Ceritasilat Novel Online

Kedele Maut 4

Eps 4 Kedele Maut - Khu Lung

Baca online Kedele Maut - Khu Lung

Cersil Kedele Maut - Khu Lung.

"Jadi maksudmu isi surat yg disebarkan orang she Kho itu bukan niatnya yg sebenarnya, tapi merupakan siasat mengulur waktu berhubung ia merasa tenaganya kelewat minim?"

Tanya Kim loji berkerut kening. Chin sian kun segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Itu sih tidak, menurut pendapatku, Kho sauhiap bukan seorang manusia yg lain dimulut lain dihati, aku hanya berpendapat bahwa apa saja yg dikatakan olehnya dan tindakan apapun yg dilakukannya, belum tentu orang akan mempercayainya dg begitu saja!"

Kim lotoa ikut menghela napas panjang.

"Yaaa, kejadian manakah didunia ini yg tidak begitu? Siapa punya kedudukan dan kekuatan, biar berkentut pun dikatakan harum, tapi bagi mereka yg tak mempunyai kekuasaan dan kekuatan, he...he...sekalipun membelah dada dan mengorek keluar hatinya pun, orang lain tetap menuduhnya yg bukan2."

Berhubung Kim kong sam pian memang menaruh kesan yg sangat baik terhadap Kho Beng, otomatis perasaan mereka pun bertambah berat dan ikut memikirkan keselamatan pemuda tsb.

Chin sian kun memperhatikan sekejap perubahan wajah ketiga orang rekannya, lamat2 sekulum senyuman nampak tersungging diujung bibirnya, tapi hanya sebentar kemudian ia sudah berkata lagi dg wajah amat serius.

"Sejak aku meninggalkan telaga Tong ting dalam keadaan gusar dan mengundang saudara sekalian keluyuran dalam dunia persilatan hingga kini sudah lewat sebulan lebih, selama ini pula aku sudah memutar otak dan merenungi diri bermalam-malam lamanya, aku rasa ada sepatah dua patah kata yg tak enak rasanya bila tak kuutarakan keluar!"

Kim lotoa tersenyum, dg sikap bersungguh-sungguh segera katanya.

"Adikku, kita toh bukan baru berkenalan satu dua hari, apalagi kita pun mengalami tuduhan yg sama, boleh dibilang kita adalah senasib sependeritaan, nila kau ingin menyampaikan sesuatu lebih baik, katakan saja secara blak-blakan."

Dg suara rendah tapi serius Chin sian kun segera berkata.

"Tapi kalian mesti berjanji dulu, entah perkataanku betul atau salah, harap kalian bertiga jangan menjadi gusar."

"Chin lihiap, apa-apan kamu ini"

Teriak Kim loji.

"sekalipun kau mengumpat kami, terus terang saja kami bersaudara tak akan berpikiran picik!"

Chin sian kun segera manggut2, setelah memperhatikan sekejap sekelilingnya dan yakin kalau tiada orang yg mencuri dengar, ia baru berkata lagi dg suara lirih.

"Selama kalian mengembara dialam dunia persilatan tanpa arah tujuan, sering kali kalian tiba disuatu tempat, kalian tak pernah menyambangi teman, baru datang sejenak lalu meninggalkan tempat tsb secepatnya, sebetulnya maksud tujuan apakah yg terkandung didalam benak kalian?"

Pertanyaan itu dg cepat membuat Kim kong sam pian menjadi tertegun dan saling perpandangan dg wajah melongo. Selang berapa saat kemudian Kim lotoa baru balik bertanya.

"Adikku, menurut pendapatmu apakah tujuan kami yg sebenarnya?"

Setelah tersenyum, Chin sian kun berkata.

"Menurut pengamatanku, agaknya kalian tiga bersaudara sedang mengejar sesosok bayangan hanya saja kalian enggan mengutarakannya keluar karena kalian sendiripun masih suram dan tak jelas dg perasaan sendiri...."

"Ehmm, rasanya kata-katamu itu memang tepat sekali"

Seru Kim loji.

"didalam benakku memang terdapat sesosok bayangan samar2, tapi aku sendiri tak tahu siapakah itu?"

"Tapi bagiku, justru telah kuketahui siapakah bayangan yg memenuhi benak kalian bertiga selama ini"

Sela Chin sian kun tertawa. Tentu saja Kim kong sam pian menjadi sangat keheranan , tanpa terasa meeka bertanya bersama-sama.

"Siapakah dia?"

"Dia tak lain adalah Kho sauhiap!"

Sahut si nona dg wajah serius dan bersungguh-sungguh.

Nampak jelas Kim kong sam pian bergetar keras sekali, sesudah gelagapan sesaat, akhirnya mereka terbungkam dalam seribu bahasa.

Yang dimaksud sepatah kata menyadarkan orang dari lamunannya adalah begini keadaannya.

Memang benar, sejak tertangkapnya Li Sam dan diadili secara bersama ditelaga Tong ting, kemudian meninggalkan kota Gak yang dalam keadaan mendongkol, didalam benak Kim kong sam pian memang selalu muncul sesosok bayangan, hanya sekejap mereka sendiri tak tahu bayangan siapakah yg sudah masuk kedalam benaknya itu.

Tapi setelah diungkap oleh si walet terbang berwajah ganda Chin sian kun sekarang, kemudian dipikirkan sejenak, segera terasalah bahwa apa yg dikatakan memang benar.

Namun oleh karena persoalan itu bisa mengakibatkan pengaruh yg besar sekali bagi nasib mereka semua, padahal mereka pun belum mengetahui maksud tujuan Chin sian kun yg sebenarnya, maka mereka bertiga hanya membungkam diri saja.

Setelah menghela napas panjang kembali, Chin sian kun berkata.

"Aaaai, terus terang saja aku bilang, sejak semula sesungguhnya akupun mempunyai perasaan yg sama, namun setelah kupikir dan kutelaah lebih jauh akhirnya dapatlah kupahami keadaanku yg sebenarnya."

Mendengar itu, Kim lo sam segera tertawa terbahak-bahak.

"Ha...ha...ha...rupanya si walet terbang berwajah ganda yg namanya menggetarkan kawasan Sam siang telah dihinggapi benih cinta, tak heran kalau segala persoalan bisa kau pecahkan secara gamblang...ha...ha...ha...nampaknya kita masih punya kesempatan untuk menikmati arak kegiranganmu!"

Merah jengah selembar wajah Chin sian kun, cepat2 ia berseru.

"Sam hiap, aku toh sedang membicarakan persoalan yg penting, kau malah menggoda orang saja...."

"Persoalan perkawinan toh termasuk persoalan yg penting, tak heran kalau kau menjamu kami hari ini, memangnya kami hendak disuruh menjadi mak comblang?"

Chin sian kun semakin tersipu-sipu

Jilid 15 ..dibuatnya, saking malunya dia sampai menundukkan kepalanya rendah-rendah. Akhirnya Kim lotoa yg tak tega, buru-buru tegurnya.

"Lo sam, kau sudah kelewat banyak minum, hayo jangan berbicara semaunya lagi macam orang edan!"

Kemudian sambil berpaling kearah Chin sian kun, katanya lebih jauh.

"Adikku, barusan kau bilang sudah dapat memahami persoalan yg sebenarnya, tapi bagaimana sih persoalan yg sebenarnya itu?"

Sampai lama sekali Chin sian kun baru dpt mengendalikan debaran hatinya, dg suara lirih ujarnya kemudian.

"Aku rasa perasaanku tak akan berbeda jauh dg perasaan kalian bertiga, setelah dibuat mendongkol oleh segala tuduhan tanpa dasar, sebenarnya kita berharap sekali bisa menemukan Kho sauhiap utk mengungkap seluruh isi hati kita kpdnya, krn hanya berbuat begitu pikiran dan perasaan kita baru lega, entah bagaimana menurut Kim tayhiap?"

Kim lotoa menghela napas panjang.

"Yaa, tepat sekali, tak nyana kecerdasan adikku memang benarbenar hebat, setelah berkumpul hari ini, aku Kim lotoa benar-benar merasa kagum sekali, terbukti sudah bahwa apa yg tersiar dlm dunia persilatan selama ini memang benar."

"Aaah, Kim toako hanya pandai memuji saja,"

Sela Chin sian kun sambil tertawa.

"ucapanmu malah membuat aku malu berbicara lebih jauh."

Kim lotoa segera tertawa terbahak-bahak...

"Ha...ha...ha...padahal perkataanku bukan bermaksud mengumpakmu, aku benar-benar merasa kagum dan berbicara sebenarnya. Hanya saja...aaai, kini identitas Kho sauhiap sudah jelas, keadaan dan situasi pun telah berubah, kalau sebelumnya kami memang berhasrat utk menemukan jejaknya, maka sekarang rencana tsb harus mengalami perubahan!"

"Yaa benar!"

Si nona mengangguk.

"apabila kita teruskan pencarian ini, maka aku kuatir tuduhan yg bukan2 dari pihak mereka akan berubah menjadi sungguhan."

Sementara itu Kim losam telah menghabiskan sepoci arak, agaknya rasa mangkel dan dongkolnya belum habis dilampiaskan keluar. Ketika mendengar perkataan itu, sambil mendengus segera serunya.

"Bukankah pernah kukatakan tadi, kalau ingin memberontak, marilah berontak dg sungguh-sungguh, sekalipun tuduhan mereka jadi sungguhan, apa pula ruginya buat kita?"

Tiba-tiba Kim lotoa membentak keras.

"Sam te, kau anggap saat ini adalah saat yg bagaimana? Apakah kau sudah bosan hidup dan ingin mencari kerepotan buat sendiri?"

Agaknya Chin sian kun mempunyai pikiran lagi, ketika mendengar perkataan mana, cepat ia menyela.

"Kim toako, perkataanmu kelewat berpandangan picik, bagaimanapun juga Kho sauhiap adalah keturunan orang termasyhu, baik kecerdikan maupun kebesaran jiwanya jauh melebihi kebanyakan orang, menurut pendapatku dia bukanlah tokoh dlm sangkar, jika ingin berbicara soal enghiong hanya atas dugaan sementara, aku pikir hal ini masih terlalu awal."

Kim lotoa kelihatan agak tergetar, sekarang baru benar-benar menyadari bahwa si Walet terbang berwajah ganda yg tersohor ini benar-benar sudah jatuh cinta kpd Kho Beng.

Maka dg nada menyelidiki segera tanyanya.

"Lantas bagaimana menurut pendapatmu?"

Tanpa pikir panjang sahut Chin sian kun.

"Menurut pendapatku, daripada sepanjang hidup kita mengembara dalam dunia persilatan tanpa tujuan dan selalu menjadi cemoohan orang lain, mengapa kita tidak melakukan pertaruhan besar dg mencari kesempatan lain utk muncul kembali dlm percaturan dunia persilatan? Asal Kho sauhiap muncul kembali dlm arena dunia persilatan, berarti saat bagi kita utk melampiaskan semua rasa mangkel dan mendongkol pun telah tiba. Hanya entah bagaimana pendapat Kim toako sendiri?"

"Soal ini..."

Krn menghadapi keputusan yg bakal mempengaruhi nasib mereka selanjutnya, Kim lotoa menjadi ragu-ragu utk mengambil keputusan.

Terbayang kembali olehnya akan tuduhan tanpa dasar yg dilontarkan kepadanya ketika berada di Gak yang tempo hari, iapun mengetahui posisi Kho Beng yg terjepit sekarang.

Sementara ia masih termenung dan susah mengambil keputusan, Chin sian kun yg sedang mengawasi kejalan raya tiba-tiba tampak tertegun, lalu serunya gelisah.

"Toako bertiga, cepat lihat! Siapakah dia?"

Dg perasaan terkejut, Kim kong sam pian berpaling, mereka mengira Chin sian kun telah menemukan Kho Beng.

Ketika menengok kearah jalan raya, disitu mereka hanya menyaksikan banyak orang sedang berlalu lalang, bukan saja tdk melihat Kho Beng, seorang yg dikenal puntak nampak.

Dg keheranan Kim lotoa segera bertanya.

"Adikku, siapa yg telah kau lihat?"

Sambil menunding ketempat kejauhan sana, bisik si nona.

"Kim toako, coba kau lihat kearah lima kaki didepan sana, bukankah dimuka toko kain tsb berdiri seorang perempuan?"

Kim kong sam pian segera berpaling kembali kearah toko kain diseberang jalan, dan memang benar tampak seorang perempuan sedang berjalan dg pelan.

Perempuan itu membawa sebuah payung bulat, memakai baju berwarna putih bersih, meski hanya nampak bayangan punggung saja hingga tak diketahui bagaimanakah raut mukanya, namun bunga giok putih yg menghiasi sanggulnya nampak menyolok sekali.

Sayangnya Kim kong sam pian tdk berpikir lebih jauh, krn mereka sangat asing dg perempuan tsb, tanpa terasa Kim losam bertanya.

"Apakah kau kenal dgnya?"

Dg sedikit kebingungan dan tak habis mengerti Kim kong sam pian mengawasi nona itu dg wajah melongo, namun oleh krn Chin sian kun sudah menuruni tangga, terpaksa mereka pun harus mengikutinya.

Padahal hidangan sebanyak itu diatas meja belum berkurang sedikit pun juga, tentu saja kejadian ini membuat para pelayan menjadi gelagapan dan tak tahu apa yg mesti diperbuat.

Ketika mereka berempat meninggalkan rumah makan Poan gwat kie, tampaklah perempuan berbaju putih itu sudah berada sepuluh kaki didepan sana.

Dlm keadaan begini, Kim lotoa tak dpt mengendalikan diri lagi, segera tanyanya.

"Adikku, sebenarnya apa yg telah terjadi?"

Sambil mempercepat langkahnya, Chin sian kun berkata.

"Apakah kalian lupa dg ciri wajah si Kedele Maut yg pernah kita dengar utk pertama kalinya ditelaga Tong ting tempo hari?"

Paras muka Kim kong sam pian seketika berubah hebat, agak tercengang Kim lotoa berseru.

"Darimana kau bisa tahu kalau perempuan tsb adalah si Kedele Maut...?"

"Memakai baju putih, membawa payung bulat dan mengenakan bunga putih disanggulnya, bukankah ciri tsb pernah disinggung oleh Kho sauhiap kpd kita semua?"

"Tapi bukankah Kho sauhiap pernah melakukan ralat atas keterangannya itu?"

Seru Kim lotoa. Chin sian kun segera tertawa dingin.

"Kim toako mengapa kau begitu bodoh, tentu saja ralat yg dilakukan sauhiap hanya bermaksud utk mengelabui pandangan kita semua, hanya saja memang aku blm mengerti secara pasti, mengapa utk pertama kalinya dulu ia sampai memberikan keterangan semacam itu kpd umat persilatan."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, keempat orang itu sudah berhasil menyusul kebelakang perempuan tadi, selisih jarak mereka tinggal empat lima langkah lagi.

Tiba-tiba Kim lotoa menarik ujung baju Chin sian kun sembari bisiknya lirih.

"Ei...tunggu sebentar!"

Chin sian kun agak tertegun, lalu dg wajah bersemu merah tanyanya keheranan.

"Ada urusan apa?"

Sambil menghentikan langkahnya Kim lotoa segera berkata.

"Benarkah dia sebagai kakak kandung Kho sauhiap hingga kini masih merupakan teka teki, aku dengar ia sangat gemar membunuh, seandainya perbuatan kita yg membuntuti serta menegurnya menimbulkan kecurigaan atas diri kita berempat sehingga membangkitkan nafsu membunuhnya, bukankah hal ini berarti mencari penyakit buat diri sendiri, maksud baik berubah menjadi niat jahat?"

Teguran tsb kontan saja mengejutkan hati Chin sian kun, tanpa terasa dia menghentikan langkahnya seraya mengangguk.

"Yaa, perkataan toako memang benar, hampir saja aku berbuat kesalahan besar krn belum terpikir sama sekali akan soal itu."

"Lagipula aku ingin tahu, megapa kau mesti mengambil tindakan menyerempet bahaya?"

Tanya Kim lotoa lebih lanjut. Dg paras muka bersemu merah sahut Chin sian kun.

"Seandainya ia benar-benar si Kedele Maut, bukankah menemukan dirinya sama artinya dg menemukan Kho sauhiap?"

Lalau sambil menggigit bibir seraya termenung sesaat, katanya kemudian.

"Hmmm, aku punya akal sekarang, tolong toako bertiga mengikuti beberapa langkah dibelakangnya saja, andaikata terjadi kesalah pahaman sehingga berkobar pertarungan, kalian dpt membantuku bila perlu. Sekarang biar aku lewat dulu disampingnya, akan kucoba utk menegurnya dg beberapa kata."

Kim kong sam pian mengangguk kegirangan, mereka segera memperlambat langkahnya.

Sementara itu si Walet terbang berwajah ganda telah mempersiapkan diri baik-baik dan mempercepat langkahnya maju kedepan.

Belasan langkah kemudian ia sudah melalui sisi tubuh perempuan berbaju putih tadi.

Setelah lewat ia berlagak menoleh seraya menyapa.

"Hey, tak disangka enci dari keluarga Kho pun berada disini?"

Sikapnya yg begitu hangat seakan-akan sahabat karib yg baru bersua saja, benar-benar amat mesra.

Akan tetapi setelah ia dpt melihat dg jelas usia serta raut muka perempuan berbaju putih itu, tiba-tiba saja timbul keraguan dlm hatinya.

Sewaktu utk pertama kali ia mendengar berita yg dibawa anggota Sam goan bun tempo hari, konon usia si Kedele Maut baru dua puluhan tahun, krn usia begitu memang cocok sekali menjadi kakak kandung Kho Beng.

Sebaliknya meski perempuan ini berdandan amat sederhana, bermuka bulat telor berhidung mancung dan bibir kecil, namun usianya pasti lebih dari dua puluhan tahun.

Memang buat seorang wanita utk menebak usia perempuan lainnya seringkali agak cocok, menurut penilaian si Walet terbang berwajah ganda, paling tidak perempuan ini telah berusia dua puluh limaan tahun, lagipula sudah tak mirip seorang gadis perawan.

Lantas benarkah dia si Kedele Maut?

Diakah enci kandung Kho Beng?

Jangan-jangan ia salah menegur?

Betul juga, tatkala mendengar sapaan dari Chin sian kun tadi, perempuan itu nampak menghentikan langkahnya, dg wajah agak tertegun, tapi setelah memperhatikan lawannya sekejap, segera jawabnya sambil tertawa ringan.

"Nampaknya adik sudah salah melihat orang!"

Chin sian kun tak mau menyerah dg begitu saja, berlagak-lagak tertegun kembali serunya.

"Ooooh...jadi toaci tidak berasal dari marga Kho?"

Perempuan itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak, aku tidak bermarga Kho, aku bermarga Ciu!"

Agak curiga Chin sian kun berkata.

"Aneh benar, sudah jelas Kho sauhiap menerangkan kepadaku bahwa encinya mempunyai wajah serta dandanan yg mirip sekali dgmu..."

Mencorong sinar aneh dari balik mata perempuan itu setelah mendengar ucapan tsb, sambil menggeleng tukasnya.

"Adik pasti sudah salah melihat orang, aku sama sekali tak punya keluarga dari marga Kho sejak kawin dg suamiki dari marga Ciu, akupun belum pernah mendengar bila suamiku mempunyai sahabat atau keluarga dari marga Kho..."

Setelah jelas mengetahui bahwa lawannya bukan seorang gadis, Chin sian kun baru betul-betul merasa kecewa, sambil segera katanya cepat-cepat.

"Kalau begitu siaumoy benar-benar telah salah melihat, harap toaci jangan marah."

Baru selesai berkata, tiba-tiba terdengar Kim losam berseru dg suara keras.

"Coba lihat, bukankah dia adalah Kho sauhiap?"

Sambil berkata ia segera menunjuk kebelakang tubuh Chin sian kun.

Dg perasaan terkejut buru-buru si nona berpaling, benar juga tampak Kho beng bersama empat orang lelaki aneh berjalan melintasi sebuah jalanan dan menyusup kedalam lorong kecil, dimana bayangan tubuhnya segera lenyap dari pandangan.

Sayang sekali ia kelewat gelisah utk menengok kearah Kho Beng sehingga tak sempat terlihat olehnya bahwa perempuan tadi pun menyunggingkan sekulum senyuman aneh diujung bibirnya sehabis mendengar perkataan tsb, tiba-tiba saja ia membalikkan badan lalu berjalan menuju kearah rumah makan Poan gwat kie.

Sementara itu, Chin sian kun yg telah berhasil menemukan jejak Kho Beng pun tak mau membuang waktu lagi, ia segera memberi tanda kepada Kim kong sam pian, kemudian cepat-cepat menyusul kearah mana pemuda tadi lenyap.

Siapa sangka setibanya ditikungan lorong tadi, ia hanya melihat banyak manusia berlalu lalang disitu, bayangan Kho Beng maupun keempat lelaki aneh tadi sudah lenyap dari pandangan.

Dlm pada itu Kim kong sam pian telah menyusul kesisi Chin sian kun, ketika tak menjumpai bayangan tubuh anak muda itu, buruburu Kim lotoa berkata.

"Sudah kau temukan dirinya?"

Chin sian kun menghela napas panjang.

"Aaaai...belum, agaknya dia sengaja hendak menghindari dari kita semua!"

Kim losam segera tertawa.

"Kota Tong sia bukan sebuah kota yg terlalu besar, asalkan orangnya masih disini, aku rasa tak mungkin ia bersembunyi dibawah tanah!"

Mendengar itu Chin sian kun segera tersenyum.

"Yaa, perkataan Sam ko memang betul, bagaimanapun jua kita kan tak punya urusan, mari kita cari jejaknya dg seksama."

Seraya berkata ia segera beranjak menelusuri jalan sambil celingukan kesana kemari.

Kalau gadis ini bersemangat utk mencari jejak Kho Beng krn benih cinta yg sudah tumbuh didlm hatinya, maka Kim kong sam pian justru mengikuti dibelakangnya dg begitu saja.

Namun kenyataannya ternyata jauh diluar dugaan, walaupun mereka berempat telah menelusuri seluruh kota Tong sia dan setiap jengkal tanah sudah hampir mereka periksa semua, namun bayangan tubuh Kho Beng serta keempat lelaki aneh itu sama sekali tak nampak kembali.

Akhirnya Chin sian kun mulai mendongkol bercampur kesal, sedang Kim kong sam pian pun mulai bermandi peluh.

Ketika melihat senja sudah menjelang sementara pencarian mereka tetap nihil, Chin sian kun yg kelelahan segera berkata kpd Kim kong sam pian.

"Lebih baik kita mencari sebuah rumah penginapan dulu utk beristirahat."

Sesungguhnya Kim kong sam pian sendiri pun sudah kelelahan, tentu saja mereka tak punya usul lain, maka mereka berempat pun menginap dirumah penginapan yg memakai merk "Hong hian"

Begitu memasuki ruang belakang dg wajah murung dan kesal Chin sian kun segera menjatuhkan diri duduk dikursi, Melihat keadaan si nona, Kim lotoa segera menghiburnya.

"Asal sudah kita ketahui kehadiran Kho sauhiap dikota Tong sia, aku rasa kau pun tak usah terlalu gelisah lagi?"

Tiba-tiba Chin sian kun menghela napas panjang.

"aaaai... padahal lebih baik kita tak usah mencarinya, sebab bila ditemukan malah banyak ruginya dari pada untungnya."

Mendengar perkataan itu, Kim kong sam pian segera menjadi tertegun dan melongo, pikirnya.

"Yg hendak mencarinya juga kau, sekarang yg mengusulkan jangan dicari juga kau, yaa....perasaan wanita memang benar-benar susah diduga..."

Tak tahan lagi Kim loji segera bertanya.

"Adikku, apa maksud perkataanmu itu?"

"Pembicaraan kita sewaktu berada dirumah makan tadi belum diperoleh suatu kesimpulan ataupun keputusan, tak ada salahnya kalian bertiga berpikir sekarang, kalau toh kita belum bisa mengambil keputusan tentang sikap yg bagaimana mesti kita ambil dalam menghadapi Kho Beng, sekalipun berhasil menemukannya, lalu apa pula yg hendak kita lakukan...?"

Sekarang Kim kong sam pian baru memahami maksudnya, serentak mereka terbungkam dlm seribu bahasa. Sambil mengucap Chin sian kun kembali berkata.

"Persoalan ini menyangkut nasib kita selanjutnya, karena itu kalian bertiga wajib mempertimbangkan dulu untung ruginya, sekarang aku hendak kembali kekamar utk beristirahat dulu, kalian bertiga tak ada salahnya utk memenfaatkan kesempatan ini utk berpikir masak-masak, tapi ada satu hal yg perlu kujelaskan dulu, entah bagaimana pun keputusan yg bakal kalian ambil, aku Chin sian kun sudah bertekad utk melakukan pertarungan besar ini."

Habis berkata buru-buru dia keluar dari ruangan. Kim kong sam pian yg berada dlm ruangan saling pandang sejenak sambil termenung, akhirnya Kim lotoa menggeliat sambil berkata.

"Aku rasa persoalan ini bisa kita bicarakan secara pelan-pelan, mari kita pergi bersitirahat lebih dulu."

Kim loji dan Kim losam menyetujui usul Kim lotoa, saat ini mereka memang membutuhkan waktu utk beristirahat sebentar, maka setelah menguap berulang kali, mereka pun membaringkan diri diatas ranjang.

Belum sampai terlelap tidur, mendadak dari kamar sebelah berkumandang suara rintihan lirih, tapi makin lama suara rintihan tsb makin keras.

Orang yg mengantuk seringkali mudah naik darah bila terganggu oleh suara yg berisik, Kim losam yg pertama-tama naik darah, sambil melompat bangun dari pembaringan, umpatnya.

"Anjing busuk darimana yg berada dikamar sebelah, berisik betul mengganggu ketenangan oranng."

Sambil membetulkan pakaian ia segera bangkit dan membuka pintu kamar....

Tentu saja Kim lotoa juga tak dpt beristirahat, masing-masing segera bangun dari pembaringan.

Ketika melihat diknya meninggalkan kamar, Kim lotoa segera menegur dg suara dalam.

"Sam te, jangan gegabah!"

Sebetulnya Kim losam hendak menerjang kedlm kamar sebelah, ketika mendengar suara bentakan dari toakonya, terpaksa ia hanya berhenti dimuka pintu kamar sambil umpatnya dg suara keras.

"Hey sobat, bila kau sedang sakit, suruh lah pelayan utk memanggilkan tabib, tempat ini bukan rumahmu, tapi penginapan, bila kesakitan tahanlah sedapat mungkin, jangan sampai mengganggu ketenangan orang lain...."

Sementara ia masih berkaok-kaok, pintu kamar diujung sana dibuka orang lalu nampaklah Chin sian kun yg baru bangun tidur munculkan diri sambil bertanya.

"Sam ko, siapa sih yg berdiam dikamar sebelah?"

Rupanya diruang belakang terdapat tiga buah kamar, krn sewaktu datang yg tengah sudah diisi tamu, maka mereka tdk terlalu memperhatikan.

Tapi setelah Kim kong sam pian tdk dpt tidur krn berisik, otomatis Chin sian kun yg berada dikamar ujung sebelah sana pun mengalami keadaan yg tak berbeda.

Sementara itu Kim losam telah berseru sambil tertawa dingin.

"Siapa yg tahu manusia atau telur busuk yg berdiam disitu...."

Kalau tdk dimakai keadaan masih mendingan, begitu diumpat maka suara rintihan yg berasal dari ruangan itu pun berkumandang makin keras dan nyaring.

Bukankah hal ini sama artinya dg sengaja mencari gara-gara?

Kim lotoa menjadi amat curiga, segera bentaknya.

"Sobat yg berada dlm kamar, benarkah kau menderita sakit parah?"

Sambil menegur ia mendorong pintu ruangan, ternyata pintu kamar tdk dikunci dan segera terbuka.

Ketika delapan sorot mata mereka tertuju kw dlm ruangan, serentak orang-orang itu menjadi tertegun.

Ternyata orang yg merintih didalam kamar adalah seorang kakek berambut putih yg wajahnya kuning kepucat-pucatan.

Kakek itu duduk diatas pembaringan dg bersandar pd dinding, mulutnya merintih tiada hentinya, sementara sorot matanya mengawasi keempat orang yg berada diluar pintu tanpa berkedip, agaknya tenaga utk berbicara pun sudah tak punya.

Menyaksikan keadaan tsb, perasaan iba segera muncul di dlm hati kecil Kim kong sam pian serta Chin sian kun, hanya saja dlm hati kecil masing-masing diliputi perasaan tak habis mengerti, kalau toh orang tua itu menderita sakit parah, mengapa ia tdk berbaring sebaliknya malah tetap duduk?

Chin sian kun segera menegur lebih dulu.

"Orang tua, bolehkah kami masuk ke dlm?"

Orang tua itu manggut-manggut. Tiga saudara Kim segera melangkah masuk kedalam kamar dan mengambil tempat duduk, kemudian Kim lotoa baru bertanya.

"Parahkah sakit yg kau derita orang tua?"

Kakek itu mengangguk, sambil menghela napas, katanya dg lemah.

"Terima kasih banyak utk perhatian anda, hanya saja aku menjadi tak tentram krn sudah mengusik ketenangan tidur kalian."

Kim losam tertawa jengah.

"Kami hanya tak dpt mengendalikan emosi sehingga mengumpat kau orang tua sekenanya, utk itu harap lotiang jangan marah, padahal siapa sih yg bisa menjaga kondisi masing-masing selama berada diluar rumah? Cuma saja....kalau toh totiang menderita penyakit parah, mengapa kau tidak meminta tolong pelayan utk memanggilkan tabib?"

"Aaaai...!"

Sekali lagi sikakek menghela napas sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau memang sakit mana boleh tidak diobati?"

Seru Kim loji cepat.

"bila totiang sedang kekurangan bekal, tak perlu sungkansungkan, kami bersedia utk membantu!"

Sembari berkata dia hendak merogoh saku. Buru-buru sikakek menggoyangkan tangannya berulang kali sambil katanya.

"Maksud baik kalian berempat biar lohu terima dlm hati saja, padahal aku bukannya tak mampu memanggil tabib utk memeriksa sakitku, dlm kenyataannya penyakit yg kuderita ini tak nanti akan bisa diobati oleh tabib mana pun!"

"Penyakit apasih yg lotiang derita?"

Tanya Chin sian kun agak tercengang. Sekali lagi si kakek menghela napas.

"kalian berempat bukan tabib sekalipun sudah aku sebut pun tak ada gunanya, hanya saja ada sebuah persoalan ingin aku tanyakan , semoga kalian dpt menjawab dg sebenarnya."

"Katakan saja lotiang!"

Buru-buru Kim losam berseru.

"Kalau dilihat dandanan kalian berempat sebagai jagoan persilatan, pernahkah mendengar tentang seorang yg bernama Kho Beng?"

Mendengar pertanyaan tsb, keempat orang tsb nampak terperanjat sekali.

"Ada urusan apa sih lotiang mencari Kho Beng?"

Chin sian kun segera menegur. Setelah menghela napas, kakek itu berkata.

"Aku hanya dpt memberitahukan kpd kalian bahwa aku Cuma mendapat titipan dari seseorang, apa daya aku sedang menderita sakit parah dan tak mampu berkutik, krn nya terpaksa aku Cuma bisa bertanya kpd kalian berempat."

"Ooooh"

Kim lotoa manggut-manggut.

"Siapa sih yg menitipkan persoalan itu kpd lotiang? Persoalan apa yg hendak disampaikan?"

Kakek itu tertawa minta maaf.

"Aku hanya dpt memberitahukan kpd kalian bahwa orang itu adalah seorang wanita, sedang masalah yg lain maaf kalau aku tak bisa memberitahukan kpd kalian."

Dg tak sabar Kim losam berseru.

"Padahal orang she Kho itupun berada dikota Tong sia, sayang sekali kami hanya sempat melihatnya dari kejauhan, sewaktu disusul ternyata usaha kami mengalami kegagalan."

Kakek itu menjadi kegirangan, buru-buru serunya.

"Aaah...tak kusangka begitu kebetulan, ada suatu benda aku mohon kpd kalian berempat agar disampaikan kpd Kho Beng, apakah kalian bersedia membantu?"

Sementara Kim lotoa masih termenung, dg gembira Chin sian kun telah berseru.

"Kalau memang lotiang minta tolong kpd kami, tentu saja kami akan mengusahakannya."

Sikakek segera mengalihkan pandangan matanya ke wajah Kim kong sam pian, kemudian tanyanya.

"Apakah kalian bertiga mempunyai suatu kesulitan?"

Kim lotoa menjawab cepat.

"Setelah Chin lihiap menyanggupi, tentu saja kami akan berusaha membantunya."

"Kalau begitu, kuucapkan banyak terima kasih lebih dulu!"

Seru si kakek kegirangan. Sembari berkata ia mengambil sepucuk surat yg tertutup rapat dari bawah pantatnya, sambil diangsurkan ketangan Kim lotoa, katanya.

"Isi surat ini penting sekali, harap kalian berempat menyimpannya secara baik-baik!"

Cepat-cepat Kim lotoa bangkit dari tempat duduknya utk menerima, siapa tahu ketika ujung jarinya hampir menyentuh sampul surat itu, mendadak si kakek tadi melepaskan sampul surat tadi lalu secepat kilat tangannya menyambar kemuka, dg cepat kelima jari tangannya mencengkeram urat nadi Kim lotoa erat-erat.

Sesungguhnya Kim lotoa bukan orang sembarangan, betapa terperanjat ia menghadapi kejadian tsb, cepat-cepat ia menarik tangannya sementara sebuah bacokan kilat dilontarkan dg telapak tangan kanannya.

Tapi sayang walaupun ia cukup cepat menghindarkan diri toh tak berhasil meloloskan diri dari ancaman kelima jari tangan kakek itu, tak ampun pergelangan tangannya segera tercengkeram dg telak.

Dlm waktu singkat Kim lotoa merasakan hawa darah didalam dadanya bergolak kencang, tenaga pukulan yg dilontarkanpun punah ditengah jalan.

"Plaaaak...!"

Ketika sampul surat itu jatuh kelantai, ternyata menimbulkan suara yg berat.

Sementara itu Chin sian kun, Kim loji dan Kim losam telah dibuat tertegun oelh perubahan yg berlangsung secara mendadak itu, utk sesaat mereka tak mampu berbuat apa-apa.

Akhirnya Kim losam melotot dg amarah teriaknya keras-keras.

"Bagus sekali! Rupanya kau si keledai tua sedang menipu kami dg siasat busuk, ayoh cepat bebaskan toako ku!"

Sambil berseru, tubuhnya menerjang kemuka kuat-kuat, telapak tangannya bagaikan bacokan golok langsung dihantamkan kedada kakek tsb.

Jangan dilihat kakek tsb kelihatan lemah dan tak bertenaga, sekalipun tubuhnya tetap duduk tak bergerak diatas pembaringan namun tindak tanduknya cukup cekatan.

Tiba-tiba saja ia menarik tubuh Kim lotoa, kemudian ia memutar pergelangan tangannya sehingga tubuh Kim lotoa berputar seratus delapan puluh derajat dg muka menghadap keluar, dg begitu ia persis menyambut serangan dari Kim losam dg tubuh rekannya sendiri.

Tentu saja Kim losam menjadi sangat terperanjat, tergopohgopoh dia menarik kembali serangannya sambil melompat mundur , begitu mendongkolnya dia sampai giginya saling beradu gemerutukan.

Sementara itu si kakek sudah membentak lagi dg suara dalam.

"Barang siapa berani bertindak bodoh lagi, jangan salahkan bila kubunuh rekan kalian lebih dulu!"

Oleh karena rekannya dibuat sebagai sandera, maka Kim loji serta Kim losam hanya bisa mendelik besar sambil berkaok-kaok penuh amarah.

Sementara itu Chin sian kun pun amat terperanjat, ia tak dpt menduga asal usul kakek tsb, tapi ia kuatir sekali, sebab bila kakek ini utusan dari tujuh partai besar, dg diketahuinya usaha membelot mereka berarti posisi mereka selanjutnya menjadi bertambah runyam...

Sekuat tenaga ia berusaha utk mengendalikan perasaan ngeri dan seram yg mencekam hatinya, kemudian setelah tertawa dingin katanya.

"He...he...he...ternyata lotiang adalah seorang jagoan lihay, tapi entah apa maksudmu berbuat selicik ini untuk menjebak kami?"

Kakek itu tersenyum.

"Apa yg telah kukatakan bukan alasan yg dibuat-buat tapi benarbenar merupakan kenyataan, aku pun sungguh menderita luka parah, bahkan aku memang bersungguh hati hendak minta tolong kpd kalian utk mencarikan Kho Beng..."

Mengetahui bahwa si kakek benar-benar menderita luka parah, Kim loji dan Kim losam saling bertukar pandang sekejap, kemudian bersiap sedia melakukan tindakan berikut.

Tapi si kakek segera membentak keras.

"Lebih baik kalian berdua jangan bertindak bodoh, sekalipun aku menderita luka parah, namun aku masih yakin bahwa kemampuan kalian berempat belum sampai kupandang sebelah matapun."

Sekali lagi Kim loji dan Kim losam amat terperanjat. Dalam pada itu Chin sian kun telah berkata sambil tertawa merdu.

"Bukankah kami sudah bersedia utk mencarikan Kho Beng seperti apa yg kau kehendaki, tapi mengapa kau justru melakukan tindakan semacam ini...?"

Kakek itu tersenyum.

"Bersediakah nona menyebutkan dulu nama sendiri serta tiga bersaudara ini?"

Pintanya.

"Aku bernama Chin sian kun, berdiam di Siang pak, sedang mereka bertiga adalah Kim kong sam pian dari Gak yang. Tolong tanya siapa nama kau orang tua?"

Kembali kakek itu tersenyum.

"Aku tak punya nama, tapi orang-orang menyebutku sebagai Bu wi!"

"Haaaahh...!"

Begitu mendengar nama "Bu wi", baik Kim kong sam pian maupun Chin sian kun sama-sama terperanjat dibuatnya sehingga berseru tertahan.

Mimpi pun mereka tak mengira kalau si kakek tak lain adalah Bu wi lojin, satu di antara tiga tokoh sakti yg sudah termasyur dlm dunia persilatan semenjak lima puluh tahun berselang.

Buru-buru Chin sian kun memberi hormat, seraya berkata.

"Oooh, rupanya kau adalah Bu wi locianpwee, terus terang saja aku bersama tiga bersaudara Kim memang berniat membelot utk bergabung dg Kho sauhiap, oleh sebab itu harap cianpwee jangan salah paham dan segera membebaskan Kim toako!"

Namun Bu wi lojin masih mencengkeram tangan Kim lotoa kencang-kencang, ia menggeleng dan berkata sambil tertawa lembut.

"Sewaktu terjun kembali kedunia persilatan akupun sudah banyak mendengar tentang kegagahan Kim kong sam pian serta Walet terbang berwajah ganda, akupun tahu kalian berempat bukan orang jahat, itulah sebabnya tindakanku sekarang tidak berniat jahat, tapi berhubung benda dalam sampul itu penting sekali artinya, sedang asal usul Kho Beng pun luar biasa sekali, dimana lebih banyak musuh ketimbang temannya, maka terpaksa aku mesti menggunakan Kim tayhiap sebagai sandera, utk itu harap kalian sudi memakluminya."

Setelah berhenti sejenak dan menunding sampul surat dilantai, katanya lebih jauh.

"Tolong nona Chin bersama jihiap dan samhiap pergi mencari Kho Beng serta menyerahkan surat tsb kepadanya, suruh ia datang kemari secepatnya. Kelicikan manusia didunia ini susah diraba sehingga mau tak mau aku mesti bertindak lebih berhati-hati, biarlah kusandera Kim tayhiap sementara waktu, bila Kho Beng telah sampai disini aku pasti akan minta maaf kpd Kim tayhiap, selain itu utk kesekian kalinya ingin kutegaskan bahwa aku tidak berniat jahat terhadap Kim tayhiap, sedang kehadiran Kim tayhiap disini pun pasti aman. Selesai persoalan ini akan kuberi hadiah lain sebagai balas jasanya, nah sekarang mohon kalian bertiga utk melakukannya."

Kim loji, Kim losam maupun Chin sian kun emmang agak jeri terhadap nama besar Bu wi lojin, mendengar perkataan tsb mereka saling pandang sekejap, akhirnya Kim losam berkata.

"Kalau toh cianpwee berkata begitu, kami akan segera pergi mencari Kho sauhiap utk membuktikan ketulusan hati kami yg sesungguhnya...."

Habis berkata dia memungut sampul surat itu, kemudian memberi tanda kpd Kim loji dan Chin sian kun.

Namun setelah mereka bertiga keluar dari penginapan Hiong hien dan mengawasi jalan yg terbentang didepan mata, mereka segera saling berpandangan sekejap dg perasaan murung.

Sudah setengah harian lebih mereka melakukan pencarian tadi tanpa hasil yg nyata, sekarang kemanakah mereka harus pergi utk menemukan jejak Kho Beng?

Padahal, mimpi pun mereka tak mengira sewaktu mereka melakukan pencarian ketiap sudut rumah tadi, sesungguhnya Kho Beng sedang duduk dg tenang dirumah makan Pon gwat kie yg baru mereka tinggalkan.

Memang disinilah letak kelemahan manusia, Chin sian kun sekalian berpendapat bahwa mereka baru saja meninggalkan rumah makan Poan gwat kie, maka walaupun sudah dua tiga kali melewati pintu muka rumah makan tsb, namun mereka tdk masuk utk memeriksanya kembali.

Berbeda dg Kho Beng, sesungguhnya ia sudah melihat kehadiran Kim kong sam pian sekalian tapi berhubung maksud kedatangannya kesitu adalah utk menelusuri jejak In nu siancu dan tak ingin mencari keributan yg lain, maka sedapat mungkin ia berusaha utk menghindari orang-orang tsb.

Tapi dia sendiripun tdk menyangka kalau Kim kong sam pian serta Chin sian kun terpengaruh oleh pembelotan Li sam hingga dicurigai oleh rakan-rekannya sendiri dimana dalam gusarnya mereka justru sedang mencarinya utk bergabung.

Tentu saja ia pun tidak tahu kalau Bu wi lojin yg sedang dicaricari berada pula dikota Tong sia, malah menderita luka parah dan berdiam dirumah penginapan Hiong hien dimana ia sedang dicaricari utk bertemu.

Memang kadangkala banyak kejadian yg berlangsung sangat kebetulan kadangkala justru bertentangan satu sama lainnya sehingga terjadi banyak peristiwa yg tak diinginkan.

Apa yg telah dialami Kho Beng waktu itu?

Utk mengetahui keadaannya, maka waktu harus diundur setengah hari lagi yaitu sepeminuman teh setelah Kim kong sam pian dan Chin sian kun meninggalkan rumah makan Poan gwat kie.

Saat itu Kho Beng beserta keempat pengawalnya menghindar pula kedalam rumah makan tsb.

Disinilah letak kecerdikan Kho Beng.

Ia berpendapat Kim kong sam pian berempat mustahil akan memeperhatikan tempat itu lagi krn mereka sebelum meninggalkan tempat tsb, saat menunjukkan tengah hari yaitu saat banyak orang bersantap siang.

Untuk menghindari hal inilah, maka dia pun mencari tempat duduk didekat loteng dekat jendela, benar juga apa yg dia duga, dua kali ia menyaksikan Kim kong sam pian berempat celingukan disekitar rumah makan tsb tanpa berniat masuk kedalam utk mencarinya, diam-diam ia jadi sangat geli selain rasa bangga yg meluap.

Selain memesan hidangan dan belum lagi bersantap, tiba-tiba Kho Beng kelihatan seperti tercenung lalu bangkit berdiri, ulah pemuda tsb tentu saja amat mengejutkan Rumang serta Hapukim sekalian berempat.

Ternyata Kho Beng telah menjumpai pula bayangan punggung perempuan berbaju putih yg pernah ditegur Chin sian kun tadi sedang berdiri membelakangi meja kasir.

Oelh karena orangtsb memiliki perawakan tubuh yg terlalu mirip dg encinya, ditambah lagi payung serta bunga putih disanggulnya, membuat Kho Beng amat kegirangan.

Seperti juga Chin sian kun, kepada Rumang sekalian segera bisiknya.

"Coba kalian tunggu sebentar disini, aku segera balik!"

Selesai berkata buru-buru ia meninggalkan tempat duduknya menuju kemeja kasir. Waktu itu si perempuan berbaju putih tadi sedang menyerahkan seguci arak kepada kasir sambil berkata merdu.

"Arak yg dibutuhkan majikan kami adalah arak terbaik, coba siapkan satu kati lagi!"

Sang kasir yg gemuk segera mengiakan berulang kali sambil ketawa namun ketika melihat Kho Beng yg berjalan mendekat, sekilas perasaan kaget yg susah ditemukan sempat melintas dalam sorot matanya, ia segera membalikkan badan utk mengambil arak.

Sementara itu Kho Beng telah sampai dibelakang tubuh perempuan berbaju putih itu, segera sapanya dg suara lirih.

"Enci....."

Dg cepat perempuan berbaju putih itu berpaling.

"Aaaahh!"

Tiba-tiba Kho Beng berseru tertahan.

Ternyata sekarang ia baru menyadari bahwa bayangan punggung yg dianggap sebagai encinya itu ternyata adalah perempuan lain, kontan saja pipinya berubah menjadi merah padam karena jengah.

"Ooooh, maaf,maaf..."

Buru-buru serunya.

"rupanya aku telah salah melihat..."

Belum selesai perkataan itu diucapkan, perempuan berbaju putih itu telah menyela sambil tertawa.

"Oooh...rupanya Kho kongcu!"

Panggilan itu sediit diluar dugaan Kho Beng, ia merasa tak pernah kenal dg perempuan tsb, tapi kenyataannya pihak lawan justru kenal dg nya. Maka sesudah tertegun sejenak, segera ujarnya.

"Kau...kau kenal dg diriku?"

Perempuan berbaju putih itu segera tersenyum.

"Budak bernama Ciu hoa, pernah kudengar nona kami melukiskan raut muka kongcu..."

"Siapakah nonamu?"

Seru Kho Beng cepat, setelah melengak beberapa saat. Mendadak Ciu hoa merendahkan suaranya dan berbisik.

"Nona kami adalah cicimu, Kho yang ciu!"

Kho Beng menjadi kegirangan setengah mati, segera tanyanya.

"Dimanakah ciciku berada?"

"Dia berada diruang belakang rumah makan Poan gwat kie ini, biar budak siapkan arak lebih dulu kemudian baru mengajak kongcu kesitu!"

Sambil berkata ia segera menerima guci arak dari tangan si kusir gemuk itu. Kemudian baru ia berkata lagi kpd Kho Beng.

"Silahkan kongcu mengikuti budak!"

Habis berkata ia segera berjalan lebih dulu menuju keruang belakang rumah makan itu.

Ketika Kho Beng mengikuti dibelakangnya, si kusir gemuk itu tiba-tiba menampilkan secercah senyuman yg sangat aneh.

Setelah melangkah keluar pintu ruangan, ternyata dibelakang sana merupakan sebuah kamar tamu yg sangat indah.

Dg pandangan terkejut Kho Beng memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu serunya.

"Aaah, tak kusangka rumah makan Poan gwat kie merangkap juga usaha penginapan!"

Ciu hoa tertawa.

"Kami berdiam diruangan yg paling belakang sana...."

"Heran!"

Gumam Kho Beng tiba-tiba.

"sudah dua kali aku bertemu cici, mengapa belum pernah melihat dirimu?"

"Dulu budak mendapat tugas menjaga abu leluhur, barubelakangan ini menyusul siocia terjun kedalam dunia persilatan."

"Aaaah...maksudmu kau enjaga abu dari Gin san siancu cianpwee?"

Dg suara sedih Ciu hoa mengangguk.

"Sebenarnya budak sudah berjanji kepada nona utk menjaga abu selama tiga tahun, apa mau dibilang aku tak pernah tentram hatinya membiarkan nona berkelana sendiri dalam dunia persilatan, krn itu secara diam-diam meniggalkan gunung utk menyusulnya!"

Tanpa terasa Kho Beng menaruh perasaan kagum atas kesetiannya dan ditengah tanya jawab inilah mereka telah sampai dihalaman paling belakang, disitu ia menyaksikan terdapat dua bilik dg pepohonan liu yg amat rindang, tempat tsb memang merupakan sebuah tempat tinggal yg amat tenang.

Tapi sesudah melangkah masuk kedalam ruangan, kembali Kho Beng menjadi termangu, rupanya ditengah ruangan terdapat sebuah meja besar dg pelbagai macam hidangan, perangkat sumpit dan cawan elah tersedia namun tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Baru saja Kho Beng hendak bertanya, ambil tertawa Ciu hoa telah berkata lebih dulu.

"Berhubung masih ada urusan lain, nona belum kembali silahkan kongcu duduk lebih dulu."

Sambil menunjuk kearah hidangan dimeja, Kho Beng bertanya keheranan.

"Tapi hidangan ini...."

Buru-buru Ciu hoa menukas.

"Sebenarnya nona sedang menjamu seorang teman lamanya, tapi berhubung chen koan keh masuk secara tergesa-gesa entah persoalan apa yg dilaporkan, ternyata nona segera mengajak tamunya pergi dg melompati dinding pagar, tapi sebelumpergi ia sempat meninggalkan pesan kepada budak, katanya sebentar dia akan kembali maka budak disuruh tetap menyiapkan hidangan ini!"

"Tapi kemana perginya Cun bwee serta Sin hong?"

Tanya Kho Beng setelah mengambil tempat duduk.

"Mereka ikut nona keluar rumah, tak ada salahnya bila kongcu duduk menanti sambil minum arak, budak rasa segera nona akan balik kemari, toh ia sudah bilang hanya akan pergi sebentar saja."

Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali tanda ia tak ingin makan, sementara hati kecilnya menaruh curiga, dia tak tahu persoalan penting apakah yg telah ditemui cicinya?

Kalau dibilang bukan urusan penting, mengapa pula ia pergi secara tergesa-gesa?

Berapa saat sudah lewat, Kho Beng duduk termenung sambil menunggu cicinya kembali, tapi orang yg ditunggu belum nampak juga.

Ketika melihat Ciu hoa berdiri terus disisinya tanpa berkutik, lama-kelamaan ia menjadi rikuh sendiri, maka sambil bangkit berdiri segera katanya.

"Aku rasa lebih baik nanti saja aku balik lagi...."

Tapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, buru-buru Ciu hoa telah berkata lagi.

"Bagaimana pun juga kongcu toh sudah menunggu sampai sekarang, kenapa mesti buru-buru pergi? Bila nona sampai tahu, ia pasti akan memarahi budak yg dibilang tak mampu melayani kongcu."

"Tapi aku masih mempunyai empat teman yg menunggu diluar...."ucap Kho Beng.

"Soal ini tak usah kongcu kuatirkan"

Sela Ciu hoa.

"tentu saja budak dapat berpesan kpd sang kasir agar baik-baik melayani mereka, hingga kini kongcu belum bersantap siang, masa harus pergi dg begitu saja? Meski hendak pergi, toh rasanya belum terlambat jika bersantap lebih dulu."

Saat ini Kho Beng memang merasa agak lapar, melihat Ciu hoa begitu bersikap hormat kepadanya, ia pun berpikir.

"Bagaimana pun juga tempat ini toh kediaman cici, kalau mesti bersikap sungkan, rasanya hal ini malah lucu sekali...."

Berpendapat demikian, maka dia pun manggut-manggut, katanya sambil tertawa.

"Terus terang saja, perutku memang terasa agak lapar, kalau cici memang berpesan begitu,baiklah aku mengisi perut lebih dulu!"

Ciu hoa tertawa merdu..

"Sebetulnya diantara saudara sendiri memang tak perku bersungkan-sungkan, kalau tidak, orang luar pasti mentertawakan. Mari biar budak mengisikan secawan arak lebih dulu utk melegakan pikiran.."

Sambil berkata dia mengambil guci arak yg baru dibawa masuk tadi dan mengisi secawan arak penuh utk Kho Beng. Buru-buru Kho Beng menerimanya sambil berkata.

"Aku tak biasa minum, biar cukup secawan saja!"

Ia menerima cawan itu dan menegak isinya sampai habis, seketika itu juga segulung hawa panas muncul dari pusarnya dan menjalar keseluruh bagian tubuhnya, tiba-tiba saja kepalanya terasa pening.

Detik itu juga Kho Beng merasakan keadaan tak beres, matanya segera melotot besar dan ia melompat bangun.

Tapi Ciu hoa sudah berseru sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Roboh! Roboh!"

"Budak bajingan! Besar amat nyalimu!"

Bentak Kho Beng membentak keras-keras.

"tak nyana kau berani mencelakai diriku secara licik..."

Sepasang telapak tangannya segera disiapkan utk melancarkan bacokan kilat ketubuh Ciu hoa.

Tapi sayang keadaa sudah terlambat, tahu-tahu dunia serasa berputar kencang, pandangan matanya berkunang-kunang, ia tak sanggup lagi mempertahankan diri....

"Blaaamm!"

Badannya roboh terjungkal keatas tanah.

Ciu hoa kembali tertawa terkekeh-kkeh, mendadak ia bertepuk tangan tiga kali.

Dari sisi ruangan segera muncul enam orang lelaki berbaju hitam, kepada Ciu hoa serentak mereka memuji.

"Siasat Lengcu betul-betul hebat sekali!"

Ciu hoa tertawa bangga, katanya.

"Hayo cepat gotong dirinya masuk keloteng rahasia, beritahu kepada Ong cianpwee dkasir agar baik-baik melayani keempat orang asing tsb!"

Sementara itu Rumang, Hapukim dan dua bersaudara Mo masih bersantap dg lahapnya sepeninggalan Kho Beng tadi.

Hingga perutnya terasa kenyang, mereka baru teringat kalau hingga saat itu Kho Beng belum juga kembali.

Hapukim mulai celingukan kesana kemari dg tak sabar, lalu berseru keheranan.

"Apa yg sudah terjadi? Kenapa cukong kita hilang lenyap dg begitu saja?"

"Jangan-jangan bocah keparat itu memanfaatkan kesempatan in utk melarikan diri"

Seru Rumang sambil menggebrak meja.

"He...he...he...Molim tertawa dingin.

"seandainya ia bermaksud melarikan diri, sepanjang jalan ia sudah banyak mempunyai kesempatan utk berbuat begiut, buat apa dia menunggu hingga sekarang?"

"Yaa, perkataan toako memang benar!"

Sambung Mokim.

"toh orangnya msih didalam sana, sekalipun belum namapak buat apa kita mesti gelisah."

Rumang mengedipka mata, tiba-tiba ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak, Hapukm segera menegur.

"Apa sih yg lucu?"

Sambil tertawa ujar Rumang .

"Sebenarnya aku mengira cukong kita adalah seorang kuncu, kemudian baru kuketahui rupanya dia adalah seorang pipi licin, yang suka perempuan!"

Mendengar perkataan tsb, Hapukim dan dua bersaudara Mo segera teringat kembali dg sikap Kho Beng yg buru-buru menghindar ketika melihat tiga orang lelaki kekar (Kim kong sam pian) dari kejauhan tadi, namun sekarang setelah masuk mengikuti seorang perempuan lalu lupa keadaan dan waktu.

Hingga tanpa terasa mereka pun turut tertawa.

Walaupun empat orangjago sakti dari luar perbatasan ini ratarata buas dan licik, namun jalan pikiran mereka masih terlalu sederhana, ditambah lagi mereka pun belum begitu paham tentang seluk beluk Kho Beng dg pelbagai masalahnya, maka kepergian sang pemuda yg kemudian tak pernah muncul kembali ini bukan dianggap sebagai suatu tanda bahaya sebaliknya mereka malah menafsirkan pemuda itu sebagai seorang lelaki hidung bangor yg sedang menikmati kehangatan tubuh wanita.

Begitulah setelah tertawa terbahak-nahak beberapa saat, Hapukim berkata kemudian.

"Yaa, berbicara sesungguhnya, nona-nona dari daratan Tionggoan memang mengasyikkan dg segala macam yg memikat hati, tidak heran kalau cukong kita menjadi lupa daratan sehingga begitu masuk kekamar lantas melupakan kita....."

Molim mendengus dingin, katanya pula.

"Hmmm, mengikuti manusia busuk macam begini, saban hari dari siang sampai malam mesti menuruti perkataannya, sudah lama kita merasa muak dan sebal..."

"Yaaa...kalau ingin mendapatkan anak masa masa induknya dibuang dulu"

Sambung Mokim.

"apa boleh buat terpaksa kita mesti bersabar dulu sekarang, tapi apa yg mesti kita perbuat dewasa ini? Memanggilnya keluar dari kamar? Atau duduk saja menanti?"

Baru selesai ia berkata, Si kasir yg gemuk telah datang menghampiri dan berkata sambil tertawa.

"Toaya berempat, Kho kongcu telah berpesan kepadaku agar baik-baik melayani kalian, katanya dia masih ada urusan sehingga tuan berempat tak perlu menunggu lagi, selain itu kongcu pun telah telah menyuruh hamba utk memesankan sebuah kamar dirumah penginapan seberang sana, katanya kalian dipersilahkan utk beristirahat dulu!"

Rumang tertawa terkekeh-kekeh, tanyanya sambil berpaling.

"Sebetulnya cukong kami lagi apaan sih didalam sana?"

Si kasir gemuk pura-pura tertegun, lalu tanyanya keheranan.

"Masa Kho kongcu tidak memberitahukan keperluannya kepada kalian?"

Hapukim segera menepuk bahu si kusir dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

"Ha...ha...ha... toako emmang makin lama makin pintar saja, kalau pekerjaan yg lain boleh dirahasiakan, masa masalah main perempuan pun mesti diumumkan? Ha...ha...ha...."

Buru-buru si kusir gemuk membungkukkan badan sambil tertawa dibuat-buat, katanya kemudian.

"Toaya memang cerdik sekali..he...he...he..utk biaya makan telah dilunasi Kho kongcu tadi, bila kalian berempat tak ada permintaan lain, hamba hendak mohon diri dulu."

Rumang segera mengulapkan tangannya berulang kali, kemudian kepada Hapukim dan dua bersaudara Mo katanya.

"Begitupun ada baiknya juga, sudah dua puluhan hari lamanya kita tak pernah beristirahat secara baik, mumpung hari ini punya kesempatan, mari kita pergi mencari kesenangan, mari kita cicipi kehangatan nona-nona daratan Tionggoan!"

Karena mereka memang sedang menganggur dan meresa tak punya urusan lain, tentu saja usul tsb segera disetujui ketiga orang rekan lainnya, maka berempat pun beranjak pergi dari tempat duduk masing-masing dan berjalan keluar.

Sewaktu baru melangkah keluar dari pintu rumah makan Poan gwat kie, kebetulan sekali Chin sian kun serta dua bersaudara Kim sedang lewati tempat tsb.

Perjumpaan yg sama sekali tak terduga tsb mengundang kedua belah pihak sama-sama tertegun.

Dg wajah berseri Kim losam segera berbisik kepada Chin sian kun.

"Bukankah keempat orang itu yg melakukan perjalanan bersama Kho sauhiap? Tak disangka mereka pun berada dirumah makan Poan gwat kie.."

Chin sian kun segera tampil kedepan dan menjura kepada Rumang sambil sapanya.

"Saudara berempat, mengganggu sebentar, boleh kutahu siapa nama kalian....?"

Melihat kecantikan wajah Chin sian kun ibarat bunga yg baru mekar, Rumang jadi kegirangan setengah mati sambil tertawa terkekeh-kekeh segera katanya.

"Belum lagi kami pergi mencari, eeh siapa tahu si nona datang menghantarkan diri, he...he...he..aku bernama Rumang, sedang ketiga rekanku ini adalah saudara Hapukim serta saudara Molim dan Mokim...."

Agak geli Chin sian kun melihat sikap Rumang yg kesemsem oleh kecantikannya, sambil bersikap lebih genit segera tegurnya lagi sambil tersenyum manis.

"Ooooh, rupanya saudara Rumang, saudara Hapukim dan dua bersaudara Mo, tolong tanya kenapa tak nampak Kho kongcu bersama kalian?"

Rumang segera tertawa bergelak.

"Kau sedang menanyakan cukong kami? Ha...ha...ha..."

Belum sempat dia meneruskan kata-katanya, Molim sudah menyikutnya keras-keras membuat ia menjadi melengak. Sambil berpaling segera tegurnya.

"Mo lotoa, apa-apaan kau ini?"

Jilid 16

"Masa kau lupa bahwa cukong kita berusaha menghindari mereka sewaktu bersua tadi?"

Bisik Molim lirih.

"bukankah hal tsb menandakan bahwa mereka adalah musuh bukan sahabat?"

Kontan saja Rumang menjadi terkejut, sambil menggaruk-garuk kepalanya yg tak gatal, katanya.

"Yaa, hampir saja aku melupakan hal ini."

Dg pandangan dingin Molim menatap sekejap Chin sian kun bertiga lalu balik tegurnya.

"Boleh kami tanya, siapa nama kalian bertiga?"

"Aku she Chin"

Sahut si nona sambil tertawa.

"sedang mereka berdua adalah dua bersaudara she Kim dari telaga Tong ting, kami semua adalah teman Kho sauhiap."

"Oooh, kalian adalah teman cukong kami, maaf!maaf!"

Jengek Molim tertawa dingin.

"Bolehkah kami tahu berada dimanakah Kho sauhiap sekarang?"

Buru-buru Kim losam menyela.

"Ada urusan apa kau mencarinya?"

"Kami mempunyai berita penting yg hendak disampaikan kepadanya, selain itu ada benda yg amat berharga utk diberikan kepadanya!"

"Soal apa? Dan barang berharga apa? Coba kau sebutkan kepada kami dulu..."

Cepat-cepat Kim losam menggeleng.

"Tidak bisa! Kami harus bertemu dg sauhiap sekarang juga."

Tapi Molim segera menggeleng pula sambil menjengek.

"Maaf, rasanya kami belum pernah mendengar cukong kami menyinggung-nyinggung tentang kalian, karena itu kedatangan kalian tak bisa kami sampaikan..."

Kim losam menjadi tertegun dan sesaat lamanya tak tahu apa yg mesti diperbuat. Melihat itu, Chin sian kun segera berseru sambil tertawa merdu.

"Mo lotoa, tolonglah bantu kami, karena persoalan tsb tak dapat ditunda-tunda lagi."

"Hmmm, kalau memang tak bisa ditnda lagi, lebih baik kalian pergi mencarinya sendiri"

Seru Molim ketus. Selesai berkata, ia segera mengulapkan tangannya kpd Rumang sekalian sambil katanya.

"Hayo kita berangkat mencari kesenangan, jangan biarkan mereka mengusik kegembiraan kita."

Melihat kempat orang itu hendak pergi dari sana, Kim loji menjadi naik darah, segera bentaknya penuh amarah.

"Hey! Sebenarnya kalian mengerti aturan tidak?"

"Siapa bilang kami tak tahu aturan?"

Balas Rumang sambil melotot dg sinar bengis.

"Kalau tahu aturan, semestinya kalian pun mengerti bahwa kami adalah sahabat majikan kalian dan sekarang hendak mencarinya krn ada urusan penting, mengapa kalian enggan melaporkan kedatangan kami?"

Rumang tertawa seram, katanya .

"Bila kalian adalah sahabat cukong kami, setelah bertemu kalian tadi, dia pun tak akan berusaha menghindarkan diri..he...he....siapa lagi yg hendak kalian bohongi? Bila tidak segera angkat kaki dari sini, jangan salahkan bila golokku akan membacok tubuh kalian!"

Sekarang Chin sian kun baru tahu sebabnya keempat orang tsb enggan melaporkan kedatangan mereka, cepat-cepat ia menjelaskan.

"Aku rasa Kho kongcu menaruh salah paham atas kehadiran kami."

Dg suara dingin, Molim menyela.

"Nah, bukankah kalian sudah tahu sendiri, lebih baik kalian mencari dia lebih dulu untuk menjelaskan kesalah pahaman tsb kemudian baru mencari kami lagi."

Menyaksikan keempat orang itu dibujuk halus gagal, didesak dg kekerasan pun tak bisa, Chin sian kun menjadi sangat mendongkol, segera bentaknya.

"Sebenarnya kalian mau bicara tidak?"

"He...he...he...sudah mulai sewot nampaknya"

Ejek Rumang tertawa seram.

"tak susah bila menginginkan kami berbicara, tapi kau mesti menemani kami dulu tidur semalam!"

Hijau membesi selembar wajah Chin sian kun ketika mendengar perkataan tsb, tangannya segera meraba gagang pedangnya dan mencabutnya keluar dari sarung, bentaknya keras-keras.

"Anjing suku asing! Kemari kau! Nyonya muda akan mewakili majikanmu untuk memberi pelajaran dulu kepada kalian."

Rumang tertawa makin keras, teriaknya sambil mengejek.

"Aduh mak...benar-benar menarik, rupanya kau ingin main senjata dg ku?"

Melihat senjata tajam sudah berbicara, penduduk kota yg kebetulan berada disekitar jalanan tsb segera berlarian tunggang langgang utk menyelamatkan diri.

Sesungguhnya Kim loji sudah diliputi amarah yg membara namun setelah melihat suasana disana menjadi kacau, buru-buru dia menghalangi si nona utk menyerang.

Kepada Mo bersaudara ujarnya kemudian.

"Kami tidak bermaksud jahat terhadap kalian, apakah kamu berempat tak bisa diajak utk berunding."

He...he...he...maksud baik atau jahat sama-sama tak ada sangkut pautnya dg kami, pun kami juga tak mengerti menjalin hubungan dg orang lain"

Kata Mokim sinis. Kim losam sangat marah, bentaknya nyaring.

"Tampaknya kalian anjing-anjing pingin dicambuki."

Rumang balas tertawa seram.

"Terlepas sampai dimana kemampuan dan jumlah kalian, memangnya kami takut untuk menghadapi kalian?"

Kemudian setelah mendengus dingin terusnya.

"Cukup mendengarkan ucapan kalian bertiga pada kami, hari ini kami tak bisa melepaskan kalian dg begitu saja, kamu bertiga mesti mampus disini!"

Sambil berkata dia pun mencabut keluar toyanya yg berbentuk ular.

Diantara mereka semua Kim loji paling tenang dan paling berpikiran panjang, ketika dilihatnya situasi sudah tak mungkin diselesaikan secara damai, buru-buru ia berkata dg suara dalam.

"Kurang leluasa buat kita utk bertarung ditengah jalan, kalau memang ingin beradu tenaga, mari kita selesaikan diluar kota saja."

Hapukim tertawa seram.

"Kebetulan sekali, akupun ingin mencoba sampai dimanakah kemampuan dari jago-jago Tionggoan, asal kalian tdk kabur, tampat manapun sama saja buat kita!"

Betapa gelinya si kasir gemuk dari rumah makan Poan gwat kie yg ikut menyaksikan keramaian tsb dari balik pintu, diam-diam ia kegirangan setengah mati sebab baginya orang-orang itu paling baik saling gontok-gontokan dan mampus semua.

Maka kedua belah pihak pun segera berangkat menuju keluar kota.

Matahari sudah condong kelangit barat.

Si Walet terbang berwajah ganda serta Kim loji dan Kim losam disatu pihak, Rumang berempat dipihak lain kini telah berada ditengah hutan yg terpencil diluar kota Tong sia, masing-masing pihak telah berdiri saling berhadapan siap utk bertarung.

Saat itu Chin sian kun berpendapat bahwa keempat orang suku asing ini walaupun bengis dan menjengkelkan namun bagaimana jua mereka adalah anak buah Kho Beng, andaikata benar-benar sampai jatuh korban niscaya mereka akan sulit memberikan keterangan kpd pemuda tsb.

Karenanya sambil berusaha utk mengendalikan rasa gusar yg membara didalam dada, nona itu segera berkata .

"Walaupun kita tak cocok didalam pembicaraan namun sedikit banyak harus memandang diwajah majikan kalian. Aku rasa pertarungan yg akan kita langsungkan nanti dibatasi dg saling menutul saja, bila kami menderita kalah tentu saja segera akan angkat kaki dari sini sebaliknya bila kalian kalah maka kalian harus mengajak kami utk bertemu dg Kho sauhiap."

"Ha...ha...ha...sungguh menarik hati, sungguh menarik hati"

Rumang tertawa kasar.

"dari pada kita gebuk-gebukan dihutan toh lebih enak bertarung diatas ranjang."

Pucat pias selembar wajah Chin sian kun saking gusarnya seluruh badannya gemetar keras, bentaknya tiba-tiba.

"Tutup mulut anjingmu, hey orang asing! Nyonya muda sudah tak bisa bersabar lagi, bila mulut anjingmu tetap mengeluarkan katakata kotor."

Molim tertawa dingin.

"Sesungguhnya kau pun tak perlu bersabar atau mengalah, kami tidak mengerti apa yg dimaksud "dibatasi saling menutul"

Itu, bagi peraturan desa kami, bila bertarung maka mati hidup yg akan menentukan kemenangan salah satu pihak, siapa yg ungguk dialah enghiong sejati."

"Lantas bagaimana menurut pendapatmu? Kita harus bertarung cara bagaimana?"

Tanya Kim loji dg suara dalam. Kembali Molim tertawa seram.

"Walaupun kami berempat, bukan berarti kami ingin mencari kemenangan dg mengandalkan jumlah banyak, mari kita bertarunf satu lawan satu, kalian bertiga sama-sama dapat bertahan hidup terus, toh dipihak kami masih ada seorang yg tetap hidup, ia pasti akan mengajak kalian utk bertemu dg cukong!"

"Baik, kita tetapkan begitu saja"

Teriak Kim losam.

"sekarang kau dipersilahkan mencicipi dahulu kehebatan ruyung Kim kong pian ku ini...."

Sudah sejak tadi ia menekan hawa amarahnya yg meluap-luap, maka begitu selesai berkata, ruyungnya langsung berputar membentuk satu lingkaran besar dan langsung membacok batok kepala Molim.

Terkejut juga Molim melihat datangnya serangan itu, segera bentaknya sambil menggeserkan tubuhnya tiga langkah kesamping.

"Serangan yg bagus!"

Senjata tongkat berbentuk ularnya diputar dan menyongsong datangnya serangan itu.

Pedang lebih cocok dipakai utk pertarungan jarak dekat, sebaliknya ruyung lebih cocok utk pertarungan jarak jauh, tentu saja Kim losam tidak membiarkan musuh mendekatinya.

Sambil bergerak mundur, sekali lagi dia melepaskan dua kali serangan cambuk yg memaksa Molim harus beberapa kali menghindarkan diri.

Nama Kim kong sam pian memang bukan nama kosong belaka, ketiga jurus serangannya itu dilancarkan lebih lincah daripada gerakan ular sakti, bukan saja dapat bergerak secara luwes, setiap ancaman pun selalu menimbulkan angin serangan yg menderu-deru.

Untuk beberapa saat Molim tak mampu mendekati musuhnya, senjata tongkat berbentuk ularnya meski belum bisa memancarkan kekuatan hebat, akan tetapi kelincahan geraknya, pertahanannya yg ketat memaksa permaina ruyung Kim losam pun tak mampu berbuat banyak terhadapnya.

Begitu pertarungan berkobar, Hapukim yg nonton pun menjadi gatal, sambil meloloskan goloknya ia segera membentak terhadap Kim loji.

"Hey, kau jangan ngenggur terus, mari kita coba sampai dimanakah kehebatan ilmu silatmu!"

Ditengah perkataan, cahaya golok yg menggulung langsung mengancam kesisi badan Kim loji.

Rupanya ia cukup menbgambil rekannya sebagai pengalaman dan tahu kalau pihak lawan yg memakai ruyung panjang harus dihadapi dg pertarungan jarak dekat, sebab sekali posisinya tersedak niscaya semua jurus serangannya tak bisa dikembangkan.

Karenanya secepat kilat dia menyerang kemuka dan mengembangkan jurus -jurus serangannya utk mengurung Kim loji secara ketat.

Berulang kali Kim loji mencoba berkelit ataupun menghindar, namun tak pernah berhasil melepaskan diri dari jangkauan cahaya golok lawan.

Ia merasa seolah-olah cahaya golok muncul dari empat arah delapan penjuru, hal mana membuatnya terperanjat sekali.

Kerena permainan ruyungnya tak bisa dikembangkan, terpaksa ia mesti mengandalkan rangkaian ilmu pertarungan jarak dekat utk bertahan sekuat tenaga.

Dlm waktu sigkat pertarungan yg berlangsung telah menjurus dalam suatu perkelahian mati-matian, diam-diam Chin sian kun yg mengikuti jalannya pertarungan itu menjadi terkejut sekali.

Sementara ia masih termenung, tiba-tiba terdengar Rumang berteriak keras.

"Perempuan jahat! Kau jangan menonton saja, mari kita pun beradu kepandaian!"

Chian sian kun sangat terkejut, tergopoh-gopoh dia melompat kesamping utk menghindarkan diri.

Ternyata Rumang tdk mendesak maju dg goloknya, melihat sikap si nona yg gelagapan, segera jengeknya sambil tertawa tergelak.

"Tak usah gugup perempuan jahat, aku kan Cuma kepingin mencium bibirmu yg mungil, apa sih gunanya membunuhmu?"

Dg pipi bersemu merah, Chin sian kun segera mendesis, saking marahnya ia segera melepaskan sebuah tusukan kedepan sambil membentak.

"Anjing suku asing! Biar kupotong dulu lidah anjingmu itu!"

Ilmu pedang Liok hong kiam hoatnya yg diandalkan pun segera dilancarkan, kilauan cahaya tajam yg berlapis-lapis segera menyergap dan menggulung tubuh Rumang.

Tapi sepuluh gebrakan kemudian, semakin bertarung Chin sian kun merasa semakin terperanjat, ia tak mengira sama sekali Rumang yg pandai bicara kotor dan bebal macam kerbau itu sesungguhnya memiliki ilmu golok yg luar biasa hebatnya.

Jangan dilihat bacokan demi bacokannya dilancarkan secara ngawur dan tidak beraturan sama sekali, tapi kenyataannya semua serangannya tak berhasil dibendungnya sama sekali malah ada beberapa jurus serangannya yg nyaris menyambar tubuhnya.

Beberapa orang lelaki suku asing yg tak dikenal ini ternyata memiliki ilmu silat yg sangat hebat, bukan saja membuat Chin sian kun berubah wajah saking terkejutnya, dia pun merasa bingung da tak habis mengerti darimana Kho Beng bisa mengumpulkan kawanan manusia macam begini sebagai anak buahnya....

Kini tingal Mokim seorang yg berdiri sambil berpeluk tangan disisi arena, jangan dilihat kawanan busuk dari luar perbatasan ini bengis dan buas, ternyata mereka cukup memegang janji yg diucapkan, ia tidak bermaksud mencari kemenangan dg mengandalkan jumlah banyak.

Tapi situasi dlm arena pun makin lama berubah makin berbahaya dan gawat, selain Kim losam yg berhasil merebut posisi lebih dulu sehingga dg andalkan ruyung panjangnya utk bertarung jarak jauh masih tetap mengendalikan keunggulannya, dua orang yg lain Cuma bisa bertahan sama tanpa mampu melancarkan serangan balasan.

Terutama sekali Kim loji, berulangkali ia berusaha memperpanjang jaraknya dg Hapukim, namun usahanya selalu menemui kegagalan, malah serangkaian serangan golok dari Hapukim sempat membuatnya kalang kabut dan terjebak dlm posisi yg berbahaya sekali.

Atas terjadinya peristiwa ini tentu saja mempengaruhi juga semangat Kim losam dlm pertarungan, kegelisahan yg mencekam hatinya membuat dia nekad dan kurung musuh tapi niatnya tdk pernah berhasil.

Masih untung Chin sian kun lebih cepat menyadari posisinya yg tidak menguntungkan, melihat permainan golok Rumang yg aneh, ia sadar tak mungkin bisa meraih kemenangan, maka dg mengandalkan ilmu ringan tubuhnya yg sempurna, ia mulai bertarung sistem gerilya, ternyata usahanya ini menampakkan hasil, dari posisi yg terdesak sedikit demi sedikit ia berhasil mengimbangi lawan.

Pertarungan sengit ini berlangsung hingga malam tiba tanpa memberikan suatu hasil yg nyata, sebaliknya Chin sian kun makin bertarung makin gelisah, sekarang ia baru mengerti bahwa bertarung bukan suatu tindakan yg baik.

Jangan lagi pihaknya memang jauh lebih lemah ketimbang lawan, demi kepentingan Kho Beng dia pun ragu-ragu didalam melancarkan serangan sehingga hal ini berbalik malah merugikan pihaknya.

Berbeda sekali dg musuh yg tidak menguatirkan soal apapun, pertarungan yg dilanjutkan pun paling banter hanya menghasilkan kalah atau menang.

Padahal kenyataan mengatakan bahwa pihaknya yg pasti menderita kekalahan.

Dlm gelisahnya, tiba-tiba muncul akal cerdik dlm benaknya, dg suara yg berat teriaknya.

"Ji hiap, sam hiap, bertarung terus macam begini bukan suatu penyelesaian yg baik, lebih baik kita mengundurkan diri saja!"

Sembari berkata, secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan dan segera melepaskan lebih dulu dari arena pertarungan.

Dua bersaudara Kim tampaknya mengerti, juga kalau usaha mereka utk meraih kemenangan tak mungkin berhasil.

Melihat Chin sian kun telah meloloskan diri, mereka pun tak berani bertarung lebih jauh.

Kim losam yg pertama-tama mendesak mundur Molim sampai sejauh dua kaki lebih, begitu terlepas dari kepungan, ia segera melompat kehadapan Hapukim sambil memutar ruyungnya kencangkencang.

Rumang sekalian berempat memang hebat didalam ilmu silat, tapi sayangnya tak punya dasar yg kuat didalam ilmu meringankan tubuh, melihat ketiga lawannya lenyap dibalik kegelapan dan tak mungkin terkejar kembali, saking gusarnya Molim menghentakkan kakinya berulang kali sambil mengumpat.

"Benar-benar keenakan telur busuk itu!"

Terutama sekali Rumang, kalau tadi masih cengar-cengir macam kuda maka saat ini dicekam hawa amarah yg membara, teriaknya.

"Mak nya! Sebetulnya kita hendak memanfaatkan kesempatan beristirahat utk mencari kesenangan, sekarang kita malah kelelahan krn bertarung, aaai...benar-benar lagi apes!"

"Hmmm..buat apa kau berkaok-kaok tanpa guna"

Tegur Molim sambil mendengus.

"hari sudah malam, siapa tahu cukong kita sudah menunggu, ayoh cepat pulang"

Maka mereka berempat pun pulang kekota Tong sia dg uringuringan, mereka langsung menuju kerumah penginapan Say siang.

Tapi mereka tidak pernah menyangka, kalau dua bersaudara Kim dan Chin sian kun yg sudah kalah tadi, justru menguntil dibelakang mereka secara diam-diam.

Rupanya inilah taktik dari Chin sian kun, ia berpendapat kalau toh keempat jago asing itu menyebut Kho Beng sebagai cukongnya, otomatis mereka adalah pembantu-pembantu Kho Beng.

Karenanya daripada mencari penyakit buat diri sendiri, lebih baik menguntil dibelakang secara diam-diam, sebab dg cara demikian niscaya jejak Kho Beng akan ditemukan.

Maka setelah dia menyuruh dua bersaudara Kim mengikutinya jauh dibelakang, ia sendiri segera mengeluarkan sebuah topeng kulit manusia dan dikenakan diwajahnya.

Dlm waktu singkat dia telah berubah menjadi seorang dara cantik yg lain pula raut mukanya, dg wajah seperti ini maka dia bisa menguntil dibelakang Rumang sekalian secara terang-terangan.

Tapi dia tak menyangka kalau persoalannya sudah terjadi perubahan semenjak semula, saat ini apakah Rumang sekalian bisa menemukan kembali Kho Beng pun masih menjadi sebuah pertanyaan besar.

Sementara itu Rumang, Hapukim serta dua bersaudara Mo telah kembali kekota dan langsung menuju kerumah penginapan Say siang yg telah disiapkan si kasir gemuk dari rumah makan Poan gwat kie.

Baru saja mereka masuk Chin sian kun telah menyusul dibelakangnya, sedang dua bersaudara Kim tidak ikut masuk, mereka hanya melakukan pengawasan secara diam-diam dari seberang jalan.

Sementara itu Kim losam sedang berbisik kepada Kim loji.

"Ji ko, Kho sauhiap menginap dirumah penginapan tsb....!"

"Chin toa moy sudah masuk kesitu,"

Sahut Kim loji lirih.

"aku rasa kita pun tak usah terlalu gelisah, ada disitu atau tidak segera kita akan mendapat kabar!"

Tapi dia mempunyai perasaaan yg sama dg Kim losam, ia berpendapat bahwa rumah penginapan yg dipakai Kho Beng utk beristirahat sudah pasti penginapan Say siang tsb.

Siapa tahu belum habis ingatan tsb melintas lewat, tampak Rumang sekalian berempat sudah melangkah keluar dari rumah penginapan tsb dg langkah tergesa-gesa, wajah mereka kelihatan marah bercampur mendongkol agaknya pertarungan yg berlangsung tadi masi merupakan ganjalan dihati kecil mereka.

Menyusul kemudian Chi sian kun pun ikut menyusul keluar dari penginapan itu, hal tsb membuat dua bersaudara Kim menjadi tercengang dan tidak habis mengerti.

Secara diam-diam mereka segera munculkan diri dan menyongsong kedatangan nona tsb, katanya.

"Adikku, mengapa mereka keluar lagi dari penginapan?"

Dg suara agak bimbang sahut Chin sian kun.

"Menurut penuturan pelayan penginapan, Kho sauhiap memang telah menyuruh kasir gemuk dari rumah makan Poan gwat kie untuk memesan kamar belakang, tapi hingga sekarang orangnya belum nongol juga!"

"Lalu kemana perginya pemuda itu? Apakah mereka ragu?"

Tanya Kim losam lebih jauh. Chin sian kun menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Menurut apa yg berhasil kusadap dari pembicaraan mereka, tampaknya mereka sendiripun kurang begitu tahu kemana majikannya telah pergi, sekarang mereka sedang melakukan pemeriksaan dirumah makan Poan gwat kie, lebih baik kita pun menggunakan cara sama, biar aku yg menguntit mereka, sementara kalian menanti diluar, bila ada kejadian aku pasti akan mengundang kalian utk masuk!"

Selesai berkata dg langkah tergesa-gesa ia segera mendahului keempat orang tsb menuju kerumah makan Poan gwat kie.

Begitulah, tujuh orang yg terbagi dalam tiga kelompok segera berangkat menelusuri jalan raya.

Menanti Chin sian kun sudah berada dalam rumah makan Poan gwat kie, Molim sekalian baru tiba disitu dan langsung menegur si kasir gemuk.

"Hey taoke, kemana perginya orang she Kho itu?"

"Ooh, rupanya kalian berempat"

Sahut si kasir sambil tertawa.

"bukankah Kho kongcu telah pergi kepenginapan Say siang utk mencari kalian?"

Molim agak terpengaruh oleh jawaban itu, serunya lagi.

"Tapi menurut pemilik penginapan, ia bilang tak pernah menjumpai bayangan tubuh majikan kami...!"

"Oya...?"

Kasir gemuk berseru tertahan dg wajah penuh keheranan.

"kalau begitu aku sendiri pun tdk tahu, sudah hampir sejam yg lalu Kho kongcu pergi meninggalkan tempat ini."

Mendadak Rumang berseru sambil tertawa bergelak.

"Ha...ha...ha...hey kasir gemuk, kau takusah mewakili majikan kami utk berbohong...."

Dlm perkiraannya Kho Beng tak akan lebih sedang berbuat mesum dg gadis-gadis cantik, sebaliknya kasir gemuk rumah makan itu manafsirkan lain, tiba-tiba saja hatinya menjadi terkejut, sinar matanya berkilat, buru-buru dia berkata.

"Toaya, kami adalah pedagang yg bermaksud mencari untung, apa gunanya membohongi langganan?"

Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Rumang menggoyangkan tangannya sambil berseru.

"Itu mah tergantung persoalan apa yg sedang dihadapi, seperti musim panas saat ini, akurasa inilah saat terbaik utk main perempuan, lelaki manakah yg tidak romantis...?Ha...ha....apakah majikan kami sudah kelengketan gula-gula sehingga enggan meninggalkannya? Mungkin dia yg menyuruh kau berbohong agar kami berempat menunggu lagi semalaman?"

Setelah mengetahui apa yg diartikan lawannya, kasir gemuk itu menjadi geli sendiri, tapi segera ujarnya sambil menggelengkan kepala.

"Harap tuan jangan salah paham, perempuan yg dijumpai Kho kongcu tadi adalah sahabat karibnya, oleh sebab itu setelah masuk kedalam tadi, mereka terlibat dalam pembicaraan yg asyik, tidak seperti apa yg kalian duga, ia bukan perempuan lacur!"

Bila dipikirkan lebih seksama, maka jawaban yg diberikan sekarang menjadi bertentangan dg pernyataan siang tadi.

Tapi sayang, keempat orang jago lihay dari luar perbatasan ini tidak cermat sehingga tidak bisa menemukan kejanggalan tsb.

Hapukim nampak agak tertegun, lalu tanyanya.

"Lantas kemana perginya orang itu?"

"Apakah tuan berempat tidak pernah meninggalkan penginapan tsb?"

Tanya kasir gemuk setelah berpikir sebentar. Molim segera menjawab.

"Tadi kami telah bersua dg tiga orang bajingan dan terlibat dlm suatu pertarungan yg sengit, baru saja kami pulang kepenginapan."

"Aaah, tidak aneh kalau begitu"

Seru kasir tsb dg wajah bersungguh-sungguh.

"Siapa tahu Kho kongcu mendapat kalian berempat sedang terlibat dlm perkelahian, sehingga dia segera pergi mencari jejak kalian!"

Alasan tsb memang sesuai dg keadaan dan tidak mencurigakan, oleh sebab itu Molim sekalian berempat segera manggut-manggut. Kata Molim kemudian.

"Yaa, perkataan si gendut emang masuk akal, kalau begitu terpaksa kita mesti menunggu dipenginapan saja!"

Dg berlalunya Molim, otomatis ketiga orang lainnya ikut meninggalkan rumah makan Poan gwat kie tsb.

Ketika menghantar kepergian keempat orang tsb, sekulum senyum aneh sekali segera melintas diatas wajahnya, dia mengira tindakannya dlm menghadapi keempat orang asing itu sudah tepat dan sempurna sekali.

Tentu saja dia tidak menyangka kalau disisi lain masih ada orang yg menyelidiki jejak Kho Beng, jawaban yg diberikannya barusan justru telah mengundang kecurigaan dalam hatinya.

Tak salah lagi, orang itu adalah si Walet terbang berwajah ganda, Chin sian kun.

Saat ini dia duduk didekat pintu masuk dan berlagak seorang tamu yg sedang memesan semangkuk mie, sewaktu melihat Molim sekalian berempat pergi meninggalkan tempat itu, dia pun segera meninggalkan uang utk beranjak keluar rumah makan tsb.

Baru saja melangkah keluar pintu, dua bersaudara Kim telah menyongsong kedatangannya dg perasaan gelisah.

Agak kurang sabar Kim loji segera menegur.

"Apa yg telah terjadi? Kenapa keempat ekor anjing asing itu keluar lagi dari sini? Kalau dilihat dari mimik wajahnya, ia seperti tak berhasil menemukan Kho sauhiap?"

Chin sian kun manggut-manggut dg perasaan berat, katanya.

"Yaa benar, aku lihat Kho sauhiap sudah ditimpa kemalangan!"

Dua bersaudara Kim menjadi terkejut sekali, serentak mereka berseru dg lirih.

"Kemalangan apa yg telah dialaminya?"

"Aku sendiripun kurang tahu, bisa jadi ia sudah ditangkap dan disekap orang, bisa juga ia telah dibunuh atau dicelakai orang, pokoknya aku melihat gelagat kurang beres!"

Paras muka Kim loji segera berubah hebat, buru-buru serunya.

"Sebenarnya apa yg telah terjadi? Secara ringkas Chin sian kun menuturkan tanya jawab yg barusan disadapnya, kemudian ia bertanya.

"Apakah kalian berdua tidak berhasil menemukan titik kelemahan dibalik jawaban tsb?"

Kim loji termenung berapa saat, lalu sahutnya.

"Bila disimpulkan dari apa yg diketahui, tampaknya Kho sauhiap telah bersua dg seorang perempuan dan masuk keruang belakang rumah makan Poan gwat kie, sejak itu jejaknya hilang lenyap tak berbekas!"

Chin sian kun segera manggut-manggut.

"Yaa, memang begitu, selanjutnya?"

Dg cepat Kim loji menggeleng, katanya lagi.

"Soal yg lain...aku pikir sudah tiada hal-hal yg mencurigakan lagi..."

Chin sian kun segera tertawa merdu.

"Bagaimanapun juga, jalan pemikiran kalian orang laki-laki memang kelewat ceroboh, tidak teliti, kalau menurut perasaanku, kecurigaan yg terbesar justru terletak pada pertanyaan "sahabat lama"

Tsb.

"Setiap orang pasti mempunyai sahabat lama, apa yg aneh dg persoalan tsb?"

Seru Kim losam keheranan. Chin sian kun mendengus.

"Menurut apa yg berhasil kudengar dari pembicaraan Bok sian taysu, tidak sampai setahun berselang, Kho sauhiap masih berstatus seorang pemotong kayu bakar dan menimba air diperguruan Sam goan bun, bukan saja ia tidak mengetahui asal usulnya yg sebenarnya, keluar dari dinding pekarangan barang selangkah pun belum pernah, nah coba kalian pikirkan darimana datangnya "sahabat lama"

Tsb?"

"Jangan-jangan ia sudah terpikat oleh kecantikan wajah perempuan tsb?"

Kata Kim loji sambil berkerut kening.

Tiba-tiba saja timbul suatu perasaan yg sangat tidak enak dlm hati Chin sian kun, perasaan tsb tak terlukiskan olehnya dg katakata.

Tapi segera katanya lagi sambil menggeleng.

"Menurut penilaianku pribadi, Kho sauhiap bukan seorang lelaki yg suka main perempuan,itulah sebabnya dari dua hal aku berkesimpulan bahwa Kho sauhiap telah menemui ancaman bahaya. Pertama, seaktu memberi jawaban tadi, sorot mata si kasir gemuk itu berkedip tak tenang, wajahnya menampilkan senyuman palsu, jelas persoalan sekitar lenyapnya Kho sauhiap kemungkinan berhubungan erat dg halaman belakang rumah makan Poan gwat kie itu. Kedua, kalau toh si kasir berbohong dg membuat alasan yg bermacam-macam, hal ini membuktikan kalau dia memang berkomplot dg perempuan tsb, ini berarti mereka adalah musuh, bukan teman kita."

Dg perasaan terkesiap, Kim loji segera berseru.

"Jadi menurut pendapatmu, rumah makan Poan gwat kie tsb bukan rumah makan biasa tapi mempunyai persoalan besar yg amat mencurigakan sekali?"

"Bukan hanya mempunyai masalah besar yg amat mencurigakan, bisa jadi tempat tsb merupakan tempat kediaman sejumlah tokohtokoh persilatan yg berilmu tinggi."

"Kalau begitu, apa salahnya jika kita lakukan penggeledahan dari belakang sana?"

Usul Kim lo ji cepat. Buru-buru Chin sian kun berseru.

"Saat ini kita belum boleh berbuat begitu!"

"Kenapa?"

Kim loji keheranan.

"Sebelum kita memahami lebih dulu, tokoh persilatan macam apa dan berasal dari aliran manakah yg bersembunyi didalam ruang belakang rumah makan Poan gwat kie tsb, jangan sekali-kali kita bertindak secara gegabah, sebab bila kita sampai menyerbu kedalam dan bertemu dg sahabat lama atau mungkin juga orang-orang dari tujuh partai besar, bagaimana kita nantinya?"

Dua bersaudara Kim segera manggut-manggut, mereka dapat merasakan betapa sempura semua pertimbangan dan pemikiran Chin sian kun.

"Lantas apa yg harus kita lakukan sekarang?"

Tanya Kim loji kemudian dg perasaan gelisah. Chin sian kun memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya.

"Aku telah berhasil mendapatkan sebuah cara yg menguntungkan bagi kedua belah pihak, sekarang kita menghubungi dahulu beberapa orang asing itu utk diajak bekerja sama, jika bertemu dg orang yg dikenal atau orang dari tujuh partai besar maka biarlah mereka yg tampilkan diri sementara kita membantu secara diamdiam dg cara demikian kita bisa menghindari diri dari pelbagai kesulitan yg mungkin terjadi."

"Baru saja kita langsungkan pertarungan sengit, masa sekarang hendak menemui mereka lagi? Seandainya orang-orang asing itu tak mau percaya, bukankah kita bakal terlibat lagi dlm suatu pertarungan yg seru?"

Chin sian kun menghela napas panjang.

"Demi keselamatan Kho sauhiap, demi merebut kepercayaan Bu wi cianpwee terhadap kita, aku rasa kita tak mungkin mempersoalkan masalah macam begitu lagi tapi asal kita bisa menahan diri, aku rasa tak mungkin pertarungan segera bebrkobar begitu kita saling bertemu nanti."

"Yaa, terpaksa kita harus berbuat begitu."

Ucap Kim loji kemudian sambil menghela napas.

"sekalipun apa yg terjadi, kita memang harus bisa mengendalikan emosi dan sabar. Mari kita berangkat sekarang juga, jangan membiarkan waktu berlarut sehingga terjadi hal-hal yg tak diinginkan, apalagi kalau sampai menimbulkan kesalah pahaman Bu wi cianpwee terhadap kita."

Maka mereka bertiga pun segera berjalan menuju kerumah penginapan Say siang.

Setelah memasuki penginapan, mereka bertiga pun tidak menyapa pelayan, dipimpin sendiri oleh Chin sian kun, mereka langsung menuju kehalaman belakang dimana mereka berpapasan langsung dg Rumang sekalian berempat.

Waktu itu Rumang sekalian berempat bermaksud akan jalan-jalan dikota krn waktu masih pagi dan Kho Beng belum juga kembali.

Begitu berpapasan, air muka mereka segera berubah hebat.

Sambil menyeringai seram, Rumang segera berseru.

"Bagus sekali, rupanya kita bersua kembali disini, apakah kalian belum puas dg pertarungan tadi?"

Chin sian kun tertawa terbahak-bahak, sambil melepaskan topeng kulit manusia dari wajahnya, ia berkata.

"Harap kalian jangan menaruh curiga, sesungguhnya kedatangan kami kali ini adalah ingin mengabarkan keadaan Kho sauhiap yg sebenarnya."

Orang-orang asing dari luar perbatasan ini tentu saja tak akan mengerti ilmu menyaru muka, sewaktu Rumang sekalian melihat paras muka Chin sian kun bisa berubah-ubah mereka menjadi terkejut sekali, teriaknya kemudian dg suara seram.

"Siluman! Ada siluman!"

Tanpa banyak berbicara serentak mereka meloloskan senjata dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan.

Cepat-cepat Chin sian kun memperlihatkan topeng kulit manusianya sembari memberi penjelasan.

"Aku bukan siluman, dg bantuan inilah kurubah wajah asliku yg sebenarnya, kalian berempat tak usah gugup atau panik."

Setelah diberi penjelasan, keempat orang itu baru bisa menjadi tenang kembali. Molim segera berkata dg suara berat.

"Kalau toh kalian sudah mengetahui kabar tentang cukong kami, ada urusan apa kalian datang mencari kami?"

Dg wajah serius Chin sian kun berkata.

"Apakah kalian berempat belum tahu kalau Kho sauhiap telah ketimpa mara bahaya?"

Molim agak etrtegun, lalu tanyanya kurang percaya.

"Bahaya apa?"

"Tadi aku telah menguntit dibelakang kalian berempat sewaktu berada dirumah makan, akupun menjumpai bahwa kasir tsb sedang membohongi kalian, apa yg dikatakannya kpd kalian Cuma bohong semua."

"Darimana kau bisa tahu?"

Sela Hapukim dg perasaan tidak habis mengerti.

"Menurut apa yg kuketahui, majikan kalian sama sekali tak punya teman lama, apalagi teman lama seorang perempuan."

Mendengar perkataan tsb, Rumang segera tertawa terbahakbahak, serunya.

"Ha...ha...ha....kau si perempuan dungu tahu apa, cukong kami orangnya romantis, kau tahu perempuan yg ditemuinya tadi sama cantiknya seperti kau, mana mungkin dia tidak terpikat oleh keayuannya?"

Sambil berusaha menahan amarah dan gejolak emosinya, Chin sian kun berkata lagi.

"Omong kosong! Kho sauhiap tidak suka main perempuan, dia bukan manusia seperti apa yg kau lukiskan barusan, apalagi bukankah si kasir telah mengatakan kalau Kho sauhiap telah meninggalkan tempat itu? Seandainya ia tak ketimpa bahaya, mengapa pula hingga sekarang belum kembali utk berkumpul dg kalian?"

Perkataan tsb memang cukup beralasan dan bisa diterima dg akal sehat, tanpa terasa Molim mulai tercenung sambil menelaah persoalan mana. Kembali Chin sian kun bertanya.

"Apakah kalian berempat pun tahu perempuan apakah yg ditemui Kho sauhiap tadi?"

"Tentu saja kami tahu!"

Seru Rumang.

"perempuan itu membawa sebuah payung kecil berwarna putih....aaah benar dia pun memakai baju putih dan menyisipkan sekuntum bunga putih diatas sanggulnya."

Begitu mendengar ciri-ciri perempuan tsb, dua bersaudara Kim segera menjerit tertahan.

"Aaaah rupanya orang itu adalah perempuan berbaju yg telah salah tegur tadi!"

Paras muka Chin sian kun pun berubah sangat hebat, katanya sambil menghela napas.

"Aaaai....tampaknya apa yg telah terjadi memang tdk meleset dari dugaanku, rumah makan Poan gwat kie benar-benar mencurigakan sekali tapi aku memang lagi berpikir masa dikolong langit benar-benar ada kejadian yg begitu kebetulan, tapi setelah ditinjau kembali sekarang, dpt disimpulkan bahwa kesemuanya ini memang merupakan suatu siasat busuk yg sengaja telah dipersiapkan, hanya satu masalah yg belum terjawab adalah tokoh persilatan manakah yg menyelenggarakan rumah makan Poan gwat kie itu?"

Sesudah berhenti sejenak, segera katanya lagi kepada Molim.

"Mo lotoa, sekarang kita tak boleh menunda waktu lagi, sebab bila sampai terlambat besar kemungkinan jiwa Kho sauhiap akan terancam oleh bahaya maut."

Sementara itu Molim sudah mulai mempercayai perkataan Chin sian kun, tapi rasa curiga belum juga lenyap sama sekali, katanya kemudian.

"Kalau toh kau dapat menduga semua persoalan sejelas itu, mengapa kau masih datang juga membuat gara-gara dg kami?"

Tentu saja Chin sian kun tak bisa membeberkan semua duduk prsoalan dg begitu saja, ia tahu bahwa masalah budi dan dendam tak mungkin bisa dijelaskan dg sepatah dua patah kata saja.

Dalam keadaan terpaksa, akhirnya dia sengaja berbohong, katanya dg gelisah.

"Mo lotoa memang terlalu banyak curiga, seandainya aku tdk menemukan kalau dibelakang rumah makan tsb berdiam banyak sekali jago-jago lihay dan mungkin kami bertiga tak bisa menghadapinya sendiri, kenapa kami tak datang mencari kalian?"

Ketika mendengar perkataan itu, Rumang segera berteriak keras.

"Semenjak melangkah masuk kedaratan Tionggoan, belum pernah kami jumpai jago-jago yg hebat disini, ayoh berangkat, kita bekuk dulu di tauke gemuk seperti babi itu dan tanyakan persoalannya sampai jelas, bila ia terbukti sedang membohongi kita, biar ku obrak abrik rumah makannya dulu kemudian baru menyerbu kedalam."

Molim segera manggut-manggut pertanda setuju.

Keempat orang ini sama sekali tidak mengkuatirkan keselamatan jiwa Kho Beng, mereka Cuma kuatir kehilangan kesempatan memperoleh kitab pusaka Thian goan bu boh sehingga impian baik menjadi sia-sia.

Melihat sikap orang-orang tsb, dg cepat Chin sian kun menggoyangkan tangannya sambil mencegah.

"Eeeh.....tunggu sebentar, kalian tidak boleh bertindak dlm keadaan begini!"

"Mengapa tidak boleh?"

Tanya Rumang sambil melotot. Chin sian kun tahu bahwa orang-orang tsb berpikiran amat sederhana, maka segera jelasnya.

"Sekarang malam belum kelam, suasana dijalanan masih ramai, sedangkan rumah makan Poan gwat kie pun terletak disisi jalan besar, bila kalian menyerbu dlm keadaan begini secara kekerasan, bukan saja tindakan mana akan menarik perhatian pembesar kota, juga mengacau ketentraman sekitar lingkungannya, berbicara buat kepentingan kita, hal ini lebih banyak ruginya ketimbang untungnya. Toh persoalan belum sampai berkembang kelewat gawat sehingga persoalan ini pun tak usah diselesaikan secara tergesagesa, mari kita tunggu sampai suasana sudah tenang, biar aku masuk dulu melakukan penyelidikan, setelah itu baru memanggil kalian berempat, pokoknya kita mesti melakukan sergapan mendadak, agar mereka menjadi gelagapan setengah mati."

Maka mereka bertujuh pun utk sementara waktu menanggalkan sikap permusuhan utk bersama-sama merundingkan aksi berikut.

Kim loji juga segera diutus pulang kepenginapan Hiong hien utk melaporkan kejadian yg sebenarnya kpd Bu wi lojin, sementara ia sendiri berangkat kepenginapan Say siang, dimana semuanya sudah menunggu saat utk bertindak.

Benarkah nasib Kho Beng sedang terancam bahaya maut?

Ya benar, segala sesuatunya memang tdk meleset dari perkiraan Chin sian kun, saat ini posisinya berbahaya sekali krn harus memilih antara hidup dan mati.

oooOooo Dibelakang rumah makan Poan gwat kie terdapat sebuah bangunan loteng yg berdiri sendiri.

Bangunan tsb tidak jauh berbeda seperti bentuk bangunan rakyat sekitarnya, antara rumah makan pun hanya selisih sebuah lorong serta dua lapis dinding pekarangan, sekilas pandang kedua bangunan tsb tidak ada hubungannya, tapi yg benar ada lorong rahasia yg menghubungkan kedua tempat tsb.

Waktu itu disebuah ruang rahasia yg tak berjendela diatas loteng tsb, Kho Beng masih tergeletak diatas pembaringan dlm keadaan tak sadar.

Disamping pembaringan berdiri dua orang dayang yg berdandan medok, sementara perempuan berbaju putih yg mengaku sebagai Ciu hoa duduk disamping pembaringan, sedang dimuka pintu berdiri pula dua orang lelaki berbaju hitam.

Dihadapan perempuan berbaju putih itu dekat dinding ruangan terletak sebuah kursi berwarna hitam, saat itu perempuan tadi sedang memberi perintah dg wajah dingin.

Seret dan dudukkan dia diatas kursi itu, lalu sadarkan dg semburan air, aku hendak memaksanya utk memberikan pengakuan."

Walaupun suara pembicaraan amat merdu bagaikan suara burung nuri yg berkicau tapi sayang nada suaranya justru dingin menggidikkan hati.

Dua orang dayang genit tadi segera enyahut dan membangunkan Kho Beng dari pembaringan, setelah didudukkan dikursi, tiba-tiba mereka menekan sebuah tombol sehingga muncullah tiga buah gelang penjepit yg masing-masing menjepit leher Kho Beng serta sepasang pergelangan tangannya.

Dg jepitan itu otomatis Kho Beng tak mampu bergerak lagi.

Menyusul kemudian seorang dayang muncul dg sebaskom air dan diguyurkan keatas kepala pemuda tsb.

Tak ampun sekujur badan Kho Beng menjadi basah kuyup.

Dg guyuran air dingin itu, Kho Beng pun segera tersadar kembali dari pingsannya.

Ketika mengetahui keadaan yg dialaminya, sambil menatap perempuan berbaju putih itu tajam-tajam, bentaknya keras-keras.

"Siapakah kau?"

Perempuan berbaju putih itu tersenyum , ujarnya.

"Kho kongcu, sekarang kau hanya punya hak utk menjawab, tidak memiliki kesempatan utk bertanya lagi!"

Kho Beng mendengus dingin, diam-diam ia mencoba mengatur napas, tapi dg cepat diketahui bahwa hawa murninya tak bisa terhimpun kembali, hal ini membuat hatinya amat terperanjat.

Sementara itu, perempuan berbaju putih tadi telah berkata lagi sambil tertawa.

"Walaupun kau sudah sadarkan diri, namun daya kerja obat tsb belum hilang sama sekali, kuanjurkan kepadamu tak usahlah membuang tenaga dg percuma, lebih baik jawab saja semua pertanyaanku."

Dg sedih Kho Beng menghela napas, dia menyesal sekali atas keteledoran dirinya, tapi keadaan sudah berubah, disesalipun tak ada gunanya, dlm keadaan demikian dia hanya berharap agar Rumang sekalian berempat mengetahui tentang hilangnya dia dan melakukan penggeledahan hingga kesitu.

Saat ini, diapun menaruh curiga atas asal usul lawannya, mengapa ia bersikap demikian tehadap dirinya?

Siapakah mereka sebenarnya?

Dorongan rasa ingin tahu justru membuat sang pemuda bersikap lebih tenang lagi, katanya kemudian dg suara hambar.

"Baik, bila ingin bertanya, silahkan bertanya!"

Perempuan berbaju putih itu manggut-manggut, katanya.

"Aku berharap kau bisa tahu diri dan memberikan jawaban sebaik-baiknya, asal kau bersedia bekerja sama, kujamin nyawamu tak akan kami ganggu barang seujung rambut pun, tapi bila menolak aku sangat mengkuatirkan kehidupanmu selanjutnya."

"Aku cukup memahami keadaanku sekarang!"

Sahut Kho Beng dingin.

"Bagus sekali"

Perempuan berbaju putih itu kegirangan.

"sekarang jawablah pertanyaan yg pertama, dimanakah gurumu Bu wi saat ini?"

"Aku sendiripun tidak tahu..."

Sahut Kho Beng rada melengak. Perempuan berbaju putih itu segera tersenyum, kembali ujarnya.

"Pertanyaan ini boleh saja tidak kau jawab, asal kau bersedia mengutarakan kabar berita tentang kitab pusaka Thian goan bu boh, itupun sama saja buat kami."

Seketika itu juga Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, serunya tanpa sadar.

"Apa kau bilang?"

"Aku ingin mengetahui tentang jejak kitab pusaka Thian goan bu boh itu.....?"

"Darimana aku bisa tahu tentang jejak kitab pusaka Thian goan bu boh tsb?"

Seru Kho Beng tercengang. Tiba-tiba perempuan berbaju putih itu menarik wajahnya sambil berkata.

"Hmmm...sandiwara mu memang kau perankan secara bagus sekali, tapi aku berharap kau lebih menghargai jiwamu dan jangan bersandiwara terus....."

Secara seksama Kho Beng membayangkan kembali semua pertanyaan yg diajukan lawan, lalu dikaitkan satu dg lainnya, mendadak satu ingatan melintas dlm benaknya, tanpa terasa dia berseru.

"Apakah kau adalah dewi In nu?"

Perempuan berbaju putih itu nampak tertegun, tapi segera sahutnya sambil tertawa.

"Siancu adalah orang yg anggun, dia tak akan menampakkan diri semaunya sendiri, aku tak lebih hanya salah seorang anak buahnya, Ciu hoa Leng cu!"

Sekarang Kho Beng baru mengerti apa sebabnya pihak lawan menanyakan tentang Bu wi lojin, lalu bertanya pula tentang kitab pusaka Thian goan bu boh, tampaknya secara kebetulan Bu wi lojin berada pula di kota Tong sia dan berhasil mendapatkan kembali kitab pusaka tsb.

Itulah sebabnya kehadiran yg tak disengaja ditempat tsb, segera disalah artikan kalau dia memang berjalan bersama Bu wi lojin.....

Sementara dia masih merenungkan persoalan tsb, Ciu hoa Lengcu telah ebrkata kembali.

"Kalau toh kau sudah memahami identitas yg sebenarnya, aku rasa kau tak bisa mengatakan tak tahu lagi bukan? Gurumu telah menyusup kedalam istana Siancu dan mencuri kitab pusaka tsb, tapi akibatnya ia sendiripun menderita luka parah, aku telah membawa orang melakukan pengejaran sampai disini, aku yakin tentang persoalan inipun sudah kau ketahui pula, Nah...sekarang ingin kulihat apakah kau bersedia mengaku atau tidak?"

Sekarang Kho Beng sudah mengetahui semua duduk persoalan yg sebenarnya, rasa kaget dan girang segera menyelimuti perasaannya.

Ia terkejut krn Bu wi lojin telah menderita luka parah dan tidak diketahui apakah jiwanya terancam atau tidak.

Tapi diapun gembira krn kitab pusaka tsb telah berhasil direbut kembali, lagi pula asal dapat menjumpai Bu wi lojin, berarti dia akan segera mengetahui kabar berita tentang dewi In nu tsb.

Soal ini jelas akan bermanfaat sekali bagi usahanya utk membalas dendam, sebab dia tak usah melakukan pencarian lagi secara membabi buta.

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa lagi dia berkata sambil tertawa dingin.

"Aku sedikit tidak mengerti dg perkataanmu barusan!"

"Dalam hal apa kau tidak mengerti?"

Tanya Ciu hoa Leng cu agak tertegun.

Menurut apa yg kuketahui, kitab pusaka Thian goan bu boh adalah benda milik Bu wi cianpwee, jadi sudah sepantasnya bila dia mengambilnya kembali, darimana kau mengatakan bahwa dialah yg telah mencuri?

Atas dasar apa pula lau menyuruh aku memberikan pengakuan?"

Paras muka Ciau hoa Lengcu segera berubah sedingin es, katanya dg suara sinis.

"Tiada benda mestika yg mempunyai pemilik tetap, siapa yg mendapatkan dialah pemiliknya yg sah.....sekarang, akupun tak berhasrat utk ribut terus dg mu, aku hanya ingin tahu, sebenarnya kau bersedia menjawab tidak?"

Kho Beng tertawa terbahak-bahak....

"Ha...ha...ha...aku baru saja masuk kekota Tong sia, duduk saja belum hangat, darimana aku bisa mengetahui tempat tinggal Bu wi cianpwee? Apa pula yg harus kuberikan kepadamu?"

Sebenarnya apa yg dia katakan memang merupakan suatu kenyataan, namun bagi pendengaran Ciu hoa Lengcu, hal tsb dinilainya sebagai alasan Kho Beng utk menampik memberi jawaban.

Dg gemas perempuan itu segera mendengus dingin, katanya.

"Hmmm..jangan kau anggap banyak kejadian yg berlangsung begitu kebetulan didunia ini, tampaknya sebelum kugunakan sedikit tindakan yg tegas kau tak akan memberi pengakuan yg sebenarnya...."

Berbicara sampai disitu, ia segera berpaling dan perintahnya kepada kedua orang dayangnya itu.

"Laksanakan siksaan, cabut dulu otot-otot kakinya!"

Ciu hoa Lengcu betul-betul seorang yg tak berperasaan, ternyata ia bisa merubah sikapnya secara wajar, seakan-akan ada dua orang yg berbeda saja.

Dua orang dayang itu segera mengiakan, serentak mereka mencabut keluar sebilah pisau belati dari sakunya, kemudian bersiap-siap akan merobek celana Kho Beng.

Tak terlukiskan rasa terkejut Kho Beng menghadapi kejadian ini, buru-buru ia membentak keras.

"Tunggu sebentar!"

Teringat dendam sakit hatinya yg belum terbalas, ia merasa tak rela utk mati dg begitu saja, apalagi ia dpt merasakann kalau lawannya sangat percaya dg perkataannya.

Ia bertekad hendak membohongi orang-orang tsb sambil berusaha mengulur waktu.

Tampak Ciu hoa Lengcu mencibirkan bibirnya sambil tertawa dingin lalu katanya.

"Kho Beng, saat ini belum terlambat bila kau bersedia mengakui tempat persembunyian gurumu."

Kho Beng berlagak termenung sebentar, lalu katanya dg wajah bersungguh-sunguh.

"Bila kuberikan pengakuan, apakah kau benar-benar akan membebaskan diriku?"

"Tentu saja, setiap perkataan yg kuucapkan tak pernah diingkari kembali!"

Kho Beng segera manggut-manggut, dia mencoba mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, ketika tidak melihat ada jendela disana sehingga tak diketahui jam berapa sekarang, maka tanyanya kemudian.

"Jam berapa sekarang?"

"Buat apa kau bertanya soal waktu?"

Tegur Ciu hoa Lengcu sambil berkerut kening, agaknya kau berharap keempat orang liar itu bisa datang menolongmu?"

Tak terlukiskan rasa terkesiap Kho Beng sewaktu rahasia hatinya terungkap, segera tegurnya.

"Kau telah apakan keempat orang anak buahku itu?"

Ciu hoa Lengcu segera tertawa dingin, katanya.

"Kenapa aku mesti bersusah payah mengerjai keempat anjing liar tsb?"

Sekarang besar kemungkinan mereka sedang bertarung matimatian melawan Kim kong sam pian sekalian, aku rasa mereka tiada kesempatan lagi utk mengurusi keselamatan dirimu."

Sekali lagi Kho Beng merasa terkejut sekali tanpa terasa dia menghela napas sedih.

Dia tidak mengerti apa sebabnya Rumang sekalian bisa terlibat dlm pertarungan melawan Kim kong sam pian sekalian, tentu saja dia pun mengerti bahwa kepandaian silat yg dimiliki Rumang sekalian berempat sama sekali tdk berada dibawah kemampuan Kim kong sam pian, andaikata tiga bersaudara Kim mendapat tugas utk mencari jejaknya, sudah pasti dibelakang mereka masih ada bala bantuan yg lebih besar lagi, ini berarti keselamatan jiwa keempat anak buahnya terancam bahaya maut.

Sementara dia masih termenung, terdengar Ciu hoa Lengcu membentak lagi dg suara dalam.

"Sebenarnya kau bersedia utk bicara atau tidak?"

Dlm keadaan seperti ini, Kho Beng hanya bisa berusaha utk mengulur waktu maka sahutnya dingin.

"Jika kau enggan memberitahukan waktu kepadaku, bagaimana mungkin aku bisa memberitahukan kepadamu?"

"Baiklah, kuberitahukan kepadamu pun apa salahnya, sekarang menjelang kentongan pertama!"

Bu wi cianpwee pernah memberitahukan kepadaku tentang tiga tempat yg bisa kudatangi, kalau sekarang memang sudah menjelang kentongan pertama berarti dia orang tua sudah berangkat sepuluh li diluar kota dan menantikan kedatanganku disebuah kuil dewa tanah.

Ciu hoa Lengcu segera berpaling sambil menurunkan perintah.

"Sampaikan kepada komandan pasukan baju hitam, bawa segenap anak buah dan lakukan pencarian yg seksama disetiap kuil yg ada pada radius sepuluh li diluar kota, tapi hati-hati kepandaian silat dari setan tua itu belum lenyap kemampuannya masih perlu diperhitungkan, katakan kepada mereka agar bertindak hati-hati bila perlu lakukan pengepungan yg ketat, awas kalau sampai kebobolan lagi, hati-hati dg batok kepala mereka..!"

Salah seorang diantara lelaki berbaju hitam yg berdiri didepan pintu segera mengiakan dan beranjak pergi dari situ.

Jilid 17 Sepeninggal orang itu, Ciu hoa Lengcu berkata lagi kepada Kho Beng sambil tersenyum.

"Asal alamat yg kau berikan itu benar, aku segera akan membebaskan dirimu dlm keadaan hidup!"

Melihat kesemuanya itu, diam-diam Kho Beng berpikir.

"Untuk menempuh jarak sepuluh li pulang balik, paling tdk mereka membutuhkan waktu setengah jam lebih, bila Rumang sekalian berempat dpt melepaskan diri dari kurungan tiga bersaudara Kim, seharusnya mereka telah sampai pula disini!"

Belum habis ingatan tsb melintas lewat, tampak lelaki yg menyampaikan perintah tadi sudah muncul kembali dan berdiri didepan pintu seraya berkata.

"Lapor Lengcu, komandan pasukan baju hitam menyatakan kecurigaannya..."

Dg kening berkerut Ciu hoa Lengcu berkata.

"Apa yg dia curigakan?"

"Menurut laporan komandan Sin, sepuluh li disekitar kota Tong sia sama sekali tidak terdapat kuil dewa tanah!"

Mendengar laporan tsb, seketika itu juga Kho Beng merasa terkejut sekali.

Ia sama sekali tdk menyangka kalau bohongan yg pertama segera dibongkar lawan, tapi tidak mau ia menyerah dg begitu saja, sambil tertawa dingin segera katanya.

"Kalau begitu sungguh mengherankan, orangnya saja belum keluar pintu rumah, darimana dia bisa tahu kalau sepuluh li disekeliling kota tidak terdapat sebuah kuil dewa tanah?"

Tapi dg wajah sinis Ciu hoa Lengcu telah berkata sambil tertawa dingin.

"Tak ada salahnya kuberitahukan kepadamu, Komandan Sin adalah penduduk asli kota ini, boleh dibilang ia sudah menguasai penuh keadaan diluar maupun didalam kota Tong sia, hmmmm.....bila kau ingin hidup terus, lebih baik jangan bermain gila dg kami."

Berada dlm keadaan seperti ini, mau tak mau Kho Beng harus berperan lebih jauh, dg kening berkerut katanya.

"Tapi Bu wi cianpwee dg jelas mengatakan kepadaku, bila ingin bertemu dgnya sekitar kentongan pertama, aku diharuskan pergi kekuil diluar kota, mana mungkin keterangan ini bisa keliru?"

Melihat kesungguhan hati Kho Beng sewaktu berbicara, Ciu hoa Lengcu segera memutar biji matanya sambil termenung, agaknya dia belum bisa mengambil keputusan.

Tapi setelah berpikir beberapa waktu, segera perintahnya kpd lelaki berbaju hitam itu.

"Coba tanyakan sekali lagi kepada Komandan Sin, benarkah disekitar kota Tong sia tidak terdapat bangunan kuil lainnya?"

Lelaki berbaju hitam itu segera mengiakan dan buru-buru beranjak pergi dari situ. Tidak sampai setengah peminuman teh kemudian ia sudah muncul kembali dg langkah terburu-buru, katanya kemudian.

"Komandan Sin telah membawa pasukan meninggalkan tempat!"

Ciu hoa Lengcu jadi tertegun, segera tegurnya.

"Bukankah dia mengatakan kalau disekitar kota tak ada kuil dewa tanah..?"

"Benar komandan Sin berkata sepuluh li disekeliling kota tak ada kuil dewa tanah, namun ditimur kota terdapat sebuah rumah abu dari keluarga Liok yg sudah terbengkalai, bisa jadi orang she Kho ini sudah mengartikan rumah abu sebagai kuil dewa tanah, karena itu utk berlomba dg waktu komandan telah berangkat lebih dulu!"

Ciu hoa Lengcu segera manggut-manggut, katanya memuji.

"Cara bekerjanya memang cekatan dan tegas, bagus sekali kau boleh berjaga dimuka pintu."

Selesai berkata, ia berpaling lagi kearah Kho Beng sambil ujarnya lebih jauh.

"Nah, sudah kau dengar?"

Memanfaatkan kesempatan tsb, Kho Beng segera berseru.

"Yaa memang benar, tempat pertemuan yg dimaksudkan Bu wi cianpwee memang sebuah rumah abu bukan kuil dewa tanah seperti yg kumaksudkan tadi, tak kusangka siasatku dg menunjuk menjangan sebagai kuda segera terbongkar oleh kecerdikan kalian, padahal maksudku bisa mengulur sedikit waktu...yaaa tampaknya memang susah utk membohongi orang pintar macam kalian!"

Ciu hoa Lengcu tertawa dingin.

"Sampai saat ini aku masih mempercayai dirimu, paling banter setengah jam kemudian aku akan segera tahu apakah laporan itu benar atau tidak, jika kau membohongi aku, he...he....sampai waktunya aku akan menyuruh kau rasakan kelihaianku!"

Selesai berkata ia segera bangkit dari tempat duduknya dan dibawah iringan kedua dayangnya, ia beranjak meninggalkan ruangan rahasia tsb.

Dua orang lelaki berbaju hitam yg berada didepan pintu itu segera menutup kembali pintu ruangan rapat-rapat, lalu terdengar pintu itu dikunci dari luar, ternyata Kho Beng telah disekap seorang diri dlm ruangan tsb.

Setelah berada seorang diri, Kho Beng segera berusaha utk menghimpun kembali tenaga dalamnya, tiba-tiba ia merasa aliran hawa murninya berjalan lancar, kekuatan tubuhnya sama sekali tdk menderita suatu apapun.

Hanya saja meski daya kerja obat telah hilang, tapi kedua jepitan baja dikursi itu justru mengekang pergelangan tangannya secara telak, sehingga walaupun ia memiliki tenaga dalam yg sempurna pun tidak banyak kegunaannya.

Lambat laun Kho Beng mulai putus asa, setengah jam bukan suatu jangka waktu yg terlalu lama, bila ia tak mampu memanfaatkan kesempatan yg sedikit ini utk melepaskan diri dari belenggu kursi besi tsb, jelas sudah kematian akan menjelang tiba.

Dlm waktu singkat, ia terbayang kembali dg cici nya yg berusaha membalas dendam....teringat Bu wi lojin yg menderita luka parah lalu si unta sakti berpunggung baja yg banyak melepaskan budi kepadanya...Rumang, Hapukim sekalian....

Disaat pikirannya kalut dan dicekam rasa sedih inilah, si Walet terbang berwajah ganda Chin sian kun, Kim kong sam pian serta Rumang sekalian berempat telah sampai dimuka rumah makan Poan gwat kie.

Waktu sudah menunjukkan tepat kentongan pertama, yg aneh adalah utusan yg dikirim Ciu hoa Lengcu ternyata belum juga kembali, sedangkan waktu itu Chin sian kun telah memasuki rumah makan Poan gwat kie utk melakukan pelacakan terhadap jejak Kho Beng.

Seusai berunding, maka Chin sian kun segera memberi tanda kepada Rumang sekalian berempat agar mengikutinya melompat naik keatap rumah disamping rumah makan Poan gwat kie dan langsung menyusup kebangunan belakang....

Menungu sampai bayangan tubuh Chin sian kun sudah lenyap dari pandangan, Kim loji serta Kim losam baru saling berpandangan sekejap lalu menggedor pintu rumah makan Poan gwat kie keraskeras.

Waktu itu sebagian besar penduduk disekitar sana sudah terlelap tidur, tapi suara gedoran pintu yg keras itu hampir saja menggetarkan seluruh jalanan.

Ditengah suara gedoran keras ,pintu gerbang rumah makan Poan gwat kie yg sudah tertutup itu segera memancarkan sinar lentera, lalu kedengaran seseorang mengumpat.

"Kurangajar! Siapa yg sudah bosan hidup? Malam-malam begini menggedor pintu?"

"Mak nya!"

Umpat Kim losam pula.

"Kenapa tiada suara jawaban? Memangnya semua penghuni rumah ini sudah pada mampus?"

Suara gedorannya makin lama semakin bertambah keras, nyaris pintu itu didobrak dg kekerasan.

Tak lama kemudian pintu dibuka orang, Kim loji dan Kim losam segera berlagak marah-marah dan langsung menyerbu masuk kedalam ruangan....

Dg wajah kaget bercampur gusar tampak dua orang pelayan menegur dg keras.

"Mau apa kalian?"

"Cepat panggil keluar pemilik rumah makan ini, aku hendak berbicara dg nya!"

Seru Kim loji sambil menarik muka. Salah seorang diantara pelayan itu segera mendengus dingin, katanya.

"Hey sobat, coba lihat dulu, sekarang ini pukul berapa..?"

"Pukul berapa pun buat kami sama saja!"

Tukas Kim losam kasar.

"Kalau kalian tidak segera melaporkan kedatangan kami, jangan salahkan bila ku obrak abrik rumah makan ini lebih dulu!"

Belum selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dari balik pintu belakang ruangan sudah terdengar seseorang menjengek sambil tertawa dingin.

"Hmm....besar amat bacotmu, sobat dari manakah yg sudah tertarik dg rumah makan Poan gwat kie ku ini?"

Sambil berkata tampak seorang lelaki pendek bertubuh gemuk telah munculkan diri dari dalam ruangan, dia tak lain adalah Ong ciangkwee.

Namun setelah melihat jelas wajah dua bersaudara Kim, ia kelihatan agak tertegun, lalu serunya .

"Ada urusan apakah ditengah malam buta begini kalian berdua mencari aku orang she Ong?"

Nada suaranya jauh lebih lembut dan lunak.

"Boleh aku tahu siapa nama Ong ciangkwee?"

Seru Kim loji dingin. Seperti juga sikapnya disiang hari tadi, senyuman pura-pura segera menghiasi wajah Ong ciangkwee, ujarnya sambil tertawa.

"Tuan berdua kelewat serius, masa aku seorang saudagar pun punya nama besar? Aku bernama Ong kui sudah lama membuka usaha rumah makan disini, bolehkah aku tahu dalam hal mana aku telah menyalahi tuan berdua?"

Kim loji mendengus dingin.

"Hey tauke Ong, dalam mata yg sehat tak akan kemasukan pasir, janganlah menggunakan kata-kata yg kosong, terus terang saja, kedatangan kami kesini adalah utk mencari seseorang!"

"Mencari seseorang? Siapa yg kalian cari?"

Tanya Ong kui purapura tertegun.

"Siapa lagi? Tentu saja Kho Beng!"

"Kho Beng?"

Kembali Ong kui berlagak tercengang.

"rasanya belum pernah kudengar nama tsb...."

Kim loji menjadi sangat marah, tegurnya.

"Hey orang she Ong! Pentang matamu lebar-lebar, ketahuilah bahwa Kho Beng adalah buronan yg sedang dicari-cari segenap umat persilatan, bila kau berani menyembunyikan dirinya, hmmm....sudah bosan hidup nampaknya....?"

Sementara itu Kim losam juga turut menimbrung, katanya.

"Tauke Ong, kuanjurkan kepadamu agar bertindak lebih terbuka, terus terang saja kukatakan, tanpa sumber berita yg bisa dipercaya, kami tak bakal menggedor pintu rumahmu ditengah malam buta!"

Ong kui kelihatan panik, tapi mati-matian ia enggan mengaku, tangkisnya.

"Tuan berdua, belum pernah ada kejadian macam begitu ditempat kami, aku Ong kui sudah tiga generasi membuka usaha ditempat ini, sungguh mati aku tidak kenal dg orang she Kho itu...."

Jawaban semacam ini pada dasarnya telah berada dalam dugaan dua bersaudara Kim, maka sambil menarik muka Kim loji berkata.

"Hey tauke Ong! Bolehkah aku menggeledah tempatmu?"

Menurut perkiraannya, pihak lawan tak akan mengabulkan permintaan itu, maka asal orang itu menyatakan keberatan, Kim lo ji sudah bersiap sedia merusak perabot yg berada disana dan memancing terjadinya keributan sehingga memancing perhatian orang-orangnya kesitu.

Dg cara demikian, Chin sian kun tentu akan mempunyai cukup waktu utk melakukan penggeledahan secara seksama.

Siapa tahu pemilik rumah makan tsb tidak menunjukkan keberatannya, malah sambil manggut-manggut katanya.

"Boleh, boleh saja, kalau toh kalian berdua tak percaya dg perkataanku, silahkan saja masuk utk melakukan pemeriksaan, asal kalian bisa menemukan orang she Kho tsb, aku bersedia menyerahkan usahaku ini kepada kalian berdua!"

Jawaban tsb segera membuat Kim bersaudara jadi tertegun, tanpa terasa mereka mulai berpikir.

"Benarkah Kho Beng sudah pergi dari sini? Ayaukah ia sudah dibokong dan sekarang telah dipindahkan ketempat lain?"

Dari tujuhorang yg ada, rupanya mereka membagi diri menjadi dua rombongan, satu rombongan memeriksa secara terang-terangan sedang yg lainnya melakukan pemeriksaan secara diam-diam, hal ini dimaksudkan agar semua bagian tempat diperiksa dg seksama.

Tapi setelah lawan membolehkan utk digeledah, hal ini segera memberi firasat kepada Kim loji bahwa usaha mereka melakukanpenggeledahan tak akan menghasilkan apa-apa.

Tapi dari pada pulang dg begitu saja lebih baik dilakukan pemeriksaan kedalam, siapa tahu masih ada tanda-tanda yg ketinggalan?

Karena berpendapat demikian, maka sambil manggut-manggut katanya kemudian.

"Baiklah, kalau begitu harap tauke suka menjadi petunjuk jalan...."

Tauke Ong segera memerintahkan kedua orang pelayannya utk menjaga pintu, sedang kepada dua bersaudara Kim dipersilahkan mengikuti dibelakangnya masuk kedalam.

Sambil menghimpun hawa murninya dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan, dua bersaudara Kim masuk keruang belakang.

Disekitar ruangan mereka saksikan ada tujuh delapan orang lelaki yg berkerumun sambil menanyakan persoalan yg terjadi.

Sepintas lalu orang-orang itu nampak seperti pegawai rumah makan, tapi bagi dua orang bersaudara Kim yg cukup berpengalaman, dalam sekilas pandang saja ia dapat melihat dg jelas bahwa beberapa orang diantara mereka memiliki kening yg menonjol tinggi, jelas mereka adalah jago-jago yang berilmu sangat tinggi.

Tanpa terasa, rasa kaget yg mencekam makin menyelimuti perasaan kedua orang itu.

Dalam pada itu, tauke Ong telah mengulapkan tangannya sambil berkata.

"Kalian tak usah mengada-ada, disini tak ada persoalan, ayoh kembali kekamar masing-masing!"

Selesai berkata, dia mengajak dua bersaudara Kim melakukan pemeriksaan yg teliti atas setiap ruangan yg ada disana.

Baik kim loji maupun Kim losam sama sekali tak menyangka kalau bangunan dibelakang rumah makan Poan gwat kie diatur serapi dan sehebat itu.

Kebun yg luas dan bangunan rumah yg megah sama sekali tak kalah dg rumah hartawan kaya, terutama sekali jumlah kamarnya yg begitu banyak, rasanya tak kalah dg rumah penginapan pada umumnya.

Tanpa terasa Kim loji tertawa dingin dan sengaja ejeknya.

"Hey tauke, tidak kusangka dibelakang rumah makanmu ternyata dibuka pula usaha penginapan!"

"Kalian berdua jangan salah paham"

Buru-buru tauke Ong menjelaskan.

"aku hanya suka menerima teman sehingga sengaja membangun. Betapapun besarnya kecurigaan dua bersaudara Kim terhadap tempat itu, sekarang mereka tak sanggup bicara lagi. Sesudah menghela napas sedih, Kim loji segera menjura seraya berkata.

"Maaf atas gangguan kami malam ini, dikemudian hari kami tiga ruyung dari Tong ting pasti akan datang lagi utk minta maaf!"

"Ooooh....rupanya tiga bersaudara Kim yg termasyur namanya"

Seru tauke Ong.

"sudah lama kudengar nama besar Kim kong sam pian, he...he...he...kesalah pahaman semacam ini belum berarti apaapa, bagaimana kalau kita minum arak sampai pagi?"

Tentu saja Kim loji tak punya muka utk berdiam lebih lama disana, dg wajah bersemu merah, buru-buru tampiknya.

"Biarlah maksud tauke kami terima dihati saja, maaf kami harus mohon diri lebih dulu karena ada urusan lain."

"Aaah, mana...."

Ong kui tertawa mengejek.

Baru saja mereka bertiga berjalan menelusuri kebun, mendadak tampak sesosok bayangan hitam melayang turun persis dihadapan mereka, ternyata orang itu adalah Chin sian kun.

Kim loji dan Losam sama-sama menjadi tertegun, tegurnya berbareng.

"Hey, mengapa kaupun kemari?"

Tentu saja dibalik pertanyaan tsb masih terkandung pertanyaan lain. Setengah mengomel Chin sian kun berkata.

"Sudah hampir setengah harian lamanya kami menunggu kedatanganmu berdua, tapi belum juga nampak kalian datang!....aku toh tak bisa dibiarkan berdiri dibawah langit sambil minum embun dingin."

Tauke Ong segera tertawa terbahak-bahak, katanya cepat.

"Ha....ha....ha....tidak kusangka rumah makan Poan gwat kie ini bisa menarik perhatian begitu banyak jago lihay pada malam ini, entah siapakah lihiap ini?"

Dg langkah yg lemah gemulai Chin sian kun maju mendekatinya, sambil tersenyum dia berkata.

"Apakah kau adalah pemilik rumah makan ini?"

"Aaaah, mana, mana..."

Cepat-cepat Ong kui menjura.

"walaupun aku tak mengerti ilmu silat, namun aku paling kagum dg jago-jago persilatan, sungguh menjadi kebanggaan bagiku bisa menerima kunjungan dari lihiap......"

"Tauke memang pandai sekali berbicara"

Chin sian kun tersenyum.

"padahal aku Chin sian kun bukan termasuk orang pandai, justru ciangkwee lah merupakan seorang tokoh silat yg tak mau mengunjukkan diri!"

Sambil berkata, tiba-tiba saja ia melancarkan sebuah serangan secepat sambaran kilat dan langsung mengancam jalan darah lemas dan kaku Ong kui.....

Mimpipun Ong kui tdk menyangka kalau lawannya akan melancarkan serangan disaat masih tersenyum, ketika menyadari akan datangnya bahaya, keadaan sudah terlambat.

"Bluuuukk...!"

Tak ampun lagi tubuhnya terserang dan segera roboh terjungkal keatas tanah.

Dua bersaudara Kim yg menyaksikan kejadian ini menjadi tertegun, sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba dari balik kegelapan terengar dua kali bentakan keras.

"Kurang ajar, kalian berani berbuat keonaran disini!"

Tampak dua sosok bayangan manusia dg membawa gulungan cahaya tajam yg menyilaukan mata meluncur tiba.

Dg suatu gerakan cepat Chin sian kun menyambar tubuh Ong kui yg tergeletak lemah ditanah, lalu serunya.

"Cepat kalian loloskan senjata utk membendung serangan lawan!"

Mendengar seruan tsb, Kim loji dan losam segera mencabut keluar ruyungny lalu diayunkan kedepan utk menghadang serbuan dari ketiga sosok bayangan manusia itu.

Ternyata oleh gerak serangan ruyung tsb, ketiga sosok bayangan manusia itu segera melayang turun ketanah.

Kim loji segera mengenali mereka sebagai beberapa orang pelayan yg dijumpai sewaktu masuk kehalaman tadi, hanya sekarang mereka berdiri dg senjata terhunus.

Setelah berhasil membendung gerak maju lawan, Kim loji baru menjengek sambil tertawa dingin.

"Apakah sampai sekarang kalian bertiga belum mau menunjukkan wajah aslinya? Apakah kalian bersedia menyebutkan nama-nama kalian semua?"

Salah seorang diantaranya, seorang lelaki bermuka kuda segera membentak dg keras.

"Kami semua adalah sahabat tauke Ong, tak usah menyebut nama-nama kami lagi, yg jelas tauke Ong sudah bersikap cukup sopan kpd kalian, tapi kenyataannya kalian menyergapnya secara licik, terhitung jagoan macam apakah kalian ini?"

Paras muka dua bersaudara Kim segera berubah merah padam krn jengah. Tapi Chin sian kun segera berkata sambil tertawa terkekehkekeh.

"Sudah sepantasnya bila kalian merasa tdk terima, tapi bila aku tak diberi kesempatan utk memberi penjelasan, pasti kalian akan menganggap diriku sebagai seorang yg tak tahu malu. Untuk itu bersediakah kalian bertiga memberi sedikit waktu utk berbincangbincang dulu dg tauke ini sebelum bertarung?Bila alasan yg kami kemukakan dianggap tak masuk akal, pertarungan baru diteruskan kembali?"

Ketiga orang lelaki itu mendengus dingin, samun mereka tdk memberikan komentar apa-apa. Sambil menarik muka Chin sian kun segera berpaling kearah tauke Ong dan menegur dg suara dingin.

"Hey tauke Ong! Aku harap kau bersedia memberi jawaban dg sejujurnya, sebab kalau tdk, siksaan akan menimpa dirimu, kau tahu bukan bagaimana rasanya seseorang yg hidup tak bisa mati pun tidak?"

Dg wajah hampir menangis, tauke Ong merengek.

"Lihiap , apa yg mesti kukatakan? Aai...."

"He...he...he...."Chin sian kun tertawa dingin.

"belum lagi persoalan pokok disebutkan, kenapa kau mesti berkeluh kesah? Kemampuan Ong ciangkwee dlm menghadapi persoalan benar-benar mengagumkan dan tak malu disebut jagoan lihai, apalagi bila dibandingkan dg anak buahmu yg sebentar menjadi pelayan, sebentar lagi menjadi sahabat itu....kami benar-benar ketinggalan jauh!"

Beberapa patah kata itu kontan saja membuat paras muka ketiga orang jago pedang itu berubah hebat, sedangkan air muka Ong kui makin merah jengah.

Setelah berhenti sejenak, kembali Chin sian kun berkata.

"Sudahlah, tak usah banyak berbicara yg tak guna lagi, mari kita menyinggung masalah pokok, nah tauke Ong, sebetulnya pemuda she Kho itu sudah kalian sekap dimana?"

Ong kui menghela napas.

"Chin lihiap, mengapa kau tidak bertanya langsung kpd dua bersaudara Kim yg telah melakukan penggeledahan yg seksama dari depan sampai belakang? Apa lagi yg mesti kukatakan kepadamu?"

"Jawabanmu benar-benar sangat hebat"

Jengek Chin sian kun sambil tertawa dingin.

"Hey tauke Ong, tolong tanya rumah makan Poan gwat kie ini, selain pintu besar yg menghadap kejalan raya, apakah masih ada pintu lain?"

"Ada!"

Ong kui mengangguk.

"pintu belakang terletak disebelah kiri kebun!"

"Selain pintu belakang?"

"Sudah tak ada lagi..."

Ong kui kembali menggeleng. Chin sian kun segera menunding kearah gunung-gunungan yg berada tiga kaki disampingnya, lalu mengejek sambil tertawa dingin.

"Tauke, bolehkah aku tahu, pintu rahasia dibalik gunung itu tembus kemana?"

Begitu ucapan tsb diutarakan, paras muka ketiga orang jago pedang serta Ong kui segera berubah sangat hebat. Dg agak cemas Ong kui berseru.

"Lihiap, kau jangan bergurau, mana mungkin dibalik gununggunung itu terdapat pintu."

Mencorong sinar tajam dari balik mata Chin sian kun, segera bentaknya keras-keras.

"Barusan aku melihat ada orang pelayanmu menerobos masuk kebalik gunung-gunungan itu dan hingga sekarang belum nampak muncul kembali, jika disitu tak ada pintu, kau anggap dia bisa menerobos masuk kedalam tanah?"

"Perempuan rendah!"

Tiba-tiba jago pedang bermuka kuda itu membentak keras.

"kau tak usah mengada-ngada terus disini, sebenarnya Ong ciangkwee akan dilepaskan tidak?"

Chin sian kun mengerling sekejap kearah lawannya, lalu menjengek sinis.

"Nah, mulai panik bukan krn rahasianya ketahuan? He...he...he....lebih baik kalian bertiga jangan bergerak sembarangan, sebab aku bisa menghabisi nyawa Ong ciangkwee paling dulu...."

Jago pedang bermuka kuda itu tdk menggubris, tiba-tiba ia berpekik nyaring, lalu serunya kpd dua orang jago lainnya.

"Hayo serbu!"

Tubuhnya segera melejit ketengah udara, dari situ pedangnya menciptakan selapis cahaya tajam dan secara langsung membecok kepala Chin sian kun.

Tak terlukiskan rasa kaget Chin sian kun menghadapi serangan tsb, ia tak mengira kalau lawan sama sekali tdk m enggubris keselamatan sandera yg berada ditangannya.

Melihat Kim loji dan losam telah dihadang musuh, cepat-cepat ia berkelit kesamping, sambil teriaknya.

"Kalian cepat turun!"

Berbareng dg suara bentakan itu, empat sosok bayangan manusia segera melompat turun dari atas wuwungan rumah, ternyata mereka adalah Rumang, Hapukim serta dua bersaudara Mo.

Rumang dg golok terhunus langsung menghadang sijago pedang bermuka kuda yg menyerang Chin sian kun itu, bentaknya.

"Mak nya! Tak kusangka rumah makan kalian adalah sarang penyamun yg suka menculik orang, biar kubunuh manusia macam dirimu lebih dulu...."

Golok segera diputar bagaikan roda, secara beruntun dia telah melepaskan dua kali bacokan berantai. Mendadak terdengar Kim loji yg sedang bertarung berseru lantang.

"Adikku, kalau toh sudah kau ketahui pintu rahasia disitu, mengapa tdk segera menyuruk kedalam utk melakukan penggeledahan?"

"Bila pintu rahasianya sudah kuketahui, buat apa aku mesti menunggu sampai sekarang?"

Sahut Chin sian kun. Kemudian kepada Ong kui yg berada digenggamannya ia membentak.

"Coba lihat sendiri, sobatmu sudah tak ambil peduli dg keselamatanmu lagi, aku rasa kaupun tak usah menyimpan rahasia terus."

Sambil berkata ia segera memberi tanda kpd dua bersaudara Mo serta Hapukim agar mengikutinya menuju kebalik gunung-gunungan.

Bangunan yg menyerupai gunung-gunungan itu dibuat sangat tinggi dan besar, dibagian tengahnya terdapat sebuah gua yg saling berhubungan.

Sementara itu Ong kui masih ragu-ragu, Chin sian kun telah mencengkeram ujung bajunya, seraya membentak keras .

"Hayo jawab, kau bersedia menunjukkan atau tidak? Asal kau mau menunjukkan letak tombol rahasia utk membuka pintu tsb, kami pasti tak akan menyusahkan dirimu lagi."

Belum selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dari balik gunung-gunungan itu sudah kedengaran seseorang berkata dg suara merdu.

"Terhadap pelbagai persoalan yg begitu sepele, buat apa kau memaksanya utk berbicara? Kalau toh ia enggan berkata, biar aku yg menunjukkan!"

Menyusul perkataan tsb, tiba-tiba dinding kiri gunung-gunungan itu sudah terbuka lebar dan muncullah seorang perempuan berbaju putih.

Dia tak lain adalah Chiu hoa Lengcu, anak buah dewi In nu yg dikenali Chin sian kun pagi tadi sebagai "nyonya Ciu".

Kehadirannya yg sama sekali tak terduga ini segera menimbulkan rasa tertegun bagi Chin sian kun, ia tak menyangka kalau pihak lawan akan menggunakan cara demikian dlm menghadapinya.

Sementara dia masih termenung, Ciu hoa Lengcu telah memperhatikan sekejap situasi pertarungan, dimana enam orang sedang terlibat dlm pertarungan sengit.

Mendadak bentaknya.

"Tahan!"

Ketiga orang jago pedang yg sedang bertempur seru itu segera melepaskan dua rangkai serangan gencar, setelah itu mereka melompat keluar dari arena pertarungan dan berdiri tenang disitu.

Kepada Chin sian kun kembali Ciu hoa Lengcu berkata seraya tersenyum ramah.

"Kini pintu rahasia telah terbuka, silahkan nona memasukinya utk diperiksa!"

Chin sian kun baru saar setelah mendengar ucapan itu, serunya tanpa sadar.

"Benarkah kau dari marga Ciu?"

Ciu hoa Lengcu manggut-manggut.

"Aku beridam digang sebelah sana, hitung-hitung masih punya hubungan family dg tauke Ong, apabila ia telah melakukan suatu kesalahan terhadap nona, bagaimana kalau aku mewakilinya minta maaf!"

Chin sian kun tersenyum.

"Sungguh tak kusangka tempat ini merupakan sebuah sarang naga harimau, aku percaya enci orang persilatan juga?"

Sambil tertawa Ciu hoa Lengcu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Nona sudah salah menilai, rumah makan Poan gwat kie hanya sebuah rumah makan biasa dan aku pun bukan manusia bangsa jago silat yg pandai memainkan senjata."

"Hmmm, siapa yg percaya dg kata-katamu itu?"

Chin sian kun mendengus.

"bila rumah makan ini hanya usaha biasa mengapa terdapat banyak jago lihay yg berdiam disini? Dan mengapa pula dibangun lorong bawah tanah yg begitu rahasia?"

"Kalau begitu nona yg sudah salah paham"

Tukas Ciu hoa Lengcu.

"suamiku lebih sering berjaga diluar, ia jarang pulang, maka sengaja kami buat lorong rahasia utk menghubungkan tempat ini dg rumahku, dg begitu antara aku dg tauke Ong pun bisa saling berhubungan bila perlu, sementara orang-orang itu tak lain adalah sobat-sobat yg diundang tauke Ong, sesungguhnya kehadiran mereka tak perlu diributkan nona...."

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali katanya.

"Sekarang aku sudah memberi keterangan yg cukup jelas, aku rasa nona pun harus membebaskan tauke Ong!"

Kata-katanya diucapkan sangat lembut dan beralasan kuat sehingga Chin sian kun jadi gelagapan dibuatnya. Dalam keadaan begini, terpaksa nona itu menjadi nekad, ujarnya kemudian dg suara dingin.

"Sebetulnya tidak susah utk minta kepadaku membebaskan orang ini, tapi Kho Beng harus diserahkan dulu!"

"Kho kongcu memang pernah berkunjung kemari"

Ciu hoa Lengcu tersenyum.

"tapi ia sudah pergi sejak tadi!"

"Aku tak percaya!"

"Lantas apa yg harus kami perbuat agar nona mau percaya?"

Tanya Ciu hoa Lengcu sambil berkerut kening. Tanpa pikir panjang Rumang menyela dari samping.

"Kecuali kami diberi kesempatan utk melakukan penggeledahan!"

Diluar dugaan ternyata Ciu hoa Lengcu menanggapi sambil mengangguk.

"Untuk menarik kepercayaan kalian, aku bersedia menjadi penunjuk jalan, nah silahkan mengikuti diriku!"

Selesai berkata, ia segera masuk dulu kedalam lorong rahasia.

oooOOooo Disaat Chin sian kun sekalian bertujuh mengikuti Ciu hoa Lengcu memasuki pintu rahasia tsb, dari mulut gang tampak sebuah kereta kuda yg mungil dilarikan orang cepat-cepat.

Kusir kuda adalah dua orang lelaki berbaju hitam, tampak mereka melarikan kudanya dg begitu cepat dan menuju kearah pintu kota sebelah timur...

Disisi kereta itu duduk dua orang perempuan genit, mereka tak lain adalah kedua orang dayang Ciu hoa Lengcu, sedangkan orang ketiga adalah Kho Beng, wajahnya nampak sayu dan diliputi perasaan terkejut, tubuhnya sama sekali tak bisa berkutik, jalan darah kakunya telah tertotok.

Kereta kuda itu meluncur terus menembusi pintu kota dan lari ketempat yg liar dan terpencil dari keramaian, melihat keadaan mana, dg perasaan terkejut bercampur keheranan Kho Beng segera menegur.

"Sebenarnya kalian hendak membawaku pergi kemana?"

Dayang genit yg berada disebelah kiri tertawa terkekeh-kekeh, katanya.

"Bukankah telah kukatakan tadi, sampai waktunya kau toh akan mengetahui dg sendirinya?"

"Apakah komandan Sin kalian itu sudah kembali?"

Tanya Kho Beng lagi dg perasaan tegang. Dayang genit yg berada disebelah kanan segera mendengus dingin, sahutnya.

"Siapa yg tahu permainan setan apa yg sedang kau perbuat? Dua puluhan orang sudah dikirim, namun sudah hampir satu jam lamanya belum juga ada kabar beritanya!"

Mendengar jawaban tsb, Kho Beng merasa hatinya agak lega, diam-diam ia menghembuskan napas panjang, lalu katanya sambil tertawa.

"Rupanya kalian hendak mengajak diriku pergi mencari mereka...."

"Kau jangan keburu bersenang hati dulu"

Sela dayang disebelah kiri sambil tertawa dingin.

"terus terang saja aku bilang asal orangorang kami sampai ketimpa suatu kemalangan, maka kau sendiripun jangan harap bisa pulang kekota Tong sia dalam keadaan hidup!"

Kembali Kho Beng merasa terkesiap sekali sebab sebagaimana diketahui keterangan yg diberikannya hanya keterangan palsu, mustahil Bu wi lojin bisa begitu kebetulan berada juga dirumah abu keluarga Liok, sepuluh li disebelah timur kota.

Tapi apa sebabnya komandan Sin beserta kedua puluhan orang yg dipimpinnya belum juga nampak muncul kembali?

Tanpa terasa ia mulai mengkuatirkan pula nasib anak buah Ciu hoa Lengcu yg sudah pergi dan hingga kini belum balik itu.

Suara derap kaki kuda yg ramai.....

Suara roda kereta yg menggelinding....

Kho Beng tahu inilah kesempatan terbaik baginya utk meloloskan diri dan itu berarti ini merupakan kesempatannya yg terakhir.

Tapi apa mau dikata jalan darah kakunya tertotok sehingga tubuhnya tak mampu berkutik, ditambah lagi pengawasan dua orang dayang yg begitu ketat, membuat ia tak berhasil menembusi jalan darahnya itu.

Sementara dia masih berpikir mencari akal utk meloloskan diri, tiba-tiba terasa kereta itu bergetar keras dan segera berhenti.

Sementara itu lelaki berbaju hitam yg berada didepan kereta segera berkata.

"Nona berdua, komandan Sin telah pulang."

Mendengar perkataan itu, Kho Beng bersama kedua orang dayang itu berpaling keluar jendela, benar juga kelihatan ada puluhan sosok bayangan hitam sedang melesat datang dg kecepatan tinggi.

Sesudah mendekat, bayangan manusia yg berjalan dipaling depan berseru tertahan, lalu cepat-cepat menghampiri kereta.

Ternyata orang itu adalah seorang kakek berbaju hitam yg berperawakan tinggi besar berwajah amat keren.

Dg sorot matanya yg tajam bagaikan sembilu, dia mengawasi sekejap dua orang lelaki yg berada didepan kereta, lalu tanyanya keheranan.

"Go hoat, Tan peng kalian hendak kemana?"

Lelaki berbaju hitam yg bertindak sebagi kusir itu segera menjawab.

"Lapor komandan, hamba mendapat perintah dari Lengcu utk menghantarkan Kiok hoa dan Kiok bi yg mengawal tawanan Kho Beng menuju kekebun Kiok wan!"

Mendengar tanya jawab itu, Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya.

"Ternyata orang ini adalah komandan Sin dan pasukan baju hitam, kalau ditinjau dari tampangnya nampak gagah dan keren, sama sekali tdk mengandung hawa sesat, tapi heran mengapa ia justru bergaul dg kawanan manusia sesat itu?"

Sementara itu komandan Sin telah berpaling kearah jendela kereta seraya berkata.

"Nona Kiok bi, mengapa Lengcu tdk menunggu sampai aku pulang? Kenapa secara tiba-tiba ia berubah pendapat?"

Kiok bi segera tertawa cekikikan, ujarnya.

"Aduh komandan ku, kenapa kau masih bertanya? Kepergianmu yg tak ada kabar beritanya nyaris membuat semua urusan menjadi terbengkalai...!"

"Ketika aku sampai dirumah abu itu, telah ditemukan seorang yg amat mencurigakan...."

"Aaaah...apakah dia adalah si tua Bu wi?"

"Bukan!"

Komandan Sin menggeleng.

"Lantas siapakah dia?"

Tanya Kiok bi keheranan.

"Setelah kulakukan pengejaran sejauh dua puluh li, ternyata orang itu berhasil meloloskan diri, aku tak sempat melihat dg jelas raut wajah orang itu, tapi aku yakin dia bukan si tua Bu wi!"

Kiok bi segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Masa dibawah kelopak mata komandan Sin pun ada seseorang yg mampu meloloskan diri? Kecuali kau si komandan sengaja main sabun....."

Tiba-tiba komandan Sin menarik muka dan berseru dg suara dalam.

"Aku tdk terbiasa bergurau, aku harap perkataan nona sedikitlah tahu diri, meskipun aku she Sin selalu tinggi hati, tapi ilmu meringankan tubuh yg dimiliki orang itu sudah jelas tidak berada dibawah kemampuanku....."

Belum selesai perkataan itu diucapkan, sambil tertawa Kiok hoa telah menukas.

"Sudah, sudahlah komandan Sin juga tak perlu memberi penjelasan lagi, kau toh mengerti, kami kakak beradik hanya gemar bergurau dan menggoda orang lain, masa komandan Sian betulbetul main sabun? Cuma gara-gara keterlambatanmu itu, dikota telah terjadi suatu peristiwa besar!"

"Peristiwa apa?"

Tanya komandan Sin agak tertegun.

"Kim kong sam pian bersama si Walet terbang berwajah ganda serta kempat anjing asing itu telah berhasil menggeledah rumah makan Poan gwat kie dan menemukan tempat tinggal kita!"

"Bagaimana dg Lengcu?"

Tanya komandan Sin dg perasaan amat terkejut.

"Lengcu masih berusaha mengulur waktu dg meeka, sementara kami diperintah utk membawa orang she Kho ini kembali kekebun Kiok wan!"

Mendengar sampai disini Kho Beng baru mengerti apa sebabnya ia dipindahkan ketempat lain, namun pelbagai kecurigaan pun menyelimuti perasaan hatinya......

Siapakah yg mengutus Kim kong sam pian dan Walet terbang berwajah ganda.

Bukankah mereka sedang terlibat pertarungan sengit melawan Rumang sekalian?

Mengapa mereka malah bergabung menjadi satu?

Perubahan sikap dari musuh menjadi teman yg berlangsung begitu cepat benar-benar membuatnya kebingungan dan tidak habis mengerti.

Dg paras muka berubah menjadi amat tegang, komandan Sin berkata.

"Kalau begitu aku harus secepatnya kembali kekota utk memberi bantuan........."

"Dalam hal ini Lengcu pun telah berpesan"

Buru-buru Kiok hoa menerangkan.

"kita diharuskan menyelidiki terus jejak si tua Bu wi dan mendapatkan kembali kitab pusaka Thian goan bu boh, sebab hal itu jauh lebih penting daripada persoalan lain, oleh sebab itu Lengcu berpesan apabila bertemu dg dirimu maka kita diharuskan segera kembali kekebun Kiok wan dan menyiksa orang she Kho ini agar mengaku...."

Belum selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dari kejauhan sana terdengar seseorang berseru sambil tertawa tergelak.

"Buat apa mesti disiksa utk mengorek keterangan? Bukankah aku sudah hadir disini!"

Berubah hebat paras m uka komandan Sin saking kagetnya setelah mendengar perkataan itu, dg cepat dia mengulapkan tangannya kepada orang-orang berbaju hitam yg berada disekeliling sana.

Dalam waktu singkat dua puluhan jago pedang itu telah menyebarkan diri dan mengepung kereta tsb ketat-ketat, semuanya berdiri dg pedang terhunus dan punggung menghadap kearah kereta, agaknya orang-orang itu sudah siap sedia melangsungkan pertarungan.

Kho Beng yg berada dlm kereta segera mengenali suara itu sebagai suaranya Bu wi lojin.

Ia sangat terkejut dan berpekik dihati.

"Aduh celaka!"

Keadaan sudah jelas tertera, Bu wi lojin seorang diri lagi pula menderita luka dalam yg cukup parah, bagaimana mungkin ia sanggup menandingi kawanan jago lihay sebanyak itu?

Dg perasaan gelisah dan cemas dia mengawasi keluar lewat jendela krn tampak olehnya sesosok bayangan manusia telah munculkan diri sepuluh kaki didepan sana dan pelan-pelan berjalan mendekati kereta kuda itu.

Ia baru berhenti setelah berada hanya tiga kaki dari kereta, wajahnya kelihatan anggun dan tenang dg jenggot putihnya berkibar terhembus angin, orang ini memang tak lain adalah Bu wi lojin.

Komandan Sin segera menjura utk memberi hormat, lalu katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Ha...ha...ha....saudara Bu wi, sejak berpisah tiga puluh tahun berselang tak disangka kita akan bersua kembali maam ini!"

Ketika bertemu komandan Sin, tiba-tiba paras muka Bu wi lojin berubah, segera sahutnya sambil menjura pula.

"Ooooh...rupanya Sin tayhiap, apakah kau pun mengharapkan kitab pusaka Thian goan bu boh?"

Komandan Sin segera tertawa.

"Aku orang she Sin mengerti akan kemampuan serta keterbatasanku, sehingga sama sekali tdk berambisi dg kitab pusaka tsb. Hanya sayang aku sedang melaksanakan perintah sehingga mau tak mau terpaksa mohon pengertian dari engkoh tua, asal engkoh tua bersedia memberi muka kpd ku, aku Sin cu beng bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan Kho kongcu serta engkoh tua utk meninggalkan tempat ini."

"Bagus, bagus sekali, ha...ha...ha..."

Setelah mengucapkan dua patah kata itu, Bu wi lojin memperdengarkan suara tertawanya yg amat pedih, terusnya.

"Sama sekali tak kusangka tokoh sakti yg pernah menggetarkan dunia persilatan pada tiga puluh tahun berselang sebagai tujuh pedang tiga belas lelaki, ternyata telah berubah menjadi manusia tak becus yg sudi tunduk dibawah gaun wanita!"

Ternyata Sin Cu beng tdk menjadi gusar, katanya sambil tertawa.

"Saudara Bu wi, perkataanmu ini keliru besar sekali, atasanku adalah seorang tokoh sakti yg berwatak mulia dan bersikap anggun melebihi bidadari, sekalipun Sin Cu beng tunduk dibawah perintahnya, hal ini tak akan merusak nama baikku."

Bu wi lojin segera mendengus dingin.

"Sin Cu beng, seorang perempuan rendah yg tak tahu malu pun kau anggap sebagai bidadari, jangan-jangan matamu sudah silau sehingga tak bisa menilai orang....?"

"Tutup mulut!"

Bentak Sin Cu beng dg wajah berubah.

"jangan kau tuduh atasanku dg kata-kata yg jorok dan kotor, bila kau berani menghinanya lagi, jangan salahkan bila aku Sin Cu beng tak akan mengingat hubungan kita dahulu dan segera menyerangmu secara habis-habisan."

Mendengar perkataan mana, Bu wi lojin segera menghela napas panjang, ujarnya kemudian.

"Sudah, sudahlah Sin Cu beng! Aku hanya merasa sayang dg nama besarmu dulu sebagai pedang geledek, tapi.....yaa....setiap orang mempunyai tujuan yg berbeda dan siapapun tak sapat memaksakan pendapatnya, nah sekarang aku hanya minta kepadamu utk segera membebaskan Kho kongcu!"

Dibalik perkataan tsb jelas nada sayang dan kecewa yg amat sangat.

Sementara itu Kho Beng merasakan hatinya berdebar keras, kalau didengar dari nada suara Bu wi lojin agaknya komandan Sin ini bukan saja memiliki kedudukan yg tinggi, lagipula pernah dikenal sebagai seorang pendekar sejati.

Tak heran kalau ia berpendapat bahwa orang ini tdk mirip seorang manusia sesat, tapi mengapa tokoh semacam inipun begitu tunduk dibawah periontah iblis wanita dan rela menjadi kuku garudanya?

Dalam pada itu, sipedang geledek Sin Cu beng telah berkata dg suara dalam.

"Kho kongcu berada dalam kereta, asal kau bersedia mengembalikan kitab pusaka yg kau curi itu, aku pun segera akan membebaskannya!"

"Bila aku hanya menuntut dikembalikannya orang itu dan tidak bersedia mengembalikan kitab pusaka?"

Sin Cu beng segera tertawa dingin, jengeknya.

"Mengapa kau tidak mencoba utk mengukur dulu kekuatanmu? Jangan lagi aku didukung dua puluh jago pedang kelas satu, dg mengandalkan pedang ini pun belum tentu kau bisa mengungguli diriku."

Tapi setelah berhenti sejenak, dg nada pembicaraan yg jauh lebih lunak, kembali katanya sambil menghela napas.

"Saudara Bu wi, sku Sin Cu beng tahu kalau isi perutmu sudah terluka parah, sekalipun kau nekad ibaratnya hanya kunang-kunang yg menubruk api, hanya mencari kematian buat diri sendiri, aku berharap kau jangan memaksaku turun tangan!"

Bu wi lojin segera tertawa terbahak-bahak.

"Ha...ha...ha...Sin Cu beng! Tak nyana kau masih teringat akan persahabatan kita dulu, tapi apa kau lupa dg tabiatku?"

Sin Cu beng tertawa.

"Justru aku cukup mengerti akan watakmu yg suka akan keheningan dan hambar dg segala pertikaian, maka kuanjurkan kepada mu agar lepas tangan saja, apalah artinya mempertaruhkan jiwamu hanya demi sebuah benda?"

Bu wi lojin tertawa dingin, jengeknya.

"Kalau sudah tahu kalau aku senang akan keheningan dan hambar dg segala macam pertikaian, kau seharusnya jangan lupa kalau aku tak bakal menyerempet bahaya bila tak punya pegangan. Kalau toh sudah tahu kalau aku tak suka keributan, kau harus mengerti bahwa tindakanku sekarang krn terdorong kepentingan yg mendesak bahkan demi kepentingan pribadiku sendiri!"

Sin cu beng tertawa terbahak-bahak.

"Ha...ha...ha...bila kudengar dari nada pembicaraan loheng, agaknya kau datang dg mengandalkan sesuatu."

"Memang begitulah keadaannya!"

"Aku jadi ingin tahu apa sih yg kau andalkan itu?"

"Aku sudah terluka parah, kalau tanpa persiapan bukankah tindakanku ini sama artinya dg mencabuti kumis harimau? Sin cu beng coba perhatikan jelas-jelas."

Sambil berkata tiba-tiba ia meloloskan pedangnya dan menunding langit dg ujung pedangnya lalu diputar satu lingkaran.

Menyusul kode rahasia itu, dari empat penjuru bermunculan bayangan manusia yg jumlahnya tak kurang dari dua puluhan.

Menyaksikan kejadian tsb, dua orang dayang yg berada dlm kereta menjadi terkesiap, sebaliknya Kho Beng sangat kegirangan sehingga hampir saja bersorak kegirangan.

Dengan sinar mata yg tajam si pedang geledek, Sin Cu beng memperhatikan sekejap wajah orang-orang itu, lalu katanya.

"Tua bangka, tak kusangka kemampuanmu sangat hebat, hanya dalam seharian saja telah dapat mengumpulkan jago-jago sebanyak ini!"

Bu wi lojin tersenyum.

"Nah, anak buahku sekarang tdk lebih sedikit daripada kekuatan, bukan..."

Sambil tertawa seram Sin Cu beng menukas.

"He....he....he.... si tua, kau harap memahami kemampuan yg kumiliki, sekalipun saat ini Cuma ada aku Sin Cu beng seorang, puluhan jagomu itu tak akan kupandang sebelah mata pun!"

Baru selesai perkataan itu diutarakan, medadak dari sisi hutan terdengar seseorang berseru sambil mendengus dingin.

"Hey orang she Sin, apa kau tidak malu membual melulu?"

Sin Cu beng tertawa dingin, sambil berpaling tegurnya.

"Siapa kau?"

"Aku Ang It tiang!"

Berubah paras muka Sin Cu beng mendengar nama itu, jeritnya tertahan krn kaget.

"Kau adalah si kakek tongkat sakti?"

Sambil tertawa tergelak Bu wi lojin menyela.

"Ha...ha...ha....tepat sekali, memang si tua Ang, jika kau menganggap seorang kakek tongkat sakti masih belum kau pandang sebelah mata pun, baiklah kuperkenalkan lagi beberapa orang sahabatku yg lain."

Berbicara sampai disini, dia segera berpaling seraya teriaknya keras-keras.

"Hey pelajar rudin, bersediakah kau mengucapkan beberapa patah kata bagiku?"

Dari kejauhan sana segera terdengar seseorang menyahut.

"Aku sipelajar rudin Cuma pandai membuat syair, aku tak mampu berbicara, apalagi ditengah malam yg tak berbintang ini ilhamku serasa menjadi tersumbat, tapi kalau suruh main pedang putar golok, rasanya lebih sesuai dg keadaan."

"Siapakah pelajar rudin itu?"

Tanya Sin Cu beng tertegun.

"Hmmm...masa pemimpin Lam huang pat ciong (delapan rudin dari Lam huang) yg lebih dikenal sebagai pelajar rudin Ho Heng pun tdk kau kenal? Hmmmm, aku lihat kau Sin Cu beng sudah bosan hidup!"

Sekali lagi paras muka Sin Cu beng berubah hebat, alis matanya makin lama berkenyit semakin kencang. Sementara itu Bu wi lojin telah berkata lagi.

"Tampaknya kau Sin Cu beng memang benar-benar punya nyali, mari, biar kuperkenalkan seorang teman lagi."

Setelah celingukan sebentar kesekeliling sana, teriaknya lantang.

"Hey hwesio, bagaimana kalau kaupun unjukkan diri?"

"Hidup sebagai seorang pendeta, sama halnya sudah tak punya nafsu apa-apa, kenapa aku mesti unjuk diri? Tapi aku hwesio tak pernah membaca doa, tak pernah juga makan hidangan berpantangan, aku paling tertarik dg segala jenis barang yg aneh, asal kau tak ingkar janji dan memberi salinan kitab pusaka Thian goan bu boh kepadaku, biar ada urusan sebesar apapun didunia ini, aku si hwesio tetap akan menanggulanginya seorang diri."

Paras muka Sin Cu beng betul-betul berubah hebat, serunya tanpa sadar.

"Aaai...si hwesio daging anjing Thian tin?"

"Ha...ha...ha...Sin Cu beng, walaupun kita tak pernah bertemu muka, namun aku si hwesio sudah lama mendengar nama besarmu, bila kau ingin kabur kuharap larilah kearahku, aki sihwesio pasti mengundangmu utk mencicipi daging anjing sebelum kuhantar pulang ke See thian menemui Hud cow!"

Menanti perkataan itu selesai diucapkan, Bu wi lojin segera berkata pula sambil tertawa bergelak.

"Nah, Sin lote, bagaimana keputusanmu sekarang! Akan kau bebaskan tawananmu itu? Ataukah ingin bertempur mati-matian?"

Dicekam oleh perasaan terkejut bercampur ngeri, Sin Cu beng benar-benar tak habis mengerti, darimana Bu wi lojin bisa mengumpulkan jago-jago lihay yg dihari biasa pun susah dijumpai, jangan lagi ia belum mengetahui jago lainnya, cukup berbicara tentang si pelajar rudin, kakek tongkat sakti serta hwesio daging anjing pun sudah cukup membuat kepalanya pusing.

Sekalipun ia merasa curiga, tapi kenyataannya telah terpampang didepan mata dan tak mungin dipungkiri lagi.

Jilid 18 Setelah paras muka dari si pedang geledek yg pernah termasyur dlm dunia persilatan ini berubah berapa kali, akhirnya ia berseru sambil tertawa tergelak.

"Tua bangka Bu wi, tak kusangka kartu as mu begitu banyak tapi jangan lupa aku Sin cu beng pun mempunyai pula selembar kartu as!"

"Oya? Kalau begitu akupun ingin mengetahui sampai dimanakah kemampuan yg kau miliki!"

Sambil tertawa dingin Sin Cu beng berkata.

"Rupanya kau lupa kalau Sin Cu beng masih memegang bocah she Kho ini! Selama dia masih berada ditanganku, kenapa aku mesti jeri dg kekuatanmu?"

Tiba-tiba ia mengulapkan tangannya kebelakang seraya berseru.

"Gusur bocah she Kho itu keatas atap kereta!"

Dua orang dayang itu serentak menjepit tubuh Kho Beng dan dibawa melompat keatas atap kereta. Bu wi lojin mendongak serta memandang wajah Kho Beng sekejap, lalu sambil tetap tersenyum, tanyanya.

"Sin Cu beng, apa yg hendak kau perbuat?"

Dg suara dalam Sin Cu beng berkata.

"Aku akan menghitung sampai angka lima, bila kau masih belum menyerahkan kitab pusaka tsb kepadaku, terpaksa aku akan membunuh bocah ini lebih dulu kemudian baru berusaha menembusi kepungan!"

"Sin lote! Kau tak usah menghitung lagi...."

Sela Bu wi lojin. Sin Cu beng jadi kegirangan, segera tegurnya.

"Apakah kau sudah berubah pikiran?"

"Aku tak pernah mau menyerah pada tuntutan orang, lote. Silahkan kau bunuh bocah she Kho itu lebih dulu!"

Kata Bu wi lojin dingin. Begitu perkataan tsb diutarakan, bukan saja Kho Beng jadi terperanjat, Sin Cu beng sendiri jadi tertegun, serunya kemudian sambil membelalakkan matanya.

"Jadi kau telah memutuskan tak akan memperdulikan mati hidup bocah ini lagi?"

"Aku Cuma mendapat titipan dari sahabatku utk menyimpan kitab pusaka, tak pernah mendapat pesan utk melindungi keselamatan putranya, kalau kitab itu lenyap berarti aku telah mengingkari janji, sebaliknya kalau putranya yg tewas, hal ini hanya bisa dibilang takdir, apalagi selembar nyawanya bakal ditukar dg nyawa lote, dua puluh orang anak buahmu ditambah lagi dg dua orang dayang serta dua orang kusir, sekalipun Kho kongcu tewas diujung pedang, paling banter satu nyawa ditukar dg dua puluh empat nyawa. Hitung-hitung aku toh masih bisa mempertanggung jawabkan diri kepada Hui im cengcu yg telah tiada."

Sin Cu beng jadi tertegun, tiba-tiba ia berpaling sambil serunya keras-keras.

"Kho Beng kau sudah dengar perkataannya?"

Dlm kaget dan tercengangnya Kho Beng mengawasi sekejap wajah Bu wi lojin yg nampak begitu tenang itu, mendadak ia teringat dg senyuman yg dilemparkan kepadanya tadi, rasanya dibalik senyuman tsb masih mengandung arti yg mendalam.

Satu ingatan melintas kedalam benaknya, setelah tertawa tergelak, segera katanya.

"Aku sudah mendengarkan semua perkataannya dg jelas, menurut anggapanku Bu wi cianpwee memang sudah sewajarnya berbuat demikian, sebab apalah artinya selembar nyawaku dibandingkan bila kitab Thian goan bu boh sampai terjatuh ketangan kaum manusia laknat yg bakal menimbulkan bencana bagi seluruh umat persilatan? Aku justru merasa berbangga hati krn selembar nyawaku bisa menyelamatkan beribu lembar nyawa, sehingga kalau dihitung-hitung kembali, kematianku ini berharga sekali!"

"Baik...."ucap Sin Cu beng tiba-tiba sambil tertawa dingin. Sambil meloloskan pedang dari sarungnya, ia segera melompat naik keatas atap kereta itu..... Agak berubah paras muka Bu wi lojin, segera bentaknya dg suara dalam dan berat.

"Kau sudah bosan hidup!"

Sin Cu beng tertawa seram.

"He...he...he...aku rasa masih terlalu pagi utk membicarakan soal hidup mati diriku...."

Kemudian sesudah menempelkan mata pedangnya diatas tengkuk Kho Beng, kembali teriaknya keras-keras.

"Tujuanku sekarang adalah berusaha sekuat tenaga utk melindungi kereta ini meloloskan diri dari kepungan...."

Tiba-tiba Bu wi lojin berseru pula ambil tertawa nyaring.

"Sin Cu beng, silahkan saja kau mencoba menembusi kepunganku, aku akan membuktikan perkataanku tadi!"

Dg sorot mata tajam Sin Cu beng memperhatikan sekejap keadaan disekeliling tempat itu, kemudian teriaknya keras-keras.

"Ayoh berangkat, kita terjang kearah utara!"

Lelaki berbaju hitam yg bertindak sebagai kusir itu mengiakan, tapi sebelum kereta dilarikan, mendadak terdengar Kiok bi berseru dg nada gugup.

"Tunggu sebentar!"

Lelaki berbaju hitam itu segera menarik kembali tali les kudanya seraya berpaling dg keheranan. Dg penuh amarah Sin Cu beng ikut berseru.

"Nona, apa-apaan kamu ini?"

Sambil tertawa terkekeh-kekeh, sahut dayang itu.

"Komandan Sin, bila kau sudah bosan hidup adalah urusanmu sendiri, kalau budak mah belum bosan hidup."

"Yaa betul"

Kiok hoa menimpali.

"komandan jangan lupa bahwa benda yg diinginkan dewi adalah kitab pusaka Thian goan bu boh, kini kitab pusaka itu belum didapatkan kembali, sekalipun kau bunuh orang she Kho tsb, bagaimana pula tanggung jawabmu nanti? Bila kita sampai turut berkorban, waaaah....rugi besar namanya!"

OooOOooo Sin Cu beng termenung berapa saat kemudian tanyanya.

"Lantas apa yg harus kita perbuat menurut pendapat nona berdua?"

"Untuk menghindari jatuhnya korban dikedua belah pihak, aku rasa lebih baik kita bebaskan tawanan dan segera mengundurkan diri lebih dulu...."

Berubah paras muka Sin Cu beng setelah mendengar ucapan tsb, segera katanya.

"Tapi tua bangka celaka itu belum menyatakan kesediaannya utk menyerahkan kitab pusaka itu?"

Setelah menghela napas panjang Kiok bi berkata.

"Selama bukit nan hijau kenapa kita kuatir kehabisan kayu bakar? Sebaliknya kalau kita mesti beradu jiwa dg begitu saja, bukankah kita bakal mampus tanpa memberikan hasil?"

Dg gusar Sin Cu beng segera berseru.

"Kelihatannya kalian berdua enggan menuruti perkataanku dan lebih suka bertindak sendiri-sendiri?"

Kiok hoa segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Budak hanya seorang pelayan berkedudukan sangat rendah, mana berani kutentang perintah dirimu sebagai seorang komandan? Cuma kami berharap agar komandan tdk mencampur baurkan tugas seseorang menjadi satu, budak Cuma mendapat perintah utk memindahkan tawanan ketempat lain, sehingga masalahnya berbeda sekali dg tugas komandan utk merebut kembali kitab pusaka itu...."

"Tutup mulut!"

Bentak Sin Cu beng tiba-tiba.

"dalam situasi demikian, aku tdk perkenankan kehadiran dua orang pemimpin dalam satu kelompok kekuatan...."

Kiok bi yg berada disisinya buru-buru menimbrung.

"Komandan, adik Kiok hoa memang tak pandai bicara, harap kau jangan gusar padahal...."

Tiba-tiba ia menempelkan bibirnya disisi telinga orang itu dan membisikkan sesuatu. Melihat keadaan tsb, dalam hati kecil Kho Beng segera timbul kecurigaan, pikirnya.

"Jangan-jangan kedua orang dayang ini masihmempunyai rencana busuk lainnya?"

Terhadap mata pedang yg menempel diatas tengkuknya itu, ia sama sekali tdk merasa takut, sebab dia tahu si pedang geledek yg pernah termasyur dlm dunia persilatan dimasa lampau ini tak akan turun tangan keji terhadapnya.

Namun terhadap kasak kusuk kedua orang dayang tsb, ia justru merasakan hatinya tdk tentram.

Tampak Sin Cu beng mengerutkan dahinya dg marah, kemudian dg suara rendah bisiknya.

"Benarkah maksud Lengcu agar berbuat demikian?"

Kiok hoa tertawa dingin, sahutnya.

"Berapa butir batok kepala sih yg budak miliki sehingga berani membohongi komandan? Bila komandan berbuat demikian maka bukan saja kau tak akan peroleh teguran, malah sebaliknya bakal melakukan suatu pahala besar!"

Sin Cu beng termenung berapa saat lamanya, mendadak ia berseru kpd Bu wi lojin.

"Hey situa Bu wi, bila aku Sin Cu beng bersedia membebaskan bocah ini, apakah kau pun dpt menjamin agar orang-orang kami meninggalkan tempat ini tanpa hadangan?"

Bu wi lojin tersenyum.

"Aaaah, tak nyana kau bisa berubah pikiran secepat itu, berapa kali sih selama hidupku aku pernah mengingkari janji? Asal kalian pun tdk berbuat permainan busuk terhadap kami, tentu saja akan kubiarkan kalian meninggalkan tempat ini dg selamat."

Sin Cu beng segera manggut-manggut.

"Baiklah, selewatnya malam ini, aku akan meminta pelajaran lagi darimu...."

Seusai berkata dia menarik kembali pedangnya dan berkata kepada dua orang dayang itu sambil mengulapkan tangannya.

"Hantar orang itu kesana!"

"Tidak!"

Teriak Bu wi lojin keras-keras.

"biar dia sendiri yg berjalan kemari!"

"Tapi loya...jalan darah kaku Kho kongcu sudah tertotok..."ujar Kiok bi sambil tertawa.

"Bebaskan dulu jalan darahnya, aku jamin dia pun tdk akan melancarkan serangan terhadap kalian!"

Kiok bi segera berpaling kearah Kho Beng, dan tanyanya sambil tersenyum.

"Kho kongcu, bersediakah kau berbuat begitu?"

Kho Beng tertawa dingin.

"Setelah Bu wi cianpwee berkata begitu, utk sementara waktu akupun akan membebaskan kalian, tapi bila bertemu lagi lain waktu, he....he......"

Beberapa kali suara tawa dinginnya menyambung kata-kata yg belum selesai diucapkan. Kiok bi tertawa terkekeh.

"Bila bersua lagi lain waktu, budak pasti akan mohon maaf kepada kongcu...!"

Dg cepat ia menepuk bebas jalan darah kaku ditubuh Kho Beng.

Diam-diam pemuda itu mencoba utk mengatur pernapasannya, ketika dijumpai hawa murninya berjalan lancar dan tiada gejala lain yg aneh, dia baru melayang turun dari atas atap kereta dan berjalan menuju kesisi Bu wi lojin.

"Apakah kau merasakan ada sesuatu yg tak beres?"

Bu wi lojin segera bertanya dg cemas.

"Sama sekali tidak!"

Kho Beng menggeleng. Bu wi lojin segera mengulapkan tangannya keempat penjuru, menanti orang-orang yg berada disekeliling sana telah mengundurkan diri, ia baru mendongakkan kepalanya seraya berkata.

"Sin lote, sekarang kau boleh pergi dari sini!"

Dg wajah dingin Sin Cu eng segera menjura, kemudian mengajak dua puluhan orang anak buahnya dan kereta kuda itu berlalu darisana menuju kearah barat.

Tidak selang beberapa saat kemudian, bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik kegelapan sana.

Saat itulah Kho Beng baru bisa menghembuskan napas lega, baru saja ia akan mengucapkan terima kasih krn pertolongan tsb, tampak Bu wi lojin sedang mengawasi kearah dimana mush-musuhnya melenyapkan diri itu ambil menghembuskan napas panjang, lalu gumamnya.

"Akhirnya bencana pada malam ini pun dapat dilalui..."

Belum selesai perkataan itu diucapkan, tiba-tiba badannya sudah roboh terjengkang keatas tanah. Dg perasaan terkejut buru-buru Kho Beng membangunkan orang tua tsb seraya berseru.

"Cianpwee kenapa kau?"

Dimana jari tangannya menyentuh, ia merasakan pakaian yg dikenakan Bu wi lojin basah kuyup bagaikan orang tercebur keair.

Dg perasaan terkesiap ia segera mengawasi wajahnya, sekarang ia baru menemukan kalau wajah tokoh persilatan ini sudah berubah menjadi pucat kekuning-kuningan, napasnya lemah sekali.

"Aaaah....!"

Kho Beng benar-benar dibikin tertegun saking kagetnya oleh perubahan yg berlangsung secara mendadak ini sehingga tanpa terasa ia menjerit kaget.

Tiba-tiba dari belakang tubuhnya kedengaran seorang berkata sambil menghela napas.

"Luka dalam yg diderita Bu wi cianpwee belum sembuh, sewaktu mendapat kabar kalau kau ketimpa musibah, ia menjadi kuatir sekali, mungkin lantaran kelewat banyak memeras otak akhirnya dia menjadi kehabisan tenaga...."

Mendengar perkataan tsb, dg rasa terkejut Kho Beng mendongakkan kepalanya, ia makin terperanjat lagi setelah mengetahui bahwa orang tsb adalah Kim lotoa dari Kim kong sam pian.

Buru-buru Kim lotoa memberi hormat seraya berkata.

"Harap sauhiap jangan menaruh curiga kepadaku, yg penting sekarang adalah berusaha keras untuk menyadarkan kembali Bu wi cianpwee!"

Kho Beng manggut=manggut, sambil duduk bersila dan menarik napas panjang, kelima jari tangannya segera ditempelkan keatas jalan darah Mia bun hiat ditubuh Bu wi lojin, segulung tenaga murni pun segera meluncur masuk ketubuh orang tua itu dan menyebar kemana-mana.

Satu perputaran kemudian, Kho Beng sudah basah kuyup mandi keringat, tapi Bu wi lojin tetap jatuh tak sadarkan diri, sekalipun dengusan napasnya sudah makin bertambah kuat.

Maka tanpa segan-segan lagi Kho Beng mengerahkan segenap tenaga dalam yg dimilikinya utk menyembuhkan luka orang tua tsb, ditengah suasana yg amat kritis inilah, mendadak dari kejauahan sana kembali muncul beberapa sosok bayangan hitam yg meluncur datang dg cepatnya.

Kim lotoa yg pertama-tama menjumpai kehadiran bayangan manusia itu, dg perasan terkejut ia segera meloloskan ruyungnya sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan.

Dlm keadaan seperti ini, dia tak berani mengusik ketenangan Kho Beng, sementara hatinya gelisah sekali demi memikirkan keselamatan Bu wi lojin dan Kho Beng.

Menunggu bayangan manusia itu sudah makin dekat dan diketahui bahwa mereka adalah saudara-saudaranya sendiri bersama Chin sian kun sekalian, dia baru menghembuskan napas panjang, cepat-cepat tangannya digoyangkan berulang kali melarang mereka berisik.

Betapa gembiranya Chin sian kun setelah menjumpai Kho Beng berada pula disana, Kim lotoa segera bertanya dg suara lirih.

"Eeei...darimana kalian tahu kalau kami berada disini?"

"Penggeledahan kami dirumah makan Poan gwat kie tdk memberikan hasil apa-apa"

Kata Chin sian kun.

"kemudian kami pulang mencarimu, tapi diketahui kalianpun sudah pergi dari sana, maka kami segera keluar kota utk mencarimu disekitar sini...."

Sementara mereka masih berbicara, tiba-tiba terdengar Kho Beng menghembuskan napas panjang, seraya bertanya.

"Cianpwee, bagaimana perasaanmu sekarang?"

Mendengar pertanyaan itu semua orang segera berpaling, benar juga ternyata Bu wi lojin sudah membuka matanya kembali, sementara Kho Beng yg duduk bersila disampingnya menghembuskan napas panjang, pakaiannya telah basah pula oleh keringat.

Bu wi lojin menghela napas pelan, katanya kemudian.

"Walaupun aku telah pulih kembali kesadarannya, namun masih susah bergerak, tolong Kim bersaudara memayangku dg segera dan secepatnya meninggalkan tempat ini...."

Akan tetapi sewaktu dia menjumpai kehadiran Ruamng sekalian berempat, kembali wajahnya nampak tertegun, sambil mengawasi Kho Beng segera tanyanya.

"Siapakah orang-orang itu?"

"Keempat orang ini adalah anak buah boanpwee..."

Buru-buru Kho Beng menerangkan. Lalu kepada Rumang sekalian katanya.

"Hayo cepat kalian menjumpai Bu wi cianpwee!"

Siapa tahu keempat orang itu sama sekali tidak bergerak dari posisi semula, malah Hapukim segera berseru sambil tertawa dingin.

"Yang kami sanjung serta hormati adalah seorang enghiong atau lelaki perkasa, bukan seorang kakek tua bangka yg mati tidak, hidup pun susah."

Tak terlukiskan rasa amarah Kho Beng setelah mendengar perkataan itu, tapi sebelum ia sempat berbicara, Mokim telah berkata pula dg suara dingin.

"Cukong, kami benar-benar mulai mencurigai ketidak beresan otakmu, tadi kau berusaha menghindari orang-orang dari kelompok ini, tapi sekarang malah berusaha menyelamatkan tua bangka ini, sebenarnya permainan apa sih yg sedang kau perbuat?"

Seandainya Kho Beng tdk merasa lemah sehingga sama sekali tak bertenaga, ingin benar dia menggaplok orang-orang tsb. Dalam pada itu Bu wi lojin telah berkata pula sambil mengernyitkan alisnya.

"Bila didengar dari nada pembicaraannya, aku rasa orang-orang ini bukan penduduk asli dari daratan tionggoan, hubungan kalian pun seperti majikan dg pembantu tapi seperti juga bukan, sebetulnya hubungan apasih yg terjalian diantara kalian?"

"Aaaai.....tak akan habis utk menerangkan persoalan ini dg sepatah dua patah kata...."

Ujar Kho Beng sambil menghela napas panjang. Mendengar itu Bu wi lojin segera menukas.

"Kalau memang tak akan habis dibicarakan dlm waktu singkat, sekurangnya kita harus meninggalkan tempat ini selekasnya!"

Sembari berkata ia segera memberi tanda kepada Kim kong sam pian. Kim lotoa dan Kim loji segera memayang tubuh orang tua itu, lalu tanyanya.

"Cianpwee, apakah kita segera pulang kepenginapan?"

Bu wi lojin menggeleng kepala.

"Walaupun musuh tangguh telah mundur, namun sebelum berhasil merebut kembali kitab pusaka Thian goan bu boh, tak mungkin mereka akan lepas tangan dg begitu saja. Apalagi didalam kota terdapat banyak sekali komplotannya, tempat itu tak bakal aman. Lebih baik kita berjalan kearah barat sejauh tiga puluh li, ditepi bukit karang terdapat sebuah gua bekas tempat tinggal sahabatku, nah sekarang tolonglah kalian menghantarkan aku kesana...."

Sementara itu, Molim bersaudara sekalian yg mendengar tentang kitab pusaka Thian goaan bu boh, tiba-tiba hatinya tergerak dan saling bertukar pandangan sekejap.

Sementara itu Kim lotoa telah membangunkan Bu wi lojin dan siap berangkat meninggalkan tempat itu."

Mendadak Kho Beng berseru dg cemas.

"Bukankah tadi terdapat begitu banyak cianpwee yg membantu kita, mengapa kita tdk minta bantuan mereka lagi?"

Mendengar perkataan tsb, Bu wi lojin segera tersenyum.

"Oooh...itu mah Cuma siasatku utk menakuti mereka, padahal bayangan manusia tadi Cuma orang-orangan dari rumput yg dibuat Kim tayhiap, masa hingga sekarangpun belum kau ketahui?"

Tapi...mana mungkin orang-orangan dari rumput bisa berbicara...."

Sambil tertawa Kim lotoa berkata.

"Sesungguhnya yg berbicara adalah aku, sedang bagaimana nada suaranya dan apa yg mesti kuucapkan merupakan ajaran dari cianpwee sebelumnya, yaa...satu orang harus berperan tiga manusia yg berbeda-beda, hampir saja kakiku terasa mau patah."

"Oooh...rupanya hanya sebuah siasat tentara rumput"

Kata Kho Beng sambil tertawa geli.

"andaikata siasat tsb sampai ketahuan komandan Sin, bukankah keadaan jadi lebih berbahaya?"

Bu wi lojin tertawa pula, katanya.

"Selama hidup aku selalu bertindak sangat hati-hati, sekalipun Sin Cu beng orangnya cerdik dan seksama, tetap saja ia tak bakal menyangka kalau aku bertindak begitu berani, oleh sebab itulah kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini, sebab aku takut dia akan balik lagi kemari...."

Mendengar penjelasan tsb, Kho Beng tak berani ayal lagi, ia segera beranjak meninggalkan tempat tsb.

Maka berangkatlah kesembilan orang itu menuju ketebing seratus kaki.

Ditengah bukit-bukit karang yg terjal, terdapat sebuah lembah kecil.

Rerumputan nan hijau dan aneka macam bunga tumbuh disekitar lembah, diujung lembah tadi terdapat sebuah gua yg besar.

Waktu itu pintu gua tertutup rapat-rapat, Bu wi lojin sedang duduk diatas sebuah pembaringan sambil mengatur pernapasan, sedangkan Kho Beng menanti disisinya dg perasaan gelisah dan tak tenang.

Walaupun sejak tiba digua tsb waktu baru lewat setengah jam, namun bagi perasaan Kho Beng seperti sudah setengah tahun lamanya, sebab ia merasa banyak persoalan yg hendak diucapkan keluar, tentu saja ia pun tahu Bu wi lojin pun mempunyai banyak persoalan yg hendak disampaikan kepadanya.

Baru saja dia hendak menuju kepintu gua, tiba-tiba terdengar Bu wi lojin menghembuskan napas panjang sambil berseru.

"Nak, kemarilah!"

Dg girang Kho Beng membalikkan badannya sambil memburu kesamping pembaringan bata, tampak olehnya walaupun Bu wi lojin telah bersemedi sekian waktu namun sinar matanya tetap sama dan sama sekali tak bersinar, hal ini tentu saja membuat hatinya amat gelisah.

"Cianpwee, apakah kau merasa agak baikan?"

Ia bertanya. Bu wi lojin manggut-manggut.

"Yaa..badanku memang terasa segar kembali mungkin utk sementara waktu bukan menjadi masalah lagi, aaai....tapi untuk mengembalikan kekuatanku seperti sedia kala, mungkin paling tidak harus bersemedi lagi selama sepuluh tahun, padahal mampkah aku hidup selama sepuluh tahun lagi masih menjadi suatu pertanyaan besar."

"Siapa sih yg telah melukai cianpwee?"

Tanya Kho Beng dg wajah berubah karena terperanjat.

"Dewi In nu!"

"Apakah dewi In nu adalah perempuan yg menyamar sebagai kuasa perkampungan Hui im ceng dimasa lalu kemudian mengambil kitab pusaka dari cianpwee?"

Bu wi lojin manggut-manggut. Dg perasaan yg amat bergetar ia berseru .

"Begitu lihaykah perempuan siluman itu?"

Dg sedih ia menghela napas, katanya.

"Aaaai, dia adalah musuh paling tangguh yg belum pernah kujumpai selama hidup, pukulan Thian goan eng nya hampir saja membuyarkan tenaga latihanku selama empat puluh tahun!"

"Thian goan eng?"

Tanya Kho Beng dg perasaan terperanjat. Kembali Bu wi lojin menghela napas.

"Ilmu pukulan tsb hanya merupakan salah satu macam ilmu yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh...."

"Jadi maksud cianpwee, siluman perempuan itu telah berhasil mempelajari ilmu sakti yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh?"

Tanya Kho Beng dg wajah berubah. Bu wi lojin manggut-manggut.

"Untung saja kitab pusaka sakti Thian goan bu boh mengandung ilmu silat yg sangat mendalam dan cukup rumit, menurut perkiraanku dia baru bisa menyelami setengah dari isi kitab tsb, kalau bukan begitu tak nanti dia akan mengirim begitu banyak jago dan berusaha utk merebutnya kembali !"

Kembali Kho Beng merasa amat terperanjat, hanya mempelajari setengah dari kitab pusaka itu pun sudah begitu lihai, andaikata Bu wi lojin tdk berjuang mati-matian utk merampas sebagian dari kitab tsb sehingga perempuan siluman itu berhasil mempelajari seluruh isi kitab itu, bukankah kekuatannya tiada tandingan lagi didunia ini?

Sementara itu Bu wi lojin telah berkata lagi sambil menghela napas.

"Aku benar-benar merasa malu terhadap arwah ayahmu dialam baka...."

"Cianpwee, kau sudah kelewat banyak melepaskan budi kepada boanpwee, harap kau jangan berkata begitu, apa yg cianpwee lakukan selama ini sudah membuat boanpwee tak tentram."

Bu wi lojin menggoyangkan tangannya berulang kali, lalau berkata.

"Walaupun aku sudah berusaha memeras tenaga dan pikiran bahkan pertaruhkan pula jiwa tuaku, alhasil hanya separuh buku yg berhasil kurebut kembali."

"Separuh buku....?"

Kho Beng berseru tertahan. Bu wi lojin tersenyum.

"Biarpun kitab ini sudah tak utuh, namun aku yakin dewi In nu tak bakal bisa menguasai ilmu silat maha sakti lagi, bagimu pun hal ini tak akan mendatangkan kerugian."

Sambil berkata ia segera membuka buntalannya dan mengeluarkan dua lembar kulit kambing lalu diletakkan diatas lututnya.

"Aku tidak mengerti..."

Kho Beng berbisik kebingungan. Sambil menunjuk kearah kulit kambing itu, Bu wi lojin berkata.

"Coba kau perhatikan dulu lukisan diatas kertas ini, kemudian dengarkan penjelasanku maka kau segera akan mengerti."

Dg seksama Kho Beng segera memperhatikan kedua lembar kulit kambing itu, pada lembaran pertama berlukiskan sebuah gambar Pet kwa besar, didalam pat kwa bersila seseorang dg sepasang tangan menempel pada Im dan Yang.

Yang aneh adalah letak atau posisi pat kwa tsb ternyata tak karuan bentuknya, walaupun sepasang tangan orang yg dilukis ditengah menempel pada posisi Im serta Yang namun justru terlukis pula beberapa bekas telapak yg berpencar disekeliling gambar pat kwa.

Pada lembaran kedua pun keadaannya tak jauh berbeda, hanya posisi pat kwanya berubah lagi, sedang gambar orangnya dari posisi duduk menjadi berdiri, disitu pun tertera bekas bekas telapak yg terpencar.

Terdengar Bu wi lojin berkata.

"Kitab pusaka Thian goan bu boh seluruhnya terdiri dari enam halaman, dua lembar pertama adalah kedua lembar gambar ini, sedang empat lembar berikut adalah penjelasan. Menurut pendapatmu, jika kau kehilangan kedua gambar ini, mampukah kau meneruskan latihanmu?"

Kho Beng termenung sebentar, lalu katanya.

"Apa bila seseorang memiliki daya ingatan yg kuat, mungkin saja ia bisa mengingat sebagian diantaranya."

Bu wi lojin tersenyum.

"Benar, oleh karena kau belum memahami rahasia dari kedua lembar gambar ini maka kau bisa berpendapat demikian, memang jurus silat pelbagai aliran lain memisahkan antara tenaga dalam serta perubahan jurus, berbeda sekali dg ilmu silat dari Thian goan bu boh, setiap jurus silatnya harus disesuaikan dg posisi langkah dan urutan nadi yg tercantum dalam gambar keterangan ini, sebab bila salah sedikit saja, bukan Cuma akan terjadi reaksi yg luar biasa, malah bisa jadi akan menderita jalan api menuju neraka dan kehilangan seluruh tenaga dalamnya."

Dg perasaan terkejut bercampur keheranan Kho Beng berseru.

"Kalau begitu utk mempelajari ilmu silat dari kitab pusaka Thian goan bu boh, seseorang harus membutuhkan petunjuk dari kedua lembar gambar ini....?"

"Yaa...kalau pelajaran ilmu silat bisa dihapalkan maka kedua lembar gambar tsb mustahil dihapalkan dg begitu saja, karena orang harus menyelaminya satu persatu menurut kemajuan ilmu yg dicapai, apalagi kalau mengandalkan daya ingat saja, resikonya benar-benar kelewat besar....selain itu akupun pernah mendapat petunjuk dari ayahmu utk membuatkan tujuh lembar salinan buat ketujuh partai besar, karenanya aku yakin masih bisa menghapalkan kembali isi dari halaman terakhir kitab pusaka ini...."

Belum habis ia berkata, dg gelisah Kho Beng telah berseru.

"Oya, tentang soal ini aku memang ingin bertanya, setelah cianpwee selesai menyalin kitab pusaka tsb, apakah pihak tujuh partai besar telah menerima salinannya?"

"Belum"

Bu wi lojin menggeleng.

"aku sendiri pun tak habis mengerti kenapa ayahmu waktu itu tdk menghargai kitab pusaka tsb, sedang tujuh partai besar pun tdk banyak bertanya, hingga sekarang aku belum memahami apa sebabnya."

Kho Beng segera menghela napas.

"Aaai, kalau begitu dugaanku tak meleset, jelas peristiwa ini merupakan suatu rencana busuk yg paling sempurna."

"Rencana busuk apa?"

Tanya Bu wi lojin terkejut.

"Tahukan cianpwee kenapa ketua dari tujuh partai besar tdk mengambil salinan kitab pusaka itu? Sesungguhnya mereka bukannya enggan menerima salinan itu, tapi ditengah jalan telah bertemu dg seseorang yg menyaru sebagai locianpwee dan berlagak tidak mengetahui persoalan ini, akibatnya para ketua pertai menjadi gusar, mereka mengira ayahku mempermainkan mereka, maka kawanan jago yg kecewa pun berbondong-bondong datang keperkampungan Hui im ceng yg berakibat terjadinya peristiwa berdarah itu."

Berubah wajah Bu wi lojin setelah mendengar perkataan itu, serunya tanpa terasa.

"Benar, benar sebuah rencana busuk yg amat keji, jadi maksudmu dalangny adalah orang yg menipu kitab dariku yaitu dewi In nu?"

"Benar!"

Jawab Kho Beng dg rasa benci. Bu wi lojin terbatuk-batuk lalu secara tiba-tiba memuntahkan segumpal darah kental..... Bu wi lojin memejamkan matanya sejenak, lalu katanya sambil menggeleng.

"Waktu sudah amat mendesak, lebih baik kau segera mempelajari ilmu sakti yg tercantum dlm kitab pusaka Thian goan bu boh, hanya dg menguasai ilmu sakti inilah kau baru bisa membalas dendam serta menumpas musuh-musuhmu!"

"Tapi luka yg diderita cianpwee lebih penting lagi artinya...."

Buru-buru Kho Beng berseru. Bu wi lojin tertawa getir.

"Aku tak bakal mati, dg luka dalam yg kuderita sekarang, paling tidak membutuhkan waktu semedi selama sepuluh tahun utk bisa memulihkan kembali seperti sedia kala, tapi bila kau mampu manguasai ilmu sakti dari Thian goan bu boh tsb dalam setengah bulan mendatang dan kemudian kau bersedia membantuku, niscaya tenaga dalamku bisa dipulihkan kembali seperti sedia kala cukup dalam waktu satu tahun saja!"

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali katanya dg wajah serius.

"Tapi dalam lima belas hari berikut tak boleh ada orang yg mengusik atau pun mengganggu ketenangan kita, kalau tidak bukan saja pikiranmu akan bercabang sehingga tak sanggup konsentrasi penuh, bagi keadaan luka yg kuderita pun akan semakin bertambah parah, karenanya lebih baik kau atur dulu suatu penjagaan yg ketat dari orang-orangmu yg diluar, setelah itu aku akan mewariskan semua teori ilmu sakti tsb kepadamu utk dipelajari!"

Kho Beng mengiakan dan buru-buru keluar dari ruangan tsb.

Sementara itu Rumang beserta Hapukim serta dua bersaudara Mo yg berkelompok menjadi satu, kemudian Kim kong sam pian serta si Walet terbang berwajah ganda yg mengelompok disudut lain, sedang menunggu dg perasaan gelisah dan kesal.

Begitu melihat Kho Beng munculkan diri dg semangat yg berkobar mereka segera maju menyongsong.

Kho Beng menutup dulu pintu gua rapat-rapat, lalu memberi tanda kepada semua orang agar duduk, sesudah itu baru katanya.

"Luka dalam yg diderita Bu wi cianpwee sangat parah, ia membutuhkan waktu utk bersemedi dg tenang tanpa gangguan, sementara aku sendiri pun akan memanfaatkan kesempatan selama beberapa hari utk mempelajari ilmu sakti yg tercantum dalam kitab thian goan bu boh, oleh sebab itu selama lima belas hari berikut kami tak boleh mengalami gangguan apapun!"

"Soal itu tak usah Kho sauhiap kuatirkan"

Buru-buru Chin sian kun berseru sambil tertawa.

"biar kami yg akan mengawal keselamatan kalian selama setengah bulan mendatang!"

"Memang begitu maksudku, kalau toh nona Chin telah ebrkata demikian, aku sendiri pun tak perlu sungkan-sungkan lagi dg bantuan saudara sekalian diwaktu susah, dihari-hari sukses nanti pasti akan kubalas budi kebaikan kalian ini!"

"Sauhiap, apa-apan kamu berkata begitu"

Seru Kim lotoa.

"kami sangat kagum atas kegagahan serta kebijaksanaan kongcu, sudah sewajarnya bila teman saling membantu, kau jangan salah mengira, kami bukan manusia yg kemaruk akan harta ataupun kedudukan, kongcu, bila kau ingin mengataka sesuatu, katakan saja terus terang!"

Kho Beng merasa sangat terharu, buru-buru dia mengucapkan terima kasih, tapi teringat bagaimana caranya membagi tugas diantara mereka semua kembali ia menjadi sangsi.

Dia merasa tak punya hubungan ataupun persahabatan yg cukup akrab dg orang-orang tsb, padahal keadaan tidak memberi kesempatan utk berpikir lebih panjang, meski perkataan Kim kong sam pian enak sekali didengar, namun berdiri pada posisinya sekarang bagaimanapun jua dia mesti berjaga-jaga terhadap segala sesuatu yg mungkin saja bakal terjadi.

Sebaliknya terhadap Rumang sekalian mereka tak lebih hanya orang-orang liar yg ditaklukan dan ditampung si unta sakti berpunggung baja dg maksud membantunya jelas sudah diketahui keikut sertaan mereka dalam rombongannya tak lain krn masalah kitab pusaka Thian goan bu boh, karenanya terhadap orang-orang semacam ini, dia tak bisa menaruh kepercayaan penuh.

Berada dlm keadaan seperti ini, bagaimana caranya utk mengatur penjagaan?

Sementara dia masih termenung dan tak tahu bagaimana memutuskan, tiba-tiba Chin sian kun berkata sambil tertawa.

"Sauhiap, masih ada persoalan yg menyulitkan dirimu? Mengapa tdk dikemukakan saja?"

"Ooooh.....tidak ada"

Buru-buru Kho Beng menggeleng.

"aku sedang berpikir, bagaimana cara pembagian tugas?"

Chin sian kun memang seorang gadis yg pintar dan teliti, dari perkataan pemuda itu, dia segera dpt memahami kerisauan dari Kho Beng, maka sambil memutar biji matanya dia berkata.

"Apabila sauhiap dpt mempercayai perkataanku, aku ingin sekali mengajukan sebuah usul!"

"Bagus sekali kalau begitu, silahkan nona Chin katakan!"

"Gua ini persis menghadap kemulut lembah, andaikata benarbenar ada musuh tangguh yg menyerbu kemari, maka pertarungan yg berkobar pasti akan mengganggu ketenangan dlm gua, oleh krn itu aku pikir lebih baik kita membagi orang-orang kita menjadi dua rombongan, rombongan pertama menjaga mulut lembah dan rombongan kedua menjaga didalam dua, kedua kelompok kekuatan ini harus saling bantu membantu."

Kho Beng segera manggut-manggut.

"Ehmmm...cara membagi seperti ini memang cocok sekali dg jalan pemikiranku!"

Tapi persoalan baru kembali muncul, siapa yg mendapat tugas menjaga dimulut lembah dan siapa didalam gua?

Kelompokdari Rumang sekalian tak bisa dipercaya seratus persen, sedangkan Kim kong sam pian meski pernah membantu, tapi susah utk diramalkan apakah kedatangan mereka bukan disebabkan kitab pusaka Thian goan bu boh.

Sementara dia merasa kesulitan utk mengambil keputusan, Chin sian kun kembali berkata.

"Bila sauhiap bersedia menerima usul dariku, biarlah Kim bersaudara serta aku menjaga didalam gua, sedangkan keempat orang saudara itu menjaga diluar gua..."

Tapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, Molim telah berseru dg suara dingin.

"Kami keberatan!"

"Kenapa keberatan?"

Tegur Chin sian kun tertegun. Sambil tertawa dingin Molim berseru.

"Siapa yg tahu rencana busuk apa yg sedang kau persiapkan dg cara mengatur seperti itu? Kami empat bersaudara mempunyai tugas melindungi keselamatan majikan, karena itu tugas menjaga tak akan kuserahkan kepada orang lain."

Chin sian kun segera tertawa terkekeh-kekeh.

"He....he....he...sebenarnya perkataan kalian berempat memang masuk diakal, tapi usul yg sengaja kuucapkan barusan pun mempunyai dasar-dasar alasan yg kuat, karena kenyataan mengharuskan aku berbuat begitu!"

"Kenyataan bagaimana maksudmu?"

Sela Molim dingin.

"Tolong tanya apakah kalian berempat bisa memasak nasi, membuat sayur....?"

Mokim agak tertegun, lalu sahutnya tergagap.

"Soal ini........."

Sambil tertawa Chin sian kun berkata lebih jauh.

"Kuali serta peralatan memasak berada didalam goa, apakah kalian menyuruh aku membuat tungku lagi diluar gua? Bagaimana seandainya hujan turun secara tiba-tiba? Apalagi aku adalah seorang wanita, masa seorang perempuan disuruh tidur ditempat terbuka?"

Dua bersaudara Mo jadi terbelalak dg wajah melongo mereka terbungkam seketika itu juga. Kembali Chin sian kun berkata.

"Oleh sebab itu aku harus berdiam didalam gua, karena aku berada dalam gua maka ketiga toako dari keluarga Kim secara otomatis menjaga didalam gua pula. Aku lihat kalian berempat lebih baik mengalah saja dg menjaga diluar lembah, sementara kebutuhan sehari-hari akan kupersiapkan, Nah, bagaimana menurut pendapat sauhiap?"

Kho Beng berpikir sebentar, dia merasa cara tsb memang rasanya paling baik, maka sahutnya kemudian sambil manggut-manggut.

"Kalau toh nona Chin telah berkata demikian, baiklah kita putuskan begitu saja. Mulai sekarang kuminta kalian sama-sama menjaga pada posnya masing-masing, budi kebaikan kalian biar kubalas lima belas hari kemudian disaat latihanku telah selesai."

Setelah mendengar perkataan itu, dua bersaudara Mo sekalian segera mengerti kalau keputusan tak mngkin bisa dibantah lagi, setelah melotot sekejap kearah Chin sian kun dg gemas, mereka saling bertukar pandang sekejap dan mengundurkan diri dari gua.

Setibanya dimulut gua, Molim segera berseru dg suara dingin.

"Nah saudara Rumang, saudara Hapukim, kalian sudah melihat dg jelas?"

Rumang bertanya agak tercengang.

"Apa yg sudah terlihat dg jelas?"

"Perempuan sialan itu sengaja mengatur secara tak adil, dg menyingkirkan kita keluar lembah, jelas sudah kalau dia tidak mempunyai maksud baik."

Rumang tdk mengerti soal akal-akalan, dg wajah tertegun kembali serunya.

"Apa bedanya menjaga didalam ataupun diluar gua? Toh samasama menjaganya...."

Sambil tertawa dingin Mokim segera menukas.

"Saudara Rumang, mungkin kau sudah lupa apa maksud kedatangan kita kemari? Mengapa kita bersedia diperintah si bocah muda itu?"

"Tentu saja demi ilmu silat maha sakti yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh!"

"Kalau toh belum melupakannya, apakah kau tak pernah mempertimbangkan bahwa orang lain pun kemungkinan besar sama seperti kita, kedatangannya membawa suatu tujuan tertentu?"

Berubah paras muka Rumang, dg bahasa daerahnya dia langsung mengumpat.

"Perempuan bajingan, rupanya dia memang sengaja meninyingkirkan kita keluar lembah agar mereka mempunyai kesempatan utk turun tangan terlebih dahulu?"

"Ehmm....tak nyana kau sudah mengerti sekarang..."

Dg rasa mendongkol, Hapukim berseru pula .

"Kalau begitu lebih baik kita tantang mereka dan segera menghabisi orang itu, kita serbu sekarang saja, siapa yg kalah toh, ia akan kabur sendiri dari sini!"

Habis berkata dia segera bermaksud menyerbu kedalam. Tapi Mokim segera menarik tangannya seraya berseru.

"Saudara Hapukim, buat apa kau mesti terburu-buru? Sekarang meski kita dapat mengusir mereka dari situ tapi apalah gunanya buat kita?"

"Lalu kita mesti menunggu sampai kapan?"

Tanya Hapukim setelah termangu-mangu sejenak. Molim tertawa dingin.

"Sekarang kita tak usah menunjukkan tanda-tanda yg mencurigakan dulu, toh kesempatan kita masih sangat banyak sekali. He...he....apalagi keadaan sudah kritis, aku yakin dia pasti akan menyerahkan kitab pusaka tsb kepada kita!"

Maka mereka berempat secara diam-diam mengadakan perundingan rahasia, utk membahas persoalan tsb.

Pada saat yg sama, Kim kong sam pian serta Chin sian kun yg berada didalam gua pun sedang melangsungkan perundingan rahasia, hanya saja yg dirundingkan mereka adalah bagaimana caranya mencegah serta menghadapi serangan penghianatan dari keempat orang asing yg menjaga dimulut lembah.

Perubahan wajah Molim sekalian ketika mengundurkan diri dari gua tadi telah meningkatkan kewaspadaan Chin sian kun sekalian.

Kho Beng sendiri telah kembali kedalam gua setelah selesai melakukan pembagian tugas tadi, pintu gua segera ditutup rapatrapat dan putuslah hubungan antara luar dan dalam gua bagaikan dunia yg terpisah.

Waktu pun berlangsung hari demi hari dg tenang, ketenangan tsb sesungguhnya hanya saat tenang menjelang tibanya badai besar, hanya saja tak ada yg bisa meramalkan kapan badai yg dahsyat itu akan mulai menyerang....

Keadaan seperti itu berlangsung selama tiga hari lamanya.

Pada keesokan hari keempat, ketika Chin sian kun melihat ransum yg dibawa masing-masing orang sudah habis termakan, dia pun membawa kantung kain dan keranjang bambu turun gunung utk membeli bahan makanan.

Sebelum berangkat, dia berpesan dulu kepada Kim kong sam pian agar lebih berhati-hati, ketika tiba diluar lembah, ia menyaksikan Rumang sekalian sedang bergurau dalam sebuah gubuk mesra yg kelihatan masih baru, maka dia pun menyapa orang-orang tsb sambil tertawa, kemudian meneruskan perjalanannya menuruni bukit.

Siapa tahu belum mencapai tengah jalan, mendadak ia melihat ada seseorang berjalan mendekat dg langkah sempoyongan, dg rasa terkejut nona itu menyelinap kebelakang sebuah batu besar dan bersembunyi disitu.

Kehadiran seseorang ditengah pegunungan yg terpencil dan sepi seperti apa yg terjadi hari ini membuat kewaspadaan Chin sian kun segera ditingkatkan.

Ia tahu dewasa ini Kho Beng sudah menjadi orang yg dicari-cari seluruh umat persilatan, ditambah lagi usaha dewi In nu yg berusaha utk mendapatkan kembali kitab pusakanya yg hilang, maka apabila ada musuh yg mengetahui tempat persembunyian mereka sehingga mereka mengadakan serbuan secara besar-besaran, akibatnya pasti susah dibayangkan lagi.

Itulah sebabnya sebelum dia melihat dg jelas wajah orang itu, ia tak berani bertindak secara gegabah, dia ingin menyelidiki dulu asal usul lawannya sebelum bertindak lebih jauh.

Sementara itu bayangan manusia tadi makin lama makin mendekat, malah sambil berjalan orang itu memperdengarkan suara nyanyian kecil.

Ketika Chin sian kun mencoba utk memperhatikan dg lebih seksama, ternyata orang it adalah seorang hwesio.

Hwesio itu menggunakan jubah pendeta yg sudah amat dekil, warnanya sudah luntur hingga semuanya kelihatan berwarna gelap, dia membawa sebuah buli-buli besar, tangan kirinya membawa sebuah tongkat bambu, sedang kan tangan kanannya membawa sebuah bungkusan.

Ia memiliki wajah bulat dg mata yg merah krn mabuk, jalannya sempoyongan, wajah maupun bentuk tubuhnya yg begitu dekil dan menjijikkan membuat siapapun pasti akan tumpah bila melihatnya.

Setelah melihat dg jelas keadaan hwesio tsb, Chin sian kun merasa amat kesal dan murung, ia tak tahu darimana datangnya pendeta liar tsb?

Dimana orang itu justru muncul disitu dalam keadaan seperti ini?

Terdengar hwesio itu membawakan lagu senandung lirih mengiringi tiap derap langkahnya.

"Langit tak berawan, cuaca cerah, Ada arak ada daging, tak bakal kelaparan, Kantong kosong tanpa sepeserpun, tak takut merampok. Orang-orang gagah perkasa, tak bermaksud jahat. Kau tidak mengganggu aku, akupun tidak menggenggumu. .........................."

Nyanyi punya nyanyi, orang itu sudah berjalan melewati batu karang.

Mendadak ia berhenti berjalan, lagu senandung pun ikut berhenti dibawakan.

Tampak hwesio itu mendengus beberapa kali disekitar sana, kemudian gumamnya.

"Aneh, aku sihwesio telah bertemu dg memedi?aukah aku sudah ketimpa rejeki?"

Tercekat perasaan Chin sian kun melihat tingkah laku pendeta itu, pikirnya.

"Jangan-jangan dia sudah mengetahui kalau aku bersembunyi dibelakang batu?"

Belum habis ingatan tsb melintas lewat, tampak si hwesio itu berjalan kembali dg sempoyongan sambil bersenandung.

"Setan dedemit, janganlah mendekat..... Bila mabukku telah mendusin..... Biar kupaksa kau unjukkan wujud aslimu................. Makin berjalan semakin jauh suara senandungnya makin lirih, Chin sian kun yg bersembunyi dibelakang batu semakin terperanjat lagi setelah ia mengintip keluar. Ternyata meskipun langkah si hwesio itu gontai macam orang mabuk arak, namun gerak tubuhnya sama sekali tidak lambat, dlm waktu singkat ia sudah berada sepuluh kaki lebih dari posisi semula, lagi pula arah yg dituju adalah jalan setapak dimana Chin sian kun baru saja melewatinya. Chin sian kun berpikir sejenak, lalu diputuskannya utk mengikutinya dulu secara diam-diam, bila pihak lawan tdk menuju kearah lembah dimana dirinya berdiam, ia akan segera balik, kalau tidak maka dia harus munculkan diri utk menghalanginya. Secara diam-diam nona itu merangkak keluar dari belakang batu lalu menelusuri kembali jalan semula dan menguntil dibelakang pendeta itu. Setelah melalui sebuah bukit, ternyata ia saksikan pendeta tsb benar-benar menuju ke gua dimana mereka tinggal. Chin sian kun segera merasakan gelagat tdk menguntungkan , dia tak tahu apa maksud kedatangan pendeta tsb, melakuakan penyelidikan? Ataukah hendak mencari gara-gara? Tapi ada satu hal yg pasti yakni dia harus segera munculkan diri utk menghalangi jalan pergi pendeta tsb, dlm gelisahnya dia segera menarik napas dan melompat ketengah udara, bentaknya nyaring.

"Hey hwesio! Tunggu sebentar, aku hendak menanyakan sesuatu kepadamu...!"

Hwesio itu benar-benar menghentikan langkahnya sesudah mendengar teriakan tsb.

Bagaikan seekor walet yg melintas diangkasa, dalam beberapa kali jumpalitan saja Chin sian kun telah melayang turun dihadapan pendeta tsb.

Bau arak yg amat menusuk hidung membuat nona itu berkerut kening, tapi ia memaksakan diri utk tertawa saja sambil bertanya.

"Taysu hendak kemana?"

Hwesio itu memutar biji matanya beberapa kali, lalu sahutnya sambil tertawa terkekeh.

"He....he.....he....jadi setengah harian lamanya tujuanmu hanya ingin mengajukan pertanyaan tsb?"

Merah jengah selembar wajah Chin sian kun, serunya kemudian agak tersipu-sipu.

"Ternyata taysu sudah mengetahui kehadiranku semenjak tadi, kalau begitu harap kelancanganku ini sudi dimaafkan."

Hwesio itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Kalau didengar dari nada pembicaraanmu amat sungkan, tapi siapa yg bisa menduga pikiran macam apa yg terkandung dalam benakmu?"

"Taysu, aku sama sekali tdk bermaksud jahat...!"

Kata Chin sian kun serius. Hwesio itu memutar biji matanya yg memperhatikan sekejap tubuh si nona dari atas hingga bawah lalu sambil tetap tertawa katanya.

"Ehmmm.kalau ku amat-amati wajahmu rasanya memang agak berbeda dg kelompok manusia yg berada dibawah bukit sana, coba kalau bukan krn begitu, aku si hwesio sudah tak akan bersikap sungkan-sungkan lagi kepadamu!"

Sudah setengah harian lamanya mereka berbicara namun hasilnya belum berbicara banyak, lama kelamaan mendongkol juga Chian sin kun dibuatnya.

Namun dia masih berusaha utk menahan sabar, kembali katanya.

"Sebenarnya taysu hendak pergi kemana?"

"Ha...ha...ha....pentingkah persoalan ini bagimu?"

"Benar!"

"Kalau begitu tak ada salahnya kalau kuberitahukan kepadamu, aku si hwesio hendak kemana!"

Ternyata yg ditunjuk adalah arah kemulut lembah tersebut. Setelah menengok kearah yg ditunjuk, Chin sian kun segera berseru keras.

"Taysu, apabila kau tdk mempunyai urusan yg begitu penting, tolong tak usah kesana!"

Pendeta itu agak tertegun, setelah memutar biji matanya beberapa saat kembali tanyanya.

"Mengapa?"

Setelah termenung sebentar Chin sian kun menjawab.

"Tidak karena apa-apa, aku cma memohon kesudian taysu agar taysu sudi memakluminya!"

Pendeta itu segera tertawa bergelak.

"Ha....ha....ha....kalau tidak kau kemukakan alasannya, bagaimana mungkin aku bisa memaklumi dirimu? Ha...ha....dasar perempuan, aku si hwesio paling tidak suka berhubungan dg kaum wanita macam dirimu itu, karenanya kuharap kau pun jangan mengusik diriku lagi, setiap orang mempunyai maksud dan tujuan yg berbeda. Lebih baik kau tempu jalan raya Yang kwan to mu dan aku menyebrangi jembatan To bok kiau ku, kau tak punya alasan utk melarang kepergianku, sebaliknya aku si hwesio pun tak ingin mengurusi dirimu!"

Habis berkata kembali dia meneruskan langkahnya menuju kemuka.... Tergopoh gopoh Chin sian kun mengundurkan diri lima langkah kebelakang, setelah itu bentaknya keras-keras.

"Berhenti! Hey hwesio, apakah kau tak bersedia menuruti nasehatku.....?"

Sambil memicingkan matanya pendeta itu tertawa terkekehkekeh.

"Tidak banyak lagi manusia didunia ini yg bisa membuat aku si hwesio menuruti perkataannya, apalagi aku si hwesio sudah menjadi seorang pendeta, aku tak takut dg teriakan singa betina macam kau."

Merah jengah selembar wajah Chin sian kun, segera bentaknya keras-keras.

"Hey hwesio anjing, masih mending kalau kau enggan mendengarkan nasehatku, eee..siapa tahu mulutmu usil dan berani berbicara seenaknya sendiri, aku lihat kau sudah boan hidup rupanya?"

Sambil membuang keranjang dari tangannya ia segera membalik tangannya dan meloloskan pedang daribahunya. Kembali hwesio itu memutar biji matanya sambil menjulurkan lidah serunya.

"Wah, sungguh lihai, rupanya kau sudah pingin menggunakan senjata utk membunuh orang?"

"Betul!"

Sahut Chin sian kun sambil menarik muka.

"bila kau si hwesio bersikeras hendak meneruskan niatmu, terpaksa aku pun mesti berbuat keji terhadapmu!"

"Baik, baiklah, kerjaku setiap hari Cuma minum arak melulu, tak nyana hari ini mempunyai kesempatan utk melmaskan otot. Nah, Li pousat, kalau pingin bertarung sih, aku setuju saja, Cuma mesti berlaku adil......"

"Hmmmm, cara yg bagaimana kau anggap adil?"

Dengus Chin sian kun dingin.

"Seandainya kau tak berhasil mengungguli diriku, maka kau tak boleh merecoki diriku lagi!"

"Andaikata kau si hwesio benar-benar memiliki kemampuan semacam itu, tentu saja nyonya mudamu tak akan bernyali lagi utk mencari penyakit sendiri!"

"He....he....he....betul, betul sekali!"

Hwesio itu tertawa terkekehkekeh.

"setiap orang mengatakan bahwa buddha adalah maha pengasih, tapi aku si hwesio ada kalanya berhati keji dan suka melakukan pembantaian sampai keakar-akarnya!"

"Sebelum bertarung, aku si hwesio ingin menum arak dan makan daging dulu utk membangkitkan semangat, bersediakah kau menunggu sebentar saja? Kujamin aku tak bakal menyergapmu secara licik?"

Jilid 19 Usia pendeta itu mesti nampaknya telah mencapai lima enam puluh tahunan lebih, ternyata caranya berbicara amat polos dan kekanak-kanakan, melihat itu Chin sian kun jadi kegelian.

"Hwesio bau, kalau ingin makan silahkan makan dulu sampai kenyang dan minum juga sepuasnya, dg begitu andaikata nyawamu sampai melayang meninggalkan raga, kau tak akan mati sebagai setan yg kelaparan lagi."

Kembali pendeta itu tertawa terbahak-bahak.

"Ha...ha...ha...arak memang bisa memabukkan orang, tapi anehnya justru tak pernah bisa membuat aku si hwesio menjadi mabuk!"

Dg cepat dia menancapkan toyanya keatas tanah, mula-mula diambilnya buli-buli besar itu, lalu setelah dibuka penutupnya, ia teguk isinya sampai beberapa tegukan.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah bungkusan kertas, ternyata isinya adalah paha anjing yg telah dikeringkan, digigitnya daging itu segumpil lalu dikunyahnya dg amat nikmat, tak lama kemudian ia menyembur keluar sepotong tulang.

Selama ini Chin sian kun mengawasi terus gerak gerik pendeta tsb, tiba-tiba saja paras mukanya berubah hebat.

Ternyata tulang yg disemburkan si hwesio tadi telah menembusi batang pohon besar yg tumbuh disisi jalan sehingga muncul sebuah lubang yg cukup besar.

Demontrasi tenaga dalam yg dilakukan pendeta tsb menunjukkan betapa sempurnanya kemampuan yg dimilikinya, ini seperti ilmu silatnya telah mencapai taraf melukai orang dg memetik daun.

Bagaimanapun juga Chin sian kun membayangkan, ia tak pernah mengira kalau lagak sinting dan kegila-gilaan si hwesio tsb, sebenarnya hanya tuk menggoda serta mempermainkannya.

Kalau ditinjau dari kemampuannya menembusi batang pohon dg semburan tulangnya jangan lagi kemampuannya sekarang belum bisa menandingi, biar mesti berlatih tiga puluh tahun lagi pun belum tentu kemampuannya bisa mencapai taraf yg dimiliki si hwesio sekarang.

Dalam terperanjatnya dia sadar, bila benar-benar sampai berkobar suatu pertarungan, maka orang lain cukup mengandalkan sebuah jari kelingkingnya sudah mampu utk mencabut nyawanya.

Ini berarti jalan terbaik baginya sekarang adalah pulang lebih dulu utk memperingatkan teman-teman lainnya.

Berpikir sampai kesitu tanpa memperdulikan keranjangnya lagi, ia segera membalikkan badan dan kabur menuju kedalam lembah.

Sementara itu terdengar si hwesio yg berada dibelakangnya berteriak keras-keras.

"Hey, jangan kabur dulu! Jangan kabur dulu! Aku si hwesio kan sudah selesai bersantap...."

Chin sian kun benar-benar pecah nyalinya, tentu saja ia tak berani berpaling lagi, sambil mengerahkan segenap tenaga dalam yg dimilikinya ia melarikan diri semakin cepat lagi.

Dalam waktu singkat ia telah balik kembali kemulut lembah, sewaktu berpaling dan tidak melihat bayangan tubuh si hwesio dia baru menghentikan langkahnya sambil terengah-engah.

Hapukim serta Rumang sekalian bertugas menjaga dimulut lembah menjadi tertegun setelah menyaksikan peristiwa ini, mereka tak habis mengerti persoalan apa yg telah terjadi sehingga nona itu kabur terbirit-birit dg napas tersengal.

Hapukim segera bertanya keheranan.

"Nona, mengapa secepat itu kau sudah kembali?"

"Aku telah bertemu musuh tangguh ditengah jalan, kalian harus berjaga-jaga dg lebih berhati-hati lagi!"

Seru Chin sian kun segera. Keempat orang itu menjadi terkejut sekali, paras muka mereka sampai berubah.

"Nona, berapa banyak musuh yg kau temui?"

Buru-buru Molim bertanya dg gelisah.

"Hanya seorang!"

"Hanya seorang?"

Molim segera tertawa terkekeh-kekeh.

"apalah artinya kalau Cuma seorang? Nona, kau tak usah terlalu mengadaada, yg satu itu serahkan saja kepada kami!"

"Biarpun hanya seorang, siapa tahu dibelakangnya masih ada yg lain, kalian tak boleh bertindak kelewat gegabah"

Kata Chin sian kun serius.

Belum selesai perkataan itu diutarakan, dari kejauhan sana sudah terdengar suara senandung kecil yg bergema dibawa hembusan angin.

Dg perasaan tercekat, buru-buru Chin sian kun berkata algi.

"Nah itu dia, orangnya sudah datang! Si Hwesio itu berhawa sesat, kalian tak boleh memandang enteng kemampuannya, lebih baik lagi jika maju bersama-sama, usahakan utk halangi keinginannya memasuki lembah ini, aku akan segera masuk dulu utk memberi tahu Kim bersaudara agar membantu setiap saat!"

Selesai berkata cepat-cepat dia lari masuk kedalam lembah.

Belum lama Chin sian kun berlalu dari situ, bayangan tubuh si hwesio sudah mulai nampak dari kejauhan sana dan berjalan mendekat dg langkah sempoyongan.

Melihat kedatangan si hwesio tsb, Molim segera menjengek sambil tertawa dingin.

"He...he...he...kukira jagoan sehebat apakah yg telah datang mencari gara-gara, tak tahunya Cuma seorang lhama mabuk....!"

Orang asing menyebut hwesio dg lhama, mendengar perkataan itu Rumang berkata pula sambil tertawa tergelak.

"Haaa.....haaa....haaaa....kalau untuk menghadapi seorang lhama mah, biar aku seorang yg menghadapinya, aku lihat orang-orang Tionggoan hanya setali tiga uang, sama-sama tak becus semuanya!"

"Tunggu dulu!"

Tiba-tiba Mokim berseru dg suara dalam, kemudian kepada Molim katanya lagi.

"Lotoa. Dg munculnya si penyerbu tsb, bukankah sama artinya kesempatan buat kita telah tiba? Sebentar lebih baik kita berpurapura menghalanginya sebentar, lalu kita biarkan lhama itu menyerbu masuk, begitu keempat telur busuk itu terlibat dalam pertarungan seru melawan si lhama, kita segera menyerbu kedalam ruangan batu dan turun tangan!"

Tapi Molim segera menggeleng, katanya.

"Baru tiga hari lewat, aku rasa bocah she Kho itu belum mencapai saat yg kritis dalam latihannya, lebih baik kita bersabar lagi beberapa hari, daripada perbuatan kita menimbulkan rasa curiga dari beberapa orang telur busuk itu, usaha kita dikemudian hari tentu akan banyak mengalami kesulitan..."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, si hwesio telah berjalan mendekati mulut lembah sambil mengunyah daging anjingnya. Hapukim segera menampilkan diri seraya membentak keras.

"Hey lhama, ada urusan apa kau datang kemari?"

Hwesio itu benar-benar amat dekil, bau arak amat menusuk hidung, paha anjing yg dikunyahnya kini tinggal sekerat tulang saja.

Ketika ia melihat jalan perginya dihadang oleh Rumang sekalian dg senjata terhunus, pendeta itu kelihatan agak tertegun sebentar, setelah itu katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Heee...he....he....rupanya ada orang telah tertarik dg tempatku ini, tak heran kalau nona tadi berusaha menghalangi kedatanganku kemari, ha....ha....ha....kalau kuamati dialek kalian berempat, tampaknya kamu semua bukan penduduk daratan Tionggoan, tapi apa sebabnya mendirikan sarang dibukit ini?"

Hapukim tertawa seram.

"Heee....he....he....kami berasal dari wilayah Ceng hay, hey lhama, sudah ada orang yg mendiami lembah ini, karenanya bila kau sudah tak ada urusan lekaslah menggelinding pergi sejauh-jauhnya dari sini, kalau tidak, hmmm! Jangan salahkan bila diujung golokku tak kenal belas kasihan dan kujagal dirimu!"

Hwesio itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaa...heaaa...haaa...badan aku si hwesio kurus dan tak bisa menghasilkan berapa puluh kati daging, bila ingin membunuhku maka golok tsb bakal melengkung terkena tulang. Cuma saja aku si hwesio pun tidak berniat menjagal kalian sebab berapa kerat tulang kalian tak akan menghasilkan daging seharum daging anjingku ini............."

Hapukim menjadi teramat gusar sehabis mendengar perkataan itu, teriaknya keras-keras.

"Pendeta bajingan! Kau berani membandingkan kami seperti anjing? Jangan kabur dulu, kau mesti merasakan dulu sebuah bacokan golokku ini...!"

Sambil bergerak kedepan, goloknya diputar kencang menciptakan selapis cahaya golok yg secara langsung menyapu ketubuh hwesio itu.

Ditengah gulungan cahaya tajam yg menyilaukan mata terdengar hwesio itu berteriak keras.

"Aduh mak...rupanya kau benar-benar mau membunuh orang, waaah...tampaknya aku si hwesio terpaksa harus menggunakan tulangmu utk diadu dg tulang anjing ini, coba kita buktikan mana yg lebih keras?"

Dg langkah terhuyung dia menghindarkan diri kesamping dan persis berhasil melepaskan diri dari bacokan golok Hapukim, menyusul kemudian tangan kanannya diayunkan kedepan, tiba-tiba saja tulang anjing itu terlepas dari tangannya dan bagaikan sekilas cahaya putih, langsung menerobos kebalik cahaya golok tsb.

Tiba-tiba saja terdengar Hapukim menjerit kesakitan, golok terjatuh ketanah dan ia melompat mundur sambil memegangi bahu kanannya.

Sepasang matanya kelihatan merah membara, mukanya pucat pias seperti mayat, tampaknya tulang anjing yg disambit kedepan persis menghajar diatas tulang badannya dan tidak terlalu parah namun ternyata persis melepaskan tulang sambungan bahunya.

Sementara itu si hwesio telah memejamkan matanya kembali, setelah memindahkan toyanya ketangan kanan, ia berseru.

"Hey, kenapa kau? Aku toh baru bersiap siap akan berkelahi, kenapa kau malah membuang senjata dan tidak jadi bertarung?"

Dalam pada itu, Mokim, Molim serta Rumang yg telah melihat Hapukim telah menderita luka sebelum goloknya sempat menyentuh tubuh hwesio itu, menjadi terkejut sekali. Dg suara keras Rumang berteriak.

"Wah lhama ini pandai ilmu sihir!"

"Ha...ha...ha...betul, aku memang pandai ilmu sihir"

Seru si hwesio sambil tertawa bergelak.

"bukan Cuma ilmu sihir, ilmu buddha pun kukuasai secara baik, aku bisa membuat orang berubah menjadi setan! Nah, apakah kalian bertiga ingin mencoba bagaimana rasanya kalau manusia dirubah menjadi setan?"

Sementara itu satu ingatan telah melintas dalam benak Molim, tiba-tiba dia menyingkir kesamping sambil katanya"

"Kami tak mampu mengungguli dirimu, nah lhama, bila ingin masuk kedalam, silahkan saja masuk!"

Oleh karena kenyataan membuktikan bahwa apa yg diucapkan Chin sian kun tadi memang benar, hwesio itu kelewat lihay sehingga mereka tdk mampu lagi menandinginya, timbullah niat jahat didalam benaknya, ia berharap bisa meminjam kemampuan hwesio tsb utk merobohkan Kim kong sam pian, siapa tahu dg munculnya kesempatan baik ini maka mereka bisa menyerbu secara langsung kedalam ruangan utk merebut kitab pusaka Thian goan bu boh!

Begitu melihat saudaranya memberi jalan, Mokim segera memahami apa yg menjadi tujuan kakaknya, cepat dia menyingkir kesamping jalan sambil diam-diam tertawa dingin.

Hwesio itu kelihatan agak tertegun setelah menyaksikan apa yg terjadi, gumamnya.

"Kalau sikapnya tadi begitu bengis, buas dan menyeramkan, mengapa sikapnya sekarang malah begini sungkan? Hmmm...kelihatannya dlm lembah tsb benar-benar terdapat sesuatu yg luar biasa.... Sembari bergumam, dia segera meneruskan perjalanannya memasuki lembah itu dg sempoyongan. Baru memasuki kemulut lembah, tampak Kim kong sam pian dg ruyung terhunus telah berdiri berjajar menghalangi jalan perginya, sementara Chin sian kun dg pedang melintang didepan dada berdiri disampingnya. Melihat hwesio itu munculkan diri, si nona segera menegur dg suara dalam.

"Hey hwesio, rupanya kau memang sengaja kemari utk menyelidiki jejak kami?"

Hwesio itu kembali tertawa terkekeh-kekeh.

"Aneh benar perkataanmu itu, aku toh bukan merampok uang atau membegal barang orang lain, akupun bukan penjahat cabul yg suka menghisap madu perempuan, buat apa mesti kuselidiki jejak kalian?"

"Lantas ada urusan apa kau si hwesio datang kemari?"

Sambung Kim losam dg suara dalam. Hwesio itu tertawa tergelak.

"Haaaa...haaaa...haaa...kalian boleh kemari, mengapa aku si hwesio tak boleh kemari? Lagi pula lembah hati buddha ini merupoakan tempat tinggal aku si hwesio, kalian bukan saja telah menduduki tempat tinggalku, sekarang malah bermaksud mengusir diriku dari sini, coba bayangkan sendiri, adilkah kejadian macam ini?"

Kim kong sam pian menjadi termangu sesudah mendengar perkataan tsb, berapa saat kemudian Kim lotoa dg wajah agak berubah , tanyanya agak gelisah.

"Taysu, kau mengatakan gua ini adalah tempat pertapaanmu?"

"Benar, aku baru pulang dari mengembara selama beberapa tahun, benar-benar tak kusangka kalau rumah kediamanku telah berganti pemilik!"

Tiba-tiba saja sikap Kim lotoa berubah menjadi menghormat sekali, kembali tanyanya.

"Boleh aku tahu nama besar taysu...?"

"Haa...haaa.haaaa....sejak kecil aku si hwesio sudah hidup sebatang kara, aku tak pernah punya nama, apalagi sesudah menjadi pendeta, aku lebih-lebih tak butuh nama lagi, tapi karena kegemaranku yg utama adalah daging anjing, maka orang lain memanggilku sebagai si hwesio daging anjing..."

Kim lotoa amat terperanjat, baru tiga hari berselang Bu wi lojin mengajarkan banyak tingkah laku dan logat bicara dari tokoh-tokoh sakti dunia persilatan, diantaranya terdapat pula nama hwesio daging anjing yg akhirnya berhasil memukul mundur komandan Sin anak buah dewi In nu.

Sungguh tak di sangka orang yg dihadapinya sekarang ternyata adalah pendeta sakti yg termasyur dalam dunia persilatan tapi jarang ditemui orang itu.

Buru-buru dia menarik kembali ruyungnya dan berseru sambil memberi hormat.

"Rupanya pendeta agung dari dunia persilatan yg telah datang, Tiga ruyung dari telaga Tong ting, Kim Lotoa menjumpai taysu.."

Kemudian kepada Kim loji dan losam , bentaknya pula.

"Saudara-saudaraku, kenapa kalian tdk segera menjumpai pendeta agung........."

Cepat-cepat Kim loji dan losam menyimpan kembali ruyungnya dan memberi hormat. Demikian pula dg Chin sian kun, sambil memberi hormat katanya.

"Ditengah jalan tadi aku tak tahu kalau pendeta suci yg datang, apabila dlm perkataan maupun tingkah laku telah menunjukkan sikap kurang sopan, harap taysu sudi memaafkan!"

Hwesio daging anjing mengernyitkan alis matanya, lalu berseru.

Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 4

Baca Juga: Si Rase Terbang Pegunungan Salju 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert