Eps 7 Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong
Baca online Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong
Cersil Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong.
"He, lekas kalian melepaskan aku! Kalau tidak segera aku membunuh diri dengan pedang. Lenghou Tiong berani berkata berani berbuat, biarpun mati aku pantang menyerah."
Baru habis ucapannya, tiba-tiba kedua lengan sendiri telah dipegang oleh dua tangan dari luar karung.
Begitu kuat kedua tangan itu sehingga mirip tanggam besi, lengan Lenghou Tiong sampai amat kesakitan.
Percuma saja Lenghou Tiong habis mempelajari Tokko-kiu-kiam dan mahir cara mematahkan ilmu tangkapan, tapi dalam keadaan seperti sekarang ini, biarpun mempunyai kepandaian setinggi langit juga tidak dapat dikeluarkan sedikit pun.
Dia hanya bisa mengeluh belaka di dalam karung.
Mendadak terdengar seorang di antaranya berkata.
"Si nona cilik sayang itu ingin bertemu padamu. Kau menurut ya, kau pun anak yang baik, sayang!"
Menyusul seorang lagi berkata.
"Kau jangan membunuh diri, jika tidak menurut sebentar akan kubikin kau mati tidak hidup pun tidak."
"Jika dia sudah mati bunuh diri, bagaimana kau akan bikin dia hidup tidak mati pun tidak?"
Tanya seorang kawannya.
"Aku hanya menakut-nakuti dia supaya tidak membunuh diri,"
Sahut orang yang tadi.
"Kalau mau menakut-nakuti harus jangan diperdengarkan padanya, sekarang dia sudah tahu, tentu tak dapat ditakut-takuti lagi,"
Debat kawannya pula.
"Aku justru ingin menakut-nakuti dia, kau mau apa?"
Ngotot orang tadi.
"Aku bilang lebih baik membujuk dia saja,"
Kata seorang lagi.
"Tidak, sekali aku menakut-nakuti tetap akan kutakut-takuti dia,"
Orang tadi tetap ngotot.
"Tapi aku lebih suka membujuknya,"
Sahut yang lain.
Dan begitulah orang-orang itu terus bertengkar tak berhenti-berhenti.
Dikurung di dalam karung itu Lenghou Tiong menjadi khawatir dan mendongkol pula mendengar pertengkaran orang-orang seperti anak kecil itu.
Pikirnya.
"Ilmu silat enam orang itu sangat tinggi, tapi agaknya sangat tolol."
Segera ia berteriak.
"Kalian akan menakut-nakuti atau membujuk, semuanya tak berguna. Bila kalian tidak lepaskan aku, segera aku akan menggigit lidah untuk membunuh diri."
Tapi mendadak pipinya terasa kesakitan, seorang telah meremas kedua belah pipinya dengan keras. Lalu suara seorang sedang berkata.
"Bocah ini sangat bandel, jika lidahnya tergigit putus dan tak bisa bicara tentu si nona cilik tidak senang."
"Jika lidahnya tergigit putus tentu orangnya akan mati, masakah cuma tak bisa bicara?"
Ujar seorang lagi.
"Belum tentu bisa mati,"
Sahut orang tadi.
"Kalau tidak percaya boleh coba kau menggigit lidahmu."
"Aku percaya pasti akan mati, maka tidak perlu gigit lidahnya sendiri. Kau tidak percaya, maka kau saja yang coba."
"Buat apa aku menggigit lidah?"
Sahut orang tadi.
"Eh, biar dia saja."
Lalu terdengarlah suara jeritan Liok Tay-yu, rupanya dia telah kena ditangkap juga oleh orang-orang aneh itu. Terdengar orang tadi membentak.
"Hayo, kau menggigit putus lidahmu, coba lihat kau akan mati atau tidak. Hayo lekas gigit, lekas!"
"Tidak, tidak, aku tidak mau!"
Teriak Liok Tay-yu. Mendadak Lenghou Tiong berteriak dan pura-pura sangat kesakitan. Tapi terdengar salah seorang aneh itu berkata.
"Kau pura-pura saja. Kupencet gerahammu, cara bagaimana kau dapat menggigit lidah?"
"Lepaskan aku, lepaskan aku!"
Teriak Lenghou Tiong dengan suara tak jelas. Mendadak terdengar suara "bret-bret"
Dua kali, karung itu telah robek, kedua lengannya telah ditarik keluar melalui lubang sobekan karung itu.
Menyusul pandangannya menjadi terang, kiranya seorang aneh itu telah merobek dua lubang kecil pada karung itu sehingga dia dapat melihat keadaan di luar.
Tertampaklah seorang kakek dengan muka penuh keriput berkata padanya.
"Asal kau berjanji takkan membunuh diri segera juga akan kulepaskan kau."
Habis berkata ia lantas melepaskan tangannya yang memencet kedua belah geraham Lenghou Tiong itu.
Sementara itu dua orang aneh yang berada di belakangnya sedang memaksa Liok Tay-yu supaya menggigit lidahnya sendiri untuk dicoba akan mati atau tidak bila lidah tergigit putus.
Maka Liok Tay-yu terus berteriak-teriak.
"Tidak, tidak, aku tidak mau. Bila lidah tergigit putus tentu akan mati!"
"Nah, apa kataku?"
Kata si orang aneh tadi.
"Bila lidah putus tentu orangnya akan mati. Dia sendiri pun mengaku demikian."
"Dia kan belum mati, mana buktinya?"
Sahut kawannya.
"Dia belum mati karena belum gigit lidahnya. Sekali gigit tentu akan mati!"
Bantah orang tadi.
Dalam pada itu diam-diam Lenghou Tiong mengerahkan tenaga ke lengannya dan coba meronta sekuatnya, tapi pergelangan tangannya lantas kesakitan, sedikit pun tak bisa terlepas.
Muka keenam orang aneh itu sangat buruk, ilmu silat mereka begitu lihai pula.
Dalam keadaan demikian, biarpun Lenghou Tiong yang biasanya sangat cerdik juga mati kutu seketika.
Sejenak kemudian tiba-tiba ia mendapat akal.
Mendadak ia menjerit dan pura-pura pingsan.
Maka terdengarlah tiga orang aneh itu berseru khawatir.
"Wah, celaka!"
"Dia mati ketakutan!"
Kata seorang di antaranya.
"Tidak, takkan mati ketakutan, masakah begitu tak becus,"
Ujar yang lain.
"Seumpama mati juga bukan mati ketakutan!"
Timbrung pula seorang lagi.
"Habis, sebab apa dia mati?"
Tanya yang pertama tadi. Di sebelah sana Liok Tay-yu menjadi kaget. Disangkanya sang Toasuko benar-benar telah dibikin mati, seketika ia menangis sedih. Sementara itu seorang aneh itu berkata pula.
"Aku tetap bilang dia mati ketakutan."
"Tidak, cengkeramanmu terlalu keras, tentu dia mati tercengkeram,"
Kata yang lain lagi.
"Ya, sebenarnya apa sebab kematiannya?"
Kata pula yang lain.
"Aku menutup urat nadi sendiri, mati bunuh diri!"
Mendadak Lenghou Tiong berteriak. Karena Lenghou Tiong mendadak berteriak, keenam orang aneh itu menjadi kaget malah. Tapi mereka lantas terbahak-bahak dan berkata bersama.
"Hahahaha! Kiranya dia belum mati, cuma pura-pura mati!"
"Aku tidak pura-pura mati, tapi sudah mati dan hidup kembali!"
Seru Lenghou Tiong.
"Apa benar kau dapat menutup urat nadi sendiri? Wah, kepandaian ini sukar sekali dipelajari, kau ajarkan padaku saja,"
Kata seorang di antaranya.
"Kepandaian itu teramat tinggi, bocah ini tentu tidak bisa, dia berdusta padamu,"
Kata yang lain.
"Kau bilang aku tidak bisa? Kalau tidak bisa, mengapa tadi aku bisa mati menutup urat nadi sendiri?"
Ujar Lenghou Tiong. Orang aneh itu garuk-garuk kepala, katanya.
"Ya, ini memang rada aneh!"
Melihat kebebalan keenam manusia aneh itu, segera Lenghou Tiong berkata pula.
"Jika kalian tidak lekas lepaskan aku, segera aku akan menutup urat nadiku, bila sekali ini aku mati lagi tentu takkan hidup kembali."
"Tidak, kau tidak boleh mati,"
Seru kedua orang yang memegangi lengan Lenghou Tiong sambil melepaskan tangan masing-masing.
"Jika kau mati, wah, bisa runyam."
"Minta aku tidak mati juga boleh asal kalian lekas menyingkir, aku ada urusan penting harus buru-buru berangkat,"
Kata Lenghou Tiong.
"Tidak, tidak boleh!"
Kata kedua orang yang mengadang di depan itu.
"Kau harus ikut kami pergi menemui si nona cilik."
Sekuatnya Lenghou Tiong melompat dengan maksud melampaui kedua orang yang mengadang di depannya itu, di luar dugaan, kedua orang itu pun ikut-ikut meloncat ke atas, gerakan mereka cepat luar biasa sehingga tubuh mereka seperti dinding terbang saja yang tetap mengadang di depan Lenghou Tiong.
Tapi begitu badan Lenghou Tiong tertumbuk dengan tubuh kedua pengadangnya dan jatuh kembali, selagi badannya masih terapung dia sudah lantas hendak melolos pedang.
Namun pundaknya lantas terasa ditahan ke bawah, dua orang di belakangnya kembali sudah memegangi kedua lengannya dari luar karung sehingga pedang tidak sampai dicabut keluar.
Waktu itu kedua lengannya terbuka di luar karung dan badannya masih tetap dikerudung karung, pedangnya juga tertutup di dalam karung.
Sebenarnya ia bermaksud menggunakan pedang untuk merusak karung itu, lalu akan melawan orang-orang itu dengan Tokko-kiu-kiam yang baru dipelajarinya itu.
Tapi sekali pundaknya ditahan oleh tangan kedua orang aneh itu, seketika tubuhnya mendak ke bawah, jangankan lolos pedang, untuk berdiri tegak saja sukar.
Sesudah merobohkan Lenghou Tiong, kedua orang itu berseru.
"Angkat saja dia!"
Segera kedua orang yang berdiri di depannya masing-masing memegangi sebelah kaki Lenghou Tiong terus diangkat ke atas.
"He, apa-apaan kalian ini?"
Liok Tay-yu berteriak-teriak.
"Orang ini suka gembar-gembor, bunuh saja dia!"
Kata seorang aneh. Lalu tangannya hendak menggaplok ke batok kepala Liok Tay-yu. Cepat Lenghou Tiong berseru.
"Jangan, jangan dibunuh!"
"Baik, aku menurut padamu, tidak bunuh dia, tapi tutuk dia supaya bisu,"
Kata orang aneh itu. Habis ucapannya, tanpa berpaling lagi jarinya terus menuding ke belakang.
"Crit" , tahu-tahu Hiat-to yang membikin bisu di tubuh Liok Tay-yu sudah tertutuk. Waktu itu Liok Tay-yu sedang berteriak, tapi mendadak ia menjerit terus putus suaranya seketika seperti tali suara yang digunting secara mendadak. Tubuhnya juga lantas melingkar kejang. Melihat cara menutuk tenaga dalam dari jarak jauh, betapa jitunya pula, mau tak mau Lenghou Tiong terpesona, tanpa merasa ia bersorak memuji. Orang aneh itu menjadi senang, katanya dengan tertawa.
"Ini saja belum. Aku masih mempunyai kepandaian-kepandaian lain yang lebih hebat, biarlah aku pertunjukkan untukmu."
Jika di waktu biasa tentu Lenghou Tiong ingin menambah pengalamannya, tapi sekarang dia sedang mengkhawatirkan keselamatan sang guru, pikirannya sedang gelisah, maka cepat ia menjawab.
"Tidak, aku tidak ingin lihat."
"Mengapa kau tidak ingin melihat? Aku justru suruh kau lihat,"
Kata orang aneh itu.
Mendadak ia meloncat ke atas, tahu-tahu sudah melayang lewat di atas kepala keempat orang aneh yang mengusung Lenghou Tiong.
Badannya sebenarnya agak gendut, tapi lompatannya itu ternyata sangat enteng dan gesit dengan gaya yang sangat indah.
Selama hidup Lenghou Tiong belum pernah melihat loncatan seindah itu, tanpa merasa ia berseru memuji pula.
"Bagus!"
Wajah orang aneh yang lonjong sebagai muka kuda itu berseri-seri, sahutnya.
"Ini saja belum, masih ada lagi yang lebih hebat!"
Usia orang bermuka kuda ini sedikitnya juga sudah ada 60-70 tahun, tapi sifatnya benar-benar mirip anak kecil, sekali dipuji semakin menjadi.
Ilmu silatnya yang tinggi itu benar-benar berbeda sama sekali dengan sifatnya yang kekanak-kanakan itu.
Diam-diam Lenghou Tiong teringat kepada guru dan ibu-gurunya yang sedang menghadapi kesulitan.
Pihak lawan terdiri dari jago-jago Ko-san-pay, Thay-san-pay dan lain-lain, biarpun dirinya sudah berada di sana juga tak bisa membantu banyak.
Orang-orang ini berkepandaian sangat tinggi, kenapa aku tidak menipu mereka agar ikut ke sana untuk membantu Suhu?
Karena pikiran demikian segera Lenghou Tiong berkata.
"Sedikit kepandaianmu ini apa gunanya dipamerkan di sini?"
"Sedikit kepandaianku? Buktinya kau kan tak bisa berkutik dan tertangkap?"
Kata orang bermuka kuda itu.
"Aku cuma kaum keroco dari Hoa-san-pay, sudah tentu dengan mudah dapat kalian tangkap,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Sekarang di atas gunung ini sedang berkumpul jago-jago dari Ko-san-pay, Thay-san-pay dan lain-lain, apakah kalian berani mengusik mereka?"
"Kenapa tidak berani? Di mana mereka?"
Teriak orang itu.
"Si nona cilik hanya suruh kita menangkap Lenghou Tiong dan tidak minta kita mengusik jago-jago Ko-san-pay atau Thay-san-pay segala. Sudahlah, kita jangan mencari gara-gara, lekas berangkat saja,"
Demikian kata si kakek bermuka keriput.
"Benar juga,"
Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Pantas jago-jago Ko-san-pay dan Thay-san-pay itu mengatakan paling memandang hina kakek-kakek bermuka kuda, bermuka merah dan siluman tua bermuka keriput dan lain-lain lagi, bila ketemu tentu mereka akan dipites seperti semut. Cuma sayang keenam siluman tua itu belum-belum sudah lantas lari terbirit-birit bila mendengar suara jago-jago Ko-san-pay dan kawan-kawannya itu dan sukar diketemukan lagi meski telah dicari-cari."
Mendengar ucapan Lenghou Tiong itu seketika keenam kakek aneh itu berjingkrak marah, mereka berkaok-kaok.
"Di mana beradanya orang-orang Ko-san-pay dan begundalnya? Hayo bawa kami ke sana, lekas!"
"Huh, peduli apa Ko-san-pay, Thay-san-pay dan lain-lain segala, masakah Tho-kok-lak-sian (enam dewa dari lembah Tho) jeri kepada mereka?"
"Kurang ajar! Barangkali orang itu sudah bosan hidup, masakah Tho-kok-lak-sian hendak dipites seperti semut saja?"
"Eh, ya, kalian mengaku sebagai Tho-kok-lak-sian, tapi orang-orang Ko-san-pay dan kawan-kawannya itu justru menyebut kalian Tho-kok-lak-kui (enam setan),"
Demikian Lenghou Tiong sengaja mengadu biru lagi.
"Wah, Lak-sian, kukira kalian lebih baik menghindari mereka saja sejauh mungkin, ilmu silat jago Ko-san-pay itu luar biasa lihainya, tentu kalian bukan tandingannya."
"Tidak, tidak bisa! Biar sekarang juga kita melabraknya,"
Teriak si kakek bermuka merah. Tapi orang yang bermuka benjal-benjol itu lantas menyela.
"Wah, kukira gelagatnya tidak bagus. Bila jago Ko-san-pay itu berani bermulut besar, tentu dia mempunyai kepandaian luar biasa. Jangan-jangan kita memang bukan tandingannya, buat apa kita mencari penyakit? Hayolah, kita lekas pulang saja."
"Site (adik keempat) memang paling penakut, berkelahi saja belum sudah mengaku kalah?"
Ujar si muka kuda.
"Tapi kalau benar-benar dipites seperti semut, wah kan celaka?"
Ujar si muka benjol.
Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli.
Ada-ada saja manusia-manusia aneh di dunia Kangouw.
Padahal ilmu silat orang ini sangat tinggi, tapi nyalinya justru begini kecil.
Biarlah aku memancingnya lagi.
Segera ia berkata.
"Jika mau lari hendaklah lekas. Kalau terlambat, jangan-jangan jago Ko-san-pay itu sudah akan memburu ke sini dan kalian tentu tak bisa lolos lagi."
Eh, benar saja, si muka benjol itu terus lari secepat terbang, hanya sekejap saja sudah menghilang. Lenghou Tiong sampai terperanjat malah, pikirnya.
"Ginkang orang aneh ini benar-benar luar biasa laksana setan iblis saja. Ginkangnya ini tampaknya berpuluh kali lebih tinggi lagi daripada Dian Pek-kong, kalau dia mau lari siapa pula di dunia ini yang mampu mengejarnya? Sungguh aneh, dia memiliki Ginkang yang mahatinggi, kenapa penakut dan suka lari? Wah, ucapanku tadi yang terlalu berlebih-lebihan, kalau mereka benar-benar lari ketakutan kan berbalik membikin runyam maksud tujuanku."
Dalam pada itu si muka kuda sedang berkata.
"Siko memang penakut, biarkan dia lari saja, kita yang akan pergi melabrak jago Ko-san-pay itu."
"Ya, berangkat, lekas! Harus kita hajar dia!"
Seru keempat kawannya yang lain. Mendadak si muka hitam melepaskan karung yang masih mengerudungi badan Lenghou Tiong, lalu katanya.
"Hayo lekas bawa kami ke sana, ingin kulihat bagaimana caranya dia akan pites kami sebagai semut."
"Membawa ke sana sih aku tidak keberatan,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Cuma kalian harus menuruti suatu syaratku."
"Syarat apa?"
Tanya si muka keriput.
"Kalau bisa dipenuhi akan kami penuhi, kalau tidak ya tidak."
Diam-diam Lenghou Tiong mengakui di antara keenam kakek itu adalah si muka keriput ini yang paling encer otaknya. Segera ia berseru.
"Aku Lenghou Tiong adalah seorang laki-laki sejati, sekali-kali takkan sudi menyerah diancam dan dipaksa orang. Soalnya aku cuma mendengar jago Ko-san-pay itu mencemooh dan menghina kalian berenam, aku merasa ikut penasaran bagi kalian, makanya mau membawa kalian ke sana untuk membikin perhitungan dengan dia. Tapi kalau mentang-mentang berjumlah banyak dan hendak memaksa berbuat ini dan itu, maka biar mati pun aku Lenghou Tiong sekali-kali takkan menurut."
Serentak kelima kakek aneh itu bertepuk tangan memuji.
"Bagus, kau berjiwa kesatria, kami sangat kagum."
"Jika demikian aku akan membawa kalian ke sana, tapi sesudah bertemu nanti kalian tak boleh sembarangan omong dan bertindak supaya semua kesatria dunia persilatan takkan menertawakan Tho-kok-lak-sian terlalu bodoh, masih anak bawang, tidak tahu seluk-beluk orang hidup. Maka kalian harus menuruti omonganku, kalau tidak kalian tentu akan membikin malu padaku."
Ucapan Lenghou Tiong ini sebenarnya bermaksud coba-coba saja, tak terduga kelima kakek aneh serentak berseru.
"Benar, itu memang tepat. Kami tidak boleh dicemoohkan orang bahwa Tho-kok-lak-sian terlalu bodoh, masih anak bawang!"
Lenghou Tiong mengangguk, katanya.
"Baiklah, jika demikian marilah kalian ikut padaku."
Segera ia melanjutkan perjalanan dengan langkah cepat.
Kelima kakek aneh itu pun mengikutinya dari belakang.
Beberapa li kemudian, tertampak si muka benjol sedang mengintip di balik batu karang sana.
Lenghou Tiong pikir orang penakut ini harus dipancing supaya berani.
Segera ia berseru padanya.
"Kepandaian jago Ko-san-pay itu berselisih sangat jauh dengan kau, jangan takut padanya, mari kita beramai-ramai pergi menghajar dia."
Si muka benjol menjadi girang.
"Baik, aku pun ikut!"
Serunya. Tapi mendadak ia menambahkan pertanyaan pula.
"Kau bilang ilmu silat jago Ko-san-pay itu selisih jauh sekali dengan aku. Lalu aku yang lebih tinggi atau dia yang lebih tinggi."
Bab 36. Enam Kakek Aneh dari Lembah Tho Kiranya otak orang ini memang bebal, tapi selamanya sangat hati-hati.
"Sudah tentu kau lebih tinggi,"
Sahut Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Caramu berlari tadi menunjukkan Ginkangmu sangat tinggi, betapa pun jago Ko-san-pay itu takkan mampu menyusul kau."
Si muka benjol bertambah senang, tanpa ragu-ragu lagi ia mendekati Lenghou Tiong. Namun dia masih belum hilang dari seluruh kekhawatirannya, ia tanya pula.
"Tapi kalau dia dapat menyusul aku, lantas bagaimana?"
"Jangan khawatir, jika dia berani main gila padamu, hmm, ini!"
Sampai di sini Lenghou Tiong mencabut sebagian gagang pedangnya, lalu dientakkan kembali ke dalam sarungnya sehingga mengeluarkan suara "takkk", lalu melanjutkan.
"Sekali tebas segera kubunuh dia!"
"Bagus, bagus!"
Si muka benjol sangat senang.
"Apa yang kau katakan ini harus kau tepati."
"Sudah tentu,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Cuma kalau dia tidak menguber kau ya aku tidak perlu membunuh dia."
"Betul, kalau dia tak mampu menyusul aku, boleh biarkan dia sesukanya,"
Kata si benjol dengan tertawa. Diam-diam Lenghou Tiong geli. Pikirnya.
"Sekali kau sudah lari, di dunia ini siapa yang mampu menyusul kau? Buset!"
Ia melihat sifat kakek-kakek aneh itu ketolol-tololan, tapi terang sangat polos dan bukan orang jahat, untuk dijadikan sahabat masih boleh juga. Segera ia berkata.
"Sudah lama kudengar nama kalian yang termasyhur. Hari ini dapat bertemu, nyatanya memang tidak bernama kosong. Numpang tanya, siapakah nama kalian yang terhormat?"
Kata-kata Lenghou Tiong itu sebenarnya tidak masuk akal.
Sudah menyatakan nama kakek-kakek itu termasyhur dan telah lama didengar, tapi bertanya pula tentang nama-nama mereka.
Tapi keenam kakek itu ternyata tidak memikirkan ucapan yang bertentangan itu, mereka justru sangat gembira karena nama mereka dikatakan termasyhur.
Segera si muka keriput berkata.
"Aku adalah Toako, bernama Tho-kin-sian (dewa akar Tho)."
"Dan aku adalah Jiko, bernama Tho-kan-sian (dewa dahan Tho)."
Sambung si muka kelabu.
"Dan aku entah Samko atau Siko, namaku Tho-ki-sian (dewa ranting Tho),"
Kata si muka benjol. Ia tuding si muka hitam dan menyambung pula.
"Dan dia entah Site atau Samko, dia bernama Tho-yap-sian (dewa daun Tho)."
Lenghou Tiong menjadi heran.
"Mengapa kalian berdua tidak mengetahui siapa yang lebih tua, siapa Samko dan yang mana Siko?"
Tanyanya.
"Bukan kami yang tidak tahu, tapi ayah-bundaku yang lupa,"
Kata Tho-ki-sian.
"Aneh, bagaimana ayah-bundamu bisa lupa?"
Tanya Lenghou Tiong pula terheran-heran.
"Waktu kami dilahirkan, ayah-ibu sih ingat siapa yang lebih tua, tapi beberapa tahun kemudian beliau-beliau telah lupa semua, maka sukar diketahui pula siapa Losam dan siapa Losi (si nomor tiga dan si nomor empat),"
Jawab Tho-ki-sian. Kemudian dia tunjuk si muka hitam dan menyambung.
"Tapi dia berkeras ingin menjadi Losam, aku tidak mau panggil dia Samko, dia lantas ajak berkelahi padaku, terpaksa aku mengalah padanya."
"Kiranya kalian adalah dua bersaudara,"
Kata Lenghou Tiong tertawa.
"Benar, kami berenam saudara,"
Sahut Tho-ki-sian. Diam-diam Lenghou Tiong membatin.
"Ada ayah-ibu yang sinting, pantas melahirkan anak-anak tolol begini."
Segera ia tanya pula kepada yang lain.
"Dan yang dua ini apa namanya?"
"Aku adalah Tho-hoa-sian (dewa bunga Tho),"
Sahut si muka merah.
"Dan aku Tho-sit-sian (dewa buah Tho),"
Sambung si muka kuda.
Lenghou Tiong sampai tertawa geli.
Nama Tho-hoa-sian yang merah itu memang rada-rada sama dengan warna bunga Tho, tapi potongan mukanya yang buruk itu betapa pun tidak sesuai dengan namanya yang indah itu.
Melihat Lenghou Tiong tertawa, Tho-hoa-sian salah wesel, katanya dengan tertawa.
"Di antara enam saudara hanya namaku yang paling enak didengar."
"Ya, nama Tho-hoa-sian memang sangat indah, tapi Tho-kin, Tho-kan, Tho-ki, Tho-yap dan Tho-sit juga tidak kurang indahnya,"
Ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Wah, jika namaku juga demikian indahnya tentu aku akan sangat senang."
Dasar sifat Tho-kok-lak-sian itu memang mirip anak kecil, demi mendengar nama mereka dipuji, seketika mereka sangat gembira.
Mereka anggap Lenghou Tiong adalah manusia yang paling baik di dunia ini.
Bahkan Tho-ki-sian dan Tho-sit-sian sampai berjingkrak-jingkrak dan menari.
"Dan sekarang marilah kita berangkat,"
Kata Lenghou Tiong kemudian.
Sebenarnya ia hendak minta Tho-kok-lak-sian membuka Hiat-to Liok Tay-yu yang tertutuk itu, tapi begitu mengingat keadaan guru dan ibu-gurunya sedang menghadapi bahaya, ia pikir lagi sejam dua jam biarkan Liok Tay-yu terbuka sendiri Hiat-to yang tertutuk itu daripada membuang waktu.
Dari jalanan lereng situ ke ruang pendopo Hoa-san-pay jaraknya ada belasan li, tapi perjalanan mereka sangat cepat, hanya sebentar saja mereka sudah tiba di tempat tujuan.
Begitu sampai di luar rumah lantas terlihat Lo Tek-nau, Nio Hoat, Si Cay-cu, Gak Leng-sian, Lim Peng-ci dan belasan Sute yang lain sedang berkumpul di situ, paras mereka kelihatan sedih.
Mereka menjadi girang begitu tampak datangnya Lenghou Tiong.
Lo Tek-nau lantas memapak maju, katanya dengan suara bisik-bisik.
"Toasuko, guru dan ibu-guru sedang menemui tamu di dalam."
Lenghou Tiong menoleh dan memberi isyarat agar Tho-kok-lak-sian berhenti di situ saja dan jangan bersuara. Lalu ia berkata kepada Lo Tek-nau.
"Keenam orang ini adalah kawanku, tak perlu diurus. Biar kuperiksa apa yang terjadi di dalam."
Segera ia mendekati jendela dan mengintip ke dalam ruangan.
Perbuatan Lenghou Tiong ini sebenarnya tidak pantas, tapi Lo Tek-nau dan lain-lain tahu saat ini keadaan luar biasa sehingga mereka pun tidak anggap keliru tindakan Lenghou Tiong itu.
Waktu Lenghou Tiong mengintip ke dalam, dilihatnya pada tempat tamu berduduk seorang tua berjenggot, bertubuh kekar, kedua pelipis agak menonjol, terang mempunyai Lwekang dan Gwakang yang cukup tinggi.
Pada tangan kanannya membawa Leng-ki (panji kebesaran) Ngo-gak-kiam-pay.
Di sebelahnya duduk seorang Tojin setengah umur, seorang lagi adalah Nikoh berusia 30-an lebih, lalu seorang tua pula berumur kurang-lebih setengah abad.
Dari dandanan mereka teranglah mereka adalah jago-jago dari Ko-san-pay, Thay-san-pay, Hing-san-pay dan Heng-san-pay.
Selain itu ada lagi tiga orang, semuanya berusia 50-60 tahun, dari pedang yang tergantung di pinggang mereka terang adalah orang Hoa-san-pay.
Orang pertama berparas murung dengan kulit muka kuning kemerah-merahan, mungkin inilah Hong Put-peng yang diceritakan oleh Liok Tay-yu itu.
Guru dan ibu-gurunya tampak mengiringi duduk di tempat tuan rumah, di atas meja tersedia teh dan penganan.
Terdengar si kakek dari Heng-san-pay sedang berkata.
"Gak-heng, urusan golonganmu mestinya tidak pantas kami untuk ikut campur. Tapi Ngo-gak-kiam-pay kita sudah berserikat, sama kewajiban dan sama tanggungan, jika ada sesuatu golongan yang bertindak kurang baik tentu akan ditertawai oleh sesama kawan Kangouw dan keempat golongan lain akan ikut menanggung malu, oleh karena itu, tadi Gak-hujin mengatakan Ko-san, Thay-san dan Heng-san kami tidak seharusnya ikut campur urusan orang lain. Kukira ucapan ini kurang tepat."
Mendengar itu, legalah hati Lenghou Tiong. Pikirnya.
"Mereka telah bicara sekian lamanya, kiranya masih bertengkar tentang urusan demikian dan belum sampai bergebrak. Untung Laksute menyampaikan berita padaku tepat pada waktunya sehingga aku tidak terlambat."
Maka terdengar Gak-hujin sedang menjawab.
"Dengan ucapan Pang-suheng ini apakah kau anggap Hoa-san-pay kami tidak tahu urusan sehingga membikin nama baik golonganmu ikut tercemar?"
Kakek she Pang dari Heng-san-pay itu nama lengkapnya adalah Pang Lian-eng.
Selama hidupnya memang paling suka usil, suka ikut campur urusan orang lain yang mestinya tiada sangkut pautnya dengan dia.
Kedatangannya ke Hoa-san ini bukan dia yang menjadi peranan pokok, dia juga bukan tokoh pemegang panji kebesaran Ngo-gak-kiam-pay, tapi justru dia yang paling banyak bersuara.
Dengan tertawa dingin dia lantas menjawab ucapan Gak-hujin.
"Hehe, orang mengatakan Ling-lihiap dari Hoa-san-pay adalah mahaketuanya, mestinya Cayhe tidak percaya, tapi tampaknya sekarang apa yang tersiar di Kangouw itu memang bukan omong kosong."
Gak-hujin menjadi gusar karena diolok-olok lebih berkuasa daripada suaminya, seakan-akan suaminya takut bini. Jawabnya.
"Betapa pun kedatangan Pang-suheng ini terhitung tamu kami, maka tidak pantas kami menyalahi kau. Cuma seorang kesatria Heng-san-pay yang sudah terkenal tak dinyana bisa sembarangan mengoceh demikian, kelak bila bertemu dengan Bok-taysiansing rasanya perlu kutanyakan padanya."
"O, jadi karena aku adalah tamu, maka Gak-hujin sungkan menyalahi, kalau bukan di Hoa-san sini tentu Gak-hujin sudah ayun pedang menebas kepalaku, bukan?"
Jengek Pang Lian-eng.
"Mana aku berani,"
Sahut Gak-hujin.
"Masakah Hoa-san-pay kami berani mengurusi persoalan dalam golongan kalian? Di antara orang Heng-san-pay kalian ada yang bersekongkol dengan Mo-kau, hal ini sudah tentu akan diselesaikan oleh Co-bengcu, golongan kami tidak perlu ikut campur."
Ucapan Gak-hujin ini cukup lihai.
Tentang Lau Cing-hong dari Heng-san-pay berkomplot dengan Kik Yang dari Mo-kau dan dua-duanya binasa di luar kota Heng-san, setiap orang Kangouw mengetahui mereka dibunuh oleh jago Ko-san-pay yang dikirim oleh Co-bengcu.
Dengan mengungkat kejadian itu, pertama, Gak-hujin sengaja mengorek borok Heng-san-pay, kedua, dia menyindir Pang Lian-eng yang telah melupakan sakit hati terbunuhnya Suheng sendiri, tapi sekarang malah mendukung orang Ko-san-pay dan datang mencari perkara kepada Hoa-san-pay.
Benar juga seketika air muka Pang Lian-eng berubah hebat.
Teriaknya dengan sengit.
"Gak-hujin, dari zaman dulu kala sampai sekarang, dari golongan atau aliran mana yang tidak pernah terdapat murid murtad? Kedatangan kami ke Hoa-san sekarang justru hendak menegakkan keadilan dan membantu Hong-toako membersihkan anasir jahat dari perguruannya."
"Siapa adalah anasir jahat yang kau maksudkan?"
Jawab Gak-hujin dengan sikap menantang.
"Jelek-jelek suamiku disebut orang sebagai 'Kun-cu-kiam', tapi kau, apa julukanmu?"
Paras Pang Lian-eng menjadi merah.
Kiranya julukannya yang resmi adalah "Kim-gak-tiau" (rajawali bermata emas), tapi di belakangnya orang Bu-lim suka memanggilnya "Kim-gak-oh-ah" (si gagak bermata emas), yaitu karena dia banyak omong, suka cerewet mencampuri urusan orang lain dan menjemukan.
Dengan pertanyaan Gak-hujin itu sudah tentu ia tahu yang dimaksudkan oleh nyonya rumah itu sekali-kali bukan julukan "Kim-gak-tiau", tapi adalah si gagak bermata emas.
Dianggap gagak, keruan Pang Lian-eng tambah gusar.
Teriaknya.
"Hm, suamimu berjuluk Kun-cu-kiam apa? Di atas Kun-cu (laki-laki sejati) itu kukira harus ditambah lagi satu huruf 'Wi' (palsu, maksudnya menjadi laki-laki palsu)."
Mendengar sang guru dihina secara terang-terangan, Lenghou Tiong tidak tahan lagi. Cuma dia belum kenal asal usul Pang Lian-eng, segera ia menoleh dan tanya Lo Tek-nau.
"Lo-sute, apa sih nama julukan manusia ini?"
Lo Tek-nau masuk perguruan sudah memiliki ilmu silat lebih dulu, pengalamannya di dunia Kangouw juga sudah luas dan banyak kejadian-kejadian di dunia persilatan yang pernah didengarnya.
Segera ia menjawab.
"Orang menjuluki si tua ini sebagai 'si gagak bermata emas'."
Tanpa berpikir lagi Lenghou Tiong terus berteriak dari luar.
"Hai, itu gagak bermata buta, kalau berani lekas keluar ke sini!"
Suara tanya-jawab Lenghou Tiong dengan Lo Tek-nau itu telah didengar oleh Gak Put-kun, diam-diam ia heran mengapa muridnya itu turun dari puncak pertapanya? Segera ia mencelanya.
"Jangan kurang sopan, anak Tiong. Pang-susiok adalah tamu, mana boleh kau sembarangan omong?"
Keruan mata Pang Lian-eng merah berapi, dadanya hampir-hampir meledak saking gusarnya. Dia sudah pernah dengar apa yang terjadi dengan Lenghou Tiong di kota Heng-san, maka ia lantas memaki.
"Hah, kukira siapa, tak kusangka adalah bocah yang suka main perempuan di Heng-san itu! Hm, jago-jago Hoa-san-pay benar-benar hebat sekali."
"Betul,"
Jawab Lenghou Tiong tertawa.
"aku memang pernah main perempuan di kota Heng-san, lonte kenalanku itu she Pang."
"Kau ... kau masih berani mengoceh tak keruan!"
Bentak Gak Put-kun.
Mendengar sang guru benar-benar sudah gusar, Lenghou Tiong tidak berani bersuara pula.
Tapi Hong Put-peng dan kawan-kawannya yang duduk di dalam ruangan itu tanpa merasa sama tersenyum.
Sekonyong-konyong Pang Lian-eng melompat ke tepi jendela.
"blang" , ia depak daun jendela hingga sempal dan mencelat. Ia tidak kenal Lenghou Tiong, maka dengan menuding rombongan anak murid Hoa-san-pay ia membentak.
"Yang bicara tadi adalah binatang yang mana?"
Anak murid Hoa-san-pay semua bungkam tak menjawabnya.
"Maknya,"
Pang Lian-eng mengumpat pula.
"Aku tanya, mana yang bicara barusan ini?"
"Barusan adalah kau sendiri yang bicara, dari mana aku bisa tahu binatang apa?"
Kata Lenghou Tiong dengan tertawa. Berulang kali Pang Lian-eng dicaci oleh Lenghou Tiong, memangnya dia sudah murka, terutama ucapan "lonte yang kukenal di Heng-san itu she Pang"
Itu benar-benar sangat menghinanya, sebab ini berarti orang dari keluarga Pang yang telah menjadi pelacur.
Apalagi kata-kata "dari mana aku bisa tahu binatang apa", ini seakan-akan langsung menganggapnya sebagai binatang.
Sebagai tokoh yang tingkatannya lebih tua, keruan Pang Lian-eng berjingkrak murka, ia tidak tahan lagi.
Sambil mengerang keras-keras ia terus menerjang ke arah Lenghou Tiong.
Melihat datangnya lawan yang sedang kalap itu, cepat Lenghou Tiong melompat mundur dan segera hendak mencabut pedang.
Tapi tiba-tiba sesosok bayangan orang sudah berkelebat, dari dalam pendopo telah melayang keluar seorang, di mana cahaya pedang mengilat.
"cring", kontan Pang Lian-eng telah dihalangi. Kiranya orang itu adalah nyonya Gak.
"Kita adalah orang sendiri, ada urusan apa boleh dibicarakan secara baik-baik, buat apa pakai kekerasan?"
Seru Gak Put-kun sambil melangkah keluar.
Ia lolos pedang dari pinggangnya Lo Tek-nau, sekali putar terus tekan ke bawah, kontan pedangnya telah menahan ke bawah kedua batang pedang Pang Lian-eng dan Gak-hujin yang sedang beradu itu.
Sekuatnya Pang Lian-eng hendak mengangkat pedangnya, tapi sedikit pun bergeming, pedang Gak Put-kun tak dapat digeser sama sekali.
Keruan ia tersipu-sipu, dengan muka merah kembali ia mengerahkan tenaganya pula.
"Ngo-gak-kiam-pay kita adalah sejalan dan sehaluan seperti orang sekeluarga, hendaklah Pang-suheng jangan merisaukan kata-kata anak kecil,"
Kata Gak Put-kun sambil tertawa. Lalu ia menoleh menyemprot Lenghou Tiong.
"Kau sembarangan mengoceh, hayo lekas minta maaf pada Pang-supek!"
Lenghou Tiong tidak berani membantah, terpaksa ia melangkah maju dan memberi hormat, katanya.
"Maaf Pang-supek, tadi aku telah sembarangan omong seperti burung gagak yang berkaok-kaok tak keruan dan mencemarkan nama baik tokoh persilatan yang terhormat, sungguh lebih rendah daripada binatang, hendaklah engkau jangan marah, aku tidak sengaja memaki engkau. Ocehan gagak busuk, gagak celaka tadi anggap saja seperti kentut."
Begitulah berulang-ulang ia menyebut gagak busuk segala, sudah tentu semua orang mengetahui secara tidak langsung dia sedang memaki Pang Lian-eng lagi.
Masih mendingan orang lain, tapi Gak Leng-sian sudah tidak tahan lagi sehingga mengikik tawa.
Dalam pada itu Gak Put-kun merasakan Pang Lian-eng berturut-turut tiga kali telah mengerahkan tenaga dengan maksud hendak melepaskan pedang dari tindihan pedangnya.
Gak Put-kun tersenyum sambil perlahan-lahan menarik pedangnya dan dikembalikan kepada Lo Tek-nau.
Saat itu Pang Lian-eng sedang berusaha mengangkat pedangnya ke atas, ketika daya tekanan dari atas mendadak lenyap, maka terdengarlah suara "trang-trang"
Dua kali, dua batang pedang patah telah jatuh ke lantai.
Pedang Pang Lian-eng dan Gak-hujin masing-masing tinggal separuh saja, dan karena saking nafsunya dia mengangkat pedangnya sehingga jidat Pang Lian-eng sendiri hampir-hampir terbacok oleh senjata patah.
Untung dia sempat menahannya, tapi juga sudah kelabakan dan muka merah.
"Ka ... kau ... dua mengeroyok satu,"
Bentak Pang Lian-eng dengan gusar.
Tapi lantas teringat olehnya bahwa pedang Gak-hujin juga patah tertindih oleh tenaga dalam Gak Put-kun.
Jadi terang Gak Put-kun hanya ingin memisah pertarungan itu dan tiada maksud hendak membela istrinya.
Maka dengan muka merah padam mendadak ia membuang pedangnya yang patah, lalu putar tubuh dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Di waktu menggunakan pedangnya untuk menindih patah pedang kedua orang, Gak Put-kun sudah melihat di belakang Lenghou Tiong berdiri Tho-kok-lak-sian yang berpotongan sangat aneh, diam-diam ia heran dan segera memberi salam.
"Maafkan jika ada sambutan yang kurang baik atas kunjungan tuan-tuan berenam."
Akan tetapi Tho-kok-lak-sian hanya terbelalak saja, tidak balas memberi hormat, juga tidak bicara. Segera Lenghou Tiong berkata.
"Ini adalah Suhuku, ketua Hoa-san-pay ...."
Belum habis ucapannya, mendadak Hong Put-peng telah menyela.
"Memang betul dia adalah gurumu, tapi apakah dia juga ketua Hoa-san-pay, ini harus tunggu nanti. Nah, Gak Put-kun, Ci-he-sin-kang yang telah kau pertunjukkan tadi sungguh hebat. Tapi melulu mengandalkan kepandaian itu saja belum tentu mampu mengetuai Hoa-san. Setiap orang mengetahui bahwa Hoa-san-pay adalah satu di antara Ngo-gak-kiam-pay, lima aliran ilmu pedang dari lima gunung, dan dengan sendirinya mengutamakan ilmu pedang. Tapi kau hanya berlatih tentang 'Khi' (hawa, tenaga dalam) saja sehingga kau sebenarnya telah menyeleweng, yang kau latih sudah bukan ajaran murni perguruan sendiri lagi."
"Ucapan Hong-heng ini agak berlebihan,"
Sahut Gak Put-kun.
"Memang betul yang dimainkan Ngo-gak-kiam-pay adalah pedang, tapi setiap golongan dan aliran tentu juga mengutamakan 'tenaga dalam menyertai pedang'. Ilmu pedang adalah pelajaran luar, Khikang adalah pelajaran dalam. Luar-dalam harus dilatih barulah ilmu silatnya dapat sempurna. Bila menurut ucapan Hong-heng tadi dan cuma berlatih ilmu pedang melulu, bila bertemu ahli Lwekang tentu akan kelihatan kelemahanmu."
"Itu pun belum tentu,"
Kata Hong Put-peng dengan tertawa dingin.
"Paling baik memang orang yang serbapandai. Tapi umur manusia terbatas, mana ada kesempatan bagimu untuk meyakinkan segala macam ilmu itu? Untuk meyakinkan ilmu pedang saja belum tentu bisa sempurna, masakah masih ada kesempatan untuk meyakinkan Lwekang apa segala? Seperti dikatakan orang, tangan kiri melukis lingkaran, tangan kanan menggambar persegi, kedua-duanya takkan jadi. Contoh ini sudah cukup menunjukkan bahwa seorang tidak mungkin sekaligus meyakinkan macam-macam ilmu dengan sempurna. Aku tidak mengatakan berlatih Khikang kurang baik, cuma ilmu silat sejati dari Hoa-san-pay kita bukanlah Khi, tapi adalah Kiam, ilmu pedangnya. Bahwasanya kau ingin belajar ilmu silat dari golongan lain apa salahnya, sedangkan belajar ilmu dari Mo-kau saja orang tak bisa urus, apalagi meyakinkan Khikang. Tapi manusia umumnya memang tamak, kalau bisa ingin dapat lebih banyak, tapi sering-sering ketamakan itulah mendatangkan malapetaka malah. Sekarang kau mengetuai Hoa-san-pay dan telah tersesat jalan, bencana yang ditimbulkan olehmu sungguh celaka bagi anak murid Hoa-san-pay umumnya."
"Membawa bencana bagi anak murid Hoa-san-pay, kukira ini sukar dibuktikan,"
Ujar Gak Put-kun dengan tersenyum.
"Mengapa sukar dibuktikan?"
Mendadak si pendek yang berada di sebelah Hong Put-peng berteriak.
Perawakannya pendek, tapi suaranya ternyata sekeras guntur sehingga mengejutkan orang.
Hanya Gak Put-kun yang Lwekangnya cukup sempurna sama sekali tidak tergetar oleh suaranya itu.
Melihat kepandaian "Say-cu-ho" (auman singa) yang sangat diandalkan itu sedikit pun tidak mengejutkan Gak Put-kun, diam-diam si pendek gusar.
Segera ia berteriak lebih keras lagi.
"Kau bilang tiada buktinya? Ini, murid-muridmu yang tak becus ini bukankah korban bencana yang kau perbuat? Kepandaian apa yang mereka miliki?"
Suaranya yang lebih keras itu membuat anak telinga semua orang mendengung-dengung seakan-akan pekak. Tapi Gak Put-kun tetap tersenyum saja, katanya.
"Seng-heng, ilmu 'Say-cu-ho' ini sebenarnya berasal dari kaum Buddha, jika sudah terlatih sempurna, sekali gertak saja dapat meruntuhkan ratusan atau ribuan orang, kekuatannya memang tiada taranya."
Si pendek she Seng itu bernama Put-yu, arti namanya adalah "tidak sedih", tapi wataknya sangat keras, berangasan.
Begitu mendengar ucapan Gak Put-kun tadi, ia terkesiap dan mengakui pengetahuan Gak Put-kun yang luas.
Namun dengan gusar ia lantas berkata pula.
"Hm, apakah kau hendak bilang Lwekangku kurang murni, ilmu 'Say-cu-ho' ini belum sempurna, bukan?"
"Mana aku berani bermaksud demikian,"
Sahut Put-kun.
"Cuma ilmu Say-cu-ho ini adalah ilmu sakti kaum Buddha, untuk bisa melatihnya hingga sempurna memang tidaklah mudah. Padri-padri saleh yang benar-benar mahir ilmu ini pada zaman sekarang mungkin dapat dihitung dengan jari."
Ucapan Gak Put-kun itu kedengarannya sopan santun, tapi kalau diteliti lebih dalam, terang dia sedang mengolok-olok kepandaian Seng Put-yu yang dianggapnya belum sempurna.
Watak Seng Put-yu sangat keras tapi otaknya kurang encer.
Sesudah tertegun sejenak barulah paham maksud ucapan Gak Put-kun itu, keruan ia menjadi gusar.
"Sret", pedangnya lantas dilolos dan berteriak pula.
"Hong-suheng telah menyatakan kau tidak sesuai menjabat ketua Hoa-san-pay, kulihat kau memang tidak pantas juga. Nah, kau ingin mundur teratur atau minta diseret turun dari kedudukanmu?"
"Seng-heng,"
Jawab Gak Put-kun.
"cabang Kiam-cong (sekte pedang) kalian sudah meninggalkan perguruan kita pada 30 tahun yang lalu dan tidak mengaku sebagai murid Hoa-san-pay pula, mengapa hari ini kalian datang mencari perkara? Jika kalian anggap memiliki kepandaian hebat, boleh saja kalian mendirikan pangkalan sendiri untuk mengalahkan Hoa-san-pay di dunia persilatan, jika demikian halnya maka aku pun akan menyerah lahir-batin. Tapi sekarang kalian sengaja cari perkara, selain membikin buruk hubungan baik kita, apa sih faedahnya."
"Gak-suheng,"
Seru Seng Put-yu.
"Cayhe memang tiada permusuhan apa-apa dengan kau dan mestinya tidak perlu bercekcok. Cuma kau sudah mengangkangi kedudukan Hoa-san-pay dan menyesatkan anak muridmu yang mengutamakan berlatih Khi dan tidak meyakinkan Kiam, akibatnya nama dan wibawa Hoa-san-pay kita makin hari makin runtuh, tanggung jawab ini betapa pun tak bisa kau elakkan. Sebagai murid Hoa-san-pay tak dapatlah aku tinggal diam saja."
Baru sekarang Lenghou Tiong tahu jelas bahwa Hong Put-peng dan si pendek Seng Put-yu ini adalah murid sekte pedang dari perguruannya sendiri. Maka terdengar Gak Put-kun sedang menjawab.
"Seng-heng, percekcokan sekte Khi dan sekte Kiam kita sudah berlangsung sejak lama. Pada pertandingan di puncak Giok-li-hong dahulu sudah jelas siapa yang kalah dan siapa yang menang. Kejadian yang sudah ditentukan beberapa puluh tahun yang lalu itu apa gunanya kalian mengungkat-ungkatnya pula?"
"Tentang kalah atau menang pada pertandingan dahulu itu siapa yang menyaksikannya?"
Kata Seng Put-yu.
"Dengan lain perkataan, kedudukanmu sebagai ketua ini diperoleh secara tidak beres, kalau tidak, Co-bengcu sebagai pemimpin Ngo-gak-kiam-pay sampai-sampai mengirimkan panji kebesarannya ini dan memerintahkan kau mengundurkan diri?"
"Ya, kukira di dalam soal ini tentu ada sesuatu yang tidak beres,"
Sahut Gak Put-kun.
"Biasanya Co-bengcu cukup bijaksana, menurut pikiran sehat tentu beliau takkan begitu saja mengirimkan panji kebesarannya dan suruh mengganti ketua Hoa-san-pay."
"Memangnya apakah kau sangka panji ini palsu?"
Tanya Seng Put-yu sambil menunjuk panji Ngo-gak-kiam-pay itu.
"Panji itu sih tidak palsu, cuma panji adalah benda mati, barang bisu, tak bisa bicara,"
Ujar Put-kun. Mendadak si kakek berjenggot dari Ko-san-pay itu ikut bicara.
"Gak-suheng mengatakan panji ini barang bisu, apakah aku Theng Eng-gok juga bisu?"
"Mana aku berani berkata demikian,"
Sahut Put-kun.
"Cuma persoalan ini sangat penting, Cayhe harus bertemu sendiri dulu dengan Co-bengcu baru dapat mengambil keputusan."
"Jika demikian, jadi Gak-suheng tak dapat memercayai aku si orang she Theng ini?"
Kata si kakek berjenggot yang bernama Theng Eng-gok itu dengan kurang senang.
"Mana aku berani,"
Kata Put-kun.
"Seumpama Co-bengcu benar-benar mempunyai maksud demikian juga beliau tak dapat melulu percaya kepada satu pihak saja lantas memberikan perintahnya. Betapa pun beliau juga mesti mendengar kata-kataku dahulu."
"Ah, apa gunanya banyak omong? Pendek kata kedudukanmu sebagai ketua ini terang tak mau diserahkan, bukan?"
Sela Seng Put-yu sambil melolos pedang terus menyerang.
Berbareng dengan selesai ucapannya, sekaligus ia sudah menyerang empat kali.
Empat kali serangan itu cepatnya luar biasa, yang paling hebat adalah empat serangan itu satu sama lain berbeda gerakannya, benar-benar luar biasa lihainya.
Tusukan pertama menembus baju bagian bahu kiri, tusukan kedua menembus baju bahu kanan, tusukan ketiga menembus baju dekat lambung kanan dan tusukan keempat menembus baju bagian lambung kiri.
Jadi empat kali tusukan telah membuat baju Gak Put-kun berlubang delapan buah, untungnya tusukan-tusukan itu semuanya lewat dekat kulit badannya dan tiada sedikit pun melukai.
Betapa hebat dan bagusnya serangan-serangan ini benar-benar sudah mencapai tingkatan yang sangat sempurna.
Keruan para anak murid Hoa-san-pay sama terperanjat menyaksikan itu.
Pikir mereka.
"Keempat jurus serangan itu adalah sejalan dengan ilmu pedang perguruan kita sendiri, cuma selamanya tak pernah melihat dimainkan sang guru. Jago dari sekte pedang memang benar-benar lain daripada yang lain."
Sebaliknya Theng Eng-gok, Hong Put-peng dan lain-lain merasa lebih kagum terhadap Gak Put-kun.
Sudah terang empat jurus serangan Seng Put-yu itu sangat lihai dan mematikan, namun Gak Put-kun tetap menghadapinya dengan tersenyum dan tenang, kesabarannya sebagai seorang yang berlatih ilmu dalam sungguh jarang terdapat.
Dan kalau dia dapat menghadapi serangan-serangan lihai itu dengan acuh tak acuh, tentu Gak Put-kun sudah mempunyai perhitungan sendiri, bilamana perlu sekali turun tangan tentu dia mampu mengalahkan Seng Put-yu.
Dalam keadaan demikian walaupun Gak Put-kun sama sekali belum balas menyerang, namun perbawanya tiada ubahnya seperti dia sudah di pihak yang menang.
Sedangkan Lenghou Tiong tengah menyelami keempat jurus serangan yang dilancarkan Seng Put-yu tadi.
Meski gaya empat kali serangan itu sangat aneh, tapi ia merasa sudah kenal betul, yaitu dua jurus serangan menurut ukiran di dinding gua belakang yang telah dipelajarinya itu.
Cuma di sini Seng Put-yu telah mengubah dua jurus itu menjadi empat gerakan, padahal sebenarnya cuma dua jurus saja.
Pikirnya diam-diam.
"Apanya yang mengherankan kedua jurus serangannya itu? Tapi tampaknya dia sangat bangga dengan kepandaiannya itu."
Sementara itu terdengar Gak-hujin telah berkata.
"Seng-heng, suamiku hanya mengalah mengingat kalian adalah tamu kami. Kau sudah menusuk empat kali di atas bajunya, jika kau masih tidak tahu diri, betapa pun Hoa-san-pay menghormati tamunya juga ada batasnya!"
Seng Put-yu memang sangat bangga dengan empat kali serangannya, tapi walaupun dia kagum juga terhadap sikap Gak Put-kun yang tenang-tenang itu, namun dilihatnya sikap Gak-hujin rada khawatir, terang agak jeri terhadap ilmu pedangnya tadi, keruan rasa sombong Seng Put-yu bertambah, segera ia menjawab.
"Huh, mengalah kepada tamu apa? Asalkan Gak-hujin mampu memecahkan empat jurus seranganku tadi, tanpa disuruh juga aku akan segera pergi dari sini dan takkan menginjak lagi puncak Giok-li-hong ini."
Biarpun pengalamannya luas dan membanggakan ilmu pedangnya sendiri tapi melihat sikap Gak Put-kun yang tenang-tenang itu, ia pun tidak berani menantang lagi padanya, sebagai gantinya ia berbalik menantang Gak-hujin yang dianggapnya kaum wanita lemah dan gampang dibekuk, dalam keadaan demikian tentu Gak Put-kun akan bingung menghadapi Hong Put-peng.
Begitulah segera ia menegakkan pedang dan berseru.
"Nah, silakan Gak-hujin! Ling-lihiap adalah jago terkemuka Hoa-san-pay yang terkenal, hari ini Seng Put-yu dari sekte pedang ingin belajar kenal dengan ilmu dalam andalanmu."
Dengan ucapannya ini secara tidak langsung ia hendak menyatakan pertarungan kembali antara kedua sekte Hoa-san-pay yang berbeda paham itu.
Dasar watak Gak-hujin memang lebih keras daripada sang suami, sudah tentu dia tak tahan atas tantangan Seng Put-yu itu.
"Sret" , segera pedang dilolosnya. Tapi sebelum dia membuka suara, Lenghou Tiong sudah lantas berseru.
"Sunio, kepandaian sekte pedang yang tersesat ini masakan dapat dibandingkan ilmu silat murni ajaran perguruan kita. Biarlah Tecu coba-coba dulu padanya, jika Khikangku tidak mampu menandinginya barulah nanti Sunio membereskan dia."
Dan tanpa menunggu jawaban Gak-hujin segera ia melangkah maju, tahu-tahu tangannya sudah membawa sebuah sapu bobrok yang dijemputnya dari pojok dinding sana.
Sambil mengacung-acungkan sapunya dia berkata kepada Seng Put-yu.
"Seng-suhu, kau bukan lagi orang seperguruan, maka sebutan Supek atau Susiok tidak berlaku lagi. Jika kau mau insaf dan masuk kembali ke perguruanku, entah Suhu sudi menerima kau atau tidak? Seumpama Suhu sudi menerima kau, namun menurut peraturan Hoa-san-pay, orang yang masuk perguruan lebih belakang harus panggil Suheng padaku. Nah, mau tidak?"
Habis berkata ia putar balik sapunya dan menuding ke arah Seng Put-yu. Keruan Seng Put-yu menjadi murka, bentaknya.
"Anak keparat, sembarangan mengoceh! Asalkan kau mampu menahan empat kali seranganku tadi, aku Seng Put-yu akan mengangkat kau sebagai guru!"
Lenghou Tiong menggeleng-gelengkan kepala, sahutnya.
"Tidak, aku tidak sudi mempunyai murid seperti kau ...."
Belum lenyap suaranya, Seng Put-yu sudah berjingkrak murka.
"Lolos pedangmu dan terima kematian!"
Bentak Seng Put-yu.
"Di mana tenaga murni tiba biarpun sebatang rumput juga mirip senjata tajam, terhadap beberapa jurus serangan Seng-heng yang sepele itu buat apa mesti pakai pedang?"
Sahut Lenghou Tiong dengan sikap mengejek.
"Baik, adalah kau sendiri yang sombong, maka jangan menyalahkan aku turun tangan keji,"
Kata Seng Put-yu.
Gak Put-kun dan Gak-hujin tahu ilmu silat Seng Put-yu jauh lebih tinggi daripada Lenghou Tiong, hanya sebatang sapu saja dapat berbuat apa?
Jika pertandingan berlangsung tentu akan sangat berbahaya bagi pemuda itu.
Maka cepat mereka membentak.
"Mundur, anak Tiong!"
Namun sudah terlambat, sinar pedang berkelebat, Seng Put-yu sudah mulai menyerang.
Ia telah menusuk, yang digunakan memang betul adalah jurus serangannya terhadap Gak Put-kun tadi.
Sebabnya dia tidak pakai jurus serangan lain, pertama, keempat jurus serangan itu memang kepandaiannya yang paling diandalkan.
Kedua, dia sudah menyatakan lebih dulu akan tetap menggunakan empat jurus serangan itu.
Ketiga, dia sengaja menggunakan serangan-serangan yang sudah dikenal lawan, dengan demikian supaya orang lain takkan mengatakan dia menang karena bersenjata.
Sebaliknya diam-diam Lenghou Tiong sudah merancangkan cara menghadapi jurus-jurus serangan Seng Put-yu itu.
Dari gambar-gambar ukiran dinding yang dilihatnya di dalam gua itu, semuanya melukiskan pemakaian senjata aneh untuk mengalahkan pedang lawan.
Bila sekarang dirinya memakai pedang, padahal Tokko-kiu-kiam belum terlatih dengan sempurna, tentu sukar memperoleh kemenangan malah.
Sebaliknya sapu bobrok ini kebetulan dapat digunakan sebagai Lui-cin-tang (sejenis senjata berbentuk serok).
Begitulah, maka ketika dilihatnya pedang Seng Put-yu menusuk ke arahnya, kontan sapu Lenghou Tiong terus menyapu ke muka lawan.
Tindakan Lenghou Tiong ini sebenarnya sangat berbahaya.
Kalau senjata yang dia gunakan benar-benar Lui-cin-tang yang terbuat dari baja, maka serangannya ini tentu akan memaksa lawan menarik kembali pedangnya untuk menangkis.
Tapi sekarang senjatanya hanya sebatang sapu bobrok, paling-paling lidinya akan menggores beberapa jalur luka di muka lawan saja, lebih dari itu tidak mungkin lagi.
Sebaliknya pedang Seng Put-yu tentu akan menembus dadanya.
Namun Lenghou Tiong agaknya sudah memperhitungkan lawannya adalah jago angkatan tua, tentu mukanya tidak sudi disapu oleh sebuah sapu yang kotor itu.
Sekalipun dia dapat membinasakan lawannya juga sukar mencuci bersih rasa malu tersapunya muka oleh sapu yang penuh tahi ayam dan debu kotor itu.
Dan benar juga, di tengah jerit khawatir orang banyak, tiba-tiba Seng Put-yu memalingkan mukanya untuk menghindar dan menarik kembali pedangnya untuk menangkis.
Cepat Lenghou Tiong juga menahan sapunya ke bawah untuk menghindarkan benturan dengan pedang musuh.
Bab 37.
Tubuh Seng Put-yu Dibeset Menjadi Empat Hanya satu gebrakan saja Seng Put-yu sudah terpaksa menarik kembali pedangnya untuk menangkis, tanpa terasa mukanya menjadi merah jengah.
Ia tidak tahu bahwa usapan sapu Lenghou Tiong sebenarnya adalah ciptaan belasan jago Mo-kau, sebaliknya ia menyangka berhasilnya Lenghou Tiong mematahkan serangannya hanya karena kebetulan saja.
Dengan gusar serangan kedua segera dilontarkan pula menuju dada dekat ketiak.
Namun Lenghou Tiong sempat mengegos pula, ia pindahkan sapu ke tangan kiri, tampaknya seperti menghindari tusukan pedang lawan, tapi secepat kilat sapunya menyambar pula ke depan mengarah dada Seng Put-yu.
Gagang sapu lebih panjang daripada pedang, meski sapunya bergerak belakangan, tapi tiba lebih dulu pada sasarannya, belum sempat Seng Put-yu putar kembali pedangnya, beberapa jalur ujung sapu yang lemas itu sudah mengenai dadanya, berbareng Lenghou Tiong berseru.
"Kena!"
Akan tetapi hampir pada saat yang sama sapunya tertebas kutung oleh pedang lawan.
Namun para penonton dapat melihat dengan jelas bahwa Seng Put-yu yang kalah.
Apabila senjata yang digunakan Lenghou Tiong bukan sapu melainkan senjata panjang terbuat dari besi, maka dada Seng Put-yu pasti sudah terluka parah.
Bilamana lawannya adalah tokoh kelas tinggi tentu Seng Put-yu akan melempar pedang dan mengaku kalah.
Tapi sekarang yang mengalahkan dia hanya seorang murid angkatan kedua, bahkan dikalahkan hanya dengan sebuah sapu, ke mana lagi dia harus menaruh mukanya.
Tanpa bicara lagi.
"sret-sret-sret" , berturut-turut ia melancarkan tiga kali serangan lihai. Dua jurus serangan di antaranya sama dengan ukiran di dalam dinding gua, satu jurus lainnya meski belum dikenal oleh Lenghou Tiong, tapi sejak dia berhasil mempelajari "cara mengalahkan ilmu pedang"
Dari Tokko-kiu-kiam, untuk mematahkan segala macam serangan pedang boleh dikata bukan sesuatu yang sukar lagi baginya.
Segera Lenghou Tiong berkelit menghindarkan serangan pertama, menyusul ia gunakan gagang sapu sebagai toya untuk membentur batang pedang lawan sehingga menceng ke samping.
Jurus ketiga dia sambut dengan "toya", ujung pedang lawan dipapak dengan toya.
Jika yang dipegang Lenghou Tiong itu benar-benar toya terbuat dari baja, maka toya yang keras itu akan melawan pedang yang agak lemas, tentu pedang akan patah seketika, cara ini memang amat bagus untuk mematahkan serangan lawan dan pemakai pedang pasti akan celaka.
Tak terduga karena permainan dalam keadaan tergesa-gesa itu Lenghou Tiong lupa bahwa senjata yang dipegangnya itu hanya batang bambu bekas sapu yang sudah terkutung ujungnya, toya bambu ketemu pedang baja, dengan sendirinya bambunya kalah.
"cret" , ujung pedang menancap masuk ke tengah tabung bambu. Pikiran Lenghou Tiong dapat bekerja dengan cepat, tangan kanan segera digunakan menghantam batang bambu itu dari samping, kontan bambu yang berisikan pedang itu mencelat jauh ke sana. Dari malu Seng Put-yu menjadi murka, tangan kiri menyambar secepat kilat.
"brak" , dengan tepat dada Lenghou Tiong kena digenjot olehnya. Kepandaian Seng Put-yu adalah hasil latihan dari berpuluh tahun, sebaliknya Lenghou Tiong hanya mengandalkan gerak tipu yang aneh, sudah tentu tenaga dalamnya sekali-sekali bukan tandingan Seng Put-yu, kontan ia roboh terjungkal, darah segar lantas menyembur dari mulutnya. Sekonyong-konyong beberapa bayangan orang berkelebat, tahu-tahu kedua tangan dan kedua kaki Seng Put-yu diangkat ke atas oleh orang, terdengarlah suara jeritan ngeri, menyusul darah bertebaran memenuhi lantai bercampur dengan isi perut yang berhamburan. Ternyata badan Seng Put-yu telah dibetot mentah-mentah menjadi empat potong, setiap anggota badannya itu dipegang oleh seorang yang berwajah buruk dan aneh. Kiranya empat dari Tho-kok-lak-sian yang membeset tubuh Seng Put-yu. Kejadian yang cepat dan luar biasa ini membikin setiap orang terkesima kaget. Saking ngerinya Gak Leng-sian sampai menjerit dan jatuh pingsan. Perubahan yang mendadak itu sekalipun Gak Put-kun, Hong Put-peng dan tokoh-tokoh kelas tinggi pun tertegun di tempatnya dengan mulut melongo. Pada saat yang hampir sama, Tho-kan-sian yang bermuka kelabu dan Tho-sit-san yang bermuka kuda itu pun melayang maju mendekati Lenghou Tiong, dengan cepat luar biasa mereka angkat tubuh pemuda itu terus dibawa lari ke bawah gunung dengan cepat luar biasa. Berbareng Gak Put-kun dan Hong Put-peng juga bergerak, pedang mereka menusuk dua orang di antara enam tamu aneh itu, tapi lantas terdengar suara "crang-cring"
Dua kali, pedang mereka lantas patah menjadi dua. Hanya dalam sekejap mata saja keempat "dewa"
Itu sudah menghilang dengan Ginkang mereka yang tinggi.
Waktu pedang Gak Put-kun dan Hong Put-peng tergetar patah, mereka merasa badan sasarannya itu bukanlah badan dari darah dan daging, keruan mereka terperanjat.
Tapi mereka lantas sadar juga bahwa di punggung kedua orang aneh itu tentu terdapat benda keras sebangsa pelat besi dan sebagainya, kalau tidak masakah mampu menahan tusukan dua jagoan seperti Gak Put-kun dan Hong Put-peng.
Jago Hoa-san-pay yang satu lagi bernama Ko Put-ek, dia juga menyambitkan sebatang panah kecil dan jago Ko-san-pay yang berjenggot telah menimpukkan sebuah paku, sambaran kedua senjata rahasia ini sangat keras, tapi juga terdengar suara "tring-tring"
Dua kali, walaupun mengenai sasarannya, namun punggung kedua orang aneh itu tidak terluka sedikit pun, hanya dalam sekejap saja keenam manusia aneh sudah menghilang dengan menggondol Lenghou Tiong.
Gak Put-kun, Hong Put-peng, Theng Eng-gok, Ko Put-ek dan lain-lain hanya saling pandang dengan melongo, sudah terang mereka tidak sanggup mengejar kecepatan Tho-kok-lak-sian itu.
Mereka merasa ngeri dan sedih melihat darah berceceran memenuhi lantai dengan jenazah Seng Put-yu yang sudah terbeset menjadi empat potong itu.
Selang agak lama barulah Theng Eng-gok membuka suara.
"Gak-heng, apakah engkau tidak kenal asal-usul keenam orang aneh itu?"
Put-kun menggeleng kepala, sorot matanya menatap ke arah Hong Put-peng dengan maksud bertanya, tapi Hong Put-peng juga geleng-geleng kepala, begitu pula yang lain.
Dalam pada itu Lenghou Tiong yang terluka parah karena hantaman Seng Put-yu, selama jatuh pingsan dia telah dibawa lari oleh kedua "dewa".
Waktu dia siuman kembali, segera dilihatnya dirinya berbaring di dalam kamar, sebuah wajah yang panjang seperti muka kuda dengan mata yang bersinar tajam sedang menatapnya dengan penuh rasa cemas dan khawatir.
Melihat Lenghou Tiong membuka mata, dengan girang Tho-hoa-sian berseru.
"Aha, dia sudah sadar, sudah sadar! Bocah ini takkan mati."
"Sudah tentu takkan mati, hanya pukulan begitu saja masakah bisa membuatnya mati?"
Ujar Tho-sit-sian.
"Huh, enak saja kau bicara,"
Bantah Tho-hoa-sian.
"Coba kalau pukulan itu mengenai tubuhmu, sudah tentu tak bisa melukaimu, tapi bocah ini mana bisa dibandingkan dirimu, bukan mustahil dia akan mati terhantam."
"Sudah terang dia tidak mati, mengapa kau bilang dia akan terhantam mati?"
Sahut Tho-sit-sian.
"Aku kan tidak bilang pasti akan mati, tapi aku mengatakan bukan mustahil akan terpukul mati,"
Kata Tho-hoa-sian.
"Kalau dia sudah siuman kembali tentu tidak ada alasan dikatakan bukan mustahil akan mati,"
Sahut Tho-sit-sian dengan ngotot.
"Aku tetap akan berkata demikian, habis kau mau apa?"
Kata Tho-hoa-sian dengan aseran.
"Itu membuktikan pandanganmu kurang tepat, boleh dikatakan pula pada hakikatnya kau tidak tahu,"
Ujar Tho-sit-sian.
"Jika kau tahu pasti dia takkan mati, mengapa tadi kau sendiri menghela napas dan merasa khawatir dan sedih?"
Debat Tho-hoa-sian.
"Aku menghela napas bukan mengkhawatirkan kematiannya, tapi khawatir si nona cilik akan merasa cemas bila melihat keadaannya ini,"
Sahut Tho-sit-sian.
"Kedua, dasarnya mukaku memang panjang seperti muka kuda, potongan muka yang panjang seperti aku ini dengan sendirinya tak bisa tertawa-tawa dan riang gembira."
Mendengar pertengkaran mulut kedua orang aneh itu, walaupun merasa geli juga, tapi jelas kedua orang itu menaruh perhatian yang amat besar terhadap keselamatannya, maka diam-diam Lenghou Tiong merasa sangat terharu dan berterima kasih.
Ketika mendengar mereka mengatakan "si nona cilik"
Mungkin yang dimaksudkan itu adalah Gi-lim Sumoay dari Hing-san-pay. Maka dengan tersenyum ia lantas menyela.
"Sudahlah, kalian berdua jangan khawatir, aku Lenghou Tiong takkan mati."
"Nah, kau dengar dia sendiri menyatakan takkan mati, tadi kau masih terus bilang dia mungkin akan mati,"
Demikian Tho-sit-sian lantas menumpangi.
"Waktu aku mengatakan demikian tadi dia masih belum bersuara,"
Sahut Tho-hoa-sian tak mau kalah.
"Sejak tadi dia sudah membuka mata dan dengan sendirinya dapat membuka suara, hal ini siapa pun dapat menduganya,"
Kata Tho-sit-sian. Diam-diam Lenghou Tiong merasa jemu, kalau pertengkaran kedua orang itu diteruskan, boleh jadi takkan berhenti biarpun tiga-hari-tiga-malam. Segera ia berkata.
"Ya, sebenarnya aku akan mati, cuma ketika mendengar kalian berharap aku jangan mati, kupikir betapa besar kekuasaan Tho-kok-lak-sian, bila kalian minta aku jangan mati, mana aku berani mati?"
Mendengar demikian, senanglah hati Tho-hoa-sian dan Tho-sit-sian. Kata mereka berbareng.
"Marilah kita beri tahukan kepada Toako!"
Segera mereka berlari pergi.
Tidak lama kemudian Tho-kok-lak-sian pun muncul lagi seluruhnya.
Kembali keenam orang itu bicara tidak habis-habis, ada yang membual bahwa jasanya sendiri paling besar, ada yang merasa bersyukur Lenghou Tiong tidak mati, ada lagi yang menyatakan rasa khawatirnya ketika Lenghou Tiong terpukul roboh, karena menolong pemuda itu lebih penting sehingga tidak sempat membikin perhitungan dengan si anjing tua dari Ko-san-pay.
Kalau tidak, anjing tua Ko-san-pay itu juga dibetot menjadi empat potong barulah rasa dongkolnya bisa terlampias.
Luka Lenghou Tiong sebenarnya sangat berat, untuk menyenangkan Tho-kok-lak-sian tadi dia telah ikut bicara, tapi habis itu dia lantas pingsan pula.
Dalam keadaan samar-samar ia merasa dadanya terasa muak dan sesak, darah seluruh tubuhnya seakan-akan bergolak saling tumbuk, rasanya tidak enak.
Sejenak kemudian, ketika pikirannya rada sadar, ia merasa tubuhnya seperti sedang dipanggang, panasnya tak terkatakan.
Tanpa merasa ia merintih.
Tiba-tiba ada orang membentaknya.
"Ssst, jangan bersuara!"
Waktu Lenghou Tiong membuka matanya, dilihatnya sebuah pelita dengan api sebesar kacang berada di atas meja, sekujur badan sendiri telanjang bulat dan terbaring di lantai, kedua tangan dan kedua kaki masing-masing dipegang oleh seorang, dua orang lagi ada yang menahan perutnya dengan telapak tangan, ada lagi yang menggunakan telapak tangan menekan "Pek-hwe-hiat"
Di ubun-ubunnya.
Dalam kagetnya segera Lenghou Tiong merasa suatu hawa panas menyusup masuk melalui telapak kaki kiri terus naik ke paha, ke perut, ke dada, ke lengan kanan dan akhirnya mencapai telapak tangan kanan.
Berbareng itu suatu hawa panas juga menyusup masuk melalui telapak tangan kiri terus naik ke lengan, ke dada, ke perut, ke paha kanan dan akhirnya sampai di telapak kaki kanan.
Kedua arus hawa panas itu terus berputar kian kemari, saking panasnya Lenghou Tiong merasa seperti sedang dipanggang.
Dia tahu Tho-kok-lak-sian sedang menggunakan Lwekang yang tinggi untuk menyembuhkan lukanya, dalam hati dia merasa sangat berterima kasih.
Segera ia pun mengerahkan Lwekang sendiri untuk menambah kekuatan penyembuhan itu.
Tak terduga baru saja tenaganya sendiri baru mulai bekerja dari pusarnya, mendadak perut terasa sakit luar biasa seperti ditikam, kontan darah segar tersembur dari mulutnya.
Keruan Tho-kok-lak-sian terkejut.
"Celaka!"
Teriak mereka berbareng.
Segera Tho-yap-sian yang tangannya menahan ubun-ubun Lenghou Tiong itu lantas menepuk sehingga pemuda itu dihantam pingsan lagi.
Untuk selanjutnya Lenghou Tiong selalu berada dalam keadaan tak sadar, badan sebentar dingin dan sebentar panas, kedua arus hawa panas itu pun selalu menyusur kian kemari di antara urat anggota badannya, antara kedua kaki dan kedua tangan terkadang timbul beberapa arus hawa panas yang saling gontok, saling tumbuk sehingga rasanya bertambah menderita.
Hari itu mendadak pikiran Lenghou Tiong rada segar.
Didengarnya Tho-kan-sian sedang berkata.
"Coba kalian lihat, dia sudah tidak berkeringat lagi, bukankah karena hawa murni yang kusalurkan dan berputar di antara urat nadi anggota badannya telah membawa hasil? Dengan caraku ini tentu dapat kusembuhkan lukanya."
"Ala, masih berani omong besar?"
Sahut Tho-kin-sian.
"Coba kalau kemarin dulu tidak menggunakan caraku, dengan hawa murni yang kusalurkan ke berbagai urat nadi di bagian jantung dan perutnya, tentu sejak itu bocah ini sudah mati, masakah kau sempat menunggu lagi sampai hari ini."
"Betul!"
Sahut Tho-ki-sian.
"Cuma biarpun cara Toako itu dapat menyembuhkan luka dalamnya, namun kedua kakinya tentu akan menjadi lumpuh dan ini berarti kurang sempurna cara penyembuhanmu, betapa pun toh caraku lebih baik. Luka dalam bocah ini terletak pada bagian jantungnya, segala penyembuhan harus disalurkan melalui sana."
"Kembali kau mengoceh tak keruan,"
Omel Tho-kin-sian dengan gusar.
"Kau bukan cacing di dalam perutnya, dari mana kau tahu luka dalamnya terletak pada jantungnya?"
Begitulah beberapa orang aneh itu kembali bertengkar tidak habis-habis. Tiba-tiba Tho-yap-sian berkata.
"Cara menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhnya, kukira kurang baik, kurasa lebih penting harus menyembuhkan dulu kakinya melalui Siau-yang-meh."
Habis berkata, tanpa menunggu persetujuan kawan-kawannya segera tangannya menekan "Tang-kok-hiat"
Di bagian lutut kiri Lenghou Tiong, suatu arus hawa panas lantas menyusup masuk melalui Hiat-to itu. Tho-kan-sian menjadi gusar, bentaknya.
"Hah, kembali kau main gila padaku. Baiklah, boleh kita coba-coba siapa yang lebih tepat."
Lalu ia pun mengerahkan tenaga dalam dan memperkuat saluran hawa murninya.
Keruan yang paling celaka adalah Lenghou Tiong sendiri, ia merasa muak dan ingin muntah, darah seakan-akan hendak menyembur keluar pula.
Diam-diam ia hanya mengeluh belaka.
Ia tahu keenam orang itu bermaksud baik menolong jiwanya, tapi mereka mempunyai pendirian yang berbeda-beda cara penyembuhannya, jika masing-masing menggunakan caranya sendiri-sendiri, maka runyamlah dirinya.
Sesungguhnya ia ingin bersuara menolak dan minta agar Tho-kok-lak-sian berhenti saja, celakanya mulutnya sukar bicara.
"He, kalian lihat, kedua mata bocah itu terbelalak belaka, bibirnya bergerak, tapi justru tidak mau bicara ...."
Demikian terdengar Tho-yap-sian berseru.
Keruan Lenghou Tiong sangat mendongkol, bukannya dia tidak mau bicara, tapi badan tersiksa sedemikian rupa, masakah sanggup bersuara pula.
Sementara itu Tho-yap-sian sedang melanjutkan.
"Melihat keadaannya, terang kepalanya pening dan matanya berkunang-kunang, maka harus disembuhkan melalui ...."
Baru sampai di sini Lenghou Tiong lantas merasa bagian bawah matanya yang melekuk itu kesakitan, menyusul ujung sisi bawah juga terasa linu, menyusul lagi beberapa Hiat-to di bagian dahi dan di belakang kepala ikut kesakitan pula dan linu pegal, saking tak tahan, Lenghou Tiong hanya dapat meringis saja.
"Lihatlah, biarpun kau pencet sini dan pijat sana toh dia masih tidak bicara,"
Kata Tho-ki-sian.
"Kukira bukan otaknya yang berpenyakit, tapi lidahnya yang kaku, ini tandanya harus menyembuhkan dia melalui In-pek-hiat, Thay-pek-hiat dan lain-lain tempat, tapi ... tapi kalau tidak sembuh, jangan kalian menyalahkan aku!"
"Jika kau tak bisa menyembuhkan dia, tentu jiwanya akan melayang, maka kau harus disalahkan,"
Kata Tho-kan-sian.
"Wah, kalau salah menyembuhkannya kan bisa runyam,"
Sahut Tho-ki-sian yang bernyali kecil sebagai tikus itu.
"Salah atau tidak sulit untuk dikatakan karena belum kau lakukan,"
Ujar Tho-hoa-sian.
"Padahal bocah ini hanya terluka luar saja dan tidak penting, namun sudah sekian lama kita berusaha menyembuhkan dia dan tetap gagal. Kukira dia punya penyakit ini harus disembuhkan mulai dari dalam."
"Ah, kau memang plintat-plintut, kemarin kau bilang begitu, sekarang bilang begini, mengapa saling bertentangan pendapatmu?"
Omel Tho-sit-sian.
"Kita sudah mencobanya dengan berbagai cara dan tetap tidak berhasil, terpaksa aku harus menggunakan cara yang luar biasa,"
Tiba-tiba Tho-kin-sian menyela.
"Cara yang luar biasa bagaimana?"
Tanya saudara-saudaranya.
"Penyakit bocah ini terang semacam penyakit yang aneh dan harus disembuhkan dengan cara aneh pula. Maka aku akan menyembuhkan dia melalui Hiat-to di luar kebiasaan, aku akan menutuk 12 Hiat-to yang paling aneh dan jarang dikenal."
"He, jangan Toako, ini terlalu bahaya!"
Seru Tho-hoa-sian dan lain-lain. Tapi lantas terdengar Tho-kin-sian membentak.
"Jangan apa? Jika ayal tentu jiwa bocah ini sukar tertolong lagi!"
Habis itu Lenghou Tiong lantas merasa In-tong-hiat, Hi-yau-hiat dan lain-lain kesakitan luar biasa seperti ditusuk oleh pisau tajam.
Ia pentang mulut ingin berteriak, tapi sedikit pun tak bisa mengeluarkan suara.
Ia merasa enam arus hawa panas berputar kian kemari dari berbagai urat nadi yang berlainan, terkadang saling gontok dan saling tumbuk dengan hebatnya.
Sudah tentu derita Lenghou Tiong tak terkatakan, nyata tubuhnya telah menjadi medan pertempuran hawa murni keenam manusia aneh itu.
Sungguh gusar Lenghou Tiong tidak kepalang, diam-diam ia mengutuki Tho-kok-lak-sian itu, bila dirinya tidak jadi mati, kelak tentu akan kucencang kalian enam ekor anjing tua ini, demikian gerutunya dalam hati.
Kalau bisa bersuara, mungkin segala caci maki yang paling kotor sudah dilontarkan.
Padahal kalau dipikir, maksud tujuan Tho-kok-lak-sian itu tidaklah jahat melainkan ingin menyembuhkan lukanya dengan bantuan tenaga murni mereka, cara demikian sebenarnya sangat merugikan mereka sendiri.
Begitulah sembari mengerahkan hawa murni masing-masing untuk menyembuhkan Lenghou Tiong, Tho-kok-lak-sian masih terus bertengkar karena berbeda pendapat.
Mereka tidak tahu bahwa karena sok pintar mereka, selama beberapa hari Lenghou Tiong telah "dipermak"
Oleh mereka sedemikian rupa.
Untunglah sejak kecil Lenghou Tiong sudah belajar Lwekang Hoa-san-pay yang hebat, dasarnya sudah terpupuk kuat, kalau tidak tentu jiwanya sudah melayang kena dikocok oleh Tho-kok-lak-sian itu.
Sesudah lama mengerahkan hawa murni mereka dan keadaan Lenghou Tiong bukannya bertambah baik, sebaliknya denyut jantungnya semakin lemah, napasnya semakin berat, bukan mustahil segera akan tewas, mau tak mau Tho-kok-lak-sian menjadi khawatir.
Tho-ki-sian yang penakut itu yang pertama-tama berkata.
"Sudahlah, aku tidak mau bekerja lagi. Jika diteruskan dan dia telanjur mati, arwahnya yang penasaran mungkin akan selalu menggoda padaku, kan bisa susah aku."
Habis berkata segera ia menarik tangannya yang menahan salah satu Hiat-to di tubuh Lenghou Tiong. Tho-kin-sian menjadi gusar, katanya.
"Jika bocah ini benar-benar mati, maka orang pertama yang disalahkan tentulah dirimu. Arwahnya akan berubah menjadi setan gentayangan dan akan selalu menggoda dan mengintil di belakangmu."
Mendadak Tho-ki-sian menjerit ketakutan, ia melompat keluar melalui jendela, dalam sekejap saja sudah menghilang entah ke mana.
Berturut-turut Tho-kan-sian, Tho-sit-sian dan lain-lain juga lantas menarik kembali tangan mereka.
Ada yang berkerut kening, ada yang geleng-geleng kepala, semuanya merasa tak berdaya.
"Tampaknya bocah ini sukar diselamatkan lagi, lantas bagaimana baiknya?"
Ujar Tho-yap-sian.
"Boleh kalian beri tahukan si nona cilik, katakan bahwa bocah ini telah kena dihantam satu kali oleh keparat itu, karena tidak tahan maka bocah ini mati,"
Ujar Tho-kan-sian.
"Katakan tidak bahwa kita telah berusaha menyembuhkan dia?"
Tanya Tho-kin-sian.
"Wah, ini jangan sekali-kali diberitahukan,"
Sahut Tho-kan-sian.
"Tapi kalau si nona cilik tanya kita mengapa tidak berusaha menyembuhkan dia, lantas bagaimana?"
Tanya pula Tho-kin-sian.
"Jika begitu kita katakan saja sudah berusaha menyembuhkan dia, cuma tidak berhasil,"
Kata Tho-kan-sian.
"Dan si nona cilik tentu akan anggap kita Tho-kok-lak-sian tak berguna, tidak becus, lebih celaka daripada enam ekor anjing,"
Kata Tho-kin-sian. Tho-kan-sian menjadi gusar, serunya.
"Wah, si nona cilik memaki kita sebagai anjing, sungguh keterlaluan, aku tidak tahan."
"Si nona cilik tidak memaki kita, akulah yang bilang demikian,"
Kata Tho-kin-sian.
"Jika dia tidak memaki, dari mana kau tahu?"
Tanya Tho-kan-sian.
"Aku kan cuma mengumpamakan saja, boleh jadi dia akan memaki kita,"
Sahut Tho-kin-sian.
"Aku yakin si nona cilik pasti akan menangis dan takkan memaki kita,"
Ujar Tho-kan-sian.
"Aku lebih suka dia memaki kita sebagai anjing daripada melihat dia menangis sedih,"
Kata Tho-kin-sian.
"Seumpama dia benar-benar memaki juga takkan memaki kita sebagai anjing,"
Kata Tho-kan-sian pula.
"Habis memaki kita sebagai apa?"
Tanya Tho-kin-sian.
"Memangnya kita berenam ini mirip anjing?"
Sahut Tho-kan-sian.
"Sedikit pun tidak mirip. Maka kukira dia akan memaki kita sebagai kucing."
"Cis, mengapa memaki kita sebagai kucing?"
Sela Tho-yap-sian.
"Memangnya kita mirip kucing?"
"Kata-kata makian kan tidak perlu mesti mirip dengan orang yang dimaki,"
Timbrung Tho-hoa-sian.
"Kita adalah manusia, adalah orang, bila nona cilik mengatakan kita adalah orang, maka ini bukan lagi makian."
"Seumpama dianggap orang juga masih ada kemungkinan dimaki,"
Tho-sit-sian ikut di dalam perdebatan itu.
"Umpama dia mengatakan kita adalah orang goblok, orang tolol, orang jahat, ini kan kata-kata makian."
"Biarpun orang goblok atau tolol atau orang jahat, setidak-tidaknya akan lebih lumayan daripada anjing.
"ujar Tho-kin-sian.
"Jika keenam ekor anjing itu adalah anjing pintar, anjing galak, lalu anjingnja lebih baik atau orangnya lebih baik?"
Tanya Tho-sit-sian.
Sejak tadi Lenghou Tiong berbaring dalam keadaan kempas-kempis, sungguh geli setengah mati ketika mendengarkan pertengkaran mereka yang lucu itu.
Entah mengapa, tiba-tiba suatu arus hawa hangat menyentak ke atas, mendadak ia dapat bersuara.
"Enam ekor anjing tentu akan jauh lebih baik daripada kalian!"
Seketika para "Sian"
Itu melongo kaget. Belum lagi mereka sempat bersuara, sekonyong-konyong terdengar Tho-ki-sian bertanya di luar jendela.
"Mengapa enam ekor anjing akan lebih baik daripada kami?"
Tadi dia telah lari pergi terbirit-birit, entah sejak kapan dia sudah mengeluyur kembali. Maka berbareng kelima saudaranya ikut bertanya.
"Ya, mengapa enam ekor anjing bisa lebih baik daripada kami?"
Sungguh Lenghou Tiong ingin membuka mulut dan mencaci maki mereka, tapi tenaga sedikit pun tidak ada, hanya dengan suara lemah ia berkata.
"Ka ... kalian antarkan aku kembali ke ... ke Hoa-san, hanya ... hanya Suhuku saja yang da ... dapat menolong jiwaku ...."
"Apa katamu? Hanya gurumu saja yang mampu menolong jiwamu?"
Tho-kin-sian menegas.
"Jadi maksudmu Tho-kok-lak-sian tak mampu menolongmu?"
Lenghou Tiong manggut-manggut, mulutnya ternganga, tapi tak bisa bicara lagi.
"Persetan!"
Omel Tho-yap-sian.
"Apa kepandaian Suhunya, masakah dia lebih lihai daripada kami Tho-kok-lak-sian?"
"Hm, boleh coba suruh gurunya bertanding dengan kita,"
Seru Tho-hoa-sian.
"Ya, kita berempat masing-masing memegang satu tangan dan satu kakinya, sekali betot saja dia akan kita sobek menjadi empat potong,"
Kata Tho-kan-sian.
"Benar, bahkan setiap orang di Hoa-san akan kita sobek menjadi empat potong,"
Teriak Tho-sit-sian.
Mendengar pertengkaran manusia-manusia abnormal yang ngawur dan lucu itu, kalau tidak berada dalam keadaan payah sungguh Lenghou Tiong ingin tertawa sepuas-puasnya.
Tapi biarpun tutur kata dan tingkah laku orang-orang aneh itu sangat menggelikan, namun akhirnya Lenghou Tiong merasa sebal juga.
Cuma kalau dipikir kembali, kali ini secara kebetulan dapat bertemu dengan manusia-manusia aneh itu, hal ini boleh dikata sesuatu yang menguntungkan juga, paling tidak melihat tingkah laku yang menggelikan dan sukar dicari bandingannya itu sungguh tidak percumalah hidupnya ini.
Teringat demikian, tanpa merasa timbul semangat jantannya, tiba-tiba ia berkata.
"Aku ... aku ingin minum arak!"
Seketika Tho-kok-lak-sian bergirang mendengar suara Lenghou Tiong. Seru mereka.
"Bagus, bagus sekali! Dia ingin minum arak, terang dia takkan mati."
"Mati atau tidak, paling perlu sekarang minum arak dulu sepuas-puasnya,"
Kata Lenghou Tiong setengah merintih.
"Betul, orang hidup kalau tidak minum arak apa artinya menjadi manusia, kan lebih baik menjadi kura-kura saja,"
Kata Tho-hoa-sian yang kegemarannya juga minum arak. Sebaliknya Tho-kan-sian yang biasanya tidak minum arak itu menjadi gusar, teriaknya.
"Kau memaki aku yang tidak suka minum arak sebagai kura-kura, kuyakin kau sendiri adalah bulus."
"Bulus juga boleh, paling perlu minum arak,"
Sahut Tho-hoa-sian. Khawatir kedua orang itu bertengkar lagi tak habis-habis, cepat Lenghou Tiong merintih pula.
"Lekas ... lekas ambilkan, aku ingin minum arak, kalau tidak tentu aku akan ... akan mati!"
"Ya, ya, baik, akan kuambilkan arak,"
Sahut Tho-hoa-sian cepat sambil melangkah pergi.
Benar juga, tidak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa sebuah poci arak.
Keadaan Lenghou Tiong sebenarnya sudah sangat payah, tapi demi mengendus bau arak, seketika semangatnya berbangkit, katanya.
"Harap suapi aku!"
Tho-ki-sian lantas tempelkan poci arak itu ke mulutnya dan perlahan menuangkan araknya. Seceguk demi seceguk akhirnya Lenghou Tiong menjadi tambah sadar dan cerdas, pikirnya.
"Keenam orang ini suka diumpak, dipuji, terpaksa aku harus menipu mereka."
Maka ia lantas berkata.
"Guruku sering berkata bahwa jago yang paling ... paling lihai di dunia ini adalah Tho ... Tho ...."
Sampai di sini ia sengaja berhenti. Sudah tentu Tho-kok-lak-sian menjadi tertarik, cepat mereka tanya berbareng.
"Apakah Tho-kok-lak-sian maksudmu?"
Lenghou Tiong tersenyum, sahutnya.
"Ya, betul. Suhuku sering berkata pula bahwa beliau sangat ingin diberi kesempatan untuk minum arak bersama Tho-kok-lak-sian dan bersahabat dengan mereka agar ... agar dapat minta keenam kesa ... kesat ...."
"Keenam kesatria maksudnya?"
Kembali Tho-kok-lak-sian menegas.
"Betul, agar dapat minta keenam kesatria besar itu sudi memperlihatkan kesaktian mereka di depan para murid Hoa-san-pay ...."
Sampai di sini napas Lenghou Tiong terasa sesak, terpaksa ia berhenti bicara. Keruan Tho-kok-lak-sian tidak mau berhenti, beramai-ramai mereka bertanya.
"Lalu bagaimana? Dari mana gurumu mengetahui kesaktian kami? Wah, ketua Hoa-san-pay itu benar-benar seorang yang baik hati, siapa saja yang berani mengganggu sebatang rumput ataupun sebatang pohon Hoa-san tentu kita takkan mengampuni dia."
"Gurumu adalah orang baik, kami sangat ingin bersahabat dengan dia. Marilah sekarang juga kita berangkat ke Hoa-san!"
Akhirnya Lak-sian berkata demikian. Justru kata-kata ini yang lagi diharapkan Lenghou Tiong agar diucapkan mereka, maka tanpa pikir ia lantas menanggapi.
"Betul, sekarang juga kita lantas berangkat ke Hoa-san!"
Dasar Tho-kok-lak-sian memang polos, sekali bilang berangkat segera mereka benar-benar berangkat.
Lenghou Tiong lantas mereka gotong terus diangkut pergi.
Setengah hari kemudian tiba-tiba Tho-kin-sian mengeluh.
"Wah, celaka. Salah, salah besar! Nona cilik menyuruh kita membawa bocah ini untuk menghadapinya, mengapa kita malah membawanya kembali ke Hoa-san?"
Bab 38. Kui-hoa-po-tian = Inti Rahasia Pi-sia-kiam-hoat "Kali ini ucapan Toako benar,"
Sahut Tho-kan-sian.
"Lebih baik kita membawanya menghadap si nona cilik dahulu, kemudian baru kita berangkat ke Hoa-san."
Bicara demikian, kontan mereka ganti haluan dan menuju ke jurusan selatan. Lenghou Tiong menjadi kelabakan, cepat ia berkata.
"Yang ingin dilihat si nona cilik itu orang hidup atau orang mati?"
"Sudah tentu ingin melihat bocah yang hidup dan tidak mau yang mati,"
Sahut Tho-kin-sian.
"Kalau demikian, bila kalian tidak mengantar aku ke Hoa-san, segera aku akan memutuskan urat nadiku sendiri supaya mati seketika,"
Kata Lenghou Tiong.
"Bagus, Kungfu mahatinggi memutus urat nadi sendiri itu cara bagaimana melatihnya, coba pertunjukkan kepada kami!"
Seru Tho-sit-sian dengan girang.
"Sekali melatih ilmu demikian, seketika kau sendiri akan mati, apa faedahnya melatihnya?"
Ujar Tho-kan-sian.
"Ada faedahnya juga,"
Seru Lenghou Tiong dengan napas terengah-engah.
"Umpama pada waktu terpaksa, daripada menderita lebih baik memutus urat nadi sendiri agar mati saja."
Mendadak Tho-kok-lak-sian merasa khawatir, seru mereka.
"Nona cilik ingin bertemu denganmu, sekali-sekali kami tidak bermaksud jahat dan sengaja memaksamu."
"Ya, kalian mungkin bermaksud baik, tapi sebelum kulapor kepada Suhu dan minta persetujuan beliau, biarpun mati juga aku tidak mau menurut,"
Kata Lenghou Tiong.
"Baiklah, terlambat sedikit hari tidak menjadi soal, biarlah kami mengantarmu pulang ke Hoa-san dahulu,"
Kata Tho-kin-sian.
Beberapa hari kemudian mereka bertujuh sudah berada di Hoa-san lagi.
Kira-kira dua li dari ruang pendopo Co-kong-tong mereka sudah dilihat oleh anak murid Hoa-san-pay dan segera berlari memberi lapor kepada Gak Put-kun.
Gak Put-kun dan istri terkejut mendengar bahwa keenam orang aneh yang menculik Lenghou Tiong itu sekarang datang lagi.
Cepat ia membawa anak muridnya menyambut keluar.
Cepat sekali datangnya Tho-kok-lak-sian itu, baru saja Gak Put-kun dan rombongannya keluar ruangan pendopo sudah lantas tampak keenam orang aneh itu sedang mendatang, dua orang di antaranya menggotong usungan dan Lenghou Tiong terbaring di atas usungan itu.
Gak-hujin memburu maju untuk memeriksa, dilihatnya muka muridnya kurus pucat, terang dalam keadaan sakit payah.
Keruan Gak-hujin terkejut, cepat ia pegang nadi Lenghou Tiong, terasa denyutnya lemah dan kacau, jiwanya dalam keadaan bahaya.
"Tiong-ji, Tiong-ji!"
Serunya. Lenghou Tiong membuka mata sedikit dan menyapa dengan lemah.
"Su ... Su ...."
Tapi ia tidak sanggup meneruskan panggilannya. Air mata Gak-hujin lantas bercucuran, katanya.
"Tiong-ji, biarlah ibu guru membalaskan sakit hatimu!"
Mendadak ia lolos pedang terus hendak menusuk Tho-hoa-sian yang ikut menggotong usungan itu.
"Nanti dulu!"
Syukur Gak Put-kun sempat mencegahnya. Lalu ia memberi salam kepada Tho-kok-lak-sian dan berkata.
"Maafkan jika aku tiada mengadakan penyambutan atas kunjungan kalian ke Hoa-san ini. Entah siapakah nama kalian yang mulia dan asal dari aliran manakah?"
Mendengar itu mendongkol dan kecewa pula Tho-kok-lak-sian.
Sebenarnya mereka percaya penuh apa yang dikatakan Lenghou Tiong bahwa Gak Put-kun sangat kagum dan hormat kepada mereka berenam saudara, siapa duga baru bertemu saja sudah lantas tanya nama, terang ketua Hoa-san-pay ini sebelumnya sama sekali tidak kenal siapa Tho-kok-lak-sian.
Segera Tho-kin-sian berkata.
"Katanya kalian suami-istri sangat mengagumi kami berenam saudara, jadi hal ini sama sekali tidak benar?"
"Kau pernah bilang Tho-kok-lak-sian adalah jago yang paling lihai di dunia ini, masakah kau tidak tahu bahwa kami inilah Tho-kok-lak-sian yang dimaksud itu?"
Tho-kan-sian ikut bicara.
"Ya, katanya kau sangat ingin bertemu dan bersahabat dengan kami untuk minum arak bersama-sama, sekarang kami telah datang kemari, nyatanya kau tidak gembira dan tiada maksud mengundang kami minum arak pula, jadi apa yang kau katakan dahulu itu cuma dusta belaka?"
Tanya Tho-kin-sian. Sudah tentu Gak Put-kun merasa bingung. Pikirnya.
"Keenam orang ini mengaku Tho-kok-lak-sian, tapi tampang mereka dan tingkah lakunya mirip siluman, di mana ada tanda-tanda sebagai 'Sian' (dewa)? Apalagi kalau melihat cara mereka merobek tubuh Seng Put-yu yang kejam itu, terang mereka adalah jago dari golongan Sia-pay. Sebenarnya mereka adalah tamu dan pantas juga mengundang mereka makan-minum, tapi mereka telah membunuh orang di atas Hoa-san tanpa menghormati pihak tuan rumah, untuk ini saja sudah kehilangan kehormatan sebagai tamu. Sejak dulu golongan Cing-pay tak pernah hidup berdampingan dengan Sia-pay, apalagi mereka telah menyiksa anak Tiong sedemikian rupa, tidak mungkin mereka mempunyai maksud baik."
Karena pikiran demikianlah, dengan sikap dingin ia lantas menjawab.
"Kalian mengaku sebagai Tho-kok-lak-sian, padahal aku hanya manusia biasa saja dan tidak berani bersahabat dengan para dewa."
Ucapan Gak Put-kun ini terang adalah sindiran, tapi bagi pendengaran Tho-kok-lak-sian ternyata dirasakan sebagai suatu pujian, mereka sangat senang dan berkata.
"Ah, tidak menjadi soal. Kami Lak-sian sudah bersahabat dengan muridmu, untuk bersahabat lagi denganmu juga boleh."
"Meski ilmu silatmu sangat rendah juga kami takkan memandang hina padamu, untuk ini kau tak perlu khawatir,"
Demikian Tho-sit-sian menambahkan.
"Ya, seumpama dalam hal ilmu silat ada yang kurang jelas bagimu, boleh silakan kau tanya saja kepada kami, sekali Tho-kok-lak-sian menganggapmu sebagai sahabat, tentu kami akan memberi petunjuk seperlunya,"
Kata Tho-hoa-sian.
Dasar sifat Tho-kok-lak-sian memang kekanak-kanakan dan tidak tahu seluk-beluk kehidupan manusia, apa yang mereka ucapkan itu sesungguhnya timbul dari maksud baik, tapi bagi pendengaran seorang guru besar ilmu silat sebagai Put-kun sudah tentu dirasakan sebagai suatu penghinaan besar.
Untung Gak Put-kun adalah seorang yang sabar dan ramah tamah, walaupun batinnya sangat gusar, tapi mukanya masih tersenyum saja, katanya.
"Terima kasihlah atas maksud baik kalian."
"Terima kasih tidaklah perlu,"
Kata Tho-kan-sian.
"Bila Tho-kok-lak-sian sudah anggap kau sebagai sahabat, sudah tentu segala apa yang kami ketahui akan kami beri tahukan selengkapnya."
"Ya, sekarang juga akan kuperlihatkan beberapa gerakan agar segenap warga Hoa-san-pay kalian bisa tambah pengalaman,"
Tho-sit-sian menambahkan pula.
Mendengar kata-kata mereka yang sombong dan sembrono itu, sejak tadi Gak-hujin sudah amat gusar.
Sekarang ia benar-benar tidak tahan lagi, pedang bergerak, tahu-tahu dada Tho-sit-sian sudah terancam, tapi Gak-hujin belum lagi menyerang, katanya.
"Baik, akan kubelajar kenal dengan kepandaian senjatamu."
"Selamanya Tho-kok-lak-sian tidak menggunakan senjata, katanya kau kagum terhadap ilmu silat kami, mengapa tidak tahu akan hal ini?"
Kata Tho-sit-sian. Ucapan ini bagi pendengaran Gak-hujin kembali dirasakan sebagai penghinaan pula, tanpa pikir lagi pedangnya lantas menusuk ke depan sambil berkata.
"Ya, aku memang tidak tahu."
Gak-hujin adalah tokoh tertinggi dari Hoa-san-pay, sekte yang mengutamakan "Khi" (hawa), serangannya itu dengan sendirinya sangat lihai dan cepat.
Apalagi Tho-sit-sian sama sekali tiada sedikit pun merasa bermusuhan dengan nyonya Gak itu, sama sekali ia tidak menduga akan diserang secara mendadak, tahu-tahu ujung pedang sudah sampai di depan dadanya, dalam kagetnya lekas ia hendak berkelit.
Namun sudah kasip, serangan Gak-hujin itu sungguh teramat cepat.
"bles" , dadanya tertubles pedang. Berbareng Tho-sit-sian masih sempat hantam dengan sebelah tangannya dan mengenai pundak Gak-hujin. Kontan Gak-hujin terhuyung-huyung mundur dua tindak sehingga pedangnya terlepas dari cekalan dan masih menancap di dada Tho-sit-sian dengan bergoyang-goyang. Keruan Tho-kin-sian dan saudara-saudaranya yang lain menjerit kaget. Lebih-lebih Tho-ki-sian yang bernyali kecil itu, tanpa pikir lagi segera ia angkat tubuh Tho-sit-sian terus dibawa lari terbirit-birit, hanya sekejap saja sudah menghilang. Sisa empat "dewa"
Lagi mendadak menerjang maju, dengan cepat tak terperikan mereka sambar kedua kaki dan kedua tangan Gak-hujin terus diangkat ke atas.
Gak Put-kun tahu gerakan selanjutnya dari keempat orang itu tentu membetot sekuatnya dan tubuh sang istri pasti akan terobek menjadi empat potong.
Cepat ia bertindak, namun betapa pun tenangnya, menghadapi keadaan demikian mau tak mau tangannya agak gemetar juga ketika pedangnya sekaligus menusuk Tho-kin-sian dan Tho-yap-sian.
Saat itu Lenghou Tiong masih terbaring di atas usungan yang terletak di atas tanah, ketika melihat sang ibu guru terancam bahaya maut, entah dari mana datangnya tenaga, sekonyong-konyong ia melompat bangun sambil berteriak.
"Jangan mencelakai ibu guruku. Kalau tidak, segera kuputuskan urat nadiku sendiri."
Selesai ucapannya itu, tak tertahan lagi darah segar lantas menyembur keluar dari mulutnya, menyusul orangnya lantas jatuh pingsan.
Dalam pada itu Tho-kin-sian telah dapat menghindarkan serangan Gak Put-kun, segera ia berkata.
"Wah, bocah itu akan memutus urat nadinya sendiri, ini bisa runyam, biarlah kita ampuni saja perempuan ini."
Tanpa bicara lagi keempat "dewa"
Itu lantas melepaskan kembali Gak-hujin.
Rupanya mereka mengkhawatirkan keadaan Tho-sit-sian yang terluka parah itu.
Empat saudara seperti satu perasaan, tanpa berunding segera mereka putar tubuh dan berlari pergi menyusul Tho-ki-sian dan Tho-sit-sian.
"Sumoay, janganlah gusar, kita pasti akan menuntut balas kejadian ini,"
Kata Gak Put-kun kemudian.
"Keenam orang ini benar-benar lawan yang tangguh, syukur kau sudah membinasakan satu di antara mereka."
Sesudah agak tenang kembali, teringatlah Gak-hujin akan nasib Seng Put-yu dirobek mentah-mentah tubuhnya oleh Tho-kok-lak-sian itu, seketika hatinya berdebar-debar membayangkan kejadian tadi sehingga wajah pun pucat.
Gak Put-kun tahu tidak kecil kejut sang istri tadi, katanya kepada Leng-sian.
"Anak Sian, bawalah ibumu ke kamar untuk mengaso dulu."
Waktu ia periksa keadaan Lenghou Tiong, dilihatnya mulut dan dada pemuda itu penuh darah, napasnya lemah, keadaannya sangat payah, tampaknya lebih banyak mati daripada hidupnya.
Cepat Gak Put-kun menahan Leng-tay-hiat di punggung muridnya itu, jiwa Lenghou Tiong itu hendak diselamatkannya dengan saluran tenaga dalam yang kuat.
Tapi baru saja ia mulai mengerahkan tenaga, mendadak terasa di dalam tubuh pemuda itu timbul perlawanan dari beberapa arus tenaga dalam yang sangat aneh, hampir-hampir saja tangan Gak Put-kun tergetar lepas.
Gak Put-kun sudah berhasil meyakinkan Ci-he-sin-kang, di dunia persilatan kalau melulu soal Lwekang boleh dikatakan jarang ada tandingannya.
Tapi beberapa arus tenaga aneh di dalam tubuh Lenghou Tiong itu ternyata dapat menggetarkan tangannya, hal ini benar-benar sangat aneh dan mengejutkan.
Segera ia pun dapat merasakan bahwa beberapa arus tenaga dalam yang aneh itu bahkan saling gontok di dalam tubuh Lenghou Tiong dan bertumbuk kian kemari tak berhenti-henti.
Waktu ia merasakan pula Tan-tong-hiat di dada Lenghou Tiong, kembali tangannya tergetar lebih keras, hal ini membuatnya lebih terkejut.
Terasa olehnya beberapa arus hawa murni yang bergerak di dalam tubuh muridnya itu terang adalah Lwekang yang paling tinggi dari golongan persilatan tertentu, setiap arus hawa murni itu meski lebih lemah daripada Ci-he-sin-kang sendiri, tapi kalau dua arus tenaga itu bergabung menjadi satu, ini saja sudah cukup untuk mengalahkannya.
Setelah diperiksa lebih teliti lagi, terasa hawa murni di dalam tubuh Lenghou Tiong itu ada enam arus.
Khawatir kalau tenaga dalam sendiri terbuang terlalu banyak, Gak Put-kun tidak berani meraba tubuh Lenghou Tiong lagi.
Pikirnya.
"Enam arus tenaga ini tentu milik keenam orang aneh yang disalurkan ke dalam tubuh anak Tiong. Maksud tujuan keenam orang itu sungguh keji, mereka telah menyalurkan tenaga murni masing-masing ke dalam enam urat nadi sehingga anak Tiong kenyang menderita, hidup tak bisa mati pun sukar."
Maklumlah bahwa Tho-kok-lak-sian sebenarnya bermaksud menyembuhkan luka Lenghou Tiong, akibatnya malah tubuh Lenghou Tiong berubah menjadi medan gontok-gontokan bagi keenam tenaga murni mereka.
Kekuatan mereka berenam memangnya sembabat, enam arus tenaga itu sukar menentukan kalah dan menang sehingga selalu dalam keadaan gontok-gontokan tak berhenti-henti.
Hal aneh ini selamanya tak pernah terjadi di dunia persilatan, sudah barang tentu sulit diselami menurut akal sehat Gak Put-kun.
Segera Put-kun suruh Ko Kin-beng dan Liok Tay-yu menggotong Lenghou Tiong ke kamar, ia sendiri lantas pergi menjenguk sang istri.
Gak-hujin hanya terkejut saja dan tidak terluka apa-apa, saat itu ia sedang duduk di tempat tidur sembari memegangi tangan Leng-sian, hatinya masih belum tenteram.
Ketika melihat sang suami datang segera ia bertanya.
"Bagaimana keadaan Tiong-ji? Apakah lukanya berbahaya?"
Gak Put-kun diam saja, selang sebentar barulah berkata.
"Aneh, sungguh aneh!"
"Kenapa aneh?"
Tanya Gak-hujin. Maka berceritalah Gak Put-kun tentang enam arus hawa murni yang aneh di dalam tubuh Lenghou Tiong.
"Wah, jika demikian, hawa murni itu satu per satu harus dipunahkan, hanya tidak tahu apakah waktunya masih keburu atau tidak?"
Ujar Gak-hujin dengan rasa khawatir. Put-kun termenung sambil menengadah. Agak lama kemudian baru berkata.
"Sumoay, menurut pendapatmu, sedemikian rupa keenam siluman itu menyiksa Tiong-ji, sesungguhnya apa maksud tujuan mereka?"
"Mungkin mereka ingin paksa anak Tiong bertekuk lutut mengaku kalah atau hendak memaksa dia mengaku sesuatu rahasia perguruan kita,"
Kata Gak-hujin.
"Sudah tentu anak Tiong pantang menyerah, maka keenam siluman itu lantas menyiksanya dengan cara kejam."
"Seharusnya memang begitu,"
Ujar Gak Put-kun sambil menggeleng.
"Namun perguruan kita kan tiada rahasia apa-apa, keenam siluman itu selamanya tidak kenal dan tiada permusuhan apa-apa dengan kita. Apa sebabnya mereka menculik anak Tiong dan kemudian dibawanya kembali lagi?"
"Apakah mungkin karena ...."
Tapi Gak-hujin tidak melanjutkan lagi karena merasa pendapatnya itu tidak masuk di akal. Suami-istri itu hanya saling pandang saja sembari berkerut kening. Tiba-tiba Leng-sian menceletuk.
"Meski perguruan kita tiada sesuatu rahasia apa pun, tapi ilmu silat Hoa-san-pay amat terkenal di seluruh jagat. Dengan menangkap Toasuko mungkin mereka bermaksud memaksa dia mengaku tentang intisari Khikang dan Kiam-hoat dari perguruan kita."
"Aku pun berpikir tentang hal ini,"
Kata Put-kun.
"Tapi taraf Lwekang anak Tiong masih terbatas, dengan Lwekang keenam siluman yang mahatinggi itu, mereka akan segera mengetahui kekuatan anak Tiong itu. Mengenai Lwekang, jelas cara mereka itu tidak sama dengan Hoa-san-pay kita, tidak nanti mereka incar soal ini. Seumpama mereka hendak memaksa anak Tiong mengaku sesuatu toh dapat dibawa ke lain tempat, mengapa mesti dibawa kembali ke sini?"
Mendengar nada kata-kata sang suami semakin pasti, sebagai suami-istri sekian lama, Gak-hujin lantas tahu tentu suaminya sudah memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi.
Segera ia pun bertanya.
"Lalu sebenarnya apa tujuan mereka?"
"Menggunakan luka parah anak Tiong untuk menguras tenaga dalamku,"
Kata Gak Put-kun dengan serius. Gak-hujin sampai melonjak bangun.
"Benar,"
Serunya.
"Demi untuk menolong jiwa anak Tiong tentu kau akan menggunakan tenagamu untuk menghapus hawa murni mereka yang tertanam di dalam badan anak Tiong itu, bila usahamu tengah kepalang tanggung, tentu keenam siluman itu mendadak akan muncul dan dengan mudah kita dibinasakan."
Ia merandek sejenak, lalu melanjutkan.
"Untung sekarang hanya tinggal sisa lima siluman saja. Suko, tapi mereka terang sudah menangkap diriku, mengapa demi mendengar bentakan anak Tiong mereka lantas melepaskan aku pula?"
Teringat kepada saat-saat berbahaya tadi, tanpa terasa ia menggigil ngeri juga.
"Aku justru merasa curiga atas kejadian tadi,"
Kata Gak Put-kun.
"Mereka takut kalau-kalau Tiong-ji benar-benar memutus urat nadi sendiri, maka engkau dilepaskan kembali. Coba pikirkan, kalau tiada muslihat keji di balik perbuatan mereka itu, buat apa mereka menyayangkan Tiong-ji?"
"Sungguh keji dan kejam,"
Gerutu Gak-hujin.
Memang kalau melihat caranya siluman itu membetot tubuh Seng Put-yu sehingga sobek menjadi empat potong, tiada seorang pun yang tidak merasa jeri dan ngeri.
Sekarang Tho-kok-lak-sian sudah menculik dan membawa kembali lagi Lenghou Tiong yang keadaannya sangat payah itu, siapa pun juga tentu yakin keenam orang itu pasti tidak bermaksud baik.
Jadi dugaan Gak Put-kun dan istrinya itu bukanlah tanpa alasan.
Maka Gak-hujin berkata pula.
"Jika demikian, jelas engkau tak dapat menyembuhkan Tiong-ji dengan Lwekangmu. Meski tenagaku tak dapat disamakan dengan kau, semoga dapat menyelamatkan jiwanya untuk sementara."
Habis berkata segera ia melangkah ke pintu kamar.
"Sumoay!"
Tiba-tiba Put-kun memanggilnya. Waktu sang istri menoleh, Put-kun telah menggeleng kepala dan berkata.
"Tidak perlu kau lakukan, tiada gunanya. Hawa murni keenam siluman itu sangat lihai."
Ia kenal watak istrinya yang suka unggul, maka ia tidak mau bicara lebih banyak lagi. Gak-hujin ragu-ragu sejenak, akhirnya ia duduk kembali, katanya.
"Hanya kau punya Ci-he-sin-kang saja yang dapat menyembuhkannya bukan? Lalu bagaimana baiknya?"
"Sekarang terpaksa kita berbuat sebisanya selangkah demi selangkah, lebih dulu kita pertahankan hidup anak Tiong, untuk ini tidak perlu banyak membuang tenaga dalam,"
Ujar Put-kun.
Segera mereka masuk ke kamar Lenghou Tiong.
Napas pemuda itu tampak sangat lemah, Gak-hujin menjadi cemas, air mata hampir-hampir bercucuran pula.
Segera ia bermaksud memeriksa nadi Lenghou Tiong.
Tapi Put-kun mencegah dengan memegang tangan sang istri, ia geleng-geleng kepala, lalu tangan istrinya dilepaskan.
Tiba-tiba ia gunakan kedua telapak tangannya untuk menahan kedua telapak tangan Lenghou Tiong, ia salurkan tenaga murni Ci-he-sin-kang dengan perlahan-lahan.
Tapi begitu tenaganya kebentrok dengan hawa murni yang bergolak di dalam tubuh Lenghou Tiong, seketika badan Gak Put-kun tergetar, hampir saja hawa ungu pada wajahnya bertambah tandas.
Lekas-lekas ia mundur selangkah dan segera mengerahkan tenaga dalam pula sehingga hawa ungu pada mukanya itu hanya timbul sekejap saja lantas menghilang lagi.
Ia kedipi sang istri, lalu mereka hendak keluar kamar.
Ketika Leng-sian hendak ikut keluar, Put-kun memberi tanda dan berkata.
"Kau boleh tinggal di sini dan merawat Toasukomu."
Pada saat itu mendadak Lenghou Tiong membuka suara.
"Di ... di manakah Lim-sute?"
"Untuk apakah kau cari Siau-lim-cu?"
Tanya Leng-sian heran. Dengan mata terpejam Lenghou Tiong berkata.
"Ketika ayahnya ... ayahnya akan mangkat, dia pesan sesuatu padaku agar ... agar disampaikan kepada Lim-sute. Aku su ... sudah tak tertolong lagi, lekas ... lekas panggil Lim-sute ke sini."
Dengan air mata berlinang-linang Leng-sian lantas lari keluar kamar. Put-kun membisiki sang istri.
"Ucapan ini mungkin sangat penting, dia harus sempat memberitahukannya kepada Peng-ci."
Segera ia mendekati tempat tidur, sebelah tangannya menahan di Leng-tay-hiat dan menyalurkan Ci-he-cin-khi (hawa murni dari ilmu sakti Ci-he-sin-kang) pula dengan perlahan.
Anak murid Hoa-san-pay memang semuanya berkumpul di luar kamar, begitu mendengar panggilan Leng-sian, segera Lim Peng-ci ikut masuk ke kamar.
Ia mendekati pembaringan Lenghou Tiong dan menyapa.
"Toasuko, hendaklah menjaga badanmu baik-baik."
"Apakah Lim ... Lim-sute ini?"
Tanya Lenghou Tiong dengan mata terpejam.
"Ya, akulah,"
Sahut Peng-ci.
"Waktu ayahmu wafat, aku ... aku menunggu di sampingnya,"
Tutur Lenghou Tiong dengan lemah dan terputus-putus.
"Beliau minta ... minta aku menyampaikan padamu, katanya ... katanya ...."
Sampai di sini suaranya bertambah lemah pula.
Semua orang sama menahan napas sehingga suasana di dalam kamar bertambah hening.
Cepat Gak Put-kun mengerahkan Lwekang sakti pula, napas Lenghou Tiong dapat dikuatkan, maka dapatlah ia menyambung ucapannya, katanya.
"... di Ku ... Kui ... Kui-hoa ...."
Mendengar kata-kata "Kui-hoa" (bunga matahari) itu, seketika hati Gak Put-kun tergetar.
Dan sedikit terpencarnya pikiran itu saja lantas terasa enam arus hawa murni dalam tubuh Lenghou Tiong membanjir ke Leng-tay-hiat dengan amat dahsyat dan hampir-hampir tangannya tergetar lepas.
Cepat Gak Put-kun mengerahkan tenaga pula, dengan hawa murni yang kuat ia salurkan pula melalui Leng-tay-hiat di tubuh Lenghou Tiong.
Lalu Lenghou Tiong berkata pula.
"... di Kui-hoa-kang ... setiap benda di tempat tinggal lama itu harus dijaga sebaik-baiknya. Cuma ... cuma jangan sekali-kali membongkar dan melihatnya, kalau tidak ... kalau tidak, tentu akan mendatangkan bencana ...."
Peng-ci terheran-heran, katanya.
"Kui-hoa-kang (Gang bunga matahari) kata ayah. Tapi di kota Hokciu kami tiada jalan yang bernama Kui-hoa-kang. Tempat tinggal kami yang lama juga tidak terletak di gang yang bernama demikian."
"Hanya ... hanya begitulah pesan ayahmu yang ... yang minta kusampaikan pada ... padamu ...."
Habis isi suara Lenghou Tiong kembali lemah lagi.
Gak Put-kun dapat merasakan enam arus hawa aneh di dalam tubuh muridnya itu makin lama makin bergolak dengan hebat, sekalipun dirinya mengorbankan seluruh tenaga murni Ci-he-sin-kang juga pasti sukar memunahkannya.
Maka ia lantas menarik kembali tangannya.
Segera Gak-hujin mengeluarkan saputangannya untuk mengusap keringat yang memenuhi dahi sang suami.
Kemudian Put-kun tanya Lim Peng-ci pula.
"Jadi di kota Hokciu tiada jalan yang bernama Kui-hoa-kang? Tapi mungkin ada tempat atau jalan lain yang bernama senada dengan itu?"
Peng-ci mengingat-ingat sebentar, akhirnya menjawab.
"Tidak, tidak ada."
"Jika begitu di manakah letak tempat tinggal keluargamu yang lama?"
Tanya Gak-hujin.
"Buyutku dahulu tinggal di Hiang-jit-hong (jalan matahari),"
Sahut Peng-ci.
"Kemudian pindah ...."
"Hiang-jit-hong, Hiang-jit-hong!"
Sela Gak Put-kun.
"Hiang-jit-kui adalah nama lain dari bunga matahari. Jika demikian agaknya Hiang-jit-hong itu pun bernama Kui-hoa-kang."
"Ya, boleh jadi begitu,"
Sahut Peng-ci.
"Mungkin usia Tecu masih terlalu kecil sehingga tidak tahu nama lain daripada Hiang-jit-hong itu. Sebab sejak perusahaan pengawalan kami berkembang dengan besar, lalu kakek membangun gedung perusahaan yang dijadikan untuk tempat tinggal pula."
"Ya, tentu begitulah,"
Kata Gak Put-kun.
"Menurut pesan ayahmu, barang apakah yang dikatakan benda yang berada di tempat tinggal lama itu?"
Tanya Gak-hujin.
"Hal ini boleh dibicarakan nanti saja,"
Tiba-tiba Put-kun menyela. Lalu katanya kepada Peng-ci dan Leng-sian.
"Kalian berdua boleh temani Toasuko, bila penyakitnya ada perubahan hendaklah lekas lapor padaku."
Kedua muda-mudi itu mengiakan. Lalu Put-kun mengedipi sang istri, kedua orang lantas kembali ke kamar sendiri. Sesudah tutup pintu kamar, dengan suara berbisik Put-kun berkata.
"Sumoay, menurut pikiranmu, benda apakah yang dimaksudkan itu?"
"Benda di tempat tinggal mereka yang lama itu sudah tentu tidak berhitung banyaknya, dari mana bisa mengetahui benda apa yang dimaksudkan?"
Sahut Gak-hujin.
"Pesannya mengatakan jangan membongkar dan melihatnya bukan?"
Put-kun. Seketika Gak-hujin sadar, serunya.
"Ah, benar, tentu maksudnya 'Pi-sia-kiam-boh' keluarga mereka itu?"
"Tapi kalau yang dimaksudkan adalah 'Pi-sia-kiam-boh', mengapa pada waktu ajalnya Lim Cin-lam memberi pesan wanti-wanti agar jangan sekali-kali membuka dan melihatnya, kalau tidak pasti akan mendatangkan bencana?"
"Teka-teki ini tidak sukar ditebak,"
Ucap Gak-hujin.
"Bukankah 'Pi-sia-kiam-hoat' keluarga Lim mereka teramat jamak dan tiada artinya, sekalipun berhasil melatihnya juga tidak cukup untuk menghalau musuh tangguh, sebaliknya malah akan mendatangkan bencana bagi diri sendiri. Sebab itulah Lim Cin-lam menyuruh putranya menjaga baik-baik benda pusaka leluhur dan melarangnya untuk belajar karena pengalaman selama hidup sendiri itu sudah menjadi bukti yang nyata."
Put-kun merenungkan pendapat sang istri dan tidak memberi tanggapan apa-apa.
Gak-hujin tahu dalam segala hal sang suami jauh lebih paham daripada dirinya, melihat suaminya tidak membenarkan juga tidak menyanggah uraiannya ia menduga besar kemungkinan pendapatnya tadi kurang tepat.
Maka ia lantas tanya pula.
"Habis sebenarnya bagaimana persoalannya? Ai, engkau ini memang suka main simpan rahasia, lekas menerangkan."
"Aku sendiri pun tidak paham bagaimana persoalan yang sebenarnya,"
Sahut Gak Put-kun.
"Buyut Peng-ci bernama Lim Wan-tho, dahulu malang melintang dan jarang ada tandingan di dunia Kangouw, ilmu pedang yang diandalkan olehnya 72 jurus Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim mereka, kisah ini turun-temurun selalu menjadi buah bibir para tokoh Jing-sia-pay, guru Ih Jong-hay yang bernama Tiang-jing-cu juga dikalahkan olehnya, maka dapat dibayangkan Pi-sia-kiam-hoat yang tulen pasti tidak sejelek seperti apa yang dipahami Lim Peng-ci sekarang."
"Kan aneh, kalau bukan Pi-sia-kiam-hoat yang dimaksudkan, lalu mengenai apa?"
Ujar Gak-hujin. Gak Put-kun mengeluarkan sebuah kotak besi dari bawah bantal, tutup kotak itu dibuka dan dikeluarkannya se
Jilid buku bertulis linen. Keruan Gak-hujin tambah heran, katanya.
"Apa barangkali keluarga Lim mereka juga memiliki 'Ci-he-pit-kip' (kitab rahasia ilmu sakti pelangi ungu)?"
Put-kun tersenyum, jawabnya.
"Kitab Ci-he-pit-kip ini adalah pusaka yang dirahasiakan dari perguruan kita, mana mungkin dipunyai oleh orang lain?"
Ia lantas membalik halaman terakhir dari kitab itu, ditunjukkannya 16 huruf paling akhir dari halaman itu dan berkata.
"Coba baca!"
Gak-hujin memandang ke arah yang ditunjuk itu, terlihat ke-16 huruf yang dimaksudkan itu, arti huruf-huruf itu adalah.
"Ci-he-pit-kip, pengantar permulaan pemupukan dasar. Kui-hoa-po-tian, tingkatan tertinggi paling sempurna!"
Sebagai sesama saudara seperguruan, meski Gak-hujin tidak pernah diberi lihat kitab pusaka itu oleh guru mereka, tapi sesudah kawin dengan Gak Put-kun, sebagai suami istri dengan sendirinya tiada sesuatu pula yang perlu dirahasiakan, maka sudah beberapa kali Gak-hujin membaca isi kitab itu.
Cuma pantangan pada waktu melatih Ci-he-sin-kang itu terlalu banyak, kemajuannya juga sangat lambat, hal ini tidak cocok dengan sifat Gak-hujin yang tidak sabaran, maka ia cuma berlatih beberapa bulan saja, lalu tidak diteruskan.
Ke-16 huruf itu juga sudah lama dibacanya, tatkala mana ia pun berpikir.
"Melulu Ci-he-pit-kip yang merupakan pengantar ilmu pemupukan dasar saja sukar dilatih, apalagi hendak meyakinkan isi 'Kui-hoa-po-tian' (kitab mestika bunga matahari) yang merupakan tingkatan tertinggi dan paling sempurna?"
Lantaran tidak tertarik, maka apa yang pernah dibacanya itu pun lantas dilupakan olehnya. Sekarang sang suami justru memperlihatkan tulisan itu, tiba-tiba pikirannya tergerak, maka katanya cepat.
"Kui-hoa-po-tian? Apakah mungkin Kui-hoa-kang di kota Hokciu ada sangkut pautnya dengan Kui-hoa-po-tian? Apakah di dunia ini benar-benar ada kitab mestika Kui-hoa-po-tian?"
Dengan sikap sungguh-sungguh Gak Put-kun berkata.
"Ci-he-pit-kip ini adalah tulisan tangan leluhur perguruan kita, setiap huruf dan setiap kalimatnya telah kupelajari dengan teliti, di dalamnya memang mencakup ilmu ajaib yang tiada terbatas. Ke-16 huruf di halaman terakhir ini pun, serupa dengan huruf-huruf isi kitab yang lain, kuyakin pasti bukan omong kosong dan palsu."
Gak-hujin menghela napas, katanya.
"Seumpama di dunia ini benar ada kitab Kui-hoa-po-tian, tentu isinya sangat mukjizat dan sukar dipelajari dengan sempurna."
"Untuk ini ...."
Mendadak Gak Put-kun tidak melanjutkan lagi ucapannya.
"Suko,"
Kata Gak-hujin.
"bila kawanan siluman itu sudah mengatur muslihat keji demikian pasti mereka mati-matian akan datang lagi, bila sampai terjadi sesuatu, bukankah ...."
"Ya, dengan kekuatan kita berdua paling-paling hanya dapat melawan mereka berdua dengan sama kuatnya, bila melawan keroyokan mereka bertiga sudah pasti akan kalah, apalagi kalau mereka berlima maju sekaligus, terang kita tidak mampu melawan."
Sebenarnya Gak-hujin juga merasa suami-istri mereka bukan tandingan kelima siluman itu, tapi ia tahu akhir-akhir ini sejak sang suami berhasil menyempurnakan Ci-he-sin-kang, kekuatan sang suami sudah maju luar biasa, betapa pun ia masih berharap kalau-kalau dapat mengatasi musuh.
Sekarang demi mendengar pengakuan sang suami yang terus terang itu, seketika ia menjadi gelisah, katanya.
"Lalu bagaimana ... bagaimana baiknya? Masakah kita hanya berpeluk tangan menanti ajal saja?"
"Sumoay,"
Kita Put-kun.
"hendaknya jangan khawatir. Seorang laki-laki sejati harus berani melihat kenyataan, bisa maju dan berani mundur. Kalah atau menang tidak ditentukan dalam pertarungan sesaat-dua saat saja."
"Jadi kau maksudkan kita lebih baik melarikan diri?"
Tanya Gak-hujin.
"Bukan lari,"
Sahut Put-kun.
"melainkan menghindarnya untuk sementara. Musuh berjumlah banyak, sebaliknya kita suami-istri hanya berdua, cara bagaimana kita mampu melawan kerubutan mereka berlima? Padahal engkau sudah membunuh salah seorang siluman itu, sesungguhnya kita sudah di pihak yang menanti, andaikan sekarang kita menghindar untuk sementara juga tidak merosotkan derajat siapa pun juga, rasanya orang luar juga takkan mengetahui kejadian ini."
"Meski telah kubunuh seorang di antara mereka, tapi jiwa anak Tiong juga terancam bahaya, maka paling-paling cuma dianggap seri saja,"
Kata Gak-hujin.
"O, anak Tiong ...."
Sejak kecil Lenghou Tiong berada di bawah asuhannya hingga dewasa, maka nyonya Gak anggap anak muda itu seperti anak kandung sendiri.
Teringat jiwanya terancam bahaya, tanpa terasa timbul lagi kesedihannya, katanya dengan suara parau.
"Suko, aku akan menurut padamu, bolehlah kita membawa serta anak Tiong, perlahan kita dapat menyembuhkan dia."
Gak Put-kun diam saja tanpa menjawab.
"Apakah kita tak dapat membawa serta anak Tiong?"
Gak-hujin menegas.
"Luka anak Tiong teramat parah, jika dia dibawa serta dalam perjalanan cepat, tentu tidak sampai satu jam jiwanya akan amblas,"
Kata Put-kun.
"Lantas ba ... bagaimana baiknya? Apakah benar tiada cara yang baik untuk menyelamatkan jiwanya?"
Tanya Gak-hujin setengah meratap. Gak Put-kun menghela napas, katanya.
"Ai, dengan tulus tempo hari aku hendak mengajarkan Ci-he-sin-kang padanya, siapa duga secara kebetulan entah sebab apa dia memainkan ilmu pedang yang aneh, ia tersesat menuju ke jalan yang dianut kaum Kiam-cong (sekte yang mengutamakan ilmu pedang melulu) sehingga aku membatalkan maksudku mengajarkan ilmu sakti itu padanya. Coba kalau sejak tempo hari dia mulai belajar Ci-he-sin-kang, walaupun baru dua-tiga halaman saja yang dapat dipahami, tentu juga sekarang dia dapat mengadakan penyembuhan bagi dirinya sendiri dan takkan teralang oleh dua arus hawa murni yang aneh itu."
Mendadak Gak-hujin berbangkit, katanya "Suko, urusan masih belum terlambat.
Sekarang juga engkau dapat mengajarkan Ci-he-sin-kang padanya.
Sekalipun dia dalam keadaan payah dan sukar memahami seluruh ilmu sakti itu toh akan lebih baik daripada sama sekali tidak melatihnya."
"Sumoay,"
Kata Put-kun dengan suara halus sambil menarik tangan sang istri.
"kecintaanku terhadap anak Tiong tiada ubahnya seperti dirimu. Namun, coba kau pikirkan lagi, jika sekarang aku menyerahkan Ci-he-pit-kip kepadanya, padahal tidak lama lagi kelima musuh akan datang kembali ke sini, dengan sendirinya anak Tiong tidak sanggup menjaga diri dan kitab pusaka Hoa-san-pay kita yang tiada taranya ini bukankah akan jatuh ke tangan musuh dengan mudah? Bilamana kawanan siluman itu sampai berhasil meyakinkan Lwekang golongan kita, bukankah akan mirip harimau tumbuh sayap dan akan mendatangkan bencana besar bagi dunia persilatan? Jika demikian ini terjadi, tentu aku Gak Put-kun akan berdosa besar bagi sesama kawan persilatan kita."
Bab 39. Gak Put-kun Buron Bersama Keluarga Gak-hujin tidak dapat menyangkal pendapat sang suami itu, saking cemasnya tanpa terasa air matanya meleleh. Segera Gak Put-kun berkata pula.
"Tingkah laku kawanan siluman itu sukar diraba dan tak menentu, daripada nanti terlambat, marilah sekarang juga kita lantas berangkat."
Habis berkata ia terus masukkan Ci-he-pit-kip ke dalam baju dan melangkah keluar. Ternyata Gak Leng-sian sudah menunggu di luar pintu, segera ia menyapa.
"Ayah, keadaan Toasuko tampaknya ... tampaknya sukar ditolong lagi."
"Bagaimana keadaannya?"
Put-kun menegas.
"Dia ... dia mengigau tak keruan, pikirannya makin tidak jernih,"
Kata si nona.
"Apa yang dia igaukan?"
Tanya Put-kun. Muka si nona menjadi merah, sahutnya kemudian.
"Entah, aku pun tidak paham apa arti igauannya itu."
Kiranya Lenghou Tiong yang tersiksa oleh bergolaknya enam arus hawa panas yang disalurkan Tho-kok-lak-sian itu, pikirannya terkadang jernih dan lain saat samar-samar dan tidak sadarkan diri.
Suatu ketika demi dilihatnya Leng-sian berdiri di depannya, tanpa terasa ia berkata.
"O, Siausumoay, alangkah aku me ... merindukan dikau! Apakah engkau telah mencintai Lim-sute, maka ... maka tidak mau menggubris padaku lagi?"
Sama sekali Leng-sian tidak mengira sang Toasuko dapat mengutarakan perasaannya itu di hadapan Lim Peng-ci yang saat itu juga berada di situ, keruan wajahnya berubah merah jengah dan merasa kikuk.
Bahkan terdengar Lenghou Tiong berkata pula.
"Siausumoay, sejak kecil kita dibesarkan bersama, berlatih ilmu silat bersama, sungguh aku tidak ... tidak tahu di mana aku bersalah padamu. Jika kau marah padaku, silakan memaki atau memukul aku, sekalipun kau tusuk badanku dengan pedangmu juga aku takkan mengeluh. Hanya saja janganlah begitu dingin padaku, bahkan tidak menggubris padaku!"
Apa yang diucapkannya itu memang sudah lama terkandung dalam sanubarinya, selama beberapa bulan itu entah sudah berapa kali dipikirkan olehnya.
Bila sadar tentu dia takkan berani mengutarakan perasaannya sekalipun berada sendirian bersama Leng-sian.
Tapi sekarang pikirannya dirasakan melayang-layang entah berada di mana, segala pantangan antara muda-mudi sudah tak teringat lagi olehnya, maka tanpa aling-aling segala apa yang terkandung di lubuk hatinya telah dikeluarkan seluruhnya.
Keruan Peng-ci juga merasa kikuk, dengan suara perlahan ia berkata kepada Leng-sian.
"Biar aku keluar sebentar."
"Jangan, boleh kau yang menjaga Toasuko saja,"
Seru Leng-sian sambil mendahului lari keluar kamar.
Ketika sampai di luar kamar ayah-bundanya, kebetulan ia dapat mendengar pembicaraan ayah-ibunya tentang penyembuhan luka Lenghou Tiong dengan bantuan Ci-he-sin-kang tadi.
Begitulah Gak Put-kun lantas berkata kepada Leng-sian.
"Boleh sampaikan perintahku agar semua orang berkumpul di ruang Co-kong-tong."
Leng-sian mengiakan.
"Dan bagaimana dengan Toasuko, siapa yang harus menjaganya?"
Tanyanya.
"Boleh suruh Tay-yu saja yang menjaganya,"
Sahut Put-kun.
Segera Leng-sian pergi menyampaikan perintah ayahnya itu.
Maka hanya sebentar saja semua murid Hoa-san-pay sudah berkumpul di ruang pendopo, mereka berdiri berjajar menurut urutannya masing-masing.
Gak Put-kun sendiri duduk di kursi tengah, istrinya duduk di sebelah samping.
Dalam hubungan suami-istri mereka memang sederajat, tapi sekarang berada di ruang upacara resmi Gak Put-kun adalah pejabat ketua, dengan sendirinya sang istri terhitung bawahan dan harus duduk di samping.
Sekilas pandang Gak Put-kun melihat seluruh muridnya hadir semua kecuali Liok Tay-yu dan Lenghou Tiong.
Segera ia berkata.
"Di antaranya tokoh-tokoh angkatan tua golongan kita ada sementara orang yang tersesat ke jalan yang tidak benar, yang mereka utamakan adalah latihan ilmu pedang melulu dan meremehkan berlatih Khikang. Mereka tidak mau tahu bahwa setiap ilmu silat paling tinggi di dunia ini pasti mempunyai alas dasar Khikang yang kuat, jika Khikang kurang sempurna, betapa pun bagusnya ilmu pedang yang dilatihnya juga sukar mencapai puncak yang paling sempurna.
"Sungguh sayang para Locianpwe itu tetap tidak mau sadar dan meneruskan cara mereka serta mendirikan sekte pedang sendiri, pertentangan antara sekte pedang dan sekte hawa kita sudah berlangsung selama puluhan tahun, sudah tentu hal ini sangat mengganggu perkembangan Hoa-san-pay kita."
Habis berkata ia lantas menghela napas panjang.
Diam-diam Gak-hujin mendongkol.
Sebentar lagi kelima siluman itu mungkin akan tiba, tapi sang suami masih mengobrol tentang kejadian masa lampau dengan seenaknya.
Ia melirik sang suami, tapi tidak berani menimbrung.
Dalam pada itu Gak Pun-kun lagi menyambung.
"Meski pertengkaran antara kedua golongan sangat keras, tapi yang benar tetap benar. Tiga puluh tahun yang lalu sekte pedang telah mengalami kekalahan habis-habisan sehingga terpaksa mengundurkan diri dari Hoa-san-pay kita, sejak itu aku diangkat sebagai pejabat ketua sampai kini tanpa mengalami sesuatu alangan apa pun."
Tak terduga beberapa hari yang lalu tiba-tiba datang murid buangan golongan kita dari sekte pedang yang bernama Hong Put-peng, Seng Put-yu dan lain-lain, entah dengan cara bagaimana mereka berhasil menipu Co-bengcu dari perserikatan Ngo-gak-kiam-pay kita, dengan membawa panji kebesaran Co-bengcu mereka sengaja datang hendak merebut kedudukan ketua Hoa-san-pay dari tanganku.
"Setelah menjabat sekian lama dan banyak mengalami persoalan rumit sesungguhnya aku pun sudah lama ingin mengundurkan diri dan menyerahkan tempat ketua ini kepada orang yang lebih bijaksana, sekarang ada orang mau menggantikan aku sebenarnya itulah sangat kuharapkan."
Tiba-tiba Ko Kin-beng membuka suara.
"Suhu, murid buangan dari sekte pedang seperti Hong Put-peng itu sudah lama tersesat ke jalan yang jahat, mereka tiada bedanya seperti anggota Mo-kau. Andaikan mereka minta masuk kembali ke perguruan kita saja harus ditolak, mana boleh membiarkan mereka secara sembrono mengoper jabatan ketua kita ini. Jika hal ini sampai terjadi, bukankah Hoa-san-pay kita akan hancur dalam sekejap saja?"
"Ya, sekali-kali kita tidak boleh tinggal diam, tipu muslihat kawanan jahanam itu harus digagalkan,"
Dukung Lo Tek-nau, Si Cay-cu dan lain-lain. Melihat anak muridnya sama penasaran dan tegas menolak maksud jahat musuh, dengan tersenyum Put-kun menyambung pula.
"Tentang jabatan ketua ini sebenarnya adalah soal kecil bagiku. Tapi kalau golongan pedang itu dibiarkan memimpin perguruan kita, tentu ilmu silat Hoa-san-pay yang terkenal selama ratusan tahun ini akan hancur dalam waktu singkat, lalu cara bagaimana kita harus bertanggung jawab kepada para leluhur perguruan bila kita sudah mati? Sedangkan nama baik Hoa-san-pay selanjutnya tentu juga takkan dihormati lagi oleh sesama kawan Kangouw."
"Ya, ucapan Suhu memang benar,"
Kata Tek-nau dan lain-lain.
"Kalau melulu Hong Put-peng dan beberapa kawannya dari sekte pedang saja sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, cuma mereka sudah mendapatkan panji kebesaran Ngo-gak-kiam-pay, mereka bersekongkol pula dengan jago-jago Ko-san-pay. Heng-san-pay, Thay-san-pay dan Hing-san-pay, hal inilah yang tidak boleh kita remehkan, sebab itulah ...."
Sampai di sini sorot mata Gak Put-kun menyorot sekeliling anak muridnya, lalu menyambung.
"Besok juga kita lantas berangkat ke Ko-san untuk menemui Co-bengcu, kita akan menuntut kebenaran dan minta keadilan padanya."
Mendengar demikian, Lo Tek-nau dan lain-lain sama terkesiap.
Mereka tahu Ko-san-pay adalah kepala dari Ngo-gak-kiam-pay, serikat aliran ilmu pedang dari lima pegunungan.
Ketua Ko-san-pay bernama Co Leng-tan bahkan adalah tokoh nomor satu di dunia persilatan pada zaman ini, selain ilmu silatnya sangat hebat, orangnya juga kaya akan tipu akal, setiap orang Kangouw bila mendengar nama "Co-bengcu"
Tentu merasa jeri dan segan.
Sekarang sang guru menyatakan hendak datang sendiri ke Ko-san untuk minta keadilan, hal ini benar-benar di luar dugaan siapa pun juga.
Sebab mereka pun maklum bilamana "keadilan"
Yang diminta itu kurang adil tentu akibatnya adalah bergebrak dengan kekerasan. Maka anak murid Hoa-san-pay itu sama berpikir.
"Meskipun ilmu silat Suhu sangat tinggi, tapi juga belum tentu dapat mengalahkan Co-bengcu, apalagi ketua Ko-san-pay itu masih mempunyai belasan orang Sute yang lihai, orang Bu-lim menjuluki mereka sebagai 'Ko-san-cap-thay-po' (tiga belas gembong dari Ko-san). Meski satu di antaranya sudah tewas, yaitu Ko-yang-jiu Hui Pin, sisanya juga masih berjumlah 12 orang dan semuanya adalah jago kelas wahid yang disegani, betapa pun anak murid Hoa-san-pay pasti bukan tandingan mereka. Kalau sekarang pihak sendiri mencari perkara ke Ko-san, bukankah terlalu sembrono seperti ular mencari gebuk?"
Meski anak murid Hoa-san-pay itu sama berpikir demikian, tapi tiada seorang pun berani membuka suara.
Sebaliknya Gak-hujin biarpun berperangai berangasan, namun otaknya sebenarnya tidak bodoh, demi mendengar ucapan sang suami itu diam-diam ia lantas bersorak memuji.
Pikirnya.
"Akal Suko sungguh sangat bagus. Kalau kita diketahui kabur dari Hoa-san yang merupakan pangkalan asli perguruan sendiri lantaran takut kepada kawanan siluman dari lembah Tho itu, kelak tentu akan ditertawai oleh sesama orang Kangouw dan pamor Hoa-san-pay pasti akan luntur habis-habisan. Tapi sekarang kalau secara resmi kita datang ke Ko-san hendak menuntut keadilan, hal ini bila diketahui orang luar bahkan kita akan dipuji. Pula Co-bengcu bukanlah manusia yang tidak kenal keadilan, kedatangan kita ke sana tidak perlu bertarung secara mati-matian, paling tidak toh masih ada waktu untuk bicara dan bertindak menurut gelagat."
Maka tanpa pikir lagi ia lantas menyokong maksud sang suami tadi, katanya.
"Ya, Hong Put-peng dan begundalnya telah mengacau ke sini dengan membawa panji kebesaran Co-bengcu, bukan mustahil panji itu adalah hasil curian. Seumpama panji itu adalah tulen dan pemberian Co-bengcu, bila soalnya mengenai urusan dalam Hoa-san-pay kita sendiri, meski Ko-san-pay mereka berjumlah lebih banyak, ilmu silat Co-bengcu tiada bandingannya pula, namun Hoa-san-pay kita juga bukan kaum keroco, biar mati pun pantang menyerah. Murid Hoa-san-pay yang bernyali kecil dan pengecut boleh tetap tinggal di sini, tak usah ikut."
Mendengar kata-kata ibu-gurunya ini, sudah tentu tiada seorang pun anak murid Hoa-san-pay mau mengaku sebagai pengecut, serentak mereka menjawab.
"Bila guru dan ibu-guru ada perintah, sekalipun masuk lautan api juga Tecu takkan mundur."
"Bagus jika begitu,"
Seru Gak-hujin.
"Nah, supaya urusan tidak terlambat sekarang juga kalian lekas berbenah, dalam waktu setengah jam kita lantas berangkat."
Lalu ia pergi menjenguk Lenghou Tiong pula.
Murid itu kelihatan kempas-kempis, jiwanya hanya tunggu ajal saja dalam sesaat-dua saat, hati nyonya Gak menjadi pedih.
Tapi pada saat menghadapi bencana yang akan menimpa Hoa-san-pay mereka, setiap waktu Tho-kok-ngo-kay (lima siluman lembah Tho) bisa datang, keselamatan Lenghou Tiong seorang tidak boleh mengakibatkan musnahnya orang banyak, terpaksa ia suruh Liok Tay-yu memindahkan Lenghou Tiong ke kamar samping di bagian belakang dan memberi pesan agar menjaganya dengan baik.
Katanya kemudian.
"Tay-yu, demi masa depan Hoa-san-pay kita, terpaksa kami berangkat ke Ko-san untuk minta keadilan kepada Co-bengcu, perjalanan ini sangat berbahaya, semoga di bawah pimpinan gurumu nanti dapatlah kita memperoleh kemenangan dan pulang dengan selamat. Keadaan Tiong-ji sangat payah, hendaknya kau dapat menjaganya dengan baik. Bila kedatangan musuh, boleh kalian berusaha menyembunyikan diri, terimalah penghinaan untuk sementara dan tidak perlu membuang nyawa percuma."
Dengan mengembeng air mata Liok Tay-yu mengiakan pesan itu.
Dengan hormat ia mengantar keberangkatan rombongan sang guru, ibu guru dan para Suheng dan Sutenya, kemudian ia kembali ke pondok tempat berbaring Lenghou Tiong yang tak berkutik itu.
Puncak Hoa-san seluas itu sekarang hanya tertinggal dirinya sebatang kara bersama sang Toasuko dalam keadaan tak sadar.
Tampaknya cuaca sudah mulai suram mendekat petang, mau tak mau timbul juga rasa jerinya.
Ia coba pergi ke dapur untuk memasak bubur, sesudah itu ia membawa semangkuk bubur ke kamar, ia memayang bangun Lenghou Tiong dan menyuapinya dua ceguk.
Cegukan ketiga ternyata disembur keluar oleh Lenghou Tiong, bubur yang berwarna putih itu tampak bersemu merah, kiranya darah ikut tersembur keluar.
Liok Tay-yu sangat khawatir, ia rebahkan kembali sang Toasuko dan menaruh mangkuk bubur itu di atas meja.
Ia termangu-mangu memandang keluar jendela yang gelap gulita.
Tiba-tiba terdengar suara burung hantu yang mengerikan berkumandang dari kejauhan.
Diam-diam Tay-yu membatin.
"Menurut cerita orang, katanya bunyi burung hantu pada waktu malam adalah sedang menghitung bulu alis orang sakit, bila jumlah bulu alis terhitung jelas olehnya tentu orang sakit itu akan mati."
Maka cepat ia gunakan jarinya yang dibasahi dengan air ludah untuk memoles alis Lenghou Tiong agar burung hantu sukar menghitung bulu alisnya.
Namun bunyi burung hantu itu masih terus terdengar, di tengah malam yang sunyi itu Liok Tay-yu tambah ngeri, tanpa terasa ia pun memoles alis sendiri dengan air ludah.
Pada saat itulah dari jauh tiba-tiba terdengar suara tindakan orang yang enteng.
Cepat Tay-yu meniup padam api pelita dan melolos pedang serta berjaga di samping Lenghou Tiong.
Suara tindakan orang itu makin sama makin mendekat, ternyata arah yang dituju adalah pondok kecil ini.
Keruan hati Liok Tay-yu berdebar-debar tegang.
Katanya di dalam hati.
"Celaka! Musuh ternyata mengetahui Toasuko sedang dirawat di sini. Wah, cara bagaimana aku harus melindungi keselamatan Toasuko?"
Pada saat lain tiba-tiba terdengar suara seorang wanita sedang memanggil dengan suara tertahan.
"Lak-kau-ji, apakah kau berada di dalam rumah?"
Di luar dugaan, kiranya adalah suara Gak Leng-sian. Keruan Tay-yu sangat girang, cepat ia menjawab.
"Apakah Siausumoay di situ? Ya, aku ... aku berada di sini."
Lekas Tay-yu mengetik api untuk menyalakan pelita, saking keburunya sampai minyak pelita itu tersampuk dan tertumpah. Sementara itu Leng-sian telah mendorong pintu dan melangkah masuk, tanyanya cepat.
"Bagaimana dengan Toasuko?"
"Banyak tumpah darah pula,"
Sahut Tay-yu. Leng-sian mendekati tempat tidur dan coba meraba dahi Lenghou Tiong, ternyata panasnya luar biasa, tangan seperti terbakar rasanya.
"Lak-kau-ji, kenapa tidak mengusap darah di pinggir mulut Toasuko ini?"
Katanya kemudian. Tay-yu mengiakan dan lekas-lekas mengeluarkan saputangan. Tapi Leng-sian lantas mengambil saputangannya, perlahan ia membersihkan darah yang berlepotan di tepi mulut Lenghou Tiong.
"Teri ... terima kasih Siausumoay,"
Mendadak Lenghou Tiong membuka suara. Sama sekali Leng-sian tidak mengira Toasuko yang kelihatan tak sadar itu mendadak bisa bicara padanya, dengan kejut dan girang cepat ia menjawab.
"Toasuko, bagaimana ... bagaimana keadaanmu?"
"Rasanya isi perutku seperti disayat-sayat oleh ... oleh enam bilah pisau yang tajam,"
Tutur Lenghou Tiong dengan lemah. Tiba-tiba Leng-sian mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari bajunya, katanya dengan suara tertahan.
"Toasuko, ini adalah 'Ci-he-pit-kip' kata ayah ...."
"Ci-he-pit-kip?"
Lenghou Tiong menegas.
"Ya,"
Sahut Leng-sian.
"kata ayah, di dalam badanmu telah tertanam hawa murni yang aneh dari kawanan siluman itu, untuk memunahkannya harus menggunakan inti Lwekang dari perguruan kita sendiri. Lak-kau-ji, coba membacakan isi kitab pusaka ini kepada Toasuko, bacalah sehuruf demi sehuruf supaya jelas. Tapi awas, kau sendiri tidak boleh ikut meyakinkannya, kalau tidak, bila diketahui ayah, hm, tentu kau sendiri tahu akan akibatnya."
Liok Tay-yu sangat girang, sahutnya.
"Ah, orang macam apakah aku ini? Masakah aku berani meyakinkan Lwekang tertinggi dari perguruan kita? Sudahlah Siausumoay jangan khawatir. Demi menolong jiwa Toasuko, tanpa segan Suhu sudi menurunkan kitab pusaka ini kepadanya, sekali ini Toasuko pasti dapat diselamatkan."
"Hal ini jangan sekali-kali kau beri tahukan orang lain,"
Pesan Leng-sian.
"Kitab ini bukan pemberian ayah, tapi aku mencurinya dari bawah bantal ayah."
"Hah, jadi kau ... mencuri?"
Seru Tay-yu terkejut.
"Yah, jika diketahui Suhu lantas ... lantas bagaimana?"
"Bagaimana apa? Masakah aku akan dibunuh olehnya?"
Ujar Leng-sian.
"Paling-paling aku akan didamprat dan boleh juga dihajar babak belur. Tapi kalau dapat menyelamatkan Toasuko, bila ayah-ibu menjadi senang, bisa jadi semuanya takkan diusut dan tak menjadi soal lagi bagi mereka."
"Ya, ya, memang paling penting selamatkan Toasuko lebih dulu, urusan belakang,"
Sahut Liok Tay-yu. Mendadak Lenghou Tiong membuka suara.
"Siausumoay, bawa ... bawa kepada Suhu."
"Sebab apa?"
Tanya Leng-sian heran.
"Dengan susah payah aku membawa kitab pusaka ini dengan menempuh jalan pegunungan puluhan li jauhnya di tengah malam buta dan memburu kembali ke sini, tapi engkau berbalik tidak mau terima? Ini toh bukan mencuri belajar, tapi menyelamatkan jiwamu."
"Ya, Toasuko, kau pun tidak perlu meyakinkan selengkapnya, latih saja secukupnya asal dapat memunahkan hawa jahat dalam tubuhmu, kemudian kitab pusaka ini dapat dikembalikan lagi kepada Suhu, tatkala mana boleh jadi Suhu akan mewariskan sekalian kitab pusaka ini kepadamu. Memangnya engkau adalah murid pewaris perguruan kita, kepada siapa Ci-he-pit-kip ini akan diwariskan kalau bukan kepadamu? Hal ini hanya soal waktu saja, apa alangannya jika engkau melatihnya sekarang?"
"Tidak, biar ... biar mati pun aku tidak mau melanggar perintah Suhu. Sudah pernah Suhu mengatakan bahwa ... bahwa aku tidak dapat belajar Ci-he-sin-kang ini. Maka dari itu, Siausumoay ...."
Hanya sampai di sini mendadak napas Lenghou Tiong menjadi sesak lagi dan jatuh pingsan pula. Leng-sian coba memeriksa sang Toasuko, terasa panas, katanya kepada Liok Tay-yu.
"Sedemikian dia mati tanpa menolongnya? Aku harus cepat kembali pula ke sana sebelum fajar tiba agar tidak dicari oleh ayah-ibu. Hendaknya kau bujuk Toasuko, betapa pun kuharap dia suka menuruti permintaanku dan berlatihlah isi Ci-he-pit-kip ini. Jangan sia-siakan ...."
Sampai di sini mukanya menjadi merah, lalu melanjutkan.
"Jangan sia-siakan jerih payahku lari-lari semalaman ini."
"Baik, tentu akan kubujuk dia,"
Sahut Tay-yu.
"Siausumoay, sekarang rombongan Suhu bermalam di mana?"
"Di hotel kecil di Pek-ma-tik (nama kota),"
Sahut Leng-sian.
"Itu sudah menjauh 50-an li,"
Kata Tay-yu.
"Di tengah malam buta kau lari pulang-pergi sejauh ratusan li, hal ini pasti takkan dilupakan oleh Toasuko selamanya."
Mata si nona menjadi merah terharu, katanya.
"Yang kuharap adalah selekasnya Toasuko bisa cepat kembali. Tentang dia tetap ingat atau tidak pada kejadian ini tidak dipikirkan."
Habis berkata ia menaruh "Ci-he-pit-kip"
Di ujung ranjang Lenghou Tiong, dipandangnya pemuda itu sejenak lalu ia berlari keluar. Kira-kira hampir satu jam kemudian barulah Lenghou Tiong mendusin. Waktu ia buka mata segera ia berseru.
"Siau ... Siausumoay! "Siausumoay sudah pergi,"
Sahut Liok Tay-yu.
"Sudah pergi?"
Teriak Lenghou Tiong. Mendadak ia bangkit duduk, baju dada Liok Tay-yu terus dijambret olehnya. Keruan Tay-yu terperanjat, katanya.
"Ya, Siausumoay sudah turun gunung, katanya ... katanya kalau sebelum fajar menyingsing tidak berada di rumah penginapan sana, tentu akan membikin khawatir Suhu dan Sunio. Toasuko, hendaknya berbaring dan mengaso saja."
Namun jawaban Liok Tay-yu itu seperti tidak didengar oleh Lenghou Tiong, ia bergumam sendiri.
"Dia ... dia sudah pergi? Dia ... dia bersama Lim-sute?"
"Siausumoay berada bersama guru dan ibu guru,"
Tay-yu menambahkan.
Akan tetapi kedua mata Lenghou Tiong terbelalak dan menatap kaku ke depan, kulit mukanya tampak berkerut-kerut.
Tay-yu menjadi takut, ia tidak berani meronta meski dadanya masih dicengkeram oleh Lenghou Tiong, terpaksa ia berkata dengan suara perlahan.
"Toasuko, sesungguhnya Siausumoay sangat memerhatikan keselamatanmu, tengah malam buta dia lari pulang ke sini dari Pek-ma-tik, seorang nona cilik sebagai dia telah lari pulang pergi ratusan li, betapa perasaannya terhadapmu dapatlah dibayangkan. Sebelum pergi dia juga memberi pesan wanti-wanti agar bagaimanapun juga engkau harus mempelajari kitab Ci-he-pit-kip ini dan jangan ... jangan menyia-nyiakan maksud baiknya padamu."
"Dia berkata demikian?"
Lenghou Tiong menegas.
"Ya, masakan aku berani dusta?"
Sahut Tay-yu.
Tenaga Lenghou Tiong sudah sangat lemah, ia tidak tahan lagi dan roboh berbaring pula.
Walaupun batok kepala belakang kebentur balai-balai, tapi tak dirasakan sakit lagi.
Segera Liok Tay-yu berkata pula.
"Toasuko, biar kubacakan isi kitab ini."
Lalu ia ambil Ci-he-pit-kip itu dan membuka halaman pertama, ia mulai membacanya kalimat demi kalimat ....
"Kau sedang membaca apa?"
Tiba-tiba Lenghou Tiong bertanya.
"Ini adalah bab pertama dari Ci-he-pit-kip,"
Sahut Tay-yu.
"Seterusnya tertulis ...."
Begitulah ia lantas melanjutkan pula membaca isi kitab pusaka itu. Di luar dugaan Lenghou Tiong menjadi gusar, serunya.
"Ini adalah rahasia perguruan kita yang tak boleh diajarkan kepada siapa pun, kau berani sembarangan membacanya dan melanggar hukum perguruan kita yang paling keras? Ayo, lekas simpan kembali kitab itu!"
"Toasuko,"
Kata Liok Tay-yu.
"seorang laki-laki sejati harus dapat menyesuaikan diri menurut keadaan. Sekarang yang paling penting adalah menyelamatkan engkau, segala urusan boleh dikesampingkan dahulu. Biar kubacakan lagi ...."
Lenghou Tiong hanya mendengarkan beberapa kalimat saja lantas tahu kitab asli "Ci-he-pit-kip".
Seberapa kalimat di antaranya dahulu pernah didengarnya dari pembicaraan guru dan ibu gurunya, cuma dia tidak paham apa artinya.
Sekarang sesudah kepandaian dirinya tambah tinggi dan mendengar pula kalimat pendahuluan dalam kitab pusaka itu barulah diketahui bahwa kalimat-kalimat itu sebenarnya adalah kunci latihan Lwekang tertinggi dari perguruan sendiri.
"Tutup mulut!"
Mendadak ia membentak. Tay-yu melengak, ia pandang Lenghou Tiong dengan heran, katanya.
"Toasuko, ada ... ada apakah?"
"Sungguh aku merasa tidak enak sekali mendengarmu membaca isi kitab pusaka milik Suhu itu,"
Kata Lenghou Tiong dengan gusar.
"Apakah kau sengaja hendak menyeret aku agar menjadi seorang yang tidak setia dan tidak berbudi ya?"
"Tidak, tidak, mengapa bisa dianggap tidak setia dan tidak berbudi?"
Sahut Tay-yu bingung.
"Kitab pusaka ini tempo hari pernah dibawa oleh Suhu ke puncak perenung dosa dan bermaksud diajarkan padaku,"
Kata Lenghou Tiong.
"Tapi kemudian beliau mengetahui bahwa jalan latihan silatku telah sesat, bakatku juga tidak cocok, maka beliau telah mengubah maksudnya semula ...."
Sampai di sini napasnya sudah tersengal-sengal dan rasanya sangat payah.
"Tapi sekarang soalnya demi untuk menyelamatkan jiwamu dan bukan sengaja mencuri belajar, apakah ... alangannya?"
Ujar Liok Tay-yu.
"Sebagai murid orang, apakah jiwa sendiri lebih penting atau mesti mengutamakan keputusan Suhu?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Tapi Suhu dan Sunio ingin engkau diselamatkan, ini adalah urusan yang paling penting, apalagi ... apalagi Siausumoay semalam suntuk telah berlari kian kemari dengan susah payah, cintanya padamu ini, Toasuko, apakah dapat kau sia-siakannya?"
Lenghou Tiong menjadi terharu, air mata hampir-hampir menitik, lekas ia putar mukanya ke sebelah dalam, katanya.
"Justru karena dia yang membawa un ... untukku, aku Lenghou Tiong seorang laki-laki sejati, masakah harus menerima belas kasihan orang?"
Sesudah kata-kata itu terucapkan, tanpa terasa badannya bergetar. Pikirnya.
"Ah, kiranya dalam lubuk hatiku diam-diam dendam dan benci pada hubungan baik antara Siausumoay dan Lim-sute, sebaliknya ia bersikap dingin padaku. Wah, Lenghou Tiong, mengapa jiwamu begini sempit?"
Namun bila teringat bahwa besok juga Gak Leng-sian sudah akan berkumpul pula dengan Lim Peng-ci dan sepanjang jalan menuju ke Ko-san mereka tentu akan bergaul dengan lebih akrab, tanpa terasa pedih juga hatinya.
"Toasuko, mengapa engkau berpikir tak keruan?"
Kata Liok Tay-yu.
"Sejak kecil engkau dibesarkan bersama Siausumoay, kalian ... kalian berdua laksana saudara sekandung saja ...."
"Aku justru tidak ingin seperti saudara sekandung dengan dia,"
Demikian kata Lenghou Tiong di dalam hati. Sudah tentu perasaan demikian tidak diucapkannya. Dalam pada itu terdengar Liok Tay-yu sedang menyambung pula.
"Biar kubacakan lagi isi Ci-he-pit-kip ini, harap Toasuko mendengarkan dengan baik, bila sukar diingat, boleh aku mengulangi lagi ...."
"Tidak, jangan membacanya,"
Bentak Lenghou Tiong dengan bengis.
"Toasuko,"
Kata Liok Tay-yu.
"demi untuk menyembuhkan penyakitmu selekasnya, hari ini terpaksa aku membangkang perintahmu. Ya, biar berdosa melanggar peraturan perguruan juga kupikul semua. Engkau berkeras tidak mau mendengarkan isi kitab ini, akulah yang paksa dan sengaja membaca bagimu. Jadi engkau sendiri sama sekali tidak menjamah kitab pusaka ini, apa yang tertulis di dalam kitab juga tidak pernah kau baca sendiri, dengan demikian apakah dosamu? Kalau salah, akulah Liok Tay-yu yang bersalah karena aku yang paksa engkau berlatih. Nah, dengarkan ...."
Hendak menolak mendengarkan namun tiap huruf dan tiap kalimat yang dibaca Liok Tay-yu itu toh terus menyusup ke dalam telinganya.
Saat itu keenam arus hawa aneh masih terus bergolak di dalam tubuh Lenghou Tiong, ia benar-benar tak bisa mengatasi lagi.
Tidak lama lagi kalau Liok Tay-yu sudah habis membacakan isi Ci-he-pit-kip itu, walaupun dirinya berkeras tidak mau melatihnya toh akan ikut menanggung dosa lantaran sudah mengetahui rahasia kitab pusaka gurunya.
Bahkan kalau dirinya sebentar lagi mati, orang luar yang tidak tahu duduknya perkara tidak mustahil akan menuduh dirinya mati lantaran tidak berhasil meyakinkan Ci-he-sin-kang, hal ini tentu akan dibuat tertawaan orang malah.
"Liok-sute sesungguhnya bermaksud baik ingin menolong aku, namun aku sukar tertolong lagi, aku tidak boleh membikin susah padanya karena mesti menanggung dosa bencana kitab itu,"
Demikian pikir Lenghou Tiong akhirnya. Mendadak ia merintih dengan suara keras. Tay-yu terkejut.
"He, Toasuko, kenapakah?"
Tanyanya khawatir.
"Coba ... ganjal bantalku supaya ... supaya lebih tinggi sedikit,"
Pinta Lenghou Tiong.
Sambil mengiakan Tay-yu menggunakan kedua tangannya untuk mengganjal bawah bantal sang Toasuko.
Di luar dugaan mendadak Lenghou Tiong mengerahkan tenaga dan menutuk tepat Tang-tiong-hiat di dadanya.
Dalam keadaan kedua tangan sedang digunakan untuk mengganjal bantal sehingga dada sama sekali terbuka, pula sama sekali tidak terduga duga bahwa Toasuko yang paling disayang dan dihormati itu bisa mendadak menyerang padanya, sebab itulah biarpun Lenghou Tiong dalam keadaan sakit payah dan tenaga lemah toh sekali tutuk saja kontan Liok Tay-yu roboh terkulai dan tak berkutik lagi.
"Laksute, maaf, terpaksa mesti membikin susah padamu. Boleh berbaring beberapa jam di sini, nanti Hiat-to yang tertutuk tentu ... tentu akan terbuka sendiri,"
Kata Lenghou Tiong dengan tersenyum getir.
Perlahan ia meronta bangun, ia pandang sejenak Ci-he-pit-kip, akhirnya menghela napas dan berjalan perlahan ke samping pintu, ia pegang palang pintu yang terletak di pojok dan digunakannya sebagai tongkat darurat, lalu dengan langkah rada sempoyongan ia menuju keluar.
Keruan Liok Tay-yu sangat gelisah, teriaknya.
"Toa ... hen ... ke ...."
Maksudnya hendak tanya.
"Toasuko hendak ke mana?"
Tapi karena Hiat-to penting tertutuk sehingga suaranya tidak lancar.
Namun karena tenaga tutukan Lenghou Tiong itu terlalu lemah, maka dia hanya dibikin lemas seketika saja dan tidak sampai lumpuh seluruhnya.
Tiba-tiba Lenghou Tiong menoleh.
"Laksute, terpaksa aku akan pergi jauh, makin jauh meninggalkan 'Ci-he-pit-kip' makin baik, agar orang lain tidak dapat melihat mayatku menggeletak di samping kitab pusaka itu, agar aku tidak disangka mati sebelum selesai mencuri belajar ilmu sakti itu ...."
Sampai di sini darah yang bergolak di rongga dadanya tak tertahan lagi dan mendadak tersembur keluar.
Ia tidak berani membuka suara lagi.
Ia khawatir kalau sedikit ayal saja, jangan-jangan tenaganya habis dan sukar meninggalkan pondok kecil itu.
Segera ia gunakan tongkat darurat itu, selangkah demi selangkah dengan napas terengah-engah ia bertindak ke depan.
Pertama karena usianya masih muda, tenaga kuat, pula dengan penuh tekad, maka perlahan ia masih biasa melangkah pergi walaupun dengan susah payah.
Kira-kira belasan meter jauhnya, ia benar-benar merasa lemah, terpaksa ia bersandar dengan bantuan tongkat untuk bernapas.
Sejenak kemudian ia coba melanjutkan langkahnya pula dan begitu seterusnya, sebentar-sebentar terpaksa harus berhenti mengaso.
Sampai hampir satu li jauhnya, terasalah matanya mulai berkunang-kunang dan kepala pusing, bumi dan langit seakan-akan berputar, badan tak kuat lagi dan akan terbanting roboh.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar di tengah semak-semak di depan sana ada suara orang merintih.
Lenghou Tiong terkesiap.
Di tengah malam kelam tak bisa melihat siapa yang bersuara itu, tapi ia yakin orang yang berada di puncak Hoa-san kebanyakan adalah kawan dan bukan lawan.
Segera ia bertanya.
"Siapa itu?"
Terdengar orang itu berteriak menjawab.
"Apakah di situ Lenghou Tiong? Aku Dian Pek-kong."
Menyusul terdengar suara rintihan lagi, agaknya kesakitan luar biasa. Lenghou Tiong terkejut.
"He, kiranya Dian ... Dian-heng. Ken ... kenapakah engkau?"
"Aku ... aku hampir mati!"
Sahut Dian Pek-kong.
"Lenghou-heng, kumohon engkau suka membantu aku, aduh ... aduh, lekas ... lekas gunakan pedangmu dan bunuh saja diriku."
Di tengah kata-katanya itu diseling pula suara mengaduh kesakitan, namun suaranya tetap lantang dan keras.
"Apa ... apakah engkau terluka?"
Tanya Lenghou Tiong. Mendadak kaki sendiri terasa lemas, ia terbanting jatuh di tepi jalan. Kini Dian Pek-kong yang terkejut.
"He, apakah kau pun terluka? Aduh, aduh, sia ... siapakah yang melukaimu!"
"Terlalu panjang untuk diceritakan,"
Sahut Lenghou Tiong lemah.
"Dian ... Dian-heng, kau sendiri di ... dilukai siapa?"
"Ai, aku sendiri tidak tahu,"
Sahut Dian Pek-kong.
"Aneh, mengapa tidak tahu?"
"Waktu itu aku sedang berjalan, sekonyong-konyong kedua tangan dan kedua kakiku dipegang orang terus diangkat ke atas. Aku sendiri tidak jelas siapakah yang memiliki kesaktian sedemikian hebat, aduh ... aduh ... sakit ...."
"O, kiranya perbuatan Tho-kok-lak-sian pula,"
Ucap Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Lukaku ini pun gara-gara ... gara-gara perbuatan mereka. Eh, Dian-heng, bukankah kau pun sehaluan dengan mereka?"
"Sehaluan apa maksudmu?"
"Kau minta aku pergi menemui Gi-lim Siausumoay, dan mereka ... mereka juga datang mengundang aku untuk menemui dia ... dia ...."
Sampai di sini napas Lenghou Tiong kembali terengah-engah lagi. Dian Pek-kong merangkak keluar dari semak-semak sana, ia menggeleng kepala dan memaki.
"Keparat, sudah tentu aku tidak sehaluan dengan mereka. Katanya mereka datang ke Hoa-san untuk mencari orang, mereka tanya padaku di mana beradanya orang itu. Kutanya mereka siapa yang mereka cari, tapi mereka anggap aku ini tawanan mereka, maka yang berhak tanya adalah mereka dan sebaliknya aku dilarang tanya mereka, jika aku mampu menangkap mereka barulah aku berhak tanya pada mereka. Kata mereka ... aduh ... kata mereka, jika mampu boleh coba menangkap mereka, jika ... jika berhasil tentu aku dapat mengajukan pertanyaan kepada mereka."
Bab 40.
Tho-kok-lak-sian Takut kepada Kentut Lenghou Tiong terbahak-bahak, tapi baru dua-tiga kali mengakak napasnya sudah sesak dan tidak sanggup tertawa lagi.
Maka Dian Pek-kong meneruskan ceritanya.
"Saat itu tubuhku terapung di atas, biarpun punya kepandaian setinggi langit juga tidak mampu melepaskan diri dari cengkeraman mereka, jangankan hendak menangkap mereka segala. Huh, mereka benar-benar mengoceh tak keruan, sialan ...."
"Cara omong dan mau menang sendiri serta ngawur tak habis-habis begitu memang sifat khas Tho-kok-lak-sian,"
Demikian pikir Lenghou Tiong. Lalu ia tanya pula.
"Dan bagaimana seterusnya?"
"Lalu aku bilang bahwa aku tidak ingin tanya apa-apa kepada mereka, tapi merekalah yang tanya padaku, 'Lekas lepaskan aku!' pintaku. Namun satu di antara mereka lantas berkata, 'Sekali kami sudah menangkapmu, jika tidak merobekmu menjadi empat potong kan membikin rusak nama besar kami?' "
Seorang lagi berseru, 'Sesudah dia dirobek menjadi empat potong, dia masih dapat bicara tidak?' -'Sudah tentu tidak dapat bicara lagi.
Orang yang pernah kita robek menjadi empat potong sedikitnya berjumlah tiga ratus kalau tidak ada lima ratus.
Kapan terjadi yang sudah kita robek masih dapat bicara pula?' bantah kawannya.
"Begitulah dengan terputus-putus Dian Pek-kong menceritakan pengalamannya. Meski sudah terluka parah, tapi ia masih ingat sejelasnya percakapan yang tak keruan yang pernah didengarnya itu, boleh jadi lantaran kesannya terlalu mendalam ketika dia kena dibekuk oleh Tho-kok-lak-sian.
"Keenam orang itu benar-benar jarang ditemukan bandingannya di dunia ini,"
Kata Lenghou Tiong gegetun.
"Aku ... aku menderita begini pun akibat perbuatan mereka."
"Kiranya Lenghou-heng juga terluka oleh mereka?"
Dian Pek-kong terkejut.
"Mereka terus mengoceh dan bertengkar sendiri tak habis-habis, sedangkan badanku terapung di udara, terus terang aku pun merasa takut. Aku merasa mual juga terhadap pertengkaran mereka yang tidak masuk di akal itu. Segera aku berteriak, 'Ayolah, kalau mau tanya lekas tanya, kalau aku terus diangkat begini saja, awas, segera aku akan melepaskan gas racun.' "
Seorang di antaranya tanya padaku, 'Gas racun apa?' -Aku menjawab, 'Kentutku, baunya jangan ditanya lagi, barang siapa mengendus bau kentutku, tanggung tiga hari tiga malam tidak mampu makan, bahkan nasi yang telah kau makan tiga hari yang lalu juga akan tumpah semua.
Nah, sudah kuperingatkan lebih dulu, jika kalian tidak menurut masa bodohlah jika nanti kalian kena gas racunku.'."
Lenghou Tiong tertawa.
"Haha, ucapanmu ini cukup beralasan juga."
"Ya, memang,"
Seru Dian Pek-kong.
"Demi mendengar kata-kataku itu, mendadak keempat orang itu menjerit takut, berbareng mereka membanting tubuhku ke tanah, mereka terus melompat minggir jauh-jauh. Waktu aku merangkak bangun, kulihat ada enam kakek yang sangat aneh, masing-masing sama pencet hidung sendiri, mungkin takut bau kentutku yang kukatakan seperti gas racun itu. Lenghou-heng, apakah maksudmu keenam kakek itu yang disebut Tho-kok-lak-sian?"
"Benar,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Ai, sayang aku tidak secerdik Dian-heng, waktu itu tak terpikir olehku untuk menggunakan 'akal kentut' untuk menakutkan mereka. Agaknya tipu akal Dian-heng ini tidak kalah dibandingkan tipu daya Khong Beng di zaman Sam Kok."
"Hehe, maknya,"
Dian Pek-kong mengumpat sambil mengekek. Lalu katanya pula.
"Kutahu keempat orang itu sukar dilawan, celakanya lagi senjataku ketinggalan di puncak gunungmu itu. Segera aku tancap gas hendak mengeluyur pergi. Tak terduga keenam orang yang masih pencet hidung sendiri itu segera mengadang di depanku dengan berjajar serapat dinding.
"Tapi hehe, tiada seorang pun berani berdiri di belakangku, rupanya mereka benar-benar takut pada kentutku yang berbau busuk. Melihat di depan telah dibuntu oleh mereka, segera aku putar tubuh dan berbalik arah, tapi gerak-gerik keenam orang itu benar-benar seperti setan, entah cara bagaimana tahu-tahu mereka sudah mengadang di depanku lagi.
"Sampai beberapa kali aku ganti arah dan tetap tak bisa meloloskan diri. Mendadak aku mendapat akal, aku berjalan mundur setindak demi setindak. Tapi mereka memburu dengan jalan ke depan, sudah tentu aku tak bisa lebih cepat daripada mereka, akhirnya aku terdesak sampai di dinding gunung dan tak bisa bergerak lagi.
"Keenam orang aneh itu sama bergelak tertawa senang, seorang di antara lantas tanya padaku, 'Dia berada di mana?' -Aku balas tanya, 'Siapa yang hendak kalian cari?' -Keenam orang itu serentak berkata, 'Kau telah kami kepung, kau yang harus menjawab pertanyaan kami!' Seorang lagi berkata, 'Jika kau dapat mengepung kami sehingga tak bisa lolos, barulah kau berhak tanya kepada kami. Sekarang kau harus menjawab dan bukan bertanya.' "
Orang yang tadi menukas, 'Dia hanya sendirian, dari mana dia mampu mengepung kita berenam?' Yang lain menjawab, 'Bisa saja.
Jika kepandaiannya amat tinggi, umpamanya dia mengurung kita di dalam sebuah gua, dia sendiri berjaga di mulut gua sehingga kita tersumbat tak bisa keluar.
Bukankah itu pun berarti kita terkepung.' -'Itu bukan terkepung, tapi tersumbat tak bisa keluar,' sahut yang tadi.
"Rupanya orang pertama itu tiada alasan buat berdebat lagi, tapi ia justru tidak mau kalah. Sesudah tertegun sejenak, mendadak ia tertawa sambil melonjak-lonjak, serunya, 'Aha, betul, jika dia kentut terus-menerus sehingga kita tidak berani mendekatnya, dia kepung kita dengan kentut, dengan demikian bukankah kita akan terkepung benar?' Keempat orang yang lain serentak bertepuk tangan dan berseru, 'Betul, orang ini dapat mengepung kita dengan kentut!' "
Mendengar ucapan mereka itu, tiba-tiba pikiranku tergerak, mendadak aku angkat kaki dan berlari sambil berteriak, 'Awas kalian jangan mengejar kalau takut kepada kentutku!' Aku menduga mereka tentu takut pada kentutku dan tentu tak berani mengudak diriku."
Siapa tahu gerakan keenam makhluk aneh itu berpuluh kali terlebih cepat daripadaku, baru beberapa langkah aku berlari tahu-tahu aku sudah kena dibekuk lagi oleh mereka.
"Tanpa ampun lagi aku didudukkan di atas sepotong batu dan ditekan sekuat-kuatnya sehingga tulang punggungku hampir-hampir patah. Sedemikian kuat mereka menekan tubuhku agar duduk kencang-kencang di atas batu sehingga sekalipun aku benar-benar ingin kentut juga tidak bisa mengeluarkan hawa busuk itu."
Saking gelinya Lenghou Tiong terbahak-bahak. Tapi baru dua-tiga kali tertawa mendadak darah di rongga dadanya bergolak lagi dan tidak mampu tertawa pula. Maka Dian Pek-kong menyambung pula ceritanya.
"Sesudah aku didudukkan di atas batu dengan ditahan sekuatnya, seorang di antaranya lantas bertanya, 'Dari mana datangnya kentut?' -'Dari perut melalui usus besar terus keluar dari lubang pantat.' -'Ya, tutuk saja Hiat-to bagian Siang-yang, Hap-kok-kik-ti dan Ging-hiang-hiat.' "
Habis berkata tangan pun lantas bergerak, sekaligus ia tutuk empat Hiat-to yang disebutkan itu. Betapa cepat dan jitunya cara menutuk sungguh jarang ada bandingannya.
"Setelah menutuk Hiat-toku, keenam orang aneh itu sama menghela napas lega, seperti terbebas dari beban berat. Kata mereka, 'Kutu tukang kentut ini sekarang tak mampu kentut lagi.' Kemudian orang yang menutuk aku itu bertanya padaku, 'He, sebenarnya di manakah orang itu? Jika kau tetap tak mau mengatakan, selamanya aku takkan membuka Hiat-tomu, biar kau ingin kentut tak terlepaskan, biar perutmu kembung dan akhirnya mampus.' "
Diam-diam aku berpikir sedemikian tinggi ilmu silat keenam makhluk aneh ini, kedatangan mereka ke Hoa-san ini tentu bukan mencari seorang keroco yang tak berarti.
Padahal waktu itu guru dan ibu-gurumu tidak berada di rumah, seumpama sudah pulang tentu mereka diketemukan keenam orang aneh itu dan tidak perlu mencari lagi.
Tapi sekarang mereka masih tetap mencari 'orang itu'.
Sesudah kupikir pulang-pergi, akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa orang yang sedang dicari keenam siluman itu tentu Thaysusiokcomu Hong-locianpwe."
Hati Lenghou Tiong tergetar.
"Dan kau beri tahukan mereka tidak?"
Tanyanya. Dian Pek-kong merasa kurang senang, sahutnya.
"Huh, memangnya kau anggap Dian Pek-kong ini manusia apa? Orang she Dian ini memang suka kepada bunga dan gemar pada wanita, namaku sudah busuk di kalangan Kangouw, tapi paling-paling juga terbatas dalam hal kegemaranku kepada kaum wanita saja, apakah pernah kau dengar aku buat kejahatan lain lagi? Sekali aku sudah berjanji padamu, tidak nanti aku membocorkan jejak Hong-locianpwe itu. Memangnya aku orang she Dian ini adalah manusia yang tak bisa dipercaya?"
"Ya, ya, aku yang salah omong, harap Dian-heng jangan marah,"
Cepat Lenghou Tiong minta maaf.
"Jika kau berani menghina aku lagi, biarlah kita putus hubungan, selanjutnya jangan saling anggap sebagai sahabat,"
Kata Dian Pek-kong pula. Diam-diam Lenghou Tiong membatin.
"Kau ini maling cabul yang tak terampunkan bagi orang Bu-lim, siapa yang pernah anggap kau sebagai sahabat? Hanya saja beberapa kali kau tidak jadi membunuhku, meski kesempatan membunuh itu terbuka bagimu, maka aku anggap masih utang budi padamu."
Dalam kegelapan Dian Pek-kong tak bisa melihat air muka Lenghou Tiong, maka ia sangka pemuda itu diam-diam sudah menerima kata-katanya tadi. Segera ia melanjutkan.
"Keenam makhluk aneh itu masih terus tanya padaku, aku sangat mendongkol dan merasa sebal, dengan suara keras aku berteriak, 'Sudah tentu aku tahu di mana beradanya orang itu, tapi aku justru tidak mau mengatakan. Sedemikian banyak puncak di pegunungan Hoa-san ini, jika aku tidak mau omong, biarpun selama hidup juga kalian takkan menemukan dia.' "
Keenam orang itu menjadi gusar, mereka menggunakan kekerasan dan menyiksa diriku.
Sejak itu aku lantas tak menggubris segala ocehan dua pertanyaan mereka.
Lenghou-heng, ilmu silat keenam siluman itu benar-benar luar biasa, hendaknya lekas kau beri tahukan kepada Hong-locianpwe agar beliau dapat siap siaga sebelumnya."
"Dian-heng, terus terang kukatakan, orang yang hendak dicari Tho-kok-lak-sian itu adalah diriku dan bukan Hong-thaysusiokcoku,"
Tutur Lenghou Tiong. Dian Pek-kong tergetar kaget.
"Kau? Kau yang dicari mereka? Untuk apa mereka mencari dirimu?"
Ia menegas.
"Mereka pun sama dengan tujuanmu, atas permintaan Gi-lim Sumoay supaya mencari aku,"
Kata Lenghou Tiong.
Dian Pek-kong melongo dan tak bisa bicara lagi.
Lenghou Tiong tahu ilmu silat Tho-kok-lak-sian memang sukar dibayangkan oleh siapa pun juga.
Tenaga dalam dan hawa murni mereka lebih-lebih luar biasa anehnya.
Tapi Dian Pek-kong seenaknya saja mengatakan "mereka menyiksa diriku", padahal kata-kata "menyiksa"
Itu entah meliputi penderitaan betapa hebatnya, hal ini dapat dibuktikan dengan penderitaan dirinya sekarang, apalagi Dian Pek-kong yang sengaja dipaksa bicara oleh keenam siluman itu, tentu penyiksaan yang mereka gunakan entah berapa puluh kali lebih keji dan lebih ganas.
Teringat akan derita Dian Pek-kong dan rintihan sekarang, perasaan Lenghou Tiong merasa tidak tega.
Katanya kemudian.
"Dian-heng lebih suka mati daripada membocorkan jejak Hong-thaysusiokco, engkau benar-benar seorang yang paling bisa pegang janji di dunia ini, sungguh aku sangat kagum dan hormat."
"Orang she Dian ini adalah manusia yang tak terampunkan bagi tokoh-tokoh persilatan, tapi mendengar pujianmu sekarang, biar mati pun aku merasa puas,"
Kata Pek-kong. Tiba-tiba Lenghou Tiong terkesiap. Pikirnya.
"Guru dan ibu-guruku sedang mencari dia di mana-mana dan ingin mencabut nyawanya, tapi aku malah memberi pujian padanya. Bila kata-kataku tadi didengar oleh Suhu dan Sunio, entah kena beliau itu akan betapa marahnya padaku?"
Dalam pada itu terdengar Dian Pek-kong berkata pula.
"Bila waktu itu akan mengetahui orang yang dicari keenam siluman itu adalah dirimu, tentu akan memberitahukan kepada mereka, dengan demikian aku tinggal ikut di belakang, mereka yang berhasil mengundangmu ke sana, maka aku pun tak perlu mati di Hoa-san sini akibat bekerjanya racun yang dalam tubuhku ini. Eh, aneh juga, jika kau telah jatuh di tangan keenam siluman itu, mengapa mereka tidak terus menggondolmu pergi menemui Siausuthay itu?"
Lenghou Tiong menghela napas, katanya.
"Hal itu terlalu panjang suntuk diceritakan. Dian-heng, barusan kau bilang racun akan bekerja dan engkau akan mati di Hoa-san sini?"
"Seperti sudah pernah kukatakan padamu bahwa aku kena diracun orang, aku diharuskan dalam sebulan membawamu untuk menemui Siausuthay itu habis itu barulah aku akan diberi obat penawar racun. Sekarang aku tak dapat mengundangmu, untuk berkelahi juga aku sudah keok, sebaliknya aku malah babak belur dianiaya oleh keenam siluman itu, kalau dihitung sampai hari ini, kumatnya racun itu hanya kurang tujuh hari lagi."
"Jika begitu, sekarang Gi-lim Sumoay berada di mana? Kalau kita segera berangkat entah masih keburu atau tidak?"
Dian Pek-kong menjadi girang, tanyanya.
"Apakah kau mau pergi bersama aku?"
"Telah beberapa kali engkau mengampuni jiwaku, meski tingkah lakumu tidak baik, namun aku pun tidak dapat tutup mata dan membiarkan engkau mati keracunan. Sebelum ini engkau memaksa aku dengan kekerasan, sudah tentu aku tidak mau menurut. Tapi sekarang keadaan sudah berbeda dan aku pun telah berubah pikiran."
"Saat ini Siausuthay berada di Sucwan Utara, ai ... kalau kita berdua dalam keadaan sehat walafiat mungkin masih keburu mencapai sana dengan menunggang kuda cepat, tapi sekarang kita kedua sama-sama terluka parah, jangankan tujuh hari, boleh jadi 70 hari pun sukar mencapai sana."
"Tapi daripada menunggu kematian di sini, biarlah kita coba-coba berangkat juga,"
Kata Lenghou Tiong.
"Ya, siapa tahu kalau-kalau Tuhan memberkahi kita dan mungkin kita mendapatkan kereta bagus dan kuda cepat di bawah gunung, lalu dalam waktu tujuh hari kita dapat mencapai tempat tujuan."
"Hah, selama hidupku hanya berbuat kejahatan melulu, dosaku sudah kelewat takaran, masakah Tuhan mau memberkahi aku?"
Kata Dian Pek-kong dengan tertawa.
"Tuhan Maha Pengasih, siapa yang mau insaf akan dosanya pasti akan diberi ampun,"
Kata Lenghou Tiong.
"Toh akhirnya kita mesti mati, tiada alangannya kita coba-coba."
"Benar,"
Seru Dian Pek-kong sambil bertepuk tangan.
"Kau memang sangat cocok dengan watakku, Lenghou-heng. Apa bedanya mati di atas gunung sini dan mati di tengah jalan? Kukira paling penting turun gunung dan mencari makanan enak lebih dulu. Apakah engkau sanggup berdiri. Lenghou-heng? Biar kupegang dirimu!"
Ia menyatakan akan memegang Lenghou Tiong, padahal ia sendiri tidak mampu bangkit, Lenghou Tiong hendak mengulurkan tangan untuk memayang Dian Pek-kong, tapi tangan sama sekali tidak bertenaga.
Dalam kegelapan napas kedua orang dapat terdengar oleh masing-masing, jarak mereka sangat dekat, celaka mereka sama-sama tak bisa berkutik, semakin hendak mengeluarkan tenaga semakin lemas.
Sesudah berkutatan sekian lama dan tetap tak berguna, mendadak kedua orang sama-sama bergelak tertawa.
Seru Dian Pek-kong.
"Selama hidup Dian Pek-kong malang melintang di Kangouw tanpa seorang sahabat karib, sekarang dapat mati bersama Lenghou-heng di sini, sungguh menyenangkan juga."
"Kelak bila guruku melihat kita berdua, tentu beliau menyangka kita habis bertarung sengit dan akhirnya gugur bersama,"
Ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Ya, siapa pun tidak menyangka bahwa sebelum ajal malah kita telah saling mengeratkan persaudaraan."
"Lenghou-heng, marilah kita berjabat tangan baru mati bersama,"
Ajak Pek-kong sambil mengulurkan sebelah tangannya.
Lenghou Tiong menjadi ragu-ragu.
Teringat olehnya Dian Pek-kong itu adalah maling cabul yang terkenal busuk, sebaliknya dirinya sendiri adalah murid perguruan ternama dan terhormat, mana boleh bersahabat karib dengan dia.
Maka sebelah tangannya yang sudah telanjur setengah jalan itu tidak diulurkan lagi.
Dian Pek-kong tidak tahu perasaan Lenghou Tiong, ia sangka luka Lenghou Tiong terlalu parah sehingga lengan pun sukar bergerak, maka ia lantas berseru.
"Lenghou-heng, hendaknya jangan khawatir. Sekali Dian Pek-kong telah mengikat persahabatan denganmu, maka biarpun kita tidak dilahirkan pada tahun atau bulan dan hari yang sama, bolehkah sekarang kita mati pada hari yang sama bulan dan tahun yang sama. Bila kau mati lebih dulu karena lukamu lebih parah, aku orang she Dian pasti takkan hidup sendirian lagi."
Lenghou Tiong terkesiap mendengar ucapan orang yang jujur ikhlas itu, pikirnya.
"Orang ini benar-benar sahabat sejati, ucapannya barusan ini pasti tidak pura-pura."
Maka tanpa ragu lagi tangannya tadi lantas diulurkan, lantas memegang tangan orang, katanya dengan tertawa.
"Dian-heng, kita berada bersama, kematian kita rasanya tidak terlalu kesepian."
Baru habis kata-katanya itu, tiba-tiba terdengar ada orang mendengus di belakang mereka, menyusul ada orang berkata.
"Huh, murid utama Hoa-san-pay ternyata sedemikian jauh tersesatnya, sampai-sampai mau bersahabat dengan maling cabul yang dikutuk oleh setiap orang Kangouw."
"Siapa itu?"
Bentak Dian Pek-kong. Sedangkan Lenghou Tiong diam-diam mengeluh.
"Wah, celaka. Ajalku sudah dekat, mati bagiku tidak menjadi soal, tapi juga membikin buruk nama baik Suhu, inilah yang rada runyam."
Dalam kegelapan, remang-remang hanya kelihatan sesosok bayangan orang berdiri di hadapan mereka. Orang itu menghunus pedang yang mengeluarkan cahaya gemilapan.
"Lenghou Tiong,"
Orang itu berkata pula dengan tertawa dingin.
"saat ini kau masih boleh menyatakan penyesalanmu, asalkan maling cabul she Dian ini kau bunuh saja, tentu tiada orang yang akan mencela hubunganmu dengan dia."
Habis berkata.
"cret" , mendadak ia tancapkan pedangnya di atas tanah. Dari batang pedang yang berbentuk lebar itu segera Lenghou Tiong mengenalnya sebagai senjata kaum Ko-san-pay. Segera ia berkata.
"Siapakah tuan dari Ko-san-pay ini?"
"Hm, boleh juga pandanganmu, sekali lihat saja lantas kenal asal usulku,"
Kata orang itu.
"Aku Ku An, murid Hui-suya, tokoh keempat Ko-san-pay."
"O, kiranya Ku-suheng adanya, selama ini kita jarang bertemu,"
Sahut Lenghou.
"Entah ada keperluan apakah kunjunganmu ke Hoa-san kami ini?"
"Aku ditugaskan oleh Ciangbun-supek (paman ketua) untuk meronda di sini, kami ingin tahu apakah murid Hoa-san-pay benar-benar tidak genah sebagaimana tersiar di luaran. Tak tersangka, hehe, begitu sampai di sini lantas terdengar percakapanmu yang sedemikian akrabnya dengan maling cabul ini."
"Bangsat, memangnya orang Ko-san-pay kalian ada yang baik? Mengapa kalian tidak periksa dan bercermin atas diri sendiri, sebaliknya suka urus perkara orang lain,"
Damprat Dian Pek-kong.
"Bluk", tanpa bicara lagi kontan Ku An menendang kepala Dian Pek-kong sambil membentak.
"Anjing buduk, sudah hampir mampus masih berani membacot pula?"
Akan tetapi Dian Pek-kong tidak merasa kapok, dia masih terus memaki "bangsat, anjing"
Dan macam-macam kata kotor lagi.
Kalau Ku An mau cabut nyawa Dian Pek-kong sebenarnya terlalu mudah baginya, cuma dia memang sengaja hendak menghina Lenghou Tiong lebih dulu.
Maka katanya pula sambil menjengek.
"Lenghou Tiong, kau telah mengikat persahabatan dengan dia, jadi kau sudah pasti tidak mau dibunuh dia?"
Lenghou Tiong menjadi gusar. Sahutnya lantang.
"Aku mau membunuh dia atau tidak peduli apa denganmu? Bila berani boleh sekali tusuk binasakan Lenghou Tiong lebih dulu, kalau pengecut boleh lekas enyah dari sini dengan mencawat ekormu."
"Jadi kau pasti tidak mau membunuh dia dan tetapi mengakui maling cabul ini sebagai sahabat sejati?"
Ku An menegas pula.
"Peduli ada dengan siapa aku bersahabat?"
Sahut Lenghou Tiong.
"Hm, pendek kata, dengan siapa pun aku bersahabat juga lebih baik daripada bersahabat denganmu."
"Hahaha! Bagus, bagus! Tepat sekali!"
Sorak Dian Pek-kong dengan tertawa "Huh, kau sengaja membikin aku murka supaya kubunuh kalian secepatnya, hm, jangan harap, di dunia tiada urusan semudah ini,"
Kata Ku An.
"Aku justru ingin membelejeti kalian sampai telanjang bulat, akan kuikat kalian menjadi satu, lalu kututuk Hiat-to kalian supaya bisu, kemudian akan kupertontonkan kalian kepada umum dan mengatakan perbuatan kalian yang tidak senonoh dan secara kebetulan kepergok olehku. Haha, Gak Put-kun dari Hoa-san-pay kalian suka pura-pura suci, pura-pura berbudi, tapi sesudah pertunjukanmu nanti ingin kulihat apakah dia masih berani mengaku berjuluk 'Kun-cu-kiam' atau tidak?"
Mendengar maksud orang yang keji itu, saking gusarnya seketika Lenghou Tiong jatuh pingsan. Sedangkan Dian Pek-kong lantas memaki pula.
"Bangsat kep ...."
Belum sempat memaki lebih lanjut, tahu-tahu Hiat-to bagian pinggang sudah kena ditendang oleh Ku An, kontan mulutnya terganggu dan tak bisa bersuara lagi saking sakitnya.
Ku An terkekeh-kekeh ejek, segera ia pegang Lenghou Tiong dan hendak membelejeti pakaiannya.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar di belakangnya ada suara orang perempuan yang lembut sedang menegurnya.
"He, apa yang sedang dilakukan Toako ini?"
Terkejut juga Ku An, cepat ia menoleh. Dilihatnya bayangan seorang wanita tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya. Segera ia menjawab.
"Dan kau sendiri mau bikin apa di sini?"
Mendengar suara wanita itu, girang luar biasa Dian Pek-kong, segera ia berseru.
"Siau ... Siausuhu, kiranya engkau sudah datang sendiri. Sungguh sangat kebetulan, bang ... bangsat itu hendak mencelakai kau punya Lenghou-toako."
Kiranya pendatang ini tak lain tak bukan adalah Gi-lim.
Keruan Gi lim menjadi khawatir demi mendengar orang yang menggeletak di atas tanah itu adalah "dia punya Lenghou-toako", cepat ia melompat maju sambil berseru.
"He, Lenghou toako, apakah betul engkau ini?"
Melihat perhatian Gi-lim sedang dicurahkan seluruhnya terhadap Lenghou Tiong yang menggeletak tak berkutik itu, tanpa pikir lagi jari Ku An lantas menutuk iga Gi-lim.
Tak terduga, baru saja jari hampir menyentuh baju Nikoh jelita itu, sekonyong-konyong kuduk sendiri kena dicengkeram orang, menyusul tubuhnya lantas terangkat ke atas sehingga terapung hampir satu meter di atas tanah.
Keruan Ku An terperanjat sekali, sikut kanan segera ia ayun ke belakang untuk menyodok, tapi mengenai tempat kosong.
Menyusul kaki kiri lantas mendepak ke belakang, tapi lagi-lagi mengenai tempat kosong.
Keruan ia tambah kaget, kedua tangannya cepat diangkat ke belakang untuk menangkap tangan lawan.
Namun pada saat itu juga lehernya sudah kena dicekik oleh sebuah tangan yang lebar dan kasar, seketika napasnya menjadi sesak, sedikit pun tak bisa mengerahkan tenaga lagi.
Dalam pada itu Lenghou Tiong telah mulai siuman, ia dengar suara seorang wanita sedang memanggilnya dengan rasa cemas.
"Lenghou-toako, Lenghou-toako!"
Samar-samar ia dapat mengenali seperti suaranya Gi-lim.
Waktu ia membuka mata, di bawah sinar bintang yang remang-remang dilihatnya sebuah wajah yang putih ayu berhadapan dengan muka sendiri dalam jarak cuma belasan senti jauhnya.
Siapa lagi kalau bukan Gi-lim adanya.
Tiba-tiba didengarnya pula suara seorang yang sangat keras sedang bertanya.
"Anak Lim, apakah si penyakitan kurus kering ini adalah Lenghou Tiong?"
Ketika Lenghou Tiong berpaling ke arah suara itu, ia sendiri menjadi kaget.
Dilihatnya seorang Hwesio yang sangat tinggi dan sangat gemuk sedang berdiri di situ laksana sebuah menara baja.
Tinggi Hwesio itu sedikitnya tujuh kaki, memakai Kasa (jubah padri) merah, mesti di tengah malam gelap masih jelas kelihatan warna Kasanya yang merah darah itu.
Tertampak tangan kirinya terjulur lurus ke depan, kuduk Ku An terpegang olehnya dan terangkat sehingga kakinya kontal-kantil lemas, entah sudah mati atau masih hidup.
"Ayah, memang dia inilah ... Lenghou-toako, tapi bukan si penyakitan,"
Sahut Gi-lim, sambil bicara pandangannya tak pernah meninggalkan muka Lenghou Tiong, tampaknya ia hendak mengulur tangan untuk meraba pipi pemuda itu, tapi seperti tidak berani pula.
Lenghou Tiong sangat heran, pikirnya.
"Kau ini seorang Nikoh cilik, mengapa memanggil Hwesio gede itu sebagai ayah? Hwesio punya anak saja sudah mengejutkan orang, apalagi putri Hwesio itu adalah seorang Nikoh pula, hal ini lebih-lebih luar biasa."
Dalam pada itu Hwesio besar gemuk itu sedang mengakak tawa, katanya.
"Hahaha! Lenghou Tiong yang kau rindukan siang malam ini tadinya kukira adanya seorang laki-laki gagah baik, siapa tahu cuma seorang kurus kering yang tak becus dan menggeletak tak bisa berkutik begini. Orang penyakitan begini aku tidak mau mengambil sebagai menantu, kita jangan gubris dia, marilah pergi saja."
Gi-lim menjadi malu dan gugup pula, katanya.
"Siapa yang rindu siang dan malam? Engkau memang suka ngaco-belo tak keruan. Mau pergi boleh pergi sendiri saja. Aku ... aku tak mau ...."
Sebaliknya Lenghou Tiong menjadi gusar karena dirinya dimaki sebagai penyakitan, dianggap tak becus segala. Segera ia menjawab.
"Kau mau pergi boleh pergi, memangnya siapa yang menahanmu di sini?"
Di luar dugaan Dian Pek-kong menjadi kelabakan malah, teriaknya.
"He, jangan, jangan pergi!"
"Memangnya kau suruh dia jangan pergi?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Habis, obat penawar racun yang kuperlukan berada padanya, jika dia pergi begitu saja kan jiwaku bisa melayang?"
Ujar Dian Pek-kong.
"Aku kan sudah menyatakan akan mati bersamamu, bila racunmu kumat dan mati, seketika aku juga membunuh diri,"
Kata Lenghou Tiong. Mendadak Hwesio gede tadi bergelak tertawa, suaranya keras menggema lembah pegunungan. Serunya kemudian.
"Bagus, bagus! Kiranya bocah ini adalah seorang yang punya jiwa kesatria. Anak Lim, dia sangat mencocoki seleraku. Cuma masih ada suatu hal yang harus kita tanya jelas padanya, dia minum arak atau tidak?"
"Sudah tentu, mengapa aku tidak minum arak. Bila sudah menyaksikan sifat rakusku dalam hal minum arak, siang minum malam minum, dalam mimpi juga minum arak. Bila menyaksikan sifat rakusku dalam hal minum arak, tanggung akan membikin mati kaku Hwesio besar macam dirimu yang pantang minum arak, pantang makan daging, pantang membunuh, pantang mencuri, pantang mendusta dan entah pantang apa lagi."
"Hahahaha!"
Hwesio gede itu mengakak lagi. Katanya.
"Anak Lim, coba katakan padanya apa gelaran agama ayahmu ini."
Maka dengan tersenyum Gi-lim berkata.
"Lenghou-toako, gelar ayahku adalah 'Put-kay' (tidak pantang), beliau adalah murid Buddha, namun segala peraturan suci dan pantangan agama tidak mengikat beliau, sebab itulah beliau mengambil nama 'Put-kay' itu. Hendaknya engkau jangan menertawainya, beliau memang tidak pantang segala, tidak pantang arak tidak pantang daging, membunuh maupun mencuri juga dilakukan olehnya, bahkan ... bahkan mempunyai seorang putri seperti ... seperti aku ini."
Sampai di sini ia pun mengikik geli sendiri. Lenghou Tiong juga lantas terbahak-bahak, serunya lantas.
"Hahaha! Hwesio demikian barulah menyenangkan benar!"
Sembari bicara ia terus meronta hendak berdiri, tapi kemauan ada, tenaga kurang, betapa pun sukar berbangkit.
Cepat Gi-lim membantunya dengan memayangnya bangun.
Mesti dia adalah Nikoh jelita yang masih malu-malu, tapi setidak-tidaknya dia belajar silat, jangankan cuma memayang bangun saja, sekalipun mengangkat tubuhnya juga bukan hal sulit baginya.
Maka dengan tertawa Lenghou Tiong berkata pula.
"Laupek (paman), jika segala apa kau perbuat, mengapa engkau tidak menjadi orang preman saja, buat apa mesti pakai Kasa segala?"
"Hal ini ada alasannya,"
Sahut Put-kay Hwesio.
"Justru karena aku tidak pantang berbuat apa pun, makanya aku menjadi Hwesio. Sama halnya seperti dirimu, aku telah menyukai seorang Nikoh cantik ...."
"Engkau sembarangan mengoceh lagi, ayah!"
Sela Gi-lim tiba-tiba dengan wajah merah. Untung dalam gelap sehingga orang lain tidak melihatnya. Dalam pada itu Put-kay berkata pula.
"Seorang laki-laki sejati berani berbuat harus berani terus terang, biarpun dimaki atau ditertawai orang peduli apa. Aku Put-kay Hwesio adalah laki-laki sejati, apa yang mesti kutakuti?"
"Tepat!"
Lenghou Tiong dan Dian Pek-kong mengiakan berbareng. Dasar Put-kay Hwesio itu memang suka dipuji, keruan ia makin menjadi, dengan gembira ia menyambung pula.
"Hehe, Nikoh cantik yang kucintai itu tak-lain tak-bukan adalah ibunya."
Diam-diam Lenghou Tiong membatin.
"Kiranya Gi-lim Sumoay punya ayah seorang Hwesio dan ibunya adalah seorang Nikoh pula."
"Dahulu aku adalah seorang jagal hewan,"
Demikian Put-kay menyambung pula.
"aku mencintai ibunya. Akan tetapi ibunya tidak mau menggubris diriku, tiada jalan lain terpaksa aku menjadi Hwesio. Menurut jalan pikiranku waktu itu, Hwesio dan Nikoh adalah sekaum, jika Nikoh tidak suka kepada si jagal tentu akan suka pada Hwesio."
"Ayah, mulutmu selalu mencerocos tak keruan, sudah tua masih seperti anak kecil saja cara bicaramu,"
Omel Gi-lim.
"Memangnya aku salah omong?"
Sahut Put-kay.
"Cuma waktu itu tak terpikir olehku bahwa sesudah menjadi Hwesio, maka tak boleh lagi bergaul dengan kaum wanita, bahkan bergaul dengan Nikoh juga dilarang. Jadi maksudku ingin mendapatkan ibunya menjadi tambah sukar. Aku menyesal dan tidak mau menjadi Hwesio lagi. Tak terduga guruku justru mengatakan pembawaanku harus menjadi Hwesio, aku dilarang kembali menjadi preman dan akhirnya entah cara bagaimana ibunya juga jatuh hati karena kesungguhanku dan ... dan lahirlah seorang Nikoh cilik. Kau sekarang sudah jauh lebih bebas daripada zamanku dahulu, anak Tiong. Kau menyukai seorang Nikoh cilik seperti anakku ini dan tidak perlu menjadi Hwesio seperti aku."
Lenghou Tiong menjadi serbarunyam mendengar uraian Put-kay itu. Pikirnya.
"Dahulu aku menolong Gi-lim Sumoay karena waktu itu dia jatuh di bawah cengkeraman Dian Pek-kong. Dia adalah Nikoh suci dari Hing-san-pay, mana boleh berhubungan cinta dengan orang biasa? Dia menyuruh Dian Pek-kong dan Tho-kok-lak-sian agar mencari diriku untuk bertemu dengan dia, boleh jadi dia benar-benar terguncang imannya karena untuk pertama kalinya dia bergaul dengan kaum lelaki. Dalam persoalan ini aku harus menghindar selekasnya supaya tidak mencemarkan nama baik Hoa-san dan Hing-san-pay, jangan sampai aku didamprat oleh guru dan ibu guru, bahkan akan dipandang hina oleh Leng-sian Siausumoay."
Dalam pada itu Gi-lim sendiri juga sangat kikuk, katanya.
"Ayah, Lenghou-toako sudah punya pilihannya sendiri, mana dia sudi kepada orang lain. Selanjutnya engkau ... engkau jangan menyinggung hal ini lagi, supaya tidak ditertawai orang."
"Hah, bocah ini sudah pilihan orang lain katamu? Kurang ajar!"
Teriak Put-kay.
Tangan kanan terus mencengkeram dada, Lenghou Tiong tidak mampu menghindarkan cengkeraman orang.
Seketika dia kena dipegang terus diangkat ke atas.
Jadi tangan kiri Put-kay Hwesio memegang kuduk Ku An dan tangan kanan menjambret dada Lenghou Tiong, kedua tangan terjulur lurus laksana memikul dua orang.
"Ayah, lekas lepaskan Lenghou-toako!"
Seru Gi-lim khawatir.
"Lepaskan, kalau tidak aku akan marah, lho!"
Aneh juga, demi mendengar putranya akan "marah" , seketika Put-kay sangat takut dan lekas menaruh Lenghou Tiong ke bawah, namun mulutnya masih mengomel.
"Nikoh jelita mana lagi yang dia penujui? Sungguh kurang ajar!"
Karena Put-kay sendiri menyukai seorang Nikoh cantik, maka menurut jalan pikirannya di dunia ini tiada wanita yang lebih cantik lagi daripada kaum Nikoh.
"Gadis pilihan Lenghou-toako adalah Sumoaynya sendiri, Gak Leng-sian, Gak-siocia,"
Kata Gi-lim. Mendadak Put-kay mengerang keras-keras sehingga anak telinga setiap orang mendenging-denging. Lalu katanya.
"Nona she Gak katamu, keparat, apanya yang menarik sehingga ia kepincut? Lain kali bila kulihat dia tentu akan kucekik mampus dia."
Bab 41. Matinya Liok Tay-yu Secara Aneh Diam-diam Lenghou Tiong membatin.
"Put-kay Hwesio ini benar-benar seorang laki-laki kasar dan dogol, banyak persamaannya dengan Tho-kok-lak-sian yang ketolol-tololan itu. Dia berani berkata tentu juga berani berbuat, jika dia benar-benar membikin celaka Siausumoay, wah, lantas bagaimana baiknya?"
Sementara itu Gi-lim tampak sangat gelisah, serunya.
"Ayah, Lenghou-toako dalam keadaan terluka parah, lekas menyembuhkan dia. Urusan lain boleh kita bicarakan nanti."
Put-kay Hwesio ternyata sangat penurut terhadap setiap ucapan putrinya, segera ia berkata.
"Baik, apa susahnya untuk menyembuhkan penyakitnya?"
Habis berkata sekenanya ia lantas melemparkan tubuh Ku An. Sedangkan Lenghou Tiong perlahan direbahkannya di atas tanah, lalu ia tanya dengan suara keras.
"Kau menderita luka apa?"
"Dadaku terkena pukulan orang, tapi rasanya tidak apa-apa ...."
Dasar watak Put-kay memang kasar dan tidak sabaran, tanpa menunggu jawaban selesai segera ia memotong.
"Dadamu kena pukulan, tentu Jin-meh (nadi bagian dada) tergetar luka ...."
"Aku ... aku dipukul Tho-kok ...."
"Bagian Jin-meh mana ada Hiat-to yang bernama Tho-kok segala,"
Demikian Put-kay memotong pula.
"Lwekang Hoa-san-pay kalian memang kurang bagus, maka dalam hal Hiat-to menjadi kurang pandai pula. Biarlah kubantu dengan penyaluran tenaga murniku, tanggung dalam waktu beberapa hari saja kau akan sembuh kembali dan lincah seperti sediakala."
Habis berkata, tanpa permisi lagi ia terus menutuk Hiat-to bisu di tubuh Lenghou Tiong, menyusul kedua telapak tangannya yang lebar itu menahan dada dan punggung pemuda itu.
Seketika dua arus hawa hangat menyusup masuk melalui Hiat-to bagian itu.
Mendadak dua arus hawa murni itu kebentur dengan enam arus hawa murni Tho-kok-lak-sian yang tertinggal di dalam tubuh Lenghou Tiong itu, kedua tangan Put-kay hampir-hampir tergetar lepas.
Keruan ia berseru kaget.
"Kenapa, ayah?"
Tanya Gi-lim.
"Di dalam tubuhnya ada beberapa arus tenaga yang aneh ... dua ... tiga ... empat, ada empat arus .... Eh, tidak, ada lagi satu, seluruhnya jadi ada lima, kelima arus tenaga murni ini .... Aha, ada lagi satu. Buset, seluruhnya ada sebanyak enam arus. Wah, jangan-jangan masih ada lagi. Hahaha, sungguh ramai sekali! Sungguh menarik! Kedua arus tenagaku ini biar kucoba diadu dengan keenam arus tenagamu ini, coba siapa punya lebih lihai? Ayolah datang lagi! Hm, sudah habis bukan? Hanya enam arus saja? Maknya di ... memangnya aku Put-kay takut padamu?"
Dasarnya dia memang orang kasar, asalnya adalah jagal hewan, sesudah menjadi Hwesio selamanya juga tidak pernah baca kitab, sampai tua mulutnya masih suka mengucapkan kata-kata kasar dan kotor.
Begitulah kedua tangannya masih terus menahan kedua Hiat-to di tubuh Lenghou Tiong dengan erat, lambat laun dari ubun-ubunnya tampak mengepul kabut tipis.
Semula Put-kay masih bisa gembar-gembor, tapi kemudian tenaganya makin banyak dikerahkan sehingga akhirnya tidak sanggup membuka suara lagi.
Sementara itu hari sudah mulai terang, kabut tipis di atas ubun-ubun Put-kay makin lama makin tebal sehingga kepalanya yang gundul itu hampir-hampir terselubung.
Sampai agak lama, mendadak Put-kay angkat kedua tangannya sambil terbahak-bahak.
Tapi mendadak pula suara tertawanya terhenti.
"Bluk", ia jatuh terguling di atas tanah. Gi-lim terkejut.
"Ayah, yah!"
Serunya sambil mendekat untuk memayangnya bangun.
Tapi badan Put-kay yang sebesar kerbau itu teramat berat, baru saja terangkat bangun tahu-tahu ia jatuh terduduk pula sehingga Gi-lim ikut terseret jatuh.
Sekujur badan Put-kay tampak basah air keringat, napas ngos-ngosan.
Serunya dengan terputus-putus.
"Maknya, di ... aku ... aku ... maknya ...."
Mendengar ayahnya masih sanggup bersuara dan mencaci maki barulah Gi-lim merasa lega. Katanya.
"Ayah, bagaimana? Apakah sangat lelah?"
"Keparat, di dalam tubuh bocah ini ada enam arus tenaga murni yang sangat lihai, tapi tenaga murni yang kukerahkan tadi telah ... telah dapat menahannya ke bawah, hehe, jangan khawatir, bocah ini takkan mampus, pasti takkan mampus, pasti takkan mampus!"
Gi-lim sangat terhibur, waktu ia berpaling, benar juga tampak Lenghou Tiong telah dapat berdiri dengan perlahan.
"Lwekang si Hwesio besar memang sangat lihai,"
Demikian Dian Pek-kong memuji dengan tertawa.
"Hanya sebentar saja luka parah Lenghou-heng sudah dapat disembuhkan."
Put-kay sangat senang dipuji, segera ia berkata.
"Kau bocah ini sebenarnya sudah kelewat takaran melakukan kejahatan, seharusnya sekali remas kumampuskan dirimu. Tapi mengingat kau telah berjasa menemukan si bocah Lenghou Tiong ini, biarlah kuampuni jiwamu, lekaslah enyah dari sini!"
Dian Pek-kong menjadi gusar, dampratnya.
"Apa artinya lekas enyah dari sini? Maknya, Hwesio gede keparat, ucapanmu sebenarnya ucapan manusia atau bukan? Kau kan sudah berjanji akan memberi obat penawar racun jika sebulan aku dapat menemukan Lenghou Tiong, kenapa sekarang kau hendak mungkir janji? Jiwaku sih tidak menjadi soal, tapi kau telah berjanji dan sekarang tidak mau memberi obat penawarnya, kau benar-benar Hwesio buruk, Hwesio rendah dan kotor melebihi binatang."
Sungguh aneh, biarpun Dian Pek-kong mencaci maki padanya, sama sekali Put-kay tidak marah, sebaliknya ia menjawab dengan tertawa.
"Coba lihat, sedemikian bocah keparat ini takut mati, takut aku Put-kay Taysu tidak pegang janji dan tidak memberi obat penawar. Huh, bocah keparat, ini obat penawarnya, ambil!"
Sambil berkata tangannya lantas merogoh ke dalam saku hendak mengeluarkan obat yang dimaksudnya, tapi rupanya tadi terlalu banyak mengeluarkan tenaga, tangannya masih gemetar, sebuah botol porselen kecil sudah dikeluarkan olehnya, tapi beberapa kali terjatuh lagi ke pangkuannya.
Lekas Gi-lim menjemput botol obat itu dan membuka sumbat botol.
"Berikan tiga biji padanya,"
Kata Put-kay.
"Sekarang makan satu biji, tiga hari kemudian makan satu biji lagi dan lewat enam hari nanti makan biji ketiga. Jika dalam sembilan hari ini kau dibunuh orang bukanlah tanggunganku."
Dian Pek-kong menerima obat penawar itu dari Gi-lim, sahutnya kemudian.
"Hwesio gede, kau telah paksa aku minum racun, sekarang kau memberikan obat penawar padaku, jika aku tidak memaki kau juga terhitung baik, maka aku tidak mau mengucapkan terima kasih padamu. Lenghou-heng, tentu ada apa-apa yang hendak kau bicarakan dengan Siausuhu ini, aku akan pergi saja, sampai berjumpa pula."
Habis berkata ia membalik tubuh terus hendak melangkah pergi.
"Nanti dulu, Dian-heng,"
Seru Lenghou Tiong.
"Ada apa?"
Tanya Dian Pek-kong.
"Dian-heng,"
Kata Lenghou Tiong.
"beberapa kali engkau telah sudi mengalah padaku, engkau benar-benar pantas menjadi seorang sahabat. Cuma ada sesuatu ingin kunasihatkan, bila engkau tidak mau memperbaiki, persahabatan kita ini tentu tidak kekal."
"Sudahlah, tak perlu kau katakan juga kutahu,"
Sahut Dian Pek-kong dengan tertawa.
"Kau ingin aku jangan lagi memerkosa wanita baik-baik dan membunuh. Baiklah, aku akan menurut padamu. Di dunia ini masih banyak wanita cabul, untuk mencukupi seleraku juga tidak perlu harus memerkosa wanita keluarga baik-baik dan membunuh orang pula. Hahaha, Lenghou-heng, bukankah kau masih ingat kenikmatan di Kun-giok-ih di kota Heng-san tempo hari?"
Mendengar disebutnya rumah pelacuran itu, seketika wajah Lenghou Tiong dan Gi-lim menjadi merah.
Dian Pek-kong terbahak-bahak dan hendak melangkah pergi pula.
Tapi mendadak kaki terasa lemas, ia jatuh terguling.
Sekuatnya ia merangkak bangun, cepat mengambil sebiji obat penawar pemberian Put-kay tadi terus ditelan.
Ia tahu sebelum racun dipunahkan sukarlah turun dari puncak Hoa-san.
Sesudah Lenghou Tiong mendapat saluran tenaga murni dari Put-kay sehingga keenam arus hawa murni yang ditinggalkan Tho-kok-lak-sian itu dapat ditekan, kini Lenghou Tiong merasa dada sudah tidak sesak lagi, kaki juga sudah bertenaga, ia sangat girang.
Segera ia melangkah maju dan memberi hormat kepada Put-kay, katanya.
"Banyak terima kasih atas pertolongan Taysu tadi."
"Terima kasih tidak perlu, selanjutnya kita toh sudah orang sekeluarga, kau adalah menantuku dan aku adalah mertuamu, masih pakai terima kasih apa segala?"
Demikian jawab Put-kay sambil tertawa. Keruan Gi-lim merasa malu, cepat ia menyela.
"Ayah, engkau ... engkau sembarangan mengoceh lagi."
"Eh, mengapa bilang aku sembarangan mengoceh?"
Sahut Put-kay dengan heran.
"Siang dan malam kau senantiasa merindukan dia, memangnya kau tidak ingin kawin dengan dia? Seumpama tidak kawin apakah juga tidak mau melahirkan seorang Nikoh yang cantik dengan dia?"
"Cis, tua-tua tak genah, siapa ... siapa ...."
Demikian semprot Gi-lim dengan muka merah.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tindakan orang, ada orang lagi datang.
Kiranya adalah ketua Hoa-san-pay, Gak Put-kun dan putrinya, Gak Leng-sian.
Melihat mereka, Lenghou Tiong menjadi girang, cepat ia memapak maju dan berseru.
"Suhu, Siausumoay, kalian lagi. Dan di manakah Sunio?"
Gak Put-kun tidak menjawab, ia pandang Lenghou Tiong dengan sikap dingin. Lalu ia memberi salam kepada Put-kay Hwesio dan menyapa.
"Siapakah gelar Taysu yang terhormat ini? Entah bersemayam di kuil dan gunung mana? Adakah sesuatu keperluan kunjungan Taysu ke Hoa-san ini?"
"Aku ... aku bernama Put-kay Hwesio, aku ... aku datang ke sini hendak mencari menantu,"
Sahut Put-kay ambil menuding Lenghou Tiong. Karena tidak jelas seluk-beluknya, pula mendengar orang menjawab tentang "mencari menantu"
Segala, maka Gak Put-kun mengira Hwesio gendut itu sengaja hendak menggoda dirinya, keruan ia sangat gusar.
Cuma dia memang seorang peramah dan sabar, betapa pun batinnya bergolak, lahirnya tetapi tenang-tenang saja.
Ia hanya berkata.
"Ah, Taysu ini suka berkelakar."
Dalam pada itu Gi-lim juga telah maju memberi hormat padanya, Gak Put-kun lantas tanya.
"Tak usah banyak adat, Gi-lim Sutit, kedatanganmu ke Hoa-san sini apakah atas perintah gurumu?"
Dengan muka rada marah Gi-lim menjawab.
"Tidak. Aku ... aku ...."
Hanya sekian saja ucapannya dan tidak dapat melanjutkan pula. Gak Put-kun tidak tanya lebih jauh, ia berpaling dan menegur Dian Pek-kong.
"Hm, Dian Pek-kong, besar amat nyalimu ya?"
"Belum tentu begitu halnya,"
Sahut Dian Pek-kong.
"Aku merasa cocok dengan muridmu, aku lantas membawa satu pikul guci arak ke sini untuk minum bersama dia sepuas-puasnya, untuk ini juga tidak diperlukan nyali yang terlalu besar."
Wajah Gak Put-kun tampak semakin kereng, tanyanya pula.
"Mana araknya?"
"Sudah lama kami habiskan di atau puncak perenung dosa sama,"
Sahut Pek-kong.
"Apakah benar ucapannya?"
Put-kun menoleh kepada Lenghou Tiong. Lenghou Tiong menjawab.
"Duduk perkara ini cukup panjang. Suhu, biarlah nanti murid menuturkan secara jelas."
"Sudah berapa hari Dian Pek-kong berada di Hoa-san sini?"
Tanya Put-kun pula.
"Kira-kira sudah 20 hari,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Selama itu dia tetap berada di atas gunung sini?"
"Benar."
"Mengapa tidak kau laporkan padaku?"
"Waktu itu Suhu dan Sunio tiada di rumah."
"Aku dan ibu-gurumu ke mana?"
"Ke sekitar Tiang-an untuk mencari saudara Dian."
"Kau tahu kejahatan orang ini sudah lewat takaran, mengapa takut mati dan malah bergaul dengan dia?"
Mendadak Dian Pek-kong menimbrung.
"Akulah yang tidak mau membunuh dia, lalu dia bisa berbuat apa? Memangnya kalau tidak dapat menandingi aku lantas mesti membunuh diri di hadapanku?"
"Di hadapanku masakah kau ada hak bicara?"
Damprat Put-kun. Ia menoleh kepada Lenghou Tiong dan berkata.
"Bunuh dia!"
"Ayah,"
Tiba-tiba Leng-sian menyela.
"Toasuko terluka parah, mana dia sanggup bertempur dengan dia?"
"Memangnya orang lain tidak terluka? Apa yang kau khawatirkan? Aku berada di sini, masakah jahanam itu dapat dibiarkan mencelakai muridku?"
Demikian jengek Put-kun.
Ia cukup kenal watak Lenghou Tiong yang cerdik dan banyak tipu akalnya, selamanya benci pada kejahatan, belum lama berselang malah pernah dilukai oleh Dian Pek-kong, maka mustahil dia mau bersahabat dengan maling cabul ini.
Diduganya mungkin sang murid tidak mampu melawannya dengan kekerasan, maka hendak mengalahkannya dengan tipu daya.
Keadaan Dian Pek-kong yang payah itu boleh jadi adalah akibat perbuatan muridnya itu.
Sebab itulah ia tidak marah sungguh-sungguh ketika mendengar Lenghou Tiong bergaul dengan maling cabul itu, dia hanya menyuruh Lenghou Tiong membunuhnya saja.
Waktu Gak Put-kun berangkat kemarin, keadaan Lenghou Tiong terang dalam keadaan kempas-kempis, tapi sekarang ternyata dapat bergerak, sudah tentu Put-kun merasa heran, cuma seketika ia tidak sempat tanya, terutama Dian Pek-kong itu memang sudah lama dicarinya, maka ia memerintahkan Lenghou Tiong membunuhnya.
Andaikan Dian Pek-kong berani melawan juga takkan tahan oleh tenaga jentikan jari sendiri.
Tak terduga Lenghou Tiong hanya menjawab.
"Suhu, Dian-heng ini telah berjanji pada Tecu bahwa selanjutnya dia akan memperbaiki kelakuannya dan takkan memerkosa wanita baik-baik lagi, Tecu yakin dia pasti akan pegang janji, maka lebih baik ...."
"Dari mana kau tahu dia pasti akan memegang janji? Terhadap durjana yang mahajahat ini juga bicara tentang kepercayaan segala! Sudah berapa banyak jiwa yang telah menjadi korban goloknya? Kalau manusia binatang demikian tak dibunuh, apa gunanya lagi kita belajar silat? Sian-ji, coba berikan pedangmu kepada Toasuko!"
Leng-sian mengiakan, ia lolos pedang sendiri dan diangsurkan kepada Lenghou Tiong.
Tentu saja Lenghou Tiong serbasusah.
Selamanya ia tidak berani membangkang perintah gurunya.
Tapi tadi Dian Pek-kong sudah menyanggupi akan memperbaiki kelakuannya, jika sekarang membunuhnya terasa tidaklah berbudi.
Selagi otaknya berpikir ia pun menerima pedang yang diangsurkan Leng-sian itu.
Dengan langkah sempoyongan ia mendekati Dian Pek-kong.
Kira-kira belasan tindak, ia pura-pura karena lukanya yang parah mendadak kaki lemas dan jatuh terguling sehingga pedang menusuk pada betis sendiri.
Kejadian yang tak tersangka-sangka ini membikin orang banyak sama menjerit kaget.
Gi-lim dan Leng-sian berbareng lari ke arah Lenghou Tiong.
Tapi baru satu-dua langkah Gi-lim berlari segera berhenti.
Ia pikir diri sendiri adalah Nikoh, mana boleh memperlihatkan rasa perhatiannya kepada seorang pemuda di hadapan umum?
Dalam pada itu Leng-sian telah berseru.
"Toasuko, kenapakah engkau?"
Lenghou Tiong tidak menjawab, kedua matanya terpejam rapat.
Cepat Leng-sian mencabut pedang yang menancap di betis Suhengnya itu sehingga darah mancur keluar dari tempat luka.
Segera ia mengeluarkan obat dan dibubuhkan di bagian luka itu.
Waktu ia berpaling, tiba-tiba dilihatnya wajah Gi-lim yang cantik itu pucat pasi dan penuh rasa khawatir.
Tergetarlah hati Leng-sian.
"Nikoh cilik ini ternyata menaruh perhatian sedemikian besar terhadap Toasuko."
Ketika berdiri kembali, sambil menjinjing pedang Leng-sian berkata.
"Ayah, biar aku saja yang membunuh jahanam itu."
"Kau mau membunuh keparat itu, jangan-jangan mencemarkan namamu sendiri,"
Kata Gak Put-kun.
"Berikan pedang padaku."
Maklumlah, Dian Pek-kong terkenal sebagai maling cabul, sedangkan Gak Leng-sian masih seorang gadis suci bersih, bila kelak di dunia Kangouw tersiar bahwa Dian Pek-kong terbunuh oleh putri keluarga Gak, hal ini tentu akan ditambah macam-macam cerita, dibumbu-bumbui oleh mulut usil yang tidak senonoh, ini terang akan merugikan nama baik Leng-sian sendiri.
Maka Leng-sian lantas mengangsurkan pedangnya kepada sang ayah.
Tapi Put-kun tidak memegangnya, melainkan mengebaskan lengan bajunya untuk membebatnya.
"Jangan!"
Seru Put-kay mendadak.
Cepat ia tanggalkan sepasang sepatunya dan disiapkan di tangan.
Benar juga, tertampak Gak Put-kun telah mengebaskan pula lengan bajunya sehingga pedang yang tadinya terbebat itu meluncur cepat ke arah Dian Pek-kong.
Memangnya Put-kay sudah menduga, segera ia pun menyambitkan sepasang sepatunya.
Pedang lebih berat daripada sepatu, pula pedang meluncur lebih dulu.
Tapi sungguh aneh, sepasang sepatu Put-kay ternyata dapat melampaui pedang bahkan terus memutar balik dan dari kanan-kiri sepasang sepatu itu berhasil mengait kedua sisi gagang pedang yang melintang itu.
Pedang itu diputar balik mentah-mentah, malahan terus menyambar pula ke depan dan beberapa meter jauhnya kemudian baru jatuh dan menancap di atas tanah.
Sepasang sepatu itu masih mencantol di atas pedang dan bergoyang-goyang.
"Wah, runyam benar!"
Seru Put-kay tiba-tiba.
"Anak Lim, tadi ayah banyak membuang tenaga ketika menyembuhkan si anak menantu sehingga pedang itu hanya mencapai setengah jalan saja. Padahal pedang itu seharusnya menyambar sampai di depan guru menantumu baru jatuh ke bawah, dengan demikian baru dapat membuatnya kaget. Tapi sekarang ternyata gagal. Ai, sekali ini benar-benar runyam, sungguh memalukan."
Melihat sikap Gak Put-kun yang tidak senang itu, cepat Gi-lim membisiki Put-kay agar jangan bicara lebih lanjut.
Ia sendiri lantas menjemput kembali sepatu sang ayah.
Ketika ia cabut pedang yang menancap di atas tanah itu, hatinya menjadi ragu, sebab diketahuinya Lenghou Tiong tidak ingin membunuh Dian Pek-kong, bila pedang itu dikembalikan kepada Gak Leng-sian dan nona itu yang turun tangan membinasakan Dian Pek-kong, hal ini tentu akan membikin susah kepada Lenghou Tiong.
Dalam pada itu Gak Put-kun melengak juga ketika melihat Put-kay dapat menggagalkan serangannya kepada Dian Pek-kong hanya dengan menyambitkan sepasang sepatu saja.
Bahkan Hwesio gendut itu berkaok-kaok, katanya tadi telah banyak membuang tenaga lantaran habis menyembuhkan luka Lenghou Tiong.
Walaupun demikian, betapa tinggi kepandaian si Hwesio memang jelas jauh lebih kuat daripada dirinya, sungguhpun kebasan lengan bajunya tadi belum sempat menggunakan Ci-he-sin-kang, tapi seorang tokoh terkemuka sekali menyerang tidak kena mana boleh mencoba lagi untuk kedua kalinya?
Maka sambil memberi hormat, dengan muka membesi Put-kun berkata.
"Kagum, sungguh kagum sekali. Jika Taysu sudah bertekad akan membela jahanam cabul itu, hari ini tidak leluasa kuturun tangan lagi. Lalu Taysu ingin apa pula?"
Mendengar Gak Put-kun sudah menyatakan hari ini takkan turun tangan membunuh Dian Pek-kong, segera Gi-lim mendekati Leng-sian dan mengangsurkan pedang dengan hormat, katanya.
"Cici, pedangmu ini ...."
Mendadak Leng-sian mendengus dan pegang senjata itu, tanpa memandang sekejap pun ia terus masukkan pedang ke dalam sarungnya.
"Hahahaha!"
Tiba-tiba Put-kay bergelak tertawa.
"Lebih baik sekarang juga kita lantas berangkat saja anak menantuku. Sumoaymu sangat cantik, jika kau berada bersama dia, sungguh aku merasa khawatir."
"Taysu agaknya memang suka berkelakar,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Tapi kata-kata yang mencemarkan nama baik Hing-san dan Hoa-san-pay hendaknya jangan dikeluarkan lagi."
"Apa maksudmu?"
Tanya Put-kay dengan heran.
"Dengan susah payah aku menemukanmu dan menyelamatkan jiwamu pula, tapi sekarang kau tidak mau mengawini putriku?"
Dengan muka merah padam Lenghou Tiong menjawab.
"Budi pertolongan Taysu sudah tentu seumur hidup takkan kulupakan. Tapi Hing-san-pay mempunyai peraturan yang keras, bila Taysu mengucapkan kata-kata iseng demikian tentu akan membikin rikuh kepada Ting-sian dan Ting-yat Suthay."
"Eh, anak Lim, apa-apaan calon menantuku ini? Sungguh aku ... aku tidak paham?"
Demikian seru Put-kay. Mendadak Gi-lim menangis sambil mendekap muka, serunya.
"Kau jangan omong lagi, ayah, jangan omong lagi! Dia adalah dia, dan aku adalah aku, ada sangkut paut apa antara aku dan ... dan dia?"
Segera ia lari cepat ke bawah gunung. Put-kay garuk-garuk kepalanya yang gundul, untuk sejenak ia termangu-mangu, katanya kemudian.
"Aneh, sungguh aneh! Bila tidak bertemu, dengan susah payah berusaha mencarinya. Tapi sesudah bertemu ditinggal pergi lagi? Ah benar-benar sangat mirip ibunya, perasaan Nikoh cilik memang sukar diraba."
Habis ini segera ia pun lari pergi menyusul Gi-lim.
Dian Pek-kong juga lantas berbangkit perlahan.
Sesudah minum obat penawar racun pemberian Put-kay tadi, sekarang daya kerja racun dalam badannya sudah berkurang.
Katanya kepada Lenghou Tiong.
"Sampai berjumpa pula, Lenghou-heng!"
Lalu ia putar tubuh dan turun ke bawah gunung dengan langkah lemah dan sempoyongan. Sesudah Dian Pek-kong pergi jauh barulah Gak Put-kun membuka suara.
"Anak Tiong, sungguh berbudi kau terhadap jahanam itu. Kau lebih suka melukai diri sendiri daripada membunuhnya."
Lenghou Tiong rada malu. Ia tahu pandangan sang guru sangat tajam, tingkah lakunya yang pura-pura jatuh tadi tidak nanti dapat mengelabui mata gurunya. Terpaksa ia menjawab dengan menunduk.
"Suhu, meski perbuatan orang she Dian itu tidak baik, tapi dia sudah berjanji akan mengubah perbuatannya, pula beberapa kali Tecu pernah dikalahkan olehnya dan selalu dia memberi ampun tanpa membunuh."
"Hm, dengan bangsat berhati binatang begitu juga bicara tentang budi setia segala, selama hidup ini tentu kau akan merasakan akibatnya,"
Jengek Put-kun.
Biasanya ia sangat mengasihi muridnya yang tertua ini, maka terhadap perbuatannya yang pura-pura melukai diri sendiri waktu menghindari pembunuhan kepada Dian Pek-kong tadi tidak mengusutnya lebih lanjut.
Pula ia merasa puas dengan jawaban Lenghou Tiong kepada Put-kay yang tegas itu.
Maka persoalan Dian Pek-kong untuk sementara dikesampingkan.
Tiba-tiba ia bertanya pula.
"Dan di mana kitab itu?"
Waktu melihat sang guru pulang lagi bersama Sumoaynya, segera Lenghou Tiong tahu pasti peristiwa hilangnya kitab pusaka yang dicuri Leng-sian itu telah ketahui.
Sekarang sang guru pulang lagi untuk mengurus, hal ini sangat kebetulan baginya malah.
Segera ia menjawab.
"Kitab itu berada pada Laksute. Demi untuk menolong jiwaku, mohon Suhu jangan menyalahkan maksud baik Siausumoay itu. Namun tanpa seizin Suhu betapa pun Tecu tidak berani menyentuh kitab pusaka itu, lebih-lebih tentang isinya, membaca sekejap saja Tecu tidak berani."
Seketika air muka Gak Put-kun tampak berubah tenang, katanya dengan tersenyum.
"Memang seharusnya begitu. Bukannya aku tidak mau mengajarkan ilmu sakti itu padamu, soalnya perguruan kita masih menghadapi urusan gawat, keadaan sangat mendesak, maka aku tiada tempo buat memberi petunjuk padamu. Bila membiarkan kau melatihnya sendiri bukan mustahil akan tersesat dan tak keruan malah."
Setelah merandek sejenak, lalu ia tanya pula.
"Put-kay Hwesio tadi tampaknya angin-anginan, tapi Lwekangnya memang boleh juga. Apakah dia yang telah memunahkan enam arus hawa murni yang aneh dalam tubuhmu itu? Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Rasa mual dan sesak dada sekarang sudah bilang, macam-macam siksaan rasa panas seperti dibakar sekarang juga sudah lenyap, hanya sekujur badan terasa lemas, sedikit pun tidak bertenaga,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Habis sembuh dari luka parah sudah tentu lemah,"
Ujar Gak Put-kun.
"Pertolongan jiwa Put-kay Hwesio padamu itu kita harus membalasnya kelak."
Lenghou Tiong mengiakan.
Waktu Put-kun naik kembali ke Hoa-san, diam-diam ia khawatir akan kepergok oleh Tho-kok-lak-sian, kini ia merasa lega karena musuh-musuh itu tidak kelihatan bayangannya.
Tapi ia pun tidak ingin tinggal lebih lama di situ, segera ia berkata.
"Marilah kita mencari Tay-yu, lalu berangkat bersama ke Ko-san. Tiong-ji, apakah kau sanggup menempuh perjalanan jauh?"
Lenghou Tiong sangat girang, berulang-ulang ia menyatakan dapat dan sanggup.
Begitulah mereka bertiga lantas menuju ke pondok kecil di samping ruang pendopo, Leng-sian mendahului mendorong pintu dan masuk ke dalam.
Tapi mendadak terdengar nona itu menjerit kaget, suaranya penuh rasa ngeri dan takut.
Berbareng Gak Put-kun dan Lenghou Tiong menyusul ke dalam.
Maka tertampaklah Liok Tay-yu menggeletak tak berkutik di atas lantai.
"Jangan kaget, Sumoay,"
Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Akulah yang menutuk roboh dia."
"O, kiranya begitu, membikin kaget saja,"
Sahut Leng-sian.
"Mengapa kau tutuk Lak-kau-ji?"
"Sebenarnya ia bermaksud baik, karena aku tidak mau membaca kitab pusaka itu dia lantas membacanya agar aku mendengarkan dengan baik. Karena aku tidak dapat menghalangi dia, terpaksa aku menutuknya supaya tak bisa berkutik. Tapi mengapa dia ...."
Belum habis Lenghou Tiong menutur, sekonyong-konyong Gak Put-kun bersuara "he"
Dan cepat memeriksa pernapasan Liok Tay-yu, lalu memegang nadinya pula. Lalu katanya terkejut.
"He, mengapa dia ... dia sudah mati? Tiong-ji, Hiat-to apa yang kau tutuk?"
Keruan kaget Lenghou Tiong tidak kepalang demi mendengar Liok Tay-yu sudah mati, ia terhuyung-huyung dan hampir saja jatuh kelengar.
"Aku ... aku ...."
Katanya dengan suara gemetar, tapi ia tidak sanggup meneruskan lagi. Ia coba meraba Liok Tay-yu, terasa sudah dingin dan kaku, nyata sudah lama matinya. Tak tertahan lagi ia menjerit menangis.
"Lak ... Laksute, engkau benar-benar telah meninggal?"
"Dan di manakah kitabnya?"
Tanya Put-kun. Waktu Lenghou Tiong memandang dengan air mata berlinang-linang, memang benar kitab "Ci-he-pit-kip"
Itu sudah tak kelihatan lagi. Ia pun bertanya.
"Ya, di manakah kitabnya?"
Cepat ia memeriksa baju Liok Tay-yu, tapi tiada menemukan apa yang dicarinya. Katanya kemudian.
"Waktu Tecu menutuk roboh Laksute jelas masih terlihat kitab pusaka itu tertaruh di atas meja, mengapa ... mengapa sekarang bisa hilang?"
Segera Leng-sian mencari lagi ke segenap pelosok pondok itu, tapi Ci-he-pit-kip itu benar-benar sudah menghilang.
Keruan Gak Put-kun merasa cemas, ia coba periksa jenazah Liok Tay-yu, tapi tiada sesuatu tanda-tanda luka yang menyebabkan kematiannya.
Di sekitar pondok, bahkan atas genting juga diperiksa, namun tiada sesuatu bekas yang menandakan pernah didatangi orang luar.
Jika tiada orang luar pernah datang ke situ terang bukan Tho-kok-lak-sian atau Put-kay Hwesio yang mengambil kitab itu.
"Tiong-ji, sebenarnya Hiat-to mana yang telah kau tutuk?"
Tanya Put-kun dengan suara bengis. Seketika Lenghou Tiong berlutut di hadapan sang guru, jawabnya.
"Dalam keadaan terluka waktu itu Tecu khawatir kurang kuat menutuknya, maka yang kututuk adalah Tan-tiong-hiat, tak terduga malah membikin ... membikin celaka Laksute."
Habis berkata segera ia lolos pedang yang masih bergantung di pinggang Liok Tay-yu yang sudah tak bernyawa itu terus hendak menggorok leher sendiri.
Namun sekali Put-kun menjentik dengan jarinya, kontan pedang itu mencelat dan terbang keluar menembus daun jendela.
"Sekalipun ingin mati juga mesti menemukan Ci-he-pit-kip lebih dulu,"
Kata Put-kun dengan kereng.
"Di mana telah kau sembunyikan kitab pusaka itu?"
Dingin sekali perasaan Lenghou Tiong, ternyata sang guru telah mencurigai dia menyembunyikan Ci-he-pit-kip.
"Suhu, kitab pusaka itu pasti telah dicuri orang. Betapa pun Tecu berjanji akan mencari dan menemukannya kembali tanpa kurang satu halaman pun."
Kusut sekali pikiran Gak Put-kun, katanya.
"Jika isi kitab itu sampai disalin atau dihafalkan orang di luar kepala, sekalipun akhirnya kitab itu diketemukan kembali juga tiada nilainya lagi disebut sebagai kitab pusaka perguruan kita."
Setelah merandek, kemudian ia menyambung dengan suara ramah.
"Anak Tiong, jika kau yang mengambil kitab itu hendaknya kau kembalikan saja. Suhu berjanji takkan mengomelimu."
Lenghou Tiong melengak, ia memandang mayat Liok Tay-yu terkesima. Sekonyong-konyong menengadah dan tertawa panjang, lalu serunya.
Baca Juga: Anak Rajawali Chin Yung
Baca Juga: Si Racun Dari Barat 4