Ceritasilat Novel Online

Seruling Perak Sepasang Walet 4

Eps 4 Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Baca online Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Cersil Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung.

Setelah melewati halaman itu, tampak sebuah rumah yang amat besar.

Ciok Giok Yin mendekati rumah itu, juga amat mengherankan.

Ternyata pintu rumah itu terbuka lebar.

Terlihat sebuah ruangan besar, namun gelap gulita.

Ciok Giok Yin memperhatikan ruangan itu, tidak terlihat seorang pun di sana.

Maka dia berjalan ke dalam.

Dia menengok ke sana kemari, tetapi tidak melihat seorang pun.

Akhirnya dia berjalan ke dalam melalui koridor samping.

Sungguh panjang koridor itu, menembus sampai ke halaman belakang.

Ciok Giok Yin tidak percaya kalau dirinya tidak akan menjumpai seseorang.

Dia berjalan sambil memperhatikan tempat yang dilaluinya.

Tempat itu tidak tampak berantakan.

Dia sungguh tidak mengerti, mengapa rumah besar ini amat sepi?

Apakah mereka sudah pindah semua?

Katanya dalam hati.

Dia terus berjalan ke dalam, namun rumah itu tetap sunyi, tak terdengar suara apapun, juga tidak terlihat apa-apa.

Ciok Giok Yin berkertak gigi, sambil membalikkan badannya untuk kembali ke ruang depan.

kemudian dia berjalan mondar-mandir di ruangan itu.

Justru tanpa sengaja kakinya menendang sesuatu, membuat badannya sempoyongan nyaris terjatuh.

Dia langsung menundukkan kepalanya, seketika merinding sekujur badannya.

Badannya berkelebat, sudah berada di pintu.

Dia melihat lagi ke lantai di mana tadi tanpa sengaja menendang sesuatu.

Tanpa sadar dia berseru kaget dan bulu kuduknya pada bangun.

Ternyata di lantai itu penuh dengan mayat yang tak utuh, tampak amat mengenaskan.

Walau Ciok Giok Yin bernyali besar, namun hatinya tetap berdebar tegang, dan keringat dinginnya pun mengucur.

Apa gerangan yang telah terjadi di sini?

Siapa yang turun tangan sekejam ini?

Ternyata mayat-mayat yang tak utuh itu, terdiri dari lelaki, wanita, tua, muda dan anak kecil, semuanya berjumlah seratus lebih.

Selain mayat, juga terdapat bangkai ayam, anjing dan kucing, bertumpuk di lantai itu.

Ketika masuk, Ciok Giok Yin tidak memperhatikan lantai di ruang depan tersebut, lagi pula keadaan amat gelap.

Karena tidak melihat seorang pun di dalam, maka setelah kembali ke ruang depan, dia justru berjalan mondari-mandir di situ, sehingga tanpa sengaja menendang mayat.

Pantas di rumah sebesar itu, tidak terdengar suara maupun tampak seseorang.

Selama Ciok Giok Yin berkelana di dunia persilatan, baru kali ini melihat keadaan seperti itu.

Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu dekat pintu, sambil memperhatikan tempat itu.

Dia berharap dapat menemukan suatu jejak.

Akan tidak, selain mayat dan bangkai hewan, tidak tampak sesuatu yang mencurigakan.

Itu berarti pembunuh itu bukan demi harta, melainkan demi menuntut balas.

Itu membuat Ciok Giok Yin merasa merinding.

Perlu diketahui, Ciok Giok Yin sama sekali tidak berhati jahat, sebaliknya malah boleh dikatakan berhati bijak.

Dia ingin membunuh Hui Pian-Ma Khie Ou, hanya demi menuntut balas dendam Sang Ting It Koay.

Sebab dia telah menyaksikan bagaimana penderitaannya di dalam lembah itu.

Kini menyaksikan pemandangan yang begitu mengenaskan, timbullah rasa dukanya.

"Aku harus...,"

Gumamnya perlahan-lahan. Mendadak terdengar suara yang amat dingin di belakangnya.

"Sungguh kejam hatimu!"

Ciok Giok Yin tersentak, dan langsung membalikkan badannya. Begitu melihat tanpa sadar dia berseru kaget.

Jilid 08 Ternyata orang yang berdiri di situ adalah Lu Jin, sepasang matanya menyorot dingin. Sebelum Ciok Giok Yin membuka mulut, dia sudah berkata lagi.

"Adik Kecil, caramu ini apakah tidak melanggar prikemanusiaan?"

Ciok Giok Yin tahu Lu Jin itu telah salah paham padanya.

"Saudara telah salah paham padaku."

"Salah paham? Maksudmu?"

"Aku sampai di sini, keadaan sudah begini."

"Kalau begitu, siapa yang berbuat sedemikian kejam?"

"Aku justru sedang menyelidikinya."

Ciok Giok Yin diam sejenak, kemudian melanjutkan.

"Saudara sudah lama berkecimpung di dunia persilatan, tentunya tahu Hui Pian-Ma Khie Ou pernah bermusuhan dengan siapa. Coba pikir siapa musuh-musuhnya?"

Lu Jin mengerutkan kening seraya berpikir. Setelah itu dia mendongakkan kepala.

"lni sulit sekali dikatakan,"

Katanya.

Mendadak terdengar suara tawa yang amat dingin.

Kemudian tampak sosok bayangan melayang turun di tempat itu.

Orang itu mengenakan jubah warna merah, sedangkan baju dalamnya berwarna hitam, dan memakai kain pengikat kepala warna merah pula.

Dandanannya seperti orang perkumpulan Sang Yen Hwee.

Dia menatap Ciok Giok Yin dan Lu Jin.

"Kalian berdua merasa heran?"

Katanya dengan dingin sekali.

"Siapa kau?"

Bentak Ciok Giok Yin.

"Kau tidak berderajat mengetahui namaku!"

"Mayat-mayat ini semua adalah perbuatanmu?"

"Tidak salah!"

"Apakah tujuanmu membunuh mereka semua? Hatimu begitu kejam, bahkan hewan pun tidak diberi hidup!"

Orang berjubah merah tertawa terkekeh.

"Anak jahanam! Pernahkah kau dengar membabat rumput harus mencabut akarnya?"

Dia maju dua langkah, matanya menyorot tajam bagaikan dua bilah belati.

"Kalian berdua ingin menuntut balas dendam mereka?"

Lu Jin menyahut dengan suara dalam.

"Apa maksud Anda membunuh mereka semua?"

Tanya Lu Jin dengan suara dalam.

"Aku senang."

Mendengar itu, gusarlah Lu Jin.

"Inikah alasanmu?"

Bentaknya.

"Kau menghendaki alasan apa?"

"Apakah Anda memikirkan akibatnya?"

"Apa akibatnya?"

"Kaum rimba persilatan akan bersatu menuntut balas dendam mereka."

Orang berjubah merah tertawa terkekeh-kekeh.

"Anda termasuk salah satu di antaranya?"

"Tidak salah."

"Kalau begitu, kau akan seperti mereka, terbujur jadi mayat!"

Orang berjubah merah langsung menyerang Lu Jin dengan sebuah totokan yang mematikan. Caranya turun tangan, amat cepat sehingga sulit diikuti dengan pandangan mata.

"Hmm!"

Dengus Lu Jin.

Dia berkelit, namun dadanya tersambar oleh angin totokan itu, membuat dadanya terasa sakit.

Hati Ciok Giok Yin tersentak menyaksikan itu.

Dia tidak menyangka gerakan orang itu begitu cepat.

Oleh karena itu, dia pun langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah orang berjubah merah.

Seketika terdengar suara menderu-deru, dan terasa hawa yang amat panas.

Orang berjubah merah tertawa terkekeh.

"Soan Hong Ciang!"

"Tidak salah!"

"Ilmu andalan Sang Ting It Koay!"

Kemudian orang berjubah merah itu berkata dingin.

"Ciok Giok Yin, kau pasti mati!"

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Sebetulnya siapa kau?"

"Sudah kukatakan tadi, kau tidak berderajat tahu! Tapi sebelum kau mati, agar kau mengerti, masih ada satu orang yang harus diperkenalkan padamu!"

Dia maju selangkah, sekaligus melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Ciok Giok Yin yang dalam keadaan gusar, juga melancarkan pukuian dengan sekuat tenaga.

Tampak orang berjubah merah berkelebat, menyusul terdengar suara benturan yang amat memekakkan telinga.

Bummm!

Ternyata pukulan mereka saling beradu.

Badan Ciok Giok Yin agak sempoyongan.

Di saat bersamaan, dia pun merasa ada serangkum tenaga lunak menerjang ke arahnya, membuatnya tak dapat mengerahkan hawa murninya.

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin!

Tiba-tiba teringat seseorang yang memiliki tenaga tersebut.

"Kau... adalah Tok Tiong Tong Cu?"

Serunya.

"Bocah jahanam! Dugaanmu meleset! Tok Tiong Tong Cu menghendaki nyawamu, aku pun sama, ingin mencabut nyawamu! Tapi legakanlah hatimu, untuk saat ini aku masih membiarkan kau bernafas!"

Orang berjubah merah melancarkan pukulan lagi ke arah Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin ingin berkelit, namun terlambat. Justru disaat bersamaan Lu Jin membentak keras.

"Kau berani!"

Dia langsung menerjang ke arah orang berjubah merah. Akan tetapi kelihatannya orang berjubah merah sudah menduga akan hal tersebut, maka langsung mengibaskan tangan kirinya ke arah Lu Jin.

"Aaaakh...!"

Jerit Ciok Giok Yin.

Dia terpental dua depa dan mulutnya menyembur darah segar, lalu roboh di tanah.

Sedangkan Lu Jin yang terkena kibasan itu juga terpental, kemudian roboh gedebuk di tanah.

Ciok Giok Yin tidak pingsan.

Dia cepat-cepat bangun, sepasang matanya berapi-api menatap orang berjubah merah lalu maju dengan badan sempoyongan.

Dia telah mengerahkan lwee kangnya, siap mengadu nyawa dengan orang itu.

Akan tetapi, orang berjubah merah memang berkepandaian tinggi sekali.

Dia tidak berkelit, melainkan malah maju selangkah sambil menjulurkan tanganya mencengkeram bahu Ciok Giok Yin.

Apabila bahu Ciok Giok Yin tercengkeram, pasti akan remuk seketika.

Justru di saat bersamaan Ciok Giok Yin telah berhasil mengerahkan lwee kangnya.

Dia langsung menghantam lengan orang berjubah merah.

Orang berjubah merah bergerak cepat menarik kembali tangannya sekaligus melancarkan sebuah pukulan.

Blam!

"Aaaakh...!"

Jerit Ciok Giok Yin.

Mulutnya menyembur darah segar, kemudian roboh pingsan di tanah.

Buuuk!

Saat ini Lu Jin telah bangkit berdiri.

Dia menggeram sambil menyerang orang berjubah merah.

Namun orang berjubah merah melancarkan pukulan ke arahnya.

Lu Jin cepat-cepat berkelit.

Kalau terlambat, dia pasti celaka!

Orang berjubah merah tertawa terkekeh, lalu maju ke hadapan Ciok Giok Yin ingin menyambaruya.

Tapi pada saat bersamaan, mendadak muncul seorang sastrawan berusia dua puluh limaan, wajahnya pucat kekuning-kuningan, seperti berpenyakitan.

Akan tetapi, gerakan sastrawan itu amat cepat sekali.

"Kau berani menyentuhnya!"

Suaranya lantang.

Sastrawan itu langsung menyerang orang berjubah merah dengan sebuah totokan, mengarah jalan darah tawanya.

Apabila jalan darah tersebut tertotok, maka orang yang tertotok itu akan terus tertawa, hingga nafasnya putus.

Apa boleh buat, orang berjubah merah terpaksa berkelit.

Sepasang matanya menyorot bengis ke arah sastrawan itu.

"Sebutkan namamu!"

Bentaknya.

"Bu Tok Siangseng (Tuan Yang Tak Beracun)!"

Sahut sastrawan. Orang berjubah merah menyurut mundur selangkah.

"Bu Tok Siangseng?"

Serunya tanpa sadar.

"Ng! Siapa kau?"

"Kau tidak berderajat tahu!"

Bu Tok Sianseng tertawa dingin.

"Lihat saja berderajat atau tidak!"

Bentaknya.

Mendadak dia menjulurkan sepasang tangannya yang berwarna hitam, langsung mencengkeram ke arah orang berjubah merah.

Kelihatannya orang berjubah merah agak takut terhadap sepasang tangan sastrawan, maka cepat-cepat mencelat ke belakang.

Di saat bersamaan, dia pun melancarkan sebuah pukulan aneh.

Bu Tok Sianseng berkelit ringan, seketika juga bertanya.

"Kau orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee?"

Orang berjubah merah tampak tertegun, kemudian tertawa terkekeh.

"Tidak salah!"

Sahutnya.

"Apa keddukanmu dalam perkumpulan Sang Yen Hwee?"

"Hwee Cang (Ketua perkumpulan)!"

"Sang Yen Hwee?"

"Tidak salah! Kini kau sudah tahu kan?"

Bu Tok Siangseng tertawa gelak.

"Sudah lama aku ingin menjumpaimu, tak disangka bertemu di sini!"

Kedua orang itu mulai bergerak.

Tampak bayangan mereka berkelebatan bagaikan kilat.

Ternyata mereka berdua sudah bertarung dengan seru sekali.

Akan tetapi, Sang Yen Hwee tidak berani beradu angin pukulan dengan Bu Tok Sianseng.

Sedangkan Bu Tok Sianseng juga kelihatan agak takut terhadap pukulan aneh yang dilancarkan Sang Yen Hwee itu.

Mereka berdua terus bertarung, dan kelihatannya masih seimbang.

Sementara Lu Jin sudah mendekati Ciok Giok Yin.

Wajah Ciok Giok Yin yang tampan itu tampak kekuningkuningan, nafas juga lemah, pertanda dia telah terluka dalam yang amat parah.

Karena itu, Lu Jin sudah tidak tertarik akan pertarungan yang sedang berlangsung seru itu.

Dia langsung menyambar Ciok Giok Yin dan dibawanya pergi.

Sampai di dalam sebuah rimba, barulah Lu Jin menaruh Ciok Giok Yin ke bawah.

Dia mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam bajunya dan menuang sebutir pil warna hitam, lalu dimasukkan ke mulut Ciok Biok Yin Setelah itu, dia mengurut beberapa jalan darahnya.

Berselang beberapa saat, barulah Ciok Giok Yin siuman perlahan-lahan.

Dia melihat keringat sebesar kacang hijau merembes ke luar dari kening Lu Jin.

Ternyata Lu Jin masih mengurut jalan darahnya.

Ciok Giok Yin amat terharu.

"Terimakasih, Saudara,"

Ucapnya. Setelah mendengar suara Ciok Giok Yin, barulah Lu Jin berhenti mengurut. Dia menghapus keringat di keningnya seraya berkata.

"Bagaimana rasamu sekarang, Saudara Kecil?"

"Cukup beristirahat sejenak, aku akan pulih kembali."

Usai berkata, Ciok Giok Yin segera duduk bersila dan memejam mata sambil menghimpun hawa murninya.

Lu Jin berdiri di sampingnya, menjaganya dengan penuh perhatian.

Berselang beberapa saat, Ciok Giok Yin bangkit berdiri lalu menjura pada Lu Jin.

"Atas pertolongan Saudara, aku... amat berterimakasih sekali."

Katanya.

"Aku cuma membawamu ke mari, yang menolong kita berdua justru orang lain,"

Sahut Lu Jin. Ciok Giok Yin tertegun. Ternyata disaat kemunculan Bu Tok Sianseng, dia teleh pingsan, maka tidak tahu akan kehadrian sastrawan tersebut. Oleh karena itu dia bertanya.

"Siapa?"

"Bu Tok Sianseng."

"Bu Tok Sianseng?"

"Ng!"

"Siapa Bu Tok Sianseng itu?"

"Aku tidak pernah mendengar sebelumnya.

"Siapa orang berjubah merah itu?"

"Sang Yen Hwee."

Ciok Giok Yin terperanjat.

"Hah? Dia berkertak gigi.

"Aku bersumpah pasti akan membasmi perkumpulan Sang Yen Hwee!"

Lu Jin diam saja.

"Sekarang Saudara mau ke mana?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Melaksanakan janjiku pada Adik Kecil. Sekarang juga aku akan pergi mencari."

"Terimakasih, kelak aku pasti membalas budi kebaikan Saudara."

"Tidak usah. Sampai jumpa."

Lu Jin melesat pergi, dan sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya, Suasana di dalam rimba itu sunyi sepi.

yang terdengar hanya suara hembusan angin.

Saat ini, hari sudah mulai pagi.

Hembusan angin pagi yang amat dingin itu, terasa menusuk tulang.

Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu.

Ternyata dia sedang berpikir, apa yang harus dikerjakan selanjutnya.

Tiba-tiba dia teringat akan pesan Tiong Ciu Sin Ie sebelum mati, bahwa dirinya harus pergi ke Gunung Cong Lam San menemui Can Hai It Kiam untuk mengambil sepucuk surat.

Mengapa tidak berangkat ke sana?

Asal berhasil menemui Can Hai It Kiam, tentunya dia akan mengetahui asal-usulnya.

Sejak dia dilahirkan sama sekali tidak tahu siapa ayah dan ibunya.

Karena berpikir demikian, mendadak wajahnya berubah gusar dan sepasang matanya berapi-api.

Ternyata dia teringat ketika berusia tujuh delapan tahun, ikut Tiong Ciu Sin Ie tinggal di perkumpulan Cou Keh Cuang.

Lantaran kurang hati-hati, dia memecahkan sebuah teko giok milik Cou Yun Liong majikan perkumpulan keluarga Cou, sehingga digebuk oleh Cou Yun Liong, bahkan juga dicacinya 'Anak Sundal!' Ketika itu, Tiong Ciu Sin Ie sedang ke luar.

Sejak itu, kalau Tiong Ciu Sin Ie keluar, Cou Yun Liong pasti memukulnya dan mengancamnya tidak boleh mengadu pada Tiong Ciu Sin Ie.

Dan sejak itu pula, keluarga Cou semuanya memanggilnya 'Anak Sundal'.

Untung Tiong Ciu Sin Ie tahu gelagat yang tidak baik itu, langsung membawanya pergi.

Teringat akan kejadian itu, api kegusarannya pun memuncak.

Oleh karena itu dia mengambil keputusan untuk ke perkumpulan keluarga Cou, untuk menghina Cou Yun Liong, agar rasa dongkolnya dalam hati terlampiaskan.

Badan Ciok Giok Yin bergerak, dia sudah melesat ke luar dari rimba itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dia berhenti.

Di mana letak perkumpulan keluarga Cou?

Ternyata dia sudah tidak ingat lagi.

Lalu harus ke mana mencari Cou Keh Cuang itu?

Akhirnya dia mengambil keputusan untuk menunda kepergiannya itu.

Tiba-tiba dia mendengar suara desiran baju di belakangnya.

Dia tersentak dan langsung membalikkan badannya sambil mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi segala kemungkinan.

Setelah membalikkan badannya, dia terbelalak.

Ternyata di situ berdiri kurang lebih enam belas orang, di antaranya terdapat padri dan tosu, semuanya menatap Ciok Giok Yin dengan penuh kebencian.

Seorang padri berusia lima puluhan maju ke depan, lalu merangkapkan sepasang tangannya di dada seraya menyebut.

"Omitohud! Apakah sicu adalah Ciok Giok Yin?"

Ciok Giok Yin tertegun.

"Benar. Taysu ada petunjuk apa?"

Sepasang mata hweshio itu menyorot tajam.

"Aku adalah Thian It Ceng dari Kuil Siauw Lim Si."

"Sudah lama aku mendengar nama besar Taysu."

Thian It Ceng maju selangkah lagi.

"Aku memberanikan diri, mengundang sicu ke kuil Siauw Lim Si."

Ciok Giok Yin tercengang, sebab dia tidak punya hubungan apa-apa dengan Siauw Lim Si, mengapa Thian It Ceng mengundangnya ke sana? "Ada urusan apa Taysu mengundangku ke Kuil Siauw Lim Si?"

"Sicu harus mengerti dalam hati."

Ciok Giok Yin tampak tidak senang.

"Aku tidak mengerti, mohon Taysu menjelaskan!"

Mendadak seorang tosu membentak.

"Taysu, untuk apa banyak bicara dengannya?"

Tosu itu kelihatan sudah mau turun tangan terhadap Ciok Giok Yin. Tapi Thian It Ceng segera mengibaskan lengan jubahnya.

"Sabar, tosu!"

Thian It Ceng memandang Ciok Giok Yin, kemudian berkata perlahan-lahan.

"Tentunya sicu masih ingat, sicu pernah melukai tiga orang Gobi Pay, demi menyelamatkan seorang gadis, lalu gadis itu sicu bawa ke perkumpulan Bwee Cuang."

"Tidak salah,"

Sahut Ciok Giok Yin dengan dingin.

"Sicu punya hubungan apa dengan gadis itu?"

"Taysu adalah orang yang telah menyucikan diri, kalau bicara harus dipikirkan dulu. Berkelana di dunia persilatan menolong seorang gadis, apakah harus punya hubungan?"

Thian It Ceng tidak menyangka Ciok Giok Yin bermulut begitu tajam, maka membuat air mukanya berubah.

"Tahukah sicu siapa gadis itu?"

"Tidak tahu. Aku cuma tahu dia adalah seorang gadis yang dihina orang."

"Dia adalah murid perkumpulan Sang Yen Hwee,"

Kata Thian It Ceng.

"Murid perkumpulan Sang Yen Hwee?"

"Tidak salah."

"Bagaimana Taysu tahu tentang itu?"

"Aku dengar perkumpulan Sang Yen Hwee ingin menguasai dunia persilatan, maka menyuruh para murid terjun ke dunia persilatan, untuk menyelidiki semua partai besar, agar dapat memusnahkan semua partai besar tersebut."

"Benarkah urusan itu?"

"Sedikitpun tidak salah."

Sepasang mata Thian It Ceng menyorot tajam lagi.

"Aku tahu akan sifat sicu yang lembut. Demi membersihkan namamu, maka kuundang sicu ke Kuil Siauw Lim Si, sekaligus bertanggung jawab atas ketiga orang Gobi Pay yang telah mati itu."

Ternyata Thian It Ceng demi kematian tiga orang Gobi Pay itu, sedangkan Ciok Giok Yin yang telah ketularan sifat aneh Sang Ting It Koay, merasa tersinggung.

"Kalau begitu, Taysu juga menganggap diriku murid perkumpulan Sang Yen Hwee?"

Katanya dengan suara dalam.

"Tidak bisa tidak berpikir demikian."

Ciok Giok Yin tertawa gelak.

"Taysu juga tahu aku bermusuhan dengan perkumpulan Sang Yen Hwee?"

"Itu urusan sicu, yang jelas demi membersihkan nama sicu, maka sicu harus ikut aku ke Kuil Siauw Lim Si. Aku berani menjamin keselamatan sicu."

Sesungguhnya di saat ini delapan partai besar di dunia persilatan telah mengakui Siauw Lim Pay sebagai Bu Lim Beng Cu (Ketua Rimba Persilatan).

Maka mengenai urusan besar maupun kecil, pihak Siauw Lim Pay yang akan membereskannya.

Berhubung Ciok Giok Yin membunuh tiga tosu Gobi Pay, menyelamatkan gadis itu, sehingga menimbulkan kecurigaan delapan partai besar.

Lagi pula Ciok Giok Yin juga membunuh Khiam Sian Hweshio, ketua Kuil Put Toan Si.

Meskipun Ciok Giok Yin telah menyatakan, itu adalah demi menuntut balas dendam Sang Ting It Koay, namun kaum rimba persilatan tetap menganggap asal-usul Ciok Giok Yin tidak jelas, maka mereka tetap bercuriga.

Oleh karena itu, setiap partai besar mengutus beberapa murid handalnya ke Siauw LIm Si untuk berunding.

Akhirnya Siauw Lim Pay memutuskan mengundang Ciok Giok Yin ke Kuil Siauw Lim Si untuk di sidang.

Sementara Ciok Giok Yin tertawa dingin.

"Kalau aku bilang tidak, Taysu mau bagaimana?"

"Tentu tidak boleh membiarkannya."

"Maksud Taysu?"

"Terpaksa menggunakan kekerasan untuk memaksa sicu ke Kuil Siauw Lim Si!"

"Kalau begitu, kalian ingin bertarung?"

"Itu apa boleh buat."

Mendadak wajah Ciok Giok Yin menyeratkan hawa membunuh.

"Kuberitahukan! Kini aku masih ada urusan penting yang harus kuselesaikan, maka aku tidak bisa ikut ke Kuil Siauw Lim Si. Kelak kalau urusanku telah beres, aku pasti berkunjung ke sana."

Dia menjura pada mereka.

"Sampai jumpa...!"

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, sudah terdengar suara bentakan yang mengguntur.

"Kau ingin kabur?"

Tampak bayangan-bayangan berkelebat, tahu-tahu Ciok Giok Yin sudah terkepung. Betapa gusarnya Ciok Giok Yin! "Kalian ingin bergebrak? Sebetulnya aku tidak takut urusan!"

Bentaknya.

"Harap sicu pikir baik-baik,"

Kata Thian It Ceng.

"Pikir saja sendiri!"

"Sicu berkeras tidak mau ikut ke Kuil Siauw Lim Si?"

"Benar!"

Thian It Ceng mengerutkan kening.

"Omitohud! Apa boleh buat, aku terpaksa berlaku kasar!"

Mendadak dia mengibaskan lengan jubahnya. Seketika terasa tenaga yang amat kuat dan lunak menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

"Bagus!"

Seru Ciok Giok Yin.

Dia mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan, dan seketika terasa hawa yang amat panas menerjang ke arah Thian It eng.

Ternyata Thian It Ceng tahu kelihaian pukulan itu.

Maka dia cepat-cepat berkelit.

Mendadak terdengar suara bentakan keras.

"Bayar nyawa suteku!"

Seorang tosu tua sudah menyerang Ciok Giok Yin.

Ternyata tosu tua itu adalah murid Gobi Pay.

Dia melancarkan pukulan yang amat dahsyat, ingin membunuh Ciok Giok Yin dengan satu pukulan.

Saat ini, walau Ciok Giok Yin memiliki kesabaran, namun tidak dapat bersabar lagi.

Dia bergeretak gigi, kemudian berkata dingin.

"Kalian yang mendesak, jangan menyalahkan aku bertindak kasar!"

Tiba-tiba badannya mencelat ke atas, ternyata Ciok Giok Yin telah mengeluarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang, jurus pertama Terbang.

Telapak tangannya berkelebatan dan seketika terdengar suara jeritan.

Tampak sosok bayangan terpental beberapa depa, dan ketika roboh kepalanya membentur sebuah batu besar, sehingga pecah dan otaknya berhamburan.

Di saat bersamaan terdengar seseorang berseru kaget.

"Hong Lui Sam Ciang!"

"Tidak boleh melepaskan bocah itu, dia pasti murid Kui Mo!"

"Maju!"

Mereka semua menerjang ke arah Ciok Giok Yin, termasuk Thian It Ceng dari Kuil Siauw Lim Si.

Kini suasana di tempat itu berubah tegang.

Sedangkan Ciok Giok Yin terus melancarkan jurus pertama itu.

Terndengar suara jeritan yang tak hentihentinya.

Saat ini sudah bertambah tiga sosok mayat.

Ciok Giok Yin amat membenci mereka, sebab mereka sudah menyucikan diri, namun sama sekali tidak membicarakan peraturan, bertindak semuanya.

Sudah pasti membuatnya amat gusar hingga tak terkendali.

Mendadak Thian It Ceng mencelat ke luar.

Menyusul tampak seorang hweshio terpental ke luar juga.

Mereka berdua berbisik-bisik, kemudian hweshio itu melesat pergi.

Akan tetapi, betapa tajamnya mata Ciok Giok Yin!

Dia tertawa gelak seraya berseru.

"Kalian mau cari bantuan?"

Kebencian Ciok Giok Yin telah memuncak, maka turun tangan tanpa memberi ampun.

Untung dia belum berhasil menguasai jurus kedua dan ketiga.

Kalau dia sudah menguasai jurus-jurus tersebut, mungkin mereka semua sudah tergeletak menjadi mayat.

Terdengar lagi suara jeritan.

Bertambah lagi dua sosok mayat di tanah.

Akan tetapi, meskipun dia berkepandaian tinggi, namun menghadapi penyerangan yang begitu banyak, lama kelamaan membuatnya kewalahan juga, mata-nya mulai berkunang-kunang.

Sedangkan para penyerang sudah tahu akan kelihayan Hong Lui Sam Ciang, maka mereka bertarung dengan jarak jauh.

Ciok Giok Yin kurang berpengalaman.

Dia terus menyerang dengan sekuat tenaga, sudah barang tentu membuatnya cepat lelah.

Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan keras.

"Berhenti!"

Tampak sosok bayangan melayang turun di tempat. Ternyata seorang tua jenggot dan bewoknya amat panjang. Semua orang langsung mundur. Thian It Ceng maju selangkah lalu memberi hormat.

"Maaf! Tidak tabu kedatangan Ciak sicu, mohon dimaafkan!"

Orang tua berjenggot dan berbewok panjang itu balas memberi hormat, kemudian berkata.

"Taysu dan lainnya mengeroyok saudara kecil ini, bolehkah menjelaskan sebab musababnya?"

Thian It Ceng memandang Ciok Giok Yin sejenak.

"Aku mengundang sicu kecil itu ke Kuil Siauw Lim Si, namun sicu kecil itu tidak mau, sebaliknya malah turun tangan jahat."

Orang tua berjenggot dan berbewok panjang itu memandang Ciok Giok Yin dengan penuh perhatian, sama sekali tidak mempedulikan Thian It Ceng.

"Saudara kecil, mereka adalah orang-orang yang menyucikan diri, tapi justru memfitnahmu, aku merasa itu tidak adil."

Ciok Giok Yin merasa terharu dan seketika terkesan baik terhadap orang tua itu.

"Bolehkah aku tahu gelar lo cianpwee?"

Orang tua itu mendekati Ciok Giok Yin.

"Kawan-kawan dunia persilatan memberi gelar Cang Hu Khek (orang Berbewok Panjang) padaku, namaku Ciak Kun. Aku akan memberesi urusan ini. Kebetulan rumahku tak jauh dari sini. Bagaimana Saudara Kecil mampir ke rumahku sebentar?"

"Aku masih ada urusan penting, lain hari...."

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, Ciak Kun sudah tertawa gelak.

"Biar bagaimanapun, aku harap Saudara Kecil sudi mampir ke rumahku untuk minum teh. Setelah itu, barulah Saudara Kecil melanjutkan perjalanan."

Cang Hu Khek memandang semua orang-orang itu.

"Urusan kalian semua selesai sampai di sini. Mengenai kesalah pahaman Saudara Kecil ini, akan kupertanggungjawabkan pada ketua kalian."

Dia langsung menarik Ciok Giok Yin meninggalkan tempat itu.

Ciok Giok Yin memang sudah terkesan baik terhadap Cang Hu Khek, maka dia menurut.

Tak seberapa lama, mereka berdua sudah sampai di rumah Cang Hu Khek-Ciak Kun, kemudian orang tua itu mengajak Ciok Giok Yin masuk.

Setelah duduk, orang tua itu langsung menyuruh para pelayan menyajikan arak wangi.

Mereka berdua minum sambil bercakap-cakap.

Ciok Giok Yin memberitahukan tentang kesalah pahaman partai-partai besar itu terhadap dirinya.

Ceng Hu Khek-Ciak Kun menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Di dunia persilatan memang sering terjadi kesalah pahaman. Saudara Kecil tidak usah cemas, cepat atau lambat aku akan menjernihkan kesalah pahaman itu."

"Terimakasih, lo cianpwee!"

Berselang sesaat, para pelayan juga sudah menyajikan beberapa macam hidangan.

Mereka berdua mulai makan sambil melanjutkan percakapannya.

Akan tetapi....

Ucapan Ciok Giok Yin terhenti karena mendadak kepalanya terasa pusing sekali.

"Celaka!"

Serunya. Ciok Giok Yin roboh, namun masih sempat mendengar Cang Hu Khek-Ciak Kun berkata.

"Akhirnya kau terjebak...."

Selanjutnya dia sudah tidak mendengar apa-apa lagi, ternyata dia sudah pingsan.

Entah berapa lama kemudian, barulah dia siuman.

Matanya terbuka perlahan-lahan.

Dia menengok ke sana ke mari, namun tidak tampak apa pun, sebab tempat itu amat gelap.

Dia merasa dirinya terikat di sebuah balok kayu.

Teringat dirinya terpedaya oleh Cang Hu Khek-Ciak Kun, seketika kegusaranya bergolak di rongga dadanya..

Dia mengerahkan lwee kangnya, tapi malah merasa tali yang mengikatnya bertambah kencang.

Dapat dibayangkan, bagaimana kegusarannya di saat ini!

Dia berkerak gigi seraya berkata sengit.

"Dasar tua bangka! Aku pasti akan memusnahkan rumah ini!"

Mendadak terdengar suara sahutan di luar.

"Lebih baik kau menunggu dengan diam! Kalau tidak, kau akan tahu rasa!"

Ciok Giok Yin langsung membentak.

"Aku tidak bermusuhan denganmu, mengapa kalian menggunakan cara yang amat rendah ini menjebakku?"

Hening di luar, tidak terdengar suara apa pun.

Kegusaran Ciok Giok Yin sungguh memuncak, sehingga rambutnya nyaris berdiri semua.

Sementara sang waktu terus berlalu.

Di tempat itu amat gelap, tidak dapat membedakan siang atau malam.

Sekonyong-konyong terdengar suara yang amat ringan, dan tak lama tampak sesosok bayangan berkelebat ke dalam.

Akan tetapi, setelah ditegasi, justru tidak tampak apa pun.

Itu membuat Ciok Giok Yin merinding.

Mendadak dia merasa ada hembusan angin yang amat dingin ke arah lehernya, membuat bulu kuduknya pada bangun semua, sehingga tanpa sadar dia berseru.

"Hantu!"

Menyusul terdengar suara yang amat lirih.

"Kau takut hantu?"

Sesunggunya Ciok Giok Yin memang merasa takut, namun dia menyahut.

"Tidak takut!"

"Kau jangan sok berani, aku justru hantu."

"Sebetulnya siapa kau?"

"Bok Tiong Jin."

Seketika Ciok Giok Yin mengeluarkan 'Hah' Setelah itu dia bertanya.

"Kau... Bok Tiong Jin?"

"Tidak salah."

"Mau apa kau kemari?"

"Menolongmu."

Hati Ciok Giok Yin menjadi kebat-kebit tidak karuan.

Ternyata Bok Tiong Jin memang merupakan hantu wanita yang selalu mengikutinya.

Jelas hantu wanita itu menghendaki hatinya.

Terdengar Bok Tiong Jin berkata.

"Setelah kulepaskan tali yang mengikat dirimu, kau harus segera meninggakan tempat ini, tidak boleh menengok ke belakang!"

Ciok Giok Yin tercengang.

"Mengapa?"

Katanya.

"Kau harus tahu, wajah hantu amat menakutkan. Kau berani melihat wajah hantu?"

Ciok Giok Yin terdiam.

Tiba-tiba dia merasa tangan dan kakinya menjadi renggang.

Ternyata tali yang mengikat dirinya telah terlepas.

Dia segera bangkit berdiri, lalu maju tiga langkah, namun mendadak berhenti.

Ternyata hatinya tergerak dan membatin, 'Aku justru ingin melihat wajah hantu itu'.

Dia segera membalikkan badannya, tapi seketika dia menjerit.

"Aduuuh!"

Ternyata dia melihat sosok hantu wanita yang amat menyeramkan.

Rambutnya panjang terurai ke bawah, lidahnya panjang merah sampai di dada dan sepasang biji matanya melotot ke luar.

Pantas tadi dia berseru, kini sekujur badannya pun menjadi merinding.

Sepasang kakinya jadi lemas, tak sanggup melarikan diri dari tempat itu.

Justru di saat bersamaan terdengar suara langkah menuju tempat tersebut.

Bok Tiong Jin segera mengibaskan rambutnya.

Bukan main!

Ternyata ujung rambut itu berhasil menotok jalan darahnya membuat Ciok Giok Yin pingsan seketika.

Di saat siuman, dia sudah berada di bawah pohon besar.

Dia cepat-cepat meloncat bangun.

Namun mendadak terdengar suara di belakangnya.

"Aku pikir perutmu pasti sudah lapar. Di sampingmu ada dua ekor ayam bakar, makanlah!"

Memang tercium aroma ayam bakar yang amat harum. Sedangkan yang berbicara itu, tidak lain Bok Tiong Jin. Kini Ciok Giok Yin tidak berani membalikkan badannya lagi, cuma berkata.

"Terima kasih!"

Tapi dia tidak berani menjulurkan tangannya mengambil ayam bakar itu, sebab dia pikir, hantu dapat membuat makanan apa pun dari kotoran hewan.

Jangan-jangan kedua ekor ayam bakar itu dibuat dari kotoran hewan pula.

Karena itu, dia tidak berani makan.

Bok Tiong Jin sepertinya tahu akan apa yang dipikirkan Ciok Giok Yin, maka berkata dengan dingin.

"Kau boleh coba dulu."

Ciok Giok Yin memang sudah lapar sekali.

Dia menjulurkan sebelah tangannya meraba, benar ayam bakar yang masih terasa hangat.

Ciok Giok Yin, mencoba satu gigitan, ternyata cukup gurih dan lezat.

Mulailah dia makan dengan lahap.

Dalam sekejap kedua ekor ayam bakar telah habis dimakannya.

Dia mengusap perutnya yang telah merasa kenyang, lalu berkata perlahan.

"Terimakasih atas pemberian ayam bakar itu!"

Bok Tiong Jin menyahut dingin.

"Tidak usah berterima kasih. Ingat, hatimu telah menjadi milikku!"

Seketika Ciok Giok Yin merinding.

"Aku tahu itu, kapan Nona mau ambil, aku pasti tidak menyayangi hatiku."

Katanya dengan suara agak gemetar.

"Bagus!"

Hening sejenak, kemudian Bok Tiong Jin berkata lagi.

"Kau memperoleh apa di dalam Goa Cian Hud Tong itu?"

"Sebuah botol giok kecil!"

"Apa isinya?"

"Tiada harganya untuk dibicarakan."

"Maksudmu?"

Ciok Giok Yin cuma menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala, tidak menyahut sama sekali.

"Katakan, tidak usah ragu!"

Desak Bok Tiong Jin. Terpaksa Ciok Giok Yin memberitahukan.

"Terdapat secarik kertas yang di dalamnya tertera semacam ilmu silat tinggi. Kalau tidak salah, ilmu Jari!"

"Ilmu jari apa?"

"Ilmu Jari Darah."

"Ilmu Jari Darah?"

Bok Tiong Jin tampak tercengang.

"Kau sudah mempelajari Ilmu Jari Darah itu?"

"Telah kuhafal, namun tidak pernah kupraktekkan."

Bok Tiong Jin diam.

Suasana jadi hening.

Ciok Giok Yin mengira Bok Tiong Jin telah pergi, maka langsung menarik nafas lega.

Dia mencoba membalikkan badannya, justru di saat bersamaan terdengar lagi suara Bok Tiong Jin bertanya.

"Masih terdapat benda apa di dalam botol giok kecil itu?"

Ciok Giok Yin langsung diam, tidak berani membalikkan badannya.

"Sebutir pil Api Ribuan Tahun,"

Sahutnya.

"Pil Api Ribuan Tahun?"

"Ng!"

"Kau tahu pil itu dibuat dari apa?"

"Dibuat dari mutiara kura-kura api yang berusia ribun tahun."

"Kau sudah makan?"

"Ya."

"Kalau begitu, lwee kangmu pasti bertambah tinggi. Ya, kan?"

"Tidak salah, namun... tubuhku menjadi berbeda dengan orang biasa."

"Maksudmu?"

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Yaah! Kurang leluasa kuberitahukan."

Beberapa saat kemudian berulah Bok Tiong Jin berkata.

"Katakan, tidak usah merasa kurang leluasa!"

Karena didesak, Ciok Giok Yin terpaksa memberitahukan tentang apa yang tertulis di kertas itu. Terdengar suara Bok Tiong Jin yang agak gemetar.

"Apakah tiada jalan keluarnya?"

"Aku mengerti ilmu pengobatan, namun tak terpikirkan suatu cara untuk memecahkan masalah itu."

"Kalau begitu, kau akan hidup tanpa menikah?"

"Apa boleh buat!"

"Apakah kau mengerti, tidak punya keturunan sama juga seperti anak yang tak berbakti?"

"Tentunya aku tahu."

"Kalau tahu, kau harus mencari jalan keluarnya. Setahuku, ada beberapa anak gadis yang amat baik padamu. Kau tidak boleh mengecewakan mereka."

"Kau cuma mentertawakanku. Aku tidak punya tempat tinggal yang tetap, dan keadaanku amat miskin, bagaimana mungkin ada anak gadis baik padaku? Kalaupun ada, itu hanya kebetulan bertemu saja."

"Menurutmu, seandainya ada wanita yang paham tentang Im Yang Ceng Koy, juga tidak bisa dilakukan oleh satu dua wanita! Ya, kan?"

"Ya."

"Kitab Im Yang Ceng Koy hanya dimiliki golongan hitam, sedangkan golongan putih tidak mungkin menyimpan kitab itu. Lalu harus ke mana mencari kitab itu?"

"Lihat bagaimana nanti. Kalau tidak, seumur hidup aku tidak akan punya istri."

"Apakah itu suara hatimu?"

"Tentu."

"Kalau memang begitu, kelak pasti ada satu orang menemanimu selama-lamanya."

"Siapa?"

Tiada sahutan.

Berselang beberapa saat juga tidak terdengar sahutan.

Perlahan-lahann Ciok Giok Yin membalikkan badannya.

Ternyata Bok Tiong Jin sudah tidak kelihatan.

Seketika sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding.

Di tengah malam itu, Ciok Giok Yin tidak berani lama-lama di tempat itu harus segera pergi.

Akan tetapi, mendadak terdengar suara tangisan yang amat memilukan.

Suara tangisan itu terbawa angin hingga terdengar sampai di tempat itu.

Suara tangisan yang amat sedih, pilu dan...

Ciok Giok Yin tersentak, lalu bertanya dalam hati.

'Apakah itu juga suara tangisan arwah?' Sebetulnya Ciok Giok Yin tidak mempedulikan suara tangisan itu.

Namun dia merasa heran, sehingga sepasang kakinya membawa dirinya ke tempat suara tangisan tersebut.

Tak seberapa lama dia sampai di tempat itu.

Tampak seorang wanita berpakaian hitam berlutut di hadapan sebuah kuburan yang masih baru, terus menerus menangis dengan sedih sekali.

Ciok Giok Yin mendekatinya namun wanita itu kelihatannya tidak tahu akan kehadiran Ciok Giok Yin.

Dia masih terus menangis dengan sedih sehingga air matanya jatuh berderai-derai.

Tempat ini merupakan hutan belantara yang amat sunyi.

Malam semakin larut.

Kuburan baru!

Di tambah suara tangisan yang amat memilukan, sehingga membuat suasana di tempat itu tambah menyeramkan.

Tibatiba wanita itu bangkit berdiri, namun tetap di hadapan kuburan baru itu.

Dia sama sekali tidak menghiraukan Ciok Giok Yin yang berada di sisinya, sepertinya tidak melihatnya.

"Kanda Mok, aku menunggumu hingga dua puluh tahun, tidak tahunya cuma menemukan kuburanmu ini. Lalu apa artinya aku hidup?"

Gumamnya.

Usai bergumam, wanita itu mulai menangis lagi.

Sementara Ciok Giok Yin cuma melihat wanita itu berambut panjang, namun tidak melihat jelas bagaimana parasnya.

Suara tangisannya yang memilukan itu, membuat hati Ciok Giok Yin ikut berduka.

Mendadak sepasang mata Ciok Giok Yin terbelalak, ternyata dia melihat pada batu nisan di depan kuburan itu, terdapat tulisan 'Makam Tiat Yu Kie Su (Satria Baju Besi) Mok Ho' Begitu melihat tulisan itu, seketika juga mata Ciok Giok Yin berapi-api, dia maju selangkah sambil berkertak gigi.

"Kok bisa begitu kebetulan, kuburan baru..."

Gumamnya. Wanita baju hitam itu segera menoleh, dan suara tangisannyapun berhenti. Wajahnya tertutup oleh rambutnya yang panjang, tapi sepasang matanya menyorot tajam.

"Kau bilang apa barusan?"

Katanya dengan dingin sekali.

"Aku bilang amat aneh, kuburan baru,"

Sahut Ciok Giok Yin yang dengan dingin pula.

"Kau anggap dia belum mati?"

"Dugaanku memang begitu."

"Siapa kau?"

"Ciok Giok Yin."

"Kau punya dendam dengannya?"

"Boleh dikatakan demikian. Kau?"

Wanita berbaju hitam memandang kuburan baru itu, kemudian berkata dengan sengit.

"Aku justru tidak terpikirkan, mungkin kau menghindariku! Kalaupun kau sudah mati, aku juga harus membawa tulang belulangmu!"

Mendadak dia melancarkan sebuah pukulan ke arah kuburan baru itu. Bum! Ketika wanita berbaju hitam itu mau melancarkan pukulan lagi, Ciok Giok Yin menjulurkan tangannya mencegah.

"Kau dan dia punya dendam?"

Katanya.

"Kau tidak sudah tahu, cepat mundur!"

Bentak wanita itu dengan gusar.

Dia terus melancarkan pukulan dahsyat ke arah kuburan baru itu, sehingga kuburan baru itu jadi berlubang.

Ciok Giok Yin dan wanita berbaju hitam itu memandang ke dalam, tidak tampak apa pun di dalam lubang itu.

Tidak salah lagi, kuburan baru itu hanya untuk mengelabuhi orang.

Kalau begitu, Tiat Yu Kie Su-Mok Ho pati masih hidup.

Lalu mengapa dia membuat kuburan itu?

Memang sulit untuk diterka.

Ciok Giok Yin berkata dalam hati.

'Apakah dia ingin mengelabuiku?

Ini memang mungkin sekali!' Di saat Ciok Giok Yin sedang berkata dalam hati, wanita berbaju hitam itu berkata.

"Dia belum mati, aku harus mencarinya."

Tanpa memperdulikan Ciok Giok Yin, wanita itu langsung pergi. Namun Ciok Giok Yin segera melesat ke hadapannya.

"Aku tanya, Tiat Yu Kie Su berada di mana?"

Katanya.

"Kau memang banyak bertanya! Kalau aku tahu tempat tinggalnya, buat apa aku masih harus mencarinya?"

Sahut wanita berbaju hitam itu dengan gusar. Dia mantap Ciok Giok Yin.

"Namun aku yakin akan berhasil mencarinya. Kalau kau bernyali, tiga bulan kemudian, kau boleh datang di tebing Mong Hu An (Tebing Memandang Suami) di Gunung Cong Lam San, aku akan mewakilinya menyelesaikan urusan kalian."

Lanjutnya. Ciok Giok Yin tidak tahu wanita berbaju hitam itu punya hubungan apa dengan Tiat Yu Kie Su-Mok Ho.

"Baik, tiga bulan kemudian aku pasti ke sana."

Wanita berbaju hitam itu langsung melesat pergi.

Ciok Giok Yin terbelalak, sebab ginkang wanita itu amat tinggi.

Ciok Giok Yin menatap kuburan kosong itu, kemudian dengan sengit membanting kakinya, lalu melesat pergi.

Kini tujuannya ke Gunung Cong Lan San menemui Can Hai It Kiam untuk mengambil sepucuk surat, agar tahu asal-usulnya.

Dalam perjalanan menuju Gunun Cong Lan Sam, dia pun teringat akan kertas yang diperolehnya dari dalam Goa Cian Hud Tong yang di dalamnya tertera ilmu Jari Darah.

Oleh karena itu, dia mulai melatihnya.

Dia pun ingat tulisan yang di dalam kertas, bahwa apabila berhasil menguasai ilmu Jari Darah dengan sempurna, maka dapat menembus batu, bahkan dapat melukai orang dalam jarak seratus langkah, namun tidak boleh membunuh orang.

Teringat akan itu, diam-diam Ciok Giok Yin bergirang dalam hati.

Sebab apabila berhasil, dia pun akan membasmi para murid perkumpulan Sang Yen Hwee, berikut ketuanya.

Setelah itu dia akan berusaha mencari Chiu Tiong Thau, murid murtad gurunya.

Dia akan mengorek keluar jantung hatinya untuk menyembahyangi gurunya.

Ciok Giok Yin terus berlatih sambil melakukan perjalanan.

Kebetulan dia melihat sebuah pohon besar.

Seketika juga dia menggerakkan dua jarinya ke arah pohon besar itu.

Tampak cahaya merah dari kedua jarinya meluncur ke arah pohon itu, dan di saat bersamaan, terdengar pula suara ' Srerrrrt' .

Pohon itu telah tumbang.

Bukan main dahsyatnya ilmu Jari Darah itu!

Padahal Ciok Giok Yin baru mulai berlatih, namun hasilnya sudah begitu luar biasa.

Seandainya badan orang terserang ilmu Jari Darah, bukankah akan berlubang?

Keberhasilan itu membuat Ciok Giok Yin girang bukan main.

Dia langsung melesat pergi laksana kilat.

Mendadak samarsamar dia melihat sebuah perkumpulan di depan.

Pemandangan di perkumpulan itu, membuatnya seperti kenal.

Tapi kapan dia pernah ke mari, sama sekali tidak ingat.

Karena itu, dia mendekati perkumpulan tersebut.

Setelah dekat, sepasang matanya langsung berapi-api.

Ternyata di pintu gerbang perkumpulan terdapat tulisan 'Perkumpulan Keluarga Cou' Seketika dia teringat akan perlakuan Cou Yun Liong terhadap dirinya.

Sungguh kebetulan dia tiba di perkumpulan tersebut.

Di saat Ciok Giok Yin baru mau melangkah memasuki pintu gerbang itu, tiba-tiba muncul empat penjaga lalu menghadangnya.

Salah seorang dari mereka ketika melihat Ciok Giok Yin, langsung terbelalak.

"Saudara Kecil, kau adalah..."

Serunya.

Kelihatannya penjaga itu merasa kesal, namun lupa namanya, maka tidak melanjutkan ucapannya.

Sebaliknya Ciok Giok Yin masih ingat penjaga itu, sebab penjaga itu juga pernah mencacinya sebagai anak sundal, bahkan pernah memukulnya.

Pada waktu itu, Ciok Giok Yin masih kecil, cuma berani menangis seorang diri, tanpa berani mengadu pada Tiong Ciu Sin Ie.

Saat ini begitu dia melihat penjaga itu, matanya langsung membara.

"A Piau, kau sudah tidak kenal aku lagi?"

Katanya dengan dingin. Ternyata panjaga yang berwajah kasar itu bernama An Piau. Dia tampak tertegun, melainkan malah tertawa.

"Saudara Kecil, maaf! Entah kita pernah bertemu di mana?"

An Piau memandang sepasang mata Ciok Giok Yin, seketika merasa merinding dan tanpa sadar menyurut mundur satu langkah.

Diam-diam dia berkata dalam hati.

'Sungguh tajam dan dingin sepasang mata bocah ini!' Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hm! Anak sundal yang sepuluh tahun lampau itu, kemari mengunjungi majikan kalian. Tentunya kau tidak akan lupa kan?"

An Piau langsung berseru kaget.

"Ciok Giok Yin?"

"Tidak salah. Tentunya kau tidak menduga aku akan ke mari, bukan?"

Seketika An Piau tersenyum licik.

"Sungguh tak terduga kau akan ke mari, cepat...."

Ketika melihat senyum licik itu, Ciok Giok Yin merasa muak dan gusar. Dia segera mencengkeram lengan An Piau seraya berkata dingin.

"An Piau, sepuluh tahun yang lampu, aku nyaris mati di tanganmu! Hari ini kau masih mau bilang apa?"

Mendadak An Piau menjerit-jerit kesakitan, wajahnya berubah pucat pias dan keringatnya pun mengucur deras membasahi pakaiannya. Berselang sesaat, barulah Ciok Giok Yin mengendurkan tangannya.

"An Piau! Enak rasanya?"

Katanya dengan dingin. Setelah itu, dia pun membentak gusar.

"Sepuluh tahun yang lampau, ketika kau memukulku, apakah kau tidak berpikir, badanku tahan atau tidak?"

Usai membentak, Ciok Giok Yin mengerahkan tiga bagian tenaganya. Terdengar suara 'Kraaak'. Ternyata lengah An Piau sudah patah.

"Aaaaakh...!"

Jeritnya. Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hm! Dasar tak berguna!"

Setelah itu, dia merogoh ke dalam bajunya, mengambil tiga butir obat Ciak Kim Tan, lalu diberikan kepada penjaga lain.

"Suruh dia makan obat ini, beberapa hari kemudian pasti sembuh!"

Katanya. Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara bentakan keras dari dalam.

"Siapa berani ke mari cari gara-gara?"

Suara bentakan itu belum lenyap, sudah muncul seorang tua berusia enam puluhan, wajahnya pun agak bengis.

Sepasang matanya menyorot tajam, terus menatap Ciok Giok Yin dari atas ke bawah.

Kemudian sepasang biji matanya berputar.

"Ternyata kau anak sundal!"

Katanya dengan suara parau. Begitu melihat orang tua itu, kegusaran Ciok Giok Yin memuncak, lebih-lebih ketika mendengar cacian itu. Dia langsung maju dua langkah seraya membentak.

"Cou Yun Liong! Hari ini kau akan membuat mulutmu tidak bisa mencaci lagi!"

"Anak sundal! Sungguh bagus kedatanganmu!"

Sahut Cou Yun Liong dengan dingin. Mendadak sesosok bayangan melayang turun di hadapan Cou Yun Liong.

"Harap Cuangcu mundur dulu!"

Katanya. Ciok Giok Yin memandang orang yang baru muncul itu. Darahnya langsung mendidih dan sepasang matanya berapi-api penuh dendam. Siapa orang yang baru muncul itu? Ternyata Tui Beng Thian Cun.

"Tui Beng Thian Cun!"

Bentak Ciok Giok Yin mengguntur.

"Betul! Kau akan bunuh diri atau aku harus turun tangan?"

Ciok Giok Yin memang sudah membenci Tui Beng Thian Cun hingga ke dalam tulang sumsum, sebab Tiong Ciu Sin Ie mati di tangannya.

Hari itu Tui Beng Thian Cun berhasil meloloskan diri, tak disangka hari ini justru bertemu di sini.

Oleh karena itu, Ciok Giok Yin langsung membentak.

"Iblis Tua! Serahkan nyawamu!"

Sembari membentak, Ciok Giok Yin juga melancarkan sebuah pukulan ke arah Tui Beng Thian Cun.

Tui Beng Thian Cun cepat-cepat berkelit, sekaligus mencengkeram lengan Ciok Giok Yin.

Akan tetapi, mendadak Ciok Giok Yin mencelat ke atas.

Ternyata dia akan menggunakan Hong Lui Sam Ciang.

Tampak telapak tangannya berkelebatan, kemudian terdengar suara menderu-deru.

Itu adalah jurus pertama Terbang dari Hong Lui Sam Ciang yang amat dahsyat dan lihay.

Tui Beng Thian Cun sudah tahu akan kelihayan jurus tersebut.

Maka dia tidak berani menangkis, melainkan berusaha berkelit.

Walau berhasil berkelit, sekujur badannya telah mengucurkan keringat dingin.

Di saat Tui Beng Thian Cun berhasil mengelakkan jurus itu, Ciok Giok Yin melancarkan jurus kedua dari Hong Lui Sam Ciang.

Tempo hari Ciok Giok Yin tidak berani mengeluarkan jurus itu karena lwee kangnya belum mencapai ketingkat seperti sekarang.

Setelah makan pil Api Ribuan Tahun, lwee kangnya bertambah tinggi, maka sudah tidak jadi masalah mengeluarkan jurus kedua itu.

Seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

Dan tampak pula darah segar muncrat ke mana-mana.

Ternyata kepala Tui Beng Thian Cun telah pecah dan nyawanya melayang seketika.

Dia seorang tokoh dari golongan hitam yang amat terkenal, justru mati secara mengenaskan di tangan Ciok Giok Yin.

Setelah berhasil membunuh Tui Beng Thian Cun, Ciok Giok Yin berkata dengan suara terisak-isak.

"Kakek Tua, tenanglah! Anak Yin telah berhasil menuntut balas dendammu."

Justru Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu, bahwa disaat bersamaan Cou Yun Liong sudah berada di belakangnya, mengangkat sebelah tangannya siap menyerang.

Namun mendadak terdengar suara seruan kaget yang amat nyaring.

"Ayah!"

Suara seruan itu membuat Ciok Giok Yin tersentak, barulah dia tahu Cou Yun Liong berada di belakangnya siap menyerang.

Kalau bukan karena seruan itu, mungkin kini Ciok Giok Yin sudah binasa di tangan Cou Yun Liong.

Itu membuat Ciok Giok Yin bertambah dendam pada Cou Yun Liong.

"Cou Tongcu! Kau pernah mencaciku sebagai anak sundal, bahkan juga pernah memukul dan menyiksaku! Tapi aku masih memandang muka almarhum Tiong Ciu Sin Ie, maka aku mengampuni nyawamu!"

Katanya dengan sengit. Kemudian dia menatap Cou Yun Liong dengan penuh kebencian.

"Tapi aku tidak bisa dengan cara begini mengampunimu. Terlebih dahulu aku harus menamparmu dua kali, lalu kau pun harus berlutut di hadapanku sambil menganggukkan kepala tiga kali,"

Tambahnya dengan perlahan-lahan.

Usai dia berkata, terdengar suara Plak!

Plak!

Ternyata Ciok Giok Yin telah menampar pipi Cou Yun Liong dua kali.

Bersamaan itu, tampak sesosok bayangan langsung melesat ke sana seraya berseru.

"Kakak Yin! Kakak Yin! Kau tidak boleh menghina ayahku!"

Ciok Giok Yin menoleh.

Ternyata bayangan itu adalah Cou Ing Ing, putri Cou Yun Liong.

Seketika Ciok Giok Yin pun teringat akan kejadian sepuluh tahun yang lampau, sesudah dicaci dan dipukuli oleh Cou Yon Liong, Ciok Giok Yin segera bersembunyi di dalam kamar sambil menangis sedih.

Justru Cou Ing Ing yang menariknya ke luar, ke halaman belakang dan terusmenerus menghiburnya.

Usia Cou Ing Ing lebih muda dua bulan dari Ciok Giok Yin, namun gadis itu lebih mengerti urusan dibandingkan dengan Ciok Giok Yin.

Apabila Ciok Giok Yin tidak berhenti menangis, kadangkadang Cou Ing Ing berdandan seperti pengantin untuk menghiburnya, agar dia melupakan rasa duka dalam hatinya.

Mereka berdua boleh dikatakan teman dari kecil, bahkan sudah saling mengerti dan Cou Ing Ing pun berbagi rasa derita dengannya.

Cou Ing Ing juga pernah berkata pada Ciok Giok Yin, bahwa kelak setelah besar, mereka harus bersama selama-lamanya.

Perkataan tersebut masih terngiangngiang di dalam telinga Ciok Giok Yin.

Oleh karena itu, begitu melihat Cou Ing Ing, Ciok Giok Yin menjadi terbelalak, sebab kini gadis itu sudah besar dan amat cantik, namun menatapnya dengan wajah muram.

Dia terus berdiri di samping Cou Yun Liong.

Sepasang matanya yang indah itu menatapnya dengan tak berkedip.

Di dalam hati gadis itu, entah merasa girang atau cemas?

Karena yang seorang adalah ayahnya, yang harus dibelanya agar tidak dihina oleh Ciok Giok Yin.

Sedangkan yang satu lagi, justru adalah temannya dari kecil.

Walau telah berpisah sepuluh tahun, namun dalam hati gadis itu telah terukir dalam sekali bayangannya, bahkan masih ingat akan semua kenangan masa lalunya.

Dia mencintai ayahnya juga mencintai Ciok Giok Yin, maka harus berdiri di pihak mana, justru membuatnya serba salah.

Dia terus menatap Ciok Giok Yin dengan mata sayu dan berharap mereka berdua akan berdamai.

Akan tetapi, bisakah begitu?

Dia tidak yakin.

Kini suasana di tempat itu berubah menjadi hening dan tegang mencekam.

Sedangkan Cou Yun Liong yang ditampar dua kali oleh Ciok Giok Yin sama sekali tidak dapat melihat jelas bagaimana cara Ciok Giok Yin turun tangan.

Di dunia persilatan, Cou Yun Liong cukup terkenal dan berkedudukan tinggi.

Namun kini dia dipermalukan di depan para pelayannya, maka mukanya mau ditaruh ke mana dan bagaimana jadi orang di kemudian hari?

Perlahan-lahan sepasang matanya menyorot tajam berapi-api.

Setelah itu, terdengar suara bentakannya yang mengguntur.

"Bocah sialan! Hari ini ada kau tiada aku, ada aku tiada kau!"

Dia langsung menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Cacian itu membuat kegusaran Ciok Giok Yin menjadi semakin memuncak.

Karena sejak kecil dia tidak tahu siapa kedua orang tuanya.

Kini orang lain mencacinya sebagai 'Anak Sundal' atau 'Anak Sialan' itu juga mencungkil boroknya.

Maka, tidak heran kalau dia merasa sakit hati dan sepasang matanya langsung membara.

Sedangkan Cou Yun Liong telah menerjang ke arahnya.

Maka Ciok Giok Yin segera mengerahkan lwee kangnya.

Namun ketika dia mau melancarkan pukulannya mendadak Cou Ing Ing berseru.

"Kakak Yin, jangan!"

Hati Ciok Giok Yin tersentak mendengar seruan itu, dan kemudian menurunkan tangannya.

Di saat bersamaan, pukulan yang dilancarkan Cou Yun Liong mendekati dada Ciok Giok Yin.

Bum!

Tampak Ciok Giok Yin terhuyung-huyung ke belakang delapan langkah dan seketika merasa seluruh jalan darahnya terbalik.

"Uakkkkh...!"

Darah segar menyembur ke luar dari mulutnya. Sedangkan Cou Yun Liong maju lagi.

"Anak Sundal, hari ini lohu akan menghabisimu!"

Bentaknya sengit.

Tangannya bergerak, lalu telapak tangannya berkelebat.

Pukulan tadi telah membuat Ciok Giok Yin bertambah gusar.

Saat ini sepasang matanya memerah dan wajahnya dingin penuh diliputi hawa membunuh.

"Cou Yun Liong, serahkan nyawamu!"

Bentaknya sambil berkertak gigi.

Ciok Giok Yin mengerahkan lwee kangnya.

Namun di saat dia baru mau melancarkan pukulan ke arah Cou Yun Liong.

Tibatiba terdengar lagi suara seruan Cou Ing Ing yang pilu.

"Kakak Yin, mohon pandang mukaku...!"

Saat ini kegusaran Ciok Giok Yin sungguh memuncak, maka mana mungkin mendengar suara seruan itu?

Terdengar suara benturan dahsyat memekakkan telinga.

Bummmm!

Cou Yun Liong terpental satu depa lebih.

Sedangkan Ciok Giok Yin termundur selangkah.

Namun kemudian Ciok Giok Yin maju ke hadapan Cou Yun Liong yang tergeletak di lantai, dan menginjak dadanya seraya membentak sengit.

"Cou Yun Liong, tentunya kau tak terpikirkan akan kejadian hari ini!"

Sembari membentak, dia pun mengerahkan tenaganya.

"Aduuuuh!"

Cou Yun Liong menjerit dan mulutnya menyemburkan darah segar. Di saat bersamaan Cou Ing Ing juga berseru sengit.

"Kakak Yin, sungguh kejam hatimu! Dia adalah ayahku!"

Air mata gadis itu bercucuran.

Dia menjongkokkan badannya untuk memandang ayahnya, lalu memandang Ciok Giok Yin dengan sayu.

Sesungguhnya Ciok Giok Yin bukan orang yang tak berperasaan, sebaliknya dia justru amat berperasaan.

Ketika melihat gadis itu memandangnya dengan sayu, dia cepat-cepat menarik kembali kakinya.

Namun begitu dia kembali menatap Cou Yun Liong kegusarannya memuncak lagi.

"Cou Yun Liong! Kalau kau cepat bangun dan berlutut di hadapanku, aku akan mengampuni nyawamu!"

Cou Yun Liong memandang Ciok Giok Yin, kemudian menarik nafas panjang seraya berkata.

"Yah! Sudahlah! Sudahlah!"

Dia mengangkat sebelah tangannya, dan seketika terdengar suara 'Plak!

Kepala Cou Yun Liong pecah dan darah bercampur otaknya berhamburan.

Ternyata dia bunuh diri dengan cara memukul jalan darah Thian Ling Kaynya sendiri.

Kejadian itu membuat Ciok Giok Yin tertegun.

Cou Ing Ing langsung memeluk Cou Yun Liong erat-erat sambil menangis sedih.

"Ayah! Ayah! Aku pasti menuntut balas kematianmu!"

Sesungguhnya Ciok Giok Yin cuma ingin menghina Cou Yun Liong, sama sekali tidak berniat membunuhnya.

Namun tidak diduga Cou Yun Liong malah bunuh diri.

Oleh karena itu, dia terus berdiri termangu-mangu.

Berselang beberapa saat, barulah dia berkata dengan ringan.

"Adik Ing, itu... itu dilakukannya karena...."

Mendadak Cou Ing Ing bangkit berdiri dan sepasang matanya berapi-api.

"Ciok Giok Yin, cepatlah kau enyah! Cepaaat!"

Bentaknya penuh kebencian. Ciok Giok Yin memanggilnya perlahan.

"Adik Ing...."

"Siapa Adik Ingmu? Ayo! Cepat enyah!"

"Adik...."

Cou Ing Ing membentak dengan mata membara.

"Ciok Giok Yin, aku tahu diriku bukan tandinganmu! Tapi kau harus ingat, kini kau punya seorang musuh besar! Cepat atau lambat aku pasti membunuhmu!"

"Ayahmu bunuh diri, aku...,"

Sahut Ciok Giok Yin dengan sedih.

"Kau yang mendesaknya!"

"Aku...."

"Tidak usah desak terus aku! Cepatlah kau enyah!"

Ciok Giok Yin tahu tak dapat menjernihkan kesalahan pahaman itu, akhirnya dia berkata.

"Harap Nona jaga diri baik-baik, aku mohon diri!"

Usai berkata, Ciok Giok Yin membalikkan badannya lalu berjalan pergi perlahan-lahan. Cou Ing Ing yang masih menatapnya, berkata dengan sengit.

"Kapan kita berjumpa kembali, saat itulah kau harus membayar nyawa ayahku!"

Kemudian terdengar suara tangisan yang memilukan.

Sedangkan hati Ciok Giok Yin pun remuk.

Diamdiam dia mencaci dirinya sendiri.

'Ciok Giok Yin, hatimu sungguh sempit!

Tidak seharusnya kau bertindak begitu!

Walau Cou Yun Liong tidak baik terhadapmu, namun tidak seharusnya kau melupakan budi kebaikannya yang pernah menampung dirimu di rumahnya!

Cou Yun Liong memang sering menghina dan memukulmu, tapi itu cuma merupakan urusan kecil yang tak berarti!

Kenapa kau malah menuntut balas padanya?

Bukankah tindakan itu amat keterlaluan?

Bukan perbuatan seorang gagah!' Ciok Giok Yin menghela nafas panjang sambil menggelenggelengkan kepala dan berkata lagi dalam hati.

'Ciok Giok Yin!

Kau salah!

Kau salah!' Dia berjalan pergi dengan kepala tertunduk.

Langkahnya ke dengaran begitu berat.

Sedangkan hatinya amat menderita sekali.

Akan tetapi urusan itu telah terjadi, menyesal pun sudah tiada gunanya.

Kini, dia malah punya seorang musuh besar, selanjutnya hatinya juga akan dihantui oleh dosa.

Dia merasa wajahnya dingin.

Ternyata air matanya telah mengucur dengan deras.

Air mata yang mengandung rasa penyesalan.

"Adik Ing! Adik Ing! Kau harus memaafkanku. Ayahmu bukan dibunuh olehku,"

Gumamnya.

Ciok Giok Yin terus berjalan dengan kepala tertunduk.

Dia tidak tahu harus pergi ke mana dan tidak tahu sang waktu terus berlalu.

Ternyata malam sudah semakin larut.

Sekonyong-konyong dia melihat sebuah tandu kecil meluncur laksana terbang ke dalam rimba dan terdengar suara isak tangis di dalam tandu itu.

Seorang lelaki berwajah seperti macan mengikuti di belakang tandu itu dan dalam sekejap tandu tersebut sudah hilang ditelan rimba.

Tergerak hati Ciok Giok Yin menyaksikan itu.

Dia segera melesat ke dalam rimba untuk menguntit tandu tersebut.

Akan tetapi, ketika dia sampai di dalam rimba, tidak menemukan tandu tersebut.

Itu membuatnya bercuriga dan berkata dalam hati.

'Tidak salah di dalam tandu kecil itu adalah seorang gadis.

Kalau dia ingin menikah mengapa harus menangis?

Apakah terdapat suatu rahasia pada dirinya?' Karena itu, dia ingin menyelidikinya agar jelas.

Kejadian di rumah Cou Yun Liong langsung dibuang jauh-jauh dulu, kelak baru dijelaskan pada Cou Ing Ing.

Ciok Giok Yin segera melesat, kemudian berhenti dengan kening berkerutkerut.

Ternyata tampak cahaya lampu yang berkerlap-kerlip di depan sana dan terdengar suara orang.

Dia tertegun.

Apakah benar ada pesta pernikahan di sana?

Akan tetapi setelah diperhatikannya dengan seksama, ternyata itu bukan sebuah rumah, melankan sebuah kuil.

Bagaimana mungkin?

Di dalam kuil, kalau bukan para hweshio, pasti para biarawati.

Bagaimana mungkin ada pesta pernikahan di sana?

Timbul kecurigaannya.

Dia langsung mengerahkan ginkang untuk mencelat ke atas sebuah pohon di hadapan kuil itu.

Ciok Giok Yin mengintip dari pohon.

Dilihatnya di atas pintu kuil terdapat sebuah papan bertuliskan 'Kuil Tay San Si'.

Pintu kuil itu terbuka.

Tampak beberapa orang berjalan mondar-mandir di dalam.

Karena jaraknya amat jauh, maka dia tidak dapat melihat jelas siapa mereka.

Ciok Giok Yin ingin meloncat ke atap kuil, tapi dia melihat sebuah pohon besar dekat tembok kuil itu.

Kalau berada di pohon itu, pasti dapat melihat jelas segala apa yang ada di dalam kuil.

Ciok Giok Yin bergirang dalam hati.

Dia mengerahkan ginkang untuk melesat ke arah pohon besar itu.

Tanpa mengeluarkan sedikit suara pun dia berbasil mencapai dahan pohon tersebut, lalu memandang ke dalam kuil.

Di dalam kuil terdapat tiga hweshio sedang menyalakan dua deret lilin, sehingga ruangan kuil itu menjadi terang benderang.

Dia tidak tahu untuk apa tiga hweshio itu menyalakan lilin, cuma terus memperhatikan.

Berselang sesaat, muncul seorang hweshio berusia lima puluhan, sepasang matanya menyorot bengis.

Hweshio itu menengok ke kiri dan ke kanan, kemudian bertanya.

"Sudah menyalakan semua lilin yang berjumlah enam puluh empat buah?"

Salah seorang hweshio langsung memberi hormat seraya menyahut.

"Sudah."

Hweshio gemuk itu manggut-manggut.

"Kalian boleh mundur."

Ketiga hweshio itu langsung berjalan ke dalam.

Hweshio gemuk itu duduk di tengah-tengah ruangan, kemudian sepasang matanya menatap kedua baris lilin itu.

Mendadak hweshio gemuk itu membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menyedot.

Api lilin itu bergerak ke arah mulut hweshio gemuk itu.

Sungguh menakjubkan, ujung-ujung api itu tersedot ke dalam mulutnya!

Hweshio gemuk itu menutup mulutnya, api-api lilin itu kembali normal seperti semula.

Hweshio gemuk itu melakukannya berulang kali, membuat Ciok Giok Yin yang bersembunyi di atas pohon tersentak kaget, namun dia tidak tahu hweshio gemuk itu sedang berlatih ilmu kungfu apa.

Berselang beberapa saat, hweshio gemuk itu sudah berkeringatan dan nafasnya agak memburu.

Di saat bersamaan, tampak sosok bayangan berkelebat dan dalam sekejap sudah berada di sisi hweshio gemuk itu.

Hweshio gemuk itu tertawa lalu berkata.

"Bocah, apakah kau sudah tidak bisa bersabar?"

"Suhu, ilmu Mo Hwe Kang (Ilmu Api Iblis) ini, Suhu harus ajarkan padaku."

Hweshio gemuk itu tertawa gelak.

"Demi melayanimu, maka aku harus melatih lwee kang ini. Maka apa gunanya kau mempelajarinya?"

Bayangan itu langsung mendekap di dada hweshio gemuk.

"Tidak, pokoknya aku harus belajar. Siapa tahu ada gunanya kelak,"

Katanya.

"Suhu harus ajarkan padaku."

"Baiklah. Kau ke belakang menungguku, aku berlatih sebentar lagi, baru ke belakang."

Hweshio gemuk itu membelainya.

"Bocah, kau sama sekali tidak rugi."

Dia mencium kening orang itu.

"Pasti kuberikan padamu, pergilah! Jangan membuang waktu!"

Orang itu bangkit berdiri, kemudian berjalan ke dalam.

Ketika orang itu bangkit berdiri, Ciok Giok Yin melihatnya dengan jelas.

Hampir saja dia membentak gusar.

Untung dia masih dapat menahan diri, sehingga tidak jadi membentak.

Siapa orang itu?

Tidak lain adalah Tong Eng Kang yang nyaris membunuhnya.

Ciok Giok Yin juga tidak menyangka bahwa Tong Eng Kang begitu tak tahu malu.

Kelihatannya guru dan murid sering melakukan hubungan homo seks.

Rasanya Ciok Giok Yin ingin turun tangan membunuh Tong Eng Kang, namun kini masih belum saatnya, maka harus bersabar.

Berselang sesaat, hweshio gemuk itu bangkit berdiri.

Sungguh di luar dugaan, sebab kini hweshio gemuk itu tampak bersemangat dan segar.

Sepasang matanya menyorotkan sinar aneh, dan mulutnya menyunggingkan senyuman.

Hweshio gemuk itu membalikkan badannya lalu berjalan ke dalam.

Ciok Giok Yin juga tidak berlaku ayal, langsung melesat ke atap kuil, kemudian memandang ke dalam ruangan itu melalui jendela.

Pemandangan yang amat tak sedap tampak di ruangan dalam itu.

Ternyata mereka berdua melakukan perbuatan yang tak senonoh.

Tong Eng Kang mendekap di dada hweshio gemuk itu dalam keadaan telanjang bulat.

Hweshio gemuk itu pun tidak berpakaian.

Ketika mereka berdua baru mau mulai....

Jilid 09 Sejak kecil Ciok Giok Yin belajar ilmu sastrawan, tata krama dan lain sebagainya.

Dia tidak menyangka kalau Tong Eng Kang akan melakukan perbuatan yang amat memalukan seperti itu.

Mendadak timbullah kegusarannya.

"Tong Eng Kang, sungguh bagus perbuatanmu!"

Bentaknya sengit lalu melayang turun. Di saat bersamaan, lampu di dalam ruangan itu padam. Terdengar hweshio gemuk itu membentak.

"Siapa yang begitu bernyali berani cari gara-gara denganku?"

"Huuuh!"

Hweshio gemuk itu melesat ke luar melalui jendela. Dia melayang turun lalu berdiri di tempat dalam keadaan telanjang bulat. Bersamaan itu, terdengar suara dari dalam.

"Suhu, anak sialan itu adalah musuhku, jangan dilepaskan!"

Akan tetapi begitu hweshio gemuk itu berada di hadapan Ciok Giok Yin, seketika tubuhnya tampak agak tergetar.

Karena dia melihat Ciok Giok Yin jauh lebih tampan dari Tong Eng Kang.

Tidak heran hweshio gemuk itu menjadi tertegun.

Sedangkan sepasang mata Ciok Giok Yin sudah merah membara.

Dia sudah mengambil keputusan untuk membasmi hweshio gemuk itu, yang telah mencemarkan ajaran Buddha.

Setelah itu, dia akan menangkap Tong Eng Kang untuk menuntut balas dendamnya.

Oleh karena itu, dia maju selangkah demi selangkah.

Diamdiam dia pun mengerahkan lwee kangnya, siap membunuh hweshio gemuk itu dengan satu pukulan.

Hweshio gemuk itu tidak tahu bahwa maut telah mengancam dirinya.

Maka, dia malah tertawa-tawa.

"Sicu kecil, kalau kau menuruti kemauanku, aku akan membuatmu hidup senang. Kau mau apa, pasti kukabulkan,"

Katanya.

"Aku menginginkan nyawamu,"

Sahut Ciok Giok Yin dengan dingin.

"Bagus! Pasti kuserahkan nyawaku padamu!"

Kata hweshio gemuk itu lalu menubruk ke arah Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin berkertak gigi seraya membentak.

"Roboh kau!"

Dia langsung menyerang hweshio gemuk itu dengan menggunakan tujuh bagian lwee kangnya.

Terdengar suara menderu-deru dan terasa pula hawa yang amat panas.

Bukan main terkejutnya hweshio gemuk itu!

Dia segera berkelit, namun masih tersambar angin pukulan itu, membuat nafasnya menjadi sesak.

Kini sekujur badan hweshio gemuk itu agak gemetar, sebab dia tahu bahwa dirinya sedang menghadapi lawan yang tangguh.

Di saat bersamaan, terdengar suara dari dalam.

"Suhu, kau harus berhasil menangkapnya, agar aku dapat menghukumnya!"

"Kau memang tak tahu malu, sudah tiada kesempatan bagimu!"

Bentak Ciok Giok Yin. Kemudian, dia menyerang hweshio gemuk itu lagi. Hweshio gemuk itu tahu akan kelihayan Ciok Giok Yin maka dia cepatcepat berkelit.

"Bocah, sambutlah!"

Bentaknya.

Mendadak dia membuka mulutnnya, dan seketika tersembur ke luar uap putih ke arah Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin tidak tahu akan kelihayan uap putih itu, langsung mendorongkan sepasang tangannya ke depan.

Plak!

Uap putih itu buyar.

Ciok Giok Yin merasakan adanya hawa panas menjalar ke atas dari lengannya, namun dia tidak memperhatikannya.

Tiba-tiba hweshio gemuk itu tertawa gelak-gelak.

"Bocah, kau suah terkena Mo Hwe Tok (Racun Api lblis)! Kalau kau tidak menuruti kehendakku dalam waktu enam puluh hari kau pasti mati hangus! Ha ha ha...!"

Ciok Giok Yin tidak menyangka bahwa uap putih yang disemburkan hweshio gemuk itu adalah Racun Api Iblis.

Walau dia memiliki Sam Yang Hui Kang, namun tidak dapat memunahkan racun tersebut.

Tetapi dia juga tidak percaya bahwa Racun Api Iblis begitu lihay.

Karena dia tidak merasakan apa-apa, cuma merasa ada hawa panas mengalir ke atas bahunya.

Saat ini, kegusaran Ciok Giok Yin semakin memuncak.

"Keledai gundul, kau harus mati!"

Bentaknya.

Dengan mata membara dia melangkah maju perlahan-lahan.

Sebetulnya siapa hweshio gemuk itu?

Ternyata adalah Mo Hwe Hud (Buddha Api Iblis).

Dia merupakan iblis yang amat terkenal di dunia persilatan.

Dulu dia pernah dikeroyok oleh kaum rimba persilatan.

Namun ilmu sifatnya amat tinggi, maka dia berhasil meloloskan diri, sehingga puluhan tahun lamanya dia tidak pernah muncul di dunia persilatan.

Oleh karena itu, kaum rimba persilatan mengiranya telah mati.

Justru tiada seorang pun tahu bahwa dia berada di tempat ini.

Ketika melihat Ciok Giok Yin maju selangkah demi selangkah, terkejut juga hati Mo Hwe Hud, tanpa sadar dia mundur dua langkah.

"Bocah, kalau aku mati, tiada yang mengobatimu,"

Katanya dingin sambil tersenyum.

"Sambut pukulanku!"

Bentak Ciok Giok Yin.

Mendadak telapak tangannya berkelebat.

Ternyata dia telah mengeluarkan jurus pertama dari ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Terdengar suara jeritan, menyusul terdengar Mo Hwe Hud berkata sengit.

"Bocah, akan kubalas kau kelak!"

Mo Hwe Hud memang hebat.

Dia berhasil lolos dari ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Dalam keadaan telanjang bulat dia melesat ke atap kuil, kemudian tampak bayangannya berkelebat lalu lenyap dari padangan Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin cepat-cepat melesat ke atap kuil seraya berseru.

"Mau kabur ke mana?"

Namun ketika dia berada di atap kuil, Mo Hwe Hud sudah tidak kelihatan bayangannya.

Seketika Ciok Giok Yin teringat pada Tong Eng Kang, maka segera meloncat turun.

Dia tidak akan melepaskannya, sebab Tong Eng Kang adalah musuh besarnya, lagi pula begitu tak tahu malu.

Kalau orang itu dibiarkan hidup, pasti akan mencelakai orang lain.

Ciok Giok Yin langsung melesat ke dalam ruangan itu.

Akan tetapi Tong Eng Kang sudah tidak kelihatan batang hidungnya.

Ternyata ketika melihat Mo Hwe Hud kabur, dia pun cepat-cepat melarikan diri.

Tiba-tiba terdengar suara di tempat jauh.

"Apakah kau adalah Kakak Yin? Cepat ke mari tolong aku!"

Ciok Giok Yin terentak, lalu segera melesat ke arah datangnya suara itu.

Suara tersebut amat dikenalnya, tidak lain adalah suara Fang Jauw Ceng, yang belum lama ini berpisah dengannya.

Ciok Giok Yin memasuki sebuah kamar, melihat Fang Jauw Cang terbujur di tempat tidur.

Ciok Giok Yin cepatcepat mendekatinya seraya memanggilnya.

"Adik...."

Air mata Fang Jauw Cang bercucuran.

"Kakak Yin, cepat bebaskan jalan darah di pinggulku!"

Katanya gemetar. Ciok Giok Yin segera membebaskan jalan darah di pinggang Fang Jauw Cang.

"Adik, bagaimana kau bisa terjatuh ke tangan mereka?"

Fang Jauw Cang bangkit berdiri. Sesungguhnya dia ingin langsung mendekap di dada Ciok Giok Yin, namun mendadak timbul rasa keraguannya. Maka dia berdiri diam di hadapan Ciok Giok Yin.

"Kakak Yin, aku sudah pulang memberitahukan pada ayah. Di saat itu juga ayah langsung pergi bersembunyi ke rumah kawannya,"

Katanya dengan air mata bercucuran.

"Mengapa kau tidak ikut ayahmu?"

Fang Jauw Cang menatapnya dengan air mata berderai-derai.

"Aku... aku..."

Sahutnya terputus-putus.

"Kenapa kau, Adik?"

"Aku ingin bersama Kakak Yin berkelana di dunia persilatan,"

Fang Jauw Cang terisak-isaak.

"Tak disangka ketika semalam berada di penginapan, aku mencium bau aneh, lalu tak sadarkan diri. Setelah siuman, aku mendapatkan diriku berada di dalam sebuah tandu."

"Jadi mereka yang membawamu ke mari?"

Fang Jauw Cang mengangguk.

"Ya. Kalau Kakak Yin tidak segera muncul, entah apa yang akan terjadi atas diriku?"

Sepasang mata Ciok Giok Yin menyorot tajam.

"Aku terlampau ceroboh, sehingga mereka berhasil meloloskan diri."

"Kakak Yin, siapa mereka itu?"

"Yang muda adalah musuh besarku. Setahun yang lalu aku nyaris mati di tangannya. Sedangkan hweshio gemuk itu adalah ketua kuil ini, dia adalah Mo Hwe Hud."

Bukan main terkejutnya Fang Jauw Cang! "Mo Hwe Hud?"

"Ng!"

"Bagaimana mereka?"

Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala.

"Mereka berdua sama-sama tak tahu malu,"

Sahutnya dengan sengit.

"Maksud Kakak Yin...."

"Yang satu hobi homo, yang satu lagi senang melayaninya."

Mendengar itu, wajah Fang Jauw Cang langsung memerah dan hatinya berdebar-debar.

'Untung mereka belum tahu jelas diriku!' Katanya dalam hati.

Mendadak dia menggenggam tangan Ciok Giok Yin erat-erat lalu berkata.

"Tadi sepertinya aku dengar ada orang bilang kau terkena racun. Benarkah itu?"

Hati Ciok Giok Yin terharu atas perhatian Fang Jauw Cang yang begitu besar terhadap dirinya, maka dia pun balas menggenggam tangannya lalu menyahut.

"Kita harus mencari sebentar, apakah ada obat pemuhannya?"

Ciok Giok Yin tidak menjelaskan, langsung menarik Fang Jauw Cang ke ruang ketua kuil.

Akan tetapi mereka berdua sudah menggeledah seluruh kuil itu, namun tidak menemukan obat penawar racun.

Selain itu, juga tidak menemukan hweshio lain di dalam kuil itu.

Betul-betul di luar dugaan Ciok Giok Yin, sebab kamar-kamar yang ada di situ semuanya dalam keadaan kosong.

Fang Jauw Cang tampak gugup.

"Kakak Yin, sungguhkah kau terkena racun?"

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Aku memang terkena racun Hwe Mo Kang. Saat itu aku cuma merasa ada hawa panas mengalir ke atas bahuku. Tapi... tidak merasakan lain."

Seketika air mata Fang Jauw Cang mulai bercucuran lagi, kemudian dia berkata dengan suara agak gemetar.

"Kakak Yin, aku pernah dengar bahwa Mo Hwe Hud telah banyak melakukan kejahatan di dunia persilatan dan ilmu Mo Hwe Kangnya amat lihay. Bagaimana baiknya?"

"Akan kupikirkan perlahan-lahan."

"Kita justru tidak bisa menunggu."

"Apa boleh buat. Karena sudah terlanjur terjadi dicemaskan juga tiada gunanya. Kalau tiada obat penawarnya, paling juga pasrah."

Mendadak Fang Jauw Cang berkata.

"Ada satu orang bisa memunahkan racun itu."

"Siapa?"

"Seng Ciu Suseng (Sastrawan Brtangan Mujizat) Seh Ing."

"Seng Ciu Suseng-Seh Ing?"

"Ya."

Ciok Giok Yin berkertak gigi.

"Adik, kau kenal orang itu?"

Katanya dengan suara dalam. Ketika melihat sikap Ciok Giok Yin, Fang Jauw Cang menjadi merinding, dan tanpa sadar kakinya menyurut mundur dua langkah.

"Kakak Yin, kau..."

Katanya terputus.

"Apakah kau kenal dia?"

Tanya Ciok Giok Yin dengan dingin. Dengan menggelengkan kepala lalu menyahut.

"Aku cuma dengar dari ayahku, bahwa dia dapat menyembuhkan berbagai macam racun dan penyakit aneh Kalau bisa bertemu dia, racun Mo Hwe Kang pasti dapat dipunahkan."

Ciok Giok Yin menggenggam tangan Fang Jauw Cang eraterat seraya bertanya dengan serius.

"Kau tahu di mana tempat tinggalnya?"

Kini Fang Jauw Cang yang terheran-heran.

"Aku tidak begitu jelas, namun kita bisa mencari informasi tentang dirinya,"

Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Kakak Yin, kau kenal dia?"

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

Ternyata dia teringat akan kitab cacatan peninggalan suhunya, di dalamnya tercantum nama Seng Ciu Suseng, salah seorang Kang Ouw Pat Kiat.

Ilmu silatnya tidak begitu tinggi, namun mahir dalam hal racun, sepasang kaki suhunya justru diracuninya.

Berselang sesaat, Ciok Giok Yin berkata.

"Tidak kenal, namun aku harus mencari orang itu.

"Kau punya dendam dengannya?"

"Boleh dikatakan demikian."

"Kalau begitu...."

Ciok Giok Yin segera mengalihkan pembicaraan.

"Adik, di dunia persilatan banyak bahayanya, lebih baik kau kembali ke tempat ayahmu. Mengenai Seng Ciu Suseng, aku pasti dapat mencarinya,"

Katanya. Fang Jauw Cang menggelengkan kepala.

"Tidak, aku harus ikut kau."

Sesungguhnya Ciok Giok Yin bukan tidak mau melakukan perjalanan bersama Fang Jauw Cang.

Namun mengingat musuhnya di mana-mana, setiap hari bergumul dengan bahaya, kalau dirinya terjadi sesuatu, tentu Fang Jauw Cang juga akan ikut celaka.

Oleh karena itu dia berkata.

"Adik terimakasih atas petunjukmu. Tapi biar bagaimanapun kau harus kembali ke tempat ayahmu. Kalau aku masih punya nyawa pasti ke sana menengokmu."

Mendengar itu, air mata Fang Jauw Cang mulai mengucur lagi.

"Kau tidak suka bersamaku?"

Katanya dengan perlahan.

"Bukan itu. Adik masih punya ayah, maka tidak boleh membuat ayahmu cemas. Kau harus kembali ke sana mengurusi ayahmu, barulah merupakan anak yang berbakti."

"Ayahku masih sehat segar...."

"Tidak, aku tidak setuju akan tindakanmu ini."

Kini Fang Jauw Cang sudah yakin bahwa Ciok Giok Yin amat menyayanginya dan penuh perhatian pula.

Sesungguhnya dia ingin menutur tentang dirinya, namun justru sulit untuk membuka mulut.

Dia amat membenci topi yang dipakainya.

Dua kali dia bertemu Ciok Giok Yin, tapi tidak melepaskan topi itu.

Seandainya topi itu dilepaskan....

Dia tidak mau berpikir lagi, langsung berkata.

"Kakak Yin, aku punya satu permintaan."

"Katakanlah, Dik!"

"Kini aku mendengar perkataanmu, namun dua bulan kemudian, tidak perduli kau berhasil mencari Seng Ciu Suseng atau tidak, kita harus bertemu di tempat ini. Apabila kau tidak mengabulkan, aku tidak mau menuruti perkataanmu."

Menurut Mo Hwe Hud, racun Mo Hwe Kang akan mengganas dua bulan kemudian, membuatnya mati hangus.

Ini baik juga, sebab kalau tidak bias memunahkan racun tersebut, dia akan menitip beberapa pesan pada Fang Jauw Gang.

Oleh karena itu, Ciok Giok Yin manggut-manggut sekarang dan berkata.

"Baik, begini saja!"

"Tetapi janji!"

"Tentu!"

Air mata Fang Jauw Cang mulai berlinang-linang lagi. Dia terus memandang Ciok Giok Yin. Hening seketika. Berselang sesaat, Ciok Giok Yin berkata.

"Adik, jaga dirimu baik-baik dan sampaikan salamku pada ayahmu!"

Usai berkata, Ciok Giok Yin melesat pergi.

Dalam perjalanan, Ciok Giok Yin terus berpikir, kalau dia tidak berhasil mencari Seng Ciu Suseng, dirinya pasti akan mati keracunan.

Akan tetapi, Seng Ciu Suseng justru musuh besar suhunya.

Seadainya bertemu, bagaimana mungkin dirinya dapat menekan hawa amarahnya?

Dan juga bagaimana mungkin Seng Ciu Suseng akan memunahkan racun Mo Hwe Kang yang mengidap di dalam tubuhnya?

Apabila benar Seng Ciu Suseng yang memunahkan racun tersebut, lalu bagaimana turun tangan membunuhnya?

Berselang beberapa saat mendadak sepasang mata Ciok Giok Yin menyorot dingin dan dia bergumam dengan perlahan-lahan.

"Ciok Giok Yin, kau tidak boleh cuma memikirkan diri sendiri. Setahun lalu kalau suhu tidak menyelamatkanmu, apakah hari ini kau masih hidup? Demi membalas budi suhu, kau harus singkirkan urusanmu sendiri, agar dapat menuntut balas dendam suhu. Seandainya mati keracunan, tidak jadi masalah."

Tiba-tiba dia teringat sesuatu yang amat penting, yaitu sebelum mati, dia harus perbi mencari Can Hai It Kiam untuk mengambil sepucuk surat agar jelas asal-usulnya, jadi tidak akan mati penasaran karena tidak tahu asal-usulnya.

Teringat akan hal tersebut, dia langsung berangkat ke Gunung Cong Lam Sam.

Dalam perjalan ini, dia melihat sebuah rimba.

Di saat baru mau memasuki rimba itu, dia melihat empat orang berpakaian hitam sedang duduk di situ.

Baju hitam mereka bersulam sepasang burung walet.

Itu pertanda mereka adalah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

Mulut mereka menyemburkan uap putih menutupi wajah, sehingga Ciok Giok Yin tidak dapat melihat jelas wajah mereka.

Ketika Ciok Giok Yin tahu bahwa mereka adalah orang-orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee, darahnya rasanya langsung bergolak.

Dia menerogos ke dalam seraya membentak.

"Tidak membasmi kalian...."

Belum usai membentak, dia sudah berada di hadapan keempat orang itu.

Mendadak dia merasa ada hawa yang amat dingin, dan itu membuatnya sulit untuk melangkah maju.

Di saat itulah terdengar suara yang bernada sangat dingin.

"Bocah, kami yakin kau akan ke mari!"

Sementara uap putih itu telah buyar, maka wajah mereka berempat tampak dengan jelas. Begitu melihat wajah keempat orang itu Ciok Giok Yin langsung berseru.

"Si Peng Khek (Empat Manusia Es)!"

Salah seorang dari Si Peng Khek tertawa terkekeh-kekeh lalu menyahut.

"Tidak salah!"

Seketika hati Ciok Giok Yin terasa dingin, karena dia tahu kepandaian keempat orang itu amat tinggi.

Hari itu di luar lembah Bu Ceng Kok, kalau dia tidak ditolong oleh orang tua bongkok, mungkin....

Namun sifat Ciok Giok Yin memang angkuh.

Dia tidak merasa gentar, tapi sebaliknya malah timbul keberaniannya.

"Kalian berempat bisa bergaul dengan para penjahat untuk mencelakai kaum rimba persilatan, maka hari ini kalian harus mampus!"

Bentaknya sengit. Salah seorang dari Si Peng Khek menyahut dingin.

"Bocah, hari ini adalah hari kematianmu!"

Keempat orang itu segera bangkit berdiri lalu mengepung Ciok Giok Yin agar tidak bisa melarikan diri.

Ciok Giok Yin menyurt mundur tiga langkah.

Salah seorang dari Si Peng Khek tertawa dingin lalu berkata.

"Bocah, kau takut?"

Ucapan tersebut membangkitkan kegusaran Ciok Giok Yin.

"Aku akan membunuh kalian berempat!"

Bentaknya.

Kemudian dia menyerang keempat orang itu dengan sengit.

Bukan main dahsyatnya serangan yang dilancarkan Ciok Giok Yin.

Di saat bersamaan, Si Peng Khek bersiul aneh sekaligus mendorongkan tangannya ke arah Ciok Giok Yin.

Tidak terdengar suara apa pun, namun sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi amat dingin dan terdorong ke belakang lima langkah.

Di saat dia baru mau melancarkan pukulan Hong Lui Sam Ciang, mendadak terdengar suara siulan panjang, menyusul tampak sesosok bayangan merah melayang turun di tempat itu.

Ciok Giok Yin langsung berseru.

"Lo cianpwee!"

Ternyata yang datang itu Heng Thian Ceng.

Ketika menyaksikan keadaan di tempat itu kening Heng Thian Ceng tampak berkerut-kerut.

Heng Thian Ceng tahu Si Peng Khek berkepandaian amat tinggi dan merupakan lawan tangguh.

Namun dia sendiri adalah wanita iblis yang membunuh orang tanpa mengedipkan mata.

Dia tidak menghiraukan Ciok Giok Yin, hanya berkata dengan dingin pada Si Peng Khek.

"Kalian berempat manusia es, juga berani malang melintang?"

Si Peng Khek sudah melihat siapa yang muncul itu. Mereka berempat tertawa terkekeh-kekeh, kemudian salah seorang diantaranya mengejek.

"Parasmu yang tidak karuan itu juga ingin cari daun muda? Kami akan suruh kau mati bersamanya!"

Kemudian Si Peng Khek maju dengan serentak. Heng Thian Ceng menggeram.

"Cari mati!"

Sepasang tangannya bergerak dengan cepat menyerang mereka.

Sedangkan Ciok Giok Yin juga tidak tinggal diam, langsung menyerang Si Peng Khek dengan jurus pertama Hong Lui Sam Ciang.

Tampak telapak tangannya berkelebat ke arah Si Peng Khek.

Akan tetapi, kepandaian Si Peng Khek memang amat tinggi sekali.

Mereka bergerak cepat laksana kilat mengelak serangan itu.

Mulut mereka berempat pun mengeluarkan suara 'Huh!

Huh!

Huh!' membuat Heng Thian Ceng dan Ciok Giok Yin menggigil seperti kedinginan.

Mendadak Heng Thian Ceng mencelat ke belakang sambil berkata pada Ciok Giok Yin.

"Bocah, maafkan aku tiada kemampuan membantumu."

Heng Thian Ceng melesat pergi dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya.

Ciok Giok Yin sama sekali tidak menyangka kalau Heng Thian Ceng akan meninggalkannya.

Kini tinggal dia seorang diri, kelihatannya sulit untuk lolos dari tangan Si Peng Khek.

Akan tetapi dia sama sekali tidak mundur.

Dia berkertak gigi sambil mengerahkan lwee kangnya, siap menyerang dengan jurus kedua Hong Lui Sam Ciang.

Di saat bersamaan badan Si Peng Khek bergerak dan mulut mereka terus mengeluarkan suara 'Huh!

Huh....' Suara itu semakin tinggi, membuat Ciok Giok Yin merasa dingin sekali.

Dia ingin mengerahkan Sam Yang Hui Kang, namun tidak bisa, karena sekujur badannya sudah kedinginan hingga kaku.

Kelihatannya Ciok Giok Yin akan celaka di tangan Si Peng Khek, namun mendadak tampak sebuah benda kecil meluncur turun, bukan main cepatnya!

Cess!

Ternyata sebuah panji kecil warna merah, menancap di tanah.

Panji merah itu bergambar sekepal rambut panjang.

Begitu melihat panji merah itu wajah Si Peng Khek langsung berubah dan cepat-cepat menyurut mundur.

"Pek Hoat Hujin!"

Seru Si Peng Khek.

Keempat orang itu melototi Ciok Giok Yin, lalu membalikkan badan meninggalkan tempat itu.

Di saat bersamaan, tampak sesosok bayangan merah berkelebat ke luar dari rimba, ternyata adalah Heng Thian Ceng.

"Cepat kabur!"

Serunya gugup.

Kemudian, Heng Thian Ceng mencabut panji merah kecil itu dan menarik Ciok Giok Yin untuk diajak melesat pergi.

Sikap dan tindakan Heng Thian Ceng itu sungguh mencengangkan Ciok Giok Yin, namun dia tetap mengikutinya melesat pergi.

Berselang sesaat, barulah mereka memperlambat langkahnya.

"Lo cianpwee, mengapa sedemikian gugup?"

Tanya Ciok Giok Yin dengan heran. Heng Thian Ceng menyahut.

"Si Peng Khek dari perkumpulan Sang Yen Hwee merupakan tokoh yang amat terkenal dan sulit dilawan. Panji kecilku ini cuma dapat menakutinya sejenak, tidak bisa mengelabuinya terlalu lama, mungkin...."

Mendadak terdengar suara siualn yang amat nyaring di tempat jauh, Heng Thian Ceng langsung menarik Ciok Giok Yin untuk diajak bersembunyi di semak-semak.

Tak lama suara siulan itu makin lama makin mendekat, setelah itu kedengaran menjauh.

Barulah Heng Thian Ceng menarik nafas lega.

"Selanjutnya kalau kau berjumpa dengan mereka berempat, harus lebih berhati-hati!"

Katanya kepada Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin menatap panji kecil yang berada di tangan Heng Thian Ceng.

"Terimakasih atas pertolongan lo cianpwee. Panji kecil ini..."

Katanya. Heng Thian Ceng menyahut.

"Enam puluh tahun yang lampau, Pek Hoat Hujin amat ditakuti golongan hitam mau pun golongan putih. Asal panji kecil merah ini muncul, berarti jejaknya dan tiada seorang pun kaum persilatan yang tidak kabur."

Dia menarik nafas panjang.

"Namun kini dia masih hidup atau sudah mati, tiada seorang pun tahu. Puluhan tahun ini, tidak ada seorang pun melihat wajahnya."

"Kalau begitu, mengapa kaum rimba persilatan begitu takut padanya?"

"Memang begitu, karena namanya telah menciutkan nyali kaum rimba persilatan, maka begitu panji merah kecil ini muncul, siapa pun pasti melarikan diri."

"Kalau begitu, dari mana lo cianpwee memperoleh panji merah kecil ini?"

Wajah Heng Thian Ceng tampak kemerah-merahan.

"Kubuat sendiri, agar dapat dipergunakan apabila perlu."

Ciok Giok Yin teringat bahwa belum lama ini panji merah kecil itu muncul beberapa kali, justru di saat dia dalam keadaan bahaya. Maka, dia segera bertanya.

"Belum lama ini aku melihat beberapa kali panji merah kecil ini, apakah juga...."

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, Heng Thian Ceng sudah memotongnya.

"Tentang itu aku pun merasa curiga, mungkinkah Pek Hoat Hujin masih hidup? Kalau tidak, pasti muridnya. Namun, aku sama sekali tidak pernah mendengar tentang itu."

"Bagaimana Pek Hoat Hujin terhadap orang?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Sulit sekali dikatakan, dan juga tidak bisa diperbincangkan."

Heng Thian Ceng memandang Ciok Giok Yin.

"Bocah, kau datang dari mana?"

Ciok Giok Yin menutur tentang apa yang terjadi, setelah itu menambahkan.

"Lo cianpwee, aku terkena racun Mo Hwe Tok."

"Mo Hwe Tok?"

"Ng!"

"Kau harus cepat-cepat mengobati."

"Aku tahu, tapi... Mo Hwe Hud telah melarikan diri, maka tiada obat penawarnya."

Heng Thian Ceng mengerutkan kening, lama sekali dia berpikir. Mendadak sepasang matanya menyorot tajam dan dia berkata.

"Kalau begitu, kita harus pergi mencari Pek Jau Lojin."

"Pek Jau Lojin?"

"Tidak salah."

"Dia punya obat penawar racun Mo Hwe Tok?"

"Selama ini Pek Jau Lojin selalu mengumpulkan berbagai macam rmput obat. Dengar-dengar dia juga punya Toan Teng Cau (Rumput Pemutus Usus). Rumput obat itu bukan cuma dapat memunahkan berbagai macam racun, bahkan setelah makan rumput obat itu, selanjutnya akan kebal terhadap berbagai macam racun."

Mendengar itu, sepasang mata Ciok Giok Yin langsung bersinar-sinar.

"Di mana tempat tinggal Pek Jau Lojin?"

"Dia tinggal di Hian Peng Hong (Puncak Es) di Gunung Soat San."

"Aku ingin ke sana mencarinya."

"Kau ingin minta obat penawar racun itu?"

"Ng!"

"Sifat Pek Jau Lojin amat aneh. Bagaimana mungkin begitu gampang dia memberikan obat penawar racun itu padamu?"

"Biar bagaimanapun aku harus berangkat ke sana."

Ciok Giok Yin memang telah membulatkan hatinya untuk memperoleh rumput obat Toan Teng Cau.

Dia tidak mau menunggu mati tanpa berusaha, sebab masih banyak urusan yang harus diselesaikan.

Oleh karena itu, dia memberi hormat pada Heng Thian Ceng seraya berkata.

"Terimakasih atas petunjuk lo cianpwee."

Ciok Giok Yin membalikkan badannya, tetapi ketika baru mau melesar pergi mendadak Heng Thian Ceng berseru.

"Tunggu!"

"Apakah lo cianpwee tidak ada urusan lain?"

Katanya sambil menatap wajah itu.

"Jangan cerewet, mari berangkat!"

Begitu menandaskan, badan Heng Thian Ceng pun bergerak, ternyata dia sudah melesat pegi.

Ciok Giok Yin tidak berani berlaku ayal, langsung melesat mengikutinya dari belakang.

Mereka berdua memiliki ilmu ginkang yang amat tinggi, maka tidak mengherankan kalau cuma tampak, bayangan mereka berkelebat laksana kilat.

Pada hari ketiga, ketika hari mulai sore, mereka berdua sudah tiba di puncak Gunung Soat San.

Bukan main indahnya puncak gunung itu!

Sejauh mata memandang, puncak gunung tersebut sepertinya dibikin dari kaca.

Wajah Heng Thian Ceng kelihatan serius.

Dia membawa Ciok Giok Yin melesat di puncak gunung itu.

Tempat tersebut amat bahaya.

Maka meskipun mereka berdua memiliki ilmu ginkang tingkat tinggi, namun tidak berani berlaku ceroboh.

Hian Peng Hong (Puncak Es) sungguh merupakan tempat yang amat dingin!

Kalau mereka berdua tidak memiliki lwee kang yang tinggi, mungkin sudah mati kedinginan.

Di tempat tersebut tidak tampak rerumputan maupun pepohonan, yang tampak hanya es yang gemerlapan.

Heng Thian Ceng melihat ke sana ke mari, kemudian berkata.

"Makhluk tua itu entah tinggal di mana?"

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Lo cianpwee juga tidak tahu tempat tinggalnya?"

"Kalau dia masih hidup, jangan khawatir tidak dapat mencarinya."

Mendadak Heng Thian Ceng menghentikan langkahnya.

"Bocah! Kau harus ingat! Menghadapi orang yang bersifat aneh, kau harus sabar! Jangan bersikap bengis atau angkuh, yang penting harus memperoleh obat itu,"

Katanya dengan serius.

Ciok Giok Yin tidak menyangka bahwa Heng Thian Ceng berpikir sepanjang begitu.

Padahal Heng Thian Ceng sendiri juga tergolong orang yang bengis, angkuh dan kejam pula.

Dia berpesan seperti itu kepada Ciok Giok Yin, pertanda amat memperhatikannya.

Oleh karena itu, Ciok Giok Yin manggutmanggut.

"Ya. Terimkasih atas petunjuk lo cianpwee."

Mereka berdua mulai melesat, kemudian turun ke bawah. Tiba-tiba terdengar suara seruan di tempat yang tinggi.

"Hati-hati!"

Suara seruan itu belum sirna, sudah terdengar suara hiruk pikuk dan puncak Gunung Soat San itu pun tergoncanggoncang.

Buuummm!

Blammm...!

Tampak lapisan es di puncak gunung itu beterbangan, ternyata terjadi longsor.

Ciok Giok Yin langsung berseru.

"Lo cianpwee...!"

Namun bagaimana kerasnya suara Ciok Giok Yin, tidak dapat menindih suara gemuruh itu, maka suara seruannya tidak terdengar sama sekali.

Ciok Giok Yin tidak berhasil mengelak.

Tiba-tiba kepalanya terasa sakit terhantam sesuatu, lalu pingsan tak sadarkan diri.

Entah berapa lama kemudian, barulah dia siuman perlahan-lahan.

Dia membuka matanya, ternyata dirinya berada di dalam sebuah lembah.

Dia teringat akan kejadian longsor tadi dan seketika sekujur badannya menjadi merinding.

Nyawanya boleh dikatakan dipungut kembali, tidak terduga dia masih bisa hidup.

Ciok Giok Yin segera duduk bersila menghimpun hawa murninya.

Setelah tidak merasa ada sesuatu dalam tubuhnya barulah dia berlega hati.

Dia tahu mengapa dirinya pingsan, tidak lain karena kepalanya terhantam oleh bongkahan es.

Dia segera bangkit berdiri dan berseru sekeras-kerasnya.

"Lo cianpwee! Lo cianpwee...!"

Cuma terdengar suaranya yang berkumandang, tidak terdengar suara sahutan sama sekali. Betapa sedihnya hati Ciok Giok Yin.

"Lo cianpwee, aku yang mencelakaimu, bagaimana hatiku bisa tenang?"

Gumamnya dengan mata berkaca-kaca.

Usai bergumam, dia mengambil keputusan untuk mencari mayat Heng Thian Ceng, setelah itu baru mencari Pek Jau Lojin untuk minta rumput Toan Teng Cau.

Sementara hari sudah mulai gelap, namun matanya yang tajam itu dapat melihat dengan jelas dalam jarak sepuluh depa.

Akan tetapi dinginnya malam itu terasa menusuk ke dalam tulang.

Meskipun dia memiliki lwee kang tinggi, namun tidak berhasil mengusir rasa dingin di dalam tubuhnya.

Di saat dia baru mau meninggalkan lembah itu, mendadak melihat sebuah goa di dinding tebing.

Dia memandang ke dalam goa tersebut.

Di dalamnya sunyi senyap, sepertinya goa alam yang tiada penghuninya.

Sebetulnya dia tidak ingin memasuki goa itu.

Tapi karena merasa heran dan tertarik, akhirnya dia masuk juga.

Baru beberapa langkah, dia berjalan di dalam goa itu, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang amat dingin.

"Berhenti!"

Ciok Giok Yin tersentak dan langsung berhenti sambil menengok ke sana ke mari mencari orang yang membentak itu.

Akan tetapi, di dalam goa itu tidak tampak seorang pun.

Berselang sesaat, terdengar lagi suara dingin itu.

"Kau harus segera mundur! Kalau tidak, aku tidak akan berlaku sungkan-sungkan terhadapmu!"

Begitu mendengar suara itu, timbullah sifat angkuh Ciok Giok Yin.

"Kau mau apa?"

Sahutnya dengan dingin pula.

"Membunuhmu!"

Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hmm! Mengapa kau ingin membunuhku?"

"Pokoknya kau tidak boleh masuk!"

Ciok Giok Yin tertawa gelak, lalu bertanya.

"Siapa kau?"

"Pek Jau Lojin!"

"Apa? Pek Jau Lojin?"

"Tidak salah! Cepatlah kau enyah!"

"Aku justru sedang mencarimu!"

"Cari aku?"

"Ng!"

"Ada urusan apa?"

Ciok Giok Yin menyahut memanasi hati Pek Jau Lojin.

"Aku ke mari ingin menemuimu sebab kudengar kau bersifat baik! Namun sekarang kelihatannya kau tidak seperti apa yang dikatakan orang. Kau merupakan mahluk aneh yang bersifat kasar, maka sia-sialah perjalanan ini!"

Mendadak terdengar suara desiran angin.

Tampak sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu sudah berada di hadapan Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin langsung memandang ke depan.

Dilihatnya seorang tua berambut putih berdiri di hadapannya.

Sepasang matanya menyorot tajam, terus menatap Ciok Giok Yin.

"Bocah! Masih ada seorang wanita, ke mana dia?"

Ciok Giok Yin tertegun.

"Kau melihatnya?"

"Tentu."

"Kawanku itu mungkin telah mati terhantam longsoran es, namun aku belum menemukan mayatnya. Pek Jau Lojin menatapnya dengan mata tak berkedip kemudian bertanya.

"Sebetulnya mau apa kalian ke mari?"

"Mau minta rumput Toan Teng Cau!"

Jawab Ciok Giok Yin. Pek Jau Lojin tertawa dingin lalu bertanya.

"Toang Teng Cau?"

"Ng!"

"Tahukah kau lohu punya peraturan?"

"Peraturan apa?"

"Kalau kau kuat menerima tiga pukulan lohu, maka kau akan mendapatkan rumput itu secara cuma-cuma!"

"Kalau aku tidak kuat menerima tiga pukulan itu?"

"Kau pasti mati di tempat ini!"

Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Baik kalau begitu."

Sepasang mata Pek Jau Lojin menyorot tajam dan kemudian dia membentak.

"Bocah, di luar goa saja!"

"Mengapa?"

"Lohu tidak menghendakimu mati di dalam goa!"

Pek Jau Lojin langsung melesat ke luar.

Bukan main cepatnya gerakan orang tua itu!

Ciok Giok Yin juga melesat ke luar mengikuti di belakangnya.

Sampai di luar, hatinya agak berdebar-debar tegang.

Dia ke mari demi memperoleh rumput Toan Teng Cau, untuk menyelamatkan nyawanya, maka...

Mendadak Pek Jau Lojin membentak keras.

"Terimalah pukulanku!"

Pek Jau Lojin telah melancarkan sebuah pukulan ke arah Ciok Giok Yin.

Pukulan itu dahsyat sekali sehingga menimbulkan suara menderu-deru.

Ciok Giok Yin mengerahkan lwee kangnya lalu berkertak gigi sambil menerima pukulan tersebut.

Bum!

Badan Ciok Giok Yin terpental ke atas lalu jatuh gedebuk dan mulutnya menyemburkan darah segar.

Akan tetapi rasa ingin hidup mendukung semangatnya sehingga membuatnya bangkit perlahan-lahan.

Sepasang matanya menatap Pek Jau Lojin dengan penuh kebencian lalu dia maju ke hadapan Pek Jau Lojin dengan langkah sempoyongan.

Pek Jau Lojin sudah siap melancarkan pukulan kedua, tapi tiba-tiba terdengar suara keras.

"Bocah, jangan!"

Tampak sosok bayangan merah melayang turun. Ciok Giok Yin memandang bayangan merah itu, ternyata Heng Thian Ceng.

"Lo cianpwee, harap mundur!"

Katanya segera. Saat ini Pek Jau Lojin sudah menurunkan tangannya, menatap mereka berdua dengan dingin sekali. Sedangkan Heng Thian Ceng melototinya, kemudian bertanya.

"Kau adalah Pek Jau Lojin?"

"Tidak salah, siapa kau?"

"Heng Thian Ceng."

"Mau apa kau ke mari?"

"Aku ingin bertanya satu hal padamu."

"Tanyalah!"

"Kau memiliki rumput Toan Teng Cau, lalu untuk apa disimpan?"

"Mengobati penyakit."

Heng Thian Ceng tertawa dingin lalu berkata.

"Kalau untuk mengobati penyakit, bocah ini justru terkena racun Mo Hwe Tok. Dia jauh-jauh datang ke mari demi mencari rumput Toan Teng Cau, mengapa kau malah turun tangan jahat terhadapnya?"

"Ini adalah peraturanku!"

"Kalau dia tidak mampu menerima tiga pukulanmu, bukankah dia akan mati penasaran di sini?"

"Dia... mati tiada hubungan apa-apa denganku!"

Kata-kata Pek Jau Lojin itu membuat kegusaran wanita iblis itu memuncak.

"Tua bangka, tak kusangka kau sedemikian tak berperasaan!"

Bentaknya.

Usai dia membentak, ketika baru mau turun tangan sekonyong-konyong teringat akan pesannya pada Ciok Giok Yin, harus sabar menghadapi Pek Jau Lojin, lalu mengapa dirinya sendiri tidak bisa bersabar?

Oleh karena itu, kegusarannya langsung mereda.

Setelah itu dia berkata dengan lembut.

"Kau sudah tua, mengapa harus keras kepala? Maaf, aku memberanikan diri menasehatimu. Lebih baik kau berikan Toan Teng Cau itu pada bocah ini!"

"Enak saja kau bicara!"

Ucapan Pek Jau Lojin itu menimbulkan kegusaran Heng Thian Ceng.

Kini dia betul-betul tidak dapat bersabar lagi.

Saat ini Ciok Giok Yin telah usai beristirahat.

Dia mau ke hadapan Heng Thian Ceng seraya berkata.

"Harap lo cianpwee mundur! Aku yakin dapat menerima pukulannya."

Sebelumnya Heng Thian Ceng tidak pernah merasa sayang terhadap siapa pun.

Namun kini begitu melihat wajah Ciok Giok Yin masih pucat pasi, timbullah rasa sayang dan simpati padanya.

Heng Thian Ceng menoleh memandang Pek Jau Lojin lalu bertanya dengan lantang.

"Bagaimana kalau aku mewakilinya menerima tiga pukulanmu?"

Pek Jau Lojin balik bertanya.

"Sesungguhnya siapa yang menghendaki rumput Toan Teng Cau? Kau atau dia?"

"Aku,"

Sahut Ciok Giok Yin cepat.

"Kalau begitu, kau masih harus menerima dua pukulanku!"

Ciok Giok Yin sama sekali tidak memperdulikan Heng Thian Ceng, langsung maju ke hadapan Pek Jau Lojin dan berdiri dengan sikap gagah.

Menyaksikan sikap Ciok Giok Yin, Heng Thian Ceng merasa kagum sekali.

Sedangkan Pek Jau Lojin menatap Ciok Giok Yin dengan bengis, kemudian membentak keras.

"Terimalah pukulanku?"

Bum!

Kali ini Ciok Giok Yin terpental hampir dua depa, kemudian jatuh gedebuk telentang di tanah.

Heng Thian Ceng cepat cepat menghampirinya.

Namun ketika dia baru mau memapahnya Ciok Giok Yin sudah bangkit berdiri.

Mulutnya mengeluarkan darah segar.

Wajahnya yang tampan itu, kini sudah berubah menjadi tak sedap dipandang, menyerupai wajah setan iblis bengis.

Dia tidak memperdulikan Heng Thian Ceng, melangkah maju dengan badan sempoyongan.

Sepasang matanya terus menatap Pek Jau Lojin dengan bengis dan penuh kebencian.

Mendadak dia berkata sepatah demi sepatah.

"Masih ada satu pukulan!"

Pek Jau Lojin betul-betul tidak berperasaan sama sekali. Sepasang matanya menyorot dingin, dia kemudian membentak.

"Aku menghendakimu mati!"

Dia langsung melancarkan pukulan terakhir yang paling dahsyat, menimbulkan suara gemuruh seperti kejadian longsor tadi.

Terdengar suara jeritan.

Kemudian semburan darah segar!

Tampak badan Ciok Giok Yin terpental ke atas, lalu jatuh ke bawah hampir tiga depa.

Sepasang mata Heng Thian Ceng tampak membara saking gusarnya.

Ketika dia baru mau turun tangan terhadap Pek Jau Lojin, Ciok Giok Yin bangkit berdiri, namun tak lama roboh lagi.

Pek Jau Lojin diam saja, lalu melesat ke dalam goa.

Sedangkan Heng Thian Ceng cepat-cepat mendekati Ciok Giok Yin lalu memeriksa detak jantungnya.

Ternyata Ciok Giok Yin menderita luka dalam yang amat parah.

Mengetahui keadaan Ciok Giok Yin bukan main gusarnya Heng Thian Ceng.

Dia mengambil keputusan untuk membunuh Pek Jau Lojin.

Namun ketika dia mau melesat ke dalam goa, tampak sosok bayangan berkelebat ke luar dari dalam goa, terdengar suara bentakan.

"Ambil, cepatlah kalian meninggalkan tempat ini!"

Terlihat suatu benda putih meluncur ke arah Heng Thian Ceng, lalu bayangan itu melesat kembali ke dalam goa.

Heng Thian Ceng menjulurkan tangannya menyambut benda putih itu, sekaligus dilihatnya.

Ternyata benda putih itu adalah buah yang menyerupai bola kaca, gemerlapan di tangan Heng Thian Ceng.

Heng Thian Ceng terbelalak.

Dia tahu bahwa itu adalah buah Toan Teng Ko.

Maka tanpa ayal lagi, dia langsung mengempit Ciok Giok Yin dan melesat ke luar meninggalkan lembah itu.

Sedangkan Ciok Giok Yin telah pingsan.

Sepasang matanya terpejam rapat, kelihatannya seperti sudah mati.

Dalam perjalanan Heng Thian Ceng berkata dalam hati.

'Urusan yang paling penting sekarang harus membiarkannya beristirahat agar kondisi badannya pulih.' Heng Thian Ceng menengok ke sana ke mari mencari goa, akan tetapi sepajang jalan yang dilaluinya hanya tampak salju dan es, tiada suatu tempat yang dapat di pergunakan untuk beristirahat.

Lagi pula ketika berada di tempat itu, nyali Heng Thian Ceng telah ciut lantaran kejadian longsor tadi.

Oleh karena itu dia sama sekali tidak berani menghentikan langkahnya.

Berselang beberapa saat kemudian, tampak sebuah goa alam.

Heng Thian Ceng membawa Ciok Giok Yin memasuki goa itu.

Kebetulan di saat itu Ciok Giok Yin siuman perlahan-lahan.

"Budi kebaikan lo cianpwee, aku...,"

Katanya perlahan-lahan. Heng Thian Ceng langsung menyergapnya.

"Bocah, cepat makan buah Toan Teng Ko ini dan himpun hawa murnimu, jangan membicarakan soal budi kebaikan di saat ini!"

Heng Thian Ceng menyodorkan buah itu ke hadapannya.

Ciok Giok Yin tertegun.

Ternyata ketika Pek Jau Lojin masuk ke dalam goa mengambil buah Toan Teng Ko, dia sudah pingsan, maka tidak tahu akan hal tersebut.

Ketika melihat buah tersebut berada di tangan Heng Thian Ceng, dia pun terbelalak seraya berseru.

"Buah Toan Teng Ko?"

"Lo cianpwee yang...."

Heng Thian Ceng langsung memotong perkataannya.

"Kau kok cerewet amat? Pek Jau Lojin yang mengambil buah ini. Cepat makan!"

Ciok Giok Yin mengambil buah tersebut lalu dimakannya.

Kemudian dia memandang Heng Thiar Ceng dengan penuh rasa terimakasih.

Setelah itu dia duduk bersila menghimpun hawa murninya.

Berselang beberapa saat kemudian, mendadak Ciok Giok Yin roboh.

Heng Thian Ceng yang menjaganya, ketika melihatnya roboh, bukan main terkejutnya.

Dia segera memeriksa detak jantung Ciok Giok Yin.

Sungguh di luar dugaan, detak jantungnya makin lemah.

Bahkan kedua tangan dan kakinya juga amat dingin sekali.

Justru di saat bersamaan, terdengar suara siulan panjang beberapa kali di tempat jauh yang makin lama makin dekat, lalu menjauh lagi.

Heng Thian Ceng berkertak gigi.

Dia tidak menyangka Pek Jau Lojin akan menipunya.

Namun dia sudah mengambil keputusan dalam hati, apabila Ciok Giok Yin mati, maka dia pun akan membunuh Pek Jau Lojin.

Sementara Ciok Giok Yin tetap dalam keadaan pingsan, tiada tanda-tanda dia akan siuman.

Heng Thian Ceng mengerutkan kening dan terus memandang Ciok Giok Yin dengan penuh keheranan, kemudian duduk di sampingnya.

Berselang beberapa saat, tampak uap putih keluar dari sekujur badan Ciok Giok Yin, dan itu membuat Heng Thian Ceng bertambah heran.

Beberapa saat setelah itu, uap putih tersebut mulai buyar.

Mendadak Ciok Giok Yin bangkit berdiri dan langsung memberi hormat kepada Heng Thian Ceng.

"Lo cianpwee, kini aku berhutang budi lagi pada lo cianpwee,"

Katanya.

"Budi apa? Tadi kau kelihatan seperti mati,"

Sahut Heng Thian Ceng.

"Lo cianpwee, buah Toan Teng Ko bukan buah biasa. Setelah makan buah itu, aku merasa ada aliran panas menerjang ke arah bagian hatiku. Sungguh tak tertahankan, mohon lo cianpwee sudi memaafkanku!"

"Bocah, mengapa tadi badanmu mengeluarkan uap putih?"

"Ketika aku siuman, langsung mengerahkan Sam Yang Hui Kang untuk menekan hawa panas itu."

Mendadak Heng Thian Ceng menjulurkan jari tangannya mencengkeram Ciok Giok Yin dan sepasang matanya menyorot bengis.

"Bocah, kau harus berkata sejujurnya!"

Katanya dengan suara dalam. Karena urat nadi Ciok Giok Yin tercengkeram, maka separuh badannya terasa semutan. Dia sama sekali tidak mengerti mengapa Heng Thian Ceng berbuat demikian terhadap dirinya.

"Untuk apa aku bohong?"

Sahutnya sengit.

"Aku harus bertanya satu hal padamu!"

"Tanyalah!"

"Dari mana kau peroleh ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang itu?"

Sambil menahan rasa sakit Ciok Giok Yin menyahut dingin.

"Karena lo cianpwee bertanya dengan cara demikian, aku tidak akan memberitahukan!"

"Kau menghendakiku bertanya dengan cara bagaimana?"

Seketika sifat angkuh Ciok Giok Yin timbul.

"Walau lo cianpwee sering menolongku, dan aku pun bersedia mati di tangan lo cianpwee, tapi aku tidak akan memberitahukan, kecuali...."

"Kecuali apa?"

"Kecuali memberitahukan hubungan lo cianpwee dengan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang itu!"

Sepasang mata Heng Thian Ceng melotot, lama sekali barulah dia melepaskan tangannya.

"Kau mau memberitahukan atau tidak, terserah! Aku tidak akan bertanya lagi!"

Usai berkata, Heng Thian Ceng membalikkan badannya. Namun ketika dia baru mau melesat pergi, Ciok Giok Yin yang merasa berhutang budi padanya, langsung memanggilnya.

"Lo cianpwee, harap tunggu sebentar!"

"Ada urusan apa?"

"Aku akan memberitahukan pada lo cianpwee. Hong Lui Sam Ciang itu diberikan dari Tiong Ciu Sin Ie. Beliau pernah mengobati seseorang, maka orang itu menghadiahkan padanya."

Heng Thian Ceng mengeluarkan suara 'Oh'. Setelah itu berkata.

"Hadiah dari orang yang diobatinya?"

"Ng!"

"Apakah dia bilang siapa orang itu?"

"Tidak."

Heng Thian Ceng menggeleng-gelengkan kepala lalu bergumam perlahan.

"Apakah dia?"

"Siapa?"

Tanya Ciok Giok Yin. Heng Thian Ceng mengerutkan kening.

"Sudahlah! Tidak usah dibicarakan!"

Justru pada waktu bersamaan terdengar beberapa kali suara siulan. Mereka berdua langsung melesat ke luar, ke arah suara siulan itu. Wajah Heng Thian Ceng tampak serius.

"Di tempat ini akan terjadi urusan apa?"

"Sulit dikatakan."

Ketika mereka berdua sampai di bawah tebing, dari atas meluncur turun benda hitam.

Duuuk!

Benda itu jatuh di hadapan mereka berdua, ternyata sesosok mayat.

Di saat bersamaan, terdengar pula suara 'Plak!

Plak' di atas tebing, disusul oleh suara bentakan.

Tidak salah lagi, di atas tebing itu telah terjadi pertarungan sengit.

"Lo cianpwee, mari kita ke atas melihat-lihat!"

Ajak Ciok Giok Yin. Heng Thian Ceng mengangguk, kemudian mereka berdua melesat ke atas. Tiba-tiba Heng Thian Ceng menarik lengan baju Ciok Giok Yin seraya berkata dengan serius.

"Bocah, sampai di atas kita jangan perlihatkan diri dulu!"

Ciok Giok Yin mengangguk, mereka berdua terus melesat ke atas tebing.

Tak lama kemudian mereka sampai di atas tebing lalu bersembunyi di belakang sebuah batu besar sambil mengintip.

Tampak dua orang sedang bertarung mati-matian dan begitu banyak kaum rimba persilatan berdiri di sana.

Di antara kaum rimba persilatan itu tampak pula ketua Sang Yen Hwee dan orang-orangnya.

Sementara kedua orang yang sedang bertarung itu mendadak mundur dua langkah.

Salah seorang tua berwajah bengis tertawa dingin kemudian berkata sepatah demi sepatah.

"Kitab Cu Cian memang berada di tanganku dan siapa punya kepandaian boleh ambil!"

Orang tua yang satu lagi menggeram lalu menerjang ke arah orang tua berwajah bengis itu.

Akan tetapi mendadak ketua Sang Yen Hwee membentak keras, lalu melesat ke arah orang tua berwajah bengis sekaligus menangkis serangannya.

Bum!

Terdengar suara benturan dahsyat dan menyusul suara jeritan yang menyayat hati.

Orang tua berwajah bengis itu telah binasa.

Kepalanya pecah sehingga darah dan otaknya berhamburan ke mana-mana.

Ketua Sang Yen Hwee maju mendekati mayat itu.

Di saat bersamaan orang tua yang tadi bertarung itu pun langsung melesat ke arah mayat tersebut, malah lebih cepat dari ketua Sang Yen Hwee dan segera menggeledah mayat itu.

"Kau berani!"

Bentak ketua Sang Yen Hwee.

Dia langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah kepada orang tua itu.

Orang tua itu berkelit, kemudian balas menyerang.

Ketika ketua Sang Yen Hwee baru mau menangkis sekonyongkonyong tampak sosok bayangan melesat ke sana cepatnya laksana kilat dan langsung menjulurkan tangannya.

Tahu-tahu sebuah bungkusan merah telah berpindah ke tangannya.

Dia tertawa nyaring lalu berkata.

"Maaf! Aku mohon diri!"

"Bangsat Bu Tok, kau sungguh licik, cepat turun kembali!"

Bentak ketua Sang Yen Hwee mengguntur. Namun terdengar suara seruan nyaring.

"Kalau tidak takut racun boleh kejar!"

Kaum rimba persilatan yang ada di tempat itu langsung berhambur mengejar.

Akan tetapi terdengar beberapa kali jeritan, ternyata empat orang di antara mereka telah roboh.

Ketua Sang Yen Hwee tersentak dan tidak berani mengejar orang membawa pergi bungkusan merah itu.

Sementara Ciok Giok Yin yang bersembunyi di belakang batu besar, begitu melihat kitab Cu Cian diambil orang, langsung muncul seraya membentak.

"Cepat taruh kitab Cu Cian itu!"

Kemudian dia melesat cepat mengejar Bu Tok Sianseng.

Sementara ketua perkumpulan Sang Yen Hwee yang berdiri termangu-mangu, ketika melihat kemunculan Ciok Giok Yin, walau mukanya ditutupi kain, namun masih tampak sepasang matanya menyorot penuh kebencian.

Badannya bergerak laksana kilat menghadang di hadapan Ciok Giok Yin.

"Bocah, hari ini kau harus mampus!"

Bentaknya sambil melancarkan pukulan.

Di saat bersamaan, mendadak tampak sebuah tandu kecil yang digotong dua wanita meluncur cepat ke tempat itu.

Gadis berbaju hijau yang mengiring tandu kecil itu, begitu sampai di tempat tersebut segera berseru lantang.

"Sian Ceng perintahkan kalian berhenti!"

Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee langsung mundur, tapi sepasang matanya terus menatap tandu kecil itu. Terdengar suara yang amat nyaring dari dalam tandu kecil itu.

"Apakah ketua perkumpulan Sang Yen Hwee punya dendam dengannya?"

"Tidak salah,"

Sahut ketua perkumpulan Sang Yen Hwee.

"Apa maksud Sian Ceng?"

Ternyata yang baru muncul itu adalah Thian Thay Siang Ceng. Terdengar suara sahutannya dad dalam tandu kecil.

"Kau menghendaki dia hidup atau mati?"

"Hidup! Sian Ceng dan dia...."

Thian Thay Sian Ceng memotong perkataan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee berkata.

"Juga ada dendam,"

Sergah Thian Thay Sian Ceng. Berselang sesaat Thian Thay Sian Ceng melanjutkan ucapannya.

"Kalau begitu, kita turun tangan bersama. Siapa yang lebih dulu berhasil menangkapnya, berarti miliknya."

Dapat dibayangkan betapa gusarnya Ciok Giok Yin yang berdiri di tengah-tengah mereka.

Tidak menyangka kedua orang itu sama sekali tidak memandangnya sebelah mata.

Mendadak terasa dua rangkum aning yang amat kuat menerjang ke arahnya.

Serangkum dari dalam tandu kecil, serangkum lagi dari ketua perkumpulan Sang Yen Hwee.

Ciok Giok Yin menggeram, kemudian berkata dengan dingin sekali.

"Aku akan mengadu nyawa dengan kalian!"

Mendadak dia mencelat ke atas. Kedua rangkum angin pukulan itu terasa berdesir melewati ujung kakinya. Thian Thay Sian Ceng dan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee sama-sama tertawa dingin dan berkata.

"Ciok Giok Yin, kau pasti mampus!"

Terasa lagi dua rangkum angin pukulan yang amat dahsyat menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Badan Ciok Giok Yin masih berada di udara.

Dia terpaksa menarik nafasnya dalam-dalam mengerahkan lwee kangnya, maka badannya melambung ke atas hampir satu depa.

Namun di saat bersamaan, ketua perkumpulan Sang Yen Hwee telah menyerangnya dengan tenaga lunak.

Sementara Ciok Giok Yin sudah tidak bertenaga untuk melambungkan badannya ke atas, maka merosotlah dia ke bawah.

Di saat badannya merosot ke bawah, dua rangkum tenaga yang amat dahsyat menyerangnya lagi.

Ciok Giok Yin sudah tidak mampu mengerahkan lwee kangnya dan juga tidak mampu berkelit.

Terdengar suara jeritan.

"Aaaakh... !"

Mulutnya menyembur darah segar.

Duuuk!

Dia jatuh gedebuk di tanah.

Gadis berbaju hijau menjerit kaget tanpa sadar 'Haaah!

Ketika dia baru mau melesat ke arah Ciok Giok Yin dari dalam tandu kecil itu terdengar bentakan dingin.

"Tunggu, Anak Ceh!"

Gadis berbaju hijau langsung berdiri diam di tempat.

Sekujur badannya gemetar, wajahnya pucat pias dan matanya terus melirik Ciok Giok Yin yang tergeletak di tanah.

Di saat itulah ketua perkumpulan Sang Yen Hwee menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Tapi sungguh diluar dugaan, ada serangkum angin yang tak menimbulkan suara menghalangi ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, sehingga membuatnya tidak bisa maju.

Terdengar suara Thian Thay Sian Ceng.

"Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, kini pikiranku berubah."

"Maksud Sian Ceng?"

"Pukul dia sampai mati! Kalau kau menghendaki mayatnya, boleh bawa pergi!"

Sepasang biji mata ketua perkumpulan Sang Yen Hwee berputar sejenak, dia lalu berkata.

"Menurut Sian Ceng, kita harus turun tangan bersama?"

"Betul."

Namun sekonyong-konyong terdengar suara bentakan yang mengguntur.

"Dasar sepasang iblis tak tahu malu!"

Tampak sosok bayangan merah meluncur ke tempat itu, sepasang tangannya bagaikan sayap burung, siap menangkis serangan-serangan yang akan dilancarkan Thian Thay Sian Ceng dan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee.

Kaum rimba persilatan yang berada di tempat itu berseru serentak.

"Heng Thian Ceng!"

Akan tetapi Thian Thay Sian Ceng dan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee sudah melancarkan pukulan.

Meskipun Heng Thian Ceng berkepandaian amat tinggi, namun sulit juga baginya melawan kedua pukulan tersebut.

Bum!

Terdengar suara benturan dahsyat memekakkan telinga kemudian tampak badan Heng Thian Ceng terpental ke luar dari tebing.

Wanita iblis yang sering membunuh orang itu kemungkinan besar nyawanya akan melayang.

Sedangkan Ciok Giok Yin masih tergeletak di tanah tak bergerak.

Darah segar masih mengalir ke luar dari mulutnya.

Sementara setelah membuat Heng Thian Ceng terpental, Thian Thay Sian Ceng dan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee melancarkan pukulan lagi ke arah Ciok Giok Yin.

Kelihatannya Ciok Giok Yin akan....

Mendadak terdengar suara.

"Huuuuuh!"

Sebatang panji merah kecil tertancap di tanah, menyusul terdengar pula suara yang amat dingin.

"Semuanya harus enyah!"

Thian Thay Sian Ceng yang duduk di dalam tandu kecil, tentunya tidak kelihatan bagaimana air mukanya. Yang jelas dia cepat-cepat menarik kembali pukulannya sekaligus berseru kaget.

"Pek Hoat Hujin!"

Kemudian terdengar suara seruan kaget lain.

"Pek Hoat Hujin!"

Seketika suasana di tempat itu menjadi kacau.

Ternyata kaum rimba persilatan yang ada di tempat itu saling mendahului kabur, dan dalam sekejap mereka sudah tidak kelihatan.

Sedangkan Thian Thay Sian Ceng dan gadis berbaju hijau juga meninggalkan tempat itu.

Tapi gadis berbaju hijau masih sempat melirik Ciok Giok Yin dengan iba.

Kini di tempat itu cuma tinggal Ciok Giok Yin.

Tampak seorang wanita berpakaian merah melayang-layang dengan kaki tidak menyentuh tanah mendekatinya.

Setelah berada di hadapan Ciok Giok Yin, dia menundukkan kepala memperhatikannya, lalu menyambar sekaligus membawanya pergi dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya.

Siapa dia?

Tiada seorang pun yang tahu.

Sementara itu Ciok Giok Yin sudah mulai siuman perlahanlahan dan badannya bergerak sedikit.

Mendadak terdengar suara in di belakangnya.

"Cepat himpun hawa murnimu mengikuti hawa murniku!"

Kini Ciok Giok Yin baru merasa ada hawa hangat menerobos ke dalam tubuhnya melalui jalan darah Beng Bun Hiatnya.

Dia tidak berani ayal lagi, langsung menghimpun hawa murninya, menyatu dengan hawa hangat itu, kemudian dialihkan ke seluruh tubuhnya.

Berselang beberapa saat kemudian, badannya sudah terasa pulih.

Ketika dia baru mau bangkit berdiri, tiba-tiba melihat sesosok bayangan berkelebat ke hadapannya.

Dia mendongakkan kepala.

Di lihatnya seorang wanita anggun berpakaian menawan, berusia tiga puluhan dan wajahnya amat cantik sekali.

Namun, sepasang mata wanita itu menyorot amat tajam, membuat Ciok Giok Yin merasa merinding dan berkata dalam hati.

Sungguh tinggi lwee kangnya, siapa dia?' Ciok Giok Yin segera bangkit berdiri lalu memberi hormat pada wanita itu.

"Terimakasih atas pertolongan cianpweet,"

Ucapannya.

"Kau bernama Ciok Giok Yin?"

Tanya wanita itu.

"Ya."

"Berapa usiamu?"

"Delapan belas."

Wanita anggun berpakaian mewah itu diam sejenak, kemudian berkata.

"Aku ingin menanyakan seseorang padamu, entah kau kenal atau tidak?"

Ciok Giok Yin tertegun dan langsung bertanya.

"Siapa?"

"Hai Thian Tayhiap Ciok Khie Goan."

Ciok Giok Yin tercengang karena sudah beberapa orang menyinggung nama tersebut, bahkan juga berpesan apabila memperoleh Seruling Perak, harus diserahkan kepada keturunannya.

"Aku memang pernah mendengar nama itu, tapi tidak kenal,"

Jawabnya dengan jujur.

"Kau punya hubungan dengan Ciok Khie Goan?"

"Aku tidak pernah mendengar tentang itu."

"Siapa kedua orang tuamu?"

Wajah Ciok Giok Yin kemerah-merahan, dan dia tak mampu menjawab. Air muka wanita anggun berpakaian mewah itu berubah dingin.

"Kau tidak memberitahukan?"

Katanya.

"Jangan salah paham, cianpwee,"

Sahut Ciok Giok Yin dengan suara rendah.

"Maksudmu?"

"Aku tidak tahu siapa kedua orang tuaku, juga tidak tahu nama mereka."

Wanita anggun berpakaian mewah mengerutkan kening.

"Kau sama sekali tidak tahu nama kedua orang tuamu?"

Katanya heran.

"Ya."

"Kalau begitu, siapa yang membesarkanmu?"

"Tiong Ciu Sin Ie."

"Tiong Ciu Sin Ie?"

"Ng!"

"Di mana dia sekarang?" \ Ditanya demikian, mata Ciok Giok Yin langsung bersimbah air.

"Beliau telah meninggal."

Wanita anggun berpakaian mewah itu mengerutkan kening, sama sekali tidak bersuara.

Akan tetapi sepasang matanya yang tajam itu terus-menerus memandang wajah Ciok Giok Yin.

Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala, tapi tetap tidak bersura.

Sikapnya itu membuat Ciok Giok Yin menjadi terheran-heran.

"Bolehkah aku tahu nama cianpwee?"

Katanya. Wanita anggun berpakain mewah itu menyahut.

"Tidak perlu,"

Dia memandang Ciok Giok Yin.

"Sampai jumpa."

Kemudian melesat pergi.

Suaranya belum sirna, namun orangnya sudah tidak kelihatan lagi.

Ciok Giok Yin terbelalak menyaksikan ilmu ginkang wanita anggun berpakain mewah itu.

Sebab ilmu ginkangnya amat tinggi, mungkin tiada duanya di dunia persilatan.

Sebetulnya siapa dia?

Mengapa dia bertanya pada Ciok Giok Yin, ada hubungan apa dengan Hai Thian Tayhiap Ciok Khie Goan?

Ciok Giok Yin terus berpikir, namun tidak menemukan jawabannya.

Memang sayang sekali, tadi Ciok Giok Yin tidak memberitahukan bahwa Tiong Ciu Sin Ie membawanya dari sebuah lembah di Gunung Muh San.

Kalau tadi dia memberitahukan, mungkin asal-usulnya akan terungkap.

Tibatiba Ciok Giok Yin teringat akan Heng Thian Ceng, bagaimana dia tidak kelihatan?

Oleh karena itu, Ciok Giok Yin segera melesat ke atas tebing itu, namun sudah tidak tampak seorang pun di sana.

Dia pikir, kemungkinan besar Heng Thian Ceng telah meninggalkan tempat tersebut.

Ciok Giok Yin lalu mengerahkan ginkang, melesat pergi melalui jalan gunung yang berliku-liku.

Kini dia telah membulatkan hatinya pergi ke Gunung Cong Lam San.

Dia harus mencari Can Hai It Kiam untuk mengambil sepucuk surat agar asal-usulnya terungkap.

Setelah itu, barulah dia pergi mencari Bu Tok Siangseng untuk merebut kitab Cu Cian, agar dapat mempelajari kungfu tinggi, lalu membersihkan nama perguruan.

Karena itu, Ciok Giok Yin ingin selekasnya tiba di Gunung Cong Lam San.

Di saat dia sedang melesat, mendadak tampak sesosok bayangan melesat dari arah depan, kelihatannya agak sempoyongan.

Tak lama bayangan itu sudah mendekat.

"Lu Jin'."

Seru Ciok Giok Yin.

Orang itu ternyata Lu Jin, yang pernah berjanji akan mencari kitab Im Yang Cing Koy untuknya.

Akan tetapi di balik kain penutup muka Lu Jin terlihat darah mengalir ke luar.

Badan Lu Jin sempoyongan, akhirnya condong ke arah Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin cepat-cepat menahan badannya agar tidak roboh, kemudian menaruhnya ke bawah seraya berkata.

"Saudara, aku adalah Ciok Giok Yin."

Ciok Giok Yin segera memeriksa denyut nadinya, ternyata sudah lemah sekali.

Kelihatanya orang itu sudah sulit ditolong.

Oleh karena itu Ciok Giok Yin bergerak cepat menotok beberapa jalan darahnya.

Beberapa saat kemudian barulah Lu Jin siuman.

Sepasang matanya terbuka perlahan-lahan, lalu dia berkta dengan lemah sekali.

"Adik Kecil, akhirnya... aku... aku bertemu kau juga...."

Ciok Giok Yin telah beberapa kali menerima budi pertolongan Lu Jin, maka telah menganggapnya sebagai saudara sendiri.

Begitu menyaksikan keadaan Lu Jin yang sudah sekarat, air matanya langsung bercucuran.

"Toako, siapa yang melukaimu? Aku pasti menuntut balas dendammu,"

Katanya. Lu Jin tidak menyahut, hanya mengeluarkan sebuah kitab tipis dari dalam bajunya.

"Adik Kecil, ini... ini adalah... kitab... Im... Yang... Cin... Koy..., harap... disimpan... baik-baik...."

Ciok Giok Yin terperanjat.

"Hah? Im Yang Cin Koy?"

Lu Jin menaruh kitab tipis itu ke tangan Ciok Giok Yin seraya berkata.

"Jangan putuskan perkataanku, biar aku bicara...."Dia menarik nafas dalam-dalam.

"Ban Hoa Tong Cu memetik hawa Yang demi menambah hawa Im. Dia sudah banyak mencelakai kaum muda. Aku... aku berupaya memasuki goanya... mencuri kitab ini... tapi... aku... justru... terluka... di tangannya. Dia... dia menggunakan... ilmu... Siau Mo Kang (Ilmu Iblis Tertawa)..., untung aku... bertemu... kau... di sini...."

Ciok Giok Yin terus mendengarkan dengan air mata berlinanglinang.

"Adik kecil, tolong... tolong lepaskan... kain... penutup... mukaku...,"

Tambah Lu Jin.

Ciok Giok Yin menurut, lalu segera melepaskan kain penutup muka Lu Jin.

Dia tertegun.

Tak disangka Lu Jin begitu tampan.

Usianya sekitar empat puluhan.

Namun lantaran terluka dalam, maka wajahnya menjadi kekuning-kuningan.

Lu Jin memandang Ciok Giok Yin dengan mata suram dan berkata dengan perlahan-lahan.

"Adik kecil, kuberitahukan satu kali lagi, mengenai urusan Kang Ouw Pat Kiat dengan suhumu sungguh merupakan suatu kesalah-pahaman. Sebetulnya musuh besarmu adalah Chiu Tiong Thau. Kini ajalku sudah tiba. Sesungguhnya aku adalah Tiat Yu Kie Su-Mok Ho yang sedang kau cari...."

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Hah? Kau adalah Mok Ho?"

Ini sungguh merupakan pukulan berat baginya!

Sebab Lu Jin boleh dikatakan tuan penolongnya, juga sahabatnya.

Lalu harus bagaimana baiknya?

Tanpa memperdulikan air muka Ciok Giok Yin yang berubah menjadi tak menentu, Lu Jin berkata lagi.

"Kelak... kau akan menemukan jawabannya. Bukan... aku ingin... melepaskan tanggung jawab itu, melainkan memang benar... merupakan... hasutan... Chiu... Tiong... Thau...."

Ciok Giok Yin menarik nafas panjang. Dia merasa iba terhadap Lu Jin yang sedang dalam keadaan sekarat.

"Toako, aku mempercayaimu."

Wajah Lu Jin tampak berseri.

"Kini... tenanglah... hatiku... Adik Kecil..., aku... aku ingin... menitip... satu... urusan... padamu...."

"Toako, katakanlah, aku pasti melaksanakannya!"

"Tolong... cari... Cu... Sian... Ling..., beritahukan... padanya... selamanya... aku... rindu...,"

Kata Lu Jin semakin melemah. Berkata sampai di situ, mulutnya lalu tertutup rapat, kemudian kepalanya miring ke bawah, dan nafasnya putus.

"Toako, aku telah salah paham padamu, urusanmu itu pasti kulaksanakan,"

Kata Ciok Giok Yin dengan air mata berlinanglinang. Sesudah menangis sejenak, barulah Ciok Giok Yin mengubur mayat Lu Jin. Dia berdiri di hadapan makam itu, berkata dengan suara bergemetar.

"Toako, aku pasti mencari Ban Hoa Tong Cu untuk menuntut balas dendammu!"

Usai berkata, Ciok Giok Yin lalu melesat pergi.

Mengenai urusan Kang Ouw Pat Kiat dengan Sang Ting It Koay, tentunya tidak salah dengan apa yang dikatakan Tiat Yu Kie Su.

Sebab orang yang hampir mati, sudah pasti tidak akan berbohong.

Oleh karena itu, musuh besar Sang Ting It Koay, justru adalah Chiu Tiong Thau.

Maka Ciok Giok Yin mengambil keputusan, harus menghabisi nyawa orang tersebut.

Kalau tidak, hatinya tidak akan merasa puas.

Akan tetapi kini Chiu Tiong Thau berada di mana?

Dan juga ilmu silatnya tinggi hingga tingkat bagaimana?

Oleh karena itu Ciok Giok Yin harus mencari jejaknya perlahan-lahan, hingga berhasil membunuhnya.

Ciok Giok Yin melakukan perjalanan sambil berpikir.

Agar tidak terjadi suatu hambatan, maka dia mengambil jalan kecil.

Apabila ingin menuntut balas dendam suhunya, dia harus berhasil mencari kitab Cu Cian.

Kini Ciok Giok Yin sudah tahu bahwa kitab itu berada di tangan Bu Tok Sinseng.

tapi dia tidak tahu harus ke mana mencari Seruling Perak.

Semua urusan tersebut masih terganjal dalam hatinya.

Beberapa hari kemudian, Ciok Giok Yin telah tiba di Gunung Cong Lam San.

Karena dia yakin bahwa Cong Lam Pay berada di gunung itu, maka dia langsung melesat ke atas.

Mendadak dia merasa adanya angin pukulan dari atas.

Di saat bersamaan, terdengar pula suara bentakan.

"Harap berhenti!"

Ciok Giok Yin berhenti lalu memandang ke depan dan seketika timbul sifat angkuhnya.

Jilid 10 Ternyata di hadapannya berdiri lima orang, menatapnya dengan penuh kegusaran.

"Aku ingin bertemu Can Hai It Kian!"

Kata Ciok Giok Yin dengan lantang.

"Can Hai It Kiam?"

"Tidak salah!"

Terdengar suara tawa getir, kemudian salah seorang berseru.

"Sebutkan nama!"

"Ciok Giok Yin!"

Air muka kelima orang itu langsung berubah. Mereka menatap Ciok Giok Yin dengan penuh dendam kebencian, lalu membentak dengan serentak.

"Bocah jahanam! Can Hai It Kiam dan kau ada dendam apa? Mengapa kau turun tangan jahat terhadapnya? Kau sudah pergi kok masih berani balik ke mari?"

Kelima orang itu bersiul panjang, lalu menyerang Ciok Giok Yin dari atas ke bawah.

Di saat bersamaan, Ciok Giok Yin justru ingin melesat ke atas.

Begitu melihat situasi itu, dan juga mendengar perkataan mereka, bahwa Can Hai It Kian telah dicelakai orang, Ciok Giok Yin menjadi tertegun dan tidak habis pikir.

Akan tetapi dia sudah tidak bisa banyak berpikir lagi, sebab kelima orang itu telah menyerangnya dengan dahsyat.

Ciok Giok Yin gusar bukan main.

Dia meloncat ke belakang dua depa seraya membentak.

"Berhenti!"

"Bocah jahanam, kau harus mampus!"

Kelima orang itu menyerang lagi. Ciok Giok Yin bertambah gusar. Dia berkertak gigi seraya membentak lagi.

"Aku bukan takut pada kalian, melainkan kalian harus menjelaskan!"

Ciok Giok Yin terpaksa meloncat ke belakang lagi.

"Tiada yang perlu dijelaskan!"

Sahut salah seorang dari mereka. Ciok Giok Yin tidak ingin bentrok dengan pihak Cong Lam Pay, maka dia berkelit dan menekan hawa kegusarannya.

"Bagaimana keadaan Can Hai It Kiam?"

Katanya.

"Kau masih pura-pura?"

"Pura-pura apa?"

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Hah? Apa? Aku?"

"Siapa lagi kalau bukan kau?"

"Kapan aku memasuki tempat kalian?"

"Semalam!"

Kelima orang itu mulai menyerang lagi. Kemudian salah seorang berkata.

"Bocah jahanam, setelah membunuh orang masih meninggalkan nama, masih tidak mau mengaku?"

Dari tadi mereka berlima terus memakinya 'Bocah Jahanam', itu membuat kegusarannya semakin memuncak. Dia tertawa dingin seraya berkata.

"Kalian begitu tak tahu aturan, aku akan...."

Mendadak Ciok Giok Yin sudah melancarkan jurus pertama limu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Seketika terdengar suara jeritan.

"Aaaakh... !"

Tampak seorang roboh, kepalanya pecah.

Di saat bersamaan, terdengar suara siulan beberapa kali.

Tak lama kemudian, di tempat itu sudah bertambah dua puluh orang yang terdiri dari padri dan pendeta To.

Di antara orang-orang itu, tampak pula Thian It Ceng dari Siauw Lim Pay.

Thian It Ceng mengibaskan lengan jubahnya sambil mulutnya menyebut kemuliaan sang Buddha.

"Omitohud! Harap sicu berhenti!"

Keempat orang itu langsung mundur. Thian It Ceng menatap Ciok Giok Yin dengan dingin, lalu maju selangkah demi selangkah seraya berkata.

"Sicu kecil, kau masih mau berkata apa lagi?"

Sepasang mata Ciok Giok Yin yang tajam menyapu mereka semua lalu menyahut dengan dingin.

"Mengapa aku tidak boleh bicara?"

"Sicu itu bersalah apa terhadapmu?"

Thian It Ceng balik bertanya sambil menujuk mayat itu.

"Tanyakan saja pada mereka,"

Sahut Ciok Giok Yin dengan ketus.

"Can Hai It Kiam punya dendam apa denganmu?"

"Aku ke mari justru ingin mencari Can Hai It Kiam."

"Punya dendam?"

"Tidak."

"Kalau tiada dendam, mengapa kau turun tangan jahat padanya?"

"Ini bagaimana ceritanya, mohon Taysu menjelaskannya!"

"Can Hai It Kiam terbunuh oleh pedangmu, apa maksudmu membunuhnya?"

Ciok Giok Yin betul-betul kebingungan, sebab dirinya dituduh sebagai pembunuh Can Hai It Kiam, lantaran pembunuh itu meninggalkan namanya di situ.

"Taysu juga menganggapku yang membunuhnya?"

Katanya.

"Kalau bukan kau, lalu siapa?"

Ciok Giok Yin tertawa gelak, lalu menyahut.

"Aku ke mari justru ingin menemui Can Hai It Kiam lo cianpwee untuk mengambil sepucuk surat. Tapi kelima pendekar Cong Lam Pay ini tidak bertanya secara jelas, langsung menyerangku. Taysu adalah orang yang menyucikan diri, apakah juga tidak mau pakai aturan?"

Salah seorang tua yang berdiri di samping Thian It Ceng segera bertanya.

"Mengambil sepucuk surat?"

"Ya."

"Surat apa?"

"Tidak dapat kuberitahukan!"

Orang tua itu mendengus dingin.

"Hmm! Kau mau cari alasan belaka!"

"Siapa Anda?"

"Lohu adalah Hui Pian (Cambuk Terbang) Cu Suang, ketua Cong Lam Pay!"

Dia menatap Ciok Giok Yin dengan dingin, kemudian membentak.

"Lebih baik kau serahkan nyawamu!"

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Kalau begitu, ketua Cu juga menganggapku yang membunuh Can Hai It Kiam?"

"Kalau bukan kau, apakah lohu?"

Mendadak Thian It Ceng berkata.

"Sicu kecil, dengarkan nasihatku! Kalau kau ingin membersihkan diri, alangkah baiknya ikut aku ke Cong Lam Pay agar urusan ini menjadi jelas!"

"Kalau aku bilang tidak?"

"Itu berarti kau tidak bisa meninggalkan tempat ini."

Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin!

"Taysu memunculkan diri di dunia persilatan.

Mengandal pada Siauw Lim Pay sebagai Bu Lim Beng Cu kau bisa perintahkan semua kaum rimba persilatan, namun terhadapku tidak!"

Dia berhenti sejenak.

"Kini Can Hai It Kiam telah mati. Aku yakin surat itu pasti ada di badannya. Maka aku ingin melihat mayatnya. Apakah Ketua Cu mengijinkan?"

Ucapan Ciok Giok Yin yang pertama itu ditujukan kepada Thian It Ceng, namun bernada ketus dan sinis.

Walau usia Thian It Ceng sudah agak tua, dan dia merupakan padri tinggi Siauw Lim Pay, tapi hatinya masih belum terlepas dari duniawi.

Ketika mendengar ucapan Ciok Giok Yin itu, wajahnya langsung berubah menjadi kehijau-hijauan saking gusarnya.

Di saat padri itu ingin membuka mulut, ketua Cong Lam Pay segera memberi isyarat padanya, lalu berkata pada Ciok Giok Yin.

"Bagaimana kalau di badannya tidak terdapat surat itu?"

Ciok Giok Yin tertegun sebab dia tidak menyangka kalau Ketua Cu akan bertanya seperti itu.

"Aku tidak akan bohong,"

Sahutnya kemudian. Mendadak Cu Suang tertawa sedih lalu berkata dengan lantang.

"Jangankan Can Hai It Kiam sudah masuk peti mati, kalau pun belum, aku tetap tidak memperbolehkanmu memeriksa mayatnya! Hari ini kau harus menyerahkan nyawamu!"

Usai berkata, ketika ketua Cu baru mau melancarkan pukulan, tiba-tiba dari samping muncul dua orang tua berusia lima puluhan bersenjata pedang.

mereka berdua memberi hormat.

pada Cu Suang seraya berkata.

"Harap Ketua sabar, biar kami berdua yang menangkapnya!"

Kedua orang itu amat terkenal di dunia persilatan. Julukan mereka adalah Cong Lam Sang Kiam (Sepasang Pedang Cong Lam). Cu Suang manggut-manggut seraya berpesan.

"Sute berdua harus berhati-hati!"

Cong Lam Sang Kiam mengangguk, kemudian maju ke hadapan Ciok Giok Yin sambil menghunus pedang masingmasing.

Trang!

Trang!

Kedua orang itu tertawa sinis, kemudian menyerang Ciok Giok Yin.

Ketika Ciok Giok Yin melihat situasi, dalam hati sudah tahu bahwa sulit bagi dirinya untuk berbiara baik-baik?

Di saat Ciok Giok Yin sudah siap menyambut seranganserangan mereka, Cong Lam Sang Kiam meloncat ke belakang seraya berkata dengan serentak.

"Keluarkan senjatamu!"

"Aku tidak punya senjata!"

Sahut Ciok Giok Yin dengan dingin.

"Kau sungguh bermulut besar! Baik, sambutlah seranganku!"

Kedua orang itu lalu maju serentak.

Yang satu menyerang bagian atas badan Ciok Giok Yin, sedangkan yang satu lagi menyerang bagian bawah.

Serangan gabungan mereka berdua, memang amat lihay dan dahsyat, bahkan menimbulkan suara 'Ser Ser!' Saat ini Ciok Giok Yin betul-betul sudah tidak bisa bersabar lagi.

"Kalian terlalu mendesak orang!"

Bentaknya keras.

Dia mengeluarkan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Tampak sepasang telapak tangannya berkelebat, mengeluarkan hawa yang amat panas.

Mendadak terdengar suara seruan kaum rimba persilatan yang berada di tempat itu.

"Hong Lui Sam Ciang!"

"Bocah itu tidak boleh dilepaskan!"

Mereka langsung menyerang Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin dikeroyok belasan orang, yang terdiri dari padri, tosu dan kaum rimba persilatan biasa.

Tampak berbagai macam senjata tajam berkelebatan.

Meskipun Ciok Giok Yin berkepandaian tinggi, namun tetap sulit baginya untuk melawan sekian banyak pesilat tangguh itu.

Punggungnya telah terhantam beberapa pukulan, membuat matanya berkunangkunang dan darahnya bergolak tidak karuan.

Kelihatannya Ciok Giok Yin akan segera roboh.

Sekonyong--konyong tampak sosok bayangan berkelebat ke tempat itu, bukan main cepatnya.

Menyusul terdengar suara jeritan dan tampak darah muncrat ke mana-mana.

Di saat bersamaan, Ciok Giok Yin juga menjerit.

Ternyata kakinya telah terluka oleh pedang Cong Lam Sang Kiam sehingga darahnya langsung mengucur.

Bersamaan itu, punggungnya juga terhantam pukulan dahsyat.

Seketika matanya menjadi gelap, dia lalu roboh pingsan.

Di saat itulah sosok bayangan tersebut menyambaruya, kemudian melesat pergi laksana kilat.

Entah berapa lama kemudian barulah Ciok Giok Yin siuman perlahan-lahan.

Dia membuka sepasang matanya, tampak seorang tua bongkok duduk di sampingnya.

Orang tua bongkok itu sedang meneguk arak, terdengar suara 'Kruk!

Kruk!

Kruk!' Ciok Giok Yin segera menghimpun hawa murninya.

Ternyata dia tidak merasa apa-apa, hanya merasa agak sakit di kakinya.

Dia cepat-cepat bangkit berdiri, lalu memberi hormat pada orang tua bongkok itu seraya berkata.

"Terimakasih atas pertolongan lo cianpwee yang telah menyelamatkan nyawaku."

Orang tua bongkok berhenti meneguk arak, kemudian memandang Ciok Giok Yin seraya bertanya.

"Siapa namamu?"

"Ciok Giok Yin."

"Ciok Giok Yin?"

"Ya."

"Ciok Giok Yin, dulu aku pernah kenal seorang bermarga Ciok."

Gumam orang tua.

"Siapa?"

"Ciok...."

Orang tua bongkok itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Kau tidak akan mengenalnya."

Sepasang matanya menyorot tajam.

"Tapi orang itu mirip kau."

"Kalau lo cianpwee tidak mau beritahukan, aku pun tidak akan bertanya. Entah sudah berapa kali lo cianpwee menyelamatkan nyawaku. Bolehkah aku tahu nama lo cianpwee?"

Orang tua bongkok itu menggeleng-gelengkan kepala, lalu berkata.

"Boleh jadi kita memang berjodoh. Mengenai pertolonganku tidak perlu kau simpan dalam hati. Tentang namaku, sudah lama kulupakan. Sampai jumpa!"

Mendadak dia melesat pergi, dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya.

Dapat dibayangkan, betapa cepat geraknnya.

Ciok Giok Yin tertegun dan termangu-mangu di tempat.

Tak terduga di dunia persilatan terdapat orang yang begitu aneh.

Percakapannya belum usai, sudah melesat pergi, bahkan juga tidak mau memberitahukan namanya.

Tiba-tiba kakinya terasa sakit, membuatnya teringat akan luka di kakinya.

Kemudian dia berkertak gigi seraya berkata dengan sengit.

"Cepat atau lambat aku pasti ke Gunung Cong Lam San lagi!"

Ciok Giok Yin lalu menelan sebutir pil Ciak Kim Tan, setelah itu, dia duduk menghimpun hawa murninya.

Berselang beberapa saat keadaanya sudah pulih kernbali.

Tiba-tiba terdengar suara desiran baju di sampingnya.

Ciok Giok Yin segera menengok ke samping.

Tampak Sou Bin Koay Siu-Sang Ceh Cing bersama tiga orang aneh yang menyerupai mayat berada di sampingnya, Ciok Giok Yin pernah bertemu mereka di Goa Toan Teng Tong.

Sou Bin Kay Siu-Sang Ceh Cing tertawa licik lalu selangkah demi selangkah mendekati Ciok Giok Yin.

Akan tetapi mendadak dia menjerit dan roboh tak berkutik di tanah.

Begitu pula ketiga orang aneh yang menyerupai mayat, menjerit dan roboh seketika.

Ciok Giok Yin tersentak dan langsung memeriksa keempat mayat itu.

Ternyata bagian belakang kepala mereka tertancap ranting pohon yang amat pendek.

Itu membuktikan si penyerang berkepandaian tinggi.

"Orang pandai dari mana, mohon perlihatkan diri...."

Ucapan Ciok Giok Yin terputus karena tiba-tiba sebuah benda hitam meluncur ke arahnya. Dalam waktu bersamaan terdengar pula seruan yang amat dingin.

"Sambut!"

Ciok Giok Yin menjulurkan tanganya menyambut benda tersebut sambil memandang ke arah datangnya suara seruan, namun tidak tampak siapa pun di sana.

Hati Ciok Giok Yin menjadi berdebar-debar.

Di dunia persilatan terdapat orang yang berkepandaian begitu tinggi.

Kepandaiannya sendiri sungguh masih ketinggalan jauh.

Dia menundukkan kepala, ternyata benda yang di tangannya berupa sebuah bungkusan.

Di dalam bungkusan itu terdapat baju panjang dan celana panjang, bahkan juga terdapat secarik kertas berisi tulisan 'Satu Stel Pakaian, Pertanda Ketulusan Hati' Gaya tulisan itu, sudah jelas tulisan seorang wanita.

Namun Ciok Giok Yin tidak dapat menerka siapa wanita itu.

Apa maksud wanita itu mengirim satu stel pakaian?

Sungguh sulit dimengerti.

Ciok Giok Yin terus mengingat-ingat semua wanita yang dikenalnya, namun semua wanita yang dikenalnya tiada satu pun yang berkepandaian begitu tinggi.

Kalau begitu, siapa wanita itu?

Lama sekali Ciok Giok Yin berpikir, kemudian menggelenggelengkan kepala.

Ketika dia mau membungkus pakaian itu, hatinya tergerak, 'Pakaianku sudah sobek tidak karuan, lebih baik kupakai pakaian baru ini' Dia segera melepaskan pakaiannya, lalu memakai pakaian yang baru itu.

Sungguh pas pakaian itu di badannya!

Dia tidak mau banyak berpikir lagi, langsung melesat pergi.

Beberapa saat setelah melakukan perjalan, mendadak terdengar suara perkelahian.

Plak!

duuuk!

Ciok Giok Yin cepat-cepat melesat ke arah suara itu.

Tak lama suara perkelahian itu terdengar semakin jelas.

Terlihat seorang berbadan langsing sedang bertarung dengan seorang pesilat berusia tiga puluhan.

Tampak pula sekitar dua puluh orang berdiri di sana.

Pesilat itu menggunakan sebuah cambuk panjang.

Cambuk itu meliuk-liuk bagaikan seekor naga ke arah lawannya yang ternyata seorang gadis.

Kelihatannya pesilat itu sedang mempermainkan lawannya.

Sedangkan wanita muda berpakaian biru itu menggunakan sebatang pedang panjang, mati-matian menangkis seranganserangan yang dilancarkan pesilat tersebut.

Mendadak pesilat itu tertawa gelak, lalu berkata.

"Nona, Han Cu Ya (Tuan Majikan) tertarik padamu! Apakah kau masih bisa meloloskan diri? Lebih baik kau ikut ke atas gunung, kau pasti akan hidup senang selamanya di sana!"

Ketika mendengar ucapan itu, kegusaran wanita muda itu menjadi semakin memuncak, sehingga permainan pedangnya menjadi kacau balau.

Ciok Giok Yin yang bersembunyi di balik sebuah pohon terus memperhatikannya.

Dari bentuk tubuh gadis itu, sepertinya Ciok Giok Yin pernah mengenalnya.

Namun wanita muda itu tidak menolehkan wajahnya, lagi pula rambutnya telah terurai menutupi wajahnya, maka Ciok Giok Yin tidak dapat melihat jelas wajah wanita muda itu.

Mendadak wanita muda itu membentak sengit.

"Aku akan mengadu nyawa denganmu!"

Suara itu amat dikenal Ciok Giok Yin.

"Apakah dia?"

Serunya pelan.

Kebetulan wanita muda itu mengelak serangan cambuk lawan, maka wajahnya menghadap ke arah Ciok Giok Yin.

Tentunya Ciok Giok Yin melihat jelas wajah wanita itu, ternyata adalah Tong Wen Wen, putri keluarga Tong Keh Cuang.

Bagaimana dia berada di tempat ini?

Walau Ciok Giok Yin tidak begitu terkesan baik terhadap Tong Wen Wen, namun tidak terkesan buruk padanya.

Lagi pula dia masih ingat akan kebaikan Tong Wen Wen, yang pernah menghadiahkan sebatang tusuk rambut padanya.

Akan tetapi tusuk rambut itu kini tidak lagi di tanganya, karena telah direbut orang.

Begitu melihat Tong Wen Wen, giranglah hati Ciok Giok Yin.

"Kakak Wen jangan takut!"

Serunya dengan lantang sambil melesat ke luar dari persembunyiannya. Akan tetapi di saat bersamaan tampak bayangan orang berkelebatan ke arahnya. Bersamaan itu terdengar pula suara bentakan.

"Bocah jahanam, kau cari mampus!"

Mereka langsung menyerang Ciok Giok Yin dengan berbagai macam senjata tajam. Ciok Giok Yin tertawa dingin lalu berkata lantang.

"Baik, aku akan mengantar kalian ke akhirat!"

Kegusarannya yang timbul ketika di Gunung Cong Lam San justru dilampiaskannya di tempat ini.

Dia langsung menggunakan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang menghadapi para penyerangnya.

Terdengar suara menderu-deru dahsyat, yang disertai hawa yang amat panas.

Seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati dan darah pun muncrat bagaikan hujan gerimis.

Ternyata empat orang dari mereka telah tergeletak di tanah menjadi mayat.

Sementara mata Tong Wen Wen melirik, begitu dia melihat Ciok Giok Yin, hatinya langsung berbunga-bunga.

"Adik Yin...!"

Serunya dengan girang. Sudah barang tentu perhatiannya menjadi pecah, sehingga lengan kirinya tersambar cambuk lawan.

"Aduuuh!"

Dia menjerit dan terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.

Bukan main sakitnya lengan kiri gadis itu!

Bahkan darahnya pun mengucur deras sehingga membuat wajahnya berubah menjadi pucat pias.

Sedangkan pesilat itu sama sekali tidak memperdulikan para anak buahnya yang telah kehilangan nyawa.

Dia tertawa gelak, lalu maju ke hadapan Tong Wen Wen sambil menjulurkan tangannya.

Kelihatannya Tong Wen Wen akan tertangkap.

Akan tetapi di saat bersamaan, terdengar bentakan Ciok Giok Yin yang menggguntur.

"Kau berani!"

Ciok Giok Yin langsung melesat ke sana, sekaligus menggerakkan sepasang tangannya. Pesilat muda itu mendengus dingin.

"Hmmm!"

Namun mendadak badannya terpental dua depa, dan mulutnya menyemburkan darah segar.

Tapi dia masih mampu bangkit berdiri, kemudian melarikan diri ke atas gunung.

Para anak buahnya melihat dia kabur, mereka pun berebutan melarikan diri dengan ketakutan.

Ciok Giok Yin tidak mengejar mereka, melainkan mendekati Tong Wen Wen lalu memapahnya bangun.

"Kakak Wen, bagaimana lukamu?"

Katanya. Wajah Tong Wen Wen yang pucat pias itu berusaha tersenyum, lalu menyahut dengan suara yang agak gemetar.

"Aku tidak apa-apa."

Ciok Giok Yin tahu bahwa Tong Wen Wen sedang menahan sakit, maka dia segera berkata.

"Kakak Wen, biar kuperiksa lukamu."

Tong Wen Wen adalah seorang gadis, maka perkataan Ciok Giok Yin itu membuat wajahnya menjadi kemerahmerahan.

Ciok Giok Yin tidak memikirkan apa-apa, langsung menyingkap lengan baju Tong Wen Wen.

Lengan gadis itu putih mulus, membuat hati Ciok Giok Yin berdebar-debar tidak karuan.

Tiba-tiba Ciok Giok Yin ingat harus segera memeriksa luka itu, maka pikirannya tidak jadi menerawang.

Karena itu, dia cepat-cepat memusatkan pikirannya untuk memeriksa luka di lengan Tong Wen Wen.

Ternyata lengan gadis itu telah sobek tersambar cambuk dan darah segarnya masih mengalir.

Ciok Giok Yin cepat-cepat mengambil sebutir pil Ciak Kim Tan lalu dimasukkan ke mulut Ton Wen Wen.

Setelah itu, dia pun menghancurkan dua butir pil yang sama, lalu dioleskan pada luka di lengan Tong Wen Wen.

Seketika darahpun berhenti mengalir, bahkan rasa sakit juga berangsur-angsur hilang.

Tong Wen Wen langsung mendekap di dada Ciok Giok Yin dan berkata dengan terharu.

"Adik Yin, kalau kau tidak muncul tepat pada waktunya, entah bagaimana akibatnya?"

Dia memandang Ciok Giok Yin.

"Adik Yin, lengan bajuku telah sobek, bagaimana melanjutkan perjalanan? Tolong buka bungkusanku, aku ingin berganti pakaian!"

Karena lengannya belum sembuh, maka dia merasa kurang leluasa mengambil bungkusan itu.

Kebetulan bungkusan itu bergantung di bagian dadanya, membuat Ciok Giok Yin merasa serba salah dan hatinya pun berdebar-debar.

Dia tidak berani menjulurkan tangannya mengambil bungkusan itu, hanya termangu-mangu.

"Cepatlah! Hari sudah mulai gelap, kita harus segera mencari penginapan,"

Kata Tong Wen Wen.

Ciok Giok Yin tersentak sadar, kemudian mencaci dirinya sendiri dalam hati.

'Dia boleh dikatakan sebagai kakakmu, bagaimana kau memikirkan yang bukan-bukan?

Kelak bagaimana kau berkecimpung di dunia persilatan?' Dia cepat-cepat menjulurkan tanganya mengambil bungkusan itu, sekaligus dibukanya.

Tapi biar bagaimanapun, hatinya tetap berdebar-debar tidak karuan.

"Kakak Wen, sebetulnya apa gerangan yang terjadi?"

Katanya.

Lantaran mereka berdua begitu dekat, maka aroma tubuh gadis itu menusuk hidung Ciok Giok Yin, membuat Ciok Giok Yin lupa diri.

Karena itu, dia terus menatap wajah Tong Wen Wen.

Gadis itu meliriknya, lalu bertanya dengan lembut.

"Adik Yin, kenapa kau?"

Hati Ciok Giok Yin tersentak ketika mendengar suara Tong Wen Wen.

Di saat bersamaan, dia pun teringat akan dirinya sendiri, yang telah makan Pil Api Ribuan Tahun, tidak boleh mencelakai orang lain dan dirinya sendiri.

Seketika keringat dingin langsung mengucur.

Maka dia cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Sedangkan hati Tong Wen Wen juga berdebar-debar.

Bagaimana tidak?

Sebab Ciok Giok Yin merupakan pemuda yang amat tampan, lagi pula mereka berdua telah berteman sejak kecil.

Maka bagaimana hatinya tidak berbunga-bunga dan berdebar-debar!

Namun biar bagaimanapun, dia adalah seorang gadis perawan yang tahu akan tata krama dan tahu menjaga jarak antara wanita dengan lelaki.

Ketika menyaksikan sikap Ciok Giok Yin, hatinya menjadi tergetar-getar.

"Adik Yin, apakah kau kurang sehat?"

Katanya perlahanlahan. Ciok Giok Yin cepat-cepat menyurut mundur dua langkah, lalu menggeleng kepala.

"Tidak apa-apa,"

Sahutnya.

"Kalau begitu...."

"Jangan khawatir! Cepatlah ganti pakaian!"

Tong Wen Wen mengambil pakaian itu dan segera berjalan ke balik sebuah pohon besar.

Tak lama dia sudah usai berganti pakaian.

Dia berjalan keluar dari balik pohon besar itu lalu berkata kepada Ciok Giok Yin dengan suara rendah.

"Adik Yin, semua telah berlalu, apakah kau masih mendendam pada kakakku?"

Seketika wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi dingin, lalu dia berkertak gigi.

"Kakak Wen, tentunya kau tahu kejadian waktu itu. Kalau bukannya di dalam lembah itu terdapat salju tebal, mungkin aku sudah mati karena remuk seluruh tulangku."

Tong Wen Wen menghela nafas panjang.

"Aku tahu itu, namun aku mohon padamu memaafkannya."

"Dia...."

Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin memberitahukan apa yang dilihatnya di dalam Kuil Thay San Si, tapi merasa tidak enak, sebab Tong Wen Wen adalah seorang gadis, lagi pula Tong Wen Wen adalah kakaknya, maka bagaimana mungkin memberitahukan padanya?

Oleh karena itu, dia batal memberitahukan pada Tong Wen Wen.

"Kenapa dia?"

Tanya Tong Wen Wen. Ciok Giok Yin tidak menjawab pertanyaannya.

"Kakak Wen, bagaimana kau berkelana di dunia persilatan? Dunia persilatan penuh bahaya lho!"

Tong Wen Wen menghela nafas panjang, dan matanya mulai bersimbah air.

"Kini Tong Keh Cuang sudah menjadi sarang iblis,"

Katanya dengan gemetar. Ciok Giok Yin mencengkeram lengan Tong Wen Wen sambil bertanya.

"Bagaimana bisa jadi begitu?"

Tanpa sadar dia mengerahkan tenaganya, sehingga membuat Tong Wen Wen meringis kesakitan. Namun Ciok Giok Yin tidak memperhatikannya malah menggoyang-goyangkan lengannya seraya berkata.

"Kakak Wen, beritahukanlah padaku!"

Sambil menahan sakit, Tong Wen Wen menyahut.

"Adik Yin, lenganku... terasa sakit."

Ciok Giok Yin cepat-cepat melepaskan tangannya.

"Maaf, Kakak Wen, aku... aku tidak sengaja menyakitimu,"

Katanya gugup. Tong Wen Wen menghela nafas panjang lagi, kemudian berkata.

"Malam itu, setelah aku meninggalkan rumah kami, Tong Keh Cuang kedatangan beberapa orang yang memakai kain penutup muka. Mereka membunuh orang dan membakar. Dalam waktu satu malam, Tong Keh Cuang telah musnah dilalap api."

"Bagaimana Kakak Ping?"

Baca Juga: Pedang Pusaka Dewi Khayangan 5

Baca Juga: Kereta Berdarah 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert