Ceritasilat Novel Online

Hina Kelana Balada Kaum Kelana 12

Eps 12 Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Baca online Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Cersil Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong.

Ujar Lenghou Tiong. Tapi di dalam hati ia membatin.

"Hiang-toako benar-benar suka guyon, masakah sebelumnya tidak menerangkan apa-apa kepadaku, aku hanya disuruh menurut kepada segala apa yang diaturnya. Tapi sekarang Hiang-toako sendiri tidak mendampingi aku, jika Toachengcu ini mengemukakan sesuatu soal sulit, lalu cara bagaimana aku harus melayaninya?"

Terdengar Ui Ciong-kong telah berkata pula.

"Kabarnya Hong-heng adalah ahli waris Hong-losiansing Locianpwe dari Hoa-san-pay, ilmu pedangmu konon sangat sakti. Selama ini aku pun sangat kagum terhadap ilmu silat dan pribadi Hong-losiansing, cuma sayang belum pernah bertemu dengan beliau. Beberapa waktu yang lalu di Kangouw tersiar kabar bahwa Hong-losiansing sudah wafat, hal ini membuat aku merasa menyesal sekali. Tapi hari ini dapat bertemu dengan ahli waris Hong-losiansing sudah boleh dikata terpenuhilah angan-anganku selama ini. Entah Hong-heng apakah termasuk anak atau cucu Hong-losiansing?"

Lenghou Tiong menjadi serbasusah, sebab ia sudah pernah berjanji kepada Hong Jing-yang untuk tidak menceritakan jejak beliau kepada siapa pun juga.

Bahwasanya ilmu pedangnya diperoleh dari orang tua itu, entah dari mana Hiang-toako mendapat tahu hal ini.

Sudah begitu Hiang-toako sengaja membual tentang ilmu pedangnya dan mengatakan dia she Hong, betapa pun ini bersifat menipu.

Sebaliknya kalau dirinya sekarang mengaku terus terang rasanya juga tidak mungkin.

Maka secara samar-samar Lenghou Tiong lantas menjawab.

"Aku adalah anak murid beliau angkatan belakangan. Wanpwe terlalu bodoh, ilmu pedang beliau tiada dua-tiga bagian yang dapat kupelajari dengan baik."

Ui Ciong-kong, menghela napas, katanya.

"Jika kau cuma memperoleh dua-tiga bagian dari ilmu pedang beliau dan tiga saudaraku telah kalah semua di bawah pedangmu, maka betapa hebat kepandaian Hong-losiansing sungguh sukar diukur."

"Tapi ketiga Chengcu hanya bergebrak beberapa kali saja dengan Wanpwe dan belum jelas pihak mana yang menang dan kalah,"

Kata Lenghou Tiong. Muka Ui Ciong-kong yang kurus kempot itu menampilkan senyuman, katanya sambil manggut-manggut.

"Orang muda tidak sombong dan tidak berangasan, sungguh harus dipuji."

Melihat Lenghou Tiong bicara sambil tetap berdiri, segera ia berkata pula.

"Silakan duduk, silakan!"

Baru saja Lenghou Tiong dan Hek-pek-cu ambil tempat duduk masing-masing, segera seorang kacung menyuguhkan tiga cangkir teh. Lalu Ui Ciong-kong mulai berkata pula.

"Katanya Hong-heng ada satu buku khim-boh (not kecapi) yang bernama ‘Lagu Hina Kelana’, apa betul adanya? Aku memang gemar pada seni musik, tapi dari buku-buku not kuno belum pernah kudengar ada satu

Jilid not lagu demikian."

"Dalam buku-buku not kuno memang tidak ada, sebab khim-boh ini adalah hasil karya orang zaman sekarang,"

Sahut Lenghou Tiong.

Diam-diam ia berpikir sudah terlalu jauh Hiang-toako membohongi mereka.

Tampaknya keempat Chengcu ini adalah tokoh-tokoh luar biasa, apalagi kedatangannya adalah untuk mohon pengobatan kepada mereka, maka tidaklah pantas untuk mempermainkan mereka lagi.

Dahulu Lau Cing-hong dan Kik Yang berdua Cianpwe menyerahkan khim-boh ini kepadaku adalah karena khawatir karya mereka yang besar akan lenyap di dunia fana ini.

Sekarang Toachengcu ini ternyata penggemar kecapi, maka tiada jeleknya jika kuperlihatkan khim-boh ini kepadanya.

Segera ia mengeluarkan khim-boh itu dari bajunya, ia berbangkit sambil diaturkan kepada Ui Ciong-kong dan berkata.

"Silakan Toachengcu periksa adanya."

Dengan sedikit berbangkit Ui Ciong-kong menyambut khim-boh itu, jawabnya.

"Kau katakan khim-boh ini karya orang zaman ini? Rupanya aku sudah terlalu lama mengasingkan diri sehingga tidak tahu bahwa pada masa ini telah lahir seorang komponis besar."

Di balik kata-katanya itu nyata sekali ia rada kurang percaya. Waktu ia membalik halaman pertama khim-boh itu, lalu katanya pula.

"Ini adalah not paduan suara kecapi dan seruling. Eh, panjang benar lagu ini."

Tapi hanya sebentar saja ia membaca not lagu itu segera air mukanya berubah hebat.

Dengan tangan kanan membalik-balik halaman khim-boh itu, jari tangan kiri Ui Ciong-kong tampak bergerak-gerak seperti sedang memetik kecapi.

Hanya membalik dua halaman saja ia lantas mendongak dan termangu-mangu, lalu menggumam sendiri.

"Nada lagu ini berubah secara meninggi dan sangat cepat, apakah benar dapat dibawakan dengan kecapi?"

"Dapat, memang benar dapat,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Dari mana kau mengetahui? Apakah kau sendiri bisa?"

Tanya Ui Ciong-kong dengan pandangan tajam.

"Sudah tentu Wanpwe tidak bisa, tapi Wanpwe pernah mendengarkan dua orang membawakan lagu ini dengan kecapi,"

Tutur Lenghou Tiong.

"Orang pertama membawakan lagu ini dengan kecapi bersama tiupan seruling seorang lain lagi. Mereka berdua inilah penggubah dari lagu Hina Kelana ini."

"Dan siapa lagi pemain kecapi yang kedua itu?"

Tanya Ui Ciong-kong. Dada Lenghou Tiong menjadi hangat, karena yang ditanyakan itu adalah Ing-ing. Jawabnya kemudian.

"Orang yang kedua itu adalah seorang wanita."

"Wanita?"

Ui Ciong-kong menegas.

"Dia ... dia sudah tua atau masih muda?"

Lenghou Tiong masih ingat sifat Ing-ing yang tidak suka orang mengatakan dia pernah kenal pada gadis itu, maka sekarang ia pun tidak ingin mengatakannya kepada Ui Ciong-kong, jawabnya kemudian.

"Umur wanita itu yang tepat Wanpwe sendiri tidak jelas, cuma ketika mula-mula aku bertemu dengan dia aku memanggilnya sebagai ‘nenek’."

"Hah, kau memanggil nenek padanya? Jika demikian dia sudah sangat tua?"

Seru Ui Ciong-kong.

"Waktu itu Wanpwe mendengarkan kecapi nenek itu dari balik kerai sehingga tidak melihat wajahnya, tapi rasanya dia pasti seorang nenek yang sudah tua,"

Kata Lenghou Tiong.

Ia menjadi geli lagi bila teringat sepanjang jalan ia pernah memanggil nenek kepada seorang nona jelita sebagai Ing-ing.

Tapi sekarang nona itu entah berada di mana.

Ui Ciong-kong memandang jauh keluar jendela, setelah termenung-menung sekian lama, kemudian baru bertanya pula.

"Apakah bagus sekali permainan kecapi nenek itu?"

"Bagus sekali,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Beliau pernah juga mengajarkan memetik kecapi kepadaku, cuma sayang satu lagu pun aku belum selesai mempelajarinya."

"La ... lagu apa yang dia ajarkan padamu itu?"

Tanya Ui Ciong-kong cepat. Lenghou Tiong khawatir bila, lagu "Jing-sim-boh-sian-ciu"

Itu disebut mungkin sekali Ui Ciong-kong akan segera dapat menerka Ing-ing adanya. Maka ia sengaja menjawab.

"Perangai Wanpwe tidak cocok dengan seni musik, maka lagu itu sudah kulupakan, bahkan apa namanya juga tidak ingat lagi."

"O, besar kemungkinan bukan dia. Mana ... mana bisa dia (perempuan) masih hidup di dunia ini?"

Demikian Ui Ciong-kong menggumam sendiri. Lalu tanyanya pula.

"Saat ini nenek itu berada di mana?"

"Jika aku tahu tentunya sangat baik,"

Sahut Lenghou Tiong sambil menghela napas.

"Pada suatu malam aku telah jatuh pingsan dan beliau lantas meninggalkan aku, sejak itu tidak diketahui beliau berada di mana."

Mendadak Ui Ciong-kong berbangkit, katanya.

"Kau bilang pada satu malam mendadak dia meninggalkan kau dan sejak itu tak diketahui jejaknya?"

Dengan murung Lenghou Tiong mengangguk. Sejak tadi Hek-pek-cu diam saja, demi tampak pikiran Ui Ciong-kong rada limbung, khawatir kalau penyakit lama sang toako kumat lagi, lekas-lekas ia menyela.

"Saudara Hong ini datang bersama seorang Saudara Tong dari Ko-san-pay, mereka menyatakan bila di dalam Bwe-cheng kita ada seorang saja yang mampu mengalahkan ilmu pedangnya ...."

"O, harus ada orang yang mengalahkan ilmu pedangnya baru dia mau meminjamkan buku lagu Hina Kelana itu kepadaku, demikian bukan?"

Tanya Ui Ciong-kong.

"Betul, dan kami bertiga sudah kalah semua,"

Sahut Hek-pek-cu.

"Kini tinggal Toako saja, jika Toako tidak maju sendiri tentu Bwe-cheng kita ini, hehe ...."

"Jika kalian gagal, tentu aku pun percuma,"

Ujar Ui Ciong-kong tersenyum hampa.

"Tapi kami bertiga mana dapat dibandingkan dengan Toako,"

Ujar Hek-pek-cu.

"Ah, aku kan sudah tua, tidak berguna lagi,"

Kata Ciong-kong. Lenghou Tiong lantas berbangkit, dengan kedua tangannya ia mengaturkan khim-boh dan berkata dengan penuh hormat.

"Pedang harus dihadiahkan kepada pahlawan. Pencipta lagu ini dahulu juga telah pesan kepada Wanpwe agar berusaha mencari seorang ahli seni suara dan boleh menghadiahkan kitab ini kepadanya agar jerih payah ciptaan mereka berdua ini tidak lenyap sia-sia. Toachengcu bergelar ‘Ui Ciong-kong’, sudah tentu adalah ahli dalam bidang yang dimaksudkan ini. Selanjutnya kitab ini menjadilah milik Toachengcu."

Ui Ciong-kong dan Hek-pek-cu sama melengak.

Ketika di kamar sana Hek-pek-cu telah menyaksikan betapa Hiang Bun-thian menjual mahal dan memancing-mancing hasrat orang yang kepingin setengah mati.

Siapa duga ‘Hong Ji-tiong’ ini ternyata sangat berbeda, caranya terus terang dan sangat baik hati.

Sebagai seorang ahli catur yang suka main siasat, segera ia menduga perbuatan Lenghou Tiong pasti ada suatu perangkap yang hendak menjebak Ui Ciong-kong.

Tapi di mana letak perangkap itu seketika sukar pula diselami.

Ui Ciong-kong juga tidak lantas menerima pemberian not lagu Hina Kelana itu, katanya.

"Orang tidak berjasa tidak berani menerima hadiah. Kita selamanya tidak saling kenal, mana aku berani menerima hadiahmu setinggi ini. Sebenarnya apa maksud tujuan kedatangan kalian berdua ke sini, diharap sudi kiranya menjelaskan secara jujur."

Apa maksud tujuan kedatanganku ke sini sebelumnya Hiang-toako tidak menerangkan padaku sedikit pun, tapi menurut dugaanku tentu hendak mohon bantuan keempat chengcu di sini untuk menyembuhkan penyakitku.

Cara pengaturan Hiang-toako ini penuh rahasia, sebaliknya keempat chengcu ini adalah tokoh-tokoh aneh pula, bisa jadi tentang penyakitku ini tidak boleh kuterangkan pada mereka.

Memangnya aku tidak tahu apa maksud kedatanganku bersama Hiang-toako, jika aku mengaku terus terang juga tidak ada salahnya.

Maka dengan jujur ia lantas menjawab.

"Wanpwe hanya ikut Tong-toako ke sini. Terus terang, sebelum menginjak perkampungan ini Wanpwe sama sekali belum pernah dengar nama keempat Chengcu, juga nama ‘Koh-san-bwe-cheng’ di sini sebelumnya tidak kukenal."

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula.

"Hal ini mungkin disebabkan pengalaman Wanpwe yang cetek dan tidak kenal para Cianpwe yang kosen, untuk ini mohon kedua Chengcu janganlah marah."

Ui Ciong-kong memandang sekejap kepada Hek-pek-cu, dengan senyum terkulum ia berkata.

"Ucapan Saudara Hong sungguh sangat jujur, aku sangat berterima kasih. Tadinya aku memang heran, sebab tempat tinggal kami ini jarang diketahui orang Kangouw, Ngo-gak-kiam-pay selamanya juga tiada sesuatu hubungan dengan kami, mengapa kalian bisa datang kemari? Dengan demikian, jadi sebelumnya Saudara Hong memang tidak tahu asal usul kami?"

"Sungguh Wanpwe merasa malu, harap kedua Chengcu banyak-banyak memberi petunjuk,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Tadi Wanpwe mengatakan ‘sudah lama mengagumi nama keempat Chengcu’ segala, sesungguhnya ... sesungguhnya ...."

"Baiklah,"

Ui Ciong-kong manggut-manggut.

"Jadi not kecapi ini dengan setulus hati hendak kau hadiahkan kepadaku?"

"Benar,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Tapi aku ingin tanya sesuatu lagi. Sebenarnya atas pesan siapa Hong-laute menyerahkan khim-boh ini kepadaku?"

Tanya Ui Ciong-kong.

"Penggubah lagu ini hanya pesan padaku agar mencari orang yang tepat untuk diserahi khim-boh ini, kepada siapa harus diserahkan tiada ditentukan,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Sekarang telah kuketahui Toachengcu adalah ahli dalam bidang seni suara, maka khim-boh ini boleh dikata telah mendapatkan majikannya yang sesuai."

"O,"

Hanya sekali saja Ui Ciong-kong bersuara, tapi mukanya yang kurus itu menampilkan setitik rasa girang. Tapi Hek-pek-cu lantas menegas.

"Jika kau memberikan khim-boh ini kepada Toako kami, apakah Tong-heng itu mengizinkan?"

"Kedua gulung lukisan dan tulisan itu adalah milik Tong-toako, tapi khim-boh ini adalah milik pribadiku,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Kiranya demikian,"

Kata Hek-pek-cu.

"Sungguh aku sangat berterima kasih terhadap maksud baik Hong-hengte,"

Ujar Ui Ciong-kong.

"Tapi karena Hong-hengte sudah bicara di muka bahwa lebih dulu harus ada orang yang mampu mengalahkan ilmu pedangmu, maka aku pun tidak boleh menarik keuntungan dengan segampang ini. Marilah, boleh juga kita coba-coba beberapa jurus."

Lenghou Tiong pikir tadi Jichengcu ini mengatakan "kami bertiga mana bisa dibandingkan dengan Toako" , maka tentang ilmu silat Toachengcu ini pasti jauh di atas ketiga temannya itu.

Bisanya aku mengalahkan ketiga chengcu yang lihai tadi adalah berkat ilmu pedang ajaran Hong-thaysusiokco, jika sekarang harus bertanding dengan Toachengcu ini belum tentu aku bisa menang lagi, buat apa aku mesti mencari penyakit sendiri.

Ya, seumpama aku yang menang lagi, lalu apa manfaatnya?

Karena berpikir begitu, maka ia lantas berkata.

"Secara iseng Tong-toako telah mengemukakan kata-kata begitu, sungguh membikin kikuk orang saja, untuk ini jika keempat Chengcu tidak marah saja Wanpwe sudah merasa bersyukur, sekarang aku mana berani lagi bertanding dengan Toachengcu?"

"Kau memang berhati mulia,"

Puji Ui Ciong-kong.

"Tapi tiada halangannya kita coba-coba beberapa jurus saja, asal tertutul saja kita lantas berhenti."

Lalu ia mengambil sebatang seruling kemala yang terkait di dinding dan diserahkan kepada Lenghou Tiong, ia sendiri lantas mengangkat sebuah kecapi dari meja sana, katanya kemudian.

"Boleh kau gunakan seruling itu sebagai pedang dan aku akan menggunakan kecapi ini sebagai senjata."

Ia tersenyum, lalu melanjutkan.

"Kedua macam alat musik ini tidak berani kukatakan benda yang bernilai, tapi juga terhitung barang yang jarang dicari di dunia ini, tentunya bukan maksudku untuk dirusak begini saja. Maka biarlah kita berlagak dan bergaya sekadarnya saja."

Terpaksa Lenghou Tiong menerima seruling itu, dilihatnya seruling kemala itu seluruhnya berwarna hijau pupus, jelas terbuat dari batu zamrud pilihan.

Sebaliknya kecapi yang dipegang Ui Ciong-kong itu warnanya sudah rada luntur, terang adalah barang kuno, bisa jadi adalah barang antik yang telah berumur ratusan atau ribuan tahun.

Jika kedua alat musik ini terbentur perlahan saja sudah pasti akan hancur semua, dengan sendirinya tak dapat digunakan bertempur sungguh-sungguh.

Tapi karena tidak bisa mengelak lagi, terpaksa Lenghou Tiong memegang melintang serulingnya, lalu berkata.

"Mohon Toachengcu memberi pelajaran."

"Hong-losiansing adalah ahli pedang satu zaman, ilmu pedang warisannya pasti lain daripada yang lain,"

Ujar Ui Ciong-kong.

"Silakan saja, Hong-heng."

Segera Lenghou Tiong angkat serulingnya dan dikebaskan ke samping, angin meniup masuk lubang seruling dan menimbulkan suara-suara yang halus.

Ui Ciong-kong juga lantas menyentil kecapinya beberapa kali, di tengah bunyi kecapi itu segera ekor kecapi itu disodokkannya ke bahu kanan Lenghou Tiong.

Ketika mendengar suara kecapi, hati Lenghou Tiong sedikit tergetar, perlahan-lahan serulingnya juga lantas ditutulkan ke depan.

Yang ditutuk adalah "siau-hay-hiat"

Di balik siku Ui Ciong-kong.

Dalam keadaan demikian jika kecapi itu terus ditumbukkan ke bahu Lenghou Tiong, maka hiat-to di balik sikut itu tentu akan tertutuk lebih dulu.

Segera Ui Ciong-kong putar balik kecapinya dan dihantamkan ke pinggang Lenghou Tiong.

Ketika kecapi itu diputar, kembali ia menyentil senar kecapi sehingga mengeluarkan suara.

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir.

"Bila aku menangkis dengan seruling tentu kedua macam alat musik yang sukar dicari ini akan rusak semua. Untuk menghindarkan kerusakan barangnya tentu dia akan tarik kembali kecapinya. Tapi cara demikian lebih mendekati cara akal bulus dan tidak boleh kulakukan."

Maka cepat ia pun putar serulingnya dan menutuk ke "thian-coan-hiat"

Di bawah ketiak musuh. Waktu Ui Ciong-kong angkat kecapinya buat menangkis segera Lenghou Tiong tarik kembali serulingnya.

"Creng, creng-creng-creng" , Ui Ciong-kong menyentil beberapa kali lagi senar kecapinya, nadanya berubah cepat dan tinggi. Air muka Hek-pek-cu tampak rada berubah, lekas-lekas ia mengundurkan diri keluar kamar itu sambil sekalian merapatkan pintunya. Kiranya pemetikan kecapi Ui Ciong-kong itu bukanlah karena dia iseng, tapi di dalam suara kecapi itu justru tercurah tenaga dalamnya yang tinggi untuk mengacaukan konsentrasi pikiran musuh. Bilamana tenaga dalam lawan timbul bersama suara kecapi, maka tanpa terasa lawan akan terpengaruh oleh suara kecapi itu. Jika suara kecapi perlahan, tentu gerak serangan lawan juga akan ikut perlahan, kalau suara seruling menanjak cepat, maka serangan musuh juga ikut cepat. Tapi gerak serangan Ui Ciong-kong dengan kecapinya itu justru terbalik daripada suara kecapinya. Di waktu suara kecapi halus dan lambat, maka dia justru menyerang dengan cepat dan pihak lawan tentu akan sukar menangkisnya. Kepandaian cara membaurkan suara kecapi ke dalam ilmu silat demikian adalah tingkatan tertinggi dalam ilmu silat, kalau sudah mencapai puncaknya hakikatnya tidak perlu melontarkan serangan lagi, cukup dengan suara kecapi saja sudah dapat membikin semangat musuh lesu dan perhatian buyar, jalan darahnya terhalang, orangnya bisa menjadi gila dan akhirnya muntah darah dan binasa. Walaupun kemahiran Ui Ciong-kong belum mencapai tingkatan demikian, tapi jika dalam beberapa jurus saja lawan tak bisa mengatasi suara kecapinya itu akhirnya tentu akan roboh sendiri. Tadi rupanya Hek-pek-cu cukup kenal betapa lihai ilmu Ui Ciong-kong itu, khawatir lwekangnya sendiri terganggu, maka lekas-lekas ia mengundurkan diri keluar kamar. Tapi dari balik pintu sayup-sayup ia masih dapat mendengar suara kecapi yang berubah-ubah, kadang-kadang cepat dan meninggi, lain saat lambat dan rendah nadanya, kemudian tiba-tiba sunyi tiada sesuatu suara apa pun, tapi mendadak terus berbunyi "creng"

Yang keras.

Diam-diam ia berkhawatir bagi Lenghou Tiong yang tentu akan terluka parah oleh "Chit-hian-bu-heng-kiam" (Pedang Tujuh Senar Tak Berwujud) sang toako yang lihai, padahal pemuda itu sangat simpatik.

Sebaliknya kalau sang toako tidak mengeluarkan ilmu andalannya itu mungkin Bwe-cheng benar-benar tiada seorang pun yang mampu mengalahkan dia, lalu nama Kanglam-si-yu tentu akan runtuh habis-habisan karena dikalahkan oleh seorang pemuda hijau dari Hoa-san-pay.

Jadi sang toako cuma terpaksa saja, semoga beliau tidak mencelakai jiwa Lenghou Tiong.

Selagi Hek-pek-cu berpikir begitu, tiba-tiba suara kecapi menanjak tinggi cepat sekali dan terdengar jelas dari luar pintu, dada Hek-pek-cu serasa sesak dan darah bergolak, lekas-lekas ia mundur keluar rumah dan merapatkan pintu besar.

Walaupun begitu terkadang suara kecapi masih juga terdengar dan membuat jantungnya berdebar.

Sampai agak sama ia berdiri di luar dan suara kecapi masih terus bergema.

Diam-diam ia heran Saudara Hong itu selain ilmu pedangnya sangat hebat, nyata tenaga dalamnya juga amat lihai sehingga mampu bertahan sekian lamanya di bawah serangan "pedang tak berwujud dari suara kecapi tujuh senar"

Sang toako. Tengah termenung, tiba-tiba terdengar dari belakang ada suara tindakan orang, waktu menoleh, kiranya Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing telah menyusul tiba.

"Bagaimana?"

Tanya Tan-jing-sing dengan berbisik.

"Sudah bertempur sangat lama dari dan pemuda itu masih terus bertahan, kukhawatir Toako akan mencelakai jiwanya,"

Sahut Hek-pek-cu.

"Biar kumohonkan ampun kepada Toako agar sobat muda itu jangan sampai tercedera,"

Ujar Tan-jing-sing.

"Jangan masuk ke sana,"

Geleng Hek-pek-cu.

Pada saat itulah mendadak suara kecapi berbunyi nyaring keras, seketika mereka bertiga tergetar mundur satu tindak.

Beruntun-runtun kecapi berbunyi lima kali dan mereka tanpa kuasa juga mundur lima kali.

Air muka Tut-pit-ong tampak pucat, setelah tenangkan diri barulah berkata.

"Kiranya Toako sudah berhasil meyakinkan ilmu pedang tak berwujud yang lihai ini, serangan-serangan suara kecapi yang begitu tajam masakah Saudara Hong itu mampu menahannya?"

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terdengar suara "creng"

Yang amat keras satu kali, habis itu lantas terdengar lagi suara "pletak" , itulah suara putusnya senar kecapi, bahkan suara pletak ini jauh lebih keras, rasanya seperti beberapa senar putus sekaligus.

Keruan Hek-pek-cu bertiga terkejut, lekas-lekas mereka mendorong pintu besar dan menolak pintu kamar tadi dan berlari masuk ke dalam.

Ternyata Ui Ciong-kong sedang berdiri kesima dengan memegangi kecapinya, tujuh utas senar kecapinya sudah putus dan terurai di samping kecapi.

Sebaliknya Lenghou Tiong tenang-tenang saja berdiri di samping dengan tetap memegang seruling.

"Maaf!"

Kata pemuda itu sambil membungkuk tubuh.

Nyatalah bahwa pertandingan ini kembali Ui Ciong-kong telah dikalahkan.

Hek-pek-cu bertiga sama melongo.

Mereka tahu betapa tinggi tenaga dalam Ui Ciong-kong boleh dikata adalah jago nomor satu atau nomor dua di dunia persilatan, sebelum mengasingkan diri sudah jarang ada tandingannya, apalagi sekarang sesudah giat berlatih selama belasan tahun, tentu ilmu pedangnya yang tak berbentuk itu jauh lebih maju dan lihai, siapa duga toh masih terjungkal di tangan seorang pemuda dari Hoa-san-pay.

Kejadian ini kalau tidak disaksikan sendiri tentu orang tidak mau percaya.

Dengan tersenyum getir kemudian Ui Ciong-kong membuka suara.

"Ilmu pedang Saudara Hong yang hebat ini sungguh belum pernah kulihat selama hidupku ini. Bahkan tenaga dalamnya juga sedemikian lihai, sungguh harus dipuji dan mengagumkan. Ilmu pedangku ‘Chit-hian-bu-heng-kiam’ tadinya kukira sudah tidak ada tandingannya di dunia ini, siapa tahu menjadi seperti permainan anak kecil saja bagi Saudara Hong."

"Wanpwe hanya bertahan sekuat tenaga saja, berkat Cianpwe yang telah berlaku murah hati padaku,"

Sahut Lenghou Tiong dengan rendah hati.

Ui Ciong-kong menghela napas panjang dan berduduk dengan lesu, terasa jerih payah latihannya selama ini ternyata sia-sia belaka, sungguh rasa masygulnya tidak kepalang.

Melihat itu, Lenghou Tiong menjadi tidak enak hati, pikirnya.

"Meski tampaknya Hiang-toako tidak ingin mereka mengetahui punahnya tenaga dalamku agar mereka tidak mempersukar maksudku hendak minta pengobatan kepada mereka. Tapi perbuatan seorang laki-laki sejati harus dilakukan dengan secara blakblakan dan terus terang, aku tidak boleh menarik keuntungan dari mereka dengan tiara demikian."

Maka ia lantas berkata.

"Toachengcu, ada satu hal harus kukatakan terus terang. Sesungguhnya, sebabnya aku tidak gentar kepada hawa pedangmu yang tak berwujud yang kau keluarkan dari suara kecapimu tadi, hal ini bukanlah karena lwekangku amat tinggi, tapi disebabkan pada diri Wanpwe pada hakikatnya sudah tidak punya tenaga dalam sedikit pun."

Ui Ciong-kong melengak dan berbangkit.

"Apa katamu!"

Ia menegas.

"Wanpwe pernah terluka dalam beberapa kali, tenaga dalam sudah punah semua, makanya tiada merasakan apa-apa dan timbul reaksi terhadap serangan suara kecapimu tadi,"

Sahut Lenghou Tiong lebih lanjut.

"Sungguh begitu?"

Tukas Ui Ciong-kong.

"Jika Cianpwe tidak percaya, silakan periksa nadiku, dan tentu akan segera mengetahui,"

Ujar Lenghou Tiong sambil mengulurkan tangan kanan.

Ui Ciong-kong, Hek-pek-cu, dan kawan-kawannya sama terheran-heran.

Mereka pikir kedatangan pemuda itu ke Bwe-cheng meski tidak terang-terangan menyatakan diri sebagai musuh, tapi pun juga agaknya tidak bermaksud baik.

Mengapa sekarang dia mau mengulurkan tangannya begitu saja, sebab cara demikian berarti menyerahkan nadi mematikan kepada pihak lawan.

Jika mendadak Ui Ciong-kong memencet hiat-to di pergelangan tangannya, maka biar setinggi langit kepandaiannya juga sukar dikeluarkan dan akan disembelih oleh pihak lawan sesuka hati.

Tadi Ui Ciong-kong telah mengeluarkan segenap kemahirannya dalam ilmu pedang tak berwujud dari suara kecapi yang lihai itu, tapi sedikit pun tidak dapat mengapa-apakan Lenghou Tiong, yang terakhir saking memuncak suara kecapinya itu bahkan ketujuh senar kecapinya sendiri lantas putus semua.

Kekalahan total demikian betapa pun membuatnya penasaran.

Sekarang Lenghou Tiong menjulurkan tangannya begitu saja, ia pikir jika kau hendak memancing tanganku, maka biarlah aku mengadu tenaga dalam sekali lagi dengan kau.

Maka perlahan-lahan ia lantas mengulurkan tangannya ke pergelangan tangan Lenghou Tiong.

Diam-diam ia sudah bersiap-siap dengan segenap ilmu memegang dan menangkap seperti "Hou-jiau-kim-na-jiau" (Ilmu Menangkap Cakar Macan).

"Liong-cau-kang" (Ilmu Cengkeraman Naga), dan lain-lain sebagainya. Dengan siaga demikian, tak peduli nanti pihak lawan akan main gila cara apa, paling sedikit ia takkan kecundang andainya ia pun tidak berhasil mencengkeram pergelangan tangan lawan itu. Tak tersangka, begitu jarinya sudah mencengkeram nadi pergelangan Lenghou Tiong, ternyata pemuda itu tetap diam-diam saja, sedikit pun tidak memberikan reaksi apa-apa. Baru saja Ui Ciong-kong merasa heran, segera dirasakan denyut nadi Lenghou Tiong teramat lemah, terkadang cepat dan terkadang lambat, jelas itulah tanda orang yang sudah tak bertenaga dalam lagi. Untuk sejenak Ui Ciong-kong sampai terlongong-longong. Tapi segera ia tertawa terbahak-bahak dan berseru.

"Ahahahaha! Kiranya demikian, kiranya demikian! Jadi aku telah tertipu olehmu, aku telah tertipu!"

Meski mulutnya menyatakan tertipu, tapi jelas sikapnya itu memperlihatkan rasa gembira luar biasa. Bab 69. Penjara di Bawah Danau Hendaknya maklum bahwa "pedang tak berwujud"

Yang dipancarkan dengan suara kecapi itu adalah semacam ilmu silat yang mahatinggi, kalau ilmu ini sampai digunakan, maka lawannya pasti seorang ahli silat yang hebat, betapa tinggi tenaga dalamnya tidak perlu dikatakan lagi, tenaga dalam lawan, semakin terasa pula reaksinya terhadap suara kecapi.

Tapi sama sekali tak terduga bahwa sama sekali Lenghou Tiong tidak mempunyai tenaga dalam sehingga "pedang tak berwujud"

Itu pun kehilangan daya gunanya.

Setelah mengalami kekalahan mestinya Ui Ciong-kong merasa putus asa.

Kemudian demi mengetahui sebab musabab kekalahannya itu bukan lantaran kepandaian yang kurang sakti, tapi karena lawan yang sama sekali tidak mempan akan pengaruh suara kecapinya itu, maka Ui Ciong-kong menjadi kegirangan luar biasa.

Tangan Lenghou Tiong dipegangnya erat-erat, katanya dengan tertawa.

"Sobat baik, sobat bagus! Tapi mengapa kau beri tahukan rahasiamu kepadaku?"

Dengan tertawa Lenghou Tiong menjawab.

"Tenaga dalam Wanpwe telah lenyap, hal ini sengaja dirahasiakan ketika bertanding tadi, sekarang Wanpwe mana berani menipu lagi?"

Ui Ciong-kong bergelak tertawa, katanya.

"Jika demikian, jadi aku punya pedang tak berwujud, tidaklah terlalu jelek. Yang kukhawatirkan hanya kalau kepandaianku itu benar-benar tak berguna sama sekali."

"Hong-heng, engkau telah sudi memberi tahu dengan jujur, sungguh kami bersaudara merasa sangat berterima kasih,"

Tiba-tiba Hek-pek-cu menyela.

"Tapi engkau apakah tidak tahu dengan terbongkarnya rahasiamu, bila kami bersaudara mau cabut nyawamu menjadi gampang sekali."

"Ucapan Jichengcu memang tidak salah,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Tapi Wanpwe percaya keempat Chengcu adalah kaum kesatria sejati, makanya mau bicara terus terang."

Di balik kata-katanya ini dimaksudkan kaum kesatria sejati tentu tidak sudi membalas kebaikan dengan cara pengecut.

"Benar, memang benar,"

Ucap Ui Ciong-kong.

"Hong-hengte, maksud tujuan kedatanganmu ke tempat kami ini silakan juga bicara terus terang. Biarpun baru kenal, tapi kita anggap seperti teman lama. Asalkan kami mampu pasti akan kami laksanakan untukmu."

"Tenaga dalam Hong-heng telah lenyap, kukira disebabkan terluka dalam yang parah,"

Sambung Hek-pek-cu.

"Aku mempunyai seorang sobat baik, ilmu pertabibannya mahasakti, cuma wataknya terlalu aneh dan tidak sembarangan menerima orang sakit. Namun mengingat hubungannya dengan aku mungkin akan mau mengobatimu."

"Ya, ‘Sat-jin-sin-ih’ Peng It-ci itu memang ...."

"O, tabib sakti Peng It-ci?"

Sela Lenghou Tiong sebelum Tut-pit-ong selesai bicara.

"Benar, apakah Hong-heng sudah pernah dengar namanya?"

Tanya Hek-pek-cu.

"Tabib Peng itu sudah meninggal dunia di Ngo-pah-kang di daerah Soatang pada beberapa bulan yang lalu,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Hah! Dia ... dia sudah meninggal dunia?"

Seru Hek-pek-cu kaget.

"Dia sanggup menyembuhkan penyakit apa pun juga, mengapa tidak mampu mengobati penyakitnya sendiri?"

Ujar Tan-jing-sing.

"Ah, dia terbunuh oleh musuhnya tentu?"

Lenghou Tiong menggeleng, terhadap kematian Peng It-ci dia masih sangat menyesal, katanya kemudian.

"Sebelum ajal Peng-tayhu masih sempat memeriksa nadi Wanpwe dan mengatakan penyakit Wanpwe ini sangat aneh dan mengakui beliau tidak sanggup mengobati."

Mendengar berita kematian Peng It-ci itu, Hek-pek-cu tampak sangat berduka, ia duduk termangu-mangu dan mengembeng air mata. Setelah berpikir sebentar, kemudian Ui Ciong-kong berkata.

"Hong-hengte, aku memberi suatu jalan yang sukar kupastikan, akan kubuatkan sepucuk surat, boleh kau bawa dan menemui Hong-ting Taysu, itu ketua Siau-lim-si sekarang, jika beliau sudi mengajarkanmu lwekang ‘Ih-kin-keng’ yang tiada bandingannya itu kepadamu, maka tenagamu pasti ada harapan akan pulih kembali. Mestinya ‘Ih-kin-keng’ adalah kepandaian Siau-lim-pay yang tidak diajarkan kepada orang luar, namun Hong-ting Taysu dahulu pernah utang budi padaku, bisa jadi dia akan mau menjual muka padaku."

Melihat tokoh yang diperkenalkan Hek-pek-cu dan Ui Ciong-kong itu memang sangat tepat, maksud mereka pun sangat sungguh-sungguh, hal ini menunjukkan kedua chengcu itu memang punya hubungan luas bahkan maksudnya juga sangat tulus.

Maka terima kasih sekali rasa hati Lenghou Tiong, jawabnya kemudian.

"Kepandaian sakti Ih-kin-keng itu hanya diajarkan kepada murid Siau-lim-pay melulu, sedangkan Wanpwe tidak dapat menjadi murid Siau-lim, hal ini jelas sulit dilaksanakan. Sudahlah, maksud baik para Chengcu akan kuingat selama hidup ini. Tentang mati-hidupku sudah suratan nasib dan terserah takdir. Sebaliknya lukaku ini telah membikin para Chengcu ikut khawatir, biar Wanpwe mohon diri saja."

"Nanti dulu!"

Tiba-tiba Ui Ciong-kong mencegah. Lalu ia masuk ke ruang dalam. Sejenak kemudian ia keluar kembali dengan membawa sebuah botol porselen kecil. Katanya.

"Ini adalah dua biji pil pemberian mendiang guruku, sangat bagus khasiatnya untuk menambah tenaga badan dan menyembuhkan penyakit. Sekarang kuberikan kepada Adik Hong sekadar kenang-kenangan perkenalan kita ini."

Dari sumbat botol itu Lenghou Tiong dapat menduga benda peninggalan guru Ui Ciong-kong itu pasti benda mestika yang tak ternilai. Maka cepat ia menjawab.

"Ah, penyakitku ini sudah sukar untuk disembuhkan, obat Cianpwe itu lebih baik disimpan saja untuk digunakan di kemudian hari."

Ui Ciong-kong berkata.

"Kami berempat sudah tidak pernah menginjak dunia Kangouw lagi dan tiada pernah bertempur dengan orang luar sehingga obat ini pun tiada gunanya. Kami berempat tidak punya anak murid, diberikan padamu juga kau tolak, maka terpaksa obat ini biar kubawa masuk ke liang kubur saja."

Mendengar ucapan yang mengharukan itu, terpaksa Lenghou Tiong menerimanya dengan ucapan terima kasih, lalu mohon diri.

Hek-pek-cu bertiga membawa Lenghou Tiong kembali ke ruang catur di bagian depan.

Dari air muka mereka berempat itu segera Hiang Bun-thian dapat menduga bahwa pertandingan pedang dengan toachengcu itu tentu dimenangkan lagi oleh Lenghou Tiong.

Sebab kalau Lenghou Tiong kalah, tentu begitu datang Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing akan terus minta barang taruhannya.

Namun begitu Hiang Bun-thian sengaja bertanya.

"Adik Hong, apakah Toachengcu telah sudi memberi petunjuk itu pedang padamu?"

"Wah, betapa tinggi kepandaian Toachengcu sungguh sukar diukur,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Untung tenaga dalam sudah lenyap sehingga tidak terpengaruh oleh suara kecapi Toachengcu yang dikeluarkan dengan tenaga dalam yang mahakuat itu."

Tiba-tiba Tan-jing-sing mendelik pada Hiang Bun-thian dan berkata.

"Hong-hengte ini adalah orang jujur, segala apa telah dikatakannya dengan terus terang. Kau bilang tenaga dalamnya jauh di atasmu sehingga toako kami tertipu olehmu."

"Dahulu sebelum tenaga dalam Hong-hiante lenyap memang jauh di atasku,"

Jawab Hiang Bun-thian dengan tertawa.

"Yang kukatakan kan dulu dan bukan sekarang."

"Hm, kau bukan manusia baik-baik,"

Jengek Tut-pit-ong.

"Jika Bwe-cheng tiada seorang pun yang mampu mengalahkan ilmu pedang Hong-hiante, maka sekarang juga kami mohon pamit,"

Kata Hiang Bun-thian kepada Hek-pek-cu sambil memberi hormat. Lalu katanya kepada Lenghou Tiong.

"Marilah kita berangkat saja."

Lenghou Tiong lantas memberi hormat juga kepada tuan-tuan rumah itu, katanya.

"Banyak terima kasih atas kebaikan para Chengcu yang telah sudi melayani kami. Kelak bila sempat tentu berkunjung lagi kemari."

"Hong-hiante,"

Kata Tan-jing-sing.

"setiap saat kau boleh datang kemari untuk minum-minum dengan aku. Adapun Tong-heng ini, hehe!"

"Ah, aku tidak dapat minum arak, sudah tentu tidak berani cari penyakit ke sini,"

Ujar Hiang Bun-thian dengan tersenyum.

Lalu ia memberi salam pula, tangan Lenghou Tiong lantas ditariknya dan diajak berangkat keluar.

Hek-pek-cu bertiga masih terus mengantar ke luar.

Hiang Bun-thian lantas mencegah, katanya.

"Ketiga Chengcu silakan tinggal saja, tak usah mengantar jauh-jauh."

"Hah, apa kau sangka kami mengantarmu?"

Jengek Tut-pit-ong.

"Yang kami antar adalah Hong-hengte dan bukan dirimu. Jika kau yang datang kemari satu langkah pun kami tidak sudi mengantar."

"O, kiranya begitu,"

Sahut Hiang Bun-thian tertawa.

Setelah mengantar jauh di luar pintu barulah Hek-pek-cu bertiga mengucapkan kata-tata perpisahan dengan Lenghou Tiong.

Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing hanya mendelik saja terhadap Hiang Bun-thian, rasanya kalau bisa mereka hendak merebut buntelan yang tersandang di gendongan Hiang Bun-thian itu.

Hiang Bun-thian tidak ambil pusing, ia gandeng tangan Lenghou Tiong dan melangkah pergi.

Sesudah agak jauh meninggalkan Bwe-cheng barulah ia tanya dengan tertawa.

"Pedang tak berwujud yang dibunyikan oleh kecapi Toachengcu itu sangat lihai, dengan cara bagaimanakah kau mengalahkan dia, adikku?"

"Kiranya segala apa sudah diketahui Toako sebelumnya,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Untung tenaga dalamku sudah hilang semua, kalau tidak saat ini mungkin jiwaku sudah melayang. Toako, apakah engkau mempunyai permusuhan dengan keempat chengcu itu?"

"Tidak, tidak ada permusuhan apa pun dengan mereka,"

Sahut Hiang Bun-thian.

"Bahkan sebelumnya aku tidak pernah bertemu muka dengan mereka, dari mana aku bisa bermusuhan dengan mereka?"

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seorang memanggil mereka.

"Tong-heng, Hong-heng, harap kalian kembali dulu!"

Waktu Lenghou Tiong menoleh terlihatlah sesosok bayangan orang secepat terbang melayang tiba.

Kiranya adalah Tan-jing-sing.

Sebelah tangan Tan-jing-sing membawa sebuah mangkuk arak malahan terisi lebih setengah mangkuk arak, tapi tidak tercecer setitik pun meski dibawa lari secepat ini, maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi ginkangnya.

Hiang Bun-thian lantas tanya.

"Ada apa lagi Sichengcu menyusul kemari?"

Tan-jing-sing berkata.

"Hong-hengte, aku masih simpan setengah botol Tiok-yap-jing yang sudah berumur lebih setengah abad, jika engkau tidak mencicipi tentu akan terasa sayang."

Habis berkata ia terus menyodorkan mangkuk arak yang dibawanya itu. Lenghou Tiong menerimanya, dilihatnya arak itu berwarna hijau tua, baunya harum dan keras.

"Benar-benar arak bagus!"

Pujinya. Segera ia minum seceguk dan memuji bagus pula, berturut-turut empat ceguk sehingga setengah mangkuk itu dihabiskan semua. Lalu katanya pula.

"Arak ini menimbulkan macam-macam rasa dan benar-benar arak termasyhur dari daerah Yangciu atau Tinkang."

"Benar, ini memang pemberian hwesio Kim-san-si di Lembah Tinkang,"

Kata Tan-jing-sing.

"Seluruhnya dia menyimpan enam botol dan dipandang sebagai pusaka kuilnya. Hong-hiante, di rumah aku masih ada beberapa jenis arak bagus, bagaimana kalau kau kembali ke sana untuk coba-coba menilainya?"

Memangnya Lenghou Tiong sudah punya kesan baik terhadap "Kanglam-si-yu", apalagi akan disuguh arak bagus, tentunya ia sangat senang.

Ia coba menoleh kepada Hiang Bun-thian, maksudnya ingin tahu pendapatnya.

"Hong-hiante, jika Sichengcu mengundangmu minum arak, maka bolehlah pergi saja,"

Kata Bun-thian.

"Adapun diriku, karena Samchengcu dan Sichengcu masih gemas jika melihat aku, maka sebaiknya aku tidak ikut, hehe ...."

"Kapan aku merasa gemas jika melihatmu?"

Sela Tan-jing-sing dengan tertawa.

"Sudahlah, ayo pergi bersama. Kau adalah saudara angkat Hong-hengte, berarti juga sahabatku. Ayo berangkat!"

Ketika Hiang Bun-thian hendak menolak lagi, namun Tan-jing-sing sudah lantas menggandeng tangannya dan tangan lain menarik Lenghou Tiong serunya tertawa.

"Ayolah berangkat, kita harus minum lagi beberapa mangkuk!"

Diam-diam Lenghou Tiong heran, ketika mohon diri tadi sikap Sichengcu ini rada ketus terhadap sang toako, mengapa sekarang dia begini simpatik?

Jangan-jangan dia masih mengincar tulisan dan lukisan di dalam buntelan sang toako sehingga sengaja mengatur tipu muslihat untuk merebutnya?

Setiba kembali di Bwe-cheng, ternyata Tut-pit-ong sudah menunggu di depan pintu, dengan girang ia menyambut.

"Bagus sekali! Lekas masuk lagi ke ruang catur!"

Tan-jing-sing lantas menyuguhkan macam-macam arak bagus kepada Lenghou Tiong.

Selama itu Hek-pek-cu ternyata tidak menampakkan diri.

Sementara itu hari sudah magrib, Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing seperti menanti seseorang, kerap kali mereka melirik keluar pintu.

Beberapa kali Hiang Bun-thian minta pamit lagi, tapi mereka selalu menahan dengan sungguh-sungguh.

Lenghou Tiong tidak menghiraukan semua itu, yang dia perhatikan hanya minum arak saja.

Kemudian Hiang Bun-thian berkata dengan tertawa.

"Bila kedua Chengcu tidak menjamu kami, tentu si tukang gegares seperti diriku akan kelaparan."

"O ya, benar!"

Seru Tut-pit-ong. Lalu ia berteriak.

"Ting-koankeh, lekas mengatur meja perjamuan!"

Terdengarlah Ting Kian mengiakan di luar pintu. Pada saat itulah tiba-tiba pintu didorong orang, Hek-pek-cu melangkah masuk. Katanya terhadap Lenghou Tiong.

"Hong-hengte, di perkampungan kami ini ada lagi seorang kawan lain yang ingin belajar kenal dengan ilmu pedangmu."

"Wah, kiranya Toako sudah meluluskan!"

Seru Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing berbareng sambil melonjak kegirangan. Mau tak mau Lenghou Tiong membatin.

"Untuk bisa bertanding pedang dengan aku orang itu harus minta izin dulu kepada toachengcu. Jadi mereka sengaja menahan kami di sini untuk makan minum, rupanya selama itu jichengcu sedang berunding dengan toachengcu dan akhirnya toachengcu meluluskan. Jika demikian orang itu kalau bukan anak murid toachengcu tentu adalah anak buahnya. Apa mungkin ilmu pedangnya bisa lebih tinggi daripada toachengcu sendiri?"

Tapi lantas terpikir pula olehnya.

"Wah, celaka. Kini mereka sudah tahu tenaga dalamku telah lenyap sama sekali, mereka menjaga harga diri dan tidak enak untuk membikin susah padaku. Tapi sekarang kalau mereka mengajukan seorang anak murid atau anak buahnya untuk bergebrak dengan aku, asalkan dia mengerahkan tenaga dalam bukankah seketika jiwaku bisa melayang?"

Namun kemudian terpikir lagi olehnya.

"Tapi keempat chengcu ini adalah kaum kesatria yang jujur dan mulia mana bisa mereka melakukan perbuatan serendah itu? Hanya saja para chengcu ini sangat mengiler terhadap tulisan dan lukisan yang diperlihatkan Hiang-toako, lebih-lebih jichengcu yang tampaknya tenang-tenang tapi terhadap problem catur yang disebut Toako itu pun dia sangat terpesona, untuk mendapatkan barang-barang yang mereka inginkan bukan mustahil mereka akan melakukan hal-hal yang tak terduga."

Begitulah dalam sekejap itu timbul macam-macam pikiran dan pendapat dalam benak Lenghou Tiong. Maka terdengar Hek-pek-cu berkata.

"Hong-hengte, silakan kau suka bertanding sekali lagi."

"Ah, kalau bicara tentang kepandaian sejati Wanpwe sekali-kali bukan tandingan Samchengcu dan Sichengcu apalagi Jichengcu dan Toachengcu. Soalnya para Cianpwe rupanya cocok dengan kegemaranku maka para Cianpwe telah sudi mengalah padaku. Padahal sedikit permainanku yang kasar ini tidak perlu dipertunjukkan lagi."

"Hong-hengte,"

Kata Tan-jing-sing.

"ilmu silat orang itu dengan sendirinya jauh lebih tinggi daripadamu, tapi jangan takut, dia ...."

"Dia adalah seorang ahli pedang kaum cianpwe di perkampungan kami ini,"

Sela Hek-pek-cu.

"Ketika mendengar ilmu pedang Hong-hengte sedemikian hebat betapa pun dia ingin coba-coba ilmu pedangmu. Maka diharap Hong-hengte sudi bertanding satu babak lagi."

Lenghou Tiong merasa serbasusah, ia pikir jika mesti bertanding lagi bukan mustahil akan terpaksa melukai lawan sehingga jadinya akan bermusuhan dengan Kanglam-si-yu.

Maka dengan rendah hati ia menjawab.

"Keempat Chengcu teramat baik terhadapku, jika mesti bertanding lagi, entah bagaimana perangai Cianpwe itu, kalau sampai terjadi apa-apa kan bisa membikin rusak persahabatan kita ini."

Dengan tertawa Tan-jing-sing berkata.

"Tidak menjadi soal, bagaimanapun juga ...."

"Bagaimanapun juga kami berempat pasti tidak akan menyalahkan Hong-hengte,"

Demikian Hek-pek-cu memotong lagi.

"Baiklah, apa alangannya bertanding lagi satu kali,"

Ujar Hiang Bun-thian.

"Tapi aku ada sedikit urusan dan tidak bisa tinggal lebih lama di sini, biarlah aku berangkat lebih dulu. Hong-hengte, kita berjumpa lagi di Kuiciu."

"He, mana boleh kau pergi lebih dahulu?"

Seru Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing berbareng.

"Kau boleh pergi asalkan tinggalkan tulisan Thio Kiu itu,"

Tut-pit-ong menambahkan.

"Ya, jika Hong-hiante kalah nanti, lalu ke mana kami mencarimu untuk minta barang taruhanmu? Tidak, tidak boleh! Kau harus tinggal lagi sebentar,"

Kata Tan-jing-sing.

"Ting-koankeh, lekas siapkan perjamuan!"

Hek-pek-cu lantas berkata juga.

"Hong-hiante, marilah pergi bersamaku. Tong-heng silakan dahar dulu di sini, sebentar saja kami akan kembali ke sini."

Hiang Bun-thian menggeleng kepala, jawabnya.

"Untuk pertandingan ini jelas kalian bertekad harus menang. Padahal jika aku tidak ikut mengawasi pertandingan ini tentu kami akan merasa penasaran andaikan akhirnya Hong-hengte kalah."

"Apa maksud ucapan Tong-heng ini?"

Tanya Hek-pek-cu.

"Memangnya kau sangka kami akan pakai tipu muslihat?"

"Bahwasanya keempat Chengcu adalah kesatria sejati memang sudah lama kukagumi, maka sepenuhnya aku dapat percaya pada kalian,"

Sahut Bun-thian.

"Cuma yang akan bertanding dengan Hong-hiante adalah seorang lain lagi, sesungguhnya aku pun tahu bahwa orang itu serupa dengan para Chengcu juga kesatria sejati, maka terus terang aku tidak perlu merasa khawatir."

"Nama dan ilmu silat orang itu kalau dibandingkan kami berempat boleh dikata lebih tinggi dan tidak lebih rendah,"

Kata Tan-jing-sing.

"Tokoh Bu-lim yang nama dan kepandaian dapat menandingi keempat Chengcu boleh dikata dapat dihitung dengan jari, rasanya pasti kukenal namanya,"

Ujar Hiang Bun-thian.

"Tapi nama orang ini tidak leluasa untuk dikatakan padamu,"

Sela Tut-pit-ong.

"Jika begitu aku harus ikut menyaksikan pertandingan itu, kalau tidak biarlah pertandingan ini dibatalkan saja,"

Ucap Bun-thian.

"Kenapa engkau begitu kukuh?"

Ujar Tan-jing-sing.

"Kukira kehadiran Tong-heng nanti hanya akan merugikan kau sendiri dan tiada manfaatnya. Orang itu sudah lama hidup menyepi dan tidak suka orang luar melihat wajahnya."

"Jika demikian lantas cara bagaimana Hong-hiante akan bertanding pedang dengan dia?"

Tanya Bun-thian.

"Kedua pihak sama-sama memakai kedok, hanya kelihatan mata masing-masing sehingga tidak saling kenal lagi,"

Kata Hek-pek-cu.

"Apakah ketiga Chengcu juga memakai kedok?"

Bun-thian menegas.

"Benar,"

Sahut Hek-pek-cu.

"Watak orang itu teramat aneh, kalau tidak, dia tak mau bertanding."

"Kalau begitu biarlah aku juga memakai kedok saja,"

Kata Bun-thian. Untuk sejenak Hek-pek-cu menjadi ragu, akhirnya berkata.

"Jika Tong-heng berkeras ingin ikut menyaksikan, ya terpaksa begitulah caranya. Cuma Tong-heng harus berjanji bahwa dari mula sampai akhir sedikit pun tidak boleh bersuara."

"Hanya membisu saja kan gampang,"

Ujar Hiang Bun-thian tertawa.

Begitulah Hek-pek-cu lantas mendahului jalan di depan disusul Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong, Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing berada paling belakang.

Lenghou Tiong ingat jalan yang diambil itu adalah menuju ke tempat toachengcu mereka.

Benar juga, setiba di luar kamar toachengcu, Hek-pek-cu lantas mengetuk pintu perlahan, lalu mendorong daun pintu dan melangkah ke dalam.

Ternyata di dalam kamar sudah ada seorang yang memakai kerudung kain hitam, dilihat dari pakaiannya jelas adalah Ui Ciong-kong.

Hek-pek-cu mendekati Ui Ciong-kong dan bisik-bisik di telinganya.

Ui Ciong-kong tampak menggeleng-geleng, agaknya dia tidak setuju kalau Hiang Bun-thian ikut serta.

Hek-pek-cu bisik-bisik pula sejenak, tapi Ui Ciong-kong tetap menggeleng kepala.

Akhirnya Hek-pek-cu manggut-manggut dan berpaling kepada Hiang Bun-thian, katanya.

"Toako berpendapat bahwa soal pertandingan adalah soal kecil, tapi kalau sampai sobat itu marah, inilah yang tidak enak. Karena itulah lebih baik pertandingan ini dianggap batal saja."

Kelima orang lantas memberi hormat kepada Ui Ciong-kong dan mohon diri keluar kamar.

"Tong-heng,"

Demikian Tan-jing-sing berkata dengan marah-marah.

"kau ini memang orang aneh. Apa kau khawatir kami akan mengerubut Hong-hengte ini sehingga kau harus ikut menyaksikan di samping? Sekarang pertandingan yang mestinya sangat menarik menjadi gagal sama sekali, sungguh sangat mengecewakan."

"Jiko telah berusaha dengan susah payah dan akhirnya barulah Toako meluluskan tapi kaulah yang mengacau sehingga gagal,"

Omel Tut-pit-ong.

"Ya, sudahlah, biar aku mengalah saja, aku takkan ikut menyaksikan pertandingan ini,"

Kata Hiang Bun-thian dengan tertawa.

"Tapi kalian harus berlaku seadil-adilnya, tidak boleh mengakali Hong-hiante."

Hek-pek-cu bertiga menjadi girang berbareng mereka menjawab.

"Memangnya kau sangka kami ini orang macam apa? Mana bisa kami mengakali Hong-hengte segala?"

"Baiklah, aku akan menunggu di ruang catur,"

Kata Bun-thian.

"Hong-hiante, tampaknya mereka entah sedang main sandiwara apa, hendaknya kau hati-hati dan penuh waspada."

"Setiap penghuni Bwe-cheng sini adalah orang berbudi, mana bisa mereka berbuat sesuatu secara licik,"

Ujar Lenghou Tiong tertawa.

"Benar,"

Tukas Tan-jing-sing.

"memangnya kau sangka Hong-hengte ini seperti dirimu mengukur orang lain seperti dirimu?"

Tapi sesudah bertindak pergi beberapa langkah tiba-tiba Hiang Bun-thian menoleh dan memanggil.

"Hong-hiante, coba kemari, aku harus memberi petunjuk padamu supaya tidak masuk perangkap orang."

Diam-diam Lenghou Tiong membatin.

"Hiang-toako juga terlalu hati-hati, aku toh bukan anak umur tiga masakah begitu gampang ditipu."

Tapi dengan tertawa didekati juga Hiang Bun-thian.

Ketika Hiang Bun-thian menarik tangan Lenghou Tiong, segera pemuda itu merasa sang toako itu menjejalkan sesuatu pada telapak tangannya, rasanya seperti gulungan kertas tapi di dalamnya ada sesuatu benda keras.

Dengan tertawa Hiang Bun-thian pura-pura menarik Lenghou Tiong lebih dekat, lalu membisikkannya.

"Sesudah bertemu orang itu nanti bolehlah kau beramah tamah dan menjabat tangan sembari menjejalkan benda dalam gulungan kertas ini kepadanya. Hal ini menyangkut urusan mahapenting hendaknya kau jangan lalai. Haha, haha!"

Nada ucapan itu sangat prihatin dan sungguh-sungguh, tapi air mukanya tetap menampilkan senyuman, bahkan gelak tawa yang terakhir itu sama sekali tiada sangkut pautnya dengan kalimat ucapannya itu.

Namun begitu Hek-pek-cu bertiga menyangka Hiang Bun-thian telah mengucapkan kata-kata yang mencemoohkan mereka.

Segera Tan-jing-sing berkata.

"Apa yang kau tertawakan? Biarpun ilmu pedang Hong-hengte sangat tinggi, tapi bagaimana dengan ilmu pedang Tong-heng sendiri kan kami belum lagi belajar kenal."

"Ilmu pedangku hanya biasa saja, tidak perlu belajar kenal segala,"

Sahut Hiang Bun-thian tertawa, habis itu ia terus melangkah ke ruang luar.

"Marilah kita pergi menemui Toako pula,"

Ajak Tan-jing-sing dengan gembira.

Segera mereka berempat menuju lagi ke kamar Ui Ciong-kong.

Rupanya Ui Ciong-kong tidak menduga bahwa mereka akan datang kembali sehingga kerudung kepalanya tadi sudah dicopot.

"Toako,"

Kata Hek-pek-cu.

"Tong-heng itu telah kami bujuk dan bersedia membatalkan niatnya untuk ikut serta menonton pertandingan."

"Baiklah kalau begitu,"

Sahut Ui Ciong-kong. Segera ia ambil lagi kerudung kain hitam tadi dan dipakai.

"Jite, bawalah dua pedang kayu ke bawah,"

Kata Ui Ciong-kong kepada Hek-pek-cu. Segera Hek-pek-cu membuka sebuah lemari kayu dan mengeluarkan dua senjata kayu yang dimaksud. Diam-diam Lenghou Tiong heran.

"Mengapa dia bilang ke bawah? Apa barangkali orang itu bertempat tinggal di suatu tempat yang rendah?"

"Hong-hengte,"

Kata Ui Ciong-kong kepada Lenghou Tiong.

"marilah kita pergi menemui seorang kawan untuk mengukur ilmu pedangmu. Mengenai pertandingan ini, tak peduli siapa yang kalah atau menang, diharap satu kata pun jangan kau beri tahukan kepada orang luar."

"Sudah tentu,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Wanpwe sudah menyatakan bahwa kedatangan kemari sekali-kali bukan mencari nama maka tiada alasanku buat sembarangan mengoceh di luaran. Apalagi Wanpwe lebih banyak kalah daripada menang, apa yang perlu kukatakan."

"Soal kalah atau menang belumlah pasti, tapi aku percaya Hong-hengte akan pegang janji dan takkan disiarkan keluar,"

Kata Ui Ciong-kong.

"Cuma apa yang kau lihat selanjutnya juga diharap jangan menyinggungnya bahkan Tong-heng pun jangan kau beri tahu, apakah hal ini dapat kau janji?"

"Sampai Tong-heng juga tidak boleh diberi tahu?"

Lenghou Tiong menegas.

"Padahal sesudah bertanding nanti tentu dia akan tanya ini dan itu, jika aku tutup mulut tanpa memberi keterangan apa-apa kan rasanya tidak pantas sebagai teman."

"Tong-heng itu pun seorang Kangouw kawakan, jika dia mengetahui Hong-hengte sudah berjanji padaku, seorang laki-laki sejati mana boleh ingkar janji, dia tentu tidak akan paksa kau bicara,"

Ujar Ui Ciong-kong.

"Ya, betul juga, baiklah aku terima,"

Kata Lenghou Tiong sambil mengangguk.

"Banyak terima kasih atas kebaikan hati Hong-hengte,"

Kata Ui Ciong-kong.

"Marilah, silakan!"

Segera Lenghou Tiong putar tubuh hendak menuju ke luar, tapi Tan-jing-sing telah mencegahnya dan menuding ke dalam ruangan malah, katanya.

"Ke dalam sana!"

Keruan Lenghou Tiong melengak, sungguh ia tidak mengerti mengapa menuju ke ruang dalam malah? Tapi segera ia sadar.

"Ah, benarlah! Orang yang akan bertanding dengan aku kiranya seorang wanita, bisa jadi adalah istri toachengcu atau selir atau gundiknya, sebab itulah mereka berkeras tidak mengizinkan Hiang-toako ikut menonton di samping. Pula diharuskan memakai kerudung agar tidak dapat melihat muka lawan dan pihak lawan juga tidak dapat melihat wajahku, hal ini tentu disebabkan untuk menjaga adat kebiasaan antara kaum pria dan wanita."

Bab 70.

Kakek Aneh di Dalam Penjara Terpikir demikian segera macam-macam kesangsiannya tadi lantas lenyap, tapi ketika tangannya merasakan benda kecil keras yang terbungkus dalam gulungan kertas itu segera terpikir lagi olehnya.

"Tampaknya Hiang-toako sudah mengetahui aku akan bertanding pedang dengan wanita itu. Lantaran dia sendiri tidak boleh ikut terpaksa aku akan disuruh menyampaikan benda atau surat ini. Kukira di balik ini tentu ada urusan percintaan. Meski Hiang-toako adalah saudara angkatku, tapi keempat chengcu sangat baik hati padaku, jika aku menyampaikan benda ini rasanya berdosa kepada para chengcu itu. Lalu bagaimana baiknya ini? Usia Hiang-toako dan para chengcu itu sudah 50-60 tahun, tentunya wanita itu pun tidak muda lagi, andaikan ada urusan percintaan juga peristiwa pada puluhan tahun berselang andaikan aku menyampaikan surat ini rasanya juga takkan merusak nama baik wanita itu."

Sementara ia menimbang-nimbang, tahu-tahu mereka sudah melangkah masuk ke ruang dalam.

Di ruangan hanya terhadap sebuah meja dan sebuah tempat tidur, sangat sederhana sekali keadaan kamar itu.

Kelambu tempat tidur pun tampak sudah kekuning-kuningan, sudah tua.

Di atas meja tertaruh kecapi pendek, warnanya hitam mulus seperti buatan dari besi.

Lenghou Tiong menduga segala sesuatu ini agaknya memang sudah diatur Hiang Bun-thian lebih dulu.

Jika demikian cintanya terhadap wanita itu, apa salahnya aku membantu dia menyampaikan sekadar isi hatinya ini?

Sebabnya Hiang-toako melepaskan diri dari Mo-kau dan bahkan tidak sayang bermusuhan dengan sang kaucu dan kawan-kawan seagamanya, besar kemungkinan ada hubungannya dengan bekas kekasihnya ini.

Dalam pada itu Ui Ciong-kong telah menyingkap kelambu dan mengangkat kasur tempat tidurnya, lalu papan ranjang itu dibongkar pula, di bawahnya ada sepotong papan dan gelang tembaga, ketika gelang tembaga ditarik ke atas, sepotong papan besi sebesar satu meter persegi lantas terangkat dan terlihatlah sebuah lubang di bawahnya.

Setelah menaruh papan besi yang berat itu di lantai, lalu Ui Ciong-kong berkata.

"Tempat tinggal orang itu rada aneh, silakan Hong-hengte ikut padaku."

Habis berkata ia terus melompat ke dalam lubang itu, tanpa ragu Lenghou Tiong ikut melompat masuk.

Terlihat di bawah situ juga ada sebuah pelita minyak yang remang-remang, ternyata di mana mereka berada itu seperti sebuah lorong bawah tanah.

Segera Lenghou Tiong ikut Ui Ciong-kong menuju ke depan.

Sementara itu Hek-pek-cu bertiga berturut-turut juga sudah melompat masuk.

Kira-kira belasan meter jauhnya, di depan tampak sudah buntu.

Ui Ciong-kong lantas mengeluarkan serenceng kunci, sebuah kunci dimasukkan ke sebuah lubang dan diputar beberapa kali lalu didorongnya.

Maka terdengarlah suara keriang-keriut, sebuah daun pintu batu perlahan terbuka.

Begitu besar pintu batu itu, tebalnya ada setengah meteran, keruan Lenghou Tiong semakin menaruh simpatik terhadap Hiang Bun-thian, pikirnya.

"Mereka mengurung seorang wanita di bawah tanah dengan cara demikian terang tak bisa dibenarkan. Keempat chengcu itu tampaknya adalah manusia-manusia berbudi, mengapa berbuat sekeji ini?"

Ia terus ikut Ui Ciong-kong masuk ke pintu batu itu, jalan lorong itu menyerong terus ke bawah, kira-kira belasan meter jauhnya kembali mereka berhadapan dengan sebuah pintu.

Ui Ciong-kong mengeluarkan kunci lagi dan pintu itu lantas terbuka.

Sekali ini pintu itu ternyata pintu besi yang amat tebal.

Keadaan jalanan tampak terus menurun ke bawah, mungkin saat itu mereka sudah berada beberapa puluh meter di bawah tanah.

Setelah membelok beberapa kali kembali tampak sebuah pintu lagi.

Diam-diam Lenghou Tiong merasa keempat chengcu yang tampaknya berbudi luhur itu ternyata tidak berperikemanusiaan.

Tadinya sama sekali ia tidak menaruh curiga apa-apa, tapi sekarang mau tak mau timbul rasa waspadanya, jangan-jangan mereka sengaja memancing dirinya ke penjara di bawah tanah ini untuk mengurungnya.

Namun begitu dirinya sekarang sudah masuk perangkap, apa yang dapat diperbuatnya?

Pintu ketiga itu ternyata dibuat lapis empat, di balik pintu besi adalah sebuah pintu kayu yang diberi lapisan kapuk, di belakangnya pintu besi lagi lalu pintu kayu penuh kapuk pula.

Lenghou Tiong menjadi heran pikirnya.

"Mengapa dua lapis pintu besi mesti diseling dua lapis pintu kayu berlapis kapuk? Ah, mungkin lwekang orang yang dikurung di sini ini sangat lihai, lapisan kapuk ini digunakan untuk menghapus tenaga pukulannya agar tidak mampu membobol pintu dan melarikan diri."

Untuk puluhan meter selanjutnya tidak tampak pintu lagi, jalan lorong itu masih panjang rasanya, sampai agak jauh baru ada sebuah pelita minyak ada pula, pelita minyak yang sudah padam sehingga keadaan menjadi gelap dan terpaksa harus berjalan dengan menggagap-gagap, belasan meter kemudian barulah tampak sinar pelita pula.

Lenghou Tiong merasa hawa di jalan lorong itu sangat menyesakkan, dinding dan tanah di bawah kaki rasanya basah-basah lembap.

Sekonyong-konyong teringat sesuatu olehnya.

"Ah, perkampungan Bwe-cheng itu berada di tepi danau, sekarang jalan lorong di bawah tanah sudah sekian jauhnya, mungkin sekali sudah berada di dasar danau. Seorang dikurung di bawah danau dengan sendirinya sukar meloloskan diri. Andaikan orang luar hendak menolongnya juga tidak dapat, bila mesti membobol penjara tentu juga akan mati terbenam air danau."

Setelah beberapa meter pula ke depan, mendadak jalan lorong itu menyempil, untuk bisa berjalan ke depan harus membungkuk tubuh.

Makin ke depan makin membungkuk.

Samar-samar Lenghou Tiong mendengar omelan Tan-jing-sing yang menyusul di belakangnya, mungkin karena tubuhnya tinggi besar sehingga tidaklah leluasa untuk berjalan dengan membungkuk tubuh.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba Ui Ciong-kong berhenti, menyusul terdengarlah suara "tang-tang-tang"

Beberapa kali, agaknya dengan sesuatu benda dia mengetuk sayap pintu.

Sejenak kemudian terdengar pula suara putaran kunci, lalu sebuah pintu besi berdering.

Ui Ciong-kong mengetik api dan menyalakan pelita minyak yang tergantung di dinding.

Di bawah sinar pelita yang remang-remang kelihatan di atas sebuah pintu besi di depan terdapat sebuah lubang seluas belasan senti persegi.

Agaknya pintu besi kecil inilah jalan untuk menyampaikan makanan dan lain keperluan.

"Yim-heng,"

Segera Ui Ciong-kong berseru ke dalam lubang persegi itu.

"kami berempat saudara datang menjenguk engkau."

Lenghou Tiong melengak, pikirnya.

"Mengapa Toachengcu menyebut dia Yim-heng (Saudara Yim)? Jadi orang yang terkurung di sini bukanlah kaum wanita."

Ternyata seruan Ui Ciong-kong tadi tidak mendapat jawaban apa-apa. Maka ia lantas berkata lagi.

"Yim-heng, sudah lama sekali kami tidak menjenguk dirimu, harap dimaafkan. Hari ini kami sengaja datang untuk memberitahukan sesuatu urusan penting."

Tiba-tiba suara seorang yang serak-serak berat mendamprat.

"Persetan, ada urusan penting apa segala, mau kentut lekas kentut, kalau tidak kentut lekas enyah sana!"

Kejut dan heran pula Lenghou Tiong, macam-macam dugaannya semula dalam sekejap batal semuanya.

Dari suara orang itu dengan jelas diketahui bahwa orang itu bukan saja sudah tua, bahkan kata-katanya kasar dan bukan seorang terpelajar.

Maka terdengar Ui Ciong-kong berkata.

"Dahulu kami menyangka di dunia ini hanya Yim-heng seorang adalah jago pedang nomor satu siapa tahu hal ini ternyata tidak benar. Hari ini juga kami kedatangan seorang, bukan saja kami berempat saudara bukan tandingannya, bahkan ilmu pedang Yim-heng jika dibandingkan dia juga mirip si cebol ketemu raksasa."

Terdengar orang itu bergelak tertawa dan berkata.

"Ui Ciong-kong kalian berempat anak jadah sudah kalah bertanding sekarang kalian mengundang dia untuk bertanding dengan aku dengan tujuan aku yang membereskan lawan kalian yang tangguh ini bukan? Hahaha, jangan mimpi muluk-muluk. Sayang sudah 20-an tahun aku tidak memegang pedang sehingga sudah lama ilmu pedangku terlupa semua. Nah, anak jadah, lekas cawat ekormu dan enyah saja dari sini."

Alangkah terperanjatnya Lenghou Tiong, pikirnya.

"Sungguh cerdik luar biasa orang ini dan dugaannya ternyata sangat jitu, begitu mendengar ucapan Ui Ciong-kong lantas diketahui apa maksud tujuan orang, sungguh seorang tokoh Kangouw yang jarang ada."

Tiba-tiba Hek-pek-cu menimbrung.

"Toako, memangnya Yim-siansing sekali-kali bukan tandingan orang ini. Dengan tegas dia menyatakan bahwa di Bwe-cheng ini tiada seorang pun yang mampu mengalahkan dia, hal ini ternyata memang tepat. Sudahlah, kita tidak perlu banyak omong lagi dengan Yim-siansing."

"Huh, apa gunanya kau membakar-bakar hatiku?"

Dengus orang she Yim itu.

"Memangnya kau sangka aku sudi bekerja untuk anak-anak jadah seperti kalian ini?"

"Toako,"

Kata Hek-pek-cu pula seperti bercakap-cakap dengan Ui Ciong-kong.

"kabarnya ilmu pedang orang ini adalah ajaran asli Hong Jing-yang Losiansing sendiri. Kita tahu Yim-siansing berjuluk ‘Kian-hong-gi-te’ (Melihat Hong Lantas Lari). Dan ‘Hong’ yang dimaksud itu tak-lain tak-bukan adalah Hong-losiansing. Entah benar tidak hal ini?"

Keruan orang she Yim itu berkaok-kaok murka, ia mencaci maki.

"Kentut makmu busuk!"

Tapi Tan-jing-sing lantas menyambung.

"Ah, ucapan Jiko tadi agak salah."

"Di mana letak salahnya?"

Tanya Hek-pek-cu.

"Engkau salah omong satu huruf,"

Kata Tan-jing-sing.

"Julukan Yim-siansing bukan ‘Kian-hong-gi-te’ (Melihat Hong Lantas Kabur). Coba kau pikir, jika Yim-siansing melihat Hong-losiansing baru lari tentu tidak keburu lagi dan Hong-losiansing tidak nanti mau membiarkan dia kabur begitu saja. Hanya kalau mendengar nama Hong-losiansing dan segera lari barulah Yim-siansing masih ada harapan lolos seperti ...."

"Seperti ikan lolos dari jaring!"

Sambung Tut-pit-ong. Tapi orang she Yim itu ternyata tidak marah, sebaliknya malah tertawa.

"Hahaha, rupanya anak-anak jadah telah kepepet dan dalam keadaan tak berdaya baru ingat pada diriku. Tapi kalau aku begitu gampang ditipu kalian bukanlah orang she Yim lagi."

"Ai, Hong-hengte,"

Kata Hek-pek-cu dengan menghela napas seperti orang gegetun.

"rupanya begitu mendengar namamu, Yim-siansing sudah lantas ketakutan setengah mati. Maka pertandingan ini tidak perlu dilangsungkan lagi, biarlah kami mengakui ilmu pedangmu memang nomor satu di dunia ini."

Walau sekarang diketahui orang itu bukan wanita seperti dugaan Lenghou Tiong semula, tapi melihat penjara yang begitu ketat, terang orang she Yim itu sudah sangat lama dikeram di situ, tanpa terasa timbul juga rasa simpatik Lenghou Tiong.

Dari ucapan Ui Ciong-kong dan Hek-pek-cu tadi dapat diduga ilmu silat orang she Yim ini pasti sangat tinggi, maka cepat ia menjawab kata-kata Hek-pek-cu tadi.

"Ucapan Jichengcu kurang tepat. Dahulu bila Hong-losiansing membicarakan ilmu pedang padaku, beliau selalu memuji terhadap ... terhadap Yim-losiansing ini, katanya soal ilmu pedang di zaman ini hanya Yim-losiansing seorang saja yang dikagumi oleh beliau. Wanpwe dipesan bila kelak ada kesempatan bertemu dengan Yim-losiansing diharuskan mohon petunjuk padanya dengan segala ketulusan hati dan segala kehormatan."

Kata-kata Lenghou Tiong ini membikin Ui Ciong-kong berempat sama melengak. Sebaliknya orang she Yim itu sangat senang, ia tertawa terbahak dan berkata.

"Sobat cilik, ucapanmu sangat tepat. Hong Jing-yang memang bukan kaum keroco, hanya dia saja yang kenal kebagusan ilmu pedangku."

"Apa Hong ... Hong-losiansing mengetahui dia berada ... berada di sini?"

Tanya Ui Ciong-kong ragu. Sudah telanjur membual, segera Lenghou Tiong menambahkan lagi.

"Hong-losiansing mengira Yim-losiansing telah mengasingkan diri di pegunungan. Beliau sering menyebut Yim-losiansing tatkala mengajar ilmu pedang padaku, katanya jurus-jurus ilmu pedang beliau khusus diciptakan untuk melawan ahli waris Yim-losiansing. Katanya kalau di dunia tidak ada Yim-losiansing, pada hakikatnya tidak perlu meyakinkan ilmu pedang yang begini ruwet."

Kini Lenghou Tiong sudah rada kurang senang terhadap keempat chengcu itu, maka ucapannya ini rada berbau mengolok-olok.

Ia pikir orang she Yim ini adalah seorang kesatria, tapi telah dikeram di tempat yang mirip neraka ini, tentu dia kena disergap secara pengecut.

Maka betapa licik dan rendah perbuatan keempat chengcu dapatlah dibayangkan.

Begitulah lantas terdengar orang she Yim itu berkata.

"Betul, sobat cilik. Hong Jing-yang memang punya pandangan tajam, kau yang telah mengalahkan semua manusia kerdil di Bwe-cheng ini bukan?"

Lenghou Tiong menjawab.

"Ilmu pedangku adalah ajaran Hong-losiansing sendiri, kecuali engkau Yim-losiansing atau ahli warismu, orang biasa sudah tentu bukan tandinganku."

Ucapan ini lebih jelas lagi menilai rendah Ui Ciong-kong berempat.

Soalnya makin dipikir ia semakin gemas terhadap para chengcu itu, sebab setelah berada sebentar saja di penjara di bawah tanah yang lembap itu rasanya sudah demikian tersiksa, apalagi seorang kesatria besar telah dikurung sekian tahun lamanya, sungguh perbuatan yang teramat kejam.

Sudah tentu Ui Ciong-kong berempat juga merasa sangat tersinggung demi mendengar ucapan Lenghou Tiong itu.

Tapi mereka berempat memang benar juga telah bertanding sehingga terpaksa tidak dapat bicara lain.

"Bagus, bagus,"

Demikian orang she Yim itu merasa senang.

"Sobat cilik, sedikitnya kau telah melampiaskan rasa dongkolku terhadap anak-anak jadah itu. Eh, cara bagaimana kau mengalahkan mereka?"

"Orang Bwe-cheng pertama yang bertanding dengan aku adalah seorang sobat she Ting, namanya Ting Kian dengan julukan ‘It-ji-tian-kiam’ segala,"

Tutur Lenghou Tiong.

"O, ilmu pedang orang she Ting ini cuma kebanggaan belaka dan tiada gunanya,"

Kata orang she Yim.

"Dia cuma menggertak orang dengan sinar pedangnya dan tiada punya kepandaian sejati. Pada hakikatnya kau tidak perlu menyerang dia, asalkan acungkan pedangmu tentu dia akan mengangsurkan jari tangannya ke pedangmu dan akan tertebas kutung sendiri."

Kelima orang sama terkejut mendengar uraiannya itu sehingga sama melongo.

"Bagaimana? Apa salah ucapanku?"

Orang itu bertanya.

"Sungguh jitu sekali ucapanmu seakan-akan ikut menyaksikan sendiri,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Bagus, jadi lima jarinya atau tapak tangannya yang terkutung?"

Tanya pula orang itu.

"Wanpwe telah miringkan sedikit mata pedangku,"

Kata Lenghou Tiong.

"Ah, salah, salah! Terhadap musuh mana boleh berlaku sungkan,"

Ujar orang itu.

"Hati bajik dan luhur budimu, kelak kau tentu akan rugi sendiri. Dan siapa orang kedua yang bertanding denganmu."

"Sichengcu,"

Jawab Lenghou Tiong.

"O, ilmu pedang Losi (Si Empat) sudah tentu lebih tinggi daripada orang she Ting itu. Setelah melihat caramu mengalahkan Ting Kian, begitu maju tentu Losi akan mengeluarkan ilmu pedangnya yang disebut ‘Boat-bak-moa-kiam-hoat’ segala dengan jurus-jurus ‘Pek-hong-koan-jit’, ‘Ting-liong-ki-hong’, dan entah apa lagi."

Tan-jing-sing tambah terkesiap mendengar ilmu pedang kebanggaannya itu dengan tepat diuraikan orang.

"Ilmu pedang Sichengcu memang terhitung hebat juga,"

Kata Lenghou Tiong.

"Cuma waktu menyerang banyak pula lubang-lubang kelemahannya."

"Hahaha,"

Orang itu tertawa.

"Sebagai ahli waris Hong Jing-yang kau memang mempunyai pandangan luas. Dalam ilmu pedangnya itu ada satu jurus yang disebut ‘Giok-liong-to-koan’ segala, begitu maju terus membacok. Tapi kebentur pada ahli waris Hong Jing-yang tentu dia akan mati kutu, asalkan pedangmu menebas melalui batang pedangnya tentu kelima jarinya akan terpapas."

"Taksiran Cianpwe benar-benar sangat jitu, memang pada jurus itulah Wanpwe telah mengalahkan dia,"

Kata Lenghou Tiong.

"Cuma Cianpwe tiada punya permusuhan apa-apa dengan dia, pula Sichengcu telah menyuguh aku dengan arak-arak enak, maka kelima jarinya itu tidak sampai terpapas."

Sungguh gusar dan dongkol tidak kepalang hati Tan-jing-sing, air mukanya sebentar merah sebentar pucat, cuma dia memakai kerudung sehingga tidak kelihatan.

"Dan si botak Losam (Si Tiga) suka menggunakan boan-koan-pit,"

Kata pula orang she Yim itu.

"tulisannya sebenarnya serupa cakar ayam, tapi dia justru sok bangga katanya dalam ilmu silatnya terkandung pula seni tulis segala. Padahal, hehe, sobat cilik, ketahuilah waktu bertempur menghadapi musuh, mati atau hidup hanya bergantung satu detik saja, mana sempat orang bisa iseng bicara tentang seni tulis segala. Kecuali pihak lawan memang jauh lebih lemah daripadamu barulah kau dapat mempermainkan dia. Kalau tidak, maka sama halnya kau bergurau dengan nyawamu sendiri."

"Ucapan Cianpwe memang tepat, cara bertempur Samchengcu ini memang rada takabur,"

Ujar Lenghou Tiong.

Ketika mendengar ucapan orang she Yim itu, semula Tut-pit-ong merasa sangat gusar, tapi sesudah dipikir terasa uraian orang memang masuk akal juga.

Ilmu silatnya yang diselingi dengan gaya menulis itu betapa pun memang menjadi kurang kuat daya serangnya.

Kalau saja Lenghou Tiong tidak murah hati mungkin sepuluh Tut-pit-ong juga sudah dibinasakan olehnya.

Dalam pada itu orang she Yim itu berkata pula.

"Untuk mengalahkan botak Losam adalah sangat gampang. Karena lagaknya yang sok takabur dengan seni tulis segala sehingga dia seolah bergurau dengan jiwa sendiri. Kalau dia masih hidup sampai sekarang sesungguhnya suatu keanehan di dunia persilatan. Eh, Losam botak, selama 20-an tahun ini rupanya kau hanya mengkeret seperti kura-kura di dalam dan tidak pernah berkelana di Kangouw lagi bukan?"

Tut-pit-ong hanya mendengus saja tanpa menjawab.

Tapi diam-diam ia terkesiap pula dan mengakui kebenaran ucapan orang.

Kalau saja selama 20-an tahun ini dirinya masih berkecimpung di dunia Kangouw mana bisa hidup sampai hari ini?

Sementara itu orang she Yim lagi melanjutkan.

"Bicara tentang kepandaian sejati, maka papan catur si Loji memang harus dipuji. Sekali dia sudah mulai menyerang, maka susul-menyusul bagai badai melanda, kalau cuma jago biasa saja pasti tidak mampu menangkisnya. Sobat cilik, cara bagaimana kau mematahkan serangannya, coba ceritakan."

"Wanpwe tidak berani mengatakan telah mematahkan serangan Jichengcu,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Soalnya begitu saja aku lantas berebut menyerang dengan Jichengcu, jurus pertama aku lantas membikin dia berada di pihak bertahan."

"Ehm, bagus,"

Ujar orang itu.

"Dan bagaimana jurus kedua?"

"Jurus kedua Wanpwe tetap mendahului menyerang sehingga Jichengcu terpaksa bertahan pula,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Bagus, dan jurus ketiga?"

Tanya pula orang itu.

"Jurus ketiga tetap aku menyerang dan dia bertahan."

"Sungguh hebat,"

Kata orang itu.

"Papan catur baja Hek-pek-cu dahulu menggetarkan dunia Kangouw, biasanya asalkan lawannya mampu menangkis tiga jurus serangannya yang lihai, maka Hek-pek-cu akan mengampuni lawannya, karena itulah namanya termasyhur di dunia persilatan. Tapi sobat cilik malahan sudah mampu memaksa dia bertahan tiga jurus, sungguh luar biasa hal ini. Dan pada jurus keempat cara bagaimana dia melakukan serangan balasan?"

"Jurus keempat masih tetap Wanpwe yang menyerang dan Jichengcu bertahan."

"Hah, apa ilmu pedang Hong tua benar-benar begitu hebat,"

Orang itu menegas.

"Menurut dugaanku, biarpun Hong tua sendiri yang bergebrak, sekalipun dapat mengalahkan Hek-pek-cu juga tidak dapat memaksa dia bertahan sampai empat jurus. Tapi jurus kelima tentu dia yang menyerang bukan?"

"Tidak, jurus kelima keadaan tetap tidak berubah,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Oo!"

Orang itu sampai melongo untuk sekian lamanya. Kemudian baru berkata.

"Seluruhnya kau menyerang berapa kali baru Hek-pek-cu mampu balas menyerang?"

"Jum ... jumlah jurusnya Wanpwe tidak ingat lagi,"

Sahut Lenghou Tiong. Segera Hek-pek-cu menimbrung.

"Ilmu pedang Hong-hengte teramat sakti, sejak mula sampai akhir satu jurus pun aku tidak mampu balas menyerang. Sesudah dia menyerang 40-an jurus, aku merasa bukan tandingannya, maka aku lantas menyerah dan mengaku kalah."

"Hah, mana betul begitu?"

Teriak orang itu.

"Meski Hong Jing-yang adalah tokoh Hoa-san-pay pilihan, tapi ilmu pedang dari sekte pedang Hoa-san-pay itu juga sangat terbatas. Aku tidak percaya bahwa ada seorang jago Hoa-san-pay mampu menyerang Hek-pek-cu sampai 40-an jurus dan sama sekali Hek-pek-cu tidak sanggup balas menyerang."

"Yim-heng terlalu menghargai diriku, tapi kenyataan memang begitu,"

Ujar Hek-pek-cu.

"Ilmu pedang Hong-hengte ini sudah jauh melampaui batas kemampuan jago Hoa-san-pay dari sekte pedang."

"Bagus, aku menjadi kepingin belajar kenal juga dengan ilmu pedangmu, sobat cilik,"

Kata orang itu.

"Harap Cianpwe jangan mau masuk perangkap mereka,"

Kata Lenghou Tiong.

"Kanglam-si-yu hanya ingin memancingmu bertanding pedang dengan aku, padahal mereka mempunyai tujuan tertentu."

"Tujuan tertentu apa?"

Tanya orang itu.

"Mereka telah bertaruh dengan seorang temanku, jika dalam Bwe-cheng mereka ini ada seorang yang mampu mengalahkan ilmu pedangku, maka temanku akan memberikan beberapa barang kepada mereka."

"Barang apa? Kukira tentu sebangsa not kecapi, tulisan orang kuno, dan sebagainya bukan?"

"Ya, taksiran Cianpwe memang selalu jitu,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Tapi aku cuma ingin tahu ilmu pedangmu saja dan bukan sungguh-sungguh bertanding denganmu,"

Kata orang itu.

"Lagi pula aku pun belum tentu mampu mengalahkanmu."

"Untuk mengalahkan Wanpwe sudah tentu sangat mudah bagi Cianpwe,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Hanya saja sebelumnya kuminta keempat Chengcu harus berjanji sesuatu dulu."

"Soal apa?"

Tanya orang itu.

"Jika Cianpwe dapat mengalahkan aku sehingga mereka akan berhasil memperoleh beberapa benda mestika dari temanku itu, sebaliknya keempat Chengcu harus berjanji akan membuka pintu penjara ini dan membebaskan Cianpwe."

"Mana boleh jadi!"

Seru Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing berbareng. Sedangkan Ui Ciong-kong hanya mendengus saja. Orang she Yim itu bertanya, katanya.

"Sobat cilik ternyata rada-rada lucu. Apakah Hong Jing-yang menyuruhmu berbuat demikian?"

"Hong-losiansing sama sekali tidak tahu Cianpwe terkurung di sini, Wanpwe sendiri lebih-lebih tidak tahu sebelumnya,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Hong-hengte,"

Tiba-tiba Hek-pek-cu berkata.

"siapakah nama Yim-heng ini? Apa julukannya menurut panggilan orang Bu-lim? Dia tadinya ketua aliran mana dan sebab apa sampai terkurung di sini? Apakah semua ini Hong-losiansing pernah ceritakan padamu?"

Begitulah secara mendadak Hek-pek-cu mengajukan empat pertanyaan, tapi satu pun Lenghou Tiong tidak mampu menjawab.

Kalau dalam pertandingan Lenghou Tiong sekaligus menyerang 40 jurus lebih dan Hek-pek-cu masih sanggup bertahan, sebaliknya sekarang pihak lawan memberondong dengan empat pertanyaan seakan-akan menyerang empat jurus secara kilat, tapi Lenghou Tiong satu jurus pun tidak sanggup menangkis, setengah melongo sejenak barulah ia dapat bicara dengan gelagapan.

"Tentang ini belum pernah terdengar dari ... dari Hong-losiansing."

"Memangnya, masakah kau tahu, sebab kalau tahu tentu kau takkan minta kami membebaskan dia,"

Ujar Hek-pek-cu.

"Bila orang ini sampai lolos dari sini, maka dunia persilatan pasti akan kacau-balau dan entah betapa banyak jiwa kaum kesatria Bu-lim akan tewas di tangannya dan selanjutnya dunia Kangouw takkan aman lagi."

"Hahahaha, memang benar adanya!"

Seru orang itu dengan terbahak.

"Biarpun punya nyali setinggi langit juga Kanglam-si-yu tidak berani membiarkan aku lolos dari kurungan ini. Pula memangnya mereka juga cuma atas perintah saja berjaga di sini, mereka hanya empat penjaga bui, mana mereka ada hak buat membebaskan aku? Sobat cilik, permintaanmu kepada mereka tadi sudah terlalu mengangkat tinggi derajat mereka."

Diam-diam Lenghou Tiong merasa serbarunyam, pada hakikatnya dirinya tidak tahu seluk-beluk mereka sehingga bicara sedikit saja lantas terlihat kesalahannya.

"Hong-hengte,"

Ui Ciong-kong berkata.

"rupanya kau lihat penjara ini sangat gelap dan lembap sehingga timbul rasa simpatimu terhadap Yim-heng ini, sebaliknya merasa marah kepada kami bersaudara, hal ini adalah jiwamu yang luhur, kami pun tidak menyalahkanmu. Tapi apa kau tahu bilamana Yim-heng ini sampai masuk Kangouw lagi, melulu Hoa-san-pay kalian saja sedikitnya akan jatuh korban separuh lebih. Coba jawab, Yim-heng, kata-kataku ini betul atau tidak?"

"Betul, betul,"

Sahut orang itu dengan tertawa.

"Ketua Hoa-san-pay apakah masih dijabat oleh Gak Put-kun? Orang ini pura-pura suci, sayang ketika dia baru menjabat ketua aku sudah lantas terjebak, kalau tidak sudah lama kubuka kedok kepalsuannya."

Hati Lenghou Tiong tergetar.

Meski Gak Put-kun telah mengusir dia dari perguruan serta menyebarkan berita kepada kawan Bu-lim dan menganggapnya sebagai musuh bersama, tapi sejak kecil ia dibesarkan oleh guru dan ibu-guru yang dipandangnya seperti orang tua kandung sendiri, betapa pun budi ini tidak pernah dilupakan olehnya.

Maka sekarang demi mendengar cerita orang she Yim atas gurunya itu seketika ia menjadi gusar dan membentak.

"Tutup mulut, aku punya ...."

Tapi mendadak ia telan kembali kata-kata "suhu"

Yang hampir diucapkan itu.

Teringat olehnya kedatangannya ini mengaku sebagai paman suhunya, sedangkan pihak lawan belum jelas kawan atau lawan sehingga tidak boleh bicara terus terang duduknya perkara terhadap mereka.

Sudah tentu orang she Yim itu tidak tahu apa maksud bentakan Lenghou Tiong itu, dengan tertawa ia melanjutkan lagi.

"Di antara orang-orang Hoa-san-pay sudah tentu masih ada yang dapat kuhargai, satu di antaranya adalah kakek Hong, kau pun satu di antaranya, sobat cilik. Selain itu masih ada seorang angkatan muda yang dipanggil ‘Hoa-san-giok-li’ segala dengan nama Ling apa ... ah, ya, Ling Tiong-cik. Nona cilik ini boleh dikata seorang gadis baik hati dan luhur budi, cuma sayang dia kawin dengan Gak Put-kun, mirip setangkai bunga yang tertancap di atas gundukan tahi kerbau."

Mendengar ibu gurunya yang sudah tua itu dianggap sebagai "nona cilik", Lenghou Tiong merasa dongkol-dongkol geli. Tapi paling tidak ibu-gurunya telah dinilai baik, maka ia pun tidak memberi bantahan.

"Kau sendiri bernama siapa, sobat cilik?"

Tanya orang itu.

"Wanpwe she Hong bernama Ji-tiong,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Orang Hoa-san-pay yang she Hong tentunya tidak busuk, bolehlah kau masuk kemari, aku akan coba-coba ilmu pedang ajaran kakek Hong itu,"

Kata pula orang itu.

Tadinya ia menyebut Hong Jing-yang sebagai si Hong tua, lalu ganti dengan sebutan kakek Hong, mungkin karena ucapan Lenghou Tiong rada-rada menyenangkan dia sehingga terhadap Hong Jing-yang juga diindahkannya.

Lenghou Tiong sendiri sudah sejak tadi sangat tertarik dan ingin tahu bagaimana wujud orang she Yim ini dan betapa tinggi pula ilmu silatnya, maka ia lantas menjawab.

"Sedikit ilmu pedangku yang cetek ini masih boleh dipakai menggertak orang di luar sini, tapi di hadapan Cianpwe tentunya seperti permainan anak kecil saja. Namun Wanpwe sudah telanjur berada di sini, mau tak mau ingin belajar kenal juga dan mohon petunjuk Yim-losiansing."

Tiba-tiba Tan-jing-sing mendekati Lenghou Tiong dan membisikinya.

"Hong-hengte, ilmu silat orang ini sangat aneh, caranya sangat keji pula, kau boleh bertanding pedang dengan dia tapi jangan sekali-kali mengadu tenaga dalam."

Sampai di sini mendadak ia seperti ingat sesuatu dan berkata pula dengan menyesal.

"Ah, hal ini sih tidak perlu khawatir. Memangnya kau tidak punya tenaga dalam. Rupanya lantaran inilah Toako mau meluluskanmu untuk bertanding dengan dia."

Meski dia bicara dengan bisik-bisik, tapi nyata sekali timbul dari hati yang tulus. Perasaan Lenghou Tiong tergerak, pikirnya.

"Sichengcu ini ternyata sangat baik padaku. Tadi aku telah mengolok-olok dia, tapi dia tidak dendam, sebaliknya dengan tulus hati memerhatikan kelemahanku."

Dalam pada itu orang she Yim telah berkata pula.

"Marilah masuk ke sini. Apa yang mereka katakan dengan kasak-kusuk di luar? Sobat cilik, Kanglam-si-kui (Empat Setan dari Kanglam) bukan manusia baik-baik, jangan tertipu oleh mereka."

Dia sengaja mengganti julukan "Kanglam-si-yu"

Dengan "Kanglam-si-kui"

Sehingga membikin Lenghou Tiong merasa serbasalah dan tidak tahu sesungguhnya pihak manakah yang benar-benar orang baik.

Ui Ciong-kong lantas mengeluarkan sebuah kunci lain yang memutar beberapa pada lubang kunci pintu besi.

Lenghou Tiong mengira setelah membuka kunci itu tentu pintu akan terbuka, siapa tahu Ui Ciong-kong hanya lantas menyingkir ke samping, lalu ganti Hek-pek-cu yang maju, ia pun mengeluarkan sebuah kunci dan memutar lubang kecil yang lain, habis itu Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing masing-masing juga mengeluarkan anak kunci dan berbuat cara sama.

Baru sekarang Lenghou Tiong sadar bahwa kedudukan locianpwe she Yim itu ternyata sedemikian penting sehingga keempat chengcu itu masing-masing mempunyai anak kunci tersendiri, untuk membuka pintu penjara itu diharuskan memakai empat buah anak kunci dari empat orang itu.

Padahal Kanglam-si-yu adalah seperti saudara sekandung, masakah mereka pun tidak memercayai satu sama lain?

Tapi lantas teringat olehnya ucapan orang she Yim tadi bahwa Kanglam-si-yu hanya melakukan tugas atas perintah saja untuk menjaganya dan tiada hak buat membebaskan dia.

Bisa jadi mereka masing-masing memegang sebuah kunci itu juga atas peraturan yang ditetapkan oleh orang yang memberi perintah kepada mereka itu.

Dari satu putaran anak kunci itu dapat diketahui bahwa lubang kunci itu sudah penuh berkarat, terang pintu besi itu entah sudah berada lama tidak pernah dibuka.

Sesudah memutar kuncinya tadi Tan-jing-sing lantas pegang pintu besi dan digoyang-goyangkan beberapa kali, lalu ditolak sekuatnya, maka terdengarlah suara keriang-keriut yang seret, pintu itu terpentang sedikit ke dalam.

Begitu pintu bergeser, segera Tan-jing-sing melompat mundur.

Berbareng Ui Ciong-kong bertiga juga ikut melompat mundur agak jauh.

Terpengaruh oleh perbuatan mereka tanpa terasa Lenghou Tiong juga ikut menyurut mundur beberapa tindak.

Orang she Yim itu bergelak tertawa katanya.

"Sobat cilik, mereka takut padaku kenapa kau pun ikut-ikut takut?"

Bab 71.

Ingin Menolong Malah Terkurung Lenghou Tiong mengiakan dan segera melangkah maju lagi sambil mendorong pintu besi itu.

Terasa engsel pintu sudah penuh berkarat sehingga dengan susah payah barulah pintu itu dapat dipentang setengahan meter lebarnya.

Serentak bau apak menusuk hidung.

Tan-jing-sing lantas melangkah maju dan menyodorkan kedua batang pedang kayu.

Tanpa bicara Lenghou Tiong menerimanya.

"Hong-hengte, bawalah pelita minyak ini ke dalam,"

Kata Tut-pit-ong sambil mengambilkan sebuah pelita minyak dari dinding.

Setelah terima pula pelita minyak itu Lenghou Tiong masuk ke dalam ruangan itu.

Dilihatnya kamar penjara itu cuma dua-tiga meter persegi saja.

Ada sebuah dipan terletak di pojok sana, seorang duduk di atas dipan, rambutnya kusut masai, janggutnya panjang sebatas dada dan berewoknya memenuhi mukanya sehingga wajah tidak jelas lagi.

Cuma rambut jenggotnya itu kelihatan masih hitam legam tiada beruban sedikit pun.

Dengan membungkuk tubuh Lenghou Tiong berkata.

"Hari ini Wanpwe beruntung dapat berjumpa dengan Yim-locianpwe, diharap sudi memberi petunjuk."

"Tidak perlu sungkan,"

Kata orang itu.

"Aku harus berterima kasih padamu karena kau datang kemari menghilangkan kesepianku."

"Apakah boleh kutaruh pelita ini di atas dipan?"

Tanya Lenghou Tiong.

"Baiklah,"

Kata orang itu.

Diam-diam Lenghou Tiong merasa sangsi, kamar tahanan ini sedemikian sempit, cara bagaimana nanti bisa digunakan buat bertanding pedang?

Segera ia mendekati dipan dan menaruh pelita minyak, berbareng itu ia pun jejalkan pada tangan orang itu benda kecil di dalam pulungan kertas titipan Hiang Bun-thian itu.

Agaknya orang itu rada melengak ketika menerima pulungan kertas itu, tapi ia lantas berkata dengan lantang.

"He, kalian berempat setan itu mau ikut menonton pertandingan atau tidak?"

"Tempatnya terlalu sempit, tentunya tidak muat,"

Sahut Ui Ciong-kong.

"Baiklah,"

Kata orang itu.

"Nah, sobat cilik, tutup pintunya."

Lenghou Tiong mengiakan dan segera merapatkan pintu besi.

Ketika orang itu berbangkit dari tempat duduknya, mendadak terdengar suara gemerencing beradunya seutas rantai besi yang kecil.

Dengan tangan kanan orang itu mengambil sebatang pedang kayu dari tangan Lenghou Tiong, katanya dengan menghela napas.

"Sudah 20 tahun aku tidak menggunakan senjata, entah ilmu pedang yang pernah kuyakinkan dahulu itu masih ingat atau tidak."

Kini Lenghou Tiong dapat melihat jelas pergelangan tangan orang itu memang betul terkait sebuah gelang besi yang digandeng dengan seutas rantai menjulur ke dinding di belakangnya.

Ketika tangan yang lain dan kedua kakinya diamat-amati nyata semuanya juga terantai dan terikat di dinding, dinding di situ hitam mengilat rupanya dinding-dinding itu terbuat dari baja.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin bahwa rantai dan borgol di tangan orang itu tentu juga terbuat dari baja murni, kalau tidak rantai yang tidak terlalu besar itu sukar mengikat tokoh yang memiliki ilmu silat tinggi seperti orang she Yim ini.

Orang itu menebas-nebaskan pedang kayu itu di udara, tampaknya cuma gerakan perlahan saja, tapi ruangan itu lantas penuh suara mendengung yang memekak telinga.

"Hebat benar tenaga Locianpwe,"

Puji Lenghou Tiong.

Tiba-tiba orang itu putar tubuh ke sebelah sana seperti hendak membuka rantai, tapi sekilas Lenghou Tiong dapat melihat orang itu telah membuka gulungan kertas dan mengetahui benda keras di dalam gulungan kertas lalu membaca tulisan pada kertas itu.

Lenghou Tiong sengaja melangkah mundur setindak sehingga kepalanya menutup lubang persegi tadi agar orang di luar tidak tahu apa yang sedang dilakukan orang yang berada dalam kamar.

Sejenak tubuh orang she Yim itu tampak gemetar sehingga rantai besi ikut gemerencing nyaring, agaknya dia telah membaca apa yang tertulis pada kertas, ketika berpaling kembali sinar matanya mendadak memancar tajam, katanya.

"Sobat cilik, meski kedua tanganku tidak bebas, tapi belum tentu kau dapat mengalahkan aku."

"Wanpwe adalah angkatan muda yang masih hijau sudah tentu bukan tandingan Locianpwe,"

Sahut Lenghou Tiong dengan rendah hati.

"Sekaligus kau telah menyerang Hek-pek-cu sampai lebih 40 jurus sehingga dia terdesak hingga tidak mampu membalas maka sekarang boleh juga coba-coba padaku dengan cara yang sama,"

Kata orang itu.

"Maaf,"

Ucap Lenghou Tiong berbareng pedangnya terus menusuk ke depan, yang digunakan adalah jurus pertama yang pernah dipakai menyerang Hek-pek-cu.

"Bagus!"

Puji orang itu.

Pedangnya juga lantas menusuk miring ke dada kiri Lenghou Tiong, ternyata gerakan ini di samping menangkis juga sekaligus menyerang.

Sungguh suatu jurus serbaguna yang amat lihai.

Menyaksikan itu dari balik lubang persegi, tanpa tertahan Hek-pek-cu berteriak memuji.

"Kiam-hoat bagus!"

"Ya, hari ini anggaplah kalian empat setan sedang beruntung, maka dapat menyaksikan ilmu pedang bagus!"

Seru orang she Yim dengan tertawa.

Pada saat itulah serangan kedua Lenghou Tiong telah tiba pula.

Cepat orang itu putar pedang kayu terus menusuk ke bahu kanan Lenghou Tiong, dia tetap menggunakan jurus menangkis sambil menyerang, suatu jurus serangan dan bertahan yang serbaguna.

Lenghou Tiong terkesiap, ia merasa gerak pedang orang itu sedikit pun tiada lubang kelemahan sehingga tidak dapat mengincar titik lemahnya.

Terpaksa ia pun melintangkan pedang untuk menangkis sambil ujung pedang mengacung miring ke depan tetap mengandung daya serang yang menuju perut lawan.

"Hah, bagus juga ini!"

Seru orang itu dengan tertawa sembari tarik pedang untuk mematahkan serangan Lenghou Tiong.

Begitulah serang-menyerang terus berlangsung, hanya sekejap saja sudah lebih dari 20 jurus, tapi kedua pedang kayu selama itu belum pernah saling bentur.

Lenghou Tiong merasa ilmu pedang lawan tiada habis-habisnya dengan macam-macam perubahan, sejak dirinya berhasil meyakinkan Tokko-kiu-kiam belum pernah menemukan lawan sedemikian tangguh.

Karena di antara jurus-jurus serangan musuh sejak mula tiada setitik pun lubang kelemahannya terpaksa Lenghou Tiong melayani dengan perubahan yang sama ruwetnya menurut dasar ajaran Hong Jing-yang, yaitu "dengan tiada jurus serangan mengalahkan serangan musuh".

Meski "Boh-kiam-sik" (Jurus Mematahkan Ilmu Pedang) dari Tokko-kiu-kiam itu cuma satu gerakan saja tapi meliputi intisari dari segala macam ilmu pedang yang paling lihai di seluruh dunia, walaupun "tanpa jurus"

Tapi memakai semua jurus serangan paling lihai dari segala ilmu pedang di dunia ini sebagai dasar.

Melihat ilmu pedang Lenghou Tiong itu berubah-ubah tiada habis-habisnya, setiap perubahannya selalu serbabaru, namun berkat pengalamannya yang luas, ditambah kecerdasannya yang luar biasa maka dapatlah orang itu mematahkan setiap serangan Lenghou Tiong.

Tapi sesudah lebih 40 jurus lambat laun orang itu sudah mulai merasa seret gerak pedangnya.

Perlahan ia kerahkan tenaga dalam batang pedangnya sehingga setiap kali pedangnya bergerak lantas membawa suara gemuruh yang keras.

Namun letak keajaiban Tokko-kiu-kiam itu justru tidak sampai mengadu tenaga dalam dengan pihak lawan.

Tak peduli betapa kuat tenaga lawan selalu tersapu lenyap.

Hanya saja Lenghou Tiong baru pertama kali ini menghadapi lawan mahatangguh sejak berhasil meyakinkan Tokko-kiu-kiam, mau tak mau timbul juga rasa jerinya, beberapa kali ia menghadapi serangan bahaya walaupun berhasil dipatahkan olehnya, tapi mengucur juga keringat dinginnya.

Padahal rasa kejut orang itu jauh melebihi Lenghou Tiong.

Beberapa kali serangan tampaknya dia pasti akan menang dan Lenghou Tiong akan terpaksa membuang pedang dan menyerah, jalan lain tidak ada.

Tapi justru pada detik yang terakhir itulah mendadak mengeluarkan jurus yang aneh, bahkan sempat balas menyerang pula dengan tidak kurang lihainya.

Ui Ciong-kong berempat berjubel di luar pintu besi dan mengintip ke dalam melalui lubang persegi yang kecil itu, paling-paling hanya cukup untuk mengintip sekaligus oleh dua orang saja, bahkan masing-masing hanya bisa mengintip dengan sebelah mata.

Maka mereka harus bergilir, habis dua orang mengintip sebentar, lalu ganti dua orang yang lain.

Semula mereka terheran-heran dan kagum luar biasa ketika melihat kebagusan ilmu pedang yang dimainkan Lenghou Tiong, sampai akhirnya di mana letak kehebatan ilmu pedang kedua orang yang bertanding itu sudah tak bisa lagi dipahami oleh mereka berempat.

Terkadang Ui Ciong-kong melihat sejurus yang hebat, ia lantas memeras otak menyelami di mana letak kebagusan jurus itu, sampai lama sekali barulah dia paham, tapi sementara itu kedua orang yang bertanding itu sudah bergebrak belasan jurus lagi dan bagaimana belasan jurus yang lalu itu menjadi tidak diketahuinya sama sekali.

Sungguh kejut Ui Ciong-kong tak terkatakan, pikirnya.

"Kiranya sedemikian rupa kehebatan ilmu pedang Saudara Hong ini. Tadi waktu dia bertanding dengan aku sebenarnya dia hanya menggunakan satu bagian ilmu pedangnya saja. Jangankan dia tidak punya tenaga dalam dan aku punya pedang tak berwujud, tidak mampu mengapa-apakan dia, seumpama dia mempunyai tenaga penuh juga aku tidak sanggup melawannya. Bila mau asal sekaligus dia menyerang tiga kali sudah pasti aku lempar kecapi dan menyerah kalah. Bahkan kalau bertempur sungguh-sungguh, satu jurus saja dia sudah mampu membutakan kedua mataku."

Letak keistimewaan Tokko-kiu-kiam itu adalah musuh semakin hebat ia pun semakin kuat.

Jika musuh hanya jago rendahan, maka intisari Tokko-kiu-kiam itu malah sukar dipancarkan seluruhnya.

Dan sekarang yang dihadapi Lenghou Tiong justru adalah seorang tokoh Bu-lim yang pernah mengguncangkan dunia persilatan, betapa tinggi ilmu silatnya sudah mencapai tingkat yang sukar dibayangkan.

Maka demi mendapat serangannya seketika segala macam kebagusan yang terkandung dalam Tokko-kiu-kiam pun lantas terpancar seluruhnya.

Coba kalau Tokko Kiu-pay hidup kembali tentu dia pun akan kegirangan bila menemukan lawan sekuat ini.

Sesudah berlangsung 40 jurus lebih, serangan Lenghou Tiong semakin gencar dan bertambah lancar, banyak gerakan bagus bahkan belum pernah diajarkan Hong Jing-yang sendiri.

Karena rasa takutnya lenyap maka segenap pikirannya tercurah ke dalam ilmu pedangnya itu.

Berturut-turut orang itu berganti delapan macam ilmu pedang yang paling lihai, tapi bagaimanapun juga Lenghou Tiong tetap dapat melayani dengan lancar seakan-akan semua jenis ilmu pedang itu sudah sangat hafal baginya.

Mendadak orang itu melintangkan pedangnya sambil membentak.

"Sobat cilik, sesungguhnya ilmu pedangmu ini ajaran siapa? Rasanya kakek Hong tidak memiliki kepandaian demikian."

Lenghou Tiong rada terkesiap, jawabnya.

"Jika ilmu pedang ini bukan ajaran Hong-losiansing, siapa lagi orang kosen di dunia ini yang mampu mengajar padaku?"

"Benar juga,"

Seru orang itu.

"Ini, sambut lagi ilmu pedangku ini!"

Mendadak ia bersuit panjang nyaring, pedang terus menebas.

Cepat Lenghou Tiong miringkan pedang dan menusuk ke depan, terpaksa orang itu menarik kembali pedangnya untuk menangkis.

Berulang-ulang orang itu membentak-bentak seperti orang gila.

Semakin ribut mulutnya, semakin cepat pula serangannya.

Dari ilmu pedang lawan itu Lenghou Tiong merasa tiada sesuatu yang luar biasa, hanya suara teriakan dan bentakannya itulah yang membikin pikirannya kacau.

Sekonyong-konyong orang itu bersuit keras sekali, anak telinga Lenghou Tiong serasa mendengung pecah tergetar, pikirannya menjadi gelap, seketika tak sadarkan diri dan roboh terkapar ....

Begitulah dalam keadaan tak sadarkan diri entah berlangsung sampai berapa lama ketika terasa kepalanya sakit seakan-akan pecah dan telinga masih mendengung-dengung, mendadak ia membuka mata, tapi keadaan gelap gulita entah dirinya berada di mana saat itu.

Ia coba menahan dengan tangannya untuk berbangkit, tapi sekujur badan terasa lemas lunglai tiada tenaga sedikit pun.

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir.

"Aku tentunya sudah mati dan terkubur di bawah tanah."

Karena rasa duka dan cemas, kembali ia jatuh pingsan lagi.

Waktu siuman untuk kedua kalinya terasa kepala masih sangat sakit, cuma suara mendengung di telinga sudah jauh lebih enteng, di bawah badan terasa dingin dan keras rasanya seperti berbaring di sebuah papan baja.

Ia coba meraba-raba dengan tangan, benar juga terasa dugaannya memang tepat.

Tapi sedikit tangannya bergerak tiba-tiba mengeluarkan suara gemerencing yang nyaring berbareng tangannya terasa terikat oleh sesuatu benda keras.

Ketika tangan lain hendak meraba, mendadak tangan sebelah juga mengeluarkan suara nyaring dan terikat.

Kejut dan girang hati Lenghou Tiong.

Girang karena dirinya ternyata belum mati.

Terkejut lantaran badannya sekarang terantai, jelas keadaannya telah mengalami nasib yang sama dengan orang tua Yim itu.

Ketika tangan kiri diraba, terasa rantai itu pun kecil seperti rantai di kaki tangan orang she Yim.

Malahan segera kedua kakinya juga terasa dirantai dengan cara serupa.

Dalam keadaan gelap gulita tiada sesuatu yang dapat dilihat olehnya.

Pikirnya.

"Waktu pingsan aku sedang bertanding dengan pedang Yim-losiansing, entah cara bagaimana aku masuk perangkap Kanglam-si-yu. Entah aku dikurung di suatu tempat dengan Yim-locianpwe atau tidak?"

Segera ia berteriak-teriak memanggil, akan tetapi tiada terdengar suara jawaban sedikit pun. Ia tambah takut dan berteriak-teriak pula.

"Yim-locianpwe!"

Tapi dalam kegelapan hanya kumandang suara sendiri yang serak-serak cemas itu saja yang terdengar. Setelah tertegun sejenak, kembali ia berteriak-teriak.

"Toachengcu, Sichengcu! Mengapa kalian mengurung aku di sini? Lekas lepaskan aku! Lekas bebaskan aku!"

Akan tetapi biarpun kerongkongannya sampai kering, suaranya sampai habis, tetap tidak memperoleh jawaban apa pun. Akhirnya Lenghou Tiong mencaci maki habis-habisan.

"Bangsat, kalian manusia rendah yang tidak tahu malu, apakah kalian bermaksud mengurung aku di sini selama hidup?"

Teringat akan dikurung selama hidup seperti orang tua she Yim itu, seketika Lenghou Tiong merasa putus asa.

Mestinya ia adalah pemuda yang tidak takut kepada langit dan tidak gentar pada bumi, pada saat menghadapi bahaya tak pernah memikirkan mati-hidup sendiri.

Tapi sekarang demi teringat dirinya akan dikurung hidup-hidup selamanya di penjara yang gelap di dasar danau ini, mau tak mau ia jadi mengirik.

Semakin dipikir semakin takut dan tambah berduka, kembali ia berteriak-teriak lagi, tapi terdengar suaranya berubah menjadi ratap tangis, entah sejak kapan air mata telah membasahi mukanya, dengan ia berteriak.

"Kalian empat ... empat anjing kotor dari Bwe-cheng ini, bila kelak aku Lenghou Tiong dapat lolos dari sini, aku akan ... mencungkil biji mata kalian, akan kupotong kaki tangan kalian ...."

Mendadak ia diam kembali, sesuatu suara menjerit dalam hatinya.

"Apakah aku mampu keluar dari penjara ini? Sedangkan tokoh sakti sebagai Yim-locianpwe juga tidak mampu lolos dari sini, apakah ... apakah aku mampu?"

Saking cemasnya, tahu-tahu darah segar tersembur keluar dari mulutnya, kembali ia jatuh pingsan lagi.

Setiap kali ia jatuh pingsan setiap kali pula badannya bertambah lemah.

Di tengah sadar tak sadar itu tiba-tiba terdengar suara "kletak"

Satu kali menyusul cahaya terang menyilaukan mata.

Lenghou Tiong terjaga bangun terus hendak melompat berdiri.

Ia lupa bahwa kaki tangannya sudah terantai semua ditambah lagi badannya sangat lemas, maka baru sedikit ia melompat.

"bluk" , kembali ia terbanting ke bawah, seluruh ruas tulang badannya seakan-akan rontok semua. Sudah lama ia berada di tempat gelap, mestinya cahaya itu sangat menusuk matanya, tapi ia khawatir kalau-kalau sinar terang itu dalam sekejap akan lenyap lagi dan sejak itu akan hilang kesempatan meloloskan diri, maka walaupun matanya terasa pedas oleh cahaya terang itu masih juga dipentang selebar-lebarnya menatap arah datangnya sinar itu. Ternyata sinar itu menembus masuk melalui sebuah lubang persegi. Segera Lenghou Tiong ingat bahwa penjara tempat terkurung Yim-locianpwe itu pada pintu besi penjara itu juga terdapat sebuah lubang persegi yang serupa. Ia coba melirik sekitarnya, ternyata dirinya memang berada di dalam sebuah kamar penjara begitu. Kembali ia berteriak-teriak pula.

"Lekas lepaskan aku! Ui Ciong-kong, Hek-pek-cu, kalian bangsat anjing kotor, kalau berani lepaskan aku dari sini!"

Dalam keadaan sendirian di tempat gelap ia menangis sedih, tapi begitu melihat datangnya musuh, seketika timbul semangat jantannya, tak peduli bagaimana musuh akan menyiksanya dia takkan menyerah.

Tiba-tiba terlihat sebuah nampan kayu perlahan disodorkan ke dalam melalui lubang persegi itu.

Di atas nampan tertaruh sebuah mangkuk nasi dan di atas nasi banyak terdapat sayur-mayur.

Selain itu ada lagi sebuah kendi, agaknya berisi air minum.

Melihat itu Lenghou Tiong tambah gusar, pikirnya.

"Kalian mengirim makanan padaku, jadi kalian bermaksud mengurung aku di sini dalam jangka panjang?"

Tanpa pikir lagi ia terus mencaci maki.

"Anjing-anjing kotor, jika mau bunuh boleh bunuh saja kenapa mesti mempermainkan tuanmu!"

Dilihatnya nampan itu tinggal di depan lubang persegi itu tanpa bergerak, agaknya dimaksudkan Lenghou Tiong menerimanya.

Karena ruangan kamar penjara rada sempit, asalkan Lenghou Tiong berbangkit dan sedikit miringkan tubuh tentu tangannya dapat mencapai nampan itu.

Mendadak ia sampuk sekerasnya.

Maka terdengarlah suara ramai jatuhnya mangkuk dan kendi sehingga hancur semua.

Saking gusarnya Lenghou Tiong menubruk ke depan lubang itu, dilihatnya seorang tua dengan tangan kiri membawa lampu dan tangan lain memegang nampan tadi sedang melangkah pergi dengan perlahan.

Orang tua itu sudah beruban semua, mukanya kisut, jelas sudah sangat tua renta, tapi selama ini belum pernah dikenalnya.

"He, lekas kau panggil Ui Ciong-kong, Hek-pek-cu, dan lain-lain ke sini, kalau berani, suruh keempat ... keempat anjing itu bertanding mati-matian dengan aku,"

Teriak Lenghou Tiong. Namun sama sekali orang tua itu tidak menggubrisnya, dengan terbungkuk-bungkuk setindak demi setindak dia menjauh.

"He, hei! Kau dengar tidak?"

Teriak Lenghou Tiong pula.

Tapi biarpun ia menggembor sekeras-kerasnya, tetap orang tua itu tidak menoleh.

Ketika bayangan orang tua itu menghilang di pojok lorong sana, cahaya lampu juga mulai guram, akhirnya keadaan berubah gelap gulita pula.

Selang sejenak, terdengarlah suara tertutupnya pintu kayu dan pintu besi, lalu suasana sunyi senyap lagi.

Kembali Lenghou Tiong merasa kepalanya puyeng, setelah termangu-mangu sejenak, perlahan ia berbaring.

Pikirnya.

"Orang tua mengantar makanan ini tentu mendapat larangan keras untuk bicara dengan aku, maka percuma biarpun aku berteriak-teriak padanya."

Lalu terpikir pula.

"Tampaknya di bawah perkampungan Bwe-cheng dibangun penjara gelap yang tidak sedikit, entah berapa banyak kaum kesatria dan orang gagah yang ditahan di sini. Jika aku dapat saling berhubungan dengan Yim-locianpwe atau dengan salah seorang kawan senasib yang juga ditahan di sini, dengan gotong royong mungkin akan ada kesempatan lolos dari sini?"

Berpikir demikian, segera ia menggunakan tangan untuk mengetuk dinding.

Terdengar dinding itu berbunyi nyaring logam, terang berbuat dari baja.

Pula suaranya rada berat, agaknya di sebelah bukan lagi kamar kosong, tapi adalah tanah yang amat keras.

Ia coba mengetuk dinding bagian lain, suara yang timbul sama saja.

Ia masih belum rela, sesudah duduk kembali di dipannya, ia coba mengetuk lagi dinding sebelah belakang, tapi suaranya ternyata serupa.

Dari apa yang dilakukannya itu ia menarik kesimpulan bahwa selain dinding di sebelah pintu itu, tiga belah dinding yang lain agaknya dibangun dan terpendam di bawah tanah yang amat dalam.

Sudah tentu di bawah tanah itu masih ada kamar tahanan yang lain, paling sedikit masih ada sebuah, yaitu tempat tahanan orang tua she Yim itu.

Cuma tidak tahu di mana letak arah kamar tahanan dirinya berada sekarang ini.

Ia bersandar di dinding dan coba mengingat-ingat kembali apa yang dialaminya sebelum jatuh pingsan.

Yang teringat cuma serangan pedang orang she Yim itu semakin cepat disertai bentakan-bentakan, ketika suara bentakan dan teriakan itu sedemikian kerasnya dirinya lantas tidak tahan dan jatuh pingsan.

Mengenai bagaimana dirinya ditawan Kanglam-si-yu dan cara bagaimana digusur ke dalam kamar penjara ini sama sekali tak diketahuinya.

Diam-diam ia membatin.

"Keempat chengcu itu lahirnya saja seperti orang yang berbudi luhur, tapi perbuatan mereka yang sesungguhnya ternyata begini jahat. Suhu pernah berkata bahwa orang yang paling licik dan paling jahat di dunia ini justru adalah orang-orang yang paling pintar dan paling cerdik pula. Ungkapan suhu itu ternyata memang benar. Seperti tipu muslihat yang diatur Kanglam-si-yu ini memang juga sukar untuk dipecahkan orang. Padahal begitu melompat masuk lubang yang berada di bawah tempat tidur Ui Ciong-kong itu, saat itu juga aku sudah terjebak ke dalam jaring mereka biarpun waktu itu aku tersadar juga tidak keburu lagi menarik diri."

Tiba-tiba ia menjerit.

"Ai!"

Tanpa terasa ia pun melonjak bangun dengan jantung berdebar-debar pikirnya.

"Hei, kan masih ada Hiang-toako? Entah apakah dia juga mengalami nasib jelek seperti aku? Tapi biasanya Hiang-toako sangat pintar dan cerdik, tampaknya Hiang-toako sebelumnya sudah cukup kenal tingkah laku Kanglam-si-yu ini, dia sudah malang melintang di Kangouw sebagai Kong-beng-yusu pula dari Mo-kau, tentu dia takkan begitu mudah terjebak. Dan asalkan dia tidak terkurung oleh Kanglam-si-yu, tentu dia akan berdaya untuk menolong aku."

Terpikir demikian hatinya menjadi lega dan tersenyum simpul. Ia bergumam sendiri.

"Wahai Lenghou Tiong, sesungguhnya kau pun terlalu pengecut, masakah ketakutan sampai menangis, kalau diketahui orang lalu ke mana lagi mukamu akan ditaruh?"

Karena hatinya terasa lega, perlahan ia berbangkit, maka terasalah sekarang perutnya sangat lapar dan dahaga. Pikirnya.

"Sayang tadi aku mengamuk dan menyampuk jatuh makanan dan air minum itu. Jika aku tidak makan sekenyangnya, nanti kalau Hiang-toako datang menolong aku keluar, dari mana aku ada tenaga buat melabrak Kanglam-si-kau? Haha, memang benar harus kusebut mereka Kanglam-si-kau (Empat Anjing Kanglam). Di antara empat anjing itu Hek-pek-cu paling pendiam, tapi paling licin segala tipu muslihatnya ini tentu dia yang mengatur. Bila aku lolos dari sini orang pertama yang akan kubunuh adalah dia. Di antara empat anjing itu Tan-jing-sing agak jujur, biarlah aku mengampuni jiwanya saja. Cuma dia punya arak simpanan harus kuminum habis seluruhnya."

Teringat kepada arak simpanan Tan-jing-sing yang enak itu rasa dahaga Lenghou Tiong bertambah hebat. Pikirnya pula.

"Wah, entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri tadi, mengapa Hiang-toako masih belum tampak datang? Tapi, wah celaka! Jika satu lawan satu memang Hiang-toako sanggup mengalahkan keempat anjing Kanglam itu, tapi kalau mereka berempat maju sekaligus tentu sukar menang bagi Hiang-toako, sekalipun dengan kesaktian Hiang-toako dapat membinasakan keempat anjing itu untuk mencari penjara di bawah tanah ini juga mahasukar. Siapakah yang dapat menduga bahwa lubang masuk penjara ini justru terletak di bawah tempat tidur Ui Ciong-kong?"

Begitulah ia menjadi cemas-cemas khawatir lagi. Tapi kemudian ia berpikir lain pula.

"Ah, betapa hebat Hiang-toako itu? Dia adalah tokoh mahasakti. Tempo hari seorang diri ia pernah menghadapi beberapa ratus jago dari macam-macam golongan dan aliran bahkan waktu itu kedua tangannya terborgol, apalagi sekarang cuma menghadapi empat ekor anjing begitu, tentu dia akan menang dan dapat menemukan aku di sini."

Akhirnya ia terasa lelah, maka ia berbaring lagi. Tiba-tiba timbul pikirannya.

"Tinggi ilmu silat Yim-locianpwe ini jelas di atas Hiang-toako dan tidak mungkin di bawahnya, bahkan pengetahuannya yang luas serta kecerdasannya tampaknya juga tidak di bawah Hiang-toako, tokoh sehebat ini saja terkurung di sini, dari mana dapat dipastikan Hiang-toako bisa mengalahkan anjing-anjing itu? Sesudah sekian lama Hiang-toako tidak datang, bukan tak mungkin dia juga mengalami nasib sial."

Macam-macam pikiran yang simpang-siur itu akhirnya membuat dia terpulas.

Ketika terjaga bangun dan membuka mata, keadaan gelap gulita belaka, apakah sudah malam atau masih siang sama sekali tak diketahuinya.

Ia termenung lagi.

"Dengan kemampuanku terang aku tidak mampu keluar dari sini. Jika Hiang-toako juga mengalami bencana, lalu siapa lagi yang bisa datang menolong aku? Suhu telah menyebar surat edaran tentang pemecatanku dari Hoa-san-pay, orang-orang cing-pay terang tidak sudi datang menolong aku. Tinggal Ing-ing saja, ya, Ing-ing ...."

Teringat kepada Ing-ing, seketika semangatnya terbangkit, segera ia duduk dan berpikir pula.

"Ing-ing pernah menyuruh Lo Thau-cu dan kawan-kawannya menyiarkan berita di dunia Kangouw bahwa aku harus dibunuh. Dengan sendirinya jago-jago dari golongan yang tidak senonoh itu tidak mungkin datang menolong aku. Tapi bagaimana dengan Ing-ing sendiri? Jika dia tahu aku terkurung di sini pasti dia akan datang menolong aku. Meski kepandaiannya tidak setinggi Hiang-toako, tapi banyak sekali orang-orang sia-pay yang mau tunduk kepada perintahnya. Asalkan dia mengeluarkan perintah, haha ...."

Begitulah tanpa terasa ia tertawa senang. Pikirnya.

"Dasar anak perawan yang masih malu-malu kucing, dia paling takut kalau orang luar mengatakan dia suka padaku. Jadi seumpama dia bertekad akan menolong aku tentu juga dia akan datang sendiri dan tak mau mengajak pembantu. Malahan kalau ada orang tahu dia datang menolong aku besar kemungkinan jiwa orang itu akan melayang. Ai, dasar perasaan gadis yang sukar diraba. Seperti siausumoay ...."

Apa yang dialaminya sekarang sesungguhnya berada di titik yang paling celaka, tapi demi teringat kepada Gak Leng-sian, seketika hatinya terasa sakit.

Terasa di antara duka derita dan putus asa sekarang menjadi tambah satu lapis lebih berat lagi.

Sesaat itu ia merasa tiada artinya lagi hidup lebih lama di dunia fana ini, sebab waktu itu mungkin sekali siausumoaynya sudah kawin dengan Lim-sute, biarpun dapat lolos dari kurungan sekarang juga percuma.

Lalu buat apa mengharap-harapkan datangnya penolong?

Kan lebih baik mengeram selama hidup saja di dalam penjara ini?

Mengingat ada manfaatnya juga biarpun terkurung dalam penjara, seketika rasa cemas tadi rada berkurang, bahkan timbul rasa syukur dan gembiranya.

Tapi rasa hibur diri itu tidak dapat bertahan lama, ketika perutnya terasa lapar dan tenggorokan kering, terbayang olehnya waktu makan enak dan minum arak di restoran yang menyenangkan itu, akhirnya ia merasa toh lebih baik lolos keluar saja daripada kebebasannya terkekang.

Katanya di dalam hati.

"Apa alangannya biarpun Lim-sute mengawini siausumoay? Aku sendiri toh sudah kenyang dianiaya orang, tenagaku sudah punah dan mirip orang cacat, malahan Peng-tayhu menyatakan ajalku sudah tidak lama lagi, sekalipun siausumoay mau menjadi istriku juga aku tidak boleh mengawini dia. Mana boleh aku membikin dia menjadi janda muda yang merana?"

Bab 72.

Habis Murung Dapat Untung Namun dalam lubuk hatinya ia tetap merasa biarpun dia tidak dapat mengawini Gak Leng-sian, namun nona itu mencintai pula Lim Peng-ci, betapa pun hal ini membuat perasaannya sangat tertusuk.

Paling baik, ia merasa paling baik kalau sang sumoay masih tetap seperti masa dulu, paling baik tidak pernah terjadi apa-apa, Lim-sute tidak pernah menjadi murid Hoa-san-pay, dengan demikian ia akan dapat hidup berdampingan dengan Gak Leng-sian untuk selamanya.

"Ai, tapi sekarang semua itu sudah terjadi,"

Pikirnya pula.

"Dan entah bagaimana dengan Dian Pek-kong, ada lagi Tho-kok-lak-sian, ada lagi Gi-lim Sumoay ...."

Teringat kepada nikoh cilik Hing-san-pay yang bernama Gi-lim itu, seketika timbul senyumannya yang hangat, pikirnya.

"Entah di mana sekarang Gi-lim Sumoay itu? Jika dia tahu aku terkurung di sini, tentu dia akan sangat khawatir pula. Sudah tentu gurunya akan melarang dia datang menolong aku karena surat edaran suhu, tapi dia ... dia pasti akan mohon ayahnya, yaitu Put-kay Hwesio untuk berdaya, bisa jadi akan jadi akan mengajak pula Tho-kok-lak-sian ke sini. Ai, ketujuh orang itu suka berbuat ngawur dan takkan mampu menghasilkan apa-apa. Tetapi ... tetapi bila kedatangan penolong kan lebih baik daripada tidak ada orang menggubris urusanku?"

Teringat pada kelakuan Tho-kok-lak-sian yang ngawur dan sinting itu, tanpa terasa Lenghou Tiong mengekek tawa.

Dahulu ia rada menyepelekan tingkah laku Tho-kok-lak-sian itu, tapi sekarang ia berharap-harap mereka dapat menjadi teman mengobrol di dalam penjara yang sunyi ini, ucapan Tho-kok-lak-sian yang aneh-aneh dan lucu-lucu itu jika didengarnya sekarang mungkin akan dianggapnya sebagai nyanyian malaikat dewata.

Berpikir dan termenung pula, akhirnya Lenghou Tiong terpulas lagi.

Entah lewat berapa lama di dalam penjara yang gelap itu, dalam keadaan masih mengantuk, tiba-tiba terlihat sinar remang-remang menembus masuk pula melalui lubang persegi di pintu besi itu.

Dengan girang cepat Lenghou Tiong berbangkit, hatinya berdebar-debar, pikirnya.

"Entah siapakah yang datang menolong aku?"

Tapi rasa girang itu tidak bertahan lama, segera ia dengar suara tindakan orang yang perlahan dan berat, terang yang datang adalah kakek pengantar makanan itu.

Dengan lemas ia rebahkan diri lagi sambil berteriak.

"Panggil keempat bangsat anjing itu ke sini! Coba mereka ada muka buat menemui aku atau tidak?"

Terdengar suara tindakan kaki semakin mendekat, cahaya lampu juga makin terang.

Menyusul sebuah nampan kayu disodorkan masuk melulu lubang persegi itu.

Di atas nampan tetap tertaruh semangkuk besar nasi dan sebuah kendi.

Kakek itu sama sekali tidak bicara, hanya menyodorkan nampan ke dalam dan menunggu diterima oleh Lenghou Tiong.

Memangnya Lenghou Tiong sudah sangat kelaparan, lebih-lebih kerongkongannya yang sudah kering itu.

Hanya ragu sejenak saja segera ia sambut nampan kayu itu.

Sesudah melepaskan nampan, si kakek lantas putar tubuh dan melangkah pergi.

"He, hei, nanti dulu, aku ingin tanya padamu!"

Teriak Lenghou Tiong.

Namun kakek itu sama sekali tidak menggubris, terdengar suara kakinya yang melangkah, dengan berat dan setengah diseret, lambat laun menjauh dan cahaya lampu pun lenyap akhirnya.

Lenghou Tiong menggerutu beberapa kali lalu kendi itu diangkat terus dituang mulut.

Isi kendi itu memang betul air minum.

Sekaligus ia menghabiskan hampir setengah kendi, habis itu baru makan nasi.

Sayuran yang bercampur nasi itu biarpun dalam kegelapan juga dapat dibedakan rasanya, yaitu terdiri dari masakan lobak, tahu, dan sebagainya.

Begitulah ia meringkuk dalam penjara itu sampai tujuh atau delapan hari, si kakek pasti datang satu kali mengantar daharan, ketika pergi dibawanya sekalian mangkuk, sumpit, kendi yang diantar sehari sebelumnya.

Begitu pula dibawa pergi tempurung wadah kotoran.

Tapi biar bagaimana Lenghou Tiong mengajak bicara padanya selalu air mukanya tampak kaku tanpa memberi sesuatu perasaan apa pun.

Entah sudah berapa hari lagi, ketika Lenghou Tiong melihat cahaya lampu, segera ia menubruk ke depan lubang persegi itu dan memegangi nampan kayu yang disodorkan si kakek sambil berteriak.

"Kenapa kau tidak bicara? Kau dengar tidak kata-kataku?"

Karena jaraknya dengan si kakek sekarang sangat dekat mendadak ia jadi terkejut.

Ternyata kedua mata orang itu terbelalak putih, sinar matanya buram jelas seorang buta.

Malahan orang tua itu menuding-nuding pula telinga sendiri sambil geleng-geleng kepala sebagai tanda dia orang tuli, menyusul ia lantas pentang mulut pula.

Lenghou Tiong tambah melongo kaget.

Kiranya lidah orang tua itu hanya tinggal sebagian kecil saja, ujungnya sebagian besar telah terpotong sehingga tampaknya sangat mengerikan.

"Hah, jadi lidahmu dipotong orang? Apakah perbuatan keji keempat chengcu itu?"

Seru Lenghou Tiong.

Orang tua itu tidak menjawab, perlahan ia mengangsurkan nampan.

Nyata sekali ia tidak dengar apa yang diucapkan Lenghou Tiong.

Andaikan dengar juga tidak dapat menjawab karena sudah bisu.

Rasa kejut dan ngeri meliputi perasaan Lenghou Tiong, sampai orang tua itu pergi ia masih belum tenang kembali.

Ia berbaring pula dan termenung-menung membayangkan lidah yang hampir habis terpotong itu sehingga nafsu makan pun lenyap.

Diam-diam ia bersumpah bilamana pada suatu ketika dia berhasil lolos dari tempat tahanan itu maka seorang demi seorang lidah Kanglam-si-kau itu pun akan dipotong olehnya, telinga akan dibikin tuli.

Tiba-tiba timbul setitik sinar terang dalam hati kecilnya, pikirnya.

"Ah, benar, sebab apakah mereka memperlakukan aku cara demikian? Jangan-jangan mereka adalah ...."

Ia menjadi teringat kepada peristiwa dahulu ketika malam itu sekaligus ia membutakan belasan laki-laki, asal usul orang-orang itu selama ini masih belum diketahui, jangan-jangan mereka itulah yang hendak menuntut balas padanya.

Teringat kejadian itu ia lantas menghela napas, rasa dongkolnya yang tak terlampias selama beberapa hari lantas lenyap sebagian besar, ia anggap pembalasan dendam mereka pun cukup beralasan karena belasan pasang mata pernah dibutakan olehnya.

Karena rasa dongkol dan gemasnya mulai lenyap maka hari-hari selanjutnya menjadi mudah untuk dilalui.

Karena siang atau malam tak terbedakan di dalam penjara yang gelap itu sehingga ia pun tidak tahu sudah terkurung berapa lama di situ.

Yang terasa olehnya adalah makin hari makin gerah hawa di dalam kamar penjara itu, ia menduga mungkin sudah musim panas.

Apalagi kamar sempit itu sama sekali tidak ada lubang angin.

Suatu hari hawa sangat panas, saking tak tahan Lenghou Tiong membuka baju, dengan badan telanjang ia berbaring di atas dipan.

Karena tangan dan kaki terantai sehingga tidak mungkin pakaiannya ditanggalkan seluruhnya, maka bajunya hanya ditarik ke atas dan celana digulung ke bawah.

Tikar rombeng yang menutupi dipan besi itu pun digulungnya.

Maka terasalah segar badannya yang telanjang itu ketika rebah dipan besi.

Tanpa terasa akhirnya ia tertidur.

Lambat laun dipan itu menjadi panas juga tertindih oleh badannya, dalam keadaan lamat-lamat ia membalik tubuh dan menggeser ke tempat yang masih nyaman, ketika sebuah tangan menahan dipan, tiba-tiba terasa permukaan dipan seperti terukir sesuatu, cuma waktu itu dia sedang mengantuk, maka hal itu tidak diurus lebih jauh.

Nyenyak sekali ia tertidur, ketika bangun ia merasa semangatnya penuh.

Tidak lama kemudian orang tua itu datang lagi mengantar makanan.

Kini Lenghou Tiong merasa sangat simpatik kepada kakek yang cacat itu, setiap kali ia menyodorkan nampan makanan tentu dia meremas-remas tangannya atau tepuk-tepuk perlahan punggung tangan orang tua itu sebagai tanda terima kasihnya.

Maka sekali ini pun tidak terkecuali.

Setelah menerima nampan itu dan waktu menarik kembali lengannya, di bawah cahaya yang remang sekonyong-konyong dilihatnya pada punggung tangan sendiri menonjol empat huruf, dengan jelas dapat terbaca empat huruf itu berbunyi "ngo-heng-pi-gun."

Terheran-heran Lenghou Tiong, seketika ia tidak mengerti dari mana datangnya empat huruf itu.

Setelah merenung sejenak, cepat ia menaruh nampan itu dan segera dipan besi diraba-rabanya.

Baru sekarang diketahui bahwa di atas dipan besi itu ternyata penuh terukir tulisan yang tak terhitung banyaknya.

Maka pahamlah dia bahwa tulisan di atas dipan itu sudah lama terukir di situ, tadinya dipan itu tertutup selapis tikar, maka tidak terang.

Lantaran semalam hawa terlalu gerah sehingga dia tidur dengan badan telanjang maka tercetaklah empat huruf itu di lengannya.

Ia coba-coba meraba-raba lagi bagian lengan yang lain, bagian pinggul dan punggung, memang benar semuanya tercetak huruf-huruf sebesar mata uang, lekuk tulisan itu cukup mendalam.

Saat itu kakek pengantar makanan itu sudah pergi.

Segera Lenghou Tiong minum air kendi beberapa ceguk.

Tanpa pikirkan makan nasi lagi segera ia mulai meraba-raba tulisan di atas dipan itu.

Perlahan dan satu demi satu huruf ia menelitinya sambil mulut membaca lirih.

"Aku selamanya tidak ambil pusing tentang budi dan benci, orang yang sudah kubunuh tak terhitung banyaknya, sekarang aku terkurung di bawah danau adalah ganjaran pantas. Cuma aku Yim Ngo-heng terkurung ...."

Sampai di sini barulah Lenghou Tiong tahu keempat huruf "ngo-heng-pi-gun" (Ngo-heng terkurung) yang tercetak di lengannya itu letaknya di bagian ini. Ia coba meraba dan meraba terus ...

"di sini, segenap kepandaianku yang sakti terpaksa harus berakhir bersama badanku yang lapuk ini, sungguh sayang bahwa angkatan muda yang akan datang sama sekali tidak sempat melihat semua ilmu saktiku."

Lenghou Tiong berhenti meraba, pikirnya sambil menengadah.

"Aku Yim Ngo-heng! Yim Ngo-heng? Jadi orang yang mengukir tulisan ini bernama Yim Ngo-heng? Kiranya orang ini pun she Yim, entah ada hubungan dengan Yim-locianpwe atau tidak?"

Ia coba melanjutkan meraba tulisan itu yang berbunyi.

"Kini semua intisari ilmu saktiku kutulis di sini, semoga orang muda angkatan mendatang dapat mempelajarinya dan tentu dapat malang melintang di Kangouw, maka tidak percumalah kematianku ini. Pertama, semadi ...."

Dan begitulah tulisan selanjutnya adalah macam-macam ajaran tentang semadi dan mengatur pernapasan segala.

Sejak berhasil meyakinkan Tokko-kiu-kiam, dalam ilmu silat yang paling disukai adalah ilmu pedang, sedangkan tenaga dalam sendiri sudah punah, maka soal semadi baginya menjadi tidak menarik.

Yang dia harap tulisan selanjutnya akan menguraikan semacam ilmu pedang yang bagus sehingga dia akan dapat memainkannya sekadar pelipur lara.

Akan tetapi huruf-huruf yang terukir itu seluruhnya adalah ajaran tentang bagaimana harus bernapas, bagaimana harus duduk memusatkan pikiran, dan sebagainya, biarpun tulisan itu habis, terasa juga tidak menemukan sebuah huruf tentang ilmu pedang.

Alangkah kecewa Lenghou Tiong, pikirnya.

"Katanya ilmu sakti apa segala, ini kan cuma bergurau saja dengan aku. Segala ilmu silat dapat kuterima, hanya saja tidak dapat berlatih lwekang, sebab begitu mengumpulkan tenaga seketika darah dalam badan akan bergolak dan aku sendiri akan tersiksa."

Begitulah kemudian ia mulai makan sembari membatin pula.

"Entah orang macam apakah Yim Ngo-heng itu? Dia membual ilmu saktinya bisa malang melintang di dunia segala. Tampaknya penjara ini khusus digunakan mengurung jago-jago silat kelas tinggi. Sebab dari ukiran tulisan di atas papan besi ini dapatlah diduga ilmu silat Yim Ngo-heng itu pasti sangat lihai, mengapa dia kena dikurung di sini dan tak berdaya? Jelas penjara ini memang dibangun dengan sangat kuat, biarpun punya kepandaian setinggi langit juga sukar untuk kabur, terpaksa harus menunggu ajal di sini."

Begitulah ia tidak mau urus lagi ukiran tulisan itu.

Pada musim panas, sedangkan di daratan saja panasnya seperti dipanggang, apalagi di penjara bawah tanah yang tak tembus hawa itu, terpaksa setiap hari Lenghou Tiong melepas baju dan tidur di atas dipan besi itu untuk mencari rasa nyaman, tapi setiap kali selalu tangannya meraba ukiran tulisan di atas dipan sehingga tanpa terasa pula banyak sekali kalimat-kalimat di antaranya jadi hafal baginya di luar kepala.

Pada suatu hari sedang ia tiduran sambil mengenangkan guru ibu-guru dan sumoaynya yang molek itu entah sekarang mereka berada di mana atau sudah pulang di Hoa-san.

Pada saat itulah tiba-tiba dari jauh terdengar suara tindakan orang mendatang.

Suara ini sangat ringan tapi cepat berbeda sekali dengan langkah si kakek pengantar makanan itu.

Setelah sekian lama mengeram di dalam penjara sebenarnya Lenghou Tiong sudah tidak begitu mengharap-harapkan akan datangnya penolong.

Kini mendadak ada suara kaki orang baru, mau tak mau ia menjadi girang dan khawatir.

Ia bermaksud melompat bangun, tapi badan terasa lemas sehingga terpaksa tetap berbaring tanpa bergerak lagi.

Terdengar suara tindakan orang itu sangat cepat sekali, tahu-tahu sudah sampai di luar pintu besi dan pintu lubang persegi itu pun terpentang.

Sebisanya Lenghou Tiong menahan napas dan tidak mengeluarkan suara apa-apa.

Didengarnya orang di luar itu berkata.

"Yim-heng, beberapa hari ini hawa sangat panas, apakah engkau sehat-sehat saja?"

Begitu mendengar suaranya segera Lenghou Tiong dapat mengenali itu adalah suara Hek-pek-cu.

Kalau Hek-pek-cu datang sebulan sebelumnya tentu Lenghou Tiong akan terus mencaci maki padanya dengan segala macam kata-kata kotor dan keji, tapi setelah terkurung sekian lamanya, rasa marahnya sudah padam, ia menjadi jauh lebih tenang dan sabar.

Diam-diam ia heran.

"Mengapa dia panggil aku sebagai Yim-heng? Apakah dia kesasar pada kamar tahanan ini?"

Karena itu dia tetap diam saja tanpa menjawab. Terdengar Hek-pek-cu berkata lagi.

"Hanya satu pertanyaan saja yang selalu kutanyakan padamu setiap dua bulan satu kali. Hari ini adalah tanggal satu bulan tujuh, yang aku tanya padamu tetap sama, apakah engkau tetap tak mau menyanggupi?"

Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli, pikirnya.

"Nyata orang ini memang keliru menyangka aku sebagai Yim-locianpwe. Aneh benar, biasanya Hek-pek-cu sangat cerdik, apa sekarang dia sudah pikun?"

Tapi segera ia terkesiap.

"Ah, tidak mungkin, dibanding Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing, Hek-pek-cu adalah paling cerdik, mana bisa dia salah alamat? Tentu di balik ini ada sebabnya."

Karena tidak mendapat jawaban, Hek-pek-cu lantas berseru pula.

"Yim-heng selama hidup terkenal sebagai kesatria yang lihai, buat apa mesti meringkuk di penjara ini sampai menjadi mayat? Asalkan engkau berjanji menerima permintaanku, maka aku pun akan pegang janji untuk membebaskanmu dari sini."

Hati Lenghou Tiong menjadi berdebar-debar, timbul macam-macam pikiran dalam benaknya, tapi sukar untuk dipecahkan.

Ia tidak mengerti apa artinya Hek-pek-cu mengemukakan kata-kata itu kepadanya.

Didengarnya Hek-pek-cu sedang menegas lagi.

"Sesungguhnya kau mau atau tidak?"

Lenghou Tiong tahu sekarang terbuka suatu kesempatan untuk meloloskan diri tak peduli maksud jahat apa akan diperlakukan oleh pihak musuh toh akan lebih baik daripada meringkuk di sini dan tersiksa untuk selamanya.

Cuma ia tidak dapat meraba apa maksud tujuan kata-kala Hek-pek-cu tadi, ia khawatir kalau salah jawab sehingga bikin urusan menjadi runyam, maka terpaksa tetap diam saja.

Terdengar Hek-pek-cu menghela napas, katanya pula.

"Yim-heng, mengapa engkau tidak bersuara? Tempo hari aku membawa orang she Hong itu kemari untuk bertanding denganmu, di depan ketiga kawanku sama sekali engkau tidak menyinggung tentang pertanyaanku kepadamu sungguh aku merasa terima kasih. Kupikir setelah mengalami pertandingan itu tentu jiwa kepahlawananmu masa lalu kembali akan berkobar lagi. Betapa luasnya jagat raya di luar sana, asalkan Yim-heng sudah keluar dari penjara gelap ini, maka bebaslah Yim-heng untuk membunuh siapa saja dan mana suka, siapa yang berani melawan Yim-heng lagi dan alangkah puasnya? Jika engkau menyanggupi permintaanku, toh hal ini sedikit pun tidak merugikanmu, tapi mengapa selama 12 tahun engkau tetap menolak?"

Dari nada Hek-pek-cu yang diucapkan dengan sungguh-sungguh dan memang menyangka dia sebagai orang tua she Yim itu, maka Lenghou Tiong jadi makin heran dan curiga.

Didengarnya Hek-pek-cu bicara terus tapi berulang-ulang yang ditonjolkan adalah soal pertanyaannya yang minta disanggupi itu.

Mestinya Lenghou Tiong ingin tahu duduk perkara yang sebenarnya, tapi khawatir sekali dirinya membuka suara tentu urusan akan runyam maka terpaksa ia membisu terus.

Hek-pek-cu menghela napas katanya.

"Karena pendirian Yim-heng sedemikian kukuh terpaksa bertemu lagi dua bulan kemudian."

Tiba-tiba ia tertawa dan berkata pula.

"Sekali ini Yim-heng tidak mencaci maki padaku, tampaknya pikiranmu sudah rada berubah. Dalam dua bulan ini silakan Yim-heng berpikir yang masak."

Habis itu ia lantas putar tubuh dan melangkah pergi.

Lenghou Tiong menjadi kelabakan, sekali Hek-pek-cu sudah pergi harus menunggu dua bulan lagi, padahal satu hari saja di dalam penjara rasanya seperti setahun jangankan dua bulan.

Maka ketika Hek-pek-cu sudah melangkah pergi beberapa tindak cepat-cepat ia menahan suara dan dengan nada kasar yang dibikin-bikin ia berkata.

"Kau ... kau minta aku menyanggupi apa?"

Mendengar suaranya, secepat kilat Hek-pek-cu melompat balik, serunya.

"Yim-heng, jadi engkau sudah mau menyanggupi?"

Perlahan Lenghou Tiong membalik tubuh menghadap dinding, dengan tangan menahan mulut ia berkata pula secara samar-samar.

"Menyanggupi soal apa?"

"Selama 12 tahun ini setiap tahun aku selalu datang enam kali ke sini dengan menempuh bahaya hanya untuk mohon kesanggupan Yim-heng, mengapa sudah tahu sekarang Yim-heng malah tanya?"

Ujar Hek-pek-cu.

"Hm, aku sudah lupa,"

Demikian Lenghou Tiong sengaja mendengus.

"Aku mohon Yim-heng mengajarkan ilmu sakti itu kepadaku, bila tamat kulatih tentu Yim-heng akan kubebaskan dari sini,"

Kata Hek-pek-cu.

Diam-diam Lenghou Tiong menjadi ragu apakah benar Hek-pek-cu menyangkanya sebagai tokoh she Yim itu atau ada tipu muslihat lain?

Seketika sebelum tahu jelas maksud tujuannya, terpaksa Lenghou Tiong mengoceh lagi secara samar-samar, tapi apa yang dikatakan sampai dia sendiri pun tidak jelas jangankan Hek-pek-cu.

Maka berulang-ulang Hek-pek-cu menegas.

"Bagaimana? Yim-heng sudah sanggup?"

"Kata-katamu tak bisa dipercaya, mana aku dapat kau tipu,"

Kata Lenghou Tiong pula.

"Habis jaminan apa yang Yim-heng kehendaki agar dapat percaya?"

Tanya Hek-pek-cu.

"Kau bilang sendiri saja,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Kukira Yim-heng masih sangsi aku tidak mau menepati janji melepaskanmu bila aku sudah berhasil mempelajari ilmu saktimu itu bukan? Tentang ini engkau jangan khawatir, aku sendiri akan mengatur sedemikian rupa sehingga Yim-heng tidak perlu ragu lagi."

"Mengatur cara bagaimana?"

"Tapi engkau sanggup atau tidak?"

Macam-macam pikiran terkilas dalam benak Lenghou Tiong.

"Dia mohon belajar ilmu sakti apa-apa padaku, tapi dari mana aku punya ilmu sakti yang dapat kuajarkan padanya. Namun tiada salahnya aku mengetahui apa yang akan dia atur. Jika dia benar-benar bisa membebaskan aku dari sini, biarlah aku lantas menguraikan ajaran yang terukir di atas dipan itu padanya, peduli dia akan terpakai atau tidak yang penting tipu dia dahulu, urusan belakang."

Karena tidak mendapat jawaban, maka Hek-pek-cu berkata pula.

"Bilamana Yim-heng sudah mengajarkan ilmu itu padaku maka aku sudah terhitung muridmu, mana aku berani melanggar peraturan agamamu dan mengkhianati guru tanpa membebaskanmu!"

"Hm, kiranya begitu,"

Jengek Lenghou Tiong.

"Jadi Yim-heng sudah menyanggupi?"

Tanya Hek-pek-cu pula, nadanya penuh rasa girang.

"Tiga hari lagi boleh kau datang menerima jawabanku,"

Kata Lenghou Tiong.

"Sekarang saja Yim-heng boleh menyanggupi, kenapa mesti menunggu tiga hari lebih lama?"

Ujar Hek-pek-cu.

Lenghou Tiong tahu Hek-pek-cu jauh lebih gelisah daripada dia sendiri, siasat ulur tempo ini tentu akan membuatnya kelabakan sekalian dapat melihat tipu muslihat apa di balik persoalan ini.

Maka ia tidak menjawab, tapi sengaja mendengus keras sebagai tanda muak dan tidak sabar lagi.

Rupanya Hek-pek-cu menjadi takut, cepat ia berkata pula.

"Baiklah, tiga hari lagi tentu aku akan datang minta petunjuk kepada engkau orang tua."

Ia tidak memanggil "Yim-heng" (Saudara Yim) lagi, tapi berganti menyebutnya sebagai "orang tua"

Seakan-akan sudah pasti orang telah menyanggupi akan menerimanya sebagai murid. Sesudah Hek-pek-cu pergi pikiran Lenghou Tiong jadi bergolak lagi, pikirnya.

"Masakah dia benar-benar menyangka aku sebagai Yim-locianpwe itu? Padahal Hek-pek-cu sangat cerdik, mana dia bisa berbuat kesalahan demikian?"

Tiba-tiba teringat sesuatu olehnya.

"Jangan-jangan orang she Yim itu adalah gembong Mo-kau? Tapi di dalam Mo-kau juga ada orang baik seperti Kik Yang itu, ada lagi Hiang-toako, bukankah mereka juga orang Mo-kau?"

Hal ini hanya sekilas saja tebersit dalam benaknya dan lantas tak dipikirkan lagi, yang dia pikirkan hanya dua hal saja.

Maksud Hek-pek-cu itu timbul dari ketulusan hatinya atau cuma pura-pura saja?

Cara bagaimana harus menjawabnya bilamana tiga hari lagi dia datang pula menanyai aku?

Sehari penuh ia terus pikir ini dan terka itu, macam-macam pikiran yang aneh-aneh telah dikhayalkannya, tapi tetap tidak dapat memastikan maksud tujuan Hek-pek-cu yang sesungguhnya.

Sampai akhirnya saking lelah ia terpulas sendiri.

Ketika mendusin, hal yang pertama dipikirnya adalah.

"Kalau saja Hiang-toako yang cerdik itu berada di sini tentu dia akan segera mengetahui tujuan Hek-pek-cu. Kecerdasan Yim-locianpwe itu jauh di atas Hiang-toako pula, eh ya ...."

Seketika ia melonjak bangun, rupanya sesudah tidur sekarang benaknya menjadi jernih, pikirnya.

"Selama 12 tahun ini Yim-locianpwe tetap tidak menyanggupi permintaan Hek-pek-cu, sudah tentu karena permintaannya itu tidak mungkin dapat diluluskan, sebagai seorang cerdik pandai tentu dia cukup tahu untung ruginya bilamana menyanggupi permintaan Hek-pek-cu. Tapi aku bukan Yim-locianpwe, apa alangannya bagiku untuk menyanggupi dia?"

Dalam hati kecilnya ia tahu urusan ini sangat ganjil, di balik hal ini tentu mengandung bencana yang membahayakan.

Tapi rasa ingin lolosnya terlalu keras, asalkan ada kesempatan buat lepas dari penjara neraka ini, segala bahaya tak terpikir lagi olehnya.

Maka diam-diam ia ambil keputusan, tiga hari lagi kalau Hek-pek-cu datang, aku akan menyanggupi permintaannya, aku akan mengajarkan ilmu semadi seperti apa yang terukir di atas dipan ini padanya, coba saja bagaimana reaksinya nanti dan aku akan bertindak menurut gelagat.

Begitulah ia lantas mulai meraba-raba lagi tulisan di atas dipan sembari menghafalkannya dengan baik agar nanti dapat mengucapkannya di luar kepala supaya tidak dicurigai Hek-pek-cu.

Sekarang hanya soal suaranya saja yang masih berbeda jauh dengan Yim-locianpwe itu, jalan satu-satunya harus membikin suaranya menjadi serak.

"Ah, aku ada akal, biarlah aku berteriak-teriak dan menggembor selama dua hari ini supaya kerongkonganku menjadi serak, dengan begini suaraku yang kubikin lagi secara samar-samar tentu takkan dikenali lagi olehnya,"

Demikian Lenghou Tiong merasa girang.

Maka sehabis menghafalkan tulisan terukir itu, lalu ia mulai berteriak-teriak dan gembar-gembor seperti orang gila.

Untung penjara itu terletak di bawah tanah, ditambah pintunya yang berlapis-lapis, biarpun bunyi meriam di situ juga takkan terdengar di luar, apalagi cuma suara teriaknya.

Karena itu Lenghou Tiong juga tidak khawatir orang mendengar suaranya, ia berteriak sekuat-kuatnya, sebentar mencaci maki Kanglam-si-yu, sebentar lagi menyanyi, padahal ia sendiri pun tidak tahu apa lagu yang dia nyanyikan itu, akhirnya ia menjadi geli sendiri dan tertawa terpingkal-pingkal.

Kemudian mulai lagi menghafalkan ukiran tulisan di atas dipan pula.

Tiba-tiba terbaca olehnya beberapa kalimat yang berbunyi.

"Di dalam perut, hampa seperti peti kosong ... jika perut ada hawa murni, buyarkan ke bagian nadi yim-meh."

Kalimat-kalimat ini sebelumnya juga pernah dirabanya beberapa kali, cuma tadinya ia merasa bosan dan mual terhadap ilmu semadi demikian sehingga tidak pernah direnungkan artinya yang dalam.

Sekarang mendadak ia merasa heran.

"Dahulu pada waktu suhu mengajarkan lwekang padaku, dasarnya yang penting adalah mengumpulkan hawa murni di dalam perut, semakin kuat hawa murni yang dapat dihimpun perut, semakin kuat pula lwekang yang dapat dilatih. Tapi mengapa kalimat ini menyatakan hawa murni yang terdapat di dalam perut harus dibuyarkan malah? Kalau di dalam perut tiada hawa murni, lalu dari mana datangnya tenaga? Kan aneh, apakah ajaran ini bukan sengaja hendak bercanda belaka? Haha, memangnya Hek-pek-cu adalah manusia rendah, jika aku mengajarkan ilmu yang menyesatkan ini padanya, biar dia tertipu."

Begitulah ia terus melanjutkan meraba tulisan itu sembari merenungkan arti yang terkandung dalam tulisan itu.

Ia merasa beberapa ratus huruf permulaan semuanya adalah ajaran cara bagaimana orang harus membuyarkan tenaga, cara bagaimana memunahkan tenaga dalamnya sendiri.

Semakin diselami semakin terkesiap Lenghou Tiong.

Pikirnya.

"Di dunia ini mana ada orang tolol yang mau memunahkan tenaga dalamnya sendiri yang telah diyakinkan dengan susah payah itu? Ya, kecuali kalau dia sudah bertekad akan membunuh diri. Tapi kalau mau bunuh diri cukup sekali gorok leher sendiri kan beres buat apa mesti buang-buang tenaga dan pikiran untuk membuyarkan tenaga sendiri lebih dulu? Ilmu membuyarkan tenaga ini jauh lebih sukar dilatih daripada ilmu latih mengumpulkan tenaga. Sesudah dilatih apa manfaatnya pula?"

Setelah berpikir sejenak akhirnya Lenghou Tiong menjadi lesu, ia merasa Hek-pek-cu yang cerdik itu masa begitu gampang ditipu dengan diberi ajaran yang tidak masuk akal itu.

Tampaknya jalan ini tak bisa dilaksanakan lagi.

Semakin dipikir semakin kesal, bolak-balik yang teringat hanya kalimat tentang "di dalam perut ada hawa murni buyarkan ke nadi yim-meh"

Dan seterusnya, akhirnya ia menjadi murka, makinya sambil menggebrak dipan.

"Bedebah! Keparat itu terkurung di penjara neraka ini, saking gemas dan terlalu iseng ia sengaja mengatur muslihat ini untuk mempermainkan orang lain."

Setelah mencaci maki, akhirnya ia lelah lagi dan terpulas tanpa terasa.

Dalam mimpi ia merasa dirinya duduk di atas dipan dan sedang semadi menurutkan ajaran yang dibacanya dari tulisan ukir itu tentang "hawa murni dalam perut buyarkan ke yim-meh"

Segala dan suatu arus hawa murni lantas perlahan mengalir ke nadi yim-meh, lalu ruas-ruas tulang di seluruh badan terasa nikmat tak terkatakan.

Tidak lama dalam keadaan samar-samar dan lamat-lamat seperti masih tidur tapi seperti juga sudah sadar ia merasa hawa murni dalam perutnya masih terus bergerak ke nadi yim-meh.

Mendadak pikirannya tergerak.

"Wah, celaka. Jadi tenaga dalamku mengalir pergi begini terus kan aku bisa menjadi lumpuh dan tak berguna lagi."

Dalam kagetnya segera ia bangun duduk, seketika hawa murni yang bergerak tadi lantas mengalir balik dari yim-meh.

Kontan darah lantas bergolak, kepala puyeng tujuh keliling, dan mata berkunang-kunang, sampai lama dan lama sekali baru dapat memusatkan pikiran lagi.

Sekonyong-konyong ia teringat sesuatu, kejut dan girang berkecamuk serentak, katanya di dalam hati.

"Sebabnya penyakitku sukar disembuhkan adalah karena dalam tubuhku mengeram tujuh-delapan macam hawa murni yang dicurahkan Tho-kok-lak-sian dan Put-kay Hwesio sehingga seorang tabib sakti sebagai Peng It-ci juga tidak sanggup mengobati aku. Hong-ting Taysu, ketua Siau-lim-si itu juga mengatakan hawa murni aneh yang bergolak dalam tubuhku ini hanya bisa dipunahkan dengan berlatih ‘Ih-kin-keng’. Tapi ilmu semadi yang merupakan rahasia berlatih lwekang yang terukir di atas dipan ini bukankah justru mengajarkan padaku cara bagaimana memunahkan tenaga dalamku sendiri? Ahahaha! Ai, Lenghou Tiong, kau ini benar-benar bodoh seperti kerbau. Sekarang ilmu ajaib itu terletak di depan matamu mengapa tidak kau yakinkan dengan baik?"

Dapatnya dia berlatih lwekang dalam impian tadi adalah karena sebelumnya ia terlalu disibukkan oleh kalimat yang membosankan itu, pada waktu mimpi yang terpilih adalah ilmu semadi yang terukir di dipan itu dan tanpa terasa ditirukannya dalam mimpi.

Cuma kemudian pikirannya lantas kacau sehingga ilmu itu pun mogok setengah jalan.

Sekarang ia lantas mengumpulkan semangat dan mengulangi lagi meraba-raba tulisan yang terukir itu, dihafalkan dan direnungkan semasak-masaknya.

Hanya sejam kemudian, terasa macam-macam hawa murni yang selalu mengganggu di dalam perutnya sudah ada sebagian membuyar ke urat nadi yim-meh, meski belum dapat diusir ke luar tubuh, tapi pergolakan darah yang biasanya sangat menyiksa itu kini sudah jauh berkurang.

Ia lantas berbangkit, saking senangnya ia lantas menyanyi, tapi suara nyanyiannya terasa serak semacam suara burung gagak, rupanya gembar-gembor kemarin untuk membikin serak kerongkongannya telah membawa hasil.

Kembali ia terbahak-bahak lagi.

Pikirnya.

"Wahai Yim Ngo-heng, dengan tulisan yang kau tinggalkan ini bermaksud membikin susah orang lain, siapa duga kebentur padaku dan malah memberi manfaat bagiku. Jika di dalam kuburmu kau tahu akan ini mungkin kumismu akan menegak saking gusarnya. Hahahaha!"

Setelah berlatih, rasa laparnya semakin menjadi, akhirnya kakek pengantar makanan yang sangat diharapkan itu datang juga.

Segera ia makan dengan lahap, dalam sekejap saja semuanya disapu bersih di dalam perut.

Lalu duduk di atas dipan untuk semadi lagi.

Bab 73.

Hek-pek-cu Menjadi Korban Pertama Ilmu Sakti Lenghou Tiong Begitulah tanpa putus-putus ia terus berlatih dan membuyarkan hawa murni yang mengganggu itu, setiap kali bekerja, setiap kali badannya menjadi tambah segar.

Ia pikir jika hawa murni curahan Tho-kok-lak-sian dan Put-kay Hwesio yang mengganggu itu sudah dipunahkan semua, lalu dapat berlatih lwekang perguruannya sendiri menurut ajaran gurunya dahulu, walaupun hal mana akan makan waktu lama, tapi sedikitnya jiwanya telah dapat diselamatkan.

Jika nanti Hiang-toako berhasil membebaskan aku dari sini, tentu aku akan dapat menempuh hidup baru di dunia Kangouw.

Tapi lantas teringat pula.

"Suhu telah pecat aku dari Hoa-san-pay, buat apa aku mesti meyakinkan lwekang Hoa-san-pay lagi? Masih banyak sekali lwekang-lwekang dari aliran-aliran lain, umpamanya aku dapat belajar kepada Hiang-toako, bisa belajar pada Ing-ing, dan lain-lain lagi."

Teringat kepada hal-hal yang menyenangkan, kembali ia berjingkrak-jingkrak dan tertawa pula.

Besoknya ketika dia memegangi mangkuk dan sedang makan nasi, perasaannya masih tetap diliputi rasa senang dan penuh semangat, ketika tanpa sadar tangannya menggenggam lebih kuat, mendadak terdengar "prak", tahu-tahu mangkuk besar itu telah remuk di tangannya.

Keruan Lenghou Tiong terkejut, tangannya meremas lagi sekenanya, kembali remukan mangkuk itu hancur menjadi bubuk.

Ketika tangannya dibuka, bubukan mangkuk itu lantas jatuh bertebaran ke lantai.

Untuk sesaat Lenghou Tiong sampai terkesima sendiri, seketika ia tidak paham sebab musababnya.

Tiba-tiba terdengar suara Hek-pek-cu berseru di luar pintu.

"Wah, kekuatan Yim-cianpwe tiada bandingannya di dunia ini, sungguh Cayhe kagum tak terhingga."

Kiranya tanpa terasa tiga hari sudah lalu, lantaran sedang kejut akan tenaganya sendiri yang sanggup meremas hancur sebuah mangkuk itu, sampai-sampai datangnya Hek-pek-cu itu tidak disadari, bahkan seketika Lenghou Tiong masih belum paham akan kata-kata pujian Hek-pek-cu itu, sebab sekali remas dapat membikin mangkuk itu menjadi bubuk, hal ini benar-benar sukar dibayangkan olehnya.

Maka terdengar Hek-pek-cu telah berkata pula.

"Hanya sedikit remas saja Yim-cianpwe telah menghancurkan sebuah mangkuk, coba kalau cengkeraman itu mengenai badan musuh, haha, masakah nyawa musuh itu takkan melayang?"

Benar juga ucapannya pikir Lenghou Tiong, maka segera ia pun ikut terbahak-bahak.

"Tampaknya hari ini perasaan Cianpwe sangat gembira, silakan lantas menerima Tecu ke dalam perguruan, bagaimana?"

Pinta Hek-pek-cu. Diam-diam Lenghou Tiong membatin.

"Apakah aku boleh terima dia sebagai murid dan mengajarkan kalimat-kalimat tulisan terukir di dipan itu? Tapi, ah, aku cuma berlatih satu-dua hari saja lantas begini lihai tenagaku, tampaknya ilmu yang terukir ini bukankah untuk bercanda. Yang diharapkan Hek-pek-cu adalah ilmu ini, tapi sesudah dia meyakinkan dengan baik apakah benar aku akan dilepaskan dari sini? Padahal begitu mengetahui aku bukan Yim-locianpwe yang dia sangka, setiap saat tentu dia akan berubah sikapnya. Umpama Yim-locianpwe yang mengajarkan ilmu sakti, sesudah berhasil besar kemungkinan Hek-pek-cu juga akan berdaya untuk membinasakannya, misalnya memakai racun di dalam makanan dan sebagainya. Ya, bagi Hek-pek-cu memang sangat gampang jika dia mau meracuni aku, mana mungkin dia sudi membebaskan aku biarpun dia berhasil meyakinkan ilmu sakti ini. Mungkin inilah sebabnya Yim-locianpwe tetap tidak mau menyanggupi permintaannya selama 12 tahun."

Karena tidak memperoleh jawaban, Hek-pek-cu menjadi khawatir ada perubahan lagi, cepat ia berkata pula.

"Bila Cianpwe sudah mengajarkan ilmunya, segera Tecu akan pergi mengambilkan arak enak dan ayam lezat untuk dipersembahkan kepadamu."

Sudah sekian lamanya Lenghou Tiong dikurung di situ, yang dimakan setiap hari adalah sayur asin melulu, sekarang mendengar ada ayam lezat dan arak enak, keruan ia lantas mengiler. Cepat ia berkata.

"Baiklah, lekas kau pergi ambil arak dan ayam panggang dulu, sesudah makan, bisa jadi hatiku akan senang terus mengajarkan sedikit kepandaian padamu."

Sebenarnya Hek-pek-cu bermaksud menggunakan makanan lezat sebagai umpan untuk memancing ilmu yang dikehendaki, tapi orang justru ingin makan enak dulu.

Jika tidak dituruti, mungkin sekali orang tua itu akan marah dan tidak jadi mengajarkan ilmu lagi.

Maka cepat Hek-pek-cu menjawab.

"Baik, baik, segera aku akan ambilkan arak dan ayam panggang yang gemuk. Cuma hari ini agaknya tak bisa dilaksanakan, besok saja kalau ada kesempatan tentu Tecu akan mempersembahkannya."

"Kenapa hari ini tidak bisa dilaksanakan?"

Tanya Lenghou Tiong.

"Untuk datang ke sini aku harus mencari kesempatan di luar tahu toako kami, bila Toako sedang keluar barulah ...."

Lenghou Tiong mendengus sebelum ucapan orang habis.

Maka Hek-pek-cu juga tidak bicara lebih lanjut.

Mungkin khawatir dipergoki Ui Ciong-kong, buru-buru ia mohon diri.

Ketika tangannya teraba pada remukan mangkuk tadi, diam-diam Lenghou Tiong membatin.

"Mengapa ilmu ini begini lihai? Baru berlatih satu-dua hari saja sudah begini hebat, apalagi kalau sudah berlatih sebulan dan lebih kan bisa ...."

Berpikir sampai di sini mendadak ia melonjak bangun sambil berteriak.

Kiranya terpikir olehnya kalau sudah berlatih sebulan atau lebih lama lagi kan dapat memutus rantai borgol dan meloloskan diri dengan menerjang pintu penjara itu.

Namun rasa gembiranya itu dalam sekejap lantas lenyap, sebab lantas terpikir lagi olehnya.

"Jika ilmu ini benar-benar begini hebat, mengapa Yim Ngo-heng sendiri tidak dapat meloloskan diri dari sini?"

Sambil melayangkan pikiran-pikirannya, sebelah tangannya tanpa terasa meraba gelang besi di tangan kiri serta dipentangnya.

Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa gelang besi itu akan terpentang renggang olehnya, siapa tahu gelang besi itu mendadak terpentang, ketika ditarik lagi, ternyata pergelangan tangan kiri lantas terlepas begitu saja dari belenggu gelang besi itu.

Girang dan kejut pula Lenghou Tiong.

Ketika gelang besi itu diraba lagi, kiranya di bagian tengah memang sudah putus, tapi kalau tenaga dalam sendiri belum pulih juga sukar untuk membukanya.

Segera ia pun pentang terbuka belenggu tangan kanan, lalu belenggu kedua kakinya.

Setiap gelang belenggu besi itu sudah terputus semua.

Terlepasnya belenggu kaki dan tangan dengan sendirinya terlepas pula rantai besinya sehingga badannya sekarang tidak terikat apa-apa lagi.

Lenghou Tiong sangat heran mengapa setiap gelang besi itu ada tanda putus begitu?

Padahal gelang besi yang sudah terputus begitu mana kuat untuk membelenggu orang?

Besoknya ketika orang tua itu datang mengantarkan daharan, di bawah sinar pelita yang dibawanya itu dapatlah Lenghou Tiong melihat jelas bagian yang terputus dari gelang-gelang besi itu menunjukkan tanda baru saja diputus, keruan ia tambah heran.

Dari tanda itu dapat dilihat pula bekas gergaji yang halus sekali, jelas ada orang yang telah menggergaji gelang-gelang besi itu dengan semacam gergaji baja yang amat halus.

Anehnya mengapa gelang yang sudah digergaji putus itu bisa terkatup kembali dan membelenggu kaki-tangannya, jangan-jangan ...

jangan-jangan.

Menurut jalan pikirannya tentu diam-diam ada orang yang sedang berusaha menolongnya.

Dan penolong itu tentulah orang Bwe-cheng sendiri.

Mungkin sekali gelang besi itu digergaji putus ketika dirinya jatuh pingsan dan mungkin pula akan membebaskannya nanti bilamana ada kesempatan bagus di luar tahu orang-orang Bwe-cheng yang lain.

Berpikir sampai di sini, seketika semangat Lenghou Tiong terbangkit.

Pikirnya.

"Jalan masuk ke sini berada di bawah tempat tidurnya Ui Ciong-kong, jika Ui Ciong-kong yang bermaksud menolongku tentu dapat dilakukan setiap waktu dan tidak perlu menunda lagi, Hek-pek-cu tentunya juga tidak. Tinggal Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing saja. Di antara kedua orang itu cuma Tan-jing-sing yang mempunyai kegemaran yang sama, besar kemungkinan yang berusaha hendak menolongku tentulah Tan-jing-sing yang baik hati itu."

Lalu terpikir lagi olehnya cara bagaimana akan melayani kedatangan Hek-pek-cu besok, segera ia pun mendapatkan akal.

"Aku akan pura-pura meluluskan permintaannya untuk menipu daharan enak dari dia. Lalu mengajarkan ilmu palsu padanya supaya dia tertipu. Akibatnya tentu sangat lucu. Haha, tentu sangat lucu!"

Menyusul terpikir lagi setiap saat Tan-jing-sing akan datang melepaskan dia, kesempatan yang masih ada ini harus digunakan untuk lebih menghafalkan ilmu yang terukir di papan besi itu.

Maka ia lantas mulai meraba-raba lagi tulisan-tulisan di papan besi serta mengingat-ingatnya di luar kepala.

Tadinya tulisan-tulisan itu tidaklah menarik perhatiannya, sekarang juga bukan sesuatu yang mudah baginya untuk menghafalkannya di luar kepala.

Apalagi mengenai ilmu sakti, keliru satu huruf saja mungkin akan membawa akibat yang sukar dibayangkan.

Begitu juga kalau melupakan sebagian di antaranya tentu tak dapat diulangi lagi jika sudah keluar dari tempat neraka ini.

Sebab itulah ia bertekad akan menghafalkan seluruhnya #dapatlah dihafalkan di luar kepala, habis itu barulah ia dapat tidur dengan tenang.

Dalam mimpi benar juga dilihatnya Tan-jing-sing datang membukakan pintu penjara untuk melepaskan dia, ketika terjaga bangun baru diketahui cuma impian belaka.

Tapi ia pun tidak menjadi lesu, pikirnya hari ini tidak datang mungkin karena belum ada kesempatan baik, tidak lama tentu Tan-jing-sing akan datang menolongnya.

Terpikir olehnya bila nanti dirinya sudah meninggalkan penjara ini, mungkin sekali ukiran tulisan itu akan dilihat oleh Hek-pek-cu yang dianggapnya jahat itu, kalau orang macam Hek-pek-cu sampai berhasil meyakinkan ilmu sakti tentu akan menambah kejahatannya malah.

Maka kembali ia mengulangi belasan kali lagi menghafalkan tulisan di atas papan itu, lalu ia menghapus sebagian huruf-huruf itu dengan belenggu besi yang telah ditanggalkan itu.

Besoknya Hek-pek-cu ternyata tidak datang, Lenghou Tiong juga tidak ambil pusing, ia meneruskan latihannya atas ilmu sakti itu.

Beberapa hari selanjutnya Hek-pek-cu tetap tidak muncul.

Lenghou Tiong merasa latihannya banyak mendapat kemajuan.

Hawa murni yang berasal dari Tho-kok-lak-sian serta Put-kay Hwesio itu sudah sebagian besar didesak keluar dari bagian perut dan buyar melalui berbagai urat nadi.

Ia yakin jika latihannya diteruskan akhirnya tentu hawa murni yang merupakan penyakit itu akan dapat dipunahkan seluruhnya.

Setiap hari ia tentu menghafalkan lagi belasan kali tulisan yang telah dibacanya itu, sebagian huruf-huruf di atas papan besi itu pun dikerok dengan gelang besi.

Ia merasa tenaga dalam sendiri kian lama makin kuat, untuk mengerok huruf-huruf itu ternyata tidak begitu susah baginya.

Kembali sebulan sudah lewat, meski berada di bawah tanah juga Lenghou Tiong merasakan hawa musim panas sudah mulai berkurang.

Pikirnya.

"Rupanya penemuanku yang aneh ini sudah suratan takdir. Jika aku terkurung di sini di musim dingin pasti tulisan di atas papan besi ini takkan kuketemukan. Bisa jadi sebelum tiba musim panas tulisan di atas papan besi ini takkan kuketemukan. Bisa jadi sebelum tiba musim panas Tan-jing-sing sudah berhasil menolong keluar diriku."

Berpikir sampai di sini, tiba-tiba terdengar dari lorong sana ada suara tindakan Hek-pek-cu yang sedang mendatangi.

Tadinya Lenghou Tiong berbaring di atas dipan besi itu, maka perlahan-lahan ia lantas membalik tubuh sehingga berbaring miring menghadap ke dinding bagian dalam.

Terdengar Hek-pek-cu sudah sampai di luar pintu, lalu berkata.

"Yim ... Yim-locianpwe, harap sudi memaafkan. Selama lebih sebulan ini Toako tidak pernah keluar rumah sehingga Cayhe sangat gelisah dan tidak dapat datang kemari untuk menjenguk engkau. Untuk ini harap engkau janganlah marah."

Berbareng itu tercium juga bau harum arak dan sedapnya ayam panggang yang teruar dari lubang pintu.

Memangnya sudah sekian lamanya Lenghou Tiong tidak merasakan setetes arak pun, maka begitu mengendus bau arak ia menjadi ketagihan, segera ia membalik tubuh dan berkata.

"Mana daharannya, aku harus makan dulu dan urusan belakang."

"Ya, baik,"

Sahut Hek-pek-cu cepat.

"Jadi Cianpwe sudah menyanggupi akan mengajarkan rahasia lwekang padaku?"

"Begini, setiap kali kau mengantar kemari tiga kati arak dan seekor ayam panggang, setiap kali pula aku akan mengajarkan empat kalimat rahasia lwekang padamu. Bilamana aku sudah menghabiskan tiga ratus kati arak dan seratus ekor ayam, maka rahasia lwekang yang kuajarkan padamu rasanya sudah cukup juga."

"Cara begini rasanya rada-rada lambat dan mungkin sekali terjadi apa-apa. Biarlah setiap kali Wanpwe akan mengantar enam kati arak dan dua ekor ayam, lalu Cianpwe setiap kali mengajarkan delapan kalimat rahasianya saja?"

"Sungguh serakah sekali kau ini. Tapi, baiklah. Mana araknya, mana ayamnya, bawa ke sini,"

Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

Segera Hek-pek-cu mengangsurkan nampan kayu itu melalui lubang persegi di daun pintu itu.

Benar juga di atas nampan itu ada satu poci besar arak dan seekor ayam panggung yang gemuk.

"Sebelum aku mengajarkan rahasia lwekang padamu rasanya kau tidak sampai meracuni aku,"

Demikian pikir Lenghou Tiong.

Maka tanpa pikir segera ia pegang poci arak itu dan langsung dituang ke dalam mulut.

Rasa arak itu sebenarnya tidak terlalu enak, tapi sekarang bagi Lenghou Tiong araknya terasa sangat sedap.

Sekaligus hampir setengah poci besar itu telah ditenggak, lalu dibetotnya sebelah paha ayam panggang terus diganyang dengan lahapnya.

Hanya sebentar saja sepoci penuh arak dan seekor ayam panggang itu telah disapu bersih.

Ia tepuk-tepuk perut sendiri sambil berkata.

"Ehmmm, arak sedap dan ayam lezat!"

"Cianpwe sudah kenyang makan enak, sekarang silakanlah mengajarkan rahasia lwekangnya,"

Pinta Hek-pek-cu dengan tertawa.

Sekarang ia tidak menyinggung lagi tentang mengangkat guru segala, disangkanya sehabis makan minum tentu Lenghou Tiong sudah lupa.

Tapi Lenghou Tiong juga sengaja tidak menyinggung soal ini, segera ia berkata.

"Baiklah, beberapa kalimat rahasia ini hendaklah kau ingat-ingat dengan baik, yakni. ‘Antara delapan nadi dan urat aneh, di dalamnya ada hawa murni, himpunlah di bagian perut, salurkan melalui napas’, dapatkah kau memahami empat kalimat ini?"

Empat kalimat itu memang tidak ada sesuatu yang istimewa, hanya saja Lenghou Tiong telah sengaja menjungkirbalikkan arti yang sebenarnya.

Hek-pek-cu merasa empat kalimat itu tiada sesuatu yang bersifat rahasia, maka ia menjawab.

"Ya, paham. Mohon Cianpwe sudi mengajarkan empat kalimat lagi."

Lenghou Tiong juga tidak jual mahal, bahkan ia sengaja obral empat kalimat lagi yang isinya untuk menakut-nakuti.

Keruan Hek-pek-cu terperanjat, kalau mesti berlatih menurut kalimat-kalimat rahasia itu pastilah jiwanya akan melayang, hal ini mustahil dapat dilakukan.

Maka ia bertanya.

"Empat kalimat ini Wanpwe benar-benar tidak paham."

"Sudah tentu kau tidak paham,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Ilmu sakti ini kalau dapat dipahami dengan begitu saja, lalu apa artinya sebagai ilmu sakti?"

Sampai di sini Hek-pek-cu merasa kata-kata Lenghou Tiong itu nadanya makin berbeda daripada orang she Yim itu, mau tak mau timbul juga rasa curiganya.

Maklumlah pertemuan yang sudah-sudah itu Lenghou Tiong sangat sedikit membuka suara, ucapannya dibikin serak dan samar-samar pula, tapi sekarang dia habis makan minum enak, semangatnya berkobar-kobar dan bicaranya menjadi banyak.

Dasarnya Hek-pek-cu juga memang cerdik, maka ia menjadi curiga.

Cuma sama sekali tak terduga olehnya bahwa orang yang di penjara itu sekarang sudah bukan lagi orang she Yim itu, hanya disangkanya kalimat-kalimat rahasia itu sengaja dibuat-buat untuk mempermainkan dia saja.

Lenghou Tiong lantas merasa juga akan curiga Hek-pek-cu, cepat ia menambahkan.

"Nanti kalau kau sudah terima ajaran dengan lengkap tentu akan paham dengan sendirinya."

Habis berkata ia lantas menaruh kembali poci arak itu di atas nampan dan diangsurkan keluar melalui lubang persegi itu.

Ketika Hek-pek-cu hendak menerima nampan itu, sekonyong-konyong Lenghou Tiong menjerit, badannya sempoyongan ke depan.

"blang", kepalanya membentur pintu besi itu, nampan juga akan tertarik masuk kembali.

"He, kenapa?"

Tanya Hek-pek-cu.

Sebagai seorang ahli silat, reaksinya dengan sendirinya sangat cepat, tangannya terus menyambar ke lubang persegi itu untuk menangkap nampan agar poci arak di atasnya tidak sampai terjatuh dan pecah.

Dan justru pada detik itulah sebelah tangan Lenghou Tiong sudah lantas membalik ke atas dan tepat mencengkeram pergelangan tangan Hek-pek-cu itu sambil berseru.

"Hek-pek-cu, coba perhatikan siapakah aku ini?"

Tidak kepalang kejutnya Hek-pek-cu karena kejadian yang tak terduga-duga itu, nampan yang masih keburu dipegang olehnya itu lantas terlepas lagi, serunya dengan takut.

"Kau ... kau ...."

Kiranya tadi waktu Hek-pek-cu menjulurkan tangan hendak menerima kembali nampan, tiba-tiba timbul rasa penasaran Lenghou Tiong yang tak terkatakan, ia merasa biang keladi yang mengurung dirinya di situ dan menderita sekian lamanya tak-lain tak-bukan adalah manusia licik yang berada di depannya itu.

Jika tangannya dapat dipegang dan dipuntir patah sedikitnya akan terlampiaslah rasa dendamnya.

Apalagi kalau tangan Hek-pek-cu itu mendadak dipegang olehnya tentu akan kaget setengah mati, andaikan tidak berhasil sedikitnya juga akan membikin kaget padanya, tentunya sangat lucu orang yang kaget mendadak itu.

Entah lantaran timbul maksud balas dendamnya atau karena pikiran kanak-kanak yang ingin menggoda orang supaya kaget itu, maka mendadak ia pura-pura jatuh sempoyongan untuk memancing reaksi Hek-pek-cu.

Dan hasilnya ternyata cocok dengan rekaannya, sekali pancing tangan Hek-pek-cu sudah lantas kena dipegang olehnya.

Sebenarnya Hek-pek-cu juga seorang yang amat cerdik, namun sama sekali ia tidak menduga akan kejadian demikian, ketika mendadak ia merasa gelagat jelek, namun sudah terlambat, tangannya sudah keburu tercengkeram dengan kuat seakan-akan terbelenggu, tanpa pikir lagi segera ia memutar tangannya dengan maksud balas mencengkeram tangan lawan, berbareng itu terdengar "blang"

Yang keras, tahu-tahu beberapa jari kakinya sudah patah, saking sakitnya sampai ia berkaok-kaok.

Kan aneh?

Tangannya yang terpegang Lenghou Tiong, mengapa jari kakinya yang patah?

Kiranya Hek-pek-cu memiliki suatu jurus simpanan yang disebut "Kau-liong-cut-tong" (Naga Keluar dari Gua).

Jurus ini baru digunakan apabila sebelah tangannya dipegang musuh, sembari membetot sekuatnya, berbareng sebelah kakinya lantas menendang secepat kilat ke tempat mematikan di tubuh musuh, kalau bukan bagian dada tentulah bagian selangkangan, lihainya bukan buatan, jika kena musuh pasti akan menggeletak seketika.

Kalau musuh adalah ahli silat yang sama tingkatan, maka jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri ialah melepaskan tangan Hek-pek-cu yang dicengkeram itu.

Tapi ia lupa bahwa di antara mereka itu masih terhalang oleh selapis daun pintu besi.

Jurus "Kau-liong-cut-tong"

Itu memang digunakan dengan sangat tepat, tempat yang ditendang juga sangat jitu, tenaganya amat lihai pula, cuma sayang yang terkena tendangannya adalah daun pintu besi sehingga menimbulkan suara nyaring keras.

Lenghou Tiong baru tahu apa yang terjadi sesudah mendengar suara "blang"

Yang keras itu, baru diketahui dirinya telah selamat berkat lindungan pintu besi itu. Ia menjadi geli malah dan terbahak-bahak, katanya.

"Hahaha, boleh tendang sekali lagi, harus tendang sama kerasnya seperti barusan ini, habis itu aku lantas melepaskan kau!"

Tapi mendadak Hek-pek-cu merasa tenaga dalamnya terus merembes keluar melalui dua tempat hiat-to di pergelangan tangannya itu, tiba-tiba teringat olehnya sesuatu hal yang paling ditakutinya selama hidup ini.

Keruan sukmanya seakan-akan terbang meninggalkan raganya.

Sembari mengerahkan tenaga dan menghimpun napas ia pun memohon dengan sangat.

"Lo ... Locianpwe, mohon engkau ... engkau ...."

Masih mending baginya jika tidak bicara, begitu membuka mulut tenaga dalamnya juga lantas membanjir keluar.

Terpaksa ia tutup mulut dan tidak berani bicara lagi.

Namun demikian tenaga dalam masih tetap merembes keluar tak tertahankan.

Setelah meyakinkan ilmu yang terukir di atas dipan besi itu, hawa murni di dalam perut Lenghou Tiong sudah terkuras habis, perutnya sekarang sudah kosong dan minta diisi.

Sekarang dirasakan ada hawa murni yang menyalur ke dalam perutnya sedikit demi sedikit, namun hal ini pun tidak diperhatikan olehnya.

Hanya diketahuinya tangan Hek-pek-cu gemetar terus seperti sangat ketakutan.

Lantaran masih gemas padanya, Lenghou Tiong sengaja hendak menggertaknya sekalian, segera ia berkata.

"Aku sudah mengajarkan ilmu padamu, maka kau sudah terhitung muridku, kau berani menipu dan mengkhianati perguruan, apa hukuman atas dosamu ini?"

Namun Hek-pek-cu merasakan tenaga dalamnya semakin cepat mengalir keluar, sekarang ia sudah melupakan sakit kakinya, yang dia harap adalah lekas melepaskan tangan dari lubang persegi itu, andaikan sebelah tangan itu harus dikorbankan juga rela.

Berpikir demikian segera sebelah tangannya melolos pedang yang terselip di pinggang.

Karena sedikit bergerak saja seketika kedua hiat-to di pergelangan tangannya itu laksana tanggul yang bobol, seketika tenaga dalam membanjir keluar seperti air bah dan sukar dibendung lagi.

Hek-pek-cu sadar asalkan terlambat sebentar lagi tentu segenap tenaga dalamnya sendiri akan tersedot semua oleh lawan.

Maka sekuatnya ia melolos pedangnya sendiri, dengan nekat pedang itu diangkat terus hendak menebas ke lengannya sendiri.

Tapi sedikit ia menggunakan tenaga saja, serentak tenaga dalamnya membanjir keluar lebih cepat dan lebih deras, telinganya terasa mendengung keras, lalu tak sadarkan diri lagi.

Maksud Lenghou Tiong mencengkeram tenaga Hek-pek-cu itu sebenarnya cuma bermaksud menakut-nakuti saja untuk melampiaskan dongkolnya, tak terduga bahwa lawan sampai jatuh kelengar saking takutnya.

Sembari bergelak tertawa ia lantas melepaskan cengkeramannya.

Kontan badan Hek-pek-cu lantas lemas terkulai ke bawah, perlahan-lahan sebelah tangan yang baru dilepaskan Lenghou Tiong juga mengkeret keluar.

Sekilas teringat sesuatu pada benak Lenghou Tiong, lekas-lekas ia pegang pula tangan Hek-pek-cu.

Untung dia cukup cepat sehingga masih keburu menyambar tangan orang.

Pikirnya.

"Kenapa aku tidak membelenggu dia dengan gelang besi ini untuk memaksa Ui Ciong-kong dan kawan-kawannya membebaskan aku?"

Segera ia tarik pula sekuatnya tangan Hek-pek-cu itu.

Di luar dugaan bahwa sekarang tenaga dirinya sudah luar biasa kuatnya, sekali tarik saja bukan cuma tangan Hek-pek-cu yang mendekat, bahkan kepala Hek-pek-cu ikut menerobos masuk melalui lubang persegi itu.

"bluk" , tahu-tahu seluruh badan Hek-pek-cu telah menyusup ke dalam kamar penjara itu dan terbanting di lantai. Hal ini benar-benar tidak pernah dibayangkan oleh Lenghou Tiong. Ia sendiri menjadi melongo kesima. Tapi segera ia memaki pada dirinya sendiri yang terlalu goblok, seharusnya sejak dulu-dulu mesti diketahui bahwa lubang persegi yang lebarnya ada dua-tiga puluh senti itu, asalkan kepala bisa masuk dengan sendirinya maka badannya juga bisa masuk. Jika badan Hek-pek-cu dengan gampang bisa menerobos masuk, mengapa dirinya tak bisa? Tadinya, memang dia terbelenggu dan dirantai sehingga sukar meloloskan diri, tapi sekarang belenggu sudah digergaji putus orang, mengapa sekarang tidak melarikan diri. Rupanya pada waktu ia mengetahui belenggunya telah digergaji putus oleh orang, saat mana ia sedang memusatkan segenap pikirannya untuk berlatih ilmu sakti di atas dipan besi itu, pula ilmu itu belum hafal seluruhnya sehingga tatkala mana belum timbul pikirannya untuk segera berusaha meloloskan diri dari penjara itu. Sekarang Hek-pek-cu telah ditariknya masuk ke kamar penjara, hanya berpikir sejenak saja dia lantas punya keputusan yang tetap. Segera ia menanggalkan pakaian Hek-pek-cu untuk ditukar dengan pakaiannya sendiri, lalu kerudung kepala Hek-pek-cu itu pun dipindahkan di atas kepalanya sendiri. Ia pikir andaikan di luar nanti ketemukan orang tentu mereka akan mengira dirinya adalah Hek-pek-cu. Kemudian tangan dan kaki Hek-pek-cu dibelenggu dengan gelang besi yang sudah putus itu, Lenghou Tiong menggencet gelang besi itu sehingga merapat dan menggigit daging lengan Hek-pek-cu itu. Saking kesakitan Hek-pek-cu sampai siuman kembali dan merintih kesakitan.

"Biarlah kita berganti tempat, besok juga kakek itu akan mengantar ransum untukmu, jangan khawatir kelaparan,"

Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Yim ... Yim-locianpwe,"

Kata Hek-pek-cu dengan meratap.

"engkau punya Gip ... Gip-sing-tay-hoat ...."

Dahulu waktu Lenghou Tiong membantu Hiang Bun-thian melawan keroyokan orang banyak di tengah gardu yang terpencil itu ia pun pernah mendengar orang berteriak tentang "Gip-sing-tay-hoat" (Ilmu Sakti Mengisap Bintang), sekarang didengar pula Hek-pek-cu menyebut nama ilmu itu, segera ia bertanya.

"Gip-sing-tay-hoat apa?"

"Aku ... aku memang pantas mati ...."

Hanya sekian ucapannya Hek-pek-cu sudah merasa lemas, tenggorokan mengeluarkan suara mengorok, lalu tidak sanggup bersuara lagi.

Karena lebih penting meloloskan diri, maka Lenghou Tiong tidak gubris lebih jauh padanya, segera ia menjulurkan kepalanya keluar lubang persegi itu, kedua tangan lantas merambat pula ke luar, ketika tangannya menolak daun pintu besi itu, seketika tubuhnya melesat ke luar untuk kemudian menancapkan kakinya di tanah dengan tegak.

Karena perutnya sekarang terkumpul pula hawa murni berasal dari Hek-pek-cu itu sehingga rasanya tidak enak.

Ia tidak tahu duduknya perkara, disangkanya hawa murni berasal dari Tho-kok-lak-sian dan Put-kay Hwesio itu kembali mengganggunya lagi.

Tapi sementara ini tidak sempat berlatih ilmu yang diperolehnya dari ukiran dipan besi itu, yang dia harapkan adalah lekas-lekas meninggalkan penjara maut itu, maka cepat ia melangkah keluar melalui jalan di bawah tanah yang remang-remang itu.

Karena habis digunakan masuk oleh Hek-pek-cu, dengan sendirinya pintu-pintu jalan bawah tanah itu semuanya masih terbuka, maka dengan leluasa Lenghou Tiong dapat melepaskan diri dari kurungan.

Sampai di ujung lorong itu, perlahan-lahan ia naik ke atas undak-undakan, tepat di atasnya adalah sebuah papan besi penutup.

Ia coba pasang kuping, tapi tidak mendengar suara apa-apa.

Setelah mengalami sekapan di dalam penjara ini, nyata Lenghou Tiong sudah tambah cerdik dan waspada, ia tidak lantas menerjang ke atas, tapi berdiri di situ rampai sekian lamanya, setelah jelas tak ada suara apa-apa dan yakin Ui Ciong-kong tiada berada di dalam kamarnya, habis itu baru perlahan-lahan ia menolak papan besi penutup itu, lalu meloncat ke atas.

Setelah menutup kembali papan besi itu di tempatnya, lalu dengan berjinjit-jinjit ia hendak melangkah ke luar kamar.

Tapi mendadak seorang berkata dengan suara dingin di belakangnya.

"Jite, apa yang kau lakukan sendirian di bawah sana?"

Lenghou Tiong terkejut dan cepat menoleh, ternyata Ui Ciong-kong, Tan-jing-sing, dan Tut-pit-ong bertiga sudah mengepung di sekelilingnya dengan senjata terhunus.

Ia tidak tahu bahwa selama ini cara Hek-pek-cu memasuki penjara di bawah tanah itu adalah menggunakan pintu rahasianya sendiri, jadi sebenarnya tidak melalui kamar tidurnya Ui Ciong-kong, tapi sekarang Lenghou Tiong telah keluar melalui jalan itu sehingga menyentuh pesawat rahasia dan menerbitkan tanda alarm, maka serentak Ui Ciong-kong bertiga lantas muncul.

Cuma dia memakai kerudung kepala, pakaiannya sudah bertukar pula dengan pakaian Hek-pek-cu, maka Ui Ciong-kong bertiga tidak mengenalinya dan tetap menyangka dia adalah Hek-pek-cu.

Bab 74.

Mo-kau-kaucu = Ketua Mo-kau, Yim Ngo-heng Dalam kejutnya Lenghou Tiong lantas hendak berkata.

"Aku ... aku ...."

"Aku apa? Sudah lama aku mencurigai kau dan sudah kuduga kau pasti hendak mohon Yim Ngo-heng untuk mengajarkan ilmu iblis itu kepadamu, hm, apakah kau sudah lupa kepada sumpah yang pernah kau ucapkan?"

Demikian jengek Ui Ciong-kong.

Pikiran Lenghou Tiong menjadi kacau, ia bingung apa mesti memperlihatkan wajah aslinya atau tetap memalsukan Hek-pek-cu.

Seketika ia tidak dapat mengambil keputusan, segera ia lolos pedang yang dirampasnya dari Hek-pek-cu terus menusuk ke arah Tut-pit-ong.

"Bagus, Jiko, apa ingin berkelahi sungguh-sungguh ya?"

Seru Tut-pit-ong dengan gusar, berbareng pensilnya lantas menangkis.

Tak terduga serangan Lenghou Tiong itu hanya tipu belaka, selagi orang hendak menangkis, secepat terbang ia lantas berlari ke luar.

Sudah tentu Ui Ciong-kong bertiga tidak tinggal diam, serentak mereka mengejar.

Hanya sebentar saja Lenghou Tiong sudah berlari sampai di ruangan besar di depan.

"Jite, kau hendak lari ke mana?"

Teriak Ui Ciong-kong. Lenghou Tiong tidak menjawab, ia tetap berlari secepat terbang. Mendadak terlihat seorang mengadang di tengah pintu dan berseru padanya.

"Silakan berhenti, Jichengcu!"

Saat itu Lenghou Tiong sedang berlari dengan cepat sehingga tidak keburu mengerem, tanpa ampun lagi.

"blang" , dengan tepat orang itu tertumbuk. Tubrukan ini benar-benar amat keras sehingga orang itu terpental ke luar dan terbanting beberapa meter jauhnya. Sekilas pandang Lenghou Tiong dapat mengenali orang itu kiranya adalah Ting Kian, mungkin terluka parah sehingga tampaknya Ting Kian tidak mampu berkutik. Tanpa berhenti Lenghou Tiong berlari terus menuju ke jalan kecil. Ui Ciong-kong bertiga hanya menguber sampai di muka kampung, lalu tidak mengejar lagi. Tidak lama kemudian sampailah Lenghou Tiong di tanah pegunungan yang sunyi, jaraknya dengan kota agaknya sudah jauh, tanpa terasa dia ternyata sudah berlari sekian jauhnya. Aneh juga, meski dia berlari-lari secepat terbang dan begitu jauh, waktu berhenti ternyata tidak merasakan lelah, napasnya juga tidak memburu, dibandingkan sebelum terganggu oleh hawa murni yang aneh di dalam perut agaknya tenaganya sekarang sudah jauh lebih kuat. Segera ia menanggalkan kerudung kepalanya. Terdengar suara gemerciknya air, memangnya ia merasa haus, segera ia mencari ke arah suara air itu, akhirnya sampai di tepi sebuah sungai pegunungan yang kecil. Ia berjongkok, belum lagi ia sempat meraup air untuk diminum, tahu-tahu di permukaan air tercermin sebuah bayangan orang yang berambut gondrong, muka penuh godek, dan berkumis panjang, jelek sekali wajah begitu. Semula Lenghou Tiong terkejut, tapi ia lantas tertawa geli sendiri. Nyata setelah terkurung sekian lamanya di dalam penjara bawah tanah itu dia tidak pernah mandi dan bercukur, dengan sendirinya mukanya sekarang sedemikian kotor. Seketika ia merasa badannya sangat gatal dan risi, segera ia membuka baju dan terus terjun ke dalam sungai untuk mandi sepuas-puasnya. Ia menduga daki di atas badannya itu kalau tidak ada setengah kuintal sedikitnya juga ada 30 kati. Setelah mencuci badan sebersih-bersihnya dan kenyang minum, lalu ia memotong rambutnya di atas kepala. Ketika bercermin lagi ke permukaan air, ternyata wajahnya sekarang tampak lebih angker dan gagah, beda sekali daripada pemuda Lenghou Tiong yang bermuka putih mulus itu. Lebih-lebih tiada mirip sedikit pun daripada penyamaran yang dibuat oleh Hiang Bun-thian tempo hari. Lenghou Tiong coba merenungkan pengalamannya, ia merasa heran tempat macam apakah Bwe-cheng itu? Mengapa tokoh hebat seperti orang she Yim itu sampai dikurung di situ sampai belasan tahun lamanya? Ia pikir hal ini perlu diselidiki dengan jelas, bilamana Yim-locianpwe itu terkurung di sana lantaran terjebak, maka aku harus berusaha menolong dia. Cuma dia telah menyatakan bila bebas dari kurungan itu, maka dia akan melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap orang bu-lim. Jika demikian, orang baik atau orang jahatkah orang she Yim itu? Ini perlu dibikin terang dahulu dan tidak boleh sembarangan bertindak secara ngawur. Dengan wajahku sekarang, asalkan aku berganti pakaian, biarpun berhadapan lagi pasti Ui Ciong-kong dan lain-lain takkan kenal padaku. Demikian akhirnya ia mengambil keputusan. Waktu ia berpakaian kembali, mendadak jalan darah dan napasnya terasa tidak lancar. Segera ia duduk semadi di tepi sungai dan menjalankan ilmu lwekang yang dipelajarinya dari ukiran di atas dipan itu, maka terasalah hawa murni yang bergolak di dalam perut itu mulai tersalur ke delapan urat nadi khusus, kemudian perut terasa kosong lagi tanpa sesuatu hawa murni. Lenghou Tiong sendiri tidak tahu bahwa dirinya sesungguhnya sudah berhasil meyakinkan semacam lwekang yang paling lihai di dunia ini, tadi waktu memegang tangan Hek-pek-cu, dalam sekejap saja segenap lwekang yang dimiliki Hek-pek-cu sudah kena disedot seluruhnya olehnya serta terhimpun di dalam perut, sekarang hawa murni baru itu disalurkan ke dalam delapan urat nadi khusus, ini berarti serentak lwekangnya telah bertambah dengan lwekang seorang tokoh seperti Hek-pek-cu, maka dengan sendirinya semangatnya menjadi tambah berkobar. Sementara itu hari sudah dekat magrib, perut terasa lapar juga, ia coba meraba saku atas jubah rampasan dari Hek-pek-cu itu, ternyata tiada berisi uang perak atau emas, hanya ada sebuah pipa tembakau air, yaitu pipa berbentuk poci yang berisi air, pipa tembakau itu terbuat dari timbel bertatahkan batu zamrud yang indah, terang itu semacam benda antik yang sukar dinilai harganya. Segera ia merapikan pakaiannya, lalu berjalan menuju kota. Terlihat suasana Kota Hangciu di waktu malam yang cukup ramai. Ia mendapatkan sebuah hotel, lalu pesan arak dan daharan untuk makan sekenyang-kenyangnya. Malamnya ia dapat tidur dengan lelap. Besok paginya ia menggadaikan pipa berbatu zamrud itu dan mendapatkan belasan tahil uang perak untuk membeli pakaian baru, sepatu, dan keperluan lain, semuanya serbabaru gres, sesudah berdandan, ia merasa pangling terhadap coraknya sendiri yang serbabaru itu. Tiba-tiba teringat olehnya.

"Jikalau siausumoay melihat bentukku ini entah bagaimana perasaannya? Ai, aku seakan-akan baru hidup kembali setelah mengalami bencana, mengapa aku selalu terkenang lagi kepada siausumoay?"

Keluar dari hotel, ia berjalan tanpa arah tujuan.

Akhirnya sampai di tepi Se-ouw (Telaga Barat) yang tersohor akan pemandangannya yang indah itu.

Dilihatnya di tepi telaga ada sebuah restoran besar pakai merek "Song-si-lau".

Seketika Lenghou Tiong ketagihan arak lagi, segera ia melangkah ke dalam restoran itu, ia pilih suatu tempat di tepi jendela yang menghadap ke telaga, lalu pesan minuman.

Sambil menikmati arak ia melamun pula, kemarin ia masih terkurung di dalam penjara yang gelap gulita di dasar danau, tapi sekarang dirinya sudah bebas dan dapat makan minum sepuasnya, sungguh rasanya seperti habis mimpi saja.

Tanpa terasa Lenghou Tiong telah menghabiskan beberapa poci arak sehingga membikin pelayan restoran melongo heran akan kekuatan minumnya itu.

Pada saat lain tiba-tiba terdengar suara tindakan orang, terlihat empat orang naik ke atas loteng restoran itu.

Sekilas pandang Lenghou Tiong menjadi terkesiap.

Dilihatnya sorot mata keempat orang itu bersinar tajam, jelas adalah jago silat yang memiliki kepandaian tinggi.

Tiga di antara keempat orang itu adalah kakek-kakek yang berusia 60-an tahun, satunya lagi adalah wanita setengah umur.

Dandanan keempat orang sama-sama sederhana, selain memanggul sebuah buntelan di punggung masing-masing, senjata pun tidak tampak mereka bawa.

Salah seorang kakek itu berbadan sangat tinggi, ketika sampai di atas loteng dan mengawasi keadaan di situ, sikapnya sangat gagah dan berwibawa.

Ia pun memandang sekejap ke arah Lenghou Tiong, lalu berpaling dan berkata kepada kawan-kawannya.

"Resik juga tempat ini, bolehlah kita makan di sini."

Ketiga kawannya mengiakan, lalu mereka mengambil tempat duduk pada meja sebelah sana yang juga menghadap ke telaga.

Dengan cekatan pelayan lantas mendekati untuk menawarkan makanan-makanan yang menjadi kebanggaan restorannya, siapa duga keempat orang itu ternyata tidak minum arak, bahkan juga tidak makan daging.

Yang mereka pesan adalah sayur-sayuran belaka, selain itu mereka pesan lagi enam kati mi rebus.

Di waktu makan keempat orang itu sama sekali tidak berbicara, selesai makan juga habis perkara, sedikit pun mereka tidak ambil pusing enak atau tidak dari daharan yang mereka makan itu.

Dengan sangat hormat pelayan tadi mendekati tamu-tamunya, katanya dengan mengiring senyum manis.

"Sayur campur goreng ini adalah masakan khusus dari koki kami, hebatnya goreng sayur melulu ini terdapat rasa hati ayam, ginjal babi, dan rempela itik tiga macam, entah bagaimana pendapat Tuan-tuan atas masakan ini?"

Seorang kakek yang kekar itu menjawab.

"Masakan sayur adalah masakan sayur, buat apa pakai rasa hati babi atau hati sapi segala?"

Dari logat orang dapatlah Lenghou Tiong menduga orang berasal dari daerah Soatang (Santung).

Ia heran entah keempat orang ini berasal dari golongan atau aliran mana, entah apa urusan mereka datang ke Hangciu ini?

Tapi karena pikirannya sedang dipusatkan untuk menolong orang she Yim itu, ia tidak ingin cari perkara lain, ia pikir sehabis makan segera akan pergi dari situ.

Sama sekali tak terduga bahwa cara makan minum keempat orang itu ternyata sangat cepat, beberapa mangkuk mi rebus telah mereka sikat dalam sekejap, lalu membayar terus berangkat pergi tanpa memberi persen segala kepada pelayan.

Tentu saja pelayan restoran itu mengomel panjang-pendek, terlalu pelit katanya.

Tapi ia lantas teringat bahwa di situ masih ada tamu lain, yaitu Lenghou Tiong, cepat ia mendekatinya dan minta maaf.

"Harap Tuan jangan marah, yang hamba maksudkan bukanlah Tuan. Engkau telah makan minum besar, sudah tentu tak bisa dipersamakan dengan kaum kikir tadi."

"Makan minum besar menjadi mirip tukang gegares saja,"

Ujar Lenghou Tiong tertawa.

Lalu ia membayar dan tidak lupa memberi persen kepada pelayan.

Ia terus melancong ke seluruh pelosok kota mengikuti langkahnya tanpa tujuan yang tetap.

Malamnya ia makan minum pula di suatu restoran yang lain, habis itu barulah kembali ke hotelnya untuk tidur.

Lewat tengah malam ia lantas bangun, ia melompat ke luar melalui jendela dan melintasi pagar tembok hotel terus menuju ke tepi Se-ouw di mana terletak kediaman Ui Ciong-kong.

Ginkang Lenghou Tiong sebenarnya tidak tinggi, tapi sejak berlatih "Thi-pan-sin-kang" (Ilmu Sakti dari Papan Besi) itu, sekarang bukan saja langkahnya enteng dan kuat, cukup satu langkah lebar sesuka hati saja sudah mencapai tingkatan yang sebelumnya tak pernah dibayangkan olehnya sendiri.

Begitu cepat langkahnya di tengah malam buta yang sunyi itu, sampai-sampai suara tindakan kaki sendiri pun tidak terdengar.

Ketika melihat bayangan pohon berkelebat begitu cepat di sisinya, seketika Lenghou Tiong menghentikan langkahnya dan melongo heran.

Pikirnya.

"Sesungguhnya aku masih hidup atau sudah menjadi setan? Mengapa aku bisa berlari secepat ini seakan-akan terbang saja tanpa mengeluarkan tenaga sedikit pun?"

Ketika ia meremas-remas tangannya sendiri, jelas terasa sakit, maka ia sendiri menjadi geli pula. Pikirnya.

"Thi-pan-sin-kang itu benar-benar aneh, aku cuma berlatih sebulan saja sudah mencapai kemajuan sepesat ini, kalau kulatih terus bukankah aku akan berubah menjadi siluman?"

Ia tidak tahu bahwa cara melatih ilmu yang terukir di dipan besi itu yang paling sulit ialah membuyarkan dulu segenap tenaga dalam, kalau hal ini kurang sempurna dilaksanakan akan berarti maut bagi dirinya sendiri.

Untungnya Lenghou Tiong memang sejak mula tenaga dalam sendiri sudah punah, jadi hal yang sukar bagi orang lain telah dia capai dengan tidak mengalami halangan apa-apa.

Setelah membuyarkan tenaga dalam sendiri, selanjutnya adalah menyedot hawa murni orang lain untuk dikumpulkan di dalam perut sendiri, lalu mengerahkan ke berbagai urat nadi khusus sebagai cadangan.

Langkah ini pun sangat sulit, sebab adalah mustahil bahwa tenaga dalam sendiri sudah hilang cara bagaimana dapat menyedot hawa murni orang lain?

Tapi dalam hal ini kembali Lenghou Tiong mempunyai keuntungan secara kebetulan, sebab sebelumnya ia telah memiliki berbagai macam hawa murni yang aneh dari Tho-kok-lak-sian serta Put-kay Hwesio, lantaran itu pula dengan cepat ilmu itu telah berhasil diyakinkan olehnya, sebuah mangkuk sedikit dipencet sudah lantas hancur, tanpa sengaja tenaga dalam Hek-pek-cu juga telah dia sedot.

Jadi sekaligus ia telah memiliki kekuatan delapan tokoh kelas wahid, apalagi ketika di Siau-lim-si, waktu Hong-sing Taysu berusaha menyembuhkan penyakitnya juga telah mencurahkan sedikit tenaga sakti Siau-lim-pay ke dalam tubuhnya.

Maka betapa kuat tenaga dalam Lenghou Tiong sekarang boleh dikata jarang ada bandingannya di seluruh dunia persilatan.

Hanya saja ia sendiri tidak paham duduknya perkara, sebaliknya ia merasa aneh dan terkejut sendiri.

Untuk sejenak ia berdiri termenung, pikirnya.

"Kepandaianku seperti sekarang ini terang tak bisa diajarkan oleh suhu, akan tetapi ... aku lebih suka kembali seperti dahulu dan hidup senang di tengah perguruan Hoa-san daripada luntang-lantung seorang diri di dunia Kangouw."

Begitulah ia merasa selama hidupnya belum pernah memiliki ilmu silat setinggi sekarang ini, tapi merasakan pula tiada pernah hidup sesunyi ini dan sehampa sekarang.

Selama beberapa bulan dikurung di dalam penjara bawah tanah itu dengan sendirinya ia kesepian, tapi sekarang sesudah bebas toh masih berkeliaran di tengah malam buta seorang diri, dasar pembawaannya memang suka ramai, suka bergaul, dan gemar minum arak, meski menyadari ilmu silatnya mendadak bertambah lihai, tapi rasa girang itu tidak dapat mengatasi rasa kesalnya yang hampa itu.

Setelah termangu-mangu sejenak, akhirnya ia berkata di dalam hati.

"Ai, semua orang tidak sudi menggubris lagi padaku terpaksa aku akan pergi ke Bwe-cheng untuk menjenguk locianpwe she Yim yang masih dikurung di sana itu. Jika dia mau bersumpah tak membunuh orang bilamana lolos dari penjara, maka boleh juga aku menolongnya meloloskan diri."

Segera ia melanjutkan perjalanan menuju ke Bwe-cheng.

Tidak lama kemudian ia sudah mendaki bukit itu dan sampai di samping perkampungan itu.

Suasana di dalam kampung sunyi senyap, dengan enteng sekali ia telah melompati pagar tembok.

Dilihatnya belasan rumah di situ semuanya sunyi dan gelap gulita, hanya sebuah rumah di sebelah kanan kelihatan masih ada sinar lampu.

Dengan hati-hati segera ia mendekati jendela rumah itu.

"Ui Ciong-kong, apakah kau sudah tahu akan dosamu?"

Demikian mendadak terdengar suara seorang yang serak tua membentak di dalam rumah.

Lenghou Tiong menjadi heran, tokoh macam Ui Ciong-kong ternyata masih ada orang yang berani membentak-bentak padanya.

Ia coba mengintip ke dalam melalui celah-celah jendela.

Begitu mengetahui siapa yang berada di dalam itu, seketika hatinya berdebar-debar.

Terlihat orang berduduk di empat kursi, mereka adalah keempat orang yang dijumpainya di atas loteng Song-si-lau siang tadi.

Ui Ciong-kong, Tut-pit-ong, dan Tan-jing-sing bertiga tampak berdiri di depan keempat orang itu dengan membelakangi jendela sehingga wajah mereka tidak kelihatan.

Tapi yang satu berduduk dan yang lain berdiri, dari ini pun jelas akan perbedaan kedudukan mereka.

Terdengar Ui Ciong-kong sedang menjawab.

"Ya, hamba mengakui salah. Hamba tidak mengadakan penyambutan sepantasnya atas kedatangan keempat Tianglo, benar-benar berdosa."

"Hm, apa dosanya jika cuma soal sambutan saja?"

Jengek kakek yang bertubuh jangkung.

"Janganlah kau berlagak pilon lagi. Di manakah Hek-pek-cu? Mengapa tidak menghadap kepada kami?"

Diam-diam Lenghou Tiong tertawa geli, Hek-pek-cu telah terkurung di dalam penjara, tapi Ui Ciong-kong bertiga malah mengira saudara angkat mereka itu telah melarikan diri.

Begitulah Ui Ciong-kong telah menjawab.

"Lapor para Tianglo, pengawasan hamba kurang keras sehingga sifat Hek-pek-cu akhir-akhir ini telah banyak mengalami perubahan. Beberapa hari ini dia telah meninggalkan tempat tinggalnya."

"Hm, dia tidak di sini? Tidak di tempat tinggalnya?"

Kakek tadi menegas.

"Ya,"

Jawab Ui Ciong-kong. Kakek itu tampak menatap Ui Ciong-kong dengan sorot mata yang tajam, katanya pula.

"Ui Ciong-kong, Kaucu menugaskan kalian menjaga Bwe-cheng ini, apakah kalian disuruh memetik kecapi, minum arak, melukis, dan main catur melulu?"

"Tidak, hamba berempat ditugaskan oleh Kaucu untuk menjaga tahanan penting di sini,"

Sahut Ui Ciong-kong dengan membungkuk tubuh.

"Betul,"

Kata si kakek.

"Lalu bagaimana dengan tahanan penting yang kau awasi itu?"

"Lapor Tianglo, tahanan penting itu masih terkurung di dalam penjara bawah tanah,"

Tutur Ui Ciong-kong.

"Selama 12 tahun hamba tidak pernah meninggalkan Bwe-cheng ini, tidak pernah melenakan tugas."

"Bagus, bagus. Kalian tidak pernah meninggalkan tempat tugas, tidak pernah melenakan tugas,"

Kata si kakek.

"Jika demikian, jadi tahanan penting itu masih tetap berada di dalam penjara bukan?"

"Betul,"

Sahut Ui Ciong-kong tegas.

Mendadak kakek itu menengadah memandangi langit-langit rumah, tiba-tiba ia terbahak sehingga debu di langit-langit rumah itu sama rontok.

Selang sejenak baru ia berkata pula.

"Coba kau bawa kami pergi melihat tahanan penting itu."

"Mohon maaf para Tianglo,"

Kata Ui Ciong-kong.

"Menurut perintah keras Kaucu dahulu, tak peduli siapa pun juga dilarang menyambangi tahanan itu, jika melanggar ...."

Dengan cepat kakek tadi lantas mengeluarkan sepotong benda terus diangkat tinggi-tinggi ke atas sembari berdiri.

Tiga orang kawannya serentak juga berdiri dengan sikap sangat hormat.

Waktu Lenghou Tiong mengamat-amati benda itu, kiranya benda itu adalah sepotong papan kayu warna hitam hangus yang belasan senti panjangnya, di atas papan kayu itu ada ukiran-ukiran kembang dan tulisan, tampaknya sangat aneh dan penuh rahasia.

Seketika Ui Ciong-kong bertiga lantas memberi hormat dan berkata.

"Hek-bok-leng-pay (Papan Kebesaran Kayu Hitam) Kaucu tiba, hamba akan menerima segala titah dengan hormat."

"Baik, sekarang pergilah membawa tahanan penting itu ke sini,"

Kata si kakek.

"Tahanan penting itu terborgol dengan rantai, tidak ... tidak dapat dibawa ke sini,"

Jawab Ui Ciong-kong dengan ragu-ragu.

"Hm, sampai saat ini kau masih coba putar lidah dan bermaksud mendustai kami,"

Jengek kakek itu.

"Aku ingin tanya, sesungguhnya cara bagaimana tahanan itu sampai lolos dari sini?"

"Tahanan ... tahanan itu telah melarikan diri? Ah, mana ... mana mungkin,"

Jawab Ui Ciong-kong terperanjat.

"Orang itu masih tetap terkurung di dalam penjara, mana bisa melarikan diri."

"O, jadi kau tidak mau bicara dengan terus terang ya?"

Kata si kakek.

Perlahan-lahan ia lantas mendekati Ui Ciong-kong, mendadak sebelah tangannya menepuk ke pundak Ui Ciong-kong.

Serentak Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing bermaksud melangkah mundur, tapi tindakan mereka ternyata kalah cepat dengan gerak tangan si kakek jangkung.

"plok-plok"

Dua kali, berturut-turut pundak Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing juga telah kena ditabok.

"Pau-tianglo,"

Teriak Tan-jing-sing.

"apa kesalahan kami sehingga engkau menggunakan cara ... cara sekeji ini terhadap kami?"

Dari suaranya dapat diketahui di samping menahan sakit luar biasa ia pun merasa penasaran. Kakek itu menjawabnya dengan perlahan.

"Kalian ditugaskan oleh Kaucu untuk menjaga tahanan penting itu, sekarang tahanan itu berhasil melarikan diri, kalian pantas dihukum mati atau tidak?"

"Jika tahanan itu benar-benar melarikan diri, sudah tentu hamba pantas dihukum mati,"

Sahut Ui Ciong-kong.

"Akan ... akan tetapi tahanan itu sampai saat ini masih berada di dalam penjara. Sekarang Pau-tianglo datang-datang lantas menggunakan hukuman keji, ini membikin kami penasaran."

Waktu bicara badan Ui Ciong-kong sedikit miring sehingga dari samping Lenghou Tiong dapat melihat jidatnya penuh butiran keringat sebesar kedelai.

Maka Lenghou Tiong dapat menduga tepukan Pau-tianglo tadi tentu sangat lihai sehingga jago silat hebat sebagai Ui Ciong-kong juga tidak tahan.

Maka terdengar si kakek telah menjawab.

"Baik, silakan kalian memeriksa sendiri ke dalam penjara, jikalau tahanan itu masih tetap di sana, hm, biar aku nanti menjura dan minta maaf kepada kalian, seketika pula akan memunahkan hukuman Na-sah-jiu (Pukulan Pasir Biru)."

"Baik, harap para Tianglo menunggu sementara,"

Kata Ui Ciong-kong.

Segera bersama Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing bertindak ke luar dan badan rada gemetar.

Khawatir diketahui, Lenghou Tiong tidak berani mengintip lebih jauh, perlahan-lahan ia berduduk di atas tanah, pikirnya.

"Kaucu apa yang dikatakan itu menugaskan mereka menjaga tahanan penting di sini selama 12 tahun, dengan sendirinya tahanan yang dimaksudkan bukanlah diriku dan tentulah locianpwe she Yim itu. Apakah benar dia sudah berhasil lolos? Dia dapat melarikan diri dari penjara tanpa diketahui oleh Ui Ciong-kong dan lain-lain, maka kepandaiannya benar-benar mahasakti. Ya, tentunya Ui Ciong-kong bertiga memang tidak tahu, makanya Hek-pek-cu menyangka aku sebagai Yim-locianpwe."

Ia pikir sebentar lagi kalau Ui Ciong-kong bertiga sudah memeriksa tahanan di dalam penjara tentu akan dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Perubahan-perubahan yang hebat itu kalau dipikirkan benar-benar sangat aneh dan lucu.

Didengarnya keempat orang yang duduk di dalam itu semuanya diam saja.

Pikirnya pula.

"Keempat orang ini benar-benar sangat pendiam, sudah tidak minum arak, tidak makan daging pula, mana senangnya menjadi manusia? Kaucu yang dikatakan itu dari agama apakah? Jangan-jangan Mo-kau? Tapi Kaucu dari Mo-kau itu katanya bernama Tonghong Put-pay dan merupakan tokoh nomor satu di dunia persilatan pada zaman ini, ilmu silatnya tiada tandingannya, jangan-jangan keempat orang ini adalah tianglo (tertua) dari Mo-kau, sebab itulah Ui Ciong-kong dan kawan-kawannya sedemikian takut padanya? Dan jika demikian, jadi Ui Ciong-kong berempat juga anggota Mo-kau semua?"

Begitulah timbul macam-macam pikirannya, tapi bernapas pun dia tidak berani keras-keras, meski dia dan empat orang tua itu terhalang oleh selapis dinding, tapi jaraknya cuma beberapa meter saja, asal napasnya sedikit berat seketika pasti akan ketahuan.

Dalam keadaan sunyi senyap itu, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan ngeri yang berkumandang dari jauh, jeritan yang penuh derita dan ketakutan.

Dari suaranya dapat Lenghou Tiong mengenali sebagai suaranya Hek-pek-cu.

Menyusul terdengarlah suara tindakan kaki yang makin mendekat, Ui Ciong-kong dan lain-lain telah kembali.

Segera Lenghou Tiong mengintip lagi.

Dilihatnya Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing memayang Hek-pek-cu yang tampak lemas itu, air muka Hek-pek-cu tampak pucat guram, matanya sayu, berbeda sekali dengan tingkah lakunya yang cekatan dan cerdik sebelumnya.

"La ... lapor para Tianglo,"

Demikian Ui Ciong-kong berkata dengan suara gemetar.

"tahanan itu ternyata sudah ... sudah melarikan diri. Hamba terima dihukum mati di hadapan para Tianglo."

"Tadi kau bilang Hek-pek-cu tidak di sini, mengapa sekarang dia muncul lagi? Sebenarnya bagaimana duduknya perkara?"

Tanya kakek she Pau bernama Tay-coh itu.

"Tentang seluk-beluk kejadian ini sesungguhnya hamba juga merasa bingung,"

Tutur Ui Ciong-kong.

"Ai, kegemaran melalaikan tugas, hal ini adalah salah kami berempat yang terlalu iseng dan tergila-gila kepada kegemaran masing-masing sehingga kelemahan kami ini telah dipergunakan musuh untuk mengatur tipu muslihat, akhirnya orang itu ... orang itu telah mereka bawa lari."

Lenghou Tiong juga merasa bingung, pikirnya.

"Kiranya locianpwe she Yim itu juga sudah melarikan diri, apa betul mereka sama sekali tidak mengetahui?"

Maka terdengar Pau Tay-coh bertanya pula.

"Kami berempat dititahkan oleh Kaucu untuk menyelidiki bagaimana sampai tahanan penting itu bisa meloloskan diri. Jika kalian mengaku terus terang tanpa berdusta, maka ... mungkin kami akan memohonkan ampun kepada Kaucu bagi kalian."

Ui Ciong-kong menghela napas panjang, sahutnya.

"Seumpama Kaucu sudi memberi ampun juga hamba malu untuk hidup lagi di dunia ini? Cuma sebelum hamba mengetahui seluk-beluk akan peristiwa ini, biar mati pun hamba merasa penasaran. Pau-tianglo, apakah ... apakah Kaucu beliau berada di Hangciu?"

Alis Pau Tay-coh tampak menegak, sahutnya.

"Siapa bilang Kaucu berada di Hangciu?"

"Sebab tahanan itu baru saja melarikan diri kemarin, mengapa Kaucu seketika lantas tahu dan segera mengirim keempat Tianglo ke Bwe-cheng sini?"

Ujar Ui Ciong-kong.

"Hm, kau makin lama tampaknya tambah pikun,"

Jengek Pau Tay-coh.

"Siapa yang bilang tahanan penting itu baru melarikan diri kemarin?"

"Orang itu benar-benar baru melarikan diri pada kemarin siang,"

Sahut Ui Ciong-kong.

"Tatkala mana kami bertiga mengira dia adalah Hek-pek-cu, tak tersangka dia telah berhasil memancing Hek-pek-cu untuk ditawannya, lalu menukar pakaiannya dengan baju Hek-pek-cu terus menerjang keluar. Kejadian ini tidak cuma kami bertiga yang menyaksikan, malahan Ting Kian juga kena ditubruk oleh orang itu sehingga tulang iganya banyak yang patah ...."

Pau Tay-coh menoleh kepada ketiga tianglo yang lain, katanya dengan mengerut dahi.

"Orang ini entah mengaco-belo apa, masakah bisa terjadi begitu?"

Seorang kakek yang pendek gemuk di antaranya lantas berkata.

"Kita menerima berita itu pada tanggal delapan bulan yang lalu ..."

Sembari bicara ia terus menghitung-hitung dengan jarinya, lalu menyambung.

"sampai hari ini sudah hari ke-21."

"Tidak ... tidak mungkin,"

Seru Ui Ciong-kong sambil melangkah mundur, lalu berpaling dan berteriak.

"Si Leng-wi, gotong Ting Kian ke sini!"

Dari jauh terdengar suara Si Leng-wi mengiakan.

Pau Tay-coh coba mendekati Hek-pek-cu dan menjambret dadanya terus diangkat, ternyata tokoh nomor dua dari Bwe-cheng itu keadaannya memang lemas lunglai seakan-akan seluruh ruas tulang badannya telah terlepas semua.

"Ya, itulah akibat seluruh tenaganya telah disedot habis oleh Gip-sing-tay-hoat orang itu,"

Ujar si kakek hitam kurus sebelah sana.

"Bilakah kau kena dikerjai oleh orang itu?"

Tanya Pau Tay-coh.

"Kemarin,"

Sahut Hek-pek-cu dengan suara terputus-putus lemah.

"orang itu men ... mencengkeram pergelangan kananku sehingga aku tak bisa ... tak bisa berkutik, terpaksa aku pasrah nasib."

"Lalu bagaimana?"

Tanya Pau Tay-coh dengan tidak mengerti.

"Melalui lubang persegi di daun pintu itu aku telah ditarik masuk ke dalam kamar tahanan,"

Tutur Hek-pek-cu.

"Dia menanggalkan pakaianku dan membelenggu kaki-tanganku, kemudian dia menerobos keluar melalui lubang persegi itu."

"Jadi kemarin, benar-benar kemarin? Mana mungkin?"

Ujar Pau Tay-coh mengerut dahi.

"Dan cara bagaimana belenggu baja itu dapat diputuskan olehnya?"

Tanya si kakek kurus.

"Hal ini aku ... aku tidak tahu,"

Jawab Hek-pek-cu.

"Tadi hamba telah meneliti belenggu-belenggu itu, ternyata digergaji putus dengan gergaji baja yang amat lihai, sungguh aneh, dari manakah orang itu mendapatkan gergaji halus demikian itu?"

Kata Tut-pit-ong.

Dalam pada itu Si Leng-wi sudah datang menggotong Ting Kian bersama dua orang pelayan.

Ting Kian menggeletak di atas dipan dan tertutup selapis selimut tipis.

Pau Tay-coh membuka selimut itu dan memegang perlahan di atas dada Ting Kian, seketika Ting Kian berteriak kesakitan.

Pau Tay-coh manggut-manggut dan memberi tanda agar Ting Kian digotong pergi lagi.

"Tubrukan itu benar-benar sangat hebat, jelas dilakukan oleh orang itu,"

Ujar Pau Tay-coh kemudian. Wanita yang duduk di sebelah kiri sejak tadi tidak pernah membuka suara, sekarang mendadak ia berkata.

"Pau-tianglo, jika betul orang itu baru lolos kemarin, lantas berita yang kita terima permulaan bulan yang lalu mungkin adalah kabar bohong yang sengaja disebarkan oleh begundalnya untuk memengaruhi pikiran kita."

Usia wanita itu tidak dapat dikatakan muda lagi, tapi suaranya ternyata masih merdu dan enak didengar.

"Tidak, tidak mungkin palsu,"

Sahut Pau Tay-coh sambil menggeleng.

"Tidak palsu?"

Wanita itu menegas.

"Ya, coba pikirkan, Sik-hiangcu memiliki ilmu Kim-cong-cu dan Thi-poh-sah (ilmu-ilmu kebal) yang tidak mempan diserang oleh senjata tajam biasa, tapi lima jari orang itu telah mampu menembus dadanya sehingga ulu hatinya kena dikorek ke luar mentah-mentah, kepandaian selihai ini rasanya tiada orang keduanya di dunia ini selain orang itu ...."

Selagi asyik mendengarkan, mendadak Lenghou Tiong merasa pundaknya ditepuk orang dengan perlahan, ia terkejut dan cepat menoleh.

Maka tertampaklah di belakangnya telah berdiri 2 orang.

Karena membelakangi cahaya rembulan yang remang, maka air muka kedua orang itu tidak terlihat jelas.

Hanya seorang di antaranya lantas berkata padanya.

"Adik kecil, marilah kita masuk ke sana!"

Terang itulah suaranya Hiang Bun-thian. Keruan Lenghou Tiong kegirangan, serunya dengan suara tertahan.

"He, Hiang-toako!"

Meski suara mereka itu sangat perlahan, tapi ternyata sudah didengar oleh orang-orang di dalam rumah.

"Siapa itu?"

Pau Tay-coh lantas membentak.

Maka terdengarlah suara gelak tertawa seorang, suaranya menggelegar memekakkan telinga.

Ternyata suara yang keluar dari mulut orang di sebelah Hiang Bun-thian itu.

Orang yang tertawa itu lantas melangkah ke depan, dinding tembok yang merintangi itu ditolak begitu saja oleh kedua tangannya, seketika terdengar suara gemuruh, tembok itu ambruk menjadi suatu lubang besar, melalui lubang tembok itulah orang itu lantas melangkah ke dalam.

Sambil menggandeng tangan Lenghou Tiong segera Hiang Bun-thian ikut masuk ke dalam rumah.

Pau Tay-coh berempat sudah berbangkit dengan senjata terhunus, air muka mereka tampak sangat tegang.

Mestinya Lenghou Tiong ingin lekas-lekas tahu siapakah gerangan teman Hiang Bun-thian itu, cuma dia berjalan di depan dan membelakangi Lenghou Tiong, pula perawakannya tinggi besar, hanya tampak rambutnya yang hitam dan bajunya warna hijau.

"Kiranya ... kiranya Yim ... Yim-cianpwe yang datang,"

Kata Pau Tay-coh ragu-ragu.

Orang itu hanya mendengus saja dan tidak menjawab, ia terus melangkah maju.

Dengan sendirinya Pau Tay-coh dan lain-lain lantas menyingkir mundur.

Sesudah membalik tubuh, orang itu lantas berduduk pada kursi yang tengah, yaitu kursi yang tadi diduduki oleh Pau Tay-coh.

Baru sekarang Lenghou Tiong dapat melihat jelas wajah orang itu yang rada lonjong, air mukanya pucat seperti mayat, tampak jelas membayangkan muka tampan pada masa mudanya.

Orang itu menggapaikan tangannya kepada Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong, katanya.

"Hiang-hiante dan Adik Lenghou Tiong, marilah duduk di sini."

Demi mendengar suaranya, alangkah kejut dan girangnya Lenghou Tiong.

"He, jadi kau ... kau adalah Yim-locianpwe?"

Serunya Orang itu tersenyum, sahutnya.

"Benar. Sungguh bagus sekali ilmu pedangmu."

Bab 75. Lenghou Tiong Tidak Sudi Menjadi Pemimpin Mo-Kau "Haha, kau ternyata benar sudah lolos,"

Kata Lenghou Tiong.

"Sekarang ... sekarang ...."

"Sekarang kau datang hendak menolong aku, bukan?"

Sela orang itu dengan tertawa.

"Hahaha, Hiang-hiante, saudaramu ini benar-benar seorang sahabat sejati."

Hiang Bun-thian menyilakan Lenghou Tiong berduduk di sisi kanan orang itu, ia sendiri duduk di sebelah kirinya, lalu berkata.

"Lenghou-hiante adalah seorang pemberani dan berjiwa luhur, ia benar-benar seorang laki-laki sejati yang terpuji di zaman ini."

"Lenghou-hengte, sungguh aku merasa menyesal telah membikin susah padamu sampai meringkuk tiga bulan di dalam penjara gelap di dasar danau, harap maaf ya, hahahaha,"

Kata pula orang itu dengan gelak tertawa.

Kini Lenghou Tiong lamat-lamat dapat memahami sedikit duduknya perkara, cuma masih belum jelas seluruhnya.

Dengan tersenyum simpul orang she Yim itu memandangi Lenghou Tiong, lalu katanya lagi.

"Meski kau telah menderita selama tiga bulan di dalam penjara, tapi dasar ada jodoh dan secara kebetulan kau telah berhasil meyakinkan Gip-sing-tay-hoat yang kuukir di atas dipan besi itu. Hehe, rasanya itu pun sudah cukuplah untuk menambal kerugianmu."

"Ilmu sakti yang terdapat di atas dipan besi itu adalah ... ukiranmu?"

Lenghou Tiong menegas dengan heran.

"Kalau bukan aku, di dunia ini siapa lagi yang mahir akan Gip-sing-tay-hoat?"

Sahut orang itu dengan tersenyum.

"Lenghou-hiante,"

Sela Hiang Bun-thian.

"sejak kini, Yim-kaucu punya Gip-sing-tay-hoat di dunia ini hanya kau satu-satunya ahli warisnya, sungguh aku ikut girang dan harus diberi selamat."

"Yim-kaucu?"

Lenghou Tiong menegas pula.

"Kiranya sampai sekarang kau masih belum tahu jelas akan kedudukan Yim-kaucu,"

Kata Hiang Bun-thian.

"Beliau bukan lain adalah Yim-kaucu dari Tiau-yang-sin-kau, namanya yang lengkap adalah Yim Ngo-heng, apakah kau pernah mendengar nama beliau ini?"

"Nama Yim ... Yim-kaucu telah kuketahui dari tulisan yang terukir di atas dipan besi itu, cuma tidak tahu bahwa beliau adalah ... adalah kaucu,"

Sahut Lenghou Tiong ragu-ragu.

Ia tahu Tiau-yang-sin-kau (Agama Penyembah Matahari) adalah Mo-kau, orang Mo-kau sendiri menyebut agama mereka sebagai Tiau-yang-sin-kau, tapi di luar orang menamakan agama mereka sebagai Mo-kau (Agama Iblis).

Ia pun tahu ketua Mo-kau selama ini adalah Tonghong Put-pay, dari mana mendadak muncul lagi seorang Yim Ngo-heng yang mengaku sebagai ketuanya?

Mendadak si kakek kurus tadi membentak.

"Kaucu apa dia itu? Setiap orang di dunia ini sama tahu bahwa ketua Tiau-yang-sin-kau kami adalah Tonghong-kaucu, orang she Yim ini telah mengkhianat dan berontak, sudah lama dia dipecat dari agama kami. Hiang Bun-thian, kau berani ikut-ikutan murtad, apa kau tidak takut menerima hukuman mati?"

Perlahan-lahan Yim Ngo-heng berpaling ke arah si kakek kurus, katanya kemudian.

"Kau bernama Cin Pang-wi bukan?"

"Benar,"

Sahut kakek kurus itu tegas.

"Waktu aku masih memegang kekuasaan agama kita kau adalah Jing-ki Ki-cu (Pemimpin Panji Hijau) di wilayah Kangsay bukan?"

Tanya Yim Ngo-heng.

"Benar,"

Sahut Cin Pang-wi Yim Ngo-heng menghela napas, katanya.

"Sekarang kau telah menjadi satu di antara kesepuluh tianglo, cepat amat kenaikan pangkatmu ini. Sebab apa Tonghong Put-pay begini menilai tinggi dirimu? Apakah ilmu silatmu tinggi atau karena kerjamu pintar?"

"Selamanya aku setia kepada agama, selalu tampil ke muka menghadapi segala urusan, jasa-jasa yang telah kupupuk selama 20 tahun inilah yang menaikkan pangkatku menjadi tianglo,"

Jawab Cin Pang-wi.

"Ehm, boleh juga ya,"

Ujar Yim Ngo-heng.

Habis itu mendadak ia melompat maju ke depan Pau Tay-coh, tangannya menjulur terus mencengkeram tenggorokan.

Keruan Pau Tay-coh terkejut, untuk mencabut senjata buat menangkis sudah tidak keburu lagi, terpaksa tangan kiri diangkat untuk melindungi tenggorokan sendiri, berbareng kaki kiri melangkah mundur setindak, habis itulah tangan kanan yang mencabut goloknya itu baru ditebaskan.

Walaupun rapat benar pertahanan Pau Tay-coh itu dan ganas pula serangan balasannya, tapi tangan kanan Yim Ngo-heng itu tetap lebih cepat satu langkah, belum lagi golok Pau Tay-coh bergerak turun, dada sasarannya sudah kena dipegangnya.

"bret" , jubah Pau Tay-coh itu terus dirobek, sepotong benda di dalam bajunya itu terus dirampasnya. Kiranya adalah Hek-bok-leng-pay, papan hitam tanda kebesaran sang kaucu tadi. Hampir pada saat yang sama terdengarlah suara "trang-trang-trang"

Tiga kali, kiranya Hiang Bun-thian telah menggunakan pedangnya menyerang tiga kali kepada Cin Pang-wi dan kedua temannya, ketiga orang itu pun lantas menangkis dengan senjata mereka.

Rupanya serangan Hiang Bun-thian ini bertujuan merintangi ketiga orang itu memberi bantuan kepada Pau Tay-coh, setelah gebrakan itu pun Pau Tay-coh sudah berada dalam cengkeraman Yim Ngo-heng.

"Aku punya Gip-sing-tay-hoat belum lagi kugunakan, apakah kau ingin mencicipi rasanya?"

Kata Yim Ngo-heng dengan tersenyum.

Sebagai seorang gembong Mo-kau yang berkedudukan tinggi dan berpengalaman, sudah tentu Pau Tay-coh tahu betapa lihainya Yim Ngo-heng, kalau tidak menyerah tentu jiwanya akan melayang, kecuali itu tiada jalan lain lagi.

Caranya mengambil keputusan juga sangat cepat, tanpa pikir ia terus menjawab.

"Yim-kaucu, selanjutnya aku berjanji akan setia padamu."

"Dahulu kau pun pernah bersumpah akan setia kepadaku, mengapa kemudian kau balik pikiran?"

Tanya Yim Ngo-heng.

"Mohon Yim-kaucu memberi kesempatan kepada hamba untuk membuat jasa buat menebus dosa,"

Kata Pau Tay-coh.

"Baik, makanlah pil ini,"

Baca Juga: Pendekar Satu Jurus 7

Baca Juga: Pendekar Sakti Suling Pualam 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert