keparat, kami harus cabut nyawamu sebagai ganti nyawa Lakte! Kami harus bedah juga dadamu!"
"Ai, Lakte, sedemikian ngeri kematianmu, biar kami selamanya takkan ... takkan berak agar mati kembung bersamamu!"
Begitulah Ngo-koay itu berteriak dan berjingkrak tak keruan. Gak Put-kun terkejut, pikirnya.
"Kenapa ada orang membedah dada Lakte mereka?"
Perlahan mereka lantas merunduk maju, sampai di bawah jendela, mereka coba mengintip ke dalam rumah melalui celah-celah.
Tatkala itu hari sudah mulai gelap, di dalam rumah tampak terang benderang dengan beberapa buah pelita.
Di tengah rumah tertaruh sebuah dipan dan di atasnya terbaring seorang lelaki dalam keadaan telanjang bulat.
Dadanya telah terbedah, darah mengucur.
Kedua mata orang itu tampak tertutup rapat, agaknya sudah mati sekian saat.
Dari wajahnya segera Gak-hujin mengenalnya sebagai Tho-sit-sian yang terkena tusukan pedangnya di puncak Hoa-san tempo hari.
Tho-kok-ngo-koay tampak berkerumun di sekitar saudara mereka dan mencaci maki kepada seorang laki-laki pendek gemuk.
Laki-laki buntak itu tingginya tidak lebih dari empat kaki, tapi lebar pundaknya juga hampir empat kaki, kepalanya sangat besar, pakai kumis tikus, mukanya sangat lucu.
Kedua tangannya berlumuran darah, tangan kanan memegang pisau yang juga berlepotan darah.
Dengan mata melotot ia pandang Ngo-koay yang sedang berkaok-kaok itu, selang sejenak dengan suaranya yang berat barulah ia tanya.
"Sudah habis belum kentut kalian?"
"Sudah, kau sendiri mau kentut apa?"
Sahut Tho-kok-ngo-koay berbareng.
"Dada saudara kalian yang lebih mirip mayat hidup ini terkena pedang, dari tempat jauh kalian membawanya kemari dan minta aku menolong jiwanya,"
Demikian kata si buntak.
"Tapi perjalanan kalian terlalu lambat, lukanya telah membusuk, urat nadinya juga kacau, untuk menolong jiwanya tidaklah sukar, tapi sesudah sembuh ilmu silatnya akan punah, setengah badan bagian bawah akan lumpuh. Orang cacat begitu apa gunanya biarpun disembuhkan?"
"Biarpun cacat juga lebih baik daripada mati,"
Kata Tho-kin-sian.
"Tidak bisa,"
Teriak si buntak dengan gusar.
"Kalau mau mengobati orang harus kusembuhkan betul-betul, kalau menyembuhkan orang menjadi cacat ke mana mukaku ini harus ditaruh? Sudahlah, aku tidak jadi mengobati dia, tidak jadi! Lekas kalian gotong pergi mayat hidup ini!"
"Jika kau tidak mampu menyembuhkan Lakte kami, kenapa kau membedah dadanya?"
Tanya Tho-kan-sian.
"Sebenarnya kau ... kau ...."
"Hm, coba katakan, apa julukanku?"
Tanya si buntak dengan mendengus.
"Julukan setanmu adalah Sat-jin-beng-ih!"
Sahut Tho-kan-sian.
Seketika Gak Put-kun dan istrinya terkesiap dan saling pandang.
Kiranya si buntak yang berwajah lucu itu tak-lain tak-bukan adalah si tabib sakti pembunuh Peng It-ci yang maha termasyhur itu Dalam pada itu terdengar Peng It-ci sedang berkata pula.
"Jika sudah tahu aku berjuluk 'Sat-jin-beng-ih', kalau cuma membunuh satu orang masakah kau parau?"
"Apa sulitnya membunuh satu orang?"
Kata Tho-hoa-sian.
"Jika kau cuma pandai membunuh orang dan tak becus mengobati orang, kan percuma saja julukanmu memakai kata 'Beng-ih' segala?"
"Siapa bilang aku tidak becus mengobati orang?"
Teriak Peng It-ci dengan gusar.
"Aku telah membedah dada mayat hidup ini, sesudah kusambung urat nadinya, setelah sembuh nanti dia akan sehat seperti sediakala, ilmu silatnya juga takkan punah. Dengan demikian barulah kelihatan kepandaian Sat-jin-beng-ih!"
"Aha, kiranya kau dapat menyelamatkan Lakte kami, jika begitu kami telah salah mengomelimu,"
Seru Ngo-koay bersama.
"Ayolah lekas bekerja, dada Lakte telah kau bedah, darahnya mengucur terus, kalau tidak lekas diobati tentu akan terlambat."
"Tabibnya kau atau aku?"
Tiba-tiba Peng It-ci bertanya.
"Sudah tentu engkau, buat apa tanya lagi?"
"Jika aku, dari mana kau mengetahui terlambat atau tidak? Sesudah membedah dadanya mestinya aku sudah siap mengobati dia, tapi kalian berlima setan alas ini keburu datang lantas ribut tak keruan, padahal aku menyuruh kalian pergi pesiar seharian penuh, mengapa kalian sedemikian cepat kembali. Lalu cara bagaimana aku sempat mengobati dia?"
"Lekas mulai saja, kau sendiri yang rewel, mengapa bilang kami yang ribut?"
Sahut Tho-kan-sian. Peng It-ci mendelik pula padanya. Sekonyong-konyong ia membentak.
"Ambilkan jarum dan benang!"
Tho-kok-ngo-koay dan Gak Put-kun suami-istri sampai terkejut oleh suara bentakannya yang menggeletar itu.
Maka tertampaklah seorang wanita tinggi kurus melangkah masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah nampan, tanpa bersuara nampan itu ditaruhnya di atas meja.
Usia wanita itu antara 40-an tahun, wajahnya pucat bagai mayat, matanya sayu, seperti orang sakit-sakitan.
"Kalian minta aku menyelamatkan kawanmu ini, apakah kalian sudah tahu peraturanku?"
Tiba-tiba Peng It-ci tanya Ngo-koay.
"Sudah tentu tahu,"
Sahut Ngo-koay.
"Tak peduli membunuh siapa, silakan mengatakan saja, kami berenam saudara pasti akan menurut."
"Baiklah jika begitu,"
Ujar Peng It-ci.
"Tapi sekarang aku belum tahu siapa orang yang harus dibunuh. Nanti kalau aku sudah ingat baru akan kukatakan. Sekarang kalian harus berdiri di pinggir sana, dilarang mengeluarkan suara, asal bersuara sedikit saja segera aku akan berhenti kerja, dan mati atau hidup kawanmu ini aku tidak peduli lagi."
Selama hidup Tho-kok-lak-sian tak pernah diperintah orang sesukanya, sekarang mereka diharuskan berdiri diam, dilarang mengeluarkan suara, padahal ribut mulut adalah kegemaran mereka.
Keruan larangan itu lebih menderita daripada mereka dipukul.
Tapi demi untuk menyelamatkan saudara mereka, tiada jalan lain terpaksa mereka berdiri dengan mulut tertutup dan mata mendelik penuh mendongkol.
Sementara itu Peng It-ci telah ambil sebuah jarum besar dari nampan di atas meja, dipasang seutas benang putih bening lalu mulai menjahit dada Tho-sit-sian yang terbedah itu.
Jangan dikira kesepuluh jarinya itu pendek dan kasar sehingga mirip sepuluh batang wortel, gerak-geriknya ternyata sangat lincah melebihi anak gadis yang pandai menyulam.
Hanya sekejap saja sudah selesai menjahit rapat jalur luka sepanjang belasan senti itu.
Agaknya sudah lama Tho-sit-sian tak sadarkan diri, sama sekali ia tidak bersuara.
Maka dengan leluasa Peng It-ci membubuhkan macam-macam obat di atas lukanya.
Lalu ia mencekoki Tho-sit-sian dengan beberapa macam air obat pula, akhirnya noda darah di badannya dibersihkan dengan sepotong kain basah.
Si wanita tinggi kurus setengah umur itu sejak tadi membantunya dari samping mengembalikan jarum, memberikan obat gerak-geriknya juga sangat cepat dan lancar.
Kemudian Peng It-ci memandang Tho-kok-ngo-koay, tertampak bibir kelima orang itu bergerak-gerak, terang mereka ingin lekas-lekas diperbolehkan bicara.
"Kawanmu ini belum lagi hidup kembali, tunggu sesudah dia sadar baru kalian boleh bicara,"
Kata Peng It-ci.
Keruan Tho-kok-ngo-koay sangat mendongkol dan serbarunyam.
Peng It-ci tidak menggubrisnya lagi, ia duduk sendiri di samping.
Ngo-koay hanya saling pandang saja dengan menyengir.
Wanita tinggi kurus itu lantas menyingkirkan nampan yang berisi jarum dan peralatan lain.
Gak Put-kun bersama istrinya yang mengintip di luar jendela pun menahan napas.
Dalam keadaan sunyi senyap itu, asal sedikit bergerak saja pasti akan diketahui oleh orang-orang yang berada di dalam rumah.
Dalam keadaan sunyi senyap tiba-tiba dari kamar sebelah ada orang bertanya dengan suara serak.
"Sute, hidup tidak orang yang kau obati?"
"Sudah tentu hidup, masakah pasienku bisa mati?"
Sahut Peng It-ci.
Lalu terdengar suara pintu didorong, seorang kakek gemuk melangkah masuk.
Orang ini lebih tinggi sedikit daripada Peng It-ci, rambutnya beruban semua, mukanya sudah keriput.
Sesudah mendekati Tho-sit-sian yang terbaring itu, mendadak kakek itu tabok "Pek-hwe-hiat"
Di atas ubun-ubun Tho-sit-sian.
Serentak enam orang menjerit bersama, yang lima orang adalah Tho-kok-ngo-sian, yang satu lagi adalah Tho-sit-sian yang tadinya tak bisa berkutik itu, tapi sekarang ia dapat bersuara terus bangkit duduk sambil memaki.
"Keparat, mengapa kau pukul kepalaku?"
Si kakek beruban balas memaki.
"Keparat, jika Locu tidak menyalurkan hawa murni ke Pek-hwe-hiatmu, apa kau bisa sembuh begini cepat?"
"Persetan, Locu akan sembuh dengan cepat atau lambat, peduli apa denganmu?"
Sahut Tho-sit-sian.
"Keparat, Locu ada urusan penting yang harus berunding dengan Suteku, jika kau terus menggeletak tak bisa sembuh bukankah Locu harus menunggu lama?"
Semprot si kakek pula.
"Baik, biar Locu pergi sekarang juga, memangnya Locu ingin tinggal di sini?"
Sahut Tho-sit-sian.
Habis berkata, serentak ia berdiri terus melangkah pergi.
Melihat saudaranya sekali bilang pergi segera juga pergi, sembuhnya sedemikian cepat, keruan Tho-kok-ngo-sian terkesiap dan bergirang pula.
Mereka ikut di belakang Tho-sit-sian dan pergi tanpa pamit.
Terkejut Gak Put-kun dan istrinya, bahwa ilmu pertabiban Peng It-ci benar-benar sangat menakjubkan, Lwekang Suhengnya itu juga luar biasa, hanya sekali tabok saja telah menyalurkan tangan murni melalui Pek-hwe-hiat di ubun-ubun kepala Tho-sit-sian dan membuatnya sadar seketika.
Dalam pada itu Tho-kok-lak-sian sudah pergi jauh, sedangkan si kakek beruban telah duduk berhadapan dengan Peng It-ci di dalam kamar, maka Gak Put-kun dan istrinya tidak berani sembarangan bergerak lagi, mereka tahu betapa lihainya kedua orang di dalam rumah itu, jika sekarang mereka bergerak pergi tentu akan ketahuan, terpaksa mereka harus menunggu kesempatan lain lagi.
Terdengar si kakek beruban sedang tanya Peng It-ci.
"Kau hendak menyuruh Tho-kok-lak-sian membunuh siapa?"
"Sekarang aku belum ingat siapa yang harus dibunuh,"
Sahut Peng-It-ci.
"Eh, Suko, menurut pendapatmu sebaiknya suruh mereka membunuh siapa?"
"Dari mana aku bisa tahu apa kehendak yang terkandung di dalam hatimu?"
Sahut si kakek. Setelah merandek sejenak, lalu ia meneruskan.
"Kukira akan kau peralat mereka untuk membantumu pergi ke Jian-jiu-kiong untuk mengambil pusaka, bukan?"
"Hm, mengambil pusaka ke Jian-jiu-kiong?"
Jengek Peng It-ci.
"Sekali kau Pek-hoat-tongcu sudah menyatakan akan pergi ke sana, di dunia ini siapa lagi yang berani berebut denganmu?"
Mendengar sampai sini, Gak Put-kun mengangguk-angguk terhadap sang istri, katanya di dalam hati.
"Kiranya kakek ini adalah Pek-hoat-tongcu (si bocah berambut ubanan) Yim Bu-kiang. Konon orang ini berhati kejam, membunuh mata pun tidak berkedip, namun sudah 20-an tahun lamanya jarang terdengar namanya, tak tersangka bahwa dia adalah Suheng si tabib sakti pembunuh Peng It-ci."
Sebaliknya Gak-hujin tidak tahu asal usul Pek-hoat-tongcu segala, cuma dari anggukan sang suami serta matanya yang penuh rasa waswas itu segera ia pun paham asal usul si kakek beruban itu pasti tidak sembarangan.
Dalam pada itu si kakek beruban, Pek-hoat-tongcu Yim Bu-kiang, tampak sedang berjingkrak tertawa kekanak-kanakan dan berkata.
"Sute, dahulu waktu Jian-jiu-kiong dibuka, tatkala itu aku baru saja mulai meyakinkan Liong-siang-ciang (pukulan naga dan gajah), aku menyadari belum mampu memasuki istana itu. Kini sesudah dengan susah payah menunggu 30 tahun dengan sendirinya aku akan mencoba-cobanya. Padahal jika kau pergi bersama aku juga boleh, kita berdua bergabung tentu jauh lebih kuat daripada aku pergi sendiri."
"Sudah, sudah, lebih baik aku tidak pergi ke Jian-jiu-kiong dan kita masih tetap berhubungan dengan baik,"
Sahut Peng It-ci.
"Tapi sekali timbul maksudku akan pergi ke sana, mungkin sebelum meninggalkan Cu-sian-tin ini jiwaku sudah melayang di bawah Liong-siang-ciangmu. Di dunia ini terang tiada tabib sakti pembunuh yang mampu menyembuhkan aku?"
"Hah, orang yang terkena pukulan Liong-siang-ciangku, sekalipun kau si tabib sakti sendiri yang mengobati juga belum tentu mampu menolongnya,"
Ujar Yim Bu-kiang dengan tertawa.
"Benar,"
Sahut Peng It-ci.
"membunuh orang lebih gampang daripada menolong orang, ini memang kenyataan yang tak terbantahkan."
"Ya, tapi itu pun harus dilihat siapa yang akan dibunuh dan siapa yang hendak ditolong,"
Kata Yim Bu-kiang.
"Umpama orang ingin membunuh aku Pek-hoat-tongcu, terang tidak gampang."
"Tepat, sangat tepat,"
Seru Peng It-ci.
"Selama ini entah berapa banyak orang Kangouw yang ingin mencacah dirimu, tapi Yim-suhengku ini toh bisa hidup langgeng sampai rambut pun sudah ubanan semua. Tampaknya engkau masih dapat hidup aman sentosa untuk 60-70 tahun lagi."
"Hahahaha!"
Yim Bu-kiang bergelak tertawa.
"Usiaku sekarang sudah 74, jika hidup 60-70 tahun lagi bukankah akan berubah menjadi siluman?"
"Suko,"
Tiba-tiba Peng It-ci berkata.
"sekarang juga aku akan pergi mengobati seorang, apakah engkau ada minat untuk ikut pergi berjalan-jalan."
"Memangnya aku sudah merasa sebal meringkuk di gubukmu ini, ikut pergi berjalan-jalan akan lebih baik,"
Sahut Yim Bu-kiang dengan tertawa.
Begitulah kedua orang itu sambil bicara terus berjalan menuju ke sebuah rumah yang lain.
Gak Put-kun cepat memberi tanda kepada sang istri, dengan hati-hati mereka lantas meninggalkan rumah itu, sesudah beberapa puluh meter jauhnya barulah mereka berani berjalan dengan cepat.
"Lwekang kakek beruban itu agaknya jauh lebih tinggi daripada tabib sakti pembunuh itu,"
Ujar Gak-hujin di tengah jalan.
"Suko, sebenarnya dari golongan manakah kedua orang itu?"
"Konon menurut cerita orang bahwa guru Peng It-ci itu adalah seorang Tosu tua yang menyepi di pegunungan Hok-gua-san, soal asal usul dan dari golongan mana tidak ada orang Bu-lim yang tahu,"
Sahut Put-kun.
"Tapi dari tingkah laku mereka berdua tampaknya lebih jahat daripada baiknya,"
Ujar Gak-hujin.
"Karena Tho-kok-lak-sian juga berada di sini, sebaiknya kita lekas meninggalkan tempat ini,"
Ajak Gak Put-kun.
Gak-hujin tidak menanggapi lagi ucapan sang suami, ia merasa nasib mereka benar-benar sedang apes, suami adalah tokoh utama Ngo-gak-kiam-pay yang terhormat, tapi selama beberapa bulan terakhir ini terpaksa harus menyingkir kian kemari seakan-akan di dunia ini tiada tempat meneduh lagi bagi mereka.
Tidak lama kemudian mereka berada kembali di kelenteng, tertampak Leng-sian, Peng-ci, Lo Tek-nau dan murid-murid lain sedang menunggu dengan tidak sabar dan cemas.
"Marilah kita kembali ke perahu,"
Ajak Gak Put-kun.
Para muridnya sudah mendapat tahu bahwa Tho-kok-ngo-sian berada di sekitar situ, maka tanpa bertanya mereka buru-buru ikut berangkat.
Lo Tek-nau cukup paham perasaan sang guru, setiba di perahu segera ia bicara kepada juragan perahu agar segera berangkat.
Sudah tentu si tukang perahu sangat heran tanyanya.
"Mengapa kita tidak bermalam dulu di sini? Arus sungai sangat deras berlayar di malam hari sangat berbahaya, akan lebih baik kita berangkat besok pagi-pagi saja."
Segera Tek-nau mengeluarkan lima tahil perak dan diberikan kepada tukang perahu itu, katanya.
"Berangkat saja sekarang ini untukmu!"
Karena mendapat persen cukup banyak, pula melihat rombongan Lo Tek-nau sama membawa senjata, mau tak mau si tukang perahu menurut juga walaupun dengan ogah-ogahan.
Tapi baru saja tukang perahu itu hendak angkat sauh, pada saat itulah terdengar suara teriakan Tho-kok-ngo-sian.
"Lenghou Tiong! Di mana kau berada, Lenghou Tiong?!"
Seketika air muka Gak Put-kun dan murid-muridnya berubah hebat.
Dalam pada itu terlihat ada tujuh orang telah memburu sampai di tepi dermaga.
Selain Tho-kok-ngo-sian, yang dua orang lagi ternyata adalah Peng It-ci dan Yim Bu-kiang.
Tho-kok-ngo-sian sudah kenal Gak Put-kun suami istri, begitu melihat dari jauh mereka lantas berjingkrak kegirangan.
Sesudah dekat, serentak mereka berlima meloncat ke atas perahu.
Tanpa ayal Gak-hujin lantas melolos pedang dan menusuk ke dada Tho-kin-sian.
Sebelum serangan sang istri dilancarkan, berbareng Gak Put-kun juga sudah mencabut pedang.
"Trang" , tahu-tahu ia tahan batang pedang sang istri ke bawah, menyusul tangan lain meraup ke depan, ia rampas pedang istrinya itu sambil membisikinya.
"Jangan sembrono!"
Nyata Gak Put-kun telah memperhitungkan datangnya Tho-kok-ngo-sian sekaligus itu, andaikan satu-dua orang di antaranya dapat dirobohkan toh pihak sendiri tetap bukan tandingan sisa musuh yang lain.
Dalam pada itu terasa haluan perahu rada tenggelam ke bawah, Tho-kok-ngo-sian sudah berdiri di situ.
Tho-kin-sian lantas berseru.
"Lenghou Tiong, kau sembunyi di mana? Mengapa tidak lekas keluar?"
Lenghou Tiong menjadi gusar, katanya.
"Memangnya aku takut kepada kalian? Buat apa aku sembunyi?"
Pada saat itulah sekonyong-konyong perahu mereka oleng ke kiri, keruan para murid wanita Hoa-san-pay sama menjerit kaget.
Syukur perahu itu lantas miring pula ke sebelah lain lalu bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri.
Tahu-tahu di haluan perahu sudah bertambah dua orang, yang seorang adalah si tabib sakti Peng It-ci dan yang lain adalah Suhengnya, Pek-hoat-tongcu Yim Bu-kiang.
Kedua orang ini punya potongan tubuh yang serupa, sudah pendek lagi gemuk, bobot setiap orang sedikitnya 200 kati.
Padahal perahu itu cukup besar, daya angkutnya paling sedikit beberapa puluh ribu kati, kalau cuma ditambah dengan muatan empat lima ratus kati saja seharusnya tidak sampai bergoyang.
Sebabnya perahu tadi oleh tentulah karena kedua orang itu serentak menggunakan tenaga "Jian-kin-tui" (tekanan ribuan kati) yang lihai.
Diam-diam Gak Put-kun terkejut, pikirnya.
"Mengapa mereka berdua menyusul kemari? Jangan-jangan mereka telah mengetahui perbuatan kami yang mengintip tadi? Tho-kok-ngo-koay saja sudah sukar dilayani, sekarang bertambah lagi dua tokoh lihai ini, agaknya jiwa kami hari ini akan melayang di sini."
Tiba-tiba terdengar Peng It-ci berseru.
"Yang manakah Lenghou-hengte?"
Nadanya kedengaran sangat sungkan dan hormat. Perlahan Lenghou Tiong berjalan ke haluan perahu, katanya.
"Aku inilah Lenghou Tiong, entah siapakah nama kalian yang mulia dan ada keperluan apa?"
Lebih dulu Peng It-ci mengamati-amatinya sejenak, lalu katanya.
"Ada orang minta aku mengobati dirimu."
Habis berkata, sekali tangannya bergerak tahu-tahu pergelangan tangan Lenghou Tiong sudah kena dipegang, jari telunjuknya terus menekan di atas nadinya.
"Heh,"
Mendadak ia bersuara heran sambil berkerut kening. Selang sejenak dahinya terkerut semakin terkejut dan kembali bersuara.
"Eh!"
Sambil memeriksa nadi, Peng It-ci menengadah pula sembari garuk-garuk kepala dengan tangan yang lain, ia bergumam heran.
"Aneh, sungguh aneh!"
Selang sekian lama baru ia ganti memegang nadi tangan Lenghou Tiong yang lain. Mendadak ia bersin lalu berkata.
"Sangat aneh! Selama hidupku belum pernah menemukan penyakit seaneh ini."
"Apanya yang perlu diherankan?"
Demikian mendadak Tho-kin-sian menukas.
"Dia terluka dalam, sudah lama aku menyembuhkan dia dengan hawa murni dari Lwekangku."
"Bukan kau yang menyembuhkan dia, tapi akulah yang menyalurkan tenaga padamu, kalau tidak, bocah ini masakah dapat hidup sampai sekarang?"
Sela Tho-hoa-sian. Tho-ki-sian, Tho-yap-sian dan Tho-hoa-sian juga tidak mau kalah, beramai-ramai mereka pun menyatakan dirinya yang menyembuhkan Lenghou Tiong.
"Kentut! Kentut!"
Sekonyong-konyong Peng It-ci membentak.
"Kentut apa?"
Sahut Tho-kin-sian dengan gusar.
"Kau yang kentut atau kami berlima yang kentut?"
"Kalian berenam yang kentut!"
Sahut Peng It-ci.
"Jelas di dalam tubuh Lenghou-hengte ini ada dua arus hawa murni yang sangat kuat, rasanya adalah tenaga yang disalurkan oleh Put-kay Hwesio, selain itu ada enam arus tenaga pula yang lebih lemah, besar kemungkinan inilah berasal dari kalian berenam manusia tolol ini."
Gak Put-kun saling pandang sekejap dengan istrinya, katanya di dalam hati.
"Peng It-ci ini benar-benar luar biasa. Bukan saja sekali pegang nadi dia dapat mengetahui adanya delapan arus tenaga murni yang berbeda di dalam tubuh Tiong-ji itu, anehnya dia dapat mengetahui asal usulnya bahwa dua arus tenaga murni di antaranya adalah berasal dari Put-kay Hwesio."
Dalam pada itu terdengar Tho-kan-sian lagi berseru dengan gusar.
"Mengapa kau bilang tenaga kami berenam lebih lemah daripada si kepala gundul Put-kay? Sudah terang tenaga kami lebih kuat, dia punya lebih lemah!"
"Huh, tidak tahu malu,"
Ujar It-ci.
"Dengan tenaganya seorang dapat menahan tenaga kalian berenam, apakah ini namanya kalian lebih kuat?"
Sampai mati pun Tho-hoa-sian juga tidak mau mengaku kalah, segera ia pun menjulur sebuah jarinya pura-pura hendak memeriksa nadi Lenghou Tiong, katanya.
"Menurut pemeriksaanku tempo hari, terang tenaga kami berenam yang mendesak hawa murni si gundul Put-kay sehingga tak bisa bergerak ...."
Mendadak ia menjerit, jarinya kesakitan seperti digigit orang, cepat ia tarik kembali tangannya sambil berteriak.
"Aduh! Keparat!"
Peng It-ci bergelak tertawa senang. Semua orang tahu tentu tabib sakti itu menggunakan Lwekangnya yang lihai dan melalui tubuh Lenghou Tiong telah "menyetrum"
Jari Tho-hoa-sian. Sesudah tertawa, tiba-tiba Peng It-ci menarik muka dan berkata.
"Kalian harus menunggu di ruangan perahu sana, siapa pun dilarang bersuara."
"Persetan kau!"
Semprot Tho-yap-sian.
"Kenapa kami harus tunduk pada perintahmu."
"Aku tidak menyuruh kalian tunduk kepada perintahku,"
Sahut Peng It-ci.
"Tapi kalian sudah pernah bersumpah akan membunuh seorang bagiku bukan?"
"Ya, aku menyanggupi akan membutuhkan seorang bagimu, tapi toh tidak berjanji akan menurut perintahmu,"
Sahut Tho-ki-sian.
"Menurut perintahku atau tidak memang adalah hak kalian dan terserah kepada kalian untuk menentukannya,"
Kata si tabib sakti.
"Tapi bagaimana pendapat kalian seumpamanya kusuruh kalian harus membunuh Tho-sit-sian, orang keenam dari Tho-kok-lak-sian kalian?"
"He, mana bisa jadi! Baru saja kau menyembuhkan dia, mana boleh kau suruh kami membunuhnya?"
Teriak Tho-kok-ngo-sian berbareng "Coba jawab, kalian telah bersumpah apa di hadapanku?"
Tanya Peng It-ci.
"Kami bersumpah apabila engkau dapat menolong jiwa saudara kami Tho-sit-sian, maka permintaanmu agar kami membunuh satu orang bagimu, tak peduli siapa pun yang harus dibunuh pasti akan kami laksanakan dan takkan menolak,"
Sahut Tho-kin-sian.
"Betul. Dan sekarang aku sudah menyelamatkan saudara kalian atau tidak?"
"Sudah!"
"Dia orang atau bukan?"
"Sudah tentu orang, memangnya kau kira dia setan?"
"Bagus, dan sekarang aku minta kalian pergi membunuh satu orang. Orang itu bukan lain adalah Tho-sit-sian!"
Keruan Tho-kok-ngo-sian saling pandang dengan melenggong karena permintaan yang sukar dibayangkan itu.
"Tampaknya kalian enggan membunuh Tho-sit-sian bukan? Baiklah, bila perlu boleh juga dirunding lagi. Pendek kata kalian mau menurut pada perkataanku atau tidak? Aku suruh kalian duduk baik-baik di ruangan perahu sana, siapa pun tidak boleh sembarangan bicara dan bergerak,"
Kata Peng It-ci pula. Terpaksa Tho-kin-sian berlima mengiakan. Hanya sekejap saja mereka berlima sudah duduk anteng dengan tangan bersimpuh di atas lutut dan tidak berani cerewet lagi.
"Peng-locianpwe,"
Demikian Lenghou Tiong lantas berkata.
"konon engkau menolong seseorang selalu dengan satu syarat, yaitu bila orang itu sudah disembuhkan, maka orang itu diharuskan membunuh satu orang bagimu."
"Betul, memang itulah peraturan yang kutetapkan,"
Sahut Peng It-ci.
"Jika demikian Wanpwe tidak sudi membunuh orang bagimu, maka engkau pun tidak perlu menyembuhkan penyakitku,"
Kata Lenghou Tiong.
"Hahahaha!"
Hanya ini saja reaksi Peng It-ci demi mendengar ucapan Lenghou Tiong itu.
"Hmk!"
Yim Bu-kiang juga cuma mendengus.
Kembali Peng It-ci mengamat-amati Lenghou Tiong dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun kepala seakan-akan sedang memeriksa sesuatu barang antik yang aneh dan menarik.
Selang sejenak barulah ia membuka suara pula.
"Pertama, penyakitmu terlalu berat, aku tidak mampu menyembuhkannya. Kedua, andaikan dapat kusembuhkan juga sudah ada orang lain yang menyanggupi akan membunuh orang bagiku, kau sendiri tidak perlu turun tangan."
Walaupun Lenghou Tiong sudah putus asa dan merasa bosan hidup karena patah hati berhubung cinta Gak Leng-sian telah beralih kepada pemuda lain, tapi kini demi mendengar tabib sakti yang termasyhur ini pun menyatakan tidak mampu menyembuhkan penyakitnya, mau tak mau timbul juga rasa dukanya.
"Sute,"
Tiba-tiba Yim Bu-kiang membuka suara.
"siapakah gerangan yang minta kau mengobati pemuda ini? Orang macam apakah yang dapat mengundang 'Sat-jin-beng-ih' keluar dari tempat tinggalnya untuk mengobati orang sakit?"
Peng It-ci menggeleng, sahutnya.
"Aku tidak mampu mengobati penyakitnya, aku merasa malu, buat apa membicarakan dia?"
"Biasanya orang yang sudah sekarat, sudah 99 persen juga dapat kau sembuhkan kembali, sekarang pemuda ini tampaknya sehat-sehat saja, kenapa kau malah tidak mampu mengobati dia?"
Ujar Yim Bu-kiang.
"Di dalam tubuhnya ada delapan arus hawa murni yang aneh, tak dapat dipunahkan dan sukar diatasi, itulah kesukarannya,"
Kata Peng It-ci.
"Masakah begitu lihai?"
Ucap Yim Bu-kiang. Kedua tangannya segera pegang nadi tangan Lenghou Tiong, tapi hanya sejenak saja ia lantas lepas tangan sambil mendengus.
"Hmk!"
"Lenghou-hengte,"
Kata Peng It-ci kemudian.
"aku telah diminta orang untuk mengobati penyakitmu, ini menyangkut hawa murni dan Lwekang yang sukar diobati begitu saja seperti penyakit biasa. Selama melakukan pertabiban belum pernah kutemukan penyakit seaneh ini, aku benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa, sungguh aku sangat malu."
Sembari bicara ia pun mengeluarkan sebuah botol porselen, ia menuang keluar sepuluh biji pil berwarna merah tua, katanya pula.
"Sepuluh butir 'Tin-sim-li-gi-wan' ini terbuat dari bahan obat-obatan yang sangat berharga. Setiap sepuluh hari boleh kau minum satu biji dan dapat memperpanjang jiwamu selama seratus hari."
Lenghou Tiong menerima pemberian itu sambil mengucapkan terima kasih. Peng It-ci lantas putar tubuh, tapi sebelum melompat ke daratan, tiba-tiba ia berpaling dan berkata pula.
"Di dalam botol ini masih ada dua butir, biarlah kuberikan sekalian padamu."
Namun Lenghou Tiong tidak mau menerima, jawabnya.
"Sedemikian bagus obat ini, tentu Cianpwe masih perlu menggunakannya untuk menolong orang lain, maka lebih baik kau simpan kembali saja. Sekalipun Wanpwe dapat hidup lebih lama sepuluh hari atau dua puluh hari juga tiada faedahnya baik untuk diriku sendiri maupun untuk orang lain."
Untuk sejenak Peng It-ci mengamat-amati Lenghou Tiong pula, katanya kemudian.
"Tidak memikirkan mati atau hidup, ini benar-benar jiwa seorang laki-laki sejati."
Lalu ia mengangguk kepada Yim Bu-kiang, kedua orang lantas melompat ke daratan, hanya sekejap saja bayangan mereka sudah lenyap.
Mereka datang dan pergi sesukanya, sama sekali tidak pandang sebelah mata terhadap seorang tokoh seperti Gak Put-kun, keruan Put-kun sangat mendongkol.
Cuma di dalam perahu sekarang masih duduk lima orang aneh, cara bagaimana mengenyahkan mereka masih merupakan persoalan.
Tertampak Tho-kok-ngo-sian sedang duduk anteng bagai kaum padri bersemadi tanpa bergerak sedikit pun, jika tukang perahu disuruh menjalankan kendaraan air itu tentunya kelima malaikat maut itu pun terpaksa dibawa serta.
Jika perahu tidak diberangkatkan, lalu sampai kapan kelima orang itu mau pergi, jangan-jangan mereka akan menyerang mendadak untuk membalas dendam dilukainya Tho-sit-sian oleh Gak-hujin.
Begitulah diam-diam Gak Put-kun serbasusah, begitu pula Lo Tek-nau, Gak Leng-sian dan murid-murid Hoa-san-pay yang lain, semuanya merasa khawatir dengan beradanya Tho-kok-ngo-sian di atas perahu mereka.
Sementara itu Lenghou Tiong telah masuk ke dalam ruangan perahu, katanya kepada Tho-kok-ngo-sian.
"He, buat apa kalian tinggal di sini?"
"Kami harus duduk anteng di sini, tidak boleh sembarangan bicara dan bergerak,"
Sahut Tho-kin-sian.
"Kami sudah akan berangkat, silakan kalian naik ke daratan saja,"
Kata Lenghou Tiong.
"Menurut pesan tabib Peng It-ci, kami disuruh duduk baik-baik di dalam perahu ini, kalau kami sembarangan omong dan bergerak tentu kami akan disuruh membunuh saudara kami sendiri. Sebab itulah kami harus duduk saja di sini dan tak berani bergerak dan sembarangan bicara,"
Demikian sahut Tho-kan-sian. Tak tertahan rasa gelinya, Lenghou Tiong tertawa, katanya.
"Sudah sejak tadi Peng-tayhu (tabib Peng) telah mendarat, kalian sudah boleh sembarangan omong dan bergerak."
"Tidak boleh, jika tingkah laku kami sampai dilihatnya tentu urusan bisa runyam,"
Ujar Tho-hoa-sian sambil menggeleng. Pada saat itulah tiba-tiba di daratan sana ada suara seorang yang agak serak sedang berseru.
"He, di mana beradanya kelima makhluk yang tidak mirip manusia dan tidak mirip setan itu?"
"Siapa yang dia maksudkan, apa kita?"
Demikian kata Tho-kin-sian.
"Kukira bukan, memangnya kita tidak mirip manusia dan tidak mirip setan?"
Ujar Tho-kan-sian. Dalam pada itu orang tadi sedang berseru lagi.
"Di sini pun kubawa suatu makhluk yang tidak mirip manusia dan tidak mirip setan, dia baru saja disembuhkan oleh Peng-tayhu. Kalian mau ambil kembali dia atau tidak? Kalau tidak, biar kubuang dia ke dalam sungai untuk umpan ikan."
Mendengar itu, serentak Tho-kok-ngo-sian melompat keluar perahu dan berdiri di tepi dermaga.
Terlihat wanita setengah umur yang tinggi kurus pembantu Peng It-ci yang menjahit dada Tho-sit-sian ketika dibedah itu sedang berdiri di sana, tangan kiri wanita itu menjulur lurus ke samping menjinjing sebuah usungan, di atas usungan itu Tho-sit-sian tampak rebah telentang.
Sungguh tidak nyana wanita yang tampaknya kurus kering itu ternyata bertenaga sedemikian besar, ia jinjing tubuh Tho-sit-sian yang beratnya ratusan kati ditambah dengan usungan kayu itu, tampaknya sedikit pun tidak makan tenaga.
Begitulah cepat-cepat Tho-kin-sian menanggapi ucapan wanita tadi.
"Sudah tentu kami mau, mengapa tidak?"
"Kenapa kau memaki orang? Mengapa kau bilang kami tidak mirip manusia dan tidak mirip setan?"
Semprot Tho-kan-sian.
"Padahal rupanya juga tidak lebih cakap daripada kita,"
Demikian mendadak Tho-sit-sian yang menggeletak di atas usungan itu menimbrung.
Kiranya sesudah luka Tho-sit-sian dijahit rapat kembali oleh Peng It-ci dan diberi obat mujarab, kemudian ubun-ubunnya ditabok sekali oleh Yim Bu-kiang, saluran hawa murni itu seketika membuatnya dapat bergerak kembali.
Cuma dia sudah terlalu banyak kehilangan darah, tidak jauh ia berjalan lantas jatuh pingsan lagi, si wanita setengah umur itu lantas membawanya kembali ke sana.
Dalam keadaan payah toh sifat Tho-sit-sian yang tidak mau kalah bicara itu tetap dipertahankan, segera ia balas mengolok-olok wanita itu.
Maka wanita itu berkata pula dengan dingin.
"Apakah kalian tahu, selama hidup Peng-tayhu itu, apa yang paling ditakutinya?"
"Tidak tahu,"
Sahut Tho-kok-lak-sian berbareng.
"Dia takut apa?"
"Dia paling takut bini!"
Ucap si wanita. Bab 50. Minum Arak Juga Ada Seninya "Hahahaha!"
Tho-kok-lak-sian bergelak tertawa.
"Orang yang tidak takut langit dan tidak gentar pada bumi seperti dia ternyata takut bini. Haha, sungguh menggelikan!"
"Apa yang menggelikan? Aku inilah bininya!"
Jengek si wanita. Seketika Tho-kok-lak-sian bungkam, tidak berani bersuara lagi. Maka si wanita berkata pula.
"Segala perintahku tentu akan dia turut. Jika aku ingin membunuh siapa tentu dia akan menyuruh kalian membunuhnya."
"Ya, ya, entah Peng-hujin ingin membunuh siapa?"
Sahut Tho-kok-lak-sian.
Wanita itu tidak menjawab, tapi sorot matanya yang tajam terus menatap ke arah Gak Put-kun, lalu Gak-hujin, Gak Leng-sian dan lain-lain.
Semua orang sama mengirik karena sinar matanya yang tajam itu.
Mereka tahu, asalkan wanita bermuka buruk ini menuding salah seorang di antara mereka, seketika juga Tho-kok-ngo-sian pasti akan melompat maju dan menyobeknya, sekalipun tokoh terkemuka seperti Gak Put-kun juga sukar terhindar dari malapetaka.
Sorot mata wanita itu perlahan dialihkan kembali ke arah Tho-kok-lak-sian.
Hati keenam orang aneh itu berdebar-debar.
"Hmk!"
Wanita itu mendengus.
"Ya, ya,"
Cepat Tho-kok-lak-sian menjawab bersama.
"Sekarang aku belum tahu akan membunuh siapa,"
Kata wanita itu.
"Tapi Peng-tayhu sudah mengatakan bahwa di dalam perahu ini ada seorang tuan Lenghou ... Lenghou Tiong yang sangat dihormati olehnya, karena itu kalian harus melayani dia sebaik-baiknya sampai Lenghou-siansing itu meninggal dunia. Apa yang dikatakan Lenghou-siansing harus kalian kerjakan, segala perintahnya harus kalian turut dan tidak boleh membantah."
"Melayani dia sampai dia meninggal dunia?"
Tho-kok-lak-sian menegas dengan ragu.
"Ya, melayani dia sampai dia meninggal dunia,"
Sahut Peng-hujin.
"Cuma jiwanya hanya tinggal 100 hari saja, dalam 100 hari ini kalian harus menurut segala perintahnya."
Mendengar tugas mereka hanya terbatas 100 hari saja, seketika Tho-kok-lak-sian menjadi girang seru mereka.
"Hanya melayani dia 100 hari saja masih boleh juga dan tidak sukar."
Tiba-tiba Lenghou Tiong menyela.
"Maksud baik Peng-locianpwe sungguh aku merasa sangat berterima kasih. Namun Wanpwe tidak berani membikin capek dan dilayani Tho-kok-lak-sian, biarlah silakan mereka mendarat saja, sekarang juga Wanpwe ingin mohon diri."
Wajah Peng-hujin tidak menampilkan sesuatu perasaan senang atau marah, katanya dengan dingin.
"Peng-tayhu mengatakan bahwa penyakit Lenghou-hengte itu adalah karena gara-gara keenam orang tolol ini, bukan saja jiwa Lenghou-hengte akan melayang, bahkan membikin malu Peng-tayhu karena tidak sanggup menyembuhkannya sehingga tidak dapat pula bertanggung jawab kepada orang yang minta Peng-tayhu mengobatimu. Untuk ini keenam orang goblok ini harus diberi hukuman yang setimpal. Sebenarnya Peng-tayhu hendak menyuruh mereka membunuh salah seorang saudara mereka sendiri sesuai dengan sumpah mereka, tapi sekarang mereka diberi kelonggaran, mereka hanya dihukum sebagai jongos agar melayani Lenghou-hiante."
Setelah merandek sejenak, kemudian ia menyambung pula.
"Dan kalau keenam orang tolol ini berani membantah sesuatu perintahmu, bila diketahui Peng-tayhu, segera juga nyawa salah seorang di antara mereka berenam akan dicabut."
"Karena penyakit Lenghou-hiante ini adalah gara-gara perbuatan kami, memang pantas jika kami merawat dia sebagaimana mestinya, ini namanya laki-laki yang dapat membalas budi,"
Kata Tho-hoa-sian.
"Ya, seorang laki-laki biasanya rela berkorban bagi kesukaran kawan, apalagi cuma merawat penyakit saja,"
Timbrung Tho-ki-sian.
Begitulah, biarpun mau tak mau Tho-kok-lak-sian harus menurut kepada perintah Peng It-ci itu, tapi dasar sifat mereka yang mau menang sendiri, di mulut mereka tetap tidak mau kalah omong.
Dan di tengah cerewet mereka itulah Peng-hujin hanya mendelik saja dan segera tinggal pergi.
Tho-ki-sian dan Tho-kan-sian lantas mengangkat usungan yang berisi Tho-sit-sian itu dan dibawa melompat ke atas perahu dan diikuti saudara-saudaranya yang lain-lain.
Tho-kin-sian lantas berteriak.
"Angkat sauh, jalankan perahunya!"
Melihat gelagatnya sudah terang sukar menolak ikut sertanya Tho-kok-lak-sian, segera Lenghou Tiong berkata.
"Eh, keenam Tho-heng, boleh juga kalau kalian mau ikut bersama kami. Tapi terhadap guru dan ibu guruku kalian harus bersikap sopan dan hormat, inilah perintahku yang pertama. Jika kalian tidak mau menurut, maka sekarang juga aku menolak pelayanan kalian."
"Tho-kok-lak-sian memangnya adalah laki-laki sopan santun yang termasyhur, jangankan guru dan ibu gurumu, sekalipun murid atau cucumu juga kami akan menghormatinya,"
Demikian sahut Tho-yap-sian. Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli mendengar dia mengaku sebagai laki-laki yang sopan santun. Segera ia berkata kepada Gak Put-kun.
"Suhu keenam Tho-heng ini ingin menumpang perahu kita, entah bagaimana pendapat Suhu?"
Gak Put-kun pikir keenam orang itu sekarang toh tidak sampai mencari perkara kepada Hoa-san-pay, apalagi melihat gelagatnya terang tak bisa mengusir mereka.
Untungnya meskipun kepandaian keenam orang itu sangat tinggi, tapi sifatnya dogol dan angin-anginan, jika dilayani dengan akal rasanya masih dapat diatasi.
Maka sahutnya kemudian sambil mengangguk.
"Baiklah, jika mereka mau menumpang kapal juga boleh. Cuma watakku suka ketenangan, aku tidak suka mendengar mereka ribut mulut dan suka berdebat."
"Ucapan Gak-siansing ini terang salah,"
Kata Tho-kan-sian.
"Manusia dilahirkan dengan sebuah mulut, mulut ini selain berguna untuk makan nasi juga perlu untuk bicara. Kecuali itu manusia pun punya sepasang telinga yang gunanya untuk mendengarkan pembicaraan orang lain. Jika sifatmu suka ketenangan, kan sia-sia maksud baik Thian yang menciptakan sebuah mulut dan sepasang telinga bagimu."
Gak Put-kun tahu bila terlibat dalam perdebatan dengan mereka, maka sukarlah untuk berakhir. Maka ia hanya ganda tersenyum saja dan lantas berseru.
"Tukang perahu berangkatlah!"
Di tengah suara perdebatan Tho-kok-lak-sian itu si tukang perahu sudah angkat sauh dan menolak perahunya.
Tanpa terasa Gak Put-kun dan istrinya memandang sekejap kepada Lenghou Tiong lalu memandang pula kepada Tho-kok-lak-sian, kemudian saling pandang sendiri.
Yang terpikir oleh suami istri itu adalah satu persoalan yang sama, yaitu.
"Peng It-ci mengatakan dimintai orang agar mengobati Tiong-ji, dari ucapannya jelas orang yang minta pertolongannya pasti mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan terhormat di Bu-lim sehingga meski dia tidak pandang sebelah mata kepada seorang ketua Hoa-san-pay, sebaliknya berlaku sungkan terhadap seorang murid Hoa-san-pay malah. Sesungguhnya siapakah orang yang minta Peng It-ci mengobati Tiong-ji itu?"
Jika hari biasa tentu sejak tadi mereka suami istri sudah memanggil menghadap Lenghou Tiong untuk dimintai keterangannya.
Tapi sekarang tanpa terasa guru dan murid itu sudah timbul macam-macam prasangka, maka suami-istri itu merasa belum tiba waktunya untuk menanyai Lenghou Tiong.
Karena mendapat angin buritan, pula menuju ke hilir, maka perahu itu berlayar dengan sangat lajunya.
Waktu berlabuh pada malamnya sudah tidak jauh lagi dari kota Lauhong.
Sementara itu si tukang perahu telah menyiapkan daharan bagi mereka.
Selagi mereka hendak bersantap, tiba-tiba ada suara orang berseru lantang di daratan.
"Numpang tanya, apakah para kesatria Hoa-san-pay menumpang di perahu ini?"
Sebelum Gak Put-kun menjawab, di sebelah sana Tho-ki-sian sudah mendahului berteriak.
"Ya, para kesatria gagah Hoa-san-pay dan Tho-kok-lak-sian berada perahu ini. Ada urusan apa?"
"Syukurlah jika demikian,"
Seru orang itu dengan girang.
"Kami sudah menunggu sehari semalam di sini. Ayo, lekas, lekas dibawa kemari!"
Maka tertampak belasan orang laki-laki kekar terbagi dalam dua barisan berjalan keluar dari sebuah kotak bercat merah.
Seorang laki-laki berbaju biru dan bertangan kosong mendekati perahu, katanya dengan hormat.
"Majikan kami mendapat tahu bahwa kesehatan Lenghou-siauhiap terganggu, beliau ikut sangat prihatin, mestinya beliau akan datang menjenguk, cuma sayang tidak keburu pulang, maka hamba sekalian disuruh mengantarkan sedikit oleh-oleh, mohon Lenghou-siauhiap sudi menerimanya."
Rombongan orang-orang itu lantas berjalan ke atas perahu, belasan kotak merah itu ditaruh di geladak perahu. Lenghou Tiong menjadi heran, ia tanya.
"Entah siapakah majikan kalian? Mengapa memberikan hadiah sebanyak ini, sungguh aku merasa malu dan tidak berani menerimanya."
"Bila Lenghou-siauhiap sudah membuka kotak-kotak ini tentu akan tahu sendiri,"
Sahut laki-laki baju biru tadi.
"Semoga kesehatan Lenghou-siauhiap selekasnya pulih kembali, untuk itu diharap Lenghou-siauhiap suka menjaga diri baik-baik."
Habis berkata mereka memberi hormat pula lalu mohon diri dan tinggal pergi. Keruan Lenghou Tiong terheran-heran, katanya.
"Sungguh aneh bib ajaib, entah siapakah gerangan orang yang mengantarkan oleh-oleh padaku ini."
Dasar watak Tho-kok-ngo-sian itu memang tidak sabar, beramai-ramai mereka berkata.
"Coba buka saja kotak-kotak itu, bukanlah orang tadi mengatakan asalkan kotak-kotak ini dibuka dan segera akan tahu sendiri siapa pengantarnya."
Tanpa disuruh lagi, beramai ramai Tho-kok-ngo-sian lantas membuka tutup kotak-kotak merah itu, maka tertampaklah isi kotak-kotak itu ada penganan alias jajanan yang bagus sekali buatannya, ada panggang ayam, ham dan makanan lain yang cocok untuk minum arak.
Bahkan ada pula Jinsom, Yan-oh (sarang burung), Ho-siu-oh dan lain-lain macam bahan obat yang tak ternilai harganya.
Dua kotak paling akhir ternyata penuh berisi emas perak, agaknya disediakan sebagai bekal sangu perjalanan Lenghou Tiong.
Melulu isi kedua kotak emas perak ini saja rasanya sudah cukup biaya orang-orang Hoa-san-pay buat beberapa tahun lamanya.
Tho-kok-ngo-sian tidak tahu apa artinya sungkan-sungkan segala, tanpa disuruh lagi segera mereka comot makanan di dalam kotak itu terus dijejalkan ke mulut sambil berteriak teriak.
"Enak, lezat sekali!"
Akan tetapi di dalam belasan kotak makanan itu ternyata tiada sesuatu surat atau kartu nama segala, jadi siapa sebenarnya pengirim oleh-oleh itu tetap tidak diketahui.
"Suhu,"
Kata Lenghou Tiong kepada Gak Put-kun.
"urusan ini benar-benar membikin bingung padaku. Pengirim oleh-oleh ini tampaknya tidak punya maksud jahat, tapi juga tidak seperti sengaja bergurau."
Sambil berkata ia pun mengambilkan makanan untuk disuguhkan kepada guru dan ibu-gurunya serta para Sute dan Sumoay.
"Apakah kau punya kawan Kangouw yang tinggal di daerah sini?"
Tanya Put-kun. Lenghou Tiong berpikir sejenak, sahutnya kemudian sambil menggeleng.
"Tidak ada."
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara derapan kuda lari yang ramai, ada delapan penunggang kuda sedang membalap tiba. Seorang di antaranya berseru.
"Apakah Lenghou-siauhiap dari Hoa-san-pay berada di sini?"
"Ya, di sini, di sini!"
Beramai ramai Tho-kok-lak-sian menjawab.
"Barang enak apa lagi yang kalian antar kemari?"
"Pangcu kami mendapat tahu akan kedatangan Lenghou-siauhiap, beliau mendengar bahwa Lenghou-siauhiap gemar minum barang beberapa cawan, maka hamba disuruh mencari 16 macam arak enak terpilih dan khusus diantar kemari, mohon Lenghou-siauhiap sudi memberi penilaian atas ke-16 guci arak ini,"
Demikian seru orang tadi.
Sesudah dekat, benar juga pada kedelapan ekor kuda itu masing-masing tergantung dua guci arak.
Di atas setiap guci itu ada plakat yang bertuliskan nama arak yang bersangkutan.
Melihat arak sebanyak itu keruan girang Lenghou Tiong melebihi diberi hadiah paling berharga sekalipun, cepat ia memapak ke haluan perahu katanya sambil memberi salam.
"Maafkan atas kebodohanku, entah dari Pang (perkumpulan) apakah saudara-saudara ini? Siapa pula nama saudara yang terhormat."
Orang itu tertawa dan menjawab.
"Pangcu kami telah memberi pesta wanti-wanti agar jangan menyebutkan nama Pang kami karena hanya akan membikin malu saja."
Ketika ia memberi tanda komando, serentak para penunggang kuda itu mengangkat guci-guci arak itu ke atas geladak perahu.
Dari dalam ruangan perahu Gak Put-kun coba mengamat-amati, dilihatnya kedelapan laki-laki itu semuanya sangat cekatan, setiap tangan mengangkat sebuah guci arak dan dapat melompat ke atas perahu dengan gesit dan enteng, hanya saja dari golongan mana kepandaian mereka itu tidak dapat diketahui, terang mereka bukan dari suatu perguruan yang sama, hanya sama-sama anggota sesuatu Pang apa.
Sesudah mengusung ke-16 guci arak itu ke atas perahu, kedelapan orang itu memberi hormat kepada Lenghou Tiong, lalu mencemplak ke atas kuda terus pergi pula dengan cepat.
"Suhu, kejadian ini benar-benar sangat aneh,"
Kata Lenghou Tiong kepada Gak Put-kun dengan tertawa.
"Entah siapakah yang sengaja berkelakar dengan Tecu dan mengirim arak sebanyak ini?"
"Jangan-jangan Dian Pek-kong,"
Ujar Gak Put-kun sesudah termenung sejenak.
"Atau mungkin juga Put-kay Hwesio?"
"Ya, kelakuan kedua orang itu memang aneh dan sukar diduga, memang bisa jadi adalah perbuatan mereka,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Hei, Tho-kok-lak-sian, ada arak sebanyak ini, kalian mau minum atau tidak?"
"Hahaha, tentu saja minum, masakah tidak mau?"
Sahut Tho-kok-lak-sian berbareng.
Tanpa disuruh lagi segera Tho-ki-sian dan Tho-hoa-sian mengangkat dua guci arak di antaranya, sesudah tutup guci dibuang, isinya lantas dituang dalam mangkuk.
Seketika bau harum menyampuk hidung, tanpa sungkan-sungkan lagi Lak-sian lantas menenggak sendiri arak enak itu.
Lenghou Tiong juga menuang semangkuk dan diaturkan kepada Gak Put-kun, katanya.
"Suhu, silakan mencicipi, boleh juga baunya ini."
Put-kun mengerut kening. Sebelum menerima arak itu, terdengar Tek-nau berkata.
"Suhu, tiada jeleknya kalau kita berhati-hati. Arak ini entah pemberian siapa, entah di dalam arak terdapat sesuatu yang mencurigakan atau tidak?"
"Ya, Tiong-ji, akan lebih baik berhati-hati sedikit,"
Kata Put-kun mengangguk. Begitu mengendus bau arak tadi Lenghou Tiong sudah hampir mengiler, mana dia tahan lebih lama lagi, dengan tertawa ia berkata.
"Umur Tecu memang sudah tidak lama lagi, jika di dalam arak ini ada racun juga tiada alangannya bagiku."
Habis itu segera ia angkat mangkuk, hanya beberapa kali tenggak saja isi mangkuk itu sudah habis, ia menjilat-jilat bibir, lalu memuji.
"Ehm, arak bagus, arak bagus!"
Waktu Lenghou Tiong memandang ke arah datangnya suara itu, tertampaklah di bawah pohon Liu sana ada seorang Susing (pelajar) berbaju kotor dan penuh tambalan, tangan kanan memegang sebuah kipas rusak, kepala mendongak lagi mengendus bau arak yang teruar dari perahu, terdengar pujiannya pula.
"Ya, benar-benar arak yang sedap!"
"Eh, saudara itu,"
Sapa Lenghou Tiong dengan tertawa.
"engkau kan belum mencicipi araknya, dari mana mengetahui baik atau jeleknya arak ini?"
"Arak ini adalah Hun-ciu yang sudah tersimpan 60 tahun lamanya, begitu mengendus baunya segera kutahu rasa araknya,"
Sahut Susing miskin ini. Lenghou Tiong sangat senang, katanya.
"Jika saudara tidak menampik, boleh silakan kemari untuk minum beberapa cawan."
Susing itu menggeleng kepala dan berkata.
"Ah, selamanya kita belum kenal, hanya secara kebetulan bertemu di sini, dengan mengendus bau araknya saja sudah mengganggu, mana aku berani merasai arak saudara yang enak itu. Jangan, jangan!"
"Di segenap penjuru lautan ini adalah saudara semua,"
Ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Dari ucapan saudara tadi jelas saudara adalah ahli arak angkatan tua, justru kuingin minta petunjuk lebih banyak, boleh silakan naik ke atas perahu dan jangan sungkan-sungkan lagi."
Perlahan Susing itu menyusuri papan loncatan ke atas perahu, sesudah berhadapan ia memberi hormat, katanya.
"Cayhe she Coh, Coh berarti kakek moyang, nama Jian-jiu yang berarti seribu musim, sebagai kiasan panjang umur. Mohon tanya juga nama saudara yang mulia?"
"Cayhe she Lenghou dan bernama Tiong,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Ehm, she yang bagus, namanya juga baik,"
Ujar Coh Jian-jiu. Lenghou Tiong tersenyum, katanya di dalam hati.
"Aku mengundangmu minum arah, sudah tentu segala apa kau puji dengan baik."
Segera ia menuangkan semangkuk arak dan diaturkan kepada Coh Jian-jiu sambil berkata.
"Silakan minum!"
Usia Coh Jian-jiu itu kira-kira 50-an, kulit mukanya kuning kecokelat-cokelatan, matanya sayu, jenggotnya jarang-jarang, bajunya kotor, bagian tertentu agaknya sering dipakai untuk mengusap sehingga tampak mengilap.
Kedua tangannya yang terjulur keluar dari lengan berbaju itu tertampak kesepuluh kuku jarinya hitam kotor.
Coh Jian-jiu lantas menerima suguhan arak Lenghou Tiong itu, katanya.
"Lenghou-heng, meski engkau punya arak bagus, tapi tidak punya wadah yang baik, sungguh harus disayangkan."
"Di tengah perjalanan hanya ada mangkuk kasar dan cawan lama, harap Coh-siansing suka memaklumi,"
Ujar Lenghou Tiong. Tapi Coh Jian-jiu telah menggeleng, katanya.
"Jangan, sekali-kali tak boleh begitu. Sedemikian gegabah caramu menilai peralatan arak, nyata sekali dalam hal ini minum arak kau kurang memahami. Minum arak harus mengutamakan juga wadah araknya, arak apa yang diminum harus memakai cawan arak tertentu. Kalau minum Hun-ciu harus memakai cawan kemala. Ini terbukti pada syair di zaman kuno yang menyatakan. Mangkuk kemala dapat menambah indah warnanya arak."
Karena memang tidak paham seluk-beluk uraian orang, Lenghou Tiong hanya mengiakan saja. Lalu Coh Jian-jiu menyambung pula.
"Arak putih dari Kwan-gwa mempunyai rasa yang sangat enak, cuma sayang kurang berbau harum, maka paling baik kalau dipakai cawan dari tanduk badak kemudian diminum, dengan demikian rasanya dan baunya akan terasa tiada bandingannya. Hendaklah maklum bahwa cawan kemala bisa menambah cemerlang warnanya arak, cawan dari tanduk badak dapat menambah bau harumnya arak, agaknya orang zaman kuno menang tidak membohongi kita."
Selama hidup Lenghou Tiong memangnya paling gemar minum arak, cuma sahabatnya kebanyakan adalah orang-orang Kangouw, yang bisa membedakan baik jeleknya arak saja sudah jarang diketemukan, dari mana ada yang paham tentang "seni minum arak"
Dengan cawan kemala, cawan tanduk badak segala?
Sekarang sesudah mendengar cerita Coh Jian-jiu itu, Lenghou Tiong merasa dirinya seperti orang bodoh yang mendadak menjadi pintar.
Begitulah Coh Jian-jiu mencerocos terus tentang cawan-cawan lain lagi yang tepat untuk wadah berbagai macam arak bagus yang dibawa oleh ke-8 orang laki-laki tadi.
Katanya untuk arak anggur harus dipakai Ya-kong-pwe (cawan gemerlap di waktu malam), kalau Ko-liang-ciu harus pakai cawan tembaga hijau, bila minum Bi-ciu (arak beras) harus memakai gantang yang besar agar terasakan meresapnya seni minum arak.
Sejak tadi Gak Put-kun juga memerhatikan obrolan Coh Jian-jiu itu, ia merasa ucapan orang terlalu dilebih-lebihkan, tapi rasanya ada benarnya juga dan masuk di akal.
Dilihatnya pula di sebelah lain Tho-ki-sian dan kawan-kawannya sedang sibuk membuka satu guci arak, isi guci itu tercecer memenuhi meja, sama sekali mereka tidak menghiraukan betapa bernilainya arak bagus itu.
Walaupun Gak Put-kun tidak gemar minum, tapi dari baunya yang harum semerbak memabukkan ia pun tahu bahwa arak itu memang benar arak bagus, sungguh sangat sayang dihambur-hamburkan secara sembrono oleh Tho-kok-lak-sian.
Dalam pada itu Coh Jian-jiu masih terus membual tentang jenis-jenis arak lain, katanya Siau-hin-ciu harus memakai cawan porselen kuno, minum Le-hoa-ciu harus memakai cawan hijau zamrud, bila minum Giok-loh-ciu lebih tepat memakai gelas karena arak Giok-loh-ciu ada buih-buih kecil seperti mutiara, di tengah gelas yang bening tembus itu dapat kelihatan letak kebagusan Giok-loh-ciu yang lain daripada yang lain.
Begitulah dalam sekejap saja ia telah menguraikan delapan macam arak dengan cawan yang harus dipakai.
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berolok-olok.
"Huh, membual, jual jamu!"
Ternyata pengolok-olok itu adalah Gak Leng-sian. Cepat Gak Put-kun berkata.
"Anak Sian, jangan sembrono, apa yang diuraikan Coh-siansing tadi memang masuk di akal."
"Masuk di akal apa?"
Ujar Leng-sian.
"Minum arak sekadar membangkitkan semangat memang boleh juga, tapi kalau siang dan malam selalu menenggak arak melulu, ditambah lagi macam-macam cara yang dinamakan seni apa segala, apakah itu kelakuan seorang kesatria atau pahlawan sejati?"
"Salah, salah ucapan Siocia ini,"
Kata Coh Jian-jiu.
"Dahulu Han-ko-co Lau Pang sehabis mabuk baru memulai dengan pergerakannya, akhirnya dia mendirikan kerajaan Han dan diakui sebagai pahlawan."
"Jika Coh-siansing sudah tahu arak bagus, katanya pahlawan sejati harus pula minum arak bagus, tapi mengapa engkau sejak tadi tak mau minum?"
Ujar Lenghou Tiong dengan tertawa "Sejak tadi juga aku sudah bilang, kalau minum tanpa memakai wadah yang baik kan hanya menyia-nyiakan arak bagus saja?"
Kata Coh Jian-jiu.
"Ah, kau membual tentang cawan zamrud, Ya-kong-pwe dan cawan kemala apa segala, di dunia ini mana ada cawan arak demikian?"
Tiba-tiba Tho-kan-sian mengejek.
"Ya, seumpama ada paling-paling juga cuma satu-dua macam saja, siapa orangnya yang mampu memiliki cawan sekomplet itu?"
"Ahli minum arak yang tahu apa artinya seni tentu mempunyai peralatan secara komplet,"
Sahut Coh Jian-jiu.
"Jika minum cara kerbau menyeruput seperti kalian, dengan sendirinya dapat pakai mangkuk besar dan cawan kasar seadanya."
"Kau sendiri apakah terhitung ahli minum yang tahu seni?"
Tanya Tho-yap-sian.
"Tidak banyak dan tidak sedikit, kalau tiga bagian sebagai ahli yang tahu seni kukira masih ada,"
Sahut Coh Jian-jiu.
"Hahaha, jika begitu, cawan untuk minum kedelapan macam arak bagus ini kau membawanya berapa biji?"
Tanya Tho-kok-lak-sian dengan gelak tertawa.
"Bilang banyak tidak banyak, katakan sedikit juga tidak sedikit, tapi setiap macamnya satu sih aku membawanya,"
Sahut Coh Jian-jiu.
"Hahahaha! Tukang 'ngecap', jual jamu!"
Tho-kok-lak-sian tertawa pula.
"Eh, mari kita bertaruh saja,"
Demikian Tho-kok-lak-sian mendadak.
"Jika kau benar-benar membawa kedelapan macam cawan itu, biarlah aku nanti akan makan satu demi satu cawan itu ke dalam perutku. Sebaliknya kalau kau tidak punya cawan yang kau katakan, lalu bagaimana?"
"Jika begitu aku akan makan cawan dan mangkuk arak yang kasar ini satu per satu ke dalam perutku,"
Sahut Coh Jian-jiu.
"Bagus, bagus!"
Seru Tho-kok-lak-sian.
"Coba kita lihat cara bagaimana dia ...."
Belum habis teriakan mereka, tiba-tiba Coh Jian-jiu sudah memasukkan tangannya ke dalam baju yang gondrong itu, waktu tangan ditarik kembali, tahu-tahu sebuah cawan arak sudah dirogoh keluar.
Cawan itu halus gilap, nyata adalah sebuah cawan kemala putih susu yang sangat indah.
Keruan Tho-kok-lak-sian terkejut sehingga tidak menyambung lagi olok-olok mereka.
Dalam pada itu Coh Jian-jiu masih terus mengeluarkan cawannya sebuah demi sebuah.
Benar juga, ada cawan zamrud, ada cawan tanduk badak, ada cawan gelas dan lain-lain, semuanya berjumlah delapan cawan, komplet seperti apa yang dia uraikan tadi.
Meskipun kedelapan cawan mestika itu sudah komplet, tapi Coh Jian-jiu masih terus mengeluarkan cawan-cawan yang lain, ada cawan emas yang gemilapan, ada cawan perak yang berukir indah, ada cawan batu yang berwarna-warni, ada lagi cawan gading, cawan kulit, cawan bumbung bambu, cawan kayu, cawan gigi harimau dan lain-lain lagi, besar dan kecil tidak sama.
Keruan semua orang sama terkesima, siapa pun tidak menduga bahwa di dalam baju Susing rudin itu ternyata tersimpan cawan arak sebanyak itu, mereka heran apakah Susing miskin itu memiliki kantong wasiat?
"Bagaimana?"
Tanya Coh Jian-jiu kepada Tho-ki-sian. Sahut Tho-ki-sian dengan air muka sedih.
"Aku kalah. Biarlah kumakan kedelapan cawan arak itu."
Habis berkata ia terus comot cawan kemala putih tadi.
"krak" , ia keremus cawan itu, lalu dikunyah sehingga berbunyi kertak-kertuk, ia ganyang mentah-mentah cawan kemala itu dan dilalap habis ke dalam perut. Semua orang sama terkesiap melihat cara Tho-ki-sian yang nekat itu, masakah cawan kemala itu benar-benar dimakan begitu saja dan diganyang sungguh-sungguh. Segera Tho-ki-sian menjulur tangan hendak mengambil cawan zamrud pula. Tapi Coh Jian-jiu keburu ayun tangan kirinya ke bawah untuk memotong nadi orang. Cepat Tho-ki-sian menggeser tangannya, berbareng tangannya membalik hendak memegang pergelangan tangan Coh Jian-jiu. Namun Coh Jian-jiu lantas menyelentik dengan jari tengah, yang diarah adalah Lo-kiong-hiat di tengah telapak tangan. Tho-ki-sian terkejut dan lekas-lekas menarik kembali tangannya, serunya.
"He, kenapa kau tidak jadi memberi makan cawanmu padaku?"
"Sudahlah, aku kagum padamu, kedelapan awan ini anggap saja sudah kau lalap ke dalam perutmu,"
Ujar Coh Jian-jiu.
"Kau berani makan cawan secara nekat, tapi aku yang rugi."
Semua orang bergelak tertawa geli.
Semula Gak Leng-sian rada takut kepada Tho-kok-lak-sian, tapi sesudah sekian lama berdampingan, ia merasa mereka toh bukan manusia jahat, malahan tingkah laku mereka sesungguhnya sangat jenaka.
Dengan tabahkan hati ia lantas tanya Tho-ki-sian.
"He, enak tidak rasanya cawan kemala itu?"
"Rada pahit, tidak enak,"
Sahut Tho-ki-sian dengan mulut masih berkecap-kecap. Dalam pada itu Coh Jian-jiu tampak mengerut kening, katanya.
"Wah, cawan kemala telah kau makan, tapi urusanku ini bisa runyam. Ai, sekarang arak Hun-ciu ini harus ditadahi dengan cawan apa yang tepat? Ah, terpaksa memakai cawan batu saja untuk sementara."
Lalu ia ambil sebuah cawan batu, ia mengeluarkan sepotong saputangan untuk mengusap cawan batu itu.
Cawan batu itu mestinya cukup bersih sebaliknya saputangannya tampak sudah hitam lagi dekil, masih mendingan kalau tidak dilap, sekali dilap bukannya cawan batu itu menjadi bersih sebaliknya makin dilap makin kotor.
Sesudah mengusap sekian lama barulah ia taruh cawan batu itu di atas meja, kedelapan cawan pilihan itu berjajar satu baris sedangkan cawan-cawan lain yang tidak terpakai dimasukkan kembali ke dalam baju.
Lalu ia menuang delapan jenis arak ke dalam delapan cawan yang bersangkutan sesuai dengan uraiannya tadi.
Selama menuang arak, ia menghela napas lega, lalu berkata kepada Lenghou Tiong.
"Lenghou-heng, kedelapan cawan arak ini silakan minum satu per satu kemudian aku akan mengiringimu minum delapan cawan juga, habis itu barulah kita bertukar pikiran untuk menilai di mana perbedaan cita rasa arak-arak ini dengan arak-arak yang pernah kau minum dahulu."
"Baik,"
Sahut Lenghou Tiong.
Ia angkat cawan batu yang berisi Hun-ciu (arak semerbak), sekali tenggak ia habiskan isinya.
Ia merasa arak itu sangat pedas, begitu masuk mulut rasa pedas itu terus menyusup ke dalam perut.
Keruan ia terperanjat, pikirnya.
"Aneh, mengapa rasa arak ini sedemikian aneh?"
Tiba-tiba Coh Jian-jiu berkata.
"Cawan-cawan arakku ini benar-benar adalah benda mestika bagi kaum peminum arak. Cuma kalau kaum pengecut, bila merasa arak yang diminumnya ada rasa yang aneh, setelah minum cawan pertama lantas tidak berani minum kedua lagi. Dari dahulu kala sampai sekarang, orang yang sanggup minum delapan cawan sekaligus sesungguhnya belum ada."
Diam-diam Lenghou Tiong berpikir.
"Sekalipun dalam arak ada racun, memangnya jiwaku sudah tidak lama lagi akan menemui ajal, biarpun mati diracun juga aku tidak mau kalah pamor."
Maka tanpa pikir lagi ia angkat cawan dan beruntun minum dua cawan arak itu.
Ia merasa arak yang satu cawan sangat pahit, sedangkan cawan yang lain rasanya pesing, daripada dibilang rasa arak enak, akan lebih tepat dikatakan rasa air kencing.
Waktu Lenghou Tiong hendak mengambil cawan arak keempat, tiba-tiba Tho-ki-sian berseru.
"Aduh, celaka! Perutku rasanya sangat panas seperti dibakar!"
"Kau telah ganyang mentah-mentah sebuah cawan kemalaku, tentu saja perutmu kesakitan?"
Kata Coh Jian-jiu dengan tertawa.
"Lekas kau banyak minum obat cuci perut agar dapat dikuras keluar, kalau tidak dapat keluar terpaksa kau harus minta pertolongan kepada Sat-jin-beng-ih Peng-tayhu untuk membedah perutmu dan mengeluarkan cawan kemala itu."
Seketika Lenghou Tiong tergerak pikirannya.
"Ah, kedelapan cawan araknya ini tentu ada sesuatu yang luar biasa. Tho-ki-sian telah makan cawan kemala itu, seumpama kemala adalah benda keras dan tak bisa dicernakan juga tidak sampai timbul rasa panas seperti dibakar? Tapi, ah, seorang laki-laki sejati pandang kematian seperti pulang ke asalnya, kenapa mesti takut? Biarlah semakin jahat racunnya semakin baik bagiku."
Dan sekali tenggak kembali ia menghabiskan isi secawan arak pula.
"Toasuko,"
Tiba-tiba Leng-sian berseru.
"arak itu jangan diminum lagi, jangan-jangan dalam arak itu beracun. Engkau pernah membutakan orang-orang itu, hendaknya waspada kalau orang mencari balas padamu."
Lenghou Tiong tersenyum pedih, katanya.
"Coh-siansing ini adalah seorang laki-laki yang suka blak-blakan, rasanya tidak sampai meracuni diriku. Pula, jika dia mau membunuh aku bisa segera dilakukannya, mengapa mesti banyak membuang waktu dan pikiran?"
Tanpa pikir lagi segera ia minum pula dua cawan.
Arak dari cawan keenam ini rasanya rada asam dan asin, bahkan rada berbau bacin.
Waktu mengalir masuk ke perut, mau tak mau keningnya terkerut.
Melihat Lenghou Tiong menenggak arak sendirian, Tho-kin-sian menjadi kepingin dan ingin mencicipi arak-arak itu.
Katanya.
"Sisa kedua cawan itu berikan saja padaku."
Berbareng tangannya lantas hendak mengambil cawan arak ketujuh. Tapi mendadak Coh Jian-jiu mengayun kipasnya dan mengetuk punggung tangan Tho-kin-sian, katanya sambil tertawa.
"Nanti dulu, bergiliran, jangan berebutan, setiap orang harus minum delapan cawan secara berurut-urutan, dengan demikian baru dapat merasakan intisari arak-arak ini yang sesungguhnya."
Melihat ketukan kipas Coh Jian-jiu itu sangat keras, bila kena tentu tulang tangannya akan remuk, cepat Tho-kin-sian putar tangan dan berbalik hendak merampas kipas orang. Bentaknya.
"Aku justru hendak minum dulu secawan ini, kau bisa berbuat apa?"
Kipas Coh Jian-jiu itu sebenarnya terlempit menjadi satu potong, ketika jari tangan Tho-kin-sian hampir mencengkeram tiba, mendadak kipas menjepret lebar, pinggang kipas lantas menjentik ke jari telunjuk Tho-kin-sian.
Kejadian di luar dugaan ini membikin Tho-kin-sian kerepotan dan lekas menarik kembali tangannya, namun tidak urung jari telunjuknya sudah keserempet dan terasa kesemutan, sambil berkaok-kaok cepat ia melompat mundur.
"Lenghou-heng, lekas minum habis isi kedua cawan itu ...."
Belum lenyap suara Coh Jian-jiu, dari sebelah sana Tho-hoa-sian sudah menjulur tangan hendak mengambil cawan-cawan arak itu.
Waktu Coh Jian-jiu mengayun tangan untuk menangkis, dari sebelah lain kembali Tho-ki-sian hendak rebut lagi cawan itu.
Meski kepandaian Coh Jian-jiu tidak lemah, tapi di bawah kerubutan Tho-kok-ngo-sian yang merupakan tokoh-tokoh kelas satu, terang sukar baginya untuk menahan serobotan kelima orang yang hendak rebut kedua cawan arak itu.
Tangan yang satu ditangkis pergi, tangan yang lain sudah menyambar pula dari belakang.
Dalam keadaan yang serbasusah untuk merintangi Tho-kok-ngo-sian itu, tiba-tiba Coh Jian-jiu mendapat akal teriaknya.
"Hah, kiranya Tho-kok-lak-sian sama sekali tidak punya rasa persaudaraan, tahunya hanya berebut ini dan itu, sungguh menggelikan, sungguh menertawakan!"
Usia di antara Tho-kok-lak-sian satu sama lain hanya terpaut satu tahun, selamanya mereka belum pernah berpisah barang satu hari pun, meski setiap hari mereka suka bertengkar dan ribut mulut, tapi sebenarnya rasa persaudaraan mereka sangat akrab.
Maka demi mendengar Coh Jian-jiu menuduh mereka tidak punya rasa persaudaraan, mereka menjadi gusar dan berhenti semua sambil membentak.
"Kentut! Kentutmu busuk!"
Bab 51. Pil Penyambung Nyawa Menolong Lenghou Tiong "Kalian yang berbau busuk,"
Sahut Coh Jian-jiu.
"Tho-sit-sian jelas terbaring tak bisa berkutik karena terluka sehingga tidak dapat ikut berebut minum arak enak ini, tapi kalian tidak ambil pusing dan berebut sendiri, bukankah kalian sama sekali tidak memikirkan persaudaraan sendiri?"
Tho-kin-sian melengak, tapi segera ia berdebat.
"Siapa bilang kami berebut arak sendiri? Kami justru hendak merampas arak ini untuk diminumkan kepada Tho-sit-sian."
"Ya, Lakte kami terluka, segala arak enak dan daharan lezat sudah tentu kami suruh dia mencicipi lebih dulu,"
Timbrung Tho-ki-sian.
"Tapi apakah kalian tahu bahwa kedelapan cawan arak bagus ini harus diminum satu per satu, dengan demikian baru dapat dirasakan betapa enaknya, baru bisa tahu bahwa di dunia ini tiada arak rasa seenak ini,"
Kata Coh Jian-jiu.
"Tapi kalau cuma minum satu cawan saja bukannya rasa enak yang dirasakan, sebaliknya rasanya akan pahit dan kecut. Sekarang kalian ingin rebut kedua cawan arak ini, mendingan bila kalian minum sendiri, karena cuma kalian sendiri yang tertipu, namun katanya kalian merebutnya untuk diminumkan kepada Tho-sit-sian, padahal dia dalam keadaan tak bisa berkutik dan kalian mencekoki arak yang rasanya pahit dan kecut ini, apakah cara kalian ini bisa dikatakan cinta pada saudara?"
Kembali Tho-kok-ngo-sian melengak. Tho-hoa-sian lantas berkata.
"Siapa yang bilang kami hendak rebut arak ini? Kami hanya pura-pura hendak rebut arak untuk menguji sampai di mana tinggi kepandaianmu, tahu?"
"Benar, benar,"
Tho-kan-sian menyambung.
"Memangnya kau kira kami ini anak kecil dan tidak tahu kedelapan cawan arak itu harus diminum sekaligus baru bisa tahu rasanya yang sejati."
"Ayolah Lenghou-hengte, lekas minum habis arak-arak itu agar benar-benar merasakan enaknya."
Di tengah cerewet Tho-kok-ngo-sian itulah Lenghou Tiong telah selesai menghabiskan isi kedua cawan tadi.
Arak kedua cawan ini tidak berbau lagi, tapi rasanya yang satu cawan sangat tajam, tenggorokan seperti diiris-iris pisau.
Yang satu cawan lagi berbau obat, sama sekali tidak mirip arak, tapi baunya melebihi obat-obatan waktu dimasak.
Melihat air muka Lenghou Tiong rada aneh, Tho-kok-lak-sian merasa heran dan ingin tahu, mereka lantas tanya.
"Bagaimana rasanya sesudah kedelapan cawan arak itu kau minum habis?"
"Sudah tentu enak sekali,"
Sela Coh Jian-jiu.
Di luar dugaan, entah cara bagaimana, sekonyong-konyong Tho-kan-sian berempat menubruk maju sekaligus, masing-masing memegangi sebelah tangan dan kaki Coh Jian-jiu.
Biarpun ilmu silat Coh Jian-jiu amat tinggi, tapi caranya Tho-kok-lak-sian memegang kaki dan tangan orang adalah sangat aneh dan terlalu cepat sehingga sukar baginya untuk menghindar.
Maka tahu-tahu tangan dan kaki Coh Jian-jiu sudah terpegang dan badan lantas terangkat ke atas.
Para anggota Hoa-san-pay sudah pernah menyaksikan adegan mengerikan cara Tho-kok-si-sian menyobek tubuh manusia sehingga tanpa terasa mereka menjerit khawatir demi melihat Coh Jian-jiu kena dipegang tangan dan kakinya.
Pikiran Coh Jian-jiu juga bekerja secepat kilat, ia tahu menyusul keempat orang itu pasti akan membetot sekuat-kuatnya dan itu berarti tubuh akan robek menjadi empat potong.
Cepat ia berteriak-teriak.
"Di dalam arak itu ada racunnya, obat penawarnya tersimpan dalam bajuku!"
Tho-kok-si-sian sendiri tadi sudah cukup banyak menenggak arak, demi mendengar bahwa di dalam arak itu beracun mereka jadi melengak.
Dan yang diharapkan Coh Jian-jiu adalah sedetik keragu-raguan keempat orang itu.
Mendadak ia berteriak pula.
"Lepas, keparat!"
Tahu-tahu Tho-kok-si-sian merasa tangan mereka tergetar dan memegang tempat kosong, menyusul terdengarlah suara "blang"
Yang keras, wuwungan perahu itu telah jebol disundul menjadi sebuah lubang besar, Coh Jian-jiu telah melarikan diri menembus wuwungan perahu itu.
Tho-kin-sian dan Tho-ki-sian tidak berhasil menangkap apa-apa, sebaliknya tangan Tho-hoa-sian dan Tho-yap-sian masing-masing masih memegangi sebuah kaus kaki yang berbau bacin dan sebuah sepatu yang kotor dan butut.
Gerakan Tho-kok-ngo-sian juga amat cepat serentak, mereka pun memburu ke dermaga, tapi bayangan Coh Jian-jiu sudah lenyap.
Selagi mereka hendak menguber ke depan, tiba-tiba di ujung jalan sana ada suara teriakan orang.
"Hai, Coh Jian-jiu, kau kutu busuk ini lekas kembalikan obatku, jika kurang satu biji saja tentu akan kubetot ototmu dan kubeset kulitmu."
Sambil berteriak-teriak orang itu pun berlari mendatang dengan cepat.
Mendengar orang itu pun mencaci maki pada Coh Jian-jiu, jadi sepaham dengan mereka, maka Tho-kok-ngo-sian menjadi ingin tahu tokoh macam apakah orang ini, segera mereka berhenti di situ dan memandang ke depan.
Terlihatlah sebuah bola daging sedang "menggelinding"
Tiba, makin menggelinding makin dekat. Kemudian barulah diketahui bahwa "bola daging"
Itu kiranya adalah seorang laki-laki yang sangat pendek dan sangat gemuk.
Kepala orang buntak ini begitu rupa sehingga tampaknya gepeng, pipih, tapi sangat lebar.
Melihat kepalanya itu orang akan menduga mungkin pada waktu dia dilahirkan kepalanya telah dipalu sehingga buah kepalanya menjadi gepeng lebar sampai muka dan hidung serta mulut pun berubah bentuk.
Melihat muka sedemikian anehnya, semua orang sama merasa geli.
Pikir mereka.
"Peng It-ci dan Yim Bu-kiang itu sudah terhitung orang buntak tapi kalau dibandingkan orang ini boleh dikata si kerdil ketemu raksasa."
Dan memang bedanya terlalu mencolok.
Kalau Peng It-ci dan Yim Bu-kiang hanya pendek dengan pundak lebar, sebaliknya orang ini jauh lebih pendek, bahkan punggung dan dada seakan-akan tergencet sehingga menonjol keluar.
Ditambah lagi kaki dan tangan juga sangat pendek, tangan seakan-akan cuma ada lengan bawah tanpa lengan atas, kakinya juga seperti cuma ada betis tanpa paha.
Setiba di samping perahu, dengan menolak pinggang orang itu lantas tanya.
"Bangsat keparat Coh Jian-jiu itu sembunyi di mana?"
"Bangsat keparat itu sudah lari,"
Tukas Tho-kin-sian dengan tertawa.
"Dia berkaki panjang dan berlangkah lebar, caramu menggelinding demikian tentu saja tidak dapat menyusul dia!"
Orang itu mendengus, matanya yang bulat kecil itu mendelik. Sekonyong-konyong ia berteriak pula.
"Obatku! Obatku!"
Begitu kakinya bekerja.
"bola daging"
Itu lantas membalik dan masuk ke dalam ruangan perahu.
Tiba-tiba hidungnya berkerut-kerut dan mengendus-endus, ia sambar sebuah cawan di atas meja, lalu dicium baunya.
Sekonyong-konyong air mukanya berubah hebat.
Memangnya dia bertampang sangat jelek, perubahan itu semakin menambah aneh dan lucu raut mukanya itu.
Tapi dari air muka orang dapatlah Lenghou Tiong melihat perasaan orang itu pasti sangat berduka.
Orang buntak itu berturut-turut memeriksa dan mencium ketujuh cawan.
"O, obatku!"
Keluhnya.
Habis itu tak tertahankan lagi rasa sedihnya, ia duduk terkulai dan menangkis tergerung-gerung.
Melihat si buntak menangis sedih, Tho-kok-ngo-sian semakin heran dan tertarik, beramai-ramai mereka mengelilingi si buntak dan bertanya.
"He, mengapa menangis? Eh, apakah kau diakali keparat Coh Jian-jiu itu? Jangan menangis, nanti kalau kami menemukan bangsat itu pasti akan kami robek dia menjadi empat potong!"
Seru orang itu sambil menangis.
"Obatku telah dimakan dia bersama arak, sekalipun dia dibunuh juga tiada gunanya lagi."
Tergerak hati Lenghou Tiong, cepat ia tanya.
"Obat apa maksudmu?"
"Dengan susah payah selama 12 tahun aku mencari dan mengumpulkan bahan obat berharga seperti jinsom, Hokleng, Siuho, Lengci, Siahio dan lain-lain, akhirnya dapatlah kubikin delapan biji ‘Siok-beng-wan’ (pil penyambung nyawa), tapi sekarang obatku yang tiada terkira nilainya itu dicuri keparat Coh Jian-jiu dan telah diminum bersama arak."
Lenghou Tiong tambah terkejut, tanyanya pula.
"Kedelapan biji pil itu apakah mempunyai rasa yang sama?"
"Sudah tentu tidak sama,"
Sahut si buntak.
"Ada yang berbau bacin, ada yang rasanya sangat pahit, ada yang rasanya panas seperti dibakar, ada yang tajam seperti pisau mengiris. Asal sudah minum kedelapan biji Siok-beng-wan tersebut, biarpun luka dalam atau luka luar yang bagaimana parahnya juga pasti akan tertolong."
"Wah, celaka!"
Seru Lenghou Tiong sambil tepuk paha.
"Coh Jian-jiu itu telah mencuri obatmu Siok-beng-wan itu, tapi dia tidak makan sendiri, sebaliknya di ...."
"Diapakan?"
Tanya orang itu.
"Di ... dicampur dalam arak dan menipu aku untuk meminumnya,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Sesungguhnya aku tidak tahu bahwa di dalam arak teraduk obat sebaik itu, malahan aku menyangka dia hendak meracuni aku."
"Racun? Racun kentutmu!"
Damprat orang itu dengan gusar.
"Jadi kau yang telah minum aku punya Siok-beng-wan itu?"
Lenghou Tiong menjawab.
"Coh Jian-jiu itu mengisi delapan cawan arak dan membujuk aku minum habis seluruhnya. Memang benar ada yang rasanya panas, ada yang rasanya pahit, ada yang berbau bacin dan macam-macam lagi. Tapi obat apa segala aku sendiri tidak melihatnya."
Orang itu menatap Lenghou Tiong dengan mata mendelik, sekonyong-konyong ia berteriak, tubuhnya mencelat ke atas terus menubruk ke arah Lenghou Tiong.
Sejak tadi Tho-kok-ngo-sian sudah berjaga-jaga, maka begitu tubuh si buntak membal ke atas, berbareng Tho-kok-si-sian lantas turun tangan secepat kilat, mereka pegang kedua tangan dan kedua kaki si buntak.
"Jangan mencelakai jiwanya!"
Seru Lenghou Tiong.
Namun aneh juga, biarpun kaki tangan si buntak kena dipegang oleh Tho-kok-si-sian, tapi anggota badannya itu malah mengkeret lebih pendek lagi sehingga badannya lebih menyerupai bola yang bulat.
Tho-kok-si-sian terheran-heran, mereka membentak bersama terus menarik.
Terlihat kaki dan tangan si buntak dapat dibetot keluar, makin ditarik makin panjang, lengan dan pahanya sampai ikut mulur keluar dari tubuhnya.
Sungguh mirip benar dengan seekor kura-kura yang keempat kakinya kena dibetot keluar dari kulitnya.
"Jangan mencelakai jiwanya!"
Kembali Lenghou Tiong berseru.
Karena itu Tho-kok-si-sian sedikit mengendurkan daya tariknya sehingga anggota badan si buntak mengkeret lagi, tubuhnya menjadi bulat pula.
Tho-sit-sian yang terbaring di atas usungnya ikut tertarik, ia berseru.
"Wah, sungguh aneh dan hebat! Ilmu apakah itu?"
Waktu Tho-kok-si-sian membetot lagi, kembali tangan dan kaki si buntak kena ditarik keluar. Melihat adegan yang lucu itu Gak Leng-sian dan murid perempuan Hoa-san-pay yang lain sama tertawa geli.
"Hei, biar kami tarik panjang kaki dan tanganmu agar kau bertambah lebih cakap,"
Seru Tho-kin-sian.
"Ai, jangan!"
Teriak orang itu. Tho-kok-si-sian melengak, tanya mereka.
"Sebab apa?"
Di luar dugaan mereka, sedikit lena saja mendadak si buntak meronta sekerasnya dan memberosot keluar dari pegangan Tho-kok-si-sian.
"Blang" , tahu-tahu dasar perahu kena diterobos olehnya sehingga berlubang, secepat belut si buntak telah melarikan diri melalui sungai. Di tengah jerit kaget orang banyak terlihatlah air sungai terus memancur naik melalui lubang di dasar perahu itu. Lekas-lekas Gak Put-kun memberi perintah.
"Masing-masing orang membawa barangnya sendiri-sendiri dan lekas melompat ke daratan."
Lubang yang jebol di dasar perahu itu hampir satu meter persegi, merembesnya air sungai sangat cepat, hanya sekejap saja air di ruangan perahu itu sudah setinggi dengkul.
Untung mereka sempat melompat ke daratan dengan selamat.
Juragan perahunya tampak muram durja dan bingung, Lenghou Tiong menghiburnya.
"Kau tidak perlu khawatir, berapa harganya perahumu akan kuganti lipat dua."
Diam-diam Lenghou Tiong juga sangat heran, selamanya tidak kenal Coh Jian-jiu itu, tapi mengapa dia sengaja mencuri obat itu untuk diminumkan padanya dengan segala tipu dayanya?
Ia coba mengerahkan tenaga, terasa di dalam perut panas seperti dibakar, tapi delapan arus hawa murni itu masih terus tumbuk sini dan terjang sana, masih tetap tak bisa bergabung.
Sementara itu Lo Tek-nau telah dapat menyewa sebuah perahu lain, semua barang bawaan mereka telah dipindah ke perahu itu.
Sebenarnya Gak Put-kun ingin lekas meninggalkan tempat yang tidak aman itu, terutama tokoh-tokoh aneh yang susul-menyusul muncul itu.
Cuma hari sudah mulai gelap, sungai di daerah itu juga berliku-liku dan tidak leluasa untuk berlayar malam hari, terpaksa ia istirahat saja di dalam perahu.
Tho-kok-lak-sian juga merasa kesal, berturut-turut dua kali mereka gagal menangkap Coh Jian-jiu dan manusia bola daging itu, hal ini benar-benar belum pernah terjadi selama hidup mereka, walaupun mereka coba membual dan menutupi rasa malu kegagalan mereka, tapi sampai akhirnya mereka pun merasa kurang masuk di akal alasan yang mereka kemukakan.
Maka sesudah minum arak sekian banyak akhirnya mereka pun tertidur.
Gak Put-kun berbaring di tempat tidurnya, tapi tak bisa pulas, pikirannya bergolak.
Di tengah malam sunyi itu terdengar suara air sungai yang mendampar tepian gili-gili.
Pikirnya.
"Coh Jian-jiu dan manusia yang mirip bola daging itu benar-benar sangat aneh, ilmu silat mereka terang juga tidak lemah, entah mengapa mereka ikut-ikutan mencari Tiong-ji ke sini?"
Segera teringat pertentangan antara sekte Khi dan Kiam dalam Hoa-san-pay sendiri, lain saat terpikir pula cara Lenghou Tiong membutakan mata ke-15 tokoh lihai dengan ilmu pedang yang sakti dan aneh tempo hari itu.
Sampai lama sekali pikirannya terus bergolak.
Tiba-tiba terdengar olehnya suara orang berjalan dari jauh dan semakin mendekat.
Indra pendengaran Gak Put-kun sangat peka, begitu didengarkan lebih cermat, tahulah dia bahwa ada dua orang yang memiliki Ginkang tinggi sedang mendatang.
Segera ia bangkit duduk, ia coba mengintip keluar melalui celah-celah jendela, di bawah sinar bulan terlihatlah dua sosok bayangan orang sedang mendatang dengan kecepatan luar biasa.
Sekonyong-konyong seorang di antaranya mengangkat tangannya memberi tanda, kedua orang lantas berhenti kira-kira beberapa meter jauhnya dari perahu.
Gak Put-kun tahu jika kedua orang itu berbicara tentu juga dilakukan dengan bisik-bisik.
Segera ia menarik napas dalam-dalam, ia mengerahkan "Ci-he-sin-kang".
Begitu ilmu sakti Ci-he-sin-kang dikerahkan, bukan saja setiap detik dapat digunakan untuk membela diri bilamana mendadak diserang, bahkan pancaindranya seketika juga bertambah lebih tajam.
Maka terdengarlah seorang di antaranya sedang berkata dengan suara perlahan.
"Pasti perahu ini. Di tiang layar sudah terpancang sebuah bendera kecil, rasanya takkan salah."
"Baiklah, Suko, marilah kita lekas pulang memberi lapor kepada Supek,"
Kata kawannya.
"Aneh, entah mengapa ‘Tok-seng-bun’ kita sampai mengikat permusuhan dengan Hoa-san-pay sehingga Supek perlu mengerahkan segenap tenaga hendak mencegat mereka secara besar-besaran?"
Demikian kata orang pertama tadi.
Mendengar nama "Tok-seng-bun", Gak Put-kun terkejut.
Dan karena sedikit lengah saja kekuatan Ci-he-sin-kang lantas menyurut sehingga suara percakapan kedua orang yang sangat lirih itu tidak terdengar.
Waktu ia mengerahkan ilmu sakti pula, yang terdengar adalah suara tindakan orang, nyata kedua orang tadi sudah pergi.
Sudah lama Gak Put-kun mendengar nama Tok-seng-bun sebagai suatu aliran tersendiri di daerah perairan Oulam.
Ilmu silat anak murid Tok-seng-bun tidak dapat dikatakan tinggi, tapi mahir memakai racun sehingga orang sukar menjaga diri.
Sering orang terbunuh oleh mereka tanpa mengetahui siapa pembunuhnya.
Ciangbunjin (ketua) Tok-seng-bun diketahui she Cu bernama Put-hoan dan punya julukan yang sangat aneh, yaitu "Tok-put-su-jin" (tak bisa meracun orang sampai mati).
Konon julukan itu diberikan orang lantaran kepandaian Cu Put-hoan dalam hal menggunakan racun sudah terlalu hebat dan tiada bandingannya.
Kalau meracuni orang hingga mati adalah soal mudah, setiap orang juga mampu melakukannya, maka tidak mengherankan, tapi cara Cu Put-hoan justru berbeda daripada orang lain.
Sesudah dia memberikan racun, yang kena racun takkan binasa seketika, hanya pada tubuh terasa seperti disayat-sayat oleh senjata tajam atau seperti digigit-gigit oleh semut atau serangga lain, pendek kata rasanya sangat menderita, bagi si penderita akan merasa lebih baik mati daripada hidup tersiksa, tapi untuk mati justru sukar.
Jadi mau tak mau harus pasrah nasib kepada Cu Put-hoan dan tiada pilihan lain.
Sebab itulah Gak Put-kun merasa ngeri demi mendengar nama Tok-seng-bun disebut.
Pikirnya.
"Mengapa Tok-seng-bun bisa memusuhi Hoa-san-pay kami? Apalagi katanya Supek mereka sengaja mengerahkan segenap tenaganya untuk mencegat perahu ini, sebenarnya apakah sebabnya?"
Sesudah dipikir ia menarik kesimpulan hanya ada dua kemungkinan.
Pertama, boleh jadi mereka adalah bala bantuan yang didatangkan oleh Hong Put-peng dan kawan-kawannya untuk mencari perkara pada dirinya.
Kedua, mungkin di antara ke-15 orang yang dibutakan oleh Lenghou Tiong itu terdapat anak murid Tok-seng-bun.
Sedang Gak Put-kun menimbang-nimbang tak menentu, tiba-tiba didengarnya pula di daratan sana ada suara seorang perempuan sedang berkata dengan suara tertahan.
"Sesungguhnya di rumahmu apakah terdapat Pi-sia-kiam-boh?"
Segera Put-kun mengenali suara itu adalah suara putrinya sendiri.
Maka tanpa mendengarkan suara orang kedua juga dia dapat menduga tentu orang itu adalah Lim Peng-ci.
Entah sejak kapan kedua muda-mudi itu telah berada di tepi dermaga.
Diam-diam Put-kun dapat memahami perasaan kedua muda-mudi itu, ia tahu hubungan putrinya dengan Peng-ci makin hari makin erat, pada siang hari mereka tidak berani bergaul terlalu mencolok karena khawatir ditertawai orang lain, sebab itulah mereka sengaja mengadakan pertemuan di tengah malam sunyi.
Orang persilatan seperti mereka mestinya tidak terlalu terikat oleh adat kuno, pergaulan muda-mudi yang sedang pacaran dengan sendirinya lebih bebas daripada orang biasa.
Cuma Gak Put-kun sendiri berjuluk "Kun-cu-kiam" , selamanya terkenal sopan dan tertib, jika putrinya sekarang ternyata berbuat sesuatu yang melampaui garis kesusilaan dengan Peng-ci, bukankah akan ditertawai oleh kawan Bu-lim?
Coba kalau malam ini Put-kun tidak mengerahkan ilmu sakti Ci-he-sin-kang untuk mengikuti gerak-gerik kedatangan musuh, tentu ia tidak tahu rahasia putrinya yang sedang "ada main"
Dengan Lim Peng-ci. Dalam pada itu terdengar Peng-ci sedang berkata.
"Keluargaku memang punya Pi-sia-kiam-hoat, aku pun sudah sering perlihatkan padamu permainan ilmu pedang itu, tapi tentang Kiam-boh apa segala sesungguhnya tidak ada."
"Jika begitu mengapa Gwakong dan kedua pamanmu mencurigai Toasuko, katanya Toasuko telah mengangkangi Kiam-bohmu?"
Tanya Leng-sian.
"Mereka yang curiga, aku sendiri kan tidak mencurigai Toasuko,"
Kata Peng-ci.
"O, baik juga kau ini, biar orang lain yang curiga, sebaliknya kau sendiri tidak menaruh curiga sedikit pun."
Peng-ci menghela napas, katanya.
"Jika keluargaku benar-benar memiliki Kiam-boh yang hebat itu, tentu Hok-wi-piaukiok kami tidak sampai hancur dan keluargaku berantakan atas perbuatan Jing-sia-pay itu."
"Ucapanmu pun masuk di akal,"
Ujar Leng-sian.
"Jika demikian, mengapa kau tidak membela Toasuko atas kecurigaan Gwakongmu dan paman-pamanmu itu kepada Toasuko."
"Sebenarnya ucapan apa yang ditinggalkan ayah dan ibu, karena aku tidak mendengar dengan telinga sendiri, hendak membelanya juga sukar,"
Kata Peng-ci.
"Jadi di dalam hatimu betapa pun kau merasa curiga juga bukan?"
Kata Leng-sian.
"Ah, jangan sekali-kali berkata demikian, kalau diketahui Toasuko bukankah akan memburukkan hubungan baik sesama saudara seperguruannya?"
Ujar Peng-ci.
"Hm, bisa saja kau pura-pura?"
Jengek Leng-sian.
"Kalau curiga ya curiga, kalau tidak ya tidak. Bila aku menjadi dirimu tentu sudah lama aku menanyai Toasuko secara blakblakan."
Setelah merandek sejenak lalu katanya pula.
"Watakmu ternyata sangat mirip dengan ayah. Kedua orang sama-sama menaruh curiga terhadap Toasuko dan menduga dia telah menggelapkan Kiam-bohmu itu ...."
"Suhu juga menaruh curiga?"
Peng-ci memotong. Leng-sian tertawa, katanya.
"Jika kau sendiri tidak curiga mengapa kau pakai istilah ‘juga’? Aku bilang watakmu serupa dengan ayah, ada apa-apa hanya disimpan dalam batin, tapi di mulut sama sekali tidak menyinggungnya."
Pada saat itulah, sekonyong-konyong dari dalam sebuah perahu di samping perahu yang ditumpangi rombongan Hoa-san-pay itu berkumandang suara bentakan orang.
"Binatang kecil yang tidak tahu malu, berani sembarangan menuduh di belakang orang. Lenghou Tiong adalah seorang kesatria sejati, masakah kalian berani memfitnahnya?"
Suaranya berkumandang dari dalam perahu yang jaraknya beberapa puluh meter jauhnya, bukan saja membikin terkejut para penumpang perahu yang lain sehingga terjaga bangun, sampai-sampai burung yang bersarang di pepohonan sekitar situ juga sama kaget dan bergemeresik riuh ramai.
Habis itu, dari atas perahu itu mendadak melesat sesosok bayangan raksasa terus menubruk ke tempat Peng-ci dan Leng-sian dengan amat cepat.
Di bawah cahaya bulan tampaknya seperti seekor burung raksasa yang mendadak menyambar ke bawah.
Keruan Peng-ci dan Leng-sian terkejut.
Waktu keluar mereka tidak membawa senjata, terpaksa mereka pasang kuda-kuda dan siap melawan.
Ketika mendengar suara bentakan orang, Gak Put-kun sudah lantas tahu Lwekang orang sangat tinggi dan pasti tidak di bawahnya.
Sekarang melihat loncatan dan tubrukannya itu, jelas Gwakangnya juga amat lihai, keruan ia menjadi gugup melihat putrinya terancam bahaya, cepat ia berteriak.
"Tahan dulu!"
Segera ia pun meloncat ke tepi dermaga dengan menjebol jendela.
Tapi baru saja tubuhnya terapung di udara, dilihatnya tangan raksasa tadi sudah berhasil mencengkeram Peng-ci dan Leng-sian terus dibawa lari ke depan sana.
Sungguh kejut Gak Put-kun tak terkatakan, begitu kaki menginjak tanah segera ia kerahkan segenap tenaga untuk mengejar.
Pedang yang sudah siap lantas menusuk punggung orang itu dengan jurus "Pek-hong-koan-jit" (pelangi putih menembus sinar matahari).
Karena perawakan orang itu sangat tinggi besar, dengan sendirinya langkahnya juga lebar, cukup ia melangkah satu tindak ke depan dan tusukan Gak Put-kun lantas mengenai tempat kosong.
Waktu Put-kun meloncat maju dan menusuk pula, tapi lagi-lagi raksasa itu melangkah lebar ke depan sehingga serangannya kembali luput.
Walaupun sangat terkejut dan cemas, tapi Put-kun dapat melihat setelah raksasa itu memegang Peng-ci dan Leng-sian, karena beban yang cukup berat itu, biarpun memiliki tenaga sakti juga tidak dapat berlari cepat dengan menggunakan Ginkang.
Yang diandalkan hanya kakinya yang panjang dan langkah yang lebar, kalau diburu terus akhirnya pasti dapat menyusulnya.
Maka sekuatnya Put-kun menarik napas dalam-dalam, ia mengejar terlebih cepat.
Benar juga, segera jaraknya dengan raksasa itu jadi lebih dekat.
Diam-diam ia berpikir.
"Jika tidak kau lepaskan Peng-ci dan Sian-ji, tusukanku ini pasti akan menembus tubuhmu!"
Mendadak ia bersuit nyaring dan berteriak.
"Awas!"
Serangannya selalu dilakukan dengan terang-terangan, selama hidup dia tak sudi menyerang secara pengecut, sebab itulah orang memberikan julukan "Kun-cu-kiam"
Padanya.
Maka sebelum dia menusuk dengan jurus "Jing-hong-san-song" (angin meniup semilir), lebih dulu ia memperingatkan lawannya agar awas dan siap.
Tak tersangka raksasa itu seakan-akan tidak mendengar dan tak menggubris padanya.
Tampaknya ujung pedang hanya tinggal belasan senti saja dari sasarannya, pada saat itu juga tiba-tiba angin berkesiur, dua jari orang menyambar ke arah matanya.
Keruan Put-kun terkejut.
Tempat itu adalah ujung jalan yang penuh rumah penduduk di kanan-kiri, cahaya rembulan teraling oleh rumah-rumah itu.
Namun reaksi Gak Put-kun cepat luar biasa, begitu mengetahui ada musuh lain bersembunyi di situ dan menyergapnya, cepat ia mendak tubuh, sebelum melihat jelas siapa lawannya kontan ia balas menusuk dengan pedang.
Musuh itu menggeser samping terus mendesak maju lagi, jari kembali menyambar tiba hendak menutuk "Tiong-wan-hoat"
Di perut Gak Put-kun.
Tanpa ayal lagi Put-kun menendang, terpaksa orang itu berputar ke sebelah lain dan kembali menyerang punggungnya.
Tanpa balik tubuh segera pedang Gak Put-kun menebas ke belakang dengan cepat lagi jitu.
Tapi orang itu kembali dapat menghindarkan diri, menyusul ia menubruk maju lagi hendak mengincar tenggorokan Gak Put-kun.
Diam-diam Put-kun merasa gusar.
Pikirnya.
"Kurang ajar benar orang ini, berani dia lawan pedangku dengan tangan kosong, bahkan terus-menerus melancarkan serangan. Jika malam ini aku kecundang lagi, lalu apakah masih ada muka bagiku untuk berkecimpung di dunia persilatan?"
Segera ia kumpulkan semangat, setiap jurus dan setiap gerakan dilakukannya dengan sangat prihatin, belasan jurus kemudian, sayup-sayup timbul suara mendengung.
Nyata ia telah salurkan Lwekang ke dalam setiap jurus serangan pedangnya.
Mendadak orang itu menyerang tiga kali sehingga Put-kun terdesak mundur, cepat orang itu melompat mundur sambil berseru.
"Sampai bertemu pula kelak!"
Segera ia putar tubuh terus hendak tinggal pergi.
"Tunggu, ingin kuminta penjelasan dahulu,"
Bentak Gak Put-kun dan pedang terus menebas musuh.
Tapi orang itu menundukkan kepala untuk menghindar.
Tidak tersangka serangan Gak Put-kun ini hanya pancingan belaka, pedang hanya menebas sampai setengah jalan lantas diputar balik dan berubah menusuk dada orang dengan cepat.
Akan tetapi orang itu menggeser ke samping menyusul ia terus mendesak maju, kedua tangan mengincar perut Gak Put-kun.
Dalam keadaan demikian terpaksa Gak Put-kun harus membela diri lebih dulu, pedang berputar terus menusuk mata musuh pula.
Namun orang itu pun sangat gesit, jari menyelentik pedang dan baru saja tangan lain hendak meneruskan serangannya tadi, mendadak Gak Put-kun sedikit miringkan pedangnya, dari menusuk berubah menjadi menebas.
"Cret" , kopiah orang itu kena ditebas jatuh sehingga kelihatan kepalanya yang gundul. Kiranya orang itu adalah Hwesio. Begitu Hwesio itu menggenjot kedua kakinya, dengan cepat luar biasa tubuhnya lantas melayang ke belakang. Karena pedang kena diselentik tadi, Put-kun merasa tangannya linu kesemutan. Ketika ia hendak mengejar, mendadak jari tangan terasa kaku, hampir saja pedang terlepas dari cekalan, cepat ia pegang dengan tangan yang lain. Di bawah sinar bulan tertampaklah kelima jari tangan kanan itu sama bengkak, keruan kejutnya tak terkatakan. Dan sedikit merandek itulah Gak-hujin pun sudah menyusul tiba dengan senjata terhunus.
"Bagaimana anak Sian?"
Tanya kepada sang suami.
"Ke sana! Mari kejar!"
Sahut Put-kun sambil menuding ke depan dengan ujung pedang.
Suami istri lantas mengudak ke jurusan lari si raksasa tadi.
Tidak lama kemudian sampailah mereka di suatu persimpangan jalan, mereka menjadi bingung entah musuh lari ke arah mana.
Tentu saja yang paling gelisah adalah Gak-hujin.
"Orang yang menculik anak Sian itu adalah kawan Tiong-ji, rasanya mereka takkan membikin susah padanya,"
Demikian Put-kun berusaha menghibur sang istri.
"Marilah kita pulang menanyai Tiong-ji dan tentu akan tahu perkaranya."
"Benar, menurut orang itu tadi, katanya anak Sian dan Peng-ci sembarangan memfitnah Tiong-ji, entah apa alasannya?"
"Tentu saja ada sangkut pautnya dengan Pi-sia-kiam-boh itu,"
Kata Put-kun.
Waktu mereka pulang kembali ke perahu, terlihat Lenghou Tiong dan para murid sedang menunggu di tepi dermaga dengan rasa khawatir dan cemas.
Sesudah masuk ke dalam ruangan perahu, baru saja Gak Put-kun hendak panggil menghadap Lenghou Tiong, tiba-tiba terlihat di atas meja ada secarik kertas putih yang ditindih dengan tatakan lilin, kertas itu ada tulisan yang berbunyi.
"Di Ngo-pah-kang putrimu akan dikembalikan, Ci-he-sin-kang ternyata sekian saja kesaktiannya."
Tulisan itu tampaknya digores hanya dengan arang sumbu lilin saja.
Put-kun meremas kertas itu dan dimasukkan ke dalam saku.
Kemudian ia tanya tukang perahu di mana letak Ngo-pah-kang itu, terletak di perbatasan antara Holam dan Soatang, kalau perahu berangkat besok pagi-pagi, pada petang harinya bisa sampai di sana.
Diam-diam Put-kun berpikir.
"Lawan menantang aku untuk bertemu di Ngo-pah-kang, pertemuan ini mau tak mau harus dilakukan, tapi rasanya sudah pasti akan mengalami kekalahan dan tipis harapan untuk menang."
Selagi ragu-ragu, tiba-tiba terdengar pula suara teriakan orang di daratan sana.
"Keparat, di mana beradanya Tho-kok-lak-kui (enam setan dari Tho-kok) itu? Inilah aku malaikat Ciong Siu (nama dewa penangkap setan) datang hendak menangkap setan-setan itu!"
Mendengar itu, tentu saja Tho-kok-lak-sian sangat gusar.
Kecuali Tho-sit-sian yang tak bisa berkutik, kelima orang berbareng lantas melompat ke gili-gili.
Cepat Put-kun dan lain-lain juga keluar ke tepi perahu untuk melihat.
Ternyata orang yang berteriak tadi memakai kopiah tinggi lancip, tangan membawa sehelai bendera putih yang berkibar-kibar, pada bendera itu jelas tertulis.
"Khusus menangkap Tho-kok-lak-kui bernyali sekecil tikus, aku berani bertaruh untuk menangkap Tho-kok-lak-kui."
Tho-kin-sian berlima berjingkrak murka, secepat terbang mereka lantas mengejar. Ginkang orang berkopiah lancip itu pun sangat hebat, hanya sekejap saja sudah di kejauhan sana.
"Sumoay,"
Kata Put-kun.
"agaknya inilah tipu ‘memancing harimau meninggalkan gunung’, kita harus waspada, marilah masuk saja ke dalam."
Tapi baru saja Lo Tek-nau dan lain-lain hendak naik ke atas perahu, sekonyong-konyong dari samping sana satu gulungan bayangan manusia telah menggelinding tiba.
Sekali pegang dada Lenghou Tiong, orang itu lantas berteriak.
"Ikut pergi padaku!"
Kiranya bukan lain daripada si buntak yang mirip bola daging itu.
Sekali kena dicengkeram, sama sekali Lenghou Tiong tak mampu meronta, terpaksa ia membiarkan dirinya diseret pergi.
Tapi baru saja bola daging itu hendak lari, mendadak dari pojok rumah sana menerjang luar pula seorang terus menendang si buntak.
Kiranya penyerang ini adalah Tho-ki-sian.
Ilmu silat Tho-ki-sian sangat tinggi, tetapi nyalinya sangat kecil.
Ketika melihat tulisan pada bendera putih yang dibawa orang berkopiah lancip tadi, ia menjadi jeri dan tidak berani ikut mengejar bersama saudara-saudaranya, ia sembunyi di pojok rumah sana.
Baru kemudian waktu melihat si buntak membawa lari Lenghou Tiong, terpaksa ia muncul untuk menolongnya.
Melihat Tho-ki-sian menubruk tiba, cepat manusia bola daging itu melepaskan Lenghou Tiong, sekali lompat ia lantas mendekati Tho-sit-sian yang terbaring itu, sebelah kaki terangkat dengan gerakan hendak menginjak dada Tho-sit-sian.
Keruan Tho-ki-sian terkejut, teriaknya.
"Jangan mencelakai saudaraku!"
"Locu ingin mampuskan dia, peduli apa denganmu?"
Seru si buntak.
Tapi secepat terbang Tho-ki-sian telah memburu maju, tanpa ayal lagi ia terus rangkul Tho-sit-sian dan diangkat bersama usungannya.
Sesungguhnya si buntak tidak sengaja hendak menyerang Tho-sit-sian, tujuannya hanya untuk memancing Tho-ki-sian saja.
Maka dengan cepat ia melompat balik, sekali cengkeram kembali ia bekuk Lenghou Tiong terus dipanggul dan segera dibawa lari pergi.
Diam-diam Tho-ki-sian berpikir.
"Wah, celaka. Peng-tayhu menyuruh kami menjaga Lenghou Tiong ini, sekarang dia diculik orang, kelak cara bagaimana kami harus mempertanggungjawabkan?"
Tapi ia tidak tega meninggalkan Tho-sit-sian yang belum sembuh itu, terpaksa ia pun angkat Tho-sit-sian lalu mengejar ke arah si buntak. Gak Put-kun memberi isyarat kepada sang istri, katanya.
"Kau jaga para murid, biar aku menyusul ke sana untuk melihatnya."
Gak-hujin mengangguk.
Mereka sama-sama tahu bahwa di sekeliling mereka sekarang penuh musuh tangguh, kalau mereka suami-istri pergi semua mungkin seluruh anak muridnya akan disergap musuh.
Dalam hal Ginkang boleh dikata si buntak dan Tho-ki-sian adalah sama tingginya, tapi kedua orang sama-sama membawa beban seorang sehingga kecepatan lari mereka tidak secepat dalam keadaan bertangan kosong.
Maka dengan Ginkang Gak Put-kun yang cukup tinggi, lambat laun ia pun sudah dapat menyusulnya.
Didengarnya sepanjang jalan Tho-ki-sian terus berkaok-kaok menyuruh si buntak melepaskan Lenghou Tiong, kalau tidak tentu dia akan mengudak terus biar sampai ujung langit sekalipun.
Bab 52.
Hong-ho-lo-coh, Dua Tokoh Aneh Sungai Kuning Meskipun tubuh Tho-sit-sian tak bisa berkutik, tapi mulutnya tetap tidak mau menganggur, terus-menerus ia berdebat dengan Tho-ki-sian, katanya.
"Toako dan lain-lain tidak ada di sini, biarpun kau dapat menyusul si buntak juga tak bisa mengapa-apakan dia. Jika tak mampu mengapa-apakan dia, kau bilang akan mengudak dia sampai ke mana pun kan hanya gertak sambal belaka?"
"Walaupun cuma gertak sambal juga ada faedahnya untuk menggertak musuh daripada tidak berbuat apa-apa,"
Ujar Tho-ki-sian.
Ginkang Tho-ki-sian benar-benar hebat, tenaga dalamnya juga sangat kuat, biarpun membawa beban satu orang sambil mulut mencerocos, tapi kecepatan larinya tak pernah kendur.
Diam-diam Gak Put-kun terperanjat.
Ia tidak tahu dari golongan manakah kepandaian keenam manusia kosen itu?
Untung mereka suka angin-anginan, tingkah lakunya rada dogol, kalau tidak tentu akan merupakan musuh yang sukar dilayani.
Begitulah tiga orang itu kejar-mengejar dengan cepat menuju ke arah timur laut.
Jalanan makin lama makin terjal, nyata mereka sedang mendaki jalan pegunungan.
Mendadak Gak Put-kun teringat.
"Jangan-jangan si buntak itu menyembunyikan bala bantuan lihai di lembah pegunungan ini untuk memancing kedatanganku? Jika demikian sungguh teramat bahaya jika aku masuk perangkapnya."
Selagi ia merandek untuk memikir, tertampak si buntak yang membawa lari Lenghou Tiong itu telah menuju ke suatu rumah genting di lereng gunung sana, sesudah dekat ia terus melompat masuk ke halaman rumah itu dengan melintasi pagar tembok.
Kelihatan Tho-ki-sian yang memondong Tho-sit-sian itu juga lantas melompati pagar tembok.
Tapi mendadak terdengar suara jeritannya, nyata dia telah masuk perangkap yang terpasang di balik pagar tembok.
Gak Put-kun juga sudah mengejar sampai di tepi pagar tembok itu, tapi ia lantas berhenti dan pasang kuping.
Terdengar Tho-sit-sian sedang berkata.
"Sudah lama kukatakan padamu agar hati-hati, coba sekarang kau kena diringkus orang di dalam jaring sehingga mirip seekor ikan, sungguh sialan."
"Pertama, bukan seekor, tapi dua ekor ikan. Kedua, kapan kau pernah menyuruh aku berhati-hati?"
Demikian sahut Tho-ki-sian.
"Eh, dahulu waktu kecil, ketika kita pergi mencuri buah mangga orang yang pohonnya berada di halaman rumah, bukankah pernah kusuruh kau berhati-hati? Masakah kau sudah lupa?"
"Itu kan dahulu, kejadian 40 tahun yang lalu ada sangkut paut apa dengan kejadian sekarang ini?"
Sahut Tho-ki-sian.
"Sudah tentu ada sangkut pautnya,"
Tho-sit-sian.
"Karena dahulu kau kurang hati-hati sehingga terperosot jatuh dan ditangkap orang dan dihajar. Untung Toako, Jiko dan lain-lain keburu datang menolong dan membunuh habis keluarga orang itu. Sekarang kau kurang hati-hati lagi dan kembali tertangkap pula."
"Kenapa mesti khawatir, paling-paling Toako dan lain-lain memburu tiba dan membunuh habis pula segenap keluarga orang ini,"
Kata Tho-ki-sian.
"Hm,"
Terdengar si buntak mendengus.
"Kematian kalian sudah di depan mata, masih berani mengigau akan membunuh orang segala. Lebih baik tutup mulut kalian supaya telingaku tidak panas."
Lalu terdengar Tho-ki-sian dan Tho-sit-sian bersuara bertahan.
Agaknya si buntak telah menyumbat sesuatu di mulut kedua orang itu sehingga tidak mampu membuka suara.
Gak Put-kun pasang kuping pula sejenak, tapi tidak mendengar sesuatu suara.
Ia coba mengitar ke belakang sana, tertampak di luar pekarangan tumbuh satu pohon besar.
Ia memanjat pohon itu dan memandang ke dalam.
Kiranya di dalam situ adalah sebuah rumah genting yang kecil, kira-kira dua-tiga meter jaraknya dengan pagar tembok dan rumah itu tentu ada perangkapnya.
Maka ia sengaja sembunyi di atas pohon yang tertutup oleh daun lebat, ia kerahkan Ci-he-sin-kang untuk mendengarkan.
Terdengarlah suara si buntak sedang bertanya.
"Sesungguhnya Coh Jian-jiu si tua bangka itu ada hubungan apa dengan dirimu?"
"Baru pertama kali ini aku melihat orang seperti Coh Jian-jiu itu, maka tak dapat dikatakan ada hubungan apa,"
Demikian suara Lenghou Tiong sedang menjawab.
"Urusan sudah begini dan kau masih berdusta,"
Seru si buntak dengan gusar.
"Apa kau tidak tahu bahwa sekali sudah jatuh dalam cengkeramanku, maka kau pasti akan mati dengan mengerikan."
"Aku tahu engkau tentu sangat marah karena obatmu yang katanya mujarab itu telah kumakan tanpa sengaja,"
Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Tapi rasanya obatmu itu toh tiada tampak khasiatnya, sudah sekian lamanya kuminum obatmu itu namun sedikit pun aku tidak merasakan apa-apa."
"Memangnya kau kira begitu cepat akan tampak khasiatnya?"
Kata si buntak dengan gusar.
"Datangnya penyakit biasanya mendadak, sembuhnya penyakit justru sedikit demi sedikit. Khasiatnya obat itu baru dapat tampak sesudah tiga hari nanti."
"Baiklah, jika kau mau membunuh aku boleh silakan, toh aku tak bertenaga dan tak mampu melawan,"
Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Hm, kau ingin mati dengan enak, jangan harap. Aku harus menanyai lebih dulu,"
Damprat si buntak.
"Keparat, Coh Jian-jiu adalah kawanku selama beberapa puluh tahun, sekarang ternyata mengkhianati kawan sendiri, tentu dalam hal ini ada sebab-sebabnya. Hoa-san-pay kalian tidak laku sepeser pun bagi penilaian ‘Hongho Lo-coh’ kami, sudah tentu bukan lantaran kau adalah murid Hoa-san-pay sehingga dia perlu mencuri aku punya Siok-beng-wan untuk diminumkan padamu. Ai, sungguh aneh bin ajaib, ajaib binti heran!"
"O, kiranya julukanmu adalah ‘Hongho Lo-coh’ maafkan kalau aku berlaku kurang hormat,"
Kata Lenghou Tiong.
"Ngaco-belo,"
Semprot si buntak dengan marah.
"Seorang diri mana aku dapat menjadi Hongho Lo-coh?"
"He, mengapa tidak dapat?"
Tanya Lenghou Tiong heran.
"Hongho Lo-coh terdiri dari dua orang, yang satu she Lo, yang lain she Coh, masakah begini saja tidak paham, sungguh goblok,"
Omel si buntak.
"Coh Cong, Coh Jian-jiu she Coh, aku Lo Ya, Lo Thau-cu she Lo, kami berdua bersemayam di sepanjang lembah Hongho, maka kami disebut sebagai Hongho Lo-coh."
"Aneh, mengapa yang seorang bernama Lo Ya (tuan besar) dan yang lain bernama Coh (kakek moyang)?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Kau sendiri masih hijau seperti katak dalam tempurung dan tidak tahu bahwa di dunia ini ada orang she Lo dan she Coh,"
Kata si buntak.
"Aku sendiri she Lo (tua) bernama Ya (tua) alias Thau-cu (kakek), atau Lo Thau-cu (kakek tua) ...."
Saking gelinya Lenghou Tiong mengakak tawa, katanya.
"Jika demikian, Coh Jian-jiu itu she Coh bernama Cong (nenek moyang)?"
"Memang begitulah,"
Sahut si buntak alias Lo Thau-cu. Setelah merandek sejenak lalu ia berkata pula.
"Eh, kau tidak kenal nama Coh Jian-jiu, jika begitu boleh jadi kau memang tiada hubungan keluarga apa-apa dengan dia. Tapi, ai, salah. Apa kau bukan anaknya Coh Jian-jiu?"
Lenghou Tiong tambah geli, sahutnya.
"Cara bagaimana aku bisa menjadi anaknya? Dia she Coh, aku she Lenghou, mana dapat keduanya dihubung-hubungkan?"
"Sungguh aneh,"
Demikian Lo Thau-cu bergumam sendiri.
"Dengan susah payah, dengan segala tipu daya akhirnya baru dapat kuracik delapan biji Siok-beng-wan yang mestinya hendak kugunakan mengobati penyakit putri mestikaku. Kau bukan anaknya Coh Jian-jiu, mengapa dia sengaja mencuri obat untukmu?"
Mendengar itu barulah Lenghou Tiong paham duduknya perkara. Katanya.
"Kiranya obat Lo-siansing ini akan digunakan untuk menyembuhkan penyakit putrimu, tetapi keliru kumakan sekarang, sungguh aku merasa tidak enak hati. Entah penyakit apakah yang diderita putrimu? Mengapa engkau tidak minta pertolongan kepada Sat-jin-beng-ih Peng-tayhu untuk mengobatinya?"
"Cis, siapa yang tidak tahu bila sakit harus minta pertolongan kepada Peng It-ci?"
Semprot Lo Thau-cu.
"Dia menetapkan suatu peraturan setiap orang yang disembuhkan harus membunuh pula seorang sebagai pengganti nyawa. Aku khawatir dia menolak mengobati putriku, lebih dulu telah kubunuh habis delapan jiwa keluarga bininya, dengan demikian barulah dia merasa sungkan dan terpaksa memeriksa penyakit putriku. Menurut kesimpulannya penyakit putriku yang aneh itu sudah ada ketika meninggalkan kandungan ibunya, maka dia membuka resep obat Siok-beng-wan sebanyak delapan biji pil itu. Kalau tidak, aku sendiri bukan tabib, dari mana aku paham cara meracik obat segala?"
Cerita si buntak mengherankan Lenghou Tiong, tanyanya pula.
"Cianpwe telah minta pertolongan kepada Peng-tayhu untuk mengobati putrimu, tapi mengapa malah membunuh habis seluruh keluarga mertuanya?"
"Kau ini benar-benar sangat goblok, kalau tidak dijelaskan tidak paham,"
Omel Lo Thau-cu.
"Musuh Peng It-ci sebenarnya tidak banyak, apa lagi beberapa tahun terakhir ini sudah habis dibunuh oleh pasien yang disembuhkan olehnya. Tapi selama hidup Peng It-ci paling benci kepada ibu mertuanya, soalnya dia takut bini, dia tidak berani membunuh ibu mertuanya itu, maka akulah yang mewakilkan dia turun tangan. Sesudah aku membunuh segenap keluarga ibu mertuanya, Peng It-ci sangat senang dan baru mengobati putriku dengan sesungguh hati."
"O, kiranya demikian,"
Kata Lenghou Tiong.
"Padahal obatmu yang katanya sangat mustajab itu tidak cocok bagi penyakitku. Entah bagaimana keadaan penyakit putrimu? Apakah masih keburu bila mengulangi mencari obat baru?"
Lo Thau-cu menjadi gusar, katanya.
"Putriku paling lama hanya tahan hidup setengah atau setahun saja dan pasti akan mati, masakah sempat untuk mencari obat yang sangat sukar ditemukan itu? Sekarang tiada jalan lain, terpaksa aku mengobati dia dengan caraku sendiri."
Segera ia tarik sebuah kursi, ia paksa Lenghou Tiong duduk di situ, ia ambil pula seutas tambang dan mengikat kaki tangan Lenghou Tiong sekencangnya di kursi.
Lalu ia robek baju bagian dada Lenghou Tiong sehingga kelihatan kulit dadanya yang putih.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Jangan terburu-buru, sebentar lagi kau akan tahu sendiri,"
Sahut Lo Thau-cu dengan menyeringai.
Habis itu ia terus angkat Lenghou Tiong berikut kursinya dan dibawa ke belakang.
Sesudah menyusuri serambi samping, akhirnya ia menyingkap tirai dan masuk ke sebuah kamar.
Begitu berada dalam kamar itu, Lenghou Tiong lantas merasa sumpek luar biasa.
Tertampak celah-celah jendela kamar itu dilem rapat dengar kertas sehingga kamar itu benar-benar tak tembus angin sedikit pun.
Di dalam kamar ada dua anglo, arangnya tampak membara.
Kelambu tempat tidur tampak menjulai.
Seluruh kamar hanya bau obat belaka.
Sesudah menaruh kursi bersama Lenghou Tiong yang terikat kencang di atasnya, si buntak lantas membuka kelambu, katanya dengan suara lembut.
"Anak Ih, bagaimana keadaanmu hari ini?"
Di atas bantal berwarna kuning telur itu tampak berbaring sebuah wajah yang pucat dengan rambut yang panjang terurai di atas selimut sutra warna kuning gading.
Usia nona itu kira-kira baru 17-18 tahun, kedua matanya terpejam rapat, bulu matanya sangat panjang.
Terdengar dia menyapa.
"Ayah!"
Dengan mata tetap tertutup.
"Anak Ih,"
Kata Lo Thau-cu.
"Siok-beng-wan yang kubuatkan untukmu sudah selesai. Hari ini juga boleh dimakan dan penyakitmu tentu akan segera sembuh, tidak lama kemudian kau pun dapat bangun dan bermain lagi."
Nona itu hanya bersuara perlahan sekali, agaknya tidak begitu tertarik akan ucapan sang ayah.
Lenghou Tiong merasa tidak tenteram demi melihat penyakit si nona yang payah itu.
Ia dapat mengerti cinta kasih si buntak terhadap putrinya itu, apa yang diucapkannya tadi agaknya sekadar untuk menghibur putrinya saja.
Tapi Lo Thau-cu lantas memondong putrinya untuk didudukkan, katanya.
"Kau duduk saja agar lebih leluasa minum obatmu ini. Obat ini tidak mudah diperoleh, jangan kau meremehkannya."
Perlahan nona itu bangun duduk, Lo Thau-cu mengambilkan dua buah bantal untuk mengganjal punggung putrinya itu. Waktu nona itu membuka mata, ia menjadi heran demi melihat Lenghou Tiong.
"Ayah, sia ... siapakah dia?"
Tanyanya kemudian sambil memandang Lenghou Tiong dengan sepasang mata bola yang hitam guram.
"Dia? O, dia bukan orang, dia adalah obat,"
Sahut Lo Thau-cu sambil tersenyum.
"Dia adalah obat?"
Si nona menegas dengan bingung.
"Ya, dia adalah obat,"
Kata pula Lo Thau-cu.
"Pil Siok-beng-wan itu terlalu keras untuk dimakan begitu saja olehmu, maka lebih dulu dimakan dia, lalu kuambil darahnya untuk diminumkan kepadamu, dengan demikian barulah cocok."
"Oo,"
Hanya sekian saja nona itu bersuara, lalu memejamkan mata pula.
Sudah tentu Lenghou Tiong terkejut dan gusar pula mendengar kata-kata Lo Thau-cu, segera ia bermaksud memakinya, tapi lantas terpikir olehnya.
"Aku telah makan obat mujarab yang mestinya akan digunakan untuk menolong jiwa nona ini, walaupun tidak sengaja, tapi akulah yang telah membikin susah dia. Apalagi aku sendiri sudah tidak ingin hidup lebih lama lagi, jika sekarang darahku digunakan untuk menolong jiwanya sebagai penebus dosaku, cara ini pun boleh juga."
Karena itu ia hanya tersenyum pedih saja dan tidak membuka suara.
Lo Thou-cu berdiri di samping Lenghou Tiong, ia sudah siap, begitu Lenghou Tiong berteriak segera akan menutuk Hiat-to bisunya.
Siapa duga sikap Lenghou Tiong tetap tenang-tenang saja dan tak ambil peduli, hal ini berbalik di luar dugaannya.
Segera Lo Thau-cu bertanya.
"Aku akan menusuk ulu hatimu dan mengambil darahmu untuk mengobati putriku, kau takut atau tidak?"
"Kenapa mesti takut?"
Sahut Lenghou Tiong dengan hambar saja. Lo Thau-cu coba mengamat-amati Lenghou Tiong, benar juga dilihatnya sikapnya tenang saja tanpa gentar, ia rada heran. Tanyanya pula.
"Sekali kutusuk ulu hatimu, seketika jiwamu melayang. Sudah kukatakan di muka, nanti jangan menyalahkan aku."
Lenghou Tiong tersenyum pula, sahutnya.
"Setiap orang akhirnya toh mesti mati, mati lebih cepat beberapa tahun atau mati lebih lambat beberapa tahun apa sih bedanya? Jika darahku dapat menolong jiwa nona itulah sangat bagus daripada aku mati percuma tanpa berfaedah bagi siapa pun."
"Sungguh hebat!"
Puji Lo Thau-cu sambil mengacungkan jari jempolnya.
"Kesatria yang tidak gentar mati seperti dirimu jarang sekali kutemukan selama hidupku ini. Sayang putriku terpaksa harus minum darahmu supaya bisa sembuh, kalau tidak sungguh aku ingin mengampunimu saja."
Segera ia menuju ke dapur dan membawa datang sebuah baskom air panas yang masih mendidih.
Tangan kanannya lantas memegang sebilah belati, tangan kiri mengambil sepotong handuk kecil, ia basahi dengan air panas itu, belati lantas ditempelkan di depan ulu hati Lenghou Tiong.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seruan Coh Jian-jiu di luar.
"Lo Thau-cu! Lo Thau-cu! Lekas membuka pintu lekas! Aku membawa suatu barang baik untuk nona Siau Ih."
Lo Thau-cu tampak mengerut kening, sekali belatinya menggores, ia potong handuk kecil tadi menjadi dua, satu potong dijejalkan ke mulut Lenghou Tiong agar tidak dapat bersuara, lalu serunya.
"Barang baik apa yang kau maksudkan?"
Sembari bicara ia lantas menaruh belatinya, kemudian lari keluar untuk membuka pintu dan menyilakan Coh Jian-jiu masuk ke dalam rumah. Terdengar Coh Jian-jiu berkata pula.
"Lo Thau-cu, cara bagaimana kau akan berterima kasih padaku dalam urusan ini? Karena urusannya terlalu mendesak, seketika aku tak bisa bertemu denganmu, terpaksa aku ambil Siok-beng-wanmu tanpa permisi dan menipu dia untuk meminumnya semua. Jika kau sendiri mengetahui persoalannya tentu kau pun akan mengantar sendiri obatmu kepadanya, tapi belum tentu dia mau meminumnya begitu saja."
Dengan gusar Lo Thau-cu mengomel.
"Ngaco ...."
Tapi Coh Jian-jiu lantas menempelkan mulutnya ke tepi telinga Lo Thau-cu dan berbisik-bisik padanya beberapa patah kata. Habis itu sekonyong-konyong Lo Thau-cu melonjak kaget, teriaknya.
"Apa betul demikian? Kau ... kau tidak mendustai aku?"
"Buat apa aku dusta?"
Sahut Coh Jian-jiu.
"Sebelumnya aku sudah mencari tahu, setelah yakin dan pasti baru kukerjakan. Lo Thau-cu, kita adalah sahabat berpuluh tahun, kita sama-sama tahu perasaan masing-masing. Urusan yang telah kukerjakan ini cocok dengan perasaanmu atau tidak?"
"Betul, betul! Kurang ajar, kurang ajar!"
Sahut Lo Thau-cu.
"He, kenapa sudah betul kok kurang ajar lagi?"
Tanya Coh Jian-jiu terheran-heran.
"Kau yang betul dan aku yang kurang ajar!"
Sahut Lo Thau-cu. Tanpa bicara Lo Thau-cu lantas menyeret Coh Jian-jiu masuk ke kamar putrinya, segera ia menjura dan menyembah kepada Lenghou Tiong, katanya.
"Lenghou-kongcu, Lenghou-tayjin, Lenghou-siauya, hamba telah berbuat salah besar dan membikin susah padamu. Untung Thian Maha Pengasih, Coh Jian-jiu keburu tiba, kalau tidak, bila aku telanjur menubles hulu hatimu, biarpun aku dihukum gantung juga belum cukup untuk menebus dosaku ini."
Mulut Lenghou Tiong masih tersumbat, maka dia tidak dapat membuka suara. Syukur Coh Jian-jiu cukup teliti, segera ia mengorek keluar kain penyumbat mulut itu dan bertanya.
"Lenghou-kongcu, mengapa engkau berada di sini?"
"He, Locianpwe silakan lekas bangun, penghormatan setinggi ini aku tak berani menerimanya,"
Seru Lenghou Tiong. Lo Thau-cu berkata pula.
"Aku tidak tahu kalau Lenghou-kongcu mempunyai hubungan serapat ini dengan tuan penolongku yang paling berbudi sehingga telah banyak membikin susah padamu, ai, benar-benar kurang ajar aku ini dan pantas dihukum mampus. Seumpama aku mempunyai seratus orang putri dan harus mati semuanya juga aku tak berani minta pengaliran darah Lenghou-kongcu sedikit pun untuk menolong jiwa mereka."
Coh Jian-jiu masih belum paham duduknya perkara, dengan mata terbelalak ia tanya.
"Lo Thau-cu, apa maksudmu kau meringkus Lenghou-kongcu di atas kursi ini?"
"Ai, pendek kata akulah yang salah, harap saja kau jangan tanya lebih jauh,"
Sahut Lo Thau-cu dengan menyesal.
"Dan belati ini serta air panas di dalam baskom ini akan digunakan untuk apa?"
Tanya pula Jian-jiu. Mendadak terdengar suara "plak-plok"
Berulang-ulang, Lo Thau-cu telah menggampar pipinya sendiri beberapa kali sehingga mukanya yang memang sudah gemuk bulat itu tambah bengkak melembung.
"Ya, aku pun tidak paham duduknya perkara dan masih bingung, diharap kedua Cianpwe sudi memberi penjelasan,"
Kata Lenghou Tiong. Lekas-lekas Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu melepaskan tali pengikatnya dan berkata.
"Marilah kita sambil minum arak sembari bicara."
"Apakah penyakit putrimu takkan berubah gawat?"
Tanya Lenghou Tiong sambil memandang sekejap kepada si nona yang terbaring di tempat tidurnya itu.
"Tidak, takkan berubah,"
Sahut Lo Thau-cu.
"Seumpama akan berubah gawat juga ... ai, apa mau dikata lagi ...."
Begitulah Lo Thau-cu menyilakan Lenghou Tiong dan Coh Jian-jiu ke ruangan tamu, ia menuang tiga mangkuk arak dan menyiapkan pula sedikit makanan sebangsa kacang goreng dan lain-lain sebagai teman arak.
Dengan penuh hormat ia angkat mangkuknya untuk ajak minum Lenghou Tiong.
Lenghou Tiong coba menghirup seceguk, ia merasa arak itu kurang keras dan hambar, bedanya seperti langit dan bumi dengan ke-16 guci arak di perahunya itu.
Tapi kalau dibandingkan kedelapan cawan arak yang disuguhkan Coh Jian-jiu itu rasanya jauh lebih sedap.
"Lenghou-kongcu, aku sudah tua bangka dan telah membikin susah padamu, ai, sungguh ... sungguh ...."
Begitulah Lo Thau-cu masih merasa menyesal, wajahnya tampak gugup dan entah apa yang harus diucapkannya baru dapat menggambarkan rasa menyesalnya itu.
"Lenghou-kongcu yang berjiwa besar tentu takkan menyalahkan dirimu,"
Ujar Coh Jian-jiu.
"Pula kau punya Siok-beng-wan itu jika benar-benar ada khasiatnya dan berfaedah bagi kesehatan Lenghou-kongcu, tentu kau berbalik akan berjasa malah."
"Tentang ... tentang jasa segala aku tidak berani terima,"
Sahut Lo Thau-cu.
"Coh-hiante, adalah jasamu yang paling besar."
"Aku telah mengambil obatmu, mungkin akan mengganggu kesehatan nona Siau Ih,"
Kata Coh Jian-jiu dengan tertawa.
"Ini ada sedikit jinsom, boleh minumkan padanya sekadar menguatkan badannya."
Habis berkata ia lantas mengambil sebuah bakul bambu yang dibawanya, dari dalam bakul dikeluarkannya beberapa batang jinsom yang beratnya ada sepuluhan kati.
"Wah, dari mana kau memperoleh jinsom sebanyak ini?"
Tanya Lo Thau-cu.
"Sudah tentu kupinjam dari toko obat,"
Sahut Coh Jian-jiu dengan tertawa. Lo Thau-cu ikut terbahak-bahak, katanya.
"Ada ubi ada talas, pinjaman ini entah kapan baru bisa dibalas."
Walaupun si buntak tertawa-tawa, tapi di antara mata alisnya tertampak rasa sedih. Lenghou Tiong lantas berkata.
"Lo-siansing dan Coh-siansing, kalian masing-masing telah menipu aku, kemudian menculik dan meringkus aku di sini, semuanya ini sesungguhnya terlalu memandang enteng padaku."
"Ya, ya, memang kami berdua tua bangka ini pantas dihukum mati, entah cara bagaimana Lenghou kongcu akan menjatuhkan hukuman, sedikit pun kami tak berani mengelak,"
Sahut Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu berbareng.
"Baik, ada sesuatu yang aku merasa tidak mengerti, kuharap kalian suka menjawab terus terang,"
Kata Lenghou Tiong.
"Aku ingin tanya, kalian segan kepada siapakah sehingga kalian demikian menghormat padaku?"
Kedua kakek itu saling pandang sekejap, lalu Coh Jian-jiu menjawab.
"Lenghou-kongcu tentu sudah tahu di dalam batin, tentang nama tokoh itu, harap maaf, kami tak berani menyebutnya."
"Tapi aku benar-benar tidak tahu,"
Kata Lenghou Tiong.
Diam-diam ia pun menimbang-nimbang siapakah tokoh yang dimaksudkan itu?
Apakah Hong-thaysiokco?
Atau Put-kay Taysu?
Atau Dian Pek-kong?
Atau Lik-tiok-ong?
Tapi kalau dipikirkan lebih mendalam rasanya toh bukan.
"Lenghou-kongcu,"
Kata Coh Jian-jiu kemudian.
"Pertanyaanmu ini sekali-kali kami tidak berani memberi jawaban, biarpun kau bunuh kami juga takkan kami katakan. Toh di dalam batin Kongcuya sendiri sudah tahu, buat apa mesti minta kami menyebut namanya?"
Melihat ucapan mereka sangat pasti, agaknya susah disuruh mengaku biarpun dipaksa, terpaksa Lenghou Tiong berkata.
"Baiklah, kalian tidak mau mengatakan, tentu rasa mendongkolku juga sukar dilenyapkan. Lo-siansing, kau telah mengikat aku di atas kursi sehingga aku ketakutan setengah mati, sekarang aku pun ingin balas mengikat kalian di kursi, boleh jadi aku masih belum puas dan akan mengorek keluar hati kalian dengan belati."
Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu saling pandang sekejap, kata mereka kemudian.
"Jika Lenghou-kongcu ingin meringkus kami, sudah tentu kami tidak berani melawan."
Segera Lo Thau-cu mengambilkan dua buah kursi dan beberapa utas tambang.
Di dalam batin mereka tidak percaya Lenghou Tiong berniat meringkus mereka secara sungguh-sungguh, besar kemungkinan cuma bergurau saja.
Tak terduga Lenghou Tiong benar-benar lantas mengambil tali terus mengikat tangan mereka dengan menelikungnya ke belakang sandaran kursi.
Lalu ia pegang belati milik Lo Thau-cu tadi, katanya.
"Tenaga dalamku sudah punah, aku tak bisa menutuk kalian dengan jari tangan, terpaksa aku menggunakan gagang belati ini untuk menutuk Hiat-to kalian."
Habis itu ia lantas membalik belati yang dipegangnya itu, dengan gagang belati ia ketuk beberapa Hiat-to tertentu di atas tubuh kedua kakek itu sehingga tak bisa bergerak.
Keruan Coh Jian-jiu dan Lo Thau-cu saling pandang dengan heran, tanpa merasa timbul juga rasa khawatir mereka karena tidak tahu apa maksud tujuan Lenghou Tiong yang sebenarnya.
"Hendaknya kalian tunggu sebentar di sini,"
Demikian Lenghou Tiong berkata, lalu putar tubuh dan melangkah keluar ruangan tamu.
Dengan membawa belati Lenghou Tiong menuju ke kamar putri Lo Thau-cu, setiba di luar kamar, ia berdehem dulu, lalu berkata.
"Nona ... nona Siau Ih, bagaimana keadaanmu."
Semula Lenghou Tiong bermaksud memanggilnya "nona Lo", tapi ini berarti "nona tua"
Dan tidak pantas bagi gadis yang masih muda belia, maka dia lantas memanggil namanya seperti apa yang didengarnya dari panggilan Coh Jian-jiu tadi. Maka terdengar nona Siau Ih hanya bersuara "Ehmmm"
Dan tidak menjawab.
Perlahan Lenghou Tiong menyingkap tirai pintu kamar dan melangkah masuk.
Terlihat nona itu masih tetap duduk bersandar di atas bantal, kedua mata sedikit terbuka dan seperti orang baru bangun tidur.
Lenghou Tiong melangkah lebih dekat, tertampak kulit muka si nona putih halus laksana kaca sehingga otot-otot hijau di dalam daging kelihatan jelas.
Keadaan nona itu agaknya sangat payah, tampaknya lebih banyak mengembuskan napas daripada menyedot hawa segar.
"Nona ini mestinya dapat diselamatkan, tapi obatnya telah telanjur kumakan sehingga membikin susah padanya. Aku sendiri toh sudah pasti akan mati, bisa hidup lebih lama beberapa hari atau tidak toh tiada bedanya bagiku,"
Demikian pikir Lenghou Tiong sambil menghela napas panjang.
Segera ia ambil sebuah mangkuk porselen, ia taruh di atas meja, lalu belati digunakan untuk memotong nadi pergelangan tangan kiri, seketika darah bercucuran dan mengalir ke dalam mangkuk.
Ia lihat air mendidih yang disiapkan Lo Thau-cu tadi masih mengepulkan asap panas, segera ia taruh belatinya, tangannya dicelup ke dalam air panas itu, lalu diusapkan pada luka pergelangan tangan kiri agar darah di tempat luka itu tidak lekas membeku.
Maka hanya sebentar saja mangkuk porselen itu sudah hampir diisi dengan darah segar.
Dalam keadaan sadar tak sadar nona Siau Ih mencium bau anyirnya darah, ia membuka mata, melihat darah mengucur dari pergelangan tangan Lenghou Tiong, sakit kagetnya ia sampai menjerit.
Mendengar suara jeritan Siau Ih itu, Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu yang terikat di ruang tamu sana saling pandang dengan bingung karena tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Lenghou Tiong atas diri gadis itu.
Di dalam hati kedua orang ada dugaan tertentu, tapi keduanya sama-sama tidak berani mengemukakan perasaannya lebih dahulu.
Dalam pada itu Lenghou Tiong sudah penuh mengisi mangkuk tadi dengan darahnya, segera ia membawa darah itu ke hadapan Siau Ih dan berkata.
"Lekas kau minum, di dalam darah ini mengandung obat mujarab yang dapat menyembuhkan penyakitmu."
"Ti ... tidak, aku ... aku takut, aku tidak mau minum,"
Sahut Siau Ih.
Sesudah mengalirkan darah semangkuk, rasa badan Lenghou Tiong menjadi enteng dan kaki tangannya lemas.
Jika si nona tak mau minum darah itu kan sia-sia saja pengorbanannya?
Maka ia coba menggertaknya, dengan belati terhunus ia membentaknya.
"Kau mau minum tidak? Jika tidak, segera kutikam mati kau?"
Menyusul ujung belatinya ia ancam di tenggorokan si nona.
Siau Ih menjadi takut, terpaksa membuka mulut dan menghirup darah di dalam mangkuk itu.
Beberapa kali ia merasa mual dan hendak muntah, tapi demi melihat ujung belati yang mengilap itu, dalam takutnya hilanglah rasa mualnya.
Setelah habis darah semangkuk itu, Lenghou Tiong melihat luka pada pergelangan tangan sendiri itu sudah membeku, darah tidak menetes keluar lagi.
Ia pikir kadar obat Siok-beng-wan yang tercampur dalam darah yang diminumkan kepada Siau Ih itu tentu terlalu sedikit dan tak berguna, rasanya harus mencekoki si nona beberapa mangkuk lagi, sampai diri sendiri lemas dan tak bisa berkutik barulah jadi.
Segera Lenghou Tiong memotong pula nadi pergelangan kanan dan mencurahkan darahnya untuk mencekoki Siau Ih.
"Janganlah kau paksa aku, aku benar-benar tidak ... tidak sanggup lagi,"
Kata Siau Ih sambil mengerut kening.
"Sanggup atau tidak sanggup harus kau minum lekas!"
Kata Lenghou Tiong.
"Ken ... kenapa engkau berbuat begini? Cara ... cara demikian kan merugikan badanmu sendiri?"
Ujar Siau Ih.
"Merugikan badanku tidak menjadi soal, aku hanya ingin kau sembuh,"
Sahut Lenghou Tiong sambil tersenyum getir.
Di sebelah sana Tho-ki-sian dan Tho-sit-sian yang kena dijaring oleh Lo Thau-cu tadi sudah kehabisan akal karena semakin mereka meronta semakin kencang pula jaring itu menyurut, sampai akhirnya kedua orang tak bisa berkutik lagi.
Namun mata telinga mereka tetap tidak mau menganggur dan masih saling berdebat.
Waktu Lenghou Tiong mengikat Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu di kursi, semula Tho-ki-sian mengira pemuda itu pasti akan membunuh kedua kakek itu, sedang Tho-sit-sian percaya dia pasti akan membebaskan mereka berdua yang terjebak itu.
Tak terduga percuma saja mereka berdebat setengah harian, sama sekali Lenghou Tiong tidak urus mereka sebaliknya masuk ke kamar Siau Ih.
Karena kamar Siau Ih itu ditutup dengan rapat, sampai celah-celah jendela pun dilem dengan kertas sehingga percakapan Lenghou Tiong dan Siau Ih sayup-sayup hanya dapat terdengar sebagian.
Tho-ki-sian, Tho-sit-sian, Lo Thau-cu, Coh Jian-jiu serta Gak Put-kun yang sedang mengintip di luar itu semuanya memiliki Lwekang sangat tinggi, tapi apa yang dilakukan Lenghou Tiong di dalam kamar Siau Ih, mereka hanya dapat menduga-duga menurut jalan pikirannya masing-masing.
Ketika mendadak terdengar jeritan Siau Ih, wajah kelima orang itu sama berubah semua.
Tho-ki-sian berkata.
"Seorang pemuda seperti Lenghou Tiong itu, untuk apa dia masuk ke kamar anak gadis orang?"
"Coba dengar,"
Sahut Tho-sit-sian.
"Nona itu agak sangat takut, dia sedang meratap, ‘Aku ... takut!’ Wah, Lenghou Tiong lagi mengancam akan membunuhnya, katanya, ‘Jika kau tidak mau ....’ Tidak mau apa maksudnya?"
"Apa lagi? Sudah tentu dia sedang memaksa nona itu menjadi istrinya,"
Ujar Tho-ki-sian.
"Hahaha! Sungguh menggelikan!"
Tho-sit-sian terbahak-bahak.
"Putri si buntak yang berpotongan buah semangka itu dengan sendirinya juga pendek gemuk bulat seperti bola, mengapa Lenghou Tiong paksa memperistrikan dia?"
"Ah, masakan apa pun, setiap orang mempunyai selera dan kesukaan sendiri-sendiri. Boleh jadi Lenghou Tiong itu paling suka pada wanita gemuk buntak, maka begitu melihatnya semangatnya lantas terbang ke awang-awang,"
Demikian kata Tho-ki-sian.
"He, coba dengarkan!"
Bisik Tho-sit-sian.
"Nona gemuk itu sedang minta ampun, katanya, ‘Janganlah kau paksa aku, aku benar-benar tidak sanggup lagi.’"
"Ya, agaknya Lenghou Tiong itu benar-benar pemuda mahaperkasa, katanya, ‘Sanggup atau tidak sanggup juga harus lekas, lekas!’"
"Lekas? Apa maksudnya Lenghou Tiong suruh dia lekas?"
Tanya Tho-sit-sian.
"Kau tidak pernah beristri, masih jejaka, sudah tentu kau tidak paham,"
Kata Tho-ki-sian.
"Memangnya kau sendiri pernah beristri? Huh, tidak tahu malu!"
Jawab Tho-sit-sian. Habis itu ia lantas berteriak-teriak.
"He, hei! Lo Thau-cu. Lenghou Tiong sedang memaksa putrimu untuk menjadi istrinya, mengapa kau diam-diam saja tanpa memberi pertolongan?"
Meskipun tubuh Tho-sit-sian tak bisa berkutik, tapi mulutnya tetap tidak mau menganggur, terus-menerus ia berdebat dengan Tho-ki-sian, katanya.
"Toako dan lain-lain tidak ada di sini, biarpun kau dapat menyusul si buntak juga tak bisa mengapa-apakan dia. Jika tak mampu mengapa-apakan dia, kau bilang akan mengudak dia sampai ke mana pun kan hanya gertak sambal belaka?"
"Walaupun cuma gertak sambal juga ada faedahnya untuk menggertak musuh daripada tidak berbuat apa-apa,"
Ujar Tho-ki-sian.
Ginkang Tho-ki-sian benar-benar hebat, tenaga dalamnya juga sangat kuat, biarpun membawa beban satu orang sambil mulut mencerocos, tapi kecepatan larinya tak pernah kendur.
Diam-diam Gak Put-kun terperanjat.
Ia tidak tahu dari golongan manakah kepandaian keenam manusia kosen itu?
Untung mereka suka angin-anginan, tingkah lakunya rada dogol, kalau tidak tentu akan merupakan musuh yang sukar dilayani.
Begitulah tiga orang itu kejar-mengejar dengan cepat menuju ke arah timur laut.
Jalanan makin lama makin terjal, nyata mereka sedang mendaki jalan pegunungan.
Mendadak Gak Put-kun teringat.
"Jangan-jangan si buntak itu menyembunyikan bala bantuan lihai di lembah pegunungan ini untuk memancing kedatanganku? Jika demikian sungguh teramat bahaya jika aku masuk perangkapnya."
Selagi ia merandek untuk memikir, tertampak si buntak yang membawa lari Lenghou Tiong itu telah menuju ke suatu rumah genting di lereng gunung sana, sesudah dekat ia terus melompat masuk ke halaman rumah itu dengan melintasi pagar tembok.
Kelihatan Tho-ki-sian yang memondong Tho-sit-sian itu juga lantas melompati pagar tembok.
Tapi mendadak terdengar suara jeritannya, nyata dia telah masuk perangkap yang terpasang di balik pagar tembok.
Gak Put-kun juga sudah mengejar sampai di tepi pagar tembok itu, tapi ia lantas berhenti dan pasang kuping.
Terdengar Tho-sit-sian sedang berkata.
"Sudah lama kukatakan padamu agar hati-hati, coba sekarang kau kena diringkus orang di dalam jaring sehingga mirip seekor ikan, sungguh sialan."
"Pertama, bukan seekor, tapi dua ekor ikan. Kedua, kapan kau pernah menyuruh aku berhati-hati?"
Demikian sahut Tho-ki-sian.
"Eh, dahulu waktu kecil, ketika kita pergi mencuri buah mangga orang yang pohonnya berada di halaman rumah, bukankah pernah kusuruh kau berhati-hati? Masakah kau sudah lupa?"
"Itu kan dahulu, kejadian 40 tahun yang lalu ada sangkut paut apa dengan kejadian sekarang ini?"
Sahut Tho-ki-sian.
"Sudah tentu ada sangkut pautnya,"
Tho-sit-sian.
"Karena dahulu kau kurang hati-hati sehingga terperosot jatuh dan ditangkap orang dan dihajar. Untung Toako, Jiko dan lain-lain keburu datang menolong dan membunuh habis keluarga orang itu. Sekarang kau kurang hati-hati lagi dan kembali tertangkap pula."
"Kenapa mesti khawatir, paling-paling Toako dan lain-lain memburu tiba dan membunuh habis pula segenap keluarga orang ini,"
Kata Tho-ki-sian.
"Hm,"
Terdengar si buntak mendengus.
"Kematian kalian sudah di depan mata, masih berani mengigau akan membunuh orang segala. Lebih baik tutup mulut kalian supaya telingaku tidak panas."
Lalu terdengar Tho-ki-sian dan Tho-sit-sian bersuara bertahan.
Agaknya si buntak telah menyumbat sesuatu di mulut kedua orang itu sehingga tidak mampu membuka suara.
Gak Put-kun pasang kuping pula sejenak, tapi tidak mendengar sesuatu suara.
Ia coba mengitar ke belakang sana, tertampak di luar pekarangan tumbuh satu pohon besar.
Ia memanjat pohon itu dan memandang ke dalam.
Kiranya di dalam situ adalah sebuah rumah genting yang kecil, kira-kira dua-tiga meter jaraknya dengan pagar tembok dan rumah itu tentu ada perangkapnya.
Maka ia sengaja sembunyi di atas pohon yang tertutup oleh daun lebat, ia kerahkan Ci-he-sin-kang untuk mendengarkan.
Terdengarlah suara si buntak sedang bertanya.
"Sesungguhnya Coh Jian-jiu si tua bangka itu ada hubungan apa dengan dirimu?"
"Baru pertama kali ini aku melihat orang seperti Coh Jian-jiu itu, maka tak dapat dikatakan ada hubungan apa,"
Demikian suara Lenghou Tiong sedang menjawab.
"Urusan sudah begini dan kau masih berdusta,"
Seru si buntak dengan gusar.
"Apa kau tidak tahu bahwa sekali sudah jatuh dalam cengkeramanku, maka kau pasti akan mati dengan mengerikan."
"Aku tahu engkau tentu sangat marah karena obatmu yang katanya mujarab itu telah kumakan tanpa sengaja,"
Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Tapi rasanya obatmu itu toh tiada tampak khasiatnya, sudah sekian lamanya kuminum obatmu itu namun sedikit pun aku tidak merasakan apa-apa."
"Memangnya kau kira begitu cepat akan tampak khasiatnya?"
Kata si buntak dengan gusar.
"Datangnya penyakit biasanya mendadak, sembuhnya penyakit justru sedikit demi sedikit. Khasiatnya obat itu baru dapat tampak sesudah tiga hari nanti."
"Baiklah, jika kau mau membunuh aku boleh silakan, toh aku tak bertenaga dan tak mampu melawan,"
Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Hm, kau ingin mati dengan enak, jangan harap. Aku harus menanyai lebih dulu,"
Damprat si buntak.
"Keparat, Coh Jian-jiu adalah kawanku selama beberapa puluh tahun, sekarang ternyata mengkhianati kawan sendiri, tentu dalam hal ini ada sebab-sebabnya. Hoa-san-pay kalian tidak laku sepeser pun bagi penilaian ‘Hongho Lo-coh’ kami, sudah tentu bukan lantaran kau adalah murid Hoa-san-pay sehingga dia perlu mencuri aku punya Siok-beng-wan untuk diminumkan padamu. Ai, sungguh aneh bin ajaib, ajaib binti heran!"
"O, kiranya julukanmu adalah ‘Hongho Lo-coh’ maafkan kalau aku berlaku kurang hormat,"
Kata Lenghou Tiong.
"Ngaco-belo,"
Semprot si buntak dengan marah.
"Seorang diri mana aku dapat menjadi Hongho Lo-coh?"
"He, mengapa tidak dapat?"
Tanya Lenghou Tiong heran.
"Hongho Lo-coh terdiri dari dua orang, yang satu she Lo, yang lain she Coh, masakah begini saja tidak paham, sungguh goblok,"
Omel si buntak.
"Coh Cong, Coh Jian-jiu she Coh, aku Lo Ya, Lo Thau-cu she Lo, kami berdua bersemayam di sepanjang lembah Hongho, maka kami disebut sebagai Hongho Lo-coh."
"Aneh, mengapa yang seorang bernama Lo Ya (tuan besar) dan yang lain bernama Coh (kakek moyang)?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Kau sendiri masih hijau seperti katak dalam tempurung dan tidak tahu bahwa di dunia ini ada orang she Lo dan she Coh,"
Kata si buntak.
"Aku sendiri she Lo (tua) bernama Ya (tua) alias Thau-cu (kakek), atau Lo Thau-cu (kakek tua) ...."
Saking gelinya Lenghou Tiong mengakak tawa, katanya.
"Jika demikian, Coh Jian-jiu itu she Coh bernama Cong (nenek moyang)?"
"Memang begitulah,"
Sahut si buntak alias Lo Thau-cu. Setelah merandek sejenak lalu ia berkata pula.
"Eh, kau tidak kenal nama Coh Jian-jiu, jika begitu boleh jadi kau memang tiada hubungan keluarga apa-apa dengan dia. Tapi, ai, salah. Apa kau bukan anaknya Coh Jian-jiu?"
Lenghou Tiong tambah geli, sahutnya.
"Cara bagaimana aku bisa menjadi anaknya? Dia she Coh, aku she Lenghou, mana dapat keduanya dihubung-hubungkan?"
"Sungguh aneh,"
Demikian Lo Thau-cu bergumam sendiri.
"Dengan susah payah, dengan segala tipu daya akhirnya baru dapat kuracik delapan biji Siok-beng-wan yang mestinya hendak kugunakan mengobati penyakit putri mestikaku. Kau bukan anaknya Coh Jian-jiu, mengapa dia sengaja mencuri obat untukmu?"
Mendengar itu barulah Lenghou Tiong paham duduknya perkara. Katanya.
"Kiranya obat Lo-siansing ini akan digunakan untuk menyembuhkan penyakit putrimu, tetapi keliru kumakan sekarang, sungguh aku merasa tidak enak hati. Entah penyakit apakah yang diderita putrimu? Mengapa engkau tidak minta pertolongan kepada Sat-jin-beng-ih Peng-tayhu untuk mengobatinya?"
"Cis, siapa yang tidak tahu bila sakit harus minta pertolongan kepada Peng It-ci?"
Semprot Lo Thau-cu.
"Dia menetapkan suatu peraturan setiap orang yang disembuhkan harus membunuh pula seorang sebagai pengganti nyawa. Aku khawatir dia menolak mengobati putriku, lebih dulu telah kubunuh habis delapan jiwa keluarga bininya, dengan demikian barulah dia merasa sungkan dan terpaksa memeriksa penyakit putriku. Menurut kesimpulannya penyakit putriku yang aneh itu sudah ada ketika meninggalkan kandungan ibunya, maka dia membuka resep obat Siok-beng-wan sebanyak delapan biji pil itu. Kalau tidak, aku sendiri bukan tabib, dari mana aku paham cara meracik obat segala?"
Cerita si buntak mengherankan Lenghou Tiong, tanyanya pula.
"Cianpwe telah minta pertolongan kepada Peng-tayhu untuk mengobati putrimu, tapi mengapa malah membunuh habis seluruh keluarga mertuanya?"
"Kau ini benar-benar sangat goblok, kalau tidak dijelaskan tidak paham,"
Omel Lo Thau-cu.
"Musuh Peng It-ci sebenarnya tidak banyak, apa lagi beberapa tahun terakhir ini sudah habis dibunuh oleh pasien yang disembuhkan olehnya. Tapi selama hidup Peng It-ci paling benci kepada ibu mertuanya, soalnya dia takut bini, dia tidak berani membunuh ibu mertuanya itu, maka akulah yang mewakilkan dia turun tangan. Sesudah aku membunuh segenap keluarga ibu mertuanya, Peng It-ci sangat senang dan baru mengobati putriku dengan sesungguh hati."
"O, kiranya demikian,"
Kata Lenghou Tiong.
"Padahal obatmu yang katanya sangat mustajab itu tidak cocok bagi penyakitku. Entah bagaimana keadaan penyakit putrimu? Apakah masih keburu bila mengulangi mencari obat baru?"
Lo Thau-cu menjadi gusar, katanya.
"Putriku paling lama hanya tahan hidup setengah atau setahun saja dan pasti akan mati, masakah sempat untuk mencari obat yang sangat sukar ditemukan itu? Sekarang tiada jalan lain, terpaksa aku mengobati dia dengan caraku sendiri."
Segera ia tarik sebuah kursi, ia paksa Lenghou Tiong duduk di situ, ia ambil pula seutas tambang dan mengikat kaki tangan Lenghou Tiong sekencangnya di kursi.
Lalu ia robek baju bagian dada Lenghou Tiong sehingga kelihatan kulit dadanya yang putih.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Jangan terburu-buru, sebentar lagi kau akan tahu sendiri,"
Sahut Lo Thau-cu dengan menyeringai.
Habis itu ia terus angkat Lenghou Tiong berikut kursinya dan dibawa ke belakang.
Sesudah menyusuri serambi samping, akhirnya ia menyingkap tirai dan masuk ke sebuah kamar.
Begitu berada dalam kamar itu, Lenghou Tiong lantas merasa sumpek luar biasa.
Tertampak celah-celah jendela kamar itu dilem rapat dengar kertas sehingga kamar itu benar-benar tak tembus angin sedikit pun.
Di dalam kamar ada dua anglo, arangnya tampak membara.
Kelambu tempat tidur tampak menjulai.
Seluruh kamar hanya bau obat belaka.
Sesudah menaruh kursi bersama Lenghou Tiong yang terikat kencang di atasnya, si buntak lantas membuka kelambu, katanya dengan suara lembut.
"Anak Ih, bagaimana keadaanmu hari ini?"
Di atas bantal berwarna kuning telur itu tampak berbaring sebuah wajah yang pucat dengan rambut yang panjang terurai di atas selimut sutra warna kuning gading.
Usia nona itu kira-kira baru 17-18 tahun, kedua matanya terpejam rapat, bulu matanya sangat panjang.
Terdengar dia menyapa.
"Ayah!"
Dengan mata tetap tertutup.
"Anak Ih,"
Kata Lo Thau-cu.
"Siok-beng-wan yang kubuatkan untukmu sudah selesai. Hari ini juga boleh dimakan dan penyakitmu tentu akan segera sembuh, tidak lama kemudian kau pun dapat bangun dan bermain lagi."
Nona itu hanya bersuara perlahan sekali, agaknya tidak begitu tertarik akan ucapan sang ayah.
Lenghou Tiong merasa tidak tenteram demi melihat penyakit si nona yang payah itu.
Ia dapat mengerti cinta kasih si buntak terhadap putrinya itu, apa yang diucapkannya tadi agaknya sekadar untuk menghibur putrinya saja.
Tapi Lo Thau-cu lantas memondong putrinya untuk didudukkan, katanya.
"Kau duduk saja agar lebih leluasa minum obatmu ini. Obat ini tidak mudah diperoleh, jangan kau meremehkannya."
Perlahan nona itu bangun duduk, Lo Thau-cu mengambilkan dua buah bantal untuk mengganjal punggung putrinya itu. Waktu nona itu membuka mata, ia menjadi heran demi melihat Lenghou Tiong.
"Ayah, sia ... siapakah dia?"
Tanyanya kemudian sambil memandang Lenghou Tiong dengan sepasang mata bola yang hitam guram.
"Dia? O, dia bukan orang, dia adalah obat,"
Sahut Lo Thau-cu sambil tersenyum.
"Dia adalah obat?"
Si nona menegas dengan bingung.
"Ya, dia adalah obat,"
Kata pula Lo Thau-cu.
"Pil Siok-beng-wan itu terlalu keras untuk dimakan begitu saja olehmu, maka lebih dulu dimakan dia, lalu kuambil darahnya untuk diminumkan kepadamu, dengan demikian barulah cocok."
"Oo,"
Hanya sekian saja nona itu bersuara, lalu memejamkan mata pula.
Sudah tentu Lenghou Tiong terkejut dan gusar pula mendengar kata-kata Lo Thau-cu, segera ia bermaksud memakinya, tapi lantas terpikir olehnya.
"Aku telah makan obat mujarab yang mestinya akan digunakan untuk menolong jiwa nona ini, walaupun tidak sengaja, tapi akulah yang telah membikin susah dia. Apalagi aku sendiri sudah tidak ingin hidup lebih lama lagi, jika sekarang darahku digunakan untuk menolong jiwanya sebagai penebus dosaku, cara ini pun boleh juga."
Karena itu ia hanya tersenyum pedih saja dan tidak membuka suara.
Lo Thou-cu berdiri di samping Lenghou Tiong, ia sudah siap, begitu Lenghou Tiong berteriak segera akan menutuk Hiat-to bisunya.
Siapa duga sikap Lenghou Tiong tetap tenang-tenang saja dan tak ambil peduli, hal ini berbalik di luar dugaannya.
Segera Lo Thau-cu bertanya.
"Aku akan menusuk ulu hatimu dan mengambil darahmu untuk mengobati putriku, kau takut atau tidak?"
"Kenapa mesti takut?"
Sahut Lenghou Tiong dengan hambar saja. Lo Thau-cu coba mengamat-amati Lenghou Tiong, benar juga dilihatnya sikapnya tenang saja tanpa gentar, ia rada heran. Tanyanya pula.
"Sekali kutusuk ulu hatimu, seketika jiwamu melayang. Sudah kukatakan di muka, nanti jangan menyalahkan aku."
Lenghou Tiong tersenyum pula, sahutnya.
"Setiap orang akhirnya toh mesti mati, mati lebih cepat beberapa tahun atau mati lebih lambat beberapa tahun apa sih bedanya? Jika darahku dapat menolong jiwa nona itulah sangat bagus daripada aku mati percuma tanpa berfaedah bagi siapa pun."
"Sungguh hebat!"
Puji Lo Thau-cu sambil mengacungkan jari jempolnya.
"Kesatria yang tidak gentar mati seperti dirimu jarang sekali kutemukan selama hidupku ini. Sayang putriku terpaksa harus minum darahmu supaya bisa sembuh, kalau tidak sungguh aku ingin mengampunimu saja."
Segera ia menuju ke dapur dan membawa datang sebuah baskom air panas yang masih mendidih.
Tangan kanannya lantas memegang sebilah belati, tangan kiri mengambil sepotong handuk kecil, ia basahi dengan air panas itu, belati lantas ditempelkan di depan ulu hati Lenghou Tiong.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seruan Coh Jian-jiu di luar.
"Lo Thau-cu! Lo Thau-cu! Lekas membuka pintu lekas! Aku membawa suatu barang baik untuk nona Siau Ih."
Lo Thau-cu tampak mengerut kening, sekali belatinya menggores, ia potong handuk kecil tadi menjadi dua, satu potong dijejalkan ke mulut Lenghou Tiong agar tidak dapat bersuara, lalu serunya.
"Barang baik apa yang kau maksudkan?"
Sembari bicara ia lantas menaruh belatinya, kemudian lari keluar untuk membuka pintu dan menyilakan Coh Jian-jiu masuk ke dalam rumah. Terdengar Coh Jian-jiu berkata pula.
"Lo Thau-cu, cara bagaimana kau akan berterima kasih padaku dalam urusan ini? Karena urusannya terlalu mendesak, seketika aku tak bisa bertemu denganmu, terpaksa aku ambil Siok-beng-wanmu tanpa permisi dan menipu dia untuk meminumnya semua. Jika kau sendiri mengetahui persoalannya tentu kau pun akan mengantar sendiri obatmu kepadanya, tapi belum tentu dia mau meminumnya begitu saja."
Dengan gusar Lo Thau-cu mengomel.
"Ngaco ...."
Tapi Coh Jian-jiu lantas menempelkan mulutnya ke tepi telinga Lo Thau-cu dan berbisik-bisik padanya beberapa patah kata. Habis itu sekonyong-konyong Lo Thau-cu melonjak kaget, teriaknya.
"Apa betul demikian? Kau ... kau tidak mendustai aku?"
"Buat apa aku dusta?"
Sahut Coh Jian-jiu.
"Sebelumnya aku sudah mencari tahu, setelah yakin dan pasti baru kukerjakan. Lo Thau-cu, kita adalah sahabat berpuluh tahun, kita sama-sama tahu perasaan masing-masing. Urusan yang telah kukerjakan ini cocok dengan perasaanmu atau tidak?"
"Betul, betul! Kurang ajar, kurang ajar!"
Sahut Lo Thau-cu.
"He, kenapa sudah betul kok kurang ajar lagi?"
Tanya Coh Jian-jiu terheran-heran.
"Kau yang betul dan aku yang kurang ajar!"
Sahut Lo Thau-cu. Tanpa bicara Lo Thau-cu lantas menyeret Coh Jian-jiu masuk ke kamar putrinya, segera ia menjura dan menyembah kepada Lenghou Tiong, katanya.
"Lenghou-kongcu, Lenghou-tayjin, Lenghou-siauya, hamba telah berbuat salah besar dan membikin susah padamu. Untung Thian Maha Pengasih, Coh Jian-jiu keburu tiba, kalau tidak, bila aku telanjur menubles hulu hatimu, biarpun aku dihukum gantung juga belum cukup untuk menebus dosaku ini."
Mulut Lenghou Tiong masih tersumbat, maka dia tidak dapat membuka suara. Syukur Coh Jian-jiu cukup teliti, segera ia mengorek keluar kain penyumbat mulut itu dan bertanya.
"Lenghou-kongcu, mengapa engkau berada di sini?"
"He, Locianpwe silakan lekas bangun, penghormatan setinggi ini aku tak berani menerimanya,"
Seru Lenghou Tiong. Lo Thau-cu berkata pula.
"Aku tidak tahu kalau Lenghou-kongcu mempunyai hubungan serapat ini dengan tuan penolongku yang paling berbudi sehingga telah banyak membikin susah padamu, ai, benar-benar kurang ajar aku ini dan pantas dihukum mampus. Seumpama aku mempunyai seratus orang putri dan harus mati semuanya juga aku tak berani minta pengaliran darah Lenghou-kongcu sedikit pun untuk menolong jiwa mereka."
Coh Jian-jiu masih belum paham duduknya perkara, dengan mata terbelalak ia tanya.
"Lo Thau-cu, apa maksudmu kau meringkus Lenghou-kongcu di atas kursi ini?"
"Ai, pendek kata akulah yang salah, harap saja kau jangan tanya lebih jauh,"
Sahut Lo Thau-cu dengan menyesal.
"Dan belati ini serta air panas di dalam baskom ini akan digunakan untuk apa?"
Tanya pula Jian-jiu. Mendadak terdengar suara "plak-plok"
Berulang-ulang, Lo Thau-cu telah menggampar pipinya sendiri beberapa kali sehingga mukanya yang memang sudah gemuk bulat itu tambah bengkak melembung.
"Ya, aku pun tidak paham duduknya perkara dan masih bingung, diharap kedua Cianpwe sudi memberi penjelasan,"
Kata Lenghou Tiong. Lekas-lekas Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu melepaskan tali pengikatnya dan berkata.
"Marilah kita sambil minum arak sembari bicara."
"Apakah penyakit putrimu takkan berubah gawat?"
Tanya Lenghou Tiong sambil memandang sekejap kepada si nona yang terbaring di tempat tidurnya itu.
"Tidak, takkan berubah,"
Sahut Lo Thau-cu.
"Seumpama akan berubah gawat juga ... ai, apa mau dikata lagi ...."
Begitulah Lo Thau-cu menyilakan Lenghou Tiong dan Coh Jian-jiu ke ruangan tamu, ia menuang tiga mangkuk arak dan menyiapkan pula sedikit makanan sebangsa kacang goreng dan lain-lain sebagai teman arak.
Dengan penuh hormat ia angkat mangkuknya untuk ajak minum Lenghou Tiong.
Lenghou Tiong coba menghirup seceguk, ia merasa arak itu kurang keras dan hambar, bedanya seperti langit dan bumi dengan ke-16 guci arak di perahunya itu.
Tapi kalau dibandingkan kedelapan cawan arak yang disuguhkan Coh Jian-jiu itu rasanya jauh lebih sedap.
"Lenghou-kongcu, aku sudah tua bangka dan telah membikin susah padamu, ai, sungguh ... sungguh ...."
Begitulah Lo Thau-cu masih merasa menyesal, wajahnya tampak gugup dan entah apa yang harus diucapkannya baru dapat menggambarkan rasa menyesalnya itu.
"Lenghou-kongcu yang berjiwa besar tentu takkan menyalahkan dirimu,"
Ujar Coh Jian-jiu.
"Pula kau punya Siok-beng-wan itu jika benar-benar ada khasiatnya dan berfaedah bagi kesehatan Lenghou-kongcu, tentu kau berbalik akan berjasa malah."
"Tentang ... tentang jasa segala aku tidak berani terima,"
Sahut Lo Thau-cu.
"Coh-hiante, adalah jasamu yang paling besar."
"Aku telah mengambil obatmu, mungkin akan mengganggu kesehatan nona Siau Ih,"
Kata Coh Jian-jiu dengan tertawa.
"Ini ada sedikit jinsom, boleh minumkan padanya sekadar menguatkan badannya."
Habis berkata ia lantas mengambil sebuah bakul bambu yang dibawanya, dari dalam bakul dikeluarkannya beberapa batang jinsom yang beratnya ada sepuluhan kati.
"Wah, dari mana kau memperoleh jinsom sebanyak ini?"
Tanya Lo Thau-cu.
"Sudah tentu kupinjam dari toko obat,"
Sahut Coh Jian-jiu dengan tertawa. Lo Thau-cu ikut terbahak-bahak, katanya.
"Ada ubi ada talas, pinjaman ini entah kapan baru bisa dibalas."
Walaupun si buntak tertawa-tawa, tapi di antara mata alisnya tertampak rasa sedih. Lenghou Tiong lantas berkata.
"Lo-siansing dan Coh-siansing, kalian masing-masing telah menipu aku, kemudian menculik dan meringkus aku di sini, semuanya ini sesungguhnya terlalu memandang enteng padaku."
"Ya, ya, memang kami berdua tua bangka ini pantas dihukum mati, entah cara bagaimana Lenghou kongcu akan menjatuhkan hukuman, sedikit pun kami tak berani mengelak,"
Sahut Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu berbareng.
"Baik, ada sesuatu yang aku merasa tidak mengerti, kuharap kalian suka menjawab terus terang,"
Kata Lenghou Tiong.
"Aku ingin tanya, kalian segan kepada siapakah sehingga kalian demikian menghormat padaku?"
Kedua kakek itu saling pandang sekejap, lalu Coh Jian-jiu menjawab.
"Lenghou-kongcu tentu sudah tahu di dalam batin, tentang nama tokoh itu, harap maaf, kami tak berani menyebutnya."
"Tapi aku benar-benar tidak tahu,"
Kata Lenghou Tiong.
Diam-diam ia pun menimbang-nimbang siapakah tokoh yang dimaksudkan itu?
Apakah Hong-thaysiokco?
Atau Put-kay Taysu?
Atau Dian Pek-kong?
Atau Lik-tiok-ong?
Tapi kalau dipikirkan lebih mendalam rasanya toh bukan.
"Lenghou-kongcu,"
Kata Coh Jian-jiu kemudian.
"Pertanyaanmu ini sekali-kali kami tidak berani memberi jawaban, biarpun kau bunuh kami juga takkan kami katakan. Toh di dalam batin Kongcuya sendiri sudah tahu, buat apa mesti minta kami menyebut namanya?"
Melihat ucapan mereka sangat pasti, agaknya susah disuruh mengaku biarpun dipaksa, terpaksa Lenghou Tiong berkata.
"Baiklah, kalian tidak mau mengatakan, tentu rasa mendongkolku juga sukar dilenyapkan. Lo-siansing, kau telah mengikat aku di atas kursi sehingga aku ketakutan setengah mati, sekarang aku pun ingin balas mengikat kalian di kursi, boleh jadi aku masih belum puas dan akan mengorek keluar hati kalian dengan belati."
Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu saling pandang sekejap, kata mereka kemudian.
"Jika Lenghou-kongcu ingin meringkus kami, sudah tentu kami tidak berani melawan."
Segera Lo Thau-cu mengambilkan dua buah kursi dan beberapa utas tambang.
Di dalam batin mereka tidak percaya Lenghou Tiong berniat meringkus mereka secara sungguh-sungguh, besar kemungkinan cuma bergurau saja.
Tak terduga Lenghou Tiong benar-benar lantas mengambil tali terus mengikat tangan mereka dengan menelikungnya ke belakang sandaran kursi.
Lalu ia pegang belati milik Lo Thau-cu tadi, katanya.
"Tenaga dalamku sudah punah, aku tak bisa menutuk kalian dengan jari tangan, terpaksa aku menggunakan gagang belati ini untuk menutuk Hiat-to kalian."
Habis itu ia lantas membalik belati yang dipegangnya itu, dengan gagang belati ia ketuk beberapa Hiat-to tertentu di atas tubuh kedua kakek itu sehingga tak bisa bergerak.
Keruan Coh Jian-jiu dan Lo Thau-cu saling pandang dengan heran, tanpa merasa timbul juga rasa khawatir mereka karena tidak tahu apa maksud tujuan Lenghou Tiong yang sebenarnya.
"Hendaknya kalian tunggu sebentar di sini,"
Demikian Lenghou Tiong berkata, lalu putar tubuh dan melangkah keluar ruangan tamu.
Dengan membawa belati Lenghou Tiong menuju ke kamar putri Lo Thau-cu, setiba di luar kamar, ia berdehem dulu, lalu berkata.
"Nona ... nona Siau Ih, bagaimana keadaanmu."
Semula Lenghou Tiong bermaksud memanggilnya "nona Lo", tapi ini berarti "nona tua"
Dan tidak pantas bagi gadis yang masih muda belia, maka dia lantas memanggil namanya seperti apa yang didengarnya dari panggilan Coh Jian-jiu tadi. Maka terdengar nona Siau Ih hanya bersuara "Ehmmm"
Dan tidak menjawab.
Perlahan Lenghou Tiong menyingkap tirai pintu kamar dan melangkah masuk.
Terlihat nona itu masih tetap duduk bersandar di atas bantal, kedua mata sedikit terbuka dan seperti orang baru bangun tidur.
Lenghou Tiong melangkah lebih dekat, tertampak kulit muka si nona putih halus laksana kaca sehingga otot-otot hijau di dalam daging kelihatan jelas.
Keadaan nona itu agaknya sangat payah, tampaknya lebih banyak mengembuskan napas daripada menyedot hawa segar.
"Nona ini mestinya dapat diselamatkan, tapi obatnya telah telanjur kumakan sehingga membikin susah padanya. Aku sendiri toh sudah pasti akan mati, bisa hidup lebih lama beberapa hari atau tidak toh tiada bedanya bagiku,"
Demikian pikir Lenghou Tiong sambil menghela napas panjang.
Segera ia ambil sebuah mangkuk porselen, ia taruh di atas meja, lalu belati digunakan untuk memotong nadi pergelangan tangan kiri, seketika darah bercucuran dan mengalir ke dalam mangkuk.
Ia lihat air mendidih yang disiapkan Lo Thau-cu tadi masih mengepulkan asap panas, segera ia taruh belatinya, tangannya dicelup ke dalam air panas itu, lalu diusapkan pada luka pergelangan tangan kiri agar darah di tempat luka itu tidak lekas membeku.
Maka hanya sebentar saja mangkuk porselen itu sudah hampir diisi dengan darah segar.
Dalam keadaan sadar tak sadar nona Siau Ih mencium bau anyirnya darah, ia membuka mata, melihat darah mengucur dari pergelangan tangan Lenghou Tiong, sakit kagetnya ia sampai menjerit.
Mendengar suara jeritan Siau Ih itu, Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu yang terikat di ruang tamu sana saling pandang dengan bingung karena tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Lenghou Tiong atas diri gadis itu.
Di dalam hati kedua orang ada dugaan tertentu, tapi keduanya sama-sama tidak berani mengemukakan perasaannya lebih dahulu.
Dalam pada itu Lenghou Tiong sudah penuh mengisi mangkuk tadi dengan darahnya, segera ia membawa darah itu ke hadapan Siau Ih dan berkata.
"Lekas kau minum, di dalam darah ini mengandung obat mujarab yang dapat menyembuhkan penyakitmu."
"Ti ... tidak, aku ... aku takut, aku tidak mau minum,"
Sahut Siau Ih.
Sesudah mengalirkan darah semangkuk, rasa badan Lenghou Tiong menjadi enteng dan kaki tangannya lemas.
Jika si nona tak mau minum darah itu kan sia-sia saja pengorbanannya?
Maka ia coba menggertaknya, dengan belati terhunus ia membentaknya.
"Kau mau minum tidak? Jika tidak, segera kutikam mati kau?"
Menyusul ujung belatinya ia ancam di tenggorokan si nona.
Siau Ih menjadi takut, terpaksa membuka mulut dan menghirup darah di dalam mangkuk itu.
Beberapa kali ia merasa mual dan hendak muntah, tapi demi melihat ujung belati yang mengilap itu, dalam takutnya hilanglah rasa mualnya.
Setelah habis darah semangkuk itu, Lenghou Tiong melihat luka pada pergelangan tangan sendiri itu sudah membeku, darah tidak menetes keluar lagi.
Ia pikir kadar obat Siok-beng-wan yang tercampur dalam darah yang diminumkan kepada Siau Ih itu tentu terlalu sedikit dan tak berguna, rasanya harus mencekoki si nona beberapa mangkuk lagi, sampai diri sendiri lemas dan tak bisa berkutik barulah jadi.
Segera Lenghou Tiong memotong pula nadi pergelangan kanan dan mencurahkan darahnya untuk mencekoki Siau Ih.
"Janganlah kau paksa aku, aku benar-benar tidak ... tidak sanggup lagi,"
Kata Siau Ih sambil mengerut kening.
"Sanggup atau tidak sanggup harus kau minum lekas!"
Kata Lenghou Tiong.
"Ken ... kenapa engkau berbuat begini? Cara ... cara demikian kan merugikan badanmu sendiri?"
Ujar Siau Ih.
"Merugikan badanku tidak menjadi soal, aku hanya ingin kau sembuh,"
Sahut Lenghou Tiong sambil tersenyum getir.
Di sebelah sana Tho-ki-sian dan Tho-sit-sian yang kena dijaring oleh Lo Thau-cu tadi sudah kehabisan akal karena semakin mereka meronta semakin kencang pula jaring itu menyurut, sampai akhirnya kedua orang tak bisa berkutik lagi.
Namun mata telinga mereka tetap tidak mau menganggur dan masih saling berdebat.
Waktu Lenghou Tiong mengikat Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu di kursi, semula Tho-ki-sian mengira pemuda itu pasti akan membunuh kedua kakek itu, sedang Tho-sit-sian percaya dia pasti akan membebaskan mereka berdua yang terjebak itu.
Tak terduga percuma saja mereka berdebat setengah harian, sama sekali Lenghou Tiong tidak urus mereka sebaliknya masuk ke kamar Siau Ih.
Karena kamar Siau Ih itu ditutup dengan rapat, sampai celah-celah jendela pun dilem dengan kertas sehingga percakapan Lenghou Tiong dan Siau Ih sayup-sayup hanya dapat terdengar sebagian.
Tho-ki-sian, Tho-sit-sian, Lo Thau-cu, Coh Jian-jiu serta Gak Put-kun yang sedang mengintip di luar itu semuanya memiliki Lwekang sangat tinggi, tapi apa yang dilakukan Lenghou Tiong di dalam kamar Siau Ih, mereka hanya dapat menduga-duga menurut jalan pikirannya masing-masing.
Ketika mendadak terdengar jeritan Siau Ih, wajah kelima orang itu sama berubah semua.
Tho-ki-sian berkata.
"Seorang pemuda seperti Lenghou Tiong itu, untuk apa dia masuk ke kamar anak gadis orang?"
"Coba dengar,"
Sahut Tho-sit-sian.
"Nona itu agak sangat takut, dia sedang meratap, ‘Aku ... takut!’ Wah, Lenghou Tiong lagi mengancam akan membunuhnya, katanya, ‘Jika kau tidak mau ....’ Tidak mau apa maksudnya?"
"Apa lagi? Sudah tentu dia sedang memaksa nona itu menjadi istrinya,"
Ujar Tho-ki-sian.
"Hahaha! Sungguh menggelikan!"
Tho-sit-sian terbahak-bahak.
"Putri si buntak yang berpotongan buah semangka itu dengan sendirinya juga pendek gemuk bulat seperti bola, mengapa Lenghou Tiong paksa memperistrikan dia?"
"Ah, masakan apa pun, setiap orang mempunyai selera dan kesukaan sendiri-sendiri. Boleh jadi Lenghou Tiong itu paling suka pada wanita gemuk buntak, maka begitu melihatnya semangatnya lantas terbang ke awang-awang,"
Demikian kata Tho-ki-sian.
"He, coba dengarkan!"
Bisik Tho-sit-sian.
"Nona gemuk itu sedang minta ampun, katanya, ‘Janganlah kau paksa aku, aku benar-benar tidak sanggup lagi.’"
"Ya, agaknya Lenghou Tiong itu benar-benar pemuda mahaperkasa, katanya, ‘Sanggup atau tidak sanggup juga harus lekas, lekas!’"
"Lekas? Apa maksudnya Lenghou Tiong suruh dia lekas?"
Tanya Tho-sit-sian.
"Kau tidak pernah beristri, masih jejaka, sudah tentu kau tidak paham,"
Kata Tho-ki-sian.
"Memangnya kau sendiri pernah beristri? Huh, tidak tahu malu!"
Jawab Tho-sit-sian. Habis itu ia lantas berteriak-teriak.
"He, hei! Lo Thau-cu. Lenghou Tiong sedang memaksa putrimu untuk menjadi istrinya, mengapa kau diam-diam saja tanpa memberi pertolongan?"
Bab 53.
Ya-niau-cu Keh Bu-si si Kokokbeluk Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu yang diikat di atas kursi, pula hiat-to mereka tertutuk sehingga tak bisa bergerak, mereka hanya dapat mendengar suara jeritan dan permohonan Siau Ih di dalam kamar, keruan mereka saling pandang dengan bingung.
Memangnya mereka sudah sangsi, sekarang mendengar pula percakapan Tho-kok-ji-sian itu, Coh Jian-jiu berulang-ulang geleng-geleng kepala dan Lo Thau-cu merasa malu dan gusar.
"Lo-heng, perbuatan itu harus dicegah, sungguh tidak nyana Lenghou Tiong itu ternyata pemuda bajul, jangan-jangan akan menimbulkan gara-gara,"
Demikian kata Coh Jian-jiu.
"Ai, kalau aku punya Siau Ih yang menjadi korban tidaklah menjadi soal, tapi ... tapi bagaimana harus bertanggung jawab kepada orang,"
Kata Lo Thau-cu.
"Coba dengar, agaknya Siau Ih juga telah mencintainya, dia mengatakan, ‘Perbuatanmu ini kan merugikan kesehatanmu sendiri.’ Dan apa yang dikatakan Lenghou Tiong? Kau dengar tidak?"
"Dia bilang, ‘Kesehatanku tidak menjadi soal asal untuk kebaikanmu!’. Setan alas, kedua bocah itu benar-benar ...."
"Hahahaha!"
Coh Jian-jiu bergelak tertawa.
"Selamat, selamat!"
"Selamat apa? Selamat nenekmu!"
Damprat Lo Thau-cu.
"Kenapa kau marah? Aku memberi selamat kepadamu karena mendapat seorang menantu yang baik!"
Ujar Coh Jian-jiu.
"Ngaco-belo!"
Bentak Lo Thau-cu.
"Kau jangan sembarangan omong lagi, kalau peristiwa ini sampai tersiar, apakah kau kira jiwa kita dapat diselamatkan?"
Ucapan si buntak penuh mengandung nada khawatir dan sangat takut.
Cepat Coh Jian-jiu mengiakan juga dengan suara rada gemetar.
Gak Put-kun yang bersembunyi rada jauh, biarpun ia telah mengerahkan Ci-he-sin-kang juga yang dapat didengarnya hanya samar-samar saja, maka diam-diam ia pun menyangka Lenghou Tiong benar-benar melakukan perbuatan yang tidak senonoh terhadap si nona.
Semula ia bermaksud menerjang ke dalam kamar untuk mencegah perbuatan muridnya itu, tapi ketika terpikir lagi bahwa orang-orang itu termasuk juga Lenghou Tiong semuanya penuh rahasia dan mencurigakan, entah tipu muslihat apa yang teratur di balik kejadian-kejadian selama ini, maka ia merasa lebih baik jangan bertindak secara gegabah.
Sedapat mungkin ia menahan perasaannya dan terus mendengarkan pula.
Tiba-tiba terdengar nona Siau Ih menjerit pula.
"Ja ... jangan ... o, darah ... o, kumohon ...."
Pada saat itu pula di luar sana ada orang berseru.
"Lo Thau-cu, Tho-kok-si-kui telah kupancing dan kutinggalkan!"
"Bluk" , tahu-tahu laki-laki yang membawa bendera putih yang menggoda dan dikejar Tho-kok-si-sian itu telah berdiri di tengah ruangan. Ketika melihat Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu terikat di atas kursi, orang itu terkejut dan berseru.
"He, ken ... kenapakah kalian?"
Berbareng ia mengeluarkan sebilah belati yang mengilap, hanya beberapa kali gerakan saja ia sudah memotong putus tali-tali yang mengikat kaki dan tangan kedua kakek itu.
Dalam pada itu terdengar pula jeritan melengking Siau Ih di dalam kamar.
"O, kumohon kau jang ... jangan begitu ...."
Mendengar suara jeritan Siau Ih yang agaknya dalam keadaan gawat, laki-laki itu kaget.
"Nona Siau Ih!"
Teriaknya sambil berlari ke arah kamar. Tapi gerak tangan Lo Thau-cu teramat cepat, ia telah pegang lengan laki-laki itu dan membentak.
"Jangan masuk ke sana!"
Laki-laki itu tampak tercengang dan menghentikan langkahnya. Lalu terdengar Tho-ki-sian mengoceh pula di luar.
"Kupikir si buntak tentu girang setengah mati karena bisa memperoleh menantu setampan Lenghou Tiong itu."
"Lenghou Tiong sudah hampir mati, apa yang perlu digirangkan kalau mendapatkan menantu dalam keadaan sudah setengah mati?"
Ujar Tho-sit-sian.
"Putri si buntak itu pun dalam keadaan sekarat, sepasang suami istri itu menjadi sama-sama setengah mati dan setengah hidup,"
Sahut Tho-ki-sian.
"Blung" , mendadak terdengar suara bergedebuk di dalam kamar, suara jatuhnya sesuatu benda berat. Menyusul Siau Ih menjerit pula, meski lemah suaranya, tapi penuh rasa cemas dan khawatir.
"Ayah lekas kemari, ayah!"
Segera Lo Thau-cu memburu ke dalam kamar, dilihatnya Lenghou Tiong sudah menggeletak di lantai, sebuah mangkuk tengkurap di atas dadanya, badannya penuh berlumuran darah, Siau Ih sendiri duduk bersandar di atas ranjang, mulutnya juga berlepotan darah.
Coh Jian-jiu dan laki-laki tadi pun menyusul ke dalam kamar, mereka sebentar-sebentar memandang Lenghou Tiong dan lain saat memandang Siau Ih dengan rasa heran dan bingung.
"Ayah,"
Kata Siau Di dengan suara lemah.
"orang ini telah memotong nadi sendiri dan mengambil darah, aku di ... dipaksa minum dua mangkuk darahnya dan dia masih ... masih akan ...."
Kejut Lo Thau-cu tidak kepalang, cepat ia memayang bangun Lenghou Tiong, dilihatnya nadi pergelangan tangan kanan pemuda itu masih mengucurkan darah.
Segera ia berlari keluar kamar untuk mengambil obat luka.
Walaupun di dalam rumah sendiri, rupanya saking gugupnya sehingga batok kepalanya benjut terbentur kosen pintu.
Melihat Lo Thau-cu dan lain-lain berlari ke dalam kamar, Tho-ki-sian mengira mereka hendak menghajar Lenghou Tiong.
Segera ia berteriak.
"Hei, Lo Thau-cu! Lenghou Tiong adalah sobat baik Tho-kok-lak-sian, jangan sekali-kali kau memukul dia. Jika terjadi apa-apa atas dirinya tentu kami Tho-kok-lak-sian akan merobek badanmu seperti membeset daging ayam."
"Salah, salah besar!"
Kata Tho-sit-sian.
"Apakah yang salah?"
Tanya Tho-ki-sian heran.
"Jika dia berbadan kurus, maka dagingnya akan mudah kau robek, tapi jelas dia berbadan gemuk, cara bagaimana badan yang padat gemuk itu dapat dirobek?"
Ujar Tho-sit-sian.
Lo Thau-cu tidak ambil pusing terhadap ocehan mereka yang tak keruan juntrungannya itu.
Tapi cepat ia membubuhkan obat di atas luka Lenghou Tiong, lalu mengurut-urut pula beberapa tempat hiat-to di dada dan di perutnya, tidak lama kemudian mulailah Lenghou Tiong siuman.
"Lenghou-kongcu,"
Kata Lo Thau-cu dengan perasaan lega.
"sungguh kami merasa tidak ... tidak .... Ai, benar-benar susah untuk kukatakan."
Segera Coh Jian-jiu ikut bicara.
"Lenghou-kongcu, tadi Lo Thau-cu telah mengikat kau, hal ini terjadi karena salah paham, mengapa engkau anggap sungguh-sungguh sehingga membikin dia merasa berdosa."
Lenghou Tiong tersenyum, sahutnya.
"Penyakitku sesungguhnya tak bisa disembuhkan dengan obat mukjizat apa pun, maksud baik Coh-locianpwe yang telah mengambil obat Lo-cianpwe untukku, sesungguhnya sangat sayang obat mujarab itu terbuang sia-sia."
Bicara sampai di sini, karena terlalu banyak kehilangan darah, ia merasa pusing dan kembali jatuh pingsan pula.
Cepat Lo Thau-cu memondongnya keluar dan direbahkan di atas tempat tidur di kamarnya sendiri, dengan sedih ia menggumam.
"Wah, bagaimana ini?"
"Lenghou-kongcu terlalu banyak kehilangan darah, mungkin jiwanya terancam bahaya, marilah dengan sepenuh tenaga kita bertiga lekas kita curahkan tenaga dalam masing-masing ke dalam tubuhnya,"
Demikian ajak Coh Jian-jiu.
"Ya, harus begitu,"
Sahut Lo Thau-cu. Segera ia mengangkat bangun Lenghou Tiong dengan perlahan, telapak tangan kanan ditempelkan ke punggung pemuda itu. Tapi baru saja ia mengerahkan tenaga, seketika badannya tergetar.
"Krak" , kursi yang dia duduki itu sampai tergetar hancur. Rupanya tenaga yang dia kerahkan itu telah menimbulkan daya lawan dari hawa murni Put-kay Hwesio dan Tho-kok-lak-sian yang mengeram di dalam tubuh Lenghou Tiong itu, keruan Lo Thau-cu tidak sanggup melawan gabungan tenaga murni ketujuh tokoh. Terdengar Tho-ki-sian terbahak-bahak di luar, serunya.
"Penyakitnya Lenghou Tiong justru timbul karena kami berenam saudara hendak menyembuhkan dia dengan tenaga murni kami. Sekarang si buntak itu hendak menirukan cara kita tentu saja penyakit Lenghou Tiong akan tambah parah!"
"Coba dengarkan, suara ‘krak’ tadi pasti hancurnya sesuatu benda karena benturan si buntak yang terpental oleh getaran tenaga dalam yang mengeram di tubuh Lenghou Tiong itu,"
Kata Tho-sit-sian.
"Aha, si buntak kembali kecundang lagi oleh Tho-kok-lak-sian kita. Haha, sungguh menggelikan."
Percakapan Tho-kok-ji-sian itu sangat keras sehingga dapat didengar dengan jelas oleh kedua kakek dari Hongho dan si lelaki tadi.
"Ah, jika Lenghou-kongcu masih tidak siuman, tiada jalan lain terpaksa aku harus membunuh diri,"
Kata Lo Thau-cu dengan menghela napas.
"Nanti dulu,"
Ujar lelaki itu. Mendadak ia berteriak.
"Itu orang yang menongkrong di atas pohon di luar pagar tembok itu apakah ketua Hoa-san-pay, Gak-siansing adanya?"
Keruan Gak Put-kun terperanjat, hampir-hampir saja ia jatuh terjungkal dari tempat sembunyinya. Jadi jejaknya sebenarnya sejak tadi sudah diketahui orang. Terdengar lelaki itu berseru pula.
"Gak-siansing adalah tamu yang datang dari tempat jauh, mengapa tidak masuk kemari untuk beramah tamah?"
Gak Put-kun menjadi serbasusah, kalau masuk ke rumah itu terang tidak menguntungkan, tapi dirinya juga tidak dapat menongkrong terus di atas pohon.
"Muridmu Lenghou-kongcu dalam keadaan pingsan, silakan Gak-siansing masuk kemari untuk ikut menjaganya,"
Seru pula si lelaki. Terpaksa Gak Put-kun melompat turun, sekali loncat ia tancapkan kakinya di serambi sana. Sementara itu Lo Thau-cu sudah memapak keluar. Katanya sambil memberi hormat.
"Silakan masuk, Gak-siansing."
"Cayhe mengkhawatirkan keselamatan muridku sehingga kedatanganku ini sangat sembrono,"
Kata Gak Put-kun.
"Ah, semuanya adalah salahku,"
Ujar Lo Thau-cu.
"Jika ... jika ...."
"Kau tidak perlu khawatir,"
Tiba-tiba Tho-ki-sian berseru.
"tidak nanti Lenghou Tiong bisa mati!"
Lo Thau-cu menjadi girang.
"Dari mana kau bisa tahu dia takkan mati?"
Tanyanya.
"Dia jauh lebih muda daripada kau dan juga lebih muda daripadaku, bukan?"
"Benar. Lantas kenapa?"
Lo Thau-cu menegas.
"Umumnya orang tua mati lebih dulu atau orang muda mati lebih dulu?"
Sahut Tho-ki-sian.
"Sudah tentu yang tua mati lebih dulu. Jika demikian, sebelum kau mati dan aku pun belum mati, mengapa Lenghou Tiong bisa mati?"
Tadinya Lo Thau-cu mengira Tho-ki-sian mempunyai sesuatu resep yang dapat menolong Lenghou Tiong, tak tahunya hanya ocehan yang tak keruan.
Maka dengan menyengir ia tidak gubris orang pula.
Waktu masuk ke dalam kamar Gak Put-kun melihat Lenghou Tiong menggeletak di atas ranjang dan tak sadarkan diri.
Ia membatin.
"Jika aku tidak perlihatkan keampuhan Ci-he-sin-kang tentu Hoa-san-pay akan dipandang rendah oleh orang-orang ini."
Maka diam-diam ia mengerahkan tenaga sakti, mukanya menghadap bagian dalam tempat tidur agar warna ungu yang timbul di wajahnya tidak dilihat orang.
Perlahan-lahan ia julurkan telapak tangan ke Tay-cui-hiat di punggung Lenghou Tiong.
Ia sudah mengetahui keadaan hawa murni yang bergolak di dalam tubuh sang murid, maka ia tidak mengerahkan tenaga sekuatnya, tapi menyalurkan tenaga dengan sedikit demi sedikit, bila terasa timbul daya lawan dari tubuh Lenghou Tiong segera ia menarik sedikit tangannya, sejenak kemudian tangannya lantas ditempelkan pula.
Benar juga, tidak lama kemudian Lenghou Tiong tampak mulai siuman.
Segera ia berseru.
"Suhu, engkau juga ... juga datang kemari!"
Melihat Gak Put-kun dapat menyadarkan Lenghou Tiong dengan sangat gampang, tentu saja Lo Thau-cu sangat kagum.
Diam-diam Gak Put-kun merasa ada lebih baik cepat meninggalkan tempat yang misteri ini, apalagi ia pun mengkhawatirkan keadaan sang istri dan para murid yang tertinggal di atas perahu itu.
Segera ia memberi hormat dan berkata.
"Banyak terima kasih atas segala pelayanan kalian terhadap kami guru dan murid. Sekarang juga biarlah kami mohon diri saja."
"Ya, ya, kesehatan Lenghou-kongcu terganggu dan kami tak dapat memberi perawatan yang baik, sungguh kami sangat tidak sopan, harap kalian suka memberi maaf,"
Kata Lo Thau-cu.
"Jangan sungkan,"
Sahut Gak Put-kun. Mendadak dilihatnya sepasang mata lelaki tadi bercahaya mengilap. Tergerak pikirannya. Segera ia bertanya.
"Tolong tanya siapakah nama sobat ini yang terhormat."
"Kiranya Gak-siansing tidak kenal kawan kita Ya-niau-cu Keh Bu-si, si Kucing Malam,"
Sela Coh Jian-jiu dengan tertawa. Terkesiap juga Gak Put-kun. Katanya di dalam hati.
"Kiranya orang inilah Ya-niau-cu Keh Bu-si. Nama orang ini sudah menggetarkan kalangan Kangouw pada 30 tahun yang lalu. Konon dia mempunyai keajaiban pembawaan, yaitu matanya dapat memandang sesuatu di malam hari sejelas keadaan di siang hari. Tindak tanduknya tidak menentu, kadang-kadang baik, sering kali juga jahat, dia terkenal sebagai seorang tokoh yang mahalihai, mengapa bisa berada bersama dengan Lo Thau-cu ini?"
Cepat ia pun memberi hormat dan menyapa.
"Sudah lama kudengar nama besar Keh-suhu, sungguh beruntung hari ini bisa berjumpa di sini."
Keh Bu-si tersenyum, sahutnya.
"Hari ini kita berjumpa di sini, besok kita masih harus bertemu pula di Ngo-pah-kang."
Kembali Gak Put-kun terkesiap.
Walaupun orang baru dikenalnya dan tidak pantas mencari tahu sesuatu kepadanya, tapi diculiknya anak perempuannya yang merupakan darah dagingnya itu mendorongnya dia membuka suara.
"Cayhe tidak tahu di manakah pernah berbuat salah terhadap kawan-kawan Bu-lim di sini. Boleh jadi lantaran perjalananku ini tidak berkunjung kepada para sobat di wilayah sini dan dianggap kurang adat, maka putriku dan seorang muridku she Lim telah dibawa oleh salah seorang sobat, untuk ini apakah Keh-siansing dapat memberi sesuatu petunjuk?"
"O, tentang ini aku tidak jelas,"
Sahut Keh Bu-si dengan tersenyum.
Sebenarnya Gak Put-kun sudah merasa merendahkan derajatnya sebagai seorang ketua suatu aliran ternama, sekarang jawaban Keh Bu-si itu ternyata acuh tak acuh, meski ia merasa mendongkol dan cemas pula, tapi rasanya tak bisa tanya lebih lanjut.
Segera ia mohon diri pula.
"Sudah lama mengganggu, biarlah sekarang kami minta diri."
Ketika hendak memondong Lenghou Tiong, tiba-tiba Lo Thau-cu menyusup ke tengah, ia mendahului Lenghou Tiong dan berkata.
"Akulah yang mengundang Lenghou-kongcu ke sini, sudah seharusnya aku pula yang mengantarnya pulang."
Sembari berkata ia pun mengambil sehelai selimut dan ditutupkan di atas badan Lenghou Tiong, habis itu barulah ia bertindak keluar dengan langkah lebar.
"Hei, hei! Lalu bagaimana dengan kedua ekor ikan besar kami ini? Apakah ditinggalkan begini saja?"
Teriak Tho-ki-sian. Lo Thau-cu merandek.
"Tentang kalian ... kukira ...."
Ia tahu menangkap harimau adalah lebih gampang daripada melepaskan harimau, jika kedua saudara itu dibebaskan, tentu Tho-kok-lak-sian akan mencari balas lagi ke tempatnya ini dan tentu akan banyak menimbulkan kesukaran.
Lenghou Tiong tahu pikirannya, katanya.
"Lo-cianpwe, silakan kau membebaskan mereka berdua. Dan kalian Tho-kok-lak-sian selanjutnya janganlah mencari perkara lagi kepada Lo dan Coh berdua Cianpwe, biarlah kedua pihak dari lawan berubah menjadi kawan."
"Tidak mencari perkara kepada mereka sih boleh saja,"
Sahut Tho-sit-sian.
"Tapi bicara tentang dari lawan berubah menjadi kawan, inilah yang tidak bisa jadi, sekali lagi tidak bisa jadi!"
Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu sama mendengus, pikir mereka.
"Hm, hanya mengingat kehormatan Lenghou-kongcu maka kami tidak sudi merecoki kalian, memangnya kalian sangka kami takut kepada Tho-kok-lak-sian segala?"
Dalam pada itu Lenghou Tiong telah bertanya.
"Apa sebabnya?"
"Habis Tho-kok-lak-sian memangnya tiada punya rasa dendam dan permusuhan apa-apa dengan Hongho Lo-coh mereka, hakikatnya kedua pihak bukan musuh dan bukan lawan, dan kalau bukan lawan dari mana bisa dikatakan mengubah lawan menjadi kawan?"
Mendengar jawaban seenaknya itu bergelak tertawalah semua orang.
Segera Coh Jian-jiu membuka ikatan jala dan melepaskan Tho-ki-sian berdua.
Jala itu terbuat dari campuran rambut manusia, sutra pilihan serta benang emas murni, uletnya luar biasa, senjata yang betapa tajam pun sukar merusaknya, jika orang terjaring, semakin meronta semakin teringkus kencang.
Sesudah bebas, tanpa bicara lagi Tho-ki-sian terus membuka celana dan mengencingi jala ikan itu.
"He, apa-apaan kau?"
Tanya Coh Jian-jiu terkesiap.
"Kalau tidak mengencingi jala busuk ini tak terlampias rasa dongkolku,"
Sahut Tho-ki-sian.
Begitulah beramai-ramai mereka lantas menuju ke tepi sungai.
Dari jauh Gak Put-kun melihat Lo Tek-nau dan Ko Kin-beng berdua dengan senjata terhunus masih menjaga di haluan kapal.
Legalah hatinya karena tahu tidak terjadi apa-apa di atas kapalnya.
Sesudah mengantar Lenghou Tiong sampai di dalam kapal, dengan penuh hormat Lo Thau-cu lalu mohon diri.
"Budi luhur Lenghou-kongcu sudah aku merasa terima kasih tak terhingga. Sementara ini aku mohon diri, tidak lama lagi tentu dapat berjumpa pula."
Karena guncangan dalam perjalanan, Lenghou Tiong masih dalam keadaan samar-samar dan hampir-hampir pingsan pula, maka ia hanya mengiakan dengan suara lemah.
Yang terheran-heran adalah Gak-hujin, sungguh ia tidak mengerti mengapa "si bola daging"
Yang semula sangat garang itu ternyata sedemikian hormat dan segan terhadap Lenghou Tiong.
Rupanya khawatir kalau Tho-kin-sian dan lain-lain selekasnya akan pulang, maka Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu tidak berani tinggal lebih lama di situ, cepat-cepat ia memberi salam kepada Gak Put-kun dan lain-lain, lalu hendak melangkah pergi.
"Tunggu dulu, Coh-heng!"
Tiba-tiba Tho-ki-sian berseru.
"Mau apa?"
Tanya Coh Jian-jiu.
"Mau ini!"
Sahut Tho-ki-sian.
Berbareng dengan badan miring ia terus menyeruduk maju.
Cara menyeruduknya ini teramat aneh dan cepat, jarak kedua orang rada dekat pula dan dilakukan dengan tak tersangka-sangka, karena tak bisa menghindar lagi, terpaksa Coh Jian-jiu mengerahkan tenaga untuk menerima serudukan itu.
Dalam sekejap saja kekuatan sudah memenuhi pusarnya, perutnya sudah sekeras baja.
Maka terdengarlah suara "brak, brek"
Yang ramai, suara hancurnya benda-benda pecah belah. Sedangkan Tho-ki-sian lantas melompat mundur beberapa kaki jauhnya sembari bergelak tertawa.
"Aduh, celaka!"
Teriak Coh Jian-jiu sambil memasukkan tangan ke dalam bajunya, berbagai potong pecahan sebangsa porselen, kemala dan sebagainya telah dirogoh keluar.
Kiranya puluhan buah cawan arak yang terdiri dari macam-macam jenis itu telah hancur lebur semua.
Keruan rasa sedihnya tak terlukiskan ditambah rasa murka yang tidak kepalang.
Serentak ia menghamburkan pecahan-pecahan beling itu ke arah Tho-ki-sian.
Akan tetapi Tho-ki-sian sudah siap sedia dan dapat mengelakkan serangan itu.
Teriaknya.
"Lenghou Tiong suruh kita dari lawan berubah menjadi kawan, apa yang dia katakan harus kita turut. Maka kita harus menjadi musuh atau lawan dulu baru kemudian dapat berubah menjadi kawan."
Berbagai jenis cawan arak mestika yang telah dikumpulkannya dengan susah payah selama hidupnya ini sekaligus telah dihancurkan oleh Tho-ki-sian, keruan gusar Coh Jian-jiu sukar dilukiskan.
Sebenarnya dia akan menyerang lebih lanjut, tapi demi mendengar ucapan Tho-ki-sian itu segera ia menghentikan tindakannya.
Terpaksa ia menjawab dengan menyeringai.
"Ya, benar dari lawan berubah menjadi kawan!"
Habis itu bersama Lo Thau-cu dan Keh Bu-si mereka pun bertindak pergi. Dalam keadaan sadar tak sadar Lenghou Tiong masih mengkhawatirkan keselamatannya Gak Leng-sian, ia masih sempat berkata.
"Tho-ki-sian, harap kau minta mereka jangan ... jangan mengganggu Sumoayku."
"Baik,"
Sahut Tho-ki-sian. Lalu ia berseru keras-keras.
"Hai, hai! Sobat-sobat Lo Thau-cu, Ya-niau-cu dan Coh Jian-jiu, dengarkan pesan Lenghou Tiong ini, dia suruh kalian jangan mengganggu sumoaynya."
Sebenarnya Lo Thau-cu bertiga sudah rada jauh jaraknya, tapi demi mendengar seruan Tho-ki-sian itu seketika mereka berhenti dan tampaknya berunding sejenak, habis itu baru bertindak pergi pula.
Baru saja Gak Put-kun mulai menceritakan pengalamannya kepada sang istri, tiba-tiba terdengar suara orang ribut di daratan sana.
Kiranya Tho-kin-sian berempat sudah pulang.
Mereka berempat terus membual, katanya orang yang membawa bendera putih itu telah kena ditangkap dan sudah mereka robek menjadi empat potong.
Tho-sit-sian lantas terbahak-bahak, katanya.
"Lihai, sungguh kalian sangat lihai!"
Tho-ki-sian juga bicara.
"Kalian telah merobek orang itu menjadi empat potong, apakah kalian mengetahui dia bernama siapa?"
"Dia sudah mati, peduli dia bernama siapa? Memangnya kau sendiri tahu?"
Sahut Tho-kan-sian.
"Sudah tentu aku tahu,"
Sahut Tho-ki-sian.
"Dia she Keh, bernama Bu-si, dia punya julukan pula, yaitu Ya-niau-cu."
"Wah, jadi dia bernama Keh Bu-si (tak berdaya), rupanya dia sudah tahu sebelumnya bahwa kelak pasti akan ditangkap oleh Tho-kok-lak-sian dan pasti tak berdaya sama sekali, karena itulah dia memakai nama demikian itu,"
Seru Tho-yap-sian.
"Ilmu Ya-niau-cu Keh Bu-si itu benar-benar lain daripada yang lain dan tiada bandingannya di dunia ini,"
Kata Tho-sit-sian.
"Memang betul, kepandaiannya yang lihai itu kalau bukan ketemukan Tho-kok-lak-sian, cukup dengan ginkangnya saja sudah merupakan tokoh kelas satu di dunia persilatan,"
Timbrung Tho-kin-sian.
"Kalau cukup ginkang saja masih belum apa-apa, yang hebat adalah caranya dia hidup kembali sesudah badannya dirobek menjadi empat potong, dia dapat menggabungkan kembali potongan-potongan badannya dan berjalan seperti biasa. Bahkan barusan saja dia masih datang kemari untuk bicara dengan aku,"
Demikian kata Tho-sit-sian.
Baru sekarang Tho-kin-sian berempat tahu bahwa obrolan mereka telah terbongkar.
Tapi mereka pun tidak ambil pusing, bahkan pura-pura memperlihatkan air muka terkejut, Tho-hoa-sian malah bertanya.
"Hah, jadi Keh Bu-si itu mempunyai ilmu selihai itu, ini benar-benar luar biasa, makanya menilai orang jangan dilihat dari mukanya saja."
Di sebelah sana Gak Put-kun dan istrinya diam-diam sedang bersedih.
Putri kesayangan mereka diculik orang, sampai-sampai siapa pihak lawan pun tidak tahu.
Sungguh tidak nyana bahwa nama Hoa-san-pay yang termasyhur selama beberapa ratus tahun sekarang telah terjungkal habis-habisan di lembah Hongho ini.
Tapi khawatir kalau para muridnya ikut sedih dan takut, maka lahirnya mereka tidak memperlihatkan sesuatu tanda apa-apa.
Selang agak lama, ketika fajar hampir menyingsing, tiba-tiba terdengar suara ramai orang berjalan di daratan.
Sejenak kemudian tertampak dua buah joli telah diusung sampai di tepi sungai.
Tukang joli yang pertama lantas berseru.
"Lenghou-kongcu memberi pesan agar jangan mengganggu nona Gak, tapi majikan kami telah telanjur berbuat, maka diharap Lenghou-kongcu sudi memberi maaf."
Dan setelah memberi hormat ke arah perahu, segera empat tukang joli itu meninggalkan kedua buah joli itu dan melangkah pergi dengan cepat.
"Ayah, ibu!"
Demikian terdengar suara Leng-sian di dalam joli.
Kejut dan girang pula Gak Put-kun dan istrinya.
Cepat ia melompat ke gili-gili dan membuka kerai joli, benar juga putri kesayangannya duduk dengan baik-baik di dalam joli, hanya hiat-to bagian kakinya tertutuk, maka tak bisa berjalan.
Orang yang duduk di dalam joli lain adalah Lim Peng-ci.
Segera Gak Put-kun menepuk beberapa hiat-to tertentu di kaki putrinya.
Tapi Leng-sian malah menjerit, tampaknya menahan rasa sakit dan hiat-to yang tertutuk itu tetap tak terbuka.
"Ayah, dia mengatakan Tiam-hiat-hoat yang dia gunakan adalah ilmu tunggalnya, katanya ayah tidak mampu membukanya,"
Kata Leng-sian kemudian dengan suara tertahan.
"Siapakah orang yang kau maksudkan?"
Tanya Put-kun.
"Yaitu orang yang tinggi besar tadi. Dia ... dia ...."
Hanya sampai di sini saja dia lantas mewek-mewek ingin menangis. Perlahan-lahan Gak-hujin membelai rambut putrinya. Lalu memondongnya ke dalam perahu. Dengan suara perlahan ia bertanya.
"Apakah kau diperlakukan dengan kasar?"
Karena pertanyaan ibundanya itu benar-benar Leng-sian lantas menangis. Gak-hujin menjadi khawatir, pikirnya.
"Tindak tanduk orang-orang itu tidak beres, sedangkan anak Sian telah diculik mereka selama beberapa jam, jangan-jangan telah mengalami perlakuan yang tidak senonoh?"
Maka cepat ia bertanya pula.
"Apa yang telah terjadi. Tak apa-apa, katakanlah kepada ibu."
Tapi Leng-sian hanya menangis saja.
Keruan hal ini membuat Gak-hujin tambah cemas.
Karena banyak orang, Gak-hujin tidak berani tanya lebih jauh.
Segera ia merebahkan putrinya di atas dipan dan menutupinya dengan selimut.
Mendadak Leng-sian berkata sambil menangis.
"Ibu, orang besar itu telah mencaci maki aku."
Ucapan Leng-sian ini membuat perasaan Gak-hujin merasa lega. Katanya dengan tersenyum.
"Hanya dimaki orang saja masakan mesti begini sedih?"
"Tapi ... tapi dia mengancam dan menggertak hendak memukul aku pula,"
Gerutu Leng-sian.
"Sudahlah, lain kali kalau ketemu dia biar kita balas memaki dan menggertak dia,"
Ujar Gak-hujin dengan tertawa.
"Padahal aku pun tidak mengucapkan apa-apa yang menjelekkan Toasuko, Siau-lim-cu juga tidak. Tapi si gede itu tetap mencak-mencak, katanya selama hidupnya paling tidak senang bila mendengar orang menjelek-jelekkan Lenghou Tiong. Katanya bila dia marah bisa jadi orang yang tak disukainya akan disembelih dan dimakan olehnya,"
Demikian tutur Leng-sian sambil terguguk-guguk.
"Orang itu memang jahat,"
Ujar Gak-hujin.
"Tiong-ji siapakah orang tinggi besar itu?"
Pikiran Lenghou Tiong masih belum sadar benar-benar, ketika mendengar panggilan ibu gurunya ia lantas menjawab.
"Yang tinggi besar itu? O, aku ... aku ...."
Saat itu Lim Peng-ci juga sudah dipondong masuk ke ruangan kapal oleh Ko Kin-beng, segera ia menyela.
"Sunio, orang tinggi besar dan hwesio itu memang benar-benar makan daging manusia, hal ini bukan omong kosong atau gertakan saja."
Gak-hujin terkesiap.
"Mereka berdua benar-benar makan daging manusia? Da ... dari mana kau mendapat tahu?"
"Hwesio itu telah menanyai aku tentang Pi-sia-kiam-boh, sambil bertanya tiba-tiba ia mengeluarkan sepotong makanan terus digerogoti dengan lahapnya,"
Tutur Peng-ci.
"Bahkan jelas terlihat yang dia gerogoti itu adalah sepotong telapak tangan. Malahan aku pun disuruh mencicipi."
"Hah, mengapa tidak ... tidak kau ceritakan sejak tadi-tadi?"
Teriak Gak Leng-sian.
"Aku khawatir kau terkejut, maka tidak berani menceritakan padamu,"
Sahut Peng-ci.
"Ah, ingatlah aku,"
Tiba-tiba Gak Put-kun menyela.
"Mereka ialah ‘Boh-pak-siang-him’. Yang tinggi besar itu berkulit sangat putih dan si hwesio berkulit hitam, betul tidak?"
"Betul,"
Sahut Leng-sian.
"Kau kenal mereka, ayah?"
Put-kun menggeleng.
"Tidak, aku tidak kenal mereka. Hanya kudengar cerita orang bahwa di padang pasir utara ada dua begal besar yang satu bernama Pek-him (Beruang Putih) dan yang lain bernama Oh-him (Beruang Hitam). Sering kali mereka membegal harta benda dan melepaskan pemiliknya. Tapi bila pemilik barang mendapat pengawalan, maka Siang-him (Sepasang Beruang) itu sering menangkap pengawalnya dan makan dagingnya. Katanya orang yang melatih silat otot dagingnya jauh lebih keras dan lebih gurih kalau dimakan."
Kembali Leng-sian menjerit mendengar cerita sang ayah.
"Suko, mengapa kau bercerita hal-hal yang memuakkan itu?"
Ujar Gak-hujin. Gak Put-kun tersenyum. Sejenak kemudian baru ia menyambung.
"Selamanya tak pernah mendengar Boh-pak-siang-him melintasi Tiongsia (tembok besar), mengapa sekarang telah berada di lembah Hongho? Tiong-ji, dari mana kau bisa kenal Boh-pak-siang-him itu?"
"Boh-pak-siang-hiong?"
Lenghou Tiong menegas.
Dia mengira yang diucapkan sang guru adalah "Siang-hiong" (kedua kesatria), tak tahunya adalah Siang-him (sepasang beruang).
Maka setelah termenung sejenak, akhirnya ia menjawab.
"Entah, aku tidak kenal."
Tiba-tiba Leng-sian berseru.
"Siau-lim-cu, hwesio itu suruh kau mencicipi daging manusia itu, kau mencicipi atau tidak?"
Bab 54. Ih Jong-hay, Ketua Jing-sia-pay Terkepung Musuh "Sudah tentu tidak,"
Sahut Peng-ci.
"Tak apalah jika tidak, kalau sudah, hm, masakah selanjutnya aku mau gubris lagi padamu?"
Kata Leng-sian. Mendadak terdengar Tho-kan-sian menimbrung dari luar.
"Daharan yang paling lezat di dunia ini tidak lain adalah daging manusia. Siau-lim-cu diam-diam tentu sudah mencicipinya, hanya saja ia tidak mau mengaku."
"Ya, kalau tidak mencicipi mengapa tidak bilang sejak tadi-tadi, kok baru sekarang menyangkal mati-matian,"
Demikian Tho-yap-sian menambahkan.
Sejak mengalami berbagai kejadian-kejadian, setiap tindak tanduk Lim Peng-ci selalu sangat hati-hati.
Ia menjadi tercengang demi mendengar ucapan Tho-kan-sian dan Tho-yap-sian itu dan sukar menjawab.
"Nah, betul tidak,"
Tho-hoa-sian ikut menimpali.
"Dia tidak bersuara pula. Kalau diam berarti mengaku. Nona Gak, manusia yang tidak jujur begini, sudah makan daging manusia tapi tidak mengaku, orang demikian mana boleh diajak hidup bersama."
"Ya, bila kau kawin dengan dia, kelak dia tentu main gila pula dengan perempuan lain dan bila kau tanya dia pasti dia akan menyangkal,"
Timbrung Tho-kin-sian.
"Malahan ada yang lebih celaka lagi,"
Tambah Tho-yap-sian.
"Bila kau tidur bersama dia, di tengah malam mendadak ia ketagihan makan daging manusia. Jangan-jangan kau sendirilah yang akan dimakan olehnya."
Kiranya sesudah Tho-kok-lak-sian diberi tugas oleh Peng It-ci agar menjaga Lenghou Tiong, biarpun aneh tingkah laku mereka berenam, tapi sebenarnya mereka bukan orang bodoh.
Seluk-beluk antara Lenghou Tiong yang mencintai Gak Leng-sian tapi tak terbalas itu diam-diam sudah dapat dilihat oleh mereka.
Kini sedikit kelemahan Lim Peng-ci itu segera digunakan oleh mereka untuk memecah belah hubungan pemuda itu dengan Gak Leng-sian.
"Kalian ngaco-belo belaka, aku tidak mau dengar!"
Teriak Leng-sian sambil menutupi telinganya.
Di tengah ocehan Tho-kok-lak-sian itu perahu sudah mengangkat sauh dan mulai berlayar ke hilir.
Fajar baru menyingsing, kabut pagi belum buyar seluruhnya, di permukaan sungai kabut pulih masih bergumpal-gumpal menyesakkan pandangan mata.
Tidak lama perahu berlayar mendadak berjangkit gelombang ombak, perahu besar itu berguncang dengan hebat sekali.
Para penumpangnya tidak biasa hidup di atas air, maka tidak sedikit yang mulai pening kepala dan tumpah-tumpah.
Melihat juru mudi perahu sendiri juga ikut tumpah-tumpah dan perahu itu masih miring ke sana dan doyong ke sini, tampaknya sangat berbahaya, segera Gak Put-kun melompat ke buritan untuk memegang kemudi dan mengarahkan perahu ke tepian selatan.
Betapa pun lwekangnya memang sangat tinggi, sesudah mengatur napas beberapa kali rasa muaknya sudah mulai lenyap.
Ketika perahu itu perlahan-lahan menepi, segera ia melompat ke haluan perahu, ia mengangkat jangkar dan dilemparkan ke tepian.
Baca Juga: Bara Naga 6
Baca Juga: Pedang Kayu Cendana Gan Kh