Ceritasilat Novel Online

Kedele Maut 6

Eps 6 Kedele Maut - Khu Lung

Baca online Kedele Maut - Khu Lung

Cersil Kedele Maut - Khu Lung.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba dari luar hutan sana terdengar suara langkah kaki manusia yg ramai disusul munculnya cahaya api secara lamat-lamat.

Dg cepat kedua orang muda mudi itu menahan nafas dan tidak berbicara lagi.

Tak selang beberapa saat kemudian, suara langkah kaki manusia itu sudah tiba ditepi hutan, lalu terdengar suara seorang lelaki berkata.

"Li sam, coba kau lakukan pemeriksaan ketengah hutan sana, bila ada seseorang yg mencurigakan, segera berilah kabar kepadaku, bila tak ada yg mencurigakan, kita geledah lebih kedepan."

Lelaki yg disebut Li sam itu segera mengiakan, dg tangan kiri membawa obor dan tangan kanan membawa pedang yg disilangkan didepan dada, selangkah demi selangkah dia berjalan memasuki hutan tsb.

Pucat pias selembar wajah Chin sian kun setelah mendengar perkataan itu, tapi Kho Beng sudah melompat bangun sambil berbisik.

"Pancing saja mereka masuk kedalam, malam ini aku hendak melakukan pembantaian secara besar-besaran!"

Tapi belum selesai perkataan tsb diucapkan, tiba-tiba saja paras mukanya berubah hebat.

Rupanya disaat dia mencoba utk mengatur hawa murninya, dg cepat diketahui bahwa peredaran darahnya tak mampu mengalir dg lancar.

Ini berarti dia tak mampu mengerahkan tenaga dalamnya lagi.

Tak heran kalau pemuda tsb mejadi terperanjat setengah mati hingga wajahnya berubah hebat Chin sian kun yg mengawasi perubahan tsb menjadi agak tertegun disamping keheranan, buru-buru tanyanya.

"Kho kongcu, mengapa......mengapa kau?"

"Aku sama sekali tak mampu menghimpun tenaga dalamku lagi! peredaran darahku terasa agak tersumbat!"

Sementara itu lelaki yg bernama Li sam sudah melangkah mendekati mereka berdua, ini berarti tiada waktu lagi buat mereka utk berpikir panjang.

Buru-buru Chin sian kun menarik tangan Kho Beng dan diajak bersembunyi dibalik sebatang pohon besar, lalu bisiknya lirih.

"Mari kubopong kau naik keatas"

Bersemu merah wajah Kho Beng mendengar bisikan itu, sebaliknya Chin sian kun tertawa wajar, bahkan tak menanti Kho Beng membuka suara lagi ia segera merangkul pinggangnya kemudian melompat naik keatas batang pohon besar....

Tapi dg kejadian tsb, gerak gerik mereka segera menimbulkan suara berisik.

Lelaki yg bernama Li sam itu segera membentak keras.

"Siapa yg berada didalam hutan?"

Diam-diam Chin sian kun berbisik kepada Kho Beng.

"Gelisah sangat tdk menguntungkan, sekarang kau duduk disini dg tenang, biar kupancing mereka pergi dari sini!"

Dg perasaan sedih bercampur gusar Kho Beng manggutmanggut, kini tenaga dalamnya telah punah, tentu saja dia tak mampu berbuat banyak terhadap situasi didepan mata.

Setelah melemparkan sebuah kerlingan mesra kearah Kho Beng, Chin Sian kun segera melayang turun keatas tanah, kemudian sambil mengumpulkan hawa murninya dia meluncur keluar dari hutan tsb, bahkan sewaktu bergerak keluar dia sengaja menimbulkan suara berisik.

Li Sam segera berpekik panjang, lalu teriaknya keras-keras.

"Kalian cepat kemari! Didalam hutan benar-benar ada orang."

Dg teriakan tsb, dari luar hutan pun segera terjadi suara sahutan dan secara beruntun tampak bayangan manusia berkelebat lewat, dalam waktu singkat delapan buah obor telah menyinari sekeliling tempat Li Sam berdiri sekarang.

Belasan orang jago tsb dipimpin oleh seorang kakek berbaju hijau, ia mempunyai wajah kuda yg berbentuk panjang.

Begitu tiba disamping Li Sam, segera tegurnya dg gelisah.

"Dimana orangnya?"

Sambil menunding kearah kiri sahut Li Sam.

"Agaknya ada orang melarikan diri kearah sebelah sana, pemimpin aku rasa hutan ini mencurigakan sekali!"

"Lakukan pemeriksaan!"

Kakek berbaju hijau itu segera menurunkan perintahnya.

Maka belasan orang jago pn memencarkan diri dalam formasi kipas terbuka lalu pelan-pelan melakukan pencarian disekeliling tempat itu.

Benar juga sepanjang jalan mereka mendengar ada suara langkah manusia serta suara ranting yg disingkirkan orang.

Sambil menyeringai seram, kakek berbaju hijau itu segera berkata.

"Kalau memang ada orang disini, berarti dia adalah bocah keparat she Kho itu, menurut Cun hong Lengcu, daya kerja obat dalam tubuhnya belum hilang karena itu tenaga dalamnya belum pulih kembali, tak heran kalau langkah kakinya menimbulkan suara berisik."

Begitu mendengar perkataan tsb, belasan orang jago itupun melakukan pengejaran dg lebih bernafsu lagi, sebab setiap orang berharap bisa membuat jasa besar.

Mendadak.......

Dikejauhan sana terlihat ada sesosok bayangan hitam berkelebat lewat, Li Sam segera membentak keras.

"aku lihat kau bisa kabur kemana?"

Dg cepat dia melejit kedepan lalu menerjang kearah bayangan hitam tsb dg kecepatan tinggi.

Pada saat itulah bayangan manusia tadi sudah tiba ditepi hutan, tiba-tiba saja orang itu menghentikan langkahnya.

Li Sam yg sudah menyusul sampai disitu tidak banyak berbicara lagi, dg cepat tubuhnya melejit keudara sementara pedangnya melancarkan sebuah tusukan kilat.

Ditengah deruan angin serangan yg amat tajam, sebuah tusukan telah mengancam punggung bayangan hitam tsb.

Dg cekatan bayangan hitam tadi menghindarkan diri kesamping, kemudian bentaknya keras-keras.

"Hey, kalian sudah edan semua......."

Setelah melancarkan tusukan tsb, Li Sam baru merasakan kalau gelagat tidak beres, tergopoh-gopoh dia menarik kembali serangannya sambil mengawasi wajah orang itu dg seksama.

Tapi apa yg kemudian terlihat membuat hatinya semakin terperanjat lagi buru-buru dia berbicara.

"Ooooh...rupanya nona Sian kim, mengapa kaupun berada disini?"

Sambil menghentak-hentakkan kakinya dg gemas Sian kim berseru.

"Aku sedang mencari bocah keparat she Kho itu, tak disangka hampir saja mati diujung pedangmu, bunuh, mengapa sih kalian tidak melacak jejak musuh sebaliknya malah menguntil dibelakangku?"

Dalam pada itu si kakek berbaju hijau telah menyusul pula sampai disitu dg segenap kekuatannya, melihat kejadian ini buruburu dia menyapa.

"Nona Sian kim, mengapa kau pun sampai disini?"

Sambil menggertak gigi menahan diri jawab Sian kim.

"Lengcu menyuruh aku turut melacaki jejak bocah keparat itu, tentu saja aku melaksanakan perintahnya, kalian tahu, barusan aku telah berhasil menemukan bayangan tubuh orang she Kho itu, tapi gara-gara ulah kalian, sekarang ia berhasil meloloskan diri kembali."

"Dimanakah nona berhasil melihat jejak orang she Kho itu?"

Buru-buru kakek berbaju hijau itu bertanya. Sian kim segera menunding kedepan sana sambil berkata.

"Itu dia, disudut tebing sebelah selatan, waktu itu sebenarnya aku sedang melakukan pengejaran kesitu, sungguh tak disangka anak buahmu justru melancarkan sebuah tusukan kepunggungku secara tiba-tiba.....untung saja tak sampai melukai tubuhku....."

Kakek berbaju hijau itu tidak banyak berbicara lagi, buru-buru dia mengibaskan ujung bajunya sambil membentak.

"Kita geledah kesana!"

"Betul!"

Seru Sian kim sambil tertawa, kalian menggeledah kesisi kiri, biar aku mencarinya dari sebelah kanan, dg begini banyak orang, aku percaya sekalipun tumbuh sayappun jangan harap bisa meloloskan diri dari sini!"

""Baik, kita kerjakan secara demikian saja!"

Kata kakek berbaju hijau itu terburu-buru.

Kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera melejit ketengah udara, dalam waktu singkat tubuhnya telah berada sepuluh kaki lebih dari tempat semula.

Sian kim, si dayang berbaju hijau itupun bergerak menuju kesebelah kanan utk melakukan pencarian, tapi belum sampai berjalan sejauh sepuluh kaki, dia sudah belik kembali ketempat semula, kemudian setelah memeriksa sekejap sekeliling tempat itu dan yakin kalau disana tak ada orang, tergesa-gesa dia menerobos masuk kedalam hutan.

Dg suatu gerakan yg cepat sekali, dia balik kepohon besar dimana Kho Beng bersembunyi tadi, dari atas wajahnya dia melepaskan selembar topeng kulit manusia dan dimasukkan kembali ke sakunya.

Ternyata dayang Sian kim tak lain adalah hasil penyamaran dari si walet terbang Chin sian kun.

"Kho Sauhiap...Kho sauhiap....."

Bisiknya pelan Dari balik dedaunan yg rimbun tampak Kho Beng menongolkan kepalanya sambil menyahut.

"Aku berada disini...!"

Chin Sian kun segera melompat naik keatas pohon , lalu katanya dg pelan.

"Waaah...betul-betul sangat berbahaya!"

"Apakah mereka sudah pergi?"

Tanya Kho Beng dg perasaan sangat gelisah. Chin Sian kun segera tertawa bangga, katanya .

"aku telah menipu kawanan bajingan itu sehingga mengambil arah yg salah, mungkin mereka sudah berada berapa li dari sini sekarang!"

"Dg cara apa nona berhasil memancing mereka menuju kearah yg salah?"

Tanya Kho Beng tak habis mengerti. Chin Sian kun segera memperlihatkan topeng kulit manusia yg berada ditangannya, dia berkata.

"Aku mengandalkan benda ini......eeei...bagaimana perasaanmu sekarang, apakah rada mendingan?"

Kho Beng segera menghela napas panjang.

"Aaaai.....entah bahan obat pemabuk jenis apakah yg dipergunakan perepuan siluman itu, hingga sekarang tenaga dalamku masih belum bisa dihimpun kembali."

Chin Sian kun berpkir sebentar, lalu ujarnya.

"Kita harus meninggalkan tempat ini lebih dulu baru mengusahakan pengobatan atas lukamu itu, mari biar aku yg menggendongmu!"

OooOOooo Hampir semalam suntuk perkampungan Ciu hong san ceng dilanda kekalutan dan keributan, namun usaha mereka sama sekali tidak memberikan hasil apa-apa.

Namun keesokan harinya, tiba-tiba dikota kecil dikaki bukit Cian san telah kedatangan serombongan manusia, mereka terdiri dari kawanan jago lihay baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam.

Kemunculan mereka amat tiba-tiba tak jauh berbeda dg keadaan sewaktu berada dilembah hati buddha tempo hari, entah siapa yg menyiarkan berita tsb namun yg jelas sasaran mereka kali ini bukan Kho Beng melainkan langsung menuju perkampungan ciu hong san ceng diatas bukit cian san.

Sebagai pemimpin dari rombongan tsb adalah seorang kakek berbaju hitam yg menyoren sepasang pedang dipunggungnya, orang itu termasyur sekali namanya dikawasan Kanglam dan dikenal orang sebagai Pedang emas berlengan baja To tin.

Dg gerakan yg amat cepat rombongan tsb langsung menyerbu kedepan perkampungan Ciu hong san ceng, ternyata jagoan yg terhimpun dalam rombogan ini mencapai lima puluhan orang.

Begitu sampai dimuka pint perkampungan, to tin segera membentak dg suara keras.

"Apakah dalam perkampungan ada orang?"

Baru saja suara bentakan tsb bergema, pintu perkampungan telah terbuka lebar-lebar, yg munculkan diri kemudian adalah kakek berbaju ungu Ong Thian siang.

Ia kelihatan agak tertegun, lalu setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, tegurnya.

"Bolehkah aku bertanya, ada urusan apa kalian datang keperkampungan kami?"

Dg suara berat dan dalam Pedang emas berlengan baja To tin menjawab.

"aku To tin bersama rekan-rekan persilatan dari kawasan Kanglam sengaja datang kemari karena mendengar diperkampungan anda telah datang seorang tamu agung, apakah dia masih berada disini?"

"Yaa betul, rupanya rekan-rekan sekalian datang mencari nona Kho, bolehkah aku tahu ada urusan apa kalian mencarinya?"

To tin segera mendengus dingin.

"Cepat suruh dia keluar, katakan saja ada orang mencari dirinya.!"

Ong Thian siang mengiakan dan buru-buru masuk kedalam perkampungan.

Tak selang berapa saat kemudian, tampak tiga orang perempuan berkerudung diiringi para dayang telah munculkan diri dari balik gedung, orang pertama adalah seorang nona berbaju putih, tentu saja dia adalah Kho Yang ciu, orang kedua menggunakan baju berwarna hijau, dia adalah Hee im Lengcu Li Sian soat, sedangkan orang ketiga mengenakan baju bewarna merah darah, dia adalah Cun hong Lengcu, Jin cun.

Begitu mereka bertiga tiba didepan pintu perkampungan, Kho Yang ciu lah yg kelihatan terkejut sekali.

Sebagaimana diketahui, perkampungan Ciu hong san ceng sama sekali tak ada hubungan apa-apa dg dunia persilatan, tapi darimana kawanan jago persilatan itu bisa tahu kalau dia berada disini?

Disamping itu selapis hawa membunuh pun telah muncul dalam hati kecilnya, sudah lama ia tak pernah membunuh orang, bagaimana mungkin dia akan menyia-nyiakan kesempatan baik yg berada didepan mata sekarang?

Tatkala melihat munculnya tiga orang wanita muda dari balik perkampungan, kawanan jago persilatan itu kelihatan sangat tegang dan serius, hawa pembunuhan pun mulai menyelimuti seluruh area.

Dg suara lantang si Pedang emas To tin segera menegur keras.

"Siapakah si Kedele Maut?"

"Nonalah orangnya!"

Jawab Kho yang ciu dingin.

"Rupanya kaulah putri Hui im cengcu yg menghebohkan dimasa lalu, sibiang keladi yg menyebabkan timbulnya badai berdarah didunia persilatan........hmmm, hari ini sengaja aku datang kemari bersama rekan-rekan persilatan utk membuat perhitungan atas kematian rekan-rekan kami........"

Kho Yang ciu segera tertawa terkekeh-kkeh, setelah mendengar perkataan itu, jengeknya.

"Heeehh....heeehh....heehh...kalian anggap kemampuan yg kamu semua miliki sudah cukup utk berbuat sesuka hati, hmmm....memangnya tujuh puluh lembar nyawa yg tewas diperkampungan Hui im ceng tidak pantas utk dituntut balas?"

"Hmmm, aku tahu percuma saja banyak berbicara dg perempuan gila macam dirimu itu"

Tukas To tin gusar.

"rekan-rekan semua, hari ini kita tak boleh membiarkan siluman perempuan siluman itu meloloskan diri lagi dari cengkraman kita"

Seruan tsb segera disambut penuh antusias oleh kawanan jago silat lainnya, dalam waktu singkat mereka telah bersiap sedia utk melancarkan serangan.

Cun hong Lengcu yg menyaksikan kejadian ini buru-buru mengulapkan tangannya, seraya berkata.

"eeeei....tunggu dulu, tunggu dulu........."

"Siapa anda?"

To tin segera membentak. Sambil tertawa merdu jawab Cun hong Lengcu.

"Kami kakak beradik adalah pemilik perkampungan Ciu hong san ceng ini, ketahuilah perkampungan kami tak pernah mempunyai ikatan dg dunia luar, hubungan dg dunia persilatan pun tak ada, kenyataan kalian datang mencari gara-gara, apakah tindakan ini tidak merupakan suatu perbuatan yg kelewat batas ? "

"Jadi nona bermaksud akan melindungi siluman perempuan ini? "

Seru To tin dg suara dingin. Kembali Cun hong Lengcu tertawa.

"Nenek moyang kami telah membuat suatu peraturan utk perguruan kami, yakni tidak boleh mencampuri urusan dunia persilatan, oleh sebab itu aku ingin bertanya kepada kalian, apakah kami pun akan dihitung menjadi satu? "

To tin tidak langsung menjawab, diam-diam pikirnya.

"Perempuan ini adalah anak murid dari tokoh sakti dunia persilatan, kepandaian silatnya tak boleh dipandang enteng, apalagi tujuanku yg utama adalah mlenyapkan perempuan siluman tsb dari muka bumi, kalau bisa mengurangi dua orang musuh tangguh jelas hal tsb makin menguntungkan bagi posisiku."

"Berpikir demikian, buru-buru ia berkata. Kalau toh pihak perkampungan kalian punya peraturan yg melarang anggotanya mencampuri urusan dunia persilatan, sudah barang tentu kamipun tak akan mengusik ketenangan kalian, asal nona sekalian bersedia menyingkir dari sini dan tidak mencampuri urusan kami, aku beserta rekan-rekan persilatan lainnya pasti tak akan mengganggu seujung rambutpun dari perkampungan anda."

Cun hong Lengcu manggut-manggut, katanya lagi.

"Walaupun perkataan anda memang sangat tepat, namun kami dua bersaudarapun tetap merasa serba salah."

"Apa yg menyebabkan kalian serba salah ? "

"Nona Kho adalah sahabat karib kami dua bersaudara, andaikata kejadian ini berlangsung ditempat lain, tentu saja kami dua bersaudara dapat berlagak seolah-olah tidak melihat serta tidak mencampurinya, tapi hari ini.........kalian justru telah datang kemari utk mencari gara-gara, bagaimanapun jua kami sebagai tuan rumah toh tak bisa berpeluk tangan belaka, sebab tindakan seperti ini jelas tidak mencerminkan kesetiakawanan, sebaliknya bila ingin membantu, kamipun kuatir akan melanggar peraturan leluhur kami, nah, coba dibayangkan apakah posisi kami saat ini tidak serba berabe......"

"Cici berdua tak usah kuatir"

Cepat-cepat Kho yang ciu berseru, asal cici berdua mau membantu siaumoy dg berjaga-jaga ditepi arena, hal tsb sudah lebih dari cukup untukku, apalagi jumlah manusia seperti ini belum sampai merisaukan hatiku, silahkan cici berdua berpeluk tangan saja"

Cun hong Lengcu pura-pura menghela napas sedih, lalu katanya.

"Yaa, kalau begitu maafkanlah kami, tapi kami berjanji tak akan membiarkan adik menderita kerugian ditangan mereka!"

To tin yg mendengar perkataan itu menjadi tertegun, lalu serunya sambil mendengus.

"Nona, apa maksud perkataanmu itu?"

Cun hong Lengcu tertawa terkekeh-kekeh.

"Kalian berjumlah begitu banyak, padahal lawan yg hendak kalian hadapi hanya seorang perempuan lemah, sesungguhnya kami merasa amat tak puas dg tindakan kalian itu!"

"Kalau begitu kalian telah berubah pikiran?"

Jengek To tin sambil tertawa dingin.

"Bukan begitu maksud kami, asal kalian bersedia mengikuti peraturan dunia persilatan dg pertarungan satu lawan satu, tentu saja kami akan berpeluk tangan saja, kalau tidak, terpaksa kami akan mengundang adik keluarga Kho untuk memasuki perkampungan kami."

"Apakah kami tak sanggup menyerbu kedalam perkampungan kalian?"

Seru To tin penasaran. Sambil tertawa Hee im Lengcu Li Sian soat menyela.

"Bila kalian berani menyerbu kedalam perkampungan, urusan menjadi lebih mudah utk diselesaikan, sebab kami pun tak usah kuatir akan melanggar peraturan leluhur kami lagi!"

To tin segera tertawa seram.

Jilid 24

"Heeehh...heeehh...heeeehhh...sudah seumur hidup kami mengembara didalam dunia persilatan, namun belum pernah mendengar nama perkampungan Ciu hong san ceng kalian. Hmmm! Kendatipun tempat ini sarang naga gua harimau, aku tetap akan mencoba menyerbunya............."

"Aku tidak berharap kalian mencoba perbuatan sebodoh itu"

Ujar Cun hong Lengcu pelan "sebab aku kuatir tanah kami yang bersih segera akan dinodai oleh percikan darah, tapi bila anda kelewat memandang enteng kekuatan perkampungan kami, jelas perbuatan tersebut merupakan perbuatan orang buta."

Begitu selesai berkata, tiba-tiba dia mengibaskan ujung bajunya.

Dari balik dinding pekarangan segera bermunculan empat puluhan orang jago, separuhnya adalah nona muda bergaun hijau dan separuhnya lagi adalah kakek berpakaian ringkas.

Terdengar Cun hong Lengcu membentak lagi.

"Cin bu wi, coba demontrasikan kepandaianmu dihadapan mereka!"

Seorang kakek berbaju hijau yang berada diatas dinding pekarangan segera menyahut.

"akan kami laksanakan perintah nona!"

"Sreeeeet.............!"

Tampak kakek itu meloloskan sepasang pedang yang tersoren dipunggungnya, lalu sambil membentak keras sepasang tangannya diayunkan bersama kedepan.

Tampaklah kedua belah pedang tersebut berubah menjadi dua jalur cahaya putih yang secepat sambaran petir meluncur kearah dua batang pohon besar yang tumbuh lima kaki dari tempatnya berada.

"Duuukkk!Duuuukkk...!"

Diiringi suara bentakan nyaring, mata pedang tahu-tahu sudah menembusi batang pohon tersebut hingga tinggal gagang pedangnya saja yang masih menongol diluar.

Untuk menembusi batang pohon dengan dua bilah pedang sekaligus, paling tidak seseorang harus memiliki dasar tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan, tak heran kalau kawanan jago tersebut menjadi terperanjat dan berubah paras mukanya.

Si pedang emas berlengan baja termasyur dalam dunia persilatan karena mengandalkan ilmu pedangnya, berarti kepandaiannya dalam ilmu pedang terhitung cukup tangguh namun dihati kecilnya ia mengerti bahwa kepandaian silat yang dimiliki anak buah dari perkampungan Ciu hong san ceng tersebut jauh lebih tangguh dari kemampuannya.

Mimpi pun dia tak mengira kalau perkampungan Ciu hong san ceng yang belum pernah terdengar namanya dalam dunia persilatan ini ternyata memiliki sekawanan jago yang berilmu sangat hebat, peristiwa ini benar-benar berada diluar dugaannya, bila orang-orang itu sampai bersekongkol dengan Kedele Maut, bukankah..........

Membayangkan kesemuanya itu diam-diam ia menjadi gelisah, mendadak timbul sebuah akal dalam benaknya.

Padahal jalan pemikiran tersebut pun merupakan suatu tindakan apa boleh buat, sebab ia berpendapat walaupun mereka turun tangan seorang melawan seorang pun asal pihak perkampungan Ciu hong san ceng tidak ikut campur dalam peristiwa ini, dengan sistem pertarungan roda berputar, niscaya kekuatan tubuh yang dimiliki Kedele Maut tersebut lambat laun akan terkuras habis, akhirnya tidak akan sulit bagi mereka untuk menangkap hidup-hidup.

Berpendapat demikian, pikiran dan perasaan hatinya pun jauh lebih terbuka, maka sambil tertawa terbahak-bahak katanya.

"Haaaahh......haaaahh......haaaah....sungguh tak kusangka perkampungan kalian adalah sebuah sarang naga gua harimau, tapi kalian tak perlu kuatir, aku telah mengambil keputusan untuk bertindak sesuai dengan peraturan dunia persilatan, tapi dapatkah pihak kalian memberi jaminan kalau orang-orangmu tak akan mencampuri urusan ini?"

Cun hong Lengcu segera tertawa.

"Sekali perkataan kami telah diucapkan, biar ada seribu ekor kuda pun tak akan sanggup utk menariknya kembali."

"Bagus sekali, kami semua akan mundur sejauh sepuluh kaki sebagai tanda hormat kami terhadap perkampungan kalian!"

Selesai berkata ia segera mengulapkan tangannya kearah para jago, kemudian bergerak mundur sejauh sepuluh kaki lebih dulu.

Ketika dilihatnya kawanan jago lainnya masih nampak sangsi untuk mengikuti petunjuknya, dengan ilmu menyampaikan suara buru-buru To tin berkata.

"Dengan berbuat demikianlah kita baru bisa memotong jalan mundur siluman perempuan itu, disaat pertarungan sudah berkobar nanti, kita gencet kemuka dari dua sudut yang berlawanan, kemudian hadapi di dengan sistem roda berputar, aku yakin siluman perempuan itu tentu akan kehabisan tenaga dan akhirnya dapat kita bekuk hidup-hidup!"

Setelah mendengar bisikan tersebut, kawanan jago tersebut baru mengerti apa gerangan yang terjadi, tanpa terasa semangat mereka makin berkobar.........

Sementara itu Cun hong Lengcu yang menyaksikan kawanan jago tersebut sudah terpengaruh oleh hasutannya, diam-diam tertawa geli.

Padahal kalau berbicara sejujurnya, andaikata bukan pihak perkampungan Cui hong san ceng yang sengaja membocorkan rahasia Kho Yang ciu ke tempat luaran, darimana kawanan jago persilatan itu bisa mendapat kabar dan berbondong-bondong datang kesana?

Dan sekarang mereka tidak menunjukkan reaksi apapun, kedua belah pihak pun sama-sama tidak dibelanya, padahal yang mereka harapkan justru adalah menonton dua harimau berkelahi sementara mereka akan menjadi nelayan beruntung yang tinggal memungut hasilnya.

Betapa tidak?

Siapa saja yang kalah, sudah jelas memberikan keuntungan bagi pihaknya.

Sementara itu Cun hong Lengcu telah berjalan mendekati Kho Yan ciu, lalu katanya.

"Adik Kho, hanya sampai disini saja yang bisa kami perbuat untukmu............maafkan kami!"

Waktu itu, bukan saja Kho Yang ciu tidak memahami rencana busuk dari rekan-rekannya, malah sebaliknya dia merasa terharu dan berterima kasih sekali, segera jawabnya.

"Cici berdua, apa yang bisa kalian lakukan demi diriku sudah lebih dari cukup untukku, terima kasih banyak atas bantuan kalian.............."

Li sian soat yang turut menghampirinya, segera berkata dengan suara rendah.

"Adikku, kau harus berhati-hati, andaikata kau tak sanggup untuk menahan diri lagi, cepatlah balik badan dan kabur kemari!"

Sambil tertawa Kho Yang ciu manggut-manggut.

"Tak usah kuatir, sebodoh-bodohku, rasanya tak akan segoblok seperti apa kalian katakan, harap cici berdua legakan hati!"

Selesai berkata dia segera mempersiapkan sejata payung Thian lo san nya kemudian berkelebat maju sejauh sepuluh kaki lebih dari posisi semula, begitu sampai ditengah arena, ia segera menegur sambil tertawa dingin.

"Heeehh....heehhh....siapakah diantara kalian yang hendak memberi petunjuk lebih dulu.........?"

Seorang lelaki bercambang yang membawa sebuah golok besar segera tampil kedepan, sahutnya dengan lantang.

"Aku si Golok setan bercambang baja ingin mencoba kemampuanmu........"

"Oooh.......rupanya Sun tongkeh yang ingin mencoba sebutir Kedele Maut ku.........bagus sekali, kau boleh pilih sendiri, ingin mencari kemenangan dengan mengandalkan tenaga dalam ataukah mencoba kedele maut ku saja?"

Begitu mendengar nama "Kedele"

Si Golok Setan Bercambang Baaja Sun Pah, segera merasakan hatinya bergidik dan peluh dingin jatuh bercucuran membasahi tubuhnya.

Namun ia tak mau unjuk kelemahannya dihadapan umum, dengan suara menggeledek segera teriaknya.

"Hanya enghiong hohan yang mencari kemenangan dengan mengandalkan kepandaian silatnya yang sejati!"

"Baik!"

Seru Kho Yang ciu sambil tertawa dingin.

"kalau toh kau sudah memilih jalan kematian sendiri, silahkan saja untuk maju kesini!"

Golok Setan bercambang baja segera membentak keras, goloknya dengan membawa deruan angin serangan yang maha dahsyat segera menyapu ke muka.

Cahaya goloknya yang melingkar diangkasa segera membiaskan sinar yang amat menyilaukanmata, diiringi desingan angin tajam serangan tersebut langsung membacok kebadan Kho Yang ciu.

Melihat datangnya serangan tersebut, Kho Yang ciu tertawa lirih, dengan gerakan seenak hatinya sendiri, dia memutar payung thian lo san nya kebawah, kemudian menyongsong datangnya serangan bacokan itu.

Buru-buru si Golok Setan bercambang baja menarik kembali serangannya sambil berganti jurus, lagi-lagi dia membabat pinggang lawannya.

Siapa sangka gerakan Kho Yang ciu kali ini masih setingkat lebih cepat daripada serangannya, belum sempat golok tersebut menyambar pinggang lawan, tahu-tahu senjata payung Thian lo san gadis tersebut sudah menembusi dadanya.

Jeritan yang memilukan hati segera bergema memecah keheningan, semburan darah segar membasahi seluruh dada dan tubuh Golk Setan bercambang baja, Sun Pah.

Setelah mundur belasan langkah kebelakang dengan sempoyongan, akhirnya ia roboh terjengkang ke atas tanah dan tewas seketika itu juga.

Belum sampai satu gebrakan, dari pihak kawanan jago persilatan sudah kehilangan seorang jago lihaynya, peristiwa ini tentu saja amat menggusarkan hati To tin.

Dengan wajah hijau membesi, buru-buru serunya kepada kawanan jago dengan ilmu menyampaikan suara.

"Cepat kalian terjun kearah musuh secara bergiliran, bila tak sanggup menahan serangan siluman perempuan itu, gunakan suara pekikan sebagai tanda, kami segera akan mengirim jago lain untuk menggantikan kedudukan kalian."

Dalam pada itu, Kho Yang ciu merasakan semangatnya berkobar setelah dalam satu gebrakan berhasil meraih kemenangan, dengan suara lantang segera teriaknya.

"Apakah masih ada diantara kalian yang ingin memberi petunjuk?"

Sesosok bayangan manusia segera melompat keluar dari kerumunan para jago, sambil melayang turun ditengah arena, teriaknya keras-keras.

"Biar aku yang mencoba kepandaian sakti dari ilmu payung Thian lo san!"

Ketika bayangan manusia itu sudah berdiri tegak, terlihatlah dia adalah seorang pemuda yang berusia dua puluh lima tahunan, wajahnya kelihatan cukup tampan.

Dengan suara dingin Kho Yang ciu segera menegur.

"Boleh aku tahu siapa namamu?"

"Aku Ki Liu si!"

Kho Yang ciu berpikir sebentar, katanya kemudian.

"Aku rasa dalam daftar hitamku tidak tercantum nama tersebut, kuanjurkan kepadamu lebih baik mengundurkan diri saja secara teratur, daripada akhirnya mati secara mengenaskan ! "

Mendengar perkataan tersebut, Ki Liu si tertawa terbahak-bahak .

"Haaaahhh....haaaahhh........haaahh........bukankah sepasang tangan nnona sudah penuh berlepotan darah ? mengapa secara tiba-tiba kau menunjukkan belas kasihan ? sungguh suatu kejadian yang aneh "

Kho Yang ciu mendengus dingin .

"Hmmm....walaupun sudah banyak manusia yang kubunuh, namun belum pernah kubunuh manusia yang tak berdosa ! "

"Haaaahhh........haaaahhh.......haaahhh..........kalau begitu anggap saja aku sendiri yang mencari mati ! "

Begitu selesai berkata, pedangnya langsung diayunkan kedepan menyerang dada Kho Yang ciu.

"Kurang ajar ! "

Seru Kho Yang ciu amat marah.

"kalau toh pingin mampus, jangan salahkan bila nonamu berhati kejam ! "

Sambil memutar senjata payung thian lo san nya, dia sambut kedatangan lawan.

"Criiiiingggg......... ! "

Tatkala senjata payung Thian lo san dan pedang itu saling bertemu satu sama lainya, segera terjadilah suara benturan keras yang menyebabkan terjadinya percikan bunga api.

Sambil miringkan badan Ki Liu si segera mundur setengah langkah kebelakang, ia merasakan pergelangan tangannya kesemutan.

Sebaliknya sepasang bahu Kho Yang ciu pun nampak bergoncang keras, tak tahan lagi serunya .

"Wah hebat juga tenaga dalammu ! "

Rasakan dulu sebuah tusukanku ini.... ! "

Teriak Ki Liu si lagi dengan seuara keras.

Pedangnya segera diputar membentuk tiga kuntum bunga pedang, lalu dalam komposisi segi tiga, ia langsung menyergap kemuka dengan sangat hebatnya.

Paras muka Kho Yang ciu waktu itu sudah berubah menjadi dingin bagaikan es, tiba-tiba saja senjata payung Thian lo san nya dipergunakan bagaikan senjata pedang dengan jurus "Cahaya tajam lintasan bayangan", dia sapu tubuh lawan dari sisi kiri langsung mengancam lengan kanan Ki Liu si.

Walaupun Ki liu si sendiripun dapat merasakan betapa lihainya jurus serangan tersebut, sayang sekali keadaan sudah terlambat, sebab jurus serangan dari Kho Yang ciu memang kelewat aneh dan sakti.

Ki Liu si sudah tak sempat lagi menarik serangannya sambil menanggapi ancaman yang datang, tak ampun seperti nasib yang dialami si Golok setan bercambang baja, terdengar suara sambaran serangan jurus dari Kho Yang ciu yang sangat aneh dan sakti itu , Ki Liu si dengan tiba-tiba menjejakkan kakinya, lalu mengundurkan diri dari serangan Kho Yang ciu yang sangat hebat itu.

Tak lama kemudian Kho Yang ciu menyerang jago kedua dari kawanan orang jago dunia persilatan itu dengan menggunakan jurus "Cahaya tajam lintasan bayangan"

Dia sapu tubuh musuhnya tersebut.

Dengan tidak dapat menahan serangan dari Kho Yang ciu itu, maka Ki Liu si, jago kedua itu menggeletak dengan badan yang bermandikan darah.

Dengan kematian dua orang jago pedang secara beruntun, kawanan jago dari dunia persilatan mulai dibikin keder dan bergidik.

Kho Yang ciu memperhatikan sekejap sekeliling arena, lalu sambil tertawa dingin serunya.

"Heeehhh......heeeehhh..........heeeehhh.....orang she To, kau tak usah menyuruh orang lain datang menghantar kematian lagi, kali ini nonamu ingin sekali mencoba kehebatan sepasang pedang berlengan baja mu, beranikah kau menerima tantangan ini?"

Si pedang emas berlengan baja To tin segera merasakan hatinya bergetar keras sesudah mendengar seruan tersebut.

Ia sama sekali tidak menyangka kalau Kho Yang ciu bakal menantangnya secara terang-terangan, hal inilah yang membuat hatinya terperanjat sekali.

Sebagai pimpinan dari rombongan para jago dunia persilatan, sudah barang tentu dia tak ingin menunjukkan kelemahan sendiri dihadapan umum, karenanya sambil sengaja tertawa tergelak, katanya kemudian.

"Haaah...haaahh.....haaaahhh....bagus sekali, aku memang ingin mencoba sampai dimanakah kelihaian serta keampuhan ilmu payung Thian lo san mu itu, meski nona tidak menantangku untuk bertarung, sudah sejak tadi tanganku terasa gatal untuk mencoba keampuhanmu."

Dengan suatu gerakan yang sangat ringan, dia melejit keudara dan melayang turun beberapa kaki dihadapan Kho Yang ciu, dan pada saat bersamaan dia meloloskan sepasang pedangnya yang berkilauan tajam ditangan, diapun membentak keras.

"Nah, silahkan nona memberi petunjuk!"

Kho Yang ciu tertawa dingin, katanya .

"Kau sendiri kelewat tinggi menilai kemampuanmu sendiri, hmmmm! Bagiku, bertarung melawan manusia macam kau tak perlu berebut melancarkan serangan, kalau bukan demikian, kemana mesti kutaruh selembar wajahku ini dalam pengembaraanku dalam dunia persilatan?"

"Kau betul-betul kelewat sombong!"

Teriak To tin dengan perasaan amat mendongkol. Sepasang pedangnya segera diputar menciptakan selapis cahaya pedang yang amat menyilaukan mata, lalu dengan jurus "Sepasang naga berebut mutiara"

Dia langsung menyerang tubuh gadis tersebut.

Kho Yang ciu tertawa dingin, payung Thian lo san nya dipentangkan lebar-lebar, dalam waktu singkat kawasan seluas berapa kaki sudah diliputi cahaya keperak-perakan yang menyilaukan mata, seluruh serangan gencar dari To tin seketika terbendung sama sekali.

To tin yang melancarkan tusukan dengan sepasang pedangnya segera merasakan serangan tersebut seakan-akan sudah membentur diatas sebuah dinding baja yang sangat kuat, pergelangan tangannya menjadi tergetar, sampai lamat-lamat terasa sakit dan kesemutan, hampir saja pedangnya terlepas dari cekalan tangannya.

Sementara itu Kho Yang ciu telah memutar kembali senjata payung Thian lo san nya sambil tertawa terkekeh-kekeh, jengeknya .

"Heeeeeehh......heeeeeeeehhh......heeeehhh.....dengan mengandalkan sedikit kepandaian seperti ini pun kau mencoba untuk memimpin umat persilatan? Huuuh..........masih ketinggalan jauh!"

Merah padam selembar wajah To tin karena jengah, sambil menggertak gigi menahan gejolak emosi, teriaknya keras-keras.

"Hey perempuan siluman! Kau jangan tekebur dulu, rasakan sebuah tusukan pedangku ini!"

Sambil mendesak maju kemuka, sepasang pedangnya melancarkan tusukan mendatar ke tubuh lawan.

Kho Yang ciu menggunakan payungnya menggantikan pedang, dengan jurus "Malaikat langit menyembahkan hidangan", terlihat sinar keperak-perakan menyebar keudara dan mengurung diatas cahaya pedang dari si Pedang emas berlengan baja To tin serta menyumbat gerakannya sama sekali.

Sebagai seorang jagoan yang termasyur didalam dunia persilatan karena permainan ilmu pedangnya, tentu saja si Pedang Emas berlengan baja dapat melihat pula bahwa jurus serangan yang digunakan Kho Yang ciu adalah jurus pedang.

Kendatipun demikian, teryata ia tak mampu untuk meraba jurus serangan macam apakah yang telah dipakai lawannya untuk menciptakan lapisan cahaya perak yang begitu menyilaukan mata serta menyumbat seluruh gerak serangannya itu.

Dalam terkejut dan gugupnya, buru-buru dia mengeluarkan jurus "Rombongan burung terbang melintas", maksudnya dia hendak melindungi keselamatan tubuh sendiri dengan lapisan cahaya pedangnya yang tebal.

Tapi sayang, jurus pedang dari Kho Yang ciu itu justru memiliki keistimewaan lain.

"Criiiiingggggg.........!"

Terdengar suara dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan, ternyata pedang emas ditangan To tin telah saling beradu keras dengan payung Thian lo san dari Kho Yang ciu.

Tak ampun lagi To tin merasakan lengan kanannya sakit sekali bagaikan patah, bersamaan waktunya pedang emas dalam cekalannya tak sanggup dipertahankan lebih jauh dan segera melesat ketengah udara lalu jatuh dua kaki dari posisi semula.

Dalam terkejutnya, buru-buru dia memutar pedang kirinya untuk melindungi badan, sementara tubuhnya bergerak mundur dengan cepat untuk menyelamatkan diri.

Tentu saja Kho Yang ciu tidak memberikan kesempatan kepada lawannya untuk melarikan diri dari cengkeramannya, sekali lagi terjadi suara dentingan nyaring yang amat memekakkan telinga.

"Criiiiiiiingggg..........!"

Lagi-lagi Thian lo san nya menghajar pedang kiri To tin hingga mencelat dari cekalannya.

Dengan kehilangan sepasang pedangnya, maka pertahanan dada To tin pun menjadi terbuka sama sekali, dengan cepat payung Thian lo san menerobos masuk kedalam dan menguasai beberapa buah jalan darahnya.

Perubahan situasi ini berlangsung amat cepat, meski diantara kelima puluh jago persilatan yang berada disisi arena ada yang berniat terjun untuk menggantikan kedudukan To tin, namun tak seorangpun diantara mereka yang sempat berbuat demikian.

Dalam waktu singkat, tubuh To tin sudah terkurung dibawah ujung payung Thian lo san dari Kho Yang ciu itu.

Betapa pun lihai dan ampuhnya kepandaian silat yang dimiliki pemimpin dunia persilatan untuk kawasan Kanglam ini, bukti mengatakan bahwa dia sendiripun hanya mampu bertahan sebanyak dua jurus saja.

Sambil tertawa dingin Kho Yang ciu segera berkata.

"Hey orang she To! Kau sudah menyerah, bukan?"

To tin memejamkan matanya rapat-rapat, sambil menggertak gigi serunya lantang.

"Kau boleh segera turun tangan!"

Kho Yang ciu tertawa hambar, dia tak langsung turun tangan, tapi ujarnya pelan.

"Berhubung kau adalah pemimpin dari rombongan tersebut, maka aku belum turun tangan, ada beberapa pertanyaan yang ingin kuajukan kepadamu lebih dulu."

"Tanyakan saja!"

Ucap To tin sambil membuka matanya kembali.

"asal dapat kujawab tentu akan kujawab secara baik-baik, tapi bila tak bisa kujawab, sekalipun kau tanyakan juga tak berguna."

Kho Yang ciu memutar biji matanya sambil mengawasi wajah orang itu sekejap, setelah itu tanyanya.

"Dalam peristiwa berdarah diperkampungan Hui im ceng tempo dulu, apakah kau pun ikut ambil bagian?"

"Bukankah kau sudah mempunyai sebuah daftar hitam? Kenapa pertanyaan ini mesti diajukan kembali kepadaku?"

Shut To tin dengan suara dalam.

"Daftar hitamku tak dapat dipercayai seratus persen, paling tidak masih banyak nama yang belum tercantum dalam daftar tersebut, oleh karena itu kuharap kau bisa memberikan jawaban yang meyakinkan kepadaku."

To tin segera mendengus dingin.

"Hmmm.....pertanyaan tersebut tak bisa kujawab!"

"Kenapa?"

Tanya Kho Yang ciu gusar. Dengan wajah serius To tin berkata.

"aku secara khusus menghubungi rekan-rekan persilatan untuk datang kemari bersama tujuannya tak lain adalah membasmi si kedele maut dari muka bumi serta menghilangkan bibit bencana bagi umat persilatan pada umumnya, sekarang aku gagal dengan tujuanku, berarti biar mati pun tak perlu kusesali, jika sekarang kuakui kalau diriku tidak terlibat dalam persitiwa berdarah di perkampungan Hui im ceng tempo hari, bukankah tindakanku ini sama artinya dengan tindakan pengecut yang takut mati..........?"

"Ooooh.....jadi kalau begitu kau tidak erasa takut untuk menghadapi kematian?"

Jengek Kho Yang ciu sambil tertawa dingin.

"Sudah semenjak permulaan aku tidak memikirkan soal hidup matiku!"

Kembali Kho Yang ciu mendengus.

"Hmmmm.....kalau memang begitu terpaksa aku harus memenuhi pengharapanmu itu!"

Payung Thian lo san segera digetarkan dan siap utnuk menembusi tubuh rang tersebut. Disaat yang amat kritis inilah, tiba-tiba terdengar seseorang berteriak keras.

"Tunggu sebentar!"

Menyusul teriakan itu, tampak seorang pendeta tua berbaju kuning telah meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.

Pendeta tua ini tidak termasuk didalam rombongan kawanan jago persilatan itu, ternyata dia tak lain adalah Cok cuncu dari Siau lim si.

Lima sesepuh panca unsur dari Siau lim si memang merupakan jago-jago yang bernama besar dan termasyur dalam dunia persilatan, tak sedikit diantara para jago yang kenal dengan pendeta agung dari Siau lim pay ini, sehingga dalam waktu singkat suasana dalam arena berubah menjadi amat hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun.

Begitu melayang turun ditengah arena, pendeta itu segera berseru memuji keagungan Buddha, sambil katanya .

"Omitohud......ternyata kedatanganku toh masih terlambat satu langkah, sudah ada korban yang kehilangan nyawa disini!"

Waktu itu, meskipun Kho Yang ciu tidak melanjutkan gerakan payung Thian lo san nya untuk membunuh To tin yang telah kehilangan kemampuan untuk melawan, tapi sambil mendengus dingin segera tegurnya .

"Siapa kau?"

"Aku adalah Bok cuncu dari Siau lim pay!"

"Heeeeehhh......heeeeehh......heeeehhhh.......sebetulnya nona ada minat untuk menyerbu Siau lim si dan mencuci tanah disitu dengan darah kalian, sayang hingga sekarang belum ada waktu luang, kalau toh kau datang lebih dulu untuk menghantar kematian, tentu saja nona akan mengabulkan permintaanmu itu."

Buru-buru Bok cuncu menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berseru.

"Kedatanganku pada hari ini sama sekali bukan bermaksud untuk berkelahi denganmu!"

"Hmmmmm....lantas mau apa kau datang kemari?"

Dengus Kho Yang ciu dingin. Bok cuncu memperhatikan sekejap situasi disana, lalu katanya .

"Bersediakah Li sicu untuk membebaskan To lo sicu lebih dahulu....."

Kho Yang ciu termenung sambil berpikir sejenak, lalu katanya .

"Baiklah, mencabut nyawa kalian toh sama gampangnya dengan membalik telapak tangan sendiri, biar kubebaskan orang ini lebih dulu, bila aku masih menginginkan nyawanya, nantipun masih bisa kulakukan secara gampang........"

Sambil menarik kembali payung Thian lo san, dia segera mengundurkan diri sejauh satu kaki dari posisi semula.

Si pedang emas berlengan baja To tin yang lolos dari kematian, buru-buru memberi hormat kepada Bok cuncu seraya berkata.

"Terima kasih banyak atas bantuan dari Lo siansu, tapi tahukah lo siansu siapa gerangan perempuan itu?"

Bok cuncu tersenyum .

"Bukankah dia adalah puteri dari Kho Bun sin, kepala kampung dari perkampungan Hui im ceng tempo dulu, atau yang lebih dikenal dalam dunia persilatan sebagai si Kedele Maut? Lolap mengetahui persoalan ini dengan amat jelas"

"Kalau toh lo siansu sudah mengetahui tentang persoalan ini, kenapa kau....."

Sebelum perkataan dari To tin selesai diucapkan, bok cuncu telah menukas dengan cepat .

"Tampaknya To lo sicu masih belum mendengar tentang peristiwa dilembah hati Buddha, kini si hwesio daging anjing serta Kho Beng telah tampilkan diri, maka sebelum duduknya persoalan dibikin jelas, kedua belah pihak dilarang melakukan bentrokan serta pertempuran berdarah lagi."

"Akupun telah menerima surat pemberitahuan dari Kho Beng, tapi yatanya si Kedele Maut masih tetap meneruskan ulahnya dengan menyebarkan maut didalam dunia persilatan."

"Yaa.....didalam hal ini aku sendiripun merasa sangat menyesal!"

Kata Bok cuncu sambil manggut-manggut. Bebicara sampai disini, dia segera berpaling kearah Kho Yang ciu, sambil katanya lebih jauh.

"Apakah nona Kho pernah bertemu dengan adikmu?"

"Pernah!"

Jawab si nona ketus.

"Setelah bertemu muka, aku rasa adikmu pasti telah menyinggung pula masalah pemberitahuannya kepada seluruh umat persilatan. Nona, apakah kaupun bersedia mengikat janji dengan lolap untuk sementara waktu diadakan gencatan senjata sampai duduk persoalan yang sebenarnya dimasa lalu terungkap sama sekali?"

"Hmmmm.....apakah kau bisa mengambil keputusan?"

Dengus Kho Yang ciu dingin. Dengan wajah bersungguh-sungguh, Bok cuncu berkata.

"aku memang tak bisa mengambil keputusan, tapi sekembalinya dari sini lolap akan segera melaporkan peristiwa ini kepada ketua kami, lalu atas nama ketua kamilah akan disebarkan surat pemberitahuan keseluruh partai dan perguruan yang ada untuk mengebarkan gencatan senjata ini, nah bagaimana pendapatmu?"

Kemudian setelah berhenti sejenak, diam engalihkan sorot matanya dan memperhatikan sekejap To tin beserta kawan-kawan persilatannya, kemudian menyambung lebih jauh.

"Walaupun umat persilatan berjumlah banyak sekali didunia ini, aku rasa belum ada seorangpun yang berani melanggar keputusan dari tujuh partai besar!"

To tin beserta segenap jago persilatan serentak terbungkam dengan kepala tertunduk, setelah mendengar ucapan itu.

"Omitohud........."

Kembali Bok cuncu berkata.

"bagaimana nona Kho......?"

"Baik, aku bersedia mengabulkan permintaanmu itu"

Kata Kho Yang ciu kemudian dengan suara dingin.

"tapi disaat kau telah selesai dengan penyelidikanmu itu, maka setiap orang yang terlibat didalam peristiwa pembantaian berdarah diperkampungan Hui im ceng tempo dulu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, aku tak akan membiarkan seorang pun diantara mereka yang berhasil meloloskan diri."

"Omitohud.......kalau soal itu mah merupakan urusan dikemudian hari, yang kujanjikan dengan nona adalah masa sebelum duduknya persoalan menjadi jelas........"

Kho Yang ciu mendengus dingin.

"Hmmmmm........aku telah menyanggupi permintaan kalian, sekarang kalian semua boleh pergi dari sini!"

Bok Cuncu tidak langsung pergi, ia nampak termenung sebentar, kemudian katanya lagi.

"Aku perlu memberitahukan pula satu persoalan kepada nona, yang harus dicari oleh nona sebetulnya adalah Dewi In nu, sebelum orang tersebut berhasil ditemukan, duduknya persoalan pun jangan harap bisa menjadi terang untuk selamanya."

"Soal ini aku cukup mengerti, rasanya lo siansu tak usah banyak berbicara lagi."

"Omitohud.....kalau toh begitu, biar lolap segera mohon diri lebih dahulu........."

Kemudian kepada To tin sekalian, katanya pula .

"Saudara sekalianpun boleh pergi dari sini!"

Selesai berkata, tampak bayangan kuning berkelebat lewat, pendeta itu sudah beranjak meninggalkan tempat tersebut.

Kho Yang ciu hanya tertawa dingin tiada hentinya, ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.

Si pedang emas berlengan baja segera mengawasi sekejap anak buahnya, kemudian serunya pula .

"Hayo berangkat!"

Dari rombongan para jago segera muncul empat orang untuk membopong kedua sosok jenasah yang tergeletak ditanah, kemudian buru-buru berlalu dari situ.

Dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik pepohonan sana.

Menanti para jago sudah pergi jauh, Li Sian soat baru menghampiri gadis tersebut seraya berseru .

"Adik Kho, kau betul-betul hebat dan perkasa, kali ini kau telah membuat mereka mati kutu!"

"Andaikata pendeta tua dari siau kim pay itu tidak muncul tepat waktunya, aku tak akan membiarkan kelima puluhan orang jago tersebut pulang dalam keadaan utuh!"

Jawab Kho Yang ciu bangga. Cun hong Lengcu, Jiu cun segera tertawa misterius, ucapnya .

"Hayo cepat siapkan perjamuan, kita harus merayakan kemenangan dari adik Kho sebaik-baiknya."

"Cici berdua, kalian sudah bersikap begitu baik kepadaku, kesemuanya ini membuat siaumoy merasa berterima kasih sekali......."

Buru-buru Kho Yang ciu berseru. Kembali Cun hong Lengcu tertawa manis.

"Kita sesama saudara sendiri, buat apa kau mesti bersungkansungkan......?"

Maka rombongan gadis itupun kembali keperkampungan Ciu hong san ceng dan langsung menuju keruang tengah.

Tak selang berapa saat kemdian, meja perjamuan telah dipersiapkan ditengah ruangan, Li Sian soat segera turun tangan sendiri untuk memenuhi cawan Kho Yang ciu dengan arak.

Setelah perjamuan berlangsung sampai setengah jalan, tiba-tiba Kho Yang ciu bangkit berdiri sambil mengangkat cawan araknya, lalu ia berkata pelan.

"Siaumoy ingin mempergunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk menghormati cici berdua dengan secawan arak!"

"Aaaaah...kita kan sesama saudara sendiri, tak usahlah memakai segala adat lagi......."seru Cun hong Lengcu tertawa.

"Tidak! Cici berdua harus menghabiskan isi cawan ini, sebab setelah itu aku hendak menyampaikan sesuatu."

Cun hong Lengcu segera melemparkan sebuah kerlingan mata kepada Li Sian soat, setelah itu mereka berdua angkat cawan bersama-sama, seraya berkata.

"Kalau memang begitu, biarlah kami berdua menerima penghormatan ini........"

Dengan cepat mereka berdua meneguk habis isi cawan tersebut. Sambil meletakkan kembali cawan araknya kemeja, Cun hong Lengcu berkata kemudian.

"Adik Kho, bila kau hendak menyampaikan sesuatu, sekarang dapat kau utarakan keluar."

"sudah kelewat lama siaumoy berdiam bersama cici berdua, terima kasih banyak untuk pelayanan kalian yang begitu bagik selama ini, tapi siaumoy tak mungkin bisa berdiam terlalu lama lagi disini, oleh sebab itulah menggunakan kesempatan yang sangat baik ini, aku ingin memohon diri kepada cici berdua."

"Adik Kho...hubungan persahabatan diantara kita cukup akrab, pergaulan kitapun berlangsung begitu hangat dan erat, mengapa kau mengucapkan kata-kata seperti itu?"

Seru Li Sian soat dengan kening berkerut.

"Sesungguhnya siaumoy sendiripun merasa ebrat hati untuk berpisah dengan cici berdua, tapi mumpung sekarang ada kesempatan yang sangat baik bagiku untuk berkunjung keperkampungan Hui im ceng, pertama aku ingin pulang kampung untuk berjiarah didepan makam kedua orang tuaku, kedua akupun ingin meneruskan usaha ayahku almarhum untuk membangun kembali kejayaan perkampungan Hui im ceng, sebab saat ini dunia persilatan akan menjadi tentram untuk sementara waktu dan mustahil akan terjadi keributan lagi........"

Missing page 40-47 ......keselamatan jiwaku menjadi berbahaya sekali?"

"Soal ini tak perlu kau kuatirkan adikku, biar langit ambruk punkami akan berusaha menanggulanginya bagimu, apalagi yang mesti kau takuti....?"

Kho Yang ciu menggeleng.

"Bukannya aku merasa takut, tapi........hatiku merasa amat tak tenang......."

Mendadak Li Sian soat bertepuk tangan seraya berseru .

"Aaaaai betul.......aku sudah memperoleh sebuah cara yang bagus sekali untuk mengatasi kesulitan ini!"

"Apakah caramu itu?"

"Kami mempunyai sebuah pesanggrahan lain dengan panorama yang indah sekali, aku rasa tempat itu cocok sekali bagimu untuk merawat penyakit yang kau derita, mari kita berangkat kesana dan tinggal barang dua tiga bulan disana, sampai waktunya pasti penyakitmua akan sembuh dengan sendirinya........"

"Pesanggrahanmu itu terletak dimana?"

"Diatas puncak bukit Cian san, letaknya jauh lebih bagus dan indah ketimbang tepat ini!"

Kho Yang ciu segera menghela napas.

"Bagusnya memang bagus.......Cuma......"

"Sudahlah, kau tak usah berbicara lagi"

Tukas Li Sian soat sambil menutup bibirnya.

"kecuali kau memang asing terhadap kami."

"Ooooh cici, kau......kau benar-benar kelewat baik kepadaku!"

Bisik Kho Yang ciu dengan perasaan sangat terharu.

Maka keesokan harinya muncullah tiga buah tandu meninggalkan perkampungan Ciu hong san ceng dan langsung berangkat menuju kepuncak bukit cian san, selain mereka tampak pula belasan orang dayang beserta kakek dari marga Tia itu mengiringi dibelakang mereka.

Dengan keberangkatan rombongan besar tersebut, maka suasana diperkampungan Ciu hong san ceng pun dicekam dalam keheningan dan suasana sepi yang luar biasa.

Menjelang senja itu tampak, tampak ada dua orang nona berbaju putih yang tergesa-gesa menuju keperkampungan itu, kedua orang tersebut tak lain adalah dayang kepercayaan Kho Yang ciu, yaitu Sia hong serta Bwee hiong.......

Sampai lama sekali kedua orang itu menggedor pintu sebelum muncul seorang dayang berbaju hijau yang membukakan pintu.

Begitu bertemu dengan kedua orang tersebut, tanpa terasa lagi dayang berbaju hijau itu menggerutu .

"Mengapa kalian baru kembali pada saat ini? Huuuuh.....sudah cukup lama kami menantikan kedatangan kalian."

Dayang berbaju hijau itu tak lain adalah dayang kepercayaan Cun hong Lengcu, yakni Sian kim. Buru-buru Sia hong berkata .

"Enci Sian kim, sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa suasana disalam maupun diluar perkampungan nampak lenggang dan sepi?"

"Mereka semua telah pergi, coba kalau bukan untuk menunggu kalian, mungkin aku pun sudah pergi sedari tadi!"

"Mereka telah pergi kemana? Mana nona kami?"

Tanya Bwee hiang sangat terkejut.

"Tentu saja nona kalian pun ikut pergi dari sini."

Kata Sian kim. Kemudian setelah berhenti sebentar, kembali ia menambahkan.

"Mari kita segera berangkat, hari hampir gelap, meski perjalanan tidak terhitung jauh, namun jalan setapak yang dilalui susah sekali untuk dilewati!"

Selesai berkata, diapun balik kembali kedalam perkampungan.

Tapi tak lama kemudian ia muncul lagi dedepan pintu sambil membawa sebuah papan nama.

Mula-mula pintu gerbang perkampungan ditutup rapat lebih dulu, kemudian papan tersebut baru dipakukan diatasnya.

Sewaktu Sia hong dan Bwee hiang memperhatikan tulisan diatas papan tadi, maka terbacalah beberapa kata yang berbunyi.

"Pemilik perkampungan ini sedang berpesiar keluar daerah, setahun kemudian baru pulang kembali."

Dibawahnya dicantumkan tahun dan bulan yang dimaksud. Selesai memaku tulisan tersebut, Sian kim baru berpaling dan berkata sambil tertawa .

"Sekarang kita harus segera beangkat!"

Sia hong dan Bwee hiang merasa canggung untuk bertanya lebih jauh, tanpa bertanya lagi berangkatlah mereka bertiga menuju kearah puncak bukit tersebut.

oooOOooo Tak lama setelah kepergian ketiga orang itu, dimuka perkampungan Ciu hong san ceng kembali muncul dua sosok bayangan manusia.

Menanti kedua orang itu sudah tiba dimuka perkampungan, baru terlihat jelas paras muka mereka sebenarnya, ternyata mereka adalah Kho Beng serta Chin sian kun.

Sewaktu membaca isi pengumuman didepan pintu gerbang perkampungan itu, Kho Beng kelihatan agak tertegun, lalu gumamnya .

"Berpesiar keluar daerah, setahun kemudian baru pulang kembali.......?"

Tapi setelah meneliti bulan dan hari yang tercantum dibelakangnya, ternyata menunjukkan hari ini, tanpa terasa lagi dia menghentakkan kakinya keatas tanah seraya berseru.

"Aduh, celaka.....!"

Dengan kening berkerut, Chin Sian kun berkata .

"Mungkin saja apa yang mereka perbuat sekarang Cuma sebagian dari siasat licik mereka, siapa tahu sesungguhnya mereka tak pernah meninggalkan tempat ini? Mari kita lakukan pemeriksaan yang seksama disekeliling perkampungan ini!"

Kho Beng mengangguk .

"Pemeriksaan mah tentu harus dilakukan........"

Sambil berkata ia segera melejit keatas dinding pekarangan, diikuti Chin Sian kun dari belakang.

Namun suasana dalam perkampungan itu gelap gulita tanpa setitik cahaya pun, meski mereka berdua sudah melakukan pemeriksaan yang seksama, atap, setiap halaman dan ruangan yang ada.

Namun semua pintu kamar ditemukan berada dalam keadaan terkunci, memang tak seorang manusia pun yang nampak disitu.

Kembali Kho Beng menghentakkan kakinya sambil menggerutu .

"Huuuuuhh......kesemuanya ini gara-gara tenaga dalamku tak bisa pulih kembali dalam waktu cepat, akibatnya mereka berhasil kabur dari sini......."

"Marilah kita lakukan pencarian secara pelan-pelan"

Hibur Chin sian kun.

"masa kita takut mereka bisa kabur keujung langit."

"Aaaai.....keselamatan enciku masih berada ditangan mereka, aku amat mengkuatirkan keselamatannya."

Chin Sian kun turut menghela napas sedih, katanya pula .

"Biasanya orang baik selalu dilindungi Thian, meski gelisah pun rasanya tak ada gunanya!"

Tatkala seluruh perkampungan Ciu hong san ceng telah selesai diperiksa dan mereka mendapatkan kenyataan bahwa perkampungan tersebut benar-benar sudah tak berpenghuni lagi, terpaksa kedua orang tersebut harus mengundurkan diri dari perkampungan itu.

"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"

Tanya Chin Sian kun kemudian dengan wajah sedih.

"Selain terburu-buru ingin melacak jejak enciku, masih ada dua persoalan lagi yang harus kukerjakan, pertama turun kekaki bukit untuk mencari Molim sekalian berempat, dan kedua berangkat ke siau lim pay untuk membebaskan ketua Sam gian bun"

"Pergi ke Siau lim si?"

"Aaaai........"

Kho Beng menghela napas panjang.

"Aku telah menyanggupi permintaan dari Cho Lui san, anak murid Sam goan bun itu untuk berangkat ke siau lim si dan menolong ketuanya Sun thian hong dari sekapan, Bagaimanapun juga aku toh mesti melaksanakan janji ini!"

"Aku lihat persoalan ini bukan suatu pekerjaan yang gampang"

Kata Chin sian kun dengan kening berkerut.

"pihak siau lim pay mempunyai banyak jago lihai yang tak terhitung jumlahnya, kita tak boleh memandang enteng kekuatan mereka, selain itu setelah ketua siau lim pay berani menyekap ketua Sam goan bun dalam kuilnya, aku yakin dia tak akan membebaskannya hanya disebabkan sepatah dua patah katamu."

"Yaaa....entah apa pun yang bakal terjadi, setelah kusanggupi permintaan mereka, paling tidak tugas tersebut harus dilaksanakan"

Ujar Kho Beng dengan wajah serius. Mendadak terdengar suara seseorang yang amat nyaring menyambung ucapan tersebut.

"Padahal persoalan tersebut mudah dalam penyelesaiannya, serahkan saja kepadaku untuk membereskannya!"

Tampak sesosok bayangan kuning berkelebat lewat, tahu-tahu seorang pendeta tua berwajah anggun telah melayang turun tepat sihadapan mereka.

Ketika diamati lagi dengan seksama, ternyata pendeta tersebut tak lain adalah Bok cuncu, salah seorang diantara lima sesepuh lima unsur dari Siau lim pay.

Kho Beng segera mendengus dingin, tegurnya .

"Hmmm......sebagai seorang pendeta agung dari siau lim pay, mengapa kau sadap pembicaraan kami?"

"Omitohud!"

Bok Cuncu segera berbisik memuji keagungan Buddha, hampir setengah harian aku berada ditempat ini, toh sewaktu sicu berbincang-bincang tadi, lolap tak bisa menyumbat telingan sendiri untuk tidak ikut mendengar......"

"Lo siansu, mengapa kau berada disini sampai setengah harian lamanya?"

Seru Kho Beng keheranan. Kembali Bok cuncu berbisik memuji keagungan Buddha, kemudian sambil menunjuk kedepan, katanya .

"Noda darah yang berceceran disini belum lagi mengering, kemarin encimu telah membunuh dua orang lagi disini"

"Lo siansu, terus terang saja kukatakan, akupun sedang mencari jejak enciku, sebab aku perlu memberi penjelasan kepadanya bahwa untuk sementara waktu semua pertumpahan darah harus dihentikan........"

"Dalam peristiwa yang terjadi kemarin, sebetulnya kesalahan bukan terletak pada cicimu."

Tukas Bok cuncu cepat.

"Sungguh aneh"

Kho Beng segera menjengek sambil tertawa dingin.

"mengapa lo siansu ustru membelai si Kedele Maut?"

Dengan wajah serius Bok cuncu berkata .

"Bila hatiku condong kesalah satu pihak dan tak mampu berlaku adil, mungkin Buddha sudah lama meninggalkan aku. Betul cicimu sudah banyak menyebarkan maut dalam dunia persilatan, banyak sudah korban jiwa yang tewas oleh kedele maut nya, tapi setelah ada perjanjian dipihak kita semua untuk menunda semua perselisihan dan pertumpahan darah sampai duduknya persoalan menjadi jelas, sudah barang tentu kedua belah pihak harus menepati janji tersebut dengan sebaik-baiknya."

Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, katanya lebih jauh.

"Yang menghasut umat persilatan untuk melakukan penyerbuan berdarah kemarin adalah si pedang emas berlengan baja to tin, seorang pentolan dunia persilatan dari kawasan Kanglam, ia telah datang kemari bersama lima puluh orang jago-jago Kanglam, oleh sebabitulah aku menilai bahwa dalam peristiwa kemarin, cicimu tak dapat disalahkan........"

Kho Beng berpikir sejenak, kemudian katanya .

"Tadi Lo siansu bilang sudah hampir setengah harian lamanya kau berada disini, tentunya Lo siansu tahu bukan kemana perginya orang-orang dari perkampungan Ciu hong san ceng ini."

Bok Cuncu menggeleng.

"Biarpun aku melihat mereka pergi meninggalkan tempat ini, tapi tidak kuketahui kemanakah mereka telah pergi?"

"Lo siansu, seharusnya kau buntuti mereka"

Seru Kho Beng dengan kening berkerut. Merah jengah selembar wajah Bok cuncu, serunya berulang kali .

"Waaah....dosa....dosa...aku adalah seorang pendeta yang jauh dari keramaian keduniawian, masa seorang hwesio disuruh menguntil berapa orang gadis muda? Apa jadinya kalau perbuatanku itu sampai ketahuan mereka? Bisa hilang mukaku ini......."

"Apakah Lo siansu juga tidak mendengar hendak kemanakah mereka akan pergi?"

Tanya Kho Beng lebih jauh sambil menghentakkan kakinya keatas tanah. Kali ini Bok Cuncu manggut-manggut.

"Kalau soal ini mah sudah kudengar, tapi aku kurang pecaya dengan perkataan mereka, menurut apa yang mereka bicarakan, konon rombongan tersebut hendak pergi kesebuah pesanggrahannya dipuncak sana, tapi bisa jadi perbuatan mereka hanya sebuah tipuan saja untuk mengalutkan perhatian orang."

"Tapi yang pasti entah kemanapun mereka pergi, akan sulit buat kita untuk mencarinya kembali!"

Seru Kho Beng gelisah.

"Tak usah terburu nafsu"

Kata Bok Cuncu sambil menggelengkan kepalanya.

"justru persoalan inilah yang hendak kubicarakan dengan dirimu......"

Setelah berhenti sejenak, dengan suara dalam ia berkata lebih jauh.

"Aku merasa gembira dan bersyukur sekali dengan keputusanmu yang khusus melacaki jejak pembunuh sebenarnya dan tidak melakukan tindakan yang membabi buta, itulah sebabnya kami bersedia pula untuk bekerja sama denganmu, entah bagaimanakah menurut pendapatmu?"

"Bekerja sama?"

Agaknya usul ini sama sekali diluar dugaan Kho Beng.

"Aku merasa persoalan ini benar-benar suatu kejadian yang lucu."

Peristiwa ini memang benar-benar merupakan suatu kejadian yang lucu sekali, dimasa lalu mesku hubungannya dengan pihak Siau lim pay tak seberapa renggang, namun dengan cicinya si Kedele Maut justru merupakan musuh bebuyutan yang ibarat air dengan api, tapi sekarang, mereka justru disodori untuk bekerja sama, bukankah kejadian semacam ini tak pernah terduga sebelumnya?

Dengan nada suara yang amat tenang, Bok Cuncu berkata lagi.

"Justru demi keamanan dan ketentraman bagi seluruh dunia persilatan, kami khusus mengajukan usul tersebut kepada kalian, kuharap Kho sicu mau berpikir tiga kali lebih dulu sebelum mengambil keputusan."

"Setelah kau berani berbicara tentang kerja sama, aku rasa Lo siansu pasti sudah mempunyai rencana yang amat masak, bolehkah aku tahu dalam bentuk seperti apakah kerja sama itu hendak dilaksanakan?"

"Kita semua sudah tahu kalau dalang yang sebenarnya dari peristiwa berdarah ini adalah dewi In nu"

Kata Bok Cuncu serius.

"dan kami percaya dengan ini tak bakal salah lagi, yang masih kurang bagi kita sekarang tinggal bukti yang jelas serta siapa gerangan orang yang telah menyaru sebagai Bu wi lojin pada waktu itu, begitu teka-teki tersebut terungkap, maka semua duduk persoalan pun akan menjadi terang. Maka kerja sama diantara kita pun otomatis tertuju untuk tercapainya sasaran tersebut secara gemilang........."

"Yaa betul......tapi bicara sih gampang, kalau dilaksanakan benarbenar akan muncul banyak kesulitan yang tak terduga, seperti ambil contoh dengan keadaan didepan mata sekarang........"

Jilid 25 Bok cuncu tersenyum, sebelum pemuda tsb menyelesaikan katakatanya, dia segera menukas .

"Saat ini rasanya aku sudah mulai menaruh perasaan curiga terhadap perkampungan Ciu hong san ceng ini"

"Bukan Cuma mencurigakan, bahkan aku yakin bahwa penghuni perkampungan ini adalah anak buah dari dewi In nu, hanya saying kita tak berhasil mengumpulkan bukti yg nyata sehingga mengakibatkan ciciku pun terpengaruh oleh mereka."

"Kalau begitu tugas kita yg terutama sekarang menemukan sarang mereka serta mendapatkan bukti yg nyata, bukan?"

"Betul!"

Kho Beng manggut-manggut.

"tapi aku percaya pekerjaan inipun bukan suatu pekerjaan yg mudah."

Bok cuncu segera tertawa .

"Sekembalinya dari sini, aku akan melaporkan peristiwa ini kepada ketua kami, kemudian akan kuhimpun umat persilatan utk bersama-sama melacak jejak dari orang-orang perkampungan Ciu hong san ceng ini serta cicimu, Cuma diantara kita berdua harus sering mengadakan hubungan kontak......."

Dg rasa gembira, Kho Beng berseru .

"Kalau memang begitu tujuannya, aku bersedia sekali utk bekerja sama dg kalian!"

"Omitohud, kalau begitu kita tetapkan dg sepatah kata ini saja............"

Seru Bok cuncu.

"Benar!"

Kho Beng mengangguk.

"kita tetapkan sepatah kata ini saja."

"Omitohud, kalau begitu harap Kho sicu baik-baik menjaga diri, aku segera akan berangkat ke siau lim si!"

"Lo siansu, bila kau harus kembali ke Siau lim pay lebih dulu utk meminta persetujuan dari ketua kalian sebelum menghimpun para jago dunia persilatan, aku rasa dalam soal waktu mungkin akan sangat terlambat sekali"

Ucap Kho Beng sambil mengerutkan kening. Mendengar perkataan tsb, Bok cuncu segera tersenyum.

"Tentang soal ini, harap sicu tak usah kuatirkan, setelah kembali ke Siau lim si utk melaporkan hal ini, saat itu juga kami akan menyebarkan surat kilat kepada seluruh jago dari pelbagai perguruan agar bersiap sedia, aku percaya dalam tujuh hari mendatang sudah ada sebagian jago persilatan yg turut serta didalam pergerakan ini"

Kemudian setelah memuji keagungan sang Buddha lagi, dia menambahkan.

"Aku akan mohon diri lebih dulu!"

Habis berkata, dia segera menggerakkan badan dan berlari dari situ dg kecepatan tinggi. Lama sekali Kho Beng berdiri termangu-mangu ditempat semula sebelum akhirnya menghela napas dan berkata .

"Perubahan sikap yg diperlihatkan hwesio tua ini kelewat cepat, aku menjadi tak habis mengerti, sebetulnya niat mereka itu baik atau jahat......"

Chin Sian kun memperhatikan sekejap wajah anak muda itu, lalu katanya dg lembut .

"Tampaknya ia mempunyai niat yg jujur dan tulus, apalagi tindakan semacam inipun bakal mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak, aku rasa tawaran tsb tak usah kita risaukan lagi."

Mendadak Kho Beng menghentakkan kakinya sambil berseru .

"Aduh celaka! Aku telah melupakan suatu masalah yg amat penting...."

"Soal apa?"

Tanya Chin sian kun keheranan.

"Masalah disekapnya ketua Sam goan bun oleh pihak Siau lim pay, aku lupa utk titip pesan kepadanya agar memohonkan pembebasan dari ketua Siau lim pay."

Chin sian kun segera tertawa cekikikan serunya.

"Kalau hanya disebabkan persoalan ini, aku rasa kau tak perlu terlalu merisaukannya."

"Kenapa?"

Tanya Kho Beng tak habis mengerti.

"Coba kau bayangkan sendiri, ketua dari Sam goan bun bias disekap dikuil Siau lim si gara-gara urusanmu, apabila sekarang pihak Siau lim pay bersedia utk bekerja sama dg mu, masa mereka tak akan membebaskan ketua dari Sam goan bun tsb? Siapa tahu dia justru akan dikirim kemari utk ikut melacaki jejak dewi In nu?"

Kho Beng segera manggut-manggut, katanya .

"Nona memang sangat teliti dan cermat sekali, dugaanmu memang tepat sekali!"

Setelah tertawa bangga, kembali Chin sian kun berkata .

"Lantas kemanakah kita harus pergi sekarang?"

"Sekarang kita harus pergi mencari Molim sekalian berempat!"

Maka mereka berdua pun menuruni bukit tsb dan kembali kekota kecil dikaki gunung.

Ketika menyusul kerumah penginapan tsb, menurut keterangan pemilik rumah penginapan itu, keempat orang itu sudah meninggalkan tempat tsb sejak kemarin.

Kho Beng menjadi sangat gelisah, segera tanyanya .

"Apakah mereka telah meninggalkan alamat yg hendak dituju?"

"Tidak!"

Pemilik penginapan itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"mereka tidak mengatakan apa-apa, langsung pergi begitu saja....."

Terpaksa Kho Beng harus meninggalkan rumah penginapan tsb, sepanjang jalan dia Nampak murung dan sangat kesal. Melihat sikap anak muda tsb, Chin sian kun segera berkata .

"Bukan aku sengaja banyak mulut, tapi aku rasa alangkah baiknya bila keempat orang anak buah kongcu itu pergi tanpa pamit."

"Kenapa begitu?"

"Aku tak ingin mengatai kejelekan orang lain, tapi dalam kenyataannya keempat orang itu sama sekali tidak menaruh kesetiaan terhadap Kho kongcu, sikap mereka selama ini tak lebih hanya ingin mempelajari isi dari kitab pusaka Thian goan bu boh!"

"Aaaaai....setiap manusia tentu mempunyai watak yg baik dan jelek, tapi sikap mereka berempat saat ini sudah jauh berbeda dg sikap mereka waktu pertama dulu."

"Maksud Kho kongcu........."

Chin sian kun berpaling.

"Mereka berempat sebetulnya mempunyai sifat yg jujur dan terbuka, apalagi setelah melalui pendidikan dan bimbingan beberapa waktu, boleh dibilang kesetia kawanan mulai mereka kenal. Bisa jadi kepergian mereka dari rumah penginapan ini adalah utk mencari jejakku."

Kemudian setelah menghela napas, kembali katanya .

"Cuma saying mereka terlalu sempit jalan pikirannya sehingga tidak tahu bagaimana mesti meninggalkan pesan kepada pemilik rumah penginapan itu........."

Dg nada setengah percaya, Chin sian kun berkata .

"Kalau begitu kita harus pergi mencari mereka berempat?"

Kho Beng berpikir sebentar lalu mengangguk .

"Yaa, tentu saja, tapi aku rasa tiada tempat yg bias kita telusuri utk mencari jejak mereka, aku pikir lebih baik kita kembali dulu kelembah hati Buddha, coba kita periksa apakah kondisi badan Bu wi cianpwee telah pulih kembali seperti sedia kala."

"Betul!"

Sambung Chin sian kun.

"bisa jadi Molim bersaudara telah kembali kelembah hati Buddha!"

"Kejadian semacam ini mungkin saja dapat berlangsung, mari kita segera berangkat kelembah hati Buddha."

Maka berangkatlah kedua orang itu menuju kelembah hati Buddha.

Oleh karena kepergian mereka kelembah hati Buddha tidak mengandung tujuan yg terburu-buru, maka perjalanan mereka tempuh dg santai, sepanjang jalan selain mereka menikmati panorama yg indah, pekerjaan mereka adalah mengamati gerak gerik umat persilatan.

Menjelang magrib keesokan harinya, mereka berdua menempuh perjalanan sejauh lima li dari bukit Cian san.

Setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, Kho Beng segera berkata .

"Aku lihat kita sudah jalan terlalu jauh hingga melampaui tempat penginapan."

Ternyata sekeliling tempat itu merupakan hutan belantara dg tanah perbukitan dikejauhan sana.

"Apa salahnya?"

Sahut Chin sian kun sambil tersenyum.

"udara malam pasti amat nyaman, mengapa kita tidak menempuh perjalanan malam? Kapan kita sampai dikota, kapan pula kita beristirahat, toh hasilnya juga sama saja......?"

Kho Beng manggut-manggut, tanpa berbicara mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya menelusuri tanah berhutan.

Mendadak........

Kho Beng menyaksikan ada seseorang yg berjalan malam melintas lewat dari sisi kiri mereka, jaraknya hany beberapa puluh kaki saja dari mereka berdua.

Tergerak perasaan Kho Beng sesudah menyaksikan hal ini, kepada Chin sian kun dia segera member tanda, kemudian dilakukan pengejaran secara ketat.

Ternyata ilmu meringankan tubuh yg dimiliki si pejalan malam itu cukup tangguh, mereka harus mengejar sejauh satu li lebih sebelum berhasil menyusul sampai jarak sepuluh kaki dibelakang orang itu.

Agaknya si pejalan malam itupun sudah merasakan kalau jejaknya sedang diikuti orang, tiba-tiba saja dia menghentikan larinya.

Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling bersua muka, tanpa terasa Kho Beng berseru tertahan, ternyata orang itu adalah orang yg cukup dikenal olehnya, yakni si Saudagar racun berjalan cepat Cho Tay hap.

Cho Tay hap sendiripun nampak agak tertegun, kembali sambil buru-buru member hormat, katanya .

"Ooooh rupanya kongcu, mengapa kau datang kemari?"

Kho Beng menghela napas.

"Aaaai...panjang sekali utk diceritakan dan bagaimana dg kau sendiri? Apakah belakangan ini pernah bertemu muka dg ciciku?"

Kali ini Cho tay hap yg menghela napas panjang.

"Aaaai...cicimu sudah terperangkap oleh anak buah dewi In nu sehingga hubungan diantara mereka Nampak sangat akrab dan mesra, kemanakah dirinya berada sekarang kini sudah menjadi sebuah tanda Tanya yg besar sekali"

"Yaa benar, aku sendiripun merasa amat gelisah dan cemas karena persoalan ini!"

Cepat-cepat Kho Beng berkata.

"Ooooh...jadi kongcu pun sudah mengetahui akan persoalan ini?"

Kho Beng manggut-manggut.

"Bukan hanya tahu, tapi aku sudah dua kali menemui ancaman bahaya maut diperkampungan Ciu hong san ceng, saying sekali ciciku begitu terpengaruh oleh mereka sehingga bagaimanapun aku member penjelasan kepada dirinya, ia tetap tidak percaya!"

Kemudian sambil menatap wajah Cho Tay hap sekejap, kembali ujarnya .

"Bagaimana dg kau sendiri? Hendak pergi kemana?"

"Sebenarnya hamba sedang berusaha mencari kongcu, maksudku hendak pergi kelembah hati Buddha, sungguh tak kusangka kita telah bertemu muka disini."

"Ada persoalan apa mencariku?"

Tanya Kho Beng cepat.

"Pertama hamba ingin mengajak kongcu utk berunding bagaimana caranya melepaskan encimu dari pengaruh anak buah dewi In nu, kedua adalah menyangkut masalah keempat orang anak buah kongcu itu....."

"Apakah kau bersua dg mereka?"

Dg wajah serius Cho Tay hap segera berkata .

"aku telah bersua dg mereka, saat ini mereka telah menjalin hubungan yg cukup akrab dg para begundal Dewi In nu, tentu saja tujuan mereka tak lain adalah kitab pusaka Thian goan bu boh yg berada ditangan kongcu."

"Aaah, peristiwa ini benar-benar jauh diluar dugaanku!"

Seru Kho Beng setengah percaya setengah tidak. Dg wajah serius kembali Cho Tay hap berkata .

"Sebenarnya hamba bermaksud menguntit dibelakang mereka utk mengetahui siapakah orang yg mengadakan kontak dg mereka, tapi akhirnya mereka berhasil meloloskan diri."

Chin sian kun yg berada disisinya segera menukas.

"Sudah sejak lama aku tahu kalau mereka bukan manusia baikbaik....!"

Sementara itu Cho Tay hap sudah memandang sekeliling tempat itu, kemudian katanya lagi .

"aku telah bertemu pula dg si Unta sakti berpunggung baja Thio cianpwee, dia sendiripun mengusulkan agar kongcu bias turun tangan melenyapkan mereka berempat dari muka bumi."

"dimanakah si Unta Sakti cianpwee? Apakah kau tahu?"

Buruburu Kho Beng bertanya.

"Meskipun aku tak tahu berada dimanakah dia sekarang, tapi setengah bulan kemudian aku masih mempunyai janji dgnya."

"Kalian berjanji akan bersua dimana?"

"Lembah bunga tho dibukit Hu gou san!"

Kemudian setelah berhenti sejenak, ujarnya lebih jauh .

"Tapi Thio cianpwee berpesan agar kongcu tidak pergi menjumpainya, sebab yg terpenting buat kongcu saat ini adalah menghimpun seluruh kekuatan yg dimiliki utk melacaki jejak dewi In nu, selain watak diketahui watak dan tabiat keempat orang asing itu sudah diketahui tak jujur dan berniat membelot. Walaupun semula Thio cianpwee menghimpun mereka demi membantu kongcu yg berada dalam posisi seorang diri, tapi sekarang sudah ada Bu wi cianpwee, hwesio daging anjing serta Kim bersaudara sekalian yg siap membantu, oleh karenanya dianjurkan agar keempat orang tsb dilenyapkan saja dari muka bumi, ketimbang akhirnya menimbulkan banyak kesulitan buat diri sendiri."

"Baiklah segala sesuatunya akan kulaksanakan sesuai dg perintah Thio cianpwee, bila kau bertemu lagi dg dia orang tua, tolong sampaikan pula salamku kepadanya."

"Hamba mengerti"

Buru-buru Cho Tay hap mengiakan. Setelah berpikir sejenak, Kho Beng berkata lebih lanjut .

"Kalau memang begitu, kau boleh pergi sekarang."

"Harap kongcu bias baik-baik menjaga diri"

Cho Tay hap segera member hormat.

Kemudian berangkatlah saudagar itu meninggalkan tempat tsb.

Mengawasi bayangan punggung Cho Tay hap yg pergi jauh, tanpa terasa Kho Beng menghela napas sedih.

Chin sian kun mengerti bahwa pikiran dan perasaan hatinya waktu itu amat kalut dan berat, karenanya dia pun tidak banyak berbicara , dg mulut membungkam ia berjalan mengikuti disampingnya.

Sekalipun mereka berdua tidak bercakap-cakap, namun Kho Beng bias merasakan timbulnya rasa hangat yg sukar dilukiskan dg katakata, menyelimuti pikiran dan perasaannya yg kalut.

Begitulah dalam suasana hening dan saling mencekam, mereka berdua menempuh perjalanan selama hampir satu jam lebih, sementara itu kegelapan yg luar biasa telah menyelimuti seluruh angkasa.

Waktu itu langit amat gelap tiada cahaya rembulan, tiada cahaya bintang, yg ada hanya awan gelap yg menutup angkasa.

Tiba-tiba Chin sian kun berbisik .

Padahal Kho Beng sendiripun merasa agak lelah karena selama beberapa hari terakhir ini mereka berdua belum pernah beristirahat secara baik.

Kho Beng mencoba utk memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, mendadak ujarnya sambil menunjuk kemuka .

"Rasanya didepan sana terdapat sebuah bangunan kuil, bagaimana kalau kita menginap semalam dikuil tsb?"

Walaupun kegelapan telah menyelimuti seluruh bumi waktu itu, namun mereka masih dapat melihat secara lamat-lamat bahwa ditengah pepohonan yg rimbun didepan sana terdapat sebuah bangunan besar yg membentuk seperti kuil.

Dg perasaan gembira Chin sian kun manggut-manggut, berangkatlah mereka berdua menuju kebangunan kuil tsb.

Sewaktu sampai didekat bangunan tsb, ditemui pintu gerbang sudah setengah roboh, rumput ilalang tinggi selutut, rupanya tempat itu merupakan sebuah kuil bobrok yg sudah lama tidak dipergunakan lagi.

Dari papan nama yg terpancang dimuka bangunan tsb dapat diketahui bahwa kuil itu bernama "Lu cau bio"

Sambil tertawa Kho Beng segera berkata .

"Malah kebetulan sekali kalau kuil ini adalah kuil yg terbengkalai, kita tak usah mencari alasan utk membohongi pendeta, biar tak usah pula membayar uang minyak."

Dg langkah lebar mereka berdua berjalan masuk keruang tengah kuil tsb, Chin sian kun segera bersorak gembira .

"Coba lihat, bersih nian tempat ini"

Ketika Kho Beng menyusul kedalam, dijumpai ruangan tsb memang berada dalam keadaan bersih sekali, lagipula bangunan utamanya masih tetap utuh. Tanpa terasa dia berseru dg kening berkerut .

"Sungguh aneh!"

"Yaa, memang sangat aneh"

Chin sian kun menimpali.

"kalau dibilang kuil ini sudah lama terbengkalai dan tak dihuni manusia lagi, kenapa ruangan tengahnya justru begitu rapih dan bersih?"

Kemudian setelah berpikir sebentar, kembali ujarnya .

"Yaa betul, sudah pasti tempat ini dipergunakan kaum pengemis atau pendatang sebagai tempat pondoknya, itulah sebabnya tempat ini diatur secara rapih dan bersih!"

"Aaaah, peduli amat"

Kata Kho Beng sambil tertawa aneh.

"bagaimana juga kita kan Cuma menginap semalam, besok pagi kita telah berangkat kembali."

Maka mereka berdua pun duduk bersila didepan altar sambil mengatur napas utk memulihkan kembali tenaga dalam mereka.

Ditengah suasana hening dan hampir mencapai keadaan akan lupa akan keadaan sekelilingnya, mendadak terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang dari kejauhan sana.

Kho Beng yg pertama-tama merasakan hal itu, cepat-cepat ia menarik ujung baju Chin sian kun, sambil berbisik .

"Ssst, ada orang datang!"

"Mungkin para pengemis penghuni kuil ini telah pulang"

Jawab Chin sian kun lirih.

"Itu toh menurut dugaan kita sendiri, bisa juga orang lain yg datang kesini."

"Lantas apa yg harus kita lakukan sekarang?"

Tanya si nona dg kening berkerut.

"Lebih baik kita bersembunyi saja!"

Dg langkah cepat mereka berdua segera lari kesisi ruang tengah dan m enyembunyikan diri dibalik kegelapan.

Dinding samping itu berada dalam keadaan setengah roboh sehingga mudah sekali bagi mereka untuk mengundurkan diri kebelakang, boleh dibilang tempat tsb merupakan tempat yg amat strategis, karena bisa digunakan menyerang maupun mengundurkan diri secara leluasa.

Baru saja mereka berdua menyembunyikan diri, tampak empat sosok bayangan manusia telah melangkah masuk kedalam ruang kuil dg langkah lebar.

Setibanya dalam ruang tengah, keempat orang itu segera m,embuat api unggun dan mengeluarkan daging serta arak, lalu bersantaplah mereka dg lahap.

Baik Kho Beng maupun Chin sian kun dapat melihat dg jelas bahwa keempat orang tsb adalah Molim, Hapukim serta Rumang berempat.

Beberapa kali Kho Beng berniat utk munculkan diri, namun niatnya selalu dihalangi Chin sian kun, malah dg ilmu menyampaikan suara, bisiknya .

"Coba kita dengarkan dulu apa yg mereka bicarakan, apalah gunanya tergesa-gesa menemui mereka?"

Terpaksa Kho Beng harus bersabar dan tetap menyembunyikan diri dibalik kegelapan.

Tak lama kemudian keempat orang itu sudah mulai mabuk oleh air kata-kata.

Tampak Rumang menepuk paha sendiri keras-keras segera berseru .

"Aku lihat pergaulan kita makin lama makin kacau, benar-benar mak nya...."

Hapukim berkata pula kepada Molim.

"Sekarang apa yg mesti kita perbuat, jangan lagi orangnya, bayangan tubuh dari Kho Beng si bocah keparat itupun sudah tak nampak lagi, hmmm!"

"Sudah pasti kau bertindak kurang hati-hati sehingga rahasia kita ketahuan, karena itulah dia segera melarikan diri!"

Kho Beng yg menyadap pembicaraan itu kontan saja merasakan hatinya tenggelam kedasar samudera, diam-diam pikirnya .

"Betul-betul tahu orangnya, tahu mukanya belum tentu dapat menyelami perasaannya."

Sementara itu Molim telah berkata sambil tertawa .

"Buat apa kita mesti gelisah, toh tiada pekerjaan yg gampang didunia ini."

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya .

"Tentang masalah Kho Beng, aku kira dia sudah menjumpai kesulitan diperkampungan Ciu hong san ceng, jadi mustahil dia telah mengetahui rencana kita, dalam hal ini aku yakin masih dapat melihatnya secara jitu...."

Rumang segera mendengus .

"Hmmm...baiklah, anggap saja Kho Beng si bocah keparat itu memang belum mengetahui persoalan kita, tapi kemanakah kita harus pergi mencari dirinya?"

"Yaa betul"

Sambung Hapukim.

"paling tidak kita kan mesti menemukan Kho Beng lebih dulu, kalau tidak, bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan kitab pusaka Thian goan bu boh tsb?"

Molim segera menggeleng, katanya .

"Menurut penilaianku, kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh sudah tidak berada ditangan Kho Beng, besar kemungkinan benda tsb masih berada ditangan si tua Bu wi."

"Hmm, kau sama sekali tak pernah melakukan pelacakan secara khusus, dari mana bisa tahu kalau benda tsb tidak berada disakunya?"

Seru Rumang.

"Padahal asal kita mau berpikir, hal tsb bisa kita pikirkan dg jelas, sesungguhnya Kho Beng si bocah keparat itu belum berhasil menguasai ilmu silat yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh, sekalipun pernah dipelajarinya tanpa latihan satu atau dua tahun mustahil dia bisa memperoleh hasil yg sepadan, jadi tegasnya kepandaian silatnya tak lebih hanya mendapat sedikit kemajuan saja. Bayangkan saja, dg bekal kepandaian serendah ini, apakah dia akan menggembol benda yg tak ternilai harganya itu?"

"Yaa, betul juga perkataan ini"

Seru Mokim sambil mengangguk. Tapi Hapukim segera berteriak .

"Aaah, peduli amat betul atau tidak perkataan tsb, yg penting apa yg mesti kita perbuat sekarang?"

"Sederhana sekali, aku telah berhasil mendapatkan sebuah rencana yg amat bagus."

Sekali lagi Rumang menepuk paha sendiri keras-keras, teriaknya .

"Cepat katakan apa rencanamu itu?"

"Kita berangkat kelembah hati Buddha dan berlagak diutus oleh Kho Beng si bocah keparat itu utk mengambil kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh!"

"Aku rasa cara seperti itu tak bakal berhasil, jangan lagi situa Bu wi adalah seorang yg berotak lihay dan liciknya bukan kepalang. Ia tak mungkin percaya dg perkataan kita, lagipula si hwesio daging anjing pun bukan manusia yg boleh dianggap enteng, bagaimana mungkin dia bersedia menyerahkannya kepada kita?"

Molim segera mendengus .

"Hmmm, dasar goblok!"

"Hey, siapa yg kau maki?"

Tegur Hapukim marah.

"Tentu saja kau! Otakmu memang bebal dan tak pernah bisa dipakai utk berpikir, hmmm... sekalipun kita gagal utk menipu mereka, paling tidak kita kan akan memperoleh kepastian tentang kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tsb, asal kita laporkan kabar tsb kepada Thia hu hoat, emangnya kita tak akan peroleh bagian?"

Agaknya Hapukim menyadari kalau otak sendiri memang tak selancar dan sepintar Molim, karenanya dia Cuma bisa menahan diri dan tak banyak bicara lagi.

Sementara itu Molim telah mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak amat bangga.

Chin sian kun segera berbisik kepada Kho Beng dg ilmu menyampai suara .

"Nah, sekarang kau sudah jelas bukan? Thia hu hot yg dia maksudkan bernama Thia bu ki, dia adalah salah satu diantara duabelas pelindung hukum dari dewi In nu."

Diam-diam Kho Beng menghembuskan napas panjang, utk sesaat ia merasa sangat kecewa hingga lupa utk memberi jawaban.

Mendadak terdengar lagi suara langkah kaki dari manusia bergema datang dan langsung menuju kedalam kuil.

Sementara Kho Beng masih tertegun, Chin sian kun kembali berbisik .

"Sudah pasti pelindung hukum she Thia yg datang!"

Namun setelah suara langkah kaki manusia itu masuk kedalam ruang kuil, ia baru mengetahui kalau dugaannya salah.

Ternyata yg datang adalah seorang lelaki yg berdandan seperti seorang Sastrawan tapi tegasnya pakaian tsb sudah dekil lagi luntur warnanya, mungkin sudah sepuluh tahun tak pernah dicuci hingga warnanya tak bisa diduga lagi.

Yg jelas pakaian tsb memberi kesan dekil lagi bobrok bagi siapapun yg melihatnya.

Orang itu berumur empat puluh tahunan, tubuhnya kurus lagi kuning kepucat-pucatan, mungkin sudah tiga tahun menderita sakit dan belum juga sembuh, pokoknya dia mempunyai potongan muka yg mengenaskan dan patut dikasihani.

Sambil mengoyangkan sebuah kipas berwarna hitam, sastrawan itu berjalan masuk kedalam ruang kuil dg jalan terseok-seok....

Kho Beng serta Chin sian kun yg melihat kehadiran orang itu menjadi tertegun , utk sesaat mereka tak bisa menduga asal usul orang tsb.

Agaknya Molim sekalian yg berada didalam ruang kuil pun merasa agak tercengang dg kehadiran orang itu.

Sambil memutar biji matanya, Molim segera menghardik .

"Hey si peminta-minta, malam ini tempatmu sudah kami pergunakan, lebih baik mencari tempat pemondokan ditempat lain saja!"

"Biarpun sudah kalian tempati, memangnya aku tidak boleh masuk kemari?"

Sahut sastrawan rudin itu sambil tertawa terkekehkekeh. Rumang segera berteriak .

"Tempat ini kelewat sempit, tak mungkin bisa menampung sekian banyak orang utk tidur bersama."

"Aaah, bisa tak bisa tidurpun tak mengapa, toh aku bisa duduk duduk....hey, kalian punya arak wangi?"

"Arak sih ada, Cuma sayang bukan disediakan untukmu!"

Bentak Hapukim mendongkol. Kembai sastrawan rudin tertawa .

"Empat samudera adalah sahabat, masa kalian tak akan mengundangku untuk minum barang dua cawan saja?"

Rumang menjadi teramat gusar, segera teriaknya .

"Hey pengemis busuk, kenapa sih kau ribut amat? Huuuh, dg tampangmu yg begitu dekil dan menjijikkan, kaupun ingin meneguk arak kami? Hayo cepat menggelinding pergi dari sini, kalau terlambat menggelinding akan kusuruh kau merangkak keluar dari sini!"

Kembali sastrawan rudin itu tertawa .

"Aku sipelajar belum pernah belajar merangkak, entah kalian berempat mampu tidak utk merangkak keluar?"

"Haaaah....haaa...haaaah...orang apapun mengaku sebagai pelajar? Huuuh, betul-betul tak tahu malu!"

Ejek Rumang sambil tertawa seram.

"Sesungguhnya aku sipelajar adalah orang yg paling ramah dan tahu diri"

Kata si sastrawan rudin sambil menggeleng.

"asal kalian bersedia menjamu aku dg arak dan daging lezat, akupun bersedia memaafkan kekasaran kalian serta tidak mempersoalkan lagi."

"Lebih baik kau persoalkan saja, pingin kulihat bagaimana caramu utk mempersoalkan masalah ini."

"Aku lihat kalian semua adalah orang-orang yg tak tahu diri, orang bermata buta!"

Rumang menjadi sewot, sambil mengepal tinjunya ia membentak .

"Ngaco belo tak karuan, hati-hati akan kupetik batok kepalamu itu!"

Mendadak sastrawan rudin itu tertawa tergelak .

"Haaaah...haaahh...haaahh...bagus sekali....aku sipelajar sastra gagal menjadi sastrawan, belajar pedang gagal menjadi jago pedang, kemudian belajar memetik batok kepala, ternyata dalam bidang yg satu ini aku memang cukup ahli dan berpengalaman."

"Kau pun pandai memetik batok kepala?"

Tanya Rumang dg wajah tertegun.

"Yaa, mengetahui sedikit-sedikit"

Sambil bertolak pinggang Rumang segera membentak .

"Kalau begitu coba kau petiklah, bila tak mampu memetik batok kepala ayahmu....hati-hati kalau batok kepalamu tak bisa di pertahankan lagi!"

"Bagus sih bagus"

Kata sastrawan rudin itu sambil tertawa.

"tapi sebelum itu aku ingin melihat dulu bagaimana caramu merangkak keluar dari sini."

Tak terlukiskan rasa gusar Rumang menghadapi kejadian ini, tanpa banyak berbicara lagi dia segera mengepal tinjunya dan langsung disodokkan kemuka.

Pada hakekatnya dia tak memandang sebelah matapun terhadap sastrawan rudin yg ceking lagi pucat sehingga mirip orang yg hampir mampus ini.

Serangan yg dilontarkan dg cepat dan dahsyat itu dalam perkiraannya paling tidak bisa membuat pelajar rudin itu pingsan sebelas kali.........

Siapa tahu menilai orang tak boleh menilai dari wajahnya, kali ini Rumang telah salah menilai lawannya.

Tidak tampak bagaimana cara pelajar rudin itu menghindarkan diri, tahu-tahu jotosan yg sangat kuat itu sudah mengenai sasaran kosong.

"Hey orang muda, kau betul-betul hendak main pukul?"

Teriak pelajar rudin itu keras-keras. Rumang agak tertegun, kemudian teriaknya pula .

"Hey, kalau punya nyali hayo jangan berkelit!"

Kembali sebuah sodokan tinju yg keras dilontarkan kedepan.

Kali ini ternyata sastrawan rudin itu tidak mencoba utk menghindarkan diri, dia malah sambut datangnya serangan tsb dg sodokan kipasnya.

Dg demikian pukulan keras dari Rumang tsb bukan bersarang ditubuh sastrawan rudin itu, sebnaliknya malah saling membentur dg ujung kipas.

Tak ampun lagi dia menjerit kesakitan, seketika itu juga kepalan kanannya sakit bagaikan retak, rasa sakit yg dideritanya benar-benar tak terlukiskan dg kata-kata.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh, sastrawan rudin itu berseru .

"Nah, bocah tolol, kali ini kau harus menderita cukup berat!"

Kipasnya ditotok berulang kali kedepan, dalam waktu singkat, sikut kiri serta sepasang lutut Rumang sudah terhajar oleh gebukan kipas tsb......

Jerit kesakitan yg memilukan hati bergema saling menyusul, keempat anggota badannya seperti sudah dibikin cacat semua, membuat ia tak mampu berdiri tegak lagi dan segera roboh terjengkakng keatas tanah...

Hapukim serta dua bersaudara Mo yg melihat peristiwa itu menjadi amat terperanjat, serentak mereka meloloskan s enjata masing-masing sambil menerjang kemuka.

Terdengar sastrawan rudin itu berseru sambil tergelak .

"Kalian tak perlu tergesa-gesa, marilah maju satu persatu!"

Kipasnya segera direntangkan, selapis tenaga pukulan yg tak berwujud dan bersuara segera menyapu ketubuh ketiga orang tsb.

Bagaikan menumbuk diatas lapisan dinding baja yg amat kuat saja, tampak ketiga orang itu mencelat kebelakang hingga menumbuk diatas dinding ruangan keras-keras.

"Blaaaammm....!"

Sampai setengah harian lamanya mereka tak sanggup utk merangkak bangun kembali.

Kho Beng serta Chin sian kun yg mengikuti jalannya peristiwa itu menjadi terperanjat sekali hingga paras mukanya berubah hebat, sadarlah mereka bahwa sastrawan rudin tsb sesungguhnya adalah seorang tokoh dunia persilatan yg berilmu tinggi, hanya mereka tak dapat nmenebak siapa gerangan orang ini.

Sementara itu Molim sekalian telah meronta bangun, kini mereka Cuma bisa berdiri termangu-mangu bagaikan patung.

Sambil tertawa dingin sastrawan rudin itu berkata kemudian .

"Nah, siapa lagi yg merasa tak puas, silahkan maju menyerang......"

Buru-buru Molim menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berkata .

"Jangan main kasar, jangan main kasar, apalagi diantara kita toh belum pernah terikat hubungan dendam atau sakit hati."

"Yaa,yaa...kau memang seorang yg pandai melihat gelagat..."

Ejek sastrawan rudin itu sambil tertawa.

"dan bagaimana dg yg lain?"

Sebetulnya Mokim serta Hapukim mempunyai maksud akan turun tangan utk kedua kalinya, namum kerlingan mata Molim membuat kedua orang tsb harus mengurungkan niatnya.

Pelan-pelan Rumang berusaha meronta dan merangkak bangun, tapi kaki kanan sastrawan rudin itu sudah keburu menginjak diatas punggungnya, hal ini membuat badannya yg hampir bangkit berdiri segera terjatuh kembali mencium tanah.

"Hey, kau sudah selesai belum?"

Teriak Rumang keras-keras.

"Belum...belum selesai!"

Sahut sastrawan rudin itu sambil tertawa terbahak-bahak.

"kau harus merangkak dulu dari sini sampai keluar kuil ini......"

"Tidak! Aku tak akan merangkak keluar biar harus mati aku tak akan merangkak keluar!"

Kembali sastrawan rudin itu tertawa .

"Kebetulan sekali aku si pelajar mempunyai watak aneh, yaitu setiap perbuatan yg kuinginkan harus dilaksanakan sampai jadi, untuk itu kau mesti merangkak keluar dari sini entah apapun alasannya."

"Kalau aku tak mau merangkak keluar, mau apa kau?"

Teriak Rumang makin sewot.

"Kalau begitu terpaksa kau mesti menahan pelbagai siksaan dan penderitaan, nah pertimbangkan sendiri, kau benar-benar enggan merangkak atau menurut saja? Bila menolak, terpaksa aku sipelajar akan turun tangan untuk mulai menyiksamu, bahkan........"

Setelah memutar biji matanya, ia menambahkan .

"Bahkan sekali aku sipelajar sudah turun tangan, maka pekerjaan ini tak bakal berhenti sampai ditengah jalan."

Mendadak terdengar Molim berteriak keras.

"Tuan, kau jangan marah dulu, dia...dia pasti akan bersedia merangkak keluar....."

"Bagus sekali!"

Kata pelajar rudin itu sambil tertawa.

"coba kau bujuklah dia"

Molim segera menghampiri Rumang , kemudian teriaknya .

"Seorang lelaki sejati bisa mengikuti perubahan situasi, hari ini kita telah bertemu dg tokoh berilmu tinggi, sekalipun harus merangkak keluar dari sini, apalah artinya bagimu?"

"Kalau kau hendak merangkak, lebih baik merangkaklah lebih dulu, asal kau sudah mulai merangkak, aku pasti mengikuti"

Teriak Rumang sambil menggigit bibir. Molim segera berkerut kening, tiba-tiba ia membisikkan sesuatu dg menggunakan ilmu menyampaikan suara. Rumang kelihatan termenung sebentar, akhirnya dia berkata .

"Baiklah! Mak nya..... aku akan merangkak keluar dari sini.....!"

Habis berkata ia benar-benar merangkak sampai diluar kuil. Sambil bertepuk tangan pelajar rudin itu segera bersorak .

"Horeeee.....bagus, bagus sekali, sungguh menarik, sungguh menarik hati......."

Mendadak.........

Pada saat Rumang sedang merangkak keluar itulah, Molim, Mokim serta Hapukim bertiga secara diam-diam telah meloloskan golok masing-masing, lalu tanpa menimbulkan sedikit suara pun membacok punggung si pelajar rudin tsb.

Agaknya ketiga orang itu berniat membokong musuhnya secara diam-diam, padahal si pelajar rudin itu sedang memusatkan seluruh perhatiannya melihat Rumang merangkak keluar, jelas dia tidak mempersiapkan diri secara baik.

Keselamatan jiwanya pun segera terancam bahaya maut, kelihatannya sebentar lagi dia bakal termakan oleh bacokan tsb.

Tapi disaat yg amat kritis inilah, Kho Beng serta Chin sian kun yg bersembunyi diruang samping telah melayang keluar bagaikan sukma gentayangan saja, dua bilah pedang mereka dg cekatan sekali menangkis ketiga golok lawan.

Tentu saja peristiwa ini sama sekali berada diluar dugaan Molim, Mokim dan Hapukim, untuk sesaat lamanya mereka dibuat terkejut bercampur amat gusar.

Rumang yg sedang merangkak diatas tanah dan kebetulan berpaling pun nampak perubahan pada mukanya, dg cepat dia menjatuhkan diri berbaring diatas tanah dan berlagak sudah mampus...

"Budak kurangajar!"

Dengan mata melotot dan suara nyaring Kho Beng membentak keras.

"aku lihat nyali kalian makin lama semakin bertambah besar saja!"

Molim, Mokim serta Hapukim segera menundukkan kepala dg mulut membungkam, paras muka mereka berubah menjadi merah padam karena jengah....

Sebaliknya si pelajar rudin itu berkata sambil tertawa terkekehkekeh.

"Haaaahh...haaahh...haaahh...bagus sekali, nampaknya kuil ini memang luar biasa, masa dalam waktu sekejap mata telah muncul kembali dua orang manusia?"

Sambil tertawa hambar Chin sian kun berkata .

"Seandainya kami berdua tidak munculkan diri tepat pada waktunya, mungkin tuan sudah termakan oleh bokongan mereka!"

"Nona terlalu serius kalau b erbicara"

Ucap si pelajar rudin sambil tertawa.

"aku si pelajar meski tidak sering berkelana didalam dunia persilatan, namun aku percaya kemampuan yg dimiliki keempat anjing asing ini masih belum mampu utk membokongku!"

Lalu sambil memutar biji matanya, dia berkata lebih jauh .

"Aku si pelajar paling senang kalau berbicara sejujurnya, tahukah kau apa sebabnya aku sengaja memberi kesempatan kepada mereka utk membokongku?"

"Aku tidak tahu!"

Sahut Chin sian kun dg paras muka berubah menjadi merah padam. Sambil tertawa si pelajar rudin itu berkata lebih jauh .

"Hal ini tak lain disebabkan aku si pelajar ingin mencari sebuah alasan yg cukup kuat utk membunuh mereka semua."

"Apa sebabnya tuan bersikeras hendak membunuh mereka semua."

"Haaahh...haaahh....haaahh....tegasnya aku sipelajar tak mampu memberi alasan yg tepat, pokoknya begitu bertemu dg mereka timbul perasaan muak dan benci dalam hati kecilku, biasanya terhadap orang-orang yg kubenci, aku si pelajar tak akan membiarkan mereka hidup terus didunia ini."

Rasa terkejut, gusar dan gelisah segera mencekam perasaan Molim sekalian berempat, namun utk berapa saat lamanya tak sepatah katapun yg sanggup mereka utarakan keluar.

Sambil menjura Kho Beng berkata cepat .

"Bolehkah aku tahu siapa nama tuan yg sebenarnya?"

Si pelajar rudin itu tertawa .

"Selama hidup aku si pelajar tidak memiliki kelemahan apapun selain rudin, oleh karena itulah namaku memakai pula kata rudin tsb yakni si pelajar rudin Ho Heng!"

"Haaah...rupanya tuan adalah Ho cianpwee, pemimpin dari Lam huang pat ciong (nelayan rudin dari Lam huang), kalau begitu maaf....maaf...."

Sembari berkata dia segera memberi hormat dalam-dalam . Buru-buru si pelajar rudin, Ho Heng menghalanginya seraya b erkata .

"Tak usah sungkan-sungkan, kau sendiri sebetulnya siapa..."

"Boanpwee berasal dari marga Kho bernama Beng, asalku adalah perkampungan Hui im ceng dikota Hang ciu!"

Si pelajar rudin segera bertepuk tangan kegirangan, serunya cepat .

"Oooh, rupanya kau adalah Kho Beng, sudah lama aku sipelajar rudin mengagumi nama besarmu"

"Aaaah...perkataan dari cianpwee tsb tak berani boanpwee terima...."

"Oya, sudah lama aku si pelajar rudin tak pernah melangkah masuk daratan Tionggoan, dari siapa sih Kho sauhiap pernah mendengar namaku ini?"

"Bu wi cianpwee yg memberitahukan kepadaku!"

"Situa Bu wi?"

Si pelajar rudin Ho Heng segera tertawa tertawa terbahak-bahak.

"bukankah si tua bangka ini sudah hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia?"

"Aaaai...panjang sekali utk menceritakan tentang ini....."

Maka secara ringkas Kho Beng bercerita tentang Bu wi lojin serta pengalaman yg dialaminya sampai terluka...

Sewaktu selesai mendengar penuturan, sambil tertawa terkekehkekeh, si pelajar rudin Ho Heng berkata .

"Sewaktu menyinggung tentang aku si pelajar rudin, apa saja yg dikatakan si tua Bu wi kepadamu?"

Dg wajah serius Kho Beng berkata .

"Dia orang tua sangat memuji kehebatan cianpwee, katanya cianpwee suka mengembara seorang diri dan membentuk kekuatan yg tersendiri didalam dunia persilatan, kau adalah seorang tokoh yg dihormati oleh setiap umat persilatan didunia ini!"

Pelajar rudin Ho Heng segera menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya .

"Tidak mirip, tidak mirip, aku merasa belum sanggup membawa kedudukanku mencapai tingkatan seperti apa yg dia gambarkan."

Lalu setelah memutar biji matanya, dia berkata lebih jauh .

"Untung saja perkataan semacam ini biar agak lebih banyak pun tak akan mengganggu selera orang, entah betul atau tidak yg pasti mendatangkan rasa gembira bagi yg mendengarkan........ehmmm, rasanya pembicaraan diantara kita cocok sekali, baiklah kita cari kesempatan lain utk pelan-pelan berbicara lagi!"

Berbicara sampai disitu, dia segera menggerakkan lengan kanannya dan mencengkeram tubuh Rumang yg masih mendekam diatas tanah.

Kho Beng menjadi amat terperanjat setelah menyaksikan peristwa itu, buru-buru serunya .

"Cianpwee, kau....."

Si pelajar rudin Ho Heng menggoyangkan tangannya seraya berkata .

"Tunggulah sampai aku si pelajar memetik batok kepala mereka lebih dulu sebelum melanjutkan pembicaraan kita tadi."

"Beberapa orang ini adalah anak buah boanpwee, bersediakah cianpwee utk ringan tangan serta mengampuni mereka semua?"

Pinta Kho Beng dg perasaan cemas.

"Anak buahmu?"

Setengah percaya setengah tidak si pelajar rudin Ho Heng mengalihkan pandangan matanya dan memandang sekejap kewajah keempat orang asing itu, lalu katanya lebih jauh .

"Sekalipun dalam dunia persilatan sudah tak mampu menemukan orang lain, kau tidak sepantasnya menerima manusia semacam ini sebagai anak buahmu."

Kho Beng segera menghela napas panjang .

"Tapi boanpwee toh sudah menerima sebagai anak buahku, paling tidak hubungan antara majikan dan pembantu sudah cukup melekat dihati kami!"

Si pelajar rudin Ho heng menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya lagi .

"Menurut penilaianku si pelajar, watak dari beberapa orang ini tidak baik, mereka tak kenal budi, membalas air susu dg air tuba, manusia yg tak kenal budi seperti ini hanya merupakan bibit bencana kalau ditampung disisimu, aku lihat lebih baik......"

Mendadak Molim menjatuhkan diri berlutut dihadapan Kho Beng seraya merengek .

"Cukong, tolonglah jiwa kami!"

Hapukim serta Mokim serentak menjatuhkan diri berlutut pula dihadapan anak muda tsb sambil menyembah tiada hentinya. Sambil mendengus dingin Kho Beng berkata .

"Kalian anggap apa yg telah kamu lakukan sama sekali tidak kuketahui?"

"Hamba tak berani melakukannya kembali, hamba sudah merasa amat menyesal...."

Seru Molim cepat-cepat. Pelajar rudin Ho Heng yg ikut mendengar pembicaraan itu segera menimbrung sambil tertawa .

"Bila kuperhatikan nada pembicaraan kalian, tampaknya orangorang ini sudah pernah berhianat kepadamu?"

Kho Beng segera menghela napas panjang .

"Aaaai...manusia toh bukan nabi, siapakah yg pernah luput dari kesalahan?"

"Yaa, siapa tahu salah dan bersedia utk bertobat, berarti orang ini masih bisa dipelihara lebih jauh."

Setelah berhenti sejenak, pelajar rudin itu berkata lebih jauh .

"Tapi sayang keempat orang ini bukan termasuk orang-orang yg tahu salah serta bersedia utk bertobat, rasanya aku si pelajar terpaksa harus menggunakan sedikit keahlian utk membuat mereka takluk selamanya dan sepanjang hidup tak berani berhianat lagi."

"Dengan cara apa?"

Tanya Kho Beng keheranan. Si pelajar rudin Ho Heng tertawa.

"Kepandaianku ini bernama "memotong urat menutup nadi", setelah dilakukan ditubuh mereka, maka dalam sebulan mendatang mereka pasti akan merasakan gangguan hebat hingga menyebabkan peredaran darah mereka tersumbat dan akhirnya mati, namun bila saban bulan peredaran darah mereka diurut dg kepandaian khusus, maka tidak akan terjadi persoalan pada dirinya."

Kemudian sambil menatap wajah Kho Beng lekat-lekat, katanya lebih jauh .

"Bagaimana menurut pendapat Kho sauhiap?"

Molim, Mokim serta Hapukim yg masih berlutut buru-buru merengek dg suara memelas.

"Jangan gunakan kepandaian apapun utk melukai kami, kami semua berjanji tak akan berhianat lagi..."

Utk beberapa saat lamanya Kho Beng jadi ragu-ragu utk mengambil keputusan. Melihat hal tsb, si pelajar rudin Ho Heng segera berkata lagi sambil tertawa terkekeh-kekeh .

"Kalau persoalan lain, aku si pelajar akan rikuh utk turut campur, tapi dalam persoalan ini aku si pelajar sudah mempunyai keputusan yg cukup tegas, nah siapakah diantara kalian yg akan merasakan lebih dahulu...?"

Berada dalam keadaan seperti ini, Molim sekalian berempat tak berani lari dari situ, kabur pun tak berani, terpaksa mereka hanya bisa berlutut sambil merengek tiada hentinya.

Ternyata apa yg diucapkan si pelajar rudin Ho Heng segera dikerjakan pula, tanpa membuang tempo lagi dia segera menghampiri Molim sekalian dan melakukan gerakan menotok dg ilmu menyumbat nadi memotong urat!

Selesai menotok jalan darah orang-orang itu, si pelajar rudin Ho Heng baru bertanya sambil tertawa .

"Nah sekarang cobalah utk mengatur pernapasan, coba dirasakan keanehan apakah yg kalian rasakan antara bagian dada dg lambung?"

Molim sekalian menurut dan segera mengatur pernapasan. Tak lama kemudian terdengar Molim berteriak lebih dulu .

"Aaah...aku merasa agak kesemutan....."

Pelajar rudin Ho Heng segera tertawa terbahak-bahak .

"Haaahh...haaah...haahh...itu berarti ilmu menyumbat nadi memotong uratku telah mulai bekerja menunjukkan reaksinya, cara yg kupergunakan ini sama sekali tak akan berpengaruh pada tenaga dalam yg kalian miliki, tapi sebulan kemudian apabila tidak memperoleh pengurutan secara khusus, habislah sudah riwayat kalian."

"Selanjutnya bukankah kami harus mengikuti dirimu terus menerus?"

Tanya Molim sangat terkejut.

"Hee...heee...hee...kalau aku mah tak dusi dg kalian, tentu saja kalian harus mengikuti majikan kalian yg lama..."

"Kalau begitu, bukankah kami hanya bisa hidup selama satu bulan saja....?"

Seru Molim dg perasaan amat gelisah. Kembali si pelajar rudin Ho Heng menggoyangkan tangannya berulang kali, ujarnya .

"Kalau soal itu mah kalian tak perlu kelewat kuatir, aku si pelajar pasti akan mewariskan kepandaian mengurut tersebut kepada majikan kalian, asal kalian mau setia dan berbakti kepadanya, aku yakin setiap bulan dia pasti bersedia pula mengurutkan kalian satu kali."

Pucat pias selembar wajah Molim karena ngeri dan ketakutan, buru-buru serunya kemudian .

"Cukong, cepatlah kau pelajari ilmu mengurut nadi darinya.....selamatkanlah jiwa kami..."

Sambil manggut-manggut pelajar rudin segera berseru .

"Nah, Kho sauhiap, mari kita pergi keluar!"

Kho Beng segera manggut-manggut dan mengikuti si pelajr rudin menuju keluar ruangan.

Dalam beberapa kali lompatan saja tubuh si pelajar rudin telah berada sejauh lima puluh kaki dari tempat semula, dari situ dia segera melompat naik keatas pohon raksasa.

Dg amat cekatan Kho Beng mengikuti dibelakangnya, begitu sampai diatas pohon, pemuda itu segera berkata dg hormat .

"Mohon petunjuk dari cianpwee!"

"Petunjuk apa?"

Kho Beng jadi tertegun, tapi segera sahutnya .

"Tentu saja ilmu mengurut utk mengobati ilmu menyumbat nadi memotong urat tsb."

Pelajar rudin Ho Heng segera tertawa misterius, serunya .

"Terus terang saja aku katakan, sebetulnya apa yg terjadi hanya tipuan belaka."

"Tipuan belaka?"

Tanya Kho Beng agak tertegun.

"tapi mengapa mereka merasakan dada serta lambungnya agak kesemutan?"

Sambil tertawa si pelajar rudin berkata .

"Hal ini disebabkan aku telah menggetarkan dada dan lambungnya dg tenaga dalamku, paling tidak dalam setahun mendatang mereka masih akan merasakan kesemutan tsb, setiap bulan kau cukup berlagak menguruti nadi-nadinya dan mengelabui mereka dg begitu saja, dalam keadaan seperti ini sebuas-buasnya watak orang asing tsb, aku rasa mereka tak berani menunjukkan sikap yg menyeleweng lagi."

Buru-buru Kho Beng berkata .

"Terima kasih banyak atas bantuan cianpwee, cara yg kau pergunakan ini memang cukup hebat!"

Pelajar rudin Ho Heng tertawa gembira, baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, mendadak tampak sesosok bayangan manusia meluncur datang dari kejauhan sana dan langsung menerobos masuk kedalam kuil.

"Aduh celaka"

Bisik Kho Beng dg gelisah.

"ada orang menyerbu dalam kuil itu!"

Si pelajar rudin Ho Heng yg sudah mengetahui kehadiran bayangan manusia tsb sendiri tadi, segera berkata sambil tertawa .

"Tak usah kuatir, mari kita lihat kembali kedalam kuil, memang sudah lama tanganku terasa gatal dan pingin mencari orang utk diajak berkelahi, kuharap orang ini cukup berharga utk bertarung melawan diriku..."

Dg cepat mereka berdua segera melompat turun dari atas pohon dan kembali kedalam kuil.

Sementara itu, diruang tengah bangunan kuil tsb telah berdiri seorang kakek berkerudung, paras muka Molim sekalian berubah seketika, mereka kelihatan gugup dan gelagapan sendiri.

Chin sian kun sendiripun merasa agak kaget bercampur gugup, sorot matanya yg gelisah dan cemas berulang kali dialihkan keluar ruangan, jelas ia sangat berharap Kho Beng dan si pelajar rudin Ho Hewng bisa pulang kembali dg cepat.

Keadaan semacam ini tak lebih hanya berlangsung dalam sekejap mata, sebab si pelajar rudin dan Kho Beng telah muncul kembali kedalam ruangan tsb.

Situasi didalam ruangan kuil seketika mengalami perubahan yg sangat besar, paing tidak Molim sekalian serta Chin sian kun sudah tidak sekaget dan segugup tadi lagi.

Dalam pada itu, kakek berkerudung itu sudah memperhatikan sekejap disekitar ruangan kuil, kemudian sambil tertawa dingin katanya .

"Haaahh...haaahh...haaahh...bagus sekali, aku sudah menduga kalau kalian empat anjing asing bukan manusia yg bisa dipercaya, ternyata dugaanku benar, kalian telah membocorkan rahasia kehadiranku disini...."

Kemudian sambil berpaling kearah Chin sian kun, bentaknya lebih lanjut .

"Bukankah kau adalah To ko Giok, anak murid dari Go bi pay? Mengapa bersekongkol dg mereka?"

Chin sian kun segera mendengus dingin .

"Hmmm, sekarang aku dapat memberitahukan kepadamu, sesungguh nonamu adalah ..."

Belum selesai perkataan itu diucapkan, kakek berkerudung bertubuh ceking itu sudah menggoyangkan tangannya berulang kali seraya menukas .

"Tak perlu kau lanjutkan, aku sudah dapat menebak siapa gerangan dirimu yg sebenarnya."

"Siapakah aku?"

Tanya si nona sambil tertawa. Dg suara rendah dan dalam kakek berkerudung itu membentak .

"Kau adalah si walet terbang Chin sian kun yg telah menghianati para jago dari kawasan Sam siang...betul bukan?"

Chin sian kun segera tertawa terkekeh-kekeh .

"Ketajaman matamu memang sangat mengagumkan, tebakanmu memang sangat tepat!"

Dg penuh amarah, kakek berkerudung itu berseru lagi .

"Selama hidup, belum pernah aku dibodohi orang seperti hari ini, hey budak busuk, aku lihat nyalimu benar-benar cukup besar, tapi....beginipun ada baiknya juga....... Bersambung ke

Jilid 26

Jilid 26

"Yaa benar"

Sambung Chin sian kun.

"mari kita selesaikan persoalan tsb sekarang juga, toh urusan segera akan menjadi beres."

Kho Beng yg berada disisinya segera mengawasi kakek berkerudung itu tajam-tajam, lalu hardiknya dg suara keras .

"Siapa kau? Berani benar berkaok-kaok semaunya sendiri ditempat ini...?"

Kakek berkerudung itu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak .

"Haaahh...haaahh...haaahh...walaupun hari ini kau sudah memperoleh kemajuan yg pesat dalam ilmu silat, bukan berarti aku sudah memandang sebelah mata kepadamu, terus terang saja aku katakan diriku ini adalah Thia Bu ki, salah satu diantara dua belas orang pelindung hukum dari Siancu!"

"Kalau begitu kedatanganmu memang sangat kebetulan"

Kata Kho Beng kegirangan.

"aku memang sedang mencari tahu dimanakah siluman perempuan In nu berdiam diri, aku rasa kau bisa memberitahukan alamat kepadaku bukan?"

"Kurang ajar!"

Bentak Thia Bu ki marah.

"berani amat kau menghina Siancu kami? Hmmm, pelanggaranmu itu pantas kalau dijatuhi hukuman mati..."

Sebetulnya dia sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap sipelajar rudin Ho Heng yg dianggapnya sebagai si pengemis itu, tapi akhirnya dia toh memperhatikan juga sekejap, tanyanya kemudian dg nada menghina .

"Siapa pula dirimu? Mengapa ikut bergerombol bersama mereka?"

Pelajaar rudin Ho Heng memandang sekejap kearah Kho Beng, kemudian baru ujarnya sambil tertawa .

"Apakah anda bertanya kepadaku si pelajar?"

"Aku tak peduli kau adalah seorang pelajar atau seorang guru, aku Cuma bertanya apa sebabnya kau berkelompok bersama mereka?"

Bentaknya sengit. Si pelajar rudin Ho Heng menghela napas panjang .

"Aaai...aku sipelajar bernasib kurang mujur, ketika ujian negara yg kuikuti berulang kali, aku gagal lulus akhirnya dg perasaan apa boleh buat aku mengembara dalam dunia persilatan dan mencari sesuap nasi dg kesana kemari, sungguh beruntung nasibku hari ini rada mujur, aku telah bertemu dg beberapa orang langganan yg berduit, kami telah bicarakan secara baik-baik bahwa temanku ini akan menggunakan tenaga aku si pelajar dg upah dua tahil perak setiap hari, waaah...coba kau bayangkan sendiri, bila aku dipakai selama setahun saja sudah pasti aku sipelajar akan menjadi seorang hartawan yg cukup lumayan...."

"Untuk apa mereka menyewa dirimu? Memangnya membutuhkan tenaga utk membuat syair atau membacakan dongeng?"

Jengek Thia Bu ki sinis.

"Oooh, bukan, bukan"

Si pelajar rudin menggoyangkan tangannya berulang kali.

"mereka bukan mengundang utk menjadi guru sastra, tapi menyewa aku si pelajar utk menjadi tukang pukulnya."

"Haaahh...haaahh...haaahh..."

Thia Bu ki segera tertawa terbahak-bahak.

"betul-betul satu berita yg amat lucu, dg kemampuan seorang setan penyakitan macam dirimu, mau jadi tukang pukul macam apakah dirimu itu?"

"Jangan kau menilai orang dari bentuk rupanya, yg penting adalah isinya"

Ucap si pelajar rudin sambil menggeleng.

"biar pun tampangku kurang meyakinkan, tapi kepandaian silatku cukup tangguh, kau tahu delapan belas senjata dapat kupergunakan semua secara sempurna."

Utk kesekian kalinya, Thia Bu ki memperhatikan si pelajar rudin itu dari atas kepala hingga keujung kaki, lalu jengeknya lagi sambil tertawa dingin .

"Heeehh...heeehh...heeehh...kalau toh kau sudah bersedia menjadi tukang pukul mereka, andaikata menghadapi soal pertarungan, tentunya kau pula yg akan tampilkan diri utk membela bukan?"

"Oooh, tentu saja, tentu saja...! Setelah menerima upah, tentu saja aku mesti berusaha utk melenyapkan bencana atas dirinya. Kau tahu bukan, saban hari aku si pelajar telah menerima gaji sebesar dua tahil perak, tentu saja bila bertemu dg urusan yg menyangkut nyawa, aku si pelajar lah yg akan tampilkan diri utk menghadapinya."

"Mengapa kau tidak mencoba utk menimbang diri sendiri, mampukah kepandaianmu mengatasi setiap masalah?"

Ejek Thia Bu ki lagi sambil tertawa. Si pelajar rudin Ho Heng segera tertawa terkekeh-kekeh .

"Cukup berbobotkah diriku utk mengatasi masalah tsb, hanya orang lain yg mampu menimbangnya, aku sipelajar tidak mengerti bagaimana caranya utk menimbang kemampuan sendiri."

"Bagus sekali"

Thia Bu ki segera membentak keras.

"malam ini juga aku akan mencoba utk menimbang sampai dimanakah bobot kemampuan yg kau miliki...."

Sesudah berhenti sejenak, kembali tegurnya dg suara dalam .

"Senjata apa yg hendak kau gunakan?"

Si pelajar rudin Ho Heng menggeleng kepalanya berulang kali, katanya .

"Aku si pelajar tidak pernah mempergunakan senjata, aku pun tak memerlukan senjata...sebab ak si pelajar adalah orang yg malas, bila mesti menggembol senjata utk berjalan, waaah...repotnya setengah mati, maka aku lebih suka tidak membawa apa-apa"

"Bila bertemu dg jagoan yg berilmu tinggi, dg silat apa kau hendak menghadapinya?"

Tanya Thia Bu ki mendongkol.

"Jago yg benar-benar berilmu tinggi tidak terlalu banyak jumlahnya didunia ini, kalau biasa-biasa mah cukup kuandalkan sepasang kepalanku ini, karena kepalanku sudah lebih dari cukup..."

Lalu setelah mengerling sekejap sekitar ruangan, kembali dia berkata .

"Seandainya benar-benar bertemu dg lawan tangguh, aku sipelajar pun menyambar benda apa saja yg kebetulan ada disekitar sana, sebab setiap benda yg ada didunia ini tak ada sebuahpun yg tak bisa dipergunakan sebagai senjata."

Thia Bu ki mendengus dingin .

"Hmmm...kalau didengar dari perkatanmu sih nampaknya kepandaianmu sangat hebat...coba kau lihat, senjata macam apakah yg hendak kau comot sekarang?"

"Ooooh...kalau begitu kau hendak menantang aku sipelajar utk bertarung?"

Tanya si pelajar rudin sambi tertawa cengar cengir.

"Tepat sekali! Aku memang bermaksud demikian!"

Masih juga tertawa cengar cengir, si pelajar rudin Ho Heng berkata lebih jauh .

"Apakah kau menganggap aku si pelajar telah bertemu dg musuh yg sangat tangguh?"

"Haaahh...haaahh...haaahh...kesediaanku utk bertarung melawanmu pun sudah merupakan sikap yg cukup menghargai dirimu..."

"Aku sipelajar pun cukup menghargai kemampuanmu"

Jengek si pelajar rudin sambil tertawa aneh.

"baiklah, aku akan mencomot sebuah benda sebagai senjata..."

Dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya lebih jauh .

"Aaah...benda yg bisa dipergunakan dalam kuil miskin ini sungguh tidak terlalu banyak, terpaksa aku harus menggunakan sekenanya saja biar kupakai yg ini saja!"

Sambil berkata tangannya segera mencomot kedepan, sebuah tempat hio yg berada diatas altar tahu-tahu sudah berada dalam genggamannya.

Benda itu besarnya tak lebih Cuma seperti mangkuk nasi, biarpun berada dalam genggamannya, tak bisa terhitung sebagai senjata yg membahayakan.

Kejadian tsb bukan saja membuat Thia Bu ki jadi tertegun bahkan Kho Beng serta Chin sian kun pun ikut merasa terperanjat sekali.

Terdengar Thia Bu ki tertawa terbahak-bahak, dia segera membalikkan tangannya dan tahu-tahu sudah mengeluarkan sebuah panji kupu-kupu yg egera digetarkan ditengah udara.

Dg angkuh dia menggoyangkan senjatanya dihadapan si pelajar rudin Ho Heng, lalu tegurnya .

"Apakah kau kenal dg senjataku ini?"

"Bukankah senjata tsb bernama panji kupu-kupu?"

Sahut si pelajar rudin acuh tak acuh. Agaknya jawaban si pelajar tsb jauh diluar dugaan Thia Bu ki, dia nampaknya agak melengak, kemudian serunya .

"Setelah mengenali senjataku, tentunya kau pun tahu asal usul senjata ini beserta kedudukanku bukan?"

"Heeehh...heeehh...heeehh...sedikit banyak tentu saja tahu, mungkin kau adalah anak murid dari partai kupu-kupu bukan?"

"Kupu-kupu terbang berpasangan, banjir darah melanda dunia persilatan, saat ajalmu telah tiba!"

Seru Thia Bu ki sambil menggoyangkan senjatanya.

"Aaaah, belum tentu!"

Jengek si pelajar rudin sambil menggelengkan kepalanya.

Thia Bu ki tidak banyak berbicara lagi, senjata panji kupukupunya bagaikan menyodok seperti juga menusuk, langsung ditujukan kedada si pelajar rudin Ho Heng.

"Waaa...senjatamu memang luar biasa"

Teriak si pelajar rudin setengah mengejek.

"tapi sepasang kupu-kupumu menarik hati"

Hiolo yg berada ditangannya segera digetarkan, tampak selapis cahaya kuning menyebar keempat penjuru untuk melindungi tubuhnya, dg suatu gerakan ringan badannya mundur sejauh lima kaki lebih jauh dari posisi semula.

Thia Bu ki menarik kembali senjatanya kemudian bentaknya keras .

"Hey, kalau merasa punya kepandaian, ayo jangan main sembunyi, mari kita bertarung tiga ratus jurus."

Walaupun begitu, timbul juga perasaan ngeri didalam hatinya, sebab gerak gerik si pelajar rudin yg kacau dan tak beraturan dikenali sebagai suatu ilmu gerakan tubuh yg amat lihay, hal mana menyadarkan dirinya bahwa pelajar yg dihadapinya bukan jagoan tak berguna seperti apa yg diduganya semula.

Sementara itu si pelajar rudin telah menggelengkan kepalanya sambil tertawa, katanya .

"Aku sipelajar merasa amat sayang dg sepasang kupu-kupu itu dan tak ingin merusaknya, janganlah kita bertarung tiga ratus gebrakan karena terlalu merepotkan, selamanya aku belum pernah bertarung dg musuh melebihi sepuluh gebrakan, kalau dalam jangka sepuluh jurus bisa menang ya anggaplah unggul, kalau tak bisa menang yaa anggaplah saja kalah."

"Sepuluh jurus? Baik, kita tetapkan sepuluh jurus saja, sambutlah seranganku ini!"

Bentak Thia Bu ki. Panji kupu-kupunya digoncangkan keras-keras, lalu dg jurus "pentang sayap terbang berpasangan"

Ia melepaskan sebuah serangan yg mah dahsyat.

Tiba-tiba saja tampak sepasang kupu-kupu yg berada diujung senjatanya meluncur kemuka dg kecepatan luar biasa, satu berubah menjadi dua, lalu dua menjadi empat, dalam waktu singkat bayangan kupu-kupu yg berlapis-lapis sudah mengurung seluruh tubuh pelajar rudin tersebut...

Menghadapi serangan yg begitu gencar, si pelajar rudin hanya menggoyangkan badannya kian kemari seperti orang sempoyongan, sementara hiolo ditangannya bergoncang tiada hentinya.

Lapisan cahaya kuning yg terpancar keluar segera membungkus tubuhnya berlapis-lapis, kendatipun bayangan kupu-kupu sangat banyak dan menyerang secara ganas, kenyataannya semua ancaman tsb tak mampu berbuat banyak terhadap dirinya.

"Criiing...!"

Tiba-tiba bergema suara dentingan yg amat nyaring, disusul kemudian tampaklah bayangan kupu-kupu yg menyilaukan mata tadi hilang lenyap seketika itu juga.

Thia Bu ki dg perasaan ngeri bercampur kaget nampak mundur kebelakang, meski poanji kupu-kupunya masih berada ditangan, akan tetapi sepasang kupu-kupu diujung senjata tsb telah berpindah tangan, kini benda tsb berada dalam genggaman si pelajar rudin.

Kho Beng dan Chin sian kun maupun Molim sekalian yg berada disisi arena meski dapat mengikuti semua peristiwa itu secara jelas, namaun bagaimana cara si pelajar rudin memetik sepasang kupukupu dari ujung senjata lawan, ternyata tak seorangpun yg sempat melihat dg jelas....

Lama sekali Thia Bu ki berdiri tertegun, kemudian baru teriaknya .

"Ilmu kepandaian apa yg telah kau pergunakan....?"

Si pelajar rudin Ho Heng melemparkan hiolo tsb kedepan, dg tenang tapi mantap benda tadi segera mendarat kembali diatas altar, setelah itu dia baru berkata sambil tertawa hambar.

"Inilah yg disebut jurus "Petik bunga menangkap kupu-kupu"

Dg penuh kasih sayang dipandangnya kupu-kupu itu sekejap, kemudian dimasukkannya kedalam saku bajunya yg dekil. Sambil menggertak gigi menahan amarah, Thia Bu ki berkata .

"Aku benar-benar punya m ata tak mengenal bukit Tay san, boleh aku tahu siapa namamu sehingga dikemudian hari bisa mohon petunjuk lagi...?"

"Aku si pelajar bernama Ho Heng!"

Jawab si pelajar rudin itu sambil tertawa. Thia Bu ki kelihatan sangat terkejut, segera serunya tertahan .

"Oooh...rupanya jago lihay dari Pat huang, tak aneh kalau begitu..."

"Sayang sekali terlalu terlambat kau mengetahui segala sesuatu itu..."

"Tidak terlalu terlambat"

Tukas Thia Bu ki sambil menggertak gigi.

"aku segera akan melaporkan kejadian ini kepada Siancu serta mencatat nama besarmu baik-baik, dikemudian hari kami pasti akan mengunjungi anda sambil menyatakan terima kasih...nah sekarang maaf kalau aku hendak mohon diri lebih dulu!"

Ia menggerakkan sepasang bahunya dan siap meninggalkan tempat tersebut....

"Eeei...tunggu dulu, tunggu dulu!"

Pelajar rudin Ho Heng segera menghalang jalan perginya. Thia Bu ki menjadi tertegun.

"Membunuh orang tak lebih hanya kepala menempel tanah, aku toh sudah mengaku kalah, apa yg hendak kau lakukan sekarang"

Si pelajar rudin Ho Heng tertawa .

"Yaa benar, semestinya aku si pelajar tak pantas menyusahkan dirimu lagi tapi aku sudah menerima gaji dua tahil perak saban hari apakah kau diperkenankan pergi dari sini atau tidak rasanya aku si pelajar tak bisa memutuskan sendiri..."

Kemudian sambil menjura kepada Kho Beng, katanya lebih jauh .

"Tuanku, sekarang tugas aku si pelajr sudah selesai, kecuali kalau dia tak mau menuruti perkataanmu, aku sipelajar pasti akan turun tangan dg sendirinya utk memberi pendidikan kepadanya."

Thia Bu ki benar-benar mendongkol sekali gemasnya, dia hanya bisa menggertak gigi keras-keras. Sementara itu Kho Beng telah maju keepan, katanya kemudian sambil tertawa .

"Sobat, akupun tak ingin terlalu menyusahkan dirimu, keinginanku tak lebih hanya berharap kau sudi menjawab sebuah pertanyaan ku saja, aku rasa kau pasti tahu bukan dimanakah letaknya sarang dewi In nu?"

"Sebagai salah satu dari dua belas pelindung hukum Siancu, tentu saja aku mengetahui alamatnya"

Sahut Thia Bu ki dingin.

"tapi aku tak bakal memberitahukan kepadamu, lebih baik matikan saja harapanmu itu..."

Kho Beng menjadi gusar sekali, serunya .

"Kuanjurkan kepadamu lebih baik menuruti saja permintaanku, sebab kalau tidak, hmmm! Kau sendiri yg bakal rugi"

"Hmmm, aku justru sengaja tak mau bicara, apa yg bisa kau lakukan....?"

Tidak sampai perkataan tsb selesai diucapkan, panji kupu-kupu yg telah kehilangan sepasang kupu-kupunya itu telah digetarkan kembali keras-keras kemudian langsung disodokkan kedada Kho Beng.

Melihat datangnya serangan tsb, Kho Beng menjadi amat gusar, pedangnya segera diloloskan dari sarungnya, kemudian dg jurus Thian goan kui wi, dia tangkis datannya ancaman panji kupu-kupu dari Thia Bu ki....

Pada saat yg bersamaan pula si pelajar rudin menerjang kemuka dan melepaskan sebuah tendangan kilat ketubuh Thia Bu ki.

Sebetulnya keistimewaan yg dimiliki senjata panji kupu-kupu itu terletak pada sepasang kupu-kupu diujung senjata tsb, dg lenyapnya kupu-kupu itu maka senjata tsb menjadi tak ada gunanya sama sekali.

Itulah sebabnya hanya dalam satu gebrakan saja, senjata tsb sudah gigetarkan oleh pedang Kho Beng hingga terlepas dari genggaman dan mencelat keluar pintu.

Tendangan yg dilepaskan si pelajar rudin Ho Heng barusan memang lihay sekali, tendangan tsb persis menghajar tulang selangkangan sebelah kanan Thia Bu ki.

Akibatnya ia nampak mundur dua langkah dg sempoyongan, kemudian roboh terjungkal keatas tanah.

Kho Beng tidak berayal lagi, kelima jari tangannya segera dikebaskan kedepan utk menotok jalan darah Cian kong hiat dikiri kanan bahunya serta jalan darah Yong swan hiatnya.

Dg tertotoknya jalan darah Cian kong hiat serta Yong swan hiat, otomatis keempat anggota badan Thia Bu ki menjadi hilang fungsinya, meski begitu bagian tubuh yg lain tetap berjalan normal dan sama sekali tidak ada gangguan.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh si pelajar rudin Ho Heng berkata .

"Hey situa bangka, inilah yg disebut mencari penyakit buat diri sendiri, sungguh menggelikan, sungguh menggelikan!"

Sementara itu Kho Beng telah berjongkok sambil membentak keras .

"Sekarang kau tentu sudah sadar bukan, tidak berbicara pun tiada gunanya, biarpun aku mesti mencincang tubuhmy sedikit demi sedikit, aku tetap akan memaksamu memberi keterangan."

Mendadak Thia Bu ki tertawa seram, katanya .

"Heee...heee...heee...kalau aku bisa membuat harapan kalian terkabul, percuma saja menjadi salah satu diantara dua belas pelindung hukum Siancu, biar aku bakal mampus tapi cepat atau lambat kalian pun jangan harap bisa lolos dari cengkeraman maut partai kupu-kupu!"

Pelajar rudin Ho Heng nampak agak tertegun, kemudian teriaknya .

"Hati-hati, tua bangka itu hendak bunuh diri."

Tapi sayang peringatan itu toh masih terlambat selangkah, tampak darah segar menyembur keluar dari mulut Thia Bu ki, menyusul kemudian terlihat sepotong gu,palan daging berwarna merah turut tersembur keluar, rupanya dia telah bunuh diri dg menggigit putus lidah sendiri.

Dg gemas Kho Beng menghentak-hentakkan kakinya keatas tanah sambil berseru .

"Akulah yg teledor, sayang sekali titik terang yg berhasil kita peroleh dg susah payah harus terputus kembali ditengah jalan..."

Setelah menyemburkan beberapa gumpal darah segar, selembar nyawa Thia Bu ki pun turut melayang meninggalkan raganya.

Dalam pada itu Molim telah mendekati jenasah Thia Bu ki serta mencopot kain kerudungnya, kemudian ia berkata .

"Bajingan inilah yg telah menggaet kami utk masuk kedalam komplotannya"

Tergerak hati Kho Beng, mendadak ia bertanya .

"Selain dia, siapa lagi yg sering mengadakan hubungan kontak dg kalian?"

Molim jadi terkejut sekali, buru-buru katanya .

"Sudah tak ada, selain dia seorang kami tidak mengenal yg lain..."

Pelajar rudin Ho Heng segera menyela sambil tertawa terkekehkekeh .

"Padahal persoalan ini tak usah digelisahkan, kita bisa menyelidiki secara pelan-pelan..."

Kemudian setelah melirik sekejap kearah Molim, Mokim, Hapukim serta Rumang, katanya lebih jauh .

"Ilmu mengurut nadi telah kuajarkan kepada majikan kalian, asal kamu semua tak punya pikiran nyeleweng dan menuruti perintahnya, aku rasa tak akan terjadi sesuatu atas dirimu berempat."

"Cukong, benarkah kepandaian tsb telah kau pelajari?"

Dg raguragu dan gelisah Molim berpaling kearah Kho Beng. Sianak muda itu segera mengangguk .

"Tentu saja telah kupelajari, kalian tak usah kuatir, setahun kemudian, cianpwee ini pasti akan membebaskan kalian dari pengaruh ilmunya, disamping itu aku pun tetap akan menepati janjiku dulu, yakni mewariskan ilmu silat dari kitab pusaka Thian goan bu boh kepada kalian"

"Terima kasih cukong..."

Buru-buru Molim berseru. Sambil tertawa pelajar rudin segera berkata pula .

"Kho Beng, belum terlalu lama aku sipelajar meninggakan kawasan Lam huang, munculnya kembali orang-orang partai kupukupu membuat hatiku sangat tak tenang, sebetulnya siapa sih dewi In nu itu? Dan apa yg telah terjadi selama ini?"

Setelah menghela napas, Kho Beng berkata .

"Dewi In nu adalah dalang dari peristiwa pembunuhan berdarah ketujuh puluh lembar jiwa keluarga Kho kami, sedangkan orangorang dari partai kupu-kupu tak lain adalah para pelindung hukumnya..."

"Kalau begitu sungguh aneh sekali!"

Bisik si pelajar rudin sambil berkerut kening.

"Maksud cianpwee..."

Kho Beng kelihatannya agak tercengang. Dg wajah amat serius pelajar rudin Ho Heng berkata .

"Kau tahu, sewaktu partai kupu-kupu masih malang melintang didalam dunia persilatan, waktu itu kemampuan mereka amat dahsyat hingga tujuh partai besar pun bukan tandingan mereka. Badai pembunuhan berdarah yg berlangsung pada seratus tahun berselang itu hampir memporak porandakan seluruh dunia persilatan andaikata tiga dewa Sam gwa sam sian tidak segera munculkan diri, entah bagaimanakah penyelesaian terhadap pembantaian berdarah itu. Akibat dari peristiwa ini, pihak partai kupu-kupu telah mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia persilatan, tapi sempat meninggalkan nyanyian yg berbunyi . Kupu-kupu terbang berpasangan, banjir darah melanda dunia persilatan, hujan air mata bersedihan, bangkai berserakan menganak bukit."

"Tentang masalah ini, boanpwee sudah pernah mendengar"

Pelajar rudin Ho Heng manggut-manggut kembali katanya .

"Setiap anggota partai kupu-kupu hampir semuanya angkuh dan berpandangan tinggi, coba bayangkan sendiri, apa sebabnya mereka bersedia tunduk dibawah perintah seorang wanita dan mau bnertindak sebagai pelindung hukum dari dewi In nu?"

Kemudian sambil menunding kearah jenasah Thia Bu ki yg terkapar ditengah ruangan, kembali dia berkata .

"Bayangankan pula sikap situa bangka tsb, dia lebih rela mati daripada mengungkapkan letak sarang dari dewi In nu, dari sini bisa disimpulkan bahwa persoalannya lebih tak gampang..."

"Yaa, persoalan ini memang membingungkan sekali!"

Kata Kho Beng sesudah termenung sebentar. Sambil memicingkan matanya, si pelajar rudin Ho Heng kembali berkata .

"Dalam masalah demikian ini hanya ada satu kemungkinan, yakni bisa jadi dewi In nu adalah salah seorang tokoh dari partai kupukupu."

Bagaikan baru memahami akan sesuatu, dg rasa kaget Kho Beng segera berseru .

"Yaa, tebakan cianpwee memang tepat sekali, kemungkinan besar memang begitulah kenyataannya, kalau tidak mengapa tokohtokoh partai kupu-kupu seperti Thia Bu ki, Ong Thian siang, Tang Bok kong serta Liok Ci ang sekalian begitu rela menjadi pelindung hukumnya?"

"Benar!"

Pelajar rudin manggut-manggut.

"ditambah lagi tujuannya berada dikitab pusaka Thian goan bu boh, persoalan pun rasanya semakin jelas lagi, sebab peristiwa berdarah yg terjadi pada seratus tahun berselang pun timbul dari kitab pusaka Thian goan bu boh yg lenyap secara tiba-tiba, karena kitab pusaka Thian goan bu boh sesungguhnya adalah benda mestika milik partai kupu-kupu."

"Tapi ilmu silat yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh hanya terdiri dari ilmu kepalan, ilmu pukulan dan ilmu pedang, sama sekali tidak tercantum ilmu panji kupu-kupu seperti andalannya, aku rasa dibalik kesemuanya ini..."

Dg cepat si pelajar rudin Ho Heng menggoyangkan tangannya menukas pembicaraannya yg belum selesai itu, katanya .

"Tentang soal ini justru aku....sendiri pun tidak mengerti tapi menurut berita yg tersiar, kenyataannya memang begitu, jadi bila masih ada persoalan lainnya, jelas aku tak akan mengetahuinya..."

Tiba-tiba ia memutar biji matanya sambil menambahkan .

"Lebih baik kau sendiri yg mencegah persoalan pelik itu, aku sendiri harus segera pergi!"

"Cianpwee hendak pergi?"

Tanya Kho Beng agak tertegun. Pelajar rudin tertawa .

"Aku si pelajar khusus meninggalkan Lam huang datang kemari, tentunya bukan dikarenakan urusanmu, bukan?"

Merah jengah selembar wajah Kho Beng, segera tanyanya .

"Lantas cianpwee hendak kemana?"

Pelajar rudin Ho Heng berpikir sebentar, lalu katanya .

"Hwesio daging anjing, situa Bu wi semuanya termasuk orangorang yg ingin kujumpai dalam perjalananku kali ini, biar aku pergi mencari mereka berdua saja."

"Saat ini kedua orang tua tsb berada dilembah hati buddha, apakah cianpwee mengetahui tempat tsb?"

Buru-buru Kho Beng bertanya. Pelajar rudin Ho Heng segera tertawa terbahak-bahak .

"Haa...haaa...haaa...lembah hati buddha adalah sarang lama dari hwesio daging anjing, aku sipelajar pernah berkunjung kesitu, nah selamat tinggal...."

Sambil berkata, tubuhnya sudah beranjak pergi meninggalkan ruangan tsb. Cepat-cepat Molim menyusul kedepan sambil berteriak .

"Hey situa, setelah berkunjung kelembah hati buddha, kau masih hendak pergi kemana? Lebih baik kita jangan sampai kehilangan kontak dg dirimu!"

"Kenapa?"

Tanya si pelajar rudin sambil mendengus. Agak tergagap Molim segera berkata .

"Andaikata cukong kami lupa cara menguruti nadi kami, dia bisa mencarimu utk belajar kembali."

Mendengar perkataan ini, si pelajar rudin Ho Heng segera tertawa terbahak-bahak tanpa menjawab pertanyaan dari Molim lagi, ia segera menggerakkan sepasang bahunya.

Laksana anak panah yg terlepas dari busurnya dia segera melesat kemuka meninggalkan tempat tsb, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Menyaksikan si pelajar rudin tidak menggubris sama sekali atas kekuatirannya, Molim menjadi amat m endongkol sambil menggigit bibirnya ia berseru .

"Aku benci setengah mati dg si tua bangka tsb!"

"Yaa betul betul mak nya...hari ini kita lagi apes semua"

Teriak Rumang pula sambil melonjak-lonjak.

"sialan, kita bisa mati penasaran..."

"Tutup mulut!"

Mendadak Kho Beng membentak keras.

Molim dan Rumang tak berani bicara lagi, sedang Mokim serta Hapukim nampak agak terkejut, paras muka mereka berubah hebat, namun selain mengawasi pemuda itu dg termangu, tak seorangpun berani bersuit lagi.

Dg suara yg keras dan tajam kembali Kho Beng berkata .

"Kalian anggap perbuatan kalian berempat yg berhianat dan berniat jahat sama sekali tidak kuketahui? Hmmm, selama ini aku hanya membungkam karena aku masih berharap kalian bisa bertobat serta kembali kejalan yg benar. Kalian tahu, malam ini Ho cianpwee sudah menaruh ulat utk membunuh kalian semua, coba kalau aku tidak mengingat-ngingat hubungan kita yg terdahulu, mungkin tubuh kalian sudah dingin dan kaku sekarang...."

Buru-buru Molim berseru .

"Yaa, memang cukong telah menyelamatkan kami, selama hidup kami tak akan melupakan kebaikan dari cukong!"

Kembali Kho Beng mendengus .

"Hmm, lantas kalian lagi mengumbar nafsu apa sekarang?"

"Hamba sekalian mengerti salah!"

"Hmm, ingat baik-baik, mulai hari ini kalian berempat harus saling menjaga diri baik-baik, dalam perkataan maupun tindak tanduk kalian mesti bersikap lebih hati-hati, bila salah seorang diantara kamu berempat telah melakukan kesalahan, akibatnya kalian berempat yg akan kuhukum, bila ada seseorang diantara kalian berhianat, maka aku tak akan menguruti kalian berempat, biar kulihat kalian berempat mampus bersama-sama...."

Berubah hebat paras muka keempat orang itu, serempak mereka berteriak bersama-sama .

"Cukong tak usah kuatir, betapa pun besarnya keberanian kami, tak nanti kami berani mempunyai pikiran jahat lagi."

"Bagus sekali!"

Kho Beng manggut-manggut.

"asal kalian dapat berbuat demikian akupun tak akan menyia-nyiakan pengharapan kalian semua."

Tiba-tiba Chin sian kun menyela .

"Kho kongcu, fajar sudah hampir menyingsing, kita harus segera memutuskan langkah kita berikutnya!"

Kho Beng hanya mengangguk tanpa menjawab, keningnya berkerut kencang, jelas untuk sesaat sulit baginya utk mengambil keputusan, ia tak tahu kemana harus pergi?

Chin sian kun yg menyaksikan hal itu, kembali berkata .

"Untung saja Bok cuncu sudah kembali ke kuil Siau lim si utk memberikan laporan pada ketuanya dan segera menurunkan perintah kepelbagai jago partai utk mengutus jago-jagonya melacaki jejak siluman perempuan In nu, aku rasa kita harus kembali dulu ke lembah hati Buddha!"

Kho Beng termenung berapa saat, mendadak ia menggelengkan kepalanya seraya berkata.

"Tidak, utk sementara waktu ini aku tak ingin bertemu dg Bu wi cianpwee maupun hwesio daging anjing."

"Kenapa?"

Tanya si nona sambil menghembuskan napas panjang. Kho Beng menghela napas panjang, katanya .

"Sewaktu hendak meninggalkan lembah hati Buddha, aku pernah sesumbar kepada Bu wi cianpwee dan hwesio daging anjing, kenyataannya hasil nihil yg kuperoleh sekarang, rasanya kok rikuh kalau mesti kembali dalam keadaan tangan hampa...."

Setelah memutar biji matanya sebentar, dia berkata lagi .

"Menurut pendapatku, lebih baik nona pulang lebih dulu, biar aku berangkat kebukit Cian san utk sekali lagi mengadakan penyelidikan......"

"Bukankah rencana semula kita akan pulang ke lembah hati Buddha bersama? Mengapa kau berubah pikiran ditengah jalan?"

Tegur si nona sambil berkerut kening.

"Sebab, setelah mengetahui penghianatan Molim sekalian berempat yg secara diam-diam bersekongkol dg pihak In nu siancu, rasanya semangatku seperti dikobarkan lagi...betul dari pihak Siau lim si bakal mengirim banyak jago dari pelbagai partai utk melacaki jejak si pembunuh keji itu, tapi aku rasa toh lebih baik kulakukan pelacakan sendiri, apalagi keselamatan ciciku terancam bahaya maut, aku wajib mencoba sekali lagi!"

Chin sian kun segera menghela napas panjang .

"Baiklah, setelah kau memutuskan demikian, maka aku pun tak berniat menghalangi mu lagi, tapi aku tetap akan mendampingimu, aku pikir kau tak bakal menampik bukan?"

"Lebih baik nona jangan ikut, pulanglah dulu kelembah hati Buddha karena kepergian nona sama sekali tak diketahui mereka, bila kau tak segera kembali kelembah, aku kuatir mereka bakal gelisah, disamping itu......"

"Cukup! Kau tak usah melanjutkan"

Tukas Chin sian kun sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.

"aku cukup memahami perasaanmu, bukankah kau takut kehadiranku hanya akan menjadi beban untukmu?"

"Nona jangan salah paham, aku sama sekali tak sependapat begitu...."

Buru-buru Kho Beng berseru .

"Kalau begitu kau setuju atau tidak?"

Desak si nona agak girang. Dg perasaan apa boleh buat terpaksa Kho Beng berkata .

"Kalau toh nona berkata demikian, rasanya kurang baik kalau kuhalangi niatmu itu...."

"Nah begitu baru benar.....apakah kita akan segera berangkat kebukit Cian san?"

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian katanya .

"Paling baik kita duduk beristirahat sejenak disini, besok malam kita baru berangkat kebukit Cian san."

Waktu itu Molim sekalian berempat telah berubah menjadi amat jinak dan penurut, mereka hanya mengekor belaka terhadap semua keputusan yg diambil.

Begitulah, Rumang segera ditugaskan menguburkan jenasah Thia Bu ki dibelakang kuil, sementara yg lain membersihkan ruang kuil tsb, distulah mereka berempat duduk bersemedi sambil menunggu waktu.

Dalam suasana yg hening dan tenang, mereka berenam beristirahat hingga tengah hari seblum bangkit utk berangkat.

Setelah melalui masa beristirahat yg cukup panjang, kesegaran mereka telah pulih kembali.

Kho Beng segera menurunkan perintah utk berangkat menuju kebukit Cian san.

oooOOooo Ketika melalui sebuah dusun dalam perjalanan, mereka pun bersantap dulu disebuah rumah makan sampai kenyang, selesai bersantap mereka baru meneruskan perjalanan kebukit Cian san.

Ketika sampai dikaki bukit, tengah malam telah menjelang tiba.

Mereka berenam melanjutkan perjalanannya memasuki sebuah hutan lebat, disanalah perundingan rahasia segera dilaksanakan.

Pertama-tama Kho Beng berkata lebih dulu kepada Molim dg suara berat lagi dalam .

"Sekarang kau harus berbicara sejujurnya, selama kau mengadakan kontak dg anak buah dewi In nu, benarkah kau Cuma berhubungan dg Thia Bu ki yg telah terbunuh itu?"

Molim sangat terkejut, buru-buru dia mengangkat sumpah .

"Jika hamba berbicara bohong, biarlah aku dikutuk oleh thian dan mati secara tak wajar!"

Dg kening berkerut, kembali Kho Beng berkata .

"Bukan aku tak mau percaya kepadamu tapi dg matinya Thia Bu ki berarti hubunganmu dg mereka pun jadi putus, kini hubungan semacam ini tak mungkin dapat dipergunakan lagi!"

Tiba-tiba Chin sian kun menimbrung .

"Walaupun Thia Bu ki telah mati, tapi aku rasa anak buah dewi In nu yg lain pasti mengetahui juga akan hubungan persekongkolan antara Molim dg mereka, paling tidak dewi In nu pasti mengetahui persoalan ini...."

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian manggut-manggut .

"Yaa, perkataanmu ini memang ada benarnya juga...."

Sorot matanya segera dialihkan kembali kewajah Molim, lanjutnya .

"Begini saja, kalian berempat tak usah menyembunyikan jejak lagi, teruskan perjalanan keatas bukit secara terang-terangan, asal dewi In nu belum meninggalkan bukit Cian san, sudah pasti jejak kalian bakal mereka diketahui."

"Apa yg mesti kami lakukan jika kami telah ditemukan?"

Tanya Molim agak sangsi.

"Setelah mereka menemukan kalian berempat, tak ada salahnya bila kau melaporkan peristiwa Thia Bu ki yg telah bunuh diri, bila ada jawaban lain, aku tentu akan menyampaikan kepada kalian dg ilmu menyampaikan suara."

Terpaksa Molim manggut-manggut .

"Hamba turut perintah."

"Nah, kalian boleh berangkat sekarang."

Molim saling pandang sekejap dg Mokim, Rumang serta Hapukim, kemudian beranjak pergi dari situ dg langkah lebar.

Begitulah dibawah petunjuk Kho Beng yg disampaikan secara diam-diam, keempat orang itu sengaja berjalan dg langkah berat, bahkan sengaja bercakap dg suara keras.

Asalkan satu li disekitar tempat itu ada orangnya, sudah pasti kehadiran mereka akan menarik perhatiannya.

Sementara itu Kho Beng bersama Chin sian kun menguntil dibelakang mereka secara diam-diam, gerak gerik mereka tak ubahnya seperti sukma gentayangan.

Sepanjang jalan mereka perkampungan Ciu hong san ceng, juga melewati perkampungan Bwee wan yg rata dg tanah, namun sepanjang jalan suasana amat sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusia pun.....

Dalam posisi empat berjalan terang-terangan dan dua mengikuti secara diam-diam inilah mereka berenam meneruskan perjalanan kepuncak bukit, sebab Kho Beng telah memutuskan, dia harus memeriksa seluruh bukit Cian san sampai jelas utk membuktikan apakah dibukit Cian san masih ada musuh yg bersembunyi.

Dipuncak bukit Cian san terdapat sebidang tanah datar, rerumputan tumbuh subur diatas tanah tsb.

Pepohonan yg rimbun memenuhi pula sisi lereng bukit dg batu cadas berserakan disana sini.

Sekilas pandangan, tempat tsb tak ubahnya seperti sebuah puncak bukit yg sepi dan jauh dari keramaian manusia.

Namun menjelang kentongan pertama, tiba-tiba tampak empat sosok bayangan manusia berkelebat dan berkumpul ditengah-tengah puncak bukit tsb.

Ternyata keempat sosok bayangan manusia itu adalah Cun hong Lengcu, Hee im Lengcu, Ciu hoa Lengcu serta Tang soat Lengcu.

Mereka berempat saling berpandangan sekejap, lalu tertawa ringan.

Cun hong Lengcu segera berkata dg lirih .

"Belakangan ini sifat suhu kurang baik, karenanya dalam pertemuan malam nanti kita harus menghadapinya secara hati-hati."

Selesai berkata ia segera bertepuk tangan tiga kali sebagai kode rahasia mereka...

Begitu selesai bertepuk tangan, dari empat arah delapan penjuru segera bermunculan dua puluhan lelaki berbaju hitam yg semuanya memakai pakaian ringkas dan menyoren pedang dipinggangnya, dg cepat mereka mengurung ketengah lapangan.

Salah seorang diantaranya segera menjura , sambil berkata .

"Hamba menjumpai Lengcu berempat!"

Ternyata orang ini adalah sipedang geledek Sin Cu beng, seorang tokoh silat yg amat termasyur dalam dunia persilatan dimasa lalu dan sekarang menjadi selah seorang komandan pasukan dibawah perintah dewi In nu.

Sambi tersenyum, Cu hong Lengcu berkata .

"Malam ini Siancu akan membuka sidang, harap komandan Sin melakukan penjagaan yg lebih ketat dan berhati-hati lagi!"

"Hamba mengerti!"

Buru-buru Sin Cu beng manyahut.

"Apakah penjagaan disekeliling tempat ini sudah selesai diatur?"

"Lengcu tak perlu kuatir, hamba telah menyiapkan segala sesuatunya secara rapi, jangan lagi manusia, seekor burung jangan harap bias melintasi istana gua pengikat cinta ini tanpa diketahui jejaknya."

"Bagus sekali!"

Dg gembira Cui hong Lengcu manggut-manggut.

"silahkan komandan Sin kembali ke posnya!"

Sin Cu beng segera menjura, lalu sambil membalikkan badan, bisiknya .

"Masing-masing kebali ke posnya sendiri, jaga dg hati-hati, menjumpai tanda bahaya jangan bertindak terlalu ayal!"

Dua puluhan orang jago berbaju hitam itu serentak mengiakan bersama dan menyebarkan diri keempat penjuru, gerak-gerik mereka cepat bagaikan gulungan asap ringan, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan.

Setelah anak buahnya bubaran, Sin Cu beng baru beranjak pula meninggalkan tempat tsb.

Sepeninggal orang-orang itu, Cu Hong Lengcu mendongakkan kepalanya dan memandang sebentar keadaan cuaca, lalu bisiknya .

"Waktu sudah semakin dekat, mari kita tunggu suhu naik ke mimbar sidang!"

"Silahkan suci!"

Hee im Lengcu dan Tang soat Lengcu serentak berseru.

Dg langkah lebar, Cun hong Lengcu segera beranjak lebih dulu meninggalkan tempat tsb.

Disisi kiri bukit terdapat sebuah dinding karang yg terjal, disanalah terbuka sebuah lorong rahasia waktu itu, keempat Lengcu serentak melangkah masuk kedalam lorong tsb.

Ketika mereka telah masuk kedalam, terdengar kembali suara gemerincingan nyaring, pintu gua merapat kembali seperti sedia kala hingga sama sekali tak terlihat titik kecurigaan pun.

Setelah berada dalam lorong rahasia, Cun hong Lengcu sekalian menelusuri undak-undakan batu turun kebawah, lebih kurang lima puluh anak tangga kemudian didepan sana terbentang sebuah lorong bawah tanah yg amat luas dan lebar.

Dinding samping maupun langit-langit lorong tsb terbuat dari batu cadas yg datar, pada jarak setiap dua kaki tertancap sebatang obor yg menerangi sekitar goa tsb.

Selain itu, pada jarak setiap satu kaki sepanjang lorong tadi berdiri seorang busu bersenjata lengkap yg siap menghadapi segala kemungkinan, suasana yg menyeramkan menimbulkan rasa bergidik bagi siapapun yg memandangnya..

Ketika Cun hong Lengcu sekalian melewati lorong tsb, serentak semua busu membungkukkan badan member hormat.

Panjang keseluruhan dari lorong rahasia tsb mencapai dua puluhan, kaki pada ujungnya terdapat dua buah cabang jalan, Cun hong Lengcu sekalian mengambil jalan yg belok kesisi kiri.

Jalan bercabang itu tidak terlalu panjang, lebih kurang hanya tiga kaki lebih, pada ujungnya muncul sebuah ruang batu yg luas sekali, paling tidak lebarnya mencapai dua puluhan kaki persegi.

Waktu itu dalam ruangan telah penuh berdiri manusia yg berjajar-jajar, diantaranya terdapat busu bersenjata lengkap, ada gadis-gadis cantik berpakaian ringkas, ada pula kakek yg rambutnya telah beruban.

Ditengah ruangan, dekat dinding belakang didirikan sebuah panggung tinggi, didepan panggung tergantung tirai bamboo, sedang dibelakang tirai bamboo terdapat sebuah kursi besar.

Pada kedua belah sisi kursi besar tadi, masing-masing tersedia pula empat buah bangku bambu yg agak kecil.

Kecuali kelima lembar kursi tsb berada dalam keadaan kosong, diluar tirai bamboo telah penuh dg manusia.

Pada barisan terdepan berjajar sebelas orang kakek yg berusia antara lima puluh sampai tujuh puluh tahunan, pakaian mereka beraneka ragam.

Sedang pada barisan kedua adalah puluhan nona cantik berbaju ringkas, pakaian mereka pun berwarna warni dan amat menyolok mata.

Dibelakang barisan gadis-gadis muda itu adalah lelaki kekar yg masih muda semua, usia mereka berkisar dua sampai tiga puluhan tahun, sedang pakaian yg dikenakan adalah warna hitam atau kuning yg kelihatan amat segar.

Tatkala Cun hong Lengcu sekalian memasuki ruangan tsb, suasana yg semula hening kini bertambah sepi, demikian sepinya hingga detak jantung setiap orang hampir bias terdengar jelas.

Keempat orang Lengcu itu langsung menerobos masuk diantara kerumunan orang banyak, mereka tidak berhenti dalam ruang batu tapi langsung membuka pintu rahasia dan masuk kedalam.

Lebih kurang sepeminuman teh kemudian, tampak pintu rahasia itu kembali terbuka, tampak seorang dayang berbaju indah munculkan diri sambil berseru dg nyaring .

"Siancu memasuki mimbar!"

Suaranya mengalun sampai ketempat kejauhan dan mendengung tiada hentinya dalam pendengaran.

Tak lama kemudian tampak lima puluh empat orang nona berbaju ringkas berwarna kuning yg membawa pedang terhunus munculkan diri dari balik pintu rahasia dan berjalan menuju mimbar dg langkah lebar.

Dg gerakan cepat mereka menyebarkan diri lalu mengurung mimbar itu rapat-rapat.

Suasana yg mencekam seluruh ruangan waktu terasa hening dan sepi, suasana serius menyelimuti perasaan setiap orang.

Lewat beberapa saat lagi baru kelihatan seorang perempuan cantik berusia tiga pulu tahunan yg memakai baju kuning, bermantel bulu dan berwajah anggun, munculkan diri ditengah ruangan.

Dua orang nenek berbaju kuning berjalan mengiringi disisi kiri dan kanannya, sikap yg anggun dan wajah berwibawa membuat setiap orang merasakan hatinya tercekat.

Barulah dibelakang mereka mengikuti keempat Lengcu yakni Cun hong, Hee im, Ciu hoa serta Tang soat, semuanya langsung menuju keatas mimbar.

Tak salah lagi perempuan anggun yg diiringi dua orang nenek tsb bukan lain adalah In nu Siancu.

Ia langsung menuju kekursi kebesaran yg telah disediakan dan duduk, sementara kedua orang nenek tadi berdiri mendampingi dibelakang tubuhnya......."

Menunggu dewi In nu sudah duduk, secara terpisah keempat orang Lengcuitu baru mengambil tempat duduk dikeempat kursi kecil yg telah disediakan.

Pelan-pelan dewi In nu memperhatikan suasana dalam ruangan, kemudian tanyanya dg suara hambar.

"Apakah semuanya telah hadir!"

Mendadak paras muka dewi In nu berubah hebat, bentaknya keras-keras .

"Kurangajar, sampai kalian berempat pun berani membohongi diriku, besar nian nyali kalian!"

Cun Hong Lengcu sangat terkejut, tanpa sadar ia menjatuhkan diri berlutut diatas tanah sambil katanya .

"Teecu tak berani membohongi suhu!"

Masih dg nada marah, dewi In nu berkata lagi .

"Sudah jelas diantara duabelas orang pelindung hukum hanya sebelas orang yg hadir, terpaksa hanya sebelas orang yg hadir, mengapa kau katakana telah hadir semua?"

Tampaknya Cun hong Lengcu sama sekali tidak mengetahui akan peristiwa itu, ia baru berpaling kebawah mimbar setelah mendengar perkataan tsb.

Betul juga, diantara deretan kakek yg berdiri dibarisan terdepan, ternyata hanya sebelas orang yg hadir, terpaksa katanya lagi dg suara tergagap.

"Teecu memang pikun, silahkan suhu menjatuhkan hukuman!"

Dewi In nu mendengus .

"Dihukum atau tidak, lebih baik dibicarakan nanti saja, hayo cepat selidiki apa yg telah terjadi!"

"Teecu turut perintah!"

Buru-buru Cun hong Lengcu bangkit berdiri, mundur sejauh tiga langkah kemudian baru menghadap kebawah mimbar, seraya membentak .

"Siapakah diantara dua belas pelindung hukum yg belum hadir?"

"Thia Bu ki!"

Seorang kakek berbaju ungu menjawab. Dg kening berkerut, Cun hong Lengcu kembali berkata .

"Apakah dia tak tahu kalau mala mini diadakan siding?"

"Tentu saja tahu!"

"Kalau sudah tahu malam ini ada siding, mengapa sengaja ia tidak hadir? Memangnya ia sudah bosan hidup!"

"Betapapun besarnya nyali Thia Bu ki, semestinya dia akan dapat hadir pada waktunya.....aku kuatir........"

"Kuatir kenapa? Mengapa tidak segera diucapkan?"

Hardik Cun hong Lengcu keras-keras.

"Aku kuatir terjadi sesuatu peristiwa yg diluar dg dirinya....."

Bergetar keras perasaan Cun hong Lengcu setelah mendengar perkataan itu, buru-buru katanya .

"Tahukah kau apa yg sedang dilakukannya selama satu dua hari belakangan ini?"

"Menurut apa yg kuketahui, dia sedang melacak jejak keempat orang asing yg menjadi pengikut Kho Beng, tapi hingga saat ini bayangan tubuhnya masih belum juga Nampak."

Mendadak.......

Disaat Cun hong Lengcu dan sikakek berbaju ungu itu melangsungkan Tanya jawab, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yg tergesa-gesa datang, disusul kemudian tampak seorang laki-laki berbaju ringkas lari masuk kedalam ruangan.

Suasana gaduh segera mencekam seluruh ruangan itu, Cun hong Lengcu menghentikan pembicaraannya dan menyingkir kesamping, sementara sorot matanya dialihkan kewajah Dewi In nu, jelas ia sedang mengamati bagaimana reaksi gurunya terhadap peristiwa ini?

Tampak lelaki berbaju hijau itu lari kedepan mimbar lalu menjatuhkan diri berlutut seraya berseru .

"Hamba menjumpai Siancu!"

Menyusul kemudian ia menyembah berulang kali.

Paras muka Dewi In nu amat dingin dan tanpa emosi, terhadap sikap lelaki itu ia menunjukkan sikap acuh tak acuh.

Melihat sikap gurunya itu, buru-buru Cun hong Lengcu segera membentak dg suara lantang .

"Besar amat nyalimu, berani sekali mengganggu ketengan Siancu....."

Buru-buru lelaki itu berkata .

"Berhubung ada urusan penting yg mesti dilaporkan, terpaksa hamba harus menerobos masuk kemari, untuk itu harap Lengcu sudi memaafkan kelancangan hamba."

Agak kurang sabar dewi In nu menyelak secara tiba-tiba .

"Suruh dia laporan secepatnya!"

Buru-buru Cun hong Lengcu berseru .

"Cepat katakan!"

Dg suara lantang lelaki itu berkata .

"Thia huhoat telah mendapat celaka, jenasahnya dikubur dibelakang kuil Lu cuo bio lima puluh li diluar kota, kini mayatnya sudah digali keluar dan dibawa kemari. Paras muka semua jago yg hadir dalam ruangan berubah hebat, suasana berubah menjadi semakin hening, tiada orang yg berani bersuara kecuali dengusan marah dari dewi In nu. Dg perasaan amat bergetar, Cun hong Lengcu bertanya .

"Thia huhoat tewas karena termakan bacokan senjata ataukah tewas oleh pukulan tenaga dalam?"

Lelaki itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya .

"Semua tidak, ia tewas karena bunuh diri, Thia huhoat bunuh dg menggigit putus lidahnya sendiri."

Tiba-tiba dewi In nu berkata sambil menghela napas .

"Bagus sekali! Masih untung dia tak menyia-nyiakan kepercayaanku kepadanya, meski tewas karena musibah, ia pantas dihormati sebagai pembantu yg amat setia, aku pasti akan memohonkan pujian dari ciangbunjin..."

Setelah berhenti sejenak, dg suara dalam kembali katanya .

"Segera perintahkan orang utk mengurusi layonnya secara baikbaik dan segera kirim ke markas besar partai kita."

"Teecu segera akan mengutus orang utk melakukannya...."

Buruburu Cun hong Lengcu berseru. Dg suara dalam sekali lagi dewi In nu berkata .

"Segera kirim tiga orang pelindung hukum utk menyelidiki sebab kematian Thia huhoat, kemudian balaskan dendamnya!"

"Teecu terima perintah...."

Dg cepat Cun hong Lengcu membalikkan badan, membalik kebawah mimbar seraya serunya .

"Tang Bok kong, Liok Ci ang, Oun Thian siang, perintah dari Siancu tentunya sudah kalian dengar sendiri, kuharap kalian bertiga segera melaksanakannya."

"Hamba terima perintah!"

Buru-buru ketiga orang huhoat itu menyahut. Dewi In nu segera berseru .

"Persoalan ini tak perlu ditunda lagi, kalian berangkat sekarang juga....."

Tang Bok kong sekalian serentak member hormat kemudian membalikkan badan dan mengundurkan diri dari situ.

Ruang tengah yg luas pun pulih kembali dlm keheningan, hanya kali ini paras muka dewi In nu telah dilapisi oleh hawa dingin dan kaku yg sangat mencekam hati.

Suasana hening semakin mencekam seluruh hadirin, mereka semua menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tak berani menatap wajah atasannya lagi.

Terutama sekali keempat Lengcu, mereka merasa bagaikan duduk dikursi berjarum, gerak geriknya amat tak tenang.

Diam-diam Cun hong Lengcu telah balik kembali ketempat duduknya, sementara sinar matanya secara diam-diam meneliti wajah Dewi In nu.

Ketika ia menjumpai tatapan mata Dewi in nu sedang tertuju kearahnya, tanpa sadar cepat-cepat ia mengalihkan pandangan matanya kearah lain, sementara wajahnya berubah menjadi merah hijau tak menentu, sikapnya mengenaskan sekali.

Dg suara sedingin es, Dewi In nu berkata kemudian .

"Sewaktu berada diperkampungan Bwee wan tempo hari, justru karena penjagaan yg sangat kendorlah menyebabkan Bu wi si bajingan tua itu berhasil mencapai tujuannya secara mudah, kendati aku berhasil menghajarnya sampai terluka parah, namun bagian yg terpenting dari kitab pusaka Thian goan bu boh berhasil dicuri olehnya. Sejak kejadian itu sampai sekarang, sudah berjalan cukup lama, kenapa kalian semua belum berhasil juga merebutnya kembali?"

Buru-buru Cun hong Lengcu mengerlingkan matanya sekejap kearah Hee im, Ciu hoa serta Tang soat, serentak mereka berempat bangkit berdiri dan berlutut dihadapan gurunya sambil berkata .

"Kesemuanya ini memang merupakan kesalahan teecu yg tak becus!"

"Sebetulnya sampai dimanakah sulitnya pekerjaan ini? Memang kalian mengulur waktu terus menerus? Memangnya aku harus turun tangan sendiri baru berhasil?"

Cun hong Lengcu berpikir sebentar, lalu ujarnya .

"Keadaan yg sebenarnya telah teecu laporkan kepada suhu, dalam kenyataannya Kho Beng adalah pemuda yg licik, justru karena kami bermaksud memperalat keempat orang pembantu asingnya, siapa sangka gara-gara persoalan ini Thia huhoat pun kena musibah...."

Dewi In nu segera berkata setelah berpikir sebentar .

"Konon kalian menggunakan encinya sebagai umpan, mengapa sekarang malah mengalihkan sasarannya kepada ke empat pembantu asingnya?"

Dg hati bercampur keki serta marah.

"masa untuk menyelesaikan pekerjaan kecilpun kamu harus menggunakan cara yg berputar kayuh macam begini?"

Setelah berhenti sejenak, ia segera membentak "

"Gusur dia kemari!"

Cun hong Lengcu tak berani membantah, ia segera member tanda kepada Hee im dan Li sian soat, kemudian bersama-sama mengundurkan diri dari situ.

Lebihkurang setengah peminuman teh kemudian, tampak Cun hong Lengcu dan Hee im Lengcu telah muncul kembali kedalam ruang siding dg mengempit tubuh Kho Yang ciu yg berambut awutawutan serta bermata sayu.

Bersambung ke bab 27

Jilid 27 Wajahnya Nampak berpenyakitan, rasa bimbang dan tak habis mengerti menghiasi mukanya yang kuyu, agaknya dia tak tahu kemanakah dirinya telah dibawa.

Hingga dirinya diseret menuju ke depan mimbar, kedua orang dayangnya Sia hong maupn Bwee hiang tak Nampak turut serta datang kesitu.

Agaknya Kho yang ciu berada dalam semakin lemahi tampak napasnya terengah-engah sambil meronta serunya .

"enci jin, enci Li sebenarnya apa yang telah terjadi..tempat apakah ini?"

Dengan pandangan mata yang sayu dan payah dia memperhatikan sekejap disekeliling sana, sementara rasa heran dan curiga menyelimuti wajahnya. Dengan suara sedingin es cun hong Lengcu berkata .

"Kho yang ciu, setelah kejadian berkembang begini, kamipun tak bermaksud mengelabui dirimu lagi, terus terang saja kukatakan, sebenarnya diantara kita merupakan musuh bebuyutan, hakekatnya antara kita tak ubahnya bagaikan air dengan api."

"Cici berdua jangan bergurau,"

Teriak Kho yang ciu makin kebingungan.

"kalian..."

"Dengarkan baik-baik, kami sama sekali tidak membohongimu,"

Sambung Hee im Lengcu Li Sian soat dengan suara ketus.

"Dahulu kami baik kepadamu karena kami hendak memperalat dirimu untuk membatasi umat persilatan dan sekarang kami akan memperalat dirimu kembali untuk memaksa Kho Beng agar menyerahkan kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut.."

Berubah hebat paras muka Kho yang ciu, agak tergagap katanya .

"sungguh .sungguh ini?"

"Kau tahu, siapakah orang yang duduk di atas situ? Terus terang saja kami katakan, dia adalah guru kami. Dewi In Un"

"Aaaah-"

Kho yang ciu berteriak keras, ia bermaksud untuk bangkit berdiri.

Tapi sayang dia sudah lupa kalau posisinya saat ini sangat lemah.

tahu-tahu kepalanya terasa amat pening dan seketika itu juga roboh tak sadarkan diri-Cun hong Lengcu segera membungkukkan badan memberi hormat keatas mimbar, katanya .

"Harap suhu sudi memberi petunjuk untuk menyelesaikan persoalan ini.."

Dewi In Un tertawa terkekeh-kekeh .

"Heeeeehhi.heeeehhheeeehhh, totok dahulu seluruh jalan darahnya kemudian sekap dia didalam kamar tahanan, setelah itu beritahu kepada Kho Beng agar dia datang kemari menukar cicinya dengan dua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut"

Kemudian sambil berpaling kembali serunya .

"Ciu hoa. Tang soat"

Ciu hoa dan Tang soat Lengcu serentak melompat bangun sambil berseru.

"Tecu siap menerima perintahi-"

Dengan wajah serius Dewi In "n berkata .

"Kalian berempat kerjakan tugas ini bersama-sama, setiap orang yang termasuk anak buahku boleh kalian pergunakan bilamana perlu, yang penting selesaikan tugas ini secepatnya"

"Baik, tecu terima perintah"

Jawab Ciu hoa dan Tang soat Lengcu serentak-Tiba-tiba Cun hong Lengcu berseru agak sangsi.

"Lapor suhu, bila kita sampai berbuat demikian kemungkinan besar rahasia letak gua pengikat cinta ini akan ketahuan musuh. bisa jadi malah menyebabkan timbulnya pelbagai kesulitan dikemudian hari."

Dewi In wn tertawa hambar.

"Pertama, bila perkerjaan ini telah selesai dikerjakan maka aku akan segera memimpin semua jago pulang ke markas besar, secara otomatis semua bangunan yang berada dibukit cian san ini bakal ditinggalkan dengan begitu saja"

Setelah berhenti sejenaki lanjutnya .

"Kedua, disaat kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh sudah didapatkan kembali, apakah kalian benar-benar hendak membebaskan mereka kakak beradik berdua dengan begitu saja?"

"Tentu saja tidak"

Jawab Cun hong Lengcu sambil memutar biji matanya "jadi maksud suhu, tecu..."

"Tentu saja harus membabat rumput sampai akar-akarnya, kita tak boleh membiarkan kedua orang anak jadah tersebut hidup terus didunia ini."

Seru Dewi In wn sambil menggertak giginya menahan emosi-"Tecu pasti akan melaksanakan pesan suhu, hanya kali ini.."

Tidak sampai Cun hong Lengcu menyelesaikan ucapannya. Dewi In wn telah menukas lagi dengan suara dalam.

"Bila kali ini menderita kegagalan lagi, kalian berempat akan menerima hukuman yang paling berat"

Keempat orang Lengcu itu serentak membungkukkan badan sambil berseru.

"suhu tak usah kuatir, kali ini tecu berempat pergi pasti tak akan membuat suhu kecewa."

Sementara itu seluruh jalan darah ditubuh Kho yang ciu telah tertotok oleh Hee im Lengcu Li sian soat disaat ia jatuh tak sadarkan diri tadi, keadaannya saat ini tak jauh berbeda seperti orang mati, kesadarannya hilang dan tubuhnya lemas tak bertenaga-Maka dibimbing oleh beberapa orang dayang, tubuhnya kembali diseret keluar dari ruangan sidang-Memandang hingga semua orang sudah pergi.

Dewi In wn baru bangkit berdiri sambil tersenyum.

Dayang berbaju perlente yang berdiri disisinya buru-buru berteriak lagi dengan suara lantang .

"Tutup sidang"

Ditengah suara teriakan yang keras itulah.

Dewi In Un diiringi kedua orang nenek tersebut mengundurkan diri ke ruang dalam melalui jalan rahasia semula.

sementara itu Kho Beng bersama Chinsian kun sekalian telah menelusuri puncak bukit dalam usahanya melacak sarang musuhnya.

Tatkala mereka sudah berada setengah li dari puncak bukit, mendadak Chinsian kun menarik ujung baju Kho Beng sambil bisiknya .

"Puncak bukit itu gundul tanpa tumbuhan, sudah jelas tiada bagian tempat yang menarik perhatian, aku rasa justru lembah disitu yang amat mencurigakan, bagaimana kalau kita lakukan pemeriksaan lebih dulu atas lembah tersebut?"

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian ia manggut-manggut.

"ya a, perkataan nona memang benar-"

Maka dengan ilmu menyampaikan suara dia segera memberitahukan kepada Molim agar berbelok kesamping kiri langsung menuju kesebuah lembah yang rimbun.

siapa tahu justru karena perbuatannya ini secara kebetulan sekali mereka telah menghindari pos penjagaan yang diatur diseputar puncak bukit itu.

sepanjang jalan Molim sekalian menelusuri hutan dengan langkah lebar, sepanjang jalan dia pun sibuk mengatur Mokim, Rumang dan Hapukim sesuai dengan petunjuk yang diterimanya dari Kho Beng.

Tiba-tiba terdengar Molim berseru dengan suara keras .

"saudara-saudaraku, kenapa sih kita begitu apes sehingga segala pekerjaan sepertinya tak pernah lancer, dengan susah payah kita berhasil mengadakan hubungan dengan situa Thia, eeei siapa tahu dia justru melakukan bunuh diri"-"ya a, nasib kita memang lagi gelap, makanya."

Sambung Rumang cepat, sementara pembicaraan berlangsung, mereka telah memasuki lembah bukit itu.

Pepohonan yang tumbuh dalam lembah tersebut sangat lebat lagi rimbun, jalan setapak pun susah dilewati, bukan saja hening sepi tak kedengaran sedikit suara pun, bahkan sesosok bayangan manusia pun tidak Nampak-Dengan suara lantang Hapukim segera berseru.

"sebelum melakukan bunuh diri, si tua Thia juga tak meninggalkan pesan apa pun, kemanakah kita harus mencari rekanrekannya-heeei-situa Bangka itu betul-betul si telur busuk "

Biar pun nada suaranya tak terlalu lantang samun gema suaranya telah mengalun diseantero lembah, asal disitu ada orangnya sudah pasti suara tersebut akan kedengaran.

Tapi sungguh anehi selain gema panggilan suara sendiri, dari lembah tersebut tak kelihatan sesuatu reaksi apapun.

Dengan gemas Rumang memungut sebutir batu dan ditimpuk kedalam hutan seraya berteriak "Makin dipikir rasanya hatiku semakin mendongkol, kalau bisa akan kuobrak abrik bukit ini hingga rata dengan tanah"

Tangannya segera diayunkan ke depan, sebutir batu pun meluncur ke depan dengan dahsyatnya.

Blarrrrrr,...

Diiringi suara benturan yang sangat keras, sebatang pohon kecil yang terkena timpukan batunya patah seketika itu juga menjadi dua bagian, batang pohon itupun segera roboh ke tanah-Tapi pada saat itu pula kedengaran suara orang membentak keras dari balik hutan.

"Hey, siapa yang berkaok-kaok disini tengah malam buta begini? Huuuh, benarkah didunia ini tiada tempat yang betul-betul tenang?"

Tampak seorang kakek berambut putih yang berperawakan kecil lagi ceking dan membawa sebuah tongkat berkepala ular munculkan diri disamping pohon yang tumbang itu, dia langsung melotot kearah Molim sekalian.

sambil tertawa terkekeh-kekeh Molim sebera berseru.

"Maaf orang tua, kami datang untuk mencari seseorang-."

"Hmmmm, sekalipun maksud kalian hendak mencari orang, toh bukan begitu caranya"

Seru si kakek berambut putih itu sambil mendengus.

"Masa ditengah malam buta begini datang kelembah untuk mencari orang, benar-benar perbuatan orang edan.siapa sih yang kalian cari?"

Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, Molim berkata agak gugup.

"Apakah kau orang tua kenal dengan Thia huhoat?"

"Hmm, mendengar namanya pun belum pernah,"

Sahut kakek itu sambil mendengus.

"siapa yang tak tahu kalau kau sama seperti Thia huhoat, samasama menjadi anak buah siancu?"

Kata Molim lagi dengan kening berkerut.

"Hey bocah kunyuki kau jangan sembarangan bicara, aku tak peduli Dewi atau iblis, hayo cepat kalian pergi dari sini."

Molim tiada beranjak dari situ, malah setelah memutar biji matanya, ia berkata lagi.

"Kalau begitu sungguh aneh, kalau toh kau bukan rekan Thia huhoat, kenapa dirimu bisa berada dibukit Cian san ini?"

"Hmm, apakah bukit Cian san ini sudah punya pemilik tunggalnya dan orang lain tak boleh datang?"

"Tentu saja tidak, tentu saja tidak"

Sahut Molim serasa menggeleng.

"tapi kau orang tua seorang diri bersembunyi di lembah tersebut, sebetulnya apa yang sedang kau perbuat"

"Tidur"

"Waahi sungguh aneh sekali,"

Tak tahan Molim berteriak "kalau pingin tidur seharusnya pergi ke kota atau dusun untuk mencari rumah penginapan.

Kalau toh tak punya uang untuk menyewa penginapan, pergilah ke kuil untuk mondok barang semalam, masa kau malah datang keatas gunung untuk tidur?"

Kakek berambut putih itu mendengus.

"Baik rumah penginapan maupun dalam kuil sedikit banyak disitu pasti ada orang, bila ada orang tak bisa dihindari lagi tentu rebut, itulah sebabnya aku lari kelembah yang sepi ini untuk tidur. Heii..sungguh tak disangka tidurku lagi-lagi diganggu oleh kalian beberapa orang telur busuk?"

"Hey, kau lagi maki siapa?"

Rumang segera menegur dengan gusar.

"Tentu saja kau"

Rumang menjadi sewot, sambil mengayunkan kepalannya dia siap menjotos tubuh kakek tersebut. Tapi Molim segera menghadang dihadapannya sambil menegur.

"Jangan bertindak gegabah"

Ternyata Kho Beng telah memberi petunjuk kepada Molim dengan ilmu menyampaikan suaranya untuk menyelidiki nama kakek tersebut lebih dulu.

setelah mencegah Rumang, Molim segera menjura dalam-dalam sambil tanyanya kepada kakek berambut putih itu ramah-"Bolehkah aku tahu nama cianpwe?"

Kakek berambut putih itu tertawa cekakakan, sambil menatap Molim, katanya .

"Jika kulihat dari tampangmu, agaknya kau Cuma seorang budak asing, tak kusangka orang asing pun mengerti akan tata kesopanan, aku dari marga Ang bernama It ciang, orang menyebutku si Kakek Tongkat sakti"

"Namamu memang tepat sekali orang tua"

Ujar Molim kemudian sambil tertawa.

"Mungkin nama tersebut disesuaikan dengan tongkat kepala ular yang berada ditanganmu, bukan?"

Rupanya dia tak tahu apa yang mesti dibicarakan selanjutnya, maka diutarakannya kata-kata basa basi untuk mengulur waktu sambil menantikan petunjuk berikut dari Kho Beng.

Akan tetapi Kho Beng sama sekali tidak memberi petunjuk lagi kepadanya dengan ilmu menyampaikan suara, sebaliknya malah munculkan diri bersama Chin sian kun.

Mereka berdua langsung melayang turun dihadapan si Kakek Tongkat sakti dan menjura dalam-dalam sambil ketanya.

"Boanpwee Kho Beng dan chin sian kun menjumpai Ang locianpwee"

Buru-buru si Kakek Tongkat sakti berkata .

"Mana...mana..."

Tapi kemudian sambil menghela napas, katanya lebih lanjut.

"Makin lama orang yang muncul semakin banyak. aku rasa memang susah untuk menemukan tempat yang amat tenang didunia ini"

"Boanpwee memohon maaf yang sebesar-besarnya bila kehadiran kami telah mengganggu ketenangan tidur cianpwee"

Buru-buru Kho Beng berseru.

"tapi entah disebabkan urusan apa cianpwee munculkan diri kembali didunia persilatan.."

Ternyata si Kakek Tongkat sakti bersama Bu wi lojin serta Gin san siancu disebut sebagai tiga tokoh aneh dari dunia persilatan tapi sejak puluhan tahun berselang jago tua ini telah hidup mengasingkan diri, tak disangka secara tiba-tiba orang itu muncul kembali di lembah yang sunyi hari ini..

Kakek Tongkat sakti seoera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh-haaaah-haaah-sebetulnya aku sedang mencari tempat untuk tidur, terus terang kukatakan sudah hampir setahun lamanya aku belum pernah tidur yang nyenyak"

"Aaahi cianpwee memang gemar bergurau "

"Tidaki sama sekali tidak bergurau"

Si Kakek Tongkat sakti dengan wajah serius.

"aku dapat memberitahukan kepadamu sejujurnya, tempat tinggalku yang lama di lembah Ciong cun kok di bukit Pa San boleh dibilang telah berubah menjadi lembah monyet, siang malam selalu kedengaran suara monyet berteriak disitu, kau tahu telingaku ini belum beristirahat dengan tenang barang sejenak saja."

"oooohi kiranya begitu,"

Kata Kho Beng serius. Mendadak Kakek Tongkat sakti menatap wajah Kho Beng lekatlekat, setelah itu tegurnya.

"Dilihat dari usiamu masih sangat muda, dari mana kau bisa mengetahui namaku?"

Buru-buru Kho Beng berseru.

"Nama besar tiga tokoh sakti dari dunia persilatan sudah termasyur dimana-mana. sekalipun pengalaman boanpwee amat cetekpun namun nama besar Ang locianpwee masih cukup kukenal"

Kakek Tongkat sakti kelihatan gembira sekali setelah mendengar umpakan tersebut, segera katanya.

"Aaaahi terlalu sungkan, terlalu sungkan.."

Kemudian sambil mengalihkan pandangan matanya kewajah Kho Beng kembali katanya sambil tertawa.

"Akupun rasanya seperti pernah mendengar akan namamu itu, tapi bila ditinjau dari usiamu, sudah pasti namamu kudengar setelah kemunculanku yang kedua kalinya, tapi dari siapa kudengar namamu.aaaai, sekarang tak dapat kuingat kembali dengan jelas."

Kho Beng berpikir sejenaki kemudian katanya .

"sungguh beruntung boanpwee bisa bersua dengan cianpwee pada malam ini, sebab hubungan boanpwee dengan kedua tokoh sakti lainnya boleh dibilang cukup akrab."

"Coba kaujelaskan, hubungan macam apakah yang terjalin antara dirimu dengan mereka berdua?"

Tanya Kakek Tongkat sakti keheranan.

"Bu wi lojin pernah mewariskan ilmu silat kepadaku, bahkan dengan ilmu may teng tay hoat telah menghadiahkan tenaga dalam sebesar empat puluh tahun hasil latihannya kepadaku, meski tiada hubungan guru dan murid, tapi kenyataannya hubungan kami menyerupai guru dan murid, sedang mengenai Gin san siancu, dia adalah guru dari ciciku. Nah, coba bayangkan sendiri, bukankah boanpwee mempunyai hubungan yang akrab dengan kedua orang tokoh sakti tersebut?"

Kakek Tongkat sakti segera tersenyum.

"Paling tidak kau sedang mendekati diriku sekarang, tapi hubungan kita akan datar, bahkan bertemu pun baru saja berlangsung, bagaimana mungkin bisa terjalin hubungan yang akrab diantara kita berdua?"

Dengan wajah serius Kho Beng berkata .

"Berbicara dari nama serta kedudukan cianpwee untuk bertemu muka saja sudah sukar bagi orang lain, tapi kini boanpwee bisa berbincang-bincang denganmu, hal ini sudah terhitung suatu kejadian yang beruntung sekali-"

"Tak nyana kau sibocah muda pandai sekali berbicara, begini saja, bagaimana kalau kita mengikat tali persahabatan?"

Buru-buru Kho Beng memberi hormat sambil serunya "cianpwee, hal ini tak berani kuterima, masa boanpwee harus saling menyebut sobat dengan cianpwee?"

Kembali Kakek Tongkat sakti tertawa .

"Kau jangan salah duga, kau toh tahu aku tak bakal menerima murid, sekalipun ingin mengorek kepandaianku sedikit demi sedikitpun tak mungkin bisa terjadi-dan lagi, akupun tak mampu menerima dirimu sebagai muridku, sekarang teringat sudah aku siapakah dirimu yang sebenarnya."

Dengan wajah serius ditatapnya wajah Kho Beng lekat-lekat, kemudian ujarnya lebih jauh.

"Kau adalah keturunan dari perkampungan hui im ceng, sekarang telah berhasil mempelajari ilmu silat dari kitab pusaka Thian goan bu boh-yaa aku memang sudah tua, otakku sudah tak berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Padahal baru-baru berselang kudengar berita tentang dirimu, siapa tahu hari ini sudah hampir melupakannya kembali."

"Kalau begitu cianpwee pun sudah mengetahui persoalan si Dewi In wn?"

"Barusan toh sudah kukatakan dengan jelas,"

Kata Kakek Tongkat sakti sambil tertawa.

"Aku tak ambil peduli dewi atau setan, yang kuperhatikan justru pada sudut yang lain, yaitu kemunculan partai kupu-kupu"

"Baik"

Kho Beng maupun chinsian kun sama-sama dibuat tertegun setelah mendengar perkataan tersebut.

"Kalau begitu kedatangan cianpwee ketempat ini bukan disebabkan untuk mencari tempat tidur, bukan?"

Kata Kho Beng kemudian sambil tertawa. Kakek Tongkat sakti tertawa bergelak.

"Haaah.haaaah-haaah..aku datang kemari-sesungguhnya memang untuk itu, namun akupun merasa amat terkejut atas munculnya kembali partai kupu-kupu didalam dunia persilatan."

"Cianpwee, tak nyana kaupun memandang serius kemunculan partai kupu-kupu tersebut, nampaknya partai kupu-kupu tak boleh dianggap enteng"

"Bukan cuma tak boleh dianggap enteng"

Dengus Kakek Tongkat sakti.

"pada hakekatnya persoalan ini harus dianggap sebagai satusatunya masalah yang terbesar dan paling serius dari dunia persilatan, aku sebagai salah satu anggota dunia persilatan tentu saja tak boleh duduk berdiam diri saja, itulah sebabnya meski aku mencari tempat yang tenang untuk tidur yang nyenyak, sesungguhnya kedatanganku kemari adalah untuk mencari seseorang, tapi hingga kini orang yang kucari belum juga ditemukan.,"

"siapa sih yang cianpwee cari?"

Tak tahan Kho Beng bertanya.

"orang dari marga Thian bernama Cun yang, dia adalah sahabat karibku tapi sudah tiga puluhan tahun belum pernah bersua muka."

Diam-diam Kho Beng menyebut nama orang itu berulang kali, terasa olehnya nama Thian Cun yang amat asing baginya, karena itu sambil mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, katanya lagi.

"Tahukah cianpwee bahwa diantara anak buah Dewi In un terdapat pula jago jago lihay dari partai kupu-kupu?"

Kakek Tongkat sakti tertawa lebar.

"Padahal tiada sesuatu yang perlu diherankan dalam persoalan ini, siapa tahu siancu tersebut adalah tokoh terpenting dalam partai kupu-kupu? Tapi yang terpenting dari kesemuanya ini masih tetap berada sang ciangbunjin dari partai kupu-kupu yaitu ui sik kong."

"Apakah locianpwee kenal dengannya?"

Tanya Kho Beng agak tertegun. Kakek Tongkat sakti menggeleng.

"Kenal sih tidaki tapi sebelum aku mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan dulu, aku sudah mendengar tentang keturunan partai kupu-kupu yang dibangkitkan dari keruntuhan dan sedang mempelajari sejenis ilmu sesat disuatu lembah yang terpencil, adapun pentolan dari kesemuanya itu tak lain adalah Ui sik kong, satu-satunya putra Thian it ketua partai kupu-kupu yang telah tewas ditangan tiga dewa see gwa sam sian tempo hari, semenjak saat itu aku sudah bisa menduga bahwa suatu saat partai kupu-kupu pasti akan muncul kembali kedalam dunia persilatan."

"Locianpwee, pengetahuanmu sangat luas, aku rasa diantara partai kupu-kupu dengan tiga dewa see gwa sam sian pasti sudah terjalin hubungan dendam sakit hati yang tak mungkin terselesaikan dengan damai bukan?"

Kakek Tongkat sakti manggut-manggut.

"aku rasa ada tiga tujuan partai kupu-kupu muncul kembali dalam dunia persilatan, pertama mencari kitab pusaka Thian goan bu boh yang hilang, kedua menuntut balas kepada tiga dewa see gwa sam sian dan ketiga, membantai umat persilatan untuk menyampaikan rasa bencinya selama ini."

Setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata lebih jauh .

"Kini terbukti kitab pusaka Thian goan bu boh berada ditanganmu, otomatis kau pun terseret pula didalam peristiwa ini"

"Boanpwee sama sekali tak tahu kalau kitab pusaka Thian goan bu boh adalah barang milik partai kupu-kupu, selain itu.."

"Tak usah kaujelaskan kepadaku"

Tukas Kakek Tongkat sakti.

"Padahal kitab pusaka Thian goan bu boh bukannya milik partai kupu-kupu sejak permulaan. Hanya saja turun temurun kitab tersebut beralih tangan sampai akhirnya jatuh ketangan mereka jadi siapakah pencipta kitab tersebut hingga kini masih merupakan tekateki besar namun yang pasti kitab pusaka Thian goan bu boh adalah sumber bencana, sejak seratus tahun berselang dimana partai kupukupu membantai dunia persilatan, hingga peristiwa berdarah yang menimpa perkampungan Hui im ceng pada belasan tahun berselang, semuanya sudah ditandai dengan ceceran darah dimana-mana-"

"Ya a, perkataan cianpwee memang betul, karena memang begitulah kenyataannya,"

Ucap Kho Beng lirihsetelah menghela napas kembali. Kakek Tongkat sakti berkata .

"Kita memang tak bisa berbuat banyak terhadap peristiwa yang telah terjadi, tapi menurut hematku, persoalan paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah menghentikan pembantaian berdarah yang tampaknya sudah mulai melanda dunia persilatan ini."

"Lantas apa pendapat cianpwee tentang persoalan ini?"

Sesudah mendengus dingin. Kakek Tongkat sakti berkata .

"Tindak tanduk partai kupu-kupu kelewat buas dan tak berperi kemanusiaan, mereka tinggi hati karena menganggap ilmu silatnya paling top, selain itu berambisi pula untuk menumbangkan semua kekuatan yang ada dalam dunia persilatan, oleh sebab itu satusatunya jalan adalah dengan membunuh untuk menghentikan pembunuhan, kita tumpas partai kupu-kupu hingga ke akar-akarnya, dengan begitu keamanan dunia persilatan baru bisa terjamin."

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian katanya .

"Konon Tiga dewa see gwa sam sian tinggal dipulau Bong lay sian to, entah Peristiwa itu terjadi pada seratus tahun berselang, setelah Tiga dewa see gwa sam sian bekerja sama menumpas ketua partai kupu-kupu ui Thian it, dengan menderita kerugian hampir lima puluh tahun hasil latihan, ketiga dewa tersebut kembali ke pulau Bong lay untuk memulihkan kembali kekuatannya, tapi tiga puluh tahun kemudian secara beruntun mereka telah pulang kealam baka, jangan lagi tiga dewa pribadi, sekalipun keturunan mereka pun kini sudah mencapai generasi yang ketiga yaitu cucu-cucunya-Tapi pihak partai kupu-kupu toh takkan peduli sampai dimanakah generasi penerus dari tiga dewa tersebut, jelas mereka hanya akan melampiaskan rasa benci dan dendamnya kepada ahli waris mereka bertiga, bukan demikian?"

Kakek Tongkat sakti manggut-manggut.

"ya a, tentu saja demikian, tapi ahli waris tiga dewa"

Mendadak dia menghela napas dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya, sebenarnya bagaimana dengan k.tfi.^R^ keturunan tiga dewa?

desak Kho Beng keheranan, setelah lama sekali termenung akhirnya Kakek Tongkat sakti berkata .

"Keturunan dari tiga dewa minim sekali jumlahnya, hingga sekarang cucu tiga dewa masing-masing cuma seorang, usianya pun telah mencapai tujuh delapan puluh tahun tapi mereka sudah tidak menetap di pulau Bong lay lagi."

"Lantas mereka telah pergi kemana?"

"Tak ada yang tahu"

Kakek Tongkat sakti menggeleng.

"Bahkan tak ada yang tahu pula karena persoalan apa mereka sampai meninggalkan pulau Bong lay tersebut, tapi hubunganku dengan si dewa An khek Thian cu yang paling akrab, itulah sebabnya aku sengaja melacaki jejaknya sampai dimana-mana.

"oooh, rupanya cianpwee sedang mencari keturunan dari tiga dewa,. sela Kho Beng.

"tapi si dewa Bu khek "

Sambil tertawa Kakek Tongkat sakti berkata .

"Dewa Bu khek merupakan gelar yang dipergunakan turun temurun, dulu gelar itu dipergunakan kakek Thian cun yang dan sekarang dipakai olehnya sendiri, namuan..dunia begini luas, siapa tahu dia telah pergi kemana?"

"Apakah keturunan tiga dewa sudah mengetahui tentang berita meunculnya partai kupu-kupu dalam dunia persilatan?"

Kakek Tongkat sakti menghela napas panjang .

"Aaaai.justru persoalan inilah yang amat merisaukan hatiku, lagi pula berbicara menurut situasi yang ada sekarang, kendati pun jago silat yang berpihak kepada kita cukup banyak jumlahnya, tapi selain keturunan dari tiga dewa, siapa lagi yang mampu membendung agresi dari partai kupu-kupu?"

"Waaahi kalau begitu badai pembunuhan yang melanda dunia persilatan sudah tak mungkin bisa dihindari lagi?"

Tanya Kho Beng dengan kening berkerut kencang. Kakek Tongkat sakti tertawa getir.

"Berbicara yang sebenarnya, badai pembunuhan sudah mulai melanda dunia persilatan, bukankah dimana-mana sudah terjadi pembunuhan berdarah yang menimpa umat persilatan?"

Kho Beng terbungkam tak mampu menawab pertanyaan itu, sampai lama kemudian dia baru berkata.

"Apakah cianpwee akan melanjutkan tidurmu? Kalau begitu, biar boanpwee mohon diri lebih dulu.."

"Setelah dibangunkan oleh suara kalian yang berisik, sekarang aku tak berminat untuk tidur lagi.."

Lalu sambil tertawa ia berpaling dan melanjutkan.

"Ditengah malam buta begini, sebenarnya karena persoalan apa kalian mendatangi bukit yang terpencil ini?"

"Bukit cian san merupakan sarang dari Dewi In Un serta anak buah andalannya. bisa jadi Dewi In un pribadi juga tinggal dibukit ini, sekarang boanpwee sedang berusaha melacaki letak sarang mereka itu."

"Apakah telah berhasil ditemukan?"

"Belum"

Pemuda itu menggeleng.

"tak kusangka gerak aerik mereka begitu misterius dan sangat rahasia, aku lihat bukan pekerjaan yang gampang untuk menemukan tempat persembunyian mereka-"

"Lantas apa rencana kalian sekarang?"

"Boanpwee bermaksud meneruskan pelacakan disekitar tempat ini, bila tak berhasil kami akan segera tinggalkan bukit cian san, bagaimana dengan cianpwee sendiri"

Setelah memperhatikan sekejap sekitar tempat itu. Kakek Tongkat sakti berkata .

"Aku toh tak bisa tidur lagi, tentu saja akan kutemani kalian, kita baru berpisah setelah meninggalkan bukit Cian san nanti"

"silahkan cianpwee"

Buru-buru Kho Beng berseru. Tapi Kakek Tongkat sakti segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya .

"Aku kurang hafal dengan daerah disekitar sini, lebih baik kalian saja menjadi petunjuk jalanku."

Maka Molim sekalian berempat pun diperintahkan untuk berangkat lebih dulu, sementara Kho Beng, chin sian kun serta Kakek Tongkat sakti mengikuti dari belakang.

Kali ini mereka berangkat menuju kebelakang bukit.

suasana diatas bukit tersebut amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suara pun seakan-akan bukit tersebut adalah sebuah bukit kosong yang tidak berpenghuni.

Mendadak Dari kejauhan sana muncul tiga sosok bayangan manusia yang meluncur datang dengan kecepatan tinggi, menanti Molim sekalian mengetahui akan kehadiran orang-orang tersebut, kedua belah pihak sama-sama tertegun dan serentak menghentikan perjalanan.

Kho Beng, chin sian kun serta Kakek Tongkat sakti yang menyaksikan dari kejauhan.

peristiwa tersebut segera menyusupkan diri kebalik pepohonan yang rimbun dan menyembunyikan diri Dengan ilmu menyampaikan suara Kho Beng segera berbisik kepada Kakek Tongkat sakti.

"Tak disangka kita akan bersua disini-, mereka bertiga adalah pelindung hukum dari Dewi In wn, yaitu anggota dari partai kupukupu yang menghebohkan itu. Ternyata mereka bertiga adalah tang Bok kong, Liok Ci ang serta ong Thian siang."

"Bagus sekali"

Kakek Tongkat sakti segera berseru dengan ilmu menyampaikan suara, '"Ingin kulihat manusia macam apakah mereka itu?"

Dalam pada itu. Tang Bok kong sekalian telah membentak sambil tertawa dingin.

"Heeehh.heehh.heeeh..kebetulan amat, kami memang sedang mencari kalian beberapa orang, sungguh tak disangka kita akan bersua dibukit ini."

Kemudian dengan nada berat, hardiknya .

"Ada urusan apa kalian datang ke bukit Cian san ini?"

"Kami sedang mencari kalian"

Jawab Molim cepat. Jawaban tersebut segera membuat Tang Bok kong jadi tertegun, serunya kemudian.

"Besar amat nyali kalian, kemana perginya Thia huhoat?"

"Justru karena persoalan ini kami khusus datang kemari, Thia huhoat telah tewas, kamilah yang telah mengubur jenasahnya."

"Apa sebabnya dia tewas?"

Tanya Tang Bok kong lagi sambil kertak gigi. Molim menghela napas panjang .

"Aaaaai, dia mati karena bunuh diri bahkan kematiannya mengenaskan sekali-"

Ong Thian siang tak bisa menahan diri lagi, dengan suara dalam segera bentaknya .

"Hayo cepat ceritakan keadaan yang sebenarnya, bila berani berbicara sembarangan, hati-hati dengan nyawa kalian semua"

"Kami memang sengaja datang kebukit Cian san untuk melaporkan kejadian ini kepada Dewi In Un"

"Tutup mulut"

Bentak Liok Ci ang keras-keras.

"Nama siancu bukan sebutan yang boleh diucapkan sembarangan orang. Hmmm.. cepat katakana, apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Sesudah menghela napas panjang, Molim beru berkata .

"Kami telah bersua dengan Thia huhoat di kuil Lu con bio, tatkala ia sedang mengajak kami merundingkan persoalan penting, tiba-tiba muncullah seorang pelajar rudin yang amat dekil"

"siapa namanya?"

Tanya tang Bok kong. Molim pura-pura mikir sejenak, akhirnya sambil bertepuk tangan serunya .

"Ahhhh, betul Dia bernama sipelajar rudin Ho heng"

"Pelajar rudin Ho heng?"

Bisik Tang Bok kong sambil menggigit bibir.

"Tak disangka bajingan tua inipun muncul kembali di dalam dunia persilatan.apa yang dia lakukan?"

"Perdebatan segera terjadi antara dia dengan thia huhoat, kami lihat pembicaraan diantara mereka saling bertolak belakang sampai akhirnya terjadilah pertarungan yang amat seru. Kami benar-benar tidak menyangka kalau sipelajar rudin yang kelihatannya ceking dan tak bertenaga itu ternyata memiliki kepandaian silat yang begitu tangguh. Tidak sampai dua gebrakan kemudian ia telah berhasil memetik kupu-kupu diujung senjata Thia huhoat. sampai disitu Thia huhoat pun mengaku kalah dan siap berlalu dari situ, siapa tahu sipelajar rudin itu tidak mengijinkan pergi"

"Membunuh orang tak lebih kepala menempel tanah, apalagi yang hendak diperbuatnya?"

Tanya TanBok kong sambil menggertak gigt.

"Dia memaksa Thia huhoat untuk memberitahukan tempat dan alamat siancu, tapi permintaan tersebut dtampik oleh Thia huhoat, kemudian entah mengapa ternyata ia menggigit putus lidah sendiri dan bunuh diri"

"Bagaimana dengan sipelajar rudin Ho heng?"

Tanya TanBok kong setelah berpikir sejenak-"Dia pergi dari situ"

Ucap Molim sambil menggeleng.

"Kemanakah dia pergi aku kurang jelas."

Dengan kemarahan yang meluap Tang bok kong berkata .

"Thia Bu ki telah salah menilai orang itulah sebabnya dia mengundang bencana kematian bagi diri sendiri. Aku rasa kalian berempat sama sekali tak berguna lebih baik kuhantar kalian pulang kerumah nenek saja, hitung-hitung untuk melampiaskan rasa dendam Thia bu ki"

Sambil berkata dia segera mempersiapkan panji kupu-kupunya untuk melancarkan serangan.

Molim menjadi sangat etrperanjat setelah menyaksikan kejadian itu, cepat-cepat matanya celingukan ke sekeliling tempat tersebut kemudian sambil menggoyangkan tangannya berulang kali, ia berseru.

"Tunggu dulu, tunggu dulu, jangan buru-buru turun tangan."

Tang Bok kong mendengus dingin, sambil melintangkan senjata panji kupu-kupunya didepan dada, ia berseru.

"Apalagi yang hendak kau ucapkan?"

Agaknya Molim cukup mengetahui akan kelihaian ke tiga orang tersebut, dengan kemampuan yang dimilikinya bersama Rumang sekalian berempat, paling banter Cuma bisa menahan seorang saja, bila musuh turun tangan bersama, mustahil bagi mereka untuk bisa meloloskan diri Disamping itu diapun tidak tahu apakah Kho Beng sekalian berada disekitar situ atau tidaki maka sambil tertawa paksa katanya .

"Terhadap kematian Thia huhoat, sesungguhnya kami turut bersedih Wati, tapi ilmu silat yang dimiliki sipelajar rudin Ho Heng kelewat tinggi, tak mungkin bagi kami untuk membantunya, oleh sebab itu terpaksa kami berangkat ke bukit Cian san untuk memberi laporan."

Tang bok kong sebera mendengus dingin.

"Darimana kalian tahu tentang bukit cian san?"

Molim menjadi tertegun setelah mendengar pertanyaan itu, tapi segera jawabnya .

"Kami pernah mendengar pengakuan Thia huhoat yang konon berdiam di bukit Cian San. oleh karena itulah terpaksa kami datang kebukit Cian san untuk beradu nasib."

"sipelajar rudin itu telah pergi kemana?"

Tanya Tang Bok kong kemudian dengan suara dingin.

"Dia telah pergi ke lembah hati Buddha, konon hendak mencari Bu wi lojin serta Hwesio daging anjing"

Tang Bok kong sebera tertawa dingin.

"Apalagi yang hendak kalian sampaikan?"

Sambil berkata senjatanya kembali dipersiapkan, tampaknya ia sudah berniat untuk turun tangan lagi. selain itu selain itu. Molim jadi tergagap.

"hingga sekarang Kho Beng masih belum tahu kalau kami telah menghianatinya, ia masih menganggap kami sebagai orang kepercayaannya, ini berarti kami dapat memperalat dirinya dan pelan-pelan berusaha untuk mencuri kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu"

Tang Bok kong sebera mengulapkan tangannya seraya berkata .

"Tidak usah dilanjutkan kata-katamu itu, terus terang saja aku katakan, siancu sudah bosan dengan cara yang membuang waktu seperti itu.."

Kemudian setelah berhenti sejenaki bentaknya keras-keras .

"Apalagi kau sudah tiada perkataan lain, hayo bersiap-siaplah untuk menerima kematian"

Senjata panji kupu-kupunya digetarkan siap hendak menyerang tubuh Molim-Disaat yang kritis itulah, mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara nyaring "Tunggu sebentar"

Menyusul suara bentakan itu tampak empat sosok bayangan menusia melayang turun dihadapan Tang Bok kong sekalian bertiga-Kehadiran bayangan manusia itu agaknya membuat Tang Bok kong, Liok Ci ang serta ong Thia n siang jadi tertegun, tapi buruburu mereka menjura seraya berkata .

"Menjumpai Lengcu berempat"

Ternyata yang datang adalah Cun hong Lengcu, Hee im Lengcu, Ciu hoa Lengcu, serta Tang soat Lengcu berempat.

Diantara keempat orang lengcu tersebut Molim sekalian pernah bertemu dengan ciu hoa Lengcu serta Tang soat Lengcu, diam-diam mereka merasa amat terperanjat-sementara itu Cun hong Lengcu telah maju beberapa langkah ke depan, lalu menegur.

"Apakah mereka berempat adalah budak-budak asing dari Kho Beng?"

"Benar"

Sahut Tang Bok kong seraya menjura.

"Kami telah bersiap-siap akan membunuh mereka semua, sebab secara tidak langsung Thia huhoat telah tewas ditangan mereka."

Sambil memutar biji matanya buru-buru Molim maju ke depan, kemudian ujarnya seraya menjura dalam-dalam.

"Lengcu berempat, sesungguhnya bukan begitu persoalannya"

Cun hong Lengcu tertawa-tawa, bukan menjawab dia malah bertanya .

"Tahukah kalian Kho Beng berada dimana sekarang?"

Molim berpikir sejenaki kemudian sahutnya .

"sekarang kami tidak tahu, tapi kami dapat segera mencarinya, kami percaya dalam waktu singkat akan berhasil kami temukan."

"Bagus sekali."

Cun hong Lengcu tertawa girang.

"Nah, adikku bertiga bagaimana menurut pendapatmu? Menurut penilaianku merekalah pilihan yang paling ideal"

Hee im Lengcu mengerling sekejap kearah Cun hong Lengcu serta Tang soat Lengcu, kemudian katanya sambil tersenyum.

"Toaci adalah pimpinan dari keempat Lengcu, sudah sepantasnya bila toaci yang mengambil keputusan, siau moy sekalian tak ada pendapat lain.."

Ucapan tersebut bernada mengumpak tapi bermaksud untuk mencuci tangan, kontan saja membuat Cun hong Lengcu berkerut kening, senyuman dinginpun segera menghiasi ujung bibirnya.

sambil berpaling kearah Tang Bok kong sekalian, ia segera berkata .

"Aku ingin mengajukan satu permohonan kepada huhoat bertiga, apakah kalian bertiga sudi memberi muka"

Tang Bok kong agak tertegun, buru-buru sahutnya .

"Bila anda mempunyai suatu permintaan utarakan saja secara terus terang, kami pasti akan mentaatinya."

Cun hong Lengcu sebera tertawa .

"Aku mempunyai kegunaan yang lain atas keempat orang budak asing ini, bagaimana kalau kalian serahkan saja orang-orang tersebut kepadaku?"

"Kalau memang Lengcu bermaksud demikian, tentu saja ku akan mentaatinya. Cuma saja.."

"Cuma saja kenapa?"

Tukas Cun hong Lengcu sambil melotot. sekujur badan Tang Bok kong Nampak bergetar keras, buru-buru ujarnya dengan kepala tertunduk.

"yang aku maksudkan bukan persoalan mereka bertiga, melainkan pembunuhan Thia huhoat yang sebenarnya yakni si pelajar rudin Ho Heng."

Mendengar kata-kata itu, Cun hong Lengcu sekalian nampak terperanjat sekali. Hee im Lengcu segera menyela .

"Aku dengar si pelajar rudin ini belum pernah meninggalkan kawasan Pat huang mengapa secara tiba-tiba ia bisa muncul didaratan Tionggoan."

Padahal sederhana sekali jawabannya kata Ciu hoa Lengcu sambil tertawa dingin-"Mungkin dia cun mendengar kabar tentang kitab cusaka Thian goan bu boh sehingga bermaksud mencari bagian."

Cun hong Lengcu mendengus dingin, sambil berpaling kearah Tang bok kong tanyanya .

"Dimanakah dia sekarang?"

Sambil menunjuk kearah Molim, Tang bok kong berkata .

"Menurut pengakuan orang ini sipelajar rudin tersebut telah pergi ke lembah hati Buddha."

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh .

"Kalau dihitung sekarang berarti dalam lembah hati Buddha sudah terdapat Bu wi lojin, Hivesio daging anjing serta sipelajar rudin, tiga orang jago tangguh"

Sambil mengkertak gigi Cun hong Lengcu menyela .

"jangankan baru mereka bertiga, sekalipun terdapat tiga puluh orang atau tiga ratus orang pun akan kubuat mereka hancur berantakan dan tak seorangpun dibiarkan hidup"

Lalu sambil mengulapkan tangannya kepada Tang Bok kong sekalian, ia berkata lagi.

"Kalian boleh mengundurkan diri dari sini."

Tang Bok kong saling berpandangan sekejap dengan Liok Ci ang serta ong Thian siang, kemudian sambil menjura mereka segera mengundurkan diri dari situ.

sepeninggal ketiga orang pelindung hukum itu, Cun hong Lengcu mengawasi sekejap wajah Molim sekalian, lalu katanya sambil tertawa .

"sebenarnya kalian pingin mati atau hidup?"

Buru-buru Molim membungkukkan badan dalam-dalam seraya berkata .

"sebenarnya maksud kedatangan kami kesini adalah untuk menyampaikan kabar, perkataan Lengcu barusan benar-benar membuat kami susah untuk menjawabnya."

"Aku sengaja mengajukan pertanyaan tersebut kepadamu tak lain maksudku agar kalian mengetahui sampai dimana gawatnya keselamatan kalian. Bila kamu berempat berpikiran dua.sudah pasti kematian yang menimpa kamu semua bakal mengerikan sekali."

"Kami tak ingin mati, berjanji akan melaksanakan perintah Lengcu dengan setia"

"Apakah kau yakin bisa menemukan Kho Beng?"

Tanya Cun hong Lengcu dengan suara dalam.

"Kami yakin bisa menemukannya"

Molim mengangguk.-"Bagus sekali"

Cun hong Lengcu tertawa.

"tapi aku hanya memberi waktu tiga hari kepada kalian, bila dalam tiga hari mendatang tetap tanpa berita, maka kalian semua akan kubunuh"

Molim sebera menganggukkan kepalanya berulang kali.

"Itu mah gampang dan lagi waktu tiga hari sudah lebih dari cukup buat kami, tapi apa yang harus kami perbuat setelah berhasil menemukan dirinya?"

"Kalian cukup menyampaikan sebuah kabar kepadanya"

"Waahi itu mah sangat gampang tapi apa yang mesti kami sampaikan?"

"Katakan kepada Kho Beng bahwa encinya Kho yang ciu sudah disekap didalam gua pengikat cinta dibukit Cian san ini, dalam tiga hari mendatang dia akan dihukum mati, tapi dia bisa menyelamatkan jiwanya kalau mau. Asal datang dengan membawa kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut."

"Akan.akan kuingat baik-baik pesan itu"

Kata Molim kemudian tergagap. Tiba-tiba Hee im Lengcu berkata pula dengan suara dalam.

"Katakan kepada Kho Beng, inilah kesempatan terakhir baginya untuk menyelamatkan cicinya, sebab bila sampai lewat tiga hari, besar kemungkinan dia Cuma akan bertemu denganjenasah Kho yang ciu"

"Baik..baik,"

Setelah hening sesaat, Cun hong Lengcu berkata lagi.

"Asal dia telah memasuki daerah terlarang dari bukit ini, pasti ada orang yang akan menyambut kedatangannya, tapi Kho Beng harus bersikap hati-hati, kuharap dia jangan mempergunakan keselamatan cicinya sebagai barang taruhan, bila dia berani bermain gila, maka yang bakal mampus paling dulu adalah cicinya."

Kemudian setelah tertawa terkekeh-kekeh, katanya lagi.

"Nah, adikku bertiga, sekarang kita boleh pulang, sungguh tak disangka persoalan ini bisa dilaksanakan dengan lancar."

Hee im Lengcu sekalian hanya mengangguk tanpa menjawab, mereka berempat segera membalikkan badan dan berjalan menuju kearah puncak bukit.

sepeninggal keempat orang perempuan itu, Molim baru menyeka peluh dingin yang membasahi tubuhnya sambil berbisik dihati.

"sungguh berbahaya, sungguh berbahaya.."

"Dari keempat orang perempuan itu, aku kenal dua orang diantaranya.

"kata Rumang sambil menghampirinya.

"Mungkinkah mereka semua adalah anak buah dari Dewi In wn?"

"ssst mereka adalah empat orang Lengcu"

Bisik Molim-"Kepandaian silat yang dimiliki konon jauh lebih hebat daripada pelindung hukum, masih untung kita bisa menghadapi mereka secara baik, kalau tidaki waah bisa berbahaya sekali"

"Apa yang mesti kita takuti?"

Kata Rumang.

"bukankah cukong serta Kakek Tongkat sakti mengikuti kita secara diam-diam? Andaikata benar-benar terjadi pertarungan, yang bakal sial adalah keempat orang perempuan tersebut."

"Tapi hingga detik ini aku tak mendengar pesan cukong lewat ilmu menyampaikan suara, aku kuatir cukong tidak ikut datang kemari."

Kata Molim sambil celingukan kesekeliling tempat itu. Mendadak terdengar Kho Beng berkata sambil tertawa ringan "Kalian kelewat mengkuatirkan soal itu padahal tak sedetikpun kutinggalkan semua."

Tatkala Molim sekalian berpaling kearah sumber suara tersebut, tampak Kho Beng, Chin sian kun serta Kakek Tongkat sakti sedang berjalan keluar dari balik pepohonan.

Ternyata selama ini mereka bertiga bersembunyi hanya tiga kaki dari area, tapi kenyataannya Tang Bok kong serta keempat Lengcu sekalian tidak mengetahui akan kehadirannya.

Buru-buru Molim maju kedepan memberi hormat katanya .

"oooh cukong, hamba sekalian hampir mati saking cemas dan kuatirnya"

Kakek Tongkat sakti segera mengulapkan tangannya seraya berkata .

"Aku rasa tempat ini bukan suatu daerah yang aman, lebih baik kita mencari tempat yang lain untuk berbincang-bincang"

Kho Beng dan chinsian kun segera mengangguki maka merekapun mengajak Molim sekalian meninggalkan tempat tersebut menuju kekaki bukit.

Lebih kurang lima li kemudian sampailah mereka disebuah bukit, meskipun bukit tersebut tidak terlalu tinggi, namun bisa melihat keadaan disekitarnya dengan jelas-sambil menunding keatas Kakek Tongkat sakti berkata .

"Tempat diatas sana merupakan tempat yang amat strategis, mari kita berbincang-bincang diatas sana."

Dia segera menggerakkan badannya dan berangkat lebih dulu menuju ke atas puncak bukit itu. setibanya diatas puncaki dengan wajah serius dan amat berat Kho Beng menatap Molim sekalian seraya berkata.

"Kalian tak perlu menjelaskan lagi, semua pembicaraan yang berlangsung tadi telah kudengar dengan terang.."

"Tampaknya perubahan yang terjadi bertambah serius, cukong harus mencari akal yang bagus untuk menanggulangi persoalan ini."

"soal ini aku mengerti,"

Tukas Kho Beng."

Tapi kalian., lebih baik pulang dulu ke lembah hati Buddha dan menunggu kedatanganku di situ."

"Cukong hendak menyuruh kami pergi ke lembah hati Buddha?"

Tanya Molim sambil berkerut kening.

"ya a, kita harus pergi ke lembah hati Buddha,"

"Bagaimana dengan cukong sendiri?"

Seru Rumang pula dengan mata melotot-Hapukim tak mau kalah dan berseru juga-"Kami sudah bertekad akan mengikuti cukong, bila cukong hendak berangkat ke lembah hati Buddha, maka kami pun turut ke sana, bila cukong tak pergi, kami pun tak akan kesitu."

"Kalian semua toh sudah mengetahui,"

Kata Kho Beng serius-"Aku hanya di beri waktu selama tiga hari, dalam tiga hari ke depan aku harus berupaya sedapat mungkin untuk menyelamatkan ciciku."

Kemudian setelah berhenti sejenaki terusnya lagi.

"Disamping itu, aku menyuruh kalian pergi ke lembah hati Buddha tak lain adalah demi memikirkan keselamatan kalian semua,"

Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, Molim berkata .

"sekalipun keselamatan jiwa cici cukong amat berbahaya, tapi kepergian cukong jauh lebih berbahaya lagi, aku rasa lebih baik,."

Tiba-tiba ia berhenti bicara dan tidak melanjutkan lagi katakatanya . Kho Beng sebera mendengus dingin.

"Lebih baik kenapa?"

Setelah tertawa rikuh, Molim berkata .

"Andaikata cukong telah hapal dengan isi kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh itu, lebih baik diserahkan saja kepada mereka"

"Tidak bisa"

Tukas Kho Beng sambil tertawa dingin.

"Isi kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut adalah gambar-gambar petunjuk yang tak boleh keliru barang sedikitpun, kenapa aku mesti serahkan kepada mereka? Dan lagi masih ada dua sebab lain yang jelas tak mungkin bisa kuserahkan kitab tersebut kepada mereka,"

"Sebab apakah itu?"

Tanya Molim sambil tertawa getir.

"Kesatu, Dewi In Un adalah mush besar ku yang paling tangguhi diapun merupakan bibit bencana bagi umat persilatan, baik untuk kepentingan umum maupun kepentingan pribadi, aku tak bisa menyerahkan kedua lembar kunci tersebut kepadanya sehingga dia bisa menyelesaikan pelajaran ilmu silatnya, kedua, sekalipun aku benar-benar menyerahkan kedua lembar kitab pusaka tersebut, mereka belum tentu akan benar-benar membebaskan ciciku dengan begitu saja."

"Kalau memang begitu, cukong lebih-lebih tak boleh pergi menyerempet bahaya,"

Seru Molim semakin cemas.

"lebih baik kita undang datang Bu wi lojin, hwesio daging anjing serta pelajar rudin Ho Heng dan Kim bersaudara sekalian. Dengan kekuatan yang besar berarti kemungkinan selamatpun semakin besar pula."

"ya betul"

Sambung Mokim cepat.

"cukong toh bisa berkunjung ke Siau lim si dan meminta para hwesio siau lim si untuk menghimpun kekuatan dari pelbagai partai lainnya agar bersama-sama mengepung bukit Cian san ini"

Kho Beng sebera mendengus dingin.

"Kenapa sih kalian begitu bawel? Apakah kuatir aku tertimpa musibah sehingga tak ada orang lain yang bisa mengurutkan nadi kalian lagi?"

Merah padam selembar wajah Molim sekalian karena jengah, agak tergagap segera katanya.

"Harap cukong jangan salah paham-"

Dengan suara dalam Kho Beng seoera berseru.

"Kalian dengarkan baik-baiki semua persoalan yang telah kuputuskan tak bisa ditawar lagi, kusuruh kalian pergi kelembah hati Buddha, lebih baik kalian menurut saja."

"Kami seaera mentaati perintah"

Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 8

Baca Juga: Kembalinya Ilmu Ulat Sutera 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert