Ceritasilat Novel Online

Pendekar Sakti Suling Pualam 6

Eps 6 Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Baca online Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Cersil Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung.

Ketiga jurus itu berhasil memutuskan urat para anggota Seng Hwee Kauw, sehingga kepandaian mereka musnah.

Mereka terkapar sambil merintih-rintih dengan mulut mengeluarkan darah segar.

"Engkau... engkau...."

Pemimpin para anggota Seng Hwee Kauw menunjuknya dengan tangan bergemetar.

"Kalian yang cari penyakit, bukan aku berhati kejam,"

Ujar Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kini kepandaian kalian telah musnah, aku harap kalian menjadi orang baik-baik!"

"Hmm!"

Dengus pemimpin para anggota Seng Hwee Kauw.

"Ketua kami pasti mencarimu untuk menuntut balas!"

"Oh?"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku memang ingin bertemu ketua kalian. Di mana markas kalian?"

"Di Lembah Kabut Hitam!"

"Di mana Lembah itu?"

"Dekat kaki Gunung Batu Hitam!"

"Terimakasih atas kesediaanmu memberitahukan kepadaku, sampai jumpa!"

Ucap Tio Bun Yang lalu melesat pergi ---ooo0dw0ooo---Bagian ke dua puluh tujuh Hiat Ih Hwe dan Seng Hwee Kauw bekerja sama.

Seng Hwee Sin Kun memukul meja dengan wajah merah padam.

Dia sangat gusar setelah menerima laporan bahwa belasan anggotanya gagal membunuh Tio Bun Yang, dan sebaliknya kepandaian mereka malah musnah.

"Aku harus membunuh Tio Bun Yang!"

Ujar Seng Hwee Sin Kun sambil mengepal tinju.

"Jangan gusar, Ketua!"

Ujar Leng Bin Hoatsu.

"Sebab para anggota kita itu berkepandaian rendah, tentunya tidak bisa melawan Giok Siauw Sin Hiap."

"Kalau begitu, perlukah aku yang turun tangan membunuh Giok Siauw Sin Hiap, Chu Ok Hiap dan lainnya?"

"Tidak perlu, Ketua,"

Sahut Pek Bin Kui dan menambahkan.

"Apabila perlu, kami akan turun tangan."

"Betul,"

Sambung Pat Pie Lo Koay.

"Biar kami yang turun tangan, dan itu sudah cukup."

Mendadak terdengar suara seruan di luar, yang susulmenyusul, dan seketika mereka pun berhenti berbicara.

"Gak Cong Heng, wakil ketua Hiat Ih Hwe berkunjung!"

"Gak Cong Heng wakil ketua Hiat Ih Hwe berkunjung..'"

"Undang dia masuk!"

Sahut Seng Hwee Sin Kun.

"Undang dia masuk! "Undang dia masuk...."

Terdengar suara yang susulmenyusul sampai di luar.

Berselang beberapa saat, tampak seseorang berjalan masuk, yang tidak lain Gak Cong Heng, wakil ketua Hiat Ih Hwe, yang lalu memberi hormat kepada Seng Hwee Sin Kun dan lainnya.

"Selamat datang, Saudara Gak!"

Ucap Seng Hwee Sin Kun sambil tertawa gembira.

"Ha ha ha...!"

"Selamat bertemu, ketua!"

Sahut Gak Cong Heng sambil tertawa gelak.

"Silakan duduk!"

Ucap Seng Hwee Sin Kun.

"Terimakasih!"

Gak Cong Heng duduk.

"Mari kuperkenalkan! Ini adalah Leng Bin Hoat, wakil ketua Seng Hwee Kauw dan...."

Seng Hwee Sin Kun memperkenalkan mereka satu-persatu. Gak Cong Heng dan mereka saling memberi hormat sambil tertawa-tawa, setelah itu Seng Hwe Sin Kun bertanya.

"Ada sesuatu penting Saudara Gak ke mari?"

"Ya,"

Gak Cong Heng mengangguk.

"Ketua mengutusku ke mari untuk mengundang Hwee Sin Kun ke markas kami."

"Oh?"

Seng Hwee Sin Kun menatapnya sambil tertawa.

"Ketua Hiat Ih Hwe ingin merundingkan sesuatu denganku?"

"Betul."

Gak Cong Heng mengangguk.

"Kalau begitu...."

Seng Hwee Sin Kun diam sejenak, kemudian barulah manggut-manggut.

"Baik, aku akan ke sana."

"Terimakasih, Sin Kun!"

Ucap Gak Cong Heng gembira.

"Harap Sin Kun bersedia ikut aku kesana"

"Sekarang?"

Ujar Seng Hwee Sin Kun.

"Ya."

Baiklah,"

Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Mari kita berangkat, jadi tidak usah membuang-buang waktu."

"Betul,"

Lu Thay Kam manggut-manggut.

"Terimakasih!"

Ucap Gak Cong Heng, dan mereka berdua lalu berangkat Wajah Gak Cong Heng tampak berseri, karena berhasil mengundang Seng Hwee Sin Kun ke markasnya.

---ooo0dw0ooo---Di dalam markas Hiat Ih Hwe, tampak beberapa orang sedang duduk sambil tertawa gembira, dan terus bersulang dengan wajah berseri-seri.

"Ketua "Ha ha ha!"

Ketua Hiat Ih Hwe tertawa gembira.

"Sin Kun mau ke mari, sungguh merupakan suatu kehormatan bagi Hiat Ih Hwe."

"Sama-sama,"

Sahut Seng Hwee Sin Kun sambil tertawa gelak.

"Lu Kong Kong mengundangku kemari, juga merupakan kehormatan bagiku."

"Ha ha ha!"

Ketua Hiat Ih Hwe atau Lu Thay Kam tertawa terbahak-bahak.

"Mari kita bersulang lagi!"

Mereka bersulang, setelah itu mulailah mereka mengarah pada pokok pembicaraan.

"Lu Kong Kong mengundangku ke mari, tentunya ada sesuatu penting. Silakan terbuka saja!"

Ujar Seng Hwee Sin Kun "Betul"

Lu Thay Kam manggut-manggut "Terus terang, aku ingin berunding dengan Sin Kun."

"Mengenai apa?"

"Maksudku, Hiat Ih Hwe ingin bekerja sama dengan Seng Hwee Kauw. Bagaimana menurut. Sin Kun?"

"Ha ha ha!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa.

"Itu memang baik sekali. Tentunya aku setuju."

"Bagus, bagus! Ha ha ha...!"

Lu Thay Kam tertawa gembira.

"Namun hal ini sudah pasti ada persyaratannya, bukan?"

"Betul."

Seng Hwee Sin Kun mengangguk "Kira-kira apa persyaratannya?"

"Bagaimana kalau Sin Kun yang mengajukannya dulu?"

"Lu Kong Kong tentunya tahu bahwa Se Hwee Kauw kian hari kian bertambah besar dan kuat, namun____"

Lanjut Seng Hwee Sin Kun sambil memandangnya.

"Mengenai keuangan Seng Hwe Kauw, otomatis mengalami kesulitan."

"Maksud Sin Kun ingin minta bantuanku! tanya Lu Thay Kam.

"Ya."

Seng Hwee Sin Kun mengangguk.

"Itu gampang. Kapan Sin Kun membutuhkan, aku pasti menyediakannya,"

Ujar Lu Thay Kan sambil tertawa.

"Terimakasih, Lu Kong Kong!"

Seng Hwei Kam Sin Kun juga tertawa.

"Lalu bagaimana syarat Lu Kong Kiam-Kong Kong?"

"Tentunya Sin Kun tahu, kini yang berani menentang Hiat Ih Hwe adalah Tiong Ngie Pay Jadi syaratku hanya menghendaki agar Seng Kauw membasmi Tiong Ngie Pay Apakah Sin Kun sanggup? "Sanggup,"

Seng Hwee Sin Kun manggul-manggut.

"Kalau begitu, mari kita bersulang atas kc sepakatan kita untuk bekerja sama! Ha ha ha...!"

Lu Thay Kam tertawa gembira.

"Mari!"

Seng Hwee Sin Kun juga tertawa terbahak-bahak. Mereka berdua bersulang dengan wajah ber-ri, dan sesaat kemudian mereka mulai bercakap-cakap lagi.

"Oh ya!"

Lu Thay Kam teringat sesuatu.

"Kini istriku sedang merantau. Aku menghadiahkan pedang pusaka Han Kong Kiam kepadanya. Harap Sin Kun perintahkan kepada para anggota, agar jangan mengganggu gadis yang memiliki pedang tersebut."

"Baik."

Seng Hwee Sin Kun mengangguk.

"Tapi bagaimana bentuk Pedang Pusaka itu?"

"Pedang pusaka itu dapat memancarkan cahaya yang mengandung hawa dingin. Lu Thay Kam memberitahukan.

"Itulah pedang pusaka Han Kong Kiam"

"Nama putri Lu Kong Kong?"

"Kuberitahukan kepada Sin Kun, tapi harus dirahasiakan!"

Pesan Lu Thay Kam dan memberitahukan.

"Namanya Lu Hui San!"

"Aku pasti merahasiakan identitasnya, ujar Seng Hwee Sin Kun berjanji.

"Pokoknya para anggotaku tidak akan mengganggu putri Lu Kong Kong itu."

"Terimakasih!"

Ucap Lu Thay Kam.

"Oh ya, Sin Kun membutuhkan berapa banyak uang emas?"

Seng Hwee Sin Kun memberitahukan berapa jumlahnya.

"Cukupkah?"

Tanya Lu Thay Kam sambil tertawa "Cukup."

"Kalau kurang, kapan pun Sin Kun bok minta kepadaku,"

Ujar Lu Thay Kam.

"Terimakasih, Lu Kong Kong!"

Ucap Seng Hwee Sin Kun dengan gembira.

"Oh ya, kapan uang itu akan dikirimkan ke markasku?"

"Beberapa hari ini."

Lu Thay Kam memberitahukan.

"Aku akan mengutus Gak Cong Heng dan beberapa orang untuk mengantar uang tersebut ke markas Sin Kun!"

"Terimakasih!"

Ucap Seng Hwee Sin Kun dengan wajah berseri.

"Setelah menerima uang itu aku pasti memerintahkan para anggotaku pergi menyerang Tiong Ngie Pay."

"Bagus, bagus! Pokoknya Tiong Ngie Pay harus dibasmi,"

Ujar Lu Thay Kam sambil tertawa "Setelah Tiong Ngie Pay dibasmi, Seng Hwe Kauw pun harus membantuku membasmi para pemberontak."

"Itu urusan kecil,"

Sahut Seng Hwee Sin kun sambil tertawa.

"Baiklah, aku mau mohon pamit! "Selamat jalan!"

Ucap Lu Thay Kam "Sampai jumpa Lu Kong Kong!"

Ucap Seri Hwee Sin Kun, yang lalu meninggalkan markj Hiat Ih Hwe sambil tertawa gembira.

Sementara itu, Toan Beng Kiat dan lainnya terus melakukan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang.

Dalam perjalanan, mereka terus bercakap-cakap, terutama Lie Ai Ling.

Dia tak henti-hentinya membicarakan ini dan itu, ada saja yang dibicarakannya.

"Ai Ling!"

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa mulutmu tidak bisa diam sih?"

"Memangnya aku tidak boleh bicara?"

Sahut Ai Ling sambil tersenyum.

"Aku suka bicara, jadi mulutku tidak bisa diam."

"Kalau engkau terus begitu, mana ada pemuda yang akan jatuh hati kepadamu?"

Ujar Siang Koan Goat Nio.

"Hi hi hi!"

Lie Ai Ling tertawa.

"Kalau tidak jada pemuda jatuh hati kepadaku yah sudahlah! Aku sama sekali tidak kalut, sebaliknya engkau sudah rindu pada Kakak Bun Yang, bukan?"

"Engkau mulai menggoda ya?"

Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening dan wajahnya agak kemerah-merahan.

"Jadi..."

Sela Kam Hay Thian mendadak.

"Goat Nio menyukai Bun Yang? Kapan mereka bertemu?"

"Mereka berdua belum pernah bertemu,"

Sahut Lie Ai Ling..

"Namun aku yakin Goat Nio pasti menyukai Kakak Bun Yang."

"Bagaimana mungkin?"

Kam Hay Thian menggelenggelengkan kepala.

"Sebab mereka berdua belum pernah bertemu, kalau pun bertemu belum tentu..."

"Maksudmu Goat Nio belum tentu akan menyukai Kakak Bun Yang?"

Tanya Lie Ai Ling.

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Lho?"

Lie Ai Ling menatapnya terbelalak "Kok engkau...."

"Dia telah jatuh hati kepada Goat Nio, maka tidak menghendaki Goat Nio menyukai Bun Yang"

Sela Lu Hui San mendadak.

"Oh?"

Mulut Lie Ai Ling ternganga lebati "Betulkah begitu?"

"Memang begitu."

Lu Hui San manggut-manggut.

"Kalau tidak...."

"Hui San!"

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Jangan omong yang bukan-bukan, sebab akan merusak persahabatan kita semua!"

"Goat Nio!"

Lu Hui San tersenyum.

"Aku omong sesungguhnya."

"Hui San, sudahlah!"

Toan Beng Kiat mende katinya.

"Kita semua adalah teman baik yang harus bersatu, jadi____"

"Aku tahu."

Lu Hui San manggut-manggul "Baiklah. Mulai sekarang aku tidak akan banyak bicara."

"Aku yang akan banyak bicara."

Sela Lie Ai Ling sambil tersenyum.

"Kalau tidak, semuanya pasti membisu. Itu jadi tidak enak dan tiada Kesemarakan. Ya, kan?"

"Engkau memang banyak mulut."

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala dan menghela nafas.

"Anak gadis, sebaiknya jangan banyak mulut."

"Hi hi hi!"

Lie Ai Ling tertawa geli.

"Mulutku cuma satu, kok engkau bilang mulutku banyak sih?"

"Engkau____"

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Sssst!"

Lu Hui San memberi isyarat.

"Kalian dengar, ada suara pertempuran di depan."

Toan Beng Kiat, Kam Hay Thian, Lie Ai Ling, Siang Koan Goat Nio dan Lam Kiong Soat Lan mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Betul,"

Ujar Kam Hay Thian.

"Ada suara pertarungan di depan. Mari kita ke sana!"

Mereka berenam langsung melesat ke tempat itu. Tampak belasan orang berpakaian merah mengeroyok gadis berusia dua puluhan.

"Eeeeh?"

Lie Ai Ling terbelalak menyaksikannya.

"Gadis itu menggunakan Hong Hoang Kiam hoat (Ilmu Pedang Burung Phoenix), tapi belum begitu mahir. Siapa yang mengajarnya ilmu pedang itu ?"

"Heran?"

Gumam Siang Koan Goat Nio.

"Dia pun menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou untuk berkelit. Kok dia mengerti kedua ilmu itu?"

"Sungguh mengherankan!"

Sahut Lie Ai Ling.

"Kenapa kalian berdua?"

Tanya Toan Beng Kiat.

"Gadis itu menggunakan Ilmu pedang Hong Hoang Kiam Hoat,"

Jawab Lie Ai Ling.

"Bahkan juga berkelit dengan ilmu Kiu Kiong San Tian Pou. Mungkinkah dia ada hubungan dengan ayah* ku?"

"Kenapa engkau berkata begitu?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Sebab ayahku juga mahir ilmu pedang itu,"

Sahut Lie Ai Ling.

"Ayahmu juga mahir Kiu Kiong San Tian Pou?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Setahuku tidak."

Lie Ai Ling menggelengkan kepala.

"Paman Cie Hiong memang mengajarku dan Goat Nio ilmu langkah kilat itu, namun gadis itu____"

"Kita bantu gadis itu, kemudian kita tanya Bukankah kita akan tahu? Jadi tidak perlu menerka membuang-buang waktu,"

Sela Kam Hay Thian yang sudah timbul nafsu membunuhnya.

"Baik."

Toan Beng Kiat mengangguk.

"Mari kita bantu gadis itu!"

Mereka berenam langsung melesat ke sana, dan tentunya sangat mengejutkan orang-orang berpakaian merah itu.

"Kami adalah anggota Hiat Ih Hwe! Siam kalian?"

Bentak kepala para anggota Hiat Ih Hwe itu.

"Hmm!"

Dengus Kam Hay Thian.

"Aku adalah Chu Ok Hiap, jadi aku akan membasmi kalian semua hari ini!"

"Apa?!"

Para anggota Hiat Ih Hwe mundur beberapa langkah.

"Pendekar Pembasmi Penjahat?"

"Betul!"

Kam Hay Thian menghunus pedangnya.

"Serang dia!"

Seru pemimpin para anggota Hiat Ih Hwe, yang kemudian ikut menyerang Kam Hay Thian.

Ketika Kam Hay Thian diserang, Toan Beng Kiat dan lainnya langsung turun tangan membantunya.

Terjadilah pertarungan yang tak seimbang, sebab Kam Hay Thian dan lainnya berkepandaian tinggi, sebaliknya kepandaian para anggota Hiat Ih Hwe tidak begitu tinggi.

Oleh karena itu, belasan jurus kemudian para anggota Hiat Ih Hwe sudah terkapar berlumuran darah.

Tampak beberapa anggota Hiat Ih Hwe masih merintih-rintih, ternyata mereka hanya terluka.

Kam Hay Thian mendekati mereka lalu mendadak menggerakkan pedangnya.

Tak lama orang-orang yang terluka itu pun tewas dengan dada berlubang.

Kam Hay Thian betul-betul tidak memberi ampun kepada mereka, sehingga membuat Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kepala.

Jilid 6 hal.26-27 ga ada .........kan kepala.

"Lagi pula dia tidak begitu lama berada di rumahku. Setelah mengajarku ilmu-ilmu itu, dia berpamit."

"Aaah____"

Lie Ai Ling menghela nafas panjang.

"Sayang sekali! Kenapa begitu Sulit bertemu dia?"

"Kakak Giok Lan!"

Siang Koan Goat Nio memandangnya.

"Apa rencanamu sekarang?"

"Aku tidak mempunyai rencana apa-apa."

Air mata Tan Giok Lan mulai meleleh.

"Aku pun tidak tahu mau ke mana."

"Aku mempunyai usul,"

Ujar Toan Beng Kiai sambil tersenyum.

"Bagaimana kalau kita ajak nona ini ke markas Tiong Ngie Pay?"

"Usul yang jitu,"

Sahut Lie Ai Ling sambil tertawa gembira.

"Memang lebih baik Kakak Giok Lan bergabung dengan Bibi Suan Hiang. Dia pasti aman di markas itu."

"Betul."

Siang Koan Goat Nio manggut-manggut, kemudian memperkenalkan mereka. Tan Giok Lan segera memberi hormat, dan mengucapkan terimakasih dengan air mata berderai-derai.

"Nah!"

Ujar Lie Ai Ling.

"Kita jangan membuang-buang waktu lagi, mari kita berangkat ke markas Tiong Ngie Pay!" -ooo0dw0ooo-Dua hari kemudian, mereka bertujuh sudah sampai di markas Tiong Ngie Pay. Kedatangan rreka tentunya sangat menggembirakan Yo Suan liang, Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang lim. Beberapa anggota Tiong Ngie Pay segera menyuguhkan arak wangi. Yo Suan Hiang mengajak mereka bersulang, sehingga suasana pun menjadi semarak.

"Aku tidak menyangka sama sekali, kalian akan ke mari,"

Ujar Yo Suan Hiang sambil memandang Lie Ai Ling, Siang Koan Goat Nio dan Tan Giok Lan.

"Mari kuperkenalkan!"

Lie Ai Ling tertawa. Aku adalah-"

"Engkau... engkau____"

Mendadak Yo Suan Hiang terbelalak.

"Engkau Ai Ling?"

"Bibi Suan Hiang masih mengenaliku, padahal aku tadi aku diam saja."

Lie Ai Ling tertawa geli.

"Ai Ling...."

Yo Suan Hiang memandangnya dengan mata basah.

"Aku tak menyangka engkau sudah besar dan cantik. Oh ya, bagaimana ayah-mu?"

"Ayahku sudah kembali ke Pulau Hong Hoang to,"

Sahut Lie Ai Ling, lalu memperkenalkan Siang Koan Goat Nio.

"Bibi Suan Hiang, dia Goat Nio. putri kesayangan Kim Siauw Suseng dan Kou Jun Bijin."

"Oh?"

Yo Suan Hiang menatapnya dengan penuh perhatian.

"Bukan main!"

"Apanya yang bukan main?"

Tanya Lie Ai Ling sambil tertawa kecil.

"Sungguh cantik dan lemah lembut,"

Sahut Yo Suan Hiang kagum.

"Betul-betul cantik sekali!"

"Bibi Suan Hiang,"

Ujar Lie Ai Ling mendadak.

"Dia sangat serasi dengan Kakak Bun Yang, bukan?"

"Benar."

Yo Suan Hiang manggut-manggut dan menambahkan.

"Tapi tergantung jodoh mereka juga. Oh ya, kalian sudah bertemu Bun Yang?"

"Belum."

Lie Ai Ling menggelengkan kepala, kemudian memperkenalkan Tan Giok Lan, yang duduk diam itu.

"Bibi Suan Hiang, dia Tan Giok Lan. Kedua orang tuanya dibunuh oleh para anggota Hiat Ih Hwe. Dia pernah bertemu Kakak Bun Yang. Untung Kakak Bun Yang pernah mengajarnya ilmu silat, maka dia dapat melolos kan diri."

"Oh?"

Yo Suan Hiang menatapnya serayu bertanya.

"Siapa ayahmu?"

"Ayahku bernama Tan Thiam Song, mantan pembesar di kota Keng Ciu,"

Jawab gadis itu dan mulai terisak-isak.

"Ooh!"

Yo Suan Hiang manggut-manggul.

"Tan Tayjin sangat jujur, adil dan bijaksana! Bahkan sering menentang perintah Lu Thay Kam. Maka tidak heran pihak Hiat Ih Hwe membunuhnya"

Tiba-tiba Lu Hui San mengerutkan kening, Karena ayah angkatnya disinggung dalam ucapan Yo Suan Hiang.

"Bibi Suan Hiang!"

Tanyanya heran.

"Apakah Lu Thay Kam mempunyai hubungan dengan perkumpulan Hiat Ih Hwe?"

"Lu Thay Kam adalah ketua Hiat Ih Hwe,"

Sahut Yo Suan Hiang memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Lu Thay Kam memang jahat sekali, sering membunuh jenderal dan menteri yang setia."

Lu Hui San diam saja. Lie Ai Ling memandang Yo Suan Hiang seraya berkata.

"Bibi Suan Hiang, kami ke mari justru dikarenakan Kakak Giok Lan. Kini dia sudah tidak mempunyai orang tua dan dikejar-kejar pihak Hiat lh Hwe. Maka kami ajak dia ke mari untuk bergabung dengan Bibi."

"Bagus!"

Yo Suan Hiang tertawa gembira. Tentunya kuterima dengan senang hati."

"Terimakasih, Bibi!"

Ucap Tan Giok Lan.

"Giok Lan!"

Yo Suan Hiang memandangnya ?ambil tersenyum.

"Mulai sekarang engkau tinggallah di sini!"

"Ya, Bibi."

Tan Giok Lan mengangguk.

"Oh ya, engkau harus ingat,"

Pesan Yo Suan Hiang.

"Jangan lupa melatih ilmu silatmu, itu sangat penting sekali!"

"Aku mohon petunjuk Bibi!"

Ujar Tan Giok Lan.

"Itu sudah pasti."

Yo Suan Hiang manggm manggut.

"Aku pasti memberi petunjuk padamu "

"Terimakasih, Bibi!"

Ucap Tan Giok Lan tci haru.

"Nah!"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Urusan ini sudah beres, maka kami mau mohon pamit!"

"Apa?!"

Yo Suan Hiang terbeliak.

"Kalian sudah mau pergi? Kenapa begitu cepat?"

"Kami masih harus melanjutkan perjalanan kami markas pusat Kay Pang."

Lie Ai Ling memberitahukan.

"Tidak bisa!"

Yo Suan Hiang menggelengkan kepala.

"Pokoknya kalian harus bermalam di sini. dan besok baru berangkat."

"Bibi Suan Hiang...."

"Baiklah."

Sela Toan Beng Kiat.

"Kami akan bermalam di sini."

"Eh?"

Lie Ai Ling melototi Toan Beng Kiat "Kenapa harus bermalam di sini? Bukankah akan merepotkan Bibi Suan Hiang?"

"Cuma satu malam,"

Sahut Toan Beng Kiat sambil tersenyum.

"Lagi pula kita semua masih capek, apa salahnya kita bermalam di sini?"

"Tapi akan merepotkan Bibi Suan Hiang."

"Tidak, tidak merepotkan,"

Ujar Yo Suan Hiang sambil tersenyum.

"Sebaliknya aku malah merasa gembira sekali."

"Betul,"

Sambung Tan Ju Liang dan Lim Cin An.

"Kami sungguh merasa gembira sekali."

"Yang benar?"

Tanya Lie Ai Ling sambil tersenyum.

"Tentu benar."

Yo Suan Hiang tertawa kecil. 'Ingat! Sudah berapa lama kita tidak bertemu? , Maka malam ini harus mengobrol sampai pagi."

"Wuah!"

Lie Ai Ling tertawa.

"Kalau begitu, harus begadang! Terus terang, aku tidak bisa begadang."

"Sekali-kali boleh, kan?"

Yo Suan Hiang tertawa lagi.

"Tentu engkau tidak berkeberatan."

"Baik."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Malam ini kita semua harus begadang." -ooo0dw0ooo-Bagian ke dua puluh delapan Tiong Ngie Pay diserang Malam harinya, suasana di markas Tiong Ngie Pay tampak semarak-Sebab Yo Suan Hiang mengibarkan pesta perjamuan, dan mereka bersantap sambil bersulang. Akan tetapi, di saat mereka sedang bersulang, seorang anggota berlari masuk dan melapor.

"Celaka! Seng Hwee Kauw menyerang!"

"Apa?"

Betapa terkejutnya Yo Suan Hiang "Seng Hwee Kauw menyerang ke mari?"

"Ya."

"Berapa jumlah mereka?"

"Puluhan orang, dan ada dua orang tua yang berkepandaian tinggi sekali."

"Siapa kedua orang tua itu?"

"Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong."

"Baik."

Yo Suan Hiang manggut-manggut. Kemudian berkata kepada Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him.

"Mari kita sambut mereka"

"Hmm!"

Dengus Kam Hay Thian mendadak "Bagus, bagus! Malam ini aku pasti tidak akan melepaskan mereka."

"Maaf, Chu Ok Hiap!"

Ujar Yo Suan Hiang.

"Ini urusan Tiong Ngie Pay, maka...."

"Aku pasti turut campur."

Sahut Kam Hay Thian.

"Sebab Seng Hwee Sin Kun pembunuh ayahku."

Kam Hay Thian langsung melesat ke luar, dan yang lainnya pun mengikutinya.

Begitu sampai di luar markas, mereka melihat Pat Pie Lo Koay.

Tok Chiu Ong dan puluhan anggota Seng Hwee Kauw berdiri dengan tangan memegang senjata.

Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong tampak terkejut ketika melihat Kam Hay Thian dan lain nya berada di situ.

Mereka berdua saling memandang sekaligus memberi isyarat, kemudian meloncat ke belakang.

"Serang mereka!"

Seketika para anggota Seng Hwee Kauw menyerang pihak Tiong Ngie Pay.

Kam Hay Thian bersiul panjang sambil menggerakkan pedangnya, menggunakan Pak Kek Kiam Hoat menangkis dan alas menyerang.

Dalam beberapa jurus, lima anggota Seng Hwee Kauw sudah roboh berlumuran darah.

Sementara Toan Beng Kiat dan lainnya juga mulai balas menyerang, kemudian terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit.

Akan tetapi, bagaimana mungkin para anggota Seng Hwee Kauw itu dapat melawan, sebab kepandaian mereka masih rendah.

"Tok Chiu Ong,"

Bisik Pat Pie Lo Koay.

"Bagaimana baiknya?"

"Kita berdua tidak mampu melawan Chu Ok Hiap dan teman-temannya,"

Sahut Tok Chiu Ong. Lebih baik kita suruh para anak buah kita mundur, dan kita pun harus kabur."

"Benar."

Pat Pie Lo Koay mengangguk. Mereka berdua lalu melesat pergi sambil berseru sekeras-kerasnya.

"Kalian semua cepat mundur!"

Para anggota Seng Hwee Kauw langsung melarikan diri.

Kam Hay Thian terus mengejar dan membantai mereka.

Namun ketika ia hendak mengejar Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong, Toan Beng Kiat cepatcepat mencegahnya.

"Hay Thian! Mereka sudah pergi jauh, percuma kau mengejar mereka!"

"Malam ini mereka berdua masih dapat meloloskan diri, aku sungguh penasaran sekali!"

Sahut Kam Hay Thian dingin.

"Mereka berdua sungguh licik, hanya menyuruh para anak buahnya maju, tapi mereka berdua berada di belakang!"

"Sudahlah! Mari kita kembali ke markas!"

Ajak Toan Beng Kiat. Mereka berdua lalu melesat ke markas. Lie Ai Ling dan lainnya sudah berada di situ. Mereka semua lalu masuk ke markas.

"Sungguh tak disangka..."

Ujar Yo Suan Hiang setelah duduk.

"Pihak Seng Hwee Kauw menyerang ke mari, seharusnya pihak Hiat Ih Hwe!"

"Memang mengherankan,"

Tan Ju Liang menggelenggelengkan kepala.

"Selama ini kita tidak bermusuhan dengan pihak Seng Hwee Kauw kenapa mendadak Seng Hwee Kauw menyerang kemari?"

"Mungkinkah..."

Ujar Lim Cin An setelah ber pikir sejenak.

"Seng Hwee Kauw dan Hiat Ih Hwi sudah bekerja sama?"

"Itu memang mungkin,"

Sahut Cu Tiang Him "Kalau tidak, tentunya mereka tidak akan melakukan penyerangan mendadak."

"Mungkinkah dikarenakan kehadiran kami di sini?"

Ujar Toan Beng Kiat.

"Sebab pihak Seng Hwee Kauw memang ingin membunuh kami."

"Tidak masuk akal,"

Tan Ju Liang menggelengkan kepala.

"Karena tadi Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong malah meloncat ke belakang ketika melihat kalian berada di situ. Jadi sasaran mereka kemari bukan kalian, melainkan kami."

"Benar,"

Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Lagi pula sebelum bertarung, mereka berdua sudah kabur."

"Kami pernah bertarung dengan mereka."

Kam Hay Thiari memberitahukan.

"Pada waktu itu mereka berdua berhasil kabur, malam ini pun berhasil kabur pula. Itu sungguh membuat aku jadi penasaran sekali!"

"Oh?"

Yo Suan Hiang menatapnya seraya bertanya.

"Mereka berdua tak sanggup melawan kalian?"

"Benar."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Bahkan kami berhasil melukai lengan Tok Chiu Ong."

"Oooh!"

Yo Suan Hiang manggut-manggut. 'Pantas mereka segera meloncat mundur begitu melihat kalian!"

"Aku masih penasaran, kenapa Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong dapat kabur malam ini,"

Ujar Kam Hay Thian.

"Walau begitu..."

Ujar Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Hampir tiga puluh anggota Seng Hwee Kauw menjadi korban di sini, aku yakin itu merupakan pukulan berat bagi ketua mereka."

"Hmm!"

Dengus Kam Hay Thian dingin.

"Pokoknya aku harus membunuh Seng Hwee Sin Kun!"

"Hay Thian!"

Toan Beng Kiat mengingatkan.

"Seng Hwee Sin Kun berkepandaian tinggi sekali, kita semua bukan lawannya."

"Bukan lawannya juga aku harus melawan,"

Sahut Kam Hay Thian dan menambahkan.

"Pokoknya dia harus mati di tanganku."

Toan Beng Kiat menghela nafas panjang, sedangkan Yo Suan Hiang menggeleng-gelengkan kepala.

"Padahal malam ini kita akan mengobrol sampai pagi, tapi karena adanya kejadian itu, maka alangkah baiknya kita semua beristirahat saja,"

Ujar Yo Suan Hiang sambil bangkit berdiri.

"Maaf, aku mau ke kamar!"

Yo Suan Hiang berjalan masuk, sedangkan Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him masih duduk di situ.

"Maaf!"

Ucap Tan Ju Liang.

"Kalau kalian tidak mau tidur, boleh duduk-duduk di halaman. Kami harus pergi mengontrol pos-pos penjagaan."

"Tidak apa-apa,"

Sahut Toan Beng Kiat sambil manggutmanggut.

Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him segera melangkah ke luar, sedangkan Toan Beng Kiat dan lainnya saling memandang.

Siang Koan Goat Nio melangkah ke halaman, dan tak lama Kam Hay Thian pun pergi menyusulnya.

Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San mengerutkan kening, itu membuat Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.

Toan Beng Kiat menghela nafas panjang, kemudian ia melangkah ke luar.

"Celaka!"

Gumam Lie Ai Ling sambil berjalan mondarmandir di ruang itu. Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San memandangnya sejenak, setelah itu mereka berdua pun melangkah ke luar.

"Mudah-mudahan mereka mengerti tentang cinta, jadi tidak akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan,"

Gumam Lie Ai Ling lagi, kemudian memandang Tan Giok Lan yang duduk termangu-mangu.

"Kakak Giok Lan, jangan melamun! Lebih haik masuklah menemui Bibi Suan Hiang untuk mengobrol!"

Tan Giok Lan mengangguk, lalu melangkah ke dalam.

Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala, kemudian barulah melangkah ke luar.

Dilihatnya Toan Beng Kiat berdiri seorang diri sambil memandang langit yang tak berbintang.

Sedangkan Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San duduk melamun di dekat sebuah pohon.

Kemudian ia tercengang karena Siang Koan Goat Nio dan Kam Hay Thian tidak tampak di situ.

"Beng Kiat!"

Lie Ai Ling mendekatinya.

"Bukan malam purnama, kenapa engkau terus-menerus memandang langit?"

"Oh, Ai Ling!"

Toan Beng Kiat tersenyum getir.

"Langit sedang merana karena tiada bulan."

"Langit atau engkau yang sedang merana?"

Tanya Lie Ai Ling sambil tertawa.

"Engkau anak lelaki, jangan terlampau berperasaan terhadap urusan itu!"

"Urusan apa?"

Tanya Toan Beng Kiat.

"Biasa,"

Sahut Lie Ai Ling sambil tertawa lagi.

"Kita semua adalah teman baik. Jangan dikarenakan urusan percintaan, kita jadi terpecah belah lho!"

"Itu tidak akan terjadi,"

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Sebab aku masih bisa mengendalikan perasaanku."

"Bagus! Tapi____"

Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Kenapa?"

Toan Beng Kiat memandangnya.

"Kelihatannya engkau mengkhawatirkan sesuatu, bukan?"

"Ng!"

Lie Ai Ling mengangguk.

"Apa yang engkau khawatirkan?"

"Kam Hay Thian,"

Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia sangat emosionil. Kelihatannya dia sangat menyukai Goat Nio, namun Goat Nio bersikap acuh tak acuh kepadanya."

"Ya,"

Toan Beng Kiat manggut-manggut.

"Sedangkan Soat Lan dan Lu Hui San menyukai Kam Hay Thian, itu____"

Lie Ai Ling menghela nafas panjang.

"Ai Ling!"

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Engkau tidak usah khawatir, tidak akan terjadi suatu apa pun. Percayalah!"

"Engkau yakin itu?"

"Yakin."

"Syukurlah!"

Sementara di balik sebuah pohon, tampak Siang Koan Goat Nio duduk bersandar, dan Kam Hay Thian berdiri di sampingnya.

"Goat Nio!"

Panggil Kam Hay Thian dengan suara rendah.

"Hay Thian!"

Sahut Siang Koan Goat Nio.

"Aku tahu bagaimana perasaanmu, namun____"

"Kenapa?"

Kam Hay Thian duduk sambil memandangnya.

"Terus terang, aku merasa tidak cocok denganmu,"

Ujar Siang Koan Goat Nio perlahan.

"Dari pada berlarut-larut dan memberikanmu harapan, lebih baik aku berterus terang."

"Engkau... engkau...."

Kam Hay Thian menghela nafas panjang.

"Engkau sama sekali tidak menaruh hati kepadaku?"

"Ya."

Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Apakah dikarenakan Bun Yang, yang belum engkau ketemukan itu?"

Tanya Kam Hay Thian dengan wajah berubah.

"Bukan,"

Sahut Siang Koan Goat Nio.

"Kalau begitu karena apa?"

Tanya Kam Hay Thian penasaran.

"Aku harap engkau mau menjelaskannya!"

"Sudah kukatakan tadi, aku merasa tidak cocok denganmu. Jadi engkau harus mengerti,"

Sahut Siang Koan Goat Nio dan menambahkan.

"Kita semua sebagai teman baik, jangan karena ini lalu kita semua terpecah belah!"

"Baik."

Kam Hay Thian manggut-manggut "Aku memang harus mengerti, terimakasih atas penjelasanmu!"

"Aku mohon maaf!"

Ucap Siang Koan Goat Nio. Kam Hay Thian menghela nafas panjang, lalu melangkah pergi dengan kepala tertunduk.

"Hay Thian!"

Panggil Lam Kiong Soat Lan sambil menghampirinya.

"Oh, Soat Nio!"

Kam Hay Thian memandangnya.

"Kok engkau belum tidur?"

"Aku tidak bisa tidur,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan.

"Hay Thian, bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?"

Kam Hay Thian mengangguk, lalu mereka duduk di situ. Lam Kiong Soat Lan menengadahkan kepalanya memandang ke langit seraya berkata.

"Aku melihat engkau bersama Goat Nio. Kalian berdua membicarakan sesuatu yang penting?"

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Aku mencurahkan isi hatiku, namun dia menolak."

"Apa alasannya?"

"Dia mengatakan tidak cocok denganku."

"Oooh!"

Lam Kiong Soat Lan manggut-mang-Igut.

"Kelihatannya kalian berdua memang tidak cocok, maka janganlah engkau memaksakan diri."

"Tentu tidak."

Kam Hay Thian tertawa getir.

"Aku tidak akan memaksakan diri dan harus tahu diri, dan mulai sekarang aku tidak akan mendekatinya lagi."

"Hay Thian,"

Ujar Lam Kiong Soat Lan lembut.

"Kita semua adalah teman baik. Jangan dikarenakan itu kita semua lalu terpecah belah."

"Jangan khawatir!"

Kam Hay Thian tertawa.

"Aku bukan pemuda yang berhati begitu sempit."

"Syukurlah!"

Ucap Lam Kiong Soat Lan. Sementara Lu Hui San terus berdiri seorang diri, sosok bayangan mendekatinya lalu memegang bahunya.

"Jangan terus melamun di sini, tidak baik!"

Terdengar suara yang amat lembut, yang ternyata suara Toan Beng Kiat.

"Oh, Beng Kiat!"

Lu Hui San tersenyum.

"Aku tidak melamun, melainkan sedang memikirkan sesuatu."

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku sedang memikirkan diriku sendiri."

"Kenapa dirimu?"

"Aaaah...!"

Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Itu urusanku, percuma kuberitahukan kepadamu."

"Hui San,"

Ujar Toan Beng Kiat sambil tersenyum.

"Kita adalah teman baik, jadi harus membagi rasa dan pikiran yang memberatkan, agar pikiranmu tidak tertekan."

"Beng Kiat!"

Lu Hui San terharu.

"Terima-kasih atas kebaikanmu, namun____"

"Aku tahu____"

Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau jatuh hati kepada Kam Hay Thian, tapi Kam Hay Thian malah jatuh hati kepada Goat Nio. Itu yang membuat pikiranmu tertekan, bukan?"

"Tidak juga,"

Lu Hui San tersenyum.

"Pikiranku tidak akan tertekan oleh masalah itu."

"Syukurlah!"

Ucap Toan Beng Kiat.

"Hui San, di sini sangat dingin, lebih baik ke dalam saja."

Lu Hui San manggut-manggut, kemudian berjalan ke dalam dan diikuti Toan Beng Kiat. Sementara Siang Koan Goat Nio tetap duduk di situ, sosok bayangan mendekatinya, yang tidak lain Lie Ai Ling.

"Goat Nio..."

Panggilnya dengan suara rendah.

"Ai Ling!"

Sahut Siang Koan Goat Nio.

"Duduklah!"

"Aku memang ingin duduk di sini,"

Kata Lie Ai Ling dengan tersenyum lalu duduk.

"Tadi Kam Hay Thian duduk di sini, bukan?"

Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Kalian membicarakan apa?"

"Dia mencurahkan isi hatinya, namun kutolak angsung,"

Jawab Siang Koan Goat Nio dan menambahkan.

"Itu agar tidak terus berlarut-larut. Kalau aku tidak menolak, tentu dia masih berharap."

"Betul."

Lie Ai Ling mengangguk, kemudian menghela nafas panjang.

"Aaah! Janganlah kita dibutakan cinta, itu sangat berbahaya!"

"Aku tahu, maka aku harus berterus terang kepadanya. Kalau tidak, tentu akan kacau balau."

"Aku yang menyaksikannya pun jadi pusing, sebab kelihatannya Soat Lan dan Hui San jatuh hati kepada Kam Hay Thian, sedangkan Toan Beng Kiat justru jatuh hati kepada Lu Hui San."

"Lalu engkau jatuh hati kepada siapa?"

Tanya Siang Koan Goat Nio setengah bergurau.

"Pemuda idaman hatiku belum muncul,"

Sahut Lie Ai Ling sambil tersenyum.

"Maka aku tidak memikirkan soal cinta!"

"Tidak memikirkan tapi membayangkannya, bukan?"

"Itu kadang-kadang."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Kita merupakan gadis dewasa, tentu akan membayangkan itu, bukan?"

"Yaaah!"

Siang Koan Goat Nio menghela nafas.

"Alangkah baiknya kita tidak memikirkan dan tidak membayangkannya, agar tidak pusing."

"Goat Nio!"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Ayohlah, kita masuk di sini sangat dingin!"

"Baik,"

Siang Koan Goat Nio mengangguk kemudian mereka bangkit berdiri lalu berjalan memasuki markas.

Malam itu mereka semua tidak bisa tidur, karena perasaan masing-masing tercekam oleh sesuatu.

-ooo0dw0ooo-Kegusaran Seng Hwee Sin Kun telah memuncak, entah sudah berapa kali ia memukul meja dengan wajah merah padam.

"Jadi kalian gagal membasmi Tiong Ngie Pay?"

"Ya."

Tok Chiu Ong mengangguk dan memberitahukan.

"Itu dikarenakan kehadiran beberapa orang di markas itu."

"Oh?"

Seng Hwee Sin Kun mengerutkan kening.

"Siapa mereka?"

"Chu Ok Hiap, Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan dan lain-lainnya."

Pat Pie Lo Koay memberitahukan.

"Karena itu, kami gagal membasmi Tiong Ngie Pay."

"Hmm!"

Dengus Seng Hwee Sin Kun dingin.

"Mereka semua betul-betul merupakan duri dalam mata! Kita harus membasmi mereka dulu!"

"Itu tidak perlu,"

Sahut Pat Pie Lo Koay.

"Sebab mereka merupakan suatu umpan bagi kita. setelah mereka meninggalkan markas Tiong Ngie way, barulah kami pergi menyerang Tiong Ngie Way lagi."

"Bagus!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Tidak mungkin mereka tidak akan meninggalkan larkas Tiong Ngie Pay itu! Ha ha ha...!"

Memang benar apa yang dikatakan Seng Hwee Sin Kun, keesokan harinya Toan Beng Kiat dan lainnya meninggalkan markas Tiong Ngie Pay menuju markas pusat Kay Pang.

Akan tetapi, di tengah jalan telah terjadi sesuatu, ternyata Kam Hay Thian meninggalkan mereka secara diam-diam.

Hal itu sangat mengelisahkan Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, Lie mi Ling, Siang Koan Goat Nio dan Lu Hui San.

"Aaaah...."

Toan Beng Kiat menghela nafas ?anjang.

"Tak disangka Kam Hay Thian begitu keras hati!"

"Bukan keras hati, melainkan tidak mau ber-aul,"

Sahut Lie Ai Ling sambil menggeleng-[ clengkan kepala.

"Bukan karena tidak mau bergaul, aku yakin Ada masalah lain,"

Ujar Lam Kiong Soat Lan. [ Tentunya karena Goat Nio."

"Mungkin karena aku,"

Sahut Siang Koan I ioat Nio dengan kening berkerut-kerut.

"Malam itu kalian berdua duduk di balik pohon,"

Ujar Lam Kiong Soat Lan sambil memandang Siang Koan Goat Nio.

"Apa yang kalian bicarakan?"

"Dia mencurahkan isi hatinya, tapi aku menolak,"

Sahut Siang Koan Goat Nio.

"Mungkin karena itu, maka dia memisahkan diri dengan kita."

"Ngmm!"

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut.

"Itu memang masuk akal, namun kepergian-nya itu akan membahayakan dirinya pula."

"Maksudmu dia akan pergi ke Lembah Kabut Hitam?"

Tanya Lie Ai Ling dengan hati tersentak "Mungkin."

Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

"Sebab dia telah bertekad ingin membunuh Seng Hwee Sin Kun."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi menyusulnya?"

Tanya Lu Hui San seakan mengusulkan.

"Jangan!"

Toan Beng Kiat menggelengkan kepala.

"Lebih baik kita ke markas pusat Kay Pang saja. Kita berunding dulu dengan kakekku dan kakek Lim."

"Jadi engkau membiarkan Kam Hay Thian pergi menempuh bahaya seorang diri?"

Tanya Lu Hui San tidak senang.

"Jangan salah paham!"

Sahut Toan Beng Kiai sambil tersenyum.

"Dia memang meninggalkan kita, namun belum tentu dia pergi ke lembah itu Lagi pula dia bukan pemuda bodoh yang akan bertindak tanpa suatu perhitungan matang."

"Benar,"

Sela Lam Kiong Soat Lan.

"Lebih baik kita melanjutkan perjalanan ke markas pusat Kay Pang saja. Kita berunding bersama di sana, tidak perlu berdebat di sini membuang-buang waktu."

"Aaaah...."

Lu Hui San menghela nafas panjang dan tidak mau banyak bicara lagi, kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang.

-ooo0dw0ooo-Dua hari kemudian, mereka sudah tiba di markas pusat Kay Pang.

Dapat dibayangkan betapa gembiranya Gouw Han Tiong dan Lim Peng Hang.

"Kakek! Kakek Lim..."

Panggil Toan Beng Kiat sambil memberi hormat.

"Kalian...."

Gouw Han Tiong tertawa gembira.

"Duduklah!"

Mereka duduk. Gouw Han Tiong memandang Toan Beng Kiat seraya berkata.

"Kalian dari mana?"

"Kami____"

Toan Beng Kiat menutur semua kejadian itu, kemudian menambahkan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Sungguh sayang sekali Kam Hay Thian memisahkan diri dengan kami!"

"Pemuda itu____"

Gouw Han Tiong menghela nafas.

"Terlampau terbawa oleh emosinya sendiri."

"Aku yakin..."

Ujar Lim Peng Hang sambil menatap mereka.

"Pasti ada suatu masalah d antara kalian. Ya, kan?"

"Ya,"

Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

"Masalah apa itu?"

Tanya Lim Peng Hang sambil mengerutkan kening.

"Jangan ditutup-tutupi, jelaskan saja!"

"Itu dikarenakan____"

Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.

"Maka dia memisahkan diri dengan kami."

"Aaaah...."

Lim Peng Hang menghela nafas lagi.

"Di saat begitu malah timbul masalah yang tak menyenangkan!"

"Kakek Lim,"

Sela Lie Ai Ling.

"Memang ada baiknya Goat Nio menolak langsung. Kalau tidak, lama-kelamaan akan bertambah gawat."

"Ngmm!"

Lim Peng Hang manggut-manggut, kemudian berkata dengan kening berkerut.

"Aku justru tidak habis pikir, kenapa Seng Hwee Kauw menyerang Tiong Ngie Pay?"

"Mungkin...."

Ujar Gouw Han Tiong setelah berpikir sejenak. Seng Hwee Kauw telah bekerja sama dengan Hiat Ih Hwe, maka Seng Hwee Kau menyerang Tiong Ngie Pay dengan maksud membantu Hiat Ih Hwe."

"Benar."

Lim Peng Hang mengangguk.

"Kita pun harus berhati-hati, karena kemungkinan besar Seng Hwee Kauw juga akan menyerang ke mari."

"Apakah kejadian itu, perlu kita beritahukan kepada Sam Gan Sin Kay?"

Tanya Gouw Han Tiong.

"Memang seharusnya, tapi____"

Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Ayahku sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan."

"Cuma memberitahukan, bukan berarti Sam Gan Sin Kay harus ke mari,"

Ujar Gouw Han Tiong dan menambahkan.

"Kalau kita tidak memberitahukan, aku khawatir kita pula yang akan dipersalahkannya."

"Benar."

Lim Peng Hang mengangguk.

"Kalau begitu, siapa yang akan berangkat ke Pulau Hong Hoang To?"

"Bagaimana, kalau Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan saja?"

Usul Gouw Han Tiong sambil tersenyum.

"Ngmm!"

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Itu memang baik, jadi mereka bisa tahu pulau itu."

"Beng Kiat!"

Gouw Han Tiong menatapnya.

"Bagaimana kalau engkau dan Soat Lan yang berangkat ke pulau Hong Hoang To?"

"Baik, Kakek."

Toan Beng Kiat mengangguk, kemudian memandang Lu Hui San seraya bertanya.

"Engkau mau ikut dengan kami ke Pulau Hong Hoang To?"

"Aku____"

Lu Hui San menggelengkan kepala. Toan Beng Kiat tampak kecewa, dan iti membuat Gouw Han Tiong mengerutkan kenin lalu memandang Lim Peng Hang.

"Kapan mereka berangkat?"

"Besok juga boleh,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Beng Kiat, besok kalian berdua berangkatlah ke Pulau Hong Hoang To! Jangan menunda waktu, sebab keadaan telah gawat!"

Ujar Gouw Han Tiong sungguh-sungguh dan berpesan.

"Ingat, jangan menimbulkan urusan dalam perjalanan!"

"Ya, Kakek."

Toan Beng Kiat mengangguk.! "Ai Ling, Goat Nio dan Hui San! Kalian bertiga tinggal di sini beberapa hari!"

Tegas Lim Peng Hang.

"Jangan pergi secara diam-diam!"

"Ya."

Ketiga gadis itu menyahut serentak.

Keesokan harinya, berangkatlah Toan Beng Kiat bersama Lam Kiong Soat Lan ke Pulau Hong Hoang To.

-ooo0dw0ooo-Lie Ai Ling, Siang Koan Goat Nio dan Lu Hui San duduk di halaman markas pusat Kay Pang.

Wajah Lu Hui San tampak murung, kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.

"Hui San!"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Engkau sedang memikirkan apa?"

"Terus terang, aku sedang memikirkan Kam Hay Thian,"

Sahut Lu Hui San jujur.

"Aku khawatir akan terjadi sesuatu atas dirinya. Sebab dia begitu keras hati, maka pasti ke lembah itu."

"Jangan khawatir!"

Ujar Siang Koan Goat Nio.."Walau dia keras hati, namun tidak bodoh. Kalaupun dia berangkat ke lembah itu, tentu dia sudah berpikir matang sekali."

"Memang, namun...."

Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.

"Bagaimana mungkin dia seorang diri mampu melawan Seng Hwee Sin Kun?"

"Kalau begitu, kita harus bagaimana?"

Tanya ?Lie Ai Ling.

"Kita harus pergi membantunya,"

Sahut Lu Hui San sungguh-sungguh.

"Dia teman baik kita, apakah kita tega membiarkan dia seorang diri menempuh bahaya?"

"Itu____"

Lie Ai Ling menghela nafas panjang.

"Kalau kalian berdua tidak mau pergi membantunya, biar aku seorang diri yang pergi."

"Hui San!"

Siang Koan Goat Nio menatapnya.

"Kami juga mempunyai rasa solidaritas, hanya saja...."

"Kenapa?"

Tanya Lu Hui San.

"Bukankah lebih baik kita tunggu Beng Kiat dan Soat Lan pulang dulu, barulah kita pergi kelembah itu?"

Sahut Siang Koan Goat Nio. Lu Hui San tersenyum getir, kemudian menghela nafas panjang.

"Tentunya Kam Hay Thian sudah jadi mayat di lembah itu,"

Ujar Lu Hui San dengan mata basah.

"Hui San____"

Lie Ai Ling tersentak.

"Engkau...."

"Aku memang jatuh hati kepadanya, tapi dia Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia acuh tak acuh terhadapku, namun aku tidak mempermasalahkan itu, sebab aku merasa kasihan dan simpati kepadanya."

"Hui San,"

Tanya Siang Koan Goat Nio mendadak.

"Engkau mencintainya?"

"Ya."

Lu Hui San mengangguk.

"Tapi aku tahu dia tidak mencintaiku. Namun... aku tetap merasa kasihan dan simpati kepadanya. Karena itu, aku harus pergi membantunya."

"Baiklah."

Siang Koan Goat Nio manggut "Mari kita pergi bersama, tapi kita tidak boleh berterus terang kepada kedua kakek itu. Karena mereka pasti tidak mengijinkan."

"Lalu kita harus bagaimana?"

Tanya Lu San.

"Aku mempunyai akal,"

Sahut Lie Ai Ling dengan wajah berseri.

"Alasan kita pergi mencari Kakak Bun Yang."

"Benar."

Siang Koan Goat Nio mengangguk. Jadi kita pasti diijinkan pergi mencari Bun Yang."

"Kalau begitu, mari kita menemui kedua kakek itu!"

Ajak Lie Ai Ling sambil tersenyum. Mereka bertiga memasuki markas, kebetulan Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong sedang duduk di ruang depan.

"Kakek Lim, Kakek Gouw..."

Panggil Lie Ai Ling sambil mendekati mereka.

"Ada apa?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Yaaah____"

Lie Ai Ling menghela nafas panjang, kemudian menggeleng-gelengkan kepala sambil duduk.

"Lho?"

Lim Peng Hang tercengang.

"Ai ling, apa engkau menghela nafas panjang?"

"Tadi..."

Lie Ai Ling menghela nafas panjang lagi.

"Ada apa, beritahukanlah!"

Desak Lim Peng liang sambil menatapnya.

"Jangan ragu!"

"Tadi aku melihat Goat Nio duduk melamun di bawah pohon, wajahnya murung sekali____"

"Lho? Kenapa?"

Lim Peng Hang memandang Siang Koan Goat Nio, dan gadis itu segera menundukkan kepala.

"Oooh!"

Gouw Han Tiong tertawa.

"Jangan-jangan dia sedang memikirkan cucumu itu!"

"Bun Yang?"

Lim Peng Hang terbelalak.

"Siapa lagi kalau bukan cucumu yang tampan itu?"

Sahut Gouw Han Tiong, kemudian tertawa sambil memandang Lie Ai Ling.

"Betulkah Goa Nio terus-menerus memikirkan Bun Yang?"

"BetuL"

Lie Ai Ling mengangguk.

"Bahkan kadangkadang...."

"Kenapa?"

Tanya Lim Peng Hang cepat.

"Goat Nio sering menangis seorang diri,"

Sahut Lie Ai Ling sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Dan bergumam memanggil nama Kakak Bun Yang."

"Oh?"

Lim Peng Hang tersentak.

"Kok bisa begitu? Padahal Goat Nio belum bertemu Bun Yang."

"Itu gara-garaku juga."

Lie Ai Ling menghela nafas panjang.

"Sebab aku sering memuji Kakak Bun Yang di hadapannya, maka dia sangat tertarik sehingga-"

"Ingin sekali bertemu dia?"

Tanya Gouw Hai Tiong.

"Ya."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Oleh karena itu, aku pikir...."

"Kalian bermaksud pergi mencari Bun Yang?"

Tanya Lim Peng Hang dan merasa kasihan pada Siang Koan Goat Nio.

"Kami memang bermaksud begitu, tapi...."

Lil Ai Ling menggelengkan kepala.

"Belum tentu kami diijinkan pergi. Ya, kan?"

"Tidak salah,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Kalau begitu____"

Lie Ai Ling menghela nafas panjang.

"Pasti celaka."

"Kenapa celaka?"

Tanya Lim Peng Hang dengan kening berkerut.

"Goat Nio____Goat Nio pasti sakit rindu, yang tiada obatnya."

Sahut Lie Ai Ling.

"Benar."

Sela Gouw Han Tiong.

"Sakit rindu memang tiada obatnya, kecuali bisa bertemu orang yang dirindukannya."

"Kalau begitu harus bagaimana?"

Lim Peng liang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kita harus mengijinkan mereka pergi mencari Bun Yang. Kalau tidak, Goat Nio pasti celaka,"

Sahut Gouw Han Tiong.

"Mereka berdua belum pernah bertemu, kenapa bisa jadi begitu?"

Lim Peng Hang merasa heran.

"Bisa saja begitu."

Gouw Han Tiong tertawa. Bukankah kita pernah dengar, ada seorang pemuda jatuh hati kepada Sang Bidadari yang di dalam lukisan, akhirnya sakit rindu dan kemudian meninggal!"

"Ngmmm!"

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Baiklah. Aku mengijinkan mereka pergi mencari Bun Yang."

"Terimakasih, Kakek Lim!"

Ucap Lie Ai Ling dengan wajah berseri.

"Kapan kalian akan berangkat pergi mencari Bun Yang?"

Tanya Lim Peng Hang sambil memandang mereka bertiga.

"Sekarang,"

Sahut ketiga gadis itu serentak.

"Apa?"

Lim Peng Hang tertegun.

"Sekarang?"

"Ya."

Ketiga gadis itu mengangguk.

"Bagaimana kalau besok saja?"

Tanya Lir Peng Hang.

"Bagaimana mungkin Goat Nio bisa menunggu sampai besok?"

Gouw Han Tiong tertawa "Sudahlah, biar mereka berangkat sekarang saja! "Baik."

Lim Peng Hang manggut-manggut lalu memandang mereka bertiga seraya berpesan "Kalian harus berhati-hati, jangan sampai bertemu Seng Hwee Kauw atau Hiat Ih Hwe!"

"Kami pasti berhati-hati,"

Ujar Lie Ai Lin berjanji.

"Kami pergi mencari kakak Bun Yan bukan pergi mencari gara-gara dengan pihak Sen Hwee Kauw atau Hiat Ih Hwe."

"Mudah-mudahan kali ini kalian akan bertemu Bun Yang, cucuku itu!"

Ucap Lim Peng Hang dan menambahkan.

"Kalau bertemu dia, kalian harus ajaklah ke mari!"

"Ya."

Ketiga gadis itu mengangguk, lalu berangkat dengan wajah berseri-seri, dan yang paling gembira adalah Lu Hui San.

-ooo0dw0ooo-Bagian ke dua puluh sembilan Muncul Penolong Di dalam markas Tiong Ngie Pay, tampak Yo Suan Hiang sedang bercakap-cakap dengan Tan Ju Liang, Lim Cin An, Cu Tiang Him dan Tan Giok Lan.

"Bagaimana menurut kalian, apakah pihak Seng Hwee Kauw masih akan menyerang ke mari?"

Tanya Yo Suan Hiang serius.

"Menurutku..."

Jawab Tan Ju Liang dengan kening berkerutkerut.

"Pihak Seng Hwee Kauw pasti akan menyerang ke mari lagi."

"Apa alasanmu?"

"Sebab kini Toan Beng Kiat dan lainnya telah meninggalkan markas kita ini, maka pihak Seng Hwee Kauw pasti memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang lagi."

"Benar."

Yo Suan Hiang manggut-manggut. 'Tapi kita pun sudah siap menyambut penyerangan mereka, lagi pula para anggota kita terlatih, tidak seperti para anggota Seng Hwee Kauw."

"Betul."

Lim Cin An mengangguk.

"Namun pemimpin mereka pasti berkepandaian tinggi, maka kita harus hati-hati."

"Kita semua memang harus hati-hati,"

Ujar Yo Suan Hiang, kemudian memandang Tan Giok Lan seraya berkata.

"Engkau harus baik-baik menjaga diri, sebab kepandaianmu masih rendah."

"Ya, Bibi."

Tan Giok Lan mengangguk.

"Lapor pada ketua!"

Seru salah seorang anggota sambil berlari masuk.

"Pihak Seng Hwe Kauw mulai menyerang ke mari."

"Demi Tiong Ngie Pay, kita semua harus bertempur matimatian!"

Sahut Yo Suan Hiang.

"Ya!"

Sahut para anggota penuh semanga "Kami semua rela mati demi Tiong Ngie Pay!"

"Bagus!"

Yo Suan Hiang tertawa gembira "Mari kita sambut mereka!"

Yo Suan Hiang dan lainnya langsung melesai ke luar.

Setelah sampai di luar markas, mereka melihat tiga orang tua berdiri di situ, dan satu di antaranya seorang wanita tua.

Mereka bertiga adalah Hek Sim Popo, Pek Bin Kui dan Leng Bin Hoatsu.

"Maaf!"

Ucap Yo Suan Hiang sambil memberi hormat.

"Selama ini, kami tidak bermusuhan dengan pihak kalian, kenapa mendadak kalian menyerang ke mari?"

"Ha ha ha!"

Pek Bin Kui tertawa.

"Aku adalah Pek Bin Kui, dia adalah Leng Bin Hoatsu dan wanita tua itu adalah Hek Sim Popo. Kami menyerang ke mari atas perintah Kauwcu."

"Kauwcu kalian pasti Seng Hwee Sin Kun."

Ujar Yo Suan Hiang dan menambahkan.

"Kami tidak bermusuhan dengan Seng Hwee Sin Kun kenapa dia memerintah kalian untuk menyerang kami?"

"He he he!"

Hek Sim Popo tertawa terkekeh.

"Kalian harus tahu, Kauwcu kami dan ketua Hiat Ih Hwe sudah bekerja sama. Oleh karena itu, kami mewakili Hiat Ih Hwe membasmi kalian. He he he...!"

"Oooh! Ternyata begitu!"

Yo Suan Hiang manggut-manggut sambil tertawa dingin.

"Kalian kira gampang membasmi Tiong Ngie Pay? Sebaliknya mungkin kalian yang akan menjadi mayat di tempat ini."

"Serang mereka!"

Perintah Leng Bin Hoatsu kepada para anak buahnya untuk menyerang para anggota Tiong Ngie Pay.

Begitu perintah itu diturunkan, seketika terjadilah pertempuran dahsyat antara para anggota Seng Hwee Kauw dengan para anggota Tiong Ngie Pay.

Sedangkan Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui dan Hek Sim Popo juga mulai menyerang mereka.

Yo Suan Hiang melawan Hek Sim Popo, Tan Ju Liang melawan Pek Bin Kui, Lim Cin An dan Cu Tiang Him melawan Leng Bin Hoatsu.

Belasan jurus kemudian, Yo Suan Hiang tampak mulai terdesak.

Oleh karena itu, ia terpaksa menggunakan Cit Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling), ciptaan Tio Cie Hiong.

Begitu Yo Suan Hiang menggunakan ilmu [pedang tersebut, seketika juga Hek Sim Popo merasa pusing dan matanya berkunang-kunang.

Hal itu membuatnya terkejut sekali.

Ia pun segera mengeluarkan ilmu andalannya, sehingga pertarungan mereka menjadi bertambah sengit.

Sementara Tan Ju Liang juga sudah mulai berada di bawah angin, bahkan lengannya telah terluka oleh senjata lawan.

Begitu pula Lim Cin An dan Cu Tiang Him.

Mereka mulai terdesak dan paha mereka telah terluka.

"Ha ha ha!"

Pek Bin Kui dan Leng Bin Hoatsi tertawa gelak sambil menyerang mereka dengar jurus-jurus yang mematikan.

Di sisi lain, yaitu Hek Sim Popo, nenek itu tampak terdesak oleh Yo Suan Hiang yang menggunakan Cit Loan Kiam Hoat.

Namun Yo Suar Hiang terkejut ketika melihat Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him yang dalam keadaan bahaya.

Mendadak ia membentak keras sambil menyerang Hek Sim Popo dengan jurus Ban Kiam Hi Thian (Selaksa Pedang Terbang Ke Langit), namun cepat-cepat Hek Sim Popo menangkis dengan jurus Heng Soh Cian Kun (Menyapu Ribuan Prajurit).

Trang!

Terdengar suara benturan senjata.

Yo Suan Hiang tetap berdiri di tempat, tetapi Hek Sim Popo terpental beberapa depa.

Untung nenek itu memiliki lweekang tinggi, kalau tidak, ia pasti sudah terluka dalam.

Hek Sim Popo terkejut bukan kepalang, namun mendadak balas menyerang Yo Suan Hiang dengan senjata rahasia.

Serr!

Serrr!

Serrrr!

Yo Suan Hiang cepat-cepat memutar pedangnya untuk menangkis senjata-senjata rahasia itu, sehingga membuatnya tidak sempat membantu Tan Ju Liang dan Lim Cin An maupun Cu Tiang Him.

Sementara para anggotanya sudah banyak yang mati.

Namun sisanya masih melawan secara mati-matian.

Sedangkan Tan Ju Liang, Lim Cin An, dan Cu Tiang Him sudah tak mampu balas menyerang.

Mereka bertiga hanya bertahan mati-matian.

Tampaknya tidak lama lagi, ketiga-tiganya pasti akan mati di ujung senjata Pek Bin Kui dan Leng Bin Hoatsu.

Akan tetapi, di saat bersamaan terdengarlah suara siulan yang amat nyaring kemudian melayang turun seorang gadis berusia dua puluhan, berparas cantik tapi tampak dingin sekali.

Ketika melayang turun, gadis itu mengibaskan tangannya menaburkan racun ke arah para anggota Seng Hwee Kauw.

"Aaaakh! Aaaakh! Aaaakh...!"

Terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

Belasan anggota Seng Hwee Kauw roboh sambil menggeliat-geliat, dan berselang sesaat tubuh mereka mengeluarkan asap.

Ternyata mereka telah mati dengan daging mencair.

Betapa terkejutnya para anggota Seng Hwee Kauw lain.

Mereka segera mundur dengan wajah pucat pias.

Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui dan Hek Sim1 Popo juga terkejut bukan main.

Mereka memandang gadis itu sambil mundur beberapa langkah.

"Siapa engkau?"

Bentak Leng Bin Hoatsu.

"Kenapa mencampuri urusan kami?"

"Kalian memang tidak kenal aku, tapi aku kenal kalian semua!"

Sahut gadis itu sambil tersenyum dingin.

"Aku ke mari justru ingin mencampuri urusan kalian. Karena kalau bertarung aku pasti kalah, maka aku menggunakan racun!"

"Beritahukan!"

Bentak Hek Sim Popo.

"Siapa engkau?"

"Aku bernama Phang Ling Cu, juga adalah Ngo Tok Kauwcu,"

Sahut gadis itu.

"Haaah...!"

Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui dan Hek Sim Popo tersentak. Mereka tersentak bukan dikarenakan Ngo Tok Kauwcu itu berkepandaian tinggi, melainkan Ngo Tok Kauw sangat terkenal racunnya.

"Engkau... engkau Ngo Tok Kauwcu?"

"Kalau kalian tidak percaya, boleh coba racunku!"

Phang Ling Cu mengangkat sebelah tangannya. Seketika juga Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui dan Hek Sim Popo meloncat ke belakang dengan wajah pucat pias.

"Hmm!"

Dengus Phang Ling Cu dingin.

"Kalian masih belum mau enyah dari sini? Ingin merasakan kelihayan racunku?"

Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui dan Hek Sim Popo saling memandang, kemudian mereka melangkah pergi.

Para anggota Seng Hwee Kauw segera mengikuti mereka meninggalkan tempat itu.

Phang Ling Cu tertawa dingin.

Yo Suan Hiang menghampirinya sambil memberi hormat.

"Terimakasih atas bantuanmu, Ngo Tok Kauw-cu!"

Ucapnya.

"Tidak usah mengucapkan terimakasih,"

Sahut Phang Ling Cu sambil tersenyum ramah.

"Panggil saja namaku! Aku bernama Phang Ling Cu, dan engkau pasti Yo Suan Hiang. Aku pun harus memanggil bibi."

"Ling Cu____"

Yo Suan Hiang tertegun.

"Kok engkau tahu namaku?"

"Siapa tidak kenal ketua Tiong Ngie Pay yang selalu menentang Hiat Ih Hwe? Lagipula...."

Phang Ling Cu tersenyum lagi.

"Aku berhutang budi kepada adik Bun Yang."

"Engkau kenal Tio Bun Yang?"

Yo Suan Hiang terbelalak.

"Kenal."

Phang Ling Cu mengangguk.

"Dia yang menyembuhkan wajahku."

"Oooh!"

Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Ling Cu, mari kita masuk!"

"Terimakasih!"

Ucap Phang Ling Cu.

"Cepat kalian obati anggota-anggota yang terluka"

Ujar Yo Suan Hiang pada Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him.

"Ya, Ketua,"

Sahut mereka bertiga dan segera mengobati anggota-anggota yang terluka. Sementara Yo Suan Hiang dan Phang Ling Cu telah berada di dalam markas dan mereka duduk berhadapan.

"Tiong Ngie Pay berhutang budi padamu, Ling Cu,"

Ujar Yo Suan Hiang.

"Kalau engkau tidak segera muncul, Tiong Ngie Pay pasti hancur."

"Jangan berkata begitu, Bibi Suan Hiang!"

Sahut Phang Ling Cu.

"Tadi aku sudah bilang, Adik Bun Yang yang menyembuhkan wajahku. Kalau tidak, aku masih memakai cadar dan wajahku sangat menyeramkan."

"Oh ya!"

Yo Suan Hiang menatapnya seraya bertanya.

"Di mana engkau bertemu Bun Yang?* "Di kota Kang Shi..."

Jawab Phang Ling Cu dan menutur tentang kejadian itu sambil tersenyum.

"Adik Bun Yang berhati bajik, luhur dan mulia. Aku kagum dan salut padanya."

"Setelah itu, dia ke mana?"

"Entahlah."

"Aaaah!"

Yo Suan Hiang menghela nafas panjang.

"Sudah lama aku tidak bertemu dia, aku sudah rindu sekali kepadanya!"

"Dia memang pemuda yang baik, berkepandaian tinggi tapi tidak menyombongkan diri."

"Benar,"

Yo Suan Hiang manggut-manggut. ''Oh ya, engkau sengaja ke mari atau kebetulan...."

"Boleh dikatakan sengaja ke mari, tapi juga boleh dikatakan kebetulan,"

Sahut Phang Ling Cu. '"Justru malah membantu Bibi Suan Hiang."

"Ling Cu!"

Yo Suan Hiang memandangnya.

"Karena engkau membantu kami, Seng Hwee Kauw pasti mendendam padamu."

"Aku memang mempunyai dendam pada Seng Hwee Sin Kun,"

Ujar Phang Ling Cu memberitahukan.

"Karena Seng Hwee Sin Kun membunuh ayahku, maka aku harus menuntut balas."

"Ayahmu dibunuh oleh Seng Hwee Sin Kun?"

"Ya,"

Phang Ling Cu mengangguk sambil menghela nafas.

"Padahal ayahku teman baiknya."

"Oh?"

Yo Suan Hiang terbelalak.

"Lalu kenapa Seng Hwee Sin Kun membunuh ayahmu?"

"Dia ingin menyerakahi kitab Seng Hwee Cin Keng. Oleh karena itu, dia membunuh ayahku demi memperoleh kitab itu. Akhirnya dia berhasil, bahkan berhasil pula menguasai semua ilmu yang tercantum di dalam kitab itu."

"Ooooh!"

Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Ternyata begitu! Tapi... apakah engkau mampu melawan Seng Hwee Sin Kun?"

"Aku bukan lawannya, namun aku mahir racun."

Phang Ling Cu memberitahukan.

"Aku akan berusaha membunuhnya dengan racun."

"Itu akan berhasil?"

"Belum tentu,"

Phang Ling Cu menggeleng kan kepala.

"Oleh karena itu, aku harus berunding dengan Adik Bun Yang."

"Sayang sekali, Bun Yang tidak berada di sini, ujar Yo Suan Hiang dan memberitahukan.

"Tapi belum lama ini justru muncul Toan Beng Kiat Kam Hay Thian dan lainnya ke mari. Pada waktu itu, pihak Seng Hwee Kauw pun menyerang namun pihak Seng Hwee Kauw tidak pmelawan mereka, dan akhirnya kabur."

"Kalau begitu, Seng Hwee Sin Kun sangat licik,"

Ujar Phang Ling Cu dingin dan melanjutkan "Setelah mereka pergi, dia perintahkan para anak buahnya menyerang lagi."

"Karena itu, aku harus berterimakasih kepadamu,"

Ucap Yo Suan Hiang setulus hati.

"Bibi Suan Hiang!"

Phang Ling Cu tersenyum "Jangan mengucapkan terimakasih kepadaku, karena aku memang mempunyai dendam dengan Seng Hwee Sin Kun! Oh ya, aku mau mohon pamit!"

"Kenapa begitu cepat?"

"Aku akan pergi mencari Adik Bun Yang."

"Ling Cu, cobalah engkau ke markas pusa Kay Pang, siapa tahu Bun Yang berada di sana!"

"Baiklah. Aku akan ke sana."

Phang Ling Cu bangkit berdiri.

"Bibi Suan Hiang, sampai jumpa!' "Sampai jumpa, Ling Cu!"

Sahut Yo Suan Hiang dan berpesan.

"Kalau bertemu Bun Yang, tolong beritahukan bahwa aku sangat rindu kepadanya."

"Ya, Bibi Suan Hiang,"

Phang Ling Cu mengangguk, lalu melesat pergi. -ooo0dw0ooo-Sementara itu, di dalam markas Seng Hwee Kauw, tampak Seng Hwee Sin Kun marah-marah sambil memukul meja.

"Kenapa kalian bertiga, bisa gagal membasmi Tiong Ngie Pay?"

"Kauwcu!"

Leng Bin Hoatsu memberitahukan.

"Sebetulnya kami hampir berhasil membasmi Tiong Ngie Pay, tapi-"

"Kenapa?"

Tanya Seng Hwee Sin Kun sambil mengerutkan kening.

"Mendadak muncul seorang gadis bernama Phang Ling Cu, yang mengaku dirinya adalah Ngo Tok Kauwcu. Gadis itu mahir menggunakan racun, sehingga belasan anggota kita mati keracunan,"

Sahut Leng Bin Hoatsu.

"Phang Ling Cu? Dia sudah muncul?"

Gumam Seng Hwee Sin Kun.

"Kauwcu kenal gadis itu?"

Tanya Pek Bin Kui.

"Kenal,"

Seng Hwee Sin Kun mengangguk.

"Dia putri teman baikku itu. Tak disangka dia pun mahir menggunakan racun!"

"Racun yang digunakannya sungguh lihay sekali!"

Ujar Hek Sim Popo.

"Belasan anggota kita itu mati dengan daging mencair, sungguh menakutkan!"

"Hmm!"

Dengus Seng Hwee Sin Kun dingin.

"Dia pasti akan menuntut balas atas kematian, ayahnya, maka kalian harus hati-hati menghadapinya."

"Ya!"

Sahut mereka serentak.

"Dia mahir menggunakan racun, namun aku tidak takut akan racunnya,"

Ujar Seng Hwee Si Kun sambil tertawa.

"Ha ha ha...!"

"Kenapa begitu?"

Tanya Pat Pie Lo Koay.

"Aku memiliki Seng Hwee Sin Kang, maka, aku kebal terhadap racun apa pun."

Seng Hwee Sin Kun memberitahukan.

"Karena itu, dia tidak bisa membunuhku dengan racun."

"Oooh!"

Pat Pie Lo Koay manggut-manggut.

"Kauwcu!"

Ujar Leng Bin Hoatsu mendadak dengan wajah serius.

"Aku punya suatu usul."

"Usul apa? Beritahukanlah!"

Sahut Seng Hwee Sin Kun sambil menatapnya.

"Mudah-mudahan usul yang dapat dipakai!"

"Tentu usul yang dapat dipakai."

Leng Bin Hoatsu tertawa.

"Usulku yakni kita harus melatih dan sekaligus mengajar ilmu silat kepada para anggota kita, sebab mereka masih agak kacau di saat bertempur, dan kepandaian mereka masih rendah!"

"Ngmmm!"

Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Usulmu kuterima."

"Terimakasih, Kauwcu!"

Ucap Leng Bin Hoatsu sambil memberi hormat.

"Kuserahkan tugas itu kepada kalian,"

Ujar Seng Hwee Sin Kun sungguh-sungguh dan memandang mereka tajam.

"Setelah itu, kalian boleh pergi menyerang Tiong Ngie Pay lagi."

"Ya, Kauwcu,"

Sahut mereka berlima sambil mengangguk.

"Kami pasti melaksanakan tugas itu dengan baik."

"Bagus, bagus!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Ha ha ha...!" -ooo0dw0ooo-Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan yang berlayar ke Pulau Hong Hoang To telah tiba di pulau tersebut. Kedatangan mereka justru membingungkan para penghuni pulau itu, karena tidak kenal Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

"Siapa kalian berdua?"

Tanya Tio Tay Seng dengan kening berkerut.

"Kenapa kalian berani datang di pulau ini?"

"Maaf!"

Ucap Toan Beng Kiat sambil member hormat.

"Namaku Toan Beng Kiat, dan dia ber nama Lam Kiong Soat Lan."

"Oooh!"

Wajah Tio Tay Seng langsung berseri "Ternyata kalian datang dari Tayli, silakan duduk! Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lai duduk, Sam Gan Sin Kay menatap mereka serayi bertanya.

"Bagaimana kabarnya orang tua kalian? Mereka baik-baik saja?"

"Orang tua kami baik-baik saja,"

Jawab Toan Beng Kiat dan memberitahukan.

"Kami ke mari atas perintah Kakek Lim dan Kakek Gouw untuli menyampaikan suatu kabar berita."

"Oh?"

Tio Tay Seng memandang mereka "Kabar berita apa?"

"Pihak Seng Hwee Kauw terus-menerus berupaya membunuh kami, bahkan belum lama in pihak Seng Hwee Kauw menyerang Tiong Ngie Pay,"

Jawab Toan Beng Kiat memberitahukan "Mungkin dalam waktu dekat, pihak Seng Hwee Kauw akan menyerang markas pusat Kay Pang.

"Oh?"

Wajah Sam Gan Sin Kay berubah "Kalian tahu siapa ketua Seng Hwee Kauw?"

"Ketua Seng Hwee Kauw adalah Seng Hwee Sin Kun. Dialah pembunuh kakek tua dan Lan Kiong hujin,"

Ujar Toan Beng Kiat.

"Oooh!"

Sam Gan Sin Kay manggut-manggut "Kini di rimba persilatan telah muncul seorang Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat), bernama Kam Hay Thian,"

Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Putera Kam Pek Kian dan Lie Siu Sien."

"Apa?!"

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im terbelalak.

"Kam Hay Thian itu putra mereka?"

"Ya."

Toan Beng Kiat mengangguk.

"Tapi... ayahnya sudah meninggal."

"Oh?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Kapan ayahnya meninggal?"

"Sudah lama. Ayahnya dibunuh orang karena menolong seorang tua dan memperoleh sebuah kitab Seng Hwee Cin Keng."

"Kalau begitu, pembunuh ayahnya adalah Seng Hwee Sin Kun?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Ya."

Toan Beng Kiat mengangguk.

"Oleh karena itu, Kam Hay Thian bersumpah akan membunuh Seng Hwee Sin Kun. Ketika kami menuju markas pusat Kay Pang, dia memisahkan diri dengan kami."

"Itu...."

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Kami pun bertemu Goat Nio, Ai Ling dan berkenalan dengan seorang gadis bernama Lu Hui San."

Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Mereka bertiga berada di markas pusat Kay Pang."

"Oooh!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Nah!"

Ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa.

"Kini giliranku bicara. Aku ingin bertanya kepada Soat Lan, sebab dari tadi dia diam saja."

"Bibi mau tanya apa?"

Lam Kiong Soat Lan tersenyum.

"Apakah putriku sudah bertemu Bun Yang?"

Ternyata ini yang ditanyakan Kou Hun Bijin.

"Belum."

Lam Kiong Soat Lan menggelengkan kepala.

"Apa?"

Kou Hun Bijin terbelalak, kemudian memandang Tio Cie Hiong sambil berkata.

"Adik, sebetulnya putramu itu hilang ke mana?"

"Aku... aku mana tahu!"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Bun Yang sangat tampan, jangan-jangan____"

"Apa?"

Tanya Kou Hun Bijin sambil melotot.

"Ayoh, lanjutkan!"

"Jangan-jangan dia dikurung oleh janda cantik,"

Sahut Sam Gan Sin Kay dengan tertawa gelak.

"Hmm!"

Dengus Kou Hun Bijin.

"Kalau Bun Yang berani berbuat begitu, akan kutampar mukanya sampai rusak!"

"Eeeh?"

Sam Gan Sin Kay tertawa lagi.

"Dia putra Cie Hiong dan Ceng Im, bukan putramu lho!"

"Aku tidak perduli!"

Sahut Kou Hun Bijin melotot.

"Pokoknya aku harus hajar dia!"

"Lho? Isteriku!"

Kim Siauw Suseng tersenyum.

"Pembicaraanmu kok menyimpang sampai begitu jauh?"

"Pengemis bau yang memulai."

"Dia sudah sinting, kenapa engkau ikut sinting pula?"

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Isterimu memang sudah gila, Bun Yang belum jadi mantunya, tapi dia sudah begitu galak. Bagaimana kelak kalau sudah jadi mantunya? Itu betul-betul gawat."

Sementara Tio Tay Seng, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im cuma menggeleng-gelengkan kepala.

Di saat itulah muncul Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa.

Wajah mereka berseri-seri, namun kemudian terperangah, karena melihat Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

Tio Cie Hiong segera memperkenalkan.

Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan langsung memberi hormat.

"Ooooh!"

Lie Man Chiu manggut-manggut sambil tersenyum.

"Ternyata mereka putra Toan Wie Kie dan putri Lam Kiong Bie Liong!"

"Kalian berdua bertemu Ai Ling, putriku?"

Tanya Tio Hong Hoa.

"Kami sudah bertemu Ai Ling dan Goat Nio,"

Jawab Lam Kiong Soat Lan.

"Mereka berada di markas pusat Kay Pang."

"Kalian sudah bertemu Bun Yang belum?"

Tanya Lie Man Chiu.

"Belum,"

Toan Beng Kiat menggelengkan kepala.

"Heran!"

Gumam Tio Hong Hoa.

"Anak itu pergi ke mana?"

"Dia____"

Sam Gan Sin Kay baru mau mengatakan sesuatu, tapi Kou Hun Bijin telah melototinya.

"Awas!"

Ancamnya.

"Kalau berani mencetus kan yang bukan-bukan, pipimu pasti bengkak!"

"Ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak "Sastrawan sialan, isterimu kok begitu galak! Kalau aku adalah engkau, dia sudah ku____"

"Apa?"

Tanya Kou Hun Bijin, yang kelihatan nya sudah siap menampar Sam Gan Sin Kay yang bermulut usil itu.

"Ti... tidak!"

Sam Gan Sin Kay meleletkan lidahnya.

"Sudahlah, jangan terus bergurau!"

Tandas Tio Tay Seng serius.

"Kini rimba persilatan mulai kacau, kita harus bagaimana?"

"Paman,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Aku dan Adik Ceng Im sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan."

"Sama,"

Sela Sam Gan Sin Kay.

"Begini saja,"

Ujar Kim Siauw Suseng.

"Kita lihat dulu bagaimana perkembangan selanjutnya. Apabil terjadi sesuatu di sana, Lim Peng Hang pasti akan mengutus orang ke mari memberitahukan. Seandai nya begitu, barulah kita berunding bersama."

"Setuju!"

Sam Gan Sin Kay manggut-manggut Tio Tay Seng juga mengangguk, lalu memandang Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan seraya berkata.

"Kalian berdua tinggal di sini dulu, tidak usah buru-buru ke Tionggoan."

"Ya."

Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa.

"Tio Tocu, sudah waktunya kita main catur."

"Baik."

Tio Tay Seng juga tertawa.

Mereka berdua lalu pergi main catur.

Sedangkan yang lain masih bercakap-cakap dengan Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

-ooo0dw0ooo-Di markas Hiat Ih Hwe, tampak Lu Thay Kam duduk dengan wajah tak sedap dipandang.

Gak Gong Heng duduk di sebelahnya sambil mengerutkan kening, kemudian menundukkan kepala.

"Jadi Seng Hwee Kauw tidak berhasil membasmi Tiong Ngie Pay?"

Tanya Lu Thay Kam bernada gusar.

"Ya."

Gak Cong Heng mengangguk.

"Dua kali Seng Hwee Kauw menyerang Tiong Ngie Pay, tapi gagal."

"Apa?"

Lu Thay Kam tertegun.

"Dua kali menyerang tapi gagal? Kenapa begitu? Apakah Seng Hwee Kauw cuma mainmain?"

"Seng Hwee Kauw tidak main-main, Lu Kong Kong."

Gak Cong Heng memberitahukan.

"Sebab banyak anggota Seng Hwee Kauw yang menjadi korban di markas Tiong Ngie Pay."

"Kalau begitu____"

Lu Thay Kam mengerutkan kening.

"... mungkinkah ketua Tiong Ngie Pai berkepandaian tinggi sekali!"

"Ada beberapa orang membantu Tiong Ngie Pay, maka penyerangan pertama kali itu gagal."

"Siapa yang membantu Tiong Ngie Pay?"

"Chu Ok Hiap, Toan Beng Kiat, Lam Kiong, Soat Lan, Lie Ai Ling, Siang Koan Goat Nio dan____"

Gak Cong Heng tidak berani melanjutkan.

"Dan siapa?"

Tanya Lu Thay Kam.

"Lu Hui San,"

Sahut Gak Cong Heng sambil menundukkan kepala.

"Apa?!"

Lu Thay Kam tersentak.

"Putriku...."

"Nona Hui San telah bergabung dengan mereka, jadi____"

"Aaaah...!"

Lu Thay Kam menghela nafas panjang.

"Kenapa San San bertemu mereka?"

"Kini Nona Hui San berada di markas pusat Kay Pang. Perlukah aku menyuruh beberapa orang ke markas pusat Kay Pang?"

"Tidak usah,"

Lu Thay Kam menggelengkan kepala.

"Biarkan saja."

"Tapi...."

"Itu tidak jadi masalah. Kalau dia sudah bosan merantau, tentu akan pulang."

"Oh ya!"

Gak Cong Heng memberitahukan.

"Semalam ada utusan Seng Hwee Kauw ke mari."

"Utusan itu menyampaikan apa?"

"Minta maaf atas kegagalan itu, kini para anggota Seng Hwee Kauw sedang dilatih dan diajarkan ilmu silat. Mungkin tidak lama lagi, mereka akan menyerang Tiong Ngie Pay."

"Bagus, bagus!"

Lu Thay Kam tertawa terbahak-bahak.

"Tiong Ngie Pay memang harus dibasmi. Kalau tidak, perkumpulan itu merupakan kalangan bagi kita."

"Benar, Lu Kong Kong,"

Sahut Gak Cong Heng dan ikut tertawa.

"Kita harus terus memperalat Seng Hwee Kauw."

"Tidak salah. Ha ha ha...!"

Lu Thay Kam tertawa terbahakbahak lagi, lalu melesat pergi.

-ooo0dw0ooo-Bagian ke tiga puluh Cai Hoat Cat (Penjahat Pemetik Bunga) Tio Bun Yang terus melanjutkan perjalanan bersama monyet bulu putih, yang duduk di bahunya.

Ketika hari mulai gelap, Tio Bun Yang memasuki sebuah desa yang cukup besar.

Akan tetapi, sungguh mengherankan!

Padahal hari baru mulai gelap, namun rumah-rumah penduduk desa itu telah tertutup rapat.

"Heran?"

Gumam Tio Bun Yang.

"Kenap-semua rumah telah ditutup? Apakah telah terjadi sesuatu di desa ini?"

Monyet bulu putih bercuit sambil manggut manggut seakan mengatakan 'Ya'.

Tio Bun Yang menengok ke sana ke mari kemudian mendekati salah sebuah rumah dan mengetuk perlahan.

Lama sekali barulah pintu rumah itu terbuka sedikit dan seorang tua melongok ke luar.

Ketika melihat Tio Bun Yang, orang tua itu tampak menarik nafas lega.

"Siapa engkau, anak muda?"

Tanya orang tua itu.

"Aku pengembara, Paman,"

Jawab Tio Bun Yang dengan ramah.

"Hari baru mulai malam, tapi kenapa para penduduk desa ini sudah menutup pintu?"

"Anak muda____"

Orang tua itu menghela nafas panjang.

"Telah terjadi sesuatu di desa ini."

"Paman, apa yang telah terjadi?"

"Anak muda, masuklah, aku akan mencerita kannya!"

Orang tua itu membuka pintu, kemudian Tio Bun Yang melangkah ke dalam.

"Paman, ceritakanlah apa yang telah terjadi!"

"Duduklah dulu, anak muda!"

Ucap orang tua itu, kemudian berseru.

"Cing Cing! Cepat suguhkan teh untuk tamu kita!"

"Tidak usah repot-repot, Paman!"

Ujar Tio Bun Yang.

"Tidak apa-apa."

Orang tua itu tertawa.

Tak lama tampak seorang gadis berusia dua puluhan menyuguhkan secangkir teh.

Cukup cantik gadis itu.

Justru gadis itu terbelalak ketika melihat Tio Bun Yang, wajahnya pun agak kemerah-merahan.

"Silakan minum, Tuan!"

Ucapnya malu-malu.

"Terimakasih, Kak!"

Tio Bun Yang tersenyum. Senyuman Tio Bun Yang membuat gadis tergebui terpukau, sehingga berdiri terpaku di tempat.

"Cing Cing!"

Orang tua itu tertawa gelak.

"Kenapa engkau?"

"Ayah...."

Cing Cing menundukkan kepala.

"Kalau mau duduk, duduklah!"

Ujar orang tua itu.

"Jangan terus berdiri di situ, tidak baik lho!"

"Ayah...."

Cing-Cing duduk di sebelah orang tua itu dengan sikap malu-malu.

"Anak muda!"

Orang tua itu menatap Tio Bun Vang dengan penuh perhatian.

"Siapa engkau?"

"Namaku Tio Bun Yang. Paman, ceritakanlah apa yang telah terjadi di desa ini?"

"Belum lama ini, di desa ini muncul seorang Cai Hoa Cat (Penjahat Pemetik Bunga), sehingga para penduduk desa tercekam."

"Penjahat itu memetik bunga apa?"

Heran Tio I Bun Yang.

"Kenapa bisa membuat para penduduk desa ini tercekam?"

"Anak muda..."

Orang tua itu terbelalak.

"Engkau tidak tahu istilah itu?"

"Istilah apa?"

"Cai Hoa Cat adalah penjahat pemerkosa wanita."

Orang tua itu memberitahukan.

"Karena itu, sebelum hari gelap para penduduk desa sudah menutup pintu rumah. Aku punya anak gadis, maka ketakutan sekali."

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Malam ini penjahat itu akan muncul?"

"Mungkin."

Orang tua itu menghela nafas panjang.

"Penjahat itu menculik kaum gadis lalu diperkosa, dilepaskan keesokan harinya."

"Kalau begitu..."

Ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Aku harap malam ini dia muncul di sini!"

"Apa?!"

Orang tua itu melotot.

"Kok engkau begitu jahat? Cing Cing adalah putriku satu-satunya, juga merupakan harapanku. Engkau...."

"Paman!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku harap penjahat itu muncul di sini, karena aku akan menangkapnya. Jadi Paman jangan salah paham."

"Eh? Anak muda!"

Orang tua itu terbelalak.

"Engkau jangan bergurau, penjahat itu lihay sekali! Puluhan pemuda di kampung ini mengeroyoknya, namun malah dirobohkannya dengan mudah sekali."

"Oh?"

Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Paman, sudah berapa banyak gadis yang diperkosa penjahat itu?"

"Sudah belasan,"

Sahut orang tua itu sambil menggelenggelengkan kepala.

"Padahal penjahat itu masih muda, bahkan cukup tampan. Tapi dia justru melakukan perbuatan terkutuk itu."

"Paman, kalau begitu____"

Tio Bun Yang menatapnya.

"Bolehkah malam ini aku menginap di sini?"

"Boleh,"

Sahut Cing Cing cepat.

"Eh?"

Orang tua itu tertegun.

"Ayah belum menjawab, kenapa engkau sudah menyahut tanpa persetujuan ayah? Bagaimana kalau dia juga penjahat?"

"Ayah!"

Cing Cing tersenyum.

"Kalau dia penjahat, mungkin masih banyak anak gadis yang bersamanya."

"Cing Cing, engkau...."

Orang tua itu menggelenggelengkan kepala, kemudian manggut-manggut.

"Benar juga ya!"

"Paman!"

Tio Bun Yang tertawa kecil, sedangkan monyet bulu putih bercuit-cuit sambil menyengir.

"Ei, monyet!"

Orang tua itu melotot.

"Kenapa engkau menyengir? Mau minum arak ya?"

Monyet bulu putih manggut-manggut. Orang tua itu ternganga lebar mulutnya kemudian tertawa gelak.

"Anak muda, monyetmu mengerti bahasa manusia ya?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Ha ha ha!"

Orang tua itu tertawa lagi.

"Cing Cing, ambilkan arak wangi yang ayah simpan tahunan itu! Ayah ingin bersulang dengan monyet bulu putih ini!"

"Ya, Ayah."

Cing Cing berlari ke dalam.

Berselang sesaat ia sudah kembali dengan membawa tiga buah cangkir dan sebuah kendi berisi arak wangi.

Gadis itu menaruh cangkircangkir ke hadapan mereka, lalu menuang arak wangi.

"Ha ha!"

Orang tua itu tertawa.

"Mari kita bersulang!"

Mereka bertiga bersulang bersama.

Bukan main monyet bulu putih itu, hanya sekali teguk keringlah cangkirnya, lalu disodorkan ke hadapan Cing Cing.

Gadis itu segera menuang arak wangi ke dalam cangkir yang di tangan monyet bulu putih, yang kemudian bercuit seakan mengucapkan terimakasih.

Setelah itu, monyet bulu putih mengangkat cangkirnya, seperti mengajak orang tua itu bersulang.

"Luar biasa!"

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Arakku masih ada setengah cangkir, tapi monyet bulu putih sudah tambah, sungguh luar biasa! Tidak akan mabuk tuh?"

"Jangan khawatir, Paman!"

Ujar Tio Bun Yang.

"Kauw heng tidak akan mabuk, percayalah!"

"Oooh!"

Orang tua itu tertawa.

"Anak muda, monyet bulu putih itu begitu kecil, kenapa kau panggil kauw heng?"

"Kecil badannya, namun usianya____"

"Berapa usianya?"

"Tiga ratus tahun lebih sedikit."

"Apa?!"

Orang tua itu terbelalak.

"Anak muda, tidak baik membohongi orang tua lho!"

"Paman, aku tidak pernah bohong,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Kauw heng memang sudah berusia tiga ratus tahun lebih, dia berasal dari Gunung Thian San."

"Oh?"

Mulut orang tua itu ternganga lebar.

"Luar biasa, sungguh luar biasa sekali! Kalau begitu, aku pun harus memanggilnya kauw heng.

"Ha ha! Kauw heng, mari kita bersulang!"

Orang tua itu meneguk arak wanginya perlahan-lahan, tapi sebaliknya monyet bulu putih itu malah menghabiskan araknya dengan sekali teguk.

"Haah...?"

Orang tua itu melotot.

"Celaka! Kalau arak wangi ini habis, aku tidak mampu beli lagi."

"Jangan khawatir, Paman,"

Ujar Tio Bun Yang sambil mengeluarkan setael uang emas dan diberikannya kepada orang tua itu seraya berkata.

"Ini untuk Paman membeli arak wangi."

"Apa? Untuk membeli arak wangi?"

Oranj tua itu terbelalak.

"Setael uang emas ini bisa untuk membeli sawah, aku tidak berani menerimanya.' "Terimalah!"

Desak Tio Bun Yang.

"Kalau tidak, kami akan merasa tidak enak."

"Tapi-"

Orang tua itu tampak ragu menerimanya. Monyet bulu putih bercuit-cuit kelihatannya tidak senang.

"Eh? Kenapa kauw heng?"

Orang tua itu heran.

"Kalau Paman menolak, kauw heng pasti marah,"

Ujar Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kauw heng..."

Mendadak monyet bulu putih melempar cangkir yang dipegangnya ke dinding, membuat orang tua itu dan putrinya tercengang. Ceeeep! Cangkir itu menancap di dinding.

"Haaah...?"

Orang tua itu dan putrinya terkejut bukan main, mereka berdua saling memandang.

"Paman, kauw heng mulai marah lho!"

Ujai Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Maka Paman harus menerima uang emas ini."

"Ba... baik."

Orang tua itu segera mengambil uang emas tersebut.

"Tuan!"

Cing Cing menatapnya.

"Kauw heng kelihatan berkepandaian tinggi. Aku yakin Tuan. pasti berkepandaian tinggi pula."

"Kira-kira begitulah."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Oh ya, jangan memanggilku Tuan, panggil saja namaku!"

"Mungkin usiaku lebih besar, bagaimana kalau aku memanggilmu Adik Bun Yang?"

"Baik."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Jadi aku harus memanggilmu Kakak Cing Cing."

"Terimakasih!"

Ucap Cing Cing sambil tersenyum manis.

"Sama-sama."

Tio Bun Yang juga tersenyum.

"Terimakasih, anak muda!"

Ucap orang tua itu dan menambahkan.

"Dengan adanya uang emas ini maka aku bisa membeli sawah."

"Paman ingin membeli sawah?"

"Ya."

"Kalau begitu..."

Tio Bun Yang mengeluarkan setael uang emas lagi, lalu diberikan kepada orang tua itu seraya berkata.

"Penambahan untuk Paman membeli sawah."

"Eh? Anak muda...."

Orang tua itu terbeliak.

"Aku...."

"Kalau Paman tidak menerima, kauw heng pasti marah,"

Ujar Tio Bun Yang. Monyet bulu putih langsung menyeringai.

"Ba... baik. Terimakasih..."

Ucap orang tua itu sambil menerima uang emas tersebut "Sekarang sudah malam, lebih baik Paman dan Kakak Cing Cing pergi tidur saja."

"Adik Bun Yang, aku ingin melihatmu menangkap penjahat itu,"

Sahut Cing Cing yang tidak mau beranjak dari tempat duduknya.

"Ha ha!"

Orang tua itu tertawa.

"Putriku begitu, aku pun sama."

"Eeeh?"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. Namun mendadak dia mengerutkan kening, dan monyet bulu putih bercuit-cuit.

"Ada apa?"

Tanya orang tua itu heran.

"Penjahat itu sudah datang,"

Sahut Tio Bun Yang dengan suara rendah.

"Haaah...?"

Wajah orang tua itu dan putrinya langsung berubah pucat.

"Bagaimana baiknya?"

"Tenanglah, Paman!"

Ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum. Tak berapa lama kemudian terdengarlah seruan di luar.

"Cing Cing yang cantik manis, aku datang menjemputmu untuk pergi bersenang-senang!"

"Dia... penjahat itu."

Suara orang tua tersebut bergemetar.

"Penjahat itu mau menculik Cing Cing."

"Tenang!"

Tio Bun Yang beranjak ke pintu, sedangkan monyet bulu putih tetap duduk di bahunya. Tio Bun Yang membuka pintu, dilihatnya seorang pemuda berwajah cukup tampan berdiri di luar.

"Kawan! Siapa engkau? Kenapa engkau begitu tak bermoral?"

Tanya Tio Bun Yang sambil menatapnya tajam.

"Padahal engkau cukup tampan, tentunya tidak sulit memperisteri gadis cantik."

"Diam!"

Bentak pemuda itu.

"Siapa engkau? Kenapa engkau mencampuri urusanku?"

"Namaku Tio Bun Yang,"

Jawabnya memberitahukan.

"Kebetulan aku menginap di sini, maka aku harus melindungi Cing Cing. Kawan, beritahukanlah namamu!"

"Dengar baik-baik! Namaku Kwee Teng An. Aku mau bersenang-senang dengan gadis yang mana pun, engkau tidak berhak turut campur!"

"Saudara Kwee!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Engkau baru berusia dua puluhan dan cukup tampan, tapi kenapa justru mengambil jalan sesat?"

"Eh? Kenapa engkau mencampuri urusanku?"

Bentak Kwee Teng An.

"Engkau ingin cari mati ya?"

"Terus terang, aku masih merasa kasihan dan simpati kepadamu!"

"Ha ha ha!"

Kwee Teng An tertawa.

"Engkau tidak perlu berbaik hati kepadaku, cepatlah engkau enyah! Kalau tidak, engkau pasti mati di ujung pedangku!"

Kwee Teng An menghunus pedangnya, lalu menatap Tio Bun Yang dengan dingin dan bengis. Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mengeluarkan suling pualamnya.

"Saudara Kwee, sebetulnya aku merasa tidak tega memusnahkan kepandaianmu! Tapi... engkau sama sekali tidak mau bertobat, maka aku terpaksa harus bertindak agar engkau tidak bisa melakukan kejahatan lagi!"

"Hmm!"

Dengus Kwee Teng An.

"Engkau memang ingin cari mampus! Lihat seranganku!"

Kwee Teng An langsung menyerangnya dengan sengit.

Tio Bun Yang berkelit dan balas menyerang.

Sementara orang tua dan putrinya yang ketakutan itu, memberanikan diri mengintip ke luar.

Kebetulan Tio Bun Yang mulai bertarung dengan penjahat itu, maka wajah mereka bertambah pucat.

Para penduduk desa juga mulai berhambur ke luar.

Mereka menyaksikan pertarungan itu dengan hati berdebar-debar tegang.

Semuanya berharap Tio Bun Yang dapat mengalahkan penjahat itu.

Setelah bertarung belasan jurus, Tio Bun Yang merasa kagum kepada Kwee Teng An, karena kepandaian penjahat itu cukup tinggi.

Mendadak Kwee Teng An membentak keras, ternyata ia menyerang Tio Bun Yang dengan jurus simpanannya, yaitu jurus Lui Soh Ngo Gak (Halilintar Menyambar Lima Bukit).

Dahsyat, cepat dan lihay jurus itu.

Tampak pedang Kwee Teng An berkelebat-kelebat menyambar Tio Bun Yang.

Tio Bun Yang bersiul panjang.

Ia tidak berkelit, melainkan menangkis serangan Kwee Teng An dengan jurus Hai Lang Thau Thau (Ombak Laut Menderu-deru).

Trannng!

Terdengar suara benturan dua senjata.

Tio Bun Yang berdiri tegak di tempat, sedangkan Kwee Teng An terpental dua tiga depa ke belakang dengan wajah pucat pias.

"Maaf Saudara Kwee!"

Seru Tio Bun Yang.

"Aku terpaksa harus memusnahkan kepandaian-mu!"

Tio Bun Yang melesat ke arah Kwee Teng An sekaligus menyerangnya dengan jurus Cian In Giok Siauw (Ribuan Bayangan Suling Pualam).

"Aaaaakh...!"

Jerit Kwee Teng An, yang jatuh terduduk. Mulutnya mengeluarkan darah dan salah satu urat di tubuhnya telah putus sehingga kepandaiannya musnah seketika.

"Engkau... engkau____"

"Kini kepandaianmu telah musnah. Aku harap selanjutnya jadilah engkau orang baik-baik!"

"Tio Bun Yang! Aku bersumpah akan menuntut balas dendam ini!"

Kwee Teng An menatapnya dengan penuh dendam, kemudian berusaha bangkit untuk berdiri.

Para penduduk desa itu bersorak sorai penuh kegembiraan ketika melihat Tio Bun Yang berhasil merobohkan penjahat pemetik bunga.

Begitu pula orang tua dan putrinya yang di dalam rumah, mereka berdua segera berlari ke luar lalu menghampirinya.

"Anak muda, sungguh hebat engkau!"

Orang tua itu mengacungkan jempolnya ke hadapan Tio Bun Yang.

"Adik Bun Yang,"

Ujar Cing Cing dengan wajah berseri.

"Dugaanku tidak meleset, engkau berkepandaian tinggi."

Tio Bun Yang hanya tersenyum. Sedangkan monyet bulu putih yang duduk di bahunya juga bercuit-cuit.

"Terimakasih siauw hiap!"

Ucap seorang tua, yang ternyata seorang Kepala Desa.

"Engkau telah menyelamatkan desa kami."

"Itu memang tugasku."

Tio Bun Yang ter-l senyum.

"Kebetulan aku lewat di desa ini, kemudian menginap di rumah Cing Cing."

"Oooh!"

Kepala Desa itu manggut-manggut dan berkata.

"Karena engkau telah menyelamatkan desa kami, maka kami harus mengadakan pesta untuk menjamu siauw hiap."

"Tidak usah, Paman!"

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Aku masih harus melanjutkan perjalanan."

"Belum pagi____"

Kepala Desa itu tampak kecewa.

"Tidak apa-apa."

Tio Bun Yang memandang orang tua itu dan Cing Cing.

"Paman, Kakak Cing Cing, sampai jumpa!"

Tio Bun Yang melesat pergi. Hal itu sungguh mengejutkan orang tua dan putrinya, yang tidak menyangka Tio Bun Yang akan begitu cepat pergi.

"Adik Bun Yang! Adik Bun Yang!"

Seru Cing Cing. Akan tetapi, Tio Bun Yang sudah tidak kelihatan. Seketika Cing Cing menangis terisak-isak.

"Ayah...."

Air mata Cing Cing berderai-derai.

"Kenapa adik Bun Yang begitu cepat pergi!"

"Dia memang pemuda baik, ramah tamah dan tak mau disanjung,"

Sahut orang tua itu.

"Maka dia segera pergi."

"Adik Bun Yang____"

Cing Cing terus terisak-isak.

"Cing Cing!"

Orang tua itu tersenyum.

"Percayalah! Kelak kalian akan bertemu lagi."

"Tidak mungkin."

Cing Cing menggeleng-gelengkan kepala.

Sementara Kwee Teng An terus berusaha bangkit untuk berdiri, namun sama sekali tidak bertenaga.

Penduduk desa memandangnya dengan penuh kebencian.

Mendadak salah seorang tua berseru.

"Dia telah memperkosa anak gadisku, sehingga anak gadisku gantung diri. Karena itu, mari kita lemparkan dia ke dalam jurang!"

"Setuju!"

Sahut yang lain.

Beberapa orang langsung menyeret Kwee Teng An, sedangkan Kepala Desa cuma menggeleng-gelengkan kepala.

Kwee Teng An terus berkertak gigi dengan mata membara.

Tak seberapa lama kemudian, ia telah diseret sampai di pinggir jurang, lalu orang-orang desa itu melemparnya ke jurang yang menganga lebar.

"Aaaakh...!"

Terdengar suara jeritan panjang.

Badan Kwee Teng An terus melayang ke bawah jurang yang ribuan kaki dalamnya.

Tak lama setelah Tio Bun Yang meninggalkan desa itu, hari mulai terang.

Tio Bun Yang melanjutkan perjalanan, dan mengambil arah timur karena ingin ke markas Tiong Ngie Pay yang ada di pinggir Kota Hay Hong.

Dua hari kemudian, ia telah tiba di marka tersebut.

Betapa gembiranya Yo Suan Hiang, Ta Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him.

Merek menyambutnya dengan penuh kehangatan, lalu mengajaknya bersulang sambil bercakap-cakap.

"Bibi,"

Tio Bun Yang menatap Yo Suan Hiang.

"Bagaimana keadaan Tiong Ngie Pay belakangan ini?"

Tanyanya.

"Bertambah maju, tapi____"

Yo Suan Hiang mengerutkan kening.

"Kenapa?"

Tio Bun Yang heran.

"Telah terjadi sesuatu?"

"Seng Hwee Kauw dua kali menyerang ke mari."

Yo Suan Hiang memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Oh?"

Tio Bun Yang tertegun.

"Bukankah Tiong Ngie Pay tidak bermusuhan dengan Seng Hwee Kauw? Kenapa Seng Hwee Kauw menyerang ke mari?"

"Seng Hwee Kauw dan Hiat Ih Hwe telah bekerja sama, maka Seng Hwee Kauw menyerang kami,"

Sahut Tan Ju Liang.

"Namun untung...."

"Kebetulan Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, Lie Ai Ling, Siang Koan Goat Nio dan lainnya berada di sini. Mereka membantu kami, sehingga pihak Seng Hwee Kauw melarikan diri."

Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Oh!"

Wajah Tio Bun Yang berseri.

"Jadi mereka berada di sini?"

"Sudah berangkat ke markas pusat Kay Pang,"

Ujar Yo Suan Hiang dan menambahkan.

"Beberapa hari kemudian setelah mereka pergi, mendadak Seng Hwee Kauw menyerang lagi."

"Oh?"

Kening Tio Bun Yang berkerut.

"Tentunya pihak Bibi banyak yang menjadi korban."

"Tidak."

Yo Suan Hiang tersenyum.

"Sebaliknya malah pihak Seng Hwee Kauw yang menjadi korban."

"Kok begitu?"

Tio Bun Yang bingung.

"Karena muncul seorang gadis membantui kami,"

Ujar Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Siapa gadis itu?"

"Phang Ling Cu."

"Apa?"

Tio Bun Yang terbelalak.

"Kakak Ling Cu? Maksud Bibi Ngo Tok Kauwcu?"

"Betul,"

Yo Suan Hiang mengangguk.

"Dia ke mari mencarimu, justru malah menyelamatkan Tiong Ngie Pay."

"Oooh!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku tak menyangka dia ke mari mencariku, tapi secara tidak langsung malah menyelamatkan Tiong Ngie Pay."

"Oh ya!"

Yo Suan Hiang menatapnya.

"Eng-kaukah yang mengobati mukanya?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk lalu sekaligus menutur tentang kejadian itu, kemudian bertanya.

"Kenapa dia ke mari mencariku?"

"Katanya ingin berunding denganmu, sebab musuh besarnya berkepandaian tinggi sekali."

"Maksudnya Seng Hwee Sin Kun?"

"Ya."

Yo Suan Hiang mengangguk.

"Oh ya, ada seorang gadis berada di sini, mungkin engkau tidak dapat menerka siapa dia."

"Oh?"

Tio Bun Yang tercengang.

"Apakah dia Phang Ling Cu?"

"Phang Ling Cu sudah pergi,"

Sahut Yo Suan Hiang sambil tersenyum.

"Toan Beng Kiat dan lainnya yang membawa gadis itu ke mari, kini dia tinggal di sini."

"Siapa gadis itu?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Dia Tan Giok Lan!"

Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Siapa?"

Tio Bun Yang tertegun.

"Kenapa dia berada di sini? Bukankah dia dan kedua orang tuanya berada di kampung halamannya?"

"Kedua orang tuanya telah dibunuh oleh para anggota Hiat Ih Hwe, dan diapun dikejar-kejar."

"Toan Beng Kiat yang menolongnya?"

"Ya."

"Bibi, di mana Kakak Giok Lan?"

"Tiang Him! Panggil Giok Lan ke mari!"

Ujar Yo Suan Hiang kepada Cu Tiang Him.

"Ya."

Cu Tiang Him masuk ke dalam. Berselang sesaat ia sudah kembali bersama Tan Giok Lan.

"Adik Bun Yang!"

Seru Tan Giok Lan girang.

"Adik Bun Yang...."

"Kakak Giok Lan!"

Tio Bun Yang memandangnya sambil tersenyum.

"Aku tak menyangka, engkau tinggal di sini."

"Adik Bun Yang!"

Mata Tan Giok Lan mulai basah.

"Kedua orang tuaku mati di bunuh para anggota Hiat Ih Hwe."

"Bibi Suan Hiang telah memberitahukan kepadaku. Syukurlah engkau dapat meloloskan diri!"

Ujar Tio Bun Yang sambil menarik nafas.

"Kalau engkau tidak mengajarku ilmu silat, aku pasti sudah mati."

Tan Giok Lan terisak-isak.

"Sudahlah, jangan menangis! Engkau aman di sini."

Tio Bun Yang tersenyum.

"Oh ya, bagaimana kepandaianmu? Sudah maju pesat?"

Tanyanya.

"Ya."

Tan Giok Lan mengangguk.

"Bibi Suan Hiang terus mengajarku, maka kepandaianku menjadi maju pesat."

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut, kemudian memandang Yo Suan Hiang seraya berkata.

"Aku sudah bertemu Lie Tsu Seng."

"Apa?!"

Yo Suan Hiang, Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him terbelalak.

"Engkau bertemu Lie Tsu Seng, yang gagah berani itu?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk lalu menutur tentang kejadian itu.

"Oleh karena itu, aku ingin berunding dengan Bibi,"

Tambahnya.

"Mengenai apa?"

"Kini Hiat Ih Hwe telah bekerja sama dengan Seng Hwee Kauw, mungkin Seng Hwee Kauw akan menyerang lagi,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Itu sungguh membahayakan Tiong Ngie Pay, maka alangkah baiknya kalau Tiong Ngie Pay bergabung dengan Lie Tsu Seng."

"Aku memang sudah berpikir begitu, tapi____"

Yo Suan Hiang menggeleng-gelengkan kepala.

"Belum tentu Lie Tsu Seng akan menerima kami."

"Percayalah!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Paman Lie pasti senang sekali menerima kalian, sebab aku sudah memberitahukan kepadanya."

"Oh?"

Wajah Yo Suan Hiang berseri, kemudian bertanya kepada Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him.

"Bagaimana menurut kalian?"

"Setuju!"

Sahut mereka serentak.

"Memang sudah waktunya kita bergabung dengan Lie Tsu Seng, yang sudah barang tentu akan menambah kekuatan kita."

"Baik."

Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Kalau begitu, mari kita bergabung dengan Lie Tsu Seng!"

"Bibi Suan Hiang,"

Usul Tio Bun Yang.

"Kini semuanya telah setuju, maka Tiong Ngie Pay harus segera berangkat ke markas Lie Tsu Seng. Kalau tidak, aku khawatir Seng Hwee Kauw akan menyerang ke mari lagi."

"Baik."

Yo Suan Hiang mengangguk.

"Besok pagi kami akan berangkat ke sana."

"Kalau begitu, aku mau mohon diri."

Tio Bun Yang bangkit dari tempat duduknya.

"Bun Yang...."

Yo Suan Hiang terbelalak.

"Kenapa begitu cepat engkau berpamit?"

"Aku harus segera berangkat ke markas pusat Kay Pang."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Baiklah."

Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Oh ya, Bun Yang...."

"Ada apa?"

Tio Bun Yang tercengang karena melihat Yo Suan Hiang tersenyum serius.

"Apakah engkau sudah punya kekasih?"

Tanyai Yo Suan Hiang mendadak.

"Belum,"

Sahut Tio Bun Yang dengan wajah agak kemerahmerahan.

"Aku... tidak memikirkan itu."

"Itu____"

Yo Suan Hiang tersenyum lagi.

"____Siang Koan Goat Nio sangat cantik, kalem dan lemah lembut. Dia putri kesayangan Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin. Alangkah baiknya-"

"Bibi Suan Hiang...."

Wajah Tio Bun Yang bertambah merah.

"Aku-"

"Adik Bun Yang!"

Tan Giok Lan memandangnya seraya berkata sungguh-sungguh.

"Siang Koan Goat Nio memang serasi denganmu. Dia boleh dikatakan secantik bidadari."

"Kakak Giok Lan____"

Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala.

"Aku-"

"Dia juga berada di markas pusat Kay Pang. Kalau engkau langsung berangkat ke sana, pasti bertemu dia,"

Ujar Yo Suan Hiang.

"Baik."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Bibi Suan Hiang, Kakak Giok Lan dan paman-paman, aki mohon pamit. Sampai jumpa!"

"Selamat jalan!"

Sahut mereka serentak, lalu mengantar Tio Bun Yang sampai di luar markas. Begitu sampai di luar markas, Tio Bun Yang langsung melesat pergi laksana kilat.

"Bun Yang dan Goat Nio memang merupakan pasangan yang serasi, mudah-mudahan mereka berjodoh!"

Ucap Yo Suan Hiang dengan suara rendah.

"Ha ha ha!"

Tan Ju Liang tertawa gelak.

"Mereka berdua pasti berjodoh!"

Keesokan harinya, Yo Suan Hiang, Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him bersama para anggota berjumlah seratusan orang berangkat ke markas Lie Tsu Seng.

Mereka justru tidak tahu, setelah mereka berangkat, Seng Hwee Kauw muncul menyerang lagi, namun markas Tiong Ngie Pay telah kosong.

"Heran!"

Gumam Leng Bin Hoatsu dengan kening berkerut.

"Bagaimana markas Tiong Ngie Pay ini bisa kosong tiada seorang pun?"

"Mungkinkah pihak Tiong Ngie Pay telah menduga akan penyerangan ini, maka mengosongkan markas ini?"

Sahut Pek Bin Kui.

"Mungkin."

Hek Sim Popo manggut-manggut.

"Kalau tidak, bagaimana mungkin markas ini kosong begini?"

"Lalu apa langkah kita?"

Tanya Tok Chiu Ong.

"Menurut aku..."

Sahut Pat Pie Lo Koay.

"Alangkah baiknya kita berpencar mencari mereka."

"Baik."

Leng Bin Hoatsu mengangguk.

"Jangan!"

Pek Bin Kui menggelengkan kepala, wajahnya tampak serius.

"Kita tidak boleh berpencar mencari Tiong Ngie Pay."

"Kenapa?"

Tanya Pat Pie Lo Koay sambil menatapnya.

"Bukankah tugas kita membasmi mereka?"

"Benar."

Pek Bin Kui mengangguk.

"Tugas kita memang membasmi mereka, tapi kini mereka tidak berada di markas ini, berarti tugas kita telah selesai."

"Aku sama sekali tidak mengerti, bolehkah dijelaskan?"

Pat Pie Lo Koay menatapnya dalam-dalam.

"Tadi engkau mengusulkan kita berpencar mencari mereka, usul itu tidak dapat diterima,"

Tegas Pek Bin Kui serius.

"Sebab apabila kita berpencar mencari mereka, berarti membahayakan diri kita sendiri."

"Oh!"

Tertegun Pat Pie Lo Koay.

"Lo Koay!"

Leng Bin Hoatsu tertawa.

"Memang benar apa yang dikatakan Pek Bin Kui. Kalau kita berpencar mencari mereka, sudah barang tentu mengurangi kekuatan kita, bahkan amat membahayakan diri kita pula."

"Benar."

Hek Sim Popo manggut-manggut.

"Kita tidak boleh berpencar mencari mereka."

"Kalau begitu...."

Pat Pie Lo Koay menengok ke sana ke mari, kemudian mengusulkan.

"Kita bakar saja markas Tiong Ngie Pay ini."

"Usul ini harus diterima,"

Sahut Pek Bin Kui sambil tertawa gelak.

"Kita tidak berhasil membasmi para anggota Tiong Ngie Pay, namun berhasil membumi hanguskan markas ini, tentunya Seng Hwee Sin Kun akan merasa puas."

"Ha ha ha!"

Leng Bin Hoatsu juga tertawa terbahak-bahak, dan setelah itu ia pun perintahkan para anggota untuk membakar markas Tiong Ngie Pay.

Berselang beberapa saat, tampak api mulai berkobar-kobar melalap markas Tiong Ngie Pay itu.

Para anggota Seng Hwee Kauw pun bersorak sorai penuh kegembiraan, Leng Bin Hoatsu dan lainnya tersenyum-senyum.

Setelah api yang berkobarkobar itu menjalar ke seluruh markas tersebut, barulah mereka meninggalkan tempat itu untuk kembali ke markas Seng Hwee Kauw.

Betapa gembiranya Lie Tsu Seng ketika mengetahui kedatangan Yo Suan Hiang bersama para anggotanya.

Ia segera keluar dari tendanya untuk menyambut kedatangan mereka.

"Selamat datang. Ketua Yo!"

Ucap Lie Tsu Seng sembari memberi hormat.

"Selamat bertemu, Paman Lie!"

Sahut Yo Suan Hiang dan sekaligus balas memberi hormat.

"Maaf, kedatangan kami telah mengganggumu!"

"Sama sekali tidak mengganggu, malah aku merasa gembira sekali,"

Ujar Lie Tsu Seng sambil tertawa gelak.

"Ha ha ha! Mari silakan masuk!"

"Terimakasih!"

Ucap Yo Suan Hiang lalu melangkah ke dalam tenda. Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him mengikutinya dari belakang.

"Silakan duduk!"

Lie Tsu Seng mempersilakan mereka duduk, dan salah seorang anak buahnya langsung menyuguhkan arak wangi.

Mereka duduk, kemudian Yo Suan Hiang memperkenalkan Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him.

Lie Tsu Seng dan mereka bertiga saling memberi hormat, setelah itu Lie Tsu Seng mengangkat minumannya.

"Mari kita bersulang!"

Ucapnya sambil tertawa.

"Ha ha ha...!"

Mereka mulai bersulang sambil mengobrol. Berselang beberapa saat barulah Lie Tsu Seng bertanya dengan serius.

"Apakah ada sesuatu penting, maka Ketua Yo ke mari?"

"Ya."

Yo Suan Hiang mengangguk.

"Tio Bun Yang ke markasku, dan mengusulkan agar kami bergabung denganmu."

"Oh?"

Wajah Lie Tsu Seng berseri.

"Apakah engkau bersedia bergabung dengan kami?"

"Kami datang ke mari justru ingin bergabung,"

Sahut Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Kami telah bersepakat untuk itu."

"Bagus, bagus! Ha ha ha!"

Lie Tsu Seng tertawa gembira.

"Terimakasih atas kesediaan kalian bergabung dengan kami! Mari kita bersulang lagi!"

"Mari!"

Yo Suan Hiang, Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him bersulang lagi dengan Lie Tsu Seng, sehingga suasana di dalam tenda itu menjadi semarak.

Di saat itulah melangkah ke dalam dua lelaki gagah, lalu memberi hormat kepada Lie Tsu Seng.

"Bagus, bagus!"

Lie Tsu Seng tertawa.

"Kalian berdua sudah kembali, mari kuperkenalkan!"

Lie Tsu Seng memperkenalkan Yo Suan Hiang dan lainnya kepada dua lelaki itu, kemudian menambahkan.

"Mereka berdua adalah pembantu handalku bernama Lie Sih Beng dan Lie Sih Heng, yang keduanya berkepandaian cukup tinggi."

Lie Sih Beng dan Lie Sih Heng segera memberi hormat kepada Yo Suan Hiang dan lainnya, setelah itu barulah mereka duduk.

"Bagaimana tugas kalian?"

Tanya Lie Tsu Seng mendadak.

"Apakah sudah dilaksanakan dengan baik?"

"Ya."

Lie Sih Beng mengangguk.

"Hanya kurang memuaskan, karena...."

"Kenapa?"

Lie Tsu Seng menatap mereka.

"Jelaskanlah!"

"Ada beberapa kelompok pemberontak tidak bersedia bergabung dengan kita. Padahal kami telah menjelaskan, bahwa apabila kita semua tidak bersatu, sulit sekali untuk sukses,"

Jawab Lie Sih Beng memberitahukan.

"Ngmm!"

Lie Tsu Seng manggut-manggut.

"Siapa kepala kelompok pemberontak itu?"

Lie Sih Beng memberitahukan. Wajah Tan Ju Liang berseri ketika mendengar nama-nama yang disebutkan Lie Sih Beng.

"Aku kenal mereka,"

Ujar Tan Ju Liang sambil tertawa gembira.

"Mereka adalah teman-teman akrabku, hanya saja sudah belasan tahun kami tidak bertemu."

"Kalau begitu____"

Lie Tsu Seng memandangnya dalamdalam seraya berkata.

"Tentunya Sau-dara Tan bersedia membantu dalam hal ini."

"Ha ha ha!"

Tan Ju Liang tertawa gelak.

"Itu sudah pasti, Saudara Lie. Sebab kini kita sudah bergabung, maka tugas kalian adalah tugas kami pula."

"Terimakasih, Saudara Tan!"

Ucap Lie Tsu Seng sambil manggut-manggut gembira dan menambah-kan.

"Mulai sekarang kita semua adalah saudara seperjuangan, suka dan duka harus pikul bersama."

"Benar."

Lim Cin An mengangguk.

"Karena itu, kita pun harus membagi tugas sesuai dengan kemahiran masingmasing."

"Tidak salah."

Lie Tsu Seng manggut-manggut, kemudian memandang Lie Sih Beng dan Lie Sih Heng seraya bertanya.

"Kalian berdua punya suatu ide?"

"Begini..."

Sahut Lie Sih Beng.

"Setahu kami, Ketua Yo berkepandaian tinggi, maka alangkah baiknya dia diangkat menjadi pengawal pribadi."

"Ngmm!"

Lie Tsu Seng mengangguk.

"Itu memang tepat sekali."

"Sedangkan Saudara Tan mahir mengenai siasat perang, karena itu dia harus diangkat menjadi penasihat,"

Ujar Lie Sih Beng sungguh-sungguh.

"Benar."

Lie Tsu Seng mengangguk lagi, lalu memandang Tan Ju Liang seraya bertanya.

"Saudara Tan, tidak berkeberatan, bukan?"

"Tentu tidak. Hanya saja____"

Kening Tan Ju Liang berkerut.

"... aku khawatir tidak dapat melaksanakan tugas itu dengan baik."

"Ha ha ha!"

Lie Tsu Seng tertawa gelak.

"Saudara Tan, jangan merendahkan diri lho!"

"Aku tidak merendahkan diri, melainkan berkata sesungguhnya,"

Sahut Tan Ju Liang.

"Apa tugas Lim Cin An dan Cu Tiang Him?"

"Kami berempat akan melatih para anggota berperang,"

Jawab Lie Sih Beng sungguh-sungguh.

"Bagus!"

Lie Tsu Seng manggut-manggut, kemudian tertawa gelak seraya berkata.

"Ha ha ha! Mari kita bersulang lagi!" -oo0dw0oo-Bagian ke tiga puluh satu Berpadu Suara Suling Sementara itu, Siang Koan Goat Nio, Lie Ai Ling dan Lu Hui San telah tiba di sebuah lembah yang sangat indah. Mereka bertiga lalu duduk beristirahat di bawah sebuah pohon.

"Kalau kita terus beristirahat, kapan akan tiba di Gunung Hek Ciok San?"

Ujar Lu Hui San sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Tenanglah!"

Sahut Lie Ai Ling.

"Kita tidak perlu tergesagesa, sebab belum tentu Kam Hay Thian langsung menuju ke sana."

"Dia sangat keras hati, aku yakin dia pasti menuju ke sana,"

Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau kita terlambat menyusulnya, aku khawatir...."

"Jangan khawatir!"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Tidak akan terjadi suatu apa pun atas dirinya, percayalah!"

"Aaaah!"

Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Aku tahu, engkau cuma menghiburku."

"Hui San!"

Siang Koan Goat Nio menatapnya lembut.

"Kam Hay Thian cukup cerdik, tentunya dia tidak akan bertindak ceroboh, pasti memperhitungkan langkah-langkahnya. Oleh karena itu, engkau tidak perlu terlampau cemas."

"Goat Nio...."

Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.

"Entah apa sebabnya, aku terus memikirkannya."

"Hui San!"

Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Itu pertanda engkau telah jatuh hati padanya, sehingga terus memikirkannya."

"Benar,"

Sela Lie Ai Ling sambil tertawa kecil.

"Hui San, engkau memang telah jatuh hati padanya. Tapi... kuharap engkau dapat mengendalikan perasaan hatimu, agar tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan."

"Aku tahu itu."

Lu Hui San manggut-manggut.

"Goat Nio,"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Lembah ini indah sekali, alangkah baiknya engkau meniup suling di sini,"

Ujarnya.

"Eh? Engkau...."

Siang Koan Goat Nio menggelenggelengkan kepala.

"Ada-ada saja! Mana boleh aku meniup suling di saat Hui San sedang risau?"

"Justru suara sulingmu akan mengusir kerisauannya,"

Sahut Lie Ai Ling sambil tersenyum.

"Ya, kan Hui San?"

"Kira-kira begitulah."

Lu Hui San manggut-manggut.

"Memang baik sekali Goat Nio meniup suling di tempat yang sangat indah ini."

"Nah, Goat Nio,"

Desak Lie Ai Ling.

"Ayolah!"

Siang Koan Goat Nio mengeluarkan suling emasnya, lalu meniupnya sambil memandang jauh ke depan.

Terdengarlah suara suling yang amat merdu dan menggetarkan kalbu.

Lie Ai Ling dan Lu Hui San mendengar dengan penuh perhatian, akhirnya pikiran mereka menerawang.

Memang kebetulan sekali, Tio Bun Yang, yang sedang menuju markas pusat Kay Pang justru melewati lembah itu.

Ketika mendengar suara alunan suling itu, ia langsung berhenti dan tampak tertegun.

Makin lama hatinya makin tertarik, sehingga tanpa sadar ia mengeluarkan suling pualamnya, lalu ditiupnya untuk mengiringi suara suling itu.

Betapa terkejutnya ketiga gadis itu ketika mendengar suara suling tersebut, terutama Lie Ai Ling yang mengenali suara suling itu.

"Haaaah? Kakak Bun Yang?"

Gumamnya. Siang Koan Goat Nio meliriknya, namun tidak berhenti meniup sulingnya, kemudian wajahnya tampak berseri.

"Tidak salah,"

Gumam Lie Ai Ling sambil bangkit untuk berdiri.

"Itu pasti Kakak Bun Yang, aku mengenali suara sulingnya."

Berselang sesaat, muncullah Tio Bun Yang dan monyet bulu putih, yang duduk di bahunya.

"Kakak Bun Yang! Kakak Bun Yang...!"

Seru Lie Ai Ling girang.

Tio Bun Yang tersenyum sambil meniup sulingnya, sedangkan monyet bulu putih bercuit-cuit seakan menyahut.

Pertama kali Siang Koan Goat Nio melihat Tio Bun Yang, justru langsung tertarik padanya.

Begitu pula Tio Bun Yang, ia sangat tertarik pada gadis itu.

Otomatis irama suara suling pualamnya berubah, kedengarannya seperti mencurahkan isi hati Si Peniup Suling itu.

Irama suara suling emas pun berubah, sepertinya menerima curahan hati itu.

Dapat dibayangkan, betapa lembut dan merdunya paduan suara suling tersebut.

Lie Ai Ling dan Lu Hui San mendengarkan dengan mulut ternganga lebar, terpukau dan terkesima.

Sementara Tio Bun Yang mulai mendekati Siang Koan Goat Nio, sedangkan gadis itu pun bangkit berdiri, lalu melangkah ke arah pemuda itu.

Setelah dekat, barulah mereka berhenti meniup suling, berdiri mematung saling memandang dengan mata berbinar-binar.

"Goat Nio,"

Ujar Lie Ai Ling memberitahukan.

"Dia adalah Kakak Bun Yang, yang sering kuceritakan kepadamu."

Siang Koan Goat Nio tidak menyahut, namun wajahnya tampak berseri dan agak kemerah-merahan.

"Kakak Bun Yang!"

Lie Ai Ling memperkenalkan.

"Dia adalah Siang Koan Goat Nio, putri kesayangan Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin."

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Selamat bertemu, Nona Goat Nio!"

Ucapnya sambil memberi hormat.

"Selamat bertemu!"

Sahut Siang Koan Goat Nio sambil tersenyum malu-malu.

"Jangan panggil aku Nona, panggil saja____"

"Adik Goat Nio,"

Sela Lie Ai Ling dan menambahkan.

"Engkau pun harus panggil dia Kakak Bun Yang, lho!"

"Eh? Engkau____"

Wajah Siang Koan Goat Nio berubah menjadi merah dan menunduk dalam-dalam.

"Ai Ling, engkau jangan menggodaku!"

"Aku berkata sesungguhnya, tidak menggoda sama sekali,"

Sahut Lie Ai Ling sambil tertawa kecil, kemudian menatap Tio Bun Yang dengan penuh perhatian dan berseru tak tertahan.

"Wuaaah!"

"Adik Ai Ling!"

Tio Bun Yang tercengang.

"Kenapa engkau?"

"Kakak Bun Yang,"

Sahut Lie Ai Ling.

"Engkau bertambah tampan, memang serasi sekali dengan Goat Nio."

"Oh?"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Ai Ling!"

Siang Koan Goat Nio menatapnya.

"Jangan omong yang bukan-bukan, tidak baik lho!"

Tegurnya.

"Hi hi hi!"

Lie Ai Ling tertawa geli.

"Jangan pura-pura, padahal engkau girang sekali dalam hati! Engkau kira aku tidak tahu ya?"

"Engkau____"

Wajah Siang Koan Goat Nio memerah lagi.

"Adik Ai Ling!"

Tio Bun Yang menatapnya seraya bertanya.

"Kenapa kalian berada di lembah ini?"

"Kakak Bun Yang, kami bertiga sedang menuju Gunung Hek Ciok San."

Lie Ai Ling memberitahukan.

"Untuk apa kalian ke sana?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Menyusul Kam Hay Thian,"

Ujar Lie Ai Ling dan menutur semua itu.

"... maka kami bertiga berangkat ke sana."

"Adik Ai Ling____"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak seharusnya engkau membohongi kakekku, lagi pula Seng Hwee Sin Kun berkepandaian tinggi sekali. Belum tentu kalian mampu melawannya, kenapa kalian tidak berpikir panjang?"

"Aku____"

Lie Ai Ling menundukkan kepala.

"Jangan mempersalahkan Ai Ling!"

Ujar Lu Hui San mendadak.

"Aku yang mendesaknya untuk berangkat ke Gunung Hek Ciok San."

"Oh?"

Tio Bun Yang memandangnya. Tiba-tiba ia terbelalak karena melihat sebuah tanda di leher gadis itu.

"Kakak Bun Yang____"

Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Kenapa engkau?"

"Adik Ai Ling, siapa nona ini? Engkau belum memperkenalkannya,"

Sahut Tio Bun Yang, yang tetap memandang Lu Hui San, tentunya membuat gadis itu tersipu.

"Dia bernama Lu Hui San."

Lie Ai Ling memberitahukan dengan wajah tak sedap dipandang, karena mengira Tio Bun Yang tertarik pada gadis itu.

"Lu Hui San..."

Gumam Tio Bun Yang. Ternyata ia teringat akan penuturan Sie Kuang Han, orang tua yang ditolongnya itu.

"Hui San! Hui San...."

"Kakak Bun Yang!"

Lie Ai Ling melotot.

"Kenapa sih engkau? Kenapa terus bergumam menyebut nama Hui San?"

"Aku____"

Tio Bun Yang agak tergagap.

"Aku... teringat sesuatu. Oh ya, siapa orang tua Hui San?"

"Ayahku bernama Lu Kam Thay,"

Sahut Lu Hui San memberitahukan.

"Lu Kam Thay..."

Gumam Tio Bun Yang lagi dengan kening berkerut.

"Lu Kam Thay... Lu Thay Kam____"

Wajah Lu Hui San tampak berubah ketika mendengar gumaman itu, sehingga langsung menatap Tio Bun Yang dengan kening berkerut-kerut.

"Eeeh?"

Lie Ai Ling tercengang.

"Kenapa sih kalian berdua? Kok terus saling memandang?"

"Tidak ada apa-apa,"

Sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum, kemudian mengalihkan pembicaraan.

"Jadi kalian tetap akan berangkat ke Gunung Hek Ciok San?"

"Ya."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Karena markas Seng Hwee Kauw berada di Lembah Kabut Hitam di gunung itu, maka kami harus ke sana."

"Kalau begitu..."

Ujar Tio Bun Yang setelah berpikir sejenak, aku ikut kalian ke sana."

"Oh?"

Lie Ai Ling girang bukan main.

"Kalau engkau ikut, kita pasti dapat melawan Seng Hwee Sin Kun."

"Mari kita berangkat sekarang!"

Ajak Lu Hui San.

"Baik."

Tio Bun Yang mengangguk.

Mereka berempat lalu berangkat menuju Gunung Hek Ciok San.

Dalam perjalanan tak henti-hentinya Tio Bun Yang memperhatikan Lu Hui San.

Itu tidak terlepas dari mata Siang Koan Goat Nio, sehingga membuat gadis itu menjadi kecewa sekali dan tidak habis pikir, kenapa Tio Bun Yang bersifat mata keranjang?

--oo0dw0oo-Malam harinya, mereka berempat terpaksa bermalam di dalam sebuah rimba.

Lie Ai Ling menyalakan ranting dan dahan yang ditumpukkan jadi satu, sedangkan Lu Hui San berjalan pergi, kemudian duduk di bawah sebuah pohon.

Berselang sesaat, muncul sosok bayangan mendekatinya, yang tidak lain Tio Bun Yang.

"Maaf!"

Ucapnya sambil duduk.

"Bolehkah kita bercakapcakap sejenak?"

"Tentu saja boleh,"

Sahut Lu Hui San sambil tersenyum.

"Mau bercakap-cakap mengenai apa?"

"Mengenai dirimu."

"Oh?"

Lu Hui San mengerutkan kening.

"Ada apa diriku?"

"Ayahmu adalah Lu Thay Kam?"

Tanya Tio Bun Yang mendadak sambil menatapnya tajam.

"Nama ayahku adalah Lu Kam Thay,"

Sahut Lu Hui San seakan menegaskan.

"Bukan Lu Thay Kam."

"Nona Hui San____"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku harap engkau jangan membohongiku, sebab menyangkut riwayat hidupmu."

"Maksudmu?"

Lu Hui San mengerutkan kening.

"Engkau harus menjawab sejujurnya, benarkah Lu Thay Kam adalah ayahmu?"

Tanya Tio Bun Yang lagi.

"Itu____"

Lu Hui San menundukkan kepala.

"Lu Thay Kam adalah ayah angkatmu, kan?"

Tio Bun Yang menatapnya.

"Engkau harus menjawab dengan jujur, karena aku akan menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan asalusulmu."

"Engkau tahu asal usulku?"

Lu Hui San tersentak.

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Namun engkau harus memberitahukan dengan jujur, barulah aku berani memastikan asal usulmu."

"Terus terang...."

Lu Hui San mulai memberitahukan.

"Lu Thay Kam memang ayah angkatku____"

"Jadi engkau tidak tahu siapa ayah kandungmu?"

"Tidak tahu, sebab ayah angkatku itu tidak pernah memberitahukan."

"Nona Hui San, sebetulnya engkau bermarga Sie."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Aku telah bertemu pamanmu, yang bernama Sie Kuang Han...."

Tio Bun Yang menutur tentang itu, dan Lu Hui San mendengar dengan penuh perhatian, kemudian air matanya meleleh.

"Jadi____"

Gadis itu terisak-isak.

"Lu Thay Kam yang membunuh kedua orang tuaku?"

"Menurut pamanmu, Lu Thay Kam memfitnah ayahmu,"

Ujar Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang.

"Karena itu, kaisar menurunkan perintah menghukum mati kalian sekeluarga termasuk keluarga pamanmu."

"Aaaah...!"

Keluh Lu Hui San.

"Aku sama sekali tidak tahu, Lu Thay Kam begitu jahat!"

"Nona Hui San____"

Tio Bun Yang menatapnya.

"... engkau tidak usah berduka, karena kini engkau masih punya seorang paman."

"Aku... aku sangat berterimakasih kepadamu! Kalau tidak bertemu engkau, tentunya aku tidak akan tahu asal-usulku-"

"Nona Hui San, aku bersedia mengantarmu pergi menemui pamanmu. Maukah engkau pergi menemui pamanmu itu?"

"Bukankah akan merepotkanmu?"

"Tidak."

Tio Bun Yang tersenyum.

"Bagaimana kalau kita berangkat esok?"

"Baik. Tapi...."

"Kenapa?"

"Bagaimana Goat Nio dan Ai Ling?"

"Tentunya mereka harus ikut,"

Ujar Tio Bun I Yang dan menambahkan.

"Setelah engkau bertemu pamanmu itu, barulah kita berangkat ke Gunung Hek Ciok San."

"Baik."

Lu Hui San mengangguk, kemudian mereka berdua bercakap-cakap lagi. Mereka justru tidak tahu sama sekali, bahwa ada sepasang mata sedang memandang ke arah mereka, yaitu Siang Koan Goat Nio.

"Aaaah...!"

Gadis itu menghela nafas panjang, ia berdiri di balik sebuah pohon dengan mata basah.

"Kenapa dia____"

"Goat Nio!"

Lie Ai Ling mendekatinya, kemudian memandang ke arah Tio Bun Yang dengan penuh kejengkelan.

"Aku tak menyangka sama sekali kalau dia begitu cepat berubah. Padaha! dia tidak bersifat begitu, namun-"

"Ai Ling!"

Siang Koan Goat Nio tersenyum getir.

"Kelihatannya dia sangat tertarik pada Lu Hui San."

"Itu... tidak boleh."

Sahut Lie Ai Ling.

"Pokoknya Kakak Bun Yang tidak boleh jatuh hati pada Hui San."

"Ai Ling...."

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau tidak berhak melarangnya, sudahlah!"

"Hm!"

Dengus Lie Ai Ling dingin.

"Sebelum bertemu Kakak Bun Yang, Hui San menyatakan telah jatuh hati pada Kam Hay Thian. Tapi kini dia kelihatan begitu akrab dengan Kakak Bun Yang. Sungguh keterlaluan!"

"Ai Ling, biarkan saja! Lebih baik kita kembali ke Pulau Hong Hoang To. Aku ingin mengajak kedua orang tuaku pulang ke tempat tinggal kami di luar perbatasan."

"Goat Nio!"

Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Itu urusan nanti, yang penting sekarang aku harus pergi mencaci Kakak Bun Yang."

Katanya.

"Jangan!"

Cegah Siang Koan Goat Nio.

"Kalau aku tidak mencacinya, rasanya____"

"Sudahlah!"

Potong Siang Koan Goat Nio.

"Jangan menimbulkan masalah lagi!"

"Memang sudah terlanjur, maka harus dipermasalahkan,"

Sahut Lie Ai Ling sambil menarik Siang Koan Goat Nio ke tempat Tio Bun Yang.

Kemunculan mereka berdua sama sekali tidak mengejutkan Tio Bun Yang maupun Lu Hui San, sebaliknya malah mempersilakan mereka duduk.

"Adik Ai Ling, Goat Nio, silakan duduk!"

Ucap Tio Bun Yang dengan tersenyum.

"Mari kita mengobrol bersama!"

"Kakak Bun Yang!"

Lie Ai Ling langsung menudingnya.

"Aku tak menyangka, ternyata engkau adalah pemuda yang begitu macam. Aku merasa malu sekali."

"Lho?"

Tio Bun yang bingung.

"Memangnya kenapa?"

"Tanya saja kepada dirimu sendiri!"

Sahut Lie Ai Ling dingin, lalu memandang Lu Hui San.

"Aku pun tak menyangka, engkau gadis semacam itu."

"Ai Ling!"

Lu Hui San tertegun. ''Kenapa engkau? Apa salahku sehingga engkau mengatakan begitu?"

"Hm!"

Dengus Lie Ai Ling dingin.

"Engkau mengatakan kepadaku telah jatuh hati pada Kam Hay Thian, namun setelah bertemu Kakak Bun Yang...."

"Ai Ling!"

Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Engkau telah salah paham. Sebetulnya____"

"Sebetulnya apa?"

Bentak Lie Ai Ling, yang kemudian menuding Tio Bun yang.

"Engkau tak punya perasaan sama sekali. Goat Nio datang di Tionggoan justru ingin mencarimu. Aku sering menceritakan kepadanya tentang dirimu, dia sangat tertarik dan berharap cepat-cepat bertemu. Kini kalian telah bertemu, bahkan mencurahkan isi hati masing-masing pula melalui suara suling. Tapi engkau malah mendekati Lu Hui San secara diam-diam. Sungguh keterlaluan!"

"Ai Ling!"

Wajah Tio Bun Yang berseri.

"Betulkah Goat Nio sangat tertarik kepadaku...?"

"Betul."

Lie Ai ling mengangguk.

"Tapi engkau justru tak punya perasaan sama sekali. Sungguh mempermalukan diri sendiri!"

"Engkau telah salah paham padaku,"

Ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Aku bukanlah pemuda semacam itu."

"Tapi sudah terbukti____"

"Bukti yang tidak kuat."

Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Sebetulnya kami berdua berada di sini...."

"Memadukan cinta kan?"

Potong Lie Ai Ling dengan melotot dan mendengus dingin.

"Hmmm...!"

"Membicarakan sesuatu."

Sahut Tio Bun Yang dengan serius dan menambahkan.

"Sebab menyangkut rahasia seseorang, maka aku harus menemui Hui San secara diamdiam. Karena itu, malah menimbulkan kecurigaanmu."

"Oh?"

Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Agar aku mempercayaimu, ceritakanlah tentang itu!"

"Tapi...."

Tio Bun Yang melirik Lu Hui San.

"Kini sudah bukan rahasia lagi, lebih baik terbuka saja,"

Ujar Lu Hui San sambil menghela nafas panjang.

"Ai Ling, Goat Nio, sebelumnya aku mohon maaf kepada kalian, karena aku merahasiakan sesuatu terhadap kalian."

"Menutup apa?"

Tanya Lie Ai Ling heran.

"Identitas diriku,"

Sahut Lu Hui San dan melanjutkan.

"Sebetulnya ayahku bukan Lu Kam Thay, melainkan Lu Thay Kam."

"Apa?"

Seru Lie Ai Ling tak tertahan.

"Lu Thay Kam adalah ayahmu?"

"Ya."

Lu Hui San mengangguk.

"Tapi dia bukan ayah kandungku, melainkan ayah angkat."

"Jadi____"

Lie Ai Ling terbelalak.

"Kakak Bun Yang tahu tentang itu?"

"Ya. Dia memang tahu. Namun karena masih ragu maka dia bertanya kepadaku,"

Sahut Lu Hui San.

"Bahkan dia juga tahu asal-usulku. Maka untuk memastikan itu, dia menemuiku di sini."

"Oh?"

Lie Ai Ling menarik nafas lega, kemudian menegur Tio Bun Yang.

"Kenapa Kakak Bun Yang tidak mau memberitahukan kepadaku dan Goat Nio?"

"Sebab aku harus merahasiakannya, berhubung Lu Thay Kam adalah ketua Hiat Ih Hwe,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Jadi aku harus merahasiakannya, agar tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan."

"Oooh!"

Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Sekali lagi aku mohon maaf,"

Ucap Lu Hui San, lalu menghela nafas panjang seraya berkata.

"Karena Bu Yang telah bertemu pamanku, maka aku pun harus memberitahukan kepada kalian mengenai identitasku."

"Apa?"

Lie Ai Ling terbelalak.

"Kakak Bun Yang bertemu pamanmu? Itu-"

"Benar."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Aku memang telah bertemu pamannya, yang bernama Sie Kuang Han-"

Tio Bun Yang menutur tentang itu, Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio mendengar dengan penuh perhatian.

"Kakak Bun Yang,"

Ujar Lie Ai Ling seusai Tio Bun Yang menutur.

"Aku dan Goat Nio telah salah paham terhadapmu, maaf ya!"

"Tidak apa-apa."

Tio Bun Yang tersenyum.

"Tapi lain kali engkau tidak boleh langsung menuduh sebelum tahu jelas suatu masalah."

"Ya."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Ohya, Kakak Bun Yang, bolehkah engkau menuturkan semua pengalamanmu itu?"

"Tentu boleh."

Tio Bun Yang manggut-manggut kemudian menuturkan semua pengalamannya.

"Kakak Bun Yang, aku tak menyangka engkau mengunjungi daerah Miauw,"

Ujar Lie Ai Ling.

"Bagaimana keadaan daerah itu?"

"Aman dan tenang,"

Sahut Tio Bun Yang memberitahukan.

"Pemandangan di sana pun sangat indah menakjubkan."

"Kakak Bun Yang...."

Lie Ai Ling tersenyum.

"Kalau sempat, bagaimana kalau kelak kita pergi ke sana?"

"Baik."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Ohya! Besok kita semua akan berangkat ke tempat tinggal Paman Sie, maka lebih baik kita beristirahat sekarang."

"Oh?"

Lie Ai Ling memandang Lu Hui San.

"Kita tidak jadi pergi ke Gunung Hek Ciok San?"

"Setelah menemui pamanku, barulah kita berangkat ke sana."

Lu Hui San memberitahukan.

"Sebab aku harus tahu bagaimana kematian kedua orang tuaku."

"Ngmmm!"

Lie Ai Ling manggut-manggut, kemudian menarik Lu Hui San seraya berkata.

"Mari kita ke tempat lain untuk beristirahat, jangan mengganggu Kakak Bun Yang dan Goat Nio! Mereka berdua harus mencurahkan isi hati masingmasing."

"Ai Ling____"

Wajah Siang Koan Goat Nio terasa panas.

"Engkau-"

"Hi hi hi!"

Lie Ai Ling tertawa.

"Kami harus memberi kesempatan kepada kalian berdua untuk memadu cinta."

"Ai Ling!"

Siang Koan Goat Nio betul-betul salah tingkah dibuatnya.

"Engkau sungguh keterlaluan!"

"Aku tidak keterlaluan, melainkan tahu diri,"

Sahut Lie Ai Ling, lalu menarik Lu Hui San meninggalkan tempat itu.

"Dia masih bersifat kekanak-kanakan,"

Ujar Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Namun berhati baik."

"Juga sangat polos,"

Sambung Siang Koan Goat Nio dan menambahkan.

"Aku suka sekali kepadanya."

"Goat Nio____"

Tio Bun Yang menatapnya dengan mata berbinar-binar.

"Tadi Ai Ling bilang engkau tertarik padaku, benarkah?"

"Aku____"

Siang Koan Goat Nio menundukkan kepalanya.

"Ya."

"Goat Nio!"

Mendadak Tio Bun Yang memegang tangan gadis itu.

"Aku pun tertarik padamu, bahkan boleh dikatakan telah... telah jatuh hati padamu."

"Oh?"

Hati Siang Koan Goat Nio langsung berbunga-bunga.

"Engkau tidak bohong?"

"Aku tidak pernah bohong, percayalah!"

Sahut Tio Bun Yang lembut dan bertanya.

"Engkau juga jatuh hati padaku?"

"Ng!"

Siang Koan Goat Nio mengangguk perlahan.

"Kedua orang tuaku berharap____"

"Kedua orang tuamu berharap apa?"

"Berharap kita... bisa bertemu secepatnya."

"Kini kita sudah bertemu. Kalau kedua orang tuamu tahu..."

Ujar Tio Bun Yang dengan tersenyum.

"pasti girang sekali."

"Ya."

Siang Koan Goat Nio manggut-manggut. Tapi kedua orang tuaku tidak tahu bahwa kita v udah bertemu."

"Itu tidak apa-apa."

Tio Bun Yang tersenyum.

"vang penting kita sudah bertemu. Ohya, betulkah Kam Hay Thian tertarik padamu?"

"Betul."

Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Tapi aku menolaknya secara terang-terangan, agar dia mundur."

"Tapi____"

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Bukankah Lu Hui San jatuh hati padanya?"

"Betul."

Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.

"Bahkan Lam Kiong Soat Lan pun jatuh hati padanya."

"Oh?"

Tio Bun Yang tersentak.

"Kalau begitu...."

"Yaaah!"

Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang lagi.

"Aku justru khawatir, kelak akan terjadi sesuatu di antara mereka."

"Bagaimana mungkin?"

"Tentu saja mungkin. Sebab cinta dapat membutakan orang, bahkan juga akan membuat keruh hati orang yang bersangkutan."

"Kalau begitu..."

Ujar Tio Bun Yang setelah berpikir sejenak.

"Kita harus berusaha menjernihkan hati mereka, agar tidak terjadi sesuatu di kemudian hari."

"Ng!"

Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Ohya, setelah bertemu Paman Sie, kita harus segera berangkat ke Gunung Hek Ciok San. Karena aku khawatir...."

"Akan terjadi sesuatu atas diri Kam Hay Thian?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Ya. Sebab pemuda itu berhati keras."

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku khawatir dia akan celaka di tangan Seng Hwee Sin Kun."

"Kalau begitu, besok pagi kita harus menggunakan ginkang menuju tempat tinggal Paman Sie. Kita tidak boleh membuang waktu."

"Benar."

Siang Koang Goat Nio manggut-manggut.

"Kita tidak boleh membuang waktu. Mari kita beristirahat sekarang!"

"Baik."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Tapi alangkah baiknya kita bercakap-cakap sejenak dengan Ai Ling dan Hui San."

"Ng!"

Siang Koan Goat Nio menuju tempat kedua gadis itu, Tio Bun Yang mengikutinya dari belakang. -ooo0dw0ooo-

Jilid 7

"Eh?"

Lie Ai Ling terheran heran ketika melihat mereka.

"Kok kalian ke maii sih? Sudah cukup kalian mencurahkan isi hati masing-masing?"

"Ai Ling!"

Tegur Siang Koan Goal Nio.

"Jangan suka menggoda! Ka!au kelak engkau bertemu pemuda idaman hatimu, aku pasti balas menggodamu."

"Tidak apa-apa,"

Sahut Lie Ai Ling sambil tertawa kecil.

"Ohya, besok pagi kita akan berangkat ke tempat tinggal Paman Ste?"

"Ya,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Kita harus menggunakan ginkang agar cepat sampai di tempat itu."

"Lho?"

Lie Ai Ling tercengang.

"Memangnya kenapa?"

"Sebab kita masih harus berangkat ke Gunung Hek Ciok San,"

Ujar Siang Koan Goat Nio memberitahukan.

"Engkau sudah lupa ya?"

"Bagaimana mungkin aku lupa? Kalau begitu, kita harus beristirahat sekarang,"

Sahut Lie Ai Ling dan menambahkan sambil tertawa. Tapi kalau kalian berdua masih ingin mengobrol, terserah kalian berdua lho!"

"Adik Ai Ling!"

Legui Tio Bun Yang lembut.

"Tidak baik terus-menerus menggoda Goat Nio."

"Wuah, sudah mulai membela dia!"

Sahut Lie ai ling sambil tertawa.

"Baru bertemu lhol Hi hi hi...!" -ooo0dw0ooo-Bagian ke tiga puluh dua Budi dan Dendam Dua hari kemudian, Tio Bun Yang, Siang Koan Goal Nio, Lie Ai Ling dan Lu Hui San sudah tiba di tempat tinggal Sie Kuang Han Kemunculan Tio Bun Yang bersama ketiga gadis itu sangat mengherankan Sie Kuang Han.

"Bun Yang____"

Sie Kuang Han terbelalak.

"Paman!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Lihatlah siapa gadis ini?"

Tanyanya sambil menunjuk Lu Hui San. Sie Kuang Han segera memperhatikan gadis tersebut.

"Engkau____"

Sepasang mata Sie Kuang Han bertambah terbelalak ketika metibat sebuah tanda di leher gadis itu.

"Engkau adalah____"

"Aku Lu Hui San."

Gadis itu memberitahukan.

"Paman adalah-"

"Hui San..."

Gumam Sie Kuang Han.

"Tidak salah. Engkau memang Sie Hui San. Nak, akhirnya kita bertemu "

Sie Kuang Han memandangnya dengan air mata bercucuran. Lu Hui San langsung mendekapnya dan menangis terisak-isak.

"Paman! Paman____"

"Nak____"

Sie Kuang Han membelainya.

"Paman tak menyangka sama sekali, ternyata engkau masih hidup."

"Paman, ceritakanlah tentang kematian kedua orang tuaku, aku ingin mengetahuinya!"

"Duduklah!"

Ujar Si Kuang Han. Setelah Lu Hui San, Tio Bun Yang, Siang Koan Goal Nio dan Lie Ai Ling duduk, barulah Sie Kuang Han menceritakan tentang kematian kedua orang tua Lu Hui San.

"Jadi..."

Ujar Lu Hui San dengan mata berapi-api.

"Lu Thay Kam yang membunuh kedua orang tuaku?"

"Ya."

Sie Kuang Han mengangguk.

"Tapi paman berhasil meloloskan diri dengan membawa Keng Hauw. Justru paman tak menduga kalau engkau masih hidup dan dibesarkan oleh Lu Thay Kam yang sangat jahat itu."

"Dia... dia..."

Gumam Lu Hui San dengan suara bergemetar.

"Dia yang membunuh kedua orang tuaku, maka aku harus balas membunuhnya!"

"Betul."

Sie Kuang Han manggut-uianggut.

"Engkau harus balas dendam, lagi pula engkau bisa mendekati Lu Thay Kain."

"Paman, aku pasti balas dendam!"

Ujar Lu Hui San berjanji.

"Aku pasti membunuh Lu Thay Kam!"

"Sayang sekali!"

Sie Kuang Han menggeleng-gelengkan kepala.

"Keng Hauw belum pulang."

"Paman, kira-kira kapan Kakak Keng Hauw pulang?"

"Entahlah. Mungkin dalam tahun ini dia akan pulang,"

Sahut Sie Kuang Han dan melanjutkan.

"Ohya, kalian bermalam di sini saja!"

"Ya."

Lu Hui San mengangguk.

Namun diam-diam gadis itu telah mengambil suatu keputusan.

Ternyata di tengah malam ia meninggalkan tempat itu tanpa memberitahu Sie Kuang Han maupun lainnya.

Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling ketika bangun, karena tidak melihat Lu Hui San.

"Lho? Ke mana Hui San?"

Tanya Lie Ai Ling sambil berlari ke luar. Tio Bun Yang dan Sie Kuang Han yang sedang duduk di ruang depan tampak tersentak ketika melihat mereka berlari ke luar.

"Goat Nio, ada apa?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Kakak Bun Yang tidak melihat Hui San?"

Siang Koan Goat Nio balik bertanya dengan kening berkerut.

"Bukankah dia tidur bersama kalian? Kenapa...."

"Dia tidak berada di tempat tidur,"

Sahut Lie Ai Ling.

"Kami kira dia sudah bangun, tapi dia tidak berada di sini."

"Apa?!"

Sie Kuang Han terkejut.

"Dia tidak berada di dalam kamar?"

"Tidak ada."

Lie ai ling menggelengkan kepala.

"Janganjangan...."

"Ah, celaka!"

Sie Kuang Han bangkit berdiri lalu berjalan mondar-mandir.

"Kemungkinan besar dia telah berangkat ke ibu kota. Aku telah bersalah semalam karena mendesaknya harus membalas dendam."

"Kalau begitu kita harus bagaimana?"

Lie Ai Ling mengerutkan kening, kemudian memandang Tio Bun Yang seraya bertanya.

"Kakak Bun Yang, apakah kita harus berangkat ke ibu kota juga?"

"Memang harus."

Tio Bun Yang mengangguk, lalu membelai monyet bulu putih yang duduk di bahunya. Kauw heng, kita harus berangkat ke ibu kota."

Monyet bulu putih bercuit manggut-manggut. Sedangkan Sie Kuang Han terus menghela nafas panjang.

"Bagaimana Paman, mau ikut kami ke ibu kota?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Tidak."

Sie Kuang Han menggelengkan kepala.

"Aku telah bersumpah tidak akan kembali ke ibu kota Kalian saja yang berangkat."

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Bun Yang,"

Ujar Sie Kuang Han bermohon"

Tolong selamatkan Hui San!"

"Paman Sie,"

Sahut Lie Ai Ling.

"Kami pasti berusaha menyelamatkannya, Paman tak usah khawatir."

Terimakasih!"

Ucap Sie Kuang Han.

"Terima-kasih...." -ooo0dw0ooo-Tio Bun Yang, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling sudah tiba di ibu kota. Mereka mencari rumah penginapan karena hari sudah mulai gelap. Lie Ai Ling berjalan sambil menengok ke sana ke mari, ternyata ia mengagumi gedung-gedung mewah yang berdiri tegak di ibu kota "Wuah sungguh mewah dan indah gedung-gedung itu!"

Seru Lie Ai Ling sambil menunjuk kian ke mari.

"Ai Ling,"

Bisik Siang Koan Goat Nio.

"Kita ke mari bukan untuk menikmati keindahan ibu kota, melainkan untuk mencari Hui San."

"Aku tahu."

Lie Ai Ling tersenyum.

"Namun memang indah sekali ibu kota ini."

"Memang indah."

Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Tapi kita tidak punya waktu untuk menikmati keindahannya."

Tak seberapa !ama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah rumah penginapan mewah. Seorang pelayan menyambut mereka dengan hormat sekali.

"Tuan dan Nona membutuhkan kamar yang besar?"

Tanya pelayan itu dengan ramah.

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Mari ikut aku masuk!"

Ujar pelayan sambil berjalan masuk, Tio Bun Yang, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling mengikutinya..

"Kakak Bun Yang,"

Bisik Lie Ai Ling.

"Kita cukup satu kamar saja?"

Tio Bun Yang mengangguk. Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio saling memandang. Berselang sesaat, mereka sudah sampai di depan sebuah kamar.

"Kamar ini cukup besar dan mewah, kalian merasa cocok?"

Tanya pelayan sambil menunjuk kamar tersebut.

"Cocok."

Tio Bun Yang manggut manggut, lalu melangkah ke dalam diikuti Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.

"Tuan mau pesan makanan atau minuman?"

"Tolong ambilkan tehl"

Sahut Tio Bun Yang.

"Ya."

Pelayan itu segera melangkah pergi, tapi tak lama telah kembali dengan membawa sebuah teko dan tiga buah cangkir.

"Tuan, ini teh wangi."

"Terimakasih!"

Ucap Tio Bun Yang. Pelayan itu menaruh apa yang dibawanya di atas meja, lalu menuang teh wangi itu ke dalam cangkir.

"Siiakan minum!"

Ucap pelayan.

"Terimakasih!"

Tio Bun Yang memberi setael perak kepada pelayan itu. Betapa girangnya pelayan tersebut.

"Terimakasih Tuanl Terimakasih..."

Ucap pelayan itu dengan wajah berseri-seri, lalu meninggalkan kamar tersebut. Tio Bun Yang segera merapatkan pintu, kemudian duduk seraya berkata kepada Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.

"Mari kita minuml"

Kedua gadis itu mengangguk. Mereka bertiga lalu menghirup teh yang masih bangat itu.

"Kakak Bun Yang, apa rencanamu sekarang?"

Tanya Lie Ai Ling mendadak sambil menatapnya.

"Rencanaku____"

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Setelah larut malam, aku akan ke tempat tinggal Lu Thay Kam "

"Seorang diri?"

Lie Ai Ling terbelalak.

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Kakak Bun Yang...."

Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Itu sangat membahayakan dirimu." 'Tidak akan membahayakan diriku, percayalah!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Menurut aku..."

Pikir Lie Ai Ung sejenak dan melanjutkan.

"Lebih baik kami Ikut."

"Itu tidak perlu."

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Sebab kalau kalian ikut, justru akan merepotkan aku."

"Bagaimana mungkin kami akan merepotkan-mu?"

Sahut Lie Ai Ling.

"Kami bisa menjaga diri."

"Tapi...."

Tio Bun Yang mengerutkan kening seraya berkata.

"aku akan kurang leluasa bergerak."

"Kakak Bun Yang...."

"Ai Ling,"

Ujar Siang Koan Goat Nio.

"Memang lebih baik kita tidak ikut agar perhatian Kakak Bun Yang tidak terpecahkan."

"Goat Niol"

Lie Ai Ling tidak mengerti.

"Kita ikut dengan tujuan membantu, bukan untuk memecahkan perhatiannya."

"Benar."

Siang Koan Goat Nio manggut manggut.

"Namun secara tidak langsung akan memecahkan perhatiannya, maka engkau harus mengerti."

"Tapi...."

"Adik Al Ling!"

Tio Bun Yang memandangnya sambil tersenyum.

"Engkau jangan bandel!"

"Aku...."

"Ai Ling, kita tunggu di da!am kamar ini aja, biar Bun Yang pergi seorang diri!"

Siang Koan Goat Nio memegang bahunya.

"Engkau harus mengerti"

"Goat Niol"

Lie Ai Ling menatapnya dalam-dalam.

"Engkau bisa berlega hati membiarkannya pergi seorang din?"

"Kenapa tidak?"

Siang Koan Goat Nio tersenyum, kemudian wajahnya berubah serius. Tapi kalau hingga pagi belum kembali, kita harus menyusul ke tempat tinggal Lu Thay Kam "

"Baiklah."

Lie Ai Ling mengangguk.

Setelah larut malam, barulah Tio Bun Yang pergi ke istana tempat tinggal Lu Thay Kam, sedangkan Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling tetap menunggu di dalam kamar penginapan Sementara itu.

Lu Hui San telah tiba duluan di istana bagian barat tempat tinggal Lu Thay Kam.

Akan tetapi.

Lu Thay Kam tidak ada di tempat.

"Ayahku pergi ke mana?"

Tanyanya pada salah seorang dayang.

"Lu Kong Kong pergi semalam. Nona,"

Jawab dayang memberitahukan.

"Hingga saat ini masih belum pulang."

"Kira-kira pergi ke mana ayahku?"

"Maaf Nona, aku tidak tahu!"

"Hmm!"

Dengus Lu Hui San sambil melangkah ke ruang khusus.

Dayang itu terbelalak menyaksikan sikap Lu Hui San yang kaku dan dingin, kemudian ia pun segera meninggalkan tempat itu.

Lu Hui San duduk di ruang khusus dengan wajah dingin.

Setelah larut malam, tampak sosok bayangan berkelebat memasuki ruang khusus itu, yang ternyata Lu Thay Kam.

"San Sanl"

Seru Lu Thay Kam girang.

"Anakku, kapan engkau kembali?"

Lu Hui San tetap duduk diam, matanya menatap Lu Thay Kam dengan dingin sekali.

"San San!"

Lu Thay Kam tertegun menyaksikan sikap Lu Hui San yang bermusuhan itu.

"Kenapa engkau?"

Perlahan-lahan Lu Hui San bangkit dari tempat duduknya, lalu menuding Lu Thay Kam seraya membentak.

"Engkau penjahat!"

"San San...."

Lu Thay Kam terbelalak.

"Aku ayahmu, kenapa engkau mengataiku penjahat?" 'Hrnml' dengus Lu Hui San dingin.

"Engkau pembunuh kedua orang tuaku!"

"San San!"

Lu Thay Kam tersentak.

"Siapa yang bilang begitu?"

"Aku sudah bertemu Sie Kuang Han, pamanku! Dia yang memberitahukan kepadaku tentang kematian kedua orang tuaku!"

Sahut Lu Hui San sambil mendekati Lu Thay Kam.

"Aku tak menyangka sama sekali, ternyata engkau yang membunuh kedua orang tuaku!"

"Pamanmu itu sungguh tak tahu diri!"

Ujar Lu Thay Kam sengit.

"Tidak seharusnya dia memberitahukan hal itu kepadamu."

"Kenapa?"

"Karena____"

Lu Thay Kam mengerutkan kening.

"Sudahlah Kini engkau sudah tahu tentang itu, lalu apa kehendakmu?"

"Aku harus membunuhmu!"

Sahut Lu Hui San dengan mata berapi-api.

"Aku harus membunuhmu!"

"San San!"

Lu Thay Kam menghela nafas panjang.

"Selama belasan tahun, aku membesarkanmu dengan penuh kasih sayang. Namun kini...."

"Engkau pembunuh kedua orang tuaku!"

Landas Lu Hui San.

"Maka aku harus membalaskan dendamnya!"

"Aaaah. !"

Lu Thay Kam menghela nafas panjang lagi.

"San San, engkau harus tahu. Kedua orang tuamu mati dikarenakan politik dalam istana, jadi____"

"Engkau yang membunuh kedua orang tuaku, kan?"

"Benar."

"Kalau begitu, malam ini pun aku harus membunuhmu!"

Bentak Lu Hui San sambil menghunus pedang pusaka Han Kong Kiam "San Sanl"

Lu Thay Kam menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku sangat menyayangimu. Kalau engkau ingin membunuhku, silakan!"

"Aku memang harus membunuhmu!"

Sahut Lu Hui San dan sekaligus mendekati Lu Thay Kam dengan menggenggam erat-erat pedang pusaka tersebut, kelihatannya gadis itu memang ingin membunuhnya.

Baca Juga: Jodoh Si Naga Langit 6

Baca Juga: Si Tangan Sakti 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert