Ceritasilat Novel Online

Pedang Angin Berbisik 1

Eps 1 Pedang Angin Berbisik - Han Meng

Baca online Pedang Angin Berbisik - Han Meng

Cersil Pedang Angin Berbisik - Han Meng.

Hari bahagia bagi si dungu.

Han1977 26 December 2011 at 7.48pm Composed by.

www.cersilanda.com (fbms) Malam gelap, ribuan bintang bercahaya di langit.

Seorang pemuda dengan tekun berulang-ulang melatih jurus yg sama.

Tubuhnya tinggi tegap, melampaui pemuda lain yg seumuran dengannya.

Seluruh bajunya sudah basah kuyup dengan keringat.

Terkadang dia bergerak dengan mantap, tapi tidak jarang dia bergerak dengan lambat seakan ragu, gerakan apa yg harus dia lakukan selanjutnya.

Alisnya berkerut, merenungkan gerakan yg sedang dia lakukan.

Beberapa kali dia mengulang dan terhenti pada gerakan yg sama.

Sampai akhirnya dia berhenti dan melemparkan tubuhnya ke tanah yg berumput tebal.

Sesaat kemudian terdengar dia mengeluh,"Ahh...

dasar otakku memang bebal, yang lain sudah semakin maju dan mempelajari jurus-jurus yg baru, tapi aku baru jurus-jurus dasar pun aku belum menyelesaikan semuanya."

Sambil mencabuti rumput dia bergumam pada diri sendiri.

"Untuk apa aku berlatih siang dan malam? Tuan besar Huang Jin juga tidak mengharap banyak dari seorang tukang kebun seperti aku."

"Akupun tidak mengharap pekerjaan yang lain, mengatur kebun bunga dan menanam sayuran lebih menyenangkan daripada melelang nyawa menjadi pengawal pribadi Tuan besar Huang Jin."

Dengan kemalas-malasan dia berdiri, dilepasnya baju yg sdh basah kuyup dengan keringat.

Bertelanjang dada, dia berjalan melewati, sawah-sawah dan rumah-rumah para pekerja, pemuda itu terus berjalan dengan lesu menuju ke rumah terbesar dan termewah yg terletak di tengah.

Beberapa peronda yg bertemu dengannya mengangguk dan menyapa.

"Hei Ding Tao, baru selesai latihan malam?"

Pemuda itu mengangguk dan tersenyum ramah.

"Iya paman, sebentar lagi akan diadakan ujian kenaikan tingkat."

"Semoga kau lulus tahun ini."

"Ya, terima kasih paman.", Ding Tao menyeringai kecut, dalam hati dia sudah membayangkan bakal gagal ujian kenaikan tingkat untuk kesekian kalinya. Sampai di pintu belakang dari rumah mewah itu, kembali Ding Tao bertemu dengan para penjaga.

"Habis berlatih?"

"Ya paman.", jawabnya dgn sopan.

"Hmm..., baiklah cepat masuk."

"Baik paman."

Dengan menunduk hormat pada para penjaga, Ding Tao menyelinap masuk dan bergegas menuju kamar tempat di tinggal.

Sesaat sebelum meninggalkan jauh para penjaga itu sempat dia mendengar, sepotong percakapan mereka.

"Anak baik, sayang bakatnya buruk sekali."

"Ya... kemajuannya lambat sekali."

"Padahal dia tidak pernah absen dari jam latihan dan masih berlatih sendirian setiap malam."

"Hmm, setidaknya latihan itu membuatnya sehat."

Dan penjaga yang lain pun tertawa mendengarnya.

Ding Tao hanya tersenyum kecut, dia tahu mereka tidak bermaksud buruk, hanya saja memang demikianlah kenyataannya.

Ketika Ding Tao berjalan melewati sebuah kebun kecil dekat kamarnya, tiba-tiba sesosok bayangan melompat, menghadang di depannya.

"Hyaahh....."

Ding Tao yg sedang melamunkan keadaannya pun terkejut bukan kepalang, dia melompat surut ke belakang, memasang kuda-kuda, jantungnya berdegup kencang.

Melihat Ding Tao yg terkejut tadi, bayangan itu berjalan mendekat sambil terkekeh geli.

"Hihi, kena kau, dari mana sih malam-malam."

Seorang gadis berumur belasan berjalan mendekat, gelapnya malam menyembunyikan wajahnya, tapi Ding Tao sangat mengenal suara itu, cara gadis itu berjalan melenggang, suara tawa yang renyah.

"Nona muda Huang, kau mengagetkanku.", ujar Ding Tao sambil mendesah lega, tanpa terasa sebuah senyuman terbentuk di wajahnya.

"Tapi apa yang nona lakukan malam-malam seperti ini. Kalau ayah nona tahu, dia akan marah."

"Huuhh, aku tidak bisa tidur, jadi kuputuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman.", jawab gadis itu sambil mencibir. Ding Tao tergelak mendengar jawaban gadis itu, entah mengapa dia merasa bahagia setiap kali berada di dekatnya.

"Tapi nona, tidak baik kalau nona keluar malam-malam bertemu dengan lelaki seperti begini sendirian."

"Aku kan cuma kebetulan saja bertemu denganmu."

"Tapi tetap saja nona, bisa menimbullkan kesan yg kurang baik."

Gadis itu mencibir tapi tidak membantah.

"Ah... Ding Tao, sekarang kamu rewel sekali, seperti kakek-kakek saja. Baiklah aku akan masuk kembali ke kamar."

Sambil berbicara tidak terasa kedua pemuda dan pemudi itu semakin mendekat.

Ketika si nona muda melihat Ding Tao yang tidak berbaju, mukanya pun jadi bersemu merah dan tanpa terasa nona muda itu pun memekik kecil.

"Aihh.... idih... idih... tidak tahu malu."

Terkejut dan malu gadis itu pun membalikkan badan dan berlari kembali ke kamarnya, entah mengapa jantungnya berdegup kencang.

Terbayang tubuh yang tegap dan dada yang bidang, dengan otot liat yang terbentuk seperti pahatan.

Ding Tao yang baru sadar akan keadaan dirinya jadi gelagapan dan terbata-bata ingin meminta maaf, tapi tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Tapi setelah beberapa langkah gadis itu berlari, dia berbalik dan tersenyum manis dengan muka yang masih bersemu merah.

"Ding Tao, semoga ujian nanti kamu lulus ya."

Berkali-kali dia sudah mendengar ucapan yg sama, tapi tatkala ucapan itu keluar dari nona muda itu, hatinya serasa mengembang, dan dengan senyum lebar dia menjawab.

"Tentu nona, ujian nanti, ujian nanti saya pasti akan lulus."

Tersenyum manis nona muda itu mengangguk dan pergi meninggalkan Ding Tao sendiri.

Ding Tao berdiri memandangi sosoknya yang bergoyang gemulai, dia berdiri diam sampai nona muda itu tidak terlihat lagi olehnya, sebelum dia berbalik memasuki kamarnya.

Senyumnya tidak juga hilang, meskipun dia sudah merebahkan diri di atas tempat tidurnya.

Membayangkan bagaimana dia akan lulus ujian beberapa hari lagi, membayangkan kegembiraan nona muda itu saat dia lulus nanti.

Tapi ketika dia teringat akan kegagalannya dalam menjalankan jurus-jurus dasar hingga tamat, senyum itupun menghilang, digantikan desah kegalauan.

"Hmm...kalau kali ini aku gagal lagi, tentu nona akan sangat kecewa..."

Membayangkan wajah nona muda yg kecewa, dia menggertakkan gigi dan mengepalkan tangan.

"Kali ini harus berhasil."

Perlahan dia bangkit dari tempat tidur, berlatih, berusaha memecahkan masalah yang dihadapinya.

Demikian berhari-hari Ding Tao mencurahkan segenap pikiran dan kekuatannya untuk dapat menguasai jurus-jurus dasar keluarga Huang, hingga harinya tiba.

Setiap kali ditemuinya jalan buntu yang membuatnya terduduk lesu, senyum nona muda yang manis menghalau kegalauan dan memberikannya semangat untuk maju.

----------o ----------Hari itu dari tahun ke tahun, selalu menjadi hari yg istimewa, hal ini ada sebabnya.

Kakek buyut Tuan besar Huang Jin, cikal bakal berdirinya perkampungan keluarga Huang, adalah seorang tokoh persilatan yang cukup disegani oleh kawan dan lawan.

Meskipun pada perkembangannya keluarga Huang lebih condong untuk mengembangkan usaha mereka dalam pertanian dan perdagangan, namun mereka tidak pernah lalai untuk menjaga nama baik yang sudah dipupuk oleh pendirinya dalam dunia persilatan.

Keluarga Huang bukanlah golongan nomor satu yang bisa merajai dunia persilatan, tetapi keluarga Huang juga tidak ingin menjadi golongan kelas kambing yang bisa diinjak-injak dan dijadikan sapi perahan.

Sadar bahwa dunia persilatan adalah dunia yang mengandalkan tajamnya pedang dan kerasnya kepalan tangan, Tuan besar Huang Jin pun tidak lupa untuk memperdalam ilmu bela diri.

Tanah miliknya cukup luas dan cabang-cabang usahanya pun ada di beberapa kota.

Mereka yang menjadi penanggung jawab di tiap-tiap tempat, bukan hanya menjadi pengelola usaha keluarga Huang, tapi juga menyandang nama keluarga Huang dalam dunia persilatan.

Itu sebabnya posisi-posisi penting dalam keluarga Huang, haruslah dipegang mereka yang sudah mapan ilmu bela dirinya.

Dalam hal mempercayakan tanggung jawab ini, Tuan besar Huang Jin adalah orang yg memiliki pandangan yang cukup terbuka.

Posisi-posisi yang penting bukan hanya disediakan untuk anggota keluarga yg bertalian darah saja, tapi setiap mereka yang berada dalam organisasinya mendapatkan kesempatan yang sama.

Mereka yang benar-benar berbakat, kemudian ditarik menjadi bagian dari keluarga besar Huang, ada yang lewat perjodohan dengan salah satu keluarga Huang Jin, ada pula yang kemudian diadopsi menjadi anak dari salah satu keluarga Huang.

Dengan jalan ini, keluarga Huang tidak pernah kekurangan orang berbakat dan semakin disegani baik dalam dunia perdagangan maupun dalam dunia persilatan.

Dan salah satu upaya keluarga Huang untuk menyaring orang-orang yang berbakat ini adalah lewat ujian kenaikan tingkat yang dilakukan pada hari tersebut.

Itulah sebabnya mengapa hari itu menjadi hari yang istimewa bagi setiap anggota perkampungan keluarga Huang.

Salah satu kisah sukses dalam pertandingan itu adalah Chen Hui, yang ayahnya bekerja sebagai penggembala ternak, ayah dari Tuan Besar Huang Jin.

Berhasil menjadi peserta terbaik pada ujian kelulusan yang diadakan pada masa mudanya, dia kemudian ditarik menjadi pengawal pribadi ayah Tuan besar Huang Jin.

Setelah beberapa tahun menjadi pengawal pribadi, dia dipercaya untuk mengawasi usaha kain keluarga Huang di kota Chang Sha.

Tidak lama kemudian, dia diambil menjadi menantu oleh salah seorang paman Huang Jin.

Memang mereka yang mendapatkan nasib baik seperti Chen Hui hanya bisa dihitung dengan jari, karena selain kemampuan bela diri, keluarga Huang juga melihat sifat-sifat lain dari orang yang bersangkutan.

Tapi setiap mereka yang berhasil menunjukkan bakatnya dalam ilmu bela diri, tentu mendapatkan kedudukan yang cukup baik dan bagi mereka yang merasa berbakat, inilah kesempatan mereka untuk menonjolkan diri.

Setiap anak-anak dalam perkampungan tuan Huang, termasuk mereka yang bekerja di cabang perusahaan, diwajibkan untuk mempelajari dasar-dasar ilmu keturunan keluarga Huang.

Ilmu silat keluarga Huang sendiri bersumber dari Shaolin, yang kemudian dikembangkan menjadi ilmu tangan kosong dan ilmu pedang keluarga Huang, oleh kakek buyut Huang Jin.

Terdiri dari 12 jurus dasar, 9 jurus dasar tangan kosong dan 3 jurus dasar pedang.

Setelah menginjak usia belasan, maka pemuda-pemuda itu akan didorong untuk mengikuti ujian kenaikan tingkat, dan jika mereka berhasil lulus, akan diajarkan pada mereka jurus-jurus lanjutan yang terdiri dari 36 jurus pedang keluarga Huang.

Kebanyakan dari anggota perkampungan keluarga Huang ada dalam tingkat ini, yang kemudian disesuaikan menurut pengamatan para pelatihnya akan mendapatkan peringkat-peringkat sesuai dengan kemampuannya.

Pada hari ujian kenaikan tingkat ini pula diadakan pertandingan bagi mereka yang sudah mempelajari jurus lanjutan, dan menjadi ajang bagi mereka yang ingin menunjukkan kemajuan mereka dalam hal ilmu bela diri.

Jurus-jurus tingkat atas yang menjadi jurus andalan, hanya diperuntukkan keluarga Huang sendiri.

Kemudian ada pula jurus rahasia yang hanya disampaikan oleh pimpinan keluarga, kepada keturunan keluarga Huang yang dipercaya untuk mewarisi kedudukan sebagai pemimpin keluarga.

---------o ---------Beberapa hari sebelum hari istimewa itu, para pengurus usaha keluarga Huang yg berada di beberapa kota lain pun mulai berdatangan.

Baik yang datang sendiri, maupun yang datang bersama-sama dengan keluarga dan orang kepercayaannya.

Sahabat-sahabat dekat keluarga Huang pun turut berkunjung, orang-orang tua dan berjenggot yang pernah memiliki nama besar.

Wajah-wajah keras dan tubuh berotot yang pekerjaannya dalam dunia persilatan hanya disampaikan dengan bisik-bisik dan dari mulut ke mulut.

Guru-guru silat yg terkenal dengan murid andalannya.

Pendek kata berbagai macam golongan hari itu berkumpul.

Kedatangan mereka itu sudah menjadi satu keramaian tersendiri, baik mereka yang berjumpa setelah setahun penuh tidak bertemu, maupun pembicaraan ttg orang-orang yang mereka bawa, yang tentunya dipandang memiliki kelebihan dan kisahnya sendiri.

Yang sudah tua, ramai membicarakan perkembangan keluarga Huang dan kisah-kisah di masa lalu.

Yang masih muda ramai membicarakan harapan mereka di masa depan, tidak luput juga mereka membicarakan kecantikan atau ketampanan dari pemuda yang ini atau gadis yang itu.

Pada hari itu hampir seluruh kegiatan dalam keluarga Huang dihentikan, bahkan penjagaan pun tidak seketat biasanya, maklum saja hampir seluruh dedengkot keluarga Huang sedang berkumpul sehingga sulit dibayangkan bakal ada orang yang berani mencari gara-gara di hari itu.

Setelah upacara sembahyangan di pagi hari dan upacara syukuran yang dipimpin seorang pendeta tao, maka tiba saatnya untuk anak-anak muda yang bekerja di keluarga Huang untuk mengikuti ujian kenaikan tingkat.

Hari itu kurang lebih ada 23 orang yang mengikuti ujian kelulusan, 7 di antaranya dibawa dari cabang perusahaan keluarga Huang.

Ujian itu dilaksanakan di sebuah lapangan yang cukup luas, di salah satu sisinya didirikan beberapa tenda besar, tempat orang-orang penting dalam keluarga Huang dan undangan-undangan duduk.

Ketika mereka masuk ke dalam lapangan, tepuk tangan pun terdengar.

Beberapa orang terdengar bersuit, ada juga yang memanggil-manggil nama orang yg mereka kenal.

Salah satunya adalah nona muda kelurga Huang yang berteriak cukup keras.

"Ayo Ding Tao!! Semangat !!"

Ding Tao yang sedari tadi menunduk pun mendongakkan kepala, wajahnya yang bersemu merah, semakin bersemu merah.

Dilihatnya nona muda keluarga Huang melambaikan tangannya, sampai salah seorang kakak lelakinya menarik tangannya sambil tertawa besar.

Ding Tao yang berada di antara 23 orang itu pun merasa berdebar-debar.

Wajahnya yang bersemu merah lebih banyak menunduk, dalam hatinya dia merasa malu, karena peserta yang lainnya berumur jauh lebih muda dari dirinya.

Apalagi Ding Tao termasuk tinggi untuk pemuda seusianya, sehingga dia jadi lebih menonjol lagi dari ke-23 orang itu.

Sekilas dilihatnya di deretan terdepan, Tuan besar Huang Jin, bersama isteri dan anak-anaknya, sedang bercakap-cakap dengan salah satu undangan, seorang laki-laki berusia 40-an, kumis dan jenggotnya yang lebat ditata rapi, badannya tinggi tegap menambah wibawanya.

Di sebelahnya seorang pemuda yang tampan dengan senyum yang menawan, yang sibuk berusaha mengajak nona muda keluarga Huang untuk mengobrol.

Setelah seluruh peserta berbaris rapi di dalam lapangan, Tuan besar Huang Jin berdiri dan memberikan kata sambutan.

Tiba-tiba Ding Tao merasa sebal dengan pemuda tampan itu.

Dia sendiri merasa heran apa sebabnya dia merasa sebal, kata-kata sambutan dari Tuan besar Huang Jin pun tidak sepenuhnya masuk dalam ingatannya, setiap kali dia menegakkan kepala tentu yang dilihatnya adalah pemuda tampan itu, yang berusaha memikat si nona muda.

Sifat nona muda keluarga Huang memang terbuka dan sedikit kelaki-lakian, dengan cepat merasa akrab dengan sahabat barunya.

Ketika Ding Tao melihat pemuda itu akrab dengan nona muda keluarga Huang, semakin lama semakin sebal pula hatinya.

Tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuan besar Huang Jin sudah selesai dengan kata sambutannya dan para peserta mulai menyebar dan bersiap untuk mendemonstrasikan jurus-jurus.

Ding Tao pun segera bersiap, Pertama-tama mereka menjalankan 9 jurus dasar tangan kosong.

Satu demi satu, jurus diperagakan, meskipun semuanya memperagakan jurus yang sama, terdapat perbedaan-perbedaan dari seorang dengan yang lain.

Beberapa memperagakan jurus-jurus itu dengan setiap kembangan-kembangannya yang membuat jurus-jurus itu terlihat lebih indah tanpa mengurangi kekuatannya.

Yang lain lebih menonjolkan kekuatan dari jurus itu, memperagakannya dengan gerakan yg lebih sederhana tapi cepat dan keras.

Ada juga yang lebih memperhatikan ketepatan perubahan dari tiap jurus, bergerak dengan tenang, tidak terlalu cepat, tidak pula lambat, setiap gerakan tampak mengalir sambung menyambung.

Namun dengan mudah bisa dilihat mereka memperagakan jurus yang sama.

Ding Tao termasuk mereka yang memperhatikan tiap detail, tiap kembangan dan setiap bagian terkecilnya, hanya sayang meskipun gerakannya mantap tapi tak seindah yang lain.

Seorang lelaki tua dengan baju hitam sederhana, mondar-mandir, memperhatikan gerakan tiap-tiap orang, dia adalah pelatih Gu, Gu Tong Dang.

Orang tua ini sudah berumur 70-an, menjadi pelatih silat keluarga Huang sejak Tuan besar Huang Jin masih muda.

Ilmu silatnya bukanlah yang terbaik, tapi bakatnya dalam sebagai pendidik sulit dicari bandingannya.

Matanya pun jeli dalam menilai bakat seseorang.

Dia juga yang bertanggung jawab untuk melatih Ding Tao dan atas penilaiannya pula Ding Tao tidak pernah diluluskan pada ujian tahun-tahun sebelumnya.

9 jurus dasar tangan kosong selesai diperagakan, penonton pun memberikan tepuk tangan.

Pedang dibagikan krn setelah ini mereka akan memperagakan 3 jurus dasar pedang keluarga Huang.

Ding Tao menyempatkan diri untuk melihat sekilas ke arah nona muda Huang, hatinya terasa mengembang saat dilihatnya gadis itu melambaikan tangan ke arahnya.

Bagaimanapun juga gadis itu memperhatikan dirinya.

Tapi ketika terlihat olehnya pemuda tampan di sampingnya, jantungnya berdegup dan tangannya mengepal kencang, pemuda itu sedang memandang dirinya dengan pandangan mencemooh.

Sesaat lamanya pandang mata mereka beradu dan ketidak sukaan berkembang di hati keduanya.

Ding Tao tidak berlama-lama memikirkan hal itu, dia sadar saat ini dia harus memusatkan pikirannya pada ujian yang dia hadapi.

Pedang-pedang selesai dibagikan, sekali lagi ke 23 peserta berbaris rapi dan menunjukkan kebolehan mereka, 3 jurus berlalu dengan cepat dan tibalah saatnya Gu Tong Dang menyampaikan hasil ujian hari itu.

Dengan langkah-langkah yang tenang dia berjalan ke arah Tuan besar Huang Jin, membawa selembar kertas di tangannya.

Tersenyum-senyum, kakek tua ini sesekali melirik ke arah para peserta yang memperhatikan tiap langkahnya dengan wajah tegang.

Entah sudah berapa puluh kali dia menjalani ritual yang sama, tapi tidak pernah bosan dia memandangi wajah-wajah muda penuh semangat itu.

Selembar kertas itupun berpindah tangan, Tuan besar Huang Jin membaca hasil penilaian Gu Tong Dang untuk beberapa saat.

Perhatian segenap mereka yang ada di lapangan itupun tertuju pada Tuan besar Huang Jin, ketika Tuan besar Huang Jin tampak menggelengkan kepalanya, setiap orang pun bertanya-tanya, ada apa gerangan.

Ketegangan pun mulai merayap, ketika Tuan besar Huang Jin tampak berdiskusi dengan Gu Tong Dang, apalagi ketika beberapa orang kepercayaan dalam keluarga Huang dipanggil berdiri dan turut ikut menyampaikan pendapatnya.

Inilah satu kejutan bagi mereka yang sudah menyaksikan ritual yang sama selama bertahun-tahun, biasanya hasil penilaian Gu Tong Dang selalu diterima Tuan besar Huang Jin tanpa pertanyaan, sepertinya tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

Setelah beberapa lama berdiskusi tampaknya mereka mencapai satu kesimpulan yang sama.

Masing-masing kembali ke tempat duduknya sementara Tuan besar Huang Jin dengan langkah yang tegap maju ke depan.

Seperti suara daun yg berdesir-desir, terdengar bisik-bisik di antara penonton yang berada di pinggir lapangan, semuanya sibuk ikut berbisik, mempercakapkan keanehan pada tahun ini.

Tuan besar Huang Jin pun berdehem keras dan mengangkat tangannya sebagai tanda agar semuanya diam.

Setelah mendapatkan perhatian dari setiap orang, maka mulailah dia membacakan hasil ujian.

Suaranya menggema dilambari tenaga dalam, terdengar ke seluruh penjuru dengan jelas.

"Kita sebagai bagian dari keluarga Huang, tidak pernah lalai akan asal usul kita sebagai orang-orang dari dunia persilatan."

"Tidak pernah lalai akan nama besar pendiri perkampungan ini."

"Tidak pernah lalai dalam mengasah dan memperdalam ilmu yang sudah menjadi warisan keluarga Huang dari generasi ke generasi berikutnya."

"Hari ini kita mengadakan satu ujian, bagi generasi yang baru, satu tahapan bagi mereka untuk membuktikan bahwa mereka layak untuk dipercaya..."

"Memperdalam dan memperkaya ilmua warisan keluarga Huang."

"Dan hasil dari ujian tahun ini..."

Entah sengaja atau tidak, atau dari kebiasaan Tuan besar Huang Jin memberikan jeda sebelumm mengumumkan hasil ujian, tentu saja membuat setiap orang dengan berdebar menunggu.

"Seluruhnya lulus !!!"

Sorak sorai pun terdengar dari berbagai penjuru, wajah para peserta ujian pun menunjukkan kelegaan.

Bagi Ding Tao dan beberapa peserta yang lain yang sudah takut tidak akan lulus ujian yang ada hanya kelegaan yang besar tetapi bagi beberapa peserta yang lain dan juga sebagian besar penonton masih ada pengumuman yang mereka tunggu-tunggu, yaitu peserta yang lulus ujian dengan nilai terbaik.

Ketika gemuruh sorak sorai mulai mereda, Tuan besar Huang Jin pun melanjutkan.

"Dan peserta dengan nilai terbaik adalah... Ding Tao !!!"

Gemuruh sorak sorai mengalahkan sorak sorai sebelumnya, maklum penonton terbanyak tentu mereka yang tinggal di perkampungan keluarga Huang, dari cabang-cabang usaha yang tersebar di beberapa kota, jumlahnya mungkin hanya dua-tigapuluh orang, sementara Ding Tao mempunyai hubungan yang baik dengan seluruh penduduk di situ.

Apalagi semua orang mengetahui ketekunannya selama bertahun-tahun berusaha mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian itu, sementara teman-teman sebaya sudah banyak yang mendahuluinya.

Otaknya yang dipandang agak bebal untuk menerima pelajaran silat, justru membuat orang menjadi bersimpati tatkala melihat ketekunannya yang tidak kenal kata menyerah.

"Ding Tao kemari, maju ke depan.", sambil tersenyum Tuan besar Huang Jin memandang pemuda dungu yang berhasil lulus sebagai peserta terbaik itu, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, lulusan terbaik akan menerima hadiah berupa pedang berukir huruf Huang di gagangnya. Pedang itu memang bukan sejenis pedang pusaka yang diperebutkan tokoh-tokoh persilatan, namun pedang itu terbuat dari baja pilihan yang tinggi kualitasnya dan dibuat dengan ketelitian yang tinggi oleh seorang ahli pembuat pedang yang sudah masuk menjadi salah seorang anggota keluarga Huang. Dengan dada berdebar-debar Ding Tao maju untuk menerima pedang tersebut, wajahnya memerah karena malu, menjadi pusat perhatian sekian banyak orang. Nona muda keluarga Huang tidak hentinya bertepuk tangan. Sesampainya di depan, Ding Tao tidak lupa membungkuk, memberikan hormat pada Tuan besar Huang Jin. Sambil menepuk-nepuk pundak Ding Tao, Tuan besar Huang Jin menyerahkan pedang itu.

"Selamat, ini semua hasil ketekunanmu selama bertahun-tahun."

Tiba-tiba di tengah sorak sorai itu terdengar suara yang tidak terlalu keras, namun cukup nyaring untuk terdengar oleh orang-orang yang berada di bagian depan.

"Hebat benar ketekunannya, bertahun-tahun mempelajari jurus-jurus dasar, mungkin nanti setelah 70-an lebih barulah tamat pelajarannya. Cuma entah, waktu itu dia masih kuat mengangkat pedangnya atau tidak."

Sontak semua orang yg mendengar itu terdiam dan menoleh ke arah suara itu.

Rupanya si pemuda tampan tadi yang merasa tidak senang nona muda Huang memuji-muji Ding Tao tidak dapat lagi menahan perasaannya.

Dalam hatinya dia tidak bisa menerima, bahwasannya Ding Tao yang dungu dalam pikirannya, bisa mendapat begitu banyak perhatian.

Apalagi setelah dia mendengar cerita orang-orang di sekelilingnya, bagaimana Ding Tao gagal dalam ujian di tahun-tahun sebelumnya.

Semakin dilihatnya wajah Ding Tao yang berseri-seri, semakin sebal pula hatinya, hingga akhirnya tanpa tertahan muncullah seruan itu.

Ketika pemuda itu sadar, ucapannya telah menarik perhatian banyak orang, mukanya pun berubah merah padam, tapi memang adatnya yg tinggi tidak bisa diubah, apalagi dia tidak merasa salah dengan ucapannya tersebut.

Dalam hati dia menghibur diri sendiri.

"Hmm.. perduli apa orang katakan, toh yang kuucapkan itu benar."

Dalam waktu yg singkat lapangan yang tadinya penuh sorak sorai jadi lenggang dan sepi.

Tidak sedikit pula peserta yg merasa dirinya layak menjadi pemenang bersorak dalam hati dan menanti-nanti apa yang akan terjadi setelah ini.

Untuk sesaat tidak ada seorangpun yang bersuara, bahkan Tuan besar Huang Jin yang menjadi tuan rumah pun, kehilangan kata-kata.

Tadinya dia berharap, tamu undangannya, lelaki 40-an dengan kumis dan jenggot yang rapi dipangkas itu, akan menegurnya, menegur anaknya yang sudah kelepasan omongan.

Tapi setelah ditunggunya beberapa saat, lelaki itu hanya diam saja, dalam hati Huang Jin memaki, otaknya pun berputar keras.

Sebenarnya hubungannya dengan lelaki itu belumlah terlalu akrab, lelaki itu adalah Wang Dou, orang terkuat yang menguasai daerah di sekitar utara sungai Yangtze.

Tuan besar Huang Jin sedang berusaha untuk menjalin hubungan di antara mereka karena dia berambisi untuk meluaskan usahanya ke daerah utara.

Untuk itu dia membutuhkan hubungan baik dengan orang ini, agar distribusi ke daerah yang baru tidak terganggu.

Tujuannya hari ini mengundang Wang Dou dan anaknya, Wang Chen Jin, selain untuk memperdalam hubungan yang sudah ada, juga untuk menunjukkan kekuatan dari keluarga Huang.

Bermusuhan tidak menguntungkan, tapi jika Wang Dou memandang dirinya terlalu lemah, juga tidak akan menguntungkan.

Sekarang tampaknya Wang Dou justru berusaha menguji keteguhannya, jika dia mandah saja dihina sedemikian rupa, tentu Wang Dou akan menganggap dirinya lemah dan bisa menentukan pajak keamanan semaunya sendiri.

Jika dia terlalu keras dalam menyikapi masalah ini, bukan tidak mungkin akan timbul permusuhan yang mendalam di antara keduanya, karena dalam dunia persilatan, masalah harga diri seringkali menjadi masalah yang pelik.

Tapi bukan Tuan besar Huang Jin yang terlebih membuka mulut, bukan pula Wang Dou, melainkan nona muda Huang yang setelah hilang kagetnya, berubah menjadi naik darah.

"He, apa maksudmu berkata demikian!?"

Sambil berkacak pinggang dia berdiri menantang Wang Chen Jin.

Wang Chen Jin yang ditantang sedemikian rupa oleh gadis yang sudah memikat hatinya jadi tergagap-gagap.

Tapi adatnya memang tinggi, tidak bisa dia mengaku salah ataupun meminta maaf, pun jika itu terhadap gadis pujaannya.

Dengan wajah merah padam dia berusaha membela diri.

"Apa salah perkataanku? Jika bukan orang dungu tentu dalam waktu singkat sudah menguasai jurus-jurus sederhana macam itu. Jika bukan orang tidak tahu malu, tentu dia akan menolak penghormatan ini. Aku tahu kebaikan hati kalian keluarga Huang, tapi orang dungu dan tidak tahu malu seperti dia, sudah sepantasnya diingatkan."

Ding Tao yang mendengar jawaban itu dalam hati merasa semakin rendah diri, meskipun di sudut hatinya ada pula rasa bangga karena nona muda yang dipujanya itu begitu membelanya, tapi sungguh dia berharap peristiwa itu tidak berkepanjangan.

Lebih baik buatnya bila gelar lulusan terbaik itu dicabut dan diberikan kepada orang lain.

Sungguh mati dia tidak mengharapkan gelar itu, asalkan bisa lulus dia sudah sangat bersyukur.

Diliriknya Tuan besar Huang Jin dan dengan terbata-bata dia berbisik.

"Tuan besar..., ini... ini... pedang... mungkin memang tidak pantas untuk diriku... aku..."

Tuan besar Huang Jin yang mendengar perkataan itu hanya tersenyum, perlahan dia menepuk bahu Ding Tao dan berbisik.

"Sudah, tenangkan saja hatimu, kita lihat bagaimana, anak Ying, menyelesaikan masalah ini."

Memang majunya si nona muda Huang Ying-Ying ini menyenangkan hati ayahnya, seperti Wang Dou mendiamkan anaknya menghina Ding Tao untuk menguji dirinya, Huang Jin membiarkan Ying Ying maju melabrak Wang Chen Jin dan melihat reaksi Wang Dou.

Sementara itu Ying Ying yang mendengar pembelaan Wang Chen Jin menjadi semakin marah, maklum seperti Wang Chen Jin juga nona muda ini, seorang gadis yang tinggi adatnya, sebagai satu-satunya anak gadis dalam keluarga Huang dia dimanjakan oleh ayah dan saudara-saudara lelakinya.

"Apa? Apa? Apa katamu? Dungu? Kau yang dungu!"

Otaknya pun berputar mencari pembelaan untuk Ding Tao dan tiba-tiba teringatlah cerita ayahnya ttg sepak terjang kakek buyutnya ketika masih aktif dalam dunia persilatan.

"Hmm... kamulah pemuda yang tidak tahu tinggi dan dalamnya ilmu silat. Apa tidak pernah dengar perkataan, dengan 3 jurus pedang Huang Cheng Yan menguasai Wuling? Justru pandanganmu yang lebih dungu dari Ding Tao, tidak bisa menilai kedalaman suatu jurus."

Ganti si pemuda yang merasa penasaran, tanpa terasa dia meloncat dari kursinya dan menunjuk-nunjuk ke arah Ding Tao dengan gagang pedangnya.

"Apa? Apa? Aku lebih dungu dari kerbau itu? Suruh dia melawan aku dan akan aku tunjukkan betapa dungunya dia."

Wang Dou yang sejak tadi berdiam diri saja, tiba-tiba berdiri dan menepuk pundak anaknya sambil tertawa-tawa.

"Hahaha, dasar anak muda tidak punya sopan santun."

Berpaling dia ke arah Tuan besar Huang Jin dan para tetua keluarga Huang yg lain sambil sedikit membungkukkan badan, dengan dua tangan rangkap di depan.

"Tuan-tuan, maafkan anakku yang masih muda ini, memang orang tuanya ini kurang bisa mengajarkan dia sopan santun. Harap maklum, kami tidak lebih dari orang-orang kasar, yang mempelajari ilmu perang tapi tidak tahu ilmu surat."

"Tapi memang, orang persilatan, kalau belum beradu pedang dan kepalan, sepertinya belum menjadi kenalan baik. Bagaimana kalau kita biarkan saja dua anak muda ini bertanding."

Sambil menunjuk ke arah Ding Tao dia berkata.

"Biar pahlawan kecil itu memberikan hajaran pada anakku yang kurang ajar ini."

Tuan besar Huang Jin membalas penghormatan Wang Dou dengan penghormatan yang sama, ketika Wang Dou menawarkan pertandingan antara Ding Tao dan anaknya, dia tidak segera menjawab, bagaimanapun juga ada sedikit keraguan dalam hatinya, ditengoknya Gu Tong Dang dengan alis terangkat, meminta pertimbangan.

Gu Tong Dang berpikir sebentar, sambil mengamati Wang Chen Jin.

Umur pemuda itu tidak jauh berbeda dengan Ding Tao, dan dia mengajukan Ding Tao sebagai peserta terbaik bukanlah tanpa alasan.

Jika sekarang dia menyarankan Tuan besar Huang Jin untuk menolak pertandingan itu, tentu akan memalukan bagi dirinya sebagai pengajar.

Tapi Wang Chen Jin tentu sudah pula mewarisi ilmu ayahnya, mungkin hampir tuntas, krn seumuran dia memang sudah waktunya untuk menerima ilmu dengan tuntas, sehingga sisanya hanyalah untuk mematangkan ilmu yang sudah ada.

Pada kasus Ding Tao memang ada perbedaannya, Ding Tao hanyalah seorang anak pembantu yang kemudian dijadikan tukang kebun dalam keluarga Huang setelah orang tuanya meninggal.

Sehingga tidak mungkin akan diajarkan ilmu keluarga hingga tuntas, kecuali jika Tuan besar Huang Jin tertarik pada bakat anak muda itu dan memutuskan untuk menariknya menjadi bagian keluarga Huang.

Seandainya Ding Tao memang sedungu anggapan semua orang, tentu Gu Tong Dang tanpa berpikir dua kali akan menolak pertandingan itu, lebih baik bagi dirinya untuk mendapat malu daripada membahayakan muridnya.

Tapi Gu Tong Dang bukan menunjuk Ding Tao sebagai lulusan terbaik karena belas kasihan.

Justru dia melihat satu kelebihan sendiri dari dalam diri Ding Tao, itu pula sebabnya dia dengan sengaja tidak meluluskan pemuda itu untuk mendorong pemuda itu untuk mendalami jurus-jurus dasar yang sama selama bertahun-tahun lamanya.

Hanya saja, apakah dengan kelebihannya itu Ding Tao akan mampu menjaga dirinya dalam pertandingan itu?

Hal ini masih menjadi pertanyaan tersendiri bagi Gu Tong Dang.

Sebenarnya perkataan nona muda Huang yang sembarangan itu tanpa sengaja sudah menebak dengan tepat keadaan Ding Tao.

Adalah perkataan orang ttg pendiri keluarga Huang, Huang Cheng Yan, yang membuat Gu Tong Dang sengaja memaksa Ding Tao mengulang-ulang jurus yang sama dengan cara mencegah pemuda itu mengikuti ujian.

Sejak pertama melatih Ding Tao yang saat itu masih kanak-kanak, Gu Tong Dang melihat kepekaan Ding Tao dalam menyerap jurus-jurus yang diajarkan.

Detail kecil yang tak terlihat orang, bahkan dirinya sendiri, ternyata bisa dirasakan keganjilannya oleh Ding Tao.

Ketika Ding Tao kecil menyampaikan perasaannya pada Gu Tong Dang dan bertanya, mengapa gerakan tangan itu tidak sedikit lebih ke bawah, mengapa kaki terlalu rapat, dan sebagainya, terbukalah pikiran guru tua itu.

Ding Tao memiliki kepekaan terhadap kewajaran suatu gerakan, bagaimana satu gerakan yang lebih alami dapat menghasilkan tenaga yang lebih besar, lebih cepat, lebih mudah mengubah kedudukan dan sebagainya.

Sejak saat itu, Gu Tong Dang berusaha mengarahkan Ding Tao untuk merenungkan setiap gerakan yang dia lakukan.

Bukan hanya dari sisi kewajaran alamiah suatu gerakan, namun juga dari sisi strategi dalam sebuah pertarungan.

Itu sebabnya Ding Tao membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum dapat meyakinkan ke-12 jurus dasar itu, karena bagi Ding Tao setiap gerakan, setiap kedudukan yang diambil tiap-tiap jurus, merupakan satu rangkaian gerak 3-4 langkah ke depan.

Seperti seorang ahli catur memainkan biji caturnya, setiap kali Ding Tao melakukan pembukaan maupun gerakan, dalam benaknya sudah terbayang apa gerakan selanjutnya, seandainya lawan bereaksi demikian atau demikian.

Kelebihan Ding Tao ini disimpan sendiri oleh Gu Tong Dang yang tidak ingin Ding Tao yang rendah hati itu berubah menjadi sombong, sehingga bakat yang ada menjadi terbuang sia-sia.

Di luar mulutnya selalu menunjukkan kedunguan Ding Tao, sementara secara diam-diam dan lewat perkataan-perkataan yang sepertinya sambil lalu, dia memberikan petunjuk dan arahan pada Ding Tao tanpa anak itu sendiri menyadarinya.

Dengan berdebar-debar akhirnya guru tua itu mengangguk, meskipun Ding Tao mungkin tidak bisa memenangkan pertandingan, tapi guru tua itu yakin Ding Tao akan dapat bertahan.

Keluarga Huang tidak akan dipermalukan dan pandangan orang-orang terhadap Ding Tao sendiri tentu akan berubah.

Dalam hati guru tua itu berdoa kepada dewa-dewa dan nenek moyangnya, untuk melindungi murid kesayangannya itu.

Tuan besar Huang Jin yang tadinya masih ragu, melihat keyakinan Gu Tong Dang, akhirnya menepis habis keraguannya, dengan senyum mengembang diapun menjawab.

"Saudara Wang memang bijaksana. Memang urusan anak muda selamanya membuat orang yang sudah tua menjadi pusing. Kalau hanya dijelaskan dengan kata-kata, tentu selamanya akan merasa penasaran. Biarlah setelah pertandingan mereka boleh saling menghargai dan menjadi teman akrab."

Dengan perkataannya itu secara tidak langsung Tuan besar Huang Jin, membenarkan perkataan Ying Ying dan dengan halus mengatakan bahwa jurus-jurus dasar keluarga Huang sudah cukup untuk menghadapi ilmu Wang Dou yang diwarisi Wang Chen Jin.

Wang Dou bukannya tidak merasakan sindiran halus itu, tetapi Wang Dou sudah malang melintang dalam dunia persilatan selama bertahun-tahun, kontrol dirinya sudah matang, meskipun di dalam hati dia memaki-maki tapi di luaran dia tertawa senang.

"Hahaha, benar sekali, benar sekali. Memang anak muda tidak boleh takut dengan sedikit goresan pedang. Anak Jin, majulah sana, mintalah petunjuk pada engkoh kecil itu."

Wang Chen Jin yang mendengar perkataan ayahnya itu melompat dengan tangkas ke tengah lapangan.

Wajahnya bersemangat, dari perkataan ayahnya dia paham, bahwa meskipun dia harus berhati-hati untuk tidak membunuh lawan, tapi dia tidak perlu sungkan untuk melukai lawannya.

Sebentar dia melirik ke arah nona muda Huang sambil tersenyum dan berkata dalam hati.

"Hmm... nona cantik... akan aku pertunjukkan kelebihanku dari pemuda dungu itu."

Huang Ying Ying yang melihat senyuman itu melengos membuang muka, dipandangnya Ding Tao dengan cemas, dalam benaknya dia sudah bisa membayangkan bagaimana Ding Tao akan kalah dan terluka.

Ding Tao bukannya tidak melihat itu semua, tapi melihat itu justru membuat semangatnya bangkit.

Di depan gadis yang disukainya, dia ingin menunjukkan kebolehannya atau setidaknya kejantanannya.

Dadanya boleh terbelah pedang lawan, tapi tidak nanti dia akan mundur atau mengeluh.

Jika sebelumnya perasaannya kacau balau dan penuh kekuatiran, ragu akan kemampuannya sendiri, takut jika nanti dia akan mempermalukan keluarga Huang dan dirinya sendiri.

Sekarang perasaan itu semuanya hilang.

Dengan hati yang membara, dia membungkuk hormat pada Huang Jin sebelum pergi ke tengah lapangan, berhadapan dengan Wang Chen Jin.

Tuan besar Huang Jin yang melihat roma wajah Ding Tao merasa terhibur, dan menjadi semakin yakin bahwa pemuda itu tidak akan mempermalukan nama keluarganya.

Kalaupun kalah tentu akan kalah dengan gemilang.

Setelah keduanya berhadapan maka Tuan besar Huang Jin pun memberikan arahan.

"Hari ini kita akan melakukan pertandingan persahabatan. Tidak ada dendam permusuhan, baik sebelum maupun setelah pertandingan nanti. Bertandinglah dengan jujur, sebisa mungkin jaga jangan sampai saling melukai."

Ding Tao mengangguk dengan patuh.

"Baik tuan Huang."

Sementara Wang Chen Jin tersenyum-senyum.

"Tentu saja paman Huang."

Dalam hatinya Wang Chen Jin sudah merancangkan bagaimana dia akan mengalahkan Ding Tao dengan gemilang, kalau perlu dia akan memberikan sedikit tanda mata di wajahnya.

Atau mungkin mencungkil salah satu bola matanya, semakin buruk wajahnya semakin baik, supaya dia tidak ada keberanian untuk mendekati Huang Ying Ying.

Ayahnya tidak akan marah dan siap membela dirinya, selama pemuda itu masih hidup saja, tentu tidak akan ada masalah panjang.

"Mulai!!"

Segera setelah mendengar aba-aba dari Huang Jin, tanpa menunggu Ding Tao bersiap, Wang Chen Jin menyerang dengan sigap, ujung-ujung pedangnya tampak berpencaran mengincar titik-titik tubuh yang vital.

Cepatnya serangan itu tidak urung membuat Ding Tao gelagapan, beruntung latihan yang berulang-ulang membuat tubuhnya bergerak secara refleks untuk menghindar.

Tapi Wang Chen Jin tidak mau melepaskan kesempatan yang baik itu, kakinya bergerak cepat menyusul Ding Tao yang menghindar, pedangnya kembali tampak bergetar dan memecah menjadi beberapa bayang pedang.

Tapi kali ini Ding Tao sudah mampu mengendalikan perasaannya, pikirannya sudah mulai berkonsentrasi pada ancaman di depannya, meskipun dia belum sempat memperbaiki kedudukan ataupun mengambil sikap bertahan, tapi dia mampu menghindar ke posisi yang lebih baik.

Dalam satu gerakan menghindar itu sekaligus pula Ding Tao menarik pedang dari sarungnya.

Serangan Wang Chen Jin yang membadai mulai dihadang oleh pertahanan yang kuat dari DIng Tao.

Gerakan Ding Tao tidaklah rumit, namun setiap gerakannya tepat pada sasaran, menutup setiap celah yang ada.

Tangkisannya bukan hanya menghentikan serangan Wang Chen Jin, tapi juga selalu membuat Wang Chen Jin kerepotan untuk melanjutkan serangannya.

Ini memang pertarungan yang pertama bagi Ding Tao, tapi entah sudah berapa kali dia melangsungkan pertarungan dalam benaknya.

Perlahan-lahan dia mulai mampu menyesuaikan sikapnya dan mengamati jurus serangan Wang Chen Jin.

Dan pengalamannya bertarung dengan sungguh-sungguh ini membawa kegembiraan baru bagi dirinya.

Jika selama ini dia hanya bertarung dalam angan-angan, sekarang dia melihat bayangannya menjadi nyata, dengan desingan pedang lawan mengancam dirinya membuat darahnya mengalir deras.

Setiap gebrakan membuat semangatnya semakin terbangun, otaknya berputar keras dan seluruh inderanya menajam.

Seperti seekor ikan yang dilepaskan ke dalam kolam besar untuk pertama kalinya, seperti seseorang yang baru saja berhasil belajar berenang, Ding Tao seperti tidak ada bosannya dengan pengalamannya saat itu.

Hilang sudah semua rasa takut dan keraguan, yang ada hanya ketegangan yang menggairahkan.

Sementara itu bagi Wang Chen Jin, ini bukanlah pertarungan yang pertama bagi dirinya, tapi kesigapan Ding Tao di luar dugaannya.

Seandainya saja dia tidak terlalu menganggap remeh Ding Tao mungkin akan berbeda hasilnya.

Sayang pemuda yang tinggi adatnya ini tidak mau melihat kenyataan.

Kegagalannya dalam menyerang tidak juga menyadarkan dirinya, apalagi hingga saat itu Ding Tao masih belum membalas serangannya.

Akibatnya Wang Chen Jin semakin bernafsu untuk menyerang.

Wang Dou yang menyaksikan pertandingan itu bukannya tidak menyadari kesalahan anaknya, tapi jago tua itu tidak mau menjatuhkan namanya dengan memberikan petunjuk pada anaknya yang sembrono itu.

Ketika kebanyakan wajah penonton, termasuk nona muda Huang dihiasi kehawatiran.

Senyum bangga justru menghiasi wajah-wajah para jagoan dari keluarga Huang juga menyadari keadaan kedua pemuda itu.

Maklum bagi mereka yang sudah cukup tinggi tingkat ilmunya, keadaan kedua pemuda itu tampak jelas bagi mereka.

Ding Tao yang kelihatannya selalu terdesak dan diserang, selalu berhasil menggagalkan serangan Wang Chen Jin dan bukan hanya menggagalkan serangan lawannya, Ding Tao juga berhasil membuka celah pertahanan lawan.

Jika pada awal-awal Wang Chen Jin masih berhati-hati dan memperbaiki kedudukannya sebelum melancarkan serangan berikutnya, maka setelah lewat beberapa jurus, mulailah pemuda itu kehilangan kesabarannya.

Wang Chen Jin hampir meledak dengan rasa marah, ketika serangan demi serangan bisa dihadang oleh Ding Tao, emosinya menjadi semakin terbakar karena dia menyadari bahwa sedari tadi Ding Tao melawannya dengan 3 jurus yang itu-itu saja.

3 Jurus yang remeh tapi sangat mengganggunya.

Lubang-lubang kelemahanpun mulai terbuka dalam setiap serangannya.

Ding Tao yang selalu mengingat perkataan Huang Jin, tidak dengan segera mengambil keuntungan dari celah yang dilihatnya.

Dia kuatir akan melukai Wang Chen Jin terlalu berat.

Kebaikan Ding Tao ini salah dimengerti oleh Wang Chen Jin, tidak pernah terbayang dalam benaknya bahwa Ding Tao dengan sengaja melepaskan peluang karena mengkhawatirkan keselamatannya.

Jika saja Ding Tao sudah memiliki lebih banyak pengalaman, mungkin Ding Tao akan menyerang melalui celah-celah itu dan menarik serangannya tepat pada waktunya, untuk menyadarkan lawan akan kekalahannya.

Tapi tidak demikian yang dilakukan DIng Tao, setiap celah yang dia lihat, hanya diisi dengan serangan bayangan dalam otaknya.

Diam-diam dia sudah memasukkan 7 serangan mematikan ke arah Wang Chen Jin, tapi bukan itu yang dia tunggu.

Wang Chen Jin pun menganggap hal itu sebagai hasil dari ketidakmampuan Ding Tao.

hingga dalam satu waktu Wang Chen Jin menyerang tanpa memperhatikan lagi pertahanannya.

Dalam benaknya Ding Tao tidak akan mampu menghindar, kalaupun menghindar Ding Tao tidak akan mampu mengambil kesempatan untuk menyerang dirinya.

Bagaikan kilat Wang Chen Jin bergerak hingga bayangannya tampak seperti menyerang dari dua arah sekaligus.

Serangan yang pertama hanyalah tipuan, ketika Ding Tao bergerak seperti yang dia harapkan, Wang Chen Jin dengan cepat mengubah posisi tubuhnya dan menyerang dari arah yang berlawanan.

Di luar dugaan, Ding Tao justru bergerak lebih cepat lagi memotong pergerakan Wang Chen Jin, belum sempat serangan kedua dilancarkan, selarik cahaya pedang berkelebat menetak pergelangan tangan Wang Chen Jin.

Serangan Wang Chen Jin yang membadaipun bagaikan dihentakan angin topan, seperti layang-layang yang putus talinya.

Hawa pedang menyurut hilang, yang tertinggal hanyalah dua orang pemuda yang saling berhadapan.

Ding Tao yang berdiri dengan tegap dengan pedang di tangan.

Dan Wang Chen Jin yang menyeringai kesakitan, tangan kirinya memegangi tangan kanan yang sudah membengkak biru, tidak mampu lagi menahan pedangnya yang meluncur jatuh ke bawah.

Sekali lagi sorak sorai memecahkan suasana.

Para penduduk perkampungan keluarga Huang berlompatan gembira, mengelu-elukan pahlawan mereka hari ini.

Para tamu dan undangan yang sudah bersahabat dekat dengan keluarga Huang pun ikut memuji dan memberikan selamat pada anggota keluarga Huang yag kebetulan duduk di dekat mereka.

Tuan besar Huang Jin pun tidak menutupi kegembiraannya, akan tetapi dia tidak juga lupa dengan kepentingan bisnisnya di utara.

Dengan segera dia menghampiri kedua pemuda itu,.

Terhadap Ding Tao dia menepuk pundak pemuda itu dan mengucapkan pujian singkat.

"Bagus, sekarang pergilah dan cari uwak Guan untuk mengobati luka tuan muda Wang."

Kemudian dibimbingnya Wang Chen Jin yang terluka kembali ke tempat duduknya.

Wajah Wang Dou memerah, untuk sesaat dia kelihatan seperti tokoh Guan Yu dalam kisah-kisah kepahlawanan jaman dahulu.

Tapi dengan cepat dia bisa menguasai dirinya dan buru-buru menyambut kedatangan Tuan besar Huang Jin dan anaknya.

Dengan tertawa-tawa dia membungkuk memberi hormat pada Huang Jin.

"Sungguh tepat perkataan orang, ilmu keluarga Huang memang benar-benar dahsyat, siapa sangka dengan 3 jurus menaklukkan Wuling, hari ini dengan mata kepala sendiri bisa aku saksikan."

Tuan besar Huang Jin pun segera mengulapkan tangannya.

"Tentu tidak demikian, masalahnya anak-anak muda sering terburu nafsu, jika anak Wang lebih dingin tentu hasilnya akan berbeda."

Untuk beberapa saat keduanya berbasa-basi saling memuji dan merendahkan diri, dalam hati entah siapa yang tahu.

Nona muda Huang pun berceloteh seperti seekor burung menyambut pagi, saudara-saudara lelakinya tertawa terbahak-bahak mendengar celotehannya.

Huang Ren Jie, saudara yang tertua akhirnya menghentikan celotehannya itu.

Si nona muda yang kena tegur pun jadi sadar dan memerah mukanya.

Salah seorang tamu, menggoda si nona muda dan meledaklah tawa mereka sekalian yang mendengarnya.

Tak lama kemudian seorang tabib datang untuk merawat Wang Chen Jin, kemenangan Ding Tao menghapuskan kemarahan Huang Ying Ying dan dengan penuh perhatian dia ikut pula membantu tabib itu merawat luka Wang Chen Jin.

Luka itu sendiri tidak membahayakan jiwa, namun pukulan Ding Tao ke arah pergelangan tangan Wang Chen Jin cukup keras, meskipun hanya menggunakan lempeng pedang yang tidak tajam, tapi pergelangan Wang Chen Jin pun membengkak dan untuk beberapa lamanya tidak bisa digunakan.

Hari itu pun dilewatkan dengan banyak kegembiraan bagi keluarga Huang dan Ding Tao khususnya.

Gu Tong Dang pun mendapatkan pujian karena kejeliannya menemukan bakat-bakat baru bagi keluarga Huang.

Wang Dou pun bukan orang yang berpikiran pendek, jika dia hanyalah jagoan pedang yang tidak memikir panjang ke depan dan mendahulukan perasaan, sudah tentu dia tidak akan mencapai kedudukannya yang sekarang.

Kerja sama antara dirinya dan Tuan besar Huang Jin akan membawa keuntungan bagi mereka berdua dan itu lebih penting daripada sekedar mengikutii emosi karena tersentuh harga dirinya.

Apalagi Tuan besar Huang Jin dan keluarganya pandai membawa diri, ketika pesta hari itu berakhir Tuan besar Huang Jin dan Wang Dou pun mencapai kesepakatan kerja sama yang memuaskan keduanya.

Untuk sesaat segala sesuatunya tampak berjalan lancar dan memuaskan.

Seandainya saja kisah ini berhenti di sini, tapi selamanya dunia persilatan penuh dengan kejutan.

Dendam dan budi, harga diri dan kehormatan, akibat penasaran seorang anak muda, gelombang besar yang mengubah wajah dunia persilatan di masa itu pun dimulai.

Wang Dou dan puteranya menghabiskan beberapa malam lagi di kota Wuling, karena meskipun sudah ada kesepakatan antara Wang Dou dengan Tuan besar Huang Jin, mereka masih ingin berdiskusi lebih jauh dalam masalah pelaksanaannya.

Untuk menemani Wang Chen Jin, maka Tuan besar Huang Jin memerintahkan salah seorang puteranya, Huang Ren Fu dan puterinya Huang Ying Ying untuk menemani Wang Cheng Jin menjelajahi kota Wuling dan sekitarnya.

Rupanya Wang Dou tidak hanya mengajarkan ilmu pedang pada puteranya, namun juga mengundang guru-guru untuk mengajarkan ilmu sastra dan pemerintahan.

Dengan demikian Wang Chen Jin bisa menjadi sahabat yang menyenangkan untuk diajak berbicara.

Lagipula memang wataknya pandai mengambil hati orang, nona muda Huang pun tidak bisa marah berlama-lama, dan mau tidak mau mengagumi pemuda yang tampan, pandai dalam ilmu pedang juga berpengetahuan luas.

Dan kedua bersaudara Huang itupun dengan cepat merasa akrab dengan Wang Chen Jin.

Hari itu, mereka bertiga sedang beristirahat di salah satu pondokan yang terdapat dalam taman di perkampungan Huang.

"Saudara Wang, hari ini apa tidak mau jalan-jalan ke kota lagi?", tanya Huang Ren Fu.

"Ya, ya, bukannya kemarin kau berjanji untuk membelikanku sepasang tusuk konde yg berhias mutiara itu?", desak Huang Ying Ying. Tertawa bergelak Wang Chen Jin menjawab.

"Nah, nah, aku pasti tidak lupa janjiku, hanya saja hari ini rasanya aku malas pergi berjalan-jalan, cuaca begitu panas. Kalau kalian tidak berkeberatan lebih baik kita habiskan siang ini di dalam taman ini saja."

"Huuh.. kalau begitu kapan kau belikan aku tusuk konde itu?", rajuk Huang Ying Ying dengan bibir mencibir.

"Wah, mana boleh begitu, saudara Wang ini kan tamu, soal tusuk konde biar aku yang membelikan.", sergah Huang Ren Fu sambil tertawa.

"Tidak, tidak perlu, tusuk konde itu pasti aku hadiahkan pada nona muda Huang sebelum aku pulang. Tapi sungguh mati, cuaca hari ini terlalu panas untukku."

"Janji ya?", sahut Ying Ying dengan mengerling nakal.

"Tentu, tentu, janji seorang laki-laki, lebih berat dari ribuan kati.", jawab Wang Chen Jin sambil tersenyum.

"Saudara Huang, taman ini indah sekali, kalian keluarga Huang memang benar-benar kaya, tentu pengurus taman ini pun bukannya orang yang tidak punya nama. Aku sudah pernah melihat berbagai taman, bahkan di rumah para bangsawan, tapi tidak ada yang seindah taman kalian."

Kedua bersaudara Huang itu pun merasa senang mendengar pujian itu, siapa orangnya yang tidak bangga mendengar pujian? Huang Ying Ying terkikik geli.

"Saudara Wang, orang ternama yang kamu maksudkan itu toh kamu sudah kenal."

Huang Ren Fu yang kuatir Wang Dou teringat lagi dengan kekalahannya tempo hari merasa tidak enak hati dan berusaha agar adiknya tidak berbicara lebih lanjut.

"Ah adik Ying, jangan banyak bercanda."

Tapi Wang Chen Jin justru semakin tampak penasaran dan mendesak.

"Wah, orang itu sudah aku kenal? Tapi baru pertama kali ini aku pergi ke wilayah selatan. Lagipula dari mana nona muda Huang bisa tahu kalau aku sudah mengenalnya?"

Lain di wajah, lain pula di hati, sesungguhnya Wang Chen Jin sudah mengetahui siapa tukang kebun yang dimaksud, karena malam itu sesudah kekalahannya, di kamar mereka menginap, ayahnya mencaci maki habis dirinya.

Dia sudah kalah bertarung melawan tukang kebun keluarga Huang, putera kebanggaannya, kalah melawan seorang tukang kebun.

Betapa sakit hati Wang Dou dilampiaskannya malam itu.

Betapa sakit hati Wang Chen Jin bertumpuk-tumpuk malam itu.

Dalam hati dia bersumpah akan membalas sakit hatinya berkali-kali lipat dan jika Wang Dou seorang yang cerdik dan licin, puteranya pun tidak kalah cerdik dan licin.

Adalah Wang Chen Jin yang meminta ayahnya agar menyampaikan pada Huang Jin, supaya Huang Ying Ying boleh menemaninya selama mereka berada di Wuling.

Pemuda itu dapat menangkap perasaan hati Ding Tao pada Huang Ying Ying, lewat pandang mata dan kebanggaan yg terpancar dari Ding Tao setiap kali Huang Ying Ying bersorak bagi dirinya.

Setelah beberapa hari berhasil memenangkan hati kedua bersaudara Huang, dia pun dengan sengaja mengajak mereka menghabiskan waktu di taman.

Benar saja, tidak berapa lama mereka menghabiskan waktu di taman, dari sudut matanya terlihat olehnya Ding Tao sedang mengurus tanaman-tanaman yang ada di taman itu.

Dengan sengaja, Wang Chen Jin semakin menunjukkan keakraban dirinya dengan kedua bersaudara itu, terlebih kepada Huang Ying Ying.

Dalam hati diapun tersenyum mengejek.

"Anak tukang kebun, seberapa tinggi bakatmu, selamanya tetap saja hanya akan jadi pelayan, jangan mimpi untuk mendapatkan pujaan hatimu."

Tentu saja apa yang ada di benak Wang Chen Jin ini tidak diketahui oleh Huang Ying Ying ataupun saudaranya Huang Ren Fu, dengan polosnya Huang Ying Ying pun menjawab pertanyaan Wang Chen Jin.

"Ding Tao, orang yang mengalahkanmu tempo hari itu, dia itulah tukang kebun kami."

Berlagak terkejut Wang Chen Jin tertawat terbahak-bahak dan menepuk jidatnya sendiri.

"Astaga, jadi pemuda yang tempo hari itu adalah tukang kebunmu? Hanya seorang tukang kebun?"

Huang Ren Fu yang tadinya kuatir akan membuat marah atau sakit hati Wang Chen Jin pun menjadi lega ketika dilihatnya pemuda itu tidak menjadi marah.

Huang Ying Ying pun tidak mengerti pedang bermata dua yang sedang ditusukkan oleh Wang Chen Jin ke dalam hati Ding Tao, dengan polosnya diapun ikut tertawa.

"Iya, dia itu tukang kebun kami."

"Astaga, hanya seorang tukang kebun.", sekali lagi Wang Chen Jin mengatakan hal itu sambil menggelengkan kepala seakan tidak percaya.

"Hanya seorang tukang kebun dan bisa begitu hebat. Ilmu keluarga Huang memang benar-benar istimewa."

"Jika seorang pelayan saja sudah sedemikian hebatnya, bagaimana dengan yang lainnya. Sungguh rumah kalian ini seperti sarang naga dan harimau saja."

Demikian Wang Chen Jin mengumpak kedua anak keluarga Huang tersebut, sekaligus merendahkan bakat Ding Tao secara halus, dengan meninggikan arti ilmu keluarga Huang, seakan-akan seorang dungupun akan menjadi hebat dengan mempelajari ilmu keluarga Huang.

Buku-buku jari Ding Tao memucat, tangannya menggenggam keras sekop kecil yang dia gunakan untuk menggemburkan tanah di sekitar bunga yang baru dia tanam.

Setiap kali Wang Chen Jin mengatakan "tukang kebun"

Bukan main sakit perasaan Ding Tao, saat dia melihat mereka bertiga begitu akrab.

Dia sadar, sesadar-sadarnya bahwa nona muda Huang dan dia berbeda status.

Sedikitpun tidak terbersit dalam benaknya untuk menjalin hubungan yang khusus dengan nona muda itu.

Yang dia rasakan hanyalah kebahagiaan saat dekat dengan si nona muda dan sakitnya hati saat melihat Wang Chen Jin berakrab-akrab dengan nona muda itu.

Kalaupun kata cinta terlintas dalam benaknya, dikuburnya kata-kata itu jauh ke dalam.

Tapi betapa sakit ketika berulang kali Wang Chen Jin mengatakan bahwa dirinya hanya sekedar tukang kebun.

Akhirnya diapun tidak tahan dan dengan tergesa-gesa dia meninggalkan pekerjaannya.

Wang Chen Jin yang melihat semua itu dari sudut matanya, tertawa terbahak-bahak.

Tawa yang seakan mengikuti Ding Tao ke mana pun dia pergi.

Bahkan ketika dia sudah jauh dari taman, di dalam biliknya yang sempit, tawa Wang Chen Jin masih mengikutinya.

Terbayang keakraban pemuda itu dengan Huang Ying Ying dan tangannya pun mengepal erat.

Kepalanya terasa berdentum-dentum dengan kencang.

"Apakah nona muda akan menikahi pemuda itu?", tanyanya dalam hati.

"Pemuda itu berwajah tampan, memiliki nama dalam dunia persilatan, lagipula dia pandai dalam ilmu surat dan ilmu pedang. Sungguh pasangan yang serasi dengan nona muda."

"Mengapa aku berpikiran sempit, jika memang cinta bukankah seharusnya aku bahagia untuk nona muda?"

"Apakah harapanku, nona muda dengan aku berbeda jauh. Seorang tukan kebun membawakan sepasang kasutnya pun aku tidak pantas."

"Wang Chen Jin menjanjikan sepasang tusuk konde berhiaskan mutiara, apa yang bisa aku janjikan untuk nona muda?"

Demikianlah ribuan pertanyaan dan jawaban, berlarian dalam benaknya.

Antara hati dan pikiran tidak dapat diperdamaikan.

Seribu alasan dia ajukan kepada dirinya sendiri, namun kegalauan hatinya tidak juga mereda.

Terkadang harapannya melambung tinggi.

"Aku memang hanya tukang kebun, tapi pak pelatih Gu mengakui bakatku."

Kemudian terhempas tatkala dia mengingat asal usulnya.

"Tidak berbapak tidak beribu, lagipula aku bukannya berbakat, jika tidak tentu tidak butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk mempelajari jurus dasar."

"Bagaimana kalau seperti yang dikatakan pemuda itu, hingga tua pun aku tidak akan pernah tamat belajar."

Tanpa terasa air matanya meleleh, dengan tangan terkepal ditinjunya lantai yang dari tanah. Tenaganya begitu kuat, gumpalan tanah terbang bercerai berai.

"Bodoh! Lelaki sejati pantang menitikkan air mata!"

"Ding Tao... betapa bodohnya dirimu! Apa akan menangis hanya karena urusan perempuan."

Dengan menggertakkan gigi, pemuda sederhana itupun mengambil posisi meditasi.

Perlahan-lahan diaturnya napas, pikirannya yang berlari liar, perlahan-lahan mulai mengendap.

Sakit hatinya pun terasa menumpul.

Menunggu hatinya semakin tenang, mulailah dia mengatur jalan nafas dan aliran energi yang dia rasakan dalam tubuhnya.

Pada dasarnya Ding Tao adalah seorang yang peka, hatinya mudah tergerak, tapi untunglah hal itu diimbangi pula dengan kemauannya yang keras.

Hanya dengan kemauannya yang keras itulah, dia dapat mengatur gerak liar pikirannya, dengan konsentrasi yang kuat diapun mulai mengatur jalan hawa murni dalam tubuhnya.

Ilmu keluarga Huang berasal dari Shaolin, dalam hal tenaga dalam, yang diutamakan adalah ketekunan dalam memupuk hawa murni.

Tidak ada teori dan metode yang memberikan hasil besar dalam waktu singkat.

Sungguh sesuai dengan watak Ding Tao yang sederhana dan berkemauan kuat.

Tidak lama kemudian pemuda itupun larut dalam latihan menghimpun hawa murni.

Lewat satu hio, pemuda itupun membuka matanya perlahan-lahan.

Hatinya sudah terasa tenang, sungguhpun masih tergerak jika teringat akan kedekatan Wang Chen Jin dan Huang Ying Ying, tapi dengan kemauan yang kuat dia berhasil mengendalikan pikirannya.

Sadar dia belum menyelesaikan pekerjaannya, Ding Tao pun pergi kembali ke taman setelah merapikan lubang di lantai tanah yang tadi dibuatnya.

Meskipun hatinya sudah tenang tidak urung dia merasa lega ketika melihat mereka bertiga sudah tidak ada lagi di dalam taman.

Wang Chen Jin yang sudah merasa berhasil menyakiti hati Ding Tao, merasa tidak perlu lagi berlama-lama berada di sana.

----------------o ----------------Akhirnya tiba hari untuk Wang Dou dan puteranya meninggalkan Wuling untuk kembali ke rumah mereka.

Ding Tao yang menyadari keadaan hatinya dengan sengaja selalu menghindar dari Wang Chen Jin bertiga.

Tapi hari itu, Tuan besar Huang Jin meminta murid-murid utama keluarga Huang untuk ikut mengantar kepergian mereka.

Sementara beberapa orang kepercayaan Wang Dou telah datang untuk menjemput ketua dan puteranya, sehingga dua kelompok itu pun bertemu untuk saling memperkenalkan diri secara singkat.

Ding Tao yang lulus sebagai peserta terbaik, telah diangkat menjadi salah satu murid utama di bawah asuhan salah seorang tetua keluarga Huang.

Dengan sendirinya diapun ikut mengantarkan Wang Dou dan puteranya.

Seandainya saja pada hari itu tidak terjadi pertemuan antara Wang Chen Jin dan Ding Tao mungkin kisah ini memang cukup ditutup pada kisah sebelumnya.

Wang Chen Jin yang sudah merasa berhasil menyakiti hati Ding Tao dan membalas kekalahannya tempo hari, menampilkan kesan sebagai seorang yang berjiwa besar.

Setelah selesai berpamitan pada Tuan besar Huang dan keluarganya, dengan tersenyum dan sopan dia menghampiri Ding Tao.

"Ah saudara Ding, waktu itu aku belum sempat meminta maaf atas perkataanku yang sembrono."

Sikapnya yang terbuka ini mengundang simpati bagi mereka yang melihatnya.

Tuan besar Huang Jin mengangguk2 sambil tersenyum, Wang Dou pun mengelus jenggotnya sambil mengangguk2 bangga.

Ding Tao yang tidak menyangka bakal disapa oleh Wang Chen Jin pun jadi tersipu dan dengan terbata-bata menjawab.

"Tidak perlu sungkan Tuan muda Wang, tidak perlu, justru aku yang harus meminta maaf telah melukai pergelangan tanganmu."

Sebenarnya ungkapan Ding Tao ini keluar tulus dari dalam hati, semenjak peristiwa di taman itu, dengan kemauan yang kuat dia mengubur dalam-dalam perasaannya pada Huang Ying Ying.

Dengan kemauan yang kuat pula dia membuang jauh-jauh perasaan tidak sukanya pada Wang Chen Jin.

Tapi tidak demikian yang diterima oleh Wang Chen Jin, jantungnya berdenyut kencang saat mendengarnya, serasa bergemuruh diterjang badai.

Jawaban yang diberikan secara tulus, bagi telinga Wang Chen Jin terdengar sebagai satu sindiran yang sengaja mengingatkan dia pada kekalahannya tempo hari.

Dengan senyumnya yang manis dan tawanya yang wajar, pemuda yang cerdik itu pun membalas dengan perkataan yang berbisa.

"Haha, jangan begitu saudara Ding, justru aku harus berterima kasih untuk luka yang kau berikan itu. Gara-gara luka itu, tampaknya nona muda Huang jadi bersimpati padaku."

Sambil tertawa dia mengerling menggoda pada Huang Ying Ying, karuan saja nona muda Huang itu menjadi tersipu malu.

Sebenarnya perkataan itu bisa dianggap sebagai kekurang ajaran, namun justru di sini letak kehebatan Wang Chen Jin, godaan itu dilontarkannya dengan pembawaan yang sopan dan tawa yang wajar.

Sehingga yang mendengar pun tidak menangkap kekurang ajaran dari perkataannya, yang terlihat hanyalah seorang pemuda yang bersenda gurau, berusaha meringankan beban perasaan bersalah dari teman dekatnya.

Bukan marah yang timbul, justru yang mendengarnya pun jadi ikut tertawa, saudara tua nona muda Huang yang berdiri di dekat gadis itupun meyodok pinggang sang adik sambil tertawa, keruan nona muda Huang semakin tersipu malu dan akhirnya lari ke dalam rumah, diikuti tawa semua orang yang meledak melihat tingkah si nona muda.

Tidak ada seorangpun yang menyadari bahwa perkataan itu dilontarkan untuk menyakiti hati Ding Tao yang menyimpan perasaan suka pada nona muda Huang.

Tidak ada seorangpun yang melihat bagaimana tajam mata Wang Chen Jin mengawasi raut muka Ding Tao.

Mulutnya ikut tertawa namun sorot matanya dingin mengerikan, meskipun hal itu hanya untuk sesaat lamanya.

Ya, Wang Chen Jin semakin murka.

Seharusnya Ding Tao menjadi marah, seharusnya Ding Tao menjadi sakit hati.

Sedikitpun gerak tubuh dan raut wajah pemuda itu tidak lepas dari penilaian Wang Chen Jin, tapi sekeras apapun dia berusaha menemukan tanda-tanda itu, tidak terlihat apa yang diharapkannya.

Ding Tao sudah berhasil mengendalikan pikirannya dan merelakan gadis pujaannya untuk bersanding dengan orang yang menurutnya lebih pantas.

Apalagi ketika Wang Chen Jin meminta maaf padanya barusan, serta merta pikiran buruk yang masih tersisa atas pemuda itu pun hilang dari dalam hati Ding Tao.

Meskipun untuk sesaat, jauh di dalam lubuk hatinya ada rasa menyesakkan yang timbul, dengan cepat perasaan itu ditekannya.

Hanya karena memang dia belum terbiasa dengan kedudukannya sebagai salah satu murid utama, dia tidak ikut tertawa lepas seperti yang lain.

Pemuda itu hanya menyengir dan dengan perlahan menggelengkan kepala saja.

Demikian sifat Ding Tao yang lurus justru membuat bara api di dada Wang Chen Jin yang licin menjadi membara.

Inilah kekalahannya yang kedua.

Yang pertama belum berhasil dia balaskan, justru untuk kedua kalinya dia dikalahkan oleh si pemuda dungu.

Tidak ada jalan lain penghinaan ini harus dibalas.

Tetapi semakin dia merancangkan yang kejam, semakin manis pula raut wajahnya.

Otaknya berputar kencang, melihat perhatian orang-orang masih tertuju pada nona muda Huang yang berlari karena malu, Wang Chen Jin berbisik cepat pada Ding Tao.

"Saudara Ding, malam ini temui aku di luar gerbang utara kota Wuling, masalah penting tentang nona muda Huang."

Kemudian cepat-cepat dia kembali berdiri di samping ayahnya, tidak ada seorangpun yang memperhatikan raut wajah Ding Tao yang terlengong-lengong.

Perhatian mereka berpindah dari nona muda Huang yang berlari malu pada pasangan ayah dan anak Wang yang sekali lagi berpamitan.

Setelah pertemuan itupun kedua kelompok berpisah, yang satu ke arah utara dalam perjalanan kembali ke sisi utara sungai.

Yang satu kembali ke dalam kota.

Ding Tao, dari urutan masih merupakan salah satu yang termuda dalam kelompok keluarga Huang, lagipula latar belakangnya hanyalah seorang pelayan dan untuk hal itu masih belum mendapatkan promosi, siapa yang memperhatikannya?

Perkataan Wang Chen Jin, terngiang-ngiang di benaknya.

"Malam ini, di luar gerbang utara."

"Masalah penting, nona muda Huang."

Ding Tao bukan jagoan yang sudah berpengalaman malang melintang di dunia persilatan, keluar masuk gerbang kota pada waktu malam bukan urusan kecil.

Tapi jika masalah itu menyangkut nona muda Huang, jangankan melawan satu regu penjaga gerbang.

Hujan golok dan pedang pun akan dilaluinya.

Tapi Ding Tao bukan seorang yang berpikiran pendek, jika demikian tentu Gu Tong Dang tidak akan tertarik padanya.

Sungguh kombinasi yang menarik ada dalam diri pemuda ini.

Biasanya mereka yang bisa berpikir rumit, hatinya pun serumit pikirannya, cenderung bermain taktis, licin dan berkelok-kelok.

Ding Tao memiliki pemikiran yang panjang dan dalam segala pekerjaan selalu banyak pertimbangan baik dengan rasa maupun logika.

Namun hatinya justru lurus dan sederhana.

Tidak lewat dalam pikirannya bahwa Wang Chen Jin bermaksud buruk atau hendak menipu dirinya.

"Masalah penting dengan nona muda Huang"

Dalam benaknya kalau bukan Wang Chen Jin yang ingin untuk menjalin hubungan lebih mendalam dengan nona muda Huang lewat dirinya.

Mungkin Wang Chen Jin mengetahui satu perkara yang bisa mengancam jiwa nona muda itu dan sekarang dia ingin melindunginya lewat Ding Tao.

Setelah menimbang-nimbang beberapa lama, akhirnya Ding Tao memutuskan untuk pergi diam-diam keluar kota sebelum gerbang ditutup.

Dia bisa kembali keesokan harinya saat gerbang sudah dibuka kembali.

Tentu saja itu berarti dia harus menghabiskan waktu semalaman di luar, tapi saat ini musim panas, tidak perlu dia mengkhawatirkan dinginnya malam.

Berhasil mengambil keputusan pemuda itupun segera menyingkirkan segala keraguan dari benaknya.

Tidak lagi dia memikirkan masalah itu atau mencoba mereka-reka permasalahan yang sesungguhnya.

Di saat yang sama Wang Chen Jin sedang sibuk memikirkan cara untuk membalaskan sakit hatinya pada Ding Tao.

Sejak kekalahannya Wang Chen Jin sudah berulang kali memainkan ulang pertandingan itu dalam otaknya.

Otaknya tidak kalah encer dengan Ding Tao, diapun bukan orang yang buta atas kekurangan sendiri.

Berulang kali dia menganalisa pertandingan itu, hingga pada akhirnya dia pun yakin bahwa seharusnya dia dapat memenangkannya, seandainya saja dia tidak memandang remeh lawan dan tidak kehilangan kesabaran.

Pada awalnya hal ini membuat sakit hatinya jauh berkurang dan baginya adalah cukup dengan menyakiti hati pemuda itu lewat permainan lidahnya, tapi hari ini, semua sakit hati itu terungkit kembali.

Segala umpatan dan makian yang dilontarkan ayahnya, terkenang kembali.

Wang Chen Jin bukan orang yang suka berlama-lama dalam mengambil keputusan, sekali dia memutuskan maka pikirannya akan ditujukan dengan bagaimana dia berhasil menyelesaikan hal itu.

Hari itu dia sudah memutuskan untuk melenyapkan nyawa Ding Tao.

Tinggal bagaimana dia melakukannya, langkah pertama sudah dia ambil, dia mempunyai keyakinan bahwa Ding Tao akan ada di luar gerbang utara kota malam ini.

Sekarang tinggal langkah selanjutnya, dari percakapan dengan beberapa orang dalam rombongannya kali ini, Wang Chen Jin tahu bahwa mereka akan berhenti di salah satu penginapan yang dibuka di sepanjang jalan dari Wuling ke utara dan berangkat kembali keesokan harinya.

Malam ini, dia bisa dengan diam-diam mengambil salah satu kuda yang terbaik dan sampai ke gerbang utara kota Wuling sebelum tengah malam.

Masalah terakhir yang harus dipecahkan adalah, bagaimana dia membunuh Ding Tao.

Sekali ini tidak boleh ada kesalahan, karena semua topeng akan disingkapkan, jika Ding Tao berhasil lolos dari pedangnya, maka hubungan yang baru saja dijalin antara ayahnya dan Tuan besar Huang Jin bisa berantakan.

Kalaupun hubungan itu masih bisa dipertahankan, karena perhitungan untung dan rugi, adalah hubungannya dengan nona muda Huang yang sudah bisa dipastikan berakhir.

Karena itu Ding Tao harus mati, bukan hanya mati, tapi juga tidak boleh ada orang yang bisa menghubungkan kematian Ding Tao dengan dirinya.

Kematiannya juga harus berlangsung dengan cepat, karena butuh waktu untuk kembali dari Wuling ke penginapan itu, dan dia harus kembali sebelum fajar tiba.

Dari pemikiran ini, maka Wang Chen Jin sampai pada satu kesimpulan, untuk membunuh Ding Tao, dia harus meminjam pedang pusaka milik ayahnya.

Pedang pusaka ini tidak bernama, keberadaannya pun sangat dirahasiakan, kecuali ayahnya dan 2 orang kepercayaan dalam kelompok mereka, tidak ada seorangpun yang tahu mengenai keberadaan pedang pusaka ini.

Pedang pusaka ini sesungguhnya tidak tepat dinamakan pedang, panjang mata pedangnya tidak lebih dari 5 cun, tapi tajamnya luar biasa.

Seluruh bagiannya merupakan kesatuan, dari gagang hingga mata pedang, hampir tidak ada penahan yang memisahkan mata pedang dengan gagang pedang.

Jika tidak waspada dan tidak kuat menggenggam, bukan tidak mungkin jari pemakainya bisa terpotong sendiri oleh tajamnya pedang.

Pembuatnya secara tidak sengaja telah menambahkan unsur kimia dari logam lain ketika mengolah biji besi yang digunakannya.

Hal ini terjadi tanpa sengaja dan tidak disadari, hingga ketika pembuatnya mendapati pedang buatannya, jauh lebih kuat, lebih lentur dan bisa dibuat sedemikian tajamnya tanpa menjadi retas, tidak dapat pula dia untuk membuat pedang yang berkualitas sama untuk kedua kalinya.

Ditambah keahlian dari pembuat pedang, maka tidak salah jika pedang ini menjadi pedang pusaka.

Sudah tentu dulunya pedang ini memiliki nama, sebagai pedang pusaka yang tidak ada duanya.

Tapi dalam genggaman Wang Dou pedang ini berubah menjadi pedang tak bernama.

Begitu berharganya pedang ini sehingga kemanapun Wang Dou pergi, pedang ini tentu dibawanya.

Tapi tidak sekalipun pedang ini digunakannya.

Dibuatnya selongsong kayu dan disimpannya pedang itu di tengahnya.

Jika orang memandang maka yang terlihat adalah sebuah tongkat.

Dan tongkat itulah yang dipakai Wang Dou sebagai senjata, tapi tidak sekalipun dia menarik pedang yang tersembunyi dalam tongkat.

Ambisinya besar, sebelum dia yakin akan menguasai seluruh dunia persilatan, tidak akan ditariknya pedang itu.

Pun jika nyawanya sudah berada di ujung tombak.

Wang Chen Jin adalah putera satu-satunya, kepada puteranya itu tidak mau tidak, rahasia itu diberitahukan.

Harapannya kelak, jika sampai dia gagal meraih cita-citanya, maka puteranyalah yang akan meneruskan.

Pedang inilah yang menjadi kekuatan utama Wang Chen Jin untuk melenyapkan Ding Tao.

Tidak jarang seorang ahli bisa mengurai pembunuh seseorang lewat luka yang ditinggalkan.

Tapi tidak seorangpun dalam dunia persilatan yang tahu akan pedang pusaka milik ayahnya, dengan demikian jejak luka yang tertinggal di tubuh Ding Tao tidak akan merembet pada dirinya atau ayahnya.

Dari segi ilmu dia yakin dapat mengalahkan Ding Tao, ditambah dengan pedang pusaka maka kesempatannya pun meningkat berkali-kali lipat.

Selama perjalanan hal ini berulang kali dipikirkannya, dan semakin dia memikirkan rencana itu, semakin dia yakin bahwa rencananya akan berhasil.

------------------o ------------------Malam sudah tiba, hari cerah tak berawan, bulan masih berbentuk sabit dan di langit tampak bertaburan bintang.

Di salah satu sudut di dekat gerbang utara kota Wuling, Ding Tao meringkuk diam, menunggu.

Sudah sejak sore tadi dia menunggu, diam, jauh dari kerumunan, di sebuah gerobak yang sudah sejak siang ditinggalkan pemiliknya, karena isi dagangannya telah habis.

Besok dia akan mengisinya dengan dagangan yang baru, tapi sekarang gerobak itu ditinggalkannya begitu saja.

Sebilah pedang, pedang yang menjadi kebanggaannya, pertanda akan hasil ketekunannya dipeluknya erat-erat.

Malam ini pedang itulah satu-satunya teman dalam penantian.

Dari sore hingga jauh tengah malam, jika bukan Ding Tao mungkin sudah lama pergi meninggalkan tempat itu, setidaknya berpindah ke tempat lain.

Tapi tidak demikian dengan Ding Tao, ditunggunya dengan sabar, jika perlu hingga fajar datang.

Sambil menunggu direnungkannya jurus-jurus baru yang dia pelajari beberapa hari ini.

Betapa dia merasa gembira karena jurus-jurus yang baru ini banyak mengungkap kemungkinan-kemungkinan dalam memainkan pedang dan tangannya.

Pertanyaan yang dulu belum terjawab saat melatih jurus-jurus dasar, dia temukan jawabannya di jurus-jurus yang baru ini.

Sejak pertarungannya dengan Wang Chen Jin, pemahaman Ding Tao akan seni bela diri mendapatkan satu terobosan.

Hampir seperti mendapatkan pencerahan, seorang siswa yang belajar dengan tekun suatu ilmu tentu pernah merasakan terobosan semacam ini.

Ketika tiba-tiba yang awalnya hanya berupa hapalan, berupa laku yang ditekuni, tiba-tiba didapatkan pemahaman.

Dan yang tadinya terasa antara ada dan tiada, dimengerti tapi tak dapat dipahami, melihat namun hanya bayang-bayang saja.

Tiba-tiba dalam satu titik tertentu terungkap dan bisa dimengerti dengan terang.

Dalam waktu yang kurang dari seminggu, Ding Tao hari ini berbeda dengan Ding Tao yang berusaha lulus dalam ujian kenaikan tingkat.

Hal ini bukanlah karena obat ajaib atau ilmu ajaib, ini adalah hasil ketekunan.

Pencerahan datangnya memang sulit diduga dan bergantung pada bakat serta keberuntungan.

Pada beberapa orang setelah bertekun berpuluh-puluh tahun barulah mendapatkan kemajuan, pada beberapa yang lain pencerahan itu datang seperti tiba-tiba.

Kedalaman pemahaman seseorang pun bervariasi tergantung dari bakat dan pengetahuan yang sudah dipupuk sebelumnya.

Tapi yang pasti pencerahan itu sendiri adalah akumulasi perenungan, laku dan usaha yang tidak kenal lelah, meskipun pelakunya sendiri terkadang tidak menyadarinya.

Dalam keadaan seperti itu, menghabiskan waktu berlama-lama dengan berduduk diam di satu tempat tidak menjadi masalah bagi Ding Tao.

Berjam-jam berlalu Ding Tao hanyut dalam renungannya.

Seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, hal-hal lain jadi terlupakan.

Malam begitu sepi, derap kuda yang melambat terdengar jelas.

Ding Tao menajamkan matanya, mencoba menembus kegelapan malam, di kejauhan dilihatnya sesosok bayangan.

Siapa lagi jika bukan Wang Chen Jin, tidak ada orang lain yang berkeliaran selarut itu, Ding Tao berdiri meninggalkan bayang-bayang yang menyembunyikan dirinya, tidak lupa pedang sudah siap di tangan, karena bila bayangan itu bukan Wang Chen Jin yang ditunggunya, besar kemungkinan tentu bukan orang baik-baik.

Dengan jantung berdebar-debar dia berjalan menghampiri penunggang kuda itu.

Tanpa terasa keringat membasahi tangannya.

Penunggang kuda itu melihat Ding Tao dan turun dari kudanya, dengan dituntun dibawanya kuda itu mendekat ke arah Ding Tao, ketika jarak di antara mereka sudah tak begitu jauh, terdengar penunggan kuda itu berbisik menyapa.

"Saudara Ding Tao, engkaukah itu?"

Mendengar suara itu, hati Ding Tao pun lega. Sambil mempercepat langkah kakinya dia menjawab.

"Benar tuan muda, ini saya, Ding Tao."

Tidak terlihat dari tempat Ding Tao, Wang Chen Jin tersenyum kejam, perlahan tanngannya meraba ke arah hulu pedang yang disimpan di samping pelana.

"Apakah kau datang sendirian?"

"Ya tuan muda, kupikir sebaiknya demikian, lagipula tuan muda menyampaikannya dengan berahasia. Jadi kuputuskan untuk datang sendirian."

"Bagus sekali, memang cermat pemikiranmu Saudara Ding."

Sambil saling bercakap, tak terasa mereka sudah bertatapan muka, tak sedikitpun tampak ada niat jahat di raut wajah Wang Chen Jin.

"Tuan muda, sebenarnya ada masalah apa dengan nona muda Huang?"

Alis Wang Chen Jin berkerut, senyum persahabatan yang tadi terlihat di wajahnya, berubah menjadi seraut wajah yang penuh kekhawatiran.

Perubahan ini membuat Ding Tao jadi berdebar-debar, ada masalah apa dengan gadis pujaannya.

"Hmmm... sebaiknya kita mencari tempat yang lebih baik untuk membicarakannya."

Wang Chen Jin menebarkan pandangan ke sekitar tempat itu, mencari tempat yang cukup tersembunyi sehingga dia bisa menyembunyikan mayat Ding Tao dengan cepat.

Setidaknya memberi lebih banyak waktu baginya sebelum kematian Ding Tao diketahui orang.

Ding Tao dalam hati merasa sedikit heran, apa yang dimaksud Wang Chen Jin sebagai tempat yang lebih baik.

Malam begitu sepi, sehingga rasanya di mana pun sama sepinya, atau mungkin Wang Chen Jin ingin berbicara sambil duduk-duduk dengan sedikit nyaman?

Tentu itu maksudnya, pikirnya dalam hati.

Sementara itu mata Wang Chen Jin tertumbuk pada sebuah sumur yang berada di dekat tempat itu, dalam hati dia bersorak, tapi di luar wajahnya tidak berubah.

"Mari kita pergi ke sana."

"Baiklah"

Berdua mereka berjalan ke arah sumur itu dalam diam.

Ding Tao yang tidak tahu apa yang akan dikatakan dan Wang Chen Jin yang dengan tegang menanti-nanti saat yang tepat untuk menghabisinya.

Semakin dekat dengan sumur itu, jantung Wang Chen Jin berdebar semakin kencang.

Ding Tao yang seharusnya tidak bisa menjenguk ke dalam hati Wang Chen Jin, tiba-tiba merasakan jantungnya berdebaran.

Seperti mendapatkan peringatan, Ding Tao bisa merasakan adanya bahaya yang mengancam dirinya.

Hal ini sulit dijelaskan, apakah memang ada pertolongan dari dewa-dewa yang melindungi orang yang baik.

Ataukah ini alam bawah sadar Ding Tao yang bekerja, menerjemahkan masukan-masukan, keanehan-keanehan dari Wang Chen Jin, dan sebelum alam sadar Ding Tao mengambil kesimpulan, intuisinya telah terlebih dahulu mencapai kesimpulan.

Jika hendak diperdebatkan antara mereka yang mempercayai keberadaan dewa-dewa dan mereka yang tidak mempercayainya, tentu tidak akan pernah ditemukan titik temu.

Tapi yang pasti intuisi Ding Tao itu telah menyelamatkan nyawanya.

Saat pedang dicabut, suara mata pedang yang bergesekan dengan sarungnya, terdengar bagaikan sambaran guruh di telinga Ding Tao yang sudah tegang sejak tadi.

Naluri Ding Tao membuatnya melompat cepat, membuang tubuhnya menjauh dari sumber suara itu.

Seandainya saja Ding Tao terlambat sesaat saja mungkin saat itu tubuhnya sudah terbelah menjadi dua.

Namun berkat kesigapannya, sambaran pedang itu tidak sampai menghabisinya, meskipun demikian segaris luka memanjang telah menghiasi dada Ding Tao.

Bajunyapun dalam waktu singkat menjadi kotor penuh debu akibat bergulingan di atas tanah, tapi tak ada waktu untuk memikirkan semua hal kecil itu.

Di hadapannya telah berdiri seorang musuh yang akan menghabisinya bila dia lalai sekejap mata saja.

Wang Chen Jin yang tidak menyangka bahwa serangannya yang tiba-tiba itu bakal meleset, terlambat beberapa detik untuk meneruskan serangannya.

Beberapa detik yang singkat itu sudah cukup untuk Ding Tao melompat berdiri dan mencabut pedang.

Sejenak keduanya berhadapan, bagaikan pengulangan dari pertarungan beberapa hari sebelumnya, untuk kedua kalinya dua orang pemuda dengan sifat yang jauh bertolak belakang berhadapan untuk mengadu tajamnya pedang dan kerasnya kepalan.

Wang Chen Jin yang lebih berhati-hati kali ini tak hendak buru-buru menyerang seperti pada pertarungan sebelumnya.

Ding Tao yang memang pada dasarnya tidak menyukai konflik dan banyak berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu.

Keduanya berdiri diam dengan pedang di tangan.

Ding Tao bersiap dalam posisi pembukaan jurus pertama dari 3 jurus dasar pedang keluarga Huang.

Tangan kanan yang menggenggam pedang menjulur ke depan dengan ujung condong menghadap ke tanah, tangan kiri menyilang di depan dada.

Kaki kanan di depan, sementara kaki kiri di belakang, menunjang badan yang berdiri tegak berimbang.

Wang Chen Jin, berdiri tegak, kedua kaki yang agak merenggang, sedikit menekuk dan bertumpu pada ujung bagian depan telapak kaki.

Tangan kanan menggenggam pedang, bersilang di depan dada dan tangan kiri bersiap di pinggang.

Kali ini Wang Chen Jin tidak ingin gagal untuk kesekian kalinya, kegesitan Ding Tao, menghindar dari serangannya yang tiba-tiba membuat dia jauh lebih berhati-hati.

Tidak lagi dia menilai rendah pemuda itu seperti pada pertarungan yang sebelumnya.

Apalagi sekarang dia berkepentingan untuk menghabisi pemuda itu secepatnya, dalam benaknya berkelebatan jurus serangan dan bagaimana Ding Tao nanti akan berusaha mengatasinya.

Tiba-tiba disadarinya betapa kokoh pertahanan dari pemuda di hadapannya.

Berdebaran jantung Wang Chen Jin ketika menyadari hal tersebut, dari pengalaman ini terbukalah pikirannya, bahwa jurus-jurus dasar pun memiliki kedalamannya sendiri.

Mungkin ada puluhan orang yang mengambil pembukaan seperti Ding Tao, tapi apakah mereka mampu menjadikannya benteng yang kokoh seperti yang dilihatnya sekarang ini?

Posisi siku, pergelangan tangan dan pedang, siap menghadang setiap serangan dari depan.

Gerakan menangkis serangan, berapa banyak kombinasinya, pada dasarnya tidak jauh berbeda, dan kedudukan tubuh atas Ding Tao secara keseluruhan memungkinkannya untuk menangkis setiap serangan dengan sebaik mungkin.

Jika Wang Chen Jin berusaha menghindari hadangan di depan dengan berpindah posisi ke sisi lain, kedudukan kaki Ding Tao pun memungkinkannya untuk berganti arah dengan cepat.

Bahkan hal itu bisa berbalik membahayakan Wang Chen Jin jika dia tidak berhati-hati, karena bisa juga terjadi Ding Tao akan bergerak cepat lurus ke depan dan memotong pergerakannya, seperti pada pertarungan yang lalu.

Dengan demikian Wang Chen Jin pun berlaku hati-hati.

Ding Tao yang terlihat bagai benteng yang kokoh di mata Wang Chen Jin, sesungguhnya tidak kalah berdebar-debar.

Diperhatikannya kuda-kuda Wang Chen Jin yang ringan, seperti anak panah siap lepas dari busurnya, tapi ke arah mana anak panah itu akan meluncur sungguh dia tidak bisa menduga.

Pedang menyilang dan kepalan tersembunyi di belakangnya.

Memandang pedang bergerak, melupakan kepalan bisa jadi berbahaya.

Tapi sebaliknya kepalan yang tersembunyi bisa menjadi pengalih perhatian sementara gerakan pedang yang menjadi pembuka serangan, justru sedang mengambil kedudukan untuk menyerang.

Dalam tegangnya Ding Tao berdiam menanti lawan mengambil inisiatif terlebih dahulu.

Yang ingin menyerang tak dapat untuk segera menyerang.

Yang sedang bertahan tak berani bergerak dan membuka peluang pada lawan untuk menyerang.

Seandainya Ding Tao memiliki lebih banyak pengalaman mungkin akan berbeda pula sikapnya.

Seandainya Wang Chen Jin mengetahui kebimbangan lawan di hadapannya, mungkin akan berbeda pula sikapnya.

Entah berapa lama sesungguhnya mereka berdiri diam, tapi jika ditanyakan pada mereka berdua, waktu yang seharusnya sama ternyata menjadi berbeda.

Bagi Wang Chen Jin waktu yang dia lalui serasa bagaikan beribu tahun lamanya, otaknya yang bergerak gesit memikirkan satu serangan ke serangan berikutnya tapi tidak juga dia menemukan jalan untuk menembus benteng pertahanan Ding Tao.

Seakan diam tapi dalam bayangannya sudah 30 jurus dia lancarkan dan setiap jurus dapat dimentahkan oleh Ding Tao.

Tentu saja itu hanya dalam bayangan, kenyataannya belum tentu Ding Tao dapat mementahkannya.

Tapi Ding Tao yang ada di dalam benaknya saat ini mampu mementahkan setiap serangannya itu.

Bagi Ding Tao waktu yang dia lalui terasa jauh lebih singkat, sejak berhadapan tidak sedetikpun dia berani melepaskan perhatiannya dari keadaan lawan.

Kebiasaan bermeditasi, melatih ketajaman rasa dan juga mengumpulkan hawa murni, tanpa sadar mengambil alih.

Pernapasannya menjadi dalam dan teratur, setiap panca inderanya menajam.

Waktu jadi tidak lagi berarti, Waktu bisa dikatakan sedang berhenti atau tidak ada sama sekali.

Perlahan-lahan sosok lawan yang menakutkan, yang dibumbui oleh ketegangannya sendiri, menjadi semakin mendekati kewajarannya.

Ketika pikirannya berjalan dengan tenang mulailah dia bisa menganalisa kedudukan dirinya dan Wang Chen Jin dengan wajar.

Kuda-kuda lawan mengandalkan kecepatan dan menitik beratkan pada serangan, tapi lawan tidak juga menyerang, dalam hal ini terjadi ketidak sesuaian, seharusnya yang dia lakukan adalah menggunakan kesempatan itu untuk balik menyerang lawan.

Berusaha memaksa lawan untuk berpindah ke kedudukan yang kurang menguntungkan, sekaligus melihat reaksi lawan, dalam usaha untuk lebih jauh mengenali tanggapan lawan atas serangan tertentu.

Atau bisa juga dia dengan sengaja menunjukkan kelemahan dalam pertahanannya, memancing lawan masuk ke arah yang dapat diperkirakannya, menyiapkan jebakan, memotong lawan pada saat yang tepat.

Tergelitik oleh berbagai kemungkinan, Ding Tao pada akhirnya justru menjadi larut dalam menjajagi berbagai kemungkinan yang akan timbul.

Untuk berapa saat lamanya, di dalam dirinya bagaikan muncul dua sosok Ding Tao, yang seorang mengawasi setiap gerak gerik dan desahan nafas lawan, yang seorang lagi sedang bermain dengan angan-angannya, seperti bermain catur dia menghitung-hitung apa yang bisa dia lakukan dan bagaimana lawan akan bereaksi.

Dalam waktu yang tidak jelas berapa lamanya tersebut, kedua pemuda itu telah bertanding puluhan jurus tanpa bergerak sedikitpun.

Perbedaannya adalah, jika Wang Chen Jin dikejar-kejar waktu, Ding Tao justru sudah melupakan berjalannya waktu.

Sekali lagi perbedaan sifat dari keduanya dan juga dasar di mana mereka berdiri dalam menghadapi pertarungan itu, turut mempengaruhi jalannya pertarungan di antara dua pemuda berbakat.

Ditilik dari segi bakat keduanya sama-sama memiliki otak yang encer dalam mendalami ilmunya masing-masing.

Dari segi pengalaman Wang Chen Jin berada di atas Ding Tao, namun masih diimbangi pula dengan ketajaman pengamatan dan kepekaan rasa Ding Tao yang melebihi orang rata-rata.

Tapi Wang Chen Jin sedang berusaha melenyapkan nyaway orang atas dasar iri hati, meskipun dia bisa membela dirinya sendiri dengan berbagai argumentasi, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia sadar bahwa dia sedang menempuh jalan yang dipandang hina oleh manusia.

Apalagi dia sudah "meminjam"

Pedang pusaka ayahnya secara diam-diam, dikejar oleh perasaan bersalah, waktu menjadi musuh kedua bagi dirinya.

Sebaliknya Ding Tao dalam hatinya memiliki keyakinan bahwa dia berdiri teguh atas landasan kebenaran.

Dia datang karena keinginannya untuk melindungi keluarga Huang yang sudah banyak menanamkan budi pada dirinya, terlebih khusus nona muda Huang.

Setitik pun tak terbersit mencari keuntungan pribadi, meskipun sekarang dia sadar bahwa semuanya itu tidak lebih dari perangkap yang dibuat oleh Wang Chen Jin secara licik.

Bahwasannya dia sekarang menggenggam pedang dan mungkin akan melukai bahkan membunuh lawan, hal itupun bukan dikarenakan keinginannya sendiri, melainkan dalam kewajibannya untuk melindungi kehidupan yang sudah dikaruniakan kedua orang tuanya pada dirinya.

Tapi ada satu faktor di luar kemampuan dan kemantapan masing-masing kedua pemuda itu yang ikut menentukan hasil pertarungan.

Sebilah pedang yang tajam.

Pada saat itu, di antara mereka berdua hanya Wang Chen Jin yang menyadari kelebihan itu.

Dalam hati dia merasa sudah melakukan tindakan yang tepat dengan "meminjam"

Pedang pusaka itu, nyata bahwa perhitungannya akan kemampuan Ding Tao tidaklah tepat seperti perkiraannya.

Jika saja yang dibawanya hanyalah pedang biasa, benteng pertahanan Ding Tao adalah benteng yang tidak tertembus oleh kemampuannya sendiri.

Mengandalkan kelebihan dari pedang pusakanya itu akhirnya Wang Chen Jin sampai pada satu keputusan.

Keheningan malam itu pun tiba-tiba pecah, dalam remangnya malam yang hanya diterangi cahaya bintang dan bulan sabit, pedang pusaka berkilauan menyambar-nyambar.

Untuk sesaat tidaklah mudah mengikuti bayangan kedua pemuda itu, setelah beberapa saat lamanya melihat mereka diam mematung lalu dengan tiba-tiba mereka bergerak lincah bagai capung-capung yang bermain di padang rumput.

Suara pedang beradu pedang, suara besi mengiris besi memenuhi malam, sambung menyambung oleh cepatnya serangan dan tangkisan.

Pada beberapa benturan awal, Ding Tao sudah merasakan satu keganjilan, perasaannya yang peka menyadari ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak sesuai dengan perhitungan dalam benaknya.

Dengan berjalannya waktu, diapun sadar, pedang lawan bukan hanya membentur pedang miliknya, tapi pedang lawan sudah meninggalkan luka-luka di sepanjang bilah pedang miliknya.

Hatinya mencelos, seperti jatuh ke dalam jurang yang dalam.

Betapa ulet dan kerasnya pedang hadiah dari Tuan besar Huang Jin tidak disangsikan lagi oleh Ding Tao, bahwa pedang baja pilihan itu bisa mengalami kerusakan sedemikian parah membuktikan bahwa pedang yang digunakan Wang Chen Jin tentu adalah satu pedang pusaka.

Baru belasan jurus, pedangnya sudah hampir rusak di setiap tempat, jika dia meneruskan hal cepat atau lambat tentu pedangnya akan kutung tak berguna.

Mengingat hal itu maka Ding Tao pun jadi jauh lebih berhati-hati dalam menangkis serangan lawan, dijaganya agar tiap kali pedangnya membentur pedang lawan, dia tidak membentur bagian mata pedang yang tajam.

Dengan cepat kedudukan Ding Tao pun berubah jadi terdesak.

Wang Chen Jin tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, serangannya semakin gencar menekan Ding Tao.

Belajar dari pengalaman sebelumya Wang Chen Jin tidak menyerang dengan sembarangan, meskipun dia sudah yakin bahwa malam itu kemenangan akan ada pada pihaknya, setiap serangan tentu diperhitungkannya baik-baik, tidak pernah lupa dia untuk menjaga pertahanannya sendiri.

Ding Tao yang berusaha mencari celah kelemahan dalam permainan pedang Wang Chen Jin pun kesulitan untuk menemukannya.

Tanpa terasa Ding Tao semakin terdesak mendekati lubang sumur yang menganga.

Peluh sudah bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, bercampur dengan darah yang terus mengucur dari luka di dadanya.

Nafasnya semakin tidak teratur, demikian pula dengan tenaganya semakin terkuras.

Bukan saja oleh pengerahan tenaga, tapi juga dari kehilangan darah yang mengucur deras akibat pengerahan tenaga dan gerakan-gerakan yang dilakukan.

Untuk sesaat Ding Tao kehilangan harapan, tapi dia mengeraskan hati dan berusaha menujukan pikirannya sepenuhnya pada pertarungan, berusaha untuk mencapai yang terbaik tanpa memikirkan hasil akhirnya.

Laki-laki boleh mati, tapi jangan pernah melupakan budi, terngiang2 pesan akhir dari ayahnya sebelum menghembuskan nafas yang terakhir.

Ketika dia merasakan kakinya telah membentur pinggiran dari sumur itu, Ding Tao pun menggertakkan giginya, mengerahkan upaya yang terbaik yang bisa dia pikirkan.

Secara tidak sengaja, hawa murninya terbangkit dan menerobos melewati jalur energi di sepanjang tubuhnya dan mengalir, tersalur ke dalam pedangnya.

Wang Chen Jin yang tahu bahwa dia sudah sampai pada serangan terakhir tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, disambutnya tabasan pedang Ding Tao dengan pedang pusakanya, sementara kaki kirinya bergerak pula untuk menendang dada Ding Tao.

Ding Tao yang sudah pasrah menerima kematian, hanya dapat berpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan perjuangan sampai akhir.

Tidak melihat kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, Ding Tao tidak berusaha menghindar dari pedang maupun tendangan Wang Chen Jin.

Ketika melihat tendangan Wang Chen Jin ke arahnya, diapun berusaha menendang Wang Chen Jin.

Sekalipun perlu berpuluh kata untuk menggambarkan serangan terakhir ini, sesungguhnya semuanya itu terjadi dalam hitungan detik bahkan sepersekian detik.

Dan terjadilah serentetan kejadian yang mengejutkan keduanya.

Pedang pusaka Wang Chen Jin, berhasil mengiris pedang Ding Tao sampai setengah dari lebar bilah pedang Ding Tao, tapi pedang Ding Tao yang sudah tersaluri tenaga dalam, mampu bertahan untuk tidak putus tertabas pedang Wang Chen Jin.

Bahkan akibat dari benturan itu pedang Wang Chen Jin terjepit oleh bilah pedang Ding Tao yang tertabas setengah.

Pada posisi itu, tendangan Wang Chen Jin telah masuk pula ke dada Ding Tao.

Pada saat yang sama, Ding Tao yang berusaha menendang ke arah perut Wang Chen Jin, justru tendangannya mengenai pergelangan Wang Chen Jin yang menggenggam pedang.

Ding Tao pun terjungkal keras, terguling melewati bibir sumur dan jatuh ke dalamnya, darah segar menyembur dari mulutnya.

Oleh tendangan Ding Tao, pedang pusaka terlepas dari tangan Wang Chen Jin dan terbawa Ding Tao ikut pula jatuh ke dalam sumur, masih terjepit pada belah pedang di tangan Ding Tao.

Untuk beberapa saat lamanya Wang Chen Jin yang berhasil membinasakan musuh bebuyutannya itu berdiri termangu.

Terhenyak melihat pedang pusaka milik ayahnya lenyap dalam lubang sumur yang gelap.

Satu hitungan, dua hitungan, hingga 20 hitungan lebih baru terdengar suara Ding Tao yang tercebur ke dalam air.

Tercenung Wang Chen Jin, berdiri memandang ke dalam kegelapan yang ada di hadapannya.

Kemenangan diraihnya, tapi hatinya tidak sedikitpun merasakan kegembiraan.

Wajahnya pucat pasi, sesaat dia berpikir untuk menuruni sumur itu.

Tapi sumur begitu dalam dan dia juga sering mendengar bahayanya turun ke dalam sumur.

Apalagi di bawah sana ada Ding Tao yang baru saja dibunuhnya.

Meskipun biasanya pemuda itu menertawakan cerita-cerita setan atau arwah penasaran yang didengarnya dari pembantu ayahnya, tapi saat itu dia tidak bisa tertawa saat membayangkan arwah Ding Tao yang penasaran sedang menanti dia di bawah sana.

Selagi dia meragu, tiba-tiba terdengar suara ayam yang berkokok, tersadarlah Wang Chen Jin, waktu sudah mendekati fajar.

Tanpa terasa pertarungannya melawan Ding Tao menghabiskan waktu lebih panjang dari yang dia perkirakan.

Dengan menggertak gigi dia berlari ke arah kudanya, lalu mencemplaknya, berpacu dengan waktu, kembali ke tempat penginapan di mana rombongannya pergi menginap.

--o-Sepanjang perjalanan jantungnya berdebar-debar, kepalanya serasa akan pecah memikirkan pedang pusaka yang hilang.

Namun dia sedikit terhibur dengan kematian Ding Tao, bila tidak ada yang menemukan mayat Ding Tao maka untuk sementara pedang itu akan aman.

Mendekati penginapan yang dituju, hatinya menjadi semakin mengkerut tatkala melihat, ayah dan pamannya sedang berduduk di sebuah pohon besar dan rindang, di depan penginapan.

Tidak ada kesempatan bagi dirinya untuk menyembunyikan diri.

Lagipula setelah berpikir di sepanjang perjalanan, Wang Chen Jin memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada ayahnya.

Segarang-garangnya harimau tidak akan memakan anak sendiri.

Terlebih lagi dirinya adalah putra satu-satunya dari Wang Dou.

Dengan hati berdebar, Wang Chen Jin menghampiri ayahnya, meskipun sudah ada 1001 alasan yang terbentuk di benaknya, tapi semuanya menghilang saat akan dikatakan.

Terdiam dia menunduk, merasa takut, merasa malu, merasa bersalah.

Pandangan ayahnya tajam mengamati sang putera, diamnya sang ayah, membuat hati Wang Chen Jin semakin kecut.

"Hmmm... dari Wuling ?"

"Eh.. iya...", terbata Wang Chen Jin menjawab, kepalanya tertunduk, hanya bisa diam dan memandangi ujung sepatunya. Dilihatnya noda-noda darah yang sudah mengering di sana. Tentu bukan darahnya karena tidak ada luka-luka di sana. Untuk sesaat tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka.

"Di mana pedang pusakaku?"

Terkejut dengan pertanyaan ayahnya yang langsung menuju pada sasaran, tanpa terasa kedua lututnya lemas.

Pemuda itu pun dengan gemetar jatuh berlutut.

Mulutnya terkunci, pandang matanya memohon belas kasihan.

Berkerut-kerut wajah Wang Dou, tiba-tiba kepalan tangannya melayang dan menghajar kepala putera kesayangannya itu.

Wang Chen Jin pun terpelanting keras ke belakang.

Sebelum dia sempat bangun, bayangan Wang Dou sudah kembali berkelebat, siap melontarkan pukulan berikutnya.

Tapi cepat bayangan lain mengejar dan mendorong tubuh Wang Chen Jin berguling menjauh.

"ADIK WANG!! Ingat!! Ingat... dia puteramu satu-satunya", dengan sebelah tangan menahan tubuh Wang Dou, paman Wang Chen Jin, kakak dari ibunya, Fu Tsun berusaha melindungi keponakan yang disayanginya itu.

"ANAK BODOH !!! Cepat berlutut minta ampun pada ayahmu !!!", bentaknya pada Wang Chen Jin. Wang Chen Jin yang menyadari betapa murka ayahnya dan betapa besar kesalahannya, cepat-cepat berlutut dan menyembah-nyembah memohon ampun pada ayahnya. Mata Wang Dou masih melotot, tapi raut wajahnya perlahan-lahan berkurang kebengisannya. akhirnya dengan menggeram didorongnya Fu Tsun beberapa langkah mundur.

"Anak Bodoh!!! Keparat !!!"

Mendekat ke telinga Wang Chen Jin, Wang Dou berdesis.

"Diam-diam pergi dengan membawa pedang itu, kau tahu betapa penting artinya pedang itu bagi rencana kita!"

"Maafkan aku ayah... maksudku hanya untuk meminjamnya saja lalu akan segera kukembalikan."

"Kalau begitu di mana pedang itu sekarang?"

"Pedang itu... pedang itu..."

"Tentu engkau sudah menghilangkannya, benar kan?"

"Jadi... ayah sudah tahu?"

"Heh... jika kau membawanya tentu sudah kau tunjukkan pedang itu sekarang ini. Dari wajahmu yang lesu dan sikapmu yang ketakutan mudah saja ditebak."

Kemarahan yang tadi meledak sudah mereda, wajah yang bengis berubah menjadi seraut wajah tua yang lelah.

Hati Wang Chen Jin pun merasa tertusuk, alangkah lebih baik bagi dirinya jika ayahnya murka.

Melihat ayahnya sedih hatinya jauh lebih teriris.

Dengan terisak dia pun meminta maaf dengan terbata-bata.

Pamannya mendekat, melihat ayah dan anak sudah kembali akur hatinya merasa tenang.

"Sudah sudah ... hentikan tangismu, orang akan heran melihat tingkah kalian. Sekarang ceritakan bagaimana hingga kau kehilangan pedang itu."

Dengan terbata-bata Wang Chen Jin mengisahkan kejadian semalam, sejak dari pertemuannya dengan Ding Tao hingga jatuhnya pedang itu ke dalam sumur bersama-sama dengan mayat Ding Tao.

Sesudah dia selesai bercerita, maka pamannya menepuk-nepuk pundaknya dan berusaha menyabarkan Wang Dou.

"Tidak begitu sial, pedang ada di dalam sumur, secepatnya hari ini aku akan kembali ke Wuling, melihat apakah ada yang menemukan mayat di dalam sumur. Moga-moga sumur itu bukan sumur yang biasa dipakai umum. Sebisanya aku akan mencegah seseorang memakainya. Tapi jika aku gagal, aku pun akan mengawasi dengan ketat, ke manakah pedang itu dibawa."

"Malam nanti, adik Wang bisa menyusulku, bersama-sama, kita akan mengambil kembali pedang itu. Entah masih berada di sumur atau di bawah pengawasan petugas di kota Wuling."

Wang Dou mengeluh.

"Bisa juga keluarga Huang yang mendapatkannya. Ding Tao adalah orangnya, bukan tidak mungkin dia bisa mendekati petugas dan meminta agar barang-barang bukti yang ditemukan diserahkan kepadanya."

Paman Wang Chen Jin mengangguk.

"Itu adalah kemungkinan yang terburuk, tapi secepatnya aku akan pergi ke sana, sebisa mungkin akan kucoba agar tidak ada orang yang memakai sumur itu, kalaupun itu terjadi dan ada yang menemukan pedang itu, jika memungkinkan aku akan mengambil pedang itu."

Dengan pandang sedih Wang Dou memandangi puteranya.

"Bodoh... bodoh... sekali apa yang kau lakukan itu anak Jin. Kehilangan pedang, bolehlah kita anggap masalah rejeki. Tapi jika kau masih saja tidak bisa berpikir lebih tenang dan mudah menuruti keinginan hati bagaimana dengan kehidupanmu di masa depan nanti."

Suara ayahnya terdengar begitu sedih, Wang Chen Jin merasa sangat terpukul, hilang sudah ketakutannya digantikan dengan penyesalan yang tulus.

"Sebagai orang yang hidup dalam dunia yang keras, sekali berbuat kesalahan, akibatnya bisa menjadi fatal. Kali ini urusan hilangnya pedang, seharusnya tidak perlu terjadi kalau kau bisa mengendalikan perasaanmu. Seharusnya kekalahanmu sebelumnya kamu jadikan pelajaran untuk memperbaiki diri. Kebencianmu pada pemuda itu sungguh tidak ada gunanya."

Fu Tsun pun segera pergi untuk mengambil kuda dan tidak lama kemudian sudah dalam perjalanan menuju ke Wuling.

Sementara itu Wang Dou memberikan nasihat-nasihat pada puteranya.

Tentang pedang pusaka yang hilang, ketiga orang itu masih menyimpan harapan besar untuk memperolehnya kembali.

Menanti malam tiba, kedua ayah beranak berusaha menampilkan wajah yang tenang meskipun hati mereka tidak sabar menantikan datangnya malam, meskipun pedang itu dengan aman tersembunyi di dalam sumur, tapi sebelum pedang itu berada di tangan kembali, hati mereka tidak bisa tenang.

Terhadap anggota rombongan yang lain, Wang Dou menjelaskan bahwa dirinya merasa sedikit lelah setelah perjalanan ke Wuling dan ingin beristirahat beberapa hari sebelum kembali ke rumah.

Meskipun ada yang bertanya-tanya dalam hati, tidak ada yang berani menanyakan keheranan mereka pada Wang Dou.

Yang bertanya-tanya ini, cukup cerdik untuk mengerti bahwa jika pun memang ada alasan tertentu, tentu ada pula alasannya sehingga Wang Dou tidak memberitahu mereka.

---------o ---------Gu Tong Dang tidak bisa tidur dengan tenang malam itu.

Dia sendiri tidak tahu dengan jelas apa yang menyebabkan dirinya susah untuk tidur.

Seakan-akan ada sesuatu yang terlupakan dan sekarang otaknya berusaha untuk mengingat-ingat apa ada yang dia lupa untuk kerjakan hari itu.

Maklum umurnya sudah bertambah tua.

Perlahan-lahan, ditelusurinya apa saja yang dia kerjakan hari itu, tapi tidak juga teringat apa yang sebenarnya mengganggu perasaannya malam itu.

Kerja otak memang aneh, tidak jarang kita melupakan nama seseorang dan ketika kita berusaha keras untuk mengingatnya, ingatan itu tidak juga kembali.

Terasa oleh kita bahwa di suatu tempat di dalam otak kita, tersimpan nama orang itu, tapi dengan cerdiknya ingatan itu bersembunyi dari kita.

Demikian pula keadaan Gu Tong Dang waktu itu, dia tahu bahwa ada sesuatu yang penting yang terlupa olehnya, tapi apakah itu?

Hal itu sangat mengganggu tidurnya dan seperti yang sering kita alami, saat kita sudah hampir menyerah tiba-tiba ingatan itu pun muncul.

Seperti seorang anak nakal yang bermain petak umpet.

Untuk sesaat Gu Tong Dang tersenyum lebar menunjukkan giginya yang masih lengkap terawat di umur yang sudah begitu lanjut, merasa senang karena ingatan yang dikejar-kejarnya itu akhirnya tertangkap juga.

Tapi tidak lama kemudian, alisnya berkerut dan wajahnya mengunjuk rasa kuatir, teringatlah kejadian saat Wang Chen Jin berbisik pada Ding Tao dan wajah Ding Tao tampak menegang.

Tentu ada suatu yang penting yang dibisikkan, demikian pikir Gu Tong Dang.

Beberapa lama guru tua itu termangu, tiba-tiba dikepalkannya tangan dan dengan gerakan yang gesit dia meloncat berdiri.

"Hmm... dipikirkan ke sana ke mari, kalau tidak ditanyakan langsung pada orangnya mana bisa aku tahu? Sebaiknya aku pergi menemui Ding Tao sekarang juga untuk menanyakannya, kalau tidak, sampai matahari terbit pun, mata tua ini tidak akan juga bisa terpejam."

"Moga-moga Ding Tao bisa memahami kekuatiranku, dan tidak memandangku terlalu cerewet."

Sambil berlalu menuju kamar tempat Ding Tao tinggal, diapun berpikir dalam hati.

"Apakah memang semakin tua aku jadi semakin bawel?"

Terkekeh geli sendiri guru tua itu membayangkan bagaimana dirinya setelah tua menjadi seorang nenek yang bawel, tanpa terasa teringatlah dia terhadap mendiang isterinya.

Mendesah dia mengingat kenangan manis di masa lalu, sayang mereka berdua tidak kunjung diberkati keturunan.

Dengan mengenang masa lalu sampailah guru tua itu di depan kamar Ding Tao, perlahan-lahan diketuknya pintu kamar itu dan dipanggilnya murid kesayangannya.

Setelah beberapa lama dia mengetuk tidak juga mendapat jawaban, hati guru tua itupun menjadi semakin gelisah.

Dicobanya untuk mendorong pintu ke dalam dan dengan mudah pintu itu terbuka, karena tidak ada orang di dalam untuk memasang palang pintunya.

Diamat-amatinya keadaan kamar itu, guru tua itupun berusaha mengambil kesimpulan.

"Hmmm... ada apa ini? Sudah lewat tengah malam, namun Ding Tao tidak ada di sini, bahkan tempat tidurnya pun masih rapi, seakan-akan dari tadi sore tidak pernah sesaatpun dia ada di sini. Apakah Ding Tao pergi untuk menemui pemuda itu? Dengan membawa pedangnya pula. Apakah tadi siang itu Wang Chen Jin menantangnya untuk bertarung?"

"Jika iya, kira-kira di mana tempatnya?"

"Tidak di dalam kota karena akan menarik perhatian dan jika di luar kota, tentu di sebelah utara, karena dari arah itulah yang terdekat untuk putera Wang Dou itu."

Begitu guru tua itu sampai pada kesimpulan, guru tua itu tidak mau membuang-buang waktu dengan percuma.

Segera dia pergi ke arah gerbang utara kota.

Gu Tong Dang sudah banyak pengalaman, untuk keluar dari gerbang kota dengan diam-diam mungkin cukup menyulitkan, tapi Gu Tong Dang tidak perlu keluar dengan diam-diam, ditemuinya penjaga pintu gerbang, dengan sedikit uang dan kedudukannya sebagai pengajar di rumah Tuan besar Huang, tanpa banyak kesulitan penjaga pintu gerbang membukakan jalan lewat sebuah pintu kecil yang biasa digunakan mereka atau orang lain yang memerlukan untuk keluar masuk kota di malam hari.

Begitu sampai di luar gerbang kota, Gu Tong Dang berusaha mengamati keadaan di sekitarnya.

Sayup-sayup, telinganya yang tajam masih mampu mendengar suara tapak kaki kuda yang dipacu orang.

Dengan bergegas dia pergi ke arah suara itu dan ditemukannya jejak-jejak yang masih baru.

Ada yang mengarah dari utara ke arah kota dan yang lebih baru dari arah kota menuju ke utara.

Gu Tong Dang bisa membayangkan bagaimana Wang Chen Jin memacu kudanya dari tempat dia menginap di perjalanan menuju ke Wuling, bertanding dengan Ding Tao dan kemudian memacu kudanya untuk kembali diam-diam.

"Hmmm... Wang Dou mempunyai banyak kepentingan dengan kami, sudah tentu dia tidak menginginkan ada perselisihan di antara kami. Tapi pemuda itu masih pendek pikirannya dan pula dia beradat tinggi. Semoga anak Ding tidak mengalami celaka."

Buru-buru guru tua itu menelusuri jejak kaki kuda yang mengarah ke kota, meskipun dengan susah payah, akhirnya sampai juga dia di tempat Ding Tao dan Wang Chen Jin bertemu.

Menelusuri jejak itu, sampai pula guru tua itu di tempat mereka bertarung.

Hatinya berdebar-debar melihat ceceran darah di sekitar tempat itu.

Jejak dari pertarungan itupun akhirnya membawa guru tua itu sampai di bibir sumur dan di situlah jejak pertarungan mereka berakhir.

Dengan jantung berdebar dia berusaha melihat ke dalam sumur, tapi sumur itu terlalu gelap, lagipula hari belumlah terang.

Cahaya obor yang dibawanya tidak sampai ke dasar sumur.

Kesedihan memenuhi hati orang tua itu, dengan sedih dia berusaha memanggil, meskipun harapannya sudah demikian tipis.

"Ding Tao... anak Ding... apakah kau ada di sana?"

Saat tendangan Wang Chen Jin mampir di dadanya, seketika itu pula nafas Ding Tao menjadi sesak dan pandang matanya pun menjadi gelap.

Entah untuk berapa lama dia tidak sadarkan diri.

Begitu badannya menyentuh air sumur yang dingin, tersadarlah Ding Tao, meskipun dia belum teringat akan pertarungannya barusan, tapi tubuhnya dengan sendirinya bergerak, berusaha mengapung ke permukaan.

Tanpa sadar dia berusaha menusukkan pedangnya ke dinding sumur sebagai tempat bagi tangannya untuk bergantung.

Nasib baik masih melindungi Ding Tao, pedangnya menyangkut di sebuah retakan di dinding sumur dan menancap cukup dalam untuk menahan tubuh Ding Tao.

Lagipula tubuhnya masih berada di dalam air, sehingga tidak terlalu banyak beban yang ditanggung pedangnya.

Dengan pedang menahan tubuhnya agar tidak tenggelam, perlahan-lahan kesadaran Ding Tao pun kembali, teringatlah dia akan pertarungannya barusan.

Teringat pada pertarungan itu, teringat pula dia pada pedang Wang Chen Jin yang mampu mengiris-ngiris pedang bajanya seperti mengiris kayu saja.

Ketika dia melihat padang pusaka yang tajam luar biasa itu, masih terjepit oleh pedang bajanya, dengan rasa takjub pemuda itupun meletakkan pedang itu dalam genggamannya.

Lalu dengan satu sentakan dicabutnya pedang itu dari pedang bajanya.

Untuk sesaat diapun lupa pada rasa sakit di badannya, atau rasa lemas yang sebenarnya masih menguasainya.

Dipandanginya pedang itu dengan rasa takjub, masih bergantung pada pedang miliknya sendiri dengan satu tangan, dengan tangan yang lain dicobanya untuk memainkan pedang pusaka itu.

Semangatnya jadi terbangun saat merasakan betapa pas pedang itu di tangan.

Tidak terlampau ringan tidak juga terlampau berat, keseimbangannya membuat mudah digerakkan sesuai dengan keinginan.

Tapi kegembiraannya itu tidak berlangsung lama, semangatnya mungkin tinggi, tapi tenaganya sudah semakin melemah, pada satu saat, hampir saja pedang itu lepas dari genggamannya.

Beruntung dia masih bisa mengerahkan tenaga untuk menggenggamnya kuat-kuat, hingga pedang itu tidak sampai terlepas.

Dengan gugup, Ding Tao berusaha menusukkan pedang itu di sebuah retakan yang dilihatnya.

Hatinya merasa sedikit lega saat melihat pedang itu tertancap dengan aman di situ.

Setelah memastikan pedang itu aman di tempatnya, mulailah dia mengamati keadaan di sekelilingnya.

Dia dapat merasakan kakinya sudah mulai lemah tak bertenaga, demikian juga tangannya yang berpegangan pada pedang.

Hawa dingin menjalari tubuhnya.

Akhirnya diapun pasrah pada keadaan, tenaganya begitu terkuras hingga tidak mungkin baginya untuk memanjat ke atas.

Dengan pengetahuannya yang serba terbatas mengenai jalan darah, dia berusaha menotok jalan darahnya, memperlambat darah yang mengucur dari luka di dadanya.

Entah darahnya sudah terlalu banyak terkuras atau tutukannya tepat menghambat jalan darah di beberapa titik.

Darah yang mengucur tidaklah sederas sebelumnya.

Setelah semua itu selesai dilakukan, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan.

Satu-satunya yang bisa dia lakukan sambil menunggu, hanyalah mengatur nafas dan berusaha mengalirkan hawa murni untuk menghangatkan tubuh.

Dalam hal ini dia mendapatkan satu kejutan yang menyenangkan hatinya, salah satu jalur hawa murni, yang mengalirkan hawa murni dari tantien ke telapak tangan ternyata berhasil ditembusnya dengan mudah.

Untuk menghabiskan waktu, jalur yang sudah ditembus itu pun dicobanya perlahan-lahan.

Pertama dicobanya untuk mengambil hawa murni yang tersimpan dan dialirkan ke kedua telapak tangannya.

Mengalir melalui titik di daerah ulu hati naik ke arah pundak dan menuju ke titik di tengah-tengah telapak tangan.

Didorongnya terus mengaliri pedang yang ada di genggamannya.

Setelah dia merasakan hawa murninya mengalir hingga ke ujung pedang, perlahan-lahan ditariknya kembali untuk disimpan ke bawah pusarnya.

Kemudian berganti dia mencoba menarik hawa murni yang ada di sekitarnya lewat telapak tangannya, perlahan-lahan dialirkan menuju ke pusar.

Ditahannya di sana untuk beberapa saat, lalu perlahan-lahan dialirkan ke bawah pusar dan disimpan.

Tidak lupa dia mengatur nafas dan mengalirkan hawa murni menyebar ke seluruh tubuhnya, memberikan rasa hangat yang menyebar dan menjaga agar dia tidak mati kedinginan.

Membiarkan hawa murni menyebar dengan sendirinya, jauh lebih mudah daripada mengatur hawa murni itu untuk terkonsentrasi pada tempat tertentu, lebih sulit lagi untuk mengalirkan hawa murni itu sesuai kemauan mengikuti jalur tertentu.

Apalagi jika jalur-jalur tersebut belum masih terkunci dan belum bisa ditembus.

Dan justru penggunaan hawa murni yang terkonsentrasi dan terarah inilah yang memungkinkan seseorang untuk melakukan suatu kemampuan di luar kemampuan umum.

Sungguh beruntung Ding Tao salah satu jalur tersebut tertembus dengan tidak sengaja saat dia menghadapi bahaya maut melawan Wang Chen Jin.

Dengan keadaannya yang sekarang ini, dia mampu mengalirkan hawa murni dengan bebas melalui kedua tangannya.

Bahkan mengaliri senjata yang ada dalam genggamannya.

Dengan demikian Ding Tao sudah dapat mulai menjajaki kemungkinan untuk menyatu dengan pedangnya.

Jika hawa murni sudah dapat mengaliri senjata, pada satu tahapan tertentu, senjata pun menjadi bagian dari tubuh.

Seuntai cambuk bisa bergerak mengikuti keinginan pemegangnya, seperti ekor singa bergerak mengikuti kemauan pemiliknya.

Kain bisa menjadi sekeras besi dan besi bisa menjadi selentur kain.

Bila sudah sampai pada tahap demikian bahkan ranting pohonpun bisa menjadi senjata yang berbahaya, terlebih lagi sebatang pedang pusaka.

Ding Tao bukannya tidak pernah mendengar hal semacam ini, dalam hatinya timbul satu harapan.

Sebelumnya tidak pernah terbayang dalam benaknya, bahwa dia akan mampu menjadi seorang pendekar besar.

Tapi hari ini dalam waktu yang bersamaan, dia berhasil menembus salah satu jalur tenaga yang penting dalam tubuhnya, sekaligus menemukan sebatang pedang pusaka.

Tiba-tiba saja Ding Tao tidak sabar untuk dapat mempelajari seluruh jurus-jurus pedang keluarga Huang.

Bahkan bukan saja jurus pedang keluarga Huang, dia ingin bisa melihat semua jurus pedang yang ada di dunia.

Di hati pemuda yang sederhana itu, tiba-tiba timbul keiginan untuk menjadi pendekar pedang nomor satu di dunia.

Lalu setelah itu diraihnya...

Ya setelah itu diraihnya, dia akan dapat datang pada nona muda yang cantik itu dengan dada tengadah.

Bukan lagi Ding Tao si tukang kebun, tapi Ding Tao pendekar pedang nomor satu di dunia.

Jantungnya berdebaran dan mukanya semburat merah, membayangkan dirinya bersanding dengan nona muda keluarga Huang.

Membayangkan pipi yang putih dan halus bagaikan batu pualam, tapi hangat dan lembut seperti roti yang baru dipanggang.

Bibir mungil merah yang suka mencibir itu, mata jeli dan bulu mata yang lentik.

Pikirannya pun merantau ke mana-mana dan hawa panas yang liar menjalari tubuhnya.

Ding Tao yang berangan-angan, tidak merasa kedinginan meskipun saat itu dia tidak sedang mengatur nafas dan mengumpulkan hawa murni.

Sesungguhnya dalam hati yang terdalam Ding Tao sudah kehilangan asa, sebagian dirinya merasa bergairah terhadap penemuannya, tapi sebagian dirinya yang lain memandang betapa keberuntungannya dalam ilmu silat ini sama semunya dengan embun pagi.

Dia merasakan tenaganya melemah dan tidak lama lagi dia harus pasrah tenggelam ke dalam air tanpa mampu banyak berbuat sesuatu.

Mungkin masih beberapa lama lagi sebelum ada ramai orang beraktivitas, jikapun demikian, belum tentu ada yang memakai sumur ini.

Kalaupun ada yang memakai sumur itu, apakah pada waktu itu dia masih ada tenaga untuk berteriak minta tolong?

Baru kali itulah, Ding Tao bersikap sinis pada kehidupan.

Dia merasa betapa kejamnya hidup, di satu sisi nasib sudah membukakan sebuah pintu yang menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Tapi di saat yang sama, nasib hanya memberikan waktu yang sangat terbatas sebelum dia sampai pada kematian.

Betapa getir perasaan pemuda ini mungkin sulit dibayangkan.

Sedari kecil hidupnya serba terbatas, tidak seperti pemuda lain, dia terlalu sadar akan kedudukannya dan selamanya memaksa dirinya untuk memendam hasrat dan cita-cita.

Ketika tiba-tiba kesempatan itu baru saja terbuka bagi dirinya, sejak dari kelulusannya, hingga sekarang ketika dia dengan tidak sengaja mendapatkan sebuah pedang pusaka dan terobosan dalam pengenalannya akan ilmu.

Ketika mimpinya baru mulai terkembang, tiba-tiba dia sudah dihadapkan pada kematian.

Tanpa terasa timbul kemarahan dalam hatinya, kemarahan pada kehidupan, pada langit yang dipandangnya tidak memiliki belas kasihan.

Sepanjang hidupnya, diturutnya nasihat-nasihat orang tua, sepanjang hidupnya dia menjaga diri dari segala perbuatan yang melanggar susila.

Sepanjang hidupnya dia berusaha untuk mengikuti nilai-nilai dan tatanan yang ada.

Namun langit seperti buta terhadap semuanya itu, langit seakan-akan memandangnya seperti bahan lelucon untuk ditertawakan, untuk dibuai dengan mimpi lalu dihempaskan dengan tragedi.

Ding Tao yang sedang marah, tidak lagi mempedulikan susila.

Angan-angannya tentang nona muda keluarga Huang tidak berhenti pada kenangan akan wajah dan senyumannya.

Gairah yang dipendam selama ini seperti tertumpah tanpa dapat dibendung.

Meskipun dalam hati yang terdalam dia justru merasakan pedih yang tak terkira, karena kematian sudah membayang dan angan-angannya selamanya hanyalah angan-angan.

Di saat seperti itu, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil.

Mendengar suara itu, Ding Tao seperti merasa diguyur air dingin, kesadarannya tergugah dan ditajamkannya telinga.

Benar, ada suara memanggil namanya.

Suara guru tua yang dikasihinya.

Matanya nyalang memandang ke atas, dan dilihatnya bayang wajah gurunya yang menjenguk ke dalam sumur, diterangi cahaya obor yang menari-nari.

Dengan penuh haru diapun berusaha menjawab.

"Guru... ini aku... tolong aku guru.."

Kuatir suaranya tidak cukup keras, dipukul-pukulkannya kedua bilah pedang yang ada di tangan, sehingga sebentar kemudian, terdengar riuh suara berdenting, menggema di sumur yang gelap itu.

Mata Gu Tong Dang yang tadinya sayu, terbelalak lebar saat dia mendengar riuh denting pedang dari dalam sumur.

Semangatnya yang sudah layu jadi mengembang kembali.

Matanya cepat melihat ke sekitarnya.

Ketika dia menemukan tali dan ember untuk mengambil air dari sumur, cepat dia memeriksa kekuatan tali itu.

Merasa puas dengan kekuatan tali itu, tanpa membuang-buang waktu lagi diikatkannya tali itu di sekeliling pinggangnya, lalu dengan lincah dia melompat masuk ke dalam sumur.

Kaki dan tangannya dengan cepat mengembang ke kiri dan kanan, mendorong dinding sumur, menahan laju turun tubuhnya.

Segera setelah tubuhnya terhenti, dilepaskannya tangan dan kakinya dari dinding, sehingga tubuhnya kembali meluncur turun, dan ketika dirasa tubuhnya sudah meluncur terlalu cepat, kembali dia mengembangkan tangan dan kaki untuk menahan laju jatuhnya.

Dengan cara itu, tidak lama kemudian Gu Tong Dang sudah sampai ke permukaan air sumur.

Kakinya basah oleh air dan Gu Tong Dang pun tahu jika dia telah sampai di bawah, dengan setengah berbisik dipanggilnya Ding Tao.

"Ding Tao..."

"Guru... aku di sini."

"Kemarilah, apa kau terluka? Bisakah kau menjangkauku?"

"Sedikit terluka guru, tapi sepertinya untuk sedikit bergerak masih tidak ada masalah."

"Bagus, sekarang cepatlah berpegangan padaku, pegang apa saja yang paling mudah untuk kau jadikan pegangan."

Ding Tao sebenarnya sudah merasa sangat lemah, tapi melihat ada kesempatan hidup, semangatnya bangkit berkali-kali lipat.

Sekuat tenaga dia melemparkan tangannya untuk meraih tubuh gurunya, saat terpegang kaki gurunya, maka dicengkeramnya kuat-kuat, takut bahwa pegangannya akan terlepas dan dia tidak akan ada tenaga lagi untuk menjangkaunya kembali.

Pedang hadiah kelulusannya terpaksa ditinggalkannya tertancap di dinding sumur.

Tapi pedang pusaka milik Wang Chen Jin tidak lupa untuk dibawanya.

Dengan sebelah tangan dia merangkul kaki Gu Tong Dang dan dengan tangan yang lain dia mencengkeram pedang itu kuat-kuat.

Gu Tong Dang yang merasakan rangkulan Ding Tao pada kakinya, segera mulai menarik tali yang diikatkannya di pinggang hingga tali itu berhenti terulur, sepenuhnya terjulur ke bawah, sementara ujung yang lain terikat kuat di tempatnya.

Ding Tao yang merasakan adanya tali dapat mengerti rencana Gu Tong Dang, dia berusaha sebisa mungkin memudahkan Gu Tong Dang yang berusaha mengikatkan tali itu ke badannya.

Setelah tubuh Ding Tao terikat kuat dengan tali, berbisiklah Gu Tong Dang.

"Sekarang kau bisa lepaskan peganganmu pada kakiku, aku kan naik ke atas dan menarikmu naik dari sana. Kuatkan hatimu, tinggal sebentar lagi dan kau akan aman."

"Baik guru... terima kasih guru... sungguh... aku..."

"Sudahlah, simpan tenagamu baik-baik, jangan banyak berbicara, kau masih bisa berterima kasih padaku, nanti setelah kita sampai di atas."

Bergantungan pada tali, Ding Tao hanya bisa mengamati gurunya yang perlahan-lahan merayap ke atas.

Gu Tong Dang tidak berani memanjat ke atas dengan menggunakan tali itu, karena dia tidak tahu apakah tali itu akan kuat menahan tubuhnya dan tubuh Ding Tao sekaligus.

Bahkan kalau dia mau jujur, dalam hatinya diapun masih ada keraguan apakah tali itu akan kuat untuk dipakai menarik tubuh Ding Tao ke atas.

Tapi dia tidak ada pilihan lain lagi, terlampau lama jika dia harus pergi mencari tali yang kuat untuk menolong Ding Tao.

Seperti saat turun ke bawah, Gu Tong Dang menggunakan kedua kaki dan tangannya untuk menahan tubuhnya di dinding sumur.

Dengan cara demikian, perlahan-lahan Gu Tong Dang merayap naik ke atas.

Bagi keduanya waktu terasa berjalan begitu lama, tapi Gu Tong Dang sudah cukup umur dan pengalaman, pengalaman mengajarkannya lebih baik bekerja dengan lambat namun pasti, daripada terburu-buru dan mengalami kegagalan yang fatal.

Apalagi kesempatannya untuk menolong Ding Tao tidak banyak.

Bagi Ding Tao yang menunggu di bawah, waktu serasa berjalan begitu lambat, tapi dengan adanya gurunya di situ, harapannya untuk hidup kembali timbul.

Teringatlah dia akan caci makinya pada raja langit dan para dewa.

Wajahnya bersemu merah, merasa malu akan perbuatannya beberapa saat yang lalu.

Dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh rasa penyesalan diapun berdoa, berdoa memohon ampun dan maaf.

Teringat akan angan-angannya tentang nona muda Huang, jantungnya berdebar-debar, cepat-cepat diusirnya segala bayangan yang menggoda itu dari hati dan pikirannya.

Tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya, ketika dia selalu memendam perasaannya pada si nona muda.

Kali ini Ding Tao berani untuk bermimpi.

Bukan mimpi dan angan-angan liar seperti saat dia putus asa, tapi mimpi dan angan-angan untuk memenangkan hati nona itu, membangun sebuah keluarga, menghabiskan sepanjang waktu dalam hidupnya, bersama orang yang dikasihinya.

Tidak akan diserahkannya nona muda itu kepada Wang Chen Jin yang licik, bahkan tidak pada siapapun juga.

Karena sekarang dia bukan lagi tukang kebun biasa.

Dari segi ilmu dia masih berada di atas Wang Chen Jin, dan mungkin kemampuannya tidaklah serendah yang selama ini dia bayangkan.

Apalagi dengan pedang pusaka di tangan dan penemuannya yang baru dengan pengolahan hawa murni dalam tubuhnya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Ding Tao berani menggantungkan cita-citanya setinggi langit.

Waktu yang serasa berjalan begitu lambat, di sinya dengan bayangan akan masa depan yang lebih baik, terkadang membantunya mengisi waktu, tapi di saat yang lain membuat Gu Tong Dang seperti merayap semakin lambat, karena Ding Tao sudah tidak sabar untuk segera sampai di atas.

Menginjakkan kakinya di tanah yang padat.

Menantikan Gu Tong Dang sampai di atas, barulah separuh penantian Ding Tao.

Karena sesampainya di atas, Gu Tong Dang tidak terburu-buru menarik Ding Tao ke atas.

Gu Tong Dang terlebih dahulu meregangkan otot-ototnya yang baru saja dipaksa bekerja keras setelah terbiasa hidup enak.

Diaturnya dulu nafasnya yang memburu, kemudian barulah dia perlahan-lahan menarik Ding Tao ke atas.

Saat Ding Tao merasakan tubuhnya ditarik ke atas, hatinya merasa gembira, tapi tidak untuk waktu yang terlalu lama, karena Gu Tong Dang menarik tali itu dengan sangat hati-hati.

Ding Tao memang masih muda dan dengan cepat merasa Gu Tong Dang terlalu lambat dalam bekerja, tapi pemuda ini bukan pemuda yang tidak tahu terima kasih, lagipula dia sadar bahwa terlalu cepat menariknya bisa membuat tali itu terlalu bekerja keras dan putus.

Sebisa-bisanya dia menyabarkan diri.

Luka di dadanya semakin perih, demikian juga kulitnya yang diikat erat dengan tali, tangannya sudah tidak kuat lagi untuk berpegangan di tali dan menahan agar sebagian berat tubuhnya tidak sepenuhnya menggantung pada tali yang kasar.

Hanya pedang itu saja yang tetap digenggamnya erat-erat.

Perlahan namun pasti, langit pagi juga sudah mulai berubah warna saat Ding Tao merebahkan diri di atas tanah.

Nafasnya lemah, paru-parunya berontak meminta udara, namun rasa sakit sekarang menguasai sekujur tubuh.

Gu Tong Dang berlutut di sebelahnya, dengan lembut melepaskan ikatan tali dari tubuhnya.

"Anak Ding, bagaimana keadaanmu?"

Ding Tao hanya bisa menjawab dengan seulas senyum yang lemah. Gu Tong Dang mengangguk paham.

"Baguslah, tidak usah banyak bicara."

Ketika dia hendak mengangkat tubuh Ding Tao, perhatiannya pun jatuh pada pedang yang digenggam terus menerus oleh pemuda itu.

Alisnya terangkat, hendak bertanya, tapi ketika pandangan matanya jatuh pada wajah Ding Tao yang pucat, diapun batal untuk bertanya.

Dengan hati-hati namun cepat, dipapahnya Ding Tao menjauh dari tempat itu.

Sebentar lagi akan banyak orang berdatangan dan Gu Tong Dang tidak ingin terjebak dengan pertanyaan mereka.

Dibiarkannya saja Ding Tao terus menggenggam erat pedang itu.

Tanpa bertanya pun dari sikap Ding Tao dia mengerti tentu pedang itu sangat berarti untuknya.

Gu Tong Dang tidak segera kembali ke rumah keluarga Huang, sebaliknya dia pergi ke sebuah pondokan di luar perkampungan keluarga Huang.

Pondokan itu sudah lama dia miliki, seringkali dipakainya untuk melepas lelah ketika dia pergi untuk kepentingannya pribadi.

Di dalam pondokan itu tersedia tempat tidur yang sederhana, makanan kering, alat untuk memasak dan obat-obatan secukupnya.

Setelah membaringkan tubuh Ding Tao di atas pembaringan, Gu Tong Dang dengan cekatan menyalakan api dan memasak air.

Dengan telaten dirawatnya luka di atas dada Ding Tao, dibersihkan, dibaluri dengan obat lalu dibalut dengan kain bersih.

Obat penambah tenaga dimasak di atas sebuah api yang dijaga nyalanya.

Dalam waktu singkat, roti kering yang sudah dibasahi teh manis hangat disuapkan perlahan-lahan kepada Ding Tao, sebelum obat yang sudah matang diminumkan.

Sebagai orang yang pernah berkecimpung dalam dunia persilatan, Gu Tong Dang tidak asing dengan hal-hal tersebut.

Dalam hal kemampuan memang Gu Tong Dang masih berada di bawah para tokoh-tokoh dalam keluarga Huang, namun dalam hal pengalaman justru dia lebih banyak.

Tidak berapa lama kemudian, nafas Ding Tao sudah kembali teratur.

Beruntung tubuhnya kuat dan hawa murninya terpupuk dengan baik.

Gu Tong Dang dengan sabar membiarkan saja pemuda itu beristirahat, beberapa saat lamanya.

Desah nafasnya teratur dan pemuda itu tertidur lelap, merasa aman dalam penjagaan orang yang dipercayainya.

Menunggui Ding Tao yang sedang tidur, perhatian Gu Tong Dang jatuh pada pedang yang sejak tadi dibawa-bawa oleh pemuda itu.

Dihunusnya pedang itu di tangan dan dimainkannya beberapa jurus menggunakan pedang itu.

Hatinya pun jadi terkagum-kagum dengan kualitas pedang itu.

Dalam hati dia jadi menduga-duga, pedang pusaka dalam dunia persilatan tidak banyak jumlahnya.

Meskipun banyak pedang kenamaan, tidak jarang pedang itu mendapatkan nama mendompleng dari kehebatan pemiliknya.

Seandainya pemakainya bukan pemain pedang kenamaan, pedang itu sendiri tidaklah cukup berarti untuk disebut pedang pusaka.

Tapi ada juga, sejumlah pedang, yang justru kehebatannya mampu mengangkat nama pemakainya.

Gu Tong Dang yakin pedang yang ada di tangannya termasuk dari segelintir yang ada.

Dengan memainkan pedang itu saja, dia bisa merasakan keyakinannya bertambah.

Belum pernah dia merasakan sebuah pedang yang terasa begitu pas di tangannya.

"Apakah pedang ini..."

Sebuah dugaan yang muncul dalam hatinya, dengan hati berdebar diambilnya pisau dapur yang ada dalam pondokan itu lalu ditancapkannya kuat-kuat ke atas sebuah meja kayu.

Hatinya berdebar, namun tangannya menggenggam pedang dengan mantap.

Tidak terlalu kencang karena tegang, tidak pula lemah hingga pedang akan terlepas dengan sedikit benturan.

Terdengar desingan mengiris, saat pedang itu berkelebat menabas mata pisau.

Seperti membelah kayu, pedang itu memotong pisau tadi dengan mudahnya.

Terkesiap hati Gu Tong Dang, meskipun dia sudah menduga sebelumnya, tapi ketika melihat sendiri hasil percobaannya itu, tidak urung hatinya tergetar.

"Pedang Angin Berbisik..."

Dipandanginya pedang itu, tidak terasa tangan yang memegang ikut gemetar.

Dengan hati-hati, ditaruhnya kembali pedang itu di samping tubuh Ding Tao, dan secara reflek cepat-cepat tangannya menjauh segera setelah pedang itu tergeletak di tempatnya, seperti meletakkan seekor ular berbisa.

Pikiran guru tua itupun dipenuhi kekalutan.

Permasalahan Ding Tao bukan lagi sekedar perkelahian antara dua anak muda yang tidak bisa mengendalikan diri.

Pondok itupun diliputi suasana sepi, sementara di luar justru kesibukan sudah dimulai.

Di dekat sumur sana, Fu Tsun, paman Wang Chen Jin, salah seorang kepercayaan Wang Dou, memperhatikan keributan yang timbul saat penduduk melihat ceceran darah dan bekas pertarungan di sekitar sumur.

Dengan lagak bersahabat dia mendekat dan ikut dalam pembicaraan mereka.

"Wah, sepertinya habis ada kejadian di sini?"

Seorang tua yang berada di situ menengok padanya dan dengan ramah menjawab.

"Iya, coba saja lihat, ada semak dan kayu yang terpotong, seperti bekas ditabas pedang. Lalu lihat bekas ceceran darah di mana-mana."

"Benar-benar, lalu apa kemarin tidak ada yang mendengar ribut-ribut ini?"

"Ada juga, sekitar lewat tengah malam kemarin, memang terdengar suara-suara orang bertarung. Tapi tidak ada yang berani menengok."

"Memang benar pak, daripada jadi sasaran pedang nyasar."

"Iya, kita semua juga berpikir begitu."

"Apa urusannya tidak disampaikan pada petugas?"

"Justru itu, ada yang bilang sebaiknya dilaporkan, tapi ada jug ayang mengatakan lebih baik diam-diam saja. Serba salah memang, lapor salah, tidak lapor juga salah."

Fu Tsun mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan orang tua itu, dengan berpura-pura ikut prihatin dia menjawab.

"Sebaiknya mungkin memang diam-diam saja pak, melihat dari bekasnya, yang berkelahi bukan orang sembarangan. Kalau bapak melapor, salah-salah malah membuat musuh dengan orang yang sakti."

Beberapa orang yang berada di situ, ikut tertarik dengan jawaban Fu Tsun, salah seorang yang masih muda ikut bertanya.

"Menurut saudara yang berkelahi di sini, orang-orang dunia persilatan?"

Fu Tsun merasa senang karena ada yang menanyakan pendapatnya, dengan menegakkan dada dia menjawab.

"Dari yang kulihat sepertinya demikian, lagipula kalau yang berkelahi penduduk daerah sini juga, bukankah sekarang sudah ketahuan siapa orangnya?"

Mereka yang mendengar mengangguk-angguk tanda setuju.

"Kemudian lihat bekas goresan di tanah itu, goresan itu cukup dalam dan tipis. Jelas tergores benda tajam sejenis pedang, tapi lihat betapa dalam goresannya. Jika orang biasa saja, mana mampu membuat goresan sedalam itu dengan pedang yang tipis?"

Kembali mereka yang berkumpul menganggukkan kepala.

"Itu sebabnya kalau menurut pendapatku, paling baik didiamkan saja, kalau bisa kita bersihkan bekas-bekas yang ada supaya tidak timbul pertanyaan dari petugas yang mungkin lewat."

Salah seorang tua di situ ikut menimbrung.

"Nah, betul tidak perkataanku, sedari tadi sudah kubilang paling baik kita diam-diam saja, sebisa mungkin kita bersihkan tempat ini dari bekas-bekas yang ada."

Seorang dari mereka yang tampaknya tidak setuju menyanggah.

"Kalau sampai ada kejadian yang meninggal bagaimana? Apa kita nanti tidak disalahkan petugas karena tidak membuat laporan?"

Fu Tsun-lah yg menjawab.

"Urusan orang dunia persilatan, sudah pasti tidak akan sampai ke telinga petugas, yang kehilangan saudara tidak nanti akan melapor. Tapi pembunuhnya, kalau sampai mendengar ada yang lapor, bisa jadi akan menuntut balas."

Mendengar itu mereka semua sama mengangguk-angguk, sejenak mereka berpandangan, salah seorang dari mereka menegaskan.

"Jadi bagaimana? Kita diamkan saja?"

Yang lain saling memandang lalu mengangguk dan gumaman terdengar.

"Ya..."

"Baiknya begitu."

"Sudah tentu."

Salah seorang tua dari antara mereka berkata.

"Ayolah kita kembali bekerja kalau begitu."

Satu per satu mereka berpamitan pada Fu Tsun dan meninggalkannya, kembali pada kesibukan mereka masing-masing.

Termangu Fu Tsun berpikir untuk mengorek lebih banyak lagi keterangan.

Ketika orang terakhir sudah hendak berpamitan pula, Fu Tsun bertanya.

"Sobat, perkelahian kemarin malam, apakah memang sepertinya berakhir dengan kematian?"

Sejenak orang yang ditanya itu menggaruk-garuk kepalanya.

"Entahlah, ada yang bilang pada saat terakhir dari pertarungan itu sempat terdengar suara orang tercebur ke dalam sumur itu."

Uraian itu sesuai dengan cerita dari Wang Chen Jin. Menengok ke arah sumur yang ditunjuk Fu Tsun lanjut bertanya.

"Lalu apakah tidak ada yang berusaha melihat ke dalam sumur itu? Maksudku, apakah benar ada yang terjatuh ke dalamnya."

"Memang begitulah yang kami lakukan, karena jika benar ada mayat di dalamnya, tentu sebaiknya dikeluarkan secepatnya. Atau lebih baik lagi kami timbuni saja sumur itu dengan batu-batu dan menggali sumur yang baru."

Mendengar itu timbul keraguan dalam hati Fu Tsun.

"Lalu?"

"Begitu hari sudah mulai terang, beberapa menengok ke dalam sumur itu, tapi tidak terlihat apa-apa dari atas. Jadi kami berpikir, mungkin kami hanya salah dengar."

Tercengang Fu Tsun mendengar hal itu, tapi sebisa mungkin ia menutupi kekagetannya.

"Aneh sekali, lalu suara apa yang kalian dengar malam itu?"

Orang yang ditanya hanya bisa mengangkat bahunya.

"Entahlah, mungkin kami salah dengar, mungkin bukan orang yang jatuh ke dalam sumur sana. Atau mungkin dia masih hidup dan berhasil keluar kembali."

Kacaulah perasaan Fu Tsun mendengar pernyataan orang itu, tapi pada dasarnya dia adalah orang yang teliti dalam menghadapi setiap persoalan, itu sebabnya Wang Dou menganggap dia sebagai salah satu orang kepercayaannya.

Bukan hanya karena Fu Tsun masih memiliki hubungan keluarga dengan dirinya, tapi juga karena ketelitiannya.

"Apakah ada yang turun ke dalam sumur itu untuk memeriksa? Ataukah kalian hanya melihat dari atas saja?"

"Kami hanya melihat dari atas, tapi air sumur itu cukup bening. Jika memang ada mayat di dalamnya, meskipun hanya bayang-bayang saja, tapi kami tentu bisa melihatnya. Lagipula bukankah biasanya mayat mengapung di dalam air?"

Fu Tsun menggosok-gosok dagunya, berpikir.

"Tidak juga, di dasar sumur mungkin berlumpur, tentu tidak terlihat dari atas. Tapi bisa jadi tubuh itu tenggelam ke dasar karena di tubuhnya ada yang memberati ke bawah. Lalu di bawah sana dia tertutup oleh lumpur di dasar sumur."

Menengok ke arah orang yang diajak bicara Fu Tsun berkata.

"Cerita kalian membuatku tertarik, aneh sekali jika kalian mendengar suara orang tercebur ke dalam sumur, tapi tidak ada mayat di dalam sana. Kalau kalian mau membantu, biarkan aku turun ke dalam sana untuk memeriksa."

Terangkat alis orang yang diajak bicara, heran.

"Sobat, kau benar-benar mau turun ke dalam sumur itu untuk memeriksa?"

Fu Tsun tertawa menutupi rasa galau di hatinya.

"Ya begitulah, sudah sedari aku kecil, selalu tertarik dengan hal-hal yang aneh seperti ini. Kalau tidak turun ke bawah dan memeriksa dengan teliti, aku tidak akan bisa tidur nyenyak berhari-hari memikirkan hal itu."

Yang diajak berbicara menggeleng-gelengkan kepala, tapi akhirnya diapun mengangguk.

"Baiklah, memang kalau ada yang mau turun dan memeriksa sudah tentu lebih baik lagi. Ayolah, akan kuajak beberapa temanku untuk berjaga dan membantumu turun ke bawah."

Tidak lama kemudian orang-orang itu kembali berkumpul, sekali ini mereka tertarik untuk melihat Fu Tsun yang akan menuruni sumur.

Sebuah tali yang kuat diikatkan ke tubuh Fu Tsun, beberapa orang membantu menahan tali itu agar Fu Tsun dapat turun ke dalam sumur itu dengan aman.

Fu Tsun turun ke bawah dengan membawa sebuah obor di tangan, karena di atas ada orang-orang yang menahan tali dan perlahan-lahan menurunkannya ke bawah, Fu Tsun pun bisa mengamati keadaan sumur itu dengan mudah.

Hatinya berdebar saat samar-samar dia dapat melihat bekas-bekas tapak kaki dan tangan di beberapa tempat.

Sebelum dia sampai ke bawah, dia sudah dapat membayangkan apa yang terjadi malam itu.

Meskipun jejak yang tertinggal tidaklah jelas dan ada kemungkinan bukanlah bekas kaki dan tangan, tapi jejak itu memberikan jawaban atas hilangnya mayat Ding Tao dari dalam sumur.

Setelah dia sampai ke permukaan air dari sumur itu makin yakinlah Fu Tsun akan dugaannya.

Pedang Ding Tao yang ditusukkan ke dinding sumur dan dipakainya sebagai pijakan masih tertinggal di sana.

Demikian juga bekas kaki Gu Tong Dang terlihat cukup jelas, karena saat Gu Tong Dang mengikatkan tali di tubuh Ding Tao kakinya menjejak lebih kuat ke dinding sumur, hingga di bagian itu dinding sumur sampai berlekuk ke dalam oleh tekanan kaki Gu Tong Dang.

Pertama karena Ding Tao saat itu berpegangan pada tubuhnya hingga kakinya harus menjejak lebih kuat untuk menahan tubuh mereka berdua.

Dan yang kedua karena saat itu kedua tangannya sibuk mengikatkan tali pada tubuh Ding Tao sehingga beban itu sepenuhnya ditanggung kedua kaki Gu Tong Dang.

Tidak cukup melihat bekas yang ada dan mereka kembali kejadian malam itu, Fu Tsun mengamati dengan hati-hati ke bawah dasar sumur dengan air yang memang bening itu.

Setelah benar-benar yakin bahwa tidak ada mayat Ding Tao ataupun pedang Wang Dou di bawah sana, dia menarik tali dua kali sebagai tanda agar mereka yang di atas menarik tubuhnya kembali ke atas.

Sepanjang perjalanan otak Fu Tsun berputar keras, dari apa yang dia lihat dan dengar, jelaslah Ding Tao belum mati saat dia terjatuh ke dalam sumur.

Lebih jauh lagi, ada seseorang yang telah menolongnya keluar dari sumur itu dan pedang pusaka Wang Dou ada di tangan mereka.

Dengan gigi gemeretak Fu Tsun oleh marah Fu Tsun berusaha menebak-nebak siapakah orang yang telah menolong Ding Tao dan menguasai pedang pusaka itu.

Kecurigaannya yang terbesar tertuju pada keluarga Huang, meskipun dia tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang secara kebetulan melihat pertarungan itu.

Bukan hal yang aneh jika ada tokoh persilatan yang usil dan mengikuti jalannya pertarungan antara kedua pemuda itu.

Untuk kemudian menolong Ding Tao yang jatuh ke dalam sumur.

Entah karena tertarik dengan pedang yang jatuh atau sekedar ingin menolong pemuda itu.

Sesampainya di atas, raut wajah Fu Tsun sudah normal kembali, dengan lagak tawa dia menjelaskan penemuannya di bawah sana.

Setelah beberapa saat berbasa-basi, tanpa membuang lebih banyak waktu lagi dia berusaha meneliti jejak yang mungkin tertinggal di sekitar sumur itu.

Jejak yang bisa membantu dia untuk menemukan Ding Tao, penlongnya dan pedang pusaka Wang Dou.

Tapi kegiatan penduduk di sekitar tempat itu dan kehati-hatian Gu Tong Dang telah menghapuskan jejak-jejak yang mungkin saja tertinggal.

Dengan hati galau, Fu Tsun memacu kudanya untuk menemui Wang Dou dan melaporkan hasil temuannya.

Sementara itu pada saat yang sama Ding Tao telah sadar dari tidurnya.

Bau sop kaldu ayam yang menyebar memenuhi pondok kecil itu.

Dikejap-kejapkannya matanya, sambil menyeringai menahan sakit dia berusaha bangkit, luka di dadanya terasa sedikit nyeri, demikian juga memar-memar yang ada di tubuhnya.

Perlahan-lahan ingatannya kembali.

Teringatlah kembali dia akan pertarungan yang terjadi di malam sebelumnya, bagaimana dia terjatuh ke dalam sumur dan akhirnya ditolong oleh Gu Tong Dang.

Diedarkannya pandangannya ke seluruh ruangan, saat tidak menemukan Gu Tong Dang, dia berusaha bangkit berdiri.

Tanpa sengaja tersentuhlah olehnya pedang pusaka milik Wang Dou.

Melihat pedang itu dan teringat akan keistimewaan pedang itu, Ding Tao tidak ingin meninggalkan pedang itu tergeletak begitu saja.

Sambil menjinjing pedang itu di tangan, diapun berjalan dengan sedikit tertatih-tatih untuk mencari Gu Tong Dang.

Gu Tong Dang yang saat itu berjaga-jaga di luar mendengar suara tempat tidur yang berderik-derik.

Dengan tangkas guru tua itupun, bangkit dan memasuki kamar tempat dia merawat Ding Tao.

Saat Ding Tao melihat Gu Tong Dang, cepat pemuda itu hendak berlutut untuk mengucapkan terima kasihnya.

Tapi Gu Tong Dang dengan cepat menahan tubuh pemuda itu.

"Guru..."

"Ah, tubuhmu masih lemah, sebaiknya beristirahat saja di tempat tidur."

"Guru... terima kasih guru... jika bukan karena pertolonganmu, tentu..."

"Hahaha, sudahlah, tak usah kau pikirkan, saat ini yang harus kau lakukan adalah beristirahat untuk memulihkan kondisimu."

Dengan berhati-hati dipapahnya Ding Tao kembali ke tempar tidur yang ada. Kemudian dibawakannya semangkuk sop ayam yang sudah dia sediakan.

"Ini makanlah dulu, setelah itu bermeditasilah untuk mengatur dan mengumpulkan hawa murni di tubuhmu."

"Baik guru, terima kasih guru."

Perlahan-lahan Ding Tao menyeruput sop ayam yang masih mengepul. Gu Tong Dang menarik sebuah bangku dan duduk di hadapan muridnya itu.

"Ding Tao, sambil kau makan, aku hendak berbicara denganmu."

Ding Tao dengan sedikit berdebar menganggukkan kepala.

"Baik guru..."

"Kemarin saat kita mengantarkan keluarga Wang pulang ke rumah mereka, sempat kulihat Wang Chen Jin membisikkan sesuatu padamu, apakah itu yang menyebabkan engkau pergi diam-diam keluar kota untuk bertemu dengannya?"

"Benar guru..., dia, dia mengatakan ada satu urusan penting yang bersangkut paut dengan nona muda Huang."

Gu Tong Dang mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Hmmm..., jadi begitu rupanya. Di dalam hatinya dia masih mendendam padamu dan dengan alasan itu dia berusaha menjebakmu lalu membunuhmu."

"Sepertinya demikian guru..."

Sejenak lamanya Gu Tong Dang memandangi muridnya itu dan memikirkan sifat muridnya yang lugu.

"Ding Tao, hendaknya pengalaman ini kau ingat baik-baik dalam hati. Hidup dalam dunia persilatan, janganlah mudah percaya perkataan orang. Ketahuilah bahwa aku sudah merasakan satu kejanggalan sejak aku melihat dia berbisik diam-diam padamu."

"Ketika aku berusaha mencarimu di kamarmu, ternyata engkau tidak ada di sana. Secepatnya aku berusaha mencarimu, sayang aku datang terlambat."

"Tidak terlambat guru, seandainya guru terlambat tentu murid sudah pergi meninggalkan dunia ini. Budi guru tidak akan pernah murid lupakan, bukan hanya berhutang pelajaran, murid bahkan berhutang nyawa."

"Hehehe, sudahlah, seandainya aku datang lebih cepat tentu keadaanmu tidak separh sekarang ini. Tapi sekarang semua itu tidaklah penting, ada hal yang lebih penting yang harus kusampaikan padamu."

Wajah Gu Tong Dang menjadi lebih serius dan Ding Tao yang melihat perubahan pada wajah gurunya itupun jadi terdiam dan menebak-nebak.

"Anak Ding, tahukah kamu pedang apa yang dipakai Wang Chen Jin itu?", tanya Gu Tong Dang sambil menunjuk ke arah pedang yang ada di samping Ding Tao. Karena tidak tahu dan juga yakin bahwa gurunya tentu mengetahui keberadaan dan latar belakang pedang yang berhasil direbutnya dari Wang Chen Jin, Ding Tao menggelengkan kepala, sambil seluruh perhatiannya menantikan kata-kata selanjutnya dari Gu Tong Dang.

"Hmm..., kau tentu sudah mengetahui bahwa pedang itu sangatlah berharga, hingga dalam keadaan yang sangat payah pun pedang itu masih kau genggam erat. Mungkin saat bertarung dengan Wang Chen Jin, kau dapati pedang baja putih milikmu dengan mudah bisa dipotong-potong oleh pedang itu."

"Nah Ding Tao, sekarang dengarkanlah baik-baik apa yang akan aku katakan mengenai pedang itu. Jika aku tidak salah, pedang yang sekarang ada padamu itu adalah Pedang Angin Berbisik, milik mendiang pendekar pedang kenamaan Jin Yong yang sering juga dijuluki Raja Pedang dari Emei."

Mendengar itu mata Ding Tao terbelalak, siapa yang tidak pernah mendengar nama besar Jin Yong, siapa pula yang tidak pernah mendengar kisah pedang miliknya yang hilang tidak tentu rimba saat pendekar itu meninggal.

Kira-kira 12 tahun yang lalu pendekar besar itu mati diracun dan pedangnya tidak ditemukan pada mayatnya.

Sejak saat itu sudah ada beberapa pendekar pedang yang dikabarkan berhasil memiliki pedang pusaka itu, namun umur mereka tidaklah panjang.

Dalam waktu yang kurang dari 10 tahun, entah sudah ada berapa pendekar yang meninggalkan dunia fana, untuk memperebutkan pedang pusaka itu, sampai beberapa tahun yang lalu ketika pedang itu benar-benar lenyap tanpa kabar.

Siapa sangka, rupanya pedang itu sudah jatuh ke tangan keluarga Wang.

Gu Tong Dang dengan arif membiarkan Ding Tao mencerna kenyataan yang baru didengarnya.

Beberapa saat kemudian diapun melanjutkan.

"Menurut pendapatku, Wang Dou entah dengan cara bagaimana mendapatkan pedang itu. Namun dia cukup cerdik untuk menyadari kelemahannya dan menyimpan pedang itu tanpa menggunakannya."

"Melihat gagang kayu pedang itu, menurutku dia tentu menyembunyikan pedang itu ke dalam sebuah tongkat kayu. Karena pada bentuk aselinya, gagang pedang itu terbuat dari besi yang sama dengan mata pedangnya."

Sambil merenungi mangkok di tangannya, Ding Tao melanjutkan kata-kata Gu Tong Dang, setengah berbisik.

"Dan Wang Chen Jin yang sangat mendendam padaku, meminjam pedang ayahnya dengan diam-diam."

"Ya, kurasa itulah yang terjadi. Wang Dou yang sudah bersabar selama bertahun-tahun menyimpan tanpa sekalipun menggunakan pedang itu, tentu tidak akan meminjamkannya pada anaknya hanya untuk membalas dendam. Orang itu memiliki ambisi yang besar, jika dia belum berhasil meyakinkan ilmu pedangnya, tidak akan dia memunculkan pedang itu."

Dengan sabar Gu Tong Dang menghentikan penjelasannya, dan diamatinya wajah Ding Tao.

Ding Tao yang merenung-renungkan perkataan Gu Tong Dang tiba-tiba memucat wajahnya.

Tangannya bergetar hingga beberapa tetes kaldu ayam tercecer ke atas pembaringannya.

Gu Tong Dang yang melihat itu, menutup matanya dan mendesah.

"Guru... jika demikian keadaannya... tentu... tentu... Wang Dou akan mencari dan berusaha mendapatkan kembali pedang itu dengan segala cara. Dan tempat pertama yang dia tuju..."

Mendesah Gu Tong Dang melanjutkan kata-kata muridnya.

"Ya... tempat pertama yang diselidikinya sudah tentu adalah kediaman keluarga Huang."

"Guru... menurut guru, apakah sebaiknya yang harus kulakukan?"

Untuk beberapa saat Gu Tong Dang terdiam, baginya berat untuk mengatakan apa pendapatnya.

"Hehh...., ini tidaklah mudah. Anak Ding, menurut pendapatku, tidak ada jalan lain, kau harus pergi meninggalkan kota secepatnya. Dan jangan pernah lagi kembali sebelum kau bisa meyakinkan ilmu pedangmu."

"Kau harus memutuskan hubunganmu dengan keluarga Huang, hanya dengan cara itu kau bisa membersihkan nama keluarga Huang dari urusan ini."

Wajah Ding Tao yang pucat semakin pucat.

"Guru... apakah tidak ada jalan lain? Bagaimana kalau pedang ini aku berikan saja pada Tuan besar Huang atau mungkin aku kembalikan lagi pada Tuan Wang Dou?"

Dengan berat hati Gu Tong Dang menggelengkan kepalanya,"

Anak Ding, cobalah pikirkan dengan hati yang jernih.

Jika kau kembalikan pedang itu pada Wang Dou, nyawamu pasti hilang.

Karena bagi Wang Dou bukan saja kembalinya pedang itu yang penting, tapi juga keberadaan pedang itu padanya haruslah menjadi satu rahasia."

"Dan untuk menjaga rahasia itu, siapapun yang mengetahui bahwa dia memiliki pedang itu harus dibinasakan. Jika kau kembali, keluarga Huang pun akan ikut terseret dalam permasalahan ini."

Sambil menggigit bibir Ding Tao menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dalam hatinya dia masih belum bisa menerima kenyataan.

Sudah sejak dia masih kanak-kanak dia tinggal bersama keluarga Huang.

Sejak menginjak remaja hatinya sudah tertambat pada nona muda Huang.

Dan baru saja dia memiliki keberanian untuk berharap untuk bisa mendapatkan hati nona muda pujaannya.

"Guru, apakah Wang Dou kebih kuat dari keluarga Huang, jika kuberikan pedang ini pada Tuan besar Huang, tidakkah keluarga Huang menjadi kuat karenanya?"

"Anak Ding, ilmu pedang dan kekuatan keluarga Huang secara keseluruhan, mungkin masih berimbang dengan kekuatan Wang Dou dan kelompoknya. Tapi jangan lupa, dunia persilatan penuh dengan tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian bagaikan dewa. Jika bukan karena keberadaan mereka, tentu Wang Dou tidak perlu merahasiakan keberadaan pedang itu."

"Wang Dou mungkin saja tidak berani merebut pedang itu, tapi jika demikian, maka tidak ada pula alasan baginya, untuk tidak menyiarkan berita bahwa keluarga Huang telah mendapatkan pedang itu dan aku mengenal tabiat Tuan besar Huang, dia tidak akan melepaskan pedang itu begitu saja."

"Meskipun telah beberapa generasi kita lebih berkonsentrasi pada usaha dagang. Namun aku tahu dengan pasti, bahwa dalam hatinya, ambisi untuk merajai dunia persilatan itu pun ada. Mungkin sekarang dia memendamnya tapi jika dia sampai memiliki pedang ini, ambisi yang terpendam itu akan berkobar dan api kobarannya bisa membakar kedamaian keluarga Huang."

"Anak Ding, keberadaan pedang itu, akan mengundang bencana bagi keluarga Huang. Jika kau tidak ingin melihat kedamaian yang ada pada keluarga Huang sekarang ini hilang, kau harus membawa pergi pedang itu jauh-jauh dari mereka."

Ding Tao meletakkan mangkok yang dipegangnya, ditangkupkannya kedua tangannya yang gemetar menahan perasaan.

Perlahan-lahan dia berusaha bernafas dengan lambat dan teratur, dipikirkannya kedudukannya saat itu dengan cermat.

Menutup kedua matanya, dia menghela napaf dan berusaha menyingkirkan perasaan-perasaan yang akan mengganggunya dalam berpikir.

Pemuda itu bisa membayangkan reaksi Wang Dou apabila tokoh tua itu mendapati pedangnya hilang bersamaan dengan hilangnya dirinya.

Yang pertama-tama dia lakukan tentu memeriksa sumur tempat dia terjatuh, ketika didapatinya Ding Tao sudah menghilang bersamaan dengan pedang itu, maka kecurigaan akan dialihkan pada orang-orang dalam keluarga Huang.

Apabila dirinya masih sempat datang kembali ke kediaman keluarga Huang setelah kejadian itu, tentu Wang Dou akan memiliki pemikiran bahwa mungkin saja pedang itu berada dalam kekuasaan keluarga Huang.

Meskipun Ding Tao kemudian pergi dari rumah keluarga Huang, kecurigaan itu tidak akan hilang begitu saja.

Baginya tidak ada pilihan lain kecuali dengan segera meninggalkan kota, tanpa berpamitan pada siapapun juga.

Akan tetapi kondisi tubuhnya saat di dalam sumur sangatlah buruk, tidak mungkin dia keluar tanpa bantuan dan bila Wang Dou cukup teliti, tentu akan diketahui pula bahwa gurunya Gu Tong Dang sempat meninggalkan kediaman keluarga Huang pada malam itu.

Ding Tao membuka matanya dan menatap sosok kakek tua yang ada di hadapannya.

Diperhatikannya keriput di wajah tua itu dan senyum yang tidak lepas juga meskipun menghadapi kejadian yang mengejutkan.

"Guru, jika demikian pemikiran guru, itu berarti, guru pun tidak bisa pulang kembali."

Guru tua itu mengangguk-angguk dengan sabar.

"Ya, sepertinya kau sudah mengerti. Mungkin banyak orang akan memandang kita sebagai orang yang tidak mengenal arti kata setia dan tidak tahu membalas budi."

"Tapi jika kita tidak mau membawa kesulitan masuk ke dalam keluarga Huang, justru inilah yang harus kita lakukan."

Ding Tao mengangguk, meskipun terasa pahit baginya, tapi diapun tidak melihat jalan lain.

Gu Tong Dang mendesah sedih, guru tua itu bukannya tidak tahu bagaimana perasaan Ding Tao terhadap nona muda Huang.

Dengan perlahan dia bangkit berdiri lalu menepuk-nepuk pundak Ding Tao.

"Bersabarlah, dalam dua tahun, jika kau rajin berlatih, tentu kepandaianmu bisa meningkat pesat dan pada saat itu, tidak perlu kau takut pada Wang Dou. Pada saat itu, dengan pedang Angin berbisik di tanganmu, tidak banyak yang dapat menandingimu."

Ding Tao berusaha tersenyum dan mengangguk, meskipun hatinya masih terlalu pedih untuk mengucapkan apa-apa. Gu Tong Dang bisa menyelami perasaan muridnya.

"Sudahlah, aku akan menyiapkan bekal bagi perjalanan kita, percayalah, aku akan berusaha membantumu sekuat tenaga."

Gu Tong Dang meninggalkan ruangan itu dan tinggallah Ding Tao sendiri.

Pemuda itu menatap langit-langit kamar, terbayang di pelupuk matanya, senyum manis nona muda Huang.

Terbayang pula betapa terkejutnya mereka sekeluarga ketika mendapati dirinya dan gurunya hilang begitu saja.

Saat mereka mendapati keduanya pergi dengan keinginan sendiri, betapa mereka akan mencaci maki dan memandang rendah.

Ding Tao mendesah, matanya dipejamkan dan keluhan pendek keluar dari mulutnya.

Beberapa lamanya dia berdiam, ketika matanya membuka, wajahnya tidak lagi dihiasi kerisauan, melainkan ada kemauan yang kuat terpancar di sana.

Ding Tao bukan seorang pemuda yang keranjingan ilmu silat, jika dia berlatih dengan tekun, itu adalah karena dia ingin menyenangkan hati nona muda Huang.

Jika dia pernah bermimpi menjadi jagoan pedang, itupun karena dia ingin memenangkan hati nona muda Huang.

Sekarang nasib sudah memaksa dia untuk mengambil jalan yang akan dipandang rendah oleh nona muda itu.

Tapi Ding Tao bertekad untuk menggembleng dirinya dengan tekun, sehingga satu saat nanti dia bisa kembali, untuk meluruskan kesalah pahaman ini dan menghapuskan segala kesan buruk yang ada dalam benak nona muda Huang terhadap dirinya.

Panas terik membakar permukaan bumi dan penghuninya.

Hari belumlah mencapai tengah hari tapi panasnya sudah mebuat keringat bercucuran.

Mereka yang berduit lebih memilih menggunakan kereta atau tandu.

Yang tidak berduit, terpaksa berjalan kaki saja dengan menggunakan topi lebar untuk menudungi kepala mereka dari teriknya matahari.

Tapi ada saja orang muda, utamanya para laki-laki yang berjalan dengan dada tengadah tanpa tudung kepala.

Buat mereka ini panasnya matahari masih tidak sepanas darah yang mengalir di tubuh mereka.

Kulit mereka berwarna tembaga, karena begitu seringnya terbakar matahari.

Atau juga mereka yg masih remaja dan anak-anak, yang bermain tanpa mempedulikan panasnya matahari.

Karena semangat mereka yg meledak-ledak tidak bisa dipadamkan dengan sedikit panas atau hujan.

Beruntung negara yang terisi dengan pemuda-pemuda seperti ini, tapi sungguh celaka jika negara seperti ini dipimpin oleh pemimpin yang malas dan picik.

Sehingga bibit-bibit di masa depan, harus mati tertindas atau teracuni oleh keserakahan pemimpinnya.

Salah satu dari mereka yang berjalan tanpa tudung kepala adalah seorang pemuda yang sangat menonjol perawakannya.

Wajahnya lebar dan kesan jujur terpancar di sana.

Senyum yang sopan tidak pernah lepas dari bibirnya.

Sebenarnya tidak bisa dikatakan tampan, meskipun juga bukan seorang buruk rupa, yang menarik dari wajah pemuda itu adalah ekspresi yang ada di sana.

Sekilas orang memandang, mereka bisa merasa bahwa pemuda ini dapat dipercaya.

Tinggi badannya melampaui orang-orang di sekitarnya, sehingga ke mana dia berjalan, tanpa terasa orang akan memandang ke arahnya.

Pemuda itu berjalan sambil menengok ke kanan dan ke kiri, diam-diam bergumam seperti sedang mengenangkan masa lalu.

"Ah, toko uwak Hong itu masih ada, semakin ramai saja kelihatannya."

Atau "Lho, toko kain yang di ujung pasar sekarang sudah berubah jadi kedai makan. Di mana ya bibi tua yang baik hati itu sekarang."

Orang lewat yang sempat mendengar itu bisa menarik kesimpulan bahwa pemuda ini dulunya pernah tinggal di kota itu dan sekarang kembali setelah meninggalkan kota itu untuk waktu yang cukup lama.

Ketika pemuda itu melewati sebuah rumah makan bertingkat dua, maka tanpa disadarinya ada 3 pasang mata yang mengamati keberadaannya.

Ketiga orang itu berduduk di tingkat 2, sehingga dengan mudah mereka mengamati pemuda itu tanpa terlihat olehnya.

Ketiganya duduk dalam satu meja yang sama, buntalan yang diletakkan di atas meja mengesankan bahwa ketiganya, seperti sedang mengadakan perjalanan jauh.

Sebilah pedang tergantung di pinggang, jika itu tidak cukup, maka tatapan mata yang tajam, urat yang bertonjolan di tangan dan kulit tangan yang mengeras di tempat-tempat tertentu menunjukkan bahwa ketiganya adalah orang-orang yang sudah cukup lama bergelut dengan pedang.

Tentu saja, tidak berarti bahwa ketiganya adalah jago pedang.

Salah seorang yang termuda di antara mereka berbisik pada yang lain.

"Apakah benar dia? Sepertinya benar dia, tapi juga rasanya berbeda. Lebih... lebih..."

Dengan nada yang ragu dia meneruskan.

" ... lebih gagah, lebih berwibawa."

Yang tertua di antara mereka menyipitkan matanya, berusaha menangkap lebih jelas raut wajah pemuda yang sedang mereka amati.

"Mataku sudah tidak seawas biasanya, tapi dari dulu pun tubuhnya sudah lebih tinggi dari kebanyakan orang biasa. Dalam dua tahun, bukan tidak mungkin dia bertambah tinggi lagi."

Orang ketiga berkata pula.

"Mataku masih cukup awas dan menurutku, itu memang dia. Tentu saja ada perubahan-perubahan, ketika dia menghilang dulu dia masih berumur 18 tahun. Masih dalam masa pertumbuhan. Kalau kuingat sewaktu dia kecil dulu justru dia yg terpendek di antara yang lain dan baru menginjak usia 15-an tubuhnya bertumbuh dengan cepat. Rasanya itu memang dia."

Tapi cepat-cepat dia menambahkan.

"Meskipun demikian, kalau hendak memastikan, sebaiknya kita lihat saja dari dekat."

Yang paling tua di antara mereka berpikir sejenak, tampaknya dialah yang menjadi pemimpin dalam kelompok ini, itu sebabnya ketika mengajukan pendapat, kedua orang yang lain selalu memandang ke arahnya.

"Hmm... kurasa sebaiknya begitu."

Yang termuda di antara mereka tampak ragu.

"Tapi kita sedang mengemban tugas penting, apakah memang pemuda itu begitu pentingya? Jika terlambat hanya gara-gara pemuda itu, bukankah kita bisa kena semprot Tuan besar Huang nantinya?"

Dua orang lain yang lebih tua umurnya saling berpandangan. Seperti saling mengerti tanpa kata-kata keduanya perlahan-lahan mengangguk. Kemudian yang tertualah yang menjawab.

"Dibilang penting sekali juga tidak. Tapi memastikan identitas pemuda itu tidaklah begitu susah dan memakan waktu, nanti setelah memastikan dirinya kita bisa memutuskan langkah selanjutnya."

Yang termuda pun terpaksa mengangguk, dia bisa merasakan ada ketegasan dalam jawaban itu.

Meskipun demikian dalam hati dia bertanya-tanya, ada apa di balik pemuda itu?

Seorang tukang kebun yang menghilang bersamaan dengan hilangnya seorang guru tua dua tahun yang lalu.

Apakah ada satu misteri yang penting di balik menghilangnya mereka?

Dengan hati bertanya, diapun mengikuti kedua orang yang lebih tua dari dirinya.

Bergegas mereka keluar, untuk mengikuti pemuda tadi, pemilik rumah makan itu tampaknya sudah mengenal baik mereka bertiga, sehingga tanpa banyak pertanyaan dibiarkannya saja, ketiganya berlalu.

Dengan setengah berbisik, ia memanggil pelayan yang melayani meja mereka bertiga.

"Hei, kau catat saja dulu pesanan mereka, kalau mereka tidak kembali kita tagihkan saja ke rumah Tuan besar Huang."

Meragu sejenak dia menambahkan.

"Sementara ini, biarkan saja meja mereka, siapa tahu nanti mereka kembali."

Ketiga orang itu berlalu tanpa berpamitan, tidak sulit untuk mengikuti pemuda yang mereka cari, tubuhnya yang jauh lebih tinggi dibanding orang di sekitarnya memudahkan mereka.

"Sepertinya dia pergi menuju ke tempat kediaman keluarga Huang. Apa yang sebaiknya kita lakukan?"

Berkerut alis pemimpin dari rombongan kecil itu.

"Kalau dia memang pergi untuk menemui Tuan besar Huang, tidak perlu kita mengikuti dia seperti ini."

"Kakak, rasanya memang benar tentu dia itu Ding Tao, sedari dulu sifatnya jujur dan setia. Menghilangnya dia dua tahun yang lalu, tentu karena terpaksa dan sekarang dia hendak kembali untuk datang dan meminta maaf pada Tuan besar Huang, telah pergi tanpa berpamitan."

"Aku rasa kamu benar. Meskipun demikian..."

Kedua orang yang mengikut menunggu dengan tegang, menanti pimpinan mereka memberikan keputusan.

"Huang Lui, sekarang sebaiknya kau kembali ke rumah, mendahului pemuda itu. Entah dia benar Ding Tao atau bukan, menurutku ada baiknya pamanmu, Tuan besar Huang, sudah bersiap terlebih dahulu sebelum dia sampai."

Pemuda itu memandang dengan alis terangkat, seperti hendak memastikan.

Dalam hatinya ada seikit rasa kecewa, ini adalah pertama kalinya, dia dikirim keluar kota untuk menyelesaikan suatu urusan.

Ketika dilihatnya perintah itu sudah pasti dan tidak akan berubah, diapun mengangguk dengan sedikit enggan.

"Baiklah paman."

Pemimpin rombongan itu bisa membaca kekecewaan di wajah Huang Lui, sambil tersenyum dia menambahkan.

"Aku dan adik Lin, akan menyelesaikan makan di rumah makan Hoa sebelum melanjutkan kembali perjalanan. Kalau kau cepat-cepat melapor dan kembali, kau bisa menyusul kami sebelum kami meninggalkan kota. Kalaupun kami sudah tidak ada di sana, kau bisa mencari kami di Penginapan Bunga Seroja."

Wajah pemuda itupun menjadi cerah kembali.

"Baiklah paman, aku akan secepatnya melapor pada Paman Huang Jin."

Kedua orang yang lain mengangguk, kemudian sambil menunggu pemuda itu menghilang, mereka terus mengamati pemuda yang mereka sangka sebagai Ding Tao, tukang kebun keluarga Huang yang menghilang dua tahun yang lalu.

Mata keduanya masih mengikuti pemuda tinggi tegap itu, sampai dia menghilang di sebuah persimpangan.

"Sepertinya dia memang mengambil jalan menuju kediaman keluarga Huang, meskipun dia mengambil jalan yang sedikit lebih panjang."

"Hmm, benar, mungkin dia sedang mengenangkan kota ini. Dua tahun waktu yang cukup panjang dan ada banyak perubahan di sana sini. Menurutmu apa perlu kita mengikutinya lebih jauh?"

Orang yang ditanya merenung sejenak.

"Kurasa tidak perlu. Penilaian kita rasanya tidaklah salah, sudah 18 tahun hidup mengenalnya, rasanya waktu yang 2 tahun tidak akan banyak mengubah wataknya itu. Lagipula jika benar pemuda itu Ding Tao dan dia ingin menghindari kita orang-orang keluarga Huang, tentu dia tidak akan kembali ke kota ini."

Orang yang tertua, yang menjadi pimpinan itu termenung sejenak sebelum mengangguk dan berbalik kembali ke arah rumah makan Hoa. Sambil berjalan kembali dia mendesis.

"Tapi jika benar kecurigaan Tuan besar Huang tentang sebab musabab, menghilangnya dia 2 tahun yang lalu..."

Kata-kata itu tidak dilanjutkannya, teman seperjalanannya pun tidak bertanya lebih jauh, keduanya berjalan sambil termenun membayangkan peristiwa yang akan terjadi.

Tiba-tiba yang lebih muda pun bergumam.

"Sialan, kalau dipikir-pikir lebih lama, aku jadi menyesal sudah menerima penugasan ini."

Rekannya yang lebih tua tersenyum dan tidak lama kemudian menyahut.

"Kalau aku, aku justru bersyukur menerima penugasan ini. Urusan ini..."

Setelah terhenti sebentar dia mendesah lalu melanjutkan.

"Hahh.... Sebenarnya aku akan tidur lebih nyenyak seandainya Tuan besar Huang tidak ikut campur dalam urusan yang terkutuk ini."

Rekannya yang lebih muda termangu sejenak, kemudian sambil memukul bahu rekannya yang lebih tua dengan bercanda dia menyahut.

"Itu karena tulangmu sudah mulai keropos dimakan usia dan terlalu banyak kawin. Jangan-jangan nyalimu pun ikut menjadi ciut setelah binimu ada dua."

Demikian sambil bercanda keduanya berlalu, tapi di dalam hati mereka, tidak bisa disangkal ada degup-degup ketegangan.

Jadi apakah benar adanya, bahwa pemuda tadi itu adalah Ding Tao?

Coba mengikuti kembali pemuda tinggi tegap itu, wajahnya memang serupa benar dengan Ding Tao, tentu saja dia itu Ding Tao, jika tidak untuk apa kedatangannya perlu diceritakan di sini.

Meskipun matanya jauh lebih tajam mencorong dibanding dua tahun yang lalu, tubuhnya tumbuh jauh lebih tinggi dari sebelumnya, dia tetap Ding Tao.

Seperti yang dikatakan oleh anggota termuda dari rombongan kecil itu, dia tampak lebih gagah dan berwibawa.

Jika dua tahun yang lalu Ding Tao seorang pemuda yang jujur, rendah hati dan tampak canggung di sekitar orang lain.

Ding Tao yang sekarang tampak lebih percaya diri, meskipun sorot matanya yang jujur masih ada di sana, diapun masih seorang pemuda yang sopan dan rendah hati, terlihat dari cara dia mengangguk dan membungkuk pada orang yang bersimpangan jalan dengan dirinya, seraya memberikan jalan terlebih dahulu pada mereka.

Cara dia berjalan sungguh jauh berbeda dengan dua tahun yang lalu.

Kalau dipikirkan memang betapa ajaib, betapa cara seseorang memandang nilai dirinya sendiri bisa mengubah penampilan seseorang begitu banyak.

Meskipun dari fisik dan wajah tidaklah berbeda, tapi dari cara berjalan dan berlaku, dari sorot mata dan ekspresi wajah, seseorang yang memiliki keyakinan pada dirinya seringkali memancarkan kharisma yang berbeda.

Ding Tao yang saat itu terhanyut dalam kenangannya pada kota tempat dia lahir dan dibesarkan, sesungguhnya tidak kalah tegang dengan kedua orang dari keluarga Huang yang melihatnya tadi.

Setiap langkah dia semakin dekat pada kediaman keluarga Huang, semakin dekat, semakin kencang pula debaran di jantungnya.

Bagaimana tanggapan Tuan besar Huang nantinya?

Apa yang harus dia ceritakan tentang kejadian dua tahun yang lalu?

Apakah Tuan besar Huang akan marah kepadanya?

Percayakah mereka pada ceritanya?

Dan tidak terucapkan bahkan dalam benaknya, tapi seperti arwah penasaran terus menghantui di belakang layar, bagaimana tanggapan Nona muda Huang kepada dirinya sekarang ini?

Ketika akhirnya dia sampai di ujung jalan tempat di mana kediaman keluarga Huang berada, tanpa terasa kakinya berhenti berjalan.

Gerbang rumah sudah terlihat dari kejauhan, tinggal beberapa langkah lagi dia akan sampai di sana.

Tapi yang beberapa langkah itu rasanya jauh lebih berat dari ribuan li yang sudah dia tempuh berhari-hari sebelumnya.

Tanpa terasa dia teringat pada pembicaraannya dengan Gu Tong Dang beberapa minggu yang lalu, sebelum dia pergi untuk menengok kembali keluarga Huang.

--------------o ---------------Saat itu Gu Tong Dang tampak jauh lebih tua dan lemah dari Gu Tong Dang dua tahun yang lalu.

Berdua mereka hidup dengan sangat sederhana dalam suasana yang penuh keprihatinan.

Mereka sadar mereka harus baik-baik dalam menyembunyikan diri.

Jika sebelumnya mereka sudah terbiasa hidup serba berkecukupan dalam naungan keluarga Huang, sekarang mereka harus bekerja keras sebagai buruh kasar hanya untuk makanan secukupnya.

Tidur di tanah yang keras dengan hanya beralaskan selembar kain tipis dan kasar.

Bagi Ding Tao yang masih muda hal itu tidak banyak mengganggu kesehatannya, bahkan kerja keras dan latihan-latihan yang dia jalani, justru membuat tubuhnya makin sehat dan kuat.

Tapi bagi Gu Tong Dang yang sudah berumur, kehidupan itu sedikit banyak menurunkan kesehatannya.

Meskipun tidak sampai jatuh sakit, namun kekuatan fisiknya jauh lebih menurun dibandingkan dua tahun yang lalu.

Lagipula guru tua itu sungguh-sungguh memperhatikan kemajuan dan kesehatan muridnya.

Tidak jarang guru tua ini, mengurangi jatah makannya sendiri agar Ding Tao yang masih bertumbuh dapat makan dengan layak.

Pemuda itupun sesungguhnya berusaha menolak, namun Gu Tong Dang berkeras hati, sehingga akhirnya diapun menerimanya, meskipun dengan hati yang merasa bersalah dan sangat terharu oleh kebaikan guru tua itu.

Dan saat hendak meninggalkan gurunya ini, pemuda itu mau tidak mau kembali tersentuh perasaannya, melihat kondisi Gu Tong Dang yang tiba-tiba saja seperti bertambah 10 tahun usianya.

Terenyuh, pemuda itu hanya bisa menyampaikannya dengan kata-kata yang pendek, ketika dia berusaha membicarakan dengan Gu Tong Dang mengenai keinginannya untuk menengok kembali keluarga Huang dan meluruskan kesalah-pahaman yang mungkin timbul 2 tahun yang lalu.

Guru tua itu medengarkan penjelasan Ding Tao yang terbata-bata dengan sabar.

Lama dia tidak menjawab, Ding Tao pun hanya bisa menunggu sambil terdiam.

Ketika akhirnya dia menjawab, dia terlebih dahulu menepuk-nepuk pundak pemuda itu dengan rasa sayang.

"Ding Tao, muridku. Sepertinya aku tidak akan bisa mencegah lagi kepergianmu. Bekalmu pun kupandang sudah cukup banyak. Hanya saja, sebelum engkau pergi, dengarkan dulu penjelasan gurumu ini."

"Ding Tao apakah kamu percaya dengan perkataan gurumu ini? Apakah kamu percaya dengan ketulusan gurumu ini? Bahwasannya, setiap nasihatku adalah untuk kebaikanmu?"

Ding Tao mengangguk dengan tegas.

"Tentu guru, budi guru tidak akan pernah kulupakan. Kebaikan guru akan selalu kuingat."

Gu Tong Dang terkekeh mendengar jawaban Ding Tao.

"Anak bodoh, bukan itu yang kutanyakan. Tentang hal itu aku tidak ragu. Namun yang aku tanyakan, bisakah kau mempercayai dan melakukan setiap nasihat yang akan kuberikan ini?"

Dengan alis terangkat Ding Tao balik bertanya.

"Tentu saja guru. Apalah ada bedanya? Budi guru setinggi langit, murid tidak akan lupa. Bagaimana mungkin murid akan meragukan nasihat guru atau melanggar nasihat guru? Kalau guru meragukan kesetiaanku sebagai murid, biarlah murid bersumpah."

Cepat-cepat Gu Tong Dang mengulapkan tangannya, menghentikan Ding Tao yang saat itu hendak mengucapkan sumpah.

"Jangan, jangan kau bersumpah apapun anakku."

"Sudahlah, kalau aku belum mengatakannya, mungkin sukar bagimu untuk memahami permintaanku ini. Baiklah biar aku katakan saja, lagipula aku tidak ingin mengikatmu dengan sumpah apapun, karena aku tahu sifatmu. Aku tidak ingin kau terikat dengan satu sumpah, hingga kau melakukan sesuatu yang kau benci."

"Tapi dengarkanlah perkataanku baik-baik. Simpanlah dalam hatimu sebagai satu pertimbangan dalam kau mengambil keputusan. Terutama dalam masalah kedudukanmu saat ini dalam dunia persilatan."

Tercenung Ding Tao mendengar perkataan gurunya, tapi dengan patuh dia menganggukkan kepala dan menanti nasihat dari gurunya itu.

Gu Tong Dang yang mengerti benar sifat dari muridnya itu merasa cukup puas dengan anggukan kepala.

Berhadapan dengan orang yang jujur, satu anggukan kepala atau kesediaan sudah cukup.

Namun dengan orang yang curang hatinya, sumpah atas nama kakek moyang sampai tujuh turunan pun bukanlah satu jaminan.

"Nah dengarkanlah riwayat dari pedang yang sekarang menjadi milikmu itu."

"Seperti yang sudah pernah kukatakan padamu, pedang itu bernama Pedang Angin Berbisik, pertama kali muncul dalam dunia persilatan, kurang lebih 15 tahun yang lalu. Pemiliknya seorang pendekar pedang kenamaan dari Emei. Kurasa tentang hal ini kaupun sudah cukup tahu, karena nama pendekar itu dan kisah kematiannya sangatlah dikenal orang."

"Tapi mungkin yang belum benar-benar kau sadari adalah arti dari pedang itu bagi orang-orang dalam dunia persilatan."

"Sebenarnya, sebelum kematiannya yang misterius, banyak orang menaruh harapan pada pendekar pedang Jin dari Emei itu. Sudah berpuluh-puluh tahun ini, para pendekar aliran lurus dalam dunia persilatan seperti hidup di atas panggangan api."

"Kau tentu pernah mendengar pula nama Pendekar Ren Zuocan, dari sekte sesat Bulan dan Matahari, yang pusat kekuatannya berada di luar perbatasan. Ilmunya tinggi dan organisasinya pun teratur rapi. Ambisinya melebihi tingginya Gunung Himalaya. Jika bukan karena keberadaan Biksu Kongzhen dari Shaolin yang menguasai Telapak Buddha dan Pendeta Tao Chongxan dari Wudang dengan ilmu pedang Taiji-nya, mungkin sudah lama dia meluruk ke dalam perbatasan."

"Tapi bahkan kedua tokoh itupun tidak mampu mengalahkan Ren Zuocan, Ren Zuocan memiliki satu ilmu kebal yang aneh, mungkin setingkat dengan ilmu baju besi milik ketua Shaolin di generasi sebelumnya, atau bahkan lebih. Selain itu, Shaolin dan Wudang yang berlandaskan agama, tidak mau mengambil tindakan menyerang, karena Ren Zuocan pun masih menahan diri dan tidak dengan terang-terangan menunjukkan ambisinya."

"Dengan demikian, orang-orang persilatan di daratan pun merasa hidup di atas panggangan api. Semua bisa merasakan ada bahaya yang mengancam, tapi tidak ada kekuatan untuk melawan."

"Perguruan-perguruan lain selain Shaolin dan Wudang sedang meredup bintangnya, sementara dua perguruan yang bisa diharapkan itu, justru memilih sikap bertahan. Dengan cemas mereka hanya bisa melihat Sekte Bulan dan Matahari tumbuh semakin kuat, beberapa rumor mengatakan bahwa di dalam daratan sendiri sudah ada beberapa perguruan yang berjanji setia kepada sekte Matahari dan Bulan secara diam-diam."

"Kaupun tentu pernah mendengar bahwa 5 tahun sekali, Ren Zuocan mengadakan pertemuan persahabatan antar pendekar dunia persilatan. Di luaran dia memberikan alasan, pertemuan itu diadakan untuk saling kenal dan melakukan pertandingan persahabatan demi kemajuan ilmu bela diri. Yang sesungguhnya, itu hanyalah suatu cara untuk menjajagi tingkat kekuatan pendekar-pendekar silat di daratan."

"5 kali sudah pertemuan itu dilakukan, hingga saat terakhir Biksu Kongzhen dan Pendeta Chongxan masih mampu menunjukkan bahwa kekuatan mereka tidaklah di bawah Ren Zuocan dan dengan demikian secara tidak langsung sudah membendung ambisi Ren Zuocan yang meluap-luap bak air bah."

"Tapi semua orang pun sadar, umur Biksu Kongzhen dan Pendeta Chongxan sudah hampir memasuki usia lanjut. Ilmu mereka sudah sulit lagi untuk ditingkatkan, sementara fisik mereka justru mulai menurun. Ren Zuocan di pihak lain, masih berada dalam usia puncaknya dan dengan sabarnya dia menunggu saatnya tiba. Banyak orang berpendapat, pada pertemuan lima tahunan yang berikutnya, kedua tetua itu sudah akan berada di bawah tataran Ren Zuocan."

"Penilaian ini bukannya tidak beralasan, pada pertemuan 5 tahunan yang terakhir, yaitu 3 tahun yang lalu. Secara perseorangan kekuatan kedua tetua itu sudah seusap di bawah kekuatan Ren Zuocan. Hanya saja bila keduanya maju bersamaan tentu Ren Zuocan masih bukan tandingan mereka berdua."

Ding Tao yang ikut hanyut dalam penjelasan gurunya tanpa terasa berbisik.

"Tapi jika tahun depan mereka bertemu kembali..."

Gu Tong Dang mengangguk setuju.

"Ya, benar. Pada pertemuan tahun depan, mungkin bahkan secara bersamaan pun kedua tetua itu bukan lagi tandingan dari Ren Zuocan."

"Guru, apakah seluruh daratan hanya bergantung pada kedua tetua itu? Tidak adakah pengganti mereka dari generasi yang lebih muda?"

"Tentu saja ada, tapi Ding Tao, mengenai ilmu bela diri, seperti juga mengenai keahlian lain, seringkali permasalahannya bukan hanya terletak pada ketekunan seseorang, tapi juga bakat dan nasib baik."

"Itu sebabnya dalam ratusan tahun sejarah sekte Wudang, hanya ada satu Zhang Sanfeng."

"Aku pribadi tidak setuju dengan pendapat banyak orang, bahwa seorang murid tidak akan lebih maju dari gurunya. Ilmu bela diri, seperti juga ilmu dan keahlian yang lain, berasal dari sumber yang asali, yang hakekatnya jauh lebih besar dari manusia yang manapun. Dan mereka yang berbakat serta mencapai pencerahan sesungguhnya belajar lewat sumber yang satu ini. Dengan demikian mereka ini akan mampu melampaui guru pengajarnya, karena sesungguhnya guru pengajar mereka adalah sumber yang tidak terbatas ini."

"Setiap beberapa masa selalu saja muncul tokoh-tokoh yang mampu menggali lebih dalam ilmu yang sudah ada dan menggapai tingkatan yang jauh lebih tinggi dari tokoh-tokoh yang hidup sebelum dirinya. Mereka ini yang menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya."

"Tapi sebagaimana hal-hal lain dalam dunia ini, ilmu bela diri pun mengalami pasang surutnya. Ada masanya tokoh-tokoh berbakat bermunculan, tapi ada juga masanya ketika tingkatan murid selalu saja berada di bawah gurunya dan ilmu bela diripun dari tahun ke tahun semakin merosot nilainya."

"Dan sekarang ilmu bela diri di daratan sedang mengalami masa surutnya."

Ding Tao dengan alis berkerut bertanya pada Gu Tong Dang.

"Guru, sebenarnya apa masalahnya kalaupun Ren Zuocan lebih kuat dari tokoh-tokoh bela diri dari daratan, apa pula masalahnya kalau dunia persilatan dikuasainya? Bukan maksudku tidak cinta pada negara, tapi asalkan urusan dunia persilatan tidak melebar ke masalah pemerintahan, bukankah rakyat masih bisa hidup tenang. Paling-paling yang berbeda, kalau dulu bayar pajak keamanan di dunia hitam pada orang sendiri, sekarang bayar pajak keamanan pada orang luar."

Gu Tong Dang menggeleng dengan sabar.

"Sedikit banyak sebenarnya pertanyaanmu itu sendiri sudah mengandung jawaban. Pertama-tama ini masalah harga diri bangsa, jika orang dunia persilatan dari luar perbatasan menginjak-nginjak kita, adalah satu ketidak-setiaan jika kita berdiam diri."

"Tapi yang lebih penting lagi adalah, sebuah negara menjadi kuat adalah dari kekuatan setiap rakyatnya. Sebagai golongan orang yang mementingkan ilmu bela diri dalam hidupnya, bisa dikatakan, golongan kita-kita ini memegang peranan penting dalam pertahanan bangsa. Jika Ren Zuocan berhasil menguasai kita, bukan tidak mungkin hal itu merupakan batu loncatan bagi suku di luar perbatasan untuk menyerang pemerintahan kita."

Suasana di dalam ruangan itu menjadi begitu sepi, ketika kedua orang dengan umur yang berbeda sedang merenungi masa depan yang tampak suram. Adalah Ding Tao yang pertama kali memecahkan suasana.

"Guru, tadi guru hendak menjelaskan hubungan pedang ini dengan nasib dunia persilatan."

Gu Tong Dang terhenyak kembali dari lamunannya, matanya pun bersinar nakal.

"Heheheh, ya, ya, bicara ke sana ke mari, otakku yang pikun jadi lupa dengan masalah yang penting."

"Nah, kau tadi bertanya tentang generasi baru yang mampu menggantikan kedua tetua itu. Sesungguhnya tokoh itu sempat muncul. Yaitu kira-kira pada 15 tahun berselang."

Berhenti pada pernyataan itu, Gu Tong Dang memandangi Ding Tao, menanti pemuda itu sampai pada kesimpulan yang diinginkannya.

Otak Ding Tao berputar dengan cepat, dari pandangan gurunya dia bisa menangkap bahwa sesungguhnya setiap informasi sudah diberikan dan dia harus dapat menarik kesimpulannya.

Bukan seperti kanak-kanak yang harus selalu disuapi nasi, tapi Ding Tao sudah harus bisa menganalisa sendiri informasi yang ada.

Tidak butuh waktu berapa lama Ding Tao sudah sampai pada kesimpulan, dengan hati-hati di abertanya.

"Guru, apakah yang guru maksudkan adalah Pendekar pedang Jin Yong dari aliran Emei?"

"Hmm... memang dia orangnya. Hampir setiap orang menanti-nantikan pertemuan lima tahun yang akan diadakan waktu itu. Tidak kurang Biksu Kongzhen dan Pendeta Chongxan sendiri yang memberikan penilaian. Umurnya memang masih terpaut jauh dengan kedua tetua itu dan juga dengan Ren Zuocan, dengan sendirinya dari segi tenaga dalam dan kematangan ilmu masih ada selisih yang cukup jauh."

"Tapi Pendekar pedang Jin Yong memiliki bakat yang bagus dan pemahaman yang dalam serta otak yang encer. Lebih penting lagi, dia bernasib baik sehingga Pedang Angin Berbisik ini jatuh ke dalam tangannya."

"Ding Tao, sekarang coba aku tanya kepadamu, dalam berkelahi menggunakan pedang, manakah yang lebih penting, antara kekuatan atau keuletan, pemahaman akan limu bela diri dan kecepatan atau kelincahan?"

Ding Tao menggosok dagunya dengan jari, kemudian menjawab.

"Hmm... dengan tangan kosong kekuatan dan ketahanan tubuh akan berpengaruh banyak. Tapi dengan menggunakan senjata tajam, tubuh yang seliat apapun akan bisa dilukai dengan ujung besi yang tajam. Dari ketiganya, pemahaman akan ilmu bela diri dan kelincahan lebih berpengaruh. Dan dari kedua hal itu, kelincahan, baik dalam bereaksi maupun dalam beraksi akan lebih menentukan."

Gu Tong Dang mengangguk-angguk.

"Ya, benar perkataanmu. Dengan bertambahnya usia, himpunan tenaga dalam seseorang bisa jadi bertambah mapan, wawasan dan pengalamanpun akan semakin dalam. Tapi ketika pertarungan dilakukan dengan menggunakan senjata tajam, dua hal itu kalah pengaruhnya dengan kecepatan. Mungkin dengan pengalaman yang matang seseorang bisa mengambil keuntungan, tapi seperti yang kukatakan tadi Pendekar pedang Jin, adalah seseorang yang berbakat dan berotak encer."

"Dan yang lebih penting, dia memiliki Pedang Angin Berbisik, sebilah pedang yang teramat tajam dan ulet. Ren Zuocan boleh membanggakan ilmu kebalnya ketika menghadapi senjata-senjata yang lain, tapi di hadapan Pedang Angin Berbisik, ilmu kebalnya boleh dikatakan mati kutu."

Sejenak wajah Ding Tao menjadi cerah, tapi secepat itu pula wajahnya kembali kelam.

"Ah... sayang, seribu sayang. Guru siapa orangnya yang begitu culas hingga meracun Pendekar pedang Jin? Apakah orang ini tidak mengerti bagaimana boleh jadi nasib seluruh bangsa tergantung di atasnya?"

Gu Tong Dang menggeleng dengan sedih.

"Entahlah, siapa yang tahu. Sejak dulu ada saja orang dengan hati serakah dan berjiawa pengkhianat. Yang demi keuntungannya sendiri rela menjual saudara-saudaranya."

Ding Tao tiba-tiba seperti teringat pada sesuatu.

"Guru, tapi sekarang pedang ini ada di tangan kita, mengapa tidak kita berikan pedang ini pada Biksu Kongzhen atau Pendeta Chongxan?"

"Muridku, apakah kau lupa yang tadi kukatakan, kedua tetua ini mengabdikan dirinya untuk menjalani hidup beragama. Meskipun pedang ada di tangan mereka, tidak nanti mereka akan menggunakannya untuk mengambil nyawa atau melukai Ren Zuocan. Tidak akan, selama Ren Zuocan masih bersikap dengan cerdik seperti saat ini. Lalu setelah kedua tetua itu semakin menurun kemampuannya, dengan atau tanpa pedang, mereka bukanlah tandingan Ren Zuocan. Rencanamu itu hanya akan memperpanjang nafas selama beberapa tahun. Pendekar sehebat apapun, akhirnya harus takluk pada usia."

"Celaka, celaka, apa gunanya pedang ini ada, jika tidak ada pemilik yang tepat. Malah yang timbul bencana demi benacana, sesama saudara sebangsa saling membunuh demi sebilah pedang.", tanpa terasa Ding Tao mengeluh menyayat hati. Dengan geram dia memandangi pedang yang sekarang ada di tangannya, terbayang betapa gara-gara pedang itu Pendekar besar Jin Yong mati diracun, kemudian tidak terbilang tokoh-tokoh dunia persialtan yang mati memperebutkan pedang itu. Dan gara-gara pedang itu pula, hidupnya jadi terlunta-lunta dan terpisah dari orang yang dikasihi, dengan hati geram dia berucap.

"Guru! Sebaiknya pedang ini aku tenggelamkan saja di lautan luas atau lebih baik lagi aku ceburkan dalam kawah gunung berapi, biar dia hancur lebur tak berujud."

Gu Tong Dang yang kaget membelalakkan matanya.

"Anakku, anakku... bagaimana mungkin kau berpikir seperti itu. Tokoh pencipta pedang itu tentunya menciptakannya dengan seluruh bakat, pengetahuan dan tenaga yang dia miliki. Dosa besar pada leluhur jika kita menghancurkannya. Terlebih lagi sikap berputus asa, bukanlah sikap lelaki sejati."

Ding Tao dengan lemas memandangi pedang di tangannya, kemudian mengalihkan pandangannya itu pada gurunya, seakan bertanya, lalu apa yang bisa kita perbuat?

"Anakku, kau tadi mengatakan satu kesia-siaan bahwa pedang ini ada, karena pedang ada tapi pemilik yang tepat tidak ada.

Tapi anakku, sesungguhnya aku sudah menemukan pemilik yang tepat bagi pedang itu."

Mendengar itu wajah Ding Tao menjadi cerah.

"Ah, bagus sekali kalau begitu. Guru sebutkan namanya dan di mana dia tinggal, murid akan menghantarkan pedang ini ke tangannya, murid akan tunjukkan bahwa tidak sia-saia guru mengajar murid. Walaupun harus memakai taruhan nyawa pedang ini akan murid pastikan sampai di tangan yang tepat."

Meilhat kesungguhan Ding Tao, tanpa terasa Gu Tong Dang tertawa terbahak-bahak, geli campur kagum, terharu juga bersyukur.

Ding Tao yang melihat gurunya tertawa terbahak-bahak, menjadi serba salah, mau ikut tertawa dia tidak tahu apa yang membuat gurunya tertawa.

Akhirnya dia berdiam diri sambil menantikan gurunya berhenti tertawa, mungkin gurunya tertawa melihat kesombongannya yang begitu yakin bisa menjaga dan mengantar pedang itu sampai pada pemilik yang tepat.

Atau mungkin gurunya tertawa karena bangga pada kemauannya yang kuat.

Tapi apa yang dikatakan gurunya setelah itu, membuat Ding Tao bagai tersambar petir.

"Anak bodoh, jika mataku tidak salah, kaulah pemilik yang paling tepat dari pedang itu."

Melengong Ding Tao memandangi gurunya, pakah dia sedang bercanda?

Atau sedang mempermainkan dirinya?

Yang terlihat adalah pandangan penuh kasih dari seorang tua, yang sudah lama tidak dia rasakan sebagai seorang yatim piatu.

"Guru... apa guru bercanda? Apa guru tidak salah menilai? Aku tahu guru mengasihiku seperti mengasihi putera sendiri, apa guru yakin tidak salah menilaiku?"

Gu Tong Dang mengangguk puas, bagi guru tua ini, kerendahan hati bukanlah kekurangan, karena Ding Tao memiliki karakter yang kuat, baginya kerendahan hati adalah sebuah modal untuk maju.

"Ding Tao, bukan tanpa alasan aku mengatakan hal ini. Bakatmu dalam memahami ilmu bela diri, mungkin bisa disandingkan dengan Pendekar besar Jin Yong. Sekarang coba aku tanya, saat kau pertama kali bertarung dengan Wang Chen Jin, apa yang kau rasakan? Dan apa pula yang kau rasakan saat mulai mempelajari jurus-jurus lanjutan?"

Dengan berkerut alis Ding Tao mencoba mengingat kembali pertarungan dua tahun yang lalu.

"Murid merasa, jalan pikiran murid jadi terbuka luas. Apa yang tadinya hanya murid bayangkan dalam pemikiran, hanya murid pahami dalam teori, pada saat itu rasanya... rasanya murid baru benar-benar memahaminya. Sulit diungkapkan dengan kata-kata, perasaan itu... itu seperti seekor ikan yang dilepaskan ke dalam air, seperti burung yang sedang terbang."

"Kemudian saat murid mulai mempelajari jurus-jurus lanjutan, banyak pertanyaan yang semakin jelas terjawab. Dan murid merasa lebih yakin pada pemahaman murid akan jurus-jurus dasar yang sudah murid pelajari, karena nyata kesimpulan murid terhadap jurus-jurus dasar itu sebenarnya tidak jauh meleset. Pikiran murid juga semakin terbuka dan terkadang ketika mempelajari jurus yang baru, hal itu terasa mudah, karena sebelum guru mengajarkannya, hal yang sama sudah murid pikirkan."

Mendengar itu Gu Tong Dang tersenyum senang.

"Hmmm, ketahuilah, banyak orang mempelajari ilmu bela diri tanpa pernah menyelami hakekat dari setiap gerakan yang mereka lakukan. Bagi orang-orang semacam ini, ilmu bela diri mereka tidak akan pernah maju melampaui kecekatan dan kekuatan. Pemahaman mereka, hanyalah menyentuh kulitnya saja."

"Sebagian yang lain berotak lebih terang, bukan hanya mereka mampu menggunakan gerakan-gerakan itu dalam sebuah perkelahian, mereka mampu memahami lebih dalam, hakekat dari tiap-tiap gerakan. Maksud dan tujuan dari setiap jurus. Mereka-mereka ini yang memiliki kesempatan untuk maju dalam ilmu bela diri."

"Tapi dari sekian banyak orang itu, seberapa jauh pemahaman mereka, dan seberapa jauh mereka bisa menerapkan pemahaman mereka dalam pertarungan yang sesungguhnya, itulah yang akan membedakan jagoan kelas satu dengan jagoan kelas dua. Antara seorang Maha guru dengan seorang ahli biasa."

"Ding Tao, anakku, dua tahun yang lalu, pemahamanku dalam ilmu bela diri, mungkin masih berada di atasmu. Tapi dalam penerapannya di dalam pertarungan yang sesungguhnya aku masih jauh berada di bawahmu. Itu sebabnya Tuan besar Huang, mempercayaiku untuk menjadi guru, tapi tidak untuk menjadi orang-orang kepercayaannya."

Ding Tao yang mendengarkan penjelasan itu pun terdiam, ada sebagian dari dirinya yang merasa berbangga mendengarkan hal itu, tapi ada pula bagian dirinya yang masih bertanya-tanya, tidak mampu menerima penjelasan itu, baginya gurunya sudah tentu masih lebih hebat dari dirinya.

"Ding Tao, tidakkah kau sadari, bahwa pada 1 tahun terakhir ini, ketika semua ilmu keluarga Huang yang kuketahui, aku ajarkan padamu, aku tidak lagi mengajarimu teori apapun. Yang kulakukan adalah mengajukan pertanyaan padamu."

Memerah muka Ding Tao, karena seakan-akan dia merasa gurunya hendak mengatakan bahwa sejak saat itu dirinya sudah lebih pandai dari gurunya.

"Itu... itu tentu bukan karena guru tidak mengerti, tapi karena guru ingin melihat aku belajar menganalisa setiap persoalan secara mandiri. Seperti dahulu saat guru memaksaku untuk merenungkan jurus-jurus dasar yang ada."

Perlahan-lahan Gu Tong Dang menggeleng.

"Muridku, biarlah kukatakan yang sejujurnya. Sesungguhnya pada waktu itu, pemahamanmu sudah jauh lebih mendalam dari pemahamanku. Bahkan dari uraian jawabanmu, bisa kupahami sekilas, jurus-jurus rahasia simpanan keluarga Huang. Aku berani bertaruh, bahkan kakek buyut Tuan besar Huang sendiripun pemahamannya tidak sampai ke taraf itu."

Pucat wajah Ding Tao mendengar perkataan gurunya, mulutnya membuka hendak menyangkal, tapi wajah gurunya begitu bersungguh-sungguh.

Dan di kedalaman hatinya, dia mengakui kebenaran sebagian dari kata-kata gurunya.

Sesuai benar pemikiran itu ttg pemahaman dan penggunaan sebuah jurus dalam pertarungan yang sesungguhnya, dengan hasil perenungannya.

Melihat Ding Tao terdiam, Gu Tong Dang melanjutkan uraiannya.

"Muridku, mungkin saja aku salah. Tapi aku orang tua ini, yang menjadi gurumu, dan sesuai perkataanmu sudah menanamkan budi baik yang setinggi langit padamu, percaya sepenuhnya pada bakat dan sifat yang ada padamu."

"Dan dengan sepenuh hati, aku berpendapat, bahwa engkau adalah pemilik yang paling tepat dari pedang itu. Karena itu pesanku yang pertama kepadamu, apapun yang terjadi, jangan biarkan pedang itu jatuh ke tangan orang lain."

"Kita sudah sama-sama merenungkan keadaan negara kita saat ini, dan kita sama-sama sampai pada satu kesimpulan bahwa harus ada orang yang mengalahkan dan kalau perlu mengenyahkan Ren Zuocan sebagai ancaman besar, bukan hanya bagi orang di dalam dunia persilatan tapi juga bagi negara ini. Kita juga sudah sama-sama sampai pada kesimpulan bahwa pedang ini, bisa menjadi kunci yang memecahkan persoalan besar yang kita hadapi, asalkan pedang ini ada di tangan yang tepat."

"Dan sebagai gurumu, aku mengatakan, kaulah pemilik yang tepat bagi pedang ini. Kehilangan pedang ini, berarti kau menjerumuskan negaramu dalam bahaya, kau gagal menunjukkan baktimu, baktimu sebagai seorang murid kepada guru, baktimu sebagai seorang rakyat pada negaranya dan tentu saja baktimu sebagai seorang anak pada leluhurmu."

Lemaslah lutut Ding Tao, perkataan gurunya bagaikan gunung runtuh membebani pundaknya. Pemuda itu bersujud di depan gurunya, sambil membentur-benturkan kepala ke lantai dia mengeluh dengan hati pedih.

"Murid tidak berani... sungguh murid tidak berani guru."

Tiba-tiba Gu Tong Dang yang selalu tampil dengan kesabaran yang seperti tidak pernah habis, meloncat berdiri dan menendang muridnya hingga berguling-guling.

Wajahnya membara, dengan mata melotot dia menggeram.

"Murid bodoh !!! Apakah gurumu ini membesarkan seorang pengecut? Apakah hidupku ini sudah kusia-siakan dengan membesarkan anak ayam !!! Bangkit kau kalau kau memang laki-laki!!!"

Betapa terkejut hati Ding Tao tidak bisa dilukiskan, inilah kakek tua yang selalu tersenyum dan bersabar, membimbing dan mengajarnya.

Selalu bersabar menanggapi kebebalannya.

Tapi kejutan itu juga menyadarkan pemuda ini, bahwa dia adalah seorang rakyat yang memiliki kewajiban, seorang murid, seorang anak yang memiliki kewajiban untuk berbakti pada guru dan orang tuanya.

Bahkan jika dia tidak memiliki ilmu bela diri secuilpun, bahkan jika yang ada di tangannya adalah cangkul dan bukan pedang, tidak sepantasnya dia lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki.

Menyadari kesalahannya, Ding Tao dengan cepat berlutut kembali, menunjukkan rasa hormat dan memohon ampun atas kesalahan sebelumnya.

Berlutut boleh sama, tapi Ding Tao yang berlutut sekarang berbeda dengan Ding Tao yang berlutut beberapa saat yang lalu.

Dengan bergetar dia berkata.

"Guru... sungguhpun aku belum percaya bahwa aku orang yang pantas memiliki pedang ini. Tapi demi rasa baktiku pada guru, pada leluhur dan pada negara. Tidak akan murid lari dari musuh setangguh apapun , tidak akan lepas pedang ini dari tangan murid jika nyawa masih ada di badan. Dan dengan restu guru dan para leluhur, dengan segenap kekuatan dan pengetahuan yang sudah dikaruniakan pada murid, murid akan berusaha mempertahankan negara ini dari setiap musuh, pun jika harus mengorbankan nyawa untuk itu."

Perlahan-lahan wajah Gu Tong Dang melembut, ditariknya pemuda itu bangkit berdiri.

"Satu hal lagi, kutahu kau tidak dapat ditahan untuk pergi menemui Tuan besar Huang. Sifatmu yang tahu membalas budi ini baik adanya. Tapi ingatlah perkataanku, baik buruk seseorang, baru terlihat saat dia dihadapkan pada bahaya besar atau keuntungan besar. Pergilah tapi berhati-hatilah, bukan tanpa alasan banyak orang terbunuh demi pedang ini. Setiap orang yang memiliki bakat cenderung berpikir bahwa dirinyalah penyelamat dan pahlawan yang ditunggu-tunggu dunia. Tidak semua orang, atau kalau boleh kukatakan, tidak ada orang lain yang seperti dirimu, yang rela menyerahkan pedang pusaka ini demi kepentingan orang banyak."

"Sampai pada waktunya pertemuan lima tahunan yang berikutnya, jaga dirimu baik-baik. Perdalam pemahamanmu, perluas pengalamanmu. Aku titipkan segenap usahaku sebagai seorang yang harus berbakti pada negaranya ke atas pundakmu."

"Dan sebagai gurumu, kepada siapa engkau tadi bersumpah, aku perintahkan, cabutlah sumpahmu itu. Sebagai gurumu, aku nyatakan kepadamu, sumpahmu tadi tidak aku terima. Jangan bodoh dan takabur, pedang itu mungkin pedang pusaka yang bisa menyelamatkan dunia persilatan, tapi pedang itu adalah benda mati, kegunaannya terletak pada siapa pemakainya. Sementara orang adalah hidup, tanpa pedangpun, orang bisa melakukan hal-hal besar."

"Jika aku mengatakan padamu bahwa kaulah orang yang layak untuk memiliki pedang itu, itu berarti dirimu sebagai manusia, jauh lebih berharga dari pedang itu. Jangankan dirimu yang belum berpengalaman. Jin Yong yang gagah perkasa itupun dapat jatuh dalam jebakan orang dan kehilangan nyawa sekaligus pedangnya. Jika pada satu posisi kau harus memilih antara nyawamu atau pedang itu. Pilihlah nyawamu, dan dengan kehidupan yang ada padamu, usahakanlah untuk memenuhi permintaanku, mengabdi pada negara, berbakti pada guru dan leluhurmu, tanpa pedang itu."

Dengan menahan haru Ding Tao mengangguk, itulah kenangan terakhir Ding Tao akan gurunya sebelum pergi meninggalkannya.

Sekarang di depan gerbang rumah keluarga Huang, kenangan itu menghantui dirinya.

Akankah Tuan besar Huang menginginkan pedang itu?

Jika pedang itu diminta, apa pula yang harus dia lakukan atau katakan?

Jika mereka hendak menggunakan kekerasan, dapatkah dia melawan dan mempertahankan pedang itu?

Atau nantinya dia harus lari dan merelakan pedang itu di tangan keluarga Huang?

Satu per satu Ding Tao melangkah, setiap langkah diikuti dengan pertanyaan dan setiap pertanyaan tidak juga dia menemukan jawaban yang memuaskan.

Seandainya tidak ada seorang gadis yang sudah menawan hatinya di rumah itu, seandainya tidak ada Huang Ying Ying di sana, kaki Ding Tao akan membawanya berlari ribuan li, menjauh dari rumah itu.

Ding Tao seorang pemuda yang mengenal dengan sungguh-sungguh akan tanggung jawab dan kewajiban.

Dia tahu, jika pada saatnya dia harus memilih antara cinta dan kewajibannya pada negara, walaupun pedih dia akan memilih yang kedua.

Tapi Ding Tao juga adalah seorang pemuda yang sedang di mabuk cinta.

Otaknya membenarkan kekhawatiran Gu Tong Dang gurunya, tapi hatinya membisikkan harapan.

Meskipun dalam hati ada ketakutan seperti gunung yang menindih seisi dadanya, bahwa kedatangannya hanya akan membawa benih permusuhan antara dirinya dengan gadis yang dicintainya.

Tapi harapan bahwa yang dikhawatirkan itu tidak terjadi, bahwa kedatangannya akan diterima dengan tangan terbuka, memberikan kekuatan baginya untuk melangkah.

Jarak yang ditempuh bukanlah jarak yang tidak terbatas jauhnya, meskipun setiap langkah yang diambil begitu berat, akhirnya sampai juga Ding Tao di depan pintu gerbang keluarga Huang.

Penjaga pintu bukannya tidak mengenali pemuda itu, namun roman wajah Ding Tao dan juga perubahan yang sekarang ada padanya, membuat mereka ragu untuk menegur pemuda itu.

Meskipun tidak ada kata-kata yang terucapkan, melihat raut wajah pemuda itu yang tegang, hati kedua penjaga pintu keluarga Huang ikut menjadi muram.

Setelah mereka berhadapan muka, barulah Ding Tao tersadar akan keadaan mereka saat itu.

Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya ditepisnya jauh-jauh semua kekhawatiran.

Tersenyum ramah dia membungkuk dengan hormat.

"Saudara Ling, saudara Bu, ini aku Ding Tao."

"Ah... oh.... ah Ding Tao, jadi benar ini Ding Tao. Ya ya, kami pun tadi merasa mengenalimu, tapi kau sudah jauh berbeda sampai kami pangling karenanya."

"Ya, ya benar, sekarang kau jadi jauh lebih tinggi lagi dari kami."

Sambutan kedua penjaga pintu yang ramah membantu Ding Tao untuk menyingkirkan keraguannya.

Hatinya yang memang jujur, mudah sekali bersih dari kecurigaan.

Jika tadi dia masih canggung, jawaban kedua penjaga pintu itu menghilangkan kecanggungannya.

Sambil menggaruk kepala dia tertawa.

"Ya, entah kenapa badanku ini terus saja bertambah tinggi, terkadang aku khawatir dia tidak berhenti bertambah tinggi dan suatu hari nanti aku harus tidur di atas dua tempat tidur yang disusun berjajar."

Kewajaran sikap Ding Tao membantu kedua teman lamanya menghilangkan kecanggungan dalam hati mereka, dengan tertawa mereka memukul dada Ding Tao.

"Wah bukan hanya bertambah tinggi, tampaknya kaupun bertambah liat. Sebenarnya apa yang terjadi dua tahun yang lalu?"

"Benar, kami semua dibuat bingung oleh ulahmu, apa benar kau melarikan anak gadis orang?", goda salah seorang dia antara mereka sambil memutar-mutar bola matanya. Dengan wajah kemerahan Ding Tao membalas pukulan mereka.

"Jangan menyebar gosip sembarangan."

Kemudian dengan nada yang lebih serius dia melanjutkan.

"Kedatanganku hari ini justru ingin menghadap pada Tuan besar Huang Jin, untuk memohon maaf sekaligus menjelaskan alasan kepergianku dua tahun yang lalu."

"Hemm, sepertinya misterius sekali, apa kau tidak mau membagikannya pada teman lamamu ini?"

Sambil tersenyum sopan Ding Tao menjawab.

"Saudara Ling, bukannya aku tidak percaya mulutmu yang bocor itu. Cuma memang masalahnya sedikit peka, lebih baik aku membicarakannya dahulu dengan Tuan besar Huang Jin."

Sambil tertawa bergelak kedua penjaga itu akhirnya mengijinkan Ding Tao untuk masuk menemui Tuan besar Huang Jin.

"Cari saja dia di bangunan utama, tadi kulihat dia berjalan ke arah sana bersama dengan beberapa tetua serta anak-anaknya."

Dengan hati yang jauh lebih ringan Ding Tao melangkahkan kaki menuju ke arah bangunan utama.

Setiap kali dia bertemu dengan kenalan lama tentu tidak lupa dia mengangguk dan menyapa.

Saat dia sampai di depan bangunan utama, hatinya sudah lapang dan bersih dari segala kekhawatiran.

Yang terbayang adalah senyum bahagia nona muda Huang, mungkin sedikit marah dan beberapa pukulan, tapi setiap pukulan justru akan membuatnya lebih bahagia.

Dengan senyum mengembang di bibirnya, Ding Tao mengetuk pintu.

Akhirnya setelah dua tahun berlalu, Ding Tao menginjakkan kaki kembali di rumah kediaman keluarga Huang.

Tempat dia dilahirkan dan dibesarkan, tempat di mana dia belajar arti kata persahabatan dan untuk pertama kalinya mengenal cinta.

Ketika dia dipersilahkan masuk ke dalam bangunan utama, Ding Tao sedikit berdebar karena di hadapannya telah berduduk para tetua dan orang penting dalam keluarga Huang.

Rupa-rupanya kedatangannya bertepatan dengan salah satu pertemuan penting dalam keluarga Huang.

Ding Tao pun jadi merasa tidak enak hati dan malu, karena dengan tidak sengaja sudah merecoki satu pertemuan yang sepertinya cukup penting.

Cepat-cepat dia membungkukkan badan dalam-dalam dan memberi hormat.

"Tuan besar Huang Jin, para tetua, maafkan jika hamba sudah mengganggu pertemuan yang penting."

Tuan besar Huang Jin yang sebelumnya sudah mendapatkan kabar tentang kedatangan Ding Tao dari salah seorang keponakannya, telah bersiap-siap untuk menemui Ding Tao.

Meskipun di luaran, dia berlagak terkejut dan tidak menyangka akan kedatangan Ding Tao, dengan cepat dia berdiri dari tempat duduknya dan bangkit untuk menyambut Ding Tao yang masih membungkuk hormat.

"Astaga, Ding Tao. Benarkah engkau itu nak? Jangan sungkan-sungkan, pertemuan kami sebenarnya sudah hampir selesai. Nah sekarang duduklah bersama kami, kedatanganmu ini tentu membawa satu cerita yang luar biasa. Dengan tiba-tiba kau menghilang dua tahun yang lalu bersamaan dengan Pelatih Gu, kami semua mencemaskan kalian dan terus terang merasa penasaran."

Ding Tao merasa bersyukur, segala kekuatirannya ternyata tidak beralasan, Tuan besar Huang Jin, bukan saja tidak mencurigainya, Tuan besar Huang Jin bahkan menyambutnya seperti menyambut seorang anak yang hilang.

Membasah mata Ding Tao dengan suara sedikit serak menahan haru dia menjawab.

"Tuan besar Huang, sungguh kami bersalah, tapi ada alasan kuat mengapa aku dan guru terpaksa pergi diam-diam."

Dengan arif Tuan besar Huang Jin menepuk-nepuk pundak pemuda itu.

"Tenangkanlah hatimu, terhadap kesetiaanmu dan kesetiaan pelatih Gu, sedikitpun aku tidak ragu. Sejak dari awal aku sudah tahu, jika kalian berdua sampai menghilang begitu saja, tentu ada alasan yang kuat."

Sembari membimbing Ding Tao untuk ikut duduk dalam meja pertemuan, Tuan besar Huang Jin memberi tanda pada salah satu pelayan kepercayaan yang hadir untuk menghidangkan minuman dan makanan.

Ding Tao yang merasa sebagai seorang pelayan dalam keluarga Huang tentu saja makin merasa rikuh dan sungkan, menerima merasa tidak layak tapi menolak pun berarti sudah bersikap tidak sopan.

Tuan besar Huang Jin tentu saja dapat menangkap kecanggungannya, dengan tawa ramah dia membesarkan hati pemuda itu.

"Ding Tao, janganlah terlalu sungkan, dua tahun ini tentu sudah banyak yang terjadi pada dirimu. Dari caramu berjalan dan sorot matamu, bisa kutebak, ilmumu tentu sudah maju jauh. Hari ini aku anggap kau sebagai tamu, entah apakah nanti kau akan kembali menjadi anggota keluarga Huang atau tidak, tapi aku harap antara keluarga Huang dengan dirimu bisa terjalin satu hubungan yang baik."

"Tuan besar Huang, hal itu... sungguh terlalu besar kehormatan yang Tuan besar Huang berikan, hamba ini lahir sebagai pelayan tuan. Setelah berkelana dua tahun pun, dalam hati hamba masih memandang Tuan besar Huang sebagai tuan saya."

"Heh... anak Ding, perkataanmu itu sungguh tidak bisa aku terima. Siapa itu Liu Bei? Bukankah asalnya hanya seorang penjual sepatu jerami? Atau siapa itu Liu Bang yang menjadi pendiri Kekaisaran Han? Bukankah awalnya dia hanya seorang petani? Pahlawan lahir dari golongan mana saja, yang terpenting bagi seorang laki-laki adalah kepribadiannya."

"Pujian Tuan besar Huang terlalu berat untuk kuterima. Hamba ini cuma orang biasa, tentu tidak bisa dibandingkan dengan pahlawan-pahlawan dari masa yang lalu."

Ding Tao seorang yang rendah hati, tapi seorang yang rendah hati pun akan merasa senang jika dipuji, meskipun hatinya merasa sangat malu dengan sikap Tuan besar Huang Jin yang memperlakukannya dengan sangat baik, di lain pihak ada juga rasa bangga yang tersisip di dalamnya.

Mendengar jawaban dan sikap Ding Tao yang malu-malu, mereka yang berduduk di sana pun tertawa bergelak, bagaimana pun juga, sebagian besar dari mereka masih ingat dengan pemuda yang dungu tapi setia dan sopan itu.

"Sudahlah, yang penting hari ini, lupakan kedudukanmu dahulu sebagai pelayan dalam keluarga Huang, sekarang ini kamu menjadi tamu bagi kami dan jangan lupa kau masih berhutang penjelasan kepada kami. Aku yakin, ceritamu pastilah sangat menarik.", kata salah seorang di antara mereka setelah tawa mereka mereda. Yang lain pun menggangguk setuju dan saling mendorong Ding Tao untuk cepat-cepat mengisahkan kejadian dua tahun yang lalu. Ding Tao yang merasa diterima dengan baik menjadi lenyap tak berbekas segala ketakutannya, dengan suara yang cukup jelas dan lancar dia mulai menceritakan kejadian dua tahun yang lalu. Dimulai dari pesan Wang Chen Jin yang disampaikan secara diam-diam, hingga pertarungan di antara mereka berdua. Seruan kaget dan marah terdengar dari beberapa orang, sementara wajah Tuan besar Huang Jin pun menjadi keruh saat mendengar akan kelicikan Wang Chen Jin, dengan geram dia memukul meja.

"Hmph!! Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anakany licik sama seperti bapaknya, wajahnya boleh jadi mirip Guan Yu, tapi hatinya persis Tsao Tsao."

Yang mendengar makian Tuan besar Huang Jin ikut mengangguk setuju, hanya Ding Tao yang tidak berani terlalu banyak berkomentar, sejenak dia berdiam diri, menunggu Tuan besar Huang Jin menyuruh dia melanjutkan cerita.

Tidak lama setelah memaki-maki Wang Dou dan anaknya, kembali mereka memandang Ding Tao.

"Lalu, kurasa Pelatih Gu-lah yang akhirnya menolongmu keluar dari sumur itu, karena malam itu kalian berdua menghilang bersamaan. Apakah benar demikian?"

"Iya, benar sekali pengamatan Tuan besar Huang. Malam itu jika tidak ada guru, tentu umur hamba berhenti sampai di situ saja."

"Hmmm... tapi kami masih belum mengerti dengan jelas, jika demikian, lalu apa alasannya kalian menghilang? Seandainya malam itu dengan tidak sengaja kamu membunuh Wang Chen Jin, mungkin masih bisa kumengerti. Kalian mungkin memutuskan untuk menghindari pembalasan dendam Wang Dou tanpa menarik keluarga kami ke dalam pertikaian itu. Tapi malam itu kaulah yang kalah dan jatuh ke dalam sumur, tidak ada alasan kuat bagi kalian untuk menghilang. Wang Dou dan anaknya justru berada di pihak yang bersalah."

Perasaan Ding Tao cukup peka, sejak tadi dia bisa merasakan bahwa Tuan besar Huang Jin telah menarik garis pemisah antara dirinya dengan keluarga Huang.

Beberapa kali dia menyebut keluarga Huang sebagai kami dan Ding Tao dengan sebutan kamu.

Tapi menilik cara mereka yang menerima dirinya dengan bersahabat, Ding Tao mengerti bahwa yang dilakukan Tuan besar Huang Jin itu justru adalah demi kebaikan dirinya.

Dengan demikian dalam pembicaraan itu, Ding Tao bukanlah berdiri sebagai seorang pelayan keluarga Huang, melainkan sebgai seorang tamu dan sahabat yang sederajat.

Tidak terkira rasa syukur dan terima kasih pemuda itu.

Bicaranya pun semakin lancar dan segala ganjalan di hatinya hilang tak berbekas.

Bahkan harapannya akan hubungan yang lebih baik dengan nona muda Huang menjadi semakin besar.

Karena itu tanpa ada yang ditutup-tutupi, diapun menceritakan bahkan menunjukkan Pedang Angin Berbisik yang ada di tangannya.

Sekilas hatinya terkesiap karena untuk sekejap dia bisa melihat perubahan di wajah Tuan besar Huang Jin dan mereka semua yang hadir.

Tapi ketika kemudian mereka bersikap wajar dan terbuka, hatinya pun kembali menjadi tenang.

Setelah mendengar seluruh kisah Ding Tao, semua yang hadir di sana mengangguk-angguk dengan puas.

"Adik Huang, menurutku, tidak ada salahnya kalau Ding Tao menginap di sini selama beberapa hari sebagai tamu kita. Aku yakin banyak teman lama yang ingin ditemuinya.", ujar salah seorang kakak sepupu Huang Jin.

"Ya, aku setuju sekali dengan pendapat Engkoh Tiong, Ding Tao, bagaimana menurutmu? Kuharap kau tidak keberatan untuk menginap beberapa malam di rumah kami. Aku yakin ceritamu akan sangat menarik hati buat anak-anak muda di sini. Jangan sungkan, meskipun sekali lagi aku katakan, aku sudah mengambil keputusan untuk menganggapmu bukan bagian dari keluarga ini lagi. Tapi tetap aku berharap antara keluarga Huang dan dirimu bisa terjalin hubungan yang baik."

Dengan muka memerah Ding Tao mengangguk setuju.

"Kalau Tuan besar Huang mengundang, tentu hamba tidak berani menolak, tapi kalau kamar yang dulu masih kosong, biarlah hamba beristirahat di situ saja."

Tentu saja pada awalnya Tuan besar Huang tidak setuju jika Ding Tao hendak tidur di kamarnya yang dulu, di bagian tempat para pelayan dalam.

Tapi karena Ding Tao berkeras, akhirnya Tuan besar Huang pun menyetujuinya.

Baca Juga: Mutiara Hitam 1

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert