Ceritasilat Novel Online

Pukulan Si Kuda Binal 2

Eps 2 Pukulan Si Kuda Binal - Gu Long

Baca online Pukulan Si Kuda Binal - Gu Long

Cersil Pukulan Si Kuda Binal - Gu Long.

"Hubungan kami melebihi kakak dan adik, kalau bukan dia yang mendampingi aku, mungkin aku sudah......"

Siau Ma tidak membiarkan dia meneruskan ucapannya, pelahan dia berkata.

"Aku tahu maksudmu."

Dia mengerti, tiada orang yang lebih mengerti dibanding Siau Ma. Karena demikian pula hubungan lahir batinnya dengan Ting si, seperti juga hubungan Siau Lin dengan Ong Senglan, hampir sama.

"Aku ingin mohon bantuanmu untuk melakukan sesuatu,"

Pinta Siau Lin.

"Boleh, jelaskan saja."

"Kuminta sudilah kau menolongnya."

"Menolong temanmu?"

Siau Lin mengangguk, katanya.

"Orang lain bilang dia bukan tandingan Kim-jio-ji, tapi dia pantang kalah dalam duel ini."

"Kau minta aku membantunya mengalahkan Kim-jio-ji?"

"Terserah dengan cara apa, demi diriku kuharap kau menolongnya."

Dia menggenggam kencang tangan Siau Ma.

"Aku tahu kau mampu dan mau melakukan."

Kejap lain mereka beranjak keluar, tangan bergandeng tangan.

Tadi tempat ini diliputi suasana riang dan damai, sekarang menjadi sunyi dan hampa.

Kehidupan manusia di maya pada memang tiada yang abadi, tiada yang tidak pernah berubah, demikian pula tiada kesenangan yang tidak berubah menjadi duka cita.

Ang-sin-hoa muncul dari belakang, dengan pandangan getirdia mengantar bayangan muda mudi ini, setelah menghela napas dia menggumam.

"Aku rela kalian saling melibatkan diri dalam asmara, sama-sama serius mencari kesulitan, aku tahu......"

Ada sementara orang memang mirip paku dan besi sembrani bila bertemu satu dengan yang lain akan lengket menjadi satu, tarik menarik takkan lepas.

Demikian keadaan Siau Ma dan Siau Lin.

Begitukah Ting Si dengan Ong-toa siocia?

Setelah menghela napas Ang-sin-hoa menggumam pula.

"Siau Ma bakal celaka, kelak Ting Si juga bakal celaka, Akulah yang salah, seharusnya aku mencegah pertemuan ini, aku sudah tahu......"

Cahaya surya benderang.

Tombak panjang mengkilap gemerdep ditimpa sinar surya.

Cuaca cerah, langit biru dengan gumpaian mega putih menghias cakrawala, bunga mekardi atas payapaya, kumbang dan kupu-kupu menari di rumpun kembang, angin sepoi-sepoi menyebar bibit kehidupan.

Memang sekarang lagi musim bibit bersemi dan tumbuh subur, di musim seperti ini, tiada manusia yang memikirkan kematian.

Sayang sekali kematian tak bisa dihindarkan.

Pelan Kim-jio-ji membuka buntalan kain yang membungkus tombak emasnya, sementara matanya menatap lawannya.

Benaknya membayangkan 'kematian'.

Jarang ada manusia yang meresapi 'kematian' dibanding dia, karena beberapa kali dia pernah mendekati kematian, makna kematian seperti sudah mengintai dirinya.

Kalau bukan aku yang mati, kaulah yang gugur.

Itulah prinsip hidupnya menghadapi kematian.

Prinsip yang mudah dilakukan tapi kejam, manusia tidak diberi peluang untuk memilih.

Dua puluh tahun setejah berkecimpung di dunia persilatan, manusia mana pun akan tergembleng menjadi seorang kejam dan culas.

Demikian pula keadaan Kim-jio-ji, oleh karena itu dia masih hidup sampai sekarang.

Kini musuh yang dihadapi masih muda, tegakah dirinya melihat gadis jelita ini terbunuh di ujung tombaknya?

Kalau bukan dia yang mati, akulah yang gugur.

Dia pantang kalah, memangnya aku tak boleh menang?

Kim-jio-ji menghela napas, dari dalam kantong kain dia melolos tombak emasnya.

Cahaya emas menguning gemerdep menyilaukan mata.

Selama dua puluh tahun, entah berapa jiwa manusia menjadi korban tusukan tombak emasnya.

Tombak itu panjang dan runcing, bagian yang runcing tajam, gagang tombak rata dan mulus, tanpa lekukan, kalau dipegang akan menimbulkan perasaan giris dan buas, sejahat binatang liar atau ular berbisa.

"Tombak bagus,"

Ting Si memuji. Teng Ting-hou sependapat, katanya.

"Ya, tombak bagus."

"Kalau Pa-ong-jio dianggap singa atau harimaunya tombak, maka tombak emas ini patut dianggap ular beracun diantara tombak sejenis."

Teng Ting-hou berkata.

"Kaum persilatan menamakan tombak emas ini tombak ular."

"Konon tombak ini dibuat dari campuran emas murni dengan besi baja, ringan dan lincah dibanding tombak besi umumnya, gagang tombaknya bisa ditekuk sesuka hati pemiliknya,"

Ting Si menjelaskan.

"Oleh karena itu ilmu tombak yang dimainkan Kim-jio-ji mempunyai ciri khas sendiri, jauh berbeda dengan ilmu tombak umumnya."

"Ya, aku pernah mendengar, ilmu tombak yang dia yakinkan dinamakan Coa-jek (patukan ular), ilmu tombak warisan keluarganya ada seratus delapan jurus, belakangan Kim-jio-ji mehambah empat puluh satu gerakan, lalu berubah menjadi tombak ular seratus empat puluh sembilan tusukan."

"Bagaimana dengan Pa-ong-jio?"

Tanya Ting Si.

"Pa-ong-jio hanya ada tiga belas jurus,"

Sahut Teng Ting-hou. Ting Si tertawa, katanya.

"llmu yang berguna dan manjur, sejurus juga sudah cukup."

Mendadak Teng Ting-hou menghela napas, katanya.

"Sayang kau tidak pernah menyaksikan waktu Ong Ban-bu mengembangkan Pa-ong-cay-sha-jek, betapa besarwibawa dan kekuatannya, kalau Pa-ong-jio berada di tangannya. Perbawanya memang pantas dinamakan Pa-ong-jio."

Ting Si tidak memberi tanggapan lagi, karena saat itu due!

sudah dimulai.

Pekarangan yang benderang oleh sinar mendadak seperti menjadi guram oleh hawa membunuh.

Dua tombak sudah kenyang bertempur, sama-sama gaman sakti yang telah membunuh banyak manusia, sehingga tombak itu membawa hawa yang membuat suasana menjadi seram.

Begitulah jiwa raga Kim-jio-ji, seperti juga tombak di tangannya, runcing tajam, keras dan kuat lagi ganas.

Sejak tadi matanya menatap lawan, dua tangan memeluk dada, tombak emas dipegang miring ke bawah.

Itulah gaya permulaan ilmu golok yang menyatakan sikap hormat kepada lawan, sekaligus memperlihatkan sikap kagum dan penghargaan tinggi terhadap Pa-ongjio.

Ong-toasiocia memeluk tombak besar tegak di tanah, dalam hal gaya jelas dia bukan tandingan Kim-jio-ji.

Duel antara dua jago kosen, menghormati musuh berarti menghargai diri sendiri.

Ujung muiut Kim-jio-ji mengulum senyum sinis, namun tetap berlaku hormat, katanya dengan nada kereng.

"Waktu Ong-loyacu masih hidup, cayhe tidak sempat mohon petunjuk, patah tumbuh hilang berganti, orangnya mati tombaknya masih ada, terimalah sembah hormatku."

Kaki kiri setengah ditekuk, dia betul-betul memberi hormat. Ong-toasiocia hanya mengangguk kepala saja, suaranya tawar.

"Aku mencarimu untuk membuat perkara, tak usah kau berlaku sungkan kepadaku."

Kim-jio-ji menarik muka, katanya.

"Aku memberi hormat kepada tombak itu, bukan kau."

Ong-toasiocia tertawa dingin, katanya.

"Selanjutnya kau harus ingat Pa-ong-jio adalah milikku, aku adalah Pa-ong-jio."

Kim-jio-ji juga berkata dingin.

"Dalam pandanganku, setelah Ong-loyacu mangkat, Pa-ong-jio juga harus sudah lenyap dari muka bums."

"Kau tidak melihat tombak di tanganku ini?"

Teriak Ong-toasiocia gusar.

"Ong-toasiocia memang memegang tombak, tombak besi yang besar mengkilap."

Ong-toasiocia menggigit bibir, dia berusaha menguasai emosi.

Dia tahu duel antara jago kosen, bila emosi tidak terkendali, dirinya bisa melakukan kekeliruan yang fatal akibatnya.

Kim-jio-ji menatapnya tajam, katanya pula.

"Sebelum Cayhe kemari, Cayhe sudah memberi pesan terakhir kepada keluargaku."

"Bagus sekali."

"Ong-toasiocia, apa kau juga sudah berpesan kepada orang lain untuk mengurus jazatmu bila kau mati nanti?"

Merah padam wajah Ong-toasiocia, katanya keras.

"Kalau aku mati di sini, ada orang yang akan mengurus mayatku."

"Siapa?"

"Kau tak usah tahu,"

Teriak Ong-toasiocia, sekali melintir pergelangan tangan, tombak besar panjang satu tombak tiga kaki itu ditarik dengan lincah sekencang kitiran menimbulkan deru angin kencang, rumput, kembang yang ada di paya-paya seperti disapu angin puyuh, dahannya meliuk ke bawah seperti menunduk.

Tapi Kim-jio-ji tidak menunduk, sebat sekali dia bergerak, tahu-tahu tubuhnya menyelinap selincah belut ke lingkaran sinar tombak yang menyambar.

Ting Si menghela napas, katanya.

"Tampaknya Ong-toasiocia masih hijau, belum berpengalaman, seharusnya dia tahu Ji-samya sengaja memancing amarahnya."

Teng Ting-hou tertawa, katanya.

"Mungkin langkah Ji-samya yang keliru."

"Mengapa keliru?"

"Pa-ong-jio biasanya dimainkan laki-laki, permainannya perlu dilandasi kekuatan raksasa, tapi Ong-toasiocia adalah gadis muda yang lemah, titik keiemahannya terletak pada kelemahannya itu."

Ting Si sependapat.

"Tapi setelah dia dibakar emosi, keadaan sudah berbeda."

"O.ya."

"Aku berani bertaruh, warisan watak bapaknya jauh lebih berat dibanding warisan ilmu tombak leluhurnya."

Sekejap percakapan mereka, Ong-toasiocia sudah melancarkan tiga puluh jurus serangan dengan Pa-ong-jio.

Walau permainan tombaknya hanya terdiri tiga belas jurus, tapi begitu permainan berkembang, kuncinya berada di tombak, manfaatnya justru mengikuti gerak perubahan dan kembangan yang tak habis-habisnya.

Ditengah perubahan jurus permainan, meski tombaknya tidak selincah dan seenteng patukan ular, namun deru angin tusukan tombak yang tajam justru dapat menambal kekurangan gerak perubahan itu.

Siapa pun takkan percaya kalau tidak menyaksikan, gadis yang lemah lembut ini mampu mengembangkan permainan ilmu tombak seganas dan sekeras itu, tombak besar dan berat itu diputar lincah dan enteng.

Tombak panjang adalah gaman utama jendral peranc zaman dulu, berduel di punggung kuda dengan musuh da lam jarak jauh, kalau digunakan bertanding silat, di tengal arena seperti ini, tombak ini terlalu panjang dan berat.

Akar tetapi, permainan tombak Ong-toasiocia sekaligus menamba kelemahan ini.

Entah ujung tombak, gagang tombak atai badan tombak, bagian mana saja mampu membuat lawar mampus, dimana angin tombak melanda, lawan sukai mendekati dirinya.

Tiga puluh jurus Pa-ong-jio menyerang Kim-jio-ji hanya balas menyerang enam jurus.

Ting Si mengerut kening, katanya.

"Kelihatannya Ji-samya sedang menunggu kesempatan sambil menguras tenaga lawan."

Teng Ting-hou tertawa, katanya.

"Kalau Ji-samya berpikir demikian, kembali dia keliru."

"Mengapa keliru?"

"Bobot Pa-ong-jio memang berat, bila permainan sudah dikembangkan, tombak berat itu menimbulkan arus tenaga besar yang tersembunyi, dia dapat meminjam arus tenaga itu, tenaga sendiri tidak perlu banyak atau besar, asal dia mahir menguasai permainan. Hal ini seperti kereta dorong, di saat kereta mulai bergerak ke depan, kereta berat itu membawa arus tenaga yang besar, pendorong kereta akhirnya merasa dirinya ditarik oleh kereta itu..

"Justru karena bobot tombak itu berat, tenaga yang dikerahkan juga harus besar, untuk bermain lincah jelas sukar, tapi pihak yang bertahan atau menangkis serangan juga harus memiliki tenaga lebih besar."

Dengan tertawa Teng Ting-hou melanjutkan.

"Banyak orang punya pengertian yang sama dengan Kim-jio-ji, menunggu "

Kesempatan untuk memancing di air keruh, maka akhirnya dikalahkan Pa-ong-jio, faktor yang sukar diselami ini, kalau akhirnya Ong-lothaucu tidak memberi tahu kepadaku, aku pun tak mengerti."

"Yang tahu rahasia yang besar artinya ini, sudah tentu tidak banyak jumlahnya."

"Kecuali aku dengan Pek-li Tiang-ceng, kurasa Ong-lothaucu tidak pernah memberitahu kepada orang lain."

"Karena kalian adalah temannya?"

"Temannya memang tidak banyak."

"Dia temanmu, aku bukan, mengapa rahasia ini kau beritahu kepadaku?"

Teng Ting-hou tertawa penuh arti, katanya.

"Karena aku suka memberitahu kepadamu."

Ting Si tertawa.

Sementara itu Ong-toasiocia sudah menyerang tujuh puluh jurus, maju selangkah juga sukar, bila tombak lawan melintang, maka rangsekannya tertolak mundur.

Akhirnya Kim-jio-ji sadar tombak yang menakutkan bukan pada ujungnya yang runcing, tapi setiap jengkal tombak itu menakutkan untuk membunuh.

Hadirin menyaksikan dia terdesak di bawah angin.

Hanya satu orang tidak tahu.

Sekonyong-konyong seorang membentak keras, dengan tangan kosong orang ini menerjang kedalam lingkaran sinar tombak yang seru itu.

Orang ini adalah Siau Ma.

Siau Ma sudah mabuk.

Kalau masih segar, tentu dia bisa melihat gelagat, sadar bahwa sambaran tombak yang berlaga itu amat berbahaya, mampu menamatkan jiwa orang.

Bocah ini memang mirip Kuda Binal, kuda mengamuk, lebih tepat kalau dikatakan kuda cilik yang berani mati.

Sambii menerjang dia mengangkat kedua tangan seraya berteriak.

"Berhenti! Lekas berhenti!"

Tenggelam perasaan Ting Si.

Dia tahu Ong-toasiocia pasti tak mau berhenti, gerak tombaknya tidak mungkin berhenti, arus tenaga yang timbul karena Pa-ong-jio hakikatnya tidak terkendali lagi olehnya.

Di bawah tekanan besar, sudah selayaknya kalau Kim-jio-ji juga menguras seluruh tenaganya.

Seorang jago silat jika sudah mengerahkan setakar tenaganya, serangan dilontarkan, jarang ada yang mampu menariknya balik.

Pada saat yang sama, dua ujung tombak berlomba menusuk ke tubuh Siau Ma.

Seperti bola yang dilempar pegas, mendadak tubuh Siau Ma mencelat mumbul ke udara, darah segar berhamburan.

Kedua batang tombak itu belum juga berhenti, Mereka tidak mampu mengendalikan diri, tak bisa berhenti, tombak siapa berhenti tombak lawan akan menusuk telak, akibatnya jiwa melayang.

Sudah tentu kedua orang ini tak berani menyerempet bahaya, tidak mau mempertaruhkan jiwa sendiri.

"Orang gila. Mengapa mau bunuh diri?"

Di tengah jeritan orang banyak, tubuh Siau Ma melayang ke udara dan dibiarkan terbanting jatuh.

Untung tubuh Siau Ma melayang jauh keluar lingkaran, kalau jatuh lagi ke tengah arena, jiwanya pasti melayang.

Pada saat gawat itulah, dari paya-paya kembang di pinggir rumpun bambu, meluncur seutas tambang membelit pinggang Siau Ma.

Tampak tambang panjang itu menyendal ke atas, tubuh Siau Ma ikut terangkat naik lebih tinggi lalu ditarik turun ke sana.

Tubuhnya tidak melayang ke tengah arena pertempuran, tapi jatuh dalam pelukan Ting Si.

Darah segar mengalir deras, saking kesakitan Siau Ma meringkuk, wajahnya berkerut, tubuhnya basah oleh keringat dingin.

Tapi sorot matanya tidak menampilkan rasa sakit, tapi menampilkan rasa senang, puasdan bahagia.

Sebaliknya Ting Si membanting kaki.

"Mengapa kau lakukan perbuatan bodoh ini?"

Siau Ma tidak menjawab. Walau berada dalam pelukan Ting Si, sorot matanya menatap orang lain.

"Siau Lin...... Siau Lin.......Siau Lin......"

Walau kesakitan dan tidak mampu mengeluarkan suara, namun hatinya berteriak memanggil nama kecil itu.

Air mata meleleh di pipi Siau Lin, entah air mata kesedihan, pilu atau haru dan terima kasih.

Akhirnya Ting Si melihatnya juga, katanya.

"Karena dia? Dia menyuruhmu bertindak sebodoh ini?"

Siau Ma memanggut, lalu menggeleng kepala pula.

Jelas dia rela melakukan, kalau tidak rela, tidak ada orang yang bisa memaksanya.

Entah kekuatan apa yang dimiliki gadis ini, ia mampu mengendalikan Siau Ma untuk melakukan perbuatan bodoh itu?

Arak keluar menjadi keringat dan darah, setelah mabuk hilang, pikiran jernih, setelah sadar rasa sakit justru menyiksa dirinya, lebih hebat dan sukar ditahan.

Kalau bisa semaput, penderitaannyatentu lebih ringan.

Tapi Siau Ma meronta dan berusaha kedua matanya tidak terpejam.

Dia ingin menyaksikan akhir pertarungan ini.

Siau Lin menatapnya, dia merasakan betapa Siau Ma menderita, betapa besar limpahan rasa kasihnya, tak tahan dia menahan perasaan sendiri, memburu maju, di bawah tatapan puluhan pasang mata dia menubruk tubuh Siau Ma.

Sungguh mimpi pun tak pernah terpikir oleh Siau Lin, bahwa dirinya mempunyai nyali sebesar ini, berani melakukan perbuatan manantang maut itu.

Dalam sekejap, boleh dikata dia tidak peduli segalanya.

Ting Si menurunkan Siau Ma, merebahkan di atas tanah berumput hijau yang subur bak permadani, biar mereka berpelukan, biar mereka menangis dan melimpahkan isi hatinya, pernyataan hati tanpa diungkapkan dengan kata-kata.

Air mata bercucuran menetes di muka Siau Ma, tetes air mata itu, seolah mengandung khasiat ajaib, memiliki kekuatan iblis.

Seakan derita Siau Ma menjadi ringan, tiba-tiba dia berkata.

"Apakah kau juga menganggap aku berbuat bodoh?"

Siau Lin mengangguk, tapi menggeleng pula. Siau Ma tertawa dipaksakan, katanya.

"Aku harus bertindak demikian, aku tak punya cara lain."

"Aku tahu......"

Siau Ma tak kuasa meneruskan perkataannya, mendadak tangisnya pecah, air mata tak terbendung lagi.

"Mengapa kau menangis? Apa mereka belum berhenti berkelahi?"

"Belum."

"Temanmu tidak mati?"

"Tidak.".

"Bukankah aku sudah melakukan apa yang kau ingin aku lakukan?"

"I......ya."

Siau Ma menarik napas lega, dia tertawa puas, katanya.

"Kalau begitu boleh kau beritahu kepada kawan kita, bahwa perbuatanku tidak salah, tidak bodoh."

Di tengah senyumnya dia memejamkan mata.

Akhirnya dia pingsan.

Pemuda ini menderita namun lega serta terhibur hatinya, Ting Si juga meresapi perasaannya.

Siau Ma adalah temannya, saudaranya pula, ibarat ayahnya.

Angin masih menghembus, cahaya surya tidak menjadi suram karenanya, dua batang tombak itu masih berlaga dengan sengit di tengah sambaran sinarnya yang gemerdep.

Pelahan Ting Si membalik badan, pelahan pula dia menghampiri arena pertempuran sengit yang tak kenal kasihan terhadap siapa saja yang berani maju.

"He, apa yang kau lakukan?"

Teriak Teng Ting-hou kaget. Ting Si tertawa, langkahnya tidak berhenti.. Teng Ting-hou berseru.

"Apa kau ingin melakukan ; perbuatan bodoh?"

Ting Si tertawa.

Tiada orang bisa menyelami hubungan lahir batin Ting Si dan Siau Ma, Teng Ting-hou pun tidak bisa.

Mendadak tubuhnya mencelat bagai terbang, seperti yang dilakukan Siau Ma tadi, dia terjun ke tengah dua tombak yang lagi berlaga.

Seolah-olah lupa jago lihai manapun bisa mampus didera tusukan tombak runcing itu, arwahnya bisa melayang seketika.

Desir tajam yang ditimbulkan ujung tombak terasa dingin mengiris kulit.

Ada orang tahu, perasaan sesuatu yang teramat dingin dan teramat pahas adalah sama bagi setiap manusia, kalau tidak mau dikatakan mirip.

Ting Si juga tahu.

Begitu terjun ke tengah dua tombak yang berlaga, seolah dirinya terjun ke dalam tungku.

Perasaan Teng Ting-hou menjadibeku.sebeku air yang menetes di permukaan salju.

Betapapun Ting Si tak boleh mati.

Dia harus menunjukkan dimana enam mayat dan enam pucuk surat itu berada, dia bersumpah akan menemukan pengkhianat yang membocorkan rahasia itu.

Akan tetapi Teng Ting-hou juga tahu, Ong-toasiocia dan Kim-jio-ji takkan berhenti dan tidak bisa berhenti.

Terpaksa dengan mendelong dia mengawasi Ting Si terjun ke dalam tungku yang membara, dia saksikan Ting Si terlempar ke udara oleh ujung tombak yang merobek badannya.

Maka terdengar bentakan nyaring dan keluhan rendah, sebuah benda mencelat ke udara.

Yang terlempar ternyata bukan Ting Si, tapi tombak emas Kim-jio-ji.

Duel antara dua jago kosen, mati pun pantang gaman di tangan terlepas, bagaimana mungkin tombak emas Kim-jio-ji terlepas dari pegangannya.

Ternyata Kim-jio-ji sendiri tidak tahu bagaimana hal itu terjadi.

Sekejap sebelum tombak emasnya terpental lepas dari tangannya, Kim-jio-ji melihat dan sekaligus merasakan seorang terjun ke tengah putaran tombaknya dan tombak Ong-toasiocia, maka dua ujung tombak sekaligus menusuk ke badan orang ini.

Tusukan tombak yang tidak mungkin dihentikan.

Pada detik gawat itulah, dengan tangkas orang itu membuang diri sambil berputar, tahu-tahu tubuhnya menerobos ke bawah ujung tombak, sebelah tangan memegang tombak, tangan yang lain merogoh dan menggentak pelahan pinggangnya.

Kim-jio-ji sempoyongan delapan kaki seperti ditumbuk kuda, tombak di tangannya terpental lepas.

Kim-jio-ji hanya mengawasi dengan terbelalak, separoh badannya terasa linu kesemutan, tenaga tak mampu dikerahkan.

Selama dua puluhan tahun, pertempuran besar kecil sudah ratusan kali dialami, selama itu belum pernah kalah, apalagi kalah sefatal ini.

Mimpi pun tidak pernah terpikir olehnya ada orang mampu membuat tombaknya lepas hanya segebrak saja, tak terduga pula bahwa orang yang mampu melucuti senjatanya adalah Ting Si.

Dengan tombak emas di tangan, dalam sekejap Ting Si melancarkan tiga jurus serangan, cepat, ganas dan tepat.

Berubah pucat wajah Kim jio-ji, tiga jurus serangan yang dilancarkan Ting Si itu adaiah jurus Coa-jek (patuk ular) dari ilmu tombak tunggal yang dimilikinya.

Dengan jurus yang sama Ting Si menghadapi Pa-ong-jio dengan leluasa.

Padahal dirinya sudah melancarkan seluruh jurus Coa-jek yang terkenal culas dan keji itu, tapi susah dikembangkan, gerakannya terbendung dan selalu patah di tengah jalan, hakikatnya sukar mengembangkan wibawa ilmu tombaknya yang sejati.

Ting Si hanya melancarkan tiga jurus dan mampu mematahkan permainan Pa-ong-jio, mendadak ujung tombak menyendal ke atas disertai hardikan nyaring.

"Lepas."

"Wut" , Pa-ong-jio yang beratnya tujuh puluh tiga kati itu disonteknya mumbul ke udara dengan deru angin kencang. Ong-toa siocia sempoyongan mundur delapan langkah. Sigap sekali Ting Si melejit ke udara laiu bersalto sekali, dengan sebelah tangan dia menangkap Pa-ong-jio, sementara tangan yang lain melemparkan tombak emas, ke arah Ji-sam. Terpaksa Ji-sam mengulur tangan menangkap tombak sendiri. Ketika tombak sudah terpegang baru dia sadar, tubuhnya tidak kesemutan lagi, tenaga telah pulih seperti sedia kala. Ting Si mengawasinya dengan tersenyum. $ Kim-jio-ji mengertak gigi, pergelangan tangan berputar, mendadak tombaknya mematuk, dalam sekejap dia menyerang tiga jurus. Tiga jurus yang barusan digunakan Ting Si untuk mematahkan permainan Pa-ong-jio, yaitu Tok-coa-jut-hiat (ular beracun keluarlubang), Ban-coa-toh-sin (ular melingkar menjulurkan lidah) dan Coa-bwe-jio (tombak buntut ular), tiga jurus Coa-jek yang paling ganas dan mematikan. Sedikitnya sudah tiga puluh tahun Kim-jio-ji mengembangkan diri dalam permainan ilmu tombaknya, dia yakin tiga jurus yang dilancarkan ini tidak kalah lihai dan mahir dibanding permainan Ting Si. Kalau dengan tiga jurus yang sama Ting Si mampu menyelinap ke lubang Paong-jio yang terlemah, mengapa dirinya tidak? Tapi kenyataan dia tidak mampu. Begitu tiga jurus tombak itu dilancarkan seketika dia sadar bahwa diri-nya sudah terbelenggu oleh kekuatan besar. Kalau tombaknya ganas laksana ular beracun, maka Pa-ong-jio di tangan Ting Si adalah batu raksasa yang laksaan kati beratnya. Batu besar dan berat ini menindih kepala sang ular hingga tak mampu berkutik lagi. Terdengar Ting Si menghardik lantang.

"Lepas!"

Segulung tenaga bak air bah melanda tak terbendung, Kim-jio-ji hampir tak bisa bernapas oleh kekuatan yang menindih ini, sekujur tubuh seperti tertindih gepeng, tahu-tahu tombak di tangannya lepas dari pegangannya.

Hanya dalam beberapa kejap, dua kali tombaknya lepas, dua kali dilucuti lawan.

Sinar gemerdep meluncur di angkasa.

"Jlep" , tombak itu menancap tak jauh di samping Ji Sam.. Dia tidak bergerak, tidak buka suara. Pa-ong-jio juga menancap di samping Ong-toasiocia, gagang tombak bergetar mengeluarkan suara mendengung.. Ong-toasiocia juga tidak bergerak, tidak bersuara, wajahnya yang semula pucat tampak merah padam, bibir yang semula merah justru kelihatan pucat. Dengan tertawa Ting Si mengawasi Ong-toasiocia lalu menoleh mengawasi Ji Sam.

"Dengan ilmu tombak yang kalian miliki sekarang, apalagi yang harus diperebutkan? Ingin menang atau ingin menjadi juara?"

Demikian kata Ting Si.

Dengan Coa-jek Kim-jio-ji dia mengalahkan Pa-ong-jio, dengan Pa-ong-jio milik Ong-toasiocia dia mengalahkan Kim-jio-ji.

Ini kenyataan.

Setiap hadirin melihat kenyataan ini, mengapa dia harus banyak bicara lagi?

Maka Ting Si hanya tertawa, tawa lembut, ramah dan bersahabat, tawa yang menyejukkan hati, yang menarik simpati orang.

Tapi Ong-toasiocia justru menganggap tawa itu bagai bisa ular, lebih jahat dari ular, lebih runcing dari jarum.

Bola matanya yang jeli bening itu tampak berkaca-kaca.

Mendadak dia membanting kaki, Pa-ong-jio dicabutnya lalu berlari pergi sambil menyeret tombaknya, sekali tarik dia menyeret Toh Yok-lin.

Toh Yok-iin mandah saja diseret.

Dia tidak ingin pergi, tapi tak berani menolak, tak berani meronta, beberapa langkah kemudian, dia menoleh ke belakang.

Ketika dia melengos, air mata meleleh di pipinya.

Kim-jio-ji masih menjublek, melongo mengawasi tombak di depannya.

Tombak ini adalah simbol kebesarannya, simbol kebanggaan jiwa raganya, tapi sekarang, tombak ini telah mendatangkan hina dan aib.

Rona mukanya tidak memperlihatkan perasaan apa-apa, bagaimana rasa hatinya, hanya dia saja yang tahu.

Derita dan duka lara, seperti juga payudara perempuan, bukan untuk dipertontonkan kepada orang lain.

Makin besar derita, makin harus disembunyikan.

Bukankah demikian pula dengan payudara?

Mendadak Kim-jio-ji tertawa, pelahan dia mengangkat kepala berhadapan dengan Ting Si, katanya.

"Banyak terima kasih padamu."

"Terima kasih kepadaku? Mengapa terima kasih kepadaku?"

"Karena kau telah membantu aku menyelesaikan persoalan pelik."

"Persoalan pelik apa?"

Pandangan Kim-jio-ji tertuju ke pegunungan hijau nan jauh di sana, sorot matanya tampak lembut dan hangat, suaranya kalem.

"Di bawah gunung sana aku membeli beberapa petak sawah, kubangun petak rumah, di belakang rumah ada ratusan pucuk bambu, di depan rumah kutanam puluhan pohon sakura, di tengah lekuk liku hutan bambu dan sakura, terdapat aliran sungai kecil yang bening airnya.."

"Tempat bagus,"

Puji Ting Si.

"Aku sudah membuat rencana setelah cuci tangan dan mengasingkan diri, di sana aku akan hidup tenteram dan bersahaja menghabiskan hari tuaku."

"Tekad yang bagus, patut dipuji,"

UjarTing Si. Kim-jio-ji menghela napas, katanya.

"Sayang sekali nama kosong membuat orang sengsara, selama ini aku susah mengambil keputusan, entah sampai kapan aku bisa menurunkan beban berat ini."

Ting Si juga menghela napas, ujamya.

"Nama kosong membuat orang sengsara, memangnya berapa gelintir manusia di dunia ini yang bisa menurunkan beban tak kelihatan itu?"

"Untung aku bertemu denganmu, karena kau, aku berkeputusan, aku bertekad."

"Bertekad menurunkan beban itu?"

Kim-jio-ji menganggukkan kepala.

"Tekadmu baik, kapan kau akan menurunkan bebanmu?"

"Sekarang juga,"

Kim-jio-ji tertawa, tertawa riang dan enteng, tawa gembira, sekarang dia sudah menurunkan beban, membuang nama kosong.

Dia tidak punya tekad atau keinginan memperebutkan nama dan kemenangan, dia tidak rela mempertaruhkan jiwa hanya untuk merebut nama kosong, mengadu jiwa dengan orang lain.

Untuk membuka bundel tidak mudah, pantas kalau dia merasa enteng dan gembira.

Apa betul hatinya lapang dan sudah membuka seluruh bundel itu?

Apakah dia tidak merasa hambar, getirdan kehilangan?

Sudah tentu hanya dia yang tahu, dia sendiri yang meresapi.

"Kalau ada tempo, boleh kau ke sana mencariku."

"Baik, akan kucatat dalam hati, di belakang rumah ada pohon bambu, di depan rumah ada pohon sakura."

"Dalam rumah ada arak."

"Baiklah, selama hayat masih di kandung badan, kelak aku pasti datang."

"Bagus, selama aku masih hidup, aku menunggu kedatanganmu."

Kim-jio-ji betul-betul tenang lahir batin, kelitiatan bebas dan merdeka.

Seprang meski kalah, kalau kalah secara jantan, pergi dengan bebas, apa salahnya kalah?

Kemana pun diaboleh pergi?

Sang surya belum terbenam, bayangan Kim-jio-ji sudah tidak kelihatan lagi.

Mendadak Teng Ting-hou menghela napas, ujarnya.

"Kelihatannya orang itu termasuk orang gagah, laki-laki sejati."

"Ya, dia patut disebut pendekar."

"Agaknya menilai orang adalah keahlianmu,"

"Ya, aku memang ahli dalam bidang ini."

"Aku pun pandai membereskan persoalan pelik yang tak bisa diselesaikan orang lain."

"Aku pun dapat menyelesaikan persoalan pelik itu."

"Terus terang aku tidak tahu bagaimana melerai duel Kim-jio-ji dengan Ong-toasiocia, tetapi kau berhasil menghentikan duel mereka."

"Caraku selalu manjur."

"Peduli caramu itu betul atau salah? Baik atau buruk, yang benar memang manjur."

"Oleh karena itu orang memanggilku Ting Si si cerdik pandai."

Teng Ting-hou tertawa.

"Tahukah kau, diriku ini masih memiliki kebaikan lain yang lebih besar?"

Teng Ting-hou menggeleng kepala.

"Kebaikanku yang paling besar, yaitu tidak setia kawan."

"Tidak setia kawan?"

"Teman baik satu-satunya yang selama ini mendam-pingiku sekarang sedang rebah di.tanah, aku membiarkan orang yang menusuknya pergi, malah mengobrol tidak habis-habisnya denganmu." * * * * * Siau Ma rebah di atas ranjang. Ranjang Ang-sin-hoa tentunya. Orang gemuk suka tidur di ranjang yang keras, demikian pula anak-anak muda, suka tidur di ranjang yang keras juga. Ang-sin-hoa tidak gemuk, usianya sudah lanjut, maka ranjangnya empuk, lagi besar. Ang-sin-hoa menghela napas, katanya.

"Setelah aku berusia tujuh puluh tahun, baru biasa tidur seorang diri."

Teng Ting-hou bertanya.

"Tahun ini kau sudah berusia tujuh puluh?"

Ang-sin-hoa melotot, katanya.

"Siapa bilang usiaku tujuh puluh, tahun ini aku baru berusia enam puluh tujuh."

Teng Ting-hou ingin tertawa, namun tidak berani tertawa, karena melihat Siau Ma membuka mata. Begitu membuka matanya, segera Siau Ma bertanya.

"Mana Siau Lin?"

"Siau Lin?"

"Siau Lin adalah gadis yang kau lihat tadi."

Ting Si mengawasinya, mimik mukanya tampak dingin, mimik tawa tak terbayang di wajahnya. Siau Ma berkata pula.

"Dia adalah gadis yang baik, gadis yang ayu."

Ting Si diam saja.

"Dia penurut, gadis jujur dan setia."

Ting Si tetap diam.

"Aku tahu dan merasakan, dia baik terhadapku."

Tawar suara Ting Si.

"Kau terluka parah lantaran dia, tapi dia justru tinggal pergi."

Siau Ma menggigit bibir, agak lama kemudian bam berkata pelahan.

"Dia pergi, tentu ada alasan."

"Dia punya alasan untuk tinggal di sini."

"Kau......apakah kau tidak suka kepadanya?"

"Aku hanya ingin memberi peringatan kepadamu."

Siau Ma mendengarkan.

"Dia sudah pergi, kelak kau tidak akan bertemu lagi dengannya, maka......"

"Maka bagaimana?"

"Lebih baik kau lupakan dia."

Gemeratak gigi Siau Ma, lama dia diam saja, mendadak dengan keras dia meninju sisi ranjang, katanya keras.

"Lupakan, ya lupakan, memangnya urusan sepele begini harus dibuat pikiran, maknya."

Ting Si tersenyum, katanya.

"Aku sedarig heran, mengapa kau tidak memaki 'maknya', kukira kura-kura cilik sepertimu ini sudah berubah sifat."

Siau Ma tertawa, dengan meronta berusaha duduk.

"Apa yang hendak kau lakukan?"tanya Ting Si.

"Aku ikut kau."

"Kau bisa ikut aku?"

"Selama aku masih bemapas, kemanapun kura-kura tua pergi, umpama harus merangkak juga aku harus ikut."

Ting Si tertawa lebar, serunya.

"Bagus, mau ikut juga boleh."

Ang-sin-hoa mengawasinya dengan tersenyum geli, katanya.

"Kalian kura-kura cilik ini memang teman baik, maknya, teman baik yang setia kawan, maknya."

Belum habis berbicara mendadak dia berjingkrak sambil melayangkan telapak tangannya.

"plak" , dengan keras dia gampar pipi Ting Si. Ting Si tertegun. Bersambung ke bagian 4 Sambil bertolak pinggang Ang-sin-hoa menuding dan memaki.

"Mengapa tidak kau periksa lukanya, memangnya kau ingin melihat kakinya cacad, merangkak di belakangmu seperti kurakura?"

Ting Si hanya menyengir getir. Ang-sin-hoa menuding hidungnya, serunya gemas.

"Kalau kau ingin enyah, lekas enyah, lebih cepat lebih baik, tapi kura-kura ini harus tetap di atas ranjang, biar aku yang merawat lukalukanya, siapa berani membawa dia pergi, akan kupatahkan kedua kakinya."

"Tapi aku......"Ting Si gelagapan.

"Kau mengapa?"

Tukas Ang-sin-hoa.

"Kau enyah tidak?"

Tangannya bergerak lagi. Ting Si kapok, lekas dia berlari keluar sambil tertawa, ujamya.

"Baiklah, aku enyah, segera aku pergi."

Keruan Siau Ma gugup, teriaknya.

"He, kau tidak mau membawaku?"

Belum habis dia bicara, pipinya juga kena tarn pa ran keras.

"Setan, jangan memanggilnya?"

Bentak Ang-sin-hoa melotot.

"Apa perlu kujahit mulutmu?"

Dengan menyengir Siau Ma menggeleng, ujarnya "Tidak, aku tidak mau."

"Nah, tidurlah, jangan banyak bertingkah, kalau cere-wet biar kujahit mulutmu."

Siau Ma merebahkan diri tak berani bersuara lagi. Di hadapan Ang-sin-hoa, si Kuda Binal menjadi anak kambing yangjinak.

"Masih tidak lekas enyah? Ingin kuserampang kaki-mu?"

Dia menyambarsapu dan memburu ke arah Ting Si. Ting Si lari ke pekarangan, segera naik kereta yang menunggudi pinggirsana, setelah duduk di atas kereta, lega rasanya, katanya tertawa getir.

"Nenek tua itu terlalu galak."

Teng Ting-hou ikut mengeluyur keluar, ia pun menghela napas, katanya.

"Ya, galak setengah mati."

"Pernah kau melihat nenek segalak itu?"

"Tidak, belum pernah."

"Belum pernah aku melihat yang kedua."

"Apa betul kau takut kepadanya."

"Ah, pura-purasaja."

Teng Ting-hou tertawa lebar, katanya.

"Agaknya dia bukan nenekmu sesungguhnya."

"Memang bukan."

"Jadiapamu......"

"Waktu aku lapar, hanya dia yang memberi nasi kepadaku, bila pakaianku robek, dia yang menjahit dan menambalnya, bila aku dihajar orang, terluka, dia yang merawatku, asal aku ingat kepadanya, derita akan kulupakan sama sekali."

"Bila kau kemari, kau akan mendapat perawatannya."

Ting Si mengangguk, katanya tersenyum.

"Sayang usianya sudah tua, kalau masih muda pasti kuambil jadi biniku."

Sekian lama Teng Ting-hou menatapnya, mendadak bertanya.

"Apa betul kau tak pernah berpikir untuk mencari jodoh?"

"Memangnya kau ingin menjadi comblangnya?"

"Aku punya pitihan, dia adalah pasanganmu yang setimpal."

"Siapa?"

"Ong-toasiocia."

Mendadak sirna tawa Ting Si, katanya dengan muka muram.

"Kalau kau suka dia, mengapa tidak kau saja yang kawin dengannya."

Teng Ting-hou tertawa, katanya.

"Bukan aku tidak pernah berpikir, sayang usiaku sudah tua apalagi di rumah aku sudah memelihara seekor macan betioa yang galak."

Wajah Ting Si membeku, jengeknya.

"Lucu, lucu, mengapa kau makin lama berubah makin lucu."

"Karena......"

Belum habis dia bicara, terjadi goncangan keras disertai suara gemuruh, kereta besar yang mereka naiki, termasuk kudanya terperosok ke dalam lubang besar.

Ting Si maiah tertawa lebar, tertawa geli.

Ternyata Teng Ting-hou juga tetap duduk ditempatnya, tanpa bergerak, sikapnya wajar, tidak kaget atau heran, tenang-tenang saja.

Ting Si berkata dengan tertawa.

"Menjebak kuda masuk lubang adalah salah satu keahlianku, siapa nyana orang lain juga menggunakah cara ini untuk menjebakku."

"Darimana kau tahu perangkap ini ditujukan kepadamu?"

Tanya Teng Ting-hou. Ting Si menyengir, katanya.

"Aku tahu, karena inilah yang dinamakan karma."

Di luar, seorang mengetuk atap kereta dengan keras, katanya lantang.

"Hayo keluar, juragan ada urusan ingin bicara dengan kalian."

Ting Si menoleh ke arah Teng Ting-hou, katanya.

"Apa kau tahu, didaerah ini ada juragan besar?"

Teng Ting-hou berkata.

"Tempat ini tidakjauh dari Loan-ciok-kang, wilayah kekuasaanmu, pantasnya kau lebih jelas dariku."

"Menurut hematku, daerah ini, juragan paling besar hanya kau seorang."

Orang di luar itu berkoar lebih keras, mendesak mereka keluar, atap kereta hampir jebol dipukul pentung.

"Kau mau keluar atau tidak?"

Tanya Ting Si.

"Tidak keluar, apa bisa?"

Teng Ting-hou balas bertanya.

"Tidak bisa.."

Teng Ting-hou tertawa getir, katanya.

"Ya, kurasa memang tidak bisa."

Ting Si mendorong pintu kereta, katanya.

"Silakan."

"Kau dulu silakan, kau kan tamuku."

"Tapl usiamu lebih tua, selama hidup aku paling hormat kepada orang yang lebih tua."

"Sejak kapan kau berubah sungkan."

"Tadi kudengar di luar ada suara gendewa yang siap membidikkan panah, maka aku berkeputusan untuk bersikap ramah kepadamu."

Teng Ting-hou tertawa, sudah tentu ia pun mendengar gendewa ditarik siap dibidikkan.

Kereta dikepung, panah siap membidik, bila mereka keluar dari kereta, badan akan terpanah seperti landak.

Tapi mereka masih berkelakar dan tertawa wajar, tertawa riang.

Teng Ting-hou berkata.

"Setelah aku keluar, bila badanku terbidik panah, bagaimana denganmu?"

"Aku akan menjadi kura-kura saja, bersembunyi dalam kereta, umpama mereka menyembah padaku seperti mereka menyembah kakek moyangnya, aku tetap takkan keluar."

Teng Ting-hou tergelak-gelak, serunya.

"Bagus, akal bagus."

"Jangan lupa, aku ini Ting Si yang terkenal cerdik pandai, akal yang kupikir pasti karya terbesar dan terbaik."

Di tengah gelak tawanya, Teng Ting-hou melangkah keluar, cukup lama dia berdiri di luar, ternyata badannya tidak kurang sesuatu apa, tetap segar bugar.

Seorang berdiri di hadapannya, di tempat yang lebih tinggi, dari dalam kereta hanya terlihat sepasang kaki saja.

Sepasang kaki yang halus dan jenjang, kaki yang dibung-kus kaos kaki putih dengan sepatu sulam burung walet, sepasang kaki perempuan.

Laki-laki jelas tak memiliki kaki perempuan, apakah juragan besar itu seorang perempuan?

Dari dalam kereta Ting Si bertanya lantang.

"Bagaimana keadaan di luar?"

"Cuaca cerah ceria, tidak dingin juga tidak terlalu panas,"

Sahut Teng Ting-hou.

"Kalau begitu, aku tidak akan keluar."

"Lho, mengapa?"

"Aku taktahan hidup di udara seperti itu, bila aku berada di luar, aku bisa jadi gila."

"Tapi cuaca mulai berubah, mega mendung, kelihatannya akan hujan."

"Kau takut kehujanan?"

"Takut sekali."

"Tapi sekarang hujan belum turun."

"Maksudmu aku harus berdiri di luar menunggu hujan?"

Teng Ting-hou menghela napas, tertawa getir mengawasi juragan besar yang berdiri didepannya, katanya.

"Agaknya bocah ini bertekad tidak mau keluar."

Toa-laupan atau juragan besar menyeringai.

"Mau atau tidak, dia harus keluar."

"Kau punya akal untuk memaksanya keluar?"

"Kalau tidak mau keluar, akan kubakar kereta ini."

Teng Ting-hou bertepuk tangan, katanya menghela napas.

"Aku tahu, kalau di dunia ini ada orang yang dapat menghadapi Ting Si, orang itu adalah Ong-toasiocia."

Juragan besar itu ternyata Ong-toasiocia.

Empat laki-laki berdiri di belakangnya, memanggui po (tombak), deiapan laki-laki lain berkeliling membentang busur siap membidik dengan panah.

Toh Yok-hn tampak duduk di bawah pohon di kejauhan sana, duduk menyisir rambut dengan sebuah sisir besar terbuat dari tanduk kerbau.

Ong-toasiocia berkata dingin.

"Orang-orang ini adalah petugas Piaukiok kami, kalau kusuruh mereka menyulut api, mereka akan membakar kereta, kalau kuberi aba-aba, panah mereka akan minta korban, aku tidak main gertak."

"Ya, aku tahu,"

Sah'ut Teng Ting-hou.

"Lekas kau suruh bocah she Ting itu menggelundung keluar,"

Desak Ong-toasiocia.

"Bagaimana setelah keluar?"

Tanya Teng Ting-hou.

"Dia harus menjawab pertanyaanku secara jujur, aku pasti tidak akan mencari perkara padanya."

"Baiklah, biar aku masuk dan berunding dengannya,"

Demikian ucap Teng Ting-Hou.

Baru saja dia membungkuk hendak menyelinap ke dalam kereta, atap kereta mendadak jebol dengan suaranya yang keras, seperti diseruduk banteng atap kereta belong.

Bayangan seorang tampak menerobos keluar, gerak-geriknya cepat dan tangkas, kekuatannya mampu membuat tubuhnya terbang tiga tornbak tingginya.

Tapi paling tinggi dia hanya melesat tiga kaki saja.

Di atas lubang besarternyata ditutup jaring ikan yang besardan ulet.

Teng Ting-hou menghela napas gegetun, katanya.

"Kan sudah kubilang, bila berhadapan dengan Ong-toasio-cia, kau akan masuk ke dalam jaring perangkapnya."

Ting Si menarik muka, sambil duduk di atas kereta dia berkata dingin.

"Aneh dan lucu, kau kelihatannya makin lucu saja."

Menghadapi persoalan pelik sekalipun biasanya dia tetap tertawa wajar, tapi sekarang dia tidak bisa tertawa.

Entah karena apa, setiap kali bertemu atau berhadapan dengan Ong-toasiocia, dia tidak bisa tertawa lagi.

Ong-toasiocia tidak tertawa, ia cemberut, katanya.

"Meski hanya delapan busur yang siap membidik, namun sekali kau bergelak, mereka mampu membidikkan lima puluh enam batang panah ketubuhmu."

Ting Si tidak bergerak. Dia tahu delapan orang itu adalah ahli panah yang tak boleh dianggap enteng. Ong-toasiocia menjengek.

"He, mengapa kau tidak bergerak?"

"Karena aku sedang menunggu,"

Sahut Ting Si.

"Menunggu apa?"

Ong-toasiocia menegas.

"Kutunggu pertanyaan apa yang hendak kau ajukan kepadaku?"

Ong-toasiocia menggigit bibir, bila tegang dia selalu menggigit bibir.

Persoalan apa yang hendak dia tanyakan kepada Ting Si?

Mengapa harus setegang itu?

Teng Ting-hou tidak habis mengerti.

Akhirnya Ong-toasiocia bersuara dingin.

"Sudah banyak urusan kau selesaikan dengan kurang ajar, memandang muka Teng Ting-hou, aku malas membuat perhitungan denganmu. Tapi ada satu hal ingin aku bertanya kepa-damu supaya jelas duduk persoalannya."

"Boleh kau tanyakan,"

Ucap Ting Si. Rona muka Ong-toasiocia mendadak berubah hijau kelam, kedua jari tangannya saling remas, dia menggigit bibir, setelah gejolak hatinya tenang baru dia bertanya.

"Pada tanggal tiga belas bulan lima yang lalu, kau berada dimana?"

"Tanggal tiga belas bulan lima tahun ini maksudmu?"

Tanya Ting Si.

"Betul, tanggal tiga belas bulan lima yang lalu."

"Kau membuang tenaga dan pikiran, menggali lubang besar ini, tujuanmu hanya untuk mengajukan pertanyaan ini kepadaku?"

"Betul, soal itu ingin kutanya kepadamu, kuharap kau tahu diri, jawablah sejujurnya."

Tampaknya dia bukan saja tegang, tetapi juga haru dan sedih, saking emosi suaranya pun gemetar.

Tanggal tiga belas bulan lima, dimanakah Ting Si?

Ada sangkut-paut apa dengannya?

Mengapa sikapnya setegang itu?

Teng Ting-hou makin bingung.

Ting Si juga heran, mendadak dia menghela napas, katanya.

"Untung yang kau tanyakan adalah tanggal tiga belas bulan lima, agaknya nasibku masih mujur."

"Mengapa?"

Tanya Ong-toasiocia.

"Kalau kau tanya tanggal lain, sudah kulupakan, aku tak bisa memberi penjelasan."

"Tapi kejadian tanggal tiga belas bulan lima itu, kau tidak bisa melupakannya?"

Ting Si memanggut, ujarnya.

"Ya, hari itu aku mela-kukan sesuatu yang menggembirakan hati."

"Sesuatu apa yang kau lakukan?"

Sepasang tangan Ong-toasiocia saling genggam, sekujur badan bergetar. Ting Si malah menoleh, tanyanya kepada Teng Ting-hou.

"Kau tahu tidak, apa yang kulakukan pada tanggal 13 bulan 5?"

Teng Ting-hou tertawa getir, ujarnya.

"Sudah tentu aku tahu, aku tahu jelas sekali."

"Apa yang telah dia lakukan hari itu?"

Bentak Ong-toasiocia dengan nada tinggi.

"Dia membegal barang kawalan kita,"

Sahut Teng Ting-hou.

"Jelas tidak, dimana dia turun tangan?"

"Di sekitar Thay-goan."

"Kau tidak salah ingat?"

"Kejadian lain mungkin bisa kulupakan, tapi peristiwa yang satu ini, sampai mati juga takkan lupa."

"Mengapa?"

Desak Ong-toasiocia.

"Sedikitnya aku punya seratus tiga puluh lima ribu alasan."

Ong-toasiocia melenggong, tidak paham. Teng Ting-hou tertawa getir, katanya.

"Karena kasus itu, aku harus membayar ganti rugi seratus tiga puluh lima ribu tail perak, setiap tail perak cukup membuatku ingat peristiwa ini."

Ong-toasiocia tak bisa bicara, mimik wajahnya kelihatan merasa lega, tapi juga seperti kecewa.

"Ada persoalan lain yang ingin kau ajukan lagi?"

Tanya Ting Si.

"Sudah tentu ada,"

Sahut Ong-toasiocia.

"Masih ada?"

Ting Si heran.

"Jawab pertanyaanku. Aku berduel dengan orang she Ji, apa sangkut pautnya dengan kalian? Berdasar apa kalian mencampuri urusanku?"

"Kalau tidak salah tadi kau bilang, tidak akan membicarakan persoalan lain denganku."

"Sekarang aku justru ingin tahu."

"Siau Ma hendak membantumu,"

Ujar Ting Si.

"Membantu aku?"

"Dia takut kalau kau kalah dan mati."

Ong-toasiocia gusar, serunya.

"Memangnya dia tidak tahu dalam dua puluh jurus aku mampu merobohkan Ji Sam?"

"Dia memang tidaktahu."

"Memangnya dia orang buta?"

"Bila matanya melihat jelas sesuatu, mana mungkin dia beraggapan bahwa nona Toh lemah lembut dan aleman, malah bersikap baik terhadapnya?"

"Peduli amat gadis macam apa dia, kau tak perlu mengurus."

"Memang aku tidak mau mengurus."

"Sampaikan kepada bocah she Ma itu, dia harus menyingkir jauh, selama hidupnya jangan sampai kami melihatnya lagi."

"Akan kusampaikan kepadanya."

"Umpama laki-lakii di dunia ini mampus seluruhnya, akan kutentang Siau Lin kawin dengannya."

"Terima kasih, banyak terima kasih."

Ong-toasiocia menggigit bibir, matanya melotot gusar, katanya.

"Cukup sampai di sini, sekarang kau boleh turun dan berlutut."

"Apa? Berlutut?"

Ting Si menegas.

"Bukan saja harus berlutut, kau harus menyembah tiga kali kepadaku."

"Mengapa aku harus berlutut dan menyembah kepadamu?"

"Karena aku yang memberi perintah."

"Karena orang-orangmu pandai membidik panah beruntun begitu?"

"Memangnya kau ingin mencobanya?"

Ting Si tertawa. Ada beberapa macam gaya tertawa Ting Si, yang terang tertawanya sekarang membuat orang merasa dongkol atau benci.

"Ong-toa-sio-cia melotot, dengusnya.

"Kau memandang rendah panah berantai mereka?"

TawarsuaraTing Si.

"Bahwasanya panah berantai kalian panjang atau pendek? Runcing atau bundar? Aku kan belum pernah menjajal atau merasakan."

"Jadi kau ingin menjajal dan merasakan?"

"Ya, ingin sekali."

"Sebetulnya aku tak ingin membuatmu pendek umur, setelah mampus jangan kau salahkan aku."

"Jangan kuatir, aku pasti tidak mati,"

Mendadak Ting Si berdiri, dengan kedua tangannya dia tarik kanan sendal kiri, kedua tangan terus digentak seperti orang menyobek kain.

Jala ikan itu kokoh kuat, ikan hiu puntakkan lolos bila terjaring, hanya sekali sendal ternyata jebol dan bolong oleh gentakan tangan Ting Si.

Berubah air muka Ong-toasiocia, serunya sengit.

"Jangan biarkan dia pergi, tahan dia."

Begitu aba-aba dikeluarkan, delapan gendewa segera menjepret beruntun, tiap gendewa membidikkan tujuh batang panah, ujung panah yang runcing mendesing memecah udara, anak panan berhamburan seperti laron terbang menerjang api.

Tangan Ting Si laksana burung gereja yang senang makan laron.

Sebatang panah membidik datang, dia sambut sebatang, sepuluh batang menerjang bersama, diatangkap sepuluh batang, dalam sekejap lima puluh enam batang panah telah berada di tangannya.

Kejap lain lima puluh enam batang panah itu laksana seutas benang meluncur dari tangannya, semua menancap di atas pohon besar tak jauh di samping Toh Yok-lin.

Mendadak Ting Si menghardik.

"Putus."

Lima puluh enam batang panah yang menancap di pohon satu demi satu rontok berhamburan, tinggal mata panahnya saja yang kemilau masih menancap di dahan pohon.

Ting Si bertepuk tangan, katanya tersenyum.

"Kurasa panah berantai apa, babi pun takkan mati terpanah."

Membesi hijau muka Ong-toasiocia, bibirnya gemetar, suaranya tertelan dalam tenggorokan. Ting Si bertepuk tangan lagi, katanya riang.

"Aku tetap berada di sini, karena aku ingin mendengar persoalan yang ingin kau tanyakan padaku, panah berantai seperti tadi ada ribuan juga jangan harap dapat merintangi langkahku, mau pergi boleh pergi, siapa dapat merintangiku."

Ong-toasiocia menggigit bibir, desisnya geram.

"Bagus, memang bagus."

"Sekarang kau masih menyuruhku berlutut dan menyembah?"

"Sekarang apa kehendakmu?"

"Kau bisa membaca tidak?"

Ong-toasiocia menatapnya lekat, seolah ingin mengetuk bolong dua lubang dijidat orang.

"Kalau kau kenal huruf dan pandai membaca, kenapa kau tak menoleh dan memeriksa dengan seksama?"

Terpaksa Ong-toasiocia membalik badan pelahan, dilihatnya lima puluh batang panah yang ditimpuknya di atas pohon itu berbaris menjadi dua huruf yang berbunyi.

"Selamat bertemu."

Gaya dan gerak apakah yang dilakukan Ting Si tadi?

Tenaga apa pula yang dia gunakan?

Pelahan Ong-toa-siocia menarik napas panjang, badannya kaku dan tak mampu membalik lagi.

Sungguh dia kehabisan akal, bagaimana harus menghadapi Ting Si?

"Kau tahu apa arti kedua huruf itu?"

Tanya Ting Si. Ong-toasiocia membanting kaki, sambil melengos segera dia hengkang dari tempat itu. Ting Si berkata dingin.

"Aku bilang selamat bertemu, sebenarnya aku harap selama hidup kita jangan bertemu lagi."

Gng-toasiocia tetap menggigit bibir, dia melompat ke punggung seekor kuda lalu dibedal dengan kencang. Terdengar suara berkumandang dari kejauhan.

"Siapa yang ingin bertemu denganmu, maka dia adalah kura-kura."

Hari menjelang magrib, sang surya masih memancarkan cahayanya yang kekuning-kuningan.

Ting Si dan Teng Ting-hou sedang beranjak di bawah sinar surya itu, keringat sudah membasahi sekujur badan, pakaian lengket dengan badan mereka.

Kereta mereka rusak, kuda juga patah kakinya, kusir kereta disuruh pulang oleh Teng Ting-hou setelah diberi sangu, terpaksa mereka berjalan kaki.

Jalan raya lengang, sebuah kereta kosong pun tiada yang lewat.

Setelah menghela napas Teng Ting-hou mengeluh.

"Cahaya surya menjelang magrib indah cemerlang, terutama sinar surya di musim panas, aku selalu senang me-nikmatinya."

"Tapi sekarang kau tahu, meski di bawah pancaran sinar surya yang paling cemerlang sekalipun, bila harus menempuh perjalanan jauh dengan kedua kaki, rasanya tentu cukup menyiksa."

Teng Ting-hou menyeka keringat, sambil tertawa getir.

"Ya, memang tersiksa."

Ting Si memandang jauh ke depan, boia matanya membayangkan rona gelap, katanya pelahan.

"Kalau kau keluyuran dengan kedua kakimu sendiri, pasti akan kau temukan banyak kejadian yang sebelumnya tak pernah terbayang."

"Ah, apa benar?"

"Sebetulnya ingin kubawa kau ke Loan-ciok-kang un-tuk merasakan sendiri."

"Loan-ciok-kang?"

"Di sana ada puluhan perempuan dan anak-anak, setiap hari bekerja keras memeras keringat, namun tiap kali makan tidak pernah kenyang."

"Lho, mengapa?"

"Sehafusnya kau tahu mengapa mereka tak pernah makan kenyang,"

Dingin suara Ting Si.

"Maksudmu mereka adalah para janda dan anak yatim dari keluarga Soa bersaudara?"

"Lantaran mereka membegal barang hantaran yang dilindungi Ngo-coan-ki, maka mereka mati dengan konyol, para janda dan anak yatim itu dari keiuarga Soa, maka pantas dan patut mereka bekerja beratdan kelaparan, orang-orang persilatan jelas takkan ada yang simpatik terhadap nasib mereka, siapa yang mau menampilkan diri demi kesejahteraan hidup mereka."

Akhirnya Teng Ting-hou mengerti juga, katanya kecut.

"Jadi kau membegal barang hantaran kita untuk membebaskan mereka dari penderitaan?"

"Memangnya mereka bukan manusia?"

Jengek Ting Si.

"Apakah kau tidak bisa menggunakan cara lain untuk membantu mereka?"

"Cara apa yang harus kugunakan? Apa anak-anak itu bisa diangkat menjadi Piausu? Sementara janda-janda muda itu menerima tamu, mengtiibur laki-laki hidung belang?"

Terkancing mulut Teng Ting-hou.

Ting Si juga tidak bersuara lagi, mereka terus beranjak ke depan, pelan langkah mereka, masingmasing seperti dirundung banyak persoalan.

Apa yang telah dilakukannya pantas menurut anggapan mereka, tapi sekarang mereka pun bingung dan susah membedakan, siapa benar dan pihak mana yang salah?

Mungkin di tengah perbedaan antara betul dan salah itu, sukar ditemukan garis yang tegas.

Di saat mentari hampir tenggelam, derap lari kuda berkumandang di kejauhan, kejap lain tiga ekor kuda berlari kencang lewat di samping mereka.

Ketiga penunggang kuda mengayun cemetinya bersama.

"Tar" , sambil membusungkan dada, mereka mencongklang kuda lebih kencang, hakikatnya tidak menghiraukan kedua orang yang lagi menempuh perjalanan dan menyingkir di pinggir jalan saat mereka lewat. Melihat ketiga orang penunggang kuda itu, mendadak Teng Ting-hou tertawa, katanya.

"Tahukah kau siapa ketiga orang itu?"

"Mereka adalah Piausu kelas tiga dari Piaukiok Kui Tang-king, dalam keadaan biasa begitu melihat aku, pada jarak tiga tombak, mereka sudah membungkuk setengah badan."

Ting Si tertawa, katanya.

"Sayang, sekarang kau sedang bernasib jelek."

Begitulah kehidupan manusia, seorang ada kalanya senang, puas dan bahagia, tapi ada kalanya ketiban sial, bemasib jelek, tiada perbedaan apakah dia seorang raja atau rakyat jelata, laki atau perempuan, setiap manusia pasti punya giliran yang sama.

Teng Ting-hou tertawa, ujarnya.

"Oleh karena itu sedikitpun aku tidak marah."

Setelah ketiga ekor kuda itu pergi jauh, di tengah kepulan debu yang membubung tinggi di udara, melayang secarik kertas tepat jatuh di depan mereka.

Ting Si sudah melangkah pergi, mendadak dia putar balik serta memungut kertas itu, sorot matanya memancarkan cahaya.

Teng Ting-hou berkata.

"Kertas itu jatuh dari badan mereka.."

"Ya, benar,"

Sahut Ting Si.

"Coba kuperiksa,"

Ucap Teng Ting-hou, tapi hanya sekilas dia memandang tulisan di atas kertas itu, rona mukanya lantas mengunjuk mimik lucu, huruf hitam itu menyolok pandangan.

"Duel Siang-jio-kek melawan Pa-ong-jio."

Lebih lanjut dia membaca.

"Jit-gwat-siang-jio (sepasang tombak rembulan dan matahari) Gak. Tombak matahari berat 20 kati, panjang 4 kaki 5 dim, tombak rembulan berat 17,5 kati, panjang 3 kaki 9 dim. Pa-ong-jio Ong, panjang 1 tombak 3 kaki 7 dim, berat 73 kati. Waktu duel tanggal 5 bulan 7, tepat lohor. Tempat di pekarangan keluarga Hi terletak di karesidenan Tang-yang. Wasit Hi-kiu Thayya. Saksi Hwe-tan-ping Tan Cun dan Lip-te-hun-kim Tio Tay-ping. Juri Siau-so-cin So Siau-poh. Pengawas gelanggang Tay-lik-kim-kong Ong Hou dan Siau-sianling Ban Thong. Banjirilah! Saksikanlah! Ditanggung ramai, seru dan tegang. Harga karcis setiap orang 10 tail perak."

Melihat baris terakhir, Teng Ting-hou tertawa geli. Ting Si memang sudah tertawa sejak tadi. Teng Ting-hou menggeleng kepala, katanya.

"Apa artinya duel tokoh Bulim? Kalau begini tak ubahnya penjual koyo yang mengamen di tengah alun-alun."

"He, benar, bukankah Ban Thong kelahiran penjual koyo kulit anjing."

"O, apa betul?"

"Dia malah punya julukan lain, Bu-khong-put-jip (tanpa lubang takkan masuk), setiap kali ada kesempatan mendapat uang, pasti tidak diabaikan, kukira ini ulahnya pula untuk menggaruk uang sebanyak mungkin."

"Agaknya kau sudah kenal?"tanya Teng Ting-hou.

"Nama-nama yang tercantum di sini, aku kenal seluruhnya." ' "O, begitu?"

"Yang betul-betul harimau di atas Ngo-hou-kang (bukit harimau lapar) sebetulnya hanya ada dua ekor, sisanya yang lain, kalau bukan kucing tentu tikus, seorang pun tiada yang pandai membuat lubang."

"Maksudmu mereka adalah orang-orang Ngo-hou-kang?"

"Di antara sekian banyak orang ini, hanya Jit-gwat-siang-jio Gak Ling saja yang boleh dianggap seekor harimau,"

Demikian Ting Si menjelaskan.

"Aku pernah mendengar nama orang ini, dengan kedudukannya, mengapa dia membiarkan Siausian-ling melakukan perbuatan brutal begini?"

"Ban Thong memang seekor kucing, dia boleh dianggap rase juga, bukankah harimau sering dibuat bingung oleh tingkah si rase?"

"Tapi bagaimana dengan Hi Kiu......"

"Hi Kiu terhitung iaki-laki, tapi kalau orang menyanjung puji serta menjilat pantatnya, otaknya akan tumpul dan bebal."

"Ya, Siau-so-cin adalah orang yang pandai menyanjung puji dan menjilat pantat orang!"

"Memang tugasnya menyambut tamu yang datang ! Ngo-hou-kang, Tan Gun, Tio Tay-ping dan aku juga terin tugasdan mendapat bagian rata, demikian puia Ong Hou tukang pukul, padahal kalau kau membeset kulit merek takkan menemukan sesuatu dalam badan mereka."

"Kelihatannya kau amat sebal dan kurang senang te hadap mereka?"

Tanya Teng Ting-hou.. Ting Si diam, dia tidak menyangkai.

"Padahal kau pun terhitung warga Ngo-hou-kang,"

Des Teng Tinghou. Ting Si tertawa, ujarnya.

"Rase belum tentu sena bergaul dengan rase, demikian pula tikus atau kucing, t lum tentu suka dengan tikus atau kucing."

Teng Ting-hou menatapnya, tanyanya.

"Jadi kau juga tikus?"

"Kalau aku tikus, bukankah kau menjadi anjing ya suka mencampuri urusan orang lain?"

Teng Ting-hou tertawa, tawa getir. Anjing menangk tikus tugas yang semestinya dia lakukan. Baru sekarang Teng Ting-hou sadar, dirinya memang terlalu banyak mencampuri urusan orang lain.

"Betul, persoalan inipun seharusnya patut aku tahu,"

Dia remas selebaran itu lalu dibuang.

"Duel antara sepasang tombak melawan tombak tunggal atau harimau jantan melawan macan betina tiada sangkut pautnya denganku."

"Ada sangkut pautnya,"

Kata Ting Si tegas.

"Ada?"

Teng Ting-hou berjingkat.

"Ngo-hou-kang bukan tempat setiap orang boleh keluar masuk seenaknya sendiri, dari pos terdepan sampai belakang gunung, seluruhnya ada tiga puluh enam pos jaga dan delapan belas kelompok peronda, terus terang aku tidak yakin dapat membawamu ke sana."

"Apakah sekarang kau sudah yakin dapat membawaku ke sana?"

Tanya Teng Ting-hou. Ting Si memanggut, katanya tertawa.

"Harimau akan turun gunung duel dengan macan betina, maka kawanan rase, kucing atau tikus tentu tak mau ketinggalan, semua pasti ingin menonton keramaian."

Bercahaya mata Teng Ting-hou, katanya.

"Oleh karena itu, pada tanggal 5 bulan 7 nanti, penjagaan di Ngo-hou-kang pasti tidak seketat dan sekeras biasanya."

"Ya, pasti."

"Mumpung ada kesempatan, maka saat itu kita menyelundup ke atas gunung."

"Sedikitpun tidak salah."

"Siapa pun tak nyana Ong-toasiocia meiakukan sesuatu kebaikan untuk kita berdua."

Mendadak Ting Si bersikap serius, katanya dingin.

"Sayang sekali peristiwa ini justru tidak membawa kebaikan atau manfaat untuk dirinya."

"Kau kira dia bukan tandingan Gak Ling?"

Tanya Teng Ting-hou "Jelas, dia bukan tandingannya,"

Ting Si berkuatir, katanya lebih lanjut.

"Kalau dia tahu diri, pantasnya dia sadar dirinya belum setimpal menantang duel Gak Ling."

"Aku tak mengerti, mengapa dia justru mencari jago-jago tombak kosen yang punya nama di Bulim?"

"Kau tidak tahu, aku paham."

"Kau paham? Paham apa? Coba jelaskan, mengapa dia berbuat demikian?"

"Karena dia gila."

Mau tidak mau Teng Ting-hou ikut merasakan juga, katanya.

"Ya, umpama dia belum gila mungkin otaknya sudah sinting."

"Jika kau bertemu macan betina gila, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan menyingkiratau bersembunyi ketempatjauh."

"Tepat, cara yang bagus." * * * * * * Bila Ting Si sudah memperhitungkan langkah kerjanya, jarang meleset tugas yang dilaksanakannya. Oleh karena itu dia diberi julukan Ting Si yang cerdik. Dia yakin tanggal 5 bulan 7 penjagaan atau pertananan yang biasanya keras dan ketat di Ngohou-kang akan kendor dan kosong, mereka naik dari jalan gunung yang berlika-liku di belakang gunung, sepanjang jalan mereka tidak menemukan rintangan apapun. Maklum jarang ada orang tahu adanya jalan rahasia ini. Jalan gunung yang kecil berliku-liku di lereng dan di semak-semak rumput di tengah pepohonan itu, bagi yang belum pernah mengenalnya pasti akan kesasardan takkan kenal jalan. Karena di belakang lereng gunung, adatanah pekuburan yang sudah lama telantar.

"Orang yang menjadi pelindung barang (Popiau), ta hu bahwa Po-piau sering atau banyak yang mati di tangan para penjahat alias perampok, di luar tahu mereka, kawanan perampok pun tidak sedikit yang mati di tangan pelindung barang."

Teng Ting-hou diam saja, mulutnya bungkam. Meng-hadapi tanah kuburan di lereng bukit ini, tanpa terasa dia bertanya dalam hati.

"Apa benar seluruh kawanan perampok itu pantas mendapat ganjaran mati?"

"Mayat-mayat yang dikebumikan di sini, seluruhnya perampok atau begal, maka tidak pantas aku mengebumikan keenam orang itu di sini."

"Karena mereka bukan perampok atau begal?"

"Karena mereka lebih hina, lebih kotor dari perampok, lebih tidak tahu malu dari begal, yang pasti perampok atau begal tidak mau menjual kawan sendiri."

"Jadi kau beranggapan kami dijual kawan sendiri?"

"Kecuali kau, siapa lagi yang tahu rahasia pemberangkatan barang hantaran gelap itu?"

"Masih ada empat orang."

"Pek-li Tiang-ceng, Kui Tang-kin, Kiang Sin dan Se-bun Seng."

"Betul, memang mereka."

"Bukankah mereka temanmu?"

"Jika kau menduga seorang di antara keempat orang itu adalah pengkhianat, terus terang aku tidark percaya."

"Kalau bukan keempat orang ini, pasti ada seorang yang lain."

"Siapakah seorang lain itu?"

"Siapa lagi, engkau!"

Teng Ting-hou menyengir.

Yang tahu rahasia ini memang hanya mereka berlima, tiada orang keenam.

Mulut bicara, ternyata tangan Ting Si tidak menganggur, kalau ucapannya bernada menyindir, tangannya memegang cangkul.

Cangkul bekerja lebih cepat dari lidahnya sendiri.

Enam peti mati sudah dibongkar keluar seluruhnya dari liang lahat.

Setiap peti mati berisi satu mayat.

Dengan lengan bajunya Ting Si menyeka keringat, katanya.

"Mengapa tidak lekas kau buka dan periksa satu persatu?"

Teng Ting-hou juga sibuk menyeka keringat dengan lengan bajunya, keringatnya lebih banyak dari Ting Si, tubuhnya basah kuyup.

"Apa kau tidak berani melihat mayat?"

Desak Ting Si.

"Mengapa tidak berani?"

"Karena kau takut aku menemukan pengkhianat itu, mungkin dia adalah temanmu yang paling baik."

Teng Ting-hou menghela napas, ujarnya.

"Aku agak takut, karena aku, aku......"

Dia tidak melanjutkan. Peti pertama sudah dibuka, dia berdiri tertegun. Dengan mendelong dia mengawasi mayat di dalam peti mati, mayat dalam peti mati seperti balas menatap dirinya dengan melotot.

"Kau kenal orang ini?"

Tanya Ting Si. Teng Ting-hou memanggut, sahutnya.

"Orang ini she Ci, pembantu terpercaya dari Tin-wi Piaukiok."

"Bukankah Tin-wi Piaukiok milik Kui Tang-kin?"

"Ya, betul."

"Apakah kau taktahu bahwa Piaukioknya kehilangan orang?"

Teng Ting-hou menggeleng kepala. Peti kedua sudah terbuka. Teng Ting-hou tertegun pula.

"Orang ini bernama Ah Bong."

"Siapa itu Ah Bong?" ,.

"Tukang kebon di rumahku."

"Kau pun tidak tahu kalau tukang kebonmu lenyap?"

Kata Ting Si tertawa getir.

Orang ketiga adalah kusir kereta Tiang-ceng Piau-kiok.

Orang keempat adalah koki keluarga Kiang, orang kelima adalah kuli panggul Wi-khing, orang keenam tukang memandikan kuda milik Sebun Seng.

"Kau sudah menyaksikan keenam mayat ini, semua kau kenal baik."

"Ehm, betul."

"Sayang sekali, sia-sia kau meluruk kemari untuk menyaksikan mereka, kenyataan kedatanganmu kemari tiada gunanya."

"Tapi untung masih ada enam pucuk surat."

"Apa betul enam pucuk surat ini tulisan satu orang?"

"Ehm, aku yakin."

"Kau kenal gaya tulisan siapa?"

"Ehm, begitulah."

Bercahaya mata Ting Si. Mendadak Teng Ting-hou tertawa, tawa yang aneh, katanya.

"Gaya tulisan orang ini, bukan saja berubah bagus, malah ada beberapa goresan kelihatan aneh, umpama orang lain ingin meniru atau menjiplak, sukar untuk mempelajarinya."

"Siapakah orang itu?"

Tanya Ting Si. Makin lucu mimik tawa Teng Ting-hou, pelahan dia mengulur jari telunjuk menuding hidung sendiri, katanya tegas.

"Orang itu adalah aku."

"Jadi kau penulis surat ini?"

Ting Si ingin berteriak, tetapi suaranya tidak keluar, ingin terpingkaipingkal tapi tidak bisa tertawa.

Maklum kasus ini tidak menggelikan, sedikitpun tidak lucu.

Sebetulnya kasus ini dapat menyebabkan orang geli, hingga mencucurkan air mata dan keluar ingus.

Demikian keadaan Teng Ting-hou, mimik tawanya tidak lebih bagus dibanding seorang berwajah sedih.

Ting Si menatapnya, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, berulang kali dia mengawasi orang, mendadak dia bertanya.

"Apa kau bisa menjual dirimu sendiri?"

"Tidak, tidak bisa."

"Apakah keenam pucuk surat ini kau yang menulis?"

"Tentu bukan."

Tanpa bicara lagi, Ting Si memutar badan lalu beranjak pergi.

Terpaksa Teng Ting-hou mengikut di belakangnya.

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, pakaian mereka sudah basah dan lengket oleh keringat.

Akhirnya Ting Si menghela napas panjang, katanya.

"Sebetulnya perjalanan jauh dan jerih-payah kali ini, bukan sama sekali tidak membawa hasil."

"O, lalu apa hasilnya?"

"Paling sedikit aku memperoleh satu pelajaran."

"Pelajaran apa?"

"Lain kali kalau disuruh menempuh perjalanan jauh dalam cuaca seperti ini, mencari mayat orang di tempat jauh, aku akan......"

"Kau akan menendang dan menggebahnya pergi?"

"Aku bukan keledai, juga bukan kuda kecil, aku tidak mau ditendang, juga belum pemah menendang orang."

"Lalu kau mau apa?"

"Aku akan memberi sesuatu kepadanya."

"Setelah dia menyiksamu dalam perjalanan jauh di bawah terik matahari, kau akan memberi hadiah kepadanya?"

Ting Si memanggut.

"Barang apa yang akan kau berikan kepadanya?"

"Menyerahkan seorang kepadanya."

"Seorang?"

Teng Ting-hou menjerit heran.

"Ya,"sahut Ting Si.

"Seorang perempuan yang dia puja, tapi mulutnya tak berani menyatakan cinta."

"Perempuan yang kau maksudkan Ong-toasiocia."

"Betul,"

Ting Si bertepuk tangan lucu.

"Sedikitpun tidak salah."

"Karena Ong-toasiocia sudah gila."

Ting Si tertawa, katanya.

"Orang ini menyuruh aku bekerja begini, mungkin otaknya ada cirinya, kalau yang seorang sinting yang lain gila, bukankah mereka pasangan yang serasi?"

Teng Ting-hou bergelaktawa, serunya.

"Orang yang kau maksud adalah aku?"

Sengaja Ting Si menghela napas, katanya.

"Bila kau sudah mengaku, yah, apa boleh buat."

"Umpama mulutku tidak bicara, kau sudah tahu aku kasmaran padanya."

"Jawaban tepat."

"Tapi aku masih menguatirkan satu hal."

"Satu hal apa?"

"Kalau benar ada orang yang menyerahkan Ong-toasiocia kepadaku, kau sendiri bagaimana?"

Ting Si menarik muka, katanya merengut.

"Jangan kuatir, perempuan di dunia belum mampus seluruhnya, aku pasti tidak akan menjadi Hwesio, aku tidak suka makan sayuran."

"Sayuran mungkin tidak suka, tapi cuka kan pernah makan sedikit? (maksudnya cemburu)."

Ting Si melirik kepadanya, katanya.

"Aku heran akan satu hal?"

"Soal apa?"

"Mengapa kaum Bulim tiada orang memanggil kau Lo-teng sang jenaka?"

Waktu mereka turun gunung, juga tidak kepergok seorang pun, Ngo-hou-kang biasa ditakuti orang, hari ini kosong dan sepi tanpa penjagaan, mirip daerah wisata, dimana orang boleh bertamasya sesuka hati.

Sayangnya, bertamasya di daerah ini akan percuma dan membuang waktu serta tenaga belaka.

"Kecuali pelajaran seperti yang kau katakan,"

Kata Teng Ting-hou.

"Coba katakan, apakah masih ada hasil yang lain?"

"Masih ada rasa penasaran dan mendongkol, Iebih celaka lagi badan kita bau keringat dan kotor."

"Kalau demikian,"

UjarTeng Ting-hou.

"Sekarang aku masih dapat memperoleh pelajaran lain lagi."

"Pelajaran apa?"

Tanya Ting Si.

"Kelak bila kau mendengar orang bicara, lebih baik kau perhatikan, jangan mendengar separoh."

Ting.Si tidak mengerti.

"Tadi aku bilang gaya tulisanku jarang ada orang bisa meniru, kan tidak kubilang orang lain pasti dan yakin takkan mampu menjiplaknya."

Bercahaya sinar mata Ting Si.

"Soalnya aku sudah tahu ada seorang yang mampu dan pandai meniru atau menjiplak gaya tulisanku, hampir aku sendiri tak bisa membedakan jiplakannya."

"Siapakah orang ini?"

"Siapa lagi jika bukan Kui-toa laupan Kui Tang-king."

"Ha, dia?"

Ting Si tertawa lebar.

"Lahirnya orang ini kelihatan linglung atau bodoh, sikapnya jujur dan bajik, padahal dia pandai menggunakan otak, aku pun pernah ditipunya."

"Ha, kau pernah tertipunya?"

Ting Si geli.

"Suatu ketika dia meniru gaya tulisanku, perempuan-perempuan yang pernah kukenal diundang ke rumahku. Begitu aku masuk pintu, kulihat ada tujuh atau delapan pu-luh perempuan dengan berbagai corak ragam dandanan yang serba molek berkumpul di ruang tamu rumahku, biniku marah-marah hingga lehernya hampir kaku, selama tiga bulan tidak mau bicara denganku."

Ting Si menahan geli, katanya.

"Mengapa dia berkelakar dan menggodamu sedemikian rupa?"

Teng Ting-hou berkata gemas.

"Kura-kura tua selama hidup memang suka mempermainkan orang, sejak dilahirkan suka melihat orang lain menderita dan susah."

Tak tahan lagi Ting Si tertawa lebar, katanya.

"Tapi kenyataan perempuan yang kau kenal terlalu banyak."

Teng Ting-hou juga tak kuat menahan geli, katanya.

"Bukan saja banyak, jenisnya juga beraneka ragam, diantara mereka ada juga perempuan yang biasa menghibur orang, tak sedikit pula wanita-wanita pandai di bidang sastra, mereka tiada yang bisa membedakan tulisanku, dari peristiwa ini membuktikan bahwa gaya tiruannya hakikatnya bisa mengaburkan keaslianku sendiri."

"Oleh karena itu meski dia membikin kau rikuh dan runyam, tapi kenyataan dia pun telah membantumu."

"Ya, membantu aku dalam dua hal."

"O?"

"Karena ulahnya aku bisa hidup tenteram tiga bulan, tak pernah mendengar omelan, gerutu atau caci maki macan betina yang galak itu."

"Ya, bantuannya amat besar artinya,"

Berkilat bola mata Ting Si, katanya lebih lanjut.

"Dalam perkongsian kalian itu, ada berapa orang yang menjadi juragan?"

"Empat setengah,"

Sahut Teng Ting-hou..

"He, he, empat setengah?"

"Modal kita digabung dalam jumlah yang rata, hasil keuntungan dibagi rata menjadi sembilan, Pek-li Tiang-ceng, Kui Tang-king, Kiang Sin dan aku masing-masing mendapat dua bagian, sementara Sebun Seng hanya dapat satu bagian."

"Oleh karena itu dalam perusahaan ini, Kui Tang-king juga termasuk salah satu juragan."

"Ya, betul. Dia memang berhak."

"Mengapa dia mau menjual diri sendiri?"

Teng Ting-hou menepekur sejenak, lalu berkata.

"Setiap kita melindungi barang hantaran yang nilainya selaksa tail perak, kita hanya memasang tarif tiga ribu tail perak."

"Dipotong pengeluaran dan lain-lain, sisanya kira-kira seribu tail lebih sedikit, maka hasil pembagiannya hanya sekitar tiga ratusan tail perak saja,"

Demikian Teng Ting-hou menjelaskan lebih lanjut.

"Tapi setelah aku berhasil merampas barang hantaran kali ini, umpama hasilnya tidak sepenuhnya, dia tetap memperoleh selaksa tail perak,"

Demikian ujar Ting Si.

"Bagaimanapun juga selaksa tail kan jauh lebih banyak dari tiga ratus tail perak, kan masih lebih menguntungkan. Aku percaya dia bisa menghitung, beberapa tahun belakangan ini, dia sudah termasuk salah seorang terkaya di Bulim, kekayaan yang dimilikinya itu jelas tak mungkin jatuh sendiri dari atas langit."

"Dia pernah bilang, apapun dia tidak takut, uang jelas dia tidak takut kebanyakan, demikian pula perempuan, makin banyak makin baik."

"Aku juga tidak takut,"

UcapTing Si tertawa.

"Aku malah agak takut,"

Ujar Teng Ting-hou..

"Takut apa?"

Tanya Ting Si.

"Kasus ini sukar ditemukan bukti yang nyata, aku kuatir dia tetap ingkar, aku tidak mampu memaksa dia bicara jujur."

"Aku punya akal."

"Akal apa?"

"Pukul dulu supaya dua gigi depannya rontok, baru pelintir sebelah kupingnya biar copot."

"Kedengarannya caramu mudah dilaksanakan."

"Memang akal bagus, aku jamin pasti manjur."

"Kapan harus bertindak?"

"Sekarangjuga."

"Siapa yang turun tangan?"

Berkedip bola mata Ting Si, tanyanya.

"Bagaimana ilmu silat kura-kura tua itu?"

"Tidak terhitung baik, tapi sedikit lebih baik dibanding Kim-jio-ji."

"Lebifj baik sedikit, berapa sedikit yang kau maksud?"

"Sedikit yang kumaksud adalah, biladia menggunakan jari tangannya menotok, Kim-jio-ji akan rebah tak berkutik."

Kini Ting Si betul-betul tak bisa tertawa. Tejig Ting-hou berkata pula.

"Konon dia juga meyakinkan ilmu kebal sejenis Cap-sha-thay-po, namun latihannya belum matang, suatu ketika pernah aku menyaksikan seorang membacok tiga kali di punggungnya, ternyata dia tidak tahan."

"Kalau tidak tahan bagaimana?"

"Dia merebut golok orang itu, sekaligus membabat tubuh orang itu menjadi delapan potong."

"Selanjutnya?"

"Kami minum arak di rumah makan mutiara."

"Kena tiga bacokan golok masih bisa minum arak?"

"Minumnya tidak banyak, dia ikut karena ingin menyuruh Siau tin-cu menggaruk dirinya."

"Menggaruk? Menggaruk bagian apa?"

"Sudan tentu menggaruk punggungnya."

Sesaat lamanya Ting Si melenggong, mendadak dia tertawa.

"Aku tahu."

"Kau tahu apa?"

"Aku tahu siapa yang harus turun tangan."

"Siapa?"

"Engkau."

Naik gunung mudah, turun gunung tentu tidak sukar.

Sebelum matahari terbenam, mereka sudah berada di kaki gunung.

Di bawah gunung ada sebuah jalan kecil, drpinggir jalan ada pohon besar, di bawah pohon besar ini berhenti sebuah kereta, kusir kereta adalah anak muda, telanjang dada, berjongkok di sana sambil menggoyang goyang topi rumputnya berjemur diri di bawah sinar matahari.

Angin menghembus membawa bau arak yang harum, itulah Cu-yap-ceng.yang paling enak.

Di sekitar sini tiada rumah penduduk, tempat satu-satunya yang menyimpan arak adalah kereta besar itu.

Anak itu berjongkok di luar, arak yang harum itu dia biarkan tertiup angin.

Ting Si menghela napas, mendadak dia sadar tidak sedikit jumlah manusia di dunia ini yang tidak normal.

Teng Ting-hou mengawasinya, tanyanya,"Kau ingin minum arak, tidak?"

"Tidak,"

Sahut Ting Si tegas. Teng Ting-hou melengak heran, tanyanya.

"Mengapa?"

"Karena aku perampok, tapi belum pernah aku merebut arak orang lain."

"Kita kan bisa membelinya."

"Aku ingin beli, kedai arak macam apapun pernah ku-lihat, tapi belum pernah kulihat kedai arak dalam kereta."

"Dulu belum pernah lihat, sekarang sudah kau saksi-kan."

Memang Ting Si sudah melihat. Anak muda yang menjadi sais kereta itu mendadak berdiri, dari belakang kereta dia menarik keluar selembar kain hijau, di atas kain tertulis beberapa huruf.

"Cu-yap-ceng kelas satu, sedia daging sapi rebus."

Kalau di dunia masih ada sesuatu yang dapat mem-bangkitkan rasa senang Ting Si dan Teng Ting-hou, hanya arak dan daging sapi saja yang memenuhi selera mereka.

"Kura-kura tua itu memang sukar dilayani, mungkin sebelum aku berhasil menjewer copot kupingnya, kuping-ku sendiri yang dia robek."

"Oleh karena itu sekarang kau mulai masgul dan ku-atir,"

Goda Ting Si.

"Karena masgul aku harus minum untuk menghilangkan rasa kuatir."

"Akal bagus,"

Seru Ting Si. Dengan langkah lebar mereka menghampiri kereta.

"Hidangkan sepuluh kati daging sapi dan dua puluh kati arak."

"Baik,"

Sahut anak muda itu.

Mulut menjawab, tetapi anak muda itu malah berjongkok, topi rumput bergoyang mengibas-ibas badannya.

Mereka menunggu dan mengawasinya mendelong sekian saat, ternyata bocah itu tetap berjongkok dengan santai, seolah-olah segan berdiri lagi..

Tak tahan Ting Si bertanya.

"Apakah arak dan daging sapimu bisa berjalan sendiri?"

"Mana bisa,"

Sahut anak muda itu. Tanpa menggerakkan kepala dia berkata pula.

"Daging dan arak tidak bisa jalan, tapi kalian kan bisa jalan."

Ting Si tertawa. Anak muda itu berkata.

"Aku hanya menjual arak, tidak menjual tenaga, maka......"

"Maka kami harus mengambil sendiri kalau ingin minum dan gegares daging sapi."

"Setelah mengambil dan makan kenyang, boleh kau membayar kepadaku." * * * * * Kereta itu tidak baru lagi, tapi pintu dan jendela dipasangi kerai bambu yang rapat, ketika mereka tiba di depan kereta, bau arak makin merangsang hidung.

"Keliatannya bocah itu biasa saja, tapi arak yang dia jual ternyata bermutu tinggi."

"Ya, asal arak bagus, yang lain boleh tidak usah menuntut terlalu tinggi."

Teng Ting-hou beranjak lebih dulu, pelahan dia menyingkap kerai, seketika dia berdiri menjublek.

Ting Si di belakangnya, waktu dia melongok ke kabin kereta, seketika dia pun menjublek.

Seorang tampak duduk santai, nyaman dan segar di dalam kabin, tangannya memegang mangkuk arak besar, mulutnya terbuka lebar, dengan senyum lebar dia mengawasi mereka.

Bentuk mulut orang ini sungguh beraneka ragam banyaknya.

Orang dalam kereta ini ternyata bukan lain adajah Hok-sing-ko-cau Kui Tang-king adanya.

Kabin kereta ini luas dan lebar, dilembari kasur empuk, sudah tentu segar dan nyaman..

Ting Si dan Teng Ting-hou berdiri kaku, orang itu mengawasi mereka, sekejap tersenyurn sambil membuka lebar mulutnya, kejap lain mulutnya terkancing, namun wajahnya masih dihiasi senyum lebar, akhirnya dia berkata.

"Kura-kura yang kalian bicarakan tadi siapa?"

"Kalau menurut dugaanmu siapa?"

Teng Ting-hou balas bertanya.

"Sepertinya aku,"

Sahut Kui Tang-king.

"Tepat,"

Ujar Teng Ting-hou.

"Kau siap merobek kupingku?"

"Pukul mulut merontokkan dua gigi dulu baru merobek telinga,"

Teng Ting-hou melucu. Kui Tang-ting menghela napas, katanya.

"Kalian mau minum dan makan daging sampai mabuk, baru merontokkan gigi dan menyobek telingaku?"

Teng Ting-hou melirik kepada Ting Si. Ting Si menjawab.

"Betul."

Maka mereka makan minum, sedikit minum tapi banyak makan, tiga porsi daging sapi yang disuguhkan sekejap saja telah berpindah ke dalam perut. Kui Tang-king menghela napas, katanya.

"Kapan kalian akan turun tangan?"

"Setelah kau membaca enam pucuk surat ini,"

UjarTeng Ting-hou, lalu dia mengeluarkan enam pucuk surat. Kui Tang-king hanya membaca sepucuk surat lalu berkata.

"Surat ini jelas bukan engkau yang menulis."

"Jelas bukan."

"Kalau bukan engkau yang menulis, maka dugaanmu pasti aku yang menulis."

"Kau mengaku?"

Kui Tang-king menghela napas, ujarnya.

"Kelihatannya kalau aku tak mengaku, keadaan akan menjadi onar."

"Siapa bilang kau harus mengaku?"

Sela Ting Si.

"Tidak usah mengaku maksudmu?"

Bersambung ke bagian 5

"Sebetulnya kau tidak perlu mengaku, karena......"

"Karena keenam pucuk surat ini kenyataan memang bukan kau yang menulis,"

Teng Ting-hou menambahkan. Kui Tang-king malah bersikap heran, seperti di luar dugaan, katanya.

"Darimana kalian tahu kalau bukan aku yang menulis?"

"Orang-orang yang tinggal di Ngo-hou-kang, kalau bukan perampok besar, tentu begal kecil, entah berapa orang yang saling bermusuhan di sana,"

Ucap Ting Si. Teng Ting-hou berkata.

"Umpama betul orang-orang itu ingin berduel di bawah gunung, tak pantas mereka menyebarluaskan berita itu dengan membuang selebaran dimana-mana, sehingga khalayak ramai tahu."

Ting Si berkata.

"Umpama mereka tidak takut ditangkap opas, juga harus berhati-hati terhadap musuh yang menuntut balas, jejak mereka amat dirahasiakan."

"Kali ini mereka justru menyebar selebaran secara terbuka, seolah takut orang lain tak tahu adanya duel itu."

"Coba kau terka, kenapa mereka berbuat demikan?"

Kui Tang-king berkata.

"Aku bukan Ting Si yang cerdik, mana bisa menebak."

"Aku juga bukan Ting Si yang cerdik, tapi aku melihat adanya titik terang,"

Demikian sanggah Teng Ting-hou.

"O? Coba kau jelaskan,"

Ucap Kui Tang-king.

"Mereka berbuat begini, sengaja memberi peluang,"

Demikian kata Teng Ting-hou.

"Supaya kami leluasa naik ke Ngo-hou-kang membaca enam pucuk surat ini."

Kui Tang-king berkata.

"Kau sudah melihat keenam surat ini bukan tulisanmu, maka pasti curiga terhadapku."

"Oleh karena itu aku akan menggenjot mulutmu dan merobek telingamu."

"Jika demikian, umpama aku menyangkal, siapa mau percaya."

Ting Si menimbrung.

"Pengkhianat yang sesungguhnya akan menonton dari pinggir sambil bertepuk tangan."

Kui Tang-king tidak paham, katanya.

"Orang-orang gagah di Ngo-hou-kang, mengapa mau melakukan tugas itu untuk si pengkhianat?"

Ting Si menjawab.

"Pengkhianatan orang ini terhadap kalian berarti keuntungan atau ada manfaatnya bagi mereka."

"Dan kau?"

Tanya Kui Tang-king.

"Kau tidak tahu adanya kasus ini?"

Ting Si tertawa, katanya.

"Ting Si yang cerdik, ada kalanya berlaku ceroboh, demikian pula kali ini, tanpa sadar aku diperalat orang lain."

Kui Tang-king tertawa, katanya.

"Untung kau tidak ceroboh, tidak bodoh."

Teng Ting-hou berkata.

"Oleh karena itu mulutmu tidak kugenjot, telingamu juga tidak putus."

Kui Tang-king menatapnya lekat, katanya tandas.

"Bukankah kita sudah berteman beberapa tahun?"

"Ya, sudah banyak tahun,"

Sahut Teng Ting-hou.

"Sekarang kita tetap kawan sejawat."

"Tidak salah."

Kui Tang-king menuding Ting Si, katanya.

"Bukankah bocah ini perampok yang membegal barang yang kita bekuk itu?"

Dengan tersenyum Teng Ting-hou mengangguk. Kui Tang-king menghela napas, katanya tertawa kecut.

"Tapi kelihatannya kalian adalah sahabat baik, kedudukanku justru terbalik seolah aku ini begal yang tertangkap."

Ting Si tertawa, katanya.

"Kau pasti bukan begal."

"O,bukan?"

"Umpama kau adalah begal, pasti begal besar."

"Mengapa?""

"Begal kecil takut orang lain bilang dia gegabah atau bodoh, maka dia akan berusaha berbuat pintar. Sebaliknya begal besar takut kalau orang lain bilang dia pintar, maka dia senang purapura bodoh, hebatnya dia bermain secara lihai dan mirip sekali,"

Kui Tang-king tertawa lebar, katanya.

"Ting Si memang menyenangkan, kau memang Ting Si yang dapat menghibur hati orang."

Sambil tertawa dia berdiri, menepuk pundak Ting Si.

"Kereta kuda ini kuberikan padamu, demikian pula arak dan isi kereta ini."

"Mengapa kau berikan padaku?"

"Setiap habis minum arak, aku senang memberi barang kepada orang, aku pun suka terhadapmu."

"Dan kau sendiri?"

"Kalau sudah jelas aku tidak tersangkut atau dicurigai dalam kasus ini, lebih baik aku menyingkir saja, kalian cari gara-gara, aku bisa pusing tujuh keliling,"

Demikian kata Kui Tang-king.

"Kalau aku bukan pengkhianat, juga bukan Lo-teng, lalu siapa orang yang bersekongkol dengan pihak Ngo-hou-kang? Bagaimana bisa tahu permohonan kalian?"

Setelah menggeleng kepala, sambil tertawa dia menyambung.

"Semua persoalan memusingkan kepala, aku juga sering gegabah, malas dan bodoh, menghadapi persoalan yang memusingkan kepala, biasanya aku menyingkir paling dulu."

Dia benar-benar hengkang dari tempat itu.

Ting Si mengawasi Teng Ting-hou, Teng Ting-hou balas menatap Ting Si, kedua orang ini saling pandang, tak bisa menahannya.

Setelah melompat dari kereta, mendadak Kui Tang-king menoieh, katanya.

"Ada satu persoalan ingin aku tanyakan padamu."

"Soal apa?"

Tanya Ting Si.

"Kalian sudah mencurigai aku sebagai pengkhianat, mengapa mendadak berubah haluan?"

Ting Si tertawa, sahutnya.

"Karena aku suka melihat moncongmu."

Kui Tang-king menatapnya, meraba mulut sendiri, lalu menggumam.

"Alasanmu memang bagus, moncongku ini memang bagus."

Dalam mengucap beberapa patah kata itu, mulutnya menggunakan empat mimik yang berbeda, lalu berlenggang pergi sambil terbahak-bahak.

Pergi meninggalkan setumpuk pertanyaan yang memusingkan kepala Teng Ting-hou dan Ting Si.

Teng Ting-hou menghela napas, katanya tertawa getir.

"Rezeki orang ini memang besar, ada sementara orang sejak dilahirkan selalu ketiban rezeki, tapi ada sementara orang yang harus hidup memeras otak."

"O, beg itu?"

"Persoalan sudah kau temukan, sekarang tak bisa tidak kau harus memeras otak, meski kepalamu menjadi pusing."

Ting Si setuju dengan pendapat ini.

"Yang tahu kami datang ke Ngo-hou-kang, kecuali kami berdua, hanya Pek-li Tiang-ceng, Kiang Sin, dan Se-bun Seng."

"Betul."

"Menurutku, Sebun Seng adalah orang yang paling patut dicurigai."

"Karena dia mendengar langsung rencana kita."

"Ya, karena dalam sembilan bagian keuntungan, dia hanya dapat satu bagian saja,"

Demikian jawab Teng Ting-hou.

"Tetapi mereka justru diperalat Kui Tang-king untuk mengawal barangnya."

"Nah, karena itu aku pusing kepala."

"Lalu bagaimana dengan Pek-li Tiang-ceng?"

"Dua bulan lalu dia sudah pulang ke Kwan-tiong."

"Yang patut dicurigai sekarang hanya Giok-pau Kiang Sin."

"Kenyataan hanya dia saja yang patut dicurigai, tapi ketahuilah dia sudah enam bu!an berbaring di ranjang, sakitnya parah, jangan kata berjalan, duduk saja tidak bisa,"

Dengan tawa getir Teng Ting-hou melanjutkan.

"Konon sakit kotor, keluarganya merahasiakan hal ini, siapa pun dilarang membocorkan rahasia ini."

Ting Si meienggong.

"Dari ucapanmu ini bisa ditarik kesimpulan, tiada seorang pun yang patut dicurigai."

"Ya, maka kepalaku lebih pusing."

"Biar kuajarkan satu cara kepadamu,"

Demikian kata Ting Si dengan senyum penuh arti.

"Kutanggung kepalamu takkan pusing lagi."

Bangkit semangat Teng Ting-hou.

"Cara apa?"

"Persoalan tidak bisa kau pecahkan, mengapa tidak kau tanyakan kepada orang lain?"

Teng Ting-hou melirik sekilas, gumamnya dongkol.

"Kukira cara apa."

"Ya, cara sederhana, tapi cara ini amat tepat,"

"Persoalan begini, pada siapa aku harus bertanya?"

"Tanyalah pada Bu-kheng-put-jip Ban Thong."

Bercahaya bola mata Teng Ting-hou.

"Duel yang terjadi di kebun keluarga Hi disebarkan secara besar-besaran, siapa lagi kalau bukan dia yang mengatur, orang yang bersekongkol dengan golonganmu, kuyakin juga pasti dia."

"Mungkin ada bagiannya sedikit."

"Nah, yakinlah bahwa dia tahu siapa yang membocorkan rahasia itu."

Teng Ting-hou berjingkrak berdiri, lalu menarik Ting Si, katanya dengan tersenyum lebar.

"Kalau begitu, hayo kita berangkat."

Ting Si malah merebahkan diri, katanya dengan tersenyum lebar.

"Jangan lupa sekarang aku sudah memiliki kereta, mengapa harus jalan kaki?"

Tatkala mereka tiba di kebun keluarga Hi, Hi Kiu Thayya sedang menggendong tangan mondarmandir di lapangan latihan yang luas.

Selama hidup sampai usia setua sekarang, ada tiga hal yang selalu membuatnya bangga, lapangan latihan ini adalah salah satu kebanggaannya..

Sejak pensiun, mengundurkan diri dari persilatan, di tempat itu dia berhasil membimbing angkatan muda yang berprestrasi tinggi, puluhan bahkan ratusan pemuda pemudi di sekitar kampung halamannya menjadi tunas-tunas muda yang berbadan tegap, sehat lagi kekar.

Sayang isteri tercinta sudah lama meninggal, putri tunggalnya sudah menikah dan tinggal di lain kota, lapangan latihan ini kini menjadi satu-satunya tempat yang dapat menghibur diri, tempat yang menjadi tumpuan harapan masa depan.

Mentari tepat tepat di atas kepala, tengah hari nan panas.

Tengah hari pada tanggal enam bulan tujuh.

Lapangan luas yang ditaburi pasir halus ditimpa cahaya matahari tampak gemerdep, mengkilap seperti kepalanya yang plontos, kulit muka memerah gosong, menjadi pemandangan menyolok dibanding kemilau senjata yang diletakkan berjajar dipinggir lapangan.

Meski sudah lanjut usia, orang tua ini tetap sehat, gagah lagi kuat, penampilannya juga berwibawa, dari gerak-gerik, sikap dan tutur katanya, orang sukar menebak berapa usianya sekarang, umumnya lelaki seusia dirinya sudah banyak yang loyo, kalau tidak gemuk karena hidup makmur, tentu berpenyakitan.

Secara diam-diam Ting Si dan Teng Ting-hou memperhatikannya dengan cermat.

Dalam hati diam-diam mereka mengharap kelak dalam usia setinggi orang ini, dirinya masih juga dikaruniai badan segar bugar.

Sambil menggoyang kipas lempitnya, Hi Kiu mengajak Ting Si dan Teng Ting-hou berjalan mengitari lapangan, rona mukanya menarapilkan rasa puas dan bangga, tanyanya.

"Lapangan ini, bagaimana menurut kalian?"

"Bagus, bagus sekali,"

Puji Teng Ting-hou, bukan basa-basi tapi pujian menurut hati nurani. Hi Kiutertawa lebar.

"Umpama lapangan ini kurang baik, tapi cukup luas dan lebar, tiga ratus orang sekaligus dapat berkumpul di tempat ini."

Teng Ting-hou maklum, mereka bertiga berjalan pelahan mengelilingi lapangan, kira-kira setanakan nasi iamanya.

"Kalau seorang kupungut biaya 10 tail, tiga ribu berarti tiga laksa, orang lain kerja mati-matian, di sini mereka cepat kaya."

"Sepertinya Cianpwe sudah tahu akan hal itu?"

Tanya Teng Ting-hou. Hi Kiu bergelaktawa.

"Mereka kira aku tidak tahu, dengan mengagulkanku dan mengumpak padaku, lantas diriku boleh diperalat begitu, padahal biar sudah tua aku belum pikun."

Teng Ting-hou memancing.

"Kurasa Cianpwe punya maksud lain?"

Hi Kiu tertawa senang.

"Kalian lihat tempatku besar, megah lagi mewah, padahal dalamnya kosong, sering aku tombok karena pengeluarannya teramat besar."

"Ya, aku dengar, anak dari keluarga miskin yang latihan di sini, bukan saja gratis, makan minum juga tersedia cuma-cuma, tak jarang engkau juga membantu keperluan keluarga mereka."

HI Kiu memanggut, sorot matanya menampilkan rona nakal.

"Ya, pengeluaran tiap bulan memang teramat besar. Tapi kalau aku bisa dapat tiga laksa tail, kondisiku seperti sekarang bisa bertahan lagi tiga lima tahun."

Teng Ting-hou tertawa.

Kini lebih jelas akan maksud tujuan Hi Kiu, orang tua ini tidak segan untuk hitam mencaplok hitam.

Dengan tatapan tajam Hi Kiu mengawasi dua pemuda di depannya, dengan tertawa ia bertanya.

"Kalian tentu datang dari jauh, entah siapa nama kalian? Maaf, mungkin penyambutanku kurang normal"

"Tidak, cukup baik,"

Sahut Teng Ting-hou. Hi Kiu tertawa lebar.

"Yang benar, aku sudah menebak siapa kalian sebenarnya."

"Cianpwe mengenal kami?"

Tanya Teng Ting-hou.

"Tuan pasti Sin-kun-siau-cu-kat Teng Ting-hou, betul?"

Teng Ting-hou melongo.

"Darimana Cianpwe tahu?"

"Anak muda yang baru berusia tiga puluhan, kecuali Sin-kun-siau-cu-kat, mana ada yang punya pamor sebagus ini?"

Sorot matanya kembali menampilkan rona nakal dan licik.

"Apalagi, beberapa tahun lalu, aku pernah melihat wajahmu, kalau tidak, tentu tak bisa aku mengenalmu."

Teng Ting-hou hanya menyengir. Kini ia merasakan sifat jenaka orang tua ini, bukan saja tidak menyebalkan, rasanya malah patut menjadi sahabat. Hi Kiu berputar menghadapi Ting Si.

"Anak muda ini,"

Katanya tegas.

"Masih asing rasanya."

"Cayhe she Ting,"

Sahut. Ting Si tersenyum.

"Ting Si."

"Oho, Ting Si si cerdik pandai itu?"

Seru Hi Kiu.

"Cianpwe suka berkelakar,"

Sahut Ting Si. Dari atas ke bawah Ting Si dipandangnya dengan cermat.

"Bagus,"

Puji Hi Kiu.

"Memang pandai, simpatik dan menyenangkan."

D.i tengah senyum lebarnya, mendadak tangannya bergerak menyerang, lima jarinya terkembang, secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan Ting Si.

Gerak tipunya ini adalah ilmu pukulan yang ia banggakan sejak muda dulu, yaitu Sha-cap-lak-lok-tay-kim-na-jiu.

Gerakannya bukan saja sigap dan cekatan, tapi tepat lagi kencang, mengandung perubahan isi kosong yang banyak ragamnya.

Setelah pergelangan tangan tercengkeram, Ting Si baru beraksi, hanya sedikit membalik pergelangan tangan, entah bagaimana tangannya meluncur lepas selicin belut.

Hi Kiu si tua keladi seketika berubah rona mukanya.

Selama tiga puluh tahun belakangan, belum pernah ada tokoh silat segagah apapun yang lolos dari cengkeraman jari bajanya.

Mengawasi jari jemari sendiri Hi Kiu tertawa lebar.

"Bagus, ksatria memang muncul dari angkatan muda, kurasa aku memang sudah tua."

Ting Si tersenyum lebar.

"Aku yakin sepasang tangan Ciangpwe belum tua, usia tua jiwa masih muda,"

Hi Kiu tergelak, menepuk pundak Ting Si.

"Anak bagus, kapan jika berhasil merampas barang, jangan lupa sisakan padaku, antar kemari, aku butuh duit......"

"Bukankah kemarin Cianpwe sudah untung tiga laksa tail?"

"Ah, siapa bilang, satu tail pun aku tidak untung."

"Duel antara Jit-goat-siang-jio melawan Pa-ong-jio. Apa tidak ada penonton yang datang?"

"Yang datang banyak, tapi duel batal."

"Mengapa?"

"Karena Ong-toasiocia tidak datang."

Ting Si melenggong. Teng Ting-hou bertanya.

"Lalu orang-orang gagah dari Ngo-ho.u-kang?" ..

"Mereka mendengar Ong-toasiocia berduel dengan Kim-jio-ji, lalu beramai-ramai memburu datang ke Sin-hoa-jun."

Teng Ting-hou membungkuk badan.

"Mohon pamit."

"Kalian juga akan pergi ke Sin-hoa-jun?"

Tanya Hi Kiu. Teng Ting-hou mengangguk. Untuk ketiga kalinya sorot mata orang tua ini menampilkan rona nakal lagi licik.

"Setiba di sana, jangan lupa sampaikan salamku kepada Ang-sin-hoa si kembang harum. Katakan aku belum menganggapnya tua, sampai sekarang aku masih tetap menunggu kedatangannya." * * * * * Kereta itu berlari kencang, Hi Kiu berdiri di luar pintu, dengan senyum lebar melambai tangan memberi salam selamat jalan.

"Sebetulnya dulu aku pernah melihatnya,"

Demikian ucap Teng Ting-hou.

"Cuma malas aku bercengkerama dengannya."

"Mengapa?"

Tanya Ting Si.

"Selama ini kuanggap orang itu bebal, angkuh dan menyebalkan.tak nyana......."

"Tak nyana adalah seekor rase tua."

"Ya, seekor rase tua yang menyenangkan."

Ting Si mengangkat kedua kakinya, selonjor di antara tempat duduk didepannya yang kosong, mendadak seorang diri ia tertawa, makin keras, malah terpingkal-pingkal.

"Hal apa yang membuatmu geli?"

"Mendadak kuingat satu kejadian yang lucu menggelikan."

"Kejadian apa?"

"Kalau aku bisa menjodohkan bangkotan tua itu dengan Ang-sin-hoa, bukankah kejadian ini patut dibuat senang?"

"Kalau kau mampu merujuk perjodohan dua orang ini, akan kutraktir lima ratus meja perjamuan untukmu."

"Ah, yang benar,"

Seru Ting Si menegakkan badan.

"Kalau nenek.tua itu betul pergi mencari si tua bangkotan itu, anggaplah aku yang kalah."

"Setuju."

"Baik, aku juga setuju,"

Seru Teng Ting-hou, mestinya dalam hati ia maklum, Ting Si mampu memancing pertemuan kedua orang tua itu, Teng Ting-hou memang rela kalah.

Karena selama ini belum pemah melihat 'anak muda' seperti Hi Kiu dan Ang-sin-hoa yang sudah bangkotan.

Orang tua seperti mereka, berapa pun usianya, hati nuraninya akan tetap 'muda' sepanjang masa.

Maka adalah hak dan kewajiban mereka untuk menikmati hidup tenteram, bahagia dan senang.

Hakikatnya dalam hati kedua pemuda ini memang mengharap kedua orang tua itu dapat rukun dan bahagia di hari tua.

Teng Ting-hou maklum, di dunia ini kalau ada orang yang mampu membakar amarah cewek tua bawel unluk melabrak si rase tua, orang itu bukan lain pasti Ting Si.

* * * * * Mendadak Ang-sin-hoa berjingkrak dari kursi rotan, lompatannya hampir satu tombak tingginya, waktu badannya meluncur turun, tangannya sudah meraih baju-Ting Si, teriaknya keras.

"Apa? Apa katamu?"

Ting Si menyengir tawa.

"Bukan aku yang bilang, aku meniru ucapan si rase tua itu."

Melotot bola mata Ang-sin-hoa.

"Betul dia bilang aku takut padanya? Tak berani masuk ke kebunnya."

Dengan sikap penasaran seperti ingin membela Ang-sin-hoa, suaranya meninggi.

"Lebih menjengkelkan, berulangkali dia bilang selama. ini kau ingin menjadi bininya, tapi dia tolak."

Ang-sin-hoa berjingkrak pula.

"Coba jelaskan, dia yang tidak mau atau aku yang menolak dia?"

"Ya, tentu kau yang menolak dia,"

Seru Ting Si.

"Berapa duit kau bertaruh dengannya?"

Tanya Ang-sin-hoa.

"Aku tidak bertaruh."

"Lho, mengapa?"

Ting Si menghela napas.

"Karena aku mengerti urusan yang tiada bukti tanpa saksi begini, selamanya tidak mungkin dibikin jelas, maka kubiarkan saja dia menghibur diri, yang pasti aku sendiri tidak dirugikan."

Ang-sin-hoa mendelik, mendadak tangannya melayang menggampar pipi Ting Si, sekali raih ia banting sebuah poci arak, lalu menerjang keluar seperti kucing kesakitan karena ekornya terinjak.

Ting Si meraba pipi yang merah kena gambar, mulut menggumam.

"Kurasakan, kali ini dia betul marah."

"Kau melihat dia marah?"

Tanya Teng Ting-hou.

"Ya, aku yakin dia marah, hampir seratus kali aku kena gamparannya, tapi gamparan kali ini paling keras."

"Hanya karena menggampar lebih keras, bukti bahwa dia menaruh hati pada rase tua itu. Maklum dengan usianya yang sudah renta, kan malu kalau naik tandu pengantin."

"Komentarmu tepat,"

Seru Ting Si.

"Patut diberi hadiah."

Teng Ting-hou menghela napas.

"Awalnya kuanggap cara yang kau gunakan tidak manjur, kenyataan akalmu sungguh jitu."

"Jadi kau menyesal telah bertaruh denganku?"

Teng Ting-hou menyeringai.

"Kau kira aku sudah kalah dalam pertaruhan?"

"Kau kira belum kalah?"

"Kau tahu dan bisa buktikan kalau cewek pesolek.itu meluruk ke kebun Hi Kiu?"

"Sudah tentu aku tahu."

"Bekal tidak bawa, tanpa pesan tiada duit, mana berani dia pergi?"

"Ya, kalau tidak mau pergi, dibakar rumahnya pun ia akan tetap duduk di dalam sampai mampus hangus."

Sejak tadi Siau Ma setengah duduk di pinggir ranjang, tiba-tiba ia menimbrung.

"Kalau cewek tua itu ingin pergi ke suatu tempat, umpama harus telanjang pun dia langsung berangkat."

"Rupanya kau sudah kenal betul tabiatnya,"

Ujar Teng Ting-hou menahan geli.

"Betul. Dia tahu kalau aku tidak mau istirahat dalam tempo yang lama meski lukaku membusuk dan berulat sekalipun,"

Demikian gerutu Siau Ma, padahal sekujur badannya terbalut perban, kondisinya mirip kado yang dibungkus rapi siap dikirim kepada sang kekasih. Teng Ting-hou tertawa lebar.

"Untung selama ini kau tunduk dan patuh padanya, kalau lukamu betul busuk dan keluar belatung, rasanya lebih tersiksa daripada dipaksa tidur di ranjang."

Mengawasi Siau Ma yang terbungkus perban, sorot mata Ting Si seperti kolektor barang antik menikmati benda kuno, tapi sikapnya tampak serius, lalu dengan sikap aneh mendadak bertanya.

"Gak Ling dan Ban Thong, mengapa belum tiba disini?"

Siau Ma heran.

"Apa mereka juga akan datang?"

Ting Si mengangguk pelahan, pandangannya menjelajah sekitarnya, mirip anjing pelacak memburu buronannya.

"Apa yang kau cari?"

Tanya Siau Ma.

"Rase,"

Sahut Ting Si. Siau Ma bergelak tawa.tapi karena lukanya terasa sakit, tawanya ditahan, mimik mukanya menjadi lucu.

"Ada rase di dalam rumah ini?"

Tanya Teng Ting-hou.

"Mungkin,"

Sahut Ting Si.

"Bukankah rase tua berada di kebun keluarga Hi,"

Kata Teng Ting-hou.

"Rase muda mungkin ada di sini,"

Sahut Ting Si.

"Rasejantan atau betina?"

Tanya Teng Ting-hou.

"Sudah tentu betina."

Teng Ting-hou tertawa lebar.

"Brak, krompiang" , pada saat itulah suara gaduh berkumandang, seperti seorang sekaligus membanting piring, mangkukdan cawan. Kamar ini adalah kamar tidur pribadi Ang-sin-hoa, bagian depan adalah kedai dimana ia menjual arak. Siau Ma mengerut alis.

"Mungkin pelayan berlaku ceroboh, membuat tamu marah......"

Pelayan yang dimaksud adalah lelaki tua setengah tuli yang sudah renta, kalau ada kesempatan sering mencuri arak.

"Blarr, klontang" , suara gaduh kembali berkumandang di bagian luar, poci arak, piring dan mangkuk kembali dibanting hancur. Teng Ting-hou mengerut kening.

"Tabiat tamu ini kelihatannya memang buruk."

"Ya, tabiat Gak-lotoa biasanya memang berangasan, entah apakah dia yang datang?"

Belum habis bicara, Ting Si mendahului menerjang keluar.

Teng Ting-hou menyusul di belakangnya.

Mengawasi dua rekannya menerobos keluar pintu, Siau Ma hanya mengawasi, tiba-tiba menghela napas lega, seperti bebas dari himpitan yang berat.

Kejap lain seorang terdengar berkata di luar pintu.

"Lho, kau ternyata belum pergi?"

Suaranya serak rendah, yang bicara adalah Jit-gwat-siang-jio Gak Ling adanya. Seorang yang lain ikut berkata.

"Saking gelisah kami hampir sakit karena menunggumu, ternyata malah bersembunyi di sini minum arak."

Suara orang ini melengking tinggi, berbeda jauh dengan suara Gak Ling, siapa iagi kalau bukan, Hwe-tan-ping Tan Cun.

Bila Hwe-tan-ping dan Lik-te-hun-kim berkumpul ibarat bayangan mengikuti bentuknya, mereka berada di sini, maka Tio Tay-ping pasti juga ada di tempat itu.

"Mana Ban Thong?"

Itulah suara Ting Si. Ban Thong bernyali kecil, senang berkumpul dan tak mau ketinggalan, kalau tiga serangkai itu sudah datang, tak mungkin dia mau ditinggal.

"Kau mencarinya?"

Tanya Gak Ling.

"Ya,"

Sahut Ting Si. Dingin suara Gak Ling.

"Agaknya dia juga ingin mencarimu."

"Sekarang dia dimana?"

Tanya Ting Si.

"Tak jauh, di sekitar sini,"

Sahut Tan Cun.

"Kapan ada waktu, kami siap mengantarmu mencarinya,"

UjarTio Tay-ping.

Nada bicara tiga orang ini kedengaran ganjil, seperti menyembunyikan rahasia, entah ada muslihat apa.

Betulkah mereka bermaksud jahat terhadap Ting Si?

Siau Ma mengerut kening, dengan susah payah akhirnya ia merangkak berdiri, dari belakang sebuah tangan menahan pundaknya.

Jelas di rumah itu tiada orang lain, darimana datangnya tangan orang ini?

Mungkin keluar dari lemari pakaian di belakangnya?

Kelihatannya Siau Ma tahu kalau dalam lemari pakaian di kamar itu bersembunyi seorang, maka sedikitpun ia tidak merasa heran atau kaget, malah dengan suara lirih berkata.

"Lekas sembunyi, sebentar mereka pasti kembali."

"Tak mungkin,"

Suara orang itu juga lirih, kepalanya dekat di pinggir telinga Siau Ma.

"Ting Si ingin mencari Ban Thong, pasti pergi bersama mereka."

"Umpama benar mau mencari orang,"

Ucap Siau Ma.

"Pasti balik dulu memberitahu kepadaku."

"Kurasa tidak mungkin,"

Kata orang itu.

"Mengapa tidak mungkin?"

Tanya Siau Ma.

"Karena dia takut orang lain ikut masuk kemari, dia tak ingin orang lain melihat keadaanmu sekarang."

Belum Siau Ma menjawab, suara tinggi di luar berkata dengan nada tinggi.

"Baiklah."

"Kereta kuda di luar itu apakah milikmu?"

Tanya Gak Ling.

"Ya, pemberian seorang teman,"

Sahut Ting Si.

"Wah, teman barumu berkantong tebal, makanya kami dilupakan,"

Tan Cun menyindir dengan nada dingin.

"Punya teman berkantong tebal kan menguntungkan,"

Sela Tio Tay-ping.

"Sedikit banyak kita bisa pamer."

Sindir menyindir antar teman sudah jamak, yang pasti mereka pergi bersama Ting Si.

Ternyata tiga orang itu tiada yang bertanya siapa Teng Ting-hou.

Nama besar Sin-kun-siau-cu-kat memang terkenal, tapi kawanan begal atau para perampok jarang mengenalnya, apalagi pernah bertemu, tidak banyak jumlahnya.

Langkah orang banyak lekas sekali pergi jauh, di luar kini hanya pelayan tua tuli lagi renta itu, terdengar ia bergumam seorang diri.

"Kawanan berandal seperti mereka memang suka bertingkah, piring mangkuk dibanting seenaknya, memangnya tidak beli? Kurcaci, dirodok."

Kejap lain suara kereta bergerak, ringkik kuda makin jauh.

Siau Ma menggenggam kencang tangan halus yang menahan pundaknya, sepertinya mereka tak mau berpisah, segan berpisah.

Tujuh orang duduk dalam kabin kereta rasanya masih longgar, tapi Teng Ting-hou terdesak di pojok.

Karena dua orang yang duduk di sisinya bertubuh tambun, kepala besar, terutama yang bergaman kampak, pahanya segede pohon, bobotnya pasti lebih berat dari tubuh Tan Cun.

Dapat diduga bahwa orang ini pasti Tay-lik-sin.

Kelihatannya Teng Ting-hou sudah tertidur, padahal diam-diam ia mengamati orang-orang dalam kereta.

Terutama Gak Ling, seorang kalau diagulkan sebagai 'Lo-toa', atau ketua, tentu ada sebabnya.

Perawakan Gak-lotoa memang tidak tinggi gede, tapi pundaknya lebar, perutnya tidak gendut, maka pinggangnya kencang, kaki tangan tumbuh normal namun bertenaga, tiap kali menggerakkan tangan, kulit daging di balik bajunya kelihatan menonjol dan bergerak turun naik.

Wajahnya kaku, kulit badan coklat legam, alls tebal, hidung besar, matanya justru sipit, bola matanya berkilau.

Pandangan matanya penuh selidik lagi berwibawa, begitu naik kereta tak pernah beruiah, namun sikapnya kelihatan selalu siaga, siap adu pukulan dan tendangan dengan musuh.

Bukan saja buas lagi beringas, kelihatan orang ini punya kekuatan luar biasa.

Teng Tinghou memperhatikan tom-bak di tangan orang.

Telapak tangannya lebar, jarijemari besar lagi kasar.

Sejakdudukdi kereta, dua tangan ditaruh di atas lutut, kecuali jari kelingking, kuku jarijarinya dipotong rapi, setelah diperhatikan baru terlihat kukunya pendek karena selalu digigit dan digigit.

"Lahirnya orang ini dingin kaku, hatinya amat tenang dan tabah,"

Demikian penilaian Teng Tinghou, ia tahu seorang yang selalu menggigit kuku pasti punya pikiran ruwet, hati gundah dan tidak tenteram.

Sepasang tombak matahari dan rembulan ternyata tidak berada di tangannya, dua tombak itu dibungkus kantong sutra dihawa seorang yang menjadi pengikutnya.

Pembawa tombak ini juga seorang lelaki berbadan kekar, tampangnya kelihatan lebih garang dari Tay-lik-sin, orang ini duduk di depan Gak Ling, dengan rajin memegang sepasang tombak, kepala menunduk, pandangan matanya tidak pernah beraiih ke tempat lain.

Yang bernama Tan Cun ternyata lelaki bertubuh kurus kecil, tampangnya mirip pedagang keliling yang kurang makan dan selalu kehabisan modal.

Tak usah tertawa, orang melihatnya seperti tertawa.

Ting Si duduk di tengah diapit empat orang, pandangan mereka tak lepas dari gerak-gerik Ting Si.

Teng Ting-hou yang duduk di sebelahnya malah tidak diperhatikan.

Ting Si merasa tidak periu memperkenalkan mereka.

Dengan senyum lebar ia berkata.

"Kalian bukan ingin ke Sin-hoa-jun untuk minum arak, bukan?"

Gak Ling menarik muka.

"Kalau bukan ingin minum arak? Memangnya ingin kencan dengan nenek tua bangka itu?"

Ingin minum arak, tiada arak, jelas amarah bangkit, hati jengkel.

Dengan tertawa Ting Si membuka tutup sebuah peti di bawah tempat duduk, dari kotak kayu ia keluarkan seguci arak, setelah tutup guci dibuka, bau arak semerbak.

"Arak bagus,"

Tan Cun bersorak senang.

"Ting cilik memang makin royal,"seruTioTay-ping.

"Arak simpanannya dari Kanglam, seguci sepuluh tail perak, luar biasa."

Tan Cun tertawa.

"Siapa tahu arak ini pemberian entah Siocia darimana yang menaksir padanya."

"Peduli amat arak ini darimana,"

Suara Tay-lik-sin yang serak basah.

"Yang pasti dia mau keluarkan seguci untuk kita minum, sudahlah, tak usah menyindimya."

"Betui,"

Seru Gak Ling.

"Hayo minum."

Guci direbut, arak dituang ke dalam mulut dengan lahap. Tan Cun menghela napas.

"Araksebagus ini kapan bisa kita nikmati, Ban Thong pasti tak bisa mencicipi, bocah itu tak punya rezeki."

"Betul,"

Kata Ting Si.

"Aku sedang heran, mengapa hari ini dia tidak bersama kalian?"

"Waktu berangkat, dia masih tidur,"

Tan Cun menjelaskan.

"Dimana?"

"Di kelenteng Nikoh tak jauh di depan sana,"

Tan Cun menjelaskan.

"Kelenteng Nikoh?"

Tanya Ting Si heran.

"Mengapa tidur di kelenteng Nikoh?"

"Sebab Nikoh di kelenteng itu muda-muda, satu lebih cantikdari yang lain.."

"Nikoh juga dijadikan sasaran?"

Tanya Ting Si dengan menatap tajam muka Tan Cun.

"Memangnya kau lupa apa julukannya?"

Desis Tan Cun.

"Bu-khong-put-jip tiada lubang yang tidak masuk, seorang mungkin salah memilih nama, tapi julukan pasti tepat dan tidak akan salah."

Di antara lebatnya pepohonan di kejauhan sana tampak wuwungan sebuah kelenteng, cepat sekali kereta sudah berada di halaman depan kelenteng, tiga huruf berukir emas, 'Kwan-im-am', jelas kelenteng ini mengutamakan pemujaan Dewi Kwan Im.

Bila melanglang buana, dimana pun berada, di setiap pelosok pasti menemukan kuil Kwan Im yang dinamakan Kwan-im-am, demikian pula dimana saja bisa ditemukan kedai arak yang bernama Sin-hoa-jun.

Yang membuka pintu Kwan-im-am seorang Nikoh, tapi Nikoh yang membuka pintu bukan lagi muda apalagi jelita, karena Nikoh yang satu ini kelihatan lebih tua dibanding Ang-sin-hoa.

Maklum, seorang dewi rembulan, kalau usianya sudah kepala tujuh, pasti tidak cantik lagi.

Sekilas Ting Si melirik ke arah Tan Cun, lalu tertawa.

Tan Cun juga tertawa, suaranya direndahkan.

"Aku bilang yang satu lebih muda dari yang lain, yang muda lebih cantik dari yang tua, yang satu ini paling tua paling jelek, maka tugasnya membuka pintu."

Baca Juga: Si Rase Hitam 2

Baca Juga: Pendekar Pendekar Negeri Tayli 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert