Eps 2 Pedang Angin Berbisik - Han Meng
Baca online Pedang Angin Berbisik - Han Meng
Cersil Pedang Angin Berbisik - Han Meng.
Tapi sebelum Ding Tao beristirahat di sana, Tuan besar Huang terlebih dahulu memerintahkan pelayan-pelayannya untuk membersihkan ruangan itu dan mengisinya dengan perabot-perabot yang lebih baik.
Ding Tao sedang mengamati kamarnya yang lama dengan rasa haru, berbagai kenangan baik yang pahit maupun yang manis singgah di benaknya.
Setelah selesai melewati tanya jawab dengan Tuan besar Huang Jin, sebuah beban yang berat dirasanya lepas dari pundaknya.
Apa yang dikhawatirkan ternyata tidak terjadi, kesalah pahaman dua tahun yang lalu bisa diluruskan dengan mudah, bahkan bila menilik sikap dan perkataan Tuan besar Huang Jin, kesalah pahaman itu sendiri tidaj pernah ada.
Tiba-tiba barulah terasa, betapa penat tubuhnya.
Melihat kasur yang empuk timbul keinginannya.
Sudah dua tahun dia tidur hanya beralaskan kain, jangankan dengan kasur baru yang disiapkan Tuan besar Huang Jin, kasur kerasnya yang lama pun sudah jadi satu kemewahan.
Dengan satu hembusan nafas lega dia menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
Terbayang kehidupan gurunya yang tua, Gu Tong Dang, yang saat ini tentu masih saja tidur beralaskan kain dan beratap ilalang.
Dalam hati Ding Tao berjanji sesegera mungkin dia harus memberi kabar pada gurunya itu, seandainya saja dia bisa meyakinkan gurunya agar kembali pada keluarga Huang, tentu hidupnya akan jauh lebih baik dan tidak terlunta-lunta di usia tuanya.
Tapi untuk saat ini, lelah dan penat yang dirasakan mengalahkan segala macam pikiran yang ada.
Sebentar memejamkan mata Ding Tao segera terlelap dalam tidur.
Entah untuk berapa lama dia terlelap, tiba-tiba saja kesadarannya dihentakkan kembali ke alam sadar dengan suara gedoran di pintu kamarnya disertai suara yang sudah sangat dikenalnya.
"Ding Tao! Ding Tao! Ayo buka..."
"Ssst.. Adik Ying, jangan teriak-teriak. Bagaimana kalau dia sedang tidur, mungkin sebaiknya kita kembali saja nanti."
"Huuhh... jam segini tidur? Dulu dia tidak pernah malas, dua tahun keluyuran apa sekarang dia jadi pemalas?"
Sekali lagi pintu kamarnya digedor dengan keras.
"Ding Tao! Baaanguuuuun !!!!"
"Astaga ... orang mati pun bisa bangun lagi kalau teriakanmu seperti itu."
"Bagus malah, memang aku mau membangunkan Ding Tao yang tidur setengah mampus."
"Aih... Adik Ying."
Kemudian terdengar ketukan yang lebih perlahan dan panggilan yang jauh lebih sopan.
"Saudara Ding, apa kau sudah bangun? Ini aku Huang Ren Fu dan Ying Ying."
Senyum lebar terbit di wajah Ding Tao, sudah sejak tadi, mendengar percakapan mereka di luar hatinya merasa geli sekaligus bahagia.
Bisa dibayangkannya bagaimana Huang Ren Fu mati kutu mennghadapi adiknya yang nakal itu.
Secepat mungkin dia membenahi pakaiannya dan menjawab panggilan Huang Ren Fu.
"Sebentar Tuan muda Huang, aku akan sedikit beberes."
Ketika dibukanya pintu maka yang pertama kali menyambutnya adalah sebuah cubitan yang keras dari Huang Ying Ying.
"Bagus ya, sedari tadi kupanggil tidak kau jawab. Begitu Kakak Ren Fu yang memanggil kau bukakan pintu."
"Aduh... aduh nona, maafkan aku. Tadi memang aku sedang tertidur pulas, baru saja tersadar saat mendengar suara Tuan muda Huang."
"Huhh... jangan banyak alasan."
Sambil tersenyum kecut Ding Tao memberikan hormat pada kedua kakak beradik itu.
"Tuan muda Huang, nona muda Huang, senang sekali bertemu kalian lagi. Maafkan aku kalau sudah membuat keluarga kalian banyak susah."
Huang Ren Fu yang memang terbuka tabiatnya dengan bercanda memukul dada Ding Tao.
"Nah, apa sampai sekarang pun kau masih memanggil kami dengan sebutan tuan muda dan nona muda? Sedikit-sedikit sudah kudengar kisahmu dari ayah, sekarang kau menjadi tamu kami, jangan lagi panggil tuan dan nona, panggil saja Saudara Fu dan Adik Ying."
"Itu... sepertinya kurang sopan.", dengan sungkan Ding Tao bergumam.
"Kurang sopan apanya, Ding Tao apa kau mau kucubit lagi.", ancam Ying Ying dengan nada menggoda. Huang Ren Fu yang melihat gaya adiknya tertawa.
"Benar Ding Tao, kalau kau masih juga sungkan-sungkan, jangan salahkan aku kalau nanti tubuhmu memar-memar. Adik Ying setelah mulai belajar ilmu pedang jadi tambah galak saja."
Dengan muka bersemu merah Ding Tao tertawa.
"Eh... baiklah, jadi nona muda... maksudku Adik Ying sekarang juga belajar ilmu pedang keluarga Huang?"
"Hmmm... heran ya? Makanya sekarang kau mesti lebih hati-hati kalau berbicara denganku. Aku ini kan gadis berbakat, belajar apa saja tentu bisa. Jangan kau samakan dengan dirimu. Jurus dasar sudah aku selesaikan dalam 3 bulan pertama dan sekarang jurus lanjutan sudah hampir selesai kupelajari."
"Adik Ying, jangan menyombong, apa tidak kau dengar kata ayah, dalam dua tahun ini Ding Tao sudah mendapat banyak kemajuan.", kata Huang Ren Fu yang merasa geli terhadap kesombongan adiknya. Peringatan kakaknya itu hanya dijawab dengan cibiran saja oleh Huang Ying Ying. Tapi baik Ding Tao maupun Huang Ren Fu tidak merasa terganggu oleh ulah gadis muda itu, mereka mengenal dengan baik adat Ying Ying yang suka mengoceh dan berulah tapi hangat dan bersahabat.
"Kakak Fu, aku sebenarnya ragu apa benar kata ayah, yang kuihat sih Ding Tao Cuma bertambah tinggiii saja. Benar tidak Ding Tao?", ujar Huang Ying Ying dengan kerling menggoda. Ding Tao pun menggaruk kepalanya sambil tertawa geli, kemudian sahutnya dengan sopan.
"Sebenarnya memang aku sendiri meskipun merasakan adanya kemajuan tapi tidak begitu yakin juga dengan kemampuan yang sebenarnya."
"Apa sewaktu dalam perjalanan kau tidak pernah bertemu dan berkelahi dengan penjahat Ding Tao?", tanya Ying Ying dengan penuh rasa keingin tahuan.
"Tidak, tidak juga, biasanya aku berpergian dalam satu rombongan besar, beramai-ramai dengan para pedagang dan orang lain. Mereka ini biasanya sudah menyewa pengawal, jadi sepanjang perjalanan tidak banyak halangan."
"Aduh... membosankan sekali...", keluh Huang Ying Ying dengan manja, mulutnya cemberut, tapi bagi Ding Tao justru membuat gadis itu makin menggemaskan. Huang Ren Fu tertawa mendengar keluhan adiknya itu.
"Jangan konyol, memangnya kaupikir setiap hari penjahat selalu bermunculan di jalanan seperti dalam cerita silat yang kau baca?"
"Huuh, kalau tidak berkelahi lalu untuk apa belajar silat, membosankan sekali. Kalau tidak menghajar pantat penjahat-penjahat, lalu siapa yang harus kuhajar? Bukankah antara satu kota dengan kota yang lain masih banyak hutan dan gunung yang terpencil?"
"Hehehe, mungkin kau hajar saja pantatmu sendiri. Adik Ying, di tempat yang terpencil seperti itu memang terkadang ada saja gerombolan penjahat, tapi biasanya kelompok pengawalan sudah menyiapkan pajak khusus buat mereka."
"Maksud Kakak, seperti ayah yang mengirimkan uang untuk Wang Dou itu ya?"
"Ya begitulah, Paman Wang Dou memiliki pengaruh yang cukup besar di sisi utara sungai, hampir setiap kelompok di sana tidak ada yang berani macam-macam dengannya. Asalkan kita menjalin hubungan baik dengannya, kiriman barang melewati daerah itu tentu akan aman-aman saja."
"Huh.. pengaruh apanya, maksud kakak, dia itulah gembong penjahatnya, kakek moyang maling dan perampok di sana."
Membicarakan Wang Dou, Huang Ying Ying jadi teringat cerita ayahnya tentang Ding Tao dan Wang Chen Jin, berbalik melihat Ding Tao diraihnya tangan pemuda itu lalu dengan sungguh-sungguh dia berkata.
"Ding Tao, aku sudah mendengar cerita ayah tentang Wang si keparat itu. Sungguh kalau aku tahu dia selicik itu, tidak akan aku menerima persahabatannya."
Tangan Huang Ying Ying yang lembut dan hangat membuat Ding Tao berdebar-debar. Sambil berpura-pura tidak merasakan apa-apa, dia berusaha menjawab.
"Jangan berkata begitu nona... eh... Adik Ying. Aku sendiri tidak menduga dia akan menyerangku secara demikian. Lagipula, mungkin itu terdorong oleh rasa..."
Tersadar Ding Tao bahwa dia hendak mengatakan,"... terdorong oleh rasa cemburunya."
Tapi cepat-cepat dia menghentikan kata-katanya, jangan-jangan nanti dia dianggap tidak tahu diri.
Kalau bilang cemburu, bukankah itu berarti Ding Tao menafsirkan kebaikan Huang Ying Ying sebagai tanda cinta.
Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu justru tidak menangkap apa-apa dari perkataan Ding Tao, Ding Tao sendirilah yang terlalu banyak berpikir dan merasa.
Huang Ying Ying yang mendengar Ding Tao tidak menyalahkan dirinya tersenyum gembira.
"Terima kasih Ding Tao, aku tahu sifatmu tidak picik dan suka mendendam. Tapi saat kudengar cerita dari ayah aku jadi merasa bersalah sudah berteman dengan si licik Wang cilik itu."
"Aku juga Ding Tao, aku pun menyesal tidak bisa melihat kelicikan dalam diri pemuda itu.", sahut Huang Ren Fu dengan sungguh-sungguh.
"Tapi kata ayah, dari peristiwa itu, kau justru mendapat keberuntungan. Apa benar pedang pusaka milik keluarga Wang jatuh ke tanganmu?", tanya Huang Ren Fu yang teringat lagi dengan cerita ayahnya. Huang Ying Yiing yang juga merasa penasaran dengan kisah Ding Tao ikut mendesaknya. Tidak berapa lama kemudian, tiga orang muda itu pun larut dalam percakapan yang seru. Atas desakan kedua bersaudara itu, Ding Tao sempat pula memamerkan kehebatan Pedang Angin Berbisik yang bisa dengan mudahnya memotong kayu setebal paha orang dewasa. --------------o ---------------Mereka bertiga tidak sadar, beberapa pasang mata sedang mengamat-amati ketiganya. Mereka itu adalah Huang Jin, Tuan besar Huang Jin, kepala keluarga besar Huang. Tiong Fa, sepupu jauhnya yang sering dimintainya nasihat. Huang Ren Fang, putera pertama Huang Jin dan penerus yang diharapkan. Serta Huang Yunshu, paman Huang Jin, satu-satunya saudara ayah Huang Jin yang masih hidup.
"Kalian lihat pedang itu? Menurut kalian apakah benar dugaan Gu Tong Dang bahwa pedang itu adalah Pedang Angin Berbisik?", tanya Huang Jin dengan suara rendah. Tiong Fa yang seringkali bertindak sebagai pencari berita bagi keluarga Huang mengangguk dengan yakin.
"Aku cukup yakin, pedang itu adalah Pedang Angin Berbisik. Karena menurut penyelidikanku pedang itu memang pada saat terakhir jatuh ke tangan Wang Dou. Sayang belum sempat kita mengatur jerat di sekitarnya, justru anak Wang Dou merusakkan setiap rencana kita dan menghadiahkan pedang itu pada si dungu itu."
"Hmph... benar-benar gemas aku kalau mengingat hal itu. Sungguh langit tidak punya mata, sekian tahun kita bekerja keras, anak dungu itu justru mendapatkannya tanpa usaha."
Huang Jin meremas sekuntum bunga yang kebetulan ada di dekatnya sampai hancur lumat, wajahnya tidak lagi terlihat ramah dan arif.
Wajah ke empat orang yang lain tidak kalah menakutkan.
Lucu memang bila dipikirkan, sepertinya langit yang dipandang adil, menurut pandangan mereka haruslah adil dalam cara yang sesuai dengan kepentingan mereka.
Tidak teringat bahwa Ding Tao hampir mati malam itu.
Tidak teringat pula alasan Ding Tao menemui Wang Chen Jin malam itu adalah karena kesetiaannya pada keluarga Huang.
"Menurut Paman Yunshu, sebaiknya apa yang kita lakukan pada Ding Tao?"
"Hmm... tidak salah kita memilih Gu Tong Dang menjadi pelatih bagi bibit-bibit muda. Orang itu memang punya mata yang jeli. Si dungu itu punya bakat yang bagus. Siang tadi saat aku memperhatikan cara dia berjalan memasuki ruangan, cara dia berdiri tegap dan imbang di atas kedua kakinya. Anak dungu itu kukira cukup berisi."
"Jadi maksud paman, kita tarik saja dia kembali dalam keluarga Huang?"
Berdiam diri sejenak Huang Yunshu yang sudah memutih semua rambutnya itu perlahan-lahan menggeleng.
"Tidak semudah itu, anak itu... anak itu... terlalu lurus."
Sepertinya kata lurus itu berat sekali keluar dari mulutnya, sampai mati pun keluarga Huang memandang dirinya sebagai aliran yang lurus.
Menyebut Ding Tao sebagai orang yang lurus dan tidak bersesuaian dengan keluarga Huang, terasa seperti memaksakan posisi sebagai penjahat pada keluarga Huang.
Karena itu diapun melanjutkan.
"Sifatnya yang lurus terkadang tidak sesuai dengan keadaan. Untuk menggapai tujuan besar, seseorang harus memiliki keteguhan hati untuk mengorbankan sesuatu. Bersikap cerdik di waktu yang dibutuhkan dan anak itu tidak memilikinya sama sekali."
Tiong Fa ikut memberikan pendapat.
"Bisa saja dia ditarik menjadi anggota keluarga Huang, tapi pedang itu harus diserahkan pada kita. Tidak boleh kita menjadikan anak itu sebagai andalan. Karena selalu ada kemungkinan dia justru akan bangkit melawan kita kalau dilihatnya ada yang tidak sesuai dengan nuraninya."
Huang Jin mengelus-elus kumisnya yang tebal.
"Hmmm... apakah menurutmu itu mungkin? Ding Tao menyerahkan pedangnya dengan suka rela hingga kita bisa menariknya ke keluarga kita, sekaligus mendapatkan pedang itu?"
Sambil memandang ke arah Ding Tao di kejauhan, Tiong Fa tersenyum melecehkan.
"Pemuda itu begitu dungu, saat ini dia memandang keluarga Huang seperti memandang sekumpulan orang suci. Jika kita bisa memberikan alasan yang mulia, dia akan menyerahkan pedang itu tanpa segan-segan sedikitpun."
Huang Ren Fang yang sedari tadi berdiam diri menyambung.
"Selain itu, kulihat pemuda dungu itu jungkir balik jatuh cinta dengan Adik Ying."
Huang Jin yang mendengar hal itu melirik tajam ke arahnya, bagaimanapun Huang Ying Ying adalah puteri satu-satunya.
"Maksudmu kita mengumpankan adikmu untuk mendapatkan pemuda dungu itu?"
Dengan dingin Huang Ren Fang mengangkat bahunya.
"Setiap perjuangan butuh pengorbanan, lagipula jika anak muda itu sudah seperti mabok arak hanya karena tangannya menggenggam tangan Adik Ying, kukira bila kita memberikan harapan lebih baginya, jangankan pedang, nyawanya pun mungkin akan diberikan."
Merasakan ayahnya kurang suka dengan pendapatnya itu, dia menambahkan.
"Ayah tidak perlu cemas, belum tentu kita perlu menikahkan Adik Ying dengan dirinya, cukup kita berikan dia harapan saja tanpa janji yang pasti."
Huang Yunshu yang mendengarkan pendapat cucunya dengan tenang ikut menyambung.
"Sebagai seorang suami pun, pemuda dungu itu tidaklah buruk, bakatnya bagus dan sifatnya, seperti yang sudah kukatakan, jujur dan setia."
Huang Jin yang mendengar pendapat pamannya itu mau tidak mau harus menerimanya, dengan mendesah dia pun setuju.
"Hahhh.... Ya sudahlah, moga-moga saja anaknya tidak sedungu bapaknya. Tapi bagaimana jika dia masih menolak juga?"
Sejenak ketiga orang yang diajaknya berbicara itu saling melihat, lalu satu pikiran mereka mengangguk.
"Tidak ada jalan lain, dia harus dibunuh, apa pun caranya."
Hening sejenak sebelum Tiong Fa berkata.
"Tapi aku yakin, lidahku ini sudah cukup untuk membuat pemuda itu menyerahkan pedangnya. Serahkan saja semuanya padaku saat jamuan makan malam nanti." ---------------------o ----------------------Jamuan makan malam dilakukan dengan cukup sederhana, namun hampir seluruh anggota keluarga Huang diundang di sana. Tidak kurang dari 30 orang ikut makan bersama, untuk itu sebuah meja yang panjang dan lebar sudah disediakan, di bagian kepala meja tentu saja duduk Tuan besar Huang Jin. Di kiri dan kanannya adalah Tiong Fa dan Huang Yunshu, kemudian menyusul berturut-turut orang-orang kepercayaan Huang Jin. Semakin jauh dari bagian kepala meja, semakin rendah dan muda dari segi umur yang duduk di sana. Ding Tao tidaklah berada di ujung yang satu tapi tidak pula dekat dengan posisi Huang Jin. Tapi Ding Tao tidak merasa tersinggung, justru dia merasa senang karena di dekatnya adalah orang-orang yang hampir seumuran dengannya. Tepat di sisi kanannya adalah Huang Ying Ying yang berceloteh tiada henti. Entah apa saja yang dibicarakan, tapi buat telinga Ding Tao setiap cerita atau gurauan yang dilontarkan sangatlah menarik dan lucu. Sepanjang acara makan bersama itu, senyum dan tawa tidak pernah lepas dari bibirnya. Tentu saja hal itu tidak lepas dari perhatian Huang Jin, dalam hati dia terpaksa mengakui kebenaran kata-kata Huang Yunshu dan putera sulungnya Huang Ren Fang. Hatinya sedikit terhibur melihat Huang Ying Ying sendiri tampaknya menyukai Ding Tao dan sepanjang acara itu Ding Tao bersikap sangat sopan terhadap puterinya. Karena itu diapun tidak terlalu gusar saat dia mendengar putera sulungnya menggoda Huang Ying Ying.
"Adik Ying, kulihat Ding Tao itu orang yang sopan sekali, bisa dibilang cocok untuk menjadi suami seorang gadis sepertimu yang punya sifat bengal."
Godaan Huang Ren Fang itu kontan saja membuat muka Ding Tao memerah seperti kepiting rebus, Huang Ying Ying yang biasanya tidak ambil peduli pendapat orang itu pun, entah kenapa malam itu sedikit berbeda.
Meskipun mulutnya terbuka tapi gadis nakal yang biasanya bisa cepat membalas godaan orang itu kali ini mati kutu.
Tentu saja melihat reaksi keduanya, orang-orang di sekitarnya pun jadi ikut menggoda.
Acara makan itu pun menjadi semakin meriah, tentu saja bukan melulu menggoda sepasang muda-mudi itu, soal lain pun ikut dibahas.
Antara lain tentang pengalaman Ding Tao selama dua tahun itu.
Beberapa kali pemuda itu harus mengulangi cerita yang sama tentang pertarungannya dengan Wang Chen Jin dan bagaimana Gu Tong Dang menyelamatkan nyawanya di saat yang paling kritis.
Ketika Tiong Fa melihat bahwa hampir semua orang sudah berhenti makan, dia berdeham sejenak untuk menarik perhatian.
Saat perhatian semua orang tertuju padanya Tiong Fa menoleh ke arah Ding Tao dan dengan nada yang bersungguh-sungguh dia bertanya.
"Ding Tao, sebenarnya aku tidak ingin untuk menanyakan hal ini. Tapi sedari tadi siang, aku berpikir-pikir, tentang pedang itu. Apakah tidak lebih baik kau serahkan pedang itu pada keluarga Huang kami?"
Ruangan yang tadi riuh dengan percakapan tiba-tiba menjadi sepi, senyum lebar di wajah Ding Tao menghilang digantikan wajah yang memucat.
Seandainya saja pertanyaan diajukan tadi siang, saat dia baru bertemu dengan Tuan besar Huang Jin, mungkin Ding Tao tidak sekaget sekarang.
Bukan hanya Ding Tao yang terkejut, banyak orang muda yang ada di ruangan itu pun sama terkejutnya.
Urusan ambisi keluarga Huang dalam dunia persilatan dan sangkutannya dengan Pedang Angin Berbisik memang urusan yang dijaga rahasianya baik-baik oleh Huang Jin dan orang-orang kepercayaannya.
Tiong Fa yang cerdik tentu saja sudah memperhitungkan hal ini.
Sedari awal keluarga Huang memandang dirinya sebagai bagian dari aliran yang lurus, jika sekarang Tiong Fa mengatakan dia ingin meminta pedang itu dari Ding Tao tanpa bisa memberikan alasan yang kuat, tentu seluruh tokoh dunia persailatan akan memandang mereka sebagai sampah.
Termasuk orang-orang dalam keluarga Huang sendiri, utamanya mereka yang masih berusia muda dan idealis.
"Ding Tao, janganlah kau salah mengerti, pendapatku ini bukanlah didasari ambisi pribadi."
Berdiam diri sejenak Tiong Fa memandang ke sekeliling ruangan.
"Aku lihat di sini yang ada di sini, semuanya adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Aku juga yakin Ding Tao cukup bijaksana untuk merahasiakan tentang keberadaan pedang yang ada di tangannya itu."
Setiap orang menatap ke arah Tiong Fa dengan wajah serius, hanya seorang yang sedikit berbeda, yaitu si nakal Huang Ying Ying.
Mukanya sedikit memerah sambil menggigit bibir bawahnya.
Bagaimana tidak malu, gadis nakal ini yang paling susah menahan bicara, dalam hati dia bersyukur, untung tadi siang saat hendak menemui pengasuhnya dan menceritakan tentang pengalaman Ding Tao, ayahnya keburu memanggil dia ke ruang latihan.
Coba kalau tidak, pasti dia sudah menceritakan soal pedang itu pada bibi pengasuhnya, yang tidak kalah bawel dan suka bergosip.
Dalam keadaan seperti itu, wajah gadis itu sendiri sebenarnya jadi semakin manis dan menggoda, sayang tidak seorangpun di ruangan itu tidak sempat mengaguminya.
Apalagi Ding Tao yang saat itu merasa seperti sedang ditodong dengan pedang tepat di atas jantungnya.
"Tapi satu hal yang perlu diingat, serapat apapun rahasia itu ditutup, satu saat akan terbongkar juga. Ding Tao tidak tahukah dirimu ada berapa banyak tokoh dalam dunia persilatan yang berusaha mengendus jejak dari pedang di tanganmu itu?"
"Selama kau memegang pedang itu, selama itu pula nyawamu terancam. Tapi itu bukan satu-satunya alasanku untuk memintamu meninggalkan pedang itu dalam pengawasan keluarga Huang."
"Alasan lainnya adalah masalah Sekte Matahari dan Bulan yang diketuai Ren Zuocan. Mungkin kau belum tahu, satu-satunya yang membuat takut iblis itu adalah pedang di tanganmu itu, sebelum dia berhasil memusnahkan atau mendapatkan pedang itu dia tidak akan bisa beristirahat dengan tenang."
"Kekuasaannya dan kekuatannya secara pribadi semakin meningkat dari tahun ke tahun. Banyak anggota dunia persilatan yang diam-diam sudah bersumpah setia kepadanya. Bukan hanya dunia persilatan yang berada dalam bahaya, tapi juga negara kita secara keseluruhan. Bayangkan saja jika dedengkot barbar itu berhasil menguasai dunia persilatan daratan, berapa lama sebelum pasukan mereka akan menyeberangi perbatasan dan menjarah rumah-rumah kita?"
Mendengar kata-kata Tiong Fa yang penuh semangat patriotisme, wajah-wajah yang sebelumnya mengerutkan alis sekarang mengangguk-angguk setuju. Termasuk Ding Tao sendiri.
"Karena itu Ding Tao, dengan berat hati dan memendam rasa malu, aku memintamu untuk menyerahkan pedang itu ke dalam pengawasan keluarga Huang. Bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena rasa sayangku padamu dan juga kewajibanku pada negara dan tanah air."
Hebat benar lidah licin Tiong Fa, sudah dari jaman dulu kala, ada saja orang-orang yang berlidah licin selicin ular, yang dengan kemampuannya berbicara dan bersandiwara mampu memikat hati pendengarnya.
Apalagi pemuda-pemuda yang tidak berpengalaman itu.
Apalagi yang mengucapkan adalah orang yang mereka hormati di hari-hari biasa, tidak sebetik pun terlintas dalam pikiran mereka bahwa kata-kata yang manis dan penuh semangat itu, tidak lebih dari arak wangi yang menyembunyikan amisnya racun keji.
Begitu hebatnya kata-kata, bahkan yang mengucapkan sendiri ikut terbuai olehnya.
Dalam bayangan Huang Jin dan orang-orang kepercayaannya, ada sebagian dari diri mereka yang menghibur hati dengan pembelaan itu, Meskipun jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka tahu bahwa ambisi pribadi dan keserakahan adalah motivasi penggeraknya.
Padahal mereka semua adalah orang yang mengerti bahkan beberapa di antaranya sangat taat dalam beragama.
Ada yang menekuni agama Buddha ada pula yang menekuni ajaran Konfusius.
Lalu mengapa keserakahan masih menguasai hati mereka?
Mengapa mereka tega untuk mengorbankan orang lain demi ambisi pribadi mereka?
Bagaimana bisa seorang tabib menyembuhkan si sakit, jika si sakit itu sendiri tidak mau menyadari sakitnya?
Sungguh celaka orang yang sudah menipu dirinya sendiri, sesungguhnya kecerdikan mereka justru menjadi jerat bagi jiwanya sendiri.
Perhatian setiap orang sekarang beralih pada Ding Tao, Ding Tao yang merasakan tatapan setiap orang pada dirinya menjadi salah tingkah.
Teringatlah dia pada kata-kata gurunya, pada sumpah yang pernah dia ucapkan, meskipun gurunya membatalkan sumpah itu.
Pemuda ini tidak meragukan sedikitpun ketulusan Tiong Fa, bahkan dalam hatinya dia justru meragukan kemampuannya sendiri.
Seandainya saja malam itu Gu Tong Dang tidak memberikan nasihat dan perintah demikian, mungkin saat itu juga, Pedang Angin Berbisik sudah diserahkannya pada Tiong Fa.
Beruntung bagi Ding Tao, gurunya bukan orang yang masih hijau, gurunya cukup mengenal orang-orang yang ada dalam kelompok pimpinan keluarga Huang.
Sehingga sebagai bekal bagi Ding Tao, telah dinasihatkannya dengan sungguh-sungguh pada pemuda itu untuk mempertahankan kepemilikannya atas pedang itu.
Gu Tong Dang sadar dia tidak bisa menahan Ding Tao untuk tidak menemui keluarga Huang tanpa membuat getir hati muridnya dan dia cukup bijaksana untuk memahami bahwa seorang guru ataupun orang tua, pada satu titik tidak bisa lagi terus menerus melindungi anak atau muridnya.
Ada saatnya rajawali muda harus belajar terbang dan mencari makan sendiri, meskipun untuk itu dia bisa saja terluka atau bahkan mati di dunia yang keras.
Karena itu dilepaskannya Ding Tao pergi ke sarang serigala, segala bekal yang bisa dia berikan sudah diberikan, sisanya ada pada diri Ding Tao sendiri dan kehendak langit.
Diam-diam nun jauh di sana, guru tua itu berdoa dengan khusyuknya, demi keselamatan murid yang dia kasihi, tidak ada lain lagi yang bisa dia lakukan sekarang.
Dengan suara sedikit gemetar Ding Tao menjawab.
"Maafkan aku Tetua Tiong, tapi dengan sesungguhnyalah aku tidak bisa memberikan pedang ini kepada keluarga Huang?"
Suara bisik-bisik pun memenuhi ruangan itu, mereka yang tadinya tidak puas pada permintaan Tiong Fa, sekarang berbalik tidak puas pada jawaban Ding Tao.
Tapi pemuda itu bukanlah Tiong Fa yang pandai bersilat lidah, dengan wajah merah padam dia hanya bisa berdiam diri dan menekuri pedang yang ada di hadapannya.
Tiong Fa pun berkerut alisnya, jawaban Ding Tao sedikit di luar dugaannya, namun Tiong Fa yang cerdik ini yakin sepenuhnya pada kemampuannya menilai seseorang, karena itu dia tidak cepat menjadi gugup atau marah.
"Anak Ding, mengertikah kau dengan uraianku sebelumnya? Sebenarnya apa yang kau cari dengan pedang itu? Apakah kau menginginkan ketenaran? Kekayaan?"
Menggeleng Ding Tao mendengar pertanyaan itu.
"Bukan Tetua Tiong, sungguh bukanlah demikian maksudku. Sebenarnya sebelum aku pergi, guru, telah menceritakan hal ihwal pedang ini terhadapku dan pesannya yang selanjutnya adalah agar aku mengemban tugas, melenyapkan Ren Zuocan dengan menggunakan pedang ini."
Atas jawaban Ding Tao ini bermacam-macam reaksi yang muncul.
Ada sebagian yang mengagumi kegagahan pemuda itu, apalagi mereka sudah mengenal kejujuran Ding Tao dan tanpa ragu lagi meyakini ketulusan kata-katanya.
Tapi ada juga mereka yang menjadi kurang puas dan merasa pemuda itu terlalu sombong atau setidaknya sudah salah menilai dirinya sendiri.
Tiong Fa tersenyum dalam hatinya, mendengar jawaban Ding Tao, maka jelas baginya, tidak ada kesalahan dalam penilaiannya atas diri pemuda itu.
Diam-diam dia memaki kelicinan Gu Tong Dang.
Siapa sebenarnya yang licin Gu Tong Dang atau dirinya?
Tentu saja buat Tiong Fa, Gu Tong Dang-lah yang licin dan licik, sedangkan dirinya adalah cerdik dan bijak.
Tapi dia tetap tertawa dalam hati, menertawakan kebodohan Gu Tong Dang, karena sekarang dia melihat sebuah celah yang bisa dimasukinya.
"Ding Tao, sungguh aku hargai keberanian dan tekadmu, tapi tahukah kau siapa itu Ren Zuocan? Mungkin kau pikir satu-satunya ilmu andalan Ren Zuocan itu adalah ilmu kebalnya dan dengan pedang di tanganmu itu kau akan mampu menembusnya."
"Jangan salah nak, bukan hanya ilmu kebal, tapi Ren Zuocan itu gudangnya ilmu. Dia memiliki ilmu pukulan, tenaga dalam dan ilmu tombak yang tidak kalah menggiriskannya dari ilmu kebalnya yang terkenal. Jika bukan demikian, tentu orang dunia persilatan tidaklah begitu gentar padanya."
Wajah Ding Tao yang sudah merah, semakin memerah, tentu saja dia mengetahui semua hal itu.
Sekali lagi jika bukan karena pesan gurunya tentu pedang itu sudah dia serahkan sekarang, tapi terngiang-ngiang di benaknya perkataan gurunya.
"Kaulah yang pantas menjadi pemilik pedang itu."
Tiong Fa yang melihat bahwa kata-katanya sudah mulai menjerat Ding Tao melanjutkan.
"Nak, mungkin saja kau tidak takut kehilangan nyawa dalam usahamu untuk menggenapi tugas yang diberikan oleh Pelatih Gu padamu, tapi tidakkah kau bayangkan, apa yang akan terjadi jika kau gagal? Bukan saja kau akan kehilangan nyawa, tapi pedang itu akan jatuh ke tangan Ren Zuocan, bagaikan harimau tumbuh sayapnya. Jika sekarang saja kita harus bersusah payah untuk membendung ambisinya, kalau pedang itu sampai jatuh ke tangannya, apa yang bisa kita lakukan?"
"Apakah kita semua haris beramai-ramai menyerahkan nyawa padanya?"
Ding Tao pun semakin terdesak oleh argumentasi Tiong Fa, sampai akhirnya dengan terbata-bata dan suara yang hampir-hampir tidak terdengar dia berkata.
"Tapi... tapi... ah..."
"Tapi menurut guru, aku bisa melakukannya dan... kemampuanku sudah cukup untuk mempertahankan pedang ini."
Setelah berkata demikian pemuda itu menundukkan kepala, tidak berani untuk melihat ke kiri dan kanan.
Tak sampai hati dia untuk berkata bahwa Gu Tong Dang percaya bahwa dari antara seluruh tokoh dunia persilatan, dialah yang pantas memiliki pedang itu.
Tapi perkataannya tadi itupun sudah cukup menyiratkan hal itu.
Ruangan itupun jadi penuh dengan suara riuh rendah, mereka yang tadinya bersimpati pada Ding Tao pun merasa bahwa pemuda itu sudah keterlaluan memandang tinggi dirinya.
Apalagi mereka yang sejak tadi sudah merasa tidak puas dengan sikap Ding Tao, tanpa segan-segan mereka mengemukakan pendapatnya.
Ding Tao yang menunduk, semakin saja menunduk.
Entah apa di antara pembaca pernah merasakan hal yang demikian, merasa melakukan sesuatu yang memalukan di hadapan banyak orang.
Sampai rasanya ingin bumi terbelah menjadi dua dan menelan kita lenyap dari permukaan bumi.
Yang seharusnya merasa malu tidak merasa malu, bahkan bersorak dalam hati.
Yang tidak perlu merasa malu justru merasa malu.
Dalam keadaannya yang serba getir itu, tiba-tiba Ding Tao merasakan satu sentuhan lembut pada tangannya yang tersembunyi di bawah meja.
Terkejut dia menoleh sekilas ke arah Huang Ying Ying dan dilihatnya gadis itu memandang dirinya penuh simpati, terasa pula bagaimana tangan gadis itu meremas tangannya, seakan memberikan semangat baginya untuk bertahan.
Ding Tao merasa sedikit keberaniannya kembali muncul, tidak lagi dia merasa sesengsara seperti tadi.
Meskipun dia masih merasa malu kepada anggota keluarga Huang yang lain.
Tiong Fa membiarkan saja keriuhan itu terjadi, dibiarkannya keadaan itu mengendap dalam perasaan setiap orang.
Setelah dia merasa cukup menanamkan racun itu di hati setiap orang, dia mengangkat tangannya.
"Tahan sebentar, cobalah tenang. Kita harus menghargai sikap Ding Tao, sebagai salah seorang tetua dalam keluarga Huang, aku berharap setiap generasi muda dalam keluarga Huang mengambil sikap Ding Tao terhadap perintah gurunya itu sebagai satu teladan."
Inilah hebatnya Tiong Fa, dengan satu kalimat dia berhasil menampilkan dirinya sebagai seorang yang arif, bijak dan barhati besar.
Bahkan memenangkan hati Ding Tao yang sebenarnya justru sudah menjadi korban lidahnya yang beracun.
Menunggu suasana mereda, Tiong Fa sekali lagi mengajak Ding Tao berbicara.
"Anak Ding, sebenarnya aku merasa malu untuk mengajukan usul ini. Orang mungkin akan menganggap aku sebagai golongan yang lebih tua menekan yang muda."
Tentu saja sebenarnya memang itu yang sedang dia lakukan, tapi setelah kata-katanya yang sebelumnya siapa dalam ruangan itu yang berpikir demikian?
"Tapi karena rasa kewajibanku pada bangsa dan negara, mau tidak mau aku mengajukan usul ini.
Kau berteguh hati hendak mempertahankan pedang itu karena gurumu telah berpesan bahwa kau memiliki kesanggupan untuk melindungi pedang itu.
Jika hal itu benar, tentu akupun tidak berkeberatan.
Tapi bagaimana jika dia salah menilai dirimu?"
"Karena itu bagaimana kalau sekarang kita melakukan saut pertandingan persahabatan, antara dirimu, dengan orang-orang dalam keluarga Huang. Jika kau berhasil mengalahkan kami, maka itu berarti kau memang memiliki kemampuan yang lebih dari kami untuk melindungi pedang itu. Tapi jika tidak, kukira kaupun tidak berkeberatan untuk mempercayakan pengawasan pedang itu pada keluarga Huang."
Sebenarnya usulan Tiong Fa ini tentu saja jauh dari adil.
Untuk membuktikan dirinya Ding Tao tentu harus melayani orang-orang dari keluarga Huang sendirian.
Di mana letak keadilannya?
Tapi bila mengikuti argumentasi Tiong Fa, tentu saja orang jadi dibuat setuju oleh pendapatnya.
Dengan menggigit bibir akhirnya Ding Tao pun mengangguk setuju.
"Tetua Tiong, sebenarnya aku merasa malu, tapi kurasa itulah jalan yang terbaik. Sehingga jika nanti kuserahkan pedang ini ke dalam pengawasan keluarga Huang, bukan berarti aku melanggar pesan guruku. Namun memang keluarga Huang lebih pantas untuk menyimpannya."
Demikianlah dengan kelicinan lidahnya Tiong Fa berhasil mengatur panggung sandiwara, di mana setiap orang berhasil dimainkan menurut kemauannya.
Huang Jin, Huang Yunshu dan Huang Ren Fang, serta beberapa orang kepercayaan keluarga Huang yang lain, yang mengetahui tentang rencana ini, mengangguk-angguk dengan puas.
Dalam hati mereka bersyukur ada orang macam Tiong Fa dalam keluarga mereka.
Bersyukur tapi juga bergidik, ketika membayangkan bila Tiong Fa justru berdiri di pihak lawan.
Pertandingan persahabatan itu dilakukan di ruang latihan, selain mereka yang hadir pada jamuan makan malam itu, tidak ada yang lain yang hadir di sana.
Tiong Fa sendiri sudah mengatur siapa-siapa yang hadir dalam jamuan makan malam itu.
Selain putera dan puteri Huang Jin, anak-anak muda yang lain adalah bibit-bibit muda yang berbakat dari keluarga Huang.
Lalu kemudian mereka yang sudah berpengalaman di dunia persilatan dan merupakan orang pilihan dalam keluarga Huang.
Dan kelompok terakhir tentu saja Huang Jin dan orang-orang kepercayaannya.
Pendek kata, tanpa disadari orang lain, Tiong Fa sudah mengatur agar segenap kekuatan keluarga Huang berkumpul malam itu.
Huang Ying Ying mungkin bisa dijadikan perkecualian, tapi bahkan kehadirannya sebagai puteri Huang Jin pun bisa dimanfaatkan Tiong Fa sebaik-baiknya.
Dalam rencana yang ada di angan-angannya sudah terbayang, bagaimana Ding Tao akhirnya akan tunduk di tangan salah satu jagoan keluarga Huang.
Dia sudah membayangkan kata-kata penghiburan yang akan diucapkan, lalu dengan sedikit dorongan dia akan menempatkan Huang Ying Ying sebagai penghibur dan perawat Ding Tao.
Dalam sekali jerat, bukan hanya pedang didapatkan tapi keluarga Huang pun akan mendapatkan satu kekuatan lagi.
Tentu saja, kalau nanti ternyata Ding Tao keok di tangan anggota terlemah yang hadir malam itu, Tiong Fa akan membalikkan keadaan.
Si cantik Huang Ying Ying, baginya terlalu berharga jika hanya digunakan untuk menggaet jagoan kelas kambing.
Suasana di ruang latihan itu jadi sedikit menegangkan, meskipun tadinya banyak yang memandang Ding Tao sudah terlalu sombong setelah dua tahun menghilang.
Setelah mereka siap untuk berhadapan dalam satu pertarungan, mau tak mau mereka mulai bertanya-tanya, apakah bukan mereka yang kelewat tinggi menilai diri sendiri.
Ding Tao sendiri justru mendapatkan ketenangannya di ruang latihan itu.
Baginya tidak ada masalah apakah dirinya akan menang atau kalah saat itu.
Ding Tao yang sudah dibuat percaya penuh pada kemuliaan hati para pemimpin keluarga Huang, tidak melihat adanya masalah jika pedang itu jatuh ke tangan mereka.
Jika sampai dirinya yang memenangkan pertandingan itu...
Yah, sejujurnya Ding Tao sendiri tidak pernah berpikir bahwa dia akan memenangkan pertandingan itu, meskipun dia berharap juga bahwa setidaknya dia bisa memenangkan beberapa pertarungan agar gurunya tidak menjadi malu sudah mendidik dia sebagai murid.
Inilah pertarungan yang pertama sejak dua tahun yang silam.
Ada juga dalam hatinya rasa penasaran dan ingin menguji, sebenarnya sudah sejauh mana kemajuannya dalam menekuni ilmu bela diri.
Karena itu wajah-wajah yang tegang dari orang-orang muda dalam keluarga Huang, tampak begitu kontras dengan wajah Ding Tao yang tenang, dan penampilannya yang tenang ini tentu saja membuat banyak perasaan yang hadir di situ semakin bergetar.
Terutama mereka yang belum mempunyai keyakinan penuh atas kemampuannya sendiri.
Perlahan-lahan Tiong Fa mengedarkan pandangannya ke sekeliling arena.
Kali ini Tiong Fa memang berperan sebagai sutradaranya, bahkan Huang Jin yang menjadi kepala dari keluarga Huang pun tidak ikut memberikan masukan sedikitpun, karena dua alasan.
Yang pertama, dia percaya penuh pada kelicinan Tiong Fa, dalam hatinya Huang Jin mengakui bahwa kecerdikan orang kepercayaannya ini ada di atas kecerdikannya sendiri.
Seandainya pernah timbul sedikit saja kecurigaan dalam hatinya atas kesetiaan Tiong Fa, Huang Jin tidak akan segan-segan untuk menghabisi nyawanya.
Tapi baik Tiong Fa maupun Huang Jin cukup cerdik untuk mengetahui bahwa mereka berdua saling membutuhkan.
Tiong Fa membutuhkan kekuatan Huang Jin dan Huang Jin membutuhkan kecerdikan Tiong Fa, kesadaran inilah yang membuat keduanya bisa berjalan dengan penuh "persahabatan"
Hingga puluhan tahun berselang.
Alasan yang kedua adalah, seandainya ada kesalahan perhitungan, apa pun itu, Huang Jin tidak mau namanya ikut jadi tercemar.
Pada saat terakhir dia masih bisa melemparkan kesalahan itu pada pundak Tiong Fa, meskipun tidak seluruhnya.
Pandangan mata Tiong Fa jatuh pada seorang anak muda yang menjadi juara dalam ujian kelulusan 6 tahun yang lalu.
Dengan anggukan kepala dia memberikan perintah pada anak muda itu untuk maju ke depan, menjadi kelinci percobaan untuk menguji sejauh mana kemajuan ilmu Ding Tao.
Feng Xiaohong nama anak itu, dalam umur 12 tahun dia berhasi lulus sebagai peserta terbaik, otaknya encer dan cepat menyerap setiap pelajaran.
Kalau ada kekurangannya, maka itu terletak pada sifatnya yang cepat puas diri.
Guru-gurunya harus menyesuaikan kecepatan pelajaran yang baru dengan kemampuannya menyerap pelajaran.
Mungkin ini salah satu kelemahan orang yang berotak encer, justru karena dia lebih cepat dalam memahami sesuatu, maka cepat pula dia ingin mempelajari yang baru.
Berbeda dengan Ding Tao yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyelami kegunaan beberapa jurus hingga ke dasar-dasarnya.
Feng Xiaohong ini melahap ratusan jurus dalam waktu yang sama.
Tiong Fa tentu saja tahu kelemahan Feng Xiaohong, tapi seperti biasa otaknya yg cermat selalu bekerja tidak tanggung-tanggung, dua sasaran yang dia inginkan.
Melihat tingkat kemajuan Ding Tao, dan itu dapat dinilainya dengan menghadapkan Ding Tao dengan Feng Xiaohong yang berpengetahuan luas meskipun agak dangkal.
Dan sasaran yang kedua, adalah menyadarkan Feng Xiaohong akan perlunya menekuni dan menyelami jurus-jurus yang sudah dia pelajari.
Dua pemuda itu pun mulai berhadapan, Feng Xiaohong bukan orang bodoh, dia sempat melihat pertarungan antara Wang Chen Jin dengan Ding Tao, di mana variasi serangan Wang Chen Jin akhirnya berhasil dimentahkan oleh balasan Ding Tao yang sederhana namun tepat.
Bahkan pertarungan itu sempat membangkitkan minatnya untuk kembali menelaah setiap jurus yang sudah dia pelajari.
Tapi ibaratnya jika Ding Tao menyelam sampai ke dasar lautan dan mengamati seluruh isinya.
Feng Xiaohong sudah merasa puas, ketika dia merasa sudah melihat dasarnya.
Sebuah jurus yang indah segera dilancarkan oleh Feng Xiaohong, pedang kayunya bergerak membuat lingkaran serangan.
Dengan cerdiknya disisakannya lubang di antara serangan itu.
Jika Ding Tao bergerak menghindar maka serangan susulan akan terus menerus mengikutinya.
Jika Ding Tao termakan siasat itu dan berusaha membalas menyerang menggunakan lubang pertahanan yang sengaja disisakan, maka sebuah serangan mematikan sudah disiapkan oleh Feng Xiaohong.
Pedangnya akan berbalik mengurung jalan keluar Ding Tao sementara pukulan tangannya akan melancarkan serangan yang mematikan.
Ini adalah salah satu jurus tingkat tertinggi yang boleh dipelajari oleh orang yang tidak berhubungan darah dengan keluarga Huang.
Tiong Fa merasa puas melihat keputusan Feng Xiaohong, dia sendiri tentu saja akan mampu memecahkan kepungan itu, terutama berlandaskan himpunan tenaganya yang sudah terpupuk jauh lebih lama.
Tapi apakah Ding Tao mampu memecahkan jurus serangan itu?
Pada gebrakan pertama Ding Tao bergerak menyurut ke belakang, mereka yang sedang mengamati pertandingan itu melihatnya dengan berbagai tanggapan.
Bagi mereka yang berada di tingkat terbawah, jurus yang dikeluarkan Feng Xiaohong adalah jurus pamungkas dari bagian lanjutan yang diajarkan pada mereka yang tidak memiliki pertalian darah dengan keluarga Huang.
Sudah tentu, bagi mereka jurus ini adalah jurus yang tidak terpecahkan, bagi mereka Ding Tao yang belajar dari Gu Tong Dang adalah sama dengan mereka.
Bagi Ding Tao tentulah jurus ini adalah jurus serangan yang pamungkas, tidak terpecahkan.
Bagi mereka, masalahnya hanyalah siapa yang lebih cepat mengambil inisiatif, siapakah yang lebih mahir dalam menyerang dan siapakah yang lebih kuat.
Dia yang lebih cepat mengambil inisiatif akan mengambil keuntungan, dia yang lebih mahir akan lebih sedikit menyisakan lubang kelemahan dan dia yang lebih kuat akan memiliki kemungkinan untuk mengacaukan jebakan yang disusun lewat adu kekuatan.
Bagi mereka yang setingkat di atasnya, mereka yang sudah berpengalaman dan sedikit banyak mencicipi satu atau dua jurus simpanan keluarga Huang.
Jurus serangan Feng Xiaohong bukanlah jurus yang tidak terpecahkan.
Setelah mengikut sekian lama dan berkelana sekian lama di dunia persilatan, akhirnya mereka pun bisa melihat dan menilai jurus pamungkas yang menjadi milik mereka selama dalam pelatihan.
Mereka ini sudah banyak yang mengembangkan sendiri jurus-jurus yang ada berdasarkan apa yang mereka lihat dan alami.
Tentu dengan warna dan bentuknya masing-masing, sesuai dengan bakat dan pengalaman yang unik dari tiap orang.
Mereka ini memandang dengan waspada dan penuh rasa ingin tahu, apakah Ding Tao pun sudah berhasil memecahkan jurus itu?
Kalau iya, dengan cara apa pemuda itu akan melakukannya?
Lalu bagi mereka yang memiliki pertalian darah dengan keluarga Huang serta telah menamatkan keseluruhan ilmu keluarga Huang, kelemahan dan pemecahan jurus serangan Feng Xiaoho sudahlah jelas dan bagi mereka itulah cara yang terbaik.
Dengan pandangan dingin mereka menunggu untuk melihat sejauh mana Ding Tao berhasil mendalami jurus-jurus keluarga Huang yang sempat dia pelajari lewat Gu Tong Dang.
Terutama mereka yang dekat dengan para pimpinan, karena menghilangnya Ding Tao sudah menjadi salah satu perhatian mereka, Tiong Fa yang menyebarkan para mata-matanya dengan yakin menyatakan bahwa jejak Ding Tao tidak ditemui di perguruan silat atau tokoh persilatan yang mana pun.
Itu berarti satu-satunya sumber Ding Tao adalah ilmu bela diri keluarga Huang.
Permasalahannya tinggal sejauh mana pemuda itu mampu mendalami dan mengembangkannya.
Ini sangat menarik bagi mereka, karena dari sini mereka bisa menilai seberapa tinggi bakat yang dimiliki Ding Tao.
Tapi gerakan Ding Tao yang berikutnya membuat semua orang terpana.
Seperti yang sudah diduga, bila Ding Tao bergerak menghindar, maka itu akan berarti gerakan pedang Feng Xiaohong akan mengejar dan berusaha membuat kedudukan Ding Tao semakin buruk.
Bila pada gebrakan pertama Ding Tao bergerak menyurut mundur, demikian pula pada gebrakan kedua dan ketiga.
Tapi menginjak serangan ketiga dan seterusnya, pedang Ding Tao ikut bergerak bersamaan dengan gerak mundurnya.
Gerakan pedang Ding Tao tidaklah cepat atau kuat, tapi tepat seirama dengan gerakan pedang Feng Xiaohong, dalam beberapa gebrakan yang terjadi mengejutkan setiap orang, pedang Ding Tao bagaikan menempel pada pedang Feng Xiaohong.
Tidak ada yang lebih jelas tentang apa yang dilakukan Ding Tao selain Feng Xiaohong sendiri.
Jika pedang Feng Xiaohong bergerak ke kanan, maka pedang Ding Tao akan tepat mendorong pedang Feng Xiaohong lebih jauh ke kanan.
Jika bergerak ke kiri maka demikian pula pedang Ding Tao seakan menempel dan ikut mendorong pedangnya ke kiri.
Dalam waktu singkat gerakan Feng Xiaohong menjadi kacau balau, keringat dingin keluar, pedang Ding Tao bagaikan bayangan hantu.
Bahkan ketika dia berusaha melepaskan diri dengan mundur, pedang itu terus mengikutinya.
Menempel dan tidak pernah lepas.
Kali ini Feng Xiaohong-lah yang bergerak mundur dan menghindar, sementara Ding Tao bagaikan lintah melekat erat atau bagai hantu dan arwah yang membayangi Feng Xiaohong.
Memucat wajah setiap orang yang menyaksikan hal itu, tidak seorangpun dari mereka yang bisa membayangkan hal itu akan terjadi.
Bukan kenyataan bahwa Ding Tao bisa mengalahkan Feng Xiaohong, akan tetapi cara Ding Tao mengalahkan Feng Xiaohong yang jauh di luar dugaan mereka.
Tidak lama setelah Ding Tao berhasil menggerak Feng Xiaohong mundur, Ding Tao berhasil menekan pedang Feng Xiaohong hingga terlepas dari tangannya, ujung pedang Ding Tao pun berakhir di depan tenggorokan Feng Xiaohong.
Tidak perlu juri untuk menentukan siapa pemenangnya, bahkan tidak perlu menunggu pedang Ding Tao mengancam tenggorokan Feng Xiaohong untuk tahu siapa pemenangnya, sejak Ding Tao berhasil menempel pedang Feng Xiaohong akhir dari pertandingan itu sudah bisa ditebak.
Dengan muka merah dan pucat berganti-ganti Feng Xiaohong pun mengakui kekalahannya dengan badan lemas bercampur kagum.
"Aku mengaku kalah... Ding Tao..."
"Jangan dipikirkan Saudara Feng, hanya sedikit keberuntungan di pihakku.
", hibur Ding Tao sambil balas membungkuk dengan hormat. Cara Ding Tao mengalahkan Feng Xiaohong, ucapannya, bisa saja ditangkap sebagai kesombongan atau penghinaan, tapi bila melihat ekspresi wajahnya yang tulus dan jujur. Dari tiap kata dan gerak-geriknya bisa tertangkap ketulusan dan niat yang bersahabat. Feng Xiaohong pun tersenyum, pemuda ini memang sering memandang tinggi dirinya sendiri, tapi dia bukan pula orang yang sempit hatinya. Dia memang tidak sungkan-sungkan untuk mengunggulkan bakatnya dibandingkan bakat orang lain, tapi tidak malu-malu juga untuk mengagumi orang lain yang lebih berbakat dari dirinya.
"Jangan bodoh, kalah dengan cara begini sudah tentu bukan masalah keberuntungan. Selamat Saudara Ding, tidak kusangka ada juga cara seperti itu.", ujarnya dengan sungguh-sungguh dan senyum di bibir. Senyum pun merekah di wajah Ding Tao, alangkah menyenangkan bisa melakukan pertandingan persahabatan, menguji diri sendiri, menambah pengalaman, mencoba hal-hal yang baru dan lebih-lebih lagi mendapatkan sahabat baru. Dia pernah hidup selama 18 tahun di keluarga Huang, sudah tentu cukup lama juga dia mengenal Feng Xiaohong. Tapi Feng Xiaohong yang tinggi hati ini tidak memandang sebelah mata pada dirinya yang dianggapnya dungu. Bukan menghina, hanya seakan-akan tidak ada orang yang bernama Ding Tao di dunia Feng Xiaohong. Tapi kali ini Feng Xiaohong memandang dirinya dengan penuh persahabatan. Tiong Fa yang sempat terkejut melihat cara Ding Tao mengalahkan Feng Xiaohong dengan cepat menguasai hatinya. Otaknya berputar cepat, bakat Ding Tao jelas berada di luar dugaannya, tapi dia masih yakin pada akhirnya Ding Tao akan kalah. Permasalahannya sekarang siapa yang harus ditunjuknya. Jika orang berikutnya kalah dengan cara yang sama mengenaskannya, moral dari keluarga Huang bisa semakin terpuruk. Tapi jika terlalu cepat dia mengajukan jago-jago keluarga Huang, dia akan kehilangan keuntungan yang dia miliki dari segi jumlah. Sebisa mungkin Tiong Fa ingin agar tenaga Ding Tao terkuras saat harus menghadapi lawan yang sesungguhnya. Tadinya dia berpikir salah satu dari mereka yang bertahun-tahun malang melintang di dunia persilatan dapat melakukan hal itu. Mungkin Wei Mo yang sering bertugas mengawal barang-barang kiriman keluarga Huang ke daerah yang berbahaya, sudah beberapa kali jagoan itu bersama dengan rekan-rekannya menghadapi pentolan penjahat yang punya nama. Atau Zhang Zhiyi yang seringkali dia percayai untuk memata-matai perguruan-perguruan besar di daerah selatan ini. Dari segi pengalaman bertarung Wei Mo yang menonjol, dari segi pengetahuan dan kecerdikan Zhang Zhiyi yang lebih menonjol. Sudah ada rencana untuk mengikat hubungan kekeluargaan dengan keduanya. Wei Mo yang lebih tua, rencananya salah satu puterinya akan dilamar oleh salah satu cucu Huang Yunshu. Untuk Zhang Zhiyi yang masih muda dan belum menikah, sedang dicarikan salah satu anak gadis keluarga Huang yang dirasa cocok. Tapi melihat cara Ding Tao mengalahkan Feng Xiaohong, mau tidak mau Tiong Fa harus berpikir ulang.
"Mungkin nantinya harus aku sendiri yang turun tangan.", demikian dia berpikir dalam hati. Melihat tingkat Ding Tao, sudah sepantasnya jika Tiong Fa menunjuk Wei Mo atau Zhang Zhiyi, tapi bukan Tiong Fa namanya jika melakukan sesuatu hanya berdasarkan kepantasan. Setelah mengerutkan alis sejenak dia memandang ke salah seorang murid yang dilatihnya sendiri.
"Zhu Lizhi, coba kau maju."
Pemuda yang dipanggil merasa sedikit terkejut, pameran keahlian yang ditunjukkan Ding Tao sudah membuat dia merasa takluk.
Tapi dengan mengeraskan hati dia maju ke depan dan dengan gagah membungkuk memberi hormat pada Ding Tao.
"Sepertinya kali ini aku yang mendapat berkah untuk menerima pelajaran darimu Saudara Ding."
"Sama-sama Saudara Zhu."
"Awas serangan!"
Kali ini serangan yang dilakukan Zhu Lizhi adalah serangan yang sederhana saja, mengambil pelajaran dari Feng Xiaohong tadi, Zhu Lizhi tidak ingin kena tempel oleh pedang Ding Tao, karenanya dia justru mengutamakan kecepatan dan kekuatan dengan jurus-jurus yang sederhana yang lebih berkonsentrasi pada pertahanan.
Murid Tiong Fa tentu bukan orang sembarangan, sesuai sifatnya yang cermat, Tiong Fa pun menekankan kecermatan dan kecerdikan pada murid-muridnya dalam satu pertarungan.
Karena itulah Tiong Fa memilih Zhu Lizhi, dia tidak berharap Zhu Lizhi memenangkan pertandingan ini, harapannya hanya agar Zhu Lizhi dapat mengambil pengalaman yang akan menguntungkan dia dlam perkembangan ilmu silatnya, sekaligus karena dia yakin Zhu Lizhi akan dapat bertahan cukup lama dan sedikit banyak membantunya menguras tenaga Ding Tao.
Sesuai harapannya pertandingan kali ini berlangsung cukup seru.
Serangan Zhu Lizhi tidaklah serumit jurus yang dilancarkan Feng Xiaohong.
Tapi jurus yang sederhana dilancarkan dengan cermat dan tepat, sebaliknya pertahanan Zhu Lizhi sangatlah rapat, sehingga meskipun mudah bagi Ding Tao untuk mematahkan serangan Zhu Lizhi, tidaklah demikian untuk mengalahkannya.
Melihat jalannya pertandingan, diam-diam Tiong Fa mendesah lega.
Mungkin penilaiannya terhadap Ding Tao tadi terlalu tinggi, mungkin Feng Xiaohong yang terlalu terburu-buru.
--------------------------o ---------------------------20 jurus sudah berlalu dan Ding Tao belum membuat gebrakan yang berarti.
Bahkan Feng Xiaohong pun mengerutkan alisnya, bagi seseorang yang sudah pernah menghadapi Ding Tao secara langsung, hal ini menimbulkan keheranan dalam dirinya.
Sebenarnya Ding Tao memang belum mengerahkan segenap kemampuannya, jika tadi dia menjadi terbangkit kegembiraannya saat dipaksa menghadapi jurus pamungkas yang dikeluarkan Feng Xiaohong.
Saat dia menghadapi Zhu Lizhi perasaannya sudah sedikit mengendap.
Tadinya dia sempat khawatir Feng Xiaohong akan merasa tersinggung dikalahkan dengan cara demikian, betapa lega hatinya saat Feng Xiaohong ternyata bisa menerima kekalahan dengan hati terbuka.
Oleh karena itu saat menghadapi Zhu Lizhi, Ding Tao tidak terburu-buru mendesak lawannya.
Meskipun dengan mudah dia mematahkan serangan Zhu Lizhi tapi dia tidak mendesak Zhu Lizhi terlalu hebat.
Sekali dua kali dia mendesak dan berhasil menempatkan Zhu Lizhi di posisi, di mana dalam benaknya terbayang bagaimana dia akan mengakhiri perlawanan Zhu Lizhi, tapi pada dua atau tiga langkah terakhir dengan sengaja dilepaskannya Zhu Lizhi.
Keputusan Zhu Lizhi untuk lebih mementingkan pertahanan, memberikan Ding Tao ruang gerak yang leluasa untuk mengembangkan permainan.
Dengan tidak adanya desakan-desakan yang berarti dari Zhu Lizhi, Ding Tao jadi bebas untuk mencoba-coba, jurus-jurus yang sudah dia pelajari selama ini.
Meskipun demikian Ding Tao melakukannya dengan sangat berhati-hati, karena dia tidak ingin membuat Zhu Lizhi merasa dipermainkan.
Karena itu bagi mereka yang menyaksikan, pertandingan itu tampak berimbang.
Setelah 30 jurus berlalu barulah Ding Tao memutuskan untuk mengakhiri perlawanan Zhu Lizhi.
Bukan dengan pameran kekuatan atau keahlian seperti yang dia lakukan pada pertarungan pertama.
Tapi justru dengan serangan-serangan yang wajar, tapi setiap serangan memiliki tujuan.
Tanpa terasa Zhu Lizhi digiring oleh serangan-serangan Ding Tao untuk sampai pada jurus tertentu dan posisi tertentu.
Ketika Zhu Lizhi menyadari bagaimana posisi di dadanya terbuka lebar dari sudut tempat pedang Ding Tao mengincar, barulah dia sadar telah masuk dalam jebakan Ding Tao.
Dalam waktu yang sekejapan itu, tiba-tiba pertarungan mereka yang sebelumnya seperti tampak jelas dalam ingatan Zhu Lizhi dan sadarlah dia, bahwa sejak tadi Ding Tao sudah melakukan hal yang sama.
Bahkan sebelum dia merasakan hantaman pedang kayu itu di dadanya, Zhu Lizhi sudah memejamkan mata mengakui kekalahan dirinya.
Dua orang sudah berhasil dikalahkan, seperti juga Feng Xiaohong Zhu Lizhi menerima kekalahannya dengan lapang dada.
Apalagi di saat terakhir dia tersadar bahwa Ding Tao sudah banyak mengalah padanya dalam pertandingan tadi.
Dengan setulusnya pemuda itu membungkuk hormat pada Ding Tao.
"Selamat Saudara Ding, ilmumu ternyata sudah maju jauh melampaui kami semua yang seangkatan dengan dirimu."
"Ah Saudara Zhu terlampau memuji, ketatnya pertahanan Saudara Zhu sungguh membuatku kagum.", jawab Ding Tao dengan ramah. Sekilas Zhu Lizhi mengamati wajah Ding Tao, sempat timbul pertanyaan dalam hatinya apakah orang di hadapannya ini sedang hendak menyindirnya. Maklum gurunya adalah Tiong Fa yang licin, tapi ketika terpandang wajah Ding Tao yang bersih dari segala tipu daya, senyum persahabatan pun mengembang di wajah Zhu Lizhi. Dalam hati dia merasa takluk luar dalam pada Ding Tao, baik pada ilmu pedangnya, maupun pada watak dan karakter dari pemuda itu. Apalagi ketika dia terbayang sifat gurunya yang seringkali membuat dia selalu menebak-nebak, ada apa di balik wajah agung sang guru. Berhadapan dengan Ding Tao, barulah Zhu Lizhi bisa merasakan seperti apa rasanya memiliki seorang sahabat yang bisa dipercaya. Dua orang sudah dikalahkan oleh Ding Tao. Kemenangan yang kedua memang tidak segemilang kemenangan yang pertama, tapi sebagian besar dari mereka yang hadir tidak lagi memandang perkataan Ding Tao di jamuan makan sebelumnya sebagai satu kesombongan kosong dari seorang anak muda yang tidak tahu mengukur dirinya sendiri. Dengan sendirinya mereka yang bersimpati pada Ding Tao dan sempat terganggu oleh jawabannya saat itu, kembali bersimpati padanya. Apalagi si nona muda yang cantik Huang Ying Ying, seandainya saja suasana di ruang latihan itu tidak begitu angkernya, mungkin sejak tadi dia sudah bersorak dan melompat-lompat mengelilingi ruangan itu. Dalam hatinua timbul debaran-debaran aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Sejak dahulu dia sudah menyukai Ding Tao yang jujur dan sopan. Apalagi sebagai pelayan tentu saja saat bermain Ding Tao lebih sering mengalah pada Huang Ying Ying. Menginjak remaja Huang Ying Ying bukannya tidak bisa merasakan pandangan kagum Ding Tao pada dirinya, tapi hal itu tidak mengganggunya, karena Ding Tao selalu bersikap sopan padanya. Kalaupun Ding Tao terkadang memandangi dirinya, itu dilakukan dengan sorot mata yang kagum dan bukan sorot mata yang kurang ajar. Tentu saja siapa yang tidak senang menjadi pusat kekaguman seseorang? Dan bagi Huang Ying Ying, jadilah Ding Tao seorang pemuda yang disukainya, suka seperti seorang gadis menyukai bunga atau anjing kecil yang lucu. Kalau bunga yag indah layu atau anjing yang lucu itu terluka tentu gadis itu akan merasa sedih, tentu ada perasaan ingin melindungi atau ingin mengajak bermain anjing yang lucu itu. Tapi perasaan yang dirasakan Huang Ying Ying pada Ding Tao sekarang sungguh jauh berbeda. Hal itu dirasakannya sejak Ding Tao kembali setelah menghilang selama dua tahun. Lalu sekarang pemuda itu berdiri di sana, berdiri dengan tegap tapi luwes, dengan pedang di tangan. Tubuhnya yang tinggi, semakin terlihat tinggi ketika berdiri sejajar dengan pemuda lainnya, Feng Xiaohong yang bertubuh jangkung pun hanya setinggi puncak hidungnya. Apalagi berhadapan dengan Zhu Lizhi yang hanya setinggi bahunya. Bahunya lebar, serasi dengan tinggi badannya, jika Feng Xiaohong yang jangkung seringkali dikatainya seperti tiang jemuran, tidak demikian dengan Ding Tao. Pakaiannya yang sederhana dan sedikit terlalu sempit, justru menonjolkan otot-otot yang liat yang tersembunyi di balik bajunya. Alisnya tebal, matanya memancarkan kepercayaan diri, garis rahang yang kuat dan senyum yang tulus menghiasi wajah pemuda itu. Tapi betapa wajah yang sama dengan mudahnya menjadi kemerahan karena tersipu malu. Memikirkan itu semua tanpa terasa gadis muda ini mendesah rindu. Saat dia sadar mukanya pun terasa panas, dengan sedikit rasa khawatir dia menengok ke kiri dan ke kanan, hatinya sedikit lega ketika dilihatnya perhatian semua orang sedang tertuju pada Ding Tao dan tidak ada yang sempat memergoki gerak-geriknya. Dengan hati berdebar dan wajah sedikit memerah, gadis ini bergerak menyurut mundur, bersembunyi di balik tubuh kakaknya. Dari situ dia baru merasa bisa memandangi Ding Tao dengan aman. Memandangi? Apakah Ding Tao sebegitu menariknya untuk dipandangi? Tapi mengapa dia bisa merasa seperti itu? Ah betapa hati gadis itu semakin berdegup kencang, dengan menggigit bibir dia memaki dirinya sendiri dalam hati. Tapi sesudah itupun tanpa sadar dia kembali mengintip Ding Tao yang sedang berhadapan dengan lawannya yang ketiga Di hadapan Ding Tao berdiri seorang jago yang sudah cukup berumur, satu dua uban nampak mencuat dari rambutnya yang tidak terikat dengan rapi. Agak berbeda dengan penampilan tokoh-tokoh lain dari keluarga Huang ini, penampilan jagoan yang satu ini memang sedikit berantakan. Kumisnya yang tumbuh jarang-jarang tapi tiap helainya tebal seperti kawat, dibiarkan saja bermunculan ke segala arah. Ding Tao yang harus menghadapi orang yang jauh lebih tua, membungkuk dengan hormat yang dibalas dengan anggukan yang dingin. Wang Sanbo, orang yang terkenal diam dan tidak banyak bicara. Dalam setiap urusan tidak pakai terlalu banyak basa basi, begitu juga gaya bertarungnya. Ketika dia melihat Ding Tao tidak kunjung juga menyerang, tanpa sungkan-sungkan dialah yang pertama kali menyerang. Menurut kebiasaan, biasanya yang lebih tua memberi kesempatan yang muda untuk lebih dulu menyerang. Kali ini Ding Tao yang serba sungkan, tidak berani menyerang lebih dulu sebelum lawannya yang lebih tua menyuruhnya demikian. Sementara Wang Sanbo yang tidak peduli segala macam aturan, melihat Ding Tao berdiri menunggu tanpa banyak pertimbangan mendahului menyerang. Buat Wang Sanbo tidak ada bedanya siapa yang menyerang lebih dulu, kalau Ding Tao kalah langkah karena terlambat mengambil inisiatif maka itu salah Ding Tao sendiri. Dan tiba-tiba tanpa banyak ba bi bu, sebuah tendangan kilat dilemparkan, menggempur ke arah kaki Ding Tao. Begitu keras tendangan jago tua ini, hingga terdengar angin menderu-deru. Setelah menghadapi dua lawan yang penuh sopan santun, tidak urung Ding Tao kaget juga saat tiba-tiba mendapatkan serangan. Gaya serangan Wang Sanbo justru lebih sederhana lagi dibandingkan jurus serangan Zhu Lizhi, tapi kecepatan gerak dan tenaga yang dibawanya berkali-kali lipat lebih mengerikan. Untuk beberapa saat Ding Tao pun terdesak. Gaya Wang Sanbo berkelahi memang seperti banteng ketaton, tidak jarang meskipun pedang Ding Tao mengancam tubuhnya, jago tua ini tidak juga menghentikan serangannya, malah dilontarkan serangan yang lebih hebat seakan mengajak Ding Tao mati bersama. Diserang dengan gaya membabi buta ini, untuk beberapa saat Ding Tao jadi kewalahan. Antara memahami teori sebuah ilmu bela diri sudah tentu lebih sukar daripada menerapkan teori itu dalam pertarungan yang sesungguhnya. Dalam sebuah situasi yang relatif tenang di ruang latihan dengan gerakan pelatih yang memang sengaja untuk melatih jurus yang sedang dipelajari, tentu sangat berbeda dalam pertarungan yang sesungguhnya, di mana lawan bergerak secepat mungkin dengan arah serangan yang tidak bisa diduga. Kondisi inilah yang terbentuk ketika Ding Tao harus menghadapi Wang Sanbo, tidak seperti dua lawan sebelumnya yang benar-benar menyerupai sebuah pertandingan persahabatan. Berbeda juga dengan perkelahiannya melawan Wang Chen Jin dua tahun yang lalu, karena saat itu Wang Chen Jin bukan menyerang bak orang kalap seperti yang dilakukan Wang Sanbo. Melawan Wang Sanbo, Ding Tao dipaksa untuk bereaksi secepat mungkin, tanpa sempat menghitung-hitung rencana selanjutnya. Ini pengalaman yang berharga buat Ding Tao, baru setelah lewat berpuluh jurus, barulah Ding Tao bisa menyesuaikan diri dengan gaya permainan Wang Sanbo yang bagaikan angin puyuh, membadai tiada henti. Perlahan-lahan Ding Tao kembali bisa menerapkan pemahamannya akan ilmu yang sudah dia pelajari dalam pertarungan yag dia jalani. Seperti pada saat melawan Zhu Lizhi, sedikit demi sedikit Ding Tao mulai menebarkan perangkap bagi Wang Sanbo, bedanya dia tidak sempat berpikir terlalu panjang, dia dipaksa untuk menentukan sikap dalam hitungan kejapan mata. Beberapa kali sempat juga pukulan dan tendangan Wang Sanbo mampir di tubuhnya. Karena pilihannya terkena pukulan atau terkena tusukan atau sabetan pedang dan Ding Tao memilih yang pertama. Sebenarnya akibat yang dihasilkan tidak jauh berbeda karena pedang yang mereka gunakan adalah pedang kayu, tapi dalam benak pemuda itu, pertandingan ini adalah bagian dari pembelajaran untuk menghadapi pertarungan yang sesungguhnya. Pertandingan dengan kayu ini adalah bagian dari ujian terhadap dirinya, apakah dia benar-benar mampu mengemban tugas gurunya untuk membinasakan Ren Zuocan. Dan dalam pertarungan yang sesungguhnya jika dia harus memilih luka mematikan dari senjata tajam atau memar di tubuh, tentu dia memilih yang kedua. Meskipun demikian tidak ada serangan Wang Sanbo yang benar-benar masuk dengan telak. Pukulan dan tendangan yang mampir di tubuh Ding Tao tidaklah telak mengenai daerah yang berbahaya seperti ulu hati atau jantung, yang bisa menimbulkan luka dalam. Bahkan jika pertandingan ini adalah pertarungan yang sesungguhnya, dengan pedang baja yang tajam, mungkin sudah sejak beberapa waktu yang lalu jago tua ini mati oleh pedang Ding Tao. Bagaimana tidak, entah sudah berapa sering Wang Sanbo meyerang tanpa mempedulikan ancaman pedang Ding Tao. Tidak seperti Ding Tao yang bersikap seakan-akan menghadapi pedang yang sesungguhnya, Wang Sanbo justru memanfaatkan kenyataan bahwa yang mereka pakai adalah pedang kayu. Bisa jadi akan membuat tulang retak atau patah, tapi Wang Sanbo masih cukup yakin pada keliatan tubuhnya yang ditopang hawa murni. Bahkan untuk membuktikan hal itu ada satu dua kali, di mana ujung pedang Ding Tao sempat pula mampir di tubuh jago tua ini. Jago tua ini bukannya tidak memahami hal ini, sebenarnya sudah sejak berapa jurus yang lalu, rasa kagum yang jujur muncul dari dalam hatinya. Hanya saja wataknya yang keras tidak mengijinkannya berhenti sebelum Ding Tao berhasil menjatuhkan dirinya dengan telak. Tapi seperti Zhu Lizhi yang perlahan tapi pasti jatuh dalam permainan jurus Ding Tao, Wang Sanbo pun tanpa sadar telah masuk dalam perangkapnya. Dalam gerak terakhirnya, Ding Tao telah berhasil menempatkan Wang Sanbo di posisi yang dia inginkan. Dengan sengaja sebuah lobanng pertahanan dia tunjukkan. Bagi Wang Sanbo sebenarnya tidak ada pilihan lain kecuali menyerang lobang pertahanan tersebut. Jika tidak maka dari posisi pedangnya yang sekarang Ding Tao bisa menyerang ubun-ubun jago tua itu. Ibarat orang bermain catur, tinggal selangkah lagi dan Wang Sanbo terkena skak-mat. Apapun langkah yang dia pilih, tidak nanti dia bisa lepas dari serangan maut Ding Tao. Wang Sanbo yang melihat lobang di pertahanan Ding Tao, memaksakan diri untuk menyerang, meskipun pada saat itu kedudukannya tidaklah menguntungkan. Untuk menyerang Ding Tao dia harus melakukan bergerak memutar dan untuk sekian kejap punggungnya akan terbuka lebar. Tapi itulah yang dia lakukan, dengan sekuat tenaga jago tua itu mengemposkan seluruh tenaga simpanannya dan melakukan tendangan berputar. Gerakannya sebat, kakinya menyambar bagai kilat, tapi sayang sasaran yang dituju tidak ada di sana. Dengan cepat Ding Tao maju untuk memotong gerakan Wang Sanbo dan dengan sebuah serangan yang cepat, 3 sabetan pedang mampir di tubuh jago tua itu. Satu di punggungnya, satu di pundaknya dan yang terakhir dengan indahnya bergerak seperti seorang kekasih yang membelai leher jago tua itu dari kiri ke kanan. Seandainya saja Wang Sanbo punya penyakit jantung, mungkin saat itu juga jantungnya berhenti berdetak. Ketegangan jago tua itu bagaikan meledak saat dia merasakan pedang Ding Tao membelai lehernya. Bisa dia bayangkan jika Ding Tao memegang pedang yang sesungguhnya, tentu lehernya sudah menggelinding di lantai. Jagoan tua itu pun menutup matanya untuk sesaat, untuk menenangkan diri sekaligus mengatur kembali nafasnya yang sudah memburu. Saat dibukanya mata, terlihatlah di hadapannya Ding Tao yang berdiri dengan serba salah.
"Paman Wang...uhm... maafkan anak Ding."
"Heh... kau menang.", ujar jago tua itu dengan singkat sebelum keluar dari arena pertandingan. Untuk sesaat desahan nafas terdengar memenuhi ruangan itu, terutama dari mereka yang masih berumur muda. Rupanya pertandingan tadi telah menyita segenap perhatian mereka dan mencapai klimaksnya saat Ding Tao mengakhirinya dengan serangan yang mematikan. Dari wajah-wajah mereka mudah saja dilihat siapa yang bersimpati dan sekarang menjagoi Ding Tao, dan siapa yang masih mengharapkan kemenangan dari keluarga Huang. Anehkah jika sebagian besar generasi muda yang menyaksikan pertandingan itu mendukung Ding Tao dalam hati kecilnya? Ikut cemas saat Ding Tao sepertinya akan mengalami kekalahan dan bersorak dalam hatinya saat Ding Tao berhasil mengalahkan Wang Sanbo? Lepas dari kesetiaan mereka terhadap keluarga Huang dan kelompok sendiri, saat ini Ding Tao mewakili perubahan, mewakili generasi mereka. Apalagi Ding Tao pernah 18 tahun hidup bersama mereka, sehingga tidaklah sulit bagi para orang muda ini untuk menerima Ding Tao sebagai sosok yang mewakili diri mereka. Perlukah kita menengok pada Huang Ying Ying? Rasanya hal itu tidak diperlukan, kalau mereka yang memandang Ding Tao sebelah mata saja, sekarang ini terdorong untuk mengagumi bahkan mendukung pemuda itu, tentunya pembaca bisa membayangkan sendiri bagaimana perasaan Huang Ying Ying sekarang ini. Tiga pertarungan sudah dilalui, masih berapa banyak lagi yang harus dia hadapi? Tiong Fa yang bisa melihat bagaimana di setiap kemenangan, simpati kepada Ding Tao semakin bertambah, menggerutu dalam hatinya. Dengan perhitungan yang dingin, dia merasa sudah cukup mengetahui tingkatan Ding Tao. Cukup satu kali lagi pertandingan yang menguras tenaga dan dia akan maju sendiri untuk mengakhiri perlawanan anak muda itu. ------------------------o -----------------------------Zhang Zhiyi berdiri tidak jauh dari Tiong Fa, dengan sebelah tangannya Tiong Fa menggamit Zhang Zhiyi lalu menggerakkan kepalanya, memberi tanda pada Zhang Zhiyi untuk maju menghadapi Ding Tao. Zhang Zhiyi bukanlah orang semacam Feng Xiaohong, Zhu Lizhi atau Wang Sanbo. Jika dia sering mendapat tugas menjadi mata-mata oleh Tiong Fa, sebabnya adalah kemampuan dia untuk mengamati keadaan serta mengambil kesimpulan. Tidak seperti yang lain, Zhang Zhiyi tentu saja tidak termakan bualan Tiong Fa, dia tahu apapun yang terjadi dalam pertandingan hari ini, pedang itu pasti akan lepas dari tangan Ding Tao. Masalahnya hanyalah apakah Ding Tao akan menyerahkannya dengan suka rela atau dengan cara paksa. Zhang Zhiyi juga pandai menilai tingkatan ilmu bela diri lawannya. Tahu keadaan lawan dan tahu keadaan sendiri, dengan sendirinya 100 kali bertempur 100 kali pula meraih kemenangan. Kalau Zhang Zhiyi masih hidup sampai sekarang melewati tugas-tugas berbahaya, itu bukan hanya karena kemampuan ilmunya yang tergolong sudah mapan, tapi dia juga tahu kapan harus berkelahi dan kapan dia harus lari. Jika harus menghadapi Ding Tao dalam perkelahian hidup dan mati, Zhang Zhiyi akan lebih memilih lari, karena meskipun dia masih memiliki harapan untuk menang melawan Ding Tao tapi baginya saat ini seberapa dalam ilmu Ding Tao belum dapat dia pahami dengan benar. Dalam penilaiannya Ding Tao masih penuh dengan kejutan. Sambil berjalan ke dalam arena otaknya berputar memikirkan siasat untuk melawan Ding Tao. Berbeda dengan Wang Sanbo yang dingin, Zhang Zhiyi menyapa Ding Tao dengan senyum hangat.
"Heh, setelah dua tahun menghilang, kau tiba-tiba jadi makin hebat saja anak Ding, apa kau menemukan buah sakti atau obat dewa?"
Matanya berputar dan mengedip dengan nakal pada Ding Tao. Ding Tao jadi tertawa geli dan menjadi jauh lebih rileks.
"Tidak Paman Zhang, hanya saja guru mengajarku baik-baik."
"Oh begitu, tapi kalau kau benar dapat obat dewa, jangan lupa kau bagi sedikit pada pamanmu yang tambah tua ini."
Sambil tertawa Ding Tao menjawab.
"Tentu paman, aku tidak akan lupa."
"Baiklah sekarang kita harus saling menguji kemampuan kita masing-masing. Sebagai yang lebih muda kau mulailah lebih dahulu."
"Baik paman."
Setelah mereka sama bersiap dan berhadapan, dengan sopan Ding Tao memulai.
"Awas serangan paman!" ------------------o -----------------Siapa bilang yang mengambil inisiatif terlebih dahulu akan mengambil keuntungan darinya? Mungkin saja benar demikian, tapi tidak kali ini. Kalau Tiong Fa cerdik seperti musang, Zhang Zhiyi mungkin pantas dipanggil musang kecil. Setelah beramah tamah dengan Ding Tao, diberinya kesempatan Ding Tao maju lebih dulu. Jika lawannya bukan Ding Tao, jika ini bukan pertandingan persahabatan, mungkin berbeda yang terjadi. Tapi yang kita bicarakan di sini ini adalah Ding Tao, bukan hanya lugu tapi juga sejak kecil sudah diajar untuk menghormati orang yang lebih tua. Benar dia bergerak lebih dulu, tapi serangannya bukanlah serangan yang membahayakan Zhang Zhiyi, bukan pula serangan yang akan membuat Zhang Zhiyi terpaksa mundur ke posisi yang merugikan. Bukan juga bagian dari siasat untuk mendesak Zhang Zhiyi mengikuti permainan silat Ding Tao. Serangan setengah matang semacam ini tentu saja tidak merugikan Zhang Zhiyi, justru serangan mentah ini menjadi kerugian buat Ding Tao. Perlu dipahami saat seseorang menyerang tentu ada bagian dari pertahanannya yang terbuka. Serangan bisa menjadi pertahanan yang baik, jika serangan itu dilancarkan dengan tepat. Kalaupun gagal mencapai hasil, setidaknya serangan itu memaksa lawan untuk mundur atau menangkis serangan, sehingga tidak sempat memanfaatkan celah-celah yang timbul untuk balik menyerang. Teori ini tentu saja dipahami dengan baik oleh Ding Tao, tetapi pemuda itu terlanjur terbawa oleh suasana persahabatan yang diumpankan oleh Zhang Zhiyi. Siapa sangka serangan Zhang Zhiyi justru telengas dan sebat, tak sepadan dengan senyum di wajahnya. Dengan satu gerakan yang sama Zhang Zhiyi mudah saja menghindari serangan Ding Tao, sekaligus masuk ke dalam daerah pertahanannya. Tangannya pun cepat terjulur menghajar ke dada Ding Tao, sementara pedangnya mengayun menutup jalan mundurnya. Padahal di saat itu tangan Ding Tao yang memegang pedang sudah terlanjur maju dalam gerakan menyerang. Untuk menarik serangannya jelas tidak sempat, tapi jika Ding Tao mengelak mundur maka pedang akan menghajar tubuhnya, mau tidak mau Ding Tao harus menerima hajaran Zhang Zhiyi. Untung Ding Tao masih sempat menggeser posisi tubuhnya dan menyilangkan satu tangannya di depan dada. Meskipun tidak sepenuhnya dapat menahan serangan Zhang Zhiyi, setidaknya mampu mengurangi sebagian dari daya serangan itu yang mencapai jantungnya. Tapi bahaya belum lewat sepenuhnya karena pedang di tangan Zhang Zhiyi sudah siap mengancam punggung Ding Tao. Hebatnya Ding Tao, serangan yang di depan dia tahan, serangan yang dari belakang pun tidak lepas dari pengamatan. Pada saat yang bersamaan pedangnya sudah ditarik mundur, bergerak menyilang menjadi perisai bagi punggungnya. Diam-diam Zhang Zhiyi memuji kecekatan anak muda itu, tapi kekagumannya tidak membuat dia menjadi bermurah hati pada pemuda itu. Tanpa mengendurkan sedikit pun serangan kali ini kakinya yang bergerak menendang ke depan. Dalam beberapa gebrakan saja, Zhang Zhiyi sudah berhasil mendesak mundur Ding Tao. Bukan hanya itu saja, pemuda itu dapat merasakan betapa jantungnya tergetar saat telapak Zhang Zhiyi mampir di dadanya tadi. Rupanya tanpa sungkan-sungkan Zhang Zhiyi sudah mengerahkan segenap hawa murni yang dia miliki dibalik pukulannya tadi. Jika pemuda itu tidak rajin-rajin berlatih dan menghimpun hawa murni sejak dia mulai belajar, mungkin sekarang pemuda itu sudah tergeletak dengan jantung yang terluka parah. Beruntung dia memiliki himpunan hawa murni yang cukup mapan, lagipula gerakannya menghindar dan melindungi dada, mengurangi sebagian lontaran tenaga Zhang Zhiyi. Tapi tetap saja aliran tenaganya menjadi kacau, sementara serangan Zhang Zhiyi tanpa hentinya dilancarkan tanpa belas kasihan. Baru kali ini Ding Tao menghadapi situasi di mana dia harus mati-matian menyelamatkan diri. Bahkan pada saat kekalahannya ketika melawan Wang Chen Jin, keadaannya masih jauh berbeda. Dia masih memiliki ruang untuk mengamati, berpikir dan merencanakan jurus yang harus dia lancarkan. Tapi tidak kali ini, rasa nyeri di dadanya, ditambah lagi serangan Zhang Zhiyi yang bervariasi dan dilancarkan tanpa henti membuat dia tidak memiliki kesempatan untuk berpikir sama sekali. Berbeda dengan serangan Wang Sanbo yang membadai tapi sederhana bentuknya. Serangan Zhang Zhiyi selain dilambari dengan penggunaan hawa murni yang menggiriskan hati, setiap serangan tentu memiliki kerumitan di baliknya. Jika tadi Ding Tao membuat lawannya bergerak menuruti permainannya, kali ini Ding Tao jatuh dalam permainan Zhang Zhiyi. Jangankan untuk melepaskan diri bahkan untuk bernafas pun hampir-hampir tidak. Dengan cepat tenaganya terkuras, otaknya dipaksa berputar keras. Keadaan Ding Tao benar-benar bagaikan telur di ujung tanduk. Mereka yang bersimpati pada Ding Tao pun sama-sama mengalirkan keringat dingin. Sementara seulas senyum terbentuk di wajah Tiong Fa dan para tokoh pimpinan keluarga Huang. Sudah terbayang kemenangan keluarga Huang di depan mata, apa lagi jika mereka membayangkan bahwa setelah ini mereka akan dapat menarik Ding Tao untuk memperkuat barisan. Kekalahan Ding Tao melawan Zhang Zhiyi, tidaklah menurunkan harganya, di mata mereka yang berpengalaman justru harga Ding Tao naik berkali lipat. Mereka sama-sama maklum akan sifat Ding Tao dan kecerdikan Zhang Zhiyi yang memanfaatkannya. Tapi taktik licik seperti itu sudah terang tidak akan bisa dipakai untuk kedua kalinya. Kekalahan Ding Tao kali ini justru akan membuat pemuda itu jadi lebih berpengalaman dan waspada dalam bentrokan-bentrokan selanjutnya di masa depan. Jika Ding Tao diberi kesempatan untuk memulihkan diri, lalu melakukan pertandingan ulang melawan Zhang Zhiyi, mereka yakin sepenuhnya bahwa pemuda itu yang akan memenangkan pertandingan. Bahkan Tuan besar Huang Jin yang tadinya tidak rela mengumpankan puterinya Huang Ying Ying untuk menikahi Ding Tao, sekarang ini berbalik merasa sayang jika Ding Tao sampai terluka parah. Dalam hati dia memaki Zhang Zhiyi yang terlampau keras melukai calon menantunya. Tentu saja dia sadar bahwa Zhang Zhiyi memang harus berlaku demikian, jika tidak, belum tentu Zhang Zhiyi dapat memenangkan Ding Tao dalam pertandingan ini. Melirik ke arah puterinya, Tuan besar Huang Jin jadi geli dan tertawa senang dalam hati. Sambil mengangguk-angguk, dia memuji kecerdikan Tiong Fa dan kejelian putera sulungnya. Sungguh-sungguh keluarga Huang mendapat untung besar kali ini. Teringat dia pada Gu Tong Dang, diapun berjanji dalam hati, setelah semua ini berakhir dia akan menjemput pelatih tua yang sudah banyak berjasa pada keluarga Huang. Huang Ying Ying yang tadinya bersembunyi di belakang kakaknya, tanpa terasa bergeser maju ke depan. Wajahnya penuh kecemasan, air mata pun mengembeng di pelupuk matanya. Yang sempat melihat, tentu sudah bisa menebak isi hati gadis muda ini. Tapi selain ayahnya, tidak ada yang sempat melirik gadis itu. Perhatian setiap orang tertuju pada pertarungan antara Ding Tao dan Zhang Zhiyi. Serangan Zhang Zhiyi yang membadai dan keuletan Ding Tao yang berusaha bertahan. Setiap saat selalu saja mereka disuguhi dengan gebrakan yang mendebarkan hati. Entah sudah berapa kali mereka sempat berpikir, akhirnya, kalah juga pemuda itu, atau robohlah dia sekarang. Tapi dengan keras kepalanya pemuda itu masih sempat saja untuk meloloskan diri. Yang tidak disangka semua orang adalah sebenarnya saat itu Zhang Zhiyi sudah hampir berputus asa. Pengetahuannya yang luas dalam ilmu bela diri sudah diperasnya habis-habisan. Selain dari ilmu keluarga Huang, Zhang Zhiyi memiliki banyak simpanan ilmu yang didapatnya saat dia memata-matai perguruan besar yang ada di daratan. Tapi kali ini dia bertemu batunya, yaitu Ding Tao yang hanya mempelajari ilmu keluarga Huang tapi berhasil menangkap inti sari dari ilmu keluarga Huang. Ding Tao memang belum berhasil menyelami hakekay ilmu bela diri sampai kedalaman yang terdalam, mendaki hingga puncak yang paling puncak. Di mana semua aliran yang berbeda itu bisa dipahami bersumber sari satu sumber yang sama. Di mana menguasai yang satu sama artinya dengan menguasai semua. Tapi dia sudah menyelami ilmu keluarga Huang hingga tuntas, sehingga sedikit banyak, pemahaman itu sudah ada padanya, meskipun masih berupa bayangan yang tidak jelas. Itu sebabnya berhadapan dengan jurus serangan Zhang Zhiyi yang berbagai macam jenisnya, Ding Tao masih bisa menyelamatkan diri. Bahkan sedikit demi sedikit, ruang geraknya menjadi semakin luas. Zhang Zhiyi justru sebaliknya, semakin lama dia bisa merasakan genggamannya atas diri Ding Tao semakin melemah, ikan yang sudah terkail olehnya itu mulai melepaskan diri. Mereka yang di luar pertarungan tentu saja tidak bisa memahami hal ini, karena sampai sekarang pun Ding Tao masih saja harus pontang panting menyelamatkan diri dari serangan Zhang Zhiyi. Hingga terkejutlah mereka ketika melihat bagaimana pertarungan itu berakhir. Saat itu Zhang Zhiyi sedang melancarkan satu tendangan ke arah Ding Tao yang sedang bergerak mundur. Seharusnya Ding Tao masih dapat menangkis serangan, tapi di luar dugaan mereka justru pemuda itu membiarkan perutnya terkena tendangan Zhang Zhiyi. Bukan main hebatnya tendangan itu, meskipun Ding Tao sudah bersiap-siap dengan memusatkan hawa murninya di bagian itu, tidak urung dia harus menggertakkan giginya kuat-kuat untuk meneruskan rencananya. Sebenarnya Zhang Zhiyi sudah bersiap-siap dengan serangan yang berikutnya, tapi tindakan Ding Tao di luar dugaannya. Dengan menerima tendangan itu, Ding Tao meluncur lebih jauh lagi ke belakang, memberinya ruang untuk balik melancarkan serangan. Tanpa memperbaiki posisi terlebih dahulu, tidak juga menghimpun dahulu tenaga yang membuyar. Ding Tao langsung melancarkan serangan. Serangan itu sederhana saja, tapi dilontarkan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. Zhang Zhiyi pun mundur untuk kemudian berbalik menyerang karena dia tahu, tentu himpunan tenaga Ding Tao belumlah sepenuhnya pulih setelah terkena tendangannya tadi. Tapi ternyata serangan itu hanyalah gertakan saja, saat Zhang Zhiyi mundur, Ding Tao ikut menyurut mundur. Ketika Zhang Zhiyi sadar, dalam waktu yang singkat itu Ding Tao sudah berhasil mengatur kembali aliran hawa murni di tubuhnya dan sebelum Zhang Zhiyi sempat bereaksi dia sudah melancarkan serangan selanjutnya. Itulah serangan yang dilancarkan oleh Feng Xiaohong sebelumnya, kali ini Ding Tao yang memainkannya dan perbawa jurus itu terasa jauh lebih hebat. Gulungan hawa pedang menyambar Zhang Zhiyi. Sayang lawannya adalah Zhang Zhiyi, Zhang Zhiyi sudah lama merenungi jurus serangan ini dan sudah memegang cara untuk memecahkannya. Inti serangan jurus itu terletak pada jebakan yang siap menyambut lawan, saat lawan berusaha memanfaatkan celah yang sengaja dibuka. Tapi jika lawan sudah bersiap terhadap jebakan itu, lalu apa artinya jebakan itu? Muka Zhang Zhiyi yang sempat pucat saat dirinya salah memperhitungkan reaksi Ding Tao kembali berwarna. Dengan sigap dia menyerang melalui celah yang sengaja dibuka. Ketika dilihatnya pukulan Ding Tao menyambar, dia sudah siap. Pedang yang menusuk hanyalah pancingan, dengan sebat gerakan itu berubah di tengah, berbalik hendak memangkas tangan Ding Tao yang maju menyerang. Entah ada berapa banyak pasang mata yang terhenti nafasnya. Tapi bukan tangan Ding Tai yang terpapas, sebaliknya justru pedang Ding Tao yang menempel pada leher Zhang Zhiyi. Rupanya pukulan Ding Tao itupun hanyalah serangan palsu. Dibalik muslihat, ada muslihat. Serangan pedang yang seharusnya hanya merupakan pancingan justru menjadi serangan yang sesungguhnya. Pukulan yang tersembunyi ternyata hanya pancingan. Pucat wajah Zhang Zhiyi, kejadian ini di luar dugaannya, tapi pedang sudah melintang di depan lehernya. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan kecuali mengakui kekalahannya. Kali ini beberapa orang yang mendukung Ding Tao tanpa sadar bersorak, meskipun dengan cepat sorakan itu terhenti dan mereka yang bersorak cepat-cepat menunduk dengan wajah bersalah. Apalagi ketika mereka merasa pandangan mata para pimpinan keluarga Huang yang tajam menusuk, ditujukan pada mereka. Untuk beberapa saat Zhang Zhiyi kehilangan kata-kata, ketika akhirnya dia membuka mulut nada suaranya terdengar lesu dan senyumnya terasa dipaksakan.
"Hehh... Anak Ding, rupanya aku pun harus mengakui kehebatanmu."
Nafas Ding Tao masih sedikit tersengal, banyak tempat di sekujur tubuhnya yang terasa sakit, tapi dikuat-kuatkannya juga untuk menjawab dengan sesopan mungkin.
"Maafkan aku Paman Zhang, hanya keberuntungan saja, kalau tidak tentu sudah sejak tadi aku terjungkal oleh pukulan dan tendangan paman."
Zhang Zhiyi mengangguk-angguk, kemudian menepuk pundak pemuda itu sebelum kembali ke pinggir arena.
Seperti saling berjanji, pandang mata setiap orang sekarang tertuju pada Tiong Fa, sudah jelas bahwa pertandingan ini dialah yang mengatur.
Dalam hati setiap orang bertanya-tanya, siapa lagi yang akan diajukan oleh Tiong Fa, apakah belum cukup kemampuan yang ditunjukkan oleh Ding Tao?
Ketika Tiong Fa dengan langkah yang tenang berjalan ke tengah arena, tanpa terasa banyak dari mereka yang mendukung Ding Tao, menutup mata dan menghela nafas.
Pikir mereka.
"Sayang sekali, sebenarnya sungguh tidak adil, tapi kali ini habislah Ding Tao."
Tiong Fa sudah ada di hadapan Ding Tao, wajahnya tenang tidak menunjukkan kekejian hatinya. Ditampilkannya wajah menyesal dan berkata dia pada Ding Tao.
"Sebenarnya aku merasa malu, harus mendesakmu sedemikian rupa."
Ding Tao yang masih saja percaya pada Tiong Fa membalas dengan tidak kalah sopannya.
"Anak Ding mengerti hati Paman Tiong, apalagi justru ini menjadi pengalaman yang baik bagi anak. Tidak nanti akan menyalahkan paman."
"Hemm... terima kasih untuk pengertianmu Anak Ding. Aturlah dulu nafasmu, kapan kau siap, kau saja yang membuka dulu serangan. Aku orang tua sudah sepantasnya mengalah sejurus pada yang lebih muda."
"Terima kasih paman.", ujar Ding Tao yang sungguh-sungguh merasa berterima kasih. Jauh di pinggir arena Zhang Zhiyi memaki Tiong Fa dalam hati. Selama apa Ding Tao hendak mengatur nafas? Luka yang dideritanya sejak tadi melawan dirinya dan Wang Sanbo tentu tidak mudah hilang begitu saja. Tapi Ding Tao yang tidak berpikir macam-macam, benar-benar menggunakan kesempatan itu untuk sebisa-bisanya mengumpulkan lagi hawa murni di tubuhnya. Perlahan-lahan dialirkan hawa murni mengitari seluruh tubuhnya, sekedar untuk meringankan kerusakan yang sudah terjadi. Pemuda itu tidak terburu-buru melakukan serangan, sambil berusaha memulihkan diri dia berpikir keras, cara apa yang akan dia ambil untuk menghadapi Tiong Fa. Tiong Fa yang tadi dengan murah hati memberikan waktu pada Ding Tao untuk memulihkan diri, diam-diam menjadi kesal. Tidak disangkanya pemuda itu benar-benar menggunakan waktu tanpa sungkan-sungkan.
"Dasar pemuda dungu tidak tahu malu.", makinya dalam hati. Ding Tao sendiri sebenarnya merasa malu dan sungkan, karena membuat semua yang hadir di situ menunggui dirinya, tapi pemuda itu memandang tugas yang diberikan gurunya jauh lebih penting dari itu semua. Saat akhirnya dia bersiap untuk menyerang, tubuhnya sudah terasa jauh lebih segar, rasa nyeri pada bagian-bagian tubuh yang terluka masih bisa ditahannya tanpa mengganggu jalannya hawa murni dalam tubuh.
"Maaf paman, jika terlalu lama menunggu.", ujarnya dengan muka sedikit memerah.
"Ah, tidak apa, tidak apa. Apakah kau sudah siap sekarang?"
"Iya paman, aku akan memulai sekarang. Awas serangan!"
Jurus yang dilancarkan Ding Tao adalah jurus ketiga dari 3 jurus dasar pedang keluarga Huang.
Kali ini tidak berani dia melancarkan serangan yang setengah-setengah.
Pengalamannya dengan Zhang Zhiyi sudah cukup mengajarinya untuk tidak bermain-main dalam setiap pertarungan.
Siapa pun lawannya dan bagaimana pun keadaannya.
Tusukannya begitu cepat dan keras, hingga pedang kayunya pun berdengung.
Tiong Fa tidak menjadi gugup karenanya, dengan mudah serangan itu dia pecahkan.
Menyusul berganti dia yang menyerang.
Dalam waktu singkat, berpuluh jurus sudah mereka lancarkan bergantian.
Kedua pihak masih seimbang, baik Ding Tao maupun Tiong Fa masih saling menyerang dan bertahan dengan rapatnya.
Tiong Fa yang mengharapkan tenaga Ding Tao sudah jauh melemah setelah pertarungan-pertarungan sebelumnya jadi mengeluh dalam hati, ketika menyaksikan keuletan pemuda itu.
Tapi Tiong Fa cukup sabar dan berpengalaman, tanpa terburu-buru dia dengan tenang berusaha menekan Ding Tao, sesekali menjauh sambil dibukanya celah untuk memancing Ding Tao melompat menyerang, agar tenaga pemuda itu semakin cepat habis.
Dua orang itupun seperti sedang melakukan tarian pedang, mengelilingi arena yang cukup luas.
Keringat Ding Tao yang baru saja mengering, dengan cepat mengalir kembali dengan deras.
Nafasnya sedikit-sedikit mulai memburu.
Baru pada saat itulah mulai Tiong Fa mengeluarkan jurus-jurus andalannya.
Ini adalah jurus-jurus rahasia, yang hanya diketahui oleh keluarga sendiri.
Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit Ding Tao mulai terdesak.
Tidak ada yang berpikir Ding Tao akan menang, dengan sendirinya jantung mereka yang melihat tidak berdebar sekeras pertandingan-pertandingan sebelumnya.
Kebanyakan justru menggunakan kesempatan ini untuk sebanyak mungkin menangkap jurus-jurus rahasia keluarga Huang yang belum pernah mereka lihat.
Dengan hati yang jauh lebih tenang, pengamatan mereka pun jauh lebih cermat.
Meskipun mereka mengagumi jurus-jurus yang diperagakan Tiong Fa, lebih kagum lagi mereka pada Ding Tao yang mampu bertahan sekian lama.
Entah berapa kali mereka bertanya pada diri sendiri, seandainya mereka yang diserang dengan cara demikian, dapatkah mereka lolos dari serangan itu?
Tentu saja setelah melihat cara Ding Tao meloloskan diri, pemecahannya jadi bisa dimengerti dengan jauh lebih mudah.
Tapi yang membuat mereka heran, bagaimana cara Ding Tao yang belum pernah mempelajari jurus rahasia itu, hingga anak muda itu bisa tahu cara pemecahannya?
Tiong Fa tidak kalah kagumnya dengan bakat pemuda itu, tapi kekagumannya berubah menjadi rasa iri dan dengki.
Apa lagi ketika dia teringat rencana mereka untuk menarik pemuda itu ke dalam keluarga Huang.
Diam-diam dia justru merasakan kekhawatiran berkembang dalam hati kecilnya, apakah pemuda itu tidak akan membahayakan kedudukannya dalam keluarga Huang nanti?
Justru karena bakat pemuda itu yang terlampau besar.
Sebelum menghadapi pemuda itu secara langsung, hal ini tidak terbayang oleh Tiong Fa, tapi sekarang setelah dapat menyelami sendiri secara langsung bertarung dengan pemuda itu, mulailah keragu-raguan itu mengganggu hatinya.
Ding Tao memang selalu terlambat satu atau setengah langkah menghadapi jurus-jurus rahasia keluarga Huang.
Tapi kenyataan bahwa pemuda itu mampu menghindarkan diri dan tidak sampai jatuh ke dalam permainan Tiong Fa, menunjukkan bahwa dalam waktu yang singkat itu, pemuda itu sudah mampu menangkap garis besar atau ide yang dibawa oleh jurus-jurus tersebut.
Jangankan Tiong Fa yang menghadapi pemuda itu secara langsung, bahkan Huang Jin yang menonton dari pinggir arena pun seperti tidak percaya pada penglihatannya.
Demikian juga tokoh-tokoh pimpinan yang lain, seperti Huang Yunshu dan Huang Ren Fang, terutama Huan Ren Fang yang tiba-tiba saja bisa merasakan kedudukannya sebagai calon utama pengganti ayahnya sedang digeser oleh tangan yang tak terlihat.
Ketakutan yang muncul di hati Tiong Fa juga muncul di hati mereka.
Merekrut orang berbakat memang perlu, tapi jika orang itu jauh lebih berbakat dari mereka sendiri, apakah tidak seperti memelihara anak harimau, yang jika besar nanti malah membahayakan jiwa pemeliharanya?
Biasanya untuk memastikan bahwa anak murid yang ditarik masuk tidak akan membahayakan bagi dirinya, seorang guru akan menyimpan satu atau dua jurus pamungkas.
Jurus yang nantinya akan bisa digunakan jika muridnya ternyata tidak setia pada perguruan.
Tapi hal itu tidak berlaku buat orang semacam Ding Tao, dengan bakatnya diberi tahu satu, dia sudah bisa mengerti dua dan tiga.
Apalagi Ding Tao sudah mempelajari lengkap seluruh jurus dasar dan jurus lanjutan.
Ibaratnya untuk memasuki satu ruangan, pintunya sudah ditemukan dan kuncinya sudah ada di tangan.
Tinggal satu langkah saja, segenap ilmu keluarga Huang akan dikuasainya.
Jika orang bermain kartu dan semua kartu As sudah ada di tangan, apakah akan dengan sengaja mau mengalah?
Orang mengukur orang lain dengan ukurannya sendiri, ketika melihat bakat Ding Tao keringat dingin mereka pun mengalir keluar.
Dengan menggertak gigi, dalam hati Tiong Fa memaki.
Semakin lama, perlawanan Ding Tao justru semakin ulet.
Menghadapi jurus rahasia keluarga Huang, justru pikiran pemuda itu jadi semakin terbuka.
Bila orang bermain puzzle dan hampir seluruh puzzle-nya telah tersusun, maka makin mudah pula untuk menemukan tempat bagi sisa-sia potongan yang ada.
Demikian juga keadaan Ding Tao saat ini, jika dia tidak melihat dan mengalami sendiri jurus-jurus rahasia keluarga Huang, mungkin baginya perlu waktu satu atau dua tahun untuk mengembangkan apa yang sudah dia miliki hingga menguasai sampai pada puncaknya.
Tapi serangan-serangan Tiong Fa justru membuka matanya dan yang satu-dua tahun itu dengan mudah dikuasainya sekarang.
Meskipun penguasaannya tidak benar-benar sempurna, tapi untuk menahan serangan Tiong Fa, hal itu jauh lebih daripada cukup.
Penonton yang tadinya menyaksikan pertandingan itu tanpa perasaan, jadi tergerak melihat perlawanan Ding Tao yang semakin mantap.
Apalagi ketika kedudukan keduanya jadi mulai berimbang.
Pembaca yang suka menonton pertandingan balap kuda mungkin bisa membayangkan perasaan mereka saat itu, bagaimana ketika kuda yang tidak dijagokan sebelumnya, tiba-tiba mulai mendekati kuda terdepan di putaran terakhir.
Apalagi jika pembaca kebetulan sudah memasang taruhan pada kuda tersebut.
Sungguh celaka bagi Tiong Fa, semakin lama dia bertarung dengan Ding Tao, semakin cepat pula pemuda itu mematangkan penguasaannya.
Satu-satunya harapan Tiong Fa adalah tenaga pemuda itu yang sudah terlebih dahulu terkuras.
Yang tidak diduga oleh siapapun, adalah penemuan Ding Tao saat dirinya bertarung antara batas hidup dan mati melawan Wang Chen Jin.
Dan itulah yang terjadi sekarang, ketika Ding Tao sudah merasa mengerti semua kunci-kunci jurus rahasia keluarga Huang, mulailah dia mampu memberikan perlawanan.
Sadar bahwa yang dia ketahui belum cukup untuk menggunakannya untuk menjebak Tiong Fa untuk jatuh dalam permainan pedangnya, terpikirlah Ding Tao untuk menggunakan kelebihannya tersebut.
Tenaganya mulai disalurkan pada pedang kayu yang ada di tangannya.
Pada mulanya Tiong Fa masih belum menyadarinya, baru setelah beberapa kali tangannya tergetar setiap kali pedang mereka berbenturan, sadarlah dia.
Pucat wajah Tiong Fa ketika menyadari hal itu, keterkejutannya itu membuat lemah permainan pedangnya.
Untuk beberapa saat lamanya Ding Tao balik menggempur tokoh utama keluarga Huang tersebut.
Tapi Tiong Fa mendapatkan kepercayaan dari Huang Jin bukan tanpa alasan, dengan cepat dia berhasil menguasai perasaannya, diapun menyalurkan hawa murninya ke tangan sehingga pada setiap benturan yang terjadi tangannya tidak lagi tergetar dan pertarungan pun kembali menjadi seimbang.
Mengandalkan himpunan hawa murninya yang lebih mapan, Tiong Fa berusaha mendesak Ding Tao.
Pertarungan pun menjadi semakin seru, hingga menginjak ratusan jurus yang sudah dikeluarkan.
Gulungan pedang keduanya saling membelit dan berkitaran di tengah arena.
Tidak satupun dari keduanya terdesak mundur dari kedudukan terakhir.
Pada saat yang makin menegangkan itulah, tiba-tiba terdengar suara pedang kayu yang berderak patah.
Salah satu gulungan pedang yang berputaran di arena pertandingan menghilang.
Itulah pedang Tiong Fa yang patah jadi serpihan.
Nyata bahwa meskipun himpunan hawa murni Tiong Fa lebih mapan, tapi penguasaan Ding Tao terhadap pengaturan hawa murninya justru lebih baik dan lebih menyatu dengan senjata di tangannya.
Nafas Ding Tao terdengar memburu di tengah ruang latihan yang sunyi.
Wajah Tiong Fa pucat lesi, meskipun keadaannya jauh lebih baik dari Ding Tao.
Bahkan Tiong Fa yang terkenal cerdik pun kali ini kehilangan akalnya.
Pedang Ding Tao belum sampai mampir di tubuh Tiong Fa, pemuda itupun tidak menyerang, hanya mengambil posisi yang siap mengirimkan serangan.
Jika patahnya pedang Tiong Fa tidak dihitung sebagai satu kekalahan, bukan tidak mungkin akhirnya Ding Tao akan kalah karena kehabisan nafas.
Tapi kedudukan Tiong Fa sebagai tokoh yang lebih tua, tentu membuat hal itu akan tampak sangat memalukan.
Adalah Tuan besar Huang Jin yang lebih dahulu pulih dari rasa kagetnya.
Suara tepuk tangannya menyadarkan semua yang hadir di ruang latihan itu.
Ketika mereka melihat Tuan besar Huang Jin-lah yang bertepuk tangan maka sorak sorai pun pecah memenuhi ruangan.
Mereka yang masih muda berlari mendekat untuk memberikan selamat pada Ding Tao, dengan tawa lebar mereka menepuk-nepuk pundak pemuda itu.
Ada pula yang dengan bercanda mendorong badan pemuda yang sudah kepayahan itu.
Huang Ying Ying yang tadi ikut bersorak, kali ini justru bersikap malu-malu, gadis itu hanya ikut tertawa dari kejauhan saja.
Tuan besar Huang Jin diam-diam membisikkan sesuatu kepada putera sulungnya, kemudian dengan langkah yang tegap mendekati Tiong Fa dan Ding Tao.
Mereka yang melihat kedatangan Tuan besar Huang Jin, mundur keluar dan berbaris dengan rapi dan tertib di pinggir arena.
Menepuk-nepuk pundak Tiong Fa Tuan besar Huang Jin berkata.
"Pertandingan yang bagus, tidak perlu berkecil hati. Sudah jadi pepatah dunia persilatan, gelombang ombak yang baru selalu mendorong menggantikan yang lama."
Kemudian berbalik pada Ding Tao dia tersenyum lebar pada pemuda itu.
"Selamat Anak Ding, kemajuanmu dalam menguasai ilmu keluarga Huang sungguh di luar dugaan kami semua. Kecuali satu dua jurus pamungkas, yang memang hanya diturunkan pada kepala keluarga besar Huang, semuanya bisa kau kuasai."
"Benar-benar bakat yang luar biasa."
Ding Tao yang mendapat pujian sedemikian tinggi hanya bisa menggumamkan terima kasih sambil menundukkan kepala.
Mereka yang mendengar pujian Huang Jin pun semakin terheran-heran dan mengagumi bakat pemuda itu.
Seandainya saja mereka tahu yang sesungguhnya tentu akan berkali-kali lipat pula rasa heran dan kagum mereka.
Karena hanya bualan kosong belaka jika Tuan besar Huang Jin mengatakan, bahwa seolah-olah masih ada satu atau dua jurus pamungkas keluarga Huang yang belum dikuasai oleh Ding Tao.
Jangankan jurus pamungkas yang dikuasai oleh Tuan besar Huang Jin, bila diberikan waktu yang cukup buat Ding Tao, bukan tidak mungkin jurus pamungkas yang dikuasai oleh Tuan besar Huang Jin itu pun akan dapat disempurnakannya melebihi penguasaan Tuan besar Huang Jin sendiri.
Hanya saja kenyatan seperti itu sangat sulit diterima oleh akal, yang salah ternyata bisa jauh lebih masuk di akal dari kenyataannya.
Karenanya dalam pikiran setiap orang, apa yang dicapai Ding Tao masih kalah seusap dengan tingkatan Tuan besar Huang Jin.
Meskipun hal itu ada benarnya, tapi sebenarnya yang seusap itu adalah masalah himpunan tenaga dalam Tuan besar Huang Jin yang jauh lebih mapan.
Bahkan dalam hal itu pun, tidak akan banyak membantu bila keduanya harus berhadapan dalam pertandingan yang sesungguhnya.
Karena sebesar apa pun simpanan hawa murni yang berhasil dihimpun, penggunaannya masih sangat bergantung pada kemampuan pemiliknya untuk menguasai dan menyalurkan tenaga itu secara tepat.
Lebih lagi jika dipertimbangkan bahwa, hawa murni yang bisa membuat pemiliknya bergerak lebih ringan, lebih cepat dan lebih kuat itupun, dalam pengerahannya masih dibatasi juga oleh keterbatasan dari tubuh penggunanya.
Ding Tao yang lebih muda dan terlatih tubuhnya dibanding Tuan besar Huang Jin, memiliki kemampuan untuk menggunakan hawa murni yang lebih besar.
Bila hendak diibaratkan sebuah bendungan, maka himpunan hawa murni itu seperti air yang tertampung dalam bendungan, tubuh adalah saluran irigasi yang dilewati oleh air itu nantinya dan penguasaan akan hawa murni itu adalah pintu-pintu yang mengatur besar kecilnya dan ke arah mana, air akan dilewatkan.
Jika saluran irigasi yang akan dilewati tidak kuat dan air yang lewat dipaksakan terlalu besar, maka hancurlah saluran-saluran itu dan air pun akan tumpah sebelum sampai pada tujuannya.
Demikian juga jika seseorang memaksakan diri untuk menggunakan hawa murni secara berlebihan, pada waktu yang singkat bisa jadi dia akan menghasilkan daya hancur yang besar, tapi daya hancur yang sama itu pula akan merusakkan tubuhnya.
Lagipula meskipun Tuan besar Huang Jin sudah bertahun-tahun lebih lama berlatih dan menghimpun hawa murni, tapi bukankah apa yang dia simpan itu dia gunakan pula?
Entah dalam latihan atau dalam pertarungan yang sesungguhnya.
Itu sebabnya bahkan keunggulan yang seusap itupun sebenarnya masih dapat diperdebatkan.
Siapa yang sebenarnya lebih unggul, Ding Tao atau Tuan besar Huang Jin sebagai tokoh utama dalam keluarga Huang.
Tidak lama setelah Tuan besar Huang Jin berbasa-basi, Huang Ren Fang telah datang bersama seorang pelayan, membawa sebuah baki berisi dua cawan dan sebotol arak.
Tuan besar Huang Jin, mengisi kedua cawan itu lalu menyerahkan yang satu pada Ding Tao, kemudian sambil mengangkat cawan arak yang lain, dia berucap dengan sungguh-sungguh.
"Anak Ding, hari ini kau sudah membuktikan bahwa kau memang pemilik yang tepat dari pedang itu. Aku, mewakili keluarga Huang, mengucapkan selamat."
"Dan mengingat tugas yang kau pikul di pundakmu adalah tugas yang menyangkut kepentingan seluruh negeri, kami seluruh anggota keluarga Huang, dengan ini memberikan kesanggupan kami untuk berdiri di belakangmu dan membantumu sekuat tenaga kami, sampai kau berhasil menunaikan tugasmu itu."
"Sekali lagi aku ucapkan selamat!"
Dan dengan satu tegukan Tuan besar Huang Jin menghabiskan arak di cawannya.
Tepuk tangan dan sorak sorai pun memenuhi ruang latihan itu untuk kedua kalinya.
Ding Tao dengan mata yang basah oleh air mata, meneguk habis arak di cawannya.
Cepat Tuan besar Huang Jin menangkap pundak pemuda itu, ketika dia hendak bersoja di depannya, dengan kebapakan Tuan besar Huang Jin membimbing pemuda itu.
"Sudah, sudah, cukup, aku tahu ketulusanmu. Malam ini kau sudah banyak menguras tenaga, sebaiknya cepatlah beristirahat. Besok, kita akan bicarakan lebih jauh masalah tugas yang dibebankan oleh gurumu."
Menoleh ke salah satu anak muda yang ada di situ dia berpesan.
"Antar dia ke kamarnya, dan jangan habiskan waktu untuk mengobrol yang tidak perlu. Besok masih ada banyak waktu, malam ini biarkan Ding Tao istirahat sebaik-baiknya."
Dengan perkataan itu bubarlah mereka semua dari ruang latihan, masing-masing pergi ke ruangan mereka, beberapa orang mengantarkan Ding Tao yang sudah kelelahan ke kamarnya.
Mereka pun menaati pesan Tuan besar Huang Jin, apalagi ketika melihat keadaan Ding Tao yang benar-benar terkuras tenaganya.
"Sampai besok Ding Tao, selamat atas kemenanganmu. Sekarang beristirahatlah baik-baik.", pamit mereka.
"Terima kasih atas perhatian kalian semua. Sampai besok.", jawab Ding Tao yang baru sekarang merasa betapa tenaganya benar-benar terkuras. Segera setelah dia menutup pintu, Ding Tao merebahkan tubuhnya ke atas pembaringan. Seluruh tulang dan ototnya terasa lemas tak bertenaga. Untuk sesaat pemuda itu belum memejamkan mata, kejadian malam itu sungguh di luar bayangannya. Meskipun Gu Tong Dang sudah berkali-kali meyakinkan pemuda itu bahwa ilmunya telah maju pesat, tak pernah terbayangkan olehnya bahwa dia akan dapat mengalahkan tokoh-tokoh yang lebih tua seperti Wang Sanbo, Zhang Zhiyi apalagi Tiong Fa. Bahkan Tuan besar Huang Jin pun mengakui bahwa sudah hampir seluruh ilmu keluarga Huang dikuasainya secara sempurna. Mendesah bahagia pemuda itu merasa betapa lelahnya dia sekarang, matanya mulai mengantuk dan hampir saja dia memejamkan mata ketika terdengar ketukan lembut di pintu kamarnya. Dengan kemalasan pemuda itu bangkit, sejenak dipandanginya saja pintu kamarnya itu, berharap yang mengetuk pintu akan pergi setelah tidak dijawab beberapa lama. Tapi harapannya itu tidak terpenuhi, malah setelah beberapa kali mengetuk tanpa dijawab, terdengar suara lirih memanggil.
"Ding Tao... Ding Tao... apakah kau sudah tidur?"
Suaranya memang lirih saja, tapi suara yang lirih itu justru lebih berarti dari ketukan pintu sekeras apapun, karena suara itu ada suara Huang Ying Ying.
Senyuman muncul dari wajah Ding Tao, segala rasa malas dan lelah sepertinya jadi hilang saat dia mendengar suara gadis itu.
Malah sekarang dia takut kalau gadis itu benar-benar menyangka bahwa dia sudah tidur dan pergi.
Cepat-cepat dia menjawab.
"Tunggu, aku belum tidur."
Bergegas dia membukakan pintu, di depan Huang Ying Ying sudah menunggu dengan wajah cemberut manja.
"Hiih... kau bilang belum tidur, lalu kenapa tidak lekas kau buka pintunya."
Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Ding Tao menyahut.
"Ah... maafkan aku Adik Ying, aku tidak tahu kalau kau yang mengetuk pintu."
"Kalau kau tahu itu aku, apa langsung kau bukakan pintu?", tanya gadis itu dengan manja sambil menundukkan kepala dan wajah bersemu kemerahan.
"Tentu..."
Sejenak keduanya berdiri terdiam dengan jantung berdebaran.
Biasanya Huang Ying Ying lah yang berceloteh tanpa henti dan Ding Tao tinggal menimpali, tapi kali ini gadis itu tidak seramai biasanya.
Akhirnya Huang Ying Ying mengangkat wajahnya, dengan sorot mata prihatin dia bertanya.
"Ding Tao, bagaimana dengan lukamu?"
Merasakan betapa besar perhatian Huang Ying Ying, setengah sakit yang dia rasakan sepertinya sudah sembuh, dengan menyengir kuda dia menjawab.
"Tidak terlalu masalah, hanya rasanya tubuhku sangat lelah itu saja. Tidur sedikit, besok juga sudah baikan."
"Huuh... kalian ini anak laki-laki, selalu saja menganggap enteng luka. Ini kubawakan obat untukmu, kau minum yang bungkusan ini, kemudian lakukan latihan pernafasan. Lalu setelah itu minum dari bungkusan yang satunya lagi sebelum tidur. Apa kau ada alat untuk memasak obat ini?"
"Ada... ada...", jawab pemuda itu sambil menatap Huang Ying Ying dengan tatapan penuh kasih. Betapa terharu hati Ding Tao melihat besarnya perhatian Huang Ying Ying, digenggamnya tangan gadis itu dan dengan penuh perasaan dia berterima kasih.
"Adik Ying... kau baik sekali."
Huang Ying Ying yang terpegang tangannya, menunduk malu, jantungnya berdebaran. Hendak menarik tangannya dan lari, tapi tubuhnya terasa lemas.
"Itu... itu... itu tadi pesan ayah padaku. Sudahlah aku harus cepat kembali.", katanya, ketika akhirnya dia berhasil menenangkan hatinya. Ding Tao yang sadar sudah menggenggam tangan gadis itu cepat-cepat melepaskannya.
"Ah benar, hari sudah malam. Baiknya Adik Ying cepat kembali ke kamarmu."
"Sampai besok Kakak Ding."
"Ya, sampai besok."
Bercampur aduk perasaan keduanya, ada rasa senang, tapi juga ada rasa berat karena harus berpisah.
Ding Tao berdiri saja menunggu di depan pintu sampai Huang Ying Ying menghilang di tikungan.
Sebelum menghilang, gadis itu masih sempat berbalik sekali lagi kemudian melambaikan tangan.
Agak lama Ding Tao terpekur memandangi jalan yang kosong, ketika akhirnya dia menutup pintu dipandanginya bungkusan obat yang ada di tangannya.
Teringat tangan lembut Huang Ying Ying yang membawa bungkusan itu dengan sepenuh hati dia kemudian mendekap dan menghirup dalam-dalam wangi dua bungkusan obat itu.
Seandainya saja benar dua bungkusan obat itu berbau wangi, sewangi bau Huang Ying Ying, tapi yang namanya ramuan obat jarang-jarang yang berbau wangi.
Dan dua bungkusan obat itu tidak satupun yang berbau wangi, bisa dibilang justru dua bungkusan itu contoh paling bau dari segala macam obat yang berbau.
Karuan saja Ding Tao hampir muntah-muntah dibuatnya.
Tapi bau obat itupun tidak bisa membuat pemuda itu berhenti tersenyum.
Sambil menjerang air dan memasak obat itu, pemuda itu pun pelan-pelan menggumamkan lagu cinta yang sedang banyak dinyanyikan orang.
Saat obat yang satu telah siap dan habis diminum, dimasaknya pula bungkusan yang kedua.
Sambil menunggu obat itu siap, dia mulai bermeditasi, mengolah dan menghimpun hawa murni ditubuhnya.
Obat yang diberikan Huang Ying Ying, benar-benar baik.
Perlahan-lahan tubuhnya jadi semakin segar, aliran hawa murni dalam tubuhnya juga semakin lancar.
Jika setelah benturan-benturan tadi aliran darahnya sempat terasa sedikit kacau dan terhambat, maka sekarang bisa dia rasakan aliran darahnya kembali pulih.
Hanya rasa lelahnya tidak kunjung hilang, meskipun merasa sedikit heran, Ding Tao menduga hal itu karena dia terlalu banyak memeras tenaga, jauh di luar pertimbangannya sendiri.
Mungkin karena terbawa oleh suasana dan ketegangan, sehingga rasa lelah ini tidak dirasakannya sebelumnya.
Merasa semakin lama semakin sulit baginya untuk berkonsentrasi, pemuda ini akhirnya memilih untuk mengakhiri meditasinya, terlalu riskan jika dia memaksakan diri.
Akhirnya pemuda ini pun memilih termenung-menung, menatapi obat yang sedang dimasak.
Beberapa kali kepalanya terangguk-angguk hampir tertidur, tapi mengenangkan kebaikan Huang Ying Ying yang diwakili oleh obat itu, jangankan sedikit kantuk, seandainya disuruh melatih kuda-kuda sambil menjinjing 2 ember air selama 2 batang hio pun mungkin akan dijalaninya.
Sambil tersenyum-senyum pemuda itu, menatap air yang mendidih dan bau khas obat ramuan yang teruar keluar dari dalam poci.
Akhirnya setelah menanti sekian lama, siap juga obat itu untuk diminum, dengan hati-hati, ditiup-tiupnya ramuan yang masih panas itu, lalu pelan-pelan diseruput.
Sehabis meminum obat itu, maka tubuhnya merasa sangat nyaman dan kepala pun terasa semakin melayang.
Sambil menghempaskan diri ke atas pembaringan, Ding Tao bergumam.
"Rupanya obat supaya tidurku pulas."
Ding Tao benar-benar tertidur pulas.
Saat pintu kamarnya diketuk perlahan-lahan dari luar, pemuda itu sedikitpun tidak terbangun.
Bahkan ketika ketukan itu menjadi semakin keras, pemuda itu tidak juga terbangun.
Sebilah pedang tiba-tiba muncul di sela-sela antara daun pintu, dengan tebasan yang cepat pedang itu bergerak memotong palang pintu yang mengunci pintu dari dalam.
Secepat pedang itu menebas, secepat itu pula sebuah sosok melompat ke dalam dan menahan agar palang pintu yang sudah terpotong tidak jatuh bergelontangan ke lantai.
Cahaya bulan yang samar tertutup awan hanya memperlihatkan dua sosok berkedok dan berbaju hitam.
Kedua sosok itu dengan cepat memeriksa isi dalam kamar, ketika mereka menemukan Pedang Angin Berbisik milik Ding Tao, keduanya saling berpandangan.
Seorang di antara mereka jelas bertindak sebagai pemimpinnya, karena begitu kepalanya mengangguk, yang seorang lagi dengan segera menghadiahkan satu pukulan ke arah ulu hati Ding Tao.
Tinju 7 luka, sebuah ilmu pukulan yang sempat dia curi dari perguruan Kongtong dari Gunung Kongtong Dengan telak pukulan itu menghajar ulu hati Ding Tao, begitu kerasnya hingga tempat tidur anak muda itu ikut patah menjadi dua.
Darah pun menyembur dari mulutnya.
Tubuhnya bergulingan, seketika itu juga dia tersadar dari tidurnya yang lelap.
Dadanya nyeri bukan kepalang, terasa anyir darah di mulutnya yang menggugah kesadarannya.
Matanya terbelalak nyalang memandang ke arah dua orang berbaju dan berkedok hitam.
Dua orang itu tidak kalah kagetnya melihat pemuda itu belum mati terkena pukulan maut yang dilancarkan begitu telaknya.
Kesadaran Ding Tao dan kemauan dasarnya untuk bertahan hidup lebih cepat bereaksi dibandingkan kedua orang berkedok hitam, sekelam hati mereka.
Melihat pintu yang terbuka lebar, pemuda itu mengemposkan tenaga melompat keluar.
Lagi-lagi hal ini berada di luar dugaan kedua orang itu, hingga untuk beberapa saat keduanya hanya saling berpandangan, sebelum seorang di antara mereka memaki.
"Goblok! Cepat kejar!!"
Bergegas keduanya mengejar, tapi Ding Tao sudah menang waktu, dia juga tampaknya lebih paham lika-liku di kediaman keluarga Huang bagian itu, dibandingkan dua pengejarnya.
Beberapa kali keduanya kehilangan jejak saat pemuda itu menyusup masuk melewati celah-celah sempit atau gerumbulan semak yang menyembunyikan jalan setapak.
Untuk sesaat lamanya keduanya kehilangan jejak, rumah kediaman keluarga Huang sangatlah luas, mirip satu perkampungan sendiri.
Kelompok-kelompok rumah para pelayan dan penjaga, taman dan kolam, bangunan tempat keluarga besar Huang tinggal dan bangunan utama.
Apalagi di malam yang gelap.
Pembunuh yang gagal itu meneteskan keringat dingin, dipandangnya rekannya yang lain dengan sorot pandang mengiba.
"Tetua... aku sungguh... seharusnya pukulan itu..."
Guram wajah yang seorang lagi, sambil menggigit bibir dia berpikir, akhirnya dia berkata.
"Kita pergi saja melaporkan hal ini pada Tuan Huang."
Rekannya yang masih gugup dengan segera menuruti perkataannya dan melangkah ke arah gedung utama di mana Tuan besar Huang Jin menunggu laporan mereka.
Hatinya berdebar membayangkan kemarahan Tuan Huang.
Tiba-tiba dia merasakan hembusan angin menyentuh belakang lehernya, matanya melebar saat sadar apa artinya tiupan angin itu.
Tapi belum sempat dia berkata apa-apa, dirasakan dunia di sekitarnya berputaran, sekilas dilihatnya tubuhnya sendiri berdiri tanpa kepala, sebelum jatuh ke tanah, semakin lama semakin jauh dari dirinya.
Telinganya masih sempat mendengar teriakan memanggil para penjaga.
Dalam waktu singkat gegerlah rumah kediaman keluarga Huang, bukan hanya kediaman keluaraga Huang yang geger, bahkan Kota Wuling pun ikut menjadi geger.
Hampir setiap anggota keluarga laki-laki yang telah cukup umur, menenteng senjata, bergerak menggeledah ke seluruh penjuru rumah itu, bahkan beberapa telah memacu kudanya keluar untuk memeriksa ke sudut-sudut kota.
Dari mulut ke mulut beradar desas-desus yang mengatakan, Zhang Zhiyi telah memergoki Ding Tao sedang menyelinap ke dalam ruangan khusus milik Tuan besar Huang Jin, dan sedang berusaha melarikan diri sambil membawa kitab pusaka keluarga Huang yang hanya diwariskan pada pimpinan keluarga yang terpilih.
Zhang Zhiyi yang harus menghadapi pemuda itu dengan pedang pusakanya sangat kerepotan.
Syukur saja Tiong Fa yang sedang kesulitan tidur, sempat mendengar suara perkelahian mereka dan memburu keluar.
Sayang Tiong Fa tidak keburu membantu Zhang Zhiyi menahan Ding Tao, tapi setidaknya sebelum pedang Ding Tao dengan kejamnya memotong leher anggota yang setia itu, Zhang Zhiyi masih sempat menjelaskan duduk perkaranya.
Meskipun dengan penjelasan yang sepotong-sepotong dan dibayar dengan nyawa.
Ding Tao tidak lolos begitu saja, diapun terluka oleh pukulan Tiong Fa sebelum berhasil melenyapkan diri dalam kegelapan.
Tapi pemuda itu masih sangat berbahaya dengan Pedang Angin Berbisik di tangan, itu sebabnya setiap anggota keluarga Huang dan para penjaga yang menemukannya, diperintahkan untuk mengambil langkah sekeras mungkin.
Tidak perlu menangkapnya hidup-hidup, bunuh dulu baru urusan lain belakangan.
Terang saja seisi kota jadi ikut geger, derap kuda membelah malam yang sepi.
Tidak sedikit pula orang-orang keluarga Huang yang ikut di tempatkan menjaga gerbang-gerbang kota Wuling.
Entah berapa ratus orang yang mencari Ding Tao malam itu, tapi Ding Tao lenyap tanpa bekas.
Bisik-bisik mengatakan bahwa sebenarnya pemuda itu merupakan pemuda yang berbakat yang sulit ditemukan bandingannya dalam 10 tahun terakhir.
Hanya sayang sifatnya ternyata licik hingga tega menyatroni orang yang telah membesarkan dia selama ini.
Dalam keremangan malam Tiong Fa menyesali kericuhan yang terjadi ini.
Dalam hati dia mengutuki kecerobohannya, bagaimana mungkin pemuda itu bisa lolos darinya?
Dia pun sangat menyesali terbunuhnya Zhang Zhiyi.
Zhang Zhiyi adalah salah satu orang kepercayaannya, tapi pada saat rencana itu rusak berantakan yang terlintas di benaknya adalah, sesedikit mungkin orang di luar kelompok inti boleh mengetahui hal itu.
Lepasnya Ding Tao membuat dia terdesak oleh waktu, setiap saat bisa saja Ding Tao bertemu dengan salah seorang penjaga, dia harus terlebih dahulu memburukkan nama pemuda itu, sebelum pemuda itu sempat bertemu siapapun.
Dipandanginya tubuh Zhang Zhiyi yang terpisah dari kepalanya, teringat pula akan keadaan kamar Ding Tao yang tidak sesuai dengan cerita darinya baru saja.
Tapi Tiong Fa belum bisa bergerak untuk membersihkan kamar Ding Tao dari jejaknya.
Rahangnya mengeras, bertanya-tanya, sampai berapa jauhnya kerusakan pada rencana mereka ini terjadi.
------------------------------o ------------------------------Sebenarnya apa yang terjadi malam itu?
Ada juga keinginan dari penulis untuk membuat semacam cerita misteri, sayangnya penulis termasuk orang yang bermulut ember, tidak bisa menyimpan rahasia, sehingga meskipun ada keinginan tapi tidak ada kemampuan.
Sejak Tuan besar Huang Jin menyaksikan bakat Ding Tao, dalam hatinya lenyap sudah keinginan untuk menarik anak muda itu ke dalam keluarganya.
Hilang pula minatnya untuk mengambil Pedang Angin Berbisik dari tangan pemuda itu secara baik-baik.
Kekalahan Tiong Fa, kondisi Ding Tao yang sudah sangat kelelahan, membuat sangat tidak berwibawa jika Tuan besar Hung Jin harus memaksakan diri untuk mengirim satu orang lagi untuk bertanding melawan Ding Tao.
Lagipula siapa yang hendak ditandingkan melawan pemuda itu?
Kondisinya sangat payah, siapa pun jagoan tingkat atas dari keluarga Huang yang diminta untuk bertanding melawan pemuda itu akan kehilangan mukanya.
Sementara bakat Ding Tao justru menunjukkan kemampuannya memberikan hasil yang di luar dugaan.
Mengirimkan salah satu jagoan muda memiliki resiko menelan satu lagi kekalahan, memperpanjang daftar kemenangan Ding Tao dan membuat nama mereka jadi lebih terpuruk bila memaksa Ding Tao untuk bertanding lagi dan lagi hingga mareka memenangkan pertarungan karena pemuda itu mati kepayahan.
Tuan besar Huang Jin tidak pernah suka berjudi, jika dia harus berjudi, maka jelas baginya kapan dia harus bertahan dan kapan harus mundur.
Kali ini dia memilih mundur dari perjudian itu.
Itu sebabnya di depan semua orang dia memuji bakat Ding Tao, sekaligus mengesankan masih adanya jurus rahasia yang tidak dipahami Ding Tao.
Berjanji untuk membantu Ding Tao dan mengikat tali persahabatan.
Di depan semua orang ditunjukkannya bahwa tidak ada ganjalan, keluarga Huang sudah mempercayakan pula pedang pusaka itu ke dalam tangan Ding Tao.
Jika seorang mengusut satu kejahatan, yang pertama kali dia lakukan adalah mencari siapa yang memiliki motif untuk melakukan kejahatan itu.
Apa tujuan kejahatan itu dilakukan?
Balas dendam?
Keserakahan?
Keuntungan apa yang ingi diraih pelakunya lewat kejadian itu?
Setiap penjahat yang licin mengerti akan hal ini, sebelum memulai aksinya, terlebih dahulu dia berusaha untuk mengaburkan motif itu.
Dalam hal ini Tuan besar Huang Jin lah penjahatnya, meskipun bila kau tanya dirinya, mungkin dia tidak akan merasa apa yang dilakukannya adalah satu kejahatan.
Inilah bentuk rasa baktinya bagi leluhur, bentuk rasa kasihnya pada anak cucunya.
Dengan berjuang, berusaha mengangkat nama keluarga meskipu dirinya harus berendam dalam lumpur untuk dapat menggapainya.
Arak yang dia hidangkan mengandung racun yang akan membuyarkan himpunan hawa murni seseorang.
Tidak cukup demikian, diutusnya puteri kesayangannya untuk mengantarkan bungkusan obat untuk membantu Ding Tao memulihkan kondisinya yang kelelahan.
Obat itu mengandung ramuan semacam obat tidur, ditambah dosis yang lebih kuat dari racun pembuyar hawa murni yang dicampurkan ke dalam arak.
Tidak perlu heran jika Ding Tao akan tertidur lelap setelah meminum obat itu, karena obat itu memang meredakan ketengangan dan membantu seseorang yang mengalami luka-luka yang menyakitkan tubuh untuk tidur dengan tenang.
Lengkap sudah rencananya, Ding Tao akan tertidur dengan pulas dan hawa murni yang buyar.
Tuan besar Huang Jin sendiri harus meminum obat penawar dan memulihkan diri karena dia meminum racun yang sama dengan yang diminum Ding Tao.
Untuk melaksanakan tugas selanjutnya, diserahkannya pekerjaan itu pada orang kepercayaannya Tiong Fa.
Tiong Fa kemudian memilih Zhang Zhiyi untuk membantu dia mengerjakan hal itu.
Dia memilih Zhang Zhiyi karena jagoan yang satu itu mengenal banyak sekali ilmu dari perguruan lain.
Rencana mereka adalah meninggalkan bekas pukulan yang khas, yang akan dikaitkan dengan sebuah perguruan di daerah utara.
Zhang Zhiyi tidak perlu kuatir apakah ilmunya sudah cukup sempurna karena Ding Tao sudah buyar hawa murninya, yang penting adalah bekas yang ditinggalkannya.
Jaring sudah dipasang dengan rapat, lalu bagaimana ikan itu bisa lolos?
Adalah Huang Ying Ying yang mengacaukan rencana itu, gadis yang sedang jatuh cinta ini mendapatkan ide untuk mengambil pula obat penambah tenaga yang biasa dikonsumsi keluarga Huang untuk membantu mereka dalam proses memperkuat himpunan hawa murni mereka.
Tuan besar huang Jin tidak menyangka gadis itu akan berani mengambil obat rahasia keluarga untuk orang luar.
Tapi gadis yang sedang jatuh cinta memang seharusnya tidak dipercaya.
Apalagi gadis itu sama sekali tidak tahu menahu tentang rencana jahat ayahnya terhadap Ding Tao.
Dilihatnya ayahnya begitu kagum dan perhatian pada pemuda itu.
Dalam pikirannya jika sampai ayahnya tahu pun tentu tidak menjadi halangan.
Obat yang diambil Huang Ying Ying dengan diam-diam itulah justru yang menjadi penawar dari racun pembuyar hawa nurni.
Alhasil memang benar Ding Tao tertidur pulas bak orang sudah mati, tapi himpunan hawa murni dalam tubuhnya masih bekerja dengan baik.
Saat Zhang Zhiyi memukul dadanya, hawa murninya secara naluriah melindunginya dari kematian.
Pukulan itupun menyadarkan pemuda ini untuk sementara waktu sehingga dia masih sempat melarikan diri dari kedua pembunuh itu.
Setengah sadar pemuda itu melarikan diri dari ancaman bahaya yang bisa dirasakan oleh nalurinya untuk bertahan hidup.
Jika ada sifat yang diwariskan secara turun temurun pada manusia, itulah naluriah untuk bertahan hidup.
Mereka yang tidak mewarisinya tentu tidak akan mampu bertahan hidup di dunia purba yang keras.
Lalu di mana pemuda itu menghilang?
Bukankah kesadarannya terganggu oleh khasiat obat tidur yang diminumnya?
Ditambah dengan luka di jantungnya yang tidaklah ringan, bagaimana dia mampu menjaga kesadarannya sampai selamat di luar perbatasan kota?
Rasanya jawaban dari pertanyaan ini bukanlah misteri bagi para pembaca.
Sudah jelas Ding Tao tidak akan mampu melarikan diri melampaui gerbang-gerbang kota yang dijaga ketat, dia juga tidak mungkin mampu merayap melewati dinding-dingin kota yang tinggi.
Jangankan melakukan hal-hal semacam itu, untuk lari keluar dari kediaman keluarga Huang pun dia tidak mampu.
Jadi di mana dia berada?
Sudah tentu dia masih ada di dalam kediaman keluarga Huang.
Di mana?
Tentunya di tempat orang yang paling dekat dengan hatinya, tempat orang yang paling dipercayainya, dalam keadaan setengah sadar, hati dan nalurinya bekerja melampaui pikiran logisnya.
Dengan langkah yang terhuyung-huyung, pemuda itu telah mengambil jalan-jalan pintas hingga sampai di depan kamar nona muda keluarga Huang, Huang Ying Ying.
Pemuda itu pingsan begitu dia sampai di depan pintu kamar, Huang Ying Ying tentu saja tidak tahu Ding Tao sedang terbaring pingsan di sana.
Barulah ketika dia membuka pintu karena didengarnya ada keributan di luar, dia menemukan pemuda itu di sana.
Kaget dan khawatir, gadis itu tidak sempat berpikir panjang.
Apalagi darah yang mengering, menodai sebagian besar bagian depan baju yang dikenakan pemuda itu.
Tanpa menunggu pertolongan orang lain, dengan susah payah, didukungnya tubuh Ding Tao hingga sampai ke atas pembaringannya sendiri.
Diaturnya baik-baik tubuh pemuda itu lalu diselimutinya.
Setelah yakin pemuda itu aman berada di dalam kamarnya diapun bergerak untuk meninggalkan kamar dan menemui tabib pribadi keluarga Huang, yang tinggal di salah satu bangunan dalam kediaman keluarga Huang.
Tangannya sudah menyentuh pintu, ketika terpikir bahwa luka yang dialami Ding Tao menunjukkan bahwa ada orang yang berniat mencelakai pemuda itu, tidak terpikir olehnya betapa berbahayanya berkeliaran di luar kamar, bila ada orang yang sedang menyatroni rumahnya.
Yang terpikir olehnya adalah keselamatan Ding Tao saat ditinggalkan.
Cepat-cepat gadis itu kembali, kali ini disiapkannya selimut tebal di lantai, di bagian yang tersembunyi oleh pembaringannya yang besar.
Tubuh Ding Tao yang sudah dinaikkan ke atas, diturunkannya ke sana, diaturnya barang-barang lalu diperiksanya dari arah pintu.
Setelah puas dengan hasil kerjanya barulah gadis itu pergi meninggalkan ruangan, hendak menuju ke bangunan tempat tabib itu tinggal.
Dia tidak berani berjalan dengan terang-terangan, karena teringat orang yang menyerang Ding Tao bisa jadi masih berkeliaran.
Bersembunyi dalam bayang-bayang gadis yang pemberani ini mengendap perlahan namun pasti.
Langkahnya tiba-tiba terhenti saat dilihatnya dua sosok berbaju dan berkedok hitam sedang berhadapan dan mempercakapkan sesuatu.
Lamat-lamat terdengarlah percakapan mereka.
Semakin lama mendengarkan semakin pucat wajah gadis itu.
Baju hitam, kedok hitam, di malam yang gelap, apa ada orang berpikiran lurus bakal melakukan hal itu?
Yang jelas apapun yang hendak mereka lakukan, keduanya menimbulkan kecurigaan orang yang memergokinya.
Betapa kaget Huang Ying Ying, saat mereka menyinggung-nyinggung nama ayahnya.
Lebih pucat lagi wajahnya saat melihat adegan yag sudah kita ketahui dalam bab sebelumnya.
Tanpa banyak bertanya, gadis ini bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi.
Meskipun hatinya memberontak dan belum bisa menerima kenyataan yang ada di hadapannya, gadis itu tidak membuang-buang waktu untuk kembali ke kamarnya.
Ding Tao berada dalam bahaya dan tidak ada seorangpun di rumah itu yang bisa dipercayainya untuk menolong pemuda pujaannya itu.
Begitu sampai di dalam kamar ditutupnya pintu rapat-rapat, dengan jantung berdebaran dia bersandar di balik pintu.
Matanya berkeliaran dengan liar, menjelajahi setiap sudut kamarnya.
Sudah belasan tahun dia tinggal di kamar yang sama.
Perubahan kecil dan besar dia lakukan, setiap apa yang ada di dalam kamar itu dia kenal benar, tapi kali ini matanya memandang lewat sudut pandang yang berbeda.
Di mana dia bisa menyembunyikan Ding Tao dengan aman?
Di bawah tempat tidurnya?
Di balik pemisah ruangan dari ukiran kayu tempat dia berganti pakaian?
Atau di ruang sebelah, sebuah tempat dengan bak yang besar tempat dia mandi dan membersihkan diri?
Kamar Huang Ying Ying sangatlah luas.
Dalam kamar seorang gadis sudah wajar jika ada pula lemari besar yang berisi pakaian.
Jika kamarnya demikian luas, lemari pakaian gadis itu pun sepadan dengan luas kamarnya.
Segala macam kain dengan berbagai macam warna bisa ditemukan di situ.
Dari jahitan penjahit di sebelah utara kota, sampai penjahit yang tinggal di selatan kota ada juga di sana.
Di antara helai-helai kain dan baju yang bergantungan itulah Ding Tao menghabiskan waktunya, pingsan dengan tenangnya sementara di luar ratusan orang mengubek-ubek segala penjuru untuk mencari dirinya.
Luka pemuda ini sebenarnya cukup parah, beruntung hawa murninya sudah cukup mapan dan Zhang Zhiyi pun belum begitu menguasai ilmu pukulan yang digunakannya.
Nafasnya tersengal-sengal, bahkan dalam tidurnya yang pulas oleh obat tidur pun pemuda itu masih sering menyeringai kesakitan.
Huang Ying Ying yang merasa khawatir oleh keadaan pemuda itu hanya bisa menyeka bagian-bagian tubuhnya yang ternoda darah.
Dia mengatur kain-kain tebal supaya pemuda itu dapat berbaring dengan sehangat dan senyaman mungkin.
Untuk sesaat dipandanginya wajah Ding Tao yang pucat, dengan sapu tangan dia menghapus keringat yang memenuhi dahi pemuda itu.
Tidak berani berlama-lama, gadis itu cepat-cepat menutup lemarinya, dengan hanya menyisakan sedikit celah sebagai lubang udara.
Ketika suara ramai orang melewati depan kamarnya, gadis ini berpura-pura terbangun oleh suara itu.
Dibukanya pintu lalu ia melongokkan kepalanya keluar, menanyai orang-orang yang lewat.
"Paman, ada apa ribut malam-malam begini?"
"Ada pembunuhan nona muda!"
"Ada yang membunuh Tuan Zhang Zhiyi."
"Ada yang mencuri kitab pusaka ayah nona."
"Ding Tao pembunuhnya, sekarang dia sedang lari."
Beberapa orang menjawab berbarengan, suara mereka bercampur justru membuat penjelasan mereka tidak jelas, Huang Ying Ying tentu saja sebenarnya sudah mengetahui yang terjadi, bahkan lebih jelas dari mereka yang berbicara, tapi dia berpura-pura kebingungan.
"Paman, bicaralah satu per satu, apa yang sebenarnya terjadi?"
Akhirnya salah seorang dari mereka berusaha menjelaskan dengan runut apa yang sudah didengarnya dari penjelasan Tiong Fa dan Tuan besar Huang Jin.
Sambil mengerutkan alis, Huang Ying Ying berpura-pura kesal, tidak sulit karena hatinya memang sedang penuh rasa khawatir dan juga marah.
Khawatir pada keselamatan Ding Tao, serta marah pada ayah dan keluarganya.
"Apa tidak salah? Apa gunanya bagi Ding Tao untuk melakukan hal itu? Tidak tahukah kalian, baru saja dalam satu pertandingan persahabatan, tidak ada seorang pun jagoan dari keluarga Huang yang mampu mengalahkannya!"
Mereka yang tahu bahwa nona muda mereka ini dekat dengan Ding Tao jadi merasa serba salah.
"Soal itu..., kami juga tidak mengerti... mengapa tidak nona bertanya pada ayah nona saja?"
Sambil membanting kaki nona muda itu pun menjawab.
"Huh, kau kira aku tidak berani menanyakan pada ayahku? Lihat saja, selekasnya aku akan menghadap ayah."
Pintu pun dibanting tertutup, orang-orang saling berpandangan lalu mengangkat bahu. Salah seorang di antara mereka menyeletuk.
"Sebenarnya aku juga merasa ragu, masa Ding Tao bisa berbuat sekeji itu?"
Tiba-tiba pintu kembali dibuka dan kepala Huang Ying Ying muncul di situ, tentu saja mengagetkan semua orang.
"Nah betul itu, kalian sudah kenal Ding Tao belasan tahun, apa dia ada potongan macam maling atau pembunuh?"
Dan secepat kepala itu menongol keluar, secepat itu pula dia menghilang kembali di dalam.
Menghela nafas sambil menggelengkan kepala, mereka yang di luar saling berpandangan sambil tersenyum geli.
Tapi pertanyaan itu ada dalam kepala mereka, bagi mereka yang mengenal dekat pemuda itu, tuduhan Tiong Fa tentu saja sangat tidak sesuai dengan watak Ding Tao yang mereka kenal.
Hanya saja siapa yang berani meragukan perkataan Tiong Fa?
Tidak lama waktu yang dihabiskan Huang Ying Ying untuk merapikan diri, dengan bergegas dia pergi untuk menemui ayahnya.
Setiap kali dia bertemu dengan rombongan orang yang mencari Ding Tao, percakapan yang kurang lebih sama terjadi.
Dengan caranya sendiri gadis itu berusaha membersihkan nama pemuda pujaannya.
Tangisannya disimpan rapat-rapat dalam hati, tidak ada yang bisa tahu betapa kalut dan hancur sesungguhnya hati gadis ini.
Kebanggaannya sebagai nona muda keluarga Huang yang terhormat, tokoh aliran lurus yang dikenal akan kejujuran dan keadilannya, sekarang hancur berkeping-keping.
Lebih-lebih lagi, adalah pemuda yang dia kasihi yang sudah menjadi korban fitnah dan kekejian mereka.
Langkahnya yang cepat membawa dia menemui ayahnya yang sedang berunding dan memberi jawab pada orang-orang yang datang untuk bertanya.
Ketika melihat gadis itu, semua orang yang di sana terdiam.
Ayahnya berjalan mendekati dengan raut sedih.
Diraihnya puteri kesayangannya itu lalu dipeluknya, seperti ketika dia masih kecil.
Tanpa terasa air mata meleleh dari kedua bola mata Huang Ying Ying yang bening.
Terisak-isak, dia menumpahkan segala perasaannya dalam dekapan ayah, yang masih dikasihinya, siapapun dia, apapun yang sudah dilakukan.
Perasaan kasih yang tertanam bertahun-tahun lamanya tidak bisa dihilangkan begitu saja.
Semua yang menyaksikan, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ada dalam hati gadis itu.
"Ayah... ayah... apakah benar kata orang?", sambil terisak dia bertanya, dalam hati dia berteriak, memohon ayahnya agar mengatakan yang sejujurnya. Memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi, sosok ayah yang selalu tampil sebagai penyelamat. Akankah kali ini kembali tampil sebagai penyelamat? Bisakah ayahnya meluruskan yang salah, ketika itu dilakukan olehnya sendiri? "Nak... Ying Ying, hentikan tangismu, dia bukan Ding Tao yang kaukenal dua tahun yang lalu. Kita semua tidak tahu, apa saja yang dialaminya selama dua tahun itu di luaran."
"Tapi ayah... ini Ding Tao. Dia... dia... dia tidak mungkin sekeji itu.", sambil menjauhkan diri ditatapnya kedua mata ayahnya dalam-dalam. Tuan besar Huang Jin mengeluh dalam hati, terbayang masa kecil gadis itu, entah berapa kali gadis itu datang padanya dengan mata basah seperti sekarang ini dan dia akan selalu bisa membuatnya tersenyum kembali. Tapi tidak kali ini, dengan sedih orang tua itu menggelengkan kepalanya.
"Saudara Tiong Fa sendiri melihat kejadiannya."
"Apakah tidak mungkin salah?"
"Apa kau menuduh Paman Tiong Fa berbohong?"
"Bagaimana kalau Zhang Zhiyi yang berbohong?"
"Kalau begitu mengapa Ding Tao harus lari? Dia bisa menjelaskan kebenarannya pada pamanmu."
"Bagaimana kalau Ding Tao khawatir bila Paman Tiong Fa tidak percaya padanya? Terbukti Paman Tiong Fa telah membantu Zhang Zhiyi melawan dirinya?"
"Pamanmu sudah menyuruh mereka berhenti berkelahi, tapi Ding Tao yang terus menyerang, bahkan mengambil kesempatan saat Zhang Zhiyi mengendurkan serangan untuk memenuhi permintaan kakekmu, Ding Tao memenggal kepalanya."
Akhirnya gadis itu menggigit bibir dan membanting kaki.
"Aku tidak percaya!"
"Ying Ying! Jangan keras kepala!"
"Ayah jahat!", teriak gadis itu sambil menyentakkan badannya dari pelukan sang ayah dan berlari kembali ke kamar. Sambil berlari kembali ke kamar, air matanya bercucuran. Habis sudah harapannya, ayahnya tidak akan berbalik dari kesalahannya. Meskipun Huang Ying Ying tidak terlalu mengharapkan hal itu terjadi, tapi sungguh dia berdoa agar hal itu terjadi. Sedikit penghiburan dalam hatinya, dia sudah berhasil menjalankan rencana yang terpenting. Sekarang, tidak akan ada seorangpun yang menyangka bahwa Ding Tao saat ini sudah berada dengan aman di dalam kamarnya. Tuan besar Huang Jin menatap kepergian anak gadisnya dengan muka memerah. Memerah karena marah, marah karena perlawanan anak gadisnya terhadap dirinya sendiri, marah karena terpaksa mengorbankan perasaan anak gadis kesayangannya. Marahnya itu pun akhirnya tertumpah pada Ding Tao dan Gu Tong Dang, jika saja mereka tidak berkeras untuk mengangkangi Pedang Angin Berbisik... Dengan menggeram dia memberikan perintah.
"Apa pun yang terjadi, kalian cari anak itu dan bunuh dia di tempat! Tidak perlu membawanya menghadapku."
"Baik Tuan Huang.", gumam mereka yang ada di sana. Tidak berani lagi mereka bertanya lebih lanjut, siapa yang mau menanggung murka Tuan besar Huang saat itu? Sungguh malam yang sangat sibuk, seperti sudah diceritakan sebelumnya, orang-orang Tuan besar Huang menjelajahi seluruh Kota Wuling dan untuk beberapa hari ke depan cerita tentang Ding Tao menjadi pembicaraan paling hangat, bukan hanya di Kota Wuling, tapi disebut-sebutnya Pedang Angin Berbisik membuat cerita itu menjadi cerita terhangat dalam dunia persilatan. Nama Ding Tao pun terkenal sebagai jagoan pedang baru dalam dunia persilatan, sayang nama itu juga dikenal sebagai nama seorang tokoh yang tidak kenal budi dan kejam. Tapi untuk sementara kita tidak sibuk mengurusi keramaian di dunia luas, kita harus berfokus pada apa yang terjadi di rumah kediaman keluarga Huang. Bahkan lebih tepatnya lagi, kita berfokus hanya di salah satu bagian dari kediaman keluarga Huang yang sangat luas itu. Yaitu di kamar pribadi nona muda keluarga Huang. Malam itu, setelah bertengkar dengan ayahnya di depan banyak orang, masih ada beberapa hal penting lain yang terjadi. Sesosok bayangan tampak bersembunyi di sudut bangunan, mengamat-amati kamar tempat Huang Ying Ying berada. Saat terlihat nona muda itu berlari menuju ke kamarnya sambil berulang mengusap mata, mengeringkan air mata yang tidak hentinya mengucur, terdengar desahan sedih bayang-bayang itu. Menengok ke kiri dan ke kanan dilihatnya apakah ada orang di sana, keadaan sepi sudah lama orang menghentikan pencarian di bagian itu. Tapi masih juga ditunggunya beberapa lama. Saat orang itu yakin tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, dengan sedikit membungkuk dia berlari cepat ke arah Huang Ying Ying yang baru saja hendak membuka pintu kamarnya.
"Nona muda Ying, Nona muda Ying.", setengah berbisik, setengah memanggil, bayang-bayang itu ingin memanggil tapi takut juga jika suaranya terdengar orang lain. Terlonjak kaget gadis itu saat tiba-tiba didengarnya suara memanggil. Cepat dia menutup kembali pintu yang baru saja dibuka, sambil bersender di depan pintu dengan suara gemetar dia bertanya.
"Siapa?"
"Oh... Tabib Shao Yong... ada apa? Kau mengagetkanku."
"Maaf nona, maaf...sebentar... biar kuatur dulu nafasku.", dengan nafas tersengal tabib yang cukup berumur itu menyandar di tiang dekat pintu kamar Huang Ying Ying. Sembari menunggu nafasnya teratur, matanya melihat ke sana ke mari, mengawasi keadaan di sekitar tempat itu, khawatir ada orang lain yang melihat. Huang Ying Ying yang melihatnya, jadi ikut pula melihat ke kiri dan ke kanan.
"Eh Tabib Shao, sebenarnya ada apa?", lenyap sudah tangisnya yang tadi berderai. Maklum sifatnya memang periang jika dia tadi hingga sampai menangis itu karena memang beban yang tidak tertahan. Tapi menghadapi situasi yang unik dari Tabib Shao Yong, tidak urung rasa ingin tahunya lebih menonjol daripada kesedihan sebelumnya dan untuk sementara lupalah gadis itu dengan masalah antara ayah dan pemuda pujaan. Tabib Shao Yong yang sudah tidak tersengal, sekali lagi memandang ke sekeliling tempat itu sebelum berbisik.
"Nona muda, tahukah kau obat apa yang tadi kauberikan pada Ding Tao?"
Dengan perlahan Huang Ying Ying menggeleng, matanya menatap tajam pada Tabit Shao, mengharap penjelasan lebih lanjut.
"Menurut nona muda, apakah Ding Tao meminumnya?"
Terdiam sesaat Huang Ying Ying akhirnya dengan ragu-ragu dia menjawab.
"Entahlah Tabib Shao, jika menurut setahuku Ding Tao yang kukenal akan meminum obat itu, tapi Ding Tao yang kukenal juga tidak akan membunuh Zhang Zhiyi apalagi jika alasannya untuk mencuri ilmu pusaka keluarga kami."
Tabib Shao, menggigit bibirnya sebelum dengan muka pucat dan keringat dingin menetes berkata.
"Nona, jika kukatakan bahwa Ding Tao tidak bersalah, akankah nona percaya? Jika kukatakan aku memiliki bukti-buktinya dengan jelas, akankah nona melindungiku?"
Berkilat mata Nona muda Huang.
"Tabib Shao, aku percaya sepenuhnya bahwa Ding Tao tidak bersalah dan jika kau memiliki buktinya, aku akan melakukan apa pun yang ada dalam kemampuanku untuk melindungimu."
Kata-katanya jelas dan tegas, saat dia bersikap demikian, sikapnya tidak kalah berwibawa dari ayahnya. Tabib Shao yang menanggung beban di hatinya merasakan satu kelegaan besar.
"Nona, bisakah kita membicarakan ini di dalam kamarmu?"
Dan cepat-cepat dia menambahkan.
"Saya tahu ini permintaan yang tidak sopan, tapi nyawaku mungkin berada dalam bahaya, dan bila aku meneruskan apa yang kuketahui pada nona, bukan tidak mungkin nyawa nona pun akan terancam bahaya."
Tercenung sesaat Huang Ying Ying dengan cepat mengambil keputusan, setelah memastikan tidak ada orang di sekitar situ, ia membuka pintu kamarnya dan menggamit Tabib Shao untuk ikut masuk.
Ketika Tabib Shao hendak menutup pintu kamar, cepat gadis itu mencegahnya.
"Jangan, biarkan saja terbuka."
"Cukup paman berdiri menempel di sana, tidak akan terlihat dari luar.", ujarnya sambil menunjuk ke sebuah sisi dalam kamarnya, tidak jauh dari pintu, tapi dari luar tidak terlihat karena terhalang oleh tembok kamar. Tabib Shao mengangguk tanpa banyak memprotes. Melihat Tabib Shao bergerak ke arah yang dia tunjukkan, Huang Ying Ying mengambil jarak, lalu duduk di sebuah kursi yang ada di sana, lalu mengarahkan pandangan matanya keluar, tidak menatap ke arah Tabib Shao. Dari luar tidak terlihat Huang Ying Ying sedang berbicara dengan seseorang di dalam kamarnya. Bila hal itu ketahuan juga atau bila Tabib Shao ternyata berniat jahat, maka pintu yang terbuka maka pintu yang terbuka bisa jadi bukti bahwa Huang Ying Ying tidak melakukan perbuatan yang tercela di sana. Dengan pengaturan yang demikian Huang Ying Ying juga dapat melihat keluar, mengamati keadaan di luar. Dengan suara yang tidak terlalu keras dan pandangan mata ke arah luar Huang Ying Ying bertanya.
"Jadi, apa yang mau kau katakan Tabib Shao?"
"Obat yang diminta ayahmu itu, memang baik buat kondisi Ding Tao yang menderita banyak luka luar di tubuhnya. Yang paling penting baginya adalah istirahat yang secukupnya, obat itu akan membuat pernafasannya menjadi longgar, aliran darah yang lancar, tapi juga... obat itu akan membuat Ding Tao tertidur dengan pulasnya."
"Jadi maksud paman, bila Ding Tao meminum obatnya, maka tidak mungkin dia akan dapat berkeliaran malam-malam dan menyatroni kamar ayahku..."
"Ya, itulah nona."
"...Tapi seperti yang kukatakan, Ding Tao yang dulu pasti akan meminum obat yg kuberikan, Ding Tao yang dulu juga tidak akan melakukan kejahatan yang dituduhkan.", berdebar hati Huang Ying Ying, karena Tabib Shao mengatakan bahwa dia memiliki bukti, berarti ada jalan untuk membersihkan nama Ding Tao. Tapi jika itu benar, maka Tabib Shao memegang bukti yang akan menghancurkan nama keluarganya. Tabib Shao menelan ludah beberapa kali sebelum dia menjawab, tanpa terasa tubuhnya sedikit gemetar membayangkan akibat dari apa yang telah dia lakukan.
"Nona... ketika aku mendengar apa yang dilakukan Ding Tao. Aku teringat dengan obat yang nona minta dariku, karena merasa penasaran, aku pergi ke kamarnya untuk memeriksa."
"Bau obat di kamar itu memastikan bahwa dia telah memasak obatnya, aku periksa ke setipa sudut dan bisa kupastikan obat bukan pula dibuang. Lagipula untuk apa dia memasaknya jika obat itu hendak dibuangnya?"
"Hanya itu saja Tabib Shao?"
"Bukan nona, bukan hanya itu...", terdiam ragu Tabib Shao, haruskah dia meneruskan penjelasannya? "Lalu, lanjutkan keteranganmu Tabib Shao."
"Sebenarnya saat aku sampai di kamar Ding Tao, bukan masalah obat yang menarik perhatian pertamaku. Tapi ceceran darah di lantai, tempat tidur yang patah, bekas-bekas orang memeriksa kamar itu."
Meskipun jantung Huang Ying Ying berdebaran, tapi dia berusaha tenang.
"Lalu apa kesimpulan paman, bagaimana hal itu menjadi bukti bahwa Ding Tao tidak bersalah?"
Setelah mengambil nafas dalam-dalam, Tabib Shao melanjutkan.
"Nona muda, kita semua tahu sifat Ding Tao, kejadian malam ini tidak sesuai dengan sifatnya itu. Kemudian ada obat tidur itu, setelah melihat keadaan kamarnya satu gambaran terbentuk dalam pemikiranku."
"Jika Ding Tao ini Ding Tao yang kita kenal. Dan apa yang kita lihat sepanjang hari ini, menunjukkan bahwa Ding Tao yang sekarang sama jujur dan setianya dengan Ding Tao dua tahun yang lalu. Ding Tao tentu telah meminum obat yang kuberikan dan tidak lama kemudian dia akan tertidur pulas.Terbukti dari bau obat yang memuhi kamar, bahkan dari ceceran darah itu. Ya, ceceran darah itu sudah kuselidiki pula dan jelas bukan hanya ceceran darah, tapi ada juga bekas-bekas obat yang sudah bercampur dengan asam lambung, ikut tersembur bersama muntahan darah."
Menceritakan penemuannya tanpa terasa Tabib Shao menjadi semakin bersemangat, lupalah sudah tabib tua itu pada ketakutannya.
"Jadi nona lihat, ada cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa Ding Tao tertidur pulas oleh obat itu, lalu apa yang terjadi? Dari patahnya tempat tidur dan dari pola semburan darah yang terlhat berawal dari bagian pembaringan dekat bantal Ding Tao, bisa kubayangkan apa yang terjadi. Seseorang telah memanfaatkan keadaan Ding Tao yang tertidur pulas dan mengirimkan pukulan yang keras ke arah pemuda itu."
"Pukulan itu tentu dilambari pula dengan hawa murni, sehingga cukup berat sampai melukai bagian dalam tubuh Ding Tao dan membuat dia menyemburkan darah. Meskipun sudah meminum obat tidur, tapi pukulan itu tentu akan membangunkannya dan mungkin saat itulah, entah dengan cara apa, Ding Tao melarikan diri dari penyerangnya."
Huang Ying Ying yang mendengarkan penjelasan Tabib Shao menjadi semakin tegang, kejadian itu bisa tergambar dengan jelas dalam benaknya.
Ada perasaan bersalah karena dialah yang mengantarkan obat tidur itu pada Ding Tao, ada juga ketakutan bahwa Tabib Shao akan berhasil mengungkap rahasia yang akan menghancurkan nama keluarganya.
Jika demikian, apakah yang harus dia lakukan?
Tegakah dia untuk mengkhianati kepercayaan Tabib Shao pada dirinya dan melenyapkan tabib itu?
"Tapi satu hal yang pasti nona, bahwa cerita Tuan Tiong Fa adalah cerita bohong.
Kukira, kejadian sebenarnya adalah dia menyusup ke dalam kamar Ding Tao untuk mencuri Pedang Angin Berbisik.
Kemudian Zhang Zhiyi memergokinya sedang mengejar Ding Tao, saat itulah dengan Pedang Angin Berbisik di tangannya Tuan Tiong Fa memenggal kepala Zhang Zhiyi."
Sedikit terengah Tabib Shao bercerita, dipandangnya wajah Huang Ying Ying yang menegang, apakah gadis itu akan percaya pada keterangannya? Dengan tegang dia menanti reaksi dari gadis itu.
"Tabib Shao, sadarkah kau dengan tuduhanmu itu? Lalu bagaimana dengan tercurinya buku pusaka keluarga Huang milik ayah?"
"Kukira nona, Tuan Tiong Fa sudah terlebih dahulu mencurinya sebelum pergi ke kamar Ding Tao, atau bisa juga Zhang Zhiyi memergoki dia saat dia keluar dari kamar ayah nona dan bukan saat dia keluar dari kamar Ding Tao. Meskipun kupikir kemungkinan pertama yang lebih mungkin, karena jika tidak tentu Tuan Tiong Fa tidak akan berani melemparkan kesalahan pada Ding Tao."
Mendengar jawaban Tabib Shao, perlahan-lahan pahamlah gadis ini akan sangkaan dari Tabib Shao itu dan sebagian besar dari ketegangannya menghilang.
Rupanya tabib tua ini tidak menyangka bahwa Tiong Fa melakukan itu semua atas perintah ayahnya.
Dan kalau dipikir baik-baik, memang ini lebih mudah dipercaya daripada kenyataan yang sesungguhnya.
Dihadapkan pada pertentangan antara, kenyataan yang dia lihat di kamar Ding Tao dan pernyataan Tiong Fa, sampailah tabib tua ini pada kesimpulan itu.
Sekarang tabib tua ini menemui dirinya, tentu karena berharap bahwa dia bisa menyampaikan hal itu pada ayahnya.
Sekarang apa yang harus dia lakukan, otak gadis ini berputar keras.
Apa yang diketahui Tabib Shao sangatlah penting bagi Ding Tao.
Jika dia tidak berhati-hati, nyawa tabib tua itu bisa hilang.
Pada saat yang sama gadis itu harus memikirkan nama baik keluarganya.
"Tabib Shao, mengapa tidak kau temui ayah dan menceritakan hal ini?", tanya gadis itu dipicu rasa ingin tahu.
"Masalahnya, ketika aku hendak menemui ayah nona, kulihat Tuan Tiong Fa ada juga di sana. Menunggu sekian lama, tidak juga Tuan Tiong Fa beranjak dari sisi ayah nona. Kemudian aku berpikir, bahwasannya Tuan Tiong Fa adalah salah satu orang kepercayaan ayah nona. Aku takut, keteranganku tidak dipercaya. Kemudian teringat di antara keluarga Huang, hanya nona yang berlaku sangat baik terhadap Ding Tao, dari dulu hingga sekarang. Jadi dalam kebingunganku, kuputuskan untuk menemui nona. Kuharap nona bisa memberi jalan keluar.", jawab tabib tua itu dengan sedih, mengingat situasinya yang serba sulit saat ini. Lama gadis itu terdiam, saat dia berbicara suaranya terdengar tenang, sebuah rencana sudah terbentuk dalam benaknya.
"Tabib Shao apakah kau sempat melihat Kakak Ren Fu? Apakah dia ikut dengan orang-orang lain mencari-cari Ding Tao?"
"Terakhir kulihat, kakak nona Huang Ren Fu memimpin sekelompok penjaga, mencari-cari di sekitar kompleks utara."
Nona muda itu berdiri lalu melangkah ke luar, sekali lagi dilihatnya keadaan yang sepi-sepi saja.
Sesudah kelompok yang tadi lewat, tidak ada lagi yg melewati bagian ini untuk kedua kalinya.
Tangannya mengepal, rencana sudah tersusun, seperti orang yang hendak melemparkan dadu dalam sebuah perjudian.
Berhasil atau gagal, menang atau kalah, bahkan hidup atau mati, terkadang hasil akhir dari hal-hal yang penting dalam hidup ini terasa tidak ubahnya seperti perjudian.
Sambil menutup pintu kamar dia berkata pada Tabib Shao.
"Tabib Shao, sebelum aku kembali, jangan buka pintu kamar dan jangan biarkan seorangpun masuk ke dalam, sebisa mungkin biarkan orang berpikir bahwa tidak ada siapa-siapa di dalam."
"Sebentar aku akan pergi mencari Kakak Ren Fu dan merundingkan hal ini bersamanya, sementara itu kau periksalah isi lemari pakaianku."
Dadu sudah dilemparkan, tidak ada lagi kesempatan untuk mundur.
Huang Ying Ying menutup pintu kamarnya dan bergegas mencari kakaknya yang dia percayai Huang Ren Fu.
Dua bersaudara ini memang sangat dekat satu dengan yang lain.
6 tahun lamanya Huang Ren Fu menjadi anak bungsu dalam keluarga itu.
Ketika tahu ibunya sedang mengandung anak yang ke-5 bukan main senangnya anak itu.
Akhirnya dia bukan lagi menjadi yang terkecil.
Kakaknya yang sulu Huang Ren Fang, memiliki sifat yang keras pada adik-adiknya.
Bukan jahat, hanya keras, sebagai putera sulung, dia memiliki kesadaran yang tinggi akan aturan keluarga dan hal itu diterapkannya pula pada adik-adiknya.
Anak yang kedua, Huang Ren Yi, sifatnya pendiam, dia lebih suka menyendiri dan membaca buku.
Anak yang ketiga, Huang Ren Ho, orangnya sangat jahil, Huang Ren Fu seringkali dikerjainya, lagipula kakaknya yang ketiga ini lebih suka keluyuran di luar dan bermain dengan teman-teman sebayanya.
Itu sebabnya Huang Ren Fu sangat menantikan kehadiran adiknya, saat yang lahir adalah seorang bayi perempuan yang mungil dan manis, Huang Ren Fu kecil memandangi bayi itu dengan tatapan mata yg penuh rasa kagum dan sayang.
Belum pernah dia melihat makhluk semungil dan semanis itu.
Dalam hati Huang Ren Fu kecil berjanji untuk melindungi dan menjaga adik bungsunya ini.
Tentu saja seluruh keluarga memberikan perhatian dan kasih sayang yang besar pada anak perempuan keluarga Huang yang satu-satunya ini, tapi tidak sebesar Huang Ren Fu.
Sepasang kakak beradik ini pun menjadi sepasang bersaudara yang seperti tidak terpisahkan.
Di mana ada Huang Ying Ying, tentu ada Huang Ren Fu, demikian juga sebaliknya.
Sekarang dalam menghadapi permasalahan yang rumit Huang Ying Ying sadar, dia butuh orang-orang yang akan dapat membantunya.
Kehadiran Tabib Shao telah menyadarkan gadis itu, masalah ini terlalu besar untuk diselesaikannya sendiri tanpa bantuan orang lain dan dia butuh orang-orang yang dapat dipercayainya.
Gadis itupun pergi ke sana ke mari untuk mencari Huang Ren Fu, karena sang kakak sudah tidak ada di kompleks utara.
Bertanya kian ke mari ditelusurinya jejak sang kakak.
Pada saat itu, Tabib Shao yang ditinggal sendirian di kamar Huang Ying Ying sedang terkejut karena mendapati Ding Tao terbaring di dalam lemari pakaian Huang Ying Ying.
Muncul banyak pertanyaan, mengapa Ding Tao bisa berada di sana, tapi dorongan panggilan hidupnya sebagai seorang tabib dengan segera mengambi alih.
Cepat dibukanya baju pemuda itu dan memeriksa luka di dada pemuda itu.
Dengan kening berkerut, dia meraba denyut nadi Ding Tao, kemudian sekali lagi diperiksanya luka-luka pemuda itu.
"Hmmm... apakah tinju 7 luka? Siapa yang melukainya? Apakah aku sudah salah sangka?"
Kemudian sambil menggelengkan kepala dia bergumam pada dirinya sendiri.
"Tidak, tidak, keadaan Ding Tao saat ini justru membuktikan kebenaran dugaanku, dia masih tertidur pulas oleh obat itu, meskipun dalam keadaan terluka. Mungkin masalahnya lebih rumit dari dugaanku tapi Ding Tao tidak melakukan yang dituduhkan Tuan Tiong Fa, entah Tuan Tiong Fa membohong dengan kemauan sendiri atau masih ada intrik lain adalah masalah yang berbeda. Bisa juga bahwa ternyata secara diam-diam Tuan Tiong Fa sudah membuat persetujuan dengan pihak luar."
Cepat tabib tua itu mengambil sekantong jarum dari jubahnya yang longgar, dengan gerakan yang cekatan dia menancapkan jarum-jarum itu di tempat tertentu.
Kemudian dikeluarkannya sebotol kecil obat gosok, dengan sabar diurutnya tubuh pemuda itu.
Tidak lama kemudian, nafas Ding Tao sudah jauh lebih teratur.
Melihat itu Tabib Shao menarik nafas lega.
Di tempat yang lain Huang Ying Ying berhasil menemukan kakaknya Huang Ren Fu, setelah berhasil mengajak kakaknya itu untuk berbicara empat mata, dengan terbuka diceritakannya semua yang terjadi tanpa menutupi satu hal pun.
Huang Ren Fu yang mendengar bagaimana para pimpinan keluarga Huang sudah tersangkut paut dengan fitnahan pada diri Ding Tao dan juga usaha pembunuhan terhadap pemuda itu, menjadi pucat wajahnya.
Setelah tercenung beberapa saat lamanya, dengan perlahan dia berkata.
"Sungguh memalukan. Jika kabar ini sampai tersiar keluar, nama keluarga Huang akan hancur seluruhnya. Adik Ying, kita harus berhati-hati dalam masalah ini. Aku sependapat denganmu, kita harus berusaha menolong Ding Tao lolos dari rumah ini dengan selamat. Tapi masalah siapa penyerangnya dan keterlibatan orang-orang keluarga Huang juga tidak boleh sampai tersiar keluar."
"Menurut kakak, apakah rencana yang kuceritakan pada kakak tadi mungkin berhasil?"
"Hmm, kurasa rencanamu adalah rencana yang terbaik yang bisa kita lakukan. Hasilnya bukan yang terbaik, tapi itu yang terbaik yang bisa kita capai pada situasi saat ini."
Tidak lama kemudian, kakak beradik itu pergi menemui Tabib Shao di kamar Huang Ying Ying.
Ding Tao masih saja tertidur pulas.
Huang Ren Fu kemudian memaparkan sebagian dari rencananya pada Tabib Shao, yang dengan senang hati menerima rencana itu.
Tentu saja, yang diketahui Tabib Shao, hanyalah sebagian saja bahkan hanya kulit luar dari rencana itu.
Karena dugaan Tabib Shao masih jauh dari kenyataan yang sebenarnya, akan tetapi justru dengan memanfaatkan kesalah pahaman inilah Huang Ying Ying mendapatkan jalan keluar bagi masalah yang dia hadapi saat ini.
"Tapi ingat Tabib Shao, tentang keberadaan Ding Tao, janganlah kau katakan pada siapapun, bahkan terhadap ayah."
Alis Tabib Shao sedikit berkerut, keberadaan Ding Tao di kamar gadis itu memang bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang akan menyudutkan gadis itu.
Tapi bukankah justru sebaiknya ayah gadis itu mengetahuinya?
Dengan demikian Tuan besar Huang Jin akan dapat mengatur pengaturan yang sebaik-baiknya bagi pemuda itu.
Dengan sedikit ragu Tabib itu mengemukakan pendapatnya.
"Tapi nona, jika Tuan besar Huang Jin sudah menerima laporan dariku, tentu dia akan dapat menimbang yang sebaik-baiknya. Dengan kedudukannya akan lebih mudah bagi ayah nona untuk mengatur pengamanan terhadap Ding Tao yang saat ini masih terluka dalam."
Huang Ren Fu-lah yang menjawab.
"Ada juga bahayanya paman, tidakkah paman tahu bahwa Paman Tiong Fa selama bertahun-tahun ini menjadi orang kepercayaan ayah? Ada dua kemungkinan, ayah kurang percaya dengan uraian Paman Shao, kemudian menyampaikan temuan paman pada Paman Tiong Fa. Meskipun Paman Tiong Fa tidak akan berani menurunkan tangan jahat pada Paman Shao karena akan membangkitkan kecurigaan ayah. Tapi bukan tidak mungkin Paman Tiong Fa akan memiliki siasat untuk menghabisi nyawa Ding Tao yang memang sedang terluka parah."
"Mungkin dengan satu cara, dia bisa membuat keadaan Ding Tao menjadi semakin parah lalu seperti meninggal oleh luka-lukanya."
"Mungkin juga ayah mempercayai kita sepenuhnya dan tidak membocorkan rahasia ini pada Paman Tiong Fa. Tapi sudah bertahun-tahun Paman Tiong Fa menjadi orang kepercayaan ayah, apakah tidak ada orang-orang kepercayaannya yang sudah diselipkan dalam keluarga kita? Kemungkinan besar ada, tapi ada berapa orang dan siapa orangnya? Paman Shao tahu sendiri, betapa cerdiknya Paman Tiong Fa."
Bergidik Tabib Shao Yong mendengarkan penjelasan Huang Ren Fu, dalam benaknya sudah terbentuk bayangan akan adanya orang-orang jahat bermuka manis, tersebar dalam keluarga Huang dan pimpinannya adalah Tiong Fa, bahkan bukan tidak mungkin Tiong Fa sendiri hanyalah seorang pion.
Teringat temuannya atas luka pukulan yang membuat Ding Tao luka parah.
"Ah, saya jadi teringat, ada sesuatu dengan luka Ding Tao ini. Luka ini menurut pengamatanku disebabkan oleh Tinju 7 luka mliki Perguruan Kongtong."
"Tinju 7 luka?", terangkat alis Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying mendengar temuan terbaru dari Tabib Shao.
"Ya, benar, Tinju 7 luka. Pukulan ini adalah ilmu pukulan khas Perguruan Kongtong, meskipun aku bisa meringankan penderitaan Ding Tao. Tapi aku kuatir, aku tidak akan bisa menyembuhkannya sampai sembuh total. Pada waktu-waktu tertentu, bisa jadi lukanya akan kambuh tiba-tiba, membuat jalan darah dan aliran hawa murninya terganggu. Seiring dengan bertambahnya umur dan melemahnya tubuh, bekas luka yang ditimbulkan oleh pukulan ini akan memburuk."
Dengan cemas Huang Ying Ying bertanya.
"Apakah luka itu akan membahayakan jiwanya Tabib Shao?"
"Dibilang membahayakan jiwa tidak juga, mungkin lebih mirip penyakit rematik yang diderita orang tua. Tapi sebagai orang dunia persilatan, jika bekas luka itu kambuh di tengah-tengah suatu pertarungan kan berabe juga."
"Apakah Paman Shao tidak bisa berbuat apa-apa lagi?"
Dengan sedih tabib tua itu menggeleng.
"Ilmu pengobatanku hanya bisa menyembuhkan sebagian besar luka yang disebabkan oleh pukulan itu, tapi hawa murni yang bersifat merusak dari pukulan itu sendiri masih mengeram di dalam tubuh Ding Tao. Masih baik, dasar hawa murni dari Ding Tao sudah cukup mapan, sehingga dengan begitu mampu menahan serangan hawa murni jahat yang mengeram dalam tubuhnya. Mungkin suatu saat nanti jika himpunan hawa murni Ding Tao sudah jauh lebih sempurna, dia bisa mengenyahkan sendiri hawa murni jahat itu dari dalam tubuhnya."
"Apakah tidak ada jalan lain, Tabib Shao?"
Berpikir sejenak tabib tua itu merenung.
"Kukira dalam masa ini hanya 3 orang yang memiliki ilmu tenaga dalam yang cukup mahir dan mapan untuk menyembuhkan Ding Tao. Biksu Khong Zhe dari Shaolin, Pendeta Chongxan dari Wudang dan Ren Zuocan, ketua sekte Matahari dan Bulan dari luar perbatasan."
"Bagaimana dengan ayah?", dalam kecemasannya Huang Ying Ying sempat terpikir untuk mengambil resiko dan memohon pada ayahnya. Tabib Shao menggeleng.
"Maafkan aku nona, kukira tingkatan ilmu tenaga ayah dalam nona belum mampu untuk itu. Masih ada satu jalan lain juga sebenarnya."
"Jalan apa itu Tabib Shao?", dengan mata berbinar Huang Ying Ying bertanya.
"Pergi ke Perguruan Kongtong, atau setidaknya mendapati murid Perguruan Kongtong yang sudah sempat mewarisi ilmu pukulan Tinju 7 luka. Karena luka itu diakibatkan oleh ilmu mereka, dengan sendirinya bisa diharapkan kalau mereka pula tahu cara pengobatannya."
"Ah... Perguruan Kongtong begitu jauh di utara, lagipula kata orang ketua perguruan Kongtong saat ini, sifatnya sukar diduga, lurus tidak, gelap juga tidak. Lebih sukar dibanding mengharapkan pertolongan dari Biksu Khongzhe di Shaolin ...", ujar Huang Ying Ying dengan sedih. Mereka bertiga terdiam sejenak, kemudian Tabib Shao yang pertama memecahkan keheningan.
"Dalam beberapa hari kondisi Ding Tao akan pulih, sejauh ilmu pengobatanku memungkinkannya. Saat itu dia sudah dapat beraktivitas seperti biasa, kecuali jika luka itu kambuh. Tidak ada jalan lain, dia harus pergi menemui mereka yang bisa menyembuhkannya. Biksu Khongzhe dan Pendeta Chongxan terkenal dengan wataknya yang penuh belas kasih, kukira besar kemungkinan mereka akan membantu anak muda itu."
"Tapi perjalanan begitu jauh, belum lagi masalah Ding Tao dengan keluarga Huang dan desas-desus tentang Pedang Angin Berbisik tentu sudah tersebar luas pada saat itu. Perjalanannya akan dipenuhi mara bahaya.", keluh Huang Ying Ying dengan sedih.
"Tidak ada jalan lain nona, hanya itu yang bisa kita lakukan, sisanya sepenuhnya tergantung pada usaha dan nasib baik anak itu sendiri.", sahut Tabib Shao dengan perlahan. Huang Ren Fu mengangguk sambil menggertakkan rahangnya kuat-kuat.
"Ya, kita tidak perlu terlampau jauh mengkhawatirkan hal itu. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah membantu Ding Tao sebisa mungkin. Ding Tao seorang laki-laki sejati, cobaan ini akan semakin menggembleng dirinya menjadi orang kuat. Sudahlah Adik Ying, dia bukan anak cengeng yang masih memerlukan seorang ibu untuk memeluknya setiap kali kakinya terantuk batu."
Dengan wajah sedih, Huang Ying Ying mengangguk perlahan. Menghela nafas dalam-dalam, Huang Ren Fu menepuk bahu adiknya yang sedang bersedih dan mengambil alih pimpinan.
"Tabib Shao, mari kita sembunyikan kembali Ding Tao ke dalam lemari pakaian Adik Ying. Kemudian tunggulah di kamar ini sementara aku dan Adik Ying mengumpulkan orang-orang yang bisa dipercaya untuk mengokohkan kedudukan kita menghadapi siasat gelap Paman Tiong Fa."
Hari sudah menjelang subuh saat belasan orang pemuda berkumpul dengan diam-diam di depan kamar Huang Ying Ying, di antara mereka terlihat ada Feng Xiaohong dan Zhu Lizhi.
Wang Sanbo mungkin adalah satu-satunya orang tua yang ada di situ.
Terlihat mencolok di antara wajah-wajah muda dan penampilan yang rapi.
Tapi jago tua itu tidak ambil peduli, bersandar di salah satu tiang, dia diam saja sementara yang lain saling berbisik, menduga-duga mengapa Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu mengumpulkan mereka di situ.
Ada juga yang sempat berpikiran sedikit nyeleneh, membayangkan sebentar lagi mereka akan mengintip masuk ke dalam kamar seorang gadis.
Apalagi gadis itu Huang Ying Ying yang cantik dan menggemaskan.
Yang berpikir demikian tentu saja hanya menyimpannya dalam hati tidak berani mengucapakan keras-keras.
Tidak lama kemudian Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu muncul dari tikungan bersama dengan seorang pemuda lainnya.
Begitu mereka sampai Huang Ying Ying segera membuka pintu kamar dan masuk ke dalam, Huang Ren Fu pun mempersilahkan mereka semua untuk masuk ke dalam.
Meskipun Huang Ying Ying sedikit kelaki-lakian dan adatnya pun sangat terbuka, tidak urung hatinya sempat merasa jengah sudah membiarkan belasan pemuda masuk ke dalam kamarnya.
Tapi demi keselamatan Ding Tao, ditekannya kuat-kuat segala perasaan itu.
Dalam hati dia berjanji, awas saja kalau ada yang berani nyengir kurang ajar, bakal dia tendang sampai mampus orang itu.
Ruangan yang luas itu pun jadi terasa sedikit sempit karena tiba-tiba terisi dengan belasan orang jumlahnya.
Ketegangan menghiasi hampir setiap wajah, dalam hati mereka menebak-nebak apa tujuan Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu mengumpulkan mereka di sini.
Apakah ada hubungannya dengan terbunuhnya Zhang Zhiyi?
Lalu mengapa pula di sana sudah menunggu Tabib Shao Yong?
Di antara mereka mungkin hanya Wang Sanbo saja yang berdiri diam dengan wajah tanpa ekspresi.
Bukan tanpa alasan kalau Tuan besar Huang suka mengirimkan jagoan tua ini untuk menagih hutang langganan yang nakal.
Dipandangi oleh Wang Sanbo yang sangar ini, tanpa seucap katapun, lama kelamaan orang yang pemberani pun menjadi keder hatinya.
Yang pandai bersilat lidah pun akan mati kutu menghadapi Wang Sanbo yang pendiam.
Dirayu, diberi ribuan alasan, dimintai belas kasihan bahkan diancam, dia hanya berdiri diam dengan bon penagihan utang di tangan.
Ketika diperhatikan siapa saja yang datang, maka bisa didapati mereka semuanya adalah orang-orang yang diundang ke perjamuan makan malam kemarin dan mereka semua adalah orang-orang yang bersimpati pada Ding Tao.
Tidak mudah menyusun siapa-siapa yang akan diundang, tapi Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu akhirnya berhasil juga menyusun daftar itu.
Mereka yang masuk dalam daftar itu, memiliki kedudukan yang cukup pentin tapi belum cukup penting untuk dipercayai dengan rahasia-rahasia keluarga.
Mereka ini juga dikenal jujur dalam perbuatannya.
Faktor terakhir adalah, dalam pertandingan persahabatan itu, mereka ini menunjukkan simpati pada Ding Tao.
Setelah memastikan keadaan sudah tenang dan perhatian semua orang mulai tertuju pada dirinya dan Huang Ying Ying, Huang Ren Fu pun membuka pertemuan.
"Kukira, kita semua sudah bisa menduga, jika aku dan Adik Ying sekarang ini mengumpulkan kalian malam. Hal ini berhubungan erat dengan terbunuhnya Saudara Zhang Zhiyi dan tuduhan yang dilemparkan ke atas pundak Ding Tao. Kita semua sudah cukup mengenal watak pemuda itu, hingga sulit rasanya untuk menerima tuduhan yang diberikan. Tapi bukan hanya berdasarkan rasa simpati dan persahabatan aku mengumpulkan kalian, melainkan karena Tabib Shao menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Ding Tao tidak bersalah seperti yang dituduhkan padanya."
Terkejutlah setiap orang, meskipun mereka sudah bisa menduga-duga hal ini namun mau tidak mau, ketika Huang Ren Fu membenarkan dugaan mereka, ada juga rasa terkejut dalam hati, karena ini menyangkut erat dengan Tiong Fa, salah satu pimpinan dari keluarga Huang.
Pandang mata mereka, langsung saja berpindah ke arah Tabib Shao Yong yang sedikit gemetar.
Huang Ren Fu menepuk pundak Tabib itu untuk menenangkannya.
"Tabib Shao, sampaikanlah penemuanmu ini pada mereka. Ceritakan saja seperti kau menceritakannya padaku dan Adik Ying kemarin."
Dengan mengumpulkan segenap keberanian mulailah Tabib Shao menjelaskan satu per satu, kecurigaan dan dugaannya, pemeriksaan yang dia lakukan, temuan yang dia dapati, sampai dengan kesimpulan yang bisa dia tarik darinya.
Gegerlah kamar itu dengan seruan-seruan terkejut dan marah.
Pertanyaan-pertanyaan diajukan pada Tabib Shao Yong.
Sedapat mungkin tabib itu menjawab, sesekali Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu membantu.
Tidak jarang dari mereka sendiri saling berdebat dan mengajukan pandangan.
Tapi secara keseluruhan bisa tertangkap, bahwa mereka mempercayai kebersihan Ding Tao dalam hal ini dan lebih condong untuk menunjuk Tiong Fa sebagai pihak yang dengan licik sudah memfitnah Ding Tao.
Perkembangan ini tentu membuat Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu lega.
"Lalu mengapa tidak sekarang juga kita temui saja Tuan besar Huang Jin dan bersama-sama menangkap penjahat licik itu?", seru salah seorang dari mereka. Yang berseru itu tiba-tiba sadar bahwa di sampingnya berdiri Zhu Lizhi yang merupakan salah seorang murid asuhan Tiong Fa. Tanpa terasa dia jadi terdiam dan menggeser tubuhnya menjauh dari Zhu Lizhi. Beberapa yang lain jadi ikut menyadari hal itu, pandang mata merekapun jatuh pada Zhu Lizhi. Zhu Lizhi yang melihat itu jadi tersenyum getir, dalam hatinya tentu saja ada rasa sakit, karena gurunya dituduh telah melakukan satu pengkhianatan. Tapi Zhu Lizhi bukan membuta bersetia pada Tiong Fa, dia justru lebih paham akan kelicikan gurunya dibandingkan orang lain dan karenanya lebih mudah untuk menerima kemungkinan itu. Apalagi bukti dan dugaan yang disebutkan Tabib Shao Yong cukup kuat. Dengan lemah pemuda ini menggelengkan kepala.
"Jangan kuatir, aku tidak akan membocorkan hal ini pada guru. Lagipula pada dasarnya kesetiaanku yang pertama adalah pada keluarga Huang. Keluargaku sudah berpuluh tahun bekerja pada keluarga Huang. Niatku untuk mengabdikan diri pun adalah pada keluarga Huang. Hanyalah satu kebetulan jika kemudian aku ditempatkan di bawah pengawasan Guru Tiong Fa."
"Tapi aku bisa menjawab, mengapa Tuan muda Huang Ren Fu tidak akan memutuskan untuk dengan segera menangkap guru. Yaitu karena kedudukan guru yang sangat penting dalam keluarga Huang, lagipula hitam putihnya masalah ini belumlah diketahui dengan jelas, siapa saja yang tersangkut di dalamnya? Apakah masih ada susupan-susupan lain dalam keluarga Huang? Lebih dari siapapun di dalam ruangan ini, aku mengetahui kecerdikan guru dan ketelitiannya dalam mengerjakan satu masalah."
"Jika kita pergi sekarang ke kamar Ding Tao, aku yakin bahwa kamar itu sekarang sudah bersih tanpa bekas-bekas yang mencurigakan. Adalah satu keberuntungang bahwa Tabib Shao bisa memeriksa tempat itu tanpa terpergok siapapun. Terlambat sedikit saja, mungkin mereka yang disuruh untuk membersihkan jejak dari tempat itu akan memergokinya dan nyawa Tabib Shao Yong pun ikut dibersihkan."
Mendengar uraian Zhu Lizhi, tanpa terasa bulu kuduk Tabib Shao jadi berdiri.
Keingin tahuannya mendorong dia untuk menyelidik kamar Ding Tao tanpa sebelumnya terpikir betapa berbahayanya hal itu.
Karena jika benar Ding Tao tidak bersalah, itu berarti Tiong Fa sudah membohongi mereka, dan betapa berbahayanya memiliki musuh seperti Tiong Fa.
"Saudara Zhu benar, itu sebabnya aku dan Adik Ying tidak langsung menemui ayah, melainkan mengumpulkan kalian semua di sini terlebih dahulu." , sahut Huang Ren Fu.
"Menghadapi intrik yang rumit dengan Paman Tiong Fa berdiri di pihak yang berlawanan, aku ingin meminta bantuan kalian, yaitu yang pertama untuk membantu kami melindungi Tabib Shao Yong sebagai saksi kunci. Yang kedua untuk dengan berahasia mengamati gerak-gerik Paman Tiong Fa. Yang ketiga adalah dengan diam-diam berusaha mengetahui keberadaan Ding Tao saat ini.", pemuda itu kemudian menjelaskan secara lebih terperinci rencana yang sudah dipikirkan oleh dia dan adiknya. Pertama mereka yang berkumpul di kamar Huang Ying Ying ini, akan bersumpah setia, membentuk satu kelompok rahasia dalam keluarga Huang, dengan tujuan sebagai upaya untuk membela diri terhadap kelompok rahasia lain yang tampaknya secara diam-diam hendak menghancurkan keluarga Huang dari dalam. Dugaan ini timbul saat mereka melihat bagaimana Tiong Fa, diam-diam telah melanggar perintah Tuan besar Huang Jin yang sudah diberikan sebelumnya. Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu kemudian akan menemui ayah mereka dan menyampaikan temuan Tabib Shao Yong, serta inisiatif mereka untuk mengumpulkan orang-orang yang dapat dipercaya. Yang nantinya akan digunakan untuk mengawasi dan berusaha untuk mengungkap tabir di balik kebohongan Tiong Fa. Huang Ren Fu pun dengan sigap membagi-bagi tugas di antara mereka. Zhu Lizhi sebagai murid Tiong Fa akan bertindak mengawasi tokoh itu, dibantu oleh beberapa orang lainnya. Bila memungkinkan Zhu Lizhi akan berupaya menemukan kembali Pedang Angin Berbisik yang diambil oleh Tiong Fa dari Ding Tao. Sebagian lagi akan bertugas memastikan keselamatan Tabib Shao Yong sebagai saksi kunci dalam kasus terbunuhnya Zhang Zhiyi dan difitnahnya Ding Tao. Sisanya akan bertugas untuk secara diam-diam berusaha mencari jejak Ding Tao, baik untuk menolong pemuda itu, sekiranya dia dalam masalah. Juga untuk mendapatkan lebih banyak lagi bukti dan petunjuk untuk meringkus Tiong Fa dan kelompok rahasianya. Penugasan akan dilakukan secara bergantian, tanpa aturan dan pembagian yang ketat. Mereka harus mampu mengatur sedemikian rupa sehingga jumlah yang belasan itu bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dalam pertemuan itu mereka juga merundingkan bagaimana cara mereka saling mengirimkan pesan tanpa membocorkan rahasia kelompok kecil ini. Kapan pertemuan dilakukan dan sebagainya. Mereka yang berkumpul ini, kecuali Wang Sanbo, adalah bibit-bibit muda keluarga Huang, pemuda-pemuda berbakat dan berotak encer. Sekian tahun mereka sudah berlatih tanpa ada tantangan yang benar-benar nyata. Darah muda mereka menggelegak menginginkan petualangan yang berbahaya. Sehingga pertemuan itu seakan menjadi saluran yang paling tepat kegairahan mereka. Itu sebabnya ajakan Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying disambut dengan antusias, jika sebelumnya Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu yang membuat rencana, dengan cepatnya anggota kelompok yang lain saling berdiskusi dan dalam waktu singkat pembentukan kelompok rahasia ini bukan lagi melulu milik Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu. Kedua besaudara itu pun saling melirik sambil tersenyum, Huang Ren Fu yang merasakan sebagian beban di pundaknya terangkat menarik nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Dibiarkannya saja yang lain dengan bersungguh-sungguh mendiskusikan langkah yang terbaik. Wang Sanbo yang sejak tadi berdiam diri, berdiri, lalu melangkah mendekati Huang Ren Fu. Tidak ada yang memperhatikan keberadaan jagoan tua itu. Di mana pun dia berada, selalu saja dia menyendiri dan diam dalam kesendiriannya. Tapi kali ini dia berdiri mendekati Huang Ren Fu. Huang Ren Fu menegakkan badannya dan menanti jago tua itu mengatakan sesuatu, alisnya terangkat bertanya tanpa kata.
"Ada apa?"
Lama jago tua itu hanya berdiri, diam, kemudian dengan sopan dia membungkuk memberi hormat.
Huang Ren Fu yang kaget dengan gerakan Wang Sanbo yang di luar dugaan itu, hanya menatap dengan mata terbuka lebar.
Heran, heran karena belum pernah jago tua ini sedemikian menghormat pada seseorang.
Sikapnya dingin, tidak peduli aturan, mungkin hanya pada ayahnya jago tua ini membungkuk memberi hormat, itupun dilakukan dengan dingin.
Belum hilang kekagetannya, jago tua itu mendekat dan berbisik.
"Tuan muda, hati-hatilah dalam mengambil keputusan dan jangan pernah mengorbankan nilai-nilai yang kau pegang saat ini."
Dengan kata-kata itu, jago tua itu membalik badan lalu keluar dari kamar.
Tidak ada orang lain yang melihat kejadian itu, kecuali Tabib Shao Yong dan adiknya Huang Ying Ying.
Yang lain masih sibuk dengan diskusi mereka.
Tabib Shao Yong mengangguk-angguk seperti memahami sesuatu, lalu orang tua itu mengikuti apa yang dilakukan Wang Sanbo, dia berdiri memberi hormat pada Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying, lalu berpamitan dengan suara rendah meninggalkan ruangan.
Tinggallah Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu yang saling berpandangan dengan alis terangkat.
Huang Ren Fu hanya bisa mengangkat bahu kemudian bergabung dengan yang lain, memoles rencana yang sudah mereka buat.
Ayam sudah berkokok di kejauhan saat pertemuan rahasia itu bubar.
Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu hanya sempat tidur beberapa jam, tapi pagi itu hampir semua orang dalam keluarga Huang tidur larut malam.
Pada kesempatan yang pertama kedua bersaudara itu menemui ayah mereka.
Betapa terkejutnya Tuan besar Huang Jin mendengar penuturan kedua anaknya itu.
Pimpinan keluarga Huang itu pun tersudut, jika dia ingin "membungkam"
Tabib Shao, berarti dia harus "membungkam"
Pula kedua anaknya.
Bukan hanya mereka tapi juga belasan orang lain yang telah diilbatkan oleh Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu.
Kekuatan keluarga Huang akan merosot jauh jika dia memaksakan hal itu.
Dengan senyum di wajah, tapi pahit di dalam dia menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Tabib Shao Yong.
Dalam hati dia bersyukur bahwa setidaknya belum ada yang tahu tentang keterlibatannya.
Juga mereka yang mendengarkan bukti-bukti yang dipaparkan Tabib Shao Yong ternyata mampu berpikir dengan cukup dingin dan tidak memaksa untuk menindak Tiong Fa secepatnya.
Sehingga dia tidak dipaksa untuk mengambil keputusan yang drastis.
Untuk sementara masalah "pengkhianatan"
Tiong Fa akan dikuburkan dahulu sampai mereka bisa memperkuat kedudukan.
Dalam hal ini reputasi akan kecerdikan dan kelicinan Tiong Fa membantu Tuan besar Huang Jin untuk memperpanjang waktu, sebelum muncul desakan untuk membuka temuan Tabib Shao Yong.
Tapi cepat atau lambat, masalah ini tentu akan muncul juga ke permukaan.
Keadaan ini seperti peledak yang siap disulut setiap saat.
Tiba-tiba saja Tuan besar Huang Jin merasa seperti berdiri di atas tumpukan bara yang panas.
Antara merasa kesal, tapi bercampur juga dengan kagum, melihat kedua anaknya yang terkecil ternyata mampu mengambil tindakan yang cerdik dan bijaksana.
Sudah agak lama dia mengkhawatirkan keadaan keluarga Huang sepeninggal dirinya.
Puteranya yang sulung, cenderung terlalu ambisius dan kejam, meskipun dalam kondisi tertentu hal itu menguntungkan, tapi muncul juga kekhawatiran bahwa seperti pedang bermata dua, hal itu pun bisa merugikan dirinya sendiri dan juga keluarga Huang.
Puteranya yang kedua lebih memilih untuk menarik diri dan menekuni buku-buku sastra, sedangkan yang ketiga tidak bisa diandalkan dan lebih sering keluar bersama teman-temannya daripada tertarik dengan urusan keluarga.
Tapi sekarang ternyata dua orang yang tidak pernah dia perhitungkan dan harapkan menunjukkan kemampuan yang ada dalam dirinya.
Hatinya jadi khwatir, ketika dia membayangkan, apa yang akan terjadi jika urusan Ding Tao berhasil diketahui kedua anaknya itu.
Kepala Tuan besar Huang Jin jadi terasa pening memikirkan semuanya itu.
Rasa bencinya pada Ding Tao menjadi semakin bertambah saja.
Tadinya dia berharap dengan mendapatkan Pedang Angin Berbisik, keluarga Huang bisa semakin memantapkan kedudukan mereka dalam dunia persilatan.
Tiong Fa dan jaringannya sudah pula berhasil mengumpulkan berbagai macam ilmu rahasia dari perguruan-perguruan besar yang tersebar di daratan.
Berbekal dua hal itu Tuan besar Huang Jin berharap dirinya akan mampu menduduki kedudukan yang lebih penting lagi dalam dunia persilatan.
Mengangkat nama keluarga mereka dalam dunia persilatan.
Tapi sekarang adanya urusan pedang itu justru mengancam timbulnya retakan dalam keluarga Huang yang dulunya solid.
Di luar dia berusaha menampilkan perhatian penuh pada rencana Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu, di dalam dia sudah merancangkan untuk mengadakan pertemuan rahasia dengan Tiong Fa secepatnya.
Hanya Tiong Fa dengan kelicinannya yang bsia diharapkan Tuan besar Huang Jin untuk mengurai benang yang kusut ini.
Lagipula, Tiong Fa harus mempertanggung jawabkan semuanya ini, dialah yang memberikan jaminan bahwa dia akan dapat mengatur agar keluarga Huang bisa mendapatkan pedang pusaka milik Ding Tao.
Kenyataannya dia sudah gagal lewat jalan halus, lewat jalan kasar, meskipun berhasil mendapatkan pedang, tapi keberhasilan itu harus dibayar pula dengan permasalahan lain yang cukup berbahaya bagi kelangsungan keluarga Huang.
----------o ----------Sore harinya setelah semua urusan selesai, Huang Ying Ying yang mengaku tidak enak badan meminta agar makanan diantarkan ke kamarnya.
Rencananya dia akan memberikan sebagian makanan itu untuk Ding Tao.
Dia dan kakaknya belum berani memindahkan pemuda itu ke tempat lain.
Huang Ren Fu sebenarnya keberatan dengan pengaturan itu, tapi Huang Ying Ying dengan sungguh-sungguh dan sedikit kesal berkata.
"Boleh saja kau tidak percaya pada Ding Tao, masakan kau juga tidak percaya padaku? Apa kaupikir adikmu ini perempuan murahan yang akan menjajakan dirinya pada setiap lelaki?"
Dengan menahan kesal Huang Ren Fu menjawab.
"Tapi apa kata orang nantinya?"
"Aku tidak peduli apa kata orang, yang penting nuraniku sendiri. Apa kakak pikir aku senang dengan keadaan seperti ini, akupun terganggu dengan keadaan ini. Tapi apa ada cara lain yang lebih baik? Memindahkan Ding Tao di saat ini sangatlah susah dilakukan tanpa menarik perhatian orang. Apalagi Paman Tiong Fa punya mata yang bukan main tajamnya.", jawab Huang Ying Ying dengan air mata merebak. Akhirnya Huang Ren Fu mengalah, sambil membuang muka dia berkata.
"Aku tahu... sudahlah kuharap pemuda itu cukup berharga untuk kau berani mempertaruhkan nama baikmu sendiri."
Huang Ying Ying hanya bisa menggigit bibir tanpa mampu menjawab, karena menjawab berarti mengakui perasaannya pada Ding Tao.
Huang Ren Fu akhirnya terpaksa meninggalkan adiknya sendirian dengan seorang laki-laki di kamarnya.
Sebenarnya dia yakin tidak akan ada yang terjadi di antara keduanya.
Dia mempercayai Huang Ying Ying sepenuhnya, gadis itu mungkin saja terkadang bersikap tidak pedulian terhadap pendapat orang, tapi dia percaya Huang Ying Ying bisa menentukan sendiri batas-batasnya.
Demikian juga dengan Ding Tao, Huang Ren Fu percaya pada pemuda itu, hanya orang buta yang tidak bisa melihat sorot mata Ding Tao yang penuh cinta saat bersama dengan Huang Ying Ying.
Tapi sorot cinta yang terpancar dari mata pemuda itu begitu tulus, bersih dari sorot mata nakal dan kurang ajar.
Lagipula Ding Tao sedang terluka parah, jangankan berbuat macam-macam, untuk menggerakkan tubuhnya pun pemuda itu pasti akan sangat kesakitan.
Setidaknya itu yang dikatakan Tabib Shao sebelum meninggalkan sebungkus obat untuk Ding Tao.
Tidak banyak yang bisa dilakukan Tabib Shao sekarang ini, kecuali menunggu tubuh Ding Tao memulihkan dirinya sendiri.
Sedikit obat yang diberikan adalah untuk membantu Ding Tao tidur dan mengistirahatkan tubuhnya tanpa diganggu oleh rasa sakit yang disebabkan oleh luka-lukanya.
Mungkin ada banyak alasan bagi Huang Ren Fu untuk merelakan, meninggalkan keduanya bersamaan.
Semoga saja kepercayaan Huang Ren Fu itu tidak salah tempat.
Baru setelah kakaknya pergi dan Huang Ying Ying menutup pintu kamarnya, barulah gadis itu meresapi keadaannya saat itu.
Dia sedang berdua sendirian dengan Ding Tao di dalam kamarnya, gadis itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebaran dan mukanya memerah.
Untuk beberapa saat lamanya gadis itu melemparkan tubuhnya ke atas pembaringan, tengkurap gadis itu menutupkan bantal ke atas kepalanya dan memaki-maki dirinya sendiri karena tiba-tiba merasa gugup dan salah tingkah.
"Sialan, sialan, Ding Tao sialan, kenapa perasaanku jadi begini. Ah sial, ini gara-gara ucapan Kakak Ren Fu, memangnya apa yang akan kami lakukan?", gerutunya sambil memukul-mukul kasur. Dasar sedang sial, di saat itu terbayang cerita emban pengasuhnya yang centil tentang bagaimana rasanya berciuman dengan kekasih untuk pertama kalinya, di luar kemauannya Huang Ying Ying membayangkan dirinya dicium oleh Ding Tao dan membaralah wajahnya. Dengan kesal bercampur debar-debar aneh gadis itu memukuli kepalanya sendiri.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Huang Ying Ying bodoh sekali kamu! Ah sialan!"
Dengan geram gadis itu berdiri lalu mengambil pedang pendeknya dan dengan menggertak gigi dia mulai berlatih.
Gerakannya cepat dan gesit, perlahan-lahan dia mulai larut dalam latihan.
Obat tidur yang diminum Ding Tao sudah mulai hilang efeknya, kesadarannya perlahan datang.
Rasa nyeri yang tadi ditekan oleh obat juga perlahan datang kembali.
Sambil mengeluh panjang Ding Tao membuka matanya.
Dikerjap-kerjapkannya matanya, otaknya terasa sulit sekali disuruh bekerja.
Lama Ding Tao mengamati keadaan sekelilingnya, tidak mengerti, tempat apa ini?
Perlahan tangannya meraba-raba ke sekelilingnya, agak lama baru dia sadar ada segaris cahaya.
Pemuda itu mencoba bangkit berduduk, menggigit bibir menahan nyeri, berhasil juga dia duduk dan segera saja kepalanya menyentuh baju-baju yang digantungkan.
"Kain...", pikirnya.
"Ini... wangi ini...", meskipun kesadaran itu datang sedikit demi sedikit, Ding Tao mulai menduga-duga, apakah dia ini sekarang ada dalam lemari pakaian Huang Ying Ying? Bau ini, bau wangi khas yang sering dia cium saat berdekatan dengan gadis itu. Dengan gugup Ding Tao berusaha bangkit berdiri dan keluar dari tempat itu. Tapi setelah berhasil berdiri, kakinya terasa lemah, tidak tahan untuk menopang tubuhnya yang sudah bangkit berdiri. Semakin guguplah pemuda itu saat dia merasa tubuhnya terguling ke depan tanpa bisa berbuat apa-apa. Gerakan jatuh yang tiba-tiba itu membebani tulang-tulang rusuknya yang baru saja dihajar kemarin. Nyeri yang sangat menusuk luka-luka di bagian yang terpukul dan tanpa bisa ditahan Ding Tao terpekik menahan sakit. Diiringi oleh suara gedubrakan saat dia membentur lantai, Ding Tao keluar dari lemari pakaian Huang Ying Ying. Huang Ying Ying pun terlonjak kaget mendengar suara itu. Wajahnya jadi pucat, bagaimana kalau suara itu terdengar sampai di luar? Cepat dia menendang bangku yang ada di dekatnya sambil memaki.
"Sialaaan !!"
Kemudian dengan jari di bibir, dia memberi tanda untuk Ding Tao yang sedang memandang ke arahnya untuk diam.
Dia sendiri cepat-cepat mendekati pintu kamarnya dan menempelkan telinga.
Mendengar-dengar apakah ada orang di sana.
Saat tidak terdengar apa-apa di luar, perlahan Huang Ying Ying membuka pintu kamarnya dan mengintip keluar.
Dengan nafas lega dia masuk kembali sambil menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
Matanya pun jatuh tertuju pada Ding Tao yang memandang ke arahnya dengan raut wajah kebingungan.
Cukup lama mereka hanya saling memandang, tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Ding Tao dengan perasaan bersalah mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi hingga dirinya bisa berada di dalam lemari pakaian Huang Ying Ying.
Akhirnya dengan nada bersalah dan putus asa dia berusaha menjelaskan.
"Adik Ying, aku tidak tahu bagaimana aku bisa ada di sini. Yang kuingat..."
"Ssst... jangan terlalu keras bersuara, tenanglah. Aku tahu, kemarin malam ada orang coba membunuhmu.", bisik Huang Ying Ying yang sekarang telah duduk di sisi pembaringannya dekat dengan tempat Ding Tao terjatuh.
"Benar, benar, Adik Ying apa mereka sudah tertangkap? Lalu mengapa aku sampai berada di sini?"
Huang Ying Ying menggeleng, dari sorot matanya Ding Tao menangkap satu kepedihan.
"Tidak Ding Tao, mereka belum tertangkap. Tahukah kamu siapa yang melakukannya?"
Ding Tao menggeleng.
"Tidak, waktu itu aku sangat mengantuk, tidak sedikitpun aku mendengar suara mereka. Aku baru tersadar setelah merasakan satu nyeri yang hebat di hatiku. Saat sadarpun aku tidak sepenuhnya bisa menangkap kejadian di sekitarku dan kedua orang itu, mereka memakai topeng hitam menutupi wajahnya."
Membayangkan keadaan Ding Tao saat itu, air mata merebak di pelupuk mata Huang Ying Ying, dengan lembut dipegangnya tangan Ding Tao.
"Maafkan aku Ding Tao, akulah yang memberikan obat itu padamu..."
Ding Tao yang bisa merasakan kepedihan hati gadis itu mencoba menenangkannya.
"Adik Ying, jangan bersedih, aku tahu maksud baik dirimu dan ayahmu. Hanya waktunya saja sangat bertepatan dengan datangnya dua orang itu."
Mendengar itu Huang Ying Ying jadi merasa makin bersalah, karena ayahnya yang telah merencanakan pencurian dan pembunuhan itu.
Tapi dia tidak bisa mengatakan hal itu pada Ding Tao, tidak berani dia membayangkan apa yang akan terjadi jika Ding Tao tahu hal itu.
Bagaimana jika pemuda itu kemudian membencinya?
Atau bagaimana jika pemuda itu kemudian pergi untuk berkelahi dengan ayahnya?
Huang Ying Ying tidak peduli dengan Pedang Angin Berbisik, dia tidak peduli dengan Ren Zuocan.
Tidak perlu Ding Tao jadi pendekar pedang nomor satu asal pemuda itu tidak membencinya saja dia sudah bahagia.
Dengan sedih gadis itu menggeleng lemah, Ding Tao yang melihat gadis itu semakin bersedih menjadi semakin bingung.
"Adik Ying, Adik Ying, janganlah bersedih, jangan pernah merasa bersalah terhadapku. Adik Ying hanya engkau selalu baik padaku sejak dulu, itu aku tahu dengan jelas. Adik Ying ingatkah kau dua tahun yang lalu? Saat aku lulus ujian naik peringkat waktu itu?"
Dengan mata yang membasah Huang Ying Ying menatap Ding Tao lalu mengangguk perlahan.
+ "Hari itu, hari yang selalu kuingat selama dua tahun ini, apakah kau tahu mengapa aku merasa bahagia saat mengenangnya?"
"Karena kau jadi juara waktu itu?"
"Bukan, bukan karena itu, tentu saja ada rasa senang, tapi bukan itu yang membuatku terkenang. Melainkan senyummu, tawamu saat kau melihat aku dinyatakan sebagai lulusan terbaik. Aku masih teringat sorakanmu saat itu. Hari itu kau terlihat begitu gembira, dan akulah yang membuatmu tertawa serta bersorak. Karena itu Adik Ying, janganlah lagi bersedih, karena hal itu akan membuatku merasa bersedih pula."
Rayuan gombal pemuda udik macam Ding Tao tentu saja kalah jauh dengan rayuan seorang pemuda romantis yang sudah ahli.
Tapi ketulusan Ding Tao tidak bisa disamai mereka ini, apalagi yang mendengarnya adalah Huang Ying Ying yang sedang jatuh cinta pada pemuda itu.
Langsung saja mukanya bersemu merah, senyum di bibir merekah, dengan pipi masih dihiasi tetesan air mata yang belum mengering, membuat dirinya tampak lebih cantik dari biasanya.
Ding Tao yang merasa lega, melihat senyum di wajah Huang Ying Ying, tanpa terasa menjadi lebih longgar lidahnya.
Dibantu dengan efek obat yang diminumnya belum benar-benar hilang.
Meskipun Ding Tao sudah tidak lagi diserang rasa kantuk, tapi kesadarannya belum pulih sepenuhnya.
Suasana dan kondisi saat itu juga terasa begitu aneh bagi nalar Ding Tao dan di luar akal sehatnya, membuat Ding Tao tidak memijak pada kenyataan sehari-hari.
Apa yang biasanya dia pendam saja, terlontar keluar dengan begitu mudahnya.
"Adik Ying, tahukah kau betapa berat saat guru dan aku memutuskan untuk pergi tanpa pamit dua tahun yang lalu? Bukan karena aku gentar oleh beratnya kehidupan berkelana, tapi karena aku takut dipandang rendah oleh dirimu, sebagai orang yang tidak tahu berterima kasih. Jika ada penghiburan bagiku, itu adalah janji guru, bahwa setelah aku menamatkan ilmu keluarga Huang, aku akan mempunyai cukup bekal untuk menghadapi bahaya dan kembali untuk menjelaskan semuanya ini padamu."
Huang Ying Ying jadi makin terharu, mengingat justru karena hal itulah nyawa Ding Tao jadi terancam dan pemuda itu kehilangan pedang pusaka yang sangat berharga.
Mengeluh pendek, gadis itu menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Ding Tao.
Ding Tao yang untuk bangkit berdiri pun harus bersusah payah, menyeringai kesakitan saat tubuh Huang Ying Ying yang lembut itu membentur tubuhnya yang masih nyeri.
Dengan sekuat tenaga pemuda itu menahan diri agar tidak berteriak kesakitan.
Tubuhnya memang sakit dan perlu waktu cukup lama sebelum nyeri itu tidak lagi menusuk, tapi jangankan rasa sakit, jika saat itu dia ditembusi pedangpun, pemuda itu rela.
"Adik Ying... selama dua tahun, hanya bayanganmu yang memberiku kekuatan.", gemetar suara Ding Tao, dengan memberanikan diri pemuda itu memeluk tubuh Huang Ying Ying dengan lembut.
"Ah... Kakak Ding... aku.. aku pun demikian.", balas Huang Ying Ying dengan jantung berdebaran. Tentu saja ini tidak sepenuhnya benar, memang Huang Ying Ying sudah sejak lama menyukai pemuda itu, tapi tidak seperti saat ini. Rasa kagumnya baru benar-benar tumbuh saat Ding Tao kembali dari pengembaraannya yang dua tahun itu. Dan rasa kagum itu semakin bertumbuh hingga benar-benar berkembang menjadi rasa cinta saat Ding Tao menunjukkan kegagahanny adalam pertandingan persahabatan di hari sebelumnya. Tapi kata-kata itu terasa manis di telinga Ding Tao, dan bagi Huang Ying Ying pun rasanya kata-kata itu sudah tepat. Saat itu rasanya sudah bertahun-tahun lamanya dia mencintai Ding Tao, bahkan sejak mereka masih kanak-kanak. Bersandar di dada Ding Tao yang bidang, gadis itu merasa begitu bahagia, berbisik pada Ding Tao, dengan tulus dia berjanji.
"Kakak Ding, mengenai pedangmu, aku berjanji akan membantumu untuk mendapatkannya kembali."
"Pedangku? Pedang...?"
Ding Tao dengan tiba-tiba melepaskan pelukannya dan melonjak kaget.
Baru sekarang dia teringat akan pedangnya, pedang yang dipercayakan gurunya kepadanya.
Begitu kagetnya hingga dia lupa pada luka di dadanya dan meloncat berdiri.
Baru setelah dia meloncat berdiri dan rasa sakit itu menyerang hebat, pemuda itu mengaduh dan berpegangan pada lemari pakaian yang ada di dekatnya, menahan agar tubuhnya tidak sampai jatuh.
Huang Ying Ying memandang Ding Tao dengan cemas, cemas akan luka Ding Tao, cemas pula pada reaksi pemuda itu, yang rupanya belum sadar bahwa dia sudah kehilangan Pedang Angin Berbisik.
Padahal Huang Ying Ying yang mengenal baik pemuda itu, tahu betul bagaimana Ding Tao menjunjung tinggi tanggung jawab yang dibebankan pada dirinya.
"Kakak Ding... jangan terlampau kuatir, duduklah dahulu."
Ding Tao yang sudah bisa menguasai dirinya, menganggukkan kepala dengan lemas, lalu dibantu oleh Huang Ying Ying, perlahan-lahan dia duduk di samping Huang Ying Ying.
"Adik Ying, apa yang sebenarnya terjadi? Aku ingat ada orang yang menyerangku, sewaktu aku tertidur pulas. Tidak banyak yang kuingat selanjutnya, yang ada hanya keinginan untuk melarikan diri dari bahaya dan mencari tempat yang aman."
Huang Ying Ying kehilangan akal, apa yang harus dia ceritakan pada pemuda itu?
Dengan terbata-bata, gadis itu menceritakan bagaimana Ding Tao jatuh pingsan di depan kamarnya.
Peristiwa terbunuhnya Zhang Zhiyi, tuduhan Tiong Fa pada Ding Tao dan juga penemuan Tabib Shao Yong yang telah membersihkan nama Ding Tao meskipun di luaran temuan itu masih dirahasiakan.
Diceritakannya juga tentang apa yang telah dia lakukan bersama dengan kakaknya dan reaksi Tuan besar Huang Jin yang mendukung keputusan mereka.
Dalam hatinya gadis itu merasa bersalah, karena telah menutupi kejadian yang sesungguhnya.
Ding Tao yang baru saja sadar dari tidurnya, untuk beberapa lamanya tidak mampu berkata apa-apa.
Jangankan berbicara, pikirannya masih dengan lambatnya berputar untuk mengolah masukan-masukan baru yang sangat berat dan susah dicerna.
"Tetua Tiong Fa yang merencanakan ini semua?", tanyanya dengan nada tidak bisa percaya.
"Iya, setidaknya itu dugaan kami. Kakak Ding, apakah kau marah padaku? Jika bukan karena obat itu...", air mata kembali merebak di mata Huang Ying Ying. Tapi jari Ding Tao dengan cepat menyentuh bibir gadis itu, memberi tanda agar dia berhenti berbicara.
"Adik Ying, jangan salahkan dirimu sendiri. Aku tidak menyalahkanmu, bahkan aku sangat berterima kasih padamu. Kalau bukan karena pertolonganmu, bukan hanya kehilangan pedang, akupun akan kehilangan nyawa."
"Tapi Kakak Ding, pedang itu bukankah sangat berharga? Bagaimana juga dengan pesan Pelatih Gu padamu?"
Dengan lembut Ding Tao meraih tangan Huang Ying Ying.
Begitulah awal pertama berpegangan tangan masih ragu, setelah ternyata Huang Ying Ying tidak marah, bahkan gadis itu sempat merebahkan tubuhnya, bersandar di dada Ding Tao, pemuda ini pun jadi makin berani.
"Adik Ying, seluruh orang di dunia persilatan boleh saja memandang pedang itu sebagai pusaka yang paling berharga. Tapi bagiku...", sampai di sini jantung Ding Tao berdebaran makin cepat.
"Bagiku... bagiku, dirimu jauh lebih berharga. Aku... aku... sudah sejak lama, aku mencintaimu.", merah padam wajah Ding Tao seusai mengucapkan kata-kata itu. Tiba-tiba muncul rasa khawatir, khawatir jika Huang Ying Ying menolak cintanya. Berbeda dengan perasaan Ding Tao, perasaan Huang Ying Ying bagaikan dibuai ke angkasa. Sekali lagi gadis itu merebahkan dirinya ke atas dada Ding Tao yang bidang, dengan berbisik dia menjawab.
"Aku, aku juga..."
Singkat saja jawaban Huang Ying Ying, tapi yang singkat itu sudah membuat Ding Tao merasa bahagia sekali.
Belasan tahun lamanya dia memendam rasa suka, entah sudah berapa kali sejak dia meninggalkan kediaman keluarga Huang, dia membayangkan saat-saat seperti ini.
Ketika saat itu akhirnya tiba, sungguh sulit untuk dilukiskan bagaimana perasaannya.
"Maksudmu, aku juga bagaimana?", tanyanya menegas.
"Ya begitu itu...", dengan malu-malu Huang Ying Ying menjawab.
"Begitu itu bagaimana?", mata Ding Tao berkilat nakal, saat huang Ying Ying melirik ke arah wajahnya dan dengan gemas gadis itu pun mencubit Ding Tao keras-keras, sampai anak muda itu mengaduh-aduh minta ampun. Untuk sesaat sepasang kekasih itu tertawa, lupa akan keadaan mereka yang sesungguhnya. Bahaya masih mengintai di luar, tapi tidak salah kalau ada yang mengatakan, bagi orang yang sedang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua. Setelah beberapa lama, tertawa tertahan, keduanya akhirnya berhenti tertawa dan saling pandang. Dengan suara yang lebih tenang Huang Ying Ying bertanya.
"Kakak Ding... benarkah kau mencintaiku? Meskipun keluargaku sudah... sudah merebut pedangmu dengan cara yang licik?"
Ding Tao tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan lembut ditariknya pundak gadis itu, dan bibirnya dengan lembut mengecup bibir Huang Ying Ying.
Sebenarnya debaran jantung Ding Tao sudah membuat telinganya serasa mau pecah, tapi entah bisikan setan dari mana.
Keinginan itu tiba-tiba muncul tanpa bisa ditahan.
Huang Ying Ying yang bisa menduga apa yang akan dilakukan Ding Tao pun, sama-sama terbawa suasana.
Bukannya menolak, gadis itu justru menutup matanya.
Seandainya Huang Ren Fu melihat adegan itu, mungkin pemuda itu bakal menyesal tujuh turunan.
Nafas keduanya memburu, debaran jantung mereka semakin kencang, getaran-getaran yang belum pernah mereka rasakan membuat pikiran mereka makin berkabut.
Perlahan bibir mereka bukan hanya bertemu, tapi menempel semakin erat, bertaut, saling memagut.
Kepala Ding Tao terasa berdenyut keras, tapi dia tidak juga berhenti, seperti mereguk air yang manis tapi dahaga tidak juga hilang.
Samar-samar terasa tubuh Huang Ying Ying yang lembut tapi panas membara, semakin merapat di dadanya.
Sepasang tangan yang lembut melingkar di lehernya, bibir yang merah merekah menempel erat di bibirnya dan sepasang dada yang ranum sekarang menyentuh tubuhnya.
Tangan Ding Tao dengan sendirinya bergerak, perlahan, bergerak hendak membelai sepasang dada yang ranum itu...
Huang Ying Ying terpekik kaget saat dirasanya kedua tangan Ding Tao membelai lembut sepasang buah dadanya.
Bajunya dari sutra yang halus dan baik kualitasnya, membuat jari Ding Tao yang membelai lembut terasa jelas dan ketika bagian tertentu dari dadanya tersentuh, sensasi yang dia rasakan begitu kuatnya hingga gadis itu pun memekik kaget.
Jengah dan malu gadis itu menggeliat dan melepaskan diri dari pelukan Ding Tao.
Tubuhnya menginginkan lebih, tapi yang sekejap itu sempat membuat pikirannya jernih.
Huang Ying Ying terbagi oleh dua kekuatan, sebagian dirinya ingin melompat kembali ke pelukan Ding Tao, tapi bagian dirinya yang lain menahan tubuhnya untuk mendekati pemuda itu.
Tapi batas keseimbangan itu begitu tipis, satu sentuhan saja dari Ding Tao mungkin akan meluluhkan pertahanan terakhir gadis itu.
Ding Tao sama terkejutnya dengan Huang Ying Ying, meskipun sedikit berbeda.
Saat Huang Ying Ying menggeliat dan melepaskan dirinya, sensasi yang mengabutkan pikirannya terputus sejenak dan untuk sesaat pikirannya menjadi jernih.
Yang sesaat itu cukup, cukup untuk mengingatkan Ding Tao akan akibat dari perbuatan mereka, kehormatan Huang Ying Ying, hati nuraninya.
Yang sesaat itu sudah cukup untuk menahan pemuda itu melakukan lebih jauh.
Nafasnya masih memburu, jantungnya masih berpacu kencang, tubuhnya masih meminta lebih, tapi Ding Tao sudah kembali menguasai dirinya.
Dengan penuh rasa khawatir dipandanginya Huang Ying Ying, yang duduk terdiam dengan kepala menunduk.
Dibukanya mulut untuk berbicara, tapi tidak yakin apa yang harus dikatakan.
"Adik Ying, maafkan aku. Aku tahu seharusnya aku tidak boleh melakukan... apa yang baru saja kita lakukan. Tapi saat itu, sulit sekali untuk berpikir dengan jernih.", Sulit sekali untuk meluruskan benaknya. Kata-kata seperti bertaburan tanpa arti. Akhirnya dengan menghela nafas Ding Tao menyerah untuk memikirkan alasan-alasan, dengan jantung berdegup dia meminta maaf.
"Aku belum pernah merasakan yang seperti itu sebelumnya. Maaf, aku jadi tidak bisa menahan diri."
Lama mereka terdiam, masing-masing tidak ada yang berani mendekat. Tiba-tiba Huang Ying Ying bertanya.
"Kakak Ding, tentang tadi, apakah itu mengubah pikiranmu tentang diriku? Apakah aku jadi ... menjijikkan di matamu?"
Cepat Ding Tao menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak, tentu tidak demikian. Aku... aku mencintaimu, di mataku, kau seorang gadis yang sempurna. Tidak mungkin aku, tadi itu, akulah yang salah. Untung Adik Ying cepat sadar, jika tidak, entah apa yang bisa kulakukan."
Memerah wajah Huang Ying Ying, kata-kata Ding Tao mengingatkan dia pada pengalaman yang tadi terjadi, dengan lemah gadis itu menggelengkan kepala, namun tidak ada kata-kata yang keluar.
Saat pandang matanya jatuh pada makanan yang sudah tersedia, Huang Ying Ying merasa lega, ada bahan untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Kakak Ding, kau seharian tidak makan, tentu kau lapar."
Ding Tao ikut merasa lega karena terlepas dari topik yang menyulitkan dia. Dengan antusias dia menyambut tawaran Huang Ying Ying.
"Ya..., perutku memang lapar sekali. Tiba-tiba baru saja terasa betapa lemasnya badan ini. Tapi Adik Ying tentu juga belum makan, ayolah, jangan aku sendirian yang makan."
Mengangguk kecil Huang Ying Ying bergegas menghampiri meja, perlahan diaturnya mangkok-mangkok dan alat makan yang lain, di atas pembaringan.
Ketika Ding Tao hendak membantu dengan lembut tapi tegas dia melarang.
"Jangan, Kakak Ding masih harus banyak beristirahat, selain karena belum makan sepanjang hari, Kakak Ding juga sedang terluka. Duduk sajalah, sebentar juga selesai."
Ada rasa bersalah tapi juga bahagia karena dilayani dengan telatennya oleh gadis yang dia cintai, Ding Tao memaksakan diri untuk duduk dan menunggu dengan sabar.
Tidak lama kemudian, mereka berdua mulai menikmati hidangan yang sudah mulai dingin.
Meskipun dingin, tapi karena disantap berduaan, hidangan yang dingin pun rasanya sudah seperti makan masakan kerajaan.
Baik Huang ying Ying maupun Ding Tao masih teringat oleh perbuatan mereka sebelumnya, sebagai akibat, cara berbicara dan tingkah laku mereka pun jadi terlampau sungkan.
Selesai mereka bersantap, sejenak mereka saling berpandangan dengan perasaan hati yang kikuk.
"Ehm, Adik Ying, kupikir, sebaiknya aku kembali bersembunyi dalam lemari pakaianmu."
"Ya..."
"Besok setelah beristirahat, kita bisa membicarakan lagi masalah Pedang Angin Berbisik dan pengkhianatan Tetua Tiong. Sesungguhnya terlalu banyak kejutan yang aku alami hari ini. Moga-moga besok, pikiranku sudah jauh lebih jernih."
Sekali lagi Huang Ying Ying mengangguk lalu menunduk malu.
Ding Tao pun ragu, jika dia menuruti kata hatinya, mungkin saat itu dia akan memeluk dan mengecup gadis itu sekali lagi sebelum meninggalkannya.
Tapi dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika lagi-lagi dia kehilangan pengamatan diri.
Setelah berdiri diam tanpa kata untuk beberapa lama, dia mengangguk pada Huang Ying Ying, kemudian berbali badan untuk bersembunyi di dalam lemari pakaian gadis itu lagi.
Sesaat sebelum dia menutup pintu lemari, terdengar Huang Ying Ying berkata.
"Selamat malam Kakak Ding, aku... aku mencintaimu."
Seulas senyum menghiasi wajah Ding Tao di dalam lemari yang remang-remang, dengan suara lembut dijawabnya.
"Selamat malam Adik Ying, aku juga mencintaimu."
Setelah itu Huang Ying Ying memadamkan lilin yang ada di kamarnya, tidak terdengar suara apa pun dari kamar itu.
Meskipun sebenarnya cukup lama Huang Ying Ying berbaring dengan wajah merona merah, mengingat kejadian yang telah terjadi.
Lama, sebelum akhirnya dia tertidur pulas, terbuai dalam mimpi yang indah.
Jika Huang Ying Ying tertidur, beda lagi dengan Ding Tao.
Segera setelah dia berpamitan pada Huang Ying Ying, pemuda ini mulai bermeditasi, berusaha memulihkan himpunan hawa murninya yang sedikit banyak membuyar.
Berkerut alis pemuda itu ketika dia merasakan adanya hawa murni liar di dalam tubuhnya.
Mungkin itulah hawa murni dari pukulan Tinju 7 Luka, yang dikatakan Tabib Shao.
Pemuda itu tidak berani terlalu gegabah, perlahan-lahan dia berusaha mengatur hawa murni dalam tubuhnya.
Awalnya dia berupaya untuk mendorong hawa murni yang liar itu ke dalam tantien, menyatukannya dengan hawa murninya sendiri.
Tapi usaha itu gagal, keduanya tidak bisa menyatu, melainkan saling melawan.
Gagal dengan usahanya, maka usaha lain coba dilakukan oleh pemuda itu, diusahakannya untuk mendorong keluar hawa murni liar itu dari tubuhnya.
Tapi usaha inipun gagal, hawa murni yang liar ini tidak mudah untuk diatur.
Kembali dua hawa murni yang berbeda sifat dalam tubuhnya saling melawan.
Semakin keras Ding Tao berusaha mengendalikan hawa murni liar itu, semakin kuat pula perlawanannya.
Khawatir justru memperparah luka di tubuhnya, Ding Tao terpaksa membiarkan hawa murni yang liar itu bercokol dalam tubuhnya.
Sekarang perhatiannya lebih tercurah pada usaha untuk menguatkan hawa murninya sendiri.
Setidaknya hal itu akan dapat membantu dirinya untuk "mengamankan"
Hawa murni asing itu dari kemungkinan untuk merusak tubuhnya dari dalam.
Entah berapa lama Ding Tao larut dalam latihannya, ketika dia berhenti, tubuhnya terasa jauh lebih nyaman, meskipun jauh di dalam sana, masih terasa ada kekuatan asing yang diam tapi tidak juga menghilang.
Ketika teringat dengan penjelasan Huang Ying Ying mengenai keadaan dirinya, sesuai dengan pengamatan Tabib Shao Yong, pemuda itu mengeluh perlahan.
Tanpa menggunakan hawa murninya dalam sebuah pertarungan, ibaratnya dia harus berkelahi dengan tangan dan kaki yang terikat.
Mau tidak mau Ding Tao pun jadi teringat dengan Pedang Angin Berbisik, berbekal pedang itu di tangan dalam keadaannya sekarang ini tentu akan sangat membantu.
Kekurangannya dalam hal tenaga, masih bisa diimbangi dengan tajamnya pedang.
Kembali teringat pemuda itu dengan pesan-pesan gurunya.
Tekad yang kuat terbentuk dalam dirinya, selama dia masih hidup, dia akan berusaha untuk memenuhi pesan gurunya.
Entah dengan pedang pusaka atau tanpa pedang.
Sebuah rencana mulai terbentuk di benaknya, yang pertama kali harus dia lakukan adalah menyembuhkan dirinya.
Sepanjang dirinya masih menderita luka yang menghalangi dia untuk dengan bebas menggunakan hawa murninya, tidak ada artinya Pedang Angin Berbisik ada di tangannya.
Jangankan dalam keadaan terluka, dalam keadaan segar bugar pun, masih perlu dipertanyakan apakah dia bisa menandingin Ren Zuocan atau tidak.
Lebih baik Pedang Angin Berbisik berada dalam tangan Tiong Fa, daripada jatuh ke tangan Ren Zuocan.
Apalagi pemuda itu masih teringat tutur kata Tiong Fa yang penuh semangat.
Ding Tao pun berharap, serangan Tiong Fa pada dirinya tidak sepenuhnya didorong oleh ketamakan pribadi seperti dugaan Huang Ying Ying dan kakaknya.
"Mungkin saja dia masih berpikir jika aku tidak pantas untuk menyandang pedang itu. Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga, terlampau mudah pedang itu lepas dari tangan. Bukankah Pendekar besar Jin Yong, kehilangan pedang itu karena diracun orang? Seharusnya ku pun lebih berhati-hati dalam soal makan dan minum. Kejadian yang menimpa Pendekar Jin Yong dan pengalamanku kemarin malam, harus jadi pelajaran yang berharga."
Demikian pemuda itu berpikir dan berpikir. Semakin lama dia berpikir, semakin kuat keyakinannya bahwa untuk sementara ini lebih baik dia tidak berusaha untuk mendapatkan kembali Pedang Angin Berbisik.
"Biarlah tersimpan di sini, jika kami berusaha untuk mendapatkan kembali pedang itu tapi gagal. Tetua Tiong bisa saja menghilang bersama dengan pedang itu dan makin sulit lagi bagi kami untuk mendapatkannya kembali. Biarlah Tetua Tiong menyimpannya untuk sekarang ini, dalam keadaanku yang sekarang, kesempatan Tetua Tiong untuk berhasil menghadapi Ren Zuocan dengan menggunakan pedang itu lebih besar daripada kesempatanku."
Jika bukan Ding Tao, siapa lagi yang bisa berpikir seperti itu?
Betapa banyak jago dunia persilatan yang rela mati untuk mendapatkan pedang itu, tapi Ding Tao bisa melepaskannya tanpa sesal.
Bukan berarti dia sudah melupakan pesan gurunya, tapi dia memahami semangat yang terkandung dalam pesan gurunya itu.
Bukan masalah kepemilikan pedang yang penting, melainkan usahanya untuk meredam ambisi Ren Zuocan yang membahayakan negara.
Setelah mencapai satu keputusan, Ding Tao pun menjadi lebih tenang.
Memejamkan mata, pemuda itu membiarkan rasa lelah dan kantuk menguasai dirinya, memberikan waktu bagi tubuhnya untuk menyembuhkan diri.
Ketika semua orang sudah terlelap tidur, justru ke empat pimpinan dalam keluarga Huang sedang melakukan pertemuan rahasia.
"Tabib keparat !! Bagaimana bisa dia berani-beraninya menghubungi Adik Ying, jika bukan gara-gara dia, masalah tentu tidak jadi serumit ini.", geram Huang Ren Fang. Tiong Fa yang sedari tadi menundukkan kepala, menghela nafas.
"Sudahlah, kali ini aku yang salah. Segala sesuatunya berjalan tidak sesuai rencana. Dimulai dari kegigihan Ding Tao mempertahankan pedang itu dan kemudian berlanjut dengan kekalahan demi kekalahan, pada puncaknya kekalahanku dalam pertandingan."
Menggeleng perlahan, Tiong Fa berdiri lalu berjalan hilir mudik di dalam ruangan itu.
"Kegagalan yang berturut-turut itu, ditambah lagi oleh ketidak mampuanku dalam menerima kenyataan akan bakat Ding Tao yang melebihi dugaanku, membuatku berbuat terlalu sembrono."
"Apa maksudmu?", tanya Tuan besar Huang Jin dengan dingin. Tiong Fa menoleh ke arahnya dan maklum, pernyataannya tadi bisa juga dianggap sebagai satu sindiran, karena pada akhirnya Tuan besar Huang Jin-lah yang membuat rencana untuk mengambil pedang Ding Tao malam itu juga. Malam yang di mana kehidupan Zhang Zhiyi diakhiri.
"Tidak perlu gusar begitu Adik Jin, kalau kita mau berpikir lebih jernih, bukankah memang terlalu terburu-buru apa yang kita lakukan malam itu? Pertama Ding Tao masih beberapa hari tinggal di rumah kita, ada banyak waktu untuk membuat rencana yang lebih matang. Tapi yang lebih penting lagi adalah, pun seandainya semuanya berjalan sesuai rencana, bagaimana kita akan menjelaskan munculnya Pedang Angin Berbisik di tangan keluarga Huang?"
"Hampir semua orang penting dalam keluarga kita sudah mengetahui bahwa Ding Tao memilikinya, jika tiba-tiba pedang itu jatuh ke tangan kita, bukankah dengan mudah bisa ditebak bahwa kita telah merampas pedang itu secara paksa? Pada akhirnya masalah yang mirip meskipun tidak sama persis dengan masalah yang kita hadapi sekarang akan muncul. Yaitu retakan-retakan dalam keluarga kita sendiri, yang akan melemahkan kedudukan kita."
"Kita semua berbuat kesalahan, terlalu terburu nafsu melihat pedang ada di depan mata. Tapi aku akui kesalahan terbesar ada padaku. Sejak kegagalanku untuk mendapatkan pedang itu dengan cara damai sampai dengan kegagalanku untuk membungkam Ding Tao untuk selamanya. Kegagalanku yang berulang-ulang ini yang menempatkan kita pada posisi yang sekarang ini."
Huang Yunshu menatap sosok Tiong Fa dengan matanya yang tajam, meskipun keriput sudah menggariskan guratan waktu di wajahnya yang tua.
"Kau berbicara dengan cukup lancar, menganalisa kesalahan-kesalahan kita. Aku yakin, saat ini juga kau sudah memiliki jalan keluarnya."
"Benarkah itu Kakak Tiong?", tanya Tuan besar Huang Jin dengan raut wajah yang dingin. Meskipun dia bisa menerima penjelasan Tiong Fa, hatinya masih panas mengingat kekacauan yang terjadi dan saat ini kekesalannya itu tertumpah pada Tiong Fa. Tiong Fa bukan Tiong Fa namanya jika gugup atau marah melihat pandang ,ata Huang Jin yang dingin. Di hadapan orang lain, wajahnya selalu terlihat tenang, tidak ada yang bisa tahu gejolak perasaan dalam hatinya.
"Sebenarnyalah demikian, sejak aku terpaksa membunuh Zhang Zhiyi, aku sudah sadar, terlalu banyak lubang dalam pekerjaanku malam itu. Kecuali jika ada dewa-dewa yang menolongku, hampir sudah bisa dipastikan cepat atau lambat akan ada orang-orang yang menyadari keterlibatanku, setidaknya mencurigai keterlibatanku. Jadi aku pun mulai membuat rencana untuk membebaskan kita dari permasalahan itu."
"Jadi apa rencanamu itu?"
Dengan senyum tipis Tiong Fa menjawab.
"Kita berikan saja apa yang mereka inginkan. Pada waktunya, kau berhasil mengungkapkan bukti-bukti pengkhianatanku. Sayang aku terlalu cepat mencium hal itu dan berhasil melarikan diri."
Berkilat mata Huang Jin.
"Dan apa yang akan kau lakukan setelah berhasil melarikan diri?"
"Hmm... beberapa orang dari keluarga Huang ternyata sudah lama beralih kesetiaannya padaku, dengan sendirinya mereka itu pun ikut menghilang bersamaan dengan menghilangnya diriku. Tidak jelas apa yang terjadi, tapi jika ada kejahatan di luar yang dilakukan Tiong Fa, hal itu tidak ada hubungannya dengan keluarga Huang.", selesai mengucapkan hal itu Tiong Fa kembali duduk di kursinya, dan dengan tenang menatap ke arah Huang Jin, menunggu keputusannya.
"Hmm... dengan jalan itu, maka nama keluarga Huang pun bisa dibersihkan dari keterlibatanmu dalam masalah Ding Tao dan pedangnya. Meski sepertinya kekuatan keluarga Huang terpecah, tapi sebenarnya tidak, karena kau dan pengikutmu tetap bekerja bagi keluarga. Justru pengaturan ini membuat kedudukan keluarga Huang semakin aman. Kami yang berdiri dalam terang dan kau yang bekerja dalam gelap. Tapi apa keuntungannya bagimu? Pengaturan ini memang sangat menguntungkan keluarga Huang, tapi bagaimana dengan dirimu?"
Tiong Fa menegakkan badannya dan menampilkan wajah sedih untuk beberapa saat lamanya.
"Aku akan meninggalkan keluargaku, mereka tidak ada sangkut pautnya dengan pengkhianatanku, dengan sendirinya keluarga Huang akan berdiri untuk melindungi mereka. Kemurahan hati Tuan besar Huang Jin tiada bandingan, putera Tiong Fa si pengkhianat bahkan diangkat anak."
Melihat Tuan besar Huang Jin tidak mengatakan apa-apa, Tiong Fa melanjutkan uraiannya.
"Dengan demikian, pekerjaanku dalam gelap yang mendukung gerakan keluarga Huang untuk tampil ke depan dalam dunia persilatan, sama juga artinya aku sedang bekerja demi anak keturunanku sendiri."
Kemudian dengan seringai di wajahnya dia menambahkan.
"Lagipula, menikmati uang dan kekuasaan, entah itu dalam kegelapan atau di bawah terangnya matahari, sama sekali tidak ada bedanya bagiku. Semua tetap sama, semakin keluarga Huang berkuasa semakin besar pula kuasaku."
Dengan dingin Tuan besar Huang Jin menambahkan.
"Pengaturan ini pun, justru semakin memperbesar kebebasanmu untuk menggunakan kekuatan yang ada di tanganmu, demi tujuanmu sendiri."
Tiong Fa tidak merasa perlu untuk menutupi apapun dari saudara iparnya ini, kepercayaan mereka sejak lama dibangun atas dasar saling membutuhkan.
Baca Juga: Jodoh Si Naga Langit 4
Baca Juga: Si Tangan Sakti 3