Eps 3 Pukulan Si Kuda Binal - Gu Long
Baca online Pukulan Si Kuda Binal - Gu Long
Cersil Pukulan Si Kuda Binal - Gu Long.
"Yang paling muda macam apa?"
Tanya Ting Si.
"Yang paling muda tentu berada di kamar bersama Ban Thong."
"Sekarang masih di sana?"
Wajahnya menampilkan mimik lucu.
"Umpama ada orang mengusirnya dengan pukulan sapu, aku yakin dia tidak mau pergi."
Setelah menelusuri lorong panjang, kini mereka berada di pekarangan belakang, di sana tumbuh pohon beringin besar lagi rindang, di bawah pohon besar itu sebuah kamar keci!
tertutup rapat pintunya, keadaan di sini sunyi lelap.
"Apa Ban Thong ada di sini?"
"Ya, pasti."
"Kukira dia masih tidur nyenyak, seperti tak sadarkan diri saja."
"Ya, mirip orang mati."
Nikoh pengantar itu berjalan paling depan, pelahan ia mengetuk pintu, di balik pintu muncul seorang Nikoh dengan dua telapak tangan terangkap di depan dada, pelahan ia beranjak keluar.
Nikoh yang baru keluar memang lebih muda, paling sedikit delapan tahun Lebih muda dari Nikoh pembuka pintu.
Tapi Nikoh pembuka pintu usianya mungkin sudah Lebih tujuh puluh tahun.
"Nikoh ini yang paling muda?"
Tanya Ting Si.
"Kelihatannya dia yang paling muda,"
Sahut Tan Cun menyengir. Ting Si tertawa lucu Tan Cun menjelaskan.
"Kauanggap usianya sudah tua, tidak demikian buat Ban Thong."
"Lho, begitu?"
"Bagi Ban Thong, tua muda tiada beda, yang penting perempuan."
"Aneh?"
"Karena......."
Tan Cun tidak rnelanjutkan omongannya, karena Ting Si sudah melihat Ban Thong.
Ban Thong sudah mati.
* * * * * Cahaya dalam gubuk guram, sebuah peti mati ditaruh di bawah jendela, Ban Thong rebah dalam peti mati.
Baju yang dipakai, jubah warna biru dari kain sutra.
Baju sutra masih kelihatan bersih, tiada noda darah, badan juga tidak teriuka, tapi jiwanya melayang, mati cukup lama, kulit mukanya tampak kering menguning, raganya sudah kaku dingin.
Ting Si menarik napas panjang, katanya.
"Kapan dia menghembuskan napas terakhir?"
"Kemarin malam,"
Gak Ling menjawab.
"Mati karena apa?"
Tanya Ting Si.
"Kau sendiri tidak bisa melihatnya?"
"Ya, aku tidak tahu."
Gak Ling menyeringai dingin.
"Coba kau periksa dengan teliti lalu perhatikan dengan seksama."
Tan Cun menimbrung.
"Coba kau buka pakaiannya dan periksa badannya."
Ting Si bimbang sejenak, lalu mendorong daun jendela.
Cahaya terang menyinari mayat dalam peti mati.
Tampak oleh Ting Si, jubah di depan dada Ban Thong wamanya berubah dari wam.a aslinya yang biru tua, warna menguning mirip daun kering di musim kemarau yang rontok, layu dan membusuk.
"Masih belum kau temukan penyebab kematiannya?"
Tanya Gak Ling dingin.
Ting Si menggeieng kepala.
Sambil tertawa dingin tangan Gak Ling mendadak bergerak, menyusul segulung angin kencang menerpa, jubah biru di depan dada Ban Thong seperti diterjang angin terbang berhamburan, tampak dadanya yang kuning kering seperti dicap oleh besi yang membara, itulah luka pukuian yang mematikan.
Luka itu berwarna merah gosong, tiada darah, kulitnya juga tidak pecah atau mengelupas.
Ting Si menarik napas panjang.
"Kelihatannya ini pukuian tinju."
"Syukur kau sudah melihat jelas,"
Jengek Gak Ling dingin.
"Sekaii pukul mematikan,"
Demikian ucap Ting Si.
"Luar biasa pukuian tinju orang ini."
"Tenaga besartak berguna,"
Sela Tan Cun sinis.
"Pukuian ini dilandasi kepandaian khusus yang hebat."
Ting Si mengangguk tanda setuju.
"Kau pernah melihat ilmu pukuian apa itu?"
Tanya Tan Cun. • "Menurutmu?"
Ting Si ragu-ragu.
"Pukuian tinju dari goiongan mana saja, yang sekaii pukul mematikan, bekas pukulannya tidak akan menjadi merah gosong."
"Ya,betul,"ujarTingSi.
"Di kolong langit, hanya ada satu pukuian terkecuali,"
Tan Cun berlagak.
"Pukuian macam apa?"
Tanya Ting Si sinis..
"Siau-lim-sin-kun (pukuian sakti Siau-lim),"
Desis Tan Cun sambil menatapTing Si.
"Tanpa dijelaskan, kuyakin kau pasti tahu."
Lalu Tan Cun menambahkan dengan suara dingin.
"Coba kau periksa lebih teliti, apakah tulang dada Ban Thong patah?" ' "Tidak perlu kuperiksa, tulang dada Ban Thong tidak patah,"
Sahut Ting Si.
"Badannya terluka?"
"Juga tidak."
"Seorang terpukul mati, tulang tidak patah, kulit badan tidak luka, coba jelaskan, pukulan apa yang digunakan pembunuh itu?"
"Siau-lim-sin-kun,"
Sahut Ting Si pelahan.
"Banyak orang pernah meyakinkan Siau-lim-sin-kun, berapa banyak yang mampu melatih diri hingga tingkat setinggi itu?"
"Ya, hanya beberapa gelintir saja."
"Berapa yang kau maksud?"
"Mungkin......kurasa kurang dari lima orang."
"Siau-lim Hong-tiang jelas termasuk seorang di antaranya."
Ting Si memanggut.
"Ciangbunjin Siau-lim sekte selatan, juga termasuk di antaranya."
Ting Si memanggut lagi.
"Dua Tiang-lo pelindung kuil Siong-san Siau-lim termasuk tidak?"
"Ya, masuk hitungan."
"Ada seorang lagi, siapa menurut pendapatmu?"
Ting Si bungkam. Mendadak Tan Cun bergelak tertawa, pelahan badannya berputar ke arah Teng Ting-hou.
"Persoalan ini tidak kutanya kepadanya, aku tahu kau lebih jelas dari dia."
"Lebih jelas tentang apa?"
Tanya Teng Ting-hou..
"Kau tahu, kecuali empat Hwesio yang kusebut tadi, masih ada seorang lagi, siapa dia?"
"Mengapa aku harus tahu?"
Teng Ting-hou balas bertanya. Tan Cun menyengir lebar.
"Karena kau adalah orang kelima itu."
Tio Tay-ping menyela.
"Kecuali keempat padri agung Siau-lim itu, orang yang memiliki pukulan setaraf ini, jelas adalah Sin-kun-bu-tek Teng Ting-hou."
Tan Cun memanggut.
"Karena itu kita menarik kesimpulan, bahwa pembunuh Ban Thong tak lain adalah Teng Ting-hou."
Gak Ling menatap muka Ting Si, suaranya rendah.
"Sekarang ingin kutanya kepadamu, bukankah temanmu ini bernama Teng Ting-hou?"
Ting Si menghela napas gegetun, suaranya getir.
"Tanya langsung kepadanya, dia jauh lebih tahu dariku."
"Ada satu hal aku justru tidak tahu,"
Ucap Teng Ting-hou.
"Coba katakan,"
Sahut Gak Ling.
"Mengapa aku harus membunuh Ban Thong?"
"Justru kami yang harus bertanya kepadamu." ''Aku tidak bisa menjawab."
"Aku pun tidak bisa memberi keterangan."
Teng Ting-hou menyeringai pahit.
"Aku tidak habis mengerti, aku tidak punya alasan, mengapa harus membunuhnya."
"Tetapi kau sudah membunuhnya, maka kau harus mampus,"
Gak Ling mengancam dengan mengepal tinju. Teng Ting-hou bersikap tenang.
"Mengapa tidak kau pikir, mungkin bukan aku yang membunuhnya?"
"Tidak pernah, tidak perlu,"
Jengek Gak Ling. Teng Ting-hou menghela napas.
"Rupanya kau orang dungu yang tidak tahu aturan?"
"Kalau aku selalu pakai aturan, entah berapa kali aku mampus di tangan orang lain,"
Gak Ling berputar ke arah Ting Si, pertanyaannya bernada tinggi.
"Bukankah seiama ini aku memandangmu sebagai saudaraku sendiri?"
Ting Si mengangguk kepala.
"Kalau kau minum arak, selalu kubagi separoh untukmu. Bila dalam kantongku ada sepuluh tail perak, tentu kubagi lima tail perak untukmu, betul tidak?"
Ting Si mengangguk lagi. Gak Ling melotot beringas, semprotnya.
"Lalu sekarang kau berpihak kepada siapa? Coba katakan."
Ting Si rnenghela napas, ia tahu Gak Ling sudah memberi garis pilihan kepadanya.
Kalau bukan lawan tentu kawan, kalau bukan kau yang mampus, biaraku yang mati.
Manusia yang punya pekerjaan seperti mereka, mirip hewan yang hidup di tanah tegalan, selalu memiliki semboyan hidup yang khas dan sederhana.
Gak Ling tertawa dingin.
"Kalau kau ingin berpihak kepada musuh, banfulah dia membunuhku, aku tidak akan menyalahkanmu, aku tahu tidak sedikit di dunia ini manusia yang menjual teman karib sendiri demi kesenangan hidupnya, aku yakin bukan hanya kau saja yang pernah berbuat demikian."
Ting Si menatap Gak Ling sesaat lamanya, lalu berpaling ke arah Teng Ting-hou.
"Apakah begini saja, kami iantas membunuhnya?"
"Kalau dia berani kemari, tentu dia berani mati,"
Sahut Gak Ling tegas.
"Mengapa kalian tidak memberi kesempatan padanya untuk membela diri, biarlah dia menjelaskan?"
"Sejak kecil kau bergaul dengan kita, kapan kita pernah memberi kesempatan kepada lawan, peluang sedikitpun tidak akan kami berikan."
"Ya, aku tahu, karena kesempatan membela diri sering kali dimanfaatkan untuk melarikan diri."
"Tepat, agaknya kau belum pikun,"
Jengek Gak Ling.
"Hanya saja, bagaimana kalau kita keliru membunuh orang yang tidak bersalah?"
"Tidakjarang kita salah membunuh, bukan sekali ini kau membunuh orang?"
"Oleh karena itu, bila terfitnah dalam kasus ini, apa Iantas dia menerima kematiannya?"
"Tidak salah."
Ting Si tertawa lebar, dia berputar ke arah Teng Ting-hou, suaranya tenang dan kalem.
"Gelagatnya, kau harus menyerah, menerima kematianmu."
Teng Ting-hou hanya tertawa getir.
"Sayang kau meyakinkan pukulan sakti Siau-lim-pay, lebih baik kalau kau tidak bernama Teng Ting-hou."
"Hanya karena kebetulan, maka aku harus disalahkan?"
"Ya, salah besar."
"Maka aku harus mati di tangan mereka?"
"Cara apa yang kau pilih untuk berangkat ke alam baka?"
"Bagaimana menurut pendapatmu?"
Ting Si tertawa.
"Menurut pendapatku, lebih baik kau beli bantal besar lalu benturkan kepalamu biar pecah dan mampus seketika."
Sebelum habis mulutnya bicara, mendadak ia turun tangan, dengan pinggir telapak tangannya menebas leher Teng Ting-hou.
Itulah serangan mematikan, cara yang digunakan untuk menyerang ternyata mirip binatang buas, ganas, keji, dan telak, lawan tidak diberi kesempatan bertindak.
Menyapa lalu turun tangan, dalam pandangan orang-orang seperti Gak Ling, cara ini sudah terlalu basi, permainan anakanak, lucu dan terlalu rendah.
Kalau bukan kau yang mati, biar aku yang mampus.
Setiap orang hanya mati sekali.
Betapa cepat dan telak serangan yang dilancarkan Ting Si, ternyata Teng Ting-hou tak sampai berkelit.
Telapak tangan Ting Si sudah hampir menyentuh leher Teng Ting-hou, sorot mata Gak Ling sudah memantulkan rasa puas dan lega.
Bila suatu perkara dibereskan secara cepat dan mudah, jauh di luar dugaan, peduli kasus apa saja, bila dapat menyelesaikannya dengan cara yang tepat dan benar, tentu perkara itu dapat dibereskan dengan mudah dan lancar.
Di saat Gak Ling merasa puas melihat tindakan Ting Si, telapak tangan Ting Si mendadak berputar arah, kelima jarinya ditarik mundur, berbareng sikutnya menyodok ke belakang, dengan telak Hiat-to di tengah tulang rusuk Gak Ling disodoknya.
Sergapan yang sigap lagi tepat, Gak Ling tidak pernah siaga atau sempat melawan, badannya langsung roboh tak berkutik.
Pengawal Gak Ling yang raksasa itu menggerung murka, badannya yang segede kerbau itu menerjang maju seperti banteng mengamuk, sekali gentak ia robek kantong pembungkus tombak sambil merangsek dengan raungan keras.
Sementara Tan Gun dan Tio Tay-ping tanpa janji sudah melesat ke arah pintu hendak melarikan diri.
Sayang sekali gerak-gerik mereka tidak selincah lawannya, Ting Si dan Teng Ting-hou bergerak mendahului mereka, apalagi kepandaian mereka memang lebih tinggi, hanya tujuh jurus saja, empat orang itu sudah dibereskan seluruhnya.
Teng Ting-hou menarik napas panjang, senyum terkulum di ujung mulutnya.
"Agaknya aku tidak salah menilai dirimu."
"Kau tahu kalau aku tidak akan membunuhmu?"
Teng Ting-hou memanggut.
"Kalau kau salah menilai diriku?"
"Kalau penilaianku salah, tentu sekarang aku sudah mampus."
"Ya, aku kagum kepadamu, kau memang tabah."
Gak Ling menggeletak di tanah, Hiat-tonya tertotok, badannya tidak berkutik, namun bola matanya melotot gusar menatap mereka, sorot matanya memancarkan rasa dendam dan benci. Ting Si tersenyum lebar.
"Tak usah kau marah, bukan hanya aku seorang, banyak orang yang menjual kawan untuk kepentingan sendiri."
"Ya, betul, juga bukan yang terakhir,"
Teng Ting-hou berolok-olok.
"Kalian harus paham,"
Demikian kata Ting Si kepada Gak Ling dan kawan-kawannya yang bergelimpangan di tanah.
"Terpaksa aku harus berbuat demikian, karena aku tahu, Sin-kun-siaucu-kat Teng Tng-hou bukan pembunuh Ban Thong, sejak kemarin sore dia berada di sampingku."
Teng Ting-hou menimbrung.
"Memang aku pernah meyakinkan Siau-lim-sin-kun, tetapi aku tidak punya ilmu membagi tubuh, dari tempat jauh membunuh orang di sini."
"Sungguh sayang kalian tidak mau mendengar dan percaya penjelasanku, apa boleh buat terpaksa kalian istirahat di sini. Setelah aku berhasil melacak pembunuh Ban Thong, akan kubawa arak bagus untuk minta maaf dan pengampunan kepada kalian,"
Ting Si merasa risi ditatap sorot mata yang melotot gusar seperti itu, maka habis bicara ia tarik Teng Ting-hou meninggalkan tempat itu.
"Sekarang kita kemana?"
Tanya Teng Ting-hou setelah berada di luar.
"Mencari orang."
"Mencari Nikoh (biarawati) maksudmu?"
Tawar suara Ting Si.
"Biasanya seleraku tinggi terhadap Nikoh, peduli Nikoh gede atau cilik, tua atau muda, sama saja." * * * * * Kedua Nikoh tadi masih berdiri di pekarangan, melihat mereka keluar, bergegas kedua Nikoh ini menyingkir, tapi sudah terlambat. Sekali lompat Ting Si sudah berada di belakang mereka, sekali raih ia tangkap mereka satu tangan satu orang. Nikoh yang lebih tua menjadi lemas dan pucat saking kaget dan takut, suaranya gemetar.
"Usiaku sudah tujuh puluh tiga, kau......mengajak dia, usianya lebih muda, lebih pantas."
Ting Si tertawa lebar.
"Ternyata Nikoh juga mau menjual Nikoh."
"Nikoh juga manusia, malahan perempuan,"
Dengan senyum lebarTeng Ting-hou menepuk pundak Nikoh muda.
"Kau tidak usah takut, orang ini tidak akan melakukan perbuatan menakutkan, paling banyak hanya......"
Kuatir orang bicara tak senonoh, lekas Ting Si menukas.
"Paling banyak aku hanya tanya beberapa patah kata kepadamu."
Akhirnya Nikoh yang lebih muda ini mengangkat kepala melirik sekejap pada Ting Si, siapa pun sukar meraba, apa arti lirikannya, lega, beruntung atau kecewa?
Ting Si pura-pura tidak memperhatikan, setelah batuk dua kali, lalu menarik muka, suaranya kaku.
"Kapan orang dalam rumah itu kemari?"
"Kemarin tengah malam,"
Sahut Nikoh yang lebih muda.
"Berapa orang yang kemari?"
Nikoh itu mengangkat kelima jari tangannya, jari-jarinya tampak gemetar. Ting Si berkata.
"Empat orang hidup dan satu mayat?"
"Tidak, lima orang hidup,"
Sahut Nikoh yang muda itu. Nikoh usia lanjut menambahkan.
"Tapi waktu mereka keluar, kulihat hanya empat orang saja."
Bersinar bola mata Ting Si.
"Jadi masih ada seorang lagi, dimana dia?"
"Entahlah,"
Sahut Nikoh tua.
"Apa betul kau tidak tahu?"
Gertak Ting Si.
"Aku tahu, semalam mereka pergi ke Tok-te-bio yang berada di belakang sana,"
Sahut Nikoh tua.
"Siapa yang tinggal di sana?"
Tanya Ting Si.
"Tiada orang tinggal di sana, hanya ada sebuah kamar di bawah tanah,"
Nikoh tua menerangkan.. Bersinar bola mata Teng Ting-hou.
"Apa kau tahu, siapa orang yang tidak ikut keluar itu?"
Ting Si berkata.
"Pasti Siau-so-cin So Siau-poh."
"Orang macam apa dia?"
Tanya Teng Ting-hou.
"Seorang cerewet,"
Sahut Ting Si.
"Kalau kau ingin dia menyimpan rahasia, cara satu-satunya hanyalah......"
"Membunuhnya?"
Sambung Teng Ting-hou. Ting Si tertawa.
"Tapi kalau kau saudara iparnya, lalu apa yang kau lakukan terhadapnya?"
"Sudah tentu aku tidak akan membunuhnya, membunuh dia berarti membuat adik sendiri menjadi janda."
"Karena itu kau tidak membunuhnya?"
"Ya, terpaksa hanya menyekapnya di kamar bawah tanah."
"Siau-cu-kat memang tidak malu diagulkan sebagai Siau-cu-kat (si cerdik pandai)."
"Tapi Siau-cu-kat bukan saudara iparnya."
"Ya, tapi Gak Ling adalah saudara iparnya."
Teng Ting-hou menghela napas.
"Jika adik Gak Ling atau bininya berwatak seperti engkohnya, maka So Siau-poh pasti tidak bisa hidup tenteram, lebih baik mati saja daripada tersiksa."
Ting Si mengerut alis.
"Kau bukan iparnya, pembunuh itu jelas juga bukan."
"Oleh karena itu, setiap saat mungkin saja dia dibunuh supaya tidak cerewet."
"Jika kita masih ingin mendapat keterangan dari So Siau-poh, lekas berangkat ke To-te-bio di belakang sana."
Mengapa To-ie-bio dibangun di belakang Ni-koh-am?
Mengapa pula dalam To-te-bio ada kamar bawah tanah?
Mata Ting Si menyelidik, dengan seksama ia meneliti keadaan sekitarnya, tidak ketinggalan papan batu di bawah altar pun diperiksanya, mulutnya menggumam pula.
"Ni-koh-am ini dahulu dihuni seorang Nikoh muda cantik yang cabul, untuk melampiaskan nafsunya sengaja membangun To-te-bio ini." * * * * * Bersambung ke 6
"Mengapa harus membangun To-te-bio?"
"Dalam Ni-koh-am jelas tak leluasa bermain cinta dengan lelaki, mungkin dia jeri berbuat mesum di tempat suci, tapi lain di sini, kecuali sepi dan tersembunyi, jelas lebih leluasa untuk berbuat apa saja."
Teng Ting-hou tersenyum.
"Sengaja atau tidak agaknya tidak dapat mengelabuimu."
Ting Si tidak sungkan.
"Memang tidak sedikit persoalan yang kuketahui."
"Tentu kau juga tahu bahwa kau memilki ciri khusus, ciri yang dapat membuatmu bernasib jelek."
"Ciri apa, aku tidak tahu."
"Cirimu yang terbesar adalah otakmu terlalu pandai,"
Teng Ting-hou berolok-olok, dengan senyum lebardia menepuk pundak Ting Si.
"Perlu kuperingatkan padamu, apa salahnya kalau kau belajar kepada kura-kura tua itu. Suatu ketika kau boleh pura-pura pikun, supaya orang lain menganggap kau ini bodoh. Jika sudah demikian, kau akan sadar dan menemukan sesuatu yang belum pernah kau bayangkan sebelum ini, yaitu dunia ternyata jauh lebih menyenangkan, lebih mengesankan dari apa yang sudah kau saksikan sekarang." * * * * * Dalam To-te-bio memang ada kamar bawah tanah, letaknya tepat di bawah altar, di atas altar ada sebuah patung Dewa Bumi kecil dipuja dan disembahyangi. Mereka membongkar papan batu sebesar meja bundar yang menutupi sebuah lubang segi empat, lalu satu persatu melangkah ke bawah, udara lembab dan apek, terasa merangsang hidung, mereka merunduk sambil memicingkan mata dan menekan hidung. Setelah beberapa saat berada di kamar bawah tanah itu, pelahan mereka membuka lebarmata, pandangan pertama yang terlihat adalah sebuah ranjang. Luas kamar di bawah tanah ini sedang saja, kalau tak mau dibilang kecil, tapi ranjangnya cukup besar, hampir seluas ruangan, terhitung ranjang nomor satu dengan kasurempukdan kelambu yang mewah, kamar ini tidak kalah dibanding kamarpengantin putri keluarga kaya, hanya sayang sudah lama kamar ini tidak terawat dan ditempati orang, di depan ranjang ada sebuah meja dan dua buah kursi. Melihat keadaan kamar ini, Teng Ting-hou membatin.
"Dugaan bocah ini ternyata tidak keliru."
Dua hal memang sesuai dugaan Ting Si.
Dalam kamar bawah tanah ini memang betul ada sebuah ranjang, di atas ranjang betul seorang meringkuk dan orang ini betul adalah So Siau-poh.
Seperti bakcang, sekujur badan So Siau-poh terikat kencang tambang sebesar ibu jari, kedua tangannya terte-likung, matanya terpejam seperti tidur pulas, padahal waktu Ting Si berdua turun ke bawah menimbulkan suara cukup keras, patutnya orang ini mendengar kedatangan mereka, tapi kenyataan dia tetap memejamkan mata.
"Begitu pulas dia tidur, seperti mayat saja." ,"Ya, miripsekali."
Mencelos hati Ting Si, mendadak dia maju sambil mengulurtangan mencengkeram urat nadi di pergelangan tangan So Siau-poh yang tertelikung di belakang.
Mendadak kepala So Siau-poh bergerak, matanya terbuka sambil tersenyum lebar.
Ting Si menghela napas lega, geleng-geleng kepala sambil senyum getir.
"Apa kau kira permainanmu menyenangkan?"
"Entah sudah berapa kali kau berbohong, kalau hari ini aku dapat membuatmu gugup, lega dan impaslah sakit hatiku seiama ini,"
Demikian olok So Siau-poh riang.
"Agaknya kau tidak gugup?"
Tanya Ting Si.
"Soalnya aku tahu, aku tidak akan mati di sini,"
Ujar So Siau-poh tenang.
"Karena Gak Ling kakak iparmu dan kau suami adiknya, begitu?"
Kuncup senyum So Siau-poh, desisnya penuh ke-bencian.
"Justru karena aku punya iparseperti dirinya, maka aku tertimpa malang seperti ini."
"Jadi saudara iparmu itu yang menyekapmu di sini?"
"Yang membelenggu aku juga dia."
Ting Si tertawa geli, sindirnya.
"Apa di luar kau punya simpanan perempuan, atau kepergok iparmu waktu kau berada di sarang pelacur, maka dia merasa perlu mewakili adiknya menghajar adat kepadamu?"
"Memang kau tidak tahu kalau adiknya itu perempuan histeris, tulang sumsum lututku hampir habis diisap olehnya, mana aku masih punya tenaga untuk jajan di luar."
"Kalau tidak, tanpa suatu alasan, mengapa dia memperlakukan dirimu begini rupa?"
"Hanya setan yang tahu,"
So Siau-poh menggerutu penasaran. Ting Si mengedipkan mata, mendadak dia tertawa dingin.
"Aku tahu, karena kau yang membunuh Ban Thong."
"Kentut busuk,"
Teriak So Siau-poh, mendadak dia beringas.
"Waktu Ban Thong terbunuh, aku ada di dapur mencuri semangkuk sop buntut, begitu mendengar teriakannya baru aku lari keluar."
"Lalu?"
Desak Ting Si.
"Aku terlambat, bagaimana bentuk atau bayangan pembunuh itu tidak terlihat lagi olehku."
Bercahaya mata Ting Si.
"Pembunuh yang merenggut jiwa Ban Thong maksudmu?"
"Ya, pembunuh yang menerjang keluar jendela kamar Ban Thong."
"Kau tidak melihat bentuk tubuhnya secara persis, tapi bayangannya tentu sempat tertangkap oleh lensa matamu, betul tidak?"
"Ya, hanya samar-samarsaja,"sahut So Siau-poh.
"Bagaimana perawakan pembunuh itu?"
"Perawakannya tinggi, Ginkangnya amat hebat, hanya berkelebat sekali di depanku lantas lenyap tak keruan parannya.."
Berkilat mata Ting Si, dia menuding Teng Ting-hou.
"Seingatmu apakah perawakannya mirip dia?"
Dari kepala pandangan So Siau-poh turun ke kaki Teng Ting-hou, katanya sesaat kemudian.
"Sedikitpun tidak mirip, perawakan orang itu lebih tinggi kira-kira setengah kepala."
Ting Si menatap So Siau-poh, Teng Ting-hou juga balas mengawasi Ting Si, katanya kemudian.
"Kiang Sin dan Pek-li Tiang-ceng berperawakan tinggi."
"Sayang sekali,"
Demikian kata Ting Si.
"Kedua orang ini tidak patut dicurigai, karena yang seorang ada di Koan-gwa, yang lain sedang sakit hampir mati."
Bola mata Teng Ting-hou juga kemilau, katanya setelah menepekur sesaat.
"Orang yang ada di Koan-gwa kan bisa pulang, demikian pula orang juga bisa pura-pura sakit parah atau sekarat."
So Siau-poh mengawasi mereka, tanyanya heran.
"Soal apa lagi yang kalian bicarakan?"
Ting Si tertawa, katanya.
"Mengapa kau makin bodoh, kalau kau tidak tahu apa maksud pembicaraan kami, memangnya keuntungan orang lain yang diberikan padamu juga tidak kau rasakan?"
"Siapa memberi keuntungan kepadaku?"
Tanya So Siau-poh.
"Siapa lagi kalau bukan saudara iparmu."
So Siau-poh meronta sambil berteriak.
"Keparat itu membuatku begini, memangnya aku harus berterima kasih dan berhutang budi kepadanya malah?"
"Kau memang patut berterima kasih kepadanya, cukup setimpal kalau dia mau membunuhmu."
So Siau-poh berjingkat.
"Mengapa?"
Serunya terbelalak.
"Apa betul kau tidak tahu? Atau pura-pura pikun?"
"Sungguh aku bingung, aku tidak tahu apa yang kau maksud."
"Mengapa tidak lekas keluar bertanya kepadanya."
"Dimana dia sekarang?"
"Di luar, sedang mendampingi sesosok mayat dan tidur dengan dua Nikoh tua." * * * * * Magrib telah tiba. Keadaan pekarangan mulai gelap dan lembab, ternyata pelita juga tidak terpasang dalam rumah. Memang orang mati takkan peduii gelap atau terang, apakah dalam rumah harus ada lampu? Kalau seorang tertotok Hiat-tonya, umpama dia ingin melihat cahaya lampu juga takkan mampu berbuat apa-apa. So Siau-poh menggumam.
"Agaknya saudara iparku itu sedang dimabuk cinta, lampu juga lupa dinyalakan."
Ting Si tersenyum.
"Tidurnya pulas mirip orang mati."
Begitu mulutnya mengucap "orang mati".
Mendadak jantungnya melonjak, bagai kelinci yang kaget, tiba-tiba Ting Si melompat ke depan, menerjang ke pintu.
Kejap lain, keadaannya juga mirip orang mati, Ting Si berdiri kaku, sekujur tubuhnya basah oleh keringat dingin, bulu kuduk berdiri.
Ternyata tiada seorang pun yang masih hidup di rumah itu.
Sepasang Jit-gwat-siang-jio (sepasang tombak matahari dan rembulan) yang terbuat dari baja murni milik Gak Ling, ternyata patah menjadi empat, sepotong menancap di peti mati, dua potong menancap di atas belandar, sepotong lagi menancap di dada pemiliknya, namun kutungan ujung tombak itu bukan penyebab kematiannya, karena dadanya terpukul remuk hingga menimbulkan luka dalam yang amat parah, luka dalam oleh pukulan Siau-lim-sin-kun.
Luka bekas pukulan Tay-lik-kim-kong-ciang juga demikian.
Tan Cun dan Tio Tay-ping mati oleh tusukan pedang, sebilah pedang lencir tipis dan sempit.
Luka-luka di tengah aiis mereka lebarnya hanya tujuh mili.
Kaum persilatan tahu, hanya muridmurid Kiam-lam saja yang menggunakan pedang sempit dan tipis, lebarnya juga hanya satu senti dua mili saja, makin ke ujung makin sempit.
Makin sempit batang pedang, umumnya lebih sukar diyakinkan, kecuaii aliran Kiam-lam, kaum persilatan jarang menggunakan pedang sesempit itu.
Mengawasi mayat Gak Ling dan Ngo-hou, Teng Ting-hou menyengir kecut.
"Tampaknya kedua orang ini juga menjadi korban pukulan tinjuku."
Ting Si bungkam, dengan penuh perhatian ia mengawasi luka kecil di tengah kedua alis Tan Cun dan Tio Tay-ping. Teng Ting-hou mendekatinya.
"Siapakah pembunuh kedua orang ini?"
"Aku,"
Sahut Ting Si pendek.
"Engkau?"
Teng Ting-hou melongo.
Ting Si tertawa, mendadak ia berputar, begitu berdiri tegak, tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang pedang pendak berkilau, pedang dengan panjang satu kaki tiga dim, lebar batang pedang itu hanya tujuh mili.
Setelah melihat pedang pendak milik Ting Si, baru Teng Ting-hou meneliti luka-luka di jidat Tan Cun dan Tio Tay-ping, akhirnya ia paham duduknya perkara.
"Keparat itu membunuh orangorang ini untuk menyegel mulutnya, tapi kami berdua yang dijadikan kambing hitam."
"Ya, tidak kecil resiko yang harus kita pikul dalam kasus ini."
"Ban Thong dibunuhnya lebih dulu, !alu akulah yang difitnah, dengan maksud supaya kau membalas dendam kepadaku."
"Maka kau pun dijerumuskan dalam kasus pembunuhan ini."
"Ya, betapa pun kencang Gak Ling menguasai mulutnya, setelah mati tentu takkan membocorkan rahasia."
"Betul, karena itu, mulut Gak Ling juga harus disegel."
"Pergaulan Gak Ling amat luas, temannya banyak tersebar di berbagai penjuru, yang setia terhadapnya tidak terhitung jumlahnya, kalau mereka tahu kaulah yang membunuh Gak Ling, pasti mereka akan menuntut balas padamu."
"Kalau mereka memusuhi diriku, pasti juga mengincar jiwamu."
Tiba-tiba Ting Si menghela napas.
"Di sini kamu seperti anjing berebut tulang, saling cakar dan gigit, sementara pembunuh itu berpeluk tangan menonton dari tempat gelap, biia ada kesempatan akan memungut keuntungan pula." , Sejak masuk ke rumah ini, So Siau-poh berdiri terkesima di pojok sana, sekarang ia tidak tahan menekan perasaan.
"Siapakah pembunuh yang kalian bicarakan?"
"Seorang jenius. Seorang berbakat yang luar biasa,"
Ujar Ting Si.
"Jenius atau berbakat bagaimana?"tanya So Siau-poh tidak mengerti.
"Dia pandai meniru gaya tulisan orang lain, lihai menjiplak llmu silat orang lain, bukan saja mahir menggunakan Siu-tiong-kiam milikku ini, fernyata Siau-lim-sin-kun yang diyakinkan juga lihai, coba katakan, apakah orang ini tidak patut dianggap jenius?"
So Siau-poh menghela napas, katanya dengan gegetun.
"Pembunuh itu memang jenius kurcaci, pembunuh berbakat."
Seperti ingat sesuatu, mendadak ia bertanya.
"Mana Siau Ma?"
"Kami sedang mencarinya,"
Sahut Ting Si.
"Kami?Apa maksudmu?"tanya So Siau-poh.
"Maksudku kau harus ikut kami mencarinya,"
Ting Si menegaskan.
"Aku tidak mau ikut,"
Bantah So Siau-poh.
"Aku harus mengubur jenazah Gak Ling dan kawankawan, jelek-jelek dia adalah saudara iparku."
"Tidak bisa, tidak ada waktu lagi,"
Tegas suara Ting Si. So Siau-poh tertegun. 'Tidak bisa?"
Teriaknya penasaran.
"Ya, sejak sekarang, kemana aku pergi kau harus ikut,"
Ting Si menepuk pundak So S;au-poh, laiu berkata lagi dengan tersenyum.
"Mulai saat ini, kami menjadi saudara kandung yang tidak boleh berpisah lagi."
"He, apa kau tidak salah?"
Teriak So Siau-poh terbelalak.
"Aku bukan anak kecil, juga bukan perempuan yang selalu harus meladenimu."
"Anggaplah kau ini anak kecil yang lemah lembut, aku tertarik padamu."
"Mengapa aku harus seialu ikut dirimu?"
"Karena jiwamu harus dilindungi."
"Kau melindungiku?"
"Orang lain mampus tujuh kali aku boleh tidak peduli, hanya kau yang tidak boleh mati meski hanya sekali saja?"
Lama So Siau-poh menatapnya, lalu menghela napas panjang.
"Umpama kau membayangi diriku, kumohon jangan kau terlalu dekat denganku."
"Mengapa?"
Tanya Ting Si.
"Isteriku pasti cemburu kepadamu,"
Sahut So Siau-poh sambil mengedip mata..
* * * * * Mereka yang pernah ke Sin-hoa-jun pasti tahu dan kenal Lo-khu, tapi tiada orang tahu asal usulnya.
Orang tua yang sudah loyo dimakan usia, pemalas dan tidak mau mencari uang, kerjanya minum arak melulu.
Banyak orang tahu bagaimana watak Ong-sin-hoa, bila di rumahnya ada Iaki-laki tua pemalas seperti Lo-khu ini, bukan saja tidak mengusirnya, Ang-sinhoa malah meladeninya seperti suami sendiri, memberi makan minum.
Celakanya, bila iaki-laki kerempeng ini mabuk, Ang-sin-hoa tidak terpandang lagi olehnya, duduktegak menepuk dada, seolah dirinya pahlawan gagah, mulutnya mengomei panjang pendek, bahwa dirinya terpaksa tinggal di warung arak ini untuk menyembunyikan nama dan asal-usulnya, tidak mau turut campur persoaian duniapersilatan.
Konon Iaki-laki tua ini pemah meyakinkan llmu silat, pemah menjadi tentara, berperang di medan laga.
Bila mabuk dia berkaok-kaok memberi perintah dan membentak bawahan serta menggebrak meja, sebagaimana seorang jenderal layaknya.
Saat itu Lo-khu memang sedang berlagak seperti panglima besar.
Sebaliknya Ting Si berdiri di depannya bak seorang tentara, anak buahnya yang keroco.
Sudah satu jam lebih Ting Si berada di warung itu, sikap orang tua ini tetap acuh tak acuh, seenaknya saja tangannya menudingnya sambil berkata keras.
"Duduk!"
Kalau jenderal ada perintah, anak buah harus patuh, maka Ting Si pun duduk. Lo-khu menuding poci arak di depannya.
"Minum!"
Suaranya sumbang dan pendek.
Maka Ting Si pun minum.
Dia memang perlu minum, harus minum, syukur dapat minum delapan puluh atau seratus cawan, dia kuatir dirinya bisa gila karena marah.
Waktu Ting Si bertiga tiba di Sin-hoa-jun, Siau Ma sudah pergi, bayangannya sudah tidak kelihatan, perban yang membungkus tubuhnya tertumpuk di pinggir ranjang.
Melihat sikap panglima besar Lo-khu itu, Ting Si tahu bertanya kepada orang yang lagi mabuk ini juga takkan mendapat jawaban.
Tapi keadaan mendesak maka dia bertanya.
"Siau Ma dimana?"
"Apa kuda kecil (Siau Ma)?"
Panglima besar ini terlongong sesaat lamanya, pandangan kosong lurus ke depan.
"Kuda-kuda dikerahkan ke medan perang, kuda besar atau kuda kecil semua dikerahkan untuk perang."
Mendadak Lo-khu menggebrak meja, teriaknya lantang.
"Nan dengarkan, tambur perang sudah berdentam, tulang belulang manusia bertumpuk bagai gunung, darah mengalir seperti sungai, aku justru duduk di sini minum arak, sungguh memalukan, sungguh memalukan."
Teng Ting-hou dan So Siau-poh melongo sejak tadi, hati merasa geli dan ingin tertawa, tapi tak bisa tertawa.
Sebaliknya Ting Si sudah biasa menyaksikan tingkah lakunya yang aneh dan lucu seperti orang edan.
Mendadak Lo-khu berjingkrak gusar, matanya melotot ke arah mereka, wajahnya beringas.
"Kalian mendapat gaji negara, makan budi pemerintah, masih muda dan gagah kuat, tidak lekas ke medan laga mendarma baktikan tenagamu untuk nusa dan bangsa, untuk apa kalian berdiri di sini?"
"Situasi amat genting dan gawat, kita sudah kaiah tenaga dan perbekalan habis, senjata juga tidak iengkap, kita kemari untuk mencari bantuan,"
Demikian Ting Si menyeletuk dari pinggir.
"Mencari bantuan apa?"
Tanya Lo-khu.
"Ada tentara yang merawat luka-lukanya di garis belakang. Luka-lukanya sekarang tentu sudah sembuh, maka dia harus ditarik ke garis depan lagi,"
Ujar Ting Si. Lo-khu menepekur sesaat lamanya, akhirnya dia memanggut.
"Betul, masuk akal, seorang lakilaki asal dia masih bisa bernapas, maka dia harus mempertaruhkan jiwa raganya di medan perang."
Ting Si menghela napas.
"Sayang sekali, tentara yang luka itu sudah menghilang entah kemana?"
Lo-khu terpekur lagi sekian lama, seperti sedang mengingat, akhirnya dia berjingkrak girang.
"Apakah wakil panglima yang kau maksud?"
"Ya, betul,"
Seru Ting Si bertepuk tangan.
"Dia sudah berangkat bersama Nio Ang-giok."
"NioAng-giok?"
"Memangnya kau tidak kenal Nio Ang-giok?"
Panglima besar kerempeng ini kelihatan marah.
"Meski perempuan dia sungguh gagah perkasa, entah betapa hebat dan kuat dibanding kalian yang penakut ini, apa kalian tidak malu?"
Makin bicara emosinya makin membara, mendadak ia menyambar cawan arak terus dilempar ke arah Ting Si, untung Ting Si sudah siaga dan menyingkir sebelum kena timpuk.
Gerak-gerik Teng Ting-hou dan So Siau-poh juga tidak lambat, sekali lompat mereka sudah berlari keluar pintu.
Setelah berada di luar, taktahan lagi mereka menahan geli, terpingkal-pingkal sampai memeluk perut.
Tapi rona muka Ting Si mirip tukang kredit tidak berhasil menagih hutang dari tiga ratus langganannya, wajahnya kaku membesi.
So Siau-poh melihat keganjilan rona mukanya.
"Mengapa kau marah? Marah kepada siapa?"
Tanyanya.
"Kepada NioAng-giok tentunya,"
Ujar Teng Ting-hou.. So Siau-poh membantah.
"Ting Si kan bukan Han Si-tiong (panglima besar di zaman Gak Hui), umpama benar NioAng-giok (isteri Han Si-tiong) minggat bersama Siau Ma, apa alasannya marah-marah?"
"Tapi NioAng-giok yang satu ini bukan bini Han Si-tiong."
"O, memangnya siapa dia?"
"Siapa lagi kalau bukan genduk Ong-toasiocia."
So Siau-poh keheranan.
"Ong-toasiocia pewaris Pa-ong-jio itu?"
Teng Ting-hou memanggut.
"Dia tidak suka kepada Ong-toasiocia, sudah selayaknya dia juga tak senang Nio Ang-giok."
"Tapi kenyataan Siau Ma minggat bersama NioAng-giok."
"Makanya dia marah."
"Siau Ma mencintai perempuan itu, mengapa dia tidak senang? Mengapa dia harus marah?"
"Lho, masa kau tidak tahu, sejak dilahirkan, bocah ini memang suka mencampuri unjsan orang lain."
Kereta kuda masih menunggu di luar. Sais kereta adalah seorang pemuda yang dipanggil Siaushoa-tang, walau "
Wataknya buruk, tapi kalau bekerja tidak pernah lalai, sejak datang tadi dia masih setia dan sabar menunggu di kereta, setengah langkah saja tidak pernah meninggalkan keretanya.
"Sekarang kita harus kemana?"
Tanya So Siau-poh.
Ting Si tetap merengut.
Mendadak dia turun tangan, sekali renggut dia menjinjing sais kereta itu dan diseretnya turun.
Bukan tanpa alasan Ting Si bertindak secara kasar begitu.
Setelah Ting Si turun tangan baru Teng Ting-hou sadar dan meiihat jelas perbedaannya, sais kereta-yang satu ini ternyata bukan Siau-shoa-tang yang tadi.
"Siapa kau?"
Bentak Ting Si.
"Aku bernama Toa-the, seorang kusir kereta"
"Siau-shoa-tang dimana?"
"Setelah kuberi tiga ratus tail perak, dia masuk kota, mungkin sekarang sedang memeluk perempuan "
Ting Si menyeringai.
"Kau menggantikan dia menjadi kusir, membayarnya tiga ratus tail lagi, memangnya kau ini bapaknya?"
"Yang terang, tiga ratus tail perak itu bukan milikku, aku hanya menjalankan tugas saja."
"Siapa yang memberi duit kepadamu?"
"Aku disuruh Han-ciangkui pemilik Cong-goan-lau di kota, tugasku mengundang kalian ke Conggoan-lau untuk makan minum."
Ting Si melirik ke arah So Siau-poh. Yang dilirik segera bersuara.
"Aku tidak kenal Han-ciangkui."
Ting Si menoleh ke arah Teng Ting-hou. Teng Ting-hou berkata.
"Aku hanya tahu ada dua orang she Han, yaitu Han Si-tong dan Han Sin."
Tanpa bicara sepatah kata pun, Ting Si melepaskan Toa-the terus naik kereta.
"Apa betul kita akan ke Cong-goan-lau?"
"Ya, ke Cong-goan-lau."
Setiba di Cong-goan-lau, rona muka Ting Si berubah pula.
Mimik mukanya seperti ketiban sekerat daging dari langit yang tepat mengenai hidungnya, sungguh mimpi pun mereka tidak menduga, orang yang mengundang mereka dengan merogoh tiga ratus tail perak, tak lain tak bukan adalah Ong-toasiocia yang dua hari lalu pernah menghujani anak panah kepada mereka.
Hari ini Ong-toasiocia berganti rupa dan gaya, berubah watak, bukan nona galak yang matanya tumbuh di atas kepala, bukan nona pingitan yang menganggap laki-laki di dunia ini kura-kura.
Juga bukan perempuan yang suka meluruk kemana-mana dengan tombak besi menantang duel orang..
Hanya pakaiannya saja yang tidak berubah, pakaian serba putih yang anggun, bukan pakaian model ketat peranti berkelahi, tapi berpakaian secara luwes, dengan gaun panjang baju longgar, terbuat dari kain sari dan sutra, ringan dan lembut, ikat pinggang warna jingga yang memperlihatkan betapa ramping tubuhnya.
Wajahnya tidak bersolek, tidak disentuh bahan-bahan rias, tapi hanya dilapisi pupur tipis yang harum, bola matanya yang bundar jeli tidak lagi memancarkan cahaya tajam membuat laki-laki mengkirik, bila bola matanya mengawasi orang, wajahnya selalu mengulum senyum lembut dan ra-mah.
Perempuan memang harus mirip perempuan.
Setiap perempuan pandai harus tahu, kalau ingin menundukkan lelaki, jangan menggunakan tombak, tapi gunakan senyum yang menggiurkan, senyum yang memikat adalah senjata ampuh setiap perempuan.
Demikian halnya dengan Ongtoasiocia sekarang, gagal menundukkan lelaki dengan ujung tombak warisan bapaknya, kini dia menyiapkan pula senjatanya yang ampuh, yaitu senyum lebar yang manis, ramah dan anggun, entah siapa yang hendak dia tundukkan?
Teng Ting-hou menatap lekat.
Mendadak terbersit di relung hatinya, bahwa Ong-toasiocia sekarang kelihatan lebih cantik dari yang pernah ia bayangkan dulu, gadis ini memang pintar dan cerdik.
Oleh karena itu, bila dia menoleh ke arah Ting Si, mimiknya mirip orang menonton ikan yang sudah hampir terpancing.
Sebaliknya sikap Ting Si justru mirip kucing yang mendadak terinjak ekornya, dengan muka dan suara kaku ia menegur.
"O, kiranya kau?"
Dengan senyum anggun Ong-toasiocia menganggukkan kepala. Dingin suara Ting Si.
"Kalau Ong-toasiocia ingin mengundang kami, dimana saja boleh menggali lubang untuk menjebak kami, mengapa harus membuang ongkos segala?"
Ramah dan lembut suara Ong-toasiocia.
"Justru lantaran kejadian tempo hari, hatiku merasa kurang enak, maka hari ini sengaja kuundang kalian untuk minta maaf. Akan kujelaskan mengapa aku terpaksa bertindak sejauh itu."
"Soal apa yang akan kau jelaskan?"
Tanya Ting Si kaku.
Ong-toasiocia tidak menjawab langsung pertanyaan Ting Si, pelahan ia menyingsing lengan baju, dengan jari jemarinya yang runcing panjang, ia mengangkat poci arak lalu mengisi cawan So Siau-poh.
"Tuan ini adalah......."
"Aku yang rendah she So, bernama Siau-poh."
"O, jadi tuan adalah Siau-so-cin dari Ngo-hou-kang"
"Betul, aku yang rendah memang Siau-so-cin."
"Hari itu aku tidak bisa hadir di rumah keluarga Hi, sesungguhnya memang ada kesulitan pribadi yang tidak bisa kujelaskan, harap dimaafkan."
So Siau-poh tertawa.
"Kaiau aku berperan sebagai dirimu, aku pun takkan datang."
"Lho, kenapa?"
"Perempuan cantik selembut Ong-toasiocia, buat apa main senjata dengan lelaki kasar seperti kami, cukup Ong-toasiocia tersenyum manis dan bicara dengan lembut, aku berani bertaruh, sembilan di antara sepuluh lelaki yang menghadapimu akan bertekuk lutut di hadapanmu."
Ong-toasiocia tertawa sambil menutup mulut dengan lengan bajunya.
"So-siansing pandai bicara, tidak malu dijuluki Siau-so-cin."
Ting Si menyeletuk dingin.
"Kalau dia tidak pandai bicara, Ji-siocia dari keluarga Gak mana mungkin kecantol dan mau menjadi isterinya?"
Berputar bola mata Ong-toasiocia.
"Sejak lama kudengar bahwa nona Gak adalah wanita cantik yang terkenal di Kangouw."
So Siau-poh menghela napas.
"Ya, tapi dia juga terkenal sebagai macan betina."
"Kalau demikian,"
Ucap Ong-toasiocia.
"Kuanjurkan lekas So-siansing pulang saja. Jangan biarkan isterimu mengharap-harap dan menunggu terlalu lama di rumah."
Dengan tertawa lebar ia mengangkat cawan lalu meneguk habis isinya.
"Setelah kuhaturkan secawan arak ini, kuharap So-siansing segera pulang."
Walau lembut dan ramah sikapnya bicara, bagi orang yang berpikiran normal tentu merasa secara tidak langsung nona jelita ini tengah mengusir orang dengan halus.
So Siau-poh bukan orang bodoh, otaknya juga encer, tidak linglung.
Sekilas ia menatap Ongtoasiocia lalu melirik ke arah Ting Si, katanya dengan tawa getir.
"Sebetulnya aku sudah kangen pada isteriku, sayang aku tidak boleh pulang."
"Sekarang orang itu sudah berubah sikap, kau boleh pulang,"
Ujar Ting Si kalem. So Siau-poh mengedip mata.
"Mengapa dia berubah sikap?"
"Karena dia ingin mendengar penjelasan Ong-toasio-cia."
So Slau-poh menenggak habis araknya, begitu cawan diletakkan di meja, segera ia angkat langkah dari tempat itu.
"Man kita pergi bersama,"
Mendadak Teng Ting-hou ikut berdiri.
"Kau?"
So Siau-poh heran. Teng Ting-hou tertawa.
"Di rumah ada seekor macan betina sedang menunggu aku, apa tidak pantas kalau aku segera pulang?"
"Tidak betul,"
Tiba tiba Ting Si menyeletuk.
"Lho, mengapa tidak betul?"
Tanya Teng Ting-hou.
"Kau dan aku terbelenggu oleh tambang panjang, jika ikatan tambang itu terlepas, kau atau aku jangan harap bisa keluar dari sini."
Teng Ting-hou meninggikan suara berkata sambil bertolak pinggang.
"Pembunuh berbakat yang membunuh Ban Thong itu mirip diriku tidak?"
"Sedikitpun tidak mirip,"
Sahut So Siau-poh.
"Bukankah perawakannya lebih tinggi dariku?"
Tanya Teng Ting-hou.
"Ya, Lebih tinggi setengah kepala."
"Apa kau tidak salah lihat?"
"Yakin tidak. Mataku belum lamur."
Pelahan-TengTing-hou duduk lagi di kursinya.
"Sekarang apa aku boleh pergi?"
Tanya So Siau-poh. Teng Ting-hou memanggut.
"Boleh, tapi kau harus hati-hati menjaga dirimu."
So Siau-poh tertawa.
"Ya, kepalaku hanya satu, jiwaku juga tidak rangkap, jelas aku akan berlaku hati-hati, aku ingin hidup seribu tahun."
Waktu melangkah keluar dada dibusungkan, seperti tawanan yang lama disekap di penjara, setelah bebas, hati menjadi riang, enteng dan lega, seolah-olah tidak kuatir dibokong seorang dari belakang.
Sambil memicingkan mata Ting Si memperhatikan gerak-geriknya yang melangkah keluar, bola matanya makin membelalak, sorot matanya menampilkan mimik aneh, seperti ingin cepat mengejarnya.
Sayang saat itu Ong-toasiocia sudah mulai bicara sehingga terpaksa tetap duduk di kursinya.
"Aku yakin kau pasti merasa heran, mengapa aku ingin tahu dimana kau berada pada tanggal 13 bulan 5 yang lalu, betul tidak?"
"Ya, aku tidak mengerti.."
"Kau tidak mengerti, mengapa aku mengusut perkara di tanggal itu?"
"Ya, coba jelaskan."
"Tanggal 13 adalah hari yang istimewa,"
Ong-toasio-cia mengangkat cawan araknya, sebelum minum pelahan dia meletakkan pula cawannya, bola matanya yang jeli dan bening mendadak berubah guram seperti berselaput.
Cukup lama baru Ong-toasiocia melanjutkan.
"Ayahku meninggal pada tanggal 13, mati secara mengenaskan, kematiannya yang aneh dan amat mencurigakan."
"Aneh dan mencurigakan bagaimana?"
Teng Ting-hou bertanya.
"Pada zaman dulu hingga sekarang, tombak adalah senjata panjang, gaman seorang panglima perang di medan laga, senjata ampuh dan lihai untuk bertempur jarak jauh di atas kuda. Tokoh silat yang bersenjata tombak di kalangan Kangouw tidak banyak jumlahnya, apalagi yang terkenal sebagai tokoh kosen yang tidak terkalahkan, boleh dikata jarang sekali."
Teng Ting-hou sependapat.
"Menurut apa yang aku tahu, ada tiga belas jago kosen yang terkenal di Bulim bersenjata tombak panjang."
"Di antara tiga beias jago kosen itu, iimu tombak ayahku termasuk urutan keberapa?"
"Nomor satu"
Sahut Teng Ting-hou tanpa pikir, bukan memuji dan bukan tanpa alasan ia berkata demikian.
"Selama tiga puluh tahun, jago siiat yang bersenjata tombak di Kangouw, belum ada yang mampu mengalahkan dia."
"Kenyataannya ayah mati di ujung tombak lawan."
Teng Ting-hou melongo, agak lama baru dia menghela napas.
"Mati di bawah tombak siapa?"
"Entah, aku tidak tahu,"
Sahut Ong-toasiocia, dia mengangkat cawan, tapi diletakkan lagi, jarijarinya tampak gemetar.
"Malam itu sudah larut, biasanya aku tidur pagi-pagi, waktu mendengarjeritan ngeri beliau ditengah malam, aku terjaga dengan kaget dan gelagapan."
"Waktu kau memburu ke kamar ayahmu, pembunuh itu sudah tidak kelihatan?"
Tanya Teng Tinghou. Sesaat Ong-toasiocia menggigit bibir.
"Aku sempat melihat sesosok bayangan melompat keluar dari jendela belakang kamar buku ayah."
"Apakah perawakan bayangan itu tinggi?"
Tanya Teng Ting-hou pula. Mata Ong-toasiocia berkedip-kedip, sesaat bimbang, akhirnya mengangguk kepala.
"Ginkangnya amat tinggi."
"Maka kau tidak mengejarnya?"
"Ginkangku belum sempuma, umpama kukejar juga tidak akan kecandak, apalagi aku harus menolong ayah."
"Waktu itu, gejala apa yang mencurigakan?"
Ong-toasiocia menunduk sambil berpikir.
"Waktu aku masuk kamar buku, ayah sudah rebah dalam genangan darah......"
Wajahnya menjadi pucat, bola matanya terbelalak, memancarkan rasa kaget saat membayangkan sesuatu yang mengerikan.
Terbayang olehnya keadaan sang ayah pada waktu itu, matanya melotot gusar, heran dan kaget, seperti tidak percaya bahwa dirinya mati di ujung tombak lawan, orang yang sudah dikenalnya dengan baik.
"Tombak emas ayah tergeletak di lantai, sementara kedua tangannya memegang kutungan tombak yang berlepotan darah, darah yang masih segar."
"Apakah kutungan tombak itu masih kau simpan?"
Pelahan Ong-toasiocia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil panjang dari lengan bajunya, dengan kalem ia membuka bungkusan kain putih itu.
Tombak mengkilap itu terbuat dari baja murni, tapi gagang tombak terbuat dari rotan biasa, bagian yang putus tidak rata, agaknya begitu tombak menusukdi badannya yang fatal, baru terpegang oleh sang korban, waktu terjadi adu kekuatan karena saling betot, gagang tombak menjadi patah.
Teng Ting-hou mengerut kening.
Tombak itu bermutu rendah, tiada sesuatu yang istimewa pada kutungan tombak ini, tombak seperti itu dapat dibeli di setiap toko senjata dimana saja.
"Sejak umur delapan aku mulai belajar ilmu tombak, orang-orang yang meyakinkan ilmu tombak dalam Piau-kiok kami juga tidak sedikit, tapi dari ujung tombak yang patah ini, kami tidak berhasil menemukan bahan untuk membuat penyelidikan."
"Dengan Pa-ong-jio peninggalan ayahmu, kau menantang duel tokoh-tokoh siiat kosen yang bersenjata tombak, maksudmu ingin tahu ilmu tombak siapa yang lebih tinggi dari kemampuan ayahmu?"
Ong-toasiocia menunduk sambil menghela napas.
"Akhirnya aku sadar, cara yang kutempuh tidak baik, maklum aku sudah kehabisan akal, aku tidak tahu dengan cara apa aku harus menemukan jejak musuh."
"Setelah kau menyaksikan permainan Ting Si, kau curiga dialah pembunuh ayahmu. Maka kau mengancam dan minta keterangannya, dimana dirinya berada pada tanggal 13 bulan 5 yang lalu?"
Makin rendah kepala Ong-toasiocia menunduk, mulutnya terkancing. Teng Ting-hou menghela napas.
"llmu tombaknya rnemang tinggi, aku berani bertaruh jago kosen yang bersenjata tombak di Bulim sekarang, jarang ada yang bisa mengalahkannya, aku juga berani tanggung bukan dia yang membunuh ayahmu."
"Aku sudah tahu, maka......maka aku......."
"Biasanya ayahmu tidur setelah larut malam?"
Mendadak Ting Si menukas. Ong-toasiocia menggeleng kepala.
"Ayah berpegang teguh pada tata kehidupan, pagi-pagi sudah bangun, naik ranjang sebelum jam delapan malam."
"Apa betul peristiwa itu terjadi setelah larut malam?"
"Waktu itu sudah lewat kentongan ketiga."
"Biasanya tidur pagi-pagi, tapi malam itu justru tidur hingga Iarut malam. Untuk apa dia berada di kamar buku?"
Ong-toasiocia mengerut kening, agaknya hal ini tidak pernah terpikir olehnya.
"Ya, sekarang baru aku ingat, malam itu beliau kelihatan berbeda dari biasanya."
"Seorang tua yang sudah biasa tidur sore dan bangun pagi-pagi, mengapa harus melanggar kebiasaan?"
Ong-toasiocia mengangkat kepala mengawasi, bola matanya memancarkan sinar terang.
"Apa bukan lantaran dia tahu malam itu dirinya akan kedatangan tamu, maka dia menunggu di kamar buku?"
"Waktu aku masuk ke kamar buku, memang ada dua pasang sumpit dan dua cawan, sekedar hidangan ringan di atas meja."
"Kau seperti melihat? Atau melihat secara nyata?"
"Waktu itu aku bingung, gugup dan takut, keadaan kamar buku tidak sempat kuperhatikan,"
Sahut Ong-toa-siocia. Ting Si menghela napas panjang, cawan arak diambil lalu pelahan menghirup isinya hingga habis. Mendadak ia bertanya.
"Pa-ong-jio milik ayahmu, apakah selalu disimpan di kamar buku?"
"Ya, selalu disana."
"Jadi bukan lantaran ada tamu, maka dia menyiapkan senjatanya di sana?"
"Ya, begitulah."
"Tapi dia menyiapkan hidangan dan arak."
Tiba-tiba Ong-toasiocia berdiri.
"Sekarang kuingat, malam itu waktu aku masuk ke kamar buku, memang betul ada sepasang sumpit dan dua cawan di atas meja."
"Tadi kau bilang tidak memperhatikan keadaan kamar buku, sekarang kau bilang mendadak ingat?"
"Semula aku memang tak memperhatikan, belakangan pembantu ayah ada yang mencekoki aku secawan arak waktu hampir semaput. Dalam keadaan seperti itu sudah tentu aku tidak memperhatikan keadaan."
Ting Si menepekur sesaat lamanya, suasana hening.
"Berapa luas kamar buku itu?"
Tanya Ting Si kemudian.
"Besarsih tidak, kira-kira empat kali lima meter."
"Umpama kamar buku itu amat luas, kalau ada orang berhantam dengan tombak panjang di sana, keadaan tentu porak poranda, perabot tentu tidak sedikit yang hancur."
"Akan tetapi......"
"Waktu kau masuk kamar, piring, mangkuk, poci dan sumpit serta cawan masih rapi di atas meja?"
"Betul,"
Tegas jawaban Ong-toasiocia.
"Ujung tombak ini hanya kutungan saja, gagang tombak mungkin setombak lebih panjangnya, tapi juga mungkin hanya satu dua kaki saja."
"Oleh karena itu......"
"Pembunuh ayahmu belum tentu seorang kosen yang bersenjata tombak, apalagi terkenai, tapi aku yakin pembunuh itu pasti kenalan atau sahabat ayahmu."
Ong-toasiocia menunduk diam, sesaat dia mengangkat kepala pula serta mengawasi pemuda di depannya ini. Matanya seperti jnelihat anak kecil mungil yang menyenangkan.
"Karena yang datang adalah sahabat baik, ayahmu menyiapkan hidangan untuk menyamuut kedatangannya dan menunggu di kamar buku, pembunuh itu mendapat kesempatan mengeluarkan tombak yang sudah disiapkan lalu menusuk ayahmu di tempat fatal. Lantaran ayahmu tidak menduga dan tiada kesempatan membela diri atau melawan, maka hidangan di atas meja sedikitpun tidak te.sentuh,"
Demikian Ting Si membuat kesimpulan, pelahan ia menghirup araknya, tenggorokannya sudah gatal hingga suaranya berubah tawar.
"Itu hanya sekedar pendapatku yang bodoh, apa yang kupikir belum tentu benar."
Ong-toasiocia masih menatapnya hingga lama, lambat-laun sinar matanya memancar cahaya yang sukar dilukiskan, mirip gadis remaja yang baru pertama kali mengenakan perhiasan dan bercermin di depan kaca.
Teng Ting-hou tertawa.
"Sekarang kau mengerti bukan, mengapa dia memperoleh julukan Ting Si yang pintar'."
Tanpa bicara Ong-toasiocia bangkit dari tempat duduknya.
Tanpa terasa keadaan di luar menjadi gelap, sinar bintang berkelap-kelip di angkasa, demikianlah sepasang bola mata Ong-toasiocia, mirip bintang kejora.
Angin berhembus kencang dari puncak gunung di kejauhan, langit remangremang, puncak gunung itu hanya kelihatan bentuknya yang hitam raksasa berjongkok di tempat gelap.
Pelahan menuju ke jendela, matanya menatap jauh ke puncak gunung yang gelap itu, akhirnya dia menghela napas panjang.
"Tadi aku bilang tanggal 13 bulan 5 adalah hari istimewa, bukan hanya lantaran pada hari itu ayahku mati terbunuh."
"Masih ada keistimewaan lain di hari itu?"
Tanya Teng Ting-hou.
"Biasanya ayah amat memperhatikan kesehatan dirinya, jarang minum arak tidak pernah menghisap rokok, tapi setiap tahun pada tanggal dan bulan itu, seorang diri dia minum arak dan menghisap rokok untuk menghilangkan kerisauan hatinya hingga larut malam."
"Tidak pernah kau tanya, mengapa beliau berbuat demikian?"
Tanya Teng Ting-hou.
"Sudah tentu pernah aku bertanya kepada beliau,"
Sahut Ong-toasiocia.
"Bagaimana jawabnya?"
"Waktu pertama aku bertanya, beliau menjadi gusar, aku didamprat dan diberi peringatan supaya selanjutnya tidak mencampuri urusan orang tua. Belakangan beliau malah menjelaskan kepadaku."
"Menjelaskan apa?"
"Menurut adat kebiasaan penduduk Binglam, tanggal 13 bulan 5 adalah hari ulang tahun Thian-te dan Thian-houw (raja langit dan permaisurinya), hari itu, setiap keluarga pasti bersembahyang, bagi yang punya duit mengundang sanak saudara mengadakan pesta dengan harapan tahun depan mereka akan mengeruk keuntungan yang lebih besar."
"Setahuku ayahmu bukan kelahiran Binglam,"
Ujar Teng Ting-hou.
"Tapi almarhumah ibuku kelahiran Bing-lam. Di waktu mudanya, kalau tidak salah, cukup lama ayah menetap di daerah itu."
"Mengapa tidak pernah kudengar tentang ini?"
"Hal ini memang dirahasiakan, jarang diceritakan kepada siapa pun."
"Tapi......"
"Yang lebih aneh, setiap tahun bila tiba tanggal dan bulan itu, perangai beliau tentu berubah jelek, pemarah dan suka mengomel, biasanya setiap hari beliau latihan tombak, tapi hari itu kelihatan menjadi malas, sejak pagi bangun tidur hingga larut malam mengeram diri di kamar bukunya."
"Apa kau tidak tahu untuk apa seharian beliau mengeram diri dalam kamar buku?"
"Berapa kali aku mengintip, kulihat beliau selalu duduk melamun, suatu ketika kulihat beliau menggambar sebuah lukisan."
"Lukisan apa yang digambar?"
"Setelah lukisannya selesai, kelihatan dia akan menyobek atau membakar lukisan itu, tapi setelah dipandang pula beberapa kali, sikapnya berubah seperti merasa sayang, maka dia gulung lukisan itu, disimpan di belakang lemari, dimana ada lemari rahasia lapis dua."
"Kau pernah melihat gambar lukisan itu?"
"Ya, pernah, menurut pendapatku, tidak ada sesuatu yang istimewa pada gambar itu, gambar itu melukiskan sebuah pemandangan gunung dan sungai, ada mega putih terapung di pinggang gunung nan hijau permai, panorama yang amat indah."
Mendadak Ting Si menyeletuk.
"Apakah lukisan itu masih ada?"
"Sudah hilang."
Ting Si mengerut alis, sikapnya seperti amat kecewa.
"Setelah ayah meninggal, aku pernah membuka lapisan lemari rahasia itu, barang yang tersimpan di sana masih utuh, tiada yang hilang, kecuali lukisan itu. Padahal gambar itu tidak berharga sepeser pun, tapi orang justru mengambil lukisan itu."
"Jadi kau tidak tahu siapa yang mengambii lukisan itu?"
Tanya Ting Si pula. Ong-toasiocia menggeleng kepaia.
"Secara seksama pernah aku memeriksa lukisan itu di luar tahu ayah. Waktu kecil aku pernah belajar menggambar."
Bercahaya pula sinar mata Ting Si.
"Sekarang dapatkah kau menjiplak lukisan itu persis aslinya?"
"Mungkin aku bisa menjiplaknya sekarang,"
Ujar Ong-toasiocia, lekas sekali dari pemilik restoran ia mendapatkan alat-alat dan kertas gambar, meski bukan ahli temyata Ong-toasiocia mahir menggambar, goresan kuasnya cukup kuat dan tajam.
Langit biru mega putih, di bawah mega terdapat sebuah lereng gunung yang menghijau, lapatlapat seperti keiihatan ujung sebuah bangunan berloteng.
Setelah meletakkan kuas dan mengeringkan tinta, beberapa kejap Ong-toasiocia memperhatikan hasil karyanya, wajahnya kelihatan amat puas.
"Beginilah bentuk lukisan itu, umpama tidak persis seratus persen, delapan puluh hingga sembilan puluh persen kuyakin cukup memadai."
Hanya sekejap Ting Si mengawasi gambar itu lalu melongo ke arah lain, suaranya tawar.
"Gambar ini memang tidak istimewa, pemandangan gunung dan air seperti ini, di kolong langit entah berapa banyaknya."
"Tapi lukisan ini dibubuhi beberapa huruf yang istimewa."
"Apa bunyi tulisan itu?"
Tanya Teng Ting-hou. Ong-toasiocia mengangkat potlot tinta lalu menulis beberapa huruf di ujung atas kanan gambar.
"Tanggal 13 bulan 5, menyingkir jauh dari naga hijau."
Ceng-liong adalah naga hijau.
Melihat kedua huruf ini, rona muka Teng Ting-hou mendadak berubah jelek, seperti melihat momok yang menakutkan.
Pelahan Ong-toasiocia meletakkan alat tulisnya lalu berputar menghadapinya, matanya menatap tajam, namun suaranya kalem dan lembut.
"Waktu ayah masih hidup, beliau sering bilang bahwa di antara teman-temannya, Sin-kun-siau-cu-kat memiiiki pengetahuan paling luas."
Teng Ting-hou tertawa meringis, bibirnya menghijau, tawa yang dipaksakan. Ong-toasiocia berkata pula.
"Aku tahu beliau tidak pernah membual, maka......"
Tiba-tiba Teng Ting-hou menghela napas.
"Soal apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Kau tahu tentang Ceng-liong-hwe?"
Tanya Ong-toasiocia.
Teng Ting-hou berjingkat, agaknya tidak menduga dirinya bakal ditanya tentang hai ini.
Ceng-liong-hwe, sudah tentu Teng Ting-hou tahu apa itu Cang-liong-hwe.
Tapi setiap kali telinganya mendengar nama golongan yang satu ini, seperti ada ribuan ular kecil merayap ditengkuknya.
Ong-toasiocia menatapnya, katanya pelahan.
"Aku yakin kau tahu. Konon, selama tiga ratus tahun ini, Ceng-liong-hwe merupakan golongan paling ditakuti di kalangan Kangouw."
Teng Ting-hou tidak menyangkal, juga tidak berani menyangkal.
Bahwa Ceng-liong-hwe merupakan momok atau dedemit yang menakutkan di kalangan Kangouw memang kenyataan.
Tiada orang tahu bagaimana asal-usul golongan Ceng-liong-hwe dan kapan berdirinya, selama ratusan tahun, jarang ada orang luar tahu, siapa yang menjadi ketua atau memegang tampuk pimpinan golongan itu selama beberapa generasi.
Orang hanya tahu, betapa kejam dan telengas tindakan mereka, tiada golongan atau aliran silat manapun yang bisa menandinginya.
Ong-toasiocia berkata lebih lanjut.
"Konon markas cabang Ceng-liong-hwe secara rahasia tersebar luas ke seluruh pelosok dunia, begitu banyak hingga seluruhnya berjumlah tiga ratus enam puluh lima cabang.."
"Wah, banyak benar."
"Setahun bukankah juga genap tiga ratus enam puluh lima hari? Maka Ceng-liong-hwe menggunakan tanggal dan bulan sebagai kode rahasia untuk mengadakan hubungan satu dengan yang lain. Tanggal 13 bulan 5 mungkin adalah salah satu markas cabang mereka juga."
"Jadi kau berpendapat, kematian ayahmu ada sangkut-pautnya dengan gerakan Ceng-lionghwe?"
"Beliau sudah lanjut usia, tapi mata kupingnya masih normal. Hari itu, waktu aku mengintip, aku yakin beliau juga tahu, tapi diam dan pura-pura tidak tahu."
"Jadi kau beranggapan bahwa lukisan itu sengaja ditujukan kepadamu?" .
"Ya, mungkin sekali."
"Lalu apa tujuannya?"
"Mungkin waktu beliau berada di Bing-lam, pernah bermusuhan dengan pihak Ceng-liong-hwe, dia tahu suatu saat Ceng-liong-hwe akan mengutus orang mencari dirinya, maka beliau menggunakan cara itu untuk memberi peringatan kepadaku."
"Tapi......."
"Waktu masih hidup beliau tidak mau menjelaskan kepadaku,"
Demikian Ong-toasiocia menukas.
"Beliau kuatir aku tersangkut perkara ini. Maka beliau meninggalkan pesan secara tidak langsung lewat lukisan ini, supaya aku tahu orang yang membunuhnya adalah pimpinan cabang markas Ceng-liong-hWe yang menggunakan kode 13 bulan 5 itu, sementara markas besar golongan rahasia itu dibangun di atas lereng gunung hijau ini."
Teng Ting-hou menghela napas panjang.
"Umpama benar dugaanmu, tidak pantas dia melupakan huruf-huruf di bawah itu."
Menyingkir jauh dari Ceng-liong (naga hijau).. Ong-toasiocra menggenggam erat kedua tangannya, air matanya berkaca-kaca di pelupuk mata.
"Aku tahu betapa menakutkan Ceng-liong-hwe itu, tapi aku bertekad, apapun yang terjadi aku harus menuntut balas kematian ayahku."
"Kau punya kekuatan dan kemampuan menuntut balas?"
"Tekadku sudah bulat, apapun yang terjadi aku harus berusaha,"
Dengan gemas ia menyeka air mata.
"Aku gegetun, mengapa aku tidak tahu dimana letak lereng gunung hijau seperti yang terlukis dalam gambar itu."
"Memangnya persoalan lain sudah kau ketahui?"
"Paling tidak aku sudah tahu siapa pemimpin markas cabang dengan kode tanggal 13 bulan 5 itu."
"Siapa dia?"
Tanya Teng Ting-hou mengepal tinju, perasaannya mulai tegang. Ong-toasiocia tak langsung menjawab, suaranya pelan.
"Orang itu adalah sahabat ayah, malam itu ayah sengaja menunggu kedatangannya."
Habis bicara matanya menatap Ting Si.
"Banyak persoalan belum pernah kupikirkan, tapi dari kata-katamu tadi, banyak yang kusimpulkan, banyak yang kupikirkan."
Suara Ting Si tetap tawar.
"Tapi sudah kutandaskan, pemikiranku belum tentu benar."
Ong-toasiocia tertawa getir, mendadak ia bertanya.
"Apa kau tahu mengapa aku tidak menepati janji ke rumah keluarga Hi untuk berduel?"
Dingin dan penuh nada sindiran perkataan Ting Si.
"Kalau Toasiocia bilang tidak mau pergi ya tidak pergi, buat apa pakai alasan segala."
"Tapi memang ada alasannya,"
Seperti tidak merasakan sindiran Ting Si, Ong-toasiocia tidak marah, lalu melanjutkan.
"Pagi itu, ditengah jalan, aku melihat seorang."
"Hm, dijalan raya banyak orang. Kalau kau melihat setan baru mengherankan,"
Demikian jengek Ting Si kaku.
"Tapi terhadap orang yang satu ini, mimpi pun aku tidak menduga bakal melihatnya di tengah jalan."
"O, bagaimana kejadiannya?"
"Waktu itu masih pagi, cuaca remang-remang, dia mengenakan kedok muka, aku yakin dia tidak menyangka kalau aku mengenalinya. Tapi aku berlaku amat hati-hati."
"Mengapa?"
Tanya Ting Si.
"Waktu itu aku sudah menduga, ayah mati di tangannya, kalau dia tahu aku mengenalinya, mungkin aku pun sudah dibunuhnya."
"Karena ketakutan, maka janji berduel itu pun segan kau tepati?"
Merah mata Ong-toasiocia hampir menangis, katanya kemudian.
"Waktu itu, aku belum yakin seratus persen dugaanku benar."
"Tapi sekarang?"
"Setelah mendengar uraianmu, mendadak aku ingat, di malam kematian ayah, orang yang ditunggu ayah di kamar buku tentu dia."
"Jadi sekarang kau yakin dugaanmu benar?"
"Sekarang aku yakin."
"Tapi kau tidak berani berterus terang, siapa dia sebenarnya?"
"Soalnya...... umpama kujelaskan, kalian pasti tidak percaya."
"Kalau begitu, lebih baik tidak usah dijelaskan,"
Ujar Ting Si, dia isi cawan araknya lalu minum sendiri, sikapnya seolah-olah tidak peduli dan tidak ingin tahu kelanjutan perkara ini. Bersambung ke 7 Ong-toasiocia berkata.
"Di kamar itu tercium bau obat waktu aku memburu ke kamar buku ayah, bau obat serupa itu tercium pula olehku waktu melihatnya di tengah jalan."
Betapa pedas sindiran dan dingin sikap Ting Si terhadapnya, ternyata Ong-toasiocia tidak marah dan masih dapat menguasai emosi.
"Kemarin pagi waktu aku melihatnya, kebetulan dia baru menggunakan obatnya itu, dari kejauhan aku sudah mencium bau obat yang khas itu, maka tak usah melihat jelas wajahnya, aku sudah tahu siapa dia."
Lebih lanjut dia berkata.
"Lantaran penyakitnya yang sudah menahun itu, deru napasnya amat berbeda dengan orang biasa, asal dua kali kau mendengar pernapasannya dengan seksama, lain kali bila bertemu atau mendengarnya, pasti kau dapat mengenalinya."
Teng Ting-hou tidak membuka mulut, tapi mimik mukanya menunjukkan bahwa apa yang diuraikan Ong-toasiocia memang benar.
Sungguh tak pernah terpikir dalam benaknya, gadisjelita yang aleman dan pingitan ini ternyata cukup cerdik dan teliti.
Ong-toasiocia menatapnya, katanya.
"Rurasa kalau kau pernah bertemu dia, kau pasti mengenalnya."
Teng Ting-hou hanya menganggukkan kepala.
"Dari tanggal 13 bulan 5 sampai tanggal 1 bulan 7 ada empat puluh hari. Dalam jangka waktu itu orang bisa bertoiak balik ke Koan-gwa, menunggu kau pergi menjemputnya."
"Tapi tahun ini......"
"Aku tahu, dua bulan yang lalu dia keluar perbatasan, tapi jangka waktu selama itu, cukup untuk pulang pergi secara diam-diam."
Teng Ting-hou menarik napas panjang.
"Uraianmu bukan tidak masuk akal, tapi kau melupakan satu hal."
"Aku melupakan apa?"
"Hubungan Pek-li Tiang-ceng dengan ayahmu amat intim, apa alasannya membunuh ayahmu?"
"Karena ayah menolak anjurannya dan mengusirnya, itu dianggap tak memberi muka padanya, maka dia membenci dan dendam terhadap ayah, atau mungkin karena dia Tho-cu atau pimpinan cabang Ceng-liong-hwe dengan kode tanggal 13 bulan 5 itu, tak segan dia turun tangan secara keji."
"Jadi kau yakin bahwa dia pembunuh ayahmu?"
Tergenggam erat kedua tangan Ong-toasiocia, suaranya mendesis geram.
"Tidak ada alasan aku mencurigai orang lain kecuali dia."
"Tapi alasanmu lemah. Ingat, kau tak punya bukti."
"Karena itu aku harus mencari bukti."
Lalu Ong-toasiocia menambahkan.
"untuk mendapatkan bukti, aku harus menemukan Pek-li Tiangceng, hanya dialah bukti hidup satu-satunya."
"Kau tahu dimana dia sekarang?"
"Pasti di lereng hijau seperti yang terlukis dalam gambar itu."
"Kau tahu dimana letak lereng hijau itu?"
"Aku tak tahu,"
Ong-toasiocia menghela napas.
"Apalagi, umpama aku bisa menemukan tempat itu dan berhasil menemui Pek-li Tiang-ceng, jelas aku bukan tandingannya, maka......"
"Maka kau mencari teman atau pembantu."
"Ya, pembantu yang berguna, gagah lagi berani."
"Kau ingin mengajakku?"
Teng Ting-hou bertanya.
"Tidak,"
Jawaban Ong-toasiocia tegas lagi cekak, gadis ini memang periang dan jujur.
Teng Ting-hou menyengir tawa yang dipaksakan.
Kasus ini amat ruwet, lebih baik kalau dirinya tidak tersangkut, tapi entah mengapa, lubuk hatinya amat kecewa setelah mendengar jawaban Ong-toasiocia, kecewa karena merasa disepelekan.
"Ilmu silat Pek-li Tiang-ceng amat tinggi, laksana rase tua yang licik dan licin."
"Karena itu, kau harus mendapat pembantu yang memiliki llmu silat tinggi dan lebih lihai dari Pek-Ii Tiang-ceng, malah pembantumu itu harus lebih licin dibanding rase tua itu."
Ong-toasiocia menganggukkan kepala, tapi matanya menatap Ting Si.
Ting Si sedang santai menikmati araknya, bahwasanya seperti tidak mendengar percakapan mereka.
Teng Ting-hou meliriknya sekali, lalu berkata dengan tertawa.
"Apalagi orang ini pandai purapura dingin."
Mendadak Ong-toasiocia berdiri sambil mengangkat cawan ke hadapan Ting Si.
"Setelah terjadi beberapa kasus itu, aku tahu kau takkan mau membantuku, tapi demi keadilan dan kebenaran, aku betui-betul mengharap bantuanmu, aku yakin kau tidak akan menolak permintaanku."
"Aku harus menerima permintaan apa?"
Tanya Ting Si.
"Bantulah aku mencari Pek-li Tiang-ceng, membongkar kasus ini."
Ting Si tertawa, tiba-tiba ia tertawa lucu, bukan tawa ramah atau simpati, juga bukan tawa yang memikat dan menarik.
Sebaliknya tawanya mirip sebatang cundrik yang runcing dan tajam..
Ong-toasiocia menggenggam cawan araknya dengan gemetar, berdiri kaku, bibirnya hampir pecah tergigit.
Ting Si berkata tegas.
"Kau bukan orang bodoh, kuharap kau tahu satu hal."
"Katakan."
"Sesuatu kejadian yang disaksikan dengan mata kepaia kita sendiri belum tentu benar, apalagi hanya berdasar penciuman hidung, penyelidikanmu yang dangkal begini, kau berani menuduh seorang sebagai pembunuh, kecuali kau, aku yakin tidak ada orang lain di dunia ini yang berani bertindak selancang itu."
Arak dalam cawan yang dipegang Ong-toasiocia tercecer keluar, suaranya gagap.
"Kau......tidak percaya kepadaku?"
"Aku hanya percaya kepada diriku sendiri."
"Mengapa tidak kau selidiki duduk perkara yang sebenarnya."
"Karena jiwa ragaku hanya satu, aku belum ingin mati, mengorbankan jiwa ragaku kepada orang lain, mati secara konyol, apalagi menyerahkan jiwaku padamu,"
Sambil bicara ia berdiri, merogoh kantong lalu menaruh sekeping uang perak di atas meja.
"Aku minum tujuh cawan, ini uang untuk membayar arak, aku tidak mau berhutang kepada siapa pun."
Habis bicara ia putar tubuh lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Membesi hijau muka Ong-toasiocia, sekali renggut ia rain uang perak di atas meja, gelagatnya hendak ia timpukkan ke arah hidung Ting Si.
Tapi tangannya mendadak terhenti di udara, sejenak kemudian pelahan diturunkan, dengan kalem ia masukkan uang pe/ak itu ke kantongnya sendiri, lekas sekali wajah yang membesi hijau berubah menjadi merah jengah dan dihiasi senyum manis.
Sesaat Teng Ting-hou menjublek mengawasi gadis ini, tanyanya kemudian.
"Kau tidak marah kepadanya?"
"Mengapa harus marah?"
Ong-toasiocia balas bertanya.
"Mengapa tidak marah?"
"Pek-li Tiang-ceng adalah manusia yang menakutkan, Ceng-liong-hwe lebih menakutkan lagi. Bila aku minta dia melakukan sesuatu yang membahayakan jiwanya, adalah pantas kalau dia mempertimbangkan untung ruginya."
"Tapi sikapnya sudah gamblang, dia tidak mempertimbangkan, tapi menolak secara tegas."
"Biar sekarang dia menolak permintaanku, aku yakin akan datang saatnya dia akan menerimanya."
"Kauyakin?"
Bercahaya bola mata Ong-toasiocia.
"Sudan tentu aku yakin, aku tahu dia suka padaku."
"An, masa kau tahu?"
"Ya, aku tahu karena aku perempuan, hanya perempuan yang tahu dan merasakan adanya likuliku cinta dan asmara."
Teng Ting-hou tertawa lebar.
"Kalau soal cinta lelaki juga bisa merasakan, bahkan menikmatinya."
Di tengah gelak tawanya, Teng Ting-hou berlari keluar menyusul Ting Si. Ting Si bertanya.
"Kau merasakan apa?"
"Kalau di depan ada lubang besar, umpama kau berusaha menghindar, cepat atau lambat, akhirnya kau pasti kecemplung juga."
Ting Si menarik muka, suaranya ketus.
"Anggapanmu keliru."
"Keliru? Memangnya......."
"Bukan aku yang kecemplung, tapi kau sendiri."
Kereta kuda itu masih ada di luar pintu, tapi kusir kereta sudah tidak kelihatan batang hidungnya.
Ting Si melompat naik dan duduk di tempat kusir, mencabut cemeti yang tertancap di pinggir ternpat duduk.
"Tar" , cemeti terayun dan menggelegar di udara. Terpaksa Teng Ting-hou ikut melompat ke atas, duduk di sebelahnya. Sebagai anak gelandangan Ting Si pandai mengendalikan kereta tapi tidak pernah terbayang dalarn benaknya, di saat menjadi sais kereta, Ting Si mirip anak kecil yang kebelet masuk WC. Kereta itu dibedal kencang, langsung keiuar kota.
"Sekarang kita hendak kemana?"
"Cari tempat untuk tidur."
"Di luar kota ada tempat untuk tidur?"
"Kabin kereta ini sudah cukup iuas untuk tidur dua orang."
Teng Ting-hou menghela napas, dia enggan bicara lebih banyak.
Ada sementara orang, sejak dilahirkan seperti sudah dibekali bakat, hingga orang lain selalu lengket padanya, Ting Si adalah manusia jenis ini.
Kalau bertemu dengan manusia sejenis Ting Si, maka harus menemaninya tidur di atas kereta.
Setelah tiba di luar kota, lari kereta dibedal lebih kencang.
Ting Si merengut kaku, maka Teng Ting-hou juga bungkam seribu basa, perasaan mereka tertekan, banyak persoalan seperti membelit benak rnereka.
Akhirnya Ting Si buka suara lebih dulu.
"Mengapa kau tidak bicara?"
"Sedang kupikir......"
"Pikir apa?"
"Kabarnya golongan hitam sedang menghimpun kekuatan untuk mendirikan golongan gabungan, tujuan rnereka untuk menghadapi Ngo-hoa-coan-ki."
"Ya, betul, pernah kudengar."
"Setelah Gak Ling meninggal, gerakan rnereka pasti dipercepat."
"Betul."
"Kalau gabungan dari golongan hitam ini bentrok dengan pihak kita, dunia pasti geger."
"Ya, kalau kijing rebutan makan dengan bangau, nelayan yang akan untung"
"Tapi untuk menjadi nelayan, kurasa bukan pekerjaan yang mudah"
"Ya, memang sukar."
"Menurutrhu, siapa yang setimpal dan mampu menjadi nelayan?" .
"Ceng-liong-hwe." -Teng Ting-hou menghela napas.
"Ya, hanya Ceng-liong-hwe."
Bercahaya mata Ting Si.
"Bukankah kau ingin bilang, hanya Pek-li Tiang-ceng saja yang setimpal menyulut api di atassumbu?" , Teng Ting-hou mengheia napas, jawabannya tidak langsung.
"Kalau sumbu itu sampai menyala, pasti timbul kebakaran besar. Pihak mana pun akan terjilat api dan menjadi gundul rambut kepalanya, kecuali......"
"Kecuali kita berhasil menyelidik siapa pembunuh jenius itu?"
Demikian tukas Ting Si. Teng Ting-hou mengangguk kepala.
"Aku berpendapat pembunuh Ong-lothaycu juga adalah pembunuh Ban Thong dan Gak Ling berempat."
"Ya, pengkhianat yang menjual rahasia Ngo-coan-ki juga pasti dia."
"Kematian Ong-iothaucu agaknya ada sangkut-pautnya dengan peristiwa ini. Secara tegas dia menolak ajakan berserikat dalam Piaukok gabungan kita, tentu dia punya alasan untuk menoiak ajakan itu, dan itu merupakan rahasia yang tidak diketahui orang."
"itu perkiraanmu, bukan buah pikiranku."
"Aku orang keroco, pikiran orang keroco tiada gunanya dan tiada sangkut pautnya dengan kasus ini."
"Aku bilang ada sangkut pautnya."
"Ah, apa iya?"
Teng Ting-hou menatapnya.
"Aku tahu, kau menyembunyikan banyak rahasia da!arn hatimu, jika rahasia itu tidak kau beberkan, peristiwa itu tidak akan menjadi terang, kasus ini tidak akan terbongkar hingga ajaimu."
Lama kelamaan tatapan matanya setajam gurdi yang mengancam hulu hati Ting Si.
Ting Si tertawa.
Bukan tawa sinis setajam gurdi, tapi tawa ramah dan simpatik yang menarik kesan baik orang lain.
Kalau gurdi terbentur gurdi tentu menimbulkan percik-an api.
Tapi menghadapi senyum ramah yang mengesankan, betapapun tajam sang gurdi juga takkan kuat menusuknya.
Teng Ting-hou juga tersenyum, mendadak dia merubah haluan.
"Kau tahu tidak, dimana letak dirimu yang menyenangkan?"
Ting Si menggeleng kepala.
"Dari ujung rambut sampai telapak kakimu, yang menarik hanya bola matamu."
Ting Si segera mengucek mata. Teng Ting-hou bertanya pula.
"Tahukah kau, mengapa matamu kelihatan indah dan menyenangkan?"
"Coba jelaskan."
"Karena matamu tidak pandai berbohong. Tidak sepandai mulutmu yang pintar membual, bila mulutmu membual, maka mimik dan rona matamu kelihatan janggal, istimewa dan aneh."
"Kau pernah menyaksikan perubahan rona mataku?"
"Sedikitnya ada tiga atau empat kali aku melihatnya."
"Tiga atau empat kali, wah cukup banyak."
"Setiap kali aku membicarakan Ong-toasiocia, rona matamu selalu menampilkan sinar yang ganjil."
"O?"
"Waktu kau melihat lereng hijau di atas gambar itu, cahaya matamu ikut berbicara."
"Dalam hati aku menyukainya, dimuiut aku bilang membencinya, aku tahu dimana letak lereng hijau itu, tapi sengaja tidak mau menjelaskan kepadanya, begitu?"
"Syukurlah kalau kau sudah mengaku."
Ting Si tertawa menyengir.
"Masjh ada, bila kau menyadari orang lain sedang menipu dirimu, rona matamu pun berubah demikian, berubah aneh,"
"Kau pernah melihat perubahan mataku, karena kau tahu aku ditipu orang?"
"Pernah lihat dua kali."
"Coba jeiaskan, kapan kedua kali itu'"
"Waktu So Siau-poh beranjak pergi, kau memandangnya dengan rona yang aneh."
"Maksudmu aku mencurigainya?"
"Ya, mungkin dialah mata-mata tulen dari Ngo-hou-kang itu. Ban Thong hanya diperalat olehnya, hingga perlu dibunuh untuk mernbugkam mulutnya. Gak Ling juga mengetahui rahasianya, maka dia disekap dalam kamar bawah tanah itu. Walau kau menolongnya, tapi seteiah dia pulang ke Ngo-hou-kang, bukankah dia akan bicara sejujurnya tentang apa yang diketahui pada temanteman-nya?"
Akhirnya Ting Si menghela napas seteiah menepekur sekian saat.
"Bila dia membual, orang yang sudah mati bisa ditipunya hingga hidup kembali, demikian pula orang hidup bisa ditipunya hingga mampus seketika."
"Oleh karena itu, aku tidak habis mengerti."
"Dalam soal apa kau tidak mengerti?"
"Jelas kau mencurigainya, mengapa kau justru melepasnya pergi?"
"La!u bagaimana menurut pendapatmu?"
"Dari gerak-geriknya yang aneh kau akan meiacak jejak dan membongkar kedok pembunuh sadis itu? Karena So Siau-poh adalah saksi hidup yang dapat kau gunakan untuk memancing pembunuh laknat itu?"
Ting Si menghela napas, katanya gregetan.
"Persoalan apa yang kupikir, kelihatannya kau lebih jelas dari aku sendiri."
"Pernah sekali aku rnelihat rona mata yang ganjil itu. Waktu di Sin-hoa-jun, di kamar dimana Siau Ma seharusnya rebah merawat luka-lukanya."
"Apakah waktu itu aku mengawasi Siau Ma dengan pandangan ganjil?"
Teng Ting-hou mengangguk.
"Aku yakin, waktu itu kau tahu atau rnelihat ada sesuatu yang tidak beres di kamar itu."
"Soalnya dia berubah menjadi sabar, jujur dan penurut. Biasanya tidak pernah dia mau tidur tenang merawat luka-lukanya."
"Sejauh dia berbincang-bincang dengan kita, Rata 'Maknya' yang sering terlontar dari mulutnya tidak pernah diucapkan lagi."
"Gunung dan sungai bisa berubah bentuk, namun watak manusia hingga mati susah dirubah. Seorang jika berubah tabiatnya, pasti karena terpengaruh oleh lingkungan atau keadaan."
"Setelah dia minggat bersama Toh Yok-lin, meski marah, ternyata sedikitpun kau tidak kelihatan gugup atau gelisah."
Ting Si menarik muka, suaranya dingin.
"Dia dengan suka rela berbuat demikian, mengapa aku harus gelisah?"
"Waktu kau berhadapan dengan Ong-toasiocia, mengapa tidak kau singgung tentang dirinya?"
"Kalau dia tidak menyinggung, kenapa aku harus bicara dengannya?"
"Memang.sepatutnya dia tanya kepadamu, dan kau juga harus balas bertanya kepadanya, tapi kalian sama-sama tidak menyinggung hal ini, mengapa demikian?"
"Dia tidak bertanya, karena dia tahu, tidak perlu bertanya padaku."
"Maksudmu Siau Ma berada bersama mereka?"
"Ehm, mungkin."
"Meski bocah itu berwatak berangasan dan kasar, tapi hatinya lembut dan mudah ditaklukkan. Kalau Ong-toasiocia lewat Toh Yok-lin minta dia membantu, pasti bocah itu takkan menolak permintaan gadis yang dipujanya itu."
"Kalau dia suka menjadi pahlawan, mengapa aku harus mencampuri urusannya."
"Dalam menyelesaikan persoaian, kadang kala perlu beberapa orang melakukan sesuatu yang bodoh, kaiau semua manusia di dunia ini orang pintar, hidup di dunia juga tiada selera lagi."
"Sayang sekali, di zaman seperti sekarang ini, orang yang betul-betul bodoh justru makin sedikit."
"Paling tidak aku tidak akan mengatakan bahwa aku adalah orang bodoh."
"Kau tidak bodoh, demikian pula Ong-toasiocia, dia bukan gadis bodoh."
"Lho, mengapa kau bilang demikian?"
"Aku tahu dimana letak lereng hijau itu, kalau kau tahu aku berbohong, memangnya dia tidak tahu?"
"Tapi, mengapa dia tidak tanya atau mendesakmu?"
"Karena dia tidak bodoh, dia tahu tidak perlu bertanya kepadaku."
"O, mengapa?"
"Karena dia juga tahu tempat apa lereng hijau itu."
"Karena kau tidak menjelaskan, tentu Siau Ma akan menjelaskan."
"Hm."
"Umpama benar Siau Ma orang bodoh, tapi pasti dia tahu bahwa tempat itu adalah Ngo-houkang."
"Tar" , mendadak Ting Si mengangkat tangan dan menyendal sekali, cemeti di tangannya menggelegar di udara, kereta berlari lebih kencang lagi. Sebetulnya ingin Ting Si menghajar pantat Siau Ma bila bertemu, celaka adalah keempat kuda penarik kereta yang menjadi sasaran pelampiasan rasa dongkolnya. Karena dihajar dan kesakitan, kuda-kuda penarik kereta itu menjadi marah, sambii meringkik mereka lari blingsatan membelok ke dalam hutan yang penuh semak lalu mogok tak mau jalan lagi. Ternyata Ting Si tidak peduli, seolah kebetulan karena berhenti di sini. Dengan rnenggeliat malas pelahan dia melompat turun, cemeti panjang dia gulung membundar lalu digantung di dahan pohon, mulutnya rnenggumam.
"Seorang kalau sudah bertekad melakukan perbuatan bodoh, kan lebih baik dibiarkan saja. Demikian halnya dengan seekor kuda, kalau dia bertekad mogok, tak mau lari lagi, lebih baik kau hentikan dan biarkan begitu saja."
Teng Ting-hou masih bertengger di tempat duduknya sambi! mengawasi gerak-gerik Ting Si, mendadak dia tertawa geli.
"Mungkin kau sengaja menghentikan kereta ini di tempat tersembunyi ini."
"Mengapa kau menduga begitu?"
"Ada sementara orang senang berputar kayun sebelum melaksanakan tugasnya, padahal kalau mau, dengan mudah dia dapat menyelesaikan urusannya. Tapi dia justru mengorbankan banyak waktu dan tenaga, terpaksa orang lain harus mengerjakan untuk dirinya."
"Wah, kalau betul demikian, tentu orang itu tidak normal."
"Sedikitpun tidak."
"Lalu untuk apa dia berbuat demikian?"
"Karena hanya orang pikun saja yang mau mengerjakan persoalan yang dia tangani. Dia tidak senang orang lain beranggapan bahwa dirinya orang goblok yang baik hati, tapi dia lebih rela orang beranggapan bahwa dia seorang kejam, dingin dan kaku,"
"Kau anggap aku orang sejenis itu?"
"Sedikitpun tidak salah."
"Syukurlah, aku justru takut kau anggap aku sebagai orang goblok."
"Kau juga kuatir aku bertanya padamu, di kota besar, seratus hotel besar kecil dari yang paling mewah hingga kelas yang terjorok pasti ada. Mengapa kau tidak mau menginap di hotel, justru datang ketempat ini hanya untuk tidur. Kau tidak takut digigit nyamuk, aku sebaiiknya tidak tahan digigit semut."
"Mengapa kau tidak bertanya kepadaku secara langsung."
"Aku tidak perlu bertanya."
"Mengapa?"
"Karena untuk pergi ke Ngo-hou-kang harus lewat jaian ini."
"Apalagi yang kau ketahui?"
"Aku tahu kau memperhitungkan, Siau Ma akan menemani Ong-toasiocia ke Ngo-hou-kang, mereka adaiah orang gugupan, orang yang tidak sabaran, bukan mustahil malam nanti mereka akan berangkat ke sana."
"Maka aku menunggu mereka di sini?"
"Kalau orang lain mau menjadi orang bodoh, mungkin kau biarkan saja, tapi Siau Ma bukan orang lain, Siau Ma adaiah teman karibmu, saudaramu yang paling setia,"
Dengan tersenyum lebar Teng Ting-hou rnengulur tangan mengambil cemeti yang tergantung di pohon.
"Bila dia datang nanti, bukankah kau sudah siap menjirat lehernya dengan cemeti panjang ini?"
Ting Si mengawasinya, mendadak dia tertawa.
"Aku banya ingin tanya sepatah kata."
"Kau boleh tanya."
"Kau kira kau ini apa? Cacing dalam perutku?"
Teng Ting-hou ingin tertawa, taps tidak jadi tertawa, karena kulit mukanya mendadak kaku.
Angin malam berhembus sepoi-sepoi membawa kumandang lari kuda yang dibedal kencang disertai derak roda kereta di jaian berbatu, suaranya masih lirih dan sayup-sayup, jelas kereta kuda itu masih cukup jauh.
Sigap sekali Ting Si menerobos hutan lalu mendekam di pinggir jaian, dengan sebelah kuping ditempelkan ditanah.
Teng Ting-hou juga mendekam di sampingnya, tanyanya dengan suara berbisik.
"Apakah mereka sudah datang?"
"Bukan."
"Bukan, maksudmu bukan mereka yang datang?"
"Kereta kuda yang satu ini kosong, tiada penumpang , seorang pun di dalamnya."
"Hanya mendengar dengan caramu itu, kau yakin kereta itu kosong?"
"Ya, aku yakin kereta itu kosong."
Teng Ting-hou menghela napas.
"Pendengaran telingamu agaknya lebih tajam dibanding Ongtoasiocia."
Derap kaki kuda dan derak roda kereta makin jelas dan dekat, kadang suara cemeti juga terdengar memecah kesunyian.
Kalau benar kereta itu kosong, mengapaburu-buru menempuh perjalanan.
Mendadak Ting Si berkata.
"Kereta itu kosong, maksudku bukan ditumpangi orang, tapi memuat sesuatu benda yang berat."
"Berapa beratnya?"
"Sedikitnya tujuh atau delapan puluh kati."
"Darimana kau tahu kalau muatan kereta itu bukan manusia?"
"Kalau penumpangnya manusia, mana mau menumbukkan kepalanya di langit-langit kereta."
Telinga Ting Si masih menempel di tanah, dia mendengar suara benda keras yang menyentuh dinding atau langit-langit kereta.
Benda itu beratnya ditaksir delapan puluh kati, diduga kalau tidak besar tinggi, tentu benda itu panjang hingga menyentuh atap kereta.
Bercahaya mata Teng Ting-hou.
"Apa tidak mungkin Pa-ong-jio?"
Tanyanya lirih.
"Mungkin sekali."
"Apakah Ong-toasiocia sendiri yang pegang kendali?"
Ting Si tidak bersuara.
Sementara itu, jauh di depan sana lapat-lapat terlihat sebuah kereta besar bercat hitam, di tengah malam buta dicongklang dengan kencang, kusir kereta juga berpakaian hitam, mengenakan topi rumput lebar dan runcing yang ditarik turun menutupi mukanya.
Kalau kusir kereta betul Ong-toasiocia, perbuatannya itu pasti karena suatu alasan yang mendesak atau untuk suatu tujuan tertentu.
Oleh karena itu, sepak terjangnya pasti dirahasiakan, siapa pun pantang mengetahui jejak atau kedok penyamarannya.
Meski ingin buru-buru menempuh perjalanan dan selekasnya tiba di tempat tujuan, terpaksa dia harus naik kereta, meski menunggang kuda lebih cepatdari kereta, namun dalam kereta dia dapat menyembunyikan Pa-ong-jio.
Mengapa Siau Ma tidak ikut?
Apakah mereka sudah berjanji untgk bertemu di suatu tempat di depan sana?
Teng Ting-hou merendahkan suara.
"Bagaimana kalau kita kuntit?"
"Memangnya ada tontonan yang bisa kau saksikan?"
"Kalau kau tidak mau, biar aku menguntitnya sendiri."
Kejap lain kereta yang berlari kencang itu sudah lewat di depan mereka, kusir kereta seperti ingin lekas sampai tujuan, bahwasanya dia tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Sambil mendekam Teng Ting-hou mengerahkan tenaganya, mendadak kakinya menjejak, tangan menyendal bumi, bagai anak panah tubuhnya melesat ke depan.
Di tengah udara dia bersalto dua kali, waktu tubuhnya melorot turun, sebelah tangannya sudah terulur meraih ujung kereta, sehingga tubuhnya terseret ke depan dan bergantung seperti daun menjuntai ke bawah.
Lekas sekali kereta itu meluncur puluhan tombak ke depan, hanya sekejap lenyap ditelan kegelapan.
Teng Ting-hou sempat melambaikan tangan ke arah Ting Si.
Menghantar bayangan kereta yang lenyap di kegelapan, mendadak Ting Si menghela napas, gumamnya sendiri.
"Kalau di depan ada orang juga mendengar gerak gerik kereta ini, pasti dia merasa heran, mengapa kereta yang semula kosong, mendadak bertambah muatan satu orang?"
Ting Si membalik badan lalu rebah telentang menjulurkan kaki dan tangan, sinar matanya tenang mengawasi bintang-bintang.
Cahaya bintang menyinari wajahnya, seperti menembus relung hatinya, sorot matanya menyembunyikan banyak rahasia yang tersimpan dalam sanubarinya.
* * * * * Jauh di sebelah depan, di kegelapan memang ada orang seperti juga Ting Si, mendekam di tanah, dengan sebelah telinga mendengar seksama kedatangan kereta kuda yang berlari kencang itu.
Wajahnya kelihatan pucat kelabu, bila diperhatikan orang akan tahu bahwa orang ini mengenakan topeng.
Seorang lagi juga mendekam di sebelahnya, kecuali derap kaki kuda dan derak roda kereta di kejauhan, alam sekelilingnya sunyi senyap, hanya napas mereka yang terdengar, seorang di antara kedua orang itu bernapas lebih berat, napasnya berat memburu.
"Aneh,"
Orang berbaju hitam bertopeng itu menggumam.
"Semula kereta itu jelas kosong, mengapa mendadak bertambah satu orang?"
"Mungkin seorang naik kereta di tengah jalan?"
"Tapi kereta itu tidak berhenti."
"Mungkin dia naik secara diam-diam, kusir kereta tidak tahu seorang penumpang gelap telah berada di keretanya."
Waktu orang ini berbicara, sikap dan suaranya terasa amat takut dan hormat kepada teman di sebelahnya, sepasang matanya jelilatan seperti mata keiinci, kepalanya melongok kian kemari, orang ini ternyata So Siau-poh.
Lalu siapakah temannya yang berkedok itu?
So Siau-poh berkata.
"Orang itu dapat naik kereta di luar tahu kusir, Ginkangnya tentu amat tinggi, bukan mustahil orang itu adalah Ting Si."
Orang berkedok itu menyeringai dingin, suaranya dingin kaku.
"Kalian berdua memang pantas mampus."
Sejenak So Siau-poh tertegun, setelah menangkap arti perkataan orang, seketika rona mukanya berubah pucat ketakutan, katanya tergagap.
"Kami.......kami berdua?"
Si baju hitam berkedok itu berkata pula dengan nada rendah.
"Kau cerewet, sebaliknya dia suka mencampuri urusan orang lain."
So Siau-poh segera mengancing mulut, saking takutnya bernapas pun ditahan-tahan.
Mungkin merasa tegang, napas orang berkedok itu terdengar berat memburu, mendadak dia merogoh keluar sebuah botol porselin kecil dari kantong celananya, membuka tutup lalu menuang sebutir pil hitam langsung ditelannya.
Begitu tutup botol kecil itu terbuka, bau obat yang aneh dan merangsang segera tertiup angin.
Apa betul orang berkedok ini adalah Pek-li Tiang-ceng?
Apa betul Pek-li Tiang-ceng adalah pembunuh kejam itu?
Kereta sudah lebih dekat.
Sekejap si baju hitam menutup mata, saat kelopak matanya terpentang lags, sinar matanya berubah mencorong tajam, katanya tergesa-gesa.
"Kau membawa senjata rahasia tidak?"
So Siau-poh tidak berani bersuara, hanya menganggukkan kepala.
"Serang kuda dengan senjata rahasiamu. Aku yang membereskan dua orang di atas kereta,"
Demikian orang berkedok memberi perintah..
So Siau-poh mengangguk lagi.
Dia tidak berani bercuit, sepatah kata yang diucapkan sambil lalu si baju hitam, ternyata lebih menakutkan dari perintah jenderal perang di medan laga.
Berkilat sinar mata orang berkedok, jengeknya dengan suara hidung.
"Peduli siapa yang berada di atas kereta, seorang pun tak boieh lolos."
Bagaimana biia dia salah sasaran?
Membunuh orang bukan yang semestinya dia bunuh.
Si baju hitam tak peduli, mati hidup orang lain bahwasanya tak terpikir olehnya.
Kereta berlari kencang, angin dingin menyapu muka.
Seenteng daun Teng Ting-hou bergelantung di belakang kereta, biasanya dia amat membanggakan kemampuan sendiri, sangat puas akan Ginkangnya.
Sudah beberapa tahun dia berkeluarga dan sudah punya anak, isterinya cukup cantik, pinggangnya ramping, pahanya jenjang mulus, namun dia perempuan yang berwatak keras, setelah hidup bahagia penuh cinta dan mesra sekian tahun, hubungan mereka makin cocok dan akur, sama-sama memenuhi selera.
Selama beberapa tahun, Teng Ting-hou cukup bangga dan senang terhadap pelayanan isterinya, hanya sayang isterinya itu cerewet dan bawel.
Umum sudah tahu, kalau perempuan sudah punya anak, kondisi tubuhnya lambat laun akan berubah, makin banyak anak, tubuhnya akan lebih gembrot.
Demikian hainya dengan isteri Teng Ting-hou, apalagi beberapa tahun belakangan ini, karena sibuk bekerja sebagai penanggung jawab perusahaan, ia harus sering berada di perjalanan, jelas jarang tidur di rumah, biia kebelet saat kantongnya tebal, dimana saja dia bisa jajan.
Perempuan yang menghibur dirinya di berbagai kota memang terasa lebih muda dan pandai rnerayu, lebih banyak pengalaman.
Dalam hal ini, sejak lama Teng Ting-hou terkenal sebagai jagoan.
Yang Maha Kuasa seperti amat melindungi dirinya, setelah delapan tahun hidup berfoya-foya di luaran, kondisi badannya ternyata masih kuat dan penuh gairah yang tidak pernah padam, gerakgerik dan reaksinya tetap cekatan, tangkas dan gesit, meski usianya sudah mendekati setengah urnur, tenaganya tidak kalah dibanding anak muda.
Delapan tahun sejak menikah, isterinya dikaruniai lima anak, wanita yang semula ramping dan menggiurkan, pinggangnya sekarang sudah berubah segede gentong air, sudah tidak memenuhi selera suaminya lagi.
Maklum, bila perempuan tidak terpenuhi daya seksnya, sering kehausan tanpa terlampias, maka dia akan menyalurkan ketagihannya dengan cara 'makan' lebih banyak.
Demikian pula wataknya pun takkan mungkin untuk melampiaskan ketagihannya, seperti kalau dia bergunjing di ranjang dengan suaminya.
Meski dia makan enak, berpakaian mahal dan mewah, tapi persoalan yang mengganjal di relung hatinya sukar tersalur secara wajar.
Terbayang oleh Teng Ting-hou, betapa hangat mesra dan bahagia hidup mereka berdua, waktu baru menikah dulu.
Mendadak timbul rasa penyesalan dalam sanubarinya terhadap isterinya yang setia.
Diam-diam ia berkeputusan dalam hati, bila nanti tugasnya selesai, ia akan segera pulang, untuk beberapa lama ia akan tinggal di rumah, siapa tahu isterinya masih dapat menambah satu dua anak untuk dirinya, bukankah semboyan banyak anak banyak rezeki beriaku sampai sekarang.
Kebetulan kereta berguncang cukup keras, sehingga lamunan Teng Ting-hou terjaga.
Seperti terjaga dari mimpi, akhirnya ia tertawa geli sendiri.
Dalam keadaan begini mengapa bisa teringat adegan begituan?
Sering terjadi di kala manusia menghadapi keadaan genting atau lucu, teringat sesuatu yang tidak pantas diingat?
Soal apa yang mendorong sanubarinya bertobat dan rindu kepada isterinya?
Apakah lantaran isterinya juga kelahiran Bing-lam?
Tanggal 13 bulan 5 adalah hari lahir Thian-te (raja langit).
Kalau tidak salah ingat, salah satu teman karibnya kebetulan juga lahir pada tanggal dan bulan yang sama, yaitu tanggal 13 bulan 5.
Dalam suatu percakapan, secara tidak sengaja pernah ia mendengar tanggal dan bulan kelahirannya itu.
Siapa temannya?
Kelopak mata Teng Ting-hou mengerut, matanya memicing.
Mendadak ia teringat sesuatu.
Pada saat itu pula, kuda penarik kereta mendadak meringkik panjang dan berjingkrak, kereta mendadak serong ke kiri terus menerjang ke pinggir jalan.
Kejap lain, kereta itu terjungkir balik dan hancur berantakan.
Begitu merasa gelagat membahayakan dirinya, Teng Ting-hou mengerahkan tenaga di kedua tangannya, sekali sendal tubuhnya melambung tinggi ke udara.
Dari semak-semak rumput di pinggir jalan tampak selarik sinar gemerlap melesat dan telak menancap di perut kuda terdepan.
Sesosok bayangan lain juga menerjang dari semak belukar di pinggir jalan yang sama, gerakgeriknya lebih cekatan, enteng dan pesat, lebih cepat dari luncuran senjata rahasia gemerdep itu.
Terdengar kusir kereta mengumpat gusar.
"Jahanam, kiranya kau. Aku sudah menduga kau pasti akan mencari aku."
Suaranya nyaring merdu, siapa lagi kalau bukan Ong-toasiocia.
Sigap sekali Ong-toasiocia melompat ke belakang kereta, menarik pintu melolos Pa-ong-jio.
Saat itulah si baju hitam tengah berjungkir balik di udara dan menubruk kearahnya.
Sebetulnya Teng Ting-hou masih sempat menyingkirkan diri dari tempat itu, sasaran si baju hitam yang membokong ini jelas bukan dirinya.
Tapi dia tak mau menyingkir, bukan saja tidak tega, dia merasa wajib melindungi keselamatan Ong-toasiocia yang terancam di tangan musuh gelap ini.
Apalagi tujuan kedatangannya ini juga bertekad merenggut kedok pembunuh kejam itu.
Si baju hitam menukik seperti elang menerkam kelinci.
Ong-toasiocia sedang sibuk mencabut Pa-ong-jio yang terjepit di kereta yang sudah hancur itu, jelas tidak sempat menyingkir atau berkelit, ingin menangkis juga tidak keburu lagi.
Serangan keji yang mematikan, sekali kena jiwa pasti amblas.
Di kala kedua tangan si baju hitam hampir menyentuh rambut Ong-toasiocia, mendadak segulung angin pukulan yang menderu deras menerjang dari samping.
Siau-lim-sin-kun, pukuian sakti Siau-lim-pay.
Konon bila ilmu pukulan sakti ini diyakinkan mencapai taraf sempurna, dalam jarak seratus langkah dapat memukul mati sasarannya.
Memang tinju sakti Teng Ting-hou belum mencapai taraf setinggi itu, tapi perbawa daya pukulannya cukup mengejutkan orang.
Untuk menyelamatkan diri terpaksa si baju hitam harus menarik kedua tangannya, walau serangan dibatalkan, tapi tenaga yang telanjur dikerahkan masih juga melanda ke depan.
"Blang,"
Tubuh Ong-toasiocia terpental oleh serempetan tenaga dahsyat yang mendampar itu dan menumbuk roda kereta, pinggangnya terasa sakit sekali, hampir saja ia kelenger.
Untung sebelum musuh bertindak lebih jauh, Teng Ting-hou sudah mengadang di depannya.
Si baju hitam menyeringai seram, suaranya agak sumbang.
"Bagus, seorang pelindung kembang, biar aku bereskan kalian bersama, dalam perjalanan ke akhirat supaya ada teman."
Jelas suaranya sengaja dibuat kasar dan serak supaya orang tidak mengenal asal-usul dirinya. Mendadak Teng Ting-hou tertawa, katanya.
"Jangan kau lanjutkan seranganmu, nanti ketahuan siapa dirimu."
"Mengapa aku harus menghentikan serangan?"
Tanya si baju hitam.
"Karena kau mengenalku, aku pun tahu siapa dirimu. Bila kau tetap menyerangku, dalam lima jurus, aku pasti tahu siapa kau sebetulnya."
"Baik, coba kau saksikan,"
Jengek si baju hitam.
Di saat mengucapkan empat patah kata, tangannya sudah menyerang dua jurus.
Baru saja Teng Ting-hou berkelit dan balas menyerang satu jurus, lawan sudah melontarkan tiga jurus serangan lagi.
Serangan lawan sungguh cepat, gesit lagi keji, perubahannya juga aneh dan sukar diraba, lima jurus serangannya ternyata menggunakan lima aliran perguruan yang berbeda.
Waktu menyerang jurus pertama, kelima jarinya ditekuk seperti cakarelang, serangannya menggunakan Tay-lik-eng-jiau-kang dari kelu-arga Ong di Hay-lam.
Sebelum jurus pertama dilancarkan sepenuhnya, tubuh si baju hitam mendadak berputar mundur, gerak serangannya ikut berubah menjadi Siau-kim-na-jiu dari Bu-tong-pay yang memiliki tujuh puluh dua jurus.
Begitu Teng Ting-hou balas menyerang satu jurus, kedua tangan si baju hitam mendadak terayun dan menjepit ke tengah menepis sambil balas memukul, itulah jurus Liat-be-hun-cong dari San-jin keluarga Gak, serangan lihai yang ganas.
Dalam waktu yang sama, kaki kirinya mendadak terangkat menendang dengan Sau-tong-tui dari Pak-pay.
Gerakannya tangkas dan cepat, hingga susah diikuti pandangan mata.
Lalu gerakan itu disambung dengan ju-rus Koa..y-cu-yan-am-tui, memasang kuda-kuda sambil merendahkan pinggarig, sigap sekali dia menempatkan dirinya pada posisi Tiong-kiong, berbareng tinjunya menggenjot dada lawan dengan deru angin yang dahsyat.
Jurus ini masih disusui lagi dengan jurus Siau-iim-sin-kun, ilmu pukulan sakti kebanggaan Teng Ting-hou sendiri.
Perubahan setiap jurus dari lima kali serangan si baju hitam berkedok ini memang amat menakjubkan, Ongtoasiocia yang menonton dari samping merasa kabur pandangannya.
Dingin serak suara si baju hitam.
"Kau sudah tahu siapa diriku?"
Teng Ting-hou menggeleng kepala, ia tidaktahu siapa lawannya.
Saat itu dia baru menyadari satu hai, satu ha!
yang menakutkan, menciutkan nyali, ia sadar bahwa dirinya bukan tandingan si baju hitam yang ganas ini.
Sudah sekian tahun Sin-kun-siau-cu-kat malang melintang di Kangouw, musuh besardan lihai macam apa pun pernah dihadapi, namun baru sekali ini dia menyadari dan insyaf akan kemampuan dan kelemahan diri sendiri.
Siau-lim-sin-kun harus dimainkan dengan keras dan dilandasi kekuatan besar, kuat menahan napas dan bertekad besar.
Kini Teng Ting-hou sudah ciut nyalinya, semangat tempurnya mendadak luluh, sudah tentu daya permainannya menjadi lemah.
Sebaliknya si baju hitam sudah merubah gaya permainan, yang dilancarkan adalah jurus Pi-kwaciang dari Pak-pay yang dikombinasikan dengan Tay-cui-pi-jiu, ilmu pukulan yang hebat dan dahsyat.
Dengan keras lawan keras, kuat ditandingi kuat, hanya tujuh jurus, Teng Ting-hou sudah terdesak ke sudut yang mematikan.
Roda kereta yang roboh itu masih berputar, ringkik kuda sudah berhenti, dari jendela kereta Ongtoasiocia berhasil menarik keluar tombaknya, tapi belum sempat ia menggerakkan tombak, tibatiba terdengar suara "Krek"
Yang keras, roda kereta yang masih berputar itu ternyata terpukul hancur, menyusul suara "Krek"
Sekali lagi, namun jeias berbeda dengan suara pertama, suara kedua ini lebih mirip tulang patah.
Waktu Ong-toasiocia menoleh ke arena pertempuran, tampak lengan Teng Ting-hou sudah semampai tak rnampu bergerak.
Serangan si baju hitam sebaliknya lebih ganas lagi, agaknya Teng Ting-hou tidak akan diberi ampun.
Keringat sebesar kacang tampak menghiasi wajah Ong-toasiocia, untuk mencabut Pa-ong-jio yang terjepit tadi, dia cukup membuang tenaga untuk menariknya.
Kini melihat keadaan Teng Ting-hou yang menguatirkan, tanpa terasa keringat dingin bercucuran.
Lengan Teng Ting-hou sudah lumpuh karena patah tulangnya, tersapu lagi oleh angin pukulan lawan, rasanya seperti dihantam palu godam, saking sakit, keringat juga bercucuran di jidatnya.
Tapi rasa sakit ini justru membakar keberanian dan semangat tempurnya, pikiran pun menjadi lebih jernih.
Permainan silatnya dengan tangan sebelah ternyata tidak kalah lihai dari permainan dua tinjunya, ilmu yang diyakinkan memang berbeda dengan iimu silat umumnya.
Maklum nama besarnya selama ini, memang diperoleh dengan perjuangan yang berat, cucuran keringat dan darah, dengan mempertaruhkan jiwa dan raga, sudah tentu tak mudah dia menyerah dan terima dipukul roboh begitu saja.
Selama hayat masih di kandung badan, Teng Ting-hou pantang menyerah dan tak mau roboh sebelum ajal.
Pada saat genting itulah, dari tempat gelap berkelebat selarik sinar dingin.
Si baju hitam berkelit dengan memiringkan tubuh sambil menarik diri ke belakang.
"Trap"
Sinar gemerdap dingin itu menancap di dinding kereta, ternyata sebilah pedang pendak, pedang yang lencir tipis dan sempit, cahayanya yang gemerdep menyilaukan mata.
Teng Ting-hou menghela napas lega, rasa tegang yang menyesakkan dada Seketika menjadi longgar.
Tampak olehnya perubahan yang menyolok pada sinar mata si baju hitam waktu melihat pedang pendek yang menancap di dinding kereta.
Kejadian ini membakar semangat tempur Teng Ting-hou, sambil menghardik serentak tinjunya menjotos tiga kali.
Sambil berkelit mundur, tiba-tiba si baju hitam menjejakkan kaki, tubuhnya melambung tinggi lalu bersalto ke belakang tiga kali.
Pada saat yang sama, sinar gemerdep kembali meluncur dari arah pinggir.
Ternyata Ong-toasio-cia yang berhasil mencabut tombak emasnya, kebetulan memburu tiba.
Teng Ting-hou membalik tubuh, sekali raih ia tangkap gagang tombak yang dibawa lari Ongtoasiocia terus dilontarkan.
Tombak emas yang besar lagi berat itu meluncur dengan deras, desing suaranya keras, betapa hebat dan dahsyat daya lontaran Teng Ting-hou dengan tombak yang disegani ini.
Saat itu si baju hitam lagi bersalto di udara, mendadak sebelah tangannya menjentik ujung tombak yang mengincar punggungnya, ujung tombak agak tertekan turun karena jentikan jarinya, dengan sendirinya arah luncuran tombak berat itu membelok ke arah lain, bukan ke depan atau ke atas, tapi membelok ke bawah.
Jeritan panjang dan mengerikan bergema di tengah malam, itulah jeritan jiwa yang meregang ditembus ujung tombak.
Seorang terpantek di tanah oleh tombak emas yang besar, panjang dan berat itu.
Meminjam daya luncur tombak yang dijentiknya ke bawah itu, si baju hitam melejit lebih tinggi, tubuhnya meluncur lebih cepat dan melambung melampaui pucuk pohon hingga belasan tombak jauhnya, begitu menutul pucuk pohon di depannya, tubuhnya lenyap ditelan tabir malam.
Menyaksikan betapa hebat dan menakjubkan gerakan si baju hitam dengan Ginkangnya yang tinggi, Teng Ting-hou berdiri menjublek.
Umumnya murid Siau-lim tiada yang mengkhususkan diri berlatih Ginkang, maka jarang ada murid Siau-lim yang tinggi Ginkangnya, namun berbeda dengan Teng Ting-hou, murid preman Siau-lim ini biasanya paling membanggakan Ginkang yang diyakinkan.
Ginkang yang dia yakinkan memang dipelajari dari orang lain, dengan kemahirannya ini, selalu Teng Ting-hou mengagulkan diri.
Tapi setelah menyaksikan Ginkang si baju hitam tadi, diam-diam ia mawas diri.
Kalau si baju hitam diumpamakan burung elang, maka dirinya hanyalah burung geraja.
Baru sekarang ia sadar, bahwa kemampuan dirinya juga hanya begitu saja, maka ia bertekad selanjutnya harus menggembleng diri.
Sudah lama ia menghamburkan waktu dan tenaga untuk bermain perempuan di luar, kini ia mulai sadar bahwa hidup selanjutnya harus banyak menjauhi perempuan kecuali isterinya sendiri, namun mimpi pun tidak terpikir oiehnya, di saat dirinya dalam keadaan payah, perempuan juga yang memapah dan menolong dirinya.
Jari Ong-toasiocia yang gemetar terasa dingin, namun suaranya lembut dan hangat.
"Lukamu berat sekali."
Teng Ting-hou menggeleng, tawanya getir.
Ada sementara orang selama hidupnya sudah ditakdirkan takkan bisa berpisah dengan perempuan, umpama dia tidak ingin mencari hiburan, justru perempuan yang mencari dirinya.
Setelah menghela napas, mendadak ia bertanya.
"Mana Ting Si?"
Ong-toasiocia melenggong.
"Apa Ting Si datang?"
Tanyanya heran.
Teng Ting-hou tak perlu menjawab pertanyaan Ong-toasiocia, karena Ting Si sudah melangkah keluar dari kegelapan, langkahnya lambat seperti malas berjalan.
Ong-toasiocia mengawasinya sesaat lamanya, akhirnya sorot matanya beralih ke pedang pendek yang menancap di kereta.
"Ini pedangmu?"
Suaranya tinggi.
"Em,"
Ting Si mengangguk, suaranya tertelan dalam mulut.
"Agaknya si baju hitam itu mengenal pedang pendekmu ini?"
"O?"
Berkilat sinar mata Ong-toasiocia, katanya menatap lekat.
"Apakah dia mengenalmu?"
"Aku tidak tahu apakah dia mengenalku. Aku hanya tahu bahwa aku tidak mengenalnya."
"Tampangnya tidak pernah kau lihat, bagaimana kau tahu kalau kau tidak mengenalnya?"
"Darimana kau tahu kalau aku tidak pernah melihat tampangnya?"
Berputar bola mata Ong-toasiocia, mendadak ia tertawa cekikikan.
"Mungkin kau sempat melihat wajahnya, malah lebih jelas daripada kami, bukankah dia lari ke arah sana?"
Ting Si menggeleng sambil mendengus hidung. Mendadak Ong-toasiocia menarik muka, katanya sengit.
"Dia lari dari arahmu muncul, mengapa tidak kau cegat?"
Ting Si balas menjengek.
"Karena tombak emasmu membuka jalan bagi dirinya."
Ong-toasiocia terbelalak, mulutnya terkancing rapat. Ting Si beranjak ke sana, mendekati mayat So Siau-poh lalu mencabut Pa-ong-jio. Mendadak ia menyeringai dingin.
"Dia malah harus berterima kasih kepada kalian, sebab dalam posisi yang sudah terdesak tadi, dia tidak mungkin membungkam mulut atau membunuh orang ini. Kenyataan tombak emas ini telah dipinjam untuk memanteknya di sini."
Teng Ting-hou batuk dua kali, katanya dengan wajah pucat.
"Siapakah orang yang dibunuhnya itu?"
"So Siau-poh,"
Ujar Ting Si tenang.
"O, dugaanmu ternyata tidak meleset. So Siau-poh memang bersekongkol dengan dia."
Ting Si beranjak ke kereta dengan langkah lesu, pelahan ia mencabut pedang pendek yang lencir tipis itu dari dinding kereta.
"Pedangmu memang gaman yang bagus,"
Puji Teng Ting-hou.
Waktu ia menghampiri dan ingin melihat jelas bentuk pedang itu, Ting Si menggerakkan jarinya, pedang pendek itu mendadak lenyap dari pandangannya.
Teng Ting-hou menghela napas, katanya.
"Timpukan pedangmu jelas tidak bertujuan melukai atau membunuh orang, tapi kau telah berhasil menggebahnya."
"Darimana kau berkesimpulan bahwa timpukan pedangku tidak ingin membunuhnya?"
"Pedangmu hanya dua senti menancap di papan kereta, itulah buktinya,"
Demikian ucap Teng Ting-hou.
"Padahal dengan kekuatan jari tanganmu, ditambah ketajaman pedang tipis itu, jika kau ada niat membunuhnya, timpukan pedang tadi akan menembus tenggorokannya. Aku tahu, dengan kekuatan jari tanganmu, pedang itu dapat menancap sedalam lima enam senti di batu yang paling keras."
Ting Si menyeringai.
"Apa tidak berlebihan kau menilai tenagaku?"
"Bagaimanapun, si baju hitam ngacir setelah melihat pedangmu, ini kenyataan yang tidak bisa dipungkiri,"
Demikian ujar Teng Ting-hou.
"Dan bukan pedang pendekmu itu yang ditakuti, tapi dia jeri terhadapmu."
"Mungkin dia pun salah menilai diriku."
"Aku kira dia sudah tahu bahwa pedang pendek itu adalah milikmu, dia juga tahu dan mengenal siapa dirirnu, maka dia lekas menyingkir."
"Apa yang ingin kau katakan?"
Desak Ting Si sambil menatapnya tajam. Teng Ting-hou menghela napas.
"Sebetulnya banyak persoalan yang ingin kubicarakan denganmu, hanya saja sekarang......."
"Sekarang kenapa?"
Desak Ting Si.
"Aku hanya ingin tanya satu hal kepadamu."
"Mengapa kau masih bertele-tele?"
Teng Ting-hou menatap mata Ting Si.
"Rahasia apa yang sedang kau sembunyikan dalam relung hatimu. Mengapa tidak kau bicarakan dengan kami?"
"Kalau kau sudah tahu rahasia apa yang kusembunyikan, mengapa harus kukatakan pula?"
"Siapa bilang aku tahu rahasia apa yang kau sembunyikan dalam hatimu?"
"Kalau kau tidak tahu, berdasar apa kau berani bilang aku menyembunyikan rahasia?"
Teng Ting-hou melongo sesaat lamanya, akhirnya menyengir kecut.
"Sebetuinya aku sendiri yang menyembunyikan rahasia, namun belum sempat kubicarakan."
"Mengapa tidak sekarang kau beberkan saja?"
"Aku tahu ada seorang yang terkenal dan disegani di luar perbatasan. Tapi tempat kelahirannya justru di Bing-lam."
Ting Si mendengarkan sambil menggendong tangan.
"Bing-lam adalah daerah terpencil di wilayah tenggara. Kalau seorang pemuda berbakat dan pandai ingin menonjolkan diri di daerah terpencil itu tentu tidak gampang, maka dia harus keluar mengembara atau melanglang buana, entah pergi ke Tionggoan atau keluar perbatasan."
"Siapakah pemuda yang kau maksud itu?"
Sela Ong-toasiocia.
Baca Juga: Pedang Angin Berbisik 1
Baca Juga: Banjir Darah Di Borobudur Kho Ping Hoo