Ceritasilat Novel Online

Hina Kelana Balada Kaum Kelana 10

Eps 10 Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Baca online Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Cersil Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong.

Beramai-ramai semua orang sama melompat ke daratan dan berebut berjongkok di tepi sungai untuk minum air sebanyak-banyaknya, lalu menumpahkannya keluar.

Setelah tumpah-minum beberapa kali, akhirnya rasa muak mereka barulah mereda.

Lembah sungai itu ternyata suatu tempat terpencil dan sunyi, rumput alang-alang tumbuh dengan suburnya.

Hanya di kejauhan sana kelihatan ada deretan rumah, tampaknya adalah sebuah kota kecil.

"Agaknya di dalam perahu masih terdapat sisa-sisa racun, terpaksa kita tak bisa menumpang perahu lagi, marilah kita menuju ke kota itu,"

Kata Put-kun.

Segera Tho-kan-sian menggendong Lenghou Tiong dan Tho-ki-sian menggendong Tho-sit-sian terus mendahului jalan di depan.

Para murid Hoa-san-pay juga sama menggendong Li Peng-ci dan Gak Leng-sian menuju ke arah kota tadi.

Sampai di dalam kota, tanpa disuruh lagi Tho-kan-sian dan Tho-ki-sian lantas memasuki sebuah rumah makan, mereka menaruh Lenghou Tiong dan Tho-sit-sian di atas kursi, habis itu lantas berteriak-teriak.

"Hai, pelayan! Sediakan arak, buatkan daharan yang paling lezat!"

Sekilas Lenghou Tiong melihat di dalam rumah makan itu berduduk satu orang, ia tercengang sebab orang itu adalah tojin yang berperawakan pendek kecil dan dikenalnya dengan baik sebagai ketua Jing-sia-pay, Ih Jong-hay adanya.

Jika dalam keadaan biasa, kepergoknya dia dengan Ih Jong-hay pasti akan menimbulkan suatu pertarungan sengit.

Tapi sekarang keadaan agaknya tidak mengizinkan sebab ketua Jing-sia-pay itu sendiri tampaknya sudah berada di tengah kepungan musuh.

Ih Jong-hay duduk menyanding sebuah meja kecil, di atas meja tersedia arak dan beberapa piring masakan, selain itu sebatang pedang yang mengilap sudah tertaruh di atas meja pula.

Di sekeliling meja itu adalah tujuh buah bangku panjang, setiap bangku diduduki satu orang.

Orang-orang itu terdiri dari macam-macam jenis, ada lelaki ada perempuan, rata-rata berwajah bengis dan jahat.

Di atas bangku masing-masing juga tertaruh senjata, tujuh macam senjata pun dalam bentuk yang aneh-aneh, tiada satu pun yang terdiri dari golok atau pedang biasa.

Ketujuh orang itu sama sekali tidak bersuara, semuanya menatap tajam kepada Ih Jong-hay.

Sebaliknya ketua Jing-sia-pay itu tenang-tenang saja, tangan kirinya tampak memegang cawan arak terus menenggak, ternyata sedikit pun tidak keder.

"Tojin kerdil ini sebenarnya ketakutan setengah mati di dalam hati, dia hanya berlagak tidak gentar,"

Ujar Tho-kin-sian.

"Sudah tentu dia takut, satu orang dikeroyok tujuh orang, pasti dia akan kalah,"

Kata Tho-ki-sian.

"Ya, jika dia tidak takut, kenapa tangan kiri yang dipakai memegang cawan arak dan tidak menggunakan tangan kanan? Tentunya tangan kanannya siap sedia menyambar pedangnya bila perlu,"

Timbrung Tho-kan-sian. Mendadak Ih Jong-hay mendengus, cawan arak dipindahkan dari tangan kiri ke tangan kanan.

"Ha, dia sudah mendengar ucapan Jiko,"

Kata Tho-hoa-sian.

"Tapi matanya sama sekali tak berani memandang ke arah Jiko, itu berarti dia memang takut. Bukannya takut kepada Jiko, tapi takut sedikit lengahnya itu akan diserang serentak oleh ketujuh orang musuh."

Meski Lenghou Tiong bermusuhan dengan Ih Jong-hay, tapi demi menyaksikan ketua Jing-sia-pay itu sedang dikepung musuh-musuh tangguh, maka ia pun tidak sudi menggunakan kesempatan bagus itu untuk menuntut balas kepada Ih Jong-hay.

Bahkan ia lantas berkata.

"Keenam Tho-heng, Totiang ini adalah ketua Jing-sia-pay."

"Kenapa sih kalau ketua Jing-sia-pay? Apakah dia sahabatmu?"

Sahut Tho-kin-sian.

"Ah mana aku berani mengikat persahabatan dengan tokoh-tokoh terkemuka seperti dia,"

Kata Lenghou Tiong.

"Jika dia bukan sahabatmu, maka kita dapat menyaksikan tontonan yang menarik,"

Ujar Tho-kan-sian.

"Benar,"

Seru Tho-yap-sian sambil bertepuk tangan.

"Pelayan, mana daharannya dan araknya? Aku akan minum arak sambil menyaksikan orang-orang itu mencacah tosu kerdil itu menjadi delapan potong."

"Aku berani bertaruh dengan kau bahwa dia akan terpotong menjadi sembilan dan bukan delapan,"

Seru Tho-sit-sian, walaupun masih dalam keadaan terluka dia tidak lupa ikut bicara.

"Sebab apa?"

Tanya Tho-yap-sian.

"Habis mereka kan tujuh orang, tapi thauto (hwesio berambut) itu membawa dua batang golok, tentu dia akan membacok dua kali."

"Sudahlah, kalian jangan bicara lagi. Kita takkan membantu pihak mana pun, tapi juga jangan memencarkan perhatian Ih-koancu dari Jing-sia-pay yang sedang menghadapi lawan-lawannya,"

Demikian sela Lenghou Tiong.

Maka Tho-kok-lak-sian tidak bicara lagi, dengan cengar-cengir mereka memandangi Ih Jong-hay.

Sebaliknya satu per satu Lenghou Tiong mengamat-amati ketujuh orang pengepung itu.

Dilihatnya thauto itu rambutnya menjulai sampai di pundak, kepalanya memakai ikat tembaga yang bercahaya mengilap, di sampingnya tertaruh sepasang golok melengkung berbentuk sabit.

Di sebelahnya adalah seorang wanita berusia 50-an, rambut sudah beruban, air mukanya suram, senjata yang terletak di sampingnya adalah sebatang tongkat besi pendek.

Sebelahnya lagi berturut-turut adalah seorang hwesio dan seorang tosu.

Si hwesio memakai kasa (jubah padri) warna merah marun, di sampingnya tertaruh sebuah kecer dan sebuah mangkuk, tampaknya semua terbuat dari baja.

Tepian kecer itu tampak sangat tajam, terang itulah sejenis senjata yang lihai.

Sedangkan perawakan si tojin tampak tinggi besar, senjata yang terletak di atas bangkunya adalah sebuah gandin segi delapan, tampaknya sangat berat.

Di sebelah si tojin berduduk seorang pengemis setengah umur, bajunya kotor dan compang-camping, di atas pundaknya melingkar dua ekor ular hijau yang melilit di seputar lehernya.

Dari bentuk kepala ular-ular yang bersegitiga itu terang adalah sejenis ular-ular berbisa.

Dia tidak membawa senjata tajam, agaknya kedua ekor ular itu adalah gegamannya.

Dua orang lagi terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Yang lelaki mata kirinya buta, sedangkan yang perempuan buta mata kanan.

Ini masih belum, yang lebih aneh adalah si lelaki kaki kirinya buntung dan yang perempuan buntung juga kaki sebelah kanan.

Kedua orang sama-sama memakai tongkat penyangga, warna tongkat yang kuning gilap itu bentuknya serupa, sama-sama besar dan kasar, jika terbuat dari emas tulen tentu bobotnya tidaklah ringan.

Dilihat dari usia mereka agaknya baru 40-an tahun, badan mereka begitu lemah, tapi justru membawa tongkat yang begitu berat sehingga semakin menambah keseraman mereka.

Dalam pada itu kelihatan si thauto mulai meraba gagang sepasang goloknya, si pengemis juga sudah memegang seekor ularnya dengan kepala ular menjulur ke arah Ih Jong-hay.

Begitu pula yang lain-lain telah sama, memegangi senjata masing-masing, tampaknya, segera mereka akan menyerang secara serentak.

"Hahaha!"

Mendadak Ih Jong-hay bergelak tertawa.

"Main kerubut memangnya adalah kebiasaan golongan keroco dan kaum penjahat. Kenapa aku Ih Jong-hay harus merasa gentar?"

Tiba-tiba si lelaki pecak tadi berkata.

"Orang she Ih, kami tidak bermaksud membunuh kau."

"Benar,"

Sambung si wanita pecak.

"Asal kau menyerahkan Pi-sia-kiam-boh itu secara baik-baik, maka dengan baik-baik pula kami akan membiarkan kau pergi."

Gak Put-kun, Lenghou Tiong, Lim Peng-ci dan lain-lain menjadi tercengang demi mendengar "Pi-sia-kiam-boh"

Tiba-tiba disebut.

Sama sekali mereka tidak menduga bahwa sebabnya ketujuh orang itu mengepung Ih Jong-hay tujuannya ialah ingin merebut Pi-sia-kiam-boh dari ketua Jing-sia-pay itu.

Begitulah Lenghou Tiong menjadi saling pandang dengan Gak Put-kun dan Lim Peng-ci.

Mereka sama-sama membatin.

"Apakah Pi-sia-kiam-boh itu benar-benar telah jatuh di tangan Ih Jong-hay?"

Dalam pada itu terdengar si wanita beruban sedang bicara.

"Buat apa banyak omong dengan orang kerdil ini? Bunuh saja dia, lalu kita menggeledah badannya."

"Boleh jadi dia telah menyembunyikan kitab pusaka itu di suatu tempat rahasia, kalau kita bunuh dia kan urusan bisa runyam malah?"

Ujar si wanita pecak. Si wanita beruban tampak mencibir. Sahutnya.

"Tidak ketemukan kitab itu pun tak apa, masakah urusan mesti runyam segala?"

Ucapannya itu kedengarannya kurang jelas seperti angin bocor keluar dari mulutnya. Kiranya giginya telah banyak yang rontok dan hampir ompong seluruhnya.

"Orang she Ih,"

Seru si wanita pecak.

"aku kira lebih baik kau menyerahkan kitab itu secara baik-baik. Kitab itu toh bukan milikmu, kau sudah mengangkangi kitab itu sekian lamanya, isinya tentu juga sudah kau hafalkan di luar kepala. Buat apa kau mengangkanginya mati-matian pula?"

Ih Jong-hay tetap bungkam saja.

Ia tahu ketujuh lawan itu semuanya sangat lihai, diam-diam ia telah menghimpun tenaga dan mencurahkan segenap perhatian untuk menghadapi segala kemungkinan, maka apa yang dibicarakan ketiga orang tadi sama sekali tak tertangkap olehnya.

Mendadak si hwesio membentak satu kali, lalu komat-kamit entah apa yang dia katakan.

Tertampak dia berbangkit, tangan kiri memegang mangkuk dan tangan kanan mengangkat kecer, tampaknya setiap saat siap untuk menerjang Ih Jong-hay.

Pada saat itulah sekonyong-konyong di luar sana ada suara gelak tertawa orang, menyusul masuklah seorang yang bermuka berseri-seri.

Orang ini memakai jubah sutra, kepalanya setengah botak, kelihatannya sangat ramah tamah.

Tangan kanan orang ini membawa sebuah pipa tembakau warna hijau zamrud.

Tangan kiri membawa kipas lempit, pakaiannya perlente, dandanannya ini jelas adalah seorang saudagar kaya raya.

Begitu melangkah masuk ke dalam restoran dan melihat orang sebanyak itu, ia menjadi tercengang dan lenyap seketika air mukanya yang berseri-seri tadi.

Tapi sejenak kemudian ia lantas bergelak tertawa pula sambil memberi salam dan berseru.

"Aha, selamat bertemu, selamat bertemu! Sungguh tidak nyana bahwa para kesatria yang terkenal pada zaman ini ternyata berkumpul semua di sini. Sungguh aku sangat beruntung sekali dapat ikut hadir."

Lalu orang itu mengangkat tangannya memberi salam kepada Ih Jong-hay, sapanya.

"Wah, angin apakah yang membawa Ih-koancu dari Jing-sia-pay sampai ke Holam sini? Sudah lama kudengar ‘Kiu-siau-sin-kang’ Jing-sia-pay merupakan salah satu ilmu tunggal di dunia persilatan, bukan mustahil hari ini aku akan dapat menyaksikannya untuk menambah pengalaman."

Ih Jong-hay sendiri sedang menghimpun tenaga, maka dia tidak melihat kedatangan orang itu, lebih tidak ambil pusing terhadap apa yang diucapkannya.

Kemudian orang itu menyapa kedua laki dan wanita tadi dengan tertawa.

"Eh, sudah lama tidak berjumpa dengan ‘Tong-pek-siang-ki’ (Dua Manusia Aneh Pohon Tong dan Pek), apakah selama ini banyak mendapat rezeki?"

Si lelaki pecak menjawab dengan tersenyum.

"Rezeki kami mana bisa lebih besar daripada rezeki Yu-taylopan (juragan besar Yu)."

Rupanya orang yang berdandan seperti saudagar ini she Yu. Orang itu bergelak tertawa beberapa kali dan berkata pula.

"Sesungguhnya diriku cuma nama kosong belaka, tangan kiri masuk tangan kanan keluar. Cukup dari julukanku saja sudah diketahui bahwa hanya tampaknya saja diriku ini hebat, tapi dalamnya sebenarnya keropos."

"Siapa sih julukanmu?"

Tiba-tiba Tho-ki-sian bertanya.

Orang itu memandang ke arah Tho-ki-sian, ia bersuara heran karena melihat wajah Tho-kok-lak-sian yang aneh itu, tapi tidak kenal asal usul mereka.

Mendadak ia berseru pula.

"Wah, sungguh hebat, sungguh luar biasa, sampai-sampai ketua Hoa-san-pay Gak-siansing dan nyonya juga berada di sini. Akhir-akhir ini Gak-siansing sekali tusuk membutakan 15 orang lawan tangguh, kejadian ini benar-benar mengguncangkan Kangouw, setiap orang merasa kagum. Benar-benar ilmu pedang yang hebat!"

Gak Put-kun hanya mendengus sekali saja, ia merasa tidak pernah kenal orang ini, maka ia pun tidak memberi penjelasan. Orang itu tertawa pula dan berkata.

"Julukanku sebenarnya tidak enak didengar, yaitu ‘Kut-put-liu-jiu’ (Licin Susah Dipegang). Para kawan mengatakan diriku suka bersahabat. Demi sahabat sedikit pun aku tidak sayang mengeluarkan uang. Meski aku pandai mencari uang, tapi uang itu selamanya susah dipegang dan selalu memberosot dengan licin meninggalkan tangan."

Mendengar itu mendadak Gak Put-kun teringat kepada seorang. Katanya.

"Ah, kiranya adalah ‘Kut-put-liu-jiu’ Yu Siok, Yu-heng. Sudah lama kudengar namamu, kagum, sungguh kagum!"

"Wah, sampai-sampai ketua Hoa-san-pay juga kenal namaku yang tak berarti ini, sungguh aku merasa sangat bangga,"

Sahut orang itu.

"Sobat she Yu ini agaknya masih mempunyai suatu nama julukan yang lain,"

Tiba-tiba Gak-hujin ikut bicara.

"Apa ya? Wah, aku sendiri malah tidak tahu,"

Kata orang yang bernama Yu Siok itu.

"Julukannya yang lain adalah ‘belut berminyak’,"

Terdengar suara seorang menyela, kiranya si wanita beruban dan ompong itu.

"Wah, luar biasa!"

Teriak Tho-hoa-sian.

"Belut saja sudah licin sekali, berminyak pula, lalu siapa yang mampu memegangnya."

"Ah, itu kan cuma poyokan yang diberikan oleh kawan-kawan Kangouw kepada sedikit ginkangku yang lumayan ini, katanya segesit belut, padahal sedikit kepandaian yang tak berarti ini sebenarnya tidak ada harganya untuk dibicarakan. Eh, Thio-hujin, apakah engkau baik-baik saja selama ini, terimalah salamku ini,"

Habis berkata Yu Siok terus memberi hormat. Wanita beruban yang dipanggil Thio-hujin itu melototinya sekali dan menjawab.

"Ah, mulut usil, lekas enyah sana!"

Tapi perangai Yu Siok ini ternyata sangat sabar, sedikit pun ia tidak marah. Ia lantas berkata pula terhadap si pengemis.

"Siang-liong-sin-kay (Pengemis Sakti Berpasangan Naga) Giam-heng, kedua ekor naga hijau piaraanmu itu tampaknya makin lama makin gemuk dan lincah."

Pengemis itu bernama Giam Sam-seng, sebenarnya berjuluk "Siang-coa-ok-kay" (Pengemis Jahat Berpasangan Ular), tapi Yu Siok sekenanya telah menyebut dia sebagai Siang-liong-sin-kay, bahkan kedua ekor ularnya disebut sebagai sepasang naga, istilah "ok"

Yang berarti jahat di ganti pula dengan kata-kata "sin"

Yang berarti sakti, keruan Giam Sam-seng merasa syur juga dan mengunjuk senyuman meski wataknya sebenarnya sangat bengis.

Thauto berambut panjang itu bernama Siu Siong-lian dan si hwesio bergelar Say-po, tojin itu bergelar Giok-leng, asal usul ketiga orang ini pun diketahui semua oleh Yu Siok, maka kepada masing-masing ia pun memberi pujian beberapa patah kata.

Begitulah dengan cengar-cengir ke sana dan ke sini, dalam sekejap saja Yu Siok telah membikin suasana yang tegang tadi menjadi damai.

Diam-diam Gak Put-kun membatin.

"Sudah lama kudengar di daerah Soatang ada seorang tokoh ajaib yang berjuluk ‘belut berminyak’, kiranya beginilah macamnya."

Dalam pada itu tiba-tiba terdengar Tho-yap-sian berseru.

"He, belut berminyak, kenapa kau tidak memuji kepandaian kami berenam saudara yang hebat ini."

"O, sudah ... sudah tentu akan kupuji ...."

Sahut Yu Siok dengan tertawa.

Tak tersangka belum habis ucapannya, kedua kaki dan kedua tangannya tahu-tahu sudah kena dipegang oleh Tho-kin-sian, Tho-kan-sian, Tho-ki-sian dan Tho-yap-sian berempat dan terus diangkat ke atas, tapi seketika mereka tidak lantas membetot tubuh Yu Siok.

Keruan Yu Siok terkejut, cepat ia memuji.

"Hebat, sungguh kepandaian yang hebat! Ilmu silat setinggi ini sungguh selama ini jarang terdapat."

Pada umumnya manusia memang suka disanjung puji, sedangkan Tho-kok-lak-sian justru paling senang kalau diumpak orang.

Kini demi mendengar pujian Yu Siok itu dengan sendirinya mereka tidak ingin lekas-lekas membetot dan merobek badan pecundangnya itu.

Berbareng Tho-kin-sian dan Tho-ki-sian bertanya.

"Apa dasarnya kau mengatakan ilmu silat kami jarang terdapat di dunia ini?"

"Seperti sudah kukatakan, julukanku adalah Kut-put-liu-jiu, licin susah dipegang, selama ini siapa pun tidak mampu memegang diriku,"

Sahut Yu Siok.

"Tapi sekali bergerak saja kalian berempat sudah dapat menangkap aku, sedikit pun tidak merasa licin dan sama sekali tak terlepas. Nyata kepandaian kalian memang jarang ada selama ini. Selanjutnya ke mana kupergi tentu aku akan menyiarkan nama kebesaran kalian berenam agar segenap kawan Bu-lim mengenal bahwa di dunia ini ada tokoh-tokoh sedemikian lihainya."

Sungguh girang sekali Tho-kin-sian dan kawan-kawannya, segera mereka melepaskan Yu Siok.

"Hm, benar-benar licin seperti belut, memang tidak beromong kosong. Sekali ini kau bisa lolos pula dari pegangan orang,"

Jengek Thio-hujin.

"Ah, memang kepandaian keenam Cianpwe ini terlampau hebat sehingga membikin setiap orang merasa segan dan hormat,"

Kata Yu Siok pula.

"Cuma sayang pengalamanku terlalu cetek dan belum kenal siapakah gelaran keenam Cianpwe yang mulia?"

"Kami berenam saudara bernama ‘Tho-kok-lak-sian’. Aku sendiri bernama Tho-kin-sian, yang ini Tho-kan-sian, yang itu Tho-ki-sian ...."

Begitulah Tho-kin-sian memperkenalkan kawan-kawannya itu satu per satu.

"Bagus, benar-benar bagus!"

Sorak Yu Siok.

"Nama ‘Sian’ itu sungguh cocok dan sesuai dengan ilmu silat kalian berenam. Memang kepandaian kalian sudah mendekati kesaktian dewa, maka kalian sudah seharusnya bernama ‘Tho-kok-lak-sian’."

Keruan Tho-ki-sian berenam bertambah senang, seru mereka.

"Pikiranmu memang tajam, pandanganmu memang tepat, kau benar-benar seorang yang mahabaik."

Di sebelah sana Thio-hujin sedang melotot kepada Ih Jong-hay sambil berkata.

"Orang she Ih, Pi-sia-kiam-boh itu akan kau serahkan atau tidak?"

Namun Ih Jong-hay sedikit pun tidak menggubrisnya, ia asyik menghimpun tenaga.

"Ai, ai! Apa yang sedang kalian ributkan?"

Sela Yu Siok tiba-tiba.

"Pi-sia-kiam-boh kata kalian? Setahuku kitab pusaka itu tidaklah berada di tangannya Ih-koancu."

"Setahumu kitab itu berada di tangan siapa?"

Tukas Thio-hujin.

"Orang itu sangat ternama, kalau kusebutkan mungkin kau akan ketakutan,"

Sahut Yu Siok.

"Lekas katakan,"

Bentak Siu Siong-lian, si thauto.

"Tapi kalau tidak tahu ada lebih baik lekas enyah dari sini!"

"Wah, watak Suhu ini ternyata sedemikian gampang terbakar,"

Sahut Yu Siok dengan tertawa.

"Dalam hal ilmu silat memang aku tidak seberapa, tapi tentang berita kalian boleh tanya padaku. Setiap kabar hangat dan berita rahasia di dunia Kangouw rasanya tidak mudah lolos dari intaian mata dari telingaku."

Tong-pek-siang-ki, Thio-hujin dan lain-lain cukup kenal Yu Siok, mereka tahu apa yang dikatakannya itu memang bukan bualan belaka.

Yu Siok itu paling suka ikut campur urusan tetek bengek, dia tidak punya pekerjaan, segala apa ingin tahu, maka segala kejadian di dunia persilatan memang hampir semuanya diketahui olehnya.

Berbareng Thio-hujin dan lain-lain membentak.

"Tidak perlu kau jual mahal. Sebenarnya Pi-sia-kiam-boh itu berada di tangan siapa, lekas katakan!"

"Kalian kan kenal julukanku ‘licin susah dipegang’, harta benda yang datang padaku selalu memberosot keluar lagi,"

Sahut Yu Siok dengan tertawa.

"Sungguh sial, beberapa hari terakhir ini aku benar-benar lagi miskin, pasaran sepi, dagangan macet. Kalian adalah hartawan-hartawan semua, seujung rambut kalian saja sudah lebih bernilai daripada segala milikku. Untung aku telah memperoleh berita yang berharga ini. Ya, sudah tentu, berita baik ini sudah sepantasnya kupersembahkan kepada pihak yang berkepentingan. Jadi yang kujual ini tidaklah mahal, tapi dengan harga pantas."

"Baik, kau tidak mau bilang bolehlah kau tunggu dulu. Nanti sesudah kami bunuh keparat she Ih itu lalu membekuk si belut she Yu ini, coba nanti kau mengaku atau tidak,"

Demikian kata Thio-hujin. Mendadak ia memberi komando.

"Maju!"

Serentak terdengarlah suara "crang-cring"

Yang ramai, berbagai macam senjata telah saling bentur.

Thio-hujin bertujuh telah meninggalkan tempat duduk masing-masing dan saling gebrak beberapa jurus dengan Ih Jong-hay.

Habis menyerang serentak mereka lantas melompat mundur pula.

Tapi posisi mereka masih tetap dalam keadaan mengepung.

Maka tertampaklah kaki Say-po Hwesio dan si thauto Si Siong-lian mencucurkan darah.

Sebaliknya Ih Jong-hay telah memindahkan pedang dari tangan kanan ke tangan kiri, jubah di bagian pundak kanan hancur, entah kena dipukul oleh siapa.

"Coba lagi!"

Teriak pula Thio-hujin dan kembali mereka bertujuh mengerubut maju pula. Setelah suara "trang-tring"

Berbunyi riuh pula, lalu mereka melompat mundur lagi dalam keadaan masih mengepung.

Kini kelihatan muka Thio-hujin sendiri terluka, dari tengah alis miring ke kiri bawah hingga sampai di dagu telah tergores suatu luka panjang.

Sebaliknya lengan kiri Ih Jong-hay telah kena terbacok oleh golok, agaknya kena serangan golok melengkung si thauto.

Karena tangan kiri tak bisa memainkan pedang pula, terpaksa senjata dipindahkan kembali ke tangan kanan.

Cuma pundak kanannya juga sudah terluka, kalau ketujuh lawan menyerang pula untuk ketiga kalinya pasti dia akan binasa di bawah hujan senjata mereka.

"Ih-koancu,"

Seru Giok-leng Tojin sambil mengacungkan senjatanya.

"kita adalah seagama, lebih baik kau menyerah saja."

Ih Jong-hay mendengus sekali, tangan kanan hendak mengangkat pedangnya.

Tapi baru terangkat sedikit saja lengannya sudah terasa lemas.

Thio-hujin itu tampaknya adalah seorang wanita tua yang sudah loyo, tapi ternyata sangat garang dan tangkas.

Ia pun tidak mengusap darah yang mengalir dari luka di mukanya itu, tongkat diangkat dan mengincar ke arah Ih Jong-hay, lalu berteriak pula.

"Maju ...."

Belum selesai teriakannya, tiba-tiba ada orang membentak.

"Nanti dulu!"

Menyusul seorang telah melangkah ke tengah kalangan dan berdiri di samping Ih Jong-hay, lalu katanya.

"Kalian bertujuh mengeroyok satu orang, cara ini terlalu tidak adil. Apalagi Yu-lopan itu sudah mengatakan bahwa Pi-sia-kiam-boh sesungguhnya tidak berada di tangan Ih-koancu, mengapa kalian masih menyerangnya terus?"

Orang yang menengahi ternyata bukan lain adalah Lenghou Tiong. Namun Siu Siong-lian bertujuh tiada seorang pun yang kenal pemuda yang berwajah pucat ini. Dengan suara berat Thio-hujin mendamprat.

"Siapakah kau? Apakah kau ingin mampus bersama dia?"

"Mampus bersama dia sih bukan keinginanku,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Soalnya aku merasa urusan ini terlalu tidak adil, maka aku ingin bicara sebagai orang tengah. Lebih baik kalian jangan bertempur saja."

"Marilah kita bunuh sekalian bocah ini,"

Seru Siu Siong-lian.

"Siapa kau? Besar amat nyalimu sehingga kau berani menjadi tameng orang?"

Bentak Giok-leng Tojin.

"Aku bernama Lenghou Tiong, aku tidak bermaksud menjadi ...."

Belum habis Lenghou Tiong bicara, terdengarlah Tong-pek-siang-ki, Siang-coa-ok-kay dan lain-lain sama berseru kaget.

"Hei, jadi ... jadi kau inilah Lenghou-kongcu?"

"Cayhe adalah pemuda desa, aku tidak berani dipanggil sebagai ‘Kongcu’ segala,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Apa barangkali kalian pun kenal seorang sahabatku?"

Sepanjang jalan Lenghou Tiong telah mendapat perlakuan sangat hormat dari berbagai tokoh dan orang kosen, semuanya mengatakan perbuatan mereka itu disebabkan seorang sahabat Lenghou Tiong yang paling mereka hormati.

Untuk ini Lenghou Tiong sampai pusing kepala juga tidak tahu siapakah sahabatnya yang dimaksudkan itu, ia tidak tahu bilakah dia mengikat seorang sahabat yang berwibawa sedemikian besar?

Kini demi melihat sikap Siu Siong-lian bertujuh, segera ia menduga pasti sahabat aneh yang belum diketahuinya itulah yang menyebabkan segannya Siu Siong-lian bertujuh.

Benar juga, tertampak Giok-leng Tojin lantas menurunkan senjatanya dan membungkuk tubuh memberi hormat, katanya.

"Ketika mendapat kabar segera kami bertujuh memburu kemari siang dan malam dengan harapan akan bertemu dengan Lenghou-kongcu. Barusan kami bersikap tidak sopan, mohon dimaafkan."

Thio-hujin juga lantas menyimpan kembali tongkatnya yang pendek itu, katanya.

"Kami tidak tahu Ih-koancu adalah sahabat Lenghou-kongcu sehingga tadi telah bersikap kasar padanya, untung kedua pihak hanya terluka ringan saja."

Ih Jong-hay mendengus.

"trang" , mendadak pedangnya jatuh ke lantai. Kiranya pundaknya tadi telah kena diketok sekali oleh gandin Giok-leng Tojin sehingga tulang pundaknya retak, lukanya tidaklah ringan, setelah bertahan sekuatnya kini benar-benar tidak sanggup memegangi pedang lagi. Ia menjadi heran pula ketika mengetahui orang yang membantunya itu adalah Lenghou Tiong. Tapi dasar wataknya memang kepala batu, segera ia berkata.

"Bocah she Lenghou ini bukanlah sahabatku."

"Lenghou-kongcu bukan sahabatmu, inilah sangat kebetulan, memangnya kami bermaksud sembelih kau,"

Ujar Siang-coa-ok-kay.

Walaupun demikian ucapannya, tapi dia tahu Lenghou Tiong tidak ingin mereka membunuh Ih Jong-hay, maka hanya mulut saja bicara, tapi tidak turun tangan sungguh-sungguh.

Si belut berminyak Yu Siok lantas mendekati Lenghou Tiong, ia terbahak-bahak dan berkata.

"Aku datang dari sebelah timur, sepanjang jalan banyak sekali kawan Kangouw menyebut nama Lenghou-kongcu yang mulia, sungguh hatiku sangat kagum. Menurut berita yang kuperoleh bahwa ada beberapa puluh orang pangcu, kaucu, tongcu, dan tocu, semuanya bermaksud menemui Lenghou-kongcu di atas Ngo-pah-kang. Maka buru-buru aku pun datang kemari ingin melihat keramaian. Sungguh tidak nyana rezekiku sangat besar dan dapat berjumpa lebih dulu dengan Lenghou-kongcu di sini. Tidak apa-apa, jangan khawatir, sekali ini obat-obat mujarab yang dibawa ke Ngo-pah-kang kalau tidak ada 100 macam sedikitnya juga ada 99 macam. Sedikit penyakit Kongcu yang tak berarti itu pasti gampang disembuhkan. Hahaha, bagus, bagus!"

Lenghou Tiong menjadi terkejut malah.

"Kau bilang beberapa puluh orang pangcu, kaucu, tongcu, tocu dan seratus macam obat mujarab apa segala, sungguh Cayhe tidak paham?"

Demikian ia menegas. Kembali Yu Siok mengakak beberapa kali, katanya.

"Lenghou-kongcu jangan khawatir, seluk-beluk urusan ini betapa pun besar nyaliku juga tidak berani sembarangan omong. Hendaklah Kongcu jangan khawatir, hahaha, seumpama aku sembarangan omong dan Lenghou-kongcu tidak marah padaku, tapi bila diketahui orang lain, biarpun aku mempunyai 10 buah kepala juga akan dibetot semua oleh orang itu."

"Kau bilang tidak berani sembarangan omong, tapi mengapa terus mengoceh tentang urusan ini?"

Omel Thio-hujin.

"Soal Ngo-pah-kang sebentar lagi Lenghou-kongcu akan dapat menyaksikan sendiri, buat apa kau mesti cerewet lebih dulu? Coba jawab, Pi-sia-kiam-boh itu sebenarnya berada di tangan siapa?"

"Berikan 100 tahil perak padaku dan segera aku memberitahukan padamu,"

Kata Yu Siok dengan tertawa sambil menjulurkan sebelah tangannya.

"Buset, barangkali hidupmu di jelmaan yang dulu tidak pernah melihat duit, maka sekarang kau mata duitan, segala apa pakai uang, uang, uang melulu!"

Damprat Thio-hujin. Mendadak si lelaki pecak mengeluarkan serenceng perak dan dilemparkan kepada Yu Siok, katanya.

"Itu, 100 tahil perak tanggung lebih. Nah, lekas bicara, lekas!"

Yu Siok sambuti rencengan perak itu dan menimbang-nimbangnya dengan tangan, lalu menjawab.

"Banyak terima kasih. Marilah kita keluar sana, biar kukatakan padamu."

"Buat apa keluar? Bicara saja di sini agar didengar semua orang,"

Kata si lelaki pecak.

"Ya, benar, kenapa mesti dirahasiakan?"

Seru orang banyak. Tapi Yu Siok telah menggeleng-geleng. Katanya.

"Tidak, tidak bisa. Aku minta 100 tahil perak, maksudku setiap orang membayar 100 tahil dan bukan menjual berita sepenting ini dengan cuma 100 tahil perak saja. Memangnya kalian kira aku menjual obral?"

Mendadak lelaki pecak itu memberi tanda, serentak Siu Siong-lian, Thio-hujin, Siang-coa-ok-kay, Say-po Hwesio dan lain-lain-lain mengepung maju, seketika Yu Siok terjepit di tengah seperti Ih Jong-hay yang terkepung tadi.

"Dia berjuluk licin susah dipegang, terhadap dia kita jangan memakai tangan, tapi gunakan senjata, biar dia mampus,"

Kata Thio-hujin.

"Benar,"

Seru Giok-leng Tojin sambil putar gandinnya.

"biar dia rasakan gandinku ini, ingin kulihat apakah kepalanya benar-benar licin atau tidak?"

Gandin andalan Giok-leng Tojin itu bergigi tajam dan mengilap.

Kalau kepala Yu Siok yang setengah botak itu benar-benar berkenalan dengan gandin itu tentu bisa konyol.

Tak terduga mendadak Yu Siok berkata kepada Lenghou Tiong.

"Lenghou-kongcu, tadi kau menolong Ih-koancu dari kerubutan mereka, mengapa kau pilih kasih dan anggap sepi diriku yang terancam bahaya ini?"

"Haha, jika kau tidak menerangkan di mana beradanya Pi-sia-kiam-boh, bahkan aku pun akan ikut membantu Thio-hujin dan kawan-kawannya,"

Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Bagus, bagus! Harap Lenghou-kongcu turun tangan sekalian!"

Seru Thio-hujin bertujuh.

"Ai!"

Yu Siok menghela napas.

"Baiklah, biar kukatakan saja, silakan kalian kembali ke tempat masing-masing, buat apa mengelilingi diriku?"

"Terhadap belut yang licin terpaksa kami harus lebih waspada,"

Ujar Thio-hujin..

"Wah, ini namanya cari penyakit, ular mencari gebuk,"

Gumam Yu Siok.

"Sebenarnya aku bisa melihat ramai-ramai ke Ngo-pah-kang, tapi malah mengantarkan kematian ke sini."

"Sudahlah, tak perlu cerewet lagi. Kau mau bicara atau tidak?"

Ancam Thio-hujin.

"Baik, baik, akan kukatakan, mengapa tidak?"

Sahut Yu Siok.

"Eh Tonghong-kaucu, kiranya engkau orang tua juga berkunjung kemari?"

Kedua kalimatnya yang terakhir itu diucapkan dengan cukup keras, berbareng itu matanya memandang keluar restoran itu dengan air muka penuh heran dan segan.

Keruan semua orang ikut terperanjat dan beramai-ramai menoleh ke arah yang dipandang Yu Siok itu.

Tapi yang tertampak di jalan raya sana adalah seorang tukang sayur dan sekali-kali bukan Tonghong Put-pay, itu ketua Mo-kau yang namanya menggetarkan dunia.

Bab 55.

Pertemuan di Atas Ngo-pah-kang Waktu semua orang berpaling kembali, ternyata Yu Siok mudah menghilang entah ke mana.

Baru sekarang mereka sadar telah tertipu.

Siu Siong-lian, Giok-leng Tojin, dan lain-lain lantas mencaci maki.

Mereka tahu ginkang si belut itu sangat hebat, pula orangnya memang cerdik, sekali sudah lolos terang sukar menangkapnya pula.

Tiba-tiba Lenghou Tiong berseru keras.

"Aha, kiranya Pi-sia-kiam-boh itu sebenarnya dipegang oleh Yu Siok, Yu-heng sendiri. Sungguh tidak nyana bahwa dia yang menemukannya."

"Apa betul?"

Tanya orang banyak.

"Kitab pusaka itu benar-benar di tangan Yu Siok?"

"Sudah tentu berada di tangannya,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Kalau tidak mengapa dia tidak mau mengaku sejujurnya, sebaliknya lari terbirit-birit."

Dia sengaja bicara dengan suara keras, keruan napasnya megap-megap dan badan lemas. Mendadak terdengar suara Yu Siok berteriak di luar pintu.

"Lenghou-kongcu, mengapa kau sengaja memfitnah diriku?"

Menyusul orangnya telah melangkah masuk kembali ke dalam restoran itu. Dengan sebat luar biasa Thio-hujin, Giok-leng Tojin dan lain-lain lantas melompat maju dan mengepungnya di tengah-tengah pula.

"Haha, kau telah masuk perangkapnya Lenghou-kongcu!"

Seru Giok-leng dengan tertawa. Yu Siok tampak bersungut dan sedih, katanya.

"Benar, benar, aku pun tahu perangkap Lenghou-kongcu ini. Tapi kalau ucapannya tadi tersiar di Kangouw, maka selanjutnya hidupku pasti tiada satu detik pun bisa berlalu dengan tenang, setiap orang Kangouw tentu mengira aku benar-benar telah mendapatkan Pi-sia-kiam-boh dan semua orang pasti akan mencari perkara padaku. Ai, Lenghou-kongcu, kau sungguh lihai, hanya satu ucapanmu saja sudah dapat menangkap kembali diriku yang licin susah dipegang ini."

Lenghou Tiong hanya tersenyum. Pikirnya.

"Apaku yang lihai? Aku justru pernah juga difitnah orang dengan cara demikian."

Tanpa merasa pandangnya mengarah Gak Leng-sian. Ternyata nona itu juga sedang memandang padanya, sinar mata kedua orang kebentrok, wajah keduanya sama-sama merah dan cepat-cepat berpaling kembali.

"Yu-loheng,"

Kata Thio-hujin.

"tadi kau telah menyembunyikan Pi-sia-kiam-boh agar tidak kena digeledah kami, betul tidak?"

"Wah, celaka, celaka! Ucapan Thio-hujin ini benar-benar bisa membikin kapiran diriku ini,"

Sahut Yu Siok.

"Coba kalian pikir, jika Pi-sia-kiam-boh itu berada padaku, tentu senjata yang kupakai adalah pedang, bahkan ilmu pedangku pasti mahatinggi, paling sedikit juga selihai Ih-koancu dari Jing-sia-pay ini, tapi mengapa sekarang aku tidak membawa pedang dan juga tidak mengeluarkan ilmu pedang, malahan ilmu silatku tergolong nomor buncit?"

Semua orang pikir beralasan juga ucapannya itu, bahkan kata-katanya itu seakan-akan mengalihkan persoalannya kepada Ih Jong-hay pula.

Maka tanpa merasa pandangan semua orang kembali berpindah kepada si tojin kerdil yang sudah terluka parah itu.

Mendadak Tho-kin-sian menimbrung pula.

"Biarpun Pi-sia-kiam-boh berada padamu juga belum tentu kau mampu mempelajarinya. Seumpama mempelajarinya juga belum tentu mahir. Kau bilang tidak membawa pedang, bisa jadi pedangmu jatuh hilang atau telah dirampas orang."

"Ya, seperti kipas yang kau bawa itu pun mirip dengan pedang pendek, tadi sekali bergerak kipasmu itu juga mirip dengan satu diurus ilmu pedang dari Pi-sia-kiam-hoat,"

Demikian Tho-kan-sian menambahkan.

"Tepat,"

Seru Tho-ki-sian.

"Coba lihat, sekarang kipasnya itu menuding miring ke depan, terang itu adalah jurus ‘Ki-tah-kan-sia’ (menuding dan menghantam penjahat), yaitu jurus ke-59 dari Pi-sia-kiam-hoat. Ke mana ujung kipasnya menuding, ke situlah sasarannya akan dibinasakan."

Tatkala itu yang kebetulan berhadapan dengan ujung kipas Yu Siok itu adalah Siu Siong-lian.

Dasar thauto ini orang yang berangasan, tanpa pikir lagi segera ia menggeram terus menerjang maju dengan sepasang goloknya.

"He, he. Jangan kau anggap sungguh-sungguh, dia hanya bergurau saja,"

Seru Yu Siok sambil menghindar.

Maka terdengarlah suara nyaring empat kali, sepasang golok Siu Siong-lian telah membacok empat kali, tapi semuanya kena ditangkis oleh Yu Siok.

Dari suara beradunya senjata itu memang benar kipas lempitnya itu terbuat dari baja murni.

Jangan menyangka badan Yu Siok itu kelihatannya gemuk putih seperti lazimnya kaum hartawan, tapi gerak-geriknya ternyata sangat gesit.

Bahkan ketika kipasnya menutuk perlahan segera golok Siu Siong-lian itu tergetar ke samping.

Dari gebrakan ini saja sudah jelas bahwa ilmu silatnya sesungguhnya masih lebih tinggi daripada si thauto yang menyerangnya itu.

Hanya saja ia terkepung oleh tujuh lawan maka tidak berani sembarangan melakukan serangan balasan.

Dalam pada itu Tho-hoa-sian telah berseru.

"Nah, nah, jurus itu adalah diurus ke-32 dari Pi-sia-kiam-hoat yang bernama ‘Oh-kui-pang-bui’ (kura-kura kentut) dan jurus tangkisannya ini adalah jurus ke-25 yang bernama ‘Ka-hi-hoan-sin’ (bulus membalik tubuh)!"

Semua orang sudah tahu Tho-kok-lak-sian itu suka membual, maka tiada seorang pun yang menggubris lagi kepada ocehannya. Segera Lenghou Tiong berkata.

"Yu-siansing, jika Pi-sia-kiam-boh itu benar-benar tidak berada padamu, lalu berada di tangan siapa?"

"Ya, sesungguhnya berada di tangan siapa?"

Demikian Giok-leng Tojin dan Thio-hujin ikut bertanya.

"Hahaha, sebabnya aku tidak mau bilang adalah karena aku ingin menjual cerita rahasia ini dengan harga lebih bagus, tapi kalian terlalu kikir, pelit,"

Demikian jawab Yu Siok dengan tertawa.

"Tapi baiklah, akan kukatakan. Cuma biarpun kalian kuberi tahu juga tiada gunanya, sebab Pi-sia-kiam-boh itu berada di tangan tokoh dunia persilatan yang terpuja, itu Locianpwe yang ilmu silatnya paling tinggi dan paling disegani."

"Siapa? Siapa dia?"

Tanya orang banyak.

"Jika kusebut orang ini tentu akan membikin kalian melonjak kaget, boleh jadi kalian nanti akan menyesal tak terhingga,"

Ujar Yu Siok.

"Kenapa mesti menyesal?"

Ujar Thio-hujin.

"Hanya tanya Pi-sia-kiam-boh itu berada di tangan siapa, apakah hal ini berarti suatu dosa besar dan harus masuk neraka?"

"Masuk neraka sih rasanya tidak sampai,"

Sahut Yu Siok sambil menghela napas.

"Cuma sesudah kalian mengetahui kitab pusaka berada di tangan tokoh itu, kukira kalian tentu tak bisa berbuat apa-apa, tapi rasa kalian tetap akan penasaran, pertentangan batin demikian bukankah akan membikin kalian menyesal? Tentang tokoh itu, justru beliau ada hubungan rapat dengan ketua Hoa-san-pay Gak-siansing yang juga hadir di sini ini."

Seketika pandangan semua orang lantas beralih kepada Gak Put-kun. Tapi ketua Hoa-san-pay itu tersenyum saja, katanya di dalam hati.

"Biarkan kau mengoceh sesukamu."

Dalam pada itu Yu Siok tengah mengoceh pula.

"Ya, celakanya Pi-sia-kiam-boh itu justru jatuh di tangan seorang tokoh demikian, ini sungguh ... sungguh ...."

Semua orang sampai menahan napas karena ingin mendengar nama tokoh yang akan disebutkan itu.

Pada saat itulah tiba-tiba dari jauh ada suara derapan kaki kuda diseling suara nyaring menggelindingnya roda kereta.

Agaknya kereta itu sedang mendatangi dengan cepat, hal ini seketika memutuskan ucapan Yu Siok tadi.

Giok-leng Tojin menjadi aseran.

"Lekas katakan, siapa yang memperoleh kiam-boh itu?"

Desaknya.

"Sudah tentu akan kukatakan, kenapa buru-buru?"

Sahut Yu Siok. Sementara itu suara kereta kuda tadi sudah sampai di depan restoran itu dan lantas berhenti. Terdengar suara seorang tua serak sedang bertanya.

"Apakah Lenghou-kongcu berada di sini? Pang kami sengaja mengirimkan kereta untuk menyambut kedatanganmu!"

Karena ingin lekas-lekas mengetahui di mana beradanya Pi-sia-kiam-boh untuk membersihkan rasa curiga sang guru serta ibu-guru dan lain-lain atas dirinya, maka ia tidak lantas menjawab seruan orang di luar itu, tapi tetap tanya kepada Yu Siok.

"Di luar ada orang datang, lekas-lekas kau menerangkan!"

"Hendaklah Kongcu maklum, dengan datangnya orang luar menjadi tidak leluasa untuk kuterangkan urusan ini,"

Sahut Yu Siok. Mendadak terdengar ringkikan kuda yang ramai, kembali datang pula beberapa penunggang kuda dan segera berhenti di luar restoran. Lalu suara seorang yang nyaring keras berseru.

"Ui-lopangcu, apakah engkau juga datang kemari untuk menyambut Lenghou-kongcu?"

Lalu suara seorang tua sedang menjawab.

"Betul, kiranya Suma-tocu sendiri juga datang kemari!"

Orang yang bersuara nyaring keras itu menjengek sekali, menyusul terdengar suara tindakan yang kedengaran sangat berat.

Seorang yang berperawakan tinggi besar telah melangkah masuk ke dalam restoran.

Perawakan si thauto Siu Siong-lian sesungguhnya sudah sangat tinggi besar, tapi kalau dibandingkan pendatang baru ini ternyata masih kalah jauh.

"Suma-tocu, kiranya engkau juga datang?"

Segera Giok-leng Tojin menyapa. Orang tinggi besar yang dipanggil sebagai Suma-tocu itu hanya mendengus sekali saja, ia lantas berseru.

"Yang manakah Lenghou-kongcu adanya? Silakan berkunjung ke Ngo-pah-kang untuk bertemu dengan para kesatria."

Terpaksa Lenghou Tiong memberi salam dan berkata.

"Cayhe Lenghou Tiong berada di sini, aku tidak berani membikin capek Suma-tocu."

"Siaujin (hamba) bernama Suma Toa,"

Sahut Suma-tocu itu.

"Soalnya hamba dilahirkan dengan badan tinggi besar, maka orang tua telah memberi nama Toa (besar) kepadaku. Selanjutnya harap Lenghou-kongcu memanggil aku Suma Toa saja, atau boleh juga saja si A Toa dan tidak perlu pakai Tocu apa segala."

"Ah, mana boleh,"

Ujar Lenghou Tiong. Lalu memperkenalkan Gak Put-kun dan istrinya.

"Kedua orang ini adalah guru dan ibu-guruku."

"Sudah lama aku mengagumi,"

Sahut Suma Toa sambil memberi hormat. Lalu ia berpaling pula dan berkata.

"Penyambutan hamba ini agak terlambat, mohon Kongcu sudi memberi maaf."

Sebenarnya nama Gak Put-kun cukup menggetarkan Bu-lim, siapa pun yang mendengar namanya biasanya tentu bersikap hormat dan segan padanya, apalagi kalau bertemu muka, kebanyakan akan tergetar perasaannya.

Akan tetapi Suma Toa beserta Thio-hujin, Siu Siong-lian dan lain-lain itu semuanya hanya menaruh hormat terhadap Lenghou Tiong saja, terhadap Gak Put-kun jelas mereka merasa acuh tak acuh, jika ada rasa hormat mereka juga timbul lantaran mereka menghormati Lenghou Tiong.

Gak Put-kun sudah menjabat ketua Hoa-san-pay selama lebih 20 tahun, selamanya ia sangat dihormati orang-orang Kangouw.

Tapi orang-orang di hadapannya sekarang ini ternyata tidak memandang sebelah mata padanya, ini jauh lebih menyinggung perasaan daripada orang mencaci maki terang-terangan padanya.

Untung "Kun-cu-kiam"

Gak Put-kun memang seorang sangat sabar dan bisa mengekang perasaan lahirnya, sama sekali ia tidak memperlihatkan rasa gusar dan mendongkol.

Sementara itu pangcu yang she Ui tadi pun sudah melangkah masuk.

Orang ini usianya sudah ada 80-an tahun, jenggotnya yang putih panjang menjulai sampai di depan dada.

Tapi semangatnya tampak masih menyala.

Dia membungkuk tubuh sedikit kepada Lenghou Tiong, lalu berkata.

"Lenghou-kongcu, hamba Ui Pek-liu, banyak anggota pang kami mencari makan di sekitar wilayah sini, tapi tidak sempat menyambut kedatangan Kongcu, sungguh dosa kami pantas dihukum mati."

"Ah, Pangcu terlalu sungkan,"

Sahut Lenghou Tiong sambil membalas hormat.

"Harap Kongcu panggil namaku Ui Pek-liu saja dan tidak perlu pakai Pangcu segala,"

Kata kakek she Ui itu.

"Ah, mana boleh,"

Kata Lenghou Tiong.

"Lenghou-kongcu,"

Ui Pek-liu bicara pula.

"para kesatria sudah berkumpul di Ngo-pah-kang dan sangat ingin menemui Kongcu, maka silakan sekarang juga Kongcu berkunjung ke sana."

Habis ini ia lantas berpaling dan memberi salam kepada Gak Put-kun suami-istri, Thio-hujin, Yu Siok dan lain-lain, katanya.

"Silakan para hadirin juga ikut Lenghou-kongcu ke Ngo-pah-kang sana."

Habis berkata ia terus mendahului jalan di depan sebagai penunjuk jalan diikuti orang banyak.

Ternyata di luar restoran sudah tersedia beberapa buah kereta kuda.

Suma Toa dan Ui Pek-liu mengiringi Lenghou Tiong naik di suatu kereta, beramai-ramai Gak Put-kun suami-istri serta Thio-hujin dan lain-lain juga menumpang kereta yang sudah siap itu dan berangkat.

Tidak terlalu lama, iring-iringan kereta kuda itu berhenti di kaki suatu bukit, mereka turun dari kereta dan berjalan mendaki ke atas bukit itu.

Sampai di atas bukit, ternyata di situ adalah suatu tanah datar yang cukup luas, di tengahnya terbangun sebuah rumah gedek bambu, keadaan sunyi senyap tiada seorang pun.

Pada saat itulah tiba-tiba dari dalam rumah gedek itu terdengar suara "creng"

Satu kali, menyusul bergemalah suara kecapi yang nyaring.

Suma Toa, Ui Pek-liu, Thio-hujin dan lain-lain sama bersuara heran dengan air muka mengunjuk rasa kejut dan tercengang.

Pada saat lain tiba-tiba di luar bukit ada suara seruan orang.

"Kaum setan iblis macam apa yang berada di atas bukit itu?"

Suara orang ini begitu keras berkumandang sehingga anak telinga para jago di atas bukit itu sampai mendengung-dengung.

Suma Toa, Ui Pek-liu, Thio-hujin dan lain-lain segera mengundurkan diri dan menghilang di balik bukit sana.

Melihat begitu gugupnya jago-jago itu, Gak Put-kun menduga orang yang berada di bawah bukit itu pasti lawan yang tangguh.

Agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, maka segera ia pun membawa anak muridnya mengundurkan diri ke belakang bukit.

Maka yang tertinggal hanya Lenghou Tiong seorang yang masih asyik mendengarkan suara kecapi yang berkumandang dari dalam rumah gedek itu.

Pikirnya.

"Bukankah ini adalah suara kecapi yang dipetik oleh si nenek di kota Lokyang itu?"

Sementara itu di bawah bukit ada suara seorang yang sangat keras sedang berkata.

"Kaum setan iblis itu ternyata berani main gila ke Holam sini dan anggap sepi kepada kita."

Habis berkata demikian segera ia perkeras suaranya dan membentak.

"Kawanan bangsat keparat dari manakah yang berani main gila di atas Ngo-pah-kang? Hayo, semuanya laporkan nama kalian!"

Begitu kuat lwekangnya sehingga suaranya berkumandang dan menggetar lembah sekeliling bukit. Mendengar itu diam-diam Lenghou Tiong membatin.

"Pantas Suma Toa dan lain-lain merasa ketakutan dan melarikan diri seketika, agaknya ada tokoh terkemuka dari kaum Cing-pay (aliran baik) yang telah datang mencari perkara."

Diam-diam ia merasa Suma Toa dan lain-lain terlalu penakut, masakan belum ketemu lawan sudah lantas kabur.

Tapi bila pendatang ini sedemikian ditakuti, tentulah kaum cianpwe yang memiliki ilmu silat luar biasa.

Jika sebentar dirinya ditanyai rasanya akan serbasusah juga untuk menjawabnya.

Maka ia pikir ada lebih baik dirinya juga menghindari saja.

Segera ia menggeser ke belakang rumah gedek.

Ia percaya si nenek loyo yang berada di dalam rumah gedek itu pasti takkan dibikin susah oleh pendatang-pendatang itu.

Dalam pada itu suara di dalam rumah gedek itu pun sudah berhenti.

Terdengarlah suara tindakan orang, muncullah tiga orang.

Dua orang di antaranya berjalan dengan tindakan berat, sedangkan seorang lagi sangat enteng.

Kalau tidak diperhatikan dengan cermat jalan orang ketiga ini seakan-akan tidak menimbulkan suara.

Setelah sampai di atas bukit, ketiga orang itu sama bersuara heran.

Agaknya mereka merasa aneh terhadap suasana yang sunyi senyap di atas bukit itu.

Orang yang bersuara nyaring keras tadi telah berkata.

"Kawanan keparat tadi itu sudah pergi ke mana?"

Lalu suara seorang yang lemah lembut menanggapi.

"Tentu karena mereka mendengar kedua tokoh Siau-lim-pay hendak datang ke sini untuk menumpas kawanan setan iblis itu, maka siang-siang mereka sudah melarikan diri dengan mencawat ekor."

"Aha, kukira tidak demikian,"

Ujar seorang lagi sambil tertawa.

"Besar kemungkinan kaburnya mereka, adalah karena jeri kepada wibawa Tam-heng dari Kun-lun-pay."

Begitulah ketiga orang itu lantas bergelak tertawa senang.

Dari suara tertawa mereka yang nyaring memekak telinga itu Lenghou Tiong tahu tenaga dalam ketiga orang itu benar-benar jarang ada bandingannya di dunia persilatan.

Katanya di dalam hati.

"Kiranya dua orang di antara mereka adalah tokoh Siau-lim-pay dan yang satu jago dari Kun-lun-pay. Selama beberapa ratus tahun Siau-lim-pay selalu menjagoi dunia persilatan. Melulu Siau-lim-pay saja namanya sudah jauh lebih tinggi daripada Ngo-gak-kiam-pay kami, kekuatan yang sesungguhnya tentunya juga lebih hebat. Suhu sering mengatakan juga bahwa Kun-lun-pay memiliki ilmu pedang yang tersendiri dan mengutamakan kelincahan serta ketangkasan. Sekarang tokoh-tokoh Siau-lim dan Kun-lun ini bergabung sudah tentu sangat lihai. Boleh jadi mereka bertiga ini adalah pembuka jalan dan di belakang mereka masih akan tiba pula bala bantuan yang lebih kuat. Akan tetapi, lalu mengapa Suhu dan Sunio ikut-ikut menyingkir pergi?"

Tapi sesudah dipikir pula ia lantas paham maksud gurunya itu, Hoa-san-pay tergolong Cing-pay juga, sebagai ketua suatu aliran baik adalah tidak pantas dan akan merasa malu kalau sampai tokoh-tokoh Siau-lim dan Kun-lun melihat gurunya itu bergaul bersama Suma Toa, Ui Pek-liu dan lain-lain yang namanya kurang terhormat.

Maka terdengar tokoh she Tam dari Kun-lun-pay itu sedang berkata pula.

"Tadi kita baru saja mendengar ada suara kecapi di atas bukit ini. Sekarang pemetik kecapi itu sembunyi ke mana lagi? Sin-heng dan Ih-heng, kukira di dalam kejadian ini ada sesuatu yang tidak beres."

Orang she Sin yang bersuara nyaring tadi menjawab.

"Ya, benar, Tam-heng memang sangat cermat. Marilah kita coba menggeledah sekitar sini dan menyeretnya keluar."

"Coba kuperiksa di dalam rumah gedek itu,"

Kata orang she Ih. Tapi baru saja ia berjalan beberapa langkah ke arah rumah gedek segera terdengar suara seorang wanita yang nyaring merdu sedang berkata.

"Aku hanya tinggal sendirian di sini, di tengah malam tidaklah pantas laki-laki dan perempuan mengadakan pertemuan."

Perasaan Lenghou Tiong tergetar seketika mendengar suara itu. Pikirnya.

"Ternyata, benar si nenek dari kota Lokyang itu."

"Eh, kiranya seorang wanita,"

Demikian orang she Sin tadi berkata. Si orang she Ih lantas bertanya.

"Apakah tadi kau yang memetik kecapi?"

"Benar,"

Sahut si nenek.

"Coba kau memetiknya beberapa kali lagi?"

Kata orang she Ih.

"Selamanya tidak saling kenal, mana boleh sembarangan memetik kecapi bagimu,"

Sahut nenek itu.

"Hm, apa dikira kami kepingin? Banyak alasan saja,"

Jengek orang she Sin.

"Di dalam rumah gedek itu pasti ada apa-apa yang ganjil, coba kita masuk memeriksanya."

"Katanya wanita seorang diri, tapi mengapa di tengah malam buta berada di atas Ngo-pah-kang ini? Besar kemungkinan dia adalah begundal kawanan setan iblis itu. Mari kita menggeledah ke dalam,"

Orang she Ih berkata.

Habis itu dengan langkah lebar ia terus berjalan ke pintu rumah gedek.

Mendengar kata-kata mereka itu Lenghou Tiong menjadi naik pitam, tanpa pikir lagi ia lantas menyelinap keluar dari tempat sembunyinya dan merintangi di depan pintu.

Bentaknya.

"Berhenti!"

Sama sekali ketiga orang itu tidak menduga bahwa mendadak bisa muncul seorang dari tempat gelap.

Mereka rada terkejut, namun mereka adalah tokoh-tokoh yang berpengalaman dan terkemuka, sudah tentu mereka anggap sepele sesudah melihat orang yang dihadapi adalah seorang pemuda saja.

"Anak muda, siapa kau? Kerja apa kau main sembunyi-sembunyi di sini?"

Segera orang she Sin balas membentak.

"Cayhe Lenghou Tiong dari Hoa-san-pay menyampaikan salam hormat kepada para Cianpwe dari Siau-lim dan Kun-lun-pay,"

Sahut Lenghou Tiong dengan memberi hormat.

"Apa kau orang Hoa-san-pay?"

Orang she Sin itu mendengus.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Waktu Lenghou Tiong berdiri setegaknya, ia merasa perawakan orang she Sin itu juga tidak terlalu besar, hanya dadanya membusung, pantas suaranya begitu keras.

Laki-laki setengah umur yang lain juga memakai jubah kuning yang serupa dengan orang she Sin, terang inilah orang she Ih yang seperguruan dengan dia.

Orang she Tam dari Kun-lun-pay itu punggungnya menyandang pedang, jubahnya longgar dan lengan bajunya lebar, sikapnya gagah ramah.

"Jadi kau adalah murid Hoa-san-pay yang tergolong Cing-pay, mengapa kau berada di Ngo-pah-kang sini?"

Demikian orang she Ih tadi menegas pula. Memangnya Lenghou Tiong sudah naik pitam ketika mendengar caci maki mereka tadi, maka jawabnya ketus.

"Cianpwe bertiga bukankah juga dari golongan Cing-pay dan bukankah sekarang juga berada di Ngo-pah-kang sini?"

Orang she Tam dari Kun-lun-pay tertawa, katanya.

"Jawaban yang bagus. Tapi apakah kau tahu siapakah wanita yang memetik kecapi di dalam rumah gedek itu?"

"Beliau adalah seorang nenek yang berusia lanjut dan berbudi luhur, seorang tua yang tiada punya persengketaan dengan siapa pun di dunia ini,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Ngaco-belo,"

Semprot si orang she Ih.

"Jelas suara wanita itu nyaring dan lembut, terang usianya masih sangat muda. Mengapa kau bilang nenek tua apa segala?"

"Suara nenek ini memang merdu dan enak didengar, kenapa mesti diherankan?"

Ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Padahal keponakannya saja juga lebih tua dua-tiga puluh tahun daripada kalian jangankan lagi si nenek sendiri."

"Minggir, biar kami masuk untuk melihatnya sendiri,"

Bentak orang she Ih. Tapi Lenghou Tiong menjulurkan kedua tangannya untuk mengadang malah, katanya.

"Popo (nenek) tadi sudah mengatakan bahwa di malam hari tidaklah leluasa kaum lelaki dan wanita mengadakan pertemuan. Apalagi beliau juga tidak pernah kenal kalian, tanpa alasan apa gunanya kalian melihatnya."

Mendadak orang she Ih mengebaskan lengan bajunya, suatu tenaga mahakuat segera menyambar tiba.

Saat itu Lenghou Tiong dalam keadaan lemah, sedikit pun tidak bertenaga lagi, keruan ia tidak sanggup bertahan, kontan ia terdorong jatuh terguling.

Rupanya orang she Ih itu sama sekali tidak menyangka akan kelemahan Lenghou Tiong, ia menjadi tertegun dan berkata.

"Kau benar-benar murid Hoa-san-pay? Huh, kukira kau omong kosong saja!"

Habis berkata segera ia hendak melangkah lagi ke pintu gubuk. Cepat Lenghou Tiong merangkak bangun, ternyata pipinya sudah babak dan lecet sedikit. Segera ia berseru.

"Popo tidak ingin bertemu dengan kalian, mengapa kalian tidak tahu aturan? Aku sendiri sudah pernah bicara cukup lama dengan Popo di kota Lokyang tempo hari, tapi sampai saat ini pun aku belum melihat mukanya."

"Bocah ini bicara tak keruan,"

Semprot orang she Ih.

"Lekas minggir! Apa kau ingin dibanting lagi?"

Namun Lenghou Tiong lantas menjawab.

"Siau-lim-pay adalah suatu aliran besar dan paling dihormati di dunia persilatan, kedua Cianpwe juga tokoh terkemuka. Cianpwe yang itu tentu pula jago ternama dari Kun-lun-pay, tapi sekarang di tengah malam buta kalian bertiga hendak merecoki seorang nenek yang tak bersenjata apa pun, perbuatan kalian apakah takkan dibuat buah tertawaan orang-orang Kangouw?"

"Dasar cerewet, enyah sana!"

Bentak orang she Ih. Mendadak tangan kirinya menampar.

"plok" , dengan telak pipi kiri Lenghou Tiong kena digampar dengan keras. Walaupun tenaga dalam Lenghou Tiong sudah lenyap, tapi dari gerak-gerik orang ia pun tahu dirinya akan diserang. Cepat ia pun berusaha berkelit, celakanya badannya terasa lemas, kaki tidak menurut perintah lagi, pukulan orang she Ih sukar dihindarkan. Keruan tubuhnya sampai berputar dua kali, matanya berkunang-kunang dan kepala pusing tujuh keliling, akhirnya ia jatuh terduduk pula.

"Ih-sute, bocah ini tidak becus ilmu silat, tak perlu buang tempo dengan dia,"

Kata orang she Sin.

"Rupanya kawanan setan iblis tadi sudah kabur semua, marilah kita pergi saja!"

Tetapi orang she Ih menjawab.

"Kawanan setan iblis Sia-pay dari wilayah beberapa provinsi mendadak berkumpul di Ngo-pah-kang sini, dalam sekejapan saja mereka menghilang pula secara cepat. Berkumpulnya aneh, bubarnya juga mencurigakan. Urusan ini harus kita selidiki sejelasnya. Di dalam gubuk ini boleh jadi kita akan menemukan sesuatu."

Sembari berkata tangannya lantas bermaksud mendorong pintu rumah gedek. Saat itu Lenghou Tiong sudah berbangkit kembali, tangannya sudah menghunus pedang, serunya.

"Ih-cianpwe, nenek di dalam gubuk itu pernah menanam budi padaku, maka kau harus menghadapi aku lebih dulu sebelum mengganggu beliau, asal aku masih bernapas jangan harap kau bisa bertindak sesukamu terhadap beliau."

Orang she Ih bergelak tertawa. Katanya.

"Berdasarkan apa kau berani merintangi aku? Apakah mengandalkan pedang yang kau pegang itu?"

"Kepandaian Wanpwe terlalu rendah, mana bisa menandingi tokoh pilihan Siau-lim-pay?"

Sahut Lenghou Tiong.

"Cuma segala urusan harus berdasarkan keadilan dan kebenaran. Untuk bisa memasuki rumah gedek ini kau harus melangkah mayatku lebih dulu."

"Ih-sute, bocah ini ternyata gagah perwira, boleh dikata seorang laki-laki, biarkan dia, mari kita pergi saja,"

Kata pula si orang she Sin. Tapi orang she Ih itu tertawa dan berkata pula terhadap Lenghou Tiong.

"Kabarnya ilmu pedang Hoa-san-pay mempunyai ciri-ciri keistimewaan tersendiri. Malahan terbagi menjadi Kiam-cong dan Khi-cong segala. Kau sendiri dari Kiam-cong atau Khi-cong? Atau Cong kentut apa lagi? Hahahaha!"

Karena ucapannya itu, orang sute Sin dan tokoh Kun-lun-pay yang she Tam menjadi ikut tertawa geli.

"Huh, mentang-mentang lebih kuat, lalu main menang-menangan, apakah beginilah yang disebut kaum Cing-pay?"

Jawab Lenghou Tiong dengan suara lantang.

"Apakah kau benar-benar murid Siau-lim-pay? Kukira, omong kosong belaka!"

Keruan orang she Ih itu sangat gusar. Tangan kanan diangkat, segera ia hendak menghantam ke dada Lenghou Tiong. Tampaknya bila serangannya dilancarkan, seketika juga Lenghou Tiong pasti akan binasa.

"Nanti dulu!"

Seru si orang she Sin.

"Lenghou Tiong, menurut jalan pikiranmu, apakah orang dari Cing-pay lantas tidak boleh bergebrak dengan orang?"

"Setiap orang dari Cing-pay, setiap kali turun tangan harus dapat memberikan alasannya,"

Jawab Lenghou Tiong tegas.

"Baik,"

Kata orang she Ih sambil perlahan-lahan menjulurkan telapak tangannya.

"Aku akan menghitung satu sampai tiga. Bila aku menghitung sampai tiga kali kau masih tetap tidak mau menyingkir, maka tiga batang tulang rusukmu akan kupatahkan."

"Hanya tiga batang tulang rusuk saja apa artinya?"

Sahut Lenghou Tiong sambil tersenyum. Segera orang she Ih mulai menghitung.

"Satu ... dua ...."

"Sobat kecil,"

Sela si orang she Sin.

"Ih-suteku ini selalu melaksanakan apa yang pernah diucapkannya. Lebih baik kau lekas menyingkir saja."

Lenghou Tiong tersenyum. Katanya.

"Mulutku ini pun selalu menepati apa yang pernah diucapkan. Selama Lenghou Tiong masih hidup takkan membiarkan kalian berlaku kurang ajar terhadap Popo."

Habis berkata ia tahu pukulan orang she Ih sewaktu-waktu dapat dilontarkan.

Maka diam ia menarik napas dalam-dalam, ia himpun tenaga seadanya ke lengan kanan, tapi dada lantas terasa sakit, mata berkunang-kunang.

"Tiga!"

Bentak orang she Ih, berbareng ia terus melangkah maju.

Dilihatnya Lenghou Tiong tersenyum-senyum dingin saja membelakangi pintu, sedikit pun tidak bermaksud menyingkir.

Maka tanpa pikir lagi pukulannya, terus dilontarkan.

Seketika Lenghou Tiong merasa napasnya menjadi sesak, tenaga pukulan lawan telah menyambar tiba.

Sekuatnya ia angkat pedangnya terus menusuk, yang diincar adalah titik tengah telapak tangan musuh.

Gerak pedangnya ini baik tempat yang diincar maupun waktunya boleh dikata sangat tepat, sedikit pun tidak meleset.

Ternyata pukulan orang she Ih yang telanjur dilontarkan itu tidak sempat ditarik kembali lagi.

Maka terdengarlah suara "cret", menyusul suara jeritan keras.

"Auuh!"

Nyata ujung pedang Lenghou Tiong telah menusuk tembus telapak tangan orang she Ih itu.

Lekas-lekas orang itu menarik kembali tangannya sehingga terlepas dari sundukan ujung pedang.

Lukanya ini benar-benar amat parah.

Cepat ia melompat mundur.

"sret"

Segera ia melolos keluar pedangnya dan berteriak.

"Anak keparat, kiranya kau hanya berlagak bodoh, tak tahunya ilmu silatmu sangat hebat. Biar ... biar kuadu jiwa saja dengan kau."

Hendaklah dimaklumi bahwa orang she Ih ini adalah tokoh pilihan angkatan kedua Siau-lim-pay pada masa itu.

Baik ilmu pukulan (dengan kepalan maupun telapak tangan) maupun ilmu pedang sudah memperoleh pelajaran murni perguruannya.

Gerak pedang Lenghou Tiong tadi toh tidak kelihatan ada sesuatu yang luar biasa, yang hebat hanya arah yang jitu serta waktunya yang tepat sehingga telapak tangannya itu seakan-akan dijulurkan sendiri untuk ditusuk dan untuk menghindar pun tidak sempat.

Nyata dalam hal ilmu pedang pemuda yang mengaku murid Hoa-san-pay ini sudah mencapai tingkatan yang sukar diukur.

Sesungguhnya Sin, Ih dan Tam bertiga adalah ahli pedang semua, sudah tentu mereka dapat menilai kejadian itu.

Karena tangan kanan terluka, orang she Ih memindahkan pedang ke tangan kiri.

Meski hatinya amat gusar, tapi sekarang ia tidak berani pandang enteng lagi terhadap Lenghou Tiong.

"Sret-sret-sret" , kembali ia melancarkan tiga kali serangan, tapi semuanya hanya serangan pancingan belaka, sampai di tengah jalan segera serangannya ditarik kembali. Dahulu di kelenteng Yok-ong-bio pernah sekaligus Lenghou Tiong membutakan mata 15 orang jago tangguh, walaupun waktu itu tenaga dalamnya juga sudah punah, tapi kalau dibandingkan masih lebih mendingan daripada sekarang, secara beruntun telah mengalami tiga kali cedera pula sehingga untuk mengangkat pedang saja hampir-hampir tidak mampu. Tampaknya tiga kali serangan orang she Ih itu adalah ilmu pedang kelas wahid Siau-lim-pay, maka cepat ia berseru.

"Sesungguhnya Cayhe tidak bermaksud memusuhi ketiga Cianpwe, asalkan kalian sudi meninggalkan tempat ini, maka Cayhe bersedia meminta maaf dengan setulus hati."

"Hm,"

Orang she Ih itu mendengus.

"Sekarang hendak minta ampun rasanya sudah terlambat!"

"Sret" , dengan cepat pedangnya menusuk ke arah leher Lenghou Tiong. Beruntun-runtun Lenghou Tiong telah kena digampar, ia sadar gerak-geriknya sendiri teramat lamban. Serangan lawan ini terang sukar dihindarkan. Tanpa pikir lagi ia pun membarengi menusuk dengan pedangnya. Menyerang belakangan tapi sampai lebih dulu.

"ces" , dengan tepat hiat-to penting di pergelangan tangan orang she Ih telah tertusuk. Tanpa kuasa lagi orang she Ih membuka jarinya sehingga pedangnya jatuh ke tanah. Tatkala itu sang surya sudah mulai mengintip di ufuk timur. Dengan jelas orang she Ih dapat melihat darah segar menetes keluar dari pergelangan tangan sendiri, rumput hijau menjadi merah tersiram oleh darahnya. Untuk sejenak ia termangu-mangu, sungguh ia tidak percaya bahwa di dunia ini bisa terjadi demikian. Selang agak lama barulah ia menghela napas panjang, tanpa bicara lagi ia terus putar tubuh dan melangkah pergi.

"Ih-sute!"

Seru si orang she Sin, segera ia pun menyusul pergi dengan cepat. Orang she Tam mengamat-amati Lenghou Tiong dengan lirikan ragu-ragu. Tanyanya kemudian.

"Apakah saudara benar-benar murid Hoa-san-pay?"

Tubuh Lenghou Tiong terasa sangat lemas dan terhuyung-huyung hendak roboh, sekuatnya ia menjawab.

"Ya, benar."

Keadaan Lenghou Tiong yang parah itu dapat dilihat dengan jelas oleh orang she Tam.

Ia.

pikir biarpun ilmu pedang pemuda ini sangat hebat, asal menunggu lagi sebentar, tanpa diserang juga pemuda itu akan ambruk sendiri.

Jadi di depan matanya sekarang adalah suatu kesempatan bagus yang dapat dipergunakan.

Pikir orang she Tam.

"Tadi kedua tokoh Siau-lim-pay telah dikalahkan oleh pemuda dari Hoa-san-pay ini. Jika sekarang aku dapat merobohkan dia, kutangkap dia dan membawanya ke Siau-lim-si untuk diserahkan kepada Hongtiang, jalan demikian bukan saja berarti Siau-lim-si utang budi padaku, bahkan pamor Kun-lun-pay juga dapat dijunjung lebih tinggi di daerah Tionggoan."

Bab 56. Si Nenek Aneh dan Ketua Siau-lim-si Sesudah ambil keputusan licik itu, segera ia melangkah maju, katanya sambil tersenyum.

"Anak muda, ilmu pedangmu sungguh hebat. Marilah kita coba-coba ilmu pukulan saja."

Melihat sikap orang she Tam itu segera Lenghou Tiong dapat meraba apa maksud tujuannya.

Diam-diam ia menggerutu akan kelicikan jahanam Kun-lun-pay ini, perbuatannya ini bahkan lebih jahat daripada orang she Ih dari Siau-lim-pay tadi.

Tanpa pikir lagi segera ia angkat pedang terus menusuk ke bahu lawan.

Tak tersangka, baru saja pedangnya terangkat atau lengannya sudah terasa lemas, sedikit pun tidak bertenaga.

"Trang", pedang lantas jatuh ke tanah. Keruan orang she Tam itu sangat girang.

"Brak" , kontan ia melancarkan pukulan, dengan tepat dada Lenghou Tiong kena disodok oleh telapak tangannya.

"Huekk" , tanpa ampun lagi darah segar lantas menyembur keluar dari mulut Lenghou Tiong. Jarak kedua orang itu sangat dekat, darah segar yang ditumpahkan Lenghou Tiong itu tepat menyembur ke arah muka orang she Tam. Lekas-lekas orang she Tam itu mengegos kepala untuk menghindar, tapi tidak urung ada sebagian kecil menciprat di atas mukanya, bahkan ada beberapa titik jatuh ke dalam mulutnya. Ia pun tidak ambil pusing walaupun mulutnya merasakan anyirnya darah. Ia khawatir Lenghou Tiong menjemput pedang kembali melancarkan serangan balasan, maka cepat telapak tangannya diangkat, kembali ia hendak menghantam pula. Tapi mendadak kepalanya terasa pening dan mata berkunang-kunang, seketika ia pun roboh terguling. Tentu saja Lenghou Tiong terheran-heran. Ia tidak habis mengerti mengapa musuh yang sudah menang itu kok mendadak roboh sendiri malah. Ia tidak tahu bahwa ia pernah minum arak beracun "Ngo-hoa-lo-tek-ciu"

Antaran dari Ngo-tok-kau (agama pancabisa/racun), di dalam darahnya telah mengandung racun yang keras, untung dia telah minum Siok-beng-pat-wan (delapan biji pil penyambung nyawa) milik Lo Thau-cu, kadar racun di dalam darahnya telah diperlunak oleh obat mujarab itu sehingga jiwanya tidak berbahaya.

Tapi darahnya yang berbisa itu sekarang menciprat ke dalam mulut orang she Tam, keruan ia tidak tahan.

Masih untung baginya darah yang menciprat ke dalam mulutnya itu hanya beberapa titik kecil saja sehingga jiwanya tidak sampai melayang seketika.

Dalam pada itu sang surya telah mulai memancarkan sinarnya, wajah orang she Tam itu tampak jelas bersemu hitam kebiru-biruan, kulit mukanya tiada hentinya berkejang, berkerut-kerut, keadaannya sangat aneh dan menyeramkan.

"Kau bermaksud membinasakan diriku, tapi kau sendiri ketularan,"

Kata Lenghou Tiong.

Waktu ia memandang sekelilingnya, ternyata di atas Ngo-pah-kang itu tiada bayangan seorang pun.

Yang ada hanya suara kicauan burung, di atas tanah banyak tersebar macam-macam senjata dan cawan arak serta macam-macam perabot lain, keadaannya rada ganjil.

Sesudah mengusap mulutnya yang berdarah, lalu Lenghou Tiong berkata.

"Popo, apakah baik-baik saja selama berpisah?"

"Saat ini Kongcu jangan banyak buang tenaga lagi, silakan duduk mengaso saja,"

Kata si nenek di dalam rumah gedek.

Lenghou Tiong memang merasa seluruh badannya sudah lemas lunglai, segera ia menurut dan berduduk.

Lalu terdengar suara kecapi berkumandang pula dari dalam rumah gedek itu, suaranya ulem, bening dan merdu, badannya terasa segar seakan-akan disaluri oleh suatu hawa hangat, hawa hangat ini terus mengalir pula ke sekeliling anggota badannya.

Selang agak lama, suara kecapi itu makin lama makin rendah, sampai akhirnya hampir-hampir tak terdengar dan entah mulai berhenti sejak kapan.

Ketika mendadak Lenghou Tiong merasa semangatnya terbangkit, segera ia berdiri, ia memberi hormat dalam-dalam dan berkata.

"Banyak terima kasih atas tabuhan sakti Popo sehingga banyak memberi manfaat bagi Wanpwe."

"Tanpa kenal bahaya kau telah menghalaukan musuh bagiku sehingga aku tidak sampai dihina kawanan bangsat itu, akulah yang harus berterima kasih padamu,"

Kata si nenek.

"Mana boleh berkata demikian, apa yang kulakukan adalah kewajiban yang layak,"

Ujar Lenghou Tiong. Nenek itu tidak bicara lagi untuk sejenak, kecapinya mengeluarkan suara "cring-creng, cring-creng"

Yang perlahan, agaknya tangan si nenek tetap memetik kecapinya, tapi pikirannya sedang melayang-layang seakan-akan ada sesuatu persoalan yang susah diambil keputusan.

Selang agak lama barulah ia bertanya.

"Sekarang kau akan ... akan ke mana?"

Pertanyaannya ini membikin darah Lenghou Tiong seketika bergolak memenuhi dadanya, ia merasa dunia seluas ini seakan-akan tiada tempat berpijak baginya.

Tanpa merasa ia terbatuk-batuk, sampai lama baru ia dapat menghentikan batuknya itu, lalu menjawab.

"Aku ... aku tidak tahu harus ke mana?"

"Apa kau tidak pergi mencari guru dan ibu-gurumu? Tidak pergi mencari Sute dan ... dan Sumoaymu?"

Tanya si nenek.

"Mereka ... mereka entah sudah pergi ke mana, lukaku rada parah, aku tidak sanggup mencari mereka. Seumpama dapat menemukan mereka juga ... juga, aiii!"

Lenghou Tiong menghela napas panjang dan membatin.

"Ya, seumpama sudah ketemukan mereka, lalu mau apa? Mereka toh tidak suka padaku lagi."

"Jika lukamu tidak ringan, mengapa kau tidak mencari suatu tempat yang baik, yang cocok untuk menghibur hatimu yang lara daripada kau berduka dan menyesal percuma."

"Hahaha! Ucapan Popo memang benar juga. Soal mati-hidupku sebenarnya tidak kupikirkan. Tapi biarlah sekarang juga Wanpwe mohon diri untuk pergi pesiar dan mencari suatu tempat yang indah,"

Sembari berkata ia terus memberi hormat ke arah rumah gedek, lalu putar tubuh dan melangkah pergi. Baru dia berjalan beberapa tindak, mendadak terdengar seruan si nenek.

"Apakah kau ... sekarang juga lantas pergi?"

Lenghou Tiong menghentikan langkahnya dan mengiakan. Kata pula si nenek.

"Tapi lukamu tidak ringan, kau mengadakan perjalanan seorang diri, di tengah jalan tak ada orang yang menjaga kau, hal ini tentu akan menyusahkan kau."

Hati Lenghou Tiong menjadi terharu demi mendengar ucapan si nenek yang simpatik itu. Jawabnya.

"Banyak terima kasih atas perhatian Popo. Penyakitku ini terang tak bisa disembuhkan lagi. Mati lebih cepat atau lambat dan mati di mana saja bagiku tiada banyak bedanya."

"O, kiranya demikian,"

Kata si nenek.

"Cuma ... cuma, kalau kau sudah pergi, lalu orang jahat dari Siau-lim-pay itu putar balik ke sini, lantas bagaimana? Tam Tik-jin, orang Kun-lun-pay ini hanya jatuh pingsan saja, sesudah siuman boleh jadi ia pun akan mencari perkara padaku."

"Kau hendak ke mana Popo? Biar aku mengantarkan kau,"

Kata Lenghou Tiong.

"Baik sekali maksudmu ini. Cuma untuk ini rasanya ada suatu kesukaran dan mungkin akan membikin susah padamu."

"Membikin susah padaku? Sedangkan jiwaku ini saja adalah Popo yang menyelamatkan, kenapa pakai membikin susah padaku atau tidak?"

Nenek itu menghela, napas, katanya.

"Aku ada seorang musuh yang sangat lihai, dia telah mencari aku ke kota Lokyang sana, terpaksa aku menyingkir ke sini, tapi rasanya tidak lama lagi ia pun akan menyusul kemari, dalam keadaan payah sehingga tidak mampu bergebrak dengan dia. Aku hanya ingin mencari suatu tempat yang baik untuk menghindarinya sementara waktu. Kelak aku sudah mengumpulkan bala bantuan baru aku akan membikin perhitungan dengan dia. Namun untuk minta kau mengantar dan mengawal aku, pertama, kau sendiri terluka, kedua, kau adalah seorang pemuda yang lincah dan gagah, bila mengiringi seorang nenek apakah kau takkan merasa kesal?"

"Hahaha, kukira Popo ada apa-apa yang sukar dilakukan, tak tahunya hanya soal sepele ini,"

Seru Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Popo hendak ke mana biarlah aku mengantarmu, ke ujung langit sekalipun asalkan aku masih belum mati pasti akan kukawal juga ke sana."

"Jika demikian harus membikin capek padamu,"

Kata si nenek, agaknya merasa sangat senang.

"Apakah betul ke ujung langit sekalipun juga, kau akan mengantar aku ke sana?"

"Benar, tak peduli ke ujung langit atau ke pojok samudra pasti Lenghou Tiong akan mengantar Popo ke sana."

"Tapi ada lagi suatu kesukaran yang lain."

"Kesukaran apa lagi?"

"Wajahku ini sangat jelek, siapa pun yang melihat mukaku pasti akan kaget setengah mati, sebab itulah aku tidak ingin memperlihatkan muka asliku kepada orang. Untuk ini kau harus menerima suatu syaratku bahwa di mana pun dan dalam keadaan apa pun juga kau tak boleh memandang sekejap saja padaku. Tidak boleh memandang mukaku, dilarang melihat perawakan dan kaki atau tanganku, juga dilarang memandang bajuku atau sepatuku."

"Hati Wanpwe sepenuhnya menghormati Popo, aku merasa terima kasih atas perhatian Popo terhadap diriku. Adapun mengenai keadaan wajah Popo apa sih sangkut pautnya?"

"Jika kau tidak dapat menerima syaratku ini, maka bolehlah kau pergi saja sesukamu."

"Baik, baik, kuterima baik, tak peduli di mana dan dalam keadaan apa pun juga aku pasti takkan memandang berhadapan kepada Popo."

"Bayangan ke belakangku pun tidak boleh dipandang,"

Si nenek menambahkan. Diam-diam Lenghou Tiong membatin.

"Masakah sampai bayangan belakangmu juga amat buruk untuk dipandang? Bayangan belakang yang paling jelek di dunia ini tidak lebih dari manusia bungkuk, orang kerdil. Tapi ini pun tidak menjadi soal bagiku. Namun sepanjang jalan sampai-sampai bayangan belakang pun aku dilarang memandangnya, lalu cara bagaimana aku harus mengawal kau, kan runyam?"

Melihat Lenghou Tiong merasa ragu-ragu dan tidak menjawab, segera si nenek menegas.

"Apakah kau tidak sanggup?"

"Sanggup, pasti sanggup. Bila aku sampai memandang sekejap saja kepada Popo, biarlah nanti aku mengorek biji mataku sendiri."

"Asal kau ingat baik-baik saja janjimu ini. Nah, sekarang kau jalan di depan, biar aku mengintil dari belakang."

"Baik,"

Sahut Lenghou Tiong terus mulai berjalan ke bawah bukit.

Terdengar suara tindakan halus di belakangnya, nyata nenek itu telah menyusulnya.

Belasan meter jauhnya, tiba-tiba si nenek mengangsurkan sebatang ranting kayu, katanya.

"Kau gunakan ini sebagai tongkat, jalan perlahan-lahan saja."

Lenghou Tiong mengiakan pula. Dengan tongkat darurat itu ia menuruni bukit itu dan ternyata tidak begitu payah langkahnya. Sesudah sekian jauhnya, tiba-tiba ia ingat sesuatu, tanyanya.

"Popo, orang she Tam dari Kun-lun-pay itu kok kau kenal namanya?"

"Ya,"

Sahut si nenek.

"Tam Tik-jin itu adalah jago nomor tiga di antara anak murid angkatan kedua Kun-lun-pay, dalam hal ilmu pedang ia sudah memperoleh enam atau bagian dari kepandaian gurunya. Dibandingkan toasuheng dan jisuhengnya juga masih selisih jauh. Sedangkan ilmu pedang orang Siau-lim-pay yang tinggi besar yang bernama Sin Kok-liong itu pun jauh lebih tinggi daripada dia."

"O, kiranya si gede itu bernama Sin Kok-liong. Masih kenal aturan juga dia daripada orang she Ih itu."

"Sutenya itu bernama Ih Kok-cu, orang ini memang lebih kurang ajar. Tadi sekali tusuk kau menembus telapak tangannya, lalu pedangmu melukai pergelangannya pula. Kedua kali serangan itu sungguh sangat bagus."

"Ah, itu hanya karena terpaksa saja,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Kini aku menjadi mengikat permusuhan dengan Siau-lim-pay, bahaya di kemudian hari tentu takkan habis-habis."

"Apanya yang hebat hanya Siau-lim-pay saja?"

Jengek si nenek.

"Kita pun belum tentu kalah dengan mereka. Tadi aku sama sekali tidak menduga bahwa Tam Tik-jin itu bisa menghantam kau, lebih-lebih tidak nyana kau akan muntah darah."

"Eh, jadi Popo telah mengikuti semua kejadian tadi? Aku pun tidak tahu mengapa Tam Tik-jin itu mendadak bisa jatuh tak sadarkan diri?"

"Masakah kau sendiri pun tidak tahu?"

Si nenek menegas.

"Di dalam darahmu banyak terserap racun jahat dari Ngo-tok-kau, yaitu gara-gara perbuatan wanita siluman Na Hong-hong, itu Kaucu dari Ngo-tok-kau. Rupanya darahmu menciprat ke dalam mulutnya Tam Tik-jin, keruan ia tidak tahan."

Baru sekarang Lenghou Tiong paham duduknya perkara.

"O, kiranya demikian. Tapi aku sendiri mengapa malah tapi aku sendiri mengapa malah tahan, sungguh aneh. Selamanya aku tiada punya permusuhan apa-apa dengan Na-kaucu dari Ngo-tok-kau itu, entah sebab apa dia sengaja meracuni aku?"

"Siapa bilang dia sengaja meracuni kau?"

Sahut si nenek.

"Dia justru bermaksud baik terhadapmu. Hm, dia berkhayal akan menyembuhkan penyakitmu yang aneh. Dia sengaja menyalurkan racun ke dalam darahmu agar jiwamu tidak berbahaya. Cara demikian adalah cara kesukaan Ngo-tok-kau mereka."

"Ya, makanya. Memang aku pun tiada punya permusuhan apa-apa dengan Na-kaucu, masakan tanpa sebab dia hendak membikin celaka padaku."

"Sudah tentu dia tidak bermaksud membikin celaka padamu. Bahkan ia justru ingin memberikan kebaikan padamu sebisanya."

Lenghou Tiong tersenyum. Lalu tanya pula.

"Entah Tam Tik-jin itu bisa mati atau tidak?"

"Ini harus tergantung kepada kekuatan lwekangnya. Entah darah berbisa yang menciprat ke dalam mulutnya itu sedikit atau banyak?"

Bila membayangkan muka Tam Tik-jin yang kejang dan berkerut-kerut sesudah terkena racun tadi, tanpa merasa Lenghou Tiong bergidik sendiri.

Kira-kira beberapa li jauhnya, sampailah mereka di tempat yang datar.

Tiba-tiba si nenek berkata.

"Coba pentang telapak tanganmu!"

Lenghou Tiong mengiakan dengan heran karena tidak tahu permainan apa yang hendak dilakukan nenek itu. Tapi segera ia pun membuka tangannya.

"pluk" , mendadak terdengar suara perlahan, ada sesuatu benda kecil tertimpuk ke tengah telapak tangannya dari arah belakang. Waktu diperiksa, kiranya adalah sebutir obat pil sebesar biji lengkeng.

"Telanlah obat itu dan duduk mengaso di bawah pohon besar sana,"

Kata si nenek. Sesudah mengiakan pula, segera Lenghou Tiong masukkan pil itu ke dalam mulut dan ditelannya tanpa pikir.

"Aku ingin memperoleh perlindungan ilmu pedangmu yang sakti untuk menjaga keselamatanku, makanya aku mau memberikan obatku ini untuk mempertahankan jiwamu supaya kau tidak mati mendadak dan aku kehilangan pengawal yang kuandalkan,"

Demikian kata si nenek.

"Jadi bukan maksudku hendak ... hendak berbaik hati kepadamu, lebih-lebih aku tidak bermaksud menolong jiwamu. Untuk ini hendaklah kau ingat betul-betul."

Kembali Lenghou Tiong mengiakan saja, sampai di bawah pohon, segera ia duduk mengaso bersandar di batang pohon.

Di dalam perut tiba-tiba terasa ada suatu hawa hangat perlahan-lahan menyongsong ke atas, seakan-akan timbul tenaga baru yang tak terbatas menyusup ke berbagai isi perut serta urat-urat nadinya.

Diam-diam ia, merenung.

"Obat pil tadi jelas banyak memberi manfaat kepada kesehatan badanku, tapi si nenek justru tidak mau mengaku telah memberi kebaikan padaku, katanya pula aku hanya hendak diperalat sebagai pengawalnya saja. Sungguh aneh, padahal di dunia ini umumnya orang justru tidak mau mengaku bahwa dia telah memperalat orang lain, masakah kini dia justru sengaja menyatakan hendak memperalat diriku, padahal tidak?"

Lalu terpikir pula olehnya.

"Tadi waktu dia melemparkan pil itu ke dalam tanganku, pil itu jatuh di telapak tangannya tanpa mencelat jatuh, caranya melemparkan tadi terang menggunakan semacam tenaga lunak yang sangat tinggi dalam ilmu lwekang. Jadi jelas ilmu silatnya jauh lebih tinggi daripadaku, mengapa dia menghendaki pengawalanku? Tapi, ai, biarlah, apa yang dia inginkan biar aku menurutkan saja."

Hanya duduk sebentar saja Lenghou Tiong lantas berbangkit, katanya.

"Marilah kita melanjutkan perjalanan. Apakah Popo masih lelah?"

"Ya, aku sangat letih, biarlah kita mengaso sebentar lagi,"

Sahut si nenek.

"Baik,"

Lenghou Tiong pikir usia si nenek tentu sudah amat lanjut, sekalipun ilmu silatnya sangat tinggi dalam hal tenaga tentu tak bisa sama dengan orang muda.

Maka kembali ia duduk pula di tempatnya.

Selang sejenak pula barulah si nenek berkata.

"Marilah berangkat!"

Lenghou Tiong mengiakan dan segera mendahului berjalan di depan dan si nenek tetap mengintil dari belakang.

Sesudah makan obat tadi, seketika Lenghou Tiong merasa langkahnya menjadi jauh lebih enteng dan cepat daripada sebelumnya.

Ia menurut petunjuk si nenek, yang dipilih selalu adalah jalan kecil yang sepi.

Kira-kira belasan li jauhnya, mereka telah memasuki jalan pegunungan yang berliku-liku dan berbatu.

Setelah membelok suatu lereng, tiba-tiba terdengar suara seorang sedang berkata.

"Lekas kita makan dan secepatnya meninggalkan tempat berbahaya ini."

Lalu terdengar suara beberapa puluh orang sama mengiakan.

Lenghou Tiong menghentikan langkahnya, dilihatnya di tanah rumput di tepi tebing sana ada beberapa puluh orang laki-laki sedang duduk makan minum.

Pada saat itulah orang-orang itu pun juga sudah melihat Lenghou Tiong, seorang di antaranya lantas mendesis.

"Itulah Lenghou-kongcu!"

Samar-samar Lenghou Tiong juga masih dapat mengenal orang-orang itu yang beramai-ramai ikut datang ke atas Ngo-pah-kang tadi malam.

Baru saja ia bermaksud menyapa, sekonyong-konyong beberapa puluh orang itu tiada satu pun yang bersuara pula, semuanya diam sebagai bisu, pandang mereka sama terbelalak ke belakang Lenghou Tiong.

Air muka orang-orang itu sangat aneh, ada yang sangat ketakutan, ada yang kaget dan gugup sekali seakan-akan mendadak ketemukan sesuatu yang sukar dilukiskan, sesuatu yang sukar dihadapi.

Melihat keadaan demikian seketika Lenghou Tiong bermaksud menoleh untuk melihat apa yang berada di belakangnya sehingga membuat beberapa puluh orang itu sesaat itu termangu seperti patung?

Tapi segera ia lantas sadar bahwa sebabnya orang-orang itu bersikap demikian tentu karena mendadak melihat si nenek yang ikut di belakangnya itu.

Padahal dirinya sendiri telah berjanji takkan memandang sekejap pun kepadanya.

Maka cepat ia tarik kembali lehernya sendiri yang sudah setengah tergeser itu.

Sungguh tidak habis herannya, mengapa orang-orang itu lantas sedemikian kaget dan takut demi melihat si nenek?

Apakah benar-benar muka si nenek sangat aneh, lain daripada manusia, yang lain?

Tiba-tiba seorang laki-laki di antaranya berbangkit, belati diangkat terus ditikamkan ke arah sepasang matanya sendiri, seketika darah segar bercucuran.

Keruan kaget Lenghou Tiong tak terperikan.

"Kenapa kau berbuat demikian?"

Teriaknya.

"Mata hamba ini sudah buta sejak tiga hari yang lalu dan tidak dapat melihat apa-apa lagi!"

Teriak orang itu. Menyusul dua orang lagi lantas mencabut goloknya masing-masing untuk membutakan matanya sendiri, semuanya berseru.

"Mata hamba sudah lama buta, segala apa tidak bisa lihat lagi!"

Sungguh kejut dan heran Lenghou Tiong tak terkatakan.

Dilihatnya laki-laki yang lain beramai-ramai juga melolos senjata masing-masing dan bermaksud membutakan matanya sendiri-sendiri.

Cepat ia berseru.

"Hei, hei! Nanti dulu! Ada urusan apa dapat dibicarakan dengan baik-baik, tapi jangan membutakan matanya sendiri. Sebenarnya apa ... apakah sebabnya?"

Seorang di antaranya menjawab dengan sedih.

"Sebenarnya hamba berani bersumpah bahwa sekali-kali hamba takkan banyak mulut, cuma hamba khawatir tak dipercayai."

"Popo,"

Seru Lenghou Tiong.

"harap engkau menolong mereka dan suruh mereka jangan membutakan matanya sendiri."

"Baik, aku dapat memercayai kalian,"

Tiba-tiba si nenek bersuara.

"Di lautan timur ada sebuah Boan-liong-to (pulau naga melingkar), apakah di antara kalian ada yang tahu?"

"Ya, pernah kudengar cerita orang bahwa kira-kira 500 li di tenggara Coanciu di provinsi Hokkian ada sebuah pulau Boan-liong-to yang tak pernah dijejaki manusia, keadaan pulau itu sunyi senyap dan terpencil,"

Demikian sahut seorang tua.

"Nah, memang pulau itulah yang kumaksudkan,"

Kata si nenek.

"Sekarang juga kalian segera berangkat pesiarlah ke pulau itu, selama hidup ini tak perlu lagi pulang ke Tionggoan sini."

Serentak puluhan orang itu mengiakan dengan rasa kegirangan. Seru mereka.

"Baik, segera kami akan berangkat."

"Sepanjang jalan kami pasti takkan bicara apa pun juga dengan orang lain!"

"Kalian akan bicara atau tidak peduli apa dengan aku?"

Kata si nenek.

"Ya, benar! Memang hamba yang ngaco-belo tak keruan!"

Seru orang itu sembari angkat tangan dan menempeleng mukanya sendiri.

"Enyahlah!"

Kata si nenek.

Tanpa bersuara lagi puluhan laki-laki itu lantas berlari-lari pergi seperti kesetanan.

Tiga orang di antaranya yang matanya buta telah diusung oleh teman-temannya, dalam sekejap saja mereka sudah menghilang di kejauhan.

Diam-diam Lenghou Tiong terkesiap.

Pikirnya.

"Hanya sepatah kata si nenek saja orang-orang itu sudah digebah mengasingkan diri ke pulau terpencil di lautan timur dan dilarang pulang untuk selama hidup. Tapi orang-orang itu tidak bersusah, sebaliknya kegirangan setengah mati seperti mendapat pengampunan saja. Seluk-beluk urusan ini benar-benar membikin aku tidak habis mengerti."

Tanpa bersuara Lenghou Tiong meneruskan perjalanan ke depan, pikirannya bergolak dengan hebat, ia merasa nenek yang mengikut di belakangnya itu benar-benar manusia aneh yang selamanya belum pernah didengar dan dilihatnya.

Pikirnya.

"Semoga sepanjang jalan nanti jangan bertemu pula dengan kawan-kawan yang pernah berkumpul di Ngo-pah-kang itu. Padahal dengan penuh simpatik mereka datang dengan maksud hendak menyembuhkan penyakitku, tapi kalau mereka kepergok dengan nenek, tentu mereka akan membutakan matanya sendiri atau dihukum buang ke pulau terpencil, jika demikian bukankah mereka sangat penasaran?"

Setelah beberapa li lagi, jalanan makin berliku dan makin terjal. Tiba-tiba terdengar di belakang mereka ada orang berteriak.

"Hah, yang berjalan di depan itulah Lenghou Tiong."

Suara orang itu sangat nyaring dan keras, sekali dengar lantas dikenal adalah suaranya Sin Kok-liong dari Siau-lim-pay itu.

"Aku tidak ingin bertemu dengan dia, boleh kau melayani sekadarnya,"

Kata si nenek.

Lenghou Tiong mengiakan.

Lalu terdengar suara gemeresik disertai berguncangnya semak-semak rumput di tepi jalan.

Agaknya si nenek telah menyusup ke dalam semak-semak.

Maka terdengar suaranya Sin Kok-liong sedang berkata pula.

"Susiok, Lenghou Tiong itu terluka, tentu dia tak bisa berjalan cepat."

Jaraknya waktu itu sebenarnya masih cukup jauh, tapi suara Sin Kok-liong betul-betul teramat keras, hanya bicara biasanya saja suaranya sudah dapat didengar dengan jelas oleh Lenghou Tiong.

"Kiranya dia tidak sendirian, tapi membawa pula seorang susioknya,"

Demikian Lenghou Tiong membatin.

Ia pikir akhirnya toh akan tersusul, buat apa capek-capek berjalan lebih jauh.

Segera ia berduduk di tepi jalan untuk menunggu.

Tidak lama kemudian terdengarlah suara tindakan orang.

Beberapa orang telah muncul.

Sin Kok-liong dan Ih Kok-cu termasuk di antaranya.

Selain mereka ada pula dua orang hwesio dan seorang laki-laki setengah umur.

Laki-laki itu dan Ih Kok-cu berjalan paling belakang, kedua hwesio itu yang seorang usianya sudah sangat lanjut, mukanya, penuh berkeriput.

Hwesio yang lain baru berumur 40-an, tangannya membawa Hong-pian-jan (tongkat kaum hwesio).

Segera Lenghou Tiong berbangkit dan memberi hormat, sapanya.

"Wanpwe Lenghou Tiong dari Hoa-san-pay menyampaikan salam hormat kepada para Cianpwe dari Siau-lim-pay. Numpang tanya siapakah gelaran Cianpwe yang mulia?"

"Anak ...."

Baru Ih Kok-cu hendak mendamprat, tiba-tiba si hwesio tua sudah membuka suara.

"Gelar Lolap adalah Hong-sing."

Karena si padri tua membuka suara, terpaksa Ih Kok-cu tutup mulut seketika. Tapi wajahnya masih mengunjuk rasa murka, agaknya dia masih keki karena kecundangnya tadi.

"Terimalah hormatku, Taysu,"

Lenghou Tiong menjalankan penghormatan pula. Hong-sing manggut-manggut, katanya dengan ramah tamah.

"Siauhiap tidak perlu banyak adat. Apakah gurumu Gak-siansing baik-baik saja?"

Semula waktu dirinya dikejar sebenarnya hati Lenghou Tiong rada khawatir dan kebat-kebit.

Tapi kini sesudah melihat sikap Hong-sing yang ramah, terang seorang padri yang saleh dan beragama tinggi.

Ia tahu padri Siau-lim-si yang pakai gelaran "Hong"

Adalah angkatan tertua pada zaman ini, Hong-sing ini pastilah saudara seperguruan dengan Hong-ting, ketua Siau-lim-si yang sekarang.

Maka ia menduga padri tua ini pasti tidak kasar seperti Ih Kok-cu.

Seketika legalah hati Lenghou Tiong.

Dengan penuh hormat ia lantas menjawab.

"Berkat doa restu Taysu, guru baik-baik saja."

"Keempat orang ini adalah Sutitku,"

Hong-sing memperkenalkan.

"Padri ini bergelar Kat-gwe, yang ini adalah Ui Kok-pek Sutit dan yang itu adalah Sin Kok-liong dan Ih Kok-cu Sutit. Kedua Sutitku yang tersebut belakangan ini sudah kau kenal bukan?"

"Ya, keempat Cianpwe terimalah hormatku,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Wanpwe dalam keadaan terluka sehingga tak bisa menjalankan peradatan yang sempurna, diharap para Cianpwe sudi memberi maaf."

"Hm, kau terluka?"

Jengek Ih Kok-cu.

"Apa kau benar-benar terluka?"

Hong-sing menegas.

"Kok-cu, apakah kau yang melukai dia?"

"Ah, hanya sedikit salah paham saja tidak menjadi soal,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Dengan angin kebasan lengan baju Ih-cianpwe telah membanting jatuh Wanpwe ditambah lagi pukulan satu kali. Untungnya tidak sampai mati maka Taysu tak perlu mengomeli Ih-cianpwe."

Dasar Lenghou Tiong memang pintar putar lidah, datang-datang ia lantas menyatakan dirinya terluka parah dan menimpakan segala tanggung jawab kepada Ih Kok-cu, ia menduga Hong-sing pasti tidak dapat membiarkan keempat sutitnya membikin susah lagi padanya.

Maka segera ia menambahkan pula.

"Apa yang terjadi telah disaksikan juga oleh Sin-cianpwe. Namun dengan kesudian Taysu berkunjung kemari, betapa pun Wanpwe sudah merasa mendapat kehormatan besar dan pasti takkan memberi lapor kepada guruku. Taysu boleh tak usah khawatir, biarpun lukaku cukup parah juga pasti takkan menimbulkan persengketaan antara Ngo-gak-kiam-pay dengan Siau-lim-pay."

Dengan kata-katanya ini menjadi seperti lukanya yang parah dan sukar sembuh itu adalah karena kesalahan Ih Kok-cu. Keruan Ih Kok-cu sangat gemas.

"Kau ... kau ngaco-belo belaka. Memangnya kau sudah terluka parah sebelumnya."

"Eh, hal ini jangan sekali-kali Ih-cianpwe menyinggungnya,"

Ujar Lenghou Tiong pura-pura gegetun.

"Jika ucapanmu ini sampai tersiar bukankah akan sangat merugikan nama baik Siau-lim-si?"

Diam-diam Sin Kok-liong, Ui Kok-pek dan Kat-gwe bertiga mengangguk. Mereka tahu padri Siau-lim-si dari angkatan "Hong"

Adalah tingkatan yang tertinggi, walaupun berbeda dari golongan-golongan yang tergabung dalam Ngo-gak-kiam-pay, tapi kalau diurutkan menurut tingkatan masing-masing, maka angkatan "Hong"

Dari Siau-lim-si masih lebih tua satu angkatan daripada para ketua Ngo-gak-kiam-pay.

Sebab itulah Sin Kok-liong, Ih Kok-cu dan lain-lain juga jauh lebih tinggi kedudukannya daripada angkatannya Lenghou Tiong.

Pertarungan antara Ih Kok-cu dan Lenghou Tiong sudah merendahkan diri Ih Kok-cu, karena dia lebih tua dan lebih tinggi angkatannya, apalagi waktu itu dari pihak Siau-lim-pay mereka hadir dua orang, sebaliknya Lenghou Tiong cuma seorang diri, lebih-lebih sebelum bergebrak Lenghou Tiong sudah terluka.

Kalau menurut peraturan tata tertib Siau-lim-pay yang keras, jika Ih Kok-cu benar-benar memukul mati seorang anak muda dari Hoa-san-pay, sekalipun tidak sampai mengganti nyawa, paling sedikit juga akan dijatuhi hukuman memunahkan ilmu silatnya dan dipecat dari perguruan.

Karena itulah wajah Ih Kok-cu seketika menjadi pucat.

"Coba kau kemari, Siauhiap, biar kuperiksa keadaan lukamu,"

Kata Hong-sing pula. Lenghou Tiong mendekatinya. Segera Hong-sing menggunakan tangan kanan untuk memegang pergelangan tangan Lenghou Tiong, jarinya menekan di tempat "Tay-yan-hiat"

Dan "Keng-ki-hiat".

Tapi mendadak terasa dari tubuh Lenghou Tiong timbul semacam tenaga dalam yang aneh, sekali getar jarinya lantas terpental buka.

Berdetak juga perasaan Hong-sing.

Dia adalah tokoh terkemuka yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari dari angkatan tua Siau-lim-pay pada zaman ini, tapi jarinya sekarang ternyata bisa terpental balik oleh tenaga dalam seorang pemuda, hal ini benar-benar tak pernah terpikirkan olehnya.

Ia tidak tahu bahwa di dalam tubuh Lenghou Tiong sudah tercakup tenaga murni tujuh jago lihai, yaitu dari Tho-kok-lak-sian dan Put-kay Hwesio.

Betapa pun tinggi ilmu silat Hong-sing, dalam keadaan tak tersangka-sangka juga tidak dapat tahan getaran tenaga gabungan dari ketujuh jago kelas tinggi itu.

Begitulah Hong-sing telah bersuara heran.

Dengan terbelalak ia menatap tajam kepada Lenghou Tiong, katanya kemudian, dengan perlahan.

"Siauhiap, kau bukan orang Hoa-san-pay."

"Wanpwe benar-benar murid Hoa-san-pay dan adalah murid pertama guruku,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Tapi kenapa kau masuk ke perguruan Sia-pay pula dan belajar ilmu dari golongan sesat dan liar itu?"

Kata Hong-sing. Tiba-tiba Ih Kok-cu menimbrung.

"Susiok, apa yang digunakan bocah ini memang benar adalah ilmu silat dari Sia-pay, buktinya memang demikian, betapa pun dia tidak bisa menyangkal lagi. Malahan tadi kita juga melihat di belakangnya ada mengikut seorang perempuan, mengapa sekarang menghilang dan main sembunyi-sembunyi, terang bukan manusia baik-baik."

Mendengar kata-katanya menghina si nenek, Lenghou Tiong menjadi gusar, bentaknya.

"Kau adalah murid golongan Cing-pay, kenapa ucapanmu tidak kenal sopan santun? Tentang Popo itu, memang beliau tidak sudi melihat kau agar beliau tidak gusar."

"Boleh kau suruh dia keluar, apakah dia Cing atau Sia dengan sekali pandang saja, Susiok kami dapat mengetahuinya,"

Kata Ih Kok-cu.

"Timbulnya pertengkaran kau dan aku justru disebabkan kekurangajaranmu terhadap Popoku, sekarang kau berani ngaco-belo tak keruan lagi?"

Semprot Lenghou Tiong. Sejak tadi Kat-gwe Hwesio hanya diam saja, sekarang ia telah menyela.

"Lenghou-siauhiap, dari atas bukit tadi kulihat perempuan yang ikut di belakangmu itu langkahnya sangat enteng dan gesit, tidak mirip seorang nenek seperti ucapanmu."

"Popoku adalah orang persilatan, sudah tentu langkahnya enteng dan gesit, kenapa mesti heran?"

Sahut Lenghou Tiong.

"Kat-gwe,"

Kata Hong-sing sambil menggeleng.

"kita adalah cut-keh-lang (orang yang sudah meninggalkan keluarga), mana boleh berkeras hendak melihat famili perempuan orang lain. Baiklah Lenghou-siauhiap, memang banyak hal-hal yang mencurigakan di dalam urusan ini, Lolap seketika juga tidak paham. Tampak badanmu yang kau katakan itu juga bukan disebabkan serangan Ih-sutitku. Pertemuan kita ini boleh dikata ada jodoh juga, semoga kesehatanmu lekas pulih, sampai berjumpa pula."

Diam-diam Lenghou Tiong kagum terhadap padri agung Siau-lim-si yang memang berbeda jauh dengan para sutitnya itu.

Segera ia memberi hormat dan mengucapkan kata-kata merendah hati.

Tapi belum habis ucapannya, sekonyong-konyong Ih Kok-cu telah melolos pedang dan membentak.

"Itu dia di sini!"

Berbareng itu dia lantas menubruk ke tengah semak-semak tempat sembunyi si nenek tadi. Lekas-lekas Hong-sing berseru.

"Jangan, Ih-sutit!"

Tapi apa yang terjadi benar-benar di luar dugaan.

"Bluk"

Tahu-tahu Ih Kok-cu mencelat kembali dari tengah semak-semak rumput itu terus terbanting kaku telentang di atas tanah.

Tertampak kaki dan tangannya berkelojotan beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi.

Keruan Hong-sing dan lain-lain sangat terkejut.

Terlihat muka Ih Kok-cu sudah hancur, besar kemungkinan kena diketok oleh benda-benda berat sebangsa palu dan sebagainya.

Tangan Ih Kok-cu bahkan masih kencang memegangi pedangnya, namun jiwanya sudah melayang.

Bab 57.

Si Nenek Ternyata adalah Gadis yang Cantik Dengan membentak gusar Sin Kok-liong, Ui Kok-pek dan Kat-gwe bertiga berbareng menubruk ke tengah semak-semak bersama senjata mereka.

Akan tetapi Hong-sing keburu mengebaskan lengan bajunya sehingga ketiga orang itu kena dicegah oleh suatu kekuatan angin yang lunak.

Habis itu Hong-sing lantas berseru lantang ke tengah semak-semak.

"Toyu (kawan agama) dari Hek-bok-keh manakah yang berada di sini?"

Tapi keadaan semak-semak sana ternyata sunyi senyap tiada bergerak sedikit pun. Segera Hong-sing berseru pula.

"Siau-lim-pay kami selamanya tiada permusuhan apa-apa dengan para Toyu dari Hek-bok-keh, mengapa Toheng menggunakan cara sedemikian kejam atas diri Ih-sutit kami?"

Namun di tengah semak-semak itu tetap tiada suara apa-apa juga tiada seorang pun yang menjawab. Diam-diam Lenghou Tiong berpikir.

"Berulang-ulang Hong-sing Taysu menyebut nama ‘Hek-bok-keh’, golongan orang macam apakah itu? Nama ini belum pernah kudengar selama ini."

Terdengar Hong-sing Taysu sedang berkata pula.

"Dahulu Lolap pernah bertemu sekali dengan Tonghong-kaucu. Karena Toyu sudah turun tangan membunuh orang, maka pihak mana yang benar dan pihak mana yang salah sekarang juga harus ditentukan. Kenapa Toyu tidak tampil ke sini untuk bertemu saja?"

Hati Lenghou Tiong tergetar mendengar "Tonghong-kaucu"

Disebut.

Bukankah yang dimaksudkan adalah Tonghong Hing, itu Kaucu dari Mo-kau yang termasyhur?

Orang itu dianggap sebagai tokoh nomor satu pada zaman ini, jangan-jangan si nenek ini adalah orang dari Mo-kau?"

Akan tetapi si nenek yang sembunyi di tengah semak-semak itu tetap diam-diam saja tanpa menggubris ucapan Hong-sing Taysu.

"Jika Toyu tetap tidak sudi tampil ke muka, maafkan saja jika Lolap terpaksa berlaku kasar!"

Seru Hong-sing pula.

Habis berkata, kedua tangannya sedikit menjulur ke belakang, kedua lengan bajunya seketika melembung, menyusul terus disodok ke depan.

Maka terdengarlah suara berderak yang keras, puluhan batang pohon sama patah dan roboh.

Pada saat itulah sekonyong-konyong sesosok bayangan orang meloncat keluar dari tengah semak-semak.

Lekas-lekas Lenghou Tiong putar tubuh ke arah lain.

Didengarnya Sin Kok-liong dan Kat-gwe telah membentak berbareng disertai suara nyaring benturan senjata yang ramai dan cepat, jelas si nenek sudah mulai bertempur dengan Hong-sing dan kawan-kawannya.

Waktu itu sudah lewat tengah hari, cahaya matahari menyorot miring dari samping.

Untuk pegang teguh janjinya sendiri, biarpun di dalam hati sesungguhnya sangat gelisah, tapi Lenghou Tiong tidak berani menoleh untuk menyaksikan keadaan pertempuran keempat orang itu.

Mendadak terlihat bayangan-bayangan orang berseliweran di atas tanah, teranglah Hong-sing berempat telah mengepung rapat si nenek.

Hong-sing Taysu tidak memakai senjata, sedangkan senjata Kat-gwe adalah Hong-pian-san, tongkat padri.

Ui Kok-pek menggunakan golok dan Sin Kok-liong memakai pedang.

Sebaliknya senjata si nenek adalah sepasang senjata pendek, bentuknya mirip belati dan menyerupai cundrik pula, pendek sekali senjata-senjata itu dan tipis seakan-akan bening tembus, hanya dari berkelebatnya bayangan sukar untuk diketahui macam senjata apa sesungguhnya.

Si nenek dan Hong-sing sama-sama tidak bersuara, sedangkan Sin Kok-liong bertiga yang terus membentak-bentak, perbawa mereka sangat menakutkan orang.

"Segala urusan dapat dibicarakan secara baik-baik, kalian empat orang laki-laki mengerubut seorang nenek reyot, kesatria macam apakah kalian ini?"

Demikian teriak Lenghou Tiong.

"Nenek reyot? Hehe, rupanya bocah ini mimpi di siang bolong,"

Jengek Ui Kok-pek. Belum habis suaranya, mendadak Hong-sing berseru.

"Awas, Ui ...."

Namun sudah terlambat terdengar Ui Kok-pek menjerit.

"Aaaah!"

Agaknya sudah terluka parah. Sungguh tidak kepalang kejut Lenghou Tiong.

"Betapa lihai ilmu silat si nenek. Dari kebutan lengan baju Hong-sing Taysu tadi, jelas tenaga dalamnya jarang ada bandingannya di dunia persilatan pada zaman ini. Tapi dengan satu lawan empat toh si nenek masih berada di atas angin dan dapat menjatuhkan salah seorang pengeroyoknya."

Bahkan menyusul lantas terdengar jeritan Kat-gwe pula.

"blang" , tongkat yang bobotnya puluhan kati itu terlepas dari cekalan dan melayang lewat di atas kepala Lenghou Tiong terus jatuh ke tempat belasan meter jauhnya sebelah sana.

"trang" , tongkat itu menghantam sepotong batu besar sehingga memercikkan lelatu api, batu pecah berhamburan, gagang tongkat itu pun bengkok. Bayangan orang yang berseliweran itu kini sudah berkurang dua sosok, Ui Kok-pek dan Kat-gwe Hwesio sudah menggeletak di atas tanah, tinggal Hong-sing dan Sin Kok-liong saja yang masih bertempur dengan sengit.

"Siancay, Siancay! Begini keji kau, beruntun-runtun tiga orang Sutitku telah kau bunuh, terpaksa Lolap harus melayani kau sepenuh tenaga,"

Terdengar Hong-sing berkata. Menyusul terdengarlah "trang-trang-trang"

Beberapa kali, agaknya Hong-sing Taysu juga sudah menggunakan senjata.

Lenghou Tiong merasa sambaran angin yang kuat di belakangnya makin lama makin keras sehingga selangkah demi selangkah ia terdesak ke depan.

Sesudah menggunakan senjata, nyata padri sakti dari Siau-lim-pay memang bukan main hebatnya, seketika keadaan kalangan pertempuran berubah.

Lenghou Tiong mulai mendengar suara napas si nenek yang memburu, agaknya tenaganya mulai payah.

"Buang senjatamu dan aku pun takkan membikin susah padamu,"

Demikian seru Hong-sing.

"Kau boleh ikut aku ke Siau-lim-si untuk memberi lapor kepada Suheng ketua dan terserah kepada kebijaksanaannya."

Namun si nenek tidak menjawab, ia menyerang beberapa kali dengan gencar kepada Sin Kok-liong sehingga murid Siau-lim-pay ini rada kelabakan dan terpaksa melompat mundur agar Hong-sing yang menyambut serangan musuh.

Sesudah tenang kembali, Sin Kok-liong mencaci maki.

"Perempuan keparat, hari ini kalau kau tidak dicincang hingga hancur lebur takkan terlampias rasa dendamku!"

Segera ia putar pedang dan menerjang maju pula. Tidak lama berselang, suara benturan senjata mulai mereda, tapi deru angin pukulan semakin keras. Berkatalah Hong-sing Taysu.

"Tenaga dalammu bukan tandinganku, lebih baik kau membuang senjatamu dan ikut aku ke Siau-lim-si saja, kalau tidak, sebentar lagi kau pasti akan terluka dalam dengan parah."

Terdengar si nenek hanya mendengus sekali saja, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan ngeri, Lenghou Tiong merasa lehernya terciprat beberapa titik air, waktu ia meraba dengan tangan, terlihat telapak tangannya berwarna merah.

Kiranya titik-titik air yang menciprat ke lehernya itu adalah air darah.

"Siancay, Siancay! Kau sudah terluka sekarang, kau lebih-lebih tidak mampu melawan aku lagi!"

Kata Hong-sing pula.

"Perempuan keparat ini adalah iblis dari agama sesat, lekas Susiok membinasakan dia untuk membalaskan sakit hati kematian tiga orang sute, terhadap kaum iblis mana boleh pakai welas asih segala?"

Seru Sin Kok-liong. Dalam pada itu suara napas si nenek terdengar semakin terengah-engah, langkahnya juga mulai sempoyongan seakan-akan setiap saat bisa roboh. Diam-diam Lenghou Tiong membatin.

"Nenek suruh aku mengawalnya, tujuannya aku diminta melindungi dia. Kini beliau menghadapi bahaya, mana boleh aku tinggal diam saja? Meski Hong-sing Taysu adalah seorang padri agung yang saleh, orang she Sin itu pun laki-laki yang jujur, namun aku tidak dapat membiarkan nenek dibunuh oleh mereka."

Karena pikiran itu.

"sret", segera ia melolos pedang dan berseru.

"Hong-sing Taysu dan Sin-cianpwe, mohon kalian suka bermurah hati dan pulang ke Siau-lim-si saja. Kalau tidak, terpaksa Wanpwe akan berlaku kurang adat kepada kalian."

Sin Kok-liong menjadi gusar, bentaknya.

"Kawanan iblis, bunuh saja sekalian!"

Kontan pedangnya terus menusuk ke punggung Lenghou Tiong yang berdiri mungkur itu.

Lenghou Tiong tetap pegang janjinya dan tidak berani berpaling agar tidak sampai memandang muka si nenek, maka ia hanya berusaha menghindar ke samping.

Mendadak terdengar si nenek berseru.

"Awas!"

Namun Sin Kok-liong adalah jago pilihan di antara angkatan kedua di dalam Siau-lim-si, mana bisa membiarkan Lenghou Tiong menghindar dengan begitu saja.

Maka ketika Lenghou Tiong menghindar ke samping, tahu-tahu pedang Sin Kok-liong juga sudah menyusul tiba.

"Siancay!"

Seru Hong-sing.

Disangkanya tusukan murid keponakannya itu pasti akan menembus punggung Lenghou Tiong hingga ke dada.

Tak terduga, tiba-tiba terdengar Sin Kok-liong sendiri yang menjerit, tubuhnya terus mencelat ke atas dan melayang lewat di samping kiri Lenghou Tiong serta terbanting di atas tanah, sesudah berkelejatan beberapa kali, lalu binasa.

Entah cara bagaimana dia juga telah kena dibunuh secara kejam oleh si nenek.

Pada saat yang hampir bersamaan itu juga lantas terdengar suara "bluk"

Yang keras, tubuh si nenek ternyata sudah kena pukulan Hong-sing Taysu dan roboh terjungkal.

Kejut sekali Lenghou Tiong, cepat ia miringkan tubuh dan pedangnya segera menusuk ke arah Hong-sing.

Karena serangan Lenghou Tiong yang tepat pada waktunya serta jitu arahnya, Hong-sing terpaksa harus melompat mundur.

Menyusul Lenghou Tiong menusuk pula.

Cepat Hong-sing menangkis dengan senjatanya.

Kini Lenghou Tiong sudah berhadapan muka dengan Hong-sing Taysu, dapat dilihatnya bahwa senjata yang dipakai padri sakti Siau-lim-si itu kiranya adalah sepotong pentungan kayu yang panjangnya cuma setengahan meter saja.

Keruan Lenghou Tiong terkesiap.

Pikirnya.

"Sungguh tidak nyana bahwa senjatanya adalah sepotong kayu sependek ini. Tenaga dalam hwesio Siau-lim-si ini terlalu kuat, jika aku tidak dapat mengalahkan dia dengan ilmu pedangku, tentu si nenek sukar diselamatkan."

Tanpa ayal lagi pedangnya lantas menusuk ke atas dan menusuk ke bawah, menyusul menusuk lagi dua kali ke atas, ilmu pedang yang dilontarkan adalah ciptaan mendiang Tokko Kiu-pay yang diajarkan Hong Jing-yang itu.

Setelah Lenghou Tiong memainkan ilmu pedangnya ini, seketika air muka Hong-sing Taysu berubah hebat.

Serunya.

"Kau ... kau ... kau ...."

Namun sedikit pun Lenghou Tiong tidak merandek.

Ia sadar tenaga dalamnya sendiri sudah punah, asal pihak lawan diberi kelonggaran sedikit tentu akan segera melancarkan serangan balasan dan tenaga dalam yang kuat, jika demikian jadinya, maka dirinya pasti akan binasa seketika dan si nenek juga pasti akan celaka.

Lantaran pikiran demikian, maka beratus-ratus macam gerakan pedang "Tokko-kiu-kiam"

Yang ajaib itu secara berantai terus dimainkan sekaligus tanpa berhenti.

Dahulu Tokko Kiu-pay pernah malang melintang di dunia Kangouw tiada ketemukan tandingan, senantiasa ia mengharapkan ada orang yang mampu mengalahkan dia dan selama itu harapannya itu belum pernah terkabul, maka betapa tinggi ilmu pedangnya itu dapatlah dibayangkan.

Coba kalau tidak secara kebetulan Lenghou Tiong sudah kehilangan tenaga dalam, pula banyak di antara inti-inti keajaiban ilmu pedang itu memang belum dipahami dengan masak, kalau tidak, biarpun kepandaian Hong-sing Taysu berlipat ganda, lebih tinggi juga tidak mampu bertahan sampai lebih dari sepuluh jurus.

Begitulah Hong-sing terus terdesak mundur, sebaliknya Lenghou Tiong merasa darah terus bergolak di rongga dadanya, lengan terasa lemas linu, jurus pedang yang dilancarkan makin lama semakin lemah.

"Lepas pedang!"

Mendadak Hong-sing membentak, telapak tangan kiri terus menyodok ke dada Lenghou Tiong, sedang pentungan pendek di tangan kanan berbareng menghantam lengan pemuda itu.

Memangnya lengan Lenghou Tiong sudah lemas, waktu pedangnya menusuk ke depan pula, belum mencapai sasarannya, baru di tengah jalan lengannya sudah mendelung ke bawah.

Bagi orang lain, serangannya ini pasti memberi lubang bagi musuh dan berarti menyerahkan nyawa kepada lawan.

Tapi ilmu pedang yang dimainkannya memangnya tiada gerakan tertentu, tiada perbedaan antara benar dan keliru, yang dia lancarkan adalah serangan menurut keinginan setiap saat.

Maka biarpun pedangnya sudah mendelung ke bawah toh tusukannya masih tetap diteruskan, namun demikian jalannya serangan ini menjadi rada merandek.

Sudah tentu Hong-sing tidak sia-siakan kesempatan bagus itu, telapak tangan kiri bergerak dan sekejap saja sudah menjamah di atas dada Lenghou Tiong.

Namun dasarnya memang welas asih, tenaga serangannya itu tidak terus dikerahkan, sebaliknya ia bertanya lebih dulu.

"Kau murid siapa ...."

Pada saat itu juga ujung pedang Lenghou Tiong juga sudah menusuk masuk ke dalam dadanya.

Terhadap padri sakti dari Siau-lim-si ini Lenghou Tiong benar-benar sangat kagum, ketika merasa ujung pedangnya menyentuh kulit daging pihak lawan, lekas-lekas ia berusaha menariknya kembali sekuatnya.

Saking nafsunya menarik senjatanya itu, tubuhnya sendiri menjadi terjengkang ke belakang dan jatuh terduduk, darah segar lantas mengalir keluar dari mulutnya.

Sambil mendekap luka di dadanya, Hong-sing berkata dengan tersenyum.

"Ilmu pedang yang bagus! Kalau pedang Siauhiap tidak mengenal kasihan, tentu jiwa Lolap sudah melayang."

Ia hanya memuji lawan, sebaliknya terhadap pukulannya sendiri yang tidak diteruskan tadi sama sekali tak disinggung.

Habis berkata ia lantas terbatuk-batuk.

Kiranya pedang Lenghou Tiong yang ditarik kembali sekuatnya tadi tidak urung sudah menusuk masuk ke dada Hong-sing hingga beberapa senti dalamnya, jadi lukanya sesungguhnya tidaklah ringan.

Dengan penuh menyesal Lenghou Tiong berkata.

"Ma ... maafkan Wanpwe telah berlaku kasar terhadap ... terhadap Cianpwe."

"Sungguh tidak nyana bahwa ilmu pedang sakti Hong Jing-yang Locianpwe dari Hoa-san ternyata ada ahli warisnya sekarang,"

Kata Hong-sing dengan tersenyum.

"Lolap dahulu pernah menerima budi dari Hong-locianpwe, urusan hari ini Lolap menjadi tidak berani mengambil keputusan sendiri."

Perlahan-lahan ia mengeluarkan suatu bungkusan kertas, di dalamnya berisi dua butir obat pil sebesar biji buah lengkeng. Lalu katanya pula.

"Ini adalah obat luka mujarab dari Siau-lim-si. Boleh kau minum satu butir ini."

Dan setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya ditambahkannya.

"Dan yang satu butir lagi boleh diminumkan kepada wanita itu."

"Lukaku sudah terang sukar disembuhkan, buat apa minum obat lagi?"

Ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Obat yang satu biji itu silakan Taysu meminumnya sendiri saja."

Hong-sing menggeleng-geleng, katanya.

"Tidak usah!"

Lalu ia meletakkan kedua biji obat itu di depan Lenghou Tiong.

Dipandangnya mayat-mayat Kat-gwe, Sin Kok-liong dan lain-lain dengan wajah sedih.

Segera ia mengangkat tangannya di depan dada dan mulai membaca doa.

Lambat laun air mukanya berubah tenang kembali, sampai akhirnya wajahnya seakan-akan terselubung oleh selapis sinar suci.

Selesai berdoa, kemudian Hong-sing berkata pula kepada Lenghou Tiong.

"Siauhiap, ahli waris dari ilmu pedang Hong-locianpwe sekali-kali bukanlah aliran dari kaum iblis. Kau berjiwa kesatria dan berbudi luhur, layaknya kau tidak seharusnya mati begini saja. Cuma luka yang kau derita memang aneh luar biasa dan sukar disembuhkan dengan obat biasa, kau harus belajar lwekang yang paling tinggi baru dapat menyelamatkan jiwamu. Menurut pendapatku, sebaiknya kau ikut aku ke Siau-lim-si, Lolap akan lapor kepada Ciangbun Hongtiang dan mohon beliau mengajar inti lwekang paling tinggi dari Siau-lim-si kepadamu, dengan demikian luka dalam yang kau derita itu akan dapat disembuhkan."

Sesudah terbatuk-batuk beberapa kali, kemudian Hong-sing melanjutkan.

"Untuk bisa belajar intisari lwekang Siau-lim-si ini perlu juga diutamakan ‘jodoh’. Seperti Lolap sendiri adalah tidak punya jodoh untuk belajar lwekang itu. Ciangbun Hongtiang biasanya sangat bijaksana, boleh jadi beliau ada jodoh dengan Siauhiap dan suka mengajarkan inti lwekang itu kepadamu."

"Banyak terima kasih atas maksud baik Taysu,"

Sahut Lenghou Tiong.

"biarlah nanti sesudah Wanpwe mengantar nenek ke suatu tempat yang aman, bilamana Wanpwe beruntung belum mati, tentu Wanpwe akan datang ke Siau-lim-si untuk menyampaikan sembah kepada Ciangbun Hongtiang dan Taysu."

"Kau ... kau memanggilnya ‘nenek’?"

Hong-sing menegas.

"Siauhiap, kau adalah anak dari golongan Beng-bun-cing-pay, jangan kau bergaul dengan kaum Sia-pay. Lolap memberi nasihat dengan tujuan baik, harap Siauhiap suka camkan dengan baik-baik."

"Seorang laki-laki sejati sekali sudah berjanji mana boleh kehilangan kepercayaan orang?"

Ujar Lenghou Tiong. Hong-sing menghela napas, katanya pula.

"Baiklah! Lolap akan menunggu kedatangan Siauhiap di Siau-lim-si."

Lalu ia pandang keempat jenazah Kat-gwe dan lain-lain serta mengucapkan beberapa kalimat sabda Buddha, habis itu baru melangkah pergi.

Sesudah Hong-sing melangkah pergi beberapa tindak, si nenek lantas berkata.

"Lenghou Tiong, boleh kau ikut pergi bersama hwesio tua itu. Dia bilang lukamu akan dapat disembuhkan, inti lwekang dari Siau-lim-si tiada bandingannya di dunia ini kenapa kau tidak ikut pergi saja?"

"Aku sudah berjanji akan mengawal nenek, sudah seharusnya akan mengawal sampai tempat tujuan,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Kau sendiri menderita penyakit, masih bicara tentang mengawal segala?"

Ujar si nenek.

"Tapi engkau sendiri juga terluka, biarlah kita tinggal bersama saja,"

Sahut Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Aku adalah kaum Sia-pay dan kau adalah murid Beng-bun-cing-pay, lebih baik kau jangan bergaul dengan aku agar tidak merusak nama baik golongan Cing-paymu,"

Kata si nenek.

"Memangnya aku tidak punya nama baik apa-apa, peduli apa dengan orang lain?"

Jawab Lenghou Tiong.

"Kau sangat baik kepadaku, nenek, Lenghou Tiong sekali-kali bukan manusia yang tidak kenal kebaikan. Saat ini engkau dalam keadaan terluka parah, jika aku tinggal pergi begini saja apakah aku masih dapat dianggap sebagai manusia?"

"Dan kalau saat ini aku tidak terluka parah tentu kau akan tinggal pergi bukan?"

Tanya si nenek. Lenghou Tiong melengak. Katanya dengan tertawa.

"Jika nenek tidak pikirkan kebodohanku dan ingin ditemani oleh diriku, maka boleh saja aku selalu berada di sampingmu untuk mengobrol. Cuma watakku memang kasar dan suka berbuat menurut keinginanku, jangan-jangan hanya beberapa hari saja nenek sudah merasa bosan dan tidak suka bicara lagi dengan aku."

Si nenek hanya mendengus saja sekali. Segera Lenghou Tiong mengangsurkan tangannya ke belakang, ia menyodorkan obat pemberian Hong-sing Taysu tadi, katanya.

"Padri agung Siau-lim-si itu memang sangat hebat, nenek sudah membunuh empat orang muridnya, tapi dia malah memberikan obat mujarab ini kepadamu dan dia sendiri sebaliknya tidak minum obat."

"Huh, orang-orang ini selalu mengagulkan diri sebagai Beng-bun-cing-pay segala dan pura-pura menjadi orang baik hati, aku justru tidak pandang sebelah mata kepada mereka,"

Jengek si nenek.

"Nenek, silakan kau minum saja obat ini,"

Pinta Lenghou Tiong.

"Sesudah kuminum satu biji obat ini, badanku memang terasa jauh lebih segar."

Si nenek hanya menjengek sekali saja dan masih tidak mau terima obat itu.

"Nenek ...."

Belum lanjut ucapan Lenghou Tiong, mendadak si nenek menyela.

"Sekarang hanya terdapat kita berdua, mengapa masih terus memanggil "nenek-nenek"

Tidak habis-habis, maukah kau mengurangi panggilanmu itu?"

"Baiklah, tentu saja dapat kukurangi,"

Sahut Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Silakan kau minum obat ini."

"Jika kau bilang obat mujarab Siau-lim-pay ini sangat bagus dan anggap obat yang kuberikan kepadamu itu kurang baik, kenapa kau tidak makan sekalian obat pemberian hwesio tua itu?"

Ujar si nenek.

"Ai, bilakah aku anggap obatmu kurang baik? Janganlah kau mencemoohkan diriku!"

Sahut Lenghou Tiong.

"Lagi pula obat Siau-lim-si yang baik ini justru hendak diminumkan padamu agar tenagamu lekas pulih supaya dapat melanjutkan perjalanan."

"O, jadi kau merasa sebal menemani aku di sini, ya?"

Tanya si nenek.

"Jika, demikian bolehlah lekas kau pergi saja, aku toh tidak paksa kau tinggal di sini."

Diam-diam Lenghou Tiong membatin.

"Mengapa si nenek mendadak muring-muring padaku? Ah, barangkali karena lukanya tidak ringan, badanku sakit, dengan sendirinya sifatnya menjadi ketus dan suka naik pitam."

Maka dengan tertawa ia menjawab.

"Saat ini setindak pun aku tidak sanggup berjalan, sekalipun mau pergi juga tidak dapat. Apalagi ... apalagi .... Hahaha ...."

"Ada apa lagi? Kenapa hahaha segala? Apa yang kau tertawakan?"

Damprat si nenek dengan gusar-gusar kaget.

"Hahaha ialah tertawa, apalagi ... seumpama aku dapat berjalan juga aku tidak ingin pergi, kecuali kalau kau pergi bersama aku,"

Sahut Lenghou Tiong dengan tertawa.

Sebenarnya tutur katanya terhadap si nenek sangat sopan dan hormat, tapi lantaran si nenek muring-muring sesukanya, maka Lenghou Tiong menjadi ikut ugal-ugalan juga bicaranya.

Tak terduga si nenek malah tidak marah, mendadak menjublek diam saja entah apa yang sedang direnungkan.

Maka berkatalah Lenghou Tiong.

"Nenek ...."

"Nenek lagi?"

Potong si nenek.

"Apa barangkali selama hidupmu ini tidak pernah memanggil ‘nenek’ kepada orang, makanya tidak bosan-bosannya kau memanggil saja?"

"Ya, sudah, selanjutnya aku takkan memanggil nenek pula padamu,"

Ujar Lenghou Tiong tertawa.

"Tapi lantas memanggil apa kepadamu?"

Si nenek diam saja. Selang sejenak baru berkata.

"Di sini hanya terdapat kita berdua saja, kenapa mesti pakai panggilan segala? Asal kau membuka mulut tentunya aku yang kau ajak bicara, masakan ada orang ketiga lagi yang berada di sini?"

"Tetapi terkadang aku suka menggumam bicara sendiri dan janganlah kau salah paham lho,"

Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Huh, bicara saja angin-anginan, pantas saja Siausumoaymu tidak suka padamu lagi,"

Jengek si nenek. Ucapan ini benar-benar mengenai lubuk hati Lenghou Tiong yang terluka itu. Perasaannya menjadi pilu. Pikirnya.

"Siausumoay tidak suka padaku, tapi lebih suka kepada Lim-sute, jangan-jangan memang betul disebabkan bicara dan tingkah lakuku yang suka angin-anginan. Ya, Lim-sute memang lebih sopan dan tahu aturan, dia benar-benar memper seorang laki-laki baik dan lemah lembut serupa dengan Suhu, jangankan Siausumoay, jika aku menjadi wanita juga aku akan suka padanya dan tidak sudi kepada pemuda bambungan semacam Lenghou Tiong ini. Wahai Lenghou Tiong, selamanya kau suka mabuk-mabukan dan gila-gilaan, tidak patuh kepada ajaran perguruan, benar-benar pemuda yang sukar ditolong lagi. Aku pernah bergaul dengan maling cabul Dian Pek-kong, pernah tidur pula di rumah pelacuran di kota Lokyang, semuanya ini tentu membikin Siausumoay merasa tidak senang."

Melihat Lenghou Tiong termenung, si nenek lantas berkata, pula.

"Bagaimana? Ucapanku tadi melukai perasaanmu ya? Kau menjadi marah bukan?"

"Tidak, aku tidak marah. Ucapanmu memang tepat, bicaraku memang suka angin-anginan, tingkah lakuku juga gila-gilaan, pantas saja Siausumoay tidak senang padaku, Suhu dan Sunio juga tidak suka padaku."

"Kau tidak perlu sedih. Biarpun Suhu, Sunio dan Siausumoaymu tidak suka kepadamu, masakah di dunia ini ... di dunia ini tiada orang lain lagi yang suka padamu?"

Sungguh hati Lenghou Tiong sangat terharu dan berterima kasih, saking terharunya sampai tenggorokannya seakan-akan tersumbat, katanya dengan terputus-putus.

"Nenek sungguh-sungguh sangat baik kepadaku, sekalipun di dunia ini tiada orang lain lagi yang suka kepadaku juga ... juga tidak menjadi soal."

"Kau hanya punya sebuah mulut yang manis, bicaramu saja yang membikin senang orang, pantas saja tokoh semacam Na Hong-hong dari Ngo-tok-kau itu sampai tergila-gila kepadamu,"

Kata si nenek.

"Sudahlah, sekarang kau tak dapat berjalan dan aku pun tidak dapat berkutik, hari ini terpaksa kita harus bermalam di bawah tebing sana, entah hari ini kita akan mati atau tidak?"

"Hari ini entah mati atau tidak dan entah besok akan mati atau tidak, atau mungkin lusa baru akan mati,"

Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Sudahlah, jangan bicara yang tak keruan,"

Kata si nenek.

"Boleh kau merangkak ke sana dengan perlahan-lahan, biar aku menyusul dari belakang."

"Jika kau tidak minum obat pemberian hwesio tua itu, mungkin satu langkah saja aku tidak sanggup merangkak,"

Kata Lenghou Tiong.

"Kembali kau bicara tak keruan lagi. Aku tidak minum obatnya, mengapa kau yang tidak sanggup merangkak."

"Aku tidak bicara tak keruan. Sebab kalau kau tidak mau minum obat, tentu lukamu sukar disembuhkan, tentu pula kau tidak punya semangat untuk memetik kecapi. Dan karena rasa cemasku, dari mana aku mempunyai tenaga untuk merangkak ke sana? Mungkin tenaga untuk merebah di sini saja tidak kuat lagi."

Si nenek mengikik tawa.

"Merebah di sini saja tidak punya tenaga?"

"Ya. Bukankah di sini adalah tanah yang miring, jika aku tidak bertenaga, seketika juga aku akan menggelinding ke bawah dan terjerumus ke dalam sungai pegunungan di bawah itu. Coba bayangkan, andaikan aku tidak mati terbanting bukankah akan mati kelelap juga?"

Si nenek menghela napas, katanya.

"Kau terluka parah, jiwamu setiap saat bisa melayang, tapi kau masih sempat berkelakar segala. Sungguh jarang diketemukan orang malas semacam kau ini."

Perlahan-lahan Lenghou Tiong melemparkan pil pemberian Hong-sing itu ke belakang, katanya.

"Silakan lekas minum obat ini."

"Hm, setiap orang yang menganggap dirinya dari golongan Beng-bun-cing-pay tentu bukanlah manusia baik-baik,"

Omel si nenek.

"Jika aku makan obat Siau-lim-si ini kan cuma membikin kotor mulutku saja."

Sekonyong-konyong Lenghou Tiong menjerit, tubuhnya sekuatnya mendoyong ke samping dan terus menggelinding ke bawah mengikut tanah tebing yang miring itu. Keruan si nenek terkejut, serunya khawatir.

"He, hati-hati!"

Akan tetapi Lenghou Tiong masih terus menggelinding ke bawah.

Tanah miring itu tidak terlalu terjal, tapi rada panjang jaraknya.

Sesudah menggelinding sekian lamanya barulah Lenghou Tiong mencapai tepi sungai kecil di bawahnya.

Waktu tangan dan kakinya menahan sekuatnya segera terhenti daya gelindingnya.

"He, he, ba ... bagaimana kau?"

Tanya si nenek. Muka dan tangan Lenghou Tiong terlecet kena batu kerikil yang tajam di sepanjang tanjakan itu. Dengan menahan rasa sakit ia diam saja tak memberi jawaban.

"Baiklah, aku akan minum obat busuk si hwesio tua ini, lekas kau ... kau naik kemari,"

Seru si nenek.

"Ucapan yang sudah dikeluarkan harus dipatuhi,"

Kata Lenghou Tiong.

Tapi karena jarak kedua orang sekarang sudah rada jauh, sedangkan keadaan Lenghou Tiong sudah lemas, suaranya tak bisa mencapai jauh.

Sayup-sayup si nenek hanya mendengar suara ucapannya, tapi tidak tahu apa yang dikatakan, maka ia tanya pula.

"Kau bilang apa?"

"Aku ... aku ...."

Napas Lenghou Tiong terengah-engah dan tidak sanggup melanjutkan.

"Lekas naik kemari, aku berjanji padamu akan minum obatnya,"

Kata si nenek.

Lenghou Tiong berbangkit dengan terhuyung-huyung, ia bermaksud merangkak ke atas, tapi menggelinding ke bawah adalah sangat mudah, sekarang hendak merangkak ke atas boleh dikata sesukar hendak memanjat ke langit.

Hanya dua langkah saja ia merangkak kakinya sudah terasa lemas dan terbanting jatuh, bahkan terus menggelinding masuk ke tepi sungai kecil itu.

Dari atas si nenek dapat melihat jatuhnya Lenghou Tiong itu dengan jelas, ia menjadi khawatir, tanpa pikir ia terus ikut menjatuhkan diri dan membiarkannya menggelinding juga ke bawah sehingga sampai di samping Lenghou Tiong.

Cepat sebelah tangannya memegangi pergelangan kaki kiri Lenghou Tiong agar tidak terperosot lebih jauh ke dalam sungai kecil itu.

Sesudah bernapas terengah-engah beberapa kali, tangan si nenek yang lain dijulurkan untuk mencengkeram punggung Lenghou Tiong dan sekuatnya diangkatnya ke atas.

Keadaan Lenghou Tiong sudah basah kuyup dan telah minum beberapa ceguk air, matanya sudah berkunang-kunang.

Setelah tenangkan diri, tiba-tiba dilihatnya di dalam air sungai yang jernih itu terbayang dua sosok bayangan orang, nyata seorang nona jelita sedang mencengkeram punggungnya.

Lenghou Tiong melengak.

Mendadak terdengar suara si nona yang telah muntah darah.

Darah segar yang masih hangat-hangat itu menyiram di atas kuduknya, berbareng itu si nona terus mendekam di atas punggungnya dalam keadaan lemas lunglai seperti lumpuh.

Sudah tentu Lenghou Tiong dapat merasakan dada si nona yang halus dan lunak yang menempel di atas tubuhnya itu, terasa pula rambut si nona yang panjang itu mengusap-usap mukanya, keruan pikirannya menjadi kabur dan melayang-layang jauh.

Bab 58.

Si Nona adalah Putri Suci, Tokoh Ketiga dari Hek-bok-keh Waktu ia pandang pula bayangan di muka air, terlihat sebagian wajah si nona dengan mata tertutup, bulu matanya sangat panjang.

Walaupun tidak jelas bayangan di muka air itu, namun dapatlah dipastikan wajah si nona pasti sangat cantik molek, umurnya paling banyak baru 17-18 tahun saja.

Keruan Lenghou Tiong terheran-heran.

"Siapakah nona ini? Mengapa mendadak datang seorang nona secantik ini untuk menolong diriku?"

Dari bayangan yang dilihatnya di muka air serta sentuhan punggung dengan badan si nona dapat diketahui bahwa si nona dalam keadaan pingsan.

Lenghou Tiong bermaksud memutar tubuh untuk memayang si nona, tapi sekujur badan sendiri terasa lemas lunglai sampai satu jari pun susah bergerak.

Tapi rasanya seperti di alam mimpi pula, apalagi wajah yang cantik molek yang terbayang di muka air itu benar-benar dirinya terasa seperti berada di surgaloka.

Selang agak lama, terdengar si nona yang mendekap di atas punggung bersuara perlahan dan lambat-lambat membuka matanya.

Kemudian terdengar ucapannya.

"Kau sengaja menakut-nakuti aku atau benar-benar tidak ingin hidup lagi?"

Mendengar suaranya itu, kejut Lenghou Tiong tak terkatakan. Suara si nona ternyata tiada bedanya dengan suara "si nenek". Saking kejutnya sampai tubuhnya rada menggigil, serunya terputus-putus.

"Kau ... kau ...."

"Kau apa? Aku justru tidak mau makan obat busuk pemberian hwesio tua itu, boleh kau cari mati lagi, coba!"

Kata si nona.

"Hah, nenek, kiranya kau adalah ... adalah seorang nona cilik yang sangat cantik,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Da ... dari mana kau tahu?"

Seru nona itu terperanjat.

"Bocah yang tidak bisa pegang janji, jadi diam-diam kau telah ... telah mengintip mukaku?"

Tapi waktu ia menunduk dan melihat bayangannya sendiri tercermin sangat jelas di permukaan air sungai, ternyata dirinya sedang menggelendot di punggung Lenghou Tiong, seketika ia menjadi malu, sekuatnya ia meronta bangun, namun kakinya terasa lemas dan kembali jatuh terkulai pula.

Lekas-lekas Lenghou Tiong menjulurkan kedua tangannya untuk memegangnya dan tepat si nona jatuh ke dalam pangkuannya.

Tatkala itu kedua orang sama-sama tiada punya tenaga lagi, sesudah berkutatan sekian lamanya, mereka hendak jatuh pingsan pula, terpaksa mereka berbaring di tepi kali itu dan tidak bergerak lagi.

Di dalam hati Lenghou Tiong merasa sangat heran.

Tanyanya kemudian.

"Mengapa kau pura-pura menjadi seorang nenek untuk menipu aku? Kau pura-pura sebagai orang tua, sehingga membikin aku ... membikin aku sampai ...."

"Membikin kau sampai bagaimana?"

Si nona menegas.

Kini pandangan Lenghou Tiong jaraknya hanya belasan senti jauhnya dari muka si nona.

Dilihatnya kulit pipinya putih bersih bersemu kemerah-merahan, sejenak kemudian baru, ia melanjutkan.

"Membikin aku berulang-ulang memanggil nenek padamu. Huh, tidak malu, padahal kau menjadi adik perempuanku saja masih lebih kecil, tapi kau justru ingin menjadi nenek orang. Kalau ingin menjadi nenek kan mesti tunggu delapan puluh tahun lagi."

Si nona mengikik geli, jawabnya.

"Bilakah aku mengatakan diriku adalah seorang nenek? Adalah kau sendiri yang memanggil demikian padaku. Kau yang terus-menerus memanggil nenek, bukankah tadi aku pun marah dan suruh kau jangan memanggil lagi. Kau yang sengaja panggil demikian padaku bukan?"

Diam-diam Lenghou Tiong merasa ucapan si nona memang juga benar.

Tapi dirinya telah tertipu sampai sekian lamanya dan dianggap sebagai orang tolol, betapa pun rasanya masih penasaran.

Maka katanya, pula.

"Kau melarang aku memandang wajahmu, bukankah kau sengaja hendak mengakali aku? Jika aku berhadapan muka dengan kau masakah aku akan memanggil nenek padamu? Ketika di kota Lokyang kau pun sudah menipu diriku, kau telah sekongkol dengan si tua Lik-tiok-ong itu dan suruh dia memanggil kau sebagai bibi. Jika kakek seumur dia saja masih pernah keponakanmu, lantas apa panggilan kepadamu kalau bukan panggil nenek?"

"Kakek-guru Lik-tiok-ong itu adalah kakak ayahku, lalu kalau diurutkan Lik-tiok-ong mesti panggil apa kepadaku?"

Tanya si nona dengan tertawa. Lenghou Tiong melengak, jawabnya kemudian dengan ragu-ragu.

"Jika begitu kau memang pernah bibinya Lik-tiok-ong?"

"Bocah Lik-tiok-ong itu toh bukan sesuatu tokoh yang luar biasa, kenapa aku mesti memalsukan diri sebagai bibinya?"

Ujar si nona dengan tertawa.

"Ya, aku benar-benar bodoh, padahal aku sudah harus tahu sejak dulu-dulu,"

Sahut Lenghou Tiong sembari menghela napas.

"Apa yang harus kau ketahui sejak dulu-dulu?"

Si nona menegas dengan tertawa.

"Habis suaramu sedemikian enak didengar, di dunia ini masakah ada nenek-nenek reyot yang bersuara sedemikian nyaring dan merdu?"

"Aku punya suara sudah kasap lagi serak mirip suara burung gagak, pantas saja kau menyangka aku sebagai nenek-nenek reyot,"

Si nona tertawa.

"Suaramu seperti suara burung gagak, katamu? Ai, jika begitu rupanya zamannya sudah berubah, burung gagak pada zaman ini kiranya suaranya jauh lebih merdu daripada suara burung kenari."

Mendengar dirinya dipuji, muka si nona menjadi merah, tapi hatinya amat senang. Katanya dengan tertawa.

"Baiklah, Engkong Lenghou Tiong, Kakek Lenghou Tiong, sudah sekian lamanya kau memanggil nenek padaku, biar sekarang aku pun membayar panggilan kakek padamu. Dengan demikian kau tidak merasa dirugikan dan bolehlah tidak marah lagi?"

"Kau adalah nenek dan aku adalah kakek, kita adalah si kakek dan si nenek, bukankah ...."

Dasar sifat Lenghou Tiong memang suka ugal-ugalan, mulutnya bicara tanpa aling-aling, mestinya ia hendak berkata "bukankah kita adalah satu pasangan" , tapi mendadak dilihatnya alis si nona menegak dan air mukanya berubah merah, maka cepat-cepat ia telan kembali kata-katanya itu.

"Kau hendak sembarangan mengoceh apa?"

Omel si nona marah.

"O, aku maksudkan bila kita adalah kakek dan nenek, bukankah ... bukankah kita telah menjadi tokoh kosen angkatan tua di kalangan Bu-lim?"

Demikian Lenghou Tiong ganti haluan.

Sudah tentu si nona tahu Lenghou Tiong sengaja mengubah ucapannya tadi, maka ia pun tidak mengungkatnya lebih lanjut agar tidak telanjur keluar kata-kata yang membikin kikuk.

Sambil menggelendot di pangkuan Lenghou Tiong dan dapat mengendus bau kelaki-lakian yang keras dari tubuhnya, seketika pikirannya menjadi kacau.

Ia bermaksud meronta bangun, tapi betapa pun sukar mengumpulkan tenaga.

Akhirnya dengan wajah merah ia berkata.

"Eh, coba kau dorong aku!"

"Dorong kau? Buat apa?"

Tanya Lenghou Tiong.

"Kita ... kita begini, apa ... apa macam ini?"

Kata si nona malu-malu.

"Kakek dan nenek memangnya harus begini,"

Ujar Lenghou Tiong tertawa.

"Hm, kau sembarangan mengoceh, coba nanti kalau aku tidak membunuh kau,"

Semprot si nona.

Terkesiap juga hati Lenghou Tiong.

Teringat olehnya peristiwa dia memerintahkan berpuluh orang laki-laki agar mencukil biji matanya sendiri hingga buta, lalu disuruh enyah ke pulau terpencil di lautan timur.

Maka ia tidak berani bergurau lagi dengan si nona.

Pikirnya.

"Usianya masih begini muda, tapi sekali bergebrak saja sudah membunuh empat orang murid Siau-lim-pay, ilmu silatnya terang sangat tinggi, tindak tanduknya begini ganas pula, sungguh orang sukar memercayai bahwa semua itu diperbuat oleh seorang nona secantik ini."

Melihat Lenghou Tiong diam saja, segera si nona bicara pula.

"Kau marah lagi ya? Seorang laki-laki sejati mengapa begini sempit jalan pikiranmu?"

"Aku tidak marah, tapi aku merasa takut kalau-kalau akan dibunuh olehmu,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Asal selanjutnya kau bicara menurut aturan, siapa yang akan membunuh kau?"

"Ya, dasar sifatku memang suka ugal-ugalan begini, ini namanya apa mau dikata? Tampaknya sudah suratan nasib bahwa aku pasti akan kau bunuh."

"Tadinya kau panggil nenek padaku dan sangat patuh serta hormat padaku, maka selanjutnya kau pun bersikap hormat dan patuh seperti itu saja,"

Ujar si nona dengan tertawa.

"Tidak bisa!"

Sahut Lenghou Tiong.

"Aku sudah tahu engkau adalah seorang nona cilik, maka aku tak bisa menganggap kau sebagai nenek lagi."

"Kau ... kau ...."

Baru sekian ucapannya, mendadak wajah si nona menjadi merah.

Entah tiba-tiba teringat sesuatu apa sehingga dia tidak melanjutkan pula kata-katanya.

Waktu menunduk dan melihat wajah ayu yang kemalu-maluan dan menggiurkan itu, seketika perasaan Lenghou Tiong terguncang.

"Ngok" , tanpa merasa ia mencium sekali di pipi yang bersemu merah itu. Keruan si nona terperanjat. Sekonyong-konyong timbul suatu arus tenaga, tangannya membalik.

"plok" , ia gampar muka Lenghou Tiong dengan cukup keras, menyusul ia terus melompat bangun. Akan tetapi loncatannya itu terbatas sekali tenaganya, selagi tubuhnya terapung di atas tenaganya sudah habis dan segera terbanting jatuh pula ke dalam pangkuan Lenghou Tiong dengan lemas dan tidak sanggup bergerak lagi. Ia takut kalau-kalau Lenghou Tiong berbuat bangor lagi, maka hatinya sangat cemas, katanya terputus-putus.

"Jika ... jika kau berani berbuat kurang ajar lagi, segera ... segera aku akan menyembelih kau."

"Kau akan menyembelih aku atau tidak bukan soal bagiku, toh jiwaku sudah tidak lama lagi akan tamat. Aku justru akan berbuat kurang ajar pula."

Keruan si nona tambah khawatir, katanya.

"Aku ... aku ...."

Namun apa yang dapat diperbuatnya?

Lenghou Tiong mengerahkan tenaga sebisanya dan perlahan-lahan mengangkat bahu si nona, tapi segera ia miringkan tubuhnya sendiri terus menggelinding ke pinggir.

Katanya dengan tertawa.

"Kau ... kau akan apa?"

Habis ucapannya ini berulang-ulang ia terbatuk-batuk, bahkan darah segar pun terbatuk keluar.

Hendaklah maklum bahwa sifat Lenghou Tiong sebenarnya cuma suka ugal-ugalan dan sembrono, tapi sesungguhnya bukanlah bajul buntung, bukan pemuda yang suka merusak kaum wanita.

Tadi hanya berguncang seketika perasaannya sehingga pipi si nona dikecupnya satu kali, namun segera ia merasa menyesal juga, sesudah digampar satu kali ia lebih-lebih menyesalkan perbuatannya sendiri itu.

Walaupun mulutnya masih tetap keras, tapi ia tidak berani lagi berpeluk-pelukan dengan si nona.

Menyingkirnya Lenghou Tiong dengan sukarela itu sebaliknya di luar dugaan si nona.

Bahkan diam-diam si nona merasa menyesal ketika melihat Lenghou Tiong menumpahkan darah.

Cuma dia merasa malu untuk mengucapkan beberapa patah kata permintaan maaf, maka dengan suara halus ia hanya berkata.

"Apakah ... apakah dadamu sakit sekali?"

"Dada sih tidak sakit, tapi tempat lainlah yang terasa sakit,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Tempat mana yang sakit?"

Tanya si nona. Betapa rasa perhatiannya tampak sekali dari air mukanya.

"Tempat ini!"

Jawab Lenghou Tiong sambil meraba-raba pipinya yang kena digampar tadi. Si nona tersenyum.

"Kau ingin aku minta maaf padamu bukan? Bolehkah sekarang juga aku ... aku minta maaf padamu."

"Aku sendirilah yang salah, harap nenek jangan marah!"

Mendengar dirinya dipanggil lagi sebagai nenek, tanpa merasa si nona mengikik geli.

"Bagaimana dengan obat busuk pemberian si hwesio tua? Kau masih belum meminumnya bukan?"

Tanya Lenghou Tiong.

"Tidak sempat dijemput lagi,"

Sahut si nona sambil menuding ke atas tebing sana.

"Masih ketinggalan."

Dan sesudah berhenti sejenak, lalu sambungnya pula.

"Aku akan menurut padamu. Sebentar akan kunaik ke atas untuk menjemputnya kembali dan akan kuminum tanpa peduli apakah obat busuk atau bukan?"

Begitulah kedua orang duduk bersama di tanah tanjakan yang miring itu.

Jika dalam keadaan biasa, cukup sekali loncat saja mereka sudah dapat melayang ke atas.

Tapi sekarang tebing itu dirasakan seperti puncak terjal yang beribu-ribu meter tingginya dan sukar dicapai.

Kedua orang sama-sama memandang sekejap ke atas tebing, lalu menunduk kembali untuk kemudian saling pandang dan sama-sama menghela napas.

"Aku akan duduk tenang sebentar, jangan kau mengganggu aku,"

Kata si nona.

Lenghou Tiong mengiakan.

Dilihatnya si nona lantas duduk bersandar di tanah yang miring itu sambil pejamkan kedua mata, tiga jarinya, yaitu jempol, jari-jari telunjuk dan tengah menahan di atas tanah dengan gaya yang aneh.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin.

"Umumnya orang bersemadi dengan duduk bersila, tapi cara duduknya ini benar-benar lain daripada yang lain."

Mestinya Lenghou Tiong juga ingin mengaso sebentar untuk mengumpulkan tenaga.

Tapi perasaannya ternyata bergolak terus, betapa pun sukar dibikin tenang.

Tiba-tiba terdengar suara "kok-kok-kok", seekor swike (kodok hijau) mendadak melompat keluar dari dalam sungai.

Keruan Lenghou Tiong sangat girang.

Sesudah menderita sekian lamanya, memangnya ia sudah kelaparan, makanan yang disodorkan kepadanya ini benar-benar sangat kebetulan baginya.

Tanpa pikir lagi tangannya terus mencengkeram kodok kesasar itu.

Tak terduga tangannya masih sangat lemas, cengkeramannya itu ternyata menubruk tempat kosong.

"Kok" , kodok itu sempat melompat pergi sambil berkokok seakan-akan sangat senang dan seperti sedang menyindir ketidakbecusan Lenghou Tiong. Lenghou Tiong menghela napas. Yang lebih membikinnya mendongkol adalah di tepi sungai kecil itu ternyata amat banyak kodok-kodok hijau yang gemuk-gemuk lagi, seekor melompat pergi segera melompat datang pula dua ekor yang lain, tapi Lenghou Tiong tetap tidak mampu menangkapnya meski tangannya sudah tubruk sini dan sambar ke sana. Pada saat itulah tiba-tiba dari belakang menjulur tiba sebuah tangan yang putih dan halus, sekali dekap dengan perlahan tahu-tahu seekor kodok hijau itu sudah tertangkap. Waktu Lenghou Tiong menoleh, kiranya adalah si nona. Hanya duduk tenang sebentar saja kini ia sudah bisa bergerak, walaupun masih kurang tenaga, tapi untuk menangkap beberapa ekor kodok adalah terlalu gampang baginya.

"Bagus!"

Seru Lenghou Tiong girang.

"Kita akan dapat menikmati daging swike."

Nona itu tersenyum, sekali tangannya menjulur kembali seekor kodok kena ditangkapnya pula. Hanya sekejap saja sudah lebih 20 ekor kodok hijau tertangkap.

"Sudah cukup!"

Seru Lenghou Tiong.

"Kau pergi mencari kayu dan membuat api, aku yang menyembelih kodok-kodok ini."

Si nona menurut dan pergi mencari kayu bakar.

Lenghou Tiong sendiri lantas melolos pedang dan mulai memotong kepala dan membuang cakar kodok, lalu membelek dan membeset kulitnya.

Dengan tertawa si nona berkata.

"Orang kuno menyembelih ayam pakai golok jagal kerbau, tapi sekarang Lenghou-tayhiap menyembelih kodok hijau dengan ilmu pedang Tokko-kiu-kiam."

Lenghou Tiong terbahak-bahak, sahutnya.

"Hahaha, jika Tokko-tayhiap mengetahui di alam baka bahwa ahli warisnya ternyata begini tak becus, ilmu pedangnya yang hebat telah disalahgunakan untuk menyembelih kodok, wah, saking marahnya mungkin beliau bisa ...."

Mestinya ia hendak mengatakan "bisa mati kaku", tapi segera ia urungkan ucapannya itu. Dengan tertawa si nona lantas berkata pula.

"Lenghou-tayhiap ...."

Sambil memegangi kodok yang telah disembelihnya dan digoyang-goyangkan, Lenghou Tiong berkata.

"Sebutan ‘tayhiap’ sama sekali aku tidak berani terima. Di dunia ini mana ada pendekar besar tukang sembelih kodok?"

"Di zaman dahulu ada kesatria penjagal anjing, di zaman ini sudah tentu ada pendekar tukang sembelih kodok,"

Ujar si nona dengan tertawa.

"Eh, kau punya Tokko-kiam-hoat itu benar-benar amat hebat, sampai-sampai hwesio tua dari Siau-lim-pay itu pun tak mampu melawan kau. Dia bilang orang yang mengajarkan ilmu pedang padamu itu adalah tuan penolongnya, sebenarnya bagaimana duduknya perkara?"

"Orang yang mengajarkan ilmu pedang padaku ini adalah kaum angkatan tua dari Hoa-san-pay kami sendiri,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Begitu sakti ilmu pedang locianpwe itu, mengapa di dunia Kangouw tidak pernah terdengar namanya?"

"Ini ... ini ... aku sudah berjanji kepada beliau untuk tidak membocorkan jejaknya, maka ... maka ...."

"Huh, memangnya aku kepingin tahu?"

Dengus si nona.

"Biarpun kau mau memberi tahu kepadaku juga aku tidak sudi mendengarkan. Apakah kau tahu siapakah aku ini dan bagaimana asal usulku?"

"Aku tidak tahu,"

Jawab Lenghou Tiong sambil menggeleng.

"Sampai-sampai nama nona juga aku belum mengetahui."

"Kau sengaja merahasiakan urusanmu, maka aku pun tidak mau menerangkan padamu,"

Kata si nona.

"Meski aku tidak tahu, tapi aku pun dapat menerka sampai delapan atau sembilan bagian,"

Kata Lenghou Tiong. Air muka si nona rada berubah, katanya.

"Kau dapat menerka? Cara bagaimana kau bisa menerka?"

"Sekarang masih belum tahu, sebentar kalau sudah malam tentu aku bisa tahu jelas,"

Kata Lenghou Tiong. Si nona tambah heran dan terkejut, tanyanya.

"Mengapa setelah malam tiba nanti kau bisa tahu dengan jelas?"

"Aku akan menengadah ke langit untuk memeriksa bintang-bintang, bila diketahui bintang mana yang kurang di langit, maka tahulah perbintangan apa yang telah menjelma sebagai nona. Nona secantik bidadari seperti kau, di dunia fana ini mana ada wanita demikian?"

Wajah si nona menjadi merah.

"Cis!"

Semprotnya. Tapi batinnya amat senang. Katanya.

"Kembali kau mengoceh tak keruan lagi."

Dalam pada itu ia sudah menyatakan api, segera ia menyunduk swike-swike yang telah dibersihkan itu di batangan kayu, lalu dipanggang di atas unggun api.

Ketika minyak kodok menetes di atas api, terdengarlah suara mencicit yang ramai, bau sedap lantas teruar juga.

Sambil memandangi asap yang mengepul dari unggun api, perlahan-lahan si nona berkata pula.

"Aku bernama Ing-ing. Biar kukatakan, entah kelak kau akan terus ingat atau tidak?"

"Ing-ing! Ehm, bagus amat nama ini,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Bila sejak dulu-dulu aku mengetahui kau bernama Ing-ing tentu aku takkan memanggil nenek padamu."

"Sebab apa?"

"Sebab Ing-ing terang adalah nama seorang nona cilik, dengan sendirinya bukanlah nenek-nenek reyot."

"Kelak jika aku benar-benar sudah nenek-nenek reyot, aku toh takkan ganti nama dan akan tetap bernama Ing-ing,"

Kata si nona alias Ing-ing dengan tertawa.

"Kau takkan pernah menjadi nenek-nenek. Kau begini cantik, sampai berumur 80 tahun juga masih tetap seorang nona cilik yang amat cantik."

"Wah, kan bisa menjadi siluman nanti?"

Sahut Ing-ing dengan tertawa. Selang sejenak, lalu sambungnya dengan sungguh-sungguh.

"Aku sudah beri tahukan namaku, selanjutnya kau tidak boleh sembarangan memanggil lagi."

"Mengapa?"

"Tidak boleh ya tidak boleh."

Lenghou Tiong menjulurkan lidah.

"Wah, ini tidak boleh, itu dilarang, kelak orang yang menjadi sua ...."

Sampai di sini ia tidak berani melanjutkan lagi ketika dilihatnya muka si nona merengut marah.

"Hmm!"

Demikian Ing-ing mendengus.

"Kenapa kau marah? Aku maksudkan. kelak orang yang menjadi muridmu tentu akan tahu rasa,"

Mestinya ia akan bilang "suamimu", tapi demi melihat gelagat jelek segera ia ganti haluan. Sudah tentu Ing-ing tahu maksudnya. Katanya.

"Kau ini memang angin-anginan, tidak jujur pula. Di dalam tiga kalimat ucapanmu lebih dari dua kalimat selalu kau putar balik. Tapi aku pun tidak akan memaksa kepada orang lain. Orang lain boleh mendengarkan kata-kataku, kalau tidak suka boleh jangan mendengarkan dan terserah kepadanya."

"Tapi aku suka mendengarkan ucapanmu kok,"

Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

Ucapannya ini mengandung nada menggoda.

Alis Ing-ing tampak berkerut seperti hendak marah, tapi mukanya lantas merah jengah dan terus berpaling.

Untuk sejenak siapa pun tidak bersuara lagi.

Tiba-tiba tercium bau hangus.

"Aiiii!"

Ing-ing menjerit. Kiranya sundukan satai kodoknya telah terpanggang hangus.

"Gara-garamu!"

Omel Ing-ing.

"Kau mesti bilang gara-garaku membikin kau marah sehingga dapat menghasilkan satai kodok hangus sebaik ini,"

Sahut Lenghou Tiong tertawa. Segera ia mendahului mencomot sepotong paha swike yang hangus dan dimasukkan ke dalam mulut.

"Ehmmm, alangkah lezatnya! Satai hangus beginilah barulah sedap. Di tengah rasa sangit mengandung pahit dan di tengah rasa pahit timbullah manis. Rasa selezat ini boleh dikata nomor satu di dunia ini."

Ing-ing merasa geli oleh ucapan Lenghou Tiong, sambil mengikik tawa ia pun ikut makan satai kodok itu.

Lenghou Tiong selalu pilih bagian yang hangus untuk dimakan sendiri dan memberikan paha kodok yang tidak hangus untuk Ing-ing.

Sesudah kenyang makan, cahaya sang surya menghangati badan mereka, saking lelahnya tanpa merasa mereka sama berbaring dan tertidur.

Lantaran semalam suntuk tidak tidur, pula sama-sama terluka, maka tidur mereka itu sangat nyenyak.

Di tengah impiannya Lenghou Tiong merasa dirinya sedang berlatih pedang bersama Gak Leng-sian di tengah gemerojoknya air terjun.

Tiba-tiba di tengah mereka bertambah satu orang dan ternyata Lim Peng-ci adanya.

Menyusul dirinya lantas berkelahi dengan Peng-ci di tengah air terjun itu.

Tapi kedua tangannya sendiri sama sekali tak bertenaga, dengan mati-matian ada maksud mengeluarkan Tokko-kiu-kiam ajaran Hong Jing-yang itu, tapi satu jurus pun sukar dikeluarkan, sebaliknya serangan-serangan Lim Peng-ci semakin menggencar dan berulang-ulang mengenai ulu hati, perut, kepala dan bahunya, sedangkan Gak Leng-sian tampak bergelak tertawa.

Saking khawatir dan gusarnya ia berteriak-teriak.

"Siausumoay, Siausumoay!"

Setelah berteriak beberapa kali, akhirnya ia terjaga bangun sendiri. Didengarnya suatu suara yang lembut berkata di sampingnya.

"Kau telah mimpi siausumoaymu, apa yang dia lakukan terhadapmu?"

"Ada orang hendak membunuh aku, tapi Siausumoay tidak ambil pusing kepadaku,"

Sahut Lenghou Tiong dengan perasaan belum tenteram. Ing-ing menghela napas, katanya.

"Dahimu penuh air keringat."

Segera Lenghou Tiong mengusapnya dengan lengan baju, tiba-tiba angin berkesiur sehingga terasa menggigil.

Waktu menengadah, dilihatnya langit penuh dengan bintang-bintang, nyata hari sudah jauh malam, kiranya tidurnya benar-benar sangat nyenyak dan marem.

Setelah jernih kembali pikirannya, segera lapanglah perasaan Lenghou Tiong.

Ia tertawa dan baru hendak bicara, mendadak Ing-ing mendekap mulutnya dan mendesis.

"Ssst, ada orang datang."

Segera Lenghou Tiong tutup mulut, tapi tidak mendengar sesuatu. Selang sebentar lagi barulah didengarnya ada suara tindakan orang dari kejauhan. Selang sejenak pula, terdengar seorang sedang berkata.

"Di sini ada lagi dua sosok mayat."

Sekali ini Lenghou Tiong dapat mengenali suara orang itu, terang Coh Jian-jiu adanya.

"Ini ada bekas-bekas darah,"

Terdengar seorang lagi berkata. Lalu yang seorang lain berseru.

"Ah, ini kan hwesio dari Siau-lim-pay?!"

Lenghou Tiong lantas ingat pembicara yang duluan itu adalah Ya-niau-cu Keh Bu-si dan yang terakhir adalah Lo Thau-cu, mungkin dia melihat mayatnya Kat-gwe.

Perlahan-lahan Ing-ing menarik kembali tangannya yang mendekapi mulut Lenghou Tiong tadi.

Dalam pada itu terdengar Keh Bu-si telah berkata pula.

"Ketiga orang yang mati ini adalah murid Siau-lim-pay dari kalangan preman, mengapa bisa terbinasa di sini? Eh, orang ini bernama Sin Kok-liong, aku kenal dia. Sungguh mengerikan matinya ini, padahal dia adalah jago gwakang dari Siau-lim-pay."

"Ya, siapakah yang punya kemampuan sehebat ini sehingga dapat membunuh empat jago Siau-lim-pay sekaligus?"

Kata Coh Jian-jiu.

"Jangan-jangan ... jangan-jangan adalah perbuatan tokoh dari Hek-bok-keh?"

Ujar Lo Thau-cu dengan ragu-ragu.

"Bahkan bisa jadi adalah ... adalah Tonghong-kaucu sendiri?"

"Ya, kalau melihat keadaan luka parah korban ini memang rada-rada mirip,"

Kata Keh Bu-si.

"Marilah kita lekas mengubur keempat rangka jenazah ini agar jejaknya tidak diketahui oleh orang dari Siau-lim-pay."

"Jika memang benar tokoh Hek-bok-keh yang melakukannya, tentu mereka pun tidak takut diketahui oleh pihak Siau-lim-pay,"

Ujar Coh Jian-jiu.

"Malahan bukan mustahil mayat-mayat ini memang sengaja ditinggalkan begini saja di sini secara demonstratif agar diketahui oleh orang-orang Siau-lim-pay."

"Kukira kalau mau unjuk wibawa begini rasanya takkan meninggalkan mayat-mayat ini di tempat pegunungan yang sunyi begini,"

Ujar Keh Bu-si.

"Coba pikir, jika kita tidak lewat di sini secara kebetulan, tentu mayat-mayat ini akan dimakan oleh burung-burung dan binatang-binatang buas dan tentu takkan ketahuan orang lagi. Jika aku, lebih tepat kalau mayat-mayat ini digantung di tengah jalan besar dan diberi tanda pula sebagai anak murid Siau-lim-pay, dengan demikian pamor Siau-lim-pay pasti akan runtuh habis-habisan."

"Uraian Ya-niau-cu ini memang tidak salah,"

Kata Coh Jian-jiu.

"Besar kemungkinan setelah tokoh Hek-bok-keh membunuh keempat orang ini lalu buru-buru pergi mengejar musuh lagi dan tidak sempat mengubur mayat-mayat ini."

Habis itu lantas terdengar suara tanah digali, ketiga orang itu mulai menggali liang untuk mengubur mayat Sin Kok-liong berempat. Diam-diam Lenghou Tiong membatin.

"Ketiga orang ini tentu mempunyai hubungan yang sangat rapat dengan Tonghong-kaucu dari Hek-bok-keh, kalau tidak rasanya mereka takkan susah payah mencapekkan diri seperti ini."

Sejenak kemudian, tiba-tiba terdengar suara "crat-cret"

Berulang-ulang, lalu terdengar Lo Thau-cu bertanya.

"Ya-niau-cu, orangnya sudah mati, buat apa lagi kau membacoki badan mereka?"

"Coba saja kau menerkanya,"

Sahut Keh Bu-si dengan tertawa. Sebelum Lo Thau-cu menjawab, tiba-tiba Coh Jian-jiu menyela dengan tertawa.

"Pikiran Ya-niau-cu memang sangat rapi, untuk menjaga pencarian orang Siau-lim-pay yang mungkin akan menggali keluar mayat-mayat ini dan dari keadaan luka-luka di atas mayat ini tentu akan dapat diselidiki siapakah pembunuhnya."

Bab 59. Ing-ing Memerintahkan Bunuh Lenghou Tiong Terdengar Keh Bu-si berkata pula.

"Saudara Sin Kok-liong, jelek-jelek kita pernah bertemu satu kali, Ya-niau-cu sangat mengagumi jiwa kesatriamu yang luhur, tapi hari ini terpaksa aku harus mencacah jenazahmu, harap engkau sudi memaafkan. Ai sungguh sayang, sayang!"

"Ya, betul juga,"

Kata Lo Thau-cu.

"Kalau begitu bacok saja lebih banyak, semakin luluh semakin baik."

Sembari omong dan menghela napas gegetun ia pun terus membacok dengan goloknya.

Tiga orang mencacah empat jenazah itu hingga menjadi berpuluh potong kecil-kecil, habis itu barulah dimasukkan ke dalam liang dan diuruk dengan tanah.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin.

"Orang-orang ini benar-benar bertangan gapah dan berhati kejam. Ya-niau-cu itu katanya mengagumi Sin Kok-liong sebagai kesatria berjiwa luhur, tidak seharusnya dia merusak jenazahnya sedemikian rupa."

Waktu ia menoleh, di tengah remang-remang kegelapan malam dilihatnya Ing-ing sedang tersenyum-senyum.

Wajah yang tersenyum itu benar-benar teramat menggiurkan, padahal jelas terdengar orang membacoki mayat sehingga senyuman yang manis itu tidak sesuai dengan suasananya.

Tiba-tiba terdengar Coh Jian-jiu bersuara.

"He, apakah ini? Ada sebutir obat."

Terdengar pula Keh Bu-si sedang mengendus-endus beberapa kali, lalu berkata.

"Ini adalah obat mujarab Siau-lim-pay yang mempunyai khasiat menghidupkan orang mati, tentulah obat ini tercecer dari saku anak murid Siau-lim-pay ini."

"Dari mana kau mengetahui ini adalah obat Siau-lim-pay?"

Tanya Coh Jian-jiu.

"Kira-kira dua puluh tahun yang lalu aku pernah melihat obat semacam ini di tempat seorang hwesio tua Siau-lim-si,"

Sahut Keh Bu-si.

"Jika benar obat mujarab, inilah sangat kebetulan. Lo-heng, boleh kau ambil untuk diminumkan kepada Nona Siau Ih agar dia lekas sembuh,"

Ujar Coh Jian-jiu.

"Banyak-banyak terima kasih,"

Sahut Lo Thau-cu.

"Tentang penyakit putriku sih aku tidak terlalu pikirkan, yang penting sekarang juga kita lekas pergi mencari Lenghou-kongcu dan mempersembahkan obat ini kepadanya."

Sungguh tak terkatakan rasa terima kasih dan terharu demi mendengar ucapan Lo Thau-cu itu. Pikirnya.

"Obat itu terang adalah kepunyaan Ing-ing yang jatuh itu. Bagaimana caranya aku harus memintanya kembali dari Lo Thau-cu untuk diminumkan kepada Ing-ing?"

Ia lihat Ing-ing sedang tersenyum pula dan mencibir padanya dengan sikap jenaka dan kekanak-kanakan, sungguh sukar untuk dipercaya bahwa nona cilik yang cantik dan lincah demikian adalah iblis perempuan yang sekaligus telah membunuh empat jago pilihan Siau-lim-pay.

Menyusul terdengarlah suara urukan batu dan tanah, ketiga orang telah mengubur jenazah-jenazah itu.

Lalu Lo Thau-cu berkata pula.

"Sekarang kita menghadapi suatu persoalan sulit. Coba kau ikut memikirkan bagiku, Ya-niau-cu."

"Soal apa?"

Tanya Keh Bu-si.

"Saat ini Lenghou-kongcu tentu berada bersama ... bersama Seng-koh (putri suci),"

Kata Lo Thau-cu.

"Jika aku mengantarkan obat ini kepadanya tentu akan pergoki Seng-koh pula. Dan kalau Seng-koh marah sehingga aku dibunuh, hal ini tidak menjadi soal. Cuma dengan demikian berarti aku telah mengetahui keadaannya, hal inilah yang bisa bikin runyam."

Lenghou Tiong memandang sekilas kepada Ing-ing, katanya dalam hati.

"Kiranya mereka memanggil kau sebagai Seng-koh dan begitu pula takutnya padamu. Memangnya mengapa sedikit-sedikit kau suka membunuh orang?"

Dalam pada itu terdengar Keh Bu-si telah berkata.

"Ketiga orang buta yang kita jumpai di tengah jalan tadi ada juga gunanya bagi kita. Lo-heng, besok kita tentu akan dapat menyusul ketiga orang buta itu dan suruh mereka mengantarkan obat ini kepada Lenghou-kongcu. Mata mereka buta, seumpama menghadapi Seng-koh yang berada bersama Lenghou-kongcu juga takkan mengakibatkan kematian bagi mereka."

"Tapi aku justru sangsi jangan-jangan butanya ketiga orang itu justru disebabkan mereka memergoki Seng-koh sedang berada bersama Lenghou-kongcu,"

Timbrung Coh Jian-jiu. Mendadak Lo Thau-cu menepuk paha dan berseru.

"Benar! Jika tidak, mengapa mereka buta semua tanpa sebab? Malahan keempat murid Siau-lim-pay ini mungkin juga tanpa sengaja telah memergoki beradanya Seng-koh bersama Lenghou-kongcu sehingga mendatangkan malapetaka bagi mereka."

Untuk sejenak ketiga orang itu terdiam. Sebaliknya rasa heran dan ragu-ragu semakin berkecamuk di dalam benak Lenghou Tiong. Terdengar Coh Jian-jiu membuka suara lagi sambil menghela napas.

"Kuharap semoga penyakit Lenghou-kongcu lekas sembuh dan Seng-koh akan bisa lekas-lekas terjalin sebagai pasangan yang bahagia dengan dia. Selama mereka berdua tidak lekas-lekas menikah selama itu pula suasana di dunia Kangouw takkan bisa tenteram."

Lenghou Tiong terkesiap.

Ia coba melirik si Ing-ing.

Remang-remang wajah si nona tampak bersemu merah, tapi sorot matanya memancarkan sinar kemarahan.

Khawatir kalau-kalau mendadak Ing-ing mencelakai Lo Thau-cu bertiga, Lenghou Tiong sengaja menjulurkan tangan kanan untuk memegangi tangan kiri si nona.

Terasa badan Ing-ing rada gemetar, entah disebabkan marah atau karena malu.

"Lo-heng dan Coh-heng,"

Terdengar Keh Bu-si berkata.

"waktu Seng-koh mendengar kita akan berkumpul di atas Ngo-pah-kang, beliau menjadi begitu marah. Padahal cinta kasih antara muda-mudi adalah soal yang jamak. Pemuda ganteng dan cakap seperti Lenghou-kongcu itu hanya setimpal mendapatkan jodoh nona cantik seperti Seng-koh, mengapa tokoh hebat sebagai Seng-koh juga bisa kikuk-kikuk seperti perempuan desa saja. Sudah terang beliau menyukai Lenghou-kongcu, tapi beliau justru melarang orang lain mengungkat hal ini, lebih-lebih tidak suka dipergoki orang. Bukankah ini rada ... rada-rada janggal?"

Sampai di sini barulah Lenghou Tiong tahu duduknya perkara.

Cuma tidak tahu apa yang dikatakan Keh Bu-si itu benar atau tidak.

Sekonyong-konyong ia merasa tangan Ing-ing yang digenggamnya itu bergerak seakan-akan hendak melepaskannya dari pegangan.

Lekas-lekas ia menggenggam lebih kuat, ia khawatir dalam gusarnya Ing-ing bisa jadi akan membunuh Keh Bu-si.

Terdengar Coh Jian-jiu berkata.

"Sekalipun Seng-koh adalah satu di antara ketiga murid utama Hek-bok-keh, ilmu silatnya kuat dan agamanya tinggi, tapi apa pun juga dia adalah seorang nona muda belia. Setiap nona muda di dunia ini ketika untuk pertama kalinya menyukai seorang laki-laki, biarpun betapa hatinya jatuh cinta tetap juga tak berani diutarakannya. Kali ini kita bermaksud menyanjung Seng-koh, tapi malah kena batunya. Memang salah kita sendiri, kita adalah lelaki kasar semua dan tidak paham perasaan anak perempuan sehingga bukannya membikin senang hati Seng-koh, sebaliknya membuatnya marah malah. Kalau kejadian ini sampai tersiar tentu akan ditertawai oleh kawanan anjing dari kalangan yang menamakan dirinya beng-bun-cing-pay segala."

Lo Thau-cu lantas berseru lantang.

"Kita sama utang budi kepada Seng-koh, selama ini kita berharap dapat membalas kebaikannya dan bermaksud menyembuhkan penyakit kekasih jantung hatinya. Seorang laki-laki sejati harus dapat membedakan secara tegas antara dendam dan budi, ada budi harus dibalas, ada dendam harus dituntut, kenapa kau merasa berbuat salah? Hm, kawanan anjing mana yang berani menertawai kita biar aku membetot ususnya dan membeset kulitnya."

Baru sekarang Lenghou Tiong merasa terang seluk-beluk pengalamannya selama ini, jadi sepanjang jalan dirinya sedemikian disanjung puji oleh orang-orang gagah itu adalah berkat seorang "putri suci"

Dari Hek-bok-keh yang bernama Ing-ing ini.

Sebabnya para jago yang sudah berkumpul di atas Ngo-pah-kang dan mendadak bubar pula mungkin karena Seng-koh tidak ingin orang luar mengetahui isi hatinya dan menyiarkannya di dunia Kangouw.

Tapi lantas terpikir pula olehnya.

"Seng-koh adalah seorang nona muda jelita, namun dia sudah dapat mengerahkan sekian banyak jago-jago dan tokoh-tokoh ternama untuk menyanjung dirinya, dengan sendirinya si nona sendiri bukanlah tokoh sembarangan. Sedangkan perkenalanku sendiri dengan si nona hanya terjadi di suatu gang sunyi di kota Lokyang melalui suara kecapi dari balik kerai sehingga boleh dikatakan belum ada peresmian kasih segala, apa barangkali ada orang luar yang telah salah paham dan menyiarkan kejadian itu sehingga membikin Seng-koh sangat marah?"

Dalam pada itu terdengar Coh Jian-jiu sedang berkata.

"Ucapan Lo Thau-cu memang tidak salah. Kita banyak berutang budi kepada Seng-koh, asalkan kita dapat menjalinkan perjodohan ini sehingga selama hidup ini Seng-koh dapat hidup bahagia, maka biarpun badan kita hancur lebur juga takkan menyesal. Tentang sedikit dampratan yang kita alami di atas Ngo-pah-kang tidaklah menjadi soal. Hanya saja ... hanya saja Lenghou-kongcu adalah murid utama Hoa-san-pay yang selamanya tidak dapat hidup berdampingan dengan pihak Hek-bok-keh, untuk merangkapkan perjodohan ini rasanya tidak sedikit kesulitan-kesulitan yang masih harus dihadapi."

"Aku ada suatu akal,"

Kata Keh Bu-si.

"Kita kan dapat menangkap ketua Hoa-san-pay, yaitu si Gak Put-kun, lalu mengancam akan membunuhnya agar dia mau menjadi wali perjodohan ini."

"Akal Ya-niau-cu ini sungguh sangat bagus,"

Seru Coh Jian-jiu dan Lo Thau-cu berbareng.

"Urusan jangan terlambat, sekarang juga kita lantas berangkat untuk menangkap Gak Put-kun."

"Nanti dulu,"

Ujar Keh Bu-si.

"Perlu dipikirkan bahwa Gak Put-kun adalah ketua dari suatu aliran terkemuka, lwekang dan kiam-hoatnya mempunyai peyakinan yang mendalam dan sempurna. Kalau kita main kasar padanya, pertama kita belum pasti akan dapat menang, kedua, seumpama dapat menawan dia, kalau dia nanti tetap berkepala batu dan tak mau menurut, lalu bagaimana?"

"Jika begitu terpaksa kita harus menculik pula istri dan putrinya dengan segala ancaman-ancaman lain,"

Ujar Lo Thau-cu.

"Betul,"

Sokong Coh Jian-jiu.

"Cuma urusan ini harus dikerjakan serahasia mungkin, sekali-kali tak boleh diketahui orang luar sehingga membikin malu pihak Hoa-san-pay. Sebab Lenghou-kongcu adalah murid pertama Hoa-san-pay, jika kita membikin susah gurunya tentu dia akan merasa tidak senang."

Begitulah ketiga orang itu terus berunding pula cara bagaimana akan menangkap Gak-hujin serta Gak Leng-sian. Sekonyong-konyong Ing-ing berseru dengan suara lantang.

"Hei, ketiga orang yang berani mati itu, lekas enyah yang jauh dan jangan membikin marah nonamu melulu."

Lenghou Tiong sampai kaget karena mendadak Ing-ing membuka suara. Sekuatnya ia pegang tangan si nona. Sudah tentu Keh Bu-si bertiga lebih-lebih kaget. Dengan suara gemetar Lo Thau-cu telah menjawab.

"Ya, ya, hamba ... hamba ...."

Rupanya saking khawatirnya sehingga ia tidak sanggup meneruskan ucapannya. Keh Bu-si juga lantas berkata.

"Ya, kami memang telah sembarangan mengoceh, harap Seng-koh jangan anggap sungguh-sungguh. Biarlah besok juga kami lantas menyingkir ke Se-ek (benua barat) dan takkan kembali ke Tionggoan lagi."

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir.

"Wah, dengan demikian berarti ketiga orang ini telah diasingkan pula ke tempat terpencil jauh."

Tapi Ing-ing lantas berkata pula.

"Siapa yang suruh kalian menyingkir pergi ke Se-ek. Aku ada suatu urusan, hendaklah kalian melaksanakannya untukku."

Seakan-akan mendapat pengampunan besar, dengan girang luar biasa Keh Bu-si bertiga serentak berkata.

"Silakan Seng-koh memberi perintah saja, sudah pasti kami akan berbuat sepenuh tenaga."

"Aku ingin membunuh satu orang, tapi seketika sukar menemukan orangnya,"

Kata Ing-ing.

"Maka bolehlah kalian menyiarkan keinginanku ini, siapa saja dan setiap kawan Kangouw yang dapat membunuh orang ini pasti akan kuberi balas jasa yang baik."

"Balas jasa sih tidak berani kami harapkan,"

Ujar Coh Jian-jiu.

"Tentang jiwa orang itu, biarpun kami bertiga mengubernya sampai di ujung langit pun akan kami bekuk dia. Cuma saja tidak tahu siapakah keparat yang berani membikin marah kepada Seng-koh itu?"

"Melulu kalian bertiga saja rasanya kurang mampu membunuhnya, maka kalian harus lekas menyebarkan perintahku ini,"

Kata Ing-ing pula.

"Baik, baik,"

Sahut Coh Jian-jiu.

"Mohon tanya bangsat keparat siapakah yang Seng-koh ingin membunuhnya itu?"

"Hm,"

Ing-ing mendengus.

"Orang itu she Lenghou dan bernama Tiong, dia adalah murid utama dari Hoa-san-pay."

Ucapan ini membikin terkejut empat orang, yaitu Lo Thau-cu bertiga ditambah Lenghou Tiong sendiri. Seketika tiada seorang pun yang berani membuka suara. Sampai agak lama barulah Lo Thau-cu berkata.

"Hal ini ... hal ini ...."

"Hal apa?"

Omel Ing-ing.

"Apakah kalian takut kepada Ngo-gak-kiam-pay?"

"Sekalipun naik ke langit dan turun ke akhirat juga kami berani,"

Sahut Lo Thau-cu.

"Kami akan segera pergi menangkap Lenghou Tiong untuk diserahkan kepada Seng-koh agar dihukum yang setimpal. Marilah Ya-niau-cu dan Coh Jian-jiu, kita berangkat sekarang juga."

Tapi diam-diam ia membatin.

"Tentu dalam bicaranya Lenghou Tiong telah menyinggung perasaan Seng-koh. Memang jamak pergaulan di antara anak muda, semakin rapat dan baik semakin gampang cekcok pula. Ya, apa boleh buat, terpaksa kami harus pergi mencari dan mengundang Lenghou-kongcu ke sini, biarkan Seng-koh sendiri yang melayani dia."

Di luar dugaan Ing-ing lantas berseru dengan marah.

"Siapa yang suruh kalian pergi menangkap dia? Selama Lenghou Tiong itu hidup di dunia ini hanya akan merusak nama baikku yang suci bersih ini, lekas dia dibunuh lekas pula rasa dongkolku akan terlampias."

Coh Jian-jiu hendak berkata pula.

"Seng-koh ...."

Tapi Ing-ing telah menyela.

"Sudahlah, tentu kalian mempunyai hubungan baik dengan Lenghou Tiong dan tidak mau melaksanakan perintahku tadi. Tidak apalah, biar aku menugaskan kepada orang lain saja."

Mendengar ucapan Ing-ing itu sangat serius, Keh Bu-si bertiga tidak berani ragu-ragu lagi, terpaksa mereka memberi hormat dan berkata.

"Baiklah, dengan taat kami akan melaksanakan perintah Seng-koh."

Diam-diam Lo Thau-cu membatin pula.

"Lenghou-kongcu adalah seorang yang luhur budinya, hari ini aku terpaksa melaksanakan perintah Seng-koh dan mau tak mau harus ikut membunuh Lenghou-kongcu, tapi sesudah kubunuh dia, nanti aku pun akan membunuh diri untuk mengiringinya."

Begitulah ketiga orang itu lantas bertindak pergi. Waktu Lenghou Tiong memandang ke arah Ing-ing, tertampak nona itu sedang menunduk dan termenung-menung. Pikirnya.

"Kiranya demi untuk menjaga nama baiknya sendiri dia harus mencabut nyawaku. Tapi apa sih sulitnya jika hal ini dikehendaki?"

Maka berkatalah Lenghou Tiong.

"Kau ingin membunuh aku boleh silakan lakukan sendiri saja, buat apa mesti mengerahkan orang begitu banyak?"

Perlahan-lahan ia lantas melolos pedangnya sendiri dan menyodorkan gagang pedang kepada Ing-ing.

Ing-ing lantas memegangi pedang itu, kepalanya sendiri miring sambil menatapi Lenghou Tiong.

Dengan tertawa Lenghou Tiong lantas membusungkan dada.

"Kematianmu sudah di depan mata, apa yang kau tertawakan?"

Omel Ing-ing.

"Justru karena kematianku sudah di depan mata, makanya aku ingin tertawa,"

Sahut Lenghou Tiong. Ing-ing angkat pedangnya dengan gerakan seakan-akan hendak menusuk. Tapi mendadak ia putar tubuh, tangannya mengayun sekuatnya, pedang itu dibuang jauh-jauh.

"Trang", pedang itu jatuh di atas tanah.

"Semuanya gara-garamu, gara-garamu!"

Demikian si nona berseru sambil banting-banting kaki.

"Karena gara-garamu maka orang-orang Kangouw sama menertawakan diriku seolah-olah selamanya aku tidak ... tidak laku, seperti tidak ada orang yang mau padaku lagi, dianggapnya dengan segala daya upaya aku sengaja memikat kau. Padahal apamu yang ... yang hebat sehingga selanjutnya aku tidak punya muka untuk bertemu dengan orang lagi."

Tiba-tiba Lenghou Tiong bergelak tertawa malah. Ing-ing menjadi gusar. Dampratnya.

"Kau malah menertawai aku, kau mengejek aku?"

Mendadak ia terus menangis tergerung-gerung. Karena tangis si nona, seketika timbul juga rasa penyesalan Lenghou Tiong, mendadak ia menjadi sadar juga.

"Ah, dia mempunyai kedudukan dan nama yang tinggi serta terhormat, sedemikian banyak orang-orang gagah sama sangat segan kepadanya, dengan sendirinya dia sudah biasa dipuji, dia adalah anak perempuan, tentu juga punya rasa harga diri yang tinggi. Ketika mendadak semua orang mengatakan dia suka padaku, tentu saja hal ini membuatnya merasa direndahkan. Sebabnya dia menyuruh Lo Thau-cu bertiga menyiarkan perintahnya untuk membunuh aku besar kemungkinan tidak sungguh-sungguh hendak membunuh aku, tapi tujuannya hanya sebagai sangkalan saja tentang sukanya padaku. Dengan perintahnya itu tentu siapa pun takkan curiga bahwa aku justru berada bersama dia."

Segera Lenghou Tiong berbangkit, katanya dengan suara halus.

"Ya, memang akulah yang bersalah sehingga membikin nama baik nona tercemar. Biarlah sekarang juga aku mohon diri saja."

Ing-ing mengusap air matanya, katanya.

"Kau hendak ke mana?"

"Tiada tempat tujuan, ke mana pun jadi,"

Sahut Lenghou. Tiong.

"Kau telah berjanji akan mengantar aku, mengapa sekarang hendak tinggal pergi sendirian?"

"Ah, sesungguhnya aku tidak tahu tebalnya bumi dan tingginya langit sehingga sembarang omong, ucapanku itu tentu akan ditertawai nona saja,"

Ujar Lenghou Tiong dengan tersenyum.

"Padahal ilmu silat nona sedemikian tinggi, masakah perlu pengawalanku segala. Biarpun ada seratus orang Lenghou Tiong juga tidak mampu membandingi nona seorang."

Habis berkata ia terus putar tubuh hendak melangkah pergi.

"Kau tidak boleh pergi,"

Seru Ing-ing gugup.

"Kenapa?"

Tanya Lenghou Tiong.

"Coh Jian-jiu bertiga sudah menyiarkan perintahku tadi, dalam waktu beberapa hari saja setiap orang Kangouw pasti akan tahu semua. Dalam keadaan begitu setiap orang tentu ingin membunuh kau. Jangankan kau dalam keadaan terluka, sekalipun sehat juga kau sukar untuk menghindarkan diri dari kematian."

Lenghou Tiong tersenyum hambar, katanya.

"Jika aku dapat mati di bawah perintah nona, rasanya masih baik juga."

Habis berkata ia terus menjemput pedangnya dan dimasukkan ke dalam sarungnya.

Ia menduga dirinya masih lemah dan tidak sanggup mendaki tanah tanjakan itu, maka langkahnya lantas diarahkan ke sepanjang tepi sungai kecil itu.

Melihat Lenghou Tiong benar-benar mau pergi dan semakin jauh, Ing-ing lantas mengejarnya dan berseru.

"He, he! Kau jangan pergi."

"Jika aku tetap tinggal di sini kan cuma membikin susah pada nona, maka lebih baik aku pergi saja,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Tidak, kau ... kau ...."

Hanya sekian ucapannya dan segera Ing-ing menggigit bibir dengan perasaan risau dan cemas. Ketika dilihatnya Lenghou Tiong masih melangkah terus, cepat ia memburu maju pula sambil berkata.

"Lenghou Tiong, apakah kau sengaja memaksa aku mengucapkannya secara terus terang baru kau merasa puas ya?"

"Ai, ada apakah? Sungguh aku tidak paham?"

Sahut Lenghou Tiong heran. Kembali Ing-ing menggigit bibir, kemudian berkata.

"Aku telah suruh Coh Jian-jiu bertiga menyiarkan perintahku, hal itu supaya ... supaya kau bisa senantiasa berada di sampingku dan tidak boleh meninggalkan aku barang selangkah pun."

Habis mengucapkan demikian tubuhnya menjadi gemetar, berdiri pun sempoyongan. Lenghou Tiong terheran-heran, tanyanya.

"Kau ... kau ingin didampingi aku senantiasa?"

"Benar,"

Sahut Ing-ing.

"Setelah Coh Jian-jiu bertiga menyiarkan perintahku, mau tak mau kau harus mendampingi aku barulah dapat menyelamatkan jiwamu. Tak tersangka kau ternyata tidak tahu apa artinya kematian, sedikit pun kau tidak takut. Bukankah jadinya akulah ... akulah yang membikin celaka kau?"

Hati Lenghou Tiong menjadi terharu, pikirnya.

"Kiranya kau benar-benar sedemikian baik kepadaku, tapi di depan orang-orang itu mati pun kau tidak mau mengaku."

Segera ia putar tubuh dan mendekati Ing-ing, ia pegang kedua tangan si nona dan terasa amat dingin kedua telapak tangannya itu. Dengan suara lirih dibikinnya.

"Buat apa engkau berbuat demikian?"

"Aku takut,"

Sahut Ing-ing.

"Takut apa?"

"Aku takut kau yang tolol ini tidak mau turut kepada omonganku dan benar-benar akan pergi mengembara Kangouw lagi dan mungkin tidak sampai besok kau sudah akan mati di tangan manusia-manusia busuk yang tidak laku sepeser itu."

"Mereka itu adalah laki-laki gagah perkasa semua, mereka pun sangat baik padamu, mengapa kau begini memandang hina kepada mereka?"

"Di belakangku mereka menertawai diriku, mereka ingin membunuh kau pula, bukankah mereka itu adalah manusia-manusia busuk yang pantas mampus?"

Hampir-hampir Lenghou Tiong tertawa, katanya.

"Kau sendirilah yang menyuruh mereka mencari dan membunuh aku, mengapa kau malah salahkan mereka? Lagi pula mereka pun tidak menertawai kau. Bukankah kau mendengar pembicaraan Lo Thau-cu bertiga tadi tentang dirimu, betapa segan dan hormat mereka kepadamu, masakan mereka ada maksud menertawai kau?"

"Di mulut mereka tidak menertawai aku, tapi di dalam hati mereka tertawa,"

Kata Ing-ing. Diam-diam Lenghou Tiong merasa si nona ingin menang sendiri, ia pun tidak mau berdebat lagi dengan dia, terpaksa berkata.

"Baiklah, kau melarang aku pergi, biar aku mendampingi kau di sini saja. Ai, jika benar-benar dibacok orang sehingga terpotong-potong rasanya tentu tidaklah enak."

Ing-ing menjadi girang karena Lenghou Tiong berjanji takkan pergi. Katanya.

"Rasanya tidak enak apa, hakikatnya memang konyol."

Waktu bicara muka si nona rada dimiringkan ke sebelah sini sehingga di bawah cahaya bintang-bintang yang remang-remang dapat terlihat mukanya yang putih halus.

Seketika tergerak perasaan Lenghou Tiong, pikirnya.

"Sesungguhnya nona ini jauh lebih cantik daripada Siausumoay, akan tetapi ... akan tetapi, entah mengapa hatiku masih selalu terkenang kepada Siausumoay saja."

Sudah tentu Ing-ing tidak tahu di dalam hati Lenghou Tiong sedang memikirkan Gak Leng-sian, ia bertanya pula.

"Di mana kecapi pemberianku tempo hari? Sudah kau hilangkan ya?"

"Ya,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Aku kehabisan sangu di tengah jalan dan terpaksa kecapi itu kugadaikan."

Sembari berkata ia pun menanggalkan buntelan yang menyandang di bahunya, lalu dibuka dan dikeluarkannya khim (kecapi) pemberian si nona dahulu itu.

Melihat buntelan kecapi itu sangat rapi, suatu tanda betapa cermat dan sayang terhadap benda pemberiannya itu, diam-diam Ing-ing sangat senang.

Omelnya kemudian.

"Setiap hari kau mesti berdusta, baru hatimu merasa, puas bukan?"

Lalu ia ambil kecapi itu dan mulai dipetiknya perlahan-lahan, dibawakannya lagu "Jing-sim-boh-sian-ciu"

Itu sambil bertanya.

"Lagu ini sudah kau pelajari dengan baik belum?"

"Wah, masih jauh daripada baik,"

Sahut Lenghou Tiong sambil mendengarkan suara kecapi yang merdu dan menyegarkan itu.

Ia merasa suara kecapi sekarang rada berbeda daripada apa yang dibawakannya di Lokyang dahulu, bunyi kecapi sekarang lebih lincah, seperti kicauan burung, seperti gemerciknya mata air.

Baru sekarang ia tahu bahwa lagunya meski sama, tapi iramanya berbeda, kiranya lagu Jing-sim-boh-sian-ciu itu masih mempunyai perubahan sebanyak ini.

Tiba-tiba terdengar "creng"

Satu kali, senar kecapi yang paling pendek itu telah putus. Ing-ing tampak mengerut dahi, tapi masih terus memetik kecapinya. Selang tidak lama.

"cring" , kembali senarnya putus satu utas. Dari irama kecapinya itu sekarang Lenghou Tiong merasa mengandung kegelisahan sehingga sangat berlawanan dengan lagu Jing-sim-boh-sian-ciu yang semula. Lewat tidak lama pula, selagi heran, mendadak senar kecapi putus satu utas pula. Ing-ing tampak tercengang dan mendorong kecapinya ke depan. Lalu omelnya.

"Kau duduk di situ hanya mengganggu saja, tentu saja tak dapat membunyikan kecapi ini dengan baik."

Diam-diam Lenghou Tiong membatin.

"Sejak tadi aku duduk tenang-tenang mendengarkan di sini, bilakah aku pernah mengganggu kau?"

Tapi segera ia paham.

"Ya, dia sendirilah yang pikirannya tidak tenang sehingga akulah yang disalahkan."

Tapi ia pun tidak membantah omelan si nona, ia lantas merebahkan diri di atas tanah berumput itu dan pejamkan mata untuk istirahat.

Rupanya saking lelahnya sehingga akhirnya tanpa terasa ia terpulas.

Besok paginya waktu dia mendusin, dilihatnya Ing-ing sedang mencuci muka di tepi sungai.

Habis cuci muka si nona mulai menyisir rambut dengan sebuah sisir, lengannya putih bersih, rambutnya panjang terurai, Lenghou Tiong sampai kesima.

Waktu Ing-ing menoleh, dilihatnya Lenghou Tiong sedang memandanginya dengan termangu-mangu, muka Ing-ing menjadi merah, omelnya dengan tertawa.

"Setan tidur, baru sekarang mendusin."

Lenghou Tiong rada rikuh juga, katanya mengada-ada.

"Coba kupergi menangkap kodok, entah aku sudah kuat belum."

Memang benar juga, waktu Lenghou Tiong bermaksud berbangkit, terasa tangan dan kakinya masih lemas linu, sedikit pakai tenaga saja darah lantas bergolak di rongga dadanya.

Sungguh tidak kepalang rasa dongkolnya, kalau mau mati biar mati saja daripada mati tidak hidup tidak seperti sekarang ini, jangankan orang lain merasa jemu terhadap keadaannya itu, sedangkan dirinya sendiri juga merasa keki.

Melihat air muka Lenghou Tiong bersungut, Ing-ing lantas menghiburnya.

"Luka dalam yang kau derita belum pasti sukar disembuhkan, di sini adalah tempat yang sunyi, toh tiada pekerjaan apa-apa, boleh kau merawat badanmu perlahan-lahan kenapa mesti gelisah?"

Begitulah mereka terus tinggal di lembah pegunungan itu selama belasan hari.

Luka Ing-ing sudah lama sembuh, setiap hari dia yang menangkap swike sebagai bahan makanan.

Sebaliknya badan Lenghou Tiong makin hari makin susut tampaknya, melihat tangannya yang kurus itu hakikatnya tinggal kulit membungkus tulang belaka.

Meski Ing-ing sering membunyikan kecapi untuk menenangkan pikiran Lenghou Tiong dan membuatnya bisa tidur nyenyak, tapi bagi kesehatannya itu ternyata tiada berguna sama sekali.

Lenghou Tiong tahu ajalnya sudah mendekat, untunglah dia adalah seorang pemuda yang berpikiran lapang, ia pun tidak merisaukan nasibnya itu.

Setiap hari dia masih tetap bersenda gurau dengan Ing-ing.

Karena tiada punya sesuatu sirikan, maka senda guraunya menjadi semakin bebas.

Di lembah pegunungan yang terpencil sunyi itu, sejak perginya Keh Bu-si bertiga pada malam itu, untuk seterusnya tidak pernah lagi didatangi orang lain sehingga suasananya benar-benar aman tenteram.

Watak Ing-ing sebenarnya sangat tinggi hati dan suka main perintah, tapi demi ingat bahwa setiap saat ada kemungkinan riwayat Lenghou Tiong bisa tamat, maka dia tambah ramah dan mesra melayani pemuda itu dengan segala cara.

Terkadang ia pun suka muring-muring, tapi segera ia menjadi menyesal dan minta maaf kepada Lenghou Tiong.

Hari ini ketika dilihatnya Lenghou Tiong setiap hari hanya makan swike melulu dan tentu juga merasa bosan, maka Ing-ing telah pergi memburu seekor ayam hutan untuk dipanggang, ia mencari pula beberapa biji buah tho.

Kedua orang dapat bersantap dengan kenyang.

Bab 60.

"Ih-kin-keng"

Penyambung Jiwa Lenghou Tiong Habis makan, Lenghou Tiong merasa letih pula, sayup-sayup ia tertidur lagi akhirnya.

Di tengah mimpinya tiba-tiba seperti didengarnya suara orang menangis.

Waktu ia membuka mata perlahan-lahan, dilihatnya Ing-ing mendekam di samping kakinya, pundaknya tampak bergerak naik turun, terang nona itu sedang menangis.

Lenghou Tiong terkejut, baru bermaksud tanya si nona mengapa mendadak berduka, tapi segera ia paham duduknya perkara, tentu dia tahu ajalku sudah hampir tiba, makanya dia merasa sedih.

Perlahan-lahan ia mengulurkan sebelah tangan untuk meraba dan membelai rambut si nona.

Tahu bahwa Lenghou Tiong sudah mendusin, Ing-ing tidak angkat kepalanya lagi, sebaliknya menangis semakin sedih.

"Jangan menangis, jangan menangis!"

Hibur Lenghou Tiong dengan sengaja tertawa.

"Umurku masih ada 80 tahun lamanya, masakah begini cepat aku mau bersanakan dengan Giam-lo-ong (raja akhirat)?"

Dengan menangis Ing-ing berkata.

"Tapi makin hari kau semakin kurus, aku ... aku ...."

Mendengar ucapan si nona, yang simpatik dan penuh kecemasan itu, sungguh hati Lenghou Tiong sangat terharu.

Seketika ia merasa langit dan bumi seakan-akan berputar-putar, darah seperti mau menyembur keluar dari kerongkongannya.

Lalu ia tidak ingat diri lagi.

Pingsannya itu entah sudah lewat berapa lamanya, hanya terkadang ia dapat merasakan sedikit tubuhnya seperti terapung di atas langit, habis itu dia lantas kehilangan ingatan pula.

Begitulah terkadang ia bisa sadar sebentar, tapi tidak lama ia lantas pingsan lagi.

Terkadang merasa ada orang mencekoki minuman padanya, tempo-tempo terasa ada orang membakar badannya dengan api.

Suatu hari, pikiran Lenghou Tiong terasa rada jernih.

Didengarnya suara seorang lelaki sedang berkata.

"Apakah dia dapat hidup, hal ini mesti melihat rezekinya."

"Ai, memang sukar untuk diramalkan,"

Terdengar suara seorang lelaki lain sambil menghela napas.

Mestinya Lenghou Tiong bermaksud membuka matanya untuk melihat siapakah gerangan orang-orang yang berbicara itu, akan tetapi kelopak matanya dirasakan amat berat, betapa pun sukar dipentang.

Didengarnya orang yang pertama tadi berkata pula.

"Biarlah kita berusaha sepenuh tenaga, kita jangan mengecewakan kepercayaan orang kepada kita."

Menyusul Lenghou Tiong lantas merasa kedua pergelangan tangannya dipegang orang, masing-masing ada suatu hawa hangat yang menyalur ke dalam tubuhnya melalui urat nadi pergelangan itu, maka terjadilah pergolakan hebat dengan tenaga murni yang telah mengeram lebih dulu di dalam tubuhnya itu.

Sekujur badan dirasakannya sangat menderita, ia bermaksud berteriak, tapi sedikit pun tak dapat mengeluarkan suara.

Saat itu dia benar-benar tersiksa seperti mengalami berbagai macam alat penyiksa yang paling hebat.

Begitulah ia terus dalam keadaan sadar tak-sadar dan entah sudah lewat berapa lamanya, ia hanya dapat merasakan setiap kali terasa ada hawa murni menyalur masuk ke dalam badannya, maka rasa derita yang hebat itu lantas rada berkurang.

Lambat laun ia paham juga bahwa pasti ada dua orang yang mempunyai lwekang amat tinggi sedang menolong dan menyembuhkan penyakitnya.

Pikirnya ragu-ragu.

"Apakah barangkali Suhu atau Sunio telah mengundang tokoh sakti dari mana untuk menolong jiwaku? Dan ke mana perginya Ing-ing sekarang?"

Karena rasa sangsi dan ingin tahunya, pada hari ini sesudah menerima saluran hawa murni ia lantas mengajukan pertanyaan.

"Banyak terima kasih atas pertolongan Cianpwe? Entah saat ini aku berada ... berada di mana?"

Waktu ia membuka mata, dilihatnya suatu wajah yang penuh berkeriput, tapi mengulum senyum yang sangat ramah.

Lenghou Tiong merasa sudah kenal baik wajah orang tua ini, yang pasti bukanlah suhunya, dalam keadaan samar-samar ia memandangnya sejenak, tapi mendadak ia dapat mengingatnya dari kepala orang tua yang gundul dengan sembilan titik bekas selomot api dupa itu, terang kepala ini adalah seorang hwesio, segera teringat olehnya, katanya.

"Engkau adalah ... adalah Hong-sing Taysu."

Hwesio tua itu tersenyum dan menjawab.

"Kau masih kenal padaku. Ya, aku Hong-sing adanya."

"Ya, ya, engkau memang Hong-sing Taysu,"

Kata Lenghou Tiong pula.

Kini ia dapat merasakan dirinya ternyata berada di dalam sebuah kamar yang gelap, di tengah kamar hanya diterangi oleh sebuah pelita yang bercahaya guram, dirinya terasa terbaring di atas balai-balai dengan berselimut.

"Bagaimana perasaanmu sekarang?"

Tanya Hong-sing.

"Sudah banyak lebih baik,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Di ... di manakah aku berada ini?"

"Kau berada di dalam Siau-lim-si,"

Kata Hong-sing.

"Selama tiga bulan ini untuk pertama kalinya kau membuka suara."

Keruan Lenghou Tiong kaget, serunya.

"Haaah? Aku ... aku berada di Siau-lim-si? Dan di ... di manakah Ing-ing? Mengapa aku bisa ... bisa sampai di Siau-lim-si sini?"

"Kau baru saja sadar, pikiranmu tentu belum jernih kembali, lebih baik kau jangan banyak berpikir supaya penyakitmu tidak kambuh kembali,"

Ujar Hong-sing dengan tersenyum.

"Jika ada urusan apa-apa biarlah dibicarakan kelak secara perlahan-lahan."

Begitulah untuk selanjutnya setiap hari Hong-sing selalu datang ke kamar itu pada waktu pagi dan malam untuk menyalurkan tenaga murninya ke dalam tubuh Lenghou Tiong untuk bantu menyembuhkan penyakitnya.

Lewat belasan hari lagi keadaan Lenghou Tiong sudah tambah baik, dia sudah mulai bisa berduduk dan dapat pula turun dari pembaringan untuk berjalan, tapi setiap kali ia tanya tentang Ing-ing dan ke mana perginya nona itu pula tentang cara bagaimana dirinya bisa berada di Siau-lim-si, pertanyaan-pertanyaan ini selalu dijawab oleh Hong-sing dengan tersenyum saja tanpa penjelasan.

Suatu hari, kembali Hong-sing datang memberi saluran hawa murni pula kepada Lenghou Tiong, katanya.

"Lenghou-siauhiap, sekarang jiwamu boleh dikata sudah dapat diselamatkan, cuma kekuatan Lolap sangat terbatas, selama ini masih tidak sanggup memunahkan hawa murni yang sangat aneh di dalam badanmu itu sehingga terpaksa hanya bisa mengulur waktu saja, tapi besar kemungkinan tidak sampai setahun penyakitmu sudah akan kambuh lagi, tatkala mana biarpun ada malaikat dewata juga sukar menolong jiwamu."

"Ya, tempo hari Peng It-ci, Peng-tayhu juga berkata demikian kepadaku,"

Sahut Lenghou Tiong mengangguk.

"Taysu telah berusaha sekuat tenaga untuk menolong Wanpwe, sungguh aku merasa terima kasih tak terhingga. Tentang usia seseorang memang sudah takdir Ilahi, betapa pun keinginan orang juga tak dapat berbuat melawan takdir."

Hong-sing menggeleng, katanya.

"Dahulu pernah kukatakan padamu bahwa ketua kami Hong-ting Taysu memiliki lwekang yang mahatinggi, jika beliau ada jodoh dengan kau dan suka mengajarkan ‘Ih-kin-keng’ yang hebat itu kepadamu, maka otot tulang saja dapat diperbarui apalagi cuma memunahkan hawa murni di dalam tubuhmu? Marilah sekarang juga akan kubawa kau pergi menemui Hongtiang Suheng, semoga kau dapat menjawab pertanyaannya dengan baik-baik."

Memang sudah lama Lenghou Tiong mendengar nama kebesaran ketua Siau-lim-si Hong-ting Taysu, tentu saja ia sangat girang. Jawabnya cepat.

"Banyak terima kasih atas kesudian Taysu mempertemukan Wanpwe kepada Hongtiang, seumpama Wanpwe tidak berjodoh dengan beliau dan tidak memenuhi syarat, tapi asalkan dapat berjumpa dengan padri agung yang terkemuka pada zaman ini juga sudah bahagia bagiku."

Habis itu ia lantas ikut Hong-sing Taysu keluar dari kamar itu.

Setiba di luar, seketika matanya menjadi silau oleh cahaya sang surya yang gemilang.

Sudah sekian lamanya ia tidak melihat matahari, kini mendadak pandangannya menjadi silau, rasanya seperti memasuki suatu dunia lain, semangatnya lantas terbangkit dan segar.

Di waktu melangkah sesungguhnya kedua kaki Lenghou Tiong masih terasa sangat lemas.

Dilihatnya Siau-lim-si itu terdiri dari suatu kompleks gedung-gedung atau istana-istana yang sangat megah.

Sepanjang jalan yang dilalui telah banyak bertemu dengan kawanan padri, tapi waktu melihat Hong-sing semuanya lantas menyingkir ke tepi jalan sambil menundukkan kepala memberi hormat dengan sikap yang sangat segan.

Setelah menyusuri tiga jalanan serambi yang panjang, akhirnya mereka sampai di luar sebuah rumah batu.

Hong-sing lantas berkata kepada seorang hwesio cilik yang menjaga di luar rumah itu.

"Hong-sing ada urusan dan mohon bertemu dengan Hongtiang Suheng."

Hwesio cilik itu mengiakan dan melaporkannya ke dalam. Tidak lama kemudian ia telah keluar lagi dan memberi hormat, katanya.

"Hongtiang menyilakan Taysu masuk."

Segera Lenghou Tiong ikut di belakang Hong-sing memasuki rumah batu itu. Terlihatlah seorang hwesio tua bertubuh pendek kecil duduk di atas satu kasuran di tengah-tengah ruangan.

"Hong-sing menyampaikan sembah kepada Hongtiang Suheng,"

Demikian Hong-sing lantas memberi hormat kepada hwesio tua itu.

"Bersama ini pula Hong-sing memperkenalkan murid pertama dari Hoa-san-pay, Lenghou Tiong, Lenghou-siauhiap."

Cepat Lenghou Tiong lantas berlutut dan memberi sembah. Hong-ting Hongtiang, ketua Siau-lim-si, sedikit membungkuk tubuh sambil mengangkat tangan kanannya dan berkata.

"Siauhiap jangan banyak peradatan. Silakan duduk!"

Selesai memberi hormat, lalu Lenghou Tiong mengambil tempat duduk di atas kasuran yang terletak di samping Hong-sing.

Dilihatnya paras ketua Siau-lim-si itu rada-rada muram, seakan-akan orang yang sedang bersedih, usianya sukar untuk ditaksir.

Diam-diam ia heran.

"Sungguh tidak nyana bahwa padri agung yang namanya mengguncangkan dunia ini ternyata cuma begini saja mukanya. Jika bertemu dengan dia di luar Siau-lim-si mungkin tiada seorang pun yang akan menduga bahwa dia adalah ketua suatu aliran terbesar di dunia persilatan pada zaman ini."

Dalam pada itu terdengar Hong-sing Taysu telah bicara pula.

"Lapor Suheng, sesudah mendapat perawatan selama lebih tiga bulan, kini kesehatan Lenghou-siauhiap sudah jauh bertambah baik."

Lenghou Tiong terkejut lagi.

"Kiranya sudah lebih tiga bulan lamanya aku dalam keadaan tak sadarkan diri, tadi aku sih mengira paling lama baru belasan hari saja."

Terdengar Hong-ting Taysu telah berkata.

"Baik sekali,"

Lalu ia menoleh kepada Lenghou Tiong dan meneruskan.

"Siauhiap, gurumu Gak-siansing adalah ketua Hoa-san-pay, pribadi beliau terkenal sangat tegas dan jujur, namanya berkumandang di seluruh penjuru Kangouw, Lolap sendiri selamanya juga sangat kagum kepada beliau."

"Ah, Hongtiang terlalu memuji,"

Sahut Lenghou Tiong dengan rendah hati.

"Wanpwe menderita penyakit parah dan tak sadarkan diri, syukur mendapat pertolongan dari Hong-sing Taysu sehingga jiwaku dapat diselamatkan. Selama Wanpwe tidak sadarkan diri kiranya sudah lebih tiga bulan lamanya. Selama itu Suhu dan Subo kami tentulah dalam keadaan baik-baik juga?"

Tentang guru dan ibu-gurunya sendiri apakah baik-baik atau tidak mestinya tidak layak ditanyakan kepada orang luar, cuma lantaran Lenghou Tiong sangat memikirkan kedua orang tua itu sehingga tanpa pikir ia telah mengajukan pertanyaan demikian.

Maka terdengar Hong-sing telah menjawab.

"Kabarnya Gak-siansing, Gak-hujin, serta para murid Hoa-san-pay kini berada semua di Hokkian."

Mendapat keterangan itu, legalah hati Lenghou Tiong, katanya.

"Banyak terima kasih atas pemberitahuan ini."

Lalu Hong-ting mulai berkata pula.

"Menurut keterangan Hong-sing Sute, katanya ilmu pedang Lenghou-siauhiap mahahebat dan sudah memperoleh ajaran asli ‘Tokko-kiu-kiam’ dari kaum cianpwe Hoa-san-pay Hong-losiansing, hal ini sungguh sangat menggirangkan dan pantas diucapkan selamat kepada Siauhiap. Sudah lama sekali Hong-losiansing mengasingkan diri, selama ini Lolap menyangka beliau sudah wafat, siapa kira beliau masih berada di dunia fana ini, sungguh membuat orang girang tak terhingga dan Lolap juga ikut bersyukur."

Lenghou Tiong hanya mengiakan saja. Diam-diam ia berpikir.

"Menurut tingkatan angkatan, Hong-thaysusiokco memang lebih tua daripada kedua padri agung Siau-lim-si ini, mereka ini memang harus menyebut beliau sebagai locianpwe."

Dalam pada itu kedua mata Hong-ting tampak rada tertutup, lalu berkata pula dengan perlahan.

"Sesudah Lenghou-siauhiap terluka, tapi karena mendapat penyembuhan yang keliru dari orang yang tidak mahir sehingga di dalam tubuhmu terhimpun berbagai macam hawa murni yang aneh dan sukar dipunahkan, hal-hal ini Lolap sudah diberi tahu oleh Hong-sing Sute. Setelah Lolap meninjau persoalan ini dengan teliti, kukira hanya ada satu jalan, yaitu melatih ‘Ih-kin-keng’, yaitu inti lwekang yang paling tinggi dari Siau-lim-pay kami, dengan demikian barulah kelak Siauhiap mampu memunahkan macam-macam hawa murni jahat itu dengan kekuatan yang timbul dari tubuhmu sendiri. Sebaliknya kalau mau memunahkannya dengan kekuatan dari luar, walaupun jiwamu dapat diulur dan ditunda untuk sementara waktu, namun sebenarnya tiada gunanya, bahkan akan lebih merugikan dirimu malah. Selama lebih tiga bulan Hong-sing Sute telah menyelamatkan jiwamu dengan tenaga dalamnya, akan tetapi dengan tersalurkannya tenaga dalamnya ke dalam tubuhmu, maka kini di dalam tubuhmu menjadi bertambah pula semacam hawa murni yang aneh. Untuk ini boleh Siauhiap coba-coba buktikan dengan mengerahkan tenagamu, coba."

Lenghou Tiong menurut, ia coba-coba mengerahkan tenaga sedikit saja, benar juga lantas terasa darah bergolak, sakitnya bukan kepalang, seketika butir-butir keringat berketes-ketes dari dahinya.

"Lolap tidak becus sehingga makin menambah penderitaan Siauhiap,"

Ujar Hong-sing sambil merangkap kedua tangannya. Jawab Lenghou Tiong.

"Ah, mengapa Taysu berkata demikian? Taysu telah menolong jiwa Wanpwe dengan sepenuh tenaga sehingga banyak mengorbankan tenaga murni, bisanya Wanpwe hidup lagi seperti sekarang adalah berkat budi pertolongan Taysu."

"Aku tidak berani,"

Sahut Hong-sing.

"Dahulu Hong-losiansing pernah menolong Lolap, maka sedikit perbuatanku ini tidak lebih hanya sebagian kecil saja batas budi kebaikan Hong-losiansing itu."

Tiba-tiba Hong-ting mengangkat kepalanya dan berkata.

"Bicara tentang budi kebaikan atau dendam sakit hati apa segala? Budi kebaikan adalah jodoh, dendam sakit hati tidak boleh dipegang teguh. Segala kejadian di dunia fana ini laksana asap saja yang akan buyar dalam sekejap mata, setelah mencapai kesempurnaan takkan ada soal budi kebaikan dan dendam sakit hati lagi."

"Ya, terima kasih atas petuah Suheng ini,"

Sahut Hong-sing. Perlahan-lahan Hong-ting berkata pula.

"Anak murid Buddha harus mengutamakan welas asih. Jika Siauhiap sudah menderita penyakit sedalam itu, sudah seharusnya akan kutolong sepenuh tenaga. Tentang ‘Ih-kin-keng’ itu adalah ciptaan cikal bakal Siau-lim-si kami Tat-mo Cosu yang kemudian diwariskan kepada Cosu kedua, Hui-ko Taysu. Asalnya Hui-ko Taysu bergelar Sin-kong, beliau adalah orang Lokyang, waktu mudanya banyak mempelajari agama-agama lain, pengetahuannya sangat luas. Waktu Tat-mo Cosu sampai bersemayam di sini, Sin-kong Taysu telah berkunjung kemari dan mohon diterima sebagai murid, namun Tat-mo Cosu merasa apa yang dipelajari Sin-kong Taysu terlalu ruwet dan sukar memahami ajaran Buddha melulu, maka telah menolak permohonannya. Sin-kong Taysu masih terus memohon dengan sangat dan tetap tidak dapat diterima, akhirnya beliau lantas melolos pedang dan mengutungi lengan kiri sendiri."

"Ah!"

Lenghou Tiong sambil bersuara kaget. Pikirnya.

"Ternyata tekad Sin-kong Taysu itu sedemikian teguhnya."

Hong-ting melanjutkan pula ceritanya.

"Melihat begitu teguh maksud Sin-kong Taysu barulah kemudian Tat-mo Cosu mau menerimanya sebagai murid dan mengganti nama sucinya sebagai Hui-ko, kelak Hui-ko Taysu yang menjadi pewaris Tat-mo Cosu dan pada Zaman Sui-tiau (Dinasti Sui) beliau diberi sebutan sebagai ‘Sian-kat Taysu’. Ih-kin-keng yang diperoleh Hui-ko Taysu masih tertulis dalam huruf Hindu kuno, arti dalam kitab itu sangat luas, Hui-ko Taysu memperoleh kitab itu di tempat semadi Tat-mo Cosu ketika wafat sehingga isi kitab itu tak dapat dipelajari.

"Menurut tafsiran Hui-ko Cosu, kitab yang ditinggalkan Tat-mo Cosu sesudah bersemadi menghadapi tembok selama sembilan tahun, walaupun isi kitab hanya sedikit saja, tapi maknanya pasti lain daripada yang lain. Maka beliau lantas membawa kitab itu dan menjelajahi berbagai pegunungan ternama untuk mencari padri saleh yang dapat memberi pemecahan tentang arti isi kitab itu.

"Namun dapatlah dibayangkan, tatkala itu Hui-ko Cosu sudah terhitung padri saleh pada zaman itu, apa yang beliau renungkan saja sukar dipecahkan, apalagi mau mencari padri saleh lain yang lebih pintar daripada Hui-ko Cosu sendiri, terang hal ini sangat sulit dicari. Sebab itulah selama lebih dari 20 tahun arti dari isi kitab Ih-kin-keng yang dalam itu tetap tak terpecahkan.

"Pada suatu hari, berkat jodoh Hui-ko Cosu yang amat terpuji, beliau telah dapat bertemu dengan seorang padri Hindu di puncak Go-bi-san, padri Hindu itu bernama Panji Miti, keduanya telah saling tukar pendapat tentang ajaran Buddha dan masing-masing merasa sangat cocok satu sama lain. Akhirnya Hui-ko Cosu telah mengeluarkan Ih-kin-keng yang dibawanya untuk dibaca dan dipelajari bersama dengan Panji Miti. Kedua padri saleh itu saling tukar pendapat di puncak Go-bi-san selama 7x7=49 hari dan akhirnya dapat mencapai maksud tujuannya, isi kitab itu telah dapat dipecahkan dengan baik."

"Omitohud! Siancay! Siancay!"

Demikian Hong-sing mengucapkan sabda Buddha. Lalu Hong-ting melanjutkan pula.

"Tapi apa yang dapat dipecahkan oleh padri saleh Panji Miti itu sebagian besar adalah ajaran Buddha melulu, baru 12 tahun kemudian ketika Hui-ko Cosu bertemu dengan seorang muda yang mahir ilmu silat di Tiang-an, mereka saling tukar pikiran pula selama tiga hari tiga malam, akhirnya segala intisari ilmu silat yang terkandung di dalam Ih-kin-keng itu dapatlah dipahami seluruhnya."

Setelah merandek sejenak, kemudian disambungnya.

"Orang muda itu bukan lain adalah pahlawan berjasa pada pendirian dinasti Tong yang terkenal dengan gelaran Wei-kok-kong Li Ceng adanya. Sebabnya Li Ceng dapat mendirikan begitu besar pahala tak lain adalah berkat manfaat yang diperolehnya dari isi Ih-kin-keng itu."

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir.

"O, kiranya begitu hebat asal usulnya ‘Ih-kin-keng’ ini."

Hong-ting lantas melanjutkan pula.

"Ilmu di dalam Ih-kin-keng itu melingkupi segenap urat nadi seluruh tubuh dan mengikat semangat semua anggota badan, kekuatan akan timbul dari dalam tubuh dan darah akan mengalir lancar. Jika kitab itu sudah dapat diyakinkan isinya, maka tenaga dapat timbul menurut keinginan tanpa terputus. Lenghou-siauhiap, meyakinkan Ih-kin-keng adalah laksana sebuah perahu kecil yang terombang-ambing di tengah gelombang ombak samudra dan perahu kecil itu akan naik-turun mengikuti tinggi rendahnya gelombang sehingga sukar untuk dikekang, tapi kalau ingin mengekangnya, dari mana tempatnya yang dapat dikekang?"

Lenghou Tiong hanya manggut-manggut mengikuti uraian ketua Siau-lim-si itu, ia merasa teori perahu di tengah damparan ombak yang diuraikan itu rada cocok dengan teori ilmu pedang ajaran Hong Jing-yang itu dan ternyata memang betul Ih-kin-keng itu adalah ilmu silat yang amat luas dan susah dijajaki.

Lalu Hong-ting menyambung.

"Lantaran Ih-kin-keng mengandung daya kekuatan sedemikian hebat, maka selama beberapa ratus tahun tidak diajarkan kepada siapa pun juga kecuali kepada seorang yang ada jodoh. Sekalipun anak murid pilihan dari Siau-lim-si sendiri jika memang tidak punya rezeki, tidak ada jodoh, kepadanya juga tidak diberikan ajaran Ih-kin-keng ini. Misalnya Hong-sing Sute, ilmu silatnya sudah amat tinggi, pribadinya juga sangat baik, dia adalah tokoh terkemuka dari Siau-lim-si, namun dia toh tidak mendapat pelajaran Ih-kin-keng dari guru kami."

"Jadi kitab suci ini tidak sembarangan diajarkan kepada orang, hal ini telah jelas diterangkan oleh Taysu, Wanpwe sendiri merasa tidak punya rezeki dan tidak ada jodoh, maka Wanpwe tidak berani mengajukan permohonan sesuatu apa pun,"

Kata Lenghou Tiong.

"Tidak, Siauhiap justru adalah orang yang ada jodoh,"

Ujar Hong-ting.

Jantung Lenghou Tiong berdebar-debar seketika mendengar keterangan itu.

Sungguh tidak tersangka bahwa ilmu yang dirahasiakan oleh Siau-lim-si, sampai-sampai tokoh terpilih dan padri agung sebagai Hong-sing Taysu saja tidak mendapat pelajarannya, tapi dirinya sendiri ternyata dikatakan ada jodoh.

Perlahan-lahan Hong-ting berkata lagi.

"Buddha mahabesar dan hanya terbuka bagi yang ada jodoh. Siauhiap adalah ahli waris Tokko-kiu-kiam ajaran Hong-losiansing, ini adalah suatu jodoh, Siauhiap dapat datang ke Siau-lim-si sini, ini pun adalah jodoh. Siauhiap kalau tidak meyakinkan Ih-kin-keng tentu jiwamu akan tamat, sebaliknya umpama Hong-sing Sute mempelajari Ih-kin-keng memang ada manfaatnya, tapi kalau tidak meyakinkan juga tidak ada halangan baginya. Perbedaanmu dengan Hong-sing Sute ini pun suatu jodoh pula."

"Rezeki dan jodoh Lenghou-siauhiap ternyata amat besar, sungguh aku pun merasa sangat bersyukur,"

Ujar Hong-sing Taysu sambil merangkap kedua tangannya.

"Sebenarnya di antara ini masih ada suatu rintangan, tapi saat ini rintangan itu pun sudah dilalui,"

Kata Hong-ting.

"Sejak Tat-mo Cosu sampai kini, Ih-kin-keng hanya diajarkan kepada murid Siau-lim-si sendiri dan tidak diturunkan kepada orang luar, tata tertib ini tak boleh dilanggar olehku, maka Siauhiap harus masuk Siau-lim-si dan diterima sebagai murid dari keluarga partikelir."

Setelah merandek sejenak, lalu ia melanjutkan.

"Dan kalau Siauhiap tidak menampik, bolehlah kau kuterima sebagai murid dan terhitung murid dari angkatan ‘Kok’ dengan nama baru Lenghou Kok-tiong."

Yang memperlihatkan rasa girang lebih dulu adalah Hong-sing, segera ia berkata.

"Terimalah ucapan selamat dariku, Lenghou-siauhiap. Selama hidup Hongtiang Suheng hanya pernah menerima dua orang murid, hal ini pun sudah terjadi 30 tahun yang lalu. Kini Siauhiap adalah murid penutup dari Hongtiang Suheng bukan saja akan dapat menyelami ilmu silat mahatinggi dari Ih-kin-keng, bahkan ke-12 macam ilmu silat Siau-lim-pay kita juga akan diajarkan Hongtiang Suheng kepadamu, kelak Siauhiap pasti dapat lebih mengembangkan perguruan kita dan membawa nama Siau-lim-pay lebih jaya di dunia persilatan."

Mendadak Lenghou Tiong berbangkit, sahutnya.

"Banyak terima kasih atas segala maksud baik Hongtiang Taysu. Cuma Wanpwe sudah masuk sebagai murid Hoa-san-pay, maka tidak berani ganti perguruan lagi."

Hong-ting tersenyum, katanya.

"Rintangan yang kukatakan tadi justru adalah soal ini. Siauhiap, saat ini kau sudah bukan murid Hoa-san-pay lagi. Mungkin hal ini kau sendiri pun belum tahu."

Lenghou Tiong terkesiap, tanyanya tidak habis mengerti.

"Ken ... kenapa aku bukan ... bukan murid Hoa-san-pay lagi?"

"Silakan Siauhiap membaca sendiri,"

Kata Hong-ting sambil mengeluarkan sepucuk surat.

Sedikit tangannya bergerak, surat itu lantas melayang lurus ke arah Lenghou Tiong.

Cepat Lenghou Tiong menangkap surat itu dengan kedua tangannya.

Terasalah badannya tergetar.

Keruan kejutnya tak terkatakan.

Pikirnya.

"Lwekang ketua Siau-lim-si ini benar-benar dalamnya susah diukur. Melulu sepucuk surat seenteng ini ternyata bisa juga membawa tenaga dalam sekuat ini. Untung tenagaku sudah punah, jika tidak tentu aku akan menangkap sampul surat ini dengan mengerahkan tenaga dan dari benturan kedua arus tenaga pasti aku sendiri akan terpental."

Ketika ia mengamat-amati sampul surat itu, ternyata di atas sampul terdapat stempel tanda ketua Hoa-san-pay dan terdapat pula tulisan.

"Diaturkan kepada Ciangbun Taysu Siau-lim-pay" . Dari tulisan yang indah dan goresan yang kuat itu jelas memang betul adalah tulisan tangan Gak Put-kun, gurunya sendiri. Bab 61. Si Kakek Berjubah Putih Samar-samar Lenghou Tiong merasakan firasat yang tidak enak, dengan tangan gemetar ia membuka sampul surat itu dan dibaca. Ia benar-benar tidak percaya apa yang tertulis pada surat itu. Ia coba mengulangi baca lagi sekali seketika ia merasa seakan-akan langit berputar putar dan bumi terbalik.

"bluk" , ia jatuh tak sadarkan diri. Ketika siuman kembali ia merasa tubuhnya berada dalam pangkuan Hong-sing Taysu. Saking sedihnya menangislah Lenghou Tiong tersedu-sedan.

"Sebab apakah Lenghou-siauhiap merasa susah, apakah gurumu mengalami sesuatu?"

Tanya Hong-sing.

"Silakan Taysu membacanya,"

Kata Lenghou Tiong terguguk-guguk sambil menyodorkan surat itu.

Ketika Hong-sing membaca surat itu, isinya tertulis.

Diaturkan kepada yang terhormat ketua Siau-lim-si.

Selama menjabat ketua Hoa-san, teramat jarang mengaturkan salam hormat, mohon maaf.

Perihal murid murtad kami Lenghou Tiong, perangainya jelek, kelakuannya buruk, berulang-ulang melanggar larangan, paling akhir bahkan bergaul dengan orang jahat dan berkomplot dengan kaum iblis.

Put-kun telah berusaha mendidiknya, tapi tidak berhasil.

Untuk menegakkan kebesaran Bu-lim, sekarang murid murtad tersebut bukan lagi murid kami.

Jika terjadi lagi perkomplotannya dengan kaum iblis dan merugikan kawan Kangouw umumnya, maka diharapkan kawan-kawan sekalian bangkit membinasakannya bersama.

Tulisan singkat ini tidak mencerminkan seluruh maksud kami, mohon Taysu maklum adanya.

Isi surat juga sangat di luar dugaan Hong-sing Taysu, ia menjadi bingung dan tidak tahu cara bara bagaimana harus menghibur Lenghou Tiong.

Setelah mengembalikan surat itu kepada Hong-ting, ketika melihat Lenghou Tiong masih menangis sedih, lalu katanya.

"Siauhiap, pergaulanmu dengan orang-orang Hek-bok-keh itu memang tidak patut."

Hong-ting juga berkata.

"Saat ini para ketua dari berbagai aliran cing-pay tentu juga sudah menerima surat gurumu ini dan telah memberi petunjuk kepada anak murid masing-masing. Sekalipun kau tidak terluka, begitu kau keluar dari sini, setiap langkahmu akan selalu merupakan rintangan bagimu. Para murid golongan cing-pay akan menganggap dirimu sebagai musuh mereka."

Lenghou Tiong melengak, teringat olehnya kata-kata yang diucapkan Ing-ing di tepi sungai kecil tempo hari.

Memang benar, saat ini bukan saja setiap orang dari kalangan sia-pay ingin membunuhnya, bahkan orang-orang dari cing-pay juga menganggapnya sebagai musuh.

Dunia selebar ini terasa tiada tempat berpijak lagi baginya.

Teringat pula budi kebaikan guru dan ibu-gurunya yang telah mendidiknya sejak kecil mirip ayah-bunda kandung sendiri, tapi dirinya yang sembrono tingkah lakunya sehingga dipecat dari perguruan.

Dapat diduga kepedihan gurunya waktu menulis surat ini mungkin lebih hebat daripada dirinya sekarang.

Begitulah Lenghou Tiong merasa sedih dan malu pula, sungguh ingin sekali kepalanya ditumbukkan dinding dan biar mati saja.

Baca Juga: Pendekar Sakti Suling Pualam 6

Baca Juga: Ilmu Golok Keramat Chin Yung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert