Eps 3 Pedang Angin Berbisik - Han Meng
Baca online Pedang Angin Berbisik - Han Meng
Cersil Pedang Angin Berbisik - Han Meng.
"Ya, tapi kaupun tahu, aku cukup bijak untuk mengetahui, bahwa lebih baik aku bersungguh-sungguh bekerja demi keluarga Huang daripada mengkhianatinya. Kerajaan yang terpecah hanya akan menjadi lemah dan menjadi mangsa empuk bagi lawan-lawannya."
"Hmm..., lalu bagaimana dengan Pedang Angin Berbisik?", tanya Tuan besar Huang Jin. Tiong Fa yang sudah memikirkan hal itu menjawab dengan ringan.
"Sebaiknya untuk sementara pedang itu aku yang membawa."
Tuan besar Huang Jin tidak mengatakan apa-apa, hanya alis matanya saja yang terangkat, meminta penjelasan lebih lanjut.
Perasaannya sudah jauh lebih tenang, rencana Tiong Fa tampaknya akan membereskan semua kekacauan yang terlanjur terjadi.
"Hanya sampai aku berhasil membunuh Ding Tao, setelah itu, kita bisa mengatur siasat agar terjadi bentrokan antara keluarga Huang dengan sekelompok pengkhianat. Hasil dari pertempuran itu, meskipun tokoh utamanya, yaitu aku, berhasil lolos. Tapi Pedang Angin Berbisik jatuh ke tangan keluarga Huang.", jawab Tiong Fa, menjelaskan rencananya mengenai Pedang Angin Berbisik.
"Kurasa tidak perlu sejauh itu, Pedang Angin Berbisik, sebaiknya disimpan di sini, daripada Paman Tiong membawa-bawanya keluar. Tentu saja kita tidak akan mempergunakannya, sampai Ding Tao mati dan rencana penyerangan ke sarang Paman Tiong Fa terjadi.", ujar Huang Ren Fang. Tajam mata Tiong Fa melirik ke keponakannya, kemudian dengan tersenyum dingin dia menjawab.
"Tentu saja, tidak masalah, meskipun membuat pekerjaan kita sedikit lebih banyak, karena jika pedang itu memang ada di tanganku, tentu lebih mudah untuk menunjukkan hal itu, bahwa memang akulah yang malam itu menyatroni kamar Ding Tao."
"Ya paman benar, tapi kurasa paman cukup cerdik untuk mengerjakan itu semua tanpa benar-benar memiliki pedang itu di tangan. Bahkan untuk sementara kita bisa menyebar desas-desus di luaran bahwa Ding Tao masih memiliki pedang itu dan mempercepat matinya pemuda itu. Kalaupun dia lolos dari pelacakan kita, akan banyak orang di luar sana yang mengendus-endus keberadaannya."
Kesal hati Tiong Fa, tapi dia tidak mau memperpanjang masalah itu.
"Hmm, sudah kukatakan tadi, tidak ada masalah. Kalau menurutmu itu lebih baik, tapi tentu saja keputusan tetap ada di tangan ayahmu."
Huang Jin tersenyum dingin.
"Kalau Kakak Tiong, tidak ada masalah, akupun tidak ada masalah. Jadi biar saja pedang itu disimpan di sini."
Tuan besar Huang Jin mengangguk-angguk puas, semua masalah sudah berhasil dipecahkan.
Tidak ada kerugian berarti, hanya seorang Zhang Zhiyi.
----------------------------o --------------------------Pagi hari datang memberikan kesegaran, untuk sesaat lamanya benak mereka yang baru saja terbangun setelah semalam tertidur lelap, menikmati kesegaran yang dirasakan.
Sebelum masalah-masalah yang kemarin dan kekuatiran tentang masa depan, menyergap dan menarik kembali mereka pada kenyataan hidup yang seringkali tidak menyenangkan.
Bahagianya orang yang setelah bangun lalu sadar akan apa yang telah terjadi dan membayangkan apa yang di depan nanti, justru tersenyum dan tertawa, lalu bangkit dengan sepenuh semangat menyambut hari yang baru.
Ding Tao dan Huang Ying Ying, Tiong Fa dan Tuan besar Huang Jin, hari itu mereka bangun pagi dengan semangat yang menyala.
Tersenyum mengenang hal-hal yang terjadi semalam dan dengan perasaan yang segar, menanti-nanti hal baik yang akan terjadi hari ini.
Jika Ding Tao dan Huang Ying Ying ikut mendengar pembicaraan Tiong Fan dan Tuan besar Huang Jin semalam, tentu berbeda lagi perasaan mereka.
Demikian juga sebaliknya, jika saja Tuan besar Huang Jin ikut menyaksikan kejadian semalam di kamar Huang Ying Ying, mungkin dia tidak akan tersenyum selebar sekarang.
Apakah ada yang menangisi matinya Zhang Zhiyi?
Sayangnya pemuda itu belum berkeluarga, meskipun kematiannya masih jadi bahan pembicaraan di hari yang ketiga ini, tapi tidak ada yang menangisi kepergiannya.
Saat Huang Ying Ying membuka pintu lemari, Ding Tao masih tertidur lelap.
Perlahan gadis itu mengambil pakaian yang hendak dipakainya.
Lalu berlutut di depan pemuda itu dan untuk beberapa lama dia hanya diam mengamati wajah kekasihnya.
Dengan wajah bersemu merah, gadis itu melompat berdiri dan pergi untuk mandi.
Ding Tao terbangun oleh suara gemericik dari arah kamar mandi, sejenak dia tercenung dan mengingat-ingat di mana dia berada sekarang.
Ketika ingatannya sudah terkumpul, pemuda itu pun bangkit dan duduk bersila.
Hatinya terasa ringan, masalah pedang sudah tidak lagi membebani dirinya.
Perasaan yang lama terpendam sudah diungkapkan dan mendapat sambutan baik.
Hari ini adalah hari terbaik buat dia.
Dengan mudah pemuda itu menyatukan pikirannya dan mulai melatih himpunan hawa murninya.
Hawa liar dari Tinju 7 luka, masih bersembunyi dalam tubuhnya, tapi pemuda itu sudah mulai mengenali sifat-sifat dari hawa murni asing dalam tubuhnya itu.
Meskipun dia belum bisa mengendalikan atau membebaskan diri darinya, tapi setidaknya dia bisa membuat hawa asing itu tertidur dan tidak mengganggu saat Ding Tao sedikit demi sedikit berusaha menggunakan hawa murni miliknya untuk membantu tubuhnya menyembuhkan diri dari luka.
Suara gemericik air sudah lama berhenti, langkah kaki terdengar mendekat ke arah lemari, kemudian terdengar suara Huang Ying Ying berbisik.
"Kakak Ding, aku mau pergi keluar untuk makan pagi bersama, kakak tunggu sebentar ya, nanti aku bawakan sarapan untuk kakak."
Istirahat yang cukup dan hawa murni yang mulai terhimpun lagi, membuat tubuh Ding Tao terasa jauh lebih segar daripada kemarin.
Selama Huang Ying Ying berada di luar, Ding Tao menyibukkan dirinya dengan latihan tenaga dalam, menghimpun hawa murni dan perlahan mencoba menyalurkannya ke bagian-bagian tubuh yang diinginkan.
Masih banyak jalur yang belum berhasil ditembus dan dengan adanya hawa murni asing dalam tubuhnya, Ding Tao tidak bisa seleluasa sebelumnya dalam menggunakan hawa murni.
Setiap kali dirasanya hawa murni yang asing itu ikut bergejolak, maka ditahannya penggunaan hawa murni dalam tubuh.
Menunggu hawa pukulan Tinju 7 Luka, kembali tertidur.
Cemas juga hati Ding Tao mengamati pergolakan yang terjadi dalam tubuhnya.
Hawa pukulan Tinju 7 Luka, membuat dia tidak bisa dengan leluasa mempergunakan himpunan hawa murni yang dia miliki.
Terbayang dalam benaknya, apa yang terjadi dalam sebuah pertarungan bila penggunaan hawa murni harus dibatasi.
Menghadapi lawan yang belum sampai pada taraf menggunakan hawa murni dalam bertarung, tidak akan menjadi masalah, tapi lawan-lawan yang ada di hadapannya sekarang bukanlah anak-anak kemarin sore.
Dalam hati diulanginya keterangan Tabib Shao yang disampaikan oleh Huang Ying Ying.
Biksu Khongzhe dan Pendeta Chong Xan, dua orang sakti yang mungkin bisa menyembuhkan lukanya.
Ada juga Perguruan Kongtong, tapi jika orang yang menyerangnya masih ada hubungan dengan Perguruan Kongtong, pergi ke sana, akan jadi perjalanan bunuh diri.
Kesempatan paling baik adalah pergi ke Shaolin atau ke Wudang.
Menyadari situasinya yang sekarang kurang menguntungkan bagi Huang Ying Ying, pemuda itu memutuskan, semakin cepat dia pergi, semakin baik.
Sewaktu Huang Ying Ying kembali ke kamarnya, Ding Tao sudah mengambil keputusan, untuk pergi malam itu juga.
Huang Ying Ying kembali ke kamarnya, diikuti oleh kakaknya Huang Ren Fu.
Huang Ren Fu semalaman susah tidur, membayangkan keadaan adik perempuannya yang "memasukkan"
Laki-laki ke dalam kamar.
Ketika mereka bertemu pagi itu, ingin rasanya dia menginterogasi Huang Ying Ying, tapi rasa sayangnya mencegah dia untuk bertanya.
Dia hanya bisa berharap dalam hati, kedua pasangan itu mampu menahan diri.
Tapi ketika Huang Ying Ying hendak kembali ke kamar, tanpa banyak omong, cepat-cepat pemuda itu menjajarinya.
Huang Ying Ying tentu saja bisa mengerti, dia tidak sekeras malam sebelumnya.
Kejadian semalam menyadarkan dia, bahwa godaan itu sedemikian besar, malah ada rasa bersyukur bahwa Huang Ren Fu mengikutinya.
Sambil berjalan mengikuti Huang Ying Ying, Huang Ren Fu masih menyempatkan diri untuk mencomot 3 buah bakpau daging.
Dia lihat Huang Ying Ying hanya sempat membawa sepotong kue dan beberapa macam buah-buahan.
Buat anggota keluarga yang lain, kedekatan dua bersaudara itu tidaklah terlalu mengundang pertanyaan.
Mereka berdua memang dikenal saling menyayangi.
Sesampainya di kamar, mereka terlebih dahulu memastikan bahwa tidak banyak orang lalu lalang di luar.
Huang Ren Fu memilih duduk di dekat jendela yang sengaja dia buka, sehingga dia dapat dengan mudah mengamati keadaan di luar.
Setelah dia yakin keadaan cukup aman, Huang Ren Fu mengangguk perlahan pada Huang Ying Ying.
Hati kedua bersaudara itu tidaklah tenang, di siang hari begini, tentu akan ada saja orang yang lewat.
"Kakak Ding, kami membawa sedikit makanan untukmu", bisik Huang Ying Ying sambil membuka pintu lemari, tidak lebar-lebar, hanya setengah terbuka. Ding Tao yang sudah menyelesaikan latihannya, menyambut Huang Ying Ying dengan senyuman. Ketika dilihatnya Huang Ren Fu duduk di pinggir jendela, pemuda itu pun mengangguk dengan sopan.
"Terima kasih Adik Ying, terima kasih Saudara Fu."
"Ini, makanlah saja dulu, tidak banyak yang bisa kubawa, tapi Kakak Ren Fu juga sempat mengambil 3 potong bakpau buatmu.", dengan lembut Huang Ying Ying meremas tangan pemuda itu, lalu pergi ikut berduduk dengan Huang Ren Fu di pinggir jendela. Huang Ren Fu sudah mengambil papan catur dan sedang mengaturnya di atas meja kecil yang ada. Dua bersaudara itu dengan cepat mulai memainkan permainan catur sambil mengobrol, seakan-akan tidak terjadi sesuatu yang berbeda dari hari biasanya. Dengan penuh syukur Ding Tao menikmati makanan yang mereka bawakan. Pemuda itu mengunyah makanannya perlahan-lahan, sesekali dia mencuri pandang pada dua bersaudara yang sedang bermain catur. Terkadang dia sempat bertemu pandang dengan Huang Ying Ying yang sedang melihat ke arah dirinya. Sorot pandang keduanya, tentu saja tidak lepas dari pengamatan Huang Ren Fu. Dalam hati pemuda itu mengeluh, apakah sepasang kekasih ini bisa bertahan melawan godaan, jika berhari-hari setiap malam mereka tinggal berdua dalam satu kamar? Jangankan berhari-hari, baru satu malam saja, hubungan mereka sudah terlihat jauh melangkah. Mungkin mereka sendiri tidak merasa, tapi Huang Ren Fu bisa melihat dengan jelas, perbedaan mereka berdua, hari ini dan hari-hari sebelumnya. Sebagai seorang kakak, meskipun dia ikut berbahagia untuk adiknya, tidak urung terselip juga rasa khawatir dan dorongan untuk melindungi adiknya dari tindakan-tindakan yang tidak diinginkan. Otaknya pun berputar keras, mencari cara untuk mengeluarkan Ding Tao dari kamar Huang Ying Ying adiknya. Tidak sabar rasanya pemuda ini menanti Ding Tao selesai bersantap, sebuah rencana sudah mulai terbentuk dalam benaknya. Ingin dia segera mengajukan rencana itu pada Ding Tao, tapi Ding Tao justru makan dengan begitu lambatnya. Dua kali permainan sudah Huang Ren Fu memenangkan permainan catur itu dan satu kali Huang Ying Ying memenangkannya, sebelum Ding Tao selesai menyantap habis seluruh makanan yang dibawa. Tiga kali sudah, ada pelayan yang datang dan pintu lemari pakaian harus terburu-buru ditutup sementara makanan dipindahkan dulu ke meja. Sudah tentu perasaan ketiga orang itu sangat tegang dan tidak nyaman dan berharap malam segera tiba kembali. Terkecuali Huang Ren Fu yang tidak tahu, haruskah dia merasa senang bila malam tiba. Rahasia keberadaan Ding Tao di kamar Huang Ying Ying akan lebih aman, tapi justru "keamanan"
Adiknya yang akan membuat dia susah tidur. Karena itu ketika dia melihat Ding Tao selesai bersantap, segera saja Huang Ren Fu mengajak pemuda itu berbicara.
"Ding Tao, bagaimana keadaanmu hari ini?"
"Sudah lumayan baik Saudara Fu, kukira hari ini juga aku sudah bisa meninggalkan rumah kalian."
"Meninggalkan rumah kami?", Huang Ren Fu menegas, meskipun dia tidak ingin Ding Tao berlama-lama di kamar Huang Ying Ying, tapi perkataan Ding Tao itu jauh di luar dugaannya. Apalagi bagi Huang Ying Ying, bukan main kagetnya, dengan suara tercekat dia bertanya.
"Kakak Ding, apa kakak sedang bercanda? Kondisi kakak belum pulih benar, mengapa hendak cepat-cepat pergi? Apakah Kakak Ding merasa sakit hati pada keluarga kami?"
"Adik Ying benar Saudara Ding, apakah kondisimu sudah benar-benar pulih, jika belum sebaiknya kau bersabar dulu.", tambah Huang Ren Fu yang merasa lega sekaligus khawatir. Lega bagi adiknya tapi khawatir bagi Ding Tao, seperti sebagian besar dari anak muda yang menyaksikan pertandingan antara Ding Tao dan keluarga Huang, pertandingan itu telah menimbulkan kekaguman dan rasa simpati dalam hatinya.
"Adik Ying, jangan berpikir yang tidak-tidak. Tidak sedikitpun aku menyimpan rasa sakit hati pada keluarga kalian.", ujar Ding Tao berusaha menenangkan hati Huang Ying Ying.
"Saudara Fu, Kondisiku sudah jauh lebih baik dan kurasa istirahat lebih banyak tidak akan membuatnya jadi lebih baik lagi. Apalagi situasi sekarang tidak begitu nyaman untuk kita semua, karena itu setelah memikirkannya, aku memutuskan untuk berusaha keluar dari rumah kalian malam ini juga."
Memerah wajah Huang Ying Ying mendengar penjelasan Ding Tao, tentu saja dia mengerti apa yang dimaksudkan dengan situasi yang kurang nyaman, tapi hatinya masih berat untuk melepaskan pemuda itu.
Sambil menggigit bibir dia bertanya dengan lemah.
"Tapi, bagaimana dengan urusan pedangmu? Apakah kau tidak menginginkannya kembali?"
Ding Tao menggeleng.
"Tidak, hal itu sudah kupikirkan pula baik-baik tadi malam. Dalam keadaanku sekarang ini, dengan cara apa hendak merebut kembali pedang itu? Kalaupun kemudian aku berhasil mencuri kembali Pedang Angin Berbisik dengan bantuan kalian, besar kemungkinan aku tidak akan berhasil mempertahankan pedang itu di luaran. Bukan tidak mungkin pedang itu justru akan jatuh ke tangan antek-anteknya Ren Zuocan. Lebih baik pedang itu ada dalam tangan Tetua Tiong daripada jatuh ke tangan mereka."
Sambil menggelengkan kepalanya sekali lagi dia menegaskan.
"Tidak, sudah kupikirkan baik-baik dan menurutku untuk sementara ini aku tidak akan melibatkan diri dengan masalah pedang itu."
"Saudara Ding, baik sekali pemikiranmu, tapi jika demikian apa yang akan kau lakukan dengan pesan Pelatih Gu untukmu?", tanya Huang Ren Fu.
"Pesan guru yang utama, adalah menggunakan bekal yang akan kumiliki untuk membantu dunia persilatan kita membendung ambisi Ren Zuocan dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya, dengan atau tanpa Pedang Angin Berbisik. Menimbang keadaanku saat ini, maka yang terpenting adalah menyembuhkan luka dalam tubuhku terlebih dahulu. Mungkin aku akan mencoba pergi ke Shaolin dan memohon kebaikan hati Biksu Khongzhe.", jawab Ding Tao dengan suara yang wajar, tanpa menyembunyikan apa pun. Huang Ren Fu semakin kagum pada pemuda itu, pada ketenangannya dan juga pada kebesaran hatinya.
"Saudara Ding, sungguh aku merasa kagum padamu. Jika kau mengijinkan aku memanggilmu sebagai sahabat, aku akan sangat merasa berbahagia.", ujar Huang Ren Fu dengan tulus. Wajah Ding Tao pun memerah karena malu.
"Saudara Fu terlampau tinggi memuji, tentu saja aku akan dengan senang hati menjadi sahabatmu."
Tertawa bergelak Huang Ren Fu bergerak melompat, dalam satu lompatan yang ringan dia sudah sampai di depan Ding Tao, tangannya terulur menawarkan persahabatan.
Ding Tao pun dengan senang menerima uluran tangan itu.
Jabatan tangan yang hangat mewakili perasaan dalam hati.
"Sahabat.", ujar Huang Ren Fu pendek.
"Sahabat.", jawab Ding Tao tidak kalah pendeknya. Tapi yang singkat itu membawa seribu arti, jauh lebih dalam daripada sebuah upacara mengikat sumpah setia sebagai saudara. Huang Ying Ying tentu saja merasa ikut senang dengan hal itu. Yang satu adalah pemuda yang dia kasihi, yang seorang lagi adalah kakak yang dia sayangi. Melihat mereka bersahabat demikian akrab, hatinya jadi terhibur. Dengan manja dia pun mengeluh,"Huuh... dasar anak laki-laki, ketemu teman, lupa dengan saudara sendiri."
Ding Tao dan Huang Ren Fu tertawa mendengar keluhan Huang Ying Ying. Tiba-tiba gadis itu berbisik.
"Ssstt.. ada yang mau lewat."
Dengan cepat Huang Ren Fu kembali ke tempat duduknya, berpura-pura sedang berpikir untuk mengalahkan adiknya dalam permainan catur.
Ding Tao dengan cepat menutup kembali pintu lemari.
Menunggu sampai keadaan aman, barulah mereka kembali bercakap-cakap.
"Saudara Ding, apakah sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu untuk meninggalkan rumah kami malam nanti? Seperti kata Adik Ying, kiranya keputusan itu janganlah karena terdorong oleh rasa sakit hati, jangan pula kau terlalu mengkhawatirkan situasimu saat ini yang terpaksa bersembunyi di dalam kamar Adik Ying. Karena kupikir, aku sudah menemukan jalan untuk memindahkanmu dari kamar ini ke kamarku.", ujar Huang Ren Fu. Mendengar itu Ding Tao jadi berpikir pula sejenak, memang alasan utama dari keputusannya untuk keluar malam itu juga, adalah untuk mejaga kehormatan gadis yang dikasihinya. Dengan hati berdebar, Huang Ying Ying menunggu jawaban dari Ding Tao. Sesaat kemudian Ding Tao menegakkan kepala dan menjawab.
"Ya, sudah kupikirkan matang-matang, rasanya ini keputusan yang terbaik, jika orang-orang sudah selesai memeriksa segenap penjuru kota, tentu mereka akan berpikir ulang dan sadar bahwa kemungkinan terbesar justru aku masih bersembunyi di sini. Pada saat itu, untuk meloloskan diri akan jadi semakin sulit."
"Hemm... benar juga pemikiranmu, semakin lama berada di sini keadaanmu justru semakin berbahaya.", gumam Huang Ren Fu. Huang Ying Ying mendesah sedih, sadar bahwa alasan Ding Tao cukup kuat, gadis ini tidak dapat lagi menahan Ding Tao lebih lama. Perpisahan dengan Ding Tao akan menyedihkan hatinya, tapi dia tidak ingin Ding Tao terancam bahaya hanya untuk menyenangkan dirinya.
"Kakak Ding, jika demikian, aku akan menyiapkan bekal bagimu.", sambil berbangkit berdiri dan menyembunyikan mata yang mulai membasah, Huang Ying Ying cepat-cepat meninggalkan kamar. Pandang mata Huang Ren Fu dan Ding Tao mengikuti kepergian gadis itu. Huang Ren Fu mendesah, dia sadar akan perasaan Huang Ying Ying pada Ding Tao. Diapun berdiri hendak meninggalkan kamar itu.
"Saudara Ding aku pun akan berusaha menyiapkan kepergianmu, akan coba kuatur penjagaan di sekitar rumah ini, supaya ada celah bagimu untuk keluar."
"Terima kasih, dan jika Saudara Fu punya cara untuk memindahkan aku secara diam-diam ke kamarmu, kupikir lebih baik jika aku berusaha meloloskan diri dari sana."
Sambil mengangguk, tanpa menoleh ke arah lemari yang sudah tertutup lagi, Huang Ren Fu mengiyakan.
"Tentu, selekasnya aku akan kembali lagi untuk memberimu kabar, tentang hal itu, sebaiknya dilakukan lewat malam pula."
Kamar itu pun kembali lenggang, dalam lemari tinggal Ding Tao sendiri yang dengan hati berdebar, menunggu malam tiba.
Keputusan sudah dibuat dengan tekad yang bulat, tapi tak urung hatinya berdebar, apakah dia akan berhasil lolos ataukah mati di ujung pedang.
Jika dia harus mati malam ini, betapa dia akan penasaran, tugas dari gurunya belum juga berhasil dia selesaikan.
Dalam hidup juga dia merasa belum melakukan sesuatu yang berarti, jika harus mati betapa sia-sia dia dilahirkan.
Beberapa kali Huang Ying Ying kembali ke kamarnya, tapi tidak berlama-lama di sana, hanya sekedar meninggalkan makanan dan beberapa pesan dari Huang Ren Fu untuk Ding Tao.
Ding Tao menggunakan waktu yang ada, untuk menenggelamkan dirinya dalam latihan tenaga dalam.
Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan sekarang, kecuali menunggu, dan Ding Tao bukanlah orang yang suka membuang waktu dengan percuma.
Baru setelah matahari tenggelam dan rumah kediaman keluarga Huang hanya diterangi cahaya dari lampu-lampu yang dipasang, Huang Ying Ying kembali ke dalam kamarnya.
Lama sebelum dia memberanikan diri untuk mengajak bicara Ding Tao.
"Kakak Ding, apakah kakak sudah bersiap?"
Perlahan pintu lemari membuka, Ding Tao sudah bersiap sejak tadi.
Hatinya yang sudah dikuat-kuatkan sekarang terasa berat, saat Huang Ying Ying ada di hadapannya.
Lidahnya terasa kelu, tidak tahu hendak berkata apa.
Wajah gadis itu terlihat begitu sedih, hingga Ding Tao rasanya ingin menangis saja.
Melihat Ding Tao, Huang Ying Ying mencoba tersenyum meskipun pahit dalam hati.
"Kakak Ding, berhati-hatilah."
Ding Tao hanya bisa mengangguk, tidak bisa berkata apa-apa.
Sesuai dengan pesan Huang Ren Fu, Ding Tao akan berpindah dari kamar Huang Ying Ying menuju ke kamar Huang Ren Fu melewati langit-langit rumah, kedua kamar itu masih terhubung lewat langit-langit rumah yang sama.
Dengan ringan Ding Tao melompat ke atas lemari pakaian Huang Ying Ying, dan dari situ baru dia membuka salah satu papan yang ada.
Terlihat lubang gelap menganga, dengan mudah Ding Tao mengangkat tubuhnya menghilang ke dalam lubang itu.
Saat Huang Ying Ying melihat dia menghilang, tak kuasa menahan dia berseru tertahan.
"Kakak Ding..."
Mendengar panggilan Huang Ying Ying, Ding Tao menjenguk kembali ke bawah. Hatinya semakin berat untuk meninggalkan Huang Ying Ying sendiri.
"Adik Ying..., aku harus pergi.", ujarnya dengan sedih. Huang Ying Ying mengangguk dengan mata yang basah.
"Ya aku tahu..., Kakak Ding, jangan lupa, aku akan selalu menunggumu."
Ding Tao mengangguk, tidak tahan menahan tangis, Huang Ying Ying mendorong pemuda itu untuk selekasnya pergi dengan senyum yang dipaksakan.
"Pergilah cepat. Kakak Fu sudah menunggumu."
Kali itu Ding Tao benar-benar pergi, sekali lagi dia menghilang ditelan lubang yang gelap, papanpun digeser kembali ke tempatnya.
Air mata yang tadi ditahan-tahan, akhirnya tercurah juga.
Di atas sana, Ding Tao masih sempat mendengar sayup-sayup isak tangis Huang Ying Ying, tapi pemuda itu mengeraskan hati dan terus berjalan.
Tidak sulit untuk menemukan kamar Huang Ren Fu, karena Huang Ren Fu sudah terlebih dahulu menggeser salah satu papan penutup langit-langit kamarnya.
Dari kegelapan tempat Ding Tao berada, lubang itu tampak begitu mencolok.
Sesampainya di lobang itu Ding Tao melongokkan kepalanya, Huang Ren Fu sudah menanti di sana.
"Saudara Ding, keadaan aman, cepatlah turun."
Tanpa banyak suara, Ding Tao melompat ke bawah dengan ringan. Tidak banyak kata diucapkan di antara mereka, bekal berupa buntalan pakaian, sejumlah uang dan sebilah pedang sudah disiapkan.
"Saudara Ding, berita tentang dirimu dan Pedang Angin Berbisik sudah mulai menyebar dalam dunia persilatan, sebisa mungkin sebaiknya dirimu berpergian dengan menyamar. Ini ada sedikit uang, bisa kau gunakan untuk menyewa tandu atau keperluan yang lain. Besok pagi, aku dan beberapa orang akan pergi ke gerbang timur kota. Jangan sampai terlambat di sana, jika ada orang-orang dari keluarga Huang atau orang-orang dunia persilatan yang berusaha menunggumu di sana, kami yang akan mengalihkan perhatian mereka."
"Saudara Fu, terima kasih banyak.", ujar Ding Tao dengan suara tercekat karena haru. Sambil menepuk pundak Ding Tao, Huang Ren Fu menjawab.
"Tidak usah banyak kaupikirkan, hanya satu pintaku, jika suatu hari nanti keluarga kami berbuat salah padamu. Moga-moga kau tidak lupa, di sini ada orang-orang yang sudah dengan tulus berusaha membantumu."
"Tentu, hutang budi harus dibalas, lepas dari itu, kau adalah sahabatku. Seandainya ada kejadian aku bentrok dengan keluarga kalian, mengingat persahabatan kita, sebisa mungkin aku akan mengalah.", jawab Ding Tao dengan tulus. Tidak banyak lagi yang bisa dikatakan, sebentar kemudian Ding Tao sudah lenyap dalam gelapnya malam. Di pesannya siang tadi Huang Ren Fu sudah menjelaskan jalan-jalan yang aman untuk dilalui sampai keluar dari kediaman keluarga Huang. Tidak sulit untuk mengatur hal itu bersama dengan mereka, yang mengikat sumpah untuk mempertahankan keluarga Huang dari kelicikan Tiong Fa. Dalam gelapnya malam, Ding Tao berhasil keluar dari rumah kediaman keluarga Huang tanpa banyak mengalami gangguan. Keesokan harinya, seperti yang sudah dijanjikan Huang Ren Fu bersama beberapa orang yang lain pergi ke gerbang timur kota. Huang Ren Fu tidak bisa melihat Ding Tao ada di sana, tapi setelah beberapa lama menunggu, Huang Ren Fu memutuskan untuk memulai kericuhan kecil. Sebuah perkelahian pura-pura, antara Huang Ren Fu dan kelompoknya, melawan beberapa orang dari mereka yang menyamar. Hingga akhir perkelahian sandiwara itu berakhir, Huang Ren Fu dan teman-temannya tidak melihat Ding Tao keluar dari gerbang kota. Mereka hanya bisa berharap, kericuhan itu sudah cukup untuk menarik perhatian, dan memberi kesempatan bagi Ding Tao untuk keluar dari kota dengan selamat, tanpa ada orang yang berhasil mengenalinya. Sebenarnyalah demikian, Ding Tao mungkin seorang yang lugu, tapi dia bukan seorang yang bodoh. Ding Tao menyamar dengan mengenakan sehelai jubah panjang dan buntalan baju diselipkan di baliknya, lalu berjalan dengan setengah berjongkok. Sebuah topi anyaman, menutupi wajahnya. Bagi orang yang melihat, dia terlihat seperti seorang gendut dan pendek, dengan jubah yang sedikit kepanjangan. Salah satu ciri yang paling menonjol dari Ding Tao adalah tinggi badannya yang di atas rata-rata. Dengan sedikit penyamaran itu, Ding Tao berhasil mengelabui orang-orang yang berusaha mencarinya. Berjalan dengan cara demikian tentu sangat melelahkan, segera setelah melewati gerbang kota dan berada di tempat yang jauh dari pandang mata orang, pemuda itu melepas lelah, duduk bersandar di sebuah pohon besar. Menatap lama ke arah kota, Ding Tao mengenang segala kebaikan keluarga Huang padanya. Dalam hati dia berharap, suatu saat dia bisa kembali ke sana dengan kepala tegak. Ya, suatu saat nanti, setelah tugas yang dipercayakan gurunya selesai dilaksanakan. Selama beberapa hari perjalanan Ding Tao menuju Bukit Songshan berjalan tanpa banyak halangan. Setiap kali melewati kota atau desa kecil, atau berjalan bersama-rombongan lain, Ding Tao tetap dengan penyamaran yang sama. Hanya saat berjalan sendirian, dia berjalan seperti biasa. Tapi salah jika Ding Tao mengira dirinya sudah aman dengan penyamaran yang sederhana itu. Penyamaran Ding Tao mungkin bisa menipu mereka yang belum berpengalaman. Tapi mata awas mereka yang sudah kenyang makan asam garamnya dunia persilatan, bisa mengendus penyamaran Ding Tao yang sederhana itu. Ding Tao yang cermat dalam bekerja tidak mudah terbuai dengan keadaan yang tenang itu. Meskipun Ding Tao kurang dalam pengalaman, tapi sifatnya yang cermat membuat pemuda itu tidak lalai dalam mengamati keadaan di sekelilingnya, serta orang-orang yang dia temui sepanjang perjalanan. Setelah berjalan beberapa hari dan melewati dua tiga kota, Ding Tao mulai sadar bahwa dirinya sedang diikuti orang. Pemikiran itu mulai timbul ketika dia menyadari bahwa ada orang-orang yang sama, yang pernah dia temui beberapa hari sebelumnya, secara mengherankan muncul kembali di kota dia berada. Padahal mereka sudah dia tinggalkan beberapa hari sebelumnya. Sejak itu pengamatannya ditingkatkan, terutama terhadap orang-orang yang dia curigai itu. Dengan sengaja Ding Tao mengambil jalan memutar, pemuda itu tidak mengambil jalan yang akan langsung mengantarnya menuju ke pusat Biara Shaolin. Sedikit menyimpang, Ding Tao melewati terlebih dahulu beberapa kota kecil. Otaknya yang cerdas, matanya yang awas dan sifatnya yang tekun, bekerja keras. Satu hari, Ding Tao dengan sengaja berlama-lama, melepas lelah di sebuah penginapan. Dari hasil pengamatannya ada tiga kelompok berbeda yang sedang mengikuti dirinya. Kelompok pertama, terdiri dari sekitar 11 orang, bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara bergantian. Terkadang dua orang akan mengikuti Ding Tao dari dekat, sampai dia beristirahat di kota tertentu. Kemudian untuk menyamarkan pengintaian mereka, kelompok yang berbeda akan ganti mengikuti Ding Tao. Menurut perkiraan Ding Tao, tentu kelompok-kelompok kecil yang lain, mengikuti dari jarak yang lebih jauh, di mana Ding Tao tidak melihat mereka, namun mereka masih bisa berhubungan lewat kode ataupun tanda yang ditinggalkan. Dengan cara mengintai bergantian ini, Ding Tao tidak merasa sedang diikuti, sampai kelompok yang sama kembali bertugas mengikuti dirinya. Jika saja Ding Tao tidak dengan cermat selalu mengamati orang-orang yang dia temui, tentu muslihat mereka ini tidak akan diketahuinya. Inilah salah satu kesalahan banyak orang dalam menilai Ding Tao. Seringkali orang mengartikan kejujuran Ding Tao sebagai kebodohan. Ding Tao jujur dan sering mudah ditipu karena kejujurannya, tapi dia bukan bodoh. Apalagi dia baru saja kena dikelabui oleh Tiong Fa, seorang tetua yang menimbulkan kekaguman dalam hatinya, ternyata seorang pengkhianat yang bermuka dua. Ding Tao yang jujur jadi lebih berhati-hati dalam bertindak, apalagi menghadapi orang yang tidak dia kenal. Kelompok kedua, adalah sepadang laki-laki dan perempuan yang ahli menyamar. Pada satu hari mereka akan berjalan di dekat Ding Tao sebagai sepasang pedagang, yang perempuan pun menyamar jadi laki-laki. Kemudian setelah sampai di kota, mereka berganti samaran pula menjadi sepasang kakek dan nenek. Pernah juga mereka menyamar sebagai seorang ayah dengan anak perempuannya. Penyamaran mereka sungguh bagus. Jika saja Ding Tao tidak menjadi lebih waspada setelah terbongkarnya muslihat dari kelompok yang pertama, mungkin dia tidak akan pernah menyadari muslihat sepasang laki-laki dan perempuan ini. Semenjak Ding Tao curiga dirinya sedang diikuti, maka pengamatannya terhadap rekan-rekan seperjalanannya semakin dipertinggi. Ketika Ding Tao sadar, dalam perjalanannya, kapanpun itu, setiap saat, setidaknya selalu ada dua orang dengan tinggi badan yang sama, yang berada dalam jarak jangkauan untuk mengikuti dirinya. Timbul pula rasa curiganya. Tinggi kedua orang itu jadi makin nampak, karena keduanya selalu bersama. Tentu saja Ding Tao sadar, bisa jadi perasaan itu timbul karena ketakutannya. Sudah hal yang jamak, ketika seorang pencuri mau beraksi, seakan-akan jalan dipenuhi polisi. Atau ketika seorang pasangan suami istri menginginkan keturunan, tiba-tiba jalanan sepertinya dipenuhi dengan ibu yang sedang hamil. Ding Tao sadar, pengamatannya pun tentu dipengaruhi oleh kondisi psikologisnya yang merasa terancam oleh tersebarnya berita bahwa dirinya memiliki Pedang Angin Berbisik. Oleh karena itu Ding Tao pun menyiapkan satu ujian. Dengan sengaja dia berpura-pura sudah beristirahat di dalam kamar, padahal dari celah kecil di jendela dia mengamati pasangan yang dia curigai itu. Ketika mereka berlalu, maka ganti Ding Tao yang dengan diam-diam mengikuti mereka. Sampai didapatnya keterangan di mana pasangan itu menginap dan di kamar nomor berapa. Keesokan paginya, pagi-pagi buta, Ding Tao sudah pergi untuk mengawasi kamar tempat pasangan itu menginap dan benar juga pasangan yang berbeda muncul dari kamar itu. Belum puas, Ding Tao pun mengikuti pasangan itu diam-diam dan benar juga, pasangan itu menunggu di tempat yang strategis, mengintai, siap untuk mengikuti Ding Tao kembali di hari itu. Tidak ingin orang tahu bahwa muslihatnya sudah terbongkar, Ding Tao masuk kembali ke penginapannya kewat pintu belakang dan baru setelah matahari terbit cukup lama dia melanjutkan perjalanan. Kelompok pengintai ketiga, terbongkar secara tidak sengaja. Ding Tao yang sedang menikmati indahnya alam dan mengawasi langit yang cerah, secara tidak sengaja melihat seekor burung merpati pos terbang menuju ke arah kota yang dia tuju. Merpati pos memang sering digunakan, tapi sekali lagi bagi orang dalam situasi seperti Ding Tao, setiap hal bisa menjadi sebuah tanda dari satu ancaman terhadap dirinya. Seandainya saja pemuda ini bukan seseorang yang berkarakter kuat, mungkin syarafnya sudah terlalu tegang dan jadi gila. Atau jadi terhimpit ketakutan, putus asa lalu bunuh diri. Tapi Ding Tao dengan cermat dan tenang menguji setiap keanehan yang dia tangkap. Maka melihat hal itu, timbul pertanyaan apakah burung merpati itu terbang untuk memberi tanda pada orang di kota tujuan dia berikutnya bahwa dia sedang mengarah ke sana? Maka dengan sengaja Ding Tao berbalik arah, masuk kembali ke dalam kota yang baru saja dia tinggalkan. Matanya yang awas mengamati sekelilingnya, benar saja, seekor merpati pos kembali dilepaskan. Keesokan paginya Ding Tao berpura-pura hendak melanjutkan perjalanan, matanya dengan awas mengamati hingga dilihatnya orang yang kemarin melepaskan merpati pos, ternyata sudah siap lagi di sana. Dengan tenang Ding Tao berjalan ke arah orang itu. Orang itu terlihat sedikit gugup, namun berpura-pura sedang sibuk dengan peliharaannya. Ding Tao tidak menegur orang itu, tapi dia lewat cukup dekat untuk mengamati lebih jelas orang tersebut. Setiap ciri yang tidak wajar, terekan di benaknya. Hari itu Ding Tao kembali tidak melanjutkan perjalanan. Keesokan paginya Ding Tao memilih tujuan yang berbeda, dan keluar dari gerbang lain kota itu. Matanya sekali lagi mengawasi di sekitar jalan keluar dari kota dan benar saja, ada yang siap melepaskan merpati. Berlagak sedang menanyakan jalan, Ding Tao pergi untuk menegur orang itu, bertanya macam-macam tentang jalan yang hendak dia tempuh. Setelah puas bertanya-tanya, Ding Tao pun mengambil jalan itu dan seekor merpati dilepaskan mengarah ke sebuah persimpangan yang akan dia lewati. Tapi satu hal membuat DIng Tao tersenyum, dua orang yang berbeda, sama-sama membawa merpati pos dan di pergelangan tangan mereka, terdapat sebuah tatoo yang sama. Sebuah tatoo berbentuk laba-laba berkaki tujuh. Demikianlah setiap kecurigaan dia uji dan akhirnya setelah puas menguji Ding Tao sampai pada kesimpulan bahwa ada 3 kelompok berbeda yang sedang mengikuti dirinya. Setelah sampai pada kesimpulan itu, Ding Tao pun beristirahat dambil memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan. Beberapa pertanyaan dia ajukan pada dirinya sendiri. Apa tujuan dari mereka mengikutinya? Pertanyaan ini cukup mudah untuk dijawab, jawabannya adalah Pedang Angin Berbisik. Jika demikian, bukankah dia bisa membebaskan diri dari ancaman bahaya dengan mengungkapkan kebenarannya, bahwa pedang itu sudah dicuri oleh Tiong Fa? Sambil menggeleng-geleng pemuda itu mengenyahkan ide itu dari benaknya. Yang pertama, hal itu akan menyusahkan keluarga Huang, meski Tiong Fa yang dituju, tapi hingga saat ini Tiong Fa masih menjadi bagian dari keluarga Huang. Yang kedua, semakin sedikit orang yang tahu bahwa pedang itu ada dalam genggaman Tiong Fa, semakin besar kesempatan bagi dirinya untuk merebut kembali pedang itu dari tangan Tiong Fa. Dan yang ketiga, tidak ada jaminan bahwa mereka akan membiarkan dia hidup setelah dia mengungkap keberadaan Pedang Angin Berbisik yang sebenarnya. Yang lebih mungkin adalah, mereka akan membungkam mulutnya untuk selamanya agar sesedikit mungkin orang yang tahu jejak terakhir dari Pedang Angin Berbisik. Pertanyaan selanjutnya, mengapa mereka tidak juga bergerak untuk menangkap dirinya, merebut pedang itu. Atau kalau mereka dapatkan Ding Tao tidak membawa pedang itu, setidaknya berusaha mengorek keberadaan pedang itu dari dirinya, mengapa? Ding Tao berpikir untuk beberapa lama sebelum dia menjawab. Jawabannya adalah karena ketiga kelompok itu sadar bahwa ada kelompok lain yang juga mengikuti dirinya. Tentunya saat yang satu bergerak yang lain tidak akan diam saja. Lalu jika benar demikian, apa yang akan mereka lakukan? Menghela nafas Ding Tao berusaha membayangkan dirinya sedang berada dalam situasi yang dihadapi oleh pengintai-pengintainya itu. Yang pertama, dia akan menunggu, jika dua pihak bertempur memperebutkan dirinya, maka pihak ketiga dapat mengambil keuntungan. Tapi hal itu pula yang menyebabkan ketiganya saling menunggu sampai sekarang. Tentunya harus ada langkah lain yang diambil. Hanya ada satu langkah lagi, yaitu, ketiga kelompok itu akan berusaha memperkuat kedudukannya sebelum berusaha menangkap Ding Tao. Dan itu berarti, jika Ding Tao larut dalam permainan mereka, maka suatu saat, salah satu dari ketiga kelompok itu akan sampai pada kedudukan yang cukup kuat. Pada saat itu, nasib Ding Tao akan ditentukan, tapi siapapun yang menang, Ding Tao lah yang merugi. Dia sadar akan kondisi tubuhnya saat ini, dengan hawa murni Tinju 7 Luka yang masih mengeram di dalam tubuhnya, dia menjadi mangsa empuk bagi orang-orang dunia persilatan. Jika nasibnya baik, maka keseimbangan di antara ketiga penguntit itu akan terus terjaga sampai dia mencapai Shaolin. Tapi semakin dekat dia dengan tujuan, akan semakin mudah untuk menebak bahwa Ding Tao berencana untuk pergi ke Shaolin dan ketiga kelompok itu tentu tidak akan mengijinkan hal itu terjadi. Ding Tao mulai memikirkan rencana untuk menggerakkan permainan ke arah yang menguntungkan dirinya. Setiap ingatan digali, setiap informasi dikumpulkan, setiap kemungkinan dijajagi. Mungkin agak aneh bagi pembaca yang mengikuti keadaan pemuda ini, seulas senyum berkembang di mulut pemuda ini. Apa artinya ini? Bukankah hidupnya dalam ancaman bahaya? Apakah senyum ini hanyalah sebuah senyum palsu, tapi jika palsu siapa yang hendak ditipu? Bukankah dia sedang sendirian di dalam kamar? Masalahnya Ding Tao, mulai terjangkit penyakit yang sama dengan orang-orang berwatak kuat dan berotak encer lainnya. Ketika menemui masalah yang menantang otaknya untuk bekerja keras, mereka cenderung memandangnya sebagai sebuah tantangan yang mengasyikkan. Seperti ilmuwan yang mengotak-atik satu formula hingga lupa makan dan lupa waktu. Atau seperti detektif ulung yang dengan asyiknya berusaha mengungkap satu kejahatan. Semakin sering mereka berhasil memecahkan masalah dengan sel abu-abunya itu, semakin haus pula mereka pada tantangan untuk otak mereka. Ding Tao sudah menggumuli permasalahan jurus-jurus silat dan berhasil memecahkannya. Sudah beberapa kali pula dia bertempur dengan tipe-tipe yang berbeda dan dia berhasil menghadapi setiap tantangan itu bukan melulu bersandar pada kekuatan atau kecepatan, tapi juga dengan menggunakan pemikiran yang cerdas. Kelemahannya saat ini, situasinya saat ini, jadi satu tantangan baru bagi Ding Tao. Tantangan yang lebih menantang, ibaratnya sudah biasa menang berkelahi dengan dua tangan, kemudian dengan sengaja mengikat satu tangan untuk membuat perkelahian jadi lebih menantang. Dengan kondisinya yang tidak memungkinkan dia untuk lolos dengan mengandalkan permainan pedang, Ding Tao jadi tertantang untuk mengandalkan kecerdikannya untuk lolos dari situasi yang membahayakan jiwanya ini. Apakah dia tidak takut mati? Tentu saja Ding Tao pun takut mati, tapi jika dia masih bisa tersenyum saat ini, setidaknya ada dua alasan yang bisa dikatakan. Yang pertama, orang muda memang cenderung untuk kurang menyadari betapa pendeknya hidup. Lihat saja dari mereka yang suka menyerempet bahaya, sebagian besar berumur muda. Semakin muda umurnya, semakin mereka tidak menyadari akan kematian yang bisa menjemput kapan saja. Yang kedua, kalau seseorang sudah kecanduan pada sesuatu, kenikmatan dari memenuhi kecanduan ini tidak jarang melampaui ketakutan mereka pada kematian. Itu sebabnya tidak sedikit orang yang memiliki hobby yang menyerempet bahaya. Sedikit demi sedikit, sebuah rencana mulai terbentuk dalam benak Ding Tao. Menjelang tengah malam, pemuda itu sudah memiliki keputusan yang mantap. Dengan tubuh dan pikiran yang lelah, tapi hati tenang, pemuda itu memejamkan mata dan tidur dengan nyenyak. Keesokan paginya, ketiga kelompok penguntit itu mendapat kejutan besar. Sedikit lebih siang dari biasanya, Ding Tao keluar dari penginapan tanpa penyamaran. Dengan pakaian ringkas dan pedang di tangan, wajah penuh semangat dan senyum dikulum. Semalam dia sudah beristirahat baik-baik, setelah bangun pemuda itu tidak lupa untuk melatih hawa murninya dan berlatih jurus-jurus yang dia miliki. Kemudian dia mandi air hangat dan sekarang dalam keadaan segar dan siaga, pemuda itu melangkah menuju ke sebuah rumah makan. Setelah selesai makan pun dia tidak terburu-buru bangun dari kursinya, dibiarkannya tubuhnya mencerna makanan itu dengan sebaik-baiknya. Tubuh segar, tenaga terkumpul, hati tenang, perut kenyang. Sambil bangkit berdiri Ding Tao merenggangkan otot-ototnya, senyum dikulum tak pernah lepas dari wajahnya. Pandang matanya tajam menyorot ke sekeliling ruangan. Ketiga kelompok yang menguntit dirinya berada pula di sana, buru-buru mereka mengalihkan pandangan pada makanan masing-masing. Benak mereka penuh dengan pertanyaan, menebak-nebak, apa isi otak Ding Tao saat ini. Dengan tenang Ding Tao melangkah ke arah salah satu dari kelompok penguntit itu. Hati setiap orang pun mulai berdebar-debar, terutama mereka yang didekati oleh Ding Tao. Tangan-tanganpun mulai bergerak memegang gagang senjata. Semakin dekat Ding Tao melangkah, tanpa terasa gagang senjata pun semakin erat digenggam. Saat Ding Tao sampai di hadapan mereka, buku-buku jari mereka sudah memutih saking eratnya mereka menggenggam senjata. Berbalik 180 derajat keadaannya dengan Ding Tao, pembawaannya tenang, tubuhnya berdiri dengan rileks, wajahnya terang. Sambil membawa pedang yang masih tersimpan aman dalam sarungnya, pemuda itu memberi hormat dan menyapa dengan sopan.
"Apa kabar? Kalau tidak salah, paman ini Paman Fu Tsun. Bagaimana kabarnya Wang Chen Jin? Kuharap dia tidak dihukum terlalu berat oleh Paman Wang Dou karena menghilangkan Pedang Angin Berbisik."
Ya, salah satu dari 3 kelompok yang menguntit Ding Tao, adalah anak buah Wang Dou.
Sejak kehilangan Pedang Angin Berbisik, Wang Dou menanamkan beberapa orang kepercayaannya untuk mengawasi keluarga Huang.
Dengan sendirinya mengenai kedatangan Ding Tao mereka termasuk yang pertama mengendus berita itu.
Hanya sayang sumber kekuatan mereka jauh berada di utara, sehingga mereka sedikit terlambat bertindak dan saat sudah bergerak pun, kekuatan mereka tidak sebesar kelompok lain yang sudah ikut bergerak.
Kelompok kedua adalah sebuah persekutuan rahasia yang kekuatannya menyebar cukup merata di Selatan.
Meskipun secara orang per orangan, 7 pimpinan Persekutuan Laba-Laba Kaki Tujuh ini bisa dikatakan berimbang dengan jagoan-jagoan dari kelompok Wang Dou, namun jumlah dan luas jaringan mereka jauh lebih di atas kelompok Wang Dou.
Meskipun di atas dan di dalam air kelompok Wang Dou bisa dikatakan sebagai rajanya di Sungai Yangtze.
Sapaan Ding Tao itu mengundang reaksi yang berbeda-beda dari mereka yang mendengar.
Orang-orang dunia persilatan yang mendengar perkataan Ding Tao, memasang telinga baik-baik, tertarik oleh berita yang mereka dengar ini dan ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
3 orang yang dipimpin Fu Tsun saat itu saling berpandangan.
Ini baru berita bagi mereka, ternyata Pedang Angin Berbisik sudah terlebih dahulu jatuh di tangan Wang Dou sebelum pedang itu dihilangkan Wang Chen Jin dan jatuh ke tangan Ding Tao.
Ada perasaan kecewa karena Wang Dou menyembunyikan hal itu dari mereka, juga ada perasaan penasaran, mengapa Wang Chen Jin sampai menghilangkannya.
Beberapa pertanyaan yang jadi misteri bagi mereka, mendapatkan jawaban dari keterangan Ding Tao barusan.
Fu Tsun tentu saja merasa darahnya naik sampai ke ubun-ubun kepala.
Meskipun biasanya dia tenang dan cermat dalam menghadapi masalah tapi apa yang dilakukan Ding Tao saat ini jauh di luar dugaannya dan terlampau banyak mengundang kenangan yang pahit.
Dengan senyum masam dia menjawab.
"Hemm.., aku tidak mengerti apa maksudmu. Tapi jika kau mengira bahwa keberadaan kami di sini ada hubungannya dengan Pedang Angin Berbisik yang ada di tanganmu, kau tidak salah."
"Hehehe, tentunya paman tidak membayangkan aku berjalan kian kemari dengan membawa pedang itu kan?", sahut Ding Tao dengan tenang dan gaya sedikit mengejek. Mata Fu Tsun mendelik.
"Keparat, kalaupun kau tidak membawanya, akan kuperas keterangan itu darimu."
Pengunjung yang lain sudah mulai merasakan gelagat yang tidak baik, satu per satu mereka pergi keluar dari rumah makan itu.
Bahkan ada juga yang ambil kesempatan untuk makan tanpa bayar, sementara para pelayan dan pemilik rumah makanhanya bisa bergemetaran dan berdoa pada dewa-dewa supaya tidak terjadi kerugian yang parah.
Rumah makan tidak sepenuhnya jadi kosong, masih ada orang-orang dari persekutuan Laba-Laba Kaki 7, ada pula sepasang pendekar lelaki dan perempuan itu, ada pula beberapa rombongan lain yang sebenarnya hanya secara kebetulan berada di sana.
Meskipun tidak ada kekuatan dan persiapan untuk ikut berebut Pedang Angin Berbisik, kesempatan untuk menambah pengalaman dan mendapat berita tidak mereka lewatkan.
Dengan wajah tertarik mereka menyaksikan peristiwa di depan mereka.
Jika memungkinkan, siap untuk menarik keuntungan dari peristiwa itu.
Fu Tsun merasa terdesak oleh keadaan, tidak disangka Ding Tao yang dipandang remeh, berhasil membongkar penyamaran mereka.
Jika ia mundur sekarang, nama kelompok Wang Dou bisa hancur, jadi bahan tertawaan di dunia persilatan dan bagi kelompok seperti mereka, reputasi adalah hal yang penting.
"Kepung dan tangkap pemuda sombong ini!", perintahnya singkat pada ketiga orang pembantunya. Dalam waktu singkat 4 orang mengepung Ding Tao, tanpa banyak memberi peringatan sepasang golok Fu Tsun sudah menggunting tubuh Ding Tao. Tapi Ding Tao tidak kalah cepat dalam bertindak, tubuhnya mendoyong ke belakang untuk menghindari serangan Fu Tsun, kakinya cepat menendang meja ke arah dua orang di sisi seberang. Dengan gerakan yang indah dia berkelit dari serangan orang ke-empat, lalu menggunakan lubang yang terbuka saat dua orang yang lain menghindari meja, dia menggebrak ke arah terlontarnya meja, mendesak dua orang yang lain untuk mundur lebih jauh dan kepungan pun jadi terpecah. Dengan cerdik Ding Tao terus bergerak, tidak mau terjebak dalam kepungan ke-empat orang itu. Dalam waktu singkat, kursi dan meja berserakan, terbalik dan patah-patah, mangkok dan piring berceceran di lantai. Isteri pemilik rumah makan sudah pingsan sejak tadi dan cepat-cepat diungsikan ke rumah tetangga. Melawan 4 orang Ding Tao menunjukkan kebolehannya, meskipun tidak dengan mudah memenangkannya, tapi ke empat orang itu pun tidak bisa mendesaknya. Gerakannya lincah dan pedangnya menyambar bagai kilat di antara sinar golok dan pedang lawan. Beberapa luka mulai nampak menghiasi tubuh anak buah Fu Tsun. Jika keadaan terus berlanjut seperti demikian maka dalam beberapa puluh jurus ke depan Ding Tao tentu akan berhasil menjatuhkan mereka satu per satu. Golongan Laba-laba Kaki 7 yang bersaing dengan kelompok Wang Dou tidak segan-segan memberi dukungan pada Ding Tao, setiap kali Ding Tao berhasil meloloskan diri dari serangan lawan, mereka berteriak.
"Luput! Luput!"
Atau kata ejekan.
"Orang buta pun bisa menghindarinya dengan gampang!"
Dan jika serangan Ding Tao kena, mereka pun akan berteriak.
"Kena! Kena! Satu anjing kena tusuk!"
Jelas saja sorakan mereka itu membuat tekanan darah Fu Tsun dan anak buahnya semakin tinggi, salah seorang dari mereka yang kurang bisa menahan marah menyerang Ding Tao dengan tenaga yang berlebihan.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan Ding Tao menyusup maju, memasuki lubang pertahanan yang tercipta.
Dengan sebuah tusukan pedang yang tepat dan efektif, sebatang pedang segera saja menghiasi tenggorokan orang tersebut.
Ding Tao tidak mau membuang waktu dengan mencabut pedangnya yang menancap kuat di leher orang tersebut.
Sebaliknya dengan sebuah gerakan yang indah dia merebut pedang di tangan orang tersebut.
Semuanya dilakukan dalam sebuah rangkaian gerakan yang mengalir.
Mereka yang menyaksikan mau tak mau merasa kagum pada kebolehan pemuda itu memainkan pedang.
Bahkan Fu Tsun dan anak buahnya pun terkesiap melihat kebolehan pemuda itu dan untuk beberapa saat tertegun di tempatnya masing-masing.
Kesempatan yang hanya sesaat itu tidak disia-siakan Ding Tao, hampir saja Fu Tsun kehilangan satu orang lagi pembantu ketika serangan Ding Tao datang bagaikan kilat, beruntung orang itu masih sempat melemparkan tubuhnya ke belakang dan Fu Tsun bersama seorang yang lain cepat-cepat menyerang Ding Tao dari kiri dan kanan secara berbareng, sehingga Ding Tao terpaksa tidak melanjutkan jurus serangannya.
Tak urung sebuah luka memanjang dari pundak kanan ke dada kiri, menghiasi tubuhnya.
Sorakan dari Laba-laba Kaki 7 semakin membahana, di saat yang kritis bagi Fu Tsun dan kelompoknya, tiba-tiba berloncatan dari luar 6 orang untuk membantu mereka.
Rupanya kelompok Wang Dou yang lain sudah mendengar kabar perkelahian itu.
Melawan 9 orang ganti Ding Tao yang mulai terdesak, keganasannya jadi berkurang karena harus lebih banyak memperhatikan pertahanan sendiri.
Tidak lama kemudian 3 orang ikut masuk ke dalam arena pertarungan dan keadaan Ding Tao pun jadi semakin terdesak.
Mereka tidak menyerang secara serampangan, meskipun tidak pernah berlatih dalam barisan tertentu, tapi mereka ini adalah orang-orang yang sudah punya pengalaman bekerja sama dalam membegal dan merampok selama bertahun-tahun.
Mereka pandai membagi diri menjadi beberapa lapis, orang-orang yang terkuat menghadapi Ding Tao secara langsung, yang lain ikut mengepung dalam lingkaran yang lebih luas, tugas mereka ini adalah menutup jalan lari Ding Tao dan membantu pertahanan rekan-rekan yang ada di depan.
Sesekali mereka ikut pula melontarkan serangan melalui celah-celah yang ada, meskipun bukan serangan yang berbahaya, tetapi cukup mengganggu konsentrasi Ding Tao.
Melihat keadaan Ding Tao yang memburuk, orang-orang dari kelompok Laba-laba Kaki 7, mulai berunding.
Jika dibiarkan saja, lama kelamaan Ding Tao pasti akan kalah, sementara di pihak Fu Tsun baru kehilangan 1 orang mati dan 1 orang luka parah.
Jika menunggu Fu Tsun dan kelompoknya menangkap Ding Tao baru bergerak, korban dari pihak mereka pasti cukup besar.
Sebaliknya jika sekarang mereka membantu Ding Tao, menyerang dengan membokong orang-orang Fu Tsun dari belakang, mereka akan dapat menghabisi kelompok Fu Tsun dengan mudah.
Baru kemudian mereka mengikuti cara Fu Tsun dan anak buahnya untuk mengepung dan menangkap Ding Tao.
Rencana itu terdengar bagus dan dengat cepat keputusan pun dibuat, sambil berteriak-teriak menyatakan ketidak puasan mereka melihat Fu Tsun bermain keroyokan, pedang-pedang merekapun ikut berbicara.
Dalam satu serangan bokongan itu 5 orang Fu Tsun mati tanpa pernah melihat siapa yang telah membunuhnya.
Fu Tsun yang melihat itu mencaci maki sepenuh hati.
"Anjing kurap, keparat! Pembokong! Pengecut tak tahu malu!"
Pemimpin dari kelompok Laba-laba Kaki 7, tertawa terbahak-bahak dengan suaranya yang mirip gagak.
"Hakhakhakhak, Fu Tsun, hari ini waktunya kau bertemu dengan raja neraka, sebaiknya kau jaga mulutmu baik-baik supaya tidak menambah dosa, hakhakhakhak." 2 orang lagi dari kelompok Fu Tsun jatuh jadi korban, satu dari serangan Ding Tao dan satu lagi tertusuk 3 belah pedang sekaligus dikeroyok oleh orang-orang Laba-laba Kaki Tujuh. Fu Tsun meneteskan keringat dingin, keadaannya sungguh runyam, Ding Tao adalah lawan yang berat dan tidak bisa dibuat main-main, jika dia lengah maka pedang Ding Tao akan mengancam. Tapi jika mereka terus berfokus pada Ding Tao maka, orang-orang Laba-laba Kaki Tujuh akan dengan mudah membabat mereka, membokong dari belakang. Putus asa menyelimuti Fu Tsun sekalian, Fu Tsun sebagai pemimpin kehilangan pegangan dan tak mampu mengambil keputusan. Anak buahnya tidak ubahnya seperti ular tanpa kepala, satu per satu, mereka dihabisi tanpa ampun. Melihat ini Ding Tao yang sudah merencanakan semua inipun jadi tidak tega. Ding Tao hanya bertahan tanpa banyak menyerang, tekanan dari Ding Tao banyak berkurang sehingga Fu Tsun dan anak buahnya bisa lebih banyak membagi perhatian untuk bertahan dari serangan bokongan. Tapi kekuatan mereka sudah terlalu jauh berkurang, sementara lawan masih segar bugar. Pada saat-saat terakhir bahkan terjadi tidak seorangpun yang menyerang Ding Tao, dua kelompok yang saling bersaing untuk mendapatkan Pedang Angin Berbisik itu saling bertarung mati-matian, membiarkan Ding Tao berdiri dengan pedang di tangan dengan tenangnya. Menyaksikan pembantaian itu, hati Ding Tao jadi tergetar, hati kecilnya merasa bersalah. Siasat ini, sesungguhnya dia yang membuatnya, meskipun lebih banyak darah tertumpah dan nyawa yang melayang oleh tangan orang-orang Labah-Labah Kaki Tujuh, tetap saja Ding Tao melihat betapa ini akibat dari siasat yang dibuatnya. Mungkin hanya 2 orang yang terbunuh oleh tangannya, tapi pada hakekatnya belasan orang yang sekarang bakal meregang nyawa, semuanya terbunuh olehnya. Setidaknya itulah kata hati pemuda ini. Fu Tsun sudah terluka di puluhan tempat, tidak ada sejengkal pun dari tubuhnya yang tidak berwarna merah. Tenaganya pun akhirnya hilang, sepasang golok masih tergenggam di tangan, tapi tangan itu sudah lunglai tergantung tanpa daya. Pemimpin dari kelompok Laba-Laba Kaki Tujuh mendekatinya dengan raut wajah serius, tidak seperti sebelumnya yang penuh ejekan. Nasib yang sama bisa saja terjadi padanya, pada saat-saat terakhir ini, timbul juga rasa simpatinya.
"Fu Tsun, jangan salahkan aku tidak memberimu ampun. Selama kau masih hidup, tentu tidurku tidak akan pernah tenang."
Fu Tsun hanya diam menatapnya dengan sorot mata dingin tanpa arti.
"Selamat tinggal Fu Tsun!", dengan sebuah tebasan pedang, kepala Fu Tsun terbelah dari kiri atas kepala hingga ke leher. Sejenak setiap orang berdiri diam di tempatnya masing-masing. Para pelayan dan pemilik rumah makan sudah lama menghilang, sejak darah mulai bercurahan dan bercipratan ke segenap penjuru ruangan. Orang-orang yang masih duduk di sana, sudah jelas tidak aka pergi hanya karena melihat kucuran darah. Pandang mata mereka jatuh pada Ding Tao yang berdiri dengan tenang. Entah sejak kapan, dia sudah memungut pedangnya sendiri. Bahkan sempat pula membersihkan pedang itu dari noda-noda darah yang melekat. Tampilannya yang penuh percaya diri tapi dibarengi sorot mata yang penuh kesedihan, memberi kesan yang tidak mudah dilupakan.
"Ding Tao, namaku Xiang Long, pimpinan utama kelompok Laba-Laba Berkaki Tujuh. Kau bisa pegang ucapanku, menyerah dengan damai dan aku tidak akan menyakitimu sedikitpun.", ujar pemimpin dari Kelompok Laba-Laba Berkaki Tujuh itu, yang rupanya bernama Xiang Long. Ding Tao tersenyum dingin, hatinya kelu menyaksikan kekejaman orang di hadapannya itu, meskipun hal itu sudah dia perhitungkan sebelumnya. Menyaksikan kejadian itu secara langsung ternyata menyisakan kesan yang berbeda dibandingkan memikirkannya saat rencana masih merupakan rencana saja.
"Hmmm... Saudara Xiang Long, sebaiknya kau yang menyerah saja, dan aku Ding Tao akan menganggap urusan ini selesai hari ini juga."
Melotot mata Xiang Long mendengar jawaban Ding Tao.
"Anak bau kencur, jangan sombong, selagi aku sudah membunuh orang, mulutmu masih bau tetek ibumu!"
"Hmm... selagi aku masih menetek pada ibuku, otakku sudah jauh lebih terang daripada otakmu.", jawab Ding Tao dengan senyum mengejek.
"Keparat! Serbu!", bentak Xiang Long dengan penuh kemarahan. Sekali lagi peristiwa yang sama terjadi, Ding Tao dikepung dari segenap jurusan dengan serangan dan pertahanan kepungan lawan yang berlapis. Menilik cara Ding Tao saat bertahan melawan Fu Tsun dan kelompoknya, sebenarnya Xiang Long sudah berhitung bahwa dia akan mampu menundukkan pemuda itu. Sebagian besar orang-orang yang dibawanya memiliki kemampuan setara di atas orang-orang yang dibawa Fu Tsun. Tiga atau empat orang, lima termasuk dirinya memiliki kemampuan di atas orang-orangnya Fu Tsun, dengan jumlah yang lebih banyak dari orang-orang Fu Tsun, disangkanya Ding Tao akan bisa ditundukkan. Betapa kaget dia, ketika mendapati Ding Tao mampu mengimbangi kepungan mereka. Pedangnya berkelebatan dengan cepat, membentuk perisai di sekeliling tubuhnya. Jika tadi Ding Tao bertarung menggunakan pedang yang tidak disaluri hawa murni, berbeda dengan keadaan saat ini. Pedangnya yang sudah disaluri hawa murni, mengaung-ngaung, senjata lawan yang berbenturan dengan pedangnya akan terpental bahkan rompal sebagian. Gerakan Ding Tao bukan saja hanya lincah tapi juga bertenaga. Bukan hanya mengandalkan kelihaian jurus dan kecekatan, tapi pemuda ini berani pula mengadu tenaga. Xiang Long yang tadinya berpikirm nasib yang dialami Fu Tsun tidak akan dialaminya, karena dia memiliki lebih banyak orang, sekarang meneteskan keringat dingin karena keadaaannya sama saja dengan keadaan Fu Tsun tadi. Segenap perhatian dan kekuatan orang-orangnya terserap untuk menyerang dan bertahan melawan Ding Tao. Jika ada pihak ketiga yang mengambil keuntungan habislah dia. Dan seperti kita tahu, memang demikianlah keadaannya. Sepasang laki-laki dan perempuan yang menyamar itu tiba-tiba bangkit berdiri dan melemparkan sepasang pisau terbang ke kusen pintu masuk rumah makan. Pisau itu bentuknya biasa saja, tetapi di gagangnya bergantung sebuah medali dari giok berbentuk tengkorak. Bisik-bisik pun terdengar dari pengunjung rumah makan yang masih bertahan.
"Sepasang iblis berwajah giok?"
Dengan terkekeh-kekeh menyeramkan, pasangan laki-laki dan perempuan yang berjuluk Sepasang Iblis berwajah giok itu berujar.
"Yang tahu diri, sebaiknya segera menyingkir dan tidak perlu ikut campur urusan."
Dalam sekejap mata, rumah makan itupun bersih dari pengunjung.
Tinggal Ding Tao, Xiang Long dan anak buahnya serta sepasang iblis itu.
Xiang Long tentu saja ikut mendengar gertakan sepasang iblis itu, tapi keadaannya sekarang sudah terjepit, tidak ada bedanya dengan keadaan Fu Tsun tadi, mundur salah, majupun salah.
Baru saja dia hendak berpikir, sudah terdengar jeritan meregang nyawa dari dua orang anak buahnya.
Dalam keadaan yang berbahaya itu, tiba-tiba Xiang Long dikejutkan oleh tindakan Ding Tao.
Sebuah serangan pedang yang membadai dikeluarkan oleh pemuda itu hingga kepungan pun tersibak, tapi bukannya mengambil kesempatan untuk menyerang, pemuda itu menggunakan kesempatan itu untuk melompat gesit dan menyerang ke arah iblis wanita bermuka giok sambil berseru.
"Xiang Long, bantu aku, urusan kita bisa diselesaikan belakangan!"
Wajah Xiang Long yang tadinya sudah putus asa menjadi cerah kembali, dari jalan kematian tiba-tiba dilihatnya kesempatan untuk hidup.
Inilah puncak dari rencana Ding Tao semalam.
Bagian awal dari rencana Ding Tao adalah menantang kelompok yang terlemah dari 3 kelompok tersebut, yaitu kelompok Fu Tsun.
Dengan sengaja dia memojokkan Fu Tsun, sehingga Fu Tsun tidak ada jalan lain kecuali bertarung dengannya.
Dalam pertarungan itu dengan sengaja Ding Tao menahan diri dan tidak mengeluarkan segenap kemampuannya.
Inilah bagian kedua dari rencananya, yaitu untuk menarik Xiang Long terjun dalam pertempuran.
Membantunya menghabisi kelompok pertama dari tiga kelompok yang mengintainya.
Sudah lama Ding Tao curiga bahwa sepasang laki-laki dan perempuan itu adalah yang terkuat, karena dengan percaya dirinya mereka bersiap untuk ikut berebut meskipun mereka hanya berdua dan lawan mereka adalah dua kelompok yang cukup besar.
Dan inilah penutup dari rencana Ding Tao, yaitu ketika sepasang laki-laki dan perempuan itu sudah mulai bergerak.
Membuat Xiang Long menghadapi jalan buntu.
Maka Ding Tao akan bergerak menarik Xiang Long menjadi sekutunya untuk melawan sepasang laki-laki dan perempuan misterius itu.
Yang paling terkejut adalah Sepasang Iblis berwajah giok itu.
Disangkanya mereka akan menikmati mangsa mudah seperti yang dilakukan Xiang Long terhadap Fu Tsun, siapa sangka keadaan jadi berbalik, dengan satu serangan Ding Tao ganti merekalah yang menghadapi kepungan lawan.
Meski demikian tidak memalukan mereka memiliki nama besar yang ditakuti lawan dan kawan, mereka masih bisa bertarung dengan tenang bahkan sambil terkekeh menyeramkan iblis jantan bermuka giok berkata.
"Ding Tao sungguh pintar akalmu, tapi jangan harap kau bisa selamat dari cengekeraman kami hari ini."
Suara tertawa mereka membuat bulu kuduk yang mendengar jadi berdiri.
Entah sejak kapan, tiba-tiba sepasang cakar besi sudah ada di tangan mereka masing-masing.
Meskipun sudah dikepung tapi mereka justru mampu mendesak Ding Tao, Xiang Long dan kawan-kawan.
Satu dua orang mulai terluka dan tiap kali serangan mereka berhasil, sepasang iblis itu akan tertawa mengikik dengan seramnya.
Anak buah Xiang Long adalah orang-orang kasar yang masih percaya tahayul, suara setan dari sepasang laki-laki dan perempuan misterius itu sangat mengganggu permainan pedang mereka.
Untung bagi mereka ada Ding Tao di situ, seperti yang sudah sering disebutkan, bakat Ding Tao dalam mempelajari ilmu bela diri termasuk satu orang dalam satu generasi.
Menarik dari pengalamannya menghadapi kepungan Fu Tsun, sebuah pemahaman tentang membentuk barisan sudah mulai terbentuk dalam benak pemuda itu.
Sekarang sebagai bagian dari kelompok yang mengepung sepasang iblis itu, Ding Tao bukan hanya ikut mengepung dan menyerang dengan jurus sendiri saja, tapi pengamatannya lebih luas dari itu.
Bak seorang jendral, Ding Tao mulai mempelajari serangan-serangan lawan yang aneh, setelah beberapa puluh jurus lewat, mulailah Ding Tao tidak hanya menyerang tapi juga memberikan komando pada yang lain.
"Sisi barat, menyerang atas! Sisi timur melindungi barat! Sisi utara dan selatan tahan serangan!"
"Semuanya bergerak ke barat! Xiang Long serang yang jantan!"
Dan berbagai komando perintah lainnya, mulai mengubah arah jalannya pertarungan.
Jika sebelumnya sudah mulai ada tiga orang yang tewas dan beberapa terluka.
Setelah Ding Tao mulai memberikan perintah serta bergerak untuk menutupi kelemahan yang lain, ganti sepasang iblis bermuka giok itu yang berada di bawah angin.
Untuk beberapa puluh jurus berikutnya sepasang iblis bermuka giok itu menghadapi tekanan yang kuat.
Semangat anak buah Xiang Long jadi timbul melihat perintah-perintah Ding Tao mampu mengimbangi jurus-jurus sepasang iblis bermuka giok yang aneh itu.
Tapi pengalaman sepasang iblis bermuka giok itu jauh lebih banyak dari Ding Tao.
Setelah beberapa puluh jurus itu lewat, iblis jantan mendapatkan pemikiran yang jitu, dengan terkekeh panjang dia berteriak pada pasangannya "Iblis betina, dua iblis berpisah!
Timur dan barat mandi darah!"
Sudah berpasangan selama belasan tahun, di antara keduanya sudah terjalin saling pengertian yang sangat kuat, apalagi dalam hal bertarung secara berpasangan.
Tawa seram mengikuti jurus-jurus serangan yang mereka lontarkan, untuk beberapa saat kepungan terpecah dan saat yang singkat itu digunakan keduanya untuk berpencar berjauhan.
Karena keduanya berjauhan, kepungan pun terpisah menjadi dua kelompok.
Kelompok yang satu dipimpin Ding Tao sedang kelompok yang lain dipimpin Xiang Long.
Tidak sampai lewat sepuluh jurus, satu orang dari kelompok Xiang Long tewas dengan dada berlubang terkena cengkeraman cakar besi dari Iblis jantan.
Sementara Iblis betina harus bersusah payah untuk bertahan menghadapi serangan yang dipimpin Ding Tao, jeritan-jeritan menyayat hati terdengar dari kelompok Xiang Long.
Ding Tao pun mengakui kecerdikan lawan, tidak mungkin dirinya mengamati kedua iblis itu sekaligus.
Seandainya bisa pun, bagaimana dia memberi komando kepada dua kelompok yang berbeda dengan efektif?
Jika Ding Tao meninggalkan kelompoknya untuk sepenuhnya mengamati jalannya pertarungan dan memberikan komando, maka kelompok yang melawan iblis betina akan kehilangan orang kuat di dalamnya dan di kelompok itulah yang akan jatuh korban.
Satu-satunya harapan Ding Tao adalah secepat mungkin mematahkan perlawanan Iblis betina agar dengan demikian, mereka akan bisa memfokuskan serangan pada Iblis jantan setelah berhasil menghabisi iblis betina.
Tapi sepasang iblis itu memang tokoh yang kosen, pertahanan yang dibangun iblis betina sangatlah kuat.
Tidak seorang pun yang dapat menandingi tenaga dalamnya.
Sementara Ding Tao tidak bisa pula dengan leluasa menggunakan himpunan hawa murninya.
Hawa dari pukulan Tinju 7 Luka masih mengeram dan mengancam untuk bangkit tidur dan dengan liar merusak tubuhnya dari dalam.
Xiang Long bukannya orang bodoh, satu per satu orangnya mati oleh cakar besi Iblis jantan, sekilas dia sempat menengok keadaan Ding Tao dan kelompoknya.
Sadarlah Xiang Long bahwa bahkan dengan menyatukan tenagapun, dirinya dan Ding Tao tidak akan mampu menghadapi sepasang iblis itu.
Xiang Long belum ingin mati hari itu, dengan satu emposan tenaga dia menyambitkan pedangnya ke arah iblis jantan, memaksa iblis jantan untuk mundur beberapa langkah.
Kesempatan itu digunakan Xiang Long untuk memperbesar jarak di antara mereka dengan ikut melompat mundur ke belakang.
"Hentikan! Iblis tua, aku menyerah! Biarkan aku pergi dan aku bersumah tidak akan ikut campur urusan Pedang Angin Berbisik lagi!", teriak Xiang Long sambil melompat mundur, keluar dari rumah makan itu. Mendengar teriakan Xiang Long, pucatlah wajah Ding Tao. Apalagi ketika anak buah Xiang Long pun ikut berlompatan keluar dari rumah makan. Sepasang iblis muka giok, tidak mengejar, hanya terkekeh-kekeh dengan seram. Dikepung dari dua arah, Ding Tao mati kutu.
"Hikhikhikhik, anak muda..., bagaimana, apa kau mau menyerah sekarang?", ejek iblis jantan sambil perlahan mendekat. Ding Tao pun menggeser kedudukannya untuk menyesuaikan dengan pergerakan Iblis jantan dan posisi iblis betina. Dari arah lain iblis betina ikut bergerak, menutup arah lari Ding Tao,"Anak muda, kulihat kau tidak bertarung dengan leluasa. Saat kuserang, dapat kurasakan dari pertahananmu seberapa besar dan mantap dasar-dasar himpunan hawa murnimu. Tapi hawa murni yang kaupakai untuk menyerang, paling banter hanya 1 bagian dari yang seharusnya bisa kaugunakan. Apakah kau sedang terluka dalam?"
"Hohohohoho, apa benar kau sedang terluka? Tapi kau masih bisa mempermainkan kami sampai sedemikian rupa.... mengerikan, masih muda tapi sudah sehebat itu.", ujar iblis jantan sambil menggeser kedudukannya.
"Kau masih muda, apa tidak sayang nyawa? Kaupun terluka, apa lagi gunanya pedang itu bagimu.", ujar iblis betina menimpali dari arah sebaliknya. Melihat bahwa keadaannya sudah terlihat dengan jelas oleh lawan, Ding Tao sadar tidak mungkin melawan lebih lanjut. Ketika beramai bersama dengan Xiang Long dan anak buahnyapun dia tidak bisa menang. Apalagi sekarang ketika dia tinggal sendiri harus melawan sepasang iblis itu. Tapi Ding Tao tidak berani mengendurkan pertahanannya, sambil mengawasi kedua iblis itu dia menjawab.
"Kalian memang hebat, aku pun bukan orang bodoh, sudah jelas tidak ada kemungkinan bagiku untuk menang. Jangankan untuk menang untuk laripun aku tidak ada kesempatan dan aku bukan termasuk orang yang mau mengorbankan nyawa dengan sia-sia, sebutkan apa keinginan kalian."
"Hehehe, baru saja kita melihat hasil dari kecerdikanmu, kurasa tidak perlu aku bilang, orang cerdik macam dirimu sudah tahu apa yang kami mau.", ujar Iblis jantan muka giok.
"Pedang Angin Berbisik, tapi seperti yang kau lihat, aku tidak membawa-bawa pedang itu denganku saat ini.", jawab Ding Tao.
"Hehe, tapi tentu kau tahu ada di mana pedang itu saat ini."
"Ya, tapi jika kau membunuhku, maka rahasia itu akan terkubur bersama dengan kematianku."
"Tidak, kami tidak ingin membunuhmu, kau menyerah saja dan jadi tawanan kami baik-baik, begitu kami mendapatkan pedang itu, kami akan membebaskanmu."
"Hmm... dan apa jaminannya bahwa kau akan membiarkanku hidup setelah kamu mendapatkan pedang itu?"
"Hehehehe, jaminannya adalah perkataanku, apa itu tidak cukup?", terkekeh seram Iblis jantan menjawab, senyumnya yang sinis sudah mengatakan kenyataannya akan berbeda ari jawabannya.
"Heh, kita sama-sama tahu, begitu pedang ada di tanganmu, nyawaku pun tidak ada artinya bagimu.", dengus Ding Tao dengan dingin. Sepasang iblis muka giok itu tertawa berkakakan, puas tertawa mereka memandang tajam pada pemuda itu.
"Melawan pun percuma, kalau kau menyerah baik-baik, mungkin kami masih akan bermurah hati. Tapi jika kau melawan, kupastikan kami akan menyiksamu hingga kau berharap lebih baik mati daripada hidup."
"Jangan harap aku menyerah tanpa perlawanan. Tapi apa kalian tidak takut pertarungan kita hanya akan memberi keuntungan pada orang ketiga?", tanya Ding Tao dengan tenang. Meskipun mereka bercakap-cakap dengan damai, bukan berarti mereka berhenti saling mencari kelemahan. Tubuh mereka tidak diam di satu posisi, melainkan terus bergerak, bergerak untuk mencari kelemahan lawan dan bergerak untuk menutup lubang pertahanan. Sekiranya ada sedikit saja lubang kelemahan dalam pertahanan Ding Tao yang dapat diserang, tentu sepasang iblis itu akan memanfaatkan kelemahan itu. Salah satu keuntungan Ding Tao adalah sepasang iblis itu tidak ingin membunuhnya sekarang. Mereka perlu menangkap Ding Tao hidup-hidup.
"Memangnya siapa yang berani ikut campur dalam urusan kita ini?", dengus iblis betina dingin.
"Jika aku berhasil sedikit saja mengimbangi serangan kalian, bukan tidak mungkin ada pihak-pihak yang akan coba mengambil keuntungan. Orang-orang yang tidak berani berlawanan dengan kalian sendirian, tapi menyimpan keinginan untuk itu.", Ding Tao terus berusaha mendorong lawan untuk membatalkan pertarungan itu.
"Heh.. anak muda, apa kau bermimpi? Ilmumu memang boleh juga, tapi masih jauh untuk dapat mengimbangi kami.", gertak iblis jantan. Ganti Ding Tao yang tertawa berkakakan.
"Hahahaha, jangan bercanda, apa kalian ingin aku percaya bahwa sedari tadi ini, kalian sedang bermurah hati dengan tidak menyerangku, padahal kalian memilki banyak kesempatan untuk itu?"
"Anak muda tidak tahu diuntung! HAH!!", dengan satu bentakan yang keras sepasang iblis muka giok itu menyerang berbareng. Ding Tao sudah berwaspada sejak tadi, maka dengan gesit dia bergerak melompat ke arah iblis betina dan melontarkan jurus serangan yang terhebat yang dia miliki. Jurus pamungkas keluarga Huang yang pernah dia pakai saat bertarung melawan Zhang Zhiyi. Sewaktu melawan Zhang Zhiyi pedang digerakkan tanpa menggunakan hawa murni untuk memperkuat serangan. Sekarang yang dihadapi adalah sepasang iblis, dengan menggunakan hawa murni dalam serangannya, hawa pedang jadi semakin menggiriskan. Kegesitan Ding Tao dalam bereaksi terlalu cepat bagi Iblis betina muka giok, serangannya sendiri belum sempat dikembangkan, serangan Ding Tao sudah datang menekan. Hawa pedang Ding Tao menekan jurus serangannya dan berbalik dari menyerang ganti dia yang diserang. Kejadian ini bukan suatu kebetulan, bukan pula karena Ding Tao jauh lebih hebat dari sepasang iblis itu. Melainkan karena Ding Tao sudah sempat mengamat-amati gaya permainan mereka sementara mereka belum sempat mengenali gaya permainan Ding Tao. Sewaktu Ding Tao melawan mereka dibantu Xiang Long dan kawan-kawan, pemuda itu memiliki cukup banyak keleluasaan untuk mengamati jurus-jurus dan terutama watak dari gaya permainan lawan. Salah satu ciri yang melekat pada permainan sepasang iblis itu adalah, serangan selalu diawali oleh Iblis jantan muka giok, serangannya keras, kejam dan bertenaga, jurus-jurus yang dilontarkan semuanya mengincar tempat yang mematikan, bila lawan sampai terkena maka tiada jalan bagi lawan kecuali kematian. Serangan Iblis betina datang sepersekian detik lebih lambat dari serangan pasangannya, disesuaikan dengan reaksi lawan menghadapi serangan Iblis jantan. Sifat serangan dari Iblis betina adalah, licin, tidak bertenaga, tetapi mengincar bagian manapun yang terbuka. Tujuannya adalah melukai lawan, atau menolong Iblis jantan lepas dari serangan lawan, tergantung keadaan saat itu. Inilah kerja sama yang apik dari sepasang iblis muka giok itu, yang sering terjadi adalah lawan terpengaruh oleh serangan yang mematikan dari Iblis jantan, jika lawan kurang hebat, maka matilah dia di bawah serangan Iblis jantan. Jika lawan cukup berilmu, maka kehebatan serangan Iblis jantan, menutupi serangan licik yang lembut dari Iblis betina. Meskipun serangan iblis betina tidak mematikan, tapi luka-luka yang ditimbulkan perlahan-lahan akan melemahkan kekuatan lawan. Hingga satu saat di mana lawan tidak akan bisa lagi menahan serangan yang mematikan dari Iblis jantan muka giok. Lewat cara ini entah sudah berapa banyak lawan mati di tangan mereka, bahkan tokoh-tokoh yang secara perorangan bisa dikatakan lebih kuat dari sepasang iblis itu. Meskipun Ding Tao belum dapat sepenuhnya memecahkan rahasia ilmu dari lawannya, tapi setidaknya dengan memegang ciri tersebut, Ding Tao memiliki akal untuk memecahkan kerja sama mereka. Langkah awalnya adalah dengan menempatkan dirinya tepat berada di tengah di antara sepasang iblis itu. Begitu Iblis jantan bergerak untuk menyerang, Ding Tao bergerak menyerang ke arah Iblis betina yang berada di arah yang berlawanan. Dengan demikian Ding Tao bisa menghindari serangan Iblis Jantan berbareng dengan menekan Iblis betina mundur. Tentu saja ada resikonya, bila Iblis betina mampu menahan serangan Ding Tao, maka gerakan mundur Ding Tao untuk menghindari serangan Iblis Jantan pun akan terhenti dan terhimpit di antara dua serangan. Ibaratnya bermain judi, seluruh taruhan diletakkan di atas meja, tidak ada lagi modal yang disisakan di kantung. Jika gagal menekan Iblis betina muka giok, maka kekalahan Ding Tao akan terjadi dalam satu gebrakan. Jika berhasil maka kerja sama yang rapi di antara kedua iblis itu pun akan terhenti. Bagi Ding Tao saat itu, perjudian ini tidak merugikan dirinya. Jalan lain dia tidak menemukan, tanpa jalan ini kekalahannya sudah pasti. Dengan jalan ini setidaknya masih ada kemungkinan untuk menang, setidaknya bertahan. Kalaupun dia gagal dalam pertaruhannya, maka Ding Tao bersandar pada keyakinan bahwa sepasang iblis itu tidak menghendaki pula kematiannya. Meskipun menjadi tawanan dari sepasang iblis itu lebih menderita dibanding mati. Gerakan pedang Ding Tao bagaikan jaring keadilan dari langit, begitu rapat hingga Iblis betina tidak mampu menemukan celah untuk balik menyerang. Hanya menghindar dan menghindar. Ding Tao terus saja mendesak lawan, jalan mundur Iblis betina ke arah mana, Ding Tao lah yang menentukan. Dengan cara ini, terjadilah semacam kejar-kejaran di antara mereka bertiga. Iblis jantan mengejar Ding Tao dan Ding Tao mengejar Iblis betina. Gerakan mereka sama cepatnya, tinggal siapa yang memiliki stamina lebih kuat dia yang akan memenangkan pertarungan. Bukan main geramnya sepasang Iblis itu, apa yang berhasil dilakukan Ding Tao berada di luar dugaan mereka. Belum pernah mereka menghadapi perlawanan semacam ini. Melihat pertarungan yang tidak nampak kapan akan berakhir, sepasang Iblis itu pun memutuskan untuk berganti strategi, mengepung Ding Tao dari dua arah yang berlawanan justru berhasil dimanfaatkan Ding Tao untuk mencegah kerja sama yang apik di antara sepasang iblis itu. Iblis jantan berupaya untuk mengubah posisi mereka menjadi segitiga, dengan dirinya dan Iblis betina menyerang dari arah yang sama. Tapi seperti sudah dikatakan sebelumnya, Ding Tao yang sedang berada di atas angin mampu memaksa iblis betina untuk bergerak ke arah yang dia inginkan. Permainan taktik dalam jurus-jurus yang dilancarkan kini berubah bentuknya. Ding Tao yang berusaha mempertahankan kedudukan mereka dan sepasang Iblis itu yang berusaha mengubah posisi. Serangan Iblis jantan pun berubah sifatnya, tidak lagi serangannya ditujukan untuk menyerang titik kematian Ding Tao, melainkan lebih berfokus untuk menggempur kedudukan pemuda itu, berusaha memaksa Ding Tao untuk melepaskan tekanannya atas iblis betina. Sepasang iblis itu menang pengalaman dibanding Ding Tao, iblis jantan pun menang tenaga dibanding pemuda itu. Apalagi dengan kondisi Ding Tao yang tidak bisa mengerahkan hawa murni dengan leluasa. Perlahan-lahan taktik Ding Tao mulai dipatahkan dan kedudukan mereka pun mulai berubah. Hati sepasang iblis itu pun menjadi semakin girang melihat arah perkembangan pertarungan itu. Pada satu serangan yang terencana Iblis jantan akhirnya berhasil mendesak Ding Tao keluar dari garis lurus antara dirinya dan pasangannya. Iblis betina pun dengan cepat mengubah kedudukan dan merapat pada Iblis Jantan. Tanpa terasa sepasang iblis itu pun bersorak.
"Nah, kena kau!"
Betapa kaget hati mereka ketika Ding Tao tidak terlihat cemas dengan perkembangan itu, sebaliknya pemuda itu melepaskan serangan yang hebat, memaksa keduanya mundur setengah langkah, kemudian dengan gerakan yang gesit pemuda itu melemparkan dirinya bergulingan keluar dari rumah makan.
"Selamat tinggal iblis jelek!!!", seru pemuda itu sambil tertawa terbahak-bahak. Barulah keduanya sadar, sudah salah mengambil keputusan. Dengan mengubah posisi mereka menjadi sejajar, bersama-sama menghadapi Ding Tao dalam satu sisi yang sama, memang pertahanan dan serangan mereka bisa menjadi lebih kuat. Iblis jantan akan lebih mudah untuk membantu iblis betina, tatkala pasangannya itu didesak oleh serangan-serangan Ding Tao. Tapi pada saat yang sama, pergerakan mereka itu akan membuka celah bagi Ding Tao untuk melarikan diri. Dan dengan cerdiknya pemuda itu sengaja menunggu hingga dirinya berada di dekat pintu keluar rumah makan, sebelum dia berpura-pura kalah dalam perebutan kedudukan. Pucatlah wajah keduanya, dari bergirang karena merasa berhasil memaksa Ding Tao membatalkan taktik bertarungnya, berubah menjadi rasa kaget dan sesal. Setelah pulih dari rasa kagetnya, bergegas keduanya memburu keluar, berusaha mengejar Ding Tao yang sudah sempat berlari dan bersembunyi dalam kerumunan orang di luar. Untung mereka cukup cepat dalam bergerak, meskipun sudah berada cukup jauh, tapi kepala Ding Tao yang menyembul di antara kepala-kepala yang lain masih sempat terlihat. Kedua iblis itu pun segera mengemposkan semangat dan bergerak mengejar. Ding Tao yang sempat menoleh, melihat sepasang Iblis itu bergerak ke arahnya dengan kecepatan yang tinggi. Sambil berlari, matanya tak henti-hentinya melihat berkeliling, setiap ada simpangan atau keramaian Ding Tao akan bergerak ke arah tersebut. Ding Tao yang masih belum paham betul jalan-jalan di kota ini, bergerak tanpa memilih tujuan. Semakin ramai dan semakin tajam dan rumit simpangan-simpangan yang ada, semakin baik, itu saja yang ada dalam pikirannya. Beruntung jarak antara Ding Tao dan sepasang iblis itu cukup jauh, memanfaatkan kekagetan sepasang iblis itu sebelumnya. Tapi sayang, ilmu meringankan diri Ding Tao masih dua usap di bawah sepasang Iblis itu. Beberapa kali Ding Tao sempat lenyap dari pandangan mereka, memanfaatkan jalan sempit dan tikungan-tikungan yang ada. Sayangnya Ding Tao tidak tahu, bagian mana dari kota yang akan menguntungkan dirinya untuk menghilangkan jejak. Beberapa kali pula dia salah memilih tikungan dan sampai di jalan utama yang lebar dan lurus, membuat dia lebih mudah diikuti. Sementara jarak di antara mereka, sedikit demi sedikit semakin mengecil. Pemuda yang banyak akal itu pun memutar otaknya keras. Satu tipuan yang cerdik sempat dia lakukan, ketika sampai di sebuah perempatan yang cukup ramai. Ding Tao berlari cepat berbelok ke simpangan ke arah kanan, kemudian setelah tikungan itu menutupi dirinya dari pandangan mata sepasang iblis itu, dia merendahkan tubuhnya dan berlari secepat-cepatnya menuju ke simpangan yang berlawanan arah. Nekat memang, tapi kenekatannya membuahkan hasil, meskipun jantungnya sempat hampir melompat keluar saat mereka berpapasan. Untung sepasang iblis itu tidak melihat dirinya yang sedang berlari sambil merunduk-runduk di balik gerobak penjual mie yang sedang berjualan. Jarak di antara mereka pun mulai membesar, karena mereka berlari ke arah yang berlawanan. Sayang nasib Ding Tao kurang begitu baik, saat menoleh untuk melihat posisi sepasang Iblis itu, Ding Tao menabrak orang dengan tidak sengaja.
"He keparat! Kau taruh di mana matamu!?", maki orang itu dengan kesal. Ding Tao yang sedang terburu-buru tidak ingin terjebak dengan hal yang tidak perlu, cepat-cepat meminta maaf sambil terus berlari. Tapi orang yang ditabraknya tidak dengan mudah memberi maaf, berbagai maki-makian dilemparkan ke arah Ding Tao dengan suara keras, menarik perhatian sepasang iblis untuk menengok ke belakang. Kejar-kejaran itu pun kembali berlangsung dengan sengitnya. Nafas Ding Tao sudah mulai memburu, seluruh tubuhnya basah oleh keringat, pemuda itu hampir putus asa dan berniat untuk membalik badan lalu menerjang. Meskipun dia tahu bahwa dia belum mampu menang melawan sepasang iblis itu. Dalam keadaan yang hampir putus asa itu tiba-tiba, sebuah kereta menghadang jalan Ding Tao. Ding Tao yang sedang berlari kencang hampir saja menabrak kereta itu. Baru saja pemuda itu hendak berbalik arah, pintu kerete terbuka dan satu suara yang halus dan lembut memanggilnya.
"Sstt... cepat masuk ke mari."
Tertegun Ding Tao, membeku di tempat, matanya memandang dengan rasa tidak percaya.
Di dalam kereta ada dua orang gadis berpakaian sutra halus yang mewah.
Yang seorang bajunya berwarna merah, mengenakan jubah sutra dengan sulaman warna-warni yang mengingatkan pada warna daun di musim gugur, diikat dengan ikat pinggang dari kain sutra berwarna merah menyala.
Matanya yang lincah berkilat nakal, bibirnya tipis dengan senyum setengah mengejek tersungging di sana.
Gadis yang seorang lagi mengenakan jubah sutra berwarna putih, baju dan ikat pinggangnya juga berwarna putih, di tangannya ada kipas gading yang dibuka, menutupi sebagian wajahnya, hingga yang terlihat hanyalah sepasang matanya yang jeli, dihiasi sepasang alis dan bulu mata yang lentik.
Tidak sabar menunggu Ding Tao, gadis berjubah musim gugur, menjulurkan tangannya dan menarik Ding Tao ke dalam kereta.
Tenaga gadis itu jauh di bawah Ding Tao, tapi masih tertegun dengan kejadian yang mengejutkan itu, terlena oleh kecantikan kedua gadis itu dan merasa tidak ada jalan lain untuk lepas dari pengejaran sepasang Iblis muka giok, Ding Tao mandah saja saat ditarik masuk ke dalam kereta.
Begitu Ding Tao masuk, dengan cepat pintu kereta ditutup, dari balik tirai Ding Tao masih sempat melihat sepasang iblis itu muncul dari sebuah tikungan.
Kereta tidak dipacu untuk berjalan cepat, kereta itu berjalan saja dengan wajar seperti dua-tiga kereta lain yang kebetulan ada di jalan.
Sepasang iblis itu belum sadar bahwa hilangnya Ding Tao dari jalan adalah karena pemuda itu mendapatkan tumpangan kereta.
Disangkanya Ding Tao menghilang lagi di salah satu tikungan yang ada di jalan itu.
Ketika mereka memeriksa tiap-tiap tikungan yang ada, dengan lenggang kangkung, kereta itu pergi meninggalkan kota.
Yang pertama dirasakan Ding Tao saat masuk ke dalam kereta adalah bau harum dan segar yang memenuhi kereta itu.
Mencium bau itu, Ding Tao jadi teringat dengan dirinya yang berkeringat dan berbau apek setelah berlarian menyusuri jalan.
Dengan wajah bersemu, pemuda itu mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih atas pertolongan nona-nona sekalian."
"Tidak perlu sungkan, kami kenal dua orang yang sedang mengejarmu. Sepasang iblis yang kejam. Siapa pun yang dikejar mereka, sudah tentu orang yang patut ditolong.", jawab gadis berbaju putih, suaranya lembut selembut kelopak bunga peoni.
"Sudah ditolong kenapa tidak cepat-cepat memperkenalkan nama dan apa urusannya hingga dirimu dikejar sepasang iblis itu?", dengan lirikan nakal, gadis berjubah musim gugur mencela. Ding Tao memang paling gampang dipermainkan dan digoda, dia bukan pemuda yang lincah dengan kata-kata. Mukanya yang sudah merona merah, makin terasa panas karena malu.
"Ya, ya, maafkan aku lupa memperkenalkan diri, namaku Ding Tao. Dua orang itu mengejarku karena mereka menginginkan sesuatu dariku."
"Oh, namamu Ding Tao, tapi kenapa berputar-putar menjelaskan. Kalau mereka mengejarmu, sudah tentu karena menginginkan sesuatu darimu. Tapi apa yang mereka inginkan darimu? Apakah kepalamu, atau peta harta karun atau mungkin kau menyimpan kitab rahasia. Yang pasti jangan bilang, kalau iblis betina menginginkan cintamu dan iblis jantan yang cemburu menginginkan nyawamu, meskipun wajahmu lumayan menarik untuk dilihat tapi sepasang iblis itu biarpun berwatak iblis, tapi cukup mengenal arti kata setia.", cerocos gadis berjubah musim gugur.
"Itu.. itu..., tak dapat dengan bebas kukatakan. Masalahnya cukup pelik dan menyangkut masalah yang berbahaya. Lebih baik jika nona-nona tidak tahu apa-apa mengenainya", jawab Ding Tao dengan terbata-bata.
"Astaga..., cici dengar itu? Sudah ditolong tidak tahu pula berterima kasih, beraninya dia menaruh curiga pada kita.", omel gadis berjubah musim gugur.
"Bukan begitu maksudku...", ujar Ding Tao dengan memelas, sungguh dia tidak habis pikir bagaimana harus menjawab. Pemuda yang baru saja berhasil menipu dan mengadu domba, jagoan-jagoan yang sudah kenyang makan asam garamnya dunia persilatan, sekarang mati kutu di hadapan seorang gadis muda. Memang terkadang berurusan dengan pedang lebih mudah daripada menghadapi lidah tajam seorang gadis yang cantik nan menawan. Gadis berbaju putih, melepit pula kipasnya, kemudian mengetuk tangan gadis berjubah musim gugur menggunakan kipas itu sambil menegur.
"Cobalah kau diam, orang tidak mau kau tahu urusan, mengapa kau harus usil?"
Kipas dilepit, wajah yang tadi tertutup sekarang jadi terlihat, Huang Ying Ying adalah seorang gadis yang cantik, gadis berjubah musim gugur itu pun seorang gadis yang cantik.
Tapi gadis berbaju putih ini, jauh lebih cantik, kecantikannya begitu anggun dan mempesona.
Ekspresinya anggun dan tenang, memancarkan kedamaian, memandang gadis itu Ding Tao jadi teringat kisah-kisah tentang Chang"e, dewi bulan.
Melihat mata Ding Tao yang terpesona memandangi kakak perempuannya, jelas saja si gadis berjubah musim gugur tidak tinggal diam.
"O la la, cici coba lihat, matanya tidak berkedip memandangmu. Aku tahu memang aku tidak secantik dirimu, tapi baru kali ini kulihat seorang pemuda dengan terang-terangan tidak mengacuhkan diriku."
Mulut Ding Tao pun menganga hendak menjawab, tapi tak bisa juga hendak menjawab apa. Melihat wajah pemuda itu sekarang ini sungguh-sungguh memelaskan hati.
"Wah, mengapa kau membuka mulutmu seperti itu? Apakah sedang menanti aku menghadiahimu manisan?", buru gadis berjubah musim gugur. Dengan muka yang sudah merah padam Ding Tao cepat-cepat mengatupkan mulutnya. Dengan menundukkan kepala dia berusaha meminta maaf.
"Maaf, maaf, sikapku kurang sopan. Terima kasih banyak atas pertolongan nona-nona sekalian, tapi keadaan sudah aman, mungkin sebaiknya aku turun di sini saja."
"Tidak perlu", kata gadis berbaju putih dengan lembut, tangannya bergerak menahan tubuh Ding Tao yang sudah beringsut hendak melompat keluar dari kereta. Baru memandang saja Ding Tao sudah terpesona, saat tangan gadis itu menyentuh pundaknya dengan lembut, bau harum bunga menyebar keluar dari arah gadis itu, jari-jari yang lentik terasa menyentuh ringan pundaknya. Jantung Ding Tao jadi berdebaran, ingatannya berkelebat pada Huang Ying Ying yang menantinya di Wuling, hatinya merasa bersalah dan malu. Inginnya dia segera melompat keluar dan melupakan kejadian hari itu. Tapi jari yang lentik itu seperti memilki mantra yang membuat Ding Tao diam menurut dan tidak bisa melompat pergi.
"Jangan pergi dulu, tidak usah kau dengarkan perkataan adikku, dia memang nakal. Sebaiknya kau ikut sampai kediaman kami di luar kota, di sana lebih aman dan jauh dari sepasang iblis itu."
Ah, betapa lemah hati seorang pahlawan, ketika berhadapan dengan gadis cantik.
Meskipun wanita sering menginginkan lelaki yang halus perasaannya, tapi Lelaki yang tidak berperasaan mungkin lebih setia daripada lelaki yang terlalu halus perasaannya.
Tak tega menolak, Ding Tao mengangguk diam.
Gadis berjubah musim gugur, tidak berani mengeluarkan kata-kata, tapi dia masih berani meleletkan lidahnya dan mengerling menggoda, saat kakak perempuannya tidak melihat.
Perjalanan dilalui dengan diam, sejak teringat dengan Huang Ying Ying, Ding Tao tidak lagi berani menengadahkan kepalanya.
Pemuda itu takut terpikat lebih jauh lagi dengan gadis berbaju putih, lebih takut lagi digoda oleh gadis berjubah musim gugur.
Sebenarnya ada rasa penasaran, ingin tahu lebih jauh siapakah kedua gadis itu.
Keduanya tidak mengenalkan nama, meskipun Ding Tao sudah mengenalkan namanya.
Ding Tao tidak berani bertanya, kalau bertanya, cari mati namanya, lidah tajam gadis berjubah musim gugur tentu sudah siap dengan godaan yang lain.
Masih bagus sekarang dia tidak berani menggoda Ding Tao setelah ditegur oleh kakak perempuannya.
Tapi apakah mereka benar saudara sekandung?
Atau ada hubungan keluarga yang berbeda?
Gadis berjubah musim gugur itu memang cantik, tapi gadis berbaju putih itu terlampau jauh lebih cantik.
Meskipun sama-sama cantik tapi keduanya tidaklah mirip.
Mungkin saudara satu ayah lain ibu, atau saudara sepupu dan banyak atau lainnya.
Sementara Ding Tao sedang mereka-reka, mulutnya terkunci rapat.
Gadis berbaju putih tidak menanyakan apa-apa padanya, yang berjubah musim gugur pun sekarang lebih sibuk melihat-lihat keluar daripada berbicara.
Waktu dilalui dengan diam, kereta bergerak dengan malasnya menuju keluar kota, melintasi sungai kecil dan sebuah desa yang cukup ramai.
Kereta baru berhenti saat tib di pinggir sebuah mata air yang jernih, airnya mengalir jauh dan berhenti di sebuah danau kecil.
Di pantai danau kecil itu ada sebuah bangunan besar dengan bentuk yang sederhana, dikelilingi taman bunga dan berbagai macam tanaman obat-obatan.
Di depan bangunan itulah kereta berhenti, gadis berjubah musim gugur membuka pintu kereta lalu melompat keluar.
"Ah akhirnya kita sampai juga cici. Lihat, bunga peoni yang kau tanam sudah mekar dengan indahnya."
"Bibi, bibi, kami sudah sampai.", kicau gadis itu, berlari sambil melambaikan tangan, meninggalkan Ding Tao dan gadis berbaju putih sendirian dalam kereta. Sejenak mereka berpandangan, saat pandang mata mereka bertemu, jantung Ding Tao berdebaran. Sadar bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan, cepat-cepat Ding Tao turun dari kereta. Sambil menunggu gadis berbaju putih turun dari kereta, Ding Tao berjalan lambat sambil melihat ke sekelilingnya. Sebagai bekas tukang kebun di kediaman Tuan besar Huang Jin, Ding Tao adalah seorang yang mencintai keindahan, perasaannya yang halus dan peka terhadap segala sesuatu yang cantik. Dengan cepat perhatiannya ditarik oleh keindahan taman yang ada di sekelilingnya. Tidak jemu-jemunya dia memandangi pohon dan bunga-bungaan, yang ditata apik dan rapi. Ketika dilihatnya sesuatu yang kurang pas menurut perasaannya, tanpa sadar dia bergumam.
"Ah, bunga itu seharusnya dipindahkan, sedikit digeser mundur, sementara jalan setapak dibuat sedikit berkelok. Lalu bukit kecil yang di bagian sana, tentu lebih indah lagi kalau tanah di depannya sedikit direndahkan."
Tidak sadar bahwa gadis berbaju putih sudah ada di sampingnya dan sedang mendengarkan dengan seksama.
"Menurut Saudara Ding, itu akan membuat taman ini jadi lebih indah?", tegurnya bertanya. Tersadar dari lamunannya Ding Tao menengok ke samping dan meminta maaf.
"Ah, tidak juga, tidak juga, cuma sempat lewat dalam benak saya. Tapi taman ini sungguh sangat indah, saya sendiri belum tentu mampu menata yang seperti ini."
Terdiam Ding Tao tidak tahu harus berkata apa, gadis berbaju putih mengitarkan pandangannya ke sekeliling taman. Merenung. Ding Tao-lah yang akhirnya memecahkan kebisuan itu.
"Nona, kukira sudah saatnya aku berpamitan. Budi baik nona akan selalu kuingat, bila nona tidak keberatan, bolehkah aku tahu siapa nama nona?"
"Namaku?", gadis itu menoleh dan bertanya balik. Matanya yang bulat jeli, seakan bertanya, apa ada maksud lain dibalik pertanyaanmu? "Ya, nama nona, itu jika nona tidak berkeberatan. Rasanya aneh jika saya sampai tidak tahu nama penolong saya sendiri.", jawab Ding Tao cepat-cepat menjelaskan. Gadis berbaju putih itu tersenyum dan jika saat diam dia sudah nampak cantik dan anggun, saat tersenyum, senyumnya membawa rasa hangat di dadamu. Senyum yang seakan berkata, aku tahu dirimu dan apa yang kulihat dalam dirimu, aku menyukainya.
"Namaku Murong Yun Hua dan Saudara Ding kuharap kau mau menginap di kediaman kami beberapa hari lamanya. Sudah lama tidak ada tamu yang berkunjung. Melihat orang yang sama setiap hari, meski kau sangat menyukai orang itu, lama-lama timbul juga rasa sebal dalam hati. Sesekali bertemu orang yang berbeda, seperti membuka jendela di pagi hari dan merasakan angin yang sejuk menerpa wajahmu."
"Tapi, apakah tidak merepotkan?", jawab Ding Tao dengan sedikit segan. Ding Tao punya banyak alasan untuk merasa segan, pertama dia bukan sedang dalam perjalanan tamasya, ada tugas yang dia sandang di pundaknya. Lalu hawa murni Tinju 7 Luka yang masih mengeram dalam tubuhnya, sehari hawa murni itu masih mengeram di sana, sehari pula dia tidur dengan rasa was-was. Pertarungannya dengan Sepasang Iblis Muka Giok, membuktikan bahwa kekhawatirannya punya alasan yang kuat. Dan satu alasan lagi, Murong Yun Hua terlalu cantik, jika dia berlama-lama dekat gadis itu, Ding Tao khawatir hatinya akan berubah. Jika itu terjadi, lalu bagaimana dengan Huang Ying Ying yang menanti dirinya dengan setia? "Apakah kau keberatan? Apakah tingkah nakal adikku sudah mengesalkanmu?", tanya Murong Yun Hua dengan wajah sedih.
"Jangan salah paham Nona Murong, bukan begitu, adik nona memang nakal, tapi aku tahu hatinya baik. Tidak nanti aku memendam rasa kesal padanya.", jawab Ding Tao dengan rasa bersalah. Sambil memalingkan wajah gadis itu menyambung dengan sendu.
"Ya, kutahu, tentu bukan karena adikku sifatku memang buruk, sering adikku bilang, aku terlalu pendiam dan membosankan. Saudara Ding, maafkan aku sudah berusaha menahanmu di sini, padahal kau tentu ada keperluan yang lebih penting di tempat lain."
Caranya mengatakan keperluan yang lebih penting seakan mengatakan, tentu ada orang lain yang sudah menarik hatimu di tempat lain.
Apalah artinya diriku ini?
Lalu bukankah tidak salah juga kalau dikatakan demikian, bukankah ada Huang Ying Ying di Wuling?
Murong Yun Hua sudah tidak menahan dirinya untuk menginap, lalu mengapa Ding Tao tidak juga pergi?
Jika Ding Tao laki-laki yang tidak berperasaan, sudah tentu dia akan pergi.
Jika Ding Tao laki-laki yang tidak mengenal arti kesetiaan, sudah tentu sejak tadi undangan untuk menginap diterimanya.
Ding Tao punya perasaan, bahkan perasaannya peka dan halus.
Ding Tao juga tahu arti kata setia.
Jadi apa yang hendak dia lakukan?
Apakah dia akan menerima undangan Murong Yun Hua atau tidak?
Mungkin itu sebabnya banyak lelaki lebih memilih untuk jadi tidak berperasaan atau tidak setia.
Memilih keduanya mengundang rasa tersiksa dalam hati.
Tapi saat ini yang ada di hadapan Ding Tao adalah Murong Yun Hua dengan wajah yang sendu, senyumnya yang tadi membuat dunia tampak ikut bersinar.
Sekarang senyumnya terlihat seperti bunga indah yang kesepian sendirian, sementara awan kelabu bergayut di atasnya.
"Nona Murong, jangan berkata bodoh, hanya orang yang buta dan tuli yang akan mengatakan nona membosankan. Nona begitu cantik, hanya memandangi nona pun orang akan merasa bahagia, suara nona begitu lembut dan halus, mendengarnya seperti mendengar nyanyian merdu bidadari.", ujar Ding Tao berusaha menghibur hati gadis itu.
"Wah wah wah, lihat di sini, ada seorang tukang rayu ulung rupanya.", tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara nakal menggoda. Tidak perlu menoleh, Ding Tao sudah tahu siapa yang ada di belakangnya, siapa lagi jika bukan gadis berjubah musim gugur itu. Merona merah wajah pemuda itu, dalam hati dia memaki mulutnya, mengapa bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu.
"Bukan, bukan, bukan maksudku merayu.", ujarnya dengan susah hati.
"Bukan, bukan, bukan, bukankah tidak salah perkataanku, baru kutinggal berdua beberapa lama, kau sudah mencoba merayu ciciku.", tiru gadis nakal itu dengan memutar mata. Melihat wajah Ding Tao yang memelas, pecahlah tawa Murong Yun Hua yang pipinya merona merah kena goda adiknya.
"Saudara Ding, sudahlah jangan terlalu dipikirkan, adikku ini memang suka menggoda. Sudahlah, bagaimana dengan tawaranku tadi?"
"Ya, benar, jangan cuma merayu saja. Kau bilang tidak bermaksud merayu, kalau benar, buktikan, jangan tolak tawaran cici, apakah kau sengaja membuat malu dirinya?", desak gadis berjubah musim gugur.
"Baiklah, baik, tapi aku tidak bisa berlama-lama, sebenarnya ada urusan penting yang harus dikerjakan.", jawab Ding Tao menyerah.
"Hmmm... aku sedang berpikir, untuk menata taman kami seperti idemu tadi, bagaimana kalau Saudara Ding, tinggal di sini, sampai perubahan itu selesai dikerjakan? Paling satu atau dua hari sudah selesai. Apa urusanmu itu, kira-kira bisa ditunda barang 2 hari?", tanya Murong Yun Hua dengan wajah yang cerah. Melihat wajah gadis itu yang begitu cerah, mana tega Ding Tao untuk menawar apalagi menolak.
"Dua hari, ya dua hari tidak masalah, baiklah aku akan merepotkan nona sekalian selama dua hari ini.", jawab Ding Tao dengan pasrah.
"Nah, bagus kalau begitu, ayo sekarang kita ke ruang latihan, kau dikejar-kejar sepasang iblis itu tentu kau termasuk orang persilatan juga. Aku sudah lama tidak berlatih tanding dengan siapapun.", gadis berjubah musim gugur dengan senang menggandeng tangan Ding Tao dan menyeretnya pergi.
"Eh, bagaimana dengan cicimu?", tanya Ding Tao sambil menoleh ke arah Murong Yun Hua.
"Kenapa memang dengan ciciku? Tuh dia di situ, jangan seperti anak kecil ditinggal ibunya, apa kau takut berdua denganku? Memangnya kaupikir aku mau menggigitmu?", jawab gadis nakal itu dalam rentetan kata-kata. Murong Yun Hua berlari kecil menyusul mereka.
"Eh, jangan ditinggal, aku juga mau lihat kalian berlatih."
Sambil tertawa geli dia menambahkan.
"Saudara Ding, sebaiknya kau ikuti saja kemauannya. Sudah lama dia mengeluh karena tidak ada yang bisa diajak bertanding."
Sambil menggaruk kepala Ding Tao hanya bisa mengangguk, mengiyakan, sambil menyengir kuda.
Gadis berjubah musim gugur itu sudah melepas jubahnya.
Saat ini dia mengenakan pakaian ringkas yang cocok untuk berlatih silat.
Di tangannya dia membawa dua bilah pedang.
Tanpa jubah, gadis ini terlihat semakin menarik, mungkin dia kalah cantik dengan Murong Yun Hua, tapi tubuhnya justru lebih padat berisi dengan lekuk-lekuk yang indah di tempat yang tepat.
Kalau kecantikan Murong Yun Hua seperti embun pagi yang sejuk, kecantikan gadis berjubah musim gugur ini, lebih mirip arak yang memabokkan.
Apalagi jika ditambah dengan sifatnya yang nakal dan suka menggoda orang.
Tanpa jubah musim gugurnya, rasanya aneh jika kita masih memanggil dia gadis berjubah musim gugur, beruntung Murong Yun Hua dengan cepat memperkenalkan nama gadis itu pada Ding Tao "Oh ya, nama anak nakal ini, Murong Huolin, lidahnya tajam tapi hatinya baik.
Kau tidak perlu risaukan perkataannya."
Keceriaan Murong Huolin menular juga pada Murong Yun Hua, Ding Tao jadi tidak menyesal sudah menerima tawarannya.
Hatinya ikut senang melihat wajah yang cantik itu nampak berseri.
Dalam waktu yang singkat mereka sudah sampai di sebuah ruangan yang cukup luas.
Rak-rak senjata ada di ke-empat sisinya.
Macam-macam senjata ada di sana.
"Kulihat kau membawa-bawa pedang, jadi kau pilih saja salah satu pedang kayu yang ada di sana. Aku sudah terbiasa memakai sepasang pedang. Kalau sudah siap kita langsung saja. Tidak usah banyak basa-basi, ya.", Murong Huolin mendorong Ding Tao ke arah salah satu rak senjata yang berisi bermacam jenis pedang kayu dengan macam-macam ukuran dan bentuk. Ding Tao melihat-lihat, kemudian memilih satu pedang kayu yang mirip sekali dengan Pedang Angin Berbisik. Ditimang-timangnya pedang itu di tangan, kekaguman muncul di hatinya, tidak salah lagi, pembuat pedang kayu ini, tidak kalah ahlinya dengan pembuat Pedang Angin Berbisik. Diamat-amatinya pedang itu dengan lebih teliti, diangkatnya mata pedang setinggi mata dan ditelusurinya mata pedang yang diraut dengan halusnya. Ditimang-timangnya dalam genggaman, merasakan keseimbangan antara mata pedang dan pegangannya. Kemudian diayunkannya pedang itu dan dimainkannya beberapa jurus. Dalam hati jadi timbul rasa sayang untuk menggunakan pedang itu dalam latihan. Sementara itu Murong Huolin sudah menanti dengan tidak sabar, kakinya mengetuk-ngetuk lantai yang terbuat dari papan-papan kayu yang sudah diserut halus.
"Ayo cepat! Mau tunggu sampai aku beruban?", omel gadis itu memecahkan lamunan Ding Tao. Sambil menyengir Ding Tao buru-buru berjalan ke tengah arena dan bersiap untuk melayani Murong Huolin yang sudah bersiap, mengambil kuda-kuda dengan dua pedang siap di tangan. Yang sebilah teracung ke atas, yang sebilah lagi melintang di depan dada. Melihat kuda-kuda gadis itu Ding Tao jadi tertarik, dia ingin melihat serangan seperti apa yang akan dilontarkan gadis itu.
"Nona Huolin, silahkan kau duluan yang memulai.", ujarnya sopan.
"Hmph! Baiklah, awas serangan!"
Begitu menyerang, lenyap sudah kilatan nakal di mata gadis itu, serangannya cepat dan telengas.
Bilah pedang yang teracung ke atas dengan cepat menyambar ke arah ubun-ubun Ding Tao.
Menyurut mundur Ding Tao ke belakang.
Murong Huolin pun dengan cepatnya maju ke depan, bilah pedang yang melintang di dada, sudah menyambar pula ke arah Ding Tao, menabas cepat, dalam gerakan yang akan memotong tubuhnya menjadi dua.
Sekali lagi Ding Tao menyurut mundur, tapi bilah pedang yang lain ternyata sudah siap untuk menyerang ubun-ubunnya sekali lagi.
Dalam sekejapan sudah 10 kali gadis itu menyerang dan 10 kali pula Ding Tao menyurut mundur ke belakang.
Dengan cepat pemuda itu sudah hampir keluar dari arena pertandingan.
Sebenarnya Ding Tao sedang menanti serangan yang berikutnya, tapi tiba-tiba Murong Huolin, berhenti menyerang an membanting kaki.
"Mundur dan mundur terus! Apa kau sebangsa undur-undur?"
Melengong Ding Tao melihat gadis itu marah-marah, tapi segera saja rasa bingungnya berubah menjadi geli.
"Sabar dulu Nona Huolin, aku baru saja mau mencoba ganti menyerangmu pada serangan berikutnya."
Alis Murong Huolin terangkat, wajahnya menunjukkan eskpresi tidak mau percaya.
"Hmm... apa benar? Jangan-jangan ilmu andalanmu hanya jurus langkah seribu saja."
"Tidak-tidak, aku tadi baru mengamati serangan nona yang gencar. Tapi berikutnya tentu nona akan lihat kalau aku ada jalan keluar.", jawab Ding Tao dengan sabar, sedikit demi sedikit dia sudah mulai terbiasa dengan tingkah Murong Huolin yang sedikit mirip Huang Ying Ying, meskipun Huang Ying Ying tidaklah setajam gadis ini.
"Baiklah, ayo kita ulangi lagi. Aneh-aneh saja, berkelahi kok seperi undur-undur.", gerutu gadis itu sambil melangkah kembali ke tengah ruangan.
"Saudara Ding, jangan sungkan-sungkan, kau beri saja adikku itu sedikit hajaran.", teriak Murong Yun Hua dari pinggir arena sambil tertawa geli. Murong Huolin membalas dengan meleletkan lidahnya.
"Tak usah yaa... Ding yang satu ini cuma kencang bunyinya, belum ada buktinya."
Dengan nakal gadis itu memelesetkan nama marga Ding Tao dengan kata berbunyi sama, Ding, tapi ding yang artinya suara gemerincing seperti bel.
Tapi Ding Tao tidak menjadi marah, justru ikut tertawa geli, meskipun dia yang dijadikan bahan lelucon.
Sikap Ding Tao ini membuat Murong Huolin senang, dengan gaya yang tidak merendahkan dia bersiap kembali.
"Ayo, kita mulai lagi."
"Baik"
"Awas serangan!"
Sekali lagi jurus serangan yang sama digunakan oleh Murong Huolin, sepasang pedang menyerang bergantian tanpa jeda, setiap kali satu serangan selesai, bilah pedang yang lain sudah sampai di posisi awal dan ganti menyerang.
Sekali lagi Ding Tao mundur ke belakang dan ke belakang tapi pada serangan yang ketiga, Ding Tao berkelit, bergerak memutar dan posisinya tiba di belakang Murong Huolin dan dengan ringan pedang kayu di tangannya menepuk pundak gadis itu.
"Kena kau Adik Huolin.", sambil tertawa Murong Yun Hua meneriaki adiknya yang masih berdiri tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Eh, bagaimana bisa begitu mudah?", seru gadis nakal itu. Dengan sebelah tangan di pinggang dia berbalik menghadapi Ding Tao.
"Eh Kakak Ding, kenapa bisa begitu mudah? Kulihat gerakanmu tidak begitu cepat. Seranganku juga kuyakin tidaklah lambat, jurus ini sudah kulatih selama beberapa bulan, kupikir sudah cukup sempurna. Ternyata..."
Melihat wajah sedih Murong Huolin, Ding Tao jadi kasihan.
"Nona Huolin, jurusmu sebenarnya cukup hebat, tidak mudah untuk lolos dari jurus itu. Serangan dari atas, jika ditangkis akan membuka lubang di bagian tubuh, dan serangan yang mendatar akan memanfaatkan lubang itu. Demikian juga serangan yang mendatar jika ditangkis, maka pedang akan tertahan dan lubang pertahanan dari atas akan terbuka."
"Begitu juga jika lawan bergerak menghindar, serangan dari atas, jika dikelit ke samping tentu serangan yang mendatar akan segera menyusul, menutup jalan mundur lawan. Jika dikelit mundur, maka sambil memburu maju serangan yang mendatar akan mendesak lawan, sementara pedang yang satu kembali mengambil posisi untuk menyerang dari atas. Dengan bergantian begini, asalkan dalam hal kecepatan bisa dipertahankan, meskipun belum bisa memenangkan lawan tapi bisa mendesak mundur lawan."
"Eh kau ini memuji saja, lalu kalau memang begitu bagus, kenapa begitu mudah dikelit?", tanya Murong Huolin sambil cemberut.
"Masalahnya nona kurang pandai dalam mengatur irama serangan. Kecepatan gerakan nona dari awal hingga akhir tetap sama. Setelah menghadapi serangan yang sama beberapa kali segera saja iramanya ketahuan. Maka dengan mudah saya menyesuaikan diri dengan irama serangan nona dan mengambil kesempatan untuk berkelit di saat jeda antara dua serangan.", jawab Ding Tao dengan sabar menjelaskan.
"Ah, itu berarti aku masih kurang cepat? Tapi tanganku sudah sampai pegal berlatih supaya bisa melancarkan serangan itu secepat mungkin.", keluh Murong Huolin.
"Tidak juga, seharusnya nona mengubah-ubah kecepatan serangan nona, sehingga lawan susah menangkap iramanya. Secepat apapun, pasti akan ada jedanya antara serangan yang satu dengan serangan yang selanjutnya. Tapi bila antara serangan ada serangan tipuan dan serangan sungguhan, maka lawan jadi lebih sulit menebak.", ujar Ding Tao coba menerangkan.
"Hmm.. aku mengerti, serangan bisa saja dengan sengaja dibuat lambat, jika lawan terpancing baru bergerak cepat. Lawan yang tidak menduga aku bisa menyerang secepat itu akan terkena serangan."
"Ya, bisa juga seperti itu, tapi bisa juga cepat-lambat-lambat dan cepat, dengan irama yang sedikit tidak beraturan, lawan pun akan kesulitan untuk mengikuti. Bayangkan jika serangan nona berubah dari cepat ke lambat, lawan mungkin sudah bergeser padahal serangan nona masih belum sepenuhnya dikembangkan. Nona bisa dengan mudah mengganti arah serangan dan lawan yang terlanjur bergerak justru masuk dalam perangkap.", sambil menjelaskan Ding Tao memperagakan jurus yang sama dengan irama yang berubah-ubah, sesuai dengan penjelasan yang dia berikan. Mendengar penjelasan Ding Tao, sambil melihat cara pemuda itu memainkan jurus yang sederhana namun keras itu, Murong Huolin jadi makin paham akan penerapan jurus itu dalam pertarungan. Gadis itu pun bertepuk tangan sambil melompat kegirangan.
"Wah hebat-hebat. Ding Tao ternyata kau seorang ahli pedang.", pujinya dengan wajah ceria. Sambil tersipu malu Ding Tao menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak juga, mungkin hanya sedikit lebih menang pengalaman dari Nona Huolin."
"Hmmm... tidak perlu berpura-pura malu begitu, kau pintar main siasat, jangan-jangan lidahmu pun pandai berputar, memuji dan menyanjung orang, padahal ada maunya.", goda Murong Huolin sambil melirik penuh arti ke arah Murong Yun Hua yang berjalan mendekat.
"Ah, tidak-tidak, mana berani saya berpikir yang tidak-tidak.", jawab Ding Tao sambil menggelengkan kepala. Murong Yun Hua yang ikut mendengar ucapan Murong Huolin ikut tersipu malu, sambil mencubit adiknya itu dia mengomel.
"Ih, anak nakal, harusnya kau berterima kasih bukannya malah menggoda."
"Aduh, aduh, cici, kalau godaanku benar apakah cici tidak merasa senang?", ujar Murong Huolin sambil berkelit lari dari cubitan cicinya, bersembunyi di belakang Ding Tao yang wajahnya merah padam.
"Eh anak nakal, apa maksudmu?", tanya Murong Yun Hua dengan alis terangkat dan wajah tersipu malu. Dikejarnya Murong Huolin yang bersembunyi di belakang Ding Tao, tapi Huolin yang lebih gesit dengan cepat bergerak memutar, menjadikan Ding Tao sebagai perisai di antara dirinya dan Murong Yun Hua. Ding Tao yang dikelilingi dua gadis cantik, mati kutu tidak berani bergerak sedikit pun. Setelah beberapa kali berputaran, akhirnya Murong Huolin berlari pergi meninggalkan ruangan, tertawa geli, sambil berteriak minta ampun pada cicinya. Murong Yun Hua hanya bisa memandangi saja dengan nafas yang sedikit tersengal. Saat dia menoleh ke arah Ding Tao, wajahnya pun tersipu malu.
"Saudara Ding, kau jangan dengarkan perkataan gadis nakal itu."
Ding Tao hanya bisa menyengir kuda sambil mengangguk, dalam hati ada juga terselip rasa senang.
Kepalanya masih berdenyut karena tadi darahnya ikut juga berputaran dengan kencang, saat dia dikelilingi kedua gadis cantik itu.
Bau harum tubuh mereka masih tersisa di rongga hidungnya, juga singgungan-singgungan kecil dengan tubuh keduanya masih terasa hangatnya.
"Hari sudah siang, bibi tentu sudah menyiapkan makan siang, mari ikut aku ke ruang makan.", ajak Murong Yun Hua sambil tersenyum manis. Sambil berjalan ke arah bangunan utama, menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok membelah taman, mereka berdua bercakap-cakap. Sedikit banyak Ding Tao mulai mengenal keadaan tuan rumahnya. Dari keluarga Murong ini, hanya tinggal kedua gadis itu yang masih hidup. Kedua orangtua mereka sudah meninggal saat mereka masih remaja. Tapi mereka tidak tinggal sendirian, masih ada belasan pengikut setia yang ikut menjaga dan memelihara rumah itu. Harta yang diwariskan sendiri masih cukup untuk beberapa turunan. Sementara untuk kebutuhan hidup sehari-hari, mengandalkan dari kebun dan sawah yang mereka miliki. Dengan menjaga pengeluaran sehari-harinya, dapatlah keluarga ini bertahan hidup tanpa banyak menggunakan harta peninggalan orang tua Murong Yun Hua dan Murong Huolin. Pengurus lama yang setia banyak berperan dalam hal ini. Murong Yun Hua dan Murong Huolin bukanlah saudara kandung, mereka adalah saudara sepupu. Bagaimana meninggalnya kedua orang tua mereka, gadis itu tidak mau menjelaskan. Ding Tao pun tidak tega untuk bertanya lebih lanjut. Makan siang berjalan dengan baik, masakan yang dihidangkan bukan masakan yang mewah, namun itu justru mencocoki selera Ding Tao. Karena sikap tuan rumah yang ramah, obrolan mereka berjalan seperti tak ada habisnya. Tanpa terasa Ding Tao pun bercerita tentang keadaannya yang sedang terluka dalam. Perihal Pedang Angin Berbisik masih disimpannya erat-erat, bukan karena mencurigai tuan rumah, melainkan karena khawatir hal itu akan membuat keluarga yang terlihat hidup damai ini jadi tersangkut paut dengan urusan berdarah. Memikirkan hal itu Ding Tao merasa resah karena sudah setuju untuk tinggal selama beberapa hari di rumah Murong. Ada rasa khawatir bahwa jejaknya akan tercium hingga kemari, menyebabkan masalah datang ke dalam keluarga ini. Tergerak oleh kebaikan tuan rumah, dalam hati pemuda itu berjanji, jika sampai hal itu terjadi, dia akan bertarung sampai darah penghabisan. Malam itu saat Ding Tao sudah terbaring di tempat tidur, pikirannya mulai melayang ke mana-mana. Dikenangnya apa-apa saja yang terjadi sepanjang hari itu. Siasatnya yang berjalan dengan baik, telah menelan belasan korban. Ketika teringat hal itu, Ding Tao mengerutkan alis dan menghela nafas panjang. Sejenak dia mengatupkan mata dan berdoa, bagi arwah mereka yang mati terbunuh hari itu. Jika memikirkan betapa lebih banyak lagi korban yang harus mati di tangannya, entah lewat pertarungan atau lewat siasat seperti yang baru saja dia lakukan hari ini. Tapi hal itu tidak bisa dia hindari, setelah lukanya sembuh dia masih harus merebut kembali Pedang Angin Berbisik dari Tiong Fa, sudah tentu Tiong Fa tidak akan berdiam diri begitu saja. Belum dihitung jika nanti ternyata Tiong Fa memiliki pula anak buah. Berapa orang lagi harus mati di tangannya? Setelah berhasil merebut pedang itupun bukan berarti sudah tidak ada lagi pertarungan lain yang harus dijalani. Pertemuan 5 tahunan itu masih kira-kira satu setengah tahun dari sekarang. Sepanjang masa itu, entah berapa banyak pendekar yang akan mencoba menantangnya secara terang-terangan demi mendapat pedang. Atau lewat siasat licik seperti yang terjadi pada pemilik pedang sebelumnya. Jika dia berhasil mempertahankan pedang itu sampai saatnya di pertemuan 5 tahunan, masih ada Ren Zuocan. Bilai dia mengikuti uraian gurunya, maka itu berarti satu-satunya jalan yang terbaik adalah membunuh Ren Zuocan. Entah dia mampu atau tidak, tapi setidaknya dia akan maju bertanding dengan membawa niat membunuh sejak awal. Pemuda itu menghela nafas panjang-panjang, terkenang pertandingan persahabatan yang dilakukan melawan keluarga Huang, dia mengeluh, seandainya saja semua pertarungan seperti itu. Menjadi ajang menguji diri, menjadi ajang berlatih, tidak perlu terlalu berpikir keras tentang kalah atau menang. Dan yang terpenting, tidak perlu ada pembunuhan, selesai bertanding justru menjadi sahabat. Teringat Tiong Fa pemuda itu mengerenyitkan alis, tapi yang dikira sahabatpun ternyata bisa jadi menyimpan sakit hati. Memikirkan hal ini Ding Tao jadi menyesal telah mempelajari ilmu pedang. Menggelengkan kepala Ding Tao berusaha mengusir semua pikiran yang menyusahkan dirinya itu jauh-jauh.
"Lebih baik memikirkan sesuatu yang menyenangkan", pikir pemuda itu dalam hati.
"Seperti ... ah seperti pertemuanku Nona Murong Yun Hua dan Murong Huolin."
Memikirkan kedua gadis itu, tiba-tiba jantung Ding Tao berdebar, ada satu perasaan muncul dari hatinya.
Perasaan yang dia kenal baik, karena belasan tahun lamanya dia memendam perasaan yang sama terhadap seorang gadis.
Pikiran itu menyadarkan Ding Tao, buru-buru pemuda itu mengalihkan pikirannya pada hal lain sambil memaki diri sendiri.
"Ah... bodoh... bodoh... gila..., kenapa bisa begini? Apa aku ini termasuk laki-laki mata keranjang?", pikir pemuda itu dengan rasa malu dan kecewa pada diri sendiri yang amat sangat. Malam itu Ding Tao baru tertidur setelah lewat larut malam, pikirannya dipenuhi dengan tiga orang gadis cantik. --------------------o --------------------Dua hari berlalu dengan cepat, kekhawatiran Ding Tao tidak menjadi kenyataan. Dua hari itu berjalan tanpa ada gangguan dari luar. Setelah beberapa hari terus menerus dalam keadaan harus berwaspada, dua hari ini merupakan kelegaan yang besar. Ding Tao menyibukkan diri dengan ikut menata taman bersama pekerja-pekerja keluarga Murong. Setiap siang dan sore hari, Murong Huolin akan mengajaknya berlatih tanding. Jika tidak sedang berada di kebun atau berlatih tanding dengan Murong Huolin, Ding Tao menghabiskan waktu bercakap-cakap dengan Murong Yun Hua. Dari gadis itu Ding Tao belajar mengenal karya-karya sastrawan besar di masa lalu, mengenal kisah-kisah kepahlawanan dari buku-buku bersejarah. Gadis itu memiliki banyak hal untuk diceritakan membuat Ding Tao tidak pernah bosan bersamanya. Keluarga Murong memiliki satu kamar yang khusus digunakan untuk menyimpan berbagai macam buku dan tulisan. Seni lukis dan ukiran. Di bangunan yang sedikit terpisah terdapat pula satu tempat kerja berisi peralatan pandai besi, tukang kayu, pembakaran tembikar dan lain lain. Murong Yun Hua bersama adiknya Murong Huolin menemani Ding Tao melihat-lihat. Waktu yang dua hari itu dengan cepat berlalu, otak Ding Tao yang haus dengan segala macam pengetahuan seperti menemukan mata air yang tidak ada habisnya. Ada rasa lega bercampur segan, dengan datangnya hari kedua. Lega karena akhirnya bisa melanjutkan lagi perjalanannya, bercampur sayang dan segan untuk meninggalkan tempat itu. Ding Tao dan Murong Yun Hua sedang melihat-lihat taman yang sudah selesai disesuaikan dengan saran Ding Tao. Bawaan Ding Tao sudah disiapkan dalam satu buntalan, uang, pedang, semuanya sudah dibawa. Hari itu Murong Huolin tidak terlihat sama sekali, hanya Murong Yun Hua yang menemani Ding Tao. Wajah gadis itu tampak sedikit murung, tapi setiap kali Ding Tao melihat ke arahnya, senyumnya mengembang meskipun tampak dipaksa.
"Saudara Ding, perkataanmu tempo hari ada benarnya. Lihat taman ini jadi lebih menarik.", ujar Murong Yun Hua.
"Ya, pekerjamu melakukannya dengan baik sekali, di beberapa bagian, mereka justru yang mengubahnya.", jawab Ding Tao merendah.
"Ya, mungkin saja itu benar, mereka memang dipilih dan dilatih sendiri oleh ayah, dalam hal seni dan tanaman. Tapi sudah bertahun-tahun sejak kematian orang tua kami, tidak ada keinginan untuk mengubah segala sesuatunya. Selama bertahun-tahun, sepertinya kami berhenti hidup.", Murong Yun Hua terdiam mengenangkan masa yang lewat.
"Kedatanganmu, benar-benar membawa angin segar bagi rumah kami. Terima kasih Saudara Ding.", ujarnya sambil tersenyum pada Ding Tao.
"Sama-sama, kalian yang terlebih dahulu menolongku waktu itu. Aku berhutang nyawa pada kalian.", jawab Ding Tao tersipu.
"Jadi..., apakah kau akan pergi sekarang juga?"
"Ya... keadaanku saat ini..., ah..., sudahlah. Maaf aku sudah banyak merepotkan kalian. Lagipula, aku memang ada keperluan yang sangat penting.", mendesah panjang Ding Tao siap-siap berpamitan.
"Nona Yun Hua, sebaiknya aku pergi sebelum hari bertambah siang..."
Mendongak ke atas, melihat ke arah langit yang cerah, Murong Yun Hua dengan segan menganggukkan kepala.
"Ya, hari cerah, sebentar siang tentu akan sangat panas. Saudara Ding, berhati-hatilah di jalan..."
"Sampaikan salamku pada Nona Huolin.", sambil memberi hormat pada Murong Yun Hua, Ding Tao mulai membalikkan badan lalu melangkah.
"Tunggu sebentar...", tiba-tiba Murong Yun Hua mengejar dari belakang, membuat langkah Ding tao terhenti.
"Ada apa Nona Yun Hua?"
"Sebenarnya..., sebenarnya engkau hendak pergi ke mana?"
"Ke Biara Shaolin.", tanpa pikir panjang Ding Tao menjawab, dalam 2 hari ini hubungan mereka sudah seperti sahabat yang kenal bertahun-tahun lamanya.
"Shaolin? Jangan-jangan... Saudara Ding apa kau hendak menjadi biksu?", tanya Murong Yun Hua dengan ekspresi wajah terkejut, kaget dan was-was. Melihat ekspresinya Ding Tao jadi tertawa geli.
"Tidak, tidak, bukan begitu, aku sedang menderita luka dan menurut tabib yang memeriksaku, hanya Biksu Khongzhe atau Pendeta Chongxan yang bisa menyembuhkan lukaku itu."
"Ah syukurlah, eh maksudku..., maksudmu, kau sedang terluka saat ini? Tapi mengapa Biksu Khongzhe dan Pendeta Chongxan? Mereka bukan orang yang ahli dalam hal pengobatan. Dan kau tidak terlihat sakit... Ding Tao apa kau sedang coba menipuku?"
"Tidak tentu saja aku sedang tidak membohong. Dari luar sepertinya aku baik-baik saja, tapi di dalam tubuhku ini mengeram hawa liar dari Tinju 7 Luka, selama aku tidak mencoba mengerahkan hawa murniku terlalu banyak, hawa liar itu tertidur dan tidak terjadi apa-apa. Tapi saat aku coba menggunakan hawa murniku terlalu banyak, hawa liar itu bangkit dan menimbulkan pergolakan dalam tubuhku ini.", ujar Ding Tao coba menjelaskan.
"Apakah Saudara Ding ingin jadi pendekar nomor satu di dunia? Untuk apa gelaran macam itu? Ataukah masalah dendam? Apa pentingnya mengingat dendam dan menyimpan benci? Asalkan Saudara Ding tidak ikut campur dalam urusan dunia persilatan, tinggal di suatu tempat yang tenang, menghabiskan hidup dalam kedamaian hingga usia tua...", ujar Murong Yun Hua dengan nada sendu dan kepala tertunduk. Berdebar hati Ding Tao, meraba-raba maksud dari perkataan nona itu. Memandang ke arah kediaman keluarga Murong, terbayang kehidupan penuh kedamaian, jauh dari intrik-intrik keji dunia persilatan, jauh dari pertarungan berdarah. Memandang ke arah sebaliknya, ke arah jalan pergi dari kediaman keluarga Murong, terbayang perjuangan berat dan berliku, tapi di ujung sana ada Huang Ying Ying yang menanti.
"Tidak, gelar pendekar nomor satu tidak kuinginkan. Dendam aku juga tak punya. Akupun ingin hidup damai, jauh dari urusan dunia persilatan, tapi...", berat hati Ding Tao, tapi dia tidak bisa melupakan kekasih yang menanti, juga pesan dan tugas gurunya.
"Tapi apa? Apakah Kakak Ding tidak ingin tinggal lebih lama di sini? Apakah tempat kami kurang menyenangkan? Adakah aku dan Adik Huolin begitu membosankan? Tidak tahukah Kakak Ding, jika Adik Huolin semalaman menangis, karena Kakak Ding hendak pergi hari ini?", dua tetes air mata yang bening mengalir dari sepasang mata yang jeli, memalingkan muka Murong Yun Hua, menyembunyikan air matanya, namun Ding Tao masih sempat melihatnya. Pedih hati Ding Tao, dalam hati dia mengeluh, menyesal telah bersedia untuk tinggal selama dua hari di tempat ini. Seandainya saja dia lebih teguh hati, mungkin dia tidak akan terjerat dalam perasaan bersalah seperti saat ini.
"Bukan begitu Nona Yun Hua, tapi demi menjalankan tugas dan pesan guruku, lagipula tugas ini berkaitan dengan kewajibanku sebagai seorang laki-laki terhadap negaranya."
"Kakak Ding, aku tidak mengerti, tugas apa yang dibebankan gurumu sebenarnya?"
"Nona Yun Hua, pernahkah nona mendengar tentang pertemuan lima tahunan antara tokoh-tokoh persilatan? Pernahkah nona mendengar tentang ambisi Ketua Sekte Matahari dan Bulan, Ren Zuocan?", tanya Ding Tao. Raut wajah Murong Yun Hua berubah jadi serius, matanya mengawasi Ding Tao dengan pandangan menyelidik.
"Ya, aku tahu tentang hal itu, bahkan mengetahuinya dengan cukup jelas. Ambisi Ketua Ren Zuocan untuk menguasai dunia persilatan kita, ancaman dari luar perbatasan jika dia berhasil melakukannya."
"Syukurlah kalau nona tahu akan hal itu, tugas dari guruku adalah agar aku berusaha untuk membendung ambisi Ren Zuocan."
"Saudara Ding, bukannya aku hendak meremehkanmu, melihatmu berlatih tanding dengan Adik Huolin, aku tahu kau punya bakat yang luar biasa. Tapi tingkatan Ren Zuocan jauh di atasmu, bahkan tanpa luka dalam tubuhmu kurasa kau masih beberapa tingkat berada di bawahnya."
Sejenak Murong Yun Hua berhenti berbicara, pandang matanya tajam, menyelidik raut wajah Ding Tao, kemudian dengan suara bergetar dia lanjut bertanya.
"Apakah... kau punya satu andalan yang lain?"
Untuk beberapa lama Ding Tao merasa ragu, tapi saat memandang Murong Yun Hua muncul perasaan bersalah karena masih menyimpan rahasia dari mereka, seakan mereka orang-orang yang patut dicurigai.
Padahal selama dua hari ini mereka memperlakukannya dengan sangat baik, tidak ubahnya keluarga sendiri.
Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan tentang bagaimana dia mendapatkan Pedang Angin Berbisik, tugas yang dibebankan gurunya padanya dan bagaimana dia bisa kehilangan pedang itu.
Mendengar kisah Ding Tao, wajah Murong Yun Hua berubah pucat, tiba-tiba dua tangannya mencengkeram lengan baju Ding Tao.
Menggelengkan kepala seakan tak percaya, dipandanginya wajah pemuda itu dengan mata yang basah oleh air mata.
"Kakak Ding... Kakak Ding... akhirnya doaku terjawab sudah..."
Menghadapi sikap Murong Yun Hua yang demikian tiba-tiba, Ding Tao jadi gelagapan.
Bukan hanya Ding Tao saja, sikap Murong Yun Hua yang mengejutkan itu juga menarik perhatian mereka yang sedang bekerja.
Mereka semua berdiri tertegun, tidak tahu harus berbuat apa.
Apa yang sudah dilakukan pemuda itu hingga Murong Yun Hua bersikap aneh?
Perlahan-lahan kesadaran Murong Yun Hua pun kembali, cengkeramannya pada lengan baju Ding Tao dilepaskan, dipandangnya wajah pemuda itu.
"Kakak Ding, maafkan sikapku barusan. Tapi benarkah kau sempat memiliki Pedang Angin Berbisik dan meskipun saat ini pedang itu tidak ada padamu, tapi kau tahu di mana pedang itu saat ini?"
"Ya, memang benar begitu, setidaknya aku pikir aku tahu di mana aku harus mencari dan merebut kembali pedang itu. Tapi sebelum itu, aku harus berhasil menyembuhkan terlebih dahulu luka dalam yang kuderita.", jawab Ding Tao, dpandanginya wajah Murong Yun Hua, pemuda itu khawatir Murong Yun Hua kembali bersikap histeris.
"Ada sesuatu tentang keluargaku yang kau belum tahu. Jika Kakak Ding tidak keberatan, maukah kau mendengarkan sedikit kisahku? Kita bisa mencari tempat yang teduh untuk bercakap-cakap sejenak", tanya Murong Yun Hua, pandang matanya terarah pada satu gubuk tempat di bawah pohon yang rindang, di sana ada beberapa potongan batu besar diletakkan dan ditata sebagai tempat duduk.
"Baiklah, mari.", ujar Ding Tao dengan hati mulai tertarik. Setelah mereka sampai di tempat yang dituju, Murong Yun Hua tidak segera bercerita. Ding Tao menunggu dengan sabar, meskipun dalam hati ingin segera mendengar kisah gadis itu.
"Kakak Ding, tahukah kau siapa pembuat Pedang Angin Berbisik?", tanya Murong Yun Hua, membuka percakapan. Pertanyaan itu hanya dijawab dengan gelengan kepala, karena jawabannya pasti akan segera menyusul. Timbul pula satu tebakan dalam pikiran Ding Tao, mengingat pedang kayu, replika Pedang Angin Berbisik yang ada di ruang latihan keluarga Murong. Tapi dia tidak mau mengatakan tebakannya itu, ditunggunya saja Murong Yun Hua memberikan jawaban yang pasti. Murong Yun Hua mendesah panjang, seakan melepaskan beban di hati, sebelum kemudian menjawab.
"Ayahkulah yang membuat Pedang Angin Berbisik, hal ini memang tidak diketahui oleh banyak orang dalam dunia persilatan."
Ding Tao mengangguk perlahan.
"Ah, ayah nona pastilah seorang yang mahir dalam pembuatan pedang."
"Bukan hanya dalam hal pembuatan pedang, ayahku seorang yang mahir dalam banyak hal, kesukaannya berkeksperimen dengan apa saja yang terpegang oleh tangannya. Mempelajari setiap buku yang bisa dia dapatkan. Pedang Angin Berbisik hanyalah satu dari sekian banyak hasil pekerjaan tangannya. Lalu Kakak Ding, tahukah kau siapa isteri dari Pendekar Jin Yong, pemilik pertama dari Pedang Angin Berbisik?"
Sekali lagi Ding Tao menggelengkan kepalanya, meskipun dalam benaknya dia mulai menebak-nebak.
Apakah Pendekar Jin Yong masih terikat dengan hubungan keluarga dengan keluarga Murong?
Apakah Murong Yun Hua adalah isteri Pendekar Jin Yong?
Ah, tidak mungkin, Murong Yun Hua masih begitu muda, sedangkan sekitar 12 tahun yang lalu, Pendekar Jin Yong sudah berumur 20-an.
Cukup lama sebelum Murong Yun Hua menjawa pertanyaannya sendiri dengan suara yang lirih.
"Akulah isteri dari Pendekar Jin Yong..."
Meskipun tebakan itu sempat lewat dalam benaknya, tidak urung Ding Tao terkejut dan bergumam tanpa sadar.
"Ah, tapi itu tidak mungkin..."
Menaikkan alis kepala Murong Yun Hua bertanya.
"Mengapa tidak mungkin?"
Ditanya demikian, Ding Tao jadi tersipu.
"Ehm, maksudku, umur... umur... nona.. eh nyonya, kukira masih lebih muda dariku."
Mendengar jawaban Ding Tao wajah Murong Yun Hua yang sedari tadi tampak murung jadi berseri, sambil menahan tawa dia bertanya.
"Oh, memang umur Kakak Ding sekarang berapa?"
"Umurku... umurku tahun ini genap 20 tahun.", jawab Ding Tao menahan malu, entah mengapa membicarakan umur Murong Yun Hua membuatnya merasa malu. Sambil tersipu Murong Yun Hua berkata.
"Umurku tahun ini menginjak 28 tahun, aku menikah dengan Pendekar Jin Yong sejak berusia 15 tahun. Kakak Ding... ataukah aku seharusnya memanggilmu Adik Ding?"
"Eh... ya, sungguh kupikir, nona, nyonya, masih berumur 19 atau 20-an, benar, aku tidak membohong. Maafkan aku kalau bersikap kurang sopan.", ujar Ding Tao merasa jengah, sudah bersikap layaknya teman, tanpa tahu jika Murong Yun Hua sudah berumur jauh lebih tua dari dirinya. Mendesah sedih Murong Yun Hua menjawab.
"Adik Ding... ah... sebenarnya aku justru merasa senang dengan sikapmu selama ini. Tapi biarlah aku memanggilmu Adik Ding tapi sebaliknya kau panggil aku kakak, jangan nona, bisa?"
"Oh, tentu... tapi itu jika nona, tidak keberatan."
Wajah Murong Yun Hua pun menjadi cerah kembali, ajaib memang begitu mudah raut wajah seseorang berubah-ubah dalam satu percakapan.
"Tentu saja aku tidak keberatan dan anggap saja kau tidak tahu umurku yang sebenarnya. Benarkah aku masih kelihatan begitu muda?"
Melihat Murong Yun Hua menjadi gembira, hati Ding Tao pun ikut terhibur.
"Ya, itu benar-benar yang sesungguhnya, selama ini kukira umur Kakak Yun Hua tidak lebih tua dari umurku. Eh, lalu umur Nona Huolin berapa ya?"
"Umur Adik Huolin? Nah, nah, kenapa bertanya? Apakah kau tertarik padanya?", goda Murong Yun Hua yang hatinya sedang senang.
"Bukan begitu, cuma, kukira umurnya tidak jauh berbeda dengan umurku, tapi siapa tahu kau salah lagi.", jawab Ding Tao cepat-cepat.
"Hmmm, soal itu aku tak tahu, apa harus kukatakan padamu atau tidak.", jawab Murong Yun Hua dengan pandang mata menggoda.
"Eh, tidak dikatakan pun tak apa.", jawab Ding Tao cepat. Sambil tersenyum Murong Yun Hua menyudahi godaannya.
"Adik Huolin, tahun ini tepat berumur 17."
Tapi senyumnya dengan cepat menghilang, menghitung umut Murong Huolin, gadis itu jadi teringat masa-masa suram bagi keluarga Murong, dengan sedih dia berujar.
"Kasihan Adik Huolin, ayah bundanya meninggalkan dia di usia yang sangat muda."
"Kakak, jika aku boleh bertanya, apakah yang ingin nona bicarakan ada hubungannya dengan..., dengan kematian... suami Kakak Yun Hua?", Ding Tao bertanya dengan hati-hati. Raut wajah Murong Yun Hua memang sendu tapi juga ada ketegasan di sana.
"Ya, 12 tahun yang lalu, dalam usaha merebut Pedang Angin Berbisik, beberapa orang bertopeng telah menyerang keluarga kami, setelah sebelumnya mereka menyusupkan racun ke dalam persediaan makanan kami."
"Ah, jadi benar rumor yang mengatakan Pendekar Jin Yong mati karena diracun orang..."
"Tidak juga, lebih tepat jika dikatakan mati dalam pertarungan, hanya saja sebelumnya tubuh mereka menjadi lemah akibat racun itu.", rasa sakit hati dan penasaran terbayang di wajah Murong Yun Hua.
"Tapi, tidak pernah kudengar tentang keluarga kakak.", ujar Ding Tao dengan agak segan.
"Ya, ayahku tidak menginginkan nama besar dalam dunia persilatan. Beliau lebih suka menyendiri bersama dengan buku-buku kesayangannya. Hampir tidak ada seorangpun yang tahu mengenai keluarga kami."
"Apakah Kakak Yun Hua tahu identitas dari penyerang bertopeng itu? Atau setidaknya pernah menyelidikinya?"
Murong Yun Hua menggelengkan kepala perlahan.
"Tidak, sebelum meninggal, ayah berpesan untuk melupakan dendam. Orang-orang bertopeng itu tentunya punya nama dalam dunia persilatan. Kakak Jin Yong dengan Pedang Angin Berbisik di tangan bukan tokoh yang mudah dihadapi, meskipun kondisinya kurang begitu baik. Begitu juga ayah dan ibu serta paman dan bibi."
"Ayah kakak bisa membuat pedang semacam Pedang Angin Berbisik, tentunya orang yang sangat cerdas. Jika belajar silat tentu mencapai tingkatan yang tinggi. Orang-orang bertopeng itu tentu bukan orang sembarangan.", desah Ding Tao yang sedang membayangkan kejadian hari itu. Termenung mereka berdua, kemudian Murong Yun Hua menggelengkan kepala perlahan.
"Entahlah, dulu kupikir juga begitu. Tapi kenyataannya meskipun cerdas, ayah terlalu banyak mempelajari segala hal, akhirnya tidak ada fokus tertentu dalam mempelajari sesuatu. Meskipun pengetahuannya luas, dalam pertarungan yang sesungguhnya, hari itu, mungkin hanya Kakak Jin Yong yang benar-benar perlu diperhitungkan."
Ding Tao diam termenung, beberapa hal yang masih belum dia ketahui dari keluarga Murong, sudah diketahuinya hari ini.
Tapi mengapa Murong Yun Hua baru menceritakannya sekarang?
Tentu ada hubungannya dengan dirinya dan Pedang Angin Berbisik, karena sebelum dia bercerita tentang tugasnya dan hubungannya dengan pedang itu, Murong Yun Hua masih menyimpan rapat-rapat masalah ini.
"Adik Ding, ayah memang melarang kami untuk mencari musuh dan membalas dendam, tapi ayah juga memberi tugas pada kami untuk sebisa mungkin mendapatkan kembali Pedang Angin Berbisik. Di tangan yang salah, pedang itu menjadi pedang yang berbahaya. Ayah tidak ingin, ciptaannya meninggalkan noda kelam dalam dunia ini."
"Ahh..., paman sungguh bijaksana.", berpikir sebentar pemuda itu pun melanjutkan.
"Kakak Yun Hua, jika masalah itu yang ingin kakak bicarakan. Jangan kuatir, selekasnya aku mendapatkan kembali pedang itu, akan kukembalikan pedang itu pada keluarga kakak."
"Lalu bagaimana dengan tugas yang dibebankan gurumu untuk membendung ambisi Ren Zuocan? Apakah menurutmu, kau bisa menandinginya tanpa dibantu Pedang Angin Berbisik?", tanya Murong Yun Hua, pandang matanya melekat ke arah Ding Tao.
"Sesungguhnya, aku pun ragu. Tapi sejak memberikan tugas itu, secara tersirat guru sudah memberikan nasihat, bahwa yang terpenting adalah menyelamatkan dunia persilatan kita dari ancaman Ren Zuocan. Apakah dengan menggunakan Pedang Angin Berbisik atau tidak, guru tampaknya menyerahkannya pada keputusanku sendiri. Bukan hanya pada hitungan untung dan rugi, mampu atau tidak, tapi juga menurut hati nurani sebagai seorang manusia.", jawab Ding Tao menjelaskan sambil tersenyum.
"Apakah Adik Ding sama sekali tidak ada rasa kuatir?", tanya Murong Yun Hua dengan nada tidak percaya.
"Tentu saja ada juga rasa khawatir, tapi asalkan sudah berupaya sekeras mungkin, asalkan umur masih ada, tentu ada jalan. Kalau kakak tidak keberatan pada saatnya pertemuan lima tahunan nanti, apa boleh aku pinjam pedang itu?", jawab Ding Tao cengar-cengir. Murong Yun Hua tertawa geli melihat jawaban Ding Tao.
"Adik Ding sebenarnya, yang ingin aku bicarakan bukan meminta pedang itu darimu. Tapi..."
"Tapi apa Kakak Yun Hua? Jika ada permintaan katakan saja, apakah kakak mengharap aku untuk mencari pelaku pembunuhan waktu itu dan membalaskan dendam keluarga Murong? Meskipun aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, jika memang mereka terbukti orang-orang yag perlu dibasmi dari muka bumi ini, tanpa kakak minta pun aku tidak akan segan untuk melakukannya."
Sejenak Murong Yun Hua termenung, dicobanya untuk merangkaikan kata-kata, tapi apa yang hendak diungkapkan terlalu sulit baginya untuk dikatakan.
Ding Tao dengan sabar menunggu penjelasan dari Murong Yun Hua.
"Adik Ding, sebelum aku mengatakan apa syaratnya ada satu hal lagi yang kau perlu tahu. Di dalam kediaman kami ada satu ruangan, penuh berisi buku-buku dan tulisan yang menjadi koleksi ayahku. Salah satu bagian memuat berbagai tulisan mengenai ilmu-ilmu silat yang ada di daratan ini. Beberapa di antaranya bahkan memuat ilmu-ilmu rahasia dari perguruan yang ada."
"Dari mana... dari mana paman mendapatkannya?", tanya Ding Tao dengan terbata, matanya memandang Murong Yun Hua dengan perasaan tidak menentu. Ding Tao khawatir Murong Yun Hua akan menjadi marah karena pertanyaannya, tapi dia tidak bisa diam saja. Ilmu rahasia, sudah tentu dikatakan rahasia karena perguruan tersebut merahasiakannya dari orang luar. Jika ketahuan seorang murid mengajarkan ilmu rahasia pada orang di luar perguruan, hukumannya cukup berat. Lagipula membuka rahasia perguruan terhadap orang luar, sama saja mencari mati buat diri sendiri. Sebuah ilmu menjadi berbahaya, karena orang tidak tahu dengan pasti bagaimana jurus itu dilakukan, sehingga sulit pula untuk memikirkan pemecahannya. Tapi jika kunci dari ilmu itu ketahuan, maka bukan saja orang bisa mempelajarinya tapi juga orang bisa memikirkan cara memecahkannya. Ilmu tidak ubahnya benda pusaka, mencuri belajar ilmu dipandang rendah oleh kalangan dunia persilatan. Itu sebabnya Ding Tao merasa ragu mendengar penjelasan Murong Yun Hua. Wajah Murong Yun Hua sedikit memerah, tentu saja dia mengerti pula hal ini. Tapi sebagai seorang anak, orang tua adalah segalanya. Apalagi Murong Yun Hua ditinggal kedua orang tuanya sejak umurnya masih muda.
"Bagaimana ayahku mendapatkannya, soal itu akupun tidak jelas. Tapi Adik Ding, bukankah satu pengetahuan seharusnya jadi milik semua orang? Dengan demikian, barulah pengetahuan bisa berkembang. Jika setiap orang menyembunyikan apa yang dia ketahui, lalu menyimpan yang penting-penting bagi dirinya sendiri, bukankah ilmu itu makin lama akan makin surut?", jawab Murong Yun Hua membela ayahnya. Gu Tong Dang sendiri memiliki pendapat yang hampir sama. Kebiasaan seorang guru menyimpan ilmu rahasia, bahkan dari muridnya sendiri adalah satu kebiasaan yang tidak bisa diterima oleh Gu Tong Dang. Sebagai seorang guru, dalam hal inipun Gu Tong Dang menjelaskan pada Ding Tao mengapa dia berpendapat demikian.
"Ayah yang mencintai pengetahuan, dengan sengaja mengkoleksi setiap hasil karya seorang pandai. Entah itu dalam hal silat, ketrampilan, pembuatan alat-alat, obat-obatan atau cara menenun dan mewarna. Hampir setiap karya orang pandai, ayahku berusaha untuk mengumpulkannya dan keinginannya adalah agar pengetahuan itu tidak hilang begitu saja, karena kelemahan pribadi pewarisnya. Melainkan bisa disumbangkan pada kepentingan yang lebih luas tanpa memandang golongan. Adik Ding, coba katakan apakah itu salah?"
Ding Tao jadi serba salah, jika hendak jujur, dia berpendapat bahwa ayah Murong Yun Hua sudah melakukan kesalahan.
Di pihak lain, dia tidak ingin memojokkan Murong Yun Hua lagipula alasan Murong Yun Hua ada benarnya juga dan bersesuaian dengan pandangan gurunya.
Meskipun Gu Tong Dang tidak melangkah sejauh itu sampai mencuri belajar ilmu orang lain dan lebih menerapkan hal itu pada diri sendiri.
"Kakak Yun Hua, soal itu..., bagaimanapun juga mencuri belajar, bukan sesuatu yang dapat diterima.", jawab Ding Tao dengan susah payah dan mengerahkan segenap keberaniannya.
"Adik Ding, tahukah kau tentang orang yang berjuluk Tabib Dewa? Ilmu pengobatannya begitu temahsyur dan banyak orang yang sembuh oleh ilmunya itu. Bayangkan jika dia mau membagikan ilmunya itu kepada banyak orang. Berapa banyak orang yang bisa diselamatkan? Tapi karena dia menyimpan ilmu itu sendiri, semantara dia bukan dewa yang bisa berada di mana saja. Entah berapa orang yang mati karena terlambat mendapatkan pertolongan."
"Atau tahukah kau dengan perusahaan peralatan dari logam, Tie Jiang Hua? Hanya orang-orang yang mempunyai uang banyak bisa menikmati hasil karya mereka. Rahasia mereka dalam mengolah logam disimpan sendiri. Bisakah kau bayangkan, jika pengetahuan itu dibagikan, akan ada banyak petani miskin yang bisa berkurang beban hidupnya dengan peralatan yang lebih baik dan tidak mudah rusak."
"Tapi Kakak Yun Hua, para guru memiliki alasannya sendiri untuk tidak mengajarkan ilmu-ilmu itu, karena jika orang yang salah mempelajarinya, bukankah akan jadi berbahaya?", tanya Ding Tao mencoba bertahan.
"Adik Ding, kenyataannya selalu saja ada orang yang menyalah gunakan ilmunya. Katakan coba, apakah ada satu perguruan saja, yang tidak pernah menelurkan seorang penjahat dalam dunia persilatan? Tidak, tidak ada satupun, bahkan Shaolin yang besar pun, memiliki noda hitamnya. Tapi bayangkan jika ilmu itu diberikan secara bebas kepada umum, maka setiap orang yang mau belajar dan berlatih akan tahu bagaimana melindungi dirinya sendiri. Dengan sendirinya orang yang memiliki niat jahat tidak dengan mudah bisa melakukannya."
"Kurasa Kakak Yun Hua ada benarnya, namun tatanan yang ada tidak baik jika dilanggar begitu saja. Adalah sesuatu yang bijak jika seorang guru mau dengan murah hati menyebarkan ilmunya, tapi jika dia tidak berkenan, rasanya tidak tepat pula jika kita mencurinya.", jawab Ding Tao dengan segan.
"Adik Ding, suatu tatanan diterima dalam masyarakat bukanlah satu hukum langit yang tidak boleh dilanggar. Kenyataannya dari masa ke masa, nilai-nilai itu berubah. Nilai itu berubah menyesuaikan dengan keadaan dan karena manusianya mencari bentuk yang terbaik. Jika satu nilai ternyata kurang baik, maka perlu diubah dan harus ada orang yang berani untuk mengubahnya. Jika tidak maka seluruh umat manusia akan terjebak pada tatanan lama yang tidak menguntungkan."
Mendengar pembelaan Murong Yun Hua yang berapi-api, Ding Tao tidak bisa menjawab. Dia hanya mengangguk-angguk dengan terpaksa. Mendesah Murong Yun Hua melihat itu.
"Adik Ding, setidaknya, pikirkan hal ini, dengan tulisan-tulisan yang ada di ruangan itu, mungkin kau bisa menemukan cara untuk menyembuhkan dirimu, tanpa tergantung dari bantuan orang lain."
"Tapi... Kakak Yun Hua, rasanya sedikit aneh jika aku mencuri belajar ilmu dari perguruan lain.", jawab Ding Tao dengan enggan.
"Hahhh... dasar keras kepala...", mendesah kesal Murong Yun Hua bangkit berdiri. Gadis itu tidak habis pikir, orang lain mungkin akan melompat kegirangan bila ditawarkan hal yang sama. Tapi Ding Tao justru merasa enggan untuk mengambil keuntungan. Dengan hampir putus asa, gadis itu berbalik menghadap Ding Tao.
"Adik Ding, setidaknya maukah kau mencoba melihat ke dalam ruangan itu? Tidak semuanya adalah hasil mencuri belajar dari perguruan yang ada. Ada pula, tulisan-tulisan yang pemiliknya atau penulisnya sudah lama wafat dan hilang begitu saja dari peredaran. Bagaimana apakah kau masih merasa bersalah untuk mempelajarinya, bukankah justru kasihan jika ilmu itu hilang begitu saja?", tanya Murong Yun Hua dengan harap-harap cemas.
"Benarkah ada yang demikian?", tanya Ding Tao dengan rasa tertarik. Melihat ketertarikan Ding Tao, Murong Yun Hua merasa mendapat angin.
"Tentu saja ada, tidak banyak memang, tapi terkadang ilmu yang hilang itu justru merupakan dasar dari ilmu yang kemudian dikembangkan menjadi ilmu rahasia yang ada sekarang. Nah, apakah kau tertarik untuk mempelajarinya?"
"Hmmm, tentu saja akan sangat menarik untuk mempelajarinya. Tapi apakah memang akan berguna untukmenyembuhkanku dari bekas pukulan Tinju 7 Luka, ilmu apapun yang dapat kupelajari saat ini, jika hawa murni tidak bisa digunakan dengan leluasa, akan berkurang artinya.", jawab Ding Tao yang mulai tertarik, namun masih ragu-ragu untuk meng-iyakan.
"Adik Ding, meskipun aku sendiri tidak pernah mempelajari bagian dari ilmu silat karena aku tidak tertarik, namun pernah kubaca sekilas sebuah buku mengenai tenaga dalam, dari pengantar yang dituliskan ayah, ilmu ini adalah dasar dari ilmu Tinju 7 Luka dari perguruan Kongtong."
"Apakah itu bukan miliki perguruan Kongtong?", tanya Ding Tao.
"Bukan, ayah dengan jelas menuliskan hal itu, akan tetapi salah seorang yang memiliki ilmu itu mengembangkannya dan kemudia mewariskannya pada pendiri Perguruan Kongtong. Tentu saja akan ada perbedaan, tapi kukira secara mendasar kau bisa meraba-raba dan mungkin menemukan cara untuk menyembuhkan lukamu. Bagaimana?", mata Murong Yun Hua memandang penuh harap pada Ding Tao. Saat dia melihat Ding Tao masih ragu, dia cepat-cepat menambahkan.
"Adik Ding, pernahkah kau berpikir, apakah Biksu Khongzhe akan mau menerimamu begitu saja? Meskipun dikatakan sebuah biara, namun Shaolin bukan biara biasa. Jangankan Shaolin yang begitu besar, biara yang biasa-biasa pun, tidak gampang jika kau ingin bertemu dengan biksu kepalanya. Bisakah kau bayangkan jika kau, tanpa nama, tanpa surat pengantar, datang ke sana dan meminta untuk bertemu dengan Biksu Shaolin, Biksu kepala dari Biara Shaolin yang besar?"
Ding Tao pun menggigit bibir membayangkan hal itu, ya dia bukan siapa-siapa, tidak pula dia membawa surat pengantar dari orang yang kenal baik dengan ketua Shaolin tersebut.
"Adik Ding, bukannya aku mengatakan bahwa Biksu Khongzhe seorang yang sombong. Tapi sebagai kepala dan pemimpin dari sebuah biara yang begitu besar, tentu dia akan sibuk dengan banyak tugas. Bisakah kau bayangkan, jika setiap orang, tanpa memandang tinggi dan rendah derajatnya, tanpa memandang penting tidak urusannya, diperbolehkan menemuinya?"
Akhirnya Ding Tao pun menyerah, kata-kata Murong Yun Hua bisa diterimanya.
Selama ini dia belum pernah memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah sampai di Shaolin nanti.
Dalam benaknya, setelah sampai di sana dia akan menceritakan apa adanya dan menanti keputusan mereka.
Tapi setelah mendengarkan uraian Murong Yun Hua, terbayanglah di benak pemuda itu, betapa sulitnya untuk menemui Biksu Khongzhe dengan keadaannya saat ini.
Bisa jadi dia harus menunggu berbulan-bulan lamanya, itu jika dia masih beruntung mendapatkan jawaban.
"Kakak Yun Hua, aku memang bodoh, tidak pernah terpikir sejauh itu. Jika kakak memang mengijinkan aku untuk melihat tulisan itu, tentu akan sangat membantu.", ujarnya dengan pasrah. Senyumpun mengembang di wajah Murong Yun Hua.
"Baguslah kalau begitu, tapi Adik Ding, tulisan dalam ruangan itu tidak boleh dibawa keluar, kau hanya boleh mempelajarinya di sana."
"Tentu saja, apapun peraturannya aku akan mengikut saja.", jawab Ding Tao.
"Tapi setelah kau mendapatkan ijin untuk memasukinya, segala tulisan yang ada di sana boleh kau baca. Mengertikah kau maksudku?", tanya Murong Yun Hua untuk menegaskan.
"Ya, ya, kukira aku mengerti, Kakak Yun Hua, kau sungguh baik sekali terhadapku.", ujar Ding Tai terharu.
"Dan ada satu hal lagi Adik Ding...", kata Murong Yun Hua tersendat sulit untuk melanjutkan.
"Ya, katakan saja kakak, jika ada satu tugas, tentu aku tidak akan lari darinya.", jawab Ding Tao dengan tulus.
"... hal itu bisa terjadi, hanya jika kau... kau... bersedia untuk menjadi penerus keluarga Murong. Dengan begitu tentu saja, baik ruangan itu, maupun Pedang Angin Berbisik sudah menjadi hakmu. Bahkan gedung bangunan dan segala isinya akan jadi milikmu.", setelah mengatakan itu, wajah Murong Yun Hua bersemu merah dan dia menundukkan kepala, tidak berani memandang Ding Tao.
"M.. maksud kakak, mm... apakah aku harus mengganti marga? Atau ... mengangkat ayah kakak sebagai ayah angkatku?", tanya Ding Tao dengan hati berdebar, entah mengapa melihat cara Murong Yun Hua mengatakannya, ada satu kemungkinan yang tidak berani dia pikirkan. Murong Yun Hua menggeleng perlahan, lama tidak ada yang berbicara. Tidak Murong Yun Hua, tidak pula Ding Tao. Kemudian dengan tersendat-sendat Murong Yun Hua menjelaskan.
"Sebelum meninggal ayah berpesan, karena tidak ada lagi keturunan laki-laki dalam keluarga Murong, jika aku atau Adik Huolin menemukan lelaki yang berkepribadian baik dan berbakat bagus. Maka hendaknya kami menikahinya. Kemudian satu putra dariku akan melanjutkan garis keturunan ayah, satu putra dari Adik Huolin melanjutkan garis keturunan dari paman. Keduanya akan memakai nama marga Murong, tapi keturunan laki-laki selanjutnya bolehlah menggunakan nama marga laki-laki itu. Sebagai gantinya, seluruh harta warisan keluarga Murong akan diberikan pada laki-laki itu."
Selesai menjelaskan, Murong Yun Hua tidak punya lagi kekuatan untuk mengangkat kepalanya.
Wajahnya terasa panas karena malu, bahkan hingga leher dan pundaknya yang terlihat oleh Ding Tao pun bersemu merah.
Ding Tao sendiri merasa dunianya berputar-putar, tangannya bergerak memijit dahinya yang tiba-tiba terasa pusing.
Pemuda itu sadar, butuh keberanian yang besar bagi Murong Yun Hua untuk mengatakan itu semua.
Betapa akan hancur harga diri gadis itu jika sampai Ding Tao menolaknya.
Tapi jika Ding Tao menerimanya, bagaimana pula dengan perasaan Huang Ying Ying yang saat ini sedang menantinya?
Jika hendak ditimbang-timbang, bisa juga Ding Tao beralasan, bahwa dia menerima tawaran Murong Yun Hua demi kewajibannya untuk menyelesaikan tugas yang sudah dipercayakan kepadanya.
Tapi apakah Ding Tao bisa mengatakan itu dengan hati nurani yang jujur?
Jika Murong Yun Hua dan Murong Huolin adalah sepasang gadis yang buruk rupa, mungkin akan lebih mudah bagi Ding Tao untuk memutuskan.
Bahwa ini adalah pengorbanannya demi menyelesaikan tugas yang menyangkut kepentingan yang lebih luas dari kepentingan pribadi.
Ding Tao rela mati demi Huang Ying Ying, tapi demi kewajibannya dia rela mengorbankan cinta antara dirinya dengan Huang Ying Ying.
Berdasarkan pemikiran ini tentu saja berarti Ding Tao sebaiknya menerima tawaran Murong Yun Hua.
Sayang Ding Tao masih jujur pada nuraninya sendiri, adakah dia memandang ini sebagai pengorbanan atau kesempatan?
Bukankah dalam hati kecilnya dia pun memiliki keinginan untuk memiliki kedua gadis yang cantik itu?
Demikian benak pemuda itu dipenuhi berbagai macam pemikiran.
Seperti dalam sebuah sidang di mana hakim, jaksa penuntut dan pembela saling mengemukakan pendapatnya masing-masing.
Bedanya dalam pengadilan mereka punya waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari sebelum mengambil keputusan, namun Ding Tao tidak memiliki waktu selama itu.
Murong Yun Hua menanti jawaban Ding Tao dengan hati yang berdebar, ada harap ada pula cemas, ada rasa malu dan ada rasa was-was.
Detik demi detik berlalu terasa begitu lambat, hanya bisa menanti dan menanti.
"Adik Ding, aku sudah mengamat-amati dirimu selama dua hari ini, aku yakin kau orang yang tepat dan sedikit keraguan yang ada, terhapus sudah saat kau mengatakan kau pernah mendapatkan Pedang Angin Berbisik, ini sungguh pertanda yang baik. Adik Ding kau berjodoh dengan Pedang Angin Berbisik, sekian tahun aku meragu pada siapa bisa kupercayakan amanat ayah ini, tapi sekarang aku tidak ragu lagi. Adik Ding dalam pandanganku engkaulah orang yang dikirimkan oleh ayah dan paman, untuk menolong kami keluar dari kesusahan ini.", ujar Murong Yun Hua berusaha membujuk pemuda itu untuk kesekian kalinya. Perlahan Ding Tao membuka mulutnya, bibirnya bergetar. Apakah jawaban Ding Tao? Pada saat yang sama, di sebuah tempat yang jauh, kejadian yang tidak kalah pentingya sedang terjadi. ----------------------------o -------------------------------Tiong Fa sedang duduk termenung, menghadapi sebuah lilin kecil yang menyala menerangi ruangan kecil miliknya. Sebuah ruangan pribadi, satu-satunya tempat di mana dirinya bisa merasa benar-benar aman. Di luar dua orang kepercayaannya berjaga. Di bawah tempat dia duduk ada sebuah lorong rahasia, lantai tempat kursinya berada dapat terbuka dengan cepat saat dia menekan salah satu tuas rahasia yang ada di balik mejanya. Mejanya sendiri penuh dengan alat-alat pelontar senjata rahasia. Dalam ruangan yang kecil ini, Tiong Fa merasa aman. Sudah dua minggu berlalu sejak sandiwara yang dia sarankan pada Tuan besar Huang Jin akhirnya dilaksanakan. Sejak dua minggu yang lalu, Tiong Fa bukan lagi seorang penasihat dalam keluarga Huang. Sudah dua minggu, Tiong Fa menjadi orang buangan. Tapi selama dua minggu itu pula Tiong Fa merasakan yang namanya kekuasaan penuh. Jauh sebelum peristiwa Ding Tao terjadi, Tiong Fa yang bertugas membentuk jaringan mata-mata bagi keluarga Huang, sudah memiliki jaringan sendiri. Ruangan ini adalah salah satu tempat Tiong Fa mengadakan pertemuan dengan bawahannya di luaran. Akibat kejadian dengan Ding Tao, Tiong Fa yang "terbuang"
Dari keluarga Huang, sekarang ruangan ini pun berubah menjadi rumah bagi Tiong Fa.
Ruangan ini dibangun di sebuah kompleks pelacuran yang cukup terkenal di Luo Yang.
Sebagai ibu kota kerajaaan banyak pendekar-pendekar dari perguruan besar mencoba mencari nama atau mencari penghidupan di sini.
Segala macam golongan bisa ditemui di Luo Yang.
Sebuah tempat yang cocok bagi Tiong Fa untuk mengerjakan tugasnya, mengumpulkan data dan mencuri rahasia-rahasia ilmu perguruan di dunia persilatan.
Menjadi jagoan silat, tidak serta merta memberikan penghasilan.
Menjadi jagoan mungkin mimpi yang menarik, tapi kenyataannya jagoan silat pun butuh makan.
Ilmu silat bukanlah ilmu yang bisa dipelajari dengan setengah-setengah, mempelajari ilmu silat membutuhkan fokus dan komitmen yang tinggi.
Setelah berhasil melatih ilmunya, seorang jagoan silat yang baru terjun dalam dunia nyata, barulah sadar bila dia tidak memiliki ketrampilan lain di luar berkelahi, tidaklah mudah untuk mencari penghasilan untuk hidup.
Melihat jagoan silat berjalan dengan gagah, senjata terselip di pinggang atau di punggung, baju yang mewah dan jubah dari sutra.
Makan di rumah makan yang mewah, bersenang-senang di tempat perjudian dan pelacuran kelas tinggi.
Memancing orang-orang muda untuk menikmati kesuksesan yang sama, tidak pernah terpikir, dari mana mereka mendapatkan uang untuk memenuhi segala kesenangan itu.
Yang mereka tahu hanya belajar silat, berusaha menjadi tenar dengan keahlian mereka mengayun-ayunkan pedang, dan mereka pikir uang akan datang dengan sendirinya.
Kenyataannya tentu saja jauh dari itu.
Pertama, untuk menjadi jagoan ternama bukanlah hal yang mudah, dengan banyaknya yang tertarik untuk mempelajari ilmu silat, tentu saja tidak gampang untuk menjadi yang terbaik.
Yang kedua, mempunyai nama tidak mendatangkan uang.
Jika ingin uang tentu harus "menjual"
Keahlian itu, entah menjadi guru, menjadi pengawal atau jual jasa lainnya.
Singkatnya setinggi apapun ilmu silatmu, akhirnya kau Cuma jadi anjing penjaga untuk mereka yag punya uang dan kekuasaan.
Mereka yang memiliki gengsi tinggi dan segan untuk bekerja bagi orang lain, tidak jarang berakhir memilih jalan hitam.
Sebagian besar yang lain memilih untuk bekerja sebagai pengawal pejabat dan orang kaya, pada perusahaan pengantaran barang, sebagai guru silat atau menjual kepandaian di pinggir jalan.
Di tengah sulitnya hidup berbekal ilmu silat inilah, Tiong Fa memanfaatkan kekayaan keluarga Huang untuk menarik jago-jago yang sedang kesulitan keuangan ke dalam pengaruhnya.
Beberapa puluh tahun yang lalu Tiong Fa muda dan Huang Jin muda, menjadi jagoan di daerah sendiri, memiliki mimpi untuk menjagoi dunia persilatan.
Kemenangan-kemenangan mereka dalam pertandingn yang ada membuat mereka memiliki keyakinan untuk bermimpi.
Lupa pada nasihat kakek Huang Jin yang melarang keturunannya untuk terlalu dalam berkecimpung dalam dunia persilatan dan lebih baik menekuni urusan perdagangan.
Memiliki impian yang sama keduanya mulai bekerja sama.
Paman Huang Jin, Huang Yunshu memiliki pendapat yang bersesuaian dengan Huang Jin, meskipun selama Ayah Huang Jin hidup dia tidak berani mengemukakan pendapatnya tersebut, tapi saat kepemimpinan pindah ke tangan Huang Jin, dengan bersemangat jagoan tua itu mendukung keinginan Huang Jin.
Tapi itu puluhan tahun yang lalu.
Puluhan tahun sudah lewat dan jalan untuk menguasai dunia persilatn masih jauh dari tercapai.
Tiong Fa yang semakin kenyang dengan pengalaman, sudah lama membuang impian itu.
Sejak itu, diam-diam jalan Tiong Fa dan jalan Huang Jin tidak lagi searah.
Tiong Fa yang dalam kerjanya, lebih banyak berhubungan dengan dunia luas terbuka matanya.
Dunia persilatan lebih luas daripada yang mereka bayangkan dahulu.
Nama besar seperti Shaolin, Wudang, Hoasan, Kunlun, Kongtong, Emei dan Kaipang bukanlah nama kosong belaka.
Meskipun sebagian besar dari mereka sedang dalam masa penurunan bukan berarti keluarga Huang akan dengan mudah maju ke depan.
Huang Jin juga lebih realistis dalam menggapai mimpinya.
Bila dulu dia bayangkan dapat menggapai puncak itu dalam masanya sendiri, sekarang Tuan besar Huang Jin lebih berkonsentrasi dalam menyiapkan putra sulungnya untuk menggapai mimpi itu sementara dirinya berusaha membangun dasar yang kuat bagi putranya.
Namun hal itu tidak menarik bagi Tiong Fa, apa keuntungan bagi dirinya jika dia harus bekerja keras demi kesuksesan keturunan Huang Jin?
Memang di depan Huang Jin dia pernah berkata, bahwa mengusahakan kesuksesan putra Huang Jin sama artinya dengan mengusahakan masa depan yang baik bagi keturunannya yang ada dalam keluarga Huang.
Tapi di balik itu, tersembunyi ketidak puasan, karena Tiong Fa tidak peduli dengan anak keturunannya.
Yang dia inginkan adalah kekuasaan, nama, kesenangan bagi dirinya sendiri.
Tiong Fa tidak ambil peduli dengan anak yang dia dapatkan dari isterinya.
Dia menikah dengan isterinya yang sekarang, hanya agar dia bisa masuk menjadi anggota inti keluarga Huang.
Sudah cukup lama Tiong Fa merasa ragu dengan posisinya dalam keluarga Huang, bersama dengan berjalannya waktu, Tiong Fa pun makin ragu apakah dia akan berhasil menggapai keinginan pribadinya dengan tetap bersama keluarga Huang.
Kekalahannya dari Ding Tao yang memicu Tuan besar Huang Jin untuk mengirim dirinya merebut Pedang Angin Berbisik dari Ding Tao secara paksa, membuka kesempatan yang baik baginya untuk keluar dari keluarga Huang tanpa kehilangan keuntungan yang didapatnya dari keluarga Huang.
Itu sebabnya Tiong Fa yang berotak licin bisa jatuh dalam keadaan yang kacau balau.
Inilah kehebatan Tiong Fa, dia sudah bisa melihat lubang-lubang dalam rencana Tuan besar Huang Jin yang terlalu terburu-buru.
Dengan cerdik dia membiarkan rencana itu terus berjalan dan dalam benaknya, jauh sebelum terjadi Tabib Shao Yong membongkar kelemahan itu, dia sudah menyiapkan "jalan keluar"
Bagi Tuan besar Huang Jin, tentunya "jalan keluar"
Yang menguntungkan dirinya.
Sayangnya dia gagal membujuk Tuan besar Huang Jin untuk membiarkan dia membawa Pedang Angin Berbisik bersama dirinya.
Tapi hal itu tidak terlalu membebani pikiran Tiong Fa.
Tanpa Pedang Angin Berbisik pun apa yang dia dapatkan kali ini cukuplah besar.
Modal dari keluarga Huang dia gunakan untuk membiayai organisasi rahasia bentukannya.
Dalam waktu yang terhitung singkat Tiong Fa sudah menguasai beberapa usaha perjudian dan pelacuran yang cukup besar sebagai sumber dana.
Jagoan-jagoan silat pun dengan mudah dia dapatkan, karena sudah bertahun-tahun lamanya dia membangung jaringan.
Bahkan bersama dengan dirinya, ikut pula beberapa orang jagoan dari dalam keluarga Huang sendiri.
Orang-orang yang sudah lama dia bina, untuk lebih setia pada dirinya daripada keluarga Huang.
Ya, cerita karangan Tiong Fa, bukan cerita karangan belaka, karena kenyataannya memang Tiong Fa dengan diam-diam mulai membangun kekuatan sendiri, lepas dari keluarga Huang.
Demi mempertahankan aliran modal dari keluarga Huang, Tiong Fa tidak terburu-buru membuka topengnya.
Selama sapi itu masih diperah susunya, Tiong Fa akan memerahnya.
Selama dua minggu ini, duduk di dalam ruangan kecilnya, dia merasa dirinya menjadi raja.
Tapi tidak malam ini, malam ini dia sedang menerima seorang tamu dalam ruang kecilnya.
Malam ini, duduk di atas kursi kerajaannya, Tiong Fa tidak merasa aman.
Bahkan dibalik sekian senjata rahasia dan pengamanan, Tiong Fa tidak bisa duduk tanpa merasa terancam bahaya, menghadapi tamunya malam ini.
Berdiri di depannya adalah ketua partai Kongtong generasi saat ini, Ketua Zong Weixia , tatapan matanya tajam dan liar.
Tiong Fa merasa seperti sedang berhadapan dengan seekor harimau buas.
Tidak salah jika orang mengatakan lebih baik duduk di atas punggung harimau daripada berurusan dengan Zong Weixia.
Berpakaian serba hijau model pelajar, dengan ukuran baju yang longgar, rambut dan kumis tertata rapi, jika tidak melihat sepasang mata Zong Weixia yang liar dan tajam mungkin orang akan mengira dia seorang pelajar eksentrik yang tidak berbahaya.
Tapi bahkan tanpa melihat sepasang mata Zong Weixia pun Tiong Fa yang sudah mengenal reputasi dari Ketua perguruan Kongtong ini tahu betapa berbahayanya orang di hadapannya ini, Bajunya yang longgar menyembunyikan senjatanya yang aneh bentuknya.
Sepasang roda bergerigi yang dipasang pada seutas rantai besi.
Tidak ada yang tahu seberapa panjang jangkauan senjatanya dan bagaimana persisnya Zong Weixia menggunakan senjatanya itu.
Karena setiap kali bertarung, Zong Weixia tidak pernah membiarkan lawannya hidup.
Dua cawan arak yang sudah disajikan, tidak ada yang menyentuhnya.
Sejak dari arak itu masih baru dihangatkan dan mengepulkan uap yang tipis, hingga arak itu menjadi dingin.
Keringat dingin perlahan-lahan menetes dari dahi Tiong Fa, keheningan yang mencekam memenuhi ruangan itu.
Tanpa diundang Zong Weixia datang dengan langkah penuh keyakinan mendatangi rumah pelacuran miliknya itu, tanpa banyak bicara, tokoh itu berjalan menuju ke ruangan tempat Tiong Fa berada.
Salah seorang jagoan Tiong Fa yang tidak mengenalnya, berusaha menahan Zong Weixia, tapi dengan satu serangan yang mematikan, belum sampai satu jurus lewat dia sudah tewas.
Itulah gaya serangan Zong Weixia, keji, tanpa kembangan, tapi cepat dan tepat, selalu dikerahkan dengan tenaga sepenuhnya.
Seakan-akan menang atau kalah harus ditentukan dalam satu jurus itu.
Hampir mirip dengan Ding Tao, Zong Weixia mendalami satu jurus selama bertahun-tahun.
Bedanya Zong Weixia lebih berfokus pada jurus serangan yang paling keji, paling ganas dan paling cepat.
Dilatihnya jurus-jurus itu dengan ketekunan yang mengerikan, hingga dia mampu meyakinkan kecepatan, kekuatan dan ketepatan setiap serangan.
Laporan dengan cepat sampai ke telinga Tiong Fa, tidak ingin memancing kemarahan Zong Weixia yang angin-anginan, cepat Tiong Fa memerintahkan orang-orangnya untuk memberi jalan pada ketua perguruan Kongtong itu.
Tiong Fa yakin dibalik gayanya yang angin-anginan, tidak mungkin Zong Weixia melakukan sesuatu tanpa perhitungan.
Orang yang benar-benar angin-anginan dan melakukan sesuatu tanpa perhitungan yang jelas, tidak akan bertahan dalam dunia persilatan yang kejam.
Tapi sekarang saat akhirnya dia berhadapan dengan Zong Weixia, Tiong Fa mulai merasa menyesali keputusannya.
Zong Weixia membiarkan saja Tiong Fa tertekan oleh keberadaannya, satu kepuasan bagi Zong Weixia saat dia melihat orang lain menjadi gugup berada di dekatnya.
Semakin mereka ketakutan, semakin dia senang.
Apalagi jika orang itu, orang semacam Tiong Fa, seorang yang memiliki kuasa, punya otak dan nyali, tapi tak urung gemetar di bawah pandangan matanya yang liar dan ganas.
Kepuasannya pun jadi berlipat ganda.
"Hmmm... kudengar kau memisahkan diri dari keluarga Huang, apakah itu benar?", akhirnya Zong Weixia memecahkan keheningan itu. Sudah sejak tadi Tiong Fa berpikir, bagaimana dia harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan Zong Weixia dan dia memutuskan untuk menjawab dengan jujur. Jika Zhong Weixia bisa tahu di mana dia berada, bahkan tahu ruangan rahasia tempat dia berdiam, maka itu berarti sudah ada kebocoran di dalam. Tiong Fa tidak mau berjudi dengan nyawanya, dia tidak tahu sebanyak apa Zong Weixia sudah mengetahui rahasianya dan dia tidak mau mempertaruhkan nyawa dengan menceritakan kebohongan. Lebih baik bersikap jujur sekarang, perlahan menyaring kembali orang kepercayaannya menjadi satu lingkaran yang lebih kecil lagi. Kemudian baru menyiapkan satu atau dua kartu As yang dirahasiakan sebagai persiapan untuk menghadapi Zong Weixia di kemudian hari.
"Ya, itu benar, dari mana Tetua Zong mendengar hal itu?", jawab Tiong Fa sambil bertanya balik.
"Aku tahu dari mana, itu urusanku, sekarang ini aku yang bertanya dan kau cukup menjawab.", jawab Zong Weixia sambil menyeringai. Menelan ludah, Tiong Fa dengan hati kesal tapi wajah ketakutan, mengangguk.
"Apakah benar urusan keluarnya dirimu dari keluarga Huang, ada hubungannya dengan Pedang Angin Berbisik?", sekali lagi Zong Weixia bertanya.
"Ya, benar.", kali ini singkat saja jawaban Tiong Fa.
"Tapi benarkah jika aku mengatakan bahwa berita di luaran yang mengatakan bahwa dirimu telah menyerang seorang pemuda bernama Ding Tao dan mengambil Pedang Angin Berbisik darinya hanyalah berita bohong saja?"
"Tidak juga, berita itu ada benarnya. Memang aku telah menyerang dan mengambil Pedang Angin Berbisik dari pemuda itu. Tapi itu kulakukan atas perintah Tuan besar Huang Jin dan pedang itupun saat ini ada di tangannya."
"Apa bisa kupegang perkataanmu?"
"Tentu saja, aku tahu tidak ada gunanya aku membohong pada Tetua."
"Apakah kau yakin bahwa pedang itu adalah Pedang Angin Berbisik?"
"Yakin."
"Apakah kau tahu di mana Huang Jin menyimpannya saat ini?"
"Tidak, tapi aku yakin pedang itu masih ada dalam rumahnya."
Sejenak lamanya, pandang mata tajam dari Zong Weixia menyelidiki raut wajah Tiong Fa, mencari adakah jejak kebohongan di sana.
Wajah Tiong Fa tidak ubahnya warna kulit seekor bunglon, bisa berubah sesuai kebutuhan, sedangkan apa yang ada dalam hatinya tidak ada yang tahu.
Zong Weixia tahu persis orang sejenis Tiong Fa, tapi semua keterangannya masuk akal dan sesuai dengan berita yang dia dapatkan sebelumnya.
"Orang she Tiong, jika kau berbohong, kemanapun engkau bersembunyi, meskipun kau membuat sarang di bawah tanah. Aku akan mencarimu, membeset kulitmu, menjemurmu di bawah matahari, mencungkil matamu, memotong lidahmu dan memotong kemaluanmu sebelum aku tinggalkan dirimu untuk mati. Kau mengerti maksudku?"
"Ya, aku mengerti."
"Apakah ada keterangan yang ingin kau ubah?"
"Tidak, semua keterangan yang kuberikan, memang demikian adanya."
"Bagus, semoga saja begitu, demi kebaikanmu sendiri.", dengan kata-kata itu Zong Weixia mengakhiri interogasinya. Cawan arak tidak disentuhnya sedikitpun, dia bangkit berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun. Seperti sewaktu dia datang, demikian juga waktu pergi. Dia tidak menunggu diundang dan diantar, keluar pergi semaunya, seakan-akan sedang masuk rumah sendiri. Zong Weixia baru mencapai pintu ketika Tiong Fa tiba-tiba bertanya.
"Apakah tetua bekerja sendiri? Atau ada orang lain bekerja sama dengan tetua?"
Zong Weixia berbalik, sebelah alisnya diangkat, bertanya.
"Tetua tahu sekarang aku bekerja sendiri, lepas dari keluarga Huang, tapi Tiong Fa bukan orang bodoh, Tiong Fa tahu kekuatannya sendiri, tanpa sandaran yang kuat tidak mungkin bisa bertahan lama. Sekiranya Tetua mau bermurah hati...", membungkuk hormat Tiong Fa mengutarakan apa yang ada dalam kepalanya. Zong Weixia tercenung sejenak, seringai kejam tidak meninggalkan wajahnya. Bagi Tiong Fa, yg sejenak itu terasa lama, karena Zong Weixia seperti sedang berpikir, dengan cara apa dia hendak menyiksa dan membunuh Tiong Fa. Ketika akhirnya Zong Weixia menjawab hatinya merasa lega.
"Heh..., kau punya kemampuan yang bisa dipakai. Jika aku ada perlu, aku akan datang padamu.", jawab Zong Weixia. Setelah menjawab Zong Weixia berbalik dan pergi, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Darah dari orang Tiong Fa yang tewas di tangannya masih membasahi dinding dan lantai. Sedikitpun Zong Weixia tidak melirik. Dia juga tidak menoleh, jadi dia tidak melihat seringai mengejek yang terbentuk di wajah Tiong Fa. Zong Weixia tidak bisa memberikan keputusan. Itu yang bisa ditarik Tiong Fa dari reaksi Zong Weixia terhadap pertanyaannya. Meskipun Zong Weixia menjawab seakan-akan dia bisa memutuskan, hanya saja saat ini dia tidak ingin memutuskan. Tapi bagi Tiong Fa masalahnya jelas, Zong Weixia tidak tahu apakah harus menerimanya atau tidak. Itu berarti di atas Zong Weixia masih ada orang lain yang bermain. Hal ini membuat Tiong Fa merasa bersemangat, tapi juga berdebar di saat yang sama. Jika ada orang yang bisa menyuruh-nyuruh ketua dari perguruan Kong Tong, tentu orang ini bukan orang sembarangan. Apakah tangan Ren Zuocan ada di balik Zong Weixia? Jika bukan Ren Zuocan, adakah tokoh lain yang memiliki kekuasaan yang cukup mengerikan hingga bisa menggunakan orang semacam Zong Weixia sebagai anak buah? Masih adakah tokoh misterius yang bergerak dalam kelamnya malam di dunia persilatan ini? Jika ya, lalu apa motivasinya? Bisakah dirinya Tiong Fa memanfaatkan tokoh misterius ini demi keuntungannya pribadi? Masalah kedua yang harus dia pikirkan adalah, siapa orang dalam yang sudah membocorkan rahasianya? Tapi itu urusan kecil dan Tiong Fa tidak ingin terlalu lama memikirkannya. Bekerja dengan banyak orang, kebocoran pastilah ada. Yang penting dia harus memiliki kartu As yang tidak diketahui siapapun juga. Memandang berkeliling, Tiong Fa menyumpah-nyumpah dalam hati. Segala kerjanya untuk membangun ruangan ini sekarang tidak ada gunanya. Tiong Fa perlu memikirkan tempat yang baru, setidaknya dalam waktu beberapa bukan ke depan. Berdiri mematung untuk beberapa lama, pikiran Tiong Fa bekerja dengan keras. Tapi dia belum bisa menemukan siapa dalang di balik kunjungan Zhong Weixia. Satu hal yang pasti keluarga Huang akan dengan segera mendapatkan kunjungan yang sama. Tiong Fa tidak ambil peduli, tidak terpikir sama sekali untuk mengirimkan pesan agar Tuan besar Huang Jin bersiap-siap mendapatkan kunjungan persahabatan. Yang sekarang ada di benak Tiong Fa saat ini adalah dia perlu melenyapkan kekesalan di hatinya.
"Yan De !!! Yan De !!! Kemari kau bangsat!"
"Baik tuan, baik", seorang kakek tua berpakaian merah muda berlari-lari masuk ke dalam ruangan Tiong Fa sambil terbungkuk-bungkuk.
"Ada apa tuan?", tanyanya masih membungkuk hormat.
"Kudengar kau ada gadis baru yang belum siap untuk menerima tamu?"
"Ya tuan, barusan ada tiga orang gadis baru dari desa."
"Apakah mereka cantik-cantik?"
"Lumayan tuan, tidak terlalu buruk, cuma masih perlu banyak dididik."
"Apa sudah ada yang memberi didikan?"
"Belum tuan, hehe, apakah tuan mau bermurah hati memberi mereka sedikit didikan?", tanya kakek tua itu dengan senyum nakal, sekarang dia sudah tahu untuk apa dia dipanggil Tiong Fa.
"Jangan cengar-cengir, kau antar mereka ke sini dan beri tahu Hong Wan dan Hong Wei jangan ada yang boleh mengganggu."
Kakek tua itu pun pergi cepat-cepat.
Tidak perlu lagi diceritakan apa yang terjadi di ruangan itu kemudian.
Tapi yang perlu diperhatikan adalah apa yang dilakukan oleh Zong Weixia.
Ketua perguruan Kongtong itu pergi ke sebuah penginapan lalu memesan sebuah kamar dengan sebuah jendela yang menghadap ke arah jalan.
Segera setelah memasuki kamarnya, Zong Weixia mengeluarkan sebuah bendera kecil.
Bendera kecil itu ditancapkannya ke daun jendela.
Setiap orang yang lewat tentu akan dapat melihat tanda itu, meskipun mereka tidak akan tahu apa maksudnya.
Larut malam, satu sosok bayangan berkelebat memasuki penginapan itu dengan diam-diam.
Berturut-turut 3 orang masuk dengan cara yang sama rahasianya.
Sejenak kemudian, Zong Weixia membuka jendela dan mencabut bendera kecil yang dipasangnya.
Beberapa lamanya tidak terjadi apa-apa, kemudian ke-4 orang yang masuk ke dalam penginapan dengan diam-diam itu pun keluar dengan cara yang sama seperti saat mereka masuk sebelumnya.
Ketegangan yang dirasakan Ding Tao saat ini, melebihi apa yang pernah dia rasakan sebelumnya.
Bahkan lebih menakutkan dan menegangkan dibanding saat-saat nyawanya ada di ujung tanduk.
"Enci Yun Hua..., kurasa, aku bukan orang yang pantas untuk menerima tawaranmu. Maafkan aku...", terbata Ding Tao menolak tawaean Murong Yun Hua. Wajah yang menunduk itupun menjadi pucat pasi, badannya bergetar, menahan malu, menahan marah atau entah perasaan apa lagi. Ding Tao dengan ragu bangkit berdiri, ingin dia menghibur Murong Yun Hua, tapi dia tahu apa yang dia lakukan tentu sangat menyakiti hati gadis itu. Hatinya ikut merasa hancur, melihat keadaan Murong Yun Hua saat itu. Ding Tao berdiri termangu beberapa lama, sebelum dengan langkah yang berat dia berbalik dan hendak berjalan pergi meninggalkan Murong Yun Hua.
"Ding Tao... tunggu...", tiba-tiba Murong Yun Hua memanggil, menghentikan langkah kaki Ding Tao. Langkah Ding Tao pun terhenti, hatinya tidak cukup kuat untuk meninggalkan tempat itu, meskipun otaknya mengatakan bahwa terlalu lama berada di sana hanya akan memperburuk keadaan.
"Enci Yun Hua... aku...", kata-kata Ding Tao terhenti saat Murong Yun Hua meletakkan jarinya di bibir Ding Tao. Wajah yang cantik itu sudah basah oleh air mata, tapi air mata tidak membuatnya tampak buruk. Sepasang mata yang bening berkilauan oleh air mata yang mengembeng di sana. Pipi putih halus bagai pualam, dibasahi oleh dua jalur air mata. Ding Tao tidak mampu beranjak pergi dari sana. Murong Yun Hua, memegang erat tangan pemuda itu, lalu tanpa malu lagi menjatuhkan dirinya ke atas dada Ding Tao yang bidang. Wajahnya menengadah, memohon.
"Ding Tao..., apakah kau kira, harta kekayaan keluarga Murong, hanyalah bangunan kecil dan sepetak kebun? Tidak Adik Ding, ada banyak, jauh lebih banyak dari yang sudah kau lihat. Berbagai macam perhiasan dan barang seni yang tak terkira harganya tersimpan dalam ruangan rahasia keluarga kami. Itu semua akan jadi milikmu bila kau mau membantu keluarga ini. Bayangkan apa yang dapat kau lakukan dengan semua harta itu Adik Ding. Kau bahkan bisa menggunakannya untuk kepentingan umum jika kau mau."
Ding Tao menggeleng dengan sedih.
"Tidak enci, aku tidak menginginkannya, sungguh jika aku menolak bukanlah karena hal itu, enci aku ini bukan siapa-siapa, aku..."
"Adik Ding, bukankah kau suka mempelajari sesuatu yang baru? Lihatlah perpustakaan milik ayahku, beliau sama sepertimu, mencintai pengetahuan, haus pengetahuan, segala macam kitab yang ada di sana, tidak akan habis kau baca seumur hidupmu. Jika kau ingin melakukan percobaan, mencoba sesuatu yang baru, apa saja yang kau butuhkan bisa kami dapatkan."
"Enci... maafkan aku, sungguh ini pun sulit bagiku. Hatiku ikut sakit melihat enci sedih seperti sekarang."
"Adik Ding... apakah aku kurang cantik bagimu? Apakah karena aku seorang janda? Lihat, lihat...", dengan berani Murong Yun Hua membuka jubah suteranya. Leher yang jenjang tanpa kerut dan cela, di atas pundak yang putih halus. Belahan dada yang terlihat, menjanjikan sepasang dada yang membukit di balik baju dalam Murong Yun Hua. Ding Tao terkesiap, jantungnya berdebaran, cepat dia memalingkan muka.
"Enci... jangan..."
Air mata Murong Yun hua bercucuran, Ding Tao beribu kali lebih baik mati dirajam pedang daripada melihatnya seperti itu.
Putus asa dengan jawaban Ding Tao, Murong Yun Hua mendorong pemuda itu hingga jatuh ke atas tanah.
Diraihnya tangan pemuda itu dan diletakkan tangan Ding Tao di atas dadanya.
Terkejut, Ding Tao menarik tangannya, tapi Murong Yun Hua justru meraihnya kembali dan menarik tangannya ke bawah, ditempelkan ke miliknya yang paling pribadi.
Pinggulnya bergerak menggosok-gosokkan miliknya yang paling berharga ke tubuh Ding Tao.
"Adik Ding... tubuh ini, semuanya yang paling berharga, kuberikan padamu, kumohon... jangan... jangan tolak diriku...", sambil menangis mencucurkan air mata Murong Yun Hua menindih, menciumi Ding Tao dan bergerak-gerak memberikan seluruh tubuhnya bagi Ding Tao dengan keputus asa-an yang mematahkan hati. Ding Tao hanya laki-laki biasa, tubuhnya mau tidak mau bereaksi terhadap perlakuan Murong Yun Hua, namun di saat yang sama, dia sadar keadaan mereka yang berada di ruang terbuka. Teringat pula akan Huang Ying Ying, pada janji yang dia ucapkan diam-dian dalam hati. Tubuh Murong Yun Hua tidaklah gemuk tetapi langsing dengan lekak-lekuk yang menggiurkan, cukup dengan sebelah tangan Ding Tao dapat melemparkannya sampai terguling-guling. Namun tenaga Ding Tao seperti menghilang entah ke mana. Hanya dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemauan, barulah Ding Tao dapat mendorong mundur Murong Yun Hua.
"Enci, maafkan aku...", ujarnya sambil mendorong Murong Yun Hua menjauh. Secepatnya Ding Tao melompat menjauhkan diri, kakinya terasa lemas hingga dia hampir terjatuh, tapi begitu dia mendapatkan keseimbangannya, pemuda itu lari secepat dia bisa. Lari, meninggalkan Murong Yun Hua terpekur, terbaring di tanah, menggerung dan menangis, dengan rambut terurai dan baju yang terbuka di sana-sini. Ding Tao lari dan lari, melupakan pedang, buntalan pakaian dan bekal yang tertinggal. Yang ada di kepalanya hanyalah lari sejauh mungkin dari Murong Yun Hua, dari tangisannya yang memilukan hati, dari tubuhnya yang menyalakan nafsu dalam dada Ding Tao. Dia lari, hingga kakinya lemas dan tak ada kekuatan lagi yang tersisa. Jatuh terduduk di jalan kecil yang sepi, dua tetes air mata mengalir membasahi pipi pemuda itu. Dengan suara lirih dia berbisik.
"Enci Yun Hua... maafkan aku..."
Lama Ding Tao tidak mampu berpikir, hanya duduk termenung dengan dada serasa tertindih batu ribuan kati.
Akhirnya dengan mengeraskan hati, pemuda itu bangkit berdiri.
Dengan langkah gontai pemuda itu mengarahkan pandangannya ke jalan yang ada di hadapannya.
Ding Tao tidak tahu jalan itu menuju ke mana, saat lari tadi, tidak terpikir untuk memilih jalan.
Untuk berbalik kembali dia juga tidak punya keberanian, terpaksa dia berjalan ke depan, berharap bertemu dengan orang yang bisa ditanya.
Sudah cukup jauh dia berjalan, tidak juga dia menemui satu orang pun, ketika tiba-tiba terdengar deap kuda dari arah belakangnya, Ding Tao berbalik penuh harap.
Dinantinya hingga penunggang kuda itu datang mendekat.
Saat dia melihat siapa penungggan kuda itu, sudah terlambat baginya untuk bersembunyi.
Murong Huolin dengan mata yang menyala-nyala dan wajah kemerahan berderap, memacu kudanya ke arah Ding Tao.
Ding Tao berdiri di tempatnya, pasrah dengan apa yang akan terjadi.
"Keparat!!! Tidak tahu terima kasih!!", Murong Huolin berteriak mencaci, sebelum kudanya sampai dia sudah melompat ke arah Ding Tao dengan pedang terhunus. Kilau pedang berkelebatan, baju Huolin berkibaran, dalam keadaan marah tidak membuatnya tampak buruk, Murong Huolin justru tampak makin memikat. Sungguh gadis itu mirip seorang dewi yang turun dari kahyangan untuk membasmi kaum iblis. Hanya saja sekarang Ding Tao-lah yang jadi iblisnya. Pemuda itu hanya bisa mengeluh dalam hati. Dengan mudah dia bergerak ke sana ke mari, menghindari serangan-serangan Murong Huolin. Tidak sekalipun dia bergerak untuk membalas, hanya menghindar dan sesekali menepis serangan Murong Huolin yang menyerang dengan membabi buta. Tingkatan Murong Huolin terpaut terlampau jauh di bawah Ding Tao. Meskipun beberapa kali sempat juga pedangnya merobek baju Ding Tao, tapi tidak sampai menggoreskan luka sedikitpun di tubuh Ding Tao. Jika Ding Tao mau, sudah sejak tadi dia bisa melumpuhkan gadis itu. Ding Tao memilih untuk tidak melawan dan membiarkan saja gadis itu kehabisan tenaga. Nafas Murong Huolin mulai tersengal, hatinya yang panas semakin panas, karena sedikitpun dia tidak berhasil melukai Ding Tao. Sebuah derap kuda yang lain tiba-tiba terdengar, mendengar suara derap kuda, Murong Huolin menghentikan serangan. Berdiri menunggu jantung keduanya berdebaran saat melihat siapa yang datang. Murong Yun Hua memacu kudanya berderap, saat dilihatnya Ding Tao dan Murong Huolin tidak bertarung, ditahannya kekang kuda, dengan berderap perlahan dia mendekat. Rambutnya sudah ditata ulang, meski terlihat helai-helai yang masih lepas dari ikatan. Bajunya sudah dirapikan, wajahnya terlihat tenang dengan isak tangis tersimpan jauh di dalam dada. Ding Tao menundukkan wajahnya, tidak berani memandang ke arah Murong Yun Hua. Murong Huolin berdiri dengan tegang, apakah kakaknya marah terhadap dirinya? Dengan tidak yakinm gadis itu berdiri mematung. Suara Murong Yun Hua terdengar dingin saat dia bertanya pada Murong Huolin.
"Adik Huolin, apa yang sedang kaulakukan di sini, mengapa kau menghunus pedang seperti itu?"
"Kakak... aku.. aku hendak mencincang ... mencincang pemuda tidak tahu terima kasih ini!", jawabnya dengan pedang teracung ke arah Ding Tao. Wajah Murong Yun Hua memucat mendengar jawaban Murong Huolin, tapi dengan kemauan yang keras, dia berusaha bersikap tetap tenang.
"Boleh aku tahu mengapa kau hendak mencincang Saudara Ding Tao?"
"Dia... dia..., dia sudah menghina kakak...", jawab Murong Huolin dengan suara lemah. Sebenarnya gadis ini tidak benar-benar tahu apa yang terjadi, hanya dia tahu keduanya sempat bercakap-cakap sebelum Ding Tao pergi meninggalkan Murong Yun Hua menangis dalam keadaan tidak keruan. Menggigit bibir Murong Yun Hua berusaha menahan isak yang hendak melompat keluar.
"Gadis bodoh, dia tidak melakukan apa-apa padaku...", katanya dengan mata kembali membasah.
"Tapi, kulihat dia berlari dan kakak...", terbata Murong Huolin berusaha membela diri.
"Jangan memutuskan sesuatu jika kau belum tahu dengan jelas. Yang terjadi adalah... aku... aku... menawarkan warisan keluarga Huang pada Saudara Ding Tao dan dia menolaknya.", jawab Murong Yun Hua dengan isak tangis tertahan di antara kata-katanya. Membelalak terkejut wajah Murong Huolin, wajahnya bersemu merah, apa arti kata Murong Yun Hua dia mengerti dengan jelas apa maksudnya.
"Kakak... itu... ah...", gadis itu menutup wajahnya dengan rasa malu yang tak tertahan. Murong Huolin tidak dapat melanjutkan perkataannya, pedangnya lepas dan jatuh ke atas tanah, gadis itu berlari kecil bersembunyi di belakang tubuh Murong Yun Hua. Murong Yun Hua menatap tajam ke arah Ding Tao yang menunduk diam.
"Saudara Ding, sudah tidak ada lagi yang kusembunyikan darimu..., mungkin aku memang tidak berharga di matamu, seorang janda muda yang sudah tidak suci lagi. Tapi tidakkah hatimu sedikitpun tergerak bagi Adik Huolin?"
"Enci Yun Hua, sungguh bila aku menolak, hal itu bukan karena aku tidak memiliki perasaan pada kalian berdua. Masalahnya adalah aku sudah memiliki seorang kekasih.", jawab Ding Tao memohon pengertian Murong Yun Hua. Murong Huolin yang bersembunyi di belakang tubuhnya, entah mengapa merasa hatinya sakit. Saat mendengar Murong Yun Hua hendak menyerahkan warisan keluarga Murong pada Ding Tao ada perasaan senang dalam hatinya. Itu sebabnya dia merasa malu, merasa malu karena hatinya gembira mendengar dirinya hendak diberikan pada Ding Tao. Sekarang saat dia mendengar Ding Tao menolak tawaran itu karena dia sudah memiliki kekasih, timbul perasaan sedih dalam hatinya. Murong Yun Hua terdiam sejenak.
"Ding Tao jangan membuat alasan yang mengada-ada, benarkah engkau sudah memiliki kekasih. Kalaupun iya, lalu apa salahnya menerima tawaranku? Bukan suatu hal yang aneh jika seorang laki-laki memiliki lebih dari 1 isteri."
Ding Tao menggelengkan kepala perlahan.
"Mungkin itu hal yang umum, tapi dalam hati, sejak aku menyatakan rasa cintaku padanya, aku sudha berjanji akan setia pada cintaku itu, seumur hidupku, hanya mencinta dia seorang."
Ding Tao sedang menundukkan kepala dan Murong Huolin yang berdiri di belakang Murong Yun Hua sedang sibuk dengan perasaannya sendiri.
Ada rasa benci dan kesal, tapi juga rasa kagum dan cinta, jawaban Ding Tao membuatnya kecewa dan kagum pada saat yang bersamaan.
Terbata Murong Yun Hua bertanya.
"Apakah... apakah dia seorang gadis yang sangat cantik? Seorang yang ahli di bidang seni? Ahli silat? Atau... keluarganya... kekayaan keluarganya mampu menandingi kekayaan keluarga Murong?"
Ding Tao menggelengkan kepala, sedari tadi dia terus menunduk, dia tidak memiliki keberanian untuk mengangkat wajah dan memandang ke arah Murong Yun Hua.
"Tidak, dia memang gadis yang cantik, tapi tidak secantik Enci Yun Hua atau Adik Huolin. Dia bukan ahli seni atau ahli silat, namun dia gadis yang berhati baik. Sejak kecil dia sudah baik terhadapku. Aku juga tidak peduli dengan kekayaan keluarganya, aku masih bisa mencari makan dengan kedua tanganku sendiri. Hanya satu hal yang kutahu, aku mencintainya dan dia mencintaiku. Kami sudah berjanji untuk saling setia."
Murong Huolin memaki dirinya sendiri dalam hati, entah mengapa semakin Ding Tao berkeras, justru dia semakin bersimpati pada pemuda itu, semakin dia ingin bisa membahagiakan pemuda itu, menyerahkan..., mukanya menjadi panas.
Gadis itu menggigit bibirnya keras-keras.
Dengan nada sendu Murong Yun Hua bertanya.
"Bolehkah aku tahu siapa gadis itu?"
Dua pasang telinga dipasang baik-baik, ingin tahu apa jawaban Ding Tao.
Yang sepasang tentunya milik Murong Yun Hua dan sepasang lainnya adalah sepasang telinga milik Murong Huolin.
Ini pertama kalinya Murong Huolin mengerti rasanya jatuh cinta.
Begitu sengsara, begitu memabukkan, menyakitkan tapi tidak bisa dilupakan.
"Huang Ying Ying, puteri dari Tuan besar Huang Jin, sejak kecil dia sudah baik pada diriku. Bahkan ketika aku hanya seorang pelayan di sana."
Selesai menjelaskan panjang dan lebar, setelah semuanya dibuka, entah dari mana ada rasa lega timbul dalam hati Ding Tao.
Pemuda itu akhirnya menengadahkan wajahnya, menatap langsung pada Murong Yun Hua, bukan pandangan menghina, tapi pandangan penuh pengertian, seakan berkata, aku bisa merasakan kepedihanmu, jika aku menyakitimu, hal itu pun meyakitiku berkali-kali lipat.
Ditatap Ding Tao seperti itu Murong Yun Hua memalingkan wajahnya, tiba-tiba dia berjalan ke arah kudanya tertambat.
Diambilnya buntalan pakaian Ding Tao, pedang dan bekalnya di kantong yang terikat di sana.
Dengan membawa itu semua dia berjalan ke arah Ding Tao.
Suaranya lirih saat dia berkata.
"Ini barangmu ada yang tertinggal, pergilah, kuharap kau tidak mengingat-ingat dengan buruk apa yang terjadi hari ini. Pergilah, tapi ingatlah, kapanpun kau datang, rumah kami terbuka bagimu."
Menerima barang-barang itu dari Murong Yun Hua, Ding Tao mengangguk terharu.
"Aku mengerti Enci Yun Hua, terima kasih."
Kepalanya tertunduk, malu, Murong Yun Hua ragu-ragu dan tangannya sedikit gemetar, saat dia perlahan meraih tangan Ding Tao dan menggenggamnya.
"Adik Ding..., berjanjilah, kau tidak mengingatku dengan buruk... apa yang kulakukan tadi..."
Ding Tao meremas tangan Murong Yun Hua dengan hangat.
"Aku akan selalu mengingatmu sebagai seorang enci yang baik, Enci Yun Hua."
Murong Yun Hua menengadahkan kepala dan pandang mata mereka bertemu.
Hati Ding Tao tergetar, melihat pandang mata Murong Yun Hua yang penuh kesedihan, cinta dan gairah yang tertahan.
Tiba-tiba di luar dugaannya, Murong Yun Hua mencondongkan tubuh ke arahnya, berjinjit dan bibirnya yang merah basah itu tiba-tiba sudah bertemu dengan bibirnya.
Dengan bibir sedikit terbuka, Ding Tao bisa merasakan lidah Murong Yun Hua menyapu bibirnya.
Ding Tao bereaksi sebelum dia dapat berpikir, sejak awal bertemu dia sudah terpesona pada kecantikan Murong Yun Hua.
Sebagai laki-laki, lepas dari komitmennya untuk memberikan hatinya hanya bagi Huang Ying Ying, keinginan itu ada dalam dirinya.
Seandainya tidak ada Huang Ying Ying, tanpa ragu lagi dia akan menerima cinta Murong Yun Hua.
Masih teringat di benaknya betapa hancur hati Murong Yun Hua oleh penolakannya, terlihat di matanya gairah dan cinta yang membara dan memuja dalam tatapan mata Murong Yun Hua, tidak ada lain yang bisa dilakukan Ding Tao.
Untuk sesaat Huang Ying Ying hilang dari ingatan dan hatinya, dengan sepenuh hati dibalasnya ciuman Murong Yun Hua dengan gairah yang sama.
Sesaat lamanya tubuh mereka merapat, sebelum dengan lembut dan nafas terengah Murong Yun Hua menjauhkan diri.
Debaran yang sama, gairah yang sama, dengan wanita yang berbeda, sebagian kecil dari dirinya mencela apa yang dia rasakan saat itu.
Tapi Ding Tao tidak menyesali apa yang sudah dia lakukan saat dia melihat seulas senyum di wajah Murong Yun Hua yang sendu.
"Terima kasih... ingatlah aku seperti ini...", bisik Murong Yun Hua. Berpaling cepat-cepat Murong Yun Hua menggamit Murong Huolin dan dengan gesit menaiki kudanya.
"Adik Huolin mari pulang."
Murong Huolin menengok sekejap ke arah Ding Tao, saat mata mereka bertemu, hatinya berdebaran kencang, dengan muka tersipu gadis itu berlari dan menaiki kudanya.
Hati gadis ini meronta-ronta tanpa dapat dia mengerti.
Dia tahu Ding Tao sudah menjadi milik orang lain, tapi saat dia melihat Ding Tao berciuman dengan Murong Yun Hua, ingin rasanya dia menjatuhkan diri di dada Ding Tao yang bidang dan melakukan hal yang sama.
Tanpa menunggu Murong Yun Hua, dengan hati yang kacau balau, dia memacu kudanya pulang ke rumah.
Murong Yun Hua segera mengikuti adiknya, namun baru beberapa langkah kudanya berjalan gadis itu berpaling ke arah Ding Tao yang masih berdiri menunggu.
"Adik Ding, salahkah aku jika terus menantimu? Salahkah aku jika aku mencintaimu?", tanpa menunggu jawaban dari Ding Tao dia pergi, memacu kudanya menyusul Murong Huolin yang sudah jauh di depan. Ding Tao berdiri termangu, hatinya meragu, adakah dia sudah mengambil keputusan yang benar? Sudah hal yang umum jika seorang laki-laki memiliki lebih dari 1 isteri, mengapa dia tidak bisa menerima cinta Murong Yun Hua dan Huang Ying Ying bersamaan. Gairahnya menyala membayangkan hal itu, kepalanya menggeleng cepat, karena apa artinya cinta dan kesetiaan jika lelaki bisa membagi cintanya sesuka hatinya? Menutup mata Ding Tao mengenangkan cinta Huang Ying Ying pada dirinya yang sepenuh hati tanpa terbagi. Dikenangnya rasa bahagia yang dia rasakan saat dia akhirnya mengerti isi hati Huang Ying Ying. Dengan menggertakkan rahangnya Ding Tao menetapkan hati. Memikirkan keputusan yang sudah diambilnya, hatinya berbisik, jika demikian tidak seharusnya dia membalas ciuman Murong Yun Hua. Tapi yang sudah terjadi tidak bisa diubah, andainya hal itu bisa diulangnya, apakah dia akan melakukan yang berbeda? Menggelengkan kepala, menyerah, Ding Tao memilih untuk melupakan segala urusan cinta dan kembali berjalan ke depan. Dia sampai lupa untuk bertanya, ke arah mana jalan ini menuju. Hingga matahari terbenam, Ding Tao belum menemui seorang pun di jalan ini. Sudah berjam-jam lamanya dia berjalan tanpa henti, kakinya sudah merasa lelah, beberapa bagian tertentu telapak kakinya terkelupas, bukan hanya kakinya yang lelah, pundaknya pun sudah terasa pegal memanggul buntalan yang tidak terlalu berat. Ketika dia menemukan sebuah ceruk yang terlihat nyaman, Ding Tao memutuskan untuk beristirahat di pinggir jalan. Dipastikannya tidak ada binatang yang berbahaya di sekitar tempat itu, sebelum dia menghempaskan tubuhnya ke tanah yang berumput tebal. Baru setelah beristirahat, perutnya terasa lapar. Dengan kemalasan, dia bangkit berdiri. Dikumpulkannya beberapa kayu kering untuk dibuat api unggun. Kemudian di sekitar tempat dia hendak membuat api unggun, dia bersihkan dari rumput-rumput kering. Tidak lama kemudian sebuah api unggun kecil menyala-nyala. Dengan puas Ding Tao duduk dan membuka buntalan yang dia bawa. Pagi ini Murong Yun Hua sudah membungkuskan beberapa roti kering, sebotl arak dan daging kering. Apa yang dia lihat membuatnya terkejut, di dalam buntalan bukan saja ada pakaian dan makanan kering, tapi dilihatnya sekantung obat dan se
Jilid kitab.
Secarik surat diselipkan di antara halaman kitab itu, sedikit gemetar, Ding Tao membuka surat itu.
Nyala api unggun bergoyang-goyang, terkena angin, membuat bayang-bayang lucu di sekitarnya.
Dengan tangan gemetar dia membuka surat itu.
Adik Ding, rasa malu dan sedihku tidak akan pernah bisa kau bayangkan.
Tapi aku tidak menyesal, aku tidak menyesal telah jatuh hati padamu.
Aku tidak menyesal menunjukkan betapa aku menginginkanmu.
Aku hanya menyesal, tidak berhasil menahanmu untuk tinggal.
Tapi apapun keputusanmu, aku tidak dapat menipu hatiku.
Kupinjamkan kitab yang aku ceritakan sebelumnya.
Di dalamnya bisa kau pelajari apa yang kau perlukan untuk kesembuhanmu.
Aku tidak bisa banyak membantu, karena aku tidak ada di sampingmu.
Beserta kitab ini, kusertakan obat-obatan yang sering dipakai ayahku.
Obat ini mampu menambah kecerdasan orang yang meminumnya.
Membantu lancarnya peredaran darah ke otak, serta merangsang kerjanya syaraf dlm tubuh.
Ilmu dalam kitab ini tentu tidak mudah dipelajari dalam waktu yang singkat.
Meskipun kau berbakat, tapi obat ini kurasa bisa membantumu.
Jika aku boleh memberi saran, tidak perlu adik pergi ke Shaolin atau Wudang.
Berurusan dengan perguruan besar, tentu akan rumit dan merepotkan.
Padahal waktumu tidaklah banyak, baiknya cari tempat yang baik dan fokuskan pikiranmu untuk mempelajari isi kitab ini.
Semoga segala tujuanmu bisa tercapai, doaku untukmu selalu.
Jangan lupa, kembalikan kitab ini setelah kau tidak memerlukannya lagi.
Aku akan sabar menanti kedatanganmu dengan penuh harap.
Murong Yun Hua Dengan penuh haru Ding Tao membuka-buka kitab itu.
Pada sampul buku tertulis Ilmu Tenaga Dalam Inti Bumi.
Dibacanya buku itu sekilas, halaman demi halaman.
Kemudian disimpannya baik-baik buku itu kembali dalam buntalan.
Kemudian bungkusan obat dia buka, di dalamnya ada secarik kertas yang menuliskan nama dan aturan minum obat tersebut.
Nama obat itu, Obat Dewa Pengetahuan.
Puas dengan apa yang dia amati, dia menyimpan semuanya baik-baik dalam lipatan pakaian bersih sebelum kembali dibuntal menjadi satu.
Ding Tao memikirkan nasihat Murong Yun Hua, nasihat itu diberikan dengan maksud yang baik.
Teringat pula keadaannya saat harus bertarung dengan Sepasang Iblis muka Giok.
Hari itu dia beruntung bertemu dengan Murong Yun Hua dan Murong Huolin.
Jika tidak ada mereka, saat ini dia sudah tertawan sepasang iblis itu dan nasibnya akan jauh lebih buruk daripada mati di tangan mereka.
Teringat pula Ding Tao pada taktik yang dia gunakan dan bagaimana belasan orang mati oleh karenanya.
Bergidik pemuda itu menyesali apa yang sudah dia lakukan.
Seandainya saja tubuhnya tidak menyimpan hawa liar Tinju 7 Luka, mungkin dia masih bisa memikirkan siasat yang lain, yang tidak mengorbankan nyawa begitu banyak.
Mengingat itu semua Ding Tao memutuskan untuk menerima saran Murong Yun Hua.
Bila dia tetap memaksa untuk pergi ke Shaolin dalam keadaannya yang sekarang, akan banyak lagi bahaya yang harus dia hadapi, lebih banyak pertarungan dan lebih banyak korban.
Berpikir demikian, hilang sudah keinginannya untuk melanjutkan perjalanan.
Ding Tao bangkit berdiri buntalan bekal disandangnya di pundak.
Ding Tao berjalan mengitari tempat itu, dia tidak pergi terlalu jauh karena hari semakin malam dan dia tidak bisa melihat dengan jelas keadaan di sekelilingnya.
Dicobanya berjalan-jalan sambil menajamkan telinga, mencari apakah ada suara aliran air di dekatnya.
Tapi tidak ada hasil sedikitpun, akhirnya Ding Tao kembali.
Memilih sebuah lokasi yang sedikit jauh dari tempat dia membuat api unggun.
Bersandar pada sebuah pohon, Ding Tao berusaha beristirahat sebisanya.
Pemuda itu tidak berani terlalu lepas saat beristirahat.
Meskipun matanya terpejam, inderanya tetap bekerja sebisa mungkin menyadari keadaan di sekitarnya.
Karena lelah beberapa kali Ding Tao kehilangan kesadaran dan tertidur untuk beberapa saat.
Tapi tidak pernah dia tidur dengan pulas.
Keesokan paginya Ding Tao bangun dengan tubuh pegal-pegal dan kepala terasa berat.
Melihat langit sudah mulai berubah warna, pemuda itu dengan rajin, mulai berlatih.
Berlatih menghimpun hawa murni dan melatih ulang juga setiap jurus yang sudah pernah dia pelajari.
Tidak pernah bosan dia mengulang-ulang apa yang sudah pernah dia pelajari, merenungkannya dan memikirkan pengembangannya.
Ketika dia selesai berlatih, langit sudah terang, keringat membasahi tubuhnya tapi tubuhnya terasa segar.
Ding Tao mulai berpikir ke arah mana dia hendak pergi, setelah mendapatkan kitab dan obat dari Murong Yun Hua, pemuda ini tidak lagi ingin pergi ke kota terdekat.
Sebaliknya dia ingin mencari tempat yang memungkinkan dia untuk berlatih dengan tenang.
Sayangnya mencari tempat seperti itu tidaklah mudah.
Di dalam hutan terkadang lebih sulit mencari air daripada mencari makan.
Karena itu yang pertama dia lakukan adalah menjelajahi hutan yang mengapit jalan kecil itu, mencari tanda-tanda adanya air.
Hutan itu tidak terlalu lebat, dengan mudah dia bergerak, sebisa mungkin Ding Tao tidak menggunakan pedangnya untuk membuka jalan.
Selain untuk menghemat tenaga, pemuda itu juga tidak ingin meninggalkan jejak.
Sempat terpikir untuk kembali ke kediaman Murong Yun Hua, di sana tentu dengan mudah dia dapat berlatih.
Tidak perlu mencari persediaan makan, tidak perlu memusingkan di mana dia harus tidur.
Sayang sekarang ada ganjalan antara dirinya dengan Murong Yun Hua dan Murong Huolin, ada kalanya juga Ding Tao tergoda untuk menerima tawaran mereka.
Tapi pemuda ini begitu mengagungkan nilai-nilai luhur yang dia dengar dari orang-orang tua.
Pada cerita-cerita kepahlawanan di masa lalu.
Bukan hanya terpikat pada cerita kepahlawanan, pemuda ini juga terpikat dengan kisah-kisah cinta, tentang sepasang kekasih yang setia hingga ajal menjemput.
Hampir setengah harian pemuda itu menjelajahi hutan dan mengamat-amati keadaan di sekelilingnya sebelum dia menemukan tanda-tanda akan adanya sumber air.
Saat itu dia sudah semakin jauh masuk ke dalam hutan, pepohonan semakin lebat dan suasana menjadi sedikit remang-remang karena sinar matahari tidak mudah menembus lebatnya dedaunan.
Pemuda itu menemukan jalan-jalan setapak, bukan oleh manusia, tapi terbentuk karena sudah menjadi jalur dari beberapa hewan liar yang berulang kali melewati jalur itu.
Dengan semangat yang meninggi mulailah dia mengikuti jalur itu, sesekali jejak yang ada terputus dan dia harus berkeliling mencari-cari tanda-tanda lainnya, hingga akhirnya Ding Tao sampai di sebuah air mata kecil yang membentuk sebuah kolam jernih yang tidak seberapa besar.
Dengan hati-hati Ding Tao memeriksa keadaan di sekitar kolam kecil itu.
Dari bekas-bekas yang ada, dia yakin tempat itu jarang sekali dikunjungi manusia.
Beberapa hewan tampaknya menggunakan kolam itu sebagai tempat mereka melepas rasa haus.
Setelah yakin tempat itu cukup aman dari ular berbisa, Ding Tao mulai mencari dan menyiapkan lokasi yang tepat untuk dia menghabiskan malam.
Matahari sudah condong ke barat saat akhirnya Ding Tao selesai dengan persiapannya.
Seonggok besar kayu kering sudah dia siapkan untuk dipakai selama beberapa hari.
Bekal makanan yang dia bawa, dihitung dan dijatahnya baik-baik.
Sebisa mungkin Ding Tao ingin menghabiskan beberapa hari ke depan tanpa memusingkan soal makanan dan kebutuhan hidup lainnya, hanya mencurahkan waktu dan pikirannya untuk mempelajari kitab yang dipinjamkan Murong Yun Hua padanya.
Tiga hari lamanya Ding Tao dengan tekun membaca kitab itu dari awal hingga habis.
Selama tiga hari itu Ding Tao makan dalam jumlah yang sangat terbatas, saat lapar dia meminum banyak-banyak air yang melimpah di tempat dia tinggal.
Kitab itu tidak terlalu tebal, tapi Ding Tao membaca dengan sangat berhati-hati, dia akan mengulang-ulang tiap bait, hingga dia merasa bahwa dia dapat meresapi maksud dan maknanya, sebelum dia berpindah ke bait selanjutnya.
Tidak mudah untuk dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksud penulisnya, tidak ada orang yang membimbingnya untuk mengartikan maksud dari kalimat-kalimat yang ada.
Tiga hari lewat, Ding Tao sudah membaca habis seluruh kitab itu beberapa kali.
Sungguh sebuah tantangan yang sangat sulit bagi Ding Tao, terkadang saat dia merasa sudah dapat mengerti makna dari satu bait, saat dia mulai melanjutkan membaca beberapa bait selanjutnya barulah terasa ada ketidak sesuaian.
Jika menemukan demikian, maka terpaksalah Ding Tao kembali lagi merenungkan ulang bait-bait yang telah dia baca.
Demikian tiga hari lewat dan meskipun sudah beberapa kali membaca kita itu dari awal hingga akhir, pemahamannya akan isi kitab itu masihlah samar-samar.
Hari keempat Ding Tao bangun dari tidurnya dengan rasa kecewa mengingat tiga hari lewat tanpa hasil yang cukup berarti.
Sementara waktu terus berjalan dan tidak menanti Ding Tao menyelesaikan usahanya mempelajari kitab itu.
Isi kitab itu berkaitan erat dengan pengolahan tenaga dan pengerahannya menggunakan pukulan tangan.
Dari apa yang dia tangkap, samar-samar Ding Tao merasakan adanya kesesuaian antara isi kitab itu dengan sifat-sifat hawa pukulan Tinju 7 Luka yang mengeram dalam tubuhnya.
Hari itu Ding Tao memutuskan untuk berhenti sejenak, lagipula persediaan makanan sudah menipis.
Sepanjang hari Ding Tao menjelajahi hutan, mengumpulkan akar-akaran, buah dan jamur liar yang bisa dimakan.
Pengetahuan yang dia dapatkan selama membantu Tabib Shao Yong membantunya menghindari jamur atau buah beracun.
Baru menjelang matahari terbenam pemuda itu berhenti mengumpulkan persediaan makanan dan kembali ke tempat dia berlatih.
Setelah beristirahat sejenak, Ding Tao tidak membuka-buka kitab atau berlatih, pemuda itu menyibukkan diri dengan memastikan makanan yang sudah dia kumpulkan tersimpan dengan baik untuk beberapa hari ke depan, sebelum dia beristirahat tanpa memikirkan sedikitpun isi kitab itu.
Keesokan harinya dengan tubuh dan pikiran yang segar, barulah Ding Tao mulai lagi mempelajari isi kitab itu, kali ini dia mencurahkan lebih banyak lagi perhatian pada tiap-tiap bagian.
Seharian dia membaca dan sedikit sekali kemajuannya.
Di akhir hari itu, Ding Tao menghempaskan diri ke tanah dan mendesah.
Jika saja waktu tidak begitu mendesak, Ding Tao merasa senang bisa mempelajari isi kitab yang begitu rumit dan memusingkan itu.
Tapi Ding Tao mulai menyadari dunia persilatan yang sepertinya tenang ini, sungguh sedang bergelombang hebat di balik permukaan.
Pengkhianatan Tiong Fa hanyalah satu pucuk gunung es yang tampak di permukaan.
Tapi sejak kejadian di rumah keluarga Huang itu, Ding Tao merasakan semacam pertanda akan adanya badai melanda dunia persilatan.
Perasaan ini membuat Ding Tao merasa sedang berada dalam sebuah pertandingan lari dengan musuh yang tidak terlihat.
Lima hari tanpa kemajuan yang berarti membuat Ding Tao merasa jauh tertinggal dari bayangan musuh yang tidak terlihat ini.
Dengan perasaan segan, pemuda ini membuka kantung obat yang diberikan oleh Murong Yun Hua, dibacanya sekali lagi surat Murong Yun Hua dan petunjuk penggunaan Obat Dewa Pengetahuan.
Menurut keterangannya obat itu harus diminum 3 hari sekali, setelah 2 bulan mengkonsumsi obat itu obat diminum 3 hari dua kali dan 2 bulan berikutnya obat diminum 1 kali sehari.
6 bulan lamanya konsumsi obat tidak boleh dihentikan, bila aturan ini dilanggar ada kemungkinan akan menimbulkan efek yang tidak baik bagi tubuh.
Ding Tao tidak suka menyandarkan dirinya pada hal-hal di luar dirinya sendiri.
Entah itu berupa senjata seperti Pedang Angin Berbisik, ataupun seperti Obat Dewa Pengetahuan yang diberikan oleh Murong Yun Hua ini.
Ding Tao tahu, untuk melatih beberapa ilmu terkadang ada obat yang harus diminum selama latihan.
Entah itu untuk membantu tubuh untuk menerima ilmu itu atau sekedar melindungi organ-organ tubuh dari luka atau cedera yang ditimbulkan oleh latihan yang berat.
Ding Tao bisa menerima hal-hal itu sebagai sesuatu yang perlu tapi dia tidak menyukainya.
Itu sebabnya sampai saat ini dia tidak meminum obat pemberian Murong Yun Hua.
Tapi Ding Tao menghadapi tembok yang tinggi dan waktu terus berpacu dengan dirinya.
Menyerah pada keadaan Ding Tao memutuskan untuk meminum obat itu besok pagi sebelum memulai kegiatannya, sesuai dengan anjuran yang tertulis.
Dengan keputusa itu Ding Tao menutup kembali kitab yang dipinjamkan Murong Yun Hua dan mulai latihan-latihan yang biasa dia lakukan sebelum beristirahat.
Hari ke-enam, Ding Tao mengawalinya dengan meminum obat yang diberikan Murong Yun Hua.
Setelah itu dia diam mengatur nafas, merasakan aliran hawa murni dalam tubuhnya, memberikan kesempatan bagi obat itu untuk bekerja.
Kerja obat itu pada awalnya tidak terasa oleh Ding Tao, tapi bersama dengan berjalannya waktu, Ding Tao mulai merasakan khasiat dari Obat Dewa Pengetahuan.
Ingatannya bekerja jauh lebih baik, panca inderanya menajam beberapa kali lipat, satu tingkat kesadaran dan kewaspadaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Sebenarnya ada perasaan ragu akan khasiat obat itu, tapi sekarang Ding Tao mulai menyesal mengapa dia tidak menuruti saja nasihat Murong Yun Hua sejak awal.
Ding Tao belum mulai mempelajari kitab itu lagi, tapi dari apa yang dia rasakan Ding Tao memiliki keyakinan bahwa hari ini dia akan mendapatkan banyak kemajuan.
Tetap dalam posisi duduk bersila dan mata terpejam, Ding Tao mulai menggali ingatannya.
Tanpa perlu membuka kitab itu, Ding Tao bisa mengingat dengan jelas setiap detail dari apa yang pernah dia baca.
Penemuan ini membuat semangat Ding Tao berkobar.
Dengan tekun dalam posisi yang sama pemuda itu mulai mempelajari, merenungkan dan menelusuri apa yang telah dia baca selama beberapa hari ini.
Begitu tenggelam Ding Tao dalam mempelajari ilmu itu, hingga jalannya waktu tidak lagi dia rasakan.
Tanpa terasa hari sudah mulai mendekati malam, tubuhnya terasa lemas dan Ding Tao pun tersadar bahwa dia sudah lupa akan waktu.
Perlahan pemuda itu menenangkan semangatnya dan membuka mata.
Kakinya sudah lama mati rasa dan perutnya sekarang terasa lapar, tapi hal itu tidak dapat membuat Ding Tao kehilangan semangatnya.
Kemajuan yang dia capai dalam satu hari ini jauh melebihi apa yang dia capai selama lima hari sebelumnya.
Dengan fisik lemah tapi semangat berkobar pemuda itu memnuhi kebutuhan fisiknya untuk makan dan beristirahat.
Tidak berani dia untuk meneruskan pembelajarannya, dipaksanya untuk menutup mata dan beristirahat.
Lama kemudian baru Ding Tao bisa tertidur, meskipun sudah biasa melatih agar pikirannya tunduk pada kehendaknya.
Khasiat obat itu membuat pikirannya bekerja dengan energi yang melonjak-lonjak.
Ditambah lagi dengan semangatnya yang bangkit setelah mendapat kemajuan yang berarti.
Keesokan harinya Ding Tao tidak sabar untuk segera mulai merenungkan isi kitab itu.
Tapi kali ini dia tidak sampai lupa dengan kebutuhan fisiknya.
Demikian berlanjut hingga 4 hari lamanya, pada hari ke-11 Ding Tao sudah berhasil memahami isi kitab itu.
Memang benar kata-kata ayah Murong Yun Hua, dengan mengamati sifat hawa liar Tinju 7 Luka yang mengeram di tubuhnya dan pemahamannya akan isi kitab itu, Ding Tao menemukan kecocokan di antara keduanya.
Sehingga pemuda itu yakin bahwa benar kitab ini adalah sumber dari ilmu Tinju 7 Luka milik perguruan Kongtong.
Hanya dalam pengembangannya sifat merusak dan liar dari hawa pukulan itu dikembangkan jauh lebih hebat.
Ketika Ding Tao berhasil mempelajari isi kitab itu, dalam hati dia merasa ngeri melihat arah yang diambil oleh pendiri perguruan Kongtong dalam mengembangkan ilmu itu.
Karena sifat perusak yang begitu dahsyat dan ganas dari Tinju 7 Luka, diiringi dengan timbulnya sifat liar dari hawa murni yang dilatih.
Sifat-sifat ini bukan saja membahayakan korban dari Tinju 7 Luka tapi juga membahayakan pemiliknya sendiri.
Memiliki ilmu Tinju 7 Luka, tidak ubahnya memelihara harimau untuk menerkam lawan.
Jika tidak hati-hati bukan tidak mungkin harimau itu akan berbalik menyerang pemiliknya.
Beruntung Ding Tao mendapatkan kesempatan mempelajari ilmu dari kitab itu, lewat pemahamannya dan hasil renungannya Ding Tao sudah memiliki pegangan tentang bagaimana dia harus menjinakkan hawa liar dalam tubuhnya.
Dengan apa yang sudah dipahaminya mulailah Ding Tao berlatih sesuai jalan yang dia dapatkan.
Pertama-tama Ding Tao mulai menghimpun hawa murni mengikuti petunjuk dari kitab yang dia baca.
Menghimpun dan perlahan-lahan menyatukannya dengan himpunan hawa murni yang sudah dia miliki sebelumnya.
Meskipun berbeda sifat dan dasar, tapi karena cara pengolahan dan penghimpunan hawa murni mengikuti petunjuk kitab itu tidaklah liar dan seganas hawa murni Tinju 7 Luka, Ding Tao tidak mengalami kesulitan untuk menyatukannya dengan himpunan hawa murni yang sudah dia miliki sebelumnya.
Karena sudah memiliki dasar yang baik, dalam 1 bulan, latihan yang dilakukan menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Apalagi dalam menjalani latihan itu, Ding Tao hanya mengkonsumsi buah-buahan, akar-akaran dan jamur-jamur liar.
Tubuhnya dipenuhi energi yang lebih murni daripada energi yang dihasilkan dari makanan berjiwa.
Hal ini sangat menunjang dalam latihan tenaga dalam Inti Bumi yang dia lakukan.
Setelah merasa himpunan hawa murni dari tenaga inti bumi cukup berimbang dengan himpunan hawa murni yang telah dia miliki sebelumnya, mulailah Ding Tao berlatih untuk menggunakan kedua hawa murni yang berlainan sifat itu dalam jurus-jurus yang sudah dia miliki sebelumnya.
Tenaga inti bumi, berbeda dengan Tinju 7 Luka hasil pengembangannya, bersifat melumpuhkan tapi tidak melukai.
Sementara hawa murni yang dimiliki Ding Tao sebelumnya memiliki sifat yang ulet dan liat, sesuai untuk bertahan, memperpanjang stamina dan menguatkan tubuh.
Dengan dua jenis hawa murni yang berlainan sifat tapi dikombinasikan penggunaannya dengan indah, jurus-jurus serangan dan pertahanan Ding Tao berkali-kali lipat lebih kuat dan berbahaya.
Menggunakan dua hawa murni yang berbeda sifat tentu bukan hal yang mudah, tapi obat pemberian Murong Yun Hua meningkatkan kemampuan otak dan syaraf Ding Tao, ditunjang dengan dasar dan bakat yang baik.
Apa yang seharusnya butuh waktu bertahun-tahun dapat dikuasai Ding Tao dalam hitungan bulan.
Tiga bulan lamanya Ding Tao dengan tekun mematangkan penguasaannya terhadap dua macam hawa murni yang sekarang ada dalam tubuhnya itu.
Setelah berhasil meyakinkan penguasaannya, butuh 1 bulan lagi lamanya bagi Ding Tao untuk sedikit demi sedikit, membangkitkan hawa liar Tinju 7 Luka yang tertidur dalam tubuhnya dan dengan usaha yang tekun Ding Tao berhasil mengubah sifat liar dan ganas dari hawa liar Tinju 7 Luka, karena pada dasarnya Tinju 7 Luka adalah Tenaga Inti Bumi yang keganasan dan sifat merusaknya diperkuat, maka dengan mempelajari Tenaga Inti Bumi, Ding Tao memiliki jalan untuk mengolah hawa liar Tinju 7 Luka dalam tubuhnya menjadi Tenaga Inti Bumi untuk disatukan dengan hawa murni Tenaga Inti Bumi yang sudah dia himpun sebelumnya.
Demikianlah setelah kurang lebih 4 bulan setengah, Ding Tao terbebaskan dari gangguan yang diakibatkan oleh Tinju 7 Luka.
Bukan hanya itu, dalam waktu yang singkat itu, Ding Tao mengalami peningkatan yang tidak sedikit dalam hal imu silat.
Meskipun jurus-jurus yang dimiliki tidak bertambah, namun dari pengalaman dan dari segi pengendalian tenaga, Ding Tao mengalami peningkatan yang sangat pesat.
Akhirnya Ding Tao mengakhiri latihannya, pagi hari itu Ding Tao mandi berendam di kolam yang ada.
Pada awalnya tubuhnya mengerut merasakan dinginnya air, rasa kantuk yang tersisa langsung terusir jauh-jauh.
Dinginnya air tidak mampu memadamkan semangat Ding Tao yang menyala-nyala, pemuda itu bahkan berendam hingga seluruh tubuhnya masuk ke dalam air.
Setelah beberapa saat tubuhnya mulai beradaptasi dan rasa dingin yang tadi menyerang, sekarang berubah menjadi kawan.
Ding Tao memejamkan matanya, menikmati dinginnya air yang menyegarkan.
Dengan batu-batuan yang ada digosoknya segala daki dan kotoran yang melekat di tubuhnya.
Tidak lupa dia mencuci rambutnya sampai seluruh kulit kepalanya terasa seperti mau tercabut.
Keluar dari kolam Ding Tao sungguh-sungguh merasa sudah menjadi manusia yang baru.
Pakaian yang selama ini dipakainya dibakar habis.
Sudah berbulan-bulan Ding Tao tidak pernah berganti pakaian.
Ada untungnya juga karena sekarang Ding Tao jadi memiliki 2 setel pakaian bersih tanpa perlu mencuci pakaian.
Memakai mata pedang yang tajam, dengan hati-hati Ding Tao mencukur bulu-bulu rambut pendek di wajahnya.
Ketika Ding Tao melangkahkan kakinya keluar dari hutan, dia sudah terlihat segar, rapi dan tampan.
Meskipun tubuhnya sedikit lebih kurus namun dengan langkah kakinya yang makin ringan dan mantap, dan sorot matanya makin tajam, Ding Tao jadi nampak lebih berwibawa dan meyakinkan.
Ada saatnya Ding Tao merasa ragu akan arah tujuannya hari ini, tapi sudah cukup lama dia memikirkannya dan dia memutuskan untuk segera mengembalikan kitab Tenaga Inti Bumi pada Murong Yun Hua.
Ding Tao yakin setelah Murong Yun Hua mendengar penjelasannya gadis itu tentu tidak akan mendesaknya lagi tentang menjadi pewaris keluarga Murong.
Ding Tao juga masih teringat dengan pertemuan mereka yang terakhir, pemuda itu sudah berjanji untuk mengingat kenangan yang manis bersama Murong Yun Hua dan melupakan kejadian yang memalukan di hari dia berpamitan pada Murong Yun Hua.
Ding Tao sudah berjanji tentu akan dia tepati.
Jika hari ini ada keraguan untuk berkunjung, bukankah itu artinya Ding Tao tidak benar-benar melupakan kejadian itu?
Lagipula Ding Tao merasa tidak enak menyimpan kitab yang bukan miliknya.
Hatinya pun sedang dalam suasana yang riang, setelah berhasil menyembuhkan dirinya dari bekas Tinju 7 Luka.
Betapapun Murong Yun Hua dan Murong Huolin mendapatkan tempat yang khusus dalam hatinya, dan di saat dia merasa sangat berbahagia ini dia ingin sekali membagikannya pada orang-orang yang dia kasihi.
Setengah berlari pemuda itu pergi menyusuri jalan, menuju ke kediaman keluarga Murong.
Dalam waktu yang singkat, dari kejauhan Ding Tao sudah bisa melihat bangunan rumah keluarga Murong.
Tak urung jantungnya sedikit berdebar-debar, meskipun tidak seluruhnya adalah debar-debar kecemasan.
Sulit untuk menghindaro kenyataan bahwa meskipun dia menolak tapi dirinya menikmati juga apa yang dilakukan oleh Murong Yun Hua.
Tapi sebelum dia sampai di sana tiba-tiba nalurinya merasakan adanya bahaya.
Di luar sadarnya saraf-saraf di tubuhnya menegang, satu hawa membunuh bisa dirasakannya menanti beberapa langkah di depan.
Ding Tao pun berhenti melangkah, ditajamkannya telinga dan mata, diamatinya keadaan di sekelilingnya.
Matanya yang tajam akhirnya menangkap sosok seseorang yang berbaju hijau daun sedang bersembunyi di gerumbulan dedaunan di atas sebuah pohon, tidak jauh lagi dari dirinya.
Tangannya bergerak meraih pedang yang tergantung di pinggang.
Dengan pedang terhunus, dia menunjuk sosok yang sedang bersembunyi itu.
"Hei, sahabat yang ada di sana, mengapa tidak memunculkan diri saja?"
Terdengar tertawa mengikik mendirikan bulu roma.
"Hihihihi Ding Tao... Ding Tao... lama dicari tidak tahunya bersembunyi di hutan. Kenapa keluar, apakah kau kangen denganku?"
Mendengar suara itu Ding Tao segera mengenalnya, siapa lagi jika bukan Sepasang Iblis Muka Giok.
Tapi kali ini Ding Tao tidak gentar menghadapi mereka.
Dengan kondisinya saat ini dia punya keyakinan untuk melawan sepasang Iblis itu.
Dengan senyum tawar dia menjawab.
"Memang benar, aku sudah kangen, kangen, tidak tahan ingin memberi hajaran pada pantat kalian yang bau itu."
Dengan suitan nyaring sepasang Iblis itu melompat keluar dari tempat mereka bersembunyi.
Kali ini sepasang Iblis itu rupanya sedang ingin menakut-nakuti orang.
Karena dandanan mereka benar-benar cocok jika dikatakan sebagai setan.
Baca Juga: Jago Pedang Tak Bernama 2
Baca Juga: Pendekar Kelana 2