Eps 11 Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong
Baca online Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong
Cersil Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong.
Dengan air mata meleleh samar-samar dilihatnya wajah Hong-ting dan Hong-sing Taysu sama menampilkan rasa kasihan padanya.
Tiba-tiba Lenghou Tiong teringat ketika di kota Heng-san dulu waktu Lau Cing-hong hendak cuci tangan dan mengundurkan diri dari dunia persilatan, soalnya dia bergaul dengan gembong Mo-kau Kik Yang, akhirnya jiwanya melayang di tangan jago-jago Ko-san-pay.
Dari peristiwa itu dapat diketahui bahwa antara cing-pay dan sia-pay tak mungkin hidup bersama, sampai-sampai tokoh masam Lau Cing-hong juga tak terhindar dari kematian lantaran bergaul dengan kaum sia-pay, apalagi dirinya yang tidak punya sandaran apa-apa, lebih-lebih sesudah terjadi keonaran besar yang diperbuat kawanan iblis sia-pay di Ngo-pah-kang.
Terdengar Hong-ting berkata dengan perlahan.
"Lautan derita tak bertepi, berpaling kembali ada gili-gili. Sekalipun penjahat yang tak terampunkan, asalkan mau sadar dan bertekad memperbaiki, maka pintu Buddha akan selalu terbuka baginya. Usiamu masih muda, kau baru kejeblos dan salah bergaul dengan orang jahat, masakah seterusnya tiada jalan bagimu untuk memperbaiki? Hubunganmu dengan Hoa-san-pay sekarang sudah putus sama sekali, selanjutnya boleh masuk Siau-lim-pay kami, perbaikilah semua kesalahan yang lalu dan jadilah manusia baru. Dengan begini kiranya orang Bu-lim juga tiada yang dapat membikin susah padamu."
Diam-diam Lenghou Tiong berpikir dirinya sedang menghadapi jalan buntu, jika sekarang mau berlindung di bawah pengaruh Siau-lim-pay, bukan saja akan mendapatkan lwekang yang tinggi dan jiwa sendiri dapat diselamatkan, bahkan dengan nama kebesaran Siau-lim-pay, terang tiada seorang Kangouw pun berani cari perkara pada murid Hong-ting Taysu.
Namun pada saat itu juga mendadak timbul wataknya yang kepala batu, katanya dalam hati.
"Seorang laki-laki sejati tidak mampu berdikari di atas bumi ini dan mesti merendahkan diri mohon perlindungan kepada golongan lain, terhitung orang gagah macam apakah ini? Sekalipun beribu orang Kangouw ingin membunuh aku, biarkan mereka membunuh saja. Suhu tidak sudi padaku lagi dan memecat aku dari Hoa-san-pay, apa alangannya jika selanjutnya aku pergi-datang sendirian dengan bebas?"
Terpikir demikian, seketika darahnya bergolak dan mulut terasa dahaga, ingin rasanya minum arak sepuas-puasnya dan tak terhiraukan lagi akan mati atau hidup.
Bahkan bayangan Gak Leng-sian yang biasanya senantiasa terbayang sekarang juga tak terpikirkan lagi.
Ia berbangkit dan menjura beberapa kali kepada Hong-ting berdua, lalu berkata dengan suara lantang.
"Wanpwe tidak disukai perguruan lagi, tapi juga malu untuk masuk perguruan lain. Welas asih kedua Taysu sungguh tak terhingga terima kasih Wanpwe, biarlah Wanpwe mohon diri saja sekarang."
Hong-ting melengak melihat kepala batu pemuda yang tak gentar mati itu. Segera Hong-sing berkata.
"Siauhiap, persoalan ini menyangkut mati-hidupmu, hendaknya kau pikir masak-masak dan jangan keburu nafsu."
Namun Lenghou Tiong tidak bicara pula, ia putar tubuh dan keluar dari kamar itu, dadanya penuh rasa penasaran, tapi langkahnya sangat cepat dan enteng, dengan tindakan lebar ia keluar dari Siau-lim-si.
Anak murid Siau-lim-si sama heran melihatnya, tapi juga tidak merintangi kepergiannya.
Keluar dari kuil agung itu, Lenghou Tiong menengadah dan tertawa panjang, suara tawa yang penuh rasa pedih dan duka.
Pikirnya.
"Setiap orang cing-pay sekarang sama anggap aku sebagai musuh, orang-orang sia-pay juga bertekad akan membunuh aku. Besar kemungkinan hidupku ini takkan melampaui hari ini. Lihat saja siapakah yang akan mencabut nyawaku ini."
Ia coba meraba baju sendiri, ternyata sakunya tak beruang, pedang pun sudah tidak punya, bahkan kecapi hadiah Ing-ing pun entah hilang di mana, ia benar-benar dalam keadaan rudin tak miliki apa-apa.
Tanpa khawatirkan apa pun segera ia turun dari pegunungan itu.
Menjelang petang, cukup jauh ia meninggalkan Siau-lim-si, badan terasa penat dan perut sangat lapar.
Ia pikir ke mana mencari sedikit barang makanan.
Tiba-tiba terdengar suara tindakan orang ramai, tujuh-delapan orang tampak lari mendatang dari sebelah barat sana.
Pakaian orang-orang itu sama ringkas kencang dari membawa senjata, lari mereka sangat tergesa-gesa.
"Apakah kalian hendak membunuh aku? Jika begitu silakan saja supaya aku tidak perlu repot-repot mencari makanan segala?"
Demikian pikirnya. Maka ia lantas berdiri bertolak pinggang di tengah jalan dan berseru.
"Ini dia Lenghou Tiong berada di sini. Yang ingin membunuh aku lekas beri tahukan dulu namanya!"
Siapa duga sesampai di depannya orang-orang itu hanya memandang sekejap saja padanya, lalu lewat di sebelahnya.
"Orang ini tentu orang gila!"
Demikian kata seorang di antaranya.
"Ya, jangan gubris dia, supaya tidak bikin runyam urusan penting kita,"
Kata seorang pula.
"Benar, jika keparat itu sampai kabur tentu bisa celaka,"
Tambah lagi orang ketiga.
Dan hanya sekejap saja beberapa orang itu sudah menghilang di kejauhan.
Baru sekarang Lenghou Tiong mengetahui bahwa orang-orang itu sedang mengejar seorang lain.
Baru saja rombongan tadi menghilang, tiba-tiba terdengar pula dari arah barat tadi berkumandang suara derapan kaki kuda yang riuh.
Lima penunggang kuda tampak membalap tiba dan lalu di sampingnya.
Kira-kira belasan meter jauhnya, sekonyong-konyong seorang penunggang kuda itu memutar balik, penunggangnya adalah seorang wanita setengah umur, tanyanya kepada Lenghou Tiong.
"Numpang tanya, apakah Anda melihat seorang kakek berjubah putih? Kakek itu bertubuh tinggi kurus dan membawa sebatang golok melengkung."
"Tidak,"
Sahut Lenghou Tiong sambil menggeleng. Wanita itu tidak tanya lebih jauh, segera ia putar kembali kudanya terus menyusul kawan-kawannya. Diam-diam Lenghou Tiong membatin.
"Apa barangkali mereka sedang mengejar dan hendak menangkap kakek berjubah putih yang mereka tanya itu? Aku lagi iseng, coba aku ikut ke sana untuk melihat keramaian."
Segera ia putar haluan dan menyusul ke jurusan orang-orang tadi.
Tidak seberapa lama, kembali dari belakang ada belasan orang berlari datang lagi.
Orang ini semuanya adalah laki-laki kekar dan berbaju hijau, tiap-tiap orang bersenjatakan dua batang badik mengilap.
Dari seragam pakaian dan senjata mereka terang mereka adalah orang-orang dari suatu perguruan.
Ketika melihat Lenghou Tiong, seumur 50-an tahun berpaling dan bertanya.
"Eh, adik cilik, apakah kau lihat seorang kakek berjubah putih? Badannya tinggi kurus dan membawa golok melengkung?"
"Tidak, tidak melihat orang begitu,"
Jawab Lenghou Tiong.
Tidak lama kemudian, sampailah di suatu persimpangan tiga, terdengar pula suara kelening kuda bergema dari barat daya sana, tiga penunggang tampak mendatang dengan cepat.
Kuda-kuda itu semuanya sangat gagah, penunggangnya adalah pemuda berumur 20-an.
Sambil mengacungkan cambuknya, pemuda yang paling depan menegur Lenghou Tiong.
"He, numpang tanya apakah kau lihat seorang ...."
"Seorang tua berjubah putih, berbadan tinggi kurus dan membawa senjata golok melengkung bukan?"
Demikian Lenghou Tiong menyambung. Keruan ketiga pemuda itu menjadi girang, berbareng mereka berkata.
"Benar! Di manakah dia?"
Tapi Lenghou Tiong lantas angkat bahu sambil menghela napas, jawabnya.
"Entah, aku tidak melihatnya."
Pemuda pertama kali menjadi gusar, bentaknya.
"Kurang ajar! Jadi kau sengaja mempermainkan kami saja? Jika tidak melihatnya dari mana kau tahu orang tua itu?"
"Apakah tidak melihatnya lantas tidak boleh tahu?"
Sahut Lenghou Tiong tersenyum. Pemuda itu angkat cambuknya hendak menyabat kepala Lenghou Tiong, tapi seorang kawannya telah mencegahnya.
"Jite, jangan bikin onar! Marilah kita lekas susul ke sana."
Pemuda pertama tadi mendengus sambil membunyikan cambuknya di udara, lalu melarikan kudanya ke jurusan semula. Diam-diam Lenghou Tiong membatin.
"Tampaknya orang-orang itu adalah jago-jago silat semua, beramai-ramai mereka mengejar seorang kakek, entah apa sebabnya? Hal ini sungguh menarik, biarlah aku ikut pergi ke sana untuk melihat ramai-ramai. Tapi kalau mereka tahu aku adalah Lenghou Tiong tentu aku akan dibunuhnya seketika."
Terpikir demikian ia menjadi rada takut. Tapi lantas terpikir pula.
"Saat ini baik dari cing-pay maupun dari sia-pay sama-sama ingin membunuh aku, walaupun aku dapat main sembunyi-sembunyi dan dapat menunda masa hidup ini untuk beberapa lama, tapi akhirnya toh sukar terhindar dari kematian. Lalu apa artinya toh sukar tertunda sehari-dua hari? Kan lebih baik terserah keadaan saja, coba ajalku ini akan tamat di tangan siapa?"
Begitulah segera ia menyusul ke arah kepulan debu yang dijangkitkan oleh ketiga penunggang kuda tadi.
Untuk selanjutnya ada beberapa kelompok orang lagi yang sama menanyakan padanya tentang si kakek jubah putih, Lenghou Tiong menjadi heran, pengejar-pengejar itu tidak mengetahui di mana beradanya si kakek, yang mereka tempuh adalah satu jurusan yang sama, hal ini benar-benar aneh.
Setelah beberapa li jauhnya, sesudah menyusuri sebuah hutan cemara, tiba-tiba di depan terbentang sebuah dataran yang lapang, di situlah berkerumun banyak orang sedikitnya ada enam-tujuh ratus orang, tanah datar itu sungguh sangat luas sehingga beberapa ratus orang itu hanya mengambil sebagian kecil tanah lapang itu.
Sebuah jalan besar lurus menembus ke tengah-tengah kerumunan orang-orang itu, segera Lenghou Tiong melangkah ke sana mengikuti jalan itu.
Sesudah dekat, terlihat di tengah-tengah kerumunan orang-orang itu ada sebuah gardu kecil.
Orang-orang itu hanya mengepung di sekitar gardu itu dari jarak beberapa meter jauhnya dan tidak berani mendekat.
Gardu itu sebenarnya digunakan untuk istirahat bagi kaum pelancong yang lalu di situ, bangunannya sederhana dan rada buruk.
Ketika Lenghou Tiong lebih mendekat lagi dilihatnya di tengah gardu itu ternyata ada seorang kakek berjubah putih, kakek itu seorang diri dan duduk menyanding sebuah meja dan sedang minum arak.
Apakah kakek itu membawa golok melengkung atau tidak seketika sukar diketahui.
Biarpun berduduk tapi tingginya hampir menyamai berdirinya orang biasa, jelas menandakan perawakan si kakek pasti sangat tinggi.
Walaupun dikepung orang sebanyak itu, tapi si kakek tampaknya tenang-tenang saja dan minum arak seenaknya, mau tak mau timbul rasa kagumnya Lenghou Tiong, terasa kesatria-kesatria yang pernah dijumpainya selama hidup ini tiada seorang pun yang segagah seberani si kakek.
Perlahan-lahan ia melangkah maju dan menyusup di tengah orang banyak.
Orang-orang itu semuanya sedang memandang si kakek jubah putih dengan mata tak berkedip sehingga kedatangan Lenghou Tiong itu tidak menimbulkan perhatian mereka.
Ketika Lenghou Tiong mengamat-amati si kakek, dilihat jenggotnya yang panjang jarang-jarang itu sudah memutih dan terjulai di depan dada, tangannya memegang cawan arak, matanya memandang jauh ke ujung langit sana, sedikit pun tidak ambil pusing terhadap beberapa ratus orang yang mengepung di sekitarnya itu.
Waktu memerhatikan pinggangnya, nyata di situ tergantung sebuah golok panjang berbentuk melengkung.
Sudah tentu Lenghou Tiong tidak tahu nama dan asal usul si kakek, juga tidak tahu mengapa dia bermusuhan dengan orang Bu-lim sebanyak itu, lebih-lebih tidak tahu apakah si kakek dari golongan cing-pay atau sia-pay, soalnya cuma kagum kepada sikapnya yang gagah berani sehingga timbul rasa simpatinya yang senasib.
Segera ia melangkah maju dan menyapa.
"Locianpwe, kau sendirian tanpa teman, tentu merasa kesepian, biar aku mengiringimu minum arak."
Tanpa diundang ia lantas masuk ke gardu itu, setelah memberi hormat lalu ia duduk di sebelah sana.
Kakek itu berpaling, sorot matanya yang tajam mengawasi Lenghou Tiong dari muka sampai ke ujung kaki.
Terlihat pemuda yang tak dikenal ini tidak membawa senjata, wajahnya rada pucat.
Ia rada heran, tapi ia pun tidak menjawab melainkan cuma mendengus saja.
Lenghou Tiong lantas angkat poci arak, lebih dulu ia menuangi cawan di depan si kakek, lalu menuang pula sebuah cawan yang lain.
"Mari!"
Ajaknya, arak secawan penuh itu terus ditenggak habis sekaligus. Arak itu sangat keras, mulut serasa disayat-sayat dan laksana api membakar perut.
"Ehmm, arak bagus!"
Demikian puji Lenghou Tiong.
"He, bocah itu!"
Mendadak seorang laki-laki di luar gardu sana membentak dengan nada kasar.
"Lekas keluar dari situ. Kami hendak mengadu jiwa dengan Hiang-lothau, jangan kau mengacau dan mengalang-alangi di situ."
"Aku minum arak sendiri bersama Hiang-locianpwe, alangan apa mengenai urusanmu?"
Sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. Segera ia menuang secawan lagi dan ditenggak habis pula. Sambil mengacungkan ibu jari ia memuji.
"Arak bagus!"
Tiba-tiba dari sebelah kiri sana seorang berseru.
"Hei, lekas enyah bocah itu, jangan kau bikin jiwamu melayang percuma di sini. Atas perintah Tonghong-kaucu kami hendak menangkap pemberontak Hiang Bun-thian itu, jika orang luar berani ikut mengacau tentu akan kami bikin dia mati tak terkubur."
Waktu Lenghou Tiong memandang ke arah datangnya suara, kiranya pembicara itu adalah seorang laki-laki kurus kecil dan bermuka kuning.
Di sebelah laki-laki kurus kecil itu berdiri dua-tiga ratus orang berbaju seragam hijau, ada laki-laki dan ada perempuan, ada hwesio dan juga ada orang biasa.
Baju mereka hijau seragam, hanya ikat pinggang mereka yang beraneka warna dan berbeda-beda.
Ikat pinggang laki-laki kurus kecil itu berwarna kuning, di antara dua-tiga ratus orang itu hanya dia sendiri yang pakai ikat pinggang kuning.
Lenghou Tiong jadi teringat kepada Kik Yang, itu gembong Mo-kau yang dilihatnya di luar kota Heng-san dahulu, baju yang dipakai Kik Yang juga berwarna hijau, kalau tidak salah ikat pinggangnya juga berwarna kuning.
Sekarang laki-laki kurus kecil ini menyatakan hendak menangkap pemberontak atas perintah Tonghong-kaucu, jika demikian orang-orang itu terang adalah anggota Mo-kau setingkat dengan Kik Yang sama-sama tianglo (tertua) dari agama sesat itu.
"Arak bagus!"
Demikian kembali ia menenggak habis secawan arak. Lalu katanya kepada si kakek berjubah putih yang bernama Hiang Bun-thian itu.
"Hiang-locianpwe, Cayhe telah minum tiga cawan arakmu, banyak terima kasih!"
Pada saat itulah mendadak di sebelah timur sana ada orang berteriak.
"Bocah itu adalah murid Hoa-san-pay yang dipecat, namanya Lenghou Tiong!"
Lenghou Tiong coba memerhatikan siapa yang bicara itu, kiranya adalah murid Jing-sia-pay yang bernama Kau Jin-hong.
Sekarang dengan jelas dapat dilihatnya bahwa di sekitar Kau Jin-hong masih banyak pula jago-jago Ngo-gak-kiam-pay.
"Hei, Lenghou Tiong,"
Terdengar seorang tosu di antaranya berseru.
"gurumu mengatakan kau berkomplot dengan kaum iblis, nyatanya memang benar. Kedua tangan Hiang Bun-thian itu berlumuran darah kaum kesatria dan pendekar, apa yang kau lakukan bersama dia? Jika kau tidak lekas menyingkir, sebentar orang banyak akan mencencangmu hingga hancur luluh."
"Yang bicara itu Susiok dari Thay-san-pay bukan?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Cayhe selamanya tidak kenal Hiang-locianpwe ini. Tapi kalian berjumlah beberapa ratus orang dan mengepung dia sendirian, terhitung perbuatan macam apakah ini? Sejak kapan lagi jago Ngo-gak-kiam-pay bersatu dengan orang Mo-kau? Cing-pay dan sia-pay sekarang telah bersatu menghadapi Hiang-locianpwe sendiri, apakah hal ini takkan ditertawai oleh setiap kesatria di dunia ini?"
Tosu itu menjadi gusar, jawabnya.
"Bilakah kami bersatu dengan orang Mo-kau untuk menangkap anggota murtad mereka? Kita hanya ingin menuntut balas bagi kawan-kawan kita yang terbunuh oleh bangsat keparat ini. Masing-masing mengerjakan kepentingannya sendiri, satu dan lain tiada sangkut paut."
"Bagus, bagus, bagus, jika begitu, asalkan kalian bertempur satu lawan satu, maka aku akan menyaksikan keramaian ini sambil duduk minum arak di sini,"
Ujar Lenghou Tiong tertawa.
"Kau ini kutu macam apa?"
Bentak Kau Jin-hong.
"Ayolah beramai-ramai binasakan dulu bocah ini, kemudian baru bikin perhitungan dengan bangsat she Hiang itu."
Dengan tertawa Lenghou Tiong berkata.
"Untuk membinasakan aku Lenghou Tiong seorang kenapa mesti pakai maju beramai-ramai segala? Silakan Kau-heng maju sendiri saja dan beres!"
Dahulu Kau Jin-hong pernah ditendang terjungkal ke bawah loteng restoran di kota Heng-san, ia tahu kepandaian sendiri masih kalah jauh maka sekarang ia pun tidak berani maju, ia tidak tahu bahwa tenaga dalam Lenghou Tiong sudah punah.
Sedangkan kawan-kawannya rupanya jeri terhadap kelihatan Hiang Bun-thian sehingga tidak berani menyerbu ke dalam gardu itu.
"Orang she Hiang,"
Demikian terdengar laki-laki kurus kecil dari Mo-kau tadi berteriak.
"urusan sudah begini, jika kau tahu gelagat, lebih baik ikut saja dengan kami untuk menghadap Kaucu dan mohon keringanan keputusannya. Kau pun terhitung jago agama kita, apakah perlu kita harus bertempur mati-matian sehingga ditertawai orang luar?"
Hiang Bun-thian tidak menjawab, ia hanya menjengek sambil angkat cawan arak dan diminum seceguk.
Berbareng itu terdengarlah suara gemerencingnya logam.
Lenghou Tiong dapat melihat jelas di antara kedua tangan orang tua itu ternyata terikat oleh seutas rantai besi.
Keruan ia sangat heran.
"Kiranya dia baru melarikan diri dari kurungan sehingga rantai tangannya belum sempat dihilangkan."
Seketika rasa simpatinya timbul lebih meluap, pikirnya.
"Orang tua ini sudah tidak mampu melawan, biarlah aku membantu dia menahan musuh-musuhnya dan masa bodoh jiwaku jika mesti melayang di sini."
Dengan ketetapan pikiran itu segera ia berdiri, sambil bertolak pinggang ia berseru lantang.
"Hiang-locianpwe ini masih terantai, mana dia bisa bertempur dengan kalian? Aku sudah minum tiga cawan araknya yang enak, apa boleh buat terpaksa aku membantu dia melawan musuh-musuhnya. Nah, siapa saja yang mengganggu orang she Hiang harus membunuh dulu Lenghou Tiong ini!"
Melihat kelakuan Lenghou Tiong yang angin-anginan dan seperti orang sinting itu, tanpa sebab terus tampil ke muka untuk membelanya, keruan Hiang Bun-thian sangat heran dan tertarik, dengan suara perlahan ia tanya.
"Nak, kenapa kau membantu aku?"
"Melihat ketidakadilan angkat golok membantu,"
Sahut Lenghou Tiong singkat.
"Mana golokmu?"
Ujar Hiang Bun-thian.
"Aku memakai pedang,"
Jawab Lenghou Tiong.
"Cuma sayang tidak ada pedang."
"Bagaimana ilmu pedangmu?"
Tanya Hiang Bun-thian.
"Kau adalah murid Hoa-san-pay, kukira ilmu pedangmu juga cuma begitu-begitu saja."
"Memang cuma begitu-begitu saja, apalagi sekarang aku terluka dalam, tenaga sudah punah, lebih-lebih tak keruan lagi,"
Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Kau ini benar-benar aneh,"
Ujar Hiang Bun-thian.
"Tapi baiklah, akan kucarikan sebilah pedang bagimu."
Mendadak bayangan putih berkelebat, tahu-tahu Hiang Bun-thian sudah menerjang ke tengah-tengah kerumunan orang itu.
Dalam sekejap tertampaklah sinar senjata yang menyilaukan mata, berpuluh macam senjata memapak kedatangannya, tahu-tahu Hiang Bun-thian menyusup ke samping dan menubruk ke arah si tosu dari Thay-san-pay tadi.
Kontan pedang si tosu menusuk, tapi Hiang Bun-thian berkelit ke belakangnya, sikut kiri terus menyodok.
"bluk" , dengan tepat punggung si tosu kena disodok. Waktu tangan Hiang Bun-thian terangkat, pedang si tosu kena dibelit oleh rantainya berbareng kaki lantas menggenjot, seperti anak panah terlepas dari busurnya ia melayang kembali ke dalam gardu tadi. Beberapa gerakan itu terjadi dengan cepat luar biasa, baru saja para jago cing-pay berniat mengejar, namun sudah terlambat. Seorang laki-laki paling cepat memburunya, ia sempat menyusul sampai dua-tiga meter di luar gardu, goloknya diangkat terus membacok. Namun punggung Hiang Bun-thian seolah-olah ada matanya, tanpa menoleh sebelah kakinya terus mendepak ke belakang, dengan telak dada penyerang itu kena didepak. Orang itu menjerit dan mencelat, saking keras goloknya tadi membacok sehingga sebelah kaki sendiri sampai terkutung oleh senjatanya sendiri. Sedangkan tosu Thay-san-pay tadi seperti orang mabuk arak, ia terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh terkapar, darah segar tiada hentinya mengucur keluar dari mulutnya. Pada saat itulah terdengar anggota Mo-kau sama bersorak gemuruh, berpuluh orang sama berteriak.
"Hebat benar kepandaian Hiang-yusu."
Hiang Bun-thian tampak tersenyum, ia angkat kedua tangannya sebagai tanda terima kasih atas pujian anggota-anggota Mo-kau itu. Waktu ia ayun tangannya.
"cret", pedang yang terbelit di rantainya itu menancap di atas meja.
"Nah, pakailah?"
Katanya. Alangkah kagum Lenghou Tiong, katanya di dalam hati.
"Orang ini menerjang musuh seakan-akan memasuki daerah tak berpenduduk, ternyata dia memiliki kepandaian yang benar-benar luar biasa."
Ia tidak mencabut pedang yang menancap di atas meja itu, tapi katanya.
"Ilmu silat Hiang-locianpwe sedemikian hebat, rasanya Wanpwe tidak perlu ikut-ikut lagi."
Lalu ia memberi salam hormat dan berkata pula.
"Aku mohon diri saja."
Tapi sebelum Hiang Bun-thian bersuara, sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, tiga batang pedang tahu-tahu menyambar ke dalam gardu.
Kiranya adalah murid Jing-sia-pay, Kau Jin-hong bertiga telah menyerang berbareng.
Ketiga pedang itu semuanya mengancam tubuh Lenghou Tiong, yang satu mengarah punggungnya dan yang dua menusuk kanan kiri pinggang bagian belakang.
Jaraknya tidak lebih dari belasan senti saja.
"Berlututlah Lenghou Tiong!"
Bentak Kau Jin-hong, berbareng itu ujung pedangnya terus mendesak maju sehingga menempel kulit daging Lenghou Tiong.
"Biarpun mati juga tidak sudi mati di tangan murid Jing-sia-pay yang pengecut seperti kalian ini,"
Demikian pikir Lenghou Tiong.
Ia tahu dirinya sudah terkurung di bawah ancaman ujung pedang lawan, asal putar tubuh segera ujung pedang yang satu akan menancap di dada dan kedua pedang yang lain menusuk ke dalam perutnya.
Mendadak ia bergelak tertawa dan berkata.
"Baiklah, berlutut juga boleh!"
Sebelah kaki kanan sedikit bertekuk seperti hendak berlutut, tapi secepat kilat tangan kanan terus menyambar pedang yang menancap di atas meja tadi dan berbareng diputar ke belakang.
Tanpa ampun lagi tiga tangan ketiga murid Jing-sia-pay itu terkurung sebatas pergelangan dan jatuh ke lantai dengan masih mencengkeram pedang.
Muka Kau Jin-hong bertiga pucat bagai mayat, mereka tidak pernah membayangkan bisa terjadi demikian.
Setelah tertegun sejenak barulah mereka melompat mundur.
Seorang di antaranya adalah anak murid Jing-sia-pay yang masih sangat muda, umurnya paling-paling baru 16-17 tahun, saking kesakitannya dia sampai menangis dan menjerit-jerit.
Lenghou Tiong merasa menyesal, katanya.
"Maaf adik cilik, kau sendirilah yang lebih dulu bermaksud membunuh aku!"
"Kiam-hoat bagus!"
Terdengar Hiang Bun-thian bersorak memuji. Lalu katanya pula.
"Pedangnya kurang kuat, tenaga dalamnya terlalu lemah!"
"Bukan saja tenaga dalam lemah, pada hakikatnya memang tidak bertenaga dalam lagi,"
Ujar Lenghou Tiong tertawa. Bab 62. Kesaktian "Tokko-kiam-hoat"
Pada saat itulah sekonyong-konyong Hiang Bun-thian membentak-bentak, menyusul terdengar suara gemerencing rantai, kiranya dua orang laki-laki baju hijau telah menerjang ke dalam gardu dan menyerang Hiang Bun-thian.
Kedua orang ini menggunakan senjata yang aneh, yang satu memakai sepasang tameng, semuanya merupakan senjata yang berat.
Waktu berbentur dengar rantai terbitlah suara nyaring disertai letikan lelatu api.
Beberapa kali Hiang Bun-thian hendak menyelinap ke belakang orang yang bersenjata tongkat itu, tapi ilmu silat orang itu sangat tinggi, ia bertahan dengan sangat rapat, kedua tangan Hiang Bun-thian sendiri masih terikat oleh rantai sehingga gerak-geriknya kurang leluasa.
Mendadak terdengar pula suara bentakan ramai, kembali dua orang Mo-kau menerjang ke dalam gardu.
Kedua orang ini sama-sama memakai godam bersegi delapan, begitu maju mereka terus memukul dan mengetuk serabutan.
Dengan demikian si pemakai tongkat tadi dari bertahan sekarang sempat balas menyerang.
Namun dengan amat gesit Hiang Bun-thian masih terus menyelinap kian kemari di antara empat musuh, cuma sukar juga untuk merobohkan salah seorang lawannya.
Setiap kali bila rantainya digunakan menyabat salah seorang musuh, segera tiga orang yang lain menubruk maju dengan berani mati.
Kira-kira belasan jurus kemudian, laki-laki kurus kecil tadi berseru.
"Delapan tombak maju semua!"
Segera ada delapan laki-laki baju hijau dan bertombak menerjang maju dari empat jurusan gardu, setiap jurusan diperkuat dengan dua batang tombak yang panjang dan besar, dengan cepat mereka menghujani tusukan ke arah Hiang Bun-thian.
"Sobat cilik, lekas pergi saja!"
Seru Hiang Bun-thian kepada Lenghou Tiong.
Belum lenyap suaranya, mendadak kedelapan tombak telah menyambar sekaligus ke tubuhnya, tidak peduli dia berkelit ke jurusan maka pasti tubuh akan tertusuk oleh ujung tombak.
Lebih celaka lagi pada saat yang sama kedua orang yang bersenjata godam astakona (segi delapan) juga telah menghantam kepalanya, bahkan pemakai tongkat juga lantas menyabet dari bagian bawah dan tameng besi tahu-tahu juga mengepruk mukanya.
Benar-benar segala penjuru terancam oleh senjata musuh.
Hendaklah maklum bahwa kedudukan Hiang Bun-thian dalam Mo-kau adalah sangat tinggi, betapa tinggi ilmu silatnya juga bukan rahasia lagi.
Orang-orang Mo-kau itu mendapat perintah untuk menangkapnya, namun mereka tahu kepandaian mereka masih selisih jauh dibanding Hiang Bun-thian, adalah mahasulit untuk menangkapnya bila tidak lebih dulu melukainya.
Dan bisa melukainya betapa pun harus main kerubut.
Sebab itulah maka sekaligus 12 jago Mo-kau pilihan lantas maju berbareng dan sama-sama mengeluarkan segenap tenaga mereka tanpa kenal ampun, sebab mereka insaf adalah teramat berbahaya bertempur dengan Hiang Bun-thian, tertunda lebih lama sedetik berarti setindak lebih mendekati pintu neraka bagi mereka.
Melihat cara pengeroyokan yang tidak pantas itu dan tampaknya sukar bagi Hiang Bun-thian untuk meloloskan diri, Lenghou Tiong lantas berteriak.
"Sungguh tidak tahu malu!"
Pada saat itu mendadak Hiang Bun-thian berputar tubuh dengan amat cepat, rantai di tangannya terus berputar seperti kitiran sehingga senjata musuh terbentur dan menerbitkan suara gemerantang nyaring.
Begitu cepat Hiang Bun-thian berputar laksana gasingan sampai pandangan lawan serasa kabur.
Maka terdengarlah suara "trang-treng"
Dua kali, kedua tameng besi musuh terbentur oleh rantainya, tameng-tameng itu terlepas dari cekalan dan mencelat keluar gardu.
Kini Hiang Bun-thian tidak ambil pusing lagi kepada jurus-jurus serangan musuh, ia masih terus berputar semakin cepat sehingga delapan tombak musuh terguncang ke samping.
"Perlambat serangan dan bertahan rapat habiskan tenaganya!"
Tetua Mo-kau yang kurus kecil tadi berseru.
Kedelapan pemakai tombak tadi sama mengiakan sambil melangkah mundur setindak dan berdiri tegak dengan tombak siap di tangan.
Pertempuran cara demikian pasti akan berakhir dengan tenaga Hiang Bun-thian terkuras dan bila ada kesempatan segera mereka menyerang pula dengan tombaknya.
Dalam keadaan demikian, penonton yang sedikit berpengalaman saja segera akan dapat menarik kesimpulan bahwa betapa pun tinggi ilmu silat Hiang Bun-thian juga tidak mungkin berputar terus tanpa berhenti.
Pertempuran cara demikian pasti akan berakhir dengan Hiang Bun-thian kehabisan tenaga dan tiada jalan lain kecuali diringkus oleh musuh.
Mendadak terdengar Hiang Bun-thian bergelak tertawa, tubuh mendak ke bawah dan rantainya menyabat, kontan mengenai pinggang seorang yang bersenjata godam tadi, orang itu menjerit, godamnya menghantam balik dan mengenai batok kepalanya sendiri, seketika kepalanya pecah dan otak berhamburan.
Kedelapan orang bersenjata tombak itu rupanya sudah terlatih masak sekali, sekaligus tombak mereka menusuk Hiang Bun-thian dari berbagai penjuru.
Hiang Bun-thian sempat menangkis dua batang tombak itu, tapi tombak-tombak itu benar-benar sangat lihai, enam tombak yang lain laksana ular hidup saja berbareng mengancam iganya.
"Mati aku?"
Diam-diam Hiang Bun-thian mengeluh.
Dalam keadaan begitu, biarpun tombak yang satu sempat dihindarkan toh tombak kedua, ketiga atau keempat juga sukar dielakkan, apalagi enam tombak mengancam sekaligus.
Sekilas Lenghou Tiong juga menyaksikan keadaan Hiang Bun-thian yang menghadapi jalan buntu itu.
Tiba-tiba benaknya terkilas pula jurus keempat dari "Tokko-kiu-kiam"
Ajaran Hong Jing-yang yang disebut "jurus penghancur tombak"
Itu.
Maka tanpa pikir panjang lagi segera ia turun tangan, pedang menyambar ke depan, terdengarlah suara mendering nyaring panjang, delapan batang tombak jatuh semua ke lantai dan menerbitkan suara gemerantang yang keras satu kali, maka dapatlah diketahui bahwa kedelapan batang tombak itu jatuhnya seperti bersamaan waktunya.
Padahal pedang Lenghou Tiong sekali tusuk mengarah pergelangan tangan delapan orang, dengan sendirinya terjadi secara berturut-turut, soalnya gerakannya teramat cepat sehingga jatuhnya kedelapan tombak secara susul-menyusul itu hampir-hampir sukar dibedakan.
Sekali Lenghou Tiong sudah turun tangan maka sukar dihentikan lagi, segera jurus kelima yang disebut "Boh-pian-sik" (jurus penghancur ruyung) kembali dilontarkan pula.
"Boh-pian-sik"
Ini gerak perubahannya teramat luas, pendeknya segala senjata misalnya ruyung baja, godam, boan-koan-pit, tongkat, cundrik, kapak, dan senjata-senjata pendek sebangsanya akan dapat dipatahkan semua oleh jurus ini.
Maka tanpa ampun lagi, di tengah berkelebatnya sinar pedang tahu-tahu sepasang tongkat, sepasang godam telah jatuh semua.
Dari ke-12 jago Mo-kau yang menyerbu ke dalam gardu itu, terkecuali seorang telah dibunuh oleh Hiang Bun-thian dan seorang senjata tamengnya terlepas dari tangan, selebihnya sepuluh orang pergelangan tangan masing-masing tertusuk oleh pedang Lenghou Tiong, senjata mereka terlepas dari cekalan.
Sambil menjerit takut beramai-ramai ke-11 orang itu lantas lari kembali ke barisan mereka tadi.
Serentak para kesatria dari golongan cing-pay lantas memuji.
"Kiam-hoat bagus! Cepat amat gerakannya! Baru hari ini kita menyaksikan Hoa-san-kiam-hoat yang hebat!"
Di sebelah sana Mo-kau-tianglo yang kurus kecil tadi telah memberikan komando singkat lagi dan segera ada lima orang menyerbu ke dalam gardu.
Seorang wanita setengah umur bersenjata sepasang golok yang diputar bagai kitiran terus menerjang ke arah Lenghou Tiong, sedangkan empat orang laki-laki yang lain lantas mengerubut Hiang Bun-thian.
Serangan golok si wanita setengah umur itu sangat cepat sehingga Lenghou Tiong tidak sempat melihat orang macam apakah keempat laki-laki yang mengeroyok Hiang Bun-thian dan senjata macam apa yang mereka gunakan.
Yang jelas golok-golok wanita itu menyerang dengan cepat secara bergantian, bila golok sebelah kanan menyerang maka golok sebelah kiri dipakai menjaga diri dengan rapat dan begitu pula sebaliknya.
Dengan demikian jadi setiap jurus serangan si wanita sekaligus juga berarti menjaga diri dengan ketat.
Pada umumnya kelemahan dalam pertarungan yang sering tampak ialah waktu menyerang pihak sendiri biasanya lantas terlihat lubang sehingga digunakan oleh musuh dengan baik.
Ilmu golok wanita ini benar-benar suatu kepandaian yang jarang terlibat di dunia persilatan, dia dapat menjaga diri dengan rapat, serangannya juga sangat cepat dan ganas.
"Sret-sret-sret-sret"
Empat kali, karena tidak jelas akan cara serangan lawan, terpaksa Lenghou Tiong mundur empat tindak berturut-turut.
Pada saat itulah terdengar suara menderu angin kencang seperti ada orang pedang menempur Hiang Bun-thian dengan senjata lemas.
Di tengah segala kerepotannya Lenghou Tiong coba melirik ke sana, dilihatnya dua orang bersenjata gandin berantai dan dua orang menggunakan ruyung lemas, dengan sengit lagi melawan rantai besi yang diayun-ayunkan Hiang Bun-thian.
Rantai besi yang menggandengkan kedua gandin orang itu cukup panjang, beberapa kali gandinnya melayang lewat di atas kepala Lenghou Tiong.
Baru beberapa jurus saja lantas terdengar Hiang Bun-thian mengumpat maki, sebaliknya seorang laki-laki bersenjata gandin berantai itu berkata.
"Maaf, Hiang-yusu!"
Kiranya sebelah gandin berantai itu telah berbelitan dengan rantai di tangan Hiang Bun-thian.
Dalam sekejap itulah ketiga orang kawannya tidak sia-siakan kesempatan baik itu, tiga macam senjata berbareng menyambar ke tubuh Hiang Bun-thian.
Ketika Hiang Bun-thian mengerahkan tenaga dan menarik sekuatnya sambil menggertak, kontan orang yang bersenjata gandin itu kena diseret mentah-mentah ke badannya, maka kedua ruyung lemas dan sebuah gandin yang menyambar tiba tadi semuanya mengenai punggung orang itu.
Pada saat itu pula pedang Lenghou Tiong juga menusuk dan tepat mengenai pergelangan tangan si wanita setengah umur, tapi yang terdengar adalah suara "creng"
Yang nyaring, pedang orang malah menebas dari samping.
Lenghou Tiong terperanjat, tapi segera ia paham duduknya perkara, tentu wanita itu memakai bebat baja pelindung pergelangan tangan sehingga pedang tidak mempan melukainya.
Sambil berkelit secepat kilat pedangnya menyungkit ke atas pula.
"sret"
Sekali ini dengan tepat "koh-cing-hiat"
Di bahu kiri wanita itu tertusuk.
Wanita itu terkejut, namun dia sangat gagah berani, meski bahu kiri terluka toh golok sebelah kanan masih membacok lagi.
Ketika pedang Lenghou Tiong berkelebat, kembali bahu kanan wanita itu tertusuk pula.
Kedua bahunya terluka semua pada hiat-to yang sama, ia tidak sanggup memegang senjata lagi, sekuatnya ia menimpuk ke arah Lenghou Tiong, cuma sayang kedua tangan sudah tak bertenaga sehingga sepasang goloknya jatuh setengah jalan.
Baru saja Lenghou Tiong mengalahkan wanita itu, menyusul seorang tojin dari kalangan cing-pay melompat maju dengan pedang terhunus, katanya, dengan wajah masam.
"Kukira Hoa-san-pay tidak pasti mempunyai kiam-hoat iblis semacam ini!"
Sekali pandang Lenghou Tiong lantas tahu tojin ini adalah angkatan tua dari Thay-san-pay, mungkin karena dia merasa penasaran lantaran salah seorang golongannya dibinasakan Hiang Bun-thian tadi, maka sekarang ia hendak menebus kekalahannya itu.
Walaupun Lenghou Tiong telah dipecat oleh gurunya, tapi sejak kecil ia sudah bernaung di Hoa-san-pay, Ngo-gak-kiam-pay terjalin seranting dan senapas, maka demi melihat angkatan tua Thay-san-pay itu mau tak mau timbul rasa hormatnya.
Lenghou Tiong putar balik ujung tangannya ke arah bawah, lalu memberi hormat dan menjawab.
"Tecu tidak berani melawan Supek dari Thay-san-pay."
Tojin itu bergelar Song-it, adalah saudara satu angkatan dengan Te-coat, Thian-bun dan tojin yang lain, hanya saja tidak sama guru. Dengan nada dingin ia berkata.
"Ilmu pedang apakah yang kau mainkan itu?"
"Ilmu pedang yang Tecu mainkan ini ajaran Locianpwe dari perguruan Hoa-san sendiri,"
Jawab Lenghou Tiong.
"Hm, omong kosong, entah di mana kau telah mengangkat guru pada kaum iblis,"
Jengek Song-it.
"Lihat pedang!"
Berbareng itu pedangnya terus menusuk ke dada Lenghou Tiong dengan mengeluarkan suara mendengung.
Melulu serangan ini saja sekaligus beberapa hiat-to di dada Lenghou Tiong sudah terkurung semua, tak peduli cara bagaimana dia berkelit tentu salah satu tempat akan tertusuk.
Jurus serangan ini disebut "Jit-sing-lok-khong" (tujuh bintang runtuh di langit), termasuk suatu jurus inti ilmu pedang Thay-san-pay paling lihai.
Dengan serangan ini lawan hanya dapat menghindar bilamana memiliki ginkang yang mahatinggi dengan berjumpalitan ke belakang sejauh beberapa meter, untuk itu diperlukan mengenal jurus serangan ini ketika baru saja pedang musuh mulai bergerak, sesudah berjumpalitan serangan lain akan datang beruntun dengan ganas.
Karena sudah menyaksikan ilmu pedang Lenghou Tiong sangat lihai, Song-it Tojin khawatir didahului lebih dulu, maka begitu maju segera menggunakan jurus "Jit-sing-lok-khong"
Itu.
Lenghou Tiong juga terkejut ketika sinar pedang lawan berkelebat dan tahu-tahu beberapa tempat di dada sendiri terancam.
Sekonyong-konyong teringat olehnya jurus serupa yang pernah dilihatnya pada ukiran dinding dalam gua puncak Hoa-san dahulu, tatkala itu dirinya juga pernah mempelajari jurus ini untuk digunakan melawan Dian Pek-kong, cuma saja pelajarannya dahulu masih mentah sehingga tidak dapat mencapai kemenangan yang diharapkan.
Namun permainan jurus ini sudah hafal baginya, maka tanpa pikir lagi segera pedangnya membarengi menusuk perut Song-it Tojin.
Serangan Lenghou Tiong ini persis menirukan ukiran dinding yang dilihatnya, yaitu cara gembong Mo-kau mematahkan ilmu pedang Thay-san-pay.
Caranya sepintas pandang mirip mengajak gugur bersama musuh, tapi sebenarnya tidak, sebab jurus "Jit-sing-lok-khong"
Dari Thay-san-pay itu terbagi dalam dua tingkat, pertama gerak pedangnya mengancam tujuh hiat-to di dada musuh, tatkala musuh terkejut dan menjadi gugup, menyusul pedang lantas menusuk salah satu hiat-to yang dipilih.
Tapi meski hiat-to musuh yang terancam itu tujuh tempat, tapi untuk membinasakannya cukup satu tusukan saja pada satu hiat-to itu.
Lantaran serangan itu terbagi dalam dua tingkat sehingga kelihatan jurus ini dapat ditemukan titik kelemahannya oleh gembong Mo-kau, yaitu ketika serangan tingkat pertama dilontarkan, berbareng perut penyerang itu balas diserang, dengan demikian jurus "Jit-sing-lok-khong"
Dapat dipatahkan dan tamat riwayatnya.
Dan benar juga, Lenghou Tiong menusukkan pedangnya, sungguh kaget Song-it Tojin tidak kepalang, ia menjerit keras disangkanya perut sendiri sudah tembus oleh pedang lawan.
Sebagai seorang tokoh Thay-san-pay, begitu melihat gerak pedang Lenghou Tiong yang hebat dan tak terelakkan itu, ia menduga perut sendiri pasti sukar terhindar dilubangi.
Di tengah pertempuran ia pun tidak bisa merasakan sakit, pikirannya menjadi kacau dan mengira diri sendiri sudah mati, kontan ia roboh terjungkal.
Padahal ketika ujung pedang Lenghou Tiong hampir mengenai perutnya segera ia tahan sekuatnya, ia pikir lawan adalah tokoh angkatan lebih tua dari Thay-san-pay yang tiada permusuhan apa-apa dengan dirinya, buat apa mesti membunuhnya?
Siapa tahu saking cemasnya Song-it Tojin sendiri sampai jatuh pingsan.
Melihat robohnya Song-it, anak murid Thay-san-pay mengira jago mereka telah dicelakai oleh Lenghou Tiong, beramai-ramai mereka lantas mencaci maki, segera ada lima orang tojin muda memburu maju.
Mereka ini adalah murid Song-it, saking bernafsu hendak menuntut balas pedang mereka terus menyerang secara membadai ke arah tubuh Lenghou Tiong.
Namun hanya sekali bergerak saja, dengan satu jurus ilmu pedang "Tokko-kiam-hoat"
Pergelangan tangan kelima tojin muda itu sudah kena ditusuk oleh ujung pedang Lenghou Tiong, pedang lawan jatuh semua dan menerbitkan suara nyaring.
Untuk sejenak kelima tojin muda itu sampai tertegun, tapi mereka lantas melompat mundur.
Dalam pada itu terlihat Song-it Tojin telah bangkit dengan sempoyongan dan berteriak-teriak seperti orang gila, sungguh kejut dan khawatir sekali anak muridnya.
Sesudah berteriak-teriak beberapa kali, tubuh Song-it Tojin tampak sempoyongan, lalu jatuh terkulai lagi.
Lekas-lekas dua muridnya memburu maju untuk membangunkan dia dan diseret mundur.
Para kesatria menjadi kebat-kebit, semua menyaksikan Lenghou Tiong hanya menggunakan setengah jurus saja seketika seorang tokoh terkemuka Thay-san-pay dirobohkan dalam keadaan entah mati atau hidup, maka untuk sementara mereka menjadi kuncup.
Sementara itu orang-orang yang mengeroyok Hiang Bun-thian sudah berganti beberapa orang baru.
Dua laki-laki berpedang adalah jago Heng-san-pay, gerak pedang mereka sangat cepat dan selalu mengincar lubang di tengah putaran rantai Hiang Bun-thian.
Seorang lagi bersenjata golok dan tameng, jelas adalah jago Mo-kau.
Dengan berlindung di balik tamengnya orang ini bergelindingan mendekati Hiang Bun-thian, lalu goloknya menebas kaki lawannya.
Meski rantai Hiang Bun-thian beberapa kali menghantam tameng, tapi tak bisa melukainya.
Sebaliknya golok yang selalu menyambar dari balik tamengnya itulah yang sangat berbahaya.
Dari samping Lenghou Tiong dapat melihat kerapatan penjagaan tameng orang itu, tapi pada waktu menyerang mau tak mau lantas kelihatan lubang kelemahannya, yaitu kedua lengannya dengan mudah dapat dipatahkan.
Hendaklah maklum bahwa letak kelihaian "Tokko-kiu-kiam"
Adalah pada ketajaman mengenai titik kelemahan musuh, lalu dengan cara yang tidak mungkin dihindarkan lawan untuk menyerang titik kelemahan itu sehingga cukup hanya sekali serang saja lantas menang.
Ia lihat rantai yang diputar Hiang Bun-thian itu sebenarnya cukup diturunkan ke bawah terus disabetkan melalui lubang di bawah tameng musuh, namun kesempatan bagus dan sungguh sayang sekali tidak digunakan oleh Hiang Bun-thian.
Tengah Lenghou Tiong mengikuti pertarungan sengit itu, sekonyong-konyong terdengar di belakangnya ada orang membentak.
"Kau inginkan jiwamu tidak bocah!"
Meski suara itu tidak terlalu keras, tapi jaraknya jelas sangat dekat, barangkali cuma belasan senti di tepi telinganya.
Dalam kagetnya cepat Lenghou Tiong membalik tubuh, tahu-tahu ia berhadapan muka dengan muka bersama satu orang.
Hidung kedua orang hampir-hampir saling cium.
Selagi ia hendak menghindar, tahu-tahu kedua telapak tangan orang itu sudah menahan di dadanya, terdengar orang itu berkata dengan nada dingin.
"Sekali tenaga tanganku dikerahkan, seketika tulang rusukmu akan patah semua."
Lenghou Tiong tahu apa yang diucapkan orang itu bukan bualan belaka.
Maka ia lantas berdiri tegak dan tidak berani bergerak.
Jantungnya serasa ikut berhenti berdetak.
Kedua mata orang itu menatap Lenghou Tiong dengan tajam, cuma disebabkan jaraknya terlalu dekat sehingga Lenghou Tiong sukar melihat wajahnya malah.
Hanya sinar mata orang itu tampak mengilat berwibawa, diam-diam ia membatin.
"Kiranya aku akan mati di tangan orang seperti ini!"
Teringat kematiannya akhirnya akan menjadi kenyataan, tiba-tiba hatinya menjadi lapang malah.
Semula orang itu melihat sinar mata Lenghou Tiong menampilkan rasa kaget dan khawatir, tapi dalam sekejap saja lantas timbul sikapnya yang tidak gentar dan tak acuh, sekalipun tokoh Bu-lim terkemuka juga jarang yang mampu menguasai diri menghadapi detik-detik kematian demikian.
Tanpa terasa timbul juga rasa kagum orang itu.
Sambil tertawa orang itu lantas berkata.
"Aku berhasil menyergap dirimu dari belakang sekalipun aku membunuhmu tentu kau tidak tunduk."
Habis berkata ia terus tarik kembali kedua tangannya dan mundur beberapa tindak.
Baru sekarang Lenghou Tiong dapat melihat jelas orang itu, potongannya pendek gemuk, kulit mukanya bengkak kekuning-kuningan, usianya kira-kira baru 50-an, kedua tangannya yang gemuk itu sudah kecil lagi tebal, yang satu terangkat agak tinggi dan yang lain rada rendah dalam sikap "Tay-ko-yang-jiu"
Yang lihai.
"Kiranya adalah Locianpwe dari Ko-san-pay,"
Kata Lenghou Tiong dengan tersenyum.
"Mohon tanya siapakah nama Locianpwe yang terhormat, mengapa berlaku murah hati padaku?"
"Aku Lim Ho,"
Jawab orang itu. Sejenak kemudian ia menyambung lagi.
"Ilmu pedangmu sangat tinggi, tapi pengalamanmu di medan tempur ternyata sangat kurang!"
"Memang benar,"
Kata Lenghou Tiong.
"Cepat amat gerakan Lim-supek tadi."
"Panggilan Supek tidak berani kuterima,"
Sahut Lim Ho, menyusul tangan kiri diangkat dan tangan kanan lantas memotong ke depan.
Bentuk lahirnya Lim Ho memang jelek, tapi sekali ia mulai memukul, seketika seluruh badannya penuh kekuatan dan gayanya sangat indah.
"Pukulan bagus,"
Lenghou Tiong memuji ketika melihat kehebatan serangan lawan.
Pedang lantas menyungkit ke atas.
Karena dia belum melihat titik kelemahan Lim Ho, maka gerakan ini lebih banyak merupakan pancingan dan bertahan daripada serangan.
Tokko-kiu-kiam, sembilan jurus ilmu pedang ciptaan Tokko, benar-benar luar biasa lihainya.
Sejak sekaligus membutakan 15 orang di kelenteng bobrok tempo hari belum pernah mengambil sikap bertahan.
Tapi kini saking rapatnya ilmu pukulan Lim Ho itu sehingga dia terpaksa mesti menjaga diri saja, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat ciang-hoat (ilmu pukulan dengan telapak tangan) jago Ko-san-pay itu.
Tapi dengan menyungkit ke atas tak peduli pukulan Lim Ho menyerang ke bagian mana, telapak tangannya akan dengan sendirinya dipapak oleh ujung pedang.
Karena itu baru setengah jalan segera Lim Ho menarik tangannya kembali tangannya dan melompat mundur sambil berseru.
"Kiam-hoat bagus!"
"Ah, terlalu memuji!"
Sahut Lenghou Tiong. Setelah termenung sejenak, mendadak Lim Ho membentak.
"Awas!"
Berbareng kedua tangannya lantas menolak ke depan, suatu arus tenaga mahadahsyat lantas membanjir.
"Celaka!"
Lenghou Tiong.
Dalam keadaan tenaga sudah punah, hanya berkat ilmu pedangnya yang bagus dapatlah ia mengalahkan musuh.
Sekarang Lim Ho menghantamnya dengan pukulan kuat, jaraknya teramat dekat pula sehingga sukar ditangkis dengan pedang.
Baru saja bermaksud mengelak, namun terasa hawa dingin telah menyerang tubuhnya sehingga membuatnya menggigil.
Kiranya tenaga pukulan kedua tangan Lim Ho itu tidak sama satu sama lain, yang satu positif dan yang lain negatif, panas dan dingin.
Lim Ho berjuluk "Thi-im-yang-jiu", tenaga pukulan im dan yang itu adalah kepandaian yang paling diagulkannya.
Ketika Lenghou Tiong tertegun sejenak saja menyusul suatu arus hawa panas sudah menyambar tiba pula sehingga napasnya serasa sesak, tubuh pun terhuyung-huyung.
Pukulan tenaga im dan yang itu sebenarnya tidak kenal ampun bagi sasarannya, meski tenaga dalam Lenghou Tiong sudah punah, namun hawa murni dalam tubuhnya masih penuh dan banyak ragamnya, ada hawa murni dari Tho-kok-lak-sian, ada hawa murni Put-kay Hwesio, ketika di Siau-lim-si mendapat tambahan lagi hawa murni Hong-sing Taysu, setiap hawa murni itu sangat kuat.
Sebab itulah ketika tenaga pukulan panas dingin itu mengenai tubuh Lenghou Tiong, dengan sendirinya hawa murni yang tertimbun dalam tubuhnya itu memberi reaksi sehingga isi perutnya tidak sampai terluka.
Cuma hawa murni berbeda daripada tenaga dalam yang dapat digunakan pula untuk menyerang musuh, sebab itulah badannya tergetar beberapa kali dan rasanya sangat menderita.
Khawatir kalau Lim Ho menyusulkan pukulan lagi, cepat-cepat Lenghou Tiong keluar dari gardu itu, lalu pedang cepat menusuk.
Setelah berhasil dengan pukulannya, Lim Ho menyangka Lenghou Tiong sekalipun tidak mati juga terluka parah dan akan roboh, siapa duga pemuda itu masih dalam keadaan aman sentosa, bahkan sinar pedang berkelebat, ujung pedang Lenghou Tiong mengacung telapak tangannya lagi.
Dengan rasa heran dan waswas Lim Ho pentang kedua tangannya, yang satu menabok ke muka Lenghou Tiong dan yang lain memukul perutnya.
Tapi baru saja tenaga pukulannya dikerahkan sekonyong-konyong ia merasa kesakitan luar biasa, ternyata kedua telapak tangannya atau sepasang telapak tangannya sendiri yang menghantam ujung pedang orang.
Sambil menjerit keras-keras sekuatnya Lim Ho mencabut kedua tangannya terus melompat mundur, lalu melarikan diri secepat terbang.
Lenghou Tiong merasa menyesal, serunya.
"Maaf!"
Apa yang digunakan tadi adalah salah satu jurus sakti dari Tokko-kiu-kiam yang disebut "Boh-ciang-sik" (cara mematahkan pukulan tangan), jurus ini belum pernah tampak lagi di dunia Kangouw sejak penciptanya wafat, yaitu Tokko Kiu-pay.
Mendadak terdengar suara gedubrakan ramai, waktu Lenghou Tiong menoleh, dilihatnya ada tujuh-delapan laki-laki sedang mengerubut Hiang Bun-thian.
Tenaga pukulan dua orang di antaranya sangat dahsyat sehingga tiang gardu dan genting emper ikut terhantam jatuh berserakan.
Pada saat itulah ada tiga orang kakek bersenjata mengepung Lenghou Tiong dari tiga jurusan.
Seorang di antaranya memakai sepasang boan-koan-pit yang mengilap, seseorang lagi menggunakan golok dan orang ketiga bertangan kosong, hanya memakai sarung tangan.
Diam-diam Lenghou Tiong membatin.
"Suhu pernah pesan padaku harus hati-hati menghadapi lawan yang memakai sarung tangan, sebab lawan demikian biasanya suka menggunakan senjata rahasia beracun."
Lenghou Tiong tidak sempat banyak berpikir karena sepasang boan-koan-pit musuh sudah segera mengancam hiat-to di kanan kiri iganya sedangkan golok besar yang lain juga menebas diri samping.
Diam-diam Lenghou Tiong mendongkol pada lawan-lawan itu, selamanya tidak kenal dan tiada permusuhan, tapi serangan mereka ternyata begini ganas, begitu maju lantas menyerang dengan cara mematikan tanpa kenal ampun.
Segera pedangnya menyabet miring menyerempet batang kepala musuh, menyusul lantas ke atas.
Kontan empat jari lawan yang bergolok itu tertebas putus, sedangkan sepasang boan-koan-pit musuh yang lain juga tersungkit mencelat ke udara.
Ia khawatir orang yang bersarung tangan itu menghamburkan senjata rahasia berbisa, sebab ia merasa dirinya belum menguasai jurus "Boh-gi-sik" (mematahkan serangan senjata rahasia), jika dihujani macam-macam senjata rahasia berbisa tentu akan kerepotan, sebab itulah pedangnya segera menusuk pula ke tengah telapak tangan kanan orang itu.
Akan tetapi aneh sekali, ujung pedang sudah mengenai sasarannya dengan tepat, namun tidak dapat masuk.
Keruan Lenghou Tiong terkejut.
Dalam pada itu dengan cepat orang itu telah membalik tangannya, mata pedang yang tajam itu dipegang olehnya dengan kencang.
Baru sekarang Lenghou Tiong sadar sarung tangan orang itu tentu terbuat dari benang emas.
Ia coba menarik sekuatnya, tapi sukar terlepas.
Waktu sebelah tangan orang itu terhantam.
"blang" , dengan tepat dada Lenghou Tiong terpukul sehingga tubuhnya mencelat. Belum lagi dia jatuh ke tanah sudah ada beberapa orang memburu ke arahnya hendak mencencangnya.
"Bagus, kebetulan!"
Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.
Tapi belum lenyap suara tertawanya, sekonyong-konyong pinggangnya terasa kencang dililit sesuatu, seutas rantai besi telah menyambar tiba dan tubuhnya lantas terbawa melayang ke udara.
Orang yang menyelamatkan jiwanya kiranya adalah gembong Mo-kau Hiang Bun-thian.
Dalam keadaan kepepet karena dikejar dan dikerubut oleh jago Mo-kau dan pihak cing-pay, mendadak tampil ke muka seorang pemuda yang tidak takut mati untuk membelanya, dengan sendirinya Hiang Bun-thian merasa sangat berterima kasih dan anggap dia sebagai teman sejati.
Dengan pengalaman dan kepandaian Hiang Bun-thian yang tinggi, begitu menyaksikan cara Lenghou Tiong menghalau musuh tadi segera ia tahu meski ilmu pedang Lenghou Tiong sangat tinggi, tapi tenaga dalamnya teramat kurang, pengalaman tempur juga sedikit, bila mesti menghadapi lawan sebegitu banyak akhirnya pemuda itu tentu akan terbunuh.
Sebab itulah sembari bertempur senantiasa ia memerhatikan keadaannya Lenghou Tiong, begitu melihat pedangnya kena digenggam lawan dan dada terkena pukulan, seketika ia mengayun rantainya untuk membelit tubuh pemuda yang terus dibawa lari Karena menggunakan ginkang yang tinggi, maka lari Hiang Bun-thian ini laksana terbang, hanya dalam sekejap saja sudah meninggalkan musuh sejauh beberapa puluh meter.
Dari belakang ada beberapa puluh orang telah memburunya, beberapa orang di antaranya malahan berteriak-teriak.
"Thian-ong Locu melarikan diri! Aha, Thian-ong Locu melarikan diri!"
Hiang Bun-thian menjadi gusar, mendadak ia berhenti lari dan putar balik seakan-akan hendak menerjang para pengejarnya.
Keruan para pengejar itu terkejut dan serentak berhenti.
Ada di antaranya seorang terlalu bernafsu larinya dan tidak sempat mengerem, ia masih terus menyelonong ke arah Hiang Bun-thian, keruan celaka baginya, sekali Hiang Bun-thian angkat kakinya, kontan orang itu ditendang mencelat kembali ke tengah gerombolan kawan-kawannya.
Waktu Hiang Bun-thian memeriksa Lenghou Tiong, tampak mulut pemuda itu masih mengucurkan darah.
Ia hanya menjengek perlahan, lalu putar tubuh dan lari lagi.
Segera orang-orang tadi mengejar pula, tapi sekarang mereka sudah kapok, tiada seorang pun berani menguber terlalu dekat sehingga jarak mereka makin lama makin jauh dari Hiang Bun-thian.
Kiranya julukan Hiang Bun-thian disebut "Thian-ong Locu" (si Nenek Raja Langit), perangainya angkuh dan tinggi hati, selama hidupnya tidak pernah melarikan diri meski ia pernah juga dikalahkan orang dalam pertandingan, jadi dia mempunyai sifat yang pantang menyerah.
Dengan ginkang yang sangat tinggi itu mestinya tidak sulit bagi Hiang Bun-thian untuk mengelak kejaran jago-jago cing-pay dan orang-orang Mo-kau, tapi dia justru tidak sudi menyembunyikan diri sehingga ditertawai musuh, akhirnya dia terkepung di tengah gardu itu.
Sekarang demi keselamatan Lenghou Tiong untuk pertama kalinya ia melarikan diri, maka rasa dongkol dan kesalnya sungguh tidak kepalang.
Sembari lari diam-diam ia pun menimbang-nimbang sendiri.
"Jika aku sendirian tentu aku akan melabrak kawanan kura-kura itu dengan mati-matian, betapa pun pasti akan kubunuh beberapa puluh orang untuk melampiaskan rasa dongkolku, soal aku akan hidup atau mati aku tidak ambil pusing. Tapi sekarang muncul pemuda yang selamanya tak kukenal ini, dia telah sudi korban jiwa bagiku, teman simpatik begini ke mana lagi dapat kucari? Demi teman baik biarlah aku melarikan diri dan melanggar kebiasaanku, ini namanya setia kawan lebih utama, terpaksa aku harus menekan perasaanku. Yang penting sekarang cara bagaimana aku dapat mengelakkan uberan kawanan kura-kura itu."
Bab 63. Gip-sing-tay-hoat = Ilmu Mengisap Bintang Setelah berlari-lari pula, tiba-tiba ia ingat suatu tempat yang baik, ia menjadi girang. Tapi lantas terpikir olehnya.
"Untuk pergi ke sana jaraknya terlalu jauh, entah aku kuat lari sampai di sana atau tidak? Tapi tidak menjadi soal. Jika aku tidak kuat, kawanan kura-kura itu lebih-lebih tidak kuat."
Ia menengadah memandang sang surya dan membedakan arah, segera ia membelok dan melintasi sawah ladang terus lari ke jurusan timur laut sana.
Kira-kira belasan li jauhnya, kembali ia sampai di jalan besar.
Tiba-tiba ada tiga penunggang kuda membalap lewat di sebelahnya.
"Persetan!"
Maki Hiang Bun-thian, segera ia menyusul dengan cepat.
Sampai di belakang kuda itu, sekali loncat ke udara, sekali tendang ia depak seorang penunggang itu hingga terjungkal, menyusul ia lantas hinggap di punggung kuda rampasan itu.
Ia taruh Lenghou Tiong di atas pelana, waktu rantainya diayun ke depan, kedua penunggang kuda yang lain dihantam jatuh semua.
Ketiga orang itu adalah rakyat jelata dan bukan orang persilatan, mereka hanya sial ketemu malaikat maut dan tanpa sebab jiwa mereka telah melayang.
Meski penunggangnya sudah jatuh, tapi kedua ekor kuda itu masih terus lari ke depan, segera Hiang Bun-thian ayun rantainya untuk membelit tali kendali.
Rantai besinya seakan-akan benda hidup saja dalam permainan Hiang Bun-thian sehingga dia seakan-akan memiliki lengan yang mahapanjang.
Namun diam-diam Lenghou Tiong merasa gegetun juga menyaksikan cara Hiang Bun-thian sembarangan membunuh orang tak berdosa.
Sebaliknya Hiang Bun-thian tampak sangat senang dan bersemangat setelah berhasil merampas tiga ekor kuda, ia menengadah dan bergelak tertawa.
Katanya demikian.
"Adik cilik, kawanan celurut itu tidak mampu menyusul kita lagi."
Lenghou Tiong tersenyum hambar, sahutnya.
"Hari ini tidak mampu, jangan-jangan besok akan dapat menyusul kita."
"Persetan, biar mereka menyusul kemari dan akan kubunuh bersih mereka,"
Demikian Hiang Bun-thian mengumpat.
Ia larikan kuda itu dengan cepat, belasan li kemudian ia membelok ke suatu jalan pegunungan yang menuju ke arah timur laut, lereng gunung semakin tinggi dan akhirnya jalan itu tak bisa dilalui kuda lagi.
"Kau lapar tidak?"
Hiang Bun-thian.
"Apakah kau membekal ransum?"
Sahut Lenghou Tiong.
"Tidak bawa apa-apa, kita minum darah kuda,"
Kata Hiang Bun-thian sambil melompat turun.
Ketika kelima jarinya menusuk bagian leher kuda seketika leher kuda itu bolong dan darah mengucur dengan derasnya.
Kuda itu meringkik kesakitan, mestinya hendak berjingkrak berdiri dengan kaki belakang, tapi dengan sebelah tangan Hiang Bun-thian telah menahan punggung kuda laksana gunung beratnya, sedikit pun kuda itu tidak dapat berkutik.
Mulut Hiang Bun-thian lantas mencucup darah yang mengalir dari lubang leher kuda, setelah minum beberapa ceguk, lalu katanya kepada Lenghou Tiong.
"Minumlah!"
Sudah tentu Lenghou Tiong merasa muak dan ngeri.
"Jika tidak minum darah kuda dari mana ada tenaga untuk bertempur lagi?"
Kata Hiang Bun-thian.
"Masih mau bertempur lagi?"
Lenghou Tiong menegas.
"Apakah kau takut?"
Seketika timbul jiwa Lenghou Tiong yang tidak takut mati, ia tertawa dan balas tanya.
"Kau kira aku takut atau tidak?"
Habis itu tanpa pikir lagi ia pun mencucup darah kuda itu dengan mulutnya.
Ia merasa darah kuda itu seakan-akan membanjir sendiri ke dalam kerongkongannya dan segera terhirup ke dalam perut.
Mula-mula darah kuda itu memang terang anyir baunya, tapi sesudah menghirup beberapa ceguk bau anyir pun tidak terasa lagi.
Lenghou Tiong terus minum sampai perutnya terasa kembung barulah berhenti.
Menyusul Hiang Bun-thian lantas menghirup lagi darah kuda itu sekenyang-kenyangnya, akhirnya kuda itulah yang tidak tahan dan roboh terkulai.
Sekali ayun kakinya Hiang Bun-thian mendepak kuda itu ke dalam jurang.
Melengak juga Lenghou Tiong menyaksikan hal itu.
Badan kuda itu sedikitnya ada enam-tujuh ratus kati, tapi sekali depak sekenanya saja Hiang Bun-thian menendang kuda itu ke dalam jurang.
Menyusul Hiang Bun-thian menendang kuda kedua ke dalam jurang, sekali putar tubuh tangannya memukul.
"cret" , seperti golok tajamnya sebelah kaki belakang kuda ketiga itu kena dipotong oleh telapak tangannya. Menyusul kaki kuda yang sebelah dipotongnya lagi. Kuda itu meringkik ngeri, Hiang Bun-thian menambahi sekali tendang dan terjungkal juga kuda itu ke dalam jurang sambil mengumandangkan suara ringkik yang panjang menyeramkan.
"Sebelah paha kuda ini untukmu,"
Kata Hiang Bun-thian kemudian.
"Makanlah secara hemat dan cukup untuk ransum selama sepuluh hari."
Baru sekarang Lenghou Tiong paham maksud Hiang Bun-thian memotong paha kuda, kiranya hendak digunakan sebagai makanan, jadi perbuatannya ini tidak dapat digolongkan kejam.
Segera ia menurut dan ambil sebelah paha kuda itu.
Lenghou Tiong ikut dari belakang ketika melihat Hiang Bun-thian berjalan menuju ke atas lereng gunung sambil membawa paha kudanya.
Hiang Bun-thian sengaja memperlambat langkahnya agar dapat diikuti Lenghou Tiong, tapi lantaran tenaga dalam Lenghou Tiong sudah punah, belum ada setengah li jauhnya dia sudah ketinggalan jauh di belakang.
Waktu ia memburu sekuatnya, napasnya lantas megap-megap dan pucat.
"Adik cilik,"
Kata Hiang Bun-thian.
"kau ini memang aneh, begitu lemah kau punya tenaga dalam, tapi sedikit pun kau tidak cedera meski terkena pukulan Thi-im-yang-jiu yang dahsyat dari keparat Ko-san-pay tadi. Sungguh aku tidak habis mengerti keadaan dirimu."
"Ah, masa? Justru aku merasa isi perutku terguncang jungkir balik tak keruan, entah berapa puluh macam luka dalam yang telah kuderita. Memangnya aku pun merasa heran mengapa sampai saat ini aku belum mampus. Tapi bukan mustahil setiap detik aku bisa roboh untuk tidak bangun lagi."
"Jika begitu marilah kita mengaso dulu,"
Ujar Hiang Bun-thian.
Sebenarnya Lenghou Tiong bermaksud menerangkan tentang jiwa sendiri yang tinggal menunggu ajal dan minta dia menyelamatkan diri sendiri saja.
Tapi lantas terpikir pula bahwa orang she Hiang ini sangat gagah perwira, dia pasti tidak mau meninggalkan dirinya untuk mencari selamat sendiri.
Mungkin bila ditemukan pikiran itu malahan akan dianggap menghinanya.
Dalam pada itu Hiang Bun-thian sudah mengambil tempat duduk di tepi jalan, katanya pula.
"Adik cilik, cara bagaimana kau bisa kehilangan tenaga dalam?"
Lenghou Tiong tersenyum, katanya.
"Kejadian ini terlalu menggelikan kalau diceritakan."
Lalu ia pun menuturkan pengalamannya sejak terluka, tentang Tho-kok-lak-sian hendak menyembuhkan lukanya, tapi malah tak keruan jadinya, kemudian Put-kay Hwesio mencurahkan dua macam hawa murni lagi sehingga membikin keadaannya tambah runyam.
Hiang Bun-thian terbahak-bahak geli mendengar cerita aneh itu, sebegitu keras suara tertawanya sehingga menggeletar lembah pegunungan itu.
Katanya.
"Kejadian aneh demikian baru untuk pertama kalinya kudengar sekarang. Hahahaha!"
Di tengah gema suara tawanya itu tiba-tiba dari jauh berkumandang bentaknya seorang.
"Hiang-yusu, tidak mungkin engkau bisa lolos. Lebih baik ikut kami saja menghadap Kaucu!"
Namun Hiang Bun-thian tidak ambil pusing, ia tetap bergelak tertawa. Katanya.
"Haha, sungguh menggelikan, Tho-kok-lak-sian dan Put-kay Hwesio benar-benar orang-orang tolol nomor satu di dunia ini!"
Dan setelah tertawa beberapa kali mendadak air mukanya menjadi guram, ia memaki.
"Bedebah, kawanan kura-kura itu sudah menyusul tiba pula!"
Segera ia pondong Lenghou Tiong terus dibawa lari secepatnya tanpa memikirkan paha kuda yang ketinggalan itu.
Begitu cepat cara lari Hiang Bun-thian sehingga Lenghou Tiong merasa dirinya seperti dibawa melayang di udara, keadaan sekitarnya menjadi putih remang-remang, rupanya mereka telah menyusup ke tengah-tengah kabut yang tebal.
"Sungguh sangat kebetulan,"
Diam-diam Lenghou Tiong berpikir.
"Dalam keadaan demikian, beberapa ratus pengejar itu pasti tidak mampu mengerubut ke atas gunung ini, asal mereka satu per satu menerjang kemari, tentu aku dan Hiang-siansing ini sanggup membereskan mereka."
Akan tetapi suara kawanan pengejar di belakang itu makin lama juga semakin dekat, jelas ginkang para pengejar itu pun sangat tinggi sekalipun masih kalah bila dibandingkan dengan Hiang Bun-thian.
Namun Hiang Bun-thian memondong tubuh seorang dan sudah berlari sekian lamanya, mau tak mau larinya mulai kendur dan lambat.
Berlari sampai di suatu tempat pengkolan, di situlah Hiang Bun-thian menurunkan Lenghou Tiong, pesannya dengan suara tertahan.
"Diam saja jangan bersuara."
Begitulah mereka berdua berdiri mepet dinding gunung, sebentar kemudian lantas terdengar suara tindakan kaki orang banyak yang menyusul tiba.
Dua di antara pengejar itu lari paling cepat, di tengah kabut tebal itu mereka tidak tahu bahwa Hiang Bun-thian berdua sudah berhenti dan berdiri mepet dinding batu di situ, mereka baru mengetahui ketika sudah berada di depan Hiang Bun-thian.
Dalam kagetnya cepat mereka bermaksud putar balik, namun sudah terlambat, kedua telapak tangan Hiang Bun-thian telah menyodok ke depan, tepat lagi ganas.
Tanpa bersuara sedikit pun kedua orang itu terbanting jatuh ke dalam jurang.
Lewat agak lama baru terdengar dua kali suara "blak-bluk"
Di dasar jurang.
"Waktu kedua orang itu terjerumus ke dalam jurang sedikit pun mereka tidak mengeluarkan suara. Ya, tentu mereka sudah mampus lebih dulu terkena pukulan Hiang-siansing sebelum tergelincir ke jurang,"
Demikian pikir Lenghou Tiong.
"Hehehe,"
Hiang Bun-thian tertawa mengejek.
"Kedua bangsat itu biasanya suka berlagak, katanya ‘Tiam-jong-siang-kiam’, hawa pedang ke langit segala. Hehe, sesudah jatuh mampus di dalam jurang baru benar-benar bau bangkai mereka akan tersebar ke langit."
Lenghou Tiong juga pernah mendengar nama "Tiam-jong-siang-kiam" (Dua Pedang dari Tiam-jong-san) yang tersohor karena ilmu pedangnya yang hebat.
Siapa duga sekarang kedua jago terkenal itu telah binasa di dalam jurang tanpa mengetahui sebab musababnya, bahkan muka si pembunuh pun tidak sempat lihat.
"Dari sini ke Sian-jiu-kiap (Selat Dewa Sedih) masih ada belasan li jauhnya, setiba di mulut selat itu kita tak perlu gentar lagi kepada kawanan bangsat itu,"
Kata Hiang Bun-thian sembari memondong kembali Lenghou Tiong terus dibawa lari dengan cepat.
Sementara itu terdengar pula suara tindakan orang lari, kembali ada beberapa orang menyusul tiba lagi.
Sekarang jalan pegunungan itu tidak bertepi jurang lagi sehingga Hiang Bun-thian tidak dapat menggunakan akal lama dengan main sembunyi mepet dinding dan menyergap musuh, terpaksa ia harus lari sekuatnya.
"Berrr" , terdengar sebuah senjata rahasia menyambar tiba dengan membawa suara desir yang keras, terang bobot senjata rahasia itu cukup berat. Hiang Bun-thian menurunkan Lenghou Tiong ke tanah dan cepat membalik tubuh dan menangkap senjata rahasia itu, lalu memaki.
"Keparat she Ho, untuk apa kau pun ikut-ikut menangguk dalam air keruh ini?"
Di tengah kabut tebal sana berkumandang suara seorang.
"Kau membahayakan dunia persilatan, setiap orang boleh membunuh. Ini, terima lagi sebuah borku!"
Menyusul terdengar suara "barr-berr"
Yang ramai. Dia bilang sebuah bor, tapi yang dihamburkan sedikitnya ada tujuh-delapan buah. Mendengar suara desir senjata rahasia yang keras dan lihai itu, diam-diam Lenghou Tiong bersedih, pikirnya.
"Meski ilmu pedang ajaran Hong-thaysusiokco itu dapat mematahkan segala macam senjata rahasia, tapi hui-cui (bor terbang) yang disambitkan orang ini membawa tenaga sedemikian kuat, sekalipun pedangku dapat menyampuknya, tapi aku tidak bertenaga lagi, tentu pedangku akan patah terbentur."
Dilihatnya Hiang Bun-thian telah pasang kuda-kuda dengan sikap rada tegang, tidak lagi acuh tak acuh seperti waktu dikepung orang banyak di tengah gardu.
Ketika bor itu menyambar sampai di depannya lantas lenyap tanpa suara, mungkin telah ditangkapnya semua.
Sekonyong-konyong suara mendering menggema entah betapa banyak bor tajam ditaburkan sekaligus.
Lenghou Tiong kenal cara itu disebut "Boan-thian-hoa-uh" (Hujan Gerimis Memenuhi Langit), cara menghamburkan senjata rahasia demikian biasanya senjatanya rahasia yang digunakan adalah sebangsa kim-ci-piau (mata uang), thi-lian-ci (biji teratai besi), dan sebagainya yang berbentuk kecil.
Tapi bor yang disambitkan orang ini dari suara mendesingnya itu dapat diduga setiap bijinya mempunyai bobot setengah atau satu kati beratnya, pada hakikatnya sukar dihamburkan sekaligus berpuluh biji berbareng.
Lantaran mendengar suara mendesing keras dan mengkhawatirkan sambaran bor tajam musuh itu dengan sendirinya Lenghou Tiong mendekam di atas tanah.
Tapi lantas terdengar suara jeritan Hiang Bun-thian, rupanya terluka.
Keruan Lenghou Tiong terkejut, cepat ia melompat maju untuk mengadang di depannya dan bertanya dengan khawatir.
"Hiang-siansing, apakah engkau terluka?"
"Aku ... aku tidak sang ... tidak sanggup lagi .... Lekas ... lekas lari saja!"
Demikian jawab Hiang Bun-thian dengan terputus-putus.
"Tidak, mati atau hidup kita tetap bersama, tidak nanti Lenghou Tiong meninggalkanmu untuk menyelamatkan diri sendiri,"
Seru Lenghou Tiong. Maka terdengarlah sorak gembira kawanan pengejar itu.
"Hura! Hiang Bun-thian sudah terluka! Hiang Bun-thian sudah terkena bor terbang!"
Di tengah kabut tebal itu remang-remang kelihatan belasan sosok bayangan orang telah mendesak maju dan semakin mendekat.
Pada saat itulah sekonyong-konyong Lenghou Tiong merasa serangkum angin keras melayang lewat di sisinya, terdengar Hiang Bun-thian bergelak tertawa, berbareng belasan orang di depannya beruntun-runtun roboh.
Kiranya tadi Hiang Bun-thian telah menangkap belasan buah hui-cui musuh dan pura-pura jatuh terluka untuk membikin lengah musuh lalu dengan cara "Boan-thian-hoa-uh"
Ia balas menaburkan hui-cui yang ditangkapnya itu.
Sebenarnya musuh pun tergolong jago kelas wahid yang berpengalaman dan mestinya tidak mudah masuk perangkapnya.
Tapi pertama, mereka terganggu oleh kabut yang tebal.
Kedua, suara Lenghou Tiong yang khawatir dan cemas tadi meyakinkan mereka bahwa Hiang Bun-thian benar-benar terluka, maka mereka menjadi tidak sangsi.
Ketiga, mereka tidak menyangka bahwa Hiang Bun-thian juga mahir menaburkan senjata rahasia dengan cara "Boan-thian-hoa-uh" , sebab itulah belasan orang yang maju paling depan itu kena dimakan semua oleh hui-cui yang berat itu.
Habis itu segera Hiang Bun-thian memondong Lenghou Tiong dan dibawa lari lagi.
"Adik cilik, hebat sekali jiwa setia kawanmu,"
Pujinya terhadap sikap Lenghou Tiong yang tidak sudi melarikan diri tadi.
Biasanya Hiang Bun-thian tidak sembarangan memuji orang.
Tapi sekarang pujian itu tercetus dari mulutnya, terang dia telah menganggap Lenghou Tiong sebagai teman yang paling karib.
Setelah lari dua-tiga li lagi, lambat laun musuh yang mengejar sudah mendekat lagi.
Kembali terdengar suara mendesing-desing tiada hentinya.
Tapi Hiang Bun-thian selalu dapat menghindarkan sambaran senjata rahasia itu dengan berkelit ke sana dan mengegos ke sini.
Namun larinya menjadi semakin lambat juga.
Kira-kira berlari beberapa puluh meter lagi jauhnya, kembali ia menurunkan Lenghou Tiong katanya.
"Biar aku pura-pura mati sekali lagi."
"Tentunya mereka sudah kapok, masakah mau masuk perangkapmu pula?"
Demikian Lenghou Tiong membatin, cuma tidak diucapkannya.
Tak terduga Hiang Bun-thian mendadak menggertak keras-keras satu kali dan terus menerjang ke tengah musuh.
Terdengar suara gedebukan beberapa kali, lalu Hiang Bun-thian berlari balik, tapi punggungnya sudah memanggul satu orang.
Kedua tangan orang itu telah diringkus oleh rantai yang masih mengikat pergelangan tangannya, dalam keadaan demikian ia memanggul tawanannya itu.
Habis itu ia memondong kembali Lenghou Tiong terus lari pula ke depan.
Katanya dengan tertawa.
"Sekarang kita sudah mempunyai tameng penadah senjata rahasia!"
Keruan tawanannya berteriak-teriak.
"Jangan lepas senjata rahasia! Jangan main senjata rahasia!"
Namun pengejar-pengejar itu tidak menggubris, senjata rahasia masih terus menyambar tiba tanpa berhenti.
"Aduuh!"
Sekonyong-konyong orang itu menjerit.
Rupanya punggungnya terkena sebuah am-gi atau senjata rahasia kawan sendiri.
Dengan memanggul tameng hidup dan memondong pula Lenghou Tiong, Hiang Bun-thian masih dapat lari dengan sangat cepat.
Terdengar tawanan di punggung itu mencaci maki sekeras-kerasnya.
"Ong It-jong, maknya disontik! Kau tidak pikirkan teman lagi, sudah tahu aku .... Aduh! Ini panah kecil, bangsat Yong Hu-yan, kau siluman rase ini, kau sengaja hendak membunuh aku ya?"
Begitulah orang itu sebentar menjerit dan lain saat mencaci maki, makin lama makin lemah suaranya sampai akhirnya satu kata pun tidak bersuara lagi.
"Haha, tameng hidup telah berubah menjadi tameng mati,"
Kata Hiang Bun-thian dengan tertawa. Karena tidak perlu khawatir lagi akan serangan am-gi musuh, dia terus lari dengan cepat. Setelah membelok dua pengkolan lagi, akhirnya ia berkata.
"Sampailah sekarang!"
Ia menghela napas lega, lalu bergelak tertawa, tertawa gembira.
Maklumlah cuma belasan li saja ia harus mencapai tempat yang aman ini, padahal keadaannya tadi sesungguhnya sangat berbahaya.
Jika dia cuma sendirian tidak menjadi soal, tapi dia membawa Lenghou Tiong yang dianggapnya berjiwa kesatria, seorang pemuda yang belum pernah ditemuinya, maka apa pun juga ia harus menyelamatkannya.
Dan dapatlah ia merasa lega karena sekarang mereka sudah mencapai tempat tujuannya.
Waktu Lenghou memandang ke depan, mau tak mau ia merasa khawatir.
Kiranya di depan situ terbentang balok batu yang sempit yang menghubungkan tepi tebing sebelah sana dan di bawah adalah jurang yang tak terkirakan dalamnya.
Balok batu itu hanya terlihat sepanjang tiga-empat meter saja, lebih ke sana lagi sudah tertutup oleh kabut awan yang tebal sehingga sukar diketahui di mana letak ujungnya.
"Adik cilik,"
Kata Hiang Bun-thian dengan suara tertahan.
"di tengah kabut tebal sana adalah jala tali besi melulu, kau jangan sembarangan jalan ke sana."
Lenghou Tiong mengiakan. Dalam hati ia tambah khawatir.
"Balok batu yang sempit dan jurang yang dalam ini sudah luar biasa bahayanya disambung lagi dengan jala tali besi saja, dengan kekuatan sekarang jelas sukar melihat ke sana."
Dalam pada itu dari pinggang "tameng mati"
Hiang Bun-thian telah melolos sebatang pedang dan diberikan kepada Lenghou Tiong, lalu "tameng"
Itu ditegakkan di depan sebagai aling-aling, rantai yang membelit di tangan "tameng mati"
Itu dilepaskan, kemudian dengan tameng itu ia menantikan datangnya musuh.
Hanya sebentar saja ia menunggu, rombongan pertama pengejar sudah tiba.
Melihat keadaan setempat yang berbahaya dan tampaknya Hiang Bun-thian sudah siap tempur, seketika mereka tidak berani mendesak maju.
Tidak lama kemudian, musuh yang datang sudah semakin banyak, mereka menggerombol di tempat rada jauh dengan mencaci maki, menyusul segala macam am-gi lantas dihamburkan pula.
Namun Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong bersembunyi di belakang "tameng"
Dengan aman, tiada satu pun senjata rahasia itu mengenai mereka.
Sekonyong-konyong seorang menggerung keras, suaranya menggeletar, seorang thauto (hwesio piara rambut) kasar memutar sebatang tongkat besar menerjang ke arah balok batu.
Tongkatnya yang besar sedikitnya ratusan kati beratnya, begitu mendekat tongkat lantas menyerampang pinggang Hiang Bun-thian.
Tapi dengan mendak ke bawah tongkat itu menyambar lewat di atas kepala Hiang Bun-thian menyusul Hiang Bun-thian lantas mengayun rantainya untuk menyabet kaki lawan.
Rupanya thauto itu terlalu nafsu mengayun tongkatnya sehingga seketika sukar ditarik kembali untuk menangkis, terpaksa ia meloncat ke atas untuk menghindar.
Tak terduga rantai Hiang Bun-thian berputar dengan cepat terus membelit pergelangan kaki kanannya, berbareng disendal sehingga thauto itu tidak sanggup menguasai tubuhnya lagi dan terjerumus ke depan dan tanpa ampun lagi jatuh ke dalam jurang.
Dalam pada itu sekali sendal dan dikendurkan, rantai Hiang Bun-thian sudah terlepas dari kaki sasarannya.
Yang terdengar hanya suara jerit ngeri thauto kasar itu berkumandang dari bawah jurang sehingga membuat orang mengirik, tanpa terasa kawannya sama mundur beberapa tindak seakan-akan takut dilempar ke dalam jurang oleh Hiang Bun-thian.
Setelah saling bertahan rada lama tiba-tiba ada dua orang tampil ke muka lagi.
Seorang bersenjata sepasang tombak pendek dan yang lain adalah seorang hwesio pakai tongkat berujung tajam bentuk sabit.
Kedua orang itu menerjang maju bersama, sepasang tombak pendek dari atas bawah terus menusuk muka dan perut Hiang Bun-thian, sebaliknya tongkat sabit si hwesio menyodok iga kirinya.
Tiga buah senjata itu cukup berat bobotnya disertai dengan tenaga dalam yang kuat pula maka serangan mereka boleh dikata sangat hebat.
Rupanya mereka telah meninjau dengan baik keadaan tempat situ, serangan mereka akan memaksa Hiang Bun-thian mau tak mau harus melangkah ke samping serta menangkis dengan rantainya.
Benar juga, segera Hiang Bun-thian mengayun rantainya "trang-trang-trang"
Tiga kali senjata lawan itu terbentur minggir semua dengan memercikkan lelatu api.
Terdengar sorak-sorai orang banyak menyaksikan pertarungan keras lawan keras itu.
Setelah senjata mereka terbentur minggir menyusul kedua orang itu lantas menyerang maju pula.
"Trang-trang-trang" , kembali empat buah senjata saling beradu. Laki-laki itu dan si hwesio tampak tergeliat, sebaliknya Hiang Bun-thian masih berdiri tegak kuat. Tanpa memberi kesempatan bernapas kepada musuh, sambil menggertak rantai Hiang Bun-thian lantas menyabet pula, ketika kedua orang menangkis dengan senjata masing-masing, maka terdengar lagi suara mendering nyaring. Hwesio itu menyerang sekeras-kerasnya, tongkat sabitnya terlepas dari cekalan dan darah segar terpancur dari mulutnya. Sebaliknya laki-laki itu masih mengangkat kedua tombaknya menusuk ke arah Hiang Bun-thian. Ternyata Hiang Bun-thian tidak berkelit juga tidak menghindar, ia berdiri tegak membiarkan tusukan itu, bahkan disambut dengan bergelak tertawa. Ketika kedua tombak musuh kira-kira belasan senti sebelum mengenai dadanya sekonyong-konyong tombak mendelong ke bawah menyertai jatuhnya kedua tombaknya, laki-laki itu pun roboh terkapar untuk tidak pernah bangun lagi. Nyata ia telah tergetar mati oleh tenaga Hiang Bun-thian tadi. Keruan para pengejar yang berkumpul di sebelah sana saling pandang dengan ketakutan dan tiada seorang pun berani maju lagi.
"Adik cilik biar kita main tahan dengan mereka, boleh kau duduk mengaso saja,"
Kata Hiang Bun-thian kepada Lenghou Tiong.
Lalu ia sendiri duduk berpangku lutut dan memandang ke langit tanpa mengambil pusing terhadap kawanan musuh.
Sejenak kemudian mendadak seorang berseru lantang.
"Iblis yang takabur, kau berani memandang enteng kesatria sejagat!"
Menyusul empat tojin tampak melangkah maju ke depan Hiang Bun-thian dengan menjinjing pedang. Tiba-tiba pedang mereka diacungkan serentak dan membentak.
"Berdiri untuk bertempur!"
"Hehe, memangnya orang she Hiang bersalah apa terhadap Bu-tong-pay kalian?"
Jengek Hiang Bun-thian. Rupanya tojin itu adalah jago Bu-tong-pay. Seorang di antaranya lantas menjawab.
"Iblis jahat agama sesat membahayakan Bu-lim, kaum alim kita harus bangkit menumpasnya."
"Merdu sekali kata-kata iblis jahat agama sesat membahayakan Bu-lim dan harus dibasmi, jika begitu di belakang kalian ada lebih separuh anggota Mo-kau, kenapa kalian tidak menumpasnya?"
Jawab Hiang Bun-thian tertawa.
"Gembongnya harus ditumpas lebih dulu!"
Sahut tojin itu. Hiang Bun-thian masih tetap duduk berpangku lutut dan menengadah ke langit, katanya pula dengan acuh tak acuh.
"O, kiranya demikian. Benar, benar!"
Pada saat lain mendadak ia menggertak keras-keras sambil meloncat bangun, rantainya bagaikan ular hidup terus menyabet kaki keempat tojin itu.
Serangan mendadak itu datangnya terlalu cepat, untung keempat tojin itu adalah jago pilihan Bu-tong-pay, pada saat bahaya pedang tiga orang di antaranya lantas menegak ke samping untuk menahan sambaran rantai musuh.
Tojin yang berdiri paling ujung sana segera balas menusuk dengan pedang ke leher Hiang Bun-thian.
Terdengar suara mendering nyaring, tiga batang pedang menyerang tiga kali lagi sehingga Hiang Bun-thian rada kerepotan.
Kesempatan itu digunakan oleh ketiga tojin tadi untuk mundur mengganti pedang, lalu menerjang maju pula.
Ilmu pedang Bu-tong-pay memang terkenal "dengan halus melawan keras", semakin kuat musuhnya pertahanan mereka pun semakin tangguh.
Kerja sama keempat pedang tojin itu menjadi seperti suatu barisan pedang yang rapat, pada waktu menyerang sasaran-sasaran yang mereka incar tidak pernah meninggalkan tempat mematikan di tubuh Hiang Bun-thian.
Sebaliknya ketika Hiang Bun-thian putar rantainya, terpaksa kedua tangannya harus bergerak semua sebab rantai itu mengikat pergelangan kedua tangannya, dalam keadaan demikian terang gerak-geriknya kurang leluasa dan kurang gesit.
Maka lama-kelamaan bukan mustahil dia akan dikalahkan oleh pedang jago Bu-tong-pay yang lihai itu.
Setelah mengikuti sebentar pertarungan itu, dapat juga Lenghou Tiong melihat gelagat yang tidak menguntungkan itu.
Ia tidak tinggal diam, ia melangkah maju dari sisi kanan Hiang Bun-thian, pedang terus menusuk iga salah seorang tojin.
Serangan Lenghou Tiong itu dilakukan dengan aneh dan tak terduga sehingga sukar bagi tojin itu untuk menghindar.
"sret" , dengan tepat iganya tertusuk. Tapi sekilas terlintas suatu pikiran dalam benak Lenghou Tiong.
"Bu-tong-pay dihormati setiap orang Kangouw. Meski aku harus membantu Hiang-siansing, tapi juga jangan mencelakai jiwa tosu ini."
Maka ketika ujung pedang baru masuk ke dalam kulit lawan, dengan cepat ia hendak menarik kembali pedangnya.
Tojin itu keburu mengatupkan lengannya, ternyata dia tidak pikirkan sakit atau tidak, tapi pedang Lenghou Tiong itu dikempit sekuatnya.
Maka waktu Lenghou Tiong menarik kembali pedangnya, tanpa ampun lagi iga dan lengan tojin itu tergores luka panjang.
Sedikit merandek itulah pedang tojin yang lain telah menyambar tiba dan tepat membentur pedang Lenghou Tiong.
Tangan Lenghou Tiong terasa kesemutan, ia bermaksud melepaskan pedangnya, tapi lantas teringat sekali kehilangan senjata tentu keadaan tambah berbahaya.
Maka sekuatnya ia genggam pedang, terasa suatu arus tenaga mengalir datang melalui pedang dan menyerang nadi jantung dengan keras.
Tosu pertama yang iganya tertusuk pedang itu mestinya lukanya tidak parah, tapi ketika dia mengempit pedang Lenghou Tiong tadi, lengannya tergores luka yang cukup dalam sehingga tulang lengan kelihatan, darah terus mancur dengan derasnya, dia sudah tidak mampu bertempur lagi.
Adapun dua tojin yang lain saat itu sudah berada di belakang Lenghou Tiong dan sedang mengerubut Hiang Bun-thian dengan sengit.
Ilmu pedang kedua tojin itu sangat bagus dan dapat kerja sama dengan rapat.
Setiap beberapa gebrakan selalu Hiang Bun-thian terdesak mundur selangkah, ketika belasan langkah mundur ke belakang, sementara itu mereka sudah hampir menghilang ke tengah kabut yang tebal.
Tapi kedua tosu itu masih terus menyerang.
Tiba-tiba ada orang berteriak dari gerombolan para kesatria sana.
"Awas, ke sana lagi adalah Tiat-soh-kio (Jembatan Tali Besi)!"
Akan tetapi sudah terlambat, baru tersebut nama "Tiat-soh-kio" , berbareng terdengarlah jerit ngeri kedua tosu tadi, tubuh mereka menyelonong ke depan menghilang di tengah kabut.
Agaknya tanpa kuasa lagi mereka kena diseret ke sana oleh Hiang Bun-thian.
Jerit ngeri mereka makin menurun ke bawah dengan cepat dan dalam sekejap saja sudah tidak terdengar lagi Hiang Bun-thian terbahak-bahak dan muncul kembali dari balik kabut tebal sana.
Ketika dilihatnya Lenghou Tiong sedang sempoyongan hampir roboh, ia menjadi kaget.
Kiranya tojin Bu-tong-pay itu pun menyadari bahwa dalam hal kebagusan ilmu pedang sekali-kali dirinya bukan tandingan Lenghou Tiong, hal ini telah disaksikannya ketika pemuda itu berturut-turut melukai beberapa orang dengan Tokko-kiu-kiam yang lihai di gardu itu.
Tapi ia pun dapat melihat akan kelemahan Lenghou Tiong, yaitu tenaga dalamnya sangat lemah.
Sebab itulah di antara mereka berempat sebenarnya sudah ada sepakat akan berusaha mengadu lwekang bilamana terpaksa harus bertempur dengan Lenghou Tiong.
Begitulah maka ketika pedangnya menempel pedang Lenghou Tiong segera ia menyalurkan tenaga dalamnya untuk menyerang.
Jangankan tenaga dalam Lenghou Tiong sekarang sudah punah, biarpun dalam keadaan biasa juga latihannya memang masih cetek dan bukan tandingan jago Bu-tong-pay yang sudah terlatih berpuluh tahun lamanya itu.
Untung hawa murni dalam tubuhnya sangat penuh, meski tidak kuat balas menyerang namun untuk sementara juga tidak sampai tergetar binasa oleh lwekang musuh.
Hanya saja hawa murni dalam tubuh itu tidak dapat dikuasai, darah juga bergolak dengan hebat maka sampai mata berkunang-kunang dan pikiran kacau.
Pada saat itulah tiba-tiba terasa "tay-cui-hiat"
Bagian punggung tersalur oleh suatu arus hawa panas, daya tekanan musuh lantas terasa ringan semangat Lenghou Tiong terbangkit, ia tahu Hiang Bun-thian sedang membantunya dengan lwekang yang tinggi.
Tapi segera dapat dirasakan bahwa tenaga dalam Hiang Bun-thian ini tidak terlalu kuat, juga bukan digunakan untuk melawan tenaga musuh, tapi jelas sedang menarik tenaga serangan musuh menuju ke bawah, dari lengan menuju ke pinggang, lalu menjulur ke bagian kaki terus lenyap ke bawah tanah.
Kejut dan girang pula Lenghou Tiong, selamanya tak terbayang olehnya bahwa di dalam ilmu lwekang ternyata ada semacam kepandaian yang aneh dan spesial begini, betapa pun besar kekuatan lwekang musuh dapat dipunahkan dengan menggunakan tenaga dalam yang ringan.
Rupanya tojin itu pun mengetahui gelagat tidak menguntungkan, mendadak ia membentak sambil melompat mundur.
"Gip-sing-tay-hoat! Gip-sing-tay-hoat!"
Mendengar nama Gip-sing-tay-hoat " (Ilmu Iblis Pengisap Bintang) itu, seketika air muka orang banyak berubah ketakutan.
Sebaliknya jago-jago yang berusia muda malah tidak begitu pusing terhadap ilmu yang disebut itu, hal itu bukannya mereka pemberani melainkan pada hakikatnya mereka tidak kenal apa itu "Gip-sing-tay-hoat"
Segala. Hiang Bun-thian tertawa, katanya.
"Ya, memang benar ini adalah Gip-sing-tay-hoat. Siapa yang berminat merasakannya boleh coba maju sini!"
Tiba-tiba Mo-kau-tianglo yang berikat pinggang warna kuning itu berkata dengan suara serak.
"Agaknya Hiang-yusu telah bersekongkol dengan ... dengan Gip-sing-lokoay (Iblis Tua Pengisap Bintang), marilah kita pulang memberi lapor kepada Kaucu dan terserah keputusan beliau."
Bab 64.
Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong Mengangkat Saudara Para anggota Mo-kau mengiakan serentak, lalu putar tubuh dan melangkah pergi, jumlah mereka yang beberapa ratus orang itu seketika bubar separuh lebih.
Sedangkan orang-orang dari cing-pay itu tampak bisik-bisik saling berunding sejenak, lalu mereka pun membubarkan diri berturut-turut.
Sampai akhirnya yang tinggal di situ hanya tinggal belasan orang saja.
Terdengar seorang di antaranya berseru lantang.
"Hiang-yusu dan Lenghou Tiong, kalian telah berkomplot dengan Gip-sing-lokoay, kalian telah kejeblos semakin dalam. Untuk selanjutnya kawan Bu-lim tidak perlu banyak pikir tentang cara layak untuk menghadapi kalian. Hal ini adalah akibat perbuatan kalian sendiri. Bila terjadi sesuatu nanti kalian jangan menyesal."
"Bilakah orang she Hiang pernah merasa menyesal terhadap segala apa yang pernah diperbuatnya?"
Sahut Hiang Bun-thian tertawa.
"Padahal cara kalian beberapa ratus orang mengerubut kami berdua ini apakah terhitung cara yang layak? Hehe, sungguh menggelikan, sungguh menertawakan!"
Sejenak kemudian, ketika Hiang Bun-thian mendengarkan dengan cermat, ia tahu semua musuh benar-benar sudah pergi jauh. Dengan suara perlahan ia berkata kepada Lenghou Tiong.
"Kawanan bangsat itu pasti akan kembali lagi. Hiang Bun-thian sudah lari satu kali bila lari lagi satu kali juga lari namanya, biarlah kita sembunyi saja sekalian. Adik cilik, bertiaraplah di punggungku!"
Melihat Hiang Bun-thian berkata dengan sungguh-sungguh, Lenghou Tiong juga tidak banyak tanya lagi, segera ia menurut dan menggandul di punggungnya.
Tapi sekali ini bukan lagi Hiang Bun-thian membawanya lari sebaliknya terus berjongkok, sebelah kaki perlahan menjulur ke bawah jurang malah.
Selagi Lenghou Tiong terperanjat, dilihatnya Hiang Bun-thian telah mengayun rantainya dan tepat melilit pada suatu batang pohon yang tumbuh menonjol dari dinding karang.
Setelah ditarik dan dicoba daya tahannya cukup kuat untuk menahan bobot orang, habis itu barulah perlahan Hiang Bun-thian melorot ke bawah sehingga tubuh mereka tergantung di tengah udara.
Sesudah Hiang Bun-thian mengayun tubuh beberapa kali dan menemukan tempat berpijak, kemudian tangan menyendal untuk melepaskan rantainya.
Ketika rantai itu merosot ke bawah, pada saat itu pula kedua tangan Hiang Bun-thian sedikit menahan dinding batu sekadar memperlambat daya turun tubuhnya, dalam pada itu rantainya diayunkan ke samping untuk mencantol pada sepotong batu karang yang mencuat keluar, dengan demikian tubuh mereka berdua lantas melorot belasan meter lagi ke bawah.
Dengan cara begitulah seterusnya mereka melorot ke bawah jurang.
Terkadang dinding karang itu tiada pepohonan, juga tiada batu karang yang mencuat, maka Hiang Bun-thian lantas menggunakan cara paling berbahaya, ia menempel di dinding karang dan membiarkan tubuhnya meluncur ke bawah sampai belasan meter jauhnya makin melorot makin cepat, tapi bila menemukan sedikit tempat yang bisa bertahan segera ia keluarkan ilmu saktinya entah dengan pukulan entah dengan depakan, untuk memperlambat daya turunnya itu.
Keruan Lenghou Tiong kebat-kebit dan khawatir, ia merasa cara melorot demikian benar-benar sangat berbahaya tidak kurang bahayanya daripada pertempuran sengit tadi.
Tapi dasarnya dia juga pemberani, ia pikir pengalaman yang aneh dan luar biasa ini kalau tidak menemukan orang kosen semacam Hiang Bun-thian betapa pun sukar dialaminya.
Sebab itulah ketika kedua kaki Hiang Bun-thian sudah menginjak dasar jurang lamat-lamat ia menjadi kecewa malah mengapa jurang itu tidak beberapa ratus meter lebih dalam lagi.
Waktu dia menengadah, terlihat di atas awan putih belaka, balok batu itu sudah berwujud satu jalur hitam yang amat halus.
"Hiang-siansing ...."
Baru Lenghou Tiong hendak bicara mendadak Hiang Bun-thian mendekap mulutnya sambil menuding ke atas.
Segera Lenghou Tiong paham bahwa musuh yang telah pergi itu tentu datang kembali.
Waktu ia memandang ke atas namun tiada satu bayangan pun tampak.
Hiang Bun-thian pasang kuping di dinding karang itu, selang sebentar baru berkata dengan tersenyum.
"Kawanan mayat itu sekarang benar-benar sudah pergi semua."
"Mayat?"
Lenghou Tiong menegas dengan heran.
"Ya, mayat,"
Sahut Hiang Bun-thian.
"Dalam waktu tiga tahun ke-678 orang itu akan menjadi mayat semua. Hm, selama hidup hanya Thian-ong Locu Hiang Bun-thian yang menguber orang dan tidak pernah dikejar orang, tapi sekali ini Locu telah melanggar kebiasaan itu, jika aku tidak membunuh mereka satu demi satu ke mana lagi mukaku ini harus ditaruh? Baik orang cing-pay maupun anggota Mo-kau yang ikut mengepung di sekitar gardu itu berjumlah 709 orang, kita sudah membunuh 31 orang sisanya masih 678 orang."
"Betul 678 orang? Cara bagaimana engkau bisa mengenal mereka dengan jelas?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Dan dalam tiga tahun masakah engkau dapat membunuh orang sebanyak itu?"
"Apa susahnya?"
Jawab Hiang Bun-thian.
"Asal aku bekuk kepalanya masakah buntutnya takkan terpegang? Di antara 678 orang itu sekarang kuingat betul 532 orang di antaranya, sisanya seratus lebih kelak tentu dapat kucari."
Sungguh tidak kepalang heran Lenghou Tiong.
Ketika di gardu itu tampaknya Hiang Bun-thian hanya acuh tak acuh saja, tapi setiap musuh ternyata sudah diingatnya dengan baik.
Jelas bukan saja ilmu silatnya luar biasa, bahkan daya ingatnya juga lain daripada yang lain.
"Hiang-siansing,"
Kata Lenghou Tiong kemudian.
"dalam tiga tahun engkau akan membunuh orang sebanyak itu, apakah perbuatan demikian tidak terlalu kejam? Seorang diri engkau telah membunuh beberapa puluh di antara mereka, nama kebesaranmu tentu sudah berkumandang ke seluruh dunia. Kukira orang-orang begitu tidak perlu dipikir lagi."
"Hm, untung kau membantu aku, kalau tidak saat ini Hiang Bun-thian sudah dicacah mereka hingga hancur luluh. Bila sakit hati ini tidak kubalas, cara bagaimana aku dapat menjadi manusia lagi?"
Sampai di sini ia melototi Lenghou Tiong sejenak, lalu menyambung pula.
"Kau adalah murid golongan cing-pay, sebaliknya orang she Hiang adalah iblis sia-pay, kita tidak sama golongan. Kau telah menolong jiwaku, budi ini tentu saja kuingat dengan baik. Tapi kalau kau lantas hendak menyuruh aku jangan begini dan jangan begitu, hm, tidak nanti aku mau menurut. Pendek kata ke-678 orang itu tetap harus kubunuh."
Lenghou Tiong bergerak tertawa katanya.
"Hiang-siansing, hanya secara kebetulan saja aku bertemu denganmu dan bersama melabrak kawanan pengeroyok itu, jika aku tidak sampai mati saja sudah untung masakah Hiang-siansing bilang aku menolong jiwamu segala? Hah, benar-benar ... benar-benar ...."
"Benar-benar ngaco-belo bukan?"
Sambung Hiang Bun-thian.
"Wanpwe tidak berani menganggap menolong jiwamu inilah yang tidak tepat."
"Apa yang pernah dikatakan orang she Hiang selamanya tak pernah kujilat kembali. Sekali aku mengatakan kau telah menolong jiwaku maka tetap aku utang budi padamu."
Lenghou Tiong tahu tabiat Hiang Bun-thian sangat kepala batu maka ia hanya tertawa saja tanpa mendebatnya pula.
"Apakah kau tahu sebab apa kawanan anjing itu sudah pergi lalu datang kembali?"
Tanya Hiang Bun-thian.
"Wanpwe justru ingin mohon keterangan,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Ah, kau selalu sebut wanpwe, cianpwe, siansing apa segala, aku merasa bosan,"
Ujar Hiang Bun-thian.
"Aku adalah Kong-beng-sucia dari Mo-kau, orang seagama sama memanggil aku Hiang-yusu. Tapi kau bukan anggota Mo-kau kami maka tidak dapat memanggil demikian padaku. Sudahlah kau panggil aku Hiang-heng (kakak) saja dan aku panggil adik padamu."
"Ah, Wanpwe tidak berani,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Kembali Wanpwe lagi,"
Bentak Hiang Bun-thian dengan gusar.
"Baiklah, tentu kau pandang hina padaku lantaran aku adalah orang Mo-kau. Kau telah menyelamatkan jiwaku padahal jiwaku ini bukan soal bagiku. Sebaliknya kau menghina aku, untuk ini marilah kita coba berkelahi dulu."
"Berkelahi sih tidak perlu, jika Hiang-heng suka ya Siaute akan menurut saja memanggil demikian padamu,"
Jawab Lenghou Tiong.
Diam-diam ia berpikir dengan Dian Pek-kong saja yang merupakan penjahat besar juga pernah mengikat persahabatan karib apa artinya sekarang jika bertambah seorang Hiang Bun-thian?
Lagi pula orang ini sangat gagah perwira boleh dikata seorang jantan sejati, justru tokoh demikianlah yang paling kusukai.
Karena itu segera ia memberi hormat, katanya "Hiang-heng, terimalah hormat adik ini."
"Hahahaha!"
Hiang Bun-thian tertawa.
"Di seluruh dunia hanya dikau seorang saja yang berkakak-adik denganku. Nah, ingatlah dengan baik adikku!"
Biasanya kalau dua orang mengangkat saudara, maka sedikitnya harus bersumpah dan mengadakan sedikit upacara.
Tapi dasar mereka berdua memang orang yang tidak kenal ikatan adat segala.
Yang penting mereka merasa cocok satu sama yang lain, sekali bilang saudara, maka jadilah saudara.
Sejak kecil Hiang Bun-thian sudah biasa pergi-datang sendirian dengan bebas, sekarang dia mengangkat seorang adik, sudah tentu hatinya sangat gembira.
Katanya kemudian.
"Sayang di sini tidak ada arak, kalau ada entah betapa puasnya bila kita minum sepuluh atau seratus cawan."
"Benar,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Saat ini kerongkongan adik sudah merasa gatal. Sekali kakak menyebut arak aku tambah mengiler lagi."
"Kawanan kura-kura itu belum terlalu jauh perginya, rasanya kita terpaksa harus mengeram di sini untuk dua-tiga hari lagi,"
Kata Hiang Bun-thian sambil menuding ke atas.
"Adik cilik, ketika si hidung kerbau (istilah olok-olok kaum tosu) itu menyerangmu dengan lwekang, aku pun membantu dengan tenaga dalam, apa yang kau rasakan tatkala itu?"
"Rasanya kakak seperti menarik tenaga tojin itu ke bawah,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Tepat,"
Seru Hiang Bun-thian dengan senang sambil tepuk paha.
"Agaknya kau memang sangat cerdas. Kepandaianku ini adalah ciptaanku sendiri secara tidak sengaja dan tiada seorang Bu-lim pun yang mengetahui. Aku telah memberi nama ilmuku ini sebagai ‘Gip-kang-cip-te-siau-hoat’ (Ilmu Kecil Mengisap Tenaga ke Dalam Tanah).
"Sebenarnya kepandaianku ini laksana si kerdil dibandingkan raksasa jika diukur dengan ‘Gip-sing-tay-hoat’ (Ilmu Besar Pengisap Bintang) yang sangat ditakuti oleh setiap orang Bu-lim itu,"
Tutur Hiang Bun-thian pula.
"Sebab itulah aku memberi nama ‘siau-hoat’ (ilmu kecil) saja. Kepandaianku ini sebenarnya cuma permainan akal saja, dengan cara menarik tenaga lawan dan disalurkan ke dalam tanah supaya tenaga musuh itu tidak mampu mencelakai kita. Tapi hasilnya juga tiada manfaatnya bagi kita sendiri. Pula ilmu ini hanya dapat digunakan tatkala musuh menyerang dan tidak dapat digunakan untuk menyerang musuh.
"Soalnya ketika musuh merasakan tenaga dalam yang dia kerahkan merembes keluar dan lenyap, tentu saja dia kaget dan takut. Tapi selang tidak lama tenaganya juga akan pulih kembali. Dari itu kuduga sesudah hidung kerbau Bu-tong-pay itu pulih tenaganya, segera ia akan mengetahui bahwa kepandaianku mengisap tenaganya itu cuma permainan menggertak belaka dan tidak perlu ditakuti sebenarnya. Biasa kakakmu ini tidak menyukai permainan akal-akalan dan menipu, sebab itulah sebelumnya tidak pernah kugunakan."
"Thian-ong Locu biasanya tidak kenal lari, selamanya tidak pernah menipu orang, tapi kini demi menyelamatkan Siaute, kedua kebiasaan itu terlanggar semua,"
Ujar Lenghou Tiong tertawa.
"Hehe, juga belum tentu bahwa selamanya aku tidak menipu orang,"
Ujar Hiang Bun-thian tertawa.
"Cuma terhadap keroco seperti Siong-ti dari Bu-tong-pay itu rasanya kakakmu tidak sudi untuk menipunya."
Dia merandek sejenak lalu, katanya lagi dengan tertawa.
"Kau sendiri harus hati-hati adik cilik, bisa jadi pada suatu ketika kakak akan menipumu."
Begitulah kedua orang lantas bergelak tertawa.
Cuma khawatir didengar oleh musuh di atas, maka mereka menahan suara mereka selirihnya.
Sementara itu mereka merasakan perut sudah sangat lapar, di dasar lembah itu hanya penuh rumput dan lumut belaka, lain tidak ada.
Terpaksa mereka duduk bersandar batu dan pejamkan mata mengumpulkan semangat.
Lenghou Tiong sudah teramat lelah, maka tidak lama kemudian ia sudah terpulas.
Dalam mimpinya tiba-tiba melihat Ing-ing, membawa tiga ekor kodok panggang dan diserahkan padanya sambil menyapa.
"Apakah kau telah lupa padaku?"
"Tidak, tidak lupa,"
Seru Lenghou Tiong.
"Kau ... kau hendak ke mana?"
Baru selesai ucapannya, mendadak bayangan Ing-ing sudah menghilang. Ia berteriak-teriak lagi.
"Jangan pergi, engkau jangan pergi! Aku ingin bicara padamu!"
Tapi ia telah dipapak oleh macam-macam senjata, ia menjerit kaget dan terjaga bangun. Terdengar suara Hiang Bun-thian sedang bicara dengan tertawa.
"Kau mimpi ketemu kekasihmu bukan? Banyak sekali yang hendak kau bicarakan padanya?"
Muka Lenghou Tiong menjadi merah, ia tidak tahu igauan apa yang telah didengarnya oleh Hiang Bun-thian dalam mimpinya tadi.
"Adik cilik, kau hendak mencari kekasihmu paling tidak kau harus menyembuhkan dahulu penyakitmu,"
Kata Hiang Bun-thian.
"Aku ... aku tidak punya kekasih,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Pula penyakitku ini terang tak bisa disembuhkan."
"Aku telah utang jiwa padamu, meski sudah angkat saudara betapa pun aku tetap merasa tidak enak dan harus kubayar kembali satu jiwa padamu. Aku akan membawamu ke suatu tempat dan tentu akan dapat menyembuhkan penyakitmu."
Walaupun Lenghou Tiong sudah tidak memikirkan mati-hidup sendiri tapi soalnya memang tidak berdaya sehingga terpaksa pasrah nasib.
Dari dulu hingga sekarang kecuali orang yang memang ingin bunuh diri kalau tidak asalkan ada harapan untuk hidup setiap orang juga pasti akan berusaha sebisanya untuk mempertahankan hidupnya.
Sekarang didengarnya Hiang Bun-thian menyatakan penyakitnya akan dapat disembuhkan, jika orang lain yang bilang mungkin sukar dipercaya.
Namun Hiang Bun-thian memang lain daripada yang lain, betapa tinggi ilmu silatnya kecuali Hong Jing-yang boleh dikata belum pernah dilihatnya selama hidup ini, apa yang dikatakan sudah tentu ada dasarnya, maka dari lubuk hati Lenghou Tiong seketika timbul sepercik harapan yang menggirangkan.
Katanya.
"Aku ... aku ...."
Tiba-tiba ia tidak sanggup meneruskan ucapannya.
Dalam pada itu bulan sabit telah mengintip di tengah cakrawala, sinarnya yang jernih memenuhi bumi, meski di dasar lembah itu rasanya masih seram, tapi dalam pandangan Lenghou Tiong sekarang laksana cahaya matahari yang menyilaukan mata.
"Marilah kita pergi mencari seorang,"
Ajak Hiang Bun-thian.
"Tabiat orang ini sangat aneh jangan sampai dia tahu akan urusan ini. Untuk itu, adik cilik, jika kau percaya padaku hendaknya segala apa kau serahkan saja padaku, kau sendiri tidak perlu ikut campur."
"Masakah aku tidak percaya?"
Sahut Lenghou Tiong.
"Koko hendak berusaha menyembuhkan penyakitku hal ini sebenarnya tipis sekali harapannya. Jika bisa sembuh sudah tentu kita akan bersyukur tapi kalau tak bisa sembuh juga sudah dalam dugaan."
"Sialan, paha kuda-kuda itu ketinggalan di sana, sekarang ke mana harus mencari makanan,"
Tiba-tiba Hiang Bun-thian berkata sambil menjilat-jilat bibir.
"Sudahlah, terpaksa kita harus mencari jalan keluar dari sini. Aku akan coba mengubah dulu mukamu."
Lalu ia meraup segenggam tanah liat di dasar lembah itu dan dipoles muka Lenghou Tiong, kemudian ia mengusap dagu sendiri, di mana tiba tenaga saktinya seketika janggutnya rontok semua, habis itu kedua tangan lantas meremas-remas pula kepala sendiri, dalam sekejap saja seluruh rambutnya yang sudah beruban pun rontok bersih sehingga kepalanya menjadi gundul kelimis.
Melihat dalam waktu sekejap saja wajah Hiang Bun-thian sudah berubah begitu rupa, Lenghou Tiong merasa geli dan sangat kagum pula.
Lalu Hiang Bun-thian meraup segenggam lempung lagi untuk menambal hidung sendiri sehingga tambah besar, kedua pipi juga dibikin gemuk.
Sekarang biarpun muka bertemu muka, kawan sendiri pun sukar mengenalnya lagi.
Begitulah mereka lantas mencari jalan untuk keluar dari lembah jurang itu.
Hiang Bun-thian menyembunyikan kedua tangannya di dalam lengan baju yang longgar untuk menutupi rantai yang mengikat pergelangan tangannya.
Asalkan tidak angkat tangan tentu tidak ada orang tahu bahwa si gundul gemuk inilah Thian-ong Locu Hiang Bun-thian yang gagah perkasa itu.
Setelah menyusur kian kemari di tengah lembah itu, sampai tengah hari mereka menemukan satu pohon tho di suatu tanjakan.
Meski buah tho itu masih hijau dan rasanya masih sepat, tapi saking laparnya mereka pun tidak banyak pikir lagi, segera mereka lalap buah itu sekenyangnya.
Sesudah mengaso sebentar, kemudian mereka maju lagi ke depan.
Menjelang petang, akhirnya Hiang Bun-thian berhasil menemukan suatu tempat keluar.
Cuma untuk itu harus dilintasi dulu suatu dinding tebing yang curam dan beberapa puluh meter tingginya.
Dengan menggendong Lenghou Tiong, dengan susah payah akhirnya mereka dapat memanjat ke atas.
Di atas tebing curam itu adalah sebuah jalan berlingkar dengan rumput alang-alang lebar di kanan kiri, walaupun suasana sangat sunyi tapi sudah jauh lebih aman daripada berada di dasar lembah yang curam itu.
Esok paginya mereka terus menuju ke jurusan timur.
Sampai di suatu kota Hiang Bun-thian mengeluarkan satu biji emas dan suruh Lenghou Tiong pergi menukar uang perak di suatu perusahaan penukaran uang.
Habis itu mereka mencari hotel untuk menginap.
Hiang Bun-thian pesan daharan dengan satu guci arak.
Kedua orang lantas makan minum sepuasnya, akhirnya sama-sama mabuk.
Sampai esok pagi sang surya sudah meninggi barulah mereka mendusin.
Kedua orang saling pandang dengan tertawa, mereka merasa seperti hidup di dunia baru bila teringat kepada pertarungan sengit di tengah gardu beberapa hari yang lalu.
"Kau tunggu di sini, adik cilik, aku akan keluar sebentar,"
Kata Hiang Bun-thian.
Katanya sebentar tapi sampai dua-tiga jam baru tampak dia pulang dengan membawa beberapa bungkus barang.
Rantai di tangannya sudah lenyap, mungkin telah menyuruh pandai besi untuk menanggalkannya.
Waktu Hiang Bun-thian membuka bungkusannya, kiranya isinya adalah baju yang bagus-bagus dan mewah katanya.
"Kita berdua harus menyamar sebagai saudagar besar, semakin royal tampaknya semakin baik."
Segera mereka berganti pakaian serbabaru gres.
Waktu keluar hotel, pelayan sudah menyiapkan dua ekor kuda pilihan dengan pelana yang mengilap, terang itu pun Hiang Bun-thian yang membelinya.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda.
Beberapa hari kemudian, Lenghou Tiong terlalu lelah menunggang kuda, Hiang Bun-thian lantas menyewa sebuah kereta besar baginya.
Sampai di tepi Kanal Un-ho mereka lantas meninggalkan kereta dan berganti menumpang kapal menuju ke selatan.
Sepanjang jalan Hiang Bun-thian berlaku royal sekali, buang uang tanpa takaran seakan-akan biji emas yang dia bawa tidak habis-habis.
Sampai di wilayah Provinsi Kangsoh, sesudah melintasi Tiangkang, kota di sekitar lembah Un-ho tampak sangat makmur dan ramai.
Pakaian yang dibeli Hiang Bun-thian juga semakin mewah.
Lenghou Tiong tidak ambil pusing, ia menurut segala apa yang diatur Hiang Bun-thian.
Bila iseng mereka lantas mengobrol macam-macam kejadian menarik di dunia Kangouw.
Agaknya Hiang Bun-thian memang sangat luas pengetahuannya, daya ingatnya juga luar biasa.
Bukan saja tokoh-tokoh ternama dunia persilatan hampir semua diketahuinya, bahkan jago kelas dua seperti anak murid Hoa-san-pay sebangsa Lo Tek-nau, Si Cay-cu, dan lain-lain juga tahu, malahan betapa tinggi kepandaian mereka dan asal usulnya juga diketahuinya dengan baik.
Keruan Lenghou Tiong terkesima kagum.
Suatu hari, mereka hampir sampai di Hangciu.
Mereka lantas ganti perjalanan melalui darat.
Mereka beli lagi dua ekor kuda dan masuk ke Kota Hangciu dengan menunggang kuda.
Hangciu pernah menjadi kota raja pada Dinasti Song Selatan dengan nama Lim-an dan memang suatu kota pelesir yang indah menarik, orang berlalu-lalang ramai, di mana-mana terdengar suara musik yang merdu.
Akhirnya Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong sampai di tepi Se-ouw (Danau Barat) yang terkenal sangat indah pemandangannya.
Air danau itu tampak tenang jernih laksana cermin, pohon liu tumbuh lebat melambai hampir menyentuh air danau, sungguh seakan-akan berada di surgaloka rasanya.
Lenghou Tiong berkata dengan gegetun.
"Orang sering mengatakan bahwa di langit ada surga, di bumi ada Kota Sohciu dan Hangciu. Belum pernah kukenal kedua kota ini dan entah bagaimana tempatnya, tapi hari ini aku telah menikmati sendiri Se-ouw ini, ternyata pujian yang menyamakannya dengan surga memang bukan omong kosong belaka."
Hiang Bun-thian hanya tertawa.
Ia larikan kudanya menuju suatu tempat.
Tempat itu terbendung oleh suatu tanggul yang panjang di sebelah danau, suasananya tenang sunyi.
Mereka turun dari kuda dan menambat binatang tunggangan itu di batang pohon liu di tepi danau.
Lalu berjalan mengikuti undak-undakan batu yang menuju ke atas bukit.
Hiang Bun-thian seperti sudah kenal baik tempat itu.
Sesudah membelok beberapa tikungan, terlihat di depan penuh pohon bwe, hutan bwe itu tumbuh dengan subur.
Dapat dibayangkan pemandangan tempat ini tentu sangat bagus tatkala bunga bwe mekar di musim semi.
Setelah menyusuri hutan bwe yang luas itu sampailah mereka di suatu jalan besar terbuat dari balok-balok batu hijau.
Akhirnya mereka sampai di suatu kompleks perumahan yang berpagar tembok putih dan berpintu gerbang cat merah.
Waktu dekat, terlihat di atas pintu gerbang itu tertulis dua huruf besar yang berbunyi.
"Bwe-cheng" (Perkampungan Bwe). Di tepinya dibubuhi "Lu Un-bun" . Lenghou Tiong tidak banyak sekolah sehingga tidak tahu bahwa Lu Un-bun adalah seorang perwira berjasa pada zaman Song Selatan yang ikut melawan sebuah Kerajaan Chim. Yang ia rasakan hanya beberapa tulisan itu tampaknya rada indah dan kuat. Hiang Bun-thian mendekati pintu yang terdapat dua buah gelang tembaga yang tergosok hingga mengilap, ia pegang gelangan tembaga itu dan baru saja hendak menggedor, tiba-tiba teringat sesuatu, ia menoleh dan membisiki Lenghou Tiong.
"Segala apa menurut saja padaku."
Lenghou Tiong mengangguk, katanya di dalam hati.
"Perkampungan ini terang adalah kediaman kaum saudagar besar Kota Hangciu ini, apakah mungkin penghuninya adalah seorang tabib sakti?"
Terdengar Hiang Bun-thian menggedor pintu empat kali dengan gelang tembaga tadi, ia berhenti sejenak, lalu mengetuk dua kali, berhenti lagi dan mengetuk lima kali pula, berhenti kemudian ketuk tiga kali, habis itu barulah ia melangkah mundur.
Selang tak lama, perlahan pintu terbuka dan muncul dua orang tua yang berdandan sebagai kaum hamba.
Melihat kedua orang itu, Lenghou Tiong terperanjat.
Sinar mata kedua orang itu sangat tajam, pelipis mereka menonjol, langkahnya kuat, terang adalah dua jago silat yang memiliki lwekang tinggi, mengapa tokoh demikian mau menjadi kaum hamba yang rendah begini?
Maka seorang di antaranya telah membungkuk tubuh dan menyapa.
"Entah ada keperluan apakah kunjungan Tuan-tuan ke tempat kami ini?"
Segera Hiang Bun-thian menjawab.
"Murid Ko-san dan Hoa-san ada sesuatu urusan mohon bertemu dengan Kanglam-si-yu (Empat Sekawan dari Kanglam), keempat Locianpwe."
"Majikan selamanya tidak terima tamu,"
Sahut orang tua tadi.
Habis itu ia bermaksud menutup kembali pintunya.
Cepat Hiang Bun-thian mengeluarkan sesuatu dan dibentang.
Kembali Lenghou Tiong terkejut.
Ternyata benda yang dibentang Hiang Bun-thian itu adalah sebuah panji pancawarna, di atasnya banyak terhias mutiara mestika dan batu permata.
Dahulu Lenghou Tiong pernah melihat panji lima warna itu di rumah Lau Cing-hong di Kota Heng-san, diketahuinya panji ini adalah panji kebesaran Co-bengcu, ketua Ko-san-pay yang menjabat pula ketua serikat Ngo-gak-kiam-pay.
Di mana panji pancawarna ini ditunjukkan laksana Co-bengcu sendiri yang datang, setiap orang dari Ngo-gak-kiam-pay harus tunduk kepada perintah orang yang membawa panji kebesaran itu.
Lamat-lamat Lenghou Tiong merasa urusan rada ganjil, ia dapat menduga cara Hiang Bun-thian memperoleh panji itu pasti tidak beres, bukan mustahil dirampasnya dari tokoh Ko-san-pay dengan kekerasan, sekarang dia sendiri mengaku sebagai murid Ko-san-pay, entah apa maksud tujuannya?
Cuma dirinya tadi sudah berjanji akan menurut segala apa yang diatur oleh Hiang Bun-thian maka terpaksa ia diam saja menantikan perkembangan selanjutnya.
Rada berubah juga air muka kedua orang tua itu demi melihat panji lima warna, kata mereka berbareng.
"Panji kebesaran Co-bengcu dari Ko-san-pay."
"Benar,"
Sahut Hiang Bun-thian. Segera orang tua yang kedua berkata.
"Selamanya Kanglam-si-yu tiada hubungan dengan Ngo-gak-kiam-pay, biarpun Co-bengcu sendiri yang datang juga majikan kami belum tentu mau ... belum tentu mau, hehe ...."
Ia tidak meneruskan ucapannya, tapi jelas maksudnya bahwa sekalipun Co-bengcu datang sendiri juga majikannya belum tentu mau menerimanya.
Hanya saja Co-bengcu dari Ko-san-pay memang tinggi kedudukannya dan namanya disegani, maka hamba tua itu tidak berani sembarangan mengolok-olok.
Namun jelas di balik kata-katanya tadi ia anggap kedudukan "Kanglam-si-yu"
Masih jauh lebih tinggi daripada Co-bengcu. Diam-diam Lenghou Tiong membatin.
"Macam apakah tokoh ‘Kanglam-si-yu’ itu? Jika begitu hebat pengaruhnya di dunia persilatan mengapa selamanya suhu dan sunio tidak pernah bercerita tentang mereka? Selama aku berkelana di Kangouw juga belum pernah kudengar adanya orang kosen angkatan tua yang bernama ‘Kanglam-si-yu’ segala."
Dalam pada itu Hiang Bun-thian hanya tersenyum saja, ia gulung kembali panji pancawarna itu dan disimpan ke dalam baju. Lalu katanya.
"Panji Co-sutit ini bukan untuk dipakai menakuti orang. Padahal tokoh macam apakah Kanglam-si-yu keempat Cianpwe, rasanya panji ini pun tak dipandang sebelah mata ...."
"Aneh, mengapa kau sebut ‘Co-sutit’ (murid keponakan Co)? Jadi kau sengaja memalsukan dirimu sebagai paman guru Co-bengcu. Wah, semakin tidak beres ini,"
Demikian Lenghou Tiong menimbang di dalam hati. Terdengar Hiang Bun-thian sedang melanjutkan.
"Cuma aku sendiri selama ini tidak punya jodoh untuk menjumpai Kanglam keempat Cianpwe, maka panji yang kubawa ini hanya sekadar sebagai tanda pengenal saja, lain tidak."
"Oo,"
Kedua hamba tua itu sama bersuara. Nada ucapan Hiang Bun-thian itu telah menjunjung sangat tinggi kedudukan Kanglam-si-yu, maka air muka mereka segera berubah ramah.
"Jadi Tuan ini adalah Susiok Co-bengcu?"
Seorang di antaranya menegas. Kembali Hiang Bun-thian tertawa, jawabnya.
"Benar, Cayhe adalah bu-beng-siau-cut (orang tak terkenal, keroco) di dunia persilatan sudah tentu kalian berdua tidak kenal diriku. Tapi tentang dahulu Ting-heng sekali pukul merobohkan Ki-lian-si-pa (Empat Gembong Pegunungan Ki-lian) dan Si-heng menolong anak piatu di daerah Oupak dengan sebilah golok Ci-kim-to telah membikin kocar-kacir 13 benggolan Jing-liong-pay (Gerombolan Naga). Kejadian-kejadian yang mengagumkan itu sampai sekarang Cayhe masih ingat semua"
Kedua orang tua berdandan sebagai kaum hamba itu memang seorang she Ting dan yang lain she Si.
Sebelum mengasingkan diri di Bwe-cheng mereka terhitung tokoh setengah baik dan setengah jahat yang disegani dunia persilatan.
Mereka mempunyai sifat yang sama yaitu sehabis berbuat sesuatu jarang sekali meninggalkan nama, sebab itulah meski ilmu silat mereka sangat tinggi tapi nama mereka sedikit dikenal.
Kedua peristiwa yang disebut Hiang Bun-thian tadi justru adalah perbuatan yang membanggakan bagi mereka.
Dengan sendirinya air muka mereka menampilkan perasaan senang atas pujian Hiang Bun-thian.
Orang she Ting itu bernama Kian, dengan tersenyum ia berkata.
"Ah, hanya urusan kecil saja buat apa mesti diungkat-ungkat. Pengetahuan Tuan tampaknya luas sekali."
"Di dunia persilatan tidak sedikit manusia yang punya nama kosong, sebaliknya jago-jago yang memiliki kepandaian sejati justru tidak suka namanya tersiar meski telah berbuat sesuatu yang mulia, hal inilah yang harus dipuji,"
Demikian kata Hiang Bun-thian.
"Cayhe sudah lama mengagumi ‘It-ji-tian-kiam’ (Pedang Kilat Satu Garis) Ting-toako dan ‘Pat-hong-hong-uh’ (Hujan Angin dari Delapan Penjuru) Si-jiko. Maka pada waktu kudengar Co-sutit ada urusan yang harus dimintakan nasihat dari Kanglam-si-yu, meski aku sudah lama mengasingkan diri, tapi segera aku mengajukan diri untuk menyanggupi perjalanan ke sini, sebab kupikir sekalipun Kanglam-si-yu belum tentu dapat ditemui, namun sudah cukup kiranya bilamana dapat berkenalan dengan Ting-toako dan Si-jiko berdua. Menurut Co-sutit, jika dia datang sendiri mungkin sekali keempat Cianpwe tidak sudi menerimanya, sebab paling akhir ini namanya terlalu gempar di dunia Kangouw, ia khawatir para Cianpwe akan memandang hina padanya, sebaliknya Cayhe jarang keluar dan mungkin tidak sampai menjemukan para Cianpwe. Hahahaha!"
Mendengar Hiang Bun-thian mengumpak Kanglam-si-yu dan mereka berdua juga ikut dipuji tentu saja Ting Kian dan Si Leng-wi sangat senang dan ikut tertawa.
Diam-diam di dalam hati Si Leng-wi sudah ambil keputusan akan melaporkan pada majikannya atas kedatangan Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong.
Bab 65.
Kanglam-si-yu – Empat Sekawan dari Kanglam Karena merasa senang, diam-diam Si Leng-wi sudah ambil keputusan akan menyampaikan maksud kedatangan tamunya kepada sang majikan.
Ia berpaling dan berkata kepada Lenghou Tiong.
"Dan Tuan ini murid dari Hoa-san-pay?"
Cepat Hiang Bun-thian mendahului menjawab.
"Saudara Hong ini adalah susiok Gak Put-kun, ketua Hoa-san-pay sekarang."
Mendengar sembarangan omong Hiang Bun-thian itu sejak tadi Lenghou Tiong sudah menduga dirinya tentu juga akan diberi suatu nama palsu, cuma sama sekali tak terduga bahwa dirinya akan dikatakan sebagai susiok gurunya yang dicintainya itu.
Biarpun dalam setiap urusan Lenghou Tiong suka memandang enteng, tapi sekarang dia disuruh menyamar sebagai angkatan tua dari gurunya, hal ini membuatnya tidak enak hati.
Ting Kian dan Si Leng-wi telah saling pandang sekejap dengan rasa curiga, mereka melihat usia Lenghou Tiong besar kemungkinan baru 40-an, mana mungkin menjadi paman gurunya Gak Put-kun?
Tapi cepat Hiang Bun-thian menambahkan pula.
"Umur Hong-hiante ini memang lebih muda daripada Gak Put-kun, tapi dia adalah ahli waris satu-satunya dari ilmu pedang tunggal Hong Jing-yang Susiok."
Ting Kian sampai bersuara kaget.
Sebagai seorang ahli pedang pula ia menjadi getol mendengar Lenghou Tiong juga mahir ilmu pedang.
Cuma ia masih ragu-ragu apakah orang yang berwajah kuning sembap seperti orang sakit beri-beri ini benar-benar mahir ilmu pedang?
Ia pun tidak jelas apakah di antara angkatan tua Hoa-san-pay adalah seorang yang bernama Hong Jing-yang, lebih-lebih ia tidak tahu sampai ilmu pedang kebanggaan Hong Jing-yang itu.
Ia coba berpaling kepada kawannya dan terlihat Si Leng-wi manggut-manggut padanya, maka ia lantas berkata.
"Dan entah nama Tuan sendiri siapa?"
"Cayhe she Tong, bernama Hoa-kim,"
Sahut Hiang Bun-thian.
"Adapun saudara Hong ini bernama Ji-tiong."
"O, sudah lama kagum, sudah lama kagum!"
Kata Ting Kian dan Si Leng-wi sambil mengepal tangan mereka sebagai tanda hormat.
Diam-diam Hiang Bun-thian merasa geli.
Ia mengaku bernama Tong Hoa-kim, yang benar-benar adalah "tong-hoa-kim", artinya loyang menjadi emas, jelasnya adalah barang palsu.
Adapun nama "Ji-tiong"
Adalah pecahan dari nama Tiong.
Hakikatnya di dunia persilatan tidak pernah terdapat dua tokoh bernama demikian, tapi Ting Kian berdua toh menyatakan "sudah lama kagum", entah sedari kapan mereka mulai kagum?
Sungguh menggelikan!
Maka Ting Kian lantas berkata pula.
"Silakan Tuan-tuan masuk dan minum, segera Cayhe akan melaporkan kepada majikan, soal Tuan-tuan akan ditemui tidak sukarlah untuk dipastikan."
Dengan tertawa Hiang Bun-thian menjawab.
"Kalian berdua dan Kanglam-si-yu meski mengaku sebagai majikan dan hamba, tapi hubungan kalian seperti saudara sendiri. Rasanya keempat Cianpwe tak dapat tidak mesti memberi muka kepada Ting-ya berdua."
Ting Kian tersenyum senang dan berdiri ke pinggir.
Segera Hiang Bun-thian melangkah masuk ke dalam diikuti Lenghou Tiong.
Sesudah menyusuri sebuah pekarangan dalam yang kedua tepinya tumbuh dua pohon bwe tua dengan dahan-dahannya yang kukuh kuat, sampai di ruang dalam Si Leng-wi menyilakan duduk kedua tamunya, ia sendiri berdiri menemani, Ting Kian yang masuk ke dalam untuk melapor.
Melihat Si Leng-wi berdiri dan dirinya sendiri berduduk, Hiang Bun-thian merasa rikuh.
Namun Si Leng-wi adalah kaum hamba di Bwe-cheng (Perkampungan Bwe) ini sehingga tidak pantas menyuruhnya ikut duduk.
Untuk menghilangkan keadaan yang kikuk itu, segera Hiang Bun-thian berbangkit dan berkata kepada Lenghou Tiong.
"Hong-hiante, coba lihat lukisan ini, biarpun cuma beberapa goresan saja, tapi tampak teramat kuat goresannya."
Sembari berkata ia terus mendekati sebuah lukisan yang tergantung di dinding tengah sana.
Selama berkumpul beberapa hari meski Lenghou Tiong sudah tahu Hiang Bun-thian yang pintar dan cerdik, tapi dalam hal kesusastraan dan seni lukis segala jelas bukan menjadi keahlian Bun-thian.
Kalau sekarang mendadak ia memuji lukisan itu tentu ada maksudnya yang mendalam.
Maka Lenghou Tiong lantas mengiakan serta ikut mendekati lukisan itu.
Dilihatnya lukisan itu melukiskan punggung seorang dewa dengan warna yang serasi dan goresan yang kuat.
Biarpun Lenghou Tiong tidak paham seni lukis juga dapat menikmati lukisan yang bagus itu.
Terlihat lukisan itu ditandai pelukisnya dengan kata-kata.
"Tan-jing-sing, lukisan sesudah mabuk."
Goresan pensil huruf-huruf itu pun sangat kuat dan tajam.
"Tong-heng, sekali melihat huruf ‘mabuk’ di atas lukisan ini aku menjadi sangat senang,"
Demikian Lenghou Tiong berkata.
"Kulihat beberapa huruf ini seakan-akan mencakup satu seri permainan ilmu pedang yang sangat tinggi."
Rupanya goresan tulisan-tulisan itu serta gaya kebasan tangan dewa dalam lukisan itu mengingatkan Lenghou Tiong kepada sejurus ilmu pedang yang terukir di dinding gua di puncak Hoa-san itu, ia merasa gaya setiap goresannya rada-rada mirip.
Sebagaimana diketahui, dahulu demi untuk bertanding dengan Dian Pek-kong ia telah menghafalkan macam-macam ilmu silat di dinding gua itu, sekarang demi melihat lukisan ini lantas timbul perasaannya seakan-akan sudah pernah dikenalnya.
Belum lagi Hiang Bun-thian menanggapi ucapan Lenghou Tiong tadi, tiba-tiba Si Leng-wi sudah berkata di belakang mereka.
"Hong-heng ini ternyata seorang ahli pedang benar-benar. Menurut keterangan majikanku Tan-jing Siansing, hari itu sesudah beliau mabuk dan menghasilkan karya lukisan ini, tanpa sengaja beliau telah melukiskan ilmu pedangnya di dalam goresan-goresan pensilnya yang merupakan karya yang paling dibanggakan selama hidupnya, setelah beliau sadar dari mabuknya betapa pun sukar untuk melukis lagi seperti ini. Sekarang Hong-heng ini ternyata dapat melihat gaya pedang dalam lukisannya ini, tentu Tan-jing Siansing akan menganggap Hong-heng sebagai kawan yang sepaham. Biar aku masuk melapor kepada beliau."
Habis berkata dengan berseri-seri ia terus melangkah ke ruang dalam. Hiang Bun-thian berdehem, katanya.
"Hong-hiante, kiranya kau paham seni tulis dan lukis."
"Hah, paham apa? Aku cuma mengoceh sekenanya dan secara kebetulan kena sasarannya. Padahal kalau sebentar Tan-jing Siansing bicara tentang seni tulis dan lukis padaku tentu aku bisa runyam,"
Demikian sahut Lenghou Tiong. Baru habis ucapannya, tiba-tiba terdengar seorang berseru di ruangan dalam.
"Dia dapat melihat ilmu pedang di dalam lukisanku? Di mana orangnya? Ketajaman matanya sungguh hebat."
Di tengah seruan itu masuklah satu orang.
Orang ini berjenggot panjang sampai sebatas dada, tangan kiri membawa satu cawan arak, mukanya kemerah-merahan rada mabuk.
Si Leng-wi tampak mengikut di belakang dan berkata padanya.
"Kedua Tuan ini adalah Tong-ya dari Ko-san-pay dan Hong-ya dari Hoa-san-pay. Dan ini adalah Tan-jing Siansing, majikan keempat dari Bwe-cheng kami. Sichengcu (majikan keempat), Hong-ya inilah yang mengatakan di dalam tulisanmu mengandung suatu gaya ilmu pedang yang tinggi."
Sambil mengedipkan sepasang matanya yang sepat-sepat mabuk itu, Sichengcu Tan-jing-sing (Si Pelukis) mengamat-amati Lenghou Tiong sejenak, kemudian ia bertanya.
"Kau paham melukis? Mahir memainkan pedang?"
Pertanyaan ini dilontarkan secara kasar, namun Lenghou Tiong juga tidak ambil pusing.
Dilihatnya tangan Tan-jing-sing memegang sebuah cawan berwarna hijau zamrud yang indah, tiba-tiba teringat olehnya apa yang pernah dikatakan oleh Coh Jian-jiu di atas kapal tempo hari.
Segera ia menjawab.
"Konon menurut kaum ahli minum, Le-hoa-ciu harus diminum dengan menggunakan cawan zamrud. Nyata Sichengcu memang seorang ahli minum arak sejati."
Hendaklah maklum bahwa Lenghou Tiong tidak banyak "makan sekolahan"
Sehingga dia kurang menguasai kesusastraan segala, tapi dasar pembawaannya memang pintar, setiap apa yang pernah dikatakan orang selamanya takkan dilupakan olehnya, maka sekarang ia telah melansir apa yang pernah diucapkan Coh Jian-jiu dahulu.
Dan sungguh luar biasa, begitu mendengar ucapan Lenghou Tiong tadi, seketika mata Tan-jing-sing terbelalak lebar, mendadak ia terus merangkul Lenghou Tiong sambil berseru.
"Aha, ini dia sobat baikku. Marilah, mari kita minum tiga ratus cawan. Adik Hong, aku gemar arak baik, lukisan indah, dan pedang bagus, orang menyebut tiga istimewa itu bagiku. Ketiga istimewa itu arak adalah hal yang pertama, lukisan menduduki tempat kedua, dan ilmu pedang yang terakhir."
Lenghou Tiong menjadi girang dan membatin.
"Melukis aku tidak becus sama sekali. Kedatanganku adalah untuk mohon pengobatan sehingga tiada maksud hendak bertanding pedang dan berkelahi dengan orang, tapi kalau bicara tentang minum arak, inilah yang kuharapkan."
Maka tanpa banyak omong segera ia ikut Tan-jing-sing berjalan ke ruang dalam.
Sesudah menyusuri sebuah serambi, sampailah di sebuah kamar di sebelah barat.
Waktu kerai disingkap, seketika hidungnya kesamplok bau harum arak.
Sejak kecil kegemaran Lenghou Tiong adalah minum arak, boleh dikata sangat ahli dalam membeda-bedakan arak baik atau jelek.
Maka begitu mengendus bau arak tadi seketika ia berseru.
"Bagus, di sini ada bau Hun-ciu (arak wangi keluaran Soasay). Hah, ada lagi Pek-chau-ciu, dari baunya dapat diduga sudah tersimpan 75 tahun lamanya. Ehm, Kau-ji-ciu itu lebih-lebih sukar diperoleh pula."
Demi menyebut bau harum Kau-ji-ciu (arak kera) seketika ia terkenang kepada laksutenya, yaitu si monyet Liok Tay-yu yang telah mati itu sehingga hatinya menjadi pilu.
Kontan Tan-jing-sing bertepuk tangan dan bergelak tertawa.
"Hebat, sungguh hebat! Begitu masuk ke ruang arakku ini, seketika Adik Hong dapat menyebut tiga jenis arak simpananku yang paling bagus ini, engkau sungguh seorang ahli, sungguh hebat, sungguh lihai!"
Waktu Lenghou Tiong mengamat-amati sekeliling kamar itu, ternyata penuh guci arak, botol dan sebagainya. Katanya pula.
"Yang Cianpwe simpan masakah cuma tiga jenis arak bagus itu saja. Seperti Siau-hin-ciu ini pun berkualitas tinggi, anggur dari Turfan ini pun tiada bandingannya di dunia ini."
Kejut dan girang pula Tan-jing-sing, tanyanya.
"Anggur dari Turfan ini tertutup rapat di dalam gentong kayu itu, cara bagaimana Laute juga dapat mengetahuinya?"
"Arak bagus seperti ini sekalipun disimpan di gua bawah tanah juga sukar menutupi baunya yang harum itu,"
Ujar Lenghou Tiong tertawa.
"Mari, mari, boleh kita mencicipi anggur enak ini,"
Seru Tan-jing-sing.
Segera ia angkat keluar sebuah gentong yang tertaruh di pojok sana.
Ketika perlahan-lahan ia mencabut sumbat gentong itu, seketika bau harum memenuhi seluruh ruangan.
Selamanya Si Leng-wi tidak suka minum arak, ketika mengendus bau alkohol yang keras itu, tanpa merasa mukanya menjadi merah seakan-akan mabuk.
"Kau keluar saja,"
Kata Tan-jing-sing sambil memberi isyarat tangan.
"Jangan-jangan kau akan mabuk jika tinggal di sini."
Lalu ia mengambil tiga buah cawan arak dan ditaruh sejajar, gentong arak itu dikempitnya terus menuang ke dalam cawan.
Anggur itu berwarna merah seperti darah.
Ketika arak itu sudah penuh sebatas tepian cawan cepat Tan-jing-sing lantas berhenti menuang, setetes pun tidak meluap keluar dari cawan itu.
Diam-diam Hiang Bun-thian memuji kepandaian Tan-jing-sing yang hebat itu, sambil mengempit gentong sebesar itu untuk menuang isinya ke dalam cawan yang kecil, tapi dengan persis arak memenuhi cawan itu dan tidak tercecer barang setitik pun, hal ini benar-benar sukar dikerjakan Sambil tetap mengempit gentong arak itu, sebelah tangan Tan-jing-sing lantas mengangkat cawan dan berseru.
"Mari silakan minum, silakan!"
Ia terus menatap ke arah Lenghou Tiong, ia ingin tahu bagaimana reaksi pemuda itu sesudah minum araknya itu.
Lenghou Tiong lantas angkat cawan dan minum setengah cawan araknya, lalu bibirnya berkecap-kecap untuk membedakan rasa.
Tapi karena mukanya memakai polesan yang agak tebal sehingga perubahan air mukanya sedikit pun tidak kentara, bahkan seperti merasa kurang menyukai anggur yang diminum itu.
Keruan Tan-jing-sing menjadi ragu-ragu.
"Jangan-jangan ahli besar ini akan menganggap segentong araknya ini cuma minuman biasa saja."
Setelah bibirnya berkecap-kecap, lalu Lenghou Tiong memejamkan matanya sejenak. Ketika ia pentang matanya kembali, tiba-tiba ia berkata.
"Aneh, sungguh aneh!"
"Apanya yang aneh?"
Tan-jing-sing cepat menegas.
"Hal ini sungguh sukar untuk dimengerti, sungguh Wanpwe tidak paham,"
Kata Lenghou Tiong. Kedua mata Tan-jing-sing mengerlingkan sorot mata yang penuh kegirangan, tanyanya.
"Yang kau maksudkan apakah ...."
"Selama hidup Wanpwe pernah sekali Wanpwe minum arak ini di Kota Tiang-an, meski rasanya memang sangat enak, tapi dalam rasanya yang sedap itu mengandung rasa manis-manis kecut. Menurut ahli arak di pabrik arak itu, katanya rasa kecut itu timbul akibat guncangan-guncangan di tengah jalan ketika anggur itu diangkat dari tempat jauh. Semakin sering arak ini dipindah dari tempat yang satu ke tempat lain, semakin berkurang pula kualitasnya. Bayangkan saja betapa jauhnya dari Turfan ke Kota Hangciu ini. Tapi benar-benar aneh, arak Cianpwe ini ternyata tiada sedikit pun terasa kecut ...."
"Hahahaha!"
Tan-jing-sing bergelak tertawa dengan amat senang. Katanya.
"Ini adalah resep rahasiaku. Resep rahasia ini kuperoleh dengan menukar tiga jurus ilmu pedangku kepada jago pedang Se-ek (daerah barat) Mokhtar. Apakah kau tidak ingin tahu rahasia ini?"
Lenghou Tiong menggeleng, jawabnya.
"Wanpwe sudah merasa puas karena dapat merasakan arak sebagus ini. Tentang resep rahasia Cianpwe itu sekali-kali Wanpwe tidak berani tanya."
"Mari minum, minumlah!"
Seru Tan-jing-sing pula, kembali ia menuang tiga cawan anggur itu. Karena Lenghou Tiong tidak mau tanya resep rahasianya, ia menjadi getol sendiri untuk mengatakannya. Katanya pula.
"Tentang resep rahasia ini kalau dibicarakan sesungguhnya tidak berharga sepeser pun, boleh dikata tiada sesuatu yang mengherankan."
Lenghou Tiong tahu, semakin dirinya tidak mau tanya apa yang dikatakan resep rahasia itu, semakin Tan-jing-sing ingin menceritakan padanya. Maka cepat ia sengaja menggoyang tangan dan berkata.
"Tidak, jangan sekali-kali Cianpwe ceritakan padaku. Ketiga jurus ilmu pedangmu itu pasti lain daripada yang lain, rahasia yang diperoleh dengan nilai lawan setinggi itu mana boleh sembarangan diberitahukan kepada orang lain. Wanpwe akan merasa tidak enak hati jika diberi tahu rahasia ini. Kata peribahasa, tanpa jasa tidak menerima upah ...."
"Kau mengawani aku minum arak dan dapat mengenali asal usul arak ini, jasamu inilah sangat besar,"
Ujar Tan-jing-sing.
"Maka resep rahasia ini mau tidak mau kau harus mendengarkan."
"Cianpwe telah sudi menemui Wanpwe dan disuguh pula minuman sebagus ini, sungguh Wanpwe merasa sangat berterima kasih, sekarang mana boleh ...."
"Aku sendiri yang rela memberitahukan padamu, maka boleh kau dengarkan saja, jangan kau tolak lagi, Hong-hiante."
"Betul, betul, demikianlah seharusnya,"
Seru Tan-jing-sing tertawa.
"Nah, coba aku menguji kau lagi. Apakah kau tahu ciu (arak) ini sudah tersimpan berapa lama?"
Sekali teguk Lenghou Tiong menghabiskan isi cawannya, lalu membeda-bedakan rasanya sampai agak lama, kemudian baru berkata.
"Arak ini masih ada sesuatu keanehan yang lain. Rasanya seperti sudah 120 tahun lamanya, tapi terasa pula seakan-akan baru 12 tahun. Di antara rasanya yang tua itu terasa pula ada rasa yang baru dan di dalam rasa baru ada rasa tua pula, dibandingkan arak bagus ratusan tahun yang lain jelas arak ini mempunyai suatu rasa yang khas."
Diam-diam Hiang Bun-thian mengerut kening mendengar bualan Lenghou Tiong itu, 120 tahun dan 12 tahun, meski selisihnya cuma satu angka nol, tapi itu berarti seratus tahun lebih, jarak waktu selama itu mana ada persamaannya?
Ia mengira Tan-jing-sing pasti tidak senang mendengar ucapan Lenghou Tiong.
Di luar dugaan orang tua itu malah bergelak tertawa sehingga jenggotnya yang panjang itu tertiup menegak.
"Memang lihai benar Saudara,"
Kata Tan-jing-sing kemudian.
"Di situlah letak rahasia resepku itu. Coba dengarkan. Jago pedang Se-ek yang bernama Mokhtar itu telah menghadiahkan sepuluh guci arak Turfan yang berumur 120 tahun kepadaku, untuk mengangkut sepuluh guci besar itu telah digunakan sepuluh kereta. Sampai di sini aku telah mengolahnya lagi, sepuluh guci telah kucampur menjadi suatu gentong besar. Kalau dihitung apa yang terjadi itu adalah 12 tahun yang lalu. Sebab itulah arak ini mempunyai rasa yang aneh, ada rasa baru dan ada rasa lama. Waktu diangkut kemari, guci telah diisi penuh tanpa sesuatu luangan sehingga isinya tidak kocak, dengan demikian tidak menimbulkan rasa kecut pula."
"Hah, kiranya begitu!"
Seru Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong berbareng Segera Lenghou Tiong menambahkan pula.
"Arak sebagus ini biarpun ditukar dengan sepuluh jurus ilmu pedang juga pantas. Apalagi Cianpwe cuma menukarnya dengan tiga jurus saja, benar-benar terlalu murah."
Tan-jing-sing bertambah girang, katanya.
"Laute benar-benar temanku yang sepaham. Dahulu Toako dan Jiko sama menyalahkan perbuatanku ini, katanya ilmu sedang Tionggoan yang hebat menjadi tersiar ke wilayah barat. Samko hanya tertawa tanpa memberi komentar, tapi kukira di dalam hati dia juga tidak setuju. Hanya Laute saja sekarang yang menilai akulah yang mendapat untung. Bagus, marilah kita minum secawan lagi."
Setelah minum satu cawan. Lenghou Tiong berkata pula.
"Sichengcu, masih ada satu cara minum arak, cuma sayang waktu ini sukar dilakukan."
"Bagaimana caranya? Mengapa tak bisa dilakukan?"
Tanya Tan-jing-sing cepat.
"Turfan (di wilayah Sinkiang) adalah daerah yang sangat panas, konon dahulu waktu Tong Sam-cong mencari kitab ke negeri Thian-tiok dan melintasi hwe-yam-san (gunung berapi), katanya di situlah letak Turfan."
"Benar,"
Sahut Tan-jing-sing.
"Tempat itu memang panasnya bukan main. Di musim panas sepanjang hari orang di situ selalu berendam di dalam air dingin saja, tapi masih susah menahan hawanya yang panas. Sampai di musim dingin hawa di sana justru dinginnya menusuk tulang. Tapi justru lantaran itulah maka anggur keluaran sana juga berbeda dengan anggur keluaran tempat lain."
"Waktu Wanpwe minum arak demikian di kota Tiang-an, saat mana kebetulan musim dingin,"
Tutur Lenghou Tiong.
"Juragan pengarakan di kota itu telah pergi mengambil sepotong es dan menaruh cawan arak di atas es batu itu. Setelah didinginkan dengan es, arak ini ternyata mempunyai suatu rasa lain lagi. Sayang sekarang adalah permulaan musim panas, tidaklah mungkin mendapatkan es sehingga rasa yang istimewa es anggur tak bisa dinikmati lagi."
"Ya, waktu aku berada di Se-ek juga kebetulan musim panas, tapi Mokhtar itu telah memberitahukan juga tentang kenikmatan es anggur seperti kau katakan barusan ini,"
Kata Tan-jing-sing.
"Tapi hal ini gampang, Laute, kau boleh tinggal di sini beberapa bulan lagi, sampai musim dingin tiba kita akan dapat bersama-sama menikmatinya."
Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula sambil mengerut dahi.
"Tapi kita harus menunggu sedemikian lamanya, hal ini benar-benar membuat orang tidak sabar."
Hiang Bun-thian ikut berkata.
"Ya, sayang di daerah Kanglam sini tiada jago yang khusus meyakinkan ilmu sebangsa ‘Han-peng-ciang’ (pukulan dingin es), kalau ada tentunya ...."
Belum habis ucapannya tiba-tiba Tan-jing-sing berteriak.
"Aha, ada, ada!"
Ia terus menaruh gentong araknya dan melangkah keluar dengan bersemangat.
Keruan Lenghou Tiong terheran-heran, ia memandang ke arah Hiang Bun-thian dengan penuh tanda tanya.
Tapi Hiang Bun-thian hanya tersenyum saja tanpa bicara.
Tidak lama kemudian Tan-jing-sing telah masuk kembali dengan menyeret seorang tua yang kurus tinggi, katanya.
"Jiko, betapa pun sekali ini kau harus membantu."
Lenghou Tiong melihat orang tua tinggi kurus ini bermuka putih bersih, cuma di antara putihnya itu bersemu kehijau-hijauan sehingga mirip wajah mayat hidup dan menimbulkan rasa mengirik bagi yang memandangnya.
Setelah diperkenalkan oleh Tan-jing-sing, kiranya orang tua jangkung itu adalah Jichengcu (majikan kedua), Hek-pek-cu (Si Hitam Putih).
Rambutnya memang sangat hitam dan kulit badannya justru sangat putih sehingga sesuai dengan namanya Si Hitam Putih.
Begitulah dengan acuh tak acuh Hek-pek-cu (atau Ou-pak-ci) telah bertanya.
"Suruh aku membantu apa?"
"Tolong kau keluarkan kepandaianmu mengubah air menjadi es agar dilihat oleh kedua sobat kita ini,"
Kata Tan-jing-sing.
"Ah, sedikit kepandaian demikian mana boleh dipamerkan kepada orang, jangan-jangan akan menjadi buah tertawaan saja,"
Ujar Hek-pek-cu.
"Jiko, soalnya begini, tadi Hong-hengte ini mengatakan kalau anggur Turfan ini direndam es akan mempunyai rasa yang khas, tapi di musim panas begini ke mana harus mencari es?"
Kata Tan-jing-sing.
"Anggur ini sudah harum dan enak, buat apa mesti didinginkan dengan es segala?"
Ujar Hek-pek-cu. Tapi Lenghou Tiong lantas berkata.
"Anggur ini dihasilkan Turfan, suatu tempat yang terkenal sangat panas hawanya, hawa panas itu pun ikut meresap ke dalam anggur sehingga menimbulkan rasa pedas. Jika orang Kangouw biasa tidaklah menjadi soal minum anggur yang punya rasa panas dan pedas ini. Namun Jichengcu dan Sichengcu berdiam di tepi danau yang indah permai ini, mana dapat dipersamakan dengan orang kasar Kangouw umumnya? Jika arak ini didinginkan dan hilang rasa panasnya, maka cocoklah dengan suasana di sini."
"Ya, seperti juga main catur, pertandingan yang ramai hanya dilakukan oleh jago-jago tingkatan tinggi ...."
Belum habis Hiang Bun-thian berkata, mendadak Hek-pek-cu mencengkeram pundaknya dan bertanya dengan cepat.
"Kau juga mahir main catur?"
"Kegemaranku memangnya adalah main catur, cuma sayang kurang mahir, sebab itulah aku sudah menjelajahi segala pelosok untuk mencari problem caturnya. Selama 30-an tahun tidaklah sedikit problem catur dari zaman dahulu sampai sekarang telah kuketahui dengan baik."
"Problem catur apa saja yang telah kau pahami?"
Tanya Hek-pek-cu.
"Banyak sekali, misalnya problem catur Ong Cit ketika ketemukan dewa di Gunung Lan-ko-san, problem catur Lau Tiong-hu waktu bertanding melawan nini dewi Pegunungan Le-san, dan lain-lain lagi ...."
"Ah, dongengan begitu mana dapat dipercaya?"
Ujar Hek-pek-cu sambil menggeleng dan lantas melepaskan cengkeramannya atas pundak Hiang Bun-thian.
"Memang mula-mula Cayhe juga mengira kejadian-kejadian itu hanya dongengan belaka,"
Kata Bun-thian.
"Tapi pada 25 tahun yang lalu Cayhe sendiri telah membaca gambar problem catur yang dimaksud itu dan ternyata memang luar biasa, maka aku baru mau percaya cerita itu memang bukan omong kosong. Apakah Cianpwe juga gemar dalam permainan catur?"
"Hahahaha!"
Tan-jing-sing bergelak tertawa sehingga jenggotnya yang panjang itu ikut berguncangan. Hiang Bun-thian pura-pura tidak paham, tanyanya.
"Mengapa Cianpwe tertawa geli?"
"Kau tanya jikoku gemar main catur atau tidak, hahaha, Jiko bergelar Hek-pek-cu, Si Biji Hitam Putih, dari namanya saja boleh kau terka sendiri apa dia gemar catur atau tidak? Ketahuilah bahwa kegemaran Jiko akan catur adalah seperti kegemaranku dalam hal minum arak."
"O, jika demikian barusan Cayhe telah sembarangan mengoceh di hadapan kaum ahli, mohon Jichengcu sudi memaafkan,"
Kata Hiang Bun-thian.
"Apa benar kau telah melihat sendiri gambar problem catur Lau Tiong-hu melawan nini dewi Le-san itu? Aku cuma membacanya dalam kitab kuno, katanya, pada zaman itu Lau Tiong-hu adalah juara catur yang tiada tandingannya, tapi di kaki Gunung Le dia telah dikalahkan habis-habisan oleh seorang nenek dusun, seketika ia tumpah darah. Sebab itulah problem catur itu pun disebut sebagai ‘Problem Tumpah Darah’. Apa benar-benar di dunia terdapat problem demikian itu?" * Maka Hiang Bun-thian telah menjawab.
"Ya, pada 25 tahun yang lalu aku memang pernah melihat sendiri gambar problem catur itu di suatu keluarga di Kota Sengtoh, cuma pertarungan kedua pihak sungguh sangat hebat, maka biarpun sudah 25 tahun yang lalu, namun problem yang seluruhnya meliputi 112 langkah itu masih kuingat dengan baik."
"Seluruhnya meliputi 112 langkah?"
Hek-pek-cu menegas.
"Marilah kau coba memainkan problem itu. Hayolah, ikut ke kamar caturku sana."
Mendadak Tan-jing-sing merintanginya dan berkata.
"Nanti dulu! Jiko, sebelum kau membuatkan es, betapa pun aku takkan melepaskan kau."
Habis berkata ia lantas mengambil sebuah baskom porselen putih yang penuh berisi air bersih.
"Empat saudara masing-masing mempunyai kegemarannya sendiri-sendiri, apa boleh buat,"
Ujar Hek-pek-cu dengan gegetun.
Segera ia menjulurkan tangan kanan, jari telunjuknya terus dimasukkan ke dalam air baskom itu.
Tertampaklah permukaan air mengepulkan hawa putih yang tipis, tidak lama kemudian baskom itu telah diliputi oleh selapis es, makin lama air baskom makin membeku sehingga tidak lama kemudian satu baskom air telah berubah menjadi es batu.
Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong sama bersorak memuji.
Kata Bun-thian.
"Hek-hong-ci (Jari Angin Hitam) yang lihai ini konon sudah lama menghilang di dunia persilatan, siapa tahu Jichengcu ...."
"Ini bukan Hek-hong-ci, tapi namanya ‘Hian-thian-ci’ (Jari Mahasakti)" , sela Tan-jing-sing. Sembari berkata ia terus menaruh empat cawan di atas es batu itu, lalu menuangi anggur Turfan tadi. Tidak lama, ketika isi cawan itu mulai mengepulkan hawa dingin, Lenghou Tiong lantas berseru.
"Itu dia sudah cukup!"
Tan-jing-sing lantas ambil satu cawan di antaranya, sekali tenggak seketika habis isinya, benar juga rasanya sangat nyaman dan nikmat.
"Bagus!"
Soraknya memuji.
"Araknya enak, Hong-hengte pintar merasakannya. Jiko pandai membuat esnya, dan kau ... kau ...."
Ia berpaling kepada Hiang Bun-thian dengan tertawa, lalu melanjutkan.
"kau pintar menanggapi ke sana dan ke sini."
Hek-pek-cu juga lantas minum anggur bagiannya, tanpa peduli rasa arak itu ia terus menarik tangan Hiang Bun-thian dan berkata.
"Hayo berangkat, coba mainkan ‘Problem Tumpah Darah’ Lau Tiong-hu itu."
Hiang Bun-thian juga lantas menarik lengan baju Lenghou Tiong. Lenghou Tiong paham apa artinya, katanya segera.
"Aku ikut melihatnya!"
Tan-jing-sing lantas mencegahnya.
"Apanya yang dilihat? Lebih baik kita minum arak saja di sini kan lebih nikmat?"
"Kita dapat minum arak sembari melihat catur,"
Ujar Lenghou Tiong sambil ikut di belakang Hek-pek-cu dan Hiang Bun-thian.
Tiada jalan lain, terpaksa Tan-jing-sing mengempit gentong araknya dan ikut ke ruang catur Hek-pek-cu.
Alangkah luasnya kamar catur itu, di tengahnya ada sebuah meja batu dan dua buah kursi berkasur, selain itu tiada sesuatu benda lain.
Di atas meja batu itu terukir papan catur yang bergaris malang melintang, kedua pihak tertaruh satu kotak biji catur, yang satu kotak warna putih dan kotak lain warna hitam.
Bab 66.
Kecapi – Catur – Tulis – Lukis Tanpa bicara Hiang Bun-thian terus mendekati meja batu itu, ia ambil satu biji hitam dan ditaruh pada titik 6-3 (menurut hitungan garis), lalu menaruh satu biji putih pada titik 9-3, menyusul pada titik 6-5 ditaruhnya satu biji hitam, dan pada titik 9-5 ditaruhnya pula satu biji putih, dan begitu seterusnya tanpa berhenti sehingga mencapai biji ke-66 dan pertarungan kedua pihak semakin sengit.
Hek-pek-cu menyaksikan permainan itu sehingga keringatnya bercucuran.
Diam-diam Lenghou Tiong sangat heran, kalau melihat Hian-thian-ci-nya yang dalam waktu singkat saja telah mengubah air membeku menjadi es, betapa tinggi lwekangnya dapatlah dibayangkan.
Sebaliknya permainan catur hanya urusan kecil saja, tapi toh begini menarik perhatiannya sehingga dia sampai berkeringat.
Hal ini menandakan betapa Hek-pek-cu tergila-gila pada permainan catur demikian.
Rupanya Hiang Bun-thian justru mengetahui kegemarannya itu, maka serangannya juga ditujukan kepada kelemahannya ini pula.
Sesudah biji ke-66 tadi, sampai lama sekali Hiang Bun-thian tidak menaruh lagi biji caturnya.
Saking ingin tahunya Hek-pek-cu menjadi tidak sabar, cepat ia menanya.
"Bagaimana lagi langkah berikutnya?"
"Di sinilah letak kuncinya,"
Sahut Hiang Bun-thian.
"Kalau menurut pendapat Jichengcu sendiri bagaimana seharusnya langkah ini?"
Hek-pek-cu berpikir sampai lama dan menggumam sendiri.
"Langkah ini ... ya, memang rada repot, kalau disambung kurang kuat, jika terputus lebih celaka lagi. Wah, ini ... ini ...."
Begitulah sambil memegang satu biji hitam dan diketok-ketokkan perlahan di atas meja batu, tapi sampai sekian lamanya tetap tidak mampu menjalankan biji caturnya.
Dalam pada itu Tan-jing-sing dan Lenghou Tiong masing-masing sudah menghabiskan belasan cawan anggur.
Melihat air muka Hek-pek-cu makin lama makin menghijau, segera Tan-jing-sing berkata.
"Tong-lauheng, ini kan ‘Problem Tumpah Darah’, masakah benar-benar kau hendak membikin Jiko tumpah darah? Bagaimana langkah selanjutnya harus dijalankan, lekaslah kau katakan terus terang saja."
"Baiklah,"
Kata Hiang Bun-thian.
"Biji ke-67 ini harus ditaruh di sini."
Habis berkata ia terus menaruh biji hitam pada titik silang 7-4.
"Plak", mendadak Hek-pek-cu menabok keras-keras pahanya sendiri dan berseru.
"Bagus! Langkah ini memang benar sangat bagus!"
"Langkah ini sudah tentu sangat bagus, ini kan catur istimewa seorang juara seperti Lau Tiong-hu,"
Ujar Hiang Bun-thian tersenyum.
"Tetapi kalau dibandingkan dengan langkah ajaib nini dewi Le-san itu akan berbeda jauh pula."
"Cara bagaimana jalannya langkah ajaib nini dewi itu, coba lakukan,"
Tanya Hek-pek-cu.
"Silakan Jichengcu memikirkannya,"
Kata Bun-thian. Hek-pek-cu lantas peras otak lagi, tapi sampai lama sekali ia merasa posisi sudah jelas kalah, betapa pun sukar untuk balas menyerang lagi. Katanya kemudian.
"Jika langkahnya memang ajaib, manusia biasa seperti kita mana dapat memikirkannya. Harap Tong-lauheng jangan jual mahal lagi, coba lakukan."
"Langkah ajaib ini memang benar hanya dapat dipikirkan oleh malaikat dewata,"
Kata Bun-thian dengan tertawa.
Sebagai seorang pemikir, sudah tentu Hek-pek-cu mahir menjajaki perasaan pihak lawan, melihat Hiang Bun-thian tetap tidak mau mengatakan problem catur itu secara terus terang sehingga membuatnya tidak sabaran, diam-diam ia menduga orang she Tong ini pasti mempunyai sesuatu keinginan.
Maka ia lantas berkata.
"Tong-lauheng, aku takkan terima dengan percuma jika kau sudi menjelaskan problem catur ini kepadaku."
Diam-diam Lenghou Tiong juga mengira jangan-jangan Hiang Bun-thian tahu ilmu Hian-thian-ci Hek-pek-cu itu akan mampu mengobati penyakitnya, maka sang toako sengaja mengatur jalan untuk mohon pertolongannya.
Di luar dugaan Hiang Bun-thian lantas bergelak tertawa dan berkata.
"Cayhe dan Hong-hiante sekali-kali tiada sesuatu keinginan terhadap keempat Chengcu, ucapan Jichengcu barusan ini menjadi terlalu menilai rendah kami berdua."
"Maaf, jika begitu akulah yang telah salah omong,"
Kata Hek-pek-cu sambil memberi hormat. Sambil membalas hormat, Hiang Bun-thian berkata pula.
"Kedatangan kami berdua ke Bwe-cheng sini sebenarnya hendak bertaruh sesuatu dengan keempat Chengcu."
"Bertaruh sesuatu?"
Hek-pek-cu dan Tan-jing-sing menegas berbareng.
"Bertaruh tentang apa?"
"Begini,"
Kata Hiang Bun-thian.
"Aku bertaruh bahwa di dalam Bwe-cheng ini pasti tiada seorang pun yang mampu menangkan Hong-hianteku ini dalam hal ilmu pedang."
Serentak Hek-pek-cu dan Tan-jing-sing berpaling ke arah Lenghou Tiong. Air muka Hek-pek-cu tampak adem ayem saja, sebaliknya Tan-jing-sing tuntas bergelak tertawa dan berseru.
"Cara bagaimana kita akan bertaruh?"
"Jika kami kalah,"
Demikian kata Hiang Bun-thian.
"maka lukisan ini akan kami persembahkan kepada Sichengcu."
Sembari bicara ia terus menanggalkan buntelan yang terikat di punggungnya, dibukanya buntelan itu, isinya ternyata dua buah gulungan.
Waktu satu gulungan itu dibentang, kiranya adalah sebuah lukisan kuno yang tertera tanda pelukisnya Hoan Koan di Zaman Song.
Lukisan itu adalah lukisan pemandangan, sebuah gunung menjulang tinggi menembus awan, goresannya tajam, warnanya indah.
Biarpun Lenghou Tiong tidak paham seni lukis juga lantas tahu bahwa lukisan itu tentulah lukisan yang hidup dan bermutu.
Benar juga, mendadak Tan-jing-sing berteriak.
"Aiii!"
Pandangannya lantas tidak terlepaskan dari lukisan itu. Sampai agak lama kemudian baru berkata pula.
"Ini benar-benar lukisan asli Hoan Koan di Zaman Song. Dari ... dari mana kau memperolehnya?"
Hiang Bun-thian hanya tersenyum saja tanpa menjawab, perlahan-lahan ia menggulung kembali lukisan itu.
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba Tan-jing-sing mencegahnya sambil menarik tangan Hiang Bun-thian dengan maksud agar lukisan itu jangan digulung dulu.
Tak terduga, baru saja tangannya menyentuh lengan Hiang Bun-thian, seketika terasa suatu arus tenaga dalam yang kuat tapi halus telah mencurah keluar dan menggetar pergi tangannya, waktu ia memandang Hiang Bun-thian, tampaknya seperti tidak tahu apa-apa dan masih tetap menggulung lukisannya.
Sungguh tidak kepalang heran Tan-jing-sing, walaupun sentuhan tangannya dengan lengan Hiang Bun-thian terjadi dengan sangat perlahan, tapi tenaga dalam yang timbul itu jelas adalah lwekang yang amat tinggi, bahkan tenaga yang timbul itu cuma sedikit saja.
Diam-diam ia sangat kagum, segera ia berkata.
"Tong-lauheng, kiranya ilmu silatmu sedemikian hebat, mungkin tidak di bawahku."
"Ah, Sichengcu memang suka bergurau,"
Ujar Hiang Bun-thian.
"Kecuali ilmu pedang, keempat Chengcu di sini terkenal memiliki sesuatu ilmu tunggal yang tiada tandingannya. Aku Tong Hoa-kim hanya seorang keroco saja, mana aku berani dibandingkan dengan Sichengcu?"
Mendadak Tan-jing-sing menarik muka, katanya.
"Mengapa kau mengatakan ‘kecuali ilmu pedang’? Memangnya ilmu pedangku tidak masuk hitungan?"
Hiang Bun-thian hanya tersenyum dan tidak menanggapi, ia berkata.
"Bagaimana jika kedua Chengcu melihat lagi sebuah tulisan?"
Habis itu ia lantas membentang pula suatu gulungan yang lain, kiranya adalah sebuah tulisan yang ditulis dengan cara chau (rumput, di sini dimaksudkan tulisan corat-coret) dengan goresan yang hidup.
"He, he, he!"
Tan-jing-sing berulang-ulang mengeluarkan suara heran. Mendadak ia terus menggembor.
"Samko! Samko! Ini dia jiwa mestikamu berada di sini!"
Saking keras suara menggembornya sampai-sampai daun pintu dan jendela ikut tergetar, debu pasir sama bertebaran dari atap.
Karena jeritan yang sekonyong-konyong itu, Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong juga ikut terkejut.
Maka terdengarlah dari jauh ada suara jawaban orang.
"Ada apa gembar-gembor, membikin kaget orang saja?"
"Samko,"
Seru Tan-jing-sing pula.
"jika kau tidak lekas datang, sebentar kalau orang telah menyimpan kembali barangnya tentu kau akan menyesal selama hidup."
"Ah, tentu kau menemukan sesuatu tulisan palsu apa-apa, bukan?"
Kata orang itu, kini suaranya sudah berada di luar pintu.
Ketika tirai pintu tersingkap, masuklah satu orang pendek gemuk, kepalanya botak kelimis dan mengilap licin tanpa seujung rambut pun.
Tangan kanan memegang sebuah pit (pensil) besar, bajunya berlepotan bak (tinta hitam).
Begitu berada di dalam, sekonyong-konyong ia melotot sambil menahan napas, serunya seperti orang menemukan sesuatu yang ajaib.
"Haah, ini memang ben ... benar tulisan asli Thio Kiu di Zaman Tong-tiau, benar-benar tulen, tidak mungkin ... tidak mungkin palsu!"
Tulisan yang bergaya corat-coret itu memang sangat berani dan bebas sehingga mirip seorang tokoh ilmu silat sedang mengeluarkan ginkangnya yang tinggi dengan gerak-geriknya yang gesit dan lincah.
Karena gaya tulisan itu bercorat-coret, maka di antara sepuluh huruf paling banyak hanya satu huruf saja yang dikenal Lenghou Tiong.
Dilihatnya di bagian akhiran tulisan itu banyak diberi tanda stempel, di antaranya adalah pejabat-pejabat tinggi pemerintah, maka dapat diduga tulisan itu pasti bukan sembarangan tulisan.
Maka terdengar Tan-jing-sing memperkenalkan.
"Ini adalah Samko Tut-pit-ong (Si Kakek Pensil Gundul). Ia pakai julukan demikian disebabkan wataknya yang gemar akan seni tulis sehingga beratus-ratus pensil telah terpakai sampai gundul, jadi bukan disebabkan batok kepalanya yang kelimis, hal ini perlu diterangkan supaya tidak salah paham."
Dengan tertawa Lenghou Tiong mengiakan.
Dilihatnya Tut-pit-ong itu sudah mulai menggerakkan pensil di tangan kanan dan sedang menggores naik-turun mengikuti contoh tulisan itu, air mukanya seperti orang mabuk dan mirip orang linglung, terhadap Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong yang berada di situ sama sekali tak ambil peduli, sampai-sampai ucapan Tan-jing-sing tadi juga tidak digubris olehnya.
Mendadak hati Lenghou Tiong tergetar, pikirnya.
"Perbuatan Hiang-toako ini mungkin telah direncanakan sebelumnya. Aku masih ingat ketika aku bertemu dengan dia di gardu tempo hari, agaknya dia sudah membawa buntelan demikian di punggungnya."
Tapi lantas terpikir lagi.
"Buntelannya waktu itu belum tentu tersimpan dua gulungan lukisan dan tulisan ini, bisa jadi untuk mengusahakan penyembuhan penyakitku, di tengah jalan ketika menginap di hotel dia telah keluar membeli atau mencurinya. Ya, besar kemungkinan hasil curian. Benda mestika yang tak ternilai ini ke mana dapat membelinya?"
Dilihatnya gerakan pensil Tut-pit-ong itu mengeluarkan suara mendesir-desir perlahan, betapa tinggi lwekangnya jelas mempunyai keunggulannya masing-masing bersama Hek-pek-cu. Ia berpikir pula.
"Penyakitku ini akibat perbuatan Tho-kok-lak-sian serta Put-kay Taysu, tapi lwekang ketiga Chengcu ini agaknya lebih tinggi pula daripada Tho-kok-lak-sian dan Put-kay, boleh jadi Toachengcu mereka itu jauh lebih lihai lagi daripada ketiga temannya ini. Kalau ditambah dengan Hiang-toako, dengan kekuatan lima orang mungkin dapat menyembuhkan penyakitku. Semoga mereka tidak banyak membuang tenaga murninya."
Sebelum Tut-pit-ong selesai corat-coret mencontoh "sui-ih-tiap" (contoh tulis) yang diperlihatkannya itu, mendadak Hiang Bun-thian terus menggulungnya dan disimpan kembali ke dalam buntelannya.
Tut-pit-ong memandang bingung kepada Hiang Bun-thian, sampai lama sekali baru bertanya.
"Tukar apa?"
Hiang Bun-thian menggeleng, jawabnya.
"Tidak ditukarkan dengan apa pun juga."
"Dua puluh delapan jurus Ciok-koh-tah-hiat-pit-hoat (Ilmu Tulis Menutuk Hiat-to)?"
Demikian Tut-pit-ong memberi penawaran.
"Tidak boleh!"
Berbareng Hek-pek-cu dan Tan-jing-sing berseru.
"Boleh saja, mengapa tidak boleh?"
Ujar Tut-pit-ong.
"Jika aku dapat memperoleh sui-ih-tiap tulisan asli Thio Kiu ini, maka aku punya 28 jurus tutukan itu boleh dikata tidak ada artinya lagi."
Tapi Hiang Bun-thian juga lantas menggeleng dan berkata.
"Tidak boleh!"
"Jika begitu mengapa kau perlihatkan tulisan itu kepadaku?"
Tanya Tut-pit-ong dengan rada aseran.
"Ya, anggaplah aku salah, boleh Samchengcu anggap pula seperti tidak pernah melihatnya saja,"
Ujar Hiang Bun-thian.
"Sudah selesai dilihat, mana boleh dianggap tidak pernah melihatnya?"
Kata Tut-pit-ong.
"Apa Samchengcu benar-benar hendak memiliki tulisan asli Thio Kiu ini?"
Bun-thian menegas.
"Untuk ini tidaklah susah asalkan Samchengcu bertaruh sesuatu dengan kami."
"Bertaruh hal apa?"
Tanya Tut-pit-ong cepat.
"Samko,"
Tan-jing-sing lantas menanggapi.
"orang ini agaknya rada sinting. Dia mengatakan hendak bertaruh bahwa di dalam Bwe-cheng kita ini tiada ilmu pedang seorang pun yang mampu menandingi sobat Hong dari Hoa-san ini."
"Kalau ada orang yang mampu menangkan sobat ini, lalu bagaimana?"
Tanya Tut-pit-ong.
"Jika di dalam Bwe-cheng ini, tidak peduli siapa saja yang mampu menangkan pedang di tangan saudaraku Hong ini, maka Cayhe akan mempersembahkan sui-ih-tiap tulisan asli Thio Kiu ini kepada Samchengcu dan menghadiahkan lukisan asli Hoan Koan tadi kepada Sichengcu, juga akan kuturunkan 30 problem catur dari berbagai jago catur yang pernah kulihat itu kepada Jichengcu."
"Dan bagaimana dengan Toako kami, apa yang akan kau persembahkan kepadanya?"
Tanya Tut-pit-ong.
"Untuknya Hong-hianteku ini telah menyediakan suatu buah musik menabuh kecapi yang tiada bandingannya, judul kitab itu adalah ‘Lagu Siau-go-kangouw’ (Hina Kelana),"
Kata Hiang Bun-thian.
Tidaklah apa-apa Tut-pit-ong bertiga mendengar nama judul lagu Hina Kelana, tapi Lenghou Tiong yang amat terkejut, ia heran dari manakah sang toako mengetahui kitab yang dimilikinya itu?
Dalam pada itu Hek-pek-cu telah berkata.
"Meski kami tidak tahu di mana letak kebagusan kitab lagu kecapi itu, tapi melihat barang taruhan yang lain seperti catur, tulisan, dan lukisan yang kau sebut itu, maka lagu kecapi itu tentunya juga lain daripada yang lain. Sebaliknya kalau di dalam Bwe-cheng kami ini ternyata benar tiada seorang pun yang mampu mengalahkan Hong-hengte, lalu apa yang harus kami pertaruhkan kepadamu?"
Tan-jing-sing lantas menyela dengan tertawa.
"Hong-heng ini mahir teori perarakan, tentu ilmu pedangnya juga sangat tinggi. Cuma usianya masih terlalu muda, masakah betul di dalam Bwe-cheng kita ini tiada seorang pun yang dapat menandingi dia? Hehe, sungguh menertawakan."
Karena Lenghou Tiong sudah berjanji sebelumnya dengan Hiang Bun-thian akan menurut segala apa yang diatur oleh sang toako, tapi sampai di sini ia pun merasa keterlaluan ucapan Hiang Bun-thian tadi, padahal tenaga dalamnya sudah punah, mana mampu menandingi jago-jago kosen di Bwe-cheng ini.
Maka dengan rendah hati ia lantas berkata.
"Ah, Tong-toako memang suka berkelakar, sedikit kepandaianku yang tak berarti mana berani dipertandingkan dengan para Chengcu yang hebat."
Dengan tertawa Hiang Bun-thian menyambung.
"Kata-katamu yang rendah hati ini memang perlu diucapkan, kalau tidak, tentu orang akan menganggap kau terlalu angkuh dan sombong."
Tut-pit-ong seakan-akan tidak ambil pusing terhadap ucapan mereka berdua, ia komat-kamit menggumam sendiri, rupanya sedang mengulangi isi tulisan Thio Kiu yang membuatnya kesengsem dan lupa daratan.
Tiba-tiba ia berkata pula kepada Hiang Bun-thian.
"He, coba kau membentang pula tulisan itu."
"Asalkan Samchengcu sudah menang, pasti sui-ih-tiap ini akan menjadi milikmu, sekarang hendaklah jangan terburu-buru dulu,"
Jawab Hiang Bun-thian dengan tertawa. Sebagai ahli catur, Hek-pek-cu dengan sendirinya adalah ahli pikir pula, sebelum menang sudah mesti memperhitungkan kekalahan dulu, maka ia bertanya pula.
"Jika benar-benar di dalam Bwe-cheng kami ini tiada seorang pun yang mampu mengalahkan Saudara Hong ini, lalu pertaruhan apa yang harus kami berikan?"
"Sudah kami katakan bahwa kedatangan kami ke Bwe-cheng sini tidak untuk minta sesuatu benda atau mohon sesuatu urusan,"
Jawab Hiang Bun-thian.
"Tujuan Hong-hiante hanya ingin saling belajar ilmu pedang dengan jago kosen yang berada di puncak ilmu silat seluruh jagat sini. Jika secara kebetulan kami menang, seketika kami mohon diri, kami tidak menginginkan barang taruhan apa-apa."
"O, jadi Saudara Hong ini hanya ingin mencari nama saja?"
Ujar Hek-pek-cu.
"Ya, memang, sebatang pedangnya sekaligus mengalahkan Kanglam-si-yu, peristiwa ini sudah tentu akan tersiar di seluruh Kangouw."
"Ah, Jichengcu telah salah sangka,"
Kata Hiang Bun-thian sambil menggeleng.
"Pertandingan ilmu pedang di sini, tak peduli pihak mana yang menang dan kalah, jika ada satu kata saja dibocorkan ke luar, biarlah aku dan Hong-hiante mati tak terkubur, anggap saja sebagai manusia rendah melebihi binatang."
"Bagus, bagus!"
Seru Tan-jing-sing.
"Ucapanmu harus dipuji. Kamar ini cukup luas, biarlah aku mulai bertanding sejurus-dua dengan Saudara Hong. Dan mana pedangmu?"
"Datang ke Bwe-cheng sini mana kami berani membawa senjata?"
Sahut Bun-thian tertawa. Segera Tan-jing-sing menggembor pula.
"Ambilkan dua pedang!"
Ada suara orang mengiakan di luar, kemudian Ting Kian dan Si Leng-wi masing-masing membawa sebatang pedang dan diaturkan ke hadapan Tan-jing-sing. Tan-jing-sing ambil sebuah pedang itu dan berkata.
"Yang ini berikan padanya!"
Si Leng-wi mengiakan, lalu pedang itu diaturkan ke hadapan Lenghou Tiong.
"Hong-hiante,"
Kata Hiang Bun-thian.
"ilmu pedang keempat Chengcu di sini terkenal mahasakti, asalkan kau dapat belajar sejurus-dua saja sudah tidak habis-habis kau gunakan selama hidup ini."
Melihat keadaan sudah tidak mungkin dihindarkan lagi, terpaksa Lenghou Tiong menyambuti pemberian pedang itu. Sekonyong-konyong Hek-pek-cu berkata.
"Nanti dulu, Site. Taruhan yang dikemukakan Tong-heng ini adalah di dalam Bwe-cheng kita tiada seorang pun yang mampu mengalahkan Hong-heng itu. Ting Kian juga mahir main pedang, ia pun penghuni Bwe-cheng ini, maka tidak perlu Site mesti tampil ke muka sendiri."
Dasar juru pikir, Hek-pek-cu menjadi sangsi mendengar tantangan Hiang Bun-thian yang semakin galak dan yakin benar pasti akan menang itu.
Tiba-tiba ia mendapat akal membiarkan Ting Kian maju untuk menjajal Lenghou Tiong lebih dulu.
Ia pikir Ting Kian berjuluk "It-ji-tian-kiam" (Pedang Kilat Angka Satu), ilmu pedangnya juga sangat lihai, kedudukannya di Bwe-cheng juga cuma kaum hamba saja, andaikan kalah juga tidak merugikan nama baik Bwe-cheng, sebaliknya sampai di mana kehebatan ilmu pedang Hong Ji-tiong ini akan segera ketahuan.
Tanpa pikir Hiang Bun-thian lantas menjawab.
"Ya, benar. Asalkan ada orang di dalam Bwe-cheng ini mampu menangkan ilmu pedang Hong-hianteku, maka kami akan dianggap kalah, memangnya juga tidak perlu keempat Chengcu mesti maju sendiri. Ting-heng ini di dunia Kangouw berjuluk ‘It-ji-tian-kiam’, betapa cepat gerak pedangnya jarang ada bandingannya. Nah, Hong-hiante, tiada jeleknya jika kau belajar kenal dulu dengan It-ji-tian-kiamnya Ting-heng."
Dengan tertawa Tan-jing-sing lantas melemparkan pedangnya kepada Ting Kian sambil berkata.
"Awas, jika kau kalah akan kudenda kau minum tiga mangkuk arak."
Ting Kian membungkuk tubuh memberi hormat sambil menangkap pedang itu, kemudian ia berkata kepada Lenghou Tiong.
"Orang she Ting mohon belajar ilmu pedang Tuan Hong yang lihai!"
"Sret" , segera ia mendahului melolos pedangnya. Lenghou Tiong juga lantas melolos pedangnya, sarung pedang ditaruhnya di atas meja batu tadi.
"Ketiga Chengcu dan Ting-heng,"
Seru Hiang Bun-thian.
"kita harus bicara di muka, pertandingan ini hanya mengenai ilmu pedang dan tidak boleh mengadu tenaga dalam."
"Ya, sudah tentu, cukup asal tertutul saja lantas berhenti,"
Kata Hek-pek-cu. Maka Hiang Bun-thian sengaja pesan Lenghou Tiong.
"Hong-hiante, jangan sekali-kali kau mengeluarkan tenaga dalam. Bertanding ilmu pedang tergantung kebagusan tipu serangan masing-masing. Khikang Hoa-san-pay kalian sangat terkenal di dunia persilatan, jika kau menang dengan mengandalkan tenaga dalam biarlah dianggap kita yang kalah."
Diam-diam Lenghou Tiong tertawa geli, padahal sang toako mengetahui dia tiada punya tenaga dalam sedikit pun, tapi sengaja menonjolkan tenaga dalam untuk memojokkan pihak lawan. Segera ia menjawab.
"Jika Siaute mengeluarkan tenaga dalam tentu akan ditertawai ketiga Chengcu dan Ting-heng serta Si-heng, sudah tentu sama sekali aku tidak berani menggunakannya."
"Hong-hiante tidak perlu terlalu rendah hati agar tidak seakan-akan kita kurang mengindahkan keempat Cianpwe di sini,"
Kata Hiang Bun-thian.
"Bahwasanya Ci-he-sin-kang Hoa-san-pay kalian adalah lwekang yang amat lihai dan jauh di atas lwekang Ko-san-payku, hal ini cukup diketahui kawan-kawan Bu-lim. Nah, Hong-hiante, hendaklah kau berdiri di tengah kedua bekas tapak kakiku ini dan jangan sampai tergeser keluar, dengan berdiri di sini bolehlah kau coba-coba ilmu pedang Ting-heng."
Habis berkata ia lantas menyingkir ke samping, maka tertampak di atas jubin lantai telah tercetak dua bekas tapak kaki yang dalamnya dua-tiga senti.
Rupanya sewaktu bicara tadi diam-diam ia telah mengerahkan tenaga dalam sehingga jubin hijau yang cukup keras itu telah dicetak mentah-mentah dua bekas kaki.
Hek-pek-cu, Tut-pit-ong, dan Tan-jing-sing serentak bersorak memberi pujian.
Mereka mengira Hiang Bun-thian sengaja pamer kepandaian, tak tahunya dia mempunyai maksud yang lain.
Kiranya Hiang Bun-thian sengaja membangga-banggakan lwekangnya Lenghou Tiong lebih tinggi daripada dia sendiri, sekarang ia pamerkan lwekangnya sendiri pula agar orang mau percaya bahwa lwekang Lenghou Tiong sudah pasti jauh lebih hebat lagi, dengan demikian pihak lawan dalam pertandingan nanti tidak berani sembarangan menggunakan tenaga dalam untuk mencari penyakit sendiri.
Apalagi Hiang Bun-thian mengetahui kemahiran Lenghou Tiong selain ilmu pedang boleh dikata tidak ada yang istimewa, dengan tetap berdiri di bekas tapak kakinya itu akan dapat pula menyembunyikan kelemahan-kelemahannya yang lain.
Diam-diam Ting Kian menjadi gusar mendengar Hiang Bun-thian suruh Lenghou Tiong tetap berdiri di dalam bekas tapak kaki itu untuk melawannya nanti.
Walaupun demikian, karena merasa dirinya tidak sanggup menginjak jubin meninggalkan bekas, mau tak mau ia terperanjat juga atas kelihaian tenaga Hiang Bun-thian.
Pikirnya.
"Jika mereka berani datang menantang keempat Chengcu, sudah tentu mereka bukan kaum keroco. Asalkan aku mampu bertanding sama kuatnya dengan dia sudah cukup menyelamatkan nama baik Bwe-cheng."
Hendaklah maklum bahwa di waktu mudanya dahulu Ting Kian berwatak sangat sombong sehingga banyak mengikat permusuhan dengan jago-jago Kangouw, kemudian ia ketemu batunya sehingga mencari hidup sukar dan minta mati pun tidak mudah, dalam keadaan kepepet, syukur ia telah ditolong oleh Kanglam-si-yu.
Karena itulah ia rela menghamba di Bwe-cheng, kegarangan di masa yang lalu juga telah lenyap sekarang.
Begitulah Lenghou Tiong lantas melangkah maju dan berdiri di dalam bekas tapak kakinya Hiang Bun-thian itu, katanya dengan tersenyum.
"Silakan mulai, Ting-heng!"
"Maaf!"
Kata Ting Kian, tanpa sungkan-sungkan lagi segera pedangnya menebas.
"serrr" , selarik sinar pedang tahu-tahu telah berkelebat lewat dengan amat cepatnya. Meski sudah belasan tahun ia mengasingkan diri di Bwe-cheng, tapi kepandaian dahulu ternyata tiada sedikit pun berkurang. Namun Tokko-kiu-kiam yang telah diyakinkan Lenghou Tiong itu adalah ilmu pedang yang tiada bandingannya sejak dahulu sehingga sekarang. Dengan ilmu pedangnya itu Tokko Kiu-pay pernah malang melintang di seluruh dunia dan tak terkalahkan, bukan saja tak pernah kalah, bahkan sampai hari tuanya, orang yang mampu menandingi sepuluh jurus saja jarang terdapat. Akhirnya Tokko Kiu-pay wafat dalam kekosongan jiwa dan ilmu pedangnya itu melalui Hong Jing-yang telah diturunkan kepada Lenghou Tiong. Ilmu pedang angka satu yang menjadi kebanggaan Ting Kian itu setiap gerak serangan selalu berkelebat seperti sambaran kilat sehingga membuat orang yang melihatnya belum-belum sudah gentar lebih dulu. Tapi baru sekali saja It-ji-tian-kiam itu dikeluarkan, segera Lenghou Tiong dapat mengetahui tiga titik kelemahan di dalamnya. Ting Kian ternyata tidak buru-buru melancarkan serangan, pedangnya hanya menebas kian-kemari seakan sungkan kepada pihak tamu, tapi maksud tujuannya adalah hendak membikin silau Lenghou Tiong agar sukar menangkis serangannya yang menyusul. Tak terduga ketika sampai pada jurus kelimanya, Lenghou Tiong telah melihat ilmu pedangnya itu sudah ada 18 titik kelemahan. Segera ia berkata.
"Maaf!"
Berbareng pedangnya lantas menuding miring ke depan.
Tatkala itu Ting Kian sedang menebaskan pedangnya secepat kilat dari kiri ke kanan, jarak ujung pedang Lenghou Tiong masih ada satu meter jauhnya, namun gerakan Ting Kian itu menjadi seperti mengantarkan tangan sendiri ke ujung pedang lawan.
Gerakan Ting Kian itu teramat cepat dan sukar untuk dihentikan secara mendadak.
Lima orang penonton yang menyaksikan di samping itu adalah jago-jago kelas wahid semua.
Saat itu tangan Hek-pek-cu sedang memegangi sebiji catur, segera ia bermaksud menyambitkan biji catur itu untuk menyelamatkan tangan Ting Kian dari ancaman pedang Lenghou Tiong, tapi lantas terpikir olehnya jika sampai dia ikut turun tangan ini berarti dua orang melawan seorang dan Bwe-cheng jelas di pihak yang kalah.
Karena rasa ragu-ragu itulah saat mana jarak pergelangan tangan Ting Kian sudah makin mendekat dengan sambaran ujung pedang Lenghou Tiong, hanya tinggal belasan senti jauhnya.
"Aiii!"
Si Leng-wi menjerit khawatir. Siapa duga, pada detik yang menentukan itu mendadak Lenghou Tiong memutar perlahan tangannya sehingga ujung pedang menegak.
"plak" , tangan Ting Kian terbentur pada batang pedang yang rata itu sehingga tidak terluka apa-apa. Ting Kian sampai melenggong, baru dia sadar bahwa pihak lawan telah sengaja memberi ampun padanya sehingga sebelah tangannya tidak sampai terkutung. Seketika ia berkeringat dingin, ia membungkuk tubuh dan berkata.
"Banyak terima kasih atas kemurahan hati Hong-tayhiap."
Lenghou Tiong membalas hormat dan menjawab.
"Ah, engkaulah yang mengalah!"
Melihat Lenghou Tiong sedikit memutar pedangnya sehingga Ting Kian terhindar dari tangan terkutung, diam-diam Hek-pek-cu, Tut-pit-ong, dan Tan-jing-sing menaruh kesan baik padanya.
Segera Tan-jing-sing menuang secawan arak, katanya.
"Hong-hengte, ilmu pedangmu sangat bagus, terimalah secawan suguhanku."
"Terima kasih,"
Sahut Lenghou Tiong sambil menerima suguhan itu terus ditenggak habis. Tan-jing-sing juga mengiringi minum satu cawan, lalu menuangi cawan Lenghou Tiong pula dan berkata.
"Hong-hengte, hatimu sangat baik sehingga tangan Ting Kian tidak sampai buntung, biarlah aku menyuguh lagi secawan padamu."
"Ah, ini hanya secara kebetulan saja, kenapa diherankan?"
Ujar Lenghou Tiong sambil menghabiskan pula isi cawannya. Tan-jing-sing mengiring pula secawan, lalu menuang lagi secawan dan berkata.
"Cawan ketiga ini kita jangan minum dulu, marilah kita main-main, siapa yang kalah dialah yang minum arak ini."
"Terang aku yang kalah,"
Ujar Lenghou Tiong tertawa.
"biarlah aku meminumnya sekarang saja."
"Jangan buru-buru!"
Seru Tan-jing-sing sambil menaruh cawan araknya di atas meja batu, ia ambil pedang dari tangan Ting Kian, lalu katanya pula.
"Hong-hengte, silakan mulai lebih dulu."
Di waktu minum arak tadi diam-diam Lenghou Tiong sudah menimbang-nimbang.
"Dia mengaku mempunyai tiga keistimewaan, yaitu minum arak, suka seni lukis, dan mahir ilmu pedang. Maka dapatlah dipastikan ilmu pedangnya tentu sangat lihai. Dari lukisan yang terpancang di ruang depan sana kulihat goresannya rada mirip sejurus ilmu pedang yang terukir di dinding gua puncak Hoa-san dahulu. Ilmu pedang itu memang sangat bagus, tapi aku sudah paham jalannya, tentunya tidak sukar untuk melayaninya."
Maka katanya sambil membalas hormat.
"Harap Sichengcu sudi mengalah sedikit."
"Tidak perlu sungkan-sungkan, silakan,"
Kata Tan-jing-sing.
"Baik,"
Begitu Lenghou Tiong berseru, pedangnya lantas bergerak menusuk ke pundak lawan.
Tusukan ini tampaknya geyat-geyot tak bertenaga dan tidak menurut ilmu pedang yang lazim, belum pernah ada ilmu pedang di dunia ini terdapat jurus serangan demikian.
Keruan Tan-jing-sing melengak, katanya.
"Ini terhitung serangan apa?"
Pengetahuan Tan-jing-sing dalam hal ilmu pedang boleh dikata sangat luas, telah diketahuinya Lenghou Tiong adalah murid Hoa-san-pay, maka yang dia pikirkan sejak tadi adalah macam-macam tipu serangan ilmu pedang Hoa-san-pay saja, siapa tahu apa yang dimainkan Lenghou Tiong ini ternyata sama sekali di luar dugaannya.
Pelajaran yang diperoleh Lenghou Tiong dari Hong Jing-yang kecuali Tokko-kiu-kiam yang tiada bandingannya itu, dapat dipahami pula intisari "dengan tiada tipu mengalahkan yang ada tipu"
Dalam ilmu pedang.
Asas ini tali-temali dengan Tokko-kiu-kiam yang justru setiap gerakan dan setiap tipu serangannya sudah mencapai puncaknya itu.
Maka gabungan dari kedua paham ini menjadi lebih hebat dan sukar diraba pihak musuh.
Lantaran itulah Tan-jing-sing lantas melenggong begitu melihat serangannya yang aneh itu.
Jika dirinya cepat menangkis toh rasanya sukar terjadi, dan karena tak bisa ditangkis, jalan satu-satunya bagi Tan-jing-sing adalah melangkah mundur.
Waktu satu jurus saja Lenghou Tiong mengalahkan Ting Kian tadi, meski Hek-pek-cu dan Tut-pit-ong diam-diam memuji kelihaian ilmu pedangnya, tapi juga tidak begitu heran, sebab mereka anggap kalau Lenghou Tiong sudah berani menantang ke Bwe-cheng, maka mustahil jika cuma seorang hamba saja tak bisa mengalahkannya.
Tapi sekarang setelah menyaksikan sekali tusuk Lenghou Tiong lantas mendesak mundur Tan-jing-sing, mau tak mau mereka menjadi terkesiap.
Bab 67.
Ilmu Pedang Lenghou Tiong Tiada Tandingannya Setelah melangkah mundur segera Tan-jing-sing melangkah maju pula sehingga tetap berhadapan dengan Lenghou Tiong dalam jarak yang sama.
Menyusul Lenghou Tiong menusuk lagi, sekali ini yang diarah adalah pundak kiri, caranya tetap seperti tadi, geyat-geyot tak teratur, seperti sungguh-sungguh, seperti main-main.
Segera Tan-jing-sing angkat pedang hendak menangkis, tapi belum lagi kedua pedang beradu segera ia menyadari iga kanan sendiri terlubang, jika lawan terus menyerang ke situ tentu sukar tertolong, jadi tangkisannya ini sekali-kali tidak boleh dilakukan, pada detik terakhir itulah ia ganti haluan, sekali tutul kedua kakinya kembali ia melompat mundur dua meter lebih jauhnya.
"Kiam-hoat bagus!"
Serunya memuji, berbareng itu ia menubruk maju pula.
Sekaligus orangnya bersama pedangnya terus menusuk secepat kilat ke arah Lenghou Tiong.
Lenghou Tiong dapat melihat lubang kelemahan di bawah lengan kanan lawan pula, segera pedangnya menyelonong ke depan.
Jika Tan-jing-sing tidak segera ganti haluan tentu sikunya akan termakan lebih dulu oleh pedang Lenghou Tiong.
Dalam keadaan demikian, terpaksa Tan-jing-sing harus menyelamatkan diri lebih dulu, mendadak pedangnya menusuk ke lantai, dengan tenaga pentalan itulah ia terus berjumpalitan ke belakang dan menancapkan kaki sejauh tiga-empat meter.
Saat itu punggungnya sudah mepet dinding, kalau jumpalitannya terlalu keras sedikit saja tentu punggungnya akan menumbuk dinding, hal ini berarti menurunkan derajatnya sebagai seorang kosen.
Walaupun demikian, karena cara menghindarnya itu dilakukan dengan gugup dan susah payah, mau tak mau muka Tan-jing-sing menjadi merah jengah.
Sebagai seorang kesatria yang berjiwa besar, ia tidak menjadi gusar, sebaliknya ia malah bergelak tertawa sambil mengacungkan ibu jarinya dan memuji.
"Ilmu pedang bagus!"
Habis berkata pedangnya berputar pula, lebih dulu jurus "Pek-hong-koan-jit" (Pelangi Putih Menembus Cahaya Matahari), menyusul jurus "Jun-hong-hut-liu" (Angin Silir Meniup Pohon Liu), lalu berubah lagi menjadi jurus "Thing-kau-ki-hong" (Ular Naga Menjangkitkan Angin), tiga kali serangan dilancarkan sekaligus dan tahu-tahu ujung pedangnya sudah menyambar ke muka Lenghou Tiong.
Cepat Lenghou Tiong menyampuk dengan pedangnya sehingga tepat mengenai punggung pedang lawan.
Karena sampukan ini tepat waktunya dan jitu tempatnya, saat itu Tan-jing-sing sedang mencurahkan segenap pikiran dan tenaganya ke ujung pedangnya yang diduganya pasti akan kena sasarannya sehingga pada batang pedangnya tiada bertenaga malah.
Maka terdengarlah suara "creng"
Perlahan, pedang Tan-jing-sing tersampuk ke bawah, sebaliknya sinar pedang Lenghou Tiong lantas berkelebat, tahu-tahu sudah mengancam di depan dadanya.
Tan-jing-sing menjerit kaget dan cepat melompat ke samping.
Rupanya ia belum kapok, kembali pedangnya berputar terus menerjang maju lagi.
Sekali ini ia membacok dari atas sambil berseru.
"Awas!"
Ia tidak berniat mencelakai Lenghou Tiong, tapi gerak tipu "Giok-liong-to-kwa" (Naga Kemala Melingkar Balik) cukup lihai, jika sedikit lengah dan tidak keburu ditahan, bukan mustahil Lenghou Tiong akan benar-benar terluka olehnya, sebab itulah ia telah berseru memperingatkan.
Lenghou Tiong telah mengiakan peringatan itu.
Berbareng pedangnya dari bawah menyungkit ke atas.
"sret" , mata pedangnya menyerempet lurus ke atas melalui mata pedang lawan. Dalam keadaan demikian jika bacokan Tan-jing-sing itu diteruskan, sebelum mengenai kepala Lenghou Tiong tentu kelima jarinya sudah akan terpapas lebih dulu oleh pedang Lenghou Tiong. Tapi kepandaian Tan-jing-sing memang jauh lebih tinggi daripada Ting Kian, dilihatnya pedang orang telah memapas tiba menempel batang pedangnya sendiri, bagaimanapun serangan ini sukar dipatahkan, terpaksa tangan kirinya memukul kosong ke lantai, dengan tenaga tolakan ini.
"blang" , ia terus melompat ke belakang dua-tiga meter jauhnya. Selagi badannya masih terapung di udara pedangnya berulang-ulang telah berputar tiga kali sehingga berwujud tiga lingkaran sinar perak. Lingkaran-lingkaran sinar itu mirip seperti benda hidup saja, hanya berputar-putar sejenak di udara, lalu perlahan-lahan menggeser maju ke arah Lenghou Tiong. Lingkaran-lingkaran hawa pedang itu tampaknya tidak selihai sinar pedang It-ji-tian-kiam Ting Kian tadi, tapi hawa pedang ini lebih tebal, hawa dingin merangsang badan orang, maka dapat dirasakan oleh setiap orang bahwa ilmu pedang Tan-jing-sing ini memang luar biasa. Pedang Lenghou Tiong lantas menjulur ke depan, ditusukkan ke dalam lingkaran-lingkaran sinar itu. Di situlah lowongan antara serangan pertama Tan-jing-sing mulai lemah tenaganya dan tenaga serangan kedua belum lagi dikerahkan. Keruan Tan-jing-sing bersuara heran sambil melangkah mundur, lingkaran sinar pedang juga ikut berputar mundur. Tapi segera terlihat lingkaran sinar itu mendadak menyurut, menyusul terus meluas ke depan, di kala lingkaran sinar itu membesar, seketika terus menerjang ke arah Lenghou Tiong. Kembali Lenghou Tiong menusukkan pedangnya ke tengah lingkaran itu dan kembali Tan-jing-sing berseru heran sambil mundur lagi dan begitu sampai beberapa kali ia maju dan mundur. Semakin cepat ia menyerang maju, semakin cepat pula ia mundur. Hanya dalam sekejap saja ia sudah menyerang sebelas kali dan mundur sebelas kali, kumis jenggotnya sampai berjengkit, sinar pedangnya menerangi mukanya yang kelihatan pucat kehijau-hijauan. Sekonyong-konyong Tan-jing-sing menggertak keras, berpuluh-puluh lingkaran sinar besar dan kecil serentak menerjang ke arah Lenghou Tiong. Inilah kemahiran Tan-jing-sing yang tiada taranya, ia telah mempersatukan belasan jurus serangan menjadi satu sehingga sukar diduga oleh musuh. Selama hidupnya ia hanya pernah menggunakan kemahiran ini tiga kali saja untuk menghadapi musuh tangguh dan tiga kali pula ia memperoleh kemenangan. Namun tangkisan Lenghou Tiong tetap sederhana saja, kembali pedangnya menusuk lempeng ke depan sebatas dada, yang dituju adalah ulu hati Tan-jing-sing. Lagi-lagi Tan-jing-sing menjerit dan melompat mundur sekuatnya.
"Blang" , dengan berat ia jatuh terduduk di atas meja batu, menyusul terdengar suara riuh jatuhnya cawan arak sehingga hancur berantakan. Walaupun sudah kalah, tapi Tan-jing-sing tidak menjadi marah, sebaliknya ia terbahak-bahak dan berseru.
"Bagus, sungguh bagus! Hong-hengte, ilmu pedangmu memang jauh lebih tinggi daripadaku. Mari, marilah aku menyuguh kau tiga cawan lagi."
Hek-pek-cu dan Tut-pit-ong cukup kenal betapa hebat ilmu pedang site mereka, mereka menyaksikan Tan-jing-sing beruntun telah menyerang 16 kali dan kedua kaki Lenghou Tiong tetap di tempatnya tanpa menggeser ke luar dari bekas tapak kaki Hiang Bun-thian tadi, sebaliknya malah memaksa ahli pedang dari Kanglam-si-yu itu main melompat mundur sampai 17 kali.
Betapa tinggi ilmu pedang Lenghou Tiong benar-benar susah diukur.
Dalam pada itu Tan-jing-sing sudah lantas menuang arak ajak minum tiga cawan lagi bersama Lenghou Tiong.
Katanya.
"Di antara Kanglam-si-yu, ilmu silatku adalah yang paling rendah. Meski aku sudah mengaku kalah, tapi Jiko dan Samko tentu belum mau terima. Besar kemungkinan mereka pun ingin menjajal-jajal kau."
"Kita berdua telah bergebrak belasan jurus dan satu jurus pun Sichengcu belum kalah, mengapa engkau mengatakan akulah yang menang?"
Ujar Lenghou Tiong.
"Ah, jurus pertama saja aku sudah kalah, jurus-jurus selebihnya sudah tiada artinya lagi,"
Kata Tan-jing-sing sambil menggeleng.
"Biasanya Toako mengatakan aku berjiwa sempit, rupanya memang tidak salah."
"Peduli jiwa sempit segala, yang paling penting asalkan kekuatan minum arak yang besar kan jadi,"
Kata Lenghou Tiong tertawa.
"Benar, benar! Marilah kita minum arak lagi,"
Seru Tan-jing-sing.
Padahal biasanya Tan-jing-sing sangat tinggi hati dalam hal ilmu pedang, sekarang dia terjungkal di tangan seorang pemuda yang belum terkenal dan sedikit pun tidak marah dan menyesal, jiwanya yang besar ini betapa pun membikin kagum Lenghou Tiong dan Hiang Bun-thian.
Tut-pit-ong lantas berkata kepada Si Leng-wi.
"Si-koankeh, tolong ambilkan aku punya pensil tumpul itu."
Si Leng-wi mengiakan terus pergi mengambilkan semacam senjata dan diaturkan kepada Tut-pit-ong.
Lenghou Tiong melihat senjata itu adalah sebuah boan-koan-pit yang terbuat dari baja, tangkai pensil itu panjangnya belasan senti.
Anehnya ujung pensil itu benar-benar pensil tulen, yaitu terbuat dari bulu domba, bahkan ada bekas tercelup tinta bak.
Ujung boan-koan-pit biasanya juga terbuat dari baja dan digunakan menutuk hiat-to, tapi ujung pensil terbuat dari bulu domba yang lemas ini masakah dapat menutuk hiat-to musuh dan merobohkannya?
Lenghou Tiong menduga ilmu tiam-hiat orang tentu mempunyai cara yang istimewa dan tenaga dalamnya juga pasti sangat kuat sehingga melalui bulu domba yang lemas itu pun dapat melukai orang.
Setelah memegang senjatanya, dengan tersenyum Tut-pit-ong lantas berkata.
"Saudara Hong, apakah kau tetap berdiri di bekas tapak kaki tanpa ganti tempat?"
Lekas-lekas Lenghou Tiong mundur dua tindak, jawabnya dengan membungkuk tubuh.
"Ah, mana Cayhe berani berlagak di hadapan Cianpwe."
Tut-pit-ong lantas angkat pensilnya, katanya dengan tersenyum.
"Beberapa jurus goresanku ini adalah perubahan dari gaya tulisan kaum ahli tulis. Hong-heng serbapandai, tentunya akan dapat mengenali jalan goresan pensilku ini. Hong-heng adalah sobat baik kita, maka pensilku ini tidak perlu dicelup tinta saja."
Lenghou Tiong rada terkesiap, pikirnya.
"Apa barangkali kalau bukan sobat baik lantas pensilmu akan dicelup tinta? Kalau sudah dicelup tinta, lalu mau apa?"
Ia tidak tahu bahwa tinta bak yang dicelup oleh pensil Tut-pit-ong pada saat akan bertempur itu adalah buatan dari berbagai ramuan obat, kalau mengenai kulit manusia akan tak bisa dibersihkan untuk selamanya.
Dahulu jago-jago Bu-lim yang bermusuhan dengan Kanglam-si-yu juga pensil tumpul Tut-pit-ong inilah yang paling memusingkan kepala mereka, asal lengah sedikit saja, maka mukanya tentu akan dicorang-coreng oleh pensil tumpul itu, hal ini berarti suatu penghinaan besar, mereka lebih suka dibacok golok atau dipenggal sebelah lengannya daripada muka dicorang-coreng begitu.
Lantaran melihat cara Lenghou Tiong bergebrak dengan Ting Kian serta Tan-jing-sing tadi jelas sangat jujur, maka Tut-pit-ong tidak mencelup pensilnya dengan tinta lagi.
Walaupun tidak paham maksudnya, tapi Lenghou Tiong dapat menduga pihak lawan tentunya berlaku sungkan kepadanya, maka sambil membungkuk tubuh ia berkata.
"Banyak terima kasih. Cuma Wanpwe tidak banyak bersekolah, tulisan Samchengcu tentu tidak Wanpwe kenal."
Tut-pit-ong rada kecewa, katanya.
"Jadi kau tidak paham seni tulis? Baiklah, jika begitu biar aku menjelaskan dulu padamu. Aku punya tulisan ini disebut ‘Hui-ciangkun-si’ (Syair Panglima Hui), yaitu perubahan dari sanjak Gan Cin-kheng yang seluruhnya meliputi 23 huruf, mengandung tiga jurus sampai 16 jurus serangan, hendaklah kau memerhatikan dengan baik."
"Baiklah, terima kasih atas petunjukmu,"
Jawab Lenghou Tiong.
Diam-diam ia pikir peduli amat apakah kau akan tulis syair atau sanjak segala, aku toh tidak paham sama sekali.
Segera Tut-pit-ong angkat pensilnya yang besar itu terus menutul tiga kali ke arah Lenghou Tiong, ini adalah tiga titik permulaan dari huruf "hui" , tiga kali tutul ini cuma gerakan palsu saja, ketika pensilnya diangkat hendak menggores dari atas ke bawah, sekonyong-konyong pedang Lenghou Tiong telah menyambar lebih dulu ke bahu kanannya.
Dalam keadaan terpaksa Tut-pit-ong mesti menangkis dengan pensilnya, namun pedang Lenghou Tiong sudah lantas ditarik kembali.
Jadi senjata kedua orang belum sampai terbentur, yang mereka gunakan hanya serangan kosong saja, cuma jurus pertama Tut-pit-ong menurut syairnya tadi baru dimulai setengah-setengah, jadi belum lengkap.
Sesudah pensilnya menangkis tempat kosong, segera jurus kedua dilontarkan.
Tapi Lenghou Tiong kembali mendahului pula, begitu melihat pensilnya bergerak, sebelum diserang pedangnya sudah menyerang lebih dulu ke tempat yang memaksa lawan harus membela diri.
Benar juga, lekas-lekas Tut-pit-ong putar pensilnya untuk menangkis, tapi pedang Lenghou Tiong tahu-tahu sudah ditarik pulang lagi.
Jadi jurus kedua ini pun Tut-pit-ong tak bisa mengeluarkannya dengan sempurna, tapi cuma setengah-setengah saja.
Begitu gebrak kedua jurus serangannya lantas ditutup mati oleh Lenghou Tiong, sehingga serangkaian seni tulisnya tetap tak bisa dimainkan dengan lancar, keruan Tut-pit-ong merasa gelisah, sama halnya seperti seorang yang pintar menulis, baru saja angkat pena mulai menulis, tahu-tahu datang seorang anak kecil yang mengganggu dan mengacau sehingga ilhamnya kabur seketika.
Tut-pit-ong mengira karena tadi telah memberi tahu lebih dulu tulisan apa yang akan dimainkannya sehingga Lenghou Tiong dapat siap-siap sebelumnya untuk mendahului serangannya.
Jika sekarang dia menyerang tanpa mengikuti urut-urutan bait syair, tentu lawan akan menjadi bingung.
Karena itu segera ia ganti haluan, pensilnya bergerak dari atas menyerong ke kiri, lalu membelok ke kanan dengan tenaga penuh, rupanya yang dia gores itu adalah huruf "ji"
Dalam gaya coretan cepat.
Namun pedang Lenghou Tiong tetap menusuk ke depan, yang diarah adalah iga kanan.
Tut-pit-ong terkejut, cepat pensilnya menangkis ke bawah.
Padahal tusukan Lenghou Tiong itu tetap serangan pura-pura saja, tapi karena itu kembali jurus serangan Tut-pit-ong hanya sempat dimainkan setengah-setengah saja.
Sebenarnya coretan-coretan Tut-pit-ong itu selalu diikuti dengan penuh semangat dan tenaga, sekarang sampai di tengah jalan mendadak terhalang, bahkan ganti haluan terus buntu, keruan darah sendiri menjadi bergolak, rasanya sangat tidak enak.
Setelah ambil napas panjang-panjang, kembali Tut-pit-ong putar cepat pensilnya, akan tetapi di tengah jalan selalu digagalkan Lenghou Tiong.
Lama-lama ia menjadi naik pitam.
Bentaknya.
"Kurang ajar, mengacau melulu!"
Segera pensilnya berputar lebih cepat.
Tapi bagaimanapun juga, paling banyak ia hanya sempat menulis dua goresan, habis itu selalu ditutup mati jalannya oleh pedang Lenghou Tiong.
Tut-pit-ong menggertak sekali, gaya tulisannya segera berubah, tidak lagi menulis seperti tadi, tapi mencoret ke sana ke sini dengan cepat dan kuat sebagai orang mengamuk.
Lenghou Tiong tidak tahu bahwa gaya tulisan Tut-pit-ong sekarang adalah menirukan gaya coretan Thio Hui, itu panglima perkasa di Zaman Sam-kok, namun dapat pula dilihatnya bahwa gaya tulisannya sudah berbeda daripada tadi.
Maka ia tidak peduli tipu serangan apa yang dilancarkan lawan, asalkan pensil lawan bergerak segera, ia mendahului menyerang lubang kelemahannya.
Berulang-ulang terjadi demikian, keruan Tut-pit-ong berkaok-kaok.
Kembali gaya tulisannya berubah lagi, tapi hasilnya tetap kosong.
Ia tidak tahu bahwa hakikatnya Lenghou Tiong tidak ambil pusing terhadap tulisan apa yang akan dimainkan olehnya, yang dia incar hanya luangan pada setiap gerakan lawan.
Sebab itulah setiap kali Tut-pit-ong hanya mampu mencoret setengah-setengah saja, lalu gagal.
Semakin gagal, semakin kesal pula perasaan Tut-pit-ong, sampai akhirnya mendadak ia berteriak-teriak.
"Sudahlah, tidak mau lagi, tidak mau lagi!"
Berbareng itu ia terus melompat mundur, gentong arak Tan-jing-sing tadi diangkatnya terus dituang sehingga memenuhi lantai.
Pensilnya yang besar itu dicelup kepada cairan yang melanda lantai itu, lalu mulai menulis di atas dinding yang putih itu.
Yang ditulis bukan lain daripada syair panglima Hui tadi, seluruhnya 23 huruf ditulisnya dengan tajam dan hidup.
Habis menulis barulah ia menghela napas lega, lalu tertawa terbahak-bahak sembari mengamat-amati kembali tulisannya sendiri yang berwarna merah marun di atas dinding itu.
"Ehm, bagus! Selama hidupku hanya tulisan sekali inilah paling bagus!"
Pujinya kepada dirinya sendiri dengan puas. Lalu katanya kepada Hek-pek-cu.
"Jiko, kamar catur ini boleh kau berikan padaku saja, aku merasa berat berpisah dengan tulisanku ini. Kukira selanjutnya aku tidak mampu menghasilkan karya sebagus ini."
"Boleh saja,"
Kata Hek-pek-cu.
"Kamarku ini hanya terdapat sebuah papan catur dan tiada benda lain. Seumpama kau tidak mau juga aku terpaksa akan pindah tempat. Habis menghadapi tulisanmu yang berhuruf besar-besar itu masakah aku bisa tenang main catur?"
Lalu Tut-pit-ong berpaling kepada Lenghou Tiong dan berkata.
"Hong-laute, berkat kau sehingga segenap ilham tulisanku yang tersekam di dalam perut tadi seketika membanjir keluar dan jadilah tulisan indah yang tiada bandingannya ini. Ilmu pedangmu memang bagus, tulisanku juga bagus, ini namanya masing-masing mempunyai kepandaian sendiri-sendiri, kita tiada menang dan tidak kalah, seri!"
"Benar, masing-masing mempunyai kepandaian sendiri-sendiri, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah,"
Tukas Hiang Bun-thian.
"Dan harus ditambahkan lagi, berkat arakku yang enak,"
Sambung Tan-jing-sing. Hek-pek-cu berkata kepada Hiang Bun-thian.
"Samteku memang kekanak-kanakan sifatnya dan lupa daratan jika bicara tentang seni tulis, sekali-kali bukan maksudnya mengingkari kekalahannya."
"Cayhe paham,"
Ujar Hiang Bun-thian.
"Toh taruhan kita adalah di dalam Bwe-cheng ini tiada seorang pun yang mampu mengalahkan ilmu pedang Hong-hiante. Seumpama kedua pihak tidak kalah dan menang, yang jelas pihak kami kan tidak dikalahkan."
"Benar,"
Kata Hek-pek-cu mengangguk.
Lalu dari bawah meja batu itu ditariknya keluar sepotong papan besi segi empat.
Papan besi itu lebih kecil daripada muka meja batu itu, di atasnya terukir 19 garis jalan catur, rupanya adalah sebuah papan catur terbuat dari baja.
Sambil memegangi ujung papan catur besi itu Hek-pek-cu lantas berkata pula.
"Hong-heng, papan catur ini adalah senjataku, marilah kubelajar kenal dengan ilmu pedangmu yang hebat."
"Kabarnya papan catur Jichengcu ini adalah sebuah benda mestika yang dapat menyedot macam-macam senjata musuh,"
Tiba-tiba Hiang Bun-thian berseru. Dengan sorot mata tajam Hek-pek-cu menatap Hiang Bun-thian sejenak, lalu berkata.
"Tong-heng benar-benar berpengalaman luas dan berpengetahuan tinggi. Kagum, sungguh kagum. Padahal senjataku ini bukan benda mestika, tapi adalah buatan dari besi sembrani yang kugunakan mengisap biji-biji catur supaya tidak jatuh terguncang ketika dahulu aku suka bercatur dengan orang di atas kuda atau selagi menumpang perahu."
"O, kiranya demikian,"
Kata Hiang Bun-thian.
Mendengar kata-kata itu, diam-diam Lenghou Tiong bersyukur sang toako telah memberi petunjuk padanya secara tidak langsung.
Coba kalau tidak, tentu sekali gebrak saja pasti pedangnya akan melengket tersedot oleh papan catur lawan.
Maka dalam pertandingan nanti harus diusahakan jangan sampai pedang menyentuh papan caturnya.
Begitulah ia lantas berkata sambit mengacungkan pedangnya.
"Harap Jichengcu memberi petunjuk!"
"Ilmu pedang Hong-heng sangat hebat, silakan mulai dahulu,"
Ujar Hek-pek-cu. Tanpa bicara lagi Lenghou Tiong lantas putar pedangnya, secara melingkar-lingkar pedangnya terus menusuk ke depan.
"Tipu serangan macam apa ini?"
Pikir Hek-pek-cu dengan melengak.
Dilihatnya ujung pedang lawan telah menuju ke tenggorokannya, segera ia angkat papan caturnya untuk menangkis.
Namun cepat sekali Lenghou Tiong sudah putar ujung pedangnya untuk menusuk bahu kanan lawan.
Kembali Hek-pek-cu yang menyampuk dengan papan caturnya.
Tapi di tengah jalan Lenghou Tiong sudah lantas tarik kembali pedangnya terus menusuk pula ke perut lawan.
Hek-pek-cu menangkis lagi sambil berpikir.
"Jika aku tidak balas menyerang bagaimana aku bisa menang?"
Menurut teori catur, kemenangan hanya tergantung kepada satu langkah mendahului musuh saja.
Dalam hal ilmu silat juga begitu.
Sebagai seorang ahli catur sudah tentu Hek-pek-cu paham apa artinya mendahului menyerang.
Maka ia tidak mau melulu bertahan saja, segera ia pun angkat papan caturnya dan menghantam pundak kanan Lenghou Tiong.
Papan caturnya itu seluas setengahan meter persegi, tebalnya kira-kira dua senti, tergolong semacam senjata yang berat.
Besi sembrani itu jauh lebih berat lagi daripada besi biasa.
Jika pedang sampai kena terketok, sekalipun tidak tersedot oleh daya sembraninya itu juga pedang akan terketok patah.
Lenghou Tiong hanya sedikit mengegos saja, berbareng pedangnya menusuk iga kanan lawan.
Saat itu maksud Hek-pek-cu hendak mendahului menyerang, tapi pihak lawan justru melancarkan serangan juga, meski tusukan itu tampaknya sepele, tapi tempat yang diarah justru adalah tempat luang yang terpaksa haus dijaga.
Maka cepat ia menangkis dengan papan catur, menyusul terus disodokkan ke depan lagi.
Di luar dugaan, sama sekali Lenghou Tiong tidak peduli kepada serangannya.
Jika Hek-pek-cu menyerang, maka ia pun ikut menyerang sehingga setiap kali Hek-pek-cu terpaksa harus menarik senjatanya menjaga diri lebih dulu.
Begitulah berturut-turut Lenghou Tiong melancarkan serangan lebih 40 kali, Hek-pek-cu dipaksa menangkis kian-kemari dan bertahan dengan rapat, Ternyata dalam lebih 40 gebrakan itu Hek-pek-cu terpaksa bertahan melulu dan tidak sempat lagi balas menyerang.
Tut-pit-ong, Tan-jing-sing, Ting Kian, dan Si Leng-wi sampai terkesima menyaksikan pertandingan hebat itu.
Dengan jelas mereka melihat ilmu pedang Lenghou Tiong itu tidak terlalu cepat, juga tidak teramat lihai, di kala ganti gerak serangan juga tiada sesuatu yang istimewa, tapi setiap serangannya selalu membuat Hek-pek-cu serbasusah dan terpaksa harus menjaga diri lebih dulu.
Hendaklah maklum bahwa setiap jago silat betapa pun tipu serangannya pasti ada lubang kelemahannya.
Cuma, kalau bisa mendahului untuk mengancam tempat mematikan pihak musuh, maka kelemahan sendiri akan tertutup dan tidak menjadi halangan.
Namun sekarang setiap kali Hek-pek-cu menggerakkan papan caturnya, setiap kali pula ujung pedang Lenghou Tiong sudah lantas mengacung ke titik kelemahannya sendiri.
Sebagai seorang ahli, begitu melihat arah ujung pedang lawan segera dapat diduganya bagaimana akibatnya bila serangan musuh itu dilancarkan.
Di dalam lebih 40 gebrakan itu Hek-pek-cu merasa lawan menyerang terus-menerus, diri sendiri sedikit pun tidak sanggup balas menyerang.
Melihat posisi pihak sendiri sudah jelas di pihak yang kalah, kalau pertarungan demikian diteruskan, sekalipun seratus atau dua ratus jurus lagi juga dirinya tetap di pihak terserang melulu.
Ia pikir kalau tidak berani menempuh bahaya untuk mencari kemenangan terakhir tentu kehormatan Hek-pek-cu selama ini akan hanyut.
Maka dengan nekat ia lantas melintangkan papan caturnya terus disampukkan ke samping untuk menghantam pinggang kiri Lenghou Tiong.
Tapi Lenghou Tiong tetap tidak berkelit dan tidak menghindar, sebaliknya pedang lantas menusuk pula ke perut lawan.
Sekali ini Hek-pek-cu tidak lagi menarik kembali papan caturnya untuk membela diri, tapi masih terus dihantamkan ke depan, agaknya ia sudah bertekad mengadu jiwa, biarpun gugur bersama juga akan dilakoni.
Cuma kedua jari tangan kirinya juga sudah bersiap-siap untuk menjepit batang pedang lawan bilamana tusukan Lenghou Tiong sudah mendekat.
Kiranya Hek-pek-cu telah meyakinkan ilmu sakti "Hian-thian-ci" (Jari Mahasakti), dengan mencurahkan tenaga dalam ke jari-jarinya itu sehingga tidak kalah lihainya daripada semacam senjata tajam.
Melihat Hek-pek-cu mengambil risiko itu, kelima orang yang menonton di samping sama bersuara heran.
Mereka merasa pertarungan demikian sudah bukan pertandingan persahabatan lagi, tapi lebih mirip pertarungan mati-matian.
Jika jepitan jarinya meleset akan berarti perutnya tak terhindar dari tembusan pedang lawan.
Dalam sekejap itulah kelima orang itu sama-sama menahan napas.
Tampaknya kedua jari Hek-pek-cu sudah hampir menyentuh pedang, entah tepat-tidak jepitan jarinya itu, yang terang salah seorang pasti akan celaka.
Jika jepitannya jitu, pedang Lenghou Tiong akan sukar maju ke depan lagi dan pinggangnya yang akan dihantam oleh papan catur, hal ini jelas sukar dihindarkan.
Sebaliknya bila jepitan jari Hek-pek-cu meleset, atau bisa menjepit, tapi tidak sanggup menahan tenaga tusukan pedang itu, maka untuk menghindar atau melompat mundur juga tidak keburu lagi bagi Hek-pek-cu.
Tapi apa yang terjadi sungguh di luar perhitungan Hek-pek-cu.
Tatkala jarinya sudah hampir menyentuh batang pedang lawan, sekonyong-konyong ujung pedang menyungkit ke atas dan menusuk ke tenggorokannya.
Perubahan ini benar-benar di luar dugaan siapa pun juga, dalam ilmu silat dari dahulu kala sampai sekarang juga tidak mungkin ada jurus serangan demikian.
Dengan begitu, tusukan ke perut tadi sebenarnya cuma serangan palsu belaka.
Dalam keadaan demikian jika papan catur Hek-pek-cu dihantamkan terus, maka tenggorokannya pasti akan tertembus lebih dulu oleh pedang lawan.
Saking terkejutnya, lekas-lekas Hek-pek-cu mengerahkan segenap tenaganya untuk menahan papan caturnya di tengah jalan.
Sebagai seorang ahli pikir, sekilas benaknya lantas bekerja dan menduga maksud lawan, jika papan caturnya sendiri itu tidak dihantamkan terus, tentu pedang lawan juga takkan menusuk ke depan lagi.
Benar juga, ketika melihat papan catur orang berhenti di tengah jalan secara mendadak, segera Lenghou Tiong juga menahan pedangnya tak diteruskan tusukannya.
Jarak ujung pedangnya dengan tenggorokan lawan tatkala itu hanya tinggal satu-dua senti saja.
Sebaliknya jarak papan catur Hek-pek-cu dengan pinggang Lenghou Tiong juga cuma empat-lima senti.
Kedua orang sama berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun.
Meski kedua orang sedikit pun tidak bergerak lagi, tapi bagi pandangan orang lain keadaan mereka itu jauh lebih berbahaya daripada tadi.
Walaupun demikian, namun sebenarnya Lenghou Tiong sudah menguasai keadaan.
Maklumlah, papan catur itu adalah benda berat.
Untuk bisa melukai musuh sedikitnya harus dihantamkan dari jarak satu atau setengah meter jauhnya.
Tapi sekarang jaraknya dengan tubuh Lenghou Tiong hanya beberapa senti saja, sekalipun disodokkan sekuatnya juga sukar melukainya, paling-paling hanya membuatnya sakit sedikit.
Sebaliknya pedang Lenghou Tiong cukup ditolak perlahan ke depan, seketika tenggorokan lawan akan berlubang dan jiwa melayang.
Jadi siapa pun dapat melihat keadaan yang menguntungkan dan merugikan pihak mana pada saat itu.
Tapi dengan tertawa Hiang Bun-thian lantas berkata.
"Di sebelah sini tidak berani mendahului, di sebelah sana juga tidak berani. Dalam istilah catur ini disebut ‘remis’. Jichengcu memang gagah perkasa dan dapat menandingi Hong-hiante dengan sama kuatnya."
Lenghou Tiong lantas menarik kembali pedangnya dan melangkah mundur sambil mengucapkan maaf. Hek-pek-cu tersenyum, katanya.
"Ah, Tong-heng suka berkelakar saja. Masakah kau katakan tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Ilmu pedang Hong-heng justru amat lihai, jelas Cayhe sudah kalah habis-habisan."
"Eh, Jiko, kau punya senjata rahasia biji catur adalah satu di antara kepandaian istimewa dalam dunia persilatan, 361 biji hitam-putih ditebarkan sekaligus tiada orang mampu menahannya. Mengapa engkau tidak coba-coba kepandaian Saudara Hong dalam hal menghalau senjata rahasia?"
Tiba-tiba Tan-jing-sing berseru.
Tergerak juga hati Hek-pek-cu, dilihatnya Hiang Bun-thian manggut perlahan.
Waktu berpaling ke arah Lenghou Tiong, pemuda itu kelihatan diam-diam saja.
Ia pikir ilmu pedang pemuda ini tiada taranya, zaman ini mungkin cuma orang itu saja yang mampu mengalahkan dia.
Tampaknya dia tidak gentar sedikit pun, andaikan aku bertanding am-gi (senjata gelap/rahasia) lagi dengan dia tentu akan tambah malu saja nanti.
Maka sambil geleng kepala ia berkata dengan tertawa.
"Tidak, aku sudah mengaku kalah, buat apa bertanding am-gi segala?"
Dalam pada itu Tut-pit-ong tidak pernah melupakan "sui-ih-hiap"
Tulisan Thio Kiu itu, segera ia berkata pula.
"Tong-heng, sudilah kau perlihatkan pula contoh tulisan tadi?"
"Sabar dulu,"
Jawaban Hiang Bun-thian dengan tersenyum.
"Sebentar kalau Toachengcu sudah mengalahkan Hong-hiante, maka contoh tulisan ini akan menjadi milik Samchengcu sendiri, sekalipun akan dilihat selama tiga-hari tiga-malam juga terserah."
"Aku akan melihatnya selama tujuh-hari tujuh-malam,"
Kata Tut-pit-ong.
"Baik, tujuh-hari tujuh-malam juga boleh,"
Ujar Bun-thian. Perasaan Tut-pit-ong seperti dikilik-kilik, ingin sekali rasanya lekas-lekas mendapatkan tulisan indah itu, segera ia berkata.
"Jiko, biar aku pergi mengundang Toako."
"Kalian berdua boleh mengawani tamu di sini, aku saja yang akan bicara dengan Toako,"
Sahut Hek-pek-cu.
"Benar,"
Seru Tan-jing-sing.
"Hong-hengte, marilah kita minum pula. Ai, arak sebagus ini telah banyak dibuang percuma oleh Samko."
Habis berkata ia terus menuang arak ke dalam cawan, sedangkan Hek-pek-cu lantas menuju keluar. Dengan marah Tut-pit-ong berkata.
"Kau bilang aku banyak membuang percuma arakmu? Huh, arakmu itu sesudah masuk perut paling-paling keluar lagi menjadi air kencing. Mana bisa membandingi tulisanku di atas dinding halus yang tetap abadi itu. Arak disiarkan melalui tulisan, beribu-ribu tahun lagi orang akan tetap melihat tulisanku, kemudian baru mengetahui di dunia ada arak Turfan yang kau minum ini."
Tan-jing-sing tidak mau kalah, ia angkat cawan araknya dan berkata menghadap dinding.
"Dinding, O, dinding, hidupmu sungguh beruntung sehingga dapat menikmati arak enak tuanmu ini. Sekalipun samkoku tidak mencorat-coret di atas wajahmu juga ... juga kau akan tetap hidup abadi."
"Haha, dibandingkan dinding yang tidak tahu apa-apa ini, Wanpwe boleh dikata jauh lebih beruntung!"
Seru Lenghou Tiong tertawa sambil menenggak isi cawannya.
Hiang Bun-thian juga mengiringi minum dua cawan, lalu tidak minum lagi.
Sebaliknya Tan-jing-sing dan Lenghou Tiong masih terus menuang dan menenggak tidak berhenti, semakin minum semakin bersemangat.
Bab 68.
Suara Kecapi Membentuk Ilmu Pedang Tak Berwujud Sudah belasan cawan Lenghou Tiong saling minum bersama Tan-jing-sing barulah kemudian Hek-pek-cu muncul kembali.
"Hong-heng, Toako kami mengundang engkau,"
Kata Hek-pek-cu.
"Tong-heng silakan saja minum-minum di sini."
Dengan ucapannya itu nyata yang diundang ke sana hanya Lenghou Tiong sendirian. Hiang Bun-thian melenggong, pikirnya.
"Usia Lenghou-hiante masih sangat muda, pengalamannya cetek, jika dia pergi sendirian mungkin bisa bikin runyam urusan. Tapi Jichengcu sudah berkata demikian, aku tidak dapat ngotot ingin ikut."
Maka dengan menghela napas gegetun terpaksa ia berkata "Ai, Cayhe tidak punya jodoh untuk bertemu dengan Toachengcu, sungguh harus disesalkan."
"Harap Tong-heng jangan marah,"
Kata Hek-pek-cu.
"Soalnya Toako kami sudah lama mengasingkan diri, biasanya tidak mau terima tamu. Cuma tadi ketika mendengar ceritaku, bahwa ilmu pedang Hong-heng tiada bandingannya di dunia ini, hati beliau merasa sangat kagum, maka sengaja mengundang Hong-heng ke dalam, hal ini tidak berarti mengurangi penghormatan kami kepada Tong-heng."
"Mana, mana aku berani berpikir demikian,"
Ujar Hiang Bun-thian.
Lenghou Tiong lantas menaruh pedangnya di atas meja batu dan ikut Hek-pek-cu keluar dari kamar catur itu.
Sesudah menyusur sebuah serambi panjang, sampailah mereka di depan sebuah pintu bulat.
Di atas pintu bulat itu sebuah papan tertuliskan dua huruf "khim-sim" (inti kecapi).
Kedua huruf itu dibuat dari kaca warna biru, gaya tulisannya indah dan kuat, terang tulisan tangan Tut-pit-ong sendiri.
Di balik pintu bulat itu adalah sebuah jalanan taman yang sunyi, kedua tepi tumbuh pohon bambu, batu-batu di tengah jalan itu berlumut, nyata sekali jalanan ini jarang dilalui manusia.
Sesudah melalui jalanan taman itu, sampailah di depan tiga buah rumah batu yang dikitari oleh beberapa pohon siong yang besar dan tua.
Suasana menjadi rada redup dan tambah sunyi.
Perlahan-lahan Hek-pek-cu lantas mendorong pintu dan berbisik kepada Lenghou Tiong.
"Silakan masuk."
Waktu melangkah masuk rumah itu, segera hidung Lenghou Tiong mengendus bau harum kayu gaharu.
"Toako, Hong-heng dari Hoa-san-pay sudah berada di sini,"
Segera Hek-pek-cu berkata. Maka muncullah seorang tua dari kamar dalam sambil menyapa dengan hormat.
"Hong-heng berkunjung ke tempat kami ini, harap dimaafkan tidak diadakan penyambutan selayaknya."
Umur orang tua ini kira-kira ada 60-70 tahun, tubuhnya kurus kering, kulit mukanya kisut dan kempot sehingga mirip tengkorak hidup.
Tapi kedua matanya bersinar tajam.
Lekas-lekas Lenghou Tiong memberi hormat dan menjawab.
"Kedatangan Wanpwe ini terlalu sembrono, mohon Cianpwe memaafkan."
Segera Hek-pek-cu menyambung.
"Gelar Toako kami adalah Ui Ciong-kong, mungkin Hong-heng sudah lama mendengar nama beliau."
"Sudah lama Wanpwe kagum terhadap keempat Chengcu di sini dan baru hari ini dapat berjumpa, sungguh sangat beruntung,"
Baca Juga: Perintah Maut 7
Baca Juga: Patung Emas Kaki Tunggal Gan Kh