Ceritasilat Novel Online

Kedele Maut 5

Eps 5 Kedele Maut - Khu Lung

Baca online Kedele Maut - Khu Lung

Cersil Kedele Maut - Khu Lung.

"Kalian jangan bersikap begitu sungkan dulu kepada aku si hwesio, heee...heee...coba terangkan dulu, apa yg sedang kalian perbuat didalam gua tempat kediamanku itu?"

Buru-buru Chin sian kun menjelaskan.

"Taysu, terus terang saja didalam gua ada orang sedang mengatur napas utk mengobati luka yg dideritanya, sedangkan boanpwee Chin sian kun bersama Kim bersaudara dan keempat orang diluar lembah itu mendapat tugas utk melindungi keselamatannya."

"Ooooh...siapa yg sedang bersemedi utk mengobati lukanya?"

"Dia adalah Bu wi locianpwee!"

Sahut Kim lotoa cepat.

"Bu wi lojin yg mana yg kau maksudkan?"

Seru si hwesio daging anjing agak tertegun. Tapi sebentar kemudian ia sudah tertawa tergelak kembali, katanya lebih jauh.

"Haaaa....haaaa....haaaa...bagus sekali, rupanya si barang antik itu. Tapi...bukankah kudengar ia telah mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan? Bagaimana ceritanya sehingga ia dapat dilukai orang?"

Kim lotoa segera menghela napas panjang.

"Aaaai...persoalan ini panjang sekali utk diceritakan, silahkan taysu masuk dulu kedalam gua, bonpwee tentu akan memberi keterangan sejelas-jelasnya."

Ketika melihat Molim sekalian sedang celingukan dari luar lembah, buru-buru sserunya pula.

"Silahkan saudara berempat masuk pula kedalam utk menjumpai taysu.... Molim agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, sebenarnya mereka berempat bermaksud akan menyelundup masuk kedalam begitu si hwesio telah terlibat dalam pertarungan melawan Kim bersaudara, siapa tahu hwesio itu ternyata adalah sahabat karib Bu wi lojin. Karena sudah ditegur terpaksa mereka bersama Hapukim berdua harus munculkan diri dan memberi hormat kepada hwesio daging anjing.

"Tak usah banyak adat"

Seru hwesio itu cepat.

"betul-betul air bah menggenangi kuil raja naga, anggap aku si hwesio yg salah, hey saudara tua bagaimana dg luka dibahumu? Bagaimana kalau kusambungkan kembali tulangmu yg terlepas?"

"Luka yg diderita saudara Hapukim telah kusambung kembali, tak usah merepotkan toa lhama!"

Tampik Molim ketus. Hwesio daging anjing kembali tertawa.

"Baik...baik..biar selewat beberapa hari aku si hwesio akan memberi ganti kerugian kepada loheng ini."

Lalu sambil berpaling kembali kearah Chin sian kun, katanya lebih jauh.

"Hey nona cilik, untung kau lebih cepat tahu gelagat, he...he....he...kalau tidak kau sendiripun akan merasakan sedikit pelajaran dariku!"

"Biarpun aku digebuk oleh taysu juga tak jadi masalah, siapa tahu gara-gara bencana boanpwee akan mendapat rejeki?"

Hwesio daging anjing tertawa bergelak.

"Haaaah.....haaaah...haaaah...tak kunyata kunyana selembar mulutmu yg mungil begitu pandai berbicara, baik..baiklah, berapa hari lagi kalian akan menjaga disini?"

"Masih memerlukan waktu selama dua belas hari lagi sebelum semedi itu diselesaikan!"

Sahut Kim lotoa segera.

"Bagus sekali, asal disediakan arak dan daging, aku si hwesio akan mengendon pula disini, kujamin tak ada yg berani mengusik!"

"Hmmm...aku rasa belum tentu demikian"

Tiba-tiba terdengar seseorang menjengek dari luar lembah sambil tertawa dingin.

Dg perasaan terkejut ketujuh orang yg berada dalam lembah berpaling, tampaklah dimulut lembah telah muncul tiga sosok bayangan manusia.

Dari ketiga orang itu dua diantaranya adalah kakek berusia lima puluhan yg semuanya memakai jubah panjang berwarna ungu, sepasang alis matanya tebal lagi hitam, matanya tajam bagaikan kilat, senjata yg dibawa berbeda sekali dg senjata pada umumnya.

Bentuk senjata mereka seperti dua batang tongkat besi biasa tapi diujungnya masing-masing terdapat sebuah kupu-kupu besi yg sedang mementangkan sayapnya, bentuk ukiran itu sangat indah sehingga mirip sekali dg kupu-kupu sungguhan.

Orang ketiga adalah seorang perempuan cantik jelita yg berusia tiga puluhan, ia memakai baju berwarna putih dan kelihatan genit sekali.

Orang yg berbicara barusan tak lain adalah perempuan berbaju putih itu.

Ketika selesai berbicara, perempuan itu segera mengulapkan tangannya kebelakang, dari luar lembah pun segera muncul kembali delapan orang jago pedang yg semuanya memakai pakaian ringkas bewarna kuning, orang-orang itu kelihatan amat keren, garang dan penuh napsu membunuh.

Berubah paras muka Kim kong sam pian melihat kehadiran musuh-musuhnya, mereka segera berpikir dg rasa kaget.

"Orang-orang ini asing sekali wajahnya, entah mereka berasal dari aliran mana?"

Dalam pada itu si hwesio daging anjing telah berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah...haaaah....haaaah...ternyata lagi-lagi kalian yg datang mengacau, aku lihat kalian seperti belum puas juga dan mendatangkan bala bantuan, apakah hendak mencari aku si hwesio utk menuntut balas?"

Chin sian kun yg melihat hal ini, segera bertanya dg wajah keheranan.

"Apakah cianpwee kenal dg mereka?"

Hwesio daging anjing tertawa.

"Sewaktu masih berada dibawah bukit tadi, sobat-sobat yg memakai baju kuning itu bersama lima enam perempuan mengamati terus aku si hwesio secara membingungkan, tapi akhirnya ada dua orang yg kucopot tulangnya sebelum mereka bubaran...eeeei...tak tahunya mereka datang lagi utk mencari gara-gara."

Perempuan berbaju putih itu segera tertawa dingin, katanya.

"Kesalah pahaman bisa sering terjadi didalam dunia persilatan, krn itu kedatangan kami kemari bukanlah utk mencari gara-gara dg kau hwesio, asal kau si hwesio bersedia utk berpeluk tangan belaka, aku pun berjanji tak akan memusuhi dirimu!"

Hwesio daging anjing nampak agak tertegun, lalu setelah memutar biji matanya dan tertawa terkekeh-kekeh, katanya.

"Haaah...haaah....haaaah...mengerti sekarang aku si hwesio, rupanya kalian hendak mencari gara-gara dg si tua Bu wi..?"

Kembali perempuan berbaju putih itu mendengus.

"Hmmm, hwesio bau! Kau tak usah berlagak sok edan atau tak waras otaknya, tiga hari berselang kau sudah bersatu dg si tua bangka celaka itu, buat apa kau masih berlagak pilon sekarang?"

"Biar aku si hwesio pikun, rasanya kepikunanku belum sampai mencapai taraf sepenuh itu"

Kata hwesio daging anjing sambil memutar biji matanya.

"tiga hari berselang, aku masih berada ratusan li jauhnya dari sini, bagaimana mungkin aku telah berada bersama si tua Bu wi?"

Kim lotoa yg ikut mendengarkan pembicaraan tsb dg cepat mengerti, yg dimaksud kejadian pada tiga hari berselang tak lain adalah hasil perbuatannya yg menggunakan orang-orangan dari rumput utk memukul mundur komandan Sin beserta pasukannya.

Maka sambil tertawa segera selanya.

"Rupanya kalian adalah anak buah dari dewi In nu?"

"Betul!"

Jawab perempuan berbaju putih itu.

"Nah katakan sekarang, dimanakah Bu wi lojin serta bocah keparat she Kho itu?"

"Maaf kalau aku tak bisa memberi jawaban!"

Ucap Kim lotoa dg suara dalam. Kembali perempuan berbaju putih itu mendengus.

"Hmmmm...padahal tidak susah utk memaksamu berbicara..."

Kepada kedua orang kakek berbaju ungu itu katanya tiba-tiba seraya menjura.

"Tolong merepotkan huhoat berdua agar membekuk dulu orang she Kim tsb!"

Kedua orang kakek berbaju ungu itu manggut tanpa menjawab, serentak mereka maju mendekati Kim lotoa.

Tapi si hwesio daging anjing segera menghalangi jalan perginya dg melintangkan tangannya ditengah jalan, katanya sambil tertawa terkekeh.

"eeei...jangan terburu nafsu, jangan terburu nafsu, sesudah setengah harian lamanya kita berbicara tapi aku si hwesio belum tahu asal usul kalian, apakah kalian bersedia memberi penjelasan dulu sebelum pertarungan dilakukan?"

Kakek berbaju ungu yg perawakan agak kurus segera berkata dg suara dingin.

"Aku adalah salah satu diantara dua belasan pasukan pelindung hukum dibawah pimpinan Siancu yg bernama Tang Bok kong, sedang dia adalah adik angkatku Tang Soat Leng cu, sudah lama aku mendengar akan nama besar hwesio daging anjing!"

Paras muka si hwesio daging anjing kelihatan agak berubah, tidak banyak manusia dalam dunia dewasa ini yg bisa duduk sebanding dengannya, semakin sedikit orang yg tak berubah wajahnya setelah mendengar nama Hwesio daging anjing.

Tapi kedua orang kakek berbaju ungu yg belum diketahui asal usulnya ini ternyata tdk menunjukkan perubahan sikap setelah bertemu dgnya, kenyataan tsb betul-betul membingungkannya.

Sambil memutar biji matanya, si hwesio daging anjing mengawasi ketiga orang lawannya berapa saat lalu kembali ujarnya sambil tertawa terkekeh.

"Kalau toh kalian sudah lama mendengar namaku, biar tidak sudi memberi muka utk sang pendeta, toh paling tidak memandang diwajah sang buddha sudilah kalian menyudahi ulah kamu semua!"

Tang Bok kong segera menarik wajahnya, lalu setelah mendengus dingin, jengeknya.

"Kenapa? Rupanya kau ingin berkelahi lebih dulu dg aku?"

"Haaah....haaah....haah..."

Hwesio daging anjing tertawa tergelak, tiba-tiba ia menggapai kearah Hapukim sambil serunya.

"Coba kemarilah!"

Dg wajah termangu Hapukim maju beberapa langkah kedepan, lalu tanyanya.

"Toa lhama, ada urusan apa kau memanggilku?"

"Coba kau maju dan berkelahilah lebih dulu dg tua bangka itu, coba lihat sampai dimana kemampuan yg dimilikinya."

Berubah paras muka Hapukim, teriaknya tertahan.

"Hey toa lhama, apakah kau berniat menyuruh aku mengantar kematian? Tulang bahuku yg terlepas pun belum sembuh betul...."

Tapi belum selesai ia berkata, hwesio daging anjing telah menyela sambil tertawa.

"Bukan masalah, maju saja kedepan, asal mau menuruti perkataanku, asal kau terluka seujung rambut saja, aku si hwesio akan menggantimu dg selembar nyawa."

Habis berkata dia segera menekan bahu kanan Hapukim dua kali.

Dalam waktu singkat Hapukim merasakan bahunya panas tapi terasa nyaman sekali, suatu perasaan ingin tahu pun segera menyelimuti pikirannya tanpa banyak berbicara lagi dia mempersiapkan goloknya lalu berjalan menghampiri lawannya.

Tang Bok kong segera menjengek sambil tertawa dingin.

"Hmmm...tak berani maju sendiri tapi suruh orang lain yg pergi mengantar kematian, inikah alasannya kenapa kau si hwesio menjadi termashur dlm dunia persilatan?"

Hwesio daging anjing sama sekali tidak menjadi gusar, malah katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Umpatan yg bagus, tapi asal kau mampu mengusik seujung rambutnya saja, aku si hwesio tak perlu turun tangan melawanmu lagi, batok kepalaku akan kutebas dan kupersembahkan kepadamu. Cuma sebelum itu, aku si hwesio perlu bertanya dulu, kalian ingin bertarung satu lawan satu ataukah ingin main keroyokan?"

Dg kening berkerut Tan Bok kong berkata.

"Walaupun aku sangat jarang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, namun paling memandang rendah mereka yg suka main keroyok, asal kau si hwesio tdk bakal mengingkari janji, biar kusuruh dia merasakan kelihaian ilmu panji kupu-kupu ku lebih dulu sebelum menebas kutung batok kepalamu!"

Tiba-tiba saja paras muka hwesio daging anjing berubah hebat, tapi segera sahutnya.

"Baiklah, nah kalian boleh segera turun tangan!"

Begitu mendengar perkataan tsb, Hapukim segera berkata kepada Tang Bok kong.

"Hey monyet tua, rasakan dulu sebuah bacokanku ini!"

Goloknya segera diputar langsung dibacokkan kebawah, cahaya kilat berkelebat lewat seperti sambaran petir.

Sekulum senyuman menghina segera menghiasi bibir Tang Bok kong setelah melihat gerak serangan dari Hapukim tsb, meski cepat dan ganas namun gerakannya begitu sederhana.

Dg cekatan dia menghindar kesamping, sementara senjata panji kupu-kupunya langsung disodorkan kedada Hapukim.

Senjata tsb memang aneh sekali bentuknya, begitu diputar maka sepasang sayap kupu-kupu tsb ikut bergetar hingga mengeluarkan suara yg keras, bentuknya sangat hidup tak ubahnya seperti kupukupu sungguhan.

Terutama sekali misai sepanjang beberapa depa yg terbuat dari baja tsb, getarannya yg kacau membuat orang susah utk menduga, arah sasaran manakah yg sedang dituju.

Tampak bacokan golok Hapukim mengenai sasaran yg kosong, tapi begitu jurus serangannya belum habis digunakan, lagi-lagi ia membentak keras.

"Lihat serangan!"

Goloknya diputar sambil menyapu kemuka, jangan dilihat gerak serangannya sangat sederhana namun kecepatannya merubah jurus tak terlukiskan dg kata-kata.

Tampaknya Tang Bok kong tdk menyangka kalau permainan golok dari Hapukim begitu cepat dan luar biasa, sepintas lalu kelihatannya amat sederhana namun kehebatan dan kelihaiannya justru diluar dugaan.

Tanpa terasa lagi dia berseru tertahan, senjata panji kupu-kupu yg digunakan utk melancarkan serangan pun cepat ditarik kembali utk membendung datangnya serangan golok tsb.

"Criiinggggg...."

Ditengah suara bentrokan yg nyaring, Tang Bok kong tergetar mundur sejauh satu langkah sebaliknya Hapukim terhuyung sejauh tiga langkah lebih.

Jelas sudah dalam soal tenaga dalam, kemampuan Tang Bok kong masih satu tingkat lebih unggul.

Setelah dua kali menderita kerugian, sifat buas Hapukim segera berkobar, sambil membentak keras sekali, ia menubruk kedepan sambil mengayunkan goloknya, pertarungan sengitpun seera berkobar.

Sementara itu, si hwesio daging anjing mengawasi jalannya pertarungan tanpa berkedip, sementara sinar tajam yg sangat aneh memancar keluar tiada hentinya.

Tapi tak berapa lama kemudian, Hapukim sudah kelihatan mulai terdesak dan menderita kekalahan, serangan panji kupu-kupu dari Tang Bok kong yg memutar kekanan menyapu ke kiri membuat tubuh Hapukim terbungkus dibalik cahaya tajam.

Bukan Cuma begitu, suara dengungan keras dari senjata musuh menggetarkan perasaan Hapukim, membuat hatinya berdebar, ditambah lagi serangan-serangan goloknya mengenai sasaran yg kosong, membuat pertahanan maupun posisinya bertambah kalut.

Ketika situasi kritis dan jiwanya terancam bahaya maut, si Hwesio daging anjing berteriak keras.

"Suatu ilmu golok yg sangat bagus, ayoh serbu lagi dg gerakan yg sama bacok saja langsung kebawah!"

Waktu itu cungkilan golok dari Hapukim sedang mengenai sasaran yg kosong, sementara itu panji kupu-kupu dari Tan Bok kong sudah menempel diatas pusarnya, kelihatan jelas sudah tiada kesempatan lagi baginya utk menghindarkan diri.

Mengira jiwanya bakal melayang, sifat buas Hapukim makin membara, begitu mendengar teriakan tsb dan ia menganggap anjuran itu benar, ia menjadi nekad dan siap sedia melakukan serangan adu jiwa.

Tubuhnya miring kesamping sambil melangkah maju kedepan, pergelangan tangannya diputar sambil menekan kebawah membawa goloknya yg meleset dari sasaran itu miring kesamping, kemudian dari situ dia ancam bahu kiri Tang Bok kong serta membacoknya keras-keras.

Ditengah berkelebatnya cahaya tajam, tiba-tiba terdengar Tang Bok kong menjerit kaget, tubuhnya mundur kebelakang secepat kilat.

Sewaktu semua orang mengamati keadaannya dg lebih seksama, maka tampaklah dibawah jubah ungunya telah muncul bekas robekan sepanjang satu depa lebih.

Keadaan tsb bukan saja membuat Hapukim sendiri menjadi termangu, sekalipun kedua belah pihak yg menonton jalannya pertarungan itupun turut dibikin tertegun dan tak habis mengerti.

Padahal sudah jelas Hapukim bakal tewas diujung senjata lawan, mengapa hanya sepatah kata dari si hwesio daging anjing bisa membuatnya nyaris melukai Tang Bok kong.

Padahal Cuma Tang Bok kong yg mengalami sendiri peristiwa tsb yg menyadari keadaan sebenarnya, ketika misai baja dari senjata panji kupu-kupunya hampir menempel diujung baju Hapukim, dimana asal maju setengah inci saja niscaya selembar jiwa lawan akan melayang, tak disangka secara tiba-tiba Hapukim telah merubah jurus serangannya begitu selesai mendengar perkataan tadi.

Golok yg secara tiba-tiba diputar sambil mencungkil keatas tsb bukan saja langsung mengancam dada sendiri, lagipula persis mengancam pergelangan tangannya.

Ini berarti apabila senjata panji kupu-kupu dilanjutkan gerakannya kedepan sekalipun selembar nyawa orang tsb akan melayang, akan tetapi ia sendiripun akan menderita cacat berat atau bahkan luka yg sangat parah.

Tentu saja ia tak ingin mengorbankan jiwanya dg percuma, oleh sebab itulah terpaksa ia harus menarik diri secepatnya dan dari posisi menang pun dia jadi kalah.

Bisa dibayangkan betapa gusarnya Tang Bok kong menghadapi keadaan seperti ini, saking mendongkolnya hampir saja ia jatuh semaput.

Terdengar si Hwesio daging anjing berseru sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaah...haaah...haaah...saudara Hapukim, mengapa kau hanya berdiri melulu?"

Setelah ditegur, Hapukim baru sadar kembali dari lamunannya, saat ini dia telah menganggap hwesio daging anjing melebihi buddha hidup, buru-buru dia lari kedepan hwesio itu sambil berlutut dan berseru.

"Lhama adalah pousat hidup, tecu mohon perlindungan darimu!"

Buru-buru si hwesio daging anjing membangunkannya dari atas tanah, ujarnya sambil tertawa.

"Semua pousat sudah mampus, mana mungkin bisa melindungi orang? Lain waktu kau mesti mengandalkan kemampuanmu sendiri, seperti jurus "Menggaris tanah memisah dunia"

Yg kau gunakan tadi, sebenranya jurus itu memiliki perubahan ganda, masih ingat dg kedua perubahan tsb?"

Buru-buru Hapukim mengangguk. Si hwesio daging anjing segera berkata lebih jauh.

"Sebenarnya ilmu sip ci to hoat dari perguruan Siang bun diwilayah Ceng hay merupakan ilmu golok paling lurus dikolong langit, biarpun lima jurus pemula dan lima jurus paling akhir merupakan jurus-jurus serangan yg sederhana, langsung dan terbuka, namun bila kau memiliki reaksi yg cekatan dan variasi perubahan yg kaya maka jurus-jurus tsb bisa dipergunakan dg dua perubahan yg berbeda. Dg bekal kemampuan tsb, biar bertemu dg jago tangguh kelas satu pun, dalam ratusan gebrakan belum tentu bisa membuatmu kalah. Aku harap kau bisa mendalami lagi ilmumu itu dikemudian hari sedang petunjuk yg kuberikan sekarang hanya merupakan ganti rugi atas luka yg timbul akibat perbuatanku tadi..."

Walaupun Hapukim belum bisa memahami secara keseluruhan, tapi bagian yg penting telah dipahami olehnya, tentu saja ia kegirangan setengah mati sehingga berulangkali mengucapkan terima kasih, buru-buru ia menyingkir kesamping.

Agaknya dua bersaudara Molim serta Rumang ikut memperhatikan petunjuk tsb, wajah mereka nampak berubah beberapa kali begitu merasakan manfaat yg diperoleh, kagum dan hormat pun segera memancar diwajah masing-masing.

Ketika si hwesio daging anjing baru menyelesaikan kata-katanya dg penuh kegusaran Tang Bok kong telah berkata sambil tertawa dingin.

"Mencoba kemampuan orang dg akal licik, memberi petunjuk dari samping arena, terhitung kemampuan macam apa yg kau miliki?"

Si hwesio daging anjing tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah...haaaah...haaaaah...keliru besar kau beranggapan demikian, kalau sepatah kata saja dari aku si hwesio bisa membuat kau dari menang jadi kalah, bila benar-benar bertarung, memangnya kau masih punya nyawa?"

Liok ci ang yg berada disisi arena segera membentak dg suara dingin.

"Bajingan gundul! Kau jangan bicara tekabur, akan kucoba dulu sampai dimanakah kemampuanmu!"

Sambil memutar senjata kupu-kupunya, ia berdiri ditengah arena siap melepaskan serangan. Tiba-tiba hwesio daging anjing menarik kembali sikap cengar cengirnya, sambil menarik muka katanya serius.

"Pada mulanya aku masih belum dpt menebak asal usul kalian, tapi sekarang baru kuketahui bahwa kalian adalah ahli waris dari partai kupu-kupu. Seratus tahun berselang, Hu tiap siang hui (kupukupu terbang berpasangan) telah melakukan pembantaian berdarah dilembah duka, sejak peristiwa itu partai anda tidak pernah muncul kembali dari tempat persembunyian, sesungguhnya perbuatan tsb merupakan tindakan yg cerdik, tak disangka seratus tahun kemudian lagi-lagi aku si hwesio menyaksikan kembali jurus-jurus tangguh dari Kang siu pat si (delapan partai kupu-kupu) kalian, apakah kamu berdua sudah lupa dg tragedi lama sehingga berani terjun kembali kedalam dunia persilatan?"

Dg wajah berubah Liok Ci ang berseru.

"Hey hwesio bau, tak kusangka mata anjingmu betul-betul sangat tajam, sehingga asal usulku pun dapat kau tebak secara jelas."

Dg wajah serius hwesio daging anjing berkata.

"Mata buddha bisa menembusi langit, sekalipun aku si hwesio belum bisa dibilang mengetahui setiap urusan didunia ini, namun paling tidak masih mengetahui sedikit banyak masalah besar dlm dunia persilatan serta asal usul ilmu silat pelbagai perguruan besar dalam dunia kangouw seratus tahun belakangan ini. Apalagi semasa masih muda dulu, aku si hwesio pernah punya hubungan dg partai kalian. Kuharap kalian tak usah mengumbar nafsu lagi dan segera balik kerumah, apa gunanya mesti mencari penyakit seperti apa yg dialami seratus tahun berselang?"

Liok Ci ang lalu tertawa keras.

"Haaah...haaaah...haaah...kau anggap kami akan segera akan angkat kaki hanya berdasarkan kata-katamu itu? Hmmm, kau benarbenar memandang rendah kemampuan partai kupu-kupu kami!"

"Jadi kalian baru mau pergi setelah melangsungkan pertarungan?"

Dengus hwesio daging anjing.

"Soal bertarung atau tidak masih menjadi masalah nomor dua, mengapa kau tidak menanyakan dulu siapa yg benar dan siapa yg salah?"

Hwesio daging anjing menjadi tertegun, tapi segera ujarnya sambil tertawa.

"Yaa, soal ini memang merupakan kelalaianku, tapi aku cukup mengetahui watak dari Bu wi lojin, aku yakin dia tak akan melakukan suatu perbuatan yg melanggar hukum!"

Tiba-tiba Tang soat Lengcu menyela sambil tertawa dingin.

"Sebelum mengetahui duduk persoalan yg sebenarnya, ia sudah mempunyai pandangan yg berat sebelah, Liok Ci ang lebih baik turun tangan secara langsung, apa artinya banyak bicara?"

"Baik, baiklah anggap saja aku sio hwesio yg tak tahu aturan"

Sela hwesio daging najing sambil tertawa.

"nah Liok loji, sebenarnya perselisihan apakah yg telah terjalin antara kalian dg situa Bu wi?"

"Bukankah kau mengetahui jelas musibah pernah yg menimpa partai kupu-kupu pada seratus tahun yg lalu? Coba terangkan apa sebabnya peristiwa itu sampai terjadi?"

"Aku dengar gara-gara se

Jilid kitab pusaka Thian goan bu boh..."

Kata sang pendeta sambil tertawa.

"Kalau begitu dapat kukatakan bahwa kedatangan kami kali ini adalah gara-gara kitab pusaka Thian goan bu boh!"

Berubah paras muka si hwesio daging anjing, serunya tertahan..

"Jadi kitab pusaka Thian goan bu boh berada ditangan kakek Bu wi....?"

"Benar"

Chin sian kun menjawab dg cepat.

"pada dua puluh tahun berselang Bu wi cianpwee mendapat titipan dari Hui im cengcu, siapa tahu kitab tsb dicuri dewi In nu dg mencatut namanya Kho sauhiap yg mendapat pesan dari ayahmya almarhum untuk mendapatkan kitab tsb, inilah yg membuat Bu wi locianpwee harus terjun kembali kedalam dunia persilatan utk menyelidiki jejak kitab itu, baru kemarin dulu sebagian kitab tsb dapat direbut kembali, sayang ia menderita luka dalam hingga akhirnya bersama Kho sauhiap beliau datang kemari utk mengobati lukanya. Nah coba bayangkan sendiri, darimana munculnya hubungan antara peristiwa ini dg pihak partai kupu-kupu?"

Si hwesio daging anjing menggelengkan kepala berulang kali, keluhnya kemudian.

"Kenapa sih persoalannya begitu rumit dan berbelit-belit? Siapa yg disebut dewi In nu itu? Kenapa aku si hwesio belum pernah mendengar kalau didalam dunia persilatan terdapat seseorang yg bernama begitu?"

Dg suara dingin Tang soat Lengcu menjawab.

"Siancu kami adalah orang yg terhormat, bukan sembarangan orang dapat menjumpainya dg begitu saja!"

Hwesio daging anjing segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Heee...he...heee...setelah mendengar perkataanmu itu, aku si hwesio jadi kepingin melihat sampai dimanakah kehebatan dari dewi mu itu, tak usah banyak bicara lagi, hey si tua Tang, si tua Liok, aku harap kalian bersedia utk menunggu selama setengah bulan, setengah bulan kemudian aku si hwesio bersedia memikul tanggung jawab tentang kitab pusaka Thian goan bu boh itu utk membuat penyelesaian dg kalian berdua...."

"Hmmmm, sayang sekali aku tak punya waktu untuk menunggu!"

Jengek Liok Ci ang sambil tertawa dingin. Hwesio daging anjing segera tertawa seram"

"Heeee...heeeeh..heeeh...kesabaran aku si hwesio Cuma sampai disini saja, bila kalian benar-benar tak mau percaya, lebih baik kita selesaikan saja persoalan ini lewat pertarungan!"

Sekilas senyuman licik yg mengerikan sempat berkelebat menghiasi wajah Liok Ci ang, katanya cepat.

"Hwesio, beranikah kau bertarung seorang melawan seorang denganku....?"

Hwesio daging anjing tertawa bergelak.

"Sudah tiga puluh tahunan lamanya tak pernah bertarung melawan orang, sungguh tak dinyana hari ini aku bisa menikmatinya kembali, tapi sebelum bertarung harus ada syaratnya dulu!"

"Apa syaratnya?"

"Bila kau yg unggul, tentu saja aku si hwesio tak bisa banyak bicara dan segera angkat kaki dari sini, mulai detik ini juga tak akan mencampuri urusan kalian lagi, tapi bnila kau manusia she Liok yg kalah, harap segera kau pimpin orang-orangmu utk mengundurkan diri dari lembah ini, setengah bulan kemudian, aku pasti akan memberi penyelesaian tentang persoalan ini dihadapan si tua Bu wi, tapi jangan mencoba main sergap disaat orang lagi tak siap!"

Tanpa terasa Liok Ci ang memandang sekejap kearah Tang soat Lengcu, lalu katanya agak tergagap.

"Tentang soal ini...."

Mendadak terdengar Tang soat Lengcu berseru sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Liok ang, apakah kau mempunyai keyakinan utk menang?"

"Sekalipun aku tak bisa menjamin pasti menang, tapi aku percaya tak baka sampai menderita kalah!"

Tang soat Lengcu segera tersenyum.

"Aku lihat, hari ini kita tak usah bertarung lagi!"

Tang Bok kong maupun Liok Ci ang menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan itu. Dg perasaan tercengang Tang Bok kong berseru.

"Lengcu, apa maksudmu?"

Tang soat Lengcu menggoyangkan tangannya berulang kali, tampaknya dia sudah mempunyai perhitungan yg matang, kepada si hwesio daging anjing katanya kemudian.

"Hey hwesio, biarlah kuberi muka untuk mu pada hari ini, kuharap sampai waktunya kau tidak melanggar janji!"

Begitu mengetahui bahwa Tang soat Lengcu telah berubah pikiran bahkan bersedia angkat kaki dg begitu saja, si hwesio daging anjing turut dibuat tertegun, tapi hanya sebentar saja, kemudian sambil tertawa nyengar-nyengir katanya.

"Sekali telah berbicara, ibarat kuda pacu yg berlari kencang dan tak mungkin bisa ditarik kembali, sampai waktunya aku si hwesio pasti akan menantikan kedatangan kalian!"

Tang soat Lengcu tersenyum dan manggut-manggut, kepada Tang Bok kong serta Liok Ci ang ia mengulapkan tangannya, kemudian dg memimpin delapan orang jago pedang berbaju kuning, segera ia membalikkan badan dan keluar dari lembah.

Dalam waktu singkat, bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Hwesio daging anjing mengawasi terus bayangan tubuh musuhmusuhnya hingga lenyap diluar lembah sana, kemudian paras mukanya berubah secara tiba-tiba menjadi berat dan serius sekali.

Pada saat itulah Chin sian kun berkata.

"Taysu, aku lihat tindakan mengundurkan diri yg mereka lakukan mengandung maksud tertentu, bahkan bisa jadi merupakan sebuah tipu muslihat yg licik?"

Hwesio daging anjing menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukannya aku tak tahu tentang soal tsb, namun itu bukan masalah penting, biarpun dia berakal licik dan jahat, jangan harap ia mampu bermain gila dihadapanku!"

"Kulihat paras muka taysu menunjukkan sikap yg amat berat dan serius, sebenarnya persoalan apakah yg membuatmu risau dan kuatir?"

Hwesio daging anjing menghela napas panjang...

"Aaai....partai kupu-kupu telah muncul kembali didalam dunia persilatan, aku lihat suatu badai pembunuhan rasanya tak bisa dihindari lagi..."

Dg perasaan tercengang, Kim lotoa bertanya.

"Sejak terjun kedalam dunia persilatan, belum pernah boanpwee dengar tentang partai kupu-kupu, mengapa sih taysu memperhatikan persoalan ini dg begitu serius? Bersediakah taysu memberi keterangan kepada kami semua...?"

Hwesio daging anjing menggeleng.

"Panjang sekali utk menceritakan persoalan ini, tapi dikemudian hari kalian akan mengetahui dg sendirinya!"

Berbicara sampai disini, dia segera mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, katanya.

"Mulai hari ini, biarlah aku si hwesio menjabat sebagai pemimpin ditempat ini utk sementara waktu, saudara Hapukim sekalian berempat tetap bertugas menjaga dimulut lembah, bila menjumpai ada orang menyatron masuk kedalam lembah, tak usah dilayani, cepat masuk dan beri laporan dulu kepadaku, pasti akan kuselesaikan persoalan itu dg sebaik-baiknya."

Buru-buru Hapukim mengiakan, lalu bersama-sama rekannya mengundurkan diri dari situ. Kembali si hwesio daging anjing mengulapkan tangannya kepada Kim kong sam pian sambil berkata.

"Mari kita masuk ke gua utk berbincang-bincang, sedang nona Chin kalau pergi membeli makanan, jangan lupa daging anjing dan arak wangi utk aku si hwesio!"

"Cianpwe tak usah kuatir"

Chin Sian kun tersenyum.

"betapapun besarnya nyaliku, tak nanti aku berani melupakan pesanan dari Taysu!"

OooOOooo Sejak Tang soat Lengcu menarik semua kekuatannya dari lembah tsb, waktupun berlangsung lewat dg cepat dalam suasana amat tenang dan tentram.

Namun hwesio daging anjing yg semula banyak tersenyum, kian hari kian berubah seakan-akan telah berubah menjadi seorang yg lain, sepanjang hari dia hanya minum arak terus dg kening berkerut.

Selain minum arak, dia tentu melamun, seakan-akan ada suatu persoalan besar yg amat berat mengganjal dalam hatinya dan susah dihilangkan dari dalam benaknya.

Perubahan sikap semacam itu tentu saja membuat Kim kong sam pian dan Chin Sian kun menjadi terkejut bercampur keheranan, sudah berapa kali mereka hendak membuka suara utk bertanya, namun melihat sikap hwesio daging anjing yg tak berbicara maupun bergerak, akhirnya mereka mengurungkan niat tsb.

Tapi dlm hati kecil mereka mengerti, perubahan sikap dari tokoh sakti tsb bisa jadi ada sangkut pautnya dg kemunculan partai kupukupu didalam dunia persilatan.

Partai kupu-kupu merupakan suatu perguruan yg bukan saja tak pernah didengar namanya dari pembicaraan orang, lagipula belum pernah melihat berkeliarannya anggota perguruan tsb didalam dunia persilatan.

Biasanya suatu perguruan yg tak dikenal dan tak banyak anggotanya adalah suatu perguruan yg kecil, demikian juga dg keadaan dari partai kupu-kupu itu, tapi sampai dimanakah seriusnya kehadiran partai ini didalam dunia persilatan?

Mengapa pendeta sakti itu justru menunjukkan sikap yg begitu serius?

Benarkah jago-jago dari partai kupu-kupu memiliki kepandaian silat yg demikian lihaynya sampai tiada orang yg mampu menandinginya?

Perubahan sikap dari hwesio daging anjing membuat suasana didalam dua berubah menjadi serius dan tegang, begitu sumpek suasana sampai membuat beberapa orang itu susah utk bernapas lega.

Tapi pintu batu yg memisahkan ruang dalam tetap tertutup rapat dan sama sekali tiada gerakan apapun.

Dalam waktu singkat tujuh hari kembali udah lewat, berarti hari ini adalah hari ketiga belas sejak Kho Beng menutup diri dibalik ruangan.

Pagi itu, baru saja Chin Sian kun mempersiapkan sarapan utk semua orang, tiba-tiba kelihatan Hapukim berlari masuk kedalam gua dg wajah sangat tegang.

Begitu sampai dihadapan hwesio daging anjing, segera ia berlutut sambil serunya.

"Toa lhama, diluar lembah telah muncul serombongan jago silat, wajah mereka rata-rata kelihatan keren dan serius, jelas tidak bermaksud baik!"

Sambil minum arak hwesio daging anjing bertanya kemalasmalasan.

"Siapa yg telah datang?"

"Ada lelaki, ada perempuan, ada tosu juga kaum lhama!"

Hapukim termenung dan berpikir sejenak, setelah menghitung didalam hati dia menjawab.

"Kemungkinan besar diatas enam puluh orang lebih!"

Dg wajah berubah hebat Chin sian kun segera berseru"

"Waaaah...bisa jadi berita tentang kisah tsb sudah bocor sehingga kawanan iblis itu mengundang konco-konconya utk datang menyerbu...?"

Hwesio daging anjing bangkit berdiri seraya menguap, katanya kemudian.

"Buat aku si hwesio, masalah banyak orang bukanlah persoalan nona Chin, kau bersama Kim bersaudara berjaga-jaga saja disini, biar aku sendiri yg keluar lembah."

Disambarnya tongkat bambu andalannya, lalu dg langkah lebar ia berjalan meninggalkan gua.

Hapukim memutar biji matanya beberapa kali, dg cepat dia pun mengikuti dibelakang hwesio daging anjing tsb keluar dari gua.

Tak lama setelah hwesio daging anjing dan Hapukim keluar dari gua batu itu, mendadak muncul tiga sosok bayangan manusia dari balik sebelah kiri dan langsung menerjang masuk kedalam gua dg kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Kim Lotoa pertama-tama yg menemukan hal tsb, buru-buru teriaknya kepada Kim loji dan Kim losam.

"Hati-hati, siluman perempuan itu muncul lagi bersama kedua orang komplotan tua bangkanya!"

Ternyata ketiga sosok bayangan manusia tsb tak lain adalah Tang soat Lengcu, Tang Bok kong dan Liok Ci ang.

Sambil melintangkan ruyung panjangnya didepan dada, Kim bersaudara berdiri berjajar menyumbat jalan masuk menuju kedalam gua.

Dg suara dingin, Kim lotoa segera menegur.

"Walaupun siasat yg anda lakukan ini terhitung cukup hebat, namun sayang sekali kelewat licik dan memalukan, hmmm...hanya manusia pengecut yg berusaha mencari keuntungan disaat orang tidak siap!"

Tang soat Lengcu memperhatikan sekejap disekitar sana dg pandangan mata yg tajam, kemudian perintahnya.

"Kita harus manfaatkan setiap kesempatan yg ada, hayo langsung saja menyerbu kedalam gua!"

Tang Bok kong serta Liok Ci ang masing-masing mempersiapkan senjata panji kupu-kupunya, lalu tanpa berbicara lagi mereka langsung melancarkan serangan kedepan.

Melihat kedatangan ancaman tsb, Kim bersaudara pun tidak banyak berbicara lagi, dg penuh kegusaran ruyung masing-masing diputar kencang lalu balas menyerang kearah lawan.

Maka suatu pertarungan yg amat seru pun segera berkobar dg hebatnya disana.

Sekalipun Tang Bok kong dan Liok Ci ang memiliki kepandaian silat yg sangat lihai, akan tetapi Kim kong sam pian bukan manusia lemah ditambah pula mereka bertiga sudah bertekad mempertahankan setiap jengkal tanah dg pertaruhan jiwa, maka utk berapa saat keadaan tetap imang.

Betapa gelisah dan cemasnya Tang soat Lengcu melihat pertahanan dari Kim kong sam pian yg begitu kokoh sehingga serbuan dari Tang bok kong dan Liok Ci ang tak berhasil menembusnya.

Sekalipun dia ingin sekali turun tangan utk membantu, sayang daerah dimulut gua sangat sempit sehingga tak mungkin baginya utk ikut serta dlm pertarungan.

Jilid 20 Dalam keadaan begini, tiba-tiba muncul suatu ingatan jahat dalam hatinya, dg cepat dia melepaskan ikat pinggangnya lalu secara tiba-tiba dilontarkan ketengah kilatan cahaya ruyung yg sedang berputar-putar didepan mulut gua.

Kim kong sam pian yg berada didalam gua saat itu sedang memutar ruyung masing-masing sepenuh tenaga guna membendung mulut gua dari serbuan musuh.

Begitu melihat ada sesosok bayangan putih menerobos masuk kebalik pertahanan mereka seperti sambaran ular, Kim lotoa segera menggerakkan ruyung utk menggulung kearah bayangan tadi dan segera melilitnya dg kencang.

Tang soat Lengcu tertawa seram, dg cepat ia mengerahkan segenap kekuatannya seraya membetot teriaknya.

"Kena!"

Begitu mendengar suara bentakan keras, Kim lotoa segera merasakan gelagat tidak menguntungkan, menunggu ia berniat menarik kembali ruyung panjangnya, sayang keadaan sudah terlambat, ujung ruyungnya telah bertautan dg angkin dari Tang soat Lengcu.

Menyadari kalau gelagat tdk menguntungkan dg cepat dia menarik napas sambil memperkokoh kuda-kudanya.

Ruyungnya dibetot kebelakang maksudnya dia hendak membetot putus angkin musuh dg mengerahkan sepenuh kekuatan yg dimilikinya.

Padahal Tang soat Lengcu sendiripun mempunyai keinginan yg sama, saat tsb ia sedang mengerahkan seluruh tenaga dalam yg dimilikinya melakukan pembetotan sambil membentak.

"Liok Ci ang, mengapa kau tdk segera menyerbu kedalam gua?"

Liok Ci ang serta Tan Bok kong serentak memutar senjata panji kupu-kupunya makin kencang, lalu serentak menyerbu kedalam gua.

Kim loji serta Kim losam menjadi terperanjat sekali, hingga kini mereka bertiga bisa bertahan dimulut gua tanpa memberi kesempatan kepada musuhnya utk bergerak maju, disatu pihak karena memanfaatkan mulut gua yg sempit dan kecil, dipihak lain karena mengandalkan kerja sama ilmu ruyung mereka bertiga yg tangguh utk menyumbat mati seluruh mulut gua tsb.

Tapi sekarang, senjata ruyung Kim lotoa telah terlilit oleh senjata angkin Tang soat Lengcu, hal ini sama artinya dg terbukanya sebuah lubang kelemahan pada sistem pertahanan mereka, bila seorang harus melawan seorang, bagaimana mungkin Kim kong sam pian mampu menandingi keampuhan dari Tang Bok kong serta Liok Ci ang?

Chin sian kun yg berada didalam gua menjadi terperanjat sekali setelah melihat kejadian tsb, buru-buru dia maju kedepan sambil menyerang dg pedangnya, ia berniat menguntungi senjata angkin tsb lebih dulu.

Tapi baru saja serangan pedangnya dilancarkan, terdengar Kim losam telah berteriak keras.

"Hati-hati adikku!"

Tiba-tiba saja serasa segulung desingan angin tajam menggulung tiba dari atas, begitu dahsyatnya ancaman tsb membuat si nona harus mundur kembali dg perasaan terperanjat.

Memanfaatkan kesempatan yg sangat baik inilah, Tang Bok kong segera menerobos masuk kedalam ruangan dg kecepatan bagaikan sambaran kilat....

Perputaran senjata panji kupu-kupunya memaksa Kim bersaudara harus mundur hingga punggungnya menempel pada dinding gua, keadaan mereka betul-betul terdesak hebat.

Sementara itu, Chin Sian kun dg pedang terhunus telah berdiri menghadang dimuka pintu ruangan yg tertutup rapat, dg suara keras ia membentak nyaring.

"Tua bangka yg tak tahu malu, kalian biasanya Cuma memanfaatkan kelemahan orang lain saja, hmmm! Rupanya orangorang yg mencari gara-gara diluar lembah sana memang sengaja kalian bawa utk mengalihkan perhatian kami, sementara kalian sendiri berusaha menyelundup masuk kemari bagaikan pencoleng?"

Pada saat itu, Tang soat Lengcu telah mengendorkan pula angkinnya dan turun melayang masuk kedalam gua, sahutnya.

"Perkataanmu memang tepat sekali! Liok ang, ayoh cepat turun tangan dan jangan membuang waktu lagi!"

Liok Ci ang manggut-manggut, kepada Chin Sian kun segera ujarnya sambil tertawa dingin.

"Hmmm..kenapa kau tidak segera menyingkir? Kalau nekad terus, jangan salahkan aku bertindak keji dg mencabut nyawamu!"

Chin Sian kun mendengus dingin, diam-diam ia memberi kedipan mata kepada Kim kong sam pian.

Tiga bersaudara Kim dari telaga Tong ting segera menanggapi tanda tsb, serentak mereka bertiga mendekati Chin Sian kun.

Setelah keempat orang itu berdiri berjajar kembali dimuka pintu gua, Kim lotoa baru berseru sambil tertawa seram.

"Heeeh...heeeh...heeeeh..sebetulnya tidak sulit utk menyingkirkan kami dari sini, asal kalian mampu memenggal dulu batok kepala kami berempat!"

"Baiklah, kalau toh kalian tak takut mati, apa susahnya utk mengantar kematian kalian!"

Seu Tang Bok kong dingin. Senjata panji kupu-kupunya segera diputar dg dg jurus "lebah terbang memainkan putik"

Menciptakan selapis cahaya hitam yg amat menyilaukan mata, lalu dg membawa suara desingan tajam secara langsung menyergap diri Chin Sian kun.

Dg sekuat tenaga Chin Sian kun mencukil pedangnya keatas utk membendung datangnya ancaman tsb, begitu sepasang senjata beradu segera terjadilah suara benturan nyaring......

Tampak sekilas cahaya perak mencelat ketengah udara, dususul jeritan kaget dari Chin Sian kun, rupanya ia sudah kehilangan senjatanya.

Dalam pada itu Tang Bok kong telah mengayunkan telapak tangan kirinya melepaskan bacokan segulung tenaga pukulan yg maha dahsyat langsung menumbuk kemuka.

Tergopoh-gopoh Chin Sian kun menghindarkan diri kesamping....

"Blaaammm...!"

Angin pukulan yg maha dahsyat persis menghantam diatas pintu gua membuat pintu ruangan tsb terpentang lebar.

Dalam waktu singkat Tang soat Lengcu mengayunkan pula sepasang tangannya melepaskan tiga buah pukulan kekiri dan kekanan, lalu tubuhnya seperti segulung asap ringan menerobos masuk kebalik ruangan dimana Kho Beng sedang bersemedi.

Menanti Kim kong sam pian berusaha utk menghalangi jalan perginya, keadaan sudah terlambat.

Chin Sian kun menjadi amat terperanjat, ia saksikan Tang soat Lengcu menyerbu masuk kedalam ruangan batu dan entah apa yg kemudian terjadi disana..........

Hanya secara tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget bergema memecahkan keheningan lalu tampak tubuh Tang soat Lengcu yg baru menyerbu masuk kedalam ruangan, tahu-tahu sudah mencelat balik kembali.

Waktu itu Tan Bok kong serta Liok Ci ang baru saja bersiap-siap menyerbu kedalam, mereka tak menyangka kalau perempuan berbaju putih itu bakal mundur kembali secara tiba-tiba, hampir saja mereka saling bertumbukan satu dg lainnya.

Menanti ketiga orang itu sudah dapat berdiri kembali dg sempoyongan, dimuka pintu ruangan tahu-tahu sudah bertambah dg sesosok bayangan manusia, dia tak lain adalah Kho Beng.

Paras muka Kho Beng kelihatan sangat cerah dan penuh bertenaga, sepasang matanya memancarkan cahaya tajam, waktu itu ia berdiri disitu dh wajah yg gagah da sikap yg keren, berbeda sekali dg keadaannya pada tiga belas hari berselang.

Chin Sian kun segera mengucak-ngucak matanya, ia seperti tak percaya dg pandangan mata sendiri, sesaat kemudian baru serunya tertahan.

"Kho sauhiap, apakah latihanmu telah selesai?"

Kho Beng mengangguk, setelah melempar pandangan yg penuh rasa terima kasih, katanya.

"Musuh tangguh telah menyerbu sampai disini, mengapa tidak kulihat Rumang, Hapukim serta dua bersaudara Mo utk membendung serangan mereka?"

Sambil menghela napas sahut Chin Sian kun..

"Kawanan jago dari golongan putih maupun hitam telah berdatangan sama, kini mereka berkumpul diluar lembah, sekarang Hapukim sekalian berada bersama hwesio daging anjing, tapi bagaimana keadaannya tidak kuketahui secara pasti."

Paras muka Kho Beng sedikit berubah, sambil merapatkan kembali pintu ruangan katanya.

"Bu wi cianpwee masih berada dalam ruangan, tolong nona Chin dan saudara Kim bertiga menjaga keselamatannya."

Chin Sian kun mengerling sekejap kearah pemuda itu, lalu mengiakan....

Pelan-pelan Kho Beng maju beberapa langkah kedepan, ditatapnya Tang soat Lengcu, Tang Bok kong dan Liok Ci ang sekejap, kemudian tegurnya dingin.

"Siapakah kalian?"

Tang Bok kong mendengus.

"Hmmmm! Cecunguk muda, kau tak berhak mengetahui, hayo cepat serahkan kitab pusaka Thian goan bu boh kepada kami, mengingat kerelaanmu itu bisa jadi aku akan mengampuni selembar jiwamu!"

"Ooooh...bila kudengar dari nada pembicaraan kalian, tampaknya kamu semua adalah anak buah dewi In nu?"

"Benar!"

Sahut Tang soat Lengcu dingin. Kho Beng segera tertawa bergelak.

"Haaaah...haaaah..haaahh...kebetulan sekali kedatangan kalian, siauya memang berniat menangkap seorang diantara kalian utk mencari keterangan. Kitab pusaka Thian goan bu boh berada disaku siauya, aku Cuma kuatir kalian tak punya kemampuan utk merebutnya kembali!"

Liok Ci ang tertawa dingin.

"Bocah keparat, kau sangat tekebur!"

Kho Beng balas tertawa dingin.

"Hmmm..bagiku perkataan yg diucapkan tergantung kepada siapa aku berbicara, padahal siauya tidak tekebur, apa salahnya kau buktikan sendiri ucapanku tadi!"

"Aku memang berniat mencoba kemampuanmu!"

Bentak Liok Ci ang keras.

Senjata panji kupu-kupunya digetarkan menciptakan sebuah lingkaran busur lalu secara kilat disapu kepinggang Kho Beng.

Menghadapi datangnya sambaran cahaya hitam itu, ternyata Kho Beng tdk bergerak sama sekali, dia seakan-akan tak memandang sebelah matapun terhadap kemampuan lawannya.

Tak terlukiskan rasa gusar Liok Ci ang menghadapi kejadian seperti ini, gerak serangannya segera berubah, kali ini dia mengancam dada lawan dg sebuah tusukan keatas.

Dg perubahan itu, kupu-kupu yg berada diatas ujung sejatanya seakan-akan berubah menjadi empat, dalam waktu singkat disekeliling tubuh Kho Beng seolah-olah beterbangan aneka macam kupu-kupu yg mengancam bagian mematikan ditubuhnya.

Kim kong sam pian menjadi terperanjat sekali melihat kelihaian lawan, paras muka mereka sampai berubah hebat.

Tiba-tiba terdengar Kho Beng tertawa ringan, ujung baju kirin dan kanannya dikebaskan kemuka, lalu tubuhnya menyelinap keluar dibalik kepungan bayangan kupu-kupu lawan, sementara itu telapak tangan kirinya melancarkan sebuah bacokan kesisi kiri.

Waktu itu, Tang Bok kong sedang berdiam disisi kiri sambil menonton jalannya pertarungan, melihat kejadian tsb, dia mengira Kho Beng hendak membokongnya.

Sambil membentak keras, senjata kupu-kupunya disodok kedepan keras-keras, lalu berbalik mengancam ubun-ubun Kho Beng.

Siapa tahu pada saat yg bersamaan inilah Kho Beng membalikkan telapak tangan kirinya langsung menghantam iga kanan Liok Ci ang.

Waktu itu Liok Ci ang sudah merasakan gelagat tidak menguntungkan, begitu serangannya mengenai sasaran kosong, belum sempat dia berbuat sesuatu, desingan angin tajam tahu-tahu sudah mengancam bahu kirinya.

Berada dalam keadaan seperti ini, buru-buru dia membalikkan badannya, sementara senjata kupu-kupunya dg jurus "kupu-kupu terbang bayangan menari"

Menyodok keluar dg sekuat tenaga.

Siapa tahu pada saat itulah Tang Bok kong melancarkan pula serangannya, dalam kondisi sama-sama menyerang dg kecepatan tinggi, menantimereka berdua sama-sama menyadari kalau senjata mereka bukannya mengancam tubuh lawan sebaliknya malah menghantam teman sendiri, keadaan sudah terlambat.

"Criiiinnnggg.....!"

Sitengah benturan keras, Liok Ci ang serta Tang Bok kong samasama tergetar mundur satu langkah, kedua belah pihak sama-sama merasakan lengan kananya linu dan kesemutan, nyaris senjata mereka terlepas dari tangan.......

Sementara itu, Kho Beng masih berdiri tenang diposisinya semula, malah sambil tertawa dingin jengeknya."

"Jurus panglima langit kembali kepangkuan"

Yg barusan kugunakan merupakan satu diantara tiga puluh enam gerak perubahan yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh, bila kalian berdua menginginkan kitab itu, apa salahnya kalian mulai belajar sejak kini!"

Liok Ci ang serta Tang Bok kong terperanjat sekali sampai paras mukanya berubah, sambil membentak nyaring san serentak bersiapsiap menyerang kembali.

Tapi sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba Tang soat Lengcu berseru keras.

"Tang tua, Liok tua, hentikan dulu serangan kalian!"

"Lengcu, apa maksudmu?"

Seru Tang Bok kong tercengang.

"Aku rasa kesempatan baik buat kita masih banyak, buat apa mesti menyerempet bahaya dg percuma pada hari ini? Apalagi kerepotan yg datang dari luar lembah sudah cukup memusingkan kepalanya, ayo kota mundur saja!"

Begitu selesai berkata, tubuhnya segera melesat keluar dari gua dg kecepatan tinggi.

Liok Ci ang serta Tang Bok kong tidak banyak bicara lagi, serentak mereka turut mengundurkan diri dari dalam gua.

Medadak Kho Beng membentak dg kening berkerut.

"Mau kabur kemana kalian!"

Ia menggerakkan badannya siap melakukan pengejaran. Tapi Chin Sian kun segera menghalangi siatnya itu sambil berseru.

"Kho sauhiap........."

Mau tak mau terpaksa Kho Beng harus menghentikan langkahnya, lalu bertanya dg kening berkerut.

"Nona Chin, mengapa kau menghalangi niatku?"

"Hwesio daging anjing sedang bertarung melawan kawanan jago diluar lembah, apa salahnya sauhiap membebaskan mereka untuk kali ini saja, bagi kita yg penting adalah memukul mundur lebih dullu... ! "

Kho Beng manggut-manggut, ia mengalihkan pandangan matanya keluar gua, saat itu Tang soat Lengcu bersama Liok Ci ang dan Tang Bok kong telah kabur entah kemana.

Maka Kho Beng meminta kepada Kim kong sam pian agar tetap menjaga dalam gua, sementara ia sendiri segera bergerak menuju keluar lembah dg kecepatan tinggi.

Dugaan Hapukim memang benar, diluar lembah telah muncul enam puluhan jago yg terdiri dari aneka macam manusia, diantaranya meliputi jago-jago dari pelbagai perguruan besar serta kaum sesat.

Sementara itu si hwesio daging anjing malah berdiri dilmulut lembah sambil berkata dg lantang .

"Bila kalian bersedia memberi muka kepada aku si hwesio pada hari ini, harap segera mengundurkan diri sekarang juga, harap segera mengundurkan diri sekarang juga, kalau tidak, silahkan mencoba utk menyerbu kedalam, asal aku si hwesio bisa dikalahkan, lembah hati budha akan menjadi tempat kediaman kalian..."

Sui cuncu dari Siau lim pay segera tampil kedepan, lalu berkata dg suara dalam.

"kita sebagai murid buddha seharusnya bila taysu berpikir demi kepentingan umat persilatan, mengapa kau malah berpihak kepada kaum durjana ? "

Hwesio daging anjing tertawa..

"Walaupun kita sama-sama sebagai murid buddha, bukan berarti kita mesti bersahabat, aku si hwesio tak akan diterima dikuil kecil, apalagi dikuil besar macam Siau lim si........oooh, rupanya aku si hwesio tak bakal diundang kesana."

"Toya suka bergurau"

Sela Kim cuncu dari Siau lim pay sambil tertawa.

"walau pun kuil Siau lim si sangat besar, rasanya kami tak akan mampu menampik kehadiran taysu, asal saja taysu senonoh dan berminat, pintu gerbang Siau lim si selalu terbuka untuk kehadiran taysu."

Hwesio daging anjing tertawa terbahak-bahak .

"Haaaahhh...haaahhhh...haaahhh...hwesio gede, kita tak usah banyak bicara lagi, itu dia, yg bersangkutan telah datang, bila ada persoalan lebih baik dibicarakan sendiri dengannya, biar aku si hwesio menjadi saksi saja!"

Habis berkata dia menyingkir kesamping dan ujarnya kepada Kho Beng sambil tertawa.

"Untung kau segera keluar, kalau tidak...mungkin mereka bakal naik darah......"

Buru-buru Kho Beng memberi hormat seraya berkata.

"Terima kasih banyak atas bantuan taysu telah melindungi kami, budi kebaikan itu tak akan boanpwee lupakan!"

Hwesio daging anjing segera tertawa.

"Sudah, jangan banyak berbicara dulu, yg penting kau harus mengusir pergi orang-orang itu lebih dulu!"

Kho Beng mengiakan dan menjura lagi dalam-dalam, setelah itu dia baru mengalihkan pandangan matanya kearah para jago sambil berkata.

"Berita yg kalian peroleh benar-benar amat cepat dan luar biasa, bolehkah aku tahu karena urusan apakah kalian datang kemari?"

Thian it taysu, ketua Go bi pay segera berkata dg suara dalam.

"Sejak mendapat surat Hui im tiap dari sicu, dimana dikatakan sicu hendak memberi penjelasan kepada seluruh umat persilatan, sayang kami tidak mengetahui jejak sicu, maka begitu kudengar bahwa sicu berada disini, berbondong-bondong kami datang kemari dg harapan bisa peroleh penjelasan dari sicu!"

Kho Beng jadi tertegun, segera serunya.

"Ucapan taysu benar-benar membingungkan hati orang, kapan sih aku telah menyebar hui im tiap?"

"Bukankah sicu sendiri yg menyebarkan kartu undangan tsb, kenapa kau menyangkalnya kembali?"

Kata Thian itu taysu sambil berkerut kening.

"untung saja aku masih menyimpan baik-baik kartu tsb, kalau tidak orang tentu menganggap aku membuat alasan yg bukan-bukan........."

"Mana kartu undangannya? Bolehkah dipinjamkan sebentar kepadaku?"

Kata Kho Beng sambil mengulurkan tangannya. Dari dalam sakunya Thian it taysu mengeluarkan selembar kartu berwarna merah, lalu serunya.

"Sambutlah sicu!"

Ketika tangannya diayunkan, kartu tsb segera meluncur kehadapan Kho Beng bagaikan sekuntum awan merah.

Kho Beng mengebaskan ujung bajunya pelan-pelan dan menyambut kartu tsb, ketika dibuka maka terbaca olehnya tulisan yg berbunyi begini.

"Kini aku telah mengetahui asal usulku yg jelas, ayahku adalah Hui im cengcu dari Hang ciu, sebagai putaranya, akupun berkewajiban menuntut balaskan sakit hati orang tuaku. Dulu, peristiwa tsb timbul gara-gara kitab pusaka Thian goan bu boh, karenanya akan kuteruskan cita-cita ayahku almarhum utk menyebar luaskan ilmu sakti tsb keseluruh dunia persilatan, tapi hal ini baru bisa diwujudkan bila dalangnya sudah tertangkap, agar umat persilatan mengetahui dg jelas duduk persoalan yg sebenarnya serta memperbaiki nama baik ayahku dimata orang banyak. Mungkin saja anda turut terlibat didalam peristiwa berdarah yg terjadi di perkampungan Hui im ceng tempo dulu, tapi karena aku yakin peristiwa ini merupakan siasat busuk seseorang yg masih bersembunyi dibelakang layar, dan aku percaya kalian terkelabui semua oleh perbuatan terkutuknya, maka aku tak akan menyalahkan kalian, sebagai timbal baliknya aku pun berharap kalian pun jangan memusuhi diriku lagi. Disaat perkampungan Hui im ceng didirikan kembali nanti, pasti akan ku undang kehadiran semua untuk merayakan bersama peristiwa ini. Adapun waktunya kutetapkan setangah tahun kemudian, jika takdir menghendaki lain atau terjadi perubahan lain, akan kukirim surat pemberitahuan tentang perubahan waktu itu, pokoknya aku tak akan membohongi seluruh kolong langit. Bila anda ingin mengetahui siapakah dalang dari peristiwa berdarah tempo hari, dia tak lain adalah Dewi In un."

Tertanda Kho Beng.

Ketika selesai membaca tulisan itu, Kho Beng segera teringat kembali dg perkataan si Unta sakti berpunggung baja yg katanya hendak menyebar Bu lim tiap untuk mengangkat kejadian yg sebenarnya.

Dg cepat dia pun menjadi paham apa gerangan yg terjadi, kepada Thian it taysu katanya kemudian.

"Apakah hanya taysu seorang yg menerima kartu tsb.........."

"Tidak, hampir setiap jago atau tokoh kenamaan dunia persilatan mendapatkan kartu tsb!"

Kho Beng segera manggut-manggut "Betul, memang aku yg menyebar surat undangan tsb, tapi waktu yg kutetapkan kan masih setengah tahun kemudian, sebelum waktunya tiba, apa gunanya taysu memburu kemari?"

Kiong Ceng san dari istana naga munculkan diri secara tiba-tiba dari kerumunan jago, sambil tertawa seram serunya.

"Bocah keparat, kau anggap aku bakal percaya dg siasat mengadu dombamu itu?"

"Sejak kuterima kartu undangan tsb, hingga kini sudah tiga orang rekan persilatan yg tewas oleh Kedele Maut, aku ingin bertanya kepadamu, sebenarnya siapakah pembunuh keji itu?"

Kho Beng mendengus dingin.

"Hmmm...selama setengah bulan terakhir, aku belum pernah turun gunung barang setengah langkah pun, darimana aku bisa tahu siapakah pembunuh yg sebenarnya?"

"Hmmm...kau angap aku masih gampang dikelabui? Sudah dua kali kau memberi keterangan tentang wajah asli si Kedele Maut, bila tiada hubungan apapun dg Kedele Maut, siapa yg mau percaya?"

"Benar, aku memang mempunyai hubungan dg kedele maut, tapi aku tak tahu siapa yg melakukan pembunuhan dimana-mana, aku minta waktu tiga bulan untuk menyelidiki persoalan ini, sampai waktunya pasti akan kuberi keterangan yg jelas!"

"Mengapa harus menunggu sampai tiga bulan? Asal kubekuk dirimu sekarang juga, aku yakin kedele maut pasti akan menghantarkan diri sendiri masuk perangkap."

Begitu ucapan tsb diutarakan, para jago segera menangapi dg penuh luapan emosi. Melihat keadaan tsb, Kho Beng segera berkata.

"Bila kulihat dari keadaan saat ini, tampaknya saudara sekalian tak mau menyudahi persoalan tsb hingga disini saja?"

"Tindak tanduk sicu sangat mencurigakan, tak aneh bila memancing rasa gusar umat persilatan kepadamu."

Thian it taysu berkata.

"menurut pendapatku, lebih baik sicu menyerahkan diri saja utk dibelenggu, bila semua kecurigaan sudah dibikin jelas, sicu pasti dibebaskan lagi."

Kho Beng segera tertawa dingin, jengeknya.

"Sekalipun aku setuju, belum tentu pedang dibahuku serta sepasang tanganku ini bersedia menuruti anjuranmu itu!"

Dg suara menggeledek Kiong Ceng san membentak.

"Kalau toh ingin berkelahi, buat apa banyak bicara terus? Aku bersedia utk bertarung dulu melawanmu!"

Sambil berkata ia segera mempersiapkan senjatanya dan bergerak maju kemuka.

"Kiong tayhiap, apakah kau yakin bisa menang?"

Ejek Kho Beng sg suara dingin. Kiong Ceng san tertawa seram.

"Heeeh...heeeeh...heeeh...bocah keparat, aku mau berkelahi melawanmu sudah merupakan suatu kehormatan bagimu!"

"Bagus sekali!"

Kho Beng tertawa pula dg nyaring.

"terima kasih banyak atas kehormatan yg Kiong tayhiap berikan kepadaku, Cuma aku pun perlu memberitahukan satu hal kepadamu, yakni aku telah memperlajari ilmu sakti yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh, kuharap tayhiap jangan marah-marah bila menderita kekalahan nanti!"

Begitu ucapan tsb diutarakan, paras muka Kiong ceng san segera berubah hebat.

Padahal bukan Cuma Kiong ceng san saja, kawanan jago silat lainnya pun ikut terperanjat dibuatnya.

Mereka tak tahu apa yg dikatakan Kho Beng itu benar atau Cuma gertak sambal belaka.

Tapi Kiong ceng san sebagai jago kawakan yg sudah termashur puluhan tahun lamanya tak berani mengambil resiko besar setelah melihat sikap tenang lawannya.

Sementara dia masih termenung dg perasaan sangsi, mendadak dari kerumunan orang banyak kedengaran seorang berteriak keras.

"Aku tidak percaya, Kiong tayhiap ijnkan aku Poa Ho sam mencoba utk membekuk bocah keparat itu!"

Ditengah seruan tsb, terlihat sesosok bayangan manusia melayang masuk kedalam arena.

Orang itu berwajah merah membara, senjatanya adalah tombak pendek, dia berusia empat puluh tahunan serta memakai pakaian ringkas warna biru, orang tsb tak lain adalah si jago tombak baja Poa Ho sam, yg namanya terkenal dikawasan Kanglam.

Kiong ceng san menjadi kegirangan, buru-buru serunya.

"Bila Poa lote ingin berebut pahala dg ku baiklah, biar aku mengalah lebih dulu, Cuma kuharap kau bertindak lebih berhati-hati lagi.........."

Poa Ho sam tertawa bergelak.

"Haaaahhh....haaaahh......haaaahhh...tak usah kuatir, aku orang she Poa tak akan percaya dg obrolan setannya!"

Kemudian sambil menatap Kho Beng lekat-lekat, bentaknya keras.

"Bocah keparat, biar aku yg mencoba lebih dulu kemampuan ilmu sakti Thian goan bu boh mu!"

Sambil bergendong tangan Kho Beng maju kemuka, lalu katanya dingin.

"Bagus sekali, biar kucoba kemampuanmu dg mengandalkan sepasang tangan kosong."

Berbicara sampai disitu, orangnya telah berdiri persis dihadapan Poa Ho sam.

Agaknya si tombak sakti Poa ho sam sudah tak sabar lagi, senjatanya segera diputar kencang, lain saat tampak sekilas cahaya hitam meluncur kemuka dan langsung menusuk lambung Kho Beng.

Melihat datangnya ancaman itu, Kho Beng mendengus dingin, sebuah ayunan tangan menyambar kemuka menyongsong datangnya ancaman lawan, hampir bersamaan maju lagi tiga langkah kedepan........

Ternyata ketiga langkah kakinya ini luar biasa sekali, bukan saja dapat menghindari tusukan tombak lawan, lagipula tenaga pukulannya menjadi mengarah persis pada sasaran."

Mula-mula Poa Ho sam tertegun, ia tidak mengerti apa kegunaan dari serangan lawan.

Sebab menurut pengalaman, pada umumnya pada jurus serangan dari perguruan manapun, selalu mengarah langsung kepada sasaran yg dihadapi, tidak seperti jurus serangan yg dgunakan lawannya sekarang, bukan tubuh lawan yg dituju, sebaliknya menghantam kesisi lain.

Sementara ia masih tertegun, angin serangan yg amat tajam telah menyambar keatas badannya, dalam keadaan begini, terlambat sudah baginya utk menghindarkan diri..

"Blaaaaaaaammmm.....!"

Tubuhnya segera terhajar telak sampai mencelat sejauh tiga kaki lebih dan jatuh terguling diatas tanah, untuk berapa saat lamanya orang itu tak mampu merangkak bangun kembali.

Dalam satu gebrakan seorang jago silat kenamaan sudah dibikin keok, bukan saja para jago dibuat terkesiap, sampai si hwesio daging anjing pun ikut terbelalak dg wajah melongo, sampai beberapa saat lamanya ia tak mempu berkata-kata.

Sesungguhnya memang disinilah letak keluarbiasaan serta keampuhan ilmu silat Thian goan bu boh dibandingkan dg ilmu silat aliran lain.....

Pukulan yg dilancarkan selalu mendahului langkah kaki, tapi justru menciptakan suatu kerjasama yg amat serasi, bukan saja membuat musuh susah menghindarkan diri, bahkan pada hakikatnya tak bisa diduga sebelumnya.

Berhasil merobohkan Pou Ho sam dalam satu gebrakan, Kho Beng segera memandang sekejap kearah kawanan jago lainnya, lalu berkata.

"Siapa yg ingin memberi petunjuk lagi"

Para jago saling berpandangan sekejap tanpa berkata-kata, suasana sangat hening. Mendadak Kim cuncu dari Siau lim pay memutar toyanya seraya berkata.

"Jurus serangan dari sau sicu memang sangat hebat, tapi aku bersedia utk mencoba kemampuanmu yg lihai itu!"

"Apakah taysu ingin mencoba satu pukulan saja?"

Tanya Kho Beng dingin.

"Yaa, aku memang berniat mencoba tenaga dalammu, aku rasa satu pukulan pun sudah dapat melihat kemampuan yg kau miliki!"

"Bagaimana menang kalah telah diketahui?"

Kim cuncu segera tertawa seram.

"Haaa...haaaa....haahh...asal sicu dapat menggungguli diriku, pinceng akan segera mengundurkan diri dari sini bersama segenap rekan persilatan yg ada!"

"Sungguhkah perkataanmu itu!"

"Tentu saja, perkataan yg telah kuucapkan pasti akan kutaati, hanya aku takut sicu tak mampu mengungguli diriku!"

"Bila aku tak mampu mengungguli dirimu, tentu saja aku akan menyerahkan diri kepada kalian!"

"Bagus sekali........Nah, sicu harus bersiap sedia........."

"Tunggu sebentar!"

Tukas Kho Beng mendadak.

"Masih ada urusan lain?"

"Bila aku beruntung bisa menang, masih ada sebuah permintaan lain yg kuharap dikabulkan."

"Apa permohonanmu?"

"Orang-orang yg lain boleh pergi, tapi Kiong tayhiap dari istana naga tak bisa angkat kaki begitu saja!"

Mula-mula Kim Cuncu kelihatan tertegun, lalu sambil mendengus serunya keras-keras.

"Permintaan mu ini kelewat kebangetan!"

Sambil mendengus dingin, Kiong ceng san berseru pula.

"Hey bocah keparat, dalam hal apa kau bisa tertarik dg ku?.

"Tua bangka celaka! Kau masih ingat dg kematian Li sam?"

Seru Kho Beng dg wajah sedingin es. Kiong Ceng san kelihatan agak tertegun, menyusul kemudian katanya sambil tertawa seram.

"Li sam mati karena disiksa gara-gara ulahnya menyaru sebagai Kedele maut, jelas terbukti kalau dia adalah komplotan si iblis keji itu. Kini kau hendak membalaskan dendam bagi kematiannya, kalau memang begitu kenapa kau menyangkal tak ada hubungan dg mereka?"

Dg suara lantang, Kho Beng segera berseru.

"Tahukah kalian, siapa sebenarnya si Kedele Maut itu?"

"Aku memang ingin tahu!"

Seru Kim Cuncu dg wajah berubah. Sepatah demi sepatah kata Kho Beng segera berseru.

"Dia tak lain adalah enci kandungku, Kho Yang ciu!"

Begitu pengakuan tsb diucapkan, kawanan jago tsb jadi amat terkesiap.

Sekarang duduknya persoalan sudah jelas, tapi mereka tak mengira kalau putra putri Hui im cengcu belum mati dalam peristiwa berdarah tempo hari.

Dg suara keras Kiong Ceng san segera berteriak.

"Saudara sekalian, apalagi yg kita nantikan? Kalau bocah keparat ini tidak kita bunuh sekarang juga, setengah tahun kemudian, mungkin tiada jago persilatan yg bisa lolos dari ancaman mautnya!"

Begitu teriakan tsb berkumandang, suasana jadi sangat gaduh sekali. Hwesio daging anjing yg selama ini Cuma mengikuti perkembangan tsb dari sisi arena, tiba-tiba ikut berkata dg kening berkerut.

"Aku tidak mengira kalau duduk persoalannya begitu rumit dan kacau, tapi bersediakah kalian semua mendengarkan sepatah dua patah kata dariku?"

"Taysu punya pendapat apa?"

Tanya Kiong ceng san.

"Kuharap pertarungan ditunda pada hari ini, karena saling membunuh hanya merugikan umat persilatan, lagipula melanggar ajaran buddha, oleh sebab itu aku keberatan dg terjadinya peristiwa macam begini."

"Omitohud!"

Thian it taysu segera memuji keagungan buddha.

"tak nyana toyu bisa mengucapkan kata-kata semacam itu, apakah kau tidak berpihak kepada golongan kami?"

Hwesio daging anjing menggeleng.

"Tidak, aku si hwesio tidak berpihak kepada golongan manapun, aku Cuma berharap bisa meleyapkan bencana besar ini, aku rasa, aku hwesio dapat mencegah sobat kecil ini utk melakukan pembunuhan lebih lanjut."

"Aku rasa bocah keparat itu enggan menuruti nasehat orang, toh ilmu sakti telah dipelajari...?"

Jengek Kiong ceng san sinis. Hwesio daging anjing segera berpaling kearah Kho Beng, lalu ujarnya pelan.

"Bersediakah sicu untuk memberi muka kepadaku dg menuruti nasehatku?"

"Boanpwee pasti akan menerimanya dg senang hati!"

Sahut Kho Beng cepat. Mendengar itu, hwesio daging anjing segera tertawa terbahakbahak.

"Haaaahh...haaaahh...haaahh...sobat kecil Kho telah bersedia memberi muka kepadaku, bagaimana dg saudara sekalian?"

Thian it taysu termenung sambil berpikir berapa saat, akhirnya diapun berkata.

"Baiklah, tapi Cuma kali ini saja, biar begitu aku tetap berharap kepada sauhiap untuk menentukan waktu pertemuan dan tempatnya!"

"Tak usah ditentukan tempat serta waktunya"

Sela Kho Beng dingin.

"sekarang juga aku dapat katakan kepada kalian bahwa Bu wi cianpwee yg kalian jumpai ditengah jalan pada dua puluh tahun berselang bukan Bu wi cianpwee yg asli, Bu wi cianpwee yg asli masih merawat lukanya didalam gua, kitab pusaka thian goan bu boh juga berada ditangan Bu wi cianpwee bahkan sudah dibuatkan salinannya buat para ciangbunjin dari tujuh partai besar, sayang sekali para ciangbunjin dari partai-partai besar telah terkecoh oleh siasat busuk orang lain sehingga mengira ayahku telah mempermainkan mereka?"

"Sunguh perkataanmu itu?"

Tanya Thian it taysu dg perasaan bergetar keras.

"Aku berbicara sejujurnya!"

"Mengapa tidak kau undang Bu wi toyu sekarang juga agar semua persoalan menjadi terang?"

"Bu wi cianpwee masih membutuhkan waktu satu bulan utk menyembuhkan luka yg dideritanya, sampai waktunya beliau pasti akan bertemu dg saudara sekalian!"

"Sekarang siapakah dalang dari rencana busuk ini?"

Tiba-tiba Kiong ceng san bertanya pula.

"Dewi In nu!"

Dg perasaan tercengang Thian it taysu berseru.

"Rasanya belum pernah kudengar tokoh persilatan yg bernama begitu......?"

Tiba-tiba hwesio daging anjing berkata pula sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Thian it, apakah kau mengetahui tentang peristiwa berdarah yg menyangkut partai kupu-kupu pada seratus tahun berselang?"

Dg perasaan keheranan Thian it taysu berdiri tertegun, kemudian sahutnya.

"Partai kupu-kupu........."

"Kupu-kupu indah terbang berpasangan, darah bercucuran melanda dunia persilatan, air mata bercucuran bagaikan sungai, tulang berserakan bagaikan bukit, pernah kau dengar tentang bait syair tsb."

Berubah hebat paras muka Thian it taysu, serunya tertahan.

"Jadi partai kupu-kupu sungguh-sungguh telah muncul kembali didalam dunia persilatan?"

"Yaa!"

Jawab hwesio daging anjing serius.

"barusan mereka ikut datang kemari, buat apa aku si hwesio membohongi dirimu?"

Tiba-tiba Thian it taysu mengulapkan tangannya kepada para jago sambil berseru.

"Hayo berangkat!"

Dg cepat ia memohon diri kepada hwesio daging anjing, lalu tergesa-gesa mengundurkan diri keluar lembah.

Diantara kawanan jago yg hadir, mereka yg berusia agak lanjut mungkin mengetahui sedikit tentang masalah yg dibicarakan, sebaliknya yg masih muda usia malah dibikin kebingungan.

Tapi melihat semua orang sudah beranjak pergi, tentu saja mereka harus angkat kaki pula.

Maka suatu pertarungan yg sesungguhnya hampir meletus, seketika hilang lenyap tak berbekas.

Kho Beng sendiri pun merasa kebingungan, sambil mengawasi kawanan jago yg mengundurkan diri dari situ, ia berdiri termangumangu.

Sesaat kemudian, pemuda itu baru memberi hormat kepada hwesio daging anjing, sambil katanya.

"Bolehkan aku tahu naa besar taysu?"

Hwesio daging anjing tertawa bergelak.

"Haaahhh...haaaahhh....haaahhh...aku si hwesio tak punya julukan apa-apa, mungkin lantaran kegemaranku adalah daging anjing, maka semua orang menyebutku si hwesio daging anjing!"

"Oooooh..rupanya Kiu tin Sin ceng (pendeta suci penolong jagat). Aku yang muda bernama Kho Beng, cianpwee bolehkah aku tahu partai macam apakah partai kupu-kupu itu?"

Hwesio daging anjing menghela napas panjang.

"Sebenarnya partai tsb merupakan suatu perguruan yg paling istimewa didalam dunia persilatan pada seratus tahun berselang, perguruan ini tidak bisa disebut partai lurus tapi juga bukan partai sesat. Adapun senjata andala dari anak muridnya adalah panji kupukupu, kepandaian silat mereka berasal dari kitab pusaka Thian goan bu boh!"

"Ilmu silatnya bersumber dari kitab pusaka Thian goan bu boh?"

Tanya Kho Beng dg perasaan terkesiap.

"tapi menurut apa yg boanpwee serta Bu wi cianpwee ketahui, isi kitab pusaka Thian goan bu boh hanya terdiri dari ilmu pukulan serta ilmu pedang!"

"Wah, kalau soal itu mah aku tidak ketahui, semenjak kehilangan kitab pusaka Thian goan bu boh pada seratus tahun berselang, pihak partai kupu-kupu telah mengirimkan jagonya utk melakukan pencarian diseluruh dunia, dunia persilatan seakan-akan diobrak abrik tak karuan, jumlah korban yg tewas gara-gara peristiwa itu tak terhitung jumlahnya, keadaan waktu itu sungguh mengerikan sekali, pokoknya darah seperti menganak sungai dan mayat bertumpuk bagaikan bukit. Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, setelah termangumangu berapa saat, dia bertanya kembali.

"Bagaimana selanjutnya?"

"Akhirnya peristiwa itu mengejutkan tiga dewa dunia persilatan, tampaknya ketiga tokoh sakti ini merasa tak senang melihat berlangsungnya peristiwa itu, maka mereka bertiga turun tangan bersama dan mengundang ketua dari partai kupu-kupu untuk bersua di tebing hati sedih..."

Setelah menghela napas panjang, terusnya.

".......dalam peristiwa tsb, boleh dibilang tiga dewa telah kehabisan seluruh kekuatannya dan mati semua!"

"Kepandaian macam apakah yg diandalkan ketua partai kupukupu?"

Tanya Kho Beng keheranan.

"Tentu saja ilmu kupu-kupu terbang berpasangan, senjata kupukupu yg berada diujung senjatanya terbang melayang, satu berubah menjadi dua, dua berubah menjadi empat, dan lebih hebat lagi senjata tsb khusus dipakai utk menjebol pertahanan hawa khikang orang. Walaupun tiga dewa telah mengeluarkan segenap kemampuan silat yg dimilikinya, namun tak berhasil meloloskan diri dari ancaman tsb, dalam keadaan terdesak akhirnya mereka memutuskan utk beradu jiwa dg ketua partai kupu-kupu. Akhirnya, ketua dari partai kupu-kupu juga tewas dibawah tebing hati sedih, sebaliknya tiga dewa pun kehilangan tenaga dalamnya sebesar lima puluh tahun hasil latihan, sejak kembali ke pulau Bong lay to, kekuatan tsb tak pernah pulih kembali, sejak pertai kupukupu mengundurkan diri dari dunia persilatan, dalam dunia kangouw pun tak pernah kelihatan lagi jejak dari tiga dewa itu!"

Kho Beng termenung berapa saat lamanya, kemudian ia baru berkata.

"Apakah cianpwee yakin kalau dua orang kakek berbaju ungu tadi adalah anggota perguruan kupu-kupu?"

"Aku yakin penglihatanku tidak salah!"

Jawab hwesio daging anjing dg wajah serius. Kembali Kho Beng termenung sejenak, lalu ujarnya dg nada bersungguh-sungguh.

"Boanpwee ingin memohon bantuan, apakah cianpwee bersedia utk mengabulkan?"

"Ada urusan apa?"

"Boanpwee ingin meninggalkan tempat ini selama berapa hari, tapi Bu wi cianpwee sedang mengobati lukanya sekarang dan membutuhkan satu bulan lamanya sebelum kembali seperti sedia kala. Walaupun Kim bersaudara adalah orang-orang yg setia kawan dan bisa dipercaya, namun berhubung tenaga dalam yg mereka miliki sangat terbatas, rasanya sulit utk menghadapi serangan musuh tangguh, sebaliknya keempat orang anak buahku sangat liar dan susah dikendalikan, oleh karena itu aku ingin mohon bantuan cianpwee agar bersedia menjaga ditempat ini selama satu bulan lamanya........"

Mendengar perkataan tsb, si hwesio daging anjing segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahh.....haaaah.....haaaah....kukira persoalan apa yg kau minta, kalau soal menjaga bu wi sudah sepantasnya kuterima, apalagi melindungi keselamatan rekan sendiri. Tapi kau hendak pergi kemana?"

"Terus terang saja cianpwee, boanpwee ingin secepatnya pegi mencari dewi In nu, ingin kuketahui manusia macam apakah dirinya itu?"

"Kau tahu berada dimana dia?"

Tanya si hwesio agak tertegun.

"Bu wi cianpwe telah menerangkan alamatnya kepadaku, justru karena itu boanpwee harus secepatnya berangkat kesana, sebab aku takut ia sudah keburu melarikan diri lebih dulu."

"Bagus, bagus sekali, orang-orang yg lain boleh kau bawa semua"

Kata hwesio daging anjing sambil tertawa.

"tempat ini serahkan saja kepada aku si hwesio seorang, asal yg datang bukan tiga dewa, aku percaya masih mampu utk menghadapinya."

"Kalau begitu boanpwe akan berangkat sekarang juga, kelewat banyak malah kurang leluasa, boanpwee hanya akan mengajak keempat orang anak buahku saja, sedang Kim bersaudara serta nona Chin biar tetap tinggal disini, paling tidak kan taysu membutuhkan juga beberapa orang pembantu!"

"Bagi ku sih tak ada usul lagi, terserahlah maumu!"

Maka Kho Beng pun masuk kembali kedalam gua utk berpamitan dg Kim bersaudara serta Chin Sian kun, lalu dg mengajak Rumang berempat segera berangkat eningalkan lembah berhati buddha, langsung berangkat menuju kebawah bukit seratus kaki.

oooOOooo Fajar baru menyingsing.

Pintu gerbang sebuah gedung bangunan yg besar, terletak dilembah Thian sim kok bukit Cian san pelan-pelan dibuka lebar.

Dari balik pintu gerbang yg terpentang lebar, muncullah serombongan kereta kuda yg semuanya membawa barang yg bertumpuk-tumpuk, setiap kereta dikusiri oleh seorang lelaki berbaju hitam dan seorang dayang berbaju hijau.

Tapi anehnya mereka bukan turuni bukit, sebaliknya malah bergerak menuju keatas bukit.

Puluhan manusia itu berjalan dg mulut bungkam, malah berulang kali mereka berpaling serta memperhatikan bangunan perkampungan itu dg perasaan berat hati.

Menanti rombongan manusia itu makin lama semakin menjauh, mendadak berkobarlah api yg membakar perkampungan tsb, menyusul kemudian tampak dua orang nona muda berbajumerah berlarian kesana kemari dg membawa obor utk membakar bangunan disana.

Si nona yg berusia agak lanjut segera lari menuju kebalik pintu perkampungan setelah membakar bangunan tadi, mengawasi api yg berkobar sampai menjulang keangkasa, ia berkata sambil menghela napas panjang.

"Aaaai....sebuah bangunan rumah yg begitu megah, ternyata harus dimusnahkan dg begitu saja, kasihan dg jerih payah nona selama puluhan tahun, akhirnya mesti ludes dg begitu saja...."

Si nona berbaju merah yg berada dibelakangnya, segera menjawab sambil tertawa.

"Enci Kiok jiu, inilah yg disebut hilang yg lama datang yg baru, nona sendiri tidak merasa bersedih hati, buat apa kau berkeluh kesah seorang diri?"

"Bukan begitu maksudku,paling tidak sudah belasan tahun lamanya kita berdiam disini, siapa yg tak pedih hatinya melihat bangunan yg begitu megah harus musnah menjadi abu? Haaai....Hong eng, masa kau tidak melihat nona sendiri sempat menyeka air matanya sewaktu pergi meninggalkan bangunan tsb semalam?"

Kembali Hong eng tertawa terkekeh-kekeh.

"Kalau aku mah tak akan risau, sebab memang kejadian ini apa boleh buat, dirisaukan juga tak ada gunanya!"

Sambil berkata ia segera menyulut pintu gerbang dg obor ditangannya, dalam waktu singkat pintu itupun terbakar dg hebatnya.

Menanti kobaran api sudah merata dan membakar semua benda yg dijumpainya, Kiok Jiu baru membuang obor tsb seraya berkata.

"Sekarang kita harus menanti disekitar sini, coba dilihat apa benar musuh kita akan datang."

"Aku tak percaya kalau perhitungan nona bisa begitu tepat."

Kata Hong eng curiga.

"Perhitungan nona selalu tepat rasanya belum pernah meleset barang sekalipun, kecuali kedatangan si tua Bu wi yg amat tiba-tiba tempo hari, sehingga menimbulkan bibit bencana kebakaran yg berlangsung pada hari ini....."

Sembari bercakap-cakap mereka berdua segera memasuki hutan yg lebat ditepi perkampunga yg terbakar itu.

Tak sampai sepenanak nasi kemudian, tiba-tiba dari bawah bukit sana muncul lima sosok bayangan manusia yg bergerak menuju keperkampungan itu dg kecepatan tinggi.

Diantara kelima orang itu, seorang diantaranya adalah pemuda berbaju putih, sementara empat orang lainnya adalah lelaki kekar berwajah bengis.

Tatkala tiba didepan perkampungan dan menyaksikan api yg berkobar membakar seluruh bangunan, pemuda itu segera menghentak hentakkan kakinya ketanah sambil menghela napas panjang.

"Aaaai...kedatangan kita ternyata masih terlambat juga satu langkah ! "

Tak salah lagi, orang ini tak lain adalah Kho Beng yg datang melakukan penyelidikan setelah mendapatkan alamat tsb dari Bu wi lojin. Agak tertegun Rumang berseru .

"Asap tebal masih mengepul dari seluruh perkampungan, tampaknya kebakaran ini belum lama berlangsung, jangan-jangan sudah ada orang yg mendahului kita sampai disini dan bertarung sengit melawan mereka ?"

"Tidak mungkin ! "

Kho Beng menggeleng.

"kecuali kita, orang yg mengetahui dewi In nu masih jarang sekali, sudah jelas pihak lawan telah menduga akan kedatangan kita mka sebelumnya membakar perkampungan ini lebih dulu."

"Sayang......sayang......"

Gumam Hapukim.

"Apanya yg sayang?"

Molim bertanya.

"Padahal sekalipun hendak angkat kaki, bukan berarti seluruh perkampungan harus dibakar, coba kalau bangunan rumah tsb diberikan kepada kita...waaah....pasti nyaman sekali."

"Apanya yg nyaman?"

Kata Molim tertawa.

"terpencil sendirian ditengah bukit yg jauh dair keramaian manusia, andaikata benarbenar diberikan kepadaku pun, belum tentu akan kuterima?"

"Sudah, sudahlah, kalian jangan ngaco belo melulu"

Tukas Kho Beng segera.

"Kini kita sudah kehilangan jejak, berarti selanjutnya kita harus membuang banyak waktu dan tenaga lagi utk menemukan jejak mereka........."

"Cukong, kami seperti mendengar ada suara manusia dari balik hutan sana!"

Dg perasaan terkejut Kho Beng memasang telinganya sambil memperhatikan dg seksama, betul jua, ia seperti mendengar ada suara orang tertawa.

Cepat-cepat dia memberi tanda dg kedipan mata kepada anak buahnya, lalu berbisik.

"Memang mencurigakan sekali kehadiran anak gadis ditengah bukit yg sepi macam begini, mari kita lakukan pencarian secara pelan-pelan, tapi kalian jangan turun tangan secara gegabah, sebelum orang itu adalah musuh kita!"

Siapa tahu belum habis perkataan itu diucapkan, suara tertawa kedengaran makin lama semakinjelas, lalu tampaklah dua orang gadis munculkan diri dari balik hutan dan langsung mendekati Kho Beng.

Menyaksikan munculnya dara-dara muda itu, Kho Beng merasa agak tertegun, sebab bukan saja kedua orang itu memiliki paras muka yg cantik jelita, tindak tanduknya pun sangat wajar, seakanakan disekitar sini sana tiada orang lain.

Agaknya kedua orang nona pun telah melihat Kho Beng serta rombongannya berada disitu, buru-buru mereka berseru.

"Aaaaah....tidak disangka ditempat ini masih ada orangnya, mari kita pergi kebagian lain saja!"

Cepat-cepat Kho Beng memburu maju kedepan dan memberi hormat, katanya.

"Bolehkah aku tahu siapa nama nona berdua?"

Sinona berbaju merah yg agak muda segera menjawab.

"Aku bernama Hong eng, dia adalah ciciku bernama Kiok jin!"

"Ooooh, rupanya nona kiok jin serta nona hong eng, dimanakah kalian berdiam?"

"Mau apa kau menanyakan alamat kami?"

Seru Hong eng sambil menjebikkan bibirnya.

"Nona salah paham, maksudku hanya ingin bertanya apakah kalian berdua sudah lama berdiam disini?"

Kiok jin manggut-manggut.

"Benar, kami memang berdiam didesa keluarga Li, dibelakang gunung sana, tapi utk apa kau menanyakan persoalan ini?"

"Kalau begitu tolong tanya, apakah nona kenal dg orang-orang yg semula berdiam didalam perkampungan yg terbakar sekarang?"

"Siapa bilang tak kenal?"

Sahut Hong eng sambil berkerut kening.

"dlu kami malah sempat berdiam disini!"

Mencorong sinar terang dari balik mata Kho Beng sesudah mendengar perkataan itu, segera ujarnya.

"Ooooh....bersediakah nona memberitahukan kepadaku siapa nama majikan disini?"

"Sebetulnya tempat ini bernama Bwee wan, pemiliknya adalah seorang perempuan."

"Apakah dia bernama dewi In nu?"

Desak Kho Beng lebih jauh.

"Benar!"

"Apa sebabnya perkampungan ini sampai terbakar?"

"Konon, semalam telah datang beberapa orang penyamun yg mambakar ludes bangunan gedung disini!"

"Lantas bagaimana dg pemilik gedung ini?"

Tanya Kho Beng agak tertegun.

"Sudah pergi. Ia sudah pergi menjelang fajar tadi, malah mereka sempat meminjam tali temali dari kami."

"Tahukah kalian kemana perginya?"

Kiok jin menggeleng.

"Ia tidak mengatakan kepada kami, waktu itu kami pun belum bangun maka tak sempat utk bertanya padanya!"

"Lantas dari manakah nona berdua tahu kalau Bwee wan telah kedatangan kawanan perampok?"

Seru pemuda itu tercengang. Kiok jin segera tertawa cekikikan.

"Kenapa kongcu begitu bodoh? Sebelum pergi mereka tentu akan membicarakan persoalan ini dg ayahku, api berkobar dg begitu besar, masa ayah kami tidak tahu?"

"Kemana mereka telah pergi?"

"Kalau soal itu mah tidak kuketahui!"

Kho Beng benar-benar merasa amat kecewa, buru-buru dia datang kesitu namun hasilnya nihil, dia tak mengira begitu cepat musuhnya angkat kaki dari tempat tsb.

Sementara ia masih termenung memikirkan persoalan itu, Hong eng telah berkata lagi.

"Kongcu, kalau sudah tak ada urusan lagi, kami kakak beradik ingin mohon diri lebih dulu!"

"Terima kasih banyak atas petunjuk nona!"

Buru-buru Kho Beng menjura utk memberi hormat.

Hong eng tertawa, bersama Kiok jin segera emutar badan dan berjalan menuju kedalam hutan sana.

Dg termangu mangu Kho Beng hanya bisa mengawasi bayangan tubuh kedua orang gedis tsb lenyap dibalik pepohonan sana.

Tiba-tiba terdengar Rumang menjerit kaget......

Dg perasaan tertegun Hapukim segera menegur.

"Engkoh Rumang, ada urusan apa?"

"Aku merasakan hawa sesat pada kedua orang gadis kecil tadi!"

"Hawa sesat apa?"

Tanya Molim.

Jilid 21

"Bukankah dia menerangkan kalau rumahnya berada dibukit sebelah sana, kalau memang hendak pulang, kenapa mereka kembali memasuki hutan? Memangnya rumah berada ditengah hutan?"

"Siapa tahu mereka masih mempunyai keperluan lain? Atau bahkan mereka sedang berburu dihutan?"

Kata Molim tertawa.

"Yaa, perkataanmu memang ada benarnya, tapi kalau mereka ingin berburu, toh mereka harus mengenakan pakaian berburu, tapi kenyataannya mereka mengenakan gaun biasa, bila nona-nona itu memang penduduk rakyat biasa, mana mungkin mereka mampu melewati jalan bukit yg terjal dan licin dg memakai gaun?"

Kho Beng menjadi sangat terperanjat, segera serunya.

"Yaa, tadi aku tak sempat mengawasi secara teliti, ternyata aku percaya dg begitu saja semua obrolan mereka, siapa tahu kedua orang itu memang mendapat tugas memberi informasi yg salah agar kita tak bisa menemukan jejaknya lagi?"

"Bukankah mereka masih berada disekitar sini?"

Kata Molim kemudian.

"lebih baik kita geledah saja daerah seputar tempat ini, masa mereka bisa sembunyi terus?"

Kho Beng manggut-manggut.

"Baik, mari kita mencari secara berpisah, setiap tempat kita periksa dg teliti, coba diperhatikan apakah disekitar sini masih ada penghuninya!"

Maka berangkatlah kelima orang itu dg menerobos hutan belukar.

Setelah melangkah masuk kedalam hutan, suasana menjadi remang-remang, bukan saja banyak ularnya, seringkali mereka mendengar suara auman harimau yg memekakkan telinga.

Kho Beng berlima menembusi hutan dg senjata terhunus, setiap jengkal tanah boleh dibilang telah diperiksa dg seksama, tapi aneh bin ajaib, dalam waktu yg relatif singkat ternyata bayangan tubuh kedua orang nona berbaju merah tadi telah lenyap dari pandangan mata.

Dari pagi mereka berlima menelusuri hutan sampai tengah hari sebelum akhirnya muncul pada tepi hutan yg lain, waktu itu matahari sudah berada diatas kepala, namun tak sesosok bayangan manusia pun yg ditemukan.

Dg terjadinya peristiwa ini, semakin membuktikan betapa mencurigakannya kedua orang nona berbaju merah tadi.

Kho Beng menjadi sangat mendongkol bercampur gusar, sambil menengok cuaca, katanya kemudian dg suara dalam.

"Sekarang kita mengisi perut dulu dg ransum kering, kemudian baru melanjutkan pelacakan, aku tak percaya kalau kita tak berhasil menemukan tempat persembunyian mereka. Maka mereka berlima pun mengisi perut dg ransum kering yg dibawa, lalu setelah beristirahat sebentar, pelan-pelan mereka lanjutkan pemeriksaannya disekitar sana. Setelah melewati dua buah bukit yg tinggi akhirnya secara tibatiba mereka temukan jalan setapak yg agaknya seringkali dilalui manusia. Jalan setapak itu amat bersih dan kering, tampak jelas jalanan itu sering digunakan utk berlalu lalang. Kontan saja Kho Beng merasakan semangatnya berkobar kembali, segera serunya.

"Kemungkinan besar kita sudah berhasil menemukan arah yg benar!"

Tanpa membuang waktu lagi, segera ia memimpin anak buahnya utk menelusuri jalan itu.

Tak sampai setengah peminuman teh kemudian, sampailah mereka didepan sebuah bangunan rumah yg besar, bengunan loteng yg mungil tapi indah nampak secara lamat-lamat dari kejauhan.

Dg perasaan gembira yg meluap-luap,Rumang segera berseru.

"Siapa tahu bangunan itu yg sedang kita cari, mari kita serbu saja kedalam!"

"Tunggu sebentar!"

Cegah Kho Beng.

"apabila kita langsung menyerbu kedalam gedung dan andaikata dugaan kita meleset, bukankah akan menimbulkan kesalah pahaman yg tak ada artinya?"

"Asalkan perempuan bajingan itu tidak berdiam disini, kita kan masih bisa mengundurkan diri.........."

Seru Hapukim.

"Biasanya hanya orang-orang sakti atau pendekar berilmu tinggi yg membangun rumahnya ditengah hutan dan pegunungan yg terpencil seperti ini, padahal kedatangan kita kemari adalah utk melacak jejak dewi In nu, aku tak ingin menimbulkan banyak persoalan yg tak ada gunanya. Apalagi andaikata sasaran memang betul berada disini, kedatangan kita disiang hari begini bukankah sama artinya dg menggebuk rumput mengejutkan ular."

"Kalau begitu mari kita menunggu saja sampai malam tiba sebelum masuk kedalam gedung itu utk melakukan penyelidikan"

Usul Molim kemudian.

"Nah, begitu baru cocok dg jalan pikiranku"

Seru Kho Beng sambil manggut-manggut.

"sekarang waktu sudah siang, mari kita mencari tempat utk beristirahat sejenak, menanti hari sudah gelap nanti baru kita masuki perkampungan tsb utk melakkukan penyelidikan, kalau bukan mereka yg kita cari, kita segera mengundurkan diri, sebaliknya kalau memang mereka yg kita cari disini, sampai waktunya kita bicarakan lagi!"

Maka mereka berempat pun mencari hutan yg sepi dan bersembunyi utk melepaskan lelah dan duduk mengatur pernapasan.

Dalam waktu singkat, senja telah menjelang tiba.

Mereka berlima segera mengisi perut dg ransum kering, setelah itu berangkat menuju gedung itu.

Langit sudah gelap gulita, cahaya lentera yg memancar keluar dari balik gedung bagaikan kerdipan bintang yg terbesar diangkasa, ditengah kegelapan yg mencekam tanah perbukitan tsb, cahaya lentera itu kelihatan jauh lebih terang benderang.

Ketika mereka berlima tiba dimuka perkampungan tsb, tampaklah pagar bambu mengelilingi taman, aneka bungan yg tumbuh diseputarnya, tak salah lagi kalau tempat tsb mirip tempat tinggal orang pertapaan.........

Sambil meloloskan goloknya, Rumang segera berbisik.

"Bagaimana kalau kita langsung menyerbu masuk kedalam utk melakukan pemeriksaan?"

"Tidak!"

Seru Kho Beng cepat.

"kalau kebanyakan orang, gerak gerik kita menjadi kurang leluasa, coba kalian menunggu saja diluar, biarku masuk seorang diri, bila bertemu bahaya akan kuberitahukan kepada kalian dg suara pekikan sampai saatnya aku rasa belum terlambat buat kalian utk menyusulku kedalam............"

Terpaksa Molim sekalian menggut-manggut tanda mengerti.

Maka seusai meninggalkan pesannya, Kho Beng segera melejit ketengah udara dan menerobos masuk kedalam perkampungan.

Gerakan tubuhnya cepat sekali bagaikan sambaran kilat, bagitu memasuki perkampungan, ia segera mendekam diatas wuwungan rumah tanpa menimbulkan sedikitpun suara.

Baru saja dia hendak mengintip kebawah, mendadak dari kiri kanan dan belakang tubuhnya bergema suara bentakan nyaring, sewaktu ia berpaling dg perasaan terkejut, tampak empat sosok bayangan manusia telah melompat naik keatas atap rumah dan mengepungnya rapat-rapat.

Peristiwa ini boleh dibilang membuatnya terperanjat sekali.

Sejak menyelinap masuk kedalam perkampungan hingga mendekam diatas wuwungan rumah boleh dibilang ia tak menimbulkan suara sedikitpun, mengapa jejaknya segera ketauan lawan?

Tapi saat sekarang tidak memberi kesempatan lagi baginya utk berpikir panjang, serta merta dia melejit bangun dan berdiri tegak diatas atap rumah.

Tampak seorang nona berbaju hijau yg berada disisi kiri membentak keras.

"Bajingan keparat, besar amat nyalimu, berani sekali memasuki perkampungan Ciu hong san ceng ditengah malam buta begini, hmmm......tampaknya kau sudah bosan hidup!"

Kho Beng sadar kalau jejaknya tak bisa disembunyikan lagi, maka sahutnya sambil tertawa.

"Harap nona sekalian jangan gusar, sesungguhnya kedatanganku kemari adalah utk melacaki jejak seseorang, tak disangka kehadiranku telah mengejutkan kalian semua."

"Siapa yg kau cari?"

Tanya nona itu.

"Sebelum kujawab pertanyaan tsb, dapatkah kuketahui lebih dulu siapakah kepala perkampungan Ciu hong san ceng ini?"

"Hmmm, siapa kepala perkampungan kami, kau masih belum pantas utk mengetahuinya."

"Kalau begitu bolehkah aku tahu, apakah didalam perkampungan kalian terdapat seorang nona yg bernama Hong ing?"

Desak Kho Beng lebih lanjut dg kening berkerut. Nona berbaju hijau itu kelihatan agak tertegun, kemudian sahutnya.

"Yaa, ada! Kau kenal dengannya?"

"Yaa benar, bolehkah aku bertemu sebentar dg nya?"

Baru selesai perkataan itu diutarakan, mendadak dari dlm gedung kedengaran seseorang bertanya.

"Bi kui, siapa yg berada diatas rumah?"

Nona berbaju hijau itu segera menjawab.

"Lapor n ona, kita telah kedatangan seorang pemuda asing yg mengaku hendak mencari nona Hong ing!"

Kho Beng yg mengikuti tanya jawab tsb dalam hati kecilnya segera berpikir.

"Bila didengar dari nada pembicaraannya, mungkin orang itu adalah kepala kampungnya, mengapa tidak kuperiksa dulu apakah orang tsb adalah dewi In n u atau bukan?"

Berpikir sampai kesitu, ia segera melompat turun keatas tanah dan langsung melangkah masuk kedalam ruangan. Tapi apa yg kemudian terlihat segera membuat hatinya bergetar keras, serunya tertahan.

"Cici.......!"

Ternyata didalam ruangan duduk dua orang nona muda.

Yg seorang mengenakan pakaian baju merah dan berparas cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, matanya jeli, hidungnya mancung dan mulutnya kecil mungil, dia berusia dua puluh tujuh-delapan tahunan, agaknya orang inilah yg menegur tadi.

Sedangkan orang kedua adalah seorang nona berbaju putih yg berwajah dingin, dia tak lain adalah enci kandungnya, Kho Yang ciu yg telah berpisah dgnya dikota Yang ciu tempo hari.

Waktu itu Kho Beng benar-benar dibuat terkejut bercampur keheranan, utk sesaat lamanya dia Cuma tertegun seperti patung saja.

Begitu pula keadaan Kho Yang ciu serta nona berbaju merah itu, mereka berdua kelihatan tertegun juga.

Akhirnya Kho Yang ciu maju menyongsong kedatangan pemuda itu dg cepat, sambil menarik tangan Kho Beng serunya.

"Adikku, darimana kau bisa tahu kalau aku berada disini?"

Sewaktu bertanya, sepasang matanya tampak berkaca-kaca dan hatinya dicekam gejolak meosi yg meluap, jauh berbeda dg sikapnya sewaktu bertemu utk pertama kali dulu. Dg perasaan terharu sahut Kho Beng.

"Cici, aku tak mengira kau ada disini!"

Sementara itu si nona berbaju merah tadi telah berseru sambil tertawa.

"Oooh...rupanya orang sendiri, wah inilah yg dibilang orang air bah melanda istananya.........."

Tangannya segera diulapkan kepada keempat nona berbaju hijau yg mengawasi dari luar pintu dg pedang terhunus, katanya.

"Kalian boleh mengundurkan diri dari sini, segera siapkan meja perjamuan!"

Keempat orang nona berbaju hijau itu mengiakan bersama, setelah memberi hormat mereka segera mengundurkan diri, sekalipun rasa tercengang masih menghiasi paras muka masingmasing.

Sementara itu Kho Yang ciu telah membalikkan badan dan memperkenalkan Kho Beng dg nona berbaju merah itu, katanya.

"Dia adalah enci Li dari perkampungan Ciu hong san ceng!"

Dg pikiran dicekam rasa bingung dan tak habis mengerti, Kho Beng memberi hormat seraya berkata.

"Ooooh, rupanya nona Li atas kelancanganku tadi, harap nona sudi memaafkan............"

Nona berbaju merah itu tersenyum.

"Untuk mengundang kehadiran tamu agung pun bukan suatu pekerjaan yg gampang, kenapa mesti bersungkan-sungkan..."

"Tapi dimanakah cengcu perkampungan ini? Sudah sepantasnya kalau Kho Beng bertemu serta menyampaikan dalam dulu kepadanya."

"Adikku, nona Li adalah cengcu perkampungan ini........"

Kata Kho Yang ciu cepat.

"Aaaah.......rupanya perkampungan ini adalah hasil karya nona Li, tapi......tahukah nona bahwa perkampungan Bwee wan dibukit sebelah muka sana telah terbakar semalam?"

Li sian soat, ketua perkampungan Ciu hong san ceng kembali tersenyum manis.

"Pagi tadi aku baru melihat cahaya api, saat itulah baru kuketahui kalau perkampungan Bwee wan telah terbakar hangus........."

"Tahukah cengcu, siapakah pemilik perkampungan Bwee wan itu?"

Tukas Kho Beng cepat. Kembali Li Soan soat menggeleng.

"Hingga kini aku tak pernah meninggalkan rumah barang selangkah pun, meski kuketahui juga bahwa pemilik perkampungan Bwee wan pun seorang wanita, tapi sayang belum pernah kutanyakan siapa namanya."

Tanpa terasa Kho Beng mengerutkan alis matanya rapat-rapat.

Selisih jarak diantara kedua perkampungan itu Cuma berapa li, namun kenyataannya mereka tak pernah saling berhubungan, jelas kejadian semacam ini berada diluar kebiasaan pada umumnya.

Ia mulai menaruh curiga, jangan-jangan Li cengcu dari perkampungan Ciu hong san ceng adalah dewi In nu yg sedang dicari-cari, apa mau dibilang dia masih kekurangan bukti-bukti yg jelas, apalagi encinya pun sedang bertamu disitu..

Dg bekal pelbagai kecurigaan yg tak terjawab, akhirnya dia memutuskan akan menanyakan persoalan tsb kpd encinya nanti.

Maka dia pun membungkam diri dan tidak berbicara lagi.

Dlm perjamuan yg kemudian diselengggarakan, mereka bertiga duduk saling berhadapan, meski Li Sian soat banyak bicara dan senyum, namun Kho Beng selalu menjawab sekenanya.

Ditengah perjamuan itulah, mendadak terdengar nona berbaju hijau yg berada diluar ruangan berseru dg gelisah.

"Diluar perkampungan telah kedatangan empat orang lelaki kekar yg tak jelas identitasnya, agaknya mereka sedang mengintip perkampuangan kita......"

Mendengar ucapan tsb, buru-buru Kho Beng berseru.

"Aaaah betul, hampir saja aku lupa! Keempat orang itu tak lain adalah anak buahku!"

Kalau memang anak buah Kho kongcu, biar kusuruh mereka mengundangnya masuk, paling tidak kan mesti dijamu dg sebaikbaiknya"

Kata Li Sian soat sambil tertawa.

Perjamuan tsb baru berakhir setelah kentongan pertama lewat, Kho Yang ciu mohon diri terlebih dahulu kepada Li Sian soat, kemudian baru mengajak Kho Beng memasuki sebuah kamar tamu dihalaman belakang.

Ketika mereka berada dalam kamar hanya berdua saja utk pertama kalinya, Kho Yang ciu merasakan luapan rasa gembira yg tak terlukiskan dg kata-kata.

Kho Yang ciu yg pertama-tama berkata lebih dulu sambil tertawa.

"Adikku, tempo dulu mungkin cici kepadamu sedikit kelewat batas, tapi kau mesti memahami sikapku waktu itu yg berusaha utk mengobarkan semangat balas dendam dalam hati kecilmu, tentunya kau tak akan menyalahkan aku bukan?"

Dg air mata bercucuran, sahut Kho Beng.

"Cici, aku memahami perasaan itu, malah panji Hui im ki leng sudah berhasil kurampas kembali."

"Tentang soal-soal tsb telah kuketahui semua, adikku, apakah perkampungan Bwee wan yg kau tanyakan tadi adalah tempat tinggal siluman perempuan itu?"

"Betul!"

Kho Beng manggut-manggut. Mencorong sinar pembunuhan yg amat tebal dari balik mata Kho Yang ciu, serunya sambil menghentak-hentakkan kakinya berulang kali keatas tanah.

"Aku tdk tahu kalau pemilik perkampungan Bwee wan adalah dewi In nu, kalau tidak, aku pasti tak akan membiarkan dia kabur dari tempat tsb!"

"Apakah Li cengcu tak pernah menyinggung soal perkampungan Bwee wan?"

"Tidak!"

"Sebenarnya Li cengcu ini berasal dari perguruan mana?"

"Dia tak mempunyai perguruan."

"Tidak mempunyai perguruan? Lantas darimana dia pelajari ilmu silatnya?"

Tanya Kho Beng agak tertegun.

"Konon ayahnya adalah seorang tokoh duni persilatan yg berilmu tinggi, tapi dikarenakan suatu sebab, akhirnya mengundurkan diri dan menyendiri hidup disini, sebelum meninggal ia berpesan kepada keturunannya agar tidak berkelana lagi didalam dunia persilatan, itulah sebabnya meski sudah berusia tiga puluh tahun, namun ia tidak pernah sama sekali mennggalkan perkampungannya barang selangkah pun, sementara ilmu silatnya diperoleh dari warisan keluarga."

Setelah memperoleh keterangan tsb, diam-diam Kho Beng berpikir lagi dalam hati.

"Berusia sekitar tiga puluh tahunan berarti persis seimbang dg usia dewi In nu!"

Berpikir demikian, kembali ia bertanya.

"Bagaimana ceritanya sampai cici bisa berkenalan dg nya?"

Kho Yang ciu tertawa.

"Sewaktu dlm perjalanan turun gunung tempo hari, secara kebetulan aku ketimpa hujan sehingga harus berteduh ditempat ini, tak di sangka pertemuan yg semalam dapat menjalin hubungan yg lebih akrab diantara kami."

"Apakah cici tak pernah menaruh curiga kepadanya?"

"Curiga soal apa?"

"Curiga kalau dia adalah dewi In nu yg sedang kita cari-cari?"

Kho Yang ciu tertawa geli.

"Aaah....perasaanmu terlalu sensitif, mana mungkin dia adalah dewi In nu? Kau tahu, ilmu kedele maut pencabut nyawa yg kumiliki sebetulnya adalah warisan dari dia!"

Sekali lagi Kho Beng dibikin tertegun oleh kenyataan tsb.

Tapi pelbagai tingkah laku, gerak gerik serta gejala yg diperolehnya selama bertemu dg Li Sian soat memberi kesan kepadanya bahwa perempuan she Li ini sangat mencurigakan hati, maka secara diam-diam dia mengambil keputusan utk melakukan penyelidikan selewatnya malam nanti, dia ingin mengetahui keadaan yg sebenarnya disekitar sana.

Maka setelah berbincang-bincang sebentar dg cicinya dan menunggu sampai Kho Yang ciu meninggalkan tempat itu, dia padamkan lentera dan pura-pura tidur, padahal secara diam-diam dia awasi gerak gerik diluar.

Ketika kentongan kedua sudah lewat.

Rembulan nampak bersinar terang diluar jendela.

Kho Beng menunggu sampai suasana diluar menjadi hening baru secara diam-diam melompat keluar dari jendela belakang dan menyusup kehalaman tengah.

Dg matanya yg tajam dia mencoba memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, suasana terasa lenggang dan gelap, hanya disudut halaman sebelah barat kelihatan masih ada cahaya lentera, maka diapun segera bergerak menuju kearah sana.

Setelah didekati barulah diketahui bahwa tempat tsb adalah sebuah halaman gedung yg terpisah, dari dalam gedung kedengaran suara lelaki yg sedang berbicara.

Secara diam-diam Kho Beng mendekati tempat itu dan melongok kedalam, tetapi apa yg kemudian terlihat membuat hatinya bergetar keras.

Ternyata tempat itu merupakan sebuah gedung yg amat lebar, dlm ruangan duduk enam orang lelaki kekar.

Keenam orang itu semuanya memakai baju berwarna kuning, malah salah seorang diantaranya tak lain adalah Hang Tiong lin yg pernah dijumpai dikota Yang ciu tempo hari.

Tak terlukiskan rasa terperanjat si anak muda tsb saat itu.

Dari kehadiran Hang Tiong lin, dia segera menyadari bahwa perkampungan Ciu Hong san ceng ini sesungguhnya adalah sarang iblis dari dewi In nu, sedangkan Li Sian soat sendiri meski bukan dewi In nu pribadi, paling tidak dia adalah komplotannya.

Tapi yg menjadi persoalan sekarang adalah kenapa cicinya bisa kenal dg perempuan itu, bahkan sama sekali tdk mengetahui identitas yg sebenarnya?

Bukan hanya itu, mengapa pula dia bersedia mewariskan ilmu senjata rahasia yg begitu ampuh kepada cicinya?

Kalau dibilang tiada permusuhan diantara mereka, dibalik kesemuanya itu pasti ada rencana busuk atau latar belakang lainnya, tapi apakah rencana busuk dan latar belakang tsb?

Diam-diam Kho Beng termenung dg perasaan bimbang dan tak habis mengerti, namun satu hal telah diketahui secara pasti, ia sudah terjebak dalam sarang harimau.

Berapa bahaya keadaan demikian, ia pun mengambil keputusan utk m enghubungi cicinya dulu serta memberitahukan apa yg sudah terlihat, agar cicinya bisa meningkatkan kewaspadaannya juga.

Berpikir sampai disitu, diam-diam diapun memutuskan utk mengundurkan diri secara diam-diam dan menghubungi cicinya lebih dulu.

Siapa tahu baru saja dia membalikkan tubuhnya, tahu-tahu dibelakang tubuhnya telah berdiri seorang kakek berbaju ungu.

Ditengah malam buta yg sepi begini ternyata kehadiran orang tsb dibelakang tubuhnya sama sekali tdk menimbulkan suara sedikitpun, hampir saja Kho Beng dibuat bergidik ngeri saking kagetnya.

Sementara itu si kakek berbaju ungu itu telah menegur dg suara dingin.

"Siapa kau?"

Kho Beng tdk langsung menjawab, otaknya berputar sebentar, ketika melihat paras muka si kakek berbaju ungu itu terasa asing sekali, dia berpendapat lebih baik tdk membongkar identitasnya lebih dulu.

Maka sambil tersenyum, katanya.

"Aku bernama Kho Beng, tamu dari cengcu perkampungan ini, boleh aku tahu siapa kah nama locianpwee?"

Mencorong sinar tajam dari balik matya kakek itu, sahutnya dingin.

"Ooooh, rupanya Kho kongcu, kalau toh sebagai tamu, tak pantas kau meyelidiki rahasia orang lain ditengah malam buta begini."

Buru-buru Kho Beng berkata lagi.

"Aku sedang mencari keempat anak buahku karena ada urusan hendak menitahkan mereka utk dikerjakan, sayang tidak kuketahui mereka berdiam dan lagi aku pun enggan mengganggu kenyenyakan tidur tuan rumah, maka terpaksa aku mencari seorang diri, tak disangka akhirnya aku mencari sampai tempat ini, harap loheng sudi memaafkan atas kelancanganku ini."

Kakek berbaju ungu itu termenung sebentar, kemudian katanya.

"Kalau keempat enak buah kongcu mah, aku tahu..?"

"Oya, mereka berada dimana sekarang?"

"Mereka telah pergi."

"Sudah pergi?"

Seru Kho Beng tertegun,"memangnya mereka pergi meninggalkan aku tanpa mencari kabar lebih dulu kepadaku?"

"Kalau soal itu mah tidak kuketahui secara pasti"

Sahut si kakek dg nada dingin.

"Aku tidak percaya, sekalipun mereka pergi tanpa pamit, paling tidak cengcu kalian toh mesti memberitahukan soal ini kepadaku."

"Disaat mereka pergi meninggalkan tempat ini, cengcu kami sudah pergi tidur!"

"Oya...?"

Kho Beng segera tertawa dingin.

"heeehh...heeeh...heeeh...apalah artinya lotiang membohongi aku? Toh, aku sudah tahu bahwa perkampungan Ciu Hong san ceng bukan tempat yg baik!"

Berubah paras muka kakek berbaju ungu itu, segera serunya.

"Hey, apa maksudmu berkata begitu? Kalau bukan tempat yg baik, memangnya tempat ini tempat jahat?"

"Seharusnya lotiang jauh lebih mengerti ketimbang aku!"

Jengek Kho Beng lagi sambil tertawa dingin.

"aku tidak mengerti?"

"Ehmm, tak ada salahnya kalau kujelaskan kepadamu"

Sambung Kho Beng segera.

"bila perkampungan Ciu Hong san ceng adalah tempat orang baik-baik, kenapa disini bisa ditemui jago-jago pedang berbaju kuning dari dewi In nu?"

Begitu perkataan tsb diutarakan keluar, paras muka kakek berbaju ungu itu berubah sangat hebat.

Dan pada saat yg bersamaan pula, dari balik ruangan telah berkelebat lewat enam sosok bayangan kuning, dalam waktu singkat anak muda tsb sudah terkepung rapat-rapat.

Sambil tertawa dingin, kakek berbaju ungu itu berkata.

"Sebenarnya aku masih berminat memberi kesempatan padamu utk hidup beberapa waktu lagi, tapi sekarang....heeh...heeh.....mau tak mau terpaksa aku harus mengirim kau utk pulang keneraka lebih dulu......"

Begitu selesai berkata, sepasang telapak tangannya segera diayunkan kedepan, segulung angin pukulan yg maha dahsyat pun meluncur kedepan dan menyambar Kho Beng.

Dalam serangannya kali ini, kakek berbaju ungu tsb telah menggunakan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian lebih......bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tsb.

Menyaksikan betapa dahsyatnya ancaman yg menggulung datang, Kho Beng tak berani menghadapinya dg keras melawan keras, dg cekatan dia mengenggos kesamping utk menghindarkan diri.

Tapi pada saat yg bersamaan, tiba-tiba terdengar lagi desingan angin tajam menyambar tiba dari sisi kiri.

Sergapan yg dilancarkan secara licik ini kontan saja mengobarkan hawa amarahnya, dg suara menggeledek segera bentaknya.

"Hmmm, manusia yg tak tahu malu!"

Tenaga pukulannya segera diayunkan kesamping mengimbangi perputaran badannya, dg cepat sekali dia hantam tubuh sijago pedang berbaju kuning yg melancarkan sergapan kearahnya itu.

Jeritan ngeri yg memilukan hati pun berkumandang memecah kesunyian.

Mimpi pun si jago pedang berbaju kuning itu tak menyangka kalau tenaga pukulan Kho Beng yg sedang tertuju kearah kakek berbaju ungu tsb, tiba-tiba sudah berpindah sasaran dan mengancam kearahnya.

Tahu-tahu dadanya terasa amat sakit, tak tahan ia menjerit ngeri lalu roboh terjungkal keatas tanah.

Berada dalam keadaan begini, Kho Beng tdk menghentikan perbuatannya sampai ditengah jalan, kembali bentaknya keraskeras.

"Barang siapa masih ingin h idup, hayo cepat menggelinding pergi dari sini!"

Sepasang tangannya melancarkan sapuan berantai, bayangan pukulan menderu-deru bagaikan hujan gerimis, dalam waktu singkat lima orang jago pedang berbaju kuning sudah didesaknya sampai mundur sejauh tiga kaki lebih.

Melihat peristiwa ini, kakek berbaju ungu itu menjadi sangat terkesiap, katanya tiba-tiba.

"Sungguh hebat tenaga dalammu, tak heran kalau kau berani membuat keonaran ditengah malam buta begini!"

"Lotiang!"

Ujar Kho Beng dingin.

"sekarang kau boleh bicara secara terus terang, sebenarnya dimanakah keempat anak buahku sekarang?"

Kakek berbaju ungu itu tertawa sinis.

"Heeehh...heeehh...heeehh...kalau sekarang mah jiwa mereka belum terancam, tapi bila kau berani membuat keonaran lagi disini, aku tidak dapat m enjamin keselamatan jiwa mereka lagi!"

"Hmmm, kau berani?"

Dengus Kho Beng.

"Nyawa mereka toh berada ditangan aku Ong Thian siang, aku juga yg menentukan hidup mati mereka, kenapa tak berani kulakukan?"

Kho Beng tertawa bergelak.

"Haaahh....haaahh......haaahh.....tapi kau jangan lupa, selembar nyawamu justru berada ditanganku!"

"Berani kau bertaruh dg ku?"

Tantang kakek itu tiba-tiba.

"Bertaruh apa?"

"Bila kau yg menang, aku segera membebaskan anak buahmu dan membiarkan kau pergi dari sini tanpa diganggu!"

"Seandainya aku kalah?"

"Serahkan kitab pusaka Thian goan bu boh kepadaku!"

"Baik!"

Sahut pemuda itu angkuh.

"Kalau begitu silahkan kau lepaskan seranganmu!"

"Maaf...."

Kata Kho Beng dg suara dalam. Telapak tangan kanannya segera direntangkan didepan dada, lalu sambil berputar satu lingkaran ia bergerak maju kemuka. Tiba-tiba Ong Thian siang menjengek dingin.

"Oooh, rupanya kau telah mempelajari sim hoat dari ilmu Thian goan sinkang...?"

Tubuhnya maju menyongsong, tidakberkelit atau berusaha menghindar, ia sambut datangnya serangan dari Kho Beng itu dg keras lawan keras.....

"Blaaaammm......!"

Ditengah suara benturan yg amat keras, tubuh Ong Thian siang bergoncang amat keras, tapi segera serunya sambil tertawa seram.

"Heeeh...heeeh....heeeh...bocah keparat, tenaga pukulanmu hanya mampu meniup bulu ayam, hmmm, coba rasakan pula tenaga pukulanku ini!"

Ditengah bentakan keras, sepasang kepalannya didorong bersama kemuka dg kekuatan penuh.

Sesungguhnya Kho Beng merasa terkejut sekali ketika menjumpai tenaga pukulannya sebesar delapan bagian tak berhasil melukai lawannya, dia sama sekali tak mengira kalau hawa khikang peindung badan yg dimiliki musuhnya telah mencapai puncak kesempurnaan, dimana tusukan tombak dan bacokan golok tak mempan lagi melukai badannya.

Dalam waktu singkat dia segera menyadari bahwa kakek berbaju ungu ini betul-betul merupakan seorang musuh tangguh yg tak boleh dipandang enteng, maka begitu melihat datangnya angin pukulan yg menggulung datang, tergopoh-gopoh dia menghindarkan diri kesamping.

Sementara itu didalam hati kecilnya, diam-diam dia mengambil keputusan, selama orang ini tidak dilenyapkan dari muka bumi maka nasibnya pada malam ini lebih banyak bahayanya ketimbang selamat.

Belum habis ingatan itu melintas lewat, kelima orang jago pedang berbaju kuning telah berteriak bersama sambil menyerbu kemuka dg pedang terhunus.

Sambil tersenyum dingin Kho Beng segera berseru.

"Kalau toh kalian sendiri yg pingin mampus, jangan salahkan kalau siauya berhati keji!"

Lengan kirinya segera digetarkan keras-keras, bayangan tangan berputar mengikuti gerakan badannya, dg cepat ia sudah melepaskan empat buah pukulan berantai yg amat dahsyat.

Seketika itu juga terengarlah empat kali jerit kesakitan yg memilukan hati, tahu-tahu empat orang jago pedang berbaju kuning itu sudah roboh terjengkang keatas tanah.

Tinggal seorang jago pedang berbaju kuning lagi yg masih hidup, tapi nyalinya sudah pecah, dg ketakutan setengah mati ia membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit.

Kakek berbaju ungu menjadi sangat gusar, ia membentak keras, tubuhnya segera menerjang kedepan sambil melancarkan pukulan berantai....

Ibarat benteng terluka yg menyerang secara membabi buta, ternyata ia sma sekali tdk memperhatikan keselamatan diri sendiri, walaupun tubuhnya sudah termakan oleh tiga pukulan secara beruntun sehingga terhuyung mundur sejauh tiga langkah lebih, namun ia menerjang lagi kedepan dg garang.

Kho Beng segera berkerut kening setelah menyaksikan peristiwa ini, tapi sebelum ia sempat mengambil suatu tindakan, mendadak terdengar suara gembrengan dibunyikan bertalu-talu, kemudian disekitar halaman bermuncullah bayangan manusia, suasana pun menjadi terang benderang bermandikan cahaya.

Menyusul munculnya bayangan manusia tsb, dari kejauhan sana kedengaran seseorang membentak nyaring.

"Tahan!"

Ong Thian siang segera menarik kembali serangannya sambil melompat mundur dari arena pertarungan setelah mendengar bentakan tsb.

Ketika Kho Beng turut berpaling, dilihatnya Li Sian soat telah berdiri diatas dinding pekarangan, ujung bajunya yg berkibar tertiup angin membuat gadsi tsb nampak sepeti dewi rembulan yg baru turun dari kahyangan.

Dg sinar matanya yg jeli, dia mengawasi sekejap wajah Kho Beng serta Ong Thian siang, lalu tegurnya.

"Apa yg telah terjadi?"

Ong Thian siang segera memberi hormat seraya menjawab.

"Ditengah malam buta kongcu telah melakukan penyelidikan atas perkampungan kita, jelas dia mempunyai maksud tujuan yg tidak menguntungkan kita!"

Kho Beng segera mendengus dingin, tukasnya.

"Lebih baik tak usah menggunakan tanya jawab sebagai basa basi lagi, langsung saja menyinggung masalah pokoknya."

Ternyata Li Sian soat tdk menunjukkan sikap marah atau tersinggung oleh perkataan tsb, katanya lembut.

"Kongcu dapatkah jelaskan mengapa kau tdk bisa tidur malam......?"

"Sebelum kujawab pertanyaan tsb. Aku ingin menanyakan satu hal terlebih dulu."

"Silahkan bertanya!"

"Tolong tanya sebenarnya siapakah nona?"

Kata Kho Beng dg suara dalam. Li Sian soat segera terkekeh-kekeh, ujarnya.

"Bukankah semala telah kuberitahukan kepadamu?"

Kho Beng mendengus dingin.

"Hmmm, mungkin nona tdk berbicara sejujurnya tapi sengaja merahasiakan identitasmu yg sebenarnya?"

"Atas dasar apa kau mengatakan perkataanku tidak jujur?"

Tanya Li Sian soat sambil tersenyum. Sambil menunjuk keatas mayat salah seorang jago pedang berbaju kuning yg tergeletak diatas tanah, ia menjawab.

"Karena aku kenal dg orang ini!"

"Oya? Siapakah dia?"

Sepatah demi sepatah sahut Kho Beng.

"Orang ini adalah jago pedang berbaju kuning anak buah dewi In nu yg sedang ucari-cari, ia bernama Han Tiong lin, karena sewaktu berada dikota Yang ciu, aku pernah berkenalan dgnya!"

Li Sian soat segera tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu, serunya.

"Aku rasa kau telah salah melihat orang?"

Kho Beng agak tertegun, lalu serunya lagi.

"Aku percaya mataku belum lamur, mana mungkin bisa salah melihat? Apalagi lotiang inipun sudah memberikan pengakuannya!"

Dg kening berkerut Li Sian soat segera berpaling kearah Ong Thain siang, lalu tegurnya.

"Apa yg telah kau akui?"

Tiba-tiba saja sekujur badan Ong Thian siang gemetar keras, cepat-cepat serunya.

"Aku tidak pernah mengakui apa-apa, aku hanya menganggap kedatangan Kho kongcu amat mencurigakan dan manusia macam dia tak boleh dibiarkan hidup terus!"

Li Sian soat segera bertanya lagi kepada Kho Beng.

"Benarkah orangu berkata demikian?"

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian baru mengangguk.

"Yaa, benar, memang begitu!"

Li Sian soat segera mengalihkan kembali pandangan matanya kewajah kakek berbaju ungu, lalu katanya.

"Ong Thian siang, kau telah bersikap tak sopan kepada tamu agung perkampungan kita, dosamu amat besar dan pantas dijatuhi hukuman mati, mengapa kau tidak segera bunuh diri utk menebus kesalahanmu itu?"

Kho Beng yg mendengar kejadian ini jadi tertegun, sebaliknya Ong Thian siang segera menyahut "Menerima perintah!"

Telapak tangannya segera diangkat dan dihantamkan keatas ubun-ubunnya sendiri.

Kho Beng tdk berpeluk tangan belaka, tiba-tiba dia melepaskan sebuah totokan menghajar jalan darah disikut Ong Thian siang.

Dalam waktu singkat, Ong thian siang mendengus kaget, tangannya kaku dan tak mampu bergerak lagi, tanpa terasa dia melototkan matanya sambil menegur.

"Hey, mau apa kau?"

Kho Beng memutar biji matanya sambil tersenyum, sahutnya.

"aku tak ingin menyaksikan lotiang mampus dg begitu saja!"

Lalu sambil berpaling lagi kearah Li Sian soat, tanyanya lebih lanjut dg suara dalam.

"Nona Li, sekali lagi aku ingin bertanya kepadamu, sebenarnya siapakah kau?"

"Aku sama sekali tdk membohongi dirimu!"

Kata Li Sian soat sambil tertawa.

"Lantas kemana perginya ke empat orang anak buahku?"

"Hey, bukankah mereka berada di gedung sebelah depan sana dlm keadaan baik-baik?"

Seru Li Sian soat tercengang. Buru-buru Ong Thian siang melapor.

"Mereka sudah meninggalkan tempat ini dua jam berselang!"

"aaah...mengapa aku tidak tahu?"

Seru Li Sian soat agak keheranan.

"Oleh karena cengcu sudah beristirahat, maka hamba tdk berani memberikan laporan."

"Urusan sebesar ini kenapa mesti ditunda? Kau memang makin tua semakin pikun!"

Tegur si nona gusar.

Ong Thian siang segera mengiakan berulang kali.

Berada dlm keadaan seperti ini, Kho Beng benar-benar merasa agak pikun dan kebingungan, mungkinkah apa yg dia duga keliru?

Tapi apa sebabnya Ong Thian saing bersikap begitu ganas dan buas kepadanya barusan......?

Disamping itu, bukankah dandanan maupun tindakan keenam orang jago pedang berbaju kuning itu persis seperti apa yg dilihatnya dikota Tong sia?

Apakah mereka bukan anak buah dewi In nu?

Dia percaya apa yg terlihat olehnya tapi mengapa nona itu bersikeras utk menutupi semua persoalan itu?

Rangkaian persoalan yg mencurigakan hatinya bagaikan sebuah teka-teki saja, membuatnya tak habis mengerti dan tak mampu utk memecahkannya.

Tentu saja, dg sikap senyuman dikulum dan keramahan nona tsb, mustahil baginya utk bentrok lebih jauh dgnya dan diapun jadi kebingungan serta tak tahu apa yg mesti dilakukannya lebih lanjut.

Sementara itu terdengar Li Sian soat telah berkata lagi.

"Kongcu, lebih baik kau kembali kekamar utk beristirahat saja, bila ada persoalan lebih baik kita bicarakan esok pagi, jangan sampai membiarkan cicimu menuduh aku kurang melayanimu!"

Lama sekali Kho Beng berdiri termangu-mangu tanpa mengetahui apa yg mesti dilakukan, akhirnya dg wajah bersemu merah dia menjura seraya berkata.

"Baiklah, kesalahpahaman yg terjadi pada malam ini biar ku mintakan maaf kepada nona esok pagi saja!"

"Aaaah...kongcu jangan berkata begitu"

Kata Li sian soat sambil tertawa lebar.

"dalam suatu kesalah pahaman memang pasti akan jatuh korban, kau tak usah mempersoalkan masalah itu dalam hati."

Kho Beng tdk bersungkan-sungkan lagi, setelah memberi hormat, dia segera kembali menuju kekamar tidurnya.

Sambil berbaring diatas ranjang, makin dippikir ia merasa makin tak tentram, hatinya pun makin tak habis mengerti, baru menjelang fajar ia terlelap dalam tidur yg nyenyak.

Menanti ia mendusin kembali dari tidurnya, ternyata suasana dalam kamar masih tetap gelap gulita, seakan-akan fajar belum lagi menyingsing.

Kejadian ini tentu saja amat mencengangkan hatinya, karena ia masih ingat, menjelang fajar tadi baru ia tertidur, mana mungkin.......

Tapi sewaktu dia memperhatikan kembali keadaan disekeliling sana, pemuda itu baru merasa terkejut sekali.

Kho Beng masih teringat, sebelum tidur tadi jendela berada dlm keadaan terbuka, mengapa saat ini ruangan tsb justru gelap gulita dan tertutup rapat?

Sewaktu ia memeriksa kearah pintu ruangan, ternyata pintu itu pun tertutup rapat sekali.

Dg cepat pemuda ini sadar bahwa telah terjadi perubahan yg mencurigakan, buru-buru dia melompat turun dari atas pembaringan lalu memeriksa ke jendela.

Ketika ia mencoba utk membuka jendela, segera terasa benda tsb keras dingin, ternyata berupa sebuah lempengan besi baja yg amat kuat.

Buru-buru dia memeriksa pintu kamar, namun hasilnya sama saja, ketika dicoba utk mendorongnya dg sekuat tenaga, ternyata pintu itu sama sekali tak bergerak.

Sekarang Kho Beng baru sadar, ia sudah terjebak kedalam perangkap musuh, dalam terperanjatnya dg menghimpun segenap tenaga dalamnya, ia segera menghantam daun jendela.

"Blaaaaammmm.....!"

Suara benturan yg amat keras bergema memecah keheningan, akan tetapi daun jendela itu tak bergerak sama sekali, malah sebaliknya dia sendiri yg tergetar sampai mundur sejauh dua tiga langkah.

Keadaan sudah menjadi jelas sekarang, ternyata kamar dimana ia berada sekarang telah dilengkapi dg alat rahasia disekelilingnya, disaat ia sedang tertidur nyenyak tadi, ruangan tsb nampaknya sudah dirubah sedemikian rupa sehingga berubah menjadi seolah tahanan utk menyekapnya.

Sementara dia masih menggertak gigi menahan rasa benci dan marah yg meluap-luap, tiba-tiba dari luar kamar terdengar seseorang menegurnya dg suara lembut.

"Kho Kongcu, apakah kau telah mendusin?"

Kho Beng mendengus dingin, sahutnya.

"Siapa kau?"

Orang yg berada diluar ruangan segera tertawa cekikikan, serunya dg genit.

"Budak adalah Hong ing, bukankah semalam kongcu mencari aku? Sekarang budak telah datang, silahkan kongcu memberi perintah."

"Aku tak punya urusan apa-apa, harap buka dulu pintu kamarku sebelum berbicara lebih jauh."

"Sesungguhnya tdk sulit bila mengharapkan budak membukakan pintu kamar, tapi budakpun berharap agar kongcu mengabulkan pula sebuah permohonanku."

"Katakan saja!"

"Aku harap kongcu suka menyerahkan kitab pusaka Thian goan bu boh kepada kami!"

Kho Beng segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh...haaah...haaah...akhirnya ekor si rase kelihatan juga, kalau dugaanku tak salah, cengcu kalian kalau bukan si perempuan siluman In nu pribadi, pastilah anak buah dari siluman perempuan itu........"

"Kalau toh kongcu sudah tahu, semalam seharusnya kau tidak balik lagi kemari utk tidur!"

"Hmmm, aku hanya bersikap kelewat gegabah sehingga masuk perangkap kalian, tapi bila kalian mengharapkan kitab pusaka Thian goan bu boh....Huuuh! lebih baik tak usah bermimpi disiang hari bolong."

"Apakah kongcu tak menghargai selembar jiwamu? Apalah artinya dua lembar kitab pusaka ketimbang jiwa sendiri?"

Kho Beng tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh...haaaahh...haaahh...meskipun aku sudah terperangkap dlm kurungan ini, tapi utk bisa menghabisi nyawaku mungkin kalian mesti membuang banyak tenaga lagi."

"Sama sekali tak usah membuang tenaga,, ruangan ini sudah dilapisi lempengan baja yg sangat kuat, asal kami memasang api disekitar ruangan serta membakarnya, meski tidak sampai membakar hangus tubuhmu paling tidak juga mampu membuat badanmu jadi arang!"

Kho Beng sangat terkejut, namun dia tak sudi menyerah dg begitu saja, sambil berkeras kepala katanya.

"Kalau begitu bakarlah sekarang juga, betapapun kallian mencoba utk menggertakku, jangan harap bisa memeras setengah patah kata pun dari mulutku."

Hong ing segera saja tertawa terkekeh-kekeh...

"Heeeehh...heehhh.......heeeehhhh...kongcu, mengapa kau berbuat begitu bodoh?"

"Ooooh....jadi kau menganggap kecerdasanmu luar biasa? Baiklah akan kulihat sampai dimanakah kemampuan yg dimiliki oleh kalian perempuan-perempuan siluman."

"kongcu, sekalipun kau sudah bertekad akan gugur bersama isi kitab pusaka tsb, paling tidak kau tak seharusnya menyeret orang lain utk mati juga."

"Siapa yg kalian maksudkan?"

Seru Kho Beng dg perasaan bergetar hebat.

"Tentu saja keempat orang anak buahmu."

"Perempuan busuk yg tak tahu malu!"

Umpat Kho Beng sangat gusar.

"mau dibunuh, mau dicincang lakukan saja segera, buat apa kau banyak berbicara lagi?"

Kembali Hong ing tertawa tergelak.

"Haaahhh...haaaahhh....haaahhh....kalau begitu kau sudah ambil peduli dg keselamatan anak buahmu lagi?"

"Mati hidupku sendiripun masih merupakan masalah, kenapa aku mesti memikirkan nasib orang lain?"

"Sekalipun perkataanmu itu ada benarnya juga, tapi disamping keempat orang anak buahmu tak bisa hidup lebih jauh, aku rasa harus ditambah lagi dg seseorang."

"Siapa?"

"Encimu!"

Tak terlukiskan rasa terkejut Kho Beng setelah mendengar nama itu, segera bentaknya.

"Bagaimana dg ciciku?"

"Kalau sekarang sih masih berada dalam keadaan baik-baik, tapi bila kau tetap berkeras kepala, mungkin dia pun bakal diceburkan kedalam kuali berisi minyak mendidih."

Kho Beng merasakan detak jantungnya hampir saja berhenti, diam-diam dia menggertak gigi menahan gejolak emosi dialam hatinya.

Benar kematian baginya bukan suatu peristiwa yg patut disayangkan, tapi bila cicinya ikut mati, lalu siapakah yg akan melanjutkan keturunan dari keluarga Kho mereka?

Sementara dia masih termenung memikirkan persoalan itu, terdengar Hong ing yg berada diluar kamar telah berseru lagi.

"Bila sauhiap tak percaya, bagaimana kalau budak mengajak cicimu kemari agar kau bisa berbincang-bincang dulu dengannya?"

"Kau berani....."

Pekik Kho Beng keras. Tapi sebentar kemudian ia sudah menghela napas panjang, katanya lagi dg suara lemah.

"Baiklah, aku mengabulkan permintaan kalian, kitab tsb kutukar dg enam lembar jiwa!"

"Nah, begitulah baru terhitung tindakan seorang lelaki sejati yg tahu diri"

Seru Hong ing tertawa.

"Tapi bagaimanakah pertukaran ini akan dilaksanakan?"

"Kongcu dapat meletakkan kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh itu disisi pintu..."

Belum selesai perkataan itu diucapkan, Kho Beng telah menukas sambil tertawa dingin.

"Heeehhh...heehh....heeehhh...bagus amat perhitunganmu, tapi bagaimana dg orang-orang kami?"

"Asal barangnya sudah kami dapatkan tentu saja orang-orang itu akan kubebaskan semua."

"Aku tak dapat mempercayai kalian"

Teriak Kho Beng keras-keras.

"Lantas bagaimanakah menurut pendapat kongcu?"

Kho Beng berpikir sebentar lalu katanya.

"Kalian harus membebaskan aku dahulu atau bebaskan kelima orang lainnya, kemudian aku baru serahkan kitab pusaka Thian goan bu boh itu kepadamu."

Hong ing berpikir sebentar, kemudian sahutnya.

"Baiklah kalau begitu aku akan membebaskan dulu keempat orang anak buahmu."

"Tunggu sebentar, aku tak bisa menyaksikan dg mata kepalaku sendiri, hal ini tak bisa dipercayai......"

Hong ing tertawa terkekeh-kekeh, segera katanya.

"Itu mah soal gampang, tentu saja akan kuajak mereka datang kemari agar kau bisa bertemu dulu dg mereka kemudian menyaksikan pula orang-orangmu pergi meninggalkan tempat ini."

"Bagaimana dg ciciku?"

"Sebentar, cicimu pasti akan datang pula kemari."

Habis berkata suasana menjadi hening, agaknya Hong ing telah pergi meninggalkan tempat itu.

Kini tinggal Kho Beng berjalan mondar mandir seorang diri dalam ruangan.

Benarkah dia akan menyerahkan kitab pusaka Thian goan bu boh tsb kepada musuh?

Tapi kitab tsb tidak berada ditangannya sekarang, sekalipun dia menyanggupi bukan berarti dia mampu menyerahkan keluar.

Tapi apa akibatnya bila dia tak mampu menyerahkannya keluar?

Pemuda itu tak bisa membayangkan lebih jauh dia pun tak sanggup utk menduganya.

Sementara dia masih termenung, tiba-tiba jendela dibuka orang dan muncullah sebuah lubang kecil.

Ketika Kho Beng mendekati dan mengintip keluar, dia saksikan didepan ruangan telah berdiri berjajar empat orang, mereka tak lain adalah Hapukim, Rumang, Molim dan Mokim.

Yang lebih aneh lagi keempat orang tsb bukan saja tidak diikat lagipula sikap mereka tidak menunjukkan rasa tegang, panik ataupun rasa gusar.

Disamping keempat orang tsb berdiri Hong ing beserta dua dayang lainnya.

"Nah, kho kongcu, apakah kau sudah dapat melihatnya sekarang?"

Terdengar Hong ing berseru. Buru-buru Kho Beng berteriak.

"Mo bersaudara, coba kalian kemari semua!"

Molim dan Mokim sekalian segera kemuka sambil berjongkok didepan lubang itu, tanyanya.

"Cukong, kau ada perintah apa?"

"Kalian tak pernah menderita apa-apa?"

"Tidak!"

Sahut Molim.

"Baik, siapa diantara kalian yg membawa bom udara?"

Mereka berempat sama-sama menggeleng, Kho Beng termenung dan berpikir sejenak, kemudian baru ujarnya.

"Sekarang tinggalkan tempat ini secepatnya, begitu tiba didepan perkampungan gunakan dua kali suara pekikan panjang utk mengabarkan kepadaku bahwa kalian sudah aman, sebaliknya bila menjumpai bahaya, gunakan tiga kali pekikan pendek sebagai kode, kalian tak usah balik lagi kemari, tunggu selama satu hari dibawah bukit situ, bila sehari sudah lewat tanpa melihat aku munculkan diri, ini berarti aku sudah tewas, berangkatlah secepatnya kelembah hati buddha utk mengabarkan berita ini kepada rekan-rekan lainnya!"

Keempat orang itu segera manggut-manggut tanda mengerti. Setelah menghela napas kembali, Kho Beng berkata.

"Berangkatlah kalian sekalian juga, sepanjang jalan kalian harus melatih baik-baik kedua jurus serangan yg kuajarkan itu, dua jurus tsb merupakan dasar ilmu sakt yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh, asal kalian sudah menguasai kedua gerakan tsb secara sempurna, maka gerakan berikutnya akan lebih muda dipelajari, asal aku dapat meloloskan diri dan asal kalian tidak binal dan liar, pasti akan kuwariskan semua kepandaian tsb kepadamu...."

Sekali lagi keempat orang itu manggut-manggut, sementara kelopak mata mereka nampak berkaca-kaca.

Diam-diam Kho Beng pun merasa amat sedih, meski dimasa lampau dia menaruh hubungan yg tak begitu akrab dg mereka berempat seolah-olah diantara mereka terdapat dinding pemisah, tapi pergaulan yg cukup lama, senang bersama sengsara berbareng yg mereka alami selama ini membuat hubungan batin diantara mereka bertambah akrab.

Itulah sebabnya perpisahan yg terjadi saat ini cukup menyedihkan hati mereka semua.

"Cukong, baik-baiklah menjaga dirimu, kami segera akan berangkat!"

Kata Molim berempat dg pelan. Kho Beng manggut-manggut.

"Baiklah, kalau begitu sampai ditempat yg aman, jangan lupa memberi tanda kepadaku."

Keempat orang itu manggut-manggut, kemudian dg gerakan cepat mereka beranjak pergi meninggalkan tempat tsb.

Dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka lenyap dari pandangan mata.

Saat itulah Hong ing baru berkata lagi sambil tertawa.

"Nah, tentunya perasaanmu sudah lega bukan sekarang?"

"Hmmm, bagaimana dg ciciku?"

Dengus Kho Beng.

"Tunggu dulu, sebagian dari orang yg kau minta sudah dibebaskan, sekarang kau harus memenuhi janjimu lebih dulu."

"Janji apa?"

Kho Beng berlagak bodoh.

"Bagaimana dg kitab pusaka Thian goan bu boh itu?"

"Kau tak usah membayangkan yg muluk-muluk, kitab pusaka Thian goan bu boh hanya terdiri dari dua lembar, sedangkan dari pihakku pun masih ada dua lembar nyawa yg masih berada ditanganmu, bagaimana mungkin aku bisa menyerahkan sekarang juga?"

"Lantas sampai kapan kau baru akan menyerahkannya kepada kami?"

Tegur Hong ing dg wajah berubah.

"Setelah kau mengundang kemari ciciku, aku akan persembahkan selembar lebih dulu, menanti kau sudah membebaskan aku, akan kuberikan lembaran yg terakhir."

Jilid 22 Hong ing berpikir sebentar kemudian, katanya.

"Baiklah, kalau begitu tunggulah dulu disini!"

Menyusul kemudian lubang dijendela pun tertutup kembali.

Lagi-lagi Kho Beng berjalan bolak balik didalam ruangan, perasaan hatinya waktu itu amat sedih masgul dan gelisah.

Sementara itu diruang yg indah dibelakang loteng, Kho Yang ciu sedang berbaring kemalas-malasan diatas ranjang.

Tiba-tiba dari luar pintu kedengaran suara langkah kaki manusia bergema memecah keheningan.

Menyusul kemudian pintu kamar dibuka orang, Li Sian soat dg wajah berat dan serius melangkah masuk kedalam ruangan.

Buru-buru Kho Yang ciu melompat bangun sambil menyapa.

"Enci Soat, selamat pagi......."

"Pagi apa?"

Jawab Li Sian soat sambil terpaksa.

"kau tahu matahari sudah hampir menyinari seluruh tempat!"

Sambil berkata dia segera duduk persis dihadapan Kho Yang ciu...

"Enci Soat"

Kho Yang ciu menegur lagi dg wajah tercengang.

"kenapa paras mukamu kelihatan kurang sedap?"

"Semalam telah terjadi peristiwa berdarah diperkampungan kita ini"

Keluh Li Sian soat.

"Peristiwa apa?"

Dg perasaan kaget Kho Yang ciu melompat bangun. Li Sian soat menghela napas panjang.

"Aaaai.....adikku, lebih baik kita tengok keluar sebentar sebelum berbicara lebih jauh."

Dg cepat Kho Yang ciu mengenakan pakaian, lalu katanya lagi.

"Enci Soat, sebenarnya apa yg telah terjadi? Mengapa tidak kau ceritakan dulu kepadaku?"

Sekali lagi Li Sian soat menghela napas panjang.

"Aaai....sesungguhnya aku tak mampu utk menceritakan kembali, lebih baik tengoklah sendiri, kau pasti akan mengerti setelah melihat keadaan diluar situ."

Terpaksa Kho Yang ciu membetulkan letak rambutnya lalu berkata.

"Kalau begitu mari kita berangkat!"

Mereka berdua berjalan keluar loteng menuju halaman sebelah barat, disitu Kho Yang ciu melihat ada lima sosok mayat yg membujur diatas tanah.

Apa yg terlihat olehnya ini kontan saja mengejutkan perasaan Kho Yang ciu, utk sesaat dia sampai melongo.

Mayat-mayat itu tergeletak diatas genangan darah yg membasahi seluruh permukaan tanah, sementara belasan orang gadis berdandan pelayan dan lelaki bertubuh kekar berdiri disekeliling tempat itu dg wajah murung dan sedih.

Setelah termangu-mangu sesaat, Kho Yang ciu baru bertanya.

"Siapa korban yg mati terbunuh itu?"

"Mereka adalah anggota perkampungan kami!"

Sahut Li Sian soat sambil menghela napas.

"Apa yg menyebabkan kematian mereka?"

Tanya Kho Yang ciu lebih jauh dg kening berkerut.

"Tewas oleh pukulan dahsyat seseorang!"

"Siapa pelakunya?"

"Aaaai.....mungkin kalau kuungkapkan orangnya kau tak akan percaya, aaai....bagaimana aku mesti berbicara?"

Kho Yang ciu semakin keheranan lagi, dg dorongan rasa ingin tahu segera desaknya.

"Enci Soat, mengapa sih kau seperti nampak ragu-ragu utk berbicara? Aaaai.....membuat hatiku gelisah saja."

"Sesungguhnya orang yg membunuh mereka tak lain adalah adikmu sendiri, Kho kongcu."

Kho Yang ciu merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak, wajahnya berubah hebat, jeritnya tertahan.

"Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?"

Dalam hati kecilnya diam-diam Li Sian soat tertawa dingin, karena semuanya ini merupakan bagian dari siasat liciknya, bukan saja dia telah melibatkan Kho Beng bahkan Kho Yang ciu sendiripun dikelabui mentah-mentah, tentu saja kesemuanya ini dilakuakannya demi kitab pusaka Thian goan bu boh tsb.

Sampai matipun Kho Yang ciu tak bakal menyangka kalau apa yg dilihatnya ini hanya sebagian dari siasat busuk lawannya, dia lebih tak mengira lagi kalau ilmu senjata rahasia yg diwariskan lawan kepadanya sebetulnya hanya merupakan siasat meminjam golok membunuh orang......

Rasa terkejut dan tertegun membuat gadis itu berdiri termangumangu beberapa saat lamanya, kemudian baru ia berkata.

"Enci soat, kau bukan sedang bergurau bukan?"

"Kau rasa dapatkah aku bergurau dgmu?"

Li Sian soat balik bertanya dg wajah serius. Rasa bingung dan gelisah segera mencekam perasaan Kho Yang ciu, lama kemudian ia baru berkata.

"Apa sebabnya adikku bisa membunuh orang tanpa sebab musabab?"

"Sesungguhnya dia berbuat demikian bukan dikarenakan tanpa sebab musabab, tapi kelewat besar rasa curiganya"

Kata Li Sian soat.

"Apa yg dicurigainya?"

"Dia menaruh curiga kalau cici adalah dewi In nu."

Kho Yang ciu segera menghentak-hentakan kakinya berulang kali, serunya dg gemas.

"Benar-benar tolol, bukankah semalam aku telah berulang kali memberi penjelasan kepadanya? Aaaai......bagaimana baiknya sekarang?"

Li Sian soat menghela napas panjang.

"Orang yg sudah mati tentu saja dapat cici kebumikan selayaknya, tapi yg kukuatirkan adalah selanjutnya....."

Dg rada gusar yg meledak-ledak, Kho Yang ciu segera berseru.

"Lain kali bila dia berani bertindak lagi secara sembrono tanpa membedakan mana yg benar dan mana yg salah, aku yg menjadi cicinya pasti akan memberi pelajaran dulu kepadanya, cici Soat, mana orangnya sekarang.......?"

"Semalam dia malah berniat membunuhku"

Kata Li Sian soat dg kening berkerut.

"oleh sebab itu dlm keadaan apa boleh buat terpaksa kugunakan siasat utk mengurungnya sementara waktu dlm kamar berlapis baja!"

"Enci Soat!"

Seru Kho Yang ciu terperanjat.

"apakah kau...."

Li Sian soat segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Apa yg bisa kukatakan terhadapnya? Aku hanya berharap dia tidak mengapa-apa kan diriku saja, hal ini sudah cukup untukku."

Kho Yang ciu merasa terharu sekali, segera katanya.

"Enci Soat, adikku tidak tahu urusan, kuharap kau sudi memberi muka kepadaku......"

"Tentu saja memandang diatas wajahmu, kalau tidak masa kubiarkan dia berulah semau hatinya sendiri?"

Kata Li Sian soat tertawa.

"Hayo berangkat, kita tengok dulu keadaannya."

Li Sian soat manggut-manggut, bersama-sama Kho Yang ciu mereka menuju kegedung bagian depan.

Kalau kemarin ruangan tsb masih terdiri dari jendela dan pintu, maka hari ini telah berubah menjadi sebuah ruang besi yg tak berpintu dan berjendela.

Ditengah ruangan berdiri empat orang nona berbaju hijau, ketika melihat kedatangan cengcu mereka, serentak orang-orang itu memberi hormat.

Li Sian soat segera mengulapkan tangannya sambil memberi perintah.

"Buka lubang dijendela itu!"

Seorang nona berbaju hijau mengiakan dan mendekati rumah besi itu, lalu menginjak keras-keras diatas sebuah ubin. Sambil menengok kearah Kho Yang ciu, Li Sian soat segera berkata.

"Adikmu berada didalam sana, kuharap kau bisa memberi penjelasan kepadanya serta membujuknya, bila ia sudah mau tahu keadaan yg sebenarnya, kita baru membukakan pintu baginya."

Dg perasaan berat Kho Yang ciu manggut-manggut. Tapi sebelum ia sempat mendekati lubang jendela itu, Kho beng yg berada dalam ruangan telah mendekati jendela sambil berseru.

"Cici!"

Meskipun Kho Yang ciu merasa sedih dihati, namun berhubung Li Sian soat hadir pula disampingnya, terpaksa ia membentak keraskeras.

"Apakah dalam pandanganmu masih terdapat aku yg menjadi cicimu...?"

"Cici, dengarkan dulu penjelasanku"

Seru Kho Beng dg cemas.

"Justru aku yg hendak memberi penjelasan kepadamu"

Tukas Kho Yang ciu dingin.

"aku ingin tahu apa sebab kau membunuh orang tanpa sebab ditengah malam buta?"

"Cici, kau masih dikelabui oleh mereka, tahukah kau, besar kemungkinan perkampungan Ciu Hong san ceng adalah salah satu diantara sarang-sarang iblis dari siluman perempuan In nu?"

"Omong kosong!"

Hardik Kho Yang ciu keras.

"Tidak, aku sama sekali tidak ngaco belo.."

Kho Beng menghela napas panjang. Dg wajah hijau membesi, Kho Yang ciu kembali berkata.

"Adikku, sekali lagi kuminta kepadamu, hayo cepat minta maaf kepada Enci Soat!"

"Bolehkah aku memberi keterangan yg lebih jelas lagi kepadamu?"

Pinta Kho Beng dg kening berkerut.

"Katakanlah!"

Sambil merendahkan suaranya pemuda itu segera berkata.

"Aku telah menjumpai jago pedang berbaju kuning dari dewi In nu berada didalam perkampuangan ini."

"Kau toh tak bisa menganggap setiap jago yg mengenakan baju berwarna kuning sebagai anak buah dari siluman perempuan itu!"

"Tapi aku kenal dg salah seorang diantara mereka, sebab kami pernah berkenalan!"

Bantah Kho Beng. Kho Yang ciu segera mendengus dingin.

"hmmm, aku tidak berharap kau lanjutkan kata-katamu itu."

Melihat sikap dari kakaknya itu, Kho Beng menghela napas panjang, katanya kemudian.

"Aaai...barusan ada orang yg menggunakan keselamatan jiwa cici utk mengancam kepadaku agar menyerahkan kitab pusaka Thian goan bu boh, bagaimana pula kejadian ini?"

"Siapakah orang itu?"

Tanya Kho Yang ciua sambil kerutkan dahinya kencang-kencang.

"Dia tak lain adalah dayang yg bernama Hong ing, dayang itu pernah kujumpai didepan perkampungan Bwee wan."

Tapi Kho Yang ciu segera gelengkan kepalanya berulang kali, katanya cepat.

"Aku tidak percaya dg semua perkataanmu itu, sekarang aku Cuma berharap kepadamu agar mau minta maaf kepada enci soat!"

Menghadapi keadaan seperti ini, Kho Beng hanya bisa menghela napas panjang, katanya kemudian.

"Aaaai, baiklah cici, aku akan menuruti semua perkataanmu, tapi sekarang mereka harus membebaskan diriku lebih dulu."

Kho Yang ciu segera berpaling kearah Li Sian soat dan ujarnya.

"Enci Soat, adikku telah menyesali semua perbuatannya dan bersedia minta maaf kepada enci Soat, kuharap enci soat sudi mengingat hubungan persahabatan diantara kita dan membebaskan dirinya."

"Oooh, tentu saja......"

Kata Li Sian soat sambil tertawa.

Sambil berkata dia segera mengulapkan tangannya kebelakang.

Tampak seorang nona berbaju hijau yg berada diatas sebuah pohon besar segera menekan sebuah tombol rahasia disana, tibatiba saja lapisan baja disekeliling bangunan itu tenggelam kedasar tanah dan muncullah bangunan rumah yg sebenarnya.

Kho Beng segera melangkah keluar dari dalam ruangan, kepada Kho Yang ciu ujarnya kemudian dg suara berat.

"Cici, semoga kau dapat menjaga diri baik-baik, aku hendak mohon diri sekarang juga."

"Kau hendak kemana?"

Tanya Kho Yang ciu agak tertegun.

Kho Beng amat sedih, hatinya serasa remuk redam, pertanyaan dari Kho Yang ciu sama sekali tak dijawab olehnya, bahkan tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menggerakkan tubuhnya dan secepat sambaran kilat berkelebat meninggalkan perkampungan tsb.

Setelah keluar dari perkampungan, ia merasakan dadanya bagaikan ditindih dg batu karang yg besar sekali, tak terlukiskan bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, akhirnya sambil menghela napas sedih dia melanjutkan perjalanannya kedepan.

Tapi belum jauh dia meninggalkan perkampungan Ciu Hong san ceng, mendadak dari jarak beberapa kaki dihadapannya telah bermunculan puluhan sosok bayangan manusia, dg cepat dia sudah terkurung ditengah kepungan mereka.

Kho Beng melototkan sepasang matanya bulat-bulat, hawa amarah yg membara didalam dadanya telah memuncak, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan yg amat dahsyat.

Ternyata puluhan sosok bayangan manusia itu dipmpin oleh seorang kakek berbaju ungu yag tak lain dalah Ong Thian siang.

Tampak kakek tsb membentak keras-keras, kemudian sepasang telapak tangannya diputar dan menyongsong datangnya serangan lawan keras melawan keras.

Dalam melepaskan serangan kali ini, Kho Beng telah menyertakan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tsb.

"Blaaaammm...!"

Ditengah suara benturan keras yg memekakkan telinga, pasir debu nampak beterbangan diangkasa, akan tetapi Ong Thian siang justru kelihatan masih berdiri tegak ditempat semula tanpa menderita cidera barang sedikitpun juga.

Tampak kakek itu mengulapkan tangannya dg dingin, lalu bentaknya keras-keras.

"Bocah keparat, kau jangan harap bisa kabur lagi dari cengkeramanku.......?"

Sementara itu, belasan jago pedang yg turut hadir disitu telah meloloskan senjata masing-masing dan bersiap sedia melancarkan serangan.....

Tak terlukiskan rasa kaget Kho Beng menghadapi kejadian ini, dia percaya tenaga pukulannya barusan paling tidak mencapai delapan sembilan ratus kati, jangan lagi tubuh manusia yg terdiri dari darah dan daging, besi baja pun pasti akan patah menjadi dua.

Tapi sungguh aneh, mengapa kakek berbaju ungu itu justru tetap sehat wal afiat tanpa cedera sedikitpun?

Terburu-buru ingin meninggalkan tempat itu secepatnya, timbul hawa nafsu membunuh dalam hatinya, dg cepat pemuda itu meloloskan pedangnya lalu dg jurus "Hujan darah melanda langit"

Pedangnya dg membawa desingan suara yg memekakkan telinga langsung ditusukkan ketubuh Ong Thian siang.

Menghadapi datangnya ancaman ini, Ong Thian siang tdk bermaksud menghindarkan atau berkelit, senjata kupu-kupunya segera diputar kencang-kencang menyongsong datangnya ancaman tsb.

Ketika sepasang senjata mereka saling adu satu sama lainnya, Kho Beng segera merasakan pergelangan tangannya menjadi kaku dan kesemutan sehingga tak kuasa lagi tubuhnya tergetar mundur sejauh beberapa langkah.

Walaupun Ong Thian siang sendiripun terhuyung mundur sejauh dua langkah lebih, namun sikap maupun mimik wajahnya masih tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi suatu peristiwa pun, bukan saja dia tak terluka oleh serangan pedang anak muda tsb, paras mukanya pun sama sekali tidak berubah.

Terdengar kakek itu mendengus dingin seraya menjengek.

"Hmmm, kalau Cuma mengandalkan kepandaian semacam itu, jangan harap kau bisa lolos dari cengkeramanku lagi!"

Sambil berkata, senjata panji kupu-kupu nya segera digetarkan lalu dihantamkan keatas kepala Kho Beng.

Dalam waktu singkat anak muda itu terkepung, ia merasakan sekeliling tubuhnya telah dilapisi oleh bayangan kupu-kupu yg beterbangan kian kemari, dia tak bisa membedakan lagi mana yg asli dan mana yg tipuan?

Dalam terperanjatnya buru-buru Kho Beng melompat mundur kebelakang dan menghindar sampai sejauh dua kaki dari posisi semula.

Tampak sinar hijau yg menggidikkan hati memancar keluar dari balik mata Ong Thian siang, utk kedua kalinya dia melancarkan serangan dg senjata panji kupu-kupunya.

Ditengah deru angin serangan yg memekakkan telinga, selapis bayangan kupu-kupu kembali menyergap dan mengurung Kho Beng dari segala penjuru arena.

Kho Beng benar-benar bergidik hatinya menghadapi ancaman lawan yg begitu bertubi-tubi, mimpipun dia tak pernah menyangka kalau ilmu silat yg dimiliki setan tua tsb ternyata begitu tangguh dan luar biasa.

Tak heran kalau Li Sian soat bersikap begitu terbuka dan sok berjiwa besar dg mempersiapkan jago-jago lihaynya utk melakukan penyergapan disini.

Lalu apakah tujuan dari rencana busuknya itu?

Sementara dia berpikir tentang kejadian ini, tubuhnya dg cekatan telah melejit kesana kemari utk meloloskan diri dari ancaman musuh....

Dalam hati kecilnya dia sudah mempunyai perhitungan, Ong Thian siang tak boleh dianggap enteng, sebab sedikit salah tingkah berarti jiwanya besar kemungkinan akan terluka ditangannya.

Akan tetapi Ong thian siang sendiri pun sama sekali tak berayal, ketika melihat Kho Beng menghindarkan diri sekali lagi kesisi arena, permainan senjata panji kupu-kupunya segera diperketat, utk ketiga kalinya dia melancarkan serangan kembali utk menggencet pemuda tsb, bahkan jurus serangan yg digunakan kali ini jauh lebih ganas dan hebat lagi....

Setelah berhasil menghindarkan diri utk ketiga kalinya, tiba-tiba saja pemuda tsb teringat akan sebuah jurus serangan pedang yg mungkin bisa digunakan utk mematahkan serangan lawan, jurus tsb merupakan salah satu jurus ciptaannya sendiri, yakni gabungan dari dua jurus yg yg berbeda diantara tiga puluh enam jurus ilmu pedang Thian goan kiam hoat.

Walaupun dia tak mengetahui sampai dimanakah kehebatan dari jurus ciptaannya itu, namun dalam keadaan yg begini kritis dan berbahaya, dia tak mau berpikir panjang, jurus serangan tsb segera dipersiapkan utk dipakai.

Begitulah, sambil mempersiapkan pedangnya dia segera membentak keras-keras.

"Kalau toh kau mengharapkan kematianku, nah silahkan mencoba dulu jurus Thian goan hap it ku ini!"

Pedangnya diputar membentuk satu gerak melingkar, ditengah lingkaran bunga pedang yg membentuk garis bagaikan pelangi, secepat kilat dia tusuk tubuh Ong Thian siang.

Menyaksikan datangnya ancaman tsb, Ong Thian siang sangat terkesiap, tergopoh-gopoh dia memutar senjata panji kupu-kupu utk menyongsong datangnya ancaman tsb.

Akan tetapi jurus pedang dari Kho Beng benar-benar luar biasa hebatnya, sebaris cahaya pelangi tsb tiba-tiba saja berubah menjadi hujan pedang yg menyelimuti seluruh angkasa.

Baru sekarang Ong Thian siang menyadari betapa lihay dan luar biasanya jurus pedang dari ilmu yg tercantum dalam pusaka Thian goan bu boh.

Walaupun dia mengetahui akan kelihaian ilmu pedang Thian goan kiam hoat, tapi sayang keadaan sudah terlambat.........

Terdengar suara dengusan tertahan bergema memecah keheningan, tampak Ong Thian siang mundur dg sempoyongan, sementara dadanya sudah berlubang oleh tusukan, darah segar menyembur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Berubah hebat paras muka belasan orang jago pedang lainnya, mereka sangat terperanjat oleh peristiwa yg tak terduga sebelumnya itu.

Begitu berhasil dg seragannya, Kho Beng segera membentak keras-keras.

"Apabila kalian semua tak ingin hidup terus, silahkan saja maju kemuka utk menerima kematian!"

Waktu itu, meskipun Ong Thian siang sudah terluka oleh tusukan pedang, agaknya luka yg dideritanya tdk begitu parah. Ia segera tertawa seram sesudah mendengar perkataan itu, katanya.

"Haaahhh.....haaahh...haaahh.....sebuah jurus serangan dari ilmu pedang Thian goan kiam hoat, ilmu pedang sakti mana yg sudah punah ratusan tahun lamanya, sekarang digunakan lagi utk menghadapi diriku lewat kau........"

Lalu dg sorot mata berkilau tajam, dia berkata lebih jauh.

"Asal kau mampu membunuh habis diriku serta kedelapan belas orang anak buahku ini, akan kubiarkan kau meninggalkan bukit Cian san ini dlm keadaan hidup."

"Heeeh....heeehh....heeehh...kau anggap aku tak tega utk melakukannya?"

Jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.

"Hmmm, justru aku kuatir kau tdk memiliki kemampuan sehebat itu......"

Jengek Ong Thian siang dg suara keras. Menyusul suara pekikan nyaring yg menembusi angkasa, katanya lebih jauh.

"Aku akan bertarung seratus jurus lagi melawan dirimu!"

Pada saat itulah tiba-tiba muncul empat sosok bayangan manusia dari balik hutan sana.

Ketika Kho Beng berpaling dan mengetahui siapa yg datang, ia menjadi kegirangan setengah mati, ternyata mereka tak lain adalah Molim, Mokim, Hapukim serta Rumang.

Saat itu keempat orang anak buahnya telah meloloskan senjata masing-masing siap utk bertarung, kepada Kho Beng teriaknya lantang.

"Cukong tak usah gugup, kami datang utk melindungimu!"

"Kemarilah kalian!"

Seru Kho Beng lantang.

"bantu aku utk bertarung mati-matian melawan mereka semua!"

Keempat orang itu segera melayang turun persis disamping Kho Beng, suasana pun menjadi amat tegang, nampaknya suatu pertarungan sengit segera akan berlangsung.

Mendadak........

Disaat keadaan makin kritis dan pertarungan sengit segera akan berkobar itulah, tiba-tiba terdengar suara gembrengan yg dibunyikan bertalu-talu berkumandang datang dari arah perkampungan.

Mendengar suara tsb, Ong Thian siang menjadi terkejut sekali, buru-buru dia mengulapkan tangannya seraya berkata.

"Cepat kembali keperkampungan!"

Kho Beng sendiri pun agak tertegun melihat perubahan tsb, dia tak habis mengerti apa gerangan yg telah terjadi. Sementara itu Ong Thian siang telah berkata dg dingin.

"Untuk sementara waktu kubebaskan dirimu hari ini, tapi kau mesti mengerti, setiap waktu setiap saat nyawamu selalu berada dalam cengkeraman kami."

Habis berkata, dia segera memimpin belasan orang jago pedangnya dan mengundurkan diri dari sana, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Menanti bayangan Ong thian siang sekalian sudah hilang dari pandangan.

Kho Beng baru berkata dg suara rendah.

"Mari kita pergi dari sini!"

"Cukong!"

Seru Rumang keras-keras.

"tua bangka tadi telah kau lukai dg babatan pedang, mengapa kau biarkan dia melarikan diri dg begitu saja?"

Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Walaupun dia sudah menderita luka, namun bila benar-benar terjadi pertarungan yg sengit, ditambah pula dg belasan orang jago pedangnya, aku rasa siapa yg menang siapa yg kalah masih belum dapat diramalkan mulai sekarang......."

Kemudian setelah memperhatikan sekejap keadaan disekeliling sana, katanya lebih jauh.

"Disamping itu, pikiranku sangat kalut dan tidak mempunyai semangat utk melanjutkan pertarungan, hayo kita pergi saja dari sini."

"Cukong"

Kembali Rumang berteriak.

"Kau belum bercerita kepada kami bagaimana kisahmu melarikan diri dari sana.......apakah kau benar-benar menyerahkan kitab pusaka Thian goan bu boh itu kepada mereka?"

Dg cepat Kho Beng menggeleng.

"Dikemudian hari kau akan mengerti dg sendirinya, sekarang lebih baik kita pergi dulu."

"Tapi kita hendak kemana?"

Tanya Hapukim.

"Terserahlah, mau kemana pun boleh saja."

Mendadak seperti teringat akan sesuatu, dia berseru lagi.

"Mari kita pergi mencari tempat utk minum arak!"

Dg perasaan gembira yg meluap Rumang segera berseru.

"Haaaa.......haaaah.......haaaah...bagus sekali, kita pergi minum arak, sudah lama sekali aku berpantang minum arak....."

Maka mereka berlima pun segera berangkat menuruni bukit.

Menjelang senja, Kho Beng bersama Molim, Mokim, Rumang serta Hapukim sekalian sudah berada dalam sebuah rumah makan kecil dikaki bukit, disitu mereka memesan sayur dan arak serta bersantap dg lahapnya....

Walaupun arak diharapkan bisa menghilangkan segala kemasgulan, namun kobaran api dendam yg membara membuat perasaan Kho Beng tak pernah bisa tenang.

Beberapa poci arak yg berpindah keperut membuat pemuda tsb mulai dipengaruhi oleh air kata-kata, maka mereka berlima pun melewatkan malam yg panjang itu didalam rumah makan kecil ini.

Mereka berlima tidur dalam sekamar, namun mereka tidak dapat memejamkan mata, terutama Kho Beng.

Pikiran dan perasaannya waktu itu sangat kalut dan tak tenang, bagaimana pun dia berusaha utk memejamkan mata namun tak setitik rasa ngantuk pun yg menyerang dirinya.

Ketika Molim melihat Kho Beng belum juga dapat tidur, tanpa terasa segera ia membujuk.

"Cukong, kau harus pergi tidur sebentar, dirisaukan pun persoalan tsb tak akan terselesaikan dg sendirinya."

"Ehmmm, kau pergilah tidur sendiri!"

Sahut Kho Beng dg suara hambar. Tapi sambil tertawa paksa Molim segera berkata lagi.

"Aku merasa amat kesal berada didalam kamar, biar aku berjalan-jalan sebentar diluar kamar sambil mencari udara segar..."

Kho Beng sama sekali tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan sebab dalam keadaan seperti saat ini, dia pun mempunyai perasaan yg sama seperti Molim, Cuma saja ia malas utk keluar dari kamar.

Sementara itu Molim sudah keluar dari kamarnya, ternyata dia bukan pergi berjalan-jalan seperti yg diutarakan tadi, begitu sampai diluar halaman, dg sekali lompatan ia sudah melewati pagar pekarangan dan bergerak menuju keluar kota dg kecepatan tinggi.

Lebih kurang setengah peminuman the kemudian , didepan situ muncul sebuah kuil dewa tanah, Molim segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu dg seksama kemudian menerobos masuk kedalam kuil tadi........

Ditengah kegelapan malam yg mencekam, gerak gerik Molim tak ubahnya seperti sukma gentayangan, tanpa menimbulkan sedikit suarapun dia menghampiri bangunan kuil tsb.

Kemudian setelah memperhatikan sekejap seputar bangunan kuil, dia bersiul pelan.

Dari dalam kuil segera segera bergema suara langkah kaki manusia, disusul seseorang menegur dg suara yg rendah dan dalam.

"Saudara Mo kah yg datang?"

"Yaa, betul, siaute yg datang?"

Jawab Molim.

Orang yg berada dalam kuil itu tidak berbicara apa-apa lagi, dia membuka pintu kuil tsb lebar-lebar.

Molim tdk berayal lagi, setelah memperhatikan sekali lagi sekeliling tempat itu, dg langkah cepat dia berjalan masuk kedalam ruangan kuil.

Suasana dalam kuil itu gelap gulita sehingga boleh dibilang susah utk melihat kelima jari tangan sendiri, setibanya disitu, Molim segera menghentikan langkahnya dan berusaha utk melihat jelas pemandangan disekelilingnya.

Ternyata yg barusan membukakan pintu adalah seorang manusia berkerudung yg bertubuh kurus kering, waktu itu dia sudah mengundurkan diri kedepan ruangan dan duduk bersila disitu.

Gerak gerik serta tingkah lakunya nampak misterius sekali.

Tiba-tiba saja dia menggapai kearah Molim dan menyuruhnya duduk, setelah itu baru tegurnya.

"Apakah kau datang kemari seorang diri?"

Molim manggut-manggut tanpa menjawab. Kembali manusia berkerudung itu berkata.

"Sewaktu datang kemari apakah kau telah memperhatikan belakang tubuhmu? Apakah ada orang yg membuntuti jejakmu?"

"Tidak ada!"

Jawaban Molim sangat meyakinkan. Dg persaan amat puas manusia berkerudung itu manggutmanggut, katanya lagi.

"Bagus sekali, tapi selanjutnya gerak gerikmu harus lebih berhatihati lagi, asal barang itu sudah didapatkan, pokoknya aku tak akan lupa utk memberikan sebagian kepadamu, bahkan masih ada balas jasa lainnya lagi....."

Mendengar perkataan tsb, Molim segera berkata setelah termenung sejenak.

"Sayang aku tak punya kesempatan utk menggeledahnya pada hari ini, sehingga aku pun tak tahu apakah barang tsb masih ada ditangannya atau tidak?"

Manusia berkerudung itu segera tertawa dingin.

"Persoalan ini tak perlu kau kerjakan secara tergesa-gesa, yg penting jangan sampai menimbulkan kecurigaan, sebab persoalan tsb bisa membuat semua masalah jadi terbengkalai."

"Dalam soal ini kau tak perlu kuatir, aku bisa bekerja dg berhatihati sekali!"

Buru-buru Molim berjanji. Manusia berkerudung itu segera mengangguk.

"Selanjutnya aku bisa membuntutimu secara diam-diam dan sering melakukan kontak dg mu, tapi ada satu hal yg perlu kujelaskan lebih dulu kepadamu sebelum akhirnya terjadi..."

"Soal apa?"

Tanya Molim serius. Sambil menarik muka, manusia berkerudung itu berkata dg suara dingin.

"Bila kau berani menghianati diriku maka jiwamu pasti akan kucabut, nah kuharap kau pertimbangkan persoalan ini dg sebaikbaiknya, jangan kau pergunakan nyawa sendiri sebagai barang permainan."

Molim merasakan sekujur badannya bergetar keras, namun mulutnya tetap membungkam seribu bahasa. Kembali manusia berkerudung itu berkata sambil tertawa hambar.

"Aku tak lebih hanya bermaksud memberi tahukan soal peraturan perguruanku kepadamu, semoga saja kau bisa bekerja dg berhatihati sekali....."

Kemudian setelah memandang sekejap sekitar tempat itu, katanya lagi sambil mendengus.

"Hmmm, sekarang kau boleh pergi dari sini!"

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Molim segera menjura dan mengundurkan diri dari ruangan kuil.

Sewaktu tiba dimuka pintu, kembali dia memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian baru mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan lenyap dibalik kegelapan sana.

Tidak lama setelah Molim meninggalkan tempat itu, dari depan pintu kuil muncul kembali seorang perempuan berbaju hijau, perempuan itu menutup wajahnya dg kain kerudung hijau, gerak geriknya pun sangat misterius....

Walaupun Molim tidak menyadari akan kehadiran perempuan tsb, namun setiap gerak gerik, tingkah laku serta pembicaraannya, agaknya sudah diketahui dg jelas oleh perempuan berbaju hijau itu.

Sementara itu tampaknya kakek berkerudung yg berada dalam ruangan kuil pun telah mengetahui akan kehadiran perempuan berbaju hijau itu, terdengar ia menegur sambil tertawa dingin.

"Sobat yg berada diluar, apa gunanya kau sembunyi disitu? Aku sudah tahu kalau kau telah mengintip diluar sejak tadi."

Pada mulanya perempuan berbaju hijau itu kelihatan agak terkejut, namun setelah sangsi sejenak, dg langkah lebar dia berjalan masuk kedalam ruangan kuil itu, katanya sambil tertawa hambar.

"Ketajaman mata anda sungguh mengagumkan, boleh aku tahu siapa anda?"

Kakek ceking berkerudung hitam itu mendengus dingin.

"Hmmm, seharusnya akulah yg menanyakan siapa namamu, hayo cepat sebutkan identitasmu yg sebenarnya!"

Perempuan berbaju hijau itu segera tertawa.

"Selama kau menyembunyikan nama serta identas yg sebenarnya, aku pun akan merahasiakan nama asliku utk sementara waktu, nah bagaimana kalau kita masing-masing tak usah saling bertanya soal nama?"

Kakek ceking itu tertawa lebar.

"Kau betul-betul amat binal, baiklah, boleh aku tahu ada urusan apa kau datang kemari?"

"Hanya kebetulan lewat!"

"Haaaahh.....haaahh.....haaahh.....kau anggap begitu banyak kejadian yg kebetulan disunia ini?"

Seru kakek ceking sambil tertawa terbahak-bahak.

"apalagi ditengah malam buta, kebetulan amat kau lewat sini?"

Perempuan berbaju hijau itu sama sekali tidak kelihatan canggung, malah ia menjawab sewajarnya.

"Bila kau bersikeras tak percaya, apa boleh buat? Untung saja kita tak pernah saling mengenal, lagipula tiada ikatan dendam atau sakit hati, asal tidak saling mencampuri urusan orang lain, urusan kan beres?"

Seraya berkata dia segera membalikkan badan dan siap beranjak pergi dari situ.

"Tunggu dulu!"

Mendadak kakek ceking itu membentak keras. Sambil menghentikan langkahnya, nona berbaju hijau itu menegur.

"Apakah tuan masih ada urusan lain?"

"Sebelum aku mengetahui identitasmu yg sesungguhnya sampai jelas, jangan harap kau bisa meninggalkan tempat ini dg selamat."

Nona berbaju hijau itu segera tertawa manis, katanya.

"Aku bukan termasuk manusia yg takut digertak orang, bila kau benar-benar ingin mengetahui identitasku yg sesungguhnya, hal ini pun tidak terlalu sulit, asal saja kau melepaskan kain kerudung yg menutupi wajahmu itu, aku pun bersedia mengemukakan identitasku yg sesungguhnya."

Kakek ceking itu mendengus dingin.

"Hmmm, tak kusangka kau si budak susah sekali utk dihadapi, baiklah akan kuberi kesempatan kepadamu utk menyaksikan paras mukaku yg sebenarnya!"

Sambil berkata dia segera melepaskan kain kerudung yg menutupi wajahnya itu.

Ternyata paras muka dibalik kain kerudung tsb adalah selambar wajah yg tua, jelek lagipula kuning kepucat-pucatan, selambar wajah yg sangat tidak menarik.

Sampai lama sekali nona berbaju hijau itu mengamati paras muka kakek ceking itu, kemudian katanya.

"Aku sama sekali tidak kenal dg mu...."

Tapi setelah memutar biji matanya dan tertawa merdu, kembali ujarnya.

"Setelah tuan berani menunjukkan wajah aslimu, aku rasa tentunya kau berani juga utk menyatakan nama aslimu bukan?"

"Aku bernama Thia bu ki"

Kakek ceking itu berkata dg suara sedingin es.

"Ooooh......dan aku bernama To Ku giok!"

Nona berbaju hijau itu menjelaskan.

"Kau berasal dari perguruan mana?"

"Go bi pay!"

Tiba-tiba Thia bu ki bangkit, lalu katanya dg suara dingin.

"Ooooh, rupanya kau adalah murid perguruan kenamaan, To ku lihiap, aku ingin mencoba kemampuanmu!"

"Apa yg hendak kau coba?"

"Ingin kubuktikan benarkah kau berasal dari perguruan Go bi pay?"

Tidak sampai perkataan itu selesai diucapkan, sebuah pukulan yg maha dahsyat telah dilepaskan.

Serangan ini dilancarkan dg kecepatan luar biasa, angin pukulan yg sangat berat seperti ditindih bukit karang langsung menggulung kedepan dan mengancam tubuhnya.

Cepat-cepat nona berbaju hijau itu berkelebat kesamping utk meloloskan diri, serunya.

"Hey, bagaimana sih kau ini? Kan tadi Cuma ingin mengetahui identitasku? Kenapa malah menyerang secara sungguhan?"

Thia bu ki mendengus dingin.

"Hmmm, aku tak percaya kalau tak mampu mencoba kepandaian silat aslimu....."

Telapak tangan kenennya berputar membentuk satu lingkaran, sekali lagi ia melancarkan sebuah sapuan yg maha dahsyat.

Serangan yg dilancarkan kali ini jauh berbeda dg seranbgan yg pertama kali tadi, tampak bayangan berlapis-lapis seolah-olah serangan sungguhan seperti juga gerak tipuan, yg jelas sekujur badan Tu ku giok terkepung begitu rapat dibalik angin pukulannya.

Tempaknya sinona berbaju hijau itu tidak menyangka kalau tenaga dalam yg dimiliki kakek ceking itu sedemikian tinggi dan berbahaya, tergopoh-gopoh dia menghindarkan diri kesamping, tapi bersamaan waktunya dia meloloskan pedang yg tersoren dipunggungnya.

Mendadak Thia Bu ki berseru sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah....haaaaah........haaaah.........aku memang berharap kau berbuat demikian!"

"Kalau toh kau begitu mendesak diriku habis-habisan, sekarang rasakan sebuah tusukan pedangku lebih dulu!"

Bentak nona berbaju hijau itu dg penuh amarah.

"Sreeeeet........!"

Selapis cahaya pedang yg amat menyilaukan mata segera menyebar kedepan dg sangat hebatnya.

Ditengah pancaran sinar pedang yg menyebar keempat penjuru, dalam sekejap mata wailayah seluas dua kaki lebih sudah terkkurung oleh selapis hawa dingin yg menggidikkan hati.

Dg amat cekatan Thia bu ki menarik diri sambil melompat mundur, serunya kemudian sambil tertawa tergelak.

"Haaaa........haaaa.....haaaahhh....sebuah jurus "angin menderu diempat penjuru"

Yg sangat hebat, ternyata kau memang pandai ilmu pedang aliran Go bi, maaf, maaf......"

Tidak sampai perkataan tsb selesai diucapkan, ia sudah melejit ketengah udara dan meluncur keluar dari kuil dewa tanah yg gelap gulita, dalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Memandang hingga bayangan tubuh Thia Bu ki pergi jauh, si nona berbaju hijau itu baru menghembuskan napas panjang, gumamnya lirih.

"Huuuh, sungguh berbahaya!"

Pelan-pelan dia melepaskan kain kerudung mukanya sehingga muncullah selembar wajah yang muda lagi cantik jelita, ternyata dia bukan To Ku giok seperti yg diakui tadi, melainkan si walet terbang Chin Sian kun.

Setelah membereskan rambutnya yg kusut, dia menyeka peluh dingin yg sempat membasahi seluruh tubuhnya, dalam hati ia berpikir.

"Sungguh beruntung aku dapat menghadapi setiap perubahan dg cukup cekatan kalau tidak........huuuuh, dg kepandaiannya yg begitu tinggi, sudah jelas aku bukan tandingannya.......apalagi bila sampai aku salah langkah, bisa jadi sebuah rahasia kebohonganku bakal terbongkar........"

Siapa tahu baru saja hatinya menjadi lega, kembali tampak bayangan hitam berkelebat lewat dari luar kuil, ternyata Thia Bu ki bagaikan bayangan sukma gentayangan saja telah melayang kembali dihadapan matanya.

Dalam tertegun dan kegetnya, buru-buru Chin Sian kun mengenakan kembali kain cadarnya.

Lalau menegur.

"Hey, kenapa kau balik kembali setelah pergi tadi?"

Dg wajah dingin bagaikan es, Thia Bu ki menjawab.

"Tadi aku sudah lupa menanyakan satu hal kepadamu, apakah kau bersedia menjawab pertanyaanku itu sekarang?"

Chin Sian kun sengaja tertawa lebar katanya.

"Silahkan tuan bertanya, asal aku tahu pasti akan kuberikan jawaban yg sebaik-baiknya."

Thia Bu ki manggut-manggut, katanya kemudian.

"Bagus sekali, bolehkah aku tahu kemanakah tujuan kepergianmu yg sebenarnya?"

Chian Sian kun menjadi tertegun.

"Tentang soal ini........"

Ia memainkan biji matanya sebentar lalu sambil tertawa hambar katanya lagi.

"Aku rasa persoalan ini tiada sangkut pautnya dg diri tuan bukan...?"

"Hmmm, siapa tahu justru ada sangkut pautnya!"

Jawab Thia Bu ki dingin.

"Aku bermaksud naik kebukit Cian san"

Kata si nona kemudian setelah sangsi sebentar.

"Mau apa kau naik kebukit Cian san?"

Desak Thian Bu ki lebih lanjut.

"Saudara, kenapa kau menanyakan persoalan ini sampai mendetail? Apa maksudmu yg sebenarnya?"

Dg suara berat dan dalam Thia Bu ki berseru.

"Kuanjurkan kepadamu lebih baik jawab semua pertanyaanku dg sejujurnya, tak usah mencoba berlagak sok pintar dg mengarang cerita bohong utk menipu diriku, sebab hal ini justru akan merugikan dirimu sendiri."

Diam-diam Chin Sian kun menjadi tertegun, tanpa terasa ia berpikir dalam hati kecilnya.

"Sungguh tajam pandangan mata orang ini, nampaknya aku harus menghadapinya secara berhati-hati sekali, tapi manusia dari pihak manakah dia? Mengapa dia memeriksa diriku seteliti dan secermat ini?"

Tanpa terasa terbayang kembali olehnya tingkah laku Molim yg dijumpainya tadi serta gerak gerik si kakek ceking yg mencurigakan ini, mungkinkah dia adalah dari pihak lawan atau mungkin juga anak buah dari siluman perempuan dewi In nu yg bersekongkol dg keempat jago asing tsb utk melakukan sesuatu yg tidak menguntungkan bagi Kho Beng, dan sekarang takut rahasia tsb terbongkar..

Ingatan tsb melintas lewat dalam benaknya dalam waktu singkat, belum sempat dia mengucapkan sesuatu, Thia Bu ki telah berkata lagi sambil tertawa dingin.

"Nona, mengapa kau tidak berbicara lagi? Apakah kau belum memperoleh jawaban yg tepat utk menjawab pertanyaanku tadi?"

Begitu mengambil keputusan didalam hati kecilnya, sambil tersenyum Chin Sian kun berkata.

"Apa yg tuan duga memang tepat sekali, aku memang sedang mempertimbangkan jawabanku!"

Jawaban yg secara gamblang ini justru sama sekali diluar dugaan Thia Bu ki, utk sesaat lamanya ia menjadi tertegun dibuatnya.

"Aku benar-benar tak habis mengerti"

Katanya kemudian.

"masa utk berbohong saja kau perlu mempertimbangkan kembali?"

"Tentu saja harus kupertimbangkan masak-masak, sebab tugas yg kupikul dalam perjalananku kali ini berat sekali, aku tak tahu harus memberi jawaban secara sejujurnya ataukah lebih baik mencarikan alasan yg lain utk membohongimu?"

Thia Bu ki segera tertawa seram.

"Haaaahhh......haaaah.......haaaaahhh....nona memang seorang yg amat jujur, tapi bagaimanapun besar dan pentingnya persoalan tsb, lebih baik kemukakan saja secara blak-blakan, aku berjanji akan menyimpan rahasiamu sebaik-baiknya dan pasti tak akan kubocorkan kepada siapa pun....."

Tapi Chin Sian kun segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Mulut manusia ibarat mulut botol, asal didalamnya sudah terisi cairan maka setiap saat bisa meleleh keluar kembali, itulah sebabnya aku tak usah menjawab saja, karena sekali berbicara toh lebih baik diutarakan keluar sama sekali."

"Bicara pulang pergi, sebenarnya kau bersedia utk berbicara atau tidak...?"

"Tentang persoalan ini, bila tuan bersedia membatalkan pertanyaanmu itu tentu saja aku merasa amat girang Cuma bila aku tak bersedia menjawab sudah pasti tuan akan menaruh kesalah pahaman kepadaku........"

Thia Bu ki tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaa...haaah....haaaahhhh....aku rasa dalam hal ini nona sudah mengetahui secara pasti, yaaa aku memang harus mengetahui rahasia kepergian nona kebukit Cian san ini, kalau tidak, aku kuatir kita susah utk berpisah pada malam ini!"

Chin Sian kun segera termenung sambil berpikir sejenak, setelah itu baru ujarnya.

"Kalau toh tuan ingin bersikeras ingin tahu boleh saja Cuma aku pun mempunyai sebuah syarat!"

"Cepat katakan apa syaratmu itu?"

"Sederhana sekali kuharap kau mengemukakan dulu identitasmu dan sesungguhnya merupakan jago dari aliran mana?"

Thia Bu ki termenung pula beberapa waktu lalu sambil tertawa seram katanya.

"Heeeehhh....heeeehh...heeeehhhh....boleh saja kalau kau ingin mengetahui identitasku yg sebenarnya Cuma aku kuatir setelah kau mengetahui identitasku yg sebenarnya, mungkin sulit bagimu utk meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup."

"Tapi bagi diriku, sebelum kutahu identitasmu yg sebenarnya, sulit pula utk memberitahukan maksud tujuanku yg sebenarnya."

Mendengar perkataan itu, sepatah demi sepatah kata Thia Bu ki segera berkata.

"Baiklah, dengarkan baik-baik, aku dari marga Thia........"

Cepat-cepat Chin Sian kun menggoyangkan tangannya seraya menukas.

"Tadi tuan sudah menyebutkan nama aslimu dan aku rasa namamu telah kuketahui secara jelas...."

Kemudian sambil memutar biji matanya dan tertawa, ia berkata lebih lanjut.

"Oleh karena nama besar tuan kedengarannya masih sangat asing dalam dunia persilatan, sebaliknya ilmu silat yg kau miliki justru termasuk dalam golongan kelas satu, maka kejadian ini benarbenar membuat hatiku bingung dan tak habis mengerti."

"Perkataanku toh belum selesai kuucapkan, lebih baik kau jangan menimbrung lebih dulu!"

"Baiklah"

Sahut Chin Sian kun kemudian sambil tertawa.

"lanjutkanlah perkataanmu tadi."

Setelah mendengus Thia Bu ki berkata.

"Aku adalah salah satu diantara dua belas pelindung hukum dari dewi In nu."

Dalam hati kecilnya Chin Sian kun merasa amat terperanjat, segera pikirnya.

"Ternyata apa yg kuduga memang benar, kalau begitu kedatangan Kho Beng kemari tidak menghasilkan apa-apa, tapi tidak pula mengalami musibah. Hanya disekelilingnya telah dipersiapkan orang suatu perangkap yg mengerikan hati........aku mesti membuat rencana yg sebaik-baiknya utk menghadapi semua persoalan itu!"

Sementara dalam hati kecilnya berpikir, diluaran sahutnya.

"Aku amat jarang berkelana dalam dunia persilatan, pengetahuanku amat cetek, bolehkah aku tahu siapa sih dewi In nu itu?"

Kembali Thia Bu ki mendengus.

"Dikemudian hari kau toh akan mengetahui dg sendirinya sekarang......hayo cepat kemukakan rahasiamu sendiri?"

Dg wajah serius Chin Sian kun segera berkata.

"Sesungguhnya maksud perjalananku kali ini bukan terhitung suatu rahasia besar, kau toh tahu semua umat persilatan sedang melacaki jejak si Kedele Maut? Aku dengar si Kedele Maut tak lain adalah kakak perempuan Kho Beng dan secara kebetulan aku berhasil mendapat kabar yg mengatakan Kho Beng berada disini, karena itulah aku sengaja hendak naik kegunung utk menyelidiki jejaknya!"

Mendengar perkataan itu, Thia Bu ki segera tertawa terbahakbahak.

"Haaaahhh.....haaaahhh..........haaahhhh....rupanya begitu, kenapa tidak kau ucapkan sedari tadi."

"Darimana aku bisa tahu kalau tuan bukan komplotan dari Kho Beng?"

"Sekarang kau harus mengerti"

Kata Thia Bu ki sambil tertawa.

"bukan saja aku bukan komplotan dari Kho Beng, malah sebaliknya merupakan musuh besarnya?"

"Kalau begitu sudah terjadi kesalah pahaman diantara kita!"

Seru Chin Sian kun sambil tertawa cekikikan.

"Yaa, memang sudah terjadi kesalah pahaman......"

Seelah berhenti sejenak, terusnya lagi dg suara dalam.

"Setelah kesalah pahaman diantara kita telah hilang, aku pun bersedia memberitahukan pula sebuah rahasia besar kepadamu?"

"Rahasia apakah itu?"

Buru-buru Chin Sian kun bertanya.

"Kedele Maut yg sedang kalian cari-cari pun berada disini!"

Bisik Thia Bu ki sambil tertawa misterius.

"Dimana?"

Tanya sinona agak tertegun.

"Tentu saja diatas bukit Cian san!"

"Orang she Kho itu?"

"Dia berada didalam sebuah rumah penginapan dikota kecil dibawah bukit sana, bila nona hendak mencarinya, inilah saat yg paling tepat......"

Lalu setelah berhenti sejenak, kembali ia melanjutkan.

"Tapi kuanjurkan kepada nona, lebih baik tak usah kesana lagi!"

"Kenapa?"

"Sederhana sekali, sebab berbicara menurut kepandaian silat yg nona miliki, entah harus menghadapi Kho Beng atau si Kedele Maut pribadi, kau masih ketinggalan jauh sekali.......maaf, aku masih ada urusan lain dan tak dapat menemanimu lebih lanjut!"

Tiba-tiba saja dia melejit ketengah udara lalu meluncur pergi meninggalkan tempat tsb d kecepatan tinggi.

Memandang bayangan punggung Thia Bu ki yg pergi menjauh utk kedua kalinya, kembali Chin Sian kun menghembuskan nafas panjang secara diam-diam.

ooooOOoooo Ketika mendusin kembali dari tidurnya, Kho Beng menemukan matahari sudah jauh berada diatas angkasa, ia sadar waktu sudah siang dan buru-buru melompat bangun dari atas ranjang.

Terbayang kembali perbuatannya mabuk-mabukan semalam, tanpa terasa ia menghela napas panjang.

Belum habis dia menghela napas, tiba-tiba dari luar jendela kedengaran suara seseorang mendehem lalu menegur.

"Apa cukong telah bangun?"

Ternyata Molim yg menyapanya dari luar jendela.

"Ada urusan apa?"

Kho Beng segera bertanya.

"Oooh, tak ada urusan apa-apa"

Jawab Molim dg suara lirih.

"ketika kulihat cukong telah mendusin tadi, aku takut kau hendak memerintahkan sesuatu, maka aku segera menegur lebih dulu."

Kho Beng terharu sekali melihat perhatian anak buahnya, buruburu dia berkata.

"Kemana perginya adikmu serta Hapukim dan Rumang?"

Ketiga orang yg disebutkan namanya segera mengiakan dari luar pintu kamar. Kho Beng segera berkata lagi.

"Aku benar-benar telah menyusahkan kalian berempat, aaai....padahal kita sudah termasuk teman senasib sependeritaan, selanjutnya sikap kalian tak perlu muncuk-muncuk dan menghormat, anggap saja diriku saudara kalian sendiri."

"Tidak, hamba tak berani"

Serentak keempat orang itu menjawab bersama-sama.

Menyusul kemudian tampak keempat orang itu mendorong pintu dan berjalan masuk kedalam ruangan lalu berdiri tunduk disisi ruangan, sikap mereka jauh berbeda daripada sikapnya diwaktuwaktu yg lampau.

Secara tiba-tiba saja Kho Beng mendapat kesan bahwa sifat liar dan kasar keempat orang tsb seakan-akan tersapu lenyap hingga tak berbekas, tak terlukiskan rasa gembira didalam hati kecilnya.

Sementara dia masih termenung, terdengar Molim berkata lagi.

"Cukong, apakah kau mempunyai sesuatu rencana pada hari ini?"

Kho Beng berjalan mondar mandir didalam ruangan, lama kemudian ia beru berkata sambil menghela napas.

"Justru persoalan inilah yg merisaukan hatiku sekarang, sebenarnya aku berniat akan turun tangan menghadapi perempuan siluman itu, apa daya enciku justru berada disitu, dilain pihak aku ingin meninggalkan tempat ini, tapi akupun kuatir enciku mengalami bahaya maut, ......aaaai, pikiranku jadi amat bingung......."

Setelah sangsi berapa saat lamanya, sambil menggertak gigi dia berkata kemudian.

"Aku berniat menyelidiki perkampungan tsb sekali lagi pada malam nanti, paling tidak aku harus memperoleh bukti yg bisa membuat enciku percaya dg perkataanku!"

"Kalau toh cukong telah memutuskan demikian, setiap saat kami siap menantikan perintah."

"Kalian tak perlu mempersiapkan diri, sebab aku bermaksud pergi kesana seorang diri."

Kata Kho Beng sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

Jilid 23 Baru saja Molim hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia yg ramai bergema diluar pintu kamar, menyusul kemudian terdengar seseorang berseru dg nada suara gelisah.

"Kho sauhiap, apakah kau tinggal disini?"

Kho Beng menjadi tertegun setelah mendengar suara teriakan tsb, sebelum ia bertindak sesuatu, Molim telah membuka pintu kamar sambil menghadang ditengah jalan.

Ternyata orang yg berada diluar pintu adalah seorang pemuda berbaju ringkas berwarna hijau, wajahnya kelihatan gelisah sekali.

Dg perasaan keheranan Molim segera menegur.

"Darimana kau bisa mengenali majikan kami?"

Sebelum pemuda berbaju ringkas warna hijau itu menjawab, Kho Beng telah maju menyongsong seraya menegur.

"Cho toako...."

Ternyata pemuda ini adalah Cho Liu san, anak murid dari perguruan Sam goan bun. Cho Liu san memandang wajah Kho Beng sekejap, lalu katanya dg perasaan cemas.

"Oooh....saudara Kho, sungguh amat sulit mencari jejakmu!"

"Cho toako, silahkan duduk didalam kamar, entah dari siapa kau mendapat kabar kalau aku berada disini?"

Maka Cho Liu san pin dipersilahkan masuk dan mengambil tempat duduk, kemudian Kho Beng memperkenalkannya dg Molim sekalian, setelah itu dia baru berkata.

"Aku mendapat kabar kalau saudara Kho berada dilembah hati Buddha maka terburu-buru menyusul kesitu, disana bertemu dg Kim tayhiap bertiga, dari merekalah ku ketahui kalau saudara Kho telah berangkat kebukit Cian san, sudah banyak tempat disekitar bukit ini kulacaki, akhirnya dg susah payah berhasil juga kujumpai saudara Kho disini."

"Cho toako, sebenarnya ada urusan apa sih kau bagitu bernafsu mencariku?"

Tanya Kho Beng keheranan.

Cho Liu san kelihatan agak sangsi sejenak kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun tiba-tiba ia bertekuk lutut dan berlutut dihadapan Kho Beng.

Tentu saja Kho Beng dibuat tertegun, buru-buru dia membangunkan pemuda tsb dari atas tanah, kemudian katanya.

"Cho toako, sebenarnya apa yg terjadi? Hayo cepat bangun, mari kita bicara secara baik-baik."

Setelah berdiri, dg air mata bercucuran Cho Liu san berkata.

"Dg susah payah aku kesana kemari mencari Kho sauhiap, maksud tak lain adalah mohon bantuan dari Kho sauhiap agar bersedia menyelamatkan ciangbunjin kami."

"Apa yg terjadi dg Sun ciangbunjin?"

Tanya Kho Beng dg kening berkerut.

"Ciangbunjin kami telah disekap oleh pihak siau lim pay didalam ruangan Tat mo wan"

"Apa sebabnya pihak Siau lim pay menyekap Sun ciangbunjin?"

Seru Kho Beng tertegun. Cho Liu san menatap wajah Kho Beng lekat-lekat, lama kemudian ia baru berkata dg suara dalam.

"Konon hal ini disebabkan Kho sauhiap....."

"Gara-gara aku?"

Kho Beng semakin tercengang.

"Soal ini....."

"Pihak Siau lim pay mengirim surat kepada perguruan Sam goan bun yg isinya mengundang kehadiran ciangbunjin utk merundingkan masalah penangkapan kedele maut dikuil mereka, tentu saja ciangbunjin tak bisa menampik undangan tsb, siapa tahu begitu tiba dikuil Siau lim si, ternyata Phu sian ciangbunjin dari pihak Siau lim pay telah menuduh ciangbunjin sebagai komplotan dari kedele maut, dg tuduhan itulah akhirnya ciangbunjin disekap disana."

"Atas dasar apa mereka bisa menuduh begitu?"

Seru Kho Beng dg perasaan gusar.

"Konon pihak Siau lim pay menyalahkan pihak Sam goan bun karena tidak merahasiakan asal usul Kho sauhiap yg sebenarnya."

"Betul-betul kurangajar!"

Umpat Kho Beng sambil mendobrak meja keras-keras. Pelan-pelan Cho Liu san berkata lagi.

"Aku dengar Kho sauhiap pernah berbuat huru-hara didalam kuil Siau lim si, setiap umat persilatan boleh dibilang tahu semua, bagaimana sauhiap mencuri papan mereka untuk ditukar dg panji Hui im ki, tapi justru karena peristiwa tsb, aku takut semakin sulit buat ciangbunjin kami utk melepaskan diri!"

Kho Beng termenung sejenak, kemudian katanya.

"Lanyas apa yg mesti kulakukan menurut pendapat Cho toako?"

Dg setengah merengek, Cho Liu san berkata.

"Harap Kho sauhiap mau mengingat hubungan dimasa lalu dg menyelamatkan ciangbunjin suhu dari sekapan pihak siau lim pay!"

Kho Beng menjadi rada serba salah menghadapi permohonan tsb.

Dg para jago dari seluruh dunia persilatan ia telah mengikat janji setengah tahun, berarti dalam setengah tahun mendatang ia harus berusaha mencari bukti dan fakta utk membuktikan kebenaran pihaknya, disamping berusaha mencegah encinya melakukan pembantaian lagi secara besar-besaran.

Tapi diantara dua persoalan tsb, belum satu pun diantaranya mampu terlaksana, bahkan dg pihak perkampungan Ciu hong san ceng pun sudah terlibat dlm hubungan yg serba runyam, mustahil baginya utk memisahkan diri guna mencampuri masalah yg lain.

Oleh sebab itu setelah termenung beberapa saat lamanya, dia pun berkata.

"Harap Cho toako pulang dulu kerumah, sebab siaute harus menyelesaikan persoalan lebih dulu ditempat ini sebelum dapat berangkat ke Siau lim pay, tapi kau tak usah kuatir, aku pasti akan berusaha sekuat tenaga utk menyelamatkan Sun ciangbunjin dari sekapan orang-orang Siau lim si!"

Sementara itu Molim telah menyuruh pelayan menyiapkan hidangan, maka semua orang pun bersantap bersama.

Dg menahan rasa murung dan gelisah yg mencekam hatinya, Cho Liu san mengisi perut kenyang-kenyang lebih dulu sebelum berpamitan pulang keperguruannya.

Sepeninggal Cho Liu san, Kho Beng segera terjerumus kedalam keadaan serba salah, sepanjang hari dia mengurung diri didalam ruangan sambil memikirkan persoalan tsb sementara sepasang alis matanya berkernyit terus.

Lambat laun hari pun semakin gelap, setelah meninggalkan pesan kepada Molim sekalian, Kho Beng segera mengganti pakaiannya dg baju ringkas, lalu dibawah lindungan kegelapan malam berangkatlah dia menuju keatas bukit.

Ditengah kegelapan malam yg mencekam, sepanjang jalan ia tak pernah menjumpai penghadangan ataupun cegatan hingga tak selang berapa saat kemudian, anak muda tsb telah tiba diluar perkampungan Ciu hong san ceng........

Tapi apa yg kemudian terlihat, seketika membuat pemuda tsb menjadi tertegun.

Ternyata perkampungan tsb tercekam dalam kegelapan yg luar biasa, tak setitik cahaya lampu pun yg menerangi tempat tsb.

"Jangan-jangan perkampungan ini sudah tanpa penghuninya?"

Kho Beng berpikir dg perasaan ragu-ragu.

Sementara dia masih terperangah, tiba-tiba tampak bayangan hijau berkelebat lewat lalu tampak seorang nona berbaju hijau melompat keluar dari balik perkampungan dan melayang turun persis dihadapan anak muda tsb..........

Setelah memberi hormat, nona berbaju hijau itu berkata.

"Oooh, rupanya Kho sauhiap telah datang, sudah sejak tadi cengcu kami menantikan kedatanganmu!"

"Apa yg terjadi dg perkampungan kalian? Mengapa seluruh perkampungan tercekam dlm kegelapan?"

Tegur Kho Beng dg kening berkerut. Nona berbaju hijau itu segera tertawa.

"Perkampungan kami berada dalam keadaan aman, tak ada kejadian apa pun yg menimpa kami. Cuma saja cengcu kami telah menurunkan perintah melarang setiap orang menyulut lentera, itulah sebabnya perkampungan kami tercekam dalam kegelapan total!"

"Ooooh, rupanya begitu....."

Kho Beng manggut-manggut. Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, katanya lagi sambil tersenyum.

"Maksud kedatanganku kali ini bukan utk bertemu dg cengcu kalian, tolong nona sudi melapor kedalam, suruhlah enciku saja yg keluar utk bersua dg ku."

"Bila kedatangan Kho sauhiap dimaksudkan utk bertemu dg cicimu, mungkin kau merasa sangat menyesal!"

Kata nona berbaju hijau itu sambil tertawa. Kho Beng terkejut sekali, buru-buru ia bertanya.

"Kenapa?"

"Sebab encimu sudah meninggalkan perkampungan dan pergi ketempat lain!"

"Tak mungkin, dia pergi kemana?"

Tanya sang pemuda semakin tercengang lagi. Sambil menarik muka nona berbaju hijau itu berkata.

"Aku toh tak perlu membohongimu, juga tak ada kepentingan utk menipumu, paling tidak tak akan tahu kemana perginya encimu!"

"Kalau begitu segala persiapan yg diatur cengcu kalian masih mempunyai rencana busuk lainnya?"

Jengek Kho Beng sambil tertawa dingin. Nona berbaju hijau itu segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Bila Kho sauhiap ingin mengetahui duduk persoalan yg sebenarnya, kenapa tak bersua dg cengcu kami serta menegurnya secara langsung?"

Kho Beng mendengus.

"Bila ciciku benar-benar telah pergi dari sini, rasanya aku orang she Kho tidak mempunyai kepentingan lagi utk bersua dg cengcu kalian......"

Nona berbaju hijau itu segera memutar biji matanya yg jeli, kemudian ejeknya setengah menghina.

"Ooooh, mengerti aku sekarang, rupanya Kho sauhiap takut bertemu dg cengcu kami?"

"Aku orang she Kho tak pernah takut dg siapapun"

Seru Kho Beng amat gusar.

"Baiklah, harap nona sebagai penunjuk jalan, sekarang juga aku akan pergi menjumpai cengcu kalian!"

"Kalau memang begitu, silahkan Kho sauhiap mengikuti dibelakangku......"

Kata si nona sambil tertawa hambar.

Begitu selesai berkata, ia segera menggerakkan tubuhnya dg lincah seperti burung walet yg menembusi hutan, dlm waktu singkat dia telah ebrada didalam perkampungan.

Kho Beng mendengus dingin, dia tak berayal lagi dan segera menyusul dibelakang nona berbaju hijau itu, dg suatu gerakan ringan dia melayang turun dibalik halaman perkampungan.

Nona berbaju hijau itu segera berpaling sambil tertawa, kemudian meneruskan perjalanannya lagi dan langsung menuju kehalaman belakang, dimana ia baru menghentikan gerakan tubuhnya setelah tiba diatas sebuah bangunan loteng yg mungil.

Suasana dlm perkampungan itu tetap gelap gulita, tapi diatas bangunan loteng itu justru memercik cahaya lentera, tapi sinar yg begitu redup justru enambah suasana misterius da seram disekitar sana.

Sambil mempersiapkan diri secara baik-baik, Kho Beng memeriksa sekejap suasana diseputar bangunan loteng itu, kemudian baru tegurnya dg suara dingin.

"Berada dimanakah cengcu sekarang?"

"Tempat ini adalah kamar tidur cengcu!"

Sahut nona itu sambil tertawa misterius. Tentu saja Kho Beng merasa terperanjat sekali, dg suara dalam lagi berat hardiknya.

"Nona, mengapa kau mengajak aku datang kemari?"

"Bukankah Kho sauhiap bermaksud menjumpai cengcu kami?"

Kata sinona sambil tertawa.

"benar, tapi kalau toh ingin bertemu semestinya pertemuan diadakan diruang tamu atau tempat lain, masa kau mengajakku mendatangi kamar tidurnya....."

Kemudian setelah memutar biji matanya, kembali ia bertanya.

"Dimanakah orangnya sekarang?"

Belum selesai perkataan itu diucapkan, terdengar seseorang telah menegur dari balik kamar dg suara yg genit.

"Sian kim, siapa yg datang?"

"Oooh, Kho sauhiap telah tiba!"

Buru-buru nona berbaju hijau itu memberi laporan.

"Bagus sekali, silahkan dia masuk kedalam!"

Dibalik nada suaranya yg genit, lamat-lamat terdengar suara sedih yg rendah dan berat hingga kedengarannya begitu memilukan hati.

Kho Beng segera merasakan hatinya bergetar keras, utk sesaat dia menjadi ragu-ragu utk melanjutkan langkahnya.

Sementara itu sian kim, sinona berbaju hijau itu telah berkata dg suara rendah.

"Kho sauhiap, cengcu kami mengundangmu masuk kedalam, maaf kalau budak tak dapat menemani lagi!"

Habis berkata, dia segera menjejakkan kakinya keatas tanah dan sekejap mata kemudian bayangan tubuh sudah lenyap dari pandangan mata.

Kho Beng yg tak berhasil menghalangi kepergiannya merasa hatinya makin tak tentram, setelah termenung sesaat, akhirnya pelan-pelan dia berjalan mendekati pintu ruangan.

"Cengcu, ada urusan apa kau mengutus orang mengundangku kemari?"

Tegurnya lantang. Orang yg berada dalam ruangan itu segera tertawa terkekehkekeh.

"Heeh...heeeh....heeeeh...kau memang lucu sekali, toh bukan aku yg mengundang kehadiranmu utk kedua kalinya diperkampungan Ciu Hong san ceng ini, kalau mau bilang sebetulnya sauhiaplah yg datang mencari kami, bukan begitu?"

Meskipun hatinya amat gusar namun Kho Beng merasakan mulutnya tersumbat dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Terdengar suara genit itu berkata lebih jauh.

"Tapi setelah Kho sauhiap berkunjung kemari, berarti kau adalah tamu agung perkampungan ciu hong san ceng kami, sudah sepantasnya bila kuberi pelayanan yg sebaik-baiknya kepadamu"

"Kalau memang begitu, silahkan nona tampil kedepan utk bertemu....."

"Apa salahnya kalau kau yg masuk kedalam ruangan dan duduk disini.....?"

"antara lelaki dan perempuan ada batasannya, aku tidak berniat memasuki kamar tidur perempuan lain ditengah malam buta begini!"

Perempuan yg berada dalam kamar itu segera tertawa cekikikan, serunya geli.

"Buat muda mudi dunia persilatan, batasan seperti itu sudah tak berlaku lagi, Kho sauhiap, apakah kau tidak merasa bahwa pandangan semacam itu terlalu kolot?"

"Tapi..."

Tidak sampai Kho Beng sempat berbicara perempuan itu telah berkata lebih jauh dg suara genit.

"Oooh, rupanya Kho sauhiap takut aku mempersiapkan jebakan atau perangkap dalam ruangan ini sehingga kau tak berani memasuki sarang naga gua harimau ini"

Kho Beng menjadi naik pitam, segera teriaknya.

"Biarpun aku tahu nona sedang menggunakan siasat memanasi hatiku utk memancing aku masuk kedalam ruangan , tapi aku tetap akan mencoba memasukinya."

Sambil meraba gagang pedangnya, ia segera masuk kedalam ruangan dg langkah lebar.

Tapi begitu melangkah masuk kedalam ruangan, kontan saja paras mukanya berubah menjadi merah padam lantaran jengahnya.

Rupanya perlengkapan perabot yg ada dalam ruangan itu sangat indah dan mewah, bau harum semerbak memenuhi setiap sudut ruangan, dibalik pembaringan yg dilapisi kelambu tipis tampaklah seorang perempuan yg sama sekali bugil sedang berbaring disitu.

Hanya saja suasana dalam ruangan remang-remang hingga utk sesaat sukar bagi pemuda kita utk mengenali paras mukanya, tapi dia tahu perempuan tsb adalah Li Sian soat, cengcu perkampungan Ciu hong san ceng itu.

Agak tersipu-sipu dia segera menegur.

"Tolong tanya ciciku berada dimana?"

"Apakah benda itu sudah kau bawa kemari?"

Tanya perempuan bugil itu serius.

"Benda apa?"

Perempuan itu segera tertawa terkekeh-kekeh, mendadak dia membalikkan kepalanya. Begitu sepasang mata salng bertemu, Kho Beng menjadi terperanjat sekali, buru-buru tegurnya.

"Siapa kau?"

Ternyata wanita itu bukan Li Sian soat seperti apa yg diduganya semula, melainkan seorang perempuan muda yg berparas amat cantik jelita namun belum pernah dijumpai sebelumnya.

Tanpa terasa Kho Beng berpkir didalam hatinya.

"Tak heran kalau lgat suaranya terasa asing, kenapa tidak kubayangkan sampai kesitu sejak tadi?"

Dalam pada itu siwanita muda yg cantik itu sudah berkata sambil tertawa merangsang.

"Sesungguhnya akulah cengcu yg sebenarnya dari perkampungan ini, Kho sauhiap mengapa kau tidak duduk dulu berbincangbincang?"

"Tapi .....mana nona Li Sian soat?"

Bentak Kho Beng.

"Aaaai...dia telah pergi!"

"Telah pergi...?"

Sekali lagi Kho Beng tertegun, tapi segera tegurnya dg suara dalam.

"dihadapan orang yg jujur janganlah berbohong, sesungguhnya apa hubungan nona dg nona Li?"

"Kami adalah sobat karib!"

"Heeeeh.....heeeehh....heeehh...kalau begitu kaupun satu komplotan dg dewi In nu?"

Seru sang pemuda sambil tertawa dingin. Dg cepat perempuan muda cantik jelita itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak, hubungan kami tidak terlalu akrab, apalagi kalau dibilang sebagai komplotannya."

Kembali Kho Beng tertawa dingin.

"Lantas mengapa kau bertanya kepadaku apakah benda tsb sudah dibawa kemari!"

Sambil membenahi rambutnya yg kusut, pelan-pelan perempuan cantik itu bangkit dan duduk ditepi pembaringan, katanya.

"Sebelum meninggalkan tempat ini, nona Li telah berpesan kepadaku, katanya kau akan menghantar kitab pusaka Thian goan bu boh kemari, oleh sebab itulah aku mengira kedatangan Kho sauhiap ketempat ini adalah utk menyerahkan kitab pusaka tsb?"

"Hmmm berbicara pulang pergi, kalian tetap hanya mengincar kedua lembar kitab tsb, sayang dalam hal ini terpaksa kalian mesti menahan kecewa, sebab kedua lembar kitab tsb sesungguhnya tidak berada disakuku!"

"Kalau memang tidak berada disaku Kho sauhiap, lantas berada dimanakah benda itu?"

Tanya si perempuan cantik itu sambil tertawa lagi.

"Aku telah membakarnya hingga hancur menjadi abu!"

Perempuan cantik itu nampak agak tertegun, kemudian serunya.

"Kalau begitu Kho sauhiap telah menguasai seluruh isi kitab pusaka yg tercantum dalam kedua lembar kitab itu?"

"Yaa, memang begitulah keadaannya"

Sang pemuda mengangguk. Perempuan cantik itu segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Kalau begitu asal kutahan dirimu disini, toh sama saja artinya!"

"Menahan aku.....?"

Kho Beng segera tertawa terbahak-bahak.

"aku rasa kau tak akan mampu menahanku!"

"Kho sauhiap, lebih baik kau jangan sombong lebih dulu, coba saksikan dulu benda apakah ini!"

Seraya berkata perempuan cantik itu segera mengambil sebuah benda dari bawah pembaringannya dan dilemparkan kedepan.

Begitu menyaksikan benda tsb, Kho Beng segera merasakan hatinya tercekat, tak tahan lagi jeritnya tertahan.

"Payung Thian lo san!"

"Yaa betul, memang payung Thian Lo san"

Ujar perempuan cantik itu sambil tertawa.

"apakah Kho sauhiap berharap bisa bertemu dg pemilik payung ini?"

Rasa sedih dan gusar yg bercampur aduk dalam benak Kho Beng membuat ia sangat gusar, dg mata melotot besar bentaknya keraskeras.

"Apa yg telah kau lakukan terhadap enciku?"

Perempuan cantik itu tertawa dingin.

"Asal Kho sauhiap bersedia utk tinggal disini, tentu saja akan kuberitahukan soal tsb kepadamu?"

"Hmmm, bagaimana perhitungan siepoa mu itu!"

Hardik Kho Beng semakin sewot.

"baiklah, biar kubekuk dirimu lebih dulu, aku tak kuatir tak mampu membongkar semua rencana busuk kalian."

"Criiingg..."

Pedangnya segera diloloskan dari sarung dan bersiap sedia melancarkan serangan.

"Hey, mau apa kau?"

Teriak perempuan cantik itu agak gelisah.

"Bila kau tak bersedia menyerahkan diri dg begitu saja, jangan salahkan bila pedangku tak mengenal perasaan!"

Begitu selesai berkata sebuah tusukan kilat langsung dilontarkan kedepan mengancam tubuh telanjang perempuan tsb.

Si perempuan cantik itu menjerit kaget, tergopoh-gopoh dia merentangkan payung Thian Lo san utk menyongsong datangnya tusukan maut tsb.

Dg gerakan tsb maka tusukan pedang Kho Beng pun persis menghajar diatas permukaan payung tsb, tapi payung itu betul-betul kokoh dan ulet, seketika itu juga ujung pedangnya terpeleset dan tergelincir kesamping.

Tapi pada saat itulah mendadak dari atas permukaan payung itu menyembur keluar segumpal asap berwarna putih.

Kho Beng menjadi terperanjat sekali, sayang sebelum sempat ia berbuat sesuatu, bau harum yg aneh tsb telah menerobos masuk kedalam hidungnya.

Seketika itu juga dia merasakan kepalanya mata berat dan pening sekali, hampir saja sia tak mampu berdiri tegak lagi.

Dalam terperanjat, buru-buru dia melompat kebelakang dan berusaha melarikan diri keluar ruangan.

"hmmm, akan kulihat kau bisa kabur sampai dimana?"

Bentak perempuan cantik itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Setelah berhasil melompat keluar dari ruangan loteng itu, buruburu Kho Beng menarik napas panjang sambil bersiap-siap melompat utk kdua kalinya.

Namun sayang sepasang kakinya tahu-tahu jadi lemas dan tak mau menuruti perintahnya lagi, ditambah pula kepalanya amat pusing dan pandang matanya menjadi gelap.

"Blaaaammm...!"

Tak ampun lagi tubuhnya segera roboh terjengkang diatas tanah.

Perempuan cantik itu bersorak gembira, cepat-cepat dia mengenakan pakaiannya kembal sambil melompat turun dari pembaringan.

Lalu sambil mendekati Kho Beng, katanya dg bangga.

"Ciu hoa, Tang soat, Hee im sekalian, coba kau lihat, pekerjaan yg tak mampu kalian lakukan, tohh akhirnya berhasil diselesaikan olehku, Cun hong secara mudah. Peristiwa ini benar-benar merupakan sebuah pahala besar!"

Tampak ia tersenyum simpul dg wajah berseri-seri, dg cepat diambilnya sebuah gembrengan kecil dari sakunya dan dibunyikan berulang-ulang.

"Traaang....traaang....traaang..."

Dg bergemanya suara gembrengan, cahaya lentera segera memancar dari empat penjuru, suasana yg semula gelap gulita kini berubah menjadi terang benderang.

Si dayang Sian kim yg munculkan diri paling dulu, ketika melihat kejadian ini segera serunya sambil tertawa.

"Lengcu, kionghi atas keberhasilanmu!"

Sambil mengulapkan tangannya Cun hong Lengcu berkata.

"Cepat kirim dia kedalam kamarku, kemudian cepat kirim surat melaporkan peristiwa ini kepada Saiancu!"

Buru-buru Sian kim mengiakan, sambil menyeret tubuh Kho Beng ia berjalan menuju keruangan sebelah kiri.

Sementara itu Cun hong Lengcu segera berjalan menurun tangga dan berangkat menuju kebangunan sebelah timur.

Tempat tsb merupakan sebuah bangunan loteng yg tidak kecil, begitu Cun hong Lengcu munculkan diri, Li Sian soat segera menyambut kedatangannya dan berseru sambil tertawa.

"cici, kionghi atas keberhasilanmu!"

Cun hong Lengcu tertawa cekikikan, tanyanya tiba-tiba.

"Dimanakah Kho Yang ciu sekarang?"

"Ia sudah menelan obat mabukku, sekarang masih tak sadarkan diri..."

"Bagus sekali, jangan biarkan dia tahu akan peristiwa ini, cepat kembalikan payung ini kedalam kamarnya."

Setelah menerima payung thian lo san tsb, Li Sian soat kembali bertanya.

"Apakah cici sudah menggelesahnya?"

"Belum, tapi menurut pengakuannya, kedua lembar kitab pusaka thian goan bu boh tsb sudah tidak berada disakunya lagi."

"Lantas berada dimana?"

Tanya Li Sian soat agak tertegun. Dg kening berkerut, Cuh hong Lengc berkata.

"Konon ia sudah membakarnya sampai habis!"

"Waaah, bukankah usaha kita selama ini menjadi sia-sia belaka? Bagaimana cara kita melaporkan peristiwa ini kepada Siancu?"

Teriak Li Sian soat panik.

"Haaahh...haaaaahh...haaahh...apa susahnya dg masalah semacam ini..."

Kata Cun hong Lengcu sambil tertawa bergelak. Dg wajah angkuh sambungnya lebih jauh.

"Ia pernah mempelajari ilmu Thian goan singkang, berarti sudah mengingat baik semua bagian dari keterangan yg tercantum dalam dua lembar kertas tsb, asal dia masih berada dalam cengkeraman kita, masa semua rahasia tsb tak akan dimuntahkan keluar sedikit demi sedikit?"

"Cici, paling baik kalau kau lakukan penggeledahan dulu, sebab aku dengar bocah keparat itu banyak tipu muslihatnya, kalau kita sampai termakan oleh siasat busuknya hingga dipecundangi habishabisan, waaaah...penasaran rasanya!"

"Benar!"

Cun hong Lengcu segera manggut-manggut,"kalau begitu biar kuperiksa dulu sakunya......"

Kemudian sambil melemparkan kerlingan genit kearah Li Sian soat, katanya lagi sambil tertawa.

"Sebentar tak ada salahnya bila kau turut kesana, kita nikmati bersama hasil tangkapan ini!"

"Ciiiisssss.....lebih baik cici menikmatinya seorang diri, aku mah tak berani mengusiknya."

Cun hong Lengcu tertawa, dia segera bangun berdiri dan berjalan menuju kekamar tidurnya.

Udara malam amat cerah, bintang nampak bertaburan diangkasa, dg pancaran nafsu birahi yg membara Cun hong Lengcu berjalan kembali kekamar tidurnya.

Sepanjang jalan otaknya berputar terus mencari akal, dia ingin mencari sebuah cara yg terbaik utk memancing Kho Beng agar menyerah dibawah kakinya.

Dalam waktu singkat ia telah tiba didepan kamar tidurnya, cahaya lentera nampak menyinari seluruh bangunan loteng tsb, namun dayangnya Sian kim tidak kelihatan disitu.

Sambil mmeriksa sekeliling tempat itu, Cun hong Lengcu segera berseru keras.

"Sian kim, Sian kim......"

Aneh, suasana disekitar bangunan loteng itu amat hening dan tak kedengaran sedikit suara pun. Cun hong Lengcu segera bergumam.

"Sialan amat budak itu, hmmm makin lama semakin kurang ajar saja budak tsb."

Sambil mengomel panjang pendek dia berjalan naik keatas loteng.

Begitu masuk kedalam ruang tidurnya, ia saksikan seseorang berbaring diatas pembaringannya, tapi berhubung kelambunya diturunkan maka tak jelas paras muka orang tsb.

Tapi bagi Cun hong Lengcu, ia tahu siapa gerangan yg dibaringkan disana, entah apa yg dibayangkannya tiba-tiba paras mukanya berubah menjadi merah padam.

Mula-mula diambilnya obat penawar dari sakunya, kemudian baru menyingkap kelambu dimuka pembaringan.

Tapi begitu kelambunya disingkap, paras mukanya segera berubah hebat, tak kuasa dia menjerit kaget.....

Ternyata orang yg berbaring disana bukan Kho Beng seperti yg diduganya semula, melainkan Sian kim dayang kepercayaannya.

Tampak dayang itu berbaring dg mata terpejam dan napas amat teratur, kiranya dia sudah tertotok jalan darah tidurnya.

Tergopoh-gopoh Cun hong Lengcu menepuk bebas jalan darahnya, lalu tegurnya dg gelisah.

"Mana orangnya?"

Sian kim menguap ngantuk, lalu bergumam.

"Heran, kenapa aku bisa tertidur? Hey Lengcu, siapa yg kau tanyakan?"

"Budak sialan!"

Umpat Cun hong Lengcu sambil menghentakhentakkan kakinya dg gemas.

"siapa lagi yg kutanyakan, tentu saja Kho Beng, mana orangnya sekarang?"

Sian kim menjerit kaget, cepat-cepat dia melompat bangun dari atas pembaringan sambil jeritnya.

"Aduh celaka! Orangnya telah diculik seseorang........"

"Siapa yg menculiknya?"

Bentak Cun hong Lengcu gusar. Dg wajah ingin menangis, Sian kim menjawab tergagap.

"Aku..........aku benar-benar tidak tahu?"

Cun hong Lengcu benar-benar sangat gusar, mendadak....

"Plaaak!"

Dia menampar wajah Sian kim keras-keras kemudian bentaknya.

"Budak busuk! Masa utk menjaga pun tak becus, sebetulnya apa kegunaanmu? Hayo cepat katakan, apa yg sebenarnya yg telah terjadi?"

Dg wajah hampir menangis Sian kim berkata.

"Waktu itu aku sudah membawa Kho sauhiap sampai didalam kamar dan membaringkannya diatas ranjang, tiba-tiba kurasa ada angin yg berhembus kencang dari luar jendela maka budak pun pergi merapatkan daun jendela tsb.......mungkin........mungkin disaat itulah budak kehilangan kesadaran!"

"Kau benar-benar gentong nasi yg tak berguna!"

Umpat Cun hong Lengcu sangat gusar.

"ayoh cepat bunyikan tanda bahaya, ia sudah terkena bubuk pemabukku, meski telah sadar daya kerja obat tsb belum hilang. Dia tak mungkin bisa kabur terlalu jauh."

Sian kim mengiakan berulang kali dan tergopoh-gopoh lari turun dari atas loteng.

Tak lama kemudian suara gembrengan kembali dibunyikan bertalu-talu diseluruh perkampungan, hanya saja nada suara gemberengan tsb jauh berbeda dg suara pertama.

Begitu suara tsb bergema, suasana perkampungan menjadi kalang kabut dan setiap orang dicekam perasaan gugup dan panik.

Ditengah bunyi suara gembrengan yg amat ramai inilah, tampak bayangan manusia berkelebat kian kemari, suasana kelihatan sangat kalut.

Apa yg diduga Cun hong Lengcu memang benar.

Waktu itu Kho Beng belum jauh meninggalkan perkampungan Ciu hogn san ceng, dia masih berada didalam sebuah hutan hanya berapa li dari perkampungan tsb.

Suasana dalam hutan itu gelap gulita, sementara dia berbaring diatas tanah dg tenang, disampingnya duduk siwalet terbang Chin sian kun.

Waktu itu si nona sedang meneteskan air dari kantung airnya kedalam mulut Kho Beng.

Chin sian kun tdk mengetahui racun apakah yg telah mengeram didalam badan Kho Beng, karenanya dia hanya bisa mencoba dg menggunakan air segar.

Betul juga, tak lama kemudian Kho Beng menggerakkan badannya dan lambat laun sadar kembali dari pingsannya.

"Kho sauhiap....kho sauhiap..."

Chin sian kun memanggil dg suara lirih.

Akhirnya Kho Beng membuka matanya kembali, ketika ia merasakan seorang perempuan asing disampingnya, pemuda kita kelihatan amat terperanjat dan segera melompat bangun.

"Siapa.....siapakah kau?"

Tegurnya terperanjat.

"Kho sauhiap, jangan gugup, aku yg berada disampingmu!"

Cepat-cepat Chin sian kun berbisik. Akhirnya Kho Beng dapat mengenali kembali siapa gerangan nona tsb, dg perasaan terkejut bercampur girang segera serunya.

"Aaaaah...rupanya nona Chin...."

Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, katanya lagi agak kebingungan.

"Mengapa kau bisa berada disini?"

"Aku merasa kuatir sekali membiarkan kau mengembara seorang diri, maka aku segera mencari tahu alamay yg kau tuju dari Bu wi cianpwee, setelah itu aku pun cepat-cepat menyusulmu kebukit Cian San, ternyata berhasil juga kutemukan dirimu."

"Jadi nona yg telah menyelamatkan aku?"

Tanya Kho Beng dg perasaan amat berterimakasih. Chin sian kun tersenyum.

"Sungguh beruntung Cuh hong Lengcu segera meninggalkan bangunan loteng tsb setelah membokongmu dg obat pemabuk, mereka tak menyangka sama sekali kalau aku bersembunyi dibelakang sana, itulah sebabnya dg mudah sekali aku berhasil membawamu keluar dari sana."

"Aaaai, aku benar-benar tak tahu bagaimana mesti membalas budi kebaikan nona...."

Merah jengah selember wajah Chin sian kun, cepat-cepat dia menukas "Sebetulnya pekerjaan semacam ini sudah sepantasnya kulakukan untukmu, buat apa mesti berterima kasih?"

"Bila aku bertemu lagi dg perempuan rendah tsb dikemudian hari, pasti akan kupenggal batok kepalanya!"

Sumpah Kho Beng dg perasaan amat mendendam.

Baca Juga: Pukulan Si Kuda Binal 2

Baca Juga: Legenda Bunga Persik Gu Long

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert