Ceritasilat Novel Online

Legenda Kematian 4

Eps 4 Legenda Kematian - Gu Long

Baca online Legenda Kematian - Gu Long

Cersil Legenda Kematian - Gu Long.

Dengan dingin dia berkata, kemudian dia berhenti bicara, sorot matanya berubah. Dia melihat Guan Ning dan berkata.

"Kakak, walaupun ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, tapi dia mempunyai kekuatan menyedot tenaga. Tenaga telapakku tersedot banyak. Kakak, apakah kau tahu, di dunia persilatan ini perkumpulan mana yang mempunyai ilmu silat semacam itu?"

Ilmu silat Guan Ning memang seperti yang dikatakan pak tua itu.

ilmu silatnya tidak tinggi tapi tenaga dalam yang dipelajarinya adalah ilmu tenaga dalam yang sudah lama menghilang.

Apalagi dia masih muda.

Jika pak tua itu bertarung dengan Guan Ning, maka Guan Ning sudah pasti bukan lawannya, hanya dalam beberapa jurus dia pasti akan kalah, tapi jika pak tua mengadu tenaga dalam dengan Guan Ning belum tentu pak tua itu bisa menang.

Kedua pak tua itu tidak lain adalah tetua Tai Hang Shan, aliran Ci Xie (sepatu ungu).

Mereka sangat terkenal, mereka dijuluki Tai Hang Shuang Lao (sepasang jago tua dari Tai Hang).

Yang satu bernama Le Shan (gunung) yang satu bernama Le Shui (air).

Di dunia persilatan mereka sangat dihormati, sekarang mereka sedang beradu tenaga dalam dengan seorang pemuda yang terlihat lemah, peristiwa ini benar-benar jarang terjadi.

Tentu kelakuannya membuat orang terkenal seperti Le Shui kaget.

Pak tua yang agak tinggi dan bernama Le Shan bertanya ragu.

"Apakah benar?"

Pelan-pelan dia mengerakkan telapak tangannya dan memegang pergelangan Guan Ning, tidak disangka Guan Ning membalas kemudian pergelangan tangannya diputar.

Dia terlepas dari cengkraman pak tua Le Shui.

Tai Hang Shuang Lao benar-benar terkejut dan mereka membentak.

(Oo-dwkz-lav-oO) BAB 8 .

Tamu aneh yang meminta nyawa Di belakang Tai Hang Shuang Lao terdengar tawa seseorang.

Perempuan itu tertawa dan berkata.

"Tidak disangka anak ini mempunyai ilmu sebagus ini, membuat Tai Hang Shuang Lao tidak bisa mencengkram, ini benar-benar bagus."

Karena Guan Ning sudah mengeluarkan tenaga besar, sekarang dia merasa darah di dalam tubuhnya terus bergejolak.

Dia beristirahat sebentar, setelah itu baru membuka matanya, terlihat wajah kedua pak tua itu sangat marah.

Tapi perempuan itu tertawa sambil lewat dari sisi pak tua itu dia melihat Guan Ning lalu berkata.

"Hei! Anak muda, mengapa kau membuat kedua orang ini menyerangmu?"

Dia bertanya kepada Guan Ning, tapi sebenarnya menertawakan Tai Hang Shuang Lao, dengan kedudukan seperti Tai Hang Shuang Lao tidak ada alasan mereka untuk bisa menyerang pemuda lemah ini, jika kabar ini tersebar ke dunia persilatan, muka mereka akan ditaruh di mana.

Guan Ning sangat pintar, dia mengerti apa maksud perkataan perempuan itu, diam-diam dia merasa sangat berterima kasih kepadanya.

Tadi dia tidak suka dengan kekejamannya, sekarang perasaan itu sudah berkurang.

Betul saja, Tai Hang Shuang Lao benar-benar merasa marah, sorot mata mereka menjadi tajam seperti pisau pada saat melihat perempuan ini tetapi perempuan itu hanya tertawa dan berkata lagi kepada Guari Ning.

"Mengapa kau tidak bicara sama sekali? Aku tahu kau sudah bersalah kepada kedua pak tua ini! Anak muda, mengapa kau begitu kasar? Cepat minta maaf kepada kedua orang tua ini!"

Wajah Tai Hang Shuang Lao tampak bertambah pucat. Api yang terlihat di mata mereka seakan-akan siap keluar dari tempatnya. Guan Ning terkejut.

"Mengapa kedua pak tua ini seperti membenci perempuan ini? Mengapa mereka tidak menjawab dan juga tidak berani menyerang perempuan ini?"

Terlihat kedua pak tua itu dengan sorot mata benci melihat perempuan ini. Akhirnya mereka berkata.

"Kami sudah tua sedangkan kau masih muda, jika kau berbuat seperti ini, pada saat pelindungmu roboh, kau.... apakah kau tidak takut kalau orang dunia persilatan akan membunuhmu?"

Karena marah perkataan pak tua itu tidak begitu lancar, perempuan ini segera terdiam dan tawanya seperti ditarik kembali, dari sudut matanya terlihat hawa membunuh. Dengan pelan perempuan itu berkata.

"Aku lihat kau sudah tidak muda, maka aku menyebutmu dengan pak tua, seharusnya kau tahu diri, apa itu yang disebut pelindung, apakah aku Shen San Niang harus terus mengandalkan dia?"

Wajah Tai Hang Shuang Lao terlihat lebih marah lagi, dari pantulan cahaya lilin yang dipegang pelayan itu, terlihat kedua wajah pak tua itu sangat pucat.

Kemudian pak tua yang bernama Le Shan berlari keluar, dalam sekilas dia sudah menghilang di dalam kegelapan yang tanahnya dipenuhi dengan salju.

Perempuan itu berbalik dan melihat Guan Ning lalu berkata.

"Anak muda, jangan terus berdiri di bawah salju."

Suaranya penuh dengan kelembutan tidak ada seorangpun yang menyangka kalau perempuan itu mempunyai kemampuan membuat Tai Hang Shuang Lao pergi dari sini.

Wajah Guan Ning menjadi merah.

Dia maju sedikit dan berkata.

"Terima kasih karena Nyonya sudah membantuku."

Sekarang baru terlihat dipergelangan tangannya ternyata ada bekas telapak tangan berwarna ungu. Bekas itu belum menghilang sampai sekarang. Guan Ning berpikir.

"Tenaga telapak Pak Tua Le Shui benar-benar hebat."

Guan Ning tidak tahu jika dia tidak berlatih tenaga seperti yang diajarkan dalam saputangan, mungkin sekarang pergelangannya telah patah.

Perempuan itu seperti tidak mendengar kata-kata Guan Ning pada saat mengucapkan terima kasih.

Dia berkata sendiri.

"Suasananya benar-benar membuat orang kesal."

Dia menolehkan kepalanya dan berkata.

"Anak Hong, apakah kau tahu dari sini ke kota Bei Jing harus berapa jauh lagi? Apakah besok kita bisa sampai di sana? Kalau tidak bisa, kita benar-benar akan terlambat."

Kemudian dia mengeluarkan telapak kanannya untuk dilihat.

Terlihat tangannya kecil dan terpasang sebuah cincin emas.

Cincin itu berbentuk manusia karena sinar lampu redup, maka Guan Ning tidak bisa melihat dengan jelas.

Guan Ning ingin bertanya kepada perempuan itu, tapi tiba-tiba terdengar ada suara dingin yang berkata.

"Walaupun hari ini nyonya bisa sampai ke sana, tapi tetap terlambat."

Suaranya dingin dan tidak berperasaan.

Nada bicaranya seperti mengejek, wajah perempuan itu berubah, mata yang tadinya terlihat ramah dan lembut tiba-tiba berubah menjadi dingin dan tajam, dengan dingin diapun bertanya.

"Apa yang kau maksudkan?"

Wajah Shou E (Shou=kurus, E=semacam sebutan) Tan Qing terlihat sinis. Dia membereskan kumisnya sambil melihat salju yang masih terus turun.

"Walaupun Nyonya berangkat hari ini, aku sangsi-heehhl"

Guan Ning sudah berada di luar, setelah mendengar kata-kata mereka, hatinya tergerak.

Tapi karena dia berjalan semakin menjauh dari tempat itu, kata-kata mereka berikutnya tidak terdengar jelas.

Guan Ning merasa sangat kacau, malam ini semua orang yang ditemuinya di penginapan itu mempunyai identitas yang sangat misterius.

Semua ini tidak ada hubungan dengannya, hanya saja hubungan antara kedua orang pak tua itu dengan Wu Bu Yun membuatnya merasa aneh.

Mengapa Wu Bu Yun pergi tanpa pamit?

Dan mengapa dia pergi begitu tergesa-gesa, benar-benar membuat Guan Ning bingung.

Begitu dia melewati kamar sepanjang penginapan, ternyata kamar-kamar itu tidak berpenghuni.

Dia ingin tertawa, perampok seperti Tie Jin Gang benar-benar bernasib buruk.

Pilih punya pilih, sasarannya ternyata pesilat-pesilat tangguh.

Di pekarangan depan, keretanya dan kereta Wu Bu Yun masih ada di sana.

Kedua kudanya sudah seharian berlari, ditambah lagi sekarang sudah malam dan udara terasa dingin.

Tapi kuda-kudanya masih tampak sangat bersemangat, sama sekali tidak terlihat lelah.

Dibandingkan dengan kuda-kuda lain jelas terlihat berbeda.

Guan Ning adalah anak dari orang kaya, kali ini dia berkelana pergi ke tempat jauh, pasti dia akan memilih kuda yang bagus, tapi kuda milik Wu Bu Yun juga bukan kuda biasa.

Malam semakin larut, angin dan salju sudah berhenti.

Guan Ning membereskan letak bajunya, dengan langkah besar dia berjalan ke arah keretanya.

Tiba-tiba terdengar suara rintihan.

Guan Ning terkejut, segera dia berlari ke arah keretanya untuk melihat-ternyata pintu kereta kuda Guan Ning setengah terbuka.

Di dekat pintu terlihat ada seorang laki-laki tegap terbaring di bawah, di sisi laki-laki itu terlihat ada pelayan yang membuka pintu untuk mereka tadi, mereka terbaring di sana, mereka terus merintih.

Guan Ning sangat terkejut, dia melihat dengan bantuan sinar bulan, Laki-laki yang mengenakan baju putih yang terbuat dari kulit kambing sudah dipenuhi dengan darah.

Orang yang tadi menyamar sebagai pelayan, punggungnya penuh dengan darah, di sisi tempat mereka berbaring ada tulisan yang terukir dengan pedang.

"Berbuat ceroboh, harus dihukum!"

Salju yang baru turun menutupi ukiran huruf tersebut.

Guan Ning melihat huruf yang tertulis di bawah, dia merasa malu dan menyesal, dia hanya bisa bengong sambil berdiri.

Guan Ning tahu kalau kedua orang itu pada waktu dia dan Wu Bu Yun masuk ke ruangan itu, diam-diam mereka keluar dan melihat isi kereta, mereka ingin tahu barang apa yang dibawa Guan Ning, begitu mereka melihat hanya ada seorang pasien yang sedang terluka pasti mereka sangat kecewa, mungkin mereka tadinya berniat membunuh orang yang ada di dalam kereta.

Waktu itu tentu ada seseorang di belakang mereka, karena mereka terluka di bagian punggung, membuktikan bahwa mereka dilukai dari belakang.

Orang yang diam-diam telah menolong Gong Sun Zuo Zu dan pelajar berbaju putih ini pasti tidak suka dengan kecerobohan Guan Ning dan Wu Bu Yun, karenanya tulisan yang terukir di tanah dipenuhi dengan salju, memberi peringatan kepada mereka.

"Siapakah orang itu?"

Guan Ning berdiri dengan terpaku di bawah tiupan angin dingin.

Diam-diam dia bertanya pada dirinya sendiri.

Dia teringat 3 hari yang lalu di perpustakaannya, tiba-tiba melayang dua pedang satu golok ke dalam perpustakaan, dan kemarin pagi di atas meja ada kiriman telinga manusia yang terbungkus kertas.

Diam-diam dia berpikir.

"Semua tentu dilakukan oleh satu orang, dia melindungiku, tapi mengapa tidak mau bertemu muka denganku?"

Guan Ning terus berpikir, tidak terpikir olehnya siapa kenalan yang mempunyai ilmu silat tinggi dan terus berada di belakangnya, dan orang itu selalu melakukan hal-hal misterius.

"Ling Ying-"

Dia berkata sendiri.

"Apakah ini adalah perbuatan Ling Ying? Kau.... kau.... mengapa kau tidak mau bertemu denganku?"

Kuda terlonjak kaget lalu meringkik.

Segera Guan Ning tersadar, dengan cepat dia membuka pintu kereta.

Pelajar berbaju putih itu masih tertidur tidak sadarkan diri.

Gong Sun Zuo Zu pun masih tertidur nyenyak.

Guan Ning merasa pesilat tangguh yang sedang terluka parah ini masih bisa tertidur, mereka benar-benar bernasib baik.

Dia tidak tahu bahwa Gong Sun Zuo Zu bisa tertidur lelap karena sudah ditotok oleh Wu Bu Yun pada nadi tidurnya.

Guan Ning melihat kedua pesilat tangguh itu dalam keadaan aman dan tidak terganggu, baru dia berani menarik nafas lega.

Tiba-tiba dia merasa bumi dan langit begitu sepi.

Suara ringkikan kuda dan suara rintihan sudah berhenti, kecuali suara angin, tidak terdengar suara lainnya.

Malam musim dingin begitu dingin dan malam begitu sepi, tiba-tiba dia merasa rasa sepi adalah suatu hal yang menakutkan.

Sekelilingnya terasa begitu sepi, sewaktu menuntun kereta kedua, tampak bayangan seseorang berwarna hijau terbang dengan lincah dan duduk ke depan kereta.

Kemudian bayangan kedua berlari ke arahnya.

Bayangan kedua datang lebih cepat dari bayangan pertama.

Guan Ning masih bengong karena takut melihat bayangan pertama, telinganya hanya mendengar suara ring yang berbunyi.

Kereta berhenti di halaman dan keluar dari penginapan.

Terdengar suara manja setengah berteriak.

"Aku pinjam keretamu sebentar...."

Kata-kata berikutnya tertutup oleh suara ringkikan kuda dan suara roda yang berderit.

Perubahan tiba-tiba dari awal sampai akhir terjadi begitu cepat.

Guan Ning yang berada dalam keadaan terkejut tidak bisa berbuat apa-apa.

Setelah dia merasa agak tenang, baru dia berteriak.

"Jangan pergi!"

Begitu dia keluar dari pintu penginapan, ternyata kereta sudah menjauh, hanya terlihat bayangan kereta yang samar-samar, sekarang dia belum bisa memikirkan apa-apa.

Dia tahu orang yang membawa kereta adalah perempuan itu dan pelayannya, jangankan membawa satu kereta, 10 kereta dibawapun Guan Ning tidak akan sakit hati.

Tapi-dia teringat pasien yang ada di dalam kereta, dia mulai merasa semua berbahaya, karena itu dia merasa kakinya mulai lemas, jika seseorang pernah merasakan hantaman yang tiba-tiba terjadi, pasti tahu bagaimana perasaan yang dialami Guan Ning.

Karena tidak bisa mengungkapkan ataupun melukiskannya.

Bumi dan langit berubah.

Dengan cepat Guan Ning berlari ke kereta satu lagi.

Dia membuka pintu, pelajar berbaju putih tampak dengan tenang tertidur dan ditutupi oleh selimut mewah.

Guan Ning menarik nafas panjang.

Tapi....

Nafasnya belum stabil, nafasnya seperti membeku.

Karena dia teringat kepada Gong Sun Zuo Zu yang sedang terluka parah, dia dibawa ke sini dengan tujuan mencari tabib dan mengobati lukanya.

Segera dia berlari ke depan tapi bayangan kuda dan kereta sudah tidak terlihat.

Malam begitu gelap, angin terasa begitu dingin, suasana gelap seperti batu yang terus menimpa kepalanya.

Guan Ning sudah tidak kuat menahan hantaman ini.

Badannya oleng, dengan lemas dia menyandar ke pintu kereta.

Malam menghilang, anginpun menghilang.

Dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Bumi dan langit seperti kosong.

Apa yang terjadi selanjutnya, dia tidak berani memikirkannya lagi juga tidak bisa menggantikan apa yang telah berlalu, dia mengepal tangannya dan memukul dadanya, dia merasa sangat marah, marah dan marah, mengapa dia bisa berbuat begitu bodoh?

Dia tidak tahu mengapa kedua kereta itu dikeluarkan, kalau saja dia menggendong Gong Sun Zuo Zu dan memasukkannya ke dalam kereta yang sama dengan pelajar berbaju putih, pasti tidak akan terjadi apa-apa?

Kedua kereta dikeluarkan, apakah mungkin dia bisa membawa kedua kereta itu berbarengan?

Dia memukul lagi dadanya.

Sewaktu dia sedang merasa menyesal dan marah kepada dirinya sendiri, dari dalam kegelapan muncul bayangan seseorang.

Dia sedang tertawa dingin kepadanya, tawanya terdengar oleh Guan Ning.

Guan Ning mencari-cari sumber suara itu, terlihat Shou E Tan Qing berada di sisinya.

Walaupun Guan Ning sudah melihat ada bayangan orang tapi hatinya terasa kosong.

Shou E Tan Qing dengan pandangan aneh melihatnya.

Pesilat pedang yang dari Zhong Nan itu tahu bahwa kakak-kakak seperguruannya yaitu Wu Yi Du Xing terbunuh di Wisma Si Ming.

Maka diapun segera berangkat ke utara, dia pergi ke kota Bei Jing untuk mengunjungi pemuda kaya yang membawa pulang pembunuh itu.

Tapi dia tidak tahu bahwa pemuda yang berada di depannya adalah orang yang dicarinya selama ini.

Tidak sengaja dia bertemu dengan musuh yang beberapa tahun lalu hampir membuatnya mati di Huang He karena dia tidak bisa berenang dan dia membalaskan dendamnya yang sudah lama tersimpan.

Dengan segala macam perkataan sinis dia berhasil membuat perempuan itu pergi walaupun masih turun salju.

Dalam waktu satu malam dia berhasil melakukan perbuatan yang dianggapnya menyenangkan.

Karena itu dia merasa hatinya sangat gembira, dia ingin mencari seseorang untuk berbagi kesenangannya.

Dia berhenti di depan Guan Ning dan berkata.

"Orang hidup di dunia hanya beberapa tahun, sewaktu kita lahir kita tidak membawa apa-apa, matipun tidak membawa apa-apa. Kau hanya kehilangan satu kereta kuda, tidak perlu sedih sampai seperti itu."

Dia melihat pemuda ini masih terus melihatnya, seperti tidak mendengar apa yang dikatakannya tadi. Dia mengerutkan dahi dan berkata.

"Anak muda, apakah kau mendengar kata-kataku tadi?"

Guan Ning menundukkan kepala dan berkata dengan suara kecil.

"Sekarang aku harus bagaimana?"

Dia benar-benar bingung.

Dia ingat besok dia berjanji dengan Wu Bu Yun.

Saat itu bagaimana harus berkata pada Wu Bu Yun?

Dia tidak mendengar Shou E Tan Qing bicara apa kepadanya.

Guan Ning terus berkata pada dirinya sendiri.

"Aku pantas mati, pantas mati...."

Shou E Tang Qing mengerutkan dahi kemudian tertawa, dari balik baju bagian dada, dia mengeluarkan uang emas yang tadinya diambil oleh Tie Jin Gang lalu berkata.

"Aku tidak menyangka kau masih begitu muda tapi begitu tidak bisa berpikir dengan luas, ambillah ini! Sekeping uang emas cukup untuk membeli sebuah kereta kuda lagi."

Suara tawanya membuat Guan Ning sadar. Dia melihat Shou E Tan Qing kemudian menggoyang kepalanya dan berkata.

"Aku tidak kenal Tuan, mengapa Tuan memberiku uang?"

Shou E Tan Qing tertawa terbahak-bahak.

"Memang betul aku tidak kenal denganmu. Aku juga tidak mencuri kereta kudamu, tapi uang emas ini kau ambil saja!"

Dia tertawa lagi dan berkata.

"Kalau bukan karena aku telah membuat Shen San Niang pergi dari sini, dia tidak akan pergi begitu terburu-buru. Apakah kau tahu semua karena apa?-ha, ha, ha! Dia takut dia akan terlambat tiba di sana dan orang itu akan terbunuh! Ha, ha, ha!-"

Dia sengaja menghembus nafas.

"Salju turun begitu lebat, seorang perempuan bila berjalan di malam hari,, benar-benar akan sulit."

Guan Ning melihatnya. Guan Ning tidak mengerti apa yang dibicarakan orang itu. Dia bertanya.

"Apa yang tuan maksud? Aku sangat bodoh, tidak mengerti sama sekali, apalagi dengan uang emas ini, aku tidak boleh mengambilnya begitu saja...."

Tawa Shou E Tan Qing berhenti. Dia memotong kata-kata Guan Ning dan berkata.

"Ambil saja uang ini. Kereta kudamu dibawa pergi oleh perempuan itu, walau bagaimanapun tidak bisa diambil kembali."

Guan Ning dengan terkejut bertanya.

"Apakah benar?"

Shou E Tan Qing mengangguk.

"Mengapa aku harus berbohong kepadamu?"

Dengan senang dia berkata.

"Apakah kau tahu siapa perempuan yang telah mengambil keretamu?"

Guan Ning menggelengkan kepalanya. Shou E Tan Qing berkata lagi.

"Perempuan itu dijuluki Jue Wang Fu Ren (Nyonya putus harapan), Shen San Niang! Di dunia persilatan ini jika bertemu dengan orang lain mungkin masih ada sedikit harapan. Tapi jika bertemu dengan dia-Hei, hei, hei! Semua harus mendengarkan aturannya, kita tidak mempunyai tenaga untuk melawannya karena itu orang-orang dunia persilatan memberi julukan Nyonya Putus Harapan kepadanya."

"Putus harapan...."

Guan Ning berpikir dengan seksama.

Dia gemetar, persoalan yang paling ditakuti adalah putus harapan.

Perempuan anggun dan lembut itu bernama Nyonya Putus Harapan.

Namanya sangat dingin.

Shou E Tan Qing tertawa lagi dan berkata.

"Ilmu silat dan ilmu rahasia Shen San Niang lebih tinggi dari siapapun, dia sangat pintar dan lincah. Yang membuat orang terkejut adalah apa yang sedang kau pikirkan, dia hampir bisa menebak semuanya dengan tepat, apa yang ingin kau katakan dia bisa membantumu mengungkapkannya, dia mempunyai seorang pelindung kuat. Orang itu bernama Xi Men Yi Bai. Dia adalah orang yang paling sadis dan paling dingin di dunia persilatan."

Begitu mendengar nama Xi Men Yi Bai, Guan Ning terpaku, dia seperti pernah mendengar nama ini tapi juga seperti tidak mengenalnya. Shou E Tan Qing berkata lagi.

"Selama beberapa tahun tidak pernah ada seorangpun yang bisa mengambil keuntungan dari Jue Wang FU Ren. Hei, hei-dengan beberapa kata aku berhasil membuatnya terkejut hingga wajahnya pucat hingga dia tega merampok kereta milik orang lain."

Dia tertawa senang mengakhiri percakapannya dengan Guan Ning dan uang emas itupun diberikannya kepada Guan Ning.

Sewaktu seseorang sedang merasa sangat gembira, dia pasti ingin membagikan kegembiraannya dengan orang lagin.

Pak tua sombong itupun melakukan hal seperti itu.

Tapi dia tidak tahu hati Guan Ning tidak akan ikut senang karena diberi uang emas itu.

Pemuda ini merasa kesal dan menyesal, hatinya terasa sangat kacau, dia tampak berpikir sebentar, tiba-tiba dia teringat pada nama Xi Men Yi Bai, yang tidak lain adalah nama pelajar berbaju putih itu, kecuali namanya, Guan Ning tidak mengetahui identitasnya yang lain.

Dia teringat setiap orang yang Guan Ning temui di dunia persilatan selalu mengatakan kalau Xi Men Yi Bai adalah orang yang dingin, kejam, juga tidak berperasaan.

Sekarang dia bisa menebak, kepergian Jue Wang Fu Ren Shen San Niang begitu tergesa-gesa ke Bei Jing karena dia mengkhawatirkan keselamatan Xi Men Yi Bai, dia juga takut Xi Men Yi Bai akan dicelakai oleh musuh-musuhnya.

Guan Ning teringat pada 2 pedang 1 golok, dan dua telinga manusia.

"Apakah semua ini adalah perbuatan musuh yang ingin membunuh Xi Men Yi Bai?"

Dia bertanya pada dirinya.

"Siapa yang mengusir mereka?"

Sekarang jika dengan kepala dingin dia bisa tepat melihat masalah, dia akan disebut pintar oleh orang lain.

Tapi Guan Ning sekarang mempunyai masalah yang sangat banyak, walaupun dia orang pintar tapi sekarang dia bingung.

Dia melihat tangannya yang sedang memegang satu tail uang emas, entah sejak kapan Shou E Tan Qing memasukkan uang itu ke dalam tangannya, dia tidak tahu.

Sekarang dia tidak mendengar tawa seperti orang gila lagi, semua tampak sepi dan sunyi.

Pesilat pedang Zhong Nan yang kurus itu entah sudah pergi ke mana.

Salju mulai turun.

Pundak Guan Ning dipenuhi dengan salju yang baru saja turun.

Tapi Guan Ning tidak berniat untuk membersihkannya, siapa yang bisa tahu bagaimana perasaan Guan Ning sekarang.

Shou E Ta Qing sudah terkenal selama puluhan tahun di dunia persilatan, dia hanya pernah gagal satu kali, kejadiannya adalah ketika di suatu tempat di dekat Huang He dan karena dia tidak bisa berenang, bertahun-tahun dia selalu teringat pada penghinaan ini, dia tidak pernah melupakannya walau hanya sehari.

Hari ini dia berhasil membalaskan dendamnya, apalagi dia juga telah menertawakan Nyonya Putus Harapan yang sedang sial, hatinya merasa gembira, setelah memberikan uang kepada Guan Ning, diapun langsung pergi.

Kota Wang Pin Gou walaupun letaknya dekat dengan kota Bei Jing, tapi tidak banyak orang yang lewat ke kota itu, karena itu kota ini tidak begitu makmur, apalagi sekarang sudah malam, di jalanan tidak tampak seorangpun, lampu sudah dipadamkan.

Penginapan itu terletak di ujung jalan, Shou E Ta Qing keluar dari pintu utama dan terus berjalan keluar kota itu.

Di malam musim dingin, dijalan yang sepi, jika bukan karena dia sudah terbiasa berkelana di dunia persilatan dan tidak mempunyai ilmu silat tinggi, siapapun tidak akan ada yang berani berjalan sendiri di tempat terpencil seperti ini.

Diam-diam dia tertawa sendiri kemudian dengan langkah besar dia berjalan.

Walaupun tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh, tapi kecepatan larinya bisa mengagetkan orang.

Apalagi sekarang hatinya mulai merasa senang dan tenang, langkahnya seperti berjalan di atas awan.

Hanya dalam waktu sekejap dia sudah berjalan sejauh 1 kilometer lebih, tapi langkahnya semakin melambat, walaupun dia seorang pesilat tangguh, tapi berjalan di malam hari seperti itu bukan hal yang mudah.

"Aku berjalan begini tergesa-gesa, untuk apa aku berjalan seperti itu?"

Diam-diam dia menertawakan dirinya sendiri, karena itu langkahnya mulai melambat.

Tiba-tiba dia melihat ada sebuah rumah di kejauhan setelah dia melihat kedua tangannya digerakkan, dia secepat kilat berlari ke arah rumah itu.

Setelah beberapa kali dia berjalan turun dan naik, dia sudah masuk ke dalam hutan, rumah itu tidak begitu besar tapi terlihat cukup mewah dan indah.

Shou E Ta Qing tertawa, dia berpikir.

"Perkiraanku tidak meleset, ternyata sebuah kuil."

Karena itu dia tidak berpikir panjang lagi dia segera meloncat masuk dari tembok yang sudah ambruk, dia juga mengeluarkan sebatang korek api dan kemudian terlihat cahaya redup.

Tapi....

Terlihat ada sedikit cahaya lain dari sudut dinding terdengar suara orang yang mendatanginya, terdengar suara orang tua mengikuti suara langkah, dengan nada malas-malasan dia berkata.

"Sudah jam 2 dini hari, mengapa langit tampak masih gelap, Heehh-malam musim dingin, langit terang selalu lama!" (Oo-dwkz-lav-oO) Guan Ning yang masih memegang uang dan terpaku melihat salju yang terus turun, tiba-tiba terdengar suara gembreng penjaga malam, mendengar suara itu dia merasa terkejut, dia ingin bersembunyi ke dalam ruangan tadi tapi dia sudah mendengar penjaga malam membentak.

"Siapa? Mengapa malam-malam berdiri di tempat seperti ini?"

Guan Ning menghela nafas.

Dia tahu dia akan menemui masalah lagi.

Dia takut penjaga malam akan melihat ada 2 mayat di keretanya.

Perlu diketahui bahwa Guan Ning lahir dari keluarga kaya, dia tidak berani melakukan perbuatan yang melanggar hukum.

Walaupun bukan dia yang membunuh kedua orang itu, tapi dia takut dia akan dicurigai.

Perasannya memang berbeda dengan orang-orang dunia persilatan, jika Guan Ning adalah Tie Jin Gang, mungkin penjaga malam itu sudah dibunuhnya.

Begitu ada orang yang menyahut dan keluar, dia mengerutkan badannya dia mengenakan mantel tebal dan sudah usang, tangannya memegang lampion, dia adalah seorang penjaga malam yang sudah tua, dengan mata tuanya dia melihat Guan Ning lalu bertanya.

"Anak muda, malam-malam begini kau sedang melakukan apa? Kau sudah berjanji dengan siapa? Heehh-kelakuan anak muda memang seperti kucing malam. Apakah kau sama seperti diriku takut tidak bisa hidup lama sehingga pada malam hari tidak berani tidur?"

Kata-kata orang tua itu terdengar hangat dan sikapnya tampak bersahabat, Guan Ning merasa ada orang yang begitu baik dan bersahabat kepada orang lain.

Melihat dia yang bersikap seperti itu, Guan Ning menjadi tidak curiga pada orang tua itu.

Dia tertawa seakan-akan berterimakasih, dia segera teringat sesuatu dan diapun bertanya.

"Pak tua, ada seorang teman yang tiba-tiba mendapatkan penyakit, dia ingin pergi ke Miao Feng Shan untuk berobat. Apakah Anda tahu jalan mana yang harus ditempuh menuju Miao Feng Shan?"

Penjaga malam tua itu menyahut.

"Oh!"

Dia menyinari kereta dengan lampionnya, hati Guan Ning berdebar-debar, dia takut sinar lampion itu akan menyinari kedua mayat yang ada di bawah kereta.

Guan Ning tidak tahu kalau mata orang tua ini sudah tidak bisa melihat jauh lagi.

Di malam hari yang begitu gelap, menyuruhnya melihat sejauh 2-3 meter, ditambah dengan 2-3 lampion juga belum tentu dia bisa melihat ke dalam kereta kuda yang gelap.

Terlihat pak tua ini terus menyinari lampionnya ke dalam kandang kereta kuda kemudian dia berkata.

"Apakah di dalam sana ada sebuah kereta kuda? Hehhh-Kudanya masih terpasang di kereta, ternyata malam-malam begini kau masih ingin pergi ke Miao Feng Shan. Miao Feng Shan sudah tidak jaUh dari sini, keluarlah dari kota ini lalu ambil jalan ke sebelah barat, kira-kira sejauh 1 kilometer dari sana kau harus berbalik ke utara. Sebelum pagi tiba kau pasti sudah sampai di Miao Feng Shan. Tapi.... mengapa aku tidak pernah tahu kalau di Miao Feng Shan ada seorang tabib?"

Kemudian gembreng itu dipukulnya lagi. Pak tua itu tampak menggelengkan kepala, dengan terseok-seok dia pergi dari sana. Sambil menggelengkan kepala dia mengeluh.

"Masih muda tubuh pastinya lebih sehat dariku, meskipun malam dan gelap, dia masih berniat akan pergi...."

Guan Ning melihat bayangan pak tua yang pergi dari sana, dia melihat kehidupan pak tua yang begitu biasa, dia merasa kasihan.

Tapi dia berpikir lagi, walaupun kehidupan pak tua itu sangat biasa tapi dia merasa senang dan mantap melangkahkan kakinya, dia tidak membenci orang-orang juga tidak merasa malu kepada Tuhan, karena dia merasa bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

"Tapi, sekarang aku harus bagaimana?, dia menunduk dan berjalan ke halaman, dia berjalan ke arah keretanya, sekarang dia lebih menginginkan kalau perempuan tadi yang membawa kereta ini, sekarang dia mulai merasa bersalah kepada orang-orang yang ada di dunia ini. Dia naik ke atas kereta, pecut dibunyikan. Kuda meringkik, rodapun mulai berputar.... Kereta berjalan dengan cepat, dia keluar dari kuil itu dan memasuki jalan yang tampak gelap, suara roda berputar memecah kesunyian malam. Guan Ning menegakkan dadanya, menarik nafas panjang, angin dan salju berjatuhan menimpa wajahnya, rasa dingin yang menusuk mengembalikan pikirannya yang sempat tenggelam, karena itu keretapun berjalan lebih kencang. Dia terus memperhatikan jalanan di sana, tangan kirinya memegang tali kekang kuda, tangan kanan memegang pecut, dengan tangannya dia menahan terpaan salju yang terus turun, karena salju-salju itu menghalangi penglihatannya, malam begitu gelap ingin mengenali arah jalan adalah hal yang sulit. Tiba-tiba.... ada bayangan dengan tergesa-gesa keluar dari jalan itu, tangannya melambai, sepertinya dia ingin menghentikan kereta itu. Kedua alis Guan Ning tampak bertaut sedikit ragu, keretanya berjalan melewati orang itu dia merasa ragu apakah dia berhenti atau meneruskan keretanya, akhirnya dia memutuskan untuk menghentikan kereta, begitu kereta berhenti terdengar orang itu terus merintih. Guan Ning membalikkan badannya untuk melihat, orang itu berusaha berjalan tapi akhirnya roboh, di dalam kegelapan Guan Ning sempat melihat bentuk orang itu. Dia benar-benar terkejut-orang itu terluka parah dan tak lain adalah pak tua kurus tadi, Shou E Tan Qing. Dengan kaget Guan Ning segera turun dari kudanya, mereka bukan teman, tapi sifat Guan Ning memang seperti itu, begitu melihat ada orang yang terkena musibah, walaupun mereka tidak saling kenal, tapi dia pasti akan segera menolong orang itu. Apakah dia akan mengalami bahaya atau tidak, Guan Ning tidak pernah mau berpikir jauh. Shou E Tan Qing merintih kemudian dia berusaha mengangkat kepalanya, sekarang terlihat dengan jelas orang yang berdiri di hadapannya adalah pemuda yang terus bengong tadi. Guan Ning sudah memapah pak tua itu. Dengan cemas dia bertanya.

"Tetua, Anda terluka! Dimana Anda terluka di mana?"

Shou E Tan Qing menghembus nafas panjang, dia bersandar di tubuh Guan Ning.

Apa yang Guan Ning tanyakan, dia hanya menjawab dengan gelengan lemah, sampai sekarang Guan Ning belum tahu tetua itu terluka karena apa?

Guan Ning terpaksa menggendongnya masuk ke dalam kereta dan meletakkannya di sisi Xi Men Yi Bai, jika mata Shou E Tan Qing masih bisa melihat dengan jernih dan otak masih bisa berpikir dengan jelas, dia pasti bisa mengenali wajah orang yang ada di sisinya, malah mungkin akan meloncat bangun.

Tapi sekarang dia merasa tubuhnya sudah lemas dan rasa itu terus menyerang ke arah jantungnya, nasib orang memang seperti itu, aneh dan kejam, nasib bisa membuatmu mencari orang yang ingin kau cari, tapi dia juga membuatmu bertemu dengan orang yang tidak ingin kau temui.

Dari luar kereta itu terlihat sangat biasa, tapi di dalam sangat bagus, empat sudut kereta terpasang lampu kecil, Karena Guan Ning merasa bingung maka lampu belum sempat dinyalakan.

Kali ini dia keluar rumah, bertekad akan berkelana di dunia persilatan, maka dia mempersiapkan segala keperluannya dengan sangat sempurna, sekarang dia mengeluarkan sebatang korek api, menyalakan keempat lampu kecil yang terletak di sudut kereta, kereta terlihat sangat terang.

Karena sinar terang membuat Shou E Tan Qing yang matanya masih terbuka sedikit langsung dipejamkan.

Guan Ning melihat baju orang tua ini masih rapi, tidak ada bekas darah, hanya saja wajahnya terlihat pucat, nafasnya terdengar lemah, hatinya bergejolak.

"Apakah diapun sudah terkena racun?"

Dia melihat wajah pak tua ini seperti keram, kemudian wajahnya yang pucat berubah menjadi hijau, sinar lampu yang redup menyinari wajahnya yang terlihat begitu menakutkan.

Hati Guan Ning menjadi dingin, terdengar pak tua itu berteriak kesakitan.

Tiba-tiba dia menepuk dadanya kemudian mencengkram mantelnya.

Kedua tangannya tampak melayang, terdengar suara CES, dia merobek mantel kulitnya menjadi 2 bagian.

Angin masuk melalui celah pintu kereta dan meniup kapas yang keluar dari mantel.

Kulit rubah berwarna krem, di dadanya yang kurus terlihat ada 5 titik bekas darah yang tidak begitu jelas.

Guan Ning merasa kaget, dia melihat kelima titik noda darah yang tidak begitu jelas itu, muncul 5 titik jarum berwarna hitam, ujung jarum yang sangat tajam.

Jarum sangat kecil, lebih kecil dari jarum sulam, tapi jarum sekecil itu bisa menembus mantel dan menancap di permukaan kulit.

Benar-benar membuat Guan Ning tidak mengerti.

Guan Ning dengan bengong melihat kelima titik itu, dia teringat sewaktu di jembatan Si Ming, senjata rahasia yang dilihat pada saat menyerangnya, dia teringat pada kata-kata Pendeta Wu Dang berbaju biru.

".... menurut tebakan pendeta berbaju biru, pada saat di jembatan Si Ming ada senjata rahasia yang menyerangnya dan itu adalah senjata rahasia terkenal milik E Mei Bao Nang. Di dalam kantong milik E Mei Bao Nang terdapat 7 senjata rahasia yang paling ganas racunnya, dan salah satunya adalah Luo Hou Shen Zhen...."

Guan Ning berteriak.

"Apakah semua ini karena Luo Hou Shen Zhen?"

Tubuh Shou E Tan Qing bergetar, entah datang tenaga dari mana, tiba-tiba dia memberontak bangun dan dengan kaget berkata.

"Benar aku adalah Shou E Tan Qing.... aku tidak menyangka di dalam kuil ada 2 orang bersaudara itu...."

Dia mengerutkan dahinya dan berkata.

"Aneh, mdngapa 2 bersaudara itu bisa datang ke sini dan bersembunyi di dalam kuil...."

Kata-katanya berhenti, sorot matanya mengeluarkan sedikit cahaya berkilau. Guan Ning bertanya.

"Di mana Tetua telah bertemu dengan mereka? Mengapa Tetua bisa terkena senjata rahasia mereka?"

Karena Guan Ning selalu menganggap orang yang patut dicurigai dalam persitiwa di Wisma Si Ming adalah 2 bersaudara E Mei Bao Nang maka begitu mendengar nama mereka, dia terus bertanya.

Shou E Tan Qing berbaring lagi dan berkata.

"Aku tidak tahu itu mereka, mungkin mereka juga tidak tahu kalau yang datang ke kuil itu adalah aku...."

Ternyata....

Baru saja dia masuk melalui dinding yang ambruk itu dan menyalakan sebatang korek api.

Di dalam kuil yang gelap terdengar ada yang tertawa dingin.

Walaupun Shou E Tan Qing sudah lama berkelana di dunia persilatan, tapi begitu mendengar suara tawa itu dia bergidik karena kaget lalu berhenti melangkah.

Tawa itu berhenti.

Tapi di dalam deru angin masih terdengar sisa tawa seram itu.

Pergelangan Shou E Tan Qing bergetar.

Korek api langsung dilemparnya, korek api jatuh melewati jendela kuil dan masuk ke dalam kuil itu.

Tubuhnya yang kurus ikut masuk ke dalam.

Tiba-tiba di dalam ruangan terdengar suara dingin seseorang yang berkata.

"Teman, jangan khawatir, aku tidak akan mati."

Shou E Tan Qing masuk melalui jendela, dia mengumpulkan semua tenaga dalamnya.

Waktu itu dari dalam kegelapan muncul benda tajam tapi lembut yang terbawa oleh suara angin.

Shou E Tan Qing membentak, sebelah tangannya memegang kusen jendela, lalu dia mundur ke dekat jendela, gerak refleksnya sangat cepat.

Begitu kakinya menapak tanah, dia merasa dadanya dingin dan ada sesuatu yang lain, dia mundur lagi untuk mengambil nafas, ternyata dadanya mulai terasa kaku.

Dia membentak.

"Aku tidak ada dendam denganmu, mengapa kau melukaiku dengan senjata rahasia?"

Karena marah dan tergesa-gesa, suaranya terdengar serak, dari dalam kegelapan terdengar ada yang berkata lagi.

"Apa? Senjata rahasia hingga melukaimu.... Aku ingin kau merasakan bagaimana dengan cara licik kau dilukai orang."

Shou E Tan Qing tahu ini merupakan sebuah kesalah-pahaman, dia merasa aneh mengapa orang yang membokongnya tidak mau menampakkan diri, maka dia keluar lagi melalui jendela, baru saja dia bergerak, dia langsung mundur karena sewaktu dia sedang mencoba mengambil nafas, dia merasa dadanya kaku, hanya dalam waktu sekejap rasa itu sudah menyebar ke seluruh badannya.

Sudah lama dia berkelana di dunia persilatan, senjata rahasia yang begitu ganas baru pertama kali dilihatnya, karena itu perasaannya menjadi dingin, dia takut orang itu akan terus mengikutinya dari belakang.

Semenjak nama Shou E Tan Qing terkenal, ini adalah pertama kalinya dia kalah dengan begitu menyedihkan, sampai-sampai bayangan orang itu tidak bisa dilihatnya, bahkan dia tidak tahu apa alasan orang itu melepaskan senjata rahasia kepadanya.

Di tempat begitu gelap dia telah bertemu dengan musuh yang sosoknya seperti setan, dia terkena senjata rahasia yang belum pernah didengar dan dilihatnya, walaupun selama ini dia sangat sombong, tapi sekarang dia hanya merasa hatinya dingin, dia hanya bisa berharap sebelum racun itu menyebar, dia bisa mendapatkan cara untuk menyelamatkan dirinya.

Begitu sampai di sisi jalan, ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sudah tidak bisa dia kerahkan lagi.

Dengan terengah-engah dia mencoba duduk, dia marah juga kaget, dia ingin orang yang bersembunyi di dalam kuil keluar, supaya dia bisa melihat siapa orang yang telah melukainya dan menanyakan kepadanya secara langsung mengapa orang itu tanpa sebab menyerangnya dengan senjata rahasia, walaupun dia akan mati, tapi dia tidak akan mati penasaran.

Waktu itu Guan Ning sedang lewat di sana, karena mendengar ada suara kereta, timbul harapan hidup dalam hatinya, karena itu dengan sekuat tenaga dia berusaha meloncat keluar untuk menghentikan kereta, sekarang setelah melihat luka di dadanya, harapan hidupnya lebih besar lagi.

Perkumpulan Zhong Nan dan Si Zhuan Tang Men tidak mempunyai dendam apapun dengannya, malah hubungan mereka cukup baik, karena itu dia yakin semua ini pasti telah terjadi kesalah-pahaman.

"Jika dua bersaudara itu tahu bahwa aku adalah Shou E Tan Qing mungkin mereka akan memberikan obat penawarnya."

Karena itu dia menghembus nafas berusaha untuk duduk dan berkata.

"Di sisi jalan sana ada sebuah kuil, harap Saudara bisa mengantarkanku ke sana-Maaf, aku merepotkan Saudara, ini benar-benar terpaksa kulakukan, harap Saudara bisa membantuku, kelak aku pasti akan membalas budi Saudara."

Demi bertahan hidup, pak tua yang sombong dan dingin ini menganggap pemuda yang asing yang ada di depannya sebagai saudara dan mengeluarkan kata-kata memohon.

Mata Guan Ning terus menatap pak tua ini, barusan dia masih terlihat begitu cerita, sekarang dia hanya seorang tua yang hampir mati, hati Guan Ning benar-benar sedih.

Hari belum terang, tapi sebentar lagi akan terlihat terang.

Perjanjiannya dengan Wu Bu Yun untuk bertemu di Miao Feng Shan mengharuskan dia segera pergi ke Mao Jia Lao Dian, tapi dia tidak tega menolak permintaan orang tua ini.

Apalagi.

dia sebenarnya ingin bertemu dengan E Mei Bao Nang, karena itu dia segera mengangguk setuju dan berkata, Tetua, Anda tenang saja, aku bukan orang yang tidak akan menolong Tetua.

Tapi-apakah E Mei Bao Nang bila telah melukai orang masih akan tetap berada di kuil itu?"

Shou E Tan Qing diam ,tidak bisa menjawab.

Si Zhuan Tang Men sangat terkenal di dunia persilatan dengan andalan senjata rahasia mereka yang khusus, kecuali obat penawar yang diwariskan secara turun menurun tidak ada orang yang bisa menawarkan racun mereka, dalam waktu 1 jam racun itu akan menyebar ke seluruh tubuh dan akan segera mati.

Jika Shou E Tan Qing tidak bertemu dengan 2 bersaudara Tang di sana maka dia akan mati.

Dia diam kemudian menghembus nafas lalu berkata lagi.

"Kita akan berusaha, apakah ini akan berhasi atau tidak, semua tergantung pada Tuhan.... aku harus mengadu nasib."

Guan Ning dengan teliti memeriksa keadaan Shou E Tan Qing.

Dia melihat ada sebuah jalan kecil untuk memasuki hutan itu dan j alam ini penuh dengan rumput liar.

Karena itu dengan pelan Guan Ning membawa keretanya, tidak lama terlihat ada sebuah rumah di depan.

Diam-diam dia mengulangi kata-kata yang diajarkan Shou E Tan Qing.

Kemudian dengan langkah besar dia berjalan menuju pintu yang terlihat akan runtuh itu.

Dia berkata.

"Tadi Zhong Nan Shou E Tan Qing tidak tahu bahwa kedua pendekar ada di sini karena itu dia langsung masuk dan langsung terkena Luo Hou Shen Zhen yang dmiliki kedua pendekar. Harap Anda bisa mengingat kembali hubungan kalian. Berikanlah obat penawarnya untuk menyelamatkan nyawa Tetua Shou E Tan Qing."

Karena dia sudah mempelajari tenaga dalam dan sudah berada pada tingkat lumayan maka suaranya bisa menembus hingga ke tempat jauh.

Tapi-di dalam kuil yang gelap itu tidak terdengar suara apapun.

Guan Ning mengerutkan dahi.

Dia berteriak.

"Aku adalah teman Zhong Nan Shou E Tan Qing, harap kalian bisa memenuhi permintaanku. Sekarang Pendekar Tan terluka sangat parah, jika terpaksa, aku akan masuk."

Dengan langkah besar dia masuk ke dalam kuil itu, dia merasakan ada daun-daun dan ranting-ranting yang terinjak olehnya dan hanya terdengar suara salju yang turun menerpa atap kuil, setiap langkahnya membawa suara.

Suara injakan daun dan suara angin bercampur menjadi satu, membuat perasaan siapapun akan menjadi takut, tapi Guan Ning tetap menegakkan dadanya dan terus berjalan masuk, di tangga masuk ke sebuah ruangan, dia menyalakan korek api yang dibawanya lalu terlihat tirai dan papan nama jatuh tidak teratur dan keadaan di sana sangat kotor, usang, dan tidak terurus.

Ada 2 buah patung Budha yang catnya sudah terkelupas.

Guan Ning merasa putus asa dan tanpa terasa dia menghembuskan nafas, ternyata Tang bersaudara telah pergi dari sini, diapun ingin segera meninggalkan tempat ini, dia siap membalikkan badan ingin pergi dari sana.

Tiba-tiba....

Dari dalam ruangan terdengar suara seram dan dingin yang membentaknya.

"Tetap berdiri di sana!"

Guaii Ning terkejut, dia merasa ada hawa dingin menusuk hingga ke tulang-tulang di seluruh tubuhnya, hanya dalam waktu singkat rasa itu sudah sampai di punggungnya, sekali lagi dia menolehkan kepala untuk melihat, dari balik tirai usang muncul seseorang dengan perlahan.

Orang itu sangat tinggi tapi kurus, badannya seperti tulang belulang.

Rambutnya berantakan tapi dia memakai baju berwarna ungu yang mewah.

Pinggang terikat tali pinggang sutra, tapi di pinggang sebelah kiri terlihat ada bekas darah.

Karena bajunya berwarna ungu jika tidak memperhatikan dengan seksama maka tidak akan terlihat jelas.

Di sini Guan Ning telah bertemu dengan orang yang terlihat begitu misterius.

Jika dalam waktu setengah tahun dia tidak sering bertemu dengan berbagai macam orang yang selalu membuatnya kaget, mungkin sekarang ini dia akan lebih terkejut sehingga tidak bisa berjalan.

Guan Ning berdiri tidak bisa bergerak, tampak tangan orang itu memegang tirai usang, sedang tangan yang lainnya memegang pinggangnya yang terluka, dengan perlahan dia keluar dari sana, langkahnya begitu berat.

Wajahnya pucat seputih kertas, hanya terlihat sepasang matanya mengeluarkan cahaya berkilau, tapi disinari oleh lampu redup membuat siapapun yang melihatnya akan merasa takut.

JDia melihat Guan Ning dari atas ke bawah.

Dari kepala sampai ujung kaki, akhirnya pandangan mereka bertemu.

Hati Guan Ning segera bergetar, karena dia seperti pernah melihat orang itu.

Tapi setelah dilihat lebih teliti lagi sepertinya dia tidak kenal.

Dia mencoba untuk mengingatnya, akhirnya terpikir juga olehnya, ternyata orang itu adalah mirip orang yang tiba-tiba keluar dari pondok yang ada di Wisma Si Ming dan orang yang telah membunuh Nang Er, dia sangat mirip dengan orang aneh itu.

Dia masih terus berpikir.

Orang aneh ini telah melihatnya dan berkata.

"Masuklah!"

Guan Ning mengikuti perintahnya, terlihat sorot mata orang itu mengikuti gerakan Guan Ning, sorot matanya seperti mengandung hawa dingin yang membuat orang ketakutan, membuat orang tidak berani melihatnya secara langsung.

Guan Ning sedang bertanya-tanya dalam hati, orang aneh ini pelan-pelan duduk, tirai usang dan tipis mengikuti gerakan tubuhnya menjadi tersobek dan terjatuh ke bawah.

Kemudian Guan Ning melihat di balik tirai di dekat meja sembahyang terlihat pak tua yang mengenakan baju berwarna ungu dan dia sedang duduk bersila.

Tinggi badan mereka tidak jelas tapi orang yang duduk di bawah melihat dia lebih tinggi dari orang biasa, kira-kira lebih satu kepala.

Berarti dia adalah orang yang sangat tinggi.

Segera Guan Ning menebak kalau mereka adalah E Mei Bao Nang.

"Tapi mengapa pak tua yang pertama muncul, pinggangnya kosong tidak membawa apapun?"

Guan Ning teringat pada perkataan Kun Lun Huang Guan, Pendeta Qi Tian, segera dia terpikir.

"Dua bersaudara E Mei Bao Nang pasti pernah pergi ke Wisma Si Ming, barang mereka hilang dan orang-orang yang datang ke pesta di Wisma Si Ming kehilangan nyawa, hanya mereka yang masih hidup, jika mereka bukan pembunuhnya, apa yang harus dijelaskan?"

Guan Ning terus berpikir.

"Orang aneh yang tiba-tiba keluar dari pondol itu sekilas memang mirip dengan kedua orang ini. Tapi setelah melihat mereka dengan lebih teliti mereka tidak sama! Kalau begitu siapakah orang aneh itu?"

Kedua pertanyaan itu terus memutar dalam otak Guan Ning, tapi dia tidak bisa mendapatkan jawabannya. Orang tua yang sedang duduk bersila itu berkata.

"Shou E Tan Qing, apakah benar dia telah terkena Luo Hou Shen Zhen dan sedang menunggu di luar?"

Guan Ning menjawab dengan serius.

"Betul!"

Pak tua ini seperti menarik nafas kemudian dia membalikkan kepalanya untuk melihat saudaranya. Pelan-pelan dia berkata.

"Lao Da, sekarang kita harus bagaimana? Shou E Tan Qing teman kita, kali ini kita sudah salah sasaran, sehingga membuatnya terluka. Apakah kita harus mengobatinya?"

Walaupun suaranya perlahan tapi tidak terputus.

Guan Ning melihat dia sedang terluka parah tapi masih bisa bicara begitu lancar.

Dia terkejut.

Nama E Mei Bao Nang pantas disebut sebagai orang terkenal di dunia persilatan.

Pak tua yang dipanggil Lao Da itu terlihat lukanya lebih berat.

Dia memejamkan mata.

Lalu berkata.

"Luka oleh senjata marga Tang bisa kita obati, sekarang kita terluka tapi siapa yang bisa mengobati kita?"

Suaranya benar-benar dingin, dia lebih kejam. Guan Ning berpikir.

"Pantas 2 bersaudara ini disebut Qi Hai Shuang Sha oleh kalangan persilatan jika dilihat lagi senjata rahasia mereka penuh dengan racun. Sifat merekapun seperti racun, dengan sifat mereka seperti itu, peristiwa yang terjadi di Wisma Si Ming hanya mereka yang tega melakukannya."

Karena itu Guan Ning merasa membenci mereka tapi Lao Da Tang Qi, E Mei Bao Nang menarik nafas panjang dan berkata dengan perlahan.

"Marga Tan tanpa sebab telah terkena jarum beracun kita. Jika dia mati, aku merasa tidak enak."

Matanya terbuka secepat petir dan melihat kepada Guan Ning dan berkata.

"Bawa dia kemari!"

Guan Ning diam-diam menghembuskan nafas supaya menetralkan hatinya yang merasa aneh tapi dia juga berpikir.

"Kenapa kedua orang itu tiba-tiba bisa memiliki perasaan?"

Tapi karena sejak awal dia memang tidak menyukai kedua orang itu maka diapun tidak banyak berbuat sopan santun, segera dia mengangguk dan tanpa bicara Guan Ning segera berjalan keluar.

Dua bersaudara E Mei Bao Nang dengan bengong melihat Guan Ning yang menghilang sambil membawa lampu, ruangan itu kembali gelap.

Lao Er Tang Gu tiba-tiba berkata.

"Pemuda ini bertekad kuat, sewaktu dia melihat kita yang tidak mau mengobati Shou E Tan Qing, hatinya marah, tapi-hai! Dia tidak tahu kalau luka kita lebih parah dan kita tidak tahu mengapa kita bisa terluka."

Jawab Lao Da Tang Qi dengan dingin.

"Itu yang disebut dengan karma. Mungkin tangan kita berlumuran darah dan selama ini kita tidak pernah terkena karma, hari ini bisa tiba-tiba muncul dua orang yang ingin membunuh kita-Lao Er, bagaimana perasaanmu sekarang? Aku-aku tahu aku tidak akan bisa hidup lebih lama lagi. Kalau kau masih bisa berjalan, kau pergilah sendiri!"

Tang Gu merasa marah dan berkata.

"Lao Da, apa yang kau bicarakan? Kita adalah saudara, matipun harus bersama, apalagi kita hanya terluka ringan, belum tentu kita akan mati."

Dua bersaudara ini sedang membicarakan hidup dan mati, walaupun nada bicara mereka dingin tapi mereka tidak terlihat seperti orang yang sedang terluka dan hampir mati.

Tang Gu menarik nafas panjang, dia memejamkan matanya lagi, walaupun mereka bersaudara tapi pada saat mengobrol, nada bicara merekapun masih terdengar sangat dingin, padahal hubungan mereka memang sangat erat.

Tang Gu mengatakan kalau mereka tidak akan mati, sebenarnya dia sadar bahwa diapun tidak ada harapan lagi, mereka tetap mengobrol.

Luka dua bersaudara ini tampak lukanya terkena tusukan pedang di pinggang, sedangkan yang satunya terluka di sisi perut.

Kedua tempat ini adalah tempat fatal, jika bukan karena 2 bersaudara ini memiliki ilmu silat tinggi mungkin sejak tadi mereka sudah mati.

Guan Ning memapah Shou E Tan Qing memasuki kuil, sebelah tangannya membawa lampu, yang lainnya memegang Shou E Tan Qing, dengan cepat mereka masuk ke dalam kuil.

Tang Gu mendengar mereka masuk.

Matanya tetap tidak dibuka.

Dia mengeluarkan sebuah botol kecil dan dilemparkan ke arah Guan Ning lalu berkata.

"Separuh obat ini ditelan, dan separuhnya ditempel pada lukanya."

Botol kecil itu terbang ke arahnya.

Guan Ning menyambutnya, pergelangan tangannya terasa bergetar karena tenaga dalam Tang Gu masih besar.

Guan Ning merasa aneh, dia sudah terluka begitu parah, tapi masih mempunyai tenaga begitu besar.

Sambil berpikir dia meletakkan lampu di atas meja sembahyang yang ada di dekat Tang Gu.

Shou E Tan Qing hampir tidak sadarkan diri, tapi dia masih berusaha bicara.

"Aku Tan Qing bila masih bisa hidup tidak akan melupakan budi kalian...."

Tang Gu tertawa dingin dan berkata.

"Kau mau ingat atau melupakannya, itu tidak menjadi masalah bagi kami, karena kami juga tidak akan hidup lebih lama lagi, keculai kalau sekarang kami bisa mendapatkan obat dari Tai Hang Ci Xue, yang bernama Xu Ming Shen Gao (Obat sakti penyambung nyawa) mungkin kami masih bisa-"

Kata-katanya belum selesai di luar terdengar tawa ceria.

Mereka secara bersama-sama menoleh, terlihat di luar pintu ada 2 orang pak tua berbaju mewah, begitu melihat sosok mereka, Guan Ning segera berteriak dengan suara kecil.

Tapi wajah 2 bersaudara E Mei Bao Nang yang dingin terlihat senang.

(Oo-dwkz-lav-oO) BAB 9 .

Bertemu teman perempuan Dua pak tua berbaju mewah baru saja masuk dan tampak mereka terus tertawa.

Pak tua tinggi itu tertawa dan berkata.

"Tidak disangka kami berdua yang sedang mengejar orang malah menjadi dewa penolong kalian. Kakak Tang, 10 tahun kita tidak bertemu. Kalian pasti tidak menyangka kalau datang tepat pada waktunya."

Mereka berdua tidak lain Tai Hang Zi Xue, Le Shan dan Le Shui.

Baru membahas tentang Xu Ming Shen Gao, obat itu sudah ada di depan mereka.

Tawa kedua pak tua itu tiba-tiba berhenti, mereka pelan-pelan mendekati Guan Ning.

Tiba-tiba dia menjulurkan tangannya, jari tangannya bergerak dengan cepat menotok nadi di pundak Guan Ning.

Serangan yang dilancarkan begitu tiba-tiba membuat Guan Ning terkejut, dia mencoba melambaikan tangan untuk menahan serangan tapi telapak Le Shan yang sudah sampai di tengah-tengah dibalikkan, dan botol kecil yang dipegang oleh Guan Ning sudah diambilnya.

Melihat keadaan seperti itu Shou E Tan Qing membentak tapi dia tidak bisa berbuat banyak.

Pak tua Le Shui tidak mempunyai maksud jahat terhadap Guan Ning, dia hanya main-main saja, setelah berhasil mendapat botol kecil itu dia tidak segera mengembalikannya sambil tertawa.

Guan Ning marah dan membentak.

"Anda kenapa....?"

Pak tua Le Shui tertawa.

"Apakah kau tahu mengapa tiba-tiba aku datang ke sini? Aku terus menguntitmu, kami di kota Wang Pin Kou menunggumu selama 1 jam, setelah itu baru melihat keretamu keluar dari penginapan, kami terus menguntitmu dari belakang, kami bukan dewa, kami tidak tahu kalau Tang Lao Da dan Tang Lao Er sudah terluka."

Tang Qi dan Tang Gu berpikir.

"Ini benar-benar berkat bagi kita, tadi aku sudah menolong Tan Qing, sekarang ada orang yang datang menolongku, kalau aku tidak menolong Tan Qing, mungkin kedua pak tua ini tidak akan mau menolongku. Tapi-mengapa tiba-tiba dia merebut botol kecil dari pemuda itu?"

Guan Ning mengerutkan dahi. Dengan marah dia berkata.

"Aku tidak kenal dengan kalian berdua mengapa kalian terus menguntitku, untuk apa semua? Obat yang ada di dalam botol kecil itu untuk menolong Tetua Tan, untuk apa kalian merebutnya?"

Guan Ning tahu kalau ilmu silat kedua pak tua tinggi sekali, dia pasti tidak akan bisa melawan mereka tapi Guan Ning merasa dia berada di pihak yang benar, karena itu dia sama sekali tidak takut.

Pak tua Le Shui berhenti tertawa, pelan-pelan dia berkata.

"Pertanyaan yang bagus, aku akan memberitahumu, aku terus menguntitmu untuk menyelidiki apakah temanmu yang datang bersama denganmu, yang bernama Wu Bu Yun masih bersamamu atau kau telah berbohong kepada kami. Aku mengambil botol ini dan meminta kau bicara dengan jujur kepada kami."

Guan Ning bingung, untuk apa kedua orang tua ini terus mencari-cari Wu Bu Yun?

Apakah hanya untuk membalas dendam?

Tapi umur mereka begitu jauh, identitas mereka saja tidak sama.

Guan Ning terdiam kemudian berkata.

"Jika Anda ingin mencari Wu Bu Yun, kalian berdua cari saja sendiri! Mengapa harus mengancamku? Bukankah hal ini malah memalukan kalian berdua?"

"Apalagi Wu Bu Yun dan aku bukan teman, apa yang kalian tanyakan, maaf aku tidak bisa menjawabnya."

Pak tua Le Shui tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Kau marah tidak salah, tidak salah, tapi aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, kau dan Wu Bu Yun datang bersama-sama tapi sekarang kau malah tidak tahu dia berada di mana, jika kau ingin membohongi orang lain itu masih bisa, tapi jika ingin membohongiku. Hei, hei, hei, rasanya tidak mungkin-Tanyakan pada dunia persilatan apakah ada orang yang bisa menipuku?"

Mungkin pak tua Le Shui adalah orang terkenal di dunia persilatan.

Dia dan Le Shan adalah kakak beradik, mereka sama-sama marga Le tapi namanya tidak seperti ini.

Sekarang dia mengatakan sulit untuk menipunya, memang terdengar sedikit sombong tapi itu memang kenyataan.

Karena 2 bersaudara Tang itu ingin mendapat bantuan darinya, maka mereka secara bersamaan mengangguk, walaupun Shou E Tan Qing tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi dia tetap menjawab.

"He."

Karena sekarang dia mulai merasa kepalanya semakin pusing dan seakan-akan setiap saat bisa pingsan. Pak tua Le Shui melambai-lambaikan botol obat itu dan dia tertawa lagi.

"Jika kau tidak mau mengatakannya, kau akan mengorbankan nyawa Pendekar Tan, kau harus bertanggung jawab, dan jangan menyalahkan aku."

Guan Ning marah, wajahnya pucat dan tidak bisa berkata apa-apa. Pak Tua Le Shui berkata lagi.

"Botol ini kuambil dari tanganmu, jika kau tidak mau mengatakannya tidak apa-apa, asalkan kau bisa merebut kembali botol ini. Jika tidak-"

Kata-katanya belum selesai, Guan Ning sudah menyerangnya. Pak tua Le Shui tertawa, dia bergerak, jenggotnya tampak melambai-lambai, dia menjauhi Guan Ning 2-3 meter.

"Kati berniat mengambil obat ini, pasti akan lebih sulit dibandingkan saat kau memanjat ke langit."

Guan Ning sudah lupa dengan apa yang disebut dengan kematian dan penghinaan, dia hanya merasa amarah menguasai hatinya, walau bagaimanapun dia harus bisa merebut kembali botol itu, yang lainnya dia sudah tidak peduli.

Karena dia menyerang tidak tepat mengenai sasaran, kakinya berputar lagi, dia seperti bayangan terus menempeli pak tua Le Shui.

Tapi tiba-tiba pak tua Le Shan sudah menghadangnya di depan, kedua telapak tangannya mendorong, Guan Ning merasa ada angin yang menyerangnya, walaupun tidak terlalu kencang tapi membuat tubuhnya tidak bisa bergerak maju, terpaksa dia berhenti.

Guan Ning bertambah marah lagi, terdengar pak tua Le Shan dengan ramah berkata.

"Adik, kau jangan marah. Apakah kau tahu mengapa kami ngotot mencari Wu Bu Yun?"

Guan Ning terpaku, tapi dia segera tertawa dingin.

"Justru pertanyaan ini yang ingin kutanyakan kepada kalian berdua."

Pak tua Le Shan tersenyum.

"Sebenarnya ini adalah rahasia perkumpulan kami karena itu aku tidak bisa memberitahumu, hanya...."

Dia tertawa.

"Aku mencari Wu Bu Yun tidak ada maksud jahat malah untuk kebaikannya. Saudara tidak perlu merasa curiga!"

Guan Ning berpikir sebentar lalu bertanya.

"Apakah Wu Bu Yun adalah murid perkumpulan kalian?"

Pak Tua Le Shan mengangguk.

"Benar, dia adalah salah satu murid perkumpulan kami, dia adalah putra tunggal ketua kami, aku sudah menjawab demikian, kau harus tahu bahwa kami mencari dia tidak ada maksud jahat."

Dia tertawa lagi dan melanjutkan.

"Aku ingin memberitahumu, yang bernama Wu Bu Yun itu bukan nama dan marga sebenarnya, awalnya aku tidak percaya kalau Wu Bu Yun yang datang ke penginapan itu adalah dia. Bahkan tidak tahu apa maksudnya memakai nama Wu Bu Yun. Kami terus berpikir, akhirnya aku teringat sejak kecil dia senang sekali berkata "Wo Bu Shuo' (aku tidak mau berkata) diubah menjadi Wu Bu Yun. Mungkin dia memakai namanya dengan bahasa sewaktu dia masih kecil-Ha, Ha, ha! Artinya adalah aku tidak mau mengatakan namaku."

Pak tua Le Shan dengan ramah bercerita, sikapnya tidak memperlihatkan kalau dia berbohong, membuat orang lain percaya dengan apa yang dikatakannya.

Guan Ning baru mengerti tapi dia merasa semua ini pasti terselubung banyak rahasia, jika Wu Bu Yun adalah putra tunggal ketua Tai Hang Zi Xue, mengapa ketika Wu Bu Yun melihat mereka berdua dia seperti ketakutan, sampai wajah Wu Bu Yun pun ditutup dengan topinya, walaupun Guan Ning tidak mengerti apa sebabnya juga tidak tahu awal permasalahannya, yang dia ketahui adalah bahwa Wu Bu Yun temannya, rahasia Wu Bu Yun tidak boleh dibocorkan begitu saja.

Dia melihat Shou E Tan Qing yang sedang duduk bersila, tubuh bagian atasnyta sudah condong ke depan dan dia sedang menundukkan kepalanya, sepertinya dia sudah pingsan, dua bersaudara Tang masih duduk sambil memejamkan mata, mereka tidak melihat ke arah Guan Ning dan kedua orang tua itu, bahkan sepertinya tidak mendengar dan tidak melihat ke arah Guan Ning.

Guan Ning merasa ragu apa yang harus dia lakukan sekarang?

Kalau dia memberitahukan keberadaan Wu Bu Yun, bukankah ini artinya sama dengan mengkhianati teman?

Tapi jika dia tidak mengatakannya, bukankah Tan Qing akan segera mati?

"Bukankah dengan begitu maka aku akan menjadi pembunuh Tan Qing, selama sisa hidupku tidak akan tenang menjalankannya."

Guan Ning merasa terjepit di antara dua pilihan, walau bagaimanapun kalau dia salah memilih maka hidupnya tidak akan tenang, tapi hal ini sudah terjadi di depan matanya, dia sudah tidak bisa memilih lagi, dia tampak berpikir sebentar kemudian dia membulatkan tekad mengambil keputusan.

Dia berkata.

"Aku tidak tahu apa hubungan kalian dengan Wu Bu Yun, tapi kalian mempermainkan nyawa orang lain untuk mengancamku, aku tidak bisa berbuat seperti kalian menganggap nyawa seseorang begitu rendah. Hanya saja-aku bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya disebut dengan wajah asli seorang tetua dunia persilatan."

Wajah pak tua Le Shan berubah, dia bawah sinar lampu terlihat kalau dia merasa malu. Tapi pak tua Le Shui tetap tersenyum. Pelan-pelan dia berkata.

"Kelihatannya Tuan ingin memberitahu keberadaan Wu Bu Yun kepada kami"

Dengan suara lantang Guan Ning berkata.

"Betul, tapi kalian beri dulu obat penawarnya kepadaku, besok pagi aku akan membawa kalian menemui Wu Bu Yun."

Pak tua Le Shui tertawa dan bertanya.

"Apakah perkataanmu benar?"

Dengan dingin Guan Ning berkata.

"Aku bukan orang seperti kalian, mempunyai nama dan wibawa di dunia persilatan, tapi aku pasti akan menepati janjiku, kalian berdua tidak perlu merasa khawatir."

Dia sudah bertekad, walau bagaimanapun dia harus menolong nyawa Shou E Tan Qing terlebih dulu setelah itu baru dia akan membawa kedua pak tua itu pergi ke Gunung Miao Feng Wang Jia Lao Dian, untuk bertemu dengan Wu Bu Yun, dia sadar dalam waktu 1 hari ini dia sudah melakukan 2 kesalahan kepada Wu Bu Yun.

Bila terjadi sesuatu pada Wu Bu Yun dan merugikan Wu Bu Yun, dia akan mati-matian membela Wu Bu Yun.

Pak tua Le Shan tertawa, pelan-pelan dia berjalan ke sisi Shou E Tan Qing kemudian berkata.

"Karena kelakuanku maka Kakak Tan harus menunggu lama, aku minta maaf."

Dia mencabut tutup botol lalu mengeluarkan bubuk obat dari dalam botol, kemudian dia mengangkat kepala Tan Qing.

Sisa obat yang ada di dalam botol ditumpahkannya ke dalam mulut Tan Qing, lalu dia bertanya.

"Apakah luka Kakak Tan ada di bagian dada?"

Dengan lemah Tan Qing mengangguk. Pak tua Le Shan tersenyum sambil mengeluarkan tangan kanannya kemudian dengan cepat menepuk punggung Tan Qing. Shou E Tan Qing berteriak, segera Guan Ning marah.

"Apa yang Tuan lakukah kepadanya?"

Setelah ditepuk oleh pak tua Le Shan, telapak tangannya dibalikkan kemudian diputar, dengan cepat sisa obat yang ada di telapak tangannya ditempelkan di dada Tan Qing.

Gerakan sangat cepat seperti kilat.

Guan Ning sangat marah, dia ingin lari menghampiri mereka, lalu terdengar ada benda terjatuh, diiringi tawa pak tua Le Shan, luka dada Tan Qing tertutup oleh obat bubuk itu.

Dia tertawa dan berkata.

"Jarum yang terdapat di dada Kakak Tan sudah kugetarkan dan keluar. Ditambah lagi dengan adanya obat penawar Kakak Tang. Kakak Tan hanya membutuhkan waktu hari untuk beristirahat, Kakak Tan pasti akan segera sembuh."

Dia berbalik untuk tertawa kepada Guan Ning.

"Tuan tidak perlu merasa khawatir, aku tidak akan mencelakai Kakak Tan. Kalau ada orang yang berniat membunuh Kakak Tan-aku adalah orang pertama yang tidak akan melepaskannya."

Pak tua Le Shan memang tidak salah dijuluki sebagai orang pintar, hanya dengan beberapa kalimat saja dia meninpakan kesalahannya tadi kepada orang lain dan sedikit menjilat kepada Shou E Tan Qing, melihat pak tua itu, Guan Ning merasa marah sekaligus membencinya.

Tiba-tiba Shou E Tang Qing membuka matanya dan melihat pak tua Le Shui.

Dia berkata.

"Apakah permasalahan kalian sudah selesai? Kalian berdua tidak ada dendam dengan kami, jika kalian ingin membantu kami, cepat lemparkan obat itu! Kalau tidak, silakan keluar, biar kami berdua mati dengan tenang di sini."

Suara E Mei Bao Nang terdengar lemah, tapi nada bicaranya tetap dingin, membuat Guan Ning merasa dingin. Dia berpikir.

"Pantas mereka disebut 'Dua Racun', mendengar suara mereka yang benar-benar dingin seperti racun. Walaupun nyawa mereka sudah sudah di ambang maut dan meminta tolong kepada orang lain, tapi nada bicaranya masih tetap seperti itu, bisa dibayangkan bagaimana sikap mereka kepada orang lain?"

Pak tua Le Shui tertawa dan berkata.

"Kami 2 bersaudara tidak mempunyai dendam dengan kalian, tapi kami sudah lama kenal, sekarang teman kami mendapatkan kesulitan, tentu saja kami tidak akan berpangku tangan begitu saja."

Sambil berkata seperti itu dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik dadanya, kemudian dia berkata lagi.

"Obat ini adalah obat yang dibuat oleh kakek guruku. Sekarang jumlahnya semakin berkurang, kali ini kami hanya membawa 2 kotak. Jika tidak.... Ha, ha, ha. Jika bukan karena kalian berdua mengalami musibah, sepertinya sulit...."

Sambil tertawa dia bicara seperti itu, dan hanya mengatakan sampai kata 'sulit', ketika mengucapkan kata itu, dia merasa di dekat tulang rusuknya ada angin yang lewat, dia merasa kaget, di depan matanya tampak sebuah telapak tangan yang menyerangnya.

Gerakannya begitu cepat, terpaksa dia mengangkat tangan untuk menahan serangan itu, tetapi tangannya sudah kaku, kotak yang dipegangnya sudah direbut.

Pak tua Le Shan sama sekali tidak menyangka kalau di tempat itu ada orang yang berani merebut kotaknya.

Setelah orang itu berhasil merebut kotak -kecil itu, dia segera mundur, ternyata orang itu adalah Guan Ning!

Pak tua itu sama sekali tidak menyangka kalau Guan Ning memiliki ilmu silat yang bisa bergerak begitu cepat, dia tidak tahu walaupun ilmu silat Guan Ning tidak begitu tinggi tapi ilmu silat yang dipelajari Guan Ning adalah ilmu silat tertinggi, karena itu pada saat pak tua lengah dia bisa merebut kotak itu.

Pembahan ini membuat pak tua Le Shan, Le Shui, dan 2 bersaudara Tang berteriak.

"Ada apa denganmu?"

Pak tua Le Shui kaget juga marah, kedua telapak tangannya siap-siap dilancarkan, Guan Ning. Guan Ning hanya tertawa dingin, dia membuka kotak itu dan berkata.

"Jika Anda ke sini, aku akan memakan semua obat yang di dalam kotak ini."

Gerakan pak tua Le Shui berhenti, dia merasa kaget juga senang.

Xu Ming Shen Gao adalah benda langka dari perkumpulan Tai Xing Zi Xue dan obat ini adalah obat yang selalu dicari-cari oleh orang-orang dunia persilatan.

Walaupun kotak itu sangat kecil tapi jika obat yang ada di dalam kotak itu digunakan sepersepuluhnya, itupun sudah cukup untuk membuat seseorang hidup kembali, walaupun terkena luka karena telapak atau luka bacokan dari perkumpulan manapun, asalkan orang itu masih bernafas maka nyawanya bisa tertolong, melihat Guan Ning nekad akan berbuat demikian, akhirnya dia mengurungkan niatnya malah sekarang terlihat bengong.

Tiba-tiba dia tertawa, dia memutuskan mundur, dia tidak jadi menyerang, sambil tertawa dia bertanya.

"Adik kecil, ada apa denganmu? Kalau kau membutuhkan obat ini, katakan saja kepadaku. Untuk apa melakukan hal seperti itu...."

Tang Qi dan Tang Gu bersifat dingin dan sadis, bila mereka sedang senang atau marah tidak akan terlihat di wajah mereka.

Tapi sekarang satu-satunya obat yang bisa menolong mereka malah direbut orang, dia merasa sangat marah dan kaget.

Dia berkata dengan pelan.

"Adik kecil, apakah kau tidak menyukai kami? Kalau kau memang tidak suka, katakan saja! Walaupun aku sedang terluka parah. He, he, he...."

Dia berhenti bicara maksudnya adalah walaupun mereka berdua sudah terluka parah tapi mereka tidak akan mengalah begitu saja dari Guan Ning.

Sorot mata Guan Ning terlihat tajam seperti pisau, dia melihat ke arah marga Tang, tidak melihat ke arah Le Shan dan Le Shui, lalu dia berkata.

"Aku tidak kenal dengan Anda berdua. Xu Ming Shen Gao memang sangat mujarab, aku memang tidak membutuhkan obat ini, hanya saja...."

Kata-katanya belum habis, tapi Tang Gu sudah menyela.

"Apakah kau melakukan semua ini karena ingin mencari masalah dengan kami?"

Guan Ning menjawab dengan dingin.

"Aku melakukan semua ini hanya karena aku ingin bertanya kepada kalian mengenai satu hal."

Pak tua Le Shu tertawa terbahak-bahak.

"Ternyata kakak kecil ini ingin bertanya sesuatu kepada pendekar. Untuk apa harus melakukannya dengan cara seperti ini? Kita semua bukan teman tapi sama-sama dari dunia persilatan, kelak kita pasti akan sering bertemu, jika kau merusak persahabatan ini, kelak...."

Sambil bicara seperti itu dia mulai melangkah mendekati Guan Ning, tapi sorot mata Guan Ning bertambah tajam lagi.

"Apakah Tuan lupa dengan kata-kataku?"

Pak tua Le Shui tertawa dan berhenti melangkah. Terdengar Guan Ning berkata lagi.

"Aku bukan orang persilatan, aku juga tidak mau mengurusi budi atau dendam dunia persilatan. Aku hanya ingin menanyakan satu hal. Puluhan nyawa yang mati di Wisma Si Ming waktu itu, apakah perbuatan kalian berdua, bagaimana cara kalian menjelaskannya?"

Kata-kata ini baru diucapkan, Le Shan, Le Shui, Tang Qi, dan Tang Gu terkejut.

Walaupun Shou E Tan Qing sudah meminum obat penawarnya tapi dia belum terlalu sadar, tapi dia sempat terkejut mendengar perkataan Guan Ning, harus diketahui mengenai peristiwa pembunuhan yang terjadi di Wisma Si Ming merupakan peristiwa yang berhubungan erat dengan semua orang dan peristiwa berdarah in merupakan peristiwa yang menjadi sorotan kalangan dunia persilatan.

Pak tua Le Shan terkejut, dia bertanya.

"Orang-orang yang diundang ke Wisma Si Ming? Apakah orang-orang yang mati di Wisma Si Ming berhubungan dengan 2 bersaudara Tang?"

Guan Ning tertawa dingin dan dengan lantang dia berkata lagi.

"Orang-orang yang mati di Wisma Si Ming berhubungan erat dengan 2 bersaudara Tang, walaupun orang-orang yang di Wisma Si Ming bukan mereka yang membunuh tapi tentunya tidak akan jauh dari hal ini...."

Pak tua Le Shui tampak mengerutkan alisnya. Dia berkata.

"Walaupun aku tidak mengikuti hal ini dengan pasti tapi akupun sudah mendengar kabar di dunia persilatan, pembunuhnya adalah orang yang selalu menghilang dan muncul seperti setan, yaitu Xi Men Yi Bai. Kakak kecil.... apakah kau tidak salah menuduh?"

Sambil bicara seperti itu matanya melihat ke arah 2 bersaudara Tang.

Di bawah temaram lampu redup terlihat 2 bersaudara Tang masih duduk dalam posisi seperti tadi, tapi nafas mereka terdengar kasar.

Wajah mereka yang pucat dan tirus tampak berubah-ubah.

Pak tua Le Shui berkata.

"Kakak kecil, jika kau memiliki pendapat sendiri coba katakan kepada kami. Biar semua orang yang ada di sini bisa mendengarkan dengan jelas.... mungkin.... mungkin...."

Dia terbatuk dan membalikkan kepala, melanjutkan.

"Kami semua yang ada di sini tidak ada keperluan lain, mungkin kau bisa bercerita sambil mengisi waktu.... itu pasti merupakan hal yang menyenangkan."

Guan Ning mulai bercerita, bagaimana dia tersesat lalu masuk ke Wisma Si Ming dan di sana dia bertemu dengan peristiwa aneh, lalu tindakannya mengubur mayat-mayat para pesilat tangguh yang mati, lalu dia menceritakan bagaimana dia bisa bertemu dengan gadis berbaju hijau dan berusaha menghindar Wu Sha Shen Zhen.

Dia juga bertemu dengan Gong Sun Zuo Zu, Luo Fu Cai Yi, Wu Dang Si Yan, Mu Zhu Da Zhi dan perjalanannya kembali ke kota Bei Jing....

Semua hal yang ditemui dan dilewatinya dia ceritakan-kemudian dengan nada sedih dia berkata.

"Orang yang ada di Wisma Si Ming kecuali Xi Men Yi Bai yang saat inipun masih terluka parah dan tidak mati, tidak ada seoranpun yang hidup. Tapi mengapa E Mei Bao Nang bisa hidup dengan tenang sampai sekarang? Jika mereka takut dan memutuskan tidak pergi ke Wisma Si Ming, tapi mengapa ada orang yang melihat mereka dan di Wisma Si Ming masih terlihat tas mereka yang tertinggal? Di depan Wisma Si Ming hampir saja aku terkena serangan beracun Wu Sha Shen Zhen. Mereka berniat membunuhku untuk menutup mulut, tapi mereka tidak tahu bahwa di jalan manapun tetap akan bertemu lubang. Walaupun mereka melakukan semuanya dengan sangat rahasia tapi suatu hari perbuatan mereka pasti akan ketahuan juga oleh orang-orang."

Guan Ning terus berkata, membuat pak tua Le Shan dan Le Shui, dan Shou E Tan Qing hanya bisa terpana.

Pada saat Guan Ning bicara, pak tua Le Shui sudah menghampiri Tang bersaudara.

Kedua matanya terus menatap 2 bersaudara Tang itu, walaupun mereka diam, tapi pak tua Le Shui bisa melihat dengan jelas.

"Apa yang akan kau katakan?"

Tan Qing tahu, kakak seperguruannya mati di Wisma Si Ming, walaupun dia bersifat dingin tapi hubungan kakak beradik mereka sangat erat, sekarang matanya terlihat seperti ada api yang siap menyembur dari matanya.

Jika dia tidak terluka, mungkin saat ini dia sudah mencengkram 2 bersaudara Tang itu.

Tang bersaudara hanya bisa saling memandang.

Tang Gu berkata dengan pelan.

"Cara yang sangat lihai."

Dia melihat semua orang di sana dan berkata.

"Kata-kata dan penjelasan kakak kecil ini membuat kami tidak bisa membantah, tapi masih banyak persoalan aneh yang telah terjadi. Jika kalian percaya kepadaku. Aku...."

Tiba-tiba....

Kata-katanya belum selesai, dari luar jendela ada seseorang yang melempar puluhan cahaya hitam dan sasaran benda itu adalah 2 bersaudara Tang.

Tang Qi dan Tang Gu segera berteriak seketika itu juga mereka roboh.

Pak tua Le Shui segera bersiap diri, dengan angin pukulan dari telapak tangannya, dia berusaha memukul jatuh semua senjata rahasia yang datang.

Pak tua Le Shui membentak dan menyerang, dengan cepat dia meloncat keluar dari jendela.

Pak tua Le Shan takut terjadi sesuatu pada saudaranya, dia tidak memeriksa lebih teliti lagi apakah senjata rahasia itu mengenai dua bersaudara Tang atau tidak, segera dia ikut keluar menyusul saudaranya.

Walaupun umur mereka berdua sudah tua, tapi gerakan mereka masih terlihat lincah, hanya dalam waktu sekejap mereka sudah menghilang di dalam kegelapan.

Guan Ning terkejut, dia melihat senjata-senjata rahasia yang bisa lolos dari telapak Le Shui dan tidak mengenai 2 bersaudara Tang.

Tapi api keluar dari senjata rahasia itu membuat tirai mulai terbakar, api semakin besar dan akan membakar 2 bersaudara Tang yang tergeletak tidak sadarkan diri di bawah.

Guan Ning kaget, tanpa banyak berpikir dia segera lari ke tempat di mana api telah menyala.

Guan Ning berpikir bagaimana caranya supaya dia bisa memadamkan api yang mulai berkobar dengan besar ini.

Tapi....

Sewaktu dia sedang ragu ragu, dari luar jendela terdengar suara seseorang yang tertawa dingin.

Kemudian muncul 2 bayangan, yang satu berperawakan tinggi dan yang satu pendek.

Mereka memakai baju hitam, kepala mereka diikat dengan kain hitam, hanya terlihat sepasang mata yang tampak bersemangat, tubuhnya bergerak sangat cepat seperti hantu, kaki mereka baru saja menginjak tanah segera melayang lagi, mereka melayang ke arah Guan Ning.

Saat tiba-tiba ada orang yang secara misterius datang, membuat Guan Ning menarik nafas menahan takut.

Dia membentak.

"Siapa kau? Apa maksudmu datang kemari?"

Si baju hitam yang tinggi tertawa dingin dia membalikkan telapak tangannya menyerang.

Shou E Tan Qing yang sedang terluka dan belum pulih kesehatannya terkena serangan itu sebab dia masih tidak bisa menghindar....

Hati Guan Ning menjadi dingin, dia melihat orang telah memukul roboh Tang Qing.

Pendatang itu berkata.

"Aku datang kemari untuk meminta nyawa kalian."

Suaranya rendah dan serak.

Tang bersaudara melihat api hampir membakar tubuh mereka tapi mereka sudah tidak ada tenaga untuk berdiri, terpaksa mereka berguling-guling ke sisi, begitu mendengar suara itu mereka langsung gemetar, dengan suara gemetar mereka berkata.

"Kau lagi!"

Orang berbaju hitam itu tertawa sinis.

"Betul! Ini aku!"

Dia sudah mengerakkan telapak tangannya menyerang Guan Ning.

Guan Ning masih dalam keadaan bengong, telapak tangan itu sudah berada di atas kepalanya, tiba-tiba dia teringat sebuah gerakan pada catatan rahasia yang ada di dalam Ru Yi Qing Qian, segera tangan kirinya diangkat, telapak kanannya sudah bergerak secepat kilat memotong serangan itu, tangan kirinya-dengan tepat menahan serangan orang aneh itu, tangan kanannya mengeluarkan serangan lebih aneh lagi.

Orang aneh berbaju hitam itu tidak menyangka kalau pemuda yang ada di depannya ini akan mengeluarkan jurus begitu aneh, dia menarik serangannya dan mundur, walaupun Guan Ning sudah mempelajari ilmu rahasia Ru Yi Qing Qian tapi dia masih belum lancar menggunakannya, setelah dia berhasil melancarkan satu jurus, jurus selanjutnya tidak bisa diteruskan.

Orang aneh itu melihat Guan Ning tiba-tiba berhenti menyerang, dia tidak bisa mengira setinggi apa kemampuan ilmu silat Guan Ning?

Karena itu dia tidak berani menyerang lagi.

Setelah Tang bersaudara melihat kedua orang aneh ini, hati mereka masih terus bergetar, mereka berusaha duduk, begitu mereka melihat Guan Ning mengeluarkan jurus aneh, mereka merasa sangat senang.

Mereka berharap Guan Ning bisa mengalahkan kedua orang itu, tapi sekarang Guan Ning malah berdiri dengan bengong, mereka merasa khawatir, terdengar orang berbaju hitam yang perawakan pendek berkata.

"Ayo Kak, sikat dia!"

Kemudian kedua tangan mereka mulai menyerang ke arah pinggang dan tenggorokan Guan Ning.

Guan Ning sedang berpikir bagaimana caranya bisa melancarkan jurus selanjutnya, melihat ada yang menyerang lagi, dia menjadi kaget, di sekeliling tubuhnya seperti dikelilingi oleh bayangan telapak tangan orang itu, dengan cara apapun rasanya dia tidak bisa menghindari serangan orang itu.

Walaupun orang yang menyerang Guan Ning terlihat sangat lihai tapi dari catatan yang terdapat di dalam Ru Yi Qing Qian ada jurus yang mengajarkan bagaimana mengatasi serangan seperti itu.

Hanya saja karena sekarang Guan Ning tidak ingat dia merasa kelabakan, meskipun saat ini tiba-tiba Guan Ning bisa mengingatnya, belum tentu dia bisa memakainya karena itu dia memutuskan untuk mundur, di belakang dirinya adalah tirai yang sedang terbakar, api besar yang begitu panas membuat hati Guan Ning bergetar, di depan ada musuh, di belakangnya ada api yang berkobar begitu besar, keadaannya benar-benar sangat terjepit dan berbahaya, dalam situasi terjepit seperti itu terpaksa tangan kanan Guan Ning terangkat ke atas, tangan kiri diputar ke kiri, badannya condong ke depan dan dia berlari....

Karena merasa terjepit, dia mengeluarkan jurus yang entah berasal dari mana, setelah jurus itu dikeluarkan dia baru teringat kalau jurus itu tercantum juga di dalam Ru Yi Qing Qian, kalau tidak salah namanya adalah 'pagar besi'.

Orang aneh berbaju hitam itu melihat Guan Ning akan terluka oleh serangannya tapi tiba-tiba dia melihat Guan Ning mengeluarkan gerakan aneh, jurus itu seperti jurus kepalan Wu Xing yang bernama Tie Suo Heng Jiang (Tali baja sejajar sungai) juga seperti jurus Tai Ji, Ru Feng Ni Bi (jurus seperti menutup mulut) tapi tenaga yang dikeluarkan ternyata sangat dahsyat.

Setelah berhasil mengeluarkan jurus itu, Guan Ning mundur 2 langkah dan bengong, dia sendiripun tidak sadar dari mana jurus ini datang dan berasal dari perkumpulan mana.

Ilmu silat yang tercatat di dalam Ru Yi Qing Qian adalah jurus-jurus yang sudah lama musnah.

Ilmu silat kedua orang berbaju hitam aneh itu sangat tinggi, tapi jika dengan kemampuan ilmu silat seperti yang dimiliki Guan Ning sekarang, ada sepuluh orang seperti dia belum tentu bisa melawan Guan Ning.

Karena kedua jurus yang dikeluarkan Guan Ning membuat kedua orang berbaju hitam ini terpaku.

Mereka tidak bisa menebak bagaimana sebenarnya kemampuan ilmu silatnya.

Api semakin membesar, jika mereka tidak menyerang dan hanya menghadang Guan Ning, pasti Guan Ning akan terbakar hingga mati.

Kedua orang itu dengan cara licik berhasil membuat pak tua Le Shan dan Le Shui keluar dari kuil itu.

Sekarang mereka takut kalau-kalau kedua pak tua itu merasa tertipu, mereka akan kembali ke tempat ini secepatnya, kedua orang berbaju hitam itu sekarang saling bertukar pandang, mereka ingin langsung membunuh supaya tugas mereka cepat selesai.

Tapi....

Di luar terdengar suara orang kemudian terlihat bayangan orang dengan cepat masuk ke dalam kuil, sikapnya terlihat sangat cemas, begitu masuk dia tidak bicara, hanya mengacungkan pedangnya lalu menyerang kedua orang itu.

Pedangnya tampak pendek tapi tenaga yang dikeluarkan sangat besar, tampak kilauan pedang berwarna hijau seperti petir tapi tidak terlihat arah sabetannya.

Kedua orang berbaju hitam ini sadar kalau orang yang datang dengan tiba-tiba bukan pesilat biasa, segera mereka membagi diri yang satu menghadapi Guan Ning, yang satu lagi membalikkan badan.

Guan Ning yang menghadapi kedua orang berbaju hitam, dia merasa sangat kaget juga takut.

Tiba-tiba dia melihat dari jendela ada yang bergerak masuk, tampak bayangan seseorang.

Dia mengira kedua pak tua itu sudah kembali, tapi begitu melihat lagi dengan teliti, ternyata bayangan orang itu sangat langsing dam berbaju hijau, wajahnya terlihat sangat cemas.

Dia melihat Guan Ning dengan sorot penuh perhatian dan cemas.

Ternyata orang ini adalah orang yang pergi tanpa jejak tapi selalu membekas dalam kenangan Guan Ning-Ling Ying.

Angin berhembus, salju masih terus turun.

Angin membawa salju masuk melalui jendela-jendela yang sudah rusak, hal itu malah membuat api berkobar semakin membesar, tirai usang itu dalam sekejap mata sudah dilalap oleh api besar dan sekarang mulai membakar atap ruangan, keadaan atap mulai hangus.

Guan Ning tidak menyangka bahwa Ling Ying yang akan muncul di saat seperti ini.

Tampak pergelangan tangan Ling Ying diputar, dia menghindari tendangan dari laki-laki berbaju hitam yang berperawakan pendek, tapi pedang yang masih dipegang diputar dan posisinya naik.

Sekali lagi dia menyerang ke arah tenggorokan lawan, sepasang mata Ling Ying sering melihat kepaga Guan Ning.

Mata yang bersorot penuh dengan kecemasan dan seakan menyalahkan Guan Ning, tapi perasaan cintanya tidak bisa ditutupi.

Walaupun orang berbaju hitam itu mengaguminya, jurus-jurus pedang yang cepat dan ganas dari Ling Ying, tapi melihat ekspresi wajahnya, kedua laki-laki itu diam-diam merasa senang.

Dia segera berteriak.

"Kakak, biar aku yang menghadapi perempuan itu, kau yang menghadapi laki-lakinya."

Sambil bicara dia menyerang dengan beberapa jurus.

Jurus-jurusnya cepat dan ganas, membuat Ling Ying nafasnya menjadi sesak.

Ling Ying merasa kaget juga takut, dia ingin melindungi Guan Ning tapi tidak bisa terlepas dari orang ini, dia terus mengayunkan pedangnya, tampak cahaya berkilauan, dia seperti ingin menusuk dan langsung membunuh orang itu dalam satu kali tusukan.

Perlu diketahui bahwa pedang adalah semacam senjata dan pedang selalu mempunyai ukuran.

Tapi pedang hijau yang digunakan oleh Ling Ying lebih pendek separuh dari pedang biasa, pedang ini menyerupai sebilah belati yang biasanya tersimpan di dalam lengan baju.

Senjata ini adalah ciri khas senjata Huang Shan Cui Xiu.

Ilmu pedangnya sangat cepat dan berbahaya.

Ilmu pedang ini diturunkan dari seorang pendekar wanita yang bernama Nyonya Gong Sun, dari jaman Dinasti Tang.

Sekarang Ling Ying tampak memainkan jurus-jurus pedang yang ganas dan berbahaya ini.

Setiap jurus yang dilancarkan kepada lawan tampak lebih ganas lagi.

Guan Ning melihatnya semuanya sampai lupa kalau di depannya ada satu orang lagi yang harus dihadapinya.

Dia terus berteriak.

"Hati-hati Ling Ying, hati-hati...."

Kata-katanya belum habis, 2 bersaudara Tang sudah berteriak.

"Kau juga hati-hati!"

Guan Ning terkejut.

Laki-laki berbaju hitam yang dipanggil kakak itu diam-diam menyerang Guan Ning, serangan darinya tidak bisa dihindari lagi.

Tapi baru saja tangan laki-laki itu berada di tengah-tengah tiba-tiba dia menariknya dan mundur.

Guan Ning merasa aneh.

"Ada apa dengannya? Apakah dia tidak bisa melukaiku?"

Dia tahu laki-laki ini takut kepada jurusnya yang tidak sengaja dia keluarkan tadi, walaupun dia berniat untuk menyerang Guan Ning tapi dia masih berhati -hati, serangan tadi hanya serangan pancingan.

Begitu dia menyerang, dia melihat Guan Ning masih berdiri dengan diam, dia mengira Guan Ning sudah mengetahui jurusnya yang dikeluarkannya hanya jurus pura-pura.

Dia terkejut dan berpikir.

"Mengapa pemuda ini begitu berpengalaman dalam menghadapi musuh?"

Dia mundur lagi, mata yang hanya terlihat dari topeng kain hitam itu terus melihat Guan Ning, dia tidak tahu sampai di mana kemampuan ilmu silat pemuda itu, lebih-lebih tidak tahu dia datang dari mana.

Api semakin membesar, atap rumah mulai terbakar.

Guan Ning masih berhadapan dengan orang yang dipanggil kakak besar, mereka masing-masing saling menebak apa yang sedang dipikirkan lawannya saat itu.

Tapi dalam hati Guan Ning, dia sedang berharap Ling Ying bisa segera memenangkan pertarungan.

Diam-diam melihat ke arah Ling Ying, dalam pantulan cahaya yang redup terlihat bayangan orang sedang bertarung, tampaknya Ling Ying berada di atas angin sekarang, hatinya merasa senang tapi dia tidak tahu kalau saat itu Ling Ying sedang merasa aneh, ternyata walaupun Ling Ling menyerang dengan tajam dan cepat, tapi orang berbaju hitam itu sepertinya sangat mengetahui jurus-jurusnya.

Laki-laki berbaju hitam itu dengan cepat dan santai bisa menghindar jurus, karena itu Ling Ying merasa aneh.

"Siapakah laki-laki ini sebenarnya? Mengapa dia bisa mengenal jurus-jurus pedangku?"

Untung Ling Ying adalah seorang gadis yang sangat lincah,m walaupun lawan bisa menghindari serangannya tapi dia tetap berada di atas angin.

Dua bersaudara E Mei Bao Nang yang seumur hidup mereka selalu berada di atas, sekarang dalam keadaan seperti sekarang ini mereka benar-benar tidak berdaya, walaupun ilmu silat mereka tinggi dan sangat berpengalaman tapi mereka sadar kalau mereka sekarang berada dalam bahaya.

Api yang terus berkobar walaupun belum membakar mereka tapi asap yang panas membuat mereka seperti berada di atas sebuah pemanggang.

Tang Gu menarik nafas panjang, tiba-tiba dengan penuh semangat dia berteriak.

"Kami mati tidak apa-apa, Kakak tidak perlu melindungi kami sampai seperti itu!"

Orang yang disebut kakak itu melihat mereka.

Guan Ning tidak bergerak dan masih berdiri dengan bengong, wajahnya tidak berekspresi apapun, dia tidak tahu kalau Guan Ning sekarang ini sedang ketakutan.

Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, tapi laki-laki berbaju hitam itu mengira Guan Ning sangat berani dan mempunyai ilmu silat tinggi sehingga dia terlihat sangat tenang dan berhati-hati.

Karena laki-laki ini biasanya berbuat licik dan terlalu berhati-hati, jadi dia tidak berani bertindak ceroboh.

Begitu mendengar kata-kata Tang Gu, segera laki-laki berbaju hitam itu berkata.

"Betul, aku tidak mempunyai dendam denganmu, untuk apa kau ikut campur urusan mereka?"

Maksudnya tak lain adalah dia berharap supaya Guan Ning meninggalkan tempat ini dan dia tidak akan melarang Guan Ning pergi dari sana. Tapi Tang Gu berkata lagi dengan nada dingin.

"Begitu kami mati, aku berharap Kakak bisa pergi ke Si Zhuan ke keluarga Tang untuk memberitahukan keadaan kami, memberitahu kepada perkumpulan kami bahwa mereka harus membalaskan dendam kami."

Sorot mata laki-laki itu terlihat begitu tajam, dia melihat Tang bersaudara dan tertawa dingin.

"Betul! Betul! Kau harus berbuat seperti itu, untuk apa kau masih ikut campur di sini?"

Kata-kata mereka berdua sebenarnya ditujukan kepada Guan Ning.

Laki-laki berbaju hitam itu sebenarnya ingin segera menghabisi 2 bersaudara Tang.

Dia tidak takut kalau 2 bersaudara Tang ini akan mencari orang lain untuk membalaskan dendam mereka, dia hanya takut kepada Guan Ning.

Sebenarnya dia tidak tahu sampai di mana kemampuan silat Guan Ning, karena itu dia memutuskan untuk tidak menyerang Guan Ning.

Dan dia berharap Guan Ning segera meninggalkan tempat ini, karena itu sejak tadi dia terus berkata seperti itu membujuk Guan Ning.

Terdengar Tang Gu berkata lai.

"Masih ada satu hal yang belum kami ceritakan, kalau tidak diceritakan sekarang, matipun mata kami tidak akan meram. Itu mengenai...."

Laki-laki berbaju hitam itu membentak.

"Mau mati ya mati! Tidak perlu banyak bicara!"

Sepertinya dia ingin menyerang dan menghabisi 2 bersaudara Tang itu.... Tapi.... Guan Ning membentak.

"Diam, dan tetap berdiri di sana!"

Laki-laki berbaju hitam itu tampak terkejut, dia menghentikan langkahnya. Guan Ning melihat laki-laki itu menurut dan hatinya merasa sangat senang. Diam-diam dia berpikir.

"Ternyata orang ini takut juga kepadaku!"

Guan Ning adalah orang yang pintar, awalnya dia masih merasa aneh mengapa laki-laki berbaju hitam ini hanya melotot padanya dengan mata galak tapi tidak berani bertarung dengannya.

Terakhir dia baru terpikir.

"Apakah setelah melihatku mengeluarkan jurus tadi, dia mengira aku mempunyai ilmu silat tinggi sehingga dia tidak berani menyerangku?"

Bentakan Guan Ning tadi membuktikan bahwa pikirannya tepat, karena itu dia sengaja tertawa dingin. Dengan pelan dia berkata.

"Aku dan 2 bersaudara Tang ini juga bukan teman dan bukan saudara, aku sebenarnya tidak mau ikut campur urusan kalian, apalagi aku tidak senang membunuh. Karena itu sejak tadi aku sengaja melepaskanmu dan tidak mau melukaimu. Tapi bila kau memaksaku untuk bertarung, terpaksa aku....!"

Sengaja Guan Ning berkata dengan sikap sombong, tapi sebenarnya dia berdebar-debar.

Apakah kata-katanya tadi bisa membuat orang itu mundur?

Kata-katanya yang asal-asalan terdengar seperti benar dan yang paling penting adalah begitu tepat mengenai perasaan orang itu.

Laki-laki berbaju hitam itu mendengar bentakan Guan Ning.

Sorot matanya segera berubah, dalam hati dia berpikir.

"Pertama aku menepis jurusnya dengan telapak, itu jurus yang sangat biasa, tapi jurus berikutnya adalah jurus yang sangat lihai, dia hanya terlihat melambaikan tangan kirinya, tangan kanannya memotong jurusku, dia bisa mengubah jurusnya dari posisi berjaga menjadi menyerang, benar-benar sangat tepat, dia masih bisa memotong jurus yang kukeluarkan."

Dia berpikir.

"Serangan yang Guan Ning keluarkan terakhir bukan jurus dari Wu Xing juga bukan jurus dari Tai Ji, tapi ada unggulan dari dua jurus itu, bisa menyerang juga bisa berjaga, dua jurus itu terlihat misterius juga aneh, benar-benar seumur hidup belum pernah kulihat jurus seperti ini, walaupun dia sudah berada di atas angin mengapa dia malah berhenti menyerangku? Apakah karena dia tidak ingin membunuhku?"

Sewaktu laki-laki berbaju hitam itu sedang asyik berpikir, orang yang bertarung di pinggir mereka mendengar kata-kata Guan Ning.

Ling Ying sangat paham bagaimana kemampuan ilmu silat Guan Ning.

Begitu mendengar kata-kata Guan Ning layaknya seperti seorang pesilat tangguh, dia merasa takut, cemas, dan khawatir, perubahan wajahnya sudah terlihat dengan jelas.

Laki-laki berbaju hitam yang ada di depan Ling Ying melihat ekspresi itu, dia langsung tahu keadaan sebenarnya.

Segera dia menyerang Ling Ying sebanyak 4 jurus dan berteriak.

"Kakak Tertua, jangan percaya pada kata-katanya, dia tidak bisa ilmu silat, dia hanya bisa beberapa jurus saja."

Sebenarnya dia sendiri juga tidak begitu yakin, dia bicara seperti itu hanya untuk menguatkan rasa percaya diri kakaknya.

Guan Ning mendengar kata-kata tadi, dia merasa kaget, tapi dalam keadaan hidup dan mati, walaupun api di belakangnya semakin membesar dan dia merasa takut, tapi dia berusaha tidak mengeluarkan isi hatinya.

Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak, dengan lantang berkata.

"Apa? Tidak bisa meladeni kalian.... Ha, ha, ha.... Ha, ha, ha!"

Dia tertawa terbahak-bahak, setelah berhenti, dengan dingin dia berkata.

"Kalau tangan kananku digerakkan dari kiri ke kanan dan membentuk garis di antara dada dan perut, kemudian tangan kiri memotong secara simetris ke bawah perut, kau pasti tidak akan mengiranya...."

Kata-katanya belum selesai, laki-laki berbaju hitam yang badannya pendek itu sudah membentak.

"Sembarangan bicara! Jurus apa itu?"

Guan Ning tidak melihat mereka, tangannya diletakkan di belakang dan dia tertawa dingin, 'Tangan kananku akan ku arahkan ke nadi bagian paru-parumu kemudian bila aku menggetarkan pergelangan tanganku aku akan menotok nadi hatimu."

Guan Ning berhenti sejenak kemudian melanjutkan lagi.

"Tangan kiriku sebenarnya berada di bawah pusairmu, di dekat usus kecil, jika kau menghindari tangan kananku, pastikan kalau kau harus mundur, sebab bila tangan kiriku melambai, maka sasarannya akan tepat mengenai tenggorokanmu, tangan kanan ditarik dan dengan tepat akan menotok nadi di tulang rusukmu."

Dia tidak butuh waktu untuk berhenti bicara, juga tidak membutuhkan waktu untuk berpikir, dia bercerita dengan lancar, kemudian sambil tertawa dingin dia berkata lagi.

"Jurus mudah ini, tidak membutuhkan kaki untuk menggeser, aku sekarang tanya kepada kalian, bagaimana cara kalian akan menahannya?"

Guan Ning adalah seorang pelajar dan sastrawan, dia samgat hafal dengan apa yang tertulis di dalam Ru Yi Qing Qian.

Tapi jika mengharuskan dia bertarung dengan mereka, dia tidaik berpengalaman sama sekali dan tidak memiliki dasar ilmu silat, tapi diapun tidak bisa melakukan apa yang tertulis di dalam Ru Yi Qing Qian, sekarang dia bisa mengucapkan semua teori-teori itu, semua teori itu mengandung jurus-jurus paling aneh, tampaknya Guan Ning sangat menguasai totokan nadi.

Hal inilah yang sebenarnya ingin dikuasai oleh orang-orang dunia persilatan.

Kata-kata Guan Ning membuat laki-laki berbaju hitam hanya bisa terpaku, keringat dingin terus menetes.

Dua bersaudara Tangpun dibuatnya bengong, sampai-sampai Ling Ying yang tahu keadaan Guan Nin sebenarnya menjadi terkejut sekaligus senang, sebenarnya dia merasa curiga, apakah benar Guan Ning mempunyai ilmu silat tinggi dan dia tidak mau mengeluarkannya di depan mereka.

Semua perubahan yang terjadi mengikuti perubahan yang terjadi di dalam hati orang, perubahan hati hanya membutuhkan waktu sekejap....

Ling Ying yang sejak tadi belum berhenti bertarung sekarang mengeluarkan jurus Shen Long Yu Feng (Naga sakti menguasai burung phoenix).

Pundak kirinya tampak bergetar, pundaknya berhasil dipukul oleh laki-laki pendek berbaju hitam.

Rasa sakit itu menusuk hingga ke ulu hatinya.

Dia berteriak, walaupun dia berteriak tapi jurus pedangnya yang sudah terlatih selama bertahun-tahun tetap dilancarkan dengan teratur.

Laki-laki berbaju hitam yang dipanggil kakak tertua itu, walaupun mulutnya masih tertawa tapi dalam hati dia terus berpikir, dia melihat Guan Ning yang masih berdiri tidak bergerak.

Dia mulai curiga.

"Mengapa pemuda itu tidak mencoba menghentikanku?"

Suara teriakan Ling Ying membuat laki-laki berbaju hitam itu tersadar.

"Aku sudah dibodohi oleh pemuda ini, dia dan perempuan ini bersahabat, mengapa dia tidak membantu gadis itu, kecuali...."

Pikiran ini sudah berkecamuk di dalam benaknya.... Guan Ning mulai terkejut. Tang Gu berkata.

"Itu adalah...."

Laki-laki yang dipanggil kakak tertua itu segera meloncat dan menyerang 2 bersaudara Tang.

Kedua telapak tangannya secara bersamaan digerakkan.

Api terus tertiup oleh angin.

Baju Guan Ning mulai terbakar api tapi dia merasakannya dan dia meloncat.

Terdengar teriakan dari 2 bersaudara Tang, hati Guan Ning bergetar dan dia melambaikan tangan untuk menyerang laki-laki berbadan pendek, si kakak tampak terus tertawa.

Ling Ying berteriak.

"Xiao Guan, kau jangan bertarung!"

Terasa angin besar berhembus lagi, api membakar mayat E Mei Bao Nang. Laki-laki berbaju hitam yang berbadan pendek itu tertawa dingin.

"Ternyata kau tidak bisa ilmu silat sama sekali!"

Sekarang dia berbalik menyerang, dari tangan Guan Ning keluar angin, orang itu sudah tahu kalau pemuda itu benar-benar tidak mempunyai ilmu silat yang dalam, terdengar suara BHA, kedua telapak tangan beradu, terdengar tawa si kakak tertua belum berhenti, dia berbalik dan menyerang Guan Ning, sekarang Guan Ning merasa telapak tangannya terasa panas karena telah beradu, tanpa terasa Guan Ning mundur beberapa langkah.

Ling Ying terkejut, pedang dimainkan dengan dasyat seperti turun hujan salju berturut-turut sehingga membuat laki-laki berbadan pendek itu mundur, sekarang laki-laki berbadan pendek itupun mulai menyerang Guan Ning.

Diiringi suara teriakannya Ling Ying segera lari ke arah Guan Ning dengan pedang dia mencoba menepis serangan telapak dari si kakak tertua itu, baru saja si kakak tertua berniat mengeluarkan jurusnya terlihat ada cahaya berkilau dari pedang yang siap menyerang ke arahnya, dia tidak berniat melukai musuh, dia hanya ingin melindungi dirinya sendiri, dia memiringkan sedikit tubuhnya, keempat jarinya membentuk gunting dan siap menggunting nadi tangan Ling Ying.

Guan Ning baru saja berdiri dengan tegak, dia menarik siku Ling Ying sedikit kemudian membalikkan pergelangan tangannya, dan pedangpun ditusuknya, dia mencoba melindungi Guan Ning dengan tubuhnya, laki-laki pendek itu tertawa dingin dan lari ke depan mereka.

Setelah Guan Ning melihat keadaan sudah berubah menjadi seperti ini, dia membentak dan sekuat tenaga lari dan menghadang laki-laki berbadan pendek, dan menyerang dengan kedua tangannya, tenaga yang dikeluarkan seperti harimau gila, beberapa jurus yang dikeluarkan Guan Ning sama sekali tidak tercantum di dalam buku.

Guan Ning mempertaruhkan nyawanya melakukan itu semua ditambah lagi tenaga dalamnya sudah tidak seperti dulu lagi.

Pada saat beradu telapak tangan tadi tidak membuatnya terluka, karena itu serangan yang dilancarkan membawa angin besar.

Laki-laki pendek itu terpaku, dia berpikir kalau Guan Ning akan mengeluarkan jurus aneh lagi.

Dia memutuskan untuk mundur sedikit, tapi di saat mata berkedip dia melihat Guan Ning sudah ada di depannya dan siap menyerangnya dengan tangan kosong, dia tertawa dingin, tangan kirinya melayang dan tangan kanannya dengan pelan dilengkungkan, dia berusaha menepis.

Guan Ning terus menyerang dengan kepalan tangannya, tapi setiap kali menyerang selalu memukul ke tempat kosong, tiba-tiba tubuh Guan Ning melengkung ke belakang saat itu dia memikirkan sesuatu.

Dia memutar tangan kanan dan kirinya membentuk lingkaran kemudian membentuk silang, kaki kanannya menendang, dia mengeluarkan jarinya dan siap menyerang.

Satu jurus mengandung 3 gerakan, gerakannya cepat seperti kilat, mengeluarkan posisi berjaga dan juga menyerang, waktu, posisi, dan gerakan semua sudah dikuasai Guan Ning dengan sangat tepat, antara hidup dan mati dia mengeluarkan jurus aneh dengan kemampuan tingkat tinggi!

Pada saat tangan laki-laki pendek itu berhasil ditepis, laki-laki itu mengira dia berhasil menangkap Guan Ning, tapi sikunya terasa beku, dia merasa sangat terkejut, dengan jurus yang disebut Emas Melewati Gelombang, dia lari ke belakang sejauh 5 kaki untuk menenangkan diri tapi punggungnya telah mengeluarkan keringat dingin.

Di sebelah sana tampak kilauan pedang Ling Ying yang masih bertarung dengan si kakak tertua, tampak pundak kirinya terluka, keadaan ini sangat mengganggunya pada saat mengeluarkan jurus, tapi saat itu dia tahu kalau si kakak tertua ini ternyata ilmu silatnya lebih tinggi dari laki-laki pendek itu, dia menghembus nafas di dalam hati.

Dia merasa kalau dia dan Guan Ning tidak akan lolos dari cengkraman mereka.

Tapi setelah beberapa kali memperlihatkan jurusnya, Ling Ying merasa pada saat bertarung dengan si kakak, ilmunya lebih berguna, dia merasa aneh dan segera mencari sebab-sebabnya.

Ternyata walaupun ilmu silat si kakak tertua ini lebih tinggi tapi pada saat dia menghadapi ilmu pedang Ling Ying yang langka, dia sangat mengenali jurus-jurus itu, jadi pada saat bertarung dia sangat hati-hati.

Tapi laki-laki pendek itu sangat hafal seluk beluk ilmu pedangnya dan setiap jurus pasti bisa ditahannya.

Karena itu Ling Ying mulai menyerang dengan jurus andalannya, gerakan tubuhnya mengikuti gerakan pedang dan terus menyerang, walaupun tangan kirinya tidak bisa bergerak dengan lincah tapi pedang yang dipegang dengan tangan kanannya bergerak dengan sangat tajam, bayangan pedang seperti hujan salju.

Jurus pedang itu lebih kuat gerakannya dibandingkan dengan tadi, dalam hati Ling Ying terus berpikir.

"Siapakah laki-laki pendek ini? Mengapa dia begitu mengenali jurus-jurusku?"

Ilmu pedang Huang Shan Cui Xiu sangat langka, boleh dikatakan jarang ada orang yang bisa menggunakan jurus-jurusnya.

Karena itu Ling Ying merasa curiga tetapi tetap tidak terpikirkan jawabannya.

Semua ini terjadi begitu singkat.

Suara angin, api, suara bentakan, cahaya pedang, bayangan orang, angin telapak, dan bunyi pedang yang berdenting.

Tiba-tiba....

Terdengar bunyi yang sangat keras.

Atap rumah yang memangnya sangat rapuh karena tidak tahan dengan kobaran api yang semakin membesar, kayu besar terjatuh.

Hanya dalam waktu singkat terlihat....

Batu, debu, dan kayu tampak beterbangan, angin berhembus begitu kencang, api berkobar dan kilauan pedang berhenti, orang-orang berlarian keluar.

Debu....

debu....

debu....

Api!

Api!

Api!

Ruangan yang dipenuhi dengan debu dan api besar.

Guan Ning dan Ling Ying mendekati dinding.

Mereka berlari menerobos api.

Kedua laki-laki berbaju hitam itu berdiri di dekat dinding, hati mereka berdebar-debar.

Debu, asap, dan api tampak beterbangan tertiup angin, tapi pertarungan seru sejak tadi sekarang berhenti sama sekali.

Sepi sunyi-terdengar suara angin yang masih bertiup....

Tampak bayangan seseorang yang panjang dan-indah, diam-diam muncul di depan pintu, cahaya api menyinari rambutnya yang panjang, wajahnya cantik seperti bunga.

"Siapa pemilik kereta di depan pintu?"

Suaranya terdengar lembut dan manja tapi bernada dingin.

Hati Guan Ning bergetar.

Dia melihat orang yang berdiri di depan pintu adalah Jue Wang Fu Ren (Nyonya Putus Harapan).

Mata Jue Wang Fu Ren terus mencari-cari....

Matanya melihat Guan Ning.

Segera Guan Ning menjawab.

"Kereta itu milikku."

Tapi sorot mata Jue Wang Fu Ren masih terus mencari-cari.... Dia melihat Ling Ying. Ling Ying tersenyum kepadanya, diapun tersenyum. Guan Ning merasa aneh.

"Apakah mereka saling mengenal?"

Sorot mata Jue Wang Fu Ren masih terus mencari....

Dia melihat dua orang laki-laki berbaju hitam, kemudian....

Kedua laki-laki berbaju hitam sebelum berhasil ditemukan oleh Jue Wang Fu Ren, secara bersamaan mereka sudah meloncat keluar melalui jendela dan langsung menghilang.

di dalam kegelapan.

Jue Wang Fu Ren tertawa dingin kemudian dia membalikkan badannya dan berkata.

"Mengapa kau masih berdiri di sana? Terbakar api rasanya pasti tidak nyaman."

Dia keluar terlebih dulu. Guan Ning melihat Ling Ying. Ling Ying pun melihatnya dengan pandangan terharu, dia lupa dengan api yang masih berkobar dan' ingin menangkap tangan Ling Ying. Dia berkata.

"Ying Er, aku.... tidak menyangka kalau kau bisa datang kemari."

Tapi Ling Ying melepaskan tangannya dan tidak meladeninya. Ling Ying keluar dari sana. Guan Ning bengong.

"Apa aku telah berbuat salah kepadanya?"

Sebenarnya Guan Ning sangat pintar tapi dia tetap tidak bisa menebak isi hati seorang gadis.

Guan Ning menundukkan kepala, perasaannya tidak enak, dia menarik nafas dan akhirnya ikut keluar, karena sejak tadi dia berdiri di dekat api, walaupun api tidak sampai membakarnya tapi percikan api telah membakarnya, hanya saja karena tadi dia merasa tegang dia tidak merasakannya.

Kuil tua itu masih terus terbakar, begitu keluar dari pintu, dia merasa kesal dan merasa ada sesuatu yang hilang, rasa itu timbul begitu saja di dalam hatinya.

Hatinya berpikir.

"Guan Ning, Guan Ning, apa yang telah kau perbuat?"

Dengan cepat dia keluar dari kuil itu, kereta kuda yang sejak tadi berhenti di depan pintu kuil ternyata sudah dipindahkan ke tempat agak jauh dan terlihat ada satu kereta lagi di sana dan ternyata kereta itu milik Wu Bu Yun yang berhenti di sisi keretanya.

Ling Ying duduk di atas kereta itu dan tampak dia sedang mengobrol dengan Jue Wang Fu Ren.

Melihat kedatangannya, mereka segera terdiam.

Guan Ning menjadi jengkel melihatnya.

"Mengapa kau berbuat seperti itu kepadaku?"

Karena itu Guan Ning malas melihat Ling Ying, dia berjalan ke hadapan Jue Wang Fu Ren dan memberi hormat lalu berkata.

"Terima kasih karena Nyonya sudah menolongku tadi."

Jue Wang Fu Ren tersenyum.

"Apakah tidak salah? Orang yang menolongmu bukan aku."

Ling Ying juga berkata.

"Aku juga tidak menolongnya tadi."

Guan Ning terpaku, dia menarik nafas dan bicara lagi.

"Terima kasih karena Nyonya telah mengembalikan kereta ini. Aku.... aku...."

Guan Ning merasa kecewa juga marah, walaupun banyak yang ingin ditanyakan tapi sekarang satu pertanyaanpun dia tidak ingat, sekarang dia hanya berharap supaya dia segera bertemu dengan Wu Bu Yun dan membereskan pekerjaannya.

Karena tidak ada yang bisa dibicarakan, Guan Ning berpikir.

"Aku juga bukan ditolong olehmu, tapi nyonya itu telah mengembalikan keretaku maka aku harus berterima kasih kepada nyonya itu dulu baru aku akan pergi dari sini."

Tapi Jue Wang Fu Ren tersenyum dan berkata.

"Bukan aku yang mengantar kereta itu ke sini, jika tidak bertemu dengan adik ini, aku mungkin sudah membawa kereta ini ke kota Bei Jing."

Ling Ying marah.

"Orang ini tidak tahu diri, jangan banyak bicara dengannya."

Guan Ning terpaku, dalam hati dia berpikir.

"Sejak kapan aku tidak tahu diri?"

Terdengar Jue Wang Fu Ren berkata.

"Kau tidak perlu merasa berterima kasih kepadaku, malah mungkin aku yang harus berterima kasih kepadamu, jika bukan karenamu, mana mungkin aku bisa mencari hingga ke sini. Akupun harus berterima kasih kepada adik ini. Jika bukan karena dia, mungkin...."

Dia tertawa, tawanya terlihat seperti bunga teratai yang baru saja mekar, dia melihat Guan Ning dan Ling Ying yang saat itu sedang melihat ke tempat jauh, dia ingin tertawa, begitu memikirkan nasibnya dia malah merasa sedih, dia terdiam sebentar setelah itu baru tertawa dan berkata.

"Bukan hanya aku saja yang ingin mengucapkan rterima kasih kepada adik ini, kaupun harus berterima kasih kepadanya."

Wajah Ling Ying memerah, dia membalikkan badan dan telungkup di atas kereta, karena Guan Ning dia merasa benar-benar tersiksa, sewaktu Guan Ning berada dalam bahaya, dengan sekuat tenaga dia berusaha menolong Guan Ning, tapi begitu semua selesai, dia malah membantu orang lain yang ingin membunuhnya, tapi dia masih tetap....

Dia sengaja tidak mau melihat Guan Ning, sebenarnya dalam hati dia ingin sekali Guan Ning datang menghiburnya supaya kemarahan yang ada di dalam hatinya bisa mereda.

Tapi Ling Ying tidak tahu bahwa ini adalah pertama kalinya Guan Ning jatuh cinta.

Guan Ning tidak tahu isi hati seorang gadis, sebenarnya Ling Ying juga tidak ingin berperilaku seperti itu.

Hanya karena dia melihat Guan Ning tidak mau bicara kepadanya, lalu dia teringat karena Guan Ning dia sampai terluka juga mengalami banyak kesulitan, dia merasa kecewa dan sedih karena itu dia hanya bisa menangis.

Guan Ning tidak tahu apa yang telah terjadi, dia melihat Jue Wang Fu Ren, seperti ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Jue Wang Fu Ren tertawa dan berjalan ke sisi Ling Ying.

Pelan-pelan dia memegang pundaknya.

"Adik yang sedang menangis, siapa yang telah menghinamu, katakan saja kepada kakak."

Sekarang Guan Ning baru tahu ternyata ada yang telah menghina Ling Ying. Guan Ning marah.

"Ternyata ada yang menghinanya, pantas dia terlihat begitu sedih."

Dia berharap Ling Ying bisa mengatakan siapa yang telah menghinanya. Ling Ying membereskan rambut, dia menunjuk, menunjuk ke hidung Guan Ning.

"Dia yang telah menghinaku."

Air matanya belum tersapu bersih, wajahnya masih penuh dengan amarah juga kebencian sangat sarat di matanya. Guan Ning kaget.

"Kapan aku telah menghinanya?"

Dia melotot, mulutnya menganga dia tidak bisa bersuara, melihat seperti itu, Jue Wang Fu Ren malah ingin tertawa.

"Ternyata dia yang telah menghinamu, aku akan membalaskan dendam untukmu."

Terlihat Ling Ying tertawa, ternyata melihat kelakuan Guan Ning seperti itu membuatnya ingin tertawa. Jue Wang Fu Ren ikut tertawa.

"Ternyata kalian sedang bergurau. Untung aku belum memukulnya. Kalau tidak Adik pasti akan mencariku untuk membalas dendam."

Ling Ying masih menangis tapi juga tertawa, kesedihan yang ada di dalam hatinya sudah mencair dalam tawanya, dia memelototi Guan Ning, walaupun Guan Ning adalah orang bodoh tapi sekarang dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi, dia benar-benar merasa senang, dia memberi hormat kepada Ling Ying sambil tertawa.

"Ying Er, jangan marah. Semua ini memang salahku...."

Hati Ling Ying dari tadi sudah luluh, tapi mulutnya masih berkata dengan judes. Dia memasang wajah galaknya lagi.

"Aku tidak berani mengatakan apa kesalahan Tuan Muda Guan, harap jangan minta maaf kepadakul"

Guan Ning menahan tawanya.

"Aku bersalah, aku tidak boleh menghinamu dan tidak mau mengajakmu bicara...."

Kata-katanya belum selesai, dia sudah tertawa dan dia dipukul Ling Ying pelan, tapi pukulan ini tidak bertenaga, perasaannya seperti melambung tinggi, kemudian mendarat pelan-pelan, kepalan tangannya dipukulkan ke badan Guan Ning, dia tidak merasa sakit malah membuat Guan Ning tertawa lebih senang lagi.

Melihat sepasang muda mudi yang sedang bergurau, Jue Wang Fu Ren membalikkan kepalanya melihat ke dalam kereta.

Di dalam kereta ada Xi Men Yi Bai yang masih tidak sadarkan diri.

Dia menghembuskan nafas dan bertanya.

"Hong Er, apakah nadi tuan besar dalam keadaan normal?"

Di dalam kereta terdengar suara manis yang menjawab.

"Tuan besar tidur dengan nyenyak. Nyonya tenang saja."

Guan Ning dan Ling Ying beradu pandang, kekesalan dan kejengkelan mereka berubah menjadi kelembutan dan rasa rindu. Tiba-tiba Ling Ying marah lagi.

"Mengapa kau terus melihatku?"

Guan Ning terpaku.

"Dasar orang bodoh!"

Guan Ning mengikuti sorot mata Ling Ying melihat sesuatu, melihat sikap Jue Wang Fu Ren, dia merasa marah kepada dirinya.

"Mengapa aku begitu bodoh? Sejak tadi seharusnya aku sudah tahu kalau Jue Wang Fu Ren adalah.... istri Xi Men Yi Bai.... mengapa dulu tidak terpikir olehku?"

Karena itu dia segera mendekati Jue Wang Fu Ren.

"Nyonya.... luka Tetua Xi Men sepertinya tidak bermasalah, dia sudah meminum Cui Xiu Hu Xin Dan...."

Shen San Niang tersenyum.

"Aku tahu, semua ini sudah diceritakan oleh adik itu."

"Katanya otak Yi Bai.... sedikit terganggu dan dia tidak bisa ingat apa-apa, apakah benar begitu?"

Guan Ning mengangguk.

"Jika Tetua Xi Men tidak kehilangan ingatannya, semua peristiwa yang terjadi di Wisma Si Ming akan terbuka dengan jelas."

Shen San Niang melihat ke dalam kereta dengan tatapan sendu.

"Tapi aku percaya Yi Bai tidak akan melakukan perbuatan semacam itu...."

Dia membalikkan badannya dan bertanya.

"Apakah benar?"

"Aku tidak mempunyai pikiran seperti itu sejak awal aku bertemu dengan Tetua Xi.... Nyonya, hal ini memang terlihat sangat rumit, sampai sekarangpun aku masih tidak bisa mencari tahu, siapa sebenarnya yang menjadi pembunuh di Wisma Si Ming, sekarang keadaan malah semakin kacau. Tadinya aku mengira pelakunya adalah E Mei Bao Nang, tapi.... merekapun sudah mati sekarang."

Ling Ying mendekatinya, dia berdiri di sisi Jue Wang Fu Ren. Tiba-tiba dia berkata.

"Hal ini memang sangat rumit, tapi bila kita mengerti beberapa hal, semua pasti bisa beres."

Mata Guan Ning terlihat terang.

"Hal apakah itu? Ling Ying menghitung dengan jarinya.

"Pertama, sebenarnya Tetua Xi Men telah terkena racun apa? Kapan dia terkena racun itu? Siapa yang meracuninya? Kedua, kita harus tahu mengapa Tetua Xi bisa kehilangan ingatannya? Ketiga, kita harus membantunya mengembalikan ingatan...."

Karena dia begitu serius menghitung semua dengan jarinya, membuat Guan Ning ingin marah sekaligus juga ingin tertawa. Guan Ning berkata.

"Benar, lebih baik kita menemui orang yang bisa meramalkan nasib untuk mencari tahu siapa pembunuhnya."

Walaupun Shen San Niang merasa pusing dengan masalah yang begitu rumit ini, tapi begitu mendengar kata-kata Ling Ying dia malah tertawa. Ling Ying terpaku.

"Apakah aku sudah salah bicara?"

Dengan lembut Shen San Niang berkata.

"Adik, kau tidak salah, tapi hal yang kau bicarakan tadi, tidak bisa begitu gampang. Guan Ning tidak bermaksud mencari tahu, itu yang dikatakannya tadi."

Wajah Ling Ying menjadi merah. Dia marah.

"Orang berbakat seperti Guan Ning selalu benar, dan aku salah lagi, kau adalah orang yang pintar, apa pendapatmu?"

Ling Ying mulai marah, dengan cepat Guan Ning berkata.

"Apa yang kau bicarakan tadi semuanya benar, kecuali untuk hal yang pertama. Tetua Xi Men Yi Bai telah terkena racun apa? Itu masih ada harapan, sedangkan yang lainnya hanya menemui jalan buntu."

Guan Ning tiba-tiba teringat sesuatu, sebelum E Mei Bao Nang meninggal, dari perkataan terkahir mereka, Guan Ning seperti menangkap ada sesuatu yang tersirat di sana, dia menundukkan kepalanya dan mulai berpikir.

Alis Ling Ying pun tampak berkerut, sepertinya diapun ingin menyampaikan sesuatu tapi dilarang oleh Shen San Niang dengan menggoyangkan kepalanya.

Guan Ning berpikir sejenak kemudian dia berkata.

"Aku teringat sesuatu, tapi aku belum bisa menangkapnya."

Shen San Niang tersenyum.

"Coba ceritakan saja kepada kami!"

Ling Ying yang sudah mencoba menahan diri sejak tadi, sekarang dia segera bicara.

"Apakah kita bisa mencari suatu tempat untuk mengobrol? Angin terlalu besar di sini dan aku merasa sangat lelah!"

Shen San Niang menghembuskan nafas.

"Betul. Sudah beberapa hari ini kau kurang tidur."

Guan Ning dengan bengong melihat Ling Ying, hatinya terus bergejolak. Dia mendekati Ling Ying.

"Apakah kau diam-diam selalu melindungiku...."

Wajah Ling Ying menjadi merah lagi. Shen San Niang menarik nafas panjang.

"Adik ini terhadapmu.... Heehh! Benar-benar jarang ada kekasih seperti dia. Akupun merasa sangat berterima kasih kepadanya, kalau tidak, sekarang aku tidak akan bisa melihat Yi Bai lagi."

Guan Ning segera teringat sesuatu dan bertanya.

"Ying Er, apakah pedang, golok, dan telinga manusia itu, kau yang mengirimnya ke kamarku?"

Ling Ying tertawa, dia seperti teringat sesuatu sehingga dia tertawa.

"Kau menertawakan apa?"

"Nanti aku akan memberitahumu."

Kata-kata Ling Ying belum habis, Guan Ning teringat sesuatu.

"Hari mulai terang.... mulai terang."

Dia segera naik ke atas kereta dan berteriak.

"Cepat, cepat, nanti tidak akan keburu."

Satu kalimat diucapkan dua kali dan sikapnya terlihat sangat tergesa-gesa. Ling Ying merasa aneh dan bertanya.

"Mengapa kau begitu tergesa-gesa?"

"Aku sudah berjanji dengan seseorang, kami berjanji akan bertemu di Miao Feng Shan, kalau telat aku merasa ini akan menjadi tidak baik."

"Apakah dia adalah oarng yang telah menabrak keretamu?"

"Ternyata kau juga melihatnya."

"Aku sudah melihat semuanya, hampir saja aku bertarung dengannya.... kalian benar-benar ceroboh, ada orang yang menguntit kalian saja kalian tidak tahu."

Guan Ning terpengaruh, dalam hati dia berpikir.

"Ternyata dia terus mengikutiku selama ini."

Tiba-tiba Shen San Niang berkata dengan dingin.

"Mereka memang ceroboh, tampaknya sekarang kita juga telah berbuat ceroboh."

Ling Ying dan Guan Ning saling memandang. Terlihat Shen San Niang melihat bayangan pohon yang ada di sisi jalan.

"Kalau ada orang yang menganggap Shen San Niang adalah orang buta, dia salah besar."

Dia berteriak.

"Sobat, cepatlah keluar dari tempat persembunyianmu!" (Oo-dwkz-lav-oO) BAB 10 . Rahasia di bawah kereta Dari balik semak-semak tetap tidak terdengar suara apapun. Shen San Niang mengerutkan dahinya, matanya mengandung nafsu membunuh. Guan Ning merasa takut.

"Biasanya dia sering tertawa, tapi begitu sedang marah tampak begitu menakutkan."

Baru saja dia akan bergerak ternyata dari balik semak-semak muncul dua sosok manusia, mereka adalah Le Shui dan Le Shan.

Guan Ning dan Ling Ying saling berpandangan, mereka merasa malu sekaligus kagum, terdengar Shen San Niang berkata dengan dingin.

"Aku kira siapa, ternyata kalian, tidak disangka kalian yang biasanya dihormati orang, ternyata juga pandai menguntit dari belakang...."

Kata-katanya baru habis, Shen San Niang sudah meloncat tinggi dan melayang setinggi beberapa meter, dia melayang ke arah lain dan sambil membentak.

"Hei tunggu, jangan pergi dulu!"

Hanya beberapa kali bergerak turun dan naik, dia sudah menjauh dari sana, ilmu meringankan tubuhnya benar-benar hebat. Kedua pak tua itu saling berpandangan, seakan hati mereka seperti berkata.

"Untung kami tidak kabur."

Guan Ning sangat kagum melihat nyonya itu, biasanya Jue Wang Fu Ren terlihat seperti orang lemah, ternyata dia memiliki keahlian yang begitu tinggi, diam-diam dia merasa aneh.

"Siapakah orang yang satu itu?"

Kedua pak tua yang bersembunyi di balik semak-semak sampai ketahuan, itu tidak aneh karena Guan Ning juga mengetahui kalau mereka pasti akan terus mengikutinya.

Karena mereka ingin mencari pemuda yang bernama Wu Bu Yun.

Jadi begitu mereka tidak bisa mengejar orang itu maka mereka pasti akan segera kembali lagi.

Begitu melihat Guan Ning sedang bersama dengan Jue Wang Fu Ren, mereka tidak berani keluar dan terpaksa bersembunyi.

Tapi ternyata masih ada orang lain lagi yang bersembunyi, kedua pak tua itu ternyata juga tidak mengetahuinya.

"Apakah mereka adalah 2 laki-laki berbaju hitam tadi?"

Guan Ning berpikir kembali.

"Kalau ternyata orang-orang itu adalah mereka, keadaan mungkin lebih baik, aku bisa tahu siapa mereka. Kalau begitu...."

Baru saja dia berpikir seperti itu, pak tua Le Shui tertawa dingin.

"Apakah kata-kata tadi akan kau laksanakan?"

Guan Ning mengerutkan dahi dan berkata.

"Aku tidak pernah berbohong, kalian tenang saja, besok sebelum jam 12, aku akan mempertemukan kalian dengan Wu Bu Yun."

Dari kejauhan terdengar suara Jue Wang Fu Ren, tampaknya dia sedang bertarung. Ling Ying mengerutkan dahinya dan berkata.

"Aku akan ke sana untuk melihat."

Dengan cepat Ling Ying berlari ke arah sana. Kedua pak tua itu saling memandang. Tiba-tiba pak tua Le Shui mendekati kereta dan melihat ke dalam, dia berteriak.

"Benar ternyata memang dia, dia benar-benar sedang terluka."

Alis pak tua Le Shan bergerak-gerak, dia bergerak mendekati kereta, terdengar dari dalam kereta ada suara wanita yang membentak mereka.

"Pergi!"

Kemudian terlihat banyak titik terang dilepaskan dari dalam kereta, kedua pak tua itu terkejut, mereka menggerakan lengan baju mereka sambil dengan cepat mundur dari sana. Le Shan membentak.

"Mengapa perempuan itu begitu kejam?"

Dari dalam kereta terdengar suara.

"Kalau aku kejam memangnya ada urusan apa dengan kalian?"

Terlihat Hong Er dengan cepat keluar dari dalam kereta dan dia berkacak pinggang.

"Kalau ternyata memang dia kenapa? dia sedang terluka memangnya kenapa? kalian mau apa?"

Kedua wajah pak tua itu tampak berubah-ubah, di bawah cahaya bulan, mereka melihat lengan baju mereka penuh dengan bintang-bintang berwarna perak, hati mereka menjadi dingin, jika tadi tidak ditahan dengan lengan bajunya, walaupun mereka mundur dengan cepat sepertinya mereka tetap akan terkena senjata rahasia ini.

Tadi mereka bersembunyi di tempat gelap, dari kata-kata Guan Ning tadi pada saat sedang mengobrol dengan kedua perempuan itu, mereka hanya bisa menduga bahwa orang yang ada di dalam kereta itu mungkin Xi Men Yi Bai, sekarang setelah mereka melihat, ternyata dugaan mereka benar.

Orang-orang dunia persilatan menganggap Xi Men Yi Bai sebagai musuh, begitu pula untuk kedua pak tua ini, tampak mata Le Shui berputar-putar kemudian pelan-pelan berkata.

"Kalau begitu, apakah besok kami bisa bertemu dengannya?"

Pada saat seperti sekarang ini, tiba-tiba saja dia berkata demikian, benar-benar tidak menyambung dengan kondisi yang sedang terjadi.

Guan Ning bengong mendengar perkataan mereka, dia tertawa dingin dan membalikkan badannya, tangannya dengan menyerang ke arah Hong Er dan segera berlari ke arah kereta.

Yang perlu diketahui, kedudukan Xi Men Yi Bai di dunia persilatan sangat tinggi, siapa saja yang bisa membunuhnya, walaupun orang itu bukan orang terkenal, kelak dia pasti akan menjadi terkenal di mana-mana.

Begitu pak tua Le Shui melihat Xi Men Yi Bai yang sedang terluka parah dan dalam keadaan tidak sadarkan diri, segera muncul keinginannya untuk membunuh Xi Men Yi Bai.

Dia berpikir.

"Shen San Niang sedang tidak ada di sini, jika aku bisa membunuh Xi Men Yi Bai dalam sekejap mata, lalu menculik pemuda ini, walaupun gadis itu mempunyai senjata rahasia yang beracun, tapi dia tidak akan bisa menahan seranganku, begitu Shen San Niang kembali, aku sudah pergi. Walaupun dia bisa mengejar kami, tapi bila kami bertarung langsung dengannya belum tentu kami akan kalah."

Pikiran seperti itu muncul, dia menemukan sebuah ide, dia mengajak Guan Ning bicara untuk menutupi keinginan hatinya, tapi diam-diam dia bersiap-siap untuk melancarkan serangan.

Dengan cepat dia berlari dari sana, angin yang dihasilkan dari telapak tangan seperti menggali gunung.

Hong Er terkejut, dia sudah bersiap menerima serangan pak tua ini, hati Guan Ning bergetar, dia ingin melarang gerakan mereka tapi tidak sempat.

Pak tua Le Shan adalah orang yang lebih baik dan jujur, sebenarnya dia juga membenci Xi Men Yi Bai, tapi diapun tidak melarang saudaranya melakukan apa yang ingin dia lakukan pada saat tegang seperti ini....

Tiba-tiba lengan baju Guan Ning dikibaskan kemudian dengan sekuat tenaga dia menepuk kuda yang menarik kereta itu, walaupun ilmu melepaskan senjata rahasia Guan Ning tidak terlalu tinggi, untuk memukul orangpun tidak seberapa bisa tapi untuk menepuk kuda supaya kaget dia masih sanggup melakukannya.

Terdengar senjata rahasia yang dilepaskan, tampak kuda itu terjatuh.

Ternyata yang dilemparkan adalah kotak obat Xu Ming Shen Gao, karena kuda itu telah terkena lemparannya, maka kuda itu tampak kaget dan meringkik, kemudian dengan cepat kuda itu berlari ke depan.

Dua orang laki-laki yang tiba-tiba muncul, membuat Guan Ning menjadi kaget, dia segera menyimpan kotak obat itu di dalam lengan bajunya, pada saat bertarung, kotak obat itu selalu bergerak-gerak di dalam lengan bajunya.

Guan Ning benar-benar merasa tidak nyaman, beberapa kali kotak itu hampir terjatuh, untungnya Guan Ning jarang bertarung tapi dalam hati dia tetap saja mengomel.

Kotak obat itu benar-benar sangat mengganggu, Tapi tidak disangka benda yang dianggapnya sangat mengganggu sekarang malah berguna.

Pak tua Le Shui menyerang dengan telapak tangannya dan Hong Er menggerakan tangannya untuk menyambut.

Pak tua itu marah dan berteriak.

"Cari mati!"

Segera dia menggetarkan telapaknya.

Hong Er berteriak dan jatuh terduduk di bawah.

Untung pak tua Le Shui masih ingat kalau Hong Er hanya seorang gadis kecil, jadi dia tidak bermaksud membunuh Hong Er.

Tapi Hong Er yang terjatuh merasakan pantatnya sakit dan tulang lengannya seperti patah.

Tiba-tiba Hong Er berpikir.

"Mengapa aku bisa terjatuh ke tanah, bukankah di sisinya adalah sebuah kereta?"

Ternyata kuda dan kereta yang tadi berada disisinya sudah pergi jauh.

Setelah Pak tua Le Shui berhasil membuat Hong Er terjatuh, dia bersiap-siap akan membunuh Xi Men Yi Bai, tapi sekarang kuda dan kereta sudah lari, dia merasa sangat marah, kakinya berputar, dia langsung lari mengejar kereta itu.

Walaupun kuda itu sudah berlari, tapi hanya sebentar dan berhasil disusul oleh pak tua Le Shui.

Pak tua Le Shui tertawa dingin.

"Xi Men Yi Bai, kali ini kau pasti akan mati di tanganku."

Dia bersiap-siap akan menghentikan kereta tiba-tiba dia melihat ada bayangan seseorang di depan. Seseorang yang mencoba menghalanginya, dengan dingin berkata.

"Kau mau apa?"

Begitu melihat dengan jelas, ternyata Jue Wang Fu Ren sudah berdiri di depannya. Terpaksa Le Shui berkata.

"Kuda ini tiba-tiba saja kabur, aku sedang mencoba menghentikannya."

Jue Wang Fu Ren tertawa dingin.

"Tuan tidak perlu khawatir."

Tubuhnya berputar, Jue Wang Fu Ren dengan ringan meloncat ke atas kereta, kuda itu meringkik sebentar kemudian diam. Pak tua Le Shui kaget, berdiri salah, mundurpun salah. Terdengar Le Shan berteriak.

"Adik, anak Yong ada di sini."

Hatinya bergetar, dengan cepat dia segera berlari ke sana, terlihat Hong Er baru berdiri, dengan wajah pucat dia berdiri di sisi kereta, tangannya memegang tali kekang kuda dengan erat, seperti takut kalau kuda itu akan kabur lagi, perempuan berbaju hijau yang ikut dengan Jue Wang Fu Ren sekarang sudah kembali, wajahnya menjadi merah.

Kedua tangannya berkacak pinggang dan dia berdiri di sisi Guan Ning.

Guan Ning menggosok pergelangan tangan orang yang roboh itu.

Pak tua Le Shan berada di sisi orang itu dan melihat Le Shui yang baru datang, dengan gembira dia berkata.

"Adik! Lihat, Yong Er ada di sini!"

Ternyata orang yang terjatuh tadi adalah putra Tai Hang Zi Xue, yang bernama Wu Bu Yun-atau Gong Sun Yong. Pelan-pelan Jue Wang Fu Ren membawa keretanya ke tempat mereka, dengan dingin dia berkata.

"Ternyata kalian sudah saling mengenal."

Tadi Jue Wang Fu Ren melihat ada sesosok bayangan yang sedang bersembunyi di tempat gelap, begitu kedua pak tua mengetahui tampat persembunyiannya, orang itu segera melarikan diri.

Jue Wang Fu Ren mengejarnya tapi ilmu meringankan tubuh orang itu sangat tinggi.

Setelah beberapa lama baru bisa terkejar, orang itu segera membalikkan badan dan memukul.

Walaupun pukulan ini sangat kencang tapi ilmu Shen San Niang sangat tinggi, dia tidak begitu saja mudah terkena pukulannya, dengan cepat Jue Wang Fu Ren telah menotok nadi orang itu, saat itu Ling Ying sudah sampai di sana, begitu melihat orang itu, Ling Ying segera berteriak.

"Bukankah kau adalah orang yang datang bersama dengan Xiao Guan?"

Maka mereka membawa orang ini kembali ke tempat tadi, tapi baru saja mereka berjalan sebentar, Shen San Niang melihat ada kereta kuda yang sedang berlari dengan sangat kencang.

Dia meninggalkan Ling Ying dan pemuda itu, dengan cepat berlari menghampiri kereta itu dan menghentikan pak tua Le Shui yang berniat akan membunuh Tetua Xi Men.

Sekarang Jue Wang Fu Ren tampak tertawa dingin, segera Guan Ning berkata.

"Orang ini datang bersamaku, harap Nyonya masih mau melihat mukaku, bukalah totokannya!"

Guan Ning tahu ilmu silat Jue Wang Fu Ren sangat tinggi, otomatis totokannya berbeda dengan orang lain, bahkan pak tua Le Shan juga tidak dapat membuka totokan ini.

Seharusnya dia datang bersama dengan kedua pak tua, mengapa dia mengatakan datang dengan Guan Ning.

Tapi Jue Wang Fu Ren akhirnya membuka juga totokan Wu Bu Yun....

urat Gong Sun Yong.

Tiba-tiba pinggang Jue Wang Fu Ren melipat, telapak tangannya menyerang, dengan cepat dia melayangkan tangannya dan menampar pak tua Le Shui yang ada di sisinya.

Tadinya Le Shui melihat Jue Wang Fu Ren yang sedang membuka totokan Gong Sun Yong, tidak disangka kalau Jue Wang Fu Ren akan menampar Le Shui, telapak tangan dilayangkan begitu cepat membuat Le Shui tidak bisa menghindar saat itu, dia langsung terkena tamparan.

Kedudukannya di dunia persilatan sangat tinggi, tidak pernah dia mengalami penghinaan seperti ini?

Segera kemarahaannya meledak, dia sudah siap untuk bertarung.

Jue Wang Fu Ren tampak sudah marah dan berkata.

"Kurang ajar kenapa kepalamu memukul tanganku?"

Le Shui menjadi terpaku, dalam hidupnya belum pernah dia mendengar kata-kata seperti itu.

Terdengar Hong Er dan Ling Ying tertawa, dia tampak berpikir sebentar kemudian dia marah sambil membentak, dia berkata "Kau mau mempermainkanku, mengapa kau berkata...."

Kata-katanya belum habis, Shen San Niang sudah menyela.

"Kalau tadi kau berusaha menarik kereta itu, kepalamu sekarang pasti tidak memukul tanganku."

Pak tua Le Shui masih dalam keadaan terpaku, dia merasa marah tapi kemarahannya tidak bisa dikeluarkan. Dalam hati dia berpikir.

"Perempuan ini benar-benar sulit diajak kompromi, tampaknya dia tahu kalau tadi aku ingin membunuh Xi Men Yi Bai, pukulannya tadi termasuk ringan, jika gadis itu mengatakan sesuatu, dia pasti akan segera membunuhku."

Karena dia selalu merasa dirinya pintar, dia tidak pernah mau dirugikan oleh orang lain.

Dia tahu ilmu silat Jue Wang Fu Ren sangat tinggi, dia tidak akan bisa menang dari perempuan ini, selain itu usianya sudah tua, kalau dia harus mati di sini, itu benar-benar sangat memalukan terpaksa sekarang dia berusaha menahan diri, melihat nadi Gong Sun Yong sudah dibuka, segera dia berdiri dan berkata.

"Mari Kak, Anak Yong, kita pergi dari sini."

Pak tua Le Shan melihat saudaranya telah dipukul seseorang, hatinya merasa sedih. Dia membentak.

"Anak Yong, ayahmu mencarimu ke mana-mana, kalau ada perselisihan yang bagaimana juga, pulanglah dulu untuk membereskan semuanya, marilah kita pulang sekarang!"

Shen San Niang berpikir.

"Ternyata mereka datang tidak bersama-sama, kata-katanya sangat aneh, pemuda itu adalah putra Tai Hang Zi Xue, kenapa dia melarikan diri dan menyamar seperti itu?"

Gong Sun Yong berdiri, dari tadi dia selalu menundukkan kepalanya, diapun tidak mau melihat kedua pak tua itu, ketika mereka mengajaknya pergi, tampaknya dia juga tidak mendengarnya.

Shen San Niang tertawa dingin.

"Kalau orang lain tidak mau pergi, jangan dipaksa."

Guan Ning juga merasa aneh, pemuda bermarga Wu....

Gong Sun Yong yang sudah berjanji akan bertemu di Miao Feng Shan Mao Jia Xiao Dian, kenapa tiba-tiba dia bisa datang ke sini.

Begitu mendengar kata-kata Jue Wang Fu Ren, Guan Ning ikut berkata.

"Betul! Betul! Kalau Kakak Wu tidak mau pergi.... Hei, hei, Kakak Gong Sun tidak mau pergi, tidak ada orang yang boleh memaksanya pergi."

Pak tua Le Shui tampak marah dan tidak ada tempat untuk melampiaskannya. Mendengar kata-kata Guan Ning, dia membentak.

"Ini adalah urusan keluarga kami, kalian tahu apa, anak kecil jangan banyak ikut campur!"

Ling Ying juga marah, dia ingin memarahi pak tua itu. Shen San Niang sudah membentak.

"Kata-katamu harus jelas, siapa yang kau maksud anak kecil? Jika umurnya sudah tua bagaimana?"

Ling Ying menyambung.

"Betul, betul, jika umurnya sudah tua bagaimana? Ada orang yang sudah tua tapi tidak mati. Ini yang disebut.... disebut...."

Tidak tahu apa terusan dari kalimat ini, Hong Er dengan cepat menyambung.

"Sudah tua tidak mati tapi menjadi perampok. Ha, ha, ha.... tua tidak mati malah akan menjadi perampok."

Hong Er merasa dendam karena tadi sudah dipukul sehingga mengatakan kalimat itu.

Sekarang pelindungnya sudah berada di sisinya, dia tahu kalau kedua pak tua itu tidak akan berani memukulnya lagi maka dia berani bertepuk tangan sambil tertawa.

Ketiga perempuan itu, satu persatu memarahi Le Shui, membuatnya tidak bisa berkutik.

Guan Ning ingin tertawa dan berpikir.

"Menurut kata-kata orang-orang jika 3 orang perempuan sudah berkumpul maka mereka akan menjadi sebuah kereta usang. Rubah tua itu begitu pintar, sekarang harus bertengkar dengan perempuan. Bukankah ini sama dengan mencari paku untuk diinjak?"

Gong Sun Yong masih menundukkan kepalanya, tapi tiba-tiba menarik nafas panjang. Dia berkata.

"Aku harap kedua kakek guru bisa mengatakan kepada ayahku, tolong beritahu ayah kalau aku.... kalau aku tidak akan kembali ke rumah dulu, kecuali...."

Pak tua Le Shan walaupun tidak terkena pukulan juga tidak terkena amarah para perempuan itu, tapi dalam hati dia merasa tidak enak. Setelah mendengar kata-kata Gong Sun Yong, dia berkata.

"Anak Yong, kau benar-benar bodoh! Walaupun kau mempunyai alasan supaya kami mengatakannya kepada ayahmu, tapi di sini bukan tempat yang tepat untuk mengatakan, lebih baik ikut...."

Kata-katanya belum habis, Shen San Niang sudah berkata.

"Ada apapun bisa dibicarakan di sini. Apakah kata-katanya tidak boleh didengar orang lain?"

Dia membalikkan badan dan berkata kepada Gong Sun Yong.

"Anak muda, kau ingin menyampaikan apa, katakan saja sekarang, jangan takut!"

Tapi Gong Sun Yong hanya berdiri, tidak ingin bicara lebih lanjut. Pak tua Le Shan berkata lagi.

"Anak Yong, semenjak kau turun gunung, kami terus mencarimu ke mana-mana. Semua orang di Tai Hang Shan pergi mencarimu, yang pergi ke ibukota ada dua orang dan berbentuk satu grup, ada beberapa grup lainnya, jika kali ini jika kau tidak pulang, maka kau akan menyia-nyiakan kebaikan semua orang."

Guan Ning baru teringat, kemarin malam dia dan Gong Sun Yong melihat ada 6 orang memakai baju ketat dan wajah penuh dengan jambang menunggang kuda, dia baru tahu ternyata orang-orang itu datang mencari Gong Sun Yong, tapi Guan Ning tetap merasa aneh.

"Kelihatannya orang-orang itu tidak bermaksud jahat kepadanya, mengapa dia tidak mau pulang?"

Gong Sun Yong tidak bergerak, siapapun yang berkata seakan-akan dia tidak perduli. Pak tua Le Shui tidak tahan lagi. Dia berkata.

"Benar-benar anak durhaka, ayahmu begitu sayang kepadamu...."

Perkataannya belum selesai, Gong Sun Yong sudah mengangkat kepala. Dengan tegas dia berkata.

"Aku selalu menghormati Kakek Guru, jika Kakek Guru terus memaksa, jangan salahkan aku...."

Pak tua Le Shui marah.

"Kau mau apa, aku tidak percaya kau berani mencoreng hubungan ayah dan anak, jika kau berani melakukannya, siapa yang mau membela orang yang tidak tahu aturan seperti kau??"

Shen San Niang sangat pintar, dia seperti sudah tahu inti permasalahnya, tapi dia juga merasa Gong Sun Yong bersalah, dengan sudut matanya dia melirik Guan Ning, seperti sedang bertanya.

"Ada apa dengan temanmu?"

Tapi wajah Guan Ning seperti kebingungan, dia tidak tahu apa yang telah terjadi pada Gong Sun Yong. Shen San Niang berpikir.

"Jika pemuda ini bersalah, apakah aku boleh membelanya?"

Dia ingin menarik diri dari masalah ini, tiba-tiba dari kejauhan terdengar ada yang berteriak.

"Kebakaran.... kebakaran...."

Suara teriakan itu semakin dekat, suara ribut-ribut semakin kacau, ternyata kuil itu sedang terbakar, apinya sangat besar, walaupun di sana adalah tempat terpencil, malam-malam seperti ini tidak ada orang yang datang ke sana, sekarang sudah hampir dini hari, orang-orang desa sudah bangun, mereka melihat ada kebakaran dari kejauhan dan mereka datang untuk membantu memadamkan api itu.

Shen San Niang berkata.

"Sudah ada orang yang datang memadamkan api, kita harus segera meninggalkan tempat ini kalau tidak orang-orang itu pasti akan mengira kita yang telah membakar kuil itu. Adik, kau dan.... kau dan Xiao Guan satu kereta. Aku dan Hong Er satu kereta. Mari kita pergi dari sini!"

Dia sudah membagi-bagi tempa, nama Gong Sun Yong tidak disebut, berarti dia tidak ingin mengurusi hal itu lagi. Guan Ning menghembuskan nafas, dia berjalan ke sisi Gong Sun Yong.

"Wu-Gong Sun Yong aku pergi dulu, kau harus...."

Gong Sun Yong berdiri dengan lesu. Dia berkata.

"Baiklah, kau pergi dulu saja, aku titip orang yang ada di dalam kereta itu kepadamu."

Guan Ning melihat dia yang tampak tidak bersemangat, dia merasa sedih dan berkata.

"kau tenang saja!"

"Aku berikan kereta itu kepadamu."

Tiba-tiba dia berbisik.

"Di bawah kereta...."

Kemudian dia berkata.

"Selama gunung hijau, sungai yang terus mengalir, kita pasti akan bertemu lagi."

Dia membalikkan badan dan berkata kepada kedua pak tua itu.

"Aku akan ikut kalian pulang."

Kedua pak tua itu saling pandang, dengan senang mereka berkata.

"Itu baru anak baik!"

Suara orang-orang semakin mendekat dan masih terdengar langkah orang berlari. Shen San Niang dengan cepat naik ke atas kereta dan berteriak.

"Cepat pergi dari sini!"

Ling Ying dengan cepat naik ke atas kereta, tapi Guan Ning masih bengong melihat Gong Sun Yong. Ling Ying berteriak.

"Xiao Guan, cepat naik!"

Gong Sun Yong melambaikan tangan.

"Pergilah Kakak Guan!"

Dia terus melihat ke bawah.

"Aku.... sebenarnya aku juga ingin pergi."

Dengan langkah besar dia menghampiri kedua pak tua lalu pergi bersama mereka. Shen San Niang dengan dingin berkata.

"Dasar tua bangka, jika aku berniat mengurus masalah keluargamu, hari ini kalian tidak akan lolos dari tanganku."

Dia sudah menarik tali kekang kuda dan berlalu dari sana.

Setelah bayangan Gong Sun Yong tidak ' terlihat, Guan Ning baru naik ke atas kereta.

Dia merasa tidak enak dan merasa bersalah kepada Gong Sun Yong.

Dia masih belum tahu kalau kereta sudah berjalan.

Dalam hati dia berpikir.

"Orang seperti Gong Sun Yong bukan orang yang tidak tahu hubungan keluarga."Persoalan apa yang telah terjadi padanya, Guan Ning tidak bisa menebak. Satu tangan memegang tali kuda, satu tangan memegang pecut. Ling Ying duduk bersama dengan Guan Ning. Yang pasti dia merasa sangat senang dan tertawa.

"Walaupun aku merasa marah dan pergi dari sisimu, tapi terakhir aku sadar bahwa pikiranku tidak benar, aku bersembunyi di taman rumahmu, pagi-pagi aku sembunyi di sebuah gudang, malam-malam menjaga rumahmu, untung rumahmu besar, begitu lapar aku bisa ke dapur dan mencuri makanan di sana dan tidak ada yang tahu. Kemudian aku melihatmu pergi, akupun menyewa sebuah kereta dan menguntitmu dari belakang, melihatmu menyamar menjadi seorang kusir, aku ingin tertawa melihatnya. Benar-benar tidak disangka kelakuanmu. Ha, ha, ha!.... Tidak disangka, sekarang akupun menjadi kusir."

Kereta berbelok ke sisi jalan, sebelah tangannya memegang tali kuda, dia melihat ke arah jalan. Dia tertawa lagi.

Baca Juga: Duel Di Butong 4

Baca Juga: Beruang Salju 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert