Ceritasilat Novel Online

Pendekar Sakti Suling Pualam 5

Eps 5 Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Baca online Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Cersil Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung.

Kepala pengawal dan para anak buahnya langsung berseru. Tak lama muncullah beberapa petugas yang lalu berbaris. Setelah itu, muncullah Ma Tayjin bersama penasihatnya.

"Ada kasus apa?"

Tanya Ma Tayjin setelah duduk.

"Tayjin, ada kasus gadis ini,"

Sahut kepala pengawal sambil menunjuk Lu Hui San yang berdiri ditengah-tengah ruang itu.

"Ayahnya tidak mau membayar pajak, maka kalian tangkap dia?"

Tanya Ma Tayjin sambil menatap Lu Hui San dengan terbelatak.

"Wuah. Bukan main cantiknya!"

"Betul, Tayjin,"

Bisik penasihat sambil tersenyum.

"Belum pernah aku melihat gadis secantik itu."

"Tapi gadis itu membawa pedang."

Ma Tayjin mengerutkan kening.

"Apakah dia gadis rimba persilatan?"

"Tidak mungkin. Sebab gadis itu begitu halus, mungkin pedang itu cuma pedang mainan,"

Sahut penasihat itu.

"Ngmm!"

Ma Tayjin manggut-manggut, kemudian membentak Lu Hui San.

"Cepatlah engkau berlutut!"

Akan tetapi, Lu Hui San tetap berdiri tegak sambil menatap Ma Tayjin dengan dingin.

"Kurang ajar!"

Ma Tayjin memukul meja.

"Sungguh berani engkau tidak berlutut? Pengawal! Cepat hajar dia!"

Akan tetapi, para pengawal diam saja dengan kepala tertunduk. Itu membuat Ma Tayjin bertambah gusar.

"Kenapa kalian tidak menuruti perintahku?"

Disaat bersamaan, mendadak Lu Hui San tertawa dingin.

"Apakah engkau Ma Tayjin?"

"Betul! Cepatlah engkau berlutut!"

Bentak Ma Tayjin dengan mata melotot.

"Kalau engkau masih berdiri, kakimu akan dipatahkan!"

"Oh?"

Lu Hui San tertawa dingin lagi.

"Begitukah sikap seorang pembesar?"

"Kurang ajar engkau!"

Ma Tayjin memukul meja lagi.

"Petugas, cepat hukum gadis liar itu!"

"Ya, Tayjin,"

Sahut beberapa petugas, dan segera mendekati Lu Hui San.

"Hukum dia dengan sepuluh kali pukulan!"

Ma Tayjin memberi perintah lagi.

"Ya."

Petugas-petugas itu mengangguk. Akan tetapi, di saat bersamaan mendadak Lu Hui San mengayunkan tangannya, dan terdengarlah suara Plak Plok Plak Plok! "Aduuuh!"

Jerit para petugas itu sambil memegang pipi.

"Haah?"

Ma Tayjin terkejut bukan main, sehingga matanya terbelalak lebar.

"Gadis liar! Engkau berani menampar para petugas?"

"Hmmm!"

Dengus Lu Hui San dingin.

"Hari ini aku harus menghukummu, karena engkau telah berlaku sewenangwenang terhadap para penduduk kota ini!"

"Apa?!"

Ma Tayjin tertegun. Sementara para penduduk yang berdiri di luar kantor sudah mulai berteriak-teriak.

"Hukum Ma Tayjin! Dia telah membuat para penduduk kota ini sengsara!"

"Pengawal, cepat usir orang-orang itu!"

Bentak Ma Tayjin. Para pengawal diam saja. Maka sudah barang tentu Ma Tayjin menjadi bertambah gusar, Sehingga wajahnya menjadi merah padam.

"Kenapa kalian diam saja? Apakah kalian juga mau dihukum?"

"Ma Tayjin!"

Sahut Lu Hui San dingin.

"Mereka takut kepadaku. Maka bagaimana mungkin mereka berani menuruti perintahmu?"

"Engkau...."

Ma Tayjin melotot.

"Ma Tayjin, hari ini aku harus menghukummu!"

Tegas Lu Hui San sambil melangkah maju ke hadapan pembesar itu, kemudian mengeluarkan sebuah medali pemberian Lu Thay Kam.

"Kenal benda ini?"

"Haaah...?"

Ma Tayjin dan penasihatnya terbelalak, dan sekujur badan mereka pun mulai menggigil ketakutan.

"Maaf! Maaf...."

Ma Tayjin dan penasihatnya segera memberi hormat kepada Lu Hui San, tetapi gadis itu hanya tersenyum dingin.

"Kini kalian berdua sebagai terdakwa, maka cepat berdiri di sana!"

Bentak Lu Hui San.

"Ya, ya...."

Ma Tayjin dan penasihatnya menurut, lalu segera berdiri di tengah-tengah ruang itu dengan kaki bergemetar.

Ternyata mereka mengenali medali itu.

Sementara para pengawal, petugas dan penduduk kota yang berdiri di luar terheran-heran menyaksikannya.

Mereka sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi.

Lu HUi San duduk di kursi Ma Tayjin, kemudian mendadak ia memukul meja, sehingga membuat jantung Ma Tayjin dan penasihat itu nyaris copot.

"Kalian berdua masih belum berlutut?"

Ma Tayjin dan penasihatNya segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Lu Hui San.

Para pengawal dan para petUgas tercengang melihatnya.

Sedangkan para penduduk kota yang ada diluar langsung bersorak-sorak.

"Ma Tayjin berlutut! Ha ha ha!"

"Ma Tayjin harus dihukum, karena dia pembesar korup!"

Betapa terkejutnya Ma Tayjin dan penasihat itu ketika mendengar suara seruan. Wajah mereka langsung berubah pucat pias "Nona, aku bukan pembesar korup!"

"BOhong!"

Terdengar suara sahutan di luar.

"Dia sembarangan menaikkan pajak demi kantongnya sendiri!"

"Nona, itu... itu...

"Tergagap Ma Tayjin.

"Maksudmu itu adalah peraturan dari ibu kota?"

Tanya Lu Hui San.

"Yaa!"

Ma Tayjin mengangguk.

"Oh?"

Lu Hui San menatap penasihat itu, kemudian tanyanya dingin.

"Betulkah itu peraturan dari ibu kota?"

Penasihat itu menundukkan kepala.

"Baik!"

Lu Hui San tertawa dingin.

"Kalau engkau tidak mau menjawab dengan jujur, akan kupenggal kepalamu!"

"Ampun! Ampun...!"

Penasihat itu segera membenturkan kepalanya ke lantai.

"Jangan penggal kepalaku!"

"Kalau begitu, engkau harus menjawab dengan jujur!"

Bentak Lu Hui San.

"Sebetulnya, itu bukan peraturan dari ibu kota, me1ainkan..."

"Dia yang mengusulkan menaikkan pajak para penduduk kota ini!"

Potong Ma Tayjin berkilah sambil menuding penasihat itu.

"Ma Tayjin bertanya padaku, karena isterinya lebih dan sepuluh. Mereka harus hidup mewah. Karena itu, aku terpaksa mengusulkan begitu,"

Sahut penasihat itu.

"Isterinya juga banyak, lebih dan lima! Maka hasil kenaikan pajak itu kami bagi dua."

Ma Tayjin memberitahukan.

"Bagus! Bagus!"

Lui Hui San tertawa dingin.

"Kalian berdua memang telah bekerja-sama, maka aku harus menghukum kalian!"

"Ampun! Ampun...!"

"Nona!"

Terdengar suara seruan di luar.

"Jangan memberi ampun pada mereka!"

Lui Hui San manggut~manggUt, kemudian berseru.

"Petugas!"

"Ya!"

Sahut para petugas itu sambil memberi hormat.

"Siapa di antara kalian yang bersedia melaksanakan tugas untuk memukul pantat mereka berdua?"

Tanya Lui Hui San.

"Kami semua bersedia!"

Sahut para petugas.

Mereka memang merasa sakit hati terhadap Ma Tayjin dan penasihatnya, lantaran sering dicaci-maki.

Ma Tayjin dan penasihat itu bersenang-senang dengan para isterinya, sementara mereka harus menghadapi para penduduk kota yang kadang-kadang mengamuk di kantor itu.

"Bagus!"

Lu Hui San manggut-manggut lalu berseru.

"Pengawal!"

"Ya!"

Sahut para pengawal sambil memberi hormat.

"Tengkurapkan Ma Tayjin dan penasihatnya!"

Para pengawal itu langsung menekan badan Ma Tayjin dan penasihat itu sampai tengkurap dilantai.

"Ampun, Nona! Ampun... kami tidak akan bertindak sewenang-wenang lagi!"

Ujar Ma Tayjin berjanji.

"Tapi sesuai dengan hukum kerajaan, kalian berdua harus ditindak!"

Sahut Lui Hui San, lalu memberi perintah kepada para petugas.

"Pukul pantat mereka masing-masing dua puluh lima kali!"

Para petugas segera mengambil alat pemukul.

"Ampun.!"

Tak lama kemudian terdengar suara pukulan.

"Aduuuh! Aduuuh!"

Jerit Ma Tayjin dan penasihat itu kesakitan.

"Aduuh... .!"

"Asyiiik!"

Seru para penduduk kota yang diluar.

"Rasakan sekarang, mereka berdua sering menyuruh para petugas memukul kita, kini giliran mereka dipukul! Asyiiiik!"

Setelah memukul dua puluh lima kali, barulah para petugas itu berhenti. Ma Tayjin dan penasihatnya merintih-rintih. Pantat mereka membengkak dan memar.

"Nona!"

Ujar para petugas sambil memberi hormat.

"Kami ingin mengundurkan diri, tidak mau jadi petugas di sini lagi!"

"Baik!"

Lui Hui San mengangguk.

"Kami juga tidak mau jadi pengawal di sini lagi!"

Ujar para pengawal sambil memberi hormat.

"Tidak apa-apa!"

Lu Hui San manggut-manggut, kemudian menuding penasihat yang masih tengkurap di lantai.

"Cepat berikan mereka pesangon tiga bulan gaji, cepat!"

Penasihat itu segera bangkit berdiri, tapi terjatuh lagi. Terpaksalah ia merangkak ke dalam.

"Horeee!"

Seru para penduduk kota yang diluar.

"Ada anjing merangkak-rangkak!"

Tak seberapa lama kemudian, penasihat itu sudah kembali ke ruang depan dengan tertatih-tatih. Ia lalu memberikan uang pesangon kepada para petugas dan pengawal tersebut.

"Nona! Kami ucapkan banyak terimakasih. Sampai jumpa!"

Mereka segera meninggalkan ruang kantor itu sambil tertawatawa.

"Nah, dengar baik-baik! Mulai sekarang kalian tidak boleh bertindak sewenang-wenang lagi! Kalau kalian masih berlaku begitu...."

"Ya, ya!"

Ma Tayjin berusaha bangkit berdiri.

"Kami tidak berani lagi!"

"Bagus, bagus!"

Lu Hui San tertawa, lalu meninggalkan ruang kantor itu sambil tersenyum-senyum. Para penduduk kota bersorak sorai penuh kegembiraan.

"Terimakasih, Nona! Terimakasih...!"

Sementara Ma Tayjin dan penasihatnya berbisik-bisik. Wajahnya masih tampak pucat pias.

"Tahukah engkau siapa gadis itu?"

"Tentunya dia utusan dan Lu Kong Kong,"

Jawab penasihat itu dengan suara rendah.

"Kalau tidak salah, gadis itu adalah putri kesayangan Lu Kong Kong."

Ma Tayjin memberitahukan.

"Haaah?!"

Penasihat itu nyaris pingsan seketika, kemudian meraba-raba kepalanya seraya berkata.

"Untung kepalaku tidak copot!" -oo0dw0oo-Setelah meninggalkan kota itu, Lu Hui San melanjutkan perjalanannya. Hatinya merasa geli teringat akan kejadian yang lucu tadi. Hingga hari menjelang sore, Ia sampai di sebuah tempat yang agak sepi. Mendadak Ia mendengar suara dentangan senjata, seperti suara pertarungan. Cepat dia melesat menuju tempat asalnya suara itu. Setibanya di situ, ia melihat belasan orang berpakaian merah tengah mengeroyok seorang pemuda dan seorang gadis. Menyaksikan itu, timbullah niatnya untuk membantu.

"Sungguh tak tahu malu kalian, belasan orang mengeroyok dua orang!"

Bentak Lu Hui San sambil mendekati mereka yang sedang bertarung, membuat mereka berhenti seketika.

"Siapa engkau?"

Bentak salah seorang berpakaian merah.

"Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Pokoknya aku harus bantu mereka!"

Sahut Lu Hui San sambil menghunus pedangnya.

"Haaaa?"

Terbelalak belasan orang berpakaian merah. Mereka tampak terkejut.

"Han Kong Kiam (Pedang Cahaya Dingin)! Mari kita kabur!"

Belasan orang berpakaian merah langsung melarikan diri. Melihat hal itu Lu Hui San tercengang. Kemudian ia menyarung pedangnya kembali.

"Kenapa mereka begitu takut pada pedangku?"

Gumamnya dengan kening berkerut.

"Nona!"

Pemuda itu mendekati Lu Hui San sambil memberi hormat "Terimakasih atas bantuanmu.

"Sama-sama,"

Sahut Lu Hui San sambil tersenyum.

"Terimakasih Nona."

Gadis itU pun memberi hormat.

"Namaku Lam Kiong Soat Lan, dan kawanku Toan Beng Kiat. Bolehkah kami tahu namamu?"

"Namaku Lu Hui San!"

Jawabnya sambil balas memberi hormat.

"NAma yang indah sekali..."

Ujar Toan Beng Kiat. Namun ucapan itu ditahannya. Dan wajahnya tampak memerah.

"Terimakasih atas pujianmu,"

Ucap Lu Hui San.

"Beng Kiat!"

Lam Kiong Soat Lan tertawa kecil.

"Selain indah namanya, orangnya pun cantik sekali,"

Ujarnya bernada menyindir.

"Soat Lan..."

Wajah Toan Beng Kiat bertambah merah. Sementara Lu Hui San tersenyum-senyum lalu bertanya.

"Kalian berdua kAkak beradik?"

"Boleh dikatakan begitu,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan menjelaskan.

"KarEna kami adalah famili dekat."

"Oooh!"

Lu Hui San manggut-manggut.

"Oh ya, siapa sebenarnya orang-orang berpakaian merah itu?"

"Mereka para anggota Hiat Ih Hwe,"

Jawab Toan Beng Kiat.

"Kenapa kalian bertarung dengan mereka?"

Tanya Lui Hui San lagi.

"Mereka ingin membunuh kami, maka kami terpaksa melawan,"

Jawab Lam Kiong Soat Lan.

"Kalian punya dendam dengan mereka?"

"Sesungguhnya tidak."

"Kalau begitu, kenapa mereka ingin membunuh kalian?"

"Entahlah!"

Toan Beng Kiat menggeleng kepala.

"Ketika kami sampai di sini, mendadak mereka muncul dan langsung menyerang kami."

"Kalau begitu, mungkin ada salah paham?"

Tukas Lu Hui San.

"Kami sama sekali tidak mengerti,"

Lam Kiong Soat Lan menggeleng~gelengkan kepala.

"Oh ya! Kenapa mereka begitu takut melihat pedangmu?"

"Aku sendiri justru tidak habis berpikir,"

Ujar Lu Hui San.

"Memang membingungkan."

"Siapa yang menghadiahkan pedang itu padamu?"

Tanya Toan Beng Kiat mendadak sambil memandangnya. Ia sangat terkesan baik terhadap gadis itu.

"Ayahku!"

Lu Hui San memberitahUkan.

"Kalau begitu...."

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Ayahmu pasti sangat terkenal sekali. Orang-orang tadi mEngenali pedang milik ayahmu."

Lu Hui San hanya tersenyum.

"Siapa ayahmu?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Ayahku bernama Lu Kam Thay,"

Jawab Lu Hui San, sengaja membalikkan kata "Thay Kam"

Jadi "Kam Thay".

"Lu Kam Thay..?"

Gumam Lam Kiong Soat Lan.

"Maaf bolehkah kami mengetahui julukan ayahmu?"

"Ayahku tidak punya julukan,"

Sahut Lu Hui San sambil tersenyum.

"Oooh!"

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut. Tiba-tiba muncul beberapa orang yang segera memberi hormat pada Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soan Lan, dan Lu Hui San.

"Maaf, kami mengganggu kalian!"

Ucap salah seorang itu dan memberitahukan.

"Kami adalah anggota Tiong Ngie Pay...."

"Tiong Ngie Pay?"

Tanya Toan Beng Kiat dengan wajah berseri, karena pernah mendengar perkumpulan tersebut dari kakeknya.

"Ya!"

Orang itu mengangguk dan memberi hormat lagi.

"Ketua kami mengundaNg kalian kemarkas!"

Toan Beng Kiat melirik Lam Kiong Soat Lan. Terdengar suara menggumam dan mulutnya, Seperti ragu untuk mengucapkan kata-kata. Namun Lam Kiong Soat Lan mendahuluinya.

"Baik!"

Gadis itu mengangguk.

"Terimakasih!"

Ucap anggota Tiong Ngie Pay itu sambil tertawa gembira "Mari ikut kami""

Sementara Toan Beng Kiat memandang Lu Hui San, kemudian berkata dengan penuh harap.

"Nona Hui San, mari ikut kami ke markas Tiong Ngie Pay!"

"Baik!"

Lu Hui San mengangguk "Terimakasih!"

Ucap Toan Beng Kiat tanpa sadar.

"Eh?"

Lu Hui San tersenyum "Kenapa engkau mengucapkan tenmakasih padaku? Itu tidak perlu!"

"Aku..."

Toan Beng Kiat tergagap dengan wajah kemerahmerahan "Karena girang, maka mengucapkan terimakasih padamu!"

Sindir Lam Kiong Soat Lan sambil tertawa "Jadi, dia mengucapkan terimakasih atas kesediaanmu ikut ke markas Tiong Ngie Pay!"

"Oooh!"

Lu Hui San tersenyum lagi.

Mereka bertiga mengikuti para anggota Tiong Ngie Pay menuju markas mereka.

Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di markas tersebut Yo Suan Hiang, Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him menyambut kedatangan mereka dengan penuh kegembiraan dan kehangatan.

"Terimakasih atas kedatangan kalian!"

Ucap Yo Suan Hiang "Silakan duduk!"

Mereka bertiga duduk, Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan terus memandang Yo Suan Hiang "Ka1au tidak salah, engkau pasti Bibi Suan Hiang, kan?"

"Betul"

Yo Suan Hiang mengangguk.

"Siapa yang memberitahukan pada kalian?"

"Kakekku,"

Jawab Toan Beng Kiat. Yo Suan Hiang manggut-manggut sambil tersenyum.

"Kakekmu pasti Gouw Han Tiong, dan ayahmu tentunya Toan Wie Kie, sedangkan ibumu bernama Gouw Sian Eng! Ya, kan?"

"Bagaimana Bibi bisa tahu?"

Tanya Toan Beng Kiat, merasa heran.

"Tentu tahu, sebab aku kenal kakek dan kedua orang tuamu,"

Ujar Yo Suan Hiang sambil memandang Lam Kiong Soat Lan.

"Engkau pasti putri kesayangan Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian. Begitu, bukan?"

Lam Kiong Soat Lan tercengang mendengar ucapan wanita itu.

"Karena aku kenal kedua orang tuamu, bahkan juga kenal Lam Kiong hujin yang telah tiada itu!"

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut.

"Gadis ini..."

Yo Suan Hiang menatap Lu Hui San, karena tidak mengenalnya.

"Siapa gadis ini?"

"Namanya Lu Hui San,"

Jawab Toan Beng Kiat memperkenalkan.

"Kami baru berkenalan, dia membantu kami mengusir para anggota Hiat Ih Hwe."

Yo Suan Hiang manggut-manggut sambil tersenyum.

"Terima kasih atas kedatanganmu, Nona!"

Lu Hui San juga tersenyum.

"Bibi, panggil namaku saja!"

Pintanya merendah.

"Baik."

Yo Suan Hiang mengangguk.

"Oh ya, Tio Bun Yang telah ke mari, tapi sudah pergi."

"Sayang sekali!"

Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kepala.

"Padahal kami ingin sekali bertemu dia!"

"Oh ya!"

Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Kam Hay Thian juga sudah kemari? "Kam Hay Thian? Siapa dia?"

Tanya Toan Beng Kiat.

"Dia putra Kam Pek Kian dan Lie Siu Sien. Ayahnya sudah meninggal"

Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Ayah Tio Bun Yang kenal mereka. Beberapa hari yang lalu, dia meninggalkan markas ini!"

Sementara beberapa anggota sibuk menyuguhkan minuman. Tak lama kemudian mereka bersulang bersama sambil tertawa riang gembira.

"Oh ya,"

Ujar Yo Suan Hiang.

"Bagaimana jika kalian tinggal di sini beberapa hari?"

"Maaf, Bibi!"

Jawab Toan Beng Kiat.

"Kami masih ada urusan lain, jadi tidak bisa tinggal disini!"

"Kalau begitu..."

Yo Suan Hiang tersenyum.

"Malam ini kalian menginap di sini saja, besok baru pergi? Toan Beng Kiat mengangguk.

"Baiklah, Bibi."

Mereka menginap semalam di markas Tiong Ngie Pay.

Keesokan harinya barulah mereka meninggalkan markas itu.

-oo0dw0oo-Sementara itu, para anggota Hiat Ih Hwe telah sampai di markas.

Mereka langsung melapor pada Gak Cong Heng yang baru diangkat menjadi wakil ketua, menggantikan Lie Man Chiu yang sekian lama tak kembali ke markas.

"Wakil Ketua, ketika kami bertarung dengan seorang pemuda dan seorang gadis, mendadak muncul gadis lain yang menggunakan pedang Han Kong Kiam..."

"Apa?!"

Bukan main terkejutnya Gak Cong Heng mendengar laporan itu.

"Kalian bertarung dengan gadis itu?"

"Tidak, Wakil Ketua. Kami langsung kabur!"

"Bagus!"

Gak Cong Heng menghela nafas lega.

"Untung kalian tidak bertarung dengan gadis itu!"

"Wakil Ketua, bolehkah kami bertanya...."

"Aku tahu, kalian mau bertanya apa. Kenapa tidak boleh mengganggu gadis pemilik pedang Han Kong Kiam, kan?"

"Betul."

"Aku akan memberitahukan pada kalian. Tapi kalian tidak boleh membocorkan rahasia ini! Siapa yang berani membocorkan, akan dihukum mati!"

Para anggota menganggukkan kepala.

"Kalian harus tahu, gadis itu adalah... putri kesayangan Lu Kong Kong!"

"Haaah?"

Wajah para anggota itu langsung berubah pucat.

"Untung kami tidak bertarung dengan gadis itu."

"Ingat, apabila kalian bertemu gadis itu, harus segera melarikan diri. Pokoknya tidak boleh mengganggunya!"

Malam harinya, ketika Lu Thay Kam datang ke markas Hiat Ih Hwe, segeralah Gak Cong Heng melapor tentang itu.

"Ngmmm!"

Lu Thay Kam manggut-manggut dan menegaskan.

"Pokoknya para anggota tidak boleh mengganggu putriku jika bertemu dia harus segera kabur!"

Gak Cong Heng mengangguk.

"Aku dengar, belum lama ini telah muncul Seng Hwee Kauw dalam rimba persilatan Kalian, harus selidiki siapa ketua Seng Hwee Kauw itu?"

"Baik, Lu Kong Kong."

Gak Cong Heng mengangguk lagi.

"Alangkah baiknya kita bisa bekerjasama dengan Seng Hwee Kauw. Jadi, perkumpulan kita pasti jadi kuat sekali."

"Aku akan coba melaksanakan itu,"

Ujar Gak Cong Heng berjanji.

"Apabila Hiat Ih Hwe bisa bekerjasama dengan Seng Hwee Kauw,kita pun boleh memanfaatkan mereka untuk membunuh para menteri dan jenderal yang setia."

"Betul! Ha-ha-ha...!"

Lu Thay Kam tertawa gelak.

"Ha-haha...!" -oo0dw0oo. Bagian 22 Membunuh para Anggota Seng Hwee Kauw Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lu Hui San melanjutkan perjalanan sambil tertawa riang gembira. Hubungan mereka semakin akrab, bahkan Toan Beng Kiat kelihatan telah jatuh hati padanya. Akan tetapi, sikap Lu Hui San biasa-biasa saja. Itu membuat Toan Beng Kiat agak kecewa tapi tetap penuh harapan. Semua itu tidak terlepas dari mata Lam Kiong Soat Lan. Tampaknya ia berniat membantu Toan Beng Kiat secara diam-diam. Hari ini mereka bertiga sampai di sebuah rimba. Ketiganya beristirahat di bawah sebuah pohon.

"Sungguh indah rimba ini!"

Ujar Toan Beng Kiat sambil menoleh ke arah Lu Hui San yang duduk di sisi Lam Kiong Soat Lan.

"Sebetulnya rimba ini tidak indah,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan sambil tersenyum.

"Hanya karena keberadaan Hui San di sini, membuat rimba ini berubah indah."

"Soat Lan!"

Wajah Toan Beng Kiat agak kemerah-merahan "AkU bicara sesungguhnya."

"Aku pun bicara sesungguhnya,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan sambil melirik Lu Hui San "Ya, kan"

"Bagaimana mungkin diriku bisa menambah keindahan rimba ini"

Tukas Lu Hui San menyelak pembicaraan itu. Mulutnya tertawa geli.

"Itu menurut pandangan Beng Kiat"

Lam Kiong Soat Lan tertawa dan menambahkan "Hui San, Beng Kiat kelihatan sangat tertarik padamu,"

Bisiknya kepada Hui San.

"Oh?"

Lu Hui San tersenyum.

"Sesungguhnya kita semua adalah teman...."

"Jadi engkau tidak tertarik pada Beng Kiat?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan mendadak sambil menatapnya.

"Itu akan mengecewakan Beng Kiat, lho!"

"Kita baru berkenalan, belum waktunya untuk membicarakan tentang itu."

Sahut Lu Hui San, tersenyum.

"Kalau begitu..."

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut.

"Masih perlu waktu."

"Soat Lan!"

Tegur Toan Beng Kiat.

"Jangan membicarakan ini, sebab Hui San akan tersinggung."

"Aku tidak akan tersinggung, kita sama-sama teman. Bagaimana mungkin aku begitu gampang tersinggung?"

Ujar Lu Hui San.

"Bagus!"

Lam Kiong Soat Lan tersenyum lebar.

"HUi San, engkau memang gadis yang baik!"

"Engkaupun begitu."

Mendadak mereka mendengar suara jeritan wanita minta tolong.

Mereka bertiga saling memandang, lalu segera beriari menuju tempat asal suara itu.

Terlihat belasan orang berpakatan hijau berusaha memperkosa seorang wanita.

Mati-matian wanita itu meronta, menendang, dan menggigit.

Plaaak!

Salah seorang berpakaian hijau menamparnya.

"Aduuuh!"Wanita itu jatuh. Pakaiannya telah tersobek sanasini tidak karuan. Betapa gusarnya Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lu Hui San menyaksikan. Mereka bertiga serentak membentak.

"Berhenti!"

Belasan orang berpakaian hijau menoleh Ketika melihat Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San, tertawalah mereka.

"Ha ha ha! Ada gadis cantik mengantarkan diri, kita akan bersenang-senang dengan mereka!"

"Siapa kalian? Kenapa begitu kurang ajar?"

Tanya Toan Beng Kiat sambil mengerutkan kening.

"Kami anggota Seng Hwee Kauw!"

"Oooh!"

Toan Beng Kiat manggut-manggut.

"Ternyata kalian para anggota Seng Hwee Kauw. Katakan, siapa ketua kalian!"

"Ketua kami adalah Seng Hwee Sin Kun!"

Sahut salah seorang angota Seng Hwee Kauw sambil menatapnya.

"Oooh, kalian...."

"Memang kami!"

Toan Beng Kiat manggut-manggut.

"Bukankah tempo hari kawan-kawan kalian yang ingin membunuh kami?"

"Ha ha ha!"

Anggota Seng Hwee Kauw tertawa gelak.

"Kami memang sedang cari kalian, tak disangka bertemu di sini! Ha ha! Hari ini kalian harus mampus!"

"Oh?"

Toan Beng Kiat mulai menghunus pedangnya, begitu pula Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San.

"Serang mereka!"

Seru anggota Seng Hwee Kauw yang rupanya pimpinan gerombolan berpakaian hijau itu.

Belasan anggota Seng Hwee Kauw langsung menyerang Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lu Hui San dengan berbagai macam senjata tajam.

Terjadilah pertarungan sengit, Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan menggunakan Thian Liong Kiam Hoat, sedangkan Lu Hui San menggunakan Ie Hoa Ciap Bok Kam Hoat.

Pertarungan berjalan imbang, karena belasan anggota Seng Hwee Kauw berkepandaian cukup tinggi.

Karena itu, Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lu Hui San harus mengeluarkan jurus-jurus andalan.

Toan Beng Kiat berhasil melukai salah seorang anggota Seng Hwee Kauw, setelah mengeluarkan jurus Thian Liong Jip Hai (Naga Kahyangan Masuk Ke Laut).

Lam Kiong Soat Lan juga berhasil melukai seorang anggota Seng Hwee Kauw.

Ternyata ia mengeluarkan jurus Thian Liong Cioh Cu (Naga Kahyangan Merebut Mutiara).

Mereka berdua masih belum menggunakan Kim Kong Cap Sah Ciang (Tiga Betas Jurus Pukulan Cahaya Emas), sebab mereka belum dalam bahaya.

Lu Hui San juga telah berhasil melukai lawannya, Ia mengeluarkan jurus Hoa Khay Yap Cing (Bunga Memekar Daun Menghijau).

Tiga anggota Seng Hwee Kauw telah terluka, mereka roboh dengan mulut merintih-rintih kesakitan, karena bahu mereka terluka oleh pedang.

"Cepat serang mereka dengan senjata rahasia!"

Seru kepala anggota Seng Hwee Kauw.

Seketika para anggota Seng Hwee Kauw menyerang mereka bertiga dengan berbagai macam senjata rahasia Sementara Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San segera berdiri ke arah tiga jurusan dengan punggung saling bertemu punggung.

Begitu mendengar suara desiran senjata rahasia, mereka pun langsung memutarkan pedang masing-masing membentuk payung untuk menangkis serangan maut itu.

Ting!

Tang!

Tring!

Semua senjata rahasia tertangkis dan jatuh berpentalan.

Bersamaan dengan itu tampak sosok bayangan melayang turun.

Tanpa berbasa-basi lagi, orang itu langsung menyerang para anggota Seng Hwee Kauw itu.

Sosok bayangan yang ternyata Kam Hay Thian menyerang mereka menggunakan Pak Kek Kiam Hoat.

Mengeluarkan jurus Keng Thian Tung Te (Mengejutkan Langit Menggetarkan Bumi).

Seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

Dua anggota Seng Hwee Kauw terkapar berlumuran darah.

Dada mereka berlubang tertembus pedang Kam Hay Thian.

Dua nyawa pun melayang seketika.

Kemunculan Kam Hay Thian membuat Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lu Hui San merasa memperoleh bantuan.

Mereka menyerang lebih cepat Hingga hanya beberapa jurus mereka berhasil melukai iawan-lawannya.

Yang paling ganas adalah Kam Hay Thian.

Dia sama sekAli tidak memberi ampun pada para anggota Seng Hwee Kauw.

Hanya sebentar saja ia telah membunuh delapan anggota Seng Hwee Kauw.

Sisa enam orang telah dilukai Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lui Hui San.

Keenam anggota Seng Hwee Kauw itu merintih-rintih kesakitan.

Saat itu Kam Hay Thian mengayunkan pedangnya ke arah mereka.

"Aaakh! Aaaakh....!"

Terdengarlah suara yang menyayat hati.

Dada keenam anggota Seng Hwee Kauw tertembus pedang Kam Hay Thian.

Darah segar mengucur deras, membasahi tubuh mereka yang seketika itu juga telah berjatuhan tewas Dengan tenang Kam Hay Thian menyarungkan pedangnya.

Sementara Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lui Hui San menatapnya terbelalak kaget Mereka tidak menyangka pemuda itu begitu sadis.

"Terima kasih atas bantuan Anda."

Ucap Toan Beng Kiat seraya mendekatinya.

"Aku bernama Toan Beng Kiat, mereka berdua bernama Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San."

"Oooh!"

Kam Hay Thian balas memberi hormat.

"Namaku Kam Hay Thian, julukanku adalah Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat)!"

"Kam Hay Thian?"

Terperangah Toan Beng Kiat. Begitu pula Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San.

"Kalian kenal aku?"

Kam Hay Thian juga tertegun akan sikap mereka, padahal ia tidak kenal mereka.

"Kami tahu tentang engkau,"

Sahut Toan Beng Kiat sambil tersenyum.

"Bibi Suan Hiang yang memberitahukan."

"Kalau begitu, tentunya kalian sudah pergi kemarkas Tiong Ngie Pay,"

Tukas Kam Hay Thian sambil tersenyum.

"Betul."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Eeeeh?"

Mendadak Lam Kiong Soat Lan menengOk ke sana ke mari.

"Kemana wanita itu?"

"Sudah pergi,"

Sahut Kam Hay Thian.

"Aku melihat dia kabur terbirit-birit ketakutan."

"Oooh!"

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut sambil menatapnya. Kelihatannya gadis ini sangat tertarik pada pemuda itu.

"Julukanmu Chu Ok Hiap, pantas tidak memberi ampun pada mereka,"

Ujar Toan Beng Kiat.

"Kita jangan mengobrol di sini!"

Sela Lam Kiong Soat Lan.

"Tempat ini sudah berubah seram dengan adanya mayatmayat itu. Mari kita cari tempat lain saja!"

Mereka meninggalkan tempat itu, menuju sebuah sungai tak jauh dan tempat pertempuran.

"Mari kita duduk di pinggir sungai. Lihat, Airnya jernih sekali!"

Seru Lam Kiong Soat Lan girang.

"Baik!"

Kam Hay Thian menyambut gembira. Mereka segera menuju ke pinggir sungai, kemudian duduk di sana dan mulai mengobrol. Kam Hay Thian manggut-manggut sambil memandangi Toan Beng Kiat.

"Saudara Kam, kepandaianmu sungguh tinggi sekali,"

Puji Toan Beng Kiat kagum.

"Bolehkah kami tahu siapa gurumu?"

"Aku...."

Tergagap Kam Hay Thian sambil menggelenggelengkan kepala.

"Aku tidak punya guru."

"Luar biasa!"

Sela Lam Kiong Soat Lan sambil tertawa kecil.

"Tidak punya guru kok bisa berkepandaian begitu tinggi?"

"Aku belajar sendiri di dalam sebuah goa...."

Jawab Kam Hay Thian lalu menuturkan tentang itu.

"Oh"

Toan Beng Kiat terbelalak "Guru kami pernah menceritakan tentang kitab pusaka itu!"

"Siapa guru kalian?"

"Tayli Lo Ceng"

Sahut Toan Beng Kiat "Guru kami bilang, kitab-kitab pusaka itu milik Bu Lim Sam Mo""

Toan Beng Kiat menyapa sambil memandangi Kam Hay Thian.

"Saudara Kam, engkau sungguh beruntung memperoleh kitab-kitab pusaka itu. Tapi harus hati-hati, jangan sampai direbut orang!"

Ujar Toan Beng Kiat "Kitab-kitab pusaka itu telah kubakar, aku khawatir akan direbut penjahat."

"Hay Thian!"

Lam Kiong Soat Lan memanggil namanya "Kenapa engkau begitu sadis? Sama sekali tidak memberi ampun pada para anggota Seng Hwee Kauw tadi"

"Nona Soat Lan,"

Kam Hay Thian menjelaskan.

"Sesuai dengan julukan, Aku tidak memberi ampun pada para penjahat"

"Chu Ok Hiap""

Lam Kiong Soat Lan tertawa "Julukan itu memang cocok untukmu!"

Kam Hay Thian manggut-manggut, sementara Lu Hui San yang sejak tadi terdiam mulai membuka mulut.

"Kenapa engkau begitu membenci para penjahat""

"Sebab ayahku dibunuh penjahat, maka aku harus membasmi mereka!"

Sahut Kam Hay Thian.

"Oh ya, kenapa kalian juga bertarung dengan para penjahat itu?"

"Mereka ingin memperkosa wanita yang kabur terbirit-birit itu,"

Jawab Lam Kiong Soat Lan.

"Kalian tahu siapa mereka itu?"

"Mereka para anggota Seng Hwee Kauw."

"Seng Hwee Kauw?"

Gumam Kam Hay Thian dengan wajah berubah.

"Eh""

Lam Kiong Soat Lan menatapnya "Kenapa engkau?"

"Kalian tahu siapa ketua mereka?"

Tanya Kam Hay Thian dengan mata mulai membara.

"Seng Hwee Sin Kun."

"Pasti dia! Pasti dia!"

Seru Kam Hay Thian sambil meloncat bangun "Aku harus bunuh dia! Aku harus bunuh dia!"

"Saudara Kam!"

Toan Beng Kiat segera bangkit berdiri. Dipegangnya bahu pemuda itu.

"Tenang, duduklah!"

"Maaf!"

Ucap Kam Hay Thian sambil duduk kembali.

"Aku terlampau emosi!"

"Engkau kenal Seng Hwee Sin Kun itu?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan sambil menatapnya.

"Ada dendam di antara kalian?"

"Mungkin Seng Hwee Sin Kun itulah pembunuh ayahku,"

Jawab Kam Hay Thian penuh kegeraman.

"Tanpa sengaja ayahku menotong Seorang tua, sebelum orang tua itu menghembuSkan nafas penghabisan, dia menyerahkan sebuah kitab pada ayahku,"

Kam Hay Thian menghela nafas dan melanjutkan.

"Karena kitab itu, maka ayahku dibunuh penjahat itu."

"Penjahat itu merebut kitab tersebut?"

Tanya Toan Beng Kiat.

"Ya!"

Kam Hay Thian mengangguk.

"Kitab apa itu?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Kitab Seng Hwee Cin Keng,"

Jawab Kam Hay Thian memberitahukan "Kitab ilmu silat yang amat tinggi sekali.

"Seng Hwee Cin Keng "gumam Toan Beng Kiat.

"Seng Hwee.... tidak salah lagi, Seng Hwee Sin Kun adalah penjahat yang membunuh ayahku, mungkin juga dialah pembunuh kakek tuaku"

"Memang mungkin""

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut "Penjahat itu juga pembunuh nenekku."

"Oh? Bagaimana cara kematian mereka "

Tanya Kam Hay Thian.

"Mati hangus."

Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.

"Kalau begitu tidak salah lagi, pasti penjahat itu!"

Ujar Kam Hay Thian.

"Karena Seng Hwee Sin Kang mengandung semacam hawa api yang dapat menghanguskan apapun!"

"Kita punya musuh yang sama!"

Ujar Lam Kiong Soat Lan.

"Bagaimana kalau kita menyerang ke markas mereka?"

"Kita tidak tahu di mana markas mereka"

Kam Hay Thian menggeleng-gelengkan kepala.

"Lain kali kalau kita bertemu anggota Seng Hwee Kauw lagi, kita harus bertanya di mana markas mereka itu."

"Aku setuju,"

Kam Hay Thian manggut-manggut.

"Jangan berlaku ceroboh!"

Sela Toan Beng Kiat.

"Lebih baik memberitahukan dulu pada kakekku dan kakek Lim, bagaimana menurut pendapat mereka!"

"Kalau begitu, lebih baik aku saja yang pergi menyerang markas Seng Hwee Kauw itu,"

Tandas Kam Hay Thian.

"Jangan gegabah!"

Ujar Lu Hui San memperingatkan.

"Kepandaian Seng Hwee Sin Kun itu sangat tinggi, dia pasti telah berbasil mempelajari Seng Hwee Cin Keng itu. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia mendirikan Seng Hwee Kauw dan menyebut dirinya Seng Hwee Sin Kun! Karena itu, sebelum bertindak, lebih baik kita pikirkan secara matang dulu!"

"Betul!"

Sahut Toan Beng Kiat.

"Nona Hui San,"

Ujar Kam Hay Thian dengan kening berkerut.

"Aku bukan sok jago, aku tak sabar ingin membalas dendam."

"Aku mengerti itu."

Lu Hui San manggut-manggut.

"Tapi, alangkah baiknya kita terima saran Beng Kiat."

Kam Hay Thian berpikir lama sekali, sebelum akhirnya mengangguk.

"Baiklah, aku menuruti pendapat Saudara Toan!"

"Setelah kita tahu di mana markas Seng Hwee Kauw, barulah kita pergi ke markas pusat Kay Pang,"

Ujar Lam Kiong Soat Lan.

"Sekarang belum perlu. Kemudian, kalau ada apaapa, lebih baik kita berunding dulu."

"Betul!"

Lu Hui San manggut-manggut.

"Kita semua sudah saling berteman, jadi di antara kita mesti ada saling pengertian. Jauhkan sikap keras kepala kita!"

"Nona Hui San!"

Kam Hay Thian tersenyum.

"Sebetulnya aku tidak keras kepala, cuma... ingin lekas-lekas membalas dendam saja!"

"Nah!"

Lu Hui San tertawa kecil.

"Engkau mengatakan begitu, itu berarti telah mengaku dirimu keras kepala.

"Eeeh?"

Kam Hay Thian tertegun.

"Aku....?"

"Maaf!"

Ucap Lu Hui San sambil tersenyum.

"Apabila ucapanku tadi menyinggung perasaanmu, aku mohon maaf."

"Aku tidak tersinggung, sungguh!"

Kam Hay Thian tersenyum.

"Oh ya, kalian mestinya bisa bersikap adil pula."

"Memangnya kenapa?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Kalian tahu orang tuaku, tapi aku belum tahu siapa orang tua kalian, bukankah kurang adil?"

"Oooh, itu!"

Lam Kiong Soat Lan tertawa.

"Ayahku bernama Lam Kiong Bie Liong, ibuku bernama Toan Pit Lian!"

"Ayahku bernama Toan Wie Kie, kakak kandungnya Toan Pit Lian!"

Toan Beng Kiat menimpali.

"Ibuku bernama Gouw Sian Eng, kakekku adalah wakil ketua Kay Pang!"

"Oooh!"

Kam Hay Thian manggut-manggut, kemudian bertanya pada Lu Hui San yang diam itu.

"Siapa kedua orang tuamu? "Ayahku bernama Lu Kam Thay. Ibuku... sudah lama meninggal,"

Ujar Lu Hui San.

"Nah!"

Ujar Toan Beng Kiat.

"Kini kita berempat adalah teman baik, maka kita harus bersatu melawan Seng Hwee Kauw."

Kam Hay Thian manggut-manggut.

"Tapi...."

Mendadak Toan Beng Kiat memandang Lu Hui San.

"Hui San tidak punya dendam apa-apa dengan Seng Hwee Sin Kun."

"Aku ingin membantu,"

Potong Lu Hui San.

"Boleh, kan?"

"Tentu bo!eh, namun akan membahayakan dirimu! Aku pikir....,"

Toan Beng Kiat menatapnya.

"Tidak perlu dipikir lagi, sebab aku sudah mengambil keputusan untuk membantu kalian!"

"Terima kasih!"

Ucap Toan Beng Kiat, Kam Hay Thian, Lam Kiong Soat Lan serentak sambil tersenyum.

"Ayo!"

Ajak Lu Hui San sambil bangkit berdiri.

"Sudah lama kita duduk di sini, kita lanjutkan perjalanan!"

"Menuju ke mana?"

Tanya Kam Hay Thian.

"Kemana pun boleh,"

Sahut Lu Hui San.

"Ya, kan?"

"Betul!"

Toan Beng Kiat manggut-manggut. Mereka berempat meneruskan perjalanan.

"Mudah-mudahan pihak Seng Hwee Kauw akan muncul, jadi kita bisa bertanya pada mereka berada di mana markas itu,"

Ujar Kam Hay Thian.

"Tapi ingat!"

Pesan Lam Kiong Soat Lan.

"Jangan langsung membunuh mereka, agar kita bisa bertanya pada mereka!"

"Cukup sisakan satu saja,"

Sahut Kam Hay Thian.

"Aku adalah Chu Ok Hiap, tidak bisa mengampuni mereka!"

Lam Kiong Soat Lan menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalian harus tahu,"

Ujar Kam Hay Thian sungguh-sungguh.

"Betapa jahatNya para anggota Seng Hwee Kauw, mereka pasti sering memperkosa dan membunuh. Buktinya mereka juga ingin membunuh kalian, maka apa salahnya aku membasmi mereka?"

"Tapi...."

Lu Hui San menghela nafas.

"...terlampau sadis!"

"Mereka memperkosa dan membunuh, apakah itu tidak sadis?"

Sahut Kam Hay Thian sambil menatapnya.

"Kalau hanya dilukai dengan senjata mereka akan kembali berlaku jahat apabila sudah sembuh. Dan kejahatan mereka akan semakin merajatela. Aku tak inginkan semua itu. Coba kau pikir kalau tidak dibasmi habis para penjahat itu, entah berapa banyak orang yang akan mati ditangan mereka!"

"Sudahlah!"

Sela Toan Beng Kiat sambil tertawa.

"Kita tidak perlu memperdebatkan itu, sebab pikiran orang berbeda. Yang penting, kita jangan melakukan kejahatan."

"Aaah...."

Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Kini aku baru tahu, dalam rimba persilatan memang penuh kejahatan. Pantas ayahku berpesan padaku harus berhati-hati hidup di rimba persilatan.

"Ayahmu benar, maka engkau harus berhati-hati,"

Ujar Toan Beng Kiat lembut sambil memandangnya.

"Aku pun akan melindungimu."

"Terimakasih,"

Ucap Lu Hui San dengan wajah agak kemerah-merahan.

"Jadi engkau cuma melindunginya, lalu bagaimana aku?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan sambil tersenyum.

"Ingat, aku adikmu!"

"Jangan cemas!"

Sahut Toan Beng Kiat sambil tertawa.

"Saudara Kam melindungimu!"

"Eh? Aku..."

Sahut Kam Hay Thian menggeragap "Aku pun harus melindungi diriku sendiri."

"Dasar bodoh engkau!"

Toan Beng Kiat melototinya "Tidak mengerti sama sekali"

"Lho? Kenapa?"

Tanya Kam Hay Thian bingung.

"Aku berbicara sesungguhnya."

Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau betul-betul bodoh!"

"Aku... aku mungkin memang bodoh."

Hay Thian menundukkan kepala, membuat Lam Kiong Soat Lan tertawa geli.

"Engkau tidak bodoh. Kau terlalu jujur dan polos, sobat. Tapi itu sifat yang baik,"

Ujar Lam Kiong Soat Lan.

"Aku suka denganmu!"

"Nah!"

Toan Beng Kiat tertawa.

"Engkau suka apa?"

"Suka sifatnya itu,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan dengan wajah kemerah-merahan.

"Memangnya kenapa?"

"Aku kira..."

Toan Beng Kiat tersenyum-senyum.

"Kau kira apa, heh?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan dengan mata melotot.

"Aku kira itu..."

Gumam Toan Beng Kiat sambil tertawa "Ha-ha-ha...

.!" -oo0dw0oo-Bagian 23 Berangkat ke Tionggoan Beberapa hari ini, Lie Ai Ling selalu marah-marah tidak karuan Tentu saja ini sangat membingungkan kedua orang tuanya Bahkan Tio Tay Seng, kakeknya, juga tidak habis pikir, kenapa cucunya itu selalu marah-marah.

"Cie Hiong!"

Ujar Tio Tay Seng sambil menggelenggelengkan kepala.

"Kenapa beberapa hari ini Lie Ai Ling selalu marah-marah?"

Tio Cie Hiong hanya tersenyum.

"Itu karena kedua orang tuanya belum memperbolehkannya ke Tionggoan,"

Jawabnya kemudian.

"Oh, itu!"

Tio Tay Seng manggut-manggut.

"Cie Hiong, bagaimana menurutmu?"

"Maksud Paman?"

"Bolehkah kita mengijinkan dia pergi ke Tionggoan?"

"Kini dia sudah cukup dewasa, memang tidak baik juga terus mengekangnya. Ada baiknya kita mengijinkannya ke Tionggoan. Lagipula ayahnya telah menjanjikan itu. Tidak baik membohongi anak!"

"Kalau begitu, kita harus membicarakannya dengan kedua orang tuanya,"

Ujar Tio Tay Seng sungguh-sungguh.

"Benar!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Kakak Hiong.."

Ujar Lim Ceng Im.

"Ada baiknya dia pergi ke Tionggoan bersama Goat Nio."

"Tentu saja."

Tio Cie Hiong manggut-manggut. Kebetulan muncul Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa. Tio Tay Seng segera mempersilakan mereka duduk.

"Ada apa, Ayah?"

Tanya Tio Hong Hoa.

"Tahukah kalian kenapa Ai Ling marah-marah?"

Tio Tay Seng balik bertanya sambil memandang mereka. Tio Hong Hoa mengangguk.

"ini karena kami belum mengijinkannya ke Tionggoan!"

"Kenapa?"

Tio Tay Seng mengerutkan kening.

"Dia masih kecil"

"Kini dia sudah dewasa, lagi pula Man chiu pernah menjanjikannya. Jadi tidak baik mengulur-ulur janji."

"Ayah setuju dia ke Tionggoan?"

Tanya Tio Hong Hoa.

"Yaah."

Tio Tay Seng menghela nafas panjang.

"Dia sudah cukup dewasa, ada baiknya juga dia menimba pengalaman di Tionggoan. Lagipula dia akan berangkat bersama Goat Nio."

"Kalau Ayah setuju, kami pun tidak berkeberatan,"

Ujar Tio Hong Hoa.

"Kami akan memberitahukan padanya."

Sementara itu muncul pula Sam Gan Sin Kay, Kim Siauw Suseng, dan Kou Hun Bijin.

"Hi-hi-hi!"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

"Ada apa nih? Kok berkumpul disini?"

"Kami sedang membicarakan Ai Ling,"

Sahut Tio Tay Seng.

"Kenapa dia?"

Tanya Kim Siauw Suseng heran.

"Beberapa hari ini, dia selalu marah-marah. Apakah kalian tidak tahu itu?"

Tio Tay Seng balik bertanya.

"Tentu tahu!"

Kim Siauw Suseng tertawa.

"Dia marahmarah karena belum diijinkan ke Tionggoan!"

"Kini kami sudah setuju, tapi harus berangkat bersama Goat Nio,"

Ujar Tio Tay Seng.

"Tentu,"

Sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring.

"Goat Nio memang harus pergi ke Tionggoan mencari Bun Yang."

"Kalau begitu, kita harus memberjtahukan padanya, agar hatinya merasa gembira,"

Ujar Lim Ceng Im.

"Siapa yang terus cemberut?"

Mendadak muncul Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Engkau yang cemberut! Namun sebentar lagi wajahmu pasti berseri."

"Hmm!"

Dengus Lie Ai Ling.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa lagi.

"Ai Ling, tahukah engkau kami sudah setuju?"

"Ah! Bohong!"

"Ai Ling!"

Tio Hong Hoa tersenyum lembut.

"Kami tidak bohong, kami mengijinkan engkau ke Tionggoan lagi!"

"Oh?"

Wajah Lie Ai Ling langsung berseri.

"Ibu dan ayah sudah setuju?"

"Kami semua sudah setuju,"

Sahut Lie Man Chiu sambil tersenyum.

"Tapi harus berangkat bersama Goat Nio."

"Itu sudah pasti,"

Lie Ai Ling tertawa.

"Sebab Goat Nio harus bertemu Kakak Bun Yang."

"Mulai, ya!"

Siang Koan Goat Nio menoleh dengan mata melotot, merasa digoda Ai Ling.

"Mulai apa?"

Lie Ai Ling tertawa. Siang Koan Goat Nio diam saja, sedangkan Lie Ai Ling terus tertawa gembira.

"Tidak lama lagi, Hong Hoang Lihiap dan Kim Siauw Siancu akan muncul di Tionggoan!"

Ujarnya.

"Julukan-julukan itu memang tepat bagi kalian,"

Ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa.

"Putriku memang Kim Siauw Siancu, dan engkau Hong Hoang Lihiap! Hi hi hi...!"

"Kapan kalian akan berangkat?"

Tanya Tio Tay Seng.

"Besok,"

Sahut Lie Ai Ling.

"Baiklah,"

Tio Tay Seng manggut-manggut, kemudian memberi nasihat dan lain sebagainya.

Lie Ai Ling mendengar dengan penuh perhatian, begitu pula Siang Koan Goat Nio.

Keesokan harinya, berangkatlah mereka ke Tionggoan dengan hati penuh rasa kegembiraan.

-oo0dw0oo.

Belasan hari kemudian, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling sudah tiba di Tionggoan.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke markas pusat Kay Pang.

"Goat Nio!"

Ujar Lie Ai Ling sambil tersenyum.

"Kali ini kita harus berhasil bertemu Kakak Bun Yang. Siang Koan Goat Nio hanya tersenyum.

"Engkau rindu sekali padanya"

"Tentu"

Lie Ai Ling mengangguk "Sudah hampir tiga tahun aku tidak bertemu dia"

"Jangan-jangan..."

Siang Koan Goat Nio menghentikan ucapannya. Dipandangnya Ai Ling.

"Kenapa tidak dilanjutkan?"

Sergah Ai Ling.

"Maksudku, jangan-jangan engkau mencintainya,"

Ujar Siang Koan Goat Nio sambil tertawa kecil.

"Memang!"

Lie Ai Ling mengangguk "Tempo hari sudah kukatakan padamu, babwa aku mencintainya sebagai kakak, bukan sebagai kekasih. Jadi, engkau harus paham, dia adalah kakakku yang paling baik di dunia"

"Oh, ya?"

Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Sungguh!"

Ujar Lie Ai Ling "Aku berharap engkau berjodoh dengan dia, itu karena aku sangat cocok dengan engkau!"

"Aku tahu maksud baikmu, tapi Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala "Belum tentu dia akan tertarik padaku"

"Aku berani jamin!"

Lie Ai Ling tertawa kecil "Kalau dia bertemu engkau, pasti tertarik"

Sekonyong-konyong terdengar suara tawa, lalu muncul belasan orang berpakaian hijau.

"Ha ha ha! Sungguh kebetulan, kita bertemu dua gadis yang cantik sekali Sungguh beruntung kita hari ini!"

"Siapa kalian?"

Bentak Lie Ai Ling.

"Kami anggota-anggota Seng Hwee Kauw. Nona sungguh cantik sekali, tentunya kalian tak menolak bersenang-senang dengan kami,"

Ujar orang berpakaian hijau yang merupakan kepala anggota-anggota Seng Hwee Kauw itu.

"Ciss!"

Dengus Lie Ai Ling.

"Apakah kalian tidak berkaca?"

"Kami tidak perlu mengaca, karena biar bagaimanapun kalian berdua harus melayani kami bersenang-senang,"

Ujar kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil tertawa terkekehkekeh.

"Kami juga harus bersenang~senang dengan mereka!"

Seru yang lain.

"Jangan melupakan kami!"

"Jangan khawatir!"

Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu tertawa.

"Kalian semua pasti mendapat giliran, tapi jangan berebutan!"

Betapa gusarnya Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling mendengar percakapan kotor itu.

Siang Koan Goat Nio segera mengeluarkan suling emasnya, sedangkan Lie Ai Ling menghunus pedang pusaka Hong Hoang Kiam.

Kelihatannya kegua gadis itu sudah siap bertarung.

"He-he-he!"

Kepala anggota Seng Hwee Kauw tErtawa.

"Kalian ingin bertarung dengan kami?"

"Ya!"

Sahut Lie Ai Ling.

"Kami tidak takut pada kalian!"

"Nona, Nona! Dari pada kita bertarung dengan senjata, bukankah lebih baik kita bertarung yang enak dan penuh kenikmatan? Pokoknya kalian berdua akan merasa puas."

Kegusaran Lie Ai Ling telah memuncak.

Ia langsung menyerang dengan menggunakan ilmu pedang Hong Hoang Kiam Hoat.

Begitu melihat Lie Ai Ling mulai menyerang, Siang Koan Goat Nio juga menyusulnya.

Gadis itu menggunakan Cap Pwee Kim Siauw Ciat Hoat.

Seketika terjadilah pertarungan sengit, belasan jurus kemudian, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling tampak mulai terdesak.

Sehingga kedUanya harus mengeluarkan jurus-jurus andalan.

Di saat itulah mendadak berkelebatan beberapa sosok bayangan, langsung menyerang para anggota Seng Hwee Kauw itu.

Ternyata mereka Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, Lu Hui San dan Kam Hay Thian.

Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya para anggota Seng Hwee Kauw saat itu.

Mereka bertarung sambil mundur siap melarikan diri.

Akan tetapi, bagaimana mungkin Kam Hay Thian membiarkan mereka melarikan diri.

Pedangnya berkelebatan ke sana ke mari laksana kilat.

Dia mengeluarkan jurus Thian Gwa Kiam In (Bayangan Pedang di Luar Langit).

Terdengarlah suara jeritan menyayat hati.

Tiga anggota Seng Hwee Kauw telah roboh berlumur darah.

Dada mereka berlubang tertembus pedang Kam Hay Thian.

"Hay Thian! Jangan bunuh mereka semua!"

Seru Toan Beng Kiat mengingatkannya.

"Ya!"

Sahut Kam Hay Thian.

Sementara Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling juga telah berhasil melukai lawannya.

Begitu pula Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San.

Para anggota Seng Hwee Kauw yang terluka itu bergelimpangan dan mengerang kesakitan.

Sedangkan Kam Hay Thian terus menyerang.

Terdengar lagi suara jeritan, tiga anggota Seng Hwee Kauw roboh mandi darah lagi.

Dada mereka pun berlubang mengucurkan darah segar.

Mayat-mayat bergelimpangan berlumur darah.

Pertarungan itu berhenti.

Tampak beberapa anggota Seng Hwee Kauw yang terluka itu masih merintih-rintih.

Kam Hay Thian mendekati mereka dengan tatapan dingin, kemudian mendadak menggerakkan pedangnya.

"Aaaakh! Aaaakh! Aaaakh...!"

Para anggota yang terluka itu pun dibunuhnya tanpa ampun, hanya tersisa satu orang.

Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling menyaksikan itu dengan mata terbeliak ngeri.

Mereka berdua sama sekali tidak menyangka pemuda itu begitu bengis.

"Engkau harus menjawab dengan jujur, mungkin aku akan mengampuni nyawamu!"

Bentak Kam Hay Thian pada anggota Seng Hwee Kauw itu.

"Ya! Ya...."

Jawab orang itu ketakutan.

"Berada di mana markas Seng Hwee Kauw?"

"Di...di...Lembah Kabut Hitam!"

"Terletak di mana Lembah Kabut Hitam itu?"

"Di... di kaki Hek Ciok San (Gunung Batu Hitam)!"

"Engkau pernah memasuki Lembah Kabut Hitam itu?"

"Tidak pernah! Sebab... sebab kami cuma merupakan anggota biasa. Jadi tidak boleh masuk!"

"Di lembah itu terdapat jebakan?"

"Bagus!"

Kam Hay Thian tertawa dingin, kelihatannya ia sudah siap menghabiskan nyawa orang itu.

"Tahan, SaudAra Kam!"

Teriak Toan Beng Kiat memperingatkan.

"Biar dia kembali ke sana untuk melapor!"

Kam Hay Thian mengangguk, lalu menatap orang itu.

"Cepat enyah dan sini!"

Dengan sempoyongan orang itu berlari meninggalkan tempat pertempuran, Kam Hay Thian terus tertawa dingin. Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling mendekati mereka, lalu memberi hormat.

"Terimakasih atas bantuan kalian!"

"Sama-sama,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan sambil memandang mereka.

"Kita tidak pernah bertemu, tapi rasanya sudah tahu."

Lie Ai Ling tertegun memandangi mereka.

"Kalau tidak salah..? ujar Lam Kiong Soat Lan sambil tersenyum.

"Kalian bErdua pasti Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.

"Dari mana kau tahu?"

Tanya Lie Ai Ling dengan mata membeliak. Lam Kiong Soat Lan tersenyum, sementara Siang Koan Goat Nio terus memandanginya.

"Kalau begitu, kalian pasti Lam Kiong Soat Lan dan Toan Beng Kiat."

"Betul,"

Lam Kiong Soat Lan tertawa gembira, kemudian menunjuk Lu Hui San dan Kam Hay Thian dan memperkenalkan mereka.

"Mereka adalah Lu Hui San dan Kam Hay Thian."

Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling segera memberi hormat pada mereka, Lu Hui San dan Kam Hay Thian langsung balas memberi hormat.

"Selamat berjumpa!"

Ucap Lu Hui San sambil tersenyum.

"Sama-sama,"

Sahut Lie Ai Ling sambil tertawa.

"Bagus, kita semua berkumpul disini."

"Aku Toan Beng Kiat,"

Ujar pemuda itu memperkenalkan diri, lalu tanyanya.

"Kenapa kalian bertarung dengan para anggota Seng Hwee Kauw itu?"

"Kami tidak paham sama sekali. Mereka muncul lalu mencetuskan kata-kata kotor, membuat kami tersinggung dan merasa diremehkan,"

Tutur Ai Ling.

"Mereka memang jahat,"

Ujar Kam Hay Thian.

"Karena itu, aku tidak memberi ampun pada mereka!"

"Engkau sungguh sadis!"

Ujar Lie Ai Ling menggelenggelengkan kepala.

"Yang sudah terluka pun engkau bunuh. huh! Aku jadi seram dan takut."

"Terhadapku?"

Tanya Kam Hay Thian dengan kening berkerut.

"Ya!"

Lie Ai Ling mengangguk.

"Engkau sangat bengis."

"Jangan merasa seram maupun takut!"

Sela Toan Beng Kiat sambil tersenyum dan melanjutkan.

"Dia sadis cuma terhadap penjahat, karena dia adalah ChU Ok Hiap!"

"Pendekar Pembasmi Penjahat?"

"Ya!"

"Pantas tidak memberi ampun pada para penjahat"

Lie Ai Ling manggut-manggut "Apa julukan kalian?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan ingin mengetahuinya.

"Bolehkan engkau memberitahukan pada kami?"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Julukanku Hong Hoang Lihiap, julukan Goat Nio adalah Kim Siauw Siancu."

"Sungguh indah julukan-julukan itu!"

Lam Kiong Soat Lan tertawa kecil.

"Aku belum punya julukan."

"Tidak apa-apa,"

Ujar Lie Ai Ling.

"Kelak engkau pasti punya julukan. Lam Kiong Soat Lan tersenyum. Sementara Toan Beng Kiat memandang mereka seraya bertanya.

"Nona Ai Ling, kedua orang tuamu adalah Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa?"

"Betul."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Kedua orang tuamu pasti Toan Wie Kie dan Gouw Sian Eng."

"Betul,"

Toan Beng Kiat manggut-manggut.

"Orang tua kita merupakan teman baik, kita pun harus jadi teman baik."

"Tentu."

Lie Ai Ling tertawa.

"Oh ya."

Lam Kiong Soat Lan menatap Siang Koan Goat Nio.

"Kedua orang tuamu pasti Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin yang awet muda itu."

"Betul!"

Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Aku pun tahu kedua orang tuamu. Mereka adalah Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lan."

"Tidak salah."

Lam Kiong Soat Lan tersenyum, kemudian memberitahukan.

"Kedua orang tua Kam Hay Thian adalah Kam Pek Kian dan Lie Siu Sien, paman Cie Hiong kenal mereka."

"Oooh!"

Lie Ai Ling manggut-manggut, lalu memandang Lu Hui San seraya bertanya.

"Siapa kedua orang tuamu?"

"Ayahku adalali Lu Kam Thay, sedangkan ibuku sudah lama meninggal,"

Jawab Lu Hui San. Sementara Kam Hay Thian terus memandang Siang Koan Goat Nio. Dia kelihatan tertarik pada gadis itU.

"Ei! Engkau!"

Mendadak Lie Ai Ling menUnjuk Kam Hay Thian.

"Engkau begitu membenci para anggota Seng Hwee Kauw, kelihatannya punya dendam dengan mereka."

"Betul."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Ketua mereka membunuh ayahku!"

Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Pantas kalau begitu,"

Gumamnya.

"Ketua Seng Hwee Kauw itu pun membunuh kakek tuaku."

Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Maksudmu Tui Hun Lojin?"

Tanya Lie Ai Ling.

"Ya!"

Toan Beng Kiat mengangguk.

"Nenekku pun dibunuhnya."

Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.

"Maka kami semua ingin membunuh Seng Hwee Sin Kun itu!"

"Seng Hwee Sin Kun?"

Lie Ai Ling tertegun.

"Siapa dia?"

"Ketua Seng Hwee Kauw,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan.

"Kalau begitu, kami harus membantu,"

Ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.

"Goat Nio juga pasti mau membantu? "Terima kasih,"

Ucap Toan Beng Kiat.

"Kalau begitu, mari kita menyerbu ke markas Seng Hwee Kauw!"

Ujar Kam Hay Thian mendadak.

"Kita sudah tahu di mana markas itu."

"Kita memang sudah tahu markas Seng Hwee Kauw, tapi kita tidak boleh langsung menyerbu ke sana."

Ujar Toan Beng Kiat.

"Kenapa?"

Kam Hay Thian mengerutkan kening.

"Bukankah tadi orang itu memberitahukan bahwa di sana terdapat jebakan? Lagipula kita kurang pengalaman. Lebih baik kita berunding dulu dengan kakekku dan kakek Lim,"

Usul Toan Beng Kiat dan menambahkan.

"Kita tidak boleh bertindak ceroboh!"

Kening Kam Hay Thian terus berkerut, seperti hendak berkata tapi diurungkan.

"Memang lebih baik berunding dulu dengan kedua kakek itu. Sebab, mereka sangat berpengalaman,"

Ujar Siang Koan Goat Nio.

"Kita tidak boleh bertindak semau kita, terlalu berbahaya!"

Kam Hay Thian mengangguk sambil memandang Siang Koan Goat Nio "Aku menuruti pendapatmu."

Lam Kiong Soat Lan dan Lui Hui San saling memandang, sedangkan Toan Beng Kiat tampak melongo.

"Eeeh?"

Terheran-heran Lie Ai Ling sambil memandang mereka.

"Kenapa kalian jadi begitu, persis seperti orang bloon?"

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Ucapan Hay Thian tadi...."

"Kenapa ucapannya?"

"Katanya dia menuruti pendapat Goat Nio!"

Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Itu yang mengejutkan kami."

"Kenapa harus terkejut? Pendapat yang benar memang harus dituruti, jadi tidak usah terkejut!"

Sahut Ai Ling keheranan.

Sementara wajah Kam Hay Thian telah kemerah-merahan, tadi dia mengucapkan kata-kata tanpa disadari.

Sedangkan Siang Koan Goat Nio cuma bersikap biasa-biasa saja.

Semua percakapan Itu bagaikan angin lalu baginya.

"Ayoh!"

Ajak Lam Kiong Soat Lan mendadak.

"Mari kita berangkat ke markas pusat Kay Pang!"

Yang lain mengangguk, mereka lalu berangkat menuju ke markas pusat Kay Pang.

-oo0dw0oo-Di ruang tengah di dalam markas Seng Hwee Kauw, tampak Seng Hwee Sin Kun, Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui, Pat Pie Lo Koay, Tok Chiu Ong, dan Hek Sim Popo dengan wajah serius.

Kelihatannya mereka sedang merundingkan sesuatu.

"Kita semua telah menerima laporan itu, bahwa telah muncul Chu Ok Hiap dan lainnya membunuh para anggota kita. Maka aku ingin bertanya, bagaimana menurut kalian?"

Seng Hwee Sin Kun bertanya kepada mereka.

"Tentunya kita harus membunuh mereka,"

Sahut Hek Sim Popo.

"Benar!"

Sambung Tok Chiu Ong.

"Kita harus membunuh mereka, sebab telah membunuh puluhan anggota kita."

"Ngmm!"

Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Sebetulnya sasaranku adalah orang tua mereka."

"Kalau begitu,"

Ujar Pat Pie Lo Koay mengemukakan pendapatnya.

"Kita tidak perlu membunuh mereka. Kita buat mereka terluka agar orangtua mereka muncul! Bagaimana menurut Kauwcu?"

"Aku setuju,"

Sahut Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut, kemudian memandang Pek Bin Kui.

"Bagaimana menurutmu?"

"Apa yang dikatakan Pat Pie Lo Koay memang bisa diterima,"

Sahut Pek Bin Kui sambil tersenyum.

"Kita melukai mereka dengan tujuan memancing orangtua mereka keluar. Setelah itu kita membunuh orangtua mereka!"

"Benar!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Itu tujuan utama kita."

"Tapi "

Ujar Pek Bin Kui untuk melukai mereka, tentunya tidak bisa mengandalkan pada para anggota kita.

Kepandaian mereka masih terlalu rendah.

Oleh karena itu, kita harus memilih beberapa anggota berkepandaian cukup tinggi, ditambah dua orang di antara kita, barulah bisa melukai mereka!"

"Ngmmm!"

Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut "Kalau begitu, siapa di antara kalian bersedia melakukan pekerjaan ini?"

"Aku!"

Sabut Pat Pie Lo Koay.

"Aku!."

Sahut Tok Chiu Ong kemudian "Kami berdua bersedia!"

"Bagus! Kalau begitu, tugas kuserahkan pada kaliAn berdua,"

Ujar Seng Hwee Sin Kun.

"Ya Kauwcu,"

Sahut Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong.

"Pek Bin Kui!"

Seng Hwee Sin Kun menatapnya "Engkau masih punya rencana lain?"

"Ada, Kauwcu!"

Pek Bin Kui mengangguk.

"Apa rencanamu?"

"Begini,"

Sahut Pek Bin Kui.

"Seng Hwee Kauw harus mulai membuat kejutan dalam rimba persilatan. Maksudku Seng Hwee Kauw harus mulai membunuh para anggota Kay Pang, para murid Siauw Lim Pay dan Butong Pay!"

"Ngmrnm!"

Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Benar. Sebab Kay Pang, Siauw Lim Pay dan Butong Pay sangat kuat bagi rimba persilatan. Kalau Seng Hwee Kauw ingin menguasai rimba persilatan, terlebih dahulu harus turun tangan terhadap Kay Pang, Siauw Lim Pay, dan Butong Pay!"

"Kalau begitu..."

Ujar Leng Bin Hoatsu.

"Kita harus pilih anggota-anggota yang handal untuk membantai para anggota Kay Pang, para murid Siauw Lim Pay, dan para murid Butong Pay!"

"Tugas tersebut kuserahkan padamu!"

Ujar Seng Hwee Sin Kun.

"Ya, Kauwcu?"

Leng Bin Hoatsu mengangguk.

"Oh ya!"

Ujar Pek Bin Kui mendadak.

"Hiat Ih Hwe cukup kuat dalam rimba persilatan, kelihatannya Hiat Ih Hwe agak sehaluan dengan kita. Alangkah baiknya kita bekerja sama dengan mereka!"

"Gagasan bagus!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa.

"Kalian tahu siapa ketua Hiat Ih Hwe itu?"

"Tahu!"

Sahut Tok Chiu Ong.

"Ketua Hiat Ih Hwe adalah Lu Kong Kong."

"Apa?"

Terbelalak mata Seng Hwee Sin Kun.

"Betulkah Lu Thay Kam ketua Hiat Ih Hwe?"

"Betul!"

Tok Chiu Ong mengangguk.

"Kalau begitu, kita harus ajak Hiat Ih Hwe bekerjasama,"

Ujar Seng Hwee Sin Kun dan menambahkan.

"Sebab keuangan kita terbatas. Apabila bekerjasama dengan pihak Hiat Ih Hwe, berarti Lu may Kam akan membantu kita dalam hal keuangan, sementara kita akan membantunya membunuh para menteri dan jenderal yang berani menentangnya."

"Betul!"

Leng Bin Hoatsu manggut-manggut.

"Kita harus cari kesempatan untuk mengadakan hubungan dengan pihak Hiat Ih Hwe."

"Baik!"

Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Tugas ini kuserahkan padamu!"

"Ya, Kauwcu!"

Leng Bin Hoatsu mengangguk.

"Aku akan mengatur semua itu."

"Hmm!"

Mendadak Seng Hwee Sin Kun mendengus dingin.

"Bu Lim Sam Mo tidak berhasil membunuh Tio Cie Hiong, namun aku harus berhasil membunuhnya. Bahkan juga harus membunuh orang-orang yang punya hubungan dengan dia! Ha ha ha...!" -oo0dw0oo-Bagian 24 Rimba Persilatan mulai dilanda banjir darah Betapa gusarnya Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong ketika menerima laporan, bahwa banyak anggota Kay Pang dibunuh oleh Seng Hwee Kauw. Karena itu, mereka segera memanggil keempat pelindung untuk berunding.

"Kini Seng Hwee Kauw telah mulai membunuh para anggota kita, bagaimana menurut kalian?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Kita harus melawan!"

Usul salah seorang pelindung.

"Sudah berapa banyak anggota kita yang jadi korban?"

Tanya Gouw Han Tiong.

"Sudah puluhan,"

Jawab pelindung itu dan memberitahukan.

"Tapi pihak Seng Hwee Kauw juga banyak yang mati.

"Kalau begitu, perintahkan pada pemimpin cabang! Mereka harus berhati-hati menghadapi Seng Hwee Kauw, kalau tidak kuat melawan, harus segera ke mari!"

Ujar Lim Peng Hang.

"Ya, Pangcu!"

Mendadak Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.

"Kini aku mulai mencemaskan Beng Kiat dan Soat Lan.

"Kalau begitu, kita harus mengutus beberapa anggota kita pergi cari mereka,"

Ujar Lim Peng Hang.

"Aku pun khawatir, tentunya pihak Seng Hwee Kauw juga akan turun tangan terhadap mereka. Walau kepandalan mereka sangat tinggi, namun belum berpengalaman."

Gouw Han Tiong menghela nafas panjang lagi, disaat bersamaan muncul seorang pengemis tua dan melapor.

"Pangcu! Ketua Siauw Lim dan Butong berkunjung ke mari."

"Cepat persilakan mereka masuk!"

Pinta Lim Peng Hang. Pengemis tua itu segera pergi. Tak lama muncullah Hui Khong Taysu dan It Hian Tojin dengan wajah muram.

"Selamat datang!"

Ucap Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong, mereka bangkit berdiri sambil memberi hormat.

"Omitohud!"

Sahut Hui Khong Taysu.

"Maaf, kedatangan kami telah mengganggu Lim Pangcu dan Gouw Hu Pangcu!"

"Tidak apa-apa. Silakan duduk!"

Ujar Lim Peng Hang. Hui Khong Taysu dan It Hian Tojin duduk, kemudian ketua Siauw Lim Pay berkata.

"Omitohud! Rimba persilatan mulai dilanda banjir darah...."

"Taysu sudah tahu tentang itu?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Justru karena itu, kami ke mari untuk berunding dengan Lim Pangcu dan Gouw Hu Pangcu. Omitohud!"

"Bagaimana keadaan partai kalian?"

Tanya Gouw Han Tiong.

"Omitohud!"

Jawab Hui Khong Taysu.

"Sudah banyak murid kami yang mati, begitu pula para murid Butong!"

"Para anggota kami pun sudah banyak yang jadi korban."

Lim Peng Hang memberitahukan sambil menghela nafas panjang.

"Omitohud...."

Hui Khong Taysu menggeleng-geleng kepala.

"Kita semua mengira rimba persilatan akan aman dan tenang setelah Bu Lim Sam Mo mati. Namun nyatanya, kini malah muncul Seng Hwe Kauw dan Hiat Ih Hwe."

"Hanya Tiong Ngie Pay yang berdiri di atas keadilan,"

Ujar It Hian Tojin.

"Sebab ketua Tiong Ngie Pay adalah Yo Suan Hiang? Lim Peng Hang menimpali.

"Pantas!"

It Hian Tojin manggut-manggut dan melanjutkan.

"Tapi kini Tiong Ngie Pay juga dalam bahaya, karena Seng Hwee Kauw pasti akan membunuh para anggota Tiong Ngie Pay?"

"Omitohud!"

Ucap Hui Khong Taysu.

"Kalau begitu, kemungkinan tujuh partai besar dan Kay Pang harus bergabung lagi untuk melawan Seng Hwee Kauw."

"Ngmmm!"

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Lim Pangcu,"

Ujar It Hian Tojin mengusulkan.

"Tentang kejadian itu, bukankah lebih baik diberitahukan pada pihak Hong Hoang To"?"

"Aku justru sedang memikirkannya. Kini... putra Toan Wie Kie dan putri Lam Kiong Soat Lan sudah berada di Tionggoan? Lim Peng Hang memberitahukan.

"Mereka sedang melakukan penyelidikan terhadap Seng Hwee Kauw."

"Apa?"

Terbelalak mata It Hian Tojin.

"Kalau begitu, mereka berdua pasti dalam bahaya?"

"Karena itu, kami akan menyuruh beberapa anggota Kay Pang pergi mencari mereka,"

Ujar Lim Peng Hang. It Hian Tojin manggut-manggut.

"Lim Pangcu, kapan engkau akan berangkat ke pulau Hong Hoang To?"

"Belum pasti!"

Lim Peng Hang menggeleng kepala.

"Setahuku, pihak Hong Hoang To sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan."

"Omitohud!"

Hui Khong Taysu menghela nafas.

"Kini rimba persilatan dalam keadaan begitu gawAt, bagaimana mungkin mereka diam saja?"

"Mungkin Taysu dan Tojin belum tahu, dua tahun lalu Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin telah dibunuh orang."

"Omitohud...."

Bukan main terkejutnya Hui Khong Taysu dan It Hian Tojin.

"Siapa yang membunuh mereka?"

"Kemungkinan besar Seng Hwee Kauw."

Lim Peng Hang memberitahukan.

"Karena Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin mati dengan badanm hangus."

"Hangus?"

It Hian Tojin tersentak "Mereka dibakar?!"

"Bukan."

Lim Peng Hang menggeleng kepala.

"Terkena semacam pukulan yang mengandung api."

"Omitohud...? Hui Khong Taysu menghela nafas panjang.

"Sungguh mengenaskan kematian mereka! Omitohud."

"Kini muncul Seng Hwee Kauw, maka kami menduga pembunuh mereka adalah ketua Seng Hwee Kauw itu,"

Ujar Gouw Han Tiong dan menambahkan.

"Karena itulah Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan pergi menyelidiki Seng Hwee Kauw itu."

"Aaaah!"

It Hian Tojin menghela nafas panjang.

"Rimba persilatan tidak pernah aman dan tenang, kelihatannya Tio Cie Hiong harus muncul lagi di rimba persilatan."

"Dia dan anakku telah bersumpah tidak akan mencampuri urusan rimba persilatan lagi!"

Tukas Lim Peng Hang memberitahukan.

"Tapi Bun Yang cucuku telah mengembara dalam rimba persilatan."

"Bagaimana kepandaiannya?"

Tanya It Hian Tojin.

"Mungkin sudah menyamai kepandaian ayahnya!"

Sahut Lim Peng Hang.

"Menurut aku, kemungkinan besar dia akan mewakili ayahnya untuk menyelamatkan rimba persitatan."

"Omitohud!"

Ucap Hui Khong Taysu.

"Mudah-mudahan! Kalau tidak, kaum rimba persilatan golongan putih pasti celaka semua."

"Lalu apa langkah kita, Taysu7"

Tanya Lim Peng Hang.

"Omitohud! Alangkah baiknya Lim Pangcu pergi ke pulau Hong Hoang To untuk memberitahukan tentang kejadian ini. Mereka mau campur atau tidak, itu tergantung pada kebijaksanaan mereka. Lagi pula Sam Gan Sin Kay harus mengetahui tentang kejadian ini!"

Lim Peng Hang mengangguk "Tapi ayahku sudah tua, aku menghendakinya hidup tenang di pulau itu!"

"Tapi ada Tio Cie Hiong yang masih muda. Seandainya dia tidak mau mencampuri urusan ini, kita tidak bisa bilang apaapa,"

Ujar It Hian Tojin.

"Mungkin sudah menjadi nasib rimba persilatan?"

"Belum tentu,"

Sela Gouw Han Tiong.

"Sebab anak Tio Cie Hiong juga berkepandaian tinggi, tentUnya dia tidak akan lepas tangan."

"Kalau begitu, harus segera cari anak Tio Cie Hiong itu,"

Usul It Hian Tojin.

"Aku yakin diapUn sudah tahu, kemungkinan besar dia akan ke mari,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Dia pasti minta petunjukku."

"Aaaakh...!"

Keluh It Hian Tojin.

"Kita semua sudah tua, tapi kapan akan bisa hidup tenang?"

"Omitohud!"

Ucap Hui Khong Taysu.

"Mungkin sudah merupakan takdir" -oo0dw0oo-Sementara itu, Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, Kam Hay Thian, Lu Hui San, Siang Koan Goat Nio, dan Lie Ai Ling terus melanjutkan perjalanan menuju ke markas pusat Kay Pang. Hari ini mereka beristirahat di sebuah rimba. Siang Koan Goat Nio duduk seorang diri di bawah pohon. Tak lama muncul Kam Hay Thian mendekatinya, lalu duduk di sisinya.

"Maaf, aku duduk di sini,"

Ucap Kam Hay Thian.

"Tidak apa-apa,"

Sahut Siang Koan Goat Nio sambil tersenyum.

"Duduk saja!"

"Goat Nio!"

Kam Hay Thian memandangnya.

"Sejak kita berkenalan, kenapa engkau tidak pernah bercakap-cakap dengan aku?"

"Engkau harus tahu."

Siang Koan Goat Nio tersenyum lagi.

"Sifatku agak pendiam, jadi jarang bercakap-cakap dengan siapa pun."

"Aaah..."

Kam Hay Thian menghela nafas.

"Mungkinkah karena menganggapku sangat sadis, maka tidak mau bercakap-cakap dengAn aku?"

"Aku tidak beranggapan begitu terhadapmu,"

Kilah Siang Koan Goat Nio.

"Kita semua teman baik. Jadi, alangkah baiknya jangan ada kesalah-pahaman diantara kita."

"Goat Nio..."

Kam Hay Thian ingin mengatakan sesuatu, namun tersangkut di tenggorokan sehingga tak dapat dikeluarkannya.

Sedangkan Siang Koan Goat Nio terdiam.

Kelihatannya gadis itu sudah tahu apa yang akan dikatAkan Kam Hay Thian.

Sementara Lam Kiong Soat Lan terus mencari Kam Hay Thian.

Begitu pula Lu Hui San.

Akhirnya mereka melihat Kam Hay Thian duduk di sisi Siang Koan Goat Nio.

Kedua gadis itu saling memandang, wajahnya tampak muram.

Lalu melangkah pergi.

Kebetulan berpapasan dengan Toan Beng Kiat, begitu melihat Lu Hui San, wajah pemuda itu langsung berseri.

"Hui San...!"

"Beng Kiat!"

Lu Hui San berusaha senyum, sedangkan Lam Kiong Soat Lan terus berjalan pergi dengan kepala tertuNduk.

"Eeeh?"gumam Toan Beng Kiat.

"Kenapa dia? Kok wajahnya tampak muram?"

"Dia melihat Kam Hay Thian duduk di sisi Siang Koan Goat Nio,"

Ujar Lu Hui San memberitahukan.

"Apakah dia jatuh hati pada Kam Hay Thian? tanya Toan Beng Kiat.

"Mungkin!"

Lu Hui San mengangguk dan menghela nafas panjang.

"Lho? Kenapa engkau2 Kok mendadak menghela nafas panjang?"

"Aku khawatir...."

Cetus Lu Hui San sambil duduk.

"... akan terjadi badAi asmara di antara kita."

"Badai asmara?"

"Ya!"

Lu Hui San mengangguk.

"Lam Kiong Soat Lan jatuh hati pada Kam Hay Thian, sedangkan pemuda itu malah jatuh hati pada Siang Koan Goat Nio."

"Bagaimana tanggapan Goat Nio?""

Tanya Toan Beng Kiat cepat.

"Entahlah!"

Lui Hui San menggeleng kepala.

"Goat Nio sama sekali tidak memperlihatkan tanggapan apapun, tetap bersikap biasa dan tenang saja."

"Aduuuh! Bagaimana itu?"

Toan Beng Kiat mengerutkan kening.

"Masih ada Lie Ai Ling, gadis itu entah jatuh hati pada siapa?"

Tukas Lui Hui San.

"Seandainya dia jatuh hati padamu, itu tidak akan jadi masalah. Tapi kalau dia juga jatuh hati pada Kam Hay Thian, bukankah akan menimbulkan masalah?"

"Tapi, aku tidak tertarik pada Ai Ling!"

Sahut Toan Beng Kiat.

"Aku... aku tertarik...."

"Aku tahu,"

Potong Lu Hui San cepat.

"Tapi aku belum memikirkan itu, engkau harus maklum."

"Aku mengerti!"

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Yang penting engkau sudah tahu perasaanku."

Gadis itu hanya tersenyum, lalu menggeleng-gelengkan kepala.

Sementara Lam Kiong Soat Lan terus berjalan dengan kepala tertunduk, kemudian duduk di bawah sebuah pohon sambil melamun dengan wajah muram sekali.

Di saat itulah muncul Lie Ai Ling mendekatinya, kemudian memandangnya sambil duduk di sisinya.

"Soat Lan! Kenapa engkau duduk melamun di sini?"

"Aku...."

Lam Kiong Soat Lan agak tergagap ditanya demikian.

"Aku tidak melamun."

"Tidak melamun? Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.

"Jangan membohongiku, itu tidak baik lho!"

"Aku tidak membohongimu? "Soat Lan, aku tahu? "Tahu apa?"

"Engkau sangat tertarik kepada Kam Hay Thian, namun pemuda itu tidak begitu menaruh perhatian kepadamu, bahkan mendekati Siang Koan Goat Nio."

"Ai Ling! Engkau...."

"Semua itu tidak terlepas dan mataku,"

Lie Ai Ling menghela nafas panjang dan melanjutkan.

"Kelihatannya Lu Hui San pun tertarik kepada Kam Hay Thian, itu cukup mencemaskanku? "Ai Ling...."

Lam Kiong Soat Lan memandangnya.

"Kita semua adalah kawan baik yang harus bersatu dan bahu-membahu. Jangan dikarenakan urusan ini kita menjadi terpecah belah,"

Ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.

"Aku tahu itu...."

Lam Kiong Soat Lan tersenyum "Kita semua tidak akan terpecah belah, percayalah!"

"Syukurlah kalau begitu!"

Lie Ai Ling manggut-manggut "Kita semua pun harus ingat akan satu hal."

"Hal apa?"

"Cinta tidak bisa dipaksa dan tidak boleh sepihak, sebab itu akan menimbulkan penderitaan."

"Heran?"

Ujar Lain Kiong Soat Lan seakan bergumam.

"Engkau bersifat periang dan lincah, tapi Justru berpikiran begitu jauh dan cermat"

"Kakak Bun Yang selalu menasihatiku,"

Lie Ai Ling memberitahukan sambil tersenyum "Aku sangat menghormatinya, sebab dia adalah pemuda yang sangat baik."

"Maksudmu anak Paman Cie Hiong?"

"Betul"

Lie Ai Ling mengangguk dan menambahkan.

"Terus terang, diA dan Siang Koan Goat Nio merupakan pasangan yang serasi."

"Mereka berdua sudah bertemu?"

"Belum"

"Kalau belum, dari mana engkau tahu bahwa mereka berdua merupakan pasangan yang serasi?"

"Kakak Bun Yang sangat baik, penuh pengertian dan berperasaan halus, juga berhati bajik. Sedangkan Siang Koan Goat Nio lemah lembut, cantik manis dan berpengertian pula. Oleh karena itu, akU yakin bahwa mereka berdua merupakan pasangan yang serasi."

"Ooooh!"

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut dan berkata.

"Engkau besar bersama dia, kenapa engkau tidak mencintainya?"

"Aku sangat mencintainya, tapi itu merupakan cinta terhadap seorang kakak, bukan terhadap seorang kekasih."

Lie Ai Ling tersenyum.

"Lagi pula aku tahu diri, maka tidak berani memikirkan itu. Apabila aku berpikir begitu, tentu akan membuat diriku menderita sekali."

"Ai Ling!"

Lam Kiong Soat Lan menatapnya kagum.

"Engkau sungguh luar biasa sekali?"

"Tidak juga,"

Lie Ai Ling tersenyum dan menambahkan.

"Kalau kita tahu itu akan membuat kita menderita, kenapa masih mau memikirkannya, bukan?"

"Betul, betul."

Lam Kiong Soat Lan tersenyum.

"Terimakasih atas petunjukmu yang sangat berharga ini!"

"Seharusnya engkau berterimakasih kepada kakak Bun Yang, sebab dia sering memberi pengertian kepadaku."

"Oooh!"

Lam Kiong Soat Lan manggut~manggut, walau Ia tidak pernah bertemu Tio Bun Yang, tapi ta telah merasa kagum kepadanya dalam hati -oo0dw0oo-Mereka berenam melanjutkan perjalanan lagi menuju markas pusat Kay Pang.

Namun terjadi keanehan pada mereka, sebab masing-masing membungkam, kecuali Lie Ai Ling, yang masih tampak riang gembira.

"Hei!"

Serunya sambil tertawa-tawa.

"Kenapa kalian berempat berubah menjadi bisu? Jangan begitu ah! Tidak enak nih!"

"Ai Ling!"

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa aku? Semula kita melakukan perjalanan sambil mengobrol, tapi kini kalian berempat berubah menjadi bisu. Tidak baik begitu, sebab kita semua adalah kawan baik yang harus bersatu. Ada apa-apa jangan disimpan dalam hati, sebab akan membuat kita terpecah belah."

"Ha-ha!"

Toan Beng Kiat tertawa.

"Tidak ada apa-apa di antara kami berempat. Kami diam karena memikirkan musuh."

"Musuh dalam selimut?"

Tanya Lie Ai Ling sambil tertawa.

"Jangan lho! Itu akan membuat kita celaka...."

Belum juga Lie Ai Ling selesai berbicara, mendadak terdengar suara tawa kemudian melayang turun belasan orang berpakaian hijau.

Mereka ternyata para anggota Seng Hwee Kauw, yang dikepalai oleh Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong.

"Ha-ha-ha!"

Tok Chiu Ong tertawa gelak.

"Sungguh kebetulan bertemu kalian disini!"

"Hmm!"

Dengus Kam Hay Thian dingin.

"Memang sungguh kebetulan sekali, jadi kami pun tidak perlu mencari kalian!"

"Oh?"

Tok Chiu Ong mengerutkan kening.

"Siapa engkau?"

"Chu Ok Hiap!"

"Apa?"

Tok Chiu Ong tampak tersentak.

"Jadi engkau yang membunuh para anggota kami?"

"Tidak salah!"

Sahut Kam Hay Thian sambil tertawa dingin.

"Aku pun akan membunuh kalian semua hari ini!"

"He-he-he!"

Tok Chiu Ong tertawa terkekeh.

"Jangan sok omong besar, sebentar lagi engkau akan terkapar jadi mayat!"

"Jangan banyak omong!"

Bentak Kam Hay Thian.

"Mari kita bertarung, lihat siapa yang akan terkapar jadi mayat!"

"He-he-he!"

Tok Chiu Ong terus tertawa terkekeh. Sedangkan Kam Hay Thian sudah menghunus pedangnya, begitu pula yang lain, mereka sudah siap bertarung.

"Serang mereka!"

Tok Chiu Ong memberi perintah kepada para anggota Seng Hwee Kauw itu.

Seketika juga belasan anggota tersebut menyerang Kam Hay Thian dan lainnya, dan terjadilah pertarungan sengit.

Tok Chiu Ong dan Pat Pie Lo Koay terus memperhatikan pertarungan itu, dengan kening berkerut-kerut.

Belasan jurus kemudian, Kam Hay Thian telah berhasil membunuh dua anggota Seng Hwee Kauw, sedangkan Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling juga telah berhasil melukai beberapa anggota Seng Hwee Kauw lainnya, begitu pula Lu Hui San.

"Kalian mundur!"

Bentak Tok Chiu Ong.

Para anggota Seng Hwee Kauw segera mundur.

Tok Chiu Ong dan Pat Pie Lo Koay melesat ke depan sambil mengeluarkan senjata masing-masing.

Tok Chiu Ong bersenjata aneh berbentuk seperti clurit, sedangkan Pat Pie Lo Koay bersenjata pedang bergerigi.

"Hm!"

Dengus Tok Chiu Ong dingin.

"Kepandaian kalian cukup tinggi, tapi kami berdua pasti dapat membunuh kalian!"

"Kalian berdua yang akan mati!"

Sahut Kam Hay Thian.

"He-he-he!"

Tok Chiu Ong tertawa terkekeh dan mendadak menyerangnya laksana kilat.

Kam Hay Thian berkelit dan balas menyerangnya menggunakan Pak Kek Kiam Hoat.

Tok Chiu Ong terkejut karena merasa ada hawa dingin menyerangnya.

"Pantas engkau berani omong besar, ternyata kepandaianmu tinggi jUga!"

"Sebentar lagi engkau akan terkapar jadi mayat!"

Sahut Kam Hay Thian dan langsung menyerangnya.

Lie Ai Ling dan Lam Kiong Soat Lan segera membantu Kam Hay Thian, sementara Pat Pie Lo Koay juga sudah mulai menyerang Toan Beng Kiat, Siang Koan Goat Nio dan Lu Hui San.

Terjadilah pertarungan yang amat seru dan dahsyat.

Tok Chiu Ong mengeluarkan ilmu andalannya.

Sedangkan Kam Hay Thian menggunakan Pak Kek Kiam Hoat, Lie Ai Ling menggunakan Hong Hoang Kiam Hoat, dan Lam Kiong Soat Lan menggunakan Thian Liong Kiam Hoat.

Puluhan jurus kemudian, Tok Chiu Ong mulai berada di bawah angin, itu sungguh mengejutkannya.

Toan Beng Kiat menyerang Pat Pie Lo Koay dengan Thian Liong Kiam Hoat, Siang Koan Goat Nio menggunakan Giok Li Kiam Hoat, dan Lu Hui San menggunakan Ie Hoa Ciap Bok Kiam Hoat.

Puluhan jurus kemudian, Pat Pie Lo Koay juga mulai berada di bawah angin.

Ada satu hal yang tidak dimengerti Toan Beng Kiat, yakni Pat Pie Lo Koay tidak begitu bersungguh-sungguh menyerangnya.

Sudah barang tentu hal itu membuat pemuda itu terheran-heran.

Oleh karena itu ia pun tidak begitu menyerangnya.

Sementara pertarungan antara Tok Chiu Ong dengan Kam Hay Thian, Lie Ai Ling dan Lam Kiong Soat Lan semakin dahsyat.

Lam Kiong Soat Lan menyerangnya dengan jurus Thian Liong Cioh Cu (Naga Kahyangan Merebut Mutiara), Lie Ai Ling mengeluarkan jurus Hong Hoan Seng Thian (Burung Phoenix Terbang ke Langit), sedangkan Kam Hay Thian mengeluarkan jurus Hoan Thian Liak Te (Membalikkan Langit Meretakkan Bumi).

Betapa terkejutnya Tok Chiu Ong menghadapi ketiga serangan itu.

Ia cepat-cepat memutarkan senjatanya untuk menangkis, tetapi....

Crass!

Cesss....

Bahunya telah tersabet pedang Lam Kiong Soat Lan, pahanya tertusuk pedang Kam Hay Thian, sedangkan pedang Lie Ai Ling merobek bajunya, dan darahnya pun mulai mengucur.

"Ha-ha!"

Kam Hay Thian tertawa dingin.

"Kini ajalmu telah tiba!"

Ketika Kam Hay Thian baru mau menyerangnya, mendadak Tok Chiu Ong melempar sesuatu ke bawah, dan seketika tampak asap mengepul membuat mata mereka merasa pedas sekali.

"Cepat tahan nafas!"

Seru Lam Kiong Soat Lan, yang khawatir kalau-kalau asap tersebut mengandung racun.

Tapi tidak, ternyata asap itu tidak mengandung racun.

Setelah asap itu buyar, Tok Chiu Ong, Pat Pie Lo Koay dan para anggota Seng Hwee Kauw itu sudah tidak tampak lagi.

Ternyata mereka melarikan diri di saat asap mengepul.

Akan kukejar mereka,"

Ujar Kam Hay Thian.

"Jangan!"

Cegah Toan Beng Kiat.

"Percuma, mereka sudah jauh sekali."

"Hm!"

Dengus Kam Hay Thian.

"Aku penasaran kalau tidak dapat membunuh mereka."

"Sudahlah!"

Kata Toan Beng Kiat.

"Mari kita melanjutkan perjalanan!"

Mereka berenam melanjutkan perjalanan lagi menuju markas pusat Kay Pang, namun Kam Hay Thian masih tampak penasaran karena tidak berhasil membunuh Tok Chiu Ong, Pat Pie Lo Koay dan para anggota Seng Hwee Kauw itu.

"Sudahlah!"

Ujar Lu Hui San.

"Kenapa masih terus penasaran?"

"Aku..."

Kam Hay Thian menggeleng-gelengkan kepala.

"Tenang!"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Masih ada kesempatan lain. Para anggota Seng Hwee Kauw begitu banyak, tidak akan habis dibunuh."

Kam Hay Thian diam, sementara Toan Beng Kiat bergumam dengan kening berkerut-kerut.

"Heran? Kenapa orang tua berpedang gerigi itu tidak begitu bersungguh-sunggUh menyerangku?"

"Benar."

Lu Hui San manggut-manggut.

"Diapun tidak begitu bersungguh-sunggUh menyerangku."

"Sama,"

Sambung Siang Koan Goat Nio.

"Kenapa begitu?"

"Memang mengherankan,"

Ujar Toan Beng Kiat.

"Mungkinkah dia kenal orang tua kita, maka tidak bersungguhsungguh menyerang kita?"

"Mungkin,"

Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Aku yakin dia tidak kenal orang tuaku, kenapa...."

Lu Hui San tidak habis berpikir.

"Mungkin karena... engkau bersama kami,"

Sahut Siang Koan Goat Nio.

"Memang mungkin begitu,"

Lu Hui San manggut-manggut.

"Sebaliknya orang tua bersenjata aneh itu malah matimatian menyerang kami, kelihatannya dia sangat bernafsu melukai kami, padahal aku dan Soat Nio tidak kenal orang tua itu,"

Ujar Lie Ai Ling.

"Mungkin karena kalian berdua membantuku,"

Sahut Kam Hay Thian.

"Mungkin,"

Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Tidak mungkin,"

Sela Lam Kiong Soat Lan.

"Sebab para anggota Seng Hwee Kauw pernah menyerangku dan Beng Kiat."

"Oh?"

Lie Ai Ling terbelalak.

"Kenapa mereka menyerang kalian?"

"Hingga saat ini, kami masih tidak habis pikir tentang itu,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan.

"Bahkan mereka pun kenal kami. Bukankah sangat mengherankan?"

"Jangan-jangan..."

Ujar Lie Ai Ling setelah berpikir sejenak.

"Ketua Seng Hwee Kauw punya dendam terhadap orang tua kita."

"Aku dan Soat Nio memang berpikir demikian,"

Ujar Toan Beng Kiat.

"Karena itu, kami ingin menyelidikinya.

"Memang penasaran sekali,"

Ujar Kam Hay Thian sambil mengepal tinju.

"Aku tidak berhasil membunuh mereka. -oo0dw0oo-Seng Hwee Sin Kun duduk dengan kening berkerut-kerut, kemudian menatap Tok Chiu Ong dan Pat Pie La Koay seraya bertanya.

"Betulkah kalian berdua tidak sanggup melawan mereka berenam?"

"Betul,"

Tok Chiu Ong dan Pat Pie LoKoay mengangguk.

"Kepandaian mereka berenam sungguh tinggi, bahkan mampu melukaiku."

"Bagaimana lukamu?"

Tanya Seng Hwee Sin Kun.

"Tidak apa-apa,"

Sahut Tok Chiu Ong.

"Hanya luka luar, dan tadi sudah kuobati."

"Hmm!"

Dengus Seng Hwee Sin Kun.

"Kelihatannya harus aku yang turun tangan sendiri."

"Tidak perlu,"

Pat Pie Lo Koay menggelengkan kepala.

"Bukankah masih ada Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui dan Hek Sim Popo? Kami berlima pasti dapat melukai mereka."

"Betul,"

Hek Sim Popo mengangguk.

"Kauwcu tidak perlu turun tangan, biar kami saja yang turun tangan."

"Ngmmm!"

Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut dan berkata.

"Kepandaian Tio Cie Hiong paling tinggi, tapi... aku masih sanggup melawannya. Bahkan kemungkinan besar aku pun dapat mengalahkannya."

"Kami tahu..."

Ujar Pat Pie Lo Koay sambil tertawa.

"Kepandaian Kauwcu memang tinggi sekali, tentunya dapat mengalahkan Tio Cie Hiong."

"Ha-ha-ha!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Aku tidak omong besar, namun yakin itu!"

"Tapi...."

Pek Bin Kui mengerutkan kening.

"Masih ada Sam Gan Sin Kay, Kim Siauw Suseng, Kou Hun Bijin dan Tio Tay Seng, majikan Pulau Hong Hoang To. Mereka semua berkepandaian sangat tinggi, terutama Kou Hun Bijin."

"Ha ha ha!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa, kemudian berkata sungguh-sungguh.

"Pokoknya aku sanggup melawan mereka, kalian tidak perlu khawatir tentang itu."

"Oh?"

Pat Pie Lo Koay dan lainnya kelihatan kurang percaya. Mereka saling memandang dengan kening berkerutkerut.

"Tentu kalian tidak percaya,"

Ujar Seng Hwee Sin Kun.

"Namun perlu kalian ketahui, aku masih menyimpan sebutir Seng Hwee Tan (Pil Api Suci). Apabila aku makan Seng Hwee Tan yang tersisa sebutir itu, maka lweekangku akan bertambah tinggi, dan diriku pun akan menjadi jago tanpa tanding di kolong langit."

"Kalau begitu, kenapa Kauwcu tidak memakannya sekarang?"

Tanya Pek Bin Kui mendadak.

"Belum waktunya,"

Sahut Seng Hwee Sin Kun.

"Kalau sudah waktunya, aku pasti memakannya."

"Kauwcu!"

Wajah Pek Bin Kui berseri.

"Kalau begitu, Seng Hwee Kauw pasti bisa merajai rimba persilatan."

"Itu sudah pasti,"

Sahut Seng Hwee Sin Kun sambil tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha...!" -oo0dw0oo0\-Bagian 25 Agama Lima Racun Tio Bun Yang telah kembali ke Tionggoan. Beberapa hari kemudian, ia tiba di kota Kang Shi, lalu memasuki sebuah kedai teh untuk melepaskan dahaga. Setelah duduk, ia memesan teh pada pelayan. Kedai teh itu cukup ramai. Tampak para tamu sedang membicarakan sesuatu dengan wajah Serius.

"Sungguh tak disangka, para hartawan akan terkena penyakit aneh itu. Muncul pula seorang tabib sakti menyembuhkan penyakit mereka, tapi biayanya mahal bukan main."

"Betul. Kalau mereka sanggup membayar lima ratus tael, tabib sakti itu baru mengobati mereka."

"Kini yang kasihan adalah hartawan Kwee. Beliau juga terkena penyakit aneh itu. Tabib sakti tersebut bersedia mengobatinya, asal hartawan Kwee bersedia membayar seribu tael emas! Sudah barang tentu hartawan Kwee berkeberatan, sehingga kini mulai sekarat."

"Kenapa hartawan Kwee berkeberatan membayar seribu tael emas?"

"Sebab para hartawan lain cuma membayar lima ratus tael emas, sedangkan dia diharuskan membayar seribu taei emas. Itulah yang membuatnya berkeberatan. Dia seorang hartawan yang sangat baik hati, selalu mendong orang namun malah tertimpa musibah."

"Putri kesayangannya lumpuh, hingga kini masih belum sembuh. Dia malah terkena penyakit aneh itu. Kita pernah menerima budi kebaikannya, tapi justru tidak bisa berbuat apa-apa di saat dia menderita sakit."

Tio Bun Yang yang mendengar itu menjadi tergerak hatinya, sebab ia pun mahir ilmu pengobatan. Karena itu, ia mendekati mereka sambil memberi hormat dan berkata dengan sopan.

"Maaf, Paman-paman, aku mengganggu sebentar!"

"Tidak apa-apa,"

Sahut salah seorang sambil memandangnya dan terkesan baik.

"Silakan duduk, anak muda!"

"Terimakasih, Paman!"

Tio Bun Yang duduk.

"Anak muda, engkau membutuhkan bantuan kami?"

Tanya orang itu.

"Aku ingin bertanya, penyakit aneh apa yang diderita hartawan Kwee?"

Jawab Tio Bun Yang.

"Engkau bukan orang sini?"

"Bukan.."

"Aaaaah...!"

Orang itu menghela nafas panjang.

"Bulan ini, mendadak para hartawan terserang penyakit aneh. Mereka yang terkena penyakit itu, mulut mengeluarkan buih, wajah pucat dan kehijau-hijauan, sekujur badan menggigil kedinginan? Tio Bun Yang manggut-manggUt.

"Lalu siapa yang mengobati para hartawan itu?"

"Muncul seorang tabib sakti, dan hanya dia yang mampu mengobati mereka. Namun pembayarannya mahal sekali..."

Orang itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Lima ratus tael emas?"

"Oh? Bagaimana keadaan hartawan Kwee sekarang?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Sudah mulai sekarat. Karena beliau berkeberatan membayar seribu tael emas."

Orang itu menghela nafas panjang.

"Dia seorang hartawan yang baik hati?"

"Betul. Tapi malah tertimpa musibah."

"Kalau begitu...."

Tio Bun Yang bangkit berdiri.

"Tolong antar aku ke rumahnya!"

"Anak muda...? Orang itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Mau apa engkau ke sana? Kalau engkau mau minta bantuan, kini bukan saatnya."

"Paman!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku ingin mencoba mengobatinya?"

"Anak muda, engkau...."

Orang itu terbelalak, begitu pula yang lain. Tio Bun Yang masih begitu muda, bagaimana mungkin mampu mengobati hartawan Kwee? Pikir mereka.

"Aku mahir ilmu pengobatan, maka apa salahnya kalian antar aku ke sana untuk mencoba mengobatinya? Lagipula hartawan Kwee sudah mulai sekarat. Kalau terlambat, tentunya hartawan Kwee akan menemui ajalnya."

Beberapa orang itu saling memandang, kemudian mengangguk.

"Baik, kami antar engkau ke sana!"

"Terimakasih!"

Ucap Tio Bun Yang.

Mereka segera mengantar Tio Bun Yang kerumah hartawan Kwee.

Banyak orang mengikutinya dari belakang, karena mendengar bahwa Tio Bun Yang akan mencoba mengobati hartawan Kwee.

Berselang beberapa saat sampailah mereka dirumah hartawan Kwee.

Rumah itu cukup besar, indah, halamannya luas dan terdapat taman bunga yang indah.

Nyonya Kwee menyambut mereka dengan mata basah.

Mereka segera memberitahukan tentang maksud kedatangan mereka.

"Oh?"

Nyonya Kwee langsung memandang Tio Bun Yang.

"Tabib muda, suami saya sudah Sekarat."

"Bibi!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku bukan tabib, tapi mengerti ilmu pengobatan, maka ingin mencoba mengobati hartawan Kwee."

"Mari ikut aku ke dalam!"

Ujar Nyonya Kwee.

Ia lalu berjalan ke dalam, dan Tio Bun Yang mengikutinya.

Sedangkan yang lain duduk di ruang depan dan menunggu di situ, karena ingin tahu bagaimana hasilnya.

Tio Bun Yang telah memasuki kamar hartawan Kwee.

Nyonya Kwee mendekati suaminya yang berbaring di tempat tidur.

Wajah hartawan Kwee pucat pias agak kehijau-hijauan, nafasnya lemah dan sekujur badannya menggigil kedinginan.

"Suamiku...."

Nyonya Kwee memandangnya dengan air mata bercucuran.

"Is... isteriku...."

Hartawan Kwee menatap isterinya dengan mata redup, kemudian memandang Tio Bun Yang.

"Kalau pemuda itu membutuhkan... sesuatu, bantu... bantulah dia!"

Katanya lEmah. Ucapan itu membuat Tio Bun Yang terharu. Dalam keadaan sakit, hartawan Kwee masih memikirkan kepentingan orang lain. Betapa bajik, luhur dan mulianya hati hartawan itu.

"Suamiku, pemuda itu bermaksud mencoba mengobatimu."

Nyonya Kwee memberitahukan.

"Oooh?"

Hartawan Kwee menghela nafas panjang.

"Aaaah! Bagaimana mungkin dia bisa mengobatiku?"

"Paman!"

Tio Bun Yang segera mendekatinya, sekaligus memeriksanya dengan intensif, lalu manggut-manggut.

"Bagaimana?"

Tanya Nyonya Kwee cepat.

"Apakah suamiku bisa ditolong?"

"Harap Bibi tenang!"

Sahut Tio Bun Yang, kemudian memasukkan sebutir pil pemunah racun ke dalam mulut hartawan Kwee. Setelah itu, ia berkata kepada Nyonya Kwee.

"Bibi, tolong ambilkan sebuah baskom!"

Nyonya Kwee segera mengambil sebuah baskom, Tio Bun Yang menerima lalu ditaruhnya dilantai.

Ia membangunkan hartawan Kwee untuk duduk di pinggir tempat tidur.

Sesudah itu ia menempelkan telapak tangannya di punggung hartawan Kwee lalu mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang.

Tak seberapa lama kemudian, hartawan Kwee mulai memuntahkan cairan kehijau-hijauan.

Berselang sesaat, hartawan Kwee berhenti muntah, dan seketika wajahnya tampak agak segar.

"Paman sudah sembuh sekarang,"

Ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Apa?!"

Hartawan Kwee tertegun. Kini suaranya tidak begitu lemah lagi.

"Aku... aku sudah sembuh?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Suamiku...."

Nyonya Kwee langsung memeluknya sambil menangis girang.

"Suamiku...."

"Oooh, isteriku!"

Hartawan Kwee tersenyum.

"Aku... aku tidak jadi mati...."

"Anak muda...."

Nyonya Kwee segera memberi hormat.

"Terimakasih atas pertolonganmu!"

"Anak muda...."

Hartawan Kwee bangkit berdiri sekaligus memberi hormat.

"Terimakasih...."

"Paman, dan Bibi tidak usah mengucapkan tenimakasih,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Berterimakasihlah kepada Thian (Tuhan)!"

"Isteriku, siapa pemuda ini? tanya hartawan Kwee.

"Dia...."

Nyonya Kwee menggelengkan kepala.

"Aku belum bertanya namanya."

"Namaku Tio Bun Yang, Bibi."

"Ha ha!"

Hartawan Kwee tertawa gelak dan tampak sudah sembuh.

"Engkau rnasih muda, namun sudah mahir ilmu pengobatan. Sungguh luar biasa dan mengagumkan. Ha ha ha...!"

"Bun Yang, siapa yang mengajarmu ilmu pengobatan?"

Tanya Nyonya Kwee sambil memandangnya.

"Ayahku."

"Kalau begitu, ayahmu pasti seorang tabib terkenal,"

Ujar hartawan Kwee, yang semakin kagum.

"Paman!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Ayahku memang mahir ilmu pengobatan, namun bukan tabib."

"Oh?"

Hartawan Kwee tercengang.

"Itu...."

"Ayahku sering menolong orang-orang yang menderita sakit, tapi tidak pernah mau menerima pembayaran."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kini ayahku tinggal mengasingkan diri di sebuah pulau."

"Kalau begitu...."

Hartawan Kwee manggut-manggut mengerti.

"Ayahmu pasti seorang pendekar yang berhati bajik."

"Tapi sudah belasan tahun ayahku tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan lagi,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Hidup tenang, damai dan bahagia bersama ibuku di pulau itu."

"Oooh!"

Hartawan Kwee manggut-manggut.

"Oh ya, sebetulnya aku mEngidap penyakit apa?"

"Bukan penyakit, melainkan terkena racun."

"Oh? Kalau begitu para hartawan lain juga terkena racun?"

Tanya hartawan Kwee terkejut.

"Ya,"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Menurutku, ada orang tertentu yang menyebarkan racun itu."

"Heran?"

Gumam hartawan Kwee.

"Siapa yang menyebarkan racun itu?"

Sebetulnya Tio Bun Yang telah mencurigai tabib sakti yang menyembuhkan para hartawan lain, namun ia tidak mau memberitahukan karena tiada bukti.

"Oh ya!"

Nyonya Kwee memberitahukan.

"Ada belasan orang menunggu di ruang depan, mari kita ke depan menemui mereka!"

Hartawan Kwee dan Tio Bun Yang mengangguk, lalu segera berjalan ke ruang depan.

Terbelalaklah orang-orang itu ketika melihat hartawan Kwee sudah sembuh, kemudian mereka memandang Tio Bun Yang dengan mulut ternganga lebar.

"Terimakasih!"

Ucap hartawan Kwee.

"Kalian telah mengantar pemuda ini ke mari, kalau tidak, mungkin aku sudah mati."

"Jadi...."

Tanya salah seorang yang bercakap-cakap dengan Tio Bun Yang di kedai teh.

"Anak muda ini menyembuhkan Tuan?"

"Betul."

Hartawan Kwee mengangguk sambil tersenyum.

"Itu... sungguh diluar dugaan, tapi syukurlah Tuan telah sembuh! Kami turut gembira."

"Terima kasih! Ha ha ha!"

Hartawan Kwee tertawa.

"Berhubung kalian yang mengantar pemuda ini kemari mengobatiku, maka aku akan menghadiahkan kalian sepuluh tael perak setiap orang.

"Tidak usah, Tuan!"

Ujar mereka yang memang sering menerima bantuan hartawan Kwee.

"Kalian harus menerima kalau tidak...."

Hartawan Kwee memandang mereka.

"Aku akan marah."

"Kalau begitu, kami mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Tuan,"

Ucap mereka semua.

Sementara Nyonya Kwee telah masuk ke dalam, tak lama sudah kembali keruangan itu sekaligus membagi-bagikan uang perak kepada mereka.

Mereka mengucapkan terima kasih lagi, lalu mohon pamit.

Kini di ruang itu hanya tinggal hartawan Kwee bersama isterinya dan Tio Bun Yang.

Hartawan Kwee memandang Tio Bun Yang dan kemudian menghela nafas panjang.

"Kenapa Paman menghela nafas panjang?"

Tanya Tio Bun Yang dengan rasa heran.

"Kini aku telah sembuh, namun putriku...."

Hartawan Kwee menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku telah mendengar tentang putri Paman, yang menderita penyakit lumpuh. Sudah berapa lama putri Paman menderita penyakit itu?"

"Sudah lima tahun."

Hartawan Kwee memberitahukan dengan wajah muram.

"Tiada seorang tabib pun yang mampu menyembuhkannya."

"Kalau begitu..."

Ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Aku akan mencoba mengobatinya."

"Oh!"

Wajah hartawan Kwee dan isterinya langsung berseri "Mari ikut kami ke kamar putri kami!"

Tio Bun Yang mengangguk, lalu mengikuti mereka menuju kamar Kwee Hui Khim, putri hartawan Kwee.

Kamar tersebut sungguh indah sekali, begitu pula tempat tidurnya Sosok yang kurus berbaring di tempat tidur itu, yang ternyata putri hartawan Kwee.

"Ayah"

Ibu "panggil Kwee Hui Khim.

"Nak!"

Nyonya Kwee segera membelainya dengan penuh kasih sayang dan memberitahukan.

"Ayahmu sUdah sembuh, pemuda itu yang menyembuhkan ayahmu."

"Oh"

Kwee Hui Khim memandang Tio Bun Yang.

"Terimakasih, Kak!"

"Sama-sama,"

Sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum dan mendekatinya.

"Adik, bolehkah aku tahu namamu?"

"Namaku Hui Khim, nama Kakak?"

"Namaku Tio Bun Yang."

"Kakak Bun Yang bisa menyembUhkan ayah, apakah juga akan bisa menyembuhkan penyakitku?"

Tanya gadis berusia lima belasan itU.

"Mudah-mudahan!"

Sahut Tio Bun Yang dengan tersenyum lembut. Kemudian ia menjulurkan tangannya untuk memeriksa gadis itu, namun mendadak ditarik kembali sambil memandang hartawan Kwee dan Nyonya Kwee.

"Tidak apa-apa,"

Sahut mereka berdua Serentak dan manggut-manggut.

"Silakan periksa Hui Khim!"

"Kakak Bun Yang,"

Kwee Hui Khim heran.

"Kenapa tidak berani memeriksa penyakitku? Takut menular ya?"

"Bukan."

Tio Bun Yang tersenyum.

"Hanya karena aku harus menyentuhmu, maka aku merasa tidak enak."

"Sebetulnya tidak apa-apa,"

Kwee Hui Khim tersenyum.

"Kakak Bun Yang menyentuhku karena ingin memeriksa penyakitku, bukan berbuat yang tidak-tidak. Jadi jangan mempermasalahkan itu."

Tio Bun Yang manggut-manggut, lalu mulai memeriksa nadi gadis itu. Keningnya tampak berkerut-kerut, setelah itu ia manggut-manggut seakan telah mengetahui sumber penyakit itu.

"Bagaimana? Apakah putriku bisa disembuhkan?"

Tanya hartawan Kwee seusai Tio Bun Yang memeriksa putrinya.

"Maaf!"

Ucap Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Bukan aku omong besar, kecuali aku, memang tabib yang mana pun tidak akan mampu mengobatinya."

"Oh?"

Wajah hartawan Kwee dan isterinya berseri.

"Kenapa putri kami bisa terserang penyakit lumpuh?"

"Sebetulnya merupakan penyakit bawaan lahir. Setelah ia berusia sekitar sepuluh tahun, peredaran darahnya mulai tidak lancar, lagi pula...."

Tio Bun Yang menjelaskan mengenai penyakit tersebut.

"Kalau begitu...."

Hartawan Kwee mengerutkan kening.

"Jangan cemas, paman!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku sanggup menyembuhkannya. Tapi...."

"Kenapa?"

"Telapak tanganku harus menyentuh punggungnya."

"Lakukan saja!"

Hartawan Kwee tersenyum. Ia tidak menyangka Tio Bun Yang begitu menjaga tata kesopanan. Tio Bun Yang mengangguk, lalu memandang Kwee Hui Khim seraya berkata.

"Adik, engkau harus duduk."

"Ya."

Kwee Hui Khim berusaha bangun lalu duduk.

"Tolong menghadap ke dalam!"

Ujar Tio Bun Yang.

Kwee Hui Khim mengangguk, lalu memutarkan badannya menghadap ke dalam.

Sedangkan Tio Bun Yang tetap berdiri.

Ia menumpukkan telapak tangannya di punggung gadis itu, kemudian mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang kedalam tubuh gadis tersebut.

Berselang sesaat tampak uap putih mengepul diubun-ubun gadis itu.

Terbelalaklah hartawan Kwee dan isterinya menyaksikan itu.

Mereka berdua saling memandang dengan wajah berseri.

Beberapa saat setelah itu, Tio Bun Yang menarik kembali lweekangnya.

"Adik,"

Ujarnya dengan tersenyum sambil menggandeng tangan Kwee Hui Khim.

"Mari turun!"

"Turun?"

Gadis itu tertegun.

"Aku tidak kuat berdiri. Bagaimana mungkin turun?"

"Percayalah!"

Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Engkau pasti kuat berdiri."

"Oh?"

Kwee Hui Khim kurang percaya. Namun ia menurut dan turun. Justru mengherankan, gadis itu kuat berdiri.

"Aku sudah kuat berdiri! Aku sudah kuat berdiri!"

"Sekarang cobalah engkau melangkah!"

Ujar Tio Bun Yang sambil memandangnya.

"Jangan ragu, cobalah melangkah!"

Kali ini Kwee Hui Khim sudah percaya, maka ia melangkah dan berhasil. Bayangkan, betapa gembiranya gadis itu.

"Aku sudah bisa jalan! Aku sudah bisa jalan!"

"Nak!"

Nyonya Kwee langsung memeluknya dengan mata bersimbah air saking girangnya.

"Anakku, engkau sudah sembuh."

Sementara hartawan Kwee terus memandang Tio Bun Yang dengan mata terbelalak, kelihatannya ia masih tidak percaya akan apa yang dilibatnya Sebab dalam waktu begitu singkat, Tio Bun Yang mampu menyembuhkan penyakit.

"Bun Yang, sebetulnya engkau manusia atau....."

"Paman!"

Tio Bun Yang tersenyum "Aku manusia biasa, jangan menganggapku dewa, lho!"

"Bukan main! Sungguh luar biasa! Aku tak habis pikir"

Gumam hartawan Kwee, kemudian tertawa gembira.

"Ha ha ha... .!"

"Ayah!"

Kwee Hui Khim juga tertawa dengan air mata bercucuran saking gembiranya "Aku sudah sembuh"

"Adik!"

Tio Bun Yang memandangnya dan ikut tertawa "Cobalah engkau berjalan ke ruang depan"' "Kakak Bun Yang""

Gadis itta tertegun "Apakah aku sekarang mampu berjalan ke ruang depan?"

"Cobalah!"

Sahut Tio Bun Yang sambil tersenyUm "Baik"

Kwee Hui Khim mengangguk, lalu berjalan perlahanlahan, dan akhirnya sampai juga ke ruang depan lalu duduk, hanya nafasnya tampak agak memburu "Aku betul-betul sudah sembuh Kakak Bun Yang, aku berhutang budi kepadamu "Adik, engkau jangan berkata begitu!"

Ujar Tio Bun Yang "Aku mengerti ilmu pengobatan, maka aku harus menolong orang-orang yang sakit. Karena itu, engkau sama sekali tidak berhutang budi kepadaku."

"Kakak Bun Yang..."

Kwee Hui Khim menatapnya kagum "Engkau sungguh baik, aku beruntung sekali bisa bertemu engkau"

"Bun Yang...."

Mendadak hartawan Kwee memegang bahunya.

"Entah harus bagaimana aku harus berterima kasih kepadamu"

"Itu tidak perlu, yang penting Hui Khim sudah sembuh,"

Sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Bun Yang..."

Betapa terharunya hartawan Kwee. Tio Bun Yang tersenyum lagi, kemudian membuka resep untuk Kwee Hui Khim. Diserahkannya resep itu kepada hartawan Kwee seraya bertanya.

"Kondisi badan Hui Khim masih lemah, maka harus makan obat. Beli tiga bungkus obat berdasarkan resep obat ini di toko obat. Percayalah, beberapa hari kemudian Hui Khim pasti pulih!"

"Terima kasih!"

Hartawan Kwee menerima resep itu, lalu cepat-cepat menyuruh salah seorang pembantu untuk pergi membeli obat itu.

"Paman, Bibi, aku mohon pamit!"

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Apa?"

Hartawan Kwee dan isterinya terbelalak.

"Kok begitu cepat?"

"Maaf!"

Ucap Tio Bun Yang "Aku masih harus meneruskan perjalanan, jadi tidak bisa lama-lama disini"

"Bun Yang..."

Hartawan Kwee menghela napas, kemudian memberi isyarat pada isterinya, yang kemudian berjalan ke dalam.

"Kakak Bun Yang!"

Kwee Hui Khim memandangnya dengan mata basah.

"Kenapa engkau begitu cepat mau pergi? "Adik!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku masih harus meneruskan perjalanan, tidak bisa lama-lama di sini. Harap Adik maklum...."

"Kakak Bun Yang""

Kwee Hui Khim terisak-isak "Kapan Kakak Bun Yang akan ke mari lagi?"

Tio Bun Yang tersenyum sambil membelainya, setelah itu barulah menjawab.

"Apabila ada kEsempatan, aku pasti ke mari menengokmu."

"Jangan bohong, Kakak Bun Yang!"

"Aku tidak pernah membohongimU, namun kalau aku sempat lho!"

"Kakak Bun Yang "

Mendadak Kwee Hui Khim mendekap di dadanya "Biar bagaimana pun, KakAk Bun Yang harus ke mari kelak."

"Ya."

Tio Bun Yang membelainya lagi.

Nyonya Kwee telah kembali ke ruang depan dengan membawa sebuah bungkusan dari kain.

Setelah putrinya melepaskan dekapan di dada Tio Bun Yang, Nyonya Kwee memberikan bungkusan itu kepada Tio Bun Yang.

"Bibi..."

Tio Bun Yang tahu bahwa bungkusan itu berisi uang perak atau uang emas.

"Aku tidak akan menerima pemberian ini."

"Bun Yang,"

Desak hartawan Kwee.

"Engkau harus menerimanya!"

"Paman!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Mengobati Paman dan Hui Khim bukan demi suatu imbalan, aku cuma menolong."

"Kalau begitu..."

Hartawan Kwee tersenyum pula.

"Terimalah ini, wakili aku menolong fakir miskin!"

"ini...."

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Bun Yang,"

Ujar hartawan Kwee sungguh-sungguh.

"Engkau masih harus meneruskan perjalanan, tentunya engkau akan bertemu dengan orang susah. Bantulah mereka dengan uang yang kuberikan ini!"

"Kalau begitu... baiklah."

Tio Bun Yang menerimanya, lalu berpamit.

Hartawan Kwee dan isterinya dan Kwee Hui Khim mengantarkannya sampai di depan rumah.

Setelah Tio Bun Yang tidak kelihatan, barulah mereka masuk ke dalam dan Kwee Hui Khim pun menangis terisak-isak.

-oo0dw0oo-Tio Bun Yang telah meninggalkan rumah hartawan Kwee,namun mendadak muncul dua orang yang berpakaian warna-warni mendekatinya.

Kedua orang itu memberi hormat seraya berkata.

"Maaf. Kami diutus ke mari untuk menjemput Anda!"

"Oh?"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku mau dijemput ke mana?"

"Menemui Kauwcu kami."

"Aku tidak kenal Kauwcu kalian, maka aku tidak perlu menemuinya."

"Maaf! Kalau kami tidak berhasil mengundang Anda ke sana, kami pasti dihukum. Kami harap Anda maklum dan menaruh kasihan pada kami."

Tio Bun Yang berpikir, sejenak kemudian mengangguk.

"Baiklah. Antarlah aku pergi menemui Kauwcu kalian!"

"Terimakasih, terimakasih !"

Kedua orang itu menarik nafas lega.

"Silakan ikut kami!"

Tio Bun Yang mengikuti kedua orang itu.

Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai ditempat yang sepi, di mana tampak sebuah bangunan besar.

Kedua orang tersebut terus berjalan menuju Bangunan itu.

Mendadak muncul beberapa orang berpakaian warna warni lainnya.

Ketika mereka melihat kedua orang itu kembali bersama Tio Bun Yang, berserilah wajah mereka.

"Untung kalian berdua berhasil mengundang siauwhiap ini ke mari. Kalau tidak, kalian berdua pasti dihukum."

Kedua orang itu menarik nafas lega, kemudian yang satu bertanya.

"Dimana Kauwcu?"

"Di ruang tengah, sedang menunggu kalian. Cepatlah kalian masuk!"

"Terimakasih!"

Ucap kedua orang itu, lalu mengajak Tio Bun Yang masuk.

Begitu memasuki bangunan itu, kening Tio Bun Yang langsung berkerut.

Apalagi ketika memasuki sebuah lorong yang agak gelap.

Ternyata Ia mencium bau racun.

Berselang beberapa saat, sampailah Ia di ruang tengah.

Belasan orang berpakaian warna warni berbaris di sisi kiri kanan.

Tampak seorang wanita duduk di situ, dan di sisi kiri kanannya berdiri dua orang tua berpakaian hitam dan putih.

Kedua orang tua itu adalah Hek Pek Siang Sat (Sepasang Algojo Hitam Putih).

Tio Bun Yang tidak dapat menaksir berapa usia wanita itu.

sebab wanita itu memakai cadar.

"Kauwcu, kami telah berhasil mengundang siauw hiap ini ke mari."

Ujar seorang yang mengundang Tio Bun Yang.

"Bagus! Kalian telah melaksanakan tugas kalian dengan baik, maka kedudukan kalian akan dinaikkan."

Sahut Ngo Tok Kauwcu.

"Terima kasih, Kauwcu!"

Ucap kedua orang itu dengan wajah berseri.

"Sekarang kalian boleh kembali ke tempat."

Ujar Ngo Tok Kauwcu sambil mengibaskan tangannya.

"Ya? Kedua orang itu memberi hormat, lalu meninggalkan ruang itu. Sementara Tio Bun Yang menengok ke sana ke mari, dan melihat begitu banyak binatang beracun merayap di ruang itu, yaitu ular, kalajengking, laba-laba dan lain sebagainya.

"Silakan duduk, siauwhiap!"

Ucap Ngo Tok Kauwcu. Tio Bun Yang duduk.

"Aku adalah Ngo Tok Kauwcu (Ketua Agama Lima Racun)!"

Wanita bercadar itu memberitahukan.

"Bolehkah aku tahu siapa siauwhiap?"

"Namaku Tio Bun Yang,"

Sahut pemuda itu, lalu bertanya.

"Ada keperluan apa Kauwcu mengundangku ke mari?"

"Aku tidak menyangka, engkaupun kebal terhadap berbagai macam racun,"

Ujar Ngo Tok Kauwcu sambil menatapnya. Bagaimana perubahan wajah Ngo Tok Kauwcu, Tio Bun Yang tidak mengetahuinya, karena berada di balik cadar.

"Bahkan telah memunahkan racun yang mengidap di tubuh hartawan Kwee. Secara tidak langsung, engkau telah merusak semua rencanaku."

"Kauwcu!"

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Aku tidak tahu Kauwcu mempunyai rencana apa pun. Yang kuketahui Kauwcu telah melakukan kejahatan, karena menyebarkan racun yang jahat itu."

"Tio siauwhiap, engkau harus tahu. Aku berbuat begitu karena sangat membutuhkan uang. Dalam hal ini aku harap siauw hiap maklum,"

Ujar Ngo Tok Kauwcu memberitahukan.

"Tapi itu merupakan perbuatan yang tak terpuji, karena menyangkut nyawa orang. Kauwcu tidak memikirkan itu? Kalau aku terlambat sampai di rumah hartawan Kwee, nyawanya pasti melayang."

"Benar."

Ngo Tok Kauwcu mengangguk sambil tertawa. Merdu dan nyaring suara tawanya, membuktikan bahwa wanita itu masih muda.

"Seandainya engkau tidak ke sana, Hek Sat (Algojo Hitam) pasti ke sana menyembuhkannya."

"Oh?"

Tio Bun Yang tertegun.

"Kami cuma membutuhkan uang, sama sekali tidak ingin membunuh orang,"

Ujar Ngo Tok Kauwcu dan menambahkan.

"Karena kelancanganmu mengobati hartawan Kwee, kami menderita kerugian besar."

"Kauwcu, bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Silakan!"

"Kenapa Kauwcu begitu membutuhkan uang?"

"Sebetulnya itu merupakan rahasia perkumpulAn kami, tapi siauwhiap yang bertanya, maka akan kujawab agar siauw hiap tidak menganggap kami sebagai penjahat,"

Sahut Ngo Tok Kauwcu.

"Belasan tabun yang lalu, ayahku mati dibunuh teman baiknya. Pada waktu itu, aku sedang belajar ilmu silat di tempat guruku. Setahun lalu, aku pulang dan barulah mengetahui bahwa ayahku telah mati dibunuh teman baiknya, otomatis Ngo Tok Kauw pun bubar. Cuma tersisa beberapa anggota dan Hek Pek Siang Sat yang amat setia kepada almarhum. Oleh karena itu, aku bersumpah mencari pembunuh ayahku, sekaligus membangun kembali Ngo Tok Kauw. Tapi aku membutuhkan biaya yang cukup besar...."

"Jadi dengan. cara itu engkau memeras para hartawan? tanya Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Apa boleh buat."

Ngo Tok Kauwcu menghela nafas panjang.

"Karena tiada jalan lain untuk memperoleh uang, lagi pula para hartawan itu sangat kaya. Akan tetapi aku tidak akan membuat mereka habis-habisan."

"Kalau begitu, mengapa engkau minta pembayaran seribu tael emas kepada hartawan Kwee? Pada hal hartawan lain cuma membayar lima ratus tael emas, itu dikarenakan apa?"

"Karena aku hanya membutuhkan seribu tael emas lagi, maka aku meminta pembayaran sebesar itu. Siauwhiap harus tahu, tidak mungkin aku akan minta kepada hartawan yang telah kami sembuhkan. Lagi pula sudah tiada lagi hartawan lain yang mampu membayar lima ratus tael emas, maka kami minta pembayaran seribu tael emas pada hartawan Kwee,"

"Ka1ian memang agak keterlaluan"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Siauwhiap, sesungguhnya kami tidak keterlaluan."

Sahut Ngo Tok Kauwcu.

"Ka1au kami memeras orang miskin, itu baru boleh dikatakan keterlaluan."

"Kalian membutuhkan uang untuk membangun kembali Ngo Tok Kauw, tapi telah menyusahkan para hartawan."

Ujar Tio Bun Yang, dan menambahkan.

"Bukankah sementara ini, Ngo Tok Kauw tidak dibangun kembali dulu?"

"Siauwhiap harus tahu, pembunuh ayahku itu kini telah mendirikan Seng Hwee Kauw. Kalau aku tidak membangun kembali Ngo Tok Kauw, tentunya sulit bagiku menuntut balas."

Ngo Tok Kauwcu memberitahukan.

"Maka aku harap Siauwhiap mengerti!"

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Balas membalas, bunuh membunuh dan dendam mendendam! Kenapa harus begitu? Kapan akan berakhir semuanya itu?"

"Siauwhiap tergolong kaum rimba persilatan, tentunya tahu di rimba persilatan tidak akan terlepas dan semua itu,"

Ujar Ngo Tok Kauwcu.

"Yang sangat kusesalkan adalah pembunuh itu, karena dia adalah teman baik almarhum!"

"Oh ya! Kenapa ayahmu bisa dibunuh teman baiknya?"

Tanya Tio Bun Yang mendadak.

"Belasan tahun yang lalu, ayahku memperoleh sebuah peta penyimpanan kitab Pusaka Seng Hwee Cin Keng Ayahku terlampau baik hati. Ketika mau berangkat, ayahku mengajak teman baiknya itu. Ayahku memperoleh kitab pusaka tersebut, sedangkan teman baik ayahku memperoleh pil Seng Hwee Tan Karena itu, timbulah niat jahat dalam hati teman baik ayahku itu. Dia mengusulkan lebih baik bersama mempelajari kitab pusaka itu, dan ayahku setuju! Akan tetapi, disaat itulah dia turun tangan jahat terhadap ayahku. Ayahku masih berhasil meloloskan diri, namun akhirnya mati juga di tangan orang itu. Bahkan orang itu pun membunuh seseorang yang menolong ayahku, maka kitab pusaka itu jatuh ketangannya. Kini orang itu telah mendirikan Seng Hwee Kauw, dia adalah Seng Hwee Sin Kun"

"Ooooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Kok engkau begitu jelas tentang kejadian itu?"

"Hek Pek Siang Sat yang memberitahukan kepadaku,"

Sahut Ngo Tok Kauwcu.

"Oleh karena itu, aku harus membangun kembali Ngo Tok Kauw agar dapat melawan Seng Hwee Kauw."

"Ternyata begitu..."

Tio Bun Yang manggut-manggut, kemudian menaruh bungkusan yang dibawanya ke atas meja seraya berkata.

"ini hadiah dari hartawan Kwee. Sebetulnya aku tidak mau terima, tapi hartawan Kwee terus mendesak, maka aku terpaksa menerimanya dengan maksud dipergunakan untuk menolong orang miskin. Berhubung Kauwcu sangat membutuhkan uang, jadi kuberikan kepada Kauwcu saja. Isinya berupa uang perak atau uang emas, aku sama sekali tidak tahu karena tidak memeriksanya."

"Oh?"

Ngo Tok Kauwcu kelihatan tertegun. Begitu pula Hek Pek Siang Sat, yang berdiri di sisi kiri kanannya. Mereka sama sekali tidak menyangka, Tio Bun Yang akan memberikan uang itu.

"Nah!"

Tio Bun Yang bangkit berdiri seraya berkata.

"Sekarang aku mohon diri!"

"Terimakasih atas kebaikan siauwhiap, tapi...?"

"Kenapa?"

"Peraturan Ngo Tok Kauw, apabila ada tamu yang diundang, sebelum pergi harus dijajal kepandaiannya?"

"Kauwcu!"

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Itu tidak perlu."

"Harus,"

Sahut Ngo Tok Kauwcu. Sesungguhnya tidak ada peraturan tersebut, tapi wanita itu ingin menjajal kepandalan Tio Bun Yang.

"Kalau tidak, siauwhiap tidak bisa meninggalkan tempat ini."

"Kauwcu!"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa harus merusak suasana?"

"Itu sudah merupakan peraturan."

Sahut Ngo Tok Kauwcu sambil tertawa, kemudian berkata kepada Hek Sat.

"Ambilkan kecapiku!"

"Kauwcu...."

Hek Sat tampak ragu.

"Cepat ambilkan!"

Bentak Ngo Tok Kauwcu.

"Ya, Kauwcu."

Hek Sat segera pergi mengambil kecapi tersebut, kemudian ditaruh di atas meja.

"Kalian semua boleh meninggalkan ruang ini,"

Ujar Ngo Tok Kauwcu dan berpesan.

"Bawa juga semua binatang beracun yang ada di ruang ini!"

"Ya, Kauwcu."

Hek Pek Siang Sat mengangguk, lalu mengibaskan tangannya.

Para anggota Ngo Tok Kauw yang berdiri di situ langsung meninggalkan ruang itu.

Barulah Hek Pek Siang Sat berjalan pergi sambil bersiul dan seketika semua binatang beracun yang ada di situ merayap pergi mengikuti mereka.

"Tio siauwhiap!"

Ngo Tok Kauwcu memandang monyet bulu putih yang duduk diam dibahu Tio Bun Yang.

"Bagaimana monyet itu?"

"Tidak apa-apa."

Tio Bun Yang tersenyum.

"Biar kauw-heng tetap duduk di bahuku."

"Baiklah."

Ngo Tok Kauwcu mengangguk.

Ketika Tio Bun Yang berada di rumah hartawan Kwee, monyet bulu putih tetap duduk dibahunya.

Begitu pula di saat Tio Bun Yang mengobati hartawan Kwee dan putrinya.

Hartawan Kwee dan isterinya memang tahu aturan, sama sekali tidak bertanya tentang monyet bulu putih itu.

"Kauwcu ingin memainkan kecapi itu?"

Tanya Tio Bun Yang sambil memandang alat musik yang ada di atas meja.

"Betul Sahut Ngo Tok Kauwcu "Tio siauwhiap harus tahu, aku akan memainkan Mi Hun Mo Im (Suara Iblis Menyesatkan Sukma), maka Siauwhiap harus berhati-hati Kalau tidak kuat bertahan, jangan memaksa diri karena siauwhiap akan terluka dalam."

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Kalau begitu..."

Jari tangan Ngo Tok Kauwcu menyentuh tali senar kecapi itu.

"Aku akan mulai."

Cring!

Cring!

Cring...!

Jari tangan Ngo Tok Kauw mulai bergerak memetik tali senar alat musik itu.

Perlu diketahui, tali senar itu berjumlah empat.

Kini Ngo Tok Kauwcu hanya memetik dua di antaranya, namun cukup mengejutkan Tio Bun Yang, sebab ia mUlai terpengaruh oleh Mi Hun Mo Im itu.

Segeralah ia mengerahkan ilmu PenakLuk Iblis.

Barulah ia terbebas dan pengaruh itu, otomatis wajahnya berseri.

Bukan main kagumnya Ngo Tok Kauwcu, tapi juga merasa penasaran karena Tio Bun Yang tidak terpengaruh Karena itu, ia mulai memetik tali senar ke tiga, sehingga suara kecapi itu semakin tajam dan meninggi.

Akan tetapi, Tio Bun Yang tetap tidak terpengaruh, sebaliknya wajahnya malah bertambah berseri.

Ngo Tok Kauwcu semakin kagum, namun juga semakin penasaran dan membuatnya jadi nekat.

Ia mulai memetik tali senar ke empat.

Itu sungguh mengejutkan Tio Bun Yang, sebab pemuda itu tahu akhirnya Ngo Tok Kauwcu akan mengalami luka dalam, apabila ia kuat bertahan.

Oleh karena itu, Ia cepat-cepat mengeluarkan suling pualamnya, sekaligus meniupnya.

Terdengarlah suara suling yang amat halus menekan suara kecapi itu.

Tio Bun Yang memang menggunakan suara suling pualamnya untuk menekan suara kecapi agar Ngo Tok Kauwcu akan berhenti memainkan kecapinya jadi tidak akan mengalami luka dalam.

Itu memang benar.

Ngo Tok Kauwcu telah memetik tali senar ke empat, maka tidak bisa berhenti mendadak.

Apabila ia berhenti mendadak, pasti mati terserang oleh Mi Hun Mo Im itu.

Di saat ia dalam keadaan gugup dan panik, dilihatnya Tio Bun Yang mengeluarkan suling pualamnya.

Tak lama terdengarlah suara suling pualam yang amat halus, dan seketika dadanya jadi lega.

Suara suling pualam itu berhasil menekan suara kecapi, karena Tio Bun Yang mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang untuk meniup suling pualamnya itu.

Berselang beberapa saat kemudian, Ngo Tok Kauwcu pun berhenti, lalu memandang Tio Bun Yang sambil menarik nafas dalam-dalam.

Tio Bun Yang pun berhenti meniup suling pualamnya, lalu memandang Ngo Tok Kauwcu sambil tersenyum lembut.

"Terima kasih Tio siauwhiap!"

Ucapnya sambil memberi hormat.

"Kauwcu,"

Ujar Tio Bun Yang berpesan.

"Jangan sembarangan memetik tali senar ke empat itu, sangat membahayakan dirimu."

"Aku terlampau penasaran,"

Sahut Ngo Tok Kauwcu sambil menundukkan kepala.

"Karena itu aku lalu nekat."

"Tiada artinya kan?"

Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Untung aku memiliki suling pualam ini. Kalau tidak, bukankah Kauwcu akan celaka?"

"Ya,"

Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut.

"Tio siauwhiap, engkau memang merupakan pendekar yang berhati bajik. Aku kagum sekali kepadamu."

"Terima kasih!"

Ucap Tio Bun Yang sambil menyimpan suling pualamnya kedalam bajunya.

"Oh ya! Kenapa Kauwcu memakai cadar?"

"Karena...."

Ngo Tok Kauwcu menghela nafas panjang.

"Karena wajahku telah rusak oleh racun. Sedangkan aku dan Hek Pek Siang Sat tak dapat membuat obat pemunahnya."

"Oh?"

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Kauwcu, bolehkah aku melihat wajahmu?"

"Jangan!"

Ngo Tok Kauwcu menggelengkan kepala.

"Karena akan mengejutkan Tio siauw hiap, wajahku... sungguh menakutkan."

"Tidak apa-apa,"

Ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Aku ingin memeriksa wajah Kauwcu."

"Tapi...."

Ngo Tok Kauwcu tampak ragu.

"Jangan ragu, Kauwcu!"

Desak Tio Bun Yang.

"Mudahmudahan aku bisa mengobati wajahmu."

"Baiklah? Perlahan-lahan Ngo Tok Kauwcu melepaskan kain cadarnya. Tio Bun Yang terbelalak sebab wajah Ngo Tok Kauwcu memang sungguh menakutkan. Membengkak dan bernanah, bahkan berlubang-lubang kecil.

"Kenapa wajah Kauwcu bisa jadi begitu?"

"Aaaah "

Ngo Tok Kauwcu menghela nafas panjang.

"Aku meramu semacam racun, khususnya untuk membunuh Seng Hwee Sin Kun. Namun akU tidak berhasil meramu racun itu, sebaliknya malah membuat wajahku jadi keracunan begini."

"Ooooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggUt.

"Kauwcu, bolehkah aku memerika wajahmu?"

"Silakan!"

Sahut Ngo Tok Kauwcu, Namun wanita itu tidak yakin Tio Bun Yang dapat menyembuhkan wajahnya.

Tio Bun Yang mengeluarkan sebatang jarum perak, setelah itu mulailah memeriksa wajah Ngo Tok Kauwcu dengan jarum perak itu secara intensif sekali.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah ia manggutmanggut, sambil membersihkan jarum perak itu, yang lalu disimpan ke dalam bajunya.

"Bagaimana? Bisakah engkau mengobati Wajahku?"

Tanya Ngo Tok Kauwcu sambil memandangnya.

"Mudah-mudahan!"

Sahut Tio Bun Yang dengan tersenyum lalu bertanya.

"Oh ya, disini tersimpan Coa Cih Cauw (Daun Lidah Ular) dan...?"

"Ada!"

Ngo Tok Kauwcu mengangguk. Ia memang menyimpan beberapa macam daun dan rumput obat tersebut.

"Tolong ambilkan!"

Ujar Tio Bun Yang. Ngo Tok Kauwcu menepuk tangan tiga kali, kemudian muncullah Hek Pek Siang Sat, yang lalu memberi hormat kepada Ngo Tok Kauwcu.

"Ada perintah apa, Kauwcu?"

"Ambilkan daun dan rumput obat...."

Ngo Tok Kauwcu menyuruh mereka mengambil daun dan rumput obat tersebut.

"Ya, Kauwcu."

Hek Pek Siang Sat segera pergi mengambil daun dan rumput obat itu. Tak seberapa lama, mereka sudah kembali kesitu dengan membawa daun dan rumput obat itu, yang lalu ditaruhnya di atas meja.

"Kauwcu,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Tolong tumbuk sampai halus daun dan rumput obat itu!"

Ngo Tok Kauwcu mengangguk, lalu menumbuk daun dan rumput obat itu sampai halus, setelah itu ditaruh ke dalam sebuah mangkok tembaga.

Tio Bun Yang mengambil dua butir obat pemunah racun, lalu dihancurkannya sekaligus dimasukkan ke dalam mangkok tembaga itu, dan diaduknya.

Sementara Hek Pek Siang Sat saling memandang.

Mereka berdua tahu Tio Bun Yang mencoba mengobati wajah Kauwcu mereka.

Namun mereka berdua tidak yakin Tio Bun Yang akan berhasil.

"Maaf!"

Ucap Tio Bun Yang.

"Aku akan mengoleskan obat ini diwajahmu, boleh kan?"

Ngo Tok Kauwcu manggut..manggut. Dengan hati-hati sekali Tio Bun Yang mengoleskan obat itu di wajah Ngo Tok Kauwcu. Itu membuat Ngo Tok Kauwcu berterima kasih dan terharu.

"Harus tunggu sebentar,"

Ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum. Mudah-mudahan wajahmu akan sembuh!"

Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut, Tio Bun Yang duduk diam, sedangkan Hek Pek Siang Sat berdiri mematung di sisi kiri kanan Ngo Tok Kauwcu, mereka berdua berharap wajah Kauwcu bisa sembuh.

Tak lama kemudian, Tio Bun Yang menyuruh Hek Sat mengambil sebaskom air hangat.

Hek Sat mengangguk dan segera pergi mengambil sebaskom air hangat lalu ditaruh di atas meja.

"Terima kasih!"

Ucap Tio Bun Yang. Kemudian ia memandang Ngo Tok Kauwcu seraya berkata.

"Silakan Kauwcu mencuci muka sekarang!"

"Mencuci muka?"

Ngo Tok Kauwcu tertegun.

"Tapi... ."

"Jangan ragu, cucilah mukamu!"

Sahut Tio Bun Yang mendesaknya sambil tersenyum lembut.

Ngo Tok Kauwcu menatapnya sejenak, setelah itu barulah mulai mencuci mukanya.

Berselang sesaat, Ia mendongakkan kepalanya.

Seketika Hek Pek Siang Sat berseru kaget dengan mata terbelalak lebar.

"Haaah... .?"

"Kenapa?"

Tanya Ngo Tok Kauwcu dengan rasa heran.

"Wajah Kauwcu! Wajah Kauwcu!"

"Kenapa wajahku?"

Tanya Ngo Tok Kauwcu tegang.

"Wajah Kauwcu sudah sembuh,"

Sahut Hek Pek Siang Sat serentak dengan wajah berseri.

"Wajah Kauwcu sudah sembuh."

"Apa?!"

Ngo Tok Kauwcu kurang percaya.

"Wajahku telah sembuh?"

"Benar."

Tio Bun Yang manggut-manggut sambil tersenyum.

"Cobalah Kauwcu raba!"

Dengan tangan agak bergemetar Ngo Tok Kauwcu merabaraba wajahnya Ternyata wajahnya sudah berubah halus.

Betapa terkejut dan gembiranya Ngo Tok Kauwcu.

Mulut ternganga lebar dan matanya terbelalak menatap Tio Bun Yang.

"Wajahku... wajahku... ."

Tio Bun Yang hanya tersenyum.

Sedangkan Hek Sat segera mengambil sebuah kaca, lalu diberikan kepada Ngo Tok Kauwcu.

Ngo Tok Kauwcu langsung mengaca, dan begitu melihat wajahnya Ia langsung menangis terisak-isak.

Memang sungguh di luar dugaan, karena wajahnya sudah sembuh, sehingga tampak cantik.

"Selamat, Kauwcu!"

Ucap Tio Bun Yang.

"Tio siauwhiap...."

Gadis berusia dua puluhan itu langsung berlutut di hadapan Tio Bun Yang. Ketika melihat Ngo Tok Kauwcu berlutut, Hek Pek Siang Sat pun ikut berlutut di hadapan Tio Bun Yang.

"Bangunlah!"

Tio Bun Yang mengangkat bangun Ngo Tok Kauwcu.

"Tidak usah begini!"

Ngo Tok Kauwcu terus menangis terisak-isak sambil bangkit berdiri, begitu pula Hek Pek Siang Sat.

"Tio siauwhiap,"

Ujar gadis itu dengan air mata berderaiderai sambil duduk.

"Namaku Phang Ling Cu. Aku... aku telah berhutang budi kepadamu."

"Jangan berkata begitu!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"ini cuma kebetulan saja.."

"Tio siauwhiap, bolehkah aku tahu siapa ayahmu?"

Tanya Ngo Tok Kauwcu mendadak.

"Ayahku bernama Tio Cie Hiong."

"Hah? Apa?"

Phang Ling Cu dan Hek Pek Siang Sat tampak terkejut sekali.

"Pek Ih Sin Hiap adalah ayahmu?"

"Ya."

"Aaaah... ."

Ngo Tok Kauwcu Phang Ling Cu menghela nafas panjang,"Pantas engkau dapat menyembuhkan wajahku, karena Sok Beng Yok Ong adalah guru ayahmu"

"Kok Kauwcu tahu?"

Tanya Tio Bun Yang "Hek Peng Siang Sat yang memberitahukan,"

Sahut Ngo Tok Kauwcu Phang Ling Cu.

"Sungguh beruntung aku bertemu engkau!"

"Tao siauwhiap,"

Ujar Hek Sat.

"Kami sama sekali tidak menyangka, bahwa engkau adalah putera Pek Ih Sin Hiap yang sangat kesohor itu. Maafkan kami, yang telah berlaku kurang hormat terhadapmu, Tio siauwhiap!"

"Jangan berkata begitu,"

Ujar Tao Bun Yang "Sesungguhnya kalian sangat baik terhadapku."

"Tio siauwhiap!"

Ngo Tok Kauwcu tersenyum.

"Usiaku lebih tua darimu, bagaimana kalau aku memanggilmu adik, dan engkau memanggilku kakak?"

"Baik."Tio Bun Yang tersenyum.

"Adik Bun Yang."

Ngo Tok Kauwcu tertawa gembira, begitu pula Hek Pek Siang Sat.

"Kakak Ling Cu, aku sudah harus mohon diri."

Tio Bun Yang bangkit berdiri.

"Karena harus meneruskan perjalanan."

"Adik Bun Yang...."

Wajah Ngo Tok Kauwcu berubah muram.

"Bagaimana kalau engkau tinggal di sini beberapa hari?"

"Maaf Kakak Ling Cu!"

Ucap Tio Bun Yang.

"Aku harus segera meneruskan perjalanan, lain kali aku akan ke mari lagi.

"Baiklah,"

Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut, lalu menyerahkan bungkusan yang diambilnya di atas meja kepada Tio Bun Yang.

"Jangan lupa membawa bungkusan ini!"

"Kakak Ling Cu!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Engkau sangat membutuhkan uang, jadi itu untukmu saja."

"Adik Bun Yang...."

"Kakak Ling Cu, sampai jumpa!"

Tio Bun Yang melangkah pergi. Ngo Tok Kauwcu dan Hek Pek Siang Sat mengantarnya sampai di depan, dan setelah Tio Bun Yang hilang dan pandangan mereka, barulah mereka kembali masuk.

"Aaaah...."

Ngo Tok Kauwcu menghela nafas panjang.

"Sungguh tak disangka, dia malah menyembuhkan wajahku!"

"Ternyata Pek Ih Sin Hiap Tio Cie Hiong adalah ayahnya!"

Ujar Hek Sat memberitahukan.

"Ketika ayahmu masih hidup, ingin sekali ayahmu bertemu Pek Ih Sin Hiap, namun...."

"Ayahmu keburu mati,"

Sambung Pek Sat sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kini malah putranya yang menyembuhkan wajahmu. Sungguh hebat ilmu pengobatannya!"

"Maklum,"

Ujar Hek Sat.

"Ayahnya pernah ikut Sok Beng Yok Ong, maka Bun Yang pun mahir ilmu pengobatan."

"Aaaah....!"

Ngo Tok Kauwcu menghela nafas lagi.

"Yang jelas Ngo Tok Kauw telah berhutang budi padanya." -oo0dw0oo-Bagian 26 Menolong seorang Tua Tio Bun Yang telah meninggalkan kota Kang Shi, dan kini memasuki sebuah hutan. Tiba-tiba ia mendengar suara rintihan. Segeralah ia melesat ke sana. Dilihatnya seorang tua berusia enam puluhan duduk bersandar di sebuah pohon sambil merintih-rintih. NafasnyA memburu, dan wajahnya pucat pias.

"Paman...."

Tio Bun Yang mendekatinya.

"Anak muda..."

Sahut orang tua itu lemah.

"Kakiku terpagut ular beracun."

"Oh?"

Tio Bun Yang cepat-cepat memeriksa kaki orang tua itu.

Memang terdapat bekas pagutan ular di betisnya.

Tio Bun Yang segera menotok beberapa jalan darah di dada orang tua itu, agar racun ular tidak menjalar ke jantung.

Setelah itu, ia mengeluarkan jarum peraknya, kemudian mengorek bekas pagutan ular.

Sementara orang tua itu terus menatapnya dengan mata redup.

Usai mengorek bekas pagutan ular itu, Tio Bun Yang memasukkan sebutir obat pemunah racun ke dalain mulut si orang tua.

Tak seberapa lama, tampak darah hitam mengalir ke luar dan bekas pagutan ular.

Berselang sesaat, yang keluar berganti darah merah, Tio Bun Yang segera menotok jalan darah di kaki orang tua itu.

Seketika darah merah berhenti mengalir dan Tio Bun Yang menarik nafas lega.

Nafas orang tua itu tidak memburu lagi, dan wajahnya pun tampak agak segar.

Betapa gembiranya orang tua itu, kemudian ucapnya.

"Terimakasih anak muda, engkau telah menyelamatkan nyawaku!"

"Paman..."

Tio Bun Yang tersenyum "Dimana rumah Paman? Aku akan mengantar Paman pulang."

"Tidak jauh dan sini,"

Sahut orang tua itu sambil menunjuk ke arah timur.

Tio Bun Yang menggendong orang tua itu, lalu melesat ke arah timur menuju rumah orang tua tersebut.

Tak seberapa lama, sampailah ia di rumah orang tua itu.

Ditaruhnya orang tua itu ke tempat duduk, kemudian ia pun duduk di hadapannya".

"Kenapa Paman berada di hutan itu?"

"Aku mencari daun obat-obatan, tapi tanpa sengaja aku menginjak ular beracun, dan kemudian ular itu memagut betisku."

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Paman seorang diri tinggal di rumah ini?"

"Ya."

Orang tua itu mengangguk lalu bertanya.

"Anak muda, bolehkah aku tahu siapa engkau?"

"Namaku Tio Bun Yang, Paman."

"Aku Sie Kuang Han!"

Orang tua itu memberitahukan.

"Aku mempunyai seorang anak, namanya Sie Keng Hauw."

"Kok tidak kelihatan anak paman itu?"

"Dia berada di tempat gurunya, mungkin tidak lama lagi akan pulang."

Sie Kuang Han menatapnya.

"Anak muda, terimakasih atas pertolonganmu."

"Tidak usah berterimakasih, Paman!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Kebetulan aku lewat di hutan itu, dan mendengar suara rintihan Paman."

"Oooh""

Sie Kuang Han manggut-manggut.

"Engkau masih muda, tapi mahir ilmu pengobatan. Aku yakin, engkau pasti berkepandaian tinggi."

Tio Bun Yang hanya tersenyum. Mendadak Sie Kuang Han menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Paman kenapa?"

Tanya Tio Bun Yang heran.

"Sudah belasan tahun aku tinggal di sini, tidak sangka hari ini engkau yang menyelamatkan nyawaku."

"Selama belasan tahun, Paman tidak pernah meninggalkan tempat ini?"

"Tidak pernah."

Sie Kuang Han menghela napas panjang lagi "Aku memang mengasingkan diri disini Karena di luar sana sudah tidak karuan."

"Tidak karuan? Maksud paman?"

"Kerajaan kacau balau, Thay Kam yang berkuasa di istana. Kelihatannya Dinasti Beng tidak bertahan lebih lama lagi"

"Paman mantan pembesar?" -oo0dw0oo-

Jilid 6

"Aku memang mantan pengawal seorang jenderal,"

Sahut Sie Kuang Han sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Jenderal itu saudara Kandungku, namanya Sie Kuang Weng. Belasan tahun lalu, Lu Thay Kam memfitnah saudaraku. Karena itu, kaisar langsung menghukum mati kami sekeluarga. Aku membawa putraku melarikan diri, namun saudaraku sekeluarga...."

"Dihukum mati semua?"

Sambung Tio Bun Yang.

"Ya."

Sie Kuang Han mengangguk dengan mata basah.

"Saudaraku mempunyai seorang putri bernama Sie Hui San, entah bagaimana nasibnya? mudah-mudahan ada orang menolongnya!"

"Kalau Sie Hui San selamat, kira-kira berapa usianya sekarang?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Sekitar tujuh belas."

Sie Kuang Han memberitahukan.

"Di lehernya terdapat sebuah tanda merah. Akan tetapi, bagaimana mungkin dia bisa selamat?"

"Oh ya! Sudah berapa lama putra Paman berada di tempat gurunya?"

"Sudah hampir sepuluh tahun. Apabila dia berhasil menguasai kepandaian tinggi, dia harus pergi membunuh Lu Thay Kam itu."

"Paman...."

Tio Bun Yang menggeleng-geleng kan kepala.

"Apa gunanya bunuh-membunuh? Tiada artinya sama sekali."

"Anak muda!"

Sie Kuang Han menatapnya "Lu Thay Kam itu memfitnah saudaraku ingin memberontak, akhirnya kaisar menghukum mati saudaraku sekeluarga, bahkan isteriku pun di hukum mati.

Itu merupakan dendam kesumat, maka Lu Thay Kam harus dibunuh!"

"Paman...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala lagi, kemudian bangkit berdiri.

"Paman, aku mohon pamit!"

"Kenapa begitu cepat?"

"Aku masih harus meneruskan perjalanan Sampai jumpa, Paman!"

"Anak muda...."

Sie Kuang Han menghela nafas panjang.

Sedangkan Tio Bun Yang terus berjalan meninggalkan rumah itu.

-oo0dw0oo.

Ketika matahari mulai condong ke ufuk barat, Bun Yang telah sampai di sebuah kota kecil, mendadak ia mendengar suara pertempuran, dan segera melesat ke tempat itu.

Ternyata pasukan kerajaan sedang bertempur dengan para pemberontak, korban pun berjatuhan.

Menyaksikan pertempuran itu, Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala.

Para pemberontak bertempur mati matian, dan pasukan kerajaan yang berjumlah ratusan orang itu terus menyerang para pemberontak yang tersisa puluhan orang, sebab sudah banyak vang mati dan terluka.

"Habiskan mereka semua!"

Seru pemimpin pasukan kerajaan.

"Jangan sampai ada yang meloloskan diri!"

Sebetulnya Tio Bun Yang tidak mau mencampuri urusan itu. Namun ia merasa tidak tega melihat para pemberontak dibantai oleh pasukan kerajaan.

"Kauw heng, aku terpaksa harus menolong para pemberontak itu,"

Ujarnya kepada monyet putih yang duduk di bahunya.

Monyet bulu putih bercuit sambil manggut-manggut, seakan menyetujuinya.

Tio Bun Yang menarik nafas dalam dalam, setelah itu mendadak melesat ke depan, lalu beijungkir balik ke arah pemimpin pasukan kerajaan itu.

Betapa terkejutnya pemimpin pasukan kerajaan ketika melihat sosok bayangan melesat ke ....

Jilid 6 Halaman 6-7 ga ada ..... itu sambil memberi hormat.

"Silakan masukk!."

Tio Bun Yang memandang kedua orang yang mengantarnya, dan kedua orang itu segera berkata "Silakan masuk, siauw hiap! Kami menunggu di luar saja."

Tio Bun Yang manggut-manggut, lalu melangkah memasuki tenda itu. Dilihatnya seorang lelaki berusia empat puluh, yang gagah dan berwibawa duduk di situ.

"Oh, siauw hiap!"

Lelaki itu tertawa gembira sambil bangkit berdiri.

"Silakan duduk!"

"Terimakasih!"

Ucap Tio Bun Yang lalu duduk "Siauw hiap!"

Lelaki itu memandangnya sambil memperkenalkan diri.

"Aku Lie Tsu Seng, terima kasih atas pertolonganmu!".

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut"

Ternyata Paman adalah Lie Tsu Seng yang di sanjung rakyat! Kebetulan aku lewat di kota kecil itu. Karena menyaksikan pertempuran yang tak seimbang maka aku turun tangan menolong para pemberontak itu."

"Mereka para anak buahku"

Lie Tsu Seng memberitahukan.

"Kalau siauw hiap tidak segera muncul, mereka pasti mati. Sekali lagi kuucapkan terimakasih kepada siauw hiap!"

"Paman tidak usah mengucapkan terima kasih kepadaku. Paman ingin membebaskan penderitaan rakyat, maka wajar aku membantu mereka"

Ujar Tio Bun sambil tersenyum.

"Oh ya, nama siauw hiap ?"

"Namaku Tio Bun Yang "

"Tio siauw hiap masih sangat muda, tapi berkepandaian begitu tinggi. Itu sungguh di luar dugaan dan mengagumkan! Ha..ha..ha!"

"Paman!"

Tio Bun Yang memandangnya.

"Ada sesuatu penting Paman mengundangku kemari?"

"Begini, kini kerajaan sudah bobrok. Para Thay Kam dan menteri saling merebut kekuasaan, sedangkan kaisar cuma tahu bersenang-senang, sehingga membuat rakyat menderita sekali. Tio Sauw hiap berkepandaian begitu tinggi, bagaimana kalau bergabung dengan kami?"

"Maaf, Paman!"

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Aku tidak mau mencampuri urusan politik kerajaan."

"Aaaah...."

Lie Tsu Seng menghela nafas panjang "Sungguh sayang sekali! Padahal saat ini tenagamu sangat dibutuhkan rakyat."

"Maaf, Paman!"

Ucap Tio Bun Yang sambil bangkit berdiri.

"Aku tidak mau mencampuri urusan pemberontakan."

"Tio siauw hiap...."

Lie Tsu Seng tampak kecewa sekali.

"Paman, banyak pemberontakan di sana sini. Paman harus menyatukan mereka, agar kuat. Kalau tidak. Paman tidak akan berhasil,"

Ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Usul yang tepat!"

Lie Tsu Seng tertawa gernbira.

"Aku pasti berupaya menyatukan mereka!! "Oh ya!"

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kalau aku bertemu Bibi Suan Hiang, aku akan berunding dengan dia supaya dia mau bergabung dengan Paman."

"Siapa dia?"

Tanya Lie Tsu Seng tertarik.

"Bibi Suan Hiang adalah ketua Tiong Ngie Pay."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Mungkin Bibi Suan Hiang akan bergabung dengan Paman"

"Ketua Tiong Ngie Pay?"

Wajah Lie Tsu berseri.

"Perkumpulan itu khususnya menentang Hiat Ih Hwe, kan?' "Betul."

"Bagus, bagus!"

Lie Tsu Seng tertawa gelak.

"Sudah lama aku ingin menemui ketua Tiong Ngie Pay itu, namun tidak mempunyai waktu. Kebetulan engkau ingin bicara kepadanya, itu sungguh bagus sekali. Tolong sampaikan salamku kepadanya, dan semoga mereka bersedia bergabung dengan kami!"

"Pasti kuusahakan,"

Ujar Tio Bun Yang berjanji.

"Terimakasih!"

Ucap Lie Tsu Seng sambil tertawa gembira.

"Ha ha ha...!"

"Paman, aku mohon pamit!"

"Baiklah."

Lie Tsu Seng mengangguk, lain mengantar Tio Bun Yang sampai di luar tenda.

"Sampai jumpa, Paman!"

Ucap Tio Bun Yang ambil memberi hormat, kemudian melesat pergi laksana kilat.

"Bukan main!"

Seru Lie Tsu Seng kagum.

"Masih begitu muda tapi berkepandaian begitu tinggi" ---ooo0dw0ooo---..... itu sambil memberi hormat.

"Silakan masukk!."

Tio Bun Yang memandang kedua orang yang mengantarnya, dan kedua orang itu segera berkata "Silakan masuk, siauw hiap! Kami menunggu di luar saja."

Tio Bun Yang manggut-manggut, lalu melangkah memasuki tenda itu. Dilihatnya seorang lelaki berusia empat puluh, yang gagah dan berwibawa duduk di situ.

"Oh, siauw hiap!"

Lelaki itu tertawa gembira sambil bangkit berdiri.

"Silakan duduk!"

"Terimakasih!"

Ucap Tio Bun Yang lalu duduk "Siauw hiap!"

Lelaki itu memandangnya sambil memperkenalkan diri.

"Aku Lie Tsu Seng, terima kasih atas pertolonganmu!".

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut"

Ternyata Paman adalah Lie Tsu Seng yang di sanjung rakyat! Kebetulan aku lewat di kota kecil itu. Karena menyaksikan pertempuran yang tak seimbang maka aku turun tangan menolong para pemberontak itu."

"Mereka para anak buahku"

Lie Tsu Seng memberitahukan.

"Kalau siauw hiap tidak segera muncul, mereka pasti mati. Sekali lagi kuucapkan terimakasih kepada siauw hiap!"

"Paman tidak usah mengucapkan terima kasih kepadaku. Paman ingin membebaskan penderitaan rakyat, maka wajar aku membantu mereka"

Ujar Tio Bun sambil tersenyum.

"Oh ya, nama siauw hiap ?"

"Namaku Tio Bun Yang "

"Tio siauw hiap masih sangat muda, tapi berkepandaian begitu tinggi. Itu sungguh di luar dugaan dan mengagumkan! Ha..ha..ha!"

"Paman!"

Tio Bun Yang memandangnya.

"Ada sesuatu penting Paman mengundangku kemari?"

"Begini, kini kerajaan sudah bobrok. Para Thay Kam dan menteri saling merebut kekuasaan, sedangkan kaisar cuma tahu bersenang-senang, sehingga membuat rakyat menderita sekali. Tio Sauw hiap berkepandaian begitu tinggi, bagaimana kalau bergabung dengan kami?"

"Maaf, Paman!"

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Aku tidak mau mencampuri urusan politik kerajaan."

"Aaaah...."

Lie Tsu Seng menghela nafas panjang "Sungguh sayang sekali! Padahal saat ini tenagamu sangat dibutuhkan rakyat."

"Maaf, Paman!"

Ucap Tio Bun Yang sambil bangkit berdiri.

"Aku tidak mau mencampuri urusan pemberontakan."

"Tio siauw hiap...."

Lie Tsu Seng tampak kecewa sekali.

"Paman, banyak pemberontakan di sana sini. Paman harus menyatukan mereka, agar kuat. Kalau tidak. Paman tidak akan berhasil,"

Ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Usul yang tepat!"

Lie Tsu Seng tertawa gernbira.

"Aku pasti berupaya menyatukan mereka!! "Oh ya!"

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kalau aku bertemu Bibi Suan Hiang, aku akan berunding dengan dia supaya dia mau bergabung dengan Paman."

"Siapa dia?"

Tanya Lie Tsu Seng tertarik.

"Bibi Suan Hiang adalah ketua Tiong Ngie Pay."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Mungkin Bibi Suan Hiang akan bergabung dengan Paman"

"Ketua Tiong Ngie Pay?"

Wajah Lie Tsu berseri.

"Perkumpulan itu khususnya menentang Hiat Ih Hwe, kan?' "Betul."

"Bagus, bagus!"

Lie Tsu Seng tertawa gelak.

"Sudah lama aku ingin menemui ketua Tiong Ngie Pay itu, namun tidak mempunyai waktu. Kebetulan engkau ingin bicara kepadanya, itu sungguh bagus sekali. Tolong sampaikan salamku kepadanya, dan semoga mereka bersedia bergabung dengan kami!"

"Pasti kuusahakan,"

Ujar Tio Bun Yang berjanji.

"Terimakasih!"

Ucap Lie Tsu Seng sambil tertawa gembira.

"Ha ha ha...!"

"Paman, aku mohon pamit!"

"Baiklah."

Lie Tsu Seng mengangguk, lain mengantar Tio Bun Yang sampai di luar tenda.

"Sampai jumpa, Paman!"

Ucap Tio Bun Yang ambil memberi hormat, kemudian melesat pergi laksana kilat.

"Bukan main!"

Seru Lie Tsu Seng kagum.

"Masih begitu muda tapi berkepandaian begitu tinggi" ---ooo0dw0ooo---Tio Bun Yang terus melanjutkan perjalanan. Di saat saat memasuki sebuah rimba, mendadak muncul belasan orang berpakaian hijau dengan berbagai macam senjata di tangan. Belasan orang berpakaian hijau itu langsung mengurungnya, dan Tio Bun Yang memandang mereka dengan kening berkerut.

"Siapa kalian?"

Tanyanya.

"Kenapa mengurungku?"

"Engkau adalah Giok Siauw Sin Hiap -Tio Bun Yang, bukan?"

Tanya salah seorang, yang rupanya pemimpin belasan orang berpakaian hijau itu.

"Betul."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Kami para anggota Seng Hwee Kauw! Hari ini engkau harus mampus di tangan kami!"

"Oh?"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Kita tidak bermusuhan, kenapa kalian ingin membunuhku?"

"Ini perintah dari ketua kami!"

"Siapa ketua kalian?"

"Seng Hwee Sin Kun!"

"Apakah Seng Hwee Sin Kun punya dendam denganku?"

"Kami tidak tahu! Yang jelas ketua perintahkan kami membunuhmu! Bersiap-siaplah engkau untuk mati!"

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Kenapa kalian mematuhi perintahnya yang bukan-bukan ini?"

"Seng Hwee Sin Kun adalah ketua kami sudah barang tentu kami harus mematuhi semua perintahnya!"

"Sudahlah!"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Lebih baik kalian membiarkan aku pergi." 'Tidak bisa! Pokoknya kami harus membunuhmu!"

Sahut orang itu.

"Kalian semua betul-betul cari penyakit,"

Ujar Tio Bun Yang sambil mengeluarkan suling pualam nya. Sedangkan monyet bulu putih tetap duduk di bahunya.

"Serang dia!"

Seru pemimpin para anggota Seng Hwee Kauw itu.

Orang-orang itu langsung menyerang Tio Bun Yang dengan berbagai macam senjata.

Tio Bun Yang segera berkelit menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou, kemudian balas menyerang dengan ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Khi dan mengeluarkan jurus Hai Lang Thau Thau (Ombak Laut Menderu-Deru), Hoan Thian Coan Te (Membalikkan Langit Memutarkan Bumi) dan jurus Han In Giok Siauw (Ribuan Bayangan Suling Kumala).

Baca Juga: Dewi Maut 5

Baca Juga: Suling Emas 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert