Eps 3 Legenda Bulan Sabit - Khu Lung
Baca online Legenda Bulan Sabit - Khu Lung
Cersil Legenda Bulan Sabit - Khu Lung.
"Pendekar Harum Chu, pada malam ini ketika lampu sudah dinyalakan, ada seseorang yang menantikan kehadiran anda di tempatnya nona Qing di Wisma 'Lupa Perasaan', saya pun berharap anda bisa pergi ke sana, tapi tidak tahu apakah Pendekar Harum berani pergi?" (Catatan. nona Qing, nama seorang wanita penghibur kelas tinggi, Wisma 'Lupa Perasaan' nama sebuah tempat penghiburan). Gelas kristal yang mengkilat, kecapi tujuh dawai yang berbentuk indah, di atas dinding yang berwarna merah pink itu tergantung sepasang sajak kuplet yang ditulis seorang ahli.Seorang tua berambut putih yang kurus dan kate, mengangkat gelas sebagai tanda memberi hormat kepada Chu Liuxiang, dengan semacam sikap yang sopan dan anggun sekali.
"Saya adalah Shitian Zhaiyan Zuoweimen, meskipun tinggal lama di negeri Jepang yang kecil, tapi sudah lama mengagumi nama besar dari Pendekar Harum,"
Katanya.
"Pada pagi ini, saya beruntung dapat menyaksikan anda dengan jurus pedang yang tidak berbunyi, tidak berbentuk, tidak berbayangan, dan tidak bergerak, telah mengalahkan ilmu pedangnya Yici yang memiliki kekuatan dahsyat laksana guntur musim semi! Sehingga saya kian memahami taraf tertinggi dari seni silat, yaitu mengalahkan 'gerak' dengan 'diam', menghadapi '10.000 perubahan' dengan 'tanpa perubahan', betul-betul membuat mata saya lebih tercelik lagi!"
Ia sudah tua sekali, badannya juga kelihatan amat ringkih, nada bahasanya cukup kaku, namun bagi seorang tua dari negara asing yang mampu berbicara dengan bahasa Tionghoa yang sebagus ini bukanlah suatu hal yang mudah.
Hanya mendengar kata-katanya saja, sudah bisa tahu bahwa ia telah mencapai taraf yang amat tinggi baik di sinologi maupun di seni silat!
Dari sepasang matanya yang berbinar-binar, juga bisa terlihat bahwa di dalam tubuhnya yang ringkih itu masih terdapat kemauan yang keras, dan semacam rasa percaya diri dan hormat diri yang tak boleh dilanggar!
Chu Liuxiang berkata sambil tersenyum.
"Tuan Shitianzhai betul-betul ramah sekali, cuma sayang bahwa saya bukan orang yang terlalu bisa ramah-ramahan, dan punya semacam penyakit."
"Pendekar Harum juga bisa sakit? Sakit apa?"
"Sakit kepala. Begitu saya dengar orang lain mengucapkan kata-kata yang ramah, kepala saya langsung sakitnya bukan main."
Shitianzhai juga tersenyum, lalu berkata.
"Jika begitu saya tidak akan berputar-putar lagi. Tahukah anda siapa yang menyuruh Yici untuk membunuh anda?"
"Saya tahu, yaitu anda!"
"Mengapa saya mau menyuruh dia untuk membunuh anda?"
Ia sendiri yang menjawab pertanyaan ini.
"Sebab saya mau tahu apakah anda betul-betul memiliki kehebatan yang luar biasa sebagaimana dikatakan oleh orang banyak!"
"Mengapa anda mau membuktikan hal ini?"
"Sebab saya ingin anda pergi membunuh seorang untuk saya."
"Membunuh siapa?"
"Shi Tianwang."
"Mengapa anda ingin membunuhnya?"
Tanya Chu Liuxiang.
"Mengapa tidak membiarkandia untuk melawan kami?"
"Saya mau membunuh dia, itu hanya urusan dendam pribadi di antara kami berdua."
Sikap bicara orang tua itu masih begitu lemah lembut.
"Saya sudah hidup terlalu lama, dan satu-satunya keinginan saya semasa saya masih hidup, ialah berharap dapat melihat ia lebih dulu mati dari saya."
Dengan sepasang matanya yang berbinar-binar itu ia menatap Chu Liuxiang, lalu berkata.
"Tentu saja sangat tidak mudah mau membunuhnya, satu-satunya orang yang sanggup melakukannya mungkin adalah anda! Namun saya pun tahu bahwa sama tidak mudahnya untuk meminta anda pergi membunuhnya."
Tiba-tiba ia bertepuk tangan, dan nona Yingzi segera masuk dengan membawa sebuah peti.
"Saya tahu bahwa ia telah membeli sebuah peti dengan harga 300.000 tael,"
Kata orang tua itu.
"Tapi saya percaya bahwa harga peti ini barangkali masih lebih dari 300.000 tael."
Ia membuka peti itu, ternyata dalamnya penuh dengan mutiara dan batu giok yang berkualitas tinggi! Chu Liuxiang berkata sambil menghela napas panjang.
"Peti ini barangkali paling sedikit juga bernilai 1.500.000 tael! Sekalipun ini adalah barang haram, jika dijual kepada tukang tadah, juga bisa laku 700.000 sampai 800.000 tael!"
Shitianzhai berkata sambil tepuk tangan.
"Pandangan mata anda memang jeli sekali! Namun cara saya menilai agak berbeda dengan anda."
"Berbeda dalam hal apa?"
"Cara saya adalah menilai dengan orang. Saya selalu suka menilai orang. Saya perhitungkan bahwa harga peti ini sudah bisa membeli keperawanan 3.000 anak dara! Juga sudah bisa membeli jumlah orang gagah berani yang sama, yang rela mempertaruhkan nyawa mereka bagi saya!"
Mutiara-mutiara dan batu-batu giok dalam peti itu kelihatannya makin bergemerlapan di bawah sinar lampu, bahkan Chu Liuxiang sampai termangu-mangu memandangnya!
Shitianzhai memandangnya dengan memicingkan mata, lalu berkata seraya tersenyum.
"Sekarang peti ini adalah milik anda! Jikalau anda berhasil melaksanakan hal yang saya minta tadi, masih ada satu peti yang sama yang akan jadi milik anda!"
Tiba-tiba Chu Liuxiang tersenyum, lalu berkata sambil tepuk tangan juga.
"Xiaoqing, di manakah kau? Bisakah kau masuk sebentar?" (Catatan. Xiaoqing adalah panggilan kesayangan dari nona Qing). Tentu saja Xiaoqing bisa masuk. Jikalau ia tidak berada disini, bagaimana bisa tempat ini bernama Wisma 'Lupa Perasaan'? Jikalau ia tidak berada disini, ada siapa yang mau datang ke tempat ini?Sebenarnya Xiaoqing bukanlah wanita yang terlalu cantik, matanya tidaklah besar, mulutnya tidaklah kecil, bahkan badannya agak kurus. Namun ia sanggup membuat banyak orang tidak bisa melupakannya! Sebab setiap orang yang melihatnya akan merasa bahwa ia memiliki sesuatu keistimewaan, sesuatu yang berbeda dengan wanita yang lain! Tentu saja ia pun memiliki persamaan dengan wanita-wanita yang lain, yaitu ketika melihat barang-barang permata, matanya juga bisa bersinar terang! "Barang-barang di dalam peti ini paling sedikit bernilai 1.500.000 tael,"
Tanya Chu Liuxiang.
"Andaikata pak tua ini mau memberikan peti ini padamu, apakah kamu mau menemani dia tidur?"
"Bagaimana aku tidak mau?"
Suaranya Xiaoqing begitu empuk dan begitu lemah lembut.
"Pekerjaanku memanglah demikian, tapi bagi kami orang wanita yang bekerja demikian, seumur hidup pun tak akan bisa memperoleh uang sedemikian banyak! Seandainya itu bisa diperoleh hanya dalam waktu semalam, menyuruh saya melakukan apa saja juga mau!"
Ia berkata sambil menghela napas.
"Hanya sayang bahwa malam ini saya tidak bisa memperolehnya."
"Mengapa?"
Tubuh Xiaoqing yang empuk itu bersandar di tubuh Chu Liuxiang, memakai jari tangannya yang empuk itu untuk mengeluselus hidung Chu Liuxiang dan berkata.
"Sebab malam ini ada anda, saya mau menemani anda!"
Tiba-tiba air muka Shitianzhai berubah jadi pucat, sebab ia telah menangkap maksudnya Chu Liuxiang. Dengan jari tangannya yang keras Chu Liuxiang mendorong peti itu sampai kedepannya Shitianzhai.
"Kelihatannya malam ini anda telah hilang harapannya, baik itu cari perempuan untuk menemani tidur, maupun cari orang untuk bekerja bagi anda dengan taruhan nyawa."
Wajah senyumannya juga amat ramah dan sopan.
"Karena itu lebih baik anda pergi saja. Cepatlah pergi dengan peti ini.
"kata Chu Liuxiang sambil tersenyum.
"Sebab saya bisa jamin, besok malam pun barangkali anda juga tidak berpengharapan."
Belum sampai tengah malam Chu Liuxiang sudah tidur, bukan tidur di ranjangnya Xiaoqing, tapi tidur di dalam sebuah kereta.
Ia suka tidur di dalam kendaraan, ketika bangun sudah sampai di tempat lain, mungkin suatu tempat yang belum pernah ia datangi.Menurutnya ini semacam perasaan yang menyenangkan juga!
Naik kendaraan dan tidur memang hal-hal yang menjemukan, juga pemborosan waktu, tapi setelah keduanya digabung olehnya, lalu berubah jadi menarik.
Didalam dunia ini ada banyak hal yang memang demikian, di dalam hidup manusia ini memang terdapat banyak hal yang tidak menyenangkan, siapapun tidak kuasa untuk menghindarinya!
Namun bagi seorang yang betul-betul mengerti untuk menikmati hidup, ia akan berusaha memikirkan cara untuk memperbaikinya.
Kereta ringan yang ditarik kuda-kuda kuat itu berlari kencang, tetap saja Chu Liuxiang tidur dengan amat pulas.
Tiba-tiba jendela kereta dibuka dengan amat ringan, lalu masuklah seseorang dari ujung kereta seperti seekor ular.
Pinggangnya ramping, lemas dan lincah, sepasang kaki panjangnya gempal dan bisa 'ngeper'.
Ia duduk di depannya Chu Liuxiang dengan gerakan yang teramat ringan, lalu menatap Chu Liuxiang dengan sepasang mata besar nan bening, dan menatapnya lama sekali.
Chu Liuxiang sepertinya tidak tahu sama sekali.
Tidurnya seperti seekor kucing malas, bukanlah hal yang mudah untuk membangunkan kucing malas yang sedang tidur, namun nona Yingzi kita ini selalu saja ada akalnya.
Pertama-pertama ia ingin memberikan sedikit bau amis ikan kepada kucing malas ini.
Seekor kucing ketika mencium bau amis ikan masih tidak bisa bangun, maka itu bukan kucing malas, tapi kucing mati!
Di tempat ini tidak ada ikan, lalu bau amis ikan datang darimana?
Yaitu dengan Yingzi berubah dulu jadi seekor ikan, seekor ikan yang paling disukai kucing malas macam Chu Liuxiang ini!
Dan ternyata Chu Liuxiang segera saja sudah tidak tahan!
Meskipun matanya masih dipejam, tapi tangannya telah menangkap tangan 'ikan' itu dan berkata.
"Jangan demikian, jika tidak aku akan pukul pantatmu."
Yingzi berkata sambil tertawa cekikikan.
"Saya sudah tahu bahwa anda tidak tidur benaran, tapi jika anda tidak cepat buka mata, mungkin saja saya akan memakan anda!"
Kucing makan ikan, ikan kadang-kadang bisa makan kucing dan manusia! Chu Liuxiang menghela napas, buka mata, mengelus-elus hidung sambil berkata.
"Bisakah memberitahukanku, mengapa mesti membangunkan aku? Mengapa tak biarkan aku tidur?"
"Saya tidak bisa tidur, anda pun tidak boleh tidur."
"Kenapa kau tidak bisa tidur?"
"Saya ada beban pikiran.""Kau ada beban pikiran?"
Chu Liuxiang seolah-olah merasa heran.
"Bagaimana kau bisa ada beban pikiran?"
"Sebab aku telah mendengar sejumlah kata-kata yang tidak semestinya didengar,"
Kata Yingzi.
"Sebenarnya anda pun tak akan membiarkan saya mendengar kata-kata itu, hanya sayangnya malam itu ketika anda minum arak di atas atap rumah, minumnya terlalu nikmat, sampai lupa bahwa di dekatnya ada seorang wanita yang pernah belajar ninjutsu selama 17 tahun! Yang sama seperti anda, seorang ahli menguping mendengarkan percakapan orang lain!"
Chu Liuxiang berkata sambil tersenyum masam.
"Jadi kau telah mendengar seluruh percakapan kami pada malam itu?"
"Dikarenakan saya telah mendengarnya, maka saya merasa heran. Jelas-jelas bahwa anda telah mengambil keputusan untuk pergi mencari Shi Tianwang, lalu ketika diminta oleh Shitianzhai, mengapa anda malah menolaknya? Itu adalah 1.500.000 tael uang perak, bukan 150 tael lho! Kenapa anda tidak menerimanya? Masak anda menduga ia adalah orang yang terlalu baik, sehingga tidak tega mengambil uangnya?"
"Barangkali."
"Lalu kenapa anda memaksa dan mengambil uang 300.000 tael dari saya seorang wanita yang patut dikasihani?"
"Disebabkan kau bukan saja mengintip orang mandi, bahkan memasukkan dia kedalam peti."
Yingzi menatapnya lama sekali, baru berkata seraya menghela napas.
"Saya tahu anda tidak berkata sebenarnya. Anda tidak mau menerima uang Shitianzhai, hanya karena anda sebal kepada orang-orang macam dia, dan tidak sudi bekerja baginya. Jikalau anda sebal pada seseorang, sekalipun ia menumpukkan uang setinggi gunung pun anda juga tak akan meliriknya!"
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.
"Jika demikian, kalau aku mau terima uangmu, pasti karena aku suka kamu!"
Yingzi menatapnya lagi, lama sekali baru berkata.
"Saya pun suka anda, menyukai anda lebih dari siapapun, tentu saja lebih dari putri raja yang menyukai anda! Saya pun tahu bahwa anda suka saya itu palsu, namun saya suka anda itu sedikitpun tidak palsu!"
Ia menggenggam tangannya Chu Liuxiang dan berkata.
"Tetapi saya betul-betul tidak mengerti anda. Shitianzhai mau melawan Shi Tianwang, sebab Shi Tianwang telah merebut gundik kesayangannya. Lalu anda demi apa? Masa' betulbetul demi putri raja itu?"
Chu Liuxiang tidak menjawab, bahkan balik bertanya.
"Gundik kesayangannya Shitianzhai telah direbut Shi Tianwang, maka ia menyuruh kau pergi menculik calon istrinya Shi Tianwang. Tetapi di dalam desa Gunung Pedang Giok banyak sekali pesilat tangguh, kamu kok bisa memasukkan dia ke dalam peti dan dibawa keluar?"
"Tiga bulan yang lalu saya menggantikan pekerjaan Xiang'er."
Yingzi memberi penjelasan.
"Xiang'er adalah seorang pelayan wanita yang khusus melayani mandinya putri raja itu,"
Ia melanjutkan sambil tersenyum dan mengedipkan matanya.
"Barangkali anda tidak tahu bahwa ia adalah orang yang sangat suka bersih, baju yang telah diganti sangat jarang dipakai untuk kedua kalinya, dan sering suruh saya memberikan baju bekas pakaiannya sepeti demi sepeti pada orang lain. Ini sudah bukan pertama kalinya."
"Pada kali itu peti yang kau keluarkan tidak berisi baju bekas pakai, tapi orang yang memakai baju-baju itu,"
Chu Liuxiang berkata seraya menghela napas.
"Mendengar omonganmu, sepertinya urusan ini sederhana sekali."
"Ya memang sederhana sekali. Di dunia ini ada banyak hal yang tampaknya saja rumit dan sulit, sebenarnya begitu sederhana sekali."
Air mukanya tiba-tiba berubah jadi serius.
"Tapi jikalau ada orang yang ingin menyelundup masuk ke kapal laut besar milik Shi Tianwang yang bernama 'Raja Langit' itu, tak akan begitu sederhana lagi, sekalipun Pendekar Harum Chu yang katanya serba bisa itu, barangkali juga tidak mampu melakukannya."
"Oh!"
"Di dalam waktu satu bulan, ada 20 hari lebih ia tinggal di kapal itu. Jikalau anda tidak mampu naik ke kapal itu, bagaimana bisa ketemu dia? Jikalau anda tidak tahu sama sekali kapal itu ada dimana, bagaimana bisa naik kapal itu?"
"Masuk akal,"
Aku Chu Liuxiang.
"Mau melakukan hal ini betul-betul tidak sederhana."
Yingzi tersenyum lagi, dan senyumannya persis seperti bunga sakura yang sedang mekar.
"Untung masalah itu masih dapat diselesaikan,"
Katanya.
"Masalah yang bagaimgnapun sulitnya pasti ada cara penyelesaiannya."
"Bagaimana caranya?"
"Asalkah anda dapat mencari dan menemukan seorang yang mampu untuk membantu anda, masalahnya pasti beres."
"Siapakah orang yang mampu itu?"
"Saya!"
Yingzi menunjuk hidungnya yang kecil namun indah itu dengan sebuah jari tangan yang lembut dan mulus, sambil berkata.
"Orang yang mampu itu ialah saya."
Chu Liuxiang juga tersenyum, senyumannya lebih gembira dari Yingzi.
"Kalau demikian, sepertinya nasibku masih baik sekali ya, bisa ketemu seorang yang mampu seperti kamu ini."
"Saya sudah mendengar bahwa selama ini nasib anda baik sekali."
"Tetapi kenapa kamu mau membantu aku?"
"Pertama, karena saya senang, kedua, karena saya mau,"
Yingzi berkata sambil menatap Chu Liuxiang dengan sepasang mata beningnya.
"Ketiga, karena saya suka anda."
"Kenapa tiba-tiba kamu berubah jadi demikian suka aku? Apakah Tuan Shitianzhai menghamburkan uang ratusan ribu tael lagi untuk menyuruh kamu suka aku?"
"Anda kok bisa omong demikian?"
Kata Yingzi dengan sedikit marah.
"Mengapa anda selalu memandang saya sebagai orang yang tidak punya perasaan?"
"Ya, ya, aku tahu kamu adalah orang yang penuh perasaan, aku tahu juga, jika tidak ada kamu, aku tidak mampu melakukan hal itu,"
Chu Liuxiang berkata dengan suara lembut.
"Tapi tahukah kamu satu hal yang saat ini paling ingin aku lakukan itu apa?"
"Saya tidak tahu,"
Yingzi berkata sambil mengedipkan matanya, suaranya lebih manis dari madu.
"Saya sungguh-sungguh tidak tahu."
"Aku percaya,"
Suara Chu Liuxiang kian lembut.
"Aku percaya kau bukan saja tidak tahu, bahkan tidak pernah menduganya!"
Yingzi berkata dengan mata genit.
"Mungkin saya tahu? Mungkin saya telah menduganya?"
Ia tidak pernah menduganya!
Sebab begitu kata-katanya selesai diucapkan, Chu Liuxiang telah membuka pintu kereta, lalu melempar dia keluar seperti melempar bola!
Seperti Mimpi Musim Semi Yang Tak Berbekas Ini adalah sebuah kapal bertiang tiga yang bentuknya indah, layar yang putih bersih, badan kapal yang panjang, dan bahan kayu yang kuat dan berkilau.
Mendatangkan semacam perasaan.
mantap, cepat, dan mewah bagi orang yang memandangnya!
Sinar matahari nan cerah, air laut nan biru, burung-burung camar terbang dengan ringannya di antara tiang-tiang kapal, pantai laut nun jauh hanya tersisa bayangan yang samar-samar, dari kabin kapal sering terdengar bunyi tertawa nan merdu dari gadis-gadis.
Ini adalah dunia milik dia, dan tidak akan ada tamu-tamu yang tidak disukainya.
Ia telah kembali, sedang berbaring di geladak dengan nikmatnya, dan sedang minum arak anggur yang telah didinginkan oleh air laut.
Hanya sayangnya kereta tiba-tiba berhenti pada saat itu, dan ia terjaga dari mimpinya.
000Chu Liuxiang menghela napas panjang, lalu duduk dengan malas-malasan.
Di luar jendela kereta masih gelap gulita, masih lama dari waktu fajar menyingsing.
Mengapa tiba-tiba kereta ini berhenti?
Apakah di depannya telah terjadi sesuatu?
Chu Liuxiang sudah merasa ada hal yang tidak beres, dan tiba-tiba pintu dibuka dari luar, lalu tampaklah seorang laki-laki hitam dan tinggi berdiri di luar pintu, bagian atas tubuhnya telanjang, kepalanya botak, di telinga kirinya tergantung anting-anting emas vang berkilauan, daging dan ototnya banyak yang menonjol keluar, di dada hitamnya ada tato bergambar beruang abu-abu yang berdiri bagaikan manusia.
Ketika daging tubuh laki-laki itu bergerak-gerak, tato beruang itu kelihatannya bergaya mau menerkam!
Tengah malam yang gelap, dan di tempat liar di luar kota yang sepi lagi, tiba-tiba melihat seorang laki-laki yang kelihatannya galak dan garang seperti ini, betul-betul bukan hal yang mengasyikkan.
Chu Liuxiang berkata seraya menghela napas.
"Hei! Apa maksudmu ini? Jikalau nyaliku kecil sedikit, bukankah akan mati ketakutan karena kau?"
Laki-laki itu tidak bersuara, hanya mendelikkan sepasang mata besarnya. Chu Liuxiang terpaksa bertanya.
"Apakah kamu datang untuk mencariku?"
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya, tapi tetap saja tak bersuara.
"Kamu tahu aku siapa? Untuk apa mencariku?"
Chu Liuxiang bertanya lagi.
"Bolehkah buka mulutmu untuk berkata-kata?"
Mendadak laki-laki itu membuka mulut dan bersenyum padanya, ketika buka mulutnya, kelihatan gigi-gigi putihnya seperti gigi-gigi binatang, seolah-olah mau menelan Chu Liuxiang bersama dengan kulit dan tulangnya!
Chu Liuxiang menjadi terperanjat, tapi bukan karena rupanya yang menakutkan itu.
Sekalipun ia sungguh-sungguh mau makan orang, Chu Liuxiang juga bukanlah orang yang bisa dimakan dengan begitu mudah.
Terperanjatnya Chu Liuxiang, karena tiba-tiba ia mengetahui bahwa di dalam mulut laki-laki itu kurang satu benda.
Satu benda yang paling tidak bisa kurang!
Ternyata di dalam mulut laki-laki itu hanya ada gigi-gigi, tapi tidak ada lidah.
Lidahnya ternyata telah dikerat orang dari akarnya!
Chu Liuxiang berkata sambil tersenyum masam.
"Kakak! Kamu tidak bisa berkata-kata, aku juga tidak mengerti kamu mau melakukan apa? Lalu bagaimana?"
Laki-laki itu membuka mulut dan tersenyum lagi, sepertinya tidak berniat jahat padanya, dan sepertinya berusaha menunjukkan tanda-tanda persahabatan, namun tiba-tiba menjulurkan sepasang tangan yang lebih besar dari kaki beruang itu untuk mencengkeram Chu Liuxiang!Ternyata laki-laki yang badannya kekar ini juga punya otak yang tidak sederhana, ternyata ia juga bisa pakai tipuan.
Namun tentu saja ia tidak akan berhasil, tipuan kecil ini bagaimana mungkin dapat mengelabui Chu Liuxiang yang luar biasa cerdiknya!
Sekalipun tangannya lebih besar sepuluh kali lipat, juga tidak akan bisa menyentuh Chu Liuxiang!
Sekalipun ada sepuluh pasang tangan yang sebesar ini untuk menangkapnya, ia pun akan dengan mudah dan santai meloloskan diri!
Tapi yang tidak diduga adalah Pendekar Harum yang memiliki ilmu meringankan tubuh nomor satu di dunia ini ternyata bisa tertangkap dalam, satu gebrakan saja!
Sepasang tangan ini seperti tangannya si iblis yang jahat.
Siapapun bisa tertangkap dan tak bisa lolos!
Di dalam rimba ada sebuah danau kecil, di pinggir danau ada sebuah paviliun, di dalamnya ada cahaya lampu dan orang.
Orang ini ternyata adalah Chu Liuxiang.
Paviliun itu tertata rapi dan anggun, yang ada di dalamnya semua adalah barang-barang pilihan.
Di luar terdengar suara bunyi air, dari dua buah lentera kain kasa yang berwarna merah pink itu memancarkan sinar yang lembut dan romantis!
Diatas sebuah meja kecil yang barangkali datang dari istana Persia itu, terdapat enam piring masakan yang lezat dan satu guci arak.
Cangkir dan sumpit ada dua pasang, tapi orangnya cuma satu.
Chu Liuxiang sedang duduk di sebuah kursi yang sama eksotisnya dengan meja kecil itu, dan sedang memandang masakan dan arak itu dengan termangu-mangu.
Dalam satu gebrakan saja ia telah tertangkap oleh laki-laki itu, disebabkan ia dapat melihat bahwa laki-laki itu tidak bermaksud jahat padanya, yang dicengkeram juga bukan bagian tubuh yang mematikan.
Tentu saja ia bisa kapan saja melepaskan diri dari cengkeramannya laki-laki itu.
Yang terpenting adalah ia benar-benar ingin tahu apa yang akan dilakukan laki-laki itu pada dirinya!
Namun sampai sekarang ia masih tidak paham apa maunya laki-laki itu.
Laki-laki itu memanggul Chu Liuxiang di bahunya, lalu membawanya ke tempat ini, merapikan baju Chu Liuxiang, mengambil sebuah kursi dan mempersilahkannya duduk, tersenyum lagi padanya, lalu menepuk-nepuk bahu Chu Liuxiang dengan sikap ramah, kemudian pergi.
Apa maksudnya ini?
Siapa yang menyuruhnya untuk mengantar Chu Liuxiang ke tempatini?
Siapakah tuan rumahnya?
Di manakah ia?
Chu Liuxiang betul-betul tidak tahu sama sekali.
Ia membuka jendela, dan tampaklah cahaya bintang yang temaram, dan karena air danau yang bening, sehingga seolah-olah cahaya bintang di langit telah jatuh kedalam danau.
Suasana sekeliling amat hening, tapi tiba-tiba terdengar bunyi langkah kaki yang ringan dari belakang tubuhnya.
Ia menolehkan kepala dan tampaklah 'Bulan Sabit' yang cukup membuat seluruh bintang di langit kehilangan cahayanya!
"Kau?"
Chu Liuxiang berusaha agar tidak kelihatan terlalu terkejut dan bertanya.
"Bagaimana kau bisa sampai di sini?"
Mata si gadis itu juga mirip bulan sabit.
"Aku sering kemari,"
Ia berkata dengan nada yang sayup-sayup.
"Setiap kali ketika perasaan hatiku tidak enak, aku akan kemari."
Tiba-tiba ia tersenyum, dan senyumannya mengandung semacam rasa kesepian yang tak bisa dilukiskan.
"As roda kendaraan mesti sering-sering dikasih sedikit oli, manusia pun sama, sering kali perlu menenangkan diri untuk berpikir. Kadang-kadang rasa kesepian itu seperti oli yang dipoleskan pada as roda, yang dapat membikin pikiran seseorang berputar dengan lebih cepat."
Rupaya kelihatannya agak aneh, kata-kata yang diucapkannya juga agak aneh, sepertinya bukan gadis yang ditemukan Chu Liuxiang dalam peti, dibandingkan dengan Putri Pedang Giok yang anggun tapi dingin itu, lebih-lebih bagaikan dua orang yang berbeda sama sekali.
"Hanya sayang bahwa malam ini kamu tampaknya tidak bisa menenangkan diri,"
Chu Liuxiang sengaja berkata.
"Sebab aku sementara ini masih belum berniat pergi."
"Sekalipun kau mau pergi, aku juga tak akan melepaskan kau pergi,"
Kata 'Bulan Sabit'.
"Dengan tidak mudah aku mengundang kau datang, bagaimana bisa membiarkanmu pergi?"
"Kamu yang mengundang aku datang?"
Chu Liuxiang berkata dengan tersenyum masam.
"Mengundang tamu dengan cara itu, sepertinya aku tidak pernah dengar." 'Bulan Sabit' mengedipkan matanya, tersenyum dan berkata.
"Justeru disebabkan kau adalah orang yang istimewa, maka aku baru memakai cara yang istimewa itu untuk mengundangmu. Seandainya bukan karena kau tergerak rasa ingin tahumu, siapa yang dapat mengundangmu?"
Chu Liuxiang juga tersenyum lalu berkata.
"Bagaimanapun juga, bisa menemukan seorang macam itu untuk mengundang tamu bagimu, kau termasuk hebat juga. Ketika aku melihatnya pada pandangan pertama, aku kira ketemu seekor beruang."
"Panggilannya memang 'Beruang Tua'."
"Kenapa dengan lidahnya?"
Chu Liuxiang tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Siapakah yang punya kemampuan demikian besar, dapat mengerat lidahnya laki-laki itu?"
"Dia sendiri."
Chu Liuxiang terkejut dan berkata.
"Mengapa dia mau mengerat lidahnya sendiri?"
"Sebab dia takut bisa mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan,"
Kata 'Bulan Sabit' dengan nada datar.
"Kau seharusnya tahu kan. Aku orang ini sering punya sejumlah rahasia yang tidak boleh orang lain tahu."
Chu Liuxiang mengelus hidungnya lagi dan berkata.
"Hari ini kau mencari aku, ini juga rahasia?"
"Ya," 'Bulan Sabit' menatap Chu Liuxiang dengan semacam sikap yang amat aneh dan berkata.
"Sampai saat ini, kecuali kami berdua, tak akan ada orang yang tahu bahwa kau pernah datang kemari."
"Selanjutnya?"
"Selanjutnya?"
Suara 'Bulan Sabit' juga aneh sekali.
"Barangkali selanjutnya tidak ada seorang pun yang tahu, bahkan kita pun tidak akan tahu."
"Mengapa?"
"Sebab kita pasti akan melupakan hal ini."
Selesai mengucapkan kalimat ini, ia melakukan suatu hal yang lebih aneh lagi.
Tiba-tiba ia melepaskan tali bajunya, sehingga jubah tipisnya melorot dari pundaknya!
Dan sinar lampu yang lembut melingkupi dirinya.
Sehingga Chu Liuxiang dapat melihat lagi 'Bulan Sabit' yang berwarna merah tua yang berada di tubuhnya!
'Bulan Sabit' berada dalam pelukan!
Tubuh telanjangnya mulus, lembut, dan hangat!
"Aku hanya mau kau ingat,"
Ia berbisik di sisi telinga Chu Liuxiang.
"Kau adalah pria pertamaku! Di dalam hatiku, barangkali kemudian hari juga tak akan ada pria kedua lagi."
"Kenapa kau mau melakukan hal ini?"
"Demiku kau mau pergi mencari Shi Tianwang, dan tahu dengan jelas bahwa sangat mungkin tidak bisa kembali lagi."
Ia bertanya.
"Dulu bisakah kau melakukan hal ini?"
"Barangkali tidak."
"Sebenarnya aku juga tidak bisa melakukan hal yang aku lakukan pada hari ini,"
Ia berkata dengan suara lembut.
"Tapi kalau kau bisa melakukannya, kenapa aku tidak bisa?"
Air danau beriak. Di atas danau telah muncul dan melayang naik kabut pagi yang tipis, dan menutupi cahaya bintang di danau. Malam akan pergi, orang juga akan pergi.
"Aku pernah bertemu sekali dengan ayahku." 'Bulan Sabit' tiba-tiba berkata.
"Itu terjadi ketika aku masih amat kecil, ibuku menyuruh seorang inang pengasuh membawaku berjumpa dengannya. Tapi sampai sekarang aku masih bisa mengingat rupanya pada saat itu."
Pada saat ini tiba-tiba ia berbicara tentang ayah ibunya, betul-betul suatu hal yang tidak terduga.
Sebenarnya Chu Liuxiang ingin bertanya banyak hal padanya.
Mengapa ibumu sendiri tidak menemuinya?
Mengapa mereka berpisah?
Ia belum bertanya, 'Bulan Sabit' sudah melanjutkan kata-katanya.
"Aku masih ingat bahwa ia adalah seorang pria yang amat tampan, dan lebih tampan lagi ketika ia tersenyum, sebenarnya aku ingin sekali digendongnya, tapi tangannya terus menggenggam pedangnya erat-erat, membuat aku takut dan tidak berani buka mulut terus."
"Apakah ia juga tidak pernah menggendongmu?"
"Ya."
Chu Liuxiang tidak mau bertanya apa-apa lagi.
Seorang pengembara yang tak punya rumah, ujung pedangnya mungkin masih berlepotan darah musuh-musuhnya, tiba-tiba melihat bahwa anak kandungnya telah tumbuh besar dan menjadi seorang gadis kecil yang suci dan menarik, bagaimana ia bisa mengulurkan tangannya?
Bagaimana ia bisa tega bahwa anaknya akan menderita seumur hidup karena ingat dan rindu padanya?
Ini disebut 'berperasaan' atau 'tidak berperasaan'?
Biarlah orang beranggapan ia tidak berperasaan.
Seorang pengembara yang tak punya tempat tinggal tetap, ada siapakah yang bisa memahami rasa kesepian dalam lubuk hatinya?
Ia sendiri juga tidak mau orang lain memahaminya!
Kabut pagi seperti asap, peristiwa masa lalu juga seperti asap.
"Sejak saat itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya, mungkin kemudian hari juga takkan bertemu dengannya,"
Kata 'Bulan Sabit'.
"Aku cuma berharap bahwa kau bisa memberitahukannya. Selama ini aku selalu hidup dengan baik."
Chu Liuxiang berdiam diri lama sekali, lalu berkata.
"Kemudian hari barangkali aku belum tentu bisa bertemu dengannya."
"Betul, barangkali kau belum tentu bisa bertemu dengannya,"
Kata 'Bulan Sabit' dengan suara sayup-sayup.
"Kemudian hari barangkali kau tak akan bisa ketemu aku lagi."
Sungai yang panjang, tempat penyeberangan yang sepi.
Chu Liuxiang mau menyeberangi sungai, tapi tidak menemukan perahu, lalu ia berbaring di dekat sungai itu, sambil memandangi sebuah awan nun jauh di langit.
Sebuah awan putih pergi, ada awan putih yang lain yang datang.
Tapi kalau manusia?
"Apakah yang tidur di sana adalah Pendekar Harum Chu?"
Sebuah kapal besar datang dari jauh, dan tampaklah seorang anak kecil berpakaian putih yang berdiri di ujung kapal, dan berteriak nyaring dari jauh.
"Di kapal ini ada seorang yang mau bertemu Pendekar Harum, anda tentu juga mau bertemu dengannya,"
Suara anak kecil itu bening dan nyaring.
"Silahkan anda naik kapal jika anda mau bertemu dengannya, jika tidak anda akan menyesal!"
Tetapi kapal ini tidak menunjukkan tanda mau berhenti untuk menjemput tamunya, Chu Liuxiang yang sedang berbaring pun tidak bergerak.
Kelihatannya kapal itu akan pergi menjauh dengan disertai ombak.
Chu Liuxiang tiba-tiba terbang dan melewati air sungai yang berjarak belasan meter dari pantai, kemudian dengan satu gerakan salto di udara, ujung kakinya menimbulkan cipratan air yang besar!
Kemudian orangnya sudah turun di ujung kapal itu, dan bersenyum pada anak kecil yang terkejut sampai termangu-mangu itu.
"Akulah Chu Liuxiang, kamu meminta aku naik kapal, maka aku turuti. Namun jika di kapal ini tidak ada orang yang aku mau temui, lebih baik kamu membuka celanamu dan tunggu aku memukuli pantatmu!"
Ia melanjutkan dengan tersenyum 'jahat'.
"Nona Yingzi, kau seharusnya tahu bahwa aku sama sekali tidak berniat menemuimu."
Di dalam kabin semuanya berwarna putih salju, dan amat bersih, di atas lantai kabin terbentang tikar jerami yang berwarna putih salju.Shitianzhai Yanzuoweimen yang berambut putih itu, sedang duduk bersila di depan sebuah meja kayu angsana yang pendek, sikapnya masih begitu sopan, lemah-lembut, dan anggun.
"Bisa bertemu lagi dengan Pendekar Harum, sungguh suatu keberuntungan bagi saya. Saya secara khusus telah mempersiapkan bagi anda arak terbaik dari negara kami Juzhengzong, berharap dapat mabuk bersama anda."
Arak yang berbau wangi samar-samar, diisi ke dalam cangkir vang berbentuk indah, warna araknya bening dan tidak keruh.
Ia sendiri minum dulu satu cangkir, lalu menyuruh seorang pelayan wanita yang berlutut dan melayani di samping itu untuk mengisi penuh satu cangkir yang lain, kemudian memberikan pada Chu Liuxiang dengan dua tangan.
Ini merupakan cara mereka yang terhormat dalam melayani tamu.
"Saya berharap anda maklum, bahwa bukan saya yang menyuruh Yingzi menemui anda."
"Benarkah?"
"Pendekar Harum memiliki wajah tampan dan kepribadian menarik, yang tak ada bandingannya di dunia ini! Ada banyak wanita yang tak terhitung jumlahnya yang rela menyerahkan dirinya, dan itu bukan orang lain yang suruh!"
Orang tua itu berkata seraya tersenyum.
"Hal ini seharusnya anda juga tahu."
Meskipun sikapnya sopan dan lemah-lembut, tapi sepasang mata senyumannya sepertinya tersirat arti lain yang dalam. Chu Liuxiang menatapnya dan bertanya.
"Bagaimana anda bisa tahu saya ada disini? Bagaimana bisa menemukan saya?"
Mata Shitianzhai berbinar-binar dan berkata.
"Berkata dengan jujur ya, saya memang jelas sekali mengetahui keberadaan anda selama dua hari ini."
"Seberapa jelas?"
"Barangkali lebih jelas dari dugaan anda!"
Chu Liuxiang berdiri dengan tiba-tiba, tapi duduk lagi dengan pelan-pelan, dan minum habis secangkir arak itu dengan pelan-pelan, wajahnya juga tersungging senyuman dan berkata.
"Arak ini jernih tapi tidak sepet, manisnya pas sekali, tawar tapi tetap bercita rasa, sungguh arak bagus!"
Ia pun menyuruh pelayan wanita itu untuk mengisi penuh cangkir arak, lalu dengan hormat memberikan pada Shitianzhai, tiba-tiba merubah topik pembicaraannya.
"Anda tahu siapakah yang ingin saya temui? Apakah pada saat ini ia pun ada di sini?"
Shitianzhai tidak menjawab, hanya dengan tenang memandangi arus sungai yang deras di luar jendela, lama sekali baru berkata sambil menghela napas panjang.
"Anda lihat air sungai ini tiap hari mengalir terus tanpa henti, sekalipun ada orang yang melemparkan 10.000 tael emas ke dalamnya, ya cuma mengakibatkan satu cipratan air saja, setelah itu sungai tetap mengalir, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Baik yang anda lemparkan itu 10.000 tael emas, atau 100 kati besi rongsokan, hasilnya ya tetap sama!"
Chu Liuxiang juga memandangi air sungai di luar jendela itu sampai termangu-mangu, lama sekali Shitianzhai baru menyambung kata-katanya.
"Dunia memang demikian, penuh dengan hal-hal yang di luar batas kemampuan manusia! Dan begitu berlalu, semuanya lenyap bagaikan mimpi musim semi yang tidak berbekas sama sekali!"
Nadanya penuh dengan perasaan pilu.
"Seperti dikatakan oleh puisi Tiongkok yang termasyhur itu. 'Semuanya lenyap bagaikan mimpi musim semi, dan perasaan cinta hanya bisa jadi kenangan'. Betul-betul membuat orang tidak ada pilihan sama sekali!"
Mendadak dari mata senyumannya memancar keluar sinar yang tajam bagaikan pisau, menatap Chu Liuxiang dan berkata.
"Namun anda beda! Orang lain tidak punya, tapi anda punya!"
"Saya punya apa?"
"Anda bisa memilih, mau menggenapi kemauan orang lain, dan membuat perasaan cinta hanya jadi kenangan? Atau mau menggenapi kemauan anda sendiri?"
Suaranya berubah jadi tajam bagaikan pisau.
"Asal anda mau, saya bisa membantu anda menemukan kembali orang yang ada di dalam mimpi anda itu! Kemudian membawa kalian pergi ke suatu tempat yang mirip dengan Taman Firdaus, supaya kalian berdua dapat saling mencintai seumur hidup! Ini merupakan kesempatan emas yang dicari orang lain dengan susah payah tapi tidak bisa mendapatkannya! Jikalau anda melepaskannya begitu mudah, anda akan menyesal dan menderita seumur hidup!"
Chu Liuxiang mendengarkan dengan tenang dan diam, seolah-olah sedikitpun tidak bereaksi, hanyalah sahabat yang terdekatnya, yang dapat melihat penderitaan yang tersembunyi dalam pandangan matanya!
Namun sahabat terdekatnya tidak ada disini.
Suara Shitianzhai dari keras berubah lagi jadi lembut.
"Ini adalah urusan anda, dan tentu saja pilihan juga terserah anda."
"Pilihan ini terang saja luar biasa penderitaannya, bahkan lebih nenderita dari tidak ada pilihan! Chu Liuxiang tiba-tiba tersenyum dan berkata.
"Saya mengerti maksud anda. Anda gagal dalam penculikan, juga tidak berhasil nembunuh saya, maka terpaksa mempergunakan cara ini, agar saya membantu anda menggagalkan pernikahan itu. Sebab setelah Shi Tianwang bersekutu dengan Tuan Du, anda makin tak berdaya melawannya, bahkan boleh dibilang tidak punya peluang sedikitpun!"
Air muka Shitianzhai tidak berubah.
"Sekalipun saya memang bermaksud begitu, tapi juga beruntung bagi anda 'kan?"
Shitianzhai berkata.
"Jikalau hal ini memang menguntungkan kita semua, kenapa tidak boleh dilakukan?"
"Hanya ada satu hal yang tidak boleh."
"Hal apa?"
"Sebetulnya tidak hanya ada satu hal, paling sedikit ada dua hal,"
Chu Liuxiangberkata dengan santai.
"Yang pertama, saya sama sekali tidak ingin pergi ke Firdaus sialan itu. Tempat hiburan yang banyak arak enak dan wanita cantik, itulah Firdaus saya."
Ia menerima cangkir arak dari pelayan wanita itu, lalu berkata.
"Yang kedua, saya sama sekali tidak punya keinginan untuk menikah, seumur hidup pun tak pernah memikirkannya!"
Shitianzhai menjadi diam.
Dengan satu tangan memegang cangkir, satu tangan memegang guci, Chu Liuxiang sambil tuang sambil minum, minum tanpa henti.
Shitianzhai menatapnya terus, biji matanya seolah-olah kian menyusut, tapi suaranya kian lembut.
"Banyak pesilat berkata bahwa dulu ilmu pedangnya Xue Yiren, si Jago Pedang Berbaju Darah, disebut sebagai nomor satu di dunia. Tapi juga pernah kalah ditangannya Pendekar Harum! Saya pernah juga belajar ilmu pedang banyak tahun, ingin juga menjajal ilmu pedang anda, mohon anda banyak beri petunjuk!"
Ia tidak berdiri, di tangannya juga tidak ada pedang.
Orang tua yang berkata bahwa dirinya pernah banyak tahun belajar ilmu pedang ini, hanya menjepit sebuah sumpit dengan dua jari tangannya, lalu diangkat setinggi matanya.
Ini bukanlah gaya menyerang.
Namun bagi seorang yang pernah sungguh-sungguh belajar ilmu pedang, segera bisa tahu bahwa gaya ini jauh lebih bahaya dari jurus-jurus serang manapun, bahkan lebih bahaya dari pedangnya Chunlei dan ranting bunganya Tuan Du!
Justeru di dalam gaya yang sama sekali tidak bergerak ini, terkandung perubahan dan jurus maut yang tak terhitung banyaknya!
Meskipun di tangannya tidak ada pedang yang sedahsyat halilintar seperti pedangnya Chunlei Yici, namun ia telah merenggut semua keunggulan!
Sebab seluruh 'tempat kosong' (catatan.
suatu istilah silat Tiongkok yang berarti titik lemah yang bisa diserang oleh musuh) di tubuh Chu Liuxiang telah menjadi nyata!
Sumpit di tangannya walaupun bukan jurus yang merampas inisiatif seperti jurusnya Tuan Du, namun ia juga tidak membiarkan Chu Liuxiang merampas inisiatif!
Merampas adalah tidak merampas, tidak merampas adalah merampas, musuh menyerang dulu, tapi tetap bisa menemukan titik kelemahan yang bisa dimanfaatkan.
Dengan 'tenang' menaklukkan 'gerak'.
Ini semua adalah inti sarinya ilmu pedang!
Apalagi Chu Liuxiang sama sekali tidak bisa merampas, juga tidak bisa gerak!
000Chu Liuxiang sedang menuangkan arak, satu tangan pegang cangkir, satu tangan pegang guci, menuangkan arak untuk diri sendiri.
Kedua tangannya telah dipakai dalam satu gerakan yang paling santai dan paling tidak ada niat membunuh, jika hatinya ada kewaspadaan dan niat membunuh akan mengalir keluar bersama dari guci!
Bagaimana ia dapat bergerak?
Tapi bagaimanapun juga, arak pasti tertuang habis dari guci, dan cangkir pasti akan terisi penuh.
Baik pada ketika arak tertuang habis dari guci, atau pada ketika arak terisi penuh pada cangkir, pada ketika itu ia terpaksa akan bergerak.
Pada ketika itulah jurus maut Shitianzhai akan dilancarkan!
Secangkir arak ini, barangkali akan jadi secangkir arak yang terakhir bagi Chu Liuxiang!
Arak berada di dalam cangkir.
Bibi Hua menuangkan secangkir arak secara penuh bagi Hu Tiehua.
Sekalipun ini adalah cangkir emas, juga cuma satu cangkir.
Satu cangkir ya satu cangkir, bukan tiga cangkir, juga bukan 300 cangkir.
Perbedaannya dengan cangkir-cangkir lain adalah cangkir ini.
Cangkir besar yang bahkan Hu Tiehua pun tidak pernah, melihatnya.
Untung ia adalah Hu Tiehua, ia minum arak sudah 20 tahun lebih, pernah mabuk kira-kira 4000 -5000 kali, ada kalanya arak yang diminumnya dalam sehari jauh lebih banyak dari arak yang diminum sejumlah orang dalam sepanjang hidup mereka!
Tapi ketika ia minum habis secangkir arak ini, tetap saja megap-megap lama sekali baru bisa buka mulut.
"Wah!"
Ia berteriak.
"Tempat minum arak yang kau berikan ini cangkir arak atau baskom mandi?"
Bibi Hua tertawa cekikikan, mengangkat sebuah guci arak yang besar, seolah-olah mau menuangkan arak lagi bagi dia. Mata Hu Tiehua langsung mendelik bagaikan kelereng besar.
"Apa maksudmu?"
"Aku bisa punya maksud apa? Aku hanya mau menyulangimu dengan secangkir arak lagi, sebab kau mau pergi dan melaksanakan suatu hal besar."
Suara Bibi Hua lemah lembut, senyumannya selain lemah lembut, juga terlihat perasaan sedih karena mau berpisah.
"Minumlah secangkir arak lagi, sebab di pesisir laut Timur tidak ada kenalan lama. Mari! Aku juga menemani kau minum secangkir."
"Sekalipun tidak ada kenalan lama, aku pun akan kembali, apalagi si Kutu Busuk Tua saat ini pasti sudah tiba di sana,"
Kata Hu Tiehua sambil tersenyum masam.
"Namun jika aku benar-benar minum lagi secangkir arak ini, barangkali akan mati disini."
Bibi Hua berkata seraya tersenyum.
"Apa kau kira Chu Liuxiang benar-benar akan pergi ke sana?"
"Ia bilang akan pergi ya pasti pergi, sekalipun akan naik ke bukit pisau atau turun ke dalam kuali yang mendidih, ia pasti pergi juga!"
"Kalau ia tidak jadi pergi?"
"Kenapa bisa tidak jadi pergi? Kalau ia sendiri yang mau pergi, ada siapa yang dapat menghalanginya?"
Bibi Hua berkata seraya menghela napas.
"Jika tidak ada orang yang tahu ia akan pergi, mungkin saat ini ia benar-benar telah tiba di sana, cuma amat sayang bahwa ia punya seorang sahabat yang mulutnya lebih besar dari baskom mandi."
"Betul, aku adalah 'si Mulut Besar'." (Catatan. 'si Mulut Besar' dalam bahasa Tionghoa sama artinya dengan 'si Mulut Panjang' dalam bahasa Indonesia) Hu Tiehua berkata dengan tanpa merasa dirinya salah.
"Ini 'kan bukan hal yang memalukan? Mengapa aku tidak boleh memberitahukan orang lain?"
"Kau tentu boleh memberitahukan orang lain, kau mau memberitahukan siapapun boleh. Cuma makin banyak orang yang tahu hal ini, kerepotan dia makin bertambah!"
Bibi Hua berkata dengan air muka yang serius.
"Para anak buah Shi Tianwang bukanlah lawan yang lemah, hanya seorang Bai Yunsheng saja sudah cukup membuat dia tidak berdaya! Aku boleh jamin bahwa ilmu pedangnya Bai Yunsheng tidak kalah dengan ilmu pedangnya Xue Yiren pada waktu yang lalu!"
Hu Tiehua masih tidak terima dan masih mau berdebat, tapi dari luar sudah ada orang yang beritahu bahwa rombongan yang mengantar mempelai akan berangkat.
Tiba-tiba Bibi Hua memeluk Hu Tiehua dan berkata lirih di pinggir telinga.
"Perjalanan ini penuh dengan marabahaya, kau harus ekstra hati-hati menjaga dirimu! Meskipun aku bukan ibu kandungmu, namun aku selalu menganggapmu sebagai anak kesayanganku, kau sekali-sekali jangan mati di jalan ya!"
Malam kian larut, di sungai sudah banyak sinar lampu dari kapal-kapal nelayan yang menyala, dan kelihatannya lebih terang dari sinar bintang-bintang di langit.
Di dalam kabin kapal masih tetap gelap gulita, Shitianzhai Yanzuoweimen duduk seorang diri tanpa bersuara di dalam kegelapan, walaupun ada lampu di dekatnya, tapi ia tak ada niat umuk menyalakannya.
Sinar lampu dibawa masuk oleh Yingzi.
Yingzi yang berbadan mungil itu tetap memakai baju anak kecil, rambut panjang hitamnya digelung jadi sanggul, mata besar yang berbinar-binar itu penuh dengan keheranan, lalu bertanya.
"Hanya tuan seorang diri di sini?"
"Di sini memang hanya saya seorang diri."
Suara Shitianzhai terdengar begitu letih dan murung, kedengarannya seperti seorang musafir yang baru saja menempuh perjalanan yang melelahkan dari tempat nun jauh! "Chu Liuxiang dimana?"
"Ia sudah pergi."
"Bagaimana ia bisa pergi?"
"Yang datang ya datang, yang pergi ya pergi, datang dan pergi, siapa yang bisa mengurusnya?"
Yingzi mementang matanya lebar-lebar, nyata bahwa ia makin terkejut.
"Namun tadi saya melihat tuan memakai sumpit sebagai pedang, dan menunjukkan jurus siap serang yang luar biasa dahsyat itu, nyata sekali bahwa ia telah dikendalikan oleh jurus pedang tuan itu, bagaimana ia dapat pergi?"
Yingzi bertanya.
"Masa' ia dapat menghindarkan diri dari jurus tuan yang pasti menang dan pasti membunuh itu?"
Shitianzhai menatap sinar lampu dari kapal nelayan yang ada di kejauhan, lama sekali baru berkata dengan suara sayup-sayup.
"Ia tidak menghindar, juga tidak perlu menghindar."
"Mengapa?"
"Sebab saya sama sekali tidak menyerang."
Yingzi duduk dan bertanya dengan terkesiap.
"Mengapa tuan tidak menyerang?"
"Saya tidak bisa menyerang,"
Jawab Shitianzhai.
"Sebab saya sama sekali tak punya keyakinan."
Sinar lampu di kejauhan itu berkerlap-kerlip dalam matanya, tapi matanya sudah tidak berbinar-binar seperti dulu.
"Saat itu ia sedang menuang arak, dan saya bermaksud akan menyerang begitu cangkirnya terisi penuh,"
Kata Shitianzhai.
"Begitu cangkirnya penuh, gerakan menuang araknya pasti berhenti, jika tidak arak akan tumpah keluar dari cangkir, pada waktu sekejap mata itulah peluang terbaik saya!"
"Saya paham,"
Kata Yingzi.
"Dalam situasi itu, sedikit bergerak sudah cukup mendatangkan akibat yang fatal! Baik cangkirnya penuh lalu tumpah, atau sikap dan gerakannya berubah, semuanya akan mempengaruhi semangat dan pikirannya! Begitu muncul sedikit titik lemahnya, ia akan tertikam oleh pedang Tuan!"
"Betul,"
Shitianzhai berkata dengan murung.
"Situasi pada saat itu seharusnya memang demikian."
"Apakah kemudian ada perubahan yang luar biasa?"
Shitianzhai berkata seraya tersenyum masam.
"Chu Liuxiang betul-betul adalah orang yang luar biasa, cara mengatasinya betul-betul di luar dugaan orang!"
"Masa' cangkirnya tidak pernah terisi penuh? Masa' gucinya kebetulan sekali tertuang habis pada saat itu?"
"Pikiranmu ini sudah cukup bagus, namun pikiranmu ini masih salah."
"Oh?"
"Seandainya benar-benar gucinya kebetulan sekali tertuang habis pada saat itu, maka sekarang ia sudah mati di bawah pedang saya!"
Kata Shitianzhai.
"Sebab begitu tertuang habis araknya, akan mempengaruhi semangatnya, itu pun peluang saya."
"Apakah guci arak itu tidak pernah tertuang habis?"
"Ya."
"Apakah cangkir arak itu juga tidak pernah terisi penuh?"
"Juga ya."
Yingzi memandang cangkir dan guci yang ada dibawah lampu, lalu bertanya.
"Padahal ia terus menuang arak, tapi tidak pernah membuat guci itu habis tertuang, dan tidak pernah membuat arak dalam cangkir itu tumpah keluar?"
"Betul."
"Kalau begitu saya pun tidak habis terpikir,"
Kata Yingzi seraya tersenyum masam juga.
"Masa' cangkir ini punya cara magis?"
"Cangkir ini tak punya cara, ia punya."
"Apa caranya?"
"Berputar-putar tak kunjung berhenti, itulah cara dia."
"Itu adalah cara apa? Saya tidak mengerti."
"Satu tangannya pegang cangkir, satu tangannya pegang guci, ketika arak dari guci masuk kedalam cangkir, tenaga dalam di antara tangan kiri dan tangan kanannya telah tersambung. Tenaga dalamnya begitu tersambung, lalu berputar-putar tak kunjung berhenti, arak di cangkir dan guci juga berputar-putar tak kunjung berhenti!"
"Makanya arak dalam guci tidak pernah tertuang habis, arak dalam cangkir tidak pernah terisi penuh!"
"Betul."
"Tenaga dalam dan arak berputar-putar tak kunjung berhenti, telah membuat orangnya menjadi suatu bulatan!"
"Ya."
"Bulatan yang tak berujung pangkal, yang sama sekali tak ada titik lemahnya!"
"Ya."
"Makanya tuan terus tunggu tapi tidak bisa mendapat peluang untuk menyerang!"
Shitianzhai berkata seraya menghela napas panjang.
"Bulatan yang berputar-putar tak kunjung berhenti, bagaimana saya bisa mendapat peluang?"
Yingzi juga berkata seraya menghela napas panjang.
"Orang yang tak bekerja dan setiap harinya cuma minum arak dan main perempuan ini, ternyata memiliki kemampuan yang demikian besar! Ada siapa yang bisa percaya? Namun sekarang sepertinya saya harus percaya."
Shitianzhai berdiam diri lama sekali, baru berkata.
"Kau percaya, saya juga percaya, tapi selain kau dan saya, paling sedikit masih ada satu orang lagi."
"Siapa?"
"Saya tidak tahu dia siapa, tapi saya tahu bahwa memang ada orang demikian, dan ia pernah kemari."
"Apakah tuan tidak melihat dia?"
"Tidak. Ketika saya dengan Chu Liuxiang saling berhadapan dengan tenaga dalam dan jurus pedang yang bertaraf luar biasa tinggi, tiba-tiba dan tanpa bunyi sedikitpun muncullah orang itu. Dalam situasi itu, saya tidak bisa pecahkan konsentrasi untuk melihat dia."
"Ia tidak bertindak apa-apa 'kan?"
"Ia terus memandangi kami tanpa bersuara, sampai akhirnya baru berkata. 'Tuan Shitianzhai sudah kalah, Pendekar Harum Chu juga boleh pergi. Jikalau masih terus ngotot begini, bagi anda berdua mungkin sama-sama tidak ada untungnya, tapi bagi saya sangat beruntung'."
"Bagi dia sangat beruntung?"
Tanya Yingzi.
"Dapat untung apa?"
"Dapat untung sebagai pihak ketiga. Jikalau kami masih terus ngotot, ia dapat membunuh kami hanya dalam satu gebrakan!" 'Chu Liuxiang bukan orang yang biasa, ia pasti bisa mengerti rugi dalam situasi demikian!"
"Saya pun bisa mengerti, sebab itu kami berhenti pada waktu yang hampir sama. Pas pada waktu sekejap mata itu orang itu telah lenyap!"
Yingzi menjadi termangu-mangu, lama sekali baru berkata seraya menghela napas panjang.
"Orang itu sebenarnya siapa ya? Orang semacam ini, pasti sama dengan Chu Liuxiang, pasti ada banyak wanita yang suka padanya! Tidak peduli ia jangkung atau kate, gemuk atau kurus, jelek atau tampan, tetap ada banyak wanita yang suka padanya! Sebab ada banyak wanita yang suka pada orang vang cerdas semacam ini!" . Paling Sulit Menikmati Rahmat Dari Wanita Yang Cantik Wanita, banyak sekali wanita, banyak sekali wanita yang amat cantik! Wanita-wanita itu di ranjang, ranjang ada di dalam kapal. Kapal ini ada satu ranjang, ranjang yang luar biasa besarnya. Di sungai sudah ada sinar lampu dari kapal nelayan, di langit sudah ada sinar bintang, sinar-sinar ini menerangi sebuah perahu kecil, juga menerangi bayangan orang di perahu kecil itu. Ketika Chu Liuxiang keluar dari kabin kapal Shitianzhai, ia melihat orang ini, yang berpakaian putih seperti salju. Air sungai berkerlap-kerlip karena sinar lampu dan sinar bintang, di permukaan ombak yang berwarna kuning keemasan itu terombang-ambing tiga buah papan kayu. Dengan gerakan seringan dan secepat burung walet, Chu Liuxiang menyentuh papan dengan ringan, lalu terbang ke perahu itu. Namun orang berpakaian putih yang ada di perahu itu tibatiba terbang seperti capung dan naik di sebuah kapal besar. Di kapal besar ini sebenarnya sinar lampu tidak menyala dan gelap sekali, tapi begitu Chu Liuxiang tiba di kapal itu, sinar lampu tiba-tiba menyala dan amat terang bagaikan sinar bulan. Namun orang berpakaian putih itu sudah tidak terlihat. Yang terlihat oleh Chu Liuxiang adalah seranjang wanita, sekapal wanita! Seranjang wanita tidak menakutkan, sekapal wanita juga tidak menakutkan, yang menakutkan adalah, wanita-wanita itu ternyata ia kenal semua, bahkan kenal sekali dengan setiap orang! Bukan saja kenal sekali, bahkan punya hubungan yang amat khusus! Chu Liuxiang mau tidak mau mesti mengelus-elus hidungnya. Panpan yang ia kenal di Suzhou, Ajiao yang ia kenal di Hangzhou, Jinniang yang ia kenal di Datong, Chuqing yang ia kenal di Luoyang, Xiaoyu yang ia kenal di Qinhuaihe, Daqiao yang ia kenal di Mochouhu. Selain mereka, masih ada Qingqing yang baru saja berpisah dengannya. Ia tidak bisa melupakan mereka! Mereka lebih-lebih tidak bisa melupakan dia! Tetapi ia bermimpi pun tidak pernah menduga bahwa tibatiba mereka bisa sama-sama ada di satu tempat! Seandainya secara kebetulan ia ketemu salah satu orang, di mana saja dan siapa saja, ia pasti akan gembira setengah mati! Namun jikalau ia sekaligus ketemu semuanya, akan membuat dia jengah setengah mati! Ini sama saja dengan mimpi yang mengerikan! Pria manapun tidak ada yang mau mengalaminya! Yang paling gawat adalah, setiap wanita memandang dia dengan pandangan mata yang amat mesra! Semuanya menganggap dirinya adalah kekasih dia satu-satunya! Dan semuanya menganggap dia adalah kekasihnya satu-satunya! Jikalau anda juga seorang pria, jikalau anda juga mengalami hal ini, anda bilang ngeri atau tidak?Chu Liuxiang bukan saja terus mengelus hidungnya, bahkan terasa ingin sekali mengiris hidungnya! Seseorang kalau hidungnya teriris, orang lain mungkin tak akan mengenalinya lagi. Yang tidak beruntung adalah, sudah ada yang berkata.
"Untuk apa anda terus mengelus hidung?"
Yang berkata adalah Daqiao.
"Sekalipun hidung anda diiris, saya juga bisa mengenali anda."
Daqiao adalah orang yang omongannya paling blak-blakan dan melakukan segala sesuatu paling tidak sungkanan!
Kelihatan bahwa ia sudah siap-siap untuk 'menyeret' Pendekar Harum yang belum pernah takut kepada orang lain ini ke ranjang!
Chu Liuxiang ingin menghindar pun tidak bisa, sebab tempat kosong di dalam kabin kapal ini -selain ranjang besar -tidaklah banyak.
Untung pada saat ini tiba-tiba si pria berpakaian putih yang misterius itu muncul lagi.
Bajunya putih bersih, berwajah senyum yang amat sopan, sepasang mata senyum terangnya bagaikan bulan dan bintang, di dalam mata senyumnya seolah-olah sering berkelebatan awan putih!
"Saya bermarga Bai, bernama Yunsheng,"
Ia berkata.
"'Pendekar Chu meninggalkan harum lama di Jiangnan, di atas laut ada awan putih yang kian membesar'. Yang dimaksudkan oleh kalimat belakang itu adalah saya."
Chu Liuxiang tersenyum dan berkata.
"Yang dimaksudkan oleh kalimat depan itu adalah saya?"
"Ya."
"Siapa yang mengatakannya?"
"Saya sendiri,"
Bai Yunsheng berkata dengan sikap serius tapi sopan.
"Saya menganggap anda setara dengan saya, seharusnya ini adalah keberuntungan dan kebanggaan anda."
Seseorang dapat mengucapkan kata-kata semacam ini dengan sikap yang amat sopan, ini sungguh-sungguh adalah hal yang aneh dan lucu!
Namun ia dapat mengucapkannya dengan amat alami.
Sekalipun itu adalah hal yang paling lucu di dunia, tapi kalau keluar dari mulutnya, tak akan menyebabkan orang merasa lucu dan ditertawakan!
Chu Liuxiang tiba-tiba mengetahui bahwa ia bertemu lagi dengan seorang yang aneh, barangkali jauh lebih aneh dari semua orang yang pernah ditemui sepanjang hidupnya.
"Saya kira anda pasti mengenal beberapa nona ini,"
Bai Yunsheng berkata.
"Saya juga tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang disukai oleh anda."
Chu Liuxiang tidak dapat tidak mengakuinya. Bai Yunsheng menatapnya, mata senyumannya bersinar dan berkata.
"Saya minta maaf, karena pengenalan saya terhadap anda masih tidak cukup banyak, masih tidak tahu siapa yang paling disukai anda, jadi ya terpaksa mengundang mereka datang semua."
Wajah senyumannya juga amat sopan.
"Jikalau anda sudah merasa bosan pada beberapa orang dari nona-nona ini, saya segera bisa mempersilakan mereka pulang. Saya biasa bekerja dengan saksama dan memuaskan, yang tak pernah mengecewakan kawan-kawan."
Chu Liuxiang tersenyum masam. Orang yang demikian saksama dan memuaskan, ia belum pernah menjumpainya! Ia sudah merasa tidak tahan lagi. Tapi Bai Yunsheng malah bertanya.
"Terserah anda ingin saya mengantar siapa saja untuk pulang, jangan sungkan mengatakannya, saya pasti melaksanakannya."
Chu Liuxiang bisa omong apa? Tujuh sampai delapan pasang mata semuanya mendelik ke arahnya, dan semuanya kelihatan ingin sekali menggigit dia dengan gemas! Dengan amat terpaksa Chu Liuxiang berkata.
"Mereka semua adalah kawan baik saya. Semuanya saya suka, jadi siapapun yang pergi, saya akan sedih sekali."
Bai Yunsheng berkata seraya tersenyum.
"Pendekar Harum memang seorang playboy kelas kakap, saya betul-betul iri!"
Sekarang Chu Liuxiang tidak berani lagi memandang gadis-gadis itu, bahkan tidak berani membayangkan ekspresi wajah mereka!
"Yang paling ditakuti seorang playboy adalah rasa kesepian, hal ini saya pun paham,"
Kata Bai Yunsheng.
"Makanya saya mengundang mereka datang, untuk menemani anda pergi ke suatu tempat dan bertemu seseorang."
"Bertemu siapa?"
"Seorang yang paling ingin anda temui tapi tidak bisa."
"Shi Tianwang?"
Chu Liuxiang hampir mau melompat, lalu bertanya.
"Apakah yang anda maksudkan itu adalah Shi Tianwang?"
"Ya."
"Apakah anda tahu ia ada dimana?"
Bai Yunsheng menganggukkan kepala dan berkata.
"Ya. Walaupun tempat itu amat jauh, namun sekarang saya sudah merasakannya, bahwa sepanjang perjalanan ini anda tidak akan kesepian!"
Tidak peduli siapa, baik itu.
Qingqing, Panpan, Ajiao, Jinniang, Chuqing, Daqiao, atau Xiaoyu, semuanya adalah wanita yang luar biasa menyenangkan!
Semuanya pernah punya pengalaman yang tidak biasa dengan Chu Liuxiang, dan semuanya pernah melewati sebagian waktu yang indah dan tidak terlupakan bersama-sama dengan dia!
Siapapun di antara mereka, kapanpun dan di manapun ketika bertemu lagi dengan dia, pasti sama seperti dulu, memperlakukan dia dengan lemah lembut dan penuh perhatian!
Namun sekarang situasi dan kondisinya sudah berubah sama sekali!
Jika sekarang ada satu orang yang berlaku agak baik pada Chu Liuxiang, gadis-gadis lain akan memandangnya dengan hina, menganggapnya mencari-cari muka untuk mengambil hati si pria pujaan hati!
Ia sendiri juga akan merasa kehilangan muka!
Mereka 'kan bukan perempuan sundal kelas teri, kenapa mau melakukan hal yang memalukan ini?
Chu Liuxiang amat memahami situasi dan kondisi ini, bahkan jauh lebih paham dari kebanyakan orang!
Maka ia sama sekali tidak berharap mereka bisa memberi wajah yang menyenangkan bagi dia, lebih-lebih tidak berharap bahwa mereka akan merangkulnya lalu menanyakan kabar darinya!
"Banyak membagi cinta, banyak kegalauan hati!"
Peribahasa ini memang tepat sekali!
Asalkan gadis-gadis ini tidak bersekongkol untuk melawannya, ia sudah berterima kasih pada Tuhan dan dewa!
Apakah mereka akan melakukannya?
Ketika memandang ekspresi wajah mereka, ia benar-benar merasa sedikit gentar!
Selama ini ia "amat mengenal perangai mereka, baik mereka melakukan hal apa saja, ia tidak akan merasa heran.
Maka ia terpaksa melarikan diri, lari ke bagian belakang kapal dan menemukan sebuah kamar kosong, ia masuk dan rebah diranjang, lalu tidur dengan selimut menutupi kepalanya.
Bagaimanapun juga, adalah baik untuk menghindar sementara dari situasi yang tidak mengenakkan ini, dan menunggu sampai amarah mereka jadi reda.
Inilah kecerdikannya Chu Liuxiang, juga kehebatannya.
Yang lebih hebat adalah, ternyata ia dapat tidur pulas!
Ketika ia bangun, sudah tidak tahu itu waktu apa?
Diluar kamar hening sekali, juga tidak tahu sudah sampai di mana?
Mengapa gadis-gadis itu tidak bersuara sedikitpun?
Sekarang lagi berbuat apa?
Apakah sedang berunding untuk'mengerjainya'?
Chu Liuxiang menghela napas panjang, tiba-tiba berasa bahwa para pria seharusnya tahu aturan sedikit, seandainya yang ditemui adalah seorang nona cantik yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, jika tidak bisa menendangnya keluar, maka ialah yang harus lari terbirit-birit.
Tentu saja ini adalah pertama kalinya ia punya pikiran demikian, tapi tidak tahu apakah juga adalah terakhir kalinya.
Ketika ia sedang duduk termangu-mangu di ranjang, tibatiba dari kamar sebelah terdengar bunyi orang menuang air dengan cerek besar.
Seluruh badan dia jadi gatal.
Paling sedikit dia sudah 2 -3 hari tidak mandi, alangkah nikmatnya kalau sekarang ia bisa mandi di bak mandi yang besar!
Cuma sayang bahwa ia tidak lupa ini adalah kapal, walaupun kapal berada di atas air, tapi air di kapal nilainya lebih mahal dari apapun!
Apalagi saat ini bagaimana mungkin gadis-gadis itu mau menyiapkan air mandi baginya?
Bahkan memikirkannya pun ia tidak berani.
Namun yang aneh adalah, ternyata air mandi sudah disiapkan baginya.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, lalu tampaklah sebuah bak mandi yang besar.
Tidak ada orang, hanya ada air mandi.
Tidak saja ada air mandi, masih ada baju-baju untuk ganti, yang dilipat dengan amat rapi dan berada di atas sebuah kursi.
Semua baju adalah baru, dan ukurannya pas sekali dengan badannya, seolah-olah dibuat dengan sambil mengukur badannya!
Airnya tidak dingin juga tidak panas, suhu itu adalah kesukaannya.
Bahkan salep kacapiring yang dipakai bersama mandi itu adalah dari jenis yang paling disukainya.
Siapakah yang telah menyiapkan semua ini baginya?
Walaupun gadis-gadis itu mengetahui ukuran badannya, juga tahu apa yang disukainya, namun siapakah di antara mereka yang telah memperhatikannya?
Masa' ini adalah strategi mereka untuk menghadapi dia?
Sengaja memperlakukan dia sedikit lebih baik, agar ia merasa jengah?
Baru kemudian 'mengerjai' dia habis-habisan?
Ia telah selesai mandi dan merasa nyaman sekali, lalu memakai satu set baju baru yang amat pas di badan, pikiran dalam hatinya berubah lagi.
Memang seharusnya mereka memperlakukan dia sedikit lebih baik, karena pria macam dia ini, memang tidak bisa seumur hidupnya hanya menjagai seorang wanita saja.Mereka seharusnya memahami hal ini!
Sekarang barangkali mereka telah paham!
Berpikir sampai disini, Pendekar Harum kita segera merasa gembira lagi, lalu dengan gembira berjalan keluar dari kabin.
Di luar sinar matahari amat terang, karena cuaca cerah sekali.
Dari jendela melihat keluar, bisa melihat pantai sungai yang jauhnya beberapa kilometer.
Di dalam kabin besar itu tidak ada orang, bahkan satu pun dari gadis-gadis itu juga tidak kelihatan.
Ketika ia merasa heran, terlihatlah olehnya sebuah kapal yang menuju ke pantai.
Ketika melihat kapal itu, jantungnya serasa mau copot!
Qingqing, Panpan, Ajiao, Jinniang, Chuqing, Daqiao, dan Xiaoyu, semuanya ternyata ada di dalam kapal itu, yang memandangnya dengan semacam pandangan yang aneh, dan melambaikan tangan mereka kepadanya sebagai tanda perpisahan!
Langit yang tak terbatas itu berwarna biru yang amat cerah, ketika memandang ke kejauhan, seolah-olah bisa melihat tempat tersambungnya laut dan langit!
Air sungai mengalir dengan kencang, kapal itu-berjalan menuruti arus, sehingga lajunya amat cepat.
Orang-orang yang barusan berada di dekatnya, dalam waktu singkat mungkin telah berada di tempat yang amat jauh.
Mengapa mereka pergi?
Karena dipaksa?
Atau maunya mereka sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan ini tak perlu dijawab, sebab dari dalam air sungai yang kuning dan keruh itu muncul beberapa bayangan yang seputih salju, ternyata adalah gadis-gadis cantik yang berenang bagaikan ikan-ikan yang lincah!
Ikan-ikan tidak bisa naik kapal, tapi gadis-gadis itu bisa naik kapal.
Pakaian mereka cuma lebih banyak sedikit dari ikan, sama seperti ketika mereka bertemu Chu Liuxiang pada waktu yang lalu, namun pada saat ini sikap mereka berubah drastis!
Sikap mereka berubah jadi amat hormat dan sopan, dan sepertinya dengan sengaja mempertahankan jarak dengannya.
Keadaan ini sepertinya tidak pernah terjadi di atas dirinya Chu Liuxiang.
Ia berkata sambil tersenyum masam.
"Pada kali ini kalian mau apa lagi? Apakah ingin makan orang? Atau ingin orang makan kalian?"
Dilihat dari sikap mereka, sepertinya mereka benar-benar takut bahwa Chu Liuxiang akan makan mereka bagaikan makan ikan!Sikap mereka ini telah membuat ia merasa tidak kuat bertahan.
Yang malcin membuat ia tak kuat bertahan adalah, mereka berkata seraya tersenyum.
"Jika Pendekar Harum betul-betul mau makan kami, silahkan anda makan sepuas-puasnya!"
"Benar?"
Chu Liuxiang pura-pura menunjukkan sikap yang jahat.
"Benarkah aku boleh makan sepuas-puasnya?"
"Tentu saja benar,"
Kata gadis yang berkaki panjang itu.
"Anda mau makan siapapun juga boleh!"
Di bawah sinar matahari, sepasang kaki itu kelihatannya lebih gempal, mulus, dan kenyal! Ia melanjutkan.
"Anda mau siapa, mau makan bagian mana, dan mau makan dengan cara apapun juga boleh!"
Kelihatannya mereka semuanya enak dimakan!
Semua bagian tubuh mereka pun enak dimakan!
Apalagi di bawah sinar matahari yang cerah!
Namun Chu Liuxiang seolah-olah tidak berani lagi menatap mereka.
Mereka adalah orang, bukan ikan.
Mereka semuanya demikian muda, sehat, dan penuh semangat!
Maka ia bertanya.
"Kapan kalian berubah jadi demikian penurut?"
"Pada kali ini ketika Jenderal Kedua menyuruh kami kemari, memerintahkan kami mesti menuruti kemauan anda! Jadi anda menyuruh kami melakukan apa saja juga boleh!"
Kata gadis yang bermata besar itu.
"Oleh karena itu kami jadi takut."
"Takut?"
Tanya Chu Liuxiang.
"Takut apa?"
"Takut anda betul-betul memakan kami."
Gadis yang bersikap minta dikasihani itu berkata sambil bersikap minta dikasihani.
"Apalagi saya, takutnya setengah mati!"
"Kenapa?"
"Sebab saya tahu bahwa ketika anda memilih seseorang untuk dimakan, orang pertama yang terpilih pastilah saya!"
Chu Liuxiang tidak makan dia, bukan karena ia tidak mau makan, juga bukan karena gadis itu tidak enak dimakan!
Sebab pada saat itu tiba-tiba terdengar bunyi genderang perang dari laut di seberang sungai, bunyinya seperti ada beribu-ribu ekor kuda perang yang datang dengan menerjang badai dan ombak!
Yang datang tentu saja bukan kuda, tapi kapal, sebuah kapal perang yang tinggi!
Laut dan angin terbentang luas, cuaca cerah dan tidak berawan, sehingga ChuLiuxiang dapat melihat bayangan kapal meski samar-samar.
'Manusia-manusia ikan' itu segera bersorak-sorai dengan gembira.
"Jenderal Kedua sudah datang!"
"Siapakah Jenderal Kedua? Jenderalnya siapa? Mengapa menyuruh kalian mencariku? Jika ia adalah jenderalnya Shi Tianwang, seharusnya kalian pun anak buahnya Shi Tianwang, lalu kenapa kalian tidak membiarkan Hu Tiehua mengantarkan Sang Puteri ke tempatnya Shi Tianwang? Apakah Jenderal Kedua kalian ini juga tidak menyetujui pernikahan ini?"
Tidak ada orang yang menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Mulut keempat gadis itu seolah-olah telah dijejali segumpal tanah liat yang besar, sampai bernapas pun terasa sulit!
Kapal perang itu datang dengan membelah ombak, dari jauh sudah terlihat bayangan orang berkelebat di atas dek kapal, dan membentuk barisan-barisan yang amat rapi!
Panji-panjinya terang mencolok, sikap para prajuritnya serius dan gagah.
Nyata sekali bahwa mereka semua adalah pelaut-pelaut yang pandai bertempur serta banyak pengalaman melawan angin dan ombak!
Satu-satunya hal yang aneh ialah pelaut-pelaut itu ternyata tidak ada seorang pria!
Perahu-Perahu nelayan dan kapal-kapal dagang yang biasanya ada di sekitar muara laut, saat ini tidak tahu sembunyi kemana?
Bahkan di pantai sungai pun tidak kelihatan bayangan seorang pun.
Dari atas kapal perang itu sebuah tangga tali tampar diturunkan, dan Chu Liuxiang menaikinya selangkah demi selangkah.
Begitu matanya baru keluar dari dek kapal, yang terlihat adalah kaki-kaki yang terjemur sampai berwarna kecoklat-coklatan.
Tumit dan tumit saling merapat, kedua kaki berdiri sejajar, di tengah-tengah hampir tidak ada sedikit selapun.
Setiap kaki begitu gempal tapi indah!
Seumur hidup ia tidak pernah melihat demikian banyaknya kaki wanita!
Di atas betis-betis yang kuat serta punya keindahan garis lengkung, adalah paha-paha yang bulat sekali, di atasnya lagi adalah baju-baju perang yang bergemerlapan cahaya keperak-perakan.
Baju-baju perang itu sangat pendek!
Baju-baju perang itu semuanya terbuka!
Tujuannya agar dalam saat-saat pertempuran kaki mereka bisa lebih lincah.
Ia tak melihat ke bagian yang lebih atas lagi, karena ia tidak mau orang lainmelihat ia jatuh kedalam laut!
Kapal perang itu kembali ke laut.
Pelaut-pelaut yang mengendalikan kemudi dan layar pun semuanya wanita.
Chu Liuxiang tiba-tiba menyadari bahwa satu-satunya pria yang berada di kapal itu adalah ia sendiri!
Tidak ada yang memandangnya, juga tidak ada yang menggubrisnya!
Para pelaut semuanya berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya, para prajurit semuanya berdiri bagaikan patung batu!
Pendekar Harum yang biasanya dikejar-kejar dan digila-gilai banyak wanita, ketika berada di kapal ini, ternyata seperti telah berubah jadi barang rongsokan!
Wanita-wanita itu seolah-olah semuanya adalah orang buta, memandang sekejap pun tidak kepadanya!
Mereka tentu saja bukan orang buta.
Chu Liuxiang tidak percaya mereka benar-benar tidak dapat melihat, maka ia sengaja berjalan dan lewat di depan mereka, meskipun telah berusaha agar tidak menyentuh dada mereka yang membusung, namun sudah amat dekat dengan mereka.
Tidak disangka bahwa mata mereka sedikitpun tidak berkedip!
Chu Liuxiang mulai sedikit merasa kagum pada Jenderal Kedua itu.
Yang mampu menggembleng banyak wanita menjadi begini rupa!
Ini bukanlah perkara yang mudah, juga tidak mampu dikerjakan oleh pria manapun!
Tentu saja ia sekarang sudah tahu bahwa Jenderal Kedua itu pasti seorang wanita juga!
Hanyalah wanita yang mampu menggembleng banyak wanita menjadi orang-orang yang penurut, juga hanyalah wanita yang tahu caranya menggembleng banyak wanita!
Cara ini, Chu Liuxiang tidak berani juga tidak sanggup memikirkannya.
Wanita yang bagaimanakah Jenderal Kedua itu?
Ia tidak bisa menebaknya.
Namun ia tidak perlu berpikir lagi, sebab pada saat itu ada seorang wanita yang mukanya bopeng menanyainya.
"Nama anda siapa? Berasal dari mana? Apakah menyimpan senjata tajam atau senjata gelap di badan?"
Chu Liuxiang jadi geli sekali.
Sebenarnya ia tidak mau juga tidak mampu tertawa, namun tidak tahan tidak tertawa.
Sebab selama hidupnya ia tidak pernah mengalami hal ini, juga tak pernah menduga bisa mengalami hal ini.
Siapa yang bisa menduga bahwa di dalam dunia ini ada orang yang berani berkata demikian pada Chu Liuxiang!
Lebih-lebih tidak bisa diduga orang ialah, ternyata ia menjawab dengan sejujur-jujurnya.
"Namaku Chu Liuxiang, orang Tiongkok, tidak pernah mencuri, makanya tidak menyimpan senjata tajam atau senjata gelap di badan."
"Kalau begitu angkatlah tangan anda."
"Mengapa?"
"Sebab saya mau menggeledah anda."
Chu Liuxiang tertawa lagi, lalu bertanya dengan sikap ramah.
"Ketika kamu mau menggeledah orang lain, terpikirkah bahwa orang lain mungkin juga mau menggeledahmu? Mungkin dengan cara yang berbeda?"
"Anda berani?"
Air muka wanita itu berubah.
"Anda berani menyentuh saya?"
Chu Liuxiang melihat wajahnya, lalu berkata seraya menghela napas panjang.
"Aku tidak berani, benar-benar tidak berani, maka aku terpaksa menggunakan cara yang lain."
Begitu kata-katanya selesai, sepasang kaki wanita itu telah diangkat secara terbalik oleh dia, lalu digoncangkan dua sampai tiga kali, sehingga barang-barang di badannya berjatuhan.
Kemudian terdengar bunyi 'byuuur', dan ada satu orang yang dilempar ke dalam laut.
Cerita-cerita mitos atau cerita-cerita legenda, baik dari negara manapun, neraka semuanya berwarna merah tua, sebab di sana menyala api yang tidak pernah padam sampai selama-lamanya!
Tempat ini juga demikian.
Di sini walaupun tidak ada api yang menyala, namun empat penjurunya juga berwarna merah tua, persis seperti warna neraka!
Di sini bukan neraka, tapi adalah kabin besarnya sang Jenderal.
Undak-undakan panjang tiga tingkat itu, di atasnya terbentang permadani berwarna merah tua yang berasal dari Persia.
Di atas pintu jendela tergantung kain gorden berwarna merah keungu-unguan yang terbuat dari beludru.
Jubah perangnya jenderal juga berwarna merah tua, seolah-olah di jubah perang itu penuh terpercik dengan darah segar dari lawan-lawan!
Dua orang membawa pedang dan berdiri takzim di belakang Jenderal.
Yang seorang adalah nenek yang penuh keriput, tapi berambut hitam seperti gadis, yang satu adalah perempuan muda berparas ayu, tapi rambut di kedua pelipisnya telah beruban.
Di dalam kabin itu hanya ada satu yang berwarna hitam.
Begitu Chu Liuxiang melangkah masuk, pada pandangan pertama ia sudah melihat ada seekor macan kumbang, yang seluruh badannya berwarna hitam mengkilat.Macan kumbang itu berbaring di bawah kakinya Jenderal, ketenangannya seperti seekor kucing yang diberi makan sampai kekenyangan.
Sepasang pedang di belakang badan Jenderal sudah keluar dari sarungnya, lalu dengan gerakan yang amat cepat menusuk ke sepasang matanya Chu Liuxiang!
Tapi Chu Liuxiang sedikitpun tidak mengedipkan matanya.
Ketika dua ujung pedang berhenti kira-kira tiga inchi dari alis matanya, ia tetap saja tidak mengedipkan matanya.
Jenderal menatap dia dengan semacam tatapan mata yang heran, kemudian bertanya.
"Apakah anda sudah tahu bahwa kedua pedang mereka tidak akan membutakan mata anda?"
"Betul,"
Kata Chu Liuxiang.
"Mereka adalah jago pedang, tenaganya pasti sudah diatur."
"Bagaimana anda bisa tahu bahwa mereka tidak akan membutakan mata anda?"
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.
"Sebab saya adalah tamu yang diundang anda. Andaikata mata tamu jadi buta, si nyonya rumah tentu tidak akan merasa asyik, apalagi nyonya rumah macam anda ini."
"Nyonya rumah macam bagaimanakah saya ini?"
"Sekalipun kewibawaan Jenderal begitu besar, tapi tetap kalah dengan kecantikan Jenderal yang luar biasa! Tetapi jika berhadapan dengan seorang buta yang tidak bisa melihat, apakah itu mengasyikkan?"
Dia bukan sedang berbohong, juga bukan sedang sengaja mau 'mengambil hati'.
Pada pandangan pertamanya, ia tidak merasa bahwa Jenderal adalah seorang yang cantik.
Ia terlalu tinggi besar, juga terlalu liar!
Pundaknya terlalu lebar, bahkan lebih lebar dari kebanyakan pria.
Sorot matanya mengandung semacam keliaran yang mirip binatang!
Meskipun bentuk mulut dan bibirnya indah, tapi agak kebesaran.
Kecuali dua deret giginya yang putih mengkilat, boleh dibilang bahwa sekujur badannya tidak ada satu bagian pun yang mendekati standar seorang yang cantik!
Namun ia benar-benar adalah orang yang cantik!
Sekujur badannya penuh dengan semacam kecantikan liar yang menawan hati!
Kecantikan yang membuat orang sukar bernapas normal!
Dibandingkan dengan dia, maka wanita-wanita cantik lainnya seperti orang-orangan porselin yang jatuh langsung pecah!
"Saya sudah tahu bahwa anda pasti adalah wanita, tetapi saya tidak pernah mengira bahwa anda adalah seorang wanita semacam ini!"
Ujung-ujung pedang tetap dekat sekali dengan matanya, namun Chu Liuxiang sedikitpun tidak memperhatikannya dan berkata.
"Jikalau saya tahu, barang kali saya sejak dulu sudah kemari."
Lama sekali Jenderal memelototkan mata ke dia, kemudian berkata seraya menghela napas dengan ringan.
"Nyali anda sungguh besar!"
Ia menjentikkan jarinya, kedua pedang segera dan bersamaan waktu masuk ke sarungnya, kedua wanita itu pun mundur.
"Justeru dikarenakan saya tahu anda punya nyali cukup besar, maka saya menginginkan anda kemari."
Gaya bicaranya langsung ke inti masalahnya.
"Saya yakin anda pasti punya nyali membunuh seorang untuk saya."
"Itu tergantung siapa yang mau saya bunuh untuk anda."
"Mau membunuh orang itu tentu saja amat tidak mudah! Sebab dimana pun ia berada, di sekitarnya akan ada 30 orang jago silat kelas satu yang melindunginya!"
"Siapakah yang menyuruh jago-jago itu melindunginya?"
"Tuan Du dan Shi Tianwang."
Tanpa pertimbangan lagi ia segera menyebut nama kedua orang itu, sampai Chu Liuxiang pun mesti mengakui bahwa ia betul-betul seorang yang blak-blakan.
Terhadap orang yang blak-blakan Chu Liuxiang pun berlaku blak-blakan.
"Anda mau saya membunuh orang itu, apakah karena takut kalah saingan?"
"Betul. Saat ini orang yang paling disayangi Shi Tianwang adalah saya, sampai menganugerahkan pangkat 'Jenderal Nyonya Macan Kumbang' kepada saya. Tapi jika ada dia, saya akan jadi apa?"
"Jika Shi Tianwang benar-benar suka pada anda, mengapa mau menikah dengan dia?"
"Sebab ia adalah puteri raja, tapi saya bukan. Sekarang saya adalah selirnya Shi Tianwang, dulu juga. Sepertinya saya ditakdirkan menjadi istri muda bagi orang lain!"
Chu Liuxiang tersenyum masam.
Seorang wanita bisa dengan blak-blakan memberitahukan hal semacam ini kepada orang lain, wanita semacam ini ia pun belum pernah menjumpainya!
"Pria yang dulu saya ikuti, adalah seorang Jepang yang tua tapi beruang dan berkuasa, dan jago kendo kelas wahid."
"Shitianzhai Yanzuoweimen?"
"Betul,"
Ia sama sekali tidak menutup-nutupi.
"Meskipun dia juga lumayan, tapi kalah jauh jika dibandingkan dengan Shi Tianwang."
"Makanya anda tidak mau kehilangan kasih sayang dia."
"Makanya saya tidak dapat membiarkan puteri sialan itu menikah dengan Shi Tianwang, dengan cara apapun juga harus membunuh dia."
"Mengapa anda mau saya melakukan hal ini?"
"Karena pemimpin yang bertanggungjawab mengantarkan dia dengan selamat adalah Hu Tiehua! Dan sahabat yang paling dipercayainya adalah anda! Mau membunuh Putri Pedang Giok, tiada seorang pun yang peluangnya lebih baik dari anda!"
"Mengapa saya mesti melakukan hal ini?"
"Demi saya!"
Habis mengucapkan kalimat ini, ia tidak berkata apa-apa lagi.
Juga tidak perlu!
Ia sudah berdiri, dan jubah perang berwarna merah tua itu telah melorot dari pundaknya!
Pada saat itu, Chu Liuxiang merasa seolah-olah napasnya hampir mau berhenti!
Ia belum pernah ketemu wanita semacam ini, juga belum pernah melihat tubuh semacam ini!
Sepanjang hidupnya, juga belum pernah ada seorang wanita yang dalam waktu sependek ini dapat membangkitkan nafsunya!
Di dalam tubuh berwarna coklat, yang meskipun tinggi besar namun memiliki garis lengkung yang indah sekali itu, setiap bagian badannya seolah-olah menimbun api nafsu yang tiada habis-habisnya, yang setiap saat bisa meledak dan membinasakan setiap pria!
Seorang pria yang normal, asal menyentuh dia, menyentuh tubuh mana pun, akan berubah menjadi tidak kuasa dirinya lagi, bahkan rela membinasakan dirinya!
'Nyonya Macan Kumbang' menatap dia dengan sepasang yang penuh keliaran, sikapnya sangat menggoda dan penuh dengan rasa percaya diri!
Sebab sampai saat ini ia masih belum ketemu seorang yang sanggup menolaknya!
Seraya menghela napas yang panjang Chu Liuxiang berkata.
"Sekarang saya baru mengerti kenapa Shitianzhai mau melakukan hal-hal itu. Sebab jika memiliki wanita semacam anda ini, setiap hal adalah berharga untuk dilakukan!"
"Dan anda?"
"Saya juga kepingin, bahkan kepinginnya setengah mati!"
Mata Chu Liuxiang juga menatap dia dalam-dalam dan berkata.
"Seandainya saya lebih muda 10 tahun, sejak tadi saya sudah menerkam bagaikan serigala yang lapar! Bahkan beritahu anda bahwa saya pasti melakukan hal itu untuk anda. Kemudian berasyik-masyuk dulu dengan anda selama tiga sampai lima hari, lalu pergi menghilang tanpa ada beritanya lagi! Sekalipun anda bencinya setengah mati pada saya, bahkan saking bencinya ingin sekali mengiris daging saya untuk makanan anjing, tapi juga tak akan bisa lagi menemukan saya."
Ia melanjutkan dengan serius.
"Kalau dulu saya tentu akan melakukan demikian, tapi sayang bahwa saat ini kulit muka saya sudah tidak setebal ini! Maka sekarang mohon anda melakukan satu hal bagi saya."
"Apa itu?"
"Kenakan dulu pakaian anda, lalu suruhlah macan kumbang yang ada di bawah kaki anda itu untuk menggigit mati saya. Jika ia tidak berhasil, anda juga boleh suruh kedua jago pedang itu untuk menusuk buta mata saya. Pokoknya dengan cara apapun anda boleh mencobanya."
Macan kumbang itu masih berbaring di bawah kakinya, 'Nyonya Macan Kumbang' masih menatap dia dengan sepasang mata yang penuh keliaran, lalu berkata dengan mendadak.
"Saya tahu anda suka mengucapkan dua kata kepada orang lain."
"Dua kata yang mana?"
"Sampai jumpa." . Rahasianya Chu Liuxiang Kapal besar yang lebih dulu dinaiki Chu Liuxiang itu ternyata masih ada, persis seperti seekor kumbang kecil yang kakinya diikat benang oleh anak-anak, ditarik di belakang kapal perang itu dengan seutas tali tambang yang panjang. Di atas permukaan laut ombak bergemerlapan cahaya emas, di ufuk sudah tampak awan lembayung. Yang mengantarkan Chu Liuxiang sampai di geladak kapal, masih adalah si gadis yang berkaki panjang itu. Chu Liuxiang tidak bisa menahan diri, lalu bertanya.
"Apakah Jenderal kalian betul-betul mau melepaskan aku begini saja?"
"Tentu saja betul."
Si gadis berkata seraya tersenyum simpul.
"Dia tidak mau anda digigit mati oleh macan kumbang itu, juga tidak mau macan kumbang itu digigit mati oleh anda, lalu apa gunanya menahan kepergian anda?"
Chu Liuxiang termangu-mangu menatap ombak berwarna emas di atas permukaan laut, lama sekali baru berkata seraya menghela napas.
"Ia betul-betul adalah wanita yang blak-blakan."
"Ia memang demikian. Bukan saja blak-blakan, juga amat royal. Asal itu adalah tamu undangannya, tidak ada yang pulang dengan tangan kosong."
"Masa' ia telah menyiapkan hadiah yang dapat aku bawa pergi?"
"Bukan saja telah disiapkan sejak dini, bahkan disiapkan tiga macam! Tapi anda hanya bisa pilih satu macam."
"Apa saja itu?"
"Yang pertama adalah zamrud dan mutiara yang 800.000 tael!"
"Ia sungguh royal!"
"Yang kedua adalah arak anggur Persia dan dendeng terbaik yang cukup anda makan dalam waktu setengah bulan, serta satu tong besar air bersih."
Chu Liuxiang melihat ke laut yang seolah tidak berbatas berkata sambil menghela napas lagi.
"Pikirannya sungguhmenyeluruh!"
Kapal perang sudah jauh melaut, tidak diragukan lagi bahwa hadiah macam inilah yang paling dibutuhkan dia, namun tetap tidak kuat menahan diri dan bertanya.
"Hadiah macam ketiga adalah apa?"
"Seorang yang hampir mati, yang dekat sekali dengan ajalnya."
Ia tersenyum kecut.
Ia benar-benar tidak menyangka bahwa wanita yang menyenangkan itu bisa memberi pilihan yang tidak menyenangkan ini!
Sekarang ketiga macam hadiah itu sudah dikeluarkan, zamrud dan mutiara yang menyilaukan mata, arak dan makanan yang berbau sedap, dan seorang yang benar-benar sekarat.
Orang yang sekarat itu ternyata adalah Bai Yunsheng, yang menyangka dirinya luar biasa dan congkaknya minta ampun!
Tiba-tiba si gadis merendahkan volume suaranya dan memberitahu Chu Liuxiang dengan diam.
"Jenderal tahu bahwa anda pasti akan memilih macam kedua, sebab anda adalah orang yang luar biasa bijak!"
"Oh?"
"Tetapi Jenderal berkata lagi. Jika yang dipilih adalah permata, maka tidak saja anda itu tamak, tapi juga bodoh, dan ia akan merasa amat kecewa pada anda!"
"Kalau aku memilih macam ketiga?"
"Maka anda betul-betul bukan orang, tapi seekor babi yang tolol!"
Kemudian si gadis bertanya.
"anda pilih yang mana?"
Chu Liuxiang memandang dia, tiba-tiba juga merendahkan volume suaranya.
"Maukah kau aku beritahu satu rahasia?"
Ia berbisik di sisi telinganya.
"Aku memang bukan orang, tapi seekor babi."
Jika di sungai, kapal ini sudah termasuk kapal yang berkelas, tapi begitu sampai ke laut ia bukan apa-apa lagi!
Di tengah-tengah ombak laut yang tak kenal kasihan, kapal besar ini sama saja dengan seekor kutu busuk di tangannya pengemis, setiap saat bisa hancur lebur!
Tentu saja Chu Liuxiang paham hal ini, namun ia sama sekali tidak memikirkannya.
Tentu saja di kapal ini tak akan ada makanan dan air, apalagi arak.
Tidak minum arak tidak bisa mati, tapi jika tidak ada air untuk diminum, siapapun juga tidak akan tahan hidup setelah tujuh hari!
Ia pasti paham hal ini juga, tapi berlaku seperti tidak paham sama sekali.
Untuk apa memikirkan hal-hal yang tidak ada gunanya?
Untuk apa mengetahui hal-hal yang merisaukan bahkan menyengsarakan?
Sekalipun di dalam situasi dan kondisi yang amat buruk dan bahaya, yang dipikirkannya adalah hal-hal yang dapat membuat dia merasa gembira, yang membangkitkan semangatnya, yang membuat dia merasa bahwa masih banyak harapan dalam hidup!
Oleh sebab itu ia masih bisa hidup sampai saat ini, bahkan melewati hidup lebih gembira dari banyak orang!
Wajah Bai Yunsheng memang sudah pucat, sekarang kian pucat saja, sepertinya terkena semacam racun aneh, juga sepertinya terkena semacam luka dalam yang amat parah, sehingga kadang-kadang pingsan.
kadang-kadang siuman.
Pada kali ini ketika siuman, ia melihat Chu Liuxiang sedang tersenyum, sepertinya mengingat lagi sebuah hal yang menggembirakan.
Kekuatan Bai Yunsheng yang menipis telah menyebabkan ia tak kuat banyak bicara, tapi terpaksa juga ia berkata.
"Kelihatannya anda gembira sekali."
"Sepertinya ya."
"Saya tidak sanggup memahami, saat ini masih adakah sesuatu hal yang membuat anda begitu gembira?"
"Paling sedikit kita sekarang masih hidup."
Bagi Chu Liuxiang, bisa hidup itu sudah merupakan satu hal yang pantas gembira, tapi Bai Yunsheng berbeda.
"Walaupun kita masih hidup, itu toh cuma tunggu mati saja, ada apa yang perlu digembirakan?"
Baik ditinjau dari sudut manapun, kedua orang ini adalah orang yang tidak sama tipenya, bahkan boleh dibilang beda 180 derajat!
Tapi anehnya, diantara kedua orang ini terdapat semacam persamaan yang amat aneh, boleh dibilang semacam saling pengertian!
Bai Yunsheng tidak pernah bertanya pada Chu Liuxiang.
"Mengapa anda tidak memilih makanan dan air yang anda butuhkan, malahan menyelamatkan saya?"
Sebab hal ini tidak perlu penjelasan, juga tidak dapat dijelaskan. Chu Liuxiang pun tidak pernah bertanya pada dia.
"anda dan 'Nyonya Macan Kumbang' sama-sama anak buahnya Shi Tianwang, kenapa ia bisa mempergunakan cara ini untuk mencelakai anda?"
Sebab meskipun hal ini dapat dijelaskan, namun cara penjelasannya terlalu banyak!
Sangat mungkin bahwa Putri Pedang Giok merupakan kunci paling utamanya.
Yang satu mau melindunginya, tapi yang satu mau membunuhnya!
Yang satu mau membuat pernikahan dia dengan Shi Tianwang berhasil, tapi yang satu mau menggagalkan dengan pelbagai cara!
Jadi suatu hal yang masuk akal jika 'Nyonya Macan Kumbang' mau membunuh Bai Yunsheng.
Bagaimanapun juga, kedua orang yang berbeda 180 derajat ini, telah menjadi bersama oleh suatu pengaturan yang tidak bisa dibayangkan.
Jika dia mati, yang satunya pun harus mati.
Jika dia hidup, yang satunya pun bisa hidup.
Langit makin lama makin gelap.
Siapapun tidak bisa tahu apakah ia bisa hidup sampai matahari terbit pada esok harinya!
Dan siapapun tidak bisa tahu besok akan terjadi hal apa!
Barangkali di dalam dunia ini amat jarang ada orang yang mengasosiasikan padang pasir dengan samudera.
Samudera adalah luas, hidup, dan indah.
Penuh dengan gairah hidup, yang membuat orang merasa darah panasnya mengalir kencang dan pikiran jadi lapang dan cerah!
Banyak sekali orang yang mencintai samudera seperti mencintai hidupnya sendiri!
Kalau padang pasir?
Tidak ada orang yang menyukainya.
Orang-orang yang pernah pergi ke padang pasir, tidak ada yang mau pergi untuk kedua kalinya!
Namun jika seseorang dapat sungguh-sungguh mengerti samudera dan padang pasir, akan bisa menemukan bahwa kedua tempat yang kelihatannya sama sekali berbeda ini, sebenarnya memiliki banyak persamaan.
Mereka sama-sama tanpa belas kasihan, sama-sama bisa membuat orang merasakan betapa kecil dan lemahnya nyawa manusia!
Sama-sama penuh dengan perubahan-perubahan yang sama sekali tidak bisa ditahan manusia.
Di dalam perubahan-perubahan ini, nyawa manusia sama rapuhnya dengan kulit telur yang berada dibawah palu besi!
Jika berbicara dari aspek tertentu, samudera bahkan lebih kejam dan lebih ganas dari padang pasir, dan memiliki semacam ejekan tanpa kasihan kepada umat manusia!
Walaupun air laut berwarna biru yang menyenangkan, tetapi jumlah orang yang mati kehausan di laut mungkin lebih banyak dari orang yang mati kehausan di padang pasir!
Seseorang jika kekurangan air yang bisa diminum, maka baik di padang pasir atau di laut, sama-sama cuma dapat melakukan satu hal saja.
Menunggu, menunggu mati.
Kali ini ternyata Chu Liuxiang tidak mati, apakah dikarenakan munculnya keajaiban?
Keajaiban jarang sekali munculnya.
Kali ini ia tidak mati, sebab ada satu orang yang menyelamatkannya.
Satu orang yang tak akan terduga oleh siapapun!
Beberapa bulan kemudian, di suatu senja musim semi yang hangat dan berangin sepoi-sepoi, di sebuah lereng bukit yang bermekaran bunga sudayah dan bunga azalea, Hu Tiehua mendadak saja teringat hal itu, lalu bertanya pada Chu Liuxiang.
"Kali ini kenapa kamu tidak mati?"
"Sebab ada satu orang yang telah menyelamatkan aku."
"Pada waktu dan tempat semacam itu, ada siapa yang bisa menyelamatkanmu?"
"Kamu selama-lamanya pasti tidak bisa menduganya,"
Kata Chu Liuxiang sambil tersenyum misterius.
"Bahkan aku sendiri pun tidak bisa menduganya."
"Sebenarnya siapakah orang itu? Kali ini kau jangan suruh aku tebak lagi ya! Aku telah menebaknya selama tiga bulan, tapi tak temukan jawabannya. Apakah kau betul-betul mau membuat aku mati penasaran?"
"Baiklah kali ini ku beritahu kau. Orang yang telah menyelamatkanku itu adalah si muka bopeng yang mau menggeledahku."
Hu Tiehua terkejut sampai termangu-mangu.
"Ia yang menyelamatkanmu? Kok bisa?"
Hu Tiehua bukan saja tidak dapat mengerti, bahkan amat sulit untuk percaya! "Soal itu sebenarnya sederhana sekali,"
Kata Chu Liuxiang dengan enteng.
"Ia telah menyelamatkanku, disebabkan aku melemparkan dia ke dalam laut."
Sementara Hu Tiehua makin dengar makin bingung, namun Chu Liuxiang makin berkata makin senang dan bangga!
"Ia mau menggeledahku, tentu saja aku pun mau menggeledahnya, tapi dikarenakan aku benar-benar tidak berminat menyentuh wanita semacam dia, maka aku memakai semacam cara yang istimewa."
"Cara apa?"
"Pertama-tama aku mengangkat kedua kakinya, lalu menggoncang-goncangkan badannya sehingga barang-barang yang ada dibadannya jatuh semua."
"Lalu?"
"Lalu aku dengan gerakan tangan yang cepat untuk mengambil beberapa jenis barang yang agak istimewa, salah satunya adalah sebuah tabung besi bulat yang kecil."
"Masa' benda kecil itulah yang telah-menyelamatkanmu?"
"Benar."
"Bagaimana mungkin sebuah tabung bulat yang kecil itu dapat menyelamatkan orang dari laut yang luas?"
"Tabung yang lain tidak dapat, tapi tabung yang ini dapat!"
"Tabung ini punya kekuatan magis apa?"
"Tidak punya kekuatan magis, benda itu hanyalah sebuah tabung kembang api isyarat."
Chu Liuxiang melanjutkan seraya tersenyum.
"Ketika Bai Yunsheng melihat aku mengeluarkan tabung bulat itu, ekspresi wajahnya jauh lebih senang dari kau yang melihat 1200 guci arak lama yang berkualitas bagus! Seseorang jika dapat melihat sahabatnva menunjukkan ekspresi wajah semacam itu, seumur hidup melihat sekali saja sudah cukup!"
Hu Tiehua berkata seraya menghela napas terus.
"Aku tahu selama ini nasibmu selalu mujur, tapi tetap tidak mengira bahwa bisa semujur ini!"
"Ini bukan nasib mujur."
"Ini bukan nasib mujur! Masa' kau sejak dulu sudah tahu bahwa tabung bulat itu adalah semacam alat untuk memberikan isyarat minta pertolongan bagi anak buahnya Shi Tianwang?"
"Aku tidak tahu."
"Kalau begitu apa ini bukan nasib mujur?"
"Ini hanyalah sedikit hikmat, sedikit kehati-hatian, sedikit kebiasaan memperhatikan setiap hal, ditambah sedikit teknik dan keterampilan tangan!"
Ia mengelus-elus hidungnya, mengedipkan matanya dan melanjutkan dengan tersenyum.
"Selain itu, masih ada satu hal yang tentu saja tidak boleh kekurangan."
"Apa itu?""Nasib mujur, tentu saja adalah nasib mujur!"
Ia berkata dengan wajah diseriuskan lagi.
"Kecuali nasib mujur, masak ada hal yang lain?"
Pas ketika Hu Tiehua mau menyemburkan arak yang baru diminumnya karena saking jengkelnya, Chu Liuxiang melanjutkan kisah petualangannya.
"Tidak lama setelah aku melepaskan kembang api isyarat ke angkasa, datang beberapa perahu nelayan yang membawa kami ke sebuah pulau terpencil, di pulau itu cuma ada satu kampung nelayan, semua penduduknya adalah nelayan, tampaknya tidak ada bedanya dengan kampung-kampung nelayan yang lain."
Di wajah Chu Liuxiang muncul ekspresi misterius itu.
"Tetapi aku di kampung itu ketemu beberapa orang yang aneh, yang aku tidak pernah sangka bisa ketemu mereka di tempat seperti itu."
"Siapakah mereka? "Hu Kaishu -Situ Ping, dan Jin Zhenjia — Li Dun."
Beberapa nama yang disebutkan ini, setiap nama bisa mengejutkan orang! Hu Tiehua juga terkejut, lalu berkata.
"Para pendekar besar itu untuk apa pergi ke kampung nelayan yang kecil itu?"
"Aku kira mereka ke sana barang kali bukan untuk makan ikan,"
Chu Liuxiang sengaja bertanya.
"Apa perkiraanmu?"
Kali ini Hu Tiehua tiba-tiba jadi pintar, dan berkata.
"Masa' kampung nelayan itu adalah salah satu pangkalan Shi Tianwang yang berada di laut? Dan para pendekar besar itu pergi ke sana demi Shi Tianwang?"
Chu Liuxiang berkata seraya menghela napas.
"Orang yang sepintar kamu ini, kenapa masih ada orang yang mengatakan kau bodoh?"
Hu Tiehua pun berkata seraya menghela napas.
"Selama ini aku agak memandang rendah pada pendekar besar Hu itu, tak disangka bahwa ia boleh juga, ternyata punya nyali untuk pergi mencari Shi Tianwang."
"Tahukah kau kenapa ia mau pergi mencari Shi Tianwang?"
"Masak bukan untuk membunuh Shi Tianwang?"
"Memang benar untuk membunuh, tapi bukan membunuh Shi Tianwang,"
Kata Chu Liuxiang seraya tersenyum masam.
"Ia pergi untuk memohon pada Shi Tianwang agar membunuh beberapa orang untuk dia."
"Apakah ia membawa hadiah yang amat mahal?"
"Tentu saja tidak boleh kekurangan."
"Aku tidak heran betul-betul tidak heran! Pendekar besar macam begini sudah aku lihat banyak!"
Kata Hu Tiehua seraya tersenyum mengejek.
"Aku kira ketika iamelihat kau, ekspresi wajahnya pasti 'menarik' sekali."
Chu Liuxiang berkata seraya menghela napas.
"Omong jujur ya, ekspresi wajah semacam itu aku tidak mau melihat untuk kedua kalinya."
Pertanyaan paling penting adalah.
"Apakah pada kali itu Shi Tianwang juga pergi ke kampung nelayan itu?"
"Ya."
"Apakah kau melihat dia?"
"Aku 'kan tidak buta, kenapa bisa tidak melihat dia?"
"Ia adalah orang yang macamnya bagaimana?"
Pertanyaan ini setelah lama sekali dipikirkan, Chu Liuxiang Baru bisa menjawab.
"Aku pun tidak tahu dia adalah orang yang macamnya bagaimana? Yang aku bisa beritahukan adalah, pada saat aku betul-betul melihat dia dengan jelas, aku baru mengerti kenapa orang mengatakan ia tidak dapat dibunuh mati!"
"Mengapa?"
"Karena ia bukan satu orang."
Pertama kali ketika Chu Liuxiang melihat Shi Tianwang, ialah pada suatu pagi yang cuacanya bagus sekali.
Tentu saja ia datang dengan naik kapal, tapi bukanlah kapal perang raksasa sebagaimana dibayangkan oleh Chu Liuxiang, tapi adalah sebuah kapal nelayan yang biasa, bahkan kelihatan sedikit tua dan lusuh.
Pagi itu cuaca amat cerah, sehingga Chu Liuxiang bisa melihat kapal itu datang dari jauh.
Bentuk kapal itu kelihatannya tidak ada yang istimewa, tapi kecepatan kapal itu jauh lebih cepat dari yang orang pernah lihat!
Di kapal itu ada tujuh orang.
Ketujuh orang ini semuanya memakai pakaian nelayan biasa, baju bagian dadanya terbuka, kaki telanjang, semuanya tinggi besar dan tegap.
Begitu kapal merapat di dermaga, mereka meloncat turun dari kapal, dengan bertelanjang kaki berjalan di pantai berpasir.
Semuanya punya gerakan yang tangkas dan gagah!
Saat itu masih belum terpikirkan oleh Chu Liuxiang bahwa satu diantara ke tujuh orang itu adalah Shi Tianwang yang nama dan wibawanya menggemparkan tujuh laut!
Di dalam bayangannya, Shi Tianwang tidak seharusnya berpenampilan begini.
Di dalam bayangannya, seharusnya is memakai mahkota emas, memakai baju zirah emas, yang mengikuti dan mengawal dia jumlahnya tak terhitung!
Pokoknya, penampilan yang luar biasa 'wah!
Tetapi Bai Yunsheng memberitahu dia.
"Panglima Besar telah datang.""Panglima Besar?"
Tanya Chu Liuxiang, masih belum paham.
"Panglima Besar yang mana?"
"Di sini hanya ada satu Panglima Besar."
Chu Liuxiang baru terkejut dan bertanya.
"Apakah Panglima Besar yang anda katakan ini adalah Shi Tianwang?"
"Ya."
Namun sampai pada saat ini pun, Chu Liuxiang masih tidak dapat mengetahui siapakah di antara tujuh orang itu yang adalah Shi Tianwang!
Dikarenakan pakaian dan dandanan ketujuh orang ini hampir sama, jika dilihat dari jauh, hampir tidak ada bedanya.
Mereka berjalan dengan langkah-langkah besar di pantai pasir itu, setiap orang menghela jala yang terisi penuh hasil tangkapan dari laut.
Kelihatannya mereka hanyalah nelayan-nelayan cekatan yang biasa-biasa saja, paling-paling ya cuma sedikit lebih gempal dari nelayan-nelayan yang lain.
Tetapi nelayan-nelayan di pulau itu, langsung bersorak-sorai, diiringi sorak-sorai mereka masuk ke sebuah rumah besar yang terbuat dari papan kayu, sambil meninggalkan sebaris jejak kaki di pantai pasir.
Chu Liuxiang segera menemukan satu hal yang aneh.
Jejak-jekak kaki yang ditinggalkan ketujuh orang itu ternyata seperti jejak kaki satu orang saja!
Sebab ketujuh orang itu berjalan satu persatu, setiap orang ketika menurunkan kakinya, secara tepat menginjak jejak kaki dari orang yang di depannya!
Dan jarak antara setiap jejak kaki adalah sama!
Pada saat itu juga, Chu Liuxiang segera tahu bahwa lawan yang dihadapi ini merupakan lawan yang teramat menakutkan!
Tapi yang betul-betul membikin dia gentar, adalah ketika ia diundang masuk ke rumah besar itu untuk menemui Shi Tianwang.
Belum pernah ada orang yang bisa membikin dia begitu gentar.
Ia pernah menghadapi Xue Yiren yang dijuluki "Pendekar Pedang Tak Terkalahkan', juga pernah menghadapi Shi Guanyin yang gerakannya sulit diduga seperti gerakan arwah dan setan!
Ia juga pernah bertempur melawan Shuimu Yinji yang disegani seantero dunia persilatan!
Seumur hidupnya penuh dengan pertarungan-pertarungan bahaya yang kalah menangnya hanya ditentukan dalam waktu sekejap mata!
Tetapi ia belum pernah sedemikian gentarnya!00000 13.
Orang Yang Sulit Dimengerti Rumah kayu itu tinggi besar dan luas, cahayanya cukup dan terang, jendela-jendelanya selalu terbuka, begitu angkat mata langsung bisa terlihat laut yang diterangi sinar matahari.
Angin laut hangat dan basah, beberapa anak yang telanjang bagian atas tubuhnya sedang bermain kulit kerang di pantai pasir, warna kulit tubuh mereka sama dengan ayah dan kakak mereka, berwarna kecoklatan karena terjemur matahari.
Di pinggir laut ada dua pemuda yang sedang memberesi kapal nelayan; Ada beberapa menantu perempuan berkumpul bersama beberapa mertua perempuan, sambil ngobrol santai sambil menambal jala nelayan.
Di dalam kampung nelayan yang kecil itu penuh dengan suasana damai dan tenteram, siapapun tidak menduga bahwa pada hari itu, setiap peristiwa yang terjadi di dalam rumah kayu itu, semuanya dapat menggoncangkan dunia persilatan!
Ketika Chu Liuxiang menginjaki butiran-butiran pasir yang lembut, dari bawah sinar matahari masuk ke dalam rumah kayu itu, barangkali inilah saat dia paling gentar sekaligus paling kecewa!
Selama ini ia tidak percaya bahwa di dalam dunia ini benar-benar ada hal yang tidak sanggup dikerjakan oleh kemampuan manusia, juga tidak percaya bahwa di dunia ini ada orang yang tidak dapat dikalahkan untuk selama-lamanya!
Tapi sekarang ia percaya.
Sebab Shi Tianwang bukan satu orang, tapi tujuh orang!
Ketujuh orang yang barusan dari kapal nelayan berjalan di pantai pasir itu, bukan saja pakaian dan dandanannya persis sama, bahkan sikap, wajah dan bentuk badannya juga persis sama!
Setiap orang dari ketujuh orang itu mungkin saja adalah Shi Tianwang, tetapi siapapun tidak dapat membedakan manakah yang asli!
Sama seperti Makam Naga dari Kaisar Qin Shihuangdi (catatan.
kaisar pertama dalam sejarah kuno Tiongkok dan kaisar inilah yang telah mengerahkan ratusan ribu rakyatnya untuk membangun Tembok Raksasa Cina!), Shi Tianwang juga telah mempersiapkan enam orang pengganti dirinya.
Jikalau siapapun tidak dapat membedakan yang manakah Shi Tianwang yang asli, bagaimana mungkin dalam waktu sekejap mata itu bisa membunuh dia!
Jika seseorang tidak dapat memanfaatkan kesempatan dalam waktu sekejap mata itu, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk selama-lamanya.
000Keempat pendekar besar yang lebih dulu sampai di kampung nelayan itu dari Chu Liuxiang, saat itu semuanya juga berada di dalam rumah kayu itu.
Orang yang pertama ditemui Shi Tianwang, adalah seorang usia pertengahan yang berbahu lebar dan berdada tebal, warna wajahnya merah dan kelihatannya amat sehat dan kuat.
Nyata sekali bahwa ia adalah orang yang melatih ilmu kebal sejenis "tiebushan"
Atau "jinzhongzhao" , dan tarafnya cukup tinggi, sehingga keseluruhan orangnya kelihatannya seperti perisai yang terbuat dari besi! "Kamu adalah Li Dun?"
"Betul."
Sikapnya tenang dan penuh rasa percaya diri, ilmu silat dan tenaga luarnya hampir tidak ada tandingannya di daerah sekitar Manchuria, sebab itu walaupun saat itu berhadapan dengan Shi Tianwang yang wibawanya menggetarkan dunia, ia tetap mempertahankan kehormatannya.
"Barang ekspedisi yang aku lindungi itu telah dirampok di daerah kekuasaan Panglima Besar Shi, maka kedatanganku ini hanya minta keadilan dari anda."
"Kamu minta keadilan dari aku?"
Shi Tianwang bertanya dingin sambil bersandar di dinding.
"Apa yang kau dapat berikan padaku?"
"Aku Li Dun selamanya tak punya apa-apa, cuma punya satu nyawa!"
Ia membawa sebuah golok, sebuah golok tajam bikinan ahli!
Orang-orang yang berkenan ditemui Shi Tianwang, bukan saja boleh bawa golok, bahkan senjata apa saja boleh dibawa masuk.
Orang apa saja, senjata apa saja, ia tidak pernah mengindahkannya!
Li Dun mendadak mencabut goloknya, lalu merobek baju depannya, kemudian golok itu dibacokkan ke dadanya.
Ia membacok dengan tenaga besar, namun golok tajam itu hanya meninggalkan sebuah bekas yang nyaris tak kelihatan!
"Bagus!
Kamu telah melatih ilmu kebal 'shisan taibao' sampai ke taraf yang lumayan tinggi."
Lalu Shi Tianwang duduk di sebuah kursi kayu yang besar dan lebar.
"Cuma sayangnya aku tidak menginginkan nyawamu."
Ia berkata seraya mengibaskan tangan.
"Mengingat bahwa kaupun seorang pria gagah, kali ini aku biarkan kau pergi, lain kali jangan datang lagi."
"Aku tidak bisa pergi."
Li Dun berkata dengan suara keras.
"Barang ekspedisi itu tidak kembali, aku tak akan pergi!"
"Apakah kamu mesti minta keadilan dariku?""Ya!"
Tiba-tiba Shi Tianwang berkata sambil menghela napas.
"Kalau begitu aku tanya, bilamanakah kau pernah melihat ada keadilan di dunia persilatan?"
Li Dun berteriak dengan marah, lalu menubruk dengan membacokkan goloknya, bunyinya seperti guruh, sinar goloknya seperti kilat!
Yang ia serang adalah Shi Tianwang yang lain, tapi Shi Tianwang ini hanya memakai dua jari tangan saja sudah menjepit golok itu!
Terdengar bunyi "taaang", patahlah golok itu!
Kemudian golok patah itu menggores dengan ringan, menggores bekas di dada Li Dun hasil bacokan ia sendiri, darah segar segera muncrat dari dadanya!
"Tadi kau membacok dengan tenaga besar pun tidak bisa melukai kau, namun aku menggores dengan ringan saja sudah cukup!"
Shi Tianwang berkata dengan suara sayup-sayup.
"Menurutmu ini adil atau tidak?"
"Sekarang kau mestinya sudah paham, di dalam dunia ini memang tidak ada keadilan yang mutlak!"
Kata Shi Tianwang yang lainnya.
"Kau masih mau minta keadilan apa lagi?"
Wajah Li Dun pucat pasi, lalu mundur ke belakang selangkah demi selangkah, sampai langkah kelima, setengah bagian golok patah yang tersisa di tangannya telah menusuk masuk jantungnya sendiri.
Tapi Jin Zhengjia pergi dalam keadaan hidup-hidup.
"Aku menerima hadiah yang kau bawa, aku juga mau mengerjakan apa yang kau minta."
Shi Tianwang berkata.
"Meskipun abangmu Jin Zhengtian adalah kenalan lamaku, tapi dalam hatinya tak pernah menghargaiku, ini pun aku tabu, maka kali ini kau mau datang dan mohon padaku, aku amat senang."
Sewaktu ia berkata demikian, enam orang Shi Tianwang yang lain pun menunjukkan ekspresi yang amat senang!
Tuan muda kedua dari keluarga Jin yang amat terkenal di kalangan persilatan Minnan (Propinsi Hokkian Selatan), ternyata juga datang untuk memohon pada dia, hal ini membuat dia merasa amat tersanjung.
Shi Tianwang yang malang melintang di tujuh laut, ternyata amat memandang tinggi latar belakang keluarga seseorang, barangkali inilah sebabnya mengapa ia ingin sekali menikah dengan seorang putri raja!
Hu Kaishu segera memahami hal ini.
Ia pun anak dari keluarga ternama, ayah dan kakeknya adalah pendekar-pendekar yang ternama, ia pun punya nama yang besar.
"Saya Hu Kaishu, almarhum kakek saya Hu Yuesou, almarhum ayah saya Hu Xing; kami tinggal di kota Youzhou; kali ini saya mempersiapkan sebuah hadiah yang mahal, lalu datang secara khusus untuk menemui Panglima Besar Shi."
"Aku tahu, kamu tidak usah membacakan silsilah kamu, aku tahu semua hal tentang kamu."
Shi Tianwang duduk di sebuah dipan pendek dengan membuka kakinya, dan berkata seraya tersenyum.
"Aku juga sudah melihat hadiah yang kau bawa itu."
"Apakah Panglima Besar Shi berkenan menerimanya?"
"Tentu saja aku mau terima."
Kata Shi Tianwang seraya tertawa.
"Hadiah yang demikian mahal ini, jika ada orang yang tidak mau terima, bukankah ia pantas dipukul pantatnya?"
Hu Kaishu ikut-ikutan tertawa, tiba-tiba Shi Tianwang bertanya.
"Apakah kau sudah melihat kapal itu? Yaitu kapal yang tadi kami naiki."
"Sudah."
"Itu adalah sebuah kapal bagus."
Suara Shi Tianwang penuh dengan pujian dan rasa syukur.
"Aku bisa jamin bahwa kapal itu jauh lebih bagus dari fisiknya yang kelihatan, bukan saja ringan dan cepat, bahkan dapat tahan terhadap angin dan ombak yang besar, persediaan air dan makanan di kapal itu pun amat cukup, dan aku akap memberimu dua pelaut yang paling berpengalaman."
"Memberikan padaku?"
Hu Kaishu sudah mulai merasa sedikit aneh.
"Mengapa?"
"Apakah kamu ingin pulang ke Youzhou dalam keadaan hidup?"
"Ingin."
"Kalau begitu kamu hanya bisa pulang dengan kapal itu."
Kata Shi Tianwang.
"Asal kau bisa naik ke kapal itu dalam keadaan hidup, kau bisa pulang dalam keadaan hidup."
"Bagaimana dengan hal yang disanggupi Panglima Besar?"
"Hal apa? Aku menyanggupi hal apa?"
Air muka Shi Tianwang berubah dan berkata.
"Aku hanyalah menyanggupi. memberi 'muka' padamu dan menerima hadiahmu itu."
Hu Kaishu tidak bisa tertawa lagi. Shi Tianwang berkata dengan tertawa nyaring.
"Kau kira aku ini siapa? Dapat mengerjakan hal yang tidak berbudi dan menjual kawan untukmu? Jika aku mengerjakannya, itu pun hanya untukku saja, bagaimana mungkin untuk kamu yang culas dan tak tahu malu?"
Shi Tianwang yang lain yang duduk di dipan pendek itu tibatiba berteriak bagaikan harimau mengaum.
"Enyahlah cepat!"
Hu Kaishu mundur dan keluar dengan perlahan-lahan.
Sebab ia tahu bahwa seberapa cepatnya dia pun tak akan bisa menandingi cepatnyaShi Tianwang dan Bai Yunsheng.
Dari rumah besar yang sudah ada bau darah itu ia keluar dan masuk ke bawah sinar matahari.
Di luar sinar matahari amat cerah, air laut berwarna biru tua.
Mertua-mertua perempuan dan menantu-menantu perempuan itu masih menambal pakaian robek dan jala bocornya anak-anak dan suami-suami mereka, dengan gerakan yang teratur dan perlahan.
Anak-anak kecil yang tidak memakai baju atas itu, masih bermain dengan kulit kerang yang berwarna-warni di pantai pasir dekat dengan perempuan-perempuan itu.
Dua orang pemuda yang tadinya memberesi kapal nelayan itu, sekarang sudah pergi entah kemana.
Para Shi Tianwang beserta Bai Yunsheng yang terus mengawal di sisi mereka, tetap tinggal di dalam rumah kayu, tidak menunjukkan tanda-tanda mau mengejar dan menghalangi dia.
Semangat Hu Kaishu timbul lagi.
Asal kau bisa naik ke kapal itu dalam keadaan hidup, kau bisa pulang dalam keadaan hidup.
Hal ini tidaklah sulit.
Kapal itu tetap berlabuh di pantai yang dangkal, jaraknya paling banyak belasan meter.
Dalam jarak sedekat ini, sudah tidak ada siapa-siapa yang dapat merintanginya.
Bagaimana ia mau melewatkan peluang ini?
Air pasang pagi sudah lama surut, butiran-butiran pasir di pantai sudah terjemur sampai kering, sudah dapat dirasakan kekerasannya ketika diinjak kaki.
Hu Kaishu menjejakkan kakinya dengan kuat, kaki kiri memakai tumit, kaki kanan memakai ujung kaki, dan ketika kedua arus tenaga itu digabungkan, badannya melayang bagai terbang.
Dengan ilmu ringan tubuhnya, dengan tiga sampai lima kali turun naik, ia sudah akan mencapai kapal itu.
Tidak disangka bahwa barusan badannya naik, tiba-tiba ada banyak sekali kulit kerang yang berwarna-warni menyerang ke arahnya bagaikan hujan yang lebat!
Ternyata "hujan kulit kerang"
Itu berasal dari tangannya anak-anak yang bertelanjang dada itu, angin dan bunyi desingannya bagaikan panah-panah yang dilepaskan oleh busur-busur berpegas kuat!
Karena tenaganya belum habis, Hu Kaishu bersalto di udara untuk menghindar dari "hujan"
Itu.
Namun tiba-tiba langit seolah-olah jadi gelap, sepertinya tiba-tiba ada awan gelap menutupi sinar matahari.
Langit berwarna biru yang amat terang, mana ada awan gelap?
Ternyata yang menutupi sinar matahari depan matanya adalah jala-jala ikan yang banyak sekali!
Ternyata jala-jala itu ditebar dari Langan mertua-mertua dan menantu-menantu itu, dan kelihatannya persis awan gelap yang bergulung-gulung, dan jalan-jalan mundur di depan belakang dan kiri kanannya Hu Kaishu telah tertutup oleh awan-awan itu!
Tenaganya sudah habis.
Ia sama sekali sudah tidak ada kekuatan untuk menghindar atau menangkis, dan kapal yang dekat di mata itu, sekarang seolah-olah berada jauh di ufuk langit!
Pas pada saat ini, tiba-tiba sebuah kilat terbang kemari, lalu menembusi awan-awan itu dan mengoyakkan jala-jala itu!
Langit berwarna biru yang amat terang, bagaimana kok ada kilat?
Ternyata kilat itu adalah sinar terang dari sebuah pedang!
Sinar yang amat terang, pedang yang amat cepat!
Ternyata pedang itu ditikam dari tangannya Situ Ping, yang sejak tadi duduk diam di sana.
Ketika ia duduk diam, bagaikan bukit yang diam, tapi begitu menyerang, pedangnya bagaikan kilat cepatnya!
Siapapun tidak menduga bahwa ia tiba-tiba bisa menyerang, Hu Kaishu pun tidak.
Jala-jala terkoyak, Hu Kaishu berkelebat keluar, dan kapal yang tadinya berada jauh di ufuk langit sudah berada dekat di mata lagi.
Tetapi mendadak Situ Ping juga muncul di depan matanya.
Sebuah wajah yang pucat, sepasang mata yang "dingin", dan sebuah pedang yang tajam.
Dalam saat mati hidupnya di antara satu tarikan napas, Hu Kaishu bisa berkata apa padanya?
Paling banyak cuma bisa berkata satu huruf.
"Xie..." (catatan. Xie atau Xiexie artinya. terima kasih) Lebih-lebih membuat orang tidak menduga ialah, ternyata huruf ini salah diucapkan! Sebab tepat pada saat ia mengucapkan huruf ini, Situ Ping yang memandangnya dengan mata "dingin"
Itu, pedangnya telah menikam dan menembusi jantungnya!
Kemudian Situ Ping duduk kembali, duduk diam di kursi yang tadi ia duduki, seolah-olah tidak terjadi apapun.
Sayangnya siapapun tidak dapat menyangkal bahwa telah terjadi sesuatu, bahkan sesuatu yang tak dapat dipahami dan dijelaskan oleh siapapun.
Ia telah menyelamatkan Hu Kaishu, tapi mengapa lalu membunuhnya?
"Situ Ping."
Baca Juga: Bukit Pemakan Manusia 4
Baca Juga: Kuda Putih 1