Ceritasilat Novel Online

Si Bungkuk Pendekar Aneh 2

Eps 2 Si Bungkuk Pendekar Aneh - Boe Beng Giok

Baca online Si Bungkuk Pendekar Aneh - Boe Beng Giok

Cersil Si Bungkuk Pendekar Aneh - Boe Beng Giok.

Akan tetapi rasa takut dan ngeri terus menguasai otaknja, maka bagaimanapun ia dibudjuk agar berlaku tabah dan tak usah kuatirkan bahaja, namun ia tetap takut dan hampir menangis.

Lebih2 tatkala terdengar deru angin menerobos dari tjela2-djendela dan memukul kelambu, separuh njawanja terasa sudah terbang djauh.

Ia sangat gelisah dan bergidik tubuhnja.

Lantas orangpun djelas mendengar suara sesuatu jang aneh didekat djendela.

Suara sedemikian itu tak pernah terdengar sebelumnja, hingga djiwa Pek Giok Im jang tinggal separuh djadi berkurang lagi.

Kini selain terbangun bulu2 tengkuknja, djuga keringatnja keluar mengutjur membasahi sekudjur badan.

Akan mendjerit, ia tak berani.

Achirnja ia menarik selimut dan bersembunji didalamnja.

Sementara itu api pelita telah mendjadi padam, hingga kamar mendjadi gelap-gelita.

Dari tjelah2-djendela tampak ada sesuatu benda menerobos masuk, agaknja seperti asap, berwarna biru-tua, me-ngepul2 dengan tjepat hingga memenuhi kamal.

Lantas mennjumpai itu daun-djendela terbentang lebar, lalu melompat masuk dengan gerakan enteng sekali sesosok tubuh berukuran nesar dengan kedua sinar matanja menjerupai bola-api.

Njatalah dia si Matjan-hitam jang buas dan ganas, dengan kedua kaki-depannja harimau-iblis itu menjingkap kelambu, dan dengan mudahnja diangkatnja tubuh Pek Giok Im bersama2 selimutnja, dipanggul dipundaknja seperti lakunja seorang manusia biasa.

Dan dengan sekali melontjati djendela dia menghilang ditempat gelap Adalah si Bungkuk jang nongkrong dibalik kelambu dibelakang randjang sudah tahu djelas apa jang terdjadi didepan matanja.

Ia tahu benar bagaimana bentuk pentjulik-gadis jang sama ganasnja dengan seekor matjan raksasa, dan tahu betapa sebat dan tjekatan setiap gerakannja.

Ia menganggukan kepala berulangkali, dan mulutnja tersenjum.

"Hm, djadi begitulah udjud Hek Houw Sinbeng jang didalam maksud2 terkutuknja mengalih rupa mendjadi seekor harimau-hantu! Benar2 kurang adjar binatang itu!"

Segera djuga si Bungkuk membuka bungkusannja jang dekil dan ditariknja sebilah pedang jang sinarnja ber-kilau2 ditempat gelap, lalu ia melompat djendela dan bagaikan burung entengnja melajang turun kehalaman luar.

Kedua matanja jang tadjam luar biasa tahu kemana larinja sosok tubuh harimau-hantu itu.

Ia dapat lari seperti terbang, namun agaknja ia sengadja memperlambat langkah kakinja, ia terus membajangi dibelakang harimauhantu.

Dan tak lama kemudian anginpun mereda.

Sementara itu harimau-iblis jang tak mengetahui dibelakangnja ada orang jang menguntitnja, enak2 melarikan kurbannja jang dipanggul diatas pundaknja, melalui tegalan2 jang pandjang, achirnja memasuki hutanbambu.

Djalan2 jang gelap dan banjak tumbuh2an malang-melintang tak merupakan gangguan baginja, ia dapat melaluinja dengan leluasa.

Kurban jang dipanggulnja tak tampak bergerak sedikit djugapun, se-olah2 barang mati sadja.

Satu hal jang aneh, harimau-hantu itu dapat berdjalan dengan hanja kedua kaki belakang seperti halnja selama bertarung dengan Tjio Han Boe dengan Kedua kawannja diatas perbukitan Goe-thauw-nia beberapa malam berselang!

Keanehan itupun dapat disaksikan oleh mata si Bungkuk jang lihay.

Kira2 4 lie matjan-hitam lari seperti terbang menuruti djalan2 lembah jang ber-liku2, menjeberangi anak-sungai.

Kaki bukit Goe-thauw-nia sudah dilalui, tetapi ia terus sadja menudju kearah Selatan.

Kembali ada sebuah hutanbambu, dan dari sinilah ia memasuki sebuah djalan ketjil jang sangat gelap, membelok ke Barat hingga sedjarak 1 lie.

Ia berhenti sebentar, mulutnja berkemak-kemik, lalu sekedjap mata terbentanglah sebuah pintu-batu.

Ia masuk, dan pintu-batu itu tertutup kembali.

Si Bungkuk sudah berada didepan pintu-batu itu, jang ternjata sebuah mulut gua.

"Hm, ternjata disinilah sarangnja!"

Ia berkata seorang diri.

"Sarang jang tjukup sentosa untuk orang mengerdjakan sesuatu jang gandjil!"

Si Bungkuk tidak berniat meminta tenaga bantuan anak-buahnja pembesardaerah, karena hal itu akan memperlambat usahanja, jang mungkin akan mendjadi gagal pula.

Ia harus turun tangan sendiri dan setjara tjepat.

Ia mentjoba menarik pintu-batu itu, tetapi tak tergojahkan.

Terlampau kokoh pintu-batu itu, dan mungkin ada alat-rahasia jang membuatnja tak sembarang tenaga dapat membukanja.

Tetapi tak sia2 si Bungkuk sebagai seorang pendekar dan kepada Pek Wangwee ia sudah berdjandji akan menjelamatkan djiwa anaknja, Pek Giok Im, dari bahaja.

Begitulah ia membentangkan kedua djari tangan kanannja, dan melesatlah sebuah sinar putih bergemerlapan menggempur pintu-batu.

Tampak pintu-batu itu se-olab2 dibakar, membara sekelilingnja dan sesaat kemudian luluh dan mendjadi tjair.

Si Bungkuk mendjadi gembira, lalu berdjalan masuk kedalam gua jang gelap itu.

Dengan matanja jang terangawas ia dapat terus mengikuti djedjaknja harimau-hantu, jang kini menghilang disatu lapisan dinding 2 gua dari batu karang.

Lantas tiba2 terdengar suara beberap orang ber-tjakap2, maka si Bungkuk menghentikan langkah kakinja, dan mentjari lubang untuk mengintip.

Dilihatnja disebelah sana merupakan sebuah ruangan tersendiri jang tjukup luas, dan dibeberapa dinding dipasang pelita2, hingga keadaannja dapat dilihat tjukup njata.

Ruangan itu mempunjai sebuah pintu lebar, diatasnja bersuratkan huruf2

"Pendopo-sutji". Disebelah kanan ada sebuah kamarbatu, diatas pintunja bertuliskan "Ruang-pemudjaan", kamar disebelah kiri berhuruf "Djalan-menudju-sorga". Disudut depan terletak sebuah medja dengan satu kursi beralaskan kain-hitam bergambar matjan-hitam. Sepasang lilin jang menjala ada dipinggir medja kanan dan kiri, mengapit sebuah mangkuk besar berisi beberapa matjam bidji2an hasil-bumi, diatasnja menjala sedjumlah dupa jang asapnja me-ngepul2 memenuhi ruangan. Disampingnja terletak sebuah bokhie. Si Bungkuk masih keburu melihat, harimau-hantu menjerahkan bungkusan selimutnja pada dua orang kepala-gundul, jang segera dibawa masuk ke "Ruang-pemudjaan". Dua orang kepala-gundul lain berdiri tegak dikanan-kiri Matjan-hitam dengan sikap seperti anak-buah jang sedang menunggu perintah. Barulah terdengar suara barimau-hantu katanja.

"Semua sudah disiapkan, It Ban?"

"Sudah, Toa Hoosiang!"

Sahut orang jang disebut It Ban.

"Ruang-pemudjaan"

Dan "Djalan-menudju-sorga"

Sudah siap segalanja?"

"Tanpa Toa Hoosiang perintah, Teetju mengerti apa jang harus dikerdjakan pada malam ke-tudjuh ini!"

Djawab murid Hweeshio Too Khak.

"Bagus! Nah, sekarang bakarlah tudjuh batang hio dimedja upatjara pertama itu. Aku akan segera liam-kheng!"

"Tetapi Toa Hoosiang, apa namanja anak-perawan jang akan disutjikan ini? Perlu didaftar namanja!"

"Oh ja, namanja Pek Giok Im! Memang inilah auak-perawan jang aku intjar betul! Pek Giok Im berarti Kumala-putih, perempuan jang akan membawa chasiat paling utama dalam penjempurnaan Kui-liong-kiam pada malam ketudjuh ini! Memang Thian menjertai kita, hingga didaerah inilah kita mendjumpai bahan2 roh paling sutji untuk pekerdjaan besar kita!"

Segera Too Khak membakar 7 batang hio, dan harimau-hantu melakukan upatjara sembahjang dimedja upatjara-pertama itu, berlutut 24 kali kemudian berduduk dikursi beralaskan kain-hitam Hek Houw, mulutnja berkemak-kemik membatja mantera, tangan kirinja menghitung bidji2 tasbih, tangan kanannja memainkan bok-hie.

Selama upatjara itu, kedua murid Hweeshio It Ban dan Too Khak berdiam diri disebelah kiri dan kanannja matjan-hitam.

Tetapi dengan mendadak Harimau-iblis nampaknja terkedjut.

"Bersiap menjambut tamu jang tak diundang itu dibalik pintu! Hajo lekas!"

Ia menjerukan kedua anak-buahnja.

It Ban dan Too Khak mendjadi kaget, mereka segera menjamber golok, dan kedua2-duanja berdjalan keluar.

Si Bungkuk mendjadi kaget djuga, ternjata harimau-hantu itu sangat lihay, tahu bahwa ada seorang tamu tak diundang memasuki guanja.

Ia sudah mengambil ketetapan, seorang diantara kepala-gundul itu, mereka harus dibinasakan terlebih dahulu.

Begitulah pedangnja sudah menjongsong Too Khak jang berdjalan dimuka, jang rupanja belum tahu betul dimana tempat sembunji tamu jang tak diundang itu.

Dalam terkedjutnja Too Khak terlambat menangkis sambaran pedang jang se-konjong2, hingga kutunglah tangan kanannja, dan selagi ia berlambat pula untuk menarik diri, tusukan jang lain sudah menjusul keiganja, maka dengan teriakan ngeri Too Khak roboh dan djiwanja melajang.

"Djahanam dari mana begini kurang adjar hah?"

Berteriak It Ban jang kepalanja mengkilap karena ditjukur kelimis.

Sembari berseru sembari membatjok si Bungkuk.

Tjukup seru batjokannja, ditudjukan kedada, namun si Bungkuk sudah menangkis dengan pedangnja, hingga bunji beradunja dua sendjata terdengar njata.

"Aku kira siapa jang berani datang masuk setjara menggelap, tak tahunja hanja orang bungkuk jang mesum,"

Berseru pula It Ban, goloknja membatjok pula leher orang jang bungkuk punggungnja itu.

Si Bungkuk tak melajani edjekan si-kepala-gundul, ia terus melantjarkan serangannja.

Sekalipun It Ban tampaknja tjukup tangkas dan gesit gerakannja, namun serangan2 jang dilantjarkan lawannja tidaklah mudah dapat dilajani, agaknja ia belum tjukup mahir dalam ilmu gisiauw, pun kurang pengalaman, maka tjepat sekali ia kehilangan keseimbangannja menghadapi musuh setangkas si Bungkuk jang memutarkan pedangnja demikian tjepatnja hingga sinarnja sadja jang kelihatan ber-kelebat2.

Achirnja It Ban tak mampu memberikan perlawanan lebih lama dari beberapa gebrakan, sekarang ia lebih banjak mundur dari pada melawan.

Satu ketika jang terluang dipergunakan untuk meninggalkan gelanggang, akan tetapi si Bungkuk jang sudah bertekad tak memberi kelonggaran pada manusia2 jang berbuat kedjahatan, sudah menggunakan kesempatan itu menerdjang sambil mengirim satu tusukan tadjam kearah pinggang, hingga sikepala gundul itu berkaok dengan hebat, lalu roboh.

Si Bungkuk hendak menghadjar harimau-iblis, tetapi Matjan-hitam itu sudah tak kelihaian bajangannja.

Sedang demikian dua orang kepala-gundul lain muntjul dari "Ruang-pemudjaan", jang seorang menghunus golok, jang lain sebatang toja pandjang.

"Kau membunuh dua orang kawanku, bangsat, kini kami menuntut balas!"

Berteriak salah seorang Hweeshio itu, jang serentak menerdjang dengan tojanja.

Hweeshio lainnja menusuk dengan goloknja dari samping, mengarah pinggang.

Si Bungkuk tak mendjadi gugup diserang berbareng oleh kedua musuh.

Toja jang mendatangi dihantam dengan pedangnja, dan kaki kanannja mendupak tangan Hweeshio jang bersendjata golok.

Kedua kepalagundul itu bertambah marahnja, lalu ke-dua2nja menjergap dengan penuh kesengitan.

Maka bertarunglah ketiga musuh itu, makin lama makin hebat.

Bagi si Bungkuk kedua lawan gundul itu belum merupakan tandingan setimpal, kepandaiannja kedua kepala gundul itu tidak terpaut terlalu banjak dengan It Ban dan Too Khak, bahkan orang jang bertoja itu lebih rendah pula kemampuannja.

Si Bungkuk hanja chawatir kalau2 disebelah dalam masih ada musuh2 lainnja, terutama si Harimau-iblis jang sekarang ternjata benar2 bukan seekor matjan sesungguhnja.

Maka untuk memperketjil djumlah lawan, ia harus dapat membereskan kedua musuh itu setjepat mungkin.

Demikianlah lalu diperhebat perlawanannja.

Pedangnja diputarkan terlebih tjepat, kakinja tak lupa dikerdjakan mendupak dan menendang lawan jang terlebih dahulu dilumpuhkan adalah orang jang bertoja jang di-saat2 berikutnja mendjadi ngawur tjara2 menjerangnja.

Berbeda dengan kawannja jang bersendjata golok, jang sangat ulet dan tangkas, dapat memberi perlawanan djauh lebih teratur, malah kadang2 dapat membalas menjerang, membikin si Bungkuk terpaksa melontjat kesana-sini dengan tjepat.

Akan tetapi ketangkasan Hweeshio jang bersendjata golok itu tjuma merupakan suatu penundaan pendek, karena sesaat kemudian, setelah kawannja dirobohkan dengan satu tikaman dibawah ketiaknja hingga djiwanja melajang seketika, segera ia mendjadi petjah njalinja.

Ia tak dapat berlagak lebih lama lagi, tadjam pedang si Bungkuk sudah menjabet daun kupingnja, hingga dengan mendjerit kesakitan ia melompat djauh dan lari tunggang-langgang.

Si Bungkuk belum keburu membersihkan pedangnja jang berlumuran darah, karena seketika itu djuga keluar seorang kepala-gundul lain dengan djubah warna abu2 dan ditangannja menghunus sebuah pian.

"Kami tak pernah menjusahkan kau, kenal sadja pun tidak, tetapi kau rupanja hendak tjoba2 mendjadi pembela masjarakat dan menentang aku! Oh, manusia bungkuk, bila kau tahu, bahwa kau berhadapan dengan Tjabangatas dari Sungai-hitam, maka sebaiknja kau segera meninggalkan tempat ini untuk kau dapat menjelamatkan dirimu! "

Ketika si Bungkuk mengangkat kepala, njatalah kepala-gundul itu Tong Hong Hweeshio adanja!

Si Bungkuk agaknja belum mengerti benar, ada hubungan apakah kepala Paderi itu dengan si Harimau-iblis jang biasanja disebut Hek Houw Sinbeng.

Adakah benar, bahwa Hek Houw Sin-beng kini sedang memperalat Tong Hong Hweeshio untuk pekerdjaannja mentjulik anak2-gadis, atau benar2kah anak-anak-gadis itu dikurbankan untuk rohnja dikirim keatas langit?

Satu hal jang aneh adalah, menurut kabar2 jang disampaikan sedjak Hek Houw Sinbeng memulai pekerdjaannja pada malam pertama, orang gundul itu menderita sakit.

Tetapi sekarang njatanja ia tinggal segar-bugar dan tangkas sebagai biasa.

Kedjadian2 jang dihadapi menimbulkan keheranan si Bungkuk, dan ia bimbang menghadapi kenjataannja.

Akan tetapi ia tak dapat lama2 berpikir, karena Tong Hong Hweeshio segera menjerang dengan piannja menimpa kepala.

Ia tjepat-tjepat memiringkan kepalanja menghindari serangan.

Tetapi Tong Hong Hweeshio rupanja tak mau membuang waktu, atau mungkin ia sudah tahu kelihayan lawan jang belum dikenal itu, maka ia menjusuli dengan tendangan kaki mengarah lutut si Bungkuk jang masih belum ditarik.

Namun si Bungkuk sungguh2 sangat tangkas dan tjekatan, dengan mudahnja ia dapat pula mengelakkan dupakan musuh, malah selagi badan sikepala gundul bergerak madju, ia membarengi menusuk ulu hati, hingga dengan sangat gugup sekali Tong Hong Hweeshio melompat kesamping, sambil membalikkan badan balas membatjok.

Begitulah kedua orang itu segera bertempur dengan seru.

Mereka berimbang kepandaiannja.

Letik2an api dari bentroknja kedua sendjata memuntjrat dibarengi suara gemerontang jang njaring memekakkan telinga.

Beberapa puluh djurus telah berlangsung dengan kedua pihak masih sama unggul.

Jang dapat dibedakan hanja ilmu kepandaian kedua pihak.

Persilatan si Bungkuk ada dari tjabang Siao-Lim-pay, sementara sikepalagundul dari kalangan Kong-tong-pay.

Bitjara perihal deradjat persilatan kedua tjabang itu sukar dikatakan mana jang lebih sempurna.

Baik persilatan Siao-lim-pay.

Kun-lun-pay, Bu-tong-pay, maupun lain2nja memiliki kebagusannja dan keistimewaannja sendiri2, kesemuanja bergantung daripada orang jang mejakinkannja.

Apabila seorang murid Siao-lim-sie tak mejakinkan dengan sungguh2 dan tidak tjukup mahir, dia takkan dapat mengatasi lawan dari golongan persilatan lain jang telah mahir ilmu silatnja.

Sama halnja dengan si Bungkuk dari Siao-Lim-pay dan Tong Hong Hweeshio dari pihak Kong-tong-pay.

Didalam banjak hal si Bungkuk nampaknja terlebih lihay, baik mempergunakan pedangnja maupun daja tempurnja, djuga memiliki ilmu kiam-sut hingga dapat menghantjurkan pintu-batu gua.

Akan tetapi dipihak lawannja pun mempunjai keistimewaan dalam tjara bersilatnja, begitulah Tong Hong Hweeshio memiliki tjara2 berkelahi jang mau tak mau membikin si Bungkuk mendjadi kagum karena keluarbiasaannja, hanja dalam hal kegesitan Tong Hong Hweesbio kalah daripada lawannja, karena tubuhnja jang langgu besar, sebaiknja si Bungkuk tubuhnja ketjil dan kurus.

Begitulah berulangkali Tong Hong Hweeshio dikedjutkan oleh gempuran2 si Bungkuk jang mendadak dan tjepat, hingga seringkali ia mendjadi gugup dan hampir2 kena dilukai lawannja.

Si Bungkuk mempermainkan lawannja dengan tipu2 serangannja jang hebat mengagumkan.

Sekali si Bungkuk menusukkan pedangnja mengarah leher, Tong Hong Hweeshio memiringkan ke-sang lawan menarik kembali sendjatanja dan diteruskan menusuk keperut jang luang, maka sikepalagundul ter-gopoh2 menggulingkan diri, kesempatan jang baik itu digunakan si Bungkuk menendang badannja jang gemuk, hingga Tong Hong Hweeshio berkaok kesakitan.

Akan tetapi si Bungkuk tidak meneruskan membinasakan lawannja jang belum sempat bangun itu, ia hanja tertawa ber-gelak2.

Tong Hong Hweeshio jang ditertawai lawannja itu, mendjadi panas hatinja, ia segera bangun kembali dan dengan nekadnja menerdjang lawannja seperti kerbau gila.

Maksud si Bungkuk hendak membikin Hweeshio jang gendut perutnja itu mendjadi lemas dan lelah dengan kegesitan tubuhnja, ia terus mempermainkan si Hweeshio gendut itu.

Demikianlah Tong Hong Hweeshio lambat-laun tenaganja telah banjak berkurang, sekudjur tubuhnja basah dengan keringat.

"Kurang adjar benar si Bungkuk ini!"

Ia menggerutu, marahnja me-luap2.

"Terlalu ulet dilawan dengan tenaga dan tak mungkin aku dapat mengatasinja!"

Ketika melihat tempat luang, sikepala-gundul itu segera melompat mundur.

Ia mengambil sebuah benda ketjil dari dalam kantong badjunja, lalu dilontarkan kearah lawannja jang diserang dari atas, tengah dan bawah.

Sendjata itu memantjarkan tiga warna jang menjilaukan mata.

Si Bungkuk mendjadi terkedjut, ia tahu sendjata rahasia itu jalah Sam-sekhwee jang bisa meledak kalau dapat menjentuh sasarannja, sekalipun badja, akan hantjur djuga.

Ia insjaf, kepala-gundul itu memiliki sendjata rahasia jang ampuh itu.

Sam-sek-hwee itu tak mungkin dapat dilawan dengan pedang.

Akan tetapi si Bungkuk tidak gampang2 mau menjerah, ia mengerti tjara2 memunahkan sendjata jang berbahaja itu.

Begitulah dengan luar biasa tjepatnja ia lari ketempat majat seorang Hweeshio, jang segera diangkatnya didjadikan perisai atau umpannja sendjata itu.

Majat Hweeshio itu telah mendjadi korban Sam-sek-hwee dengan tubuh hantjur lebur.

Tong Hong Hweeshio mendjadi sangat kaget.

Ia tak menjangkanja si Bungkuk demikian tjerdasnja memusnahkan sendjatanja jang ampuh itu.

Maka berkobar2lah kemarahannja dan diterdjangnja pula musuh jang litjin itu, hingga kembali terdjadi pertempuran sengit.

"Tiada gunanja sekarang kau ber-lagak2 karena tak mungkin kau akan dapat menjelamatkan djiwa andjingmu!", bentak si Bungkuk sembari me-mutar2 pedangnja.

"Sudah djelas kau seorang Hweeshio terkutuk, dan rahasia Hek Houw Sinbeng jang kau per-djual-belikan kini telah terbongkar. Nah terimalah pedangku!"

Dengan ketjepatan kilat si Bungkuk menikam perut Tong Hong Hweeshio.

Sikepala-gundul itu masih keburu menangkis dan membalas dengan satu pukulan mengarah leher sang lawan.

Si Bungkuk menarik pulang pedangnja untuk diteruskan membabat tangannja Tong Hong Hweeshio.

Untunglah sikepala-gundul mempunjai djuga ketjepatan, ia masih dapat menjelamatkan diri dengan satu lompatan djauh.

Si Bungkuk tidak memberikan ketika untuk musuhnja bernapas, ia melantjarkan serangan ber-tubi2, sehingga sikepalagundul mendjadi terdesak betul2 kesatu podjok.

"Lemparkan sendjatamu itu dan menjerah, Hweeshio durhaka! Atau aku bunuh kau sekarang!", berseru si Bungkuk. Tong Hong Hweesbio rupanja tidak mau mati sia2. Ia harus mentjari djalan lolos. Demikianlah benar2 ia mendapat kesempatan bagus, tatkala ia dapat mengelakkan tusukan-maut lawannja, serentak ia lari masuk ke "Ruangpemudjaan". Pintu-batu segera ditutup dari dalam. Si Bungkuk tak dapat membukanja, ia segera menggerakkan tenaga dalamnja menggempur pintu batu itu jang lantas terpukul hantjur. Ia tahu, di "Ruangpemudjaan"

Itulah gadis Giok Im berada. Tetapi baik gadis itu maupun sikepala-gundul sudah tak kelihatan bajang2annja. Ia mendjadi heran, sebab didalam "Ruang-pemudjaan"

Tak ada pintu lainnja.

"Ruang-pemudjaan"

Itu terdiri dindjng2-batu belaka, dimana terdapat sebuah medja lengkap dengan alat2 sembahjang, dan sebuah kursi.

Diatas medja terletak sebuah pedang jang amat tadjam.

Tak ada alat2 atau perabotan lainnja.

"Tetapi ia bukan hantu atau iblis jang bisa menghilang setjara begitu sadja!"

Ia berpikir.

Dengan teliti ia memeriksa seluruh ruang itu, ia dapatkan medja sembahjang itu letaknja tak benar.

Djuga ada sebuah tjangkir terletak dilantai, sedang tjangkir lainnja diatas medja.

Tentulah medja itu tersentuh dan terdjatuhlah tjangkir itu.

Ketika ia memeriksa kolong medja, ia tampak lantai-papan persegi-empat, kedua engsel-nja menondjol.

"Inilah pintunja!", ia berseru. Segera diangkatnja papan persegi itu, dan ternjata ia menemukan sebuah pintu dibawah tanah. Ada anak-tangga dari batu. Kesitu turun, lalu sampai disebuah ruangan agak gelap. Tetapi matanja jang lihay melihat sebuah djalan terowongan membudjur kedepan. Dengan tak takut2 ia memasuki djalan-lorong itu jang ternjata tjukup pandjang dan tak ada penerangan. Tetapi ia madju terus, makin meninggi. Achirnja habislah djalan-lorong itu, dan kini ia muntjul di bawah sebuah medja-pandjang berlantai djubin.

"Astaga, Seng-ong-bio!"

Ia berseru heran Ia jakin, Tong Hong Hweeshio tentu sampai djuga kesitu, karena dari "Ruangpemudjaan"

Tak ada djalan lain. Kini, njatalah lorong dibawah bukit Goethauw-nia mendjadi lalu-lintas dibawah tanah jang dapat menghubungi Seng-ong-bio.

"Sekarang teranglah pusat kedjahatan dimulai dari sini!"

Berkata ia dalam hatinja.

"Dari geredja terus ke Goe-thauw-nia! Dan pendjahatnja bukan lain daripada sikepala-gundul itu, Tong Hong Hweeshio jang terkutuk!"

Ia terus mentjari si pendjahat gundul itu.

Kamar2 geredja di-tutup rapat, dan sampai begitu djauh tak terdengar ada gerakan apa2.

Pintu2 geredja terkuntji dari sebelah dalam, menandakan Tong Hong Hweeshio belum lari keluar.

Namun kepala gundul itu tak dapat ditemukan didalam klenteng.

"Litjin benar pendjahat-gundul itu!"

Sambil berkata si Bungkuk membukakan pintu geredja sebelah depan dan melompat keatas genteng.

Ia bermaksud mentjari tahu, kalau2 Tong Hong sudah lari keluar.

Malam sangat gelap, tetapi mata si Bungkuk benar2 luar biasa tadjamnja, didjurusan Barat tampak sajup2 sesosok tubuh orang sedang ber-lari2 agaknja memanggul suatu beban dipundaknja.

"Tentulah sikepala-gundul Tong Hong, gajanja sama dengan si harimau-hantu ketika memanggul bungkusan jang berisi gadis Giok dari rumahnja!"

Pikir si Bungkuk.

Seketika itu ia segera melajang turun dari genteng dan dengan ilmu laritjepat ia mengedjar bajangan disebelah depan.

Setelah mengedjar kira2 3 lie ia dapat menjusu] bajangan itu, jang telah djelas bukan lain memang sikepala-gundul.

"Hei, Hweeshio djahanam, berhentilah, didepan sudah tak ada d jalan lagi untuk kau dapat kabur lebih djauh!"

Berseru si Bungkuk.

Tong Hong Hweeshio tambah mempertjepat larinja, dan si Bungkuk pun makin kentjeng mengedjarnja.

Tetapi ia tidak mau membuang2 tenaga berkedjar2an, maka segera diambilnja sebuah piauw dari saku badjunja dan segera dilontarkan, tapi meleset, piauw kedua menjusul.

Kini terdengar djeritan Tong Hong Hweeshio, jang lantas melemparkan bungkusanselimutnja ketanah, dan terus kabur seperti andjing kena pentungan, hingga sekedjap sadja ia menghilang dari pandangan mata pengedjarnja Si Bungkuk tidak mengedjar terus, ia menghampiri dan memeriksa bungkusan selimut jang kini terletak diatas perumputan.

Ketika diteliti, ternjata bamgkusan selimut itu berisi Giok Im siotjia jang masih didalam di dalam pingsan.

Untunglah tadi dia tidak dilemparkan dibatu jang banjak terdapat disitu, hingga tidak mengalami bentjana.

Si Bungkuk berpendapat lebih penting menolong gadis itu.

Ia segera pondong gadis itu bersama selimutnja, bagian mukanja sadja dibuka, agar mendapat hawa sedjuk.

Demikian enteng dan ringannja ia memondongnja dibawa lari sampai ke Thian-tay.

Ia tahu, Pek Giok Im hanja pingsan akibat pengaruh dupa-pemabuk dari Tong Hong Hweeshio.

Ia menganggap Pek Giok Im belum tahu peristiwa jang menimpah dirinja, karena sebelum Tong Hong Hweeshio memasuki kamarnja, gadis itu sudah dibikin lupa diri.

Sekarang ia menudju ke Timur, dan waktu itu haripun sudah hampir pagi.

Bukan kepalang bingungnja orang seisi rumah Pek Wan-gwee, karena sampai ajam berkokok dan fadjar mulai menjingsing, baik puterinja maupun si Bungkuk belum djuga kembali.

Beritanja sadja-pun tak ada.

Tak heran Pek Wan-gwee sekeluarga mendjadi sangat gelisah dan tjemas, terutama Pek Hudjin sudah menangis sadja sedjak semalam.

Menurut kata si Bungkuk dalam djandjinja, bahwa orang tak usah chawatirkan keselamatan Pek Giok Im.

Akan tetapi sampai hampir fadjar kedua orang itu belum lagi pulang.

Mengingat lihay-nja Hek Houw Sinbeng mentjulik anak2 gadis dan tiada satupun jang dapat kembali, maka timbullah ketjemasan Pek Wan-gwee akan keselamatan anaknja.

Lebih2 hilang kepertjajaannja kepada si Bungkuk jang nampaknja sangat lemah dan kadang2 tangannja bergemetar.

Mungkinkah si bungkuk dapat mengalahkan harimau-hantu jang sangat buas dan ganas serta sakti itu?

Pek Wan-gwee sedang kebingungan, isterinja datang sambil menangis menggerung2, katanja.

"Sedang tentara bersendjata jang gagah2 dan tangkas2 masih tak berdaja menghadapinja, kau begitu mudah pertjaja pada kakek2 bungkuk dan konjol itu. Sekarang apa djadinja? Anakku hilang, dan si Bungkukpun tak kembali! Giok Im-ku pasti takkan kembali seperti djuga gadis2 lain jang mendjadi kurban! Aku lebih suka kurbankan semua kekajaan kita daripada kehilangan anak jang tjuma satu2nja dan jang kutjintai! Sekarang apa daja? Hajo pergi melaporkan pada Tihu, dan minta pertolongannja! Hajo lekas!"

Dalam putus asanja, Pek Wan-gwee hendak menjuruh orang pergi melaporkan pada Kam Tihu.

Tetapi tepat disaat itu pembesar-daerah itu datang diiring beberapa orang opas.

Atas pertanjaannja, Pek Wan-gwee memberi keterangan apa jang telah terdjadi, sedjak kedatangan si Bungkuk, sampai disaat ada angin-iblis dan hilangnja Pek Giok Im beserta si Bungkuk dari kamar tidur diatas loteng.

"Hingga disaat ini anakku belum kembali bersama si Bungkuk itu, dan tak ada kabar-beritanja!"

Menambahkan Pek Wan-gwee, hatinja sangat berduka.

"Djika ku ingat kurban2 jang terdahulu, maka aku sangat takut............ takut Giok Im tak pulang untuk selamanja!"

Kam Tihu berpikir sedjenak. Kemudian ia minta pendjelasan perihal dirinja si Bungkuk, bentuknja dan tindak-tanduknja. Pek Wan-gwee lalu menuturkan se-djelas2nja.

"Tahukah Wan-gwee namanja pengemis itu?"

Bertanja Kam Tihu. Tidak, dia hanja menerangkan bahwa orang biasanja panggil dia si Bungkuk!"

Djawab hartawan jang sial itu.

"Aku meragukan bentang si Bungkuk itu!"

Achirnja Kam Tihu menjatakan kejakinannja.

"Tak seorangpun disini kenal padanja, dia baru hari itu sadja ia mienampakkan dirinja. Aku chawatir, djangan2 si Bungkuk itulah pentjulik gadis2 itu! Ia memakai muslihat demikian sekedar untuk menggampangkan pekerdjaannja malam ini untuk mentjulik Pek Siotjia!"

Pek Wan-gwee berdiam menatap muka kepala-daerah itu. Agak-nja ia terpengaruh dan sependapat dengan pengertiannja Kam Tihu itu.

"Djika demikian halnja, njatalah si Bungkuk itu manusia djahanam!"

Ia berseru, bertambah sedihnja.

"Aku telah tertipu!"

"Inilah salahmu sendiri jang mau main pertjaja pada sembarang orang, padahal dia pendjahat besar!"

Isterinja menjesali pula. Tetapi disaat itu, tiba2 terdengar seorang budak berseru di-bawah anaktangga loteng.

"Nah, itu dia Loo Too-pek sudah kembali! Dia baru turun dari loteng! Bagaimana kabarnja dengan Siotjia, selamatkah dia?"

Semua orang menoleh pada budak jang ber-seru2 itu.

Sementara dari atas anak-tangga loteng tampak si Bungkuk dengan selangkah demi selangkah bertindak turun dengan gajanja jang tak mempedulikan suasana disekitarnja, ia tampaknja sederhana dan tenang.

Ia menghampiri budak jang berseru tadi.

"Mengapa kau menamakan aku Loo-Too-pek? Kau belum pernah membikin selamatan untuk memberi aku nama, namun kau begitu lantjang memanggil aku demikian!"

"Maaf, karena aku tak tahu namamu, djadi dengan begitu sadja aku memanggilmu Loo Too-pek!"

Djawab budak itu.

"Aku maksudkan si Bungkuktua, atau Empe Bungkuk. Apakah kau merasa tersinggung?"

"Hm, ada2 sadja kau!"

Menggumam si Bungkuk.

"Baiklah aku setudju seterusnja kau memanggil aku dengan nama itu! Si Empe Bungkuk sadja, djangan ada embel2 lainnja seperti si Bungkuk-udang hah?"

"Baiklah, Loo Too-pek!"

"Eh eh, Kam Loya ada disini?!"

Berkata si Bungkuk atau Loo Too-pek tiba2. Iapun mendekati kepala-daerah itu untuk mendjura, hingga punggungnja jang sudah bungkuk mendjadi bertambah bungkuk.

"Maafkan aku jang tidak menjambut sedjak siang2!"

Kam Tihu memandang si Bungkuk dengan tadjam, dari atas sampai kebawah, keatas pula.

Tetapi tak ada kesan2 jang dapat menimbulkan ketjurigaannja terhadap orang bungkuk itu.

Si Bungkuk adalah seorang tua jang benar2 simpatik, rendah hati, dan bitjaranja pun sopan.

Kini Kam Tihu menganggukkan kepala.

Adalah Pek Wan-gwee jang tak sabaran.

"Kapankah Loo Too-pek kembali, dan dari mana djalannja?"

Tanja Pek Wangwee berturut.

"Dan bagaimana dengan anakku? Dimana dia? Oh, Thian, semoga anakku dilindungi keselamatannja!"

"Mengapa Wan-gwee djadi demikian rusuh dan ketakutan tak karuan? Pek Siotjia baik2 sadja, hingga kini dia masih tidur njenjak diatas loteng!"

"Masih tidur njenjak?"

Mengulang Pek Wan-gwee, seementara semua orang ternganga mendengarnja.

"Semalam dia bersama Loo Too-pek lenjap dari loteng, selimut anakkupun tak ada, dan pintu-djendela terbentang!"

"Sampai kinipun pintu-djendela masih terbentang lebar!"

Sahut si Bungkuk pula.

"Angin lembut membikin Pek Siotjia lelap dalam tidurnja! Mungkin semalam dia bermimpikan hal2 jang menjenangkan!"

"Djangan main2, Loo Too-Pek! Kau tahu, orang sedalam rumah bingung dan ketakutan! Hudjin malah menangis sadja sedjak semalam!"

Kam Tihu merasa adanja keanehan, maka ia mengadjak Pek Wan-gwee dan Hudjin tengok Pek Siotjia keatas loteng, sedangkan si Bungkuk beristirahat diserambi luar ngobrol2 dengan seorang budak.

Sekarang takdjub benar Pek Wan-gwee demi dilihatnja anak-gadisnja sedang tidur njenjak diatas tempat tidurnja berikut selimutnja djuga seperti biasa.

Tak ada tanda2 menguatirkan tentang Pek Giok Im.

Lalu ditjeritakan Pek Wan-gwee pada Kam Tijiu, bahwa semalam ia bersama Hudjin dan budak beberapa2 kali, melihat kamar tidur itu, namun baik anaknja maupun Loo Too-pek tak ada disitu, dan melihat daun-djendela jang terbentang, membangun dugaannja bahwa Pek Giok Im sudah digondol harimau-iblis, bahkan si Bungkuk tentunja mengalami djuga bahaja kalau bukan tewas djiwanja.

"Tetapi soal ini belum djelas apa jang sebenarnja telah terdjadi dengan Pek Siotjia semalam!"

Berkata Kam Tihu.

"Kita memerlukan keterangan dari Loo Too-pek. Marilah kita menemui padanja". Bersama kepala-daerah Pek Wan-gwee turun dari loteng, sementara Pek Hudjin tinggal menunggui anaknja.

"Masih banjak waktu kita mentjeritakan peristiwa semalam"

Berkata si Bungkuk.

"Pokoknja, asal djiwa Pek Siotjia dalam selamat, kita boleh merasa gembira. Tetapi jang penting sekarang kita pergi ke Goe-thauw-nia untuk menindjau, dan Kam Loya nanti dapat mengetahui semuanja. Tetapi orang2 jang lemah hatinja sebaiknja djangan ikut2 pergi kesana, karena dikuatirkan mereka tak tahan akan apa jang dilihatnja!"

Kam Tihu dapat menjetudjuinja.

Kemudian ia mengadjak sedjumlah anakbuahnja jang berbadan kuat dan besar njalinja.

Ia naik sebuah tandu.

Si Bungkuk dimintanja naik tandu djuga, tetapi ia menolak, dengan menjatakan bahwa ia lebih senang berdjalan kaki.

Iring2an itu menudju kedjalan tegalan-berumput, terus kedjalan hutan jang dilalui Loo Too-Pek semalam.

Menurut si Bungkuk, iring2an itu harus mengikuti djalan-ketjil disepandjang hutan-bamhu, menudju ke Barat.

Ia sendiri berdjalan disamping tandu, karena Kam Tihu ingin mendengar tjerita jang sebenarnja mengenai peristiwa malam tadi.

Kini si Bungkuk tak mau ber-pura2 lagi atau berbohong, ia menuturkan seluruh kedjadian semalam sedjak Tong Hong Hweeshio memasuki kamar-loteng dengan mempergunakan obat-pules, hingga Pek Giok Im pingsan tak sadar diri dan digondol harimau-iblis itu dapat diselamatkan djiwanja dan dikembalikan kekamar tempat tidurnja pagi-hari tadi.

"Menurut penuturanmu, Pek Giok Im tetap belum menjadari segala kedjadian jang menimpah dirinja semalam itu?"

Menegasi Kam Tihu.

"Djangankan menjadari peristiwa jang terdjadi, malah diri-sendiripun belum disadarinja pula!"

Sahut Loo Too-pek.

"Djika demikian halnja, djadi benar2 Tong Hong Hweeshio itu seorang pendjahat. Dan pentjulikan gadis2 itu bukan dilakukan oleh Hek Houw Sinbeng?"

"Tentu sadja bukan! Dugaan pemuda Tjio Han Boe tepat, bahwa tak mungkin sekali seorang Malaikat-sutji dapat melakukan kedjahatan sehebat itu, apapun sebab2nja!"

"Tetapi dengan maksud apakah Tong Hong Hweeshio melakukan kedjahatan besar2an itu?"

"Entahlah, semalam aku belum menjelidikinja didalam gua, sebab aku perlu menjelamatkan djiwanja Pek Siotjia! Sebentar kita akan mengetahui segala2nja."

"Lalu bagaimana dengan nasib ketudjuh gadis jang hilang dari masing2 rumahnja itu?"

"Aku sangat chawatirkan djiwa mereka, demikian pula djiwanja pemuda gagah she Tjio dengan kedua kawannja!"

Sahut Loo Too-pek.

"Apakah ada kemungkinan Tong Hong Hweeshio seorang tjabul, dan ketudjuh gadis itu mendjadi kurban nafsu kebinatangannja?"

Si Bungkuk berpikir sedjenak.

"Mungkin bukan demikian halnja!"

Djawabnja kemudian.

"Aku mempunjai kejakinan, bahwa pentjulikan gadis2 itu mempunjai sebab2 lain".

"Apakah sebab2 jang dimaksudkan itu?"

"Belum lagi tahu. Aku berharap didalam gua masih ada seseorang jang hidup, hingga kita akan dapat memperoleh keterangan jang memastikan".

"Aku tak mengira, didalam Seng-ong-bio ada djalan-rahasia di-bawah tanah jang dapat menghubungi Goe-thauw-nia!"

Kam Tihu menggerutu.

Iring2an itu sampai dimulut gua dalam tempo lama sekali.

Maklumlah, djalan2 dikaki bukit jang sangat sulit lagi djarang sekali dilalui orang, dan orang2nja Tihu tak biasa melalui djalan2 demikian.

Mulut gua jang sekarang tak berpintu tjukup lebar untuk membawa masuk tandu.

Per-tama2 jang mereka lihat adalah majat 4 orang Hweeshio jang bergeletakan disana-sini dalam keadaan mengerikan.

Tetapi seorang diantaranja rupanja masih bernapas.

Si Bungkuk mengadjak Kam Tihu memasuki "Ruang-sutji".

dimana semalam ia mengedjar Tong Hong Hweeshio melalui lubang bertutupkan papan didekat medja.

Kini ia mendapat kesimpulan, medja dimana terdapat alat2 sembahjang, tadinja diletakan diatas pintu-papan dilantai itu.

"Kita dapat melakukan penjelidikan lebih djauh sepandjang lorong dibawah tanah jang menembus kemedja-sembahjang didalam klenteng!"

Berkata si Bungkuk.

"Kini marilah menindjau dulu "Ruang-menudju-djalan-surga"

Itu!"

Pintu ruang ini baru dapat dibuka setelah dilakukan paksaan, di dalam mana segera mengembus keluar bau busuk dan anjir.

"Bau apakah itu?"

Bertanja Kam Tihu.

"Rasanja bau majat busuk!"

Djawab si Bungkuk.

Dan berdebarlah hatinja semua orang.

Mereka segera membajangkan kurban2 harimau-hantu tentunja sudah tak ada jang hidup lagi.

Dugaan mereka ternjata benar, karena ketika mereka madju lagi kira2 200 tindak, dibalik sebuah dinding-batu jang hitam tampak suatu pemandangan jang mengerikan.

Enam majat jang bersusun tindih disatu podjok, sedang dilain bagian ada 4 tengkorak jang sudah kering.

Ke-enam majat jang bertumpuk mendjadi satu gundukan ternjata majat2 wanita, jang paling bawah sudah terlalu busuk, sedang jang teratas masih agak baikan.

Bau busuk jang keras dari majat2 itu membikin semua orang menutupi rapat2 lubang hidungnja."

Menurut Kam Tihu, keenam majat itu mestinja gadis2 kurban pentjulikan Tong Hong Hweeshio.

Majat jang paling atas masih dapat dikenali dengan baik, jaitu gadis dari keluarga Thio.

Dengan demikian dapat disimpulkan, majat jang ada dipaling bawah tentunja gadis she Tjie.

"Tetapi empat tengkorak jang sudah kering itu, majat2 siapakah gerangan?"

Bertanja Kam Tihu.

"Mereka majat2 jang sudah lama!"

Djawab si Bungkuk.

"Barangkali djuga majat2nja keempat murid In Tjeng Hweeshio!"

"Oh, aku ingat itu!"

Berkata kepala-daerah itu.

"Mungkin benar katamu itu, Loo Too-pek! Dan kesemua itu kurban2 keganasan Tong Hong Hweeshio!"

Si Bungkuk mengangguk2kan kepala.

"Hm, benar2 Hweeshio terkutuk! Aku tak menjangkanja dia sebenarnja jang berkulit djubah-sutji!"

Dampratnja Kam Tihu, gusar.

Menurut pengetahuan si Bungkuk, gadis2 itu bukanlah dibunuhnja dengan barang tadjam, ataupun dirusak kesutjiannja.

Tetapi dengan tjara apa ia belum dapat menentukannja.

Sekarang ia melakukan pengusutan diruangan dibalik medja-sembahjang, dimana semalam harimau-iblis itu lari masuk, dan sebagai gantinja muntjul Tong Hong Hweeshio.

Disana ada pula sebuah kamar ketjil.

Ketika pintunja dirusak ia dapatkan beberapa djenis alat2 jang ia tak tahu dipergunakan untuk apa.

Tetapi satu2nja jang menjolok adalah, di atas medja disudut ada kulit seekor matjan-hitam jang besar, kuku2-nja amat tadjam, kedua matanja ber-sinar2 se-akan2 harimau hidup.

Didekatnja ada terletak sebuah alat menjerupai kulit siput berukuran besar pula.

"Nah, inilah rahasianja?"

Berseru Loo Too-pek.

"Kulit matjan-hitam inilah jang dipergunakan kepala-gundul itu untuk mendjalankan kedjahatannja! Dengan tjara demikian ia berhasil menarik kepertjajaan orang, bahwa gadis2 itu benar2 digondol oleh Hek Houw Sinbeng untuk rohnja disutjikan diatas langit sebagai penebusan dosa jang tak pernah diperbuat. Soalnja agak djelas sekarang, Tong Hong Hweeshio memperdjual-belikan nama Hek Houw Sinbeng jang berasal dari seorang budiman purbakala untuk maksud2 kedjahatannja!"

Kam Tihu ingat medja2-sembahjang diruang pertama dan di Ruang-sutji", maka ia bertanja.

"Lalu untuk keperluan apakah medja2 dengan alat sembahjangnja itu?"

Loo Too-pek mengatakan, bahwa untuk memperoleh pendjelasan, diperlukan keterangan murid Hweeshio jang masih hidup tadi.

Murid Hweeshio jang masih hidup itu adalah It Ban.

Ia berbadan kuat, maka sedjak semalam ia masih bertahan hidup sekalipun banjak darah keluar dari lukanja dipunggung.

Si Bungkuk menjuruh seorang mengambil air, dan diBerinja It Ban minum beberapA teguk.

"Kau masih ingin hidup ataukah hendak mati?"

Bertanja Loo Too-Pek pada kurban pedangnja semalam. It Ban tak mendjawab, agaknja ia sedang berusaha mengumpulkan kembali kekuatannja.

"Katakanlah, djika kau sudaH tak sanggup menderita, pedangku akan mengiringi kehendakmu untuk mati!"

Bentaknja si Bungkuk sambil menghunus pedangnja.

"Aku masih ingin hidup!"

Achirnja It Ban mendjawab.

"Baiklah!"

Sahut Loo Too-Pek.

"Kau akan diberi ampun, malah akan ditoiong djuga djiwanja. Tetapi berdjandjilah lebih dahulu, bahwa kau tidak akan berbuat djahat lagi."

"Akupun asalnja bukan seorang djahat. Aku terpaksa melakukan kedjahatan karena takut pada long liung Hweeshio jang buas! Aku sangat berterima kasih bila diberi kesempatan untuk kembali kedjalan jang benar!"

"Tjeritakanlah apa jang kau tahu tentang Tong Hong Hwee-shio, asal mulanja, dan kedjahatan2 jang dipraktekkan selama ini. Apa maksudnja dia mentjuiik gadis2 sebanjak itu?"

"Dia berasal dari Sungai-hitam. Dia akui dirinja pengikut sang Buddha dan dengan berdjubah-sutji ia memperkenalkan nama-tapanja dengan Tong Hong Hweeshio. Selain pandai ilmu silat, dia-pun mahir ilmu ghaib, misalnja mengundang angin. Mula2 dia seorang Liok-lim di Utara, sudah banjak kedjahatan2 jang dia lakukan, merampok harta-benda orang dan membunuh djika orang berani menentanginja. Pemerintah telah mendjandjikan hadiah hesar bagi siapa jang dapat menangkap atau membunuh padanja. Tetapi sebagai seorang pendjahat besar, lagi mengandal pada ilmu ghaib-nja, dia masih tetap masih dapat malang melintang. Dia seorong alhi silat jang tak terkalahkan. Ketika pemerintah mengirim tentara besar2an kesarangnja, barulah Hek-liong-kang-kim-liong -begitulah dia menamakan dirinja -dapat digempur dan dihantjurkan pengaruh dan kekuasaannja. Ia kabur kedaerah Timur, dan aku berempat adalah pengikut2 jang tinggal hidup. Kami berempat memasuki gerombolan Tjiong Kiat Tjhoen adalah karena dipaksa, kami harus tunduk pada segala perintahnja, djika masih mau hidup!"

Tampaknja It Ban sangat lelah, maka dibiarkannja ia menghimpun pula tenaganja. Kemudian ia melandjutkan penuturannja.

"Sesampainja di Tjiat-kang tiba2 Tjiong Kiat Tjhoen mengubah tjara hidupnja. Ia ber-tjita2 membuat dirinja kebal dan memiliki sebuah sendjata sakti jang dapat dikendalikan dengan pengaruh rohnja, ialah sebuah pedang jang dapat menghantjurkan apa sadja dalam djarak djauh. Untuk itu ia mentjukuri rambutnja, memakai djubah, berlaku seperti seorang alim sungguh2!"

"Rentjananja membuat sedjenis kiam-kong?"

Bertanja Loo Too-pek.

"Bukan!"

Djawabnja It Ban.

"Pedang biasa! Soal Kiam-kong dia tak memerlukan, sebab dia sudah mempunjai ilmu ghaib jang sangat dahsjat, jaitu Sam-sek-hwee, api tiga-warna jang dapat menghantjurkan segala benda terkuat di dunia. Badan manusia akan mudah ditjairkan oleh Sam-seh-hwee jang dikendalikan itu. Hanja kiam-sut jang sudah mentjapai puntjak sadja dapat menandinginja dan mungkin memusnahkannja!"

"Tak perlu dengan kiam-sut, hanja dengan akalpun aku telah dapat memusnahkannja semalam! Lalu pedang-sakti apa pula jang dikehendaki pendjahat Sungai-hitam itu?".

"Kui-liong-kiam atau Pedang-naga-siluman! Untuk menjempurnakan pedang itu dibutuhkan roh-sutji dari gadis2 sebanjak empat-puluh orang. Pekerdjaan terkutuk itu baru sadja disusun enam kali dengan mengurbankan djiwa gadis2 di Thian-tay, tetapi kurban jang ketudjuh, jang mestinja diselesaikan malam tadi, entahlah bagaimana kesudahannja. Aku tak tahu lagi dengan nasibnja gadis jang ditjolong Tong Hong Hweeshio semalam, karena aku sudah tak berdaja terluka hampir mati oleh pedangmu!"

"Djangan chawatir, pertjajalah, aku akan menjembuhkannja nanti! Gadis jang terachir itu telah diselamatkan djiwanja. Sekarang tjeritakanlah kelandjutannja". Di "Ruang-sutji"

Itulah biasa Tong Hong Hweeshio melakukan upatjara penjelenggaraan Pedang-setan itu!

Disana Loo-tjianpwee tentu melihat sebuah pedang diatas medja jang sedianja akan diupatjarakan doa2nja, tetapi Loo-tjianpwee keburu datang mengatjau.

Harimau-hantu itu bukan lain daripada Hek-liong-kang-kim-liong itu.

Setiap hendak mentjulik gadis, dia membarengi dengan tiupan angin buatannja jang selain sangat dingin djuga berbau anjir sekali.

Gadis jang ditjuliknja itu dalam keadaan pingsan didudukkan di sebuah kursi dibelakang medja, lalu disembahjangi, dibatjakan mantera2nja, sedang bahan-pedang diletakkan diatas medja dengan udjungnja dilekatkan pada dahi sang kurban.

Katanja, dengan tjara demikian, roh gadis itu dengan sendirinja disalurkan kepada pedang.

Upatjara kedjam itu berlangsung sampai tiga hari tiga malam tanpa gadis kurbannja disadarkan atau diberi makan, hingga pada malam ketiga dia sudah mendjadi majat.

Diruang "Djalan-menudju-surga"

Itulah tempat terachir gadis2 jang mati tanpa merasakan kematiannja, namun tjukup mengerikan. Kini Lootjianpwee akan dapat melihat diruang "Djalan-menudju-surga"

Itu setumpuk majat2 gadis2 jang malang itu. Ah, kasihan benar?"

"Aku sudah melihat semua itu! Dan ada pula empat tengkorak kering, kurban2 siapakah pula mereka?"

"Mereka adalah empat murid In Tjeng Hweeshio jang dibunuhnja satu hari sesudah kepala-paderi itu meninggal".

"Sakit apakah In Tjeng Hweeshio tadinja?"

"Sakit? Dia mati dibunuh oleh tangan-maut Tjiong Kiat Tjhoen itu pula!"

"Dimana majatnja?"

"Ditanam dibelakang geredja! Hal ini merupakan keistimewaan dari kedjahatan manusia she Tjiong itu, karena dia tak mau mendapat kutukan sang Paderi bila men-sia2kan majatnja sesudah dibunuh dengan kedji! Empat murid Hweeshio jang disuruh menggali lubang dan menanamnja, keesokan harinja mereka dihabiskan djiwanja diruang "Djalan-kesurga"

Itu!"

Si Bungkuk menganggukkan kepala berulangkali. Ia pertjaja akan penuturan It Ban itu.

"Dikamar tempat menjimpan kulit-matjan tadi ada pula alat sedjenis kulit siput. Apakah gunanja itu?"

"Itu adalah alat bunji2an jang menjerupai suara raung seekor harimau, jang biasa dipergunakan Tong Hong selagi menjamar sebagai harimau-iblis!"

Sahut It Ban.

"Dengan itu Tong Hong mendjadi seekor matjan betul2!"

Menggerutu Loo Too-pek.

"Pintar djuga pendjahat itu!"

Kini giliran Kam Tihu mengadjukan pertanjaan pada Hweeshio sial itu.

"Tahukah kau pada beberapa malam berselang ada tiga orang datang kegeredja membuat penjelidikan?"

"Ja, aku tahu]"

Djawab It Ban.

"Malah sebelum itu ada seorang muda memasuki Seng-ong-bio dengan lagak2 mentjari rahasia. Kedatangannja diketahui oleh Tong Hong, tetapi kepala-gundul itu tak mengambil tindakan sesuatu, malah pura2 sakit. Ia bermaksud menjesatkan anggapan umum, supaja kedjahatan jang ditimbulkan itu orang tidak menjangka dia jang melakukannja. Namun apakah orang mau pertjaja Hek Houw Sinbeng benar2 marah dan menuntut penebusan dosa pada gadis2, entahlah. Pada malam itu ketiga orang itu dibunuh dipuntjak bukit Goe-thauw-nia oleh Tong Hong dalam merupakan dirinja harimau-hantu. Majat2nja ketiga orang itu dilempar dihutan disadjikan pada serigala2 jang sering berkeliaran!"

"Hm, demikian terkutuknja Tong Hong Hweeshio itu!"

Loo Too-pek tak memerlukan keterangan lebih landjut.

Ia menganggap persoalannja sudah mendjadi djelas semuanja, bahkan bukan roh sutji Hek Houw Sinbeng jang menjebar kedjahatan bena2an itu, melainkan pendjahat dari Hek-liong-kang itu.

Sekarang ia menjuruh orang2nja Tihu untuk membawa It Ban kekota, di kantor Tihu, karena ia akan menolong lukanja nanti.

Beberapa opas lain disuruhnja merusak alat2 didalam gua, termasuk kulit matjan-hitam itu.

Pedang jang belum merupakan sendjata-iblis diambil oleh si Bungkuk, dan ia sangat kagum akan kebagusan bentuknja serta tadjamnja.

Ketika dilakukan penelitian disepandjang lorong di bawah tanah jang menembus kegeredja, tak terdapat hal2 aneh, maka timbullah pendapat mereka, bahwa kedjahatan sama sekali tidak bertempat didalam Seng-ong-bio.

Kemudian pemhesar-daerah itu mengadjak Loo Too-pek kembali kekota, dan mulailah orang mendapat tahu peristiwa jang se-benar2nja.

Tak heran, kegemparan besar timbul di-mana2.

Si Bungkuk di-pudji2nja sebagai seorang pengemis pendekar jang luar biasa.

Bungkuk dan tua, tetapi sebenarnja seorang ahli Kang-ouw jang ulung.

Banjak orang datang kerumah Pek Wangwee sekedar ingin tahu dan melihat matjamnja pengemis jang luar biasa itu, jang dengan sendirian sadja dapat menghantjurkan sumbernja kedjahatan di gua Goe-thauw-nia.

Sementara Pek Wan-gwee, terdorong oleh rasa takdjub dan penghargaannja terhadap si Bungkuk, dengan tak merasa lagi lalu berseru2 katanja.

"Tak di-duga2 orang tua jang berbadan bungkuk dan tampaknja tak berguna itu sebenarnja seorang ahli silat djempolan, seorang Kang-ouw jang djarang ditemui keduanja! Oleh karena itu, sebagai penghargaan dan pudjian jang sungguh2 aku ingin memberikan sebuah nama-kehoramtan jang tjukup setimpal, jaitu Too-pek-koay-hiap atau Pendekar Bungkuk-jang-gandjil! Bagaimana kiranja anggapan umum tentang itu?"

"Bagus, bagu2 sekali!"

Berseru orang banjak.

"Amat tepat nama-gelar itu, Too-pek-koay-hiap!"

"Nama-kehormatan itu terlalu berlebihan untukku! Aku chawatir aku bisa djadi terlalu bangga dan sombong dengan gelarku itu!"

Kam Tihu-pun mengatakan, apabila nama-gelar itu diberikan dengan hati sutji, maka adalah patut diterima oleh si Bungkuk.

Dan tak ada salahnja orang memberikan nama-kehormatan itu, karena diberikan pada tempat jang benar.

"Aku tak hiraukan orang mau memberikan aku nama-gelar apa djuga!"

Berkata si Bungkuk lagi.

"Tapi jang penting sekarang adalah, keluarga2 jang kehilangan anak2-gadisnja agar diberi kesempatan mendjemput majat masing2 anaknja didalam gua Goe-thauw-nia. Majat2 mereka tak pantas dibiarkan dan kemudian berserakan tulang-belulangnja! Demikian pula tulang2 para murid Hweeshio dan majat2 Hweeshio jang masih baru, harus dibereskan menurut adat-geredja dan perikemanusiaan!"

Saran Loo Too-pek, atau jang sedjak hari itu dikenal dengan nama-gelarnja jang lain Too-pek-koay-hiap, diturut oleh keluarga2 jang bersangkutan.

Tidak perlu dituturkan pula, betapa duka-tjita keluarga2 jang harus mengambil majat masing2 anaknja didalam gua itu.

Bahwa majat2 gadis2 jang malang itu dikubur bukan dengan siraman kembang, melainkan air mata.

Berbeda dengan keluarga Pek, orang sedalam rumah diuruk kegembiraan besar, karena gadis Pek Giok Im dapat diselamatkan djiwanja oleh si Bungkuk.

Untuk menjatakan terima kasih dan bersjukurnja, maka Pek Wangwee menjuruh anak-gadisnja berlutut pada Too-pek-koay-hiap.

Anak itupun sudah diberitahukan tentang si Bungkuk, bahwa hanja kakek-konjol itu sadja jang telah berhasil menjelamatkan djiwanja dari tjengkeraman-maut jang diperbuat pendjahat dari Hek-liong-kang.

Pek Giok Im seorang gadis tjantik serta terpeladjar, maka ia mengerti, perintah orang tuanja itu adalah lajak.

Sangat tidak berbudilah, manakala seorang melupakan djasa-baik orang telah menolongnja jang disertai pengurbanan.

Maka dengan lantas Pek Giok In, menemui si Bungkuk jang selama itu masih dikerumuni orang ramai, termasuk Kam Tihu.

Tetapi demi melihat rupa si Bungkuk, Pek Giok Im mendjadi terkedjut.

Langkah kakinja terhenti, dan badannja bergemetar, takutnja bukan main, sebab baru pertama kali itu ia melihat muka seorang jang demikian buruknja, lagi bungkuk punggungnja.

Si Bungkuk menundukkan kepala se-akan2 tak ingin menambah ketakutan sigadis jang elok itu.

"Kurasa tidaklah perlu Siotjia mendjumpai seorang seburuk aku untuk menjatakan terima kasih"

Kata si Bungkuk lemah-lembut.

"Apa jang aku telah berbuat sekedar hanja memenuhi kewadjiban manusia terhadap sesamanja. Sudahlah, djangan Siotjia bersusah-pajah untuk mengatakan apa2, tetapi tjukuplah bila Siotjia mengutjapkan sadja didalam sanubari apa jang hendak dikatakannja. Sungguh2 aku tak mengharapkan penghargaan apapun, aku gembira melihat ada keluarga jang dapat aku beruntungkan!"

Pek Giok Im masih tegak berdiri dalam kebingungan. Tiba2 Pek Wan-gwee berkata agak keras.

"Apa pula jang kau pikirkan, Giok Im? Menghormatilah dibawah kaki tuanpeuolong kita. Djangan membuat Too-pek-koay-hiap ketjewa, dan orang nanti mentertawakan kita! Hajo phaykui!"

Denpan terpaksa Pek Giok Im memberanikan hatinja madju ke-depan, lalu berlutut dan bersodja.

Djuga ia memaksakan mulutnja mengutjap kata2 terima kasih.

Si Bungkuk mendjadi repot mentjegah orang terlalu banjak melakukan upatjara.

"Tjukuplah tiga kali sadja Siotjia phaykui! Sudah, sudah, bangunlah, Siotjia, djangan sodja lagi! Aku bukan Toapekong, bukan pula Sinbeng, tetapi manusia miskin jang kotor!"

Pek Siotjia kemudian berbangkit.

Pada Kam Tihu iapun disuruh mendjalankan peradatan sambil mengutjapkan terima kasih, sebab pembesar itupun telah banjak bersusah-pajah membela kepentingannja.

Pada pikiran Pek Wan-gwee, bukanlah satu hal djelek bila ia mau menghargai pertolongan Too-pek-koay-hiap jang telah menjelamatkan djiwa anaknja jang sangat ditjintainja itu, untuk mana si Bungkuk mempertaruhkan djuga djiwanja, karena Tong Hong hweeshio adalah seorang pendjahat besar.

Ia hendak menjelenggarakan suatu perdjamuan besar dimana ia akan mengundang pula penduduk2 terkemuka.

Pikiran orang hartawan itu ditundjang sepenuhnja oleh Tihu, jang mengatakan, bahwa djasa2 Too-pek72 koay-hiap belumlah tjukup dibalas dengan hanja satu perdjamuan.

Too-pek-koay-hiap tak menjangka kalau Pek Wan-gwee akan mengadakan pesta djamuan untuk kehormatannja.

Ia tak tahu akan hal itu, karena segalanja disiapkan setjara diam2 dan tjepat.

Apa boleh buat, ia berdjamu djuga dengan tuan-rumah, Kam Tihu, dan banjak orang jang diundang.

Djamuannja mentereng betul, banjak bidangan ledzat2, arak wangi tak ketinggalan.

Kam Tihu bertindak sebagai wakil tuan-rumah, jang memperkenalkan kisah si Bungkuk pada umum, dan ditjeritakan pula kegagahan dan kepandaiannja membasmi pendjahat besar dari Hek-liong-kang, hingga selain keluarga Pek telah diselamatkan, pun dengan sendirinja keamanan dan kebahagiaan segenap penduduk Thian-tay telah dipulihkan kembali.

"Djasa Too-pek-koay-hiap bukan ketjil artinja, dan sebab itulah sudah selajaknja kita menaruh penghargaan se-besar2nja padanja, dan harus selamanja nama si Bungkuk itu tertera dalam hati kita masing2!"

Demikian Kam Tihu mengacihri bitjaranja.

Didalam perdjamuan itu, sekali lagi Pek Wan-gwee mengutjapkan terima kasih akan bantuan2 si Bungkuk jang tak ternilai besarnja itu.

Ada seorang mengusulkan, bahwa untuk membajar djasa2 si Bungkuk jang sedemikian besar itu, tidak tjukup hanja mendjamunja dengan makanminum dan utjapan terima kasih.

"Dia seorang-tua dan miskin, rupanja tak punja kediaman tertentu"

Orang itu berkata lebih djauh.

"sudah sepantasnja kalau kita angkat supaja Too-pekkoay-hiap dapat merubah tjara hidupnja jang lebih baik. Aku jakin Pek Wangwee akan menjetudjui bila Too-pek-koay-hiap diberi sebuah rumah untuk dia dapat meneduh dan terdjamin penghidupannja sebagaimana manusia lajaknja". Saran itu kembali disokong oleh Kam Tihu. Tetapi sebaliknja si Bungkuk lalu berbangkit dan mendjura.

"Saran saudara sangat berat untuk aku terimanja. Jakinlah, bahwa aku bukan seorang jang biasa hidup mewah, atau seorang jang biasa mengharapkan suatu pembalasan-budi. Apa jang aku lakukan adalah suatu keharusan sebagai manusia terhadap manusia lainnja jang sedang menderita dan memerlukan bantuan. Djanganlah terlalu mendewakan aku! Djamuan ini sadja sudah terlalu besar bagiku!"

Lalu dengan mendadak ia mengatakan mohon mengundurkan diri meninggalkan perdjamuan itu.

Sudah tentu orang mendjadi terkedjut akan pernjataan si Bungkuk jang getas dan mengandung kemarahan itu.

Maka dengan buru2 orang jang menjarankan tadi mendjelaskan dengan sumpah, bahwa se-kali2 ia tak bermaksud menghina, sarannja itu timbul dari hati sedjudjurnja.

Iapun tidak lupa meminta maaf bila sarannja itu melukai hati Too-pek-koay-hiap, Dengan watak dan pendjelasan Too-pek-koay-hiap jang berbeda daripada orang2 seumumnja, menimbulkan suatu anggapan, betapa baik kepribadian seorang sebagai si Bungkuk itu.

Hati mana orang mendjadi bertambah kagum dan takdjub, dan makin berlimpah rasa penghargaannja.

Djamuan berlangsung terus dengan kegembiraan, sekalipun Too-pek-koayhiap menjaTakan Sudah tjukup berdjamu, namun orang menghendaki ia makan-minum terus, mereka menjatakan bahwa pertemuan sematjam itu tak mungkin akan datang pula, sudah seharusnja si Bungkuk suka berdjamu lebih lama.

Tetapi di-tengah2 orang bergembira, tiba2 seorang muda jang sedjak tadi berada diluar medja perdjamuan, berkata dengan suara njaring.

"Aku telah mendengar beberapa hari berselang, bahwa barang siapa dapat menjelamatkan djiwa anaknja, dengan rela dia akan mempersembahkan gadisnja itu sebagai budak maupun ieteri bila penolongnja adalah seorang laki2! Didalam hal ini tak di-singgung2 soal udjudnja penolong itu, muda atau tua, bagus ataupun buruk! Sekarang kenjataannja Pek Siotjia telah diselamatkan oleh Too-pek-koay-hiap, sudah selajaknja Pek Wan-gwee menepati djandjinja, menjerahkan Pek Siotjia ditangan tuan-penolongnja, tak peduli sebagai isteri maupun pesuruh. Banjak orang mendengar djandji2 itu, dan aku termasuk seorang diantaranja! Nah, Pek Wan-gwee, maafkan kalau aku mengusik2 hal ini, karena aku beranggapan Wan-gwee harus memenuhinja!"

Alangkah terkedjutnja Pek Wan-gwee mendengar utjapan2 pemuda itu, begitupun orang2 jang ada dalam perdjamuan itu, termasuk Kam Tihu, dan si Bungkuk sendiri.

Orang mengenali pemuda itu, ialah anak seorang tuan tanah jang hidupnja sebagai pemogor dan pendjudi, namanja Go Thian Po.

Mereka teringat akan djandji2 Pek Wan-gwee jang pernah di-utjapkan dahulu, jang bersedia menjerahkan anaknja pada siapa juga dapat menjelamatkan djiwanja.

Kini Go Thian Po jang tak punja sangkut-paut dengan persoalan itu mendadak menggugat djandji Pek Wan-gwee, hal mana sangat mengedjutkan mereka jang mendengarinja.

Mungkinkah seorang Tjian-Kim Siotjia sebagai Pek Giok Im harus dikurbankan ditangan si Bungkuk jang tua dan romannja djelek menakutkan itu?

Haruskah gadis jang djelita dan terpeladjar itu diperisterikan oleh seorang sebagai Too-pek-koay-hiap, jang selain amat buruk pun sudah dekat adjalnja karena usianja jang landjut?

Pek Wan-gwee diam terpaku, karena pikirannja tiba2 mendjadi katjau.

Ia mengerti, bahwa djandji jang pernah diutjapkannja di depan umum itu harus dipenuhi.

Tetapi ia merasa keberatan untuk menepatinja, ia tidak rela melepaskan kumala-hidupnja ditangan si Bungkuk jang tak sesuai umur dan keadaannja.

"Tentu Giok Im pun takkan menjetudjuinja, dan kalaupun setudju karena dipaksa, pasti akan hantjurlah kehidupan dan nasibnja kelak! demikian pikirnja lebih djauh.

"Membatalkan djandji? Tak mungkin, orang tentu akan menista dan mengedjek aku, orang takkan menghargai aku pula jang telah mengingkari djandji jang pernah ku-utjapkan. Apa dajaku sekarang?"

Semua mata ditudjukan pada Pek Wan-gwee jang gerak-geriknja agak kebingungan dan ketakutan.

Kam Tihu dilain pihak tak dapat berbuat sesuatu, ia tidak bisa bantu memetjahkan persoalan jang rumit itu.

Adalah si Bungkuk jang djuga tak men-duga2 akan timbul persoalan sedemikian, tinggal duduk terpaku.

Iapun pernah mendengar kata-djandji Pek Wan-gwee, namun dengan pertolongannja itu, sesungguhnja bukan ia menghendaki mendjadi anggauta keluarga orang kaja-raya itu.

Apa jang diperbuatnja hanja berdasar pada kewadjiban menolong sesamanja, semata2.

Karena ia adalah seorang pengabdi keadilan, pembela kebenaran, sebagai lajaknja seorang jang hidup dalam kalangan Kang-Ouw.

Sekarang tiba2 muntjul masalah jang rumit itu, jang membikin keluarga Pek menghadapi kesukaran.

"Saudara2 harap dengarlah, tadi aku telah membentangkan tjukup njata, bahwa aku menolong sesamanja bukanlah untuk mengharapkan hadiah apalagi terhadap dirinja Pek Siotjia"

Berkata si Bungkuk.

"aku tahu betapa indah dan agung seorang gadis sebagai Pek Siotjia, maka adalah pendurhakaan besar bila aku mengharapkan dia sebagai penebusan seorang buruk dan hina sebagai aku ini!"

Pek Wan-gwee, Kam Tihu, demikianpun jang lain2nja terdiam diatas masing2 kursinja, mereka terpesona akan kata2nja si Bungkuk itu.

Hanja pemuda tadi jang menjambut pernjataan si Bungkuk dengan tantangannja.

"Djandji adalah djandji, apapun persoalannja, harus ditepati! Karena itulah aku menuntutnja karena aku adalah seorang jang tak sudi membiarkan seseorang mengingkari djandjinja!"

Kata pemuda itu. Too-pek-koay-hiap memandang Go Thian Po.

"Tetapi djika Pek Wan-gwee berkeberatan?"

"Aku akan menuntut hingga terdapat satu penjelesaian jang memuaskan! Atau masjarakat akan meludahi dia sebagai seorang jang tak dapat dipertjajai!"

"Dan djika aku sendiripun rela menolak?"

"Akupun akan memaksanja!"

"Tak mungkin kau dapat berbuat demikian terhadapku, anak muda! Tetapi aku ingin bertanja, mengapa bukan kau jang berusaha menolong Pek Siotjia untuk memperoleh hadiah berharga itu? Mengapa kau tidak memperlihatkan ketangkasanmu membasmi kedjahatan di Goe-thauw-nia, tetapi memperdengarkan suara besar disini?"

"Aku tak punja kesanggupan melewati harimau-hantu, karena aku bukan Too-pek-koay-hiap jang perkasa!"

Kata Go Thian Po menjindir "Djika demikian halnja, kau hanja seorang pengatjau belaka! Kau tjuma bisa men-tjari2 kerewelan jang tak ada perlunja jang tak ada sangkut-pautnja dengan kepentinganmu."

"Bukan mengatjau atau mentjari keributan, melainkan berbuat untuk kepentingan masjarakat umum!"

"Kau harus ketahui, bahwa djandji Pek Wan-gwee hanja berkisah pada perseorangan, tak langsung mengenai umum. Djadi dalam hal ini hanja oangr tersangkut sadja jang dapat mengambil keputusan mutlak! Aku tak mengerti, mengapa kau jang mendjadi penasaran, sedangkan aku jang berkepentingan dengan rela tak suka menerima hadiah ini dan itu dari pihak Pek Wangwee?"

"Aku kepingin ketahui dalam hal ini, Loo Too-pek jang tidak mau menerima hadiah ataukah Pek Wan-gwee jang mengingkari djandji, karena sajang anaknja jang tjantik harus dikurbankan untuk seorang tua rudin seperti kau?"

Si Bungkuk sudah mendjadi amat marah melihat kekurang-adjaran pemuda hartawan itu.

Ia menghampiri Go Thian Po untuk diberikan sedikit hadjaran, tatkala Kam Tihu meminta dengan sangat Too-pek-koay-hiap bersabar, sementara pemuda tak sopan itu disuruhnja pergi.

Go Thian Po rupanja mempunjai banjak begundal jang terdiri dari orang2 busuk, maka diluaran mereka segera menjiarkan berita, bahwa Pek Wangwee seorang rendah dan hina karena mengingkari djandji jang telah diutjapkan didepan umum, malah disaksikan Kam Tihu djuga.

Dan sebentar sadja gemparlah orang2 membitjarakan hal itu, tak lupa djuga melemparkan tjelaan dan makian kotor.

Hingga bisa dimengerti, Pek Wan-gwee merasakan sangat tidak enak dan malu.

Dalam pada itu Kam Tihu rupanja sulit untuk tjampur tangan secara langsung hanja madju untuk meredakan suasana.

"Sebaiknja Wan-gwee djangan menghiraukan suara2 diluar jang biasanja ditimbulkan oleh sekelompok orang jang hina dan kedji, jang karena satu dan lain hal bermaksud hendak membalas dendam!"

Kata Kam Tihu menjarankan.

Ia menduga, diantara Go Thian Po dengan keluarga Pek tentunja ada terselip suatu peristiwa, jang membikin pemuda itu mendjadi sakit hati dan kini hendak membalas dendam.

Pek Wan-gwee menerangkan, memang Go Thian Po dahulu pernah melamar Giok Im, tetapi ditolaknja.

"Nah, itulah pokok soalnja!"

Berkata pula si Bungkuk.

"Go Thian Po kini ingin melihat Wan-gwee mendapat malu, karena penolakkan pada lamarannja dulu. Menurut aku, lebih baik Wan-gwee melepahkan hati, karena dari pihak aku sendiri sungguh2 tak menagih djandji atau ingin memperisterikan Pek Siotjia! Puteri Wan-gwee terlalu indah untuk didjadikan mangsa seorang tua dan buruk sebagai aku, atau ibarat seekor burung Tjendrawasih, tak lajaknja dia mesti hinggap didahan pohon jang sudah rapuh dan kotor! Biarlah, sekarang aku pergi dari sini. Mudah2an Pek Siotjia kelak mendapat djodohnja jang sedjadjar, pemuda jang dapat memberuntungkan hidupnja! Selamat tinggal!"

Sehabis berkata, Too-pek-koay-hiap membalikkan badan berlalu, sikapnja tak ragu2 sama sekali.

Pek Wan-gwee mendjadi terkedjut, begilu pula Kam Tihu.

Mereka tak menjangka si Bungkuk seorang jang keras hati pendiriannja.

Pembesar-daerah itu meminta Pek Wan-gwee mentjegah kepergian Too-pekkoay-hiap, untuk dijakinkan, bahwa kalaupun si Bungkuk tak mengharapi hadiah jang didjandjikan, namun tak seharusnja berlalu begitu sadja.

Akan tetapi entah bagaimana, Pek Wan-gwee tetap berdiri terpaku seakan2 tak mendengar utjapan2 Kam Tihu, matanja memandang Too-pek-koay-hiap, akan tetapi dibiarkannja sadja tuan-penolopg itu pergi, sampai kemudian menghilang.

Ia menarik napas pandjang.

Apa jang terpikir dalam hatinja tak seorang mengetahuinja.

Achirnja Kam Tihu pun meminta diri.

Padanja Pek Wan-gwee mengutjapkan terima kasih akan bantuan2 jang telah diberikan.

Pembesar-daerah itu lalu menarik kembali regu2 polisi dan tentara jang ditugaskan mengawasi harimau-hantu, dan sedjak itu keamanan dapat dipulihkan pula seperti sediakala.

Adalah Pek Wan-gwee jang terus mengalami hal2 tidak enak sedjak anaknja diselamatkan djiwanja oleh Too-pek-koay-hiap.

Kebahagian jang dibajangkan setelah Pek Giok Im kemhali kerumah dengan selamat, ternjata tak kundjung tiba, bahkan kebalikannja ia menghadapi soal2 mendjengkelkan hati.

Sebab diluaran telah ramai orang membitjarakan perihal djandji2 jang tak ditepatinja itu, hingga orang memandang ia sebagai seorang hina dan tak tahu adat.

Makin lama edjekan dan tjelahan orang makin meluas dan achirnja terdengar djuga oleh Pek Giok Im.

Maka bukan kepalang sedih hati gadis itu, karena tjemooh jang orang timpahkan pada keluarganja.

Sebagai seorang gadis terpeladjar dan mengerti akan harga-diri serta kehormatan, iapun anggap perbuatan ajahnja dapat dipandang sebagai satu kehinaan.

Hutang duit dapat disikut, tetapi kehormatan tak mungkin.

Dan djandji seseorang adalah berarti kehormatan, maka apabila ajahnja dahulu pernah mengutjapkan djandji akan menghadiahkan dia pada siapa sadja jang dapat menjelamatkan djiwanja, apalagi djandji itu diutjapkan dimuka umum, maka suatu pengingkaran berarti merendahkan deradjat dirinja.

Dan kehinaan itu bukan tjuma ditimpahkan pada ajahnja, djuga mengenai seluruh keluarga.

Sekalipun ia tahu, biang-keladi dari adanja edjekan dan penghinaan itu adalah dari perbuatan Go Thian Po sebagai pembalasan dendam karena lamarannja ditolak, namun perbuatan pemuda itu tak bisa terlalu disalahkan.

Sekarang nama seluruh keluarganja dinodai dan dihina, maka bagi Pek Giok Im hal itu merupakan suatu tamparan jang hebat.

Ia tak mau ajahnja mentjemarkan nama keluarganja, ia harus memperbaiki dengan segala pengurbanannja.

Ia hendak paksa ajahnja menepati djandjinja.

Ia mengambil keputusan untuk menjerahkan badan dan nasibnja pada orang jang telah memberikan pertolongannja.

Ia harus rela mendjadi isteri Too-pek-koayhiap, apapun matjamnja orang itu.

Djika tidak, maka terlebih baik ia mati!

Begitulah ia menjatakan keputusannja pada kedua orang tuanja, ia menjatakan kesungguhan dan kerelaannja diperisterikan si Bungkuk!

"Seseorang jang tak dapat menepati diandjinja adalah sangat hina", ia menambahkan, suaranja tetap.

"Djusteru aku tak mau hidup dalam kehinaan, dan untuk dapat menghindarkannja, satu2nja djalan adalah aku harus menikah dengan Too-pek-koay-hiap. Maka aku bermohon dengan sangat agar ajah mengundang kembali si Bungkuk kemari untuk menerima haknja!"

Sudah tentu Pek Wan-gwee dan isterinja mendjadi sangat tertjengang mendengar keputusan anaknja itu.

Pek Wan-gwee tak mengira puterinja akan dapat mengambil keputusan jang tak pernah mereka pikirkan.

Meskipun ia mengerti, bahwa ia telah memperlihatkan suatu perbuatan tertjela dan kini chalajak ramai menghinanja, namun hakekatnja ia tak menginginkan anaknja mendjadi isterinja seorang laki2 sebagai si Bungkuk.

Pada mulanja ia mengharapkan orang jang dapat menjelamatkan anaknja adalah seorang pemuda tampan dan gagah, sekurang2nja tak berparas djelek.

Namun adalah seorang kakek tua, melarat dan amat buruk, dan itulah sebabnja ia terpaksa menelan kembali djandjinja.

Akan tetapi sekarang diluar dugaannja malah anaknja jang dengan sikap sungguh2 hendak mengurbankan dirinja pada si Bungkuk, se-mata2 karena tak ingin nama baik keluarganja tertjemar dan dinodai.

Ia mendjadi sangat bingung, dan tak mengerti apa harus diperbuat.

Adalah Pek Hudjin jang lalu membudjuk anaknja untuk tidak melakukan hal2 sebodoh itu, bahwa bukan pada tempatnja seorang gadis elok dan terpeladjar mesti mendjadi kurban mempersuamikan seorang laki2 buruk dan tua sebagai si Bungkuk!.

"Djadi ibu senang djuga keluarga Pek didjadikan buah-tutur se-lama2nja sebagai keluarga rendah dan hina?"

Bertanja Pek Giok Im.

"Tidak merasa ketjewakah ibu, kalau ajah setiap hari di maki2 orang dan dinista2. Tidak, ibu, tidak dapat aku membiarkan itu! Aku sangat malu!"

"Mengapa mesti malu, nak?"

Udjar ibunja.

"Orang luar memang biasanja suka berbuat iseng dan menghina orang! Lebih2 kita tahu, kehebohan itu ditimbulkan hanja oleh seorang jang mempunjai dendam karena lamarannja ditolak! Selain itu, djangan kau mendjadi terlalu bodoh, sebab bukan kita jang tjoba mengingkari djandji, tetapi adalah si Bungkuk sendiri jang mengatakan didepan umum, bahwa dia tak mengharapkan balasan apa2 dari kita! Ini adalah suatu kebaikan dari Too-pek-koay-hiap, wadjib kita berterima kasih padanja, dan harus selalu menghargai kebaikannja jang diberikannja pada kita dengan hati rela dan bersih!"

"Ibu salah, sama salahnja seperti ajah! Ibu tak jakin, Too-pek-koay-hiap sangat ketjewa dengan perbuatan ajah. Sebagai seorang budiman dan pengabdi perikebedjikan, Too-pek-koay-hiap malu untuk menagih haknja! Aku dapat menjelami apa jaug sebenarnja dirasakan oleh si Bungkuk. Dia sangat ketjewa, tetapi sebagai laki2 sedjati, sebagai pahlawan, dia rela menarik diri dan pergi setjara gagahi"

Ibunja mendjadi sangat djengkel. Ia tak dapat ber-kata2 lagi.

"Aku heran, sebagai seorang gadis terpeladjar, kau tak dapat berpikir jang terlebih baik, dan memandang sesuatu dengan segala pengertianmu!"

Ajahnja menegur.

"Djusteru aku terpeladjar, ajah, maka aku dapat menjelami dalam2nja, betapa memalukan perbuatan ajah!"

Djawab Pek Giok Im dengan sengit.

"Ajah mengingkari djandji, itu berarti noda besar bukan sadja bagi kita jang masih hidup, tetapipun bagi nenek-mojang kita jang sudah mati! Aku tak ingin hidup buat ditjatji-maki orang dan terhina selamanja!"

"Djadi apa jang kau kehendaki sekarang?"

"Mentjutji bersih noda2 jang dibuat ajah jang sangat memalukan itu! Aku harus mendjadi isteri Too-pek-koay-hiap, apapun ada dan bagaimana matjamnja dia!"

"Kau........... kau mau menjerahkan diri kepada seorang tua dan bungkuk itu?"

"Keputusanku sudah tetap! Aku mesti kawin dengan si Bungkuk!"

"Tidakkah kau djidjik melihatnja?"

"Ajah akulah jang harus merasa djidjik dengan perbuatanmu!"

"Tidak, Giok Im, aku tidak sudi si Bungkuk mendjadi menantuku!"

"Kalau ajah kukuh dengan anggapan sendiri, ajah akan melihat aku nanti hanja majatnja sadja!"

"Oh, kau mengantjam?"

"Aku tak berani mengantjam orang tua! Tetapi kalau itu dikehendaki, akupun dapat membuktikan apa jang aku utjapkan!"

"Pikirlah sekali lagi dengan masak2, Giok Im! Djangan kau menipu dirimusendiri untuk melakukan hal2 jang sangat mustahil! Kau tak patut mendjadi isteri si Bungkuk, selagi disana masih banjak tjalon2 suami jang lebih sesuai baik rupa maupun deradjatnja!"

"Tetapi mereka tak punja hak atas diriku, ajah! Hanja si Bungkuklah seorang, hanja dia?"

Pek Wan-gwee terdiam.

Hatinja sangat marah dengan kehandalan anaknja, jang dianggapnja terlalu memalukan keluarganja.

Sementara sang ibu membudjuki kembali kepada puterinja dan memintanja agar anak itu merubah sikapnja.

"Menjesal tak bisa, ibu!"

Djawab anaknja kukuh.

"Bagaimanapun djuga, aku harus mendjadi isterinja si Bungkuk, atau kalau tidak aku mesti mati!"

"Giok Im, mengapa kau membuat ibumu mendjadi berduka?"

Kata ibunja berlinang air mata.

"Jang membuat ibu berduka, bukanlah aku, tetapi ajah! Pada ajahlah ibu harus menuntut!"

"Djadi kau tetap dengan keputusanmu, nak?"

"Ja, ibu, keputusanku hanja tjuma satu, dan sudah pasti! "

"Djika demikian, sebaiknja ibu mati daripada melihat kau mendjadi isteri siburuk itu!"

"Sebelum ibu mati, aku akan mendahuluinja! Apa gunanja aku hidup dengan nama tjemar dan kotor!"

"Jang terhina bukan kau, tetapi ajahmu!"

Pek Giok Im tak berkata lagi.

Hatinja djengkel betul.

Kemudian, dengan tak mengutjapkan kata sepatahpun, ia meninggalkan kedua orang tuanja.

Alangkah sedihnja Pek Wan-gwee dan isterinja demi dilihatnja Pek Giok Im benar2 tak dapat dirubah keputusannja.

Budjukan2 tak berguna sama sekali, karena sang anak tak mau menghiraukannja, bahkan makin sengit menjesali dan menjalahi ajahnja jang dipandangnja telah kehilangan harga-diri sebagai keluarga terhormat.

Sekalipun pada mulanja Pek Giok Im merasa terperandjat waktu melihat rupa Too-pek-koay-hiap, namun kini anggapannja telah berubah, bahwa mau tak mau ia harus mengurbankan dirinja guna menepati djandji ajahnja, karena ia beranggapan, djandji adalah sama dengan kehormatan seseorang.

Barang siapa tak dapat menepati djandjinja, maka orang itu adalah rendah dan hina.

Dan kejakihan itulah jang mendorong ia harus rela berkurban.

Iapun telah berpikir, apabila kelak mendjadi isteri Too-pek-koay-hiap, ia akan memandanginja si Bungkuk sebagai suami jang lajak, jang harus dilajani segala kepentingan dan haknja.

Disamping itu ia mempunjai kejakinan, bahwa Too-pek-koay-hiap patut dihormati.

Jang buruk dan hina hanja kulitnja, tetapi prihadinja indah dan agung.

Dan umur tua tak mendjadi soal.

Dengan faham2 itulah Pek Giok Im memaksa kedua orang tuanja menuruti kehendaknja, menikahkan ia pada Loo Too-pek, karena hanja laki2 bungkuk itu sadja jang berhak atas diri dan kehormatannja!

Pek Hudjin mentjoba sekali lagi membudjuki anaknja untuk mengubah sikap dan pendiriannja.

Tak lupa djuga diberi djandji muluk2, bahwa selekas mungkin ia akan mentjarikan tjalon suami jang sesuai, jang muda dan tampan, djuga terpeladjar.

Tetapi justeru budjukan2 dan djandji2 jang sedemikian itu makin menambah kemarahan sang anak.

"Sekarang ibu menambah pula satu kesalahan, suatu kepitjikan pikiran! Sedangkan dihina sadja aku sudah tak sanggup mengatasi, kini aku hendak diperdjual-belikan seperti barang dagangan! Benar2 ibu menambah aku djadi djengkel sadja".

"Mengapa kau menganggap maksud baikku mendjadi sebaliknja?"

Tanja sang ibu.

"Sebab itu hendak me-nawar2kan aku pada sembarang orang sebagai barang dagangan sadja! Adakah kata2 dan maksud ibu dapat dibenarkan?"

"Bukan demikian maksudku, nak! Aku hanja ingin kau tak menudju djalan sesat dengan menjerahkan diri pada si Bungkuk, aku hendak memilihkan kau seorang tjalon suami jang sama deradjat".

"Kalau ibu menghendaki aku bersuamikan seorang pemuda jang tak bisa ditjela ketampanannja, mengapa dahulu ibu menolak mentah2 lamaran Go Thian Po, hingga akibatnja dia menimbulkan penghinaan hebat itu?"

"Dia adalah seorang pemuda hidung-belang dan pemogoran, dia tak lajak mendjadi suamimu!"

"Djadi ibu menghendaki seorang menantu jang dapat membahagiakan hidupku?"

"Ja!"

"'Si Bungkuklah jang nanti dapat berbuat demikian, Bu!"

"Tetapi dia seorang jang luar biasa buruknja! Lagi sudah amat tua, hingga bisa2 kau akan lekas mendjadi djanda-muda!"

"Kalau si Bungkuk mati, akupun harus mati bersama! Seorang isteri harus setia pada suaminja, dan akulah isteri jang sanggup berbuat demikian!"

Pek Hue jin bertambah2 djengkelnja.

Ia tak mengira Giok Im bisa mendjadi keras-kepala, dan mau berbuat hal jang tak diinginkan.

Pek Wan-gwee dilain pihak mengambil keputusan memberantas pendirian anaknja.

Ia mengatakan dengan tandas, apapun akibatnja, ia tak sudi memungut menantu seorang tua dan seburuk Loo Too-pek.

Tetapi djusteru sikap Pek Wan-gwee ini membikin Giok Im mendjadi nekat betul2.

Sedjak hari itu ia tak meninggalkan kamar-nja diatas loteng.

Pintu kamar ditutup dari dalam, dan budak2 tak diperkenankan menemani.

Djuga menolak makan maupun minum.

Tatkala sambil menangis sang ibu meng-gedor2 pintunja minta berdjumpa, Giok Im memberi djawaban keras2.

"Mau apa ibu menemani anak jang keras-kepala dan menjakiti hati orang tua? Djangan pedulikan aku, atau biarkan aku akan berangkat mati tak lama lagi! Dan tinggallah ibu bersama ajah mengetjap hinaan2 jang setiap hari memenuhi telinga itu!"

Ia menambahkan, kalau ia tahu sekarang ia harus mati menderita noda, adalah lebih baik dahulu mati dikurbankan oleh Tong Hong Hweeshio!

Bagaimanapun dibudjuknja untuk membuka pintu, Giok Im tetap tak menghiraukannja.

Tak heran, achirnja ajah dan ibunja mendjadi sangat berchawatir.

Djusteru Pek Wan-gwee dalam gelisah dan tjemas, isterinja sekarang menuntut, bahwa karena gara2 perbuatan jang sembarang mengutjapkan djandji, kini anak jang tjuma satu2nja harus mendjadi kurban.

Ia tak ingin Giok Im mati karena tidak mau makan atau minum; maka ia menuntut suaminja harus bertanggung-djawab segala akibatnja.

"Djika Giok Im mati, akupun tidak mau hidup lebih lama lagi!"

Ia berkata sambil merangsang dan me-raih2 badju suaminja.

Pek Wan-gweo se-olah2 mengindjak bara.

Rasa djengkel, duka dan bingung merangsang otaknja.

Achirnja ia dapat berpikir, bahwa sikap dan pendirian anaknja adalah benar.

Bahwa perbuatannja sangat menodai nama seluruh keluarga, pun memang adalah terlebih baik mati daripada hidup menderita malu karena tertjampur dan terhina.

Sikap anaknja menginsjafkan ia akan kerendahan dirinja.

Bagaimanapun buruk dan mendjidjikan rupa si Bungkuk itu, namun dia adalah berhak atas diri Pek Giok Im, karena Too-pek-koayhiap telah berhasil menjelamatkan djiwanja.

Sikap dan keputusan Giok Im membuka mata dan pikiran Pek Wan-gwee, ia menginsjafi, bahwa anak itu bukan sadja benar dalam pendiriannja, bahkan menggambarkan betapa indah pribadi dan insannja sebagai seorang gadis jang sutji dan berbudi.

Betapa agungnja Pek Giok Im, karena ia lebih suka mati daripada hidup menderita tjemar.

Lalu Pek Wan-gwee berunding dengan isterinja, dengan tak lupa memberi pengertian tentang sikap2nja Giok Im dan djedjak hidupnja mempunjai sifat2 agung dan sutji untuk arti adat-istiadat dan nama baik kekeluargaan.

Ia mejakinkan isterinja untuk memahami keindahan hati anaknja.

Bahwa sebagai orang tua, mereka harus berbangga mempunjai seorang anak sehagai Giok Im itu.

Oleh karena itulah sekarang ia mengambil keputusan untuk menikahkan anaknja pada Too-pek-koay-hiap.

Ia mengatakan lebih djauh, bahwa sebaiknja mereka tidak memandangi rupa seseorang dari lahir, melainkan bathinnja.

"Dan aku berharap, semoga kelak aku memiliki keturunan2 jang berdjiwa sebaik dan segagah Too-pek-koay-hiap itu!"

Ia menambahkan kemudian.

"Dan berharap Giok Im hidup berbahagia dengan suaminja itu! Aku pertjaja kau sependapat dengan aku!"

Isterinja menjeka air-mata jang ber-linang2 dikedua pipinja jang sudah keriput. Iapun mulai faham akan pendirian anaknja, dan sefaham dengan suaminja.

"Baiklah, kalau kaupun kini mempunjai kejakinan jang sedemikian!"

Katanja.

"Apa dajaku, bila Thian memang meudjdohkan anakku dengan si Bungkuk! Tjuma sadja.........."

Kembali Pek Hudjin menangis.

"Mengapa kau berduka benar isteriku?"

Bertanja Pek Wan-gwee.

"Djika kau sudah mempunjai kesadaran akan djiwa murni Giok Im, maka djanganlah kau mempunjai gandjalan lagi dalam hati. Relakan dan pudjikanlah, agar mereka hidup rukun dan berbahagia selamanja! "

"Memang aku sudah merelakannja itu............"

Sahut isterinja.

"Hanja sadja aku tetap berchawatir, adakah Giok Im benar2 dinikahkan dengan laki2 jang djauh perbedaannja itu? Tidakkah dia hanja memaksa2kan diri sekedar untuk menjutji noda?"

"Aku berani memastikan Giok Im benar rela dan ichlas! Aku tahu benar djiwanja! Giok Im seorang gadis terlalu indah untuk diragukan kepribadiannja!"

"Djika demikian, apa boleh huat! Tetapi dimana sekarang si Bungkuk itu?"

"Kita nanti menjuruh orang mentjarinja, atau minta bantuan Kam Tihu!"

Demikian keputusan suami-isteri itu.

Lebih dahulu mereka memberitahukan pada Giok Im, bahwa mereka telah menginsjafi segala kekeliruannja, dan bahwa mereka sekarang menjetudjui pendiriannja menikah pada si Bungkuk.

Hal jang mana membikin Pek Giok Im mendjadi girang.

Ia membuka pintu kamar dan berlutut dihadapan kedua orang tuanja, sambil mengutjapkan terima kasihnja.

"Dengan demikian noda2 dan hinaan2 akan dapat dihapus, ajah!"

Berkata sang gadis.

"Ajah dan ibu membuat aku merasa beruntung! Tetapi........"

"Mengapa?"

Menegasi ajahnja.

"Tetapi dimana Loo Too-pek sekarang?"

Sahut Pek Giok Im.

"Aku akan mentjarinja, djuga akan minta bantuan Kam Tihu!"

"Tetapi aku ada satu sjarat ingin dipenuhi, ajah!"

"Apakah sjarat itu?"

"Bila Too-pek-koay-hiap sudah ditemui, ku harap ajah memperhatikan soal pakaiannja, disesuaikan sebagai menantu seorang Wan-gwee!"

Pek Wan-gwee menganggukkan kepala.

Begitulah ia lalu menjuruh beberapa orang mentjari Too-pek-koay-hiap, dan harus dapat diadjak datang bersama.

Selain itu ia menemui Kam Tihu, dan menuturkan keputusannja jang telah diambil.

Mula2 pembesar itu mendjadi keheranan, karena djika benar2 gadis Thian-tay jang tertjantik diperisterikan si Bungkuk, akan merupakan suatu peristiwa pintjang, dan ketjantikan Pek Giok Im harus disajangi.

Tetapi kemudian djalan pikirannja bertumbuk dengan arti harga-diri dan nama baik kekeluargaan, maka ia menjokong pendirian Pek Wan-gwee, bahkan mengagumi djiwa, seorang gadis jang demikian agung itu.

"Kemarin orang membawa laporan, bahwa Too-pak-koay-hiap masih berada digeredja Seng-ong-bio!"

Berkata Kam Tihu.

"Apa maksudnja dia tinggal disana, entahlah. Dan apakah hari ini dia masih berada disana, aku tak dapat memastikan. Aku akan segera menjuruh orang melihatnja, dan membawanja nanti kerumah Wan-gwee!"

Pek Wan-gwee mengutjapkan terima kasih.

Kemudian kepala-daerah itupun pulang kerumahnja, lalu menjuruh dua orang mentjari Loo Too-pek di Sengong-bio.

Ternjata si Bungkuk masih berada digeredja itu.

Ia tengah membaringkan diri dilantai serambi sebelah dalam, tatkala pesuruh Tihu datang mengundang.

"Ada keperluan apa aku diundang Tihu?"

Menegasi si Bungkuk.

"Bukan Kam Loya jang mengundang, tetapi Pek Wan-gwee!"

Djawab pesuruh itu.

"Pek Wan-gwee?"

Mengulangi si Bungkuk keheranan.

"Tugasku sudah habis, dengan demikian, aku dengan orang kaja itu sudah tak punja sangkut-paut lagi. Pergilah beritahukan pada Pek Wan-gwee, bahwa aku tak dapat menerima undangannja, tetapi djangan lupa menjampaikan salamku padanja untuk sambutan dari djamuan jang telah diberikan padaku hari kemarin!"

"Tetapi Kam Loya memesan dengan sangat, agar Loo Too-pek dapat aku membawanja kerumah Pek Wan-gwee!"

"Sungguh, aku tak dapat datang!"

Kata si Bungkuk.

Lalu iapun membaringkan diri pula dilantai, dan memedjamkan matanja.

Terpaksa pesuruh2 itu kembali kekantor Tihu dan menjampaikan penolakan si Bungkuk itu.

Sekarang pembesar itu datang sendiri keklenteng dengan kendaraan tandu, iapun menjediakan tandu kosong.

Menampak kedatangannja pembesar itu, Loo Too-pek mendjadi gugup memberi hormat.

Dan sekarang ia tak dapat menolak undangan pembesar itu, jang dengan kerendahan hati telah datang sendiri ketempat perpondokannja.

"Apakah persoalannja, hingga Loya memerlukan diri memanggil seorang hina sebagai aku untuk keperluan Pek Wan-gwee?"

Ia mengadjukan pertanjaan.

"Demi hubungan baik aku dengan Pek Wan-gwee, aku mau djuga berbuat sesuatu untuk kepentingannja!"

Djawab pembesar itu.

"Apakah bukan persoalan Pek Siotjia?"^ "Entahlah, disana Loo Too-pek nanti akan dapat mengetahuinja". Si Bungkuk dimintanja naik tandu jang disiapkan, lalu mereka menudju kegedung Pek Wan-gwee. Orang kaja itu sudah menanti diserambi depan, dan melihat kedatangan tamunja, segera ia menjongsong dengan laku hormat sekali. Si Bungkuk dipersilahkan berduduk diserambi dalam dan budjang menjuguhi air-teh. Orang jang memulai berbitjara adalah Kam Tihu jang diminta mewakili tuan-rumah, dan soalnja berkisar pada maksud Pek Wan-gwee jang bersedia menepati djandji jang pernah diumumkan, atau dengan kata lain, Pek Siotjia bersedia diperisterikan Too-pek-koay-hiap dengan rela dan ichlas. Bukan main kagetnja si Bungkuk. Meskipun hal itu sudah dibajangkan dalam hatinja, namun setelah mendengar kenjataannja, ia mendjadi tertjengang djuga. Lantas ia menjatakan penolakannja pula, dengan alasan jang sama, bahwa bukannja ia tidak menghargai kedjudjuran dan keichlasan orang terhadapnja, melainkan pribadinja sendiri sangat berkeberatan, karena ia menginsjafi benar, bahwa bukanlah satu hal jang lajak seorang tua, buruk dan tjatjad sebagai ia memperisterikan orang Tjiankim Siotjia sebagai Pek Giok Im.

"Sekali lagi aku harus mengemukakan, bahwa tak terpikir oleh ku akan mengharapkan hadiah apapun dalam usahaku menjelamatkan djiwa Pek Siotjia, karena itu adalah kewadjibanku memberantas setiap kedjahatan dan menolong si lemah!"

Ia berkata dengan sungguh2 dan tandas.

"Biarlah keluarga Pek jang terhormat tak usah merasa kehilangan muka karena djandjinja jang tak dapat terpenuhkan. Aku harus menolak memperisterikan Pek Siotjia jang aku anggap terlalu sutji dan mulia! Djanganlah Wan-gwee merasa tersinggung atau malu karena tjemooh dan hinaan dari luar, atau bila perlu aku nanti membungkam mulut mereka dengan kekerasan! Terusterang aku menjatakan, apabila Kam Tihu tadi mendjelaskan untuk soal aku diundang kesini, aku akan tetap tidak sudi datang kemari!"

Kam Tihu menerangkan lebih djauh sebab2 utama mengapa kini persoalan Pek Siotjia dikemukakan.

"Memang akupun dapat menjelami pendirian Loo Too-pek jang sebenar2nja!"

Menambahkan Pek Wan-gwee.

"Terlalu berbudi seorang sebagai Loo Too-pek. Akan tetapi dengarlah, Giok Im sangat berduka karena dia tak dapat memenuhi kewadjibannja sebagai seorang anak terhadap noda jang dihadapi orang tuanja. Aku bersumpah untuk mati, bila dia tak dapat mempersuamikan loo Too-pek jang ia sangat djundjung kepribadiannja! Ia sudah nekad menjembunjikan diri dikamarnja hari kemarin dan menolak makan maupun minum. Karena itu aku sangat chawatir akan keselamatannja. Dia seorang anak jang keras hati, dan tak dapat di-tawar2 kemauannja. Pertjajalah Loo Too-pek, dalam hal ini Giok Im rela dan ichlas diperisterikan olehmu. Maka aku bermohon, dengan sangat Loo Too pek tak menolak lagi. Bawalah Giok Im kemana kau suka, dan aku berharap, semoga dia nanti berbahagia ditangannmu!"

Too-pek-koay-hiap tiba2 tertawa.

"Bagaimana mungkin seorang gadis sebagai Pek Siotjia dapat hidup berbahagia dengan seorang suami sebagai aku, jang selain sudah dekat mati, pun buruk benar segalanja! Aku sendiri merasa djidjik akan keadaanku, apalagi Siotjia! Djanganlah Wan-gwee menipu diri-sendiri untuk berbuat sesuatu hal jang amat bodoh! Pertjajalah, Siotjia akan tjelaka seumur hidupnja bila mendjadi isteri si Bungkuk, dan aku tak mau berbuat demikian! Hatiku akan menangis bila melihat nasib seorang gadis jang mestinja dapat hidup bahagia telah memilih djalan keneraka, dan aku tak mau mendjadi seorang berdosa besar!"

"Djika demikian, djadinja Loo Too-pek terlebih besar dosanja membiarkan anakku mati untuk sia2! Aku tak pertjaja Loo Too-pek berhati kedjam dan buas. Kalau dia benar2 mati, maka akan hantjurlah keluarga dirumah ini!"

Too-pek-koay-hiap mendjadi bimbang hatinja.

Ia melihat, bahwa kerelaan dan keichlasan membajang diwadjah Pek Wan-gwee, dengan demikian, djadi sunguh2 Pek Siotjia mau menjerahkan diri dan nasibnja demi nama baik keluarganja.

Disamping itu Kam Tihu pun bantu membudjuki, agar ia tak terus2an keras-kepala atau mengetjewakan keluarga Pek.

Maka kemudian berubah djuga pikiran dan keputusannja.

Tiada djalan lain baginja untuk menolak, bilamana ia tak ingin seorang gadis berharga sebagai Pek Giok Im harus mendjadi kurban kebhaktian.

"Aku akan memberikan keputusanku nanti, apabila aku mendengar sendiri suara-hati Pek Siotjia mengenai masalah ini!"

Ia berkata kemudian.

"Maka djika tak dianggap melanggar sopan-santun, aku menghendaki djawaban2 langsung dari mulut Siotjia sendiri. Dan Pek Hudjin diperlukan kesaksiannja pula. Djika tidak, tak usahlah orang membudjuk2 atau menghargai kerelaanku !"

Pek Gwan-Gwee menoleh pada Kam Tihu, se-akan2 minta pikirannja pembesar itu.

Kam Tihu mengerti maksud sahabatnja, maka ia memberi tanda agar Pek Wan-gwee memanggil anak dan isterinja.

Pek Giok Im bukan seorang gadis terpeladjar atau penakut bila ia malu2 menemui Too-pek-koay-hiap dihadapan ajah dan Kam Tihu, ia memenuhi panggilan ajahnja dengan segera.

Iapun agaknja sudah mejakinkan segala perundingan dan untuk apa sekarang ia diminta kehadirannja bersama ibunja.

Ia mendjura pada ajahnja dan Kam Tihu, kemudian pada Loo Too-pek.

"Perintah apakah jang ajah hendak berikan padaku?"

Tanjanja.

Pek Wangwee dengan langsung menuturkan masalah perdjodohan dengan Too-pekkoay-hiap berdasarkan djandji jang telah diutjapkan beberapa hari jang lalu sebelum peristiwa Pek Giok Im digondol harimau-iblis.

Iapun kemukakan, bahwa semula si Bungkuk berkeras menolak pernikahan, namun kini mau mengalah djuga, dan untuk itu si Bungkuk ingin mendengar sendiri suara-hati Pek Giok Im jang sebenarnja.

"Oleh karena demikian"

Meneruskan Pek Wan-gwee.

"maka bersediakah kau sekarang untuk menjatakan kerelaan dan keichlasanmu menepati djandji ajahmu dengan mulutmu sendiri?"

"Bila itu diperlukan, akupun tak akan menolak!"

Udjar Pek Giok Im sambil menundukkan muka.

"Demi kepentingan dan nama baik keluarga Pek, aku rela diperisterikan oleh seorang jang telah berhasil menjelamatkan djiwaku dari tjengkeraman Tong Hong Hweeshio!"

Djelas ditelinga Too-pek-koay-hiap mendengar djawaban Pek Giok Im jang tetap dan sungguh2 itu, satu hal jang mau tak mau membikin ia sangat takdjub akan ketabahan hatinja gadis itu jang rela menjerahkan diri kepada seorang laki2 tua dan mendjidjikan!

Ia menghela napas.

"Djawaban Siotjia jang singkat sudah tjukup djelas bagiku. Seumur hidupku tak pemah kusangka akan ada peristiwa seperti ini, seorang gadis seindah Siotjia hendak memasuki petjomberan! Tidakkah Siotjia akan menjesal kelak?"

Kata si Bungkuk.

"Hanja seorang gadis jang tak tahu kehormatan keluarganja dapat berpikir sepitjik itu!"

Sahut Pek Giok Im.

"Dia lebih suka hidup tertjemar dan hina daripada berkurban!"

"Tetapi pengurbanan Siotjia tidak pada tempatnja. Aku tak menghendaki ajahmu membajar djandjinja, tetapi sebaliknja Siotjia jang keras-kepala memaksa berkurban!"

"Loo Too-pek tak menuntut djandji ajah, tetapi barangkali Loo Too-pek sudah mendengar, betapa hebat orang mentjatji-maki dan menista kami! Itu belum semua. Mereka mengatakan aku sudah bukan gadis lagi, karena Loo Too-pek sudah men-djamah2 badanku dari Goe-thauw-nia sampai kerumah pada malam jang mengerikan itu, bahkan sudah pula berada sekamar dengan aku. Oleh karena itu, bila aku tak dapat mempersuamikan laki2 pertama jang pernah me-njentuh2 badanku, pada siapa pula aku harus menjerahkan diri? Air mata dapat dihapus, tetapi noda jang menghitam kehormatan seorang wanita, dengan apa harus dilenjapkan?"

"Itu benar, tetapi tidak benar seluruhnja. Siotjia masih tetap putih-bersih hingga detik ini, putih bagaikan saldju jang baru tiba dari angkasa."

"Loo Too-pek sangat berkepandjangan dalam persoalan! Kini aku hanja ingin ketegasan, apakah keputusan Loo Too-pek mengenai masalah nikah?"

"Aku tak sampai hati melihat Siotjia mendjadi kurbanku! Siotjia akan menderita nantinja! Aku bermohon dengan sangat agar Siotjia mengubah pendirianmu!"

"Artinja Loo Too-pek berkeberatan, bukan?"

"Ja, demi kebahagiaanmu, hatiku akan menangis melihat pengurbanan jang sebesar itu!"

Baca Juga: Rajawali Lembah Huai 4

Baca Juga: Bayangan Bidadari Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert