Eps 1 Si Bungkuk Pendekar Aneh - Boe Beng Giok
Baca online Si Bungkuk Pendekar Aneh - Boe Beng Giok
Cersil Si Bungkuk Pendekar Aneh - Boe Beng Giok.
TOO PEK KOAY HIAP SIBUNGKUK PENDEKAR ANEH Oleh .
Boe Beng Giok APABILA anak-negeri di-mana2 sedang sibuk ber-siap2 menjong-song tibanja musim semi atau Tahun Baru dengan upatjara istimewa-nja, sadji2an serba ledzat, arak wangi, pakaian serba baru, petasan dan kembang-api, adalah penduduk di Thiantay sedang dalam ke-tjemasan dan ketakutan.
Laki2 maupun perempuan, tua muda ataupun kanak2 tidak terketjuali berwadjah muram dengan Hati penuh keehwatiran.
Apapula djika malamhari telah tiba, mereka tak mengerti, nasib apakah akan datang pada mereka.
Anak2 gadis djangan dikata lagi, setiap detik merasa terantjam keselamatannja, setiap saat merasa djiwanja berada diudjung tanduk.
Begitulah seluruh kota dalam duka-nestapa, udara dan suasana-nja se-akan2 gelap diselubungi kesedihan, membajangkan peristiwa jang mengerikan.
Dan apakah sebenarnja jang membikin penduduk Thian-tay mendjadi bingung ketakutan dan penuh kekhwatiran hidupnja seolah2 di-kedjar2 maut?
Kira2 empat bulan sebelum tiba musim semi, kepala Paderi dari geredja Seng-ong-bio meninggal tanpa sakit.
Orang jang tahu mengatakan, bahwa satu hari sebelum kematiannja, kepala Paderi tersebut, In Tjeng Hweeshio, masih segar-bugar dan melakukan ibadat sutjinja seperti biasa.
Karenanja, kematiannja itu mengherankan.
Ia seorang Paderi welas-asih, penjajang rakjat, pengikut adjaran2 sang Buddha jang sangat patuh.
Lalu tahu2 muntjul seorang Paderi lain menempati geredja Seng-ong-bio, mengakui dirinja pemimpin Buddhisme jang sangat luhur.
Mula2 ia mendjadi pemimpin Paderi dari geredja-besar di Hong-yang-hu di An-hwie, tiba2 ia muntjul di Thian-tay mengambil kedudukan sebagai pengganti kepala Paderi In Tjeng jang telah mangkat itu.
""Pintjenglah jang menerima tugas untuk melandjutkan memimpin geredja sutji ini, untuk menjebar lebih luas adjaran2 Budha jang maha agung bagi kebaikan segenap ummat di Thian-thay membimbing mereka ke arah kebadjikan!", demikian Hweeshio jang baru itu memaklumkan didepan umum.
"Pintjeng tahu akan kejakinan dan ketaatan kalian pada adjaran2 Buddha kita jang serba sutji dan agung itu, oleh karena itulah Pintjeng merasa girang dapat berada di-tengah2 kalian. Dan dengan adanja kerdja-sama diantara kita dengan segenap penduduk, maka Pintjeng pertjaja geredja Seng-ong-bio akan bertambah djaja. dan Datuk2 meningkat keramatnja! Dengan demikian, mudah2an rakjat selalu dilimpahkan berkat dan sedjahtera beserta keluarganja sedalam rumah!"
Memang tampaknja mesra dan sutji kepala Paderi baru ituu, jang memperkenalkan diri dengan nama-Buddhanja Tong Hong Hweeshio.
Dan orang menjebutnja Toa Hoosiang seperti kepala Paderi marhum In Tjeng Hweeshio.
Orang melihat kegiatan2 Tong Hong Hweeshio dalam melakukan ibadatnja didalam klenteng pada waktu jang tertengu membatja kitab sutji.
Bukan itu sadja, kegiatan2 mengembangkan adjaran perikemanusiaan pun atjapkali ditjeramahkan pada masjarakat umum.
Ada kalanja iapun pergi memungut derma pada segenap penduduk untuk maksud2 sutji, memperbaiki geredja, biaja2 persembahan ataupun memelihara keperluan patung2 setiap harinja.
Haripun berputar terus dengan tjepatnja tanpa terasa empat bulan telah berlalu sedjak Tong Hong Hweeshio mendjadi pemimpin Seng-ong-bio.
Disamping bersamaan pula tjepatnja terdjadi perubahan2 luar biasa disekitar geredja.
Mula2 penduduk dikedjutkan oleh tjeramah Tong Hong Hweeshio ditempat umum, dimana diminta kehadiran orang2 terkemuka dan pembesar2 setempat.
"Ada suatu malaikat tiba2 muntjul melalui Hek Houw Sinbeng dari Seng-ongbio", demikian Tong Hong Hweeshio memulai tjeritera.
"Apa jang Pintjeng alami bukanlah impian atau lamunan, tetapi benar2 Pintjeng bertemu dengan Sinbeng jang maha agung itu, jang besar kekuasaannja, jang memimpin peredaran hidup dan nasib ummat manusia diatas bumi. Dengarlah, para hadirin jang terhormat, bahwa sedjak tahun2 jang terakhir ini, dimana pimpinan geredja ada ditangan In Tjeng Hweeshio, Hek Houw Sinbeng telah tidak diperhatikan oleh segenap penduduk Thian-tay, padahal terhadap mereka beliau selalu membahagiakan hidup mereka. Tumbuh2an di Thian-tay selamanja hidup subur dan petani setiap musim mengeduk hasil2 sawah dan ladangnja setjara sangat luar biasa, kehidupan segenap penduduk dilimpah kedjajaan dan kesenangan. Semua adalah berkat kasihsajang Hek Houw Sinbeng. Akan tetapi apa balasnja kalian terhadap kemurahan dan kasih-mesra Hek Houw Sinbeng selama itu? Kalian telah melupakan beliau, tak ada minat ataupun hasrat untuk memudja menjembah dengan djalan bahkti digeredja. Kelalaian dan ketidak atjukan kalian inilah telah membangkitkan kemarahan sang Sinbeng itu. Kemudian dengan kata2 tjukup keras dan tadjam Hek Houw Sinbeng mengatakan, bahwa tak lama lagi di Thian-tay akan timbul malapetaka jang maha hebat. Penduduk jang nama2nja sudah terdaftar sebagai penghianat2 itu akan mengalami derita dan bentjama besar2an tanpa dapat menghindarinja! Apa djenis malapetaka itu tak diterangkan, hanja jang djelas, mereka jang didalam lingkungan rumah-tangganja memiliki seorang anak-gadis atau lebih, adalah jang akan menderita paling hebat. Bila tibanja bentjana itu jang tidak diberitahukan. Demikian kata2 jang aku dengar semalam dari Hek Houw Sinbeng jang membangunkan bulu roma, hingga kini suaranja masih tjukup terang! Dengan penuh rasa menjesal dan ketjewa aku terpaksa menjampaikan berita sedih ini kepada kalian ! Semua hadirin mendjadi sangat keheranan, tetapi tak berkurang jang mendjadi ketakutan. Pihak jang keheranan adalah orang2 jang hidupnja sudah agak lebih madju dan banjak pengertian, mereka tidak pertjaja akan hal2 jang bersifat tahajul. Dengan kejakinan itu, maka golongan ini memandang tjeramah Tong Hong Hweeshio adalah suatu omong kosong belaka untuk me-nakut2i orang dan menimbulkan kekatjauan atau mempunjai maksud tertentu. Dan golongan jang ketakutan adalah mereka jang pertjaja dan penjembah2 berhala. Mereka pertjaja, bahwa berhala dan patung2 adalah sesuatu jang keramat, kuasa dan sakti, mempunjai pengaruh2 gaib terhadap manusia. Berdasar faham2 tahajul dan fanatik inilah maka golongan tsb lalu pertjaja apa katanja Tong Honh Hweeshio tentang kemarahan Hek Houw Sinbeng di Seng-ong-bio jang dikatakannja hendak menjebarkan malapetaka atas penduduk Thian-tay, karena merekapun mengakui, selama tahun2 jang terakhir ini mereka agak atjuh tak atjuh pada Hek Houw Sinbeng, mereka djarang2 berziarah ke Seng-ong-bio untuk bersudjud, bersembahjang, ataupun bersedekah. Begitulah timbul kekuatiran dan ketjemasan dalam hati mereka tentang pitutur Tong Hong Hweeshio jang katanja bertemu dengan Roh Hek Houw Sinbeng, jang dalam kemurkaannja hendak menjebarkan bentjana jang belum pernah dialami sebelumnja. Orang2 ini lalu berhimpun dan ramai2 sepakat nntuk mulai besok pagi berziarah keklenteng dengan upatjara sembahjang besar, bersudjud dan meminta ampun akan dosa2 jang diperbuat tak dengan sengadja, dan berdjandji akan seterusnja melakukan ibadat dan membhakti dengan segenap kesutjian hatinja.
"Sudah terlambat!"
Demikian berkata Tong Hong Hweeshio kepada mereka jang datang bersembahjang itu.
"Sajang, maksud kalian sudah kasep! Semalam Hek Houw Sinbeng mendjumpai aku pula. Beliau sudah mendengar hasrat kalian untuk bersudjud, tetapi beliau mendjadi bertambah murka. Beliau menganggap sudjud jang dilakukan sesudah terlambat bukanlah niat dari hati jang sungguh2. Beliau malah menjesali aku, dan mengatakan aku pemimpin geredja jang palsu! Hweeshio penghianat! Sebab akupun melalaikan tugas2 memimpin kalian, sehingga melupakan budi-baik Sinbeng, melupakan segala pertolongannja, karena mereka sudah mendjadi kaja dan makmur hidupnja Dan Sinbeng mengatakan dengan tandas, bahwa segala kesalahan dan dosa penduduk Thian-tay baru bisa ditebus dan dihimpaskan, bilamana kalian memenuhi sjarat^ jang dikemukakan beliau sjarat2 itu terlampau berat dan sulit untuk dapat ditunaikan. Sebagai seorang sutji, berat rasanja Pintjeng mendjelaskan tjara penebusan dosa jang dimintakannja itu, karena tak mungkin kalian akan dapat melaksanakannja tanpa menangis dan hati hantjur. Sungguh kalian harus dikasihani!"
Penduduk bertambah heran mendengar uraian Tong Hong Hweeshio sekali ini.
Namun mereka ingin ber-sungguh2 menebus dosanja, mereka rela berkurban, betapapun beratnja.
Lalu mereka minta pendjelasan, dan berdjandji akan melaksanakan sjarat2 jang dikemukakan Hek Houw Sinbeng semalam itu.
"Sjarat2 penebusan dosa itu bukan berupa kebendaan maupun sadji2an jang serba ledzat dan mahal, tetapi......."
Berkata Tong Hong Hweeshio jang menghentikan kata2nja.
"Katakan sadja, Toa Hoosiang, betapapun beratnja sjarat itu, kami akan menunaikannja djuga!"
Kata mereka mendesak. Wadjah Kepala Padri itu mendjukkan rupa dari kepiluhan amat sangat.
"Sjarat2 itu adalah suatu pengurbanan maha besar, namun faedahnja akan njata benar kelak ! Pengurbanan itu ialah........... empat-puluh orang anakgadis....!"
Katanja, penuh kedukaan.
"Empatpuluh anak gadis............?"
Mengulangi sekelompok orang itu dengan muka putjat.
"Ja, tak boleh kurang meski seorang gadis pun"
Sahut Tong Hong Hweeshio.
"Mengapa mesti dikurbankan anak2 gadis sebanjak itu Toa Hoo-siang?"
"Entahlah! Tetapi Hek Houw Sinbeng mengatakan, bahwa sjarat itu tak boleh di-tawar2, djika kalian tak ingin mengalami bentjana besar! Panen akan gagal, hudjan takkan turun dan lebih daripada itu, wabah penjakit akan meradjalela dan setiap hari akan digotong keliang kubur sedikitnja lima sampai enam orang sekaligus!"
Dapat dibajangkan betapa ngeri peristiwa itu.
Bagaimana kita akan mengalami kelaparan, kekeringan, dan mati...................!
Aku tadi berat benar mengatakan pada kalian, karena terlampau hebat!
Aku tak berdaja dalam hal ini, karena aku sendiri diantjam akan disiksa-nja djuga didalam hidupku.
Sungguh mengerikan!"
Penduduk saling memandang dengan kawan2nja dengan wadjah jang putjat, terbajang kedjadian2 hebat jang akan ditimbulkan oleh Hek Houw Sinbeng jang sakti itu, bagaimana mereka akan mengalami kelaparan, kekeringan, kemudian mati seorang demi se-orang tanpa ampun.
Mereka mendjadi sangat bingung.
"Bagaimana tjara melakukannja penebusan dosa itu, Toa Hoo-siang? Akan diapakan gadis2 kurban itu?"
Tanja salah seorang "Mereka akan direnggut dari tangan ibu-bapanja atau keluarga2 lain!", djawab Tong Hong Hweeshio.
"Tiga hari sekali seorang gadis. Kurban2 itu takkan kembali pula kerumahnja. Gadis2 itu akan dimandikan air-sutji setelah disembahjangi, rohnja akan diterbangkan ketempat sutji diatas langit, keistana Giok Tee, atau dengan kata lain mereka akan ditidjadikan Sianlie (Bidadari). Dengan sebenarnja hal ini bukanlah suatu penngurbanan atau kerugian, sebab dara2 itu sebaliknja akan didjadikan Bidadari, menempati tempat sutji dan mulia diatas langit, menuntut kehidupan baru. Kalian akan dimuliakan djuga hidupnja karena kalian memenuhi tugas jang maha agung!"
"Bagaimana tjaranja gadis2 itu diberkatkan rohnja keatas langit, Toa Hoosiang?"
"Hanja melalui mantera2 jang ada pada kekuatan Hek Houw Sinbeng! Tidak dengan tjara menjakiti atau mengkulitnja, sebab itu adalah perbuatan melanggar kesutjian Sinbeng dan djuga gadis2 jang akan mendjadi Bidadari itu!"
"Siapakah jang melakukan mantera"
Itu, Toa Hoosiang?"
"Tentu sadja pengawal Hek Houw Sin beng, siapapun tidak diperkenankan menjaksikannja. Kalian harus percaya pengawal Sinbeng itu akan dapat melakukan pensutjian dengan sebaik2nja berdasar ke-Tuhanan!"
"Tetapi, Toa Hoosiahg......."
"Tetapi apa?"
"Berat rasanja seorang ajah atau ibu menjerahkan anak gadis-nja. Mohon Toa Hoosiang mintakan pada Hek Houw Sinbeng agar pengurbanan itu diubah dengan tjara lain!"
"Tadi aku mengatakan, hanja itu sadja jang dikehendaki Sinbeng. Aku tak berkuasa untuk mengubahnja atau mengadjukan keberatan, karena akupun bakal mendjadi kurban! Selain itu, setiap penolakan ataupun keberatan dari kalian akan tambah melipatgandakan kemurkaan Sinbeng, jang mungkin akan bertindak selain mengambil gadismu, djuga seluruh isi keluargamu! Begitulah aku membentangkan seluruh amanat Sinbeng, dan aku kira sudah tjukup kalian mejakinkannja. Maka menurut nasihatku, djanganlah kalian merasa keberatan, apalagi menentang, kalian harus ichlas bila kalian tak ingin kota Thian-tay akan dibikin kiamat!"
Semua orang mendjadi putus asa dan ketakutan karena Tong Hong Hweeshio tak dapat menolong.
Selama berbitjara, Kepala Paderi inipun tampaknja berduka benar, hingga suaranja kadang2 terhenti.
Tiba2 muntjul seorang muda, sikapnja pemberani dan tjerdas agaknja.
"Segala sesuatu memerlukan perundingan dan pertimbangan jang mendalam! Lebih2 dalam hal ini, suatu hal jang amat gandjil dan baru kali ini terdengar kedjadian seperti ini. Aku hendak mengemukakan suatu pendapat jang mungkin bisa didjadikan bahan pertimbangan. Bolehkan aku bersuara atas nama segenap penduduk Thian-tay bahkan seluruh Tjiat-kang, Toa Hoosiang?", demikian katanja pemuda itu Tong Hong Hweeshio memandang pemuda itu, jang memperkenalkan namanja Tjio Han Boe. Ia menganggukkan kepala, maka pemuda itu berkata pula.
"Per-tama2 aku ingin pendjelasan, dalam bentuk apakah Malaikat jang dinamakan Hek Houw Sinbeng itu?"
"Dalam bentuk Roh-sutji utusan Giok Hong Siang Tee!"
Djawab sang Paderi, jang mengubah sikapnja mendjadi keren.
"Bagaimana asal-mulanja pendjelmaan Sinbeng itu?"
"Sudah terang asal-mulanja adalah seorang manusia sebagai kita! Tetapi dia seorang manusia sangat luar biesa, hidup dizaman Liat Kok, berasal dari negeri Tjee, she Tjouw bernama Kan. Dia seorang tokoh jang sangat bidjaksana dan luhur. Setelah meninggal, oleh Giok Tee dia ditempatkan dalam kalangan Malaikat dengan kekuasaan besar. Rohnja adalah seekor Matjan-hitam, maka dalam bentuk Malaikat dia diberi gelar Hek Houw Sinbeng, artinja Malaikat matjan hitam".
"Seorang Malaikat tentunja sutji dan luhur budinja terhadap segala machluk jang ada diatas bum ini, bukankah?"
"Ja! Tetapi djangan dilupakan, Malaikat djuga berlaku sebaliknja apabila dihianati atau disakiti hatinja!"
Bantah Tong Hong Hweeshio.
"Seorang sutji sudah tak memiliki lagi hati dengki, apalagi menjebar malapetaka! Seorang Malaikat hanja memiliki rasa welas-asih dan penjajang kepada semua ummatnja daripada menondjolkan tuntutan penebusan dosa dengan pengurbanan gadis2 dalam djumlah sebanjak itu, apalagi kesalahan ummat di Thian-tay tak berarti kesalahan, hanja suatu kealpaan tak berrziarah keklenteng. Satu Malaikat jang benar akan mengampuni setiap dosa, sebab tugasnja memang untuk menjelamatkan dan membahagiakan ummat diatas bumi dan bukannja untuk membunuh! Hanja-lah Malaikat palsu sadja dapat berbuat seganas dan sebuas dikatakan Toa Hoosiang!"
"Eh eh, dari manakah kau memperoleh pengertian Malaikat, jiwanja dan tugas2nja?"
"Pertanjaan itu tak perlu didjawab, karena Toa Hoosiang tentunja lebih faham akan hal2 sekitar ke-Malaikatan dan ke-Tuhanan!"
Sahut pemnda itu.
"Djadi kau ini tak pertjaja akan Hek Houw Sinbeng?"
"Sebelum aku mendapatkan bukti pertemuan atau perbintjangan langsung diantara Hek Houw Sinbeng dengan Toa Hoosiang, aku takkan mempertjajai tjeramah atau kata2 Toa Hoosiang jang menggelisahkan segenap penduduk itu! Bisakah kiranja Toa Hoosiang membuktikan itu?"
"Oh, kau kira satu Malaikat sedemikian mudahnja sedia memperlihatkan udjud pada seorang manusia jang masih kotor seperti kau?"
"Aku berpendapat Sinbeng jang Toa Hoosiang sebut itu djauh lebih kotor dan buruk daripada aku, karena dia masih mempunjai djiwa dan pendirian djahat terhadap manusia2 jang tak berdosa dengan permintaan2nja jang diluar batas perikemanusiaan!"
Tong Hong Hweeshio nampaknja mendjadi mendongkol dengan ketjaman-ketjaman dan bantahan2 Tjio Han Boe jang tjerdik dan berani itu.
Tadinja ia mengira pemuda itu seorang anak sekolahan jang hanja tidak pertjaja akan hal2 jang diperbintjangkan itu.
Tetapi kemudian ia jakin, Tjio Han Boe seorang pemuda jang memiliki kepandaian ilmu silat, terbukti dari gerak-geriknja jang berbeda dengan orang kebanjakan, tampak njata dari sikap dan tjara2nja berkata jang hanja dapat didjumpai dalam golongan orang2 Kang-ouw.
Ia sangat gusar, tetapi ia berusaha menjembunjikan kegusarannja itu, ia tetap sabar dan lunak.
"Sajang sekali aku harus menolak permintaanmu", kata Tong Hong Hweeshio.
"karena aku tak kuasa untuk minta bertemu dengan Hek Houw Sinbeng! Bahkan aku sangat chawatir ketidak pertjajaanmu terhadapnja, dan ketjaman2, akan menimbulkan hal2 jang lebih hebat. Dan kau nanti bertanggung-djawab penuh didalam hal itu! Menurut nasihatku, sebaiknja kau lekas2 sembahjang untuk minta ampun, agar kau tak didjadikan kurban pertama dari kemurkaannja!"
Tjio Han Boe hanja tersenjum.
Ia semakin jakin akan kesimpulannja tentang ketidak-wadjarannja Tong Hong Hweeshio mengenai kemarahan seorang Malaikat dan tuntutannja untuk orang melakukan pengurbanan gila2an itu!
"Menjesal aku tak dapat mengikuti nasihat Toa Hoosiang untuk bersembahjang!", ia djawab.
"Aku tak berbuat kesalahan atau dosa apapun, maka tak ada alasan aku mentjapekan diri buat sodja2 pada berhala jang kotor!"
"Eh eh, mengapa kau berani bersikap atau mengutjapkan kata2 kotor terhadap Sinbeng?"
Bertanja Tong Hong Hweeshio makin kentara marahnja.
"Seribu orang telah pertjaja, tetapi kau satu jang menentang! Aku chawatir perbuatanmu akan mendjerumuskan segenap penduduk Thian-tay kedjurang kebentjanaan, keneraka! Alangkah sedih hatiku akan nasib mereka jang mestinja masih dapat ditolong!"
"Dengan gadis2 tak berdosa akan didjadikan kurban, masihkah dapat dikatakan mereka ditolong oleh oleh Sinbeng?"
Kata Tjito Han Boe mengedjek. Kini Tong Hong Hweeshio agaknja tak dapat menahan kesabarannja. Ia tak mengutjapkan lagi sepatah kata, ia segera berlalu.
"Kalian penduduk Thian-tay akan segera menjaksikan atau mengalami bahaja sebagai aku telah menggambarkannja!"
Berkata Tong Hong Hweeshio seraja berdjalan masuk.
"Sehari-dua lagi barangkali bentjana hebat akan terdjadi. Kedjadian itu adalah disebabkan pemuda she Tjio jang mendjadi biang-keladi". Pengaruh Tong Hong Hweeshio sungguh2 amat besar, penduduk sekarang berbalik mendjadi gusar terhadap Tjio Han Boe. Mereka mengatakan pemuda itu terlalu lantjang dan sembrono, hingga bahaja besar akan menimpa mereka. Mereka mengatakan, sedang penduduk Thian-tay sendiri sangat memuliakan Hek Houw Sinbeng, tetapi pemuda asing itu datang2 berani menghina. Karena itu mereka berkeras memaksa pemuda asing itu meminta maaf pada Tong Hong Hweeshio dan menarik kembali semua utjapannja jang menghina itu serta harus minta ampun dihadapan patung Hek Houw. Lebih djauh mereka menjatakan, apabila Tjio Han Boe tidak mau berbuat demikian, dan kemudian benar2 timbul bahaja besar, maka dialah jang harus bertanggung-djawab. Pemuda gagah itu hanja mentertawakan anggapan orang2 jang kukuh dan tebal kepertjajaannja pada segala Sinbeng ataupun soal2 tahajul itu. Mereka jang ditertawai itu mendjadi ber-tambah2 gusar. Tetapi sementara itu ada segolongan lain jang lebih tjenderung pada kejakinan Tjio Han Boe, dan memihak padanja. Salah seorang diantaranja berkata dengan suara tadjam, katanja.
"Setjara terus-terang aku harus menjatakan, bahwa faham pemuda she Tjio itu benar! Apabila satu Sinbeng sebagai Roh-sutji dan bersifat murah, tak mungkin akan dapat berbuat sesuatu jang hakekatnja menjelakai atau mendatangkan marabahaja pada ummnatnja diatas bumi ini, lebih2 pada mereka jang senantiasa tak lupa bersudjud dan Berbhakti. Lagi pula malapetaka jang akan disebarkan itu berupa sesuatu jang amat gandjil, jaitu meminta pengurbanan anak-gadis sebanjak empatpuluh orang! Tong Hong Hweeshio boleh mengatakan, bahwa pengurbanan sematjam itu tak bersifat pendurhakaan maupun kedosaan, bahkan kebalikannja memuliakan anak2-gadis itu, karena mereka akan dikirim keatas langit dan hidup dalam alam ke-Dewaan! Tetapi bagaimanapun, pengurbanan sematjam itu aku anggap sebagai kedjahatan, kebiadaban! Tiada hukum2 serupa itu dalam wet alam maupun wet Tuhan! Andaikata ada djuga satu Sinbeng jang merasa kurang dapat penghargaan dan ummat2 itu dipandang berdosa, paling banter Sinbeng menghendaki penebusan dosa tjukup dengan hanja membajar kaul, kebhaktian atau persudjudan! Berdasar dengan faham2 itn aku setudju dengan bantahannja jang tadjam, jang menjarankan, bahwa adalah bidjaksana bila kepala Paderi itu jang harus memintakan ampun pada sang Sinbeng akan dosa2 penduduk Thian-tay, kalau benar2 penduduk itu melakukan dosa! Aku minta kalian sebagai orang2 jang telah tambah madju dalam pengertian dan pengetahuan, agar tak gampang2 kena dipengaruhi oleh propaganda menjesatkan dari Tong Hong Hweeshio jang tak masuk diakal dan tak berdasar sama sekali itu. Menurut pendapatku sebaiknja kalian dapat berusaha untuk memberantas obrolan2 kepala-gundul jang menjesatkan dan menggelisahkan itu. Marilah kita berunding untuk mentjari djalan menentang sikepala-gundul itu. Kita harus bekerdja-sama. Kita tak harus membiarkan kebahagiaan atau keselamatan hidup kita mesti diganggu oleh perbuatan2 kedji seseorang, lebih2 oleh seorang jang berselimutkan djubah dan bertasbih sebagai orang sutji!"
Agaknja golongan penduduk jang lemah itu agak terpengaruh djuga oleh perkataan2 orang itu jang lebih masuk diakal.
Timbullah kejakinan mereka, bahwa daripada membiarkan bentjana muntjul, adalah djauh lebih baik untuk mentjegahnja.
Orang jang berkata tadi termasuk golongan terpeladjar jang seharusnja sudah mentjapai banjak kemajuan.
Ia seorang pedagang beras di Thiantay sebelah Timur , namanja Phoa Keng In.
Rumah orang she Phoa itu pula dijadikan tempat berunding.
Rumah itu tjukup besar, dan ruangannja lebar.
Diantara hadirin itu terdapat Tjio Han Boe, seorang pemuda bersemangat dan aktip.
Benar awas matanja Tong Hong Hweeshio bahwa Tjio Han Boe seorang pandai ilmu silat, satu Enghiong atau pendekar.
Namanja belum banjak dikenal, karena belum lama ia datang di Thian-tay sebagai seorang kelana jang tengah mentjari pengalaman.
Begitulah dilakukan perundingan diantara mereka.
Tjio Han Boe mengatakan, bahwa ia seorang muda jang belum berarti dalam kalangan Kang-Ouw.
Tetapi apabila ia sudah berani menentang tjara2 bertindak seorang Paderi jang menjalahgunakan ke-Paderian-nja, sekedar ia ingin memberantas kedjahatan dan menolong silemah dan bodoh.
Sebagaimana gurunja memerintahkan padanja untuk melakukan perbuatan2 sebagai penegak keadilan dan pemberantas kedjahatan.
"Dan pandanganku rasanja tak dapat dilabui, bahwa perbuatan Tong Hong Hweeshio adalah menjesatkan!"
Ia berkata lebih djauh.
"Bukan penjesatan sadja, malah kedjahatan, kedjahatan terbesar jang pernah dilantjarkan orang! Ada maksud2 tertentu dibalik djubah-sutjinja. Suatu rentjana kedjahatan jang harus diselidiki lebih dahulu, kemudian diberantas!"
Utjapan2 dan sikapnja pemuda itu makin menarik dan berngaruh, bitjaranja teratur dan berani bahkan tjukup alasan2nja.
Sekalipun tidak semua hadirin setudju akan buah pikirannja, namun sebagian besar mereka tjondong padanja.
Dan sipedagang beras senantiasa memberi pendjelasan2 jang membenarkan seluruh pandangannja.
Sekarang dirundingkan perihal tjara2 mentjegah kedjahatan jang katanja akan timbul itu.
Hal jang penting harus didjaga, jaitu keselamatannja gadis2 semuanja.
Keluarga2 dirumahnja mempunjai seorang anak-gadis atau lebih, diperintahkan untuk lebih waspada atau menjembunjikan mereka ditempat aman.
Sementara itu Tjio Han Boe akan membuatl penjelidikan2 jang perlu, untuk mana diperlukan bantuannja kepala daerah untuk bekerdja-sama.
Begitulah sedjak itu, mulai tampak perubahan2 atas kehidupan penduduk di Thian-tay, terutama keluarga2 jang dirumahnja mempunjai anak-dara.
Mereka selalu dalam ketakutan dan gelisah.
Karena Tong Hong Hweeshio telah mengatakan, bahwa Malaikat Matjan-hitam, tidak mungkin dapat menerima kebhaktian orang atau penebusan "dosa"
Dengan pengurbanan apapun, karena sudah terlambat.
Djadi Hek Houw Sinbeng tetap didalam kemurkaan, tetap menuntut hukuman pada mereka dengan mendjemput anak dara sebanjak 40 orang untuk disutjikan rohnja naik kesurga mendjadi Bidadari2 katanja.
Orang mengerti, penebusan "dosa"
Dengan tjara demikian adalah sesuatu jang terlalu hebat, jang mereka pernah mengalami.
Setiap gadis akan direnggut dan disutjikan rohnja, atau lebih betul dimusnahkan, sebab gadis2 itu takkan kembali lagi pada orang tuanja.
Maka ibubapanja manakah jang akan dapat mengurbankan anak gadisnja jang disajanginja dibunuh untuk sia2!
Ja, penebusan "dosa"
Tjara demikian adalah pembunuhan besar2an Maka setelah diketjam oleh Tjio Han Boe perihal ketidakbenaran obrolan2 Tong Hong Hweeshio, bahwa itu adalah suatu kedjahatan terbesar jang pernah dilakukan oleh satu Malaikat-sutji melalui lidahnja seorang pengikut Buddha, timbullah rasa keberatan penduduk, dan kini merekapun ikut menentangnja.
Merekapun pertjaja akan keberanian Tjio Han Boe jang tampaknja demikian bersemangat dalam usaha pemberantasannja.
Mereka berdjandji untuk bekerdja sama ataupun memberikan bantuannja sungguh2 untuk mentjegah segala kemungkinan jang akan timbul.
Keluarga2 jang mempunjai anak-gadis melakukan pendjagaan d3ngan seksama.
Dikala malam ber-djaga2 dengan perlengkapan sendjata golok parang, ataupun pentungan.
Sementara itu Tjio Han Boe sudah menghubungi kepala daerah setempat, Tihu Kam Hok Sian-jang lalu mendjandjikan bantuannja bekerdja sama memberantas kedjahatan2 jang akan terdjadi.
Orang jang terutama menjertai gerakan Tjio Han Boe adalah pedagang beras Phoa Keng In, jang sekarang memperoleh pembantu dua orang lain lagi, Tio Peng, pedagang babi dan Oey Kong Pek, penebang kaju-hutan.
Dua orang ini termasuk orang2 berbadan kuat dan besar njalinja.
Bagi penduduk Thian-tay, Tjio Han Boe merupakan wadjah baru.
Ia seorang kelana remadja, hatinja baik, dan orangnjapun sopan santun.
Dari tingkah laku dan tjara2nja berbitjara, menundjukkan ia seorang jang banjak pengetahuannja dan disamping faham ilmu silat, dan berani menghadapi bahaja, bagaimanapun besarnja.
Pendirian hidupnja suka membela kebenaran dan pihak jang lemah, penentang kedjahatan jang tak takut mati!
Menurut Tjio Han Boe, ia bermaksud melakukan penjelidikan dan pengintaian lebih dahulu disekitar geredja Seng-ong-bio, terhadap peranan Tong Hong Hweeshio dan Hweeshio2 lainnja didalam klenteng.
Satu hal jang menarik perhatiannja adalah, bahwa kedatangan Tong Hong Hweeshio jang se-konjong2 di Seng-ong-bio sebagai pengganti In Tjeng Hweeshio jang meninggal dengan tiba2.
Kematian In Tjeng Hweeshio jang mendadak itu sudah menimbulkan ketjurigaannja dan bertjokolnja Tong Hong Hweeshio diklenteng tanpa undangan ataupun perkenalan pada segenap penduduk, merupakan satu hal jang gandjil.
Tak lupa Tjio Han Boe menjatakan ketjurigaannja itu, dan itulah sebabnja mendorong keras ia untuk bertindak.
"Apabila aku sudah memperoleh kenjataan atau sedikit bukti dari adanja ketidak-beresan dalam peranannja Tong Hong sebagai seorang Paderi, maka aku akan segera melaporkan pada Tihu, dan minta bantuannja untuk membuat penangkapan!"
Segera Tjio Han Boe pergi ke Seng-ong-bio sebelum matahari menjelam.
Ia berkehendak me-lihat2 dahulu suasana geredja dan keadaan disekitannja Geredja itu terletak kita2 sedjauh 4 lie disebelah Timur kota Thian-tay dan termasuk salah sebuah geredja terbesar diseluruh propinsi Tjiatkang.
Gedungnja besar, halamannja sangat luas.
Banjak benar patung2 didalamnja, dan sebuah diantaranja jang dikenal orang ialah Malaikat Matjan-hitam, umumnja disebut Hek Houw Sinbeng.
Dari keterangan In Tjeng Hweeshio dahulu, bahwa patung Hek Houw Sinbeng dibuat orang dizaman purba untuk memperingati djasa2 satu tokoh bidjaksana jang banjak menjebar kebadjikan pada sesamanja bernama Tjouw Kan, berasal dari negara Tjee.
Radja muda Tjee Soan Ong memerintahkan orang membuat sebuah patung, tetapi ahli pahat itu telah bermimpi mendjumpai eeekor harimau-hitam, jang memberi ilham padanja, agar patung itu kelak tidak dinamakan Tjouw Kan Tjeng Sin, tetapi Hek Houw Sinbeng.
Sebab Hek Houw adalah seekor binatang sutji jang diutus oleh Giok Tee turun kedunia menjebar kebaikan dan kebadjikan pada ummat manusia melalui roh agung Tjouw Kan jang dibuatkan patung itu.
Patung tersebut ditaruh disebelah patung Seng Ong jang menempati geredja itu beberapa tahun terlebih dahulu.
Begitulah kemudian patung Hek Houw sangat di-sembah2 orang dan boleh dikata Seng-ong-bio setiap hari dibandjiri orang jang datang berziarah, bahkan dari luar daerah.
Kenjataannja, sedjak orang memperoleh Hek Houw Sinbeng, kota Thian-tay mendjadi makmur.
Orang tak tahu benar, apakah kedjajaan penduduk Thian-tay berkat karunia Hek Houw Sinbeng ataukah Seng Ong, achirnja lalu timbul kejakinan, bahwa kedua Sinbeng itulah sama2 keramat-nja.
Pada tahun2 jang terachir benar sadja orang mulai lebih djarang berziarah ke Seng-ong-bio.
Hanja pada setiap hari ulang-tahun Hek Houw dan Seng Ong sadja orang pergi bersembahjang.
Dan mereka jang datang pun hanjalah orang2 jang mempunjai maksud tertentu berhasrat minta obat, membajar kaul atau minta djodoh!
Lalu tiba2 In Tjeng Hweesio, kepala Paderi jang alim dan welas-asih itu meninggal tanpa sakit.
Sementara orang mengatakan, bahwa In Tjeng meninggal karena serangan djantung, tetapi ada pula orang jang mengatakan, beberapa saat sebelum meninggal In Tjeng Hweeshio tampak dalam keadaan biasa segar-bugar, malah pada kira2 djam 8 terdengar liam-kheng dipendopo geredja.
Disamping meninggalnja In Tjeng Hweeshio jang mendadak itu, keesokan paginja, keempat muridnja pun turut lenjap tiada berbekas.
Lantas beberapa hari kemudian tiba2 muntjul Tong Hong Hweeshio, jang mengumumkan dirinja sebagai pengganti In Tjeng Hweeshio sebagai pemimpin geredja.
Djika Tong Hong Hweeshio memimpin Seng-ong-bio sebagai pengganti kepala Paderi jang telah wafat, mendjalankan peraturan2 sebagaimana biasa, mungkin akan dianggap sebagai hal jang lumrah.
Namun ia telah membuat tjeramah2 jang menghebohkan itu, sehingga menimbulkan ketjurigaan orang.
Dengan adanja hal2 tersebut diatas itu, jang sangat mustahil dan terlalu me-nakut2i, membikin pemuda Tjio Han Boe mendjadi sangat tjuriga dan gusar.
Ia lebih pertjaja bahwa djubah dan tasbih jang ada pada Tong Hong Hweeshio hanjalah sebagai tabir nntuk menjelimuti kepalsuan dan kedjahatannja belaka.
Dan semua itulah mendorong ia untuk melakukan penjelidikan.
Djiwa kependekarannja takkan membiarkan kedjahatan meradjalela di Thian-tay.
Letak geredja Seng-ong-bio mentjil dikaki bukit Goe-thauw-nia.
Disebelah kanan ada sebuah kampung jang tak terlalu padat dengan penduduknja, disebelah kirinja terdapat sebuah hutan bambu.
Penjelidikan Tjio Han Boe dikampung dan hutan itu tak menemui sesuatu jang aneh selain djalan2 ketjil lalu-lintas orang.
Dan dari penghuni kampung itu iapun tidak peroleh keterangan luar biasa mengenai kehidupan Tong Hong Hweeshio selain pada setiap waktu jang tertentu mendjalankan ibadat sebagai umumnja orang2 sutji.
Pun tentang kematian In Tjeng Hweeshio dan lenjapnja keempat muridnja, penjelidikannja Tjio Han Boe berhasil nihil.
Namun demikian, Tjio Han Boe tidak mendjadi putus asa.
Pada waktu mendjelang malam diam2 ia memasuki geredja.
Suasana geredja tak ubahnja seperti kuil2 jang lain, bau asap dupa mengembang di-mana2, penuh udarasutji dan patung2 diatas altar tampak serba agung dan keramat.
Hek Houw Sinbeng tampak bertjokol disebelah kanan patung Sang Ong.
Lalu terdengar suara orang membatja kheng dipendopo besar.
Ia menjelinap dibalik pintu dan benar sadja tampak Tong Hong Hweeshio asjik membatja kitab sambil duduk bersila, kedua matanja dipedjamkan, djari2 tangannja menghitung bidji tasbih dengan 4 murid Hwees-hio dikiri-kanannja turut dengan asjiknja membatja kitab.
Gambaran itu tjukup wadjar.
Para Hweeshio tengah menunaikan tugas sutjinja.
Akan tetapi hal itu tidak dapat melenjapkan ketjurigaannja Tjio Han Boe, ia tetap meragukan pengumumannja Tong Hong Hweeshio.
Begitulah ia menunggu sampai larut malam.
Setelah Hweeshio2 sudah memasuki kamar tidur masing2, dan suasanapun mendjadi sunji ia memulai penjelidikannja pula disekitar geredja.
Dari pendopo sampai di-bagian2 paling belakang, di-kamar2 Paderi dan tamu sampai didapur, diusutnja dengan seksama.
Tetapi tak ada sesuatu jang aneh dapat didjumpai.
Kemudian Tjio Han Boe meninggalkan geredja dan pulang kepondokkannja.
Keesokan paginja ia mendapatkan Phoa Keng In dirumahnja, menuturkan tentang penjelidikannja semalam di Seng-ong-bio.
"Suasana disekitarnja maupun didalam geredja aku tidak dapatkan tanda2 jang mentjurigakan", berkata Tjio Han Boe.
"Akan tetapi hal itu tak berarti tidak ada udang dibalik batu. Aku takkan merasa puas sebelum aku dapatkan bukti jang njata, untuk menundjukkan akan kebenarannja dugaanku!"
Bersamaan pada pagi itupun Tong Hong Hweeshio muntjul di pasar dimana ia menjatakan penjesalannja jang besar karena penduduk Thian-tay tak mempertjajai kesaktian Hek Houw Sianbeng, bahkan sebaliknja malah mentjoba menentangnja, karena dihasut Tjio Han Boe jang terang2 menantangnja.
Ia mengatakan, bahwa semalam Hek Houw Sinbeng kembali menampilkan diri, dan dengan amarah jang me-luap2 dia akan memperlihatkan kesaktian dan kegaibannja untuk mengambil kurban jang pertama!
"Kalian tak tahu", kata Tong Hong Hweeshio melandjutkan obrolannja.
"bagaimana semalam aku sudah didjadikan kurban dari kelemahan2ku jang tak mampu menjadarkan kalian dari dosa2 jang telah dibuatnja. Aku dan keempat muridku telah ditjekik hingga pingsan hampir setengah malaman. Beliau mengatakan, bahwa aku telah membiarkan pemuda she Tjio melakukan perbuatan kurang adjar memasuki geredja dan tjoba mentjari rahasia. Aku tak mengerti mengapa Tjio Han Boe demikian tebal menentang Hek Houw Sinbeng. Rahasia apakah jang ditjarinja! Ketahuilah oleh kalian, bahwa antjaman Hek Houw Sinbeng akan segera terbukti. Dan dalam hal ini aku harus mengatakan dengan hati pedih, bahwa aku tak berdaja melindungimu. Pertanggungan-djawab dalam hal ini adalah ditangan Tjio Han Boe seorang, sebagai biang-keladinja daripada segala malapetaka ini!"
Habis berkata, Tong Hong Hweeshio segera berlalu.
Gempar pulalah penduduk pada pagi hari itu.
Tjio Han Boe pun mendjadi kaget, karena perbuatannja semalam telah diketahui paderi itu, sedang ia tahu benar selama melakukan penjelidikan diklenteng tak ada seorang Hweeshio pun jang mempergokinja.
Benarkah Malaikat Harimau-hitam jang memberitahukan si-kepala-gundul2 akan perbuatannja itu?
Demikian pikirnja dengan ragu2.
Kechawatirannja penduduk sedemikian memuntjaknja, mereka sekarang mendesak Tjio Han Boe untuk berusaha menghindari bentjana, bahkan mereka mengantjam apabila betul2 mereka mengalami bahaja, Tjio Han Boe harus bertanggung-djawab sepenuhnja.
"Berabe djuga!"
"Tjio Han Boe menjatakan pikirannja pada Phoa-Keng In.
"Penduduk telah djadi demikian ketakutan, dan mereka menumplakkan kemarahannja kepadaku!"
"Memang orang dari golongan ini mudah dipengaruhi oleh sesuatu jang dianggap bukan mustahil!"
Berkata Phoa Keng In.
"Ketebalan kepertjajaan mereka pada soal2 tahajul dapat menimbulkan malapetaka bagi mereka sendiri djuga!"
"Lalu bagaimana aku harus berbuat sekarang?"
Bertanja Tjio Han Boe.
"Per-tama2 lapor pada Kam Tihu tentang antjaman2 Tong Hong Hweeshio tadi. Kita minta dikerahkan pendjagaan dan pengawasan diseluruh kota, terutama disekitar Seng-ong-bio. Dan jang lebih penting lagi kita perintahkan pada tiap2 orang jang mempunjai anak-gadis agar ber-djaga2 atau menjembunjikan anak-gadis mereka ditempat sentosa, karena pangkal tudjuan sasaran terutama kepada gadis2 itu!"
Seketika itu djuga Tjio Han Boe pergi mendapatkan kepala daerah Kain Tihu untuk menjampaikan pikiran pedagang beras itu, jang segera didjalankan.
Disegala pelosok telah dikirim orang2nja Tihu lengkap dengan persendjataan dan enam orang ditugaskan mengawasi Seng-ong-bio.
Dalam pada itu Tjio Han Boe pun tidak tinggal diam.
Ber-sama2 dengan orang2 jang sefaham ia melakukan pendjagaan atau pengawasan di-mana2, dengan maksud dapat mentjegah bentjana jang katanja akan segera muntjul.
Akan tetapi malam itu telah berlalu dengan tenang, tiada terdjadi peristiwa apa pun djua.
Diluar dugaan, pada malam berikutnja benar2 telah terdjadi peristiwa hebat jang dichwatirkan itu.
Pada kira2 hampir pukul 1 tengah malam jang gelap gulita dan sunji, mendadak bertiup angin, mula2 perlahan, kemudian bertambah santer dan men-deru2, agaknja datang bertiup dari arah perbukitan Goe thauw-nia.
Disebuah kampung terdengar suara lolong andjing jang membangunkan bulu roma.
Sebentar sadja angin men-deru2, dan orang jang tadjam hijungnja dapat merasakan bau tak sedap dibawakan sang angin.
Lalu pagi2 benar orang dikedjutkan dengan berita, lenjapnja seorang gadis dari rumahnja.
Gadis itu berparas tjantik, anak tunggal seorang pedagang sutera she Tjie disebelah Timur kota.
Kam Tihu dengan disertai Tjio Han Boe dan Phoa Keng In datang ter-gopoh2 kerumah keluarga jang malang itu, jang ternjata didjadikan kurban pertama diambil anak-gadisnja.
Atas pertanjaan-nja, orang tua she Tjhie jang bernasib tjelaka itu menerangkan, bahwa semalam anaknja tidur diatas loteng seperti biasa, ditemani 2 budak perempuan.
Sementara ia sendiri melakukan pendjagaan di ruangan depan dan budak2 laki2............
disebelah belakang.
Tak ada terdengar sesuatu jang aneh pada malam itu.
baik sebelum ataupun sesudahnja angin bertiup.
Hanja tahu2 pagi tadi dua budak perempuan itu ber-teriak2 diatas loteng karena nona-madjikannja sudah tidak berada lagi ditempat tidurnja.
Tjio Han Boe melakukan pengusutan dengan luar biasa teliti-nja.
Disekitar kamar-loteng tak terdjadi kehilangan barang, pun tak terlihat terdjadinja suatu perbuatan paksa.
Hanja djendela-loteng sadja jang sudah terbuka terpentang, rupanja dari sinilah masuk-keluarnja pendjahat.
Dilantai tampak tapak2 kaki jang tak djelas, hanja sedikit tanah basah kelihatan membekas.
Kemudian Tjio Han Boe melongok ke djendela dan memandang kebawah.
"Darah!"
Tiba2 ia berseru.
Dilihatnja dinding-batu jang putih tak ada tanda2 bahwa pendjahat naik kedjendela dengan mempergunakan alat tangan ataupun tambang, tidak pula terdapat bekas2 tapak kaki.
Sekarang ia memeriksa halaman luar, dibawah djendela-loteng benar.
Diatas rumput jang basahpun tidak ada tanda bekas tapak kaki.
Ia segera menarik kesimpulan, bahwa pendjahat tentunja ada seorang ulung dari kalangan Kang-ouw jang disebut Tjay-hoatjat (pendjahat pemetik bunga).
Djadi mungkin sekali pendjahat itu mempergunakan ilmu hui-heng, jaitu ilmu melompat tinggi.
Dengan kepandaiannja itu dia dapat mentjapai kasau rumah darimana dia membuka daun djendela untuk masuk kedalamnja.
"Pendapatmu memang mungkin", berkata Kam Tihu.
"Akan tetapi djangan dilupa, bahwa kedjadian itu tanpa menimbulkan suara apapun. Kedua budak perempuan dalam kamar-loteng itu tak mendengar apa2 semalam, menurut keterangan tuan Tjie". Mungkin pendjahat mempergunakan obat pules!"
Djawab Tjio Han Boe.
"Banjaklah orang2 Kang-Ouw atau Liok-lim jang mempergunakan obat sematjam itu jang dinamakan Bie-hun-hio dan sedjenisnja. Djangankan orang jang sedang tidur, bahkan orang jang melek pun dapat dibikin tak sadarkan diri. Tidaklah heran kedua budak perempuan itu tidur seperti majat, dan tak mendengar nona-nja digondol pendjahat!"
"Tetapi kita tak mendapatkan tanda2 terdjadinja kedjahatan ini!"
Berkata pula Kam Tihu.
"Tak ada tapak2 kaki baik dilantai kamar-loteng maupun dihalaman-rumput".
"Djustru inilah jang penting untuk diketahui!"
Tiba2 Phoa Keng In ber-seru2 disatu tempat, katanja.
"Inilah tapak2 itu! Tetapi bukan tapak kaki manusia!"
Ter-gesa2 Tjio Han Boe berdua Kam Tihu menghampiri Phoa Keng In.
Ditanah jang tidak berumput tampak bekas kaki seekor binatang jang sangat njata, karena tanahnja agak empuk.
Dan ada pula tetes darah membekas.
"Tapak kaki harimau !"
Berseru Tjio Han Boe.
"Tidak salah, itulah seekor harimau!"
Diikutnja terus bekas2 tapak kaki harimau dan tetes darah itu jang menudju kearah Selatan, hilang ditanah berumput, tampak lagi dibagian tanah jang gundul lalu hilang pula ditanah jang berumput dan seterusnja tak tertampak.
"Tetes darah apakah itu?"
Bertanja Kam Tihu.
"Menurut dugaanku, mungkin darahnja sang kurban,"
Kata Tjio Han Boe.
"Djadi kurban itu dibunuhnja djuga?"
"Entahlah! Barangkali anggauta badan sang kurban atau sipendjahat tersangkut barang tadjam di atas loteng, hingga darahnja keluar menetesnetes".
"Dan tapak binatang itu dapatkah dianggap sebagai bukti adanja harimausiluman atau Hek Houw beng itu?"
Tjio Han Boe mengangkat puncak dan menggelengkan kepalanja.
Demikianlah terdjadi peristiwa pertama jang menggemparkan itu, peristiwa jang menjeramkan, jang membikin penduduk mendjadi ketakutan benar.
Antjaman Hek Houw Sinbeng mulai terbukti, dia menuntut penebusan dosa penduduk dengan pengurbanan seorang gadis.
Dan itupun bukan tuntutan jang pertama dan penghabisan, sebagaimana dikatakan Tong Hong Hweeshio, 40 gadis mendjadi korban.
Sementara itu beberapa orang jang menjaga geredja Seng-ong-bio membawa laporan, bahwa keapala Paderi kedapatan seperti orang sedang menderita sakit hebat, tak sadarrkan diri diatas pembaringan, dan murid2 Hweeshio sibuk memberikan pertolongan.
"Apa sakitnja katanja?"
Bertanja Kam Tihu pada pelapor itu.
"Menurut keterangan salah seorang murid Hweeshio, katanja Tong Hong Hweeshio selalu mengigau kesakitan, se-olah2 kepalanja ada orang menimpahkan barang berat", menerangkan pelapor itu.
"Aneh!"
Pikir Kam Tihu.
"Mungkinkah benar2 malaikat itu kini menjiksa padanja, karena menurut katanja, diapun akan mendapat hukuman dari Hek Houw Sinbeng?"
"Belum dapat ditentukan!"
Djawab Tjio Han Boe.
"Hal itu perlu pula dibuktikan. Kini jang harus dipikirkan adalah peristiwa lenjapnja gadis she Tjie itu. Peristiwa itu lebih betul dinamakan pentjulikan. Sangat dichawatirkan akan ada gadis2 lain lagi jang mendjadi kurban. Hal ini sudah tentu harus ditjegah se-bisa2nja. Satu2nja djalan adalah harus diperkuat pendjagaan tentara, dan setiap penduduk laki2 terutama jang muda2 harus diperintahkan untuk mendjaga keselamatan masing2 rumahnja. Bagi mereka jang tak mempunjai keluarga seorang gadis, kaum laki2nja harus membantu rumah lain jang ada anak daranja". Usul Tjio Han Boe disetudjui oleh Tihu. Demikianlah pada malam kedua, setelah terdjadi peristiwa itu, pendjagaan diperlipat ganda kekuatannja, tiap2 orang laki2 ditugaskan memberikan bantuannja dengan sungguh2. Pihak Tjio Han Boe melakukan pengawasan dengan djumlah kawan terlebih banjak dan setjara bergiliran me-nukar2 tempat. Tidak lupa diadakan tanda2 tertentu, hingga apabila sekelompok petugas melihat ada sesuatu jang mentjurigakan, tidak sukar kelompok jang lain datang memberikan bantuannja. Pada malam kedua tak ada pengulangan pentjulikan, suasana tenang2 sadja. Hal itu dapat melegakan hatinja penduduk jang menganggap bahaja hanja terdjadi satu kali itu sadja. Akan tetapi ternjata dugaan mereka keliru. Pada malam ketiga, sekalipun para petugas melakukan pengawasan dan pendjagaan setjara rapat dan waspada, bekerdja-sama dengan penduduk, dan dilain pihak rombongan Tjio Han Boe pun bekerdja keras, namun seorang gadis kembali telah hilang dari kamar-tidurnja tanpa diketahui oleh keluarga seisi rumah. Gadis itu anak dari keluarga Ong, umur 18 tahun, parasnja amat elok. Tanda2 pentjulikan sama sadja seperti kedjadian jang terdahulu, ialah tjuma terdapat kedua tapak kaki harimau dihalaman rumah, dan menghilang setelah melalui rerumputan. Djuga ada tanda2 darah bertjetjeran dari djendela-kamar jang dibuka dengan paksa sampai ketegalan rumput itu. Budak perempuan jang tidur sekamar dengan gadis Ong tertidur njenjak seperti mati, sementara beberapa budak laki2 jang diwadjibkan mendjaga didekat kamar tidur, menerangkan, setelah ada angin bertiup, mereka merasakan badannja lemas dan matanja sangat mengantuk untuk kemudian tak ingat apa2 lagi. Sudah tentu seluruh keluarga jang malang itu sangat berduka karena kehilangan anak-gadisnja jang disajangnja itu. Kini Tjio Han Boe tidak ragu2 lagi, bahwa pentjulik gadis itu mempergunakan obat tidur. Tidaklah heran, kegemparan dan ketakutan tambah men-djadi2. Mereka mendjadi sangat tjemas, bahwa peristiwa serupa itu akan berlangsung terus.
"Hm, apakah empatpuluh gadis akan dikurbankan setjara sia2?"
Menggerutu Tjio Han Boe dengan penuh kemurkaan.
"Dua kurban sadja sudah terlalu banjak, maka djika kedjahatan ini tak dapat segera diberantas akan tjelakalah nasib para gadis jang tak berdosa! Tidak, pendurhakaan besar2an itu tak dapat dibiarkan begitu sadja. Aku harus dapat membongkar sumbernja kedjahatan itu, untuk maksud apa sebenarnja kedjahatan itu ditjiptakan!"
Kini Tjio Han Boe berdamai dengan Phoa Keng In, Tio Peng dan Oey Kong Pek.
Di Thian-tay hanja Ho Keng dan Oey Kong Pek dua orang, pemotong babi dan penebang kaju itu, termasuk orang jang faham ilmu silat, bertenaga besar dan gede njalinja.
Menurut Tjio Han Boe, nanti sore akan dilakukan penjelidikan lebih luas disekitar daerah Goe-thauw-nia.
Ia jakin, sumber kedjahatan itu tak djauh dari sekitar daerah geredja itu.
Demikian, pada waktu mendjelang petang ketiga orang itu melakukan pula pengusutan di-dekat2 Seng-ong-bio.
Apa sadja diperiksanja setjara teliti, malah sampai disebelah dalam dan belakang geredja, namun usaha mereka tetap sia2 belaka.
Tak dapat ditemukan sesuatu jang aneh atau mentjurigakan sekalipun jang terketjil.
"Sungguh aneh, tak ada tanda2 jang sekiranja dapat disimpulkan, bahwa sumber kedjahatan itu timbul dari daerah klenteng!"
Gerutunja mereka.
Akan tetapi sementara itu kembali ada gadis hilang pada malam berikutnja, kemudian menjusul jang keempat.
Persoalannja tetap mendjadi rahasia.
Maka bisa dimengerti, ketakutan penduduk mentjapai dipuntjaknja.
Djangan dikata lagi dipihak gadis2 terutama hidup mereka seperti menghadapi djurang maut, karena merekalah jang mendjadi sasaran kedjahatan.
Jang paling menjedihkan adalah gadis kurban keempat itu, gadis she Tjoa, jang karena ia sebeberapa hari lagi akan menikah.
Tjalon suaminja, seorang Siu-tjay bernama Lauw Kiat Leng, hampir mendjadi gila dengan mendadak karenanja.
Dalam sedihnja ia bersumpah akan mentjari pendjahatnja dan membalas dendam.
Dengan nekad ia menggabungkan diri dengan Tjio Han Boe untuk bekerdja-sama mentjari djedjak pendjahatnja.
"Apakah gadis2 kurban Harimau-iblis itu masih hidup ataukah sudah dibunuh, Tjio Tjiokhee?"
Bertanja Lauw Siu-tjay dengan hati sakit.
"Belum lagi aku dapat me-raba2, Lauw Siu-tjay!"
Sahut Tjio Han Boe memandang penuh rasa kasihan.
"Djangankan mengetahui mereka masih hidup atau sudah mati, sedangkan dimana mereka kini berada atau disembunjikan, belum dapat diendus!"
"Aku akan bekerdja keras, dan harus dapat menemukan pendjahatnja!"
Bersumpah Lauw Kiat Leng.
"Djika belum aku dapat membalas dendam, belum puas rasa hatiku!"
"Aku akan membantu dengan segenap hatiku! Hal ini bukan untuk kepentingan Tjiokhee seorang, melainkan untuk segenap penduduk Thiantay! Satu2nja hal jang penting dalam hal ini adalah kita dapat bekerdja-sama dengan seluruh rakjat!"
Tjio Han Boe rupanja tak dapat menahan sabar lagi akan meradjalelanja kedjahatan itu.
Empat orang gadis sudah mendjadi kurban dan djumlah itu sudah terlalu banjak untuk dibiarkan begitu sadja hingga pada kurban lainnja.
Ia berpikir keras, tjara bagaimana kedjahatan itu harus diganjang.
Penjelidikan2 disekitar daerah Seng-ong-bio tak membawa hasil.
Hal itu memberikan kesimpulan, bahwa pusat kedjahatan itu bukan terletak disana.
Tetapi dimana?
Dan apakah udjud jang benar dari Harimau-pentjulik gadis2 itu, jang tapak2 kakinja kelihatan luar biasa besarnja ditempat dimana pentjulikan itu dilakukan?
Harimau benarkah, silumankah atau memang rohnja Hek Houw Sinbengkah?
Semua itu tetap masih mendjadi teka-teki.
Pertanjaan2 jang belum terdjawab itu sangat memusingkan kepala Tjio Han Boe dan kawan2nja.
Bila harimau itu adalah harimau-siluman, sangatlah mustahil, karena dizaman jang sudah banjak madju itu, istilah demikian agaknja sudah terlalu usang.
Sebaliknja djika dia benar rohnja Hek Houw Sinbeng seperti dikatakan Tong Hong Hweeshio, lebih tidak masuk diakal lagi, karena tidaklah mungkin ada Malaikat-sutji jang berdjiwa liar dan ganas menimbulkan suatu kedjahatan.
Lalu djadi apakah sebenarnja harimau itu?
Achirnja diambil keputusan untuk menemukan Tong Hong Hweeshio diklenteng Seng-ong-bio.
Djika ternjata Paderi itu tak dapat memberikan keterangan2 jang diingin, maka harus diambil tindakan keras, dan dipaksa untuk bertanggung-djawab atas segala peristiwa jang telah mengambil kurban djiwanja 4 orang gadis tak berdosa.
Begitulah Tjio Han Boe dengan ditemani Tio Peng berdua Oey Kong Pek, pergi kegeredja Seng-ong-bio.
Sampai begitu djauh suasana didalam geredja tak ada perubahan jang luar biasa.
Akan tetapi ternjata, Tong Hong Hweeshio sedang menderita sakit dan tinggal terbaring didalam kamar-tidurnja.
Apa sakitnja tak dapat diketahui, tetapi seorang muridnja mengatakan, bahwa dia dihinggapi sakit sedjak hari pertama terdjadi kehilangan gadis she Tjie, bahwa dia senantiasa berbitjara melantur dan ber-seru2 minta ampun!
"Agaknja Toa Hoosiang dihukum oleh Hek Houw Sinbeng karena tak dapat memimpin ummat di Thian-tay kedjalan benar untuk tetap bersudjud kegeredja!", demikian ditambahkan murid Hweeshio itu.
Mau tak mau Tjio Han Boe meninggalkan pula geredja Seng-ong-bio tanpa hasil jang diharapkan.
Pikirannja kini bertambah katjau karena tambah persoalan dari sakitnja sang Kepala Paderi.
"Sungguh2 satu peristiwa sangat gandjil dan sukar difahami!"
Menggerutu pemuda gagah itu, hatinja semakin panas.
Ia telah mengambil suatu keputusan jang memerlukan keberanian besar2an, bahkan pengurbanan.
Ia mengatakan pada kawan2nja bahwa pada malam nanti akan ditjoba membuat penjelidikan di-geredja, jang diduganja mendjadi pusatnja peristiwa kedjahatan itu.
Ia membutuhkan bantuan Tio Peng dan Oey Kong Pek.
"Aku akan menjertai kalian !"
Berkata Lauw Siu-tjay.
"Tjiokhee tak dapat kita adjak keklenteng!"
Djawab Tjio Han Boe.
"Pekerdjaan kami sekali ini sangat berbahaja, sebaliknja Tjiokhee diam menanti didalam kota sadja. Tenagamu akan diperlukan lain waktu!"
Begitulah pada malam itu, bertiga mereka pergi menudju ke dareah bukit Goe-tauw-nia. Tjio Han Boe membawa pedang, Tio Peng golok pemotong babi, sedang Oey Kong Pek membekal kampak.
"Mengapa kita tidak meminta bantuan Kam Tihu?"
Bertanja Oey Kong Pek pada Tjio Han Boe ditengah djalan.
"Lebih banjak kawan rasanja lebih baik buat kita!"
"Kita baru sadja memulai penjelidikan, bukan suatu perdjuangan,"
Djawab pemuda she Tjio.
"Terlalu banjak kawan malah akan menjulitkan kita, lebih2 kawan jang bukan terdiri dari orang2 jang mengerti ilmu silat!"
"Apakah Tjunheng jakin, kedjahatan jang sedang meradjalela ditimbulkan oleh golongan kaum persilatan?"
Bertanja Tio Peng.
"Se-tidak2nja, demikianlah! Hanja orang2 dari golongan inilah jang sering suka berbuat hal2 luar biasa, atau perbuatan2 terkutuk! Tetapi kedjahatan jang tengah kita hadapi ini, rasanja ada mempunjai segi2 lain, bukan suatu kedjahatan biasa. Tetapi apa segi2 jang dimaksud itu, belum lagi aku dapat menentukannja!"
Malam itu djagat masih sadja gelap, karena belum masanja rembulan mengundjukkan diri.
Namun demikian, ketiga orang itu madju terus ketempat jang ditudju, Tjio Han Boe dan kedua kawannja agar berlaku hati2 dan djangan bergerak djika belum ada perintah.
Mereka mengusut disekitar halaman geredja, dan di-tempat2 jang sekiranja bisa dapat ditemui sesuatu jang mentjurigakan.
Ketika sekian lama tak ada hasilnja, Tjio Han Boe ingin menjelidiki kedalam klenteng dari sebelah atas.
Demikian ia minta Tio Peng dan Oey Kong Pek menunggu diluar dengan waspada, kalau2 ada bahaja.
Dengan ilmu lompatnja jang sudah boleh dikata tjukup baik, sekali mengajun badan, pemuda Tjio Han Boe sudah berada diatas genteng geredja.
Dengan hati2 sekali ia membuat pengusutan, melongok2 kesebelah dalam dengan melalukan genteng.
Tetapi suasana tinggal sunji dan tak ada tanda2 jang menjurigakan, malah dikamar dimana Tong Hong Hweeshio terlihat hari kemarin, tampak masih terlentang didalam sakit.
Keempat murid Hweeshio djuga ada di-tempat tidurnja masing2.
Ia lalu turun kembali dan menemukan kedua kawannja.
"Tak ada apa2 jang mentjurigakan!"
Ia berkata.
"Semua dalam keadaan biasa, malah kepala Paderi agaknja masih dalam sakit. Sekarang marilah kita menjelidiki dibagian kaki bukit. Aku harap disana dapat menemukan apa2 jang berharga". Oey Kong Pek kenal baik seluk-beluknja daerah perbukitan, karena ia seringkali lalu-lintas disana untuk menebang kaju dihutan. Ia tahu betul bagian2 jang dilalui sekarang, ialah disebelah Selatan geredja, tetapi sampai begitu djauh tak didjumpai apa2 jang luar biasa. Sedjam sudah mereka ubek2an didaerah perbukitan tanpa djerih-pajahnja memperoleh hasil. Mereka djadi djengkel, karena sampai begitu djauh tak dapat ditemukan tempat sumbernja kedjahatan dan dimana disembunjikannja 4 gadis jang digondolnja itu. Selagi mereka agak berputus asa, ketika tiba2 bertiup angin dari djurusan Selatan. Sekalipun derai angin tak sekentjang pada malam2 terdjadi pentjulikan, namun dinginnja terasa menembus tulang dan baunja jang anjir sangat memualkan. Tjio Han Boe mendjadi terkedjut, sebab angin dan bau anjir ini adalah tanda dari harimau-maut berkeliaran mentjari mangsanja. Lalu ia mentjari tempat persembunjian disebelah atas bukit, maksudnja supaja dapat melihat apakah benar2 harimau-hantu itu sudah menampakkan dirinja. Oey Kong Pek mengadjak kedua kawannja kesatu djalan ketjil dilereng bukit, sebentar kemudian mereka sampai dipuntjaknja, dimana ada sebuah batu tjukup besar untuk menjembunjikan diri. Batu itu, djika dilihat dari sebelah Barat bentuknja seperti kepala kerbau tanpa tanduk. Itulah sebabnja bukit itu dinamakan Goe-tauw-nia atau bukit kepala-kerbau. Dari sini ketiga orang itu dapat melepas pandangan matanja kesegala djurusan dengan setjara bebas. Namun malam segelap itu membuatnja mereka tak dapat melihat djenis2 disekitarnja lebih daripada djarak 5 tombak djauhnja. Sekarang angin meniup makin keras, dan selagi mereka itu belum dapat melihat apa2, tiba2 muntjul sebuah benda besar dengan sepasang bola api jang ber-sinar2 sangat tadjam. Dalam waktu sekedjap benda itu telah tiba keatas bukit. Alangkah terperandjatnja mereka, ketika diketahui, bahwa benda itu ternjata seekor matjan-hitam jang sangat besar matanja, memandang kebatu kepala-kerbau dengan kedua sinarnja jang makin memantjar. Tjio Han Boe siang2 sudah menjiapkan pedangnja, demikianpun kedua kawannja. Mereka sudah menduga, itulah harimau-hantu jang sedang ditjari mereka. Oey Kong Pek mendahului membatjok dengan kampaknja, sementara Tio Peng menerdjang dari belakang dengan goloknja, membatjok dengan sekuat tenaga. Diserang sekaligus dari kedua djurusan, harimau-hantu itu dapat menjingkirkan diri dengan satu lompatan kesamping, darimana serentak ia menubruk Oey Kong Pek dengan gerakannja jang tjepat sekali, sambil membentangkan kuku2-nja jang pandjang2 dan runtjing. Sipenebang kaju mengelakkan terdjangan hebat itu, sambil membatjok pula, sedang situkang babi menjusulkan pada pantatnja matjan itu. Namun harimau-hantu itu dengan gesit sekali kembali dapat menolong dirinja dengan lompatan djauh sambil mengaum, hingga siaranja menggema diangkasa. Begitulah Harimau-hantu itu dikepung dua orang jang bertenaga sangat kuat dan pandai ilmu silat sambil masing2 mengerdjakan sendjata2nja. Akan tetapi harimau-hantu itu bukan binatang sembarang, ilmu lompat dan terdjangan2nja menjerupai dengan kepandaian djago silat paling mahir, dan setiap sergapannja selalu menggunakan kuku2nja jang runtjing-tadjam. Oey Kong Pek berhantam mati2an, sementara Tio Peng mengerdjakan goloknja dengan sepenuh tenaganja, menjerang bagian apa sadja jang luang. Tetapi selama itu harimau-hantu tak dapat disentuh oleh sendjata, sebaliknja kuku2nja selalu menimbulkan antjaman berbahaja bagi kedua orang musuhnja itu seraja terus-menerus mengaum. Tiba2 kaki depan harimau-iblis itu berhasil menendang kampaknja Oey Kong Pek hingga terlepas dari tjekalannja, berbareng dengan itu kaki depan jang lain dapat merenggut badan sipenebang kaju, hingga Oey Kong Pek berteriak dengan hebat. Untunglah ia keburu mendjatuhkan diri sambil bergulingan. Dan selagi harimau itu meneruskan terkamannja, Tjio Han Boe sudah menerdjang dengan pedangnja membatjok punggungnja harimau-hantu itu.
"Harimau-djahanam, sekaranglah aku harus membunuh untuk membajar dosa2mu atas kematian empat orang gadis jang kau gondolnja!"
Serunja Tjio Han Boe.
Serangan jang mendadak dan sengit itu, diluar dugaan Tjio Han Boe, masih dapat dielakkan oleh sang matjan kesamping, malah dari sini dia langsung menubruk Tio Peng jang sedang mengangkat goloknja.
Batjokan sipemotong babi meleset, harimau itu menjusuli dengan serangan sengit, hingga Tio Peng mendjadi gugup.
Baiknja Tjio Han Boe sudah ada disitu, jang segera menjerang dengan satu tusukan kearah leher, sambil berseru pula.
"Sekarang matilah kau, harimau-terkutuk!"
Namun lagi2 harimau itu dapat meluputkan diri sambil kaki depannja menjampok pedang.
Ketika itu Oey Kong Pek sudah bangun kembali dan mengambil kampaknja, dan sambil menahan sakit karena dadanja telah terluka, ia membatjok kepala si matjan-hitam.
Sekarang musuh berkaki-empat itu dikepung tiga orang jang masing2 bergenggaman sendjata tadjam, terutama Tjio Han Boe jang gisiauwnja paling tinggi.
Namun si matjan-hitam tidak djuga mendjadi gentar atau mengendor, bahkan makin dikerojok makin meningkat kesengitannja, dan terdjangan2nja bertambah hebat.
Malah achirnja musuh2 manusia itu lambat-laun nampaknja sangat pajah dan daja-tempurnja tak sedahsjat tadi.
Oey Kong Pek jang luka parah dan darahnja bertjutjuran deras adalah jang terdahulu mendjadi lemah.
Tetapi apabila ia mengundurkan diri, terang sekali kedua kawannja akan mengalami bentjana.
Sebab itulah ia memaksakan diri untuk bergebrak dan memainkan kampaknja dengan sungguh2.
Namun malang benar bagi nasibnja penebang kaju itu, selagi ia tak berhasil membatjok si matjan-hitam jang baru sadja mengelakkan serangan Tio Peng, kebetulan matjan-hitam melompat disisinja dan merenggut kakinja dengan satu tjakaran, hingga penebang kaju itu roboh.
Tjakaran kuku matjan-hitam itu diteruskan kebawah djanggut Oey Kong Pek keras sekali, hingga kerongkongannja robek dan mati seketika itu.
Tio Peng mendjadi terkedjut.
Djusteru ia berlambat mempergunakan goloknja dan Tjio Han Boe tak keburu menghalanginja, harimau itu telah merangsang badan situkang babi ditjakar dadanja sampai robek.
Dengan teriakan ngeri Tio Peng roboh ditanah.
Dengan nekad dan gusarnja Tjio Han Boe menusukkan pedangnja kedjurusan perut sang lawan.
Kembali dengan amat gesitnja si matjan-hitam dapat melompat menjingkir, untuk seketika madju menubruk dengan membentangkan kuku2nja.
Pedangnja jang belum ditarik kembali membikin Tjio Han Boe mendjadi ter-sipu2 mengajunkan diri keangkasa.
Dengan lompatannja itu, ia berhasil meluputkan diri dari terksman sang hariman, namun si matjan-hitam memiliki kegesitan jang luar biass, sebelah kaki depannja sudah diulurkan keatas dan menarik kaki Tjio Han Boe jang kanan.
Pemuda itu terpaksa menggerakkan lwee-kangnja untuk melompat keatas pula.
Tjengkeraman matjan-hitam tak sampai mematahkan kakinja, namun dalam gugupnja itu Tjio Han Boe melompat terlalu djauh, hingga akibatnja ia tak mengindjak dataran tetapi ketebing, dari mana ia terbanting kebawah bukit dengan djeritannja jang mengerikan.
Sebelum badannja djatuh kebawah, pemuda gagah itu sudah tewas djiwanja.
Kasihan!
Harimau-hantu itu nampaknja mendjadi sangat puas.
Sambil memainkan ekornja jang besar ia menghampiri Oey Kong Pek jang sudah tak bernjawa dan Tio Peng jang masih meng-geliat2 sambil me-rintih2 mengerikan.
Dengan tak punja rasa kasihan, kaki depannja harimau membeset dada jang sudah bedjat, hingga Tio Peng jang apes itu tak berkutik lagi.
Setelah itu angin berhenti bertiup dan suasana diperbukitan mendjadi sunjisenjap dan tenang kembali seperti sediakala.
Tak seberapa lama kemudian ajam djantan mulai berkokok, dan dari djauh terdengar lolong2 andjing membuat bangun bulu roma.
Sang fadjarpun telah menjingsing dilangit sebelah Timur, menerangi seluruh alam dengan tjahaja keemasannja.
Tetapi diperbukitan Goe-thauw-nia tetap sunji dan lengang seperti biasa.
Hanja tetumbuhan sadjak agaknja berduka-tjita karena semalam ada tiga orang manusia mengirimkan njawanja, dan puntjak Goethauw-nia disiram darah orang2 budiman jang sebenarnja ingin membela kebenaran dan keadilan bagi sesamanja jang teraniaja.
Kasihan benar penghuni di Thian-tay, terutama pedagang beras Phoa Keng In, karena tiga orang jang di-nanti2 belum djuga tampak kembali.
Sampai matahari tinggi, baik Tjio Han Boe, Tio Peng maupun Oey Kong Pek, belum pula kelihatan mata-hidungnja.
Tiada berita tentang kepergian mereka dalam usaha penjelidikannja didalam geredja Seng ong-bio.
Phoa Keng In, demikianpun penduduk Thian-tay mendjadi tjemas dan gelisah.
Tiba2 muntjul pula Tong Hong Hweeshio ditempat umum, dimana biasa ia menghimpun penghuni Thian-tay dan bertjeramah.
Kini tampaknja kepala Paderi itu sedang menderita sakit, dan seorang muridnja menjertainja mendjaga.
Tampaknja Tong Hong Hweeshio sangat lemah, ia tak bernafsu menghitung bidji2 tasbihnja, wadjahnja jang agak putjat tampak njata.
"Kalian tahu. Pintjeng telah menderita sakit sedjak timbulnja peristiwa menjedihkan dengan hilangnja seorang gadis she Tjie", ia memulai dongengannja.
"Sakitku disebabkan sangat berduka karena Hek Houw Sinbeng benar2 membuktikan tuntutannja, membuktikan antjamannja jang maha hebat itu. Sudah demikian Hek Houw Sin-beng menghukum djuga aku dengan satu tjara jang tak perlu dituturkan pada kalian, karena selain dianggap menghianati tugas2 kegeredjaan, pun menganggap Pintjeng memihak pada mereka jang dianggap berdosa. Murid2ku memberitahukan, sudah ada empat orang gadis didjadikan kurban Sinbeng. Betapa hantjur disanubariku karena berita itu, tak perlu ditjeritakan. Itulah sebabnja makin menambah deritaku, hingga aku merasa tersiksa dineraka ketudjuh! Namun demikian, pagi-hari ini aku memerlukan mendjumpai kalian tanpa seidjin Hek Houw Sinbeng, untuk menjatakan, atau menasihati, agar kalian menghapus tantangan2nja dan menghentikan usaha penjelidikannja diklenteng untuk mengetahui bentuk apa sebenarnja Hek Houw Sinbeng, buat kemudian melakukan kebhaktian lain dihadapan patungnja, karena hal itu sudah terlambat. Namun dengan sikap diam dan menjerah serta rela, ada kemungkinan besar dosa kalian dapat diperketjil, dengan kata lain, djumlah pengurbanan anak2-gadis tjukup hanja separuh sadja dari djumlah jang ditentukan semula, atau mungkin seperempatnja. Dengarlah, sahabat2 jang malang, bahwa nasihat ini adalah nasihat jang terachir. Dan kemudian aku tjuma bisa mengatakan, kebahagian segenap penduduk tak mungkin pulih kemhali bila kalian keras-kepala untuk menentang, malah terlebih baik lagi, djika kalian dapat menundukkan golongan jang fahamnja masih pitjik tentang pengaruh dan kuasa Malaikat-agung Hek Houw, karena mereka adalah biang-keladi daripada akibatnja bentjana jang menimpa kalian beberapa hari terachir ini! Nah, sekian sadja tutur dan nasihat Pintjeng, mudah2an segenap penghuni Thian-tay akan diberi djuga berkah keselamatan! "
Setelah itu Tong Hong Hweeshio segera kembali kegeredja sambil mulutnja terus berkomak-kamik, sedang bokhie ditabuh oleh muridnja disepandjang djalan.
Pengaruh utjapan2 kepala Paderi tjukup besar mendjadjah dalam pikiran setiap penduduk tahajul.
Mereka pertjaja benar akan kuasa Hek Houw Sinbeng jang telah dibuktikan itu, dan pertjaja pula akan sikap Tong Hong Hweeshio jang tanpa menghiraukan sakitnja masih mau berbuat baik pada mereka.
Maka mereka lalu mengambil keputusan untuk menghentikan aksi2 perlawanannja terhadap Malaikat Matjan-hitam jang kuasa dan sakti itu.
Mereka tak mau lagi membantu gerakan kepala-daerah Kam Tihu untuk memberantas kedjahatan itu, sebaliknja dengan tjara2nja sendiri mereka melakukan persudjudan pada Hek Houw Sinbeng, berdoa minta diampuni dosanja, mereka berharap Hek Houw mau menerima pengurbanan lain apapun jang dimintanja, asalkan djangan arak2 dara direnggut dari tangan orang tua masing2 sekalipun katanja roh mereka akan ditempatkan dikahjangan!
Dilain pihak Tihu di Thian-tay merasa djengkel karena tak mendapat sokongan lagi dari penduduk dalam usahanja memberantas kedjahatan jang sedang meradjalela itu.
Ia tahu, penduduk telah menarik diri malah menentang usahanja, karena hasil lidah Tong Hong Hweeshio jang tadjam mendjual omong kosong.
Ia mau pertjaja kepala Paderi itu sedang sakit, tetapi tetap menganggap Hweeshio itu seorang djahat, tingkah-lakunja tak menjerupai orang sutji jang biasanja berbuat kebaikan buat orang banjak dan bukannja me-nakut2inja.
Satu2 hal jang membingungkan ialah, Tjio Han Boe dengan kedua kawannja jang melakukan penjelidikan didaerah geredja belum kembali sampai hari mendjadi sore.
Djuga tak ada kabar-beritanja.
Ia chawatir ketiga orang itu mengalami bentjana.
Tetapi sementara itu ia meneruskan usahanja menjebar orang2 sebawahannja melakukan pendjagaan disekeliling tempat di Thian-tay, ia adalah seorang kepala-daerah jang tugasnja menjelamatkan rakjat dan mempelihara keamanan, maka apapun adanja peristiwa, ia harus tetap berani dan mendjalankan kewadjibannja.
Sekarang, setelah tidak mendapat bantuan rakjat jang sebagian besar masih fanatik pada soal2 keramat dan tahajul, ia memperbesar djumlah anak-buahnja dan kepala2 regunja.
Ia memesan kepada segenap orang2nja untuk bekerdja lebih waspada dan hati2.
"Biasanja tiga malam sekali ada gadis hilang, maka malam ini mungkin akan terdjadi hal jang semacam itu pula!"
Ia berkata menambahkan.
"Usahakanlah se-baik2nja agar djangan sampai ada kurban kelima! Ingatlah, empat kurban gadis sudah terlalu banjak jang sehingga kini masih belum diketahui nasibnja, kasihan orang2 tua mereka jang menangis siang-malam karena kehilangan anak2nja jang ditjintainja itu!"
Setiap petugas menjatakan djandjinja untuk bekerdja keras dan sungguh2.
Biasania orang bersuka-ria dimusim semi, berpesta dan berkumpul2 dengan para keluarganja.
Namun sekali ini penduduk Thian-tay rata2 sedang menderita dan berduka-tjita, terutama keluarga2 jang kehilangan anak2 gadisnja menjambut hari sutji Tahun Baru dengan tjutjuran air mata............
Sampai djauh malam Kam Tihu masih tekun dikamar kerdjanja, otaknja terus memikirkan peristiwa2 hebat jang terdjadi didaerah kekuasaannja dimana ia memikul pertanggungan-djawab sangat berat mengenai keamanan dan kebahagian rakjatnja.
Dan ia terus menanti berita2 jang disampaikan oleh anak2-buahnja.
Lalu pada kira2 djam 1 Malam, tiba bertiup angin kentjang men-deru2 seperti hendak menerbangkan genteng2 rumah.
Tiupan angin menjebarkan bau anjir.
Maka kagetlah Kam Tihu seketika, sebab ia tahu, tiupan anginmalam jang lain daripada biasa itu mendjadi pertanda akan timbulnja malapetaka.
Akan ada gadis hilang pula!
Maka ber-debar2lah djantungnja Kam Tihu seperti detiknja lontjeng.
Api pelita mendjadi padam dan suasana dikamar-kerdja mendjadi gelap-gelita.
Selagi ia hendak menjalakan pelita, sekonjong2 terbajang sesosok benda jang besar, hitam-pekat tubuhnja, dan sinaran kedua matanja se-olal2 berapi.
Kam Tihu djadi gemetar dan keringat dingin membasah didjidatnja.
"Dengarlah, hei Kam Tihu!"
Sosok bajangan itu berkata, suaranja seram.
"Barangkali kau menganggap benar, bahwa seorang kepala-daerah harus bertindak sesuai dengan tugas2 kewadjibannja, jaitu memelihara keamanan dilingkungan daerahnja! Akan tetapi usaha dan tindakan2mu tidaklah selaras dengan keadaan jang sebenarnja. Kau memihak pada rakjat jang terang2 melakukan penghianatan dan kedosaan pada Malaikat Hek Houw, jang seharusnja diindahkan. Bukan itu sadja, kau malah mentjoba menentang dan memusuhi Hek Houw Sinbeng jang bertindak benar, jang patuh akan perintah2nja Giok Tee. Oleh karena itulah, telah memperbesar kemurkaan Hek Houw Sinbeng, Malaikat-kuasa itu akan melandjutkan kewadjibannja menuntut para penentang2 jang mempunjai anak-gadis, Baru empat orang gadis dikurbankan, sedang djumlah jang dibutuhkan ialah empatpuluh! Setjara kebetulan kau, Tihu, dirumahmu ada seorang anak-dara tjantik, Kam Lian Tju jang masih remadja. Gadis2 dari usia remadja itulah jang diperlukan kesutjiannja! Dia akan lepas dari tanganmu, dan takkan kau mendjumpainja pula! Tetapi malam ini belum gilirannja! Ingat baik2 kataku ini. Nah, sampai lain malam!"
Sekedjap mata harimau-iblis itu berkelebat menghilang.
Entah bagaimana lenjapnja, Kam Tihu tak mengetahuinja karena keadaan sengal gelap lagi pula hatinja takut bukan kepalang.
Ia duduk diam mematung sampai budak menjalakan pelita pula.
Ia tak mentjeritakan peristiwa tadi pada siapapun, karena kuatir mereka akan mendjadi ketakutan.
Tak lama kemudian fadjar telah tiba.
Ketika itu seorang anak-buahnja ter-gesa2 datang membawa laporan terdjadinja pentjulikan baru, lagi2 atas diri seeorang gadis tjantik berumur 17 tahun, anak keluarga Lie, pedagang obat.
Tanda2 jang didapatkan semuanja sama sadja seperti jang sudah2.
"Hanja, sekali ini ada beberapa orang kita mengetahui setjara sambil-lalu udjud harimau-hantu itu, ialah seekor matjan besar berbulu hitam-pekat seluruhnja, dengan sepasang matanja jang bersinar2 amat menjilaukan!"
Pelapor itu menambahkan keterangannja.
"Kami telah melakukan pengedjaran sambil ber-teriak2 agar kawan2 dilain bagian datang membantu. Tetapi matjan-hitam itu lari sedemikian tjepatnja menudju kearah tegalan dan menghilang dihutan ketjil. Satu2nja hal jang aneh adalah matjan itu dapat berdjalan dengan kedua kaki belakang, sementara dua kaki depannja menggondol sang kurban, lakunja menjerupai manusia benar!"
Bisa dimengerti, bukan main terkedjutnja Kam Tihu mendengar laporan itu.
Seorang gadis mendjadi kurban pula.
Pikirannja makin djadi kalut, karena rupanja Hek Heuw Sinbeng benar2 memperlihatkan kemarahannja dan membuktikan antjamannja.
Kini telah 5 gadis hilang dari rumahnja, dan gadis she Lie bukan kurban jang penghabisan, masih ada gadis lainnja jang akan mendjadi kurban kelak.
Bahaja itu tak dapat dibiarkan ber-larut2, akan tetapi tjara bagaimana mentjegahnja?
Orang2 jang sedjak pertama kali menaruh perhatian besar atas peristiwa itu dan telah bergiat mentjari djedjak2 pentjuliknja, sampai pagi-hari itu tak ada kabar-beritanja.
Memikirkan itu semua membikin Kam Tihu mendjadi sangat kesal.
Anak-buahnja jang telah disebarnja pun tidak mendapat hasil, disamping itu, djumlah kurban terus bertambah.
Malah jang sangat mentjemaskan semalam harimau iblis itu datang mengantjam padanja.
Anak-gadisnia jang tjantik, puteri satu2nja jang disajangi, akan mendapat gilirannja direnggut Hek Houw Sinbeng.
Ia tidak rela Lian Tju mesti dikurbankan.
Bagaimanapun tidak!
Dan sekarang soal Lian Tju jang mendjadi pusat pemikirannja.
Anak itu harus disingkirkan dari rumahnja, ketempat jang djauh.
Tetapi dimana?
Ia tak punja keluarga ataupun kenalan untuk menitipkan Lian Tju untuk sementara waktu.
Ia tak mau mentjeritakan apa jang dialaminja semalam kepada orang2 didalam rumahnja, terutama kepada puterinja, ia tak mau membikin seisi rumah mendjadi gaduh dan berduka, jang berarti menambah kusut suasana.
Maka satu2nja tindakan jang baik adalah setjara diam2 membuat pendjagaan kuat disekitar rumahnja dengan tentara jang bersendjata lengkap dibawah pimpinan seorang komandan.
Selain itu dimintanja bantuan tentara dari lain kota untuk memperteguh pendjagaan di Thian-tay.
Berita kehilangan 5 orang gadis telah meluas sampai keluar daerah.
Setiap hari orang membitjarakan tentang harimau-iblis jang menggondol anak2gadis itu.
Adalah kemudian Kam Tihu dapat pikiran untuk membuat pengumuman mengundang orang2 gagah untuk memerangi harimau-hantu dan menolong keselamatan anak2-dara, jang ternjata tidak disetudjui dan ditentang oleh pihak golongan kolot jang pertjaja obrolan2 Tong Hong Hweeshio, mereka anggap takkan membawa kebaikan bahkan tambah membuat marahnja Hek Houw Sinbeng.
Alasan jang dikemukakan mereka ialah, djusteru mereka sedang melakukan persudjudan memohon pengampunan pada Hek Houw Sinbeng, agar pengurbanan anak2-gadis diachiri atau se-tidak2nja dikurangi djumlahnja.
"Sebagaimana bukti telah menjatakan, karena gerakan2 kita jang mentjoba memberantas harimau-hantu dengan melakukan pendjagaan setiap malam di-mana2, kita telah kehilangan lima orang anak-gadis. Selain itu Tjio Han Boe dengan dua orang kawannja telah lenjap-tiada beritanja. Ini membuktikan, tindakan keras terhadap Hek Houw Sinbeng itu tak membawa kebaikan bagi kita malah semakin memburuk. Maka sebaiknja Tihu tak usah membuat aksi lebih djauh, biarkan sadja kehendak harimau-hantu, hingga kita dapat mengharapkan Malaikat-Matjan-hitam akan berbalik menaruh belas-kasihan pada kita dan mengampuni dosa2 kita serta tiada lagi gadis2 direnggut dari tangan masing2 orang tuanja!"
Demikian mereka menambahkan.
Kejakinan penduduk ini menimbulkan kemarahan Kam Tihu.
Orang2 demikian ini menggambarkan kebodohan dan kepitjikan pikirannja tentang hal2 jang dihadapi, hal2 jang djika ditindjau dari sudut kenjataan, sangat berbahaja dan tak dapat dibiarkan.
Selain itu djuga mereka tergolong orang2 penakut.
Mengapa mereka harus pertjaja pada soal2 mustahil jang diperdjual-belikan sikepala-gundul Tong Hong Hweeshio?
Ditambah dengan adanja kematian In Tjeng Hweeshio jang mendadak dan lenjapnja keempat muridnja sudah merupakan suatu ketjurigaan terhadap dirinja Tong Hong Hweeshio, maka mengapa dari sudut2 ini tak dapat mereka menarik kesimpulan tentang adanja kegandjilan, atau se-tidak2nja menaruh perhatian?
Bahkan sebaliknja mereka djadi begitu pertjaja pada sikepalagundul itu, dan lebih tjelaka lagi hendak membiarkan anak2-gadis direnggut dari tangan mereka dan dikurbankan djiwanja!
"Oh tidak, tidak bisa hal ini diantapkan berlangsung!"
Berkata Kam Tihu, suaranja tetap.
"Apapun akibatnja nanti, kita harus berusaha memberantas kedjahatan besar2an ini! Kita tak dapat membiarkan kurban gadis2 lainnja termasuk anakku djuga!"
Demikianlah Kam Tihu, dengan tak menghiraukan bahaja jang akan mengantjam pada puterinja sendiri, malah mungkin pada seluruh keluarganja, ia madju terus dalam usahanja.
Ia harus mentaati tugas2 menjelamatkan penduduk, dan memberantas kedjahatan.
Ia menghimpun sedjumlah orang jang sehaluan untuk melantjarkan tindakan-tindakan menjelamatkan keamanan.
Keputusannja ialah membuat pengumuman mengundang oring2 gagah untuk menjpi bersih kedjahatan, dengan didjandjikan hadiah2 besar.
Akibat tindakan2 Kam Tihu jang berani dan tak menghiraukan antjaman2 bahaja itu, ternjata sangat hebat.
Kini bukan hanja gadis2 sadja jang diantjam Hek Houw Sin-beng, malah keluarga2nja djuga.
Bahkan tjara2 hariinau-hantu mengambil kurbannja sudah tidak me-milih2 golongan lagi, gadis dari golongan penduduk penentang pun diambilnja djuga Dengan berpedoman.
asal gadis tentu didjadikan kurban.
Demikian, pada malam berikutnja lagi2 terdjadi kehilangan seorang gadis.
Sekarang dari keluarga Thio, pengusaha rumah penginepan.
Pada saat terdjadi peristiwa, seorang pelajan dapat mendengar suara berisik dikamar dimana nona-madjikannja tidur.
Djendela-kamar telah terbentang, pelajan itu melongok kedalam.
Astaga, tampak seekor harimau-hitam raksasa tengah hendak menggondol Thio Siotjia.
Dalam terkedjutnja, ia berteriak minta tolong, tetapi sekedjap itu djuga kaki-depan matjan-hitam merenggut lehernja dengan kuku2nja, hingga mati seketika.
Lalu sedjumlah pelajan datang sambil membawa rupa2 sendjata, namun satu demi satu dibunuhnja dengan mudah.
Achirnja ajah sigadis muntjul, tetapi harimau-hantu itu tak membinasakan, melainkan mengantjam.
"Aku ampuni djiwamu, sebab djiwa anak-gadismu sudah tjukup untuk menebus dosamu! Kau tak perlu mendjadi seperti budak2mu itu, mati konjol, asalkan kau tak mentjoba menghalangi pekerdjaan-ku! Akulah Hek Houw Sinbeng! Nah, esok pagi kau boleh memberi kabar pada Pek Bie Sien jang rumahnja diseberang warung rempa2 itu, bahwa pada malam ketiga setelah malam ini, aku akan datang bertamu untuk mengadjak anak-gadisnja jang baik nasibnja didjadikan Sianlie! Selain itu kau perlu memperingatkan Kam Tihu djangan menjewa djago2 Kang-ouw kepalang-tanggung, karena hasil-nja akan sia2 belaka bahkan menambah besar bentjana!", kata harimau-tetiron itu. Pemilik hotel tertegun melihat rupa harimau-iblis jang sangat mengerikan itu, hingga ia berdiam terpaku seperti patung. Ia tak dapat berbitjara, apalagi bergerak. Sampai kemudian matjan-hitam itu pergi dengan mengempit anakgadisnja melalui djendela, dan menghilang ditempat gelap, barulah ia sadar pula, tapi ia tjuma bisa ber-teriak2 minta tolong, kemudian menangis seperti anak ketjil. Utjapannja Hek Houw Sinbeng telah tersiar luas dan sampai ditelinga Pek Bie Sien, hingga tak heran, orang tua ini mendjadi sangat ketakutan. Tetapi sementara itu timbullah keheranan semua penduduk, sebab harimau-hantu itu dapat bertjakap seperti manusia, begitu pula tindak-tanduknja, menurut penuturan pemilik losmen jang sial itu. Kam Tihu tak terketjuali mendjadi sangat terperandjat mendengar berita terachir itu.
"Benar2 kini gadis keenam!"
Ia berkata.
"Bukan main hebatnja!"
Lebih dari itu, ia tak dapat berbitjara pula, djuga tak dapat mengerdjakan otaknja. Tetapi kemudian ia berkesimpulan.
"Memang aku sudah mendjadi tjuriga sedjak semalam tentang adanja harimau-iblis itu! Seumur hidupku baru sekali ini aku melihat ada seekor binatang dapat bertjakap seperti manusia. Tak mungkin dia hewan sewadjarnja, pun tak mungkin matjan-siluman. Hal ini menambah memperkuat ketidak-pertjajaanku pada obrolan2 Tong Hong Hweeshio! Tentu ada apa2 jang tak beres, dan perlu segera ditumpas!"
Kemudian, ketika ingat kata2 harimau-iblis jang hendak menjatroni keluarga Pek jang kaja-raya, membikin pembesar-distrik ini mengerti, aksi harimauhantu itu bertambah mendjadi terang2an dan berani.
Hal mana ia anggap suatu tantangan hebat bagi pedjabat di Thian-tay malah kalangan Kang-Ouw seumumnja!
"Betul2 kurang adjar matjan-hitam itu!"
Menggumam, hatinja terasa panas.
Lalu tak seberapa lama kemudian datang menghadap Pek Bie Sien, seorang kaja jang berusia setengah tua, sikapnja sangat simpatik.
Sambil hampir menangis ia menuturkan berita jang disampaikan dari pemilik hotel, bahwa keselamatan anak-gadisnja sedang terantjam, maka ia mohon pertolongan Tihu untuk melindunginja.
"Berita itu akupun baru sadja mendengarnja!"
Berkata Tihu.
"Itu satu antjaman kurang adjar dari harimau-hantu! Meski Pek Wan-gwee tidak memintanjapun, akan aku bersiap melindungi keselamatan rumah tanggamu, karena itu adalah mendjadi tugasku! Mulai malam nanti rumahmu akan didjaga tentara bersendjata se-kuat2nja, dengan demikian Wan-gwee tak perlu merasa tjemas lagi!@ "Terima kasih, Lo-ya!"
Djawab Pek Bie Sien.
"Tetapi sementara itu aku mau berdjandji, barang siapa jang dapat melindungi keselamatan djiwa anakku bila benar2 ada bahaja, dengan hati iclas aku akan menjerahkan anakku untuk didjadikan budak ataupun diperisterikan!"
"Pikiranmu itu baik sekali, tetapi lebih baik lagi bila kau tidak menghadapi malapetaka!"
Kam Tihu memenuhi djandjinja.
Malam itu rumah Pek Wan-guee didjaga dengan sangat kuatnja.
Pradjurit2 bersendjata berada disekitar rumah dan setiap saat siap waspada dengan sendjatanja.
Seorang pradjurit berkata pada kawannja.
"Pek Giok Im seorang gadis amat elok lagi terpeladjar, dapat diumpamakan sebagai kumala-hidup! Sungguh disajangkan bila dia mesti mendjadi kurban dari perbuatan harimau-hantu jang terkutuk itu! Tjoba dengarkanlah, sedari pagi Pek Siotjia terus menangis sadja disamping ibunja dan para pelajan. Ratapnja demikian memiluhkan, membikin aku jang mendengarnja hatiku dirasakan seperti hantjur!"
"Akupun tak sampai hati membiarkan dia berduka!"
Sahut temannja.
"Aku rela berkurban asalkan Pek Siotjia dapat diselamatkan!"
"Semoga aku nanti dapat berbuat kebaikan baginja apabila benar2 ada harimau-iblis hendak bertingkah!"
"Djadi kau bermaksud merebut hadiah jang didjandjikan Pek Wan-gwee?""
"Tentu! Alangkah beruntungnja bila aku mendjadi menantunja. Bukankah aku masih budjangan, dan membutuhkan rumah tangga?"
Pertjakapan mereka dapat didengar oleh seorang tua tak dikenal, jang sedjak beberapa djam berselang nongkrong didekat rumah Pek Wan-gwee.
Dia seorang tua bermuka buruk, punggungnja bungkuk, pakaiannja tjabik2, menjerupai orang minta2, membawa sebuah bungkusan kain usang disangkutkan pada sebatang kaju sematjam tongkat.
Demikian buruknja, sehingga mendjidjikkan siapa jang melihatnja.
Hanja kedua matanja sadja ber-sinar2 tadjam berpengaruh.
Adanja si Bungkuk itu tidak ada jang taruh perhatian, mereka menganggap ia hanja seorang pengemis biasa jang banjak terdapat dipasar2.
Bagi penduduk Thian-tay, ia merupakan seorang asing dan sebagai pengemis, baru hari itu sadja dilihat orang.
Ada seseorang bertanja padanja dari mana asalnja, dan siapa namanja.
"Entahlah dari mana asalku! Tetapi bila orang iseng2 hendak mengetahui namaku, panggil sadja aku si Bungkuk! Tjukup!"
Djawabnja.
Biasanja seorang pengemis mengharapkan pemberian orang, tetapi sikapnja pengemis Bungkuk itu malah sebaliknja angkuh dan sombong!
Benar2 aneh.
Seperti orang2 lain, iapun telah banjak mendengar tentang peristiwa2 jang terdjadi di Thian-tay selama sebulan jang terachir itu.
Dan bagaimana penduduk dalam kebingungan dan ketakutan, serta kesedihan jang melimpah para keluarga jang kehilangan anak2-gadisnja, jang hingga kini belum dapat diketahui bagaimana nasib-nja.
Apa perasaan dan kesimpulan si Bungkuk mengenai peristiwa2 hebat itu, tak seorangpun mendapat tahu.
Ia hanja meng-geleng2kan kepala sambil menggumam dengan wadjah merahpadam.
"Suatu kedjahatan terbesar jang pernah terdjadi dalam sedjarah! Orang jang seharusnja bersuka-ria mendjelang datangnja musim semi, telah dibikin bingung dan ketakutan, bahkan mentjutjurkan air mata! Oh, benar2 kedjahatan jang tak dapat dibiarkan,"
Ia menggerutu seorang diri.
Mendjelang petang, si Bungkuk mendekati rumah Pek Wan-Gwee, ia minta bertemu dengan tuan-rumah, katanja untuk memperbintjangkan soal penting.
Seorang budak jang agak sombong melemparkan sebungkus makanan padanja sambil menggerutu.
"Pengemis jang tak punja otak, bisanja datang minta sedekah, membikin orang jang sedang ditimpah kesedihan djadi bertambah djengkel sadja! "
Si Bungkuk bersikap sabar, ia tidak gusar.
"Salah besar pandanganmu terhadap aku!"
Sahut si Bungkuk.
"Djanganlah kau hanja melihat rupa huruk dan pakaian mesum, lalu melemparkan sedekah sambil marah!! Bersedekah dengan hati tak rela, sama halnja seperti seorang memberi sesuap nasi dengan sebatang golok! Aku bukan pengemis sembarang pengemis! Tetapi sudahlah, bawalah aku menghadap kepada madjikanmu!"
"Madjikan sedang berduka-tjita!"
Bentaknja budak itu.
"Aku tahu! Djusteru sebab itulah aku perlu menemukan padanja!"
"Apa perlunja kau menemui madjikanku? Kau akan menambah kedjengkelan madjikanku sadja nantinja!"
"Djengkel atau tidak, tak perlu kau pusingkan. Soalnja, bawalah aku menghadap padanja! Nanti kuberi persen jang lumajan! kepadamu."
Budak itu memandang dengan keheranan.
Ia menganggap si Bungkuk selain pengemis, djuga barangkali miring otaknja.
Tetapi kemudian ia melaporkan djuga pada madjikannja tentang orang buruk itu.
Pek Wan gwee seorang baik budi-pekertinja, djuga banjak pengetahuannja.
Mendengar tentang si Bungkuk itu ia mendapat anggapan, tentu ada sesuatu jang luar biasa.
Maka ia keluar mendapatkan tamu jang gandjil itu, dan mengundang masuk keserambi dalam.
Kelakuannja itu membikin semua orang ter-heran2.
"Terima kasih atas kebaikanmu, Wan-gwee!"
Udjar si Bungkuk sambil mendjura dalam, hingga punggungnja bertambah melengkung.
"Memang aku tahu, akan beginilah sambutan Wan-gwee, itu sebab-nja aku berani minta berdjumpa!"
"Dan soal apakah jang dibawamu kemari?"
Bertanja Pek Wan-gwee seraja menatap tamunja.
"Penting djuga, Wan-gwee! Tetapi aku mohon dapat kita berbitjara empatmata sadja!"
Pek Wan-gwee menjuruh semua pelajannja berlalu. Iapun mendapat perasaan, tentu ada hal luar biasa jang hendak diberikan sitamu Bungkuk.
"Aku telah mengetahui semua peristiwa jang menimpa pada segenap penduduk Thian-tay, dan kini giliran Wan-gwee akan mengalaminja!"
Mulai berkata si Bungkuk setelah dipersilahkan berduduk.
"Keselamatan Pek Siotjia terantjam, dan ini tak dapat dibiarkan sadja bukan?"
"Ja, tak kepalang sedihnja hatiku menghadapi ini!"
Djawab Pek Wan-gwee, kentara benar kerisauan hatinja.
"Untunglah Kam Tihu memberikan pertolongannja dengan pendjagaan tentara tjukup banjak disekitar rumah kami! Aku harap bentjana takkan datang menimpa keluargaku!"
"Tetapi bentjana akan datang djuga, sebagaimana buktinja telah njata! Namun mudah2an aku nanti dapat menghindarkannja. Aku ingin melindungi keselamatan rumah tangga Wan-gwee!"
"Kau?"
"Ja! Semoga aku ada kemampuan berbuat kebaikan sekedarnja! Orang telah menjerukan bantuan dari kalangan Kang-Ouw, tetapi agaknja harapan mereka akan sia2 b3laka sekalipun disertai djandji2 berharga."
"Namun karena sudah tjukup dengan bantuannja tentara pemerintah jang melakukan pendjagaan tjukup rapat dan kuat!"
"Sajang sekali, tenaga tentara jang sebanjak itu takkan ada faedahnja! Bentjana tetap akan masuk kedalam rumah ini seperti halnja dengan jang lain2!"
"Mengapa begitu? Dari mana kau mengetahui semuanja ini?"
"Dari kejakinanku sendiri; berdasar dengan bukti2 jang sudah ada, kebuasan harimau-hantu itu tak dapat dilawan dengan kekuatan sedjumlah tentara! Harimau-hitam itu bukan sedjenis machluk biasa!"
"Silumankah dia?"
"Manusia berselimut siluman!"
"Aneh!"
"Lebih aneh lagi perbuatan2nja jang menggondol anak2-gadis tak berdosa!"
Berkata si Bungkuk! "Itu suatu kedjahatan besar!"
"Benar! Sudah enam gadis hilang lenjap tak berbekas. Dan kurban ketudjuh jakni Pek Siotjia, harus dihentikan! Demikianpun kurban kedelapan, jang ditudjukan kepada puterinja Kam Tihu harus ditjegahnja djangan sampai terdjadi!"
"Bagaimana kau dapat tahu tentang semua hal ini?"
"Kam Tihu lebih tahu lagi, karena Hek Houw Sinbeng sudah pernah mertamu kerumahnja malam hari dan telah mengantjam kepala daerah itu".
"Kam Tihu tidak pernah mengatakan tentang hal itu!"
"Sudah tentu, sebab ia tak ingin membikin seluruh keluarganja mendjadi kalang-kabut dan suasana bertambah keruh!"
Pek Wan-gwee berdiam sedjenak untuk berpikir, ia beranggapan bahwa orang Bungkuk ini agaknja bukan orang sembarangan.
"Lalu bentuk apakah sebenarnja Hek Houw Sinbeng itu?"
Ia bertanja pula.
"Ini adalah soal nanti Wan-gwee!"
Djawab si Bungkuk.
"Jang penting sekarang aku hendak dapat kepastian, apakah Wan-swee mempertjajai bantuannja seorang tua buruk sebagai aku ini?"
"Mengapa tidak!"
Djawab Pek Wan-gwee.
"Setiap bantuan dapat aku terima dengan penuh rasa terima kasih! Dan aku pertjaja penuh akan kemampuanmu! Sudah pasti kau memiliki satu dan lain siasat jang besar gunanja!"
"Mudah2an demikian! Nah, malam ini adalah malam ketiga sedjak pentjulikan gadis she Thio, dan biasanja mendjadi ulangan harimau-iblis melakukan kedjahatannja. Betulkah demikian?"
"Benari"
"Dimana Pek Siotjia biasa tidur setiap malam?"
"Sedjak timbulnja pentjulikan gadis2, dia pindah kekamar lain, tidur bersama ibunja."
"Dimana kamar tidurnja jang dia biasa pergunakan?"
Pek Wan-gwee menundjukkan sebuah kamar diatas loteng.
"Tidurlah seperti biasa!"
Berkata pula si Bungkuk.
"Tak usah takut, aku akan menjertainja nanti, dan aku tahu tjara2 melindunginja!"
Pek Wan-gwee nampaknja ragu2.
Rasa kuatir membajang di-wadjahnja, kalau2 tjara jang akan ditempuh si Bungkuk akan berakibat sebaliknja.
Si Bungkuk tahu kebimbangan tuan-rumah, maka segera ia berkata dengan sungguh2.
"Aku girang djika Wan-gwee tidak mempunjai rasa tjemas! Pikirlah dengan tenang, bahwa tak mungkin aku akan menambah besarnja bentjana kalaupun itu masih dapat dihindari! Tempatkan sadja Siotjia dikamar-loteng seperti biasa! Aku bukan seorang jang biasa murah berdjandji, kalaupun aku tak tahu tjara2 untuk melindunginja! Dan aku harap Wan-gwee dapat membulatkan pikiran untuk hasil2 menggembirakan. Sekarang pesanku jang harus ditaati betul2, ialah bahwa tak diperbolehkan budak2 ataupun petugas2 jang berdjaga melakukan satu tindakan atau mentjoba menghalangi perbuatan harimau-hantu bila benar2 dia muntjul. Sesuatu gerakan mereka jang sifatnja menentang akan menggagalkan rentjana kita!"
Pek Wan-gwee menganggukkan kepala.
Dalam bingungnja dan putus asa, ia main pertjaja sadja apa jang dikatakan sl Bungkuk jang baru dikenalnja itu, seorang tua bermuka buruk dan berpakaian mesum menjerupai pengemis.
Iapun sebenarnja belum tahu apa siasat jang akan dipergunakan atau kemampuan apakah jang dimiliki seorang tua seperti si Bungkuk itu, jang untuk berdjalan sadja agaknja sudah tak kuat.
Begitulah ia menjatakan akan menuruti pikiran dan kehendak si Bungkuk, dan menjiapkan barang hidangan serta arak.
Si Bungkuk berkata, ia tak pernah makan lebih dari semangkuk bubur-entjer, sedang arak ia tak mengenalnja.
Tibalah malam jang dinantikan, maka budak disuruhnja menjiapkan tempat tidur untuk si Bungkuk dikamar-loteng Pek Siotjia.
"Bukan disitu tempat tidurku nanti, dan akupun tak perlu kasur ataupun alat2 lainnja!"
Udjar si Bungkuk.
"Taruh sadja sehelai tikar disudut kamar, dibelakang pembaringan Siotjia. Dan djangan ada seorang teman Siotjia jang menjertainja!"
Pada mulanja Pek Giok Im menolak untuk tidur dikamar-loteng, karena takutnja. Tetapi si Bungkuk menghiburkannja.
"Bila Siotjia ingin selamat, tidurlah dikamar-loteng seperti biasa. Harimauhantu akan dapat menggondol Siotjia dengan mudah sekalipun Siotjia bersembunji ditempat lain dan didjaga seribu pengawal. Pertjajalah, Siotjia akan terdjamin keselamatannja selama ada aku si Bungkuk melindungimu!"
Achirnja Pek Giok Im me-maksa2kan ketabahannja, mau djuga ia tidur dikamar-loteng seperti biasa, dengan si Bungkuk meringkuk dibelakang randjang.
Api pelita sengadja diketjilkan.
Semua orang didalam rumah Pek Wan-gwee berada dalam kechwatiran dan djam2 merajap membawa bajang2 menakutkan.
Pek Wan-gwee ber-debar2 djantungnja di-tengah2 budak dan pelajan jang di tagan masing2 menjiapkan sendjata, sementara Pek Hudjin bersembahjang terus-menerus mohon keselamatan dan perlindungan bagi anaknja.
Suasana diluar sunjimentjemaskan, jang terdengar hanja bunji binatang2 malam di-kebun2 dan semak.
Achirnja terdengar bunji kentongan dipaluh satu kali.
Lantas terasa ada bertiup angin, makin lama makin santer dan menjebarkan bau anjir.
Disertai djuga suara raung membangun bulu roma.
Semua orang menggigil karena tiupan angin jang dingin, namun mereka memaksakan diri untuk berlaku tabah.
Dan mereka pun mengerti, angin djahanam itu adalah tanda dari akan muntjulnja bentjana hebat, seperti halnja sudah terdjadi beberapa malam ber-turut2.
Pek Giok Im adalah seorang gadis molek kebanggaan orang tuanja, dan pudjaan para pemuda.
Selain tjantik dan terpeladjar.
djuga pandai menjulam.
Umurnja lebih-kurang 17 tahun, puteri remadja.
Malam itu ia tak dapat memedjamkan mata sama sekali di tempat tidurnja.
Budak2 sudah disuruh memperkuat djendela-loteng dan pintu.
Baca Juga: Pendekar Pedang Pelangi 5
Baca Juga: Si Bangau Merah Kho Ping Hoo