Ceritasilat Novel Online

Pukulan Si Kuda Binal 4

Eps 4 Pukulan Si Kuda Binal - Gu Long

Baca online Pukulan Si Kuda Binal - Gu Long

Cersil Pukulan Si Kuda Binal - Gu Long.

"Yang ingin malang melintang di Kangouw tentunya bukan hanya dia seorang."

Memutih wajah Ong-toasiocia, katanya setelah tertegun beberapa kejap.

"Maksudrnu ayahku adalah salah seorang dari pemuda-pemuda itu?"

"Yang kubicarakan sekarang hanya satu orang. Dari Bing-lam dia pernah menjunjung tinggi namanya ke seluruh jagad, tapi dia justru terkenal di luar perbatasan, oleh karena itu dia adalah teman karib ayahmu."

Makin pucat wajah Ong-toasiocia, jari-jarinya saling remas, desisnya pelahan.

"Maksudrnu, pemuda itu adalah Pek-li Tiang-ceng?"

Teng Ting-hou manggut.

"Seorang jago terkenal, setelah namanya jatuh, tentu tidak senang membicarakan pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan. Oleh karena itu, bagaimana pengalaman hidupnya waktu ia masih berada di Bing-lam, jarang kaum persilatan yang tahu."

Bersambung ke 8

"Lalu darimana kau tahu rahasia ini?"

Tanya Ong-toasiocia.

"Karena isteriku kebetulan juga dilahirkan di Bing-lam, anak keluarga persilatan yang terkenal di sana, salah satu pamannya dahulu berhubungan intim dengan Pek-li Tiang-ceng."

Begitu menyinggung isterinya, entah sengaja atau tidak sengaja, dia melepaskan diri dari pegangan Ong-toasiocia yang memapahnya.. Lebih jauh Teng Ting-hou berkata.

"Kebanyakan keluarga persilatan di Bing-lam masih kolot, mereka lebih menitik berat pada suku bangsanya, bahasa daerah mereka juga berbeda dengan Tionggoan, maka anak murid kaum persilatan di Bing-lam jarang ada yang berkelana di Tionggoan."

"Maka tak perlu heran bila jarang ada orang tahu, di waktu mudanya Pek-li Tiang-ceng pernah menetap di Bing-lam."

"Dalam suatu percakapan, pernah isteriku menyinggung tentang hal ini. Pamannya adalah sahabat karib Liau-tang Tayhiap, malah dia merasa bangga punya paman yang terkenal dan disegani. Oieh karena itu, dia pun tahu tanggal dan hari kelahiran Pek-ii Tiang-ceng dengan jelas."

"Ah, apa benar?"

Tanya Ong-toasiocia.

"Darimana dia tahu?"

"Sudah tentu dari keterangan pamannya yang doyan bercerita itu. Hari ulang tahun Pek-li Tiangceng kebetulan sama dengan isteriku.."

"Bulan dan tanggal berapa kelahirannya?"

"Tanggal 13 bulan 5." * * * * * Bintang bertaburan dan berkelap-kelip, mayapada dilingkupi keheningan, hembusan angin sepoisepoi, pucuk pohon menari gemulai, lembut dan indah laksana napas gadis ayu nan lembut dan wangi.. Mendadak Ting Si menyeletuk.

"He, mengapa kalian diam saja?"

Tiada reaksi.

"Kalian bungkam, apakah karena sudah yakin seratus persen bahwa Pek-li Tiang-ceng betul adalah pembunuh durjana itu?"

Ong-toasiocia mendesis penuh kebencian.

"Aku yakin, dialah pengkhianat busuk yang patut mampus itu."

Teng Ting-hou berkata.

"Kalau perusahaan gabungan Piakiok kita sukses, kekuatan Ceng-lionghwe dengan sendiri akan kena pengaruh, maka dia merasa perlu menjual rahasia kita kepadamu."

"Betul, masuk akal,"

Ucap Ting Si.

"Perbuatan rendah itu, bukan saja menjatuhkan pamor dan wibawa Ngo-hoa-coan-ki, dia pun menjadi nelayan yang memungut keuntungan."

"Betul."

"Tak pernah kuduga sebelum ini, bahwa Ting Si yang cerdik pandai juga bisa terjungkal. Bahwa rencana kali ini gagal, maka harus mencari akal lain untuk membekuk pembunuh itu."

"Ya, betul."

"Untung kekuatan Ceng-liong-hwe sudah ditanam dalam Ngo-hou-kang, secara kebetulan pihak Ngo-hou-kang juga menjadi pendukung serikat golongan hitam, maka dia berkeputusan untuk merangkul perkumpulan orang-orang jahat itu, dengan tujuan untuk mengadu domba supaya golongan hitam yang tergabung daiam perkumpulan ini saling cakar mencakar dengan Ngo-hoacoan-ki."

"Ya, masuk akal,"

Seru Ting Si.

"Sayang sekali sebelum rencana matang, terjadi perpecahan pendapat diantara para anggota Ngo-hou-kang. Ada sementara pihak yang tidak mau tunduk pada keputusan pimpinannya, kalau dia tidak sempat merangkul dan memperalat mereka, terpaksa dia membunuh orang-orang yang menentang kehendaknya."

"Betul."

"Langkah selanjutnya, kami yang dijadikan kambing hitam. Maksudnya supaya kau tidak berani pulang ke Ngo-hou-kang. Terhadap Ting Si yang cerdik pandai, sedikit banyak mereka masih jeri, agak takut."

"Kedengarannya memang benar."

"Tay-ong-Piaukiok menolak tegas bergabung dalam Ngo-hoa-coan-ki. Mungkin karena Ongloyacu sudah tahu siapa dia. Dahulu waktu masih di Bing-lam, mereka adalah sahabat karib."

"Mungkin begitu."

"Konon asal mula berdirinya Ceng-liong-hwe timbul dari Bing-lam. Waktu mudanya dulu, bukan mustahil Ong-loyacu pernah menjadi anggota Ceng-liong-hwe."

"Ya, mungkin."

"Di saat Ceng-liong-hwe berusaha melebarkan sayap kekuasaannya dalam perusahaan pengawalan yang berkembang pesat di Tionggoan, mereka menuntut Ong-loya-cu untuk bergabung dengan Ceng-liong-hwe. Tapi waktu itu, Ong-loyacu sudah tahu muslihat dan wajah asli mereka, meski dipaksa dan diancam, Ong-loyacu tetap pada pendiriannya, tidak terbujuk dan tidak mau tunduk. Supaya tidak menjadi bisul di kemudian hari, maka dia dibunuh secara kejam."

"Sunguh menarik uraianmu,"

Puji Ting Si. Teng Ting-hou tertawa, katanya.

"Sudah sembilan kali kau menyatakan akur terhadap ucapanku tadi, tentu kau anggap uraianku betul-betul masuk akal?"

Ting Si tertawa, ujarnya.

"Harus kuakui bahwa setiap patah kata dan persoalan yang barusan kau kupas memang masuk akal, hanya sayang kau tidak punya bukti."

"Bukti macam apa yang kau inginkan?"

"Terserah bukti apa yang bisa kau kemukakan."

"Kalau tiada bukti, maka tidak patut kita menuduh Pek-li Tiang-ceng sebagai pembunuh, begitu?"

"Ya, tidak bisa."

"Pek-li Tiang-ceng adalah sahabat karib Ong-loyacu, waktu mudanya juga pernah di Bing-lam. Maka rahasia perjalanan barang hantaran kita juga hanya dia yang tahu jelas. Bukan saja ilmu silatnya tinggi, dia pernah meyakinkan Pek-hou-sin-kun, sampai gaman yang kau gunakan juga diketahuinya."

Setelah menghela napas gegetun, dia melanjutkan.

"Dari segala data yang kukemukakan tadi, hanya dia saja seorang yang patut dicurigai dan cocok dengan iatar belakangnya, apakah semua data itu belum cukup sebagai bukti?"

"Ya, belum cukup."

"Mengapa tidak cukup?"

"Yang cocok dengan data-data yang kau kemukakan tadi, bukan hanya Pek-li Tiang-ceng seorang saja."

"Jadi masih ada orang lain?"

Ting Si tertawa menyengir, katanya.

"Ya, orang itu adalah kau."

"Aku?" .

"Bukankah kau teman baik Ong-loyacu? Tadi kau bi-lang isterimu kelahiran Bing-lam, itu berarti bahwa dulu kau juga pernah tinggal di daerah terpencil itu. Demikian pula tentang rahasia perusahaan, bukankah kau juga tahu jelas kegiatan Piaukiok itu?"

Ting Si tersenyum, katanya.

"Tapi aku tahu kau bukan pembunuh keji itu, namun perlu aku peringatkan padamu, orang-orang yang mencocoki data-data yang kau kemukakan tadi, bukan mutlak sebagai pembunuh."

Teng Ting-hou mengawasinya beberapa kejap, mendadak dia tertawa, katanya.

"Mungkin kau melupakan satu ha!?"

"Satu hal apa?"

"Semua data yang kupaparkan tadi tidak seluruhnya mencocoki diriku. Baru tadi malam aku tahu gaman apa yang kau pergunakan."

Ting Si tidak bisa menyangkal.

"Belakangan ini namamu memang menanjak, tapi kaum persilatan yang pernah melihatrnu menggunakan gaman jugajarang sekali."

Ting Si diam saja, dia tidak membantah.

Dalam pertarungan sengit dan seru apapun, jarang dia menggunakan senjata, setiap kali menyelesaikan kesukaran, kecuali dengan kedua tangan dan panca inderanya, dia lebih seririg menggunakan otak, bukan main kekerasan.

Teng Ting-hou menatapnya lekat, mendadak ia berkata sambil tertawa.

"Sebetulnya aku tahu, kau tidak bersekongkol dengan pembunuh itu, hanya saja......"

"Hanya saja apa?"

"Aku berpendapat, kau juga kenal Pek-li Tiang-ceng."

"Berdasar apa kau beranggapan demikian?"

"Sebab dia tahu seluk-belukmu, kau pun amat memperhatikan dirinya."

Mendadak Ong-toasiocia menyeletuk dengan nada dingin.

"Bukan hanya memperhatikan, sejauh dia bicara, selalu membela kepentingan orang itu, malahan......"

"Memangnya kalian berpendapat bahwa aku adalah putranya, begitu?"

"Peduli kau pernah apa dengannya, karena kau selalu membela dia, maka kau harus dapat mengemukakan bukti kebersihannya, bahwa dia tidak tersangkut dalam peristiwa ini,"

Demikian bantah Ong-toasiocia.

"Oleh karena itu, aku harus ikut kalian ke Ngo-hou-kang, begitu?"

Olok Ting Si.

"Peduli tanggal 13 bulan 5 benar adalah kode Pek-li Tiang-ceng atau bukan, sekarang kita harus segera ke Ngo-hou-kang,"

Ong-toasiocia bicara dengan garang. Ting Si menggeleng kepala.

"Agaknya aku harus ikut kalian ke sana."

"Betul,"

Akhirnya Ong-toasiocia mengaku.

"Sekarang juga aku ingin kau pergi bersama kami."

"Hahahaha,"

Ting Si bergelak tawa.

"Apa maksudmu?"

Tanya Ong-toasiocia khekhi.

"Artinya, apapun yang kau inginkan, aku tidak peduli, aku tidak mau ikut."

Ong-toasiocia melenggong mengawasi Teng Ting-hou, Teng Ting-hou juga hanya baias mengawasinya saja. Ting Si berkata santai.

"Kalian masih punya pendapat apalagi?"

Saking gugupnya Ong-toasiocia membanting kaki, matanya merah berkaca-kaca, mendadak dia berteriak.

"Mengapa kau tidak tanya Siau Ma kepadaku?"

"Mengapa harus tanya?"

Bantah Ting Si dengan dingin, lalu menambahkan.

"Dia sudah besar, bukan anak kecil, memangnya aku harus selalu menjaga dan membimbingnya, menyusui dan mencebokinya?"

Merah jengah wajah Ong-toasiocia, serunya jengkel.

"Tapi......tapi mereka sudah berangkat ke Ngo-hou-kang, apa kau......kau tidak gelisah?"

"Kapan mereka berangkat?"

Tanya Teng Ting-hou gugup.

"Waktu aku bicara dengan kalian di restoran, aku menyuruh mereka menunggu di hotel, siapa tahu......"

"Siapa tahu mereka berangkat lebih dulu?"

Ujar Teng Ting-hou. Ong-toasiocia mengangguk sambil menggigit bibir.

"Siau-lin memberitahu kepadaku, Siau Ma adalah lelaki gagah yang tidak takut tingginya langit dan tidak peduli tebalnya bumi, tapi dia hanya takut dan tunduk kepada Ting-toakonya yang mungil ini."

"Setelah dia tahu kau mencari Ting Si, mana mau dia menunggumu lagi.."

Ting Si merengut.

"Aku heran, mengapa dia harus takut kepadaku."

"Apapun yang terjadi, jelek-jelek Siau Ma adalah saudara seperjuanganmu, kalau Ngo-hou-kang menganggap kau sebagai pengkhianat, maka Siau Ma pasti akan mendapat kesulitan disana."

"Hm,"

Ting Si menggeram dalam mulut.

"Sebelum berangkat,"

Demikian tutur Ong-toasiocia.

"Mereka berpesan kepada kasir hotel, supaya disampaikan kepadaku, bahwa mereka akan berangkat ke Ngo-hou-kang, peduli apa akibatnya, mereka meninggalkan pesan kepada Lo-shoa-tang."

Teng Ting-hou berkata.

"Dalam keadaan seperti ini, mereka pergi ke Ngo-hou-kang. Apa tidak mirip kambing cilik yang masuk ke mulut harimau, maka......"

"Maka kita harus lekas menyusuinya."

"Hm, huh,"

Ting Si menjengek dan mendengus.

"Apa maksudmu itu?"

Tanya Ong-toasiocia dongkol.

"Artinya, aku tidak peduli. Kalau kalian ingin menyusul ke sana, silakan berangkat. Aku ingin tidur saja." * * * * * Kuda yang biasa dipakai menarik kereta urnumnya kuda jelek, tapi kereta pemberian Kui Tangseng justru ditarik kuda-kuda gagah, kuda pilihan yang jempolan. Sebelum pergi Ting Si mengikat kuda itu di dahan pohon, walau tindak-tanduknya kasardan berangasan, setiap langkah kerjanya amat cermat dan hati-hati, sejak kecil dia dididik untuk merawat dan menjaga dirinya sendiri. Dia tidak peduli apakah orang mengikuti di belakangnya. Seorang diri dia masuk hutan, dari bawah tempat duduk dalam kabin kereta, dia mengeluarkan seguci arak, sekaligus dia menenggaknya sampai puas, laiu melompat ke atap kereta, pelahan merebahkan diri sambil menjulurkan tangan. dan kaki untuk mengendorkan urat syarafnya. Dapat memperoleh tempat tidur seenak dan senyaman ini, Ting Si amat puas. Apa boleh buat, Teng Ting-hou dan Ong-toasiocia ikut di belakangnya. Mereka mengumpulkan dahan-dahan pohon laiu membuat api unggun. Walau di hutan ini mereka tidak takut diterkam binatang buas seperti macan atau ular, namun binatang berbisa yang lain tentu ada. Membuat api unggun memang lebih baik untuk menjaga segala kemungkinan. Sebagai kaum persilatan kawakan, Teng Ting-hou selalu bekerja cermat dan penuh perhitungan, maka perusahaan yang dipimpinnya bertambah maju dan bertahan hingga sekarang.

"Bagaimana keadaan luka lenganmu?"

Tanya Ong-toasiocia.

"Mending, sudah tidak sakit."

"Aku membawa Kim-jong-yok, biar kuurut dan bubuhi obat,"

Mendadak Ong-toasiocia memperlihatkan kelembutan seorang perempuan.

Dengan penuh perhatian ia merobek lengan baju Teng Ting-hou, dengan arak yang sudah dihangatkan di api unggun, hati-hati sekali ia membersihkan luka di siku Teng Ting-hou, kemudian membubuhi obat mujarab buatan ayahnya.

Dengan sobekan kain gaun bagian dalamnya, ia membalut lengan orang.

Gerak-geriknya lembut penuh keibuan, sayang sekali Ting Si lagi asyik dengan impiannya di atap kereta, tidak menyaksikan adegan mesra ini.

Ting Si mencopot pakaian luarnya sebelum merebahkan diri, pakaian itu dia gulung dijadikan bantal, kini dia mendengkurdan pulas.

Ong-toasiocia bersikap tidak peduli dan menganggap Ting Si tidak berada di antara mereka, namun akhirnya berkata dengan mendongkol.

"Coba kau dengar, manusia yang satu ini sungguh mirip babi, di tempat terbuka yang dingin dan banyak nyamuknya begini, dia juga bisa tidur pulas, mendengkur lagi."

Teng Ting-hou tertawa.

"Sejak kecil dia sudah biasa hidup terlunta-lunta, menjadi gelandangan dan telantar di Kangouw. Bila keadaan memaksa, sambil berdiri pun dia bisa tidur dengan santai."

Ong-toasiocia menggigit bibir, lama dia diam. Taktahan akhirnya ia bersuara pula.

"Apakah selama ini dia tidak pernah menetap dirumah?"

"Rumah? Hahaha, kapan dia pernah punya rumah? Sejak kecil dia sebatangkara, hidup terlunta-lunta, sengsara telah menggembleng dirinya menjadi manusia yang berguna, menjadi lelaki sejati, pendekar gagah."

Ong-toasiocia bungkam, seperti menekan gejolak hatinya, akhirnya dia ikut menenggak beberapa teguk arak.

Ternyata Teng Ting-hou juga melampiaskan perasaan gundahnya dengan air kata-kata.

Malam makin dingindan berkabut tebal, arak justru dapat menghangatkan badan.

Dalam keadaan biasa, mereka takkan kuat minum sebanyak itu, karena kelewat takaran, akhirnya mereka menggeletak dan pulas.

Fajarpun menyingsing, namun kabut masih cukup tebal, pelahan mentari menongol dari peraduan, sinar surya menembus celah-celan daun, memetakan pemandangan yang mempesona dalam hutan nan ramai dengan kicau burung.

Ong-toasiocia terjaga oleh kicau burung yang merdu itu, sejenak ia duduk sambil mengucek mata yang silau oleh sinar surya pagi, sesaat dia celingukan, keadaan sekelilingnya sepi lengang.

Beberapa kejap kemudian, Teng Ting-hou pun terjaga oleh ramainya kicau burung di pucuk pohon.

Bergegas dia melompat berdiri dan langsung menghampiri kereta, pelahan ia melongok ke kabin kereta, kosong, ternyata Ting Si sudah tidak kelihatan..Begitu dia menoleh ke depan kereta.

Semula kereta itu ditarik empat ekor kuda besar dan gagah serta kuat, kini keempat kuda itu juga lenyap tak keruan parannya.

Semalam kuda-kuda itu terikat di dahan pohon di sebelah depan, kuda-kuda itu jinak dan terlatih baik, meski ikatan talinya terlepas juga takkan minggat.

Maka boleh ditarik satu kesimpulan, hilangnya kuda-kuda itu pasti dibawa pergi seorang.

Mungkinkah Ting Si yang melakukan?

Teng Ting-hou menarik napas panjang, menghirup hawa pagi yang segar, seperti ingin mencuci dadanya yang sesak oleh rasa dongkol dan penasaran, terasa kepalanya masih agak pening karena semalam terlalu banyak minum arak.

Sejenak ia menepekur, Ting Si pergi tanpa pamit dan tidak meninggalkan pesan.

"Apakah Ting Si telah pergi?"

Tanya Ong-toasiocia.

"Ya, Ting Si telah pergi, pergi membawa empat ekor kuda, kecuali itu dia juga membawa seguci arak. Di jok tempat duduk dalam kabin kereta, ternyata dia meninggalkan goresan dua huruf yang ditulis dengan gaya kasar, 'Sampai bertemu lagi'. 'Sampai bertemu lagi', dalam keadaan tertentu artinya juga 'selamat tinggal', selamat untuk tidak bertemu lagi selama-lamanya.

"Mengapa dia minggat? Mengapa tidak pamit? Apa kita memaksanya pergi ke Ngo-hou-kang?"

Demikian teriak Ong-toasiocia sengit, sekian saat dia menggigit bibir, lalu berkata pula.

"Sungguh aku tidak habis mengerti, Ting Si ternyata laki-laki penakut, laki-laki pengecut."

"Pasti bukan,"

Sela Teng Ting-hou.

"Kalau dia pergi tanpa pamit, tentu punya alasan yang tidak mungkin dibicarakan dengan kita."

"Alasan apa? Kau tahu?"

"Mana aku tahu,"

Teng Ting-hou menghela napas.

"Semula aku beranggapan, aku sudah menyelami pribadinya.."

"Kenyataan anggapanmu keliru."

"Ting Si memang pemuda yang susah dipahami, sukar orang menebak jalan pikirannya."

"Aku yakin dia kenal Pek-li Tiang-ceng, malah bukan mustahil punya hubungan erat dengan Pekli Tiang-ceng."

"Dari sikapnya semalam, memang dapat disimpulkan demikian. Tapi mungkin juga dugaan kita keliru."

"Mengapa kau berkata demikian?"

"Usia mereka berbeda cukup jauh, tak pernah ada kesempatan untuk berdekatan."

"Kalau teman jelas bukan. Tapi bukan mustahil Ting Si adalah putra Pek-li Tiang-ceng."

Teng Ting-hou tertawa lebar.

"Kau kira tidak mungkin?"

Tanya Ong-toasiocia.

"Pek-li Tiang-ceng seorang aneh, selama hidup tidak pernah kawin. Sejak aku kenal dia belum pernah melihat atau mendengar dia bergaul dengan perempuan, bicara sepatah kata pun tidak pernah."

"Jadi dia membenci perempuan?"

"Mungkin, lantaran wataknya yang aneh itu, maka dia sukses dalam usaha,"

Tiba-tiba Teng Ting

KANG ZUSI hou sadar bahwa omongannya dapat menusuk perasaan orang, segera dia menambahkan.

"Aku kira, saat ini Ting Si tengah di perjalanan menuju ke Ngo-hou-kang."

"Mengapa dia tidak mengajak kita?"

"Pertama aku sudah terluka, kedua, kau......"

Ong-toasiocia merengut.

"llmu silatku memang rendah, dia kuatir kita celaka, atau menjadi beban baginya, maka dia berangkat seorang diri."

"Ya, mungkin demikian."

"Kau masih menganggap dia setia kawan?"

"Kau berpendapat sebaliknya?"

"Seharusnya dia sadar, biar dia berangkat lebih dulu, cepat atau lambat, kita kan bisa menyusulnya."

"Kita yang kau maksud adalah kau dan aku?"

Teng Ting-hou menegas. Ong-toasiocia menatapnya sekian saat.

"Memangnya kau akan membiarkan aku pergi seorang diri?"

Teng Ting-hou tertawa getir.

Selama ia berkelana, entah berapa banyak perempuan pernah menghibur dirinya, namun belum pernah ia belajar, cara bagaimana menolak permintaan perempuan.

Mungkin lantaran kemahirannya bersandiwara, maka jarang ada perempuan yang menolak kehendaknya.

"Kau mau pulang atau ke Ngo-hou-kang?"

"Sudah tentu ke Ngo-hou-kang,"

Ujar Teng Ting-hou dengan menyengir kecut, sambil mengawasi sepatunya yang bolong dan tipis alasnya, ia berkata lebih lanjut.

"Belakangan ini perutku lebih gendut, aku perlu berolahraga, menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki umpamanya."

"Bila kau tidak kuat berjalan, aku bersedia menggen-ongmu,"

Demikian Ong-toasiocia berolokolok.

"Apa kau maksudkan, bila kau tidak kuat jalan, aku pun boleh menggendongmu?"

"Jangan kurangajar. Apa kita harus mencari Lo-shoa-tang lebih dulu? Kau kenal Lo-shoa-tang?"

"Entah, aku tidak mengenalnya."

"Kuharap Lo-shoa-tang belum terlalu tua. Aku tidak suka berhubungan dengan lelaki tua, apalagi yang sudah ompong."

"Lho, kau kira aku ini belum tua?"

"Kalau benar kau sudah tua, aku pun sudah menjadi nenek-nenek."

Dua orang menempuh perjalanan pasti tidak kesepian, mereka bisa ngobrol panjang lebar, tujuan yang harus mereka capai amat jauh juga takkan terasa lagi.

Tanpa terasa, akhirnya mereka tiba di Ngo-hou-kang.

Teng Ting-hou tidak gegabah untuk mengajak Ong-toasiocia langsung naik ke atas gunung, sementara itu luka di lengannya belum sembuh, Ong-toasiocia juga gadis yang pandai menggunakan otak, mereka tidak bergerak secara sembrono..

Tak jauh di bawah gunung, tepatnya di sebelah timur ada sebuah kota kecil, di kota kecil ini terdapat sebuah warung yang khusus menjual bakpao.

"Lo-shoa-tang dengan Toa-ban-thay (bakpao besar) buatannya memang terkenal di kota ini."

Ban-thay-tiam milik Lo-shoa-tang adalah merktua yang sudah terkenal.

Papan nama yang tergantung di iuar, demikian pula meja kursi dalam warung serta dindingnya sudah hitam hangus oleh asap.

Pemilik warung bakpao juga adalah pelayan dan koki yang harus bekerja di dapur, sekaligus dirangkap oleh satu orang.

Pemilik warung bakpao ini biasa dipanggii Lo-shoa-tang, padahai usianya belum begitu tua, namun karena setiap hari harus bekerja di dapur, wajahnya menjadi hangus karena asap api, kulit mukanya yang hitam itu menjadi berkeriput dan kelihatan lebih tua dari usia sesungguhnya, kalau dia tertawa, giginya yang masih utuh tampak putih seperti biji mentimun.

Kecuali mahir membuat bakpao, Lo-shoa-tang juga ahli membuat ayam bakar ala Shoa-tang.

Bakpaonya besar dan enak, demikian pula ayam bakarnya lezat dan nikmat, dari pagi hingga malam, warungnya tidak pernah sepi.

Setelah lewat saatnya makan malam, bakpaonya sudah terjual habis, baru Lo-shoa-tang bisa mandi dan istirahat melepas lelah, makan dua atau tiga bakpao dan cakar atau kepala ayam serta minum beberapa cawan arak sebagai makan malam.

* * * * * Malam itu, Lo-shoa-tang sedang minum arak sendirian, sehari penuh dia sibuk bekerja, sekujur badan terasa lelah dan penat.

Kini tiba saatnya dia beristirahat, bakpao pertama belum habis dia kunyah, pintu warungnya juga sudah tutup, namun masih juga ada tamu yang mengganggu ketenanganya, sudah tentu hatinya mendongkol dan kurang senang.

Demikianlah perasaan Loshoa-tang saat itu..

Warung bakpao sudah tutup, namun Lo-shoa-tang biasa membuka pintu kecil di samping rumah untuk keluar masuk.

Maka tanpa permisi Teng Ting-hou dan Ong-toa-siocia dapat masuk ke warung itu.

Lo-shoa-tang bersungut dan melotot pada dua tamu yang baru datang ini, seolah dirinya berhadapan dengan makhluk aneh.

Setelah berhadapan, Ong-toasiocia mengawasi pemilik warung ini penuh perhatian, dalam relung hatinya juga menganggap si muka hangus ini sebagai makhluk hidup yang lucu dan aneh.

Selain itu, sebagai pedagang yang menjual makanan, melihat kedatangan pembeli bukannya senang malah melotot gusar.

Bukankah hanya makhluk liar dan buas saja yang bersikap garang terhadap orang yang tidak dikenalinya?

"He, masih ada bakpao tidak?

Aku ingin beli beberapa biji yang masih panas,"

Demikian kata Ong-toasiocia kemudian.

"Yang panas sudah habis,"

Terpaksa Lo-shoa-tang menjawab dengan tak acuh.

"Sudah dingin juga tidak jadi soal, asal belum kering,"

"Yang dingin juga tidak ada."

Ong-toasiocia naik pitam.

"Warung bakpao kan mestihya jual bakpao."

Lo-shoa-tang meliriknya sekali.

"Warung bakpao sudah tentu jual bakpao. Tapi warung yang sudah tutup tidak melayani pembeli, peduli mau yang panas atau yang dingin, separoh juga tidak kujual."

Ong-toasiocia berjingkrak gusar, sebelum la bertindak, Teng Ting-hou keburu menariknya mundur.

"Tapi kalau yang beli Siau Ma atau Ting Si, kau mau melayani tidak?"

"Apa, Ting Si?"

Lo-shoa-tang menegas.

"Ya, Ting Si yang menyenangkan itu."

"Kau temannya?"

"Siau Ma juga sahabat karibku, Ting Si menyuruhku mampir diwarungmu ini."

Lo-shoa-tang melotot lagi sekian saat, akhirnya ia tertawa lebar.

"Warung bakpao pasti menyediakan bakpao, yang panas maupun yang dingin selalu tersedia."

Teng Ting-hou tertawa senang.

"Apakah masih ada sisa ayam panggang?"

"Hanya untuk teman Siau Ma dan Ting Si. Berapa yang kau inginkan, sebentar aku siapkan."

Ayam bakar karya Lo-shoa-tang rasanya memang luar biasa, terutama kaldu ayamnya yang sedap dan segar, rasanya asin-asin kecut, bila dihirup lalu mengganyang sekerat bakpao, rasanya sungguh nikmat, Di meja yang berada di pinggir sana, Lo-shoa-tang juga sibuk menggerogoti beberapa batang cakar ayam, saban-saban dia mendongak melirik ke arah Teng Ting-hou dan Ong-toasiocia yang sedang makan bakpao dan ayam bakardengan lahap, melihat kedua tamunya makan dengan lahap, hatinya ikut senang dan bangga.

"Masih ada paha ayam bakar tidak?"

Pinta Teng Ting-hou beberapa saat kemudian. Lo-shoa-tang menggeleng kepala, dia menghela napas.

"Paha ayam hanya untuk pembeli dan sudah kalian habiskan, sebaliknya penjual ayam bakar cukup menggares cakarnya saja."

"Lho, aneh, kau kan bisa makan paha atau jeroannya juga?"

Tanya Ong-toasiocia. Lo-shoa-tang menggeleng.

"Sayang kalau harus kumakan sendiri."

"Wah, kalau demikian, tentu sekarang kau sudah kaya raya."

"Apa aku mirip orang kaya?"

Bocah cilik pun bisa mengatakan Lo-shoa-tang tidak mirip orang kaya, sebab dari kaki hingga ujung rumputnya yang tidak terawat itu, orang akan menarik kesimpulan bahwa dia lebih mirip gelandangan yang lama tidak mandi dibanding orang kaya.

"Berdagang ayam bakar dan bakpao kan untungnya besar, lalu dimana uang simpananmu selama ini?"

Tanya Ong-toasiocia pula.

"Aku tidak pandai menyimpan uang. Keuntunganku semua habis di meja judi, lebih banyak lagi dikalahkan oleh Ting Si si bocah keparat dan nakal itu."

Semula Ong-toasiocia terbelalak, akhirnya ia cekikikan geli. Mata Lo-shoa-tang terbeliak, serunya dengan suara sengau.

"Aku tahu kalian menganggapku sebagai makhluk aneh, sebetulnya......"

"Sebetulnya kau memang makhluk aneh."

Lo-shoa-tang tertawa lebar malah.

"Kalau aku bukan makhluk aneh, mana mungkin menjadi sahabat baik Ting Si, bocah keparat itu?"

Tiba-tiba dia melirik penuh perhatian, dari kepala hingga kaki, Ong-toasiocia ditatapnya tajam.

"Sekarang aku tidak sangsi lagi, aku percaya bahwa kalian memang teman baiknya, terutama engkau."

Merah muka Ong-toasiocia, tapi ia bertanya.

"Dalam hal apa aku kelihatan ganjil?"

"Bila sedang marah, wah seram, watakmu yang buruk itu susah dilayani, kalau mencaci lebih galak dibanding macan betina, waktu makan ayam bakar, lagakmu tidak kalah dibanding lelaki serakah yang kelaparan tujuh hari, terutama bila minum arak, kau lebih unggul dari lelaki penjudi. Tapi setelah lihat kanan dan periksa kiri, tengok atas dan ngintip bawah, terasa olehku bahwasanya kau tidak memperlihatkan pambek seorang laki-laki jantan, seratus persen kau adalah perempuan. Betul tidak?"

Tanpa menunggu reaksi Ong-toasiocia, dia melanjutkan.

"Kalau perempuan macam dirimu tidak dianggap aneh, perempuan macam apa yang harus dianggap istimewa?"

Merah selebar muka Ong-toasiocia, namun ia tertawa cekikikan.

Mendadak ia sadar, laki-laki setengah baya yang mirip kakek peyot ini, sebetulnya memiliki sifat jenaka dan tingkah laku yang menyenangkan.

Setelah menghabiskan secawan arak lagi, Lo-shoa-tang berkata.

"Nona cilik yang kemarih ikut Siau Ma, kelihatannya memang cantik, lemah lembut dan ramah, tapi kalau aku harus memilih seorang di antara kalian, aku akan memilih kau."

Kuatir lelaki hitam keriput ini terus mengoceh tanpa henti, segera Teng Ting-hou menimbrung.

"Jadi Siau Ma sudah kemari?"

"Ya, malah mengganyang dua ekor ayam bakar dan belasan bakpaoku tanpa bayar,"

Omel Loshoa-tang penasaran.

"Dimana mereka sekarang?"

Tanya Teng Ting-hou.

"Sudah naik gunung,"

Sahut Lo-shoa-tang.

"Adakah dia meninggalkan pesan untuk kami?"

"Ada. Dia minta seteiah kalian datang, aku harus segera memberitahu kepadanya. Eh, mengapa Ting Si bocah mungil itu tidak kelihatan?"

Ong-toasiocia menggigit bibir, bagi orang yang sudah lama mengenal pribadinya tentu tidak heran, bila sedang khekhi selalu menggigit bibir, suatu kebiasaan aneh, dan lebih aneh lagi bahwa bibirnya tidak pernah sobek meski dia menggigit sampai berdarah, mungkin giginya tumpul?

"Wah, sekarang kami sudah tiba di sini, dengan cara apa kau akan memberitahu kepada Siau Ma."

"Beberapa hari belakangan ini, situasi dan kondisi di atas gunung sudah berubah, ada beberapa teman yang mau menyampaikan kabarku."

"Berapa banyak teman yang mau membantumu?"

Lo-shoa-tang menghela napas.

"Terus terang saja, kalau tidak salah hitung, kini tinggal satu saja."

"Siapakah temanmu itu?"

"Oh Kang yang berani mengadu jiwa."

"Oh-lo-ngo maksudmu?"

"Betul!"

Seru Lo-shoa-tang sambii bertepuk tangan.

"Memang dia."

Ong-toasiocia menyeletuk.

"Orang macam apakah Oh-lo-ngo itu?"

Maka Teng Ting-hou menjelaskan.

"Sebagai pemberani dan gagah, dahulu orang ini dijuluki Hosay-siang-hiong (Sepasang pahlawan dari Ho-say) bersama Thi-tan (nyali besi) Sun Gi. Mereka terhitung orang gagah yang ternama dari golongan hitam."

"Ya, betul, memang dia, setiap malam dia pasti kemari,"

Ucap Lo-shoa-tang.

"Untuk apa dia kemari?"

"Membeli ayam bakar."

Ong-toasiocia tertawa.

"Lho, lucu, sebagai orang gagah dari golongan hitam, apa setiap malam dia makan ayam bakar?"

Lq-shoa-tang tertawa sambii memicingkan mata, tawa yang aneh.

"Betul, setiap malam dia pasti kemari membeli ayam bakar, tapi dia hanya makan cakarnya saja."

"O, jadi ayam bakar itu untuk bininya?"

Tanya Ong-toasiocia menahan geli.

"Bukan bini, tapi sahabat lamanya."

"Thi-tan Sun Gi maksudmu?"

"Betul."

"O, Thi-tan memang orang gagah dan perkasa, tapi juga teman yang baik."

Malam sudah larut jalan raya sudah sunyi lengang,dari kejauhan terdengar suara "tok, tok, tok, tok"

Yang nyaring dan beruntun.

"Nah, itu dia sudah datang,"

Ucap Lo-shoa-tang.

"Siapa yang datang?"

Tanya Ong-toasiocia.

"Oh-lo-ngo yang suka adu jiwa itu."

Ong-toasiocia tertawa geli.

"Dia itu manusia atau kuda, mengapa berjalan kaki pakai tak tok segala."

Lo-shoa-tang diam saja.

Sementara itu suara tak tok seperti tapal kuda menyentuh jalan itu makin nyaring dan dekat, akhirnya tampak seorang melangkah masuk dengan membungkuk badan.

Membungkuk bukan karena memberi hormat kepada orang-orang di dalam rumah, tapi karena dia seorang bungkuk, berjalan pun tertatih-tatih dengan tongkai, Sebenarnya usia orang ini belum tua, namun tam-pangnya mirip kakek buyutan yang sudah berusia delapafi puluh tahun, Rambut kepala beruban, kulit muka penuh codet, bekas luka golok atau pedang, mata kirinya dibalut kain hitarn, tangan kanan memegang tongkat, begitu melangkah masuk, terdengar napasnya ngos-ngosan seperti babi gemuk yang berlari jauh.

Karena napasnya sesak, dia terbatuk-batuk dengan menungging, Mengawasi orang ini, Ong-toasiocia melongo sekian saat, menjublek dengan pandangan terlongong.

Dibantu tongkat bambu, Oh-lo-ngo beranjak maju dengan tubuh bergoyang ke hadapan Lo-shoatang.

Jangan kata menoleh, melirik pun tidak kepada Ong-toasiocia dan Teng Ting-hou.

Lo-shoa-tang tak menegur atau bertanya kepadanya, begitu orang sudah dekat di depannya, baru ia mengambil sebuah bungkusan kertas minyakdari bawah meja, setelah bungkusan itu selesai dia ikat dengan tali, lalu diserahkan kepada si bungkuk.

Tanpa bicara Oh-lo-ngo menerima bungkusan itu, pe-lahan-lahan ia memutar tubuh lalu beranjak keluar.

Tongkatnya berbunyi tak tok lagi dengan irama yang pasti.

Ter-nyata sepatah kata pun mereka tidak bicara.

Setelah Oh-lo-ngo pergi, akhirnya Ong-toasiocia bertanya.

"Si bungkuk itukah yang dinamakan Oh-lo-ngo?"

"Ya, betul, dialah Oh-lo-ngo yang berani adu jiwa."

"Orang macam itukah yang disuruh Siau Ma menyampaikan berita?"

"Tidak salah."

"Padahal sepatah kata pun kalian tidak bicara."

"Kami tidak perlu bicara."

"Melihat ikatan tali di buntalan kertas minyak tadi, Siau Ma akan tahu kalau kami sudah datang, yang datang dua orang,"

Demikian Teng Ting-hou menjelaskan.

"Agaknya kau tidak bodoh,"

Ujar Lo-shoa-tang. Ong-toasiocia menimbrung.

"Berita apa yang dikirim Siau Ma dari atas gunung, coba jelaskan kepada kami."

"Untuk sementara ini, dia bilang dirinya selamat dan tidak kurang suatu apa di sana. Hubungannya masih cukup baik dengan Sun Gi, bila dia memberi kabar, Oh-lo-ngo akan membawanya kemari."

Ong-toasiocia memanggut, katanya setelah menghela napas panjang.

"Sungguh aku heran, mengapa Oh-lo-ngo yang berani adu jiwa ternyata seorang cacad yang jelek begitu."

Setelah nnenghabiskan araknya yang terakhir, Lo-shoa-tang berdiri, sorot matanya tiba-tiba memancarkan perasaan duka nestapa, agak lama kemudian baru dia berkata lirih.

"Justru karena Oh-lo-ngo berani adu jiwa, maka dia berubah menjadi begitu." * * * * * Jalan raya sunyi lengang, bulan sabit bercokol memancarkan cahayanya yang guram. Tanpa bersuara Teng Ting-hou berjalan pelahan, dengan langkah lembut Ong-toasiocia ikut di belakangnya, sinar bulan menarik panjang bayangan badan mereka ke belakang. Lo-shoa-tang sudah tidur dan menggeros. Dua meja digandeng menjadi satu, itulah ranjangnya setiap malam.

"Membelok ke kiri setelah tiba di ujung jalan raya ini, di pojok sana ada hotel, dengan lima ketip uang perak orang bisa tidur nyenyak semalam suntuk,"

Demikian Lo-shoa-tang menerangkan sebelum tidur. Hotel yang dimaksud kecil, letaknya dijepit gang yang sempit, keadaannya serba jorok dan semrawut.

"Orang-orang yang akan pergi ke Ngo-hou-kang, sering kali mencari nona cantik untuk menghibur diri di hotel itu, kalian harus hati-hati,"

Itulah pesan Lo-shoa-tang sebelum mereka keluar.

Ong-toasiocia tidak membawa Pa-ong-jio, maklum dia tidak mau dirinya dijadikan sasaran, sedikit lena salah-salah jiwanya melayang karena dibokong musuh.

Mendadak Teng Ting-hou menghela napas.

"Menjadi perampok ternyata tidak mudah. Kalau tidak berani mempertaruhkan jiwa, kau tidak akan terkenal, sebaliknya bila kau berani adu jiwa, entah bagaimana nasibnya? Yang pasti sekujur badan penuh luka-luka entah bacokan golok atau tusukan pedang dan tombak, memangnya imbalan apa yang bisa diperolehnya?"

"Memangnya orang-orang yang menjadi Piausu tidak demikian pula keadaannya?"

Ong-toasiocia berseloroh. Teng Ting-hou menyengir kecut.

"Setiap insan persilatan yang berkecimpung di Kangouw, kurasa nasibnya takkan jauh berbeda. Hanya ada sementara orang bernasib mujur, tapi tidak jarang ada yang bernasib jelek. Setelah berusia lanjut, demi mempertahankan hidup, terpaksa harus berjualan atau mencari nafkah dengan cara apa saja yang halal."

"Jadi waktu mudanya, Lo-shoa-tang dulu juga berkecimpung di Kangouw?"

"Kukira demikian, maka sebelum ajal, penyakit umum bagi setiap kaum persilatan yang diidapnya takkan bisa disembuhkan."

"Penyakit umum apa?"

Tanya Ong-toasiocia tidak mengerti.

"Hari ini ada arak, hari ini mabuk. Urusan besok pagi, pikirkan besok saja."

Ong-toasiocia tertawa sendu.

"Ya, sekarang aku mengerti. Ting Si dianggap pintar, tentu karena dia tidak mau diadu, tidak mau mempertaruhkan jiwa raganya untuk kepentingan orang lain."

Teng Ting-hou mengerut kening.

"Kejadian ini memang aneh. Kalau dia betul-betul tidak kemari, berarti aku salah menilai dirinya."

"Kukira tidak salah,"

Demikian desis Ong-toasiocia dingin.

"Aku malah berani bertaruh seribu tail, dia takkan datang."

Lama Teng Ting-hou menepekur, katanya kemudian.

"Ada satu hal yang mengherankan."

"Tentang apa?"

Tanya Ong-toasiocia.

"Orang-orang Ngo-hou-kang tahu Siau Ma adalah ka-wan Ting Si, saudara seperjuangan, kenyataan kedatangannya tidak mengalami kesulitan, tidak disakiti. Apakah mereka hendak memancing kedatangan Ting Si dengan Siau Ma sebagai sandera?"

"Tapi Ting Si bukan ikan, dia lebih licin dari seekor rase."

Kebetulan angin pegunungan berhembus, membawa hawa segardan sayup-sayup terdengar ringkik kuda be-serta suara kelintingan yang nyaring di kejauhan.

Waktu mereka mendengar ringkik kuda, suaranya masih cukup jauh, namun baru maju beberapa langkah, kelintingan kuda itu ternyata sudah dekat.

Sungguh kencang lari kuda yang satu ini.

Ong-toasiocia baru membelok di ujung jaian, pandangannya sudah tertuju ke papan nama yang sudah keropos di depan rumah, papan dengan cat dasar kuning itu bertulis empat huruf berbunyi An-gia-khek-can (hotel aman tenteram), di kiri kanan papan bergantung juga dua buah lampion cukup besar dengan sinarnya yang redup menyinari huruf-huruf hitam yang sudah buram itu.

Mendadak Teng Ting-hou meraih lengan Ong-toasio-cia, lalu menariknya ke pinggir dan menyeretnya lagi ke gang gelap di pinggir sana.

Kejadian amat mendadak dan tidak terduga, tanpa aba-aba lagi, Ong-toasiocia terseret sempoyongan, maka tubuhnya ambruk ke dalam pelukan Teng Ting-hou, dadanya terasa padat kenyal dan hangat, jantung pun berdegup lebih keras.

Ternyata jantung Teng Ting-hou juga berdetak tak kalah kerasnya, Ong-toasiocia kaget, heran dan tidak mengerti, tangan Teng Ting-hou sudah mendekap mulutnya, suaranya terbenam dalam tenggorokan.

Padahal lengan yang mendekap mulutnya itu belum sembuh oleh pukulan si baju hitam, ternyata lengannya masih cukup kuat.

Kejadian amat mendadak dan mengejutkan, Ong-toasiocia menjadi panik dan takut.

Demi mempertahankan diri secara tak sengaja dia mengangkat kaki, dengan lutut dia menyerang alat vital di selangkangan Teng Ting-hou.

Serangannya bukan menggunakan jurus silat, namun merupakan reaksi yang manjur bagi setiap perempuan di saat dirinya terancam bahaya.

Cukup keras lutut Ong-toasiocia menggempur alat vital Teng Ting-hou, saking kesakitan Teng Ting-hou menungging sambil memeluk perut, keringat dingin menetes di jidat, tapi mulutnya tetap terkancing rapat, mengerang kesakitan pun tidak, malah dengan suara lirih dan menahan sakit dia berkata.

"Jangan bersuara, jangan sampai dirimu terlihat orang itu."

Baru saja Ong-toasiocia menghela napas lega dan belum paham apa arti perkataan Teng Tinghou.

Dua ekor kuda dilarikan kencang di jalan raya, seekor diantaranya memakai kelintingan di leher, suaranya amat nyaring.

"Blang" , mendadak sebuah jendela dan salah satu kamar di rumah petak di pinggir hotel sana jebol tersapu angin pukulan, menyusul sebuah kursi dilempar keluar, menyusul bayangan seorang melayang keluar. Ginkang orang ini tidak lemah, di saat tubuhnya terapung di udara, tangannya terulur meraih payon rumah, sekali tarik dan sendal tubuhnya lantas mencelat bersalto ke atas wuwungan. Penunggang kuda yang mengenakan kelintingan di leher kudanya, mendadak menyeringai seram. Tangan kanan terangkat di atas kepala lalu diayun ke depan, seutas tambang panjang meluncur jauh ke depan seperti naga mengejar mutiara, ternyata gerak tambangnya lebih cepat dari luncuran anak panah. Tahu dirinya diserang, bayangan orang di atas wuwungan itu melompat ke pinggir, jelas kelihatan dia berhasil menyelamatkan diri. Tapi tali tambang itu seperti ular hidup layaknya, ujung tambang mendadak menyabet balik lalu berputar dua lingkar, entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu bayangan hitam itu sudah terjirat kencang oleh ujung tambang panjang itu. Sekali sendal dan tarik, penunggang kuda itu menarik balik tambangnya, tawanannya ikut meluncur. Sementara itu, penunggang kuda yang ada di belakangnya sudah menyiapkan karung goni yang terbuka mulutnya. Sungguh lihai penunggang kuda di depan itu me-mainkan tali lasonya, yang jelas tawanan itu tepat meluncur ke dalam karung. Padahal lari kedua ekor kuda itu bukan saja tidak berhenti, malah melaju lebih cepat. Hanya sekejap kedua penunggang kuda itu sudah membelok ke jurusan lain dan lenyap ditelan kegelapan, hanya bunyi kelintingan kuda saja yang masih terdengar di kejauhan. * * * * * Kedua penunggang kuda itu muncul mendadak, pergi juga teramat cepat, seolah dua rasul yang diutus raja akhirat untuk membekuk setan gentayangan yang melarikan diri dari penjara. Ong-toasiocia menjublek kaku. Kepandaian main tali laso seperti yang dilakukan penunggang kuda tadi, belum pernah dia saksikan. Beberapa kejap kemudian, rasa sakitnya sudah berkurang, baru Teng Ting-hou menegakkan badan, lalu menarik napas panjang, katanya lirih.

"Sungguh lihai."

Ong-toasiocia juga menghela napas panjang.

"Yang digunakan orang tadi, tambang tulen atau ilmu sihir?"

Menjirat leher dengan tali laso sebetulnya bukan kepandaian khusus, setiap gembala di padang rumput mahir menggunakan tali laso, seperti yang dilakukan penunggang kuda tadi.

Tapi tambang yang digunakan penunggang kuda itu memang lihai dan luar biasa, di samping menakutkan, seolah tambang itu merupakan iblis jahat yang selalu merenggut jiwa manusia.

Teng Ting-hou menepekur, katanya lirih.

"Gerakan tambang semahir itu, apakah pernah kau saksikan sebelum ini?"

Bersinar bola mata Ong-toasiocia.

Dia pernah melihatnya sekali.

Waktu itu Ting Si menyelamatkan Siau Ma dari tusukan tombaknya waktu berduel dengan si raja tombak perak.

Kalau tidak salah, gerakan Ting Si waktu itu juga semahir gerakan penunggang kuda tadi.

Sebaliknya Teng Ting-hou sudah dua kali menyaksikan permainan laso yang lihai itu.

Kui-hoango-coan-ki yang tertancap di depan kereta, dulu juga mencelat terbang oleh tambang panjang kedalam hutan, gerakan tambang panjang itu selincah ular sakti.

Ong-toasiocia bertanya.

"Apakah penunggang kuda tadi Ting Si adanya?"

"Bukan,"

Sahut Teng Ting-hou.

"Kau tahu siapa dia?"

Tanya Ong-toasiocia.

"Penunggang kuda itu berjuluk Koan-sat-koan-me Pau-hiong-ciong."

Ong-toasiocia meringis getir.

"Nama yang aneh, nama yang menakutkan."

"Memang orangnya amat menakutkan."

"Kaum persilatan suka menggunakan julukan yang aneh dan menggiriskan, namun baru pertama ini aku mendengar gelar yang menakutkan ini, akan kuukir dalam sanubariku."

"Jadi kau belum pernah mendengarnya?"

"Ya, belum pernah."

"Di perbatasan memang jarang kaum persilatan yang mendengar nama julukan yang menggiriskan ini."

"Apakah orang itu selalu menetap di luar perbatasan?"

"Namanya memang seram dan menakutkan, tapi pribadinya justru tidak sejahat yang diduga orang banyak, dia bukan gembong penjahat yang sering melakukan kekejaman,"

Demikian tutur Teng Ting-hou.

"Setiap korban yang dia bunuh pasti penjahat besar atau orang hukuman yang pantas menerima ganjaran. Bila seorang pernah melakukan perbuatan jahat dan kotor, namun selama ini masih hidup bebas dan bergerak seenaknya, maka akan tiba saatnya, orang ini akan muncul di depannya."

"O, begitu lihaikah dia?"

Tanya Ong-toasiocia..

"Bila dia sudah mengayunkan laso dan menjirat sang korban, temannya sudah siap membuka mulut karung dan membawanya pergi, maka selanjutnya orang itu akan lenyap dari percaturan dunia persilatan."

Bercahaya bola mata Ong-toasiocia.

"Mungkin korbannya itu tidak dibunuh, tapi dikurung di sarangnya untuk dijadikan kaki tangannya."

Teng Ting-hou memanggut.

"Ya, mungkin begitu."

"Orang yang kelewat jahat pasti berani melakukan segala macam kejahatan. Untuk menyatakan terima kasih dan untuk menebus dosa-dosanya, untuk membalas budi karena dirinya tidak dibunuh, maka dia akan tunduk lahir batin kepada orang yang telah membebaskan dirinya dari jurang kenistaan. Apalagi dia tahu ilmu silatnya bukan tandingan lawan, kecuali tunduk lahir batin, tak segan-segan dia rela berkorban dan menjual jiwa raganya."

Kembali Teng Ting-hou mengangguk.

"Secara diam-diam dia menggaruk kawanan penjahat dan menyusun kekuatan. Dalam pandangan masyarakat luas, entah dari kaum persilatan atau rakyat awam umumnya, dia akan dipuji sebagai pendekar besar berhati Iuhur, pemberantas kejahatan. Berarti sekali tepuk dia mendapatkan dua lalat."

Teng Ting-hou menyeringai, mulai berpikir ke arah itu.

"Bukankah pembunuh berbakat itu selalu memperoleh dua keuntungan setiap kali beraksi,"

Ujar Ong-toa-siocia.

"Betul,"

JawabTeng Ting-hou. Lebih terang cahaya bola mata Ong-toasiocia.

"Pernah tidak kau berpikir, Koan-sat-koan-me Pau-hiong-ciong adalah anggota Ceng-liong-hwe?"

"Ehm, ya, mungkin saja."

"Kalau seorang dapat berpikir secara normal, yakin dia tidak akan menggunakan nama Pauhiong-ciong (ditanggung sampai ajar), oleh karena itu......"

"Kau kira nama itu nama palsu?"

"Menurut pendapatmu, siapakah dia sebenarnya?"

"Terus terang saja, aku curiga bahwa dia adalah Pek-li Tiang-ceng."

Ong-toasiocia mengedipkan mata, tanyanya.

"Memberantas kejahatan adalah pekerjaan mulia yang patut mendapat pujian, mengapa dia justru menggunakan nama palsu?"

"Karena dia seorang Piau-khek, pendekar besar, kedudukannya dalam pandangan khalayak ramai jelas berbeda dengan orang gagah lainnya di kalangan Kangouw, sedikit banyak tentu ada hal-hal yang dia kuatirkan."

"Masih ada segi yang lain?"

"Jelas perbuatannya ada segi yang memalukan untuk dilihat orang, maka banyak hal yang harus disembunyikan."

"Dia takut bila suatu ketika kedoknya terbongkar, maka menyiapkan jalan mundur untuk menyelamatkandiri."

"Agaknya dia seorang teliti, cermat dan hati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya."

"Makanya Tiang-ceng Piaukiokdi bawah pimpinannya merupakan perusahaan pengawalan yang paling sukses dan disegani di antara perusahaan sejenis."

"Pek-li Tiang-ceng memang seorang pengusaha sukses, kerja apapun kalau sudah dia tangani, pasti berhasil dan sukses, belum pernah gagal."

"Agaknya dugaan dan pandangan kita sama dan..sepaham."

"Jejak Koan-sat-koan-me selalu di luar perbatasari, Pek-li Tiang-ceng juga tidak ada di sini, mengapa dia tahu-tahu muncul di sini?"

"Dari pemikiranku ini dapat kita simpulkan, bahwa kedua orang itu sebetulnya adalah satu."

"Yang dijirat dan digondol pergi tadi, mungkin salah seorang anggota Ngo-hou-kang karena tidak mau ditekan dan diperalat, dia berusaha membebaskan diri dari cengkeramannya, sungguh tak nyana akhirnya dia mati di tangannya juga."

"Tadi Lo-shoa-tang bilang, di sini sering hilir mudik orang-orang Ngo-hou-kang, karena kuatir perbuatannya diketahui orang banyak, maka dia menggunakan nama Pau-hiong-ciong sebagai kedok untuk mengelabui orang.'"

"Meminjam golok membunuh orang, memfitnah adalah keahliannya."

"Tapi yang paling menakutkan bukan hanya itu saja."

"O, masih ada yang lebih menakutkan?"

Tanya Ong-toasiocia. Teng Ting-hou lantas menjelaskan.

"Aliran perguruan silat di dunia ini amat banyak, nama dan geraktipu permainan silat satu dengan yang lain sering berbeda, tapi dasar dan sumber pelajarannya kurasa sama, umpamanya......"

"Seumpama orang menulis......"

"Betul, mirip orang menulis."

Jenis tulisan dan gayanya memang berbeda dan banyak ragamnya, tapi pelaksanaannya dalam menulis sama saja, lalu merangkai huruf-huruf itu menjadi kata dan kalimat."

"Begitu juga bagi seorang yang sudah mahir dan menyelami dasar pelajaran silat,"

Demikian kata Teng Ting-hou.

"Meski ilmu silat dari aliran dan golongan mana pun asal pemah dilihat apalagi dipelajarinya, ditunjang bakatnya yang luar biasa, bukan mustahil kemampuannya bisa melebihi orang lain, demikian pula misalnya......"

"Misalnya anak kecil yang belajar jalan, untuk belajar merangkak tentu jauh lebih mudah."

Teng Ting-hou mengangguk sambil tersenyum lebar, sorot matanya memancarkan rasa kagum dan memuji, sungguh perempuan yang berotak encer. Ong-toasiocia berkata.

"Teori ini kupahami. Aku mengerti, mengapa hanya menyaksikan permainan ilmu tombakku, Ting Si mampu mengalahkanku."

Teng Ting-hou bungkam. Agaknya dia sengaja mengelak setiap Ong-toasiocia berbicara tentang Ting Si. Ong-toasiocia menghela napas, katanya gemas.

"Aku tahu kau tidak ingin mencurigai dirinya, Ting Si adalah teman baikmu, tadi kau bilang, permainan laso yang pemah dilakukan Ting Si waktu merebut bendera perusahaanmu, mirip sekali dengan permainan Pek-li Tiang-ceng,"

Bersambung ke 9 Teng Ting-hou tidak membantah.

"Dari segi mana saja, dapat kita simpulkan bahwa antara Ting Si dengan Pek-li Tiang-ceng punya hubungan khusus yang tidak diketahui orang."

"Hanya saja......"

"Aku tahu, mungkin dia bukan putra Pek-li Tiang-ceng, tapi apa tidak mungkin Ting Si adalah murid Pek-li Tiang-ceng?"

Teng Ting-hou menghela napas, katanya dengan tertawa getir.

"Aku tidak begitu jelas, juga tidak berani menarik kesimpulan secepat ini. Tapi aku dapat memastikan satu hal"

"Memastikan soal apa?"

Ong-toasiocia menegas.

"Apapun hubungan Ting Si dan Pek-li Tiang-ceng, entah anak atau murid, aku yakin tak pernah dia membantu Pek-li Tiang-ceng dalam melakukan kejahatan."

Ong-toasiocia menatapnya, matanya yang indah mengandung cahaya pujian dan kagum.

Setiap lelaki gagah dan perempuan pemberani pasti akan memberikan penghargaan kepadanya.

Malam gelap, bintang bertaburan di langit nan kelam.

Lirikan mata Ong-toasiocia begitu lembut dan hangat.

Mendadak Teng Ting-hou merasa jantung mulai berdebar lagi, segera ia melangkah lebar ke depan, katanya lirih.

"Mari kita cari tempat untuk tidur, besok pagi-pagi pasti ada berita dari Siau Ma."

"Apa betul Siau Ma akan memberi kabar? Apakah keadaannya sekarang baik-baik saja? Apakah dia sudah tahu seluk beluk tanggal 13 bulan 5? Apa betui tanggal 13 bulan 5 adalah kode rahasia Pek-li Tiang-ceng?"

Beberapa pertanyaan ini belum terjawab secara tepat, untung hari ini akan berlalu, masih ada hari esok. Besok pagi tetap ada harapan.

"Mari pulang ke warung Lo-shoa-tang saja, di sana masih ada meja kosong."

"Lho, bukankah di depan sana ada hotel?"

Seru Ong-toasiocia.

"Ya, menginap di hotel terlalu ramai, banyak mata kuping yang mungkin mengawasi gerak-gerik kita, lebih baik berlaku hati-hati."

Ong-toasiocia tertawa.

"Kelihatannya kau mulai takut berduaan denganku di tempat yang sepi?"

Teng Ting-hou menyengir.

"Ya, aku memang agak jeri padamu, untuk menyentuhmu saja, aku sudah kapok tujuh turunan."

Merah jengah selebar muka Ong-toasiocia.

"Sebetulnya kau tidak perlu takut kepadaku,"

Katanya kemudian.

"Sebab......"

Kepalanya terangkat, lalu melanjutkan perkataannya.

"Sebab aku hanya ingin memperalatmu untuk membuat Ting Si cemburu dan marah, terus terang saja, apapun yang terjadi, aku masih menyukainya."

Teng Ting-hou terbelalak kaget dan heran karena gadis ini berani terang-terangan melimpahkan isi hatinya.

Namun tentang cinta Ong-toasiocia terhadap Ting Si memang sudah dalam dugaannya, maka dia berkata dengan tersenyum getir.

"Kau memang gadis jujur dan pemberani."

Ong-toasiocia menjadi rikuh dan kikuk, katanya dengan muka merah.

"Belakangan aku pun sadar dan berpikir, kau juga laki-laki yang luar biasa, tapi......sayang kau sudah berkeluarga, biarlah selanjutnya aku pandang kau sebagai engkoh saja."

"Kau sedang menghiburku?"

Lebih jengah muka Ong-toasiocia, lama kemudian baru dia bersuara dengan menunduk.

"Umpama aku tidak bertemu Ting Si, jika kau......"

"Aku tahu apa maksudmu,"

Tukas Teng Ting-hou dengan senyum ramah.

"Bisa menjadi engkohmu, bukan saja bangga, aku boleh merasa lega dan senang."

Pelahan Ong-toasiocia menghela napas lega, selega bila dia berhasil membereskan sesuatu yang ruwet.

"Aku mencintainya. Aku kuatir dia melakukan sesuatu yang memalukan."

"Yakinlah, dia takkan melakukan perbuatan tercela."

"Demikianlah harapanku. Semoga doaku terkabul."

Mereka berdiri berhadapan dan saling tatap, senyum lebar menghias wajah mereka, perasaan pun menjadi lega longgar.

Dengan langkah tegap dan lebar, mereka berjajar keluar dari lorong gelap itu.

Sementara itu, malam sudah larut, hawa terasa dingin.

Di luar tahu mereka, di suatu tempat yang gelap di atas sana, sepasang mata sejeli mata kucing tengah mengawasi gerakgerik mereka.

Bola mata siapakah itu?

Apakah nasib itu?

Apakah nasib mirip tambang iblis, bagai ular beracun membelit kencang badan manusia, meski punya kekuatan raksasa sekalipun, tenaga takkan mampu dikerahkan, mati kirtu.

Mungkin juga secara tiba-tiba, nasib akan merebut sesuatu yang paling berharga dalam kehidupan, demikian halnya, waktu Ting Si merebut Ngo-hoa-coan-ki dulu.

Ada kalanya, nasib dapat membelenggu dua orang yang pada hakikatnya tidak punya sangkut-paut, meski meronta dan ingin berpisah pun tidak mungkin bebas lagi.

Rumah paling tinggi dan paling megah di kota kecil ini adalah Ban-siu-lau.

Saat itu, Ting Si rebah telentang berbantal dua ta-ngannya di atas wuwungan Ban-siu-lau.

Rebah tenang dan diam tak bersuara, juga tidak bergerak, telentang mengawasi bintang-bintang di langit.

Nasib seumpama tambang iblis membelenggu dirinya, sedemikian kencang sehingga dirinya tidak leluasa bergerak.

Demikian pula perasaan hatinya saat itu, laksana tambang yang ruwet, tak bisa dibuka lagi.

Keruwetan apa yang bisa dilepas?

Hanya keruwetan yang diikat sendiri dapat dibuka.

Demikian pula keruwetan yang mengganjal dalam hati, sayang keruwetan yang satu ini bukan dia sendiri yang mengikatnya.

Masa kecilnya dulu dialami bagai mimpi buruk, riwayat hidupyang sengsara, mengenaskan.tapij uga penuh dilembari perjuangan yang gigih dan berat, meronta dalam kesengsaraan sudah menjadi modal hidupnya, bergelut dengan penderitaan adalah keahliannya.

Kejadian masa lalu, pengalaman hidup yang penuh pahit getir, malu dibicarakan dengan orang lain.

Setiap persoalan tentu punya keruwetan yang berbeda.

Kesepian yang tak berujung pangkal selalu menghinggapi sanubari, melembari kehidupannya.

Kesepian adalah segi kehidupan yang mengerikan, membayangkan rasa sepi itu, mengkirik bulu kuduk Ting Si.

Kesepian berarti sebatangkara.

Menyaksikan Ong-toasiocia dipeluk Teng Ting-hou di tempat gelap, melihat mereka keluar dari lorong gelap sambil bertatap muka dengan senyum manis.

Rasa sepi kembali menggelitik sanubari Ting Si, rasa kesepian itu memang sudah berakar dalam lubuk hatinya sejak lama.

Entah mengapa, dia merasa dirinya dicampakkan, dilupakan dan dikhianati.

Dicampakkan atau dilupakan juga merupakan salah satu unsure yang mengandung kesepian, merupakan unsur yang sukar ditahan, membekas paling dalam.

Akan tetapi, Ting Si juga sadar, akibat dari semua ini adalah karena dia sendiri yang membuatnya.

Sikapnya yang ketus, tutur kata yang dingin dan yang utama karena dia menolak permintaan nona itu, adalah logis kalau mereka sekarang melupakan dirinya.

Menyadari akan kesalahannya sendiri, Ting Si tidak menyesal, tidak perlu mengomel juga tidak iri, sanubarinya hanya merasa bersyukur sekaligus memujikan, semoga mereka hidup akur sampai hari tua.

Rasa syukur yang suci lagi murni, namun dilandasi derita batin.

Jika tahu betapa berat dan mendalam penderitaan batinnya, maka akan paham dan maklum, betapa menakutkannya 'salah paham' itu.

Waktu angin malam berhembus dari puncak gunung di kejauhan sana, suara kentongan pun berbunyi tiga kali.

Mendadak Ting Si berjingkrak bangun, dengan kecepatan yang tidak terukur dia meluncur kepuncak gunung di kejauhan itu.

Puncak gunung yang diliputi kegelapan terasa dingin dan berkabut tebal, lereng gunung yang semula hijau permai kini dibungkus kegelapan yang pekat tak berujung pangkal.

* * * * * Gelap tak pernah bertahan, habis gelap terbitlah terang.

Fajar akhirnya menyingsing, lereng hijau itu bermandikan cahaya surya kuning emas, cahaya matahari benderang menyinari jagad raya.

Sinar surya yang hangat menyorot masuk lewat jendela, warung bakpao yang jorok dan kotor oleh hangus itu terasa lebih hangat, penuh hawa dan daya kehidupan.

Ong-toasiocia sedang sarapan pagi, bakpao sedang ia ialap dengan sayur asin.

Bakpao masih hangat, ayam bakar sisa semalam, jadi sudah dingin, namun ia lahap dengan penuh nafsu, maklum rasanya yang lezat memang berbeda dengan sarapan pagi yang biasa dia nikmati.

Bakpao yang lebih besar dari tinju Teng Ting-hou ternyata mampu dia habiskan dua biji.

Dua hari belakangan ini, ia kurang tidur, namun sebe-lum matahari terbit, dia sudah bangun dan berdandan se-kadarnya, setelah mengunci diri di dapur laiu membersihkan badan secara diamdiam.

Badan tersiram air, semangat pun menyala, sudah tentu selera makannya bertambah besar.

Betapapun Ong-toasiocia masih muda, penuh gairah hidup.

Berbeda dengan selera Teng Ting-hou, entah mengapa pagi ini dia justru tidak doyan makan.

Loshoa-tang lebih payah lagi, semalam dia banyak minum, tidur tidak nyenyak, maka keadaannya amat lusuh dan loyo.

Mulutnya menggerutu.

"Ada hotel dengan ranjang empuk tidak mau menginap di sana, malah tidur di mejaku yang kotor dan berminyak. Anak-anak muda zaman sekarang mungkin sudah sinting, aku jadi bingung, entah kalian ini mengidap penyakit apa?"

Ong-toasiocia tertawa lebar.

"Badanku sehat bugar, tidak punya penyakit, mungkin dia yang sakit."

Tangannya menuding Teng Ting-hou.

"Dia maksudmu?"

Tanya Lo-shoa-tang melirik Teng Ting-hou.

"Dia takut terhadapku, karena aku bukan......"

Sebelum habis mulutnya bicara, selebar mukanya sudah merah malu. Mata Lo-shoa-tang memicing, katanya tertawa.

"Karena kau bukan kekasihnya, karena kau adalah milik Ting Si, begitu?"

Ong-toasiocia tidak menyangkal. Kalau dia membantah berarti membenarkan.

"Hahahaha......"

Lo-shoa-tang tertawa lebar.

"Ting Si bocah konyol itu memang serba pandai, pandangannya tajam lagi tepat."

Lalu dia beranjak ke lemari mencari arak.

"Ini berita yang menggembirakan, kita harus minum tiga cawan untuk merayakan."

Orang yang gemar minum arak seialu mencari alasan untuk minum lebih banyak.

Teng Ting-hou ikut tertawa lebar.

Sementara itu, Lo-shoa-tang sudah mengeluarkan tiga cawan sedang, satu persatu dia isi penuh ketiga cawan itu dengan arak wangi.

"Hari ini, kita jangan minum terlalu banyak,"

Teng Ting-hou berujar.. Lo-shoa-tang mengerling tajam.

"Tidak boleh banyak minum, memangnya kau senang minum cuka?"

"Umpama benar aku ingin minum cuka, aku lebih senang makan cuka kering."

"Kalau begitu boleh lekas kau minum,"

Lo-shoa-tang berolok-olok.

"Tapi hari ini......"

"Jangan kuatir, Oh-lo-ngd akan datang malam hari. Sun Gi akan makan ayam bakar setelah lewat tengah malam, kesukaannya juga ayam bakar masih segar dan panas."

Teng Ting-hou menghela napas.

"Kalau kami harus duduk menunggu sehari penuh di warungmu ini, wah, rasanya lebih parah daripada disiksa dalam penjara."

"Jangan kuatir,"

Seru Lo-shoa-tang.

"Aku tanggung kau betah tinggal di warungku yang kotor ini, arak simpananku cukup untuk membuat kalian basah kuyup."

Lalu dia menghabiskan lagi tiga cawan. Tiba-tiba Ong-toasiocia menyeletuk.

"Saat begini sudah minum arak, apakah tidak terlalu pagi?"

"Mengapa terlalu pagi?"

Tanya Lo-shoa-tang mengerut kening.

"Karena......"

Ong-toasiocia menghela napas.

"Aku berusaha bersikap baik terhadapnya, tapi malah......"

"Tapi bocah itu malah bersikap dingin dan kaku terhadapmu,"

Sambung Lo-shoa-tang.

"Dia sengaja bertingkah untuk membuatmu marah."

Ong-toasiocia menggigit bibir, katanya kemudian.

"Ya, demikianlah kenyataannya."

Lo-shoa-tang tertawa lebar.

"Dalam hal ini, kau memang masih hijau, tidak punya pengalaman, justru karena dia juga mencintaimu, maka dia sengaja bertingkah, berlagak dingin dan memancing amarahmu. Aku kan sudah bilang, bocah itu adalah makhluk aneh."

Tampak senang dan riang sorot mata Ong-toasiocia, dengan kedua tangannya dia mengangkat cawan arak, sekaligus dia habiskan secawan itu.

Teng Ting-hou diam saja mengawasi dari samping, tidak mencegah juga tidak memberi komentar.

Dia tahu bila nona judes ini ingin minum, kakek moyangnya juga takkan bisa mencegah keinginannya.

Di saat itu, secara tidak terduga, terdengar suara "Tak"

Yang keras.

Padahal Lo-shoa-tang belum membuka warung, pintu masih tertutup rapat, namun di atas daun pintu bagian luar tertempel secarik kertas merah dengan dua baris huruf yang berbunyi.

Pemilik warung sakit, istirahat tiga hari.

Tak berselang lama setelah suara "Tak"

Yang pertama tadi, menyusul terdengar suara "Blang"yang lebih keras.

Daun pintu mendadak diterjang ambruk ke kanan kiri, begitu pintu terbuka, seorang tampak menerjang masuk dengan langkah sempoyongan.

Begitu keras daya terjangnya, setelah mendobrak pintu masih menubruk meja, sehingga cawan di tangan Ongtoasiocia terlepas, arak membasahi muka dan pakaiannya.

Tapi Ong-toasiocia tidak marah, karena orang yang menabrak pintu bukan lain adalah Oh-lo-ngo.

Lo-shoa-tang mengerut kening, omelnya aseran.

"He, apa kau mabuk?"

Oh-lo-ngo sempoyongan, supaya tidak jatuh dia berpegang pinggir meja, pinggangnya tertekuk sembilan puluh derajat, napasnya menderu sekeras kipas tungku, namun keadaannya tidak mirip orang mabuk.

Lo-shoa-tang bertanya pula.

"Apa Sun Gi menyuruhmu mengambil ayam bakar sepagi ini?"

Oh-lo-ngo menggeleng kepala, tanpa bicara mendadak dia berlari keluar dengan langkah sempoyongan. Ong-toasiocia mengawasi Teng Ting-hou, Teng Ting-hou menatap Lo-shoa-tang, katanya.

"Apa yang terjadi?"

Lo-shoa-tang tertawa kecut.

"Hanya Thian yang tahu apa yang telah terjadi. Si bungkuk ini memang makhluk aneh, sekarang......"

Mulutnya ternganga, mata pun terbelalak mengawasi meja.

Ternyata dicelah-celah meja kayu yang jorok itu terselip segulung kertas tipis.

Teng Ting-hou juga melihat gulungan kertas kecil itu.

Tadi Oh-lo-ngo berdiri lemas dengan tersengal-sengal bertopang pinggir meja.

Kiranya dari jarak sejauh itu, dia memburu datang untuk mengirim berita yang tertulis di atas gulungan kertas tipis ini.

Padahal Sun Gi tidak pernah menyuruhnya turun gunung membeli ayam bakar di waktu pagi.

Bahwa dia memerlukan datang mengirim berita di pagi hari, maka dapat diduga bahwa kedatangannya dilakukan diam-diam.

Sebagai orang tanpa daksa, menempuh perjalanan gunung sejauh ini, sudah tentu bukan tugas enteng, boleh dikata tugas berat ini menuntut pengorbanan jiwa dan raganya.

Teng Ting-hou menghela napas.

"Memang tidak malu orang ini dijuluki Oh-lo-ngo yang berani mempertaruhkan jiwa untuk kepentingan teman.dia memang berani mengadu jiwa."

Ong-toasiocia berkata.

"Dia berani mempertaruhkan jiwa untuk mengantar berita, maka kabar yang dia bawa pasti amat penting."

Tanpa berjanji mereka mengulur tangan hendak mengambil gulungan kertas yang terselip di sela-sela lubang meja.

Sudah tentu gerakan Teng Ting-hou paling cepat, ketika gulungan kertas itu dibeber di atas meja, tampak kertas kumal kecil tergulung itu hanya terdapat beberapa huruf yang berbunyi.

Tepat tengah malam, Toa-po-tha.

Kertasnya kumal, kasar dan kotor, gaya tulisannya juga jelek tidak keruan mirip anak-anak yang baru belajar menulis.

"Apa maksudnya?"

Tanya Ong-toasiocia.

"Maksudnya ialah, nanti tengah malam, kita harus pergi ke Toa-po-tha,"

Teng Ting-hou menerangkan.

"Karena di sana akan terjadi sesuatu?"

"Ya, kejadian yang akan menjadi kunci untuk membongkar kedok pembunuh keji itu."

"Toa-po-tha adalah nama suatu tempat?"

"Toa-po-tha adalah nama sebuah menara,"

Lo-shoa-tang menjawab.

"Dimana letak menara itu?"

Tanya Ong-toasiocia.

"Di belakang San-sin-bio (biara penunggu gunung)."

"San-sin-bio dimana?"

Tanya Teng Ting-hou pula.

"Di depan Toa-po-tha,"

Lo-shoa-tang menjawab dengan sabar.

"Bisa tidak kau jelaskan tempatnya."

"Tidak bisa."

"Mengapa?"

Setelah menghabiskan arak dalam cawannya, Lo-shoa-tang menghela napas.

"Orang dilarang pergi ke tempat itu."

Tiba-tiba sikapnya berubah tegang dan serius, suaranya juga tertekan dan pelan.

"Tempat itu keramat dan ditakuti orang, kabarnya orang yang pernah ke sana, tidak pernah ada yang pulang ke rumahnya lagi."

Ong-toasiocia tertawa kaku.

"Apakah di menara itu ada setan atau dedemit?"

"Entah aku tidak tahu,"

Sahut Lo-shoa-tang gugup.

"Kau belum pernah ke sana?"

"Aku takut ke sana, maka sampai sekarang aku masih hidup."

Sikapnya sungguh-sungguh, jelas bukan berkelakar atau pura-pura.

Ong-toasiocia mengawasi Teng Ting-hou, yang diawasi menyengir tawa, wajahnya kelihatan kecut.

Maklum lebih banyak persoalan yang dia pikir, sebagai kawakan Kangouw pikirannya lebih panjangdan iuasdalam menghadapi suatu masalah.

Undangan ke Toa-po-tha itu bukan mustahil merupakan jebakan belaka, kalau ke sana berarti masuk perangkap musuh, namun keadaan memaksa mereka untuk ke tempat itu.

"Kalau betul di sini ada menara yang dinamakan Toa-po-tha, dimana pun letaknya pasti dapat kita temukan,"

Ucap Teng Ting-hou. Ong-toasiocia berjingkrak berdiri, serunya.

"Hayolah sekarang juga kita cari."

"Sekarang belum boleh pergi,"

Buru-buru Teng Ting-hou mencegah.

"Mengapa?"

Tanya Ong-toasiocia aseran.

"Kalau sekarang kita ketempat itu, mungkin diketahui orang-orang Ngo-hou-kang. Itu berarti menyingkap rumput mengejutkan ular."

"Betul, menghadapi persoalan ini, jangan gegabah."Lo-shoa-tang menyeletuk. Ong-toasiocia mengomel.

"Memangnya sepanjang hari ini kita hanya duduk makan minum dan tidur saja tanpa bekerja?"

Lo-shoa-tang tertawa.

"Tinggal di warungku ini, kalian tidakakan kubiarkan dudukdan makan gratis. Rumahku serba kotor, mumpung ada tenaga, hayolah bantu aku membersihkan rumah." * * * * * Cuaca mulai gelap. Luka lengan Teng Ting-hou sudah diganti obat dan dibalut lagi secara rapi. Tanpa bersuara dia sedang sibuk membersihkan sekantong Thi-lian-ou (biji teratai besi) dengan secarik kain kering. Pelahan dia membersihkan butir demi sebutir, tekun dan amat hati-hati, penuh pertiatian, setiap biji teratai besi dibersihkan sampai mengkilap. Gaman Teng Ting-hou yang terkenal ampuh adalah sepasang tinjunya, hampir tiada orang persilatan yang tahu bahwa dia juga mahir menggunakan Am-gi (senjata raha-sia). Sekantong teratai besi itu sudah lamatidak pernah digunakan. Pernah terjadi ketika dia berduel dengan seorang musuh tangguh, dengan biji teratai besi itu dia menyerang musuh yang bersenjata golok besar. Bukan saja lawan tidak berhasil dirobohkan, malah biji teratai besi timpukannya berhasil disampuk mencelat oleh golok lawan yang tebal dan berat, hingga melukai seorang teman yang menonton di pinggir arena. Sejak kejadian itu dia merasa malu dan tidak menggunakan senjata rahasianya lagi, peristiwa ini sudah belasan tahun yang lalu, waktu dirinya masih muda, belum punya nama di dunia persilatan. Tapi sekarang keadaan memaksa dia menggunakan senjata rahasia lagi. Kadang kala seorang dipaksa oleh keadaan untuk melakukan sesuatu yang sebetulnya tidak ingin dia lakukan. Teng Ting-hou menghela napas, biji teratai besi terakhir yang dibersihkan dia masukan ke dalam kantong asalnya, kantong kulit itu dia gantung di pinggang. Sejak tadi Ong-toasiocia memperhatikan gerak-gerik-nya, baru sekarang ia bertanya.

"Sekarang apakah sudah saatnya kita berangkat?"

Teng Ting-hou mengangguk sekali, dia tenggak dulu secawan arak.

Arak dapat membuat gerak orang Iamban dan kaku, salah dalam menentukan langkah kerja, tapi dapat menambah keberanian dan semangat.

Begitulah kejadian di dunia ini, ada yang baik tapi juga ada yang jelek.

Kalau sering berpikir ke arah yang baik, maka akan hidup gembira dan tenteram.

Ong-toasiocia juga menghabiskan secawan arak, lalu berdiri, katanya tertawa kepada Lo-shoatang.

"Terima kasih atassuguhan arak, ayam bakardan bakpaomu."

Lo-shoa-tang mengangkat kepala, matanya terbelalak, lama dia menatap gadis ini, mendadak dia bertanya.

"Kau mau ikut?"

"Ya, aku harus ikut. Memangnya aku harus menjaga rumahmu?"

Tegas suara Ong-toasiocia.

"Tadi sudah kujelaskan, orang yang ke sana banyakyang tidak kembali. Kau masih berani pergi ke sana?"

Ong-toasiocia tertawa.

"Dapat pulang atau tidak, tidak penting, yang penting adalah kami bisa ke sana."

Teng Ting-hou hanya menyengir saja. Lo-shoa-tang berkata puia.

"Watakmu memang patut dipuji, bila kaujngin melakukan sesuatu, sebelum terlaksana dan tercapai, kemana juga kau pasti meluruknya?"

Teng Ting-hou tertawa.

"Sebetulnya bukan aku mesti pergi ke sana soalnya aku juga takut mati. Tapi kalau aku tidak ke sana, maka hidupku selanjutnya mungkin tidak tenteram, selalu dibayangi ketakutan."

"Bagus, pendapat bagus,"

Seru Lo-shoa-tang, mendadak dia berdiri.

"Hayolah kita berangkat."

Teng Ting-hou melengak, tanyanya heran.

"Kita?"

Lo-shoa-tang tertawa.

"Kalau tidak kutunjukkan jaian-nya, kemana kalian akan menemukan tempat itu?"

"Terangkan saja letaknya, biar kami pergi sendiri,"

Pinta Ong-toasiocia.

"Tidak bisa,"

Sahut Lo-shoa-tang tegas.

"Mengapa tidak bisa?"

Desak Ong-toasiocia.

"Karena aku juga ingin ke sana."

"Tadi kau bilang,' kalau ke sana mungkin tidak bisa pulang."

"Setelah kujelaskan kalian masih bertekad mau pergi, kalau kalian boleh pergi, mengapa aku tidak boleh?"

"Soalnya ada persoalan yang harus kami bereskan di sana."

"Tapi aku juga punya alasan, aku ingin melihat tontonan."

"Alasanmu kurang baik. Ingat melihat tontonan jangan mempertaruhkan jiwa."

"Bagi diriku, alasanku cukup setimpal,"

Ujar Lo-shoa-tang tertawa.

"Kalian masih muda, masih remaja, masadepan riiasih terbentang luas di depan mata. Demikian juga dia, namanya tersohor, punya duit dan berkuasa. Sebaliknya aku? Aku sudah tua, sebatangkara lagi, aku punya apa?"

"Kau......kau......"

Ong-toasiocia tergagap, tidak dapat mendebatnya.

"Usiaku sudah lanjut, tubuhku sudah reyot. Orang yang sudah siap masuk kubur,"

Tukas Lo-shoatang.

"Aku tidak punya bini tiada anak, tidak punya harta tiada sawah ladang, setiap malam kerjaku hanya minum dan minum sampai mabuk, keuntungan yang kuperoleh dari warung ini selalu habis di meja judi, lalu apa bedanya kehidupanku ini dengan bangkai? Kalau kalian berani mempertaruhkan jiwa ragademi menoiong kawan, berjuang demi kesejahteraan kaum persilatan, mengapa aku tidak boleh?"

Makin bicara makin emosi, otot di lehemya sampai merongkol. Lo-shoa-tang berkata pula.

"Umpama kalian tidak sudi memandangku sebagai teman, sebaliknya aku senang bergaul dengan kalian, aku adalah sahabat Siau Ma, senang bergaul dengan Ting Si, maka aku pun ingin ikut ke sana."

Ong-toasiocia menatap Teng Ting-h'ou. Yang ditatap menghirup secawan arak pula, katanya kemudian.

"Hayolah berangkat."

"Maksudmu kita bertiga?"tanya Ong-toasiocia melotot.

"Ya, mari kita berangkat,"

Ujar Teng Ting-hou.

* * * * * Angin berhembus dingin dari puncak gunung di kejauhan sana, tabir malam sudah membuat alam semesta gelap gulita.

Ketiga orang itu beranjak keluar dari rumah dengan langkah tegap.

Lo-shoa-tang malah membusungkan dada, berjalan paling depan.

Begitu melangkah ke depan, dia tidak pernah menoleh ke belakang lagi.

"Kau tidak menutup dan mengunci pintu rumahmu?"

Tanya Ong-toasiocia beberapa kejap kemudian.

"Kalian berani mempertaruhkan jiwa, mati hidup sudah tidak dipikir lagi, mengapa aku harus sibuk memikirkan warung bakpao yang tidak seberapa nilainya."

Puncak gunung di kejauhan itu keiihatan amat jauh dan terselubung kabut dan tabir malam, tapi betapapun jauh letak gunung itu, akhirnya akan tercapai juga.

Dalam pelukan gunung belukar ini, deru angin malam terasa mengiris badan, suaranya yang ribut membisingkan telinga, denging suaranya berbeda-beda, kadang kaia berubah rendah sumbang mirip seorang menghela napas rawan.

Entah untuk siapa dia menghela napas?

Mungkin karena manusia beriaku kejam dan bodoh?

Entah mengapa manusia harus saiing tipu, celaka-mencelakai, saling bunuh lagi?

Sinar lampu berkelap-kelip di kota bawah sana, keiihatan jauh, mirip bintang yang bertaburan di angkasa, iebih jauh dibanding bayangan gunung waktu dilihat dari bawah tadi.

Di bawah penerangan cahaya bintang, keadaan pegunungan remang-remang, samar-samar kelihatan di atas lereng bukti sana ada bayangan sebuah kuil kecil.

Teng Ting-hou bertanya dengan menekan suaranya.

"Apakah bayangan gelap itu San-sin-bio?"

"Ehm,"

Lo-shoa-tang menjawab dalam mulut.

"Toa-po-tha berada di belakang San-sin-bio itu?"

"Ehm."

Giliran Ong-toasiocia bertanya.

"Mengapa aku tidak meiihat bayangan menara?"

"Mungkin matamu lamur,"

Sahut Lo-shoa-tang.

"Matamu masih tajam, apa kau sudah melihatnya?"

"Ehm."

"Dimana?"

Desak Ong-toasiocia.

Sekenanya Lo-shoa-tang menuding ke depan.

Yang dituding adalah sebentuk bayangan gelap, lebih tinggi dari San-sin-bio, dilihat dari bawah, ujung atas bayangan gelap itu keiihatan muncul dan Iebih tinggi sedikit dari wuwungan San-sin-bio, rata persegi seperti puncak gunung digergaji pucuknya, bentuknya mirip bukit rendah atau panggung batu.

Bentuk bayangan gelap itu boleh dikata mirip apa saja, tapi pasti tidak mirip sebuah menara.

"Maksudmu bayangan hitam itu adalah Toa-po-tha?"

Tanya Ong-toasiocia.

"Ehm."

"Berbagai macam menara pernah kulihat, meski bentuknya berbeda-beda, besar kecil atau tinggi rendah, tapi menara yang satu ini.......aneh."

Mendadak Lo-shoa-tang menukas.

"Aku kan tidak mengatakan bayangan itu sebuah menara."

"Kau tidak mengatakan?"

"Bahwasanya, bayangan itu memang bukan menara,"

Ujar Lo-shoa-tang. Ong-toasiocia bingung, Teng Ting-hou juga heran tanyanya kemudian.

"Bayangan apakah itu?"

"Bayangan gelap itu adalah menara buntung."

"Apa?"

Teng Ting-hou menegas.

"Menara mana ada yang buntung,"

Bantah Ong-toasiocia.

"Ayam panggang bisa diparoh, demikian pula bakpao bisa diiris, mengapa menara tidak boleh buntung?"

Debat Lo-shoa-tang.

"Ayam bakar dan bakpao semua utuh, merijadi separoh karena dimakan orang, betul tidak?"

"Betul."

"Lalu mengapa menara itu menjadi buntung. Dimana sisa yang buntung?"

"Sudah ambruk."

"Lho, mengapa ambruk?"

"Karena menara itu terlalu tinggi,"

Bola mata Lo-shoa-tang seperti bersinardi malam gelap.

"Menara seperti juga manusia, kalau terlalu tinggi manusia merayap ke atas, bukankah lebih mudah terjungkal jatuh?"

Teng Ting-hou tidak bertanya lagi, namun menghela napas panjang.

Makna yang diterangkan Lo-shoa-tang, mungkin tidak ada orang yang bisa menjiwainya seperti dirinya.

Makin banyak persoalan yang dipahami, makin sedikit orang buka suara.

"Semula menara itu dibangun tiga belas tingkat,"

Tutur Lo-shoa-tang.

"Konon untuk membangun tiga belas tingkat menara itu, memakan waktu delapan tahun lamanya."

"Dan sekarang?"

Tanya Ong-toasiocia. Bersinar mata Lo-shoa-tang.

"Waktu tujuh tingkat ba-gian atas menara itu ambruk, kebetulan banyak orang sedang bersembahyang di San-sin-bio."

"Wah, kan jatuh banyak korban yang meninggal?"

Seru Ong-toasiocia kuatir.

"Banyak sih tidak, konon yang meninggal hanya tiga belas orang."

Kaki tangan Ong-toasiocia berkeringat dingin. Suara Lo-shoa-tang berubah tawar.

"Kalau manusia mati penasaran, arwahnya akan gentayangan, maka tiga belas orang yang mati itu menjadi tiga belas setan gentayangan."

Kebetulan angin gunung berhembus, tanpaterasa Ong-toasiocia bergidik merinding.

"Dalam keadaan begini, kuharap kau tidak asal mengoceh saja."

"Boleh saja,"

Ujar Lo.shoa-tang.

Pada saat itu, tampak cahaya api dari sebuah lentera menyala di atas menara yang putus dan papak itu.

Sinar lampu yang redup mirip mata setan.

Ong-toasiocia menahan napas, tanyanya kepada Lo-shoa-tang.

"Lho, di atas itu ada orang?"

Lo-shoa-tang terkekeh.

"Apa yang kukatakan?"

Ong-toasiocia menggigit bibir, katanya sambil membanting kaki.

"Peduli manusia atau setan di atas menara itu, aku ingin naik ke sana memeriksanya."

Cepat Teng Ting-hou menariknya.

"Tak usah kau naik ke sana, aku tanggung dia pasti manusia, hanya saja ada kalanya manusia lebih menakutkan dibanding setan atau iblis."

Terbayang betapa kejam dan telengas perbuatan orang itu, Ong-toasiocia menjadi mengkirik dan merinding. Padahal hatinya takut, lahirnya saja dia masih berlaku bandel.

"Tapi kalau kita tidak berani melihat ke sana, buat apa kita datang kemari?"

"Sudah tentu harus melihat ke sana,"

Ujar Teng Ting-hou.

"Kita bertiga maksudmu?"

Tanya Ong-toasiocia. Teng Ting-hou geleng kepala.

"Aku sendiri yang akan naik ke sana. Kalian tunggu aku di sini."

Hampir menjerit suara Ong-toasiocia.

"Tunggu di sini melihat apa?"

Teng Ting-hou menjelaskan.

"Kalian mengawasi keadaan sekitar sini, ikut menjaga keamanan. Jika aku gagal, sedikit banyak kalian bisa memberi pertolongan padaku."

"Tapi aku......"

"Tiga orang bergerak, bisa menarik perhatian, kalau seorang kan lebih menguntungkan?"

Ong-toasiocia mengangguk, alasan Teng Ting-hou memangbenar.

"Kalau jejak kita bertiga diketahui, itu berarti kita sudah terjebak oleh perangkap musuh."

Terpaksa Ong-toasiocia bungkam, kalau bungkam selalu dia menggigit bibir. Lo-shoa-tang seperti mendapat angin, katanya.

"Di belakang San-sin-bio ada sepucuk pohon mangga yang tumbuh besar dan tinggi, letak pohon itu tidak jauh dari menara buntung itu, Rami akan bersembunyi di atas pohon mangga yang rimbun itu, kami siap membantu bila kau memerlukan bantuan kami."

MendadakOng-toasiocia bertanya.

"Pohon mangga itu berbuah tidak?"

"Kau ingin makan mangga?"

Tanya Lo-shoa-tang. Ong-toasiocia jengkel.

"Aku tidak ingin makan mangga, aku ingin menyumbat mulutmu dengan mangga." . * * * * * Menara buntung itu hanya enam tingkat, namun masih Sebih tinggi dibanding kuli kecil di depannya, makin dekat terasa betapa tinggi menara buntung bertingkat enam itu. Demikian puia manusia, setelah bergaui dekat baru tahu betapa tinggi budi pekertinya, betapa agung jiwanya. Kalau berdiri di bawah menara dan mendongak ke atas, cuma kegelapan saja yang terlihat, sinar Iampu di pucuk menara itu pun tidak kelihatan. Hembusan angin gunung terasa berat, seberat orang menghela napas rawan, sekeliling sunyi senyap. Gerak-gerikTeng Ting-hou amat enteng, lincah dan gesit. Biasanya dia memang bangga pada Ginkangnya sendiri, ia percaya seekor kucing yang merunduk mangsanya juga takkan selincah gerak-geriknya sekarang. Apalagi tabirmalam seperti membungkus bayangannya, dia yakin entah manusia atau setan yang menyalakan Iampu di pucuk menara itu, lawan takkan mudah menemukan jejaknya. Pada saat Teng Ting-hou tiba di bawah menara, dari atas menara justru berkumandang suara orang mengejek.

"Bagus sekali, ternyata kau datang tepat waktunya."

Teng Ting-hou berjingkat, sukar dia meraba kepada siapa perkataan itu ditujukan. Terdengar suara itu berkata pula.

"Kau sudah berani datang, mengapa tidak segera naik kemari?"

Teng Ting-hou menghela napas, kali ini Sebih jeias, ucapan itu ditujukan kepada dirinya.

Meski gerak-geriknya selincah kucing, namun pendengaran dan perasaan lawan ternyata lebih tajam dari anjing pelacak, mungkin juga dirinya sudah dimata-matai sejak tadi.

Maka Teng Ting-hou membusung dada sambil mengepal tinju, suaranya dibuat rendah dan tenang.

"Aku berani kemari, sudah tentu aku akan naik ke atas."

Setiap tingkat dari menara enam susun itu terdapat payon yang menjorok keluar, tingkat demi tingkat "payon itu makin kecil dibanding payon di bawahnya.

Dengan Gin-kang Teng Ting-hou, tidak sukar meiompat ke atas, apa-lagi tinggi setiap payon itu dapat dicapai dengan sekali lompatan Ginkangnya yang tinggi.

Tapi untuk naik ke atas menara ini, dia justru memilih anaktangga, Teng Ting-hou cukup cerdik menerawang keadaan, dia tidak mau dirinya dijadikan sasarar bidikan senjata rahasia musuh di kala dirinya terapung di udara.

Dia pun tidak mengharap dirinya ditendang jatuh dari atas dan terbanting marnpus di tanah seperti anjing yang dibanting tukang jagal.

Biar pelan dan membuang tenaga, tapi selamat, maka Teng Ting-hou memilih anak tangga.

Peduli betapa gelap keadaan dalam menara, betapa sempit anaktangga dan ruang geraknya, ia tetap memilih anak tangga.

Umpama .ada musuh siap membokong dirinya, kalau kakinya beranjak mantap dengan penuh kepercayaan, rasanya tak perlu kuatir.

Selangkah demi selangkah Teng Ting-hou naik ke atas, biar lambat asal selamat sampai tujuan.

Anehnya bukan saja dirinya tidak dibokong, ternyata menara ini kosong melompong.

Kertas jendela sudah banyak yang koyak dan kotor, bila angin berhembus kencang, kertas jendela itu mengeluarkan suara berisik.

Makin tinggi, hembusan angin makin kencang, makin ribut dan gaduh.

Demikian pula jantung Teng Ting-hou makin berdebar.

Sejak tingkat bawah, menara ini tidak terjaga, juga tiada perangkap apa-apa.

Apakah seluruh kekuatan yang terpendam di menara ini terpusatkan di puncaktertinggi?

Teng Ting-hou insyaf, bila dirinya tiba di atas, mungkin takkan bisa turun lagi, mengapa dirinya harus ikut campur urusan orang lain dan mencari kesulitan?

Telapak tangannya basah oleh keringat dingin, keringat juga membasahi ujung hidungnya.

Bukan karena takut, tapi lantaran tegang.

Siapakah pengkhianat itu?

Siapa pula pembunuh durjana itu?

Teka teki akan segera terbongkar.

Dalam menghadapi saat-saat yang menentukan ini, perasaan siapa yang tidak merasa tegang?

* * * * * Kalau ada lampu menyala, tentu ada orang di pucuk menara.

Satu lampu menerangi dua orang.

Sebuah lampion kertas kuning digantung miring dengan galah bambu yang tertancap di tembok, lampion itu bergoyang-gontai dihembus angin.

Di bawah lampion ada orang.

Seorang tanpa daksa, orang bungkuk yang bertubuh kurus, wajahnya yang hitam jelek dihiasi codet bekas bacokan senjata tajam.

Orang bungkuk ini bukan lain adalah Oh-lo-ngo, Oh-lo-ngo yang berani adu jiwa.

Saat itu dia bukan mengadu jiwa, tapi sedang mengisi arak ke dalam cawan.

Cawan di atas meja, meja di bawah lampion, cawan itu berada di depan seorang berperawakan tinggi kekar.

Di kanan kiri meja, berhadapan dua kursi kosong.

Salah satu kursi sudah diduduki seorang berpakaian hitam.

Orang ini duduk membelakangi anaktangga.

Begitu Teng Ting-hou tiba di puncak tertinggi, matanya hanya melihat bayangan punggung orang ini, walau hanya duduk, namun bayangannya kelihatan tinggi.

Telinganya tentu mendengar langkah kaki Teng Ting-hou yang sudah berada di belakangnya, namun dia tidak bergerak, tidak menoleh, hanya mengulur tangan menuding kursi di depannya.

"Silakan duduk,"

Katanya.

Teng Ting-hou beranjak ke sana dan duduk di kursi yang ditunjuk.

Setelah pantatnya menyentuh kursi baru dia mengangkat kepala.

Tanpa berkedip ia mengawasi orang di depannya dengan seksama.

Orang itupun menatap dirinya tak kalah tajam, begitu pandangan mereka beradu, laksana dua golok tajam yang beradu, memercikkan api.

Wajah mereka tampak serius dan tegang.

Teng Ting-hou mengenal orang ini, pernah melihatnya beberapa kali.

Pertama kali melihat orang ini di Koan-gwa, di padang rumput luas yang membentang di kaki gunung Tiang-pek, tepatnya di kantor Tiang-ceng Piaukiok.

Sejak pertemuan pertama dulu, setiap berhadapan dengan orang ini, sanubarinya selalu diliputi rasa hormat dan senang.

Hormat karena dia menghargai pribadi dan karirnya, senang karena orang ini ramah dan bajik, hubungan mereka pun makin dekat dan intim.

Tapi setelah sekian lama berpisah, sejak kasus pengkhianatan dan pembunuhan itu terjadi, baru hari ini mereka bertatap muka kembali.

Tampak oleh Teng Ting-hou, sorot mata maupun mimik wajahnya menampilkan rasa derita dan penasaran, amarah yang membakar sanubarinya.

Dia bukan lain adalah Pek-li Tiang-ceng.

Ternyata memang dia, Pek-li Tiang-ceng......

Mengapa kau lakukan perbuatan terkutuk itu?

Dalam hati Teng Ting-hou menjerit, namun mulutnya berkata tawar.

"Kau baik-baik saja?"

Kelam muka Pek-li Tiang-ceng, katanya dingin.

"Aku tidak baik, buruk sekali."

"Kau tidak menduga aku akan datang kemari?"

"Hm,"

Pek-li Tiang-ceng hanya mendengus. Teng Ting-hou menghela napas.

"Sudah lama aku menduga akan dirimu......"

Teng Ting-hou tidak meneruskan ucapannya, karena dilihatnya Pek-li Tiang-ceng mengerut kening.

Agaknya ada yang ingin dibicarakan, Pek-li Tiang-ceng tidak sabar mendengar.

Teng Ting-hou tidak mau bicara bila orang yang diajak bicara tidak suka mendengar, apalagi semua rahasia yang selama ini menjadi teka-teki akan segera terbongkar, dua sahabat karib yang saling hormat menghormati, sekarang berhadapan sebagai musuh, seorang di antara mereka harus roboh atau gugur bersama, banyak omong sudah tidak diperlukan lagi..

Betapapun sempurna seorang mengatur rencana suatu muslihat, betapapun pandai seorang melakukan kejahatan, suatu ketika perbuatannya pasti terbongkar.

Demikiah pula halnya sebuah gunung yang tinggi dan angker, tiada gunung yang sempurna tanpa lubang atau cacat dengan jurang dan ngarai.

Entah lewat lubang jendela yang mana, angin berhembus kencang ke dalam.

Hembusan angin di tempat tinggi terasa lebih tajam, makin tinggi makin dingin, rasanya seperti terpencil di awangawang, seperti sebatangkara.

Dalam keadaan terpencil di tempat dingin, orang akan teringat pada arak yang dapat menghangatkan badan.

Kebetulan di depannya ada cawan, Oh-lo-ngo segera mengisi cawannya, Teng Ting-hou langsung menenggak habis.

Dia percaya tokoh selihai Pek-li Tiang-ceng dengan kedudukannya yang tinggi dan disegani kawan maupun lawan, tidak akan berlaku rendah menaruh racun di dalam arak yang disuguhkan.

Setelah cawan diangkat, lalu diacungkan ke hadapan Pek-li Tiang-ceng.

Mungkin sebagai tanda, untuk terakhir kali ini aku memberi hormat dan ucapan selamat kepada sahabat lama.

Sejak kedatangan Teng Ting-hou dan melihat wajahnya, rona mata Pek-li Tiang-ceng diliputi derita.

Mungkin terjadi perang batin dalam sanubarinya, menyesali perbuatan yang pernah dilakukan selama ini.

Tapi kejahatan sudah telanjur dilakukan, apa boleh buat, menyesal juga sudah kasip.

Sekali tenggak Teng Ting-hou habiskan cawan araknya.

Arak terasa pahit dan getir.

Pek-li Tiangceng juga mengangkat cawan dan arak pun ditenggaknya habis.

Tiba-tiba ia berkata.

"Sebetulnya kita adalah sahabat karib, betul tidak?"

Teng Ting-hou mengangguk sebagai jawaban.

"Apa yang kita lakukan sebetulnya tidak salah,"

Ucap Pek-li Tiang-ceng lagi. Teng Ting-hou sependapat.

"Sayang sekali, ada sementara pekerjaan yang tidak tepat kita lakukan dan akibatnya terjadilah peristiwa seperti hari ini."

Teng Ting-hou menghela napas.

"Ya, memang harus dibuat sayang, memang terlalu."

"Celakanya, aku harus berada di sini, dan kau pun muncul disini."

"Kau kira aku tidak pantas berada di sini?"

"Ya, entah aku atau kau, sebetulnya tidak pantas datang kemari."

"Mengapa?"

"Karena sebetulnya aku tidak ingin membunuhmu."

"Dan sekarang?"

"Seorang di antara kita ada yang takkan pulang,"

Tegas dan tenang suara Pek-li Tiang-ceng, penuh keyakinan.

Mendadak Teng Ting-hou tertawa lebar.

Sebetulnya dia agak jeri terhadap Pek-ii Tiang-ceng, namun kemarahan telah mengobarkan semangatnya, membangkitkan keberanian dan kekuatannya yang terpendam.

Meiawan penindasan adalah salah satu cara melampiaskan amarah, ha!

ini sudah terjadi sejak zaman purba.

Karena manusia dibekali kekuatan terpendam yang akan bangkit mana kala amarah itu berkobar, oleh karena itu, manusia bisa bertahan hidup dan abadi, hidup turun temurun..

Teng Ting-hou tertawa, katanya kalem.

"Kau yakin seorang di antara kita yang hidup dan pulang adalah kau?"

Pek-li Tiang-ceng tidak bersuara, diam berarti membenarkan.

Pelahan-iahan Teng Ting-hou berdiri dengan senyum menghias wajahnya, dia keringkan pula arak dalam cawannya.

Dia habiskan sendiri araknya tanpa mengajak Pek-li Tiang-ceng minum, lalu katanya tawar.

"Silakan."

Pek-li Tiang-ceng mengawasi jari-jari tangan Teng Ting-hou yang meletakkan cawan di atas meja.

"Tanganmu terluka?"

Tanyanya prihatin.

"Tidak jadi soal."

"Tangan adalah gamanmu selama ini."

"Ya, aku tahu, dengan kedua tanganku ini, aku takkan mampu mengalahkanmu."

"Lalu gaman apa yang kau gunakan untuk menghadapiku?"

"Kekuatan, dengan kekuatan aku yakin dapat mengalahkanmu."

Pek-li Tiang-ceng menyeringai dingin. Dia tidak bertanya kekuatan apa yang dikatakan Teng Ting-hou, Teng Ting-hou juga tidak menjelaskan, namun dalam hati dia rnemberi peringatan kepada diri sendiri.

"Sesat tidak akan mengalahkan kebenaran, untuk memperoleh kebenaran memang pahit getir, namun kebenaran itu takkan punah untuk seiamanya, maka buah dari kebenaran itu akhirnya pasti manis."

Deru angin makin kencang dan ribut.

Apakah angin ribut ini bisa mendorong semangat orang?

Mendorong semangat siapa?

Teng Ting-hou menyobek pakaiannya lalu dibagi empat pula, dengan kalem ia mengikat kencang lengan baju dan ceiananya.

Dari pinggir Oh-lo-ngo mengawasi dengan melongo, sorot matanya tampak ganjil, seperti iba, tapi juga seperti mencemooh atau menghina.

Tetapi Teng Ting-hou tak peduli, tak memperhatikan.

Dia tidak ingin memperoleh julukan Teng Ting-hou ahli adu jiwa, dia paham akan watak sendiri, tapi dia juga memahami kekuatan iawannya.

Di kalangan Kangouw sukar dicari lawan setangguh ini, lawan yang menakutkan seperti Pek-li Tiang-ceng.

Bukan dia kuatir biia Oh-lo-ngo yang menonton di pinggir memandang dirinya penakut.

Karena keberanian sejati banyak macamnya.

Hati-hati, waspada dan kesabaran adalah satu diantaranya.

Mungkin Oh-lo-ngo tidak paham liku-liku ini, tapi dia tahu Pek-li Tiang-ceng pasti mengerti.

Walau dia hanya berdiri seenaknya, seenak orang yang menunggu kekasih, namun sorot matanya tidak menampilkan perasaan hina atau memandang.rendah, sebaliknya menunjukkan kewaspadaan dan rasa hormat.

Semua makhluk di dunia, entah manusia atau binatang, dia punya hak untuk mempertahankan hidup, mernpertahankan jiwanya.

Untuk mempertaruhkan haknya itu, peduli perbuatan apapun yang dilakukan, dia patut dihormati, harus dihargai.

Teng Ting-hou mulai membusungkan dada, seluruh kekuatan, semangat dan perhatian dipusatkan menghadapi Pek-li Tiang-ceng.

Mendadak Pek-li Tiang-ceng berkata.

"Selama beberapa buian ini, kulihat ilmu silatmu memperoleh banyak kemajuan."

"O?"

"Paling tidak kau sudah menyelami, tepatnya menjiwai dua jurus, kalau ingin mengalahkan musuh tangguh, dua jurus ini tidak boleh diabaikan."

"Dua jurus yang mana?"

"Sabar dan tenang."

Teng Ting-hou menatapnya pula, rasa hormat terpancar pula pada sorot matanya.

Lawan adalah sahabat yang patut dihargai, namun lawannya ini harus diperhatikan.

Pek-li Tiang-ceng menatapnya lekat, katanya.

"Adakah sesuatu urusan yang belum sempat kau bereskan?"

Teng Ting-hou termenung sebentar.

"Aku punya sedikit simpanan, apa yang kutinggalkan cukup untuk hidup isteri dan anak-anakku sampai tua, kurasa tiada perlu kukuatirkan."

"Bagus sekali."

"Kalau aku gugur di medan laga, kuharap kau dapat melakukan satu hal untukku."

"Katakan."

"Jangan ganggu Ong Seng-lan dan Ting Si, biar mereka menikah dan punya anak, pilihkan satu yang paling bodoh sebagai ahli warisku, semoga keluarga Teng tidak putus turunan ditanganku."

Terunjuk lagi rasa derita dan serba bertentangan di mata Pek-li Tiang-ceng, lama sekali baru dia berseru.

"Mengapa kau pilih yang paling bodoh?"

Teng Ting-hou tertawa ewa.

"Orang bodoh biasanya hidup bahagia, sederhana dan banyak rezeki, kuharap dia dapat hidup damai hingga hari tua."

Tawa yang ewa, permintaan yang sederhana, namun menyentuh duka lara setiap manusi yang punya perasaan.

Duka laranya sendiri, juga duka lara Pek-li Tiang-ceng Ternyata Pek-li Tiang-ceng juga mengajukan permohonan kepadanya.

"Bila aku gugur, kuminta kau mencari seorang perempuan bernama Kang Hun-sin, serahkan seluruh harta peninggalanku kepadanya."

Teng Ting-hou tertarik.

"Mengapa?"

Tanyanya heran.

"Sebab......"

Pek-li Tiang-ceng bimbang sejenak.

"Aku tahu dia memberi aku seorang keturunan."

Mereka tidak bicara lagi, hanya saling pandang dengan lekat.

Mereka tahu bahwa lawan akan melaksanakan permintaannya, karena dalam hati mereka sudah terbenam kepercayaan pada musuhnya.

Lalu mereka pun bertarung, hampir bersamaan mereka turun tangan.

Serangan Teng Ting-hou kuat lagi ganas, keras juga keji.

Dia insyaf, kalah atau menang dalam duel sengit ini, aka membawa pengalaman yang pahit dan getir.

Dia harap pengalaman pahit getir ini berlangsung dalam waktu yang singkat saja.

Maka setiap jurus serangannya menggunakan tipu-tipu yang mematikan, serangan dilontarkan dengan seluruh kekuatan yang dimiliki.

Siau-lim-sin-kun memang mengutamakan keras dan kuat, bila gaya permainan dikembangkan, setiap gerak kaki dan tangan membawa deru angin keras bagai harimau mengamuk, mengundang angin ribut yang dapat menggoncang pohon.

Padahal ruang kosong di atas menara tingkat keenam itu tidak lebar, beberapa kali terjadi, Pek-li Tiang-ceng suda terdesak hampir terjungkal ke bawah.

Tapi di saat yang gawat, entah bagaimana mendadak tubuhnya berkisar, tahu-tahu sudah menempatkan diri pada posisi yang bebas.

Empat puluh jurus kemudian, hati Teng Ting-hou mulai mencelos, perasaannya makin tenggelam.

Di saat-saat yang gawat begini, entah mengapa, mendadak dia teringat kejadian tiga puluh tahun yang lalu.

Dalam biara yang kuno itu, waktu dirinya masih belajar di Siau-lim-si, gurunya pernah memberi wejangan kepadanya, 'Lunak dapat mengalahkan keras, lemah dapat menundukkan yang kuat.

Golok baja memang keras, tapi air yang mengalir meski hanya segaris juga takkan bisa dibacoknya putus, demikian pula angin yang menghembus sepoi-sepoi itu lemah, .namun dapat melunakkan amukan geiombang pasang.

Kau harus selalu ingat satu hal, kelihatannya kau memang ramah dan lembut, padahal watakmu keras dan ketus.

Aku percaya kelak kau bisa ternama, dengan bekal watak dan bakatmu, kau dapat mengembang luaskan tinju sakti Siau-lim kita, tapi kalau kau lupa akan wejanganku ini, di saat kau berhadapan dengan musuh tangguh, maka kau akan kalah secara konyol'.

Di bawah cuaca yang remang-remang, di belakang kuil yang berlapis-lapis, padri tua beralis putih itu duduk bersimpuh memberi wejangan panjang lebar kepada pemuda yang berlutut didepannya.

Dalam detik-detik yang gawat ini, bayangan masa lalu mendadak terpeta dalam benaknya.

Petuah-petuah bak mutiara kata yang tulen dan sejati, laksana baja yang ditempa, kembali terngiang di telinganya, Sayang sekali, sejak lama Teng Ting-hou melupakan wejangan gurunya itu, di saat keadaan sudah gawat baru dia teringat, tapi sudah terlambat.

Bersambung ke 10 Di bawah cuaca yang remang-remang, di belakang kuil yang berlapis-lapis, padri tua beralis putih itu duduk bersimpuh memberi wejangan panjang lebar kepada pemuda yang berlutut didepannya.

Dalam detik-detik yang gawat ini, bayangan masa lalu mendadak terpeta dalam benaknya.

Petuah-petuah bak mutiara kata yang tulen dan sejati, laksana baja yang ditempa, kembali terngiang di telinganya, Sayang sekali, sejak lama Teng Ting-hou melupakan wejangan gurunya itu, di saat keadaan sudah gawat baru dia teringat, tapi sudah terlambat.

Akhirnya Teng Ting-hou sadar bahwa sekujur tubuhnya seperti dibelenggu kencang oleh suatu arus yang lunak tapi ulet, selunak otot yang mengering, dipotongpun tidak bisa putus.

Umpama macan yang kecemplung di air yang dalam, atau lalat yang tersangkut di sarang laba-laba.

Laksana bayangan raksasa, telapak tangan Pek-li Tiang-ceng yang mirip kipas itu menindih tubuhnya.

Jelas Teng Ting-hou tidak mampu mengelak.

Bagaimanakah rasanya mati.

Teng Tinghou sudah memejamkan mata.

Terbayang olehnya, di kamar pengantin pada malam pertama pemikahannya, betapa lembut isterinya memberi kenikmatan, tubuhnya yang montok kenyal dan paha yang mulus.

Entah mengapa dalam sekejap sebelum ajalnya, semua adegan masa lalu terbayang dalam benaknya.

Sandang pangan istri dan anak-anakku yang semua perempuan itu tidak akan kekurangan seumur hidup, tiada persoalan yang perlu dibuat kuatir, aku dapat mangkat dengan rasa lega.

Apa betul hatinya lega?

Sesat tak mungkin mengalahkan kebenaran, keadilan akhirnya pasti menang.

Mengapa justru dia yang kalah?

Walau dirinya kalah, namun ia percaya, keadilan dan kebenaran itu tidak akan pernah tumbang.

Di saat Teng Ting-hou memejamkan mata, di kala jiwanya terancam elmaut, mendadak segulung angin kencang menyelonong dari samping mematahkan tenaga pukulan Pek-li Tiang-ceng, seumpama sinar mentari mengusir bayangan gelap di balik gunung.

Demikian pula tenaga besar itu mirip sinar matahari, walau hangat dan lembut, tapi tak boleh dilawan atau ditahan.

Pek-li Tiang-ceng mundur tiga langkah, matanya terbelalak, dengan kaget dia mengawasi orang yang mendadak menyelonong dari pinggir.

Waktu melihat orang ini, setelah Teng Ting-hou membuka mata, dia pun kaget dan terkesima.

Tadi orang ini kelihatan loyo dan reyot, bungkuk lagi, kalau berjalan timpang dan terseok-seok, namun sekarang dia berdiri tegak dan angker, sorot matanya pun tidak redup, tapi berubah garang, gagah dan muda bercahaya.

"Kau bukan Oh-lo-ngo?"

Teriak Teng Ting-hou.

"Ya, bukan."

"Siapa kau?"

Rambut awut-awutan yang sudah beruban itu ternyata rambut palsu, demikian pula kulit muka yang berkerut-merut itu ternyata adalah topeng, setelah rambut palsu dan topeng dikelupas, tampaklah seraut wajah gagah jenaka di balik topeng, wajah yang tidak akan bosan untuk dipandang meski sehari semalam.

Ting Si.

Tanpa kuasa, Teng Ting-hou menjerit kaget, namun girang.

"Ting Si?"

Pek-li Tiang-ceng menatapnya nanar.

"Jadi kau inilah Ting Si yang pintar itu?"

Ting Si mengangguk, rona aneh terbayang disorot matanya, mimiknya pun ganjil.

"Ilmu silat apa yang barusan kau gunakan?"

Tanya Pek-li Tiang-ceng sambil menatap tajam.

"Ilmu silat tetap ilmu silat, ilmu silat hanya ada satu jenis, entah ilmu silat untuk membunuh orang atau ilmu silat untuk menolong orang, sama saja."

Bercahaya mata Pek-li Tiang-ceng, tak terduga olehnya pemuda ini bisa mengemukakan falsafat yang mendalam artinya.

Seluruh jenis ilmu silat yang ada di dunia ini memang berasal dari satu sumber, semua sama.

Walau makna ini sudah jelas dan gamblang, semua insan persilatan tahu akan hal ini, namun orang yang benar-benar memahami falsafat ini amat jarang, sedikit yang bisa menyelami maknanya.

Siapa dan bagaimana asal-usul pemuda ini?

Pek-li Tiang-ceng menatapnya penuh perhatian, tiba-tiba tangannya bergerak menyerang, gerak serangan yang lamban saja, seumpama hembusan angin sepoi yang dapat menenteramkan gelombang pasang di lautan teduh.

Bagai aliran air terjun yang mengalir dari bukit yang tinggi, takkan putus meski dipotong dengan apa saja.

Pek-ti Tiang-ceng salah perhitungan, bukan golok baja yang dia hadapi, bukan gelombang pasang di lautan teduh, seluruh tenaga yang dia salurkan untuk menyerang hakikatnya tidak bermanfaat sama sekali.

Pek-li Tiang-ceng terbelalak, kaget dan tercengang, matanya terbeliak, gaya pukulan segera berubah, dari lembut dan lunak berubah keras dan kuat, kalau tadi lamban, kini berganti cepat, gerak tangannya menerbitkan deru angin kencang.

Reaksi Ting Si ternyata ikut berubah.

Terasa oleh Teng Ting-hou yang mundur ke samping, permainan ilmu silat kedua orang tua dan muda ini hakikatnya sama, mirip satu dengan yang lain.

Seolah ada satu titik persamaan di antara kedua orang yang berbeda umur dan perawakan ini.

Agaknya Pek-li Tiang-ceng sendiri juga sudah merasakan dan menyadari hal ini, begitu tinjunya menjotos, mendadak dia mundur dua langkah.

Ternyata Ting Si juga menghentikan gerakannya, tidak menyerang lebih lanjut.

Pek-li Tiang-ceng menatapnya sekian lama, lalu bertanya dengan nada tinggi.

"Siapa yang mengajarkan ilmu silat kepadamu?"

"Tiada orang yang mengajarkan ilmu silat kepadaku,"

Sahut Ting Si kaku.

"Lalu darimana kau memperoleh ilmu silat tadi?"

"Masa kau tak tahu? Apa benar kau tak tahu?"

Sikap dan mimik Ting Si agak aneh, suaranya juga ganjil, seperti merasa duka dan kecewa, amat menderita lahir batin.

Ternyata sikap dan rona muka Pek-li Tiang-ceng juga berubah aneh, hulu hatinya seperti ditusuk sembilu, entah mengapa mendadak badannya bergetar, dalam waktu singkat, kekuatan dan semangatnya seperti luluh dan buyar, lidahnya menjadi kelu, sepatah kata pun tak terucapkan lagi.

Sebagai tokoh besar yang sudah tergembleng lahir batin, kekuatan dan tekadnya, tak mungkin dalam waktu sesingkat itu luiuh.

Teng Ting-hou mengawasi dengan seksama, lalu menoleh ke arah Ting Si, Mendadak dia merasa kaki tangannya sendiri ikut menjadi dingin dan berkeringat.

Pada saat suasana diliputi duka dan derita, mendadak api lampion padam, keadaan menjadi gelap gulita.

Di saat perubahan terang menjadi gelap itu, seolah ada serumpun desir angin tajam meluncur di udara.

Desir angin yang tajam dan runcing, begitu lirih dan enteng, sehingga sukar didengar.

Hanya senjata rahasia yang menakutkan, bila disambitkan menimbulkan desir angin seperti itu.

Kepada siapa senjata rahasia ini ditujukan?

Siapakah sasarannya?

Begitu mendengar desir angin senjata rahasia menyerang, dengan seluruh kekuatan Teng Tinghou menjejakkan kaki ke lantai, tubuhnya melambung ke atas satu tombak.

Padahal keadaan gelap gulita, kelima jari sendiri sukardilihat, apalagi senjata rahasia musuh itu lembut lagi enteng, yang pasti dari desir angin senjata rahasia itu dapat dipastikan senjata rahasia yang disambitkan banyak jumlahnya, sehingga sukar diraba kepada siapa senjata rahasia itu ditimpukkan.

Paling penting menyelamatkan diri, maka tanpa ayal Teng Ting-hou melambung tinggi ke udara.

Bagaimana nasib Pek-li Tiang-ceng dan Ting Si?

Di saat hati dirundung rasa sedih dan haru, di waktu lahir batin terpukul dan perasaan terpukau, dirangsang oleh gejolak emosi, apakah mereka tetap waspada untuk menyelamatkan diri dari serangan gelap?

Kegelapan tak berujung pangkal.

Begitu Teng Ting-hou melambung tinggi ke udara, perasaannya justru seperti terbenam ke bawah.

Di saat tubuhnya melambung dan bersalto di udara, matanya masih sempat melihat ke bawah, padahal sekujur badan ditelan kegelapan, demikian pula keadaan sekeliling, apa yang terjadi di sekitarnya, hakikatnya tidak diketahui sama sekali.

Waktu datang tadi, dengan seksama dia sudah memperhatikan keadaan menara ini, keadaan kosong melompong, sejak dari bawah hingga tingkat teratas, tidak pernah ia melepaskan perhatian dan kewaspadaan, yakin Pek-li Tiang-ceng dan Ting Si juga pasti selalu hati-hati.

Kalau ada musuh datang menyergap, seorang di antara mereka pasti tahu.

Tapi mereka tidak mendengar apa-apa, itu berarti tidak ada orang datang, lalu darimana datangnya serangan gelap itu?

Teng Ting-hou tidak habis pikir.

Sementara itu, hawa murni yang dia himpun tidak mungkin mengangkat atau menahan tubuhnya lebih lama di udara, maka badannya mulai melorot turun ke bawah.

Perubahan apa yang terjadi di bawah?

Apakah senjata rahasia ganas yang dapat menamatkan jiwa orang masih menunggunya?

Tinggi seluruhnya dari menara enam tingkat itu ada puluhan tombak, makin ke bawah, akan terasa makin tinggi puncak menara papak itu.

Maka bila berada di puncak menara dan melongok ke bawah, hati akan merasa ngeri dan giris.

Dari tempat puluhan tombak tingginya, siapa berani melompat ke bawah, kecuali orang sinting atau seorang yang sudah kecewa hidup dan ingin bunuh diri.

Di saat tu.buhnya melayang ke bawah, Teng Ting-hou mengertak gigi, dengan sisa tenaga terakhir dia membalik badan, lalu diam membiarkan tubuhnya meluncur ke bawah.

Beberapa tombak kemudian, kira-kira berada di tingkat ketiga, dengan tangkas ia mengulur tangan meraih ujung payon.

Untung bangunan payon menara itu cukup kuat menahan daya luncurdan berat badannya, sehingga Teng Ting-hou berhasil menahan tubuhnya di udara dan tidak melayang turun ke bawah lagi, diam-diam ia menghela napas lega, karena dengan Ginkangnya yang tinggi, tubuhnya dapat bergerak seenteng daun.

Lebih untung lagi setelah bersalto dua kali, seringan kapas kakinya berhasil menyentuh bumi, berpijak di bumi yang keras dengan selamat.

Dalam sekejap itu, perasaannya berubah dua kali, mirip seorang bocah cilik yang lama berpisah, mendadak bertemu dan dipelukdi haribaan ibunda.

Di bawah temyata juga gelap gulita.

Malam pekat, matanya tidak bisa melihat keadaan sekelilingnya, suara lirih apapun tidak terdengar.

Apa yang terjadi di tingkat keenam?

Entah Ting Si selamat atau celaka oleh serangan musuh?

Teng Ting-hou mengepal tinju, rasa berdosa dan bersalah mendadak merangsang sanubarinya, dia merasa malu dan tidak pantas meninggalkan teman di saat orang menghadapi bahaya, padahal teman ini pernah menyeiamatkan jiwanya.

Di saat jiwa penolongnya terancam bahaya, dirinya tidak berusaha menolongnya, sungguh aib dan memalukan.

Kalau di luar gelap, di dalam menara lebih gelap lagi, setiap jengkal mungkin ada perangkap, namun betapapun besar bahaya menunggu dirinya, kini Teng Ting-hou tidak gentar dan takut !agi.

Untuk menolong sahabatnya, dia akan nekad menerjang ke atas.

Untunglah sebelum dia menerjang ke dalam menara, bayangan seorang telah menerjang keluar.

Padahal Teng Ting-hou sudah telanjur bergerak, segera dia menghimpun kekuatan, tenaga dikerahkan memberatkan badan, sehingga tubuh yang bergerak ke depan merandek dan anjlok ke bawah.

Begitu kaki berpijak ke bumi, berbareng dengan bentakan mengguntur, tinju pun menggenjot ke arah bayangan orang yang melayang keluar.

Itulah Pak-pou-sin-kun, ilmu pukulan Siau-lim-pay yang sakti, tidak pernah luntur meski sudah menggetar Bulim selama tiga ratus tahun lebih.

Pukulan tinju dilancarkan dengan landasan tenaga yang dahsyat, jangan kata telak mengenai tubuh, deru anginnya saja cukup membuat seorang pemberani pecah nyalinya.

Namun kali ini Teng Ting-hou benar-benar dibuat kaget dan heran serta tidak percaya.

Jelas pukulan tinju dahsyat itu dengan telak mengenai sasarannya, namun tidak tampak terjadi reaksi yang mengejutkan.

Umpama tombak yang terbuat dari es, meski runcing dan keras, waktu disambitkan tahu-tahu sirna dan mencair tanpa bekas karena ditimpa cahaya matahari.

Tahu bahwa pukulan tinjunya gagal merobohkan sasaran, Teng Ting-hou menghela napas lega malah, segera dia berkata lunak.

"Kau Siau Ting?"

Bayangan orang yang meluncur keluar dari menara itu memang betul Ting Si.

Kembali Teng Ting-hou tertawa getir sendiri.

Biasanya Teng Ting-hou cukup cermat dan teliti bila melontarkan pukulan tinjunya, tapi hari ini dia gagal, mungkin karena terlalu tegang sehingga tindakannya agak berangasan.

Maklum turun tangan lebih dulu memang lebih menguntungkan.

Petuah ini belum tentu tepat, karena situasi dan kondisi merupakan penentu yang tidak boleh ditawar lagi.

Menunggu untuk mengunci, tenang menundukkan kekerasan, bergerak belakang tiba mendahului lawan, itulah makna mendalam dari berbagai unsur ilmu beta diri yang sejati.

Berbagai macam ilmu silat yang menjadi ajaran tunggal pihak Siau-lim memang patut membuat orang menaruh hormat dan menghargainya.

Bukan karena kehebatannya, tapi karena pelajaran ilmu silat itu dapat menyatukan kekuatan intisari ilmu silat dengan ajaran agama yang mereka anut.

Ilmu silat dan agama manunggal.

Teng Ting-hou menghela napas, mendadak ia sadar, nama besar dan sukses bukan jaminan bagi umat manusia untuk tumbuh dan hidup lumrah, malah sebaliknya dapat membuat manusia mundur dan loyo.

Karena kebesaran nama dan kesuksesannya, manusia akan lupa daratan, lupa akan hal-hal yang sebetulnya perlu mereka canangkan.

Tapi sekarang bukan saatnya berduka dan menyesal, Teng Ting-hou mengempos semangat, katanya kemudian.

"Kau mendengar sambaran angin senjata rahasia itu?"

"Ehm,"

Ting Si menjawab dengan suara dalam mulut.

"Siapakah pembokong itu?"

Tanya Teng Ting-hou.

"Entah, aku tidak tahu."

"Kalau aku tidak salah duga, senjata rahasia tadi disambitkan dari tingkat kelima, jadi dari bawah menyerang ke atas."

"Ya, mungkin."

"Tapi aku tidak melihat ada orang keluar dari bawah."

"Aku juga tidak melihat."

"Aku yakin orang itu bersembunyi dalam menara."

"Kenyataan tidak ada."

"Kau tak menemukan jejaknya? Atau memang orangnya tidak ada?"

"Kalau ada pasti dapat ditemukan."

"Senjata rahasia jenis apapun, tanpa sebab tidak mungkin menyerang sendiri."

"Ya, tidak mungkin."

"Kalau senjata rahasia itu disambitkan, tentu dilakukan oleh manusia."

"Ya, pasti manusia."

"Kalau benar manusia, tak mungkin bisa lenyap tanpa bekas."

"Benar."

"Lalu dimana orang itu? Apa mungkin penyerang gelap itu bukan manusia, tapi setan?"

"Kau percaya ada setan di dunia ini?"

"Aku tidak percaya."

"Seharusnya kau sudah tahu siapa penyerang gelap itu, juga tahu bagaimana dia berada di tempat ini? Bagaimana pula dia menyingkir? Tapi kau tidak mau memberi penjelasan kepadaku?"

Ting Si diam saja, tidak menyangkal.

"Mengapa tidak kau jelaskan?"

Desak Teng Ting-hou. Ting Si terpekur malah, akhirnya ia menarik napas panjang.

"Umpama kujelaskan, kau pasti tidak percaya."

"Mengapa?"

"Karena banyak segi kebetulan dalam peristiwa ini."

"Segi apa yang kebetulan?"

"Dalam pelaksanaan kerjanya, rencana sudah diatur rapi dan cermat, tapi kalian masih dapat menemukan berbagai titik kelemahannya, setiap kelemahannya itu, kebetulan dapat menuntun berbagai sumber penyelidikan pula. Secara kebetulan pula seluruh sumber penyelidikan itu cocok dengan pribadi dan kondisi Pek-li Tiang-ceng seorang saja." -Bertamu tengah malam pada tanggal 13 bulan 5. -Waktu yang juga kebetulan. -Ilmu silat yang tinggi tiada tara. -Dengus napas yang tersengal-sengal dari seorang penderita penyakit asma. -Obat yang dibuat dari candu. -Rahasia perusahaan yang tidak mungkin diketahui orang luar. Teng Ting-hou menghela napas gemas.

"Kalau dipikir secara cermat, berbagai kejadian dan persoalan itu memang kebetulan cocok."

"Tapi semua itu bukan paling kebetulan."

"Jadi ada yang paling kebetulan?"

Tanya Teng Ting-hou. Suara Ting Si menjadi getir.

"Kebetulan aku adalah putra Pek-li Tiang-ceng."

Teng Ting-hou menghela napas panjang.

"Jadi Kang Hun-sin adalah ibu kandungmu?"

"Kau sudah tahu sebelumnya?"

Tanya Ting Si. Teng Ting-hou menggeleng kepala sebagai jawaban.

"Kenyataan ini agaknya tidak membuatmu heran."

"Dulu pernah kupikir tentang hal ini, tapi kalau kau tidak menjelaskan, aku tidak berani memastikan."

Baca Juga: Maling Romantis Khu Lung

Baca Juga: Ilmu Ulat Sutera 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert