Ceritasilat Novel Online

Seruling Perak Sepasang Walet 5

Eps 5 Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Baca online Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Cersil Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung.

Tanya Ciok Giok Yin.

"Kakakku bilang, ketika dia pulang Bwee Han Ping sudah hilang."

Mata Ciok Giok Yin menyorot dingin.

"Dia bohong."

Katanya sengit.

"Tidak, Bwee Han Ping memang hilang. Kakakku tidak bohong."

Ciok Giok Yin melirik Tong Wen Wen, kemudian bergumam.

"Mudah-mudahan dia tidak terjadi apa-apa!"

Mendengar itu, Tong Wen Wen tampak agak cemburu, sehingga tanpa sadar air matanya telah meleleh.

Diam-diam Tong Wen Wen membenci dirinya sendiri.

Ketika Ciok Giok Yin berada di rumahnya, lantaran Tong Eng Kang membencinya, maka melarang Tong Wen Wen bermain dengannya.

Lagi pula kakaknya itu sering menghasut yang bukan-bukan di depan ayahnya, menyebabkan Ciok Giok Yin sering dicaci dan dipukul oleh ayahnya.

Ketika itu mengapa dia tidak berani membelanya?

Semakin dipikirkan, hati Tong Wen Wen semakin berduka, akhirnya menangis terisak-isak.

Senjata wanita satu-satunya, memang air mata.

Begitu Tong Wen Wen menangis, Ciok Giok Yin merasa tidak tega melihatnya.

"Kakak Wen, bagaimana Paman Tong...."

Pertanyaan Ciok Giok Yin terhenti karena, tiba-tiba Tong Wen Wen mendekap di dadanya dan tangisnya pun semakin menjadi. Beberapa saat kemudian gadis itu baru berkata.

"Malam itu juga ayahku dibunuh, cuma aku dan kakakku berhasil meloloskan diri."

"Kau tahu siapa yang melakukan itu?"

"Selama ini aku terus menyelidiki, namun tiada hasilnya."

Ciok Giok Yin teringat sesuatu dan langsung bertanya.

"Bagaimana kau bertarung dengan pesilat muda itu?"

Tong Wen Wen menyahut dengan air mata berlinang-linang.

"Sesungguhnya aku sedang mencarimu, namun tidak ketemu. Beberapa hari yang lalu aku dengar, kau pergi ke arah barat, maka aku segera menyusul. Tidak disangka ketika sampai di sini, aku bertemu para penjahat itu. Mereka melontarkan perkataan yang kurang ajar...."

Tong Wen Wen berhenti menutur, dan air matanya mengucur lebih deras.

Tidak usah gadis itu memberitahukan, Ciok Giok Yin sudah tahu apa yang terjadi.

Seorang gadis berkelana di dunia persilatan, tentu akan bertemu penjahat, yang ingin berbuat kurang ajar terhadapnya.

Untung Tong Wen Wen memiliki kepandaian yang cukup tinggi, maka masih dapat menjaga diri.

Kalau tidak, mungkin dirinya sudah....

Sementara itu hari sudah mulai gelap.

"Kakak Wen, mari kita ke kota cari penginapan!"

Ajak Ciok Giok Yin.

Tong Wen Wen mengangguk.

Ciok Giok Yin menarik tangannya, lalu melesat pergi.

Tidak seberapa lama kemudian mereka berdua sudah tiba di sebuah kota kecil.

Mereka memasuki sebuah penginapan lalu memesan dua buah kamar.

Setelah itu mereka juga makan di dalam penginapan itu.

Mereka berhadapan sambil menuturkan pengalaman masing-masing.

Ketika mendengarkan semua kejadian yang menimpa Ciok Giok Yin, Tong Wen Wen amat terkejut, tapi juga merasa girang.

"Adik Yin, apakah kau membenciku?"

Tanya Tong Wen Wen. Ciok Giok Yin menatapnya lekat-lekat, kemudian menyahut sambil tersenyum-senyum.

"Kakak Wen, bagaimana mungkin aku membencimu? Justru aku harus mengucapkan terimakasih padamu."

Tong Wen Wen tersenyum manis, kemudian berkata dengan lembut.

"Adik Yin, aku... aku selalu merasa bersalah padamu."

Ciok Giok Yin menggenggam tangannya erat-erat sambil berkata.

"Kakak Wen...."

"Adik Yin, dengarkan dulu perkataanku!"

Sela Tong Wen Wen. Gadis itu menutur tentang Tong Eng Kang yang selalu memfitnah Ciok Giok Yin, setelah itu menambahkan.

"Adik Yin, pada waktu itu aku kurang berani membelamu. Aku sungguh tidak bisa melakukan itu!"

Kegusaran Ciok Giok Yin langsung memuncak.

"Aku bersumpah harus membunuhnya!"

Katanya sengit. Tong Wen Wen balas menggenggam tangannya erat-erat dan berkata dengan perlahan-lahan.

"Adik Yin, pandanglah mukaku, maafkan dia...."

Mendadak Ciok Giok Yin meniup padam lampu yang ada di atas meja.

Badannya bergerak, ternyata sudah melesat ke luar melalui jendela.

Sampai di atap rumah, dia menengok ke sana ke man, tapi tidak melihat apa pun.

Tong Wen Wen sudah menyusulnya.

"Ada orang?"

Katanya.

"Tadi sekilas aku melihat seperti ada sosok bayangan berkelebat di luar jendela."

"Kalau ada orang, bagaimana mungkin sedemikian cepat hilang?"

"Ini sulit dikatakan."

Mereka berdua meloncat turun kembali ke dalam penginapan.

Kini Ciok Giok Yin sudah tahu bagaimana perasaan dan isi hati Tong Wen Wen.

Maka begitu berada di dalam kamar, mereka berdua langsung saling memandang.

Di antara mereka berdua tidak mau memecahkan suasana yang romantis itu.

Wajah mereka tampak berseri dan bibir mereka menyunggingkan senyuman yang penuh diliputi cinta kasih.

Ciok Giok Yin sepertinya ingin..., namun di telinganya mengiang suara bisikan.

"Badanmu tidak seperti orang biasa."

Itu membuatnya tersentak sadar, lalu berkata dengan ringan.

"Kakak Wen, kau harus segera beristirahat, sebab esok pagi kita masih harus melakukan perjalanan."

Perkataannya juga membuat Tong Wen Wen tersentak sadar.

"Adik Yin, kau juga harus beristirahat,"

Sahutnya perlahan.

Tong Wen Wen bangkit berdiri, menatap Ciok Giok Yin dengan penuh rasa cinta.

Setelah itu, barulah pergi ke kamarnya.

Ciok Giok Yin mengantarnya sampai di dalam kamarnya, kemudian baru kembali ke kamar sendiri.

Dia duduk di atas ranjang, mulai menghimpun hawa murninya.

Ini dilakukannya setiap malam, bahkan juga sering melatih Hiat Ci Kang (Tenaga Jari Darah).

Sang waktu terus berlalu.

Tak terasa sudah larut malam, sedangkan Ciok Giok Yin masih tetap duduk bersila di atas ranjang.

Sementara Tong Wen Wen yang sudah berada di dalam kamarnya merasa amat lelah.

Dia langsung berbaring di ranjang sambil memikirkan Ciok Giok Yin.

Bibirnya menyunggingkan senyuman manis karena saking gembiranya.

Mulai sekarang dan selanjutnya dia akan selalu berada di samping adik Yinnya, berkelana di dunia persilatan mencari jejak musuh besarnya sekaligus mencari jejek Bwee Han Ping.

Itu merupakan urusan yang tidak gampang, namun amat menyenangkan lantaran bersama Ciok Giok Yin.

Dia terus berpikir, sepertinya dirinya dan Ciok Giok Yin berada di sebidang padang rumput.

Dia merasa lelah, langsung menjatuhkan diri di padang rumput itu.

Ciok Giok Yin juga berada di sampingnya.

Mereka berdua memandang gumpalan awan putih yang berterbangan terhembus angin.

Tampak pula ribuan bintang bergemerlapan di langit.

Mendadak dia merasa tangan Ciok Giok Yin mulai meraba-raba badannya.

Mula-mula rambutnya, kemudian merosot ke bawah meraba bagian dadanya.

Bukan main gelinya!

Akan tetapi justru merasa nikmat sekali.

Pertama kali dia merasakan itu, membuatnya merasa girang, dan khawatir Ciok Giok Yin akan menarik kembali tangannya.

Perlahan-lahan jari tangan Ciok Giok Yin terus meraba ke sana ke mari, kemudian meraba tempat terlarangnya, yaitu bagian yang paling berharga bagi kaum wanita.

Tentunya membuat sekujur badan Tong Wen Wen gemetar, sebab merasa amat nikmat sekali.

Dia ingin mencegah tangan Ciak Giok Yin yang usil itu, namun merasa tak bertenaga.

Tong Wen Wen merasa malu, namun mulutnya mulai berdesah.

"Adik Yin, kau...."

Dia membuka matanya perlahan-lahan. Ternyata memang Ciok Giok Yin berdiri di sampingnya, menatapnya sambil tersenyum-senyum. Gadis itu merasa malu.

"Adik Yin...,"

Panggilnya dengan suara rendah.

Sedangkan Ciok Giok Yin sama sekali tidak bersuara, cuma tersenyum-senyum saja.

Kemudian dia menjulurkan tangannya, membuka pakaian Tong Wen Wen.

Sepasang payudara yang indah montok, mulai menampakkan diri, bukan main mulusnya!

Ciok Giok Yin menelan air liur dan cepat-cepat melepaskan celana Tong Wen Wen.

Sesungguhnya Tong Wen Wen ingin menolak, tapi setelah berpikir sejenak, dia merasa sama saja.

Sebab cepat atau lambat, mereka berdua akan menjadi suami istri.

Karena itu, dia memejamkan matanya menunggu...

Terdengar suara 'Serrr' Ternyata Ciok Giok Yin menanggalkan pakaiannya.

Mendadak Ciok Giok Yin meloncat ke atas ranjang.

Namun ketika dia baru menerkam tubuh gadis itu, sekonyong-konyong terdengar suara bentakan sengit.

"Dasar sepasang anjing yang tak tahu malu!"

Kemudian tampak sesosok bayangan berkelebat memasuki kamar itu.

Itu sungguh mengejutkan Ciok Giok Yin!

Dia langsung menyambar pakaiannya, bergerak cepat laksana kilat melesat pergi melalui jedela.

Sosok bayangan itu langsung melesat ke luar mengejarnya.

Tong Wen Wen yang masih terbaring di ranjang segera menarik selimut menutupi badannya.

Namun dia merasa heran, dan bertanya dalam hati.

'Siapa orang itu?

Kok suaranya amat kukenali?' Segumpal api yang penuh hawa nafsu langsung sirna seketika.

Dia cepat-cepat berpakaian, lalu duduk di pinggir ranjang menunggu Ciok Giok Yin pulang.

Tiba-tia teringat olehnya, orang itu mengejar Ciok Giok Yin, mungkin mereka berdua sudah bertarung di pinggir kota.

Oleh karena itu dia bangkit berdiri.

Namun ketika dia baru mau melesat pergi, mendadak dari atap rumah melayang turun seseorang, yang ternyata Ciok Giok Yin.

Ketika Tong Wen Wen baru mau membuka mulut, Ciok Giok Yin justru sudah maju, bahkan juga mengayunkan tangan menamparnya.

Plak!

Plak!

Mata Tong Wen Wen langsung berkunang-kunang dan kedua belah pipinya membengkak merah.

"Kau tak tahu malu!"

Bentak Ciok Giok Yin sengit. Sepasang matanya berapi-api menatap Tong Wen Wen, lalu dia membentak lagi.

"Tak kuduga kau juga sedemikian tak tahu malu!"

Tong Wen Wen berdiri tertegun di tempat. Berselang sesaat, dia mendadak tertawa sedih lalu berkata sengit.

"Ciok Giok Yin, kau... kau... kau adalah...."

Nada bicaranya berubah sedih, kemudian dia tak mampu melanjutkan.

"Tong Wen Wen! Nama baik keluarga Tong kalian telah tercemar oleh kalian kakak beradik!"

Bentak Ciok Giok Yin dingin.

Usai membentak, mendadak dia melesat pergi tanpa pamit.

Perubahan yang mendadak ini sungguh membuat Tong Wen Wen tidak habis pikir.

Namun kemudian wajahnya berubah menjadi penuh dendam kebencian, lalu dia bergumam dengan perlahn-lahan.

"Ciok Giok Yin, kau telah menghina diriku! Kalau kau tidak mati di tanganku, aku tidak mau jadi orang lagi! Kau... kau adalah binatang!"

Kini hatinya telah remuk, sehingga air matanya bercucuran.

Dia berdiri tertegun.

Beberapa saat kemudian barulah dia melesat pergi melalui atap rumah.

Keributan mereka berdua telah membangunkan para tamu, tapi mereka tidak berani keluar, hanya mengintip melalui celah jendela.

Setelah melihat kedua orang itu pergi, para tamu menggeleng-gelengkan kepala, dan kembali ke tempat tidur masing-masing.

Sedangkan pemilik penginapan itu terusmenerus mengomel.

Ternyata Ciok Giok Yin dan Tong Wen Wen belum membayar sewa kamar.

Bagaimana Ciok Giok Yin bisa muncul di kamar Tong Wen Wen?

Ternyata setelah melatih ilmu Jari Darah, dia teringat pada Tong Wen Wen, entah sudah tidur atau belum?

Karena itu dia langsung mengerahkan lwee kangnya, mendengarkan dengan penuh perhatian.

Terdengar seperti suara rintihan dan desahan nafas.

Semula dia mengira suara dengkur Tong Wen Wen.

Dia tersenyum, dan ketika baru mau membaringkan dirinya, justru terdengar suara Tong Wen Wen memanggilnya.

Walaupun suara itu amat lirih, namun terdengar amat jelas dalam telinga Ciok Giok Yin.

Tapi suara Sas Sus itu juga tidak berhenti, otomatis membuat Ciok Giok Yin menjadi bercuriga.

Dia langsung turun, membuka daun pintu kamarnya perlahan-lahan, kemudian mendekati kamar Tong Wen Wen dan mengintip ke dalam melalui jendela.

Begitu mengintip kegusarannya langsung memuncak.

Dia segera mendobrak daun jendela dan menerjang ke dalam.

Sedangkan orang yang berada di atas ranjang juga bergerak cepat laksana kilat menyambar pakaiannya, sekaligus melesat pergi.

Ciok Giok Yin ingin tahu siapa orang itu, maka mengejarnya.

Akan tetapi orang itu memiliki ilmu ginkang yang amat tinggi, sehingga Ciok Giok Yin tidak dapat menyusulnya, bahkan kemudian kehilangan jejaknya.

Dengan penuh kegusaran.

Ciok Giok Yin kembali ke penginapan.

Ketika dia tiba di penginapan kebetulan melihat Tong Wen Wen sudah berkemas, siap meninggalkan penginapan itu.

Ternyata hal itu menimbulkan kesalah-pahaman di antara mereka berdua.

Ciok Giok Yin mengira bahwa Tong Wen Wen akan pergi di saat dia tidak ada, lantara merasa tidak enak terhadapnya.

Mereka berdua adalah teman sejak kecil.

Lagi pula sebelum Tong Wen Wen kembali ke kamarnya, mereka berdua sudah berbicara dari hati ke hati.

Karena itu, Ciok Giok Yin mengambil keputusan, selanjutnya dia harus melindungi Tong Wen Wen, sebab gadis itu sudah tiada tempat tinggal dan yatim piatu pula.

Maka tidak mengherankan kalau ketika menyaksikan pemandangan itu, kegusaran Ciok Giok Yin memuncak tak terkendalikan, sehingga mencaci dan menamparnya.

Setelah itu dia langsung melesat pergi.

Kegusarannya telah menutupi kesadarannya.

Dia terus berpikir bahwa Tong Wen Wen sungguh merupakan gadis yang tak tahu malu, sama sekali tidak berpikir hal-hal yang mencurigakan.

Mendadak Ciok Giok Yin tertawa seperti orang gila.

Dia ingin cepat-cepat meninggalkan Tong Wen Wen yang dianggapnya tak tahu malu.

Dia terus melesat pergi.

Angin malam menerpa wajahnya, sehingga membuatnya agak tenang.

Tiba-tiba dia berhenti lalu menarik nafas dalam-dalam seraya bergumam.

"Sejak meninggalkan suhu, hingga saat ini masih belum menyelesaikan satu urusan pun. Mengapa aku harus memusingkan gadis yang tak tahu malu itu?"

Seusai bergumam, hatinya terasa agak lega.

Dia menengadahkan kepala memandang ke langit, ternyata sudah subuh.

Saat ini hatinya sudah bertambah tenang.

Dia menunggu datangnya pagi untuk berangkat ke Kuil Thay San Si, melihat Fang Jauw Cang sudah berada di tempat itu atau belum.

Meskipun belum sampai waktu yang dijanjikan, tapi dia berharap Fang Jauw Cang sudah berada di Kuil itu.

Ketika dia baru mau duduk, mendadak hatinya terasa tersentak.

"Celaka!"

Serunya.

Sekujur badannya langsung berkeringat dingin dan seketika itu juga dia melesat ke dalam kota menuju penginapan itu.

Di saat melesat menuju penginapan itu, mata Ciok Giok Yin bersimbah air dan mulutnya terus bergumam.

"Aku telah salah paham terhadap Kakak Wen, aku telah salah paham terhadapnya...."

Ternyata Ciok Giok Yin ingat, dia mendengar suara Tong Wen Wen memanggil 'Adik Yin' Itu membuatnya teringat akan kejadian di Gunung Cong Lam San, ada orang berwajah menyerupainya membunuh Can Hai It Kiam.

Apakah benar ada seseorang yang menyamar sebagai dirinya?

Siapakah orang itu?

Kalau begitu orang yang ingin berbuat yang bukan-bukan terhadap Tong Wen Wen, bukankah orang yang menyamar sebagai dirinya?

Kalau tidak, bagaimana mungkin Tong Wen Wen memanggil orang itu 'Adik Yin?' Bukan main menyesalnya Ciok Giok Yin!

Mengapa ketika itu dirinya tidak memikirkan tentang itu, tapi malah mencaci dan menampar Tong Wen Wen?

Kesalah pahaman itu sungguh besar sekali!

Dia mengambil keputusan harus berlutut di hadapan Tong Wen Wen untuk menyatakan maaf padanya.

Tak lama kemudian dia sudah tiba di penginapan itu.

Dengan hati tercekam rasa bersalah, dia berjalan ke kamar itu perlahanlahan.

Akan tetapi kamar itu telah kosong, tidak tampak Tong Wen Wen di sana.

Oleh karena itu, dia langsung berlari ke luar seraya berseruseru.

"Kakak Wen! Kakak Wen...!"

Dia terus belari sambil berseru-seru.

"Kakak Wen! Kau telah ditipu orang, itu bukan aku...!"

Suaranya mulai serak dan bernada sedih.

Mendadak tampak seseorang berdiri di balik sebuah batu besar.

Mendengar suara seruan Ciok Giok Yin itu, orang tersebut mengerutkan kening, lalu bertanya dalam hati.

'Kalau bukan Adik Yin, lalu siapa orang itu?' Tiba-tiba dia teringat akan cerita Ciok Giok Yin tentang kejadian di Gunung Cong Lam San.

Apakah benar ada orang menyamar sebagai dirinya?

Itu sungguh menakutkan!

Bukankah orang itu akan menimbulkan banyak musuh bagi Ciok Giok Yin, bahkan nama Ciok Giok Yin pun akan menjadi rusak karenanya?

Siapa orang itu?

Ternyata Tong Wen Wen.

Dia berkata dalam hati.

'Kini aku sudah tahu tentang itu, seharusnya aku membantunya memecahkan persoalan tersebut.' Namun dia merupakan gadis lemah, lagi pula kepandaiannya belum begitu tinggi.

Lalu bagaimana cara untuk membantu Ciok Giok Yin?

Gadis itu ingin memunculkan diri lalu memeluk Ciok Giok Yin sambil menangis tersedu-sedu.

Akan tetapi, dia justru merasa malu akan kejadian itu.

Maka dia menahan diri untuk tetap diam di balik batu besar itu.

Sementara suara seruan Ciok Giok Yin semakin menjauh, akhirnya tak terdengar sama sekali.

Barulah Tong Wen Wen melesat pergi ke arah yang berlawanan dengan arah yang dituju Ciok Giok Yin.

Sedangkan Ciok Giok Yin masih terus berseru dan tak henti-hentinya berlari.

Tak lama kemudian sampai di tempat yang banyak batu curam, tentunya amat berbahaya sekali.

"Kakak Wen! Kakak Wen...!"

Ciok Giok Yin masih terus berseru. Mendadak dia melihat sosok bayangan hijau berkelebat. Hatinya tergerak dan dia segera berseru lagi.

"Kakak Wen! Kakak Wen!"

Ciok Giok Yin menduga, mungkin Tong Wen Wen telah berganti pakaian warna hijau, dia tidak mau menyahut, karena amat marah padanya.

Karena itu, dia langsung mengerahkan ginkang mengejarnya.

Berselang sesaat, dia melihat sebuah goa yang amat besar di hadapannya.

Ciok Giok Yin merasa girang dan kemudian berkata dalam hati.

'Asal kau bersembunyi di dalam goa itu, tentu tidak sulit bagiku mencarimu.' Dia mendongakkan kepala.

Ternyata di dinding goa itu terdapat tulisan 'Mie Tong' (Goa Sesat).

"Peduli amat goa apa!"

Katanya.

Dia berjalan memasuki goa tersebut.

Tampak dua sosok bayangan mengikutinya dari belakang.

Dua sosok bayangan itu adalah Thian It Ceng dari Siauw Lim Pay dan Hwa Yang Totiang dari Gobi Pay.

Ternyata kedua orang tersebut sejak tadi terus mengikuti Ciok Giok Yin.

Mereka berdua ingin tahu apa yang akan dilakukan Ciok Giok Yin, setelah itu barulah mengumpulkan para kaum rimba persilatan untuk menangkapnya.

Bagaimana Thian It Ceng dan Hwa Yang Totiang bisa mengutit Ciok Giok Yin?

Ternyata ketika mereka berdua sedang beristirahat di bawah sebuah pohon besar, mendengar suara seruannya yang terus menerus memanggil 'Kakak Wen' Karena itu mereka berdua segera menguntitnya.

Begitu melihat Ciok Giok Yin memasuki goa tersebut, mereka berdua pun tidak ketinggalan, langsung mengikutinya dari belakang.

Mengenai kepandaian Thian It Ceng dan Hwa Yang Totiang, boleh dikatakan amat tinggi, lagi pula mereka tokoh penting di Siauw Lim Pay dan di Gobi Pay, ilmu kepandaiannya hanya sedikit di bawah ketua masing-masing.

Karena itu, apabila ada suatu urusan di dunia persilatan, cukup mereka yang berdua tampil.

Sementara Ciok Giok Yin yang telah memasuki goa, terus melesat ke dalam.

Lorong goa itu amat panjang, kira-kira empat puluh depa.

Setelah Ciok Giok Yin melewati sebuah tikungan terakhir, tampak tiga jalan di hadapannya.

Ciok Giok Yin tidak tahu harus menempuh jalan mana.

Dia berdiri termangu-mangu, sesaat kemudian barulah meneruskan langkahnya menempuh jalan yang di tengah.

"Kakak Wen! Kakak Wen...!"

Serunya.

Suara seruannya bergema di dalam goa.

Dia terus berjalan, dan tiba-tiba melihat sosok bayangan hijau berkelebat lalu menghilang.

Dia tidak menghiraukan apa pun, langsung menerjang ke arah bayangan itu.

Akan tetapi sampai di sana tidak melihat apa pun.

Dalam waktu bersamaan tampak asap putih ke luar dari empat penjuru.

Saking tebalnya asap putih itu, membuat Ciok Giok Yin tidak dapat melihat apa-apa.

Tentu saja dia menyedot asap putih itu.

Hatinya tersentak karena asap putih itu berbau aneh.

Kemudian dia berseru dalam hati 'Asap beracun!' Dia gugup sebab amat mencemaskan Tong Wen Wen.

"Kakak Wen, cepat keluar! Goa ini tidak beres!"

Serunya lantang.

Meskipun dia pernah makan buah Toan Teng Ko sehingga kebal terhadap racun apa pun, namun dia tetap menahan nafasnya, kemudian berjalan ke depan.

Sementara asap putih beracun itu terus menerobos ke luar dari empat penjuru, kelihatannya tiada habisnya.

Sejak memasuki goa itu, Ciok Giok Yin tidak melihat seorang pun.

Setelah berjalan belasan langkah, dia berseru lagi.

"Kakak Wen! Apakah kau tidak bersedia memaafkanku?"

Walau dia berseru berulang kali, namun tetap tiada sahutan.

Ciok Giok Yin putus asa, sebaliknya malah mengambil keputusan, biar bagaimanapun harus mencari Tong Wen Wen sampai ketemu.

Dia sangat mengkhawatirkan Tong Wen Wen sebab sungguh berbahaya seorang gadis berkecimpung di dunia persilatan.

Buktinya kejadian semalam.

Bukankah kejadian itu amat membahayakan diri Tong Wen Wen?

Oleh karena itu hati Ciok Giok Yin semakin gugup dan cemas.

Dia ingin mencari suatu tempat yang aman mencari Tong Wen Wen.

Dia yakin di dalam goa tersebut pasti ada penghuninya, sebab kalau tidak, bagaimana mungkin ada asap putih beracun?

Jangan-jangan penghuni goa itu, telah....

Ciok Giok Yin tidak berani memikirkan itu, melainkan berseru lantang.

"Aku memasuki goa ini mencari seorang kakak, sama sekali tidak berniat jahat! Kalau Anda melihat kakakku, mohon beri petunjuk! Kalau tidak, aku pun bukan orang yang takut urusan!"

Seusai Ciok Giok Yin berseru lantang, terdengar pula suara dengusan dingin.

"Hmmm!"

Hati Ciok Giok Yin tersentak.

Kini dia bertambah yakin bahwa di dalam goa ini ada orang lain, yang berniat tidak baik.

Sementara asap putih beracun itu semakin tebal, sehingga Ciok Giok Yin tidak dapat melihat jalan di dalam goa itu.

Walau mata Ciok Giok Yin amat tajam, namun tetap tidak bisa menembus asap putih beracun itu, kecuali dia telah mencapai tingkat Thian Gan Thong (Mata Tembus Langit).

Mendadak dia mendengar suara dengusan dingin di sampingnya.

Karena itu dia bergerak cepat membalikkan badannya.

Dilihatnya sesosok bayangan hijau, mencelat ke belakang.

Ciok Giok Yin tidak berlaku ayal lagi, langsung bergerak cepat menyambar ke depan.

Dia tidak melihat jelas wajah orang itu.

Namun dalam hatinya yakin bahwa orang itu adalah Tong Wen Wen.

Maka dia langsung berseru.

"Kakak Wen, aku telah bersalah padamu...!"

Terdengar suara sahutan lemah.

"Cepat papah aku... meninggalkan goa ini!"

Suara itu membuat Ciok Giok Yin merasa ada sesuatu gelagat tidak baik. Maka, dia langsung menegasi orang tersebut.

"Hah? Kau?"

Serunya kaget.

Ternyata gadis berbaju biru yang tempo hari ditolongnya ketika dikeroyok oleh enam orang tosu Gobi Pay, namun malah menimbulkan kerepotan bagi dirinya.

Ciok Giok Yin merasa serba salah, harus memapahnya ke luar ataukah....

Namun nafas gadis itu tampak memburu, pertanda menderita luka dalam yang amat parah.

Ciok Giok Yin berdiri termangumangu.

Gadis baju hijau itu, kelihatannya seperti tahu akan apa yang sedang dipikirkan Ciok Giok Yin.

"Memang aku. Kita tidak leluasa berbicara di tempat ini. Cepat papah aku ke luar! Di sana kita berbicara,"

Katanya dengan lemah. Dia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.

"Kau tidak takut asap putih beracun?"

"Ya."

"Bagus! Aku sudah menelan obat penawar racun, maka bisa bertahan sesaat. Mari kita cepat pergi!"

Ciok Giok Yin melihat gadis itu amat gugup dan panik, maka segera memapahnya ke luar. Akan tetapi gadis itu kelihatan sudah tidak kuat berjalan.

"Aku... aku... sudah... tidak... tahan...,"

Katanya tersendatsenndat.

"Lalu bagaimana?"

"Mumpung... aku... aku masih punya nafas, aku... akan memberi... petunjuk agar kau... bisa keluar..... Kalau tidak... seumur hidup... kau... tidak... akan... bisa... keluar...."

Hati Ciok Giok Yin tergetar. Kemudian tanpa peduli lagi tentang tata krama antara lelaki dengan wanita, dia langsung memeluk gadis itu erat-erat. Gadis itu terharu.

"Cepat membelok kiri..."

Katanya.

Ciok Giok Yin cepat-cepat membelok ke kiri, mengikuti petunjuk gadis itu.

Akan tetapi baru berjalan beberapa langkah, mendadak terdengar suara yang amat memekakkan telinga.

Blam!

Ternyata sebuah pintu besi telah menghalangi mereka berdua.

Bukan main terkejutnya gadis itu!

Dia cepat-cepat menarik nafas dalam-dalam lalu berkata.

"Cepat ambil jalan tengah...."

Ciok Giok Yin bergerak cepat menerjang ke tengah.

Namun jalan itu amat sempit, maka dia terpaksa menggendong gadis itu.

Setelah berjalan kira-kira dua tiga depa, mendadak terdengar lagi suara yang sama.

Blam!

Sebuah pintu besi menutupi jalan itu.

Ciok Giok Yin yang menggendong gadis itu, merasakan jantung gadis itu berdetak lebih cepat, pertanda gadis itu amat tegang.

"Aku ketakutan setengah mati. Kalau terlambat, kita berdua pasti tertutup di dalam,"

Kata gadis itu perlahan.

Gadis itu mulai memberi petunjuk pada Ciok Giok Yin, harus menikung di mana dan membelok ke mana.

Namun nafas gadis itu semakin lemah, dan sudah barang itu suaranya juga menjadi lemah.

Maka Ciok Giok Yin harus menempelkan telinganya ke bibir gadis itu.

Berselang sesaat, asap putih beracun itu mulai menipis.

Di saat bersamaan, tampak sesosok bayangan duduk di hadapan mereka.

Setelah mendekati bayangan itu, Ciok Giok Yin berseru tak tertahan.

"Thian It Ceng!"

Hweshio Siauw Lim Si itu duduk bersila tak bergerak, kelihatan seperti sebuah patung.

Ciok Giok Yin merasa serba salah.

Sebab dia sedang menggendong gadis itu, yang dalam keadaan luka parah, sudah pasti tidak dapat menolong hweshio tua itu.

Ciok Giok Yin berpikir keras, akhirnya dia mengambil keputusan, setelah membawa gadis itu ke luar, barulah kembali ke sana untuk menolong hweshio tua tersebut.

Oleh karena itu, dia mempercepat langkahnya.

Setelah menikung beberapa kali, terlihat seorang tosu tua duduk di depan, sedang menghimpun hawa murninya untuk menolak racun.

Tosu tua itu adalah Hwa Yang Totiang.

Ciok Giok Yin tidak habis pikir, mengapa kedua orang itu terkurung di dalam goa tersebut?

Ketika itu dia pun teringat akan dirinya sendiri, kalau tidak makan buah Toan Teng Ko, tentu dirinya juga akan sama seperti mereka.

Maka Ciok Giok Yin mempercepat langkahnya lagi, agar bisa segera meninggalkan goa itu.

Tiba-tiba gadis berbaju hijau itu menarik nafas panjang, seperti balon yang dikempiskan.

Terdengar suara nafasnya yang amat lemah.

Hati Ciok Giok Yin tersentak dan kemudian dia membatin.

'Sebetulnya siapa gadis ini?

Bagaimana dia bisa bergabung dengan perkumpulan Sang Yen Hwee?

Apakah dia adalah istri Bun It Coan?

Kalau benar dia, aku akan mencincangnya untuk menuntut balas dendam saudara angkatku!' Namun kemudian dia berpikir lagi, tidak masuk akal dugaannya itu.

Sebab wajah gadis itu sangat anggun, tidak seperti wanita jalang.

Mendadak Ciok Giok Yin teringat akan sesuatu.

"Apakah dia adalah Hui Hui?"

Kini Ciok Giok Yin yakin bahwa gadis berbaju hijau itu adalah Hui Hui.

Akan tetapi itu pun tidak masuk akal.

Sebab kalau benar gadis berbaju hijau itu adalah Hui Hui, bagaimana dia ke tempat ini?

Ini adalah Goa Sesat, mengapa dia ke mari?

Ciok Giok Yin terus berpikir, tapi sama sekali tidak menemukan jawabannya.

Kecuali gadis berbaju hijau ini siuman, barulah bisa mengungkap teka teki ini.

Karena itu, Ciok Giok Yin segera melesat ke luar.

Kini mereka sudah berada di luar Goa Sesat.

Ciok Giok Yin menundukkan kepala memandang gadis itu.

Tampak sepasang matanya tertutup rapat, wajah agak kehijau-hijuan, pertanda dia menderita luka dalam yang amat parah.

Ketika Ciok Giok Yin mau membawa gadis berbaju hijau itu ke suatu tempat sepi untuk mengobatinya, mendadak terdengar suara tawa dingin di belakangnya.

Ciok Giok Yin menolehkan kepalanya ke belakang.

Ternyata Bu Lim Sam Siu telah berdiri di belakangnya.

Kemudian tiga orang itu mengepungnya dan salah seorang dari mereka berkata.

"Tak disangka kita akan bertemu di sini!"

Sepasang mata Ciok Giok Yin langsung merah membara dan dia membentak sengit.

"Ternyata kalian bertiga! Aku akan mengadu nyawa dengan kalian!"

Namun dia masih menggendong gadis berbaju hijau itu, membuatnya tidak bisa turun tangan menyerang Bu Lim Sam Siu.

Karena itu, dia segera menaruh gadis itu ke bawah.

Ternyata dia teringat akan pesan Tiong Ciu Sin Ie.

'Terhadap seseorang yang terluka parah, baik dia wanita maupun lelaki, musuh atau kawan dan dalam situasi apa pun, kau harus bertanggung jawab sebagai seorang tabib!

Mengobatinya sekaligus melindunginya agar dia bisa lekas pulih!' Namun keadaan saat ini amat mendesak, mau tidak mau Ciok Giok Yin harus menaruh gadis itu ke bawah.

Sementara Bu Lim Sam Siu tertawa licik.

Kemudian dengan mata menyorot bengis mereka bertiga melangkah maju.

Mendadak Sangkoan Yun San tertawa dingin dan kemudian berkata sepatah demi sepatah.

"Bocah, kalau saat ini kau mampus, justru tidak akan kesepian lho!"

Menyusul Cu Cing Khuang dan Kwee Sih Cun juga tertawa dingin.

"He he he he...!"

Sungguh menyeramkan suara tawa mereka bertiga!

Siapa yang mendengar suara tawa itu pasti akan merinding.

Ciok Giok Yin tahu, kalau tiada gadis berbaju hijau itu, dia seorang diri menghadapi Bu Lim Sam Siu, walau tidak bisa menang, namun juga tidak akan kalah.

Akan tetapi kini dia justru ada halangan, sebab dia harus melindungi gadis tersebut.

Sedangkan Bu Lim Sam Siu amat membenci Ciok Giok Yin.

Itu dikarenakan mereka bertiga memperoleh peta Si Kauw Hap Liok Tou palsu di Goa Toan Teng Tong.

Kemudian mereka bertiga mendengar khabar tentang kemuncuan Ciok Giok Yin di dunia persilatan, maka segera menerima seorang murid wanita yang cantik manis, untuk memikat Ciok Giok Yin agar bisa mencuri peta tersebut.

Namun tak disangka, begitu bertemu Ciok Giok Yin, murid wanita mereka yang bernama Ceng Siauw Yun itu, malah tertarik hatinya.

Seandainya Ciok Giok Yin merupakan pemuda yang buruk rupa, pasti mereka bertiga akan memperoleh peta tersebut dengan gampang sekali.

Cen Siauw Yun memang berhasil mencuri peta itu, namun gadis itu justru menyuruh Ciok Giok Yin pergi ke Goa Cian Hud Tong duluan, untuk mengambil benda pusaka di dalam goa tersebut.

Ternyata tidak mengecewakan gadis itu, sebab akhirnya Ciok Giok Yin memperoleh benda pusaka yang dimaksud.

Tentunya membuat Bu Lim Sam Siu amat gusar, maka mereka bertiga memusnahkan ilmu silat Cen Siauw Yun.

Untung setelah itu Cen Siauw Yun menemukan sesuatu.

Tentang itu akan diceritakan nanti.

Saking bencinya Bu Lim Sam Siu terhadap Ciok Giok Yin, maka ketika melihatnya, mereka bertiga berniat membunuhnya.

Karena itu, seusai tertawa dingin, mereka bertiga langsung menyerang Ciok Giok Yin secara serentak.

Ciok Giok Yin tidak menangkis, melainkan berkelit.

Namun di saat Ciok Giok Yin berkelit, Sangkoan Yun San justru mendekati gadis berbaju hijau yang masih dalam keadaan pingsan.

Ternyata Sangkoan Yun San ingin turun tangan jahat terhadap gadis tersebut.

Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin!

Dia menggeram sambil menerjang ke arah Sangkoan Yun San.

Terkesiap hati Sangkoan Yun San.

Apabila dia turun tangan jahat terhadap gadis itu, nyawanya pun pasti melayang di tangan Ciok Giok Yin.

Oleh karena itu, dia terpaksa berkelit ke samping.

Sedangkan Ciok Giok Yin cepat-cepat menyambar gadis baju hijau itu.

Kini dia tidak berani melepaskan gadis itu lagi, tapi justru membuatnya tidak leluasa bergerak.

Menyaksikan itu, Bu Lim Sam Siu tertawa terkekeh, lalu mendadak melakukan serangan serentak lagi ke arah Ciok Giok Yin dari tiga arah.

Kali ini Ciok Giok Yin betul-betul tidak bisa berkelit.

Dalam keadaan kritis itu, tiba-tiba Ciok Giok Yin mencelat ke atas setinggi dua depa.

Tiga rangkum angin pukulan yang amat dahsyat itu, melewati di bawah kaki Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin tidak bisa berhenti di udara, sebab badannya sudah mulai merosot.

Bu Lim Sam Siu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Mereka langsung melancarkan pukulan lagi ke arahnya.

Ciok Giok Yin betul-betul dalam keadaan bahaya, sebab dia tidak bisa berkelit mau pun menangkis, lantaran menggendong gadis baju hijau.

Kelihatannya Ciok Giok Yin akan....

Mendadak terdengar suara siulan panjang yang amat nyaring, bergema menembus angkasa.

Menyusul tampak sesosok bayangan kuning berkelebat laksana kilat ke tempat itu, sekaligus menangkis pukulan yang dilancarkan Bu Lim Sam Siu sambil membentak.

"Kalian sungguh tak tahu malu, tiga lawan satu! Ayo, cepat enyah!"

Orang yang baru muncul itu memakai kain penutup muka.

Seusai membentak, dia melancarkan pukulan ke arah Bu Lim Sam Siu, bukan main dahsyatnya!

Seketika terdengar suara jeritan Bu Lim Sam Siu, lalu kabur terbirit-birit tanpa menoleh lagi.

Sedangkan Ciok Giok Yin sudah melayang turun.

Karena agak jauh, maka tidak melihat orang itu melancarkan pukulan apa.

Yang jelas pukulan itu membuat Bu Lim Sam Siu terluka dan kabur lintang pukang tidak karuan.

Orang berbaju kuning memakai kain penutup muka itu menatap Ciok Giok Yin dengan tajam.

Ciok Giok Yin tidak tahu siapa orang itu.

Kemudian orang itu pun menatap gadis berbaju hijau dengan dingin.

"Siapa gadis ini?"

Katanya.

Ciok Giok Yin tertegun.

Sebab dia memang tidak tahu siapa gadis tersebut.

Walau berikut kali ini dia sudah dua kali menyelamatkannya, namun belum tahu namanya.

Sesaat kemudian dia baru menjawab.

"Aku masih belum tahu namanya,"

Dia menatap orang itu.

"Terima kasih atas pertolonganmu."

"Siapa kau?"

Tanya orang berbaju kuning dan memakai kain pemutup muka itu.

"Ciok Giok Yin."

Mendadak sepasang mata orang itu menyorot tajam sekali, membuat Ciok Giok Yin merinding dan tanpa terasa mundur dua langkah.

Namun berselang sesaat, sikap orang itu kembali seperti semula.

Hening sejenak.

Kemudian orang berbaju kuning dan memakai kain penutup muka itu bertanya lagi.

"Siapa suhumu?"

"Suhuku adalah Sang Ting It Koay."

"Sang Ting It Koay?"

"Ng"

Orang itu tertawa terkekeh-kekeh. Suara tawanya amat menusuk telinga. Terbelalak Ciok Giok Yin.

"Mengapa Anda tertawa? Apa yang lucu?"

Katanya. Orang berbaju kuning dan memakai kain penutup muka itu berhenti tertawa lalu berkata dengan perlahan-lahan.

"Aku memang pernah bertemu dengan suhumu. Tahukah kau bahwa karena kau murid Sang Ting It Koay, maka sulit bagimu menaruh kaki di dunia persilatan, baik golongan putih maupun golongan hitam?"

"Maksudmu?"

"Perlahan-lahan kau akan mengetahuinya."

"Aku minta penjelasan!"

Ternyata Ciok Giok Yin mulai gusar. Namun orang-orang itu bersikap seperti biasa.

"Tidak perlu kujelaskan. Aku tahu kau melatih ilmu pukulan Soang Hong Ciang. Pukulan itu bisa menakuti kaum rimba persilatan lain, namun terhadapku...."

Perkataan orang itu berhenti mendadak, lalu sepasang matanya menyorot tajam, menatap wajah Ciok Giok Yin dan gadis baju hijau silih berganti.

Karena wajahnya tertutup dengan kain, maka tidak tampak bagaimana air mukanya.

Perkataan orang itu bernada menghina Sang Ting It Koay, maka membuat Ciok Giok Yin menjadi gusar.

Dia menatap orang itu sambil membentak sengit.

"Bagaimana terhadapmu?"

Orang itu menyahut dingin.

"Kelak kau akan mengetahuinya."

"Siapa kau?"

"Kelak kau pun tidak akan jelas."

"Bolehkah aku tahu nama perguruanmu?"

"Itu tidak perlu, tapi...."

Orang itu menghentikan ucapannya. Tapi ketika Ciok Giok Yin baru mau bertanya, dia sudah berkata lagi.

"Adik Kecil, kalau kau sudah merasa tiada tempat di dunia persilatan untukmu, maka kau boleh mencariku, aku pasti berupaya mencarikanmu jalan yang terbaik."

"Kalau begitu, di mana tempat tinggal Anda?"

"Tidak dapat kuberitahukan."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Kalau begitu bagaimana cara aku mencarimu?"

"Kau tidak perlu mencemaskan itu. Apabila sudah waktunya, aku pasti akan mencarimu."

Usai berkata, orang itu menatap Ciok Giok Yin dan gadis berbaju hijau lagi, lalu melesat pergi.

Ciok Giok Yin terkesima menyaksikan ginkang orang itu, sebab amat tinggi sekali.

Ciok Giok Yin tidak memikirkan orang itu.

Dia menundukkan kepala melihat gadis berbaju hijau.

Ternyata nafas gadis itu semakin lemah.

Karena itu, Ciok Giok Yin cepat-cepat menggendongnya ke bawah sebuah pohon besar.

Sungguh di luar dugaan, di samping pohon besar itu terdapat sebuah goa.

Bukan main girangnya Ciok Giok Yin!

Dia langsung membawa gadis berbaju hijau ke dalam goa.

Sampai di dalam goa, dibaringkannya gadis itu, kemudian dia mengambil sebutir pil Giok Jun dan langsung dimasukkan ke dalam mulut gadis itu.

Berselang beberapa saat, wajah gadis itu mulai tampak kemerahmerahan dan nafasnya pun tidak begitu lemah lagi.

Ketika Ciok Giok Yin duduk di samping gadis itu mendadak tampak sesosok bayangan melesat ke dalam goa.

Ciok Giok Yin langsung meloncat ke hadapan gadis baju hijau.

Jilid 11 Setelah berada di hadapan gadis baju hijau, barulah Ciok Giok Yin memandang ke depan.

Ternyata yang melesat ke dalam goa itu adalah seorang nenek tua.

Dia berdiri sambil menatap gadis baju hijau dengan mata berbinar-binar.

Akan tetapi nenek tua itu tidak memperdulikan keberadaan Ciok Giok Yin, seakan tidak melihatnya.

Berselang sesaat, nenek tua melangkah maju.

Ciok Giok Yin tidak tahu siapa nenek itu.

Dia langsung menghadang di depannya seraya membentak.

"Berhenti!"

Namun nenek tua itu seperti tidak mendengar, tetap melangkah maju. Ciok Giok Yin melotot.

"Kalau kau masih maju, jangan menyalahkanku kalau aku berlaku tidak sungkan padamu!"

Bentaknya lagi. Nenek tua itu mendengus, kemudian bertanya.

"Siapa dia?"

"Mau apa kau bertanya?"

"Aku cuma ingin tahu!"

"Kau tidak perlu tahu!"

"Kau tidak mau memberitahukan?"

"Tepat dugaanmu!"

"Kalau begitu, tentunya aku boleh bertanya padamu!"

Sepasang mata nenek tua menyorot tajam.

Ketika dia mau melangkah maju lagi, bukan main gugupnya Ciok Giok Yin.

Dia langsung menyerangnya dengan totokan, ke arah jalan darah Sian Kie Hiat, Hwa Kay Hiat dan Ling Sim Hiat nenek tua.

Apabila nenek tua tidak cepat-cepat mencelat ke belakang pasti tertotok.

Karena itu, si nenek tua terpaksa meloncat ke belakang.

Setelah itu, dia tertawa terkekeh-kekeh.

Justru sungguh mengherankan, suara tawa si nenek tua amat sedap di dengar, mirip suara tawa seorang gadis berusia tujuh belas, lagi pula tampak dua deret giginya yang amat putih bersih.

Akan tetapi wajahnya sudah keriput, membuat orang merasa muak menyaksikannya.

Ciok Giok Yin tertegun.

"Mengapa kau tertawa?"

Tanyanya. Si Nenek tua berhenti tertawa, lalu menyahut.

"Hubungan kalian berdua tentu sudah akrab sekali."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Omong kosong!"

"Nyatanya memang begitu!"

"Mana buktinya? Harap dijelaskan!"

Si Nenek tua menyahut dengan wajah tak berperasaan.

"Sederhana sekali! Kalau hubungan kalian tidak akrab, bagaimana mungkin kau mati-matian membela dan melindunginya?"

"Itu karena dia terluka?"

Kata Ciok Giok Yin dengan sengit.

"Dia terluka apa?"

Ciok Giok Yin tertegun. Gadis baju hijau memang terluka di dalam Goa Sesat, namun siapa yang melukainya, Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu. Karena itu, dia menyahut dengan tersendat-sendat.

"Ini... ini...."

"Bagaimana? Cepat katakan!"

Ciok Giok Yin melototi nenek tua, kemudian menyahut,.

"Tanpa sengaja aku bertemu dia di Goa Sesat! Aku merasa heran ketika melihat dia masuk ke dalam goa itu, maka kemudian aku menyusul masuk! Tak kusangka aku menemukan nona ini di dalam goa dalam keadaan terluka!"

"Begitu sederhana?"

"Memang begitu!"

"Setahuku, Goa Sesat itu tidak sedemikian sederhana! Sayang sekali aku belum menyelidikinya, sebetulnya siapa yang membuat Goa Sesat itu!"

"Apakah di dalam Goa Sesat itu terdapat suatu racun jahat?"

"Sulit dikatakan! Kau sudah masuk ke dalam, sudah pasti jelas mengenai keadaan di dalamnya!"

"Tidak salah, aku memang sudah masuk ke dalam!"

"Bagaimana keadaan di dalam Goa Sesat itu?"

Ciok Giok Yin melihat si nenek tua tidak berniat jahat, maka segera menutur tentang apa yang dialaminya di dalam goa tersebut, kemudian menambahkan.

"Ketika aku ke luar, di dalam goa itu masih ada Thian It Ceng dan seorang tosu tua."

"Mereka berdua sudah keluar!"

"Sudah keluar?"

"Tidak salah!"

"Kau yang menyelamatkan mereka berdua?"

"Bukan aku."

"Siapa?"

"Aku tidak melihatnya."

Usai berkata, nenek tua itu duduk bersila.

Ciok Giok Yin berharap dia cepat-cepat pergi, agar tidak banyak bertanya ini dan itu.

Tidak tahunya si nenek tua malah duduk di situ, kelihatannya tidak ingin cepat-cepat pergi.

Nenek tua diam, maka Ciok Giok Yin memandang gadis baju hijau.

Wajah gadis itu sudah seperti biasa, begitu pula nafasnya dan kelihatan tidur pulas.

Nenek tua menatap gadis baju hijau sambil bergumam perlahan-lahan.

"Sungguh cantik gadis ini!"

Dia manggut-manggut.

"Gadis yang sedemikian cantik, siapa yang tidak menyukainya?"

Nenek tua itu melanjutkan lagi.

"Aku nenek tua pun amat gembira melihatnya."

Tiba-tiba nenek tua itu menghela nafas panjang sambil menggeleng-geleng kepala dan berkata.

"Namun sayang sekali, sepasang mata gadis ini tidak bisa melihat lebih jauh. Kalau tidak dapat melihat jelas lelaki, kelak pasti menderita. Contohnya diriku."

Ciok Giok Yin yang berada di sampingnya nyaris tertawa geli mendengarnya.

Hatinya tergerak dan membatin, 'Mungkinkah ketika masih muda, nenek tua ini salah memilih lelaki sehingga saat ini bergumam demikian?' Karena itu, Ciok Giok Yin merasa simpati padanya dan tanpa sadar berkata dengan suara rendah.

"Apakah lo cianpwee menderita dalam hal perjodohan?"

Nenek tua itu mengangguk.

"Tidak salah."

"Kini lo cianpwee sudah tua, mengapa tidak hidup tenang di rumah, malah berkeliaran di dunia persilatan?"

"Tentunya aku punya alasan."

"Alasan apa?"

"Mencari orang."

"Lo cianpwee mencari siapa?"

"Hu Sim Jin (Orang Yang Tak Setia)."

"Hu Sim Jin?"

"Tidak salah."

"Siapa dia?"

"Dia adalah orang yang kuanggap sebagai jantung hatiku."

Ciok Giok Yin tertawa dalam hati, sebab si nenek tua kelihatan sudah berusia di atas tujuh puluh, namun masih berkeliaran di dunia persilatan mencari kakek tua.

"Lo cianpwee sudah menderita lantaran perjodohan, mengapa masih tidak bisa melupakan Hu Sim Jin? Bukankah akan membuat lo cianpwee bertambah menderita?"

Nenek tua itu melototinya.

"Hm! Sungguh sederhana omonganmu!"

"Apakah aku salah omong?"

"Tentu tidak benar."

"Maaf, lo cianpwee, aku tidak pahan akan maksud lo cianpwee."

Nenek tua melototinya lagi, kemudian menyahut.

"Kalian orang muda, semuanya ingin mencari yang cantik jelita, agar bisa tetap bersama. Apakah kami orang yang sudah tua harus terus hidup merana?"

Mendengar itu, Ciok Giok Yin sudah tak tertahan, langsung tertawa gelak.

"Ha ha ha...!"

Sepasang maata nenek tua itu mendelik.

"Kau tertawa apa?"

Bentaknya guar. Ciok Giok Yin berhenti tertawa, lalu menyahut.

"Menurutku, lebih baik lo cianpwee tidak usah pergi mencarinya."

"Mengapa?"

"Dia meninggalkanmu, pertanda dia sengaja menjauhimu, jadi tidak usah...."

"Tapi, aku justru terus-menerus mengikuti di belakangnya,"

Sergah nenek tua.

"Kalau begitu, mengapa lo cianpwee tidak menghentikannya?"

"Suatu hari nanti, aku pasti mematahkan sepasang kakinya!"

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Hah? Lo cianpwee begitu sadis terhadapnya?"

"Tentu! Tapi hingga saat ini aku belum melihatnya melakukan suatu kejahatan, maka aku diam saja."

"Apakah orang itu adalah iblis seks?"

Tanya Ciok Giok Yin. Nenek tua itu melotot lalu membentak keras.

"Tidak boleh memfitnahnya sembarangan! Namun... memang ada beberapa gadis amat menyukainya, bahkan terus-menerus mencarinya!"

Ciok Giok Yin terperangah matanya terbeliak.

"Beberapa gadis?"

"Apakah aku membohongimu?"

"Kalau begitu, berapa usia Hu Sim Jin itu?"

Nenek tua tertegun, lalu mendadak bangkit berdiri sambil menyahut dengan dingin sekali.

"Sudah pasti usianya tidak begitu besar, maka begitu banyak gadis berusia tujuh belasan jatuh cinta padanya! Bukankah pertanyaanmu itu agak berlebihan?"

Semula Ciok Giok Yin melongo, namun ketika tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha! Kalau begitu, bukankah usia lo cianpwee terpaut jauh dengan orang itu? lalu bagaimana saling memanggil?"

"Dasar kentut bau! Bagaimana kau tahu berapa usiaku?"

Bentak nenek tua.

Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala, lalu berkata dalam hati, 'Saking memikirkan lelaki, nenek tua ini jadi pikun' Dia diam, setelah itu memandang gadis berbaju hijau.

Mendadak nenek tua itu bergumam.

"Hu Sim Jin, setelah kau berhasil mempelajari ilmu silat tinggi, jangan lupa akan gadis di dalam Goa Toan Teng Tong itu! Aku sudah tidak mau...."

Air matanya bercucuran, suaranya juga berubah terisak-isak.

Usai bergumam, dia langsung melesat pergi.

Begitu mendengar Goa Toan Teng Tong, hati Ciok Giok Yin tergerak.

'Apakah nenek tua itu adalah ibunya kakak Siu?' Setelah berpikir demikian, dia pun melesat ke luar seraya berseru.

"Lo cianpwee, harap tunggu sebentar!"

Akan tetapi, Nenek tua itu sudah tidak kelihatan. Ciok Giok Yin terus berseru hingga tenggorokannya terasa kering, namun tetap tiada sahutan.

"Lo cianpwee! Harap tunggu! Lo cianpwee...!"

Tetap tiada sahutan.

Akhirnya Ciok Giok Yin kembali ke dalam goa.

Namun tak disangka di dalam goa itu telah kosong, tidak tampak bayangan gadis baju hijau.

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin.

Dia segera melesat ke luar dan mencari ke mana-mana, tapi sama sekali tidak menemukan jejak gadis itu.

Dia membanting kaki seraya menghela nafas panjang dan bergumam.

"Lukanya belum pulih, apakah...."

Mendadak terdengar suara yang amat dingin.

"Temanmu itu, dibawa pergi oleh seorang nona."

Suara itu amat dikenal Ciok Giok Yin, membuat sekujur badannya menjadi merinding.

"Bok Tiong Jin (Orang Dalam Kuburan)!"

Serunya tak tertahan. Ciok Giok Yin tidak berani menoleh, sebab takut melihat wajah hantu wanita yang amat menyeramkan itu.

"Ciok Giok Yin, tahukah kau siapa gadis berbaju hijau itu?"

Tanya Bok Tiong Jin.

"Tidak tahu."

"Dia adalah putri ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, namanya Hui Hui."

Ciok Giok Yin terentak kaget.

"Hui Hui?"

"Ng!"

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Hantu pasti tahu segalanya."

Hening sejenak, kemudian terdengar suara Bok Tiong Jin lagi.

"Kau harus hati-hati, karena orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee ingin menangkapmu."

"Menangkapku?"

"Kelihatannya kau amat penting bagi mereka."

Ciok Giok Yin yang bersifat angkuh itu, langsung menyahut.

"Aku tidak takut."

"Musuh di tempat gelap, kau di tempat terang. Yang rugi tentu dirimu."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening, memang tidak salah amat banyak anggota perkumpulan Sang Yen Hwee. Walau kepandaiannya tinggi, namun tetap cuma seorang diri.

"Aku cuma mengingatkanmu saja,"

Kata Bok Tiong Jin lagi.

"Mengapa kau mengingkatkanku?"

Tanya Ciok Giok Yin. Hening sejenak. Ciok Giok Yin mengira bahwa Bok Tiong Jin telah pergi. Ketika dia mau menolehkan kepalanya ke belakang, mendadak terdengar suara Bok Tiong Jin lagi.

"Karena hatimu sudah menjadi milikku."

"Aku tahu."

"Bagus! Justru karena itu, maka aku terus mengikutimu. Apabila kau tertangkap oleh mereka dan dicincang, bukankah harapanku akan jadi kosong?"

Ciok Giok Yin tidak menyahut.

"Namun hatimu sudah tidak utuh lagi."

"Maksudmu?"

"Kau mengerti dalam hati."

"Aku sama sekali tidak tahu di mana ketidak utuhan hatiku."

"Sekarang kita tak usah berbicara soal ini."

"Kalau begitu, apa yang harus kita bicarakan sekarang?"

"Aku dengar kau sedang mencari sebatang Seruling Perak. Benarkah?"

"Tidak salah, aku harus memperolehnya."

Bok Tiong Jin tidak bersuara.

"Tahukah kau di mana adanya benda pusaka itu?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Beberapa bulan yang lalu, aku dengar kau pernah ke Goa Toan Teng Tong. Ya, kan?"

"Ya. Aku menemukan tulisan di dinding goa...."

"Tulisan apa?"

"Yang tertulis di situ ialah Seruling Perak Lak Hap Kun."

"Berdasarkan tulisan itu, sepertinya orang bernama Lak Hap Kun telah mengambil Seruling Perak itu. Ya, kan?"

"Dugaanku juga begitu."

"Tapi belum lama ini aku memperoleh suatu informasi, bahwa benda itu tersimpan di Ling Cuang. Kau boleh ke sana melihatlihat."

"Di mana letak Ling Cuang?"

"Di luar kota Lokyang."

"Terimakasih atas petunjukmu."

"Tidak usah berterimakasih."

Mendadak Ciok Giok Yin bertanya.

"Mohon tanya sesunggahnya kau membutuhkan bantuan apa dariku?"

Bok Tiong Jin sepertinya tertegun, tidak menyangka Ciok Giok Yin akan bertanya demikian padanya. Beberapa saat kemudian dia baru menyahut.

"Aku tidak butuh bantuanmu, hanya menginginkan hatimu."

Coba bayangkan, kalau hati seseorang dikorek ke luar, apakah mungkin orang itu masih bisa hidup?

Namun setiap kali Bok Tiong Jin berbicara dengan Ciok Giok Yin, pasti menyinggung soal hatinya.

Itu membuktikan bahwa hati Ciok Giok Yin amat penting bagi Bok Tiong Jin.

Ciok Giok Yin merinding mendengarnya.

"Aku memang tidak mau berhutang budi pada siapa pun. Tapi kalau hatiku dikorek ke luar, nyawaku pasti melayang. Mengenai semua urusanku tentu terbengkalai."

"Sudah kukatakan dari tempo hari, sekarang aku belum mau."

"Setelah semua urusanku beres?"

"Tentu."

"Janji ya?"

"Siapa akan membohongimu?"

Ketika berkata demikian, suara Bok Tiong Jin amat merdu, sungguh sedap di dengar! Tiba-tiba Bok Tiong Jin berkata.

"Ada orang kemari, sampai jumpa!"

Suasana di tempat itu berubah menjadi hening. Namun kemudian mendadak terdengar suara seruan kaget.

"Ih, Saudara Ciok, kau sedang berbicara dengan siapa?"

Ciok Giok Yin segera membalikkan badannya.

Ternyata seorang gadis berdiri di situ, yang tidak lain adalah Yap Ti Hui.

Wajah gadis itu pucat pias, tanpa sedikit perasaan pun.

Ciok Giok Yin langsung memanggilnya.

"Nona Yap...."

Yap Ti Hui bertanya cepat.

"Barusan kau berbicara dengan siapa?"

Sebetulnya Ciok Giok Yin ingin memberitahukan, bahwa tadi dia berbicara dengan hantu wanita. Tapi belum tentu Yap Ti Hui akan mempercayainya. Karena itu dia tersenyum getir lalu berkata.

"Tadi aku tidak bicara dengan siapa-siapa, harap Nona jangan banyak bercuriga!"

Sepasang mata Yap Ti Hui yang bening itu menatap dengan tidak berkedip. Kemudian sepasang bola matanya berputar sejenak dan dia berkata.

"Kalau begitu, aku yang banyak curiga."

Ciok Giok Yin pernah menerima budi pertolongannya, namun wajahnya yang dingin tak berperasaan itu membuat Ciok Giok Yin merasa tidak enak. Karena itu dia menjura seraya berkata.

"Nona Yap, sampai jumpa!"

Namun ketika Ciok Giok Yin mau meninggalkan tempat itu mendadak Yap Ti Hui membentak nyaring.

"Berhenti!"

Ciok Giok Yin terpaksa menolehkan kepalanya memandang gadis itu.

"Nona ada petunjuk apa?"

Tanyanya.

"Kau tidak sopan!"

Sahut Yap Ti Hui ketus.

"Ucapanmu, aku tidak mengerti!"

Yap Ti Hui menatapnya dingin sambil berkata.

"Di hadapan seorang gadis, kau bilang mau pergi lantas pergi, apakah itu sopan?"

Mendengar itu Ciok Giok Yin menjadi melongo, sehingga mulutnya ternganga lebar.

"Ciok Giok Yin, apakah aku tidak pernah berbudi padamu?"

Kata Yap Ti Hui.

"Memang ada."

"Kalau begitu, kau harus bagaimana membalas budiku?"

Ciok Giok Yin tertegun.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau kaum gadis rimba persilatan sungguh macam-macam.

Di hadapan orang yang pernah ditolongnya justru bertanya bagaimana cara membalas budi pertolongannya.

Maka tidak mengherankan kalau pertanyaan itu membuat Ciok Giok Yin tertegun beberapa saat.

"Nona menghendakiku harus bagaimana membalasnya?"

"Cobalah kau katakan, bisa memberikan balasan apa padaku?"

"Aku seorang pengembara miskin, tidak memiliki benda berharga untuk dihadiahkan pada Nona. Namun kalau Nona membutuhkan diriku, walau harus menerjang lautan api, aku pun tidak akan menolak."

"Tapi sementara ini, masih belum terpikirkan...."

"Kalau begitu, kalau pun boleh. Pokoknya aku akan membalas budi pertolonganmu."

Yap Ti Hui diam kelihatannya sedang memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian dia baru berkata.

"Aku ingin minta sesuatu darimu."

"Kau mau minta apa dariku?"

"Hati."

"Hati?"

Muncul lagi seorang yang menginginkan hatinya.

Bok Tiong Jin baru pergi, lalu muncul Yap Ti Hui yang juga minta hatinya.

Itu sungguh membingungkan Ciok Giok Yin!

Apa gunanya mereka minta hatinya?

Kalau untuk dimakan, tentunya tidak masuk akal.

Kalau begitu, apa gunanya 'hati' bagi mereka?

Ciok Giok Yin tertawa gelak, kemudian berkata.

"Sayang sekali kau terlambat!"

Sepasang bola mata Yap Ti Hui tampak berputar, setelah itu dia bertanya.

"Maksudmu?"

"Sudah kuberikan pada orang lain."

"Siapa?"

"Bok Tiong Jin."

"Omong kosong!"

"Sungguh!"

Yap Ti Hui tertawa cekikikan lalu berkata.

"Bukankah Bok Tiong Jin itu hantu? Mau apa dia menginginkan hatimu?"

"Aku tidak membohongimu."

"Aku tidak perduli, pokoknya sautu hari nanti, kau harus menyerahkan hatimu padaku. Kalau tidak, aku pasti tidak akan mengampunimu."

Ciok Giok Yin terbelalak mendengar ucapan gadis itu.

"Itu... itu...,"

Katanya terputus-putus.

"Tidak perlu ini itu, sekarang aku mau pergi!"

Yap Ti Hui langsung melesat pergi, namun sayup-sayup masih terdengar suaranya.

"Ciok Giok Yin, kelak kau akan mengerti!"

Bukan main kesalnya Ciok Giok Yin! Dia membanting kaki seraya mengomel.

"Dasar sial, ketemu hantu!"

Mendadak suara desiran di belakangnya, menyusul terdengar pula suara yang amat merdu.

"Di mana ada hantu?"

Ciok Giok Yin cepat-cepat membalikkan badannya.

Tampak dua gadis amat cantik berbaju hijau berdiri di belakangnya.

Hati Ciok Giok Yin tersentak, karena ginkang ke dua gadis berbaju hijau itu sunggung tinggi!

Mereka berdua sudah berdiri di belakang Ciok Giok Yin, namun Ciok Giok Yin tidak tahu sama sekali.

Sudah barang tentu membuat air muka Ciok Giok Yin berubah.

"Mau apa Nona ke mari?"

Tanyanya.

"Kau adalah Ciok Giok Yin?"

"Tidak salah."

"Suhuku mengundangmu ke sana."

"Siapa suhumu?"

"Sampai di sana kau akan mengetahuinya."

"Kau tidak mau bilang?"

"Maaf! Sementara ini aku memang tidak bisa bilang."

"Aku tidak kenal suhu kalian, maaf aku tidak bisa ikut kalian ke sana,"

Kata Ciok Giok Yin dengan dingin. Kedua gadis baju hijau saling memandang.

"Maaf, aku masih ada urusan lain, harus segera pergi,"

Kata Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin membalikkan badannya. Namun ketika dia mau melesat pergi tiba-tiba kedua gadis baju hijau tertawa dingin seraya membentak dengan serentak.

"Kau tidak bisa pergi!"

Tampak badan mereka berdua berkelebat, tahu-tahu sudah berada di samping kanan kiri Ciok Giok Yin, bahkan sekaligus mencengkeram lengannya.

Ciok Giok Yin tidak berhasil berkelit, sehingga kedua lengannya tercengkram oleh kedua gadis itu dan seketika sekujur badannya terasa tak bertenaga.

Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin!

"Sebetulnya siapa kalian berdua?"

Bentaknya sengit.

"Sampai di sana kau akan mengatahuinya."

Usai menyahut, kedua gadis itu turun tangan serentak menotok jalan darah Ciok Giok Yin.

Setelah jalan darah Cian Mo Hiatnya tertotok, sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi lemas tak bertenaga, boleh dikatakan seperti orang biasa.

Namun kepandaiannya tidak musnah.

Kalau totokan itu dibebaskan, maka akan pulih seperti biasa.

Kedua gadis baju hijau tertawa cekikikan, kemudian berkata.

"Jalan!"

Dapat dibayangkan, betapa gusarnya Ciok Giok Yin, tapi tidak dapat dilampiaskannya.

Kini dirinya telah dikendalikan orang, terpaksa harus menurut.

Dia menatap kedua gadis baju hijau dengan penuh kebencian, lalu berjalan dengan kepala tertunduk.

Sedangkan kedua gadis baju hijau mengikutinya dari belakang, kelihatan ketat sekali.

Ciok Giok Yin berjalan seperti orang biasa, sudah tentu lamban sekali.

Maka tidak mengherankan, walau hari sudah sore, namun mereka baru berjalan empat puluhan mil.

Berselang beberapa saat, Ciok Giok Yin menoleh ke belakang seraya bertanya.

"Sebetulnya kalian ingin membawaku ke mana?"

"Kau akan tahu nanti."

Tak seberapa lama kemudian mereka sudah tiba di sebuah kota kecil.

Mereka bertiga langsung memasuki sebuah penginapan.

Seusai makan malam, kedua gadis baju hijau membawa Ciok Giok Yin ke dalam kamar.

Ciok Giok Yin duduk, sambil menatap kedua gadis itu dengan dingin.

"Kalian keluar saja!"

Katanya.

"Tidak apa-apa. Kau boleh tidur sekarang."

Kedua gadis itu duduk, kelihatannya mereka berdua tidak mau meninggalkan kamar itu.

Ciok Giok Yin naik ke tempat tidur lalu duduk bersila dengan mata terpejam.

Ternyata dia ingin mencuri pembicaraan mereka, agar tahu identitas mereka.

Akan tetapi kedua gadis itu justru tidak bersuara sama sekali, mereka berdua duduk seperti orang bisu.

Akhirnya Ciok Giok Yin yang membuka mulut.

"Nona, kini aku sudah kalian kendalikan, pasti tidak bisa meloloskan diri. Aku amat lelah, maka ingin beristirahat sejenak. Harap kalian berdua meninggalkan kamar ini!"

Kedua gadis baju hijau saling memandang, kemudian salah seorang yang berwajah bulat berkata.

"Kau memang tidak bisa meloloskan diri."

Kedua gadis baju hijau berjalan ke luar, sekaligus menutup daun pintu kamar, lalu duduk di depan pintu itu.

Ciok Giok Yin tidak memperdulikan kedua gadis itu.

Dia langsung membaringkan dirinya di atas ranjang.

Namun dia juga tidak habis pikir, sebetulnya siapa kedua gadis itu?

Lagi pula, kepandaian mereka amat tinggi sekali.

Kelihatannya kepandaiannya masih jauh dibandingkan dengan mereka.

Mungkin kelelahan dalam perjalanan membuatnya cepat tertidur pulas.

Akan tetapi mendadak samar-samar dia mendengar suara orang.

"Kau memang makan kenyang dan tidur pulas."

Ciok Giok Yin tersentak, sehingga terjaga dari tidurnya.

Dia membuka matanya lebar-lebar.

Tampak di depan ranjang berdiri seorang tua bongokok, sebuah guci arak besar bergantung di punggungnya.

Ciok Giok Yin segera bangun.

"Lo cianpwee, jalan darah Cian Mo Hiatku ditotok kedua gadis baju hijau itu,"

Katanya. Orang tua bongkok itu tidak menyahut, cuma menjulurkan tangannya membebaskan totokan itu. Ciok Giok Yin cepatcepat menghimpun hawa murninya, dan seketika tenaganya pulih kembali.

"Cepat pergi, sebentar lagi kedua gadis itu akan sadar!"

Kata orang tua bongkok dengan saura rendah.

Kemudian dia melesat ke luar melalui jendela.

Ciok Giok Yin tidak tahu bagaimana keadaan kedua gadis baju hijau.

Dia segera melesat ke luar melalui jendela mengikuti orang tua bongkok.

Dalam sekejap mereka berdua sudah tiba di luar kota.

Orang tua bongkok melesat ke dalam rimba.

Ciok Giok Yin terus mengikutinya dari belakang.

Pemuda ini merasa heran, sebab orang tua bongkok itu sering menyelamatkannya.

Oleh karena itu, tanpa curiga dia terus mengikuti orang tua bongkok itu dari belakang.

Berselang sesaat, orang tua bongkok itu berhenti lalu membalikkan badannya menatap Ciok Giok Yin dengan tajam.

Tatapan tajamnya membuat Ciok Giok Yin merinding dan tanpa sadar kakinya menyurut mundur selangkah.

Kemudian dia memberi hormat seraya berkata.

"Terimakasih atas pertolongan lo cianpwee. Bolehkah aku tahu gelar lo cianpwee?"

Orang tua bongkok tidak menyahut, melainkan berkata seperti bergumam.

"Aku selalu merasa kau mirip seseorang."

"Aku mirip siapa?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Mirip...,"

Orang tua bongkok tidak melanjutkan ucapannya. Ciok Giok Yin segera bertanya.

"Mirip siapa?"

"Kalau benar kau adalah keturunannya. Namun lebih baik sementara ini jangan dibicarakan."

"Mengapa?"

"Tiada manfaatnya bagimu, sebaliknya malah akan mencelakaimu."

Orang tua bongkok menatapnya, lalu bertanya.

"Bagaimana kau ditangkap oleh kedua gadis itu?"

Ciok Giok Yin menutur tentang kejadian itu, kemudian bertanya.

"Pengetahuan lo cianpwee amat luas, apakah tahu asal-usul kedua gadis berbaju hijau itu?"

Orang tua bongkok tidak langsung menjawab, melainkan memutar guci araknya ke depan, setelah meneguk beberapa kali, barulah menyahut.

"Menurut dugaanku, kedua gadis itu mungkin dari Goa Ban Hoa Tong."

"Goa Ban Hoa Tong?"

"Ng!"

"Aku pernah ke Goa Ban Hoa Tong, tidak mungkin mereka berdua dari goa tersebut,"

Kata Ciok Giok Yin.

"Kau kenal semua penghuni Goa Ban Hoa Tong?"

Ciok Giok Yin menggelengkan kepala.

"Tidak, setahuku di dalam Goa Ban Hoa Tong hanya terdapat Ban Hoa Tongcu dan kaum pemuda ganteng."

Orang tua bongkok meneguk araknya lagi, lalu berkata.

"Kau keliru."

"Bagaimana keliru?"

"Kaum wanita penghuni Goa Hoa Tong, semuanya menyamar sebagai pemuda."

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Hah? Mereka menyamar sebagai pemuda?"

Orang tua bongkok manggut-manggut.

Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat akan Fang Jauw Cang.

Apakah dia juga menyamar sebagai pemuda?

Kalau dia menyamar, tentunya Ciok Giok Yin tahu akan hal itu, sebab entah sudah berapa kali Ciok Giok Yin memeluknya.

Hanya saja...

di saat berbicara, Fang Jauw Cang kelihatan malu-malu dan wajahnya sering memerah.

"Itu tidak akan salah,"

Kata orang tua bongkok. Ciok Giok Yin segera memberitahukan.

"Aku kenal seseorang dari Goa Ban Hoa Tong."

"Lelaki atau wanita?"

Ciok Giok Yin tidak menyahut, melainkan menutur tentang itu. Orang tua bongkok manggut-manggut ketika mendengar penuturan Ciok Giok Yin, setelah itu berkata.

"Kalau kau tidak percaya, kapan bertemu kau boleh bertanya padanya."

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Aku pasti tanya."

Mendadak Ciok Giok Yin teringat sesuatu dan segera berkata.

"Lo cianpwee, aku ingin menanyakan suatu tempat."

"Tempat apa?"

"Di mana letak Liok Bun (Pintu Hijau)?"

Ternyata Ciok Giok Yin merasa kepandaiannya masih rendah, kalau begitu terus, tentunya tidak dapat memenuhi harapan gurunya untuk membasmi murid murtad itu, juga tidak bisa menuntut balas dendam Bun It Coan, kakak agkatnya.

Oleh karena itu dia harus pergi ke Liok Bun, bermohon pada ayah Bun It Coan agar menurunkan padanya beberapa macam ilmu silat.

Orang tua bongkok terbeliak.

"Liok Bun?"

"Ng!"

"Mau apa kau menanyakan Liok Bun?"

"Aku ingin pergi ke sana."

Orang tua bongkok terbeliak.

"Nyalimu sungguh tidak kecil!"

"Maksud lo cianpwee?"

"Setahuku siapa yang datang di Liok Bun tidak pernah kembali lagi. Mengapa kau harus pergi menempuh bahaya?"

"Biar bagaimanapun aku harus ke sana."

"Penting sekali?"

"Mendapat titipan pesan dari seseorang, maka aku harus melaksanakannya."

"Siapa yang menitip pesan itu?"

Pertanyaan tersebut membuat Ciok Giok Yin menjadi merasa serba salah, sebab sebelum menghembuskan nafas penghabisan, Bun It Coan pernah berpesan padanya, jangan sampai membocorkan tentang kematiannya pada ayahnya.

Karena itu, Ciok Giok Yin berkata.

"Mohon maaf lo cianpwee, aku tidak boleh menceritakannya."

"Kalau begitu, kau tidak punya hubungan apa-apa dengan Liok Bun?"

"Memang tidak ada hubungan apa-apa."

"Aku boleh memberitahukan padamu, dari mereka yang pernah ke Liok Bun, cuma satu orang yang berhasil ke luar dengan selamat."

"Siapa orang itu?"

Tanya Ciok Giok Yin. Orang tua bongkok menunjuk hidungnya sendiri sambil menyahut.

"Aku!"

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin!

Dia menatap orang tua bongkok dengan mata terbelalak.

Padahal orang tua bongkok itu tampak tidak karuan, namun justru pernah ke Liok Bun yang amat misterius itu.

Kalau begitu, sudah pasti kepandaiannya setingkat dengan majikan Liok Bun tersebut.

"Mohon lo cianpwee sudi memberi petunjuk agar aku bisa sampai di sana!"

Orang tua bongkok meliriknya beberapa kali, kemudian berkata.

"Liok Bun berada di Lembah Sia Hui Kok Gunung Lu Liang San."

"Lembah Sia Hui Kok?"

"Tidak salah, namun sulit sekali mencari lembah itu."

"Lo cianpwee, aku mohon petunjuk tentang itu."

Orang tua bongkok manggut-manggut.

"Kau harus ke puncak Mo Sia Hong, di sana kau akan melihat kabut berwarna-warni, yang berasal dari Lembah Sia Kok. Kau harus menuju ke sana. Di tempat itu terdapat sebuah batu besar. Asal kau dapat menggeserkan batu besar itu, maka kau bisa masuk ke dalam."

"Terima kasih atas petunjuk lo cianpwee,"

Kata Ciok Giok Yin.

"Tentang gelar lo cianpwee, bolehkah diberitahukan padaku?"

Orang tua bongkok berpikir sejenak, kemudian menyahut.

"Kau boleh panggil aku si Bongkok Arak."

Orang tua bongkok tetap tak memberitahukan namanya.

Sudah barang tentu membuat Ciok Giok Yin menjadi serba salah.

Karena orangtua itu merupakan penolongnya, bagaimana mungkin dia memanggilnya si Bongkok Arak?

Namun Ciok Giok Yin yakin bahwa dengan julukan itu dia tentu akan tahu namanya kelak.

Dia memberi hormat dan berkata.

"Entah sudah berapa kali lo cianpwee menyelamatkan diriku. Aku tidak akan melupakan budi pertolongan to cianpwee selama-lamanya."

"Tidak perlu. Karena kau mirip seseorang. Kalau benar kau adalah keturunannya, maka aku memang harus menyelamatkanmu, bahkan juga harus melin-dungi."

"Lo cianpwee tidak bisa menjelaskan?"

"Sementara ini tidak bisa, namun cepat atau lambat kau akan tahu sendiri."

Orang tua bongkok menatapnya.

"Baiklah, kau boleh pergi sekarang. Aku pun masih ada urusan lain, sampai jumpa!"

Orang tua bongkok melesat pergi dan sekejap sudah hilang dari pandangan Ciok Giok Yin.

Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin langsung berangkat ke Lembah Sia Hui Kok menemui ayah Bun It Coan, untuk bermohon diajarkan beberapa macam ilmu silat tinggi agar dapat menuntut balas kematian Bu It Coan.

Namun disaat bersamaan justru muncul bayangan Fang Jauw Cang di pelupuk matanya.

Karena dia telah berjanji pada Fang Jauw Cang, dua bulan kemudian akan bertemu kembali di kuil Thay San Si.

Kini racun yang mengidap di tubuhnya telah punah, maka dia harus memberitahukan padanya.

Dan juga kali ini dia harus menyelidiki secara seksama, apakah benar Fang Jauw Cang adalah seorang gadis yang menyamar sebagai pemuda.

Dia harus menasehatinya agar pulang ke rumah, jangan berkecimpung di dunia persilatan yang penuh marabahaya.

Lagi pula dirinya tidak seperti orang biasa.

Seandainya dia tidak dapat mengendalikan diri, tentu akan mencelakakannya.

Walau dia memiliki kitab Im Yang Cin Koy, namun kitab itu khusus untuk dibaca istrinya, agar tahu harus bagaimana melayaninya di saat berhubungan intim, tidak boleh dikeluarkan sembarangan.

Dan juga nyawa Tiat Yu Kie Su telah melayang lantaran mencuri kitab itu, dan budi kebaikan itu belum dibalasnya....

Selanjutnya dia teringat pula akan calon istrinya, yaitu Ie Ling Ling, yang belum pernah ditemuinya.

Berada di mana Ie Ling Ling?

Cak Hun Cian mati demi dirinya.

Karena itu dia harus membalas budi tersebut dengan memperistri Ie Ling Ling, maka harus berhasil mencari gadis itu.

Ciok Giok Yin menarik nafas panjang, setelah itu barulah melesat pergi.

Tujuannya, yakni Kuil Thay San Si.

Sementara itu hari sudah mulai terang, sudah tampak beberapa orang berlalu lalang di jalan.

Agar tidak menimbulkan kecurigaan orang, Ciok Giok Yin terpaksa harus berjalan lamban seperti orang biasa.

Ciok Giok Yin sudah menghitung, kira-kira satu hari lagi baru tiba di tempat tujuan.

Dia mengambil keputusan untuk menempuh perjalanan malam.

Sebab kalau tidak tiba tepat pada waktunya, khawatir Fang Jauw Cang akan mencemaskannya.

Lagi pula dia ingin tahu, sebetulnya Fang Jauw Cang lelaki atau wanita.

Sore harinya, dia mengisi perutnya di sebuah rumah makan.

Setelah itu dia melanjutkan perjalanan lagi.

Pada hari kedua, disaat hari mulai gelap, dia sudah tiba di Kuil Thay San Si.

Begitu memasuki kuil tersebut, dia langsung berseru.

"Adik Cang! Adik Cang...!"

Mendadak terdengar suara sahutan nyaring.

"Siapa Adik Cangmu?"

Di saat bersamaan, dari tempat gelap muncul seorang wanita.

Usianya sekitar dua puluh sembilan, sepasang matanya amat indah, namun kelihatan genit sekali.

Ketika berjalan, badannya meliuk-liuk dan sepasang payudaranya bergoyang-goyang menantang.

Begitu melihat, Ciok Giok Yin sudah tahu bahwa wanita itu bukan dari golongan lurus.

Wajahnya langsung berubah dingin dan dia membentak sengit.

"Siapa kau?"

Wanita genit itu berdiri satu depa di hadapan Ciok Giok Yin.

Sepasang matanya terus menatap wajah Ciok Giok Yin yang tampan itu dan bibirnya menyunggingkan senyuman genit.

Bahkan kadang-kadang dia mengeluarkan air liur, kelihatannya ingin menelan Ciok Giok Yin bulat-bulat.

Beberapa saat kemudian wanita itu berkata dengan nafas mendesah.

"Adik Kecil, sikapmu amat galak sekali. Sungguh menakutkan!"

"Sebetulnya siapa kau? Mengapa berada di sini?"

Tanya Ciok Giok Yin sengit.

"Bicaralah baik-baik, tidak usah begitu galak! Boleh kan?"

Wanita itu mulai maju, sehingga jaraknya dengan Ciok Giok Yin semakin dekat.

Sepasang mata wanita itu terus menatapnya, membuat hati Ciok Giok Yin terasa tergetar.

Karena itu, Ciok Giok Yin cepat-cepat mengerahkan lwee kangnya dan kemudian membentak dengan keras.

"Kalau kau berani maju lagi, aku pasti melancarkan pukulan!"

Wanita genit itu segera berhenti, lalu tertawa cekikikan dan berkata.

"Kau amat tampan, tapi kok begitu galak dan bengis. Kau ingin melancarkan pukulan, padahal diantara kita tidak ada permusuhan apa-apa."

Memang benar antara Ciok Giok Yin dengan wanita genit itu tiada permusuhan apa-apa.

Ciok Giok Yin datang di tempat itu lantaran sudah berjanji pada Fang Jauw Cang.

Lagi pula setelah Mo Hwe Hud kabur, kuil itu menjadi kosong dan siapa pun boleh datang ke sana.

Setelah berpikir demikian, kegusaran Ciok Giok Yin pun menjadi reda.

Namun dia tetap waspada terhadap wanita genit itu, sebab wanita genit itu berani tinggal di kuil itu seorang diri, otomatis membuatnya merasa agak seram.

Berselang sesaat, Ciok Giok Yin bertanya dengan nada ramah.

"Apakah kau melihat seorang pemuda ke mari?"

"Itu sih tidak,"

Sahut wanita genit itu dengan merdu.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Wanita genit itu terbeliak.

"Eh? Kau boleh ke mari, apakah aku tidak?"

Ciok Giok Yin terdiam. Sesungguhnya dia mau pergi, tapi khawatir Fang Jauw Cang akan muncul. Oleh karena itu, dia menjadi seba salah. Wanita genit itu tertawa terkekeh lalu berkata.

"Adik Kecil, siapa namamu?"

"Perduli apa kau siapa namaku!"

"Tanpa sengaja kita bertemu di sini, boleh dikatakan berjodoh. Nah, apakah aku tidak boleh tahu namamu? Beritahukanlah agar kita tidak terlampau canggung!"

Wanita genit itu tersenym manis.

"Biar kuperkenalkan diri, namaku Teng Kun Hiang."

Wanita genit itu langsung maju tiga langkah, kini dia sudah berdiri di hadapan Ciok Giok Yin. Sepasang mata Ciok GiOk Yin menyorot dingin.

"Beritahukan perguruanmu!"

Bentaknya. Wanita genit itu mengerlingnya dengan mata berbinar-binar, lalu menyahut dengan perlahan-lahan.

"Perguruanku...."

Mendadak jari tangannya bergerak cepat, ternyata menotok jalan darah Khi Bun Hiat di pinggang Ciok Giok Yin.

Akan tetapi Ciok Giok Yin sudah siap sebelumnya.

Dia cepat-cepat berkelit sekaligus melancarkan sebuah pukulan seraya membentak.

"Dasar tak tahu malu, aku...."

Ternyata Ciok Giok Yin melancarkan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui Sam Clang.

Dia curiga kemungkinan Fang Jauw Cang sudah jatuh ke tangan wanita genit itu.

Kalau tidak, bagaimana wanita genit itu turun tangan mendadak terhadapnya.

Perlu diketahui, ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang itu amat lihay dan dahsyat.

Setelah Ciok Giok Yin melancarkan jurus pertama itu, seketika juga terdengar suara jeritan.

Tampak sosok bayangan terpental beberapa depa, namun kemudian masih dapat mencelat ke atas atap kuil dan terdengar pula suaranya.

"Meskipun kau tidak beritahukan namamu, aku sudah tahu siapa kau! Lihat saja nanti, perkumpulan Sang Yen Hwee tidak akan mengampunimu!"

Tampak wanita genit itu melesat pergi dan tak lama kemudian menghilang di kegelapan malam.

Sedangkan Ciok Giok Yin sama sekali tidak menduga, bahwa dengan jurus itu berhasil membuat wanita genit itu terpental.

Karena merasa tiada dendam apa pun dengan wanita genit itu, maka dia tidak mengejarnya.

Setelah mendengar suara seruannya barulah Ciok Giok Yin tahu akan asal-usul wanita genit itu.

"Mau kabur ke mana?"

Bentaknya.

Dia melesat ke atap kuil, namun terlambat, sebab wanita genit itu sudah tidak kelihatan bayangannya.

Ciok Giok Yin tidak mau mengejarnya, melainkan meloncat turun, kembali ke dalam kuil.

Dia mencari ke sana ke mari, tapi tidak menemukan Fang Jauw Cang.

Namun tak disangka dia malah melihat seorang pengemis tua sedang duduk di ruang dalam...

Pengemis tua itu tidak lain adalah Te Hang Kay, yang pernah menyelamatkan Ciok Giok Yin dari kejaran orang-orang keluarga Tong Keh Cuang.

Namun Ciok Giok Yin juga pernah memberikan sebutir pil Ciak Tan pada pengemis itu, untuk mengobati lukanya.

Setelah itu mereka pun pernah bertemu kembali di luar Goa Toan Teng Tong.

Ketika itu Te hang Kay bertanya pada Ciok Giok Yin, ada hubungan apa dirinya dengan Heng Thian Ceng.

Justru tak terduga sama sekali, kini mereka bertemu di dalam kuil ini.

Maka mereka berdua sama-sama mengeluarkan suara 'Ih!' Ciok Giok Yin segera maju, lalu memberi hormat seraya berkata.

"Lo cianpwee pernah menyelamatkan nyawaku, maka aku amat berterima-kasih. Entah bagaimana lo cianpwee berada di tempat ini?"

Sepasang bola mata Te Hang Kay berputar sejenak, kemudian balik bertanya sambil menatapnya.

"Bocah, bagaimana kau ke mari?"

"Aku telah berjanji dengan seorang teman,"

Sahut Ciok Giok Yin jujur.

"Siapa?"

"Adik angkatku."

Te Hang Kay manggut-manggut, lalu menatap Ciok Giok Yin dengan tajam seraya berkata.

"Bocah, bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan padamu?"

"Tentu boleh, silakan!"

"Kau harus jawab dengan jujur lho!"

Ciok Giok Yin tertegun, sebab wajah Te Hang Kay tampak amat serius, sehingga bertanya dalam hati, 'Apakah dia ingin menanyakan tentang Seruling Perak itu?' Kemudian dia menyahut.

"Asal aku tahu, pasti kujawab dengan jujur."

"Apakah di bagian dadamu terdapat sebuah tahi lalat merah berbentuk bulat?"

Tanya Te Hang Kay. Mendengar pertanyaan itu sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi gemetar, dan dia langsung balik bertanya.

"Bagaimana lo cianpwee tahu itu?"

"Aku bertanya, kau harus jawab."

"Tidak salah."

Seketika sepasang mata Te Hang Kay menyorot tajam dan jenggotnya tampak bergerak-gerak, pertanda hatinya amat tergetar.

"Kalau begitu, ternyata benar kau adalah...."

Katanya terhenti.

"Lo cianpwee, harap lanjutkan,"

Kata Ciok Giok Yin. Te Hang Kay menghela nafas panjang, lalu menggelenggelengkan kepala seraya berkata.

"Sementara ini tidak dapat kukatakan, kelak kau akan tahu sendiri."

"Lo cianpwee kok tidak mau berlaku jujur?"

"Bukan tidak mau berlaku jujur...."

"Kalau begitu, lantaran apa?"

"Apabila kukatakan sekarang, jelas tiada manfaatnya bagimu, sebaliknya malah akan mencelakai dirimu sendiri."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Mengenai asal-usulku, bolehkah lo cianpwee menceritakan sesingkatnya?"

Te Hang Kay tertawa gelak.

"Justru karena asal-usulmu. Namun, kalau belum waktunya, kau tahu juga tiada gunanya."

Ciok Giok Yin ingin mendesaknya, tapi Te Hang Kay sudah bertanya.

"Kau pernah ke Gunung Cong Lam San?"

Tertegun Ciok Giok Yin.

"Bagaimana lo cianpwee tahu itu?"

"Aku pengemis tua pernah pergi mencari Can Hai It Kiam."

"Mencari Can Hai It Kiam?"

"Ng!"

"Tapi dia sudah mati."

"Bukankah kau yang membunuhnya? Ciok Giok Yin tersentak.

"Aku sama sekali belum pernah melihat wajahnya.

"Mereka yang mengatakan demikian."

"Lo cianpwee percaya?"

"Ini cuma merupakan suatu kesalah pahaman. Kini di dunia persilatan memang ada seseorang merias seperti wajahmu. Orang itu melakukan kejahatan di mana-mana, termasuk membunuh Can Hai It Kiam."

"Lo cianpwee tahu siapa orang itu?"

"Gerak-gerik orang itu amat misterius, kini belum berhasil kuselidiki."

Usai menyahut, Te Hang Kay terus memadang wajah Ciok Giok Yin. Berselang sesaat dia bertanya.

"Sebetulnya kau punya hubungan apa dengan Heng Thian Ceng?"

"Tiada hubungan apa-apa."

"Kau harus menjauhinya."

"Mengapa?"

"Pokoknya kau harus menjauhinya."

"Bolehkah lo cianpwee menjelaskan sebab musababnya?"

Ternyata Ciok Giok Yin teringat akan budi pertolongan wanita iblis itu, maka terkesan baik padanya.

"Tidak bisa,"

Sahutnya. Mendadak Ciok Giok Yin tertawa gelak, kemudian berkata.

"Lo cianpwee, di kolong langit tiada suatu urusan yang tidak bisa diberitahukan pada orang lain. Lo cianpwee menyimpan urusan itu dalam hati, maka kukatakan tegas, aku tidak mau menjauhinya."

Sekujur badan Te Hang Kay tergetar.

"Kau dan dia...."

"Dia penolongku, bagaimana aku menjauhinya?"

Te Hang Kay menatap Ciok Giok Yin dalam-dalam, kemudian bertanya dengan serius.

"Kau sungguh-sungguh mau tahu?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya."

"Heng Thian Ceng...."

Sekonyong-konyong terdengar suara yang amat dingin menyela.

"Bagaimana Heng Thian Ceng?"

Menyusul tampak sosok bayangan merah melayang turun di tempat itu. Tidak lain adalah Heng Thian Ceng. Begitu melihat kemunculannya, sepasang mata Te Hang Kay langsung menyorot dingin.

"Heng Thian Ceng, mau apa kau ke mari?"

Bentaknya.

"Apakah Kuil Khay San Si ini sudah menjadi tempat tinggalmu, pengemis bau?"

Sahut Heng Thian Ceng dingin.

"Jaga sedikit mulutmu!"

"Kau mau apa?"

"Kau harus segera enyah dari sini!"

"Ini bukan tempat tinggalmu! Kau boleh ke mari, kenapa aku tidak?"

Heng Thian Ceng lalu memandang Ciok Giok Yin seraya bertanya.

"Adik kecil, kau sudah bertemu adik angkatmu?"

Wajah Heng Thian Ceng yang buruk itu, membuat Ciok Giok Yin merasa muak, namun mengingat sudah beberapa kali menerima budi pertolongannya, maka Ciok Giok Yin menyahut dengan ramah.

"Belum, aku berjanji padanya bertemu di sini!"

"Kau mau menunggunya?"

Tanya Heng Thian Ceng.

"Tentu."

"Baik, aku masih ada sedikit urusan. Sebelum hari terang, aku akan balik ke mari menemanimu."

Usai berkata, tanpa mempedulikan Te Hang Kay, Heng Thian Ceng langsung melesat pergi.

Ketika melihat Heng Thian Ceng melesat pergi, Te Hang Kay juga tidak mau ketinggalan, langsung mengikutinya dari belakang.

Sedangkan Ciok Giok Yin tetap berdiri di tempat.

Dia termangu-mangu memikirkan apa yang Te Hang Kay katakan tadi, sepertinya tahu jelas akan asal-usulnya.

Kalau tidak, bagaimana pengemis tua itu tahu di bagian dadanya terdapat sebuah tahi lalat merah?

Berdasarkan ini, sudah dapat membuktikannya.

Akan kenapa Ciok Giok Yin justru tidak mengerti, mengapa Te Hang Kay tidak mau memberitahukannya, malah bersikap misterius?

Dan juga, mengapa Te Hang Kay melarangnya berhubungan dengan Heng Thian Ceng?

Wajahnya yang amat buruk itu, apakah....

Ciok Giok Yin tidak mau berpikir lagi, hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya bergumam.

"Urusan di dunia persilatan, memang sungguh amat misterius dan tidak bisa diduga!"

Sang waktu terus berlalu tanpa terasa malam sudah larut.

Sedangkan Fang Jauw Cang, tetap tidak tampak bayangannya.

Semakin menunggu, hati Ciok Giok Yin semakin gelisah, namun dia tidak berani pergi.

Tak terasa hari sudah subuh.

Mendadak Ciok Giok Yin teringat akan Heng Thian Ceng.

Wanita buruk rupa itu pernah bersamanya pergi mencari Pek Jau Lojin, namun di atas tebing itu, dia terpukul jatuh ke bawah.

Lalu bagaimana dia bisa selamat?

Mengenai kejadian itu Ciok Giok Yin malah lupa bertanya pada Heng Thian Ceng.

Sebab dia terpukul jatuh ke bawah, justru ingin menolong Ciok Giok Yin.

Nanti bertemu, harus baik-baik berterimakasih padanya.

Ciok Giok Yin berjanji dalam hati.

Disaat bersamaan, tiba-tiba terdengar beberapa kali suara siulan bergema di angkasa.

Ciok Giok Yin langsung melesat ke luar, menuju arah suara siulan itu.

Mendadak tampak empat sosok bayangan menghadang di depannya, maka dia lang-sung berhenti.

Setelah melihat tegas siapa keempat orang itu, sekujur badannya terasa menggigil kemudian dia menyurut mundur beberapa langkah.

Ternyata ke empat orang itu adalah Si Peng Khek, Si Tay Hu Hoat (Empat Pelindung Besar) Perkumpulan Sang Yeng Hwee, yaitu Hiang Peng Khek, Tan Peng Khek, Liak Peng Khek dan Hui Peng Khek.

Bagaimana tingginya kepandaian keempat orang itu, Ciok Giok Yin sudah merasakannya.

Karena itu, dia sudah bersiap untuk bertarung mati-matian.

Hiang Peng Khek tertawa dingin lalu berkata.

"Ciok Giok Yin, tak disangka kita bertemu di sini."

"Bagaimana?"

"Ingin mengundangmu ke markas perkumpulan Sang Yen Hwee."

"Di mana markas kalian? Kelak kalau aku sempat pasti berkunjung ke sana."

"Pokoknya hari ini kau harus ikut kami ke sana."

Sahut Hian Peng Khek dengan dingin.

"Kalau aku bilang tidak?"

"Lebih baik kau ikut saja agar kami tidak susah."

Ciok Giok Yin tertawa gelak lalu berkata.

"Gampang sekali kau mengatakannya. Aku masih ada urusan lain, maaf!"

Ciok Giok Yin ingin melesat pergi, namun mendadak tangan Si Peng Khek bergerak melancarkan pukulan yang mengandung hawa dingin ke arah Ciok Giok Yin, sehingga membuatnya tak mampu melesat pergi.

Dia merasa sekujur badannya amat dingin, bahkan merinding pula.

Namun sifat angkuhnya tetap menunjang dirinya.

"Si Peng Khek, aku tidak akan mengampuni kalian!"

Bentaknya sengit.

Ciok Giok Yin langsung melancarkan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui San Ciang, ke arah dada Hian Peng Khek.

Melihat pukulan itu, Hian Peng Khek tidak berkelit, melainkan malah menyambutnya.

Sedangkan Tam Peng Khek, Liak Peng Khek dan Hui Peng Khek, juga melancarkan pukulan berhawa dingin ke arah Ciok Giok Yin.

Walau Ciok Giok Yin memiliki lwee kang tinggi, namun tetap tidak dapat menahan hawa dingin itu.

Maka sekujur badannya menggigil, sehingga terpaksa berkelit ke arah samping.

Akan tetapi gerakan Hian Peng Khek jauh lebih cepat dari gerakannya.

Di saat Ciok Giok Yin berkelit, Hian Peng Khek juga melancarkan pukulan secepat kilat ke arahnya.

Seketika Ciok Giok Yin merasa sepasang kakinya kesemutan, kemudian roboh gedebuk di tanah.

Liak Peng Khek segera menotok jalan darahnya.

Setelah itu Si Peng Khek tertawa gelak, dan kemudian Hiang Peng Khek berkata.

"Ciok Giok Yin, mulai sekarang dan selanjutnya, namamu akan dicoret dari rimba persilatan!"

Usai berkata, dia segera bersiul panjang.

Tak lama kemudian, terdengarlah suara kereta kuda menuju tempat itu.

Setelah kereta kuda itu tiba, Hui Peng Khek menyambar Ciok Giok Yin dan langsung dilemparkan ke dalam kereta kuda itu, yang kemudian meluncur pergi.

Di saat bersamaan, tampak sosok bayangan berkelebat laksana kilat, sekaligus mengitari Si Peng Khek.

Setelah itu, dia berdiri di tempat yang agak tinggi, lalu membentak keras.

"Cepat suruh kereta kuda itu berhenti!"

"Siapa kau?"

Tanya Hian Peng Khek.

"Bu Tok Sianseng!"

"Bu Tok Siangseng?"

"Tidak salah! Cepat suruh kereta kuda itu berhenti!"

"Apa maksudmu?"

"Terus terang! Kalau kereta kuda itu tidak segera berhenti, kalian tidak akan bisa berjalan ke luar dalam jarak satu mill!"

Mendengar itu, bukan main terkejutnya Hian Peng Khek. Dia langsung bersiul panjang menyuruh kereta kuda itu berhenti, kemudian berkata.

"Bu Tok Sianseng, julukanmu adalah Bu Tok (Tiada Racun), mengapa turun tangan justru menggunakan racun? Sungguh tidak sesuai dengan julukanmu!"

Bu Tok Sianseng menyahut dengan wajah tidak berekspresi apapun.

"Kau tidak perlu bertanya, sekarang cepat suruh kusir itu membawa Ciok Giok Yin ke luar!"

"Jangan bermimpi! Ternyata kau ingin menyelamatkannya!"

"Tidak salah dugaanmu!"

Hui Peng Khek menggeram.

"Termasuk kau juga harus...."

Hui Peng Khek mau melancarkan serangan, namun tidak dapat mengerahkan lwee kangnya. Bukan main terkejutnya. Sedangkan Bu Tok Sianseng tetap berdiri di tempat, seakan tiada urusan apa-apa.

"Bagaimana? Bukankah ada sedikit ketidakberesan?"

Katanya sambil tersenyum. Hui Peng Khiak diam, tidak menyahut. Bu Tok Sianseng memandang yang lain, seraya melanjutkan ucapannya.

"Badan kalian sudah terkena racun! Dalam waktu setengah jam, badan kalian akan berubah menjadi cairan darah! Seandainya kalian tidak mau melepaskan Ciok Giok Yin, kalian berempat pasti mati!"

Ketika mendengar itu, Hian Peng Khek, Tam Peng Khek dan Liak Peng Khek segera menghimpun hawa murni. Mereka merasa ada suatu yang tidak beres di dalam tubuh masing masing.

"Sebetulnya kau mau apa?"

Tanya Hian Peng Khek pada Bu Tok Sianseng.

"Lepaskan Ciok Giok Yin!"

"Tidak!"

"Kalau begitu, tunggu kematian kalian! Aku punya cara menyelamatkan Ciok Giok Yin!"

Sepasang bola mata Hian Leng Khek berputar sejenak, setelah itu dia menyuruh kusir membawa Ciok Giok Yin ke luar, lalu ditaruh di atas tanah.

Bu Tok Sianseng langsung melesat ke samping Ciok Giok Yin, sekaligus membebaskan jalan darahnya.

Kemudian dia menoleh memandang Si Peng Khek seraya berkata.

"Obat pemunah racun, ambil!"

Bu Tok Sianseng mengibaskan tangannya.

Tampak empat butir pil melayang ke arah Si Peng Khek.

Si Peng Khek segera menyambut pil tersebut dan langsung dimasukkan ke dalam mulut, kemudian duduk bersila menghimpun hawa murni.

Sedangkan Bu Tok Sianseng menarik tangan Ciok Giok Yin, lalu melesat ke dalam rimba.

Berselang beberapa saat, barulah Bu Tok Sianseng berhenti.

"Terimakasih atas pertolongan Anda,"

Ucap Ciok Giok Yin sambil menjura.

"Tidak usah berterimakasih."

Mendadak Ciok Giok Yin teringat akan sesuatu.

"Bukankah Anda yang memperoleh kitab Cu Cian?"

Tanyanya. Bu Tok Sianseng mengangguk.

"Ya."

"Bolehkah aku membacanya sejenak?"

"Boleh, tapi kitab itu tidak kubawa."

Bu Tok Sianseng menatapnya.

"Mau membaca kitab Cu Cian, harus menemukan Seruling Perak. Kalau tidak, sama juga seperti benda tak berguna."

"Anda tahu seruling perak itu berada di mana?"

Bu Tok Sianseng tidak menjawab pertanyaan itu.

"Aku bersedia pinjamkan kitab Cu Cian padamu, namun kau harus berhasil mencari Seruling Perak,"

Katanya. Ini sungguh di luar dugaan Ciok Giok Yin, sehingga membuatnya tertegun.

"Kau tidak usah curiga. Aku berkata sesungguhnya. Yang penting sekarang kau harus berusaha mencari Seruling perak itu. Kapan saja aku pasti menghadiahkan kitab Cu Cian padamu."

Bagaimana di kolong langit ada urusan begini, setelah memperoleh benda pusaka rimba persilatan, lalu akan dihadiahkan kepada orang? Bukankah merupakan urusan yang amat aneh sekali? "Apa syaratnya?"

"Tidak ada."

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Kalau begitu, mengapa Anda menempuh bahaya merebut kitab Cu Cian itu?"

"Kau tidak usah bertanya, sudah pasti ada sebabnya."

Bu Tok Sianseng kelihatan berpikir.

"Sekarang tujuanmu mau ke mana?"

"Aku punya janji dengan seorang adik angkat di kuil Thay San Si, aku harus menunggunya disana."

Bu Tok Sianseng manggut-manggut.

"Baik, sampai jumpa!"

Dia menjura pada Ciok Giok Yin, kemudian melesat pergi.

Ciok Giok Yin terus memandang ke tempat Bu Tok Sianseng hilang dari pandangannya.

Dia sama sekali tidak mengerti maksud tujuan Bu Tok Sianseng, mengapa akan menghadiahkan kitab Cu Cian padanya tanpa syarat apa pun?

Akan tetapi Ciok Giok Yin dan Bu Tok Sianseng tidak saling kenal sebelumnya, tentunya tiada permusuhan apa pun, maka tidak mungkin dia punya suatu rencana jahat untuk mencelakai Ciok Giok Yin.

Walau Ciok Giok Yin berpikir bolak-balik dan cukup lama, namun tetap tidak menemukan jawabannya.

Oleh karena itu, akhirnya dia tidak mau memikirkan tentang itu, dan langsung melesat kembali ke Kuil Thay San Si.

Sementara Thay San Si tetap sunyi senyap, sehingga Ciok Giok Yin yakin pada waktu mau berpisah, mereka berdua sudah berjanji, dua bulan kemudian akan berjumpa lagi di tempat tersebut.

Kini Fang Jauw Cang tidak menepati janji, pertanda telah terjadi sesuatu atas dirinya.

Meskipun Ciok Giok Yin berpikir demikian, tapi tetap menunggu.

Akan tetapi berselang beberapa saat, dia langsung melesat pergi memasuki sebuah rimba.

Ketika dia memasuki rimba itu, tiba-tiba terdengar suara percakapan.

Hati Ciok Giok Yin tergerak, dan dia segera melesat ke belakang sebuah pohon besar.

Sementara percakapan itu semakin jelas, justru membuat sekujur badannya menjadi dingin.

Ternyata dia mengenali suara itu, yang tidak lain adalah suara Si Peng Khek.

"... asal ketemu lagi!"

Kata Tam Peng Khek sengit.

"Tidak gampang,"

Sahut Hian Peng Khek. Ciok Giok Yin yang berbunyi di balik pohon, langsung pasang kuping mendengarkan dengan penuh perhatian. Beberapa sat kemudian terdengar suara Hui Peng Khek.

"Apakah kita menyudahi begini saja?"

"Bagaimana kalau kita pulang dengan tangan kosong? Lagi pula nama kita bukankah akan tercoreng?"

Sahut Liak Peng Khek. Ciok Giok Yin tidak mendengar percakapan mereka, namun dia tetap pasang kuping mendengarkan dengan penuh perhatian. Berselang beberapa saat, terdengar suara Hian Peng Khek.

"Nama memang penting, tapi nyawa tidak boleh dibuat mainmain."

Liak Peng Khek bertanya.

"Toako punya ide apa?"

Tanya Liak Peng Khek.

"Kalau ada, lebih baik katakan agar kita bisa berunding bersama!"

Sambung Tam Peng Khek. Hian Peng Khek manggut-manggut, lalu berkata.

"Dia punya deking Bu Tok Sianseng. Walau kepandaian kita amat tinggi, tapi tidak dapat melawan racunnya, maka maksudku...."

Tam Peng Khek, Lian Peng Khek dan Hi Peng Khek segera bertanya dengan serentak.

"Bagaimana?"

Hian Peng Khek menjawab dengan meninggikan suaranya.

"Kita pulang menemui ketua, katakan kita akan berusaha menangkapnya kelak. Mungkin ketua tidak akan menyalahkan kita."

Setelah itu, suasana kembali hening lagi.

Namun hati Ciok Giok Yin tersentak kaget, karena ternyata Si Peng Khek masih terus mencarinya.

Kemudian dia berkata dalam hati, 'Saat ini kepandaianku masih jauh di bawah mereka.

Kalau tidak Bu Tok Sianseng campur tangan, pasti diriku dibawa pergi oleh Si Peng Khek.' Karena itu, meskipun saat ini hatinya amat gusar, namun dia tidak berani muncul dari tempat persembunyiannya.

Biar bagaimana dia harus bersabar menahan kegusarannya.

Mendadak terdengar Hiang Peng Khek berkata.

"Mari kita pulang!"

Kemudian terdengar suara desiran, ternyata Si Peng Khek melesat pergi.

Di saat bersamaan, timbullah suatu ide dalam hati Ciok Giok Yin.

'Keempat iblis itu akan pulang ke markas mereka, mengapa aku tidak mengungkit secara diam-diam?

Kalau sudah tahu markas mereka, bukankah boleh ke sana kelak?"

Setelah timbul ide tersebut, maka dia pun melesat pergi.

Ciok Giok Yin melihat bayangan Si Peng Khek berkelebatan jauh di depan.

Dia terus mengikuti mereka, tapi tidak berani terlampau dekat karena khawatir akan diketahui Si Peng Khek, sehingga sulit meloloskan diri.

Karena itu dia menguntit mereka berempat dari jarak seratus depa.

Sementara Si Peng Khek terus melesat sama sekali tidak tahu ada orang menguntitnya.

Walau tempat yang dilalui terdapat banyak batu racun, tapi mereka memiliki ilmu ginkang tinggi, maka seperti melesat di jalan datar.

Tak seberapa lama kemudian mereka tiba di sebuah lembah.

Tampak badan Si Peng Khek berkelebat, langsung melesat ke dalam mulut lembah itu.

Ciok Giok Yin berhenti di depan mulut lembah, lalu mendongakkan kepala.

Tampak dinding tebing terdapat beberapa huruf 'Siapa Yang Masuk Pasti Mati'.

Di samping tulisan itu terdapat lukisan sepasang burung walet.

Tidak salah lagi, markas perkumpulan Sang Yen Hwee pasti berada di dalam lembah ini.

Seketika dia lupa akan bahaya dan terbangkit kegagahannya.

Di saat bersamaan, dia pun teringat akan semua dendamnya, baik dendam lama maupun dendam baru.

Oleh karena itu badannya langsung bergerak.

Dia ingin membasmi kejahatan demi dunia persilatan.

Pokoknya perkumpulan Sang Yen Hwee harus dibasmi.

Kalau tidak, dunia persilatan tidak akan tenang dan damai.

Ciok Giok Yin segera melesat ke dalam lembah.

Setelah dia berada di dalam lembah, tampak sebuah sungai kecil melintang di hadapannya.

Air sungai itu amat jernih dan mengalir perlahanlahan.

Di seberang sana tampak pohon-pohon Yang Liu yang rantingnya bergoyang-goyang lemas terhembus angin.

Sungguh merupakan tempat yang amat tenang dan damai.

Pandangan Ciok Giok Yin terhalang oleh pohon-pohon Yang Liu, sehingga tidak melihat yang lain di belakang pohonpohon Yang Liu tersebut.

Ternyata di belakang pohon-pohon itu terdapat pegunungan yang tidak begitu tinggi dan pemandangannya amat indah.

Begitu melihat, Ciok Giok Yin tertarik akan tempat itu.

Sejak dia memasuki lembah tersebut, sama sekali tidak bertemu seorang pun.

Berdasarkan ini dapat diketahui bahwa perkumpulan Sang Yen Hwee tidak memandang kaum rimba persilatan ke dalam matanya.

Sebab tiada seorang penjaga pun berada di sana seakan tempat tersebut tidak perlu dijaga.

Mendadak Ciok Giok Yin melihat sebuah panji besar berwarna merah berkibar-kibar di balik rimba pohon Yang Liu.

Panji itu bertulisan 'Menyatukan Rimba Persilatan'.

Melihat tulisan itu Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hmmm! Sungguh bermulut besar, tidak takut gigi akan rontok diterpa angin!"

Ciok Giok Yin mengeras hati melangkah ke tepi sungai.

Sungai itu tidak begitu lebar, cuma satu depa lebih.

Orang biasa yang tidak mengerti ilmu silat pun pasti dapat meloncat ke seberang.

Apalagi Ciok Giok Yin yang berkepandaian tinggi.

Dia langsung meloncat ke seberang.

Akan tetapi tak disangka ketika sepasang kakinya mau menginjak tanah, Ciok Giok Yin terkejut bukan kepalang!

Ternyata dia melihat sungai kecil itu berubah menjadi tak terbatas dan tiada daratannya.

Rimba Yang Liu yang ada di hadapannya juga telah lenyap entah ke mana.

Maka terdengar suara 'Plum'.

Ciok Giok Yin terjatuh ke dalam sungai, bahkan mulutnya kemasukan beberapa teguk air sungai itu.

Walau air sungai itu cuma sebatas leher, namun dinginnya sungguh tak tertahan.

Dia segera menoleh ke belakang.

Sungguh tak disangka, ternyata lebar sungai itu mencapai belasan depa.

Tapi amat mengherankan, di depan justru tidak tampak tepian sungai itu.

Ketika Ciok Giok Yin ingin kembali ke tempat semula, mendadak terjadi hujan deras, seperti dicurahkan dari langit.

Angin pun berhembus kencang, membuat air sungai itu bergelombang-gelombang menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Sudah barang tentu menyebabkannya meneguk air sungai itu lagi, karena dia tidak begitu bisa berenang.

Dia berkertak gigi, berusaha berenang ke tepi yang di belakangnya.

Akan tetapi hujan badai masih berlangsung, membuatnya tak dapat melawan gelombang sungai yang amat dahsyat itu.

Sebab itu, matanya menjadi berkunang-kunang dan dia kehilangan arah tujuan.

Sekonyong-konyong Ciok Giok Yin merasa dirinya terperosok ke dalam sebuah formasi yang amat aneh.

Mengenai ilmu formasi, dia memang tidak mengerti sama sekali, maka pasrah saja.

Pada waktu bersamaan, hujan badai semakin menghebat, bahkan gelombang sungai pun semakin tinggi, menindih Ciok Giok Yin, sehingga nyaris tenggelam ke dasar sungai.

Justru di saat itulah sayup-sayup dia mendengar suara tawa dingin.

"He he! Bocah, kau sendiri yang cari mati di sini...."

Sedangkan Ciok Giok Yin sudah mulai tak sadarkan diri, sebab terlampau banyak meneguk air, dan juga terterjang oleh gelombang sungai.

Memang malang nasibnya.

Lantaran timbul kegagahannya ingin membasmi perkumpulan Sang Yen Hwee, akhirnya malah dirinya yang diintai maut.

Kini dia telah jatuh ke tangan perkumpulan Sang Yen Hwee.

Bagaimana nyawanya bisa selamat?

Akan tetapi seandainya nyawa Ciok Giok Yin melayang di perkumpulan Sang Yen Hwee, berarti sudah tiada orang yang dapat menyelamatkan dunia persilatan.

Sebaliknya bagi Ciok Giok Yin, meloloskan diri dari maut juga bukan merupakan hal yang gampang.

Jilid 12 Entah berapa lama kemudian barulah Ciok Giok Yin siuman perlahan-lahan.

Sepasang matanya masih terpejam rapat, namun dapat merasakan bahwa dirinya terikat pada sebuah balok kayu.

Tanpa melihat keadaan sekelilingnya, dia langsung mengerahkan lwee kang untuk memutuskan tali yang mengikat dirinya.

Namun tak disangka tali itu sama sekali tidak mau putus.

Di saat bersamaan, terdengar suara yang amat dingin.

"Ciok Giok Yin, kau cuma membuang-buang tenaga!"

Ciok Giok Yin memandang ke arah datangnya suara.

Dilihatnya seorang berpakaian hitam dan memakai kain penutup muka duduk di ruangan itu.

Bentuk badan dan suaranya sepertinya pernah dikenal Ciok Giok Yin, namun tidak ingat di mana.

Di samping orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu duduk seorang lelaki berusia tiga puluhan.

Lelaki itu tampan, tapi sepasang matanya menyiratkan kelicikan hatinya.

Di dalam ruangan itu tampak pula puluhan orang berdiri, termasuk Si Peng Khek.

Kira-kira lima langkah di hadapan Ciok Giok Yin, berdiri seorang sastrawan berusia empat puluhan, sepasang matanya menyorot tajam, terus memandang Ciok Giok Yin dengan penuh perhatian.

Setelah mata menyapu semua orang yang berada di ruangan itu, barulah Ciok Giok Yin membentak sengit.

"Si Peng Khek! Suatu hari nanti aku pasti akan membeset kulit kalian!"

"Ciok Giok Yin, kau sudah tiada kesempatan lagi!"

Sahut Hian Peng Khek.

"Kuberitahukan, aku menggunakan siasat di dalam rimba itu, sehingga kau terpancing ke mari! Kini kau sudah tahu kan? He he he!"

Suara tawanya, sungguh menusuk telinga!

Saat ini Ciok Giok Yin baru mengerti, ternyata ketika dia mencuri pembicaraan di dalam rimba, sudah diketahui oleh Si Peng Khek, maka mereka berempat sengaja memancing Ciok Giok Yin ke markas perkumpulan Sang Yen Hwee.

Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin sehingga mukanya tampak merah padam.

"Si Peng Khek, aku jadi hantu pun tidak akan mengampuni kalian!"

Bentaknya sambil berkertak gigi. Hian Peng Khek tertawa dingin lalu menyahut.

"Itu urusanmu!"

Orang berpakaian hitam dan memakai kain penutup muka menatap Ciok Giok Yin seraya berkata.

"Ciok Giok Yin, aku mau bertanya padamu."

"Siapa kau?"

Tanya Ciok Giok Yin ketus.

"Kau akan tahu perlahan-lahan."

"Kau adalah ketua perkumpulan Sang Yeng Hwee?"

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka tertawa dingin, lalu menyahut sepatah demi sepatah.

"Ingat baik-baik, ketua berada di sini!"

Dengan mata berapi-api Ciok Giok Yin membentak sengit.

"Aku tidak akan mengampunimu...!"

Orang berpakaian hitam dan memakai kain penutup muka memutuskan perkataan Ciok Giok Yin.

"Itu adalah urusanmu kelak, sementara ini kau tidak usah bersikap bengis! Sekarang aku mau bertanya, kau harus menjawab dengan jujur!"

Sergahnya.

Sepasang mata orang itu menyorot tajam ke arah Ciok Giok Yin, yang juga sedang menatapnya.

Ketika beradu pandang dengan orang itu, Ciok Giok Yin merasa sekujur badannya jadi merinding.

Bukan main tingginya lwee kang orang itu, boleh dikatakan telah mencapai tingkat kesempurnaan.

Yang jelas kalau bukan keberuntungan, pasti adalah musibah.

Seandainya musibah, tentu tidak dapat dihindari.

Oleh karena itu Ciok Giok Yin menyahut sengit.

"Orang gagah boleh dibunuh, tapi jangan dihina!"

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu berkata.

"Aku mau membunuh atau menghinamu, itu urusanku! Tapi aku perlu bertanya jelas dulu padamu, setelah itu barulah aku mengambil tindakan!"

Dia menatap Ciok Giok Yin dengan dingin.

"Kalau kau bersedia menjawab dengan jujur, mungkin perkumpulan kami akan memakai tenagamu! Karena itu kau jangan berkeras kepala! Kini kau sudah jatuh ke tangan kami, sulit bagimu untuk meloloskan diri!"

Sepasang mata Ciok Giok Yin membara, kemudian dia menggigit bibirnya hingga mengeluarkan darah. Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu bertanya.

"Betulkah suhumu adalah Sang Ting It Koay?"

"Tidak salah!"

Sahut Ciok Giok Yin sengit.

"Dia belum mati?"

Ciok Giok Yin menyahut dengan dingin.

"Kalau dia sudah mati, bagaimana mungkin masih bisa menerimaku sebagai muridnya?"

"Kalau begitu, dimana dia sekarang?"

"Tidak dapat diberitahukan!"

"Lebih baik kau beritahukan secara jujur!"

"Tidak perlu kuberitahukan secara jujur!"

"Sungguhkah kau tidak mau beritahukan?"

Ciok Giok Yin menggelengkan kepala, kelihatannya betul-betul berkeras kepala.

"Tidak!"

Sepasang mata orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu menyorot lebih tajam dan dingin.

"Ciok Giok Yin, kalau begini caramu, akan menyusahkan dirimu sendiri!"

Ciok Giok Yin berkertak gigi hingga berbunyi gemertukan.

Dia teringat akan Phing Phiauw Phek dan Cak Hun Ciu.

Ciok Giok Yin berhutang budi pada kedua orang itu.

Mereka berdua justru dibunuh oleh orang orang perkumpulan Sang Yen Hwee, maka dendam mereka berdua di bahunya.

Dan juga masih ada Bun It Coan.

Ketika kakak angkatnya itu dalam keadaan sekarat, berpesan padanya harus belajar ilmu silat tinggi agar dapat membunuh Lan Lan, putri ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, Pesan itu selama ini tidak pernah dilupakannya.

Akan tetapi kini dirinya malah tertangkap oleh mereka.

Saking gusarnya Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hmmm!"

Setelah itu dia membentak sengit.

"Aku boleh dibunuh, namun jangan harap aku akan menurutimu!"

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu tertawa terkekeh-kekeh.

"He he he! Kau jangan menyesal!"

"Kau mau bertindak apa pun terhadap diriku, silakan!"

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu berkata dingin.

"Ouw Suya (Penasihat Ouw)!"

Lelaki yang berdiri di hadapan Ciok Giok Yin, langsung menghadap orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka, lalu memberi hormat seraya berkata.

"Di sini Ouw Cih menerima perintah."

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka berkata.

"Suruh dia merasakan Cak Sim Coh Kut Kang (Ilmu pembusuk Hati Dan Tulang)!"

Ouw Cih segera membalikkan badannya.

Sepasang matanya menyorot aneh, kemudian dia menyambar pergelangan lengan Ciok Giok Yin.

Seketika Ciok Giok Yin merasa ada aliran yang amat panas menerjang ke hati dan seluruh tulangtulangnya.

Dia merasa hatinya dan seluruh tulangnya seperti tertusuk ribuan jarum.

Tak lama kemudian sekujur badan Ciok Giok Yin mulai mengucurkan keringat, sehingga membasahi pakaiannya.

Dia menjerit menyayat hati, lalu pingsan seketika.

Orang berpakaian haitam memakai kain penutup muka berseru dingin.

"Berhenti!"

Ouw Cih melepaskan tangannya, lalu mundur beberapa langkah.

Tersirat berbagai macam perasaan pada wajahnya, menatap Ciok Giok Yin yang telah pingsan.

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka berkata.

"Bikin dia siuman kembali!"

Salah seorang anggota perkumpulan Sang Yen Hwee segera mengambil secangkir teh lalu disiramkan ke wajah Ciok Giok Yin, kemudian dia kembali ke tempatnya.

Ciok Giok Yin siuman perlahan-lahan.

Dia menatap semua orang-orang itu dengan dingin, lalu tertawa gelak dan bertanya.

"Apakah ini merupakan tindakan kalian?"

"Kau tidak mau bilang?"

Tanya orang berbaju hitam memakai kain penutup muka.

"Tidak!"

"Ouw Suya, siksa lagi dia!"

Ouw Cih mendekati Ciok Giok Yin.

Kali ini dia turun tangan jauh lebih hebat.

Seketika Ciok Giok Yin merasa hati dan tulang-tulangnya seperti digigit ribuan semut.

Ciok Giok Yin menjerit menyayat hati lagi, lalu kembali pingsan.

Salah seorang anggota perkumpulan Sang Yen Hwee mengambil secangkir teh, lalu menyiram ke wajahnya.

Ciok Giok Yin siuman, Mendadak terlintas suatu hal dalam benaknya.

Dia langsung mendongakkan kepala, lalu bertanya dengan lemah.

"Kau mau bertanya padaku, justru terlebih dahulu aku mau bertanya padamu."

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka tertegun.

"Kau mau bertanya apa?"

"Sebetulnya siapa kau?"

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka menyahut dingin.

"Kelak kau akan tahu."

"Kau takut menyebut namamu?"

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka tertawa terkekeh.

"Ciok Giok Yin, aku tidak pernah takut terhadap siapapun! Lebih baik kau bilang saja!"

"Tiada yang harus kubilang!"

Mendadak orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu bangkit berdiri.

Entah bagaimana cara dia bergerak, tahu-tahu sudah berada di hadapan Ciok Giok Yin.

Dia menatap Ciok Giok Yin dalam-dalam lalu membentak.

"Kau sungguh ingin mati?"

Ciok Giok Yin tertawa dingin lalu menyahut.

"Kalau aku takut mati, pasti tidak akan datang kemari!"

Tiba-tiba orang berpakaian hitam memakai kain penutut muka itu menggerakkan jari tangannya.

Ternyata dia sudah turun tangan menotok jalan darah kematian Ciok Giok Yin.

Justru disaat bersamaan, mendadak Ouw Cih berseru cepat.

"Tunggu!"

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka jadi batal menotok jalan darah kematian Ciok Giok Yin dan segera berpaling memandang Ouw Cih.

Bibir Ouw Cih bergerak, namun tidak mengeluarkan suara.

Kelihatannya dia menggunakan ilmu Penyampaian Suara kepada orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu.

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu manggutmanggut, lalu berkata.

"Musnahkan kepandaiannya, lalu masukkan ke penjara!"

Tubuh orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka berkelebat, langsung masuk ke dalam pintu samping.

Sedangkan jari tangan Ouw Cih bergerak-gerak, menotok jalan darah Tung Hu bagian dada Ciok Giok Yin.

Seketika Ciok Giok Yin merasa sekujur badannya lemas tak bertenaga dan dia tahu kepandaiannya telah musnah.

Coba bayangkan, seorang yang berkepandaian tinggi, mendadak kehilangan kepandaiannya.

Bukankah lebih menderita dari pada dibunuh?"

Dia menghela nafas panjang, dan air matanya bercucuran.

Ouw Cih melepaskan tali yang mengikatnya, lalu membawanya ke belakang.

Ketika sedang berjalan ke dalam, telinga Ciok Giok Yin menangkap suara yang amat lirih.

"Adik kecil, harap jangan bersuara dan juga jangan menoleh, aku ingin bicara denganmu."

Hati Ciok Giok Yin tergerak. Dia sama sekali tidak menoleh dan terus membiarkan Ouw Cih membawa dirinya ke belakang. Sedangkan Ouw Cih melanjutkan bicaranya.

"Tidak peduli kau keturunan teman baikku itu atau bukan, yang jelas aku akan berusaha menyelamatkanmu. Sesungguhnya ilmu silatmu tidak musnah, namun saat ini, aku tidak boleh membebaskan totokanmu, sebab akan menimbulkan kecurigaan mereka. Maka sementara ini kau harus bersabar. Sebelum kau yakin dapat meloloskan diri janganlah coba-coba menempuh bahaya, karena kepandaian orang itu sudah mencapai tingkat yang amat tinggi."

Sebetulnya Ciok Giok Yin ingin bertanya siapa orang itu.

Akan tetapi Ouw Cih telah berpesan tadi, jangan bersuara.

Oleh karena itu, dia tidak berani membuka mulut.

Tak seberapa lama kemudian Ciok Giok Yin sudah dibawa sampai di depan kamar batu, yang ternyata kamar tahanan.

Tampak dua penjaga di sana.

Begitu melihat kedatangannya Ouw Cih, kedua penjaga itu segera memberi hormat.

"Menyambut kedatangan Suya (Bapak Penasehat)!"

Ucapnya.

"Buka pintu!"

Perintah Ouw Cih. Kedua penjaga itu mengangguk.

"Ya."

Tak lama kemudian terdengarlah suara 'Serr Serrrrr!' Pintu kamar tahanan itu terbuka. Ouw Cih mendorong Ciok Giok Yin ke dalam seraya berkata.

"Ciok Giok Yin, baik-baiklah beristirahat di situ!"

Setelah itu terdengar suara 'Bum!' Pintu kamar tahanan itu sudah tertutup kembali.

Ciok Giok Yin yang terdorong ke dalam kamar tahanan itu langsung roboh dan matanya berkunangkunang.

Berselang beberapa saat barulah dia dapat bangkit berdiri, namun tidak dapat melihat apapun, sebab di jalan kamar tahanan itu amat gelap.

Ciok Giok Yin berkata dalam hati, 'Siapa Ouw Suya itu?

Dan sebetulnya aku ini keturunan siapa?

Dia berniat menyelamatkanku, tapi mengapa tidak mau segera membebaskan jalan darahku?' Kemudian dia berpikir.

Ternyata yang dipikirkannya adalah orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka.

Kelihatannya kepandaian orang itu tinggi sekali.

Kalau tidak, bagaimana mungkin Si Peng Khek tiada tempat duduk di ruang itu?

Ciok Giok Yin terus berpikir, namun tidak menemukan jawabannya.

Yang jelas dia merasa kepandaiannya masih rendah.

Melawan Si Peng Khek saja sudah terjungkal, bagaimana mungkin melawan orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu?

Kecuali...

berhasil menemukan Seruling Perak dan kitab Cu Cian.

Kesimpulannya harus berhasil mencari Seruling Perak dan kitab Cu Cian, barulah bisa membalas dendam.

Akan tetapi, apabila berhasil mencari Seruling Perak, harus pula diserahkan kepada keturunan Ciok.

Walau dirinya juga bermarga Ciok, tapi bukan keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan.

Kalau begitu dia keturunan siapa?

Banyak orang mengatakan, bahwa dirinya mirip seseorang.

Mungkin dirinya keturunan Ciok Khie Goan.

Kalau benar, maka....

Dia tidak mau berpikir lagi.

Sebab dirinya tidak mungkin begitu tinggi.

Akan tetapi berdasarkan semua itu, kelihatannya dirinya bukan keturunan orang biasa.

Dia masih ingat akan apa yang dikatakan si Bongkok Arak, pengemis tua Te Hang Kay dan Ouw Suya dari perkumpulan Sang Yen Hwee, itu telah membuktikan sesuatu.

Wajah seseorang memang bisa mirip orang lain, tapi tidak mungkin ada tiga orang mengatakan bahwa dirinya mirip seorang kawan baik mereka.

Memang sayang sekali, Can Hai It Kiam telah dibunuh oleh orang yang menyamar sebagai Ciok Giok Yin.

Kalau tidak, berdasarkan surat itu pasti telah terungkap asal-usulnya.

Mendadak dia berkertak gigi sambil mengambil keputusan.

Apabila dia berhasil meloloskan diri, dia pasti akan memusnahkan perkumpulan Sang Yen Hwee.

Namun kini kepandaiannya telah musnah, maka ketajaman matanya pun berkurang, tidak dapat melihat apa pun yang ada di dalam kamar tahanan itu.

Dia menjulurkan tangannya meraba ke sana ke mari, hanya dinding batu.

Kalau ingin meloloskan diri, harus memiliki pedang pusaka untuk membelah dinding batu itu.

Tentunya tidak mungkin, sebab kini dirinya sudah terkurung di dalam kamar batu, juga telah kehilangan kepandaian.

Kini dia cuma berharap Ouw Cih menepati janjinya, memunculkan diri untuk menyelamatkannya.

Kalau tidak, tentunya sulit baginya untuk meloloskan diri dari kamar tahanan tersebut.

Ini membuat Ciok Giok Yin berduka sekali.

"Aku tidak boleh mati, karena masih banyak beban dendam yang harus kubalas. Seandainya aku mati sekarang, aku pasti merasa penasaran sekali,"

Gumamnya.

Tanpa terasa air matanya pun bercucuran, namun dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Sedangkan di luar kamar tahanan juga tidak terdengar suara apapun.

Ciok Giok Yin duduk kembali.

Setelah itu dia merogoh ke dalam bajunya, ternyata tiada sesuatu yang hilang.

Itu membuatnya berlega hati, karena di dalam bajunya terdapat kitab Im Yang Cin Koy, yang diperoleh Tiat Yu Kie Su dengan pengorbanan nyawanya, lagi pula menyangkut kebahagiaan hidupnya.

Juga mengenai cincin giok pemberian Bun It Coan, itu pun tidak boleh hilang, karena cincin itu merupakan benda kepercayaan Liok Bun.

Benda lain adalah berupa beberapa macam obat peninggalan Tiong Ciu Ie, yang harus dipergunakannya saat berkelana di dunia persilatan.

Semua obat itupun tidak boleh hilang.

Semua kenangan masa lampau mulai terbayang di depan matanya.

Begitu juga orang-orang yang dikenalnya, satu persatu mulai muncul di lepas matanya pula.

Mendadak terdengar suara helaan nafas lirih.

Ciok Giok Yin tertegun, dan segera mendengarkan dengan penuh perhatian.

Terdengar lagi suara helaan nafas lirih.

Ciok Giok Yin berpikir.

Apakah di dalam kamar tahanan ini terdapat orang lain?

Dia cepat-cepat bangkit berdiri, lalu meraba kian kemari.

Namun sungguh di luar dugaan, tiada seorangpun berada di dalam kamar itu.

Sekonyong-konyong terdengar suara 'Krek!' Sebuah pintu kecil terbuka dan terdengar pula suara orang di luar kamar.

"Nasimu, ambillah!"

Ciok Giok Yin cuma mendengus dingin.

"Hmm!"

Dia sama sakali tidak mempedulikannya.

"Hei! Kau dengar tidak?"

Bentak orang yang di luar kamar.

Sesungguhnya Ciok Giok Yin tidak mau mengambil nasi itu.

Tapi karena perutnya memang sudah lapar, maka terpaksa nasi itu diambilnya.

Ternyata nasi itu berada di sebuah nampan dilengkapi dengan dua macam hidangan.

Di saat bersamaan, terdengar lagi suara.

'Krak!' Pintu kecil itu tertutup kembali, dan kamar tahanan itu berubah menjadi gelap lagi.

Ciok Giok Yin duduk, lalu mulai makan.

Seusai makan, ketika dia mau beristirahat, sekonyong-konyong terdengar lagi suara helaan nafas panjang.

Kali ini suara helaan nafas itu kedengarannya agak dekat.

Ciok Giok Yin mendengarkan dengan penuh perhatian, agar tahu arah suara helaan nafas itu.

Beberapa saat kemudian terdengar ucapan yang amat lirih.

"Lagi-lagi seorang yang bernasib sama."

Hati Ciok Giok Yin, tergerak dan dia cepat-cepat mendekati dinding batu. Kemudian dia menjulurkan tangannya mengetuk dinding batu tersebut.

"Siapa kau?"

Terdengar suara dari luar. Ciok Giok Yin menyahut dengan suara rendah, karena kuatir terdengar oleh penjaga.

"Namaku Ciok Giok Yin."

"Ciok Giok Yin?"

"Ng!"

Hening sejenak. Tiba-tiba terdengar lagi suara orang tersebut.

"Bagaimana kau jatuh ke tangan mereka?"

"Aku menguntit Si Peng Khek, terjebak ke dalam suatu formasi aneh sehingga tertangkap oleh mereka,"

Jawab Ciok Giok Yin dengan jujur.

"Kalau begitu mereka telah memusnahkan kepandaianmu?"

"Ya. Mohon tanya siapa Anda?"

"Aku adalah...."

Orang itu tidak melanjutkan jawabannya.

"Aku ingin mengundangmu."

"Kamar tahanan ini terbuat dari dinding batu, bagaimana mungkin aku akan ke tempatmu?"

Sahut Ciok Giok Yin.

"Aku punya akal."

Kemudian suasana menjadi hening.

Ciok Giok Yin tidak habis pikir, orang yang ada di kamar sebelah itu punya akal apa?

Bukankah itu cuma bermimpi?

Jangan-jangan orang itu sudah lama terkurung di sini sehingga menyebabkan pikirannya menjadi kurang waras.

Di saat bersamaan mendadak terdengar suara 'krek!' Dinding batu itu terbuka dan muncul sebuah lubang.

Terdengar lagi suara orang itu.

"Kau boleh ke mari."

Ciok Giok Yin terperangah, kemudian merangkak ke kamar batu sebelahnya.

Karena terlampau gelap, Ciok Giok Yin tidak dapat melihat wajah?

orang tersebut.

Orang itu memegang lengan Ciok Giok Yin sambil bertanya.

"Mereka menotok jalan darah apa di tubuhmu?"

Ternyata orang itu masih bertenaga. Pertanda kepandaiannya belum musnah. Maka tidak mengherankan kalau lengan Ciok Giok Yin yang dipegangnya terasa sakit sekali.

"Aduuuuh!"

Jeritnya kesakitan. Orang itu segera melepaskan tangannya.

"Maaf, aku lupa bahwa kepandaianmu telah musnah,"

Katanya.

"Tidak apa-apa,"

Sahut Ciok Giok Yin lemah.

"Jalan darah apa yang mereka totok? Mungkin aku dapat memulihkan kepandaianmu, tanya orang itu lagi.

"Jalan darah Tung Hu Hiat."

"Tung Hu Hiat?"

"Ya."

Hening sejenak. Setelah itu barulah terdengar suara orang tersebut.

"Heran? Mengapa mereka tidak menotok jalan darah Khie Hai Hiatmu?"

"Entahlah. Akupun tidak jelas."

Apabila orang yang berkepandaian tinggi, jalan darah Khie Hai Hiatnya tertotok, sudah sulit untuk memulihkan kepandaiannya. Ciok Giok Yin juga paham akan hal tersebut.

"Siapa yang menotok jalan darahmu?"

Tanya orang itu.

"Ouw Suya perkumpulan Sang Yen Hwee."

"Sungguh mengherankan! Orang itu berhati kejam. Bagaimana dia berbelas kasihan padamu? Sungguh membuat orang tidak mengerti!"

"Anda kenal orang itu?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Tidak kenal."

"Kalau begitu, bagaimana Anda tahu dia berhati kejam?"

"Ketika aku tertangkap oleh mereka, melihatnya turun tangan terhadap bawahannya tanpa memberi ampun. Boleh dikatakan dia tak berperasaan sama sekali."

Ciok Giok Yin merasa dingin sekujur badannya.

Tidak disangka Ouw Cih itu berhati begitu kejam!

Namun terhadap dirinya orang itu justru tidak berniat jahat, cuma menotok jalan darah Tung Hu Hiatnya.

Kalau dia menotok jalan darah Khie Hai Hiat, habislah Ciok Giok Yin, jangan harap dapat menuntut balas semua dendam itu.

Berselang sesaat, Ciok Giok Yin berkata.

"Maaf, ketajaman mataku berkurang, sehingga tidak dapat melihat jelas...."

Orang itu langsung memutuskan perkataan Ciok Giok Yin.

"Sekarang aku akan membantumu membebaskan totokan itu agar pulih kepandaianmu, barulah kita bercakap-cakap."

Dia mulai menotok beberapa jalan darah Ciok Giok Yin.

"Ikuti hawa murniku untuk menerjang ke jalan darah Tung Hu Hiat!"

Ciok Giok Yin mengangguk, lalu menghimpun hawa murninya untuk disatukan dengan hawa murni orang itu menerjang ke arah jalan darah Tung Hu Hiat.

Berselang beberapa saat kedua hawa murni itu berhasil menembus jalan darah Ciok Giok Yin tersebut.

Maka kepandaian Ciok Giok Yin pun pulih seketika.

Kini dia sudah dapat melihat jelas wajah orang itu, sehingga mengeluarkan suara.

"Ih!"

Setelah itu berkata.

"Lo cianpwee, rasanya kita pernah bertemu, tapi entah dimana."

Ternyata orang itu berdandan seperti sastrawan, berusia lima puluhan.

"Tidak salah, kita memang pernah bertemu satu kali,"

Sahutnya sambil tersenyum. Mendadak Ciok Giok Yin teringat.

"Kita pernah bertemu di sebuah rumah makan. Ketika itu lo cianpwee bersama seorang gadis berpakaian ungu ya, kan?"

Sastrawan tua itu manggut-manggut.

"Tidak salah."

"Bagaimana lo cianpwee ditangkap oleh mereka?"

"Panjang sekali ceritanya."

"Bolehkah aku tahu bagaimana ceritanya?"

Sepasang mata sastrawan tua menyorot tajam. Namun badannya agak gemetar, pertanda hatinya tidak tenang. Menyaksikan itu, Ciok Giok Yin segera berkata.

"Kalau lo cianpwee merasa tidak leluasa, lebih baik tidak usah diceritakan."

Sastrawan tua menggeleng-gelengkan kepala lalu berkata.

"Kau jangan salah paham."

Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Saudara kecil, tahukah kau siapa aku?"

"Mohon lo cianpwee sudi memberitahukan!"

Sastrawan tua menghela nafas panjang.

"Aku adalah Seng Ciu Suseng (Sastrawan Bertangan Mujizat),"

Katanya dengan suara rendah. Mendengar itu, Ciok Giok Yin langsung meloncat bangun dan manatap sastrawan tua dengan penuh dendam.

"Seng Ciu Suseng-Seh Ing?"

Bentaknya.

"Tidak salah, aku adalah orang yang sedang kau cari."

Saat ini Ciok Giok Yin menjadi serba salah.

Sebab orang tersebut adalah musuh besar suhunya, tapi juga merupakan penolongnya.

Karena itu dia tidak tahu harus berbuat apa.

Dia berdiri termangu-mangu dan menatap Seng Ciu Suseng dengan penuh kebencian.

Mendadak muncul bayangan Sang Ting It Koay di depan matanya.

Keadaan Sang Ting It Koay amat mengenaskan, hidup menderita dan tersiksa belasan tahun di lembah ular.

Oleh karena itu Ciok Giok Yin berkata dengan dingin sekali.

"Seh Ing, tentunya kau tidak melupakan kejadian lampau itu! Ya, kan?"

Seng Ciu Suseng mengangguk.

"Tentunya aku masih ingat dengan jelas."

Sepasang mata Ciok Giok Yin menyorot tajam.

"Bagus! Kau telah memulihkan kepandaianku. Namun dendam suhuku denganmu tidak dapat dikaitkan dengan urusan ini! Maka kuharap kau sudi memaafkan!"

"Aku boleh...."

Ciok Giok Yin langsung memutuskan perkataannya.

"Suatu hari nanti, setelah semua urusanku beres, aku akan bunuh diri di makammu untuk membalas budi pertolonganmu yang telah memulihkan kepandaian!"

Ciok Giok Yin mulai mengangkat sebelah tangannya, siap menghantam Seng Ciu Suseng.

Sedangkan Seng Ciu Suseng sama sekali tidak bergerak.

Dia mendongakkan kepala memandangnya sambil berkata perlahan-lahan.

"Saudara kecil, bolehkah aku bicara sebentar?"

Ciok Giok Yin segera menurunkan tangannya dan menyahut.

"Bicaralah!"

"Saudara kecil, duduklah dulu!"

Kata Seng Ciu Suseng. Ciok Giok Yin mengerutkan kening, kemudian duduk di hadapan sastrawan tua itu. Seng Ciu Suseng berpikir sejenak, setelah itu barulah berkata.

"Urusan Kang Ouw Pat Kiat dengan suhumu merupakan suatu kesalahan pahaman...."

Ciok Giok Yin mengeluarkan suara 'Oh' Lalu bertanya.

"Chiu Tiong Thau?"

Seng Ciu Suseng mengangguk.

"Tidak salah, dialah yang menghasut kami."

"Tiat Yu Kie Su pernah memberitahukan padaku,"

Katanya Ciok Giok Yin.

"Setelah kejadian itu, barulah kami tahu telah dihasut olehnya, tapi sudah terlambat."

Kini Ciok Giok Yin lebih mengerti, bahwa semua penderitaan Sang Ting It Koay itu, dikarenakan hasutan Chiu Tiong Thau. Sebab itu, sepasang matanya tampak berapi-api.

"Aku bersumpah harus membunuhnya!"

Katanya dengan sengit. Ciok Giok Yin memandang Seng Ciu Suseng.

"Lo cianpwee tahu Chiu Tiong Thau berada di mana?"

Tanyanya.

"Semula aku mencurigai ketua perkumpulan Sang Yen Hwee adalah dia,"

Sahut Seng Ciu Suseng Sei Ing.

"Bukan dia?"

"Aku tetap bercuriga dia berada di dalam perkumpulan Sang Yen Hwee."

"Mengapa lo cianpwee bercuriga begitu."

"Justru karena aku bercuriga, maka aku ke mari,"

Sahut Seng Ciu Suseng Seh' Ing. Hati Ciok Giok Yin tersentak.

"Lo cianpwee sengaja ke mari?"

Tanyanya.

"Ya."

"Mohon petunjuk lo cianpwee!"

"Saudara kecil, pernahkah kau bertemu seorang yang memakai kain penutup muka?"

Tanya Sing Ciu Suseng Seh Ing sambil menatapnya.

"Orang yang memakai kain penutup muka?"

"Dia adalah orang misterius berpakaian hitam memakai kain penutup muka di dalam perkumpulan Sang Yen Hwee."

"Pernah bertemu, memangnya kenapa?"

"Kepandaian orang itu amat tinggi. Aku curiga dia adalah Chiu Tiong Thau. Tapi aku tidak dapat membuktikannya. Ketika aku tertangkap oleh mereka, aku pernah memancingnya dengan perkataan, namun dia tidak memperlihatkan reaksi apa pun."

"Ada urusan apa lo cianpwee mencarinya?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Sederhana sekali. Aku ingin mengumpulkan kaum persilatan yang sehaluan menangkapnya, agar dapat menuntut balas dendam suhumu, juga membersihkan nama baik kami Kang Ouw Pat Kiat."

Bukan main terharunya Ciok Giok Yin! "Lo cianpwee, itu telah menyusahkanmu,"

Katanya.

"Kalau tidak begitu, hatiku tak dapat tenang selamanya."

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang sambil berkata.

"Lo cianpwee, dulu aku amat mendendam pada Kang Ouw Pat Kiat. Tapi setelah mendengar penuturan Tiat Yu Kie Su lo cianpwee, aku sudah percaya delapan bagian."

"Bagaimana sekarang?"

Ciok Giok Yin menjawab dengan jujur.

"Sekarang aku sudah percaya seluruhnya. Mulai saat ini aku tidak akan mendendam terhadap Kang Ouw Pat Kiat lagi. Aku pun percaya bahwa almarhum suhuku pasti memakluminya di alam baka."

Sepasang mata Seng Ciu Suseng berbinar.

"Terimakasih atas pengertian Saudara Kecil,"

Ucapnya.

"Jangan berkata demikian, itu memang merupakan suatu kesalahpahaman. Tadi aku terlampau emosi, mohon lo cianpwee sudi memaafkanku."

Seng Ciu Suseng-Seh Ing tersenyum.

"Kau tidak bersalah. Namun terhadap Chiu Tiong Thau. Saudara Kecil harus menaruh perhatian khusus. Sebab kemungkinan besar orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka adalah Chiu Tiong Thau."

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya "

Seng Ciu Suseng-Seh Ing menatap wajah Ciok Giok Yin lekatlekat, kemudian bertanya.

"Siapa nama ayahmu?"

Mendengar pertanyaan Sastrawan tua itu, air muka Ciok Giok Yin agak berubah.

"Lo cianpwee jangan mentertawakanku. Terus terang hingga saat ini aku belum tahu akan asal-usulku,"

Jawahnya dengan jujur. Seng Ciu Suseng-Seh Ing manggut-manggut.

"Tapi aku lihat kau mirip seseorang."

Hati Ciok Giok Yin, tergetar dan dia langsung bertanya.

"Mirip siapa?"

"Apakah tiada seorang pun memberitahukan padamu?"

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Beberapa lo cianpwee pernah bilang, tapi cuma setengahsetengah. Maka aku mohon petunjuk lo cianpwee."

Seng Ciu Suseng-Seh Ing berpikir sejenak.

"Aku percaya pasti benar. Mereka tidak mau bilang pasti ada sebabnya. Karena itu, aku pun merasa tidak leluasa memberitahukan padamu. Tapi, ada satu hal perlu kuberitahukan padamu."

"Hal apa?"

"Dulu aku dan ayahmu pernah ada janji, yakni putriku bernama Yang Yong Yong dijodohkan padamu.

"Lo cianpwee...."

Seng Ciu Suseng menggoyangkan tangannya agar Ciok Giok Yin diam. Kemudian dia melanjutkan penuturannya.

"Justru karena ini, maka aku menempuh bahaya ke mari, agar dapat menjernihkan kesalahpahaman antara Kang Ouw Pat Kiat dengan Sang Ting It Koay padamu. Kini kesalahpahaman itu telah jernih, aku...."

Ucapan sastrawan tua itu terhenti mendadak. Tampak keringat sebesar-besar kacang hijau merembes keluar dari keningnya.

"Lo cianpwee... kenapa?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Orang memakai kain penutup muka itu menotok jalan darah Ciau Bwe Hiatku, maka setiap enam jam, pasti kambuh satu kali."

Seng Ciu Suseng Seh Ing menghela nafas panjang, lalu melanjutkan penuturannya.

"Tiada seorang pun yang dapat membebaskan totokan itu. Kalaupun aku keluar, nyawaku tetap tidak dapat bertahan lama. Lagi pula... akan menambah penderitaan Yong Yong, maka aku mengambil keputusan tinggal di sini untuk menyelidiki, setelah itu barulah aku pergi mencarimu."

Seng Ciu Seseng berhenti sejenak, kemudian melanjutkan lagi.

"Kini kau sudah ke mari, ini merupakan kesempatanku untuk menjelaskan padamu. Baik-baiklah terhadap Yong Yong, barulah hatiku bisa tenang."

"Urusan ini, aku... tidak bisa mengabulkannya,"

Sahut Ciok Giok Yin. Seng Ciu Suseng mengerutkan kening, kelihatannya amat menderita sekali.

"Kau tidak setuju?"

Tanyanya.

"Bukan, melainkan karena dua hal."

"Katakanlah!"

"Pertama, aku belum tahu jelas apakah diriku keturunan orang itu atau bukan, maka aku tidak bisa sembarangan memperisteri seorang gadis."

Seng Ciu Suseng-Seh Ing manggut-manggut. Mendadak wajahnya tampak berseri.

"Ada."

Ciok Giok Yin tercengang.

"Ada apa?"

"Apakah di bagian dadamu terdapat sebuah tahi lalat merah?"

Hati Ciok Giok Yin tersentak. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa sastrawan tua itu pun akan bertanya demikian padanya.

"Tahi lalat marah?"

"Ya. Apakah ada tahi lalat merah di bagian dadamu?"

"Ada."

"Kalau begitu, tidak akan salah lagi, kau calon menantuku!"

Wajah Seng Ciu Suseng-Seh Ing berubah amat lembut.

"Nak, katakan hal kedua itu!"

Wajah Ciok Giok Yin langsung memerah.

"Hal kedua, secara tanpa sengaja aku makan Pil Api Ribuan Tahun, sehingga badanku berubah menjadi tidak seperti orang biasa,"

Katanya dengan suara rendah.

"Pil Api Ribuan Tahun?"

"Ya."

Seng ciu Suseng-Seh Ing menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata.

"Ini memang merupakan hal yang sulit diputuskan."

Ciok Giok Yin cepat-cepat memberitahukan.

"Lo cianpwee, aku punya kitab Im Yang Cin Koy."

"Kitab Im Yang Cin Koy?"

"Ya."

"Kitab itu diperebutkan oleh golongan hitam. Bagaimana kau memperolehnya?"

Ciok Giok Yin segera menutur tentang Lu Jin memasuki Goa Ban Hoa Tong mencuri kitab tersebut. Setelah itu menambahkan.

"Mok lo cianpwee yang menghadiahkan kitab itu padaku."

"Lalu bagaimana dia?"

Air mata Ciok Giok Yin mulai meleleh.

"Apa yang terjadi atas dirinya?"

Tanya Seng Ciu Suseng-Seh Ing.

"Dia sudah mati,"

Sahut Ciok Giok Yin sambil menghapus air matanya.

"Mati?"

Ciok Giok Yin mengangguk. Justru di saat bersamaan, mendadak terdengar suara langkah di luar kamar.

"Nak, cepat kembali ke tempatmu, aku akan cari akal untuk menyelamatkanmu!"

Kata sastrawan berusia lima puluhan itu dengan suara rendah.

Ciok Giok Yin mengangguk, lalu cepat-cepat merangkak ke dalam kamar tahanannya.

Sedangkan Seng Ciu Suseng juga bergerak cepat menutup kembali dinding batu itu, kemudian pasang kuping mendengarkan dengan penuh perhatian.

Ciok Giok Yin sudah kembali ke kamar tahanannya.

Dia duduk sambil memperhatikan pintu kamar.

Pintu kamar itu terbuka perlahan-lahan, menyusul tampak sosok bayangan berkelebat ke dalam.

"Eh? Kau!"

Seru Ciok Giok Yin.

Ternyata yang berkelebat ke dalam itu adalah gadis berbaju hijau, yang pernah dua kali ditolongnya.

Wajah gadis itu kelihatan tegang sekali, memberi isyarat pada Ciok Giok Yin agar tidak bersuara.

Dia mendekati Ciok Giok Yin, lalu berkata dengan suara rendah.

"Cepat pergi, jangan membuang waktu!"

Desak gadis berbaju hijau.

"Mohon tanya, sebetulnya siapa Nona?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Sekarang tiada waktu untuk menjelaskan, namaku Hui Hui."

"Hui Hui."

Seketika Ciok Giok Yin teringat akan Lan Lan.

Dia adalah musuh besar Bung It Coan, kakak angkatnya, juga merupakan mantan istri kakak angkatnya itu maka Ciok Giok Yin harus membunuhnya demi membalaskan dendamnya.

Namun Hui Hui adalah gadis yang lemah lembut.

Tak diduga dia akan menempuh bahaya menolong Ciok Giok Yin.

Tentu, sebab sudah dua kali Ciok Giok Yin menyelamatkannya.

Maka gadis berbaju hijau tersebut ingin membalas budinya.

"Berhubung Nona berniat menolongku, bolehkah sekaligus menolong seorang lagi?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Siapa?"

Tanya gadis berbaju hijau.

"Seorang lo cianpwee yang ditahan di kamar sebelah."

Justru di saat bersamaan, dinding batu terbuka sedikit, lalu tampak Seng Ciu Suseng-Seh Ing merangkak ke kamar tahanan Ciok Giok Yin.

"Nak, kau sudah boleh pergi,"

Katanya.

"Bapak mertua, mari kita pergi bersama!"

Sahut Ciok Giok Yin. Hui Hui tertegun, karena tidak menyangka mereka berdua adalah menantu dan mertua. Seng Ciu Suseng-Seh Ing berkata.

"Bukankah aku telah memberitahukanmu, diriku telah tertotok oleh semacam ilmu totokan beracun sehingga nyawaku sulit dipertahankan lagi? Lagi pula Tiat Yu Kie Su telah mati, berarti Kang Ouw Pat Kiat sudah tiada. Untuk apa aku masih hidup? Yang penting kau harus baik-baik memperlakukan Yong Yong, mati pun aku tidak akan penasaran."

Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Melihat tubuhmu, tentu Yong Yong tidak mampu melayanimu. Maka, kau harus punya isteri lebih dari dua, dan juga harus menyuruh mereka memahami kitab Im Yang Cin Koy."

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya."

"Baik, cepatlah pergi!"

Mendadak jari tangan Seng Ciu Suseng-Seh Ing bergerak, Cess!

Ternyata Seng Ciu Suseng bunuh diri dengan cara menotok jalan darah Thay Yang Hiatnya sendiri, roboh dan binasa seketika.

Ciok Giok Yin langsung menangis.

Namun gadis baju hijau segera menutup mulutnya seraya berkata.

"Jangan menangis, cepat pergi! Mengenai mayat ini, aku akan berusaha menguburnya."

Setelah itu dia berbisik sejenak di telinga Ciok Giok Yin, lalu membawa ke luar.

Ketika mereka berdua melalui sebuah lorong, tampak beberapa mayat tergeletak di lorong itu, jelas adalah perbuatan Hui Hui.

Mereka berdua berjalan tergesagesa, tak lama kemudian tiba di mulut lembah.

"Saudara Ciok, aku cuma bisa mengantarmu sampai di sini. Cepatlah pergi,"

Kata Hui Hui.

Usai berkata, gadis berbaju hijau itu segera melesat pergi.

Ciok Giok Yin juga tidak berani berlaku ayal, langsung melesat melalui mulut lembah itu.

Di saat sedang melesat pergi, justru Ciok Giok Yin tidak habis pikir dan terheran-heran, karena tidak menyangka Seng Ciu Suseng-Seh Ing adalah calon mertuanya.

Bahkan tentang perjodohan itu, malah kedua orang tuanya yang menjodohkannya.

Kalau begitu, sebetulnya siapa kedua orang tuanya?

Mengapa calon mertuanya itu tidak mau memberitahukannya?

Apakah setelah memberitahukannya, akan terjadi sesuatu yang fatal?

Kelihatannya kedua orang tuanya merupakan tokoh persilatan yang amat terkenal.

Lalu dia masih ingat akan perkataan Seng Ciu Suseng Seh Ing, bahwa dia mencurigai orang memakai kain penutup muka dari perkumpulan Sang Yen Hwee itu adalah Chiu Tiong Thau.

Maka mulai sekarang dan selanjutnya dia harus menyelidiki orang itu.

"Aku pasti akan kemari lagi,"

Gumamnya.

Sementara Ciok Giok Yin terus melesat, ternyata dia telah meninggalkan lembah itu.

Mendadak dia merasa ada angin pukulan dari empat penjuru mengarahnya.

Di saat bersamaan terdengar pula suara yang amat dingin.

"Bocah, sungguh tidak kecil kepandaianmu!"

Ciok Giok Yin segera memandang ke sekelilingnya.

Tampak empat orang aneh berdiri mengepungnya.

Masingmasing bertubuh tinggi, pendek, gemuk dan kurus.

Tampang orang yang bertubuh tinggi itu amat menyeramkan.

Sepasang bahunya naik dan sepasang biji matanya melotot ke luar, persis seperti setan gantung diri.

Yang bertubuh pendek hidungnya kecil, begitu pula mulutnya.

Kelihatannya seperti anak kecil berusia dua belasan namun keningnya sudah keriput.

Sedangkan yang gemuk perutnya gendut, wajahnya memerah dan sepasang matanya memancarkan sinar tajam.

Tangannya gendut, wajahnya merah dan sepasang matanya memancarkan sinar tajam.

Tangannya membawa sebuah Suipoa (Alat Hitung Cina) yang gemerlapan dan terus berbunyi 'Praaaak!' Yang kurus bagaikan sosok Jailangkung.

Tulang-tulangnya menonjol boleh dikatakan tiada dagingnya sama sekali.

Keempat orang aneh itu berkedudukan apa di perkumpulan Sang Yeng Hwee, Ciok Giok Yin tidak tahu sama sekali.

"Siapa kalian cepat beritahukan!"

Bentaknya. Orang yang bertubuh tinggi balik bertanya dengan dingin.

"Bocah, pernahkah kau dengar Si Sing Kui (Empat Bentuk Setan)?"

"Si Sing Kui?"

"Tidak salah!"

Ciok Giok Yin melengos.

"Hmm! Kalian berempat memang berbentuk seperti setan, aku akan menghabiskan kalian!"

Ciok Giok Yin belum pernah mendengar tentang Si Sing Kui, tentunya tidak tahu bagaimana kepandaian mereka.

Oleh karena itu, dia langsung menyerang Si Sing Kui, dengan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Si Sing Kui tidak tahu Ciok Giok Yin berkepandaian begitu tinggi, maka mereka berempat tidak berkelit, sedangkan serangan Ciok Giok Yin ditujukan kepada si Pendek.

Seketika terdengar suara jeritan dan tampak badan si Pendek terpental beberapa depa.

Akan tetapi, mendadak Si Pendek bersalto di udara, kemudian meluncur ke arah Ciok Giok Yin disertai dengan serangan dahsyat.

"Bocah, hari ini kau tidak bisa lolos!"

Bentaknya.

Ternyata si Pendek telah mengeluarkan sebuah cambuk panjang, menyerang Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin mencelat ke samping.

Akan tetapi ujung cambuk itu tetap mengikutinya.

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin!

Dia tidak menyangka si Pendek yang bertampang tidak karuan itu memiliki kepandaian begitu tinggi.

Lagi pula si Pendek berhasil mengelak ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang yang dilancarkannya.

Kelihatannya di dalam perkumpulan Sang Yen Hwee, memang terdapat banyak pesilat tangguh.

Di saat bersamaan ujung cambuk itu sudah menyambar kepala Ciok Giok Yin.

Meskipun Ciok Giok Yin berkepandaian tinggi tapi juga sulit baginya untuk mengelak serangan itu.

Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan nyaring.

"Setan pendek, jangan berlagak di sini!"

Tampak sosok bayangan meluncur ke tempat itu sekaligus menjulurkan tangannya menangkap cambuk si Pendek dan membentak sengit.

"Pergi kau!"

Tahu-tahu si Pendek telah terpental beberapa depa.

Di saat bersamaan Ciok Giok Yin memandang ke arah orang yang baru muncul.

Ternyata seorang wanita bercadar.

Ciok Giok Yin merasa kenal akan bentuk tubuh wanita bercadar itu namun lupa pernah bertemu di mana.

Sementara si Pendek yang terpental itu sudah bangkit berdiri sambil melototi wanita bercadar.

Sedangkan ketiga setan lain bertanya serentak.

"Siapa kau?"

"Te Cang Ong Pousat. Aku kemari khusus untuk menangkap kalian berempat setan kelaparan!"

Sahut wanita bercadar. Setan Gemuk tertawa gelak.

"Ha ha ha! Bagus sekali kedatanganmu, karena kebetulan kami sedang kehabisan uang, maka harus menangkapmu untuk dijual ke tempat pelesiran! Ha ha ha...!"

Suara tawanya melengking-lengking seperti suara burung gagak malam, amat menusuk telinga dan membuat darah bergolak.

"Setan Gemuk, ilmu Sian Im Kang (llmu Suara Tawa) mu tidak dapat mempengaruhiku!"

Bentak wanita bercadar.

Mendadak dia bergerak cepat menerjang ke arah Si Sing Kui dan seketika tampak sepasang telapak tangannya berkelebat.

Kelihatannya Si Sing Kui tahu akan kelihaian wanita itu, maka mereka berempat segera berkelit ke arah samping.

Sementara Ciok Giok Yin yang menyaksikan pertarungan itu merasa khawatir pada wanita bercadar.

"Si Sing Kui, serahkan nyawa kalian!"

Bentaknya mengguntur. Akan tetapi pada waktu bersamaan wanita itu sudah menerobos ke luar seraya berkata nyaring.

"Siapa butuh bantuanmu?"

Ciok Giok Yin tertegun lalu berdiri termangu-mangu.

Namun wanita bercadar tidak diam.

Dia membentak nyaring sambil menerjang Si Sing Kui.

Bukan main cepatnya gerakan wanita itu!

Mata Ciok Giok Yin menjadi kabur dibuatnya.

Dia justru tidak ingat sebetulnya siapa wanita itu.

Berdasarkan sorotan matanya, wanita itu kelihatan seperti mempunyai dendam kebencian padanya.

Sesungguhnya Ciok Giok Yin bisa meninggalkan tempat itu, namun dia ingin tahu bagaimana akhir pertarungan mereka dan juga ingin tahu siapa wanita bercadar tersebut.

Mendadak terdengar suara jeritan Si Sing Kui.

Ternyata mereka berempat telah terluka.

Seketika Si Sing Kui lari terbirit-birit ke dalam lembah, rupanya mereka berempat ingin minta bantuan.

"Hmmm!"

Dengus wanita bercadar.

Dia membalikkan badannya berjalan mendekati Ciok Giok Yin, lalu berdiri di hadapannya.

Ketika Ciok Giok Yin beradu pandang dengan wanita itu, tersentaklah hatinya Kemudian dia berkata dalam hati, 'Sungguh tinggi lwee kangnya!' "Ciok Giok Yin, tak disangka kita akan bertemu di sini!"

Kata wanita itu dengan dingin. Ciok Giok Yin tertegun, sebab wanita itu tahu namanya. Sebaiknya dia tidak tahu siapa wanita itu.

"Mohon tanya siapa Nona?"

Tanyanya.

"Kau ingin tahu?"

"Tidak salah."

"Sebelum kau tahu siapa diriku, lebih dahulu kau harus tahu akan satu hal!"

"Hal apa?"

"Jangan kau kira pertarunganku dengan Si Sing Kui tadi demi menyelamatkanmu Ciok Giok Yin tercengang.

"Bukan menyelamatkanku?"

"Tentu."

"Bolehkah kau menjelaskan padaku"

"Hmmm!"

Dengus wanita bercadar.

"Aku tidak menghendaki kau mati di tangan mereka!"

"Maksudmu?"

"Kau harus mati di tanganku!"

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Aku dan kau tiada dendam apa-apa."

"Tidak ada? Enak saja kau bicara!"

Air muka Ciok Giok Yin langsung berubah menjadi dingin.

"Sebetulnya siapa kau? Lebih baik buka saja cadarmu agar aku tahu siapa kau. Aku ingat selalu akan budi dan dendam. Apabila diantara kita terdapat dendam, aku bersedia kau tindak,"

Katanya dengan suara dalam.

"Tentunya ada dendam!"

Sahut wanita bercadar. Ciok Giok Yin tertawa dingin.

"Ada dendam?"

"Tidak akan salah!"

"Kalau begitu, bukalah cadarmu!"

Wanita itu mengangkat sebelah tangannya perlahan-lahan, kemudian melepaskan cadarnya. Begitu melihat wajah wanita itu Ciok Giok Yin terbelalak dan matanya mulai berkaca-kaca.

"Adik Ing Ing!"

Serunya tak tertahan.

Ternyata wanita itu adalah Cou Ing Ing, putri almarhum Cou Yung Liong.

Mereka berdua itu baru berpisah beberapa bulan, namun Cou Ing Ing telah memiliki kepandaian tinggi, berhasil mengalahkan Si Sing Kui dari perkumpulan Sang Yen Hwee.

Itu membuat Ciok Giok Yin, entah harus bergirang atau cemas?

Di saat Ciok Giok Yin ingin melangkah maju, mendadak Cou Ing Ing membentak sengit.

"Ciok Giok Yin, kalau kau masih berani maju selangkah lagi, aku pasti membunuhmu!"

Hati Ciok Giok Yin langsung menjadi dingin, dan dia segera menghentikan langkahnya.

"Adik Ing Ing, kau..."

Katanya dengan suara gemetar.

"Siapa adik Ing Ingmu?"

"Adik Ing Ing, apakah kau sudah lupa ketika aku tinggal di rumah melewati hari-hari yang penuh penderitaan?"

Sepasang mata Cou Ing Ing membara.

"Aku tidak akan lupa, bahkan terus ingat selalu!"

Katanya sengit.

"Ciok Giok Yin, mengenai kematian ayahku, tentunya kau belum lupa!"

Sekujur badan Ciok Giok Yin gemetar, kemudian dan menghela nafas panjang seraya berkata.

"Adik Ing Ing. Paman Cou bunuh diri, aku...."

"Kau yang mendesak ayahku hingga bunuh diri! Sekarang aku bertanya, harus atau tidak aku menuntut balas dendam ayahku?"

Sergah Cau Ing lug. Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Memang harus,"

Sahutnya sedih. Namun kemudian dia memanggil gadis itu.

"Adik Ing Ing...."

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, Cou Ing Ing sudah membentak.

"Aku bukan adik Ing Ingmu, harap tahu diri!"

Wajah gadis itu tampak bengis sekali, kelihatannya dia memang ingin mencabut nyawa Ciok Giok Yin.

"Kalau kau merasa akan lega apabila membunuhku, silakan turun tangan, tapi...."

Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya.

"Tapi kenapa?"

Tanya Cou Ing Ing.

"Aku sama sekali tidak berniat mencelakai ayahmu, melainkan ayahmu yang mengambil jalan pendek. Lagi pula waktu itu, Tui Beng Thian Cun berada di sana, sehingga membuatku teringat akan dendam Tiong Ciu Sin Ie, maka perkataanku menjadi agak kasar terhadap ayahmu."

"Inikah alasanmu?"

"Dan juga...."

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Semua kenangan masa kecil kita, sepertinya muncul di depan mataku."

Ternyata Ciok Giok Yin ingin mengingatkannya mengenai kenangan masa kecil mereka, agar rasa bencinya berkurang. Akan tetapi, Cou Ing Ing malah tertawa dingin lalu membentak.

"Ciok Giok Yin, serahkan nyawamu!"

Sekonyong-konyong dia menyerang Ciok Giok Yin dengan dahsyat sekali.

Terdengar suara jeritan.

Ciok Giok Yin terpental beberapa depa, kemudian roboh dan mulutnya menyemburkan darah segar.

Namun kemudian dia bangkit berdiri perlahanlahan.

Wajahnya pucat pias dan tampak menderita sekali.

Dia melangkah perlahan-lahan ke hadapan Cou Ing Ing seraya berkata dengan lemah.

"Demi menebus dosaku, silakan turun tangan!"

Cou Ing Ing tidak menyangka bahwa Ciok Giok Yin tidak menangkis dan tidak berkelit.

Itu membuatnya amat berduka, namun kematian ayahnya muncul kembali di pelupuk matanya.

Cou Ing Ing mulai mengangkat sebelah tangannya, kelihatannya ingin menyerang Ciok Giok Yin lagi.

Namun mendadak sesosok bayangan putih melayang turun di tempat itu.

Cou Ing Ing dan Ciok Giok Yin menoleh ke arah orang yang baru muncul itu, ternyata seorang pemuda tampan.

Cou Ing Ing tidak menghiraukannya, langsung menyerang Ciok Giok Yin.

Blum!

Ciok Giok Yin terpental lagi beberapa depa.

Pemuda baju putih itu melirik Cou Ing Ing sejenak, kemudian melesat ke arah Ciok Giok Yin.

Ketika pemuda itu memapahnya bangun, Ciok Giok Yin sudah bangkit berdiri, tapi masih sempoyongan.

"Saudara, di antara kalian berdua ada urusan apa?"

Tanya pemuda berbaju putih. Ciok Giok Yin tersenyum getir lalu menyahut.

"Harap Anda mundur! Di antara kami terdapat sedikit kesalahpahaman."

Dia mendekati Cou Ing Ing.

"Nona Cou, silakan turun tangan lagi!"

Bagimana bengisnya Cou Ing Ing, jelas saat ini sudah tidak mampu turun tangan lagi terhadap Ciok Giok Yin.

Ketika melancarkan kedua pukulan tadi Cou Ing Ing tidak menggunakan tenaga sepenuhnya.

Apabila dia menggunakan tenaga sepenuhnya, niscaya saat ini Ciok Giok Yin sudah tergeletak menjadi mayat.

Akan tetapi kebencian Cou Ing Ing belum sirna.

Ketika Ciok Giok Yin berkata begitu, dia langsung melancarkan sebuah pukulan lagi.

Bum!

Kali ini Ciok Giok Yin terpental lebih jauh.

Pemuda berbaju putih cepat-cepat mendekatinya, lalu membungkukkan badannya mengobati luka Ciok Giok Yin.

Cou Ing Ing tidak menghalanginya, cuma berdiri termangu-mangu di tempat.

Di saat bersamaan mendadak terdengar beberapa kali suara siulan yang menembus angkasa dan tak lama kemudian tampak beberapa sosok bayangan melesat ke luar dari mulut lembah.

Cou Ing Ing segera memandang ke sana, terlihat Si Sing Kui kembali ke tempat itu.

Tampak seorang menyertai mereka.

Dia berdandan seperti sastrawan, tidak lain adalah Ouw Suya-Ouw Cih dari perkumpulan Sang Yen Hwee.

Saat ini luka yang diderita Ciok Giok Yin telah sembuh.

Dia langsung menanyakan nama pemuda baju putih itu.

Pemuda baju putih mengaku bernama 'Ku Tian'.

Ciok Giok Yin menoleh dan kegusarannya langsung memuncak ketika melihat Si Sing Kui.

Ketika dia baru mau....

Ouw Cih justru mendekatinya seraya membentak.

"Ciok Giok Yin, tak disangka kau berhasil meloloskan diri! Masih berani cari gara-gara di sini, mungkin kau sudah tidak mau hidup lagi!"

Maksud Ouw Cih, Ciok Giok Yin sudah berhasil meloloskan diri, tapi tidak segera pergi, malah mencari gara-gara di tempat ini.

Ciok Giok Yin amat cerdas, tentunya tahu akan maksud Ouw Cih.

Akan tetapi dia justru terdesak oleh keadaan, sehingga tidak bisa pergi selekasnya.

Oleh karena itu dia menyahut dingin.

"Bagaimana? Apakah di sini adalah daerah kekuasaan perkumpulan Sang Yen Hwee?"

Ouw Cing tertawa gelak.

"Betul, dalam jarak lima puluh mil, merupakan daerah kekuasaan perkumpulan Sang Yen Hwee. Siapa pun dilarang menuntut balas maupun mencari gara-gara di tempat ini! Ciok Giok Yin, kelihatannya aku harus membawamu kembali!"

Terhadap Ouw Cih, Ciok Giok Yin memang tidak mendendam.

Walau Ouw Cih tidak langsung melepaskannya, namun pernah memberi isyarat padanya, itu merupakan budi besar bagi Ciok Giok Yin.

Akan tetapi apabila dia tidak menyahut dingin, tentu akan menimbulkan kecurigaan Si Sing Kui.

Karena itu, dia terpaksa harus menyahut dingin.

"Tidak begitu gampang!"

Ouw Cih mengerutkan kening. Sepasang bola matanya berputar sejenak, kemudian dia berkata.

"Kau tidak percaya, lihat saja sendiri!"

Usai berkata, Ouw Cih langsung menyerangnya.

Ciok Giok Yin belum tahu bagaimana kepandaian Ouw Cih.

Maka dia ingin menjajalnya, langsung berkelebat ke arah tubuh Ouw Cih.

Sejak Ciok Giok Yin berhasil menguasai ketiga jurus ilmu pukulan tersebut, boleh dikatakan jarang ada orang yang dapat mengelak.

Namun Ouw Cih justru dengan gampang sekali mengelak jurus pukulan itu.

Dapat diketahui betapa tingginya kepandaian yang dimiliki Ouw Cih.

Oleh karena itu Ciok Giok Yin langsung menyerangnya dengan jurus kedua.

Sungguh di luar dugaan, Ouw Cih tetap berhasil berkelit dengan gampang sekali.

Ketika Ciok Giok Yin baru mau melancarkan jurus ketiga, mendadak jari tangan Ouw Cih bergerak cepat laksana kilat, menyambar bagian dadanya.

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin, sehingga keringat dinginnya langsung mengucur karena biar bagaimanapun Ciok Giok Yin tidak akan berhasil berkelit.

Kelihatannya Ciok Giok Yin akan tercengkeram dadanya.

Namun di saat bersamaan tampak sosok bayangan meluncur ke tempat itu bagaikan meteor.

Tercium pula bau arak yang amat keras.

Sebelum badannya melayang turun, sudah terdengar suara bentakan.

"Kau berani menyentuhnya!"

Tampak gerakan yang amat aneh menerjang ke arah Ouw Cih, membuat Ouw Cih terdesak mundur beberapa langkah.

"Kau...!"

Serunya tertegun. Pendatang itu langsung memutuskan perkataan Ouw Cih.

"Jangan banyak bicara, akan kuhabisi kau!"

Sergah pendatang itu. Kemudian dia mulai menyerang Ouw Cih. Ciok Giok Yin sudah melihat jelas siapa oang itu, ternyata Si Bongkok Arak.

"Lo cianpwee...!"

Serunya.

"Kau cepat pergi, di sini tiada urusanmu!"

Sahut Si Bongkok Arak sambil terus menyerang Ouw Cih. Mendadak Ouw Cih berseru kaget.

"Sungguh hebat ilmu Liak Ci Ciang (Ilmu Pukulan Penyobek Daging)mu ini!"

Si Bongkok Arak tertawa dingin.

"Hebat juga ilmu Ban Hwi Ie Yong Sut (Ilmu Merias Wajah)mu!"

Ouw Cih segera berkelit, sekaligus melirik ke arah Si Sing Kui.

Melihat Si Sing Kui sedang bertarung dengan Cou Ing Ing, barulah dia berlega hati.

Justru di saat bersamaan, mendadak tampak sebuah tandu kecil digotong dua wanita meluncur ke tempat itu, diikuti empat pemuda tampan di belakangnya.

Tak seberapa lama kemudian sudah sampai di tempat itu.

Ciok Giok Yin tidak tahu siapa pendatang itu.

Dia memandang dengan penuh perhatian.

Tiba-tiba Ciok Giok Yin melihat seorang gadis rambutnya panjang terurai, badannya terikat tali, berjalan terseret-seret di belakang mereka.

Ketika melihat gadis itu, hati Ciok Giok Yin terasa remuk.

"Adik Cang...!"

Baca Juga: Kedele Maut 5

Baca Juga: Anak Berandalan 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert