Ceritasilat Novel Online

Legenda Bulan Sabit 4

Eps 4 Legenda Bulan Sabit - Khu Lung

Baca online Legenda Bulan Sabit - Khu Lung

Cersil Legenda Bulan Sabit - Khu Lung.

Shi Tianwang yang berkata-kata ini, sejak tadi berdiri bagaikan arca di sebuah pojok yang paling dalam dari rumah kayu ini, dari sini bukan saja bisa melihat setiap gerak-gerik dari setiap orang, juga bisa melihat laut.

"Kau Situ Ping yang disebut orang sebagai. Jago Pedang nomor satu dari generasi muda?"

"Tidak bisa dikatakan nomor satu, tetapi juga tidak bisa dikatakan nomor dua."

Kata Situ Ping.

"Bedanya nomor satu dan nomor dua, cuma ditentukan oleh waktu sekejap mata saja."

"Perkataan yang bagus."

"Perkataanku tidak bagus, tapi jujur."

"Kamu datang mau mengabdi padaku?"

"Saya datang bukan mengabdi pada anda, tapi pada laut."

"Laut lebih kejam dan tanpa belas kasihan dariku."

"Saya tabu."

Kata Situ Ping.

"Justru sebab saya tahu, maka saya baru berbuat demikian."

"Mengapa?"

"Sebab laut tidak ada belas kasihan, dan angin serta ombak di laut berubah-rubah dalam waktu singkat, seperti pedang. Hanya di lautlah ilmu pedang saya bisa maju pesat."

"Pikiranmu ini tidak salah, tapi tadi tindakanmu salah."

Shi Tianwang berkata dengan sikap dingin.

"Sebab jika seseorang sudah mati, maka ilmu pedangnya tidak bisa maju pesat."

"Saya tahu."

"Di laut, orang yang membangkang padaku adalah orang yang akan mati."

"Saya tahu."

"Kamu juga tahu bahwa aku mau membunuh Hu Kaishu, kenapa kamu menyelamatkannya?"

"Ia juga belajar ilmu pedang, saya tidak dapat melihat ia mati di tangannya wanita dan anak-anak. Saya membunuhnya, karena ia pasti akan mati, jika begitu, lebih baik mati di bawah pedang saya saja."

"Kalau kamu?"

Tanya Shi Tianwang.

"Jika kamu mati, mau mati di tangan siapa?"

Situ Ping dengan dingin memandang dia dan lain-lain, lama sekali baru berkata sambil tersenyum dingin.

"anda tidak layak menanyakan kalimat ini, anda semua tidak layak!"

"Mengapa?"

"Sebab siapapun kalian tidak berani mengakui dirinya adalah Shi Tianwang."

Chu Liuxiang sudah mulai menguatirkan keselamatannya pemuda yang berani dan keras hati ini.

Ia percaya bahwa belum pernah ada orang yang berani berbuat kurang ajar di depannya Shi Tianwang!

"Di laut, orang yang berani membangkang pada Shi Tianwang adalah orang yang akan mati!"

Kalimat ini sedikitpun tidak salah! Tidak disangka Shi Tianwang malahan tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Bogus! Bocah, kau sungguh pemberani! Di antara para anak buahku, orang yang seberani kau sungguh tidak banyak."

Ia menatap Situ Ping dan berkata.

"Orang yang semacam kau datang mengabdi padaku, kalau aku bunuh kau, aku tidak pantas dipanggil "

Panglima Besar"

Lagi, dan siapakah yang masih rela berjuang dengan menyabung nyawa bagiku?"

Ternyata Shi Tianwang dengan begitu mudah melepaskan pemuda itu serta menerimanya.

Dalam hati Chu Liuxiang tiba-tiba mulai merasa ragu-ragu.

Apa benar Shi Tianwang adalah orang yang kejam dan ganas sebagaimana cerita orang?

Di dalam dunia ini barangkali tiada orang yang benar-benar dapat memahami dia, sama dengan tiada orang yang dapat membedakan yang mana Shi Tianwang yang sesungguhnya.

"Pendek Harum Chu."

Tiba-tiba Shi Tianwang berhadapan dengan Chu Liuxiang dengan sikap yang amat sopan, kata-katanya juga amat halus, seolah-olah berubah lagi menjadi orang yang lain.

"Kepandaian anda, nomor satu di dunia, dan semua orang tahu ketenaran nama anda! Namun bolehkah tahu maksud kedatangan anda?"

"Kata-kata Panglima Besar Shi betul-betul teramat ramah."

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum masam.

"Sebenarnya saya juga seharusnya mengucapkan kata-kata yang enak didengar, cuma sayangnya tidak bisa."

"Mengapa?"

"Karena maksud kedatangan saya betul-betul tidak terlalu bagus."

"Oh?"

"Sebenarnya saya datang untuk membunuh anda."

Kata Chu Liuxiang sambil menghela napas.

"Cuma sayangnya sekarang saya mau tidak mau mesti merubah niat semula."

"Mengapa?"

"Karena saya sama sekali tidak bisa membedakan siapa yang saya mesti bunuh?"

Ternyata Shi Tianwang juga berkata seraya menghela napas.

"Saya paham maksud anda, ini benar-benar hal yang menyakitkan kepala, saya percaya masih ada banyak orang yang sama seperti anda, yang kepalanya sakit sekali karena hal ini."

"Panglima Besar Shi berbuat begini, apakah memang untuk membuat orang sakit kepala?"

Shi Tianwang tertawa terbahak-bahak lagi, lalu berkata.

"Kepala sakit itu urusan kecil, tapi kepala dipenggal itu urusan besar! Demi melindungi kepala saya, ya saya cuma bisa berbuat demikian. Apakah Pendekar Harum juga setuju hal ini?"

"Saya setuju. Di dalam situasi dan kondisi anda ini, siapapun tidak dapat mengatakan bahwa tindakan anda tidak betul."

Shi Tianwang berkata dengan mata berbinar-binar.

"Kalau begitu sekarang anda mau melakukan apa?"

Tiada seorang pun yang tahu sekarang Chu Liuxiang seharusnya melakukan apa, bahkan Chu Liuxiang sendiri pun tidak tahu.

Banyak kali ia terjebak ke dalam situasi sulit dan berbahaya, namun tiap kali ia dapat berusaha untuk melepaskan diri.

Tetapi kali ini beda.

Kali ini ia berada di sebuah pulau terpencil yang empat jurusannya dikelilingi laut, pada kali ini ia bahkan tidak tahu siapakah lawannya yang sesungguhnya!

Chu Liuxiang mulai mengelus-elus hidung lagi.

"Saya bisa berusaha menerobos keluar, saya juga bisa bertempur melawan kalian."

Ia berkata seraya tersenyum kecut.

"Namun sayang semua cara ini tidab baik."

"Apakah anda masih ada gagasan baik yang lain?"

"Tidak ada."

"Saya ada."

Shi Tianwang berkata seraya tersenyum.

"Apa itu?"

"Kenapa kita tidak menyuruh orang membawa datang beberapa puluh guci arak bagus, minum sampai puas baru ngomong yang lain?"

Chu Liuxiang juga tersenyum.

"Gagasan ini kedengarannya bagus juga."

Lalu mereka mulai minum, dan terus minum. Arak yang mereka minum sungguh tidak sedikit. Ketika sudah hampir mabuk, Chu Liuxiang sepertinya mendengar Shi Tianwang sedang berkata pada dia.

"Anda mesti mnum lebih banyak lagi, anggaplah minum arak pernikahan saya."

Saat ini ia hanya ingin mencari sesuatu tempat untuk makan sesuatu serta minum sedikit arak. Tiba-tiba ia menemukan bahwa "Galah Bambu Hitam"

Dan Xue Chuanxin berbaur di antara orang-orang itu.

Ia mau pergi menyapa mereka, namun mereka seolah-olah sudah tidak mengenali ia lagi.

Seorang anak perempuan kecil yang ia belum pernah ketemu, sedang menarik-narik ujung bajunya dan memohon ia mau membeli barang di rumahnya.

"Rumah kami bukan saja ada nasi, mie dan arak, juga ada kepiting yang amat besar dan ikan yang masih hidup."

Anak kecil itu memiliki rupa yang mengundang rasa belaskasihan, dan sepasang tangan kecilnya menarik-narik baju Chu Liuxiang hingga mau sobek, tampaknya rumahnya memang betul-betul butuh tamu atau pelanggan yang kaya macam Chu Liuxiang.

Xue Chuanxin dan "Galah Bambu Hitam"

Sudah tidak kelihatan lagi, entah bersembunyi dimana?

Chu Liuxiang menuruti saja dibawa pergi oleh anak kecil itu, dan dibawa sampai ke sebuah depot kecil yang terbuat secara sementara dari rumah nelayan.

Rumah ini memang betul-betul butuh pembeli untuk beli barang mereka, dikarenakan depot-depot yang lain usahanya ramai, tapi di dalam depot ini seorang pembeli pun tidak ada.

Chu Liuxiang menghela sebuah napas yang panjang.

Depot maupun restoran yang sepi pembeli, makanannya umumnya tidak akan terlalu enak.

Sayang ia telah tiba disini.

"Di tempat kalian ada ikan apa? Aku minta seekor ikan dimasak dengan kuah, seekor ikan dimasak angsio, dan seekor ikan digoreng."

Anak kecil perempuan itu menggoyangkan kepalanya dan berkata.

"Di tempat kami ini tidak ada ikan dan arak."

Ia tertawa cekikikan.

"Tadi itu saya membohongi anda."

Matahari pada senja, hari merahnya bagai api, dan sinarnya membuat air laut seolahlolah menjadi berwarna merah, kelihatannya seperti arak anggur yang merah menyala.

Chu Liuxiang sudah bangun.

Meskipun ia bukan bangun di tepi sungai yang penuh dengan pohon willow, tetapi pemandangan di pantai pasir jauh lebih luas dan menakjubkan.

Bai Yunsheng datang pada saat tidak diketahui.

"Anda sudah bangun?"

"Seberapa mabuknya seseorang pun pasti akan bangun juga."

Kata Chu Liuxiang.

"Saya pernah mabuk, maka saya bisa bangun."

"Kalau begitu bagaimana dengan orang yang tidak mabuk?"

Bai Yunsheng bertanya sambil tersenyum.

"Apakah orang yang tidak pernah mabuktidak bisa bangun?"

"Betul."

Chu Liuxiang berkata dengan sikap sungguh-sungguh.

"Di dalam dunia ini memang ada banyak hal yang demikian."

Sikap Bai Yunsheng juga berubah jadi serius dan berkata.

"Betul, memang demikian."

"Apakah Shi Tianwang sudah pergi?"

Chu Liuxiang mendadak bertanya.

"Apakah Putri Pedang Giok sudah diantar ke tempat dia?"

"Ya. Dua hari lagi adalah pernikahan mereka."

Chu Liuxiang memandang awan teja yang kian redup di ufuk langit, lama sekali baru berkata dengan pelan-pelan.

"Saya tidak bisa menghalangi Putri Pedang Giok, juga tidak bisa membunuh Shi Tianwang, kali ini saya gagal total!"

Ia bertanya.

"Apakah anda tahu bahwa ini adalah kegagalan saya yang pertama kali?"

"Saya bisa menduganya."

Chu Liuxiang menatap dia lama sekali, lalu berkata seraya tersenyum.

"Kalau begitu saya beritahu anda. Seseorang sekali-kali menyicipi rasa kegagalan, juga bukan sesuatu yang jelek."

"Saya tahu."

"Apakah anda betul-betul tahu?"

"Orang yang tidak pernah kalah, bagaimana bisa menang? Bukankah di dalam dunia ini ada banyak hal yang demikian?"

Kapal telah disiapkan.

"Berapapun jauhnya mengantar anda, tetap harus berpisah. Hari ini kita berpisah, tidak tahu kapan lagi baru dapat bertemu lagi?"

Bai Yunsheng meriggenggam erat tangannya Chu Liuxiang dan berkata.

"Anda mesti menjaga diri dengan baik!"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.

"Tenang! Saya tidak akan karena gagal sekali, saking sedihnya lalu meloncat ke laut."

Tempat berlabuhnya kapal laut itu, asalnya juga sebuah kampung nelayan yang miskin, tetapi hari ini kelihatannya jauh lebih ramai dari biasanya, di dalam kampung penuh dengan warung-warung makanan kecil, dan setiap warung usahanya cukup ramai.

Meskipun orang-orang yang makan di warung-warung itu berpakaian nelayan, namun Chu Liuxiang segera bisa tahu bahwa sebagian besar dari mereka bukan mencari nafkah hidupnya dari menangkap ikan.

Tidak diragukan lagi bahwa di tempat ini sudah terjadi lagi sebuah peristiwa yang aneh, namun saat ini Chu Liuxiang sudah kehilangan sama sekali minat untuk mencampuri urusan orang lain.Ia tersenyum masam.

Seseorang kalau lagi sial, hal-hal yang seaneh apapun juga bisa dijumpai.

Di balik tirai dari sebuh kamar yang ada di belakang sebuah warung, ada seorang perempuan yang berkata sambil tertawa.

"Belakangan ini anda pasti makan ikan tiap hari, apa belum bosan? Apakah anda tidak ingin makan sedikit bebek bakar, ham, dan ayam tim jamur?"

Ia terkesiap. Ia pernah mendengar suara perempuan ini; yang setelah dengar lalu tak pernah dilupakannya! "Tuan Du! Andakah itu?"

Rumah sederhana itu telah disapu bersih sekali, sebab Tuan Du adalah orang yang amat memperhatikan kebersihan.

Di atas sebuah meja kayu tetap ada sebotol bunga kamelia putih yang berkuntum-delapan, dan Tuan Du masih tetap begitu anggun!

"Pendekar Harum pasti tidak menduga bahwa saya bisa berada di sini."

Ia berkata seraya tersenyum, dan senyumannya bagai bunga kamelia.

"Tetapi saya terus berharap anda bisa datang kemari."

"Sebenarnya saya mestinya sudah bisa menduganya, yaitu pada saat saya melihat Xue Chuanxin."

Orang-orang asing yang ada di kampung ini, tentu saja dibawa datang oleh Tuan Du. Kampung ini bisa jadi ramai, karena kedatangan banyak pembeli ini.

"Boleh tahu untuk apa Tuan Du datang kesini?"

"Kami sedang menunggu berita."

"Berita apa?"

Tuan Du mengelak pertanyaan ini, tapi berkata seraya menghela napas.

"Sayang Hu Tiehua sudah pergi, tidak tahu apakah karena mau buru-buru pergi mencari arak, atau karena mau buru-buru pergi mencari anda, baru saja mengantar si Putri Raja naik ke kapal, ia segera kehilangan bayangannya."

Putri Raja sudah naik ke kapal, saat ini mungkin sudah berada di dalam pelukannya Shi Tianwang.

Shi Tianwang yang mana ya?

Chu Liuxiang tidak mau menyinggung lagi hal ini, hatinya sedang sakit bagai ditikam pisau, satu-satunya hal yang agak memberi dia penghiburan ialah.

"Desas-desus di dunia persilatan, ada yang tidak benar, Shi Tianwang bukanlah orang yang kasar, kejam dan jahat sebagaimana katanya orang."

"Oh?""Ini saya lihat dengan mata kepala sendiri, saya mesti beritahu anda."

Tuan Du tersenyum samar-samar.

"Namun apakah anda pernah berpikir, bahwa ini mungkin saja ia sengaja berpura-pura untuk dilihat anda?"

Nada suaranya makin dingin.

"Jelas-jelas ia dapat membunuh anda, tapi malahan melepaskan anda, sangat mungkin karena ia menginginkan anda mengucapkan kata-kata semacam ini bagi dia di depan orang-orang dari dunia persilatan."

Ia bertanya lagi sambil tersenyum dingin.

"Di dalam dunia persilatan, siapakah yang mempunyai kawan yang lebih banyak dari Pendekar Harum Chu? Perkataan siapakah yang lebih bisa dipercayai dari Pendekar Harum? Shi Tianwang dapat menemukan orang semacam anda untuk berkata yang baik-baik tentang dia, ini betul-betul rejekinya!"

Ketika Chu Liuxiang merasa hatinya kian risau, tiba-tiba dari luar kampung terdengar gemuruh bunyi sorak-sorai, yang datang dari pantai laut seberang.

Mata Tuan Du mulai berbinar-binar.

Si anak perempuan kecil yang memiliki wajah yang mengundang rasa kasihan itu, masuk bagaikan burung kecil yang terbang, lalu berkata sambil terengah-engah.

"Berita sudah tiba! Putri Raja telah berhasil! Dua malam yang lalu ia berhasil memenggal kepalanya Shi Tianwang!"

Pada waktu sekejap ini, semua hal tiba-tiba seperti kembang api meletus di dalam hati Chu Liuxiang.

Siapakah yang dapat membunuh Shi Tianwang?

Siapakah yang dapat membedakan Shi Tianwang yang sebenarnya?

Hanya istrinya!

Tidak ada seorang pria, pada malam pengantin, menyuruh pria lain menggantikannya!

Inilah tujuan sebenarnya mengapa Putri Pedang Giok harus menikah dengan Shi Tianwang.

Oleh sebab itu, semalam menjelang keberangkatannya, ia bisa dan mau menyerahkan dirinya kepada orang yang sungguh ia cintai!

Rumah kecil di sisi danau, cahaya rembulan di atas danau, malam asyik-masyuk yang tak akan dilupakan itu, gadis yang menahan kepedihan hatinya dan mengorbankan dirinya untuk orang lain, dan bulan sabit berwarna merah darah yang melengkung itu, sekarang semuanya sudah lenyap bagaikan meteor!

Hati Chu Liuxiang juga mau meletus bagaikan kembang api, namun Tuan Du menggenggam erat-erat tangannya Chu Liuxiang.

"Kita berhasil! Akhirnya kita berhasil! Pengorbanan kita semua tidak sia-sia!"

Ia berkata seraya tersenyum manis.

"Saya tahu anda sudah mengira kali ini anda gagal total, namun kali ini pun anda tidak gagal, yang gagal adalah Shi Tianwang."

Dengan dingin Chu Liuxiang menatapnya, menatapnya lama sekali, baru berkata dengan semacam nada suara yang hampir tidak ada perasaan.

"Ya."

"00 TAMAT 00"

KANG ZUSI website

http.//cerita.silat.co.cc

KANG ZUSI website

http.//cerita.silat.co.cc

Baca Juga: Ular Belang Putih Kauw Tan Seng

Baca Juga: Raja Silat Chin Hung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert