Eps 2 Pendekar Misterius - Gan Kl
Baca online Pendekar Misterius - Gan Kl
Cersil Pendekar Misterius - Gan Kl.
Cepat ia melompat bangun sambil betulkan rambutnya yang terurai, lalu membuka kain sutera bungkusan itu, meski didalamnya masih dibungkus lagi oleh selapis kertas, tapi segera sudah kelihatan cahaya hijau yang menyilaukan.
Ketika kertas dibuka, kiranya isinya adalah sebuah kapal kumala hijau yang diukir sebagai Liong-cun atau kapal naga, didalam kapal itu terukir pula berpuluh penumpangnya yang semuanya beberapa senti besarnya, tapi gayanya seperti hidup sungguhan, benar2 semacam benda pusaka yang jarang diketemukan dan harganya tak ternilai.
Dengan adanya benda itu, seketika Jun-yan malah menjadi terperanjat, lekas2 ia bungkus kembali kapal jamrud itu, dalam hatinya ia menjadi ragu-ragu dan serba salah.
Terang sudah baginya kapal jamrud itu adalah benda kawalan Siang Lui yang memang nilainya tak terkatakan, jika ia ambil apa gunanya?
Tadi Sam-bok-leng-koan Siang Lui marah2 diluar, tentu disebabkan kehilangan kapal ini, dan seharusnya sekarang juga ia kembalikan barang orang.
Tapi karena masih mendongkol kecundang oleh Siang Lui kemarin, jika bukan dilerai oleh suseng itu, entahlah bagaimana kesudahannya?
Kalau teringat si suseng itu, hati Jun-yan jadi tergerak, diam-diam ia memikirkan gerak-gerik pemuda yang tampaknya lemah gemulai itu, tapi sebenarnya memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi, hal ini telah terbukti ketika ia dinaik-turunkan keledainya itu, bukankah dengan mudah suseng itu sedikit kebaskan tangannya.
Maka terang sudah betapa tinggi tenaga dalamnya.
Jangan2 dialah yang malam tadi menggerayangi barang kawalan Sam-bok-leng-koan Siang Lui sekedar untuk bergurau saja?
Karena kemungkinan itu memang ada, tanpa merasa hati si gadis berlaut-madu.
Ia termenung-menung sendiri, kemudian golok pusaka Pek-lin-to ia masukkan kebungkusan kapal jamrut itu dan di luarnya dibungkus lagi dengan sehelai kain kasar, ia pikir biarkan Siang Lui kelabakan sendiri, toh dirinya tiada pekerjaan lain, mengapa kapal jamrud ini tidak kuhantarkan sekalian ke Sam-thay Piaukiok di Soatang ?
Sesudah ambil keputusan ini, segera ia angkat bungkusannya, lalu hendak keluar kamar, tapi tiba-tiba dilihatnya diujung ranjangnya sana terdapat lagi secarik kertas putih, waktu ia menjemputnya dan dilihat, ternyata diatas-kertas itu tertulis dua huruf "Jing-kin"
Yang mencang menceng, gaya tulisannya mirip seperti apa yang diketemukan waktu pertama kalinya orang menghantarkan golok dulu. Untuk sesaat Jun-yan tertegun, ia heran apakah artinya "Jing-kin"
Ini?
Ia pikir, hal ini mungkin harus ditanyakan pada suseng itu.
Tapi bila ia pikir lagi, tak mungkin orang yang pertama kali menghantarkan golok padanya itu adalah si suseng, sebab waktu itu kenal saja mereka belum, tentu percuma saja bertanya padanya.
Karena kenyataan yang bertentangan itu, hati Jun-yan menjadi bingung, dengan murung ia melangkah keluar kamarnya hendak berangkat.
Ia lihat Sam-bok-leng-koan Siang Lui sambil menggendong tangan lagi berjalan mondar-mandir di tengah ruangan hotel, mukanya mengunjuk rasa gusar, sedang orang2nya dan ketiga pembantunya yang kemarin itu berdiri dipinggir, semuanya diam tak berani buka suara.
Tapi Jun-yan tak peduli, mendekati meja pengurus hotel dan berseru.
"Hai, kuasa, ini rekening saya!"
Sembari berkata, ia letakkan serenceng uang perak di atas meja terus putar tubuh hendak pergi.
Diluar dugaan, mendadak dari samping tubuhnya angin menyerempet lewat, tahu-tahu Siang Lui sudah menghadang diambang pintu sambil melototkan mata padanya.
"Hei, maukah kau minggir, aku masih ada keperluan harus lekas-lekas berangkat!"
Demikian Jun-yan mencoba berkata dengan sopan. Siapa tahu Siang Lui terus memaki.
"Budak maling!"
Habis itu, mendadak ia ulur tangan mencengkram kemuka si gadis. Lekas-lekas Jun-yan melompat mundur menghindarkan serangan itu. Sementara itu Siang Lui sudah berteriak-teriak lagi.
"ayoh, kenapa kalian masih diam saja, kapal jamrud justru berada padanya!"
Jun-yan menjadi heran, dari manakah orang bisa tahu, dan bila ia memeriksa bungkusannya, barulah ia insyaf, kiranya dalam ter-gesa2nya waktu membungkus tadi, kain sutera pembungkus kapal jamrud itu ada sebagian terkacir keluar.
Karena perbuatannya sudah konangan, ia pun tak mau unjuk kelemahan, cepat ia tarik Pek-lin-to dari bungkusannya terus mengayun kebelakang hingga orang2 yang mengepung di belakangnya itu terdesak mundur.
Lalu dengan suara keras ia berseru .
"Sam-bok-leng-koan, katanya kau adalah Bu-lim cianpwe, kau tahu malu tidak ?"
Tapi Siang Lui sudah terlalu murka, mendadak ia melangkah maju, tangan kiri mengebas kesamping sekuatnya, walaupun kebasan itu tidak langsung menyerang Jun-yan, tapi tiba2 si gadis merasa ada suatu tenaga yang maha besar se-akan2 menyedot dirinya kesamping hingga hampir saja ia terjungkal, dan pada saat itulah, cepat sekali Siang Lui sudah baliki tangannya terus mencengkeram kemukanya lagi.
Tenaga kebasan Siang Lui itu sebenarnya bertujuan untuk membikin miring tubuh Jun-yan, menyusul terus mencengkeram.
Kalau tubuh Jun-yan sudah terhuyung-huyung kesamping, maka pasti akan kena dicengkeram seperti sengaja memapakkan sendiri.
Dalam keadaan terancam, ternyata Jun-yan tidak kurang akal, mendadak ia jatuhkan dirinya kelantai dengan berduduk, berbareng golok Pek-lin-to ia babatkan kedepan dua kali, habis itu, ujung golok ia tutulkan kelantai dan tubuhnya meloncat kesamping.
"Sam-bok-leng-koan", dampratnya, kemudian mengancam.
"Jika kau berani maju lagi, segera aku bacok kapal jamrud ini hingga hancur, coba kau mampu membunuh aku tidak?"
Siang Lui menjadi mati kutu, ia pikir, sekalipun gadis itu ia cincang, tapi kalau kapal pusaka itu sudah remuk, kemana harus dicari ganti benda yang tiada taranya itu? "Lalu, kau mau apa?"
Tanyanya kemudian kewalahan, tapi dalam hati gusar tidak kepalang.
"Sebenarnya kapal jamrud ini aku tak inginkan, cuma.......ah, meski aku ceritakan juga kau takkan percaya, lebih baik tak diceritakan", demikian sahut Jun-yan.
"tapi golok ini biar tinggalkan padaku saja, nanti aku yang kembalikan pada Liok-hap-tong-cu!"
Sejak Sam-bok-leng-koan Siang Lui malang melintang di kangouw, belum pernah ia dibikin mendongkol seperti sekarang ini.
Maka sembari mendengar iapun sambil mencari akal.
Ketika Jun-yan lagi senang2 hampir selesai mengucapkan kata2nya, mendadak Siang Lui menggertak.
"Ngaco-belo!"
Dan sekali tubuhnya bergerak, secepat kilat ia menubruk maju, tangan kiri mengulur, seketika mulur hampir dua kali lipat, terus membalik hendak menampar muka si gadis.
Keruan Jun-yan terkejut, tapi cepat pula ia angkat goloknya buat menangkis.
Namun tahu2 tangan kiri Siang Lui sudah mengkeret lagi, sebaliknya tangan kanan yang mulur terus memegang buntalan dipinggang si gadis, ia barengi mendorong dengan tenaga dalamnya hingga gadis itu ter-huyung2 kebelakang sambil berseru.
"Sambuti!"
Dan segera orang2nya menyambut buntalan itu dengan hati2.
Merasa kecundang lagi, Jun-yan gusar tidak kepalang, sesudah berdiri tegak kembali, mendadak sinar tajam berkelebat, ia putar golok pusaka Pek-lin-to dan menghujani bacokan kepada Siang Lui.
Karena tidak bisa menggunakan golok, meski Jun-yan mainkan dengan menurut ilmu pukulan "Hui-hun-cio-hoat"
Namun tetap tak ungkulan melawan Siang Lui.
Sesudah beberapa jurus, ia sudah terdesak kalang kabut, keruan ia gugup dan sengit, permainan goloknya semakin cepat, ia menyerang mati2an tanpa pikir.
Tapi pada suatu saat, ketika Sam-buk-leng koan kebaskan lengan bajunya kedepan hingga angin kuat menyambar pergelangan tangan, Jun yan merasa kesemutan hampir Pek-lin-to terlepas dari cekalannya.
terpaksa ia melompat mundur, lalu putar golok semakin kencang.
Tampaknya bila empat-lima jurus lagi, pasti si gadis akan kecundang dan goloknya terampas, tiba2 terdengar diluar hotel itu ada suara orang berkata .
"He, Li-heng didalam hotel ada orang lagi bertempur, sinar senjata itu tampaknya adalah senjatamu Pek-lin-to!"
Lalu suara seorang menjawab .
"Benar, mari cepat kita melihatnya kedalam !"
Girang sekali Jun-yan mendengar suara orang2 itu.
dalam seribu kerepotannya itu ia kenal suara orang pertama itu adalah Jing-ling-cu dan yang lain terang Liok-hap-tong-cu Li Pong adanya.
Saking girangnya semangatnya terbangkit.
"ser-ser"
Dua kali ia ayun goloknya hingga Siang Lui terdesak mundur, dan pada saat itulah Jing-ling-cu dan Li Pong pun telah melangkah maju.
Ketika tiba2 melihat yang sedang bertarung itu satu diantaranya ialah Lou Jun-yan yang memegang golok pusakanya sambil memainkan jurus2 ilmu golok yang aneh lagi bertahan mati-matian, sesaat itu Li Pong tertegun.
Tapi kemudian bila mengetahui lawan si gadis adalah Sam-bok-leng-koan Siang Lui, segera iapun terkejut.
Lekas2 ia berseru.
"Tahan dulu, tahan dulu! Orang sendiri semua."
Namun Siang Lui sudah ketelanjuran murka, sesaat tak mudah untuk melerai, terutama bila mengingat si gadis segera dapat dilakukan.
"Berhenti dulu, Siang-heng!"
Teriak Li Pong pula.
"Dengarlah kataku, Siang-heng, anak dara ini adalah murid lo-Jiau, pikiran lo-Jiau (maksudnya Jiau Pek-king situa) biasanya sempit suka mengeloni murid sendiri, kenapa kau mesti cekcok dengan dia ?"
Jun-yan tahu persahabatan antara Liok-hap tong-cu Li Pong dengan gurunya sangat karib, asal dia ikut campur, betapa besarnya urusan pasti akan beres, maka hatinya menjadi lega. Segera iapun berseru .
"Awas, Li-sioksiok, dibelakang suhu kau berani merasahi, kalau pulang nanti, biar aku laporkan pada suhu, coba bagaimana kau akan bela diri?"
Sembari berkata, ia menjadi sedikit lengah, kesempatan itu segera digunakan Sam-bok-leng koan untuk menyerang sambil berteriak .
"Sebentar lagi, Li-heng, biar aku rebut dulu goloknya!"
Dan cepat sekali ia menabok kedepan, lalu tangannya menekan turun, lengan bajunya terus membelit hingga golok Pek-lin-to itu kena digulungnya sambil ditarik.
Keruan tangan Jun-yan menjadi kesemutan hingga goloknya terlepas dari cekalannya.
Liok-hap-tong-cu Li Pong cukup kenal gurunya Jun-yan yang suka mengeloni muridnya pasti tak mau membiarkan muridnya dihina orang, dan jika sampai urusan makin meluas, kedua pihak sama-sama sahabat, tentu ia serba salah.
Maka cepat ia menyelak ketengah sembari mengomeli si gadis .
"Jun-yan, makin lama kau semakin sembrono, Sam-bok-leng-koan adalah Bu-lim-cianpwe, kenapa kau sembarangan bergebrak dengan dia ? Nah, lekas kau minta maaf!"
Namun Jun-yan masih penasaran, sahutnya.
"Hm, kalau dia adalah Bu-lim cianpwe, seharusnya dia mempunyai sifat angkatan tua dari Bu-lim, kenapa dia berkeras menuduh aku yang telah mencuri kapal jamrudnya itu, tak sudi aku meminta maaf padanya!"
Li Pong benar2 kewalahan, maka dengan tertawa katanya kepada Sam-bok-leng-koan.
"Lau Jiau orangnya aneh, murid ajarannya ternyata juga serupa!"
Kalau Li Pong berulang kali menyebut asal usul Lou Jun-yan perlunya biar Siang Lui mengetahui dan jangan coba terlibat permusuhan dengan Jiau Pek king yang disegani itu.
Tak terduga, maksud baiknya itu berbalik jelek, Siang Lui menjadi salah paham malah, segera dengan tertawa dingin ia menjawab.
"Jau-li, budak ini kemarin membawa golok Pek-lin-to dari Kong-tong-pay kalian dan mematahkan tiga bendera pertandaan kami, waktu aku tinggal minum di belakang kangzusi.com hingga datang terlambat sedikit, ternyata daun telinga dua orangku sudah kena diirisnya. Tatkala mana ia sudah terang2an hendak merampas kapal jamrud itu, tapi melihat pertandaan golok pusakamu itu, aku hanya tahan goloknya dan biarkan dia pergi, siapa tahu semalam ia datang kembali untuk mencuri golok dan kapal, kalau bukan bungkusannya kurang rapat hingga dapat kuketahui boleh jadi sekarang ia sudah kabur jauh2. Hm, kau jeri pada Jiau Pek-king, masakan kami juga takut padanya ?"
Mendengar lagu kata2 orang menjadi kurang senang juga kepadanya, Li Pong hanya tersenyum saja, sahutnya .
"Siang-heng, gadis ini meski nakal, tapi tentang merampas barang kawalanmu, mungkin belum tentu berani melakukannya."
Tapi Siang Lui makin gusar.
"plok"
Mendadak ia gebrak meja hingga meja itu amblong suatu lubang besar, berbareng tangan lainnya pun mengayun, Pek-lin-to yang dirampasnya ia tancapkan keatas meja, lalu katanya dengan sengit .
"Tidak, budak ini takkan kulepaskan pergi, sesudah aku selesai hantarkan barangku, aku sendiri akan mengirimnya kembali ke Jing-sia san untuk menanya pada Jiau Pek-king cara bagaimana mengajar murid. Jika kau merasa kurang senang, terserahlah kau bila mau membelanya!"
Melihat Siang Lui ternyata bermaksud menawan si gadis, Li Pong cukup kenal akan watak Jun-yan yang tentu takkan mau turut.
Tapi tabiat Siang Lui juga keras luar biasa, apa yang dikatakannya kembali, maka ia menjadi serba salah untuk sesaat itu.
"Li-sioksiok?"
Tiba2 Jun-yan berseru.
"orang itu menantang kau, masa kau tidak berani? Ciangbunjin dari Khong-tong-pay janganlah sampai dibikin malu orang!"
Li Pong menjadi geli dan mendongkol, omelnya.
"Jun-yan, jangan sembarangan omong !"
Habis itu ia coba kedipi Jing-ling-cu. Imam itu faham akan maksud sang kawan, maka cepat ia menyela.
"Siang-heng, kalau barang kawalanmu belum sampai hilang, kenapa mesti sepikiran seperti bocah ini? Biarkanlah dia pergi!"
"Boleh juga, asal dia menjura tiga kali meminta maaf padaku", sahut Siang Lui marah2.
"Kent....."
Segera Jun-yan hendak mendamprat, tapi belum lagi ucapannya selesai, tahu-tahu Sam-bok-leng-koan Siang Lui sudah melesat kedekatnya dimana tangannya sampai.
"koh-ceng-hiat"
Dipundak si gadis telah kena ditutuknya. Namun cepat Jun-yan dapat menyalurkan tenaga mematahkan tutukan itu, lalu teriaknya .
"Bagus, Li-sioksiok, kau tinggal peluk tangan saja tidak mau menolong, ya? Masa keparat ini menuduh aku merampok, lantas kau mau percaya ?"
Li Pong tahu didalam urusan ini tentu ada hal2 yang ber-belit2, tapi Siang Lui sudah ketelanjur bergusar sungguh2, rasanya susah mau beres begitu saja, maka cepat ia menyahut .
"Jun-yan, lekaslah kau pergi saja. Disini masih ada aku!"
"Bagus, Lau-Li, beginilah baru benar-benar tegas", teriak Siang Lui tiba-tiba dengan bergelak tertawa.
"Dengan kata-katamu ini, putuslah persahabatan kami tiga saudara dengan pihak Khong-tong-pay kalian". Habis berkata, mendadak tangannya bergerak membalik dengan ilmu thong-pi-kang, tiba-tiba lengan kanannya seakan-akan mulur lebih panjang terus menggaplok ke dadanya Li Pong. Cepat Li Pong berkelit dan gunakan satu tipu Liok-hap-cio-hoat untuk mematahkan serangan Siang Lui itu. Dalam hati diam2 ia mengeluh. Ia cukup kenal Siang Lui bertiga saudara perguruan itu semuanya berwatak keras berangasan. Ketika melihat Siang Lui hendak buka serangan pula dan Jun-yan masih belum mau pergi, tiba2 hatinya tergerak, cepat ia berseru;
"Nanti dulu Siang-heng, dengarlah kata2ku".
"Apalagi?"
Jengek Siang Lui. Tapi Li Pong terus menanya si gadis.
"Golok Pek-lin-to itu cara bagaimana bisa jatuh di tanganmu, Jun-yan?"
Maka berceritalah si gadis apa yang dialaminya didalam hotel serta cara bagaimana golok Pek-lin-to itu tahu2 sudah berada disamping bantalnya hingga batang hidungnya hampir2 pesek terpapas.
"Siang-heng", kata Li Pong sesudah merenung sejenak, setelah mendengar penuturan Jun yan.
"urusan ini memang rada aneh, sesungguhnya Jun-yan tak bisa disalahkan."
Lalu iapun menuturkan pengalamannya ketika bertemu si-orang aneh dirimba tempo hari dan menyambungnya pula.
"Setelah aku melanjutkan perjalanan ke Lo-seng-tian, sampai disana barulah aku mengetahui golokku sudah hilang tanpa aku merasa. Melihat gelagatnya, terang dilakukan oleh manusia aneh itu. Maka hendaklah Siang-heng jangan salah sangka pada orang lain". Namun Siang Lui tidak mau mudah percaya, bukankah sudah terang2an ia melihat Jun yan yang hendak membawa pergi kapal jamrudnya yang dicuri orang malam2 itu ? Maka dengan tertawa dingin ia menjawab .
"Liok-hap-tong-cu, biasanya kami tiga saudara selalu pandang kau sebagai seorang laki2 sejati, siapa tahu kaupun tak bertulang, berani pada yang lemah, takut pada yang jahat!"
Betapa sabarnya Li Pong, akhirnya menjadi kurang senang oleh olok2 Siang Lui ini, katanya segera .
"Siang-heng, telah kukatakan bahwa anak dara ini adalah muridnya Lau Jiau, maksud baikku kenapa kausalah artikan?"
Siang Lui menjadi gusar.
"Aku justru ingin tahu betapa lihaynya Thong-thian-sin-mo", sahutnya.
"Jika ternyata kau begitu karib dengan dia, nah, silahkan kau pergi memberitahukan padanya, bahwa didalam dua bulan, pasti kami bertiga saudara akan membawa murid mustikanya ini ke Jing-sia-san untuk mencarinya". Melihat urusan makin lanjut makin runyam Jing-ling-cu cukup kenal watak Siang Lui yang gopoh, tentu susah dilerai, boleh jadi nanti dua bulan lagi amarahnya sudah hilang dan percekcokan inipun dapat didamaikan, maka cepat ia memberi tanda pada Li Pong. Li Pong tahu maksud kawan itu, maka katanya pada si gadis.
"Jun-yan, sebenarnya kau juga salah mematahkan panji pertandaan orang. Sam-bok-leng-koan ingin kau ikut padanya, dalam dua bulan, kau akan dihantar pulang ke Jing-sia-san, baik kau terima saja, nanti tiba waktunya, tentu kita akan selesaikan urusan ini."
Semula Jun-yan berniat melancong di kang ouw, dengan sendirinya sangat berat kalau disuruh pulang.
Tapi bila mengingat Liok-hap-tong-cu berada dalam keadaan serba salah, kenapa mesti bikin susah padanya, masa nanti di tengah jalan aku tak bisa meloloskan diri?
Maka segera ia mengangguk.
"Baiklah, Li-sioksiok, masa aku takut padanya?"
Tapi masih kuatir terjadi apa2 atas diri si gadis, maka ia berkata pula.
"Jangan kuatir, Sam-bok-leng-koan adalah angkatan tua, tak nanti dia bikin susah padamu."
Dengan kata2 ini, ia telah cegah lebih dulu agar Siang Lui sebagai orang tua tak nanti merecoki seorang muda. Habis ini, bersama Jing ling-cu mereka lantas berlalu.
"Jangan kau coba melarikan diri!"
Kata Siang Lui gemas kepada Jun-yan, lalu perintahkan orang2nya berangkat.
Jun-yan tidak gubris akan kata2 orang, bahkan terus melengos dengan sikap memandang hina.
Keruan Siang Lui ber-jingkrak2, tapi sebagai seorang tua, tidak pantas juga bertengkar terus dengan seorang muda, terpaksa ia menahan gusar pergi mengatur pemberangkatan kereta-keretanya.
Tidak lama, iring2an kereta kangzusi.com sudah meninggalkan kota kecil itu, Siang Lui dan Jun-yan menunggang kuda mengikuti dari belakang, diam2 Sam-bok-leng-koan me-nimang2, Thong-thian sin-mo Jiau Pek-king itu benar2 lihay, tiga saudara maju sekaligus belum tentu sanggup melawannya, rasanya didalam dua bulan ini mesti mengundang lagi bala bantuan.
Sampai disini ia menjadi agak menyesal juga akan keburu nafsunya menimbulkan percekcokan ini.
Sebaliknya Jun-yan sendiri lagi memikirkan bagaimana caranya meloloskan diri, malahan sebelum kabur, Siang Lui harus diberitahukan dulu, barulah mendongkolnya bisa terlampias.
Tapi apa daya, jika bertempur terang2an takkan berhasil.
Lalu akal apakah yang harus dipakai?
Malamnya, mereka menginap dihotel lagi.
Siang Lui mengirim dua orangnya menjaga di luar kamar Jun-yan.
Karena itu si gadis menjadi mati kutu.
Jika ia terjang keluar, tapi kemudian dibekuk kembali oleh Siang Lui, bukankah akan membikin malu saja ?
Ia menjadi kesal hati, ia rebahan diranjangnya, tanpa terasa ia terpulas.
Sampai tengah malam, tiba2 terdengar berkesiurnya angin, samar-samar terasa suatu bayangan berkelebat di depannya.
Ia menyangka pandangan sendiri menjadi kabur, cepat ia bangun, tiba2 berjangkit lagi kesiurnya angin, menyusul daun jendela berkedut dan terpentang, satu bayangan orang secepat terbang sudah melayang keluar.
Jun-yan kucak2 matanya, kemudian ia menegasi pula, dan memang jendela kamarnya sudah terpentang.
Ia menjadi ingat kejadian malam kemarin yang mirip dengan barusan ini.
Pada saat itulah, lantas terdengar suara bentakan orang diluar .
"Budak liar, jangan lari!"
Menyusul suara itu, segera seorang menjerit di barengi suara gemerentang jatuhnya senjata.
Jun-yan dapat mengenali suara jeritan itu adalah suara orang yang dikirim Siang Lui untuk mengawasi dirinya itu, dan bayangan orang yang begitu cepat dan gesit itu siapa gerangannya?
Mungkinkah sipelajar penunggang keledai berjari tunggal itu?
Sedang memikir, tiba2 didengarnya lagi suara bentakan Siang Lui yang keras, menyusul mana ada orang sedang melapor dengan gemetar.
"Susiok, Loji dan Losam telah terbinasa!"
Jun-yan terkejut, betapa lihaynya cara turun tangan orang itu? Dalam pada itu Siang Lui hanya menjengek tanpa menyahut, mendadak Jun-yan dikagetkan oleh suara "blang"
Yang keras, sekonyong-konyong pintu kamarnya kena didepak terpentang. Cepat ia bangkit berduduk, dengan suara keras ia membentak .
"Siapa?"
Tadinya Siang Lui menyangka kalau si gadis telah lari sehabis membunuh orang, ia mendepak pintu kamar yang untuk melampiaskan amarah saja, kini mendengar Jun-yan masih berada didalam kamar, seketika ia melengak, tapi terpaksa ia menyahut.
"Aku !"
Tiba2 Jun-yan tergerak pikirannya, ia pura2 mendamprat .
"Tengah malam buta kau dobrak kamarku ada apa ? Katanya angkatan tua Bu-lim, kenapa kelakuanmu begini rendah ?"
Betapapun Siang Lui memang seorang kesatria, kena digertak demikian, ia menjadi mengkeret dan lekas2 undurkan diri sambil menggerutu didalam hati akan kelicikan si gadis.
Sebaliknya diam2 Jun-yan tertawa geli.
Karena kematian dua murid keponakannya, dan pula dirinya kena di-olok2 si gadis, sungguh Siang Lui gusar tidak kepalang.
Besoknya di waktu meneruskan perjalanan, diam2 ia mengambil ketetapan akan mengundang semua kawan yang dahulu pernah bertengkar dengan Jiau Pek-king untuk mendatangi Jing-sia-san dan menentukan unggul atau asor dengan iblis itu, lalu Jun-yan juga akan dicincangnya pula.
Melihat sikap orang, Jun-yan tahu Siang Lui sudah membencinya tujuh turunan, tapi dasar jahil, dalam perjalanannya ia justru sengaja pakai macam2 cara untuk bikin marah Siang Lui hingga tokoh ini semakin geregetan.
Untuk selanjutnya Siang Lui tidak mengirim orang untuk menjaganya lagi, sebenarnya kalau mau Jun-yan sudah bisa melarikan diri.
Tapi sekarang justru ia berbalik pikiran, ia tidak mau tinggal pergi.
Maka tiada beberapa hari akhirnya sampailah mereka diperbatasan daerah Ciatkang, kalau Siang Lui sudah selesaikan barang hantarannya di Hengciu, ia lantas bisa pulang ke Soatang.
Selama beberapa hari terakhir ini, setiap tengah malam tentu ada satu orang yang diam2 masuk kamar Jun-yan.
Setiap malam si gadis juga melihat bayangan orang, tapi asal sedikit ia bergerak, segera orang itu melompat keluar jendela dan menghilang untuk malam berikutnya datang lagi.
Betapa cepat gerakan orang itu, benar2 sukar dilukiskan.
Tidak peduli betapa perlahan Jun-yan bergoyang, segera orang itu mendapat tahu dan lantas melesat pergi.
Suatu malam, sengaja Jun-yan mengincar orang, pura2 pejamkan mata menantikan datangnya orang.
Betul juga, tengah malam orang itu melayang masuk kekamarnya lagi, karena gelap gulita, maka muka orang itu tak tertampak jelas, hanya perawakannya cukup besar, terang seorang laki2.
Sesudah, masuk kekamar, orang itu terus berdiri kaku didepan ranjang Jun-yan hingga tanpa merasa si gadis merinding.
Diam2 ia pikirkan ilmu silat yang luar biasa itu, kalau orang bermaksud jahat, untuk mencelakai dirinya adalah terlalu mudah, tetapi setiap malam hanya datang, lalu pergi lagi, entah apa yang hendak diperbuatnya ?
Agaknya yang dua kali membawakan golok Pek-lin-to, tentulah orang ini tak salah lagi.
Jun-yan men-duga2 siapakah gerangan orang ini, mulanya ia sangka si pelajar berjari tunggal itu, tapi lantas terpikir olehnya mungkin sang guru yang telah turun gunung dan secara diam2 melindungi dirinya?
Namun bila dipikir lagi, rasanya hal itu tidak mungkin.
Ketika dilihatnya orang itu masih berdiri terpaku, se-konyong2 ia melompat bangun terus menubruk kearah orang.
Ia menaksir dengan tubrukannya secara mendadak itu tentu orang akan kena dicengkeramnya.
Siapa tahu ia hanya tubruk tempat kosong saja.
Terdengar dua kali suara "plak-plak", kedua tangannya telah menghantam diatas meja, sedang disampingnya angin berkesiur perlahan, ketika ia menoleh, orang itu sudah menghilang.
Keruan Jun-yan tambah curiga, cepat ia menyalakan lentera, ia lihat keadaan kamarnya tiada tanda2 aneh.
Ketika ia hendak matikan lentera untuk tidur lagi, sedikit menunduk, mendadak dilihatnya permukaan meja yang tadinya rata mengkilap itu, kini nampak benjal-benjol seperti terukir tulisan.
Waktu ia angkat lentera memeriksanya, ternyata diatas meja itu terukir beberapa hurup yang mencang-mencong, semuanya bertuliskan "Jing-kin".
Ukiran ini sedalam hampir setengah senti, licin halus, tanpa ada tanda-tanda bekas korekan senjata, terang asal goresan dengan jari, dan tempat dimana orang tadi berdiri tepat berdekatan dengan meja ini, maka dapat diduga tentu dilakukan orang itu, betapa tinggi ilmu silatnya, sungguh bikin orang tercengang.
"Jin-kin, Jin-kin", tanpa terasa Jun-yan menyebut nama itu. Ia pikir tentu ini nama seorang wanita, tapi apa hubungannya dengan diriku? Kenapa diwaktu orang hantarkan golok dan kapal jamrud itu selalu disertai secarik kertas yang bertuliskan kedua hurup itu? Ia tak bisa pulas lagi, ia coba merenungkan pengalamannya selama ini, tiba2 ia teringat orang aneh yang dilihatnya di Lo-seng-tian dan selalu menguntitnya dalam perjalanan itu. Ia menjadi bergidik bila mengingat betapa seramnya muka orang aneh itu, ia coba lupakan orang, tapi makin hendak melupakan, semakin teringat. Teringat olehnya kelakuan orang aneh itu Pek-lin-to diminta Liok-hap-tong-cu Li Pong tidak boleh, tapi rela diserahkan padanya. Ketika dirinya berkata ingin memiliki golok pusaka itu, tahu2 besoknya senjata sudah berada di samping bantalnya. Ketika terjadi pertengkaran dengan orang Sam-thay Piaukiok, pernah dirinya berteriak ingin mereka tinggalkan kapal jamrud, eh, tahu2 besok paginya benda itu dihantarkan kepadanya. Maka dapatlah dipastikan, kesemuanya itu dilakukan si orang aneh itu. Tapi sebab apakah orang aneh itu sedemikian menurut pada kata2nya serta berbuat apa yang dapat memenuhi keinginan batinnya? Makin dipikir, makin Jun-yan tidak mengerti. Pikirnya lagi, jika begitu naga-naganya, terang orang aneh itu senantiasa berada disekitarnya, mungkin sekarang juga masih berada disitu, kenapa aku tidak menjajalnya lagi, apa dugaannya itu sesuai dengan kenyataannya ? Maka ia mendekati jendela, ia lihat diluar sana sunyi senyap, maka ia menggumam sendiri .
"Ai, kapal jamrud itu benar2 sangat mungil dan indah, kalau besok pagi sudah sampai di Hangciu, tiada kesempatan untuk menikmatinya lagi, alangkah baiknya jika malam ini aku dapat memainkannya benda itu sejenak !"
Habis berkata, ia tutup daun jendelanya dan merebahkan diri buat tidur lagi. Tidak lama kemudian, mendadak diluar terdengar suara bentakan Siang Lui yang keras .
"Siapa kau ?"
Menyusul terdengar suara "blang"
Yang keras, lalu Siang Lui berteriak lagi .
"Kau adalah sobat dari gadis mana ?"
Tapi tiada suara orang menyahut, sebaliknya terus berkumandang suara kangzusi.com gedubrakan yang gaduh.
Maka dalam sekejap saja hotel itu menjadi kacau balau semua orang keluar untuk melihat keramaian.
Jun-yan bergirang dan terkejut.
Terkejutnya karena orang yang selalu mengintil itu ternyata benar si orang aneh yang menyeramkan.
Girangnya sebab dugaannya ternyata tepat.
Maka cepat iapun membuka pintu kamar, ia lihat dibawah sorot obor, orang aneh itu sudah hancurkan sebuah kereta muatan hingga benda mustika berantakan berserakan ditanah, tersorot oleh sinar api, benda2 berharga itu memancarkan sinar kemilauan yang indah.
Sedang kapal jamrud itu tampak sudah dikempit oleh si orang aneh.
Kedua mata Siang Lui se-akan2 memancarkan api saking murkanya, dengan senjatanya "Hok-mo-kim-kong-co"
Atau gada penakluk iblis yang diputar sedemikian kencangnya, ia terus memburu.
Begitu hebat tenaganya hingga meja kursi, tembok dan pintu berantakan kena dihantam senjatanya itu.
Belum pernah Jun-yan melihat Siang Lui memakai senjatanya itu.
Mungkin melihat si orang aneh itu terlalu tangguh baginya, maka "Malaikat bermata tiga"
Ini sekarang merasa perlu keluarkan senjata andalannya.
Tapi orang aneh itu seperti tidak mau terlibat dalam pertempuran, hanya berkelit kian kemari dibawah sambaran gada orang, dan sedikitpun Siang Lui tak bisa menyentuh padanya.
Ber-duyun2 begundalnya Siang Lui juga merubung datang dengan senjata lengkap, tapi ketika melihat macamnya orang aneh yang menakutkan, yang bernyali kecil segera bergidik, apalagi suruh maju mengeroyok?
Dalam keadaan ribut2 itu, tiba2 diantara penonton itu ada satu orang berteriak.
"Wah, celaka, hancur semua, hancur semua!"
Terkesiap hati Jun-yan mendengar suara itu, ketika ia berpaling kearah suara itu, benar juga dilihatnya sisuseng berjari tunggal itu lagi berjingkrak2 kegirangan oleh peristiwa itu.
Ketika melihat Jun-yan berpaling, ia membalasnya dengan seulas senyuman.
Sementara itu Siang Lui memutar gadanya semakin kencang, ditambah ilmu "Thong-pi-kang"
Yang lihay, tapi sesudah 30-40 jurus sedikitpun masih belum bisa menyentuh tubuh orang aneh itu.
Diam-diam ia apa mau percaya apa yang diceritakan Li Pong tempo hari ternyata tidak omong kosong belaka, betapa hebat ilmu silat orang aneh ini, benar-benar susah diukur.
Tapi sekali gebrak saja hampir pundaknya kena dihajar orang, melihat serangan orang aneh ini, terang ilmu pukulan geledek "Pi-lik-jiu"
Dari keluarga In di Holam, tapi sekarang melihat gerak tubuhnya yang enteng, tampaknya dari aliran lain lagi.
Dan karena sudah lama masih belum bisa mengalahkan lawan, hati Siang Lui menjadi gugup.
Makin lama ia menjadi semakin kalap, saking sengitnya ia memutar gadanya hingga penonton terpaksa menyingkir mundur oleh angin gambarannya.
Melihat pertarungan yang susah dilerai itu jika diteruskan entah bagaimana akhirnya, maka cepat Jun-yan berseru .
"Sudahlah, berhenti, berhenti !"
Mendengar suara Jun-yan, orang aneh itu tampak tertegun sejenak hingga gerak tubuhnya agak merandek, kesempatan itu telah digunakan Siang Lui untuk mengemplang dengan gadanya.
Saat itu kedua tangan si orang aneh itu lurus kebawah tanpa ber-jaga2, jika kemplangan itu kena kepalanya, jangankan manusia, sekalipun batu juga akan hancur lebur.
Keruan Jun-yan terkejut, ia menjerit kaget sambil menekap mulutnya.
Tapi pada saat itulah, sampai Siang Lui sendiri tidak jelas bagaimana jadinya.
tiba2 pandangan semua orang se-akan2 kabur, mendadak orang aneh itu ulurkan tangan kirinya, secepat kilat gada Siang Lui sudah kena ditangkapnya.
Cepat Siang Lui menarik sekuatnya, tapi sedikitpun lawan tak bergeming, lekas2 ia gunakan ilmu "Thong-pi-kang"
Mendorong kedepan, tapi masih tetap tak bisa membuat orang aneh itu bergerak malahan lengannya sendiri hampir2 patah, keruan terkejutnya tidak kepalang.
Ketika tiba2 orang aneh itu menarik kebawah, menyusul disengkelit kesamping, maka terasa oleh Siang Lui suatu tenaga yang amat besar menubruk kedadanya hingga cekalannya menjadi kendor, gadanya telah kena dirampas orang, sedang tubuhnya akhirnya ter-huyung2 kebelakang terus jatuh terduduk.
Sejak ia unjuk diri di kangouw, belum pernah mengalami kekalahan sehebat ini, dalam masgulnya ia membentak pula.
"Tinggalkan namamu sobat!"
Akan tetapi orang aneh itu hanya sedikit mengapkan mulutnya yang sudah tidak utuh lagi dan mengeluarkan semacam suara yang menggoncangkan sukma, se-konyong2 gada yang dirampasnya itu ditimpukan ketanah hingga amblas sedalam setengah gada itu, lalu berjalan ke arah Lou Jun-yan.
"Terima kasih atas maksud baikmu", kata Jun-yan ketika melihat orang aneh itu mendekatinya. Tiba2 orang aneh itu taruh kapal jamrud itu ditangan Jun-yan, sekali melesat, mendadak meloncat keluar secepat terbang.
"He, nant...."
Jun-yan hendak meneriakinya, tapi orang sudah sampai diluar dan sekejap mata saja sudah menghilang.
Menyaksikan semua itu, Sam-bok-leng-koan Siang Lui benar2 terkejut, iapun tahu bukan tandingan orang.
Maka ia berbangkit buat kembali kekamarnya.
"Orang she Siang", tiba2 Jun-yan menegurnya sembari meletakkan kapal jamrud yang diterimanya dari si orang aneh itu keatas meja.
"barangmu ada disini, apa kau kira aku benar2 menginginkannya? kau sendiri yang menjaganya masih dapat dibegal orang, kalau panji Sam-thay Piaukiok kalian telah kupatahkan, rasanya tidak berlebihan. Sekarang apa kau masih akan menggiring aku kembali ke Jing-sia-san?"
Siang Lui sudah lesu sekali, ia hanya kebas tangannya dan menyahut.
"Bolehlah kau pergi, dalam dua bulan, biar aku pergi menemui gurumu!"
"Haha, berani mengaku kalah, masih terhitung seorang laki2 sejati!"
Jun-yan meng-olok2 sembari tinggalkan pergi. Baru saja ia melangkah keluar pintu, segera dilihatnya sisuseng berjari tunggal itu lagi menggapai padanya. Cepat ia mendekatinya.
"Tabah benar nona"
Puji pelajar itu dengan tertawa.
Biasanya mulut Jun-yan cukup tajam, tapi aneh, menghadapi suseng ini, mukanya menjadi merah, hatinya ber-debar2, sekejappun tak sanggup buka suara, sampai lama sekali baru ia menjawab .
"Ah, kau terlalu memuji saja !"
"Disini bukannya tempat bicara, bila nona tidak menolak, marilah kita tinggalkan tempat ini", ajak suseng itu tiba2. Aneh juga, Jun-yan benar2 kesemsem oleh pemuda ini, maka ia hanya mengangguk setuju. Segera mereka mendatangi kandang kuda, suseng itu menuntun keluar keledainya, mereka berdua menunggangi satu keledai terus dilarikan keluar kota.
"Siapakah she nona yang terhormat ?"
Tanya suseng itu sesudah sampai ditempat yang sepi.
"She Lou, bernama Jun-yan..."
Ia merandek lalu pikirnya hendak balik menanya .
"Dan kau ?"
Namun aneh, ia menjadi tak enak mengucapkannya. Ia sendiri heran mengapa bisa malu2 kucing begini.
"Nona Lou", kata suseng itu pula.
"orang aneh yang mirip mayat hidup itu, pernah apa dengan kau?"
"Tidak pernah apa2 denganku", sahut Jun-yan. Lalu menyambungnya pula.
"Tapi kalau diceritakan, agak panjang juga!"
"Tidak apa, lihatlah, dibawah sinar bulan yang indah, kita menunggang diatas satu keledai, sekalipun kau bercerita sebelum setahun, akupun takkan bosen, makin jelas ceritamu, makin baik", ujar suseng itu. Senang sekali hati Jun-yan oleh rayuan pemuda itu. Tanpa pikir lagi, segera ia tuturkan pengalamannya selama itu. Ketika selesai ceritanya, hari sudah remang2, subuh sudah tiba. Karena sejak tadi tidak mendengar suara sisuseng, maka Jun-yan berpaling memandang orang, ia lihat wajah si pelajar itu mengunjuk rasa heran dan girang bukan buatan, ia menjadi heran, tanyanya.
"Eh, hal apa yang membuat kau begini gembira?"
"Ah, tidak apa2", sahut suseng itu tertawa.
"Aku hanya terlalu kagum terhadap ilmu kepandaian orang aneh yang tinggi itu. Nona Lou, apakah kau tahu, sebab apakah ia selalu tunduk dan menurut pada perintahmu?"
"Ya, aku sendiri tidak mengerti kelakuannya yang aneh itu", sahut Jun-yan.
"Orang itu mahir ilmu silat dari berbagai cabang aliran, sesungguhnya susah dipercaya."
Suseng itu termenung sejenak, tiba2 bertanya pula.
"Sekarang tujuan nona hendak kemana?"
"Memangnya aku tidak mempunyai tujuan, cuma Sam-bok-leng-koan itu bilang dalam dua bulan ini akan mencari suhu ke Jin-sie, bila aku tidak hadir hingga suhu mau percaya atas obrolan mereka sepihak, kelak pasti aku akan didamprat habis2an".
"Nona Lou,"
Ujar suseng itu.
"Sam-bok-leng-koan bertiga tidak nanti berani mendatangi gurumu, tentu mereka akan mengundang banyak tokoh2 Kangouw lainnya untuk mana sedikitnya akan makan waktu sebulan, dan selama sebulan ini, aku ingin minta sesuatu bantuan, entah kau sudi tidak."
"Silahkan berkata", sahut Jun-yan. Betapa tidak, sejak si gadis merasa orang sudi menolong hindarkan dirinya dari kesulitan, dalam hatinya sebenarnya sudah berbenih asmara, ia justru berharap setiap hari bisa berdampingan dengan sipemuda.
"Aku ingin minta nona bikin perjalanan bersamaku ke Hun-kui (Hunlam dan Kuiciu), dalam sebulan, tentu kita bisa kembali", sahut suseng itu.
"Tentu saja aku iringimu", sahut si gadis. Dalam hati ia memikir, meski tidak bisa kembali dalam sebulan juga aku tidak menyesal. Karena pikiran ini, wajahnya menjadi merah. Maka sambil mengucapkan terima kasih, segera suseng itu keprak keledainya terlebih cepat ke arah barat. Jun-yan duduk didepan orang, maka tidak mengetahui gerak gerik sisuseng yang waktu itu sebenarnya lagi tengak tengok kebelakang, maksudnya ialah ingin tahu apakah orang aneh yang berilmu silat tinggi, tapi sangat menurut pada Jun-yan itu, apakah mengintil dibelakang. Namun ia agak kecewa, sebab satu bayanganpun tidak kelihatan. Dalam perjalanan selama setengah bulan, dasar gadis remaja mudah terpikat, tanpa merasa Jun-yan telah jatuh kedalam jaring2 cinta, ia merasa setiap gerak-gerik suseng tampan itu sangat menarik. Hanya satu hal yang belum diketahuinya, ialah setiap kali ia menanya nama dan asal usul suseng itu, orang selalu menjawabnya samar2 dan membilukan pembicaraan. Karena melihat kedua tangan orang tak berjari, kecuali jari tengah tangan kanan dan memakai sebuah selongsong emas yang ber-kilat2, maka ia memanggilnya "It-ci Toako"
Atau engko berjari satu, tapi pemuda itupun mau menyahutnya.
Suatu hari, selewatnya Kuiciu, tibalah mereka diwilayah Hunlam.
Tempat dimana mereka lalui, kedua samping adalah lereng2 gunung hanya di-tengah2nya suatu jalan yang tidak terlalu besar.
Daerah Kuiciu dan Hunlam terhitung dataran tinggi yang banyak lereng pegunungan, penduduknya jarang, tempatnya penuh rahasia.
Sebab itu banyak pula binatang2 aneh yang tak dikenal namanya, dan karena jarang melihat manusia, maka bila ketemu orang, binatang itupun tidak takut2.
Sungguh tidak Jun-yan duga bahwa tempat yang mereka datangi ini ternyata indah permai tidak kalah dengan pegunungan Jing sia tempat kediaman gurunya.
Ditambah lagi bikin perjalanan dengan suseng itu, maka hatinya selalu riang gembira.
Sesudah sehari pula, sampai petangnya, tiba2 mereka melihat di tepi jalan terdapat sebuah gardu istirahat yang kecil.
Didalam gardu itu berduduk dua orang wanita yang berdandan sebagai suku Biau (Miao), yang satu sudah nenek keriput, sedang lainnya gadis jelita.
Kulit badan gadis itu putih laksana salju, tapi diantara putih itu bersemu ke-hijau2an seperti bukan manusia hidup.
Namun ketika kedua bola matanya mengerling, menimbulkan rasa senang bagi orang yang memandangnya.
"A Siu, siapakah orang yang datang ini ?"
Tanya sinenek itu dengan suara tertahan ketika mendengar Jun-yan dan suseng itu mendekati gardu.
"Entah siapa, belum pernah kenal"
Sahut si gadis dengan wajah heran sesudah memandangi kedua orang.
Barulah kini Jun-yan berdua memperhatikan bahwa nenek itu adalah seorang buta.
Tiba2 suseng itu merosot dari keledainya, dengan jari tunggal ia gantol semacam benda kehitam2an yang diambil dari bajunya, lalu disodorkan sambil bertanya .
"Apakah aku berhadapan dengan Tiat hoa-popo ? periksalah ini !"
Jun-yan tidak jelas benda apa yang diangsurkan sisuseng itu, cuma dalam hati ia merasa heran untuk apa It-ci Toako ini bersalaman dengan orang Biau dan memanggilnya Tiat-hoa-po po atau nenek bunga besi segala.
"A Siu, coba kau ambilkan,"
Terdengar nenek tadi berkata.
Lalu si gadis Biau tampak bisik-bisik beberapa kali dalam bahasa mereka.
Karena kepalanya bergerak, maka anting2 besar di telinganya ikut bergoncang tiada hentinya.
Kemudian nenek itu per-lahan2 telah berbangkit.
Karena tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, maka Jun-yan berdiam diri saja, tapi perhatiannya tidak lepas dari gerak-gerik wanita2 Biau itu, yang menurut kabar, suku Biau pandai main guna2 dan meracun, mungkinkah mereka akan mencelakai engko jari satunya?
Karena pikiran ini, maka ia hendak mendekati kearah mereka bertiga.
Tapi tiba2 dilihatnya sisuseng telah menoleh sambil memberi tanda padanya supaya Jun-yan diam2 saja, terpaksa si gadis urungkan niatnya, meski hatinya penuh tanda tanya.
Sesudah Tiat-hoa-popo berdiri, ia ambil benda dari tangan sisuseng serta di-raba2nya dengan teliti.
Barulah sekarang Jun-yan dapat melihat jelas bahwa benda itu berbentuk bunga seruni yang terbuat dari besi.
Setelah me-raba2 sebentar, terdengar nenek itu bersuara puas, lalu katanya .
"Betullah, nah pergilah, kiri tiga, kanan tujuh, timur tiga belas, dan barat delapan belas !"
Jun-yan menjadi bingung oleh istilah2 itu, tapi sisuseng meng-angguk2 dan menyahut .
"Banyak terima kasih atas petunjuk Popo !"
Baru saja mereka putar tubuh hendak berlalu, tiba2 si gadis jelita tadi memandang tajam kearah Jun-yan dan bersuara .
"Tiat-hoa-popo !"
"Ada apa ?"
Nenek itu menjawab.
Tapi si suseng itu sudah keburu kedipi si gadis sembari jari tunggalnya itu menggandeng sebelah tangan orang.
Gadis itu menjadi ragu2 sejenak, tapi akhirnya ia berkata pula pada sinenek.
"Tidak apa2, aku hanya panggil biasa saja!"
Segera sisuseng itu menarik gadis jelita ini kepinggir dan berbisik.
"A Siu, terima kasih kau tidak menceritakan pada Tiat-hoa-popo."
Tapi gadis itu tidak menjawab, hanya mengebas tangannya dengan muka merah jengah, ia melirik sekilas pada sipemuda lalu menunduk.
Melihat itu, perasaan Jun-yan menjadi kecut.
Namun sisuseng sudah menaiki keledainya dan melanjutkan perjalanan.
Sesudah jauh tak tahan lagi segera Jun-yan menanya.
"It-ci Toako, tadi nenek itu bilang tentang kiri-kanan-timur-barat, apa2an itu?"
"Ia menunjukan suatu tempat tujuan kita, yaitu didepan sana yang disebut Bwe-ho-cap-peh-tong. Tempat itu sangat sulit didatangi karena jalannya yang me-lingkar2 bagai jaring laba-laba, maka apa yang dikatakan nenek itu tadi yalah langkah2 kemana kita harus membalik sesudah sampai dipersimpangan jalan."
Masih Jun-yan belum faham, tanyanya pula.
"Lalu untuk apa sesudah sampai disana?"
"Kita bicarakan kalau sudah sampai disana,"
Sahut si suseng.
Kembali jawaban demikian yang diperoleh, Jun-yan menjadi uring2an.
Sepanjang jalan ia sudah sering tanya, dan selalu mendapat jawaban yang sama, padahal ia justru sangat ingin tahu.
Maka omelnya.
"Aku minta sekarang juga kau terangkan, bila tidak, biar aku kembali saja."
Habis berkata, ia pura2 hendak merosot kebawah keledai. Diam2 si suseng rada kuatir, maka terpaksa katanya.
"Tujuan kita menyangkut urusan besar. Kita berada ditanah Biau, mereka ada peraturan yang menentukan orang tidak boleh sembarangan omong. Maka nona, haraplah kau sabar dulu?"
Jun-yan serba salah, kalau melihat sikap pemuda ini, tampaknya bukan pura2. Maka sesudah berpikir, katanya kemudian.
"Jika begitu, masa namamu juga tidak boleh kuketahui? Apakah selama hidup aku harus memanggil It-ci Toako?"
Sesudah mengucapkan ini, barulah teringat olehnya agak ketelanjuran hingga mukanya menjadi merah. Namun suseng itu tampaknya lagi susah oleh recoknya, maka tidak memperhatikannya, dan sahutnya.
"Soalnya karena namaku tak sedap didengar, maka tidak ingin kau tahu. Baiklah kukatakan, aku she Ti, bernama Put-cian (tidak cacat)". Mendadak Jun-yan tertawa.
"Namamu tidak cacat, tapi jarimu justru bercacat, kesembilan jarimu itu...."
Sebenarnya ia hendak bertanya mengapa jarimu itu putus, tapi belum terucapkan, tiba2 teringat seseorang olehnya hingga tanpa terasa ia berseru.
"He, Kanglam-it-ci-seng, kau adanya?"
"Benar", sahut sisuseng mengangguk. Jun-yan coba meng-amat2i orang sejenak, kemudian menggumam sendiri.
"Kau adalah Kanglam-it-ci-seng? Ah, bukan, bukan! Tentu memalsukan namanya!"
"Lalu, macamnya Kanglam-it-ci-seng itu dalam bayanganmu, seharusnya bagaimana, nona?"
Tanya Ti Put-cian tertawa.
"Aku tidak pernah melihatnya, tapi....tapi... ."
Sebenarnya ingin bilang.
"tapi betapapun juga takkan secakap macam suseng muda seperti kau ini!"
Cuma kata2 ini tak enak diutarakan. Rupanya Ti Put-cian dapat meraba dugaan orang, maka katanya.
"Ha, dalam bayangan nona, Kanglam-lt-ci-seng yang terkenal jahat itu tentu berwujut seorang yang kepalanya sebesar gantang, mata sebesar mangkok, ditambah lagi hidungnya sebesar kentongan, mulut sebesar baskom, penuh berewok macam singa, bukan?"
Jun-yan terkikih geli oleh kata2 itu, sahutnya.
"Tak peduli apa dia singa atau macan, sekalipun kau benar Ti Put-cian, masakan aku takut padamu? Berani kau menyentuh seujung rambutku?"
Kiranya nama "Kanglam-lt-ci-seng Ti Put-cian"
Atau si pemuda jari tunggal dari kanglam itu sangat disegani orang Bu-lim.
Pada jari satu-satunya itu terpasang segolongan emas yang bisa mulur mengkeret dan khusus dipakai untuk mematuk, ilmu yang menjadi kemahirannya.
Tindak tanduknya kejam, ganas dan tak pilih bulu.
Sebab itulah Jun-yan mulai meragukan kebenaran Kanglam-it-ci-seng kangzusi.com yang tersohor sebagai momok itu bisa berupa seorang suseng tampan, malahan diam2 ia sendiri telah jatuh hati padanya.
"Sudahlah, jangan2 kita akan kesasar", kata Ti Put-cian kemudian sambil tertawa. Karena benih cinta telah tumbuh pada orang dengan sendirinya yang terpikir olehnya hanya mengenai hal2 yang baik, maka Jun-yan menjadi lupa namanya lebih jauh soal tadi. Sebaliknya Ti Put-cian sedang memperhatikan jalan yang mereka lalui itu, haripun mulai gelap. Dan sesudah melingkat kian kemari, akhirnya terdengar Ti Put-cian berkata .
"Sudah sampai !"
Segera hidung Jun-yan mengendus bau harum bunga Bwe, sejauh mata memandang, pepohonan jarang2, tetapi bunga2 mekar mewangi ditambah bulan baru menyinari malam nan indah itu.
Jun-yan benar2 kesemsem akan keadaan waktu itu.
Ketika tiba2 mendengar pemuda itu bilang sampai, ia memandang kearah barat, ia lihat tidak jauh sebuah tebing curam tegak berdiri, tampaknya satu jalan buntu, maka jawabnya .
"It-ci Toako, jalan sana buntu, jangan-jangan nenek itu salah menunjukkan jalan ?"
"Tidak, Bwe-hoa-cap-peh-tong memang melingkar-lingkar tempatnya, jika orang kesemsem akan pemandangan sekitarnya, tentu dia akan kesasar", sahut Ti Put-cian. Mereka terus menuju ketebing curam itu, sesudah dekat, tampaklah di bawah semak-semak rotan pegunungan situ terdapat sebuah gua, setelah memasuki gua itu dan berbiluk-biluk didalamnya, akhirnya menembusi perut pegunungan itu dan sampai disuatu lembah dengan lima gua yang lebih besar. Ketika beberapa gua dilewati pula dan sampai digua kedelapan belas, jauh-jauh sudah terdengar didalam perut gunung itu suara tambur dipukul riuh ramai mengejutkan orang.
"Sampailah tempat tujuan kita", kata Ti Put-cian akhirnya. Mendengar sudah sampai, segera Jun-yan mengamati tempat itu, ia lihat didekat gua sana tumbuh beberapa pohon Bwe dengan bunga sebesar mangkok dan ranting2nya yang lebat. Suara tambur itu berkumandang terus dari dalam gua. Ti Put cian melepaskan keledainya agar pergi makan rumput sendiri, lalu Jun-yan diajaknya mendekati pintu gua. Ternyata gua itu berpintu besi yang sangat lebar dan setinggi lebih dua tombak hingga nampaknya sangat megah. Lalu suseng itu mengeluarkan bunga seruni besi dari bajunya dan mengetok beberapa kali pada pintu besi. Melihat itu, hati Jun-yan penuh tanda tanya, namun ia coba menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak lama, pintu besi itu terdengar berbunyi, tampak satu lubang kecil terpentang dari lubang itu. Ti Put-cian angsurkan bunga seruni besi. Sebentar kemudian, pintu besi itu terbuka, didalam gua itu gelap gulita, Jun-yan kencang2 menggendoli lengan si pemuda dan ikut masuk kedalam.
"It-ci Toako, kemanakah kita ini ?"
Tanya pula Jun-yan.
"Didepan ada orang mengunjukan jalan bagi kita, sebentar lagi tentu kau akan jelas melihatnya", sahut Ti Put-cian. Tak lama kemudian, karena sudah biasa dalam kegelapan, samar2 Jun-yan dapat melihat di depan betul saja ada dua orang Biau yang tegap bertombak sedang menunjukan jalan. Sesudah beberapa jauhnya, di depan terdapat pintu besi semacam itu. Suatu saat Jun-yan merasa angin silir berkesiur lewat disampingnya. Tepat pada saat itulah, tiba2 Ti Put-cian berpaling menanya.
"Jun-yan, sepanjang jalan, apakah kau merasa bahwa manusia aneh itu terus mengintil di belakangmu?"
"Barusan saja terasa angin lewat menyambar disampingku, apakah kau tidak berasa ?"
Sahut Jun-yan.
"Gerak gerik orang aneh itu tidak bersuara, tapi menimbulkan kesiurnya angin, tampaklah dia sudah pasti. Ia ikut kemari, tidak berhalangan bukan?"
"Tidak apa2, bahkan itulah yang kita harap", sahut Ti Put Cian.
"Jun-yan, sebentar nanti kalau terpaksa, aku ingin minta bantuanmu, hendaklah kau jangan menolak". Jun-yan tidak tahu bantuan apa yang orang harapkan darinya, tapi iapun menjawab .
"Jangan kuatir !"
Pada saat itulah, tiba2 pandangan mereka terbeliak, suara tamburpun semakin keras terdengar.
Ternyata mereka sudah berada di-tengah2 sebuah lembah pegunungan yang sekelilingnya diapit oleh lereng2 tebing yang tinggi dan curam.
Tanah mangkok lembah itu seluas kira-kira dua ha dan tandus tak tertumbuh apapun, malahan dibawah sinar bulan nampaknya halus licin, kecuali dapat dimasuki melalui pintu2 besi dalam gua tadi, agaknya burung sekalipun tak dapat masuk ketempat ini.
Di-tengah2 tanah lapang itu terdapat sebuah batu besar setinggi tiga kaki dan lebarnya lebih dua tombak persegi, permukaan batu rata gelap, nyata sebuah meja batu buatan alam.
Di atas meja batu itu waktu itu ada seorang Biau dengan bagian atas badan telanjang hingga tampak kulitnya yang ke-hitam2an, sedang memukul tambur se-kuat2nya hingga air keringatnya bertetes-tetes.
Disekitar batu besar itu banyak orang yang sedang duduk mengitari, ada suku Biau sendiri, juga ada bangsa Han.
Didepan batu besar itu terdapat tujuh kursi yang diatur berderet, semuanya masih lowong.
Dekat dengan dinding tebing sana beberapa ratus orang Biau memegangi obor besar hingga lembah itu tersorot terang benderang bagai siang hari.
Diam2 Jun-yan memikir mungkin ini pertengahan bulan, tentu orang2 Biau lagi mengadakan perayaan apa2.
Maka iapun tidak banyak tanya, kemana Ti Put-cian pergi ia mengikut kesitu.
Sesudah hampir mengitari tanah lembah itu, kemudian Ti Put-cian memilih suatu tempat yang longgar dan berduduk, tempat itu kira2 beberapa tombak jauhnya dari meja batu tadi, maka Jun-yan pun berduduk disamping kawannya ini.
Ketika tanpa sengaja ia berpaling, tiba2 ia berseru kaget.
"He, hidung kerbau! Kaupun berada disini?"
Lekas2 Ti Put-cian menjawil si gadis dan membisikinya.
"Ssst, jangan bersuara Jun-yan!"
Namun seruan Jun-yan tadi meski tak keras, tapi karena waktu itu hanya suara tambur saja yang berdentang, semua orang lagi menanti dengan berdiam, maka yang berdekatan dengan Jun-yan lantas banyak yang berpaling kearahnya.
Sebab itu, Jun-yan menjadi makin heran.
Kiranya tadi diantara orang2 itu ia telah melihat Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin juga berduduk disana, sebab itulah ia berseru kaget.
Tapi kini ketika banyak orang berpaling kearahnya, ia menjadi melihat pula diantaranya bukan saja terdapat Tong-ting-hui-hi Bok Siang-hiong, bahkan si orang aneh juga tertampak berduduk tidak jauh dari dirinya dan kepalanya tertutup selapis kain.
Walaupun orang aneh itu berkedok, tapi dari bentuk tubuh dan dandanannya Jun-yan masih dapat mengenalinya, maka katanya kepada Ti Put-cian .
"It-ci Toako, ternyata disini tidak sedikit kenalan lama !"
"Siapa saja ?"
Tanya Put-cian.
"Lihatlah, imam setengah umur itu ialah Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin, dan kakek pendek buntik itu adalah Tong-ting-hui-hi Bok Siang-hiong, sedang lelaki berkedok itu bukan lain adalah orang aneh yang banyak bikin gara2 atas diriku itu!"
"Benar? Kau tidak salah mengenalinya?"
Put-cian menegas. Dan rupanya saking girang hingga suaranya agak keras.
"Ssst", cepat pula Jun-yan menjawil padanya. Maka keduanya lantas saling pandang dengan tersenyum. Mendadak suara tambur tadi semakin keras dan cepat, lalu beberapa ratus orang Biau lantas bersorak-sorai hingga suasana seketika bergemuruh oleh suara gema kumandang dilembah pegunungan itu.
"Hampir mulailah sekarang", kata Ti Put-cian rada tegang ketika melihat sang dewi malam sudah berada di-tengah2 cakrawala. Maka tertampaklah dari pintu besi sana berduyun2 datang tujuh orang, setiap orang memondong satu mayat yang sudah kering, ada lelaki ada perempuan, tapi tubuh mayat itu sudah mengering kuning hingga tampaknya sangat menyeramkan. Dandanan mayat2 itupun tidak seragam, ada suku Biau, ada bangsa Han dan suku lain pula. Agaknya, orang yang memondong mayat itu sangat menghormat sekali terhadap apa yang mereka bawa itu. Setelah sampai didepan ketujuh kursi kosong tadi, mereka-mereka meletakkan mayat2 itu diatasnya, lalu berlutut memberi sembah, sesudah bangun, mereka lantas berbicara, mula2 dengan bangsa Biau, kemudian dengan bangsa Han, seru mereka.
"Secara sembrono kami berani menyentuh tubuh Seng-co (nabi agung), pantas kalau mati, maka mengharap Seng-co suka memberi berkah!"
Habis berkata, cepat mereka melolos senjata terus membunuh diri.
Segera pula ada orang yang menyeret ketujuh jenazah baru ini kepinggir.
Betapa terkejut dan berdebar hati Jun-yan oleh kejadian itu, sebaliknya Ti Put-cian ternyata sangat kesemsem menyaksikan itu katanya dengan perlahan pada si gadis.
"Lihatlah, betapa agung perbawa Seng-co, sesudah wafat, tubuh emasnya masih begitu keramat hingga siapa yang menyentuhnya rela membunuh diri untuknya!"
"Apa2an Seng-co itu ?"
Tanya Jun-yan.
"Ssst, jangan sembrono", bisik Ti Put-cian dengan wajah kuatir. Jun-yan masih hendak menanya, tapi suara tambur tadi sudah berhenti mendadak dan orang yang memukul tambur itu terus melompat turun dari meja batu itu dengan gesit. Maka terlihatlah Tiat-hoa-popo menaiki meja batu dengan langkah yang tidak tetap sebagai lajimnya seorang nenek2. Sesudah berada diatas, ia memandang kesekitarnya hingga seketika sunyi senyap, maka iapun mulai berkata, juga bahasa Biau dulu, kemudian bahasa Han. Katanya.
"Seng co ketujuh sudah wafat 30 tahun yang lalu, Seng-co kedelapan juga sudah menghilang selama 30 tahun dan tak pernah kita ketemukan. Menurut tradisi kita, Seng-co kesembilan harus kita angkat diantara semua hadirin ini. Menurut peraturan, 49 bunga seruni sudah kita sebarkan keseluruh negeri, siapa yang memperolehnya malam ini juga sudah hadir semua. Maka Lopocu (nenek-tua) tidaklah perlu banyak omong, terserah pada takdir, siapakah gerangannya yang bakal terpilih sebagai Seng-co dari rakyat2 72 gua kita."
Habis itu, sekali tubuhnya melesat cepat sekali orangnya sudah melayang turun.
Jangan dikira usianya sudah tua dan matanya buta, tapi betapa cepat gerakannya, ternyata tidak kalah dengan tokoh kelas satu dari kalangan Bulim.
Sampai disini, sedikit banyak Jun-yan sudah mengetahui duduknya perkara.
Apa yang disebut Seng-co itu tentu adalah pemimpin tertinggi dari 72 gua suku Biau, dan hari ini justru hari pemilihan Seng-co baru itu.
Cuma yang tidak dapat dipahaminya ialah apa yang dikatakan sinenek bahwa Seng-co ke 8 bisa menghilang sejak 30 tahun yang lalu, padahal kedudukan Seng-co ini ada sekian banyak orang yang menginginkannya?
Sedang ia berpikir, tiba2 dilihatnya didepannya berdiri satu orang berbaju putih, ujung lengan baju orang hampir2 menyentuh mukanya.
Ketika ia mendongak, kiranya adalah si gadis yang bernama "A Siu"
Itu.
Gadis jelita ini lagi memandangi Ti Put-cian dengan senyum yang penuh arti.
Hati Jun-yan menjadi panas, segera ia bermaksud membentak, tapi gadis itu hanya sejenak saja merandek, lalu meninggalkan pergi.
"Hm, gadis Biau ternyata begini tak kenal malu", segera Jun-yan mencemoh sambil melihati belakang A Siu, yang sementara itu telah mendekati dan duduk disamping Tiat-hoa Popo. Sejenak nenek itu turun panggung, semua hadirin berdiam diri saja, setelah lama barulah si orang Biau yang tinggi besar wajahnya bengis membawa tombak, sambil meloncat dan berlari menaiki panggung batu, lalu teriaknya .
"Tong-cu (kepala Gua) dari Jing-cha-tong, Pulaihua, minta pengajaran dari para hadirin !"
Habis berkata, dengan congkaknya ia berdiri menolak pinggang dengan sebelah tangannya, sikapnya memang gagah sekali, tapi bagi penglihatan orang ahli segera tahu kuda2nya tidak kuat, tidak tahan sekali pukul saja.
Kiranya ke-72 gua suku Biau itu yang hidupnya diantara tanah pegunungan yang penuh binatang-binatang berbisa, jiwa mereka sama sekali tak terjamin, maka segera telah mengadakan perserikatan mengangkat seorang yang serba pandai untuk menjadi pemimpin besar mereka, yaitu disebut Seng-co, dengan hak kekuasaan penuh.
Sejak Seng-co pertama diangkat, selamanya tidak membeda-bedakan suku bangsa dan keturunan, sebab itulah diantara delapan Seng-co yang lalu, enam diantaranya adalah bangsa Han.
Waktu pemilihan Seng-co baru selalu diadakan pada pertengahan bulan pertama diwaktu bulan purnama, sesudah Seng-co lama wafat, sebelum itu, 49 buah bunga seruni besi yang menjadi tanda pemilihan itu disebar keseluruh negeri, siapa yang memperolehnya dapat ikut hadir dalam pemilihan.
Urusan ini selamanya dirahasiakan, maka Jun-yan sejak mula tidak mengetahui untuk apakah kedatangan Ti Put-cian ini.
Begitulah, sesudah Pulaihua tadi naik ke-panggung, lalu datang seorang Biau lalu sebagai penantang dan mulai bertanding, akhirnya Pulaihua itu kena dijungkalkan kebawah.
Selanjutnya seluruh suku Biau saja yang saling bertempur hingga dua jam lebih, tapi cara berkelahi mereka adalah terlalu kasar hingga tiada harganya dilihat.
Tampaknya sang bulan sudah mendoyong kebarat, tiba2 Tong-ting-hui-hi Bok Siang-hiong melolos senjatanya, Go-bi-ji, sekali lompat, panggung yang jauhnya dua tiga tombak itu telah kena dinaikinya.
Waktu yang berada disitu adalah seorang Biau yang muda tangkas, diantara leher pergelangan tangan dan kakinya memakai gelang rotan yang hitam gelap.
Sesudah naik keatas, tanpa bicara lagi senjata Bok Siang hiong terus menusuk kepaha orang Biau itu.
Namun orang Biau berdiri diam saja tanpa menghindar, maka tepat kena pahanya yang di arah itu, tapi hanya mengeluarkan suara seperti kayu diketok, sedikitpun kakinya ternyata tidak terluka.
Keruan Bok Siang-hiong terkejut, segera ia tarik kembali senjatanya hendak ganti serangan, namun tombak orang Biau itu juga telah menusuk kebadannya, cepat ia meraup hingga ujung tombak orang kena ditangkapnya, sekali gertak, Bok Siang-hiong kerahkan tenaga dalamnya yang kuat, tanpa ampun lagi orang Biau itu terpental jatuh kebawah seperti layang2 putus benangnya.
"Maaf !"
Bok Siang-hiang coba merendah lalu ada seorang Biau lagi yang melompat keatas, tapi juga bukan tandingannya, ber-turut2 beberapa orang lagi dari berbagai suku bangsa, tapi semuanya kena dikalahkan Bok Siang-hiong.
Sementara itu hari sudah terang, obor sudah dipadamkan, Bok Siang-hiong masih menjagoi di atas panggung, kedua matanya selalu mengincar Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin saja.
Karena ditunggu lama masih belum ada yang naik, akhirnya Cu Hong-tin berbangkit, sekali ayun kebutnya, perlahan dan enteng sekali ia melompat keatas panggung batu itu.
Melihat betapa indah loncatan itu, semua hadirin bersorak memuji.
Sebaliknya Bok Siang-hiong sangat mendongkol akan datangnya Cu Hong-tin ini, sedangkan dirinya sudah bertempur setengah malam, tenaganya sudah habis, barulah orang maju menantang padanya, maka tanpa bicara lagi, begitu membuka serangan, segera ia putar sepasang cundriknya itu mengurung rapat lawannya.
-0odwkz"hendrao0-
Jilid 4 DALAM hal keuletan, sebenarnya Cu Hong-tin memang masih lebih unggul dari pada Bok Siang-hiong.
Apa lagi orang telah bertempur selama setengah malam dengan berpuluh orang.
Betapapun lihay serangannya, tidaklah dipandang berat oleh Cu Hong-tin.
Sekali Siau-yau-ih-su ini meloncat, dari atas kebutnya yang berekor benang emas itu terus mengepruk kebawah dengan tipu "Thian-hoa-kap-teng"
Atau bunga langit menghambur kepala.
Ketika mendadak Bok Siang-hiong merasa kabur pandangannya, Cu Hong-tin telah menghilang, tahu2 dari atas suatu tenaga maha besar menindih kepalanya, ia menjadi terkejut luar biasa, tanpa pikir lagi ia melompat pergi sejauh mungkin.
Sementara itu Cu Hong-tin sudah tancap kaki kebawah lagi dengan sikapnya yang gagah sebagai jago yang berada diatas angin, katanya .
"Jurus "Siao-jin ki-loh" (sang dewa menunjuk jalan) ini silahkan Bok-heng terima lagi !"
Tiba2 ujung kebutnya menjadi tegang terus menutuk kedada lawan.
Belum lagi bisa berdiri tegak, terpaksa Bok Siang-hiong menangkis pula serangan ini.
Namun kebut Cu Hong-tin ternyata sangat hebat dan serba guna, dengan tenaga dalam ia patahkan tenaga keras tangkisan orang, lalu ekor kebutnya melibat diatas cundrik orang hingga kencang, habis itu ia tarik sekuatnya.
Keruan Bok Siang-hiong tak sanggup menahan hingga senjatanya terlepas dari cekalannya.
Ketika sedikit Cu Hong-tin menggentak pula, cundrik rampasan itu mencelat terbang keudara, hingga menimbulkan sinar kemilauan diatas.
Insyaf tak ungkulan, diam2 Bok Siang-hiong undurkan diri dengan rasa likat.
Sementara itu dengan tekebur Cu Hong-tin memandangi sekeliling panggung, ia lihat orang Biau disitu tiada satupun yang dapat ditakuti, sedang diantara bangsa Han, kecuali sepasang pemuda pemudi yang dikenalinya sebagai Lou Jun-yan, sedang si pemuda rasanyapun bukan tandingannya.
Ada seorang lagi yang berkedok kepala, ketika datang disitu terus duduk terpaku, agaknya datang untuk melihat keramaian saja.
Maka dapat diduga kedudukan Seng-co dari 72 gua suku Biau sudah yakin akan diperolehnya, bukan saja bangsa Biau akan tunduk pada perintahnya, bahkan juga akan mendapat rahasia pembuatan berbagai macam racun dan obat bius.
Apalagi sudah lama terdengar bahwa banyak orang mendatangi daerah ini untuk mencari harta karun serta kitab rahasia ilmu silat peninggalan tokoh Bu-lim dari jaman dahulu.
Saking senangnya Cu Hong-tin, tiba2 ia unjukan pula ilmu mengentengi tubuhnya yang indah, ia meloncat lurus keatas dan tepat cundrik yang baru jatuh kembali itu dapat ditangkapnya.
Lalu orangnya turun lagi diatas panggung batu dengan enteng.
Dan sekali ia tekuk cundrik baja itu, tahu2 telah melengkung bagai gendewa.
Melihat itu, tidak kepalang orang2 Biau yang hadir disitu, mereka menyangka apa orang bukan jelmaan malaikat ?
Lalu Cu Hong-tin buang cundrik itu ketanah katanya dengan angkuh .
"Entah masih ada siapa lagi yang berani naik kemari ?"
"Jun-yan", tiba2 Ti Put-cian membisiki si gadis.
"telah tiba saatnya sekarang. Permintaanku akan bantuanmu justru inilah urusannya. Jika aku tak ungkulan melawan Cu Hong-tin, hendaklah kau bisiki orang aneh itu agar suka membantu aku dari bawah. Apa yang kau katakan selalu diturutnya, tentu dia takkan menolak". Jun-yan ter-mangu2 sejenak oleh permintaan itu.
"Apa ? Kau juga ingin menjadi kepala orang Biau ?"
Tanyanya heran.
"Jun-yan, harap kau suka membantu sungguh2", pinta Ti Put-cian lagi.
"Baiklah, akan kukatakan padanya nanti"
Sahut Jun-yan kemudian merasa tak tega untuk menolaknya.
"Tapi kalau kau tak ungkulan, ada lebih baik kau lekas kembali saja."
Dan selagi Ti Put-cian hendak berdiri dan melompat keatas panggung, tiba2 terdengar Tiat hoa popo berseru .
"A Siu, dimana kau, kenapa belum naik keatas ?"
Ti Put-cian dan Jun-yan terkejut, sungguh mereka heran, apa benar A Siu yang mereka ketemukan yang tampaknya lemah gemulai tak tahan angin itu berani naik panggung bertanding dengan Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin ?
Mereka bertambah terkejut bila kemudian melihat gadis yang muncul itu memang benar A Siu yang berbaju putih mulus itu, ditambah lagi kulit dan wajahnya juga putih pucat, perlahan2 A Siu bertindak kedepan dengan gayanya yang menggiurkan bagai dewi kayangan yang baru turun kebumi.
Ketika tiba2 menampak seorang gadis jelita tampil kemuka sebagai penantangnya, sesaat itu Cu Hong-tin pun tertegun.
Ia sangsikan apa benar gadis semuda ini berani coba2 naik panggung ?
Sementara itu A Siu sudah sampai didepan panggung batu, tanpa kelihatan ia bergerak, tahu2 sudah meloncat keatas panggung setinggi beberapa kaki itu.
Ia tidak lantas memapaki Cu Hong-tin, melainkan menjemput dulu cundrik, senjata Bok Siang-hiong yang dibengkokkan Cu Hong tin tadi, ketika tangannya yang halus putih itu pegang kedua ujungnya terus ditarik, tahu2 cundrik itu telah lempeng kembali seperti asalnya.
Cu Hong-tin menjadi kaget dan curiga, sungguh susah dimengerti, gadis semuda ini, sekalipun belajar sejak masih dalam kandungan ibu, Iwekangnya juga takkan sehebat ini.
Maka sekarang yakinlah dia si gadis benar2 seorang penantangnya yang tangguh, ia tak berani ayal lagi, segera ia ber-siap2 dengan kebutnya, katanya .
"Silahkan nona keluarkan senjata !"
"Aku tak punya senjata,"
Sahut A Siu. Diam2 Cu Hong-tin mendongkol mendengar sahutan itu. Pikirnya.
"36 jurus ilmu kebutku sudah malang melintang selama ini, sampai tokoh lihay seperti Thong-thian-sin-mo Jiau Pek king juga mesti bertarung sama kuat dengan aku, masakan aku malah takut terhadap seorang gadis macam kau ?"
Maka tanpa bicara lagi, mendadak tangannya menggertak, ekor kebutnya menjengkit, dengan tipu "Sian-jin-ki-loh"
Seperti tadi segera ia tutuk kedada A Siu tempat "Ki-bun-hiat", cuma serangan tidak penuh dilontarkan, hanya ia tahan ketika hampir mengenai sasarannya, ia ingin melihat jelas gaya silat dari aliran manakah si gadis ini, agar dapat mengatur cara menghadapinya.
Tak terduga, A Siu tetap berdiri dengan kedua tangan lurus kebawah, hanya sepasang matanya menatap tajam keujung kebutnya.
Melihat kesempatan itu, segera Cu Hong-tin dorong kebutnya kedepan.
Tapi baru saja bergerak, tahu2 A Siu telah menggeser pergi hingga ujung kebutnya menyambar lewat disampingnya, ujung baju saja tidak menyentuhnya.
Diam2 Cu Hong-tin memuji akan kecepatan orang, sekali kebutnya ditarik, sekali kebas dengan tipu "pek-hun-bian-bian"
Atau awan bergumpal me-layang2 segera ia menyabet dari samping.
Tapi kecepatan bergerak A Siu juga cepat dan gesit luar biasa, ditambah bajunya yang berwarna putih dan berkaki telanjang hingga langkahnya tidak bersuara, maka cara bagaimana bergeraknya susah terlihat jelas, hanya tampak bayangan putih berkelebat, tahu2 orangnya melesat minggir kesamping dengan indahnya.
Diam2 Cu Hong-tin menjadi gugup melihat dua kali serangannya mengenai tempat kosong.
Bila ia lihat gerak tubuh orang, nyata semacam ginkang yang maha hebat dengan kecepatan yang susah dibayangkan.
Kalau melihat ujung kakinya sedikit melejit, lalu orangnya sedikit mumbul, lantas mengikuti tenaga kebasan kebutnya melompat kedepan, nyata sekali adalah ilmu "leng-kong-poh-hi"
Atau melangkah kosong diatas udara yang biasanya hanya bisa dilatih oleh orang yang berilmu Iwekang tinggi, padahal gadis ini masih sangat muda, darimanakah bisa melatih ilmu entengi tubuh yang sehebat itu?
Dalam sengitnya segera Cu Hong-tin menyerang tanpa berhenti dengan ke 36 jurus ilmu kebutnya.
Tapi meski sekejap serangan berantai itu selesai dilontarkan, ujung baju gadis itu masih belum dapat disentuhnya.
Malahan orang hanya berkelit kian-kemari tanpa membalas.
Sungguh tidak kepalang terkejutnya Cu Hong-tin, sama sekali tak bisa dipahaminya, mengapa seorang gadis jelita suku Biau dapat memiliki kepandaian setinggi ini.
la benar2 penasaran, sekali kebutnya diayun, kembali ia mengebas, sekali ini dengan jurus siau yau-bu-kek atau gembira ria tak terbatas, ia salurkan seluruh tenaga dalamnya kesenjatanya hingga membawa samberan angin keras.
Tapi masih A Siu tidak balas menyerang, malahan dengan baik2 ia mengatakan .
"Aku telah mengalah tiga puluh enam jurus seranganmu, dengan ilmuku ham-hong-gi-heng (bergerak terbawa angin), masakan kau mampu apakan aku ? Jika kau masih tidak kenal gelagat, rasanya kau sendirilah yang mencari susah! Lekas turun panggung sajalah!"
Mendengar ilmu kepandaian orang, terkejut Cu Hong-tin ber-tambah2, pantas ujung baju orang saja ia tak mampu menyentuhnya.
Ia menaksir dirinya tak akan sanggup melawan ilmu ginkang yang hebat itu, cuma tujuannya kemari telah banyak mengalami aral lintang dan berhasil merebut bunga seruni besi, sangkanya daerah Biau tak terdapat orang pandai, bila dirinya dapat memperoleh kedudukan Sengco dan memerintah tujuh puluh dua gua rakyat Biau kangzusi.com , pula bila bisa mendapatkan harta pusaka serta kitab silat rahasia yang tersiar dlkalangan Bulim itu, kelak ia bisa mendirikan cabang aliran tersendiri dan akan berdiri sama derajat dengan Jing-sia pay, Khong-tong-pay, Bu-tong-pay dan Go-bi-pay yang besar2 itu.
Siapa duga, baru saja mengalahkan Bok Siang-hiong, tahu2 datang seorang gadis jelita yang membuatnya tak berdaya.
Sudah tentu ia tak rela menyerah begitu saja.
Tanpa bicara lagi, ia himpun tenaga, dengan tipu "Thian-hoa-kap-teng"
Atau bunga langit menghambur kepala, secepat kilat ia sabet kepala A Siu.
Namun samberan angin senjatanya itu lebih dulu membuat A Siu terbawa pergi beberapa kaki hingga sabetannya mengenai tempat kosong.
Tahu2 gadis itu telah melompat maju, dengan tangannya yang putih bersih bergelang keleningan, segera kebutnya Cu Hong-tin kena ditangkapnya.
Maka seketika kedua orang saling tarik menarik mengadu tenaga dalam, banyak orang yang kuatirkan A Siu yang bertubuh lemah itu takkan tahan, maka orang2 Biau sama bersorak membantu suara.
Sebaliknya bagi penglihatan Ti Put-cian, ia sudah menduga Siau-yau ih-su pasti akan kalah.
Kalau ia tahu diri mau turun panggung masih mendingan, tapi kalau mengadu tenaga dalam demikian, walaupun A Siu tidak ada niat arah jiwanya, sedikitnya akan terluka parah.
Tadinya ia memperhitungkan tiada orang lain lagi yang bisa menandingi Cu Hong-tin, sebaliknya ia sendiri menaksir dengan mudah sanggup mengalahkannya.
Siapa tahu ilmu silat A Siu bisa begini lihay, tampaknya tidak mudah jika bertanding dengan dia.
Sementara itu diatas panggung Cu Hong-tin masih berkutetan dengan A Siu, meski ber-ulang2 ia kerahkan tenaga dalamnya, tapi selalu tak berhasil menarik kembali kebutnya.
"Maafkan !"
Tiba2 A Siu tersenyum, segera Cu Hong-tin merasa suatu tenaga yang kuat sekali menumbuk kembali dari kebutnya hingga dadanya serasa sesak.
Hampir2 darah menyembur keluar dari tenggorokannya.
Terpaksa ia lepaskan kebutnya dan melompat kebelakang turun dari panggung, menyusul pandangan menjadi silau, kebutnya sudah dilemparkan A Siu kearahnya.
Masih tak berani ia menyambutnya, melainkan melompat kesamping, tak terduga sekali ini A Siu memang benar2 hendak mengembalikan senjatanya itu, maka tidak menggunakan tenaga, dengan enteng kebut itu jatuh ditanah, cepat Cu Hong-tin menjemputnya.
Sejak Cu Hong-tin malang melintang dikang ouw, belum pernah ia dikalahkan seperti sekarang ini, keruan ia gemas bukan kepalang kepada A Siu, tanpa menoleh lagi ia berlari pergi.
Sesudah kalahkan Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin, lalu dengan senyum simpul A Siu berkata kepada para hadirin .
"Masih ada orang gagah manakah yang sudi naik kemari memberi pelajaran ?"
Ia ulangi beberapa kali tantangannya itu, tapi tiada seorangpun yang tampak berani maju.
Ti Put-cian pikir telah tiba saatnya, ia memberi pesan pada Jun-yan tentang bantuan orang aneh itu, lalu berdiri dan berseru .
"Aku yang rendah mohon petunjuk pada nona !"
Lalu dengan jalan berlenggang ia mendekati panggung batu, sekali enjot, dengan enteng ia sudah melompat keatas.
"Kau ?"
Dengan wajah merah A Siu menegasi, ia tidak percaya kalau pemuda itu juga hendak bertarung padanya.
"Benar aku, petunjuk apakah yang hendak nona berikan ?"
Sahut Ti Put-cian dengan lagak tengik.
A Siu tudingi jari satu2nya Ti Put-cian, lalu tunjuk pergelangan tangannya sendiri dengan wajah merah jengah.
Ti Put-cian menjadi ingat godaannya tempo hari digardu tepi jalan itu, nyata si gadis ini telah jatuh hati padanya.
Jika seorang gadis Biau sudah jatuh cinta pada seseorang, ia rela berkorban untuk segalanya, apalagi hanya kedudukan Seng-co.
Memang dugaan Ti Put-cian tidak salah, diam2 A Siu memang sudah jatuh cinta padanya.
Kiranya pergaulan laki perempuan diantara suku Biau meski bebas, tapi se-kali2 tak boleh kedua badan saling sentuh, kecuali kalau sudah suka sama suka untuk mengikat menjadi suami isteri.
Ketika Ti Put-cian gunakan jarinya menggantol lengan A Siu digardu itu, kalau bukan ketampanan Ti Put-cian telah menggiurkan hati A Siu, tentu gadis itu sudah menghajarnya.
Kini sesudah berhadapan, A Siu menjadi ragu2, ber-kali2 Ti Put-cian mempersilahkannya bergebrak, ia hanya memandangi pujaan hatinya dengan mata mendelong.
"Long-kun ( panggilan pada kekasih ), mana bisa aku menangkan kau, silahkan kau turun tangan saja !"
Dasar orang Biau memang sangat jujur, karena menyangka Ti Put-cian sudah penuju padanya, maka tanpa tedeng aling2 lagi A Siu terus menyebut "long-kun"
Padanya. Tentu saja diam2 Ti Put-cian bergirang, terus ia menutuk ke "Ki-bun-hiat"
Didada orang.
Sama sekali A Siu tidak menghindarinya, maka tutukan itu tepat kena tempatnya, sekali tubuhnya mendoyong kebelakang terus terperosot kebawah panggung.
Ketika hampir merosot kebawah, tiba2 telinga Ti put-cian mendengar gema suara yang lirih jelas.
"Sampai ketemu besok malam dibawah bulan purnama, longkui."
Tampak bibir A Siu bergetar dan mengulum senyum, habis itu ia berjalan mendekati Tiat-hoa-popo.
Lalu terdengar Tiat-hoa-popo sedang berkata dalam bahasa Biau dengan suara keras seperti orang marah, begitu pula orang2 Biau lainnya sama berteriak merasa penasaran.
Namun A Siu tidak ambil pusing, ia tinggal memandang kearah Ti Put-cian diatas panggung itu dengan kesemsem.
Ketika keduanya diatas panggung, hakekatnya tidak sampai bergebrak, sebaliknya pasang omong dengan mesra, lalu sekali Ti Put-cian geraki tangannya, lantas A Siu turun panggung, terang se-akan2 keduanya sudah berunding secara baik2.
Tentu saja hal ini membikin Jun-yan naik darah, tanpa pikir lagi ia terus melompat keatas panggung.
Waktu itu Ti Put-ciang lagi senang2 karena merasa tiada orang lagi yang berani menantang dirinya.
Ketika tiba2 melihat Jun-yan melompat keatas, ia menjadi kaget, tegurnya .
"Hai, Jun-yan, ada apa kau naik kemari ?"
"Ti Put-cian, manusia rendah, kasak-kusuk apa yang kau lakukan dengan budak hina itu?"
Damprat Jun-yan.
"He, nona Lou, kenapa kau menjadi marah2 begini ?"
Jengek Ti Put-cian.
Makin dipikir, makin gusar Jun-yan, tiba2 ia angkat tangannya terus menempiling kemuka orang.
Namun Ti Put-cian telah memapaki sekali menjentik dengan jari tunggalnya itu hingga setengah tubuh si gadis merasa kaku kesemutan.
Keruan Jun-yan semakin murka, teriaknya gusar .
"Bagus kau, Ti Put-cian !"
Sebenarnya kalau turuti tabiat Kanglam-it-ci-seng Ti Put-cian, perbuatannya akan jauh lebih keji dan ganas.
Sepanjang jalan ia begitu baik pada Lou Jun-yan, tujuannya tiada lain hanya bermaksud memperalat si gadis untuk merebut kedudukan Seng-co saja.
Kini kedudukan itu sudah terang dalam genggamannya, apa gunanya lagi seorang macam Lou Jun-yan.
Segera dengan tertawa dingin iapun menjawab .
"Baiklah, jika sudah berani naik kepanggung, silahkan nona menyerang !"
Habis berkata, selongsong emas dijarinya itu tiba2 mengkilat, tahu2 menjulur panjang terus menutuk ke tubuh si gadis, tanpa kenal ampun ia telah keluarkan kemahiran menutuk yang lihay itu.
Cepat Jun-yan melompat mundur buat berkelit sambil mendamprat, tapi secepat kilat tutukan kedua Ti Put-cian sudah dilontarkan lagi.
Tampaknya sekali ini tenggorokan Jun-yan pasti akan terkena.
Tiba2 terdengar suara "creng"
Yang nyaring, entah dari mana datangnya sebutir batu, selongsong emas jarinya Ti Put-cian itu telah terbentur hingga lengannya tergetar kaku, seketika semper.
Kesempatan itu digunakan Jun-yan dengan baik.
"plak", kontan ia persen sekali tampar dimuka orang hingga merah bengkak. Diam2 Ti Put-cian mengeluh, tentu batu tadi disambitkan si orang aneh itu, dalam seribu kerepotannya ia coba melirik kearah si orang aneh, tapi orang tertampak duduk anteng saja ditempatnya. Sesudah memukul orang, Jun-yan menjadi menyesal malah, katanya.
"Sudahlah, asal kau dapat memahami maksudku, marilah kita tinggalkan tempat ini!"
Sambil berkata, tanpa berjaga-jaga ia terus mendekati orang.
Namun kekejaman Ti Put-cian sudah tidak kenal maksud baik Jun-yan, ia tunggu si gadis sudah mendekat, mendadak tangan kiri menggaplok dari samping, sedang jari tunggal tangan kanan terus menutuk ketengah jidat Jun-yan.
Serangan mendadak ini membikin Jun-yan tak berdaya sama sekali, dengan penasaran ia hanya bisa tunggu ajal saja sambil pejamkan mata.
Tapi mendadak terdengar Ti Put-cian berseru tertahan, ketika ia membuka mata, ia lihat orang berdiri kaku sambil tangan kiri lagi meraba pinggang, menyusul mana orangnya malah terus mendeprok jatuh diatas panggung.
Tanpa ayal lagi Jun-yan ayun kakinya menendang hingga tubuh Ti Put-cian tertendang kebawah panggung.
Sebenarnya tadi Ti Put-cian lagi menutuk dengan tipu "it-liong-tam-cu"
Atau sinaga mencakar mutiara, yaitu mengarah tengah2 batok kepala si gadis, tapi baru sampai tengah jalan tiba2 pinggangnya terasa pegal linu, ia insyaf terkena bokongan orang aneh itu lagi, lekas2 sebelah tangannya dipakai memijat tempat yang terasa pegal itu, tapi sudah terlambat, jalan darah itu telah tertutup dan badannya lemas terkulai hingga memberi kesempatan kepada Jun yan untuk menendangnya kebawah.
Baru saja Jun-yan hendak menyusul kebawah panggung untuk memberi penjelasan, ia lihat A Siu sudah keburu mendekati Ti Put-cian dan membangunkannya.
Malahan Ti Put-cian melotot dengan penuh kebencian kearahnya.
Jun-yan menjadi kesima, pikirnya.
"Ah, ia telah kena kutendang kebawah, terang takkan bisa menjadi kepala suku Biau, tentu ia akan membenci padaku, pelototan matanya tadi seakan mendekam kesumat tak terhingga padaku."
Sedang perasaannya diliputi sesal tak terkatakan, mendadak suara tabur dipukul ramai pula, seluruh orang Biau yang hadir disitu telah berlutut menyembah kearahnya, Tiat-hoa-popo juga mendekati panggung batu itu serta berseru keras2 .
"Dengan hormat mohon tanya nama suci Seng-co kesembilan siapa ?"
Jun-yan menjadi bingung, tapi segera ia pun mengerti, kalau Ti Put-cian telah dapat dirobohkannya kebawah panggung dan tiada lagi yang berani naik menantang padanya, maka kedudukan Seng-co yang diperebutkan itu terang sudah jatuh atas dirinya.
Saat itu, sebenarnya Jun-yan sama sekali tidak ketarik oleh kedudukan Seng-co dari tujuh puluh dua gua suku Biau yang sangat diharapkan oleh orang2 Bu-lim itu.
Kalau tidak menyaksikan berapa mesranya waktu A Siu membangunkan Ti Put-cian, mungkin ia lebih suka menunggang bersama diatas satu keledai suseng berjari tunggal itu berkelana di kangouw.
Tapi dasar wataknya memang sangat suka turuti pikiran hatinya yang timbul seketika, kini demi cemburu, segera ia menyahut,"Aku she Bo bernama Jun-yan!"
Sementara itu Tiat-hoa-popo telah berlutut ditanah sambil berseru beberapa kali dalam bahasa Biau.
Seketika orang2 Biau itu berjingkrak gembira ria dan bersorak gegap gempita.
Kemudian Tiat-hoa-popo berkata lagi terhadap Jun-yan.
"Ilmu silat nona Lou sudah lulus ujian, tetapi menurut peraturan, harus menghadapi tiga mahluk berbisa lagi, hendaklah bersiap menunjukan kesaktianmu untuk menaklukannya!"
Diam2 Jun-yan memikir, kiranya masih begini banyak permainan dalam pemilihan Seng-co ini.
Ia lihat orang2 Biau yang tadinya bersorak sorai itu kini telah diam mendadak, seorang wanita setengah umur tampak tampil kemuka dengan membawa keranjang rotan, dengan hati2 sekali keranjang itu dilemparkan keatas panggung, lalu orangnya berlari ketempat semula.
"Silahkan nona Lou membunuh dulu katak berwajah manusia didalam keranjang ini!"
Terdengar Tiat-hoa-popo melapor dibawah panggung dengan sangat menghormat.
Jun-yan pikir tentu katak berwajah manusia itu adalah semacam binatang aneh yang jarang terlihat, apa yang harus ditakuti ?
Tapi karena memang ia tidak bersenjata, maka katanya.
"Aku tidak punya senjata, biarlah bertangan kosong saja !"
Mendengar si gadis akan menghadapi katak dengan tangan kosong saja, tanpa merasa semua orang berseru kaget berbareng.
Tapi Jun-yan masih belum insyaf akan gawatnya peristiwa nanti, tanpa ambil pusing ia mendekati keranjang rotan tadi terus ditendangnya hingga menggelundung pergi beberapa tindak jauhnya, se-konyong2 terdengar suara "kok"
Sekali, dari dalam keranjang melompat keluar suatu mahluk aneh yang belum pernah dilihatnya.
Mahluk itu tampaknya gepeng mendekam diatas panggung batu itu, warnanya serupa warna kulit manusia, besarnya pun serupa muka manusia, malahan seperti lengkap dengan mata, hidung dan mulut manusia, cuma jeleknya luar biasa macam siluman.
Dalam terkejutnya hampir-hampir Jun-yan menjerit, maka cepat ia mundur selangkah.
Siapa duga mahluk itupun terus mendesak maju.
Sesudah itu barulah Jun-yan dapat melihat jelas, kiranya mahluk aneh itu adalah seekor katak dengan empat kakinya yang pendek, bentuk yang mirip wajah manusia itu hanya guratan2 diatas punggungnya saja.
Dengan sendirinya Jun-yan tambah berani sesudah mengetahui mahluk itu hanya seekor katak, ia tidak tahu mahluk itu justru satu diantara tiga binatang berbisa yang paling ditakuti suku Biau.
Katak berwajah manusia itu dapat menyemburkan hawa berbisa yang jahat, melulu menyenggol badannya saja tentu akan kena racunnya dan kulit daging orang bisa membusuk.
Tempat dimana binatang itu hidup seluas beberapa tombak tiada hidup tetumbuhan apapun, maka dapat dibayangkan betapa jahat racunnya.
Untuk menangkap binatang ini guna ujian bagi calon Seng-co, orang Biau entah berapa banyak harus dikorbankan.
Namun Jun-yan masih belum kenal akan kelihayan katak berbisa ini, segera ia hendak memapak maju untuk membunuhnya, tapi tiba-tiba didengarnya suara menjengek Ti Put-cian dibawah panggung.
Ketika Jun-yan menoleh, ia lihat suseng berjari tunggal itu duduk berendeng dengan mesranya bersama A Siu, wajahnya mengunjuk ejekan.
Seketika darah Jun-yan bergolak, cepat ia melengos tak sudi memandangnya.
Tapi pada saat itulah, terdengar suara 'kok' sekali, katak itu telah menubruk kearahnya sambil meleletkan lidahnya seperti ular, malahan membawa semacam bau amis yang tak enak dicium.
Tanpa pikir lagi Jun-yan ayun telapak tangannya terus menghantam.
Mendadak katak berwajah manusia itu gembungkan perutnya dan melompat keatas, nyata itulah katak jenis kintak yang perutnya gembung bulat seperti bola, lalu dari atas udara terus menubruk kebawah dengan suara "kok-kok"
Yang keras.
Melihat binatang itu bisa menghindari serangannya, Jun-yan menjadi terkejut, sementara hidungnya mengendus bau amis yang memuakkan dan memusingkan kepala, hampir2 saja ia tak sanggup berdiri tegak, cepat ia melontarkan sekali lagi pukulan sekuatnya.
Tapi ia merasa tenaganya sudah tidak sebesar tadi, tampaknya kintak itu masih terus menubruk kearahnya.
Dan aneh bin ajaib, mendadak kintak itu bersuara "kok"
Sekali lagi, cuma suara ini lain daripada tadi, badannya juga terus terbanting diatas panggung lalu empat kakinya mengenjol sekali terus tidak berkutik lagi, nyata sudah mati.
Segera Jun-yan tahu, tentu seperti mengalahkan Ti Put-cian tadi, si orang aneh itulah yang telah membantunya pula.
Tapi ketika ia melirik kesana, ia lihat orang aneh itu masih tetap duduk anteng saja, jaraknya dengan panggung batu kira2 3-4 tombak jauhnya, terang ia membantu dengan senjata rahasia, tapi anehnya tanpa suara tanpa wujut hingga tak diketahui orang lain.
Maka dapatlah dibayangkan betapa hebat ilmu kepandaiannya.
Sementara itu demi nampak Jun-yan berhasil membunuh katak berwajah manusia itu, seluruh orang Biau yang hadir disitu terus bersorak-sorai gembira.
Segera Tiat-hoa-popo pun melompat keatas panggung batu lagi sembari tangannya sudah memegangi sebilah golok.
"Ternyata ilmu sakti nona memang tiada bandingannya, asal bisa membunuh lagi dua mahluk berbisa lain, selamanya akan dijunjung sebagai Seng-co oleh suku kami dari tujuh puluh dua gua."
Demikian kata nenek tua itu.
"Sekarang silahkan nona minum dulu pil mujijat dari katak ini."
Habis berkata, cepat goloknya bekerja, sekali potong dan sekali iris, tahu2 batang golok telah bertambah dengan sepotong benda yang besarnya seperti telor ayam.
Kiranya itulah empedu binatang aneh itu.
Meski bau katak itu amis memuakkan, tapi benda isi perutnya itu berbau wangi.
Namun begitu, Jun-yan merasa ngeri akan isi perut kintal itu, katanya.
"Aku tak mau makan barang mengerikan ini!"
Baru saja selesai ia ucapkan, tiba2 dibawah panggung Ti Put-cian terus menyanggupi.
"Dia tidak mau, berikanlah padaku !"
Dalam pada itu, Bok Siang-hiong yang dikalahkan Cu Hong-tin itu, masih berada disitu, segera iapun berseru .
"Nona Lou, Iwetan (pil dalam) mahluk berbisa itu mujijatnya dapat menandingi tenaga latihan selama beberapa tahun, adalah semacam benda yang sangat diinginkan oleh orang-orang yang belajar silat seperti kita. Hendaklah kau lekas menelannya, supaya tidak jatuh ditangan orang jahat!"
Rupanya Bok Siang-hiong dapat juga menduga sisuseng itu tentu "Kanglam-it-ci-seng"
Yang namanya sangat disegani kalangan Bu-lim, kalau sampai empedu katak itu dapat dimakannya, bukankah mirip harimau tumbuh sayap dan membawa malapetaka lebih hebat bagi dunia persilatan ?
Ti Put-cian tertawa dingin, sahutnya .
"Tadi dia sudah bilang tidak mau. Masakan seorang Seng-co bisa jilat kembali ludah sendiri ?"
Ia menduga Tiat-hoa-popo tentu tidak menyerahkan lagi benda itu kepada Jun-yan. Tak ia duga, tiba-tiba Tiat-hoa-popo berkata dengan dingin .
"Segala apa terserah keputusan Seng-co sendiri, orang dibawah panggung tak perlu banyak mulut!"
Keruan Ti Put-cian malu dan gusar.
Namun ia tak berani pakai kekerasan, terutama melihat si orang aneh itu masih berada disitu.
Sementara itu Jun-yan mencium bau Lwe tan itu semakin harum semerbak, per-lahan2 ia jemput benda itu dari angsuran Tiat-hoa-popo, ia masih tak berani menelannya terang2an, tapi dengan pejamkan mata terus dijatuhkan ke-tenggorokan.
Dan baru saja benda itu masuk ke mulut.
"pluk", tahu2 pecah hingga rasanya segar wangi sangat nyaman mengalir kedalam perut. Lalu Tiat-hoa-popo masukan bangkai katak busuk itu kedalam keranjang tadi dan didepaknya kepinggir. Menyusul mana, tampak seorang wanita setengah umur yang lain telah membawakan sebuah peti keatas panggung, dari dalam peti itu mengeluarkan suara keresekan seperti ada semacam mahluk yang lagi me-rangkak2 didalamnya. Karena sudah tahu pasti si orang aneh selalu siap menolongnya dari samping, nyali Jun-yan menjadi besar. Tanpa bicara lagi, dengan kakinya ia depak tutup peti itu hingga menjeplak terbuka.
"Awas, nona ! Binatang ini bernama "Kim jiau-ih-coa" !"
Kata Tiat-hoa-popo.
Segera dari dalam peti itu tampak merayap keluar seekor ular terus meloncat keatas.
Hebatnya, ular ini se-akan2 bisa berjumpalitan dan melingkar2 diatas udara, lalu jatuh keatas panggung batu sambil merayap maju.
Dimana tempat yang dilewati, tertinggal bekas se-akan2 dikerok.
Jun-yan melihat ular itu tiada ubahnya dengan ular umumnya, bedanya cuma badannya gepeng dan lebar hingga sekilas pandang se-akan2 berkepet, sedang di bawah lehernya tumbuh dua cakar yang berwarna kuning gelap, bekas seperti dikerok diatas batu tentu disebabkan kedua cakarnya itu.
Dengan lagaknya yang lincah, segera Jun-yan membentak .
"Binatang, lekas serahkan nyawamu, apa perlu nonamu turun tangan ?"
Sembari berkata, ia tertawa ngikik sambil melontarkan hantaman.
Menurut cerita suku Biau, Kim-jiau-ih-coa atau ular cakar emas bersayap, kedua cakarnya kuat dan keras bagai baja, batu atau kayu kalau kena dicakarnya segera pecah belah, dan pula bisa meloncat seperti terbang, ditambah lagi berbisa jahat sekali, dibanding katak berwajah manusia itu jauh lebih lihay.
Maka ketika pukulan Jun-yan dilontarkan, mendadak ular itu meloncat keatas, dengan lidahnya yang merah menakutkan, kedua cakarnya ber-gerak2 terus menubruk kearah si gadis.
Sama sekali Jun-yan tidak menduga bahwa ular itu bisa sedemikian hebat, dalam terkejutnya ia menjerit kaget terus melompat kebelakang namun begitu, lengan bajunya telah tercakar sobek sebagian oleh cakar ular itu.
Menyusul mana binatang itu terus menubruk lagi, cepat Jun-yan memukul pula, dengan angin pukulannya ia coba menahan tubrukan ular itu.
Tapi ternyata ular itu gesit luar biasa, begitu tergetar mundur, kembali meloncat menubruk pula.
Berulang kali Jun-yan sengaja menjerit untuk memancing bantuan si orang aneh, siapa duga orang itu tinggal diam saja belum mau turun tangan.
Sampai akhirnya, ia benar2 kewalahan kalau bertahan terus diatas panggung batu itu, tanpa pikir lagi ia melompat turun dari panggung batu itu dengan dugaan ular itu takkan menyusulnya.
Siapa tahu binatang itu benar2 seperti bayangan yang selalu melekat ditubuhnya saja, baru saja Jun-yan berdiri ditanah, tahu2 dari belakang angin sudah menyambar, lekas-lekas ia berjongkok terus menjatuhkan diri kesamping, maka terdengarlah suara berebet, lagi-lagi bajunya sobek tercakar ular itu.
Karena sudah kepepet, sekenanya Jun-yan merampas sebatang tombak dari tangan seorang Biau didekatnya terus ditusukan kearah ular yang sementara itu telah menubruknya lagi.
Anehnya, sudah jelas terdengar suara "crat-crat"
Beberapa kali, terang tombaknya mengenai sasarannya, tapi sedikitpun ternyata ular itu tak terluka, malahan ketika cakarnya mencengkram, tahu2 terdengar "krak"
Sekali, tombaknya itu malah sudah patah.
Dalam keadaan terdesak, terpaksa setindak Jun-yan mundur mendekati tempat orang aneh itu.
Ditelinganya terdengar suara ejekan Ti Put-cian yang rupanya merasa bersukur akan keadaan Jun-yan itu.
Gemas dan gusar hati si gadis, tapi memang ia lagi kewalahan, keringatnya ber-butir2 menetes dari jidatnya, sedikit lengah, beberapa kali hampir tercakar oleh ular2 itu.
Sukurlah akhirnya dapatlah ia mendekati tempat duduk si orang aneh.
"Lekas turun tangan, bila lambat, aku bakal tercakar mati olehnya!"
Serunya gugup pada orang aneh itu.
Baru saja selesai ucapannya, terlihat tangan orang aneh itu sedikit bergerak, sebutir batu mendadak menyambar kepada ular.
Warna ular itu seluruhnya hitam ber-bintik2 kuning, hanya sedikit dibawah lahernya ada satu lingkaran kecil berwarna putih.
Ketika batu sambitan itu dilontarkan, tepat sekali mengenai lingkaran putih itu.
Waktu itu ular lagi menubruk pula dengan cepat kearah Jun-yan, tetapi ketika kena sambitan batu, kontan terjungkel dari atas udara dan menggeletak diatas tanah tanpa berkutik lagi.
Maka tahulah sekarang Jun-yan, sebab orang aneh itu tidak lantas menolongnya tadi, oleh karena seluruh tubuh ular itu keras bagai baja, hanya lingkaran putih kecil dibawah leher itulah yang merupakan titik kelemahannya.
Segera ia melangkah maju, badan ular itu ia injak kuat2, ia angkat tombaknya dan mengincer tepat titik putih binatang itu dan terus menusuk, benar juga, sekali tusuk lantas masuk, maka melayanglah jiwa ular itu.
Kalau sehabis membunuh ular, Jun-yan senang sekali, adalah dipihak lain Ti Put-cian yang mendongkol tidak kepalang.
Sudah dua kali ia berharap gadis itu mampus dibawah binatang2 berbisa itu, siapa tahu si orang aneh itu selalu menolongnya dari samping.
Orang ini begitu hebat ilmu silatnya, meski kedua matanya katanya buta, tetapi sekali timpuk tepat kelemahan ular yang diarah, se-akan2 terhadap seluk-beluk ular berbisa ini sudah jelas diketahuinya.
Melihat Jun-yan sudah lulus ujian kedua, tiba2 Tiat-hoa-popo menuding kedinding tebing didepan sana.
Ketika Jun-yan memandang kearah yang ditunjuk, ia lihat di bawah tebing yang curam itu dikelilingi dengan sebaris orang Biau yang tegap kekar, hanya tempat yang ditunjuk Tiat-hoa-popo itu sekira dua tombak luasnya tiada di-aling2i orang, kalau dinding disitu licin gelap tanpa tetumbuhan, sebaliknya di tempat itu ternyata tumbuh semacam akar rotan yang hitam halus, malahan berbunga kecil berwarna ungu.
"Apakah itu maksudmu ?"
Tanya Jun-yan heran.
"Singkirkan akar rotan hitam itu, lantas tertampak sebuah gua", kata Tiat-hoa-popo dengan wajah keren.
"Gua itu menembus keluar gunung. Apabila nona dapat melalui jalan situ, lalu masuk lagi dari pintu2 besi dilembah sana, lantas kau akan disembah sebagai Seng-co dari pada 72 gua suku kami !"
Diam2 Jun-yan terkejut, pikirnya, gua sekecil ini, andaikan si orang aneh itu selalu ingin menolong aku, masakan sekarang juga bisa ikut masuk kesitu ? Maka tanyanya pula .
"Mahluk apa lagi yang terdapat didalam gua itu ?".
"Tiada lain, kecuali semacam Kim-ci-cu (laba-laba mata uang emas)", sahut si nenek. Hati Jun-yan menjadi lega.
"O, kiranya hanya laba-laba berbisa!"
Ujarnya.
Nyata ia tidak tahu bahwa racun laba-laba itu jahat luar biasa, jangankan bisa yang disemburkan labah-labah itu, sekalipun menyentuh jaringnya yang halus saja, orang seketika bisa pingsan, dan kalau tidak dapat pertolongan obat mujarab yang jitu, dalam waktu singkat saja jiwa bisa melayang.
Lebih dari itu, malahan orang yang mati terkena racun labah-labah itu, akan hancur menjadi darah dan darahnya berubah menjadi gas racun, jahatnya racun serupa lihaynya.
Tempat labah-labah itu sembunyi adalah di atas selapis saput berbisa yang kempel dari gas racun.
Saput berbisa ini sama jahatnya dengan labah-labah tersebut.
Hal ini sama sekali tidak diketahui Jun-yan yang hidup di Jing-sia-san yang indah permai pemandangannya, la sangka kalau melulu labah-labah seperti itu saja dengan membawa obor tentu akan dapat membakarnya habis.
Tentang adanya saput berbisa didalam gua itu, ternyata tidak dijelaskan oleh Tiat-hoa-po po.
Kiranya nenek ini sesalkan A Siu telah mengalah pada Ti Put-cian, padahal gadis itu adalah calon satu2nya yang dia ajukan.
Ia sendiri adalah tong-cu atau kepala gua pertama daripada tujuh puluh dua gua suku Biau.
Sejak Seng-co kedelapan menghilang, tujuh puluh dua suku Biau itu lantas dibawah pimpinannya.
Ia tidak menjelaskan tentang berbahayanya di dalam gua labah2 itu, karena ia masih punya harapan Jun-yan akan mati terkena racun, dengan begitu, menurut aturan bisa diulangi pemilihan Seng-co lagi, dan A Siu boleh jadi masih bisa terpilih.
Begitulah, tanpa pikir, Jun-yan terus minta empat obor, dua dibuat cadangan dan dikempitnya, sedang dua lainnya ia sulut untuk penerangan terus menuju kemulut gua yang ditunjuk itu.
Ketika akan melangkah masuk, tiba-tiba ia ingat akan diri si orang aneh itu, entah ikut dibelakangnya tidak.
Cepat ia menoleh, dan sesaat itu, ternyata orang aneh itu sudah tidak ada di tempatnya tadi.
Jun-yan melengak, ia pikir mungkin orang aneh itu tahu kalau gua itu mudah dilalui, maka sudah tinggalkan pergi dahulu.
Tiba2 ia lihat Ti Put-cian melambai-lambaikan tangan kepadanya, ia tercengang tapi segera merasa girang dan membalas melambai tangan, lalu melangkah masuk kedalam gua.
Gua itu ternyata sempit lagi pendek, kadang-kadang harus sedikit mendak untuk tidak menyundul atap gua.
Dibawah penuh lumut yang licin, suasana dalam gua dingin seram.
Sesudah duapuluh tombak jauhnya, gua itu mulai melebar, tapi sudah lama masih belum sampai keujung gua, malahan makin dalam makin gelap dan makin seram.
Dengan tabahkan diri, Jun-yan angkat obornya tinggi2 dan terus maju kedepan, makin jauh gua itu makin luas, Se-konyong2 terasa olehnya dari belakang angin berkesiur, satu bayangan orang melesat lewat disampingnya, siapa lagi kalau bukan simanusia aneh itu?
"He, kau ikut kemari?"
Tegur Jun-yan bergirang.
Tapi tenggorokan orang aneh itu berkeruyukan seperti suara ayam jago yang belum dikoroki, tak bisa bicara.
Sudah banyak Jun-yan mendapat kebaikan darinya, ia lihat wajah orang itu penuh bekas luka yang benjal benjol, ditambah lagi buta dan bisu, entah betapa menderitanya dimasa dahulunya, maka hati Jun-yan sungguh sangat kasihan dan simpati padanya, tegurnya kemudian .
"Apakah yang hendak kau katakan? Tidakkah kau dapat menulis untukku ?"
Orang itu ter-mangu2 sejenak, mendadak ia pentang kedua tangannya ketika melihat Jun-yan hendak maju kedepan. Kemana Jun-yan hendak maju, selalu ia merintangi. Jun-yan menjadi heran.
"Sudah banyak kau membantuku, kenapa sekarang kau malah merintangi?"
Tanyanya. Sudah tentu orang itu tak bisa menjawab, hanya tenggorokannya tetap bersuara "krok-krok", tiba2 nadanya berubah sangat memilukan. Jun-yan mendongkol, katanya .
"Asal aku bisa menembus gua ini, segera aku akan diangkat menjadi kepala suku Biau, kedudukan ini dapat kuberikan kepada It-ci Toako yang sangat menginginkannya, kau tidak mau membantu, kenapa malah merintangi ? Lekas minggir !"
Dan sekali melesat, segera ia menerjang ke depan.
Tapi kontan orang aneh itu memapak dengan sekali pukulan, dimana angin pukulannya menyambar, tahu2 sumbu api obor menjadi padam.
Seketika keadaan menjadi gelap gulita, Jun-yan terkejut, ia menjadi curiga akan kelakuan si orang aneh ini, jangan2 hendak mencelakainya ?
Cepat ia berkelit kesamping.
Dan selagi hendak menyulut obor cadangannya yang dibawanya tadi, mendadak terasa bahunya kesemutan, tempat "thian-coan-hiat"
Telah ditutuk orang hingga tubuhnya lumpuh, obornya juga jatuh.
Lantas terasa tubuhnya kena dikempit orang serta menuju jalan masuk kegua tadi, tapi tidak jauh lantas membiluk beberapa kali, karena keadaan gelap gulita, ia tidak tahu orang membawanya kemana.
Cuma tidak lama kemudian ia merasa tubuhnya diletakkan ditempat yang empuk bagai kasur.
Ingin sekali Jun-yan mengetahui dirinya berada dimana, sekuatnya ia kerahkan tenaga dalam untuk melancarkan jalan darahnya yang tertutuk, tapi sayang, tetap tak berhasil, ia menjadi gugup, kenapa orang aneh itu tidak membuka jalan darahnya atau mungkin sudah meninggalkannya.
Dengan tak sadar, entah lewat beberapa lama, jalan darahnya baru lancar kembali.
Cepat Jun-yan melompat bangun, baiknya obor masih ada satu, segera ia nyalakan, tapi ia menjadi terkejut, kiranya dirinya berada didalam satu kamar batu, tempat dimana ia rebah tadi adalah sebuah balai2 batu dengan bantal kasur lengkap.
Kecuali ada meja kursi dari batu, ada pula rak buku penuh kitab2, sebaliknya orang aneh itu telah menghilang entah kemana.
Sungguh Jun-yan merasa heran kenapa di tempat demikian terdapat gua batu seindah ini.
Ia merasa dirinya belum dibawa keluar gua oleh orang aneh itu, maka dapat diduga dirinya masih berada dalam perut gunung.
Ia coba memeriksa kamar itu, ia lihat tempat dimana dirinya merebah tadi mendekuk kedalam, waktu ia merabanya, ternyata kasur itu sudah lapuk, mungkin saking tuanya.
Begitu pula kitab2 di rak buku itu, sekali pegang lantas hancur.
Tambah heran Jun-yan, diam2 ia memikirkan asal-usul orang aneh itu.
Apakah mungkin tempat ini adalah tempat kediamannya dahulu?
Sementara ini Jing-ling-cu dan para tokoh2 terkemuka lainnya sedang mempersiapkan pertemuan para jago silat seluruh jagat untuk mengusut asal-usul diri si orang aneh ini, kalau sekarang juga aku dapat menyelidikinya, kelak tentu akan bikin geger pertemuan besar itu.
Tiba2 ia melihat dipojok kamar itu ada sebuah peti besi, ia mendekati dan memeriksanya, ia lihat peti itu digembok dan sudah berkarat.
Ketika ia tarik sedikit, gembok itu lantas putus, ia membuka tutup peti dan melihat didalamnya terletak sebatang pedang panjang satu meter, sarung pedangnya kasap bagai terbuat dari sejenis kulit binatang.
Dibawah pedang itu tertindih sepotong saputangan sutera merah, kecuali itu tiada benda lain lagi.
Ia coba ambil pedang itu dan rasanya sangat enteng.
Tiba2 hatinya tergerak, ia ingat kepandaian yang diperolehnya dari gurunya, Jiau Pek-king, kecuali Iwekang, ada lagi sejurus ilmu pukulan "Hui hun-cio-hoat", selain itu belum pernah diberinya pelajaran memakai senjata.
Sebab katanya senjata biasa tiada gunanya dipelajari, senjata bagus susah didapatkan, hanya bisa diketemukan secara kebetulan, tapi dicari susah.
Sebab itu bila kelak dirinya bisa memperoleh semacam senjata pusaka, barulah akan diberi pelajaran ilmu senjata.
Lalu sang guru memuji Pek-lin-sin-to, cuma dikatakan bobotnya terlalu berat, karena gemblengannya kurang murni, senjata yang paling bagus harus tajam tapi enteng seperti kertas.
Kini pedang yang dipegangi itu bukannya enteng bahkan hampir tak terasa, apa bukan senjata wasiat yang jarang terdapat ?
Ia coba letakan obornya, lalu pedang itu ia lolos.
Namun ia menjadi kecewa, karena pedang itu warnanya hijau tak bersinar, ketika disentil dengan jari juga tidak mengeluarkan suara nyaring, seperti bukan ditempa dari baja, nyata senjata itu tiada sesuatu yang luar biasa.
Maka ia masukan kembali kesarungnya, lalu mengambil saputangan merah tadi.
Ia lihat warna saputangan itu semarak menyenangkan, halus lunak, seperti bukan terbuat dari sutera biasa, diatas kain itu samar2 ada huruf tulisan lagi, cuma mungkin umurnya sudah terlalu tua, maka tidak jelas.
Jun-yan tiada waktu untuk meneliti lebih jauh, sekenanya kain sutera itu ia masukan ke saku bajunya, lalu mem-bongkar2 peti itu, namun tiada penemuan lainnya.
Karena kuatir kalau terlalu lama tinggal didalam gua, mungkin orang2 yang menunggu diluar menganggap dirinya tak mampu keluar lagi, bukankah urusan akan menjadi runyam ?
Maka cepat ia keluar dari kamar batu itu, pedang hijau itu tidak diurusnya lagi.
Agak lama ia berjalan kedepan, kemudian dapatlah dikenali sebagai tempat yang kemarin telah dilaluinya ketika mulai masuk gua, di-situ ada satu tikungan yang menyimpang, cuma kemarin tidak diperhatikannya.
Sebab telah mendapatkan jalan semula, hatinya menjadi girang.
Tidak jauh pula, tiba2 terdengar dijalan samping sana sayup2 berkumandang orang menangis yang tersedu-sedan, segera dapat dikenali itulah suara si orang aneh itu.
Karena ingin cepat2 keluar gua, Jun-yan tidak urus lagi, malahan ia kuatir kalau orang aneh itu menyusulnya dan merintangi kepergiannya lagi, maka secara berindap-indap ia menuju kedepan.
Tidak lama lagi, tibalah ia ditempat yang kena ditutuk si orang aneh itu kemarin, dua obor yang jatuh disitu masih ada.
Dari situ maju lagi, setelah biluk satu tikungan, mendadak di depan ada cahaya api yang bergerak perlahan lahan, satu bayangan orang tertampak jelas di bawah sorotan sinar api itu yang segera dapat dikenalinya sebagai Ti Put-cian.
"It-ci Toako!"
Tanpa merasa Jun-yan berseru. Rupanya Ti Put-cian terkejut mendadak, ia terus menoleh sambil mengerutkan alis, sahutnya.
"He, Jun-yan, kau masih disini?"
Cepat Jun-yan mendekati dan balas menegur.
"Kenapa kaupun berada disini ? Apakah kau kemari mencari aku ?"
"Di mana manusia aneh itu?"
Tanya Ti Put-cian menyimpang.
"Entahlah, sudah menghilang."
"Ya, ya, aku datang mencari kau", sahut Ti Put-cian kemudian.
"Sehari semalam kau tak keluar dari sini, orang2 Biau itu menjadi gempar dan minta diadakan pemilihan ulangan tapi aku telah membantah keras, lalu aku menyatakan bersedia mencarimu kemari, Jun-yan ketahuilah, sebenarnya betapa rasa kuatirku atas keselamatanmu ?"
Padahal Kanglam-it-ci-seng Ti Put-cian ini bukanlah manusia baik2, apa yang diucapkan itu berlawanan sama sekali dengan kenyataannya.
Sebaliknya Jun-yan mudah dibujuk rayu, ia sangka Ti Put-cian benar2 rindu padanya lalu datang mencarinya, segera ia menjadi girang, katanya.
"Agaknya kita perlu lagi maju kesana, marilah kita keluar dari gua ini dan tinggalkan daerah Biau ini !"
Akan tetapi Ti Put-cian terus geleng2 kepala, sahutnya.
"Jun-yan mana boleh kita buang tenaga percuma ditengah jalan? Kemarin kau telah telan Lwetan dari katak berwajah manusia itu, apakah kau ada merasa sesuatu yang aneh ?"
"Eh, ya,"
Kata2 itu telah menyadarkan Jun-yan.
"Ketika semalam aku tertutuk si orang aneh, beberapa kali aku himpun tenaga murni untuk menembusi jalan darahku, meski belum berhasil, tapi rasaku tenaga dalamku sudah bertambah kuat. Bok Siang-hiong itu bilang Lwe-tan sikatak dapat menambah tenaga dalam latihan beberapa tahun, entah betul atau tidak?"
"Sudah tentu benar", sahut Ti Put-cian, diam2 ia unjuk senyum sinis, lalu sambungnya lagi.
"Dan kalau kau sudah menjadi Seng-co setiap tahun dari rakyat 72 suku Biau itu tentu akan menghadiahkan seekor katak semacam itu pula kepadamu, kenapa kita malah akan undurkan diri ditengah jalan? Hayo, kita maju terus."
Jun-yan menjadi terbujuk, ia mengiakan dan melangkah kedepan.
Dengan kawan Ti Put-cian, ia bertambah berani, malahan merasa manis madu hatinya.
Sebaliknya sambil jalan Ti Put-cian terus peras otak penuh dengan akal2 keji.
Kiranya sesudah Jun-yan masuk gua, diluar orang2 Biau lantas bunyikan tambur menari dan menyanyi.
Sedang orang2 Han yang melihat kedudukan Seng-co sudah ada calonnya, sudah terang tiada harapan lagi, berturut-turut mereka lantas tinggalkan tempat itu.
Hanya Ti Put-cian saja yang tidak rela pergi, jauh2 ia datang kedaerah perbatasan ini untuk maksud meraih kedudukan Seng-co, masakan sekarang harus kembali dengan tangan hampa.
Ia lihat benih asmara Jun-yan kepadanya belum lenyap sama sekali, ia pikir harus pakai bujuk halusan, bukankah serupa meski nanti gadis itu dapat merebut kedudukan Seng-co ?
Sebab itulah ia tinggal disitu.
Sedang A Siu mondar mandir disekitarnya saja sambil memandangi pemuda berjari satu ini dengan sorot mata penuh arti.
Hati Ti Put-cian tergerak, dengan senyum manis ia menyapa.
"A Siu !"
Dengan kemalu-maluan A Siu menyahut sekali terus menunduk dan mendekati. Diam2 Ti Put-cian bergirang, dengan jari satu2nya ia mencoba menggantol lengan si gadis.
"A Siu, tadi kau telah sudi mengalah, aku merasa sangat berterima kasih."
A Siu tertawa, sahutnya.
"Ah, itu sudah seharusnya."
"A Siu,"
Tanya Ti Put-cian pula.
"sebenarnya kepandaianmu yang tinggi itu diperoleh dari mana ? Jika kita benar2 berkelahi, terang aku bukan tandinganmu."
"Menurut peraturan suku kami, terhadap kekasih, tidak mungkin saling gebrak, sekalipun kau hantam mati padaku, tak nanti aku melawan,"
Sahut A Siu.
Nyata ia elakan diri dari pertanyaan tentang diperolehnya ilmu silat.
Karena itu, Ti Put-cian menanya lagi berulang kali, tapi A Siu tetap tidak mau bilang dan selalu membilukan pembicaraan.
Melihat si gadis lemah gemulai se-akan2 tak tahan tiupan angin, tapi setiap gerak-gerik penuh tenaga dalam, diam2 Ti Put-cian bertambah heran, katanya kemudian.
"A Siu, marilah coba memberi petunjuk beberapa jurus padaku !"
Habis berkata, tanpa menunggu sahutan orang, cepat tangan kanan menjulur, jari tunggalnya menjentik.
"Koh-cing-hiat"
Dipundak si gadis hendak ditutuknya. Diluar dugaan, sedikitpun A Siu tidak berkelit, maka terdengarlah suara "tuk"
Sekali, tepat sekali tutukannya, tapi rasanya seperti mengenai kayu lapuk, empuk lunak, percuma ia kerahkan tenaganya.
Sedangkan A Siu tetap bersenyum simpul saja.
Keruan tidak kepalang terkejutnya Ti Put cian.
Sejak ia memperoleh semacam kitab Tok-ci-pit-hoat atau pelajaran menutuk dengan jari satu2nya, ia berhasil meyakinkan ilmu menutuk dengan jari tunggalnya itu, lebih dulu ia dapat membalas sakit hati pada musuh yang pernah mengutungi sembilan jarinya yang lain, habis itu, ia malang melintang di kangouw tak terkalahkan, namanya semakin lama semakin disegani dan dipandang sebagai momok oleh orang Bu-lim.
Pada jari tunggalnya ia pasang pula sebuah selongsong mas yang dapat dijulurkan lebih panjang beberapa kali lipat, selama ini belum ketemukan tandingan, maka namanya tambah ditakuti.
Siapa tahu A Siu yang kena ditutuk sekarang ini hanya ganda bersenyum, tentu saja ia terkejut bukan main.
Diam-diam ia pikir, kepandaian yang dimiliki A Siu ini terang adalah semacam Khikang dari kaum Lwekeh yang tinggi, maka dapat diketahui caranya A Siu mengalahkan Cu Hong-tin secara halusan, sebenarnya berlaku murah hati.
Terhadap ilmu Khikang sedemikian hebatnya, terang ia sendiri takkan mampu menandingi.
Maka ia pura2 bersenyum.
"A Siu, kau memang hebat aku mengaku kalah!"
Dan karena ini, ia menjadi makin ingin mengetahui dari mana A Siu dapat memperoleh kepandaian setinggi itu.
Sementara itu Tiat-hoa-popo telah memanggil A Siu kesana.
Diam2 Ti Put-cian menduga sinenek itupun bukan orang lemah, tampaknya harus cari kesempatan lebih sempurna.
Setelah ambil keputusan ini, ia lantas mendekati beberapa orang Biau untuk diajak mengobrol, tapi karena bahasa masing2 yang kurang lancar, setelah ribut lama, kemudian barulah Ti Put-cian dapat gambaran bahwa A Siu itu sebenarnya adalah putri seorang Biau biasa, di-waktu berumur tiga tahun ikut orang tuanya mencari obat kegunung selama itu lantas menghilang dan baru kemarin saja mendadak muncul pulang, kalau gadis itu sendiri tidak mengaku sebagai A Siu yang empat belas tahun menghilang itu, siapapun tiada yang kenal padanya, sebab itu, siapapun tiada yang tahu dari mana ia memperoleh kepandaian setinggi itu.
Tanpa terasa siang telah berganti malam lagi, tapi orang2 Biau itu terus menari dan menyanyi.
Ia coba mencari A Siu, tapi tiada tampak bayangan si gadis, ia menjadi gugup.
Sementara itu hari telah pagi lagi, dan Jun-yan masih belum kelihatan datang kembali.
Dalam pikiran Ti Put-cian, ia harap hendaklah Jun-yan mati dalam gua oleh racun labah2 itu, dengan demikian barulah ia ada harapan lagi untuk merebut kedudukan Seng-co Biau itu.
Kiranya Ti Put-cian mempunyai ambisi yang sangat besar, kecuali orangnya memang pintar cerdik dan serba pandai, yang dipikir olehnya selalu ialah ingin bisa mengepalai Bulim.
Dibawah pengaruh jiwanya yang kemaruk kekuasaan dan gila hormat itu, kecerdasan itu menjadi disalahgunakan dan sesat jalan.
Sebab itulah, sejak bertemu dengan Jun-yan serta si orang aneh itu, setiap saat iapun selalu peras otak cara bagaimana bisa memperalat mereka untuk merebut kedudukan Seng-co, sebab itulah ia membujuk Jun-yan mengikutinya keadaan Biau ini.
Begitulah ia menjadi iseng menunggu kembalinya Jun-yan dari gua itu, tapi karena batas waktunya belum habis, yaitu meski tunggu sampai malamnya lagi baru bisa diputuskan, saking kesal iapun berjalan-jalan seenaknya kaki itu melangkah dan tanpa terasa telah keluar kesuatu pegunungan itu, makin jauh makin sepi, akhirnya ia sampai ditepi suatu kolam lumpur yang besar dan lebat oleh macam tetumbuhan.
Karena kuatir kesasar jalan, segera Ti Put-cian berniat kembali, tiba2 didengarnya di tempat dekat sana ada suara bentakan orang yang gusar, suara itu sudah dikenalnya sebagai suara sinenek, yaitu Tiat-hoa-popo.
Padahal sekeliling tempat tampaknya kolam lumpur belaka, di-samping2 lain tebing gunung yang curam, hakekatnya tiada tempat yang bisa dibuat sembunyi orang, lalu darimanakah datangnya suara orang itu?
Tetapi ketika ia menegasi, ia menjadi terkejut, kiranya di-tengah2 kolam lumpur sana terdapat segundukan tetumbuhan yang lebat, disitulah ternyata merupakan sebuah pulau kecil tidak menarik perhatian orang, kalau tidak diperhatikan, orang akan menyangkanya sebagai sebuah batu besar saja dengan dikelilingi pepohonan.
Tapi suara bentakan Tiat-hoa-popo tadi justru telah keluar dari situ.
Betapa cerdiknya Ti Put-cian, segera ia tahu gundukan tanah yang tidak menarik itu sesungguhnya adalah sebuah tempat tinggal yang dibuat secara spesial.
Sejak Ti Put-cian menjatuhkan A Siu di panggung pertandingan, ia lantas mengetahui banyak diantara orang Biau kangzusi.com yang tidak puas terhadap dirinya, terutama sinenek bunga besi itu.
Apalagi Tiat-hoa-popo ini tampaknya begitu disegani orang2 Biau itu, melihat gelagatnya, orang tua itupun sangat tidak puas terhadap dirinya, dan kalau dirinya dapat menduduki Seng-co, mungkin nenek itulah yang akan merupakan oposisi yang paling kuat, rasanya harus mencari akal buat melenyapkannya, sebab itulah, gerak-gerik sinenek sekarangpun sangat menarik perhatian.
Ia ter-mangu2 sejenak ditepi kolam lumpur itu, ia mendengar Tiat-hoa-popo makin lama makin sengit, cuma kata2nya diucapkan dalam bahasa Biau, yang ia paham, namun dapat diduga sedang marah terhadap seseorang.
Lalu siapakah gerangan orang yang dimarahi itu ?
Ia lihat kolam lumpur itu basah2 lihat, lumpur begitu baik manusia maupun hewan, se-injak pasti kejeblos kedalam.
Tapi cara bagaimanakah Tiat-hoa-popo itu mendatangi tempat tinggal di tengah-tengah kolam itu ?
Ia menjadi heran, ia coba mengitari kolam itu, tiba diatas sebuah daun kapu-kapu yang lebar dapat dilihatnya ada bekas dua tapak kaki, satu sangat besar dan yang lain agak kecil.
Maka tahulah Ti Put-cian, didalam rumah itu sedikitnya ada dua orang, masuknya mereka ke sana ialah menggunakan ilmu mengentengi tubuh "Teng-peng-toh cui"
Atau menarik kapu2 menyeberangi sungai. Ilmu kepandaian Kanglam-it-ci-seng Ti Put cian dengan sendirinya juga tidak lemah, kalau ilmu entengi tubuh seperti "Teng-peng-toh-cui"
Itupun sudah dapat dipastikannya.
Maka tanpa pikir lagi iapun melompat ketengah kolam sambil mengincar baik2 sebuah daun kapu2, sekali kakinya menutul enteng, cepat ia melompat ke depan lagi beberapa tombak, sebelum sampai ditempat itu, ia lihat disitu ternyata ada sebuah rumah yang bentuknya bundar pendek tanpa pintu maupun jendela, hanya didekat atapnya ada sebuah lubang kecil yang bundar, mungkin dari lubang inilah keluar masuknya kerumah bundar itu.
Dengan hati2 dan perlahan sekali Ti Put-cian melompat lagi kedepan dan sampai dipinggir rumah bundar itu, kuatir diketahui sinenek, sampai ia menahan napas, dengan ber-endap2 ia meraba dinding rumah, lalu menengok kedalamnya melalui lubang bundar dekat atap tadi.
Ia lihat didalam situ sangat gelap.
Samar2 ia lihat Tiat-hoa-popo duduk mungkur dari lubang itu, tidak jauh dari nenek tua ini duduk seorang lagi yang berbaju putih mulus dengan perawakannya yang menggiurkan, siapa lagi dia kalau bukan si A Siu !
Sungguh heran Ti Put-cian melihat A Siu berada disitu.
Kalau melihat ilmu silat A Siu terang diatasnya Tiat-hoa-popo, dengan usianya yang begitu muda sudah berhasil melatih ilmu sedemikian tingginya, sekalipun didaerah Tionggoan yang banyak tokoh2 silat terkenal juga jarang ada seorang liehay semacam dia.
Apalagi daerah Biau ada seperti A Siu, sungguh hal ini susah dipahami orang.
Entah darimanakah ia memperoleh kepandaian hebat itu.
Pula berdiam saja meski didamprat dan dimarahi Tiat hoa-popo.
Ia menjadi lebih terkejut ketika sekilas kerlingan mata A Siu, entah sengaja entah tidak, telah memandang kearahnya.
Ia menjadi ragu2 apakah mungkin jejaknya telah diketahui si gadis itu ?
Namun A Siu kelihatan sudah melengos ke sana lagi, lalu didengarnya ia berkata dalam bahasa Han dengan suara perlahan .
"Tiat-hoa-popo, haraplah jangan kau marahlah, aku sudah pasti tidak hendak merebut kedudukan Seng-co pula, sebab......sebab....."
Tiba2 ia merandek sambil menghela napas perlahan dan berpaling kearah Ti Put-cian, lalu sambungnya sambil menunduk .
".......sebab aku mencintainya."
Seketika Tiat-hoa-popo berbangkit dengan tubuh gemetar, rupanya saking gusar, ia tuding A Siu dan mendampratnya .
"A Siu, kau mencintainya tidak menjadi soal, tapi kau melepaskan kedudukan Seng-co, cara bagaimana kau akan bertanggung jawab kepada Lo-liong-thau ?"
Ti Put-cian menjadi heran, siapakah gerangan Lo-liong-thau itu ?
Dalam pada itu dilihatnya wajah A Siu rada berubah, sinar matanya menjadi guram, kulit badannya memang putih salju, mukanya menjadi lebih pucat, agaknya sangat ketakutan pada seseorang yang teringat olehnya, bibirnya tampak ber-gerak2, kemudian baru berkata dengan tak lancar .
"Te.....tetapi aku cinta padanya, ak.....aku bersedia berkorban segalanya!"
Cara berkatanya ada begitu wajar dan spontan suatu tanda cintanya pada Ti Put-cian sesungguhnya suci bersih dan sungguh2 timbul dari lubuk hatinya.
Mengetahui isi hati si gadis itu, ia bukan bergirang A Siu cinta padanya, tapi dasar jahanam ia justru bergirang bakal bisa mempengaruhi A Siu untuk kemudian memperalatnya.
"Hm, A Siu,'' terdengar Tiat-hoa-popo buka suara lagi.
"apapun juga, benarkah kau tak hiraukan lagi apa yang pernah dipesan Lo Liong thau ?"
Siapakah gerangan Lo Liong-thau yang disebut-sebut itu?
Apakah dia seorang pemimpin suku Biau, atau seorang tokoh persilatan?
Kiranya A Siu berusia tiga tahun, ia tampak jauh lebih pintar dan lincah daripada anak kecil umumnya.
Wajahnya yang manis, kedua matanya yang besar, menambah kesukaan orang bagi siapa yang melihatnya.
Sudah tentu yang paling sayang adalah kedua orang tuanya.
Setiap hari ayahnya berburu kegunung mencari bahan obat2an, selalu A Siu diajak serta.
Kehidupan suku Biau umumnya kecuali berburu binatang-binatang dan bercocok tanam sedikit, biasanya juga masuk kerimba raya untuk mencari bahan obat2an untuk dijual atau dibarter dengan orang Han yang datang berdagang kedaerah Biau ini.
Oleh karena tidak sedikit dari bahan obat2an itu bisa mendapatkan pasaran bagus, maka sering orang Biau berombongan jauh masuk ke hutan belantara untuk mencari obat2 tersebut.
Dan ayahnya A Siu yang bernama Kek Pang ada satu diantara ahli2 pencari bahan obat itu.
Suatu hari, ketika Kek Pang pulang dari berburu sambil memanggul A Siu dipunggungnya, sebelah tangan lain menyeret dua rusa hasil buruannya, sebelum sampai didepan rumahnya, ia dengar ada seruan orang.
"Segala macam obat mudah didapatkan disini, cuma inilah sesungguhnya sangat susah. Barang ini susah dicari, kecuali kalau ketemukan secara kebetulan."
Karena banyaknya orang Han yang mendatangi daerah Biau ini, maka percampuran kedua bahasa Han itu, ia dengar lagi suara seorang wanita lagi menyahut.
"Loyacu, mohon dengan sangat atas pertolongan kalian asal ada barangnya, kalian ingin menukar dengan apa, segera kami adakan."
Dari lagu suaranya, nyata wanita itu gugup dan kuatir sekali.
Ketika sudah dekat, Kek Pang melihat ada satu wanita Han dan di tanah merebah seorang laki2 yang kepalanya dikerudung rapat dengan kain sambil meng-erang2, melihat gelagatnya, wanita Han ini terang datang kesini untuk meminta obat2an.
"Jing-kin,"
Tiba2 lelaki berkerudung itu berkata .
"Jika susah mendapatkan, sudahlah."
"Ta.,. tapi bagaimana dengan keadaanmu itu !"
Seru wanita itu se-akan2 orang kalap.
Dasar hati Kek Pang memang baik, segera ia mendekati orang dan menanya ada urusan apa.
Ketika wanita itu melihat Kek Pang adalah seorang laki-laki gagah, tampaknya jujur, pundaknya berduduk satu anak perempuan yang sangat menyenangkan, tiba-tiba hatinya timbul selarik sinar harapan, katanya segera ."Suamiku terkena racun jahat yang aneh, dari petunjuk orang kosen, katanya ada dua macam bahan obat yang dapat menolongnya, pertama adalah empedu ular Kiu-bwe-coat, kedua adalah buah Cit-kim-ko."
Kek Pang terkejut demi mendengar obat apa yang dicari itu.
Ia pikir, sekian tuanya ia hidup mencari obat-obatan, tapi terhadap kedua jenis barang yang disebut melulu mendengar saja belum pernah melihat, memang sesungguhnya susah dicari.
Sebab itu, iapun terpaku tak bisa menjawab.
Tahu bahwa usahanya tiada harapan lagi, wanita itu menghela napas panjang, pintanya kemudian.
"Jika begitu, dapatkah aku mohon menumpang didalam rumah sini, biarlah suamiku sementara tinggal disini dan aku pergi kegunung untuk mencoba peruntungan !"
"Tidak, tidak, Jin-kin, betapapun kau jangan mengambil resiko ini, kau harus selalu di sampingku,"
Seru lelaki itu sembari pegang kencang2 tangan sang isteri. Hati wanita itu risau benar, air matanya bercucuran.
"Lantas bagaimana baiknya ?"
Serunya bingung.
Mendengar suara ratapan siwanita yang memilukan itu, semua orang ikut terharu.
Tapi apa daya, barang yang hendak dicari itu seratus tahun belum tentu dapat dijumpai sekali, kemana harus diperoleh ?
"Ayah, begini sedih bibi ini menangis, kenapa kau tak menolongnya ?"
Seru A Siu mendadak.
Suaranya kecil nyaring memecah kesunyian.
Hati Kek Pang tergoncang, ia pikir masakan aku orang tua kalah dengan seorang anak kecil, seumpama barang yang hendak dicari susah diperoleh, kenapa aku tidak menghantar wanita itu kesana ?
"Ya, A Siu, kau benar!"
Sahutnya.
"Aku ikut kalian, ayah,"
Kata A Siu lagi dengan tertawa. Kek Pang tak menjawab, katanya pada wanita tadi.
"Toasuko tak perlu berduka, seorang diri kau masuk gunung kurang baik, biarlah besok pagi2 aku mengiringi kau kesana tempat dimana mungkin hidup Kiu-bwe-coa (ular sembilan buntut), tentu tak pernah dijajaki manusia, maka kita mesti banyak siapkan perbekalan, malam ini tak bisa lagi kita berangkat."
Sungguh bukan buatan rasa girang dan terimakasih wanita itu, saking terharu sampai ia tak sanggup ber-kata2. Ia lihat A Siu sangat menyenangkan, kemudian ia tanya.
"Nona cilik ini adakah putrimu. Siapakah namamu ?"
"Meniru seperti bangsa Han kalian, namanya A Siu,"
Sahut Kek Pang.
"Nama bagus", kata wanita itu.
"Biarlah aku memberi sedikit hadiah."
Sembari berkata, dari bajunya ia keluarkan suatu kotak kecil.
Tadinya semua orang menyangka oleh2 yang diberikan ini tentu mainan kanak2 yang tak berarti, tak terduga, ketika tutup kotak itu menjeblak, barulah semua orang terkejut.
Waktu itu hari sudah gelap, dan begitu kotak itu terbuka, segera memancarkan sinar yang menyilaukan, ternyata isi kotak itu adalah sebutir mutiara sebesar biji buah kelengkeng yang dibikin sebagai mainan kalung dengan rantai emas yang kecil.
Wanita itu ambil kalung emasnya lalu pasang dilehernya A Siu.
Keruan A Siu kegirangan, serunya berulang ulang .
"Banyak terima kasih, toakoh, banyak terima kasih!"
Nyata, karena ayahnya sering bergaul dengan saudagar Han, maka iapun bisa mengucapkan beberapa patah kata bahasa Han. Dengan penuh kasih sayang wanita itu mengempoh A Siu serta menciumnya sekali.
"Suamimu boleh beristirahat dirumahku selama kita masuk gunung, tentu ada orang yang akan merawatnya,"
Kata Kek Pang kemudian.
"Ya, cuma aku harap supaya dipesan agar kain kerudung kepala suamiku itu jangan sekali-kali dilepaskan,"
Sahut siwanita. Lalu mereka memondong orang laki-laki itu kedalam rumah, kata laki-laki ini .
"Jing-kin, sungguh aku merasa kuatir sekali bila kau pergi mencari Kiu-bwe-coa dan Cit-kim-ko itu."
"Sudahlah, jangan pikir yang tidak2, mengasolah yang tenang, dalam sebulan, aku yakin akan bisa kembali dengan membawa barang yang kita cari itu,"
Sahut sang istri. Sesudah merebahkan lelaki itu didipan, kemudian Kek Pang berkata.
"Toaso, dengan cahaya mutiara bersinar ini, malam ini juga kita bisa berangkat."
"Itulah lebih baik,"
Sahut siwanita dengan girang.
Segera Kek Pang siapkan sekantong ransum dan membawa sebilah golok melengkung bergegas2 segera mereka hendak berangkat.
Tiba2 A Siu merecoki sang ayah untuk ikut serta, meski Kek Pang telah membujuk dan me-nakut2i tapi A Siu tetap ingin turut, terpaksa sang ayah mengajaknya, ia panggul putri kecil itu di atas pundaknya lagi dan katanya.
"Marilah Toaso, kita berangkat."
Diwaktu hendak melangkah pergi, wanita itu masih menoleh beberapa kali pada sang suami, terdengar lelaki itu berseru.
"Jing-kin, jika tidak bisa dapatkan barang yang dicari, lekaslah kau pulang saja!"
"Ya, dalam sebulan pasti aku akan pulang kembali, harap kau bersabarlah,"
Sahut wanita itu dengan suara berat.
Nyata sekali, mereka adalah sepasang suami istri yang sangat sayang menyayangi.
Begitulah, dengan bantuan cahaya mutiara, dengan cepat Kek Pang telah membawa wanita itu menempuh perjalanan sejauh dua puluh li.
A Siu sama sekali tidak merasa ngantuk atau letih, malahan ia terus menerus mengajak ngobrol dengan wanita itu.
"A Siu, aku she Ang, bernama Jing-kin, selanjutnya kau panggil aku Jing-koh (bibi Jing) sajalah,"
Ujar wanita itu.
"Aku juga punya satu anak perempuan, umurnya lebih tua tiga tahun darimu. kelak kalau kalian bisa bertemu, tentu kalian akan cocok seperti saudara sekandung."
"Enci itu siapa namanya, Jing-koh ?"
Tanya A Siu.
"Nama kecilnya dipanggil Siau Yan,"
Kata Jing-kin. Tiba-tiba A Siu angkat mutiara bersinar yang tergantung didepan dadanya itu dan menanya.
"Jing-koh, kenapa mutiara sebagus ini tak kau berikan pada suci Siau Yan ?"
"A Siu", sahut Jing-kin.
"Kau masih terlalu kecil, kau belum paham. Ditempat kami sana ada banyak orang jahat, kalau melihat barang bagus, lantas ingin merampasnya. Ai, urusan ini kelak kau sudah besar, tentu akan mengerti."
Begitulah, sesudah terlalu letih, akhirnya bocah itu terpulas digendongan sang ayah.
Sesudah semalam suntuk menempuh perjalanan, ketika fajar hampir mendatang, mereka sudah melintasi sebuah gunung, seluas pandangan kedepan, kabut tebal menyelimuti rimba raya.
Kek Pang menuding kemuka, katanya,"Toaso, tempat dimana kami sering berburu dan mencari nafkah adalah disekitar gunung yang kita lintasi semalam, kedepan lagi selamanya tiada orang yang berani kesana, kalau ingin mencari sebangsa Kiu-bwe-coa dan Cit kim ko yang jarang terlihat itu, rasanya harus ke-pegunungan sunyi didepan sana.
Kau tidak membawa senjata, biarlah golokku ini kau pakai."
Terharu sekali Ang Jing-kin oleh rasa simpati si orang Biau ini, dan kalau mengingat nasib malang suami istri mereka, ia menghela napas panjang.
Lalu sahutnya,"Tak perlulah, aku sendiri punya senjata penjaga diri."
Segera ia merogoh saku bajunya dan tahu2 tangannya sudah bertambah segulung benda hijau gelap, ketika sedikit tangannya mengepal dan dilepas lagi, benda gulungan itu mendadak berbunyi "creng"
Terus mulur sepanjang satu meter, nyata itulah sebatang pedang yang bersinar menyilaukan, pedang itu tipisnya luar biasa, dan ternyata bisa mulur dan mengkeret menggulung sendiri.
"Hebat sekali, mengapa pedang ini begini lemas, apa gunanya?"
Tanya Kek Pang rada tercengang. -0odwkz"hendrao0-
Jilid 5 ANG Jing-kin menyentil beberapa kali dibatang pedang itu hingga mengeluarkan suara nyaring, sahutnya .
"Pedang ini memotong besi bagai rajang sayur, boleh lihat ini!"
Habis berkata, sekenanya ia tabas kebatang pohon di tepi jalan, pohon itu lebih besar dari paha orang, tapi pedang itu dapat menabas lewat, kemudian pohon itu baru ambruk kesamping.
Tempat dimana pohon itu patah tampak halus bagai digergaji saja.
Betapa terkejut dan kagumnya Kek Pang hingga mulutnya ternganga.
Sementara itu A Siu sudah mendusin, mereka makan sedikit rangsum, lalu melanjutkan perjalanan lagi.
Begitulah mereka terus mencari dipegunungan itu hingga tujuh hari lamanya, dalam pada itu banyak bahan obat-obatan berharga telah dapat dikumpulkan Kek Pang.
Tapi ular dan buah yang mereka cari itu tetap belum diketemukan.
Melihat waktu makin lama makin mendesak, Jing-kin menjadi gopoh.
Sampai hari kedelapan, mereka telah memasuki sebuah lembah sempit, didepan sana terdengar ada gemerciknya air, ketika maju lagi, ternyata ada sebuah tanah luas lapang, sebuah sungai kecil mengalir dengan airnya yang jernih.
Melihat air, saking hausnya Kek Pang terus letakan A Siu ketanah, ia sendiri berjongkok ke tepi sungai buat minum.
Tapi baru beberapa hirupan air masuk perutnya, sekonyong-konyong ia berdiri dengan badan gemetar.
Karuan Jing-kin terkejut, ia lihat sekejap saja wajah Kek Pang sudah biru gelap, tangannya menuding ke sungai dan mulutnya ternganga tak sanggup bersuara lagi.
"Ap...apakah air sungai berbisa ?"
Tanya Jing-kin cepat.
Tapi tubuh Kek Pang sudah menggelongsor jatuh ditepi sungai, ketika Jing-kin membaliki tubuh orang dan memeriksa urat nadinya, ternyata napasnya sudah putus.
Sungguh susah dipercaya bahwa air sungai sejernih itu ternyata berbisa jahat luar biasa, saking terkejutnya sampai Jing-kin melupakan A Siu yang ditaruh ayahnya ketanah tadi sudah berlari-lari pergi memain sendiri dan ternyata tidak kembali lagi.
Jing-kin sendiri termangu-mangu memandangi sungai itu.
Ia pikir dengan terbinasanya Kek Pang, kesukaran yang akan dihadapinya dalam usaha mencari Kiu-bwe-coa ini tentu akan bertambah-tambah.
Sedang Jing-kin berduka, tiba-tiba dilihatnya didasar sungai itu ada segundukan batu berwarna yang tiba-tiba bisa bergerak2.
Malahan lantas ada lagi dua gundukan batu kecil lainnya ikut-ikut bergoyang, gundukan yang tadinya bundar lambat laun memanjang.
Ketika ia tegasi, gundukan batu apa, hakekatnya adalah tiga utas ular yang tadinya meringkuk disitu, sebab itulah tampaknya seperti gundukan.
Melihat ada ular, cepat Jing-kin siapkan tiga buah Bwe-hoa-piau, dan selagi hendak disambitkan kepada ular-ular itu, tiba-tiba dilihatnya ketiga ular itu dimana ekornya mengesot seakan-akan mempunyai sembilan ranting cabang, nyata itulah yang disebut Kiu-bwe-coa atau ular sembilan buntut yang sedang dicarinya setengah mati, malahan sekali bertemu ada tiga jumlahnya.
Karuan terkejut dan girang Ang Jing-kin, senjata rahasia yang sudah hampir disambitkan itu ia tarik kembali mentah-mentah, ia pikir orang kosen yang memberi petunjuk itu pernah bilang bahwa Kiu-bwe-coa ini hidupnya selalu berdampingan dengan Chit-kim-ko, dan untuk menyembuhkan luka sang suami, kedua macam barang itu harus lengkap tak boleh kurang salah satu diantaranya.
Jika sekarang juga ia timpuk mati ular-ular itu, lantas kemana akan mencari buah Chit-kim-ko itu ?
Karena itu ia coba menanti dan curahkan perhatian atas gerak-gerik ular-ular itu, ia lihat Kiu-bwe-coa itu kemudian berenang kehulu sungai, celakanya tiga membagi tiga jurusan.
Tentu saja Jing-kin bingung, yang manakah yang harus dikuntitnya ?
Kalau ada Chit-kim-ko, tentu ada Kiu-bwe-coa, tapi ada Kiu-bwe-coa belum tentu ada Chit-kim-ko, lalu diantara ketiga ular ini, yang manakah yang menuju ketumbuhan buah itu ?
Kalau yang dikuntitnya nanti ternyata menuju ketempat yang tiada tumbuh Chit-kim-ko, bukankah akan berabe ?
Dalam keadaan demikian, ia benar-benar serba salah, sementara itu ular-ular itu sudah merayap makin jauh dan Jing-kin masih kelabakan belum bisa ambil keputusan yang mana harus dikuntitnya.
Pada saat itulah, tiba-tiba ia ingat pada si A Siu, ia menoleh, tapi bocah itu tiada bayangannya lagi, dalam kaget dan kuatirnya, cepat ia berteriak .
"A Siu, A Siu !"
Tapi meski sudah berulang kali ia memanggil, sama sekali tiada sahutan anak perempuan itu.
Sungguh celaka baginya, Kek Pang sudah terbinasa, kini puterinya itu menghilang, bagaimana nanti kalau pulang ia mesti menjawab pertanyaan orang-orang Biau disana ?
Dan karena merandeknya itu, bila ia berpaling lagi, dua ular tadi sudah tak kelihatan lagi, hanya ketinggalan satu yang tampak terus berenang kehulu sungai, kalau ular ini tak lekas dikejarnya, boleh jadi sebentar juga akan menghilang, dan ini berarti usahanya akan sia-sia belaka.
Tanpa pikir lagi, segera ia berlari kedepan menyusur sungai mengikuti jejak siular, tapi ia tak berani terlalu dekat, kuatir mengejutkan binatang itu.
Ia menguntit dari jarak beberapa tombak jauhnya, sambil kadang-kadang berseru memanggil A Siu.
Makin lama ia menjadi makin jauh menyusur sungai itu, dan akhirnya dapat diketahui sungai itu ternyata bersumber dari suatu gua.
Ketika sampai didepan gua, ular itu terus merayap kedalam.
Sudah tentu Ang Jing-kin tidak tinggal diam, ia lihat gua itu cukup lebar, segera saja ia ikut masuk, ia pikir Chit-kim-ko tentu tidak jauh lagi disitu, kalau sudah berhasil menemukannya, barulah ia akan mencari A Siu.
Gua itu ternyata menembus kesuatu empang yang dikelilingi tebing-tebing curam hingga susah diketemukan orang luar.
Ditengah-tengah empang itu menonjol dipermukaan air sebuah batu besar dan disela-sela batu itu tumbuh sebuah rumput yang aneh bentuknya, panjangnya ada satu meter, daunnya bundar berwarna ungu, diujung rumput itu tumbuh satu buah sebesar kepalan dan berwarna kuning indah.
Sesudah ular itu menyeberangi empang itu, kemudian merayap keatas batu besar serta meringkuk disitu, hanya kepalanya menegak mengincar terus buah kuning yang besar itu.
Jing-kin yakin tentu buah itulah Chit-kim-ko yang dicarinya, sungguh tidak tersangka olehnya bisa memperolehnya secara begitu mudah.
Maka cepat ia siapkan sebuah Bwe-hoa-piau, ia incar baik-baik kepala ular itu, jarinya menjentik, cepat Bwe-hoa-piau meluncur kedepan.
Tampaknya sasaran pasti akan segera kena, siapa tahu dari samping tiba-tibapun terdengar suara mendesingnya senjata rahasia, sebuah piau baja telah melayang tiba dan tepat membentur Bwe-hoa-piau yang disambitkan Ang Jing-kin itu hingga kedua senjata terpental jatuh semua ke dalam empang.
Melihat piau baja itu datangnya sangat cepat lagi keras, jitunyapun jarang terlihat, ketika Jing-kin mendongak, tahu-tahu dibawah dinding tebing sana sudah berdiri empat orang berkedok yang berperawakan tidak sama.
Melihat keempat orang itu, terkejut dan gusar Jing-kin, dengan suara bengis segera ia membentak .
"Sebenarnya siapakah kalian berempat ? Kenapa kalian sedemikian keji terhadap kami suami-isteri, tapi toh secara sembunyi-sembunyi tak berani unjuk muka asli ?"
Tiba-tiba seorang yang tinggi kurus diantaranya tertawa dibuat-buat, sahutnya .
"Bwe-hoa-siancu, kau toh cukup pintar, kenapa sekarang begini geblek ? Asal kau serahkan pedang hijau dan saputangan merahmu pada kami, betapapun besarnya urusan, bukankah lantas beres ?"
"Ya, kami hanya minta pedang hijau ditanganmu itu dan saputangan sutera merah didalam bajumu itu kau serahkan, lalu kami sudahi segala urusan, malahan kami bersedia membantu kau menangkap Kiu-bwe-coa dan Chit-kim-ko itu untuk menolong jiwamu,"
Tiba-tiba kawannya yang agak pendek ikut bicara.
"Tapi kalau kau tetap ngotot, ha, tak perlu kami turun tangan, asal kami hancurkan Chit-kim-ko ini, kemana lagi kau bisa mencari yang keduanya ? Haha, terserah kau mau atau tidak ?"
Kiranya Ang Jing-kin ini berjuluk "Bwe-hoa-siancu"
Atau dewi bunga Bwe, senjata rahasianya Bwe-hoa-piau yang tunggal, setiap kali dapat ditimpukkan lima buah dan sangat jitu, kemahirannya yang lain adalah 36 jurus Bwe-hoa-to-hoat, ia adalah puterinya Siang-say-tay hiap, Bwe-hoa-sin-to Ang San-jiau.
Karena ancaman tadi, saking gusarnya ia membentak pula .
"Coba katakan dulu siapa kalian berempat ? Kenapa perbuatan kalian mesti secara sembunyi-sembunyi begini ?"
"Bwe-hoa-siancu, nama kami tiada artinya untuk diketahuimu, ada lebih baik lekasan kau ambil keputusan saja"
Sahut sijangkung tadi dengan tertawa. Namun Ang Jing-kin tidak mudah diancam sambil bicara ia sudah siapkan lima Bwe-hoa-piau ditangannya, telinganya berkumandang apa yang pernah dikatakan suaminya .
"Jing-kin, sekalipun kita harus mati, jangan sampai pedang hijau dan saputangan merah ini jatuh diempat jahanam itu !"
Maka sahutnya kemudian .
"Baiklah nih, terima !"
Berbareng selesai ucapannya, tangannya mengayun, lima sinar terus meluncur kedepan, empat mengarah keempat musuh, yang satu mengincar Kiu-bwe-coa.
Sungguh sama sekali empat orang tidak menduga bahwa Ang Jing-kin ini berani bergurau dengan jiwa suaminya yang tinggal senin-kemis itu, yaitu lebih sayangi kedua benda yang diminta daripada keselamatan sang suami.
Mereka bukan jago lemah, begitu nampak Bwe-hoa-piau menyambar tiba, cepat mereka berkelit, tapi kepala ular yang diarah itu dengan tepat sudah terkena Bwe-hoa-piau satunya hingga hancur.
Dan begitu Ang Jing-kin sambitkan senjata rahasianya, segera orangnya ikut melompat ke depan, keatas batu besar ditengah empang itu, cepat ia samber ular mati itu, sekalian petik buah Chit-kim-ko tadi, walaupun saat itu juga dari belakang terdengar suara menyambernya senjata rahasia musuh, namun iapun tidak pikirkan lagi, terpaksa hanya sedikit mengegos, tapi pundaknya lantas terasa kesakitan, ternyata sebuah piau baja sudah menancap dibahunya.
Dengan menahan sakit, Jing-kin masukkan ular mati dan Chit-kim-ko yang berhasil diperolehnya itu kedalam baju, habis itu cepat ia memutar tubuh, dengan sikap angkuh sambil pedang terhunus ditangan, ejeknya kemudian .
"Nah, kedua benda ini sudah berada ditanganku, apa maumu sekarang ?"
"Hahaha,"
Tiba-tiba sijangkung tadi bergelak ketawa.
"memang benar kedua barang itu sudah kau dapatkan, tapi kenapa kau tidak tanya dirimu sendiri, dengan kepandaian suami isteri kalian tak mampu menandingi kami berempat, kini kau berada sendirian, dapatkah kau selamat tinggalkan tempat ini ?"
Jing-kin menjadi terkesiap, ia pikir memang benar juga gertakan orang itu, selagi dirinya terluka lagi, terang takkan ungkulan melawan keroyokan mereka.
Dalam gugupnya, cepat ia cabut piau yang masih menancap dipundaknya itu dan hendak dilempar ketanah, tiba-tiba sekilas dapat dilihatnya pada senjata rahasia itu terukir dua huruf kecil sekali.
Hati Jing-kin tergerak, ia pikir kalau diatas senjata rahasia itu ada tulisannya, tentu itu nama atau tanda pengenal sipemiliknya.
Cuma sayang kedua huruf kecil itu sangat lembut ketika ia hendak menegasi lebih dekat, sekonyong-konyong sebuah piau baja menyamber datang pula.
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 11
Baca Juga: Suling Emas 1