Ceritasilat Novel Online

Misteri Pulau Neraka 11

Eps 11 Misteri Pulau Neraka - Gu Long

Baca online Misteri Pulau Neraka - Gu Long

Cersil Misteri Pulau Neraka - Gu Long.

Seandainya dia benar-benar berkata demikian, Nyoo Siau-sian pasti akan percaya penuh dengan perkataannya.

Dalam pada itu Oh Put Kui telah berhasil pula membuktikan bahwa apa yang diduganya memang benar.

Ternyata suara pembicaraan dari Lian Peng disalurkan melalui balik tirai besi diantara mutiara yang berada dalam ruangan, bahkan bisa jadi dibalik tirai besi itu terdapat sebuah lubang kecil yang dapat dipakai untuk mengintip keadaan dalam ruangan tersebut.

Setelah termenung sejenak, tiba-tiba dia berkata lagi sambil tertawa.

"Bibi Lian, semua perhitunganmu cukup membuat aku kagum, hanya sayang kesalahanmu yang terbesar tak pernah terpikirkan olehmu.............."

"Aku tidak percaya kalau aku telah melakukan kesalahan!"

Kata Lian Peng sambil tertawa dingin.

"Bibi Lian, kau harus tahu penjara kematian ini tak akan mampu mengurung kami!"

Seru sang pemuda sambil tertawa. Baru selesai perkataan itu diutarakan, Lian Peng tak bisa menahan diri lagi untuk tertawa tergelak.

"Oh kongcu, bagaimanakah kemampuanmu bila dibandingkan dengan kemampuan Ban Sik-tong?"

"Tentu saja tak bisa ditandingi, Ban tua merupakan seorang tokoh persilatan yang luar biasa."

"Itulah dia, bahkan Ban Sik-tong pun terkurung disini.............."

Belum habis perkataan itu diutarakan kakek latah awet muda telah berseru sambil tertawa tergelak.

"Budak Lian, kau tak usah mengigau lebih dulu, sebetulnya aku masih ingin berdiam beberapa lama lagi dalam ruangan yang kau sebut sebagai penjara kematian ini, tapi berhubung aku mendongkol setelah mendengar ejekanmu ini, maka terpaksa aku akan keluar lebih awal..................."

Begitu selesai berkata, mendadak terdengar suara bentakan keras berkumandang dalam ruangan.

Sementara Oh Put Kui masih tertegun, dinding batu setebal tiga depa itu sudah retak sepanjang beberapa kaki dengan lebar beberapa depa............

Kemudian disusul kakek latah awet muda pun menerobos keluar dari situ.

Oh Put Kui segera mendengar jeritan kaget dari Lian Peng bergema tiba.

"Bagaimana anak muda?"

Terdengar kakek latah awet muda berseru kepada Oh Put Kui sambil menepuk bahunya.

"aku tidak mengibul bukan...............?"

Oh Put Kui tertawa.

"Sejak tadi boanpwe sudah percaya!"

Kakek latah awet muda segera mendongakkan kepalanya, lalu berseru sambil tertawa tergelak.

"Hey budak, apakah kau masih berada disitu?"

Tentu saja tidak ada. Disaat kakek latah awet muda menjebol dinding tadi, Lian Peng sudah kabur terbirit-birit karena ketakutan.

"Ban tua, dia sudah lari ketakutan !"

Seru Oh Put Kui kemudian sambil tertawa.

"Anak muda, aku rasa dia bukan lari karena ketakutan............"

"Empek tua, kau anggap apa yang sedang dilakukan Lian Peng?"

Tanya pengemis pikun tertegun.

"Tentu saja mencari akal jahat lain untuk memendam hidup-hidup kita semua disini..........."

"Mati tertimbun paling tak enak, Ban tua, lote, ayoh cepat kita kabur dari sini............."

Teriak pengemis pikun ketakutan.

"Tak usah terburu napsu,"

Oh Put Kui menggeleng sambil tertawa.

"Ban tua, apakah gwakongku berada disini?"

"Yaaa, benar!"

"Mengapa boanpwe tidak mendengar suaranya?"

"Haaaaahhhh.......... hhhaaaaaahhhhhhhhh........ hhhhhaaaaahhhhhh.......... karena aku telah menotok jalan darah tidurnya."

"Mengapa begitu?"

"Si tua aneh she Lan ini kelewat berangasan. Aku kuatir setelah lolos dari sini nanti kelewat banyak membunuh orang, oleh sebab itu mau tak mau aku harus menotok jalan darah tidurnya lebih dulu, apalagi aku pun tak tega membiarkan dia tahu dengan mata kepalanya sendiri bagaimana dirinya ditolong orang........."

Oh Put Kui bukan orang bodoh, dia segera mengerti bahwa dibalik kesemuanya ini tentu ada hal-hal yang tak beres. Maka sambil tertawa hambar katanya.

"Ban tua, apakah gwakongku telah mendapat musibah?"

"Anak muda kau memang cerdik sekali.........."

Puji kakek latah awet muda setelah tertegun sejenak. Oh Put Kui merasa amat terperanjat, cepat-cepat dia berseru.

"Ban tua, luka apakah yang diderita dia orang tua?"

Tiba-tiba kakek latah awet muda menghela napas panjang.

"Kakek luarmu telah dibelenggu tulang pie-pa-kutnya oleh Wi Thian-yang dengan rantai tembaga yang terbuat dari baja berumur selaksa tahun, akibatnya meskipun memiliki ilmu silat yang tinggi namun tak dapat digunakan.........."

"Jadi ilmu silat yang dimiliki gwakongku telah punah?"

Tanya Oh Put Kui dengan perasaan ngenes.

"Siapa yang mampu memunahkan ilmu silat dari situa aneh she Lan? Anak muda, kakek luarmu hanya terluka pada goan-khinya, asal beristirahat barang sepuluh hari sampai dengan setengah bulan, kesehatannya tentu akan pulih kembali."

Oh Put Kui baru merasa lega setelah mendengar perkataan ini, katanya kemudian.

"Kalau begitu biar boanpwe masuk kedalam untuk membopong keluar dia orang tua."

"Tidak usah kau sendiri, biar sipengemis cilik yang melakukan tugas tersebut!"

Tapi Oh Put Kui segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Tidak bisa jadi, sudah menjadi kewajiban boanpwe untuk mengurusi kakek luarku, masa aku harus merepotkan Liok loko untuk membopongnya?"

Dalam pada itu sipengemis pikun telah menerobos masuk kedalam penjara kematian tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Dalam waktu singkat dia telah muncul kembali dari balik goa dengan membopong seorang kakek berbaju biru yang berjenggot putih.

Betul juga, kakek berbaju biru itu sudah tertidur sangat nyenyak..........

Jubah biru yang dikenakan olehnya sudah compang camping...........

dibagian bawah bahunya terdapat dua buah lubang besar, mungkin disitulah rantai baja yang semula membelenggunya berada.

Dengan sedih Oh Put Kui menjura kepada Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui yang tertidur nyenyak itu, lain gumamnya.

"Cucunda menjumpai gwakong........."

Tanpa disadari titik air mata telah jatuh berlinang membasahi pipinya. Melihat hal tersebut, kakek latah awet muda segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa.

"Anak muda, kau jangan bersedih hati, mari kita buka pintu dan menerobos keluar dari sini........."

"Boanpwe turut perintah.........."

Dengan langkah lebar dia berjalan menuju kedepan pintu batu yang btertutup rapat itu, lalu menarik napas panjang, menghimpun tenaga dalam sebesar sepuluh bagian dalam telapak tangannnya, dan diiringi suara bentakan keras segera dilontarkan kedepan.

"Blaaaaaaammmmm............."

Pintu batu itu segera hancur berkeping-keping dan roboh keatas tanah.

"Ilmu pukulan yang sangat hebat, anak muda, ternyata kau mampu menghancurkan seluruh pintu batu tersebut!"

Padahal secara diam-diam Oh Put Kui sendiripun merasa sangat terkejut.

Ia tak habis mengerti darimanakah datangnya tenaga serangan yang begini dahsyat.

Tapi dia lupa, serangan tersebut dilancarkan olehnya dalam keadaan sedih dan marah, tak heran kalau tenaga yang terpancar kemudian sama sekali diluar dugaan bahkan satu kali lipat lebih dahsyat daripada kemampuannya semula.

Dengan cepat mereka bertiga melangkah keluar dari pintu batu tersebut.

Tapi pintu keluar diatas permukaan tanah ternyata disumbat pula rapat-rapat.

Kakek latah awet muda segera berseru sambil tertawa.

"Anak muda, pergunakan pedangmu."

Oh Put Kui menurut dan segera mencabut keluar pedang karatnya, baru saja siap akan dibacokkan keatas, mendadak kakek latah awet muda menghalangi kembali seraya berseru.

"Berikan pedang itu kepadaku!"

Oh Put Kui berdiri tertegun setelah mendengar seruan itu, tapi dia segera menyodorkan pedang karat itu kedepan.

Setelah menerima pedang tersebut, kakek latah awet muda baru berkata sambil tertawa tergelak.

"Anak muda, tahukah kau apa kegunaaan pedang yang kupinjam ini..........."

Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Biarpun boanpwe tidak tahu setepatnya namun masih dapat menduga, bukankah kau ingin menggunakan ketajaman pedang tersebut untuk membelah pintu tersebut..............."

"Kau hanya betul separuh anak muda!"

Seru kakek latah awet muda sambil tertawa.

"Hanya betul separuh?"

"Aku tak akan mempergunakan ketajaman dari pedang tersebut, melainkan menggunakan sari hawa sakti dari ketajaman pedang tersebut.............."

Setelah berhenti sejenak, kakek itu berkata lebih jauh.

"Pedang ini merupakan senjata tajam yang luar biasa, apa bila digunakan oleh orang yang bertenaga dalam tinggi, dan menyalurkan seluruh kemampuan kedalam pedang tersebut, maka baja yang berada sepuluh kaki jauhnyapun akan tertembus juga...................."

"Boanpwe sudah mengerti!"

Oh Put Kui tertawa.

"Apa yang kau pahami?"

"Pintu batu yang tembus keatas ini tebalnya mencapai berapa kaki, kau orang tua tentu kuatir boanpwe tidak memahami rahasia tersebut sehingga membuang tenaga dengan percuma tanpa memberikan hasil yang nyata, bukankah demikian?"

"Ya memang begitulah................"

Kakek latah awet muda tertawa.

Begitu selesai berkata, pedangnya yang berada ditangan kanan segera ditusukkan kearah pintu batu yang tebal itu.

Dengan sebilah pedang yang sama, namun memberikan pengaruh yang berbeda ditangan kakek tersebut.

Oh Put Kui segera menyaksikan disaat ujung pedang karat cing-peng-kian itu hampir mencapai pintu batu itu, tiba-tiba menyembur keluar segulung hawa pedang berwarna hijau yang langsung menembusi batu tersebut.

Ketika kakek latah awet muda mengerahkan tenaganya sambil memutar pergelangan tangan.

Hancuran batu segera berguguran keatas tanah bagaikan hujan gerimis.

Secara beruntun kakek latah awet muda melancarkan tiga buah serangan berantai.

Diatas pintu batu yang sangat tebal itu segera muncul tiga retakan besar yang membelah batu besar menjadi tiga bagian.

Tidak sampai disitu batu raksasa seberat ribuan kati itu rontok keatas tanah, tiba-tiba kakek latah awet muda mengayunkan tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan dahsyat setelah itu baru serunya sambil tertawa tergelak.

"Anak muda, bagaimana hasilnya............."

Ternyata pintu batu itu sudah terbelah sehingga muncul sebuah lubang yang besar.

Sebaliknya hancuran batu yang terbelah oleh pedang tadi sudah mencelat sejauh dua kaki lebih oleh tenaga pukulan kakek latah awet muda, terbukti timbul suara gemuruh yang keras diatas permukaan tanah sebelah atas.

"Ban tua, kekuatan tenaga pukulanmu benar-benar mengagumkan boanpwe.........."

Puji Oh Put Kui kemudian sambil tertawa.

kakek latah awet muda tertawa terbahak bahak, setelah mengembalikan pedang ketangan Oh Put Kui, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menerobos keluar dari pintu rahasia tersebut.

Setelah menyarungkan pedangnya, Oh Put Kui malah mundur selangkah kebelakang.

Dia membiarkan pengemis pikun yang membopong kakeknya keluar lebih dulu sebelum dia menyusul dibelakangnya.

Ketika mereka bertiga sudah keluar dari penjara bawah tanah, ditemukan ruangan loteng Seng-sim-lo telah terang benderang bermandikan cahaya lentera.

Meja altar yang berada dalam ruangan telah hancur berantakan tertumbuk oleh pintu batu yang mencelat terkena pukulan tadi.

Setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kakek latah awet muda segera berseru.

"Anak muda, mari kita balik dulu ke gedung penerimaan tamu..........."

"Silahkan kau orang tua mengambil tampuk pimpinan!"

Sahut Oh Put Kui tertawa. Mendadak pengemis pikun menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berseru.

"Aku rasa tak baik, kita tak boleh terlalu lama berdiam didalam sarang harimau..........."

"Huuuuuuh, tempat macam inipun disebut sarang harimau?"

Kakek latah awet muda tertawa tergelak.

"kentut anjing, hey ppengemis cilik, jika nyalimu kelewat kecil lebih baik cepat-cepat menggelinding pergi dari sini, aku kuatir kau akan membikin malu perkumpulanmu saja........"

"Aaaaaaakh, tindakan pengamanan seperti ini bukan termasuk perbuatan yang memalukan,"

Teriak pengemis pikun.

"Ban lopeh, ini namanya orang yang tahu diri."

"Huuuuuuh, tahu diri apa.........."

Ejek Oh Put Kui tertawa geli.

"Hey kunyuk,"

Seru kakek latah pula.

"ini bukan namanya tahu diri, tapi pengecut takut mati !"

"Aku sipengemis bukan seorang pengecut yang takut mati."

Seru pengemis pikun sambil membalikkan biji matanya.

"yang benar, Lan cianpwe ini tak boleh sampai memperoleh rasa kaget lagi akibat gangguan dari mereka !"

Diam-diam terkejut juga Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, dia merasa apa yang dikatakan sipengemis pikun memang beralasan sekali.

Tapi si kakek latah awet muda segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Siapa yang berani berbuat demikian? Selama aku berada disini, tak nanti mereka berani mencoba mencabut gigi dari mulut harimau............."

Memang apa yang dikatakanpun bukan sebuah kibulan kosong belaka.

Sudah barang tentu pengemis pikunpun tak berani banyak berbicara lagi.

Dengan dipimpin oleh si kakek latah awet muda, berangkatlah ketiga orang itu menuju ke gedung tamu agung.

Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui segera pula direbahkan diatas pembaringan dalam kamar kakek latah awet muda.

Sedangkan Oh Put Kui balik pula kedalam kamar sendiri.

Hanya pengemis pikun seorang yang mengomel tiada hentinya.

"Sialan........ benar-benar lagi apes.........."

Rupanya lagi-lagi mendapat tugas untuk menjaga pintu.

Padahal apa yang diperbuat mereka saat ini sama sekali tak ada artinya, karena segenap pemimpin dalam gedung Sian-hong-hu telah mengambil langkah seribu dan tak seorangpun yang ketinggalan.

Yang masih tetap berada disitu hanya sikakek pencari kayu dari bukit utara serta situkang ramal setan.

Nyoo Siau-sian dan Kiau Hui-hui juga tidak pergi.

Lian Peng tidak memberi kabar kepada mereka, diapun tak berani mengabarkan kejadian tersebut kepada mereka.

Oleh sebab itulah disaat fajar telah menyingsing dan mereka berdua berniat memberi salam kepada Lian Peng, baru saat itulah diketahui kalau Lian peng sudah tidak berada ditempat.

Nyoo Siau-sian sama sekali tidak merasakan sesuatu gejala yang tidak beres.

Sebab dimasa-masa lalupun bibi Liannya seringkali pergi meninggalkan rumah tanpa pamit.

Berbeda sekali dengan Kiau Hui-hui, dia segera merasakan ada sesuatu yang tak beres.

"Adik Sian,"

Demikian ia berkata kemudian.

"mari kita pergi menengok Oh toako, apakah dia masih berada ditempat.........."

Pertanyaan ini serta merta meningkatkan kewaspadaan Nyoo Siau-sian, dia tahu tentu ada yang tak beres dalam gedungnya.

"Betul enci Kiau,"

Sahutnya segera.

"apakah kau merasakan sesuatu gejala yang kurang beres?"

Kiau Hui-hui manggut-manggut.

"Yaaa, aku kuatir kalau kepergian bibi Lian secara mendadak ini ada sangkut pautnya dengan oh toako!"

"Kalau begitu, mari kita segera berangkat..........."

Kata Nyoo Siau-sian dengan wajah berubah.

Bagaikan hembusan angin, serentak berangkatlah kedua orang gadis itu menuju kegedung tamu agung.

Sungguh diluar dugaan ternyata persoalan yang dijumpai sama sekali berjalan lancar dan tanpa halangan.

Tapi kejadian ini pun membuat Nyoo Siau-sian merasakn hatinya makin pedih dan menderita.

Ia merasakan hatinya resah dan duka.

Diapun merasakan cekaman yang begitu besar dan mengerikan tentang asal usulnya.

Dan saat ini , dia seolah olah merasa dirinya sudah menjadi puteri Nyoo Thian-wi serta memperoleh cemoohan, hinaan dan caci maki dari umat persilatan.

Tapi dengan munculnya kedua orang gadis itu, Oh Put Kui pun menjadi semakin yakin bahwa gedung Sian-hong-hu memang terdapat masalah yang kurang beres, bahkan bisa jadi seluruh peristiwa yang terjadi selama ini didalangi oleh mereka.

sambil tertawa terbahak-bahak kakek latah awet muda segera berkata.

"Hey budak, bukankah Lian Peng hilang secara mendadak?"

"Betul, semenjak pagi tadi, tak seorang manusiapun yang berhasil kami jumpai!"

Sahut Kiau Hui-hui sambil tertawa getir. Kembali kakek latah awet muda tertawa.

"Sudah kuketahui sejak tadi, ia tentu sudah melarikan diri............."

"Sudah kau duga?"

Tanya Oh Put Kui tercengang.

"Haaaaahhhhhh......... haaaaahhhhhhhh.......... haaaaaahhhhhh......... aku bukan cuma menduga, bahkan dugaanku amat tepat sekali. Demi keselamatan jiwanya sudah barang tentu Lian Peng tak akan berani bercokol dalam gedung lagi!"

"Tapi mungkinkah dia kabur kemana?"

Tanya Nyoo Siau-sian dengan perasaan kaget. Bagi pendapat Nyoo Siau-sian, kepergian Lian Peng tanpa pamit merupakan suatu peristiwa yang sukar dimengerti.

"Menurut pendapatmu dia bisa pergi kemana?"

Kakek latah awet muda balik bertanya.

"Boanpwe tidak tahu....."

"Hey budak, biasanya apakah dia seringkali pergi meninggalkan gedung.............?"

"Betul,"

Gadis itu mengangguk.

"bibi Lian memang seringkali pergi meninggalkan rumah."

"Tahukah kau kemana dia pergi?"

Nyoo Siau-sian berpikir sebentar, lalu jawabnya .

"Agaknya suatu kali bibi Lian pernah bilang hendak pergi ke Tay-tong........."

"Tay-tong diShoa-say?"

Tanya kakek latah awet muda dengan kening berkerut.

"Betul!"

"Waaaaah tidak betul !"

Seru kakek latah awet muda sambil garuk-garuk kepala dan menggeleng berulang kali.

"seharusnya dia mesti pergi ke Biau-hong-san!"

"Biau-hong-san?"

Kembali Oh Put Kui tertegun. Kakek latah awet muda segera tertawa.

"Anak muda, tahukah kau apa sebabnya aku mengatakan bahwa dia seharusnya pergi ke Biau-hong-san ?"

"Boanpwe memang ingin mohon petunjuk!"

"sebab diatas bukit Biau-hong-san berdiam seorang manusia aneh dari dunia persilatan!"

Oh Put Kui tidak percaya, mungkinkah dibukit Biau-hong-san berdiam manusia aneh dari dunia persilatan? Sambil tertawa segera ujarnya.

"Boanpwe merasa kurang percaya!"

"Anak muda, pernahkah kau mendengar tentang dua manusia aneh tertawa dan menangis?"

Setelah tertegun sejenak sahut Oh Put Kui.

"Boanpwe pernah bersua dengan Tiang-siau-sin-ang (Kakek sakti tertawa keras) Beng Pek-tim, mungkinkah kakek Beng berdiam diatas bukit Biau-hong-san yang banyak dikunjungi pelancong itu?"

Timbul perasaan tertarik dalam hati kakek latah awet muda setelah mendengar ucapan ini, dia segera bertanya.

"Anak muda, kapan sih kau pernah bersua dengan si cebol Beng........?"

"Boanpwe pernah bersua dengan mereka ketika berada diperkampungan Tang-mo-san-ceng!"

"Kau pernah beradu kepandaian dengan sicebol she Beng itu?"

"Belum pernah!"

Oh Put Kui menggeleng. Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak.

"untung saja kau tidak mencobanya, kalau tidak kau benar-benar tak akan mampu berbuat apa-apa terhadapnya!"

Oh Put Kui tertawa hambar sesudah mendengar ucapan tersebut.

"Jadi kau tidak percaya?"

Tanya kakek latah awet muda sambil mendelik.

"Boanpwe mengerti kalau bukan tandingan dari kakek Beng, itulah sebabnya tak sampai bertarung dengannya,"

Pemuda itu tertawa. Mendadak terdengar pengemis pikun yang berada didepan pintu berteriak.

"Lote, kau jangan kelewat merosotkan kemampuan sendiri!"

"Tapi loko......... aku toh tidak bertarung dengannya waktu itu,"

Bantah Oh Put Kui.

"Siapa bilang tidak? Bukankah kau telah memperlihatkan kehebatan ilmu Thian-liong-sian-kang mu?"

"Aaaaahh, itu sih tidak terhitung seberapa............."

Kata Oh Put Kui sambil tertawa. Mendadak kakek latah awet muda tertawa tergelak.

"Haaaaahhhh.......... haaaaaaaaahhhh........ haaaaaahhhhhh......... aku tahu sekarang, rupanya disebabkan kau telah mendemontrasikan kehebatan ilmu sakti tersebut, maka tua bangka itu dipaksa mundur sebelum bertarung.........."

"Memang begitulah keadaan yang sebenarnya !"

Kakek latah awet muda segera berpaling kearah pengemis pikun, lalu serunya.

"Pengemis kecil, bukankah kau yang memberitahukan soal ini kepadanya?"

Pengemis pikun tertawa.

"Aku si pengemis adalah orang yang takut menderita rugi!"

"Nah itulah dia,"

Seru kakek latah awet muda lagi.

"seandainya mereka berdua betul bertarung, yang jelas bocah muda ini pasti akan menderita kekalahan........"

Pengemis pikun segera menjulurkan lidahnya sambil menarik kembali kepalanya. Sedangkan Oh Put Kui bertanya lagi sambil tertawa hambar.

"Ban tua, apakah Beng lojin berdia di bukit Biau-hong-san?"

"Bukan hanya sicebol Beng, kakek cengeng beralis putih Cin Huay-wan sisetan ceking itupun berdiam pula disana."

Oh Put Kui terkejut sekali, sedangkan Nyoo Siau-sian dan Kiau Hui-hui dibuat tertegun.

Sebenarnya hubungan apakah yang terjalin antara bibi Lian dengan kakek cengeng beralis putih itu?

Tak tahan lagi mereka segera bertanya.

"Ban tua, sebenarnya apa sih hubungan bibi Lian dengan si manusia cengeng itu?"

"Tunggu saja setelah bertemu dengan setan ceking itu, kau boleh bertanya sendiri kepadanya............."

"Jadi kita pergi mencari si manusia cengeng itu?"

Tiba-tiba Nyoo Siau-sian bertanya dengan wajah tertegun. Seakan-akan teringat akan sesuatu, kakek latah awet muda segera berkata sambil tertawa.

"Budak, pernahkah kau bertemu dengan si ceking she Cin itu?"

Nyoo Siau-sian mengangguk.

"Yaaa, pernah bertemu dua kali!"

"Apakah bertemu didalam gedung?"

"Ayah boanpwe yang mengundang kehadirannya.........."

"Nah itulah dia, apa sebabnya Lian Peng pergi mencarinya tentu sudah kau pahami bukan !"

Nyoo Siau-sian menjadi terperanjat sekali teriaknya tanpa terasa.

"Ban tua, jadi maksudmu ayahku............."

Dia tak ingin mengetahui kalau ayahnya mempunyai watak berganda dengan peran yang berbeda.

Dia lebih suka menjumpai ayahnya mati dari pada menemukan hal yang lain, sebab hal semacam itu pasti akan mendatangkan penderitaan penghinaan baginya.

Itulah sebabnya dia tak ingin mendengar kalau ayahnya berada ditempat kediaman si manusia cengeng.

Kakek latah awet muda segera tertawa katanya.

"Budak, besar kemungkinannya bapakmu yang sebentar mati sebentar hidup kembali itu saat ini sudah berada didalam istana Pek soat goan-kunnya dibukit Biau-hong-san!"

"Tidak........ tidak........."

Mendadak Nyoo Siau-sian menutupi wajah sendiri sambil menangis tersedu-sedu. Melihat keadaan itu, Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, bisiknya.

"Adik Sian, kau tak usah menyiksa diri........."

Tapi perkataan ini justru makin melukai perasaan Nyoo Siau-sian, bagaimana mungkin ia tak sedih mengetahui semuanya itu?

Kakek latah awet muda sama sekali tidak ambil pusing akan keadaan tersebut, kembali dia berkata.

"Apa sih yang perlu kau sedihkan? Hey budak, ayahmu toh bernama Nyoo Thian-wi, setelah bertemu dengan Wi Thian-yang nanti, asal kau tak mau mengenalinya toh urusan jadi beres?"

Tapi mungkinkah hal ini bisa dilakukan?

Mungkinkah Nyoo Siau-sian bisa tak mengenalinya?

Tak heran kalau gadis itu menangis semakin sedih.

Kiau Hui-hui berusaha untuk menghibur hatinya, sayang hal ini pun tak ada gunanya.

Oh Put Kui mengerutkan dahinya, tiba-tiba dengan perasaan tak sabar dia beranjak dari ruangan dan menuju keluar ruangan.............

oodwoo

Jilid 38 Kakek latah awet muda yang menyaksikan kejadian ini menjadi gelisah sekali.

"Hey anak muda, jangan mencoba kabur............."

Ia segera bangkit berdiri dan siap mengejar keluar. Oh Put Kui berhenti didepan pintu lain sahutnya sambil tertawa.

"Boanpwe hanya ingin bersemedhi sebentar mumpung waktu masih pagi.................."

"Tidak bisa, kau tidak bisa meninggalkan aku seorang untuk menghadapi kedua orang bocah perempuan itu, dulu gara gara Hian-hian akupun sudah cukup dibikin pusing................."

"Mereka kan masih muda, apa yang mesti kau takuti?"

Ujar Oh Put Kui sambi tertawa. Sambil membenarkan rambutnya yang beruban, kakek latah awet muda menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Anak muda, kau terlalu sedikit yang diketahui................"

Setelah berhenti sejenak dan menghela napas, terusnya.

"Dulu, bukankah nona Hian-hian pun munculkan diri sebagai seorang angkatan muda?"

"Tapi waktu itu usiamu kan masih muda?"

Kembali kakek latah awet muda tertawa.

"Anak muda, bagaimanapun juga kau memang belum banyak berpengalaman, kau tahu, belakangan ini anak gadis lebih suka mencari kaum tua, terutama lelaki yang sudah banyak pengalaman tapi lemah lembut dan tahu mengasihinya, tidak seperti kalian kaum muda, sedikit-sedikit lantas ngambek dan diajak bercekcok.................."

Oh Put Kui merasa geli sekali dan ingin sekali tertawa tergelak, dia tak menyangka kalau begitu banyak persoalan yang diketahui oleh si kakek latah awet muda.

Tapi dia tak sampai tertawa, hanya ujarnya dengan tertawa hambar.

"Ban tua, belum pernah boanpwe bayangkan persoalan-persoalan semacam ini............."

"Itulah sebabnya kau harus banyak berpikir kesana dikemudian hari.........."

Mendadak pengemis pikun bangkit berdiri dan menyela sambil tertawa.

"Ban tua, sesungguhnya dia sudah memikirkan persoalan ini sedari dulu."

Lalu sambil memonyongkan bibirnya menunjuk kedalam kamar, dia berkata lebih jauh.

"Ban tua, seandainya dia tidak memikirkan persoalan ini, buat apa mesti melakukan perjalanan dengan membawa serta kedua orang perempuan itu? Bukankah hal ini terlalu merepotkan dan menjemukan?"

Oh Put Kui memandang sekejap kearah pengemis pikun itu, kemudian tertawa getir. Sebaliknya kakek latah awet muda segera tertawa terbahak bahak.

"Tak kusangka pengemis cilik ini makin lama semakin bertambah pintar.........."

Pada saat itulah, mendadak Nyoo Siau-sian berjalan keluar dari dalam kamar, lalu bertanya dengan sedih.

"Toako, apakah kau sedang marah kepadaku?"

"Tidak!"

Oh Put Kui menggeleng.

"aku cuma ingin beristirahat dan mengatur pernapasan sebentar!"

Nyoo Siau-sian segera menyeka airmatanya, lalu berkata lagi dengan lirih.

"Toako, aku tak akan menangis lagi, mau bukan kau jangan marah lagi?"

Mendengar perkataan itu Oh Put Kui merasakan hatinya bergetar sekali.

Ia sadar, bila kedudukannya didalam hati kecil Nyoo Siau-sian jauh melebihi kedudukan ayahnya, maka banyak kesulitan yang bakal dihadapinya dikemudian hari.

Diapun segera merasakan bahwa dia berusaha untuk menghindarkan diri.

Tapi, sanggupkah dia untuk menghindarkan diri?

.Aku tak akan marah adik Sian, pulanglah dulu keruang belakang bersama nona Kiau, bagaimana pun juga gedung Sian-hong-hu ini toh tak bisa tanpa kepala keluarga....................."

Lalu setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh.

"Bagaimana kalau adik Sian mengumpulkan terlebih dahulu segenap jago yang belum pergi lalu merundingkan persoalan ini secara baik-baik."

"Toako, kau masih begitu menguatirkan persoalanku??"

Nyoo Siau-sian tertawa sedih. Mendengar itu Oh Put Kui segera berpikir.

"Bila kau tidak menguatirkan permintaanmu, tak akan nanti kutempuh perjalanan kemari........"

Tapi diluarnya dia segera menyahut.

"Tentu saja adik Sian, oh ya, tiba-tiba saja aku teringat akan suatu persoalan................"

"Soal apakah itu?"

"Lebih baik adik Sian lakukan pemeriksaan yang teliti, coba lihat apakah ciangbunjin dari keempat partai besar serta Wiei tianglo dari Kay-pang masih berada didalam gedung.........."

"Agaknya mereka sudah berlalu dari sini.........."

Sahut Nyoo Siau-sian cepat. Tapi setelah berhenti sejenak dia menambahkan.

"Mereka datang bersama engkohku, mungkin pergi juga bersama-sama engkohku, tapi tentu akan kuselidiki persoalan ini dari mereka yang masih berada disini..............."

Sambi tertawa Oh Put Kui segera manggut-manggut.

"Yaaaa betul, kau memang harus menyelidikinya kembali, mungkin aku dan Ban tua berniat mengganggu di gedung kalian ini barang setengah bulan lamanya, adik Sian, pergunakanlah waktu selama belasan hari ini untuk menyelesaikan semua masalah besar didalam gedung ini !"

"Toako, kau tak akan mengurusinya ?"

Tanya Nyoo Siau-sian sambil berkerut kening.

"Persoalan apa yang harus kuurusi?"

Oh Put Kui balik bertanya dengan wajah tertegun.

"Tentu saja urusan dalam gedung ini."

Oh Put Kui segera tertawa.

"Bagaimana pun juga aku termasuk orang luar, mana boleh mencampuri rumah tangga adik Sian ?"

Cepat-cepat Nyoo Siau-sian menggelengkan kepalanya, dia berkata.

"Toako, urusan ini kan bukan urusan rumahku, kehadiran Sian-hong-hu dalam dunia persilatan cukup berbobot, masa toako akan cuci tangan begitu saja?"

Tanpa terasa Oh Put Kui berpaling dan memandang sekejap kearah si kakek latah awet muda.

Sebaliknya kakek latah awet muda pun sedang memandang kearahnya sambil tersenyum.

Tiba-tiba saja Oh Put Kui merasakan wajahnya menjadi panas, cepat-cepat dia menggelengkan kepalanya seraya berkata.

"Adik Sian, lebih baik semua urusan tentang gedung ini kau selesaikan sendiri, andaikata timbul banyak persoalan dikemudian hari, dengan kehadiran kakek Ban disini, tentunya kau tak usah menguatirkan lagi.........."

Belum habis perkataan itu diutarakan, kakek latah awet muda sudah berkaok-kaok.

"Anak muda apa sangkut pautnya persoalan itu dengan aku..............?"

"Haaaaaaaaahhhhhhhhh......... hhhaaaaaaaaaahhhhh........ hhhaaaaaahhhhhhhhh...... ban tua, kau toh tak akan bisa melepaskan tanggung jawab tersebut dengan begitu saja,"

Sahut sang pemuda sambil tertawa. Suatu tindakan yang benar-benar mencekik leher kakek latah awet muda sehingga dia tak mampu berkutik lagi.

"Aku tak bisa melepaskan tanggung jawab ini?"

Kakek latah awet muda segera mendelik.

"bocah muda, kau sendiripun jangan harap bisa enak-enakkan belaka."

Oh Put Kui tertawa makin keras.

"Tentu saja, sebab boanpwe memang sudah bertekad akan mengiringi disisimu."

"Waaaaah, aku memang sial banget........... tak nyana aku mesti bertemu setan cilik macam kau........"

"Tampaknya kau seperti menyesal karena harus meninggalkan bangunan loteng batu ini?"

Ejek pemuda itu.

"Tidak, tidak...."

Cepat-cepat kakek latah awet muda berteriak keras.

"siapa bilang aku menyesal? Setiap kali mendengar nama loteng batu itu, kepalaku segera menjadi pusing lagi."

"Nah, kalau memang begitu kau orang tua tak usah menggerutu lagi, bila kau tak mau mencampuri urusan besar dunia persilatan lagi, mungkin sepuluh tahun kemudian orang orang dari golongan putih cuma tinggal separuhnya saja.........."

Kata-kata yang terakhir ini sangat berbobot dan benar-benar memberikan daya pengaruh yang amat besar. Pengemis pikun segera berseru pula sambil manggut-manggut.

"Betul, perkataan lote memang tepat sekali !"

"Kentutnya yang tepat !"

Umpat kakek latah awet muda sambil tertawa gemas.

"Seorang bocah muda cukup memusingkan, apanya yang betul? Dia catut namaku tak lebih hanya merupakan kembangan saja........ padahal aku disuruhnya menjadi mak comblang.........."

Tiba-tiba paras muka Oh Put Kui berubah menjadi merah padam.

Sebab dia menemukan bahwa perkataan dari kakek latah awet muda itu sangat mengena dihatinya.

Dia memang sedang membonceng kakek tersebut untuk mempersatukan kekuatan kaum lurus dan bersama-sama membasmi kaum jahat.

Hanya saja persoalan tersebut tak pernah terpikirkan olehnya selama ini.

"Nah, bagaimana anak muda? Apa yang kukatakan betul bukan..........?"

Kembali kakek latah awet muda itu mengejek. Oh Put Kui segera tertawa.

"Boanpwe tahu bahwa persoalan ini memang tak bisa mengelabui kau orang tua....... hanya saja........."

Dia ingin sekali memberikan suatu penjelasan. Dan pengemis pikun serta Nyoo Siau-sian pun berniat mendengarkan penjelasan tersebut. Tapi kakek latah awet muda segera menukas dengan cepat.

"Sudahlah, kau tak usah banyak bicara lagi, asal aku sudah tahu, ini sudah cukup."

Oh Put Kui tertawa hambar dan tidak bicara lagi. Nyoo Siau-sian pun tidak merasa sedih lagi, tiba-tiba ia berkata kepada Kiau Hui-hui.

"Enci Kian, mari kita kembali keruang belakang."

"Adik Sian, kau..........."

Sebetulnya Kiau Hui-hui ingin bertanya apakah gadis itu sudah dapat menembusi masalah tersebut, tapi ketika sampai dibibir, tiba-tiba saja dia merasa pertanyaan itu tak ada gunanya, karena itu segera diurungkan kembali.

Sambil tertawa Nyoo Siau-sian segera berkata.

"Mari enci Kiau, kita periksa dulu masih ada siapa saja yang tetap tinggal didalam gedung ini............."

Kiau Hui-hui tersenyum dan manggut-manggut.

Mereka berduapun segera memberi hormat kepada kakek latah awet muda serta pengemis pikun, lalu setelah minta diri kepada Oh Put Kui berangkatlah kedua orang itu meninggalkan ruangan tersebut.

Memandang bayangan punggung kedua orang gadis itu, Oh Put Kui menghela napas lirih.

"Aaaaaiiii, betapa malang nasib mereka.............."

OOdwOooo0dw0oOdwOooo Suasana didalam gedung Sian-hong-hu tetap tenang seperti sedia kala.

Lian Peng, siperempuan bunga dari Thian he wan itu tak pernah muncul kembali.

Panji sakti pencabut nyawa Ku Bun-wi juga tak pernah muncul kembali disitu.

Kini, untuk sementara waktu Nyoo Siau-sian menjadi tuan rumah gedung tersebut.

Dan semua masalah yang dihadapipun telah diatasi oleh si tukang ramal setan Li Hong-siang serta kakek pencari kayu dari bukit utara Siang Ki-pia.

Sepuluh hari lewat dengan cepat.

Didalam sepuluh hari ini, Oh Put Kui selalu merawat keadaan luka dari Peng-goan-koay-kek dengan teliti dan seksama.

Kini, Lan Ciu-sui telah sehat dan tumbuh kembali seperti sedia kala.

Terhadap cucu luar yang satu ini, Lan Ciu-sui kelihatan amat senang dan menyayanginya sepenuh hati, oleh sebab itu tak heran kalau Oh Put Kui juga memperoleh banyak keuntungan dari kakek luarnya ini.

Disamping itu, dari pembicaraan kakek luarnya diapun memperoleh berita tentang suatu rencana busuk yang maha besar.

Rupanya Wi Thian-yang adalah utusan yang dikirim untuk membunuh ibunya.

Ia berbuat demikian karena ingin mendapatkan jubah wasiat Thian-sun-gwat-lo-san.

Dan konon jubah wasiat Thian-sun-gwat-lo-san ini hendak dihadiahkan kepada seseorang.

Satu-satunya persoalan yang paling disesali oleh Lan Ciu-sui adalah ketidak berhasilannya untuk menyelediki siapa gerangan orang yang bakal diberi jubah wasiat tersebut oleh Wi Thian-yang.

Atas persoalan yang pelik ini, Oh Put Kui mulai murung dan risau sekali.

Sebenarnya dia berniat langsung pergi mencari Wi Thian-yang.

Tapi Lan Ciu-sui tidak setuju, sebab Wi Thian-yang belum berhasil mendapatkan jubah wasiat Thian-sun-gwat-lo-san tersebut, disamping itu dia sendiripun harus menderita terkurung dalam penjara bawah tanah selama hampir dua puluh tahun lamanya gara-gara kena dicelakai oleh Wi Thian-yang.

Itulah sebabnya Lan Ciu-sui minta kepada Oh Put Kui agar mau bersabar sejenak.

Tentu saja Oh Put Kui tidak ingin menolak permintaan dari kakek luarnya ini.

Tapi diapun balik bertanya.

"Yaya, mana jubah wasiat milik ibuku. Apakah tidak kau pakai ditubuhmu?"

Menghadapi pertanyaan ini Lan Ciu-sui segera tertawa.

Seandainya jubah Thian-sun-gwat-lo-san dikenakan ibunya, tak mungkin ibunya akan tewas, sebab dengan kemampuan dari Oh Ceng-thian serta Lan Hong suami istri, andaikata Pek-ih-ang-hud Lan Hong tidak terluka lebih dulu, tak mungkin mereka akan menderita kekalahan total.

Lan Ciu-sui pun memberitahukan kepada Oh Put Kui bahwa baju wasiat itu telah dipinjamkan ibunya kepada Thian-hian-huicu.

Sekarang Oh Put Kui baru mengerti, apa sebabnya selama dua puluh tahun Wi Thian-yang belum berhasil juga menemukan jejak dari baju wasiat Thian-sun-gwat-lo-san tersebut, rupanya baju itu sudah dipinjamkan kepada Thian-hian-Huicu Ki Un-hong.

Tiba-tiba satu ingatan melintas lewat dalam benak Oh Put Kui...........

Ia seperti mempunyai firasat bahwa diantara dipinjamnya baju wasiat gwat-lo-san tersebut dengan kematian yang menimpa ibunya terdapat suatu sangkut paut yang sangat erat.

Tapi disaat ia mencoba untuk memikirkan persoalan ini lebih jauh, diapun merasa agak bingung.

Kini, Lan Ciu-sui telah mengatakan bahwa raja setan penggetar langit Wi Thian-yang merupakan dalang yang membunuh ibunya, dalam hal ini ia tidak menaruh curiga lagi, tapi dia tetap beranggapan bahwa mencari tahu baju wasiat itu hendak dihadiahkan Wi Thian-yang kepada siapa mungkin jauh lebih berharga.

Karena itulah diapun berkata kepada kakek latah awet muda bahwa dia bermaksud hendak berangkat ke Biau-hong-san lebih dulu.

kakek latah awet muda segera menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berkata.

"Tunggulah tiga hari lagi, kakekmu perlu beristirahat lagi selama tiga hari sebelum berbuat sesuatu."

Terpaksa Oh Put Kui harus menanti lebih jauh.

Tapi menunggu selama tiga hari ini ternyata memberikan manfaat yang sangat besar kepadanya.

Ternyata pada hari kedua, Bong-ho siansu serta Kit Bun-siu munculkan diri disitu.

Menurut perkiraan Oh Put Kui, munculnya dua orang tokoh silat ini sudah pasti karena dihubungi oleh situkang ramal setan Li Hong-siang.

Bagaimanapun juga secara diam-diam Oh Put Kui harus mengakui atas ketelitian dari Li Hong-siang.

Sebab situkang ramal setan telah memberitahukan kepada Nyoo Siau-sian bahwa sebagian besar jago yang berada digedung Sian-hong-hu sekarang, dimasa lampau mereka adalah anak buah dari Kit Bun-siu.

Padahal Kit Bun-siu sendiripun merupakan orang yang paling dipercaya dari Bong-ho siansu.

Oleh sebab itu dengan mendapatkan dukungan dari Bong-ho siansu, hal ini sama artinya dengan memperoleh dukungan penuh dari segenap jago yang masih tersebar dalam gedung Sian-hong-hu.

Sudah barang tentu Nyoo Siau-sian amat setuju dengan usul dari Li Hong-siang ini.

Itulah sebabnya Li Hong-siang segera menulis surat dan memberi kabar kepada Bong-ho siansu.

Bahkan bersama-sama Kit Bun-siu, mereka muncul bersama diibukota.

Malam itu, diruang Wan-sim-teng diselenggarakan sebuah perjamuan kecil untuk merayakan kedatangan Bong-ho siansu serta Kit Bun-siu, tapi dalam kenyataan pesta itu khusus diadakan untuk menyambut munculnya wadah dan wajah baru dalam gedung Sian-hong-hu.......

oOdwOooOdwOo0dw0oOdwOooo Pada hari keempat, Oh Put Kui minta diri kepada Nyoo Siau-sian.

Diluar dugaan ternyata Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui telah menyiapkan pula barang-barang perbekalannya, mereka berdua telah bertekad akan mengikuti Oh Put Kui kemanapun pemuda itu hendak pergi...........

Menghadapi keadaan tersebut, Oh Put Kui segera berkerut kening sambil tertawa getir.

Sebaliknya kakek latah awet muda menyambutnya dengan gelak tertawa keras.

Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui sendiri hanya tersenyum menyaksikan kesemuanya ini.

Akhirnya merekapun berangkat mengikuti Oh Put Kui.

Pengemis pikun segera mendekati Oh Put Kui dan berbisik lirih.

"Lote, aku lihat kau memang muur sekali nasibnya, sekali panah memperoleh dua gadis manis sekaligus................"

Istana Pek-soat-goan-kun dibukit Biau-hong-san berdiri megah dan mentereng.

Hari ini, didepan istana tiba-tiba muncul empat orang lelaki dan dua orang gadis muda.

Dari ke tujuh orang itu, tiga orang sudah lanjut usia dan tiga yang lainnya masih muda.

Mereka bukan peziarah, tapi keenam orang itu langsung menuju kehalaman belakang bangunan istana.

Pengemis pikun dengan rambutnya yang awut-awutan berjalan dipaling muka.

Pengurus istana Pek-soat-kiong berniat menghalangi mereka, tapi usaha tersebut tak berhasil dalam waktu singkat keenam orang itu sudah memasuki halaman belakang.

Halaman belakang istana Pek-soat-kiong luas sekali, pepohonan tumbuh disitu dengan rimbunnya.

Ketika pengemis pikun berjalan menembusi sebuah hutan bwee, mendadak dia menghentikan langkahnya.

Dengan perasaan tegang Nyoo Siau-sian segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu tanyanya.

"Liok tua, ada dimana?"

Dimana? Pengemis pikun membelalakan matanya lebar-lebar, dia sendiripun tidak tahu. Kiau Hui-hui segera berkata sambil tertawa.

"Adik Sian, Liok tua sendiripun tidak tahu!"

Pada saat itulah Oh Put Kui telah berkata sambil tertawa.

"Liok loko, bagaimana kalau kita lakukan pemeriksaan lebih dahulu disekitar tempat ini ?"

Pengemis pikun memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, disitu semuanya terdapat empat buah pesanggarahan indah, sambil menggelengkan kepala segera katanya.

"Tidak usah diperiksa lagi, asal diumpat diakan bakal muncul dengan sendirinya!"

"Aaaaahh, mana boleh begitu..........."

Seru Oh Put Kui sambil berkerut kening. Mendadak............. Kakek latah awet muda telah tertawa tergelak sambil berteriak keras.

"Setan kurus she Cin, kau keluar tidak? Jangan dikira permainanmu itu dapat menghalangiku..............."

Bersamaan dengan teriakan dari kakek latah awet muda itu mendadak muncul segulung asap tipis dari sisi kanan dimana keenam orang itu berada.

Andaikata kakek latah awet muda tidak keburu berteriak lebih dulu, Oh Put Kui sekalian tak nanti akan menaruh perhatian ke situ, dan bisa jadi mereka akan termakan oleh serangan gelap tersebut.

Begitu asap tipis itu muncul, Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui segera tersenyum.

Dia segera mengebaskan ujung bajunya kedepan, asap tipis itupun hilang lenyap tak berbekas.

Pada saat itulah..........

Dari balik sebuah pesanggarahan disisi kanan berkumandang datang suara jeritan aneh yang jauh lebih tak sedap didengar daripada suara tangisan.

"Kau situa bangka celaka ada urusan apa datang mencariku? Hey........."

Setelah terhenti sejenak, orang itu berseru lagi.

"Siapa yang telah menghancurkan dupa sepuluh li ku itu?"

Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui segera tertawa tergelak.

"Haaaaaaaaahhhhhh............. haaaaaaaaaaahhhhh.......... haaaaahhhhhhhh........ siapa lagi, tentu saja aku si Lan manusia aneh!"

Tampaknya orang itu merasa terkejut sekali disamping rasa herannya, kembali dia berteriak.

"Hey Lan lokoay, kau telah berhasil memulihkan kembali seluruh tenaga dalammu?"

Lan Ciu-sui tertawa seram.

"Permainan busuk dari Wi Thian-yang masih belum cukup untuk menhancurkan diriku secara keseluruhan.............."

Sementara itu kakek latah awet muda telah berteriak pula keras-keras.

"Hey setan kurus, kau bersedia keluar tidak?"

Hening sesaat, kembali dia berteriak.

"Terus terang kubilang, andaikata kau tidak keluar lagi dari sini, jangan salahkan bila aku tak akan sungkan-sungkan, kau anggap pesanggrahan kecilmu itu mampu menahan sebuah seranganku..........."

Belum habis perkataan itu bergema, suara yang menyerupai orang menangis itu telah bergema lagi.

"Tua bangka celaka, kau jangan berbuat semaunya sendiri........!"

Bersamaan itu pula didepan pintu pesanggrahan telah muncul seorang kakek bertubuh kurus bagaikan bambu, dengan ketinggian sembilan depa dan memakai jubah berwarna hitam.

Oh Put Kui segera menjumpai kalau paras muka kakek itu pucat pias tak ubahnya seperti sesosok mayat.

Dalam pada itu kakek latah awet muda telah berjalan lebih dulu menghampiri pesanggrahan tersebut dengan langkah lebar.

"SEtan kurus, lebih baik kita berbicara didalam rumah saja.........."

Ajaknya.

"Silahkan!"

Sahut kakek kurus itu sambil berkerut kening.

"setelah bertemu dengan tua bangka semacam kau, memang aku tak bisa banyak berkutik........."

Dibalik pintu merupakan sebuah ruang tamu kecil, dikedua sisinya merupakan kamar tidur yang tertutup dengan tirai tebal, sehingga orang yang berada diluar sulit untuk melihat keadaan didalamnya.

Begitu melangkah masuk kedalam ruang tamu, kakek latah awet muda segera menempati kursi utama.

"Lan lote, silahkan duduk disini!"

Serunya kemudian.

Bukan saja dia sendiri menempati kursi utama, bahkan mengundang pula Lan Ciu-sui untuk menempati disampingnya.

Kakek kurus beralis putih itu tidak banyak berbicara, dia hanya mengawasi sampai keenam orang tamunya duduk semua.

Kemudian Lan Ciu-sui baru bertanya sambil tertawa.

"Saudara Ciu, mana Wi Thian-yang?"

Sekarang Oh Put Kui sudah tahu kalau kakek kurus itu tak lain adalah kakek cengeng beralis putih Ciu Hway-wan, satu diantara dua manusia menangis dan tertawa, tapi sebelum diperkenalkan dia tak ingin turut menimbrung dalam pembicaraan tersebut.

Mendadak terdengar kakek cengeng beralis putih menjerit lengking .

"Wi Thian-yang tidak berada disini!"

"Apa? Wi Thian-yang tidak berada disini?"

Seru Lan Cui-siu dengan kening berkerut.

"Betul!"

"Aku tidak percaya!"

Mendadak kakek cengeng beralis putih menjerit lagi dengan suara yang melengking.

"Aku paling tak suka berbohong dengan orang, apabila saudara Lan tidak percaya, akupun tak ingin memberi penjelasan lebih lanjut, terserah kepadamu sendiri..............."

Berkilat-kilat sepasang mata Lan Ciu-sui memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu setelah tertawa dingin serunya kembali.

"Mana Ku Bun-wi?"

"Diapun tak ada disini !!"

"Saudara Ciu,"

Dengan gusar Lan Ciu-sui segera berseru.

"aku harap kau jangan bermain gila dihadapan kami !"

Kakek cengeng beralis putih pun segera tertawa menyeramkan.

"Heeeeeehhhhhh......... hhhhheeeeeeeeehhhhhh.......... heeeeehhhhhhhhh........ saudara Lan, terhadap kalian semua tak perlu ku gunakan sesuatu tingkah, memang dalam kenyataannya mereka sudah pergi meninggalkan bukit Biau-hong-san ini semenjak lima hari berselang.........."

"Kemana mereka telah pergi ?"

Tiba-tiba kakek latah awet muda menimbrung.

"Aku sendiripun tak tahu..............."

"Kau berani mengulangi sekali lagi?"

Teriak kakek latah awet muda sambil melotot besar.

Mencorong sinar mata yang mengerikan hati dari balik mata orang tua itu.

Kakek cengeng beralis putih Ciu Hway-wan benar-benar tak berani mengulangi kata-katanya sekali lagi.

Dia mengangkat bahunya lalu berteriak.

"Tua bangka Ban, mengapa sih kau bersikap galak dan garang terhadapku?"

"Untuk menghadapi manusia-manusia macam kau, selain bersikap garang rasanya tak ada cara lain lagi yang bisa kulakukan, apa boleh buat..............."

"Hey, kau memang tua bangka yang tak mau mampus.............?"

Umpat kakek cengeng lagi sambil gelengkan kepala. Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia berkata lagi dengan suara lirih.

"Mereka telah pergi ke Ngo Tay-san!"

"Bukit Ngo Tay-san?"

"Benar!"

"Mau apa mereka pergi ke bukit Ngo-tay-san?"

Desak kakek latah awet muda lebih jauh dengan kening berkerut.

"Aku juga tidak tahu!"

Kali ini si kakek latah awet muda tidak mendesak lebih jauh, seakan-akan dia tahu kalau orang itu juga tak tahu. Lan Ciu-sui segera bertanya pula.

"Berapa orang yang telah pergi kesana?"

"Mungkin terdiri dari belasan orang !"

Lan Ciu-sui menjadi tertegun.

Sudah hampir dua puluh tahun lamanya dia dikurung dalam penjara, sudah barang tentu diapun tidak mengetahui segala sesuatu tentang dunia persilatan secara jelas.

Siapa-siapa saja yang kini menjadi anak buah Wi Thian-yang?

Tentu saja dia tak tahu secara pasti.

Sementara itu kakek latah awet muda telah bertanya lagi sambil tertawa tergelak.

"Setan kurus, mengapa kau sendiri tidak ikut pergi?"

Ketika mendengar pertanyaan ini, diam-diam Oh Put Kui berpikir.

"Pertanyaan dari Ban tuan ini memang tepat sekali, aku sendiripun merasa keheranan apa sebabnya si tua Ciu ini tidak ikut pergi bersama mereka.............."

Kakek cengeng beralis putih menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya.

"Aku malas untuk berjalan jauh!"

"Apanya yang malas berjalan jauh?"

Jengek Lan Ciu Sui sambil tertawa dingin.

"sudah jelas kau bermaksud duduk dirumah sambil berusaha mengumpulkan berita dari mana-mana, bukan kah begitu tujuanmu..........."

Kakek cengeng beralis putih kembali tertawa seram.

"Kau anggap aku adalah seorang pencari berita untuk kepentingan orang lain?"

"siapa tahu memang begitu............"

Kembali Lan Cui-siu mengejek sinis. Kakek latah awet muda segera menambahkan pula sambil tertawa.

"Setan kurus, selain kau, siapa saja yang masih tertinggal dibukit Biau-hong-san ini?"

"Tak ada siapa-siapa lagi, semua anak buah Wi Thian-yang telah pergi dari sini!"

"Bagaimana dengan keempat pengawal pedangnya?"

Pada saat itulah tiba-tiba Oh Put Kui menimbrung.

"Mereka juga ikut pergi!"

Tapi setelah berbicara sampai ditengah kalimat, tiba-tiba dengan marah kakek cengeng beralis putih berteriak.

"Siapakah kau sianak muda? Berani amat mengajak bicara diriku?"

Mendengar perkataan tersebut Oh Put Kui segera tertawa hambar, katanya.

"Masa untuk berbicara dengan kau pun masih dibedakan juga siapa yang berhak dan siapa yang tidak?"

Kakek cengeng beralis putih segera berteriak aneh.

"Tentu saja harus dibedakan mana yang berhak dan mana yang tidak.............. bocah keparat, siapakah kau?"

Oh Put Kui tertawa tergelak.

"Aku she Oh bernama Put Kui.........."

"Oohh, jadi kau yang bernama Oh Put Kui?"

Teriak kakek cengeng beralis putih tiba-tiba sambil berkerut kening.

"Betul, kau katakan cukup berhak tidak untuk berbicara denganmu?"

Kakek cengeng beralis putih melototkan matanya bulat-bulat, agaknya dia hendak mengumbar hawa amarahnya.

Tapi kemudian dia gelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang, kembali katanya.

"Cukup, cukup! Dengan memandang diatas wajah saudara Beng, aku tak akan menyalahkan dirimu lagi!"

Suatu perkataan yang ingin mencari menangnya sendiri.

Agaknya dia mau mengalah karena memandang diatas wajah si kakek sakti tertawa panjang Beng Pek-tim.

Sudah barang tentu Oh Put Kui tak sudi menerima keramahan tersebut karena membonceng kemampuan orang.

Tiba-tiba sja dia tertawa dingin, lalu berseru.

"Kau maksudkan memandang diatas wajah si kakek sakti she Beng..........?"

"Yaa, andaikata aku tidak memandang diatas wajah saudara Beng, tak nanti akan mengampuni dirimu."

Dengan menguarnya perkataan tersebut, suatu kesempatan baik buat Oh Put Kui telah tiba.

Sesungguhnya sianak muda itu memang berniat untuk mengobarkan hawa amarahnya, dan sekarang dia telah memperoleh peluang yang baik untuk keberhasilan rencananya itu.

Serta merta dia pun berseru keras.

"Aku rasa kau tidak usah memperdulikan soal kakek sakti she Beng lagi, disamping itu akupun yakin tak perlu menggantungkan diri pada kebolehan orang lain, tanpa dukungan orang lain, aku merasa diriku cukup berhak!"

"Bocah keparat, kau betul-betul keras kepala........."

Seru kakek cengeng beralis putih dengan kening berkerut. Oh Put Kui kembali tertawa.

"Bila kau tak percaya, mengapa kita tidak mencoba-coba kemampuan masing-masing?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, Lan Ciu-sui segera mengerutkan dahinya rapat-rapat.

Sebagai seorang kakek yang baru bersua dengan cucunya, sudah barang tentu dia tak ingin menyaksikan cucunya menderita kerugian ditangan orang lain, segera serunya pula sambil tertawa dingin.

"Bocah ini adalah cucu luarku, saudara Ciu apakah kau masih merasa kurang puas?"

Kakek cengeng beralis putih nampak tertegun setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian.

"Dia adalah cucumu?"

"Yaaa, dia adalah putra dari putri sulungku, kalau bukan cucuku lantas apa namanya?"

Kakek cengeng beralis putih segera termenung dan membungkam diri dalam seribu bahasa. Lama kemudian................ Kakek cengeng beralis putih membuka matanya kembali, lalu berkata dengan lantang.

"Saudara Lan, aku tetap akan mencoba kemampuan dari bocah muda ini..........."

Timbul hawa amarah diatas wajah Lan Ciu-sui, agaknya dia menjadi berang karena perkataan itu, baru saja hendak mengumbar hawa amarahnya, tiba-tiba kakek latah awet muda menimbrung dari samping sambil tertawa tergelak.

"SEtan kurus, jika kau kurang percaya tentu saja boleh mencoba kemampuannya, tapi aku rasa nama besarmu tidak gampang diperoleh, lebih baik tak usah mencari penyakit buat diri sendiri..........."

Dengan perkataan dari kakek latah tersebut, kakek cengeng beralis putih tak bisa mengundurkan diri lagi dari keadaan tersebut, bagaimanapun juga dia harus mencoba kemampuan dari lawan mudanya ini................

Sebab perkataan tersebut sangat mengena dihatinya memaksa dia tak mungkin berpeluk tangan belaka.

Dengan penuh amarah kakek cengen beralis putih segera berteriak keras.

"Ban tua, terima kasih banyak atas maksud baikmu memperingatkan aku, tapi bagaimanapun juga aku tetap akan mencoba kemampuan dari bocah keparat ini!"

Sesudah berhenti sejenak, tiba-tiba dia berpaling kearah Oh Put Kui sambil serunya pula.

"Hey, anak muda, aku telah bertekad akan mencoba kemampuan yang kau miliki itu........"

"Bagus sekali, aku sendiripun mempunyai keinginan yang sama,"

Jawab Oh Put Kui tertawa. Setelah berhenti sejenak, segera bisiknya pula kepada Lan Ciu-sui, kakeknya.

"Yaya, cucunda tidak takut dengannya!"

"Tapi kau mesti berhati-hati, tenaga dalam yang dimiliki mahluk tua itu amat lihay!"

Kata Lan Ciu-sui sambil memberi peringatan.

"Cucunda tahu.................."

Dalam pada itu kakek cengeng beralis putih telah menjerit keras dengan suara melengking.

"Hey anak muda, aku ingin mencoba tenaga dalam lebih dulu............."

"AKu yakin cukup mampu untuk menghadapimu, tapi kau harus berhati-hati, jangan sampai mendapat malu nanti..............."

Seru sang pemuda sambil tertawa.

Perkataan dari anak muda itu benar-benar sangat lihay, lagi pula tajam sekali.

Kakek cengeng beralis putih benar-benar dibuat naek darah sesudah mendengar perkataan tersebut.

SEpanjang alis matanya segera berkerut, kemudian setelah tertawa seram katanya.

"Bajingan muda, berhati-hatilah kau.............."

Mendadak Oh Put Kui merasa hatinya bergetar keras.

Rupanya bersama dengan selesainya perkataan lawan, sikakek cengen beralis putih telah mengerahkan ilmu Jut-siaw-kui-ku (tangis setan berhati remuk) yang merupakan ilmu sakti andalannya selama ini.

Berhubung diarena masih hadir dua gadis dan pengemis pikun, maka sikakek cengeng beralis putih terpaksa mengerahkan ilmu tangisan setan penghancur hatinya dengan lewat cara ilmu menyampaikan suara.........

Dengan begitu orang lain tak akan mendengar sura tersebut, tapi Oh Put Kui seorang diri dapat menangkap serangan tersebut secara nyata sekali.

Dengan perasaan tergetar, cepat-cepat Oh Put Kui duduk bersila diatas tanah sambil mengatur pernapasan.

Ilmu Thian-liong-sian-kang yang maha dahsyatnyapun dikerahkan untuk melindungi detak jantungnya.

Suara tangisan sikakek cengeng beralis putih itu memang sangat hebat dan sanggup membetot sukma siapapun yang tak kuat mendengarnya, kini walaupun sudah dioancarkan dengan sangat hebat, tapi bagi Oh Put Kui, serangan tersebut sama sekali tidak mendatangkan daya pengaruh apapun.

Pemuda tersebut tetap duduk bersila dengan tenang, mantap dan kuat tak ubahnya seperti seorang hwesio.

Menyaksikan kejadian tersebut, diam-diam si kakek cengeng beralis putih menjadi terkejut sekali.

Dia tidak menyangka kalau kemampuan yang dimiliki Oh Put Kui telah mencapai tingkatan sedemikian hebatnya..........

Biarpun dia sudah mengerahkan ilmu tangisan setan penghancur hatinya sampai paling puncak, namun daya pengaruh tersebut tidak berhasil mengalutkan jalan pikiran lawan.

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba saja timbul niat jahat dalam hati kakek cengeng tersebut, mendadak dia melancarkan serangan yang mematikan.

Tenaga dalamnya segera dikerahkan mencapai dua belas bagian, tangisan keras macam lolongan serigala itu makin lama semakin bertambah merendah, lalu setelah dihimpun dalam pusar, secara tiba-tiba saja dia menangis kembali sekeras-kerasnya.

Tenaga serangan yang digabungkan menjadi satu ini benar-benar mendatangkan daya pengaruh yang luar biasa.

Walaupun Oh Put Kui mengandalkan ilmu Thian-liong-sian-kang untuk melindungi badan, nyaris juga kena kebobolan oleh serangan suara tangisan yang membetot sukmanya sehingga hawa murninya hampir saja buyar.

Tapi untung saja pihak lawan hanya mampu mengerahkan semacam itu hanya satu kali saja.

Andaikata secara beruntun kakek cengeng beralis putih dapat melakaukan dua kali penyerangan secara beruntun, mungkin saja Oh Put Kui tak akan mampu menahan diri sehingga isi perutnya menderita luka parah..............

Padahal waktu itu si kakek cengeng beralis putih telah kehabisan tenaga sama sekali.

Atas getaran akibat serangan maut itu Oh Put Kui masih tetap duduk tenang di tempat semula.

Peristiwa ini kontan saja membuat kakek cengeng beralis putih menjadi kaget bercampur tertegun.

Nyata sekali kemampuan yang dimiliki bocah muda ini memang sangat hebat dan luar biasa.

Padahal kakek cengeng beralis putih yakin, apabila tenaga dalamnya dihimpun menjadi satu dan ilmu tangisan setan penghancur hatinya dipancarkan secara langsung terhadap seseorang, biar dia seorang ketua dari sebuat partai besarpun, tak nanti ada orang yang akan sanggup untuk mempertahankan diri.

Tapi kenyataannya bocah muda she Oh masih sanggup untuk menerima serangannya tanpa kekurangan sedikit apa pun, mungkinkah kemampuan yang dimiliki bocah muda ini jauh lebih tangguh daripada kemampuan para ketua partai lainnya?

Padahal Oh Put Kui sendiripun dibuat terperanjat sekali atas kehebatan lawannya.

Dia bisa mempertahankan diri tanpa menderita kalah tak lain tak bukan karena mengandalkan hawa murninya.

Andaikata si kakek cengeng beralis putih mampu menghimpun kembali sisa kekuatan hawa murninya serta sakali lagi melancarkan serangan dengan ilmu tangisan setan penghancur hati, tak disangkal lagi Oh Put Kui tentu akan menderita kerugian besar................

Dengan demikian kedua belah pihak sama-sama dibuat terkesiap oleh kemampuan lawannya.

Tapi dengan kejadian itu pula mereka berdua sama-sama memperoleh kesan bahwa mereka tak boleh memandang enteng kemampuan yang dimiliki lawannya.

Kakek cengeng beralis putih mengernyitkan alis matanya, lalu setelah membuyarkan hawa murninya, dia berseru keras.

"HEy anak muda, kau telah unggul! Selama hidup meskipun aku enggan tunduk kepada orang lain, tapi hari ini mau tak mau aku harus takluk kepadamu.........."

Setelah menggelengkan kepalanya berulang kali diiringi helaan napas panjang kakek yang kurus lagi jangkung kembali berkata.

"Bocah muda, aku yakin Beng loko pasti pernah menderita kerugian pula secara diam-diam sehingga waktu itu dia mundurkan diri sebelum melakukan pertarungan denganmu..........?"

Rupanya kakek cengeng beralis putih tetap enggan mengakui kelemahannya, terutama dengan rekannya sikakek sakti tertawa panjang..............

Oh Put Kui membuyarkan kembali hawa murninya kemudian berkata sambil tertawa.

"Kakek Ciu terlalu merendah, sesungguhnya Beng tua memang pernah beradu ilmu denganku sebelum mengundurkan diri tempo hari.............."

Kakek cengeng beralis putih segera tertawa keras, meski suara tertawanya jauh lebih mirip dengan tangisan seseorang.

"Apakah kau pergunakan ilmu Thian-liong-ci waktu itu?"

Tanyanya cepat.

"Betul, memang ilmu jari tersebut yang kugunakan."

"Itulah dia anak muda............."

Setelah berhenti sejenak, dia berpaling kearah Lan Ciu-sui dan berkata lebih jauh.

"Saudara Lan, kuucapkan selamat kepadamu karena kau mempunyai seorang cucu yang sangat hebat!"

Dari mimik wajahnya dapat diketahui kalau perkataan tersebut diutarakan setulus hatinya tanpa sesuatu paksaan sedikitpun juga................

Peng-goan-koay-kek Lan Cui-siu segera tertawa terbahak-bahak karena girang.

"Saudara Ciu, aku segera akan menyuruh cucuku minta maaf kepadamu, disamping itu ku ucapkan terima kasih juga kepadamu karena telah berbelas kasih dengan menjaga nama baik cucuku ini."

Cepat kakek cengeng beralis putih menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata.

"Saudara Lan, bila kau lakukan hal tersebut, maka sama artinya dengan mengejek diriku.............."

Tiba-tiba kakek latah awet muda tertawa tergelak, selanya.

"HEy, bagaimana kalau kalian berdua tak usah bersungkan-sungkan terus? Setan kurus she Ciu, kau berdiam di bukit Biau-hong-san selama ini apakah bermaksud menjadi tulang punggung si raja setan penggetar langit?"

"Tidak!"

Diluar dugaan kakek cengeng beralis putih menggelengkan kepalanya.

Jawaban yang diberikan ini kontan saja membuat kakek latah awet muda sekalian menjadi tertegun.

Mereka tidak menyangka kalau kakek cengeng beralis putih Ciu Hway-wan yang bersahabat dengan raja setan penggetar langit Wi Thian-yang, ternyata tidak berkomplot dengannya bahkan tidak pula memberi dukungan kepada rekannya itu.

Tak heran kalau semua orang dibuat terbelalak dan berdiri termangu..........

Kakek cengeng beralis putih Ciu Hway-wan memandang sekejap wajah orang-orang itu, kemudian serunya lagi dengan suara lengking.

"Ban tua, sesungguhnya aku sendiripun dijadikan sandera.............."

"Oleh siapa?"

Hampir saja kakek latah awet muda melompat bangun saking kagetnya.

Benarkah dua manusia aneh tertawa dan menangis telah dijadikan sandera?

Tapi oleh siapa?

Yaa, oleh siapa?

Mereka tidak percaya kalau raja setan penggetar langit mempunyai kemampuan sehebat ini.

Tapi selain Wi Thian-yang, siapa pula yang memiliki kemampuan semacam ini?

Biarpun dalam dunia persilatan terdapat banyak sekali jago-jago berilmu tinggi, tapi siapakah diantara mereka yang mampu menguasai dua manusia aneh tertawa dan menangis sekaligus?

Pertanyaan yang diajukan oleh kakek latah awet muda ternyata tidak memperoleh jawaban yang memuaskan hati.

Kakek cengeng beralis putih menggelengkan kepalanya dan menyahut dengan suara dalam.

Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui segera berseru pula dengan suara dalam.

"Saudara Ciu, mengapa sih kau nampak ragu untuk mengutarakannya keluar?"

Kakek cengeng beralis putih segera memperdengarkan suara tertawanya yang mirip dengan lolongan serigala.

"Saudara Lan, aku bukannya ragu untuk berbicara, tapi sesungguhnya terikat oleh sumpah..........."

"Kaupun terikat oleh sumpah?"

Kakek latah awet muda segera tertawa keras sesudah mendengar perkataan ini.

"hey si kurus, kalau dilihat dari kemampuan orang tersebut untuk memaksa kau si manusia cengengpun harus pegang teguh sumpahmu, bisa kuduga dia tentunya seorang tokoh ternama didalam dunia persilatan."

Kakek cengeng beralis putih tidak menjawab, dia hanya tertawa getir belaka.

Tampaknya dia merasa mengaku tak enak, tidak mengakupun tidak enak, sehingga serba salah jadinya.

Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui yang menyaksikan keadaan tersebut segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaaaaaaaaaahhhhhhhh...........hhhhhhhhhaaaaaaaahh hhhhhh......... haaahhh..... saudara Ciu apakah orang ini adalah Wi Thian-yang?"

Kakek cengeng beralis putih segera menggelengkan kepalanya berulang kali. Dengan kening berkerut kakek latah awet muda berkata pula.

"Kalau orang itu bukan Wi Thian-yang, sudah pasti dia mempunyai hubungan yang erat hubungannya dengan Wi Thian-yang bukan?"

Kali ini kakek cengeng beralis putih mengangguk.

"Ban tua, orang itu seperti juga Wi Thian-yang............."

Kesan yang segera timbul dari perkataannya itu adalah rasa kaget dan tercengang.

Tapi bagi pendengaran Nyoo Siau-sian justru menimbulkan pengharapan yang besar dan tak terhingga.

Dia sangat berharap bahwa ayahnya bukan orang jahat.

"Saudara Ciu", Peng-goan-koay-kek berseru lagi dengan kening berkerut.

"Kalau begitu, masih ada seseorang lain yang mengatur segala sesuatunya dibelakang mereka?"

"Perkataan saudara Lan memang tepat sekali........"

Kakek cengeng beralis putih menjawab sedih.

"setan kurus, cepat kau sebutkan siapa orang itu!"

Kakek latah awet muda segera berteriak keras. Kakek cengeng beralis putih menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Maaf Ban tua, aku tak dapat menuruti permintaanmu itu........."

Meledak hawa amarah si kakek latah awet muda setelah mendengar perkataan itu.

Tapi mungkinkah baginya untuk turun tangan memaksa orang itu berbicara?

Jelas hal ini tak mungkin, sebab diapun tahu paksaannya tak akan menghasilkan apa yang diharapkan.

Itu berarti perjalanan mereka ke buit Biau-hong-san kali ini hanya satu perjalanan yang sia-sia belaka.

Mendadak Oh Put Kui berhasil mendapatkan sebuah akal bagus, dia segera berseru.

"Ban tua, kalau toh kakek Ciu enggan berbicara, boanpwe justru memperoleh sebuah akal bagus yang bisa menyelidiki siapa gerangan manusia dibelakang layar itu secara pelan-pelan........."

"Akal bagus apa yang berhasil kau dapatkan........"

Seru kakek latah awet muda sambil mendelik. Tapi dia segera terbungkam, seakan-akan baru teringat apa yang baru dikatakan Oh Put Kui kembali teriaknya.

"Hey anak muda, coba kau utarakan bagaimana akalmu itu?"

Hampir tertawa Oh Put Kui saking gelinya, dia segera berkata.

"Boanpwe rasa bila ingin menyelidiki orang dibelakang layar itu, maka kita harus mengikuti jejak dari Wi Thian-yang!"

Mendengar ucapan tersebut kakek latah awet muda tertawa tergelak, teriaknya.

"Omong kosong, siapa yang tidak tahu cara tersebut?"

"Ban tua, cara ini memang amat sederhana dan boleh dibilang diketahui setiap orang tapi bila tidak dikemukakan oleh seseorang, siapa pula yang akan menduga sampai kesitu?"

"Ehmmmm, betul juga perkataanmu itu........"

Kakek latah awet muda manggut-manggut dengan mata melotot. Oh Put Kui tertawa geli didalam hati, tapi diluarnya dia segera berkata.

"Ban tua, bagaimana kalau kita berangkat ke bukit Ngo tay-san...........?"

"Baik..........."

"Apakah kita akan pergi bersama-sama?"

Tiba-tiba Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui bertanya dengan kening berkerut.

oodwoo

Jilid 39

"Yaa, tentu saja kita semua akan pergi bersama!"

Lan Ciu-sui segera tertawa tergelak.

"Aaaahh, menbuang tenaga degnan percuma, aku tak ingin turut!"

Oh Put Kui menjadi tertegun, dia tak habis mengerti mengapa kakeknya enggan turut serta.

"Yaya, kau hendak pergi kemana?"

Tanyanya kemudian.

"Nak, yaya akan pergi menjemput ayahmu sekalian untuk diajak pulang kedaratan Tionggoan........"

Rupanya disaat Lan Cui-siu telah memperoleh kembali tenaga dalamnya, Oh Put kui telah menceritakan pengalamannya sewaktu dipulau neraka kepada orang tua itu.

Ketika memperoleh berita tersebut Lan Cui-siu segera menyatakan rasa gusarnya, dia menganggap tiga dewa dari luar wilayah dan sepasang manusia sakti dari Thian-tok adalah manusia-manusia busuk yang kelewat menghina orang...........

Tapi setelah Oh Put Kui menuturkan pula kisah perjumpaannya dengan Thian-hiang-huicu, amarah Lan Cui-siu baru agak mereda.

Waktu itu diapun segera memutuskan akan berangkat kepulau neraka serta menjemput kembali ayahnya sekalian untuk diajak pulang kedaratan Tionggoan.........

Karena inilah, ketika Peng-goan-koay-kek mengemukakan keinginannya sekarang, Oh Put Kui merasa serba salah dibuatnya.

Dia tak tahu apakah Poan-cay siansu telah bertemu serta berunding dengan keempat orang lainnya?

Disamping itu dia pun percaya perkataan dari Thian-hian-huicu yang minta kepadanya menjemput tujuh orang tua dipulau neraka setelah hari Pekcun mengandung satu maksud tertentu...............

Sekarang dia ingin mencegah kepergian orang tua tersebut, tapi diapun tak tahu bagaimana harus berkata........

Terpaksa Oh Put Kui mengalihkan sorot matanya kewajah si kakek latah awet muda.

Kakek latah awet muda segera tersenyum, kepada Peng-goan-koay-kek serunya keras-keras.

"Lan lote, buat apa kau mesti bersusah payah pergi kelautan timur? Setengah bulan lagi bocah muda ini akan pergi kepulau neraka, cepat atau lambat toh cuma menunggu setengah bulan saja, masa kau tak sabar untuk menunggu ?"

Lan Ciu-sui termenung sejenak, lalu sahutnya.

"Saudara Ban, aku cuma merasa penasaran dengan hwesio-hwesio liar itu........."

Kakek latah awet muda segera menukas sambil tertawa.

"Sudahlah Lan lote, buat apa sih kau mesti mengambek terhadap mereka? Lebih baik kita cari dulu manusia licik yang berada dibelakang layar itu sebelum membicarakan persoalan lain."

Lan Ciu-sui yang mendengar ucapan tersebut segera menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir.

"Saudara Ban, terpaksa aku mesti menyetujui usulmu itu."

Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak.

"Nah, tindakanmu ini baru cocok dengan seleraku lote........... hanya manusia yang tahu keadaan barulah manusia sejati............."

Oh Put Kui yang menjumpai kesemuanya ini diam-diam tertawa geli, dia tak mengira Kakek latah awet muda pandai juga membujuk seseorang..........

Dalam pada itu kakek cengeng beralis putih telah berkata pula secara tiba-tiba.

"Ban tua, kepergian kalian kebukit Ngo-tay-san tidak termasuk diriku..............?"

"Kau sikurus enggan pergi?"

Tanya Kakek latah awet muda sambil berkerut kening.

"Ban tua, bagaimana mungkin aku bisa pergi...................."

"Mengapa kau tak bisa pergi?"

"Ban tua, apakah kau menyuruh aku menyingkap rahasia keterlibatanku dihadapan mereka...............?"

Mendengar itu, Kakek latah awet muda tertawa tergelak.

"Haaaaaaahhhhhh........... haaaaaahhh........... haaaaaaaaahhhhhh.......... berbicara pulang pergi toh yang pasti kau sikurus memang bernyali kecil. Baiklah, aku tak akan memaksa kau sikurus untuk turut serta, tapi akupun hendak memberitahukan kepadamu lebih dulu, lain kali kaupun tak boleh menjual tenaga lagi buat orang yang berada dibelakang layar itu..........."

Dengan mata terbelalak kakek cengeng beralis putih manggut-manggut.

"Ban tua, malam ini juga akupun hendak pergi meninggalkan bukit Biau-hong-san ini"

"Kau hendak kemana?"

Tanya Kakek latah awet muda tertegun. Kakek cengeng beralis putih tertawa getir.

"Jika tidak kabur, bukankah keadaan bakal bertambah berabe? Cuma saja............."

Setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata.

"Cuma saja aku akan terpaksa berlagak seolah-olah sedang mencari si kakek sakti tertawa panjang Beng Pek-tim untuk diajak beradu kepandaian serta menentukan siapa yang lebih unggul diantara kami sepuluh tahun terakhir ini, dengan demikian mereka baru bisa dikelabuhi dan tidak menyangka kalau aku sedang berusaha melarikan diri dari sini.............."

Mendengar itu, Kakek latah awet muda tertawa tergelak.

"Haaaaaaahhhhhh........... haaaaaahhh........... haaaaaaaaahhhhhh.......... berbicara pulang pergi toh yang pasti kau sikurus memang bernyali kecil. Baiklah, aku tak akan memaksa kau sikurus untuk turut serta, tapi akupun hendak memberitahukan kepadamu lebih dulu, lain kali kaupun tak boleh menjual tenaga lagi buat orang yang berada dibelakang layar itu..........."

Dengan mata terbelalak kakek cengeng beralis putih manggut-manggut.

"Ban tua, malam ini juga akupun hendak pergi meninggalkan bukit Biau-hong-san ini"

"Kau hendak kemana?"

Tanya Kakek latah awet muda tertegun. Kakek cengeng beralis putih tertawa getir.

"Jika tidak kabur, bukankah keadaan bakal bertambah berabe? Cuma saja............."

Setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata.

"Cuma saja aku akan terpaksa berlagak seolah-olah sedang mencari si kakek sakti tertawa panjang Beng Pek-tim untuk diajak beradu kepandaian serta menentukan siapa yang lebih unggul diantara kami sepuluh tahun terakhir ini, dengan demikian mereka baru bisa dikelabuhi dan tidak menyangka kalau aku sedang berusaha melarikan diri dari sini.............."

"Yaaaaa, usulmu itu memang bagus sekali,naaaahhh silahakan..........."

Oh Put Kui yang mendengar ucapan mana segera berpikir didalam hatinya.

"Perkataan macam apa ini? Masa sang tuan rumah kabur lebih dulu sebelum tamunya pergi?"

Sementara dia masih berpikir, kakek cengeng beralis putih telah berseru pula.

"Nah Ban tua, kita sampai bertemu lagi dikemudian hari............"

Belum habis kata-katanya, dia sudah melompat pergi meninggalkan tempat tersebut.

Kakek cengeng beralis putih memang aneh, begitu dia bilang mau pergi, ternyata tanpa memberi pesan kepada siapapun juga, dia segera angkat kaki dengan begitu saja, tindakan ini segera mencengangkan semua orang.

Sambil gelengkan kepala Oh Put Kui segera berpikir.

"ORang-orang tua itu memang pada aneh wataknya.............."

Dalam pada itu Kakek latah awet muda malah berteriak lagi sambil tertawa.

"Hey si kurus, bila bertemu sicebol Beng, tolong titip salam untuknya............."

Oh Put Kui yang mendengar perkataan itu segera bertanya sambil tertawa.

"Ban tua, benarkah dia hendak pergi mencari Beng lojin?"

Kakek latah awet muda berpaling dan memandang sekejap kearah Oh Put Kui, lalu sahutnya.

"Dia memang mengatakan akan pergi mencari Beng Pek-tim, masa kau tidak mendengar?"

"Tapi bukankah dia mengatakan juga kalau kepergiannya mencari Beng Pek-tim cuma dibuat alasan saja?"

"Anak muda, dugaanmu kali ini keliru besar,"

Kata Kakek latah awet muda sambil menggelengkan kepalanya.

"padahal sikurus ini jauh lebih cerdik daripada siapapun justru karena dia kuatir tak mampu mengungguli Beng Pek-tim, maka sengaja dia berkata begitu."

"Tapi apa sangkut pautnya antara bertarung dengan tidak bertarung.............?"

Tanya Oh Put Kui kebingungan.

"Masalah ini menyangkut masalah gengsi. Yang kosong sebetulnya sungguh, yang sungguh justru kosong. Bila ia tak berhasil mengungguli si cebol Beng, maka diakan bisa mengatakan kepada orang luar bahwa dia tak pernah pergi mencarinya............."

Sekarang Oh Put Kui baru paham.

Rupanya masalah gengsi memang merupakan masalah gawat yang jauh lebih penting daripada segala-galanya.

Tiba-tiba Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui menghela napas sambil berkata.

"Saudara Ban, mari kita berangkat!"

"Lote, sudah hampir empat puluh tahun lamanya aku tak pernah menunggang kuda,"

Kata Kakek latah awet muda sambil tertawa.

"mumpung kita ditemani dua orang budak cilik itu, bagaimana kalau kita beli beberapa ekor kuda dan meneruskan perjalanan dengan naik kuda?"

"Baik sih baik, cuma aku tidak mempunyai uang sebanyak itu.

"kata Lan Ciu-sui sambil tertawa.

"Haaaahhhhhhhhh..........hhhhhaaaaaahhhhhh........ hhhaaaahhhh.......... biarpun kita tak punya, tapi orang lain sih mempunyai banyak sekali.........,."

SEmbari berkata dia mengerling sekejap kearah pengemis pikun. Entah mengapa tiba-tiba saja pengemis pikun jadi sangat kikir, sambil menggelengkan kepalanya berulang kali dia berseru.

"Ban tua, kau jangan memandangi aku terus menerus, kau toh mengerti aku si pengemis cuma bisa meminta belas kasihan orang, sejak kapan ada orang memberi uang kepadaku............."

"Kau berani mengatakan tak punya ?"

Bentak Kakek latah awet muda sambil mendelik. Pengemis pikun memandang sekejap kearah Oh Put Kui yang cuma berdiri sambil tersenyum itu, lalu katanya lagi sambil tertawa getir.

"Ban tua, aku sipengemis amat rudin, kalau tidak, buat apa aku harus bergabung dengan kay-pang?"

Kakek latah awet muda mendengus dingin.

Bila dia sedang tertawa maka orang akan kerasan terus untuk memandangi terus wajahnya, tapi begitu dia mendengus, pengemis pikun kontan saja menjadi gemetar karena ketakutan.

"Pengemis cilik, aku akan menggeledah sakumu............."

Ancamnya kemudian.

Oh Put Kui segera tertawa geli, bila benar-benar digeledah, segera akan ditemukan empat lembar cek disaku pengemis tersebut.

Tak heran kalau pengemis pikun menjadi semakin panik, dia gelengkan kepalanya berulang kali sambil berteriak.

"Ban tua, seorang kuncu hanya akan menggunakan mulut, tidak akan menggerakkan tangan.........."

"Aaaah, aku tak ambil perduli siapa kuncu siapa bukan,"

Tukas Kakek latah awet muda ngotot.

"pokoknya apa yang ingin kulakukan segera akan kulaksanakan, bawa kemari sakumu pengemis!"

Pengemis pikun benar-benar sangat panik. Dengan mata terbelalak ia segera menengok ke arah Oh Put Kui sambil serunya.

"Lote, cepat kau ambil kembali uangmu itu..............."

"Wah, itu sih urusanmu sendiri,"

Tukas Oh Put Kui sambil menggelengkan kepalanya.

"aku kan sudah menghadiahkan uang tersebut untukmu............."

"tapi aku juga tak mau..........."

Jerit pengemis pikun. Tampaknya Oh Put Kui juga berminat untuk menggoda pengemis tersebut, tiba-tiba ia berkata.

"Liok loko, bukankah kau sendiripun mempunyai tiga ratus tahil perak?"

Seketika itu juga pengemis pikun berdiri lemas, tapi segera jeritnya.

"Lote, uang itu sengaja kusediakan untuk membeli peti matiku, kau toh sudah tahu aku tua dan lemah, masa uang sebesar tiga ratus tahil perakpun..........."

"Konyol!"

Umpat Kakek latah awet muda sambil menarik muka.

"cepat katakan, mau diserahkan atau tidak? Pengemis cilik, aku tak ambil perduli uang itu buat membeli peti mati atau tidak, pokoknya hari ini harus membeli kuda dan kau yang membayar."

Dimaki oleh Kakek latah awet muda, si pengemis pikun menjadi ketakutan setengah mati. Akhirnya dengan susah payah, dia mengeluarkan juga tiga ratus tahil perak itu dan mengomel sambil menghela napas.

"Aaaaaii, apa boleh buat, peti mati untuk aku sipengemis tua telah diseret pergi oleh kuda-kuda sialan!"

OOdwOooo0dw0oOdwOooo Mencari jejak seseorang dibukit Ngo tay-san bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.

Pengemis pikun yang harus menempuh perjalanan bersama mereka, boleh dibilang benar-benar lagi sial.

Sebab setibanya diatas bukit, kuda-kuda tersebut jadi tak ada gunanya sama sekali.

Tapi pengemis pikunpun merasa sayang untuk membuangnya dengan begitu saja, maka tugas menjaga kudapun terjatuh ketangan pengemis tersebut.

Satu orang harus merawat enam ekor kuda sekaligus, jelas hal ini merupakan suatu pekerjaan yang amat menyiksa.

Apalagi jalan bukit berliku-liku dan lebarnya cuma sekian depa, manusia saja susah lewat, apalagi harus mengurusi enam ekor kuda sekaligus, bisa dibayangkan betapa repotnya dia.

Nyoo Siau-sian dan Kiau Hui-hui yang menyaksikan kerepotan pengemis itu, terutama melihat peluh yang membasahi tubuhnya meski udara sangat dingin, segera merasa kasihan disamping geli...............

Bukan hanya begitu, siKakek latah awet mudapun masih saja menyindir dan mendampratnya, ini menyebabkan pengemis pikun selain mesti mendongkol terhadap kuda, mendongkol terhadap kakek itu.

Masih untung Oh Put Kui sering memberikan bantuannya.

Beberapa kali dia harus menarik kuda-kuda yang hampir saja jatuh terpeleset kedalam jurang.

Enam orang dengan enam ekor kuda harus berjalan menyelusuri bukit Ngo-tay-san yang luasnya mencapai limaratus li itu hampir tiga hari lamanya, tapi mereka belum berhasil juga menemukan tempat tinggal dari Lian peng sekalian.

Bagi orang lain disamping gelisah, sama sekail tidak merasakan penderitaan apapun.

Berbeda dengan pengemis pikun, dia nampak mengenaskan sekali..............

Bukan saja dia dibuat lelah karena musti mengurusi enam ekor kuda, disamping itupun harus mencarikan rumput dan membersihkan kotoran kuda, akibatnya dia menjadi dekil lagi bau.

Hingga mencapai hari kelima.

Tiba-tiba Kakek latah awet muda menghentikan perjalanannya dipuncak bukit sebelah utara, kemudian serunya.

"Lan lote, kita sudah sampai ketempat tujuan!"

Sudah sampai? Mungkinkah berada dipuncak tertinggi dari bukit Ngo-tay-san ini? "Mana mungkin mereka akan berdiam di sini ?"

Peng-goan-koay-kek segera tertawa hambar.

"Yaa, setiap orang memang berpendapat demikian. Tapi si Kakek latah awet muda kembali tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhhhh......... haaaaahhhh.......... haaaaaahhhhhhhhhh............. bila kita belum sampai juga ditempat tujuan, apakah sipengemis cilik yang lebih suka memeluk emas terjun kesumur dan mati-matian mempertahankan hartanya itu tidak mampus karena kecapaian?"

Perkataan ini memang sejujurnya dan benar. Gara-gara keenam ekor kuda itu hampir saja si pengemis pikun telah mengorbankan separuh lembar jiwanya. Sambil tersenyum Oh Put Kui segera berkata.

"Ban tua, tentunya kau sudah mengetahui bukan tempat persembunyian Wi Thian-yang?"

Baru selesai dia berkata, Nyoo Siau-sian dan Kiau Hui-hui sudah tak tahan lagi tertawa cekikikan.

"Toako, perkataanmu itu benar-benar kelewat tolol.........."

"Oh toako, andaikata Ban tua sudah mengetahui tempatnya, buat apa dia mesti mengajak kita untuk berputar sekian lama sehingga harus menempuh perjalanan ditengah-tengah salju dengan penuh resiko?"

Sambil tertawa kembali Oh Put Kui berkata.

"Apabila adik Sian dan nona Kiau tidak percaya, mari kita dengarkan bersama-sama apa yang dikatakan Ban tua nanti !"

Dalam pada itu Kakek latah awet muda telah tertawa tergelak tiada hentinya, ia berkata.

"Hey anak muda, agaknya tak ada sebuah persoalanpun yang dapat mengelabuhi dirimu?"

"Ban tua, kesemuanya ini tak lebih hanya dugaan boanpwe saja.

"sahut pemuda itu tertawa. Sebaliknya Nyoo Siau-sian segera berseru kaget.

"Ban tua, kau benar-benar mengetahui tempat tinggal dari bibi Lian?"

"Haaaaaaahhhhhhhh........... haaaaahhhhh.......... haaaaaaahhhhhhhhh.......... kalau semacam itu saja tidak kuketahui, buat apa orang menyebutku sebagai si Ban tua yang tahu akan segala-galanya?"

"Ban tua,"

Seru Kiau Hui-hui pula dengan kaget.

"kalau memang sudah tahu, apa sebabnya kau menyiksa kami semua sehingga mesti mendaki bukit selama beberapa hari?"

Kakek latah awet muda melirik sekejap kearah pengemis pikun, kemudian baru katanya sambil tertawa.

"Bertemu dengan orang yang lebih suka uang daripada nyawa merupakan suatu kesialan bagi kita semua, oleh sebab itu untuk menghilangkan bencana tersebut, lebih baik kita sedikit menderita lebih dulu, kalau tidak, bila sampai betul-betul ketemu musibah mungkin penderitaan yang kita alami jauh berapa kali lipat lebih hebat..........."

Kiau Hui-hui serta Nyoo Siau-sian hanya mendengarkan perkataan itu dengan mata terbelalak lebar. Sebaliknya Peng-goan-koay-kek Lan ciu-sui segera berseru sambil tertawa.

"Loko, memang disinilah kelebihan yang kau punyai............."

"Haaaaahhhhh.......... haaaaaaaahhhhh........... hhhhhhhhahhhhhhhhh......... lote hidup dalam dunia persilatan, setiap kali kita memikul resiko kepala bakal dikutungi orang, bila kita tidak berusaha mencari kesempatan untuk bergurau, lantas apa artinya kehidupan ini? Apakah lama kelamaan kau tak akan merasa bosan sendiri?"

Pengemis pikun yang mendengar perkataan itu langsung saja mendelik besar saling mendongkolnya, dia segera berkaok-kaok berulang kali.

"Bagus sekali, jadi rupanya kau memang sengaja hendak mempermainkan aku sipengemis, aku tak takut disambar geledek.........."

Sambil berkata dia segera mengendorkan tali les keenam ekor kuda itu seraya teriaknya lagi.

"Kuda wahai kuda........... silahkan kalian pergi, aku sipengemis sudah kenyang menderita..............."

Bukan cuma begitu, bahkan dia memukul pantat kuda-kuda itu agar lari dari situ. Oh Put Kui tak bisa menahan rasa gelinya setelah menyaksikan kejadian ini, segera serunya.

"Liok loko. buat apa kau mesti berbuat demikian? Bila sedari dulu kau lepaskan kuda-kuda itu, bukankah kau tak perlu menderita? Lagipula kamipun sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh."

Sambil tertawa getir pengemis pikun menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Saudara ku, apakah kau belum pernah mendengar pepatah yang mengatakan. Burung mati karena makanan, manusia mati karena harta? Justru karena pikiranku tak dapat terbuka, akibatnya banyak penderitaan yang harus kualami."

Setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh.

"Tapi sekarang lote, pikiranku betul-betul sudah terbuka, yaaa......... aku memang kelewat penasaran."

"Waaah, masa kaupun dapat berkata begitu?"

Ejek kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak.

"nah pengemis cilik, makanya lain kali harus ingat baik-baik peristiwa ini.............."

"Saudara ban, mari kita kerjakan persoalan yang sesungguhnya!"

Sela Lan Ciu-sui kemudian.

"Ban tua, sebenarnya Wi Thian-yang bersembunyi dimana?"

Kata Oh Put Kui pula.

"Masa kau tidak tahu anak muda?"

Tanya kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak.

"Bagaimana mungkiin boanpwe bisa tahu?"

"Tidak kunyana ternyata ada persoalan yang tidak kau ketahui juga anak muda........."

Agaknya orang tua ini masih saja berupaya untuk menyusahkan Oh Put Kui. Oh Put Kui terpaksa tertawa getir setelah mendengar perkataan itu katanya.

"Mana mungkin boanpwe bisa dibandingkan dengan kau orang tua? Cepatlah kau katakan dimana Wi Thian-yang telah menyembunyikan diri.................."

"Anak muda, coba kau alihkan pandanganmu mengikuti arah yang kutunjuk..............."

Oh Put Kui segera berpaling dan mengalihkan pandangan matanya...........

Diantara bukit sebelah utara dan sebelah tengah, ia temukan sebuah selat yang dalam.

Dipandang dari ketinggian, lembah itu nampak hijau segar tertutup oleh pepohonan atas pepohonan yang tumbuh disekitar sana lebat sekali.

"Tempat itu pasti sebuah lembah yang dalam.......... dengan pemandangan yang indah.........."

Kiau Hui-hui yang turut berpaling segera berseru pula memuji. Mendadak terdengar Oh Put Kui berseru kaget.

"Ban tua, disitu terdapat bangunan bata merah, mirip sekali dengan sebuah perkampungan besar!"

"Haaaaaahhhhhhhh.......... haaaaaahhhhh.......... haaaaaaaahhh........... perkampungan itu tak lain bernama Kang-thian-lo............."

Kakek latah awet muda menjelaskan sambil tertawa. Belum habis perkataan itu diutarakan, Lan Ciu-sui telah menimbrung dengan cepat.

"Jadi tempat ini adalah tempat kediaman dari Ang-lo-cui-kek (Jago pemabok dari loteng merah) Siau Yau?"

"Betul, dan aku yakin si kakek penggetar langit Siau Hian pasti sudah pulang pula!"

"Kebetulan sekali aku memang hendak mencari mereka dan bersaudara untuk membuat perhitungan, tidak disangka akan kutemukan disini."

Seru Lan Ciu-sui lagi sambil tertawa.

"dulu, aku hanya pernah mendengar tentang loteng Keng Thian-lo, tapi belum pernah berhasil kutemukan letak loteng itu..........................."

"Haaaaaahhh.......... haaaahhhh......... haaaaaahhhh......... kalau begitu kedatangan lote ke bukit Ngo-tay-san ini tidak sia sia belaka.............."

Seru kakek latah awet muda sambil tertawa. Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata.

"Wi Thian-yang sekeluarga sudah pasti berdiam didalam rumah Siau Yau.........."

"Ban tua, mari kita turun kebawah..........."

Seru Oh Put Kui kemudian sambil tersenyum. Seraya berkata dia langsung meluncur turun dari atas bukit tersebut....... Lan Ciu-sui nampak tertegun, kemudian cepat-cepat serunya.

"Nak, Siau Yau bukan seorang manusia yang gampang dihadapi................"

Tampak bayangan biru berkelebat lewat, ia segera menyusul pula kebawah.

Dengan gerakan secepat sambaran kilat kedua orang itu melayang turun dari bukit Ngo-tay-san dan langsung meluncur kearah loteng Keng-thian-lo dibalik lembah dikejauhan sana.

Menyaksikan kejadian ini, keempat orang jago lainnya yang masih berada diatas puncak bukit menjadi terkejut sekali.

kakek latah awet muda pun tidak menyangka kalau Oh Put Kui bakal meluncur sedemikian cepatnya.

Sambil berkerut kening ia segera berseru kepada ketiga orang lainnya.

"Ayoh kalian pun boleh ikut turun, siapa tahu sampai waktunya terdapat beberapa orang gembong iblis yang perlu kalian hadapi."

Nyoo Siau-sian dan Kiau Hui-hui segera menyambut usul itu dengan amat gembira.

Selain itu merekapun sangat menguatirkan keselamatan dari Oh Put Kui, kendatipun pemuda itu didampingi Lan Ciu-sui tak mungkin akan menemui bahaya, tapi begitulah keanehan manusia, mereka tetap menguatirkan keselamatan jiwanya.

Itulah sebabnya ketika kakek latah awet muda baru selesai berbicara, Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui sudah meluncur kebawah dengan kecepatan tinggi, kemudian langsung mengejar Oh Put Kui dan Lan Ciu-sui.

Pengemis pikun memandang sekejap kearah kakek latah awet muda, lalu tanyanya sambil tertawa.

"Apakah kita juga ikut pergi?"

Kakek latah awet muda tertawa aneh.

"Pengemis sialan, rupanya sifat pengecutmu kambuh lagi, kau takut mampus?"

"Boanpwe tidak berani!"

"Kalau memang tak berani itu sih gampang, ayoh, kau mesti bertarung bagiku pada babak yang pertama."

"Bertarung pada babak pertama? Waaaahh? Mana boleh jadi?"

Teriak pengemis pikun tertegun "entah Siau Yau, Siau Hian,aku tak bakal sanggup menahan seujung jarinya, masa kau orang tua malah menyuruh boanpwe bertarung pada babak yang pertama?"

"Kau tak mau bukan?"

Seru kakek latah awet muda sambil tertawa mengejek. Pengemis pikun tertawa getir.

"Boanpwe bukannya tidak mau, tak sesungguhnya memang tidak mampu............."

Mendadak kakek latah awet muda tertawa tergelak, sambil mencengkeram ujung baju pengemis itu, serunya keras-keras.

"Bocah keparat, aku akan membantumu, membantu melemparkan tubuhmu kebawah....."

Seketika itu juga tubuh pengemis pikun terlempar kedalam lembah yang dalam itu bagaikan sebuah keranjang rongsok.

Pengemis pikun menjadi ketakutan setengah mati, dia menjerit-jerit keras seperti babi yang baru disembelih...........

"Tolong.......... Ban tua........... gara-gara lemparanmu itu, semua tenaga dalamku menjadi buyar..........."

Kakek latah awet muda sama sekali tidak ambil perduli, pengemis pikun berteriak semakin keras karena ketakutan, dia merasa semakin kegirangan.

Apalagi setelah menyaksikan gerak gerik pengemis pikun yang gelagapan ditengah udara, dia tertawa semakin keras lagi.

"Hhaaaaahhhhhhhh........ haaaaaaaaah......... haaaaaaaaahhhhh............. pengemis busuk, inilah yang dinamakan dengan "Kura-kura"

Terbang diangkasa.........."

Mendadak Kakek latah awet muda menghentikan perkataannya sampai ditengah jalan, lalu sepasang ujung baunya dikebaskan, bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya, dia langsung menerjang kearah pengemis pikun.

Jangan dilihat selisih jarak antara Kakek latah awet muda dengan pengemis pikun terpaut sampai lima puluh kaki, nyatanya dia telah tiba lebih duluan.

Sekali tangannya menyambar, tahu-tahu dia sudah mencengkeram tubuh pengemis pikun itu lalu dengan ringannya mereka berdua melayang turun didasar lembah.

Begitu sampai diatas tanah, Kakek latah awet muda segera membanting tubuh si pengemis pikun itu keatas tanah, lalu umpatnya.

"Kau sipengemis busuk memang betul-betul tak becus, masa menghadapi persoalan semacam ini pun ketakutan setengah mati !"

Dengan susah payah pengemis pikun merangkak bangun dari atas tanah, lalu sambil tertawa getir, keluhnya.

"Ohhh...... Ban tua, selama hidup belum pernah boanpwe melompat dari ketinggian seperti ini, apalagi terjun kedalam jurang yang begitu dalam, Ooh....... Thian, kau tahu aku sudah semaput sedari tadi."

"Aaaaaiii, kalau dibilang kau manusia tak becus, nyatanya kau memang betul-betul tak becus."

Keluh si Kakek latah awet muda sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Ayoh cepetan sedikit, mereka sudah pada tak nampak, bila kau ku tinggal seorang diri disini, tentu bakal asyik.........."

Begitu selesai berkata, dia langsung kabur terlebih dahulu menuju ke arah loteng Keng-thian-lo.

Pengemis pikun benar-benar ketakutan setengah mati, sambil meraung keras dia segera lari mengejar sekuat tenaga, teriaknya sambil mengejar.

"Eeeeeehh....... tunggu dulu........ tunggu sebentar........... Ban tua, kau tak boleh meninggalkan aku seorang diri.............."

"Kenapa? Toh lebih baik bermalas-malasan lebih dulu diatas tanah sambil santai?"

Goda Kakek latah awet muda seraya tertawa tergelak.

"Oh...... Ban tua, maafkan daku, boanpwe sudah tahu salah,"

Pinta pengemis pikun kemudian sambil tertawa getir. Kakek latah awet muda segera memperlambat larinya, lalu berkata sambil tertawa.

"Kau.... aaaaai, kalau dilihat dari wajahmu yang begitu mengenaskan, yaaaa sudahlah!"

Mendadak tubuhnya melejit setinggi satu setengah kaki lalu melewati pagar pekarangan yang tinggi dan melayang turun dibalik kebun Keng-thian-lo.

Pengemis pikun tak berani berayal lagi cepat-cepat dia menyusul dari belakang.

Setelah berada didalam kebun, Kakek latah awet muda langsung menuju kearah bangunan loteng disisi kebun.

Agaknya keempat orang yang berjalan duluan telah memasuki gedung Keng-thian-lo itu lebih dulu, tapi anehnya ternyata tak terdengar suara bentakan ataupun suara orang sedang ribut.

Seandainya Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui telah berjumpa dengan dua bersaudara Siau, tak mungkin suasananya akan begini tenang dan hening, orang tak akan percaya bila mereka sampai berbaikan kembali.

Mendadak si Kakek latah awet muda berkerut kening, lalu ujarnya.

"Eeeeii pengemis cilik, kenapa tak kedengaran suara pertarungan? Jangan-jangan gedung ini sudah tak berpenghuni lagi?"

"Yaaaa........... darimana boanpwe bisa tahu?"

Sahut pengemis pikun sambil berkerut kening.

"Huuuuuh, dasar goblok! Percuma saja aku bertanya kepadamu,"

Seru Kakek latah awet muda menjadi marah.

"Aku memang goblok, siapa suruh kau bertanya kepada ku?"

Batin pengemis pikun penasaran.

Sudah barang tentu jalan pikirannya ini tak berani keutarakan keluar.

sementara pembicaraan masih berlangsung kedua orang itu sudah melangkah masuk kedalam bangunan loteng itu.

Pada tingkat dasar bangunan tersebut terbentang sebuah ruangan yang sangat lebar, namun tak nampak sesosok bayangan manusiapun disekitar sana.

"Mana orangnya?"

Seru Kakek latah awet muda sambil berkerut kening rapat-rapat.

"Diatas loteng!"

Kali ini pengemis pikun menjawab dengan cepat sekali. Mendengar itu si Kakek latah awet muda segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaahhhhh.......... haaaaaaaaaahhhhh.............. haaaaahhhh........... buat apa mesti kau jawab? Kalau tak berada dibawah, tentu saja berada diatas loteng, ayoh kita langsung naik keatas!"

"Duuukk......... duuukkkk........duuuuukk........."

Langkah si Kakek latah awet muda yang begitu berat dan bersuara keras ini kontan saja mengejutkan pengemis pikun, buru-buru dia mempercepat langkahnya dan menebos naik keatas loteng lebih dahulu.

Namun suasana diatas lotengpun sangat hening, tak nampak sesosok bayangan manusiapun.

Kakek latah awet muda bersama pengemis pikun mencari secara beruntun hingga tiga lantai, namun bukan saja tidak nampak pemilik dari gedung Keng-thian-lo tersebut, bahkan Lan Ciu-sui sekalian berempatpun seakan-akan hilang lenyap dengan begitu saja.

Dengan perasaan bingung pengemis pikun segera berseru.

"Kemana perginya orang-orang itu?"

"Haaaaaahhhh......... haaaaaaaahhhhh....... haaaaaaaahhhhh.......... pengemis cilik, bila seseorang ingin berbicara, janganlah sekali-kali mencoba belajar dari orang lain, mengerti?"

Kata Kakek latah awet muda sambil tertawa keras.

"kini terbukti pada lantai atas maupun lantai bawah tiada penghuninya, bisa jadi gedung Keng-thian-lo ini memang bukan merupakan tempat untuk didiami orang!"

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia berseru kembali.

"Hey pengemis,ayoh turut aku!"

Tergopoh-gopoh dia lari turun kebawah, kemudian dengan langkah cepat pula menuju ke lantai dasar.

Pengemis pikun yang mengikuti dibelakangnya menjadi kegelian melihat ketergopohan rekannya, dia segera berseru keheranan.

"Ban tua, sebenarnya apa sih yang telah terjadi?"

"Tentu saja lagi mencari orang! Coba kau periksa ke empat dinding ruangan ini pengemis..........."

Sambil memerintahkan pengemis pikun untuk mengetuk keempat dinding dalam ruangan tersebut, dua sendiri justru menuju ketengah ruangan dimana terdapat sebuah meja altar dan dibalik altar terdapat sebuah kelambu tipis.

Ternyata arca yang dipuja dalam meja altar tersebut adalah Tong-peng Cousu.

Waktu itu, si Kakek latah awet muda benar-benar merasa amat terkejut bercampur keheranan, sebab berdasarkan pengamatan sepasang matanya yang tajam, dalam sekilas pandangan saja dia sudah melihat bahwa patung pujaan tersebut bukan terbuat dari kayu ataupun tanah liat.

Sebab biarpun si tukang pahat tersohor Lu Pan menjelma lagi pun, tak nanti dia dapat mengukir sebuah arca menjadi sedemikian hidupnya mirip manusia asli, bahkan memancarkan pula hawa kemanusiaan.

Namun dalam kenyataannya, patun tersebut memang kelihatan sangat hidup dan nyata.

Itulah sebabnya Kakek latah awet muda segera menegur sambil tertawa.

"Hey, sebenarnya siapakah kau? Mengapa harus berlagak menjadi dewa disini?"

Patung tersebut tetap membungkam tidak menjawab.

Kakek latah awet muda menjadi tidak senang hati.

Tiba-tiba saja dia menggerakkan tangannya lalu menarik patung tersebut dari tempat duduknya.

Bersamaan dengan gerakan itu, dia membentak pula keras-keras.

"Bila anda adalah Siau Yau, maka usahamu untuk menipu orang hanya akan sia-sia belaka."

Seketika itu juga si patung sudah terseret oleh Kakek latah awet muda sehingga roboh terguling diatas tanah.

Nyatanya patung itu memang bukan terbuat dari kayu ataupun tanah liat, sebab benda mana sama sekali tidak pecah, atau hancur karena terguling diatas tanah.

Namun anehnya, si orang yang menyaru sebagai dewa ini justru tetap membungkam dalam seribu bahasa tanpa bergerak barang sedikitpun juga.

Lama kelamaan meluap juga hawa amarah Kakek latah awet muda, namun dia sendiripun merasa keheranan.

Dalam marahnya, tiba-tiba saja dia menampar patung tersebut keras-keras.

Coba bayangkan saja dengan kemampuan tenaga dalam yang dimiliki Kakek latah awet muda, bagaimana mungkin orang itu akan sanggup menahan diri?

Paling tidak, pipi kirinya pasti akan merah membengkak akibat terkena tempelengan tersebut.

Tapi alhasil, apa yang dijumpai sama sekali berada diluar dugaan si Kakek latah awet muda tersebut.

Wajah si patung itu bukan saja tidak membengkak, malah sebaliknya berbunyi gemerutukan keras bagaikan tulang-tulangnya pada retak semua, malahan warna emas di wajahnya pun turut rontok beberapa potong.

Kakek latah awet muda benar-benar dibuat tertegun.

Tiba-tiba saja dia teringat, bisa jadi patung tersebut adalah seorang manusia hidup.

Begitu ingatan tersebut melintas lewat, dengan suatu gerakan yang amat cepat Kakek latah awet muda segera mencopot kopiah yang dikenakan patung tadi.

Dalam waktu singkat terurailah rambut yang berwarna hitam dan panjang, ternyata orang itu memakai gaun panjang.

Jelas terlihat bahwa dia adalah seorang wanita.

Kembali si Kakek latah awet muda menjerit tertahan lantaran kaget bercampur henar.

Sementara itu, pengemis pikun yang mencoba untuk mengetuk keempat belah dinding ruangan tidak berhasil mendapatkan sesuatu gejala apapun, sewaktu mendengar jeritan tertahan dari Kakek latah awet muda, cepat-cepat dia datang menghampiri.

Begitu dia menjumpai patung tersebut berisikan seorang wanita, pengemis pikun pun segera menjerit keras-keras, hampir saja dia melarikan diri terbirit-birit.

Untung saja disampingnya terdapat Kakek latah awet muda, sehingga nyalinya rada membesar, dengan keheranan segera tanyanya.

"Ban tua, sebenarnya apa sih yang telah terjadi?"

"Coba kau korek lepas semua warna emas itu dari wajahnya!"

Perintah Kakek latah awet muda sambil tertawa.

Biarpun perasaan dan pikiran si pengemis pikun diliputi pelbagai kecurigaan, namun dia tak berani banyak bertanya.

Dengan cepat dia berjongkok disamping patung perempuan itu, kemudian mulai mengelupasi kerak emas yang menempel diatas wajahnya.

Sedikit demi sedikit, kerak emas itu berhasil juga terkelupas dari wajahnya.

Dan terakhir muncullah seraut wajah yang sangat dikenal oleh mereka berdua.

Perempuan itu bukan lain ternyata adalah perempuan bunga dari Thian-ho-wan, Lian Peng adanya.

Mimpipun si Kakek latah awet muda tidak mengira kalau si perempuan bunga dari Thian-ho-wan Lian Peng bisa jadi patung dalam ruangan Keng-thian-lo, bahkan sudah menemui ajalnya.

Tapi siapa yang telah melakukan pembunuhan ini?

si kakek penggetar langit Siau Hian?

ataukah sijago pemabuk dari loteng utara Siau-Yau.

Atau mungkin juga perbuatan ini merupakan hasil karya dari si raja setan penggetar langit Wi thian-yang?

Kakek latah awet muda gagal unutk memperoleh jawaban, sudah barang tentu si pengemis pikun lebih-lebih tak sanggup untuk menberikan jawabannya.

Dalam sesaat lamanya, kakek yang dikenal sebagai orang yang tahu segala-galanya ini dibuat berdiri tertegun dan tak habis mengerti.

"Ban tua, mengapa budak ini bisa mampus?"

Tanya pengemis pikun kemudian sambil menghela napas dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Kakek latah awet muda yang berkerut kening segera menjawab setelah mendengarkan pertanyaan itu.

"Pengemis cilik, bukankah pertanyaan itu sama sekali tidak ada gunanya? Bagaimana mungkin aku siorang tua bisa tahu apa sebabnya dia mati? Mungkin dia sudah bosan hidup, mungkin juga dia memang kepingin menjadi dewa yang dipuja-puja!"

Kemudian setelah berhenti sejenak, kemudian ujarnya.

"Kemana orang-orang itu pergi? Ayoh cepat kau cari mereka sampai dapat..........."

"Baik, baik, boanpwe segera pergi mencari..........."

Setelah memberi hormat, cepat-cepat pengemis pikun berangkat menuju kederetan rumah yang berada disamping kiri.

Sebaliknya Kakek latah awet muda sendiri tetap berdiri ditempat semula sambil memejamkan mata dan memeras otak.

Selang beberapa saat kemudian...........

Tiba-tiba Kakek latah awet muda membuka matanya kembali, sambil mencorongkan sinar tajam dia menegur.

"Siapa disitu?"

"Aku!"

Jawaban tersebut berasal dari suara Oh Put Kui.

"Oohh, rupanya kau sianak muda!?"

Kakek latah awet muda tertawa. Oh Put Kui segera berjalan menghampirinya, akan tetapi sewaktu menjumpai Lian Peng yang tergeletak diatas tanah, ia segera berseru agak tertegun.

"Ban tua, bukankah dia adalah Lian Peng?"

"Yaa, kalau bukan dia siapa lagi? Anak muda, kemana perginya kakekmu serta kedua orang budak itu?"

"Sebentarpun mereka akan berdatangan kemari!"

Jawab san pemuda sambil tertawa. Baru selesai dia berkata, Lan Ciu-sui bersama kedua orang gadis itu sudah muncul dari pintu sebelah kanan.

"Ban loko, dalam gedung ini tiada penghuninya!"

Seru Lan Ciu-sui begitu muncul dalam ruangan. Mendadak terdengar Nyoo Siau-sian menjerit kaget lalu berlarian mendekat.

"Bibi Lian.........."

Jeritnya pilu.

Gadis itu segera berjongkok diatas tanah dan menangis tersedu-sedu.

Walaupun ia sudah mengetahui akan watak serta perangai Lian Peng yang sesungguhnya, namun dia toh tak bisa menahan diri setelah melihat jenasah Lian Peng membujur diatas tanah, saking pedihnya ia menangis tersedu-sedu.

Selama banyak tahun terakhir ini, mereka telah berkumpul dan bergaul dengan sangat akrab.

Bagaimanapun juga, manusia itu memang berperasaan, dan tak bisa disalahkan bila Nyoo Siau-sian menangis sedih saat ini, sebab memang wajarlah bila manusia memperlihatkan luapan emosinya.

Cepat-cepat Kiau Hui-hui mendekati rekannya dan berusaha menghibur hatinya.

Cuma Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui seorang yang tidak nampak kaget atau tercengang, malah sambil tertawa dingin, katanya.

"Akhir yang diterima budak ini hanya menunjukkan betapa kejam dan buasnya Wi Thian-yang serta Siau Yau! Saudara Ban, tidak nampak kehidupan didalam gedung berloteng ini, mungkin dua bersaudara Siau telah melarikan diri setelah memperoleh kabar tentang kehadiran kita disini?"

"Aaaah, mustahil, darimana mereka bisa menduga kalau kita akan datang kebukit ngo-tay-san ini ?"

Sahut Kakek latah awet muda seraya tersenyum.

"Tapi kau jangan lupa, saudara Ban tua, kita sudah berputar selama berapa hari di bukit Ngo-tay-san ini sebelum akhirnya tiba digedung Keng Thian-lo, apa tidak mungkin dua bersaudara Siau mempunyai mata-mata diseputar sini?"

"Haaaaaahhhhhh........ haaaaaaah............. haaaaaaaaaaaaahhh.............. Lan lote, apabil dua bersaudara Siau menyingkir dari sini hanya disebabkan kita semua akan datang mencarinya, mungkin mereka tak berhak lagi disebut sebagai gembong iblis!"

Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui termenung sejenak, kemudian katanya lagi.

"Ehmmmm, benar juga perkataan ini, selamanya Siau Yau hidup dengan santai, orangnya pun sangat sombong dan amat tekebur, andaikata dia tahu bahwa kita akan datang mencarinya, bukan saja dia tak bakal mengambil langkah seribu, malahan bisa jadi akan menyambut kedatangan kita secara besar-besaran."

"Yaya, mengapa dia akan menyambut kedatangan kita secara besar-besaran?"

Tanya Oh Put Kui. Lan Cui-siu kembali tertawa.

"Nak, dia sengaja menyambut kedatangan kita tak lebih hanya ingin menunjukkan kepada seluruh orang didunia ini bahwa dia tak takut menghadapi kita. Kau anggap sambutan tersebut dilakukan dengan hati yang tulus? Kau tahu, kedua orang she Siau itu amat membenci yayamu!"

"Yaya, kalau begitu kepergian mereka dikarenakan mempunyai rencana atau maksud lain?"

"Haaaaaaahhhh............. haaaaahhhh......hhhhhhhhaaaaaahhhhh...... memang demikian keadaannya!"

Kata Kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak.

"Hei anak muda, kalian datang lebih duluan, apakah tak sedikit jejakpun yang berhasil kalian temukan?"

Oh Put Kui segera menggelengkan kepalanya berulang kali. Sementara itu Nyoo Siau-sian telah berhenti pula menangis, kepada Kakek latah awet muda katanya.

"Locianpwe bolehkah kukubur jenasah dari bibi Lian?"

Kakek latah awet muda tahu kalau perbuatan tersebut hanya merupakan rasa bakti Nyoo Siau-sian terhadap bekas bibinya itu, dia segera mengangguk.

"Yaa, tentu saja boleh, tapi mengapa kalian tidak periksakan dili seluruh tubuh dari budak tersebut, coba kalian periksa mungkinkah terdapat sesuatu benda yang bisa menunjukkan kepergian dari Siau Yau bersaudara?"

"Boanpwe memang bermaksud menggantikan pakaian bibi Lian dengan pakaian bersih."

Sahut gadis itu. Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya pula kepada Kiau Hui-hui.

"Enci Kiau, bersedia membantu aku bukan!"

"Tentu saja!"

Sambil berbicara, dua orang gadis itu segera menggotong jenasah dari perempuan bunga dari Thian-ho-wan Lian Peng yang sudah didandani sebagai patung dewa itu menuju kedalam ruangan sebelah kiri.

Sepeninggal kedua orang gadis itu, Oh Put Kui baru bertanya dengan perasaan tak tenang.

"Ban tua, mana Liok loko?"

"Aku menyuruh dia pergi mencari kalian,"

Sahut Kakek latah awet muda sambil tertawa.

"tapi nampaknya pengemis cilik itu memang benar-benar tak becus, begitu pergi dia seolah-oleh tak mampu balik kembali, masa sampai sekarang pun belum nampak batang hidungnya kembali?"

"Ban tua, jangan-jangan sudah terjadi hal yang tak diinginkan............"

Kata Lan Ciu Sui sambil tertawa.

Didalam gedung ini tak nampak seorang manusia hiduppun, bagaimana mungkin bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan?

Sambil menggelengkan kepalanya Oh Put Kui segera berseru.

"Ban tua, biar boanpwe pergi menengoknya, siapa tahu........."

Belum habis tanya jawab dari kedua orang itu, mendadak dari balik ruangan sebelah kiri sudah berkumandang datang jeritan si pengemis pikun yang amat keras bagaikan babi disembilih.

"Ban tua........... empek jenggot putih............ kongkong mampus.......... tolong......... tolong........."

SEcepat sambaran kilat Oh Put Kui segera berkelebat menuju kedepan dan menerjang kedalam kesederetan bangunan rumah disebelah kiri itu.

Kakek latah awet muda serta Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui segera menyusul pula dibelakangnya.

SEtelah melalui lima buah ruangan, akhirnya mereka temukan kembali pengemis pikun.

Ternyata tubuh pengemis pikun sudah terjepit oleh tiga buah gelang besi yang besar sekali.

Menyaksikan keadaan itu, Kakek latah awet muda segera berseru sambil tertawa.

"Huuuhhh........ tak nyana si pengemis cilik masih tak tahu rikuh untuk berteriak minta tolong, andaikata bukan lantaran kemaruk harta, mungkin dia tak akan menderita pula, keadaan yang begitu mengenaskan........."

Bagaimanakah keadaan yang sesungguhnya dari pengemis itu?

Bahkan Oh Put Kui sendiripun tak bisa menahan rasa gelinya dan tertawa tergelak.

Ternyata ruangan itu merupakan sebuah kamar tidur.

Waktu itu leher, sepasang tangan serta sepasang kaki si pengemis pikun telah terjepit oleh gelang besi yang dihubungkan dengan seutas rantai besar, ujung dari rantai tersebut terletak pada sebuah peti besar.

Penutup dari peti besar itu, kini sudah terbuka lebar.

Dilihat dari pemandangan tersebut dapatlah disimpulkan bahwa sipengemis pikun telah membuka peti itu dan berusaha mencari barang berharga, siapa tahu dia telah menyentuh alat rahasia sehingga tubuhnya terjepit oleh gelang besi dan terantai disitu.

Sambil menempelkan wajahnya diatas peti karena jengah, pengemis pikun kembali berteriak.

"Saudara Oh, cepat bebaskan aku............."

Sambil tertawa Oh Put Kui maju kemuka lalu menjepit gelang besi tersebut dengan jepitan jari tangannya, sekali pencetan saja gelang-gelang besi tersebut sudah patah menjadi dua.

Dengan lemas pengemis pikun terjatuh kebawah dan tergelak diatas tanah.

Tapi dengan jatuhnya sang badan kelantai, dari sakunya segera berhamburan pula kepingan-kepingan uang perak yang amat banyak jumlahnya.

Menyaksikan hal ini, Oh Put Kui kembali berseru sambil tertawa tergelak.

"Liok koko, kali ini kau betul-betul bakal kaya mendadak..............."

Sambil tertawa Kakek latah awet muda berseru pula.

"Hey pengemis cilik, kalau begitu beberapa ekor kudamu tidak sia-sia terbuang, aku lihat harta kekayaan yang tersimpan dalam gedung Keng-thian-lo ini tak sedikit jumlahnya, asal kau sanggup unutk membawanya semua, tak ada salahnya bila kau penuhi sakumu dengan benda-benda tersebut."

Pengemis pikun menghela napas panjang, sambil merangkak bangun dari atas tanah, katanya.

"Ban tua, lain kali boanpwe tidak kepingin memperoleh uang lagi........."

"Waaaaah, pasti akan menyulitkan dirimu,"

Seru Kakek latah awet muda tertawa.

"tapi akan kubuktikan perkataanmu itu! Nah pengemis, kecuali uang-uang perak tersebut apakah kau berhasil menemukan sesuatu benda yang mencurigakan?"

"Tidak, apapun tidak berhasil kutemukan!"

Sahut pengemis pikun sambil menggeleng. Dengan kening berkerut Kakek latah awet muda segera berpaling kearah Lan Ciu-sui, kemudian katanya lagi.

"Lote, jangan-jangan kedatangan kita kemari hanya perjalanan yang sia-sia?"

"Yaaa, mungkin juga!"

Jawab Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui tertawa. Tapi setelah berhenti sejenak, tiba-tiba ujarnya lagi.

"Ban tua, bagaimanapun juga aku tetap merasakan sesuatu yang tak beres!"

"Apa yang tak beres?"

oodwoo

Jilid 40

"Mengapa dua bersaudara Siau meninggalkan markas besarnya dengan begitu saja? Seandainya bukan disebabkan sesuatu sebab yang serius, dengan watak mereka, mustahil kedua orang tersebut akan berbuat demikian."

"Saudara Lan, perkataanmu memang benar, tetapi jika Wi Thian-yang datang kemari untuk mengajak mereka berkomplot, kepergian mereka secara mendadak jadi tak aneh lagi!"

"Nah itulah dia, saudara Ban, coba kau lihat, gedung Kheng-thian-lo telah menjadi sebuah bangunan kosong yang tak ada penghuninya kecuali sesosok mayat dari Lian Peng yang telah mereka dandani sebagai patung dewa, mungkinkah dibalik kejadian tersebut masih terdapat hal-hal yang perlu kita selidiki?"

"Tentu saja, persoalan semacam ini memang ada nilainya untuk diselidiki lebih jauh!"

Sahut kakek latah awet muda cepat. Kemudian dia berpaling kearah Oh Put Kui dan ujarnya lagi.

"Anak muda, apakah kau berhasil mendapatkan suatu kesimpulan tentang kejadian tersebut?"

Oh Put Kui tertawa.

"Walaupun boanpwe berhasil menemukan beberapa hal yang mencurigakan namun tidak kuketahui apakah dugaanku tersebut benar atau tidak."

"Kalau begitu coba kau utarakan cepat!"

"Boanpwe rasa mereka tentu sudah tahu kalau kakek cengeng beralis putih Ciu Hway-wan bukan seorang manusia yang dapat dipercaya, oleh karena itu disaat Lian Peng datang melaporkan tentang kedatangan kau orang tua bersama boanpwe yang berhasil menolong gwakong dari penjara, orang orang itu segera berkesimpulan bahwa gedung Keng Thian-lo inipun tak dapat dipertahankan lebih jauh, itulah sebabnya mereka segera memutuskan untuk pindah ketempat lain."

Mendengar sampai disitu, kakek latah awet muda segera manggut-manggut sambil tertawa.

"Ehm, sangat beralasan sekali, tetapi apa yang menyebabkan mereka menghukum mati Lian-Peng?"

"Aku rasa dalam peristiwa ini hanya terdapat sebuah kemungkinan saja."

"Apakah kemungkinan itu?"

"Wi Thian-yang merasa amat gusar kepadanya karena perempuan itu tak mampu mempertahankan gedung Sian-hong-hu, karena itu dalam gusarnya ia segera membinasakan istri mudanya ini."

"Kalau memang begitu, apa sebabnya pula mereka dandani mayatnya sebagai patung dewa yang dipuji dimeja altar?"

Tanya Lan Ciu-sui pula sambil tertawa. Oh Put Kui turut tersenyum.

"Yaya, menurut cucunda, ada dua kemungkinan apa sebabnya mereka berbuat demikian."

"Kalau begitu cepatlah kau kemukakan."

"Kemungkinan pertama, mereka hendak menggunakan cara begini untuk merahasiakan perbuatan mereka yang telah membunuh Lian Peng, agar selamanya tak ada orang yang mengetahui tentang kematian perempuan tersebut, sebab orang lain tak pernah akan berhasil menemukan mayatnya selama-lamanya.........."

"Ehm......... alasan yang terlempau dipaksakan,"

Lan Ciu-sui sambil tertawa.

"andaikata diatas mayat ditaburi obat penghancur tulang, bukankah hal ini semakin beres lagi?"

"Yaaa, cucunda sendiripun beranggapan alasan yang pertama ini terlampau dipaksakan."

"Kalau begitu cepat kau kemukakan alasan yang kedua!"

Seru kakek latah awet muda lagi.

"Kemungkinan yang kedua, bisa jadi mereka sudah menduga kalau patung tersebut tak akan bisa mengelabuhi Ban tua, oleh sebab itu mereka kalau bukan ingin menggunakan mayat dari Lian Peng sebagai alat gertakan atau peringatan kepada kita, tentunya didalam tubuh mayat Lian Peng telah dipersiapkan suatu rencana jebakan lainnya yang amat keji............."

Ketika berbicara sampai disitu, mendadak pemuda itu tersentak kaget, cepat-cepat serunya kepada kedua orang tua itu.

"Celaka, bisa jadi kedua orang nona itu akan menemui ancaman bahaya.........."

"Betul, mereka betul-betul kelewat gegabah,"

Seru kakek latah awet muda sambil berkerut kening.

"mari cepat kita tengok keadaan mereka............."

Belum habis perkataan itu diucapkan, ia sudah bergerak lebih dulu menyusul kedua orang gadis tersebut.

Oh Put Kui dan pengemis pikun segera mengikuti pula dibelakangnya.

Hanya Peng-goan-koay-kek Lan Cui-siu seorang yang tidak turut pergi, dia tetap tertinggal didalam kamar tersebut, sebab kakek itu berpendapat bahwa riangan ini cukup mencurigakan dan harus diselidiki dengan seksama.

Tak lama setelah kepergian kakek latah awet muda sekalian bertiga, Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui segera melakukan penyelidikian yang seksama didalam kamar yang luasnya tiga kaki itu, tak sejengkal tanahpun yang dilewatkan olehnya.

Alhasil Lan Ciu-sui berhasil mendapatkan sebuah benda yang berharga sekali.

Benda yang tertinggal itu berupa kutungan sebatang pedang.

Bahkan pedang itu tak lain adalah pedang milik Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui dimasa lampau.

Tiga puluh tahun berselang, dia telah menyerahkan pedang kesayangannya itu kepada putri tunggalnya Lan Hong.

Tapi sekarang, tiba-tiba saja ia menemukannya kembali didalam ruang kamar Keng Thian-loo, menemukan pedang kesayangannya yang pernah dipergunakan selama banyak tahun ini sudah patah hingga tinggal sebagian kecil saja.

Bisa dibayangkan betapa sedih dan gusarnya orang tua tersebut waktu itu.

Sambil menggenggam kutungan pedang tersebut, Lan Ciu-sui berdiri termenung sampai lama sekali didalam ruangan, tak sedikitpun dia bergeser dari posisi semula.

Sebab dia tak perlu berpikir terlalu jauh lagi, jelaslah terbukti sekarang bahwa pembunuh yang telah menghabisi nyawa putrinya tak lain adalah pemilik gedung ini, si jago pemabok dari loteng merah Siau Yau serta kakek pengejut langit Siau Hian.

Dendam baru sakit hati lama datang bersama-sama, hal ini membuat pikiran dan perasaan jago tua ini menjadi amat kalut.

Sedemikian kalutnya pikiran dan perasaannya, hingga kemunculan Oh Put Kui disisinya pun sama sekali tak diketahui olehnya.

Oh Put Kui sendiripun dibuat tertegun oleh kejadian dalam ruangan tersebut, dia tak habis mengerti kenapa kakek luarnya hanya berdiri termangu didalam kamar tersebut sambil membelai sebilah kutungan pedang.

Pelan-pelan dihampirinya orang tua itu, lalu tegurnya.

"Yaya............."

Dengan perasaan bergetar keras Lan Ciu-sui berpaling dan memandang sekejap ke arah Oh Put Kui, kemudian teriaknya.

"Cucu, yaya telah berhasil mengetahui pembunuh ibumu..............."

Kontan saja Oh Put Kui merasakan darah yang mengalir didalam tubuhnya mendidih keras, serunya tanpa terasa.

"Yaya, siapakah dia?"

"Dua bersaudara Siau!"

"Apakah yaya berhasil menemukan bukti yang kuat?"

Lan Ciu-sui menghela napas panjang, sambil menggenggam kutungan pedang itu, katanya.

"Nak, pedang ini merupakan pedang andalan yaya pada empat puluhan tahun berselang, sejak diwariskan kepada ibumu, yaya tak pernah mempergunakan pedang ini lagi, sungguh tak disangka pedang ini berhasil kutemukan lagi disini."

"Kalau begitu............. ibu benar-benar sudah tewas ditangan gembong-gembong iblis she Siau itu!"

"Ketika ibumu mewarisi pedang tersebut dulu, dia pernah bersumpah selama pedangnya ada orangnya ada, bila pedangnya hilang orangnya mati! Kini pedang tersebut kutemukan sudah kutung, pedang tersebut ditemukan dalam gedung Khong thian-loo, hal ini membuktikan pula kalau pembunuhnya sudah pasti dua bersaudara she Siau tersebut.........................."

Kembali Oh Put Kui merasakan darahnya mendidih keras, segera teriaknya lantang.

"Yaya, cucunda pasti akan membunuh kedua orang gembong iblis ini untuk membalaskan dendam bagi ibu.................."

"Nak, yaya pasti akan membantumu hingga mencapai tujuan tersebut! Aaaaaaaiii..... bila teringat ibumu, aku jadi teringat kembali dengan masa kecilnya dulu................"

Sepasang mata Oh Put Kui berkaca-kaca, tanpa terasa butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya..................

Lama sekali kakek dan cucu dua orang ini berdiri berhadapan tanpa berkata-kata.

Sampai akhirnya kakek latah awet muda dengan membawa pengemis pikun serta kedua orang gadis she Nyoo dan Kiau muncul kembali disitu, mereka baru menyeka air mata serta memperlihatkan sekulum senyuman getir...............

Mungkin Oh Put Kui maupun Lan Ciu-sui tak ingin mengemukakan persoalan tersebut kepada mereka.

Yaaaa, ketika kakek latah awet muda menjumpai mimik wajah kedua orang itu kurang beres dan ingin bertanyam Lan Ciu-sui telah berkata lebih dulu sambil tertawa hambar.

"Saudara Lan, Put Kui teringat kembali ibunya secara tiba-tiba sehingga siautepun turut terbuai kedalam kesedihan. Nah, bagaimana dengan kedua orang nona tersebut? Tidak apa apa bukan?"

Rupanya Lan Ciu-sui menemukan kedua orang gadis itu menunjukkan tanda-tanda lemah dan lemas, karena itu mengajukan pertanyaan tersebut. Dengan gemas kakek latah awet muda berseru.

"Siau Yau si bangsat tua ini benar-benar berhati kejam dan buas, andaikata kami tidak datang tepat pada waktunya, dan cucumu tidak memiliki sebutir mutiara penolak bala, mungkin dua lembar nyawa gadis-gadis ini tak dapat tertolong lagi."

"Apakah diatas tubuh Lian Peng telah ditaburi racun jahat?"

Tanya Lan Ciu-sui tertegun.

"Betul! Mereka telah menaburkan bubuk beracun yang amat keji itu dibalik pakaian yang digunakan Lian Peng..........."

Ketika mendengar perkataan tersebut, satu ingatan kembali melintas dalam benak Oh Put Kui.

Tadi, sewaktu mereka menyusul kedua orang gadis tersebut, ditemukan mereka berdua sudah tergeletak tak sadarkan diri disisi mayat si perempuan bunga dari Thian hoo-wan Lian Peng.

Sedangkan pakaian yang dikenakan Lian Peng belum terlepas semua, pakaian dalamnya masih menempel diatas tubuh.

Saat itu Oh Put Kui hanya berpikir untuk cepat-cepat memasukkan pil penolak bala ke mulut kedua orang gadis itu serta menawarkan racun yang mengeram ditubuhnya, sehingga tak sempat menyelidiki dimanakah racun jahat tersebut ditaburkan pada tubuh Lian Peng.

Selain daripada itu Oh Put Kui pun sangat menguatirkan keselamatan kakeknya yang sampai lama sekali belum juga muncul, maka disaat racun didalam tubuh kedua orang nona itu sudah mereda dan mereka telah sadar kembali, cepat-cepat dia menyusul kakeknya tanpa sempat menyelidiki kembali dari bagian manakah racun tersebut menyerang Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui.

Sekarang, setelah dia mendengar racun itu berasal dari balik pakaian Lian Peng, tanpa terasa diapun jadi terbayang kembali, mungkinkah semua gerak gerik mereka telah berada didalam perhitungan lawan?

Mungkin mereka sudah menduga kalau Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui pasti akan menggantikan pakaian yang dikenakan oleh Lian Peng, bahkan mereka pun pasti sudah memperhitungkan, disaat Nyoo Siau-sian menggantikan pakaian dari Lian Peng, beberapa orang lelaki tentu tak akan hadir disitu, sebaliknya menyerahkan tugas itu semua kepada Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui.

Bila hal ini berlangsung seperminum teh saja, niscaya Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui sudah keracunan hebat dan jiwanya tak akan tertolong lagi.

Hal ini membuktikan bahwa tujuan mereka bukan lain adalah ingin meracuni Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui sampai mati.

Ingatan tersebut melintas lewat dengan cepatnya dalam benak Oh Put Kui, begitu kakek latah awet muda selesai berbicara dan Lan Cui-siu baru sempat menghela napas sebelum menjawab, dia telah berteriak lebih dulu.

"Ban tua, jadi racun itu dioleskan dibalik pakaian dalam Lian Peng...............?"

"Benar!"

Sahut kakek latah awet muda sambil tertawa.

"bahkan akupun berhasil menemukan bahwa racun yang digunakan juga merupakan racun yang paling keji di dunia ini..............."

"Racun apakah itu?"

Tanya Lan Ciu-sui.

"Salep pembusuk hati seribu ular dari wilayah Biau!"

Mendengar nama racun tersebut, Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui segera berdiri tertegun.

Sedangkan Oh Put Kui berseru kaget dengan wajah berubah hebat, diam-diam ia bersyukur dihati karena tak sampai jatuh korban jiwa.

Dia pernah mendengar tentang keganasan salep pembusuk hati seribu ular dari wilayah Biau tersebut, konon racun itu terbuat dari pelbagai macam racun yang ganas, malah jauh lebih ganas dari pada racun Kim-jan-ku yang termashur itu.

Andaikata dia tidak meiliki pil penolak bala yang ampuh kasiatnya, tidak mustahil Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui sudah menemui ajalnya.

Setelah terkejut dan berdiri tertegun sejenak, Oh Put Kui kembali berkata dengan suara dalam.

"Ban tua, bila ditinjau dari semua kejadian yang tertera didepan mata sekarang, dapat disimpulkan kalau tuan rumah tempat ini telah memperhitungkan secara tepat akan kedatangan kita, dan sudah memperhitungkan juga kalau nona Nyoo bakal menggantikan pakaian buat jenasah Lian Peng.

"Perkataanmu itu memang tepat sekali, yaa memang harus diakui kecerdasan Siau Yau patut dikagumi, dia memang hebat dan luar biasa, tapi sayangnya betapapun tepatnya perhitungan yang dia lakukan, ia tak pernah menyangka kalau kedua orang nona itu tak sampai menemui ajalnya."

"Kebusukan dan kekejamannya benar-benar terkutuk, aku rasa tiada manusia kedua didunia ini yang memiliki kebuasan seperti Siau Yau....."

Seru Lan Ciu-sui penuh perasaan dendam.

"Lote, dalam hal ini kejam atau tidaknya Siau Yau bukan merupakan masalah."

"Apa? Saudara Ban ingin membelai kedua orang iblis itu?"

Seru Lan Ciu-sui dengan tertegun. Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaaaaaaaahhhhhhhh......... haaaaaaaaahhhhhhhh.............. haaaaaaaaaahhhhhhhhh.......... mana mungkin aku akan berbuat seperti itu, hanya masalah sekarang adalah kita berdiri dalam posisi saling bermusuhan, mereka berusaha hendak membinasakan kita secepatnya, dia tak dapat disalahkan bila mereka bertindak tanpa sungkan-sungkan terhadap kita."

"Saudara Ban, mari kita segera berangkat mencari mereka untuk beradu jiwa dengannya."

Teriak Lan Ciu-sui lagi sambil tertawa.

"Saudara Lan, kita tak perlu pergi mencarinya lagi."

"Kenapa?"

Seru Lan Ciu-sui tertegun.

"apakah kau sudah mengetahui tempat tinggal mereka?"

"Benar, benar sekali perkataanmu itu, mereka memang sudah meninggalkan petunjuk!"

"Ban tua, berada dimanakah mereka sekarang ?"

Teriak Oh Put Kui pula.

"Mereka berada dilembah Sin-mo-kok!"

Tiba-tiba Oh Put Kui membalikkan badan lalu berlarian meninggalkan ruangan tersebut. Kakek latah awet muda segera membentak keras setelah menyaksikan kejadian itu.

"Hey, anak muda, mau apa kau?"

"Boanpwe segera akan berangkat kelembah Sin-mo-kok!"

"APakah kau akan pergi kesana dengan seorang diri ?"

Tanya kakek latah awet muda lagi sambil tertawa.

"Apakah boanpwe seorang tidak cukup?"

"Tentu saja tidak cukup! Dua bersaudara Siau telah meninggalkan pesan ditubuh Lian Peng, dia menyuruh kau membopong jenasah dari Nyoo S iau-sian untuk pergi berduel dengan mereka? Anak muda, agaknya mereka sudah memperhitungkan dengan tepat bahwa kita akan kesana, itu berarti mereka sudah melakukan persiapan pula secara matang, bila sekarang kau harus pergi seorang diri, bukankah perbuatanmu itu sama artinya seperti anak domba yang menghantarkan diri kemulut harimau...........?"

Oh Put Kui tertawa dingin. Tapi sebelum pemuda itu sempat menjawab, Lan Ciu Siu telah berkata lebih dulu.

"Saudara Ban, siaute akan pergi bersama-sama bocah ini!"

"Biar aku turut sertapun masih belum cukup!"

Tukas kakek latah awet muda dengan wajah bersungguh-sungguh.

"Aku tidak percaya!"

Teriak pemuda itu. Kakek latah awet muda segera tertawa.

"Kau tak usah tidak percaya, kau tahu anak muda, orang lain berambisi besar hendak mengangkangi seluruh dunia persilatan dan menyeret semua rekan persilatan berpihak kepadanya, bayangkan saja apakah kau mempunyai cukup kekuatan utnuk menentang kekuatan mereka itu?"

Oh Put Kui segera berdiri tertegun, dia tidak mengira kalau persoalan tersebut mempunyai sangkut paut yang begitu besar dengan keselamatan dunia persilatan.

Bahkan Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui sendiripun turut dibuat tertegun.

"Saudara Ban, apa kau bilang?"

Kakek latah awet muda tertawa tergelak.

"Kau tahu, mereka telah mempersiapkan pertemuan besar "Peluk kaum iblis mengembangkan ilmu silat"

Yang ditetapkan akan diselenggarakan pada bulan enam tanggal lima belas, seluruh umat persilatan mungkin akan berkumpul disitu."

"Benarkah itu?"

Seru Lan Ciu-sui tertegun.

"Saudaraku, buat apa aku mesti berbohong? Satu-satunya jalan yang harus kita tempuh sekarang adalah mengadakan perseiapan sematang-matangnya. Dari pihak pulau neraka, Un-hiang-lo, perkampungan Tang-mo-san-ceng, para tianglo dari pelbagai partai besar serta Thian-tok-siang-coat serta Hong-gwa-sam-sianpun harus segera kita hubungi."

Melihat si kakek latah awet muda yang selamanya berbicara santaipun kini menunjukkan wajah yang bersungguh-sungguh, Lan Ciu-sui segera sadar bahwa persoalan yang mereka hadapi sekarang bukan masalah sepele saja.

Karena itu katanya kemudian kepada Oh Put Kui sambil tertawa.

"Nak, pergilah menjemput ayahmu sekalian, sedangkan masalah yang lain biar yaya serta Ban loko yang mengaturkan bagimu!"

Oh Put Kui segera menyahut dan mohon diri.

Tapi ada dua orang yang segera mengikutinya pula pergi meninggalkan tempat itu.

SEtelah turun dari bukit Nyo-tay-san, Oh Put Kui langsung berangkat menuju kelautan timur.

Menurut perhitungannya sepuluh hari lagi akan tiba hari Peh-cun, oleh karena ia pernah dipesan agar menjemput ketujuh orang tua tersebut setelah lewat hari Pek-cun, maka pemuda itu merasa tak perlu untuk cepat-cepat sampai ditempat tujuan.

Biarpun begitu, ia toh melakukan perjalanan terus siang malam tiada hentinya.

Akibat dari perbuatannya ini.

kedua orang nona yang mengikuti perjalanannya itu menjadi tersiksa.

Ketika fajar menyingsing pada bula lima tanggal enam, ia sudah tiba di Giok-huan.

Maka pertama-tama dia pergi menghubungi si kakek nelayan dari lautan timur Ciu Pao-tiong.

Terhadap kemunculan Oh Put Kui yang sangat tiba-tiba ini, Ciu Poo-tiong menyambutnya dengan penuh kegembiraan, perpisahan selama beberapa bulan rupanya membuat sorot mata Oh Put Kui kelihatan lebih tajam dan bercahaya.

Sambil tertawa kerasa kakek nelayan dari lautan timur segera berkata.

"Oh lote, hanya berpisah beberapa bulan nyatanya kau kelihatan lebih hebat. Tentunya kemajuan yang kau capai selama ini amat pesat bukan? Aku benar-benar ikut merasa gembira..........."

Oh Put Kui tertawa.

"Pujian dari kau orang tua, hanya membuat aku menjadi rikuh sendiri........."

"Haaaaaaaaahhh...... haaaaaaahhhhh....... haaaaaaaahhhhhhh..... apakah lote bermaksud mengunjungi pulau neraka lagi...........?"

"Betul, boanpwe memang ingin merepotkan kau orang tua dengan menemani aku mengunjungi pulau neraka lagi..........."

"Kapan kau siap akan berangkat......?"

"SEtiap saat bila kau sudah ada waktu, tentu saja lebih cepat lebih baik!"

"Bagaimana kalau tengah hari nanti? Biar aku mempersiapkan dulu sedikit sayur dan arak untuk mu."

Buat apa kau persiapkan sayur dan arak? Apakah kau ingin minum arak diatas perahu?"

Tanya Oh Put Kui sambil tertawa. Kakek nelayan dari lautan timur kembali tertawa.

"Lote, bukankah kau bermaksud menjemput ketujuh malaikat tersebut untuk pulang ke Tionggoan? Nah itulah dia, aku akan persiapkan sayur arak untuk menjamu mereka."

Mendengar ucapan mana, Oh Put Kui menjadi tertegun.

"Ciu tua, darimana kau bisa tahu?"

Tanyanya kemudian dengan kening berkerut. Kembali Kakek nelayan dari lautan timur tertawa tergelak.

"Lote, Poan cay siansu telah memberi kabar kepadaku, dia bilang bila lote datang lagi kepulau tersebut, berarti saat itulah saat ketujuh malaikat kembali kedaratan Tionggoan, Tentunya perkataan ini tidak keliru bukan lote?"

Dengan perasaan baru mengerti Oh Put Kui tertawa tergelak.

"Haaaaaahhhhhhh............ haaaaaaaahhhh.......... haaaaahhhh........... rupanya Poan-cay taysu yang mengabarkan kepadamu, boanpwe masih mengira............."

Ia tidak melanjutkan kembali kata-katanya, sebab dia merasa bahwa dugaannya kalau sikakek nelayan dari lautan timur Ciu Poo-tiong mempunyai kepandaian untuk meramal adalah suatu perkataan yang menggelikan.

Kembali kakek nelayan dari lautan timur Ciu-poo-tiong barkata sambil tertawa.

"Lote, pergilah beristirahat dulu didalam perahu, aku akan segera mempersiapkan segala sesuatunya, tengah haru nanti kita sudah dapat mulai berangkat.............."

Sambil berkata Oh Put Kui segera diajak menuju kesebuah perahu besar dengan tiga buah layar. Oh put Kui memperhatikan sekejap perahu besar itu, kemudian katanya sambil tertawa.

"Ciu tua, apakah perahu ini baru saja kau beli?"

"OOdwOooohh, perahu tersebut merupakan hadiah dari Hong-gwat-sam-sian..........."

Terharu sekali hati Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, dia tahu Hong-gwat-sam-sian sengaja menghadiahkan perahu tersebut untuk kakek nelayan dari lautan timur dengan maksud agar dia bisa berangkat ke pulau neraka dengan leluasa serta menjemput kembali ayahnya sekalian bertujuh pulang kedaratan Tionggoan.

Maka diapun menjura ketengah udara dan berkata sambil menghela napas panjang.

"Demi urusan ayahku, ternyata Hong-gwa-sam-sian harus repot-repot menghadiahkan perahu, kejadian ini sungguh membuat hatiku tak tenang."

Ciu Poo-tiong yang melihat hal ini cepat-cepat menyela sambil tertawa.

"Lote, buat apa kau mesti berkeluh kesah.............. aku akan persiapkan dulu semua barang kebutuhan, silahkan lote beristirahat sejenak diperahu..........."

Tengah hari itu, Oh Put Kui berdiri diujung perahu sambil menyaksikan ombak yang terbelah diterjang kapal.

Ketika ombak memecah ditepian buritan segera menimbulkan suara yang amat keras.

Tanpa terasa Oh Put Kui terbayang kembali pengalamannya ketika melakukan penyelidikan untuk pertama kalinya kepulau neraka, perasaannya waktu itu sungguh berbeda dengan perasaannya saat ini.

Walaupun didalam perjalannya kali ini dia belum berhasil mengetahui siapa pembunuh ibunya, tapi berdasarkan pelbagai data yang berhasil dikumpulkan, ia sudah dapat menebak secara garis besarnya.

Wi Thian-yang dan dua bersaudara Siau sudah jelas merupakan beberapa orang yang paling mencurigakan.

Kawanan jago yang berada disekitar si Raja setan penggetar langit pun hampir semuanya mencurigakan, terutama sekali si pedang sakti bertenaga raksasa Kit Put-sia.

Dia mempunyai kemungkinan yang cukup banyak sebagai otak dari seluruh peristiwa berdarah ini.

Segala sesuatu yang ditemukan dalam kota Huang-si-shia nya, gerak geriknya yang misterius ditambah pula, tusuk konde Ngo-im-hun-kut-ciam telah muncul pula digedungnya, meski kemudian dia telah menjelaskan asal usul datangnya tusuk konde Ngo-im-hun-kut-ciam tersebut, tapi bukan mustahil kalau kesemuanya ini memang sengaja diatur oleh Kit Put-shia untuk mengelabuhi pandangan orang.

Berbicara menurut kecerdasan otak serta kepandaian silat yang dimiliki Kit Put-shia, pekerjaan sekecil ini sudah pasti dapat dilakukan olehnya secara mudah, bahkan tidak sulit juga untuk tak diketahui orang.

Oh Put Kui mendongakkan kepalanya memandang sekejap langit nan biru dengan sinar matahari yang memancar terik, ombak yang menggulung-gulung menimbulkan suara gemerisik.

Ia merasa pikirannya terombang-ambing bagaikan gulungan ombak ditengah samudra entah sampai kapan baru dapat mereda kembali?

Lama................

lama sekali....................

Hingga bayangan pulau neraka yang hitam muncul dikejauhan sana, pemuda itu baru sadar kembali dari lamunannya.

Dia segera menggelengkan kepalanya berulang kali dan bergumam sambil tertawa.

"Aaaaaai, buat apa mesti dipikirkan? Tunggu saja setelah bertemu Kit Put-shia nanti, bukankah segala sesuatunya akan menjadi jelas dengan sendirinya..............."

Oo0dw0oo Pelan-pelan perahu itu sudah merapat ditepian.

Kelihayan si kakek nelayan dari lautan timur Ciu Poo-tiong dalam mengemudikan perahu memang sangat mengagumkan, mau tak mau Oh Put Kui harus memuji kemampuannya itu.

Bayangkan saja, perahu yang begitu besar ternyata dapat dikemudikan olehnya secara mantep dan tenang bagaikan perahu kecil saja, andaikata mesti berganti pelaut lain belum tentu mereka dapat melakukan semulus ini.

Setelah jangkar diturunkan, layar digulung, kakek nelayan dari lautan timur segera berpesan kepada tiga orang kelasinya agar menjaga perahu itu baik-baik, sementara dia sendiri menemani Oh Put Kui naik kedaratan.

Suasana diatas pulau amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Suasana yang dihadapi saat ini sama sekali berbeda dengan suasana ketika ia datang untuk pertama kalinya dulu.

Waktu itu belum lagi mereka merapat ke daratan, serangan telah mereka hadapi secara gencar.

Tapi kini, biarpun mereka sudah mencapai daratanpun belum nampak sesosok bayangan manusiapun yang muncul disitu.

Mengapa begitu?

Dengan kening berkerut Oh Put Kui segera berpaling kearah sikakek nelayang dari lautan timur.

Sambil menggelengkan kepalanya Ciu-poo-tiong segera berkata.

"Lote, apakah kau menaruh curiga kalau pulau ini sudah tiada penghuninya?"

Oh Put Kui mengangguk.

"Yaaa, boanpwe memang merasa amat keheranan............."

Sambil tertawa Ciu-poo-tiong kembali berkata.

"Saban hari aku berjaga-jaga dikota Giok-huau, biarpun tidak kuketahui secara jelas keadaan dipulau ini, tapi jika ada perahu yang masuk keluar pelabuhan, tak satupun yang bisa lolos dari pengamatanku."

Hal ini membuktikan kalau ketujuh orang tua tersebut masih tetap berada diatas pulau.

"Ciu tua, boanpwe hanya merasa heran, mengapa ayahku sekalian tidak menyambut kita seperti dulu, bahkan tak seorangpun yang datang menjenguk?"

Ujar Oh Put Kui cemas.

"Mungkin............... ayahmu sekalian telah memperoleh pemberitahuan lebih dulu dari Hong-gwa-sam-sian dan mengetahui kalau lote akan muncul dalam beberapa hari ini, itulah sebabnya mereka segera mengendorkan pos pengawasannya."

"Moga-moga saja apa yang diduga Ciu tua memang benar...................."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka berdua telah naik ke bukit berkarang.

Dikejauhan sana mereka sudah melihat gardu Bong-ji-teng yang berdiri angker.

Gardu yang berdiri menyendiri di puncak bukit karang itu kelihatan begitu mengenaskan dibawah timpaan cahaya matahari senja, terpancar pula kesepian yang amat mencekam.

Suasana dipulau itu amat sepi, sedemikian sepinya sampai dapat terdengar mengalirnya sumber air diantara batuan.

Oh Put Kui memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba dia berbisik.

"Ciu tua, kita akan pergi ke gua tempat kediaman mereka? Ataukah langsung menuju ke gardu Bong-ji-teng?"

"Menurut pendapatku lebih baik kita langsung menuju ke gardu Bong-ji-teng!"

Sahut Ciu Poo-tiong sambil tertawa.

Oh Put Kui manggut-manggut, ia segera beranjak lebih dulu meninggalkan tempat itu.

Kakek nelayan dari lautan timur Ciu Poo-tiong segera mengikuti dibelakangnya, dalam waktu singkat mereka sudah tiba ditempat tujuan.

Mendadak berkumandang suara tertawa yang amat nyaring dari balik gardu tersebut.

"Nak, akhirnya kau datang juga?"

Oh Put Kui segera menghentikan langkahnya sambil menengok, ternyata ia jumpai ke tujuh orang tua itu sedang duduk bersila dilantai gardu Bong-ji-teng tersebut.

Tak heran kalau mereka tidak menjumpai seseorangpun, apalagi melihat dari bawah bukit, tentu saja sulit untuk menjumpai orang-orang itu.

Begitu bersua dengan ketujuh orang tua itu, Oh Put Kui segera merasakan darah yang mengalir didalam tubuhnya mendidih, ia segera berteriak keras lalu menerjang masuk kedalam gardu Bong-ji-teng serta berlutut dihadapan ketujuh orang itu.

"Ayah..........."

Sambil berteriak ia berpaling kearah pedang iblis pencabut nyawa Oh Ceng Thian.

Oh Ceng-thian yang kurus nampak tertegun karena kaget oleh tindakan yang dilakukan oleh Oh Put Kui tersebut.

Sekilas perasaan kaget dan girang yang sukar dilukiskan dengan kata-kata melintas diatas wajahnya yang tua, gumamnya agak tergagap.

"Kau.......... bocah............. kau memanggil apa kepadaku...........?"

Dengan mata berkaca-kaca oleh airmata Oh Put Kui berseru.

"OOdwOoOoh ayah, aku adalah putramu yang hilang...................."

Pedang iblis pencabut nyawa Oh Ceng-thian kelihatan seperti terperanjat menghadapi peristiwa yang sama sekali tak terduga olehnya itu, dengan wajah kurang percaya dan kenign berkerut kencang ia berseru lirih.

"Benarkah kau............. kau adalah putraku yang hilang?"

"Ooh ayah, setelah kembali kedaratan Tionggoan dulu ananda selalu bertanya kepada toa pekhu, dan empek telah memberitahukan segala sesuatunya kepadaku.............."

"Apakah sian-toako?"

Tanya Oh Ceng-thian.

"Ayah, ananda dibesarkan dan dipelihara oleh empek selama ini..............."

Tiba-tiba Oh Ceng-thian melompat bangun dipegangnya sepasang bahu Oh Put Kui kencang-kencang lalu serunya.

"Kau benar-benar adalah anakku yang hilang............."

Butiran air mata nampak membasahi wajah loji dari tujuh malaikat dunia persilatan ini, perjumpaan yang mengharukan antara ayah dengan seorang anak yang hilang memang selain menjadi ajang memeras airmata.

Lama sekali ayah dan anak saling berangkulan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Kakek nelayan dari lautan timur Ciu Poo-tiong yang berdiri diluar gardupun kelihatan berdiri dengan mata berkaca-kaca.

Akhirnya si kakek pemabuk dari Tiang-nan-san Tu Ji-khong berseru sambil tertawa terbahak-bahak memecahkan keheningan tersebut.

"Oh Ji-heng, kini putramu sudah datang dan seharusnya kau sambut dengan gembira, mengapa sih malahan kau berubah menjadi begitu lemah macam perempuan saja?"

Dalam keadaan demikian, sikongcu berhati dingin Leng To yang kaku tanpa perasaan serta sastrawan latah pedang kitung Liong Ciau-thian yang sombong pun kelihatan terpengaruh oleh gejolak emosi dan sama-sama memperlihatkan rasa haru.

Hal ini menunjukkan bahwa pertemuan antara ayah dan anak ini telah membangkitkan perasaan baru bagi siapapun yang memandangnya.

Ketika Tu-ji-khong selesai berkata, Oh Ceng-thian segera menarik tangan Oh Put Kui sambil katanya.

"Nak, perkataan Tu-jit-siok mu memang betul, kita harus bergembira menyambut pertemuan ini! Selama delapan belas tahun, siang dan malam aku selalu mengharapkan dapat bertemu denganmu, ternyata Thian memang maha pengasih. Dia telah mengabulkan permintaanku dalam wujud suatu kenyataan! Nak, kita harus tertawa, kita harus bergembira.............."

Mendadak gelak tertawa yang amat kencang dan memekakkan telinga bergema keluar dari mulut Oh Ceng-thian.

Begitu keras gelak tertawa tersebut hingga kakek nelayan dari lautan timur hampir saja tak sanggup berdiri tegak.

Kakek tinggi besar yang merupakan pemimpin dari ketujuh orang itu, It-gi-kit-jiu Ku Put-beng segera membentak keras.

"Jite, jangan sampai gelak tertawamu melukai kakek nelayan dari lautan timur serta keponakan Put kui!"

Rupanya gelak tertawa dari Oh Ceng-thian tersebut dipancarkan dari dalam pusar yang disertai dengan tenaga dalam amat dahsyat, barang siapa lemah tenaga dalamnya, dia tentu akan terluka oleh hawa murni yang terpancar keluar lewat suara tertawa itu.

Ku Put-beng mengerti bahwa kakek nelayan dari lautan timur serta Oh Put Kui tak akan tahan menghadapi ancaman tersebut, karena itulah ia segera menegur.

Padahal Oh Ceng-thian tidak sengaja berbuat begitu, dia hanya tertawa saking gembiranya.

Baru setelah ditegur Ku Put-beng, ia segera menghentikan gelak tertawanya dan berkata sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Teguran saudara Ku memang tepat sekali, gara-gara lupa diri hampir saja aku membuat bencana besar.............."

Sementara itu si kakek nelayan dari lautan timur Ciu Poo-tiong berdiri dengan peluh sebesar kacang kedelai membasahi seluruh tubuhnya, hal ini membuktikan dengan jelas seandainya Oh Ceng-thian tidak segera menghentikan gelak tertawanya, niscaya dia akan terluka oleh suara tertawa pencabut nyawa dari Oh Ceng-thian tersebut.

Tiba-tiba Jian-ih siansu merangkap tangannya didepan dada dan berkata sambil tertawa.

"Putra yang dinantikan kini telah muncul, harap Mo kiam sicu jangan kelewat terpengaruh emosi, kini dunia persilatan didaratan Tionggoan sedang menantikan kehadiran kita semua, mengapa sicu tidak mengajak mereka masuk untuk duduk dan berbincang-bincang?"

Oh Ceng-thian nampak tertegun setelah mendengar perkataan itu, tapi segera serunya sambil tertawa.

"Betul juga perkataan siansu.........."

Dia segera menarik Oh Put Kui untuk menempati kasur duduknya, kemudian baru berkata lagi.

"Nak, jumpailah keenam cianpwe mu.................."

Dengan sikap amat hormat Oh Put Kui memberi hormat kepada keenam orang lainnya satu-persatu. Sambil tertawa terbahak-bahak sisastrawan latah pedang kutung Liong Ciok-thian berseru.

"Hiantit, duduklah lebih dulu!"

Padahal sastrawan ini termashur karena sombong dan latah, tapi sekarang justru bersikap begitu sungkan terhadap Oh Put Kui, kejadian semacam ini benar-benar diluar dugaan kakek nelayan dari lautan timur.

Dengan sedikit agak rikuh Oh Put Kui segera duduk.

Barulah waktu itu Ku Put-beng menggapai kearah Ciu Poo-tiong yang masih berdiri diluar gardu seraya berkata.

"Nelayan tua she Ciu, kau pun boleh masuk dan duduk disini!"

Ciu Poo-tiong tersenyum dan melangkah masuk kedalam gardu, setelah memberi hormat kepada ketujuh orang tua itu, dia menempatkan diri pada urutan yang paling akhir.

Dalam pada itu si pedang iblis pencabut nyawa Oh Ceng-thian berkata lagi dengan mata bersinar.

"Nak, apakah kedatanganmu kali ini adalah untuk menjemput ayah sekalian untuk pulang kedaratan Tionggoan?"

"Betul, ananda memang sedang melaksanakan perintah untuk menyambut ayah dan enam paman lainnya untuk kembali kedaratan Tionggoan!"

Sahut pemuda itu tertawa.

"Nak, kau sedang melaksanakan perintah siapa?"

"Perintah dari Ban Sik-tong cianpwe."

Mendengar nama Ban Sik-tong, ketujuh malaikat dari dunia persilatan ini sama-sama merasakan hatinya bergetar keras. It-gi-kitsu Ku Put-beng segera tertawa tergelak, katanya.

"Apakah Ban Sik-tong masih hidup didunia ini nak? Haaaaaaaahhhhhh............ haaaaaaaaahhhhhh.............. haaaaaaaahhhhhh............ benar-benar tidak kusangka.........."

"Siancay, siancay!"

Seru Jian-gi siansu pula.

"kehadiran orangtua ini didalam dunia persilatan betul-betul merupakan rejeki buat seluruh umat persilatan!"

Sebaliknya coat-cing kongcu Leng To-yang bersikap dingin segera berseru sambil tertawa dingin.

"Bila si kakek latah awet muda masih hidup dikolong langit, mengapa kaum iblis didaratan Tionggoan masih tetap meraja lela? Nak, jangan-jang kau bukan bertemu dengan situa Ban yang sesungguhnya..........."

"Boanpwe telah berkumpul selama beberapa bulan dengan situa Ban, yakin hal ini tidak bakal salah lagi,"

Jawab Oh Put Kui segera.

"Kalau toh si tua Ban masih hidup, mengapa kawanan iblis itu masih bisa merajalela seenaknya sendiri? Atau jangan jangan kakek latah awet muda sudah tidak mencampuri urusan keduniawian lagi?"

Kembali Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Si tua Ban bukannya sudah tidak mencampuri urusan keduniawiaan lagi, tapi selama dua puluh tahun terakhir ini dia sendiri pun kena ditipu orang dan terkurung dalam sebuah bangunan loteng, dia baru lolos dari sekapan belum lama berselang!"

"Siapakah yang telah menipu si tua she Ban itu?"

Tanya Liong Ciok-thian tiba-tiba dengan kening berkerut.

"Orang itu adalah Kit Put-shia!"

Mendengar perkataan tersebut ketujuh orang tua itu kembali dibuat tertegun. Tiba-tiba Mi-sim-kui-ta berkata sambil tertawa.

"Anak muda, apakah Kit Put-shia sudah menjadi pentolan kaum iblis didaratan Tionggoan?"

Oh Put Kui tertawa.

"Boanpwe tak berani sembarangan menduga, tapi kalau ditanya pendapat boanpwe sendiri, Kit Put-shia pribadi belum pernah munculkan diri untuk berbuat sesuatu kejahatan, tapi dia memang cukup mencurigakan!"

"Mencurigakan bagaimana maksudmu?"

Tiba-tiba Coat-cing kongcu menyela.

"Kemungkinan besar dialah dalang yang menjadi otak dari semua kerisauan dalam dunia persilatan selama ini!"

Si kakek pemabuk dari bukit Tiang-pek-san, Tu Ji Khong segera tertawa tergelak.

"Haaaaaahhhh........ haaaaaahhhh........ haaaaaaaaahhhh........ kini kau sudah datang, berarti sumpah kita dulupun sudah berakhir, tentunya kita sudah boleh pergi bukan sekarang?"

"Tentu saja!"

"Nah saudara Ku dan saudara sekalian bila kita tidak pergi saat ini juga, mau menunggu sampai kapan lagi...........?"

Perahu besar dengan tiga buah layar lebar kembali menempuh perjalanan mengarungi samudra bebas.

Kegelapan malam telah muncul diujung langit, kegelapan pun mencekam seluruh permukaan bumi.

Impian buruk dipulau neraka kini sudah berakhir, daratan tersebut sudah jauh tertinggal diujung langit situ.

Tujuh orang tua yang menyendiri, kini tidak menyendiri lagi.

Oh Ceng-thian berhasil pula memperoleh kembali anaknya, dalam anggapan mereka bertujuh, bocah tersebut tak lain adalah ahli waris dari mereka bertujuh.

Cin Poo-tiong dengan gagahnya berdiri diburitan perahu sambil memberi perintah kepada ketiga orang kelasinya untuk mengemudikan perahu.............

Semenetara dalam ruangan perahu diselenggarakan perjamuan yang dinikmati ke tujuh orang itu dengan penuh riang gembira, mereka amat berterimakasih sekali atas kecermatan serta ketelitian Cin Poo Tiong dalam mempersiapkan segala sesuatunya.

Dalam perjamuan ini, secara singkat Oh Put Kui menceritakan pula keadaan situasi didalam dunia persilatan, yang disambut ketujuh orang tua itu dengan helaan napas panjang.

Kepada putranya, Oh Ceng-thian berkata demikian.

"Nak, apakah keempat buah peristiwa berdarah yang pernah kau ceritakan ketika berkunjung kemari dulu, kini sudah terpecahkan?"

"Belum!"

Pemuda itu menggeleng.

"Hmmm, apakah para ciangbunjin dan lima partai besar tak ada yang mengurusi persoalan ini?"

Seru Coat-cing kongcu Leng To sambil mendengus marah.

"Keluma orang ciangbunjin dari lima partai besar selalu mondar mandir kian kemari untuk melakukan penyelidikan atas peristiwa tersebut, namun hingga boanpwe akan berangkat kemari, belum nampak hasil penyelidikan mereka."

"Masa begitu susahnya persoalan ini dipecahkan?"

Seru Leng TO agak tertegun.

"apakah pihak lawan dapat bekerja secara bersih tanpa menimbulkan sedikit jejakpun?"

"Betul, mereka memang bekerja secara bersih tanpa meninggalkan jejak, hanya saja....................."

Setelah berhenti sejenak, dia meneruskan.

"Menurut pendapat boanpwe, siraja setan penggetar langit Wi Thian-yang amat mencurigakan dalam beberapa peristiwa tersebut, sebab Nyoo Thian-wi serta Wi Thian-yang sesungguhnya adalah satu orang yang sama!"

Jian-gi siansu segera tertawa.

"Lolap rasa dugaan siau-sicu memang beralasan sekali, andaikata orang yang melakukan peristiwa tersebut benar-benar adalah Wi Thian-yang, berarti dibalik ketiga macam peristiwa berdarah itu sudah terselip suatu rencana atau untrik yang amat keji."

"Apakah siansu tahu kalau diantara Wi Thian-yang dengan Hu-mo suthay sekalian terikat dendam?"

Kata kakek pemabok dari Tiang-pek-san sambil tertawa. Jian-ih siansu menggelengkan kepalanya.

"Lolap belum pernah mendengar tentang hal ini, kalau tidak, lolappun tak akan menganggap dibalik peristiwa tersebut masih terdapat intrik keji lainnya."

"Boanpwe berpendapat dibelakang Wi Thian-yang tentu ada orang yang mendalanginya!"

Kata Oh Put Kui selanjutanya.

"Siapa yang mendalangi dia? Apakah Kit Put-shia?"

Tanya sastrawan latah pedang kutung sambil mendelik. Oh Put Kui kembali menggeleng.

"Boanpwe belum terlalu yakin akan kesimpulan yang kubuat, tapi berbicara menurut kepandaian silat yang dimiliki Wi Thian-yang rasanya dia tak akan berkemampuan untuk berbuat demikian, bisa saja dua bersaudara Siau patut dicurigai."

"Betul, Siau Yau serta Siau Hian memang mempunyai kemampuan untuk berbuat demikian."

Seru Mi-sim-kui-to tertawa. It-gi Kitsu Ku Put-beng berkerut keningnya, kemudian katanya sambil tertawa.

"Nak, apakah selama ini kau pun tidak berhasil memperoleh sesuatu petunjuk dalam peristiwa ini?"

Dengan perasaan menyesal Oh Put Kui tertawa.

"Kecerdasan boanpwe sangat terbatas, boanpwe memang tidak berhasil menyelidiki persoalan tersebut..................."

Padahal kalau berbicara dari hasil penyelidikannya, mungkin orang lain harus berjuang seumur hidup untuk mendapatkannya.

"Nak, setelah kita kembali kedaratan Tionggoan, kemanakah kita akan bertemu dengan Ban Sik-tong?"

Tanya Ku Put-beng lagi.

"Gedung Un Hiang-lo di kota Kim-leng!"

"Siau sicu, apakah gurumu Tay-gi sangjin juga akan hadir?"

Tanya Jian-ih siancu. Oh Put Kui menggeleng.

"Soal itu boanpwe kurang tahu..........."

Belum habis dia berkata, tiba-tiba Oh Ceng-thian telah berseru dengan suara dalam.

"Nak, apakah toa-pekmu pernah memberitahukan soal ibumu?"

"Benar, beliau telah memberitahukan segala sesuatunya kepada ananda."

"Apakah kau sudah selidiki siapa pembunuhnya? Apakah dia adalah Kok Cu-hong?"

Tanya Oh Ceng-thian lagi dengan kening berkerut.

"Menurut pemberitahuan dari si tua Ban, Kok Cu-hong telah tewas ditangan Nyoo Thian-wi, sedangkan mengenai si pembunuh itu sendiri, bisa jadi dia adalah Wi Thian-yang!"

"Nak, mengapa kau tak dapat memberikan kepastian yang meyakinkan...........?"

Tegur Oh Ceng-thian dengan marah.

"Ayah, berhubung ananda belum berhasil memperoleh bukti yang pasti, maka belum berani kupastikan siapakah pembunuh yang sebenarnya."

Tampaknya Coat-cing kongcu Leng To merasa sangat tidak puas atas teguran Oh Ceng-thian terhadap anak muda itu segera serunya.

"Bocah, aku rasa apa yang kau perbuat sudah bagus sekali."

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi kepada Oh Ceng-thian sambil tertawa dingin.

"Saudara Oh, tempo dulu kau malahan secara langsung terlibat pertarungan sengit dengan orang itu, tapi nyatanya kau tak dapat mengenali siapakah lawannya, mengapa kau malah menegur putramu sekarang? Apakah tindakanmu ini tidak keliru besar?"

Sesungguhnya Oh Ceng-thian hanya menjadi gusar karena dorongan emosi, tentu saja dia tidak bermaksud menyalahkan Oh Put Kui.

Setelah Coat cing kongcu Leng Tp menegurnya secara langsung, bukan saja hal itu menimbulkan rasa sesal dihati Oh Ceng-thian, namun menimbulkan pula rasa gembira dalam hatinya.

Sebab dia cukup kenal dengan watak Leng To, sebagai seorang kongcu tanpa perasaan semestinya dia adalah orang yang kaku, aneh dan tak sudi memuji prang lain dengan begitu saja.

Tapi nyatanya dia justru membela Oh Put Kui dan merasa tak puas bagi tegurannya, dari sini membuktikan kalau Leng To telah berhasil melihat bahwa anaknya bakal berhasil dikemudian hari menjadi seseorang yang berguna.

Oleh karena itulah Oh Ceng-thian merasa gembira dan riang.

Setelah tertawa terbahak-bahak segera ujarnya.

"Teguran saudara Leng memang benar, aku memang sudah menyalahkan bocah ini!"

"Kau bisa mempunyai seorang anak semacam ini, sudah sepantasnya bila suadara Oh bergembira................"

Kembali Leng To berkata dengan suara dingin. Tiba-tiba Tu Ji-khong si pemabok dari Tiang-pek-san menyela sambil tertawa tergelak.

"saudara Oh, bocah ini merupakan ahli waris kita bertujuh, kau jangan membentak dia terus menerus, kalau sampai membuat ia menjadi ketakutan, hmmmm! Aku tak akan terima..................."

Mi-sim-kui-to segera berseru pula sambil tertawa.

"Sesungguhnya persoalan ini tak perlu diributkan terus, tapi kalian malah cekcok sendiri karena masalah sepele, benar-benar keterlaluan. Ketika bocah ini datang untuk pertama kalinya dulu, kita masing-masing telah mewariskan semacam ilmu silat kepadanya, padahal sejak itu soal hubungan sudah resmi ada, tapi sekarang kalian malah meributkannya kembali, apakah hal ini tidak berlebihan? Nah, mari kita beralih kesoal yang serius saja. Barusan aku teringat kembali dengan ayah mertua saudara Oh, mengapa sekian lama belum juga ada kabar berita tentangnya? Nak, apakah kau pernah bersua dengannya didaratan Tionggoan?"

Baru sekarang Oh Put Kui teringat kalau dia sudah lupa menceritakan tentang Kakek luarnya itu. Maka sambil tertawa segera katanya.

"Boanpwe telah bertemu dengan gwakong!"

"Nak, dimanakah gwakongmu sekarang?"

Seru Oh Ceng-thian dengan emosi.

"Ketika ananda berangkat kemari, dia orang tua melakukan perjalanan bersama-sama si tua Ban, mungkin disaat kita sampai dikota Kim Leng, dia telah menunggu kedatangan kita disitu!"

Oh Ceng-thian segera menghembuskan napas panjang, katanya kemudian.

"Nak, apakah gwakongmu juga belum tahu siapa yang telah membunuh ibumu?"

"Gwakong telah dikurung Wi Thian-yang dalam penjara bawah tanah selama delapan belas tahun lamanya, justru ananda bertemu kembali dengan gwakong setelah berhasil menolongnya dari gedung Sian-hong-hu diibu kota...................."

oodwoo

Jilid 41

"Kalau begitu Wi Thian-yang benar-benar patut dicurigai.........."

"Baik boanpwe maupun gwakong serta si tua Ban, semuanya berpendapat demikian.........."

"Haaaaaaaahhhh.......... haaaaaahhh......... haaaaaahh........"

Tu Ji-khong tertawa tergelak pula.

"saudara Ku, kedatangan kita ke daratan Tionggoan kali ini tentu bertambah semarak, malahan bisa jadi akan disuguhi tontonan yang menarik! Selain empat buah peristiwa berdarah, masalah enso Oh pun sudah cukup memusingkan kepala orang."

"Lote pemabuk, apakah kau tidak merasa terlalu awal untuk menduga mulai sekarang? Siapa tahu disaat kita tiba disitu, segala urusan telah terselesaikan, nah kalau sampai begitu, apa pula yang bakal merepotkan dirimu?"

"Tampaknya Ku lotoa sudah terlanjur malas, andaikata segala sesuatunya berlangsung seperti apa yang kau duga, sebelum kita sampai urusan telah beres, bukankah dunia persilatan sudah lama menjadi tenang kembali?"

"Yaa, betul, bukankah kau berharap dunia persilatan cepat tenang kembali sehingga kau punya waktu luang untuk minum arak setiap hari?"

"Lotoa, bila aku minum arak setiap hari, mungkin para iblis kembali akan merajalela."

Perkataan tersebut segera disambut oleh rekan-rekannya dengan gelak tertawa keras.

Dibawah kemudi si kakek nelayan dari lautan timur yang amat cekatan, tidak sampai beberapa jam kemudian perahu sudah merapat didermaga kota Giok-huan.

Kakek nelayan dari lautan timur segera mempersilahkan ketujuh orang tua itu naik keatas daratan.

Tiba-tiba Coat-cing kongcu Leng To menghela napas panjang, katanya.

"Delapan belas tahun lamanya aku tak pernah menyaksikan keramaian kota dan kesemarakan rumah makan, setelah menjumpainya kembali hari ini, rasanya segala sesuatunya serba asing......"

"Haaaahhhhh........ haaaaaaaaahhhh......... hhhhaaaaaaaahhhhhh........ perasaan dari saudara Leng ini sungguh diluar dugaan kamu semua!"

Katan Tu Ji-khong menanggapi.

Baca Juga: Legenda Bulan Sabit 4

Baca Juga: Naga Kemala Putih 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert