Ceritasilat Novel Online

Hina Kelana Balada Kaum Kelana 8

Eps 8 Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Baca online Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Cersil Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong.

"Suhu, bila ada sepuluh orang yang membaca biar kubunuh sepuluh, kalau ada seratus orang juga seratus orang akan kubunuh. Dan bila Suhu masih tetap menyangsikan Tecu yang mencurinya, silakan Suhu bunuh Tecu saja sekarang dengan sekali hantam."

Put-kun menggeleng, katanya.

"Coba berdirilah. Bila kau mengaku tidak tentu juga tidak. Selamanya kau berhubungan sangat baik dengan Tay-yu, sudah tentu kau tidak sengaja membunuhnya. Cuma ... kitab pusaka itu lantas dicuri siapa?"

Ia memandang jauh keluar jendela dan termangu-mangu.

"Ayah,"

Tiba-tiba Leng-sian menyela.

"Anak yang bersalah. Akulah yang banyak bertingkah dan mencuri kitab pusaka ayah, siapa tahu Toasuko berkeras tak mau membacanya dan sekarang malah membikin jiwa Laksuko juga melayang. Biarlah anak ... anak pergi mencari kitab itu."

"Coba kita mencari sekali lagi di sekitar sini,"

Ujar Pun-kun.

Bab 42.

Gak Put-kun Ditawan Musuh dan Lenghou Tiong yang Menolong Namun meski mereka bertiga mencari pula segenap pelosok pondok kecil itu dengan lebih teliti toh hasilnya tetap nihil.

Akhirnya Put-kun berkata.

"Kejadian ini jangan sekali-kali disiarkan keluar, kecuali aku yang akan memberitahukan kepada ibumu, kepada siapa pun jangan bercerita. Marilah mengubur Tay-yu dan lekas tinggalkan tempat ini."

Waktu mengangkat Liok Tay-yu, tanpa terasa Lenghou Tiong berduka pula. Pikirnya.

"Di antara sesama saudara seperguruan, selamanya Laksute paling baik padaku. Siapa duga sekali salah tutuk aku membinasakan dia. Hal ini sungguh di luar dugaan, mungkin karena di dalam tubuhku terdapat hawa murni yang ditinggalkan Tho-kok-lak-sian yang aneh itu, maka tenagaku menutuk telah jauh berbeda? Seumpama betul demikian, lalu kitab Ci-he-pit-kip itu mengapa bisa menghilang tanpa bekas? Seluk-beluk kejadian ini benar-benar sukar untuk dimengerti. Sekarang Suhu sudah mencurigai diriku, tiada gunanya aku memberi penjelasan, paling perlu aku harus menyelidiki perkara ini sehingga jelas, sesudah itu biarlah aku membunuh diri untuk mengiringi kematian Laksute."

Ia mengusap air mata, diambil sebuah cangkul untuk menggali liang kubur Liok Tay-yu.

Jika dalam keadaan biasa, sebuah liang kubur saja tidak perlu banyak membuang tenaganya, tapi sekarang dia sudah mandi keringat dengan napas tersengal-sengal, bahkan atas bantuan Leng-sian barulah jenazah Liok Tay-yu dapat dikubur secara sederhana.

Kemudian mereka lantas berangkat ke Pek-ma-tik untuk bergabung dengan Gak-hujin dan lain-lain.

Sudah tentu Gak-hujin sangat girang melihat Lenghou Tiong sudah sehat, bahkan ikut datang pula.

Tapi ketika dari sang suami diketahui tentang kematian Liok Tay-yu serta hilangnya Ci-he-pit-kip, hal ini membuatnya sedih dan meneteskan air mata.

Soal hilangnya Pit-kip baginya tidak terlalu gawat karena isi kitab itu sudah dipelajari dengan masak oleh sang suami.

Hanya tentang kematian Liok Tay-yu, murid yang disukai oleh segenap saudara seperguruan itulah yang membuatnya berduka.

Murid-murid yang lama tidak tahu urusannya, yang jelas diketahui adalah guru dan ibu guru mereka, begitu pula Toasuko dan Siausumoay tertampak lesu.

Maka mereka pun ikut prihatin dan tidak berani bicara atau tertawa keras.

Gak Put-kun menyuruh Lo Tek-nau menyewa dua kereta untuk Gak-hujin dan Leng-sian, yang lain untuk Lenghou Tiong yang masih lemah.

Rombongan lantas meneruskan perjalanan ke Ko-san di sebelah timur.

Satu hari sampailah mereka di Wi-lim-tin, hari sudah hampir gelap, mereka lantas mencari hotel untuk bermalam.

Tapi kota kecil ini hanya ada sebuah hotel yang telah penuh tamu.

Karena membawa keluarga wanita sehingga dalam hal penginapan menjadi kurang leluasa.

Terpaksa Gak Put-kun memerintahkan melanjutkan perjalanan ke kota di depan.

Di luar dugaan, beberapa li kemudian mendadak kereta yang ditumpangi nyonya Gak patah asnya dan tidak dapat meneruskan perjalanan.

"Sunio,"

Kata Lenghou Tiong sesudah Gak-hujin dan Leng-sian turun dari kereta mogok itu.

"lukaku sudah sembuh, silakan Sunio dan Sumoay menumpang keretaku ini, biar aku berjalan bersama orang banyak."

Dan baru saja Lenghou Tiong keluar dari keretanya, tiba-tiba Si Cay-cu menuding ke arah timur laut sana dan berseru.

"Suhu, di tepi hutan sana ada sebuah kelenteng, apakah kita mau minta memondok barang semalam saja di sana?"

"Hanya anggota keluarga wanita yang kurang leluasa,"

Ujar Gak-hujin. Tetapi Gak Put-kun lantas menjawab.

"Cay-cu, boleh coba kau pergi tanya, jika Hwesio penghuni kelenteng itu menolak, maka jangan kau memaksanya."

Cay-cu mengiakan dan segera berlari pergi. Tidak lama kemudian ia sudah lari kembali, dari jauh ia berteriak.

"Suhu, kelenteng itu dalam keadaan rusak dan tiada penghuninya."

Keruan semua orang sangat girang dan merasa kebetulan.

Segera To-kin, Bok Pek-lo, Su Ki dan beberapa murid termuda mendahului lari ke sana untuk membersihkan tempat bermalam itu.

Ketika rombongan Gak Put-kun sampai di luar kelenteng, sementara itu langit tiba-tiba mendung, dalam sekejap saja cuaca menjadi gelap.

"Untung ada kelenteng rusak ini, kalau tidak kita pasti akan kehujanan di tengah jalan,"

Kata Gak-hujin.

Waktu mereka masuk ke ruangan kelenteng, kiranya arca yang dipuja di situ adalah Toapekong Yok-ong (raja obat) yang aslinya bernama Sin-long-si.

Beramai-ramai Gak Put-kun dan lain-lain lantas memberi hormat kepada Toapekong.

Dan belum lagi mereka berbenah seperlunya tiba-tiba sinar kilat menyambar-nyambar dan guntur berbunyi, menyusul hujan lantas menetes dengan lebatnya.

Karena kelenteng itu sudah rusak, hampir di mana-mana air bocor menggenangi ruangan kelenteng itu.

Terpaksa mereka tidak memasang tikar dan membuka selimut, masing-masing hanya mencari tempat duduk yang tidak kebocoran.

Sedangkan Ko Kin-beng, Nio Hoat dan tiga orang murid wanita sibuk menanak nasi.

"Hujan musim rendeng ini cepat amat datangnya, bisa jadi panen kali ini takkan berhasil dengan baik,"

Demikian kaca Gak-hujin. Dalam pada itu Lenghou Tiong yang duduk meringkuk di pojok sana sedang termenung-menung memandangi air hujan yang menyiram dari atas talang yang rusak. Pikirnya.

"Jika Laksute juga berada di sini, tentu suasana akan riang gembira."

Biasanya di antara Lenghou Tiong, Gak Leng-sian, Liok Tay-yu, Ko Kin-beng dan lain-lain paling suka bergurau bila berkumpul bersama.

Tapi sejak Liok Tay-yu meninggal, karena merasa berdosa dan yakin dirinya sendiri takkan hidup terlalu lama lagi di dunia ini, maka jarang sekali Lenghou Tiong mengajak bicara dengan Leng-sian.

Terkadang bila ia melihat Leng-sian bergaul dengan Peng-ci, selalu ia menyingkir sejauh mungkin.

Sering ia berpikir.

"Biarpun tahu akan dimaki oleh Suhu, tapi Siausumoay telah sengaja mencuri Ci-he-pit-kip untukku, ini menandakan betapa cinta kasihnya kepadaku. Jika aku mencintai Sumoay, sudah seharusnya aku menginginkan dia hidup senang dan bahagia. Aku sudah bertekad akan membunuh diri untuk membalas budi Laksute bila kelak kitab pusaka itu diketemukan, maka tidak boleh aku mendekati Siausumoay pula. Dia dan Lim-sute adalah pasangan yang setimpal, semoga Siausumoay dapat melupakan diriku sebersih-bersihnya. Bila aku mati nanti janganlah dia menitikkan setetes air mata pun."

Walaupun begitu pikirnya, tapi setiap kali bila melihat Leng-sian jalan bersama Peng-ci sambil bicara dengan asyiknya, maka pedih juga rasa hatinya.

Kini dilihatnya pula Leng-sian sedang sibuk membantu menanak nasi dan pekerjaan lain, pada waktu nona itu mondar-mandir, setiap kali beradu pandang dengan Peng-ci, kedua muda-mudi itu sama menampilkan senyuman berarti.

Tukar pandang mesra mereka itu disangka tiada orang lain yang tahu, akan tetapi setiap kali mereka bersenyum sebenarnya tidak terlepas dari pandangan Lenghou Tiong.

Sudah tentu pandangan kedua orang itu membuat perasaan Lenghou Tiong tambah pedih.

Ia bermaksud berpaling ke arah lain dan tak mau memandangnya, namun setiap Leng-sian lalu di depannya, tanpa merasa ia melirik juga terhadap si nona.

Sehabis dahar malam, masing-masing lantas hendak tidur.

Hujan masih terus turun, sebentar deras, sebentar gerimis, tak berhenti-henti.

Karena perasaan kusut, Lenghou Tiong tak bisa tidur.

Kira-kira sejam-dua jam, terdengarlah suara mendengkur para Sutenya di sana-sini, semuanya sudah tidur nyenyak.

Sekonyong-konyong dari jurusan barat daya berkumandang suara derapan kuda yang ramai, jumlahnya ada belasan dan sedang mendatang melalui jalan raya.

Lenghou Tiong terkesiap.

Pikirnya.

"Di tengah malam buta dan hujan mengapa ada orang mengebut kudanya secepat itu? Jangan-jangan rombongan kita ini yang dituju?"

Segera ia bangun duduk. Pada saat itulah terdengar Gak Put-kun telah membentak dengan suara tertahan.

"Ssst, semua jangan bersuara!"

Tidak lama belasan penunggang kuda itu telah lewat di luar kelenteng.

Sementara itu anak murid Hoa-san-pay sudah mendusin dan masing-masing telah menyiapkan senjata untuk menghadapi musuh.

Mereka merasa lega mendengar suara kuda lari itu sudah jauh melalui kelenteng.

Baru mereka hendak tidur kembali, tiba-tiba terdengar suara derapan kuda yang ramai itu berputar balik.

Belasan penunggang kuda telah sampai di luar kelenteng, lalu berhenti.

Segera terdengar suara seorang yang keras dan nyaring berseru.

"Apakah Gak-siansing dari Hoa-san-pay berada di dalam kelenteng? Ada suatu urusan kami ingin minta keterangan."

Sebagai murid Hoa-san-pay yang tertua, biasanya Lenghou Tiong yang mewakilkan perguruannya melayani orang luar. Segera ia menuju ke pintu, ia tarik palang pintu dan menjawab.

"Tengah malam begini entah kawan dari manakah yang datang kemari?"

Ketika pintu terbuka, ia lihat di luar kelenteng telah berbaris 15 penunggang kuda, beberapa orang di antaranya membawa Khong-beng-ting (lampu Khong Beng, yaitu sejenis lampu seperti lampu kapal zaman sekarang), serentak mereka menyorotkan sinar lampu mereka ke muka Lenghou Tiong.

Di tengah malam gelap mendadak disoroti cahaya lampu yang terang, sudah tentu Lenghou Tiong merasa silau.

Perbuatan demikian sesungguhnya sangat kasar, tidak tahu adat.

Dari kejadian ini saja sudah dapat diketahuinya maksud pendatang-pendatang itu terang bersifat permusuhan.

Waktu Lenghou Tiong memerhatikan, ternyata orang-orang itu semuanya memakai kedok kain hitam, hanya sepasang mata saja yang kelihatan, kedok itu mungkin dipakai sebagai penahan air hujan, tapi maksud tujuannya yang jelas agar orang lain tidak dapat mengenali muka asli mereka.

Tergerak hati Lenghou Tiong, pikirnya.

"Orang-orang ini kalau bukan sudah dikenal, tentunya khawatir wajah mereka terlihat dan diingat-ingat oleh kami."

Begitulah, maka seorang di antaranya lagi berkata pula.

"Diharap Gak Put-kun, Gak-siansing suka keluar menjumpai kami."

"Siapa tuan?"

Tanya Lenghou Tiong.

"Tolong beri tahukan she dan namamu yang mulia agar dapat kulaporkan kepada Suhuku."

"Tentang siapa kami rasanya kau tidak perlu tanya lagi,"

Sahut orang itu.

"Boleh kau katakan kepada gurumu bahwa kami mendengar Hoa-san-pay telah mendapatkan Pi-sia-kiam-boh asal milik Hok-wi-piaukiok di Hokkian itu. Maka kami ingin meminjam dan melihatnya."

Lenghou Tiong menjadi gusar, jawabnya.

"Hoa-san-pay kami mempunyai ilmu silat kebanggaannya sendiri, buat apa kami menginginkan Pi-sia-kiam-boh orang lain? Jangankan kami memang tidak mendapatkan kitab itu, seumpama didapat oleh kami, bila tuan memintanya secara begini, apakah sikapmu ini dapat dikatakan menghargai Hoa-san-pay kami?"

Orang itu terbahak-bahak, dan belasan kawannya juga ikut mengakak.

Suara tertawa mereka berkumandang jauh di tengah malam sunyi itu, dari suara mereka yang keras nyaring itu teranglah Lwekang setiap orang tidaklah lemah.

Diam-diam Lenghou Tiong terkejut dan sadar lagi berhadapan dengan musuh tangguh, ke-15 orang itu jelas adalah jago-jago pilihan semua, cuma tidak diketahui dari mana asal usulnya.

Di tengah suara gelak tertawa orang banyak itu lantas terdengar seorang di antaranya berseru lantang.

"Selama ini kami kenal Gak-siansing yang bergelar Kun-cu-kiam itu memiliki ilmu pedang yang sakti dan jarang ada bandingannya, terhadap Pi-sia-kiam-boh segala sudah tentu tidak sudi mengincarnya. Tapi kami adalah Bu-beng-siau-cut (prajurit tak bernama, artinya kaum keroco), maka kami benar-benar sangat ingin melihat kitab ilmu pedang itu, diharap Gak-siansing suka memperlihatkannya."

Suara orang ini dapat terdengar jelas di tengah gelak tawa orang banyak dan bahkan tetap lantang, ini menandakan Lwekang pembicara ini lebih kuat setingkat lagi daripada kawan-kawannya.

"Sebenarnya siapakah tuan? Kau ...."

Baru Lenghou Tiong bertanya sekian saja, suara sendiri sedikit pun tak terdengar dan tenggelam di tengah suara tertawa orang-orang itu.

Terkesiap hati Lenghou Tiong dan tidak melanjutkan ucapannya.

Diam-diam ia merasa cemas terhadap Lwekang sendiri yang terlatih selama belasan tahun kini ternyata tiada gunanya lagi.

Sebenarnya sejak meninggalkan Hoa-san, sepanjang jalan beberapa kali ia pernah coba meyakinkan inti Lwekang perguruannya sendiri, tapi setiap kali mengerahkan tenaga, selalu hawa murni dalam badan bergolak dengan hebatnya dan sukar dikuasai, rasanya sesak tak tertahan, kalau tidak berhenti berlatih bisa jadi lantas pingsan.

Karena itu ia pernah minta nasihat kepada gurunya, tapi Gak Put-kun hanya memandangnya dengan sorot mata dingin tanpa menjawab.

Tatkala itu Lenghou Tiong menganggap hidupnya toh takkan lama lagi, buat apa meyakinkan Lwekang pula.

Maka ia pun tidak meneruskan latihannya lebih lanjut.

Akhir-akhir ini badannya telah sehat kembali, gerak-geriknya sudah biasa, tak tersangka suara bicaranya sekarang ternyata tiada membawa suara sedikit pun dan hilang di tengah suara tertawa musuh.

Tapi segera terdengar suara Gak Put-kun yang nyaring berkumandang keluar dari dalam kelenteng.

"Kalian adalah tokoh persilatan ternama, mengapa merendah hati dan mengaku sebagai Bu-beng-siau-cut? Selamanya orang she Gak tidak pernah omong kosong, tantang Pi-sia-kiam-boh keluarga Lim itu tidak berada padaku."

Ia menggunakan Ci-he-sin-kang yang sakti untuk mengantarkan suaranya, maka di tengah suara tertawa belasan orang di luar kelenteng itu suara Gak Put-kun masih terdengar dengan sangat jelas, baik bagi orang-orang di luar maupun bagi orang Hoa-san-pay sendiri yang berada di dalam kelenteng.

Apalagi cara bicaranya kedengaran acuh tak acuh dan tidak menggunakan tenaga, nyata jauh benar bedanya dengan pembicara tadi yang mesti bicara dengan suara keras.

Dari sini pun dapat dinilai bahwa Lwekang Gak Put-kun jauh di atas orang itu pula.

Lalu terdengar lagi suara seorang lain dengan nada serak.

"Kau mengapa tidak memegang Kiam-boh itu, lalu ke mana perginya kitab itu?"

"Berdasarkan apa saudara berhak mengajukan pertanyaan demikian?"

Sahut Put-kun.

"Urusan di dunia ini setiap orang berhak ikut mengurusnya,"

Teriak orang itu. Tapi Put-kun hanya mendengus saja dan tidak menjawab.

"Orang she Gak, terus terang saja, kau mau menyerahkan kitab itu atau tidak?"

Teriak pula orang itu dengan suara kasar.

"Janganlah diberi arak suguhan tidak mau, tapi minta dicekoki. Jika kau tidak mau menyerahkan terpaksa kami main kasar dan menggeledah ke dalam."

Melihat gelagat jelek, segera Gak-hujin membisiki anak muridnya.

"Para murid wanita berkumpul menjadi satu, masing-masing punggung menempel panggung. Murid laki-laki siapkan pedang!"

Serentak terdengar suara "sret-sret"

Yang ramai, semua orang sudah melolos pedang masing-masing.

Waktu itu Lenghou Tiong masih berdiri di ambang pintu, tangan memegang gagang pedang dan belum lagi dicabut, tapi dua orang lawan sudah melompat turun dari kuda terus menerjang ke arahnya.

Sedikit mengegos ke samping segera Lenghou Tiong bermaksud melolos pedangnya, tapi terdengarlah seorang di antaranya telah membentak.

"Minggir!"

Berbareng sebelah kakinya lantas mendepak sehingga Lenghou Tiong jatuh terguling sejauh beberapa meter.

Alangkah cemasnya Lenghou Tiong, sudah terang barusan ia menggunakan Kim-na-jiu-hoat dengan jurus "Hwe-hong-sau-liu" (angin puyuh menyambar pohon) untuk memegang lawan, jurus serangan ini bukan saja dapat menghindarkan depakan musuh, bahkan akan dapat membanting lawan ke samping.

Tapi aneh, biarpun tepat mengenai sasarannya toh serangannya tidak mempan, sebaliknya diri sendiri malah terdepak jatuh, padahal tenaga depakan orang juga tidak terlalu keras, mengapa kuda-kuda sendiri begitu kendur seakan-akan tak bertenaga sehingga mudah terjatuh.

Ia meronta bangun hendak duduk, sekonyong-konyong darah bergolak dalam rongga dadanya, tujuh atau delapan arus hawa murni berputar-putar dalam badan, saling tumbuk dan saling terjang kian kemari, akibatnya dia tersiksa setengah mati, sampai satu jari tangan saja sukar bergerak.

Keruan Lenghou Tiong terperanjat ia membuka mulut bermaksud menggembor, tapi tak bisa mengeluarkan suara.

Keadaannya mirip benar orang yang bermimpi buruk, otaknya cukup jernih hanya sama sekali tak bisa bergerak.

Dalam pada itu telinganya dapat mendengar suara nyaring beradunya senjata yang ramai.

Suhu, Sunio dan para Sutenya sudah menerjang keluar kelenteng dan mulai bertempur dengan beberapa orang berkedok hitam itu.

Sebaliknya beberapa orang berkedok itu sudah menerjang ke dalam kelenteng, terdengar suara bentakan berkumandang dari dalam kelenteng diseling suara jeritan kaum wanita beberapa kali.

Waktu itu hujan kembali turun dengan lebatnya, beberapa buah lampu telah terlempar dengan mengeluarkan cahayanya yang remang-remang, sinar pedang tampak berkilauan dan bayangan orang berkelebat di sana-sini.

Tidak lama kemudian terdengar pula suara jeritan ngeri seorang wanita di dalam kelenteng.

Lenghou Tiong tambah gelisah.

Telah diketahui semua musuh itu adalah kaum lelaki, dengan sendirinya jeritan ngeri itu disebabkan salah seorang Sumoaynya mengalami cedera.

Tertampak Suhunya memutar pedang dengan kencang, seorang diri melawan empat orang musuh.

Sedangkan ibu gurunya juga menandingi dua orang.

Ia tahu ilmu pedang guru dan ibu gurunya ingat lihai, biarpun dikeroyok musuh juga takkan kalah.

Lo Tek-nau juga satu melawan dua dan sedang melabrak musuh dengan sengit.

Kedua lawannya memakai golok, dari suara benturan senjata dapat diketahui tenaga kedua orang itu sangat kuat, lama-kelamaan tentu Tek-nau akan payah.

Jadi di pihak berdiri hanya tiga orang melawan musuh sebanyak delapan orang, sudah tentu keadaan rada berbahaya.

Apalagi keadaan di dalam kelenteng tentu lebih runyam lagi.

Musuh yang masuk ke dalam kelenteng hanya tujuh orang saja, para Sute dan Sumoaynya walaupun berjumlah banyak, namun tidak ada yang tergolong jago kelas tinggi.

Sementara itu suara jeritan masih terus terdengar, mungkin beberapa Sumoaynya telah roboh pula.

Jika kawanan musuh membunuh habis para Sute dan Sumoaynya, lalu keluar lagi untuk mengerubut Suhu, Sunio dan Lo Tek-nau, tatkala mana guru dan ibu gurunya paling-paling hanya dapat menyelamatkan diri saja, sebaliknya pasti tidak mampu membunuh musuh dan menuntut balas.

Makin cemas dan makin gelisah perasaan Lenghou Tiong, semakin lemas pula badannya.

Tiada hentinya ia berdoa.

"Semoga Tuhan memberkati sedikit tenaga padaku, cukup dalam waktu singkat saja asal dapat masuk ke dalam kelenteng, tentu Lenghou Tiong dapat atau akan melindungi keselamatan Siausumoay, sekalipun aku sendiri akan dicencang oleh musuh dan mengalami siksaan badan yang paling kejam juga aku rela."

Sekuatnya ia meronta dan mengerahkan tenaga dalam lagi, sekonyong-konyong enam arus hawa murni menerjang naik ke atas dada, menyusul ada dua arus hawa murni yang lain menyalur dari atas ke bawah sehingga keenam arus tadi dapat ditekan turun lagi.

Habis itu sekujur badan terasa enteng hampa, seakan-akan seluruh isi perutnya sudah hilang entah ke mana, kulit daging juga lenyap tanpa bekas.

Diam-diam ia mengeluh.

"O, kiranya demikian halnya, sungguh celaka!"

Kiranya ia menjadi paham duduknya perkara, bahwa ketika Tho-kok-lak-sian berlomba menyembuhkan lukanya, enam arus hawa murni yang disalurkan keenam tokoh aneh itu telah menyusup masuk melalui urat nadi yang berbeda, luka dalam tidak tersembuhkan, sebaliknya keenam arus hawa murni itu tertahan di dalam badan dan sukar dikeluarkan.

Jika dia meyakinkan Lwekang sakti menurut isi Ci-he-pit-kip tentu ia dapat memunahkan keenam arus hawa murni aneh itu, celakanya dia bertemu dengan Put-kay Hwesio yang memiliki Lwekang sangat tinggi, tapi wataknya kasar dan tak bisa berpikir, secara paksa ia kerahkan dua arus hawa murninya untuk menekan hawa murni Tho-kok-lak-sian itu, seketika itu kesehatan Lenghou Tiong seperti pulih kembali, tapi sebenarnya di dalam badan telah bertambah pula dengan dua arus hawa murni yang lain dan masing-masing saling terjang setiap kali ia bermaksud mengerahkan tenaga.

Hal ini mengakibatkan Lwekang sendiri yang pernah dipupuk oleh Lenghou Tiong menjadi tak tertinggal sedikit pun, jadi praktis sekarang Lenghou Tiong mirip seorang lumpuh.

Setelah paham persoalannya, Lenghou Tiong menjadi pedih, tanpa terasa air matanya berlinang, pikirnya.

"Nasib malang yang menimpa diriku ini sama dengan memusnahkan sama sekali ilmu silatku. Hari ini perguruanku menghadapi kesulitan, tapi sedikit pun aku tak bertenaga, sebagai murid tertua Hoa-san-pay aku hanya menggeletak di sini dan menyaksikan Suhu dan Sunio dihina orang dan para Sute serta Sumoay dibantai musuh tanpa berbuat apa-apa, sungguh sia-sia aku menjadi manusia. Ya, biarlah aku masuk ke sana dan mati di suatu tempat bersama Siausumoay saja."

Ia tahu bila sedikit mengerahkan tenaga tentu kedelapan arus hawa murni di dalam tubuhnya akan bergolak lagi dan akan membuatnya tak bisa bergerak.

Maka ia coba menahan napas, sedikit pun tidak berani mengerahkan tenaga dalam, dengan demikian dapatlah ia mengangkat kakinya dan dapatlah bergerak, perlahan ia berdiri dan perlahan melolos pedang, selangkah demi selangkah ia menggeremet ke dalam kelenteng.

Begitu masuk ke dalam pintu segera hidungnya kesampuk bau anyir darah.

Di atas altar arca masih diterangi oleh dua buah lampu, mungkin musuh yang menaruhnya di situ.

Nio Hoat, Si Cay-cu, Ko Kin-beng dan para Sute yang lain sedang melawan musuh dengan berlumuran darah.

Beberapa Sute dan Sumoay yang lain tampak menggeletak di lantai dan entah sudah mati atau masih hidup.

Leng-sian dan Peng-ci tampak sedang melawan seorang musuh berkedok.

Rambut Leng-sian yang panjang terurai kusut.

Peng-ci memegang pedang dengan tangan kiri, nyata tangan kanan terluka.

Musuh mereka itu bersenjatakan tombak pendek, tampaknya sangat lihai.

Berulang tiga kali Peng-ci menyerang, tapi selalu luput mengenal sasarannya.

Sebaliknya mendadak tombak pendek musuh terangkat.

"cret" , tiba-tiba bahu kanan Peng-ci terluka pula. Lekas-lekas Leng-sian menyerang dua kali sehingga musuh terpaksa melangkah mundur.

"Siau-lim-cu, lekas membalut lukamu dahulu,"

Teriak Leng-sian.

"Tidak apa-apa,"

Sahut Peng-ci dengan pedang menusuk pula, namun langkahnya sudah sempoyongan. Orang berkedok itu tertawa panjang, tombak mendadak menyabet dari samping.

"bluk" , dengan tepat pinggang Leng-sian terpukul. Saking sakitnya sampai Leng-sian menungging dan pedang terlepas dari pegangan. Keruan Lenghou Tiong sangat kaget, dalam keadaan demikian yang dia pikirkan hanya menolong si nona, bahaya apa yang akan dihadapinya sudah tak dihiraukan lagi. Segera ia menerjang maju, sekuatnya pedang menusuk. Tapi baru setengah jalan pedang menyelonong ke depan, sekonyong-konyong hawa murni dalam tubuhnya bergolak, tangan kanan seketika lemas dan terjulai ke bawah. Ketika diserang, orang berkedok itu sudah siap-siap hendak mengegos, lalu akan balas menyerang dengan tombak secara jitu dan ganas, bukan mustahil sekaligus dada pemuda itu akan ditembus oleh tombaknya, siapa tahu baru setengah jalan Lenghou Tiong menusukkan pedangnya, tiba-tiba tangan terjulur kembali ke bawah. Sudah tentu orang berkedok itu rada heran. Seketika ia pun tidak sempat berpikir apa sebabnya, kontan kakinya menyapu sehingga Lenghou Tiong ditendang keluar kelenteng lagi. Dalam keadaan lemas dan tak berdaya.

"byurr" , tubuh terbanting di tengah air pecomberan di luar kelenteng itu. Di bawah hujan yang masih lebat, seluruh muka Lenghou Tiong penuh dengan lumpur, seketika ini masih tidak dapat bergerak. Segera dilihatnya Jisute Lo Tek-nau telah roboh ditutuk orang, dua lawan yang mengeroyoknya tadi kini ikut mengerubut Gak Put-kun dan istrinya. Tidak lama kemudian dari dalam kelenteng berlari keluar tujuh orang, sedangkan Gak-hujin menandingi tiga orang musuh. Sejenak kemudian terdengarlah teriakan dan bentakan Gak-hujin bersama seorang musuh, ternyata kaki kedua orang telah sama-sama terluka. Musuh itu lantas mengundurkan diri. Meski musuhnya berkurang seorang, tapi kakinya terbacok golok, lukanya tidaklah ringan. Maka setelah bergebrak lagi beberapa jurus, kembali pundaknya kena diketok oleh punggung golok musuh, seketika ia jatuh terkapar. Cepat dua orang musuh berkedok itu menutuk beberapa Hiat-to penting di punggung nyonya Gak agar dia tidak dapat bangun lagi untuk melawan. Dalam pada itu para murid Hoa-san-pay di dalam kelenteng berturut-turut juga telah banyak yang terluka, satu per satu mereka dirobohkan. Rupanya kawanan penyerang berkedok itu mempunyai maksud tujuan tertentu, mereka hanya merobohkan dan menawan anak murid Hoa-san-pay saja, ada yang dilukai kaki atau tangannya dan yang lain ditutuk Hiat-to yang membuatnya tak bisa berkutik, tapi jiwa mereka tidak diganggu. Begitulah kelima belas orang lalu mengurung di sekeliling Gak Put-kun, delapan jago di antaranya berdiri di delapan penjuru untuk menempur Gak Put-kun, sisa tujuh orang yang lain sama memegang lampu Khong-beng-ting untuk memberi penerangan. Betapa pun tinggi kepandaian ketua Hoa-san-pay itu, namun kedelapan lawannya semuanya adalah jago-jago pilihan, tujuh sorot sinar lampu terlebih-lebih membuat matanya merasa silau. Namun Gak Put-kun bukanlah tokoh utama salah satu pemimpin Ngo-gak-kiam-pay bila mudah menyerah begitu saja. Biarpun menghadapi bahaya dia tidak menjadi gugup. Ia sadar bahwa Hoa-san-pay hari ini jelas sudah kalah habis-habisan, boleh jadi segenap rombongannya akan terbunuh semua di dalam kelenteng bobrok. Tapi dia tetap putar pedang dan bertahan dengan rapat, makin lama makin tangkas, tenaganya bertahan lama, ilmu pedangnya tambah lihai. Bila sinar lampu menyorot ke arahnya ia lantas memandang ke bawah, dengan demikian kedelapan lawannya itu menjadi tak bisa mengapa-apakan dia dalam waktu singkat.

"Gak Put-kun, kau mau menyerah atau tidak?"

Tiba-tiba seorang di antaranya berseru.

"Biarpun mati orang she Gak pantang menyerah, kalau mampu membunuh aku silakan bunuh saja,"

Sahut Put-kun tegas dan lantang.

"Kau tidak mau menyerah, biar kutebas dulu tangan kanan istrimu,"

Kata orang itu sambil angkat goloknya yang tebal dengan ujung berbentuk kepala setan.

Di bawah pantulan cahaya lampu goloknya mengeluarkan sinar mengilap kehijau-hijauan, mata golok sudah mengancam di atas pundak Gak-hujin.

Gak Put-kun menjadi ragu apakah mesti terima menyaksikan lengan sang istri ditebas kutung oleh musuh.

Tapi kalau menyerah begitu saja toh nanti juga akan dihina oleh mereka.

Kehormatan Hoa-san-pay yang sudah bersejarah ratusan tahun mana boleh runtuh di tanganku sekarang?

Karena pikiran demikian, mendadak ia menarik napas panjang-panjang, warna ungu mukanya mendadak menebal, serentak pedangnya lantas menebas ke arah laki-laki yang mengancam istrinya tadi.

Untuk mencari selamat dengan sendirinya orang itu menangkis dengan goloknya, Tak terduga serangan Gak Put-kun ini disertai dengan Ci-he-sin-kang, tenaga saktinya mahadahsyat, golok laki-laki itu ikut tertolak balik sehingga pedang dan golok sekaligus membacok lengan kanannya, tapi dia belum lagi mengutungi lengan Gak-hujin, sekarang lengan sendiri sudah terkutung lebih dulu, maka darah pun muncrat berhamburan.

Orang itu menjerit dan roboh terguling.

Sekali serang berhasil, menyusul pedang Gak Put-kun menyambar pula, kembali kaki seorang musuh tertusuk.

Orang itu mencaci maki sambil cepat mengundurkan diri.

Musuh telah berkurang dua orang, tapi sisa enam orang lagi adalah jago pilihan semua, baik Lwekang maupun Gwakang.

Bila satu lawan satu pasti Gak Put-kun akan menang, tapi kini mereka maju berbareng, betapa pun Put-kun repot juga menghadapi mereka.

"Plok", mendadak punggungnya tertimpuk sekali oleh "Lian-cu-tay"

Musuh, yaitu senjata gandin berantai.

Kontan Gak Put-kun juga balas menyerang tiga kali sehingga musuh terpaksa sama melompat mundur.

Namun darah segar sudah lantas tersembur dari mulutnya.

Musuh-musuh berkedok itu sama bersorak gembira.

"Aha, si tua sudah terluka, saking letihnya juga dia akan mampus sendiri nanti."

Karena yakin kemenangan pasti akan berada di pihak mereka, maka keenam orang itu menjadi adem ayem saja dan memperlambat serangan.

Dengan demikian Gak Put-kun menjadi mati kutu malah, ia tidak punya kesempatan buat membinasakan lawannya lagi.

Dari ke-15 orang berkedok yang menyerang di tengah malam hujan lebat itu sudah ada tiga orang dilukai oleh Gak Put-kun dan istrinya, satu di antaranya lengan terkutung dan terluka agak parah, sedangkan dua orang yang lain hanya terluka ringan saja, mereka masih dapat mengangkat lampu membantu penerangan bagi kawan-kawannya sambil tiada hentinya mencaci maki.

Dari logat bicara mereka itu Gak Put-kun menduga mereka adalah orang dari daerah perbatasan antara Sucwan dan Soasay, tapi kota Wi-lim-tin yang baru saja dilalui siang tadi sudah termasuk wilayah Holam barat, logat bicaranya sama sekali berbeda dengan orang-orang berkedok itu.

Ilmu silat orang-orang itu pun bercampur, terang bukan terdiri dari suatu golongan yang sama.

Tapi pada waktu bertempur mereka selalu bantu-membantu dengan baik, agaknya bukan rombongan yang baru saja bergabung.

Lalu bagaimanakah asal usul kawanan penyatron ini, sungguh sukar diperkirakan.

Yang paling mengherankan adalah ke-15 orang itu tiada satu pun yang lemah, semuanya lihai.

Berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya sendiri yang luas tidak seharusnya sama sekali tak mengenali seorang pun di antara ke-15 orang musuh lihai ini.

Tapi nyatanya memang demikian, sama sekali Gak Put-kun tidak tahu siapakah mereka.

Hanya satu hal ia merasa pasti, yaitu sebelumnya musuh tidak pernah bertempur dengan dirinya sehingga pasti juga tiada permusuhan dan dendam apa pun.

Tapi apakah mungkin demi mengincar se

Jilid "Pi-sia-kiam-boh"

Saja perlu memusuhi Hoa-san-pay secara besar-besaran seperti ini?

Biarpun hatinya berpikir, tapi tangan Gak Put-kun tidak menjadi kendur.

Sekali Ci-he-sin-kang dikerahkan, ujung pedang lantas memancarkan sinar kemilauan.

Belasan jurus kemudian kembali pundak seorang musuh tertusuk oleh pedangnya sehingga senjata yang berwujud ruyung baja terlepas jatuh.

Seorang kawannya yang berdiri di luar kalangan segera melompat maju untuk menggantikan lowongannya.

Orang baru ini bersenjatakan "Kun-gi-to", golok bergigi gergaji.

Bobot senjata ini sangat berat, ujung golok melengkung pula, yang dia incar selalu hendak menggantol pedang Gak Put-kun.

Tapi Lwekang Gak Put-kun sangat kuat, makin bertempur makin bersemangat.

Mendadak tangan kirinya menghantam ke belakang sehingga mengenai dada seorang lawan.

"Krek" , tulang rusuk orang itu patah dua buah, tongkat baja yang dipegang sampai tergetar jatuh. Namun orang itu benar-benar sangat berani dan nekat, dengan kalap mendadak ia menubruk maju ke bawah seperti bola, ia pentang kedua tangan untuk mendekap kaki Gak Put-kun. Keruan ketua Hoa-san-pay itu terkejut. Tanpa pikir pedangnya menikam ke punggung musuh. Tapi dari samping dua golok telah menangkisnya. Gerakan Gak Put-kun amat cepat, pedang gagal menikam, secepat kilat kaki kanan lantas menendang dagu orang yang nekat itu. Tak terduga orang itu ternyata juga ahli Kim-na-jiu, sekali tangannya menyambar, kaki kanan Gak Put-kun berbalik kena dipegangnya, hampir berbareng orang itu lantas menggelinding ke samping. Dalam keadaan demikian betapa pun sulit berdiri tegak lagi. Seketika ia terseret jatuh. Hanya sekejap saja berbagai macam senjata musuh sama mengancam tempat mematikan di atas tubuhnya. Gak Put-kun menghela napas panjang, ia lepaskan pedang dan pejamkan mata menunggu ajal. Tapi segera terasa beberapa Hiat-to di bagian pinggang, dada dan tempat lain yang penting telah ditutuk musuh dengan Kim-kong-ci-lik (tenaga jari raksasa). Menyusul dua orang berkedok itu telah memayangnya bangun. Bab 43. Si Baju Kuning Co Hui-leng Putra Sulung Co-bengcu "Ilmu silat Kun-cu-kiam Gak-siansing memang tidak bernama omong kosong,"

Demikian suara seorang tua lagi bicara.

"Dengan kekuatan kami belasan orang mengerubutmu malahan beberapa orang kami sampai terluka, dengan demikian akhirnya baru dapat menangkapmu, sungguh kami harus mengaku tidak becus. Hehe, kami benar-benar sangat kagum padamu. Bila aku harus satu melawan satu padamu terang takkan mampu menang. Tapi kalau dipikir kembali mesti jumlah kami ada 15 orang, namun rombongan kalian bahkan berjumlah 20 orang lebih, kalau dibandingkan toh Hoa-san-pay kalian tetap lebih banyak. Jadi malam ini dengan jumlah sedikit kami telah menangkap pihak Hoa-san-pay yang berjumlah lebih banyak. Pertarungan ini telah kami menangkan dengan tidak mudah, betul tidak kawan-kawan?"

"Ya, memang kemenangan kita diperoleh tidak mudah,"

Seru beberapa orang berkedok di belakangnya. Maka orang itu melanjutkan lagi.

"Gak-siansing, selamanya kami tiada permusuhan apa pun denganmu, kami hanya ingin pinjam lihat itu Pi-sia-kiam-boh saja. Sesungguhnya Kiam-boh itu juga bukan milik Hoa-san-pay kalian, dengan segala tipu daya kau pancing anak muda keluarga Lim dari Hok-wi-piaukiok itu masuk perguruanmu, maksud tujuanmu sebenarnya kurang gemilang, para kawan Bu-lim merasa penasaran juga atas perbuatan itu. Sekarang ingin kuberi nasihat secara baik-baik, lebih baik kau keluarkan Kiam-boh itu."

Gak Put-kun sangat gusar, jawabnya.

"Aku sudah jatuh di tanganmu, hendak bunuh boleh lekas bunuh, apa gunanya mengoceh tak keruan. Bagaimana pribadi orang she Gak ini cukup dikenal setiap orang Kangouw, adalah mudah kau membunuhku, tapi hendak merusak nama baikku, hm, jangan mimpi!"

"Hahahaha! Apa susahnya merusak namamu?"

Mendadak salah seorang berkedok itu bergelak tertawa.

"Istrimu, putrimu dan anak muridmu yang perempuan semuanya cantik-cantik, ayu-ayu. Kami masing-masing dapat membaginya dan mengambilnya sebagai istri muda. Dengan demikian kutanggung nama Gak-siansing pasti akan semakin tersohor di Bu-lim."

Kata-kata ini membuat orang-orang berkedok yang lain sama ikut tertawa keras, bahkan suara tertawa mengandung nada kotor dan rendah.

Saking marahnya sampai seluruh badan Gak Put-kun gemetar.

Langkah kotor yang dikatakan orang itu sungguh tak pernah terpikir olehnya.

Ia melihat beberapa orang berkedok itu benar-benar mulai menggiring anak muridnya keluar dari kelenteng.

Para muridnya sama tertutuk, ada yang berjalan sampai di luar kelenteng lantas jatuh terkapar, terang bagian kaki terluka.

"Gak-siansing,"

Terdengar orang tua berkedok tadi bicara pula.

"tentang asal usul kami boleh jadi kau sudah dapat menduga-duga. Kami bukan kaum kesatria atau pahlawan segala di dunia persilatan, tiada sesuatu yang tidak dapat kami lakukan. Lebih-lebih kawan ini, banyak yang gemar paras cantik, main perempuan adalah acara mereka sehari-hari. Bila mereka sampai mengganggu istri dan putrimu, bagaimana pun kurang baik."

"Sudah, sudahlah, jika kau tatap tidak percaya, silakan menggeledah badan kami saja, coba lihat apakah terdapat Pi-sia-kiam-boh yang kalian cari atau tidak?"

Sahut Gak Put-kun.

"Kukira lebih baik kau mengeluarkan sendiri saja kitab itu,"

Kata seorang berkedok yang lain dengan tertawa.

"bila kami harus menggeledah satu per satu, kalau binimu dan putrimu juga kami geledah, tentu akan kurang sedap dipandang."

Sekonyong-konyong Peng-ci berkata.

"Biar kukatakan terus terang kepada kalian, keluarga Lim kami di Hokkian pada hakikatnya tidak punya Pi-sia-kiam-boh apa segala. Percaya atau tidak terserahlah kepada kalian."

Habis berkata ia terus jemput sebatang tongkat besi yang terjatuh di tanah tadi terus menghantam batok kepala sendiri.

Cuma Hiat-to di bagian kedua lengannya juga tertutuk sehingga tangannya tak bertenaga.

Meski tongkat itu mengenai juga kepalanya, namun hanya membuat kulitnya lecet dan berdarah dan tidak sampai menghancurkan kepalanya.

Maksud tujuan tindakan Peng-ci itu dapat dimengerti oleh semua orang.

Pemuda itu sengaja hendak mengorbankan jiwa sendiri untuk menyatakan dengan tegas bahwa Pi-sia-kiam-boh segala benar-benar tidak berada di tangan orang Hoa-san-pay.

"Hehe, bocah ini ternyata cukup setia kawan, gurumu ini percuma saja berjuluk Kun-cu (laki-laki sejati), nyatanya dia tidak punya jiwa seorang laki-laki sejati,"

Jengek orang tadi.

"Bocah she Lim, lebih baik kau pindah menjadi murid kami saja, tanggung kau akan memperoleh kepandaian tinggi yang cukup untuk malang melintang di dunia Kangouw."

"Kentut makmu!"

Peng-ci memaki.

"Orang she Lim ini sekali sudah menjadi murid Hoa-san-pay masakan sudi mengangkat manusia rendah macammu sebagai guru?"

"Jawaban bagus!"

Teriak Nio Hoat.

"Hoa-san-pay kita ...."

"Hoa-san-pay kalian ada apa?"

Mendadak salah seorang berkedok itu menyela sambil mengayun goloknya, kontan kepala Nio Hoat dipenggalnya bulat-bulat, darah segar lantas menyembur keluar.

Beberapa orang murid Hoa-san-pay sampai menjerit kaget.

Sedangkan di dalam benak Gak Put-kun timbul macam-macam pikiran, tapi selalu tidak ingat bagaimana asal usul kawanan penyatron ini.

Jika ditilik dari ucapan orang tua tadi besar kemungkinan mereka adalah tokoh-tokoh kalangan Hek-to (kaum penjahat) atau pemimpin berbagai perkumpulan atau gerombolan yang biasa berbuat jahat.

Holam, Soasay dan Sucwan pada umumnya cukup diketahuinya dan sekali-kali tiada terdapat jago-jago lihai sebanyak ini.

Orang tadi sekali tebas memenggal kepala Nio Hoat, betapa kejamnya sungguh jarang terlihat.

Bahkan sesudah membunuh Nio Hoat, orang itu tertawa seperti orang gila, ia mendekati Gak-hujin, golok yang berlumuran darah itu diayunkan kian kemari dan pura-pura menebas beberapa kali di atas kepala nyonya Gak.

"Jangan ... jangan mencelakai ibuku!"

Jerit Leng-sian, hampir-hampir saja ia jatuh kelengar saking khawatirnya.

Sebaliknya Gak-hujin memang seorang kesatria wanita, sedikit pun ia tidak gentar.

Ia pikir kalau musuh membunuhnya dengan sekali tebas akan kebetulan malah, dengan demikian tidak perlu khawatir dan dianiaya dan dihina pula.

Maka dengan bersitegang ia memaki.

"Bangsat, kalau berani bunuhlah aku!"

Pada saat itulah tiba-tiba dari jurusan timur laut sana ada suara derapan kuda lari yang ramai, puluhan penunggang kuda sedang mendatang dengan cepat.

"Siapa itu? Coba pergi lihat!"

Seru si orang tua berkedok.

Dua orang kawannya mengiakan dan segera mencemplak ke atas kuda dan memapak ke sana.

Terdengar suara derapan kuda yang riuh itu tidak pernah berhenti dan langsung dilarikan ke kelenteng, menyusul terdengar suara "trang-tring"

Beberapa kali, suara beradunya senjata dan jeritan orang pula.

Terang para pendatang itu telah bergebrak dengan kedua orang berkedok yang memapak ke sana itu dan ada orang terluka terguling dari atas kuda.

Sungguh girang Put-kun dan lain-lain tak terkatakan, mereka tahu telah kedatangan bala bantuan.

Di bawah cahaya lampu samar-samar terlihat dari kejauhan ada 30 sampai 40 penunggang kuda sedang mendatang dengan cepat, hanya sekejap saja sudah berhenti di luar kelenteng dengan mengelilingnya.

"Kiranya sahabat dari Hoa-san-pay. He, itu kan Gak-heng?"

Demikian seorang penunggang kuda itu berseru.

Waktu Gak Put-kun memandang pembicara itu, seketika ia merasa kikuk dan serbasalah.

Kiranya orang itu adalah Theng Eng-gok, tokoh kelima dari Ko-san-pay yang beberapa hari lalu pernah datang ke Hoa-san dengan membawa Leng-ki (panji perintah) dari ketua Ngo-gak-kiam-pay.

Bahkan orang yang berada di sebelahnya jelas adalah Hong Put-peng, itu murid Hoa-san-pay dari golongan Kiam-cong (sekte pedang), selain itu jago-jago Thai-san-pay, Heng-san-pay dan Hing-san-pay, yang ikut datang ke Hoa-san tempo hari juga terdapat di antara mereka, malahan sekarang telah bertambah tidak sedikit orang baru yang sukar dikenali di bawah cahaya lampu yang remang-remang.

"Gak-heng,"

Demikian terdengar Theng Eng-gok bicara pula.

"tempo hari kau tidak mau terima perintah Co-bengcu, hal ini membuat Co-bengcu merasa tidak senang. Maka kini beliau sengaja mengutus putranya yang tertua hendak mengunjungi engkau pula di Hoa-san dengan membawa Leng-ki. Siapa duga di tengah malam buta begini ternyata berjumpa di sini, sungguh tak terduga sama sekali."

Waktu Gak Put-kun memandang sebelah Theng Eng-gok pula, terlihat di atas seekor kuda hitam yang tinggi besar dan gagah ada seorang penunggang laki-laki tinggi besar berusia antara 30-an tahun, berbaju panjang warna kuning dan sedang mengangguk perlahan padanya, sikapnya sangat angkuh.

Gak Put-kun tahu ketua Ko-san-pay, Co Leng-tan, mempunyai dua orang putra.

Putra sulung bernama Co Hui-eng dan sudah memperoleh ajaran segenap kepandaian sang ayah, betapa tinggi ilmu silatnya sudah boleh dijajarkan beserta para paman gurunya.

Dan mungkin orang tinggi besar di hadapan inilah Co-toakongcu itu.

Padahal dirinya sama tingkat dengan ayahnya, seharusnya dia mesti menyapa dengan sebutan "paman"

Dan memberi hormat, biarpun sekarang Gak Put-kun sendiri dalam kesukaran juga merasa kurang senang atas sikap pemuda itu.

Dan sebelum Gak Put-kun membuka suara, tiba-tiba si orang tua berkedok tadi telah bicara.

"Kiranya Co-toakongcu dari Ko-san-pay telah datang, sungguh beruntung sekali dapat berjumpa di sini. Dan kesatria berjenggot ini tentunya Theng-loenghiong, tokoh kelima dari Ko-san-pay bukan?"

"Ah, saudara terlalu memuji saja,"

Sahut Theng Eng-gok.

"Dan siapakah nama saudara yang mulia, mengapa tidak sudi memperlihatkan wajah kalian yang asli?"

"Saudara-saudara kami ini semuanya adalah Bu-beng-siau-cut dari kalangan Hek-to, bila nanti julukan jelek kami ini diperkenalkan mungkin akan membikin kotor telinga Co-toakongcu dan Theng-loenghiong, terhadap Gak-hujin dan Gak-siocia sudah terang kami tidak berani berbuat kasar lagi, hanya ada suatu urusan kami ingin minta keadilan kepada kalian menurut hukum persilatan."

"Urusan apa? Tiada alangannya kau sebutkan agar kami pun ikut mengetahui,"

Sahut Theng Eng-gok. Maka orang tua itu lantas berkata.

"Gak-siansing ini mempunyai gelaran sebagai Kun-cu-kiam, konon tutur katanya setiap hari selalu mengutamakan budi pekerti dan kebajikan, kabarnya paling taat kepada peraturan Bu-lim. Akan tetapi akhir-akhir ini telah terjadi suatu peristiwa, Hok-wi-piaukiok di Hokciu telah bangkrut dihancurkan orang. Congpiauthau Lim Cin-lam dan istrinya juga dibunuh orang. Tentang ini tentu tuan-tuan juga sudah mendengar."

"Ya, kabarnya yang berbuat adalah Jing-sia-pay dari Sucwan,"

Sahut Theng Eng-gok. Orang tua itu menggeleng kepala beberapa kali, katanya.

"Walaupun demikian berita yang tersiar di kalangan Kangouw, tapi hal yang sesungguhnya belum tentu begitu. Marilah kita bicara secara blak-blakan saja. Setiap orang Bu-lim tentu tahu bahwa keluarga Lim dari Hok-wi-piaukiok itu memiliki satu

Jilid kitab pusaka Pi-sia-kiam-boh yang berisikan pelajaran ilmu pedang yang sangat hebat.

Siapa yang berhasil meyakinkannya dengan sempurna akan menjagoi dunia persilatan tanpa tandingan.

Sebabnya Lim Cin-lam dan istrinya terbunuh juga karena ada orang mengincar Pi-sia-kiam-boh itu."

"Lalu bagaimana?"

Tanya Theng Eng-gok.

"Tentang siapa yang membunuh Lim Cin-lam dan istrinya tidak diketahui, kami hanya mendengar bahwa Kun-cu-kiam Gak-siansing ini telah menggunakan tipu muslihat, putra Lim Cin-lam ditipu sehingga dengan sukarela mau masuk menjadi murid Hoa-san-pay. Tentang Pi-sia-kiam-boh itu dengan sendirinya juga ikut dibawa ke dalam Hoa-san-pay. Setelah kami saling tukar pikiran, kami menarik kesimpulan bahwa Gak Put-kun benar-benar sangat licin, dia tidak dapat merebut secara terang-terangan dan lantas menggunakan tipu daya. Coba pikir, berapakah usia bocah she Lim itu? Berapa luas pengalamannya? Sesudah dia menjadi murid Hoa-san-pay bukankah dengan mudah dia akan dipermainkan oleh rase tua she Gak itu dan akan mempersembahkan Pi-sia-kiam-boh tanpa diminta."

"Pendapatmu mungkin kurang tepat,"

Ujar Theng Eng-gok.

"Ilmu pedang Hoa-san-pay sendiri cukup bagus, Ci-he-sin-kang yang dibanggakan Gak-siansing juga tiada bandingannya di dunia persilatan dan merupakan jenis Lwekang paling tinggi, guna apa lagi dia mau mengincar ilmu pedang dari golongan lain?"

"Hahahaha!"

Orang tua itu bergelak tertawa.

"Agaknya Theng-loenghiong telah menggunakan jiwa kesatria untuk menilai hati manusia rendah. Ilmu pedang bagus apa yang dipunyai Gak Put-kun? Sejak kedua sekte Khi dan Kiam dari Hoa-san-pay mereka berpecah belah, selama ini sekte Khi telah mengangkangi Hoa-san, yang diutamakan mereka hanya berlatih Khi saja, tentang ilmu pedang mereka adalah terlampau rendah dan tiada nilainya. Orang Kangouw umumnya cuma segan kepada nama kosong Hoa-san-pay dan menyangka dia benar-benar mempunyai kepandaian sejati, padahal, hehe, hehe ...."

Sesudah tertawa dingin mengejek beberapa kali, lalu orang tua itu melanjutkan.

"Menurut pantasnya, sebagai ketua Hoa-san-pay, ilmu pedang Gak Put-kun mestinya tidak rendah, namun para hadirin telah menyaksikan sekarang, saat ini dia tertawan oleh kami sebangsa keroco. Pertama, kami tidak memakai racun; kedua, tidak menggunakan Am-gi (senjata gelap rahasia); ketiga, kami pun tidak menang lantaran berjumlah lebih banyak, kami menang berdasarkan kepandaian sejati, kami telah labrak dan membereskan segenap orang Hoa-san-pay ini dari guru sampai muridnya tanpa kecuali. Maka dapatlah dibayangkan sampai di mana ilmu silat sekte Khi dari Hoa-san-pay, untuk ini kiranya tak perlu penjelasan pula. Sudah tentu Gak Put-kun tahu akan dirinya sendiri, pastilah dia buru-buru ingin mendapatkan ilmu pedang sekte agar namanya yang kosong tidak terbongkar. Tapi pada saat dia menghadapi kami, maka boroknya sukar lagi ditutup-tutupi."

"Ya, uraianmu cukup beralasan juga,"

Ujar Eng-gok.

"Sebenarnya kepandaian kami kaum keroco dari Hek-to ini tiada harganya bagi kalian kaum kesatria ternama. Pi-sia-kiam-boh itu pun kami tidak berani menaruh minat apa-apa,"

Demikian si orang tua melanjutkan.

"Cuma selama belasan tahun ini kami telah banyak mendapat kebaikan dari Lim-congpiauthau dari Hok-wi-piaukiok, setiap kali kereta barangnya lalu di wilayah kekuasaan kami, tiada seorang pun di antara kami mau mengganggunya. Kami ini demi mendengar Lim-congpiauthau mengalami nasib malang, keluarga hancur dan orangnya binasa. Hal ini membikin kami merasa penasaran, maka beramai-ramai kami lantas datang buat bikin perhitungan dengan Gak Put-kun."

Sampai di sisi ia berhenti sejenak, ia pandang para penunggang kuda itu, lalu berkata pula.

"Yang datang malam ini tampaknya adalah kaum kesatria ternama, bahkan terdapat tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay yang ada ikatan perjanjian dengan Hoa-san-pay, maka cara bagaimana harus memutuskan perkara ini boleh silakan kalian menentukan saja, aku dan kawan-kawan pasti akan menurut belaka."

"Saudara ternyata sangat baik hati, biarlah kami terima maksud baikmu,"

Sahut Eng-gok.

"Co-hiantit, bagaimana pendapatmu tentang persoalan ini?"

"Menurut pesan ayah, katanya, kedudukan ketua Hoa-san-pay harus dipegang oleh Hong-siansing, sekarang Gak Put-kun ternyata melakukan perbuatan yang rendah dan memalukan pula, maka biarlah Hong-siansing sendiri yang menyelesaikan urusan dalam perguruannya."

"Benar, keputusan Co-bengcu memang sangat bijaksana,"

Demikian sokong beberapa penunggang kuda yang lain.

"Urusan Hoa-san-pay memang seharusnya diselesaikan oleh ketua Hoa-san-pay sendiri, dengan demikian kita dapat pula menghindarkan tuduhan yang tak diharapkan di kemudian hari oleh kawan-kawan Kangouw."

Segera Hong Put-peng melompat turun dari kudanya, ia memberi hormat sekeliling kepada para hadirin, lalu bicara.

"Sungguh aku sangat berterima kasih atas penghargaan kalian padaku. Hoa-san-pay kami telah cukup lama dikangkangi oleh Gak Put-kun, nama baik Hoa-san-pay telah runtuh habis-habisan di dunia Kangouw lantaran perbuatannya yang menyeleweng. Bahkan sekarang telah membunuh ayah orang dan merebut kitab pusakanya, memaksa orang menjadi muridnya dan macam-macam perbuatan yang tidak pantas. Cayhe sebenarnya tidak punya kepandaian apa-apa dan mestinya tidak sesuai menjabat ketua Hoa-san-pay. Cuma mengingat berapa sukarnya para leluhur mendirikan Hoa-san-pay yang sudah bersejarah ratusan tahun ini dihancurkan oleh murid khianat macam Gak Put-kun ini, maka terpaksa sebisa mungkin aku menerima tugas ini, untuk mana masih diharapkan bantuan-bantuan dari para sahabat."

Dalam pada itu beberapa penunggang kuda itu sudah menyalakan obor.

Hujan masih belum reda, cuma sekarang hanya gerimis saja.

Di bawah cahaya obor itu wajah Hong Put-peng tampak berseri-seri, senangnya tak terkatakan.

Terdengar dia melanjutkan pula pidatonya.

"Dosa Gak Put-kun sudah teramat besar dan tak bisa diampuni, untuk mana harus dihukum mati sesuai dengan undang-undang perguruan. Pau-sute, silakan kau melaksanakan hukum perguruan kita, bunuhlah murid murtad Gak Put-kun dan istrinya."

Terdengar seorang laki-laki berusia 50-an telah mengiakan sambil melolos pedangnya, lalu mendekati Gak Put-kun, katanya dengan menyeringai.

"Orang she Gak, kau telah merusak perguruan kita, hari ini kau harus menerima ganjaran yang setimpal."

Gak Put-kun menyedot napas dalam, katanya.

"Bagus, bagus! Karena ingin merebut kedudukan ketua, ternyata Kiam-cong (sekte pedang) kalian tidak segan-segan menggunakan tipu keji demikian. Pau Put-ki, hari ini kau membunuh aku, tapi di alam baka apakah kau ada muka untuk menjumpai para leluhur Hoa-san-pay kita?"

"Hahahaha! Orang yang banyak kejahatan tentu akan mampus sendiri, kau sendiri telah banyak berbuat dosa, jika aku tidak membunuh kau, tentu juga kau akan mati dibunuh orang, jika demikian kan kurang baik malah?"

Demikian Pau Put-ki sambil tertawa.

"Pau-sute,"

Bentak Hong Put-peng.

"tiada gunanya banyak omong, laksanakan hukuman!"

Pau Put-ki mengiakan. Segera ia angkat pedangnya. Di bawah cahaya obor terpantullah sinar pedang yang gemilap.

"Nanti dulu!"

Tiba-tiba Gak-hujin berteriak.

"Tentang Pi-sia-kiam-boh itu sebenarnya berada di mana? Tangkap maling harus dengan bukti, kalau cuma memfitnah orang, ini bukan sifat seorang kesatria."

"Tangkap maling harus dengan bukti, bagus sekali istilah ini,"

Jengek Pau Put-ki sambil mendekati Gak-hujin dengan cengar-cengir.

"Kukira Pi-sia-kiam-boh itu benar kemungkinan disembunyikan di dalam bajumu, biarlah aku menggeledah kau agar tidak menuduh kami memfitnah."

Habis berkata sebelah lengannya hendak meraba ke dada Gak-hujin.

Sesudah kakinya terluka, Gak-hujin telah ditutuk pula dua tempat Hiat-to yang membuatnya tak bisa bergerak.

Dilihatnya tangan Pau Put-ki sedang diulurkan ke arahnya, bila badannya sendiri sampai tersentuh, maka ini benar-benar suatu penghinaan yang sukar dibersihkan, tiba-tiba ia mendapat akal dan segera berseru.

"Co-toakongcu!"

Sama sekali Co Hui-eng tidak menduga nyonya Gak akan berteriak memanggilnya. Maka ia lantas menjawab.

"Ada apa?"

Cepat Gak-hujin berkata.

"Ayahmu adalah ketua perserikatan Ngo-gak-kiam-pay, merupakan teladan bagi setiap orang Bu-lim, tapi kau ternyata membiarkan manusia tidak tahu malu begini menghina kaum wanita di depan umum. Apakah memang demikian kau dididik oleh ayahmu?"

"Hal ini ...."

Co Hui-eng menjadi ragu-ragu. Segera Gak-hujin berseru pula.

"Bangsat tadi sembarangan mengoceh, katanya mereka tidak menang dengan jumlah orang banyak. Coba sekarang kedua murid khianat Hoa-san-pay ini, asal salah satu mampu menangkan suamiku dengan satu lawan satu, maka dengan sukarela kami akan menyerahkan kedudukan ketua Hoa-san-pay dengan kedua tangan, dengan demikian mati pun kami takkan menyesal, kalau tidak rasanya tindakan kalian ini sukar untuk diterima oleh beratus-ratus ribu kesatria Bu-lim yang mengutamakan keadilan dan kebenaran."

Habis berkata mendadak ia meludah ke muka Pau Put-ki.

"crot" , tepat sekumur riak kental hinggap di pipi Pau Put-ki. Karena berdirinya terlalu dekat, pula diludah secara tiba-tiba sehingga Pau Put-ki tidak sempat menghindar. Keruan ia sangat gusar. Ia mengusap ludah itu sambil mencaci maki, nenek moyang tujuh belas keturunan Gak-hujin diumpatnya habis-habisan. Dengan gusar Gak-hujin memaki pula.

"Kaum pengkhianat dari Kiam-cong kalian semuanya tidak becus, sebenarnya tidak perlu suamiku turun tangan sendiri, cukup aku seorang wanita saja juga tidak sukar untuk membinasakan kau bila aku tidak tertutuk oleh musuh yang pengecut tadi."

"Baik,"

Tiba-tiba Co Hui-eng berseru, kedua kakinya mengempit, ia melarikan kudanya dan mengitar ke belakang Gak-hujin, sekali cambuk kudanya mengayun.

"tar-tar-tar"

Tiga kali, ujung cambuk sama menyabat tiga tempat Hiat-to di punggung nyonya Gak.

Gak-hujin hanya merasa badan bergetar, kedua tempat Hiat-to yang tertutuk itu lantas terbuka.

Keruan saja ia terperanjat.

Dalam pada itu kuda hitam Co Hui-eng telah mengitar balik ke tempatnya semula, mata terdengarlah suara sorak puji orang banyak.

Cambuk kuda sebenarnya adalah benda lemah, tapi dengan ujung cambuknya Co Hui-eng sanggup membuka Hiat-to orang yang tertutuk, maka betapa hebat tenaga dalamnya sungguh jarang ada bandingannya, apalagi sekaligus menyabat tiga tempat Hiat-to berbareng, betapa jitu caranya mengincar tempat Hiat-to juga benar-benar jarang terdengar.

Setelah anggota badannya dapat bergerak, Gak-hujin tahu maksud Co Hui-eng ialah membiarkan dirinya bertanding dengan Pau Put-ki.

Jadi pertandingan ini tidak melulu menyangkut jiwa sendiri serta suami dan putrinya, tetapi juga akan menentukan mati-hidup Hoa-san-pay selanjutnya.

Jika dirinya dapat mengalahkan Pau Put-ki, meski belum tentu akan mengubah keadaan bahaya menjadi selamat, paling tidak hal ini akan berarti suatu titik balik.

Sebaliknya kalau dirinya kalah, maka tamatlah segalanya.

Tanpa bicara segera ia jemput pedang sendiri yang terpukul jatuh tadi, ia lintangkan pedang di depan dada dan pasang kuda-kuda.

Tapi mendadak kaki kiri terasa lemas, hampir-hampir saja ia jatuh berlutut.

Rupanya luka kakinya tidaklah ringan, sedikit menggunakan tenaga saja sukar ditahan.

"Hahaha!"

Pau Put-ki bergelak tertawa.

"Kau menganggap dirimu bukan kaum wanita yang lemah, sekarang kau pura-pura kaki terluka pula, lalu buat apa bertanding lagi? Seumpama aku menang juga tidak gemilang ...."

"Lihat pedang!"

Bentak Gak-hujin mendadak sambil menusuk tiga kali, dengan membawa tenaga dalam yang hebat pedangnya mengeluarkan suara mencicit, tiga kali serangan itu satu lebih cepat daripada yang lain, semuanya mengincar tempat fatal di tubuh musuh.

"Bagus!"

Teriak Pau Put-ki sambil menyurut mundur dua langkah.

Sebenarnya Gak-hujin dapat menggunakan kesempatan itu untuk menyerang lebih jauh, tapi dia tidak berani menggeser kakinya yang terluka itu, terpaksa ia tetap berdiri di tempatnya.

Sudah tentu Pau Put-ki tidak tinggal diam, segera ia balas menyerang.

Tiga kali beruntun-runtun ia menyerang dengan cara keji.

Tapi semuanya kena ditangkis Gak-hujin, menyusul nyonya Gak itu melancarkan tusukan ke perut musuh dan begitu seterusnya silih berganti mereka saling menyerang.

Gak Put-kun yang tak bisa berkutik itu dapat menyaksikan sang istri melawan musuh dengan menanggung luka pada kakinya, sebaliknya gerak serangan pedang Pau Put-ki sangat lincah dan banyak ragam perubahannya, terang musuh lebih pandai daripada istrinya.

Setelah lebih 20 jurus, bagian kaki Gak-hujin mulai payah.

Sebenarnya Khi-cong atau sekte Khi (hawa kekuatan dalam) dari Hoa-san-pay biasanya mengutamakan tenaga dalam untuk menguasai musuh.

Tapi sejak terluka Gak-hujin merasa hawa murni dalam tubuhnya kurang lancar sehingga permainan pedangnya sekarang lambat laun kena diatasi oleh Pau Put-ki.

Keruan Gak Put-kun menjadi gelisah.

Lebih celaka lagi ia melihat sang istri memainkan pedangnya semakin cepat.

Diam-diam ia berpikir.

"Kiam-cong mereka mengutamakan permainan pedang, tapi kau malah melabrak dia dengan gerakan pedang, ini berarti menggunakan kelemahan sendiri untuk melawan keunggulan musuh, tentu saja akan kalah."

Sebenarnya Gak-hujin cukup mengetahui akan hal kelemahan pihak sendiri dan keunggulan pihak lawan.

Soalnya dia punya kaki terluka, sesudah itu lantas tertutuk pula sehingga selama itu tidak sempat membalut lukanya.

Malahan sampai saat ini darah juga masih mengucur keluar, dalam keadaan demikian mana dapat mengerahkan tenaga dalam untuk mengatasi gerak pedang musuh?

Saat ini dia hanya bertahan dari sedikit semangatnya yang masih ada, meski gerak pedangnya tampak kencang, tapi tenaganya sudah mulai berkurang dan makin lemah.

Beberapa jurus kemudian Pau Put-ki sudah dapat melihat kelemahan lawan, ia sangat girang.

Tidak perlu lagi dia menyerang untuk mencari menang secara cepat, sebaliknya ia bertahan dengan rapat.

Di sebelah sana Lenghou Tiong juga sedang mengikuti pertarungan kedua orang itu.

Dilihatnya gerak pedang Pau Put-ki sejak tadi tampaknya sangat lihai, tapi sesungguhnya tidak punya tenaga, hal ini berlawanan dengan ajaran gurunya yang mengutamakan tenaga dalam daripada gerakan.

Tiba-tiba hatinya tergerak, pikirnya.

"Pantas perguruan sendiri terbagi menjadi Khi-cong dan Kiam-cong, kiranya haluan ilmu silat yang dianut oleh kedua sekte memang berlawanan sama sekali."

Perlahan ia coba merangkak bangun, ia pun berhasil meraba sebatang pedang yang kebetulan berada di sampingnya. Pikirnya pula.

"Perguruan sendiri hari ini benar-benar telah kalah habis-habisan, tapi nama baik Sunio dan Sumoay yang suci bersih sekali-kali tak boleh dinodai oleh kawanan bangsat itu. Tampaknya Sunio sudah tak bisa mengalahkan lawannya, sebentar biar kubunuh Sunio lebih dulu dan Sumoay, kemudian aku akan membunuh diri untuk mempertahankan nama baik Hoa-san-pay."

Sementara itu permainan pedang Gak-hujin tampak mulai kacau. Sekonyong-konyong pedangnya berputar secepat kilat terus menusuk ke depan. Serangan ini adalah "jurus tunggal tiada bandingan"

Yang menjadi kebanggaannya itu.

Pau Put-ki terkejut juga oleh serangan lihai itu, lekas-lekas ia melompat mundur, hanya terpaut sedetik saja, untung dia dapat menghindarkan tusukan maut itu.

Jika kaki Gak-hujin dalam keadaan sehat tentu dia dapat melancarkan serangan susulan yang lebih hebat dan musuh pasti sukar menyelamatkan diri.

Tapi sekarang wajahnya sudah pucat, bahkan ia harus menggunakan pedang sebagai tongkat, napasnya tampak terengah-engah.

"Bagaimana Gak-hujin? Tenagamu sudah habis bukan? Apakah sekarang boleh kugeledah badanmu?"

Demikian Pau Put-ki mengejek dengan tertawa.

Sebelah tangannya dipentang, selangkah demi selangkah ia mendesak maju.

Gak-hujin ingin angkat pedang untuk menyerang lagi, tapi lengannya seperti diganduli oleh benda yang berat, betapa pun sukar diangkat lagi.

"Nanti dulu!"

Mendadak Lenghou Tiong berseru. Ia melangkah ke depan Gak-hujin dan memanggil.

"Sunio!"

Habis itu ia bermaksud mengangkat pedangnya menusuk mati sang ibu guru untuk menjaga kebersihan namanya.

Gak-hujin rupanya tahu maksud Lenghou Tiong, sorot matanya memantulkan sinar rasa senang, ia mengangguk dan berkata.

"Ehm, bagus, anak baik!"

Tapi tiba-tiba Pau Put-ki membentak.

"Enyah kau!"

Berbareng pedang terus menusuk ke tenggorokan Lenghou Tiong.

Melihat serangan itu, Lenghou Tiong tahu tangan sendiri tiada bertenaga sedikit pun, jika menangkis dengan pedang tentu senjata sendiri akan tergetar mencelat.

Tanpa pikir lagi segera ia pun angkat pedang dan menusuk tenggorokan lawan.

Serangan ini adalah cara untuk gugur bersama dengan musuh, gerak pedangnya tidak terlalu cepat, tapi tempat yang diarah sungguh sangat bagus dan tepat, tipu serangan lihai ini adalah jurus "Boh-kiam-sik" , gerakan mengalahkan ilmu pedang lawan, yaitu salah satu jurus serangan hebat dari Tokko-kiu-kiam yang pernah dipelajarinya di dalam gua di puncak Hoa-san tempo hari.

Keruan serangan balasan ini membuat Pau Put-ki terperanjat, sama sekali ia tidak menduga bahwa pemuda yang badannya kotor penuh lumpur ini mendadak bisa melancarkan serangan lihai demikian.

Dalam keadaan kepepet tanpa pikir cepat ia menjatuhkan diri terus menggelinding ke samping hingga beberapa meter jauhnya, habis itu baru melompat bangun.

Melihat Pau Put-ki menghindarkan serangan lawannya dengan cara yang konyol itu, sampai-sampai muka, tangan dan seluruh badan penuh berlumuran air lumpur, saking gelinya ada beberapa orang bergelak tertawa.

Tapi bila dipikirkan secara mendalam, untuk menghindarkan serangan Lenghou Tiong itu memang tiada jalan lain kecuali menjatuhkan diri seperti Pau Put-ki.

Bagaimanapun Pau Put-ki menjadi malu karena menjadi buah tertawaan orang, dengan murka segera ia menerjang ke arah Lenghou Tiong berikut pedangnya.

Lenghou Tiong sendiri cukup paham bahwa kini dirinya sekali-kali tidak boleh menggunakan tenaga dalam supaya berbagai arus bawa murni di dalam tubuh itu tidak bergolak, untuk menghadapi musuh cukup mengeluarkan "Tokko-kiu-kiam"

Ajaran Thaysusiokco dahulu itu.

Memangnya dia sudah cukup masak mempelajari cara memecahkan ilmu pedang lawan menurut ajaran orang tua itu, maka dapatlah dia mematahkan berbagai macam serangan musuh yang betapa pun anehnya.

Ketika dilihatnya Pau Put-ki menyeruduk tiba seperti orang gila, segera Lenghou Tiong tahu di mana letak kelemahan serangan musuh itu.

Langsung ia memapak dengan ujung pedangnya yang diacungkan miring ke depan, yang dinantikan adalah perut lawan.

Dengan cara serudukan Pau Put-ki itu, kalau lawannya bukan Lenghou Tiong tentu akan berusaha berkelit ke samping atau pasti juga akan menangkis dengan senjata.

Sebab itulah Pau Put-ki membiarkan perutnya terbuka tanpa mengadakan penjagaan.

Tak terduga Lenghou Tiong sama sekali tidak menghindar dan juga tidak menangkis, ujung pedang memapak datangnya perut lawan untuk ditumbukkan sendiri ke ujung pedang yang dipasang miring ke depan itu.

Keruan Pau Put-ki terkejut, lekas-lekas ia meloncat ke atas sambil pedang menebas ke bawah dengan maksud menghantam jatuh pedang Lenghou Tiong.

Namun lebih dulu Lenghou Tiong sudah memperhitungkan akan gerakan Pau Put-ki itu, tiba-tiba tangannya sedikit menggeser dan pedang terangkat lebih tinggi, ujung pedang membalik ke atas, maka tebasan pentang Pau Put-ki tadi hanya mengenai tempat kosong.

Sungguh sama sekali tak terpikirkan oleh Pau Put-ki bahwa mendadak Lenghou Tiong bisa ganti serangan demikian.

Sudah pedang menebas tempat kosong, tubuhnya yang terapung di atas udara dan sedang menurun ke bawah itu tepat jatuh di atas ujung pedang lawan.

Keruan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, ia berkaok-kaok tak berdaya sambil jatuh ke bawah.

Segera Hong Put-peng melompat maju, sebelah tangan terus mencengkeram punggung Pau Put-ki dengan maksud menahan jatuhnya sang Sute.

Namun tindakannya tetap terlambat sedikit, terdengarlah suara "crat"

Disertai muncratnya darah, bahu Put-ki tertembus oleh ujung pedang.

Karena tidak berhasil menyelamatkan Sutenya, tanpa pikir Hong Put-peng melolos pedang terus menebas ke leher Lenghou Tiong.

Menurut akal sehat seharusnya Lenghou Tiong melompat mundur untuk mengelakkan serangan maut itu.

Tapi karena dia tidak berani mengerahkan tenaga, untuk melompat sudah tentu tidak sanggup.

Dalam keadaan terpaksa tiada jalan lain baginya kecuali mengeluarkan pula jurus serangan Tokko-kiu-kiam yang lihai itu, pedangnya berputar ke samping dan segera belas menusuk ulu hati Hong Put-peng.

Serangan ini kembali memperlihatkan cara nekatnya yang hendak gugur bersama musuh.

Tapi karena arah tujuan pedangnya sangat aneh, pedangnya ternyata dapat mengenai sasarannya lebih dulu baru kemudian senjata musuh akan mengenai dia.

Selisih waktu hanya sekejap, namun bila pemain pedang itu adalah tokoh lihai tentu akan dapat menggunakan kesempatan sesingkat itu dengan baik, yaitu melalui musuh dan menghindarkan dari serangan lawan.

Dalam hal ilmu pedang sesungguhnya Hong Put-peng terhitung salah satu jago paling lihai di antara jago pedang pada zaman ini yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari.

Ia yakin serangannya tadi pasti sukar ditangkis oleh musuh.

Siapa duga sekenanya Lenghou Tiong bisa balas menyerang ke arah yang tak terduga-duga.

Cepat ia menyurut mundur.

Ia tarik napas panjang-panjang, sekaligus ia melancarkan tujuh kali serangan pula secara berantai dan membadai.

Melihat serangan lawan yang sangat lihai dan sukar dilayani, namun kini Lenghou Tiong sudah nekat dan tidak pikirkan mati-hidup lagi, yang teringat olehnya adalah macam-macam ilmu pedang ajaran Hong Jing-yang di puncak gunung tempo hari, terkadang terkilas pula lukisan ilmu pedang yang terukir di dinding gua itu, lalu sekenanya lantas dikeluarkan sesukanya, dengan demikian ia dapat bergebrak sampai 60-70 jurus dengan Hong Put-peng, pedang kedua orang selama itu tak pernah kebentur, serang-menyerang mereka semuanya menggunakan ilmu pedang yang bagus.

Para penonton sampai bingung menyaksikannya.

Diam-diam mereka pun sama memuji.

Dalam pada itu mereka mendengar napas suara Lenghou Tiong yang mulai memburu, terang tenaganya tidak tahan lagi.

Namun dalam hal tipu serangan yang hebat masih terus-menerus dilontarkan dengan gerak perubahan yang sukar diraba.

Bab 44.

Sekali Serang Lenghou Tiong Membutakan 15 Orang Musuh Hong Put-peng bertenaga lebih besar dari lawannya, setiap kali bila sukar mengelakkan serangan Lenghou Tiong selalu ia gunakan pedangnya membabat dan menebas secara keras lawan keras, sebab ia tahu lawannya takkan mengadu senjata dengan dia.

Dengan demikian ia selalu dapat terhindari dari posisi yang kepepet.

Di antara penonton itu sudah tentu tidak kurang jago-jago ternama, ketika melihat cara pertarungan Hong Put-peng lama-kelamaan menjurus kepada cara licik dan cara bajingan, diam-diam mereka tidak puas.

Seorang Tosu dari Thay-san-pay lantas menyindir.

"Ilmu pedang murid Khi-cong lebih tinggi, sebaliknya paman guru dari Kiam-cong bertenaga dalam lebih kuat, bagaimana bisa jadi demikian? Khi-cong dan Kiam-cong dari Hoa-san-pay ini bukankah telah berputar balik sama sekali!"

Muka Hong Put-peng menjadi merah, ia putar pedangnya semakin kencang dan melancarkan serangan lebih gencar.

Pertama, dia memang tokoh nomor satu dari sekte pedang Hoa-san-pay, ilmu pedangnya sesungguhnya memang sangat lihai.

Kedua, keadaan Lenghou Tiong sangat lemah, untuk berdiri saja sangat dipaksakan, maka dia banyak kehilangan kesempatan baik.

Ketiga, baru untuk pertama kalinya Lenghou Tiong menggunakan Tokko-kiu-kiam untuk melawan musuh tangguh, sudah tentu perasaannya rada jeri, permainannya belum terlalu lancar pula.

Karena semuanya inilah maka sudah bertempur sekian lamanya masih belum dapat ditentukan siapa yang kalah atau menang.

Setelah berlangsung 30 jurus lagi, Lenghou Tiong merasa setiap kali bila dirinya semakin sembarangan melancarkan serangan, maka lawannya juga semakin sukar menangkisnya dan memperlihatkan tingkah yang gugup dan kelabakan.

Tapi kalau tanpa sengaja dirinya mengeluarkan jurus serangan dari ilmu pedang perguruannya sendiri, maka Hong Put-peng selalu dapat mematahkan serangannya dengan baik, bahkan satu kali dirinya hampir-hampir termakan pedang lawan itu.

Pada saat berbahaya itulah tiba-tiba satu kalimat ucapan Hong Jing-yang dahulu mengiang dalam benaknya.

"Pedangmu tiada gerak serangan, tentu musuh takkan dapat mematahkannya. Tanpa gerakan untuk mengalahkan gerakan adalah puncak kesempurnaan ilmu pedang."

Dalam pada itu sudah ratusan jurus mereka bergebrak, pengertian Lenghou Tiong terhadap intisari Tokko-kiu-kiam sudah semakin mendalam, tak peduli Hong Put-peng menyerang dengan jurus betapa pun kejinya, sekali pandang saja ia sudah dapat melihat di mana letak kelemahan serangan musuh dan sekenanya ia balas menyerang, kontan Hong Put-peng terpaksa harus menarik kembali pedangnya untuk menjaga diri.

Setelah beberapa jurus pula, lambat laun batinnya bertambah berani, ia merasa kepandaian pihak lawan tidak lebih juga cuma sekian saja, untuk mengalahkan dia sebenarnya tidak sulit.

Tiba-tiba terkilas pula belasan jurus tipu serangan.

Tanpa terasa ia terus menusuk miring ke depan, gerakan ini tidak termasuk sesuatu tipu serangan, tampaknya enteng tak bertenaga, ujung pedang seperti mengarah ke timur dan seperti ke barat tak menentu.

Hong Put-peng sampai tertegun, ia merasa heran, tipu serangan jenis apakah ini?

Karena tidak kenal dan tidak tahu cara bagaimana mematahkannya, terpaksa Hong Put-peng putar kencang pedangnya untuk melindungi tubuh bagian atas.

Tapi karena gerakan pedang Lenghou Tiong itu tiada menentu, setiap gerakannya dapat berubah setiap saat menurut keadaan, sekarang lawan menjaga diri bagian atas, seketika ujung pedangnya menusuk ke bawah pinggang.

Keruan Hong Put-peng terkejut dan lekas melompat mundur.

Lenghou Tiong tak sanggup ikut melompat buat mendesak lebih jauh, setelah bertempur sekian lama mau tidak mau juga banyak makan tenaga, karena itu napasnya mulai memburu, tangan memegang dada sambil tersengal-sengal.

Melihat pemuda itu tidak mendesak maju sudah tentu Hong Put-peng tidak tinggal diam, berturut-turut ia menyerang beberapa kali pula ke dada, perut dan pinggang lawan.

Tapi mendadak pedang Lenghou Tiong bergerak pula secara seenaknya, yang ditusuk adalah mata kiri Hong Put-peng.

Sungguh kaget Hong Put-peng tak terkatakan, ia menjerit dan kembali melompat mundur untuk menyelamatkan diri.

Terdengar seorang Nikoh setengah umur dari Hing-san-pay berkata.

"Aneh, sungguh aneh. Ilmu pedang tuan ini benar-benar sangat mengagumkan."

Sudah tentu yang dia maksudkan bukan ilmu pedang Hong Put-peng melainkan Lenghou Tiong.

Bagi pendengaran Hong Put-peng ucapan itu dirasakan cukup menyinggung.

Sebagai pemimpin sekte pedang yang ingin menjabat ketua Hoa-san-pay, jika dalam hal ilmu pedang ternyata dikalahkan oleh seorang murid dari sekte Khi, maka ambisinya akan merebut ketua sejak kini akan buyar dan tiada muka buat tancap kaki lagi di dunia Kangouw.

Berpikir demikian, diam-diam ia mengeluh apa mau dikata lagi.

Mendadak ia mendongak dan bersuit nyaring, ia melangkah miring ke depan, pedang terus menebas dari samping dengan cepat luar biasa.

Sekaligus ia menyerang beberapa kali sehingga pedang mengeluarkan suara deru angin yang keras.

Kiranya ilmu pedang ini disebut "Hong-hong-gway-kiam" (pedang kilat angin puyuh), hasil karya kebanggaan Hong Put-peng selama dia menyepi 15 tahun di atas gunung.

Jurus-jurus serangan yang satu lebih cepat daripada yang lain dan makin keras pula deru angin yang diterbitkan oleh sambaran pedangnya.

Ilmu pedang ini sebenarnya merupakan ilmu simpanannya yang akan digunakan sebagai bekal dalam perebutan Bengcu dari Ngo-gak-kiam-pay mendatang, sebenarnya ia enggan memperlihatkan ilmu pedang simpanannya itu di hadapan tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay yang lain.

Tapi sekarang karena sudah kepepet, kalau tidak dapat mengalahkan Lenghou Tiong tentu namanya akan bangkrut habis-habisan, maka terpaksa ia keluarkan juga ilmu pedangnya.

Daya tekanan Hong-hong-gway-kiam itu memang mahadahsyat, tenaga yang terpancar dari ujung pedangnya makin lama makin luas sehingga bagi penonton yang berdekatan merasakan muka dan tangan kesakitan tersambar oleh angin pedang, mau tak mau mereka sama mundur lebih jauh, maka kalangan pertempuran kedua orang juga tambah luas.

Kini biarpun jago-jago terkemuka dari Ko-san, Heng-san, Thay-san dan Hing-san-pay juga tidak berani menilai rendah lagi atas diri Hong Put-peng.

Mereka merasa ilmu pedang itu memang sangat lihai sehingga cukup memenuhi syarat untuk menjadi ketua Hoa-san-pay.

Terlihat sumbu api obor yang dipegangi beberapa orang penunggang kuda itu makin lama makin tertarik panjang oleh sambaran angin yang diterbitkan oleh pedang Hong Put-peng, bahkan deru angin itu lambat laun bertambah keras pula.

Jika Lenghou Tiong menempur Hong Put-peng dengan tenaga tentu tak mampu melawan ilmu pedang yang diyakinkan selama belasan tahun dan amat dahsyatnya itu, di dalam Hoa-san-pay hanya Gak Put-kun saja dapat menandingi Hong-hong-gway-kiam dengan menggunakan Ci-he-sin-kang yang sakti.

Untung sekarang Lenghou Tiong sama sekali tidak bertenaga, setiap kali bila serangan Hong Put-peng tiba selalu ia dapat mematahkannya dengan cara sembarangan saja.

Betapa pun lihainya serangan Hong Put-peng juga tak dapat memancing keluar tenaga dalam Lenghou Tiong.

Bagi penglihatan para penonton keadaan Lenghou Tiong menjadi mirip sebuah sampan kecil yang terombang-ambing di tengah gelombang ombak raksasa, tapi sampan itu selalu naik turun mengikuti damparan gelombang ombak dan tak tertenggelamkan.

Semakin cepat serangan Hong Put-peng semakin membikin Lenghou Tiong paham akan intisari petunjuk Hong Jing-yang dahulu tentang ilmu pedang.

Pada waktu mulai belajar Tokko-kiu-kiam, lawannya itu adalah Dian Pek-kong.

Ilmu golok Dian Pek-kong sudah tergolong tingkat atas di dunia persilatan, tapi kalau dibandingkan Hong Put-peng sekarang selisihnya sangat jauh pula.

Sebentar-sebentar dalam benak Lenghou Tiong terkilas pengetahuan yang baru menghadapi serangan lawan.

Pikirnya.

"Ahli pedang seperti ini sungguh jarang terdapat di dunia ini. Jika aku melukainya mungkin selanjutnya akan sukar memperoleh lawan ahli pedang sebaik untuk menambah pengetahuanku."

Semakin jelas memahami macam-macam inti tipu serangan ilmu pedang, semakin kuat pula kepercayaannya kepada diri sendiri.

Maka ia tidak buru-buru ingin menang lagi, tapi terus mencurahkan perhatiannya untuk meneliti macam-macam perubahan ilmu pedang lawan yang lihai itu.

Hong-hong-gway-kiam itu meliputi 108 gerakan dan hanya sebentar saja sudah habis dimainkan.

Hong Put-peng menjadi gelisah karena tetap tak bisa mengapa-apakan lawan.

Ia membentak-bentak murka dan menyerang terlebih sengit pula dengan maksud memancing tangkisan pedang Lenghou Tiong.

Namun Lenghou Tiong hanya sedikit acungkan pedangnya, berturut-turut "crit-crit-crit-crit"

Empat kali suara perlahan, kontan kedua lengan dan kedua paha Hong Put-peng tertusuk semua.

"Trang" , pedang terlepas dari cekalan dan jatuh ke lantai. Lantaran tidak sengaja hendak melukai orang, pula tangannya tak bertenaga, maka empat kali tusukan Lenghou Tiong itu dilakukan dengan sangat enteng. Meski Hong Put-peng tidak terluka parah, tapi dengan kedudukannya mana bisa dia melanjutkan pula pertandingan itu. Seketika wajahnya menjadi pucat, serunya.

"Sudah, sudahlah!"

Lalu ia memberi salam kepada Co Hui-eng, katanya.

"Co-toakongcu, harap sampaikan salamku kepada ayahmu, katakan aku merasa sangat berterima kasih atas bantuannya. Cuma ... cuma kepandaianku masih tak sanggup menandingi orang, aku ... aku ... tidak ...."

Ia tidak sanggup meneruskan ucapannya karena tenggorokannya serasa tersumbat. Segera ia melangkah pergi dengan cepat. Kira-kira belasan tindak mendadak ia berhenti dan berteriak.

"He, anak muda, ilmu pedangmu sungguh sangat lihai, aku mengaku kalah. Tapi ilmu pedang demikian rasanya bukan ajaran Gak Put-kun. Numpang tanya siapakah namamu yang mulia, ilmu pedang itu ajaran dari tokoh kosen siapa?"

"Aku Lenghou Tiong adanya, murid tertua dari guruku yang berbudi Gak-siansing,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Ilmu pedang yang sepele ini hanya secara kebetulan dapat menang sejurus-dua, buat apa mesti dipikirkan?"

Terdengar Hong Put-peng menghela napas panjang, suaranya penuh rasa masygul dan patah semangat, perlahan ia melangkah pergi dan akhirnya menghilang dalam kegelapan.

Co Hui-eng saling pandang sekejap dengan Theng Eng-gok, mereka sama pikir.

"Bicara tentang ilmu pedang besar kemungkinan kita sendiri masih bukan tandingan Hong Put-peng dan sudah tentu lebih-lebih bukan tandingan Lenghou Tiong. Kalau beramai-ramai mengerubutnya tentu dengan gampang dapat membunuh pemuda itu. Tapi berbagai tokoh terkemuka sekarang sama hadir, betapa pun tidak dapat melakukan perbuatan yang begitu rendah dan pengecut."

Karena pikiran yang sama kedua orang saling manggut, lalu Co Hui-eng membuka suara.

"Lenghou-heng, ilmu pedangmu sungguh hebat dan benar-benar banyak menambah pengalamanku. Sampai berjumpa pula!"

Sekali kakinya mengempit, seketika kudanya membedal cepat ke depan dan segera diikuti orang-orang lain.

Hanya sebentar saja mereka pun sudah menghilang di malam kelam, yang terdengar sayup-sayup hanya derap kaki kuda yang makin menjauh.

Sekarang yang berada di luar kelenteng itu selain orang-orang Hoa-san-pay hanya tertinggal para berandal yang berkedok kain hitam tadi.

Si orang tua tadi mengekek tawa, lalu berkata.

"Lenghou-siauhiap, betapa hebat ilmu pedangmu, sungguh kami merasa kagum tak terhingga. Kepandaian Gak Put-kun masih selisih sangat jauh denganmu, pantasnya kau yang cocok untuk menjabat ketua Hoa-san-pay. Melihat ilmu pedangmu yang hebat itu seharusnya kami mesti tahu diri dan mundur teratur. Cuma kami sudah telanjur mengganggu Hoa-san-pay kalian, bencana di kemudian hari tentu akan timbul, terpaksa hari ini kami harus babat rumput sampai akar-akarnya. Tampaknya kau sudah terluka, tiada jalan lain kami harus mengerubutmu dengan jumlah banyak."

Habis berkata, sekali bersuit segera kawan-kawannya ikut mengurung maju.

Walau Co Hui-eng dan rombongannya pergi, obor yang mereka buang sekenanya masih belum padam, maka bagian bawah setiap orang tersorot dengan terang, sedangkan bagian pinggang ke atas hanya remang-remang.

Senjata ke-15 berandal berkedok itu gemilapan terhunus dan mendesak maju selangkah demi selangkah.

Sesudah menempur Hong Put-peng tadi, walaupun tidak memakai tenaga dalamnya, tidak urung Lenghou Tiong juga mandi keringat.

Sebabnya dia dapat mengalahkan tokoh nomor satu dari sekte pedang itu adalah berkat Tokko-kiu-kiam yang aneh itu.

Sekarang ke-15 kawanan berandal itu menggunakan 15 macam senjata yang cara permainannya tentu berbeda-beda pula, bila sekaligus mereka menyerang, cara bagaimana dia mampu mematahkannya satu per satu?

Dalam keadaan tak bisa mengerahkan tenaga dalam, ia menjadi putus asa.

Ia menghela napas dan coba memandang ke arah Gak Leng-sian.

Ia tahu ini adalah pandangan terakhir pada ajalnya hampir tiba, ia berharap akan mendapat sedikit tanda-tanda mesra dari si nona sebagai pelipur lara.

Benar juga, dilihatnya sepasang mata Leng-sian yang jeli itu sedang memandangnya dengan penuh rasa cemas dan khawatir.

Sungguh girang Lenghou Tiong tak terkatakan.

Tapi di bawah cahaya obor sekilas dilihatnya pula sebelah tangan Leng-sian terjulur ke samping dan ternyata saling genggam dengan tangan seorang lelaki.

Dilihatnya lelaki itu bukan lain adalah Lim Peng-ci.

Orang-orang Hoa-san-pay sebenarnya telah dibekuk oleh kawanan berandal berkedok itu dan tak bisa berkutik, tapi kini para berandal berkedok itu sedang siap-siap hendak mengerubut Lenghou Tiong sehingga Peng-ci dan Leng-sian dengan sendirinya mendapat kesempatan untuk saling bersandar menjadi satu dan tangan menggenggam tangan.

Seketika perasaan Lenghou Tiong seperti disayat-sayat, patahlah semangat tempurnya, segera ia bermaksud membuang senjata dan membiarkan dirinya dibantai musuh sesukanya.

Di tengah kegelapan malam itu tertampak ke-15 orang berkedok perlahan sedang mendesak maju.

Rupanya orang-orang itu masih jeri terhadap kelihaian Lenghou Tiong yang telah mengalahkan Hong Put-peng tadi, maka siapa pun tidak berani menyerang lebih dulu.

Perlahan Lenghou Tiong putar tubuhnya, dilihatnya 30 biji mata ke-15 orang itu berkedip-kedip di balik lubang kain kedoknya, tersorot oleh cahaya obor yang remang-remang itu ke-I5 pasang mata mereka itu mirip mata binatang buas.

Sekonyong-konyong dalam benak Lenghou Tiong terkilas sesuatu ingatan.

"Di dalam Tokko-kiu-kiam itu ada satu jurus yang khusus digunakan untuk mematahkan macam-macam serangan senjata rahasia musuh. Biarpun betapa banyak dan macam apa pun senjata musuh yang dihamburkan, asal jurus serangan itu dikeluarkan, serentak senjata rahasia musuh akan dapat disapu jatuh semua."

Saat gawat itu segera timbul, terdengar si orang tua berkedok tadi lagi membentak.

"Maju semua, cincang dia!"

Sadar posisi yang berbahaya pada saat itu, tanpa pikir lagi pedang Lenghou Tiong mendadak bergerak, ujung pedang bergetar terus menutul kepada ke-15 pasang mata musuh.

Dalam waktu yang sangat singkat terdengar suara jeritan di sana-sini, menyusul terdengar pula suara gemerantang nyaring jatuhnya macam-macam senjata.

Dalam sekejap saja 30 biji mata ke-15 orang berkedok itu sekaligus ditusuk buta oleh serangan kilat Lenghou Tiong yang mahalihai.

Jurus serangan yang digunakan Lenghou Tiong mestinya khusus digunakan untuk menyapu bersih hamburan senjata rahasia musuh, tapi kini digunakan untuk menusuk mata musuh, hasilnya ternyata sangat menakjubkan.

Sesudah menyerang segera Lenghou Tiong menerobos lewat di antara orang banyak dengan langkah sempoyongan, ia mendekati Lo Tek-nau dan memegang pundaknya dengan muka pucat dan badan gemetar.

Menyusul pedangnya lantas terlepas dari cekalan.

Ke-15 orang berkedok itu tampak kelabakan menutupi mata masing-masing, dari celah-celah jari mereka tampak merembes keluar darah segar.

Ada yang berjongkok merintih, ada yang menjerit-jerit dan berlari seperti lalat tak berkepala, ada yang terguling-guling di tengah air lumpur.

Sesudah mata mereka tertusuk buta, pandangan mereka seketika menjadi gelap gulita dan terasa sakit sekali.

Saking kaget dan takutnya yang teringat oleh mereka adalah menutupi mata yang buta itu sambil berteriak dan menjerit.

Padahal kalau mereka bisa berlaku tenang dan tetap mengerubut maju, tentu Lenghou Tiong akan tercencang menjadi daging cacah oleh senjata ke-15 orang itu.

Tapi maklum juga, siapa pun dan betapa pun tinggi ilmu silatnya jika mendadak mata tertusuk buta, mana bisa lagi berlaku tenang dan mana sanggup meneruskan serangan kepada musuh.

Begitulah ke-15 orang itu menjadi kelabakan dan tak keruan entah apa yang harus mereka lakukan lagi.

Pada detik yang berbahaya tadi Lenghou Tiong lantas menyerang dan berhasil dengan baik, tapi demi melihat keadaan ngeri ke-15 orang itu, tanpa terasa ia menjadi tidak tega dan menaruh belas kasihan kepada mereka.

Mendadak Gak Put-kun membentak.

"Tiong-ji, putuskan otot kaki mereka, nanti kita periksa dan tanya mereka."

"Ya ... ya ...."

Sahut Lenghou Tiong sambil berjongkok hendak menjemput pedangnya.

Tak terduga serangannya tadi telah mengerahkan tenaga dalamnya sehingga mengakibatkan badan gemetar dan tidak sanggup menjemput pedang.

Dalam pada itu si orang tua berkedok tadi lagi berseru.

"Kawan-kawan, lekas jemput senjata masing-masing, sebelah tangan pegang ikat pinggang teman, semuanya pergi mengikuti aku!"

Ke-14 orang kawannya memang sedang kelabakan dan bingung, demi mendengar seruan si orang tua, serentak mereka berjongkok dan meraba-raba tanah, tak peduli senjata siapa yang mereka sentuh segera dijemputnya.

Ada yang mendapatkan senjata dengan mudah, tapi ada pula tidak memperoleh sesuatu.

Buru-buru mereka memegangi ikat pinggang temannya sehingga menjadi satu barisan dan ikut pergi bersama si orang tua dengan langkah tak menentu.

Para murid Hoa-san-pay kecuali Lenghou Tiong, yang lain semuanya tertutuk Hiat-to yang membikin tak bisa bergerak sedikit pun.

Sedangkan Lenghou Tiong sendiri dalam keadaan tak bertenaga dan menggeletak lumpuh di atas tanah, maka mereka hanya menyaksikan kaburnya ke-15 orang berandal dan tak bisa mencegah.

"Lenghou Tiong, Lenghou-tayhiap, mengapa engkau belum mau membuka Hiat-to kami, apa perlu menunggu kami memohon pertolonganmu?"

Tiba-tiba Gak Put-kun berkata. Keruan Lenghou Tiong terkejut. Katanya dengan suara gemetar.

"Su ... Suhu, mengapa engkau ber ... berkelakar dengan Tecu? Segera akan ... akan kubuka Hiat-to Suhu."

Segera ia merangkak bangun dan mendekati Gak Put-kun dengan terhuyung-huyung. Tanyanya kemudian.

"Su ... Suhu, harus kubuka Hiat .. Hiat-to yang mana?"

Di dalam hati sungguh gusar Gak Put-kun tak terkatakan, ia mengira Lenghou Tiong sengaja melepaskan ke-15 berandal berkedok tadi, sekarang sengaja mengulur waktu dan tak mau cepat membuka Hiat-to yang tertutuk.

Dengan gusar ia lantas menjawab.

"Tak perlu lagi!"

Diam-diam ia mengerahkan Ci-he-sin-kang dengan lebih kuat untuk menggempur bagian Hiat-to yang tertutuk itu.

Sejak ditutuk dan tak bisa berkutik, terus-menerus Gak Put-kun mengarahkan Lwekang untuk menggempur Hiat-to yang tertutuk itu.

Cuma orang yang menutuknya tadi adalah tokoh pilihan dan memiliki tenaga yang sangat kuat.

Beberapa Hiat-to yang tertutuk itu adalah tempat penting pula, karena itu seketika Ci-he-sin-kang tidak dapat memunahkan Hiat-to yang tertutuk.

Lenghou Tiong sendiri tak bertenaga sehingga mungkin lebih lemas daripada anak kecil, ia ingin membuka Hiat-to sang guru yang tertutuk itu, tapi sedikit pun tak bisa mengeluarkan tenaga.

Beberapa kali ia coba mengerahkan tenaga, tapi setiap kali matanya berkunang-kunang, telinga mendengung-dengung, hampir saja jatuh pingsan.

Terpaksa ia duduk di sebelah Gak Put-kun dan menunggu sang guru membuka Hiat-to sendiri.

Sementara itu hujan sudah berganti gerimis dan masih turun tak berhenti-henti, keruan seluruh badan semua orang basah kuyup tak terkecuali.

Menjelang fajar barulah hujan berhenti.

Muka semua orang pun remang-remang mulai terlihat jelas.

Leng-sian dan beberapa anak muda yang Lwekangnya lebih rendah menggigil kedinginan tertiup angin pagi yang semilir.

Sebaliknya ubun-ubun kepala Gak Put-kun tampak mengepulkan asap putih, air mukanya yang bersemu ungu semakin tandas.

Sekonyong-konyong ia bersuit panjang, seluruh Hiat-to yang tertutuk telah terbuka semua.

Ia melompat bangun, kedua tangan bekerja dengan cepat, ada yang ditepuknya, ada yang diremasnya, hanya sekejap saja setiap orang yang tak bisa berkutik itu telah dibebaskan semua dari siksaan.

Gak-hujin dan para muridnya lantas berbangkit, Ko Kin-beng, Si Cay-cu dan lain-lain sama meneteskan air mata.

Beberapa murid wanita bahkan menangis sedih.

Beberapa orang di antaranya berkata.

"Beruntung ilmu pedang Toasuko mahasakti dan dapat mengalahkan kawanan berandal itu, kalau tidak entah bagaimana jadinya kita ini?"

Saat itu Lenghou Tiong masih telentang di atas tanah berlumpur, lekas Ko Kin-beng membangunkan dia. Air muka Gak Put-kun tidak memperlihatkan sesuatu, dengan dingin ia tanya.

"Kau tahu asal usul ke-15 orang berkedok itu?"

"Tecu ... Tecu sendiri tidak tahu,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Apa kau tidak kenal mereka?"

Put-kun menegas.

"Suhu, sebelum ini Tecu tidak pernah kenal salah seorang di antara mereka,"

Sahut Lenghou Tiong dengan takut atas penegasan sang guru.

"Jika demikian, mengapa perintahku agar kau menahan mereka untuk diperiksa, tapi kau anggap tidak mendengar dan tak menggubris?"

Tanya Put-kun pula.

"Tecu ... Tecu sama sekali tak bertenaga lagi, seluruh tubuh terasa lemas, kini ... kini ...."

Sambil berkata badannya juga tergoyang-goyang, untuk berdiri saja tidak kuat rasanya.

"Hm, pandai benar kau main sandiwara!"

Jengek Put-kun. Lenghou Tiong berkeringat dingin seketika, cepat ia tekuk lutut di hadapan sang guru, katanya.

"Sejak kecil Tecu sudah yatim piatu, atas budi kebaikan Suhu dan Sunio sehingga Tecu dirawat sampai besar, selama itu Tecu juga tidak berani membangkang perintah Suhu atau sengaja mendebat Suhu dan Sunio."

"Kau tidak berani mendustai Suhu dan Sunio? Hm, lantas ilmu pedangmu itu diperoleh dari mana? Apakah ajaran malaikat di dalam mimpi atau mendadak jatuh dari langit?"

Berulang Lenghou Tiong menjura, katanya.

"Tecu pantas dihukum mati. Soalnya Cianpwe yang mengajarkan ilmu pedang ini mengharuskan Tecu berjanji takkan memberitahukan kepada siapa pun juga tentang asal usul ilmu pedang ini, karena itu terpaksa kepada Suhu dan Sunio juga tak dapat Tecu beri tahukan."

"Ya, sudah tentu, sudah setinggi ini ilmu silatmu, masakah kau masih pandang sebelah mata kepada Suhu dan Suniomu?"

Jengek Put-kun.

"Memangnya sedikit kepandaian Hoa-san-pay yang tak berarti ini mana tahan sekali gempur oleh ilmu pedangmu yang sakti? Kakek berkedok itu memang tepat ucapnya, jabatan ketua Hoa-san-pay kita ini seharusnya kau yang mendudukinya."

Lenghou Tiong tak berani menjawab, ia hanya menjura terus. Pikiran bergolak hebat.

"Jika aku tidak menuturkan pengalaman tentang diperolehnya ajaran ilmu pedang dari Hong-thaysusiokco, tentu Suhu dan Sunio takkan memberi maaf. Namun seorang laki-laki sejati harus bisa pegang janji, sedangkan seorang maling cabul sebagai Dian Pek-kong saja tidak mau membocorkan rahasia jejak Thaysusiokco biarpun menghadapi siksaan Put-kay Hwesio, apalagi aku Lenghou Tiong telah menerima budi kebaikannya, sekali-kali aku tidak boleh ingkar janji, rasa setia dan baktiku kepada Suhu dan Sunio adalah tulus dan jujur, untuk ini dapat kupertanggungjawabkan kepada siapa pun juga. Kalau untuk sementara ini aku menanggung penasaran apakah artinya bagiku?"

Maka katanya kemudian.

"Suhu dan Sunio, sekali-kali bukan Tecu sengaja membangkang kepada perintah guru, sesungguhnya ada kesukaran Tecu yang tak dapat dijelaskan. Kelak Tecu akan mohon maaf kepada Suhu dan Sunio, tatkala mana Tecu akan memberi laporan kepada Suhu dan Sunio dan bercerita terus terang selengkapnya."

"Baiklah, boleh bangun,"

Kata Put-kun.

Lenghou Tiong menjura tiga kali lagi, segera ia bermaksud berbangkit, tapi baru saja kakinya menegak sebelah, kembali ia lemas dan jatuh berlutut pula.

Kebetulan Peng-ci berdiri di sebelahnya, cepat ia bantu menariknya bangun.

"Hm, ilmu pedangmu hebat, caramu main sandiwara terlebih bagus pula,"

Ejek Gak Put-kun. Lenghou Tiong tidak berani menjawab, pikirnya.

"Betapa pun besarnya budi Suhu yang dicurahkan padaku, hari ini beliau sudah salah paham, kelak segala persoalan pasti akan kubikin terang. Urusan ini memang agak janggal, pantas juga kalau beliau merasa curiga."

Begitulah biarpun menahan penasaran, tapi ia pun tidak dendam sedikit pun.

Sementara itu para murid Hoa-san sedang sibuk pada tugasnya masing-masing, ada yang menanak nasi, ada yang menggali liang untuk mengubur jenazah Nio Hoat.

Sesudah sarapan pagi, semua orang sama mengeluarkan baju kering untuk ganti pakaian mereka yang basah dan kotor.

Habis itu mereka sama memandang Gak Put-kun untuk menunggu perintah.

Pikir mereka.

"Apakah kita masih mau meneruskan perjalanan ke Ko-san?"

"Sumoay, ke mana kita harus pergi menurut pendapatmu?"

Tanya Put-kun kemudian kepada sang istri.

"Ke Ko-san kukira tidak perlu lagi,"

Sahut Gak-hujin.

"Tapi kita sudah telanjur keluar dari rumah rasanya juga tidak perlu buru-buru pulang kembali ke Hoa-san."

"Ya, toh tiada pekerjaan apa-apa, boleh juga kita pesiar ke sana-sini supaya dapat menambah pengalaman para murid,"

Kata Put-kun. Yang paling senang adalah Leng-sian, cepat ia bersorak.

"Baik sekali! Ayah ...."

Tapi lantas teringat olehnya tentang kematian Nio Hoat, adalah tidak pantas ia memperlihatkan rasa girang begitu cepat, maka hanya ucapan itu saja lantas berhenti.

"Huh, bicara tentang pesiar kau lantas kegirangan ya?"

Omel Put-kun dengan tersenyum.

"Baiklah, kali ini ayah akan mengikuti sifat kesukaanmu. Coba katakan sebaiknya kita pergi ke mana, anak Sian?"

Sambil berkata pandangnya ditujukan kepada Peng-ci.

"Ayah, jika mau pesiar sepuas-puasnya dan makin jauh makin baik, janganlah kepalang tanggung, janganlah belum seberapa jauh dan baru beberapa hari sudah sibuk mau pulang lagi,"

Kata Leng-sian.

"Bagaimana umpamanya kalau kita pergi ... pergi ... ke rumah Siau-lim-cu. Dia bilang buah lengkeng Hokkian besar-besar dan manis-manis, katanya jeruk di sana juga sangat tersohor dan macam-macam barang lain."

Gak-hujin melelet lidah, katanya.

"Dari sini ke Hokkian jauhnya beribu-ribu li, dari mana kita mempunyai biaya sebanyak itu untuk rombongan sebanyak ini. Jangan-jangan Hoa-san-pay kita harus menjadi Kay-pang dan meniru cara mereka berkelana sambil mengemis."

Tiba-tiba Peng-ci berkata.

"Suhu dan Sunio, besok juga kita sudah bisa memasuki wilayah Holam. Nenek luar Tecu bertempat tinggal di kota Lokyang."

"Ya, benar, kakek-luarmu Kim-to-bu-tek, (golok emas tiada tandingan) Ong Goan-pa memang betul orang Lokyang,"

Kata Gak-hujin.

"Ayah-bunda Tecu telah wafat semuanya, sungguh Tecu ingin berkunjung kepada Gwakong dan Gwapoh (kakek dan nenek luar) untuk memberi lapor segala sesuatu,"

Kata Peng-ci pula.

"Apabila Suhu, Sunio dan para Suko dan Suci sudi ikut mampir ke tempat kediaman Gwakong dan tinggal di sana barang beberapa hari, tentu Gwakong dan Gwapoh akan merasa mendapat kehormatan besar. Habis itu barulah kita melanjutkan perjalanan ke Hokkian, tentang ongkos perjalanan ...."

Ia merandek sejenak, lalu menyambung.

"Di sepanjang jalan toh ada cabang Piaukiok kami, segala sesuatu tentu akan mendapat pelayanan dari mereka, maka mengenai hal ini kukira tidak perlu khawatir."

Sejak Gak-hujin melukai Tho-sit-sian, senantiasa ia dirundung rasa khawatir kalau-kalau Tho-kok-lak-sian akan datang menuntut balas.

Keberangkatannya dari Hoa-san kali ini alasannya saja hendak menuntut kebenaran dan keadilan ke Ko-san, tapi sebenarnya adalah melarikan diri untuk menghindari bencana.

Tadi sesudah sang suami mengarahkan pandangnya kepada Peng-ci, lalu pemuda itu mengundang semua orang berkunjung ke Hokkian.

Kalau dipikir, untuk mengungsi memang lebih jauh lebih baik.

Apalagi dirinya dan sang suami juga tak pernah berkunjung ke daerah selatan, sekarang tiada jeleknya jalan-jalan ke sekitar Hokkian.

Karena pikiran itu ia lantas berkata kepada sang suami.

"Suko, Siau-lim-cu telah menyatakan akan tanggung makan dan tanggung tempat tinggal, kita mau pergi dengan biaya gratis atau tidak?"

Put-kun tersenyum, jawabnya.

"Hokkian adalah tempat asal Siau-lim-si sekte selatan, selama ini banyak menghasilkan tokoh-tokoh persilatan. Jika kita dapat mengikat beberapa kawan karib barulah tidak sia-sia perjalanan kita ini."

Mendengar gurunya sudah mau pesiar ke Hokkian, keruan para murid sangat gembira.

Para murid, baik laki-laki maupun wanita kecuali Lo Tek-nau, rata-rata umur mereka belum ada yang lebih dari 30 tahun.

Dengan sendirinya mereka sangat tertarik dan bersemangat mengenai pesiar ke daerah selatan yang indah permai itu.

Lebih-lebih Peng-ci dan Leng-sian, mereka berdua yang paling girang.

Sebaliknya hanya Lenghou Tiong seorang saja yang muram durja.

Pikirnya.

"Suhu dan Sunio tidak mau pergi ke mana-mana dan justru lebih dulu pergi ke Lokyang untuk bertemu dengan kakek luar Lim-sute, habis itu baru akan berangkat ke Hokkian yang jauh itu, tak usah dijelaskan lagi terang dia sudah menjodohkan Siausumoay kepada Lim-sute, boleh jadi setiba di Hokkian mereka akan lantas dinikahkan di rumah Lim-sute. Aku sendiri adalah anak piatu, tanpa sanak tiada kadang, mana aku dapat dibandingkan dengan putra juragan Hok-wi-piaukiok yang kantor cabangnya tersebar di mana-mana tempat. Melulu kakek luarnya Kim-to-bu-tek Ong Goan-pa saja biasanya juga sangat mendapat penghargaan dari Suhu. Sekarang Lim-sute ingin pergi ke Lokyang untuk berkunjung kepada kakek dan neneknya, buat apa aku ikut pergi ke sana?"

Diam-diam ia pun mendongkol demi melihat para Sute dan Sumoaynya bergembira ria seakan-akan semuanya sudah melupakan kematian Nio Hoat yang mengerikan itu. Pikirnya pula.

"Malam nanti kalau menginap di suatu tempat biarlah tengah malam seorang diri aku tinggal pergi saja. Masakah aku harus ikut semua orang ke sana dan ikut makan nasi Lim-sute dan tinggal di rumahnya dulu menahan perasaan sambil mengucapkan selamat kepada pernikahan Lim-sute dan Siausumoay?"

Ketika semua orang berangkat melanjutkan perjalanan, dengan semangat lesu dan badan lemas Lenghou Tiong ikut dari belakang, tapi makin lama makin lambat jalannya sehingga tertinggal agak jauh oleh rombongan.

Dekat tengah hari keadaannya tambah payah, ia tidak tahan lagi dan duduk mengaso di atas batu di tepi jalan dengan napas tersengal-sengal.

Tiba-tiba tertampak Lo Tek-nau berlari balik dan berseru padanya.

"Toasuko bagaimana keadaanmu? Apakah lelah? Biar kutunggu engkau. Sunio telah menyewa sebuah kereta besar di kota depan sana dan sebentar lagi akan datang memapak dirimu."

Diam-diam Lenghou Tiong merasa terima kasih, biarpun sang guru timbul curiga padanya, tapi ibu gurunya ternyata masih tetap sangat baik.

Selang tidak lama, benar juga sebuah kereta keledai sedang mendatang dengan cepat.

Segera Lenghou Tiong naik ke atas kereta dengan didampingi Lo Tek-nau.

Bab 45.

Macan Kesasar Dikeroyok Anjing Malamnya waktu menginap di hotel Lo Tek-nau juga tinggal sekamar dengan Lenghou Tiong.

Dan begitu seterusnya beberapa hari berturut-turut Lo Tek-nau selalu mendampinginya dan tak terpisahkan.

Lenghou Tiong mengira Lo Tek-nau bermaksud baik merawatnya karena keadaan dirinya yang lemah itu.

Siapa tahu pada malam ketiga ketika Lenghou Tiong sedang istirahat di tempat tidur, tiba-tiba didengarnya Sute yang kecil bernama Su Ki sedang bicara di luar kamar dengan suara berbisik.

"Jisuko, Suhu menanyakan padamu apakah hari ini Toasuko memperlihatkan sesuatu gerak-gerik yang mencurigakan?"

Lalu terdengar Lo Tek-nau berdesis.

"Ssst, jangan keras-keras! Mari keluar saja!"

Hanya kedua kalimat itu pun sudah membuat perasaan Lenghou Tiong tergetar.

Baru sekarang ia tahu gurunya sesungguhnya telah curiga padanya, bahkan Lo Tek-nau sengaja disuruh mengawasinya secara diam-diam.

Dalam pada itu terdengar Su Ki sedang melangkah pergi dengan berjinjit-jinjit, sedangkan Lo Tek-nau lantas mendekati tempat tidur untuk memeriksa Lenghou Tiong apakah sudah pulas atau tidak.

Sebenarnya Lenghou Tiong sangat gusar dan segera hendak melonjak bangun untuk mendamprat Lo Tek-nau, tapi lantas terpikir olehnya Jisute itu hanya menerima perintah sang guru saja, kenapa mesti marah kepada orang yang tidak berdosa?

Maka sedapat mungkin ia menahan perasaannya dan pura-pura tidur nyenyak.

Sejenak kemudian Lo Tek-nau lantas melangkah keluar juga.

Lenghou Tiong tahu tentu dia hendak pergi melapor kepada sang guru tentang gerak-geriknya, diam-diam ia sangat mendongkol.

"Hm, aku toh tidak berbuat sesuatu apa yang berdosa, sekalipun kalian mengawasi aku siang dan malam juga aku tidak takut asal perbuatanku cukup dapat dipertanggungjawabkan,"

Demikian pikirnya.

Karena perasaannya bergolak sehingga mengguncangkan tenaga dalam, seketika ia merasa dada sesak dan sangat menderita, ia mendekam di atas bantal dengan napas tersengal-sengal.

Sampai agak lama baru tenang kembali.

Ia coba berbangkit dan mengenakan baju dan sepatu.

Katanya di dalam hati.

"Jika Suhu tidak pandang aku sebagai murid lagi dan mengawasi aku seperti maling buat apa lagi aku tinggal di Hoa-san, lebih baik kutinggal pergi saja. Kelak syukurlah kalau Suhu sudi memahami diriku, kalau tidak ya terserahlah."

Memangnya sejak salah membunuh Liok Tay-yu, dalam hati kecilnya selalu dirundung rasa berdosa, lebih-lebih mengenai Gak Leng-sian yang telah mengalihkan cintanya kepada orang lain, hal ini semakin melukai perasaannya, sudah lama ia merasa bosan hidup lagi.

Sekarang diketahui pula sang guru menaruh curiga dan menyuruh orang mengawasi gerak-geriknya, keruan ia tambah sedih dan putus asa.

Pada saat itulah mendadak di luar jendela ada orang bicara dengan suara tertahan.

"Ssst, jangan bergerak!"

Lalu ada lagi seorang lain menjawab.

"Ya, Toasuko seperti sudah bangun."

Suara bicara kedua orang itu sangat perlahan, tapi di tengah malam yang bunyi itu cukup jelas didengar oleh Lenghou Tiong, terang itulah dua orang Sutenya yang kecil.

Agaknya mereka sengaja sembunyi di luar sana untuk mengawasi dirinya kalau-kalau melarikan diri.

Sungguh Lenghou Tiong mendongkol tak terkatakan, ia mengepal sehingga ruas tulangnya bekertakan.

Katanya di dalam hati.

"Jika saat ini juga aku tinggal pergi tentu akan berbalik memperlihatkan aku berdosa dan sengaja kabur. Baik, baik, aku justru takkan pergi, terserah cara bagaimana kalian akan berbuat terhadap diriku."

Mendadak ia berteriak-teriak.

"Pelayan! Pelayan! Ambilkan arak!"

Sampai agak lama baru terdengar jawaban pelayan hotel datang membawakan arak yang diminta.

Terus saja Lenghou Tiong minum arak sepuas-puasnya sampai mabuk dan tak sadarkan diri.

Esok paginya waktu akan berangkat Lenghou Tiong masih belum sadar sehingga perlu bantuan Lo Tek-nau memayangnya ke atas kereta.

Beberapa hari kemudian rombongan mereka sampai di Lokyang dan bermalam di suatu hotel yang besar.

Seorang diri Lim Peng-ci lantas berkunjung ke rumah neneknya.

Gak Put-kun dan lain-lain sudah salin pakaian bersih semua.

Sebaliknya Lenghou Tiong masih tetap memakai baju panjang yang berlepotan lumpur waktu bertempur di luar kelenteng tempo hari.

Dengan membawa seperangkat pakaian bersih Leng-sian mendekati Lenghou Tiong, katanya.

"Toasuko, maukah ganti pakaian ini?"

"Pakaian Suhu mengapa mesti diberikan padaku?"

Sahut Lenghou Tiong.

"Sebentar kita diundang berkunjung ke rumah Siau-lim-cu, maka lekas kau ganti pakaian yang lebih bersih ini,"

Ujar Leng-sian.

"Ke rumah kan apa harus pakai baju yang bagus,"

Jawab Lenghou Tiong sambil mengamat-amati sang Sumoay.

Ternyata Leng-sian sudah berdandan rapi, memakai baju sutera bungkus kapas tipis dan berkain satin warna hijau pupus.

Mukanya berbedak dan bergincu tipis sehingga makin menambah kecantikannya.

Rambutnya yang hitam pun tersisir dengan mengilap, pada samping gelungnya dihias dengan tusuk kundai bermutiara.

Seingat Lenghou Tiong, pada masa lampau, hanya kalau tahun baru Leng-sian berdandan sedemikian rupa.

Tapi sekarang hendak bertamu ke rumah Lim Peng-ci saja si nona juga berdandan serapi itu, sudah tentu pedih hati Lenghou Tiong.

Segera ia bermaksud mengucapkan kata-kata ejekan, tapi lantas terpikir olehnya seorang laki-laki sejati kenapa mesti berjiwa begitu sempit?

Maka urung ia membuka mulut.

Sebaliknya Leng-sian menjadi rikuh sendiri karena dipandang dengan sorot mata yang tajam, segera katanya.

"Jika engkau tidak mau ganti pakaian, ya sudahlah."

"Ya, terima kasih! Aku tidak biasa memakai baju baru, lebih baik tidak ganti pakaian saja,"

Kata Lenghou Tiong. Leng-sian tidak bicara lebih jauh, ia membawa kembali pakaian itu ke kamar ayahnya. Tidak lama kemudian terdengarlah suara seorang yang nyaring keras sedang berseru di luar pintu.

"Jauh-jauh Gak-tayciangbun berkunjung kemari, tapi Cayhe tidak melakukan penyambutan sebagaimana mestinya, sungguh terlalu tidak sopan."

Gak Put-kun saling pandang dengan sang istri dan tersenyum senang, mereka tahu Kim-to-bu-tek Ong Goan-pa sendiri telah datang menyambut.

Cepat mereka memapak ke luar.

Tertampak usia Ong Goan-pa sudah 70-an tahun, tapi mukanya merah bercahaya, jenggotnya putih panjang, semangatnya masih menyala-nyala Sebelah tangannya memainkan dua buah bola emas sebesar telur angsa sehingga menerbitkan suara nyaring bergeseknya dua benda logam itu.

Adalah umum orang persilatan memainkan bola besi, tapi biasanya bola logam demikian adalah buatan besi biasa atau baja murni.

Sebaliknya sekarang yang dipegang Ong Goan-pa adalah dua biji bola emas sehingga bobotnya berlipat-lipat lebih berat daripada besi, bahkan memperlihatkan kemewahannya yang lain daripada yang lain.

Begitu melihat Gak Put-kun segera jago tua itu bergelak tertawa dan berseru.

"Selamat bertemu! Nama Gak-tayciangbun menggema di dunia persilatan dengan gilang-gemilang, hari ini Gak-tayciangbun sudi berkunjung ke Lokyang, sungguh merupakan suatu kehormatan besar dan peristiwa yang menggembirakan bagi kawan-kawan Bu-lim di daerah Tiongciu ini."

Sembari berkata ia terus melangkah maju dan menjabat tangan Gak Put-kun serta diguncang-guncangkan dengan penuh gembira, sikapnya sangat tulus dan simpatik. Gak Put-kun menjawab dengan tertawa.

"Cayhe suami-istri bersama para murid sengaja berkelana keluar dan berkunjung pada para sahabat untuk mencari pengalaman, justru tokoh pertama yang kami kunjungi adalah Tiongciu-tayhiap Kim-to-bu-tek Ong-loyacu di sini. Kedatangan kami belasan tamu yang tak diundang ini benar-benar terlalu mendadak dan sembrono."

Dengan suara keras Ong Goan-pa berkata.

"Sebutan 'Kim-to-bu-tek' siapa pun dilarang mengucapkannya lagi di hadapan Gak-tayciangbun. Barang siapa menyebutnya lagi tidak berarti menyanjung diriku, tapi suatu penghinaan padaku. Gak-siansing, engkau sudi menerima cucu luarku, budi kebaikan ini sungguh sukar dibalas, sejak kini Hoa-san-pay dan Kim-to-bun adalah satu keluarga, harap tinggal di rumahku satu atau setengah tahun, siapa pun jangan meninggalkan kota Lokyang ini. Gak-siansing, biarlah kubawakan barang-barangmu dan marilah berangkat."

"Ah, jangan, mana aku berani membikin repot Ong-loyacu,"

Sahut Gak Put-kun cepat. Segera Ong Goan-pa berpaling dan berkata kepada kedua putranya yang berdiri di belakangnya.

"Pek-hun, Tiong-kiang, lekas kalian menjura kepada Gak-susiok dan Gak-subo!"

Ong Pek-hun dan Ong Tiong-kiang berbareng mengiakan, terus memberi sembah dan hormat. Lekas-lekas Gak Put-kun dan istrinya berlutut membalas hormat mereka. Katanya.

"Kita adalah satu tingkatan, sebutan 'Susiok' mana berani kuterima? Selanjutnya biarlah kita anggap sama tingkatan menurut hitungan Peng-ci."

Sesungguhnya nama Ong Pek-hun dan Ong Tiong-kiang (kedua putra Ong Goan-pa) sudah cukup gilang-gemilang di dunia persilatan wilayah Oupak.

Meski mereka mengagumi Gak Put-kun, tapi disuruh menjura betapa pun mereka merasa enggan, cuma perintah sang ayah tak bisa dibantah terpaksa mereka berlutut memberi hormat.

Kini melihat Gak Put-kun juga menjura membalas hormat mereka, dengan sendirinya mereka berdiri kembali.

Waktu Gak Put-kun mengamat-amati Pek-hun dan Tiong-kiang, ternyata perawakan kedua bersaudara itu sangat tinggi, hanya Ong Tiong-kiang agak lebih gemuk.

Pelipis kedua orang itu sama-sama melembung, otot tulang tangan menonjol, terang baik Lwekang maupun Gwakang mereka pasti sangat tinggi.

Segera Gak Put-kun juga mengucapkan kata-kata pujian dan menyuruh anak muridnya memberi hormat kepada Ong Goan-pa dan jago-jago Kim-to-bun yang lain.

Seketika itu di ruangan hotel menjadi ramai orang saling memberi hormat disertai kata-kata sanjung puji dari masing-masing pihak.

Kemudian Peng-ci memperkenalkan anak murid Hoa-san-pay satu per satu kepada kakeknya.

Waktu memperkenalkan Gak Leng-sian, dengan berseri-seri Ong Goan-pa berkata kepada Gak Put-kun.

"Gak-laute, putrimu ini benar-benar gadis rupawan, apakah sudah berbesanan?"

"Ah, anak perempuan masih kecil, pula keluarga Bu-lim seperti kita ini hanya dikenal suka main golok dan putar pedang melulu, bicara tentang kepandaian putri seperti menyulam atau menjahit dan memasak segala sama sekali tidak becus, tentu saja tidak ada yang mau kepada budak liar seperti dia,"

Demikian sahut Gak Put-kun dengan tertawa.

"Ah, ucapan Gak-laute terlalu merendah diri,"

Ujar Ong Goan-pa.

"Putri tokoh termasyhur sudah tentu tidak sembarangan diberikan kepada pemuda dari keluarga biasa saja. Cuma anak perempuan memang juga tiada jeleknya belajar sedikit pekerjaan tangan kaum wanita."

Bicara sampai di sini suaranya menjadi perlahan dan rawan.

Put-kun tahu pasti jago tua itu terkenang kepada putrinya (ibu Peng-ci) yang meninggal itu, segera ia mengiakan dengan wajah prihatin.

Ong Goan-pa ternyata seorang yang periang, segera ia dapat mengatasi perasaannya dan berseru dengan tertawa pula.

"Gak-laute, Lwekang dari Ngo-gak-kiam-pay sangat hebat, tentu kekuatanmu minum arak sangat hebat. Marilah kita pergi minum sepuluh mangkuk bersama."

Habis berkata ia terus gandeng tangan Gak Put-kun dan diajak berangkat.

Gak-hujin, Ong Pek-hun, Ong Tiong-kiang dan anak murid Hoa-san-pay lantas ikut dari belakang.

Di luar hotel ternyata siap sedia kereta dan kuda.

Kaum wanitanya disilakan menumpang kereta dan yang lelaki naik kuda.

Hanya dalam waktu tiada satu jam sejak perginya Peng-ci ke rumah kakeknya ternyata segala sesuatu telah dapat disiapkan dengan cepat, dari sini saja sudah dapat dibayangkan betapa kaya raya dan pengaruh keluarga Ong di kota Lokyang.

Sampai di rumah keluarga Ong, tertampak pintu gedung yang megah itu bercat merah, dua buah gelangan tembaga pada tiap-tiap daun pintu itu tergosok bersih sehingga mengilap, delapan laki-laki tegap telah menanti di luar pintu dengan sikap sangat hormat.

Begitu masuk ke dalam pintu tertampaklah di atas belandar terpampang sebuah papan besar cat hitam bertuliskan empat huruf "Kian-gi-yong-wi" (berani membela keadilan) yang dihadiahkan oleh gubernur Holam.

Ternyata Ong Goan-pa tidak cuma tokoh persilatan saja tapi juga mempunyai hubungan baik dengan pembesar negeri setempat.

Malamnya Ong Goan-pa mengadakan perjamuan besar-besaran untuk menghormati Gak Put-kun dan rombongannya serta mengundang orang-orang terkemuka di kota Lokyang.

Sebagai murid Hoa-san-pay yang tertua, di antara tamu-tamu lelaki, kecuali Gak Put-kun, adalah Lenghou Tiong terhitung paling tinggi derajatnya.

Tapi demi melihat bajunya yang kotor, semangatnya lesu, diam-diam semua orang sama terheran-heran.

Cuma di dunia persilatan memang banyak juga tokoh kosen yang aneh, seperti jago-jago Kay-pang hampir semuanya berpakaian compang-camping.

Jika pemuda ini benar murid utama Hoa-san-pay tentu juga mempunyai kepandaian yang luar biasa.

Karena pikiran ini, maka tiada orang berani memandang hina pada Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong duduk di meja kedua dan diiringi Ong Pek-hun merasa dongkol karena sikap Lenghou Tiong yang dingin, bila diajak bicara tampaknya juga sungkan menjawab seakan-akan tidak memandang sebelah mata padanya.

Segera ia sengaja bicara tentang ilmu silat, ia coba memancing-mancing dan mengemukakan beberapa pertanyaan untuk minta petunjuk kepada Lenghou Tiong.

Tapi pemuda itu hanya menjawab ya atau tidak secara singkat saja, sama sekali tidak mau memberi komentar apa-apa.

Sesungguhnya bukanlah Lenghou Tiong kurang simpatik pada Ong Pek-hun, yang benar adalah karena ia merasa rendah diri, dilihatnya keluarga Ong begini mewah hidupnya, sebaliknya diri sendiri adalah anak yatim yang miskin, kalau dibandingkan boleh dikata langit dan bumi bedanya.

Setiba di rumah kakeknya Peng-ci lantas ganti pakaian yang bagus-bagus dan mewah, dasarnya tampang Peng-ci memang cakap, setelah berdandan menjadi lebih elok lagi.

Begitulah dengan sendirinya Lenghou Tiong merasa rendah diri, pikirnya.

"Jangankan Siausumoay memang sudah sangat rapat bergaul dengan Lim-sute, seumpama dia tetap cinta padaku seperti sediakala, lalu apa dia akan bahagia ikut pada anak miskin seperti diriku?"

Karena pikirannya hanya dicurahkan mengenai diri Gak Leng-sian sehingga segala apa yang dibicarakan Ong Pek-hun padanya dengan sendirinya tak diperhatikan olehnya.

Padahal di wilayah Tiongciu setiap orang Bu-lim sangat segan kepada Ong Pek-hun siapa pun ingin mengambil hati jago keluarga Ong yang ternama itu, tapi malam ini dia selalu menghadapi muka kecut dari Lenghou Tiong, kalau menuruti wataknya yang biasa, sungguh sejak tadi ia sudah mengumbar rasa dongkolnya itu.

Tapi mengingat mendiang kakaknya (ibu Peng-ci), pula sang ayah tampak sangat menghargai kaum Hoa-san-pay, maka sedapat mungkin ia menahan perasaannya dan berulang-ulang masih menyuguh arak kepada Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong juga tidak menolak, setiap cawan arak yang disuguhkan selalu ditenggak habis sehingga tanpa merasa 40-an cawan sudah dihabiskan olehnya.

Sebenarnya Lenghou Tiong sangat kuat minum arak, sekalipun ratusan cawan juga takkan membuatnya mabuk.

Tapi sekarang Lwekangnya sudah punah sehingga kekuatan minumnya banyak berkurang, ditambah hatinya lagi murung maka lebih mudah menjadikan mabuknya, baru saja 50-an cawan ia minum sudah mulai sinting.

Diam-diam Ong Pek-hun berkata di dalam hati.

"Kau bocah ini terlalu tidak tahu adat. Keponakanku adalah Sutemu, seharusnya kau menyebut aku paman, tapi sama sekali kau memanggil, tidak menjadi soal, bahkan sikapmu acuh tak acuh terhadapku. Biarlah kucekoki sehingga mabuk, supaya membikin malu nama Hoa-san-pay kalian di depan perjamuan ini."

Sementara itu mata Lenghou Tiong sudah kelihatan merah, mabuknya sudah ada tujuh-delapan bagian. Dengan tertawa Ong Pek-hun berkata.

"Lenghou-laute adalah murid utama Hoa-san-pay, nyatanya memang seorang kesatria muda sejati, bukan saja ilmu silatnya tinggi, kekuatan minumnya juga sangat hebat. Ayo pelayan, bawakan mangkuk besar, tuangkan arak untuk Lenghou-toaya."

Pelayan keluarga Ong mengiakan dengan suara keras, lalu datang menuangkan arak.

Selama hidup Lenghou Tiong belum pernah menolak arak yang dituangkan baginya, maka setiap mangkuk arak yang dituangkan untuknya selalu ditenggaknya habis sehingga sekaligus lima-enam mangkuk besar telah diminumnya lagi, ketika pengaruh alkohol mulai bekerja, tanpa terasa mangkuk dan cawan di depannya tersampuk oleh lengan bajunya dan jatuh berantakan.

"Ah, Lenghou-siauhiap telah mabuk, minumlah secangkir teh panas sebagai penawar,"

Kata seorang yang duduk semeja di sebelahnya.

"Mana bisa, orang adalah murid tertua Hoa-san-pay, masakah begitu gampang lantas mabuk?"

Kata Pek-hun.

"Mari Lenghou-laute, kita habiskan ini!"

Dan kembali mereka bersama-sama menuang penuh semangkuk besar.

"Mas ... masakah mabuk? Mari ... minum!"

Kata Lenghou Tiong sambil angkat mangkuk arak terus ditenggak lagi, tapi ada sebagian besar isi mangkuk berceceran membasahi bajunya.

Sekonyong-konyong badannya bergeliat, mulur terbuka dan tumpah-tumpah, seluruh makanan dan minuman yang sudah masuk perut dimuntahkan semua sehingga mengotori meja.

Tamu-tamu yang semeja dengan dia sama kaget dan berbangkit menyingkir.

Sebaliknya Ong Pek-hun hanya tertawa dingin, diam-diam ia senang karena maksud tujuannya berhasil.

Karena muntahnya Lenghou Tiong itu, serentak pandangan beratus orang tamu sama diarahkan kepadanya.

Gak Put-kun dan istrinya juga berkerut kening, pikir mereka.

"Bocah ini memang tidak cocok bergaul dengan tingkatan atas, membikin malu saja di depan tamu sebanyak ini."

Dalam pada itu Lo Tek-nau dan Peng-ci sudah memburu maju untuk memayang Lenghou Tiong.

"Toasuko, marilah kubawa mengaso saja ke kamar,"

Kata Peng-ci.

"Aku ... aku tidak mabuk, aku mau minum lagi, amb ... ambilkan arak?"

Sahut Lenghou Tiong dengan tak lancar.

"Baik, baik, akan kuambilkan arak,"

Ujar Peng-ci. Dengan matanya yang merah cepat Lenghou Tiong melirik Peng-ci, katanya.

"Kau ... kau ... Siau-lim-cu, kenapa tidak pergi mengawani Siausumoay, buat apa memegangi aku?"

Cepat Lo Tek-nau membujuk dengan suara perlahan.

"Toasuko, marilah kembali ke kamar saja, di sini orang terlalu banyak, jangan sembarangan bicara lagi."

"Aku sembarangan bicara apa?"

Sahut Lenghou Tiong dengan gusar.

"Hm, Suhu menugaskanmu mengawasi aku dan ... bukti apa yang kau temukan?"

Khawatir sang Suheng yang sudah mabuk itu semakin tak keruan mengocehnya, cepat Tek-nau dan Peng-ci memayangnya masuk ke kamar dengan setengah paksa.

Ketika mendengar ucapan Lenghou Tiong yang mengatakan "Suhu menugaskanmu mengawasi aku dan bukti apa yang telah kau temukan" , sungguh gusar Gak Put-kun tak terkatakan sehingga mukanya sampai pucat.

"Gak-laute,"

Kata Ong Goan-pa dengan tertawa.

"ocehan anak muda pada waktu mabuk buat apa digubris? Mari, mari minum!"

"Anak desa yang tidak berpengalaman, hanya membikin malu saja,"

Terpaksa Put-kun menanggapi dengan menyeringai.

Mabuknya Lenghou Tiong itu baru sadar kembali pada esoknya lewat tengah hari, apa yang telah dia ucapkan waktu mabuk sama sekali tak teringat olehnya.

Sebaliknya sesudah mendengar ucapan Lenghou Tiong, diam-diam Gak Put-kun memberi pesan kepada Lo Tek-nau agar selanjutnya jangan mengikuti Lenghou Tiong lagi, cukup mengawasi secara diam-diam saja.

Sesudah sadar kembali, Lenghou Tiong merasa kepalanya sakit seakan-akan pecah.

Terlihat dirinya menempati sebuah kamar sendirian dengan perabotan yang resik dan indah.

Ia melangkah keluar kamar, tiada seorang Sutenya kelihatan.

Ia coba tanya pelayan, kiranya sama berkumpul di ruang latihan di belakang bersama anak murid keluarga Ong dan sedang saling belajar ilmu silat.

"Buat apa aku berkumpul bersama mereka? Lebih baik aku pesiar keluar saja,"

Demikian pikir Lenghou Tiong.

Segera ia berangkat seorang diri.

Lokyang adalah kota raja beberapa dinasti masa lampau, kotanya cukup megah, tapi keramaiannya kurang.

Lenghou Tiong tidak pandai membaca, pengetahuannya tentang sejarah dan kebudayaan kuno sangat terbatas.

Karena itu ia tidak tertarik biarpun di dalam kota banyak terdapat tempat-tempat bersejarah yang terkenal.

Ia terus berjalan tanpa tujuan.

Ketika sampai di suatu kedai arak, dilihatnya di situ ada tujuh-delapan orang gelandangan penganggur sedang main dadu.

Ia lantas ikut mendesak maju, ia membawa beberapa tahil perak, segera dikeluarkannya dan ikut main dadu bersama mereka.

Sampai hari sudah petang ia lantas minum arak di kedai itu sehingga mabuk, habis itu barulah pulang dengan langkah sempoyongan.

Beberapa hari berturut-turut ia terus minum arak dan main dadu bersama kawanan gelandangan itu.

Hari-hari pertama masih mujur baginya, dia menang beberapa tahil perak.

Tapi hari keempat ia kalah habis-habisan sehingga isi saku kosong melompong.

Dengan sendirinya para gelandangan melarangnya bertaruh lebih jauh.

Dengan marah Lenghou Tiong masih terus pesan arak, semangkuk demi semangkuk ditenggaknya sehingga menghabiskan belasan mangkuk.

"He, anak muda, kau kalah judi, uangmu sudah ludes, cara bagaimana kau membayar uang arak ini nanti?"

Demikian tanya pelayan kedai arak.

"Utang dahulu, teken bon, besok akan kubayar,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Tidak bisa,"

Kata si pelayan sambil menggeleng.

"Modal kedai kami kecil, baik kenalan maupun keluarga, semuanya tidak boleh utang."

Lenghou Tiong tambah gusar, bentaknya.

"Kurang ajar! Apa kau kira tuanmu tidak punya uang?"

"Aku tak peduli apakah kau tuan atau nyonya, pendek kata ada uang ada arak, dan utang harus bayar,"

Sahut si pelayan ketus.

Pakaian Lenghou Tiong memang sudah dekil dan jelas bukan potongan hartawan, saat itu hanya pada pinggangnya masih menggelantung sebatang pedang, selain itu tidak punya barang berharga lagi.

Terpaksa ia menanggalkan pedangnya dan ditaruh di atas meja, katanya.

"Ini, gadaikan saja ke pegadaian sana!"

Salah seorang gelandangan di situ rupanya ingin mencari keuntungan lagi, cepat ia menukas.

"Baik, biar aku menggadaikannya untukmu."

Terus saja ia bawa pedang itu dan berlari pergi.

Benar juga ada uang dan arak, segera pelayan membawakan dua poci arak lagi untuk Lenghou Tiong.

Belum lagi Lenghou Tiong menghabiskan araknya, si gelandangan tadi sudah pulang dengan membawa beberapa potong perak pecah, katanya.

"Kugadaikan tiga tahil empat uang."

Berbareng ia menyerahkan uang perak dan surat gadai kepada Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong juga tidak menghitung, cuma dari bobotnya ia merasa uang perak itu paling banyak hanya tiga tahil saja, terang sisanya telah dicatut gelandangan itu.

Tapi ia pun tidak banyak bicara dan kembali main dadu lagi.

Sampai hari sudah petang, untuk bayar dan kalah judi, tiga tahil perak hasil gadai pedangnya itu kembali lenyap semua.

"Beri pinjam tiga tahil, kalah menang akan kukembalikan lipat,"

Kata Lenghou Tiong kepada seorang gelandangan di sebelah yang bernama si Tembong.

"Dan kalau kalah bagaimana?"

Tanya si Tembong dengan tertawa.

"Kalau kalah akan kukembalikan besok,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Huh, melihat macammu masakah di rumahmu ada uang,"

Jengek si Tembong.

"Apa barangkali kau akan menjual binimu atau menjual adik perempuanmu?"

Lenghou Tiong menjadi murka.

"plok" , kontan ia gampar muka si Tembong, beberapa tahil perak di depan orang segera dirampasnya pula.

"Aduuh! He, kau merampok?"

Jerit si Tembong sambil mendekap mulutnya yang mengeluarkan darah.

Para gelandangan itu memangnya satu komplotan, tanpa bicara lagi mereka terus mengerubut maju, kepalan mereka menghujani tubuh Lenghou Tiong tanpa kenal ampun.

Jika dalam keadaan biasa, jangankan cuma beberapa orang gelandangan yang tidak mahir ilmu silat, sekalipun jago silat yang lihai juga belum tentu mampu menyerangnya.

Tapi kini Lenghou Tiong sudah tidak membawa pedang, pula kehilangan tenaga, percumalah dia mahir ilmu silat karena sama sekali tak dapat dikeluarkan.

Begitulah Lenghou Tiong dibekuk oleh kawan gelandangan itu dan dihujani pukulan dan tendangan tanpa mampu melawan sedikit pun.

Benar-benar "harimau kesasar dikerubut anjing" , hanya sekejap saja ia sudah babak belur, mata matang biru dan hidung keluar kecapnya.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara derapan kaki kuda, ada beberapa penunggang kuda kebetulan lalu di situ.

Seorang penunggang di antaranya sedang membentak.

"Ayo, minggir, minggir!"

Berbareng pecutnya disabetkan, kawanan gelandangan itu dihalau lari semua. Lenghou Tiong sendiri tergeletak tak sanggup bangun lagi. Mendadak suara seorang wanita berteriak.

"He, bukankah ini Toasuko?"

Ternyata suara Leng-sian. Lalu seorang lain berkata.

"Coba, biar kuperiksanya!"

Ini suara Peng-ci yang telah melompat turun dari kudanya dan mendekati Lenghou Tiong, setelah tubuh Lenghou Tiong dibalik, Peng-ci berseru kaget.

"Toasuko, ke ... kenapakah engkau?"

Lenghou Tiong menggeleng kepala, sahutnya dengan tersenyum ewa.

"Mabuk dan kalah judi!"

Segera Peng-ci memondong Lenghou Tiong ke atas kuda.

Penunggang kuda itu selain Peng-ci dan Leng-sian masih ada empat orang lagi.

Mereka adalah dua putri Ong Pek-hun dan dua putra Ong Tiong-kiang, mereka terhitung saudara misan Peng-ci.

Pagi-pagi mereka berenam sudah keluar pesiar ke tempat terkenal di seluruh kota Lokyang dan sekarang baru pulang, tak terduga di gang yang kecil ini dapat menemukan Lenghou Tiong lagi dihajar orang hingga babak belur.

Sudah tentu putra-putri Ong Tiong-kiang dan Ong Pek-hun itu terheran-heran.

Pikir mereka.

"Hoa-san-pay mereka terhitung anggota Ngo-gak-kiam-pay terkemuka, biasanya kakek juga sangat mengagumi mereka. Selama beberapa hari ini anak murid Hoa-san-pay mereka suka berlatih dan tukar pikiran dengan kami, kenyataannya mereka memang luar biasa. Padahal Lenghou Tiong ini adalah murid pertama Hoa-san-pay, mengapa dia tidak dapat melawan beberapa bicokok yang tak berarti itu? Apakah dia sengaja pura-pura. Namun melihat keadaannya yang babak belur terang bukan pura-pura. Sungguh aneh?"

Sepulangnya di rumah Ong Goan-pa, terpaksa Lenghou Tiong harus istirahat beberapa hari baru pulih kesehatannya.

Lantaran mendengar bahwa Lenghou Tiong berjudi dan berkelahi dengan kaum bicokok, diam-diam Gak Put-kun dan istrinya sangat marah, maka mereka tidak datang menjenguknya.

Sampai hari kelima, Ong Kah-ki, putra Ong Tiong-kiang yang terkecil, dengan penuh semangat masuk ke kamar Lenghou Tiong dan memberi tahu.

"Lenghou-toako, hari ini aku telah melampiaskan rasa dendammu. Beberapa bicokok yang menyerangmu tempo hari telah kucari dan telah kuhajar mereka sepuas-puasnya."

Terhadap peristiwa itu sebenarnya Lenghou Tiong tidak ambil pusing lagi, maka dengan hambar saja ia menjawab.

"Ah, sebenarnya juga tidak perlu begitu. Peristiwa tempo hari itu adalah salahku karena aku sedang mabuk."

"Mana boleh jadi,"

Ujar Ong Kah-ki.

"Lenghou-toako adalah tamu keluarga Ong kami, orang tidak menghormatimu juga harus menghormati tamu keluarga Ong, mana boleh sembarangan dipukul orang di kota Lokyang ini tanpa dibalas? Jika kami tidak hajar kembali kaum bicokok itu, ke mana lagi muka keluarga Ong kami harus ditaruh?"

Sedikit-sedikit dia menonjolkan.

"keluarga Ong" , seakan-akan golok emas keluarga Ong adalah keluarga penguasa di dunia persilatan yang harus dihormati. Dasar di dalam hati Lenghou Tiong sudah kurang puas terhadap "Golok emas keluarga Ong" , lebih-lebih selama beberapa hari ini perasaannya lagi murung, maka tanpa terasa tercetuslah ucapan dari mulutnya.

"Terhadap beberapa bicokok begitu masakah diperlukan anggota keluarga Ong ikut turun tangan?"

Begitu kata-kata ini diucapkan barulah Lenghou Tiong merasa menyesal, namun sudah kasip. Bab 46. Siau-go-kang-ouw-kik = Lagu Hina Kelana Dengan wajah kurang senang segera Ong Kah-ki menjawab.

"Lenghou-toako, apa maksud ucapanmu ini? Kalau tempo hari aku tidak bantu membubarkan kaum bicokok itu apakah jiwamu dapat diselamatkan sampai sekarang?"

"Ya, untuk itu aku harus mengucapkan terima kasih,"

Sahut Lenghou Tiong dengan tersenyum hambar.

Dari nada ucapan orang, Ong Kah-ki tahu yang dimaksudkan Lenghou Tiong adalah kebalikannya dari makna kata-katanya, tentu saja Kah-ki tambah mendongkol.

Segera ia berseru.

"Lenghou-toako adalah murid pewaris Hoa-san-pay, sekarang ternyata tidak mampu menghadapi beberapa bicokok keroco di kota Lokyang, hehe, kalau diketahui orang luar bukankah akan dianggap bernama kosong belaka?"

Dalam keadaan iseng dan sungkan Lenghou Tiong juga tidak urus ucapan yang menyinggung itu, jawabnya tak acuh.

"Ya, memangnya nama kosong saja aku tidak punya, dianggap atau tidak juga sama saja."

Pada saat itu juga di luar jendela ada orang menyela.

"Adik, kau sedang bicara apa dengan Lenghou-toako?"

Ketika kerai pintu tersingkap, masuklah seseorang lagi. Kiranya Ong Kah-cun, putra Ong Tiong-kiang, yakni saudara tua Ong Kah-ki. Melihat kedatangan saudaranya, dengan marah-marah Kah-ki berseru.

"Koko, dengan maksud baik aku mewakilkan dia menghajar kaum bicokok itu, setiap bicokok itu telah kucambuki dengan babak belur, siapa tahu Lenghou ... Lenghou-tayhiap ini malah mengatakan aku suka cari perkara."

"Ah, tentu adik belum tahu,"

Kata Ong Kah-cun.

"Tadi aku mendengar dari Gak-sumoay, katanya Lenghou-toako ini sesungguhnya sangat lihai. Ketika di kelenteng Yo-ong-bio tempo hari, hanya dengan sebatang pedang saja sekaligus ia telah membutakan mata 15 musuh kelas berat dalam satu jurus, ilmu pedangnya benar-benar mahasakti dan jarang ada bandingannya di dunia ini. Haha, sungguh hebat, haha!"

Ia tertawa dengan nada mengejek, nyata dia sama sekali tidak percaya terhadap cerita Gak Leng-sian itu. Ong Kah-ki juga ikut mengakak tawa, katanya.

"Ya, boleh jadi ke-15 lawan kelas berat itu kalau dibandingkan kaum bicokok kota Lokyang kita masih selisih sekian jauhnya. Hahahaha!"

Ternyata Lenghou Tiong sama sekali tidak gusar, malahan dia ganda tertawa sambil bersimpuh dengkul dan digoyang-goyangkan, sedikit pun ia tidak pandang sebelah mata kepada kedua saudara Ong itu.

Kedatangan Ong Kah-cun ini sebenarnya atas perintah ayah dan pamannya yang menyuruhnya coba-coba menanyai Lenghou Tiong.

Pek-hun dan Tiong-kiang suruh dia tanya dengan cara baik dan sekali-kali jangan membikin marah kepada tamu.

Tapi sekarang demi melihat sikap Lenghou Tiong yang angkuh itu, diam-diam Kah-cun naik pitam.

Dengan suara keras ia lantas menegur.

"Lenghou-heng, ada suatu urusan ingin kuminta keterangan padamu."

"Ah, jangan sungkan-sungkan,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Begini,"

Kata Kah-cun.

"menurut cerita Peng-ci Piauhia (kakak misan), katanya pada saat paman dan bibi kami wafat, hanya Lenghou-heng seorang saja yang menunggui kedua beliau itu."

"Memang benar,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Dan pesan tinggalan paman dan bibiku itu juga Lenghou-heng yang menyampaikan kepada Peng-ci bukan?"

"Tidak salah!"

"Jika begitu, di manakah Pi-sia-kiam-boh pamanku itu?"

Tanya Kah-cun lebih lanjut.

"Apa katamu?"

Teriak Lenghou Tiong sambil melonjak bangun seketika. Khawatir kalau orang mendadak menyerang, Kah-cun melangkah mundur dua tindak, lalu berkata.

"Pi-sia-kiam-boh yang diminta supaya engkau menyampaikannya kepada Peng-ci Piauhia mengapa sampai sekarang belum engkau serahkan padanya?"

Sungguh gusar Lenghou Tiong tak terkatakan karena kata-kata fitnah itu, badannya sampai gemetar.

"Siapa ... siapa yang bilang ada Pi-sia-kiam-boh yang dikatakan harus kuserahkan kepada ... kepada Lim-sute?"

Tanyanya kemudian dengan suara terputus-putus.

"Jika tidak benar urusan ini, mengapa engkau menjadi khawatir, bicara saja gemetar?"

Ujar Kah-cun dengan tertawa. Sedapatnya Lenghou Tiong menahan perasaannya, tanyanya.

"Kedua saudara Ong, saat ini aku adalah tamu keluarga kalian, apa yang kau lakukan ini adalah suruhan kakekmu, ayahmu atau pendirian kalian berdua sendiri?"

"Aku cuma tanya sambil lalu saja, kenapa mesti panik?"

Ujar Kah-cun.

"Ini tiada sangkut pautnya dengan kakek dan ayahku. Cuma Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim di Hokciu sangat termasyhur dan disegani kawan maupun lawan. Secara mendadak paman meninggal dunia dan kitab pusaka yang selalu dibawanya itu hilang pula, sebagai keluarga terdekat dengan sendirinya kami ingin tanya dan mengusutnya."

"Apa Siau-lim-cu yang menyuruhmu tanya padaku? Dia kenapa tidak datang sendiri saja?"

Tanya Lenghou Tiong pula.

"Hehe, Peng-ci Piauhia adalah Sutemu, masakan dia berani tanya secara blak-blakan padamu?"

Sahut Kah-cun sambil mengekek tawa.

Padahal Peng-ci tidak pernah bicara tentang Pi-sia-kiam-boh kepada kedua saudara Ong itu.

Lantaran jawaban Kah-cun itu, tentu saja membikin Lenghou Tiong tambah sirik lagi kepada Peng-ci.

Dengan tertawa dingin ia berkata pula.

"Dengan dijagoi oleh golok emas keluarga Ong yang termasyhur di Lokyang ini, kini kalian serentak boleh memaksa pengakuanku. Silakan memanggil dia kemari."

"Kau adalah tetamu keluarga Ong kami, kata-kata 'memaksa pengakuanmu' sekali-kali tidak berani kami terima,"

Sahut Kah-cun.

"Kami bersaudara hanya terdorong oleh rasa ingin tahu saja, maka kami tanyakan secara iseng. Syukurlah kalau Lenghou-heng mau memberi jawaban, kalau tidak mau, ya apa boleh buat."

"Ya, aku tak mau menjawab dan kalian apa boleh buat, sekarang silakan pergi saja,"

Kata Lenghou Tiong ketus.

Kah-cun dan Kah-ki saling pandang sendiri.

Sama sekali mereka tidak menduga Lenghou Tiong akan menjawab secara ketus dan tegas sehingga pintu bicara telah ditutup.

Begitulah mereka menjadi kikuk sendiri.

Sesudah batuk dua kali, Kah-cun coba mengalihkan pokok pembicaraan.

Katanya.

"Lenghou-heng, katanya sekali serang engkau telah membutakan, mata 15 orang musuh tangguh. Jurus serangan pedang yang begitu sakti besar kemungkinan baru saja kau dapat belajar dari Pi-sia-kiam-boh bukan?"

Sungguh kejut Lenghou Tiong tak terkatakan, seketika keringat dingin membasahi sekujur badannya, kedua tangan sampai gemetar semua.

Pahamlah sekarang baginya bahwa sang guru, ibu guru dan para Sute dan Sumoaynya tidak berterima kasih padanya yang telah menyelamatkan jiwa mereka, sebaliknya mereka malah menaruh curiga padanya.

Kiranya mereka menganggap dirinya telah menggelapkan Pi-sia-kiam-boh tinggalan Lim Cin-lam.

Pikir Lenghou Tiong.

"Selamanya mereka tidak kenal Tokko-kiu-kiam, aku tidak mau menerangkan pula rahasia Hong-thaysiokco, sudah tentu mereka heran mengapa ilmu pedangku maju sepesat ini, sampai-sampai tokoh paling lihai dari sekte pedang seperti Hong Put-peng juga bukan tandinganku, kepandaianku ini kalau bukan diperoleh dari Pi-sia-kiam-boh itu lalu didapat dari mana? Ya, maklum juga, tentang ajaran Hong-thaysiokco kepadaku itu memang terlalu mendadak dan tak tersangka-sangka, sedangkan waktu Lim Cin-lam meninggal dunia juga melulu aku sendiri yang menunggui dia, dengan sendirinya setiap orang akan berpikir bahwa Pi-sia-kiam-boh yang diincar oleh setiap jago silat itu pasti jatuh di tanganku. Bila orang lain berprasangka demikian dapat dimengerti, namun Suhu dan Sunio cukup kenal watakku bagai anak kandung, mengapa mereka pun tidak memercayai aku lagi? Hehe, mereka benar-benar terlalu memandang rendah padaku!"

Karena begitu pikirannya, dengan sendirinya wajahnya memperlihatkan rasa penasaran. Ong Kah-ki sangat senang, segera ia berkata pula.

"Nah, ucapanku tadi kena benar bukan? Di manakah Pi-sia-kiam-boh itu? Bukan maksud kami juga mengincarnya, soalnya benda itu harus kembali kepada pemilik yang sebenarnya, silakan kau serahkan Kiam-boh itu kepada Lim-piauko dan selesailah urusan ini."

"Tidak, selamanya aku tidak pernah melihat Pi-sia-kiam-boh segala,"

Sahut Lenghou Tiong sambil menggeleng.

"Lim congpiauthau dan istrinya berturut-turut pernah ditawan oleh orang Jing-sia-pay dan si bungkuk Bok Ko-hong. Jika padanya tersimpan Kiam-boh apa segala tentu juga lebih dulu sudah diambil orang lain."

"Benar juga,"

Seru Kah-cun.

"Betapa bernilainya Pi-sia-kiam-boh itu, masakah pamanku mau menyimpannya di saku dan dibawa ke mana pun beliau pergi? Sudah tentu kitab pusaka itu disimpan beliau pada suatu tempat yang dirahasiakan. Sebelum mereka wafat, karena merasa sayang bila Kiam-boh itu lenyap begitu saja, maka kau yang diberitahukan tempat penyimpanannya agar menyampaikannya pula kepada Peng-ci Piauko, siapa tahu ... siapa tahu, hehe ...."

"Siapa tahu secara diam-diam kau telah pergi mengambil kitab pusaka itu dan mengangkanginya sebagai milikmu sendiri,"

Sambung Kah-ki.

Makin gusar Lenghou Tiong mendengar tuduhan itu, sebenarnya ia tidak mau berdebat, cuma soal ini sangat penting, dirinya tidak sudi menerima fitnahan itu dan mendapat nama kotor, segera ia berkata.

"Jika betul Lim-congpiauthau memiliki Kiam-boh sehebat itu, beliau sendiri seharusnya tiada tandingan pada masa hidupnya, tapi mengapa dia tidak mampu melawan beberapa anak murid Jing-sia-pay bahkan ditawan mereka?"

"Ini ... ini ...."

Ong Kah-ki gelagapan tak bisa menjawab. Sebaliknya Ong Kah-cun adalah seorang pandai putar lidah, katanya.

"Kejadian di dunia ini memang sering-sering sangat kebetulan. Lenghou-heng sendiri sudah berhasil mempelajari Pi-sia-kiam-hoat yang sakti, tapi terhadap bicokok keroco saja tidak mampu melawan sehingga kena dihajar oleh mereka sampai babak belur. Apa sebabnya bisa terjadi demikian? Haha, haha, sandiwaramu ini agak keterlaluan sedikit, Lenghou-heng masakah seorang murid pewaris Hoa-san-pay bisa dihajar oleh beberapa bicokok di kota Lokyang, setiap orang pasti tidak percaya kepada kepalsuanmu itu? Dan kalau tidak dapat dipercaya, tentu di balik kejadian itu ada apa-apanya. Nah, Lenghou-heng, kukira lebih baik kau mengaku terus terang saja."

Kalau menuruti watak Lenghou Tiong, sebenarnya ia tidak ambil pusing terhadap Kim-to (golok emas) tiada tandingan dan keluarga Ong apa segala.

Soalnya ia tidak sudi dirinya dicurigai guru, ibu guru dan Sumoaynya.

Maka dengan tegas ia berkata pula.

"Selama hidup Lenghou Tiong tidak pernah melihat Pi-sia-kiam-boh segala. Pesan Lim-congpiauthau sebelum wafat juga telah kusampaikan kepada Lim-sute tanpa mengurangi satu kalimat pun. Jika Lenghou Tiong ternyata bohong dan menipu, dosa ini pantas dihukum mati dan terkutuklah dia."

Habis berkata ia berdiri tegak dengan sikap kereng. Ong Kah-cun tersenyum, katanya.

"Urusan penting yang menyangkut dunia persilatan begini jika cukup diselesaikan dengan bersumpah saja, hah, rasanya Lenghou-heng terlalu kekanak-kanakan dan orang lain semuanya tolol."

"Habis bagaimana kalau menurut pendapatmu?"

Tanya Lenghou Tiong dengan menahan rasa gusarnya.

"Maaf, kami ingin coba menggeledah badanmu,"

Sahut Kah-ki. Setelah merandek sejenak, lalu menyambung pula dengan cengar-cengir.

"Anggap saja seperti tempo hari waktu Lenghou-heng dibekuk oleh kawanan bicokok itu dan tak bisa berkutik, mereka tentu juga akan menggerayangi badanmu."

"Hm, kalian ingin menggeledah badanku? Memangnya kau anggap Lenghou Tiong ini maling?"

Jengek Lenghou Tiong.

"Mana kami berani beranggapan demikian,"

Ujar Kah-cun.

"Tapi kalau Lenghou-heng menyatakan tidak pernah ambil Pi-sia-kiam-boh itu, lalu kenapa mesti takut digeledah orang? Sesudah digeledah, jika memang betul tiada Kiam-boh itu, tentu kau pun akan bersih dari segala tuduhan, cara demikian bukankah sangat baik?"

"Baik,"

Sahut Lenghou Tiong mengangguk.

"Coba panggil dulu Lim-sute dan Gak-sumoay, biar mereka berdua ikut menjadi saksi."

Tapi Ong Kah-cun khawatir kalau dirinya pergi jangan-jangan adiknya seorang diri akan disergap Lenghou Tiong atau kalau mereka pergi berduaan kesempatan itu tentu akan digunakan oleh Lenghou Tiong untuk menyembunyikan Pi-sia-kiam-boh dan takkan ditemukan lagi bila digeledah.

Maka dengan ngotot Kah-cun berkata.

"Kalau mau geledah harus segera geledah, bila Lenghou-heng tidak berdosa, kenapa mesti banyak alasan lagi?"

Namun Lenghou Tiong menggeleng, jawabnya.

"Jika cuma kalian berdua saja rasanya tidak sesuai untuk menggeledah badanku."

Semakin Lenghou Tiong tidak mau digeledah semakin yakin kedua saudara Ong itu bahwa pasti Lenghou Tiong mengangkangi Kiam-boh itu.

Karena ingin mencari pahala dan mendapat pujian kakek dan ayahnya, pula mereka sudah lama mendengar Pi-sia-kiam-hoat itu sangat lihai, bila kitab itu nanti diketemukan tentu Peng-ci akan memberi pinjam kepada mereka.

Segera Kah-cun memberi isyarat kepada adiknya, lalu berkata.

"Lenghou-heng, janganlah kau tidak mau diajak bicara secara halus tapi minta digunakan kekerasan, bila sampai terjadi apa-apa tentu akan kurang baik bagi hubungan kita."

Sembari bicara kedua saudara itu terus mendesak maju. Dengan membusungkan dada Ong Kah-ki lantas menerjang ke depan. Ketika Lenghou Tiong mengangkat tangan menolaknya, Kah-ki berteriak teriak.

"Aduh, kau berani memukul orang?"

Berbareng kedua tangannya terus mengunci lengan lawan.

Sebenarnya pengalaman Lenghou Tiong sudah sangat luas, kepandaiannya juga jauh lebih tinggi daripada kedua pemuda she Ong itu.

Ketika Kah-ki menerjang maju segera ia tahu anak muda itu tidak bermaksud baik, maka tangannya yang menolak ke depan itu sebenarnya sudah siap dengan berbagai gerakan susulan yang tersembunyi.

Celakanya dia sudah kehilangan tenaga dalam, walaupun tangan tetap bergerak menurut rencana, tapi sama sekali tak bertenaga, maka dengan gampang saja Ong Kah-ki dapat melaksanakan maksud kejinya.

"krek" , tahu-tahu Lenghou Tiong merasa lengan kesakitan tangan telah dipegang oleh Kah-ki dan dipuntir, nyata ruas tulang lengannya telah terlepas, keseleo.

"Lekas geledah, Koko!"

Seru Kah-ki cepat.

Segera Kah-cun menjulurkan sebelah kakinya untuk menahan bawah perut Lenghou Tiong untuk berjaga jaga kalau Lenghou Tiong menendang.

Menyusul tangan lantas menggerayangi baju Lenghou Tiong dan mengeluarkan seluruh isinya.

Mendadak sebuah buku kecil kena dirogoh keluar.

Serentak kedua orang bersorak gembira.

"Ini dia, Pi-sia-kiam-boh milik Lim-kohtio (paman Lim) sudah ditemukan!"

Buru-buru Kah-cun dan Kah-ki membuka buku kecil itu.

Tertampak pada halaman pertama tertulis "Siau-go-kangouw-kik" (lagu Hina Kelana) dalam bentuk huruf kembang.

Kedua saudara Ong juga tidak tinggi sekolahnya, jika huruf-huruf itu ditulis dalam huruf biasa tentu akan dapat mereka baca, tapi sekarang huruf kembang yang aneh itu tak dikenal oleh mereka.

Waktu mereka membalik halaman lain, semuanya juga tertulis dalam huruf-huruf yang aneh.

Mereka tidak tahu buku itu berisi not lagu bagi permainan kecapi dan seruling, yang mereka pikir adalah buku ini pasti Pi-sia-kiam-boh.

Maka tanpa ragu lagi mereka terus berteriak-teriak.

"Pi-sia-kiam-boh! Ini dia Pi-sia-kiam-boh!"

"Ayo lekas bawa dan perlihatkan kepada kakek!"

Seru Kah-cun. Dan buku not musik itu lantas buru-buru dibawa lari pergi. Kah-ki masih belum puas, sebelum pergi ia tendang pula pinggang Lenghou Tiong sambil memaki.

"Tidak punya malu, maling cilik!"

Bahkan ia meludahi pula muka Lenghou Tiong.

Mula-mula dada Lenghou Tiong serasa hampir meledak saking marahnya.

Tapi sesudah dipikir lagi, ia percaya Ong Goan-pa pasti bukan manusia kasar dan hijau seperti kedua cucunya yang kurang ajar itu, sebentar bila buku itu diketahui adalah buku not musik tentu dia akan datang sendiri dan minta maaf padanya.

Cuma kedua tulang lengannya yang keseleo itu terasa sakit tidak kepalang.

Pikirnya.

"Tenagaku sudah punah, terhadap beberapa bicokok saja tak mampu melawan, keadaanku mirip seorang cacat, apa artinya pula hidup di dunia ini?"

Ia berbaring di tempat tidurnya, sampai agak lama barulah terdengar suara tindakan orang, kedua saudara Ong muda itu datang lagi.

"Ayo pergi menemui kakekku,"

Jengek Ong Kah-cun.

"Tidak mau!"

Bentak Lenghou Tiong dengar gusar.

"Kakekmu tidak datang minta maaf padaku, untuk apa aku pergi menemui dia?"

Kah-cun dan Kah-ki terbahak-bahak geli.

"Minta kakek mohon maaf padamu? Hahahaha, jangan kau mimpi di siang bolong! Ayo, berangkat!"

Seru Kah-ki. Berbareng mereka terus menarik bangun Lenghou Tiong dan diseret keluar. Sungguh gusar Lenghou Tiong tak terlukiskan, kontan ia mencaci maki.

"Huh, golok emas keluarga Ong sok sombong mengaku sebagai kaum kesatria, tapi perbuatan sewenang-wenang begini pada hakikatnya teramat kotor dan tidak tahu malu."

"Plok" , Kah-cun terus menggambar muka Lenghou Tiong sehingga mengeluarkan darah. Namun Lenghou Tiong sangat keras kepala, ia masih terus mencaci maki sampai akhirnya kedua saudara Ong itu menyeretnya ke ruangan besar di bagian belakang. Tertampak Ong Goan-pa dan Gak Put-kun serta istrinya sudah duduk di situ. Ong Pek-hun dan Ong Tiong-kiang duduk di sebelah Ong Goan-pa. Lenghou Tiong masih terus memaki.

"Golok emas keluarga Ong ternyata juga kotor dan rendah seperti ini di dunia persilatan."

"Tutup mulut, Tiong-ji,"

Bentak Gak Put-kun sambil menarik muka.

Karena bentakan sang guru barulah Lenghou Tiong berhenti memaki.

Walaupun demikian ia tetap bersikap angkuh dan melotot ke arah Ong Goan-pa.

Tangan Ong Goan-pa tampak memegangi buku not musik yang dirampas dari Lenghou Tiong itu.

Katanya kemudian.

"Lenghou-hiante, Pi-sia-kiam-boh ini dari mana memperolehnya?"

Lenghou Tiong tidak menjawab, sebaliknya ia menengadah dan mengakak tawa, sampai lama ia masih bergelak tertawa.

"Tiong-ji, orang tua mengajukan pertanyaan padamu harus kau jawab dengan sejujurnya, mengapa kau bersikap kurang sopan begini? Macam apa ini?"

Omel Gak Put-kun.

"Suhu,"

Jawab Lenghou Tiong.

"dalam keadaan terluka parah, badan Tecu sedikit pun tidak bertenaga, tapi cara bagaimana kedua bocah ingusan itu memperlakukan diriku, hehe, apakah ini caranya keluarga Ong memerhatikan tetamunya? "

Jika tamu terhormat dan sahabat baik betapa pun keluarga Ong kami tidak berani berlaku kurang adat,"

Ujar Ong Tiong-kiang.

"Tapi kau mengingkari pesan orang, ini kan perbuatan sebangsa maling dan rampok, sebagai keluarga terhormat mana kami dapat menganggapmu sebagai sahabat lagi?"

"Kalian kakek dan cucu tiga turunan berkeras mengatakan buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh, tapi apakah kalian sendiri pernah melihat Kiam-boh itu? Dari mana kalian dapat mengetahui buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh?"

Tanya Lenghou Tiong dengan angkuh. Saking gusarnya Lenghou Tiong berbalik tertawa, katanya.

"Jika kau katakan buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh, maka kebalikan anggap betul buku itu memang Kiam-boh. Semoga keluarga Ong kalian dapat meyakinkannya menurut petunjuk kitab itu sehingga berhasil memiliki Kiam-hoat yang tiada tandingan di dunia ini, selanjutnya keluarga Ong di Lokyang akan disegani karena ilmu pedang dan goloknya yang tiada taranya di dunia persilatan ini. Haha, hahaha!"

"Lenghou-hiante,"

Ong Goan-pa.

"jika ada kesalahan cucuku kepadamu, hendaknya kau pun jangan menyesal. Setiap manusia tentu mempunyai kesalahan, tapi kalau sadar akan kesalahannya dan mau memperbaiki, inilah yang baik. Sesudah kau menyerahkan Kiam-boh ini, mengingat Suhumu masakah kami masih sampai hati untuk mengusut lebih jauh padamu? Persoalan ini selanjutnya siapa pun jangan mengungkatnya lagi. Sekarang biarlah kusambung dulu lenganmu."

Habis bicara ia terus berbangkit dan mendekati Lenghou Tiong hendak memegang tangannya. Namun Lenghou Tiong lantas mundur dua-tiga tindak, teriaknya.

"Tidak perlu! Lenghou Tiong tidak sudi menerima kebaikanmu!"

"Aku memberi kebaikan apa?"

Kata Goan-pa melengak.

"Aku Lenghou Tiong bukanlah patung yang tidak punya perasaan,"

Teriak Lenghou Tiong.

"Lenganku ini tidak dapat diperlakukan sesuka hati kalian, mau dipatahkan lantas dipatahkan, ingin disambung lantas disambung, huh!"

Ia terus melangkah ke hadapan Gak-hujin dan berkata.

"Sunio, lenganku ini ...."

Sebelum habis ucapannya Gak-hujin sudah tahu maksudnya.

Nyonya Gak itu menghela napas gegetun, ia lantas membetulkan kedua tulang lengan Lenghou Tiong yang terlepas ruasnya itu.

Lengan Lenghou Tiong itu hanya keseleo saja, tulangnya tidak patah, setiap orang persilatan yang pernah belajar Kim-na-jiu-hoat tentu paham cara menyambung tulang, maka dengan mudah saja Gak-hujin dapat membetulkan lengan yang keseleo itu.

Kemudian Lenghou Tiong berkata pula.

"Sunio, sudah terang buku itu adalah buku not musik kecapi tujuh senar dan seruling, tapi rupanya keluarga Ong mereka buta huruf semua dan ngotot mengatakan buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh segala. Sungguh suatu lelucon mahabesar di dunia ini."

"Ong-loyacu,"

Kata Gak-hujin kemudian.

"apakah buku itu boleh coba kulihat?"

"Silakan Gak-hujin melihatnya,"

Sahut Ong Goan-pa sambil mengangsurkan buku not musik itu. Sesudah membalik-balik beberapa halaman, Gak-hujin sendiri juga tidak paham isinya, katanya kemudian.

"Tentang not musik kecapi dan seruling aku tidak paham, tapi kalau kitab ilmu silat sih sering kubaca. Buku kecil ini agaknya tidak mirip Kiam-boh segala. Ong-loyacu, apakah di kediaman kalian ini ada orang yang mahir memetik kecapi dan meniup seruling, boleh coba mengundangnya keluar dan mencobanya, tentu segala persoalan akan mudah dipecahkan."

Goan-pa merasa sangsi sebab khawatir buku itu jangan-jangan memang betul adalah buku not musik dan jika demikian berarti dia akan malu besar.

Sebaliknya Ong Kah-ki adalah pemuda yang bodoh, tanpa disuruh ia sudah berteriak.

"Yaya (kakek), Ih-suya, juru tulis kita itu biasanya mahir meniup seruling, apa perlu kita memanggilnya ke sini untuk mencobanya. Sudah terang buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh, masakah dikatakan buku musik?"

"Jenis kitab pusaka ilmu silat di kalangan Bu-lim banyak macam ragamnya, sering kali orang ingin merahasiakan kepandaian tunggalnya dan sengaja menuliskan pelajaran ilmu silat sebagai not musik dan cara lain, hal demikian sebenarnya juga tidak perlu diherankan,"

Ujar Ong Goan-pa.

"Jika di sini ada seorang Ih-suya yang mahir meniup seruling, maka buku itu Kiam-boh atau Siau-boh (buku seruling) tentu akan segera diketahui sesudah dilihat olehnya,"

Ujar Gak-hujin.

Tiada jalan lain, terpaksa Ong Goan-pa menurut dan menyuruh Kah-ki pergi memanggil Ih-suya.

Juru tulis she Ih itu ternyata seorang laki-laki kurus berusia 50-an, berkumis ala kumis tikus, pakaiannya cukup rajin.

"Ih-suya,"

Kata Ong Goan-pa.

"silakan periksa apakah ini buku not musik?"

Ih-suya itu membalik-balik beberapa halaman bagian not kecapi lalu katanya sambil menggeleng kepala.

"Untuk ini hamba tidak terlalu paham!"

Ketika ia membalik-balik lagi bagian not seruling, tiba-tiba wajahnya berseri-seri, mulutnya mulai bernyanyi-nyanyi kecil, dua jarinya ketuk-ketuk di atas meja menurut irama.

Sesudah bernyanyi nyanyi kecil sejenak, tiba-tiba ia menggeleng kepala pula dan berkata.

"Ah, tidak, tidak betul!"

Lalu mulutnya mulai mengiang-ngiang lagi, mendadak nadanya meninggi, sekonyong-konyong berubah menjadi rendah sekali sampai suaranya serak dan tak bisa diteruskan. Ia berkerut kening dan berkata.

"Tidak, tidak mungkin begini, ini sungguh sukar ... sukar dimengerti ...."

"Apakah isi buku ini ada bagian-bagian yang menyangsikan? Adakah perbedaan mencolok dengan buku musik biasa?"

Tanya Goan-pa. Ih-suya membalik kembali halaman permulaan bagian not seruling dan berkata.

"Silakan Loya melihat ini, di sini dimulai dengan nada sedang, lalu mendadak berubah tinggi, kemudian berubah lagi nada paling rendah, ini benar-benar sangat bertentangan nada tinggi dan rendah demikian."

"Kau sendiri tidak becus, apakah orang lain juga tiada seorang pun mampu?"

Jengek Lenghou Tiong.

"Ya, betul juga ucapanmu,"

Sahut Ih-suya sambil manggut-manggut.

"Cuma di dunia ini kalau betul ada orang yang mampu membawakan lagu demikian, maka aku sungguh kagum tak terhingga, kagum tak terkatakan. Ya, kecuali ... kecuali ...."

"Apa kau maksudkan ini bukan not seruling biasa, lagu di dalamnya pada hakikatnya tidak dapat dibunyikan dengan seruling?"

Demikian Ong Goan-pa menyela.

"Ya, memang lain daripada biasa,"

Sahut Ih-suya.

"yang pasti aku tidak mampu memainkan lagu ini kecuali ...."

"Kecuali siapa? Apakah di sini ada seorang ahli yang mampu membawakan lagu ini?"

Gak-hujin menegas.

"Sesungguhnya aku pun tidak berani tanggung, cuma ... cuma ... Lik-tiok-ong (si kakek bambu hijau) di kota timur itu, beliau mahir memetik kecapi dan pandai meniup seruling pula, mungkin beliau dapat membawakan lagu ini. Kepandaiannya meniup seruling jauh lebih mahir daripadaku, bedanya benar-benar sangat jauh."

"Kalau bukan not seruling biasa, di dalamnya tentu ada sesuatu yang ganjil,"

Kata Ong Goan-pa. Ong Pek-hun yang sejak tadi hanya mendengarkan saja kini mendadak membuka suara.

"Ayah, pelajaran Liok-hap-to dari Pat-kwa-bun di Thociu sana bukankah juga tertulis di dalam se

Jilid buku not musik?"

Semula Ong Goan-pa melengak, tapi segera ia paham bahwa putranya itu sengaja membual, sebab Pat-kwa-bun di Thociu itu ada hubungan famili dengan keluarga Ong, namun selama ini tidak pernah terdengar tentang ajaran ilmu goloknya tertulis di dalam buku musik segala.

Ia percaya Gak Put-kun juga tak mengetahui akan hal ini, maka dengan mengangguk ia menjawab.

"Ya, benar juga. Beberapa tahun yang lalu Bok-cinken dari Pat-kwa-bun juga pernah menyinggung tentang hal ini. Sebenarnya ilmu silat ditulis dalam not musik adalah sangat jamak, sedikit pun tidak perlu diherankan."

"Huh, jika tidak perlu diherankan, maka numpang tanya, macam apakah Kim-hoat yang tertulis dalam not musik ini, silakan Ong-loyacu memberi keterangan,"

Jengek Lenghou Tiong.

"Tentang ini ... ai menantuku itu sudah meninggal dunia, rahasia dalam not musik di dunia selain Lenghou-laute sendiri agaknya tidak orang kedua lagi yang tahu,"

Demikian jawab Ong Goan-pa.

Nyata bukan saja ilmu golok Ong Goan-pa sangat lihai, bahkan bicaranya juga sangat tajam.

Di balik ucapannya itu kembali ia menuduh Lenghou Tiong yang telah menggelapkan Pi-sia-kiam-boh dan telah mempelajari isi kitab itu.

Sebenarnya kalau Lenghou Tiong mau membela diri secara mudah dan tepat, dengan terus terang ia dapat menerangkan asal usul buku "Hina Kelana"

Itu.

Tapi bila ia beri tahukan, akibatnya akan sangat luas, sebab terpaksa ia juga harus menceritakan terbunuhnya jago Ko-san-pay, yaitu Hui Pin, oleh Bok-taysiansing dari Heng-san-pay.

Dan kalau gurunya mengetahui lagu itu ada sangkut pautnya dengan gembong Mo-kau yang bernama Kik Yang, tentu juga buku itu akan dimusnahkan.

Jika hal ini terjadi, maka berarti dia telah mengingkari tugas yang diterimanya dari orang yang menyerahkan buku itu.

Segera ia berkata pula.

"Tadi Ih-suya bilang di kota timur ada seorang Lik-tiok-ong yang mahir seni musik, kenapa kita tidak memperlihatkan buku musik ini padanya dan minta pertimbangan."

Goan-pa menggeleng, katanya.

"Lik-tiok-ong itu sangat aneh, suka angin-anginan dan seperti orang sinting, terhadap orang lain sikapnya selalu acuh tak acuh. Orang demikian mana dapat dipercaya omongannya?"

"Tapi urusan ini betapa pun juga harus kita bikin terang,"

Ujar Gak-hujin.

"Tiong-ji adalah murid pertama kami, Peng-ci juga murid kami, kami tidak boleh pilih kasih dan membela salah satu pihak. Sebenarnya siapa yang salah, tiada jeleknya kita coba-coba minta pertimbangan Lik-tiok-ong itu."

Gak-hujin tidak enak untuk mengatakan buku itu adalah sebab pertimbangan antara Lenghou Tiong dan keluarga Ong, tapi dialihkannya pihak yang berselisih kepada Lim Peng-ci.

Segera Gak Put-kun menyokong usul sang istri.

"Benar! Ih-suya, bagaimana kalau engkau mengirim orang membawa tandu pergi memapak Lik-tiok-ong ke sini?"

"Sifat orang tua itu sangat aneh,"

Sahut Ih-suya.

"Jika orang lain ingin minta pertolongannya, bila dia tidak mau, biarpun menyembah padanya juga dia takkan gubris. Sebaliknya kalau dia sudah mau ikut campur, maka hendak ditolaknya juga tidak dapat."

"Sifat demikian sama dengan kaum kita,"

Kata Gak-hujin.

"Agaknya Lik-tiok-ong ini adalah Cianpwe kalangan Bu-lim. Suko, kita benar-benar terlalu picik dan kerdil."

"Lik-tiok-ong bukan orang Bu-lim melainkan cuma seorang tukang bambu yang kerjanya hanya pandai membuat keranjang bambu dan tikar bambu,"

Tutur Goan-pa sambil tertawa.

"Cuma dia pun mahir memetik kecapi dan pandai meniup seruling, pula dapat melukis, mengukir bambu, sebab itulah penduduk setempat rada menghormat padanya."

"Tokoh demikian mana boleh kita lewatkan begini saja,"

Ujar Gak-hujin.

"Ong-loyacu sudilah engkau mengiringi kami pergi menyambangi si tukang bambu yang istimewa itu."

Karena Gak-hujin sudah mengajak, terpaksa Ong Goan-pa menurut, dengan anak cucunya dan Gak Put-kun suami istri serta anak murid Hoa-san-pay mereka lantas berangkat ke kota timur dengan Ih-suya sebagai petunjuk jalan.

Sesudah melalui beberapa jalan besar dan kecil, akhirnya sampai di suatu gang yang agak sempit.

Ujung gang itu penuh semak-semak bambu yang rimbun dan luas, pemandangan cukup indah.

Baru saja mereka memasuki gang itu sudah terdengar suara kecapi yang merdu.

Di tengah sunyi itu sungguh amat berbeda keramaian di jalan lain di kota Lokyang.

"Lik-tiok-ong ini benar-benar dapat menikmati kehidupannya yang tenteram,"

Bisik Gak-hujin kepada sang suami. Pada saat itu juga mendadak terdengar suara kecapi lantas berhenti juga. Terdengar suara seorang tua bertanya.

"Tamu agung yang sudi berkunjung ke gubuk yang kotor ini, entah ada se

Jilid not kecapi dan seruling yang aneh ingin minta pendapatmu."

"Ada not seruling ingin minta pendapatku? Hehe, ini benar-benar terlalu menghargai si tukang bambu tua,"

Sahut Lik-tiok-ong. Belum Ih-suya bersuara lagi, buru-buru Ong Kah-ki sudah menimbrung.

"Ong-loyacu dari keluarga golok emas datang berkunjung."

Ia sengaja menonjolkan merek sang kakek yang termasyhur dan disegani di kota Lokyang dan mengira seorang tukang bambu tua tentu akan cepat ke luar menyambut.

Tak tersangka Lik-tiok-ong itu malah mendengus, katanya.

"Hm, golok emas atau golok perak segala, apa gunanya kalau tidak lebih berharga daripada golok pembelah bambuku dari besi rongsokan ini. Tukang bambu tua tidak pergi menyambangi Ong-loyacu, maka Ong-loyacu yang perlu berkunjung pada si tukang bambu tua."

Kah-ki menjadi gusar, teriaknya.

"Yaya, tukang bambu tua ini adalah orang tidak tahu adat, buat apa bertemu dengan dia? Lebih baik kita pulang saja!"

Tapi Gak-hujin lantas berkata.

"Toh kita sudah datang di sini, tiada alangannya kita minta pendapat Lik-tiok-ong tentang not musik ini."

Ong Goan-pa hanya mendengus saja tanpa menjawab. Sedangkan Ih-suya lantas menerima buku not dan melangkah masuk ke tengah semak bambu yang rimbun itu. Terdengar suara Lik-tiok-ong berkata.

"Baiklah, boleh kau taruh di situ!"

"Tolong tanya Tiok-ong, apakah ini benar-benar not musik atau rumus rahasia dari sesuatu ilmu silat yang sengaja ditulis dalam bentuk not musik?"

Tanya Ih-suya.

"Rumus rahasia ilmu silat apa? Sudah tentu ini adalah not kecapi,"

Jawab Lik-tiok-ong.

Lalu suara kecapi mulai menggema, mengalun merdu.

Sejenak Lenghou Tiong mendengarkan, segera teringat olehnya lagu yang dibunyikan kecapi ini memang benar adalah lagu yang dipetik oleh Lau Cing-hong tempo hari.

Sekarang lagunya masih ada, tapi orangnya sudah meninggal, tanpa terasa hatinya merasa pilu.

Bab 47.

Lenghou Tiong Belajar Main Kecapi Tidak lama kemudian mendadak suara kecapi itu meninggi, makin keras makin tinggi, suaranya teramat tajam melengking, setelah lebih tinggi pula beberapa iramanya, sekonyong-konyong "cring", senar kecapi itu putus lagi seutas.

Terdengar Lik-tiok-ong bersuara heran, katanya.

"Aneh, not kecapi ini sungguh sangat aneh dan sukar dimengerti."

Seketika Ong Goan-pa saling pandang dengan anak cucunya, diam-diam mereka merasa senang. Dalam pada itu terdengar Lik-tiok-ong sedang berkata.

"Biar kucoba lagi not seruling ini."

Menyusul suara seruling lantas berkumandang pula dari tengah-tengah semak bambu.

Semula suara seruling itu sangat merdu menawan hati.

Tapi waktu nadanya berubah menjadi rendah, bahkan makin lama makin rendah sampai hampir-hampir tak terdengar, lalu irama seruling itu menjadi parau dan tidak enak didengar lagi.

Lik-tiok-ong menghela napas, katanya.

"Ih-laute, kau sendiri dapat meniup seruling, tapi nada yang begini rendah mana dapat ditiup keluar? Not kecapi dan seruling ini rasanya tidak palsu, tapi orang yang menggubah lagu ini rupanya sengaja mengada-ada dan bergurau dengan orang lain. Boleh kau pulang dulu, biar aku coba-coba lagi mempelajarinya lebih mendalam."

"Mana Kiam-bohnya?"

Tanya Ong Tiong-kiang.

"Kiam-boh?"

Ih-suya melengak.

"O, Lik-tiok-ong bilang, sementara ditinggalkan di sini dan akan dipelajarinya lebih mendalam."

"He, lekas mengambilnya kembali,"

Seru Tiong-kiang.

"Itu adalah Kiam-boh yang tak ternilai, entah berapa banyak orang persilatan selalu mengincar dan ingin memilikinya, mana boleh sembarangan ditinggalkan pada seorang yang tidak berkepentingan?"

Ih-suya mengiakan lagi dan baru saja ia hendak putar balik ke tengah semak-semak bambu sana, tiba-tiba terdengar seruan Lik-tiok-ong.

"Eh, Kokoh (bibi), mengapa engkau keluar?"

Keruan semua merasa heran.

"Berapa kira-kira umur Lik-tiok-ong itu?"

Tanya Ong Goan-pa kepada Ih-suya dengan suara bertanya.

"Lebih dari 70 tahun, mungkin sudah hampir 80 tahun,"

Sahut Ih-suya. Diam-diam semua orang berpikir.

"Seorang kakek berusia hampir 80 tahun dan masih punya seorang bibi, maka nenek ini mungkin sudah ada seratus tahun umurnya?"

Dalam pada itu terdengar suara seorang perempuan sedang menjawab, ditilik dari suaranya toh belum terlalu tua.

"Bibi, silakan lihat, buku musik ini rada-rada aneh,"

Demikian terdengar Lik-tiok-ong lagi berkata.

Kembali terdengar perempuan tua itu bersuara "ehm" , lalu suara kecapi mulai berbunyi, agaknya iramanya sedang disetel dulu, lalu berhenti sejenak, mungkin senar yang putus tadi sedang disambung, habis itu disetel lagi dan akhirnya baru mulai dipetik.

Semula irama kecapi itu sama dengan permainan Lik-tiok-ong tadi, tapi kemudian mulai berbeda, nada kecapi itu makin lama makin tinggi, namun irama yang dibawanya itu berjalan lancar dan gampang saja dapat mengikuti nada yang tinggi itu.

Sungguh girang Lenghou Tiong tak terkatakan, sayup-sayup suara kecapi itu seperti keadaan pada malam itu ketika Lau Cing-hong memetik kecapi dan membawakan lagu Hina Kelana ini.

Walaupun Lenghou Tiong tidak paham seni musik, tapi merasa lagu yang dibawakan nenek itu sama dengan lagu yang dibawakan Lau Cing-hong dahulu, cuma iramanya agak berbeda.

Irama kecapi yang dipetik si nenek ini ulem meresap, kedengarannya sangat menyegarkan, sedikit pun tidak menimbulkan semangat yang bergolak-golak seperti irama yang dibawakan Lau Cing-hong.

Tidak lama kemudian suara kecapi mulai lompat seakan-akan semakin menjauh, mirip si pemetik kecapi itu telah pergi belasan meter jauhnya, lalu makin menjauh seakan-akan sudah beberapa li dan akhirnya makin perlahan dan makin lirih sehingga tak terdengar pula.

Lagu itu belum selesai dipetik, hanya saja suaranya terlalu rendah dan jauh sehingga sukar didengar.

Ong Goan-pa, Gak Put-kun dan lain-lain juga tidak paham seni musik, namun tanpa terasa mereka pun tenggelam dalam lamunan suara kecapi itu seakan-akan ikut terbawa ke tempat yang amat jauh oleh suara musik itu.

Ketika suara kecapi itu berhenti, seketika terdengar suara seruling yang halus mulai berbunyi di samping suara kecapi.

Suara seruling itu mengalun merdu dan perlahan makin mendekat.

Tiba-tiba pada seruling itu berubah melengking tinggi, lalu merendah pula, sekonyong-konyong berubah perlahan, lalu berbunyi keras lagi.

Tiba-tiba suara seruling seakan-akan sekaligus memancarkan macam-macam suara yang berbeda, tapi lambat laun macam-macam suara itu berkurang satu per satu dan akhirnya lenyap semua, suara seruling itu telah berhenti.

Lama juga suara seruling itu berhenti barulah semua orang seperti baru sadar dari bermimpi, sungguh sukar dipercaya bahwa sebuah kecapi tujuh senar dan sebatang bambu kecil itu mampu mengeluarkan macam-macam nada suara yang begitu aneh.

Gak-hujin menghela napas panjang penuh kekaguman, katanya.

"Sungguh hebat. Lagu apakah itu tadi, Tiong-ji?"

"Lagu itu disebut 'Lagu Hina Kelana',"

Sahut Lenghou Tiong.

"Kepandaian nenek itu sungguh sangat hebat, baik kecapi maupun seruling telah dimainkannya dengan bagus sekali."

"Meski lagu itu sangat bagus dan aneh, tapi memang diperlukan seorang ahli musik seperti si nenek baru dapat memperdengarkan keindahan lagu itu,"

Kata Gak-hujin "Musik sebagus ini agaknya kau pun baru pertama kali ini mendengarnya "

"Tidak, apa yang Tecu dengar dahulu jauh lebih bagus daripada barusan ini,"

Kata Lenghou Tiong.

"Mana mungkin!"

Ujar Gak-hujin.

"Masakah di dunia ini masih ada orang yang lebih mahir daripada nenek ini dalam hal memetik kecapi dan meniup seruling?"

"Lebih pandai sih memang tidak,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Cuma yang pernah Tecu dengar dahulu adalah paduan suara dari dua orang pemain, yang satu memetik kecapi dan yang lain meniup seruling, yang dibawakan juga lagu Hina Kelana ini ...."

Belum habis ucapannya, rupanya si nenek yang tak kelihatan di balik semak bambu itu pun mendengar apa yang dikatakan Lenghou Tiong, terdengar suara kecapi dibunyikan perlahan beberapa kali dan sayup-sayup terdengar suaranya berkata.

"Paduan suara kecapi dan seruling, di dunia ini ke mana lagi untuk mencari seorang demikian ini?"

Kemudian terdengar Lik-tiok-ong berseru.

"Ih-suya, buku ini memang betul berisi not kecapi dan seruling, ini baru saja dimainkan oleh bibiku, sekarang boleh kau ambil kembali buku ini."

Ih-suya mengiakan, lalu masuk ke tengah semak bambu, waktu keluar lagi dia sudah membawa buku musik itu. Terdengar Lik-tiok-ong berkata pula.

"Betapa bagus lagu yang tertulis itu sungguh tiada bandingannya di dunia ini. Buku ini adalah benda pusaka dan jangan sekali-kali jatuh ke tangan orang biasa. Kau tidak dapat memainkannya dan jangan sekali-kali memaksakan diri mencobanya, kalau tidak menurut tentu akan merugikan kau sendiri."

Kembali Ih-suya mengiakan, lalu buku not musik itu diserahkannya kembali kepada Ong Goan-pa.

Dengan telinga sendiri Goan-pa sudah mendengar permainan kecapi dan seruling, ia percaya isi buku itu memang betul adalah not musik, segera ia pun mengembalikan buku itu kepada Lenghou Tiong dan berkata.

"Maaf!"

Lenghou Tiong mendengus dan sebenarnya hendak melontarkan beberapa patah kata ejekan, tapi Gak-hujin keburu mengedipinya sehingga dia urung membuka mulut.

Karena merasa kehilangan muka, Ong Goan-pa dan anak cucunya mendahului meninggalkan tempat itu disusul oleh Gak Put-kun.

Sebaliknya Lenghou Tiong masih berdiri termangu-mangu di situ sambil memegangi buku not musik itu.

"Tiong-ji, apa kau tidak ikut pulang?"

Tegur Gak-hujin.

"Sebentar lagi segera Tecu akan pulang,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Hendaknya lekas pulang untuk mengaso,"

Pesan Gak-hujin.

"Lenganmu baru saja keseleo, tidak boleh menggunakan tenaga keras."

Lenghou Tiong mengiakan.

Sesudah orang lain sudah pergi semua, suasana di gang kecil itu menjadi sunyi senyap.

Hanya suara berkereseknya daun bambu bertiup angin mengiringi Lenghou Tiong yang masih berdiri melamun di situ sambil memegangi buku musik.

Teringat olehnya dahulu di tengah malam Lau Cing-hong bertemu dengan Kik Yang, di sanalah kedua tokoh itu telah menciptakan lagu yang ajaib ini.

Sekarang walaupun si nenek di tengah semak-semak bambu itu juga mahir memetik kecapi dan meniup seruling dengan sama menakjubkan, namun sayang dia hanya memainkan kedua jenis alat musik itu secara terpisah dan Lik-tiok-ong itu ternyata tidak mampu memainkannya bersama dia.

Agaknya paduan suara kecapi dan seruling dalam membawakan lagu Hina Kelana ini selanjutnya akan tamat riwayatnya dan tidak dapat didengar lagi untuk kedua kalinya.

Kemudian Lenghou Tiong berpikir pula.

"Lau-susiok dan Kik-tianglo sebenarnya adalah musuh, yang satu adalah tokoh golongan Cing-pay dan yang lain adalah gembong Mo-kau, tapi akhirnya mereka merasa sepaham dan mengikat persahabatan sehidup semati, bahkan menciptakan 'Lagu Hina Kelana' yang bagus ini bersama. Ketika mereka berdua meninggal dunia bersama, jelas mereka tidak merasa menyesal sedikit pun, jauh lebih senang daripada hidupku sebatang kara di dunia. Laksute yang paling menghormat dan cinta padaku itu malah terbinasa oleh tutukanku sendiri."

Teringat akan kematian Liok Tay-yu yang mengenaskan itu, tanpa terasa Lenghou Tiong berduka, air matanya menetes jatuh di atas buku musik itu, akhirnya suara tangisnya yang tersenggak-sengguk terdengar pula.

Tiba-tiba suara Lik-tiok-ong terdengar berkumandang dari balik semak-semak bambu sana.

"Sebab apakah sobat itu tidak pergi dan malah menangis di sini?"

"Wanpwe berduka akan nasib sendiri yang malang dan terkenang pula kepada kematian kedua Locianpwe yang menggubah lagu ini sehingga tanpa sadar telah mengganggu ketenangan Losiansing, harap dimaafkan,"

Habis berkata segera Lenghou Tiong hendak melangkah pergi.

"Sobat kecil, ada beberapa patah ingin kuminta keteranganmu, apakah sudi masuk kemari untuk omong-omong?"

Kata Lik-tiok-ong.

Tadi Lenghou Tiong mendengar sendiri cara bicara kakek tukang bambu itu sangat ketus dan angkuh terhadap Ong Goan-pa, sungguh tidak tersangka bahwa dia justru berlaku begitu ramah terhadap dirinya seorang pemuda yang tak terkenal.

Maka jawabnya kemudian.

"Cianpwe ingin tanya apa, tentu Wanpwe akan memberi penjelasan."

Lalu ia pun melangkah ke depan menyusuri hutan bambu itu.

Jalanan kecil itu membelok beberapa kali di tengah hutan bambu, kemudian tertampaklah di depan sana ada lima buah gubuk kecil.

Di sebelah kiri dua dan di sebelah kanan tiga.

Semuanya terbuat dari bambu.

Terlihat seorang kakek melangkah ke luar dari gubuk di sebelah kanan dan memapaknya dengan tertawa.

"Silakan masuk untuk minum teh, sobat kecil!"

Demikian sapa orang tua itu.

Lenghou Tiong melihat badan Lik-tiok-ong itu rada bungkuk, kepala botak, rambutnya jarang-jarang.

Tangan lebar dan kaki besar, semangatnya sangat kuat.

Segera ia memberi hormat dan berkata.

"Wanpwe Lenghou Tiong memberikan salam hormat!"

Kakek itu bergelak tertawa, sahutnya.

"Aku cuma kebetulan lebih tua beberapa tahun, kita tidak perlu banyak adat. Marilah silakan masuk, silakan!"

Sesudah Lenghou Tiong ikut masuk ke dalam pondok kecil itu, terlihat meja kursi, balai-balai dan lemari, semuanya terbuat dari bambu.

Di sana-sini terdapat pula hiasan ukiran bambu dengan tulisan yang indah, di atas meja tertaruh sebuah kecapi dan sebatang seruling, keadaan ruangan itu menjadi lebih mirip kamar tulis kaum sastrawan daripada rumah seorang tukang bambu.

"Silakan minum, sobat cilik,"

Kata Lik-tiok-ong sesudah menuangkan secangkir teh dari sebuah kendi porselen hijau. Dengan penuh hormat Lenghou Tiong menerima cangkir teh itu.

"Sobat kecil, buku not musik ini entah kau dapatkan dari mana? Apakah sudi memberi keterangan?"

Tanya Lik-tiok-ong lebih lanjut.

Lenghou Tiong melengak atas pertanyaan itu.

Buku musik itu banyak mengandung rahasia, sebab itulah sang guru dan ibu gurunya saja belum pernah diberi tahu.

Dahulu maksud tujuan Lau Cing-hong dan Kik Yang menyerahkan buku itu padanya harapannya adalah semoga buku itu dapat diturunkan kepada angkatan baru dan supaya tidak lenyap begitu saja lagu ciptaan mereka.

Sekarang Lik-tiok-ong dan bibinya ternyata juga ahli seni musik dan dapat memainkan lagu itu sedemikian bagusnya, biarpun usia mereka sudah tua, tapi selain mereka rasanya di dunia ini tiada orang lain lagi yang sesuai untuk diserahi lagu indah itu.

Seumpama di dunia ini ada yang lebih pandai, tapi jiwa sendiri takkan bertahan lebih lama lagi dan tentu tidak sempat buat menemukan ahli musik yang lain.

Setelah berpikir sejenak, kemudian katanya.

"Kedua Cianpwe yang menggubah lagu ini, yang seorang mahir memetik kecapi dan yang lain ahli meniup seruling, kedua orang telah mengikat persahabatan dan bersama-sama menciptakan lagu ini, cuma sayang mereka mengalami malapetaka dan telah meninggal dunia bersama. Menurut pesan kedua Cianpwe itu, lagu yang diserahkan kepadaku ini diharapkan akan mendapatkan ahli waris yang tepat agar supaya tidak sampai lenyap begitu saja di dunia ramai ini."

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula.

"Tadi dapat kudengar bibi Locianpwe memainkan kecapi dan seruling secara amat indah, Tecu sangat bersyukur lagunya telah menemukan tuannya, maka mohon Locianpwe sudi menerima buku musik ini dan sampaikan kepada Popo (nenek) supaya Tecu tidak sia-siakan maksud tujuan kedua Cianpwe menggubah lagu ini, dengan demikian pun terkabul juga cita-citaku ini."

Habis berkata ia terus mempersembahkan buku lagu itu dengan penuh khidmat. Lik-tiok-ong tidak berani menerimanya begitu saja, katanya.

"Aku harus tanya dulu kepada Kokoh, entah beliau sudi menerima atau tidak?"

Maka terdengarlah suara si nenek dari gubuk sebelah sana.

"Maksud luhur Lenghou-siansing yang ingin memberikan lagu bagus itu, untuk menolaknya akan kurang hormat, jika menerimanya merasa malu. Entah kedua Cianpwe penggubah lagu itu bernama siapa, dapatkah Lenghou-siansing memberitahukan?"

"Jika Cianpwe ingin mengetahui sudah tentu akan kuterangkan,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Kedua penggubah lagu itu adalah Lau Cing-hong Susiok dan Kik Yang, Kik-tianglo."

"Ah ... kiranya mereka berdua,"

Demikian terdengar si nenek bersuara, agaknya sangat heran dan terkejut.

"Apakah Cianpwe kenal pada mereka?"

Tanya Lenghou Tiong. Nenek itu tidak menjawab. Sejenak kemudian barulah ia berkata.

"Lau Cing-hong adalah tokoh Heng-san-pay, sebaliknya Kik Yang adalah gembong Mo-kau, kedua pihak adalah musuh bebuyutan, mengapa mereka bisa menggubah lagu bersama? Sungguh hal ini sukar untuk dimengerti."

Walaupun Lenghou Tiong belum pernah tahu muka nenek itu, tapi sesudah mendengar permainan kecapi dan serulingnya tadi, ia merasa si nenek tentu adalah seorang tokoh angkatan tua yang baik budi dan welas asih, pasti takkan menipu dirinya apalagi orang mengetahui pula asal usul Lau Cing-hong dan Kik Yang, terang juga kaum persilatan yang sama.

Maka tanpa ragu lagi ia terus bercerita tentang Lau Cing-hong ingin "cuci tangan" , tapi dirintangi Co-bengcu dari Ko-san-pay, dan pertemuan Lau Cing-hong dengan Kik Yang di pegunungan sunyi di sana kedua orang bersama memainkan kecapi serta seruling, akhirnya gugur bersama dibunuh oleh Hui Pin, jago terkemuka Ko-san-pay.

Sebelum mengembuskan napas penghabisan kedua orang itu minta pertolongannya agar mencari orang yang paham seni musik dan menyerahkan lagu itu padanya.

Begitulah ia menuturkan semua pengalamannya itu dengan sejujurnya.

Selama itu si nenek terus mendengarkan dengan cermat tanpa bersuara.

Selesai Lenghou Tiong bicara barulah nenek itu bertanya.

"Sudah terang ini adalah buku musik mengapa si golok emas Ong Goan-pa itu mengatakannya sebagai kitab pusaka ilmu silat segala?"

Maka Lenghou Tiong bercerita pula tentang tertawannya Lim Cin-lam dan istrinya oleh orang Jing-sia-pay dan kemudian ditolong oleh Bok Ko-hong, sebelum ajalnya orang tua itu memberi pesan agar disampaikan kepada Lim Peng-ci, tapi hal ini telah menimbulkan rasa curiga keluarga Ong dan sebagainya.

"O, kiranya demikian,"

Kata si nenek.

"Seluk-beluk urusan ini jika mau kau katakan terus terang kepada guru dan ibu-gurumu, bukankah segala prasangka itu seakan lenyap dengan sendirinya? Sebaliknya aku adalah orang yang belum pernah kau kenal, kenapa kau malah bicara sejujurnya kepadaku?"

"Tecu sedikit pun tidak tahu apa sebabnya?"

Sahut Lenghou Tiong.

"Mungkin sesudah mendengar permainan kecapi Cianpwe yang indah tadi lantas timbul rasa kagum dan hormatku atas keluhuran Cianpwe sehingga tidak merasa sangsi apa pun."

"Jika begitu, tadi kau malah sangsi kepada guru dan ibu-gurumu?"

Tanya si nenek.

"Sekali-kali Tecu tidak berani punya pikiran demikian,"

Sahut Lenghou Tiong cepat.

"Cuma ... cuma Suhu diam-diam sudah mencurigaiku. Tetapi, ai, ini pun tak dapat menyalahkan beliau."

"Dari suaramu dapat diketahui tenagamu sangat lemah, orang muda tidak seharusnya begitu, entah apa sebabnya? Apakah kau baru sakit payah atau pernah terluka parah?"

"Ya, pernah menderita luka dalam yang amat berat,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Tiok-hiantit, coba kau bawa anak muda itu ke pinggir jendelaku, biar kuperiksa nadinya,"

Kata nenek itu.

Terdengar Lik-tiok-ong mengiakan, lalu Lenghou Tiong diajaknya ke pinggir jendela gubuk kecil di sebelah kiri sana dan menyuruh dia menjulurkan tangan kiri ke dalam gubuk melalui bawah kerai bambu.

Di balik tirai bambu itu teraling-aling pula selapis tirai sutera yang halus.

Samar-samar Lenghou Tiong hanya melihat ada bayangan orang, tapi bagaimana mukanya sama sekali tidak kelihatan.

Segera dirasakan ada tiga buah jari yang dingin memegang nadi pergelangan tangannya, ujung ketiga jari itu terasa halus dan licin, tidak mirip anggota badan perempuan.

Setelah memegangi sebentar nadi Lenghou Tiong, terdengar nenek itu bersuara kejut dan berkata.

"Aneh, sungguh sangat aneh!"

Selang sejenak, lalu katanya pula.

"Coba ganti tangan kanan!"

Selesai memeriksa nadi kedua tangan Lenghou Tiong, sampai agak lama nenek itu tertegun diam. Lenghou Tiong tersenyum, katanya.

"Harap Cianpwe tidak perlu khawatir bagi keselamatanku. Tecu sadar tidak lama lagi hidup di dunia ini, sudah lama Tecu tidak pikiran soal ini lagi."

"Mengapa kau tahu jiwamu tak bisa hidup lebih sama lagi?"

Tanya si nenek.

"Tecu telah salah membunuh Sute sendiri dan menghilangkan Ci-he-pit-kip milik perguruan, diharap selekasnya kitab pusaka itu dapat diketemukan habis itu Tecu akan segera membunuh diri untuk menyusul Sute di alam baka."

"Ci-he-pit-kip katamu?"

Si nenek menegas.

"Ini pun sesuatu benda yang luar biasa. Dan cara bagaimana kau bisa salah membunuh Sutemu sendiri?"

Segera Lenghou Tiong bercerita pula tentang maksud Tho-kok-lak-sian hendak menyembuhkan lukanya, tapi enam arus hawa murni mereka malah tertinggal di dalam badannya dan perang tanding di antara arus hawa murni itu sendiri.

Lalu Sumoaynya mencuri kitab pusaka dengan maksud hendak membantu menyembuhkan lukanya, namun dirinya telah menolak menerima kitab pusaka itu lalu Liok-sute sengaja membacakan isi kitab itu kemudian dirinya menutuk roboh sang Sute, mungkin tutukannya terlalu keras sehingga mengakibatkan kematiannya.

Semua itu diceritakan pula dengan jelas.

Habis mendengar mendadak nenek itu berkata.

"Sutemu itu bukan terbunuh olehmu."

Lenghou Tiong terkesiap.

"Bukan aku yang membunuhnya?"

Ia menegas.

"Ya, waktu itu tenagamu sendiri sangat lemah, hanya tutukan kedua Hiat-to saja pasti takkan mampu membinasakan dia,"

Kata si nenek.

"Sutemu itu dibunuh oleh orang lain dan bukan olehmu."

"Lalu ... lalu siapakah yang membunuh Liok-sute?"

Demikian Lenghou Tiong seperti bergumam sendiri.

"Walaupun orang yang mencuri Ci-he-pit-kip itu belum tentu adalah si pembunuh Sutemu, tapi di antara keduanya sedikit banyak mungkin ada hubungannya,"

Kata si nenek lebih lanjut.

Lenghou Tiong menghela napas lega, rasa batinnya yang tertekan selama ini seketika menjadi enteng.

Sebenarnya dia adalah seorang yang sangat pintar dan cerdik, semula ia pun sudah berpikir bahwa tutukannya yang tak bertenaga itu mana bisa mengakibatkan kematian Liok Tay-yu?

Cuma saat itu dalam hati kecilnya terasa sangat menyesal, ia merasa Liok Tay-yu biarpun bukan mati tertutuk olehnya, paling tidak Sute itu mati lantaran dia.

Ia merasa seorang laki-laki sejati mana boleh mencari alasan untuk mengelakkan tanggung jawab dan membersihkan kesalahan sendiri?

Apalagi akhir-akhir ini sikap Gak Leng-sian semakin dingin padanya, saking pedih dan kecewanya ia menjadi putus asa dan bosan hidup, yang terpikir selalu olehnya hanyalah "mati"

Melulu, lain tidak. Tapi kini demi si nenek mengingatkan dia, seketika terbangkit rasa penasarannya.

"Balas dendam! Ya, balas dendam! Harus membalas dendam Liok-sute!"

Dalam pada itu terdengar si nenek berkata pula.

"Kau mengaku di dalam tubuhmu ada enam arus hawa murni sedang saling gontok sendiri, tapi dari denyut nadimu tadi aku merasa ada delapan arus hawa murni. Mengapa bisa demikian?"

Maka tertawalah Lenghou Tiong, segera menerangkan pula tentang Put-kay Hwesio yang juga memaksa hendak menyembuhkan dia itu.

"Sifatmu sebenarnya sangat periang,"

Kata si nenek pula.

"Walaupun denyut nadimu agak kacau tapi tiada tanda-tanda sesuatu kelemahan. Bagaimana kalau aku memetik kecapi dan membawakan satu lagu pula agar kau suka memberi penilaian?"

"Perhatian Cianpwe kepada diriku tentu akan kuterima dengan penuh rasa terima kasih,"

Sahut Lenghou Tiong.

Sejenak kemudian, suara kecapi pun mula menggema pula.

Kini lagunya sangat halus dan merdu, seperti nyanyian seorang ibu yang lagi meninabobokan anaknya, tidak lama mendengar, sayup-sayup Lenghou Tiong merasa mengantuk.

Katanya di dalam hati.

"Jangan tidur, jangan tidur! Kau sedang mendengarkan permainan kecapi nenek itu, jika tertidur akan terasa tidak sopan."

Namun begitu matanya terasa semakin sepat dan makin merapat sehingga akhirnya sukar terbuka lagi, tubuhnya lantas lemas terkulai, lalu tertidur.

Di tengah impiannya dia masih terus mendengar suara kecapi yang merdu itu, seperti ada sebuah tangan yang halus sedang mengelus-elus kepalanya terasa seperti belaian kasih ibunda pada waktu masih kanak-kanak.

Agak lama juga, ketika suara kecapi berhenti, seketika Lenghou Tiong juga terjaga dan cepat ia merangkak bangun.

Keruan ia merasa malu dan berkata.

"Tecu benar-benar tidak tahu aturan, tidak memerhatikan permainan kecapi Cianpwe, sebaliknya malah tertidur, sungguh perasaan Tecu tidak enak."

"Tak perlu kau menyesali diri sendiri,"

Kata si nenek.

"Lagu yang kubawakan barusan ini memang mempunyai pengaruh tidak sedikit dengan harapan dapat mengatur kembali hawa murni dalam tubuhmu itu dengan baik. Sekarang coba mengerahkan sedikit tenaga, apakah rasa muak dan sesak itu sudah berkurang atau tidak?"

Lenghou Tiong sangat girang dan mengucapkan terima kasih.

Cepat ia duduk bersimpuh dan coba mengerahkan tenaga dalam.

Ia merasa kedelapan arus hawa murni itu masih terus saling terjang di dalam badan, tapi rasa sesak karena bergolaknya darah di rongga dada telah banyak berkurang.

Akan tetapi hanya bertahan sebentar saja kembali kepalanya terasa pusing dari badan lemas dan terkapar di atas tanah.

Melihat itu lekas Lik-tiok-ong mendatangi dan memayangnya masuk ke dalam rumah, sesudah ditidurkan sekian lama baru rasa pusing kepalanya hilang.

"Lwekang Tho-kok-lak-sian dan Put-kay Taysu itu teramat tinggi, hawa murni yang mereka tinggalkan itu sukar diatur oleh suara kecapi yang lemah ini sehingga membikin kau lebih menderita, sungguh aku merasa tidak enak hati,"

Kata nenek itu.

"Janganlah Cianpwe berkata demikian,"

Ujar Lenghou Tiong cepat.

"Dapat mendengar lagu yang merdu tadi sudah tidak sedikit manfaat yang diperoleh Tecu."

Tiba-tiba ia melihat Lik-tiok-ong menyodorkan secarik kertas yang baru saja ditulis olehnya, waktu Lenghou Tiong membaca isinya, kiranya tertulis.

"Mintalah agar diajarkan lagu itu sekalian."

Tergerak juga hati Lenghou Tiong, segera ia pun memohon.

"Bilamana tidak menjadi keberatan Cianpwe sungguh Tecu ingin mempelajari lagu penyembuhan tadi agar lambat laun Tecu dapat mengatur hawa murni yang bergolak di dalam tubuh ini."

Nenek itu tidak lantas menjawab, selang sejenak baru membuka suara.

"Sudah berapa jauh kepandaianmu memetik kecapi? Coba mainkan satu lagu."

Wajah Lenghou Tiong menjadi merah, katanya.

"Selamanya Tecu belum pernah belajar maka sama sekali tidak paham. Memang Tecu terlalu sembrono ingin belajar permainan kecapi yang amat tinggi dari Cianpwe ini, harap suka dimaafkan kebodohan Tecu."

Sebenarnya sifat Lenghou Tiong biasanya sangat angkuh kecuali terhadap guru, ibu-guru dan Siausumoaynya, jarang sekali dia bersikap rendah hati kepada orang lain.

Tapi sejak dia mendengar permainan kecapi dan seruling si nenek, pula mendengar tutur katanya yang ramah tamah dan berbudi luhur, tanpa terasa ia menjadi sangat menghormatinya.

Segera ia pun berkata kepada Lik-tiok-ong.

"Biarlah sekarang Tecu mohon diri saja."

Lalu ia membungkuk tubuh dan hendak melangkah pergi.

"Nanti dulu,"

Terdengar si nenek menahannya.

"Aku tidak dapat membalas apa-apa atas pemberian lagu indah ini, sebaliknya lukamu sukar disembuhkan hal ini pun membuat aku tidak tenteram. Tiok-hiantit, mulai besok boleh mengajarkan pengantar dasar memetik kecapi kepada Lenghou-siansing, jika dia cukup sabar dan dapat tinggal agak lama di Lokyang sini, maka tiada alangannya juga akan kuajarkan laguku 'Jing-sim-boh-sian-ciu' ini padanya."

Begitulah mulai esok paginya Lenghou Tiong lantas datang ke rumah bambu itu untuk belajar main kecapi.

Lik-tiok-ong telah mengeluarkan kecapi tua dan mulai memberi petunjuk tentang dasar-dasar seni suara.

Sebenarnya Lenghou Tiong boleh dikata buta huruf dalam hal musik, tapi dia adalah seorang cerdik, sekali diberi tahu lantas paham berikutnya, sekali dengar tak pernah lupa lagi.

Tentu saja Lik-tiok-ong sangat senang, sengaja ia mengajarkan cara memetik kecapi, lalu Lenghou Tiong disuruh coba membawakan satu "Pik-siau-kim"

Yang paling cekak dan sederhana.

Hanya belajar main beberapa kali saja Lenghou Tiong sudah biasa menguasainya, bahkan irama permainannya sedemikian merdu seperti pemusik saja.

Selesai mengikuti lagu permulaan yang dimainkan Lenghou Tiong itu, tanpa merasa si nenek di gubuk sebelah menghela napas gegetun.

Katanya.

"Lenghou-siansing, sedemikian pintar kau belajar kecapi, rasanya dalam waktu singkat saja kau sudah dapat belajar laguku 'Jing-sim-boh-sian-ciu' (lagu penyebar bajik dan pemurni batin) ini."

"Banyak terima kasih atas pujian Cianpwe,"

Sahut Lenghou Tiong dengan rendah hati.

"Tapi entah kapan Tecu baru sanggup memainkan lagu Hina Kelana seperti cara Cianpwe memainkannya kemarin."

"Kau ... kau juga ingin memainkan 'Lagu Hina Kelana' itu?"

Tanya si nenek. Muka Lenghou Tiong menjadi merah, sahutnya.

"Karena Tecu sangat kagum terhadap permainan kecapi dan seruling Cianpwe kemarin, maka timbul juga impian muluk-muluk ingin belajar lagu itu. Padahal Lik-tiok Cianpwe saja tidak sanggup memainkan lagu itu, apalagi Tecu yang masih hijau pelonco ini."

Nenek itu tidak bersuara pula. Sampai agak lama baru terdengar ia berkata dengan suara perlahan.

"Jika kau dapat memainkan lagu itu, hal ini tentu saja sangat baik ...."

Tapi suaranya makin lama makin lirih sehingga tak terdengar lagi apa yang diucapkan selanjutnya.

Begitulah berturut-turut belasan hari Lenghou Tiong selalu datang ke perumahan bambu itu untuk belajar kecapi, petangnya baru pulang, makan siang juga dilakukan di tempat Lik-tiok-ong.

Biarpun makanannya sangat sederhana, tapi rasanya jauh lebih lezat daripada ayam daging yang dimakannya di rumah Ong Goan-pa.

Ada beberapa hari Lik-tiok-ong sibuk membikin alat-alat bambu, maka si nenek sendiri yang memberi pelajaran.

Lama-kelamaan Lenghou Tiong merasa kepandaiannya sudah banyak maju, sering kali Lik-tiok-ong tidak mampu memberi penjelasan bila diajukan pertanyaan sehingga perlu si nenek memberi petunjuk.

Tapi bagaimana wajah si nenek sebegitu jauh belum dilihatnya.

Hari itu si nenek mengajarkan sebuah lagu "terkenang"

Padanya.

Sesudah mendengarkan beberapa kali, lalu Lenghou Tiong mulai memetikkan lagu itu.

Tanpa terasa ia pun terkenang kepada kejadian masa lampau waktu dia bermain bersama Gak Leng-sian, tatkala mana si nona benar-benar mencurahkan kasih mesranya kepada dirinya, tapi entah mengapa sesudah munculnya Lim Peng-ci, sikap Siausumoaynya lantas semakin dingin kepadanya.

Karena pikirannya melayang-layang, maka irama kecapi yang dipetiknya itu menjadi agak kacau.

Tapi segera ia sadar dan lekas berhenti.

Dengan ramah si nenek bertanya.

"Sebenarnya lagu 'terkenang' ini caramu membawakannya sangat baik, tapi mendadak nadanya berubah, tentu hatimu sendiri tiba-tiba terkenang kepada pengalamanmu dahulu."

Dasar Lenghou Tiong memang seorang yang suka terus terang, tanpa ragu lagi ia lantas menuturkan isi hatinya yang sudah tercekam lamanya itu, ia ceritakan tentang cintanya pada Gak Leng-sian, sebaliknya gadis itu penujui pemuda lain.

Ia sendiri tidak tahu mengapa dia bercerita segala rahasia pribadinya kepada si nenek yang dianggapnya seakan-akan nenek dan ibu sendiri.

Baru setelah selesai bercerita ia merasa malu.

Si nenek lantas menghiburnya.

"Tentang jodoh memang tidak dapat dipaksakan. Kata peribahasa, setiap orang mempunyai jodoh sendiri-sendiri dan jangan iri kepada orang lain. Meskipun hari ini Lenghou-siansing patah hati, lain hari bukan mustahil akan mendapatkan jodoh yang lebih setimpal."

"Tapi selama hidup Tecu ini sudah pasti takkan menikah,"

Kata Lenghou Tiong.

Nenek itu tidak bicara pula, tapi lantas memetik kecapi dan memainkan lagu "Jing-sim-boh-sian-ciu".

Hanya sebentar saja mendengarkan Lenghou Tiong lantas merasa mengantuk.

Si nenek lantas menghentikan suara kecapi dan berkata.

"Mulai hari ini juga aku akan mengajarkan lagu ini padamu. Kira-kira dalam waktu sepuluh hari sudah cukup. Selanjutnya setiap hari lagu ini dimainkan satu kali, meski tak bisa memulihkan seluruh tenagamu masa lalu, sedikitnya akan berguna juga bagimu."

Lenghou Tiong mengiakan dan si nenek lantas memberi petunjuk tentang seluk-beluk lagu itu serta cara memetiknya.

Dengan penuh perhatian Lenghou Tiong mengingatnya dengan baik.

Hari ketiga ketika Lenghou Tiong hendak berangkat belajar main kecapi pula, tiba-tiba Lo Tek-nau datang memberi tahu padanya.

"Toasuko, Suhu bilang besok juga kita akan berangkat."

Keruan Lenghou Tiong melengak.

"Besok juga kita akan pergi dari sini?"

Ia menegas.

"Ya,"

Sahut Tek-nau.

"Sunio menyuruhmu berbenah seperlunya agar besok pagi bisa lantas berangkat."

Lenghou Tiong menyatakan baik. Lalu bergegas-gegas ia datang ke pondok bambu dan memberitahukan si nenek.

"Popo, besok juga Tecu akan mohon diri."

Agaknya si nenek juga melengak. Sampai agak lama baru dia berkata dengan perlahan.

"Mengapa begini terburu-buru, sedangkan ... lagu ini belum selesai kau pelajari."

"Tecu pun berpikir demikian,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Cuma perintah guru tak bisa dibantah. Sebagai tamu juga tak bisa tinggal di rumah orang selamanya."

"Ya, benar juga,"

Kata si nenek.

Lalu ia mulai memberi petunjuk pula cara memetik kecapi seperti hari-hari sebelumnya.

Lenghou Tiong adalah seorang yang berperasaan halus.

Walaupun belum pernah melihat muka si nenek, tapi dari percakapan melalui suara kecapi dapatlah diketahui orang tua itu sangat memerhatikan dia seperti anggota keluarga sendiri.

Hanya saja si nenek juga sungkan bicara, cuma beberapa kalimat saja lantas diseling dengan soal lain, terang ia pun tidak ingin Lenghou Tiong mengetahui perasaannya.

Orang yang paling memerhatikan Lenghou Tiong di dunia ini adalah Gak Put-kun dan istrinya, Gak Leng-sian serta Liok Tay-yu.

Kini Tay-yu sudah mati, Leng-sian telah penujui Peng-ci, guru dan ibu gurunya menaruh curiga pula padanya, maka kini ia merasa orang yang paling akrab hubungannya dengan dia hanyalah Lik-tiok-ong serta si nenek yang belum kenal muka itu.

Bab 48.

"Tabib Sakti Pembunuh"

Namanya Peng It-ci Pada hari terakhir ini berulang kali mestinya Lenghou Tiong hendak menyatakan kepada Lik-tiok-ong agar diperbolehkan tinggal di hutan bambu situ untuk belajar main kecapi dan seruling.

Tapi bila terkenang kepada bayangan Gak Leng-sian, betapa pun ia merasa berat untuk berpisah.

"Sekalipun Siausumoay tidak menggubris padaku, asal setiap hari aku dapat melihatnya dan mendengar suaranya juga sudah puas aku. Apalagi dia toh bukannya tidak menggubris padaku?"

Demikian pikirnya.

Menjelang magrib waktu mau berpisah, sungguh Lenghou Tiong merasa sangat berat.

Ia mendekati jendela gubuk kediaman si nenek dan menyembahnya beberapa kali.

Samar-samar dilihatnya di balik kerai bambu sebelah dalam si nenek juga berlutut membalas hormatnya.

Terdengar si nenek berkata.

"Meski aku mengajarkan cara bermain kecapi padamu, tapi ini adalah untuk membalas kebaikanmu yang telah menghadiahkan lagu padaku. Kenapa engkau menjalankan penghormatan setinggi ini padaku?"

"Perpisahan sekarang ini entah sampai kapan baru dapat berkunjung lagi kemari untuk mendengarkan permainan kecapi Popo, asalkan Lenghou Tiong tidak mati, kelak tentu akan datang lagi ke sini untuk menyambangi Popo dan Tiok-ong,"

Demikian kata Lenghou Tiong.

Tapi tiba-tiba terpikir olehnya tentang usia kedua orang tua yang sudah amat lanjut itu, bilamana kelak datang lagi ke Lokyang entah masih dapat bersuara atau tidak dengan mereka.

Teringat bahwa hidup manusia ini seakan-akan mimpi belaka tanpa terasa suaranya menjadi parau.

"Lenghou-siansing,"

Kata si nenek.

"sebelum berpisah aku ingin memberi pesan sepatah kata padamu."

"Baik, atas petuah Popo sampai mati pun takkan kulupakan,"

Sahut Lenghou Tiong. Tapi sampai lama nenek itu tidak bicara lagi. Selang sekian lama, akhirnya dia baru berkata dengan perlahan.

"Banyak bahaya dan kepalsuan orang Kangouw, hendaknya kau menjaga diri dengan baik."

Lenghou Tiong mengiakan, hati menjadi pilu.

Ia memberi hormat pula kepada Lik-tiok-ong untuk mohon diri.

Dalam pada itu terdengar dari dalam gubuk suara kecapi menggema merdu, yang dibawakan adalah lagu kuno "terkenang"

Itu.

Esok paginya Gak Put-kun dan anak muridnya sama mohon diri kepada Org Goan-pa untuk berangkat dengan menumpang perahu.

Goan-pa dan anak-cucunya mengantar sampai di tepi sungai Loksui, memberi bekal sangu dan macam-macam makanan untuk persediaan di tengah perjalanan.

Sejak tempo hari lengan Lenghou Tiong dipuntir keseleo oleh Ong Kah-cun dan Ong Kah-ki, maka Lenghou Tiong tidak pernah bicara pula dengan anggota keluarga Ong itu.

Pada saat berpisah sekarang ia pun tidak mengucapkan apa-apa, sebaliknya cuma mendelik saja kepada mereka seakan-akan di depan matanya pada hakikatnya tiada jago golok emas dari keluarga Ong itu.

Gak Put-kun cukup kenal perangai muridnya itu.

Jika anak muda itu dipaksa memberi hormat dan mohon diri kepada Ong Goan-pa, untuk sementara terpaksa Lenghou Tiong menurut, tetapi kelak besar kemungkinan akan mencari perkara kepada keluarga Ong itu untuk membalas dendam.

Sebab itulah ia sendiri memberi hormat dan mengucapkan terima kasih kepada Ong Goan-pa, sebaliknya sikap Lenghou Tiong yang kurang sopan itu ia pura-pura tidak tahu.

Lenghou Tiong melihat banyak oleh-oleh pemberian keluarga Ong itu, terutama oleh-oleh yang diberikan kepada Gak Leng-sian.

Nona itu tampak sangat senang dan sibuk menerima macam-macam oleh-oleh itu.

Tengah sibuk, tiba-tiba seorang tua berbaju rombeng naik ke pinggir perahu mereka dan berseru.

"Lenghou-siaukun (tuan muda)!"

Waktu Lenghou Tiong berpaling, kiranya adalah Lik-tiok-ong, keruan ia melengak.

"Bibi menyuruh aku menyerahkan bungkusan ini kepadamu, Lenghou-siaukun,"

Kata Lik-tiok-ong sembari mempersembahkan sebuah bungkusan panjang. Bungkusan itu dibebat dengan kain kembang biru. Dengan penuh hormat Lenghou Tiong menerimanya dan berkata.

"Atas hadiah Cianpwe yang berharga ini Tecu menerimanya dengan terima kasih."

Sambil berkata berulang-ulang ia pun membungkuk tubuh memberi hormat.

Terhadap tukang bambu tua bersikap sedemikian menghormat, sebaliknya terhadap Kim-to-bu-tek Ong-loyacu yang namanya termasyhur di dunia Kangouw sedikit pun tidak menggubris, keruan sikap Lenghou Tiong ini membikin Kah-cun dan Kah-ki merasa gusar.

Coba kalau tidak di depan orang banyak tentu mereka sudah menyeret turun Lenghou Tiong menghajarnya sepuas-puasnya.

Dalam pada itu sesudah menyerahkan bungkusan panjang tadi, Lik-tiok-ong lantas melangkah ke atas papan loncatan dan hendak turun kembali ke daratan.

Melihat ada kesempatan, sesudah saling memberi isyarat, segera Kah-cun dan Kah-ki sengaja memapak dari bawah papan loncatan perahu, mereka terus mendesak maju, yang satu menggunakan bahu kanan dan yang lain memakai bahu kiri, asal ditumbuk sedikit saja mereka percaya kakek itu umpama tidak sampai mati tenggelam sedikitnya juga akan membikin Lenghou Tiong kehilangan muka.

Melihat apa yang akan terjadi itu, cepat Lenghou Tiong berseru.

"He, awas!"

Tapi ia sudah tidak bertenaga sehingga sama sekali tak dapat berbuat apa-apa. Sementara itu tampaknya kedua saudara Ong muda itu sudah menerjang tiba pada sasarannya.

"Jangan!"

Segera Ong Goan-pa juga berteriak.

Sebagai seorang yang punya harta benda di kota Lokyang, kalau kedua cucunya sampai menumbuk mati seorang kakek, tentu akibatnya takkan menguntungkan bila sampai pihak yang berwajib ikut turun tangan.

Perkara jiwa bukanlah soal kecil.

Tapi karena dia sedang duduk dalam kamar perahu besar itu dan lagi bicara dengan Gak Put-kun sehingga tidak sempat mencegah lagi.

Maka terdengarlah suara "bluk", bahu kedua anak muda itu sudah membentur tubuh Lik-tiok-ong.

Menyusul dua sosok tubuh orang sama mencelat dan "plung-plung" , tahu-tahu kedua anak muda itu sama kecemplung ke dalam sungai, sebaliknya Lik-tiok-ong tampak masih tenang-tenang saja dan terus berjalan ke daratan.

Tubuhnya mirip bola saja, setiap diseruduk oleh kedua saudara Ong muda itu segera mengeluarkan daya membalik sehingga kedua anak muda itu terpental sendiri.

Keruan suasana menjadi kacau, semua orang sibuk memberi pertolongan kepada Kah-cun dan Kah-ki, beberapa orang lantas terjun ke dalam sungai untuk menyeret mereka ke atas.

Tatkala itu baru permulaan musim semi, air sungai sedingin es, apalagi kedua anak muda itu tidak bisa berenang, mereka sudah telanjur minum air sungai sampai beberapa ceguk, gigi mereka berkertukan menggigil dingin, keadaannya sangat runyam.

Sesudah diperiksa, sungguh kejut Ong Goan-pa tidak kepalang.

Ternyata lengan kedua cucunya itu semuanya keseleo, tulang lengan terlepas dari ruasnya, sama halnya seperti tempo hari kedua anak muda itu memuntir tangan Lenghou Tiong sehingga keseleo.

Melihat kedua putranya kecundang, segera Ong Tiong-kiang melompat ke daratan dan mencegat di depan Lik-tiok-ong.

Kakek itu tampak masih terus berjalan ke depan dengan kepala merunduk, memangnya badannya juga bungkuk.

"Orang kosen dari manakah ingin coba-coba pamer kepandaian di Lokyang sini?"

Bentak Ong Tiong-kiang.

Tapi Lik-tiok-ong seperti tidak mendengar saja dan tetap jalan ke depan, perlahan ia sudah berhadapan dengan Tiong-kiang.

Keruan perhatian semua orang di atas perahu sama dipusatkan kepada mereka berdua.

Kedua tangan Ong Tiong-kiang tampak sedikit dipentang, ketika Lik-tiok-ong maju selangkah lagi, mendadak Tiong-kiang membentak.

"Pergi!"

Kedua tangannya terus mencengkeram pundak si kakek.

Tapi baru saja jarinya hampir menyentuh tubuh sasarannya, sekonyong-konyong badannya yang tinggi besar itu mencelat ke udara sampai beberapa meter jauhnya.

Di tengah jerit kaget orang banyak Ong Tiong-kiang berjumpalitan satu kali, selagi terapung di udara lalu dapat menancapkan kali kembali di atas tanah.

Jika terjadinya tabrakan itu dilakukan kedua orang yang sama-sama berlari cepat dari arah berlawanan, lalu salah seorang terpental, ini sih tidak mengherankan, yang aneh sekarang adalah Ong Tiong-kiang berdiri tegak di tempatnya, sedangkan Lik-tiok-ong hanya berjalan sangat perlahan, tapi mendadak Ong Tiong-kiang tergetar mencelat, sekali pun tokoh-tokoh terkemuka sebagai Gak Put-kun dan Ong Goan-pa juga tidak tahu dengan cara bagaimana si kakek reyot itu membikin orang terpental.

Hanya saja waktu Ong Tiong-kiang tancapkan kakinya kembali di atas tanah tampaknya juga sewajarnya saja sehingga orang yang tidak mahir ilmu silat malah mengira dia sengaja meloncat sendiri untuk pamerkan Ginkangnya yang lihai, maka ada sebagian centeng keluarga Ong salah wesel dan memberi sorak puji kepada majikan muda mereka.

Memangnya Ong Goan-pa sudah heran ketika tanpa bergerak Lik-tiok-ong dapat menggetar lengan kedua cucunya sehingga keseleo, kini ia tambah kaget demi melihat putranya juga tergetar mencelat secara aneh.

Padahal ia tahu putranya itu sudah memperoleh segenap ajaran ilmu silatnya, tapi belum satu gebrak saja sudah dientak mencelat oleh lawan, ini benar-benar belum pernah terjadi selama hidup.

Dilihatnya sesudah kecundang Ong Tiong-kiang masih hendak melabrak maju lagi cepat ia berseru.

"Tiong-kiang, kemari!"

Tiong-kiang putar tubuh dan melompat ke haluan perahu dengan enteng.

"Tua bangka itu besar kemungkinan bisa ilmu sihir!"

Ia mencemooh.

"Bagaimana keadaanmu, tidak terluka?"

Tanya Goan-pa dengan perlahan.

Tiong-kiang menggeleng.

Diam-diam Goan-pa menimbang, biarpun dengan kemampuannya sendiri juga belum tentu dapat melawan kakek bungkuk itu, apalagi kalau sampai perlu minta bantu Gak Put-kun, sekalipun menang juga kurang cemerlang.

Maka ia sengaja tidak mempersoalkan itu lebih lanjut, paling tidak kakek itu pun sudah memberi muka padanya tanpa merobohkan putranya.

Dilihatnya Lik-tiok-ong sudah pergi semakin jauh, sungguh tak enak perasaannya.

Pikirnya.

"Kakek itu terang adalah kawan Lenghou Tiong, lantaran para cucu mematahkan lengannya, maka kakek itu pun datang mematahkan lengan mereka sebagai pembalasan. Selama hidupku malang melintang di kota Lokyang ini, masakan sampai hari tua terbalik akan terjungkal habis-habisan?"

Dalam pada itu Ong Pek-hun sudah membetulkan lengan kedua keponakannya yang keseleo itu, dua buah tandu lantas membawa kedua anak muda yang basah kuyup itu pulang lebih dulu.

"Gak-tayciangbun, orang macam apakah kakek tadi? Agaknya mataku yang tua ini sudah lamur dan tidak kenal orang kosen demikian,"

Tanya Ong Goan-pa kepada Put-kun.

"Siapakah dia, Tiong-ji?"

Put-kun bertanya kepada Lenghou Tiong.

"Dia itulah Lik-tiok-ong,"

Sahut Lenghou Tiong.

Goan-pa dan Put-kun bersama mengeluarkan suara "Ooo".

Kiranya tempo hari meski mereka juga datang ke hutan bambu sana, tapi mereka tidak sampai kenal muka Lik-tiok-ong, sedangkan Ih-suya yang kenal Lik-tiok-ong tidak ikut mengantar ke dermaga ini, sebab itulah tiada seorang pun yang kenal si kakek bambu hijau.

"Barang apa yang dia berikan padamu?"

Tanya Put-kun pula sambil menuding bungkusan panjang tadi.

"Tecu sendiri belum tahu,"

Sahut Lenghou Tiong sambil membuka bungkusan itu.

Maka tertampaklah isinya adalah sebuah kecapi antik, pada ujung kecapi itu terukir dua huruf kembang "Yan-gi".

Selain itu ada pula satu buku kecil, pada sampulnya tertulis "Jing-sim-boh-sian-ciu".

Kiranya adalah lagu yang diajarkan si nenek kepada Lenghou Tiong itu.

Keruan Lenghou Tiong bersuara kejut dan terharu.

"Ada apa?"

Tanya Put-kun sambil memandang tajam.

"Kiranya Cianpwe itu selain memberikan sebuah kecapi padaku, bahkan menyertakan not kecapi pula,"

Kata Lenghou Tiong.

Ia coba membalik-balik buku kecil itu, ternyata berisi lengkap ajaran cara memetik kecapi dengan petunjuk-petunjuk yang sangat jelas.

Dari tulisannya dan kertasnya yang masih baru itu terang baru saja selesai ditulis oleh si nenek.

Teringat kepada kebaikan Locianpwe itu Lenghou Tiong sangat terharu sehingga matanya berkaca, air mata hampir-hampir menetes.

Melihat buku itu berisi not kecapi, walaupun Ong Goan-pa dan Gak Put-kun merasa curiga tapi juga tak bisa bicara apa-apa.

"Lik-tiok-ong itu ternyata seorang kosen di dunia persilatan yang tidak mau menonjolkan diri, apakah kau tahu dia dari aliran atau golongan mana, Tiong-ji?"

Tanya Gak Put-kun.

Ia sudah menduga andaikan Lenghou Tiong tahu asal usul Lik-tiok-ong juga takkan mengaku secara terus terang.

Soalnya Kungfu si kakek bambu hijau itu terlalu hebat, kalau tidak ditanyakan betapa pun rasanya tidak tenteram.

Benar juga, segera Lenghou Tiong menjawab.

"Tecu hanya belajar kecapi kepada Locianpwe itu, sesungguhnya tidak tahu bahwa dia juga mahir ilmu silat."

Begitulah Gak Put-kun lantas memberi hormat tanda perpisahan dengan Ong Goan-pa, perahu layarnya yang besar itu lantas mengangkat jangkar dan berlayar ke hilir.

Di dalam kapal ramailah anak murid Hoa-san-pay itu membicarakan Lik-tiok-ong, ada yang memuji kepandaian si kakek yang mahatinggi, ada yang anggap Lik-tiok-ong itu belum tentu punya kepandaian sejati, mungkin kedua saudara Ong muda kecemplung ke dalam sungai karena mereka sendiri kurang hati-hati.

Sedangkan Ong Tiong-kiang dikatakan tidak sudi bertengkar dengan kakek yang sudah loyo itu, maka sengaja meloncat menyingkir.

Lenghou Tiong duduk sendirian di buritan dan tidak menghiraukan percakapan para Sute dan Sumoaynya itu.

Ia asyik membaca not kecapi.

Karena khawatir mengganggu gurunya, maka ia tidak berani membunyikan kecapinya.

Gak-hujin merasa tidak tenteram ketika teringat kepada potongan tubuh Lik-tiok-ong serta gerak-geriknya yang aneh.

Ia coba naik ke haluan perahu itu melihat pemandangan.

Tiba-tiba terdengar sang suami bicara di sebelah.

"Sumoay, bagaimana pendapatmu tentang Lik-tiok-ong itu? Begitu aneh caranya membikin terpental tiga jago keluarga Ong itu, tampaknya kepandaiannya itu bukan ilmu silat aliran yang baik."

"Tapi dia tiada maksud jahat terhadap Tiong-ji, pula tampaknya tidak sengaja hendak mencari perkara kepada keluarga Ong,"

Ujar Gak-hujin.

"Ya, semoga urusan ini selesai sampai di sini saja, kalau tidak, jangan-jangan kehormatan Ong-loyacu selama ini akan berakhir dengan buruk,"

Kata Put-kun. Sejenak kemudian ia menyambung pula.

"Kita juga harus waspada walaupun kita mengambil jalan air ini."

"Apa kau maksudkan ada kemungkinan orang akan mencari perkara pada kita?"

Tanya sang istri.

"Sampai saat ini kita masih tetap belum jelas orang macam apakah ke-15 musuh berkedok tempo hari itu. Mengingat kejadian itu, perjalanan kita ini rasanya masih banyak rintangan yang akan kita hadapi."

Begitulah mereka lantas pesan para muridnya agar selalu waspada.

Di luar dugaan, setelah perahu mereka keluar dari muara Kiat-koan dan memasuki sungai Tiangkang dan meluncur ke hilir pula ke arah timur, ternyata sama sekali tidak terjadi sesuatu.

Semakin jauh meninggalkan Lokyang, semakin berkurang pula rasa waswas mereka.

Baca Juga: Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 5

Baca Juga: Si Bungkuk Pendekar Aneh 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert