Eps 4 Iblis dan Bidadari - Kho Ping Hoo
Baca online Iblis dan Bidadari - Kho Ping Hoo
Cersil Iblis dan Bidadari - Kho Ping Hoo.
"Kun-Lun Siauwhiap, manusia sombong. Sampai di manakah kepandaianmu maka kau berani sekali datang berlagak?"
Seru Lian Hong yang segera menyerang dengan hebatnya. Kun-Lun Siauwhiap terkejut dan cepat menangkis lalu membalas dengan celaannya.
"Hwe-Thian Sian-Li, apakah kau juga berhati kejam dan ganas seperti Hwe-Thian Mo-Li?"
Akan tetapi Lian Hong menjadi makin marah dan segera keduanya bertempur seru.
Karena ia didesak hebat dengan serangan-serangan maut, terpaksa Tek Kun tidak mau mengalah begitu saja dan membalas pula dengan serangan-serangan hebat.
Diam-diam ia mengeluh mengapa gadis yang tadinya ia kagumi dan yang diam-diam ia cintai ini telah berobah menjadi seorang gadis liar yang kejam dan ganas.
Siang tadi ia diberitahu oleh Hwe-Thian Mo-Li bahwa Hwe-Thian Sian-Li karena mencintainya, telah mendengar tentang pertunangannya dan malam nanti hendak menyerbu rumah tunangannya dan membunuhnya.
Tadinya ia tidak mau percaya dan tidak memperdulikan ucapan Hwe-Thian Mo-Li ini, akan tetapi setelah malam tiba, hatinya merasa tidak enak juga.
Secara iseng-iseng ia lalu keluar dari rumah, membawa pedangnya dan sekalian ia hendak mencari kesempatan melihat tunangannya yang tidak disukainya.
Demikianlah, Hwe-Thian Mo-Li yang merasa kecewa dalam cintanya itu telah sengaja memancing agar Lian Hong dapat bertemu dengan tunangannya dalam cara yang lucu sekali.
Bahkan gadis gagah ini diam-diam setelah melihat keduanya bertanding, lalu cepat menuju ke rumah Pangeran Sim Liok Ong dan dengan kepandaiannya ia dapat memasuki kamar pangeran itu.
"Celaka, Sim-Taijin. Puteramu Sim Tek Kun sedang bertempur dengan tunangannya di taman bunga Ciok-Taijin!"
Mendengar ini, Pangeran Sim Liok Ong menjadi terkejut dan marah.
Ia lalu mengumpulkan para perwiranya dan cepat berkuda menuju ke rumah gedung Ciok-Taijin.
Akan tetapi Siang Lan telah mendahului mereka dan langsung mengetuk kamar Ciok-Taijin.
"Taijin, lekas bangun! Adik Lian Hong sedang bertempur mati-matian melawan putera Pangeran Sim!"
Tentu saja Ciok-Taijin menjadi terkejut sekali, apalagi ketika ia mendengar pintu gerbang depan digedor orang dan ketika dibuka oleh penjaga, yang datang adalah Pangeran Sim Liok Ong sendiri beserta para pengawalnya.
Sebelum kedua orang tua ini bicara, Siang Lan telah mendahului mereka.
"Lekas...! Lekas pergi ke kebun belakang! Lian Hong dan Tek Kun sedang bertempur mati-matian... ah, celaka!"
Pada saat itu, seisi rumah Ciok-Taijin telah bangun semua dan mendengar ucapan ini, mereka semua terkejut sekali dan cepat berlari-lari ke kebun bunga di belakang gedung.
Malam itu bulan sedang purnama dan keadaan cukup terang.
Ketika tiba di belakang, mereka melihat cahaya pedang berkelebatan dan dua bayangan orang lenyap terbungkus gulungan sinar pedang, seakan-akan menjadi satu.
Orang-orang tua itu masih dapat mengenal dua orang muda yang bertempur hebat dan cepat Ciok-Taijin membentak marah.
"Lian Hong...! Tahan senjatamu!"
Seruan ini tidak saja membuat Lian Hong terkejut dan melompat mundur, juga Tek Kun menjadi terkejut dan mencelat mundur.
Ia menjadi lebih terkejut lagi ketika melihat Ayahnya telah berada di situ, maka cepat ia menghampiri Ayahnya dan berseru.
"Ayah, kau di sini...??"
"Tek Kun, kau malam-malam datang mengacau di sini apakah maksudmu?"
Ayahnya membentak marah. Hampir berbareng, Ciok-Taijin menegur cucunya.
"Lian Hong, tengah malam buta kau bertempur di dalam taman, apakah artinya semua ini?"
Hampir berbareng pula, kedua orang muda itu menjawab.
"Ayah, gadis kejam dan ganas ini hendak membunuh mati Ciok-Siocia, tunanganku!"
"Kong-kong, pemuda sombong ini hendak membunuh mati Sim-Kongcu, tunanganku!"
Ketika Lian Hong mendengar ucapan pemuda itu, ia menjadi pucat, demikianpun Tek Kun. Keduanya saling pandang dengan bengong sedangkan orang-orang tua yang berdiri di situ memandang lebih hebat lagi.
"Tek Kun, apakah kau mendadak sudah menjadi gila? Kau bilang tunanganmu Ciok-Siocia hendak dibunuh oleh gadis ini?? Ayaaa... apalagi yang lebih gila dari pada ini...??"
Juga Ciok-Taijin berseru keras.
"Lian Hong, apakah kau sedang ngelindur? Bagaimana pemuda ini bisa membunuh Sim-Kongcu? Dia sendirilah Sim Tek Kun tunanganmu!"
Baik Lian Hong maupun Tek Kun merasa seakan-akan tanah yang diinjaknya tiba-tiba amblas.
Mereka berdiri bengong, saling pandang dengan perasaan tidak karuan.
Mereka merasa malu, terkejut, heran, dan juga girang setengah mati.
"Kau... kau... nona Lian Hong tunanganku...?"
Kata Tek Kun hampir berbisik.
"Kun-Lun Siauwhiap... kaulah sebenarnya Sim Kongcu...?"
Kata Lian Hong.
Tiba-tiba meledaklah suara ketawa dari Pangeran Sim Liok Ong dan Ciok Taijin.
Orang-orang tua ini yang telah berpengalaman dapat menebak dengan jitu apa yang terkandung dalam ucapan perlahan ini.
Mereka saling pandang, lalu Pangeran Sim melangkah maju, menggandeng tangan Ciok Taijin diajak masuk ke gedung sambil berkata.
"Ah... urusan anak-anak muda! Sim Taijin, agaknya pernikahan perlu dipercepat! Ha, ha, ha...!"
Tak lama kemudian, Tek Kun dan Lian Hong ditinggalkan berdua di taman itu.
Mereka masih berdiri saling pandang, penuh perasaan, penuh kebahagiaan, pandangan yang mesra.
Bibir mereka bergerak-gerak karena geli hati memikirkan keadaan mereka dan akhirnya meledaklah suara ketawa Sim Tek Kun.
Lian Hong juga tidak dapat menahan kegelian hatinya dan tertawa-tawalah dia sambil menutupi mulut dengan punggung tangan.
"Lian Hong... kau... kau nakal!"
Gadis itu cemberut dan menahan ketawanya.
"Siapa...? Bukan aku, kaulah yang nakal!"
"Salah, bukan kita, manisku. Hwe-Thian Mo-Li yang menjadi biang keladi dan gara-gara semua ini!"
Akan tetapi yang dibicarakan pada saat itu telah pergi jauh dan kalau kita mengikutinya, kita hanya melihat bayangannya yang bagaikan seorang iblis wanita melayang-layang seorang diri di tengah hutan di sebelah selatan Kota Raja.
Terdengar ia tertawa-tawa seorang diri dengan geli hati dan gembira, akan tetapi apabila kita melihat pipinya, kita akan melihat betapa sepasang pipinya telah basah oleh air mata.
TAMAT andu,
http.//indozone.net
/literatures/literature/252
Baca Juga: Suling Emas 6
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 4