Eps 3 Si Bungkuk Pendekar Aneh - Boe Beng Giok
Baca online Si Bungkuk Pendekar Aneh - Boe Beng Giok
Cersil Si Bungkuk Pendekar Aneh - Boe Beng Giok.
"Baikljih, bila Loo Too-pek menolak, orang hanja akan mendengar sadja berita kematianku sebelum matahari terbit esok pagi!"
"Astaga, mengapa Siotjia demikian keras hati?"
"Kalau Loo Too-pek tahu aku seorang berhati keras seperti batu, maka selajaknja Loo Too-pek akan bisa bersikap lain!"
Too-pek-koay-hiap berdiam diri tak dapat ber-kata2.
Sulit agaknja untuk ia mengambil keputusan.
Menampak orang bersangsi, Pek Wan-gwee lalu memohon agar si Bungkuk tidak menolaknja.
Kam Tihu djuga bantu membudjukkinja.
Karena itu terpaksa Too-pek-koay-hiap mengubah sikapnja mendjadi lebih lunak.
"Bila itu jang dikehendaki Siotjia, akupun terpaksa harus mengalah, pengurbanan Siotjia aku takkan men-sia2kannja, aku akan berdaja kelak dapat membahagiakan hidupmu! Tetapi ada satu hal aku perlu kemukakan. Aku rasa Siotjia belum mendengar tjukup banjak tentang diriku, karenanja itu aku chawatir kelak Siotjia djadi menjesal. Pertama, perbedaan umur, kedua deradjat, ketiga keburukan wadjah dan bentuk badanku, keempat, aku tak punja tempat meneduh jang lajak dan tak berpentjaharian, djusteru semua itu adalah jang penting buat direnungkan!"
"Sudah aku mengetahui semuanja!"
Djawab Pek Giok Im.
"Loo Too-pek seorang paling buruk jang aku pernah djumpai, miskin dan tak punja tempat meneduh jang lajak, semua itu tidaklah mendjadi soal bagiku, karena pondokan dan pentjaharian dapat aku menjelenggarakannja sampai tjukup. Jang penting dan jang aku butuhkan, ialah isi didalam tubuh Loo Too-pek, bukan kulitnja!"
"Tetapi mungkin Siotjia akan lekas mendjadi djanda karena barangkali aku takkan dapat hidup setahun-dua karena usiaku jang telah landjut!"
"Bila Loo Too-pek mati esok ataupun lusa, akupun harus mati djuga, atau masuk biara! Seorang isteri sudah selajaknja bersetia pada suaminja, dan mengikuti kemana dia pergi!"
"Ah, mengharukan benar kata2nja, Siotjia! Baiklah, djika pendirianmu sudah demikian tetap! Sekarang tinggal satu sjarat, sehabis menikah kau akan kubawa Kekampung halamanku, digubukku jang ketjil dan tua, dilembah sunji Siang-yang-kok dikampung Go-hong-tjhun, sebelah Tenggara kota Sintjiang. Disana tak ada apa2 selain alam-luas, sungai, hutan tjemara, dan dikala malam hanja dimeriahkan oleh bunji musik djengkerik ditanah ladang! Dapatkah kiranja Siotjia hidup tjara demikian, selagi Siotjia disini hidup didalam ketjukupan, gedung indah dan dimandja segenap keluarga?"
"Sudah kukatakan tadi, dimana suami ada, disitu isteri menjertainja! Bawalah aku kemana sadja Loo Too-pek pergi !"
"Baiklah, sekarang aku menerima semuanja! Dan aku menghendaki kesaksian ajah dan ibu Siotjia, serta Kam Tihu!"
Pek Wan-gwee berdua isterinja menjatakan kesaksiannja, diikuti oleh Kam Tihu.
Sementara itu Pek Giok Im minta pada orang tuanja untuk memberikan perkenan serta doa-restuuja.
Selandjutnja ia menghendaki, agar upatjara pernikahan dirajakan setjara sederhana, tjukup dengan kehadiran para keluarga dan tetangga2 jang dekat dengan maksud mentjegah kehebohan jang mungkin ditimbulkan oleh pihak2 tertentu, jaitu dari Go Thian Po.
Pada saat itu djuga Too-pek-koay-biap mendjalankan peradatan selajaknja pada tjalon ajah dan ibu-mertuanja, sambil memanggil Gak-hu dan Gak-bo.
Dilain pihak, atas persetudjuan Kam Tihu, Pek Wan-gwee menetapkan hari perkawinan anaknja seminggu lagi, jaitu pertengahan bulan kedua, karena hari itu adalah hari baik menurut perhitungannja.
Lantas si Bungkuk minta diri pulang ke Siang-yang-kok untuk mengadakan persiapan sekedarnja.
Mula2 Pek Wan-gwee memberikan sedjumlah uang untuk keperluan persiapan segala sesuatunja, namun Too-pek-koay-hiap menampiknja.
Esok harinja selagi Too-pek-koay-hiap ber-kemas2 berangkat pulang kekampung-halamannja, benar2 timbul kegamparan pula jang menjangkut keluarga Pek sebagai sudah diduga oleh Pek Siotjia sebelumnja.
Demikianlah tjerita meluas di-mana2, bahwa dikatakannja takkan lain keputusan keluarga Pek mengenai soal anak-gadisnja, Pek Giok Im, daripada harus dikawinkan dengan Too-pek-koay-hiap, betapapun buruk dan mendjidjikkan rupa laki2 itu, sebab gadis she Pek itu sudah pernah dibopong2 oleh Loo Too-pek, bahkan tidur dalam sekamar!
Berita itu terang merupakan fitnahan sangat kotor, namun sekarang terlebih hebat lagi.
Dan sumbernja bukan lain dari pada berasal dari mulut Go Thian Po.
Maka bukan sadja keluarga Pek djadi sangat mendongkol terhadap pemuda kaja jang mulutnja kotor itu, bahkan Too-pek-koay-hiap jang sendiri tak dapat menahan pula amarahnja.
"Dahulu orang mentjegah aku melabrak padanja, sekarang ternjata dia bertambah melundjak!"
Berkata si Bungkuk dalam hati.
"Kini tiada djalan lain, aku harus memberi hadjaran jang setimpa! padanja!"
Malam itu ia menjelinap memasuki rumah Go Thian Po dengan djalan dari atas genteng.
Dengan pedang dihunus ia mentjari kamar tidur pemuda jang kotor mulut itu.
Sebelum dapat mentjari Go Thian Po, lebih dahulu ia memasuki sebuah kamar dimana ia bongkar sebuah lemari, lalu digasaknja sedjumlah besar uang tunai, hampir penuh sekantong.
Setelah itu dimasukinja kamar tidur Go Thian Po.
Ternjata pemuda itu sedang tidur njenjak bersama seorang perempuan muda.
"Aku tahu pemuda ini masih budjangan, mengapa dia tidur serandjang dengan seorang wanita? Tentu wanita ini kendaknja!"
Lantas ia peroleh siasat bagus. Kedua manusia itu ditotok djalan darahnja, hingga tidak bisa bergerak pula. Pakaian luar mereka sengadja dilutjuti, lalu keduanja diikat mendjadi satu.
"Esok pagi kau akan menerima sambutan hangat dari chalajak ramai tentang perbuatanmu ini!"
Kata Too-pek-koay-hiap sambil tersenjum puas, setelah mana ia melompat keluar dari djendela dan kembali kerumahnja Pek Wangwee.
Tidak ada jang ketahui perbuatannja.
Benar sadja, keesokan paginja terdjadi kegemparan di dalam keluarga Go, bahwa Go Thian Po dengan tubuh telandjang bulat terdapat terikat mendjadi satu dengan salah seorang budak perempuan diatas pembaringannja.
Kedjadian mana mendjadi buah-tutur segenap penduduk jang ramai.
Ajah dan ibunja Go Thian Po sangat marah akan perbuatan anaknja jang memalukan itu, Go Thian Po dimaki habis2an.
"Anak tjelaka, bedebah, tak tahu malui,"
Demikian antara lain makian Go tua.
"Disuruh kawin dengan gadis2 jang sudah dipilih selalu menolak, jang digilai hanja gadisnja orang she Pek, jang terang2 telah menolaknja. Dan kini melakukan perbuatan jang sangat memalukan. Benar2 anak tjelaka!"
Dalam mendongkolnja, Go Thian Po tak tahu, siapa orangnja jang berbuat djail padanja semalam, hingga ia di-maki2 orang tuanja dan disoraki orang sekota.
Tetapi dilain pihak, ajah budak itu, Lauw Siok, tak dapat membiarkan anaknja perempuan, Lauw Pen, ditjemarkan kesutjiannja oleh madjikan95 mudanja.
Ia tak mau anaknja kelak mendjadi terlantar hidupnja karena sudah noda dan kotor.
Lantas ia datang menemui Go Wan-gwee untuk menuntutnja agar Lauw Pan didjadikan menantunja.
Go Wan-gwee, seorang tinggi hati dan sombong, mana mau gampang2 menerima tuntutan Lauw Siok, malah sebaliknja ia lantas memaki.
"Aku disuruh mendjadi besanmu? Orang jang tak tahu diri! Mendjadi madjikan anakmu sadja sudah berarti kemudjuran bagimu!"
Dampratnja.
"Soal Wan-gwee mendjadi madjikan anakku adalah soal biasa!"
Djawab Lauw Siok.
"Anakku mendjadi budak untuk mentjari nafkah, bukan untuk dirusakkan kesutjian dan nasibnja oleh anakmu!"
"Huh, enak sadja kau ngomong! bentak Go Wan-gwee.
"Djika anakmu memang bukan genit dan tahu akan harga diri, tak mungkin dia mau meladeni anakku!"
"Djadi Wan-gwee maksudkan, anakku jang bersalah?"
"Lalu siapa lagi?"
"Aku tak jakin Lauw Pen jang memikat Go Kongtju. Sebaliknja Go Kongtjulah jang me-raju2, hingga anakku mendjadi kurban tertjemar kehormatannja, karena itu aku berhak menuntutnja. Sekarang Wan-gwee menolak tuntutanku, bahkan menjalahkan anakku. Baik. Djanganlah Wan-gwee mendjadi menjesal, bila aku akan memperdjuangkan peristiwa ini dimuka pengadilan!"
Go Wan-gwee agak terkedjut.
Ia insjaf Lauw Siok sangat marah, dan menghendaki penjelesaian.
Kini Lauw Siok hendak mengadakan hal itu kepengadilan.
Ia mendjadi takut djuga.
Sekarang ia merubah sikapnja, mengadjak berdamai, dan mendjandjikan ganti-kerugian tjukup memuaskan.
Tetapi Lauw Siok malah djadi makin gusar.
"Walaupun miskin, aku takkan memperlakukan anakku sebagai barang dagangan, mengerti?"
Ia berseru.
"Kini hanja keputusan Wan-gwee, hendak Wan-gwee memenuhi tuntutanku atau diselesaikannja melalui pengadilan?"
Go Wan-gwee berdiam diri.
Djelas pada wadjahnja nampak kemarahan besar karena sikap menantang dari Lauw Siok jang dipandangnja hanja seorang hina belaka.
Lalu ia memutuskan, djika Lauw Siok tidak mau menerima uang ganti-kerugian, iapun takkan merubah maksudnja.
Djusteru Lauw Siok seorang pemarah, melihat sikapnja Go Wan-gwee jang kepala batu dan sombong itu, ia segera berlalu.
Tak lama kemudian datang opas2 dari Djawatan Hukum, jang memanggil Go Wan-gwee kekantor pemerintah-daerah atas nama Kam Tihu.
Pengaduan Lauw Siok diperkuat oleh keterangan2 dua orang budak Go Wangwee jang menjaksikan dengan mata-kepala sendiri dikala Go Thian Po terikat badannja serandjang dengan Lauw Pan.
Peristiwa mentjemar kehormatan seorang gadis telah mendjadi sangat njata, lebih2 Lauw Pan memberikan pengakuannja, bahwa ia menjerahkan kehormatannja pada Go Thian Po karena diantjam dan dibudjuk dengan djandji2 akan dinikah nantinja.
Ia menerangkan lebih landjut, bahwa bukan malam itu sadja ia diadjak tidur serandjang, melainkan sudah berulangkali.
Oleh karena demikian, maka Lauw Siok mengadjukan tuntutan, untuk Go Thian Po mengawini Lauw Pan, karena ia tak mau anak gaidsnja dipermainkan dan kini harus menderita kehinaan.
Mula2 Go Wan-gwee tjoba menolak tuntutan, dengan menondjolkan alasan2 jang di-tjari2.
Akan tetapi pembelaannja itu terlalu lemah, pengadilan memutuskan Go Thian Po harus menepati djandjinja mengawini gadis jang telah ditjemarkan, atau 3 tahun masuk pendjara.
Go Wan-gwee tak berdaja lagi.
Sementara puteranja, Go Thian Po, karena tak ingin dipendjarakan terpaksa harus mengawini Lauw Pan.
Demikianlah peristiwa jang memalukan bagi keluarga Go.
Go Thian Po harus memperisterikan seorang pelajannja jang bukan gadis lagi!
Kegemparan itu meluas di-mana2, achirnja sampai djuga kerumah Pek Wan-gwee.
Keluarga ini, jang berulangkali dihina dan dinista oleh Go Thian Po, sangat bersjukur, karena pemuda penghina itu kini mendapat pembalasannja!
"Memang tiada kedjahatan dapat lari dari keadilan, begitulah kini dialami pemuda she Go jang djahat itu!"
Berkata Pek Wan-gwee, hatinja senang.
Seminggn kemudian, dirumah Pek Wan-gwee jang besar dan indah tetap seperti biasa, tak ada apa2 seperti hari2 jang lalu.
Tetapi didalam gedung itu sedang berlangsung upatjara perkawinan pintjang.
Pintjang, karena pengantinnja gandjil.
Seorang gadis tjantik djelita lagi terpeladjar diperisterikan dalam upatjara sederhana oleh seorang laki2 selain tua dan buruk wadjahnja pun punggungnja bungkuk pula.
Tak ada jang istimewa dalam upatjara perkawinan dari keluarga kaja-raya seperti Pek Wan-gwee itu.
Jang tampak hanja sebuah medja sembahjang untuk upatjara samkhay dengan sedikit sjarat jang diperlukan, dan sebuah medja djamuan untuk keluarga, beberapa orang tetangga dan Kam Tihu.
Diundangnja djuga Lauw Siu-tjay, itu pemuda malang karena tjalon isterinja dahulu telah mendjadi kurban keganasan Tong Hong Hweeshio, atas undangan Too-pek-koay-hiap.
Selama upatjara, Pek Wan-gwee dengan isteri sekalipun mentjoba memaksa2 diri untuk bergembira dan memberikan doa-restunja pada anak dan menantunja, namun pada hakekatnja ke-dua2nja tak dapat mengatasi kepedihan hatinja.
Lebih2 Pek Hudjin, sebagai seorang ibu jang sangat memandjai anaknja jang tjuma satu2nja, berlinang2 air matanja, sementara hatinja mengeluh, mengapa Giok Im jang masih sangat muda rupawan itu dan dimandja sebagai kumala hidup, kini harus menghadapi nasibnja jang djelek itu?
"Oh, mengapa dia harus mendjadi isteri Loo Too-pek jang tua dan djelek!"
Demikian keluhnja.
"Mengapa......... mengapa nasibnja demikian malang? Oh, anak jang kusajangi......!"
Pek Wan -gwee menjentuh badan isterinja.
"Sudahlah kau djangan berduka. Sudah suratan-takdir anak kita bernasib demikian. Tidak baik kau menjiramkan air mata dalam upatjara sutji ini, hingga akan berpengaruh djelek bagi nasib Giok Im jang tak berbahagia itu! Sudahlah diam, djangan menangis........."
Bisik Pek Wan-gwee membudjuki Upatjara berlangsung dalam kesederhanaan dan sunji, tetapi tjukup murni, karena kedua pengantin sungguh2 rela berpadu.
Ke-dua2nja bersumpah dan berdjandji untuk bersama setia dan saling menjinta sebagai suami-isteri.
Setelah itu mereka mendjalankan peradatan pada kedua orang tua dan pada tamu2 lain, sesudahnja didjadjarkan atas dua kursi, menghadapi hidangan ditengah2 orang jang hadir.
Kedua pengantin menerima pemberian selamat dan doa2-sutji.
Pek Giok Im mengenakan pakaian mempelai setjara sederhana sekali menurut kehendaknja, sedangkan si Bungkuk berdandan djauh lebih baik dari biasanja, jaitu pakaian pengantin umum.
Namun demikian, tidaklah dandanan pengantin itu mengurangi keburukan mukanja, dan mengubah ketuaan umurnja!
Pada njatanja, tiada seorang tamu jang tidak merasa gegetun menjaksikan pasangan jang djauh perbedaannja itu, perbedaan umur, roman muka maupun keuangannja!
"Kasihan benar nasib Pek Siotjia...........!!"
Demikian kata mereka.
Selesai upatjara, selesai pula segalanja.
Pesta nikah tak meninggalkan kesan, segalanja seperti biasa, penuh rasa ketjewa dan duka.
Dan pada hari itu pula, seperti sudah disjaratkan Too-pek-koay-hiap kedua mempelai meninggalkan gedung keluarga Pek.
Pek Giok Im harus mengikuti suaminja.
Pek Hudjin, menjuruh seorang budak mengikuti anaknja untuk menemani dan melajani segala keperluannja, tapi Pek Giok Im menolak.
"Tak usah ada seorang budak menjertai aku!"
Katanja.
"Dirumah suami jang ketjil didesa segalanja akan dapat aku menjelesaikannja sendiri! "
Kedua pengantin digotong djoli menudju kedesa Go-hong-tjhun.
Segenap orang didalam rumah keluarga Pek merasakan kehilangan sesuatu jang terbesar dan Pek Hudjin tak terasa menangis pula, menangis keras2 didalam kamar tidurnja.
Kedua djoli pengantin digotong orang, dengan hanja heberapa orang pengantar jang nantinja kembali pula ke Thian-tay.
Rumah pengantin laki2 adalah disebuah lembah sunji, Siang-yang-kok, termasuk daerah kota Sintjiang.
Iklimnja sangat sedjuk, pemandangan alamnja indah dengan sungai dan ladang2nja jang subur, dan ada pula pasarnja.
Penghuninja tak seberapa banjak, hidup dari hasil pertanian dan perkebunan.
Rumah Too-pek-koay-hiap sebuah gubuk ketjil peninggalan orang tuanja, keletakannja mentjil djauh dengan tetangga.
Tetapi keadaanja tjukup bersih, perabotanja sederhana dengan hanja sebuah medja dan beberapa kursipindjaman.
Dimedja ini sudah disiapkan hidangan, sekedar untuk djamuan menjongsong pengantin.
Ruang dapur dan kamar mandi serba ketjil, letaknja dibagian belakang.
Dipodjok kanan ada sebuah kamar lain berukuran ketjil djuga, tetapi pintunja dikuntji, orang tak tahu apa isi didalamnja.
Kamar tidurnja tjuma sebuah, namun perlengkapannja agak lumajan, dengan seprei dan kelambu baru, dilengkapi sebuah medja rias berkatja ketjil, sebuah tempat penjimpan pakaian.
Kamar tidur Too-pek-koay-hiap biasanja tak begitu rupanja, melainkan tjukup dengan balai2 sadja tanpa kasur atau bantal.
Dirumah gubuk itu sudah ada sedjumlah orang, kisemuanja tetangganja mempelai.
Tiada dilakukan upatjara lagi, melainkan para tamu memberikan salam dan doa2 sutji.
Lanias disusul djamuan ketjil seadanja, selama mana mempelai wanita diperkenalkan pada tamu2 tetangga itu, jang merasa takdjub akan ketjantikan mempelai wanita.
"Seperti seorang gadis jang sudah tak laku sadja, gadis seindah dan tjantik manda diperisterikan seorang laki2 jang didesanja tak ada seorang perempuan pun mau menolehnja!"
Mendjelang petang pengantin sudah berduaan sadja.
Dan begitulah, sedjak hari itu Pek Giok Im mendjadi isteri Too-pek-koay-hiap.
Ia rela meninggalkan kesenangan dan keindahan hidup sebagai puteri seorang hartawan, meninggalkan keluarganja, meninggalkan segalanja di Thian-tay.
Dan kini ia hidup dengan seorang suami jang tak ada kesesuaiannja itu, Loo Too-pek jang tua buruk, disebuah gubuk ketjil sederhana, dilembah sunji, djauh dari tetangga.
Dikala siang hanja berteman dengan si Bungkuk, berkawan dengan tumbuh2an dan ladang, memandangi aliran sungai jang djernih airnja, dan dimalam-hari hanja kesunjian dan kegelapan sadja jang meliputi sekelilingnja, paling djuga menikmati bunji musik dengan irama-lagunja jang menjendiri terluap dari retak2 tanah ladang, ialah njanjian djengkerik ataupun belalang.
Sunji dan bersahadja benar kehidupannja.
Dalam keichlasannja melempar segala kemewahan hidup, Pek Giok Im memperlihatkan harga seorang isteri dalam arti jang se-benar2nja.
Ia melakukan segala kewadjibannja dengan betul, menjiapkan apa jang dibutuhkan seorang suami, merawat rumah, bertanak atau menjapu lantai, dikerdjakannja sendiri tanpa budak.
Ia ingin mendjadi isteri jang baik, setia dan menjajangi suami, walaupun suami itu seorang tua dan djelek romannja.
Adalah satu hal aneh, bila pada se-waktu2 Too-pek-koay-hiap pulang membawa uang banjak atau barang2 berharga, seperti djuga seorang saudagar besar jang baru habis berdagang diluar negeri, namun ia bukanlah seorang saudagar.
Dan jang terlebih aneh pula jalah uang itu disedekahkan pada tetangga2 jang melarat, bahan2 pakaian diberikan pada siapa sadja jang membutuhkan.
Ia sendiri sedikit sekali memakai uang untuk kepentingan hidupnja jang bukan kaja itu.
Karena itulah banjak orang dilembah sangat menghargai dan berhutang budi tak sedikit padanja.
Bila orang menanjakan dari mana ia memperoleh uang, Loo Too-pek hanja mendjawab, pakai sadja uang itu dengan senang, sebab uang itu ia perolehnja bukan dari djalan jang tidak halal.
Kelakuan dan perbuatan Loo Too-pek jang aneh itu mendjadi satu rahasia dan teka-teki umum, setimpal dengan djulukannja Too-pek-koay-hiap atau si Pahlawan-bungkuk jang gandjil berdasarkan ia pernah mengubrak-abrik pendjahat-gundul Tong Hong Hwee-shio jang sangat terkutuk itu!
Memang aneh kehidupan Too-pek-koay-hiap itu, demikian terpikir oleh Pek Giok Im.
Keanehan itu bukan hanja ditjeritakan oleh mulut orang lain, melainkan disaksikannja sendiri djuga.
Sudah beberapa kali suaminja pulang membawa banjak uang dan barang2 berharga, dan tak djarang melakukan sedekah kepada te-tangga2nja jang miskin, sedangkan ia bukan seorang pekerdja, bukan pula pedagang.
Dengan demikian keperluan hidupnja sehari2 tak pernah terbengkalai.
Bila Loo Too-pek tak pergi keluar daerah, maka ada pula kegemarannja jang istimewa, jaitu pergi berburu kehutan, hasil buruannja diperuntukkan teman nasi.
Dipandang dari luar, hubungan suami-isteri itu sangat rukun dan damai, bisa menimbulkan iri hati orang, kadang2 mereka mengobrol sambil bergurau.
"Alangkah berbahagianja Loo Too-pek itu! Seorang laki2 bungkuk dan tua memperoleh isteri jang selain tjantik-elok pun sangat setia dan menjajanginja!", demikian seseorang memudjinja.
"Dia perawan bodoh, mau bersuamikan laki2 hantu jang wadjahnja amat menakutkan!"
Kata seorang pula jang mempunjai kesan lain.
Sungguhpun demikian, namun apakah benar2 Pek Giok Im hidup beruntung?
Apakah pengurbanannja untuk kebaikan nama keluarga Pek, mendapat pembajaran setimpal?
Pek Giok Im harus dikasihani.
Ia tak mendapat apa jang diharapkan.
Ia tak pernah memperoleh apa jang seorang isteri berhak mendapat dari sauminja.
Pada tiap2 Loo Too-pek pergi berburu, mengeluhlah hati Pek Giok Im, malah kadang2 hampir menangis.
Sebab selama mendjadi isteri, belum pernah ia menikmati apa arti kesuami-isterian.
Benar Loo Too-pek selalu memperlihatkan kesajangan besar padanja, selalu berusaha menjenangkan hatinja namun itu hanja untuk menghibur belaka, untuk tak membikin Pek Giok Im kesepian dikala siang-hari.
Tetapi pada malam-hari, sekalipun tidur serandjang sepandjang malam, tak pernah satu kali si Bungkuk menjentuh badannja, tak pernah Loo Too-pek minta ini-itu sebagai lajaknja seorang suami pada isterinja.
Kelakuan Loo Too-pek jang aneh itu menimbulkan anggapan kepada Pek Giok Im, bahwa keichlasan dan pengurbanannja ternjata sia2.
Suaminja tak pernah tahu kewadjibannja, tak pemah memberi apa jang seorang isteri berhak memperolehnja.
Karena itulah, dari gegetun Pek Giok Im djadi merasa hidupnja ketjewa.
Dan hampir setengah tahun penghidupan jang demikian itu telah lampau, Pek Giok Im telah merasakan seperti orang jang sudah berumah-tangga, ia tidak mengalami kenikmatan apa jang dinamakan suami-isteri.
Ia merasa ketjewa akan perlakuan Too-pek-koay-hiap jang membiarkannja ia dalam kesepian dan kekosongan, dalam segalanja jang tak pernah dibajangkan.
Maka makin lama makin sedih hatinja, dan apabila dahulu ia tjuma mengeluh, sekarang ia menangis.
Ada kalanja ia ingin berterus-terang, akan tetapi setiap kali ia terkuntji mulutnja.
Rasa kewanitaan dan adat-istiadat mentjegah ia berbuat demikian.
Tetapi apakah ia dapat meneruskan tjara penghidupan jang demikian itu sampai usia berlandjut?
"Sungguh2 aku tak menduga, kalau kenekadanku berkurban achirnja akan mendjadi begini!"
Demikian keluhnja "Dibuangnja segala kesenangan dan kemewahan hidup di Thian-tay, dan ditindasnja segala perasaan dan penderitaanku, dengan pengharapan aku berhasil memperdjuangkan nama kehormatan keluarga dari tjemar dan noda, tetapi achirnja hanja kegetiran dan keketjewaan belaka jang kuperoleh!
Loo Too-pek tak menghiraukan kesepian dan kehampaanku.
Setiap hari aku ditinggal pergi hanja untuk seekor kelintji, setiap malam didjemur!
Mengapa Loo Too-pek mendjadi demikian anehnja?
Apa maksud sebenarnja dia merenggut aku dan membawahi kelembah sunji ini?
Djika benar2 dia tak dapat memenuhi kewadjiban sebagai seorang suami, mengapa dia tidak mau membiarkan aku menempuh djalanku jang kupilih, jaitu kematian?
Mengapa............
ja mengapa?"
Sesekali Pek Giok Im menjatakan kekurang-puasnja, dengan djalan tak langsung tjoba membangkit perhatian suaminja.
Namun usahanja tetap sia2.
Maka pada satu masa menangislah Pek Giok Im seorang diri, bahna kesal dan sedihnja.
Ketika itu kebetulan Too-pek-koay-hiap pulang berburu membawa hasil 2 ekor kelintji gemuk.
Ia terkedjut melihat isterinja sedang menangis.
"Mengapa kau menangis, sajangku? Mengapa kau bersedih? Siapakah gerangan jang melukai hatimu?"
"Aku tak sedih, tetapi djengkel dan ketjewa!"
Djawab isterinja agak kaku.
"Mengapa djengkel dan ketjewa?"
Mengulang si Bungkuk.
"Adakah aku pemah berbuat salah padamu? Djika benar, sudilah kau memaafkan! "
"Tidak perlu!"
"Mengapa tidak?"
"Pertjuma kau meminta maaf, karena keketjewaanku tak dapat dihapus hanja dengan permintaan maaf!"
"Djadi apa jang harus kuperbuat?"
Kata Loo Too-pek bingung.
"Benarkah seorang suami tak mengerti air mata isterinja?"
"Aku mengerti, Giok Moay-moay, air matamu adalah karena kedjengkelan! Apa sebabnja kau mendjadi djengkel?"
"Sudahlah, aku mendjelaskannja pun akan pertjuma! Biarkan sadja aku menangis, dan menangis sampai puas!"
"Gio-moay nanti sakit!"
"Sekarang sadja sudah menderita sakit! Biarkan sakitku sehingga membawa maut! Aku lebih baik mati daripada hidup tjelaka! "
"Eh eh, mengapa kau djadi nekad? Giok-moay masih muda, masih banjak harapan bagus! Mengapa menghendaki kematian? Tidakkah sajang............?"
Pek Giok Im agaknja sudah djemu dengan kata2 suaminja, maka dibantingnja dipembaringan untuk terus menangis dengan sedihnja.
Si Bungkuk lalu nongkrong ditepi randjang.
Ingin ia membudjuki terus, tetapi ia chawatir isterinja bertambah sedih.
Ia mengulur tangannja pelahan meraba2 badan Giok Im jang kulitnja putih dan halus, mengundjukkan rasa kasih-sajangnja.
Namun dalam djengkelnja Giok Im me-njingkir2kan tangannja Loo Too-pek.
Maka si Bungkuk menarik pula tangannja, ia bertjokol terus ditepi pembaringan sambil memeluk lutut, diam2 ia tersenjum!
Sedjak itu Pek Giok Im terus ngambek.
Ia enggan bertjakap lagi dengan suaminja, melihat sadja pun segan.
Setiap hari apabila keperluan suaminja sudah disiapkan, ia segera memisahkan diri diemper rumah atau menjekap diri didalam kamar tidur.
Keadaan jang sedemikian berlangsung sampai beberapa hari.
Si Bungkuk tetap seperti biasa, dingin dan beku, se-olah2 tak menghiraukan isterinja jang berduka.
Sikap aneh Loo Too-pek itu tak dapat dimengerti dalam pikiran Pek Giok Im.
Suatu hal jang amat mustahil seorang suami dapat membiarkan begitu sadja seorang isteri jang masib sangat muda lagi tjantik, jang dengan rela dan keichlasannja menjerahkan segalanja padanja.
Rasanja amat tak masuk diakal ada seorang laki2 dapat membuang2 kesempatannja sebaik itu, jang setiap hari dan malam disangding malah tidur serandjang.
Ia tak pernah mendengar ada seeorang laki2 matjam demikian, karena Loo Too-pek itupun bukan manusia dari batu, bukan patung dan tanpa perasaan maupun nafsu.
Tetapi njatanja Too-pek-koay-hiap seorang manusia jang lain daripada manusia seumumnja, sampai sekian lama tak pernah menjentuh kesutjian isterinja.
Djadi sampai pada detik itu, Pek Giok masih seorang sadis bersih dan sutji!
Pek Giok Im tak mengerti semua itu.
Jang ia tahu si Bungkuk adalah seorang aneh, senang berburu, senang menolong simiskin, hatinja dermawan.
Demikian Pek Giok Im hidup dalam kesepian dan tawar hati.
Sampai pada satu hari muntjul suatu peristiwa.
Pek Giok Im sedang duduk bersendirian diserambi tengah memikirkan nasibnja, tiba2 datang seorang anak muda tak dikenal.
Tampan serta tjakap wadjah pemuda itu, berkulit kuning, dandanannja menjerupai anak sekolah, seorang prija amat menarik, siapa jang melihatnja.
Sambil lalu Pek Giok Im merasa pernah melihat wadjah dan potongan tubuh sematjam tamu itu, namun ia lupa siapa dan dimana melihatnja.
Pemuda itu lalu mendjura, mendjura setjara sopan, maka guguplah Pek Giok Im membalasnja, lalu menjilahkan tamunja berduduk.
"Terima kasih!"
Udjar tamu muda itu, gajanja indah.
"Perkenalkan aku Tjio Han Hiong dari Kang-souw!"
"Aku Pek Giok Im dari Thian-tay!"
Balas isteri si Bungkuk.
"Dapatkah aku mengetahui kedatangan Tjiokhee digubuk ini?"
"Biasa sadja, ingin berkenalan dan bersahabat?"
Djawab pemuda jang mengaku bernama Tjio Han Hiong itu.
"Itupun djika tak mengetjewakan Kohnia!"
"Oh tidak! Terima kasih atas perhatian Tjiokhee", kata Pek Giok Im, lalu ia menjuguhkan setjangkir air teh. Sementara itu mata Tjio Han Hiong mengawasi njonja-rumah jang masih muda itu, dari atas sampai kebawah. Pek Giok Im jang tjerdas bukan tak mengetahui akan ketjeriwisannja tamu asing jang baru dikenalnja itu. Tetapi ia menganggap itu satu hal biasa, tidak laki2 tak berbuat seperti Tjio Han Hiong terhadap seorang wanita, lebih2 gadis remadja dan rupawan seperti ia. Ternjata pemuda itu dojan benar ngohrol, ada sadja bahan2 padanja tentang peladjaran, kehidupan didesa dan dikota, tentang rumah tangga dan lain2. Selama bertjakap Pek Giok Im ingat gaja-suara seseorang jang sama dengan Tjio Han Hiong, njaring dan enak didengar, namun ia lupa akan orang itu. Achirnja pertjakapan tamu muda itu mendjurus kepada dirinja Pek Giok Im pribadi. Ia menjatakan senang dan simpati berkenalan dengan seorang wanita sebagai Pek Giok Im.
"Hanja sajang aku terlambat mengenalinja, hingga ibarat orang hendak berpergian, sudah ketinggalan kendaraan!"
Begitulah tjakapnja pemuda itu selandjutnja.
"Apa maksud utjapan Tji liee?"
Menegasi Pek Cipk Im tak mengerti.
"Aku terlambat mengenalimu, djika tidak, aku pasti seperti sang kumbang dapat mengisap madu bunga jang menjerupai dirimu!"
Pek Giok Im memalingkan muka, bukan karena ia marah, tetapi malu. Namun ia tidak menganggap Tjio Han Hiong seorang kurangadjar, karena bitjaranja sangat lembut dan mengandung keketjewaan.
"Dimanakah kini suami Kohnio?"
Bertanja Tjio Han Hiong kemudian matanja tak puas memandangi wadjahnja njonja rumah jang ditatapnja setjara puas2an "Dia sedang berburu kelintji dihutan!"
Djawab isteri si Bungkuk.
"Dia memang gemar berburu!"
"Bilakah dia pulang?"
"Biasanja dekat santap tengah-hari dia kembali!""
"Membawa kelintji?"
"Ja!"
"Dan Kohnio jang memasaknja?"
"Ja!"
"Tentunja dia senang dengan masakan hasil tanganmu bukan?"
"Begitulah rupanja!"
"Dia seorang suami jang beruntung, dan Kohnio seorang isteri jang berbahagia djuga bukan?"
"Begitulah aku merasakannja............!"
"Tetapi............"
"Mengapa?"
"Pada wadjah Kohnio tak tampak sama sekali akan kebenaran pengakuanmu tadi! Aku tahu Kohnio tak pernah mendapat kepuasan dalam hidupnja, bahkan menderita bathin! Memang isteri jang manakah bisa mendapat apa jang diharapkan di masa mudanja djika bersuamikan laki2 jang bukan idamannja!"
Pek Giok Im mendjadi terkedjut. Ia mendapat perasaan lain terhadap tamunja itu.
"Tidaklah Tjiokhee merasa berkelebihan akan kata2 Tjiokhee itu?"
Ia bertanja, dahinja dikerutkan, tanda dari ketidak-senangan hatinja.
"Aku maksudkan, Kohnio djauh dari berbahagia hidup di samping laki2 jang Kohnia anggap suami itu!"
Pemuda itu melanljutkan dengan seenaknja, dengan bebas.
"Dia bukan seorang laki2 jang berhak memiliki Kohnio, atau ibarat burung Hong, Kohnio salah memilih ranting untuk hinggap, Kohnio masih sedemikian muda remadja, sedang Loo Too-pek boleh dikata satu kakinja sudah mengindjak liang kubur! Soal buruk mukanja tak usah diperbintjangkan lagi ngeri-seram dan menakutkan! Itulah jang aku maksudkan, Kohnio salah pilih suami, dan sebab itulah hidup Kohnio ingat tak beruntung!"
"Tetapi kenjataannja aku tjukup beruntung!"
"Itu hanja hiburan sadja! Kesan2 diwadjah Kohnio menggambarkan kenjataan, bahwa Kohnio menderita lahir dan bathin salama I pernikahanmu!"
Mulailah Pek Giok Im memperlihatkan kemarahannja.
"Dengan tak tahu malu Tjiokhee usil rumah tangga orang dan kepribadian seseorang!"
Katanja kemudian.
"Sebagai seorang tamu, Tjiokhee seharusnja dapat berlaku sopan dan mengindahi njonjarumah! Aku semula mengira Tjiokhee seorang terdidik baik, akan tetapi menilik dari utjapanmu ini, njatalah Tjiokhee seorang tak tahu harga107 diri dan sopan santun!"
"Djanganlah keburu naik darah, Kohnio!"
Djawab tamu jang kurang adjar itu.
"Aku bermaksud baik, aku berkasihan padamu, karena kau tidak beruntung dalam rumah-langga jang pintjang ini. Sebab itu aku datang padamu, berhasrat memenuhi segala kekuranganmu!"
Makin gusarlah hati Pek Giok Im, karena tamu itu semakin njata kekurang-adjarannja.
"Aku tahu dengan maksud apa kau berkundjung kerumahku selagi suamiku tak ada! Tak patut benar perbuatanmu, dan terlalu hina! Ketahuilah, aku seorang wanita jang sudah bersuami, dan betapa adanja suamiku, aku adalah isterinja jang harus menghargai dan menjajanginja! Kau tak berhak mentjetuskan kata2 kotor, kau tak pantas mendjadi tamuku! Sekarang ku persilahkan kau meninggalkan rumah ini, dan djangan kembali lagi! Aku takut, bila suamiku dapat mengetahuinja, kau takkan dapat keluar dari sini tanpa mengalami hal2 tak enak!"
"Apakah kau kira si Bungkuk akan mempertjajai, kalau aku berbuat sesuatu jang merugikan padanja?"
Djawab Tjio Han Hiong jang tak menghiraukan kemarahan njonja rumah.
'Tetapi bagaimanapun djuga, aku tetap menjatakan, aku tjinta padamu!
Dan aku pertjaja tak lama lagi kau akan berada diatas pangkuanku, karena ketuaan umur Loo Too-pek akan mempertjepat adjalnja!"
Hampir2 Pek Giok Im menangis bahna gusarnja, karena tak tahan mendengar hinaan2 tamunja jang tak diundang itu. Maka dengan sengitnja ia membentak.
Jilid III "Enjalah kau segera dari rumah ini!
Aku djemu melihat mukamu, djidjik mendengar utjapansmu jang kotor!
Enjalah, atau aku nanti berteriak minta tolong".
Tjio Han Hiong tersenjum, sekali ini pandangan matanja agak berapi.
"Hari ini kau tidak menjukai aku, tetapi aku chawatir kau akan menjesal terlalu lekas!"
Katanja, mengedjek dan meninggalkan rumah gubuk itu Pek Giok Im membuang ludah dan menggaberukkan pintu dengan keras.
Tak lama kemudian, seberlalunja tamu berandalannja itu, tampak Toopek-koay-hiap pulang membawa 2 ekor kelintji.
Ketika dilihatnja muka isterinja amat muram dan ber-sungut2, ia mendjadi heran.
Tetapi ia tidak mau menanjakan sebab-musababnja, karena ia anggap sudahbiasa pada masa2 jang terachir ini isterinja marah2 sadja dan enggan bertjakap, ia membiarkan isterinja uring2an.
Dilain pihak sang isteri pun tidak mau menuturkan apa jang telah terdjadi dengan kedatangan tamu-muda jang tak tahu adat itu, bukan disebabkan ia sedang segan ngomong, melainkan merasa tak ada perlunja.
Kemudian haripun mendjadi malam.
Pek Giok Im sudah masuk kekamar tidurnja, mungkin karena amat letih, atau ada sebab lain lagi, tetapi tak njenjak tidurnja.
Pada kentongan jang kesepuluh kali, ia terbangun.
Ia hendak berbangkit, ketika ia rasakan sebuah tangan ada diatas dadanja benar.
Baru pertama kali ia merasakan tangan suaminja menjentuh badannja diwaktu tidur.
Ia tidak berniat menjingkirkan tangan suaminja, karena kuatir suami-nja kaget dan terbangun.
Namun alangkah terperandjatnja Pek Giok Im, ketika ia mengetahui, bahwa itu bukanlah tangannja Loo Too-pek.
Ia menjentak tangan itu, dan melompat turun dari pembaringan, dan ditatapnja laki2 jang tidur disisinja itu.
Temjata dia adalah pemuda tjeriwis jang datang menamu tadi pagi, Tjio Han Hiong.
Ia heran mengapa pemuda badjingan itu bisa ada didalam kamarnja, sedang Loo Too-pek tak tampak matahidungnja.
Lantas ia mendjerit se-kuat2nja minta tolong, namun tiada seorangpun mendengarnja, karena tetangga2 djauh benar rumah2nja.
Adalah Tjio Han Hiong djadi kaget terbangun, meng-kutjek2 kedua matanja, kemudian ditatapnja wadjah Pek Giok Im jang bertambah tjantik sehabis tidur.
"Mengapa kau ber-teriak2 tengah malam buta seperti ini, hingga tetangga akan mengira disini ada terdjadi perkara hebat?"
Bertanja pemuda berandalan itu. Untuk sedjenak Pek Giok Im tak dapat membuka mulut, karena terkedjutnja jang sangat.
"Sudahlah, manisku, tidur sadja lagi bersamaku, karena malam-pun masih pandjang!"
Berkata pula Tjio Han Hiong sambil hendak menarik tangan orang. Barulah Pek Giok Im dapat menetapkan hatinja, dan membentak.
"Hei, laki2 terkutuk, begitu berani kau masuk dalam kamar tidur orang waktu malam begini! Hajo keluar, bedebah, keluar! Bila tidak, Loo Too-pek nanti datang dan membunuhmu!"
"Djika Loo Too-pek membunuhku, berarti kau akan kehilangan segala2nja, karena aku mati, Loo Too-pek pun mampus djuga!"
Djawab Tjio Han Hiong.
"Djangan kuatir, nona, Loo Too-pek takkan mengetahui apa jang terdjadi dikamar ini! Dia baru sadja pergi kekota untuk mentjuri dan itulah sebabnja aku datang kemari untuk menemani kau! Bukankah kau butuh hiburan? Mungkin Loo Too-pek takkan kembali pula kemari, karena kau telah membentjinja! "
"Kurang adjar!"
Mendamprat Pek Giok Im, marahnja mendjadi2.
"Kau satu2nja manusia busuk jang aku pernah djumpai! Sudahlah, pergi dengan segera! Aku nanti lari dan memanggil orang2 untuk melabrakmu!"
"Aku tak pertjaja wanita selembut kau akan dapat menjelan laki2 jang sangat menjintainja! Marilah, manis, tidur sadja lagi disebelahku ini! Hari masih malam dan hawapun sangat dinginnja! Marilah kita bersama memimpikan hal2 menjenangkan!"
Pek Giok Im tak dapat menguasai lagi dirinja. Dengan kalau ia mengambil botol minjak-pelita dibawah medja. Tetapi sebelum ia bergerak, Tjio Han Hiong sudah melompat turun dan menangkap tangannja.
"Tahan dahulu, manisku sajang, djangan mengutjurkan darah seorang laki2 jang sungguh2 merindukanmu!"
Berkata Tjio Han Hiong.
"Tidakkah kau sajang akan kasihku, tidakkah kau dapat menjambut tjintaku? Jakinlah, bahwa aku adalah satu2nja orang jang dapat membahagiakan hidupmu!"
"Tutup mulutmu, lelaki busuk!"
Mendjerit Pek Giok Im.
"Kau manusia tak tahu malu dan kurang adjar! Lekas berlalu dari sini, bangsat! "
Tjio Han Hiong tersenjum.
Sikapnja ini menambah kemurkaannja Pek Giok Im, maka ia tjoba melepaskan tangannja jang memegang botol.
Ketika terlepas, digigitnja tangan pemuda itu.
Kedengaran Tjio Han Hiong berkaok karena gigitan keras itu, tetapi ia membetot badan Pek Siotjia dan ditarik kedadanja, lalu didjatuhkan kepembaringan.
Pelukannjapun amat kentjang, hingga Pek Giok Im tak berdaja lagi............
Pek Giok Im tak dapat berkutik sama sekali.
Mukanja Tjio Han Hiong kini mendekat benar kemukanja, hingga hampir ia tak dapat bernapas.
Dalam marah dan sedihnja kini Pek Giok Im berteriak2.
"Lelaki djahanam, lelaki bedebah! Kau telah menghina dan menista sehebat ini padaku! Lebih baik kau bunuh aku daripada aku ternodai olehmu! Oh, bunuhlah aku, bunuhlah............! dan ia menangis. Tjio Han Hiong tak sampai hati djuga mendengar keluhan Pek Giok Im. Lantas tiba2 ia berkata.
"Djangan ter-gesaa ingin mati, manisku sajang! Kau tak perlu mati, dan tak boleh mati! Sajangilah djiwamu, sajangilah keremadjaanmu dan ketjantikanmu! "
"Djangan banjak batjot!"
Bentak pula Pek Giok Im, air matanja bertjutjuran.
"Djangan membudjuk-raju! Aku tak dapat mendjalangkan diri! Sudahlah, bunuh sadja aku, lekas!"
"Kau nanti menjesal! "
"Tidak! Lebih baik aku mati daripada hidup tjemar!"
"Kataku, kau nanti menjesal! Sekarang tjobalah tatap wadjah-ku, pandangi dengan perhatian bentuk tubuhku! Dengarkan djuga suaraku! Ja jakinkanlah segalaku! Tataplah benar2, siapakah aku ini sebenarnja!"
"Tak perlu! Aku djemu pada muka iblismu jang mendjidjikan! Kau manusia paling kedji didunia!"
"Kau salah, Giok-moay! Kau salah terka! Lihatlah tadjam2, dan perhatikan segalanja! Aku bukanlah lain orang, tetapi suamimu jang sedjati. Aku Too111 pek-koay-hiap, si Bungkuk jang sangat menjajangimu! Nah tataplah!"
Kini Pek Giok Im mau djuga memandangi wadjah laki2 jang telah memeluknja itu.
Ditatapnja tadjam2 dan penuh perhatian mata laki2 itu, dahinja, mulutnja, punggungnja, terus kekaki.
Memang mirip benar dengan Loo Toopek!
Tetapi djauh benar perbedaan Too-pek-koay-hiap dengan Tjio Han Hiong.
Laki2 ini masih muda-belia, kulit-mukanja halus, wadjahnja tampan dan manis, bentuk badannja lempang-luwes, dan gajanja tangkas, pendeknja seorang prija jang amat menarik.
Pek Giok Im mendjadi ragu2 dan bimbang, ia masih tetap pertjaja pemuda ini adalah Tjio Han Hiong jang kedji!
"Bagaimana kesanmu sekarang terhadapku, Giok-moay?"
Bertanja pemuda itu kemudian.
"Bukankah kau menemui tanda2 njata, bahwa aku bukan orang lain melainkan si Bungkuk? Masihkah belum djelas bahwa aku adalah suamimu, si Bungkuk itu? Masihkah kau sangsi?"
"Aku tak pertjaja-katamu!"
Djawab Pek Giok Im.
"Kau bukan suamiku! Djauh bedanja si Bungkuk dengan kau, laki2 jang tak punja malu! Tak mudah kau dapat menipu aku! Hajo lepaskan aku, dan segeralah kau keluar dari rumah ini!"
"Heran kau masih tak mempertjajainja aku, Giok-moay! Apa katamu bila kau mendapat kenjataan akan kebenarannja ? Tak ada seorang suami akan menipu isterinja dan Too-pek-koay-hiap tak mungkin akan membuat malu isteri jang sangat ditjintainja! Kau perlu buktikah?"
"Nah, buktikanlah! Tetapi awas bila kau mentjoba menipuku!"
"Mari ikut aku untuk melihat buktinja!"
Dengan laku jang sama sekali berubah, jaitu lunak dan penjajang, Tjio Han Hiong mengadjak Pek Giok Im masuk keruang belakang.
Dibukanja kuntji pintu kamar-ketjil disudut dekat dapur.
Sebuah peti-kaju dibukanja oleh Tjio Han Hiong, dan diambilnja sesetel pakaian rombengan, sedikit alat daripada bahan lunak dan sebuah bantal ketjil, dan rambut-palsu berwarna putih sebagai kapas, dan sebatang tongkat butut.
Barang2 itu dibawa masuk, diletakkan diatas medja.
Pelita dibesarkan apinja, hingga mendjadi lebih terang.
"Lihatlah semua ini, Giok-moay!"
Berkata Tjio Han Hiong sambil menundjuk barang2 itu.
"Inilah pakaian si Bungkuk dengan rambut-palsunja, bantal-ketjil jang membikin punggung djadi melengkung, alat2 lunak-tipis pengubah muka mendjadi buruk dan mengerikan, dan ini tongkat kesajangannja. Djelaskah sekarang dan pertjaja akan kebenarannja?"
Pek Giok Im terdiam.
Otaknja berkelahi untuk mentjoba memahami, apakah barang2 itu benar alat2 pengubah bentuk Tjio Han Hiong mendjadi seorang bungkuk dengan muka iblis sebagai Too-pek-koay-hiap.
Menampak isterinja masih agak bersangsi, Tjio Han Hiong segera mengenakan alat2 itu dan sekedjap sadja muntjullah suatu pemandangan jang sangat menakdjubkan.
Kini tiada lagi Tjio Han Hiong, melainkan si Bungkuk.
Benar2 si Bungkuk!
"Astaga!"
Berseru Pek Giok Im mendadak, sementara ia djadi terpesona berdiri mematung.
"Kau............?"
"Ja, Giok-moay, akulah suamimu, Loo Too-pek simuka hantu!"
Djawabnja Tjio Han Hiong.
Tubuhnja Pek Giok Im lemas seketika, hingga hampir terdjatuh.
Maka buru2 Tjio Han Hiong menubruknja dan didudukkan ditempat tidur, sementara itu ia sudah melepaskan kembali alat2 penjamarannja.
"Tentunja kau terlampau kaget, Giok-moay"
Udjar Too-pek-koay-hiap tak melepas tangan jang menundjang badan isterinja.
"tetapi aku pertjaja sekarang kau mendjadi gembira, karena aku bukanlah benar2 seorang tua dengan bentuk tubuh mendjidjikan, tetapi seorang muda dengan gambaran lain, sesuai dengan keremadjaan dan kemolekanmu! Oh, Giok-moayku, alangkah senang hatiku pada malam jang aneh ini, malam jang takkan mungkin dialami pula seumur hidup!"
"Tetapi............"
Kata Pek Giok Im, tak dapat meneruskan kata2nja, ia tiba2 menangis.
Memang rasa bahagia jang berlebihan dan datangnja sangat mendadak pula itu, membikin seseorang djadi menangis sebaliknja dari tertawa.
"Tetapi............ mengapa kau menjamar sebagai si Bungkuk?"
Ia bertanja kemudian.
"Mengapa?"
"Itu adalah suatu kewadjaran dari tabiatku, suatu kegemaranku dikalangan Kang-ouw!"
Menerangkan si Bungkuk.
"Aku tak ingin dikenal sebagai seorang pahlawan, karenanja aku memalsu diriku sebagai seorang tua-bungkuk, bertongkat sebagai pengemis. Dengan tjara demikian, umum akan selalu melihat aku sebagai seorang jang tak ada gunanja, sampah djalanan belaka, mereka tak mungkin memperhatikan aku sebagaimana di Thian-tay dahulu orang menganggapku. Tanah-tumpah darahku memanglah dilembah ini dan gubuk ini adalah warisan nenekku. Aku sebatang-kara, dengan demikian, aku bebas berkelana, atau bertualang, mengembangkan bakat2ku sebagai pengabdi perikebenaran. Namaku sendiri memang Tjio Han Hiong".
"Oh............!"
"Ja, Tjio Han Hiong, saudara sepupu dari Tjio Han Boe jang mendjadi kurban keganasan Tong Hong Hweeshio dikaki bukit Goe-thauw-nia dahulu hari itu!"
"Astaga! Djadi ia berkurban untuk aku? Binasa lantaran aku?"
"Itupun sudah selajaknja! Barang siapa tak dapat berkurban, dia tak berhak disebut Enghiong, dan tak berhak pula menempati dunia Kang-ouw!"
Disitulah Pek Giok Im teringat akan Tjio Han Hiong jang kasar, jang memiliki kemiripan dengan seseorang jang ia telah lupa.
Tak tahunja Tjio Han Hiong itu adalah si Bungkuk djuga, suaminja.
Ia mimpipun tidak tahu bahwa si tuabungkuk itu, sebenarnja adalah seorang muda-belia, tampan dan tjakap, seorang djago perkasa dalam dunia persilatan, dan telah mendjadi termasjhur karena menumpas kedjahatan di Thian-tay jang dilakukan Tong Hong Hweeshio.
"Djadi............?"
"Ja, sekali lagi aku katakan, aku suamimu asli, Loo Toopek!"
Tjio Han Hiong memotongnja.
"Aku ketahui, bahwa saudara sepupuku Tjio Han Boe sedang berada di Thian-tay mentjoba memerangi Harimau-hantu di Goe-thauw-nia. Tetapi aku terlambat datang, setibaku disana, dia sudah meninggal!"
"Alangkah sedihku karena kematian ntjek Han Boe itu.!"
Tjio Han Hiong menganggukkan kepala "Sekarang kau tentu tidak sangsi lagi bahwa aku benar2 suamimu, tetapi bukan lagi Loo Too-pek, hanja Tjio Han Hiong jang masih muda, umurku baru duapuluh empat, djadi enam tahun lebih tua daripada mu!
Dan kini aku ingin mendengar dari mulutmu, bagaimana anggapanmu tentang aku sekarang?
Masih mendjemukankah?"
"Sudah tentu tidak! Karena Tjio Han Hiong adalah Loo Too-djuga. suamiku!"
"Kau semula berbohong, Moay-moay. Sebenarnja kau tak rela mendjadi isteriku! Mustahil seorang gadis muda dan semolek kau mau mendjadi isteriku, sedangkan banjaklah pemuda2 jang sederadjat dan sama mudanja, selalu merindukan kau dan ingin menjuntingnja!"
"Mengapa Koko mengatakan demikian? Tidakkah senantiasa aku memperhatikan tjintaku jang se-besar2nja, hingga aku mau dibawanja kelembah sunji dan gubuk jang tak ada apa2nja ini?#"
"Tetapi buktinja aku tak pernah mendapat apa jang seorang isteri seharusnja memberikan! "
"Heran mengapa Koko bisa mengutjapkan kata2 demikian. Adalah Koko sendiri jang tak mengenal kewadjiban! Koko agaknja tak tahu, atau pura2 tak tahu, bahwa hatiku sebenarnja menderita, sanubariku menangis............!"
Djawaban Pek Giok Im mau tak mau membikin si Bungkuk jang kini tak bungkuk lagi mendjadi tersenjum. Ia tak sampai hati untuk terus2an membuat isterinja berduka.
"Ja, memang akulah jang bersalah, Moay-moay! Akulah jang tak pernah menunaikan kewadjibanku, dan sebagai isteri, benar2 kau tersiksa! Sudilah kiranja kau memaafkan, Moay-moay?"
Pek Giok Im tak mendjawab, tetapi menatap wadjah suaminja.
"Tetapi apa sebabnja selama itu Koko berlaku aneh padaku? Koko memandang sepi sadja padaku, se-olah2 aku hanja sebuah patung belaka. Sedangkan aku senantiasa seperti mengharap djatuhnja rembulan dari atas langit jang tinggi?"
"Maksudku, Moay-moay, berterus-terang ialah aku ingin mengudji sampai dimana sebenarnja kesetiaanmu terhadapku!"
Djawab Tjio Han Hiong.
"Sebab aku masih sadja bimbang, dan ber-tanja2. mungkinkah kau berkurban padaku dengan sungguh2 ataukah karena dipaksa oleh rasa harga-diri dan keluarga!"
"Oh, djadi demikian halnja!"
Kata sesal Pek Giok Im.
"Djika aku tahu itu, tentunja aku sudah membunuh diri, karena kesutjian-ku diragukan oleh seorang suami! Dan selain itu, apa pula maksud Koko kemarin menggodaku dengan bentuk seorang muda sebagai Tjio Han Hiong sekarang ini?"
"Itu pula satu udjian bagimu, Moay-moay! Dan kemarinlah mendjadi hari terachir akan kebulatan kepertjajaanku, karena kau benar2 bersetia dan ichlas mempersuamikan seorang tua-bungkuk dan mendjidjikan, karena wadjah menarik dari seorang pemuda tak membikin kau djadi silau atau djatuh! Dan itulah sebabnja malam ini aku sudah tak mendjadi lagi Loo Toopek tetapi Tjio Han Hiong jang sebenarnja!"
Senang bati Pek Giok Im mendengar pengakuan suaminja.
Senang bukan kepalang, karena mulai saat itu, ia tak bersuamikan lagi seorang bungkuk dan mengerikan, tetapi seorang muda-belia jang tampan.
Ia menundukkan kepalanja, takut senjum gembiranja dilihat oleh Tjio Han Hiong.
Tetapi suami itu bukan tak tahu perasaan apa sedang dibajangkan isterinja jang molek itu.
"Aku harap malam ini kau gembira benar2, Moay-moay, seperti djuga aku gembirdamemperoleh seorang isteri jang setia!"
Pek Giok Im menganguk, senjumnja membajang njata.
"Kau akan mendjadi lebih gembira pula, bilakah tahu, bahwa aku telah membalaskan dendam-malumu pada pemuda tjeriwis Go Thian Po di Thiantay!"
"Bila Koko berbuat demikian?"
Bertanja Pek Giok Im.
"Pada malam itu djuga, setelah selesai perundingan perdjodohan kita!"
Lalu Tjio Han Hiong menuturkan segala jang telah diperbuat atas diri Go Thian Po dahulu, hingga memaksa pemuda ugal2an itu harus mengawini seorang budaknja, Lauw Pan.
"Uang jang aku gasak dirumah Go Thian Po aku pergunakan utuk persiapan2 hari-kawinku, jaitu membeli tempat tidur baru dan perabotan seperlunja, dan pakaian2 pengantin djuga!"
Ia melandjutkan.
"Tetapi sebagian terbesar aku telah sebar untuk menlong tetangga2 jang menderita!"
Pek Giok Im berdiam sedjenak. Ia heran dan mengagumi suaminja mengenai peristiwa dalam rumah Go Wan-gwee.
"Seorang tetangga mengatakan padaku, bahwa Koko tidak djarang mengamal pada kaum miskin. Dan seringkali Koko membawa pulang uang banjak, sedang Koko bukan seorang pedagang. Dari mana Koko sebenarnja mendapat uang itu?"
"Mentjuri tentu!"
Djawab Tjio Han Hiong.
"Mentjuri?"
Mengulangi istrinja kaget.
"Ja, tetapi kau djangan salah faham! Mentjuri ada dua matjam. Mentjuri untuk keperluan sendiri adalah perbuatan djahat, tetapi aku mentjuri bukan sembarang mentjuri! Jang aku tjuri adalah kekajaan seseorang jang diperoleh dengan djalan menghisap darah orang miskin, hasil pentjurian itu aku gunakan untuk kaum melarat djuga. Djika aku berbuat demikian untuk kepentingan sendiri, bukan mustahil aku sudah mendjadi satu Wan-gwee dengan rumah gedung jang besar dan tinggi. Ketahuilah, djiwa dan pendirian seorang Kang-ouw memang demikian, Moay-moay!"
Barulah Pek Giok Im mengerti, dari mana suaminja senantiasa memperoleh banjak uang dan untuk apa uang-kotor itu dipergunakan!
Hal itu menambah kekagumannja terhadap suaminja jang berdjiwa besar.
Pada suatu hari ia teringat akan orang tuanja di Thian-tay.
Lalu ia menjatakan kepada suaminja.
"Bagaimana pikiran Koko, kalau besok pagi kita pergi mendjenguk ajah dan ibu di Thian-tay? Sudah sekian lama kita tak pernah menengoki sedjak hari perkawinan kita. Aku sudah merasa rindu, dan ajah serta ibupun mestinja rindu pula pada kita!"
"Akupun sudah rindu pada mereka!"
Djawab suaminja.
"Baiklah, besok pagi kita mendjenguk Gak-hu dan Gak-bo! Tetapi eh...... bagaimana anggapan ajah dan ibu nanti mendapatkan aku bukan sebagai Loo Too-pek, tetapi dengan bentuk aku jang sebenarnja?"
"Sudah tentu bukan dengan si Bungkuk lagi! Aku lebih senang bersamaanmu dengan bentuk jang sekarang!"
"Tetapi aku ada satu pikiran baru, sekiranja kau pun akan menjetudjuinja".
"Pikiran apakah itu?"
Tjio Han Hiong lalu membisik telinga isterinja.
Pek Giok Im tampaknja girang, lalu menjatakan setudju.
Lantas............
tak terdengar lagi suami-isteri itu ber-tjakap2.
Sunjilah didalam gubuk.
Dan keesokan paginja mereka bangun kesiangan.
Hanja sajup2 terdengar pertanjaan lirih Pek Giok Im.
"Berapa lama Koko menjamar sebagai si Bungkuk?"
"Sedjak tiga tahun jang lalu"
Sahut suaminja.
"Hanja mulai malam pengantin itu sadja aku tak pernah melepaskan pakaian samaranku siang dan malamhari."
"Mengapa begitu?"
"Untuk gunamu, sengadja aku menderita!"
"Ah, adakah aku sedang bermimpi, Koko?"
"Tjukup sadar! Tiada orang bermimpi dapat bertanja demikian! Jang dapat bertanja bukan sedang bermimpi!"
Pek Giok Im tersenjum manis.
Ja, barulah pada malam itu mereka benar2 mengalami malam-pengantinnja.
Dan bahwa ke-dua2nja merasa sangat berbahagia, tak perlu diperbintjangkan pula!
Keesokan paginja gemparlah segenap penduduk lembah Siang-jang-kok karena peristiwa sangat luar biasa didalam gubuk si Bungkuk.
Hampir mereka tidak pertjaja, bahwa anak muda tampan dan manis jang sekarang diakui suami oleh Pek Giok Im adalah sebenarnja Too-pek-koay-hiap sendiri, jang selama beberapa tahun mereka kenal.
Mereka datang kegubuk untuk menjaksikannja.
Demikianlah keheranan mereka, pemuda tjakap itu betul2 si Bungkuk adanja.
Mereka sangat takdjub dan terpesona.
Tetapi gempar atau tidak Thio Han Hiong berdua Pek Giok Im sudah meninggalkan gubuknja menudju ke Thian-tay.
Sebagai oleh2 dari udik dibawanja mereka apa2 jang tak terdapat dikota, dalam sebuah kerandjang118 bambu, jang didjindjing oleh satu tangan masing2 berdjadjaran.
Itulah apa jang dinamakan berat sama dipikul, ringan sama didjindjing.
Kegemparan terdjadi pula dirumah keluarga Pek Wan-gwee, lebih2 orang2 didjalan, ketika melihat Pek Giok Im tak lagi berdua dengan suami jang bungkuk dan menakutkan, tetapi dengan seorang muda-belia, tampan serta gagah.
Dan Pek Wan-gwee berdua Hudjin melihat mereka dengan mulut ternganga dan mata terbelalak, karena terkedjut.
Bukan terkedjut melihat ketampanan pemuda Tjio, melainkan karena anaknja bukan dengan suami si Bungkuk tetapi dengan seorang muda tjakap dan menarik.
Dan mereka lebih terpesona ketika Pek Giok Im berdua Tjio Han Hiong berlutut sambil ke-dua2nja mengutjap begini.
"Ajah dan ibu, terimalah hormat anak dan menantumu! Sudi dimaafkan bila baru hari ini kami mendjenguk orang tua!"
Pek Wan-gwee tinggal terpaku, adalah isterinja tak sabar bertanja.
"Inikah suamimu. Giok Im? Bagaimana mungkin! Suamimu adalah Loo Toopek! Dimana dia?"
"Aku tak mau dengan si Bungkuk lagi, ibu!"
Djawab Giok Im terus berlutut.
"Ketjewa aku mendjadi isteri orang tua seburuk dia! Suamiku jang sekarang adalah ini, Koko Tjio Han Hiong!"
"Kau gila, Giok Im!"
Bentak ibunja.
"Terlalu gila! Bagaimana kau bisa berbuat begini busuk dan memalukan! Kau mengapakan Loo Too-pek?"
"Tjeraikan, ibu!"
"Aduh, benar2 kau anak tjelaka! Dahulu kau berkeras mempersuamikan dia, sekarang kau mentjeraikannja untuk ganti suami baru! Tak ada perempuan lebih kotor daripada kau! Kau bukan anakku lagi, aku tak sudi melihatmu; anak tjelaka! Pergilah dari sini, kau tak boleh lagi mengindjak rumah ini!"
"Sabarlah, ibu! Aku memilih suami baru jang dapat membahagiakan hidupku, bukan si Bungkuk jang sudah tak ada gunanja itu. Terlalu tua dan djelek dia! Ibu harus merasa ketjewa mempunjai menantu Loo Too-pek, tetapi dengan baba-mantu baru, ibu boleh merasa bangga, karena dia setimpal benar mendjadi suamiku!"
"Apa katamu, hah? Hei, Giok Im, aku tak mengira kau bisa mendjadi begini sesat, mendjadi perempuan paling hina! Nenek-mojang kita bisa bangun dari kuburnja bila tahu perbuatanmu jang amat memalukan ini! "
"Ibu salah............"
"Apa? Salah?"
Bukan main gusarnja Pek Hudjin, hingga hampir ia djadi semaput.
Adalah Pek Wan-gwee tak dapat menguasai kehantjuran menghadapi peristiwa sehebat itu, maka dengan bengisnja ia mengusir anak dan menantunja setelah ditjatji-maki habiskan.
Melihat kehebatan suasana, barulah Tjio Han Hiong membuka mulut.
"Gak-hu dan Gak-bo sebenarnja sedang dibohongi oleh Giok-moay! Dia bermaksud akan menggembirakan segenap keluarga dengan sapi tjina jang menakdjubkan, namun perbuatan Moay-moay sebetulnja terlalu kurang adjar!"
"Apa katamu, laki2 bedjat perampok isteri orang, hah?"
Bentak Pek Wangwee keras.
"Djangan banjak mulut! Djangan panggil aku Gak-hu! Pergilah sekarang, aku tak sudi melihat lebih lama manusia2 busuk seperti kalian berdua!"
"Aku mohon Gak-hu sedikit tenang!"
Udjar Tjio Han Hiong tetap berlutut.
"Jakinlah, Gak-hu, bahwa aku adalah djuga menantu Gak-hu jang dahulu itu, si Bungkuk! Memang namaku Tjio Han Hiong! Djika Gak-hu tidak pertjaja, sebentar lagi Loo Too-pek akan undjukkan diri, dan boleh ditonton orang seisi rumah!"
Pek Wan-gwee terdiam.
Ia tak mengerti permainan apa sebenarnja sedang dibawakan oleh anak dan menantunja itu.
Sekarang Tjio Han Hiong masuk kedalam kamar Pek Giok Im jang dahulu, sementara isterinja membawa kerandjang jang didalamnja terisi alat2 penjamaran suaminja.
Dan sebentar kemudian benar2 muntjullah Loo Too-pek dengan tongkat-bututnja, tiada perbedaan sedikitpun baik tjiri2 mukanja, maupun bungkuk punggungnja.
Maka bisa dimengerti, semua orang djadi terpesona.
Lantas diundangnja Kam Tihu untuk menjaksikan peristiwa jang menakdjubkan dan aneh itu.
Atas pertanjaan Pek Wan-gwee, maka ditjeritakan Tjio Han Hiong segala kisah hidupnja, nama para leluhur, perdjuangannja sebagai orang Kang-ouw dari Siao-lim-sie, sampai pada saat sekarang ia harus memperlihatkan keaslian dirinja dan pulang ke Thian-tay bersama isterinja.
Ia menambahkan, untuk kekurang-adjaran Pek Giok Im tadi sehingga ibu dan ajahnja mendjadi murka, ia memintakan maafnja.
"Djadi demikian hal jang sebenarnja?"
Bertanja Pek Wan-gwee seperti bermimpi.
"Semua seperti dongeng sadja, dongeng jang sangat luar biasa! Tak perlu kau meminta maaf untuk isterimu! Kami takkan marah lagi, malah djadi gembira! Ja, luar biasa gembiranja!"
"Aih, bagaimana si Giok Im djadi bisa membikin heboh begini hah?"
Berkata Pek Hudjin berlinang air mata kegirangan.
"Ada2 sadja kau. Giok Im!"
Anaknja tertawa.
Ibunjapun tertawa.
Malah semua orang gelak tertawa!
Tjio Han Hiong menambahkan, bahwa isterinja telah menjuruh ia untuk menimbulkan kekatjauan itu tadi, meskipun ia sebenarnja telah mentjegahnja, karena ajah dan ibunja bisa mendjadi salah faham dan gusar.
Mendengar itu, Pek Giok Im membantah dan mengatakan, bahwa suaminjalah jang sebetulnja memberi pikiran untuk menggoda ajah dan ibunja.
Maka lalu kedua suami-isteri itu djadi bertengkar.
"Sudah, sudahlah, djangan ribut!", kata Pek Wan-gwee.
"ke-dua2nja benar, dan ke-dua2njapun salah! Tak baik kau tuduh-menuduh, tetapi jang benar kita harus bergembira sekarang!"
Begitulah hari itu luar biasa suka-tjitanja keluarga Pek.
Untuk tanda girang bahwa menantunja bukan seorang tua dan bobrok tetapi seorang muda tjantik dan menarik, lalu diadakan djamuan besar2an.
Mendjelang petang djamuan baru bubaran.
Sementara Kam Tihu tak lupa memberi selamat pada keluarga jang berbahagia itu.
Kini timbul keheranan lain bagi umum, jang menjatakan takdjubnja akan Tjio Han Hiong jang masih begitu muda telah memiliki ilmu silat jang tinggi, satu hal jang tak sembarang orang dapat mentjapainja dalam usia semuda itu!
Hal itu dibuktikan dalam perdjuangannja dahulu digua Goe-thauw-nia menempur Tong Hong Hweeshio dan kambrat2nja.
Menurut keinginan Pek Wan-gwee dengan isteri, anak dan menantunja diminta bertinggal di Thian-tay barang satu atau dua malam, karena kedua orang tua itu sangat rindu dan bangga.
Tjio Han Hiong tidak berkeberatan, malah ia mengatakan hendak berdiam lebih lama lagi, misalnja beberapa bulan.
"Hari ini bukan kepalang kegirangan kita, Moay-moay"
Berkata Tjio Han Hiong ketika berada berdua dengan isterinja.
"tetapi disamping itu tak boleh tidak kita harus selalu ingat tentang musuh kita, Tong Hong Hweeshio. Dia seorang manusia djahat, mungkin kelak dia akan membalas dendam padaku karena bukan sadja maksud buruknja telah digagalkan, malah diapun kena dilukai". Pek Giok Im mendjadi chawatir.
"Lalu bagaimana nanti, Koko, kalau kepala-gundul itu menuntut balas?"
"Kau tidak perlu merasa tjemas!"
"Tetapi hati perempuan lain dengan hati lelaki, Koko! Satu hal ketjil tjukup menimbulkan ketakutan!"
"Ah, mengapa lekas benar kau mendjadi takut, moay-moay?"
Kata Tjio Han Hiong sambil mendekati isterinja dan di-belai2 ram-butnja jang indah dengan penuh kasih-sajang.
Pek Giok Im tak mengatakan lagi kekuatiran hatinja, karena ketjintaan suaminja sudah lebih dari obat penawar paling mudjarab!
Apa jang dikatakan Tjio Han Hiong benar terdjadi, malah demikian tjepatnja diluar sangkaan.
Enam bulan sudah Tjio Han Hiong tinggal dirumah mertuanja.
Pada suatu hari, ia minta idjin pulang untuk menengoki gubuknja, karena ia chawatir ada jang rusak2.
Ketika hendak berangkat dengan kuda tunggangnja, Pek Giok Im dengan sangat mandjsnja berkata.
"Djangan Koko bermalam dilembah ja?"
"Sudah enam bulan aku tak menikmati malam dilembah, moay-moay! Aku bermaksud tinggal disana sedikitnja satu bulan!"
Djawab Tjio Han Hiong menggoda.
"Satu bulan?"
Mengulangi isterinja sambil memegangi badjunja.
"Satu hari sadja tak kuberi perkenan! Nanti malam Koko harus pulang!"
"Satu bulan tidaklah lama, moay-moay!"
"Tidak, aku tidak mau ditinggal sendirian disini, atau aku ikut pergi kelembah bersama!"
"Nanti Gak-hu dan Gak-bo bisa djadi marah?"
"Nah, kalau takut dimarahi, Koko harap kembali nanti sore!"
"Sudahlah, dua malam sadja!"
Kata Tjio Han Hiong terus menggoda.
"Tidak dua malam atau satu malam! Pendeknja aku tidak mau ditinggal sendirian! Aku harus ikuti"
"Ja, ja, sudahlah, sebentar sore aku kembali!"
Barulah Pek Giok Im melepaskan suaminja pergi sesudah memesan lagi, agar Tjio Han Hiong tjepat2 pulang.
Demikianlah Tjio Han Hiong dengan menunggang kuda pergi menudju kelembah jang telah 6 bulan tak pernah ditengoki itu.
Tetapi apa jang ia dapatkan disana?
Bukan kepalang terperandjatnja, hingga ia tertegun.
Ternjata gubuknja kini sudah tak ada lagi dilembah.
Gubuk itu sudah dibumi-hanguskan, baru sadja habis dibakar rupanja, karena asapnja masih me-ngepul2.
Tak ada apa2 lagi jang dapat dipungut, semuanja telah mendjadi abu, dan tempat itu telah mendjadi lapangan gundul.
Salah seorang tetangganja jang kebetulan ada disitu segera mentjeritakan, bahwa gubuknja baru sadja dibakar orang.
"Siapakah jang membakarnja?"
Bertanja Tjio Han Hiong.
"Seorang Hweeshio!"
Djawabnja tetangga itu.
"Rupanja dia seorang Hweeshio djahat, tampak njata wadjahnja jang tak menjenangkan, dan tingkah-lakunja galak sekali!"
"Hm seorang Hweeshio!"
Menggerutu Tjio Han Hiong, dan ia segera menduga kepada Tong Hong Hweeshio!
"Apa sebabnja dia melakukan perbuatan djahat ini?
Bukankah seorang Hweeshio mestinja berlaku baik, penolong dan penjajang sesamanja?"
"Akupun tidak mengerti mengapa ada seorang kepala-gundul dapat melakukan perbuatan sedjahat itu. Semula dia nanjakan dimana rumahnja Too-pek-koay-hiap, kami jang tak menjangka djelek kepadanja telah menundjukkan keletakannja rumahmu, tetap tak disangkanja dia lantas membakarnja. Kami mentjoba untuk mentjegahnja, namun Hweeshio itu sunggub sangat2 buas dia telah memukul kami hingga dua kawan terluka, untung lukanja tak parah. Setelah gubuk mendjadi hangus seluruhnja, barulah kepala gundul itu ngelojor pergi!"
"Peristiwa ini diluar dugaanku!"
Udjar Tjio Han Hiong.
"Tetapi biarlah, mau diapakan lagi dengan gubuk jang sudah mendjadi hangus ini?"
Seorang mengadjukan pertanjaan, adakah Tjio Han Hiong kenal dengan Hweeshio djahat itu.
Tjio Han Hiong mendjawabnja, ia kenal Hweeshio itu adalah sikepala-gundul jang dahulu pernah dilabraknja karena melakukan kedjahatan2 besar di Thian-tay.
"Oh, si Harimau-hantu itu? Rupanja dia datang untuk membalas dendam". Sekarang Tjio Han Hiong kembali ke Thian-tay. Isterinja jang tadi ber-seri2 menjambut kedatangannja, mendjadi terkedjut setelah mendengar penuturan tentang dibakarnja gubuknja, hingga ia diam tak berkata. Demikianpun kedua mertuanja tak ketjuali mendjadi kaget.
"Djika demikian", udjar Pek Wan-gwee.
"Hian-say tak usah mendjadi bingung, kau boleh tinggal bersama disini berapa lama kau suka!"
"Tetapi Gak-hu tak tahu apa jang aku pikirkan disaat ini!"
Berkata Tjio Han Hiong.
"Aku bukan merisaukan soal kediamanku, melainkan perbuatannja Tong Hong Hweeshio jang kurang adjar itu! Dia jang berdendam dan hendak menuntut balas bukan menghadapi aku setjara laki2, tetapi rumahlah jang dimusnahkannja. Manusia sematjam dia harus disingkirkan dari muka bumi dengan segera!"
"Hian-say menurut pendapatku, Tong Hong Hweeshio itu seorang pengetjut, guna apa Hian-say harus meladeninja?"
Kata sang mertua.
"Gak-hu masih tak jakin maksudku jang sebenarnja! Memang tidak perlu aku berurusan dengan seorang pengetjut, namun djika dia dibiarkan hidup, akibatnja akan ada dua matjam bentjana. Kesatu dia akan terus menimbulkan gangguan bagi kita, kedua kedjahatan jang dibuatnja tambah men-djadi2. Aku merasa pasti dilain tempat dimana tak ada orang jang merintanginja, dia akan meneruskan rentjananja pembuatan pedang-iblis hingga empat-puluh anak gadis akan mendjadi korbannja Dapatkah perbuatannja jang kedjam itu dibiarkan?"
Sekarang Pek Wan-gwee tak dapat berkata2 pula, begitupun isterinja, mereka membenarkan pendirian menantunja jang mengandung kebaikan bagi nasib anak2-gadis atau keamanan umumnja.
Begitulah kemudian Pek Wan-gwee memberikan perkenannja sambil memesan agar sang menantu senantiasa ber-hati2 dan waspada dalam setiap langkahnja.
Demikianlah pada malam itu Tjio Han Hiong berkemas untuk mentjari musuhnja, Tong Hong Hweeshio.
Ia belum tahu dimana persembunjian manusia-gundul itu, akan tetapi walaupun bagaimana ia harus mendapatkannja.
"Sebenarnja aku sangat chawatirkan keselamatan Koko menghadapi seorang musuh sedjahat Tong Hong itu"
Berkata Pek Giok Im, sang isteri, tatkala berada berduaan didalam kamar.
"Menurut Koko, bukankah dia seorang jang memiliki ilmu kepandaian tinggi, jang tak sembarang orang dapat melawannja? Buktinja tiga orang musuh jakni entjek Tjio Han Boe bersama dua orang kawannja dengan mudahnja sekaligus telah dibunuh mati olehnja?"
"Bahwa Tong Hong Hweeshio seorang jang berbahaja, memang benar, djawab Tjio Han Hiong.
"Tetapi bagiku dia belum begitu perlu dimalui. Pada malam itu dimana kau hampir sadja mendjadi kurbannja, dia sudah lari tunggang langgang dengan menderita luka. Dengan demikian djadi tak usahlah Moay-moay berchawatir!"
"Tetapi apabila Tong Hong sekarang mempunjai kawan umpamanja, tentunja Koko tak dapat memandang enteng lagi padanja bukan?", berkata Pek Giok Im dengan tjaranja jang sangat teliti.
"Sudah tentu aku takkan bertindak sembarangan djika benar dia berkawan! Sudahlah, tabahkan sadja hatimu., Moay-moay, dan pertjaja kepada Thian, bahwa orang jang bermaksud baik selalu dilindunginja!"
Pek Giok Im berdiam sedjenak, kemudian sambil penuh pandangan berarti ia berkata pula.
"Tetapi, Koko masih ada sesuatu jang aku merasa keberatan ditinggal Koko".
"Soal apa pula?"
Tanja suaminja sambil balas memandang.
"Sebenarnja sekarang............"
"Mengapa? Katakan sadja langsung, Moay-moay. agar aku tak mendjadi bimbang!"
Kini Pek Giok Im membisiki telinga suaminja, maka sesaat itu djuga Tjio Han Hiong agak kaget. Tetapi rasa kagetnja berubah mendjadi kegirangan.
"Benarkah itu, Moay-moay?"
Ia bertanja, menatap makin tadjam.
"Benar, Koko! sahut Pek Giok Im agak ke-malu2an.
"Sedjak bulan jang terachir aku mulai merasakannja!"
"Kita harus mengutjap sjukur kepada Thian. Berbahagialah kita akan dikarunia seorang putera dan puteri". Pek Giok Im tersenjum.
"Selama kepergianku, Moay-moay, baik2 kau mendjaga dirimu, djangan mengerdjakan sesuatu jang agak berat. Dengarlah selalu adjaran2 Gak-bo mengenai keadaanmu jang sekarang, agar tidak mengganggu anak jang akan terlahir kelak!"
"Baiklah, Koko!"
Djawab isterinja.
"Tetapi kuharap Koko tak kan lama meninggalkan aku".
"Belum lagi aku dapat menentukan, Moay-moay! Semua bergantung pada lambat atau tjepatnja aku menemui Tong Hong Hweeshio. Tetapi aku harap kau tak usah tjemas atau kesal, sebab biarpun bagaimana, aku pasti kembali lagi!"
"Kemana jang Koko hendak tudju?"
"Ke An-hwie. Sikepala gundul membakar gubuk kita dilembah, dengan demikian aku menduga dia berada tak djauh disekitar propinsi tersebut". Pek Giok Im tak berkata pula, suaminja pun menjuruh ia pergi tidur, karena malampun telah berlarut. Tjio Han Hiong tetap menjamar sebagai Too pek-koay-hiap, nama gelar jang pada sehari2 ini mendjadi termahur, berhubung peristiwa di Thian tay. Tetapi selama diperdjalanan, ia tak mau mendjadi si Bungkuk, melainkan berupa seorang pemuda tampan dan menarik. Ia menunggangi kuda jang bagus. Di Sim teng ia tak menemui sesuatu tentang Paderi pendjahat Tong Hong, maka ia menudju kekota lainnja. Ia selalu mengambil rumah pondokan sederhana untuk singgah dan menginap. Setelah hari mendjadi malam dengan menjamar sebagai si Bungkuk diam2 ia keluar untuk melakukan pengusutan. Sudah banjak daerah ia telah datangi, hingga hampir diseluruh propinsi Tjiat kang sebelah Barat dan Barat laut, namun selama itu usahanja tetap sia-sia. Kemudian ia melintasi propinsi An-hwie. Dari Tjeng yang terus sampai ke Tong-shia, namun tak pernah ia mendengar tentang sikepala-gundul, djuga tak ada berita2 adanja satu dan lain kedjahatan jang menimbulkan perhatian. Setengah tahun sudah ia merantau dalam penjelidikannja. Kota terachir jang ditjapai adalah Liok-an, sebuah kota jang tak terlalu besar tapi padat dengan penduduk, perdagangan makmur dan banjak orang2 kaja. Sebagian besar penduduk Liok-an, sama halnja dengan daerah2 lain, masih tebal kepertjajaannja akan berhala2 atau Sinbeng2 jang dianggapnja keramat dan sutji. Hanja sebagian ketjil sadja mereka jang sudah lebih madju, sudah banjak berkurang kejakinannja akan segala patung atau Toapekong. Dikota Liok-an itu terdapat sebuah klenteng Hong-lian-sie namanja, dipelihara sangat mentereng, patungnja banjak, setiap hari banjak orang datang berziarah untuk membajar kaul atau minta berkah keselamatan. Hweeshio2nja gemuk2 dan keuangan Hong-lian-sie sangat menjenangkan. Untuk pertama kali Tjio Han Hiong melihat sebuah kota demikian indah, dan penduduknja sangat mengesankan. Mereka sangat memperhatikan tentang hal pakaian, malah pihak wanita selalu suka dengan pakaian jang indah2, pandai bersolek. Tertarik akan kepermaian kota Liok-an, Tjio Han Hiong memasuki sebuah kedai minuman diatas loteng, ia minta teh panas. Sambil menikmati teh jang wangi, ia melepaskan pandangan matanja kedjalan2 raya jang senantiasa ramai-berisik dengan orang2 jang hilir-mudik dan kendaraan-kendaraan jang berlalu-lintas. Kemudian tampak 2 orang tamu naik keatas loteng, mereka minta arak. Dari nada suaranja diketahui mereka penduduk daerah setempat, karena berdialek chas Liok-an. Sambil minum arak mereka ngobrol dengan asjiknja.
"Bagaimana kesanmu terhadap Hweeshio jang datang disini belum lama berselang itu?"
"Kau maksudkan Sin Khong Toodjin?"
Bertanja temannja.
"Dia agaknja seorang pertapa jang sudah tebal akan azas2 kepertjajaannja, disamping itu pun memiliki kepandaian ilmu silat."
"Dan bagaimana pula kejakinanmu terhadap Niekoh jang datang bersama dia dan kini menempati Hong lian-sie?"
"Tentang Gwat In Niekoh aku tak dapat mengatakan sesuatu, karena dia djarang menampakkan diri. Akan tetapi menilik dari romannja dan tindaktanduknja jang sesekali aku melihatnja di Hong-lian-sie baru2 ini, dia tiada bedanja dengan pertapa2 perempuan lainnja."
"Kau sependapat dengan aku! Memang ke-dua2nja, Sin Khong Toodjin dengan Gwat Im Niekoh merupakan pertapa2 jang sudah mentjapai puntjak kesempurnaan. Barangkali dengan kedatangan mereka akan menambah kemakmuran penduduk Liok-an. Dan bagaimana pula pendapatmu mengenai maksud mereka untuk membangun sebuah geredja-wanita? Sebab pada hakekatnja, dengan kaum perempuan memiliki bidang chusus untuk kepentingan mereka, adalah sangat baik. Menjesal aku tak punja keluarga perempuan, ketjuali isteri jang hidupnja selalu sibuk dengan pekerdjaan dirumah. Akan tetapi melihat djedjak kedua pertapa itu, aku setudju sebulat2nja. Oleh karena itulah aku sudah memberikan bantuan uang tjukup lumajan, dengan kejakinan bahwa dari bidang kegeredjaan akan memperoleh djuga manfaatnja". Kawannja berdiam sebentar.
"Apakah kau sudah menindjau bangunan Gwat-im-am itu?"
Tanjanja kemudian kawan itu "Ja, tjukup pantas untuk keperluan kaum perempuan berziarah!
Dan dilihat dari bentuknja, geredja-wanita itu benar2 mengesankan.
Tjuma satu hal aku agak kurang setudju, jalah keletakannja tempat jang djauh dari kota, pula dikaki bukit jang djalannja sangat sukar ditempuh wanita!"
"Menurut katanja Sin Khong Toodjin dahulu, tempat itu sudah diperhitungkan masak2 tentang hong-swienja dan merupakan udjian bagi kebulatan tekad seseorang. Apabila setiap pengikut Buddha benar2 sutji dan ichlas terhadap adjaran2 jang dipeluknja, maka ia takkan mengeluh untuk menempuhnja, tetapi tetap gembira dan berseri2! Bilakah Gwat-im-am akan diresmikan pembukaannja?"
"Hari lusa, tanggal 15 bulan tudjuh. Aku akan ikut menjaksikan pembukaannja, dan untuk pertama kali bersudjud pada pertapa perempuan itu!"
"Sesudah itu, lalu kemana Sin Khong Toodjin akan pergi?"
"Kabarnja akan berlalu setelah peresmian Gwat-im-am. Ia bermaksud menjebarkan agamanja di-daerah2 lain dimana adjaran2 Buddha belum berkembang atau belum luas".
"Dengan demikian, dia seorang pertapa jang benar2 bersemangat dan patuh kepada adjaran buddha!"
Kawannja menganggukkan kepala, tanda setudju.
Dan tak lama kemudian kedua2nja meninggalkan rumah minum.
Bagi Tjio Han Hiong soal Sin Khong Toodjin dan Gwat Im Niekoh itu tak mempunjai sangkut-paut dengan tudjuannja mentjari Tong Hong Hweeshio, akan tetapi pikirnja tidaklah halangan untuk iseng2 menjaksikan upatjara pembukaan geredja-wanita jang baru dibangun itu.
Ia beranggapan, betapa djiwa umat-wanita di liok-an terhadap sesuatu jang dianutnja.
Satu hari ia akan membuang waktu untuk menanti hari lusa.
Pada malamnja pemuda pamuda itu ber-djalan2 disepandjang djalan raya, dan segala jang didjumpainja benar2 sangat mengesankan.
Keesokan harinja ia mendengar, digeredja Hong-lian-sie diselenggarakan upatjara chusus bagi penganut2 Buddha, laki2 dan wanita.
Para pembhakti diminta perhatiannja untuk bersembahjang pada semua Sinbeng.
Kaum perempuan diharuskan minta perkenan pada berhala2 jang selama itu disudjudi, untuk minta diri, bahwa sedjak hari itu mereka tak lagi berziarah ke Hong-lian-sie, namun tak berarti mereka melupakan berkah2 jang pernah dilimpahkan para Sinbeng.
Upatjara perpisahan itu dipimpin oleh seorang pertapa wanita jang masih muda sekali, dikira umurnja belum 25 tahun.
Walau muda, namun pada wadjahnja Gwat Im memiliki sifat2 lembut dan penuh kesutjian, ramah-tamah dan walas-asih, membikin setiap orang, terutama golongan wanita, sangat terpengaruh karenanja.
Diantara lain Gwat Im Suthay memberitahukan pada umum, bahwa Sin Khong Toodjin sudah meninggalkan Liok-an untuk menunaikan tugas2 sutjinja di-daerah2 lain, kewadjibannja di Liok-an hanja membantu menjelenggarakan pembangunan Gwat-im-am, dia takkan kembali pula, karena dia telah mempertjajai padanja untuk memimpin Gwat-im-am dari awal pembukaan hingga saat terachir.
"Dan beliau berpesan, agar para penundjang agama Buddha disini tak usah meng-ingat2 lagi tentang beliau ataupun djasa2nja karena beliau tak mengingini semua itu!"
Gwat Im Niekoh menambahkan.
"Beliau menjatakan sudah tjukup puas melihat keprihatinan para penganut, dan berharap mereka takkan kundjung-dingin dalam menunaikan bhaktinja terhadap Hong-lian-sie maupun Gwat-im-am". Kemudian upatjara berachirlah. Tjio Han Hiong pulang kepondoknja. Ia ingin tidur, tetapi mata tak mau merapat. Otaknja tak tenang setelah melihat Hong-lian-sie siang tadi. Ia memikirkan berapa perempuan jang masih sangat muda itu, Gwat Im Niekoh. Bukan sadja masih muda, tetapipun amat tjantik. Hal ini menimbulkan keheranar Tjio Han Hiong. Benar, tak sedikit pertapa2-wanita jang masih berumur muda dan elok, disebabkan karena dasar keluhuran pribadinja, atau mendjadi pertapa setjara wadjar karena berbakat, ataupun sebab2 jang memaksa dalam hidupnja. Malah tak kurang djumlahnja pertapa-wanita jang berasal dari pelatjur jang telah bertobat dan ingin menebus dosa2nja, lalu memasuki biara mentjukur rambutnja. Akan tetapi Gwat Im Niekoh jang masih sangat muda dan elok itu agaknja ada apa2 jang menarik perhatian Tjio Han Hiong untuk menjelidikinja. Begitulah keesokan harinja ia mengikuti rombongan orang pergi kekaki bukit, dimana Gwat-im-am diresmikan pembukaannja. Geredja itu agak baik bangunannja, memiliki bagian2 dan ruangan2 jang tersendiri, ada kamar2 chusus untuk para tamu wanita, baik pelantjong biasa maupun jang sengadja berziarah. Sedjumlah patung, tentu sadja patung2 Malaikat-perempuan, diatas medja sembahjang dipendopo besar. Tetapi Pendetanja baru hanja seorang sadja, jaitu Gwat Im Niekoh, jang sedjak hari itu bertindak sebagai pemimpin. Diharapkan oleh Paderi-wanita itu agar tak seberapa lama lagi Gwat-im-am memperoleh bantuan dari pertapa2-wanita lain. Tjio Han Hiong tak mendapat kesan apa2 dari penindjauannja, maka pada sore harinja ia pergi ke Hong-lian-sie pula untuk memperoleh keterangan. Ia berlaku sebagai seorang pelantjong jang ingin berziarah jang sjarat2nja ia dapat penuhi. Pada Paderi-kepala, Tju Gwan Hoosiang, ia menjatakan kekagumannja pada Hong-lian-sie jang teratur dan menarik. Dan sebentar sadja ia dapat berkenalan dengan segenap Hweeshio. Lantas ia mulai pada titik atjara, mendjnrus kepada tudjuan penjelidikannja. Atas pertanjaannja, Tju Gwan Hoosiang menerangkan, bahwa Gwat Im Niekoh mula2 datang bersama Sin Khong Toodjin dari Utara. Ke-dua2nja tampaknja pertapa2 jang sudah mentjapai batas terbaik, sekalipun pertapa perempuan itu masih berumur muda sekali. Mereka penganut2 adjaran Buddha jang taat. Gwat Im Niekoh bermaksud memimpin sebuah geredja chusus untuk kaum wanita, adalah Sin Khong Toodjin seorang Paderi jang gemar mengembangkan keagamaannja di-pelosok2. Demikianlah atas kegiatan mereka, dan dibantu oleh hweeshio2 dari Hong-lian-sie, dikumpulkannja bantuan2 uang dari segenap penduduk untuk pembangunan Gwat-im-am. Geredja-wanita itu kini sudah selesai dan diresmikan pembukaannja, maka dengan demikian berarti satu kebaikan tak ketjil bagi masjarakat di Liok-an teristimewa pemeluk2 agama Buddha, jang pada hakekatnja membutuhkan sebuah biara chusus bagi golongan wanita. Tjio Han Hiong sangat memperhatikan semua keterangan jang diberikan Tju Gwan Hoosiang itu.
"Lalu kemana perginja Sin Khong Toodjin itu, Toa-Hoosiang?"
"Dia pergi ke Hong-yang-hu untuk memperkembangkan lebih djauh agamanja", mendjawab Tju Gwan Hweeshio.
"Djedjak seorang Pertapa sebagai Sin Khong Toodjin benar2 patut mendapat sokongan setiap orang lahir dan bathin!"
"Tetapi mengapa Sin Khong Toodjin tak menghadiri djuga peresmian Gwatim-am sebagai hasil djerih-pajahnja jang diusahakan selama itu?"
"Seharusnja dia berbuat demikian, akan tetapi djiwa jang berlainan dengan kebanjakan kaum Pertapa, Sin Khong Toodjin tidak menghendaki penghargaan untuk djasa2nja! Hal itu menambah pudjaan setiap orang akan kemurnian pendiriannja!"
Tjio Han Hiong mengutjapkan terima kasih akan kebaikan Paderi-kepala jang memberikan keterangan banjak itu, kemudian ia mohon diri.
Pada pendapatnja, berdasar pendjelasan Tju Gwan Hweeshio, Sin Khong Toodjin dan Gwat Im Niekoh adalah kaum Pertapa jang berdjiwa besar, penganut2 Buddha jang patuh dan taat.
Oleh karena itu ia tak ada minat untuk berdiam lebih lama dikota Liok-an, karena kenjataannja tak menemukan apa jang ditjari.
Kemana akan ia melandjutkan penjelidikannja, ia tak tahu.
Tetapi ia telah berkeputusan, takkan kembali ke Thian-tay bila belum menemukan Tong Hong Hweehsio uutuk membalas dendamnja.
Keesokan harinja ia meninggalkan Liok-an dan menudju ke Lim-koan.
Didaerah ini ia telah berdiam 6 hari lamanja, tak ada mendengar berita sesuatu tentang Tong Hong Hweeshio.
Keesokan paginja ia berniat meninggalkan kota itu, atau tiba2 ia mendengar berita2 menggemparkan dari Liok-an.
Berita itu mengagetkan, bahwa pada malam pertama peresmian geredja-wanita Gwat-im-am.
di Liok-an telah terdjadi kehilangan seorang anak-gadis remadja dan malam ketiga peristiwa itu terulang pula.
Kehilangan 2 orang gadis dan 2 orang djedjaka itu tidak meninggalkan bekas2 dari terdjadinja peristiwa, tak tahu bagaimana atau kemana mereka menghilang.
Pada mulanja orang menduga, gadis dan pemuda jang hilang dimalam pertama tentunja berhubungan dengan urusan pertjintaan.
Tetapi orang banjak umumnja mengenal baik keadaan mereka sebagai orang2 terpeladjar dan tak ada terdjadi hubungan asmara.
Sampai pada tiga malam berikutnja kembali seorang anak-gadis dan seorang pemuda lenjap dari rumahnja, dengan tak pula diperoleh tanda2 terdjadinja kehilangan.
Satu2nja hal jang dapat dikemukakan jalah, pada malam2 timbulnja peristiwa aneh itu, kira2 lewat pukul 12, ada bertiup angin dingin disertai bau amat busuk, dan sajup2 terdengar bunji raung binatang harimau.
Maka alangkah terkedjutnja Tjio Han Hiong seketika.
Ia teringat akan peranan Tong Hong Hweeshio.
Peristiwa di Liok-an sama dan serupa seperti jang terdjadi di Thian-tay dahulu, maka timbullah persangkaannja mungkin Tong Hong Hweeshio kini berada di Liok-an mengulangi kedjahatannja.
Jang berbeda hanja sekarang bukan anak2-gadis melulu jang didjadikan kurban, tetapi pemuda djuga.
Apa maksudnja pentjulikan pada pemuda2 itu?
Adakah sekarang Tong Hong Hweeshio tak hanja membuat sebuah pedang-maut, tetapi sepasang?
Tak tenang hati Tjio Han Hiong untuk berdiam lebih lama di Lim-koan.
Ia harus segera kembali ke Liok-an dan bertindak.
Sekali ini ia mesti membasmi Tong Hong Hweeshio sampai di-akar2nja, untuk menjelamatkan nasib gadis2 serta pemuda2 disana.
Disaat itu djuga ia berangkat menudju ke Liok-an dengan menunggang kudanja.
Ia sampai dikala sendja, dan benar sadja, suasana telah berubah banjak sekali.
Penduduk sama gelisah dan ketakutan.
Dan keterangan2 jang dihimpun menundjukkan, bahwa pada malam pertama peresmian geredja Goat-im-am dan malam ketiga berikutnja ada 2 orang gadis dan 2 pemuda hilang dari masing2 rumahnja.
Dalam hal ini alat2 negara telah dikerahkan untuk melakukan pendjagaan ditempat2 jang penting dan menangkap pendjahatnja.
Tetapi Tjio Han Hiong tahu, tindakan pemerintah takkan peroleh hasil.
Ia memulai penjelidikannja dengan tidak menjamar sebagai Too-pek-koayhiap.
Di-rumah2 korban jang kehilangan gadis2 ia dapatkan bekas tapak2 kaki matjan dan pada rumah2 pemudaa jang hilang, tak terdapat tanda apa2, tidak tapak kaki matjan ataupun tanda2 lainnja.
Pikiran Tjio Han Hiong sekarang ditudjukan pada Hong-lian-sie, karena ia menduga, mungkin didalam geredja itu pendjahat gundul Tong Hong memusatkan operasinja seperti dahulu.
Mungkin kini bekerdja-sama dengan Hweeshio2 di sana sekalipun kelihatannja Paderi2 di Hong-lian-sie baik2 semua.
Tetapi usaha Tjio Han Hiong hampa belaka, tak ada suatu tanda paling ketjil pun jang bisa disimpulkan adanja perbuatan djahat.
"Mesti ada pula lain pangkal jang dirahasiakan!"
Demikian terlintas pendapat Tjio Han Hiong.
Lantas ia memulai lagi pengusutannja.
Ia tidak mendjadi putus asa dan semangatnja tak kundjung padam dalam usaha menjelamatkan penduduk.
Namun selama 2 hari tetap ia tak memperoleh hasil jang diharapkan.
Sekarang tiba malam ketiga, dan menurut dugaannja, mungkin malam itu akan timbul lagi pentjulikan sebagai telah terdjadi di Thian-tay.
Maka ia harus mempergunakan siasat seperti dahulu pula, jaitu turun tangan disaat Harimau-iblis bekerdja.
Ketika malam sudah datang, ia sudah menjalin rupa sebagai Loo Too-pek.
Dilihatnja petugas2 negara membuat pengawasan dengan sangat radjin, dan regu2 jang dibentuk agaknja sangat kuat.
Tetapi Tjio Han Hiong sama sekali tidak mau menghubungi pemerintah dalam pekerdjaannja jang ia tahu takkan ada faedahnja.
Ia bekerdja sendiri.
Begitulah ia ber-djaga2, hingga kemudian lewat djam 12 tengah malam.
Benar sadja, tak lama kemudian angin bertiup dari djurusan Selatan, makin lama makin santer men-deru2 diiring bau anjir, diantar bunji raung harimau.
Malam jang tadinja sunji sekarang berubah menjeramkan, suasana diliputi bajang2 hantu menakutkan.
Dengan tidak membuang waktu lagi Tjio Han Hiong mentjari sebuah rumah jang tertinggi wuwungannja, kesana ia melompat untuk sambil mengumpat melepaskan pandangan matanja mengikuti arah datangnja angin.
Malam itu sungguh amat gelap, tetapi Tjio Han Hiong memiliki daja-lihat luar biasa tadjamnja.
Dalam djarak djauh, dari semak2 dipinggir kota samar2 ia tampak muntjul bajang2 tak njata, namun makin lama makin djelas, bahwa bajang2 itu adalah 2 sosok tubuh.
Jang satu benar2 seekor harimau berukuran besar, jang lain sesosok tubuh ketjil langsing, mungkin seorang perempuan.
Gerakan mereka sama2 tjepatnja, dengan sang matjan bergerak diatas 2 kaki belakangnja, madju makin dekat kekota.
Tjio Han Hiong segera melompat turun, djalan memutar, dan kini mengambil tempat dibelakang 2 sosok bajangan itu, dengan hati2 sekali ia mengikutinja kemana 2 sosok itu hendak menudju.
Kini terlihat lebih njata lagi, bahwa Matjan-iblis itu adalah Matjan-tutul, sementara kawannja adalah seorang perempuan berbadan sangat ketjil, tetapi djelas kegesitannja.
"Hm, sekarang pendjahat terkutuk itu tak bekerdja sendirian, melainkan berkawan seorang wanita!"
Menggerutu Tjio Han Hiong.
"Tentulah pendjahat-wanita ini jang mentjulik pemuda2. Entahlah pendjahat-wanita dari mana, dan sedang merentjanakan sendjata apa pula dengan kurban2 pemudanja!"
Tjio Han Hiong tak memperdulikan tiup angin jang men-deru2, dengan tjermatnja diikutinja djedjak kedua pendjahat itu, menudju kepinggir kota sebelah Barat, dimana padat dengan rumah2 penduduk.
Petugas2 jang mungkin tadinja ber-djaga2, pada saat itu tempat sudah bergeletakan lupa diri.
Sampai disuatu djalan lorong ketjil pendjahat-wanita itu memisahkan diri, melompat kesuatu wuwungan rumah dengan gerakannja jang ringan sekali menudju ke Utara, kemudian menghilang.
Tjio Han Hiong agak ragu2.
Ia ingin mengikuti djedjak pendjahat-wanita itu, tetapi sebaliknja ia chawatir Matjan-tutul nanti merenggut kurbannja.
Dalam waktu jang demikian mendesak tak mengidjinkan ia lambat mengambil ketetapan.
Oleh karena demikian ia segera berkeputusan menjelesaikan dahulu kedjahatan jang ada didepan mata.
Ia ingin tahu tjara bagaimana Matjan-tutul itu bekerdja, maka ia menjembunjikan diri disatu tempat gelap.
Dalam hatinja berpikir, sebagai seorang pendjahat, Tong Hong Hweeshio belum memiliki kemampuan sempurna, misalnja pendengaran tadjam.
Sebab di Thian-tay dahulu pendjahat gundul itu tak mengetahui orang menguntitnja, dan sekarangpun tidak lagi.
Hanja sendjata rahasianja Samsek-hwee sudah mentjapai kehebatan.
Namun tak urung sendjata-maut itu sudah pula dimusnahkan.
Si Matjan-tutul rupanja sudah menentukan rumah dimana ada tjalon kurbannja.
Setelah ditemukan sebuah djendela loteng, dengan pemuda jang berparas tjakap dari masing2 rumahnja.
Dan pada sekali melontjat ia telah melajang keatas, dan kedua kaki-belakang-nja menggantung pada kasau, kaki-depannja bekerdja Akan tetapi sekali ini Tjio Han Hiong tak mau bermurah hati seperti dahulu, ia harus menjelesaikannja seketika itu djuga.
Demikianlah dengan sebuah batu ketjil, Too-pek-koay-hiap menjambut tangan Harimau jang sedang hendak membuka daun djendela, hingga Matjan-palsu itu mendjadi kaget sekali.
Matjan-palsu itu insjaf ada orang jang merintangi pekerdjaannja.
Lalu dengan tjepat ia melajang turun, agaknja ia hendak mentjari tahu, dari mana dan siapa jang berlaku iseng tadi.
"Setelah diubrak-abrik di Thian tay setahun jang lalu, sekarang kau memindahkan pusat kedjahatannja di Liok-an, njatalah kau seorang keraskepala!", tiba2 ia dengar suara orang ber-kata2 kepadanja.
"Kau tak mendjadi kapok dengan rentjana durhakamu, maka sekaranglah kau harus menghadapi malam terachir dari hidupmu jang penuh lumuran darah dan dosa!"
Segera Too-pek-koay-hiap menampilkan diri, maka terperandjatlah Matjan136 tutul itu, hingga langkah kakinja ditarik mundur.
Sama sekali ia tidak mengira disini kembali akan menghadapi musuh lamanja itu, si Bungkuk jang tangkas dan perkasa.
"Lagi2 kau, orang she Tjio jang merintanginja!"
Tegur Matjan-tutul, atau sebenarnja Tong Hong Hweeshio.
"Benar2 kau musuh besarku, padahal pekerdjaanku tak ada sangkut-pautnja dengan kau ataupun merugikan kepentinganmu! Mengapa kau selalu mengedjar2 aku?"
"Sebab seorang pendjahat sebagai kau tak perlu diberi hidup lebih lama lagi", djawab Tjio Han Hiong.
"Dahulu aku memberi kelonggaran padamu, karena aku pikir kau akan mendjadi kapok dengan perbuatanmu. Tetapi njatanja tidak! Kau meneruskan rentjana pedang-iblismu dan hendak mengurbankan pula djiwa gadis2 jang tak berdosa! Oleh karena itulah sekarang kau takkan diberi ampun lagi, dan hukuman itu tidak hanja terhadap kedjahatan'mu, djuga terhadap perbuatanmu memusnahkan gubukku di Siang-yang-kok. Pendjahat pengetjut, untuk membalas dendam kau tidak berani berhadapan muka dengan aku hanja membakar pondokku jang tak punja dosa apa2! Nah, sekaranglah pedangku akan mendjadi hakim!"
Kata2nja itu ia barengi dengan serangannja menusuk perut musuh dengan penuh kesengitan.
Dengan tak keburu melepaskan kulit-matjannja, Tong Hong Hweeshio melompat mengelakkan pedang jang datang menusuk seperti kilat, lalu ia mentjabut sendjata piannja dari balik kulit-matjan.
Dengan itu ia balas menjerang.
Begitulah kedua lawan itu berhantam dengan seru, sementara angin berhenti bertiup karena tak dapat dikuasai lagi chasiatnja.
Tong Hong Hweeshio, Si kepala-gundul ini sudah tahu kelihayannja musuhnja ini, iapun telah ketahui bahwa musuhnja sebenarnja adalah seorang muda tampan jang memiliki ilmu silat luar biasa.
Maka ia berkelahi dengan hati2 sekali, ia mainkan sendjatanja terlebih baik dari jang dahulu.
Tiap2 terdjangan musuh ia dapat sambuti se-baik2nja, ia mampu memberikan perlawanan tjukup sengit, hingga pertarungan itu berlangsung seru dan dahsjat.
Sekali ini Tjio Han Hiong tak ingin melepaskan musuhnja dengan masih bernjawa, karena ia insjaf selama Hweeshio djahat itu belum mati, maka kedjahatan akan terus meradjalela.
Maka ia menjerang dengan gempurangempuran hebat.
Tong Hong Hweeshio pun merasakan, djauh benar kesengitannja musuh dibanding dengan digua Goe-thauw-nia.
Djusteru ia tidak begitu leluasa dalam gerakannja karena kulit-matjan jang masih melekat dibadannja, hal mana membuat ia mendjadi sangat cbawatir, kalau2 bahaja akan segera mengachiri djiwanja.
Ia mentjoba menggerakkan seluruh kepandaiannja dengan melakukan perlawanan tak kurang serunja, hingga untuk beberapa lama ia masih dapat mempertahankan namanja sebagai Tjabang atas dari Sungai-hitam.
Demikianlah, mereka bergebrak dengan sama sengitnja, hingga berlangsung hampir satu djam lamanja.
Kedua belah pihak mempergunakan siasat2 jang mendjadi kebanggakan masing2.
Tetapi kenjataannja Tjio Han Hiong berada diatas angin.
Hal itu tidak mengherankan, karena disamping memang ia menang setingkat dalam ilmu gisiauw daripada lawannja, kulit-matjan jang berat sangat mengganggu gerakan musuhnja, hingga dalam babak2 selandjutnja kepala-gundul itu tampak ketiada-seimbangannja.
"Pertjuma sadja kau berusaha melawannja, pedangku takkan memberi kelonggaran pula!"
Mengedjek Tjio Han Hiong.
"Kau harus mati ditanganku malam ini. Oleh karena demikian, maka sebaiknja kau menjerah sadja, hingga kau tak mem-buang2 tenaga untuk tjuma2!"
"Tak mungkin Hek-liong-kang Kim Liong akan menjerah ditangan seorang jang tidak ternama sebagai kau!"
Djawab Tong Hong Hweeshio dengan gusarnja.
"Djanganlah kau memandang enteng sekali padaku!"
Baca Juga: Pecut Sakti Bajrakirana 7
Baca Juga: Iblis Dan Bidadari 4