Ceritasilat Novel Online

Pukulan Si Kuda Binal 5

Eps 5 Pukulan Si Kuda Binal - Gu Long

Baca online Pukulan Si Kuda Binal - Gu Long

Cersil Pukulan Si Kuda Binal - Gu Long.

"Apa yang dapat kau pastikan? Memastikan bahwa Pek-li Tiang-ceng adalah penghiianat? Matamata atau pembunuh keji itu?"

"Sebetulnya hampir aku yakin demikian, maka......"

"Maka begitu kau berhadapan dengan Pek-li Tiang-ceng, tanpa tanya duduk persoalannya, kau lantas mengajaknya berduel."

"Dalam keadaan seperti itu, memangnya aku harus tanya apalagi?"

"Sepantasnya kau tanya padanya, mengapa dia berada di tempat itu? Siapa yang dia tunggu di sana."

"Jadi bukan dia yang mengundang kami ke sini?"

"Bukan."

"Lalu siapa yang dia tunggu?"

"Seperti engkau, dia pun ditipu orang untuk kemari. Yang ditunggu adalah orang yang sedang kau cari." .

"Jadi dia pun mencari pembunuh itu?"

"Kau tidak percaya?"

"Waktu melihatku, apakah dia tak berpendapat, akulah pembunuh itu?"

"Waktu kau melihat dia di sini, bukankah kau juga beranggapan demikian?"

Teng Ting-hou melongo. Ting Si menarik napas dalam.

"Kelihatannya Ngo-siansing memang seorang cerdik, pandangannya terhadap kalian tidak meleset.."

"Siapa Ngo-siansing?"

"Ngo-siansing adalah pimpinan cabang Ceng-liong-hwe dengan kodetanggal 13 bulan 5, tepatnya pemeran utama atau perencana seluruh peristiwa ini. Jelas dialah biang keladinya."

Teng Ting-hou menjublek. Kata Ting Si sambil menyeringai dingin.

"Ngo-sian-sing sudah memperhitungkan, begitu berhadapan kalian akan saling labrak. Sebagai pendekar besar, orang gagah yang disegani dan berwibawa, kalian selalu beranggapan apa yang kalian pikirdan kerjakan pasti benar, kalau persoalan sudah jelas, buat apa banyak omong lagi. Kalau bertarung dengan sengit, entah mati atau hidup, bukankah menyenangkan."

Teng Ting-hou diam mendengarkan dengan cermat, hatinya mengakui apa yang diucapkan Ting Si memang benar, memang demikianlah penyakit umum setiap tokoh persilatan.

"Menurut rencana, saat ini kalian sudah mampus di menara itu, sayang sekali......"

Akhirnya Teng Ting-hou mengangkat kepala, katanya dengan tertawa.

"Sayang sekali, kebetulan kau adalah putra Pek-li Tiang-ceng. Kebetulan pula kau adalah teman baikku, lebih kebetulan pula kau adalah Ting Si yang cerdik pandai."

Wajah Ting Si kaku, matanya menatap tajam, sinar matanya membayangkan rasa senang dan lega.

Di tengah malam yang hening itu, dari dalam menara tingkat tiga, mendadak berkumandang bentakan keras, menyusu!

suara "Blang"

Yang keras, seperti batu raksasa jatuh dari langit, sehingga menimbuikan getaran keras.

Tiba-tiba dinding menara jebol dan bolong.

Keadaan dalam lubang itu gelap guiita, lima jari sendiri pun tidak kelihatan.

"Mana Pek-li Tiang-ceng?"

Seru Teng Ting-hou terkesiap kaget.

"Waktu kau keluar, kau melihatnya tidak?"

Ting Si menggeleng kepala.

"Apa dia bentrok dengan Ngo-siansing?"

Tanyanya gugup. Ting Si menggeleng kepala lagi, roman mukanya mulai masam, perasaannya berat.

"Mengapa kami hanya menonton saja di sini, apakah tidak......"

Belum habis Teng Ting-hou bicara, dari dalam menara berkumandang lagi bentakan dan caci maki, suaranya berada di tingkat dua. Menyusul terdengar "Blang"

Sekali iagi, kali ini tembok ambruk, hampir saja Teng Ting-hou dan Ting Si tertimpa.

Walau tidak menyaksikan pertarungan yang terjadi di atas, namun dapat mereka bayangkan betapa tinggi kepandaian dua jago yang berlaga di atas menara, dari tenaga pukulan mereka yang mampu merobohkan dinding.

Ilmu silat Pek-li Tiang-ceng belum terhitung nomor satu di dunia persilatan, namun nama besar dan kedudukannya, diperoleh karena ilmu silatnya yang tinggi.

Sementara kaum Bulim berpendapat, di kalangan Piaukiok gabungan itu, ilmu silat Pek-li Tiang-ceng juga belum termasuk paling top.

Tapi orang yang mengenal pribadinya tentu tahu, bahwa Pek-li Tiang-ceng memiliki kekuatan tersembunyi, menyimpan ilmu silat yang tidak diketahui orang, karena ilmunya itu belum pernah dipertunjukkan di depan umum..

Dirinya bak naga yang bersembunyi di rawa.

Latihan Lwekang dan Gwakangnya, boleh dikata sudah mencapai puncak tertinggi, apalagi meski sudah lanjut usia, dia masih tekun berlatih dan belajar, selaiu menyeiami intisari ilmu silat berbagai cabang perguruan yang terkenal.

Jarang ada tokoh besar yang bisa menandingi dirinya dalam bidang ini.

Berbagai persoalan yang dikemukakan di atas, tentu sudah diketahui oleh Teng Ting-hou, apalagi barusan dia sudah bergebrak langsung dengan Pek-li Tiang-ceng.

Musuh yang bergebrak melawan Pek-li Tiang-ceng dalam menara, tentu memiliki ilmu silat yang luar biasa, kemampuannya tidak di bawah kepandaian Pek-li Tiang-ceng, lalu siapa Ngo-siansing sebetulnya?

Siapakah tokoh kosen yang memiliki ilmu silat tinggi yang mampu menandingi Pek-li Tiang-ceng?

Kaiau Ngo-siansing adalah mata-mata atau pengkhianat yang menjual rahasia perusahaan, pembunuh Ong-loyacu, maka boleh diduga, kalau bukan Kui Tang-king, Kiang Sin, tentu Sebun Seng.

Apakah ketiga orang ini patut dicurigai?

Persoalan ruwet ini berkelebat sekejap direlung hati Teng Ting-hou, di saat seperti ini, dia tak sempat merenungkan lebih jauh.

Teng Ting-hou siap menerjang ke dalam menara, mendadak terjadi getaran keras, suara gemuruh seperti gempa dahsyat.

Menara yang sudah buntung itu mendadak ambruk dan runtuh total rata dengan tanah.

Bagaimana nasib Pek-li Tiang-ceng yang sedang bertarung dengan musuh dalam menara?

Apakah mereka terkubur bersama?

Debu, pecahan kayu, bata dan genteng laksana gumpalan mega gelap, dengan suara gemuruh menggoncang puncak gunung itu.

Baru saja terbesit pikiran dalam benak Teng Ting-hou untuk melompat mundur, Ting Si sudah bertindak menarik tangannya, begitu tubuhriya terlempar di udara, ia bersalto mundur ke belakang.

Waktu dirinya masih muda dulu, di Siau-lim-si yang kuno dan tua serta angker itu, sering para padri agung yang berkepandaian tinggi memuji dirinya, 'Watakmu memang handal, tapi gegabah, biasanya anak-anak yang berwatak seperti dirimu, jarang yang bisa memperoleh taraf kepandaian yang kau miliki sekarang, tapi ingat, bila kelak kau bertarung dengan orang, apalagi kepandaiannya lebih tinggi, kalau kau berlaku tabah dan sabar, belum tentu lawan dapat mengalahkanmu, reaksimu cukup cepat untuk mendahului lawan'.

Setiap manusia, bila mendapat pujian dan diagulkan orang lain, dengan mudah akan mengukir peristiwa itu dalam lubuk hatinya.

Sebetulnya sudah lama Teng Ting-hou melupakan pujian itu, tapi sekarang dia sadar, bahwa reaksinya sudah tidak secepat dulu, geraknya tidak setangkas waktu mudanya dulu.

Terbukti Ting Si yang lebih muda bergerak lebih cepat, gerakannya lebih cekatan.

Apakah usia menjadi penentu gerak manusia?

Lebih tua usianya makin lambat gerak-geriknya, apakah 'tua' itu dapat mengundang duka lara bagi umat manusia?

Teng Ting-hou terlempar lima tombak jauhnya, dengan ketangkasannya dia dapat hinggap di tanah dengan berdiri tegak, lalu menjublek di situ tanpa bergerak sekian lama.

Debu pasir reruntuhan menara menghujani tubuhnya, namun tidak dirasakan olehnya.

Adalah jamak bila setiap orang menilai tinggi kemampuan diri sendiri, bila suatu ketika seorang menyadari betapa rendah nilai harga dirinya, pasti dia akan merasa kehilangan sesuatu.

Itulah salah satu duka lara manusia, duka lara ini jelas takkan bisa dihindarkan.

Keadaan menjadi sunyi, alam semesta seperti beku, seluruh keributan berhenti, kebekuan ini justru menyadarkan Teng Ting-hou dari lamunannya.

Kegelapan tetap terbentang di depan mata.

Menara enam tingkat yang kelihatan angker tadi, kini sudah runtuh tinggal puing yang hampir rata dengan tanah.

Kejadian hanya sekejap, semula menara itu mirip raksasa yang berjongkok di atas gunung, memandang hina bumi dengan pohon dan rerumputan di bawah kakinya.

Tapi sekarang raksasa itu runtuh, ambruk di atas tanah dan rerumputan yang dia hina, yang dia remehkan.

Ternyata menara juga mirip manusia, makin tinggi manusia merambat ke atas, lebih mudah dia terjungkal, makin tinggi memanjat, jatuhnya pun lebih parah.

Akhirnya Teng Ting-hou menghela napas..

Bukankah Pek-li Tiang-ceng dan Ngo-siansing adalah tokoh besar yang sudah merambat cukup tinggi.

Teringat Pek-li Tiang-ceng, mendadak Teng Ting-hou berjingkrak kaget, teriaknya.

"Mereka sudah keluar belum?"

"Belum,"

Sahut Ting Si.

Kalau menara ambruk dan orang di dalamnya tidak sempat keluar, itu berarti tertindih dan terkubur di bawah reruntuhan menara yang ambruk.

Berubah air muka Teng Ting-hou, bergegas dia melompat ke sana, di tengah kegelapan, di tempat berdirinya menara tadi, batu bata bertumpuk mirip sebuah kuburan besar.

Manusia yang terkubur di bawah tanah, jangan harap kuat bertahan hidup.

Apalagi di bawah reruntuhan sebuah menara enam tingkat.

Tangan Teng Ting-hou dingin berkeringat, lututnya terasa lemas dan goyah.

Pek-li Tiang-ceng bukan teman baiknya, namun entah mengapa hatinya amat sedih dan pilu, menyesal karena merasa dirinya bersalah terhadap Pek-li Tiang-ceng.

Ting Si berada di belakangnya, mengawasi tanpa suara, seperti ikut merasakan gejolak yang merangsang hati temannya.

Setelah menghadapi kenyataan ini, curiga dan salah paham terhadap Pek-li Tiang-ceng, disadari merupakan kesalahan yang tidak Bisa dipungkiri lagi.

Maka tampak rasa lega dan senang dalam sorot mata Ting Si, kejadian ini memang diharapkan setulus hati.

Kebetulan Teng Ting-hou menoleh, sekilas dia mejihat mimik Ting Si itu, maka dia berkata.

"Apa benar Pek-li Tiang-ceng ayahmu?"

"Benar,"

Ting Si menjawab dengan suara lantang, tegas dan penuh keyakinan. Teng Ting-hou menarik muka, teriaknya.

"Kalau benar dia bapakmu, kini dia terkubur di reruntuhan itu, tapi kau masih enak-enak berdiri, tidak sedih malah senang. Beginikah perilaku seorang anak terhadap ayahnya?"

Ting Si tidak menanggapi luapan amarah Teng Ting-hou, dia malah balas bertanya.

"Apa kau tahu, mengapa menara ini mudah ambruk?"

"Karena terlalu tinggi?"

"Banyak menara di dunia ini, yang lebih tinggi juga tidak sedikit, tapi belum pernah aku mendengar ada menara ambruk."

"Mungkin ada seluk beluk yang tidak kuketahui?"

"Ya, karena menara yang satu ini kosong bagian tengahnya."

"Setiap menara tentu ada ruangan atau kamar, sudah tentu kosong bagian dalamnya."

"Yang kumaksud kosong bukan ruangannya, tapi dindingnya, pondasi bangunan menara ini pun kosong bagian dalamnya."

Teng Ting-hou segera paham.

"Jadi menara ini dibangun dengan dinding rangkap? Ada lorong bawah tanah maksudmu?"

"Ya, dari tingkat bawah sampai yang paling tinggi."

Teng Ting-hou mengerut kening.

"Menara adalah tempat berdoa bagi buat umat Buddha, untuk apa menara ini dibangun dengan dinding rangkap?"

"Yang pasti menara ini bukan dibangun oleh umat Buddha."

"Memangnya siapa yang membangun menara ini?"

"Kawanan berandal."

Bukit hijau di belakang menara ini, dahulu adalah sarang kawanan penyamun yang berpangkalan di daerah ini.

"Untuk meloloskan diri dari buruan kawanan opas, untuk menghilangkan jejak, mereka sepakat membangun menara di sini, dinding rangkap untuk menyelamatkan diri, lorong sempitdi dalam dinding itu memang sering menyelamatkan kawanan bandit, karena di bawah menara juga dibangun lorong bawah tanah yang tembus ke markas mereka di atas gunung."

Akhirnya Teng Ting-hou paham duduk persoalannya.

"Jadi orang itu membokong kita dari balik dinding yang kosong itu?"

"Betul."

"Makanya penduduk di sekitar gunung ini bilang, menara ini dihuni kawanan setan, mungkin karena menara ini berdinding rangkap dengan jalan rahasia di tengah dinding."

Banyak orang yang masuk ke menara ini tahu-tahu lenyap tak keruan paran, hilang secara misterius.

"Supaya rahasia ini tetap abadi, orang yang tahu tentang rahasia ini, entah sengaja atau tidak sengaja, jiwanya harus ditamatkan untuk menyumbat mulutnya. Selama puluhan tahun, rahasia di balik menara ini memang tidak pernah bocor."

Ting Si tertawa getir.

"Betul, rahasia kita sebagai perampok juga tidak diketahui oleh kawanan Piausu dari perusahaan pengawalan manapun."

Teng Ting-hou ikut tertawa getir, waktu Ting Si mengucap "Piausu", segera ia sadar telah salah omong.

Apakah karena dalam lubuk hatinya juga menganggap dirinya sebagai perampok?

Perubahan apapun yang terjadi pada dirinya, seperti sudah ditakdirkan menjadi perampok?

Diam-diam Teng Ting-hou bersumpah dan bercita-cita dalam hati.

Dia bersumpah selanjutnya dia akan merubah pandangan dan pikiran.

Bercita-cita merubah orang lain, merubah tujuan hidup temannya yang satu ini.

Ting Si seperti meraba jalan pikirannya, katanya dengan senyum khasnya.

"Bagaimana juga, aku adalah bocah yang dibesarkan dan tumbuh di atas gunung. Sudah selayaknya aku tahu akan rahasia ini."

"Lantaran kau tahu adanya rahasia itu, maka sekarang kau masih hidup,"

Ujar Teng Ting-hou, lalu menghela napas panjang. Agaknya dia sudah paham tentang rencana adu domba yang dirancang Ngo-siansing.

"Sengaja dia mengatur rencananya supaya kita saling labrak, setelah kehabisan tenaga, syukur ada yang terbunuh, baru dia turun tangan keji dari balik dinding, orang lain tentu berpendapat kita gugur bersama setelah duel mati-matian. Selama hidup tiada orang tahu perbuatan jahatnya, bebas dari tuntutan hukum yang berlaku."

Ting Si menghela napas, katanya dengan tawa getir.

"Hanya saja, kalau kau menjadi korban muslihat jahatnya itu, kau terhitung yang paling untung di antara kita."

"Mengapa?"

"Orang banyak pasti berpendapat, kau gugur dalam menunaikan tugas, melenyapkan oknum jahat dari perusahaan gabungan itu, gugur karena menuntut balas kematian Ong-loyacu, tak segan kau gugur bersama musuh. Bila kau mati, bukan mustahil, kau akan dipuja dan disanjung sebagai pahlawan, akan tetapi......"

Akan tetapi bila Pek-li Tiang-ceng yang meninggal, nama busuknya takkan tercuci bersih untuk selamanya. Ting Si berkata lebih lanjut.

"Setelah kalian gugur bersama, bukan saja durjana itu bebas dari tuntutan hukum, selanjutnya dia akan memegang tampuk pimpinan dan berkuasa dalam perusahaan pengawalan gabungan itu. Sebagai pimpinan sudah tentu dia menguasai hak dan tanggung jawab besar. Seluruh kaum persilatan di Tiong-goan, entah dari aliran putih atau golongan hitam, semua berada dalam genggamannya."

Mengingat betapa jahat dan rumit serta teliti rencana jahat yang dirancang orang itu, Teng Tinghou yang sudah kenyang menderita hidup inipun tak urung bergidik dan merinding.. Teng Ting-hou menyengir.

"Untung kami tidak mampus, karena......"

Ting Si juga tertawa.

"Karena dia tidak pernah menyangka, Ting Si muncul dan merusak rencananya."

"Lebih tidak terduga lagi, bahwa Ting Si yang pandai adalah putra tunggal Pek-li Tiang-ceng, bocah itupun kawan karib Teng Ting-hou. Kedua hal inilah yang membuatnya gagal total."

Kini Teng Ting-hou dapat tertawa bebas, sekarang dia menyadari satu hal, betapapun jahat, kejam dan rumitnya suatu rencana, menghadapi kenyataan hidup, akhirnya pasti gagal dan kalah.

Di dunia ini terdapat suatu kekuatan besar, yaitu kepercayaan dan cinta kasih yang menjadi dasar kehidupan setiap manusia.

Ting Si percaya pada diri sendiri, cinta kasih terhadap ayah dan temannya, Siau Ma, demi orangorang yang dicintai, dia rela dan berani menempuh bahaya.

Seorang pembunuh yang berdarah dingin, tentu tidak akan meresapi betapa luhur dan besar arti cinta kasih itu.

Karena penjahat itu melalaikan cinta kasih, betapapun sempurna rencana jahatnya, akhirnya pasti gagal dan bubar.

* * * * * Di bawah tumpukan puing itu, Ting Si dan Teng Ting-hou tidak menemukan jenazah manusia, bangkai tikus pun tidak mereka temukan.

Lega hati Ting Si dan Teng Ting-hou, dua orang yang berhantam itu tidak mati terpendam di bawah reruntuhan menara, berarti mereka berhasil menyelamatkan diri, lewat lorong bawah tanah, temyata mulut lorong bawah tanah itu tersumbat oleh reruntuhan tembok dan genteng.

Teng Ting-hou berkata.

"Lawan yang berhantam dengan Pek-li Tiang-ceng di atas menara tadi, mungkin bukan Ngo-siansing?"

"Ya, mungkin sekali."

"Ngo-siansing bukan nama aslinya?"

"Ya, bukan."

"Dalam melakukan kegiatannya, dia selalu mengenakan kedok muka."

"Ya,"

Ting Si menjelaskan.

"Kedok muka yang dipakai terbuat dari kulit wajah manusia, dibikin sedemikian rupa oleh seorang ahli, mudah dipakai, bersih, bagus dan rajin bikinannya, sedikitnya dia memilki tujuh delapan macam kedok muka. Dalam sekejap mata dia mampu merubah dirinya menjadi ojang lain yang berbeda-beda raut wajahnya."

"Pakaiannya selalu berwama hitam."

"Ya, biasanya memang hitam."

"Setelah disergap dengan hamburan senjata rahasia, Pek-li Tiang-ceng menemukan jejak musuh, musuh berkedok yang berpakaian hitam, sudah tentu Pek-li Tiang-ceng tidak melepaskannya begitu saja."

"Apalagi keadaan memaksa dia bertindak."

"Oleh karena itu, bila pembokong itu melarikan diri iewat lorong bawah tanah, kemana pun keparat itu Sari, Pek-li Tiang-ceng pasti mengejarnya."

"Makanya mereka tidak terkubur di sini, juga tidak kelihatan batang hidungnya."

"Apa betul lorong bawah tanah ini tembus ke markas besar di atas gunung?"

"Ya."

"Ngo-siansing pasti lari ke markas besarnya."

"Setelah masuk lorong panjang itu, tiada jalan lain untuk meloloskan diri."

"Oleh karena itu, dapat diduga bahwa saat ini Pek-li Tiang-ceng tentu berada di markas musuh itu."

Ting Si mengangguk kepala.

"Kau pernah bilang, markas itu bak rawa naga gua harimau, siapa masuk ke sana jarang ada yang bisa keluar."

"Ya, aku pernah bilang demikian."

Teng Ting-hou menatapnya, katanya dengan kalem.

"Pek-li Tiang-ceng adalah ayah kandungmu, sekarang dia berada di sarang naga gua harimau, lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Bagaimana menurut pendapatmu? Apa yang harus kulakukan?"

"Seharusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan."

"Maksudmu kita harus bekerja keras, menyingkirkan reruntuhan menara yang menyumbat lorong bawah tanah dalam waktu sesingkat mungkin, lalu meluruk ke sarang musuh untuk dibunuh mereka."

"Mengapa harus menyerahkan jiwa kepada mereka?"

"Sebentar lagi, cuaca akan terang tanah, kita kelelahan setelah bekerja keras, badan basah kuyup oleh keringat, apalagi......"

Teng Ting-hou menukas.

"Kita tidak perlu lewat lorong, kukira masih ada jalan lain di sekitar gunung ini."

"Ya, memang ada jalan rahasia lain di sini."

"Mengapa kau tidak mau ke sana?"

"Aku yakin dia mampu mempertahankan diri, apalagi aku belum ingin mati saat ini."

"Kau pernah naik ke atas gunung sana?"

"Waktu itu, keadaan berbeda dengan sekarang."

"Dalam hal apa berbeda?"

"Waktu itu aku dapat mencari tempat perlindungan yang bagus."

"Oh-lo-ngo yang rela mengadu jiwa itu maksudmu?"

Ting Si mengangguk.

"Setiap manusia yang tinggal di atas gunung itu, menganggap dirinya bukan manusia lumrah, orang buangan yang tidak berguna, memandang wajahnya terasa jijik, apalagi memperhatikan tubuhnya yang bungkuk dengan gaya jalannya mirip bebek. Seorang diri orang jelek ini tinggal di sebuah rumah kecil di belakang gunung, belum pernah ada orang mempedulikan mati hidupnya."

"Jadi kalau kau menyamar menjadi dirinya, pasti dapat mengelabui mata mereka?"

Ting Si tertawa.

"Kalian pun kukelabui, apalagi orang lain?"

"Menyamar sebagai Oh-lo-ngo, dua kali kau mengantar surat ke warung Lo-shoa-tang?"

"Ya, sudah dua kali aku ke sana,"

Ujar Ting Si.

"Aku sudah menduga, kalian akan tertarik oleh munculnya seorang yang bernama Oh-lo-ngo, namun kalian tidak memperhatikan diriku, karena tampang dan bentuk tubuh Oh-lo-ngo, sesungguhnya memang amat jelek dan menjijikkan."

"Namun rahasia penyamaranmu sudah terbongkar, kalau kau naik ke gunung dengan samaran yang sama, tentu kau akan terancam bahaya."

"Oleh karena itu......"

"Meski kau tahu Pek-li Tiang-ceng dan Siau Ma mati di atas gunung, kau tidak akan bekerja dengan gegabah, jiwamu lebih berharga dibanding orang lain."

"Bukan jiwa ragaku lebih berharga, sebagai bekas anak gelandangan, jiwaku justru tidak berharga, umpama aku punya jiwa rangkap, dengan suka rela aku akan menyerahkan kepadamu, walau kau minta untuk umpan anjing sekalipun."

"Sayang jiwa ragamu manunggal, hanya satu."

"Ya, sayang sekali."

"Apa betul kau tidak menguatirkan keselamatannya?"

Berubah kelam rona muka Ting Si, agak lama kemudian baru dia berkata dengan sikap dingin.

"Sebelum aku lahir, dia sudah minggat. ibuku perempuan biasa, bukan kaum persilatan, kesehatannya sering terganggu lagi, mana kala aku dilahirkan, kondisinya lebih parah lagi, maka sejak usia tiga tahun, aku sudah harus bekerja mencari nafkah, tidak jarang aku menjadi pengemis minta sedekah kepada para dermawan, sering puia dengan mangkuk bolong aku minta sesuap nasi di depan restoran. Dalam usia enam tahun, aku sudah mahir mencopet, dalam keadaan mendesak aku berbuat jahat, bila ketahuan dan tertangkap basah, kalau badan hanya babak belur masih mending, aku sudah biasa dicaci maki, ditendang dan dihajar orang, namun aku tahan uji, hanya ibu yang menaruh kasihan dan kasih saying kepadaku, sampai sebesar ini usiaku, kecuali ibunda, belum pernah ada orang menguatirkan diriku. Lalu mengapa aku harus menguatirkan keselamatan orang lain, memperhatikan orang lain?"

Suara Ting Si makin kaku dan ketus, wajahnya juga tidak menampakkan perasaan, tapi jari jemarinya tampak gemetar, jeias emosi bergelut dalam sanubarinya.

Lama Teng Ting-hou menatapnya, dia menarik napas panjang.

"Untung aku ini temarimu, untung pula aku sudah menyelami jiwamu, tahu luar dalam atau lahir batinmu.. Kalau orang lain tentu menganggap kau seorang yang tidak punya perasaan, orang yang tidak kenal budi pekerti."

"Memangnya sejak kecil aku sudah menjadi orang tidak berbudi, orang yang tidak tahu apa artinya cinta kasih,"

Demikian jengek Ting Si kaku.

"Kalau betul kau tidak bercinta kasih, tidak berbudi, buat apa kau menyerempet bahaya, berusaha menolong jiwa orang iain? Mengapa pula kau berdaya upaya mencuci bersih nama baiknya, kau ingin membuktikan bahwa dia tidak bersalah atau berdosa."

Ting Si bungkam.

"Sebetulnya aku maklum, dalam hatimu ada sesuatu rencana matang, namun kau tidak mau menjelaskan kepadaku,"

Ting Si tetap diam, tidak menyangkai juga tidak mengaku.

"Mengapa tidak kau jelaskan?"

Akhirnya Ting Si menarik napas.

"Umpama benar ada persoalan yang ingin kubicarakan, tapi persoalan ini tidak mungkin hanya kubicarakan denganmu seorang."

Bersinar mata Teng Ting-hou.

"Betul, persoalan harus dibicarakan secara terbuka, dalam hal ini kami tidak boleh mengabaikan Ong-toasiocia."

"Dimana dia sekarang?"

Tanya Ting Si.

"Di atas pohon mangga di belakang To-te-bio."

Ting Si tertawa ewa.

"Tak kusangka, dia mau tunduk dan patuh pada nasehatmu, seorang diri diam di atas pohon."

"Dia tidak sendirian."

"Lho, dengan siapa?"

"Lo-shoa-tang menemaninya."

Kaki Ting Si sudah beranjak ke depan, mendadak dia berhenti.tubuhnya tampak gemetar dan mengejang.

"He, mengapa kau berhenti?"

Tanya Teng Ting-hou. Cukup lama Ting Si mengancing mulut, pandangannya nanar, setelah menghela napas, dia berkata lirih.

"Tak usah ke sana lagi."

"Mengapa,"

Tanya Teng Ting-hou bingung.

"Tidak ada orang lagi di atas pohon mangga itu,"

Suara Ting Si dingin, wajahnya tetap tidak menunjuk perubahan perasaan hatinya, namun jari-jari tangannya tampak gemetar. Teng Ting-hou melihat kejanggalan ini, teriaknya terkesiap.

"Apakah Lo-shoa-tang yang itu bukan temanmu?"

Kalem suara Ting Si.

"Lo-shoa-tang betul adalah temanku, tapi Lo-shoa-tang yang meladeni kalian di warung bakpao itu bukan Lo-shoa-tang yang asli."

Berubah jelek romah muka Teng Ting-hou.

Sekarang.

baru dia paham, mengapa dua kali Ting Si berkirim surat kepada dirinya?

Meski tahu undangan ke Toa-po-tha itu hanyalah perangkap yang sudah direncanakan lebih dulu.

Soalnya dia pantang dirinya dicurigai oleh Lo-shoa-tang, muslihat lawan dihadapi dengan muslihat juga, sekaligus membongkar dan menelanjangi kedok dan rahasia Ngo-siansing.

Sekarang Teng Ting-hou paham, mengapa Lo-shoa-tang ikut mereka ke Toa-po-tha dan apa tujuannya, begitu gugup dia berangkat sampai pintu rumah sendiri tak sempat ditutupnya.

Seorang berdagang ayam baker selama puluhan tahun dengan warung bakpaonya pula, seorang kikir yang tidak rela menggares sekarat daging paha ayam bakarnya sendiri, mana mungkin rela mengorbankan seluruh harta miliknya begitu saja.

Sekarang Teng Ting-hou sadar duduk persoalannya, sayang sekali sadar setelah segala sesuatu telah terjadi.

Semua sudah berkembang dan terlambat untuk bertindak atau mencegah.

Di pohon mangga itu sudah tiada orang, bayangan setan juga tidak kelihatan, yang ada hanya sobekan kain yang tersangkut di dahan pohon.

Itulah sobekan kain celana Ong-toasiocia.

Ong-toasiocia tentu diculik Lo-shoa-tang palsu itu ke atas gunung.

Siapa pun setelah berada di sarang penyamun, apalagi dia seorang perempuan, jarang ada yang bisa pulang.

Demikian pula nasib Ong-toasiocia jika benar diculik ke sarang penyamun itu.

Teng Ting-hou berdiri di tengah kegelapan, dihembus angin malam nan dingin, badan terasa makin dingin dan hampir menggigil, maklum sekujur badannya basah kuyup oleh keringat dingin, dia merasa ngeri membayangkan nasib Ong-toasiocia.

Sejak Teng Ting-hou iulus dari perguruan dan berkecimpung di Kangouw, dipandang dari mata kaum persilatan, dia termasuk seorang yang terpandang, seorang pintar dan berbakat, persoalan yang pelik sekalipun, dapat dia tangani dengan tenang dan mantap, seluruhnya berakhir dengan memuaskan.

Dari keberhasilan yang tidak pernah mengalami hambatan atau kesukaran itu, lambat laun laki-iaki yang suka mengagulkan diri ini merasa bangga dan tinggi hati, menganggap dirinya serba bisa, memang Teng Ting-hou terlalu yakin pada kemampuannya sendiri, percaya kepada diri sendiri.

Akan etapi, sekarang kenyataan membuatnya sadar bahwa hakikatnya, dirinya tidak lebih hanyalah seorang laki-iaki pikun, teledor dan dungu.

Seorang yang pandai bermuka-muka dan congkak, seorang bodoh yang dimabuk keyakinannya sendiri.

Ting Si menepuk pundaknya.

"Tak usah kau bersedih, masih ada harapan untuk menolongnya."

"Masih ada harapan apa?"

Tanya Teng Ting-hou.

"Ada harapan untuk menemukan dan menolong Ong-toasiocia."

"Kemana kita harus mencarinya?"

"Kukira lebih mudah kita mencari ke warung bakpao Lo-shoa-tang."

"Apa Lo-shoa-tang yang bukan Lo-shoa-tang membawanya pulang ke warung bakpao itu?"

"Justru karena dia bukan Lo-shoa-tang yang tulen, maka dia akan kembali ke warung bakpao itu."

"Mengapa?"

"Karena di warung bakpao, selain dapat membuat bakpao, juga dapat melaksanakan apa saja menurut keinginannya."

"Melakukan apa?"

Ting Si menghela napas.

"Masa kau tidak tahu?"

Teng Ting-hou menggeleng kepala.

"Jika kau kenal pribadi Lo-shoa-tang yang bukan Lo-shoa-tang itu, tentu kau paham mengapa aku bilang demikian."

"Apa kau mengenalnya?"

Ting Si mengangguk.

"Siapakah dia?"

"Seorang cabul, laki-iaki tua hidung belang." * * * * * Mega mulai buyar, bintang-bintang pun berkurang. Malam makin larut. Sinar lampu masih menyorot keluardari celah-celah dinding papan dari warung bakpao Lo-shoatang. Dari kejauhan Teng Ting-hou sudah melihat lampu itu. Teng Ting-hou tidak tahu, apakah dirinya harus menghela napas atau harus kuatir? Dalam keadaan seperti ini, umpama Ong-toasiocia belum diculik ke sarang penyamun, sudah tentu dicaplok oleh macan liar yang rakus dan cabul. Perbedaan antara jatuh ke sarang penyamun dan mulut macan yang cabul itu sebetulnya tidak banyak. Yang pasti kejadian itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat saja, sesuai kekuatan si macan cabul itu. Bila kau nekad menerobos masuk ke sana, kau akan melihat adegan atau tontonan yang tidak ingin kau pandang lebih lama lagi. Tiada macan yang meninggalkan mangsanya setelah sang korban berada di mulutnya. Teng Ting-hou tidak berani melihat mimik wajah Ting Si, melirik pun tidak berani. Maka Teng Ting-hou menempatkan dirinya di belakang orang, umpama dia ingin tahu bagaimana reaksi Ting Si, orang juga tidak akan memberi kesempatan kepadanya, apalagi malam pekat, gelap berkabut lagi. Teng Ting-hou tidak bersuara. Ting Si dudukdi kursi, dian menyala di atas meja, duduk diam mengawasi hidangan yang berserakan di depannya, sejak masuk dan duduk dalam warung bakpao Lo-shoa-tang, Ting Si tidak bersuara, pandangannya pada irisan daging sapi yang sudah mengering.

"Kau ingin minum arak?"

Kata Ting Si mencoba memecah kesunyian, wajahnya tetap kaku dingin.

Memang demikianlah keadaan Ting Si, menghadapi persoalan peiik macam apapun, kalau mau meneliti lahiriahnya saja, tidak akan ditemukan gejala apapun pada dirinya.

Bila diperhatikan dengan seksama, akan ditemukan perbedaan yang tidak kentara pada ujung mulutnya yang sering mengulum senyum, senyum yang menyenangkan, senyum yang mengundang simpati orang lain, senyum yang bisa melegakan ketegangan urat-syaraf.

Berbeda dengan keadaan hari ini, secercah senyum pun tidak terlihat menghiasai wajah maupun ujung mulutnya, entah hatinya kuatir dan serius menghadapi persoalan di depan matanya?

Entah menguatirkan keselamatan Ong-toasiocia atau menguatirkan dirinya sendiri?

Demikian pula keadaan Teng Ting-hou, sejak berada di warung bakpao ini, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Kau kira di warung ini masih ada arak?"

"Pasti ada kalau kau mau minum arak, pasti disediakan."

"Masih ada waktu untuk minum arak?"

"Masih ada, kukira masih ada cukup waktu untuk minum sepuasnya."

"Kalau begitu aku mau menemani minum sedikit."

"Kalau mau minum harus minum sepuasnya, sebetulnya tidak perlu kau menggunakan istilah 'menemani', kau tahu yang ingin minum bukan hanya aku saja."

"Betul, untuk diriku sendiri aku minum, kalau hanya minum sedikit memang tidak mencukupi selera, tapi untuk minum sepuasnya, apakah masih cukup waktu?"

"Asal kau mau minum, waktu masih cukup panjang."

Teng Ting-hou menduga, bila saat-saat tegang seperti ini masih ada waktu untuk minum, tentu persoalan akan berubah. Maka ia menghela napas lega, teriaknya sambil menggebrak meja.

"Arak, keluarkan arak yang paling bagus."

Dalam warung bakpao Lo-shoa-tang itu, tiada orang lain kecuali Teng Ting-hou dan Ting Si.

Jelas Ting Si juga tahu bahwa warung itu kosong tiada orang lain kecuali mereka berdua.

Teng Ting-hou yang sudah menginap dan bekerja sehari di warung ini lebih jelas, kecuali Lo-shoa-tang yang menjadi majikan merangkap pelayan, tidak ada orang lain lagi.

Tapi mereka tahu arak masih tersedia di warung ini, sudah tentu tiada orang yang meladeni teriakan Teng Ting-hou yang lantang itu.

Biasanya arak disimpan di bawah meja, ada beberapa guci dari tanah liat, bau arak terendus wangi, dari bau wangi ini Ting Si dan Teng Ting-hou dapat menilai arak dalam guci kecil ini berkualitas bagus.

Jajan di warung arak, kalau mau minum harus ambil sendiri, aturan macam apa?

Bersambung ke 11 Bagian 11 -TAMAT Teng Ting-hou tidak berani gegabah, Ting Si juga tak mau mengambil arak, Teng Ting-hou duduk diam, akhirnya ia berteriak pula tidak sabar.

"He, ada orang tidak?"

Setelah ditunggu sekian lama tiada reaksi, akhirnya Teng Ting-hou ketagihan, dia memberanikan diri mencopot satu guci arak ukuran kecil, begitu sumbat dibuka, bau arak sedap merangsang hidung.

Akhirnya Ting Si meniru perbuatan Teng Ting-hou, satu orang satu guci, seperti berlomba mereka mengangkat guci dan mendongak, arak berpindah ke dalam perut mereka.

Lebih banyak arak masuk perut, sang waktu juga berlalu tanpa terasa.

Sejauh persoalan ini berkembang, Teng Ting-hou tidak merasa heran atau kaget, juga tidak merasa mendelu.

Dia maklum dalam banyak hal dirinya memang ketinggalan jauh disbanding Ting Si.

Seorang bila sudah mengaku asor terhadap orang lain, pikiran dan perasaannya malah tenteram.

Teng Ting-hou berpendapat, seharusnya Ting Si menghentikan minum dan berunding dengan dirinya, cara bagaimana harus menerjang ke dalam kamar di bagian belakang itu?

Dengan cara kilat mereka harus menyelamatkan jiwa Ong-toasiocia.

Setiap aksi harus direncanakan secara cermat, jika tidak yakin berhasil, buat apa turun tangan.

Di saat otaknya mulai menerawang itulah, mendadak Ting Si beraksi dengan kecepatan kilat, sekali tendang pintu kamar yang setengah rapuh itu jebol dan berantakan, tubuh Ting Si menerjang ke dalam.

Cara yang digunakan Ting Si paling manjur, langsung, sederhana tapi kilat.

Sebetulnya cara yang digunakan itu cukup gegabah, terlalu memandang remeh musuh dan berbahaya.

Hakikatnya Ting Si tidak mempertimbangkan keselamatan dirinya, begitu yakin akan kemampuan sendiri, maka dia menggunakan cara yang mudah, cepat dan lekas selesai.

Dalam hati Teng Ting-hou menghela napas gegetun, di saat dia siap membantu.

Begitu dirinya ikut menerjang ke dalam kamar.

Dilihatnya Ong-toasiocia sudah duduk, Lo-shoa-tang menggeletak di lantai.

Agaknya grebekan mereka sudah selesai, sukses dengan gemilang.

Maklum anak muda, dalam menunaikan tugas selalu diburu nafsu, dipermainkan emosi.

Teng Ting-hou akhirnya tertawa getir.

Akhirnya dia sadar dan maklum, kalau anak muda bekerja dengan caranya sendiri, ternyata hasilnya juga tidak keliru.

Lalu disadari pula olehnya, bahwa kemampuan sendiri ternyata sudah mundur, jauh ketinggalan dibanding anak muda yang satu ini.

Teng Ting-hou dapat berpikir secara cermat, tanggap dalam menilai sesuatu, maka jiwanya tidak pernah luntur meski ditempa oleh keadaan yang paling buruk sekalipun, maka dirinya kuat bertahan hidup sampai hari tua.

Sayang sekali, jarang ada manusia di Bulim yang punya kedudukan seperti dirinya, dapat berpikir secara terbuka.

Ganti berganti Ong-toasiocia mengawasi Teng Ting-hou lalu menatapTing Si.

Akhirnya melotot kepada Lo-shoa-tang yang menggeletak di lantai.

Padahal banyak persoalan ingin dibicarakan, namun sepatah kata pun tak keluar dari mulutnya.

Hakikatnya Ong-toasiocia memang bingung, tidak tahu kepada siapa dia harus bertanya lebih dulu.

Ting Si juga bungkam, tidak berusaha memberi penjelasan..

Cepat atau lambat, toh akan tahu, mengapa harus buru-buru menjelaskan.

Aksi mereka berakhir dengan sukses gemilang.

Lalu bagaimana selanjutnya?

Teng Ting-hou sedang bingung, maka ia bertanya.

"Sekarang kita harus duduk makan bakpao dan minum arak? Atau tidur dalam kamar?"

"Sekarang juga kita harus naik gunung,"

Kata Ting Si tegas. Teng Ting-hou melenggong.

"Lho, bukankah kau tadi bilang, kau tidak boleh naik gunung?"

"Ting Si memang tidak boleh naik, tapi Lo-shoa-tang boleh mondar-mandir dengan leluasa, apalagi akan membawa dua orang tawanan, lebih cepat lebih baik. Hayolah bersiap-siap."

Akhirnya Teng Ting-hou mengerti rencana Ting Si.

"Membawa dua tawanan, maksudmu aku dan Ong-toasiocia?"

Ting Si mengangguk.

"Dan kau yang menyamar sebagai Lo-shoa-tang?"

Teng Ting-hou menegas. Ting Si tertawa, katanya berolok-olok.

"Setan tua cabul ini dapat menyamar sebagai Lo-shoatang, memangnya setan cilik macam diriku tidak mampu?"

"Apa kau mampu mengelabui banyak mata di atas gunung itu?"

Tanya Teng Ting-hou.

"Setiap manusia memiliki ciri-ciri tersendiri, sehingga orang bisa membedakan dan dibedakan,"

Ting Si menjelaskan lebih lanjut.

"Untuk beda membedakan, satu hal yang terpenting adalah wajah orang, baru perawakan, sikap, gerak-gerik dan bau badannya."

"Bau badannya?"

"Setiap orang memiliki bau badan. Ada sementara orang sejak dilahirkan berbau wangi, tapi ada juga yang berbau apek."

"Soal bau tidak menjadi soal. Bau badan Lo-shoa-tang dari kaki sampai ujung rambutnya pasti berbau bak-pao dan ayam bakar."

Ting Si tertawa geli.

"Tapi kalau aku hanya mengenakan pakaiannya saja, bau badanku tentu seperti ayam bakar."

"Perawakanmu memang mirip kalau tidak mau dibilang sepadan, bila perutmu dibalut kain tebai, lalu punggungmu diberi punuk sekedarnya, berjalan sambil terbungkuk-bungkuk tentu mirip."

"Sejak kecil aku sering mencuri bakpao di warung ini, sikap, tutur kata dan tirvdak tanduknya sudah sering ku-perhatikan, kuyakin dapat menirunya dengan persis."

Mendadak Ong-toasiocia menimbrung.

"Kelihatannya kau memang pandai menjadi badut, selanjutnya bila kau mau bermain sebagai bintang panggung, kuyakin kau lekas terkenal,"

Tawar suara Ting Si.

"Aku memang ingin merubah pekerjaanku, menjadi bintang panggung memang jauh lebih aman dan damai daripada berperan di bawah panggung."

"Kau ingin berperan di atas panggung?"

Tanya Ong-toasiocia.

"Bukankah kehidupan manusia mirip bermain sandiwara? Bukankah kita-kita ini sebagai pelakunya?"

Terkancing mulut Ong-toasiocia. Apa yang diucapkan Ting Si, selalu memaksa mulutnya bungkam.

"Tapi wajahmu......"

Teng Ting-hou masih kuatir.

"Wajahku memang berbeda, tetapi bisa menjadi mirip dengan tata rias, walau ilmu tata rias yang kupelajari belum mahir benar. Untung tampang Lo-shoa-tang yang jelek itu tidak menarik perhatian banyak orang. Umpama orang harus memperhatikan dua kali, yang kedua tentu memandang dengan memicingkan mata atau meram, bukan mustahil orang sudah jijik untuk kedua kalinya memperhatikan wajahnya."

Dengan menyengir kuda ia menambahkan.

"Apalagi aku membawa tiga kado yang penting artinya, orang yang mengantar kado biasanya disambut dengan ramah dan gembira."

Teng Ting-hou mengangguk.

"Aku dan Ong-toasiocia adalah kado yang akan kau bawa ke atas gunung."

"Ya, kalian termasuk dua di antara tiga kado yang kumaksud."

"Jadi masih ada satu lagi? Apakah kado ketiga?"

"Ya, kado ketiga adalah ayam bakar." * * * * * Rumah besar itu dibangun dengan balok kayu raksasa, dahan-dahan pohon besar, walau kelihatan kasar dan sederhana, namun membawa suasana purba yang liar dan asli, membawa kewibawaan, angker dan membuat orang jeri serta tunduk lahir batin. Demikian pula tampang orang-orang itu, liar, perkasa, pemberani, mirip binatang buas di alam purba. Hanya seorang terkecuali di antara sekian banyak hadirin di pendopo itu. Orang ini berpakaian serba hitam, wajahnya yang pucat dingin tidak memperlihatkan perasaan, namun sepasang matanya bersinar tajam. Kelihatannya orang ini tidak liar, tidak garang, namun lebih menakutkan dibanding orang-orang yang hadir. Kalau orang sebanyak itu ibarat binatang liar, maka orang yang satu ini adalah pemburu binatang. Kalau orang tain bagai sebatang tongkat, maka dia adalah ujung tombak. Orang ini bukan lain adalah Ngo-siansing. Pek-li Tiang-ceng berdiri di tengah pendopo sambil bertolak pinggang. Menghadapi kawanan manusia liar seperti binatang buas, berhadapan langsurig dengan ujung tombak. Hanya seorang diri Pek-li Tiang-ceng meluruk dan mengejar ke sarang binatang liar ini. Keadaannya tidak lebih lembut dibanding kawanan binatang liar itu, tidak lebih tumpul dibanding ujung tombak yang runcing lagi ganas itu. Ngo-siansing menatapnya lalu menghela napas, katanya sinis.

"Sepantasnya kau tidak berada di tempat ini, tidak boleh berada di sini."

Pek-li Tiang-ceng hanya menyeringai dingin.

"Seharusnya kau sudah mampus, mayatmu sudah kaku dingin, jika kau dan Teng Ting-hou mampus, bukankah dunia bakal aman sentosa?"

"Umpama kami berdua mampus, kan masih ada Ting Si,"

Jengek Pek-li Tiang-ceng.

"Ting Si bocah hijau itu tidak perlu dibuat takut."

"O? Mengapa?"

"Karena kau adalah pendekar besar, sebaliknya bocah itu hanya rampok cilik."

"Satu hal mungkin tidak pernah kau pikir, ada kalanya pendekar besar juga bisa berubah menjadi rampok cilik."

"Aku yang kau maksud?"

Tanya Ngo-siansing. Pek-li Tiang-ceng diam saja.

"Kau sudah tahu siapa aku?"

Tanya Ngo-siansing.

"Sudah lama kau adalah kawan karib Pa-ong-jio, sejak muda, jadi sudah puluhan tahun kau kenal pribadinya, kau tahu seluruh seluk-beluk Piaukiok gabungan itu. Kau pun tahu bagaimana keadaan luar dalamku. Biasanya kau jarang mempertunjukkan llmu silatmu di hadapan orang lain. Kau angkat Cong-piauthau perusahaanmu sebagai wakilmu, bekerja dalam perusahaan gabungan itu, maka kau tidak perlu terjun sendiri,"

Demikian ucap Pek-li Tiang-ceng kalem sambil menatap tajam Ngo-siansing.

"Berapa banyak orang macam dirimu dapat ditemukan di Kangouw?"

"Ya, hanya aku seorang,"

Ucap Ngo-siansing memanggut..

"Memang hanya kau saja yang kupikir sejak mula."

Ngo-siansing menghela napas.

"Jadi sejak mula kau sudah tahu siapa aku sebenarnya, maka......"

"Kalau bukan kau yang mampus, biar aku yang gugur,"

Tantang Pek-li Tiang-ceng dengan suara lantang. Wajah Ngo-siansing kelihatan tetap kaku, namun sinar matanya seperti sedang tertawa.

"Setiap hari kalian sibuk menyelesaikan urusan perusahaan, membereskan urusan besar kecil yang terjadi di Kangouw. Sebaliknya aku tekun memperdalam ilmu di rumah, aku punya banyakwaktu untuk belajar dan meniru gaya tulisan orang lain, mencari tahu rahasia orang lain."

"Kau sengaja membocorkan rahasia Piaukiok kepada Ting Si, karena kau tahu bocah itu adalah putra kandungku?"

Demikian tanya Pek-li Tiang-ceng.

"Aku malah tahu jelas apa yang pernah kau lakuklan bersama Ong-lothau di daerah Bing-lam dulu."

"Karena kau sudah menjadi anggota Ceng-liong-hwe sejak waktu itu."

"Ceng-liong-hwe memperalat diriku, aku pun memperalat mereka, jadi satu sama lain saling memperalat dan saling untung, tiada pihak yang dirugikan kecuali pihak ketiga."

"Aku hanya heran akan satu hal,"

Ucap Pek-li Tiang-ceng.

"Apa yang kau herankan?"

"Dengan kedudukan, nama besar dan kekayaan yang sudah kau miliki sekarang, mengapa kau masih tega melakukan perbuatan terkutuk ini?"

"Aku sering bilang, selama hayat masih dikandung badan, ada dua hal takkan pernah membuat aku cukup dan puas."

"Ya, harta dan perempuan."

"Betul,"

Seru Ngo-siansing sambil bertepuk tangan sekali. Mendadak seorang tertawa lebar di luar pendopo, serunya lantang.

"Sekarang harta benda bertambah banyak, perempuan juga tambah satu lagi."

Pek-li Tiang-ceng menoleh ke arah datangnya suara, terlihat Teng Ting-hou dan Ong-toasiocia terbelenggu tambang besar sedang digiring masuk oleh seorang setengah bungkuk dengan wajah dan pakaian yang jelek dan kotor berminyak.

Orang jelek yang menggiring Teng Ting-hou dan Ong-toasiocia ini adalah Ting Si sebagai Lo-shoa-tang.

Hanya saja Pek-li Tiang-ceng tidak tahu bahwa laki-laki tua buruk rupa dan kotor ini adalah samaran Ting Si, temyata di antara sekian banyak hadirin termasuk Ngo-siansing juga tidak mengira bahwa Lo-shoa-tang yang menggiring tawanan ini adalah palsu.

Ngo-siansing tertawa lebar, serunya gembira.

"Kau keliru, perempuan memang hanya bertambah satu. Tetapi harta bendaku sekaligus tambah empat bagian."

"Empat bagian?"

Seru Ting Si yang menyamar sebagai Lo-shoa-tang.

"Teng Ting-hou satu bagian, Ong-toasiocia satu bagian, milik Pek-li Tiang-ceng satu bagian, ditambah keuntungan mereka dalam perusahaan, bukankah seluruhnya ada empat bagian?" . Ting Si yang menyamar Lo-shoa-tang ikut bertepuk tangan dan berseru gembira.

"Mungkin bukan hanya empat bagian saja."

"O?"

Meninggi suara Ngo-siansing.

"Masih bisa tambah bagian lagi?"

"Kiang Sin sudah berpenyakitan, Sebun Seng di bawah perintahmu, mereka sudah jatuh ke dalam cengkeramanmu, di kolong langit ini siapa berani dan mampu menandingimu. Seluruh harta benda kaum persilatan, bukankah bakal jatuh menjadi milikmu?"

Ngo-siansing tertawa lebar.

"Jangan lupa, julukanku adalah Hok-sing-ko-cau,"

Sembari bicara Ngo-siansing berbangkit lalu turun undakan, maju ke depan Ting Si serta menepuk pundaknya.

"Sudah pasti aku tidak akan melupakan bantuan para saudara yang berjasa."

Ting Si tertawa gembira.

"Aku tahu kau memang baik hati, mengerti isi hati anak buahmu, kau tidak pernah lupa memberi imbalan kepada anak buahmu yang berjasa besar. Hanya saja kau selalu makan daging, sebaliknya kami justru menelan tulang saja."

Waktu Ting Si mengucap 'daging', Teng Ting-hou dan Ong-toasiocia yang semula terbelenggu tambang besar, mendadak terlepas lalu menubruk maju.

Ting Si sendiri juga turun tangan, belum habis dia mengucap "tulang", maka tulang dada Ngo-siansing patah tiga belas batang.

Hanya sekejap saja, Kui Tang-kin yang berjuluk Rezeki Selalu Nomplok, mendadak berubah menjadi Petaka Merubah Nasib.

Perubahan terjadi begitu cepat dan tidak terduga, bak perubahan cuaca yang sukar diramaikan sebelumnya.

Demikian pula nasib manusia sukar ditebak.

Itulah kehidupan manusia, hanya saja perubahan yang terjadi kali ini memang teramat cepat, mendadak lagi.

Seorang yang selalu unggul dan berada di atas angin, mendadak jatuh dan roboh tak mampu merangkak.

Perubahan yang begitu cepat, bukan saja Pek-li Tiang-ceng tidak menduga, Teng Ting-hou juga tidak habis mengerti, tidak dapat meresapi hikmah dari semua kejadian di depan matanya.

Kini semuanya sudah selesai.

Mereka sudah mengundurkan diri dari sarang penyamun itu, keluar membawa Siau Ma dan Ton Siau-lin.

Menangkap perampok meang harus membekuk kepalanya.

Setelah Kui Tang-kin roboh tidak berdaya, anak buahnya meski liar dan kuat, tidak perlu ditakuti lagi, mereka pun tidak berani turun tangan, umpama nekad melayani juga mudah diganyang.

Di tengah jalan Teng Ting-hou tidak kuat menahan diri, tanyanya kepada Ting Si.

"Kau selalu bilang persoalan ini amat pelik, terlalu sukar dan berbahaya. Mengapa justru mudah dibereskan?"

Ting Si tertawa tawar, suaranya juga tawar.

"Justru urusan ini amat pelik, terlalu sukar dan bahaya, maka Kui Tang-kin tidak menduga ada orang berani menyerempet bahaya."

"Hanya lantaran dia tidak menduga, maka kau berhasil dan sukses?"

Ting Si tertawa, kini lebih cerah.

"Bukan hanya dia seorang yang tidak menduga, aku sendiri juga tidak menduga, urusan bisa beres semudah ini."

Akan tetapi, sekarang mereka mengerti, manusia bila berani menyerempet bahaya, maka tiada persoalan pelik atau bahaya apapun yang tidak bisa dibereskan.

Di zaman dahulu Kan Cau dan Thio Se, seorang diri berani menempuh bahaya, karena mereka mempunyai keberanian luar biasa.

Pahlawan gagah atau enghiong sejak zaman dulu kala hingga sekarang, tidak sedikit yang mampu menciptakan suatu prestasi besar dengan sukses gemilang, karena dia memiliki 'keberanian'.

Tapi keberanian itu tidak datang sendiri atau jatuh dari langit, tapi berani karena adanya cinta.

Cinta antara ayah dan anak, cinta antara dua teman atau keakraban dari dua insan, cinta asmara antara laki dan perempuan, cinta kasih terhadap sesama manusia.

Sayang terhadap jiwa raga, setia pada nusa dan bangsa.

Semua itu karena dilandasi cinta, kalau tiada cinta, entah apa yang akan terjadi di dunia ini, dunia entah berubah menjadi apa.

Ting Si melangkah lebar, dia berjalan di depan.

Ong-toasiocia berjalan cepat-cepat memburu di belakangnya.

Cukup lama dan jauh mereka menempuh perjalanan, yang satu di depan, yang lain terus mengikut di belakang, entah berapa puluh li sudah mereka tempuh, tiada tegur sapa, tiada pembicaraan.

Tiada orang tahu kemana akan pergi?

Tiada orang tahu apa dan kemana tujuan Ting Si?

Tiada orang tahu kecuali Ong-toasiocia sendiri, sampai kapan dia akan menguntit dan membuntuti Ting Si.

Betapapun keras hati seorang laki-laki, apalagi laki-laki seperti Ting Si akhirnya lunak menghadapi kebandelan cewek yang satu ini.

Apalagi cewek ini sudah bertekad menyerahkan diri, ke ujung langit pun akan selalu ikut dan menempel Ting Si.

Akhirnya Ting Si tidaktahan, ia berhenti dan menoleh.

"Mengapa sejak tadi kau mengikuti aku?"

Tegas dan tandas jawaban Ong-toasiocia.

"Karena aku senang ikut kau."

Apa boleh buat, Ting Si membalik badan, melangkah pula ke depan.

Tapi langkahnya tidak selebar dan secepat tadi, berjalan santai saja, seperti sepasang kekasih lagi berjalan-jalan mencari angin sambil menikmati keindahan alam di pagi hari.

T A M A T

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 2

Baca Juga: Pedang Wucisan 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert