Ceritasilat Novel Online

Seruling Perak Sepasang Walet 6

Eps 6 Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Baca online Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Cersil Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung.

Serunya tak tertahan.

Ternyata gadis itu adalah Fang Jauw Cang, yang pernah berjanji akan bertemu di kuil Thay San Si.

Justru tak disangka, dia malah ditangkap mereka.

Tidak salah lagi yang muncul itu adalah orang-orang Goa Hoa Tong.

Kalau begitu orang yang duduk di dalam tandu pasti Ban Hoa Tong Cu (Majikan Goa Selaksa Bunga).

Ciok Giok Yin langsung melesat ke arah Fang Jauw Cang, sekaligus memutuskan tali yang mengikatnya, lalu memeluknya erat-erat.

Setelah itu, dia mencelat beberapa depa.

Empat pemuda yang di belakang tandu langsung membentak dengan serantak.

"Lepaskan dia!"

Mereka berempat langsung menerima ke arah Ciok Giok Yin.

Sementara pemuda berbaju putih bernama Ku Tian yang berdiri diam dari tadi langsung melesat ke hadapan Ciok Giok Yin, menghadang empat pemuda itu.

Di saat bersamaan, seorang wanita berusia empat puluhan melengok ke luar dari dalam tandu, sepasang matanya menyorotkan sinar aneh.

"Tugas kalian harus membekuk bocah itu!"

Bentaknya.

Maksudnya menyuruh keempat pemuda itu menangkap Ciok Giok Yin.

Akan tetapi ketika melihat keempat pemuda itu dihalangi oleh seorang pemuda tampan dia segera turun dan langsung berjalan ke arah Ciok Giok Yin.

Langkahnya kelihatan lamban, namun ternyata amat cepat.

Si Bongkok Arak telah menyaksikan Bah Hoa Tong Cu mendekati Ciok Giok Yin, maka segera mengeluarkan beberapa pukulan aneh mendesak Ouw Cih, lalu melesat ke arah wanita itu.

Sambil berseru pada Ciok Giok Yin.

"Ciok Giok Yin, cepatlah kau pergi!"

Sembari berseru dia mulai bertarung dengan Ban Hoa Tong Cu. Mendadak Ouw Cih membentak lantang.

"Kau mau lari kemana?"

Dia menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Sedangkan Ciok Giok Yin menggendong Fang Jauw Cang, maka tidak leluasa bergerak.

Kelihatannya Ouw Cih akan berhasil....

Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring bergema menembus angkasa.

Setelah itu tampak sosok bayangan merah meluncur ke tempat itu teryata adalah Heng Thian Ceng.

"Adik kecil, kau pergi saja!"

Serunya sambil menangkis serangan Ouw Cih.

Sementara Ciok Giok Yin menundukkan kepala memandang Fang Jauw Cang.

Wajah Fang Jauw Cang tampak pucat pias dan nafasnya amat lemah.

Demi menyelamatkan Fang Jauw Cang, maka Ciok Giok Yin segera membawanya dengan mengerahkan ginkangnya.

Tak seberapa lama kemudian dia sudah melesat belasan mil.

Karena khawatir diikuti musuh, Ciok Giok Yin cepat-cepat melesat ke rumput alang-alang yang lebat dan tinggi.

Dia menaruh Fang Jauw Cang, kemudian memanggilnya dengan suara gemetar.

"Adik Cang! Adik Cang...."

Fang Jauw Cang membuka matanya perlahan-lahan, memandang Ciok Giok Yin seraya tersenyum.

"Seharusnya kau memanggilku 'Moi Moi' (Adik Perempuan),"

Katanya. Ciok Giok Yin mengangguk dan segera memanggilnya.

"Moi Moi!"

Fang Jauw Cang tampak puas sekali.

"Kakak Yin, akhirnya aku melihatmu,"

Katanya sambil tersenyum.

"Kakak Yin, kau terkena Mo Hwe Tok Kang, apakah sudah sembuh? Aku... aku selalu ingat padamu."

Usai berkata, air matanya langsung meleleh. Ciok Giok Yin cepat-cepat menyeka air matanya.

"Moi Moi, setelah aku berpisah denganmu, aku bertemu Heng Thiang Ceng lo cianpwee. Dia yang membawaku pergi menemui Pak Jau Lojin yang telah minta buah Toan Teng Ko."

"Buah Toan Teng Ko?"

"Ya."

"Apakah buah Toan Teng Ko dapat memusnahkan racun Mo Hwe Tok?"

"Tidak cuma itu, bahkan selanjutnya diriku tidak mempan berbagai macam racun lagi."

"Syukurlah!"

Sepasang mata Fang Jauw Cang berbinar-binar, kelihatannya girang sekali. Mendadak Ciok Giok Yin teringat, bagaimana Fang Jauw Cang bisa jatuh ke tangan Ban Hoa Tong Cu.

"Moi Moi, bagaimana kau jatuh ke tangan mereka?"

Fang Jauw Cang tidak segera menutur, melainkan air matanya saja yang mengucur deras. Kelihatannya, dia amat berduka sekali.

"Moi Moi, sebetulnya apa yang terjadi?"

Desak Ciok Giok Yin.

"Kakak Yin...."

Fang Jauw Cang terisak-isak kemudian mendekap di dada Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin membelainya sambil berkata dengan suara ringan.

"Moi Moi, beritahukanlah agar hatimu jadi lega!"

Akan tetapi Fang Jauw Cang tetap menangis.

"Baiklah. Kau boleh terus menangis agar hatimu merasa lega,"

Kata Ciok Giok Yin lembut.

Beberapa saat kemudian Fang Jauw Cang berhenti menangis.

Ciok Giok Yin segera menyeka air matanya.

Sedangkan Fang Jauw Cang memandang wajahnya, berselang sesaat barulah berkata terisak-isak.

"Kakak Yin, setelah kita berpisah...."

Gadis itu tidak melanjutkan ucapannya. Rupanya dia sedang berpikir dari mana mulai menutur.

"Bagaimana?"

Tanya Ciok Giok Yin. Air mata Fang Jauw Cang meleleh lagi.

"Aku terus mencari Seng Ciu Suseng, namun tiada seorang pun tahu jejaknya."

"Moi Moi, aku sudah bertemu Seng Ciu Suseng."

"Oh? Kau sudah bertemu dia?"

"Ya."

Ciok Giok Yin menutur bagaimana bertemu Seng Ciu Suseng, setelah itu menambahkan.

"Moi Moi, lanjutkan penuturanmu!"

Fang Jauw Cang melanjutkan.

"Karena tidak berhasil mencari jejak Seng Ciu Suseng, maka aku ke tempat ayahku, sebab ayahku sudah lama berkelana dalam rimba persilatan, mungkin tahu jejak Seng Ciu Suseng."

Menutur sampai disitu, Fang Jauw Cang menangis lagi, bahkan sekujur badannya tampak gemetar.

"Lalu bagaimana?"

Tanya Ciok Giok Yin lembut.

"Ayahku dan lainnya... terbunuh semua oleh Ban Tong Cu."

Sahut Fang Jauw Cang. Gadis itu mulai menangis sedih dengan air mata berderaiderai. Sepasang mata Ciok Giok Yin langsung membara.

"Aku bersumpah akan membasmi Ban Hoa Tong Cu dan para anak buahnya!"

Katanya sambil berkertak gigi. Fang Jauw Cang mendongakkan kepala memandangnya, sambil berkata dengan perlahan-lahan.

"Kakak Yin, kepandaian Ban Hoa Tong Cu amat lihay, aneh dan tinggi! Kau jangan bertindak ceroboh, aku... aku mungkin tidak dapat bertahan lama lagi."

"Kenapa kau?"

"Setelah aku tertangkap oleh Hoa Tong Cu, aku dipaksa minum racun Ban Hoa Tok Hun (Racun Bubuk Selaksa Bunga)."

"Ban Hoa Tok Hun?"

"Ya."

"Aku akan berusaha memusnahkan racun itu."

Fang Jauw Cang menggelengkan kepala.

"Racun Ban Hoa Tok Hun merupakan racun rahasia Ban Hoa Ton Cu, tiada obat pemusnahnya. Para anggota yang berkhianat, apabila tertangkap, pasti tidak akan lolos dari kematian."

Mendadak Ciok Giok Yin teringat akan suatu hal, maka segera bertanya.

"Di dalam Goa Ban Hoa Tong, bagaimana semuanya kaum pemuda?"

"Itu cuma penyamaran saja."

"Kau pun dirias sebagai pemuda?"

Fang Jauw Cang mengangguk.

"Dengan cara demikian, maka lebih gampang mendekati kaum pemuda, dan tidak sulit menangkap mereka untuk Ban Hoa Tong Cu melatih ilmu sesatnya. Karena itu, kelak kalau kau bertemu pemuda tampan, harus berhati-hati!"

Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Moi Moi, aku akan membantumu melancarkan pernafasanmu."

Usai berkata dan ketika Ciok Giok Yin mau....

Mendadak terdengar suara desiran.

Ciok Giok Yin segera mengerahkan lwee kangnya, siap melancarkan pukulan pada orang yang baru datang itu.

Tampak sosok bayangan hitam melesat ke rumput alang-alang itu.

Ciok Giok Yin belum melihat jelas siapa orang itu, namun yakin bukan orang baik.

Oleh karena itu, dia langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah orang tersebut.

Bum!

Ciok Giok Yin merasa matanya gelap, lalu roboh seketika.

Jilid 13 Ciok Giok Yin tergoncang melihat tangkisan orang yang baru muncul itu, sehingga darahnya bergolak.

Maka pandangannya menjadi gelap dia roboh.

Di saat bersamaan orang itu bergerak cepat, segera memapah Ciok Giok Yin agar tidak roboh, kemudian memanggilnya dengan suara gemetar.

"Adik Yin! Adik Yin...!"

Ciok Giok Yin belum pingsan, maka mendengar suara orang yang amat dikenalnya.

Barulah dia tahu bahwa orang itu bukan musuhnya.

Dia membuka matanya perlahan-lahan, ternyata dirinya berada dalam pelukan Heng Thian Ceng.

Timbul rasa duka dalam hatinya, sebab saat ini dia belum mampu menahan tangkisan Heng Thiang Ceng, membuktikan bahwa kepandaiannya masih rendah.

Lalu bagaimana menuntut balas semua dendam itu?

Karena itu tidak mengherankan Ciok Giok Yin merasa berduka sekali.

Akhirnya bercucuranlah air matanya.

Yang membuatnya berduka tidak lain adalah kepandaiannya yang belum dapat menyamai orang lain.

Keadaan Ciok Giok Yin itu membuat Heng Thiang Ceng cemas sekali.

"Bagaimana... kau?"

Ciok Giok Yin berdiri lalu menghapus air matanya seraya menyahut.

"Tidak apa-apa."

Heng Thian Ceng juga berdiri.

"Tadi aku dengar ada suara tangisan wanita, maka kukira ada penjahat sedang berbuat yang bukan-bukan, maka aku melesat ke mari. Tidak tahunya...."

Mendadak Ciok Giok Yin membalikkan badannya menengok Fang Jauw Cang.

Ternyata mata gadis itu telah terpejam dengan wajah pucat pias seperti kertas tiada warna darah sama sekali.

Hati Ciok Giok Yin tersentak dan dia segera memeriksa nadi gadis itu, ternyata...

gadis itu telah mati.

Seketika juga Ciok Giok Yin menangis meratap.

"Moi Moi! Moi Moi...."

Air matanya berderai-derai membasahi pipinya. Heng Thian Ceng yang berdiri di sampingnya, berkata dengan suara ringan.

"Adik Yin, dia sudah mati. Tiada gunanya kau terus menangis. Lebih baik kau segera menguburnya, dan berupaya membalaskan dendamnya."

Ciok Giok Yin merasa masuk akal apa yang dikatakan Heng Thian Ceng.

Dia langsung berhenti menangis dan cepat-cepat mengubur mayat Fang Jauw Cang.

Setelah itu dia berdiri diam di hadapan makam itu.

Dia sama sekali tidak menangis, tapi justru lebih parah dari pada menangis.

Beberapa saat kemudian barulah dia berkata.

"Moi Moi, aku pasti membalaskan dendam. Suatu hari nanti, aku akan membunuh Ban Hoa Tong Cu dan mengorek hatinya untuk menyembayangimu."

Usai berkata, dia berkertak gigi hingga berbunyi gemertuk. Heng Thiang Ceng menepuk bahunya seraya berkata lembut.

"Jangan terlampau berduka agar tidak merusak kondisi tubuhmu."

Ciok Giok Yin membalikkan badannya, menatap Heng Thian Ceng, namun tidak bersuara sama sekali.

"Orang mati tidak bisa hidup kembali. Dia sudah tidak bisa menghiburmu, namun aku bersedia selalu berada di sisimu."

Ciok Giok Yin dalam keadaan duka, maka apa yang dikatakan Heng Thiang Ceng itu tidak masuk ke dalam telinganya sama sekali.

"Lo cianpwee, kau...."

Heng Thian Ceng memutuskan perkataannya, berkata dengan lembut sekali.

"Jangan panggil aku lo cianpwee."

"Lalu aku harus memanggil apa?"

"Panggil aku kakak saja."

"Itu...."

"Kau tidak sudi?"

"Lo cianpwee, tingkat kedudukan di dunia persilatan tidak boleh dilanggar."

"Jangan mempermasalahkan itu, selanjutnya kita memanggil kakak dan adik saja."

Ciok Giok Yin mengangguk. Mendadak dia teringat akan budi pertolongan Heng Thian Ceng, maka dia tetap tidak berani memanggilnya kakak, sebab merasa tidak sopan. Oleh karena itu, dia berkata.

"Tempo hari lo cianpwee terpukul jatuh ke bawah tebing oleh ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, aku ke bawah mencari lo cianpwee, namun tidak menemukan jejak lo cianpwee...."

Heng Thiang Ceng langsung melotot seraya menegur.

"Kok masih panggil lo cianpwee? Sungguh tak sedap didengar lho!"

Setelah menegurnya, Heng Thian Ceng melanjutkan.

"Ketika aku terpukul jatuh, untung ditolong seorang pandai, sehingga nyawaku dapat diselamatkan. Adik Yin, mari kita pergi!"

Heng Thian Ceng menarik tangannya, lalu melesat pergi.

Agar lebih leluasa, maka Ciok Giok Yin diam, membiarkan Heng Thiang Ceng menarik tangannya, terus melesat pergi mengikuti Heng Thiang Ceng.

Akan tetapi tiba-tiba muncul tiga orang menghadang di depan mereka, masing-masing adalah si Bongkok Arak, Ku Tian dan Cou Ing Ing.

Cou Ing Ing menatap mereka berdua dengan penuh kebencian.

Sedangkan Ku Tian terus menatap Heng Thiang Ceng.

Si Bongkok Arak justru terus meneguk arak, setelah itu barulah menatap Heng Thian Ceng dengan dingin seraya menegurnya dengan lantang.

"Khui Fang Fang, kau memikatnya!"

Ternyata Heng Thian Ceng bernama Khui Fang Fang. Bukan main gusar Heng Thian Ceng! "Omong kosong!"

Bentaknya.

"Kalau kau tidak berniat memikatnya, mengapa kau terus bersamanya?"

"Peduli amat denganmu!"

"Urusan ini aku memang harus mempedulikannya!"

"Kau pantas?"

Sepasang mata si Bongkok Arak menyorot dingin.

"Kau lihat saja aku pantas atau tidak?"

Katanya dengan suara dalam. Mendadak dia menggerakkan tangannya ke arah sebuah pohon.

"Kreeek!"

Pohon itu roboh seperti terpotong senjata tajam. Bukan main terkejutnya Heng Thian Ceng! "Kau harus segera meninggalkannya!"

Kata si Bongkok Arak.

Heng Thian Ceng mengerutkan kening.

Dia sama sekali tidak kenal orang tua bongkok itu, namun kepandaiannya amat tinggi.

Sudah jelas dirinya bukan tandingannya.

Tapi dia juga sudah terkenal di rimba persilatan.

Bagaimana mungkin dia akan meninggalkan orang yang amat disukainya?

Karena itu dia pun menatap si Bongkok Arak dengan tajam.

"Berdasarkan apa, kau menyuruhku meninggalkannya?"

Sahutnya dengan dingin.

"Kau pasti mengerti!"

"Aku justru tidak mengerti!"

"Kau menginginkanku menjelaskannya?"

Si Bongkok Arak melirik Ciok Giok Yin beberapa kali. Dia ingin membuka mulut namun dibatalkannya, akhirnya membanting kaki seraya berkata.

"Akan kuberitahukan kelak, sekarang kau boleh pergi!"

"Tidak!"

"Sungguhkah kau tidak mau pergi?"

"Apakah aku bohong?"

"Kalau begitu kau betul-betul menyukainya?"

"Tentu!"

Mendadak Cou Ing Ing mendengus dingin.

"Hmm! Dasar tidak tahu diri!"

Heng Thian Ceng langsung maju tiga langkah dengan sepasang mata menyorot bengis.

"Kau mencaci siapa?"

Tanyanya gusar.

"Mencacimu!"

"Kau masih berbau susu, berani bertingkah di hadapanku?"

Heng Thian Ceng mengangkat sebelah tangannya, kelihatannya ingin menyerang Cou Ing Ing. Namun Si Bongkok Arak segera menggerakkan tangannya.

"Berhenti!"

Bentaknya.

Heng Thian Ceng merasa ada serangkum angin pukulan yang amat dahsyat menerjang ke arah dadanya, membuatnya harus mundur beberapa langkah.

Di saat bersamaan Cou Ing Ing ingin....

Namun si Bongkok Arak cepat-cepat mencegahnya.

"Nona Cou, tunggu!"

Mendadak dia melesat ke hadapan Heng Thiang Ceng seraya membentak sengit.

"Kalau kau masih belum mau pergi, jangan menyalahkan kalau aku turun tangan terhadapmu!"

Kelihatannya si Bongkok Arak sudah siap menyerang Heng Thiang Ceng. Ciok Giok Yin yang menyaksikan situasi tegang itu segera berkata.

"Sabar lo cianpwee, ada apa-apa bicara baik-baik saja!"

Kedua orang itu penolongnya, maka Ciok Giok Yin tidak boleh memihak siapa pun. Dia segera berdiri di tengah-tengah mereka berdua.

"Saudara kecil, kau tidak boleh bersamanya!"

Kata si Bongkok Arak. Ciok Giok Yin merasa heran.

"Mengapa?"

"Tidak mengapa, hanya kelak kau akan menyesal."

"Bolehkah kau memberikan penjelasan padaku?"

"Penjelasan dan alasan memang ada, kau akan tahu perlahan-lahan."

Mendadak Heng Thian Ceng tertawa terkekeh-kekeh, setelah itu berkata.

"Adik Yin, kau tidak usah banyak bicara dengannya, dia punya alasan dan penjelasan apa? Cuma omong kosong belaka. Lebih baik sementara ini kita berpisah, kelak aku akan mencarimu."

Usai berkata, Heng Thian Ceng langsung melesat pergi dan dalam sekejap sudah hilang dari pandangan mereka.

Ciok Giok Yin merasa si Bongkok Arak terlampau mencampuri urusan.

Padahal Heng Thian Ceng tidak berniat jahat terhadap Ciok Giok Yin melainkan seperti seorang tingkatan tua memperhatikan sekaligus menyayangi tingkatan muda.

Sedangkan Heng Thian Ceng masih bersedia memanggilnya adik dan menyuruhnya memanggil kakak, sesungguhnya itu tiada masalah apa-apa.

Oleh karena itu wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi agak tak sedap dipandang.

Si Bongkok Arak adalah orang tua yang telah berpengalaman.

Dulu dia kelihatan seperti linglung dan pikun, itu cuma berpura-pura saja.

Saat ini begitu melihat sikap Ciok Giok Yin, bagaimana mungkin dia tidak mengerti?

Sebab itu dia berkata.

"Adik Kecil, kita tidak usah membicarakan yang lain, cukup membicarakan usianya, lebih tua separuh dari usiamu. Apakah kau akan menyukainya."

"Aku tidak bilang menyukainya."

"Syukurlah kalau begitu!"

Mendadak Cou Ing Ing mendengus dingin.

"Hm!"

Setelah itu dia berkata pada si Bongkok Arak.

"Lo cianpwee, mari kita pergi!"

Kelihatannya dia masih amat mendendam pada Ciok Giok Yin.

Sedangkan Ciok Giok Yin terhadapnya memang merasa berdosa.

Karena itu dia cuma memandang Cou Ing Ing, tidak bersuara sama sekali.

Sesungguhnya Cou Ing Ing berharap Ciok Giok Yin menyatakan maaf dan berkata lembut padanya, otomatis rasa dendamnya akan sirna.

Justru tak terduga, Ciok Giok Yin malah diam saja, sehingga membangkitkan kegusarannya.

"Ciok Giok Yin, urusan kita belum selesai!"

Katanya sengit. Mendengar itu Ciok Giok Yin berkata dalam hati. 'Aku telah menerima tiga pukulanmu, maka boleh dikatakan aku sudah tiada hutang padamu.' Namun kemudian dia justru berkata demikian.

"Ing... itu terserah kau."

Si Bongkok Arak khawatir mereka akan ribut lagi, maka segera menyela.

"Adik Kecil, apa rencanamu sekarang?"

Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat akan wanita berbaju hitam yang di depan makam palsu Tiat Yu Kie Su.

Wanita berbaju hitam pernah berjanji padanya akan bertemu di Tebing Memandang Suami, di gunung Cong Lam San.

Walau Tiat Yu Kie Su telah mati, lagi pula dendam antara Sang Ting It Koay dengan Kang Ouw Pat Kiat telah jernih, namun Ciok Giok Yin tetap harus ke sana, karena tidak boleh ingkar janji.

Kalau dihitung memang telah beberapa hari, tapi dia tetap harus ke sana untuk menepati janji.

Oleh karena itu Ciok Giok Yin berkata.

"Aku ada janji dengan seorang wanita, harus pergi ke gunung Cong Lam San."

Si Bongkok Arak tercengang.

"Kau mau ke Cong Lam Pay?"

"Bukan."

"Kalau begitu untuk apa kau ke sana?"

"Menepati janji dengan seorang wanita."

Sementara Ku Tian yang berdiri diam dari tadi mendadak menyela.

"Maaf, aku masih ada urusan lain. Kalian mengobrollah aku mau mohon diri."

Dia memberi hormat lalu melesat pergi. Setelah Ku Tian pergi Ciok Giok Yin pun memberi hormat kepada si Bongkok Arak.

"Terimakasih atas campur tangan lo cianpwee. Budi kebaikan lo cianpwee tidak akan kulupakan selamanya. Sampai jumpa"

Usai berkata Ciok Giok Yin menatap Cou Ing Ing sejenak lalu melesat pergi. Si Bongkok Arak memandang punggung Ciok Giok Yin seraya berkata.

"Sifatnya itu... persis seperti ayahnya."

Kemudian dia menoleh memandang Cou Ing Ing.

"Biar bagaimanapun kita harus membantunya mencari informasi tentang Seruling Perak."

Cou Ing Ing mengangguk kemudian pergi bersama si Bongkok Arak.

Sementara Ciok Giok Yin terus melesat pergi menuju Gunung Cong Lam San.

Dua hari kemudian dia sudah sampai di gunung tersebut.

Akan tetapi gunung Cong Lam San amat luas, sedangkan Ciok Giok Yin tidak tahu di mana letak Tebing Memandang Suami.

Tidak gampang mencari tebing tersebut.

Lagi pula tiada seorang pun di sana.

Maka Ciok Giok Yin tidak bisa menanyakan tentang tebing tersebut.

Sebab itu, Ciok Giok Yin berdiri termenung di sebuah puncak gunung.

Namun kemudian dia menyadari bahwa dirinya tidak boleh putus asa.

Maka dia segera mencari ke sana ke mari.

Tentu saja secara membabi buta.

Mendadak samar-samar dia melihat sosok bayangan orang berdiri di atas sebuah batu besar.

Hatinya tergerak dan berkata, 'Jangan-jangan itu adalah tebing Memandang Suami!' Tanpa membuang waktu lagi dia langsung melesat ke sana.

Begitu sampai di tempat tersebut, dia yakin bahwa tempat itu adalah Tebing Memandang Suami, namun bayangan orang itu sudah tidak kelihatan lagi.

Di saat dia menengok ke sana ke mari, mendadak terdengar suara helaan nafas panjang dan ucapan.

"Dia tidak akan datang lagi."

Itu adalah suara seorang wanita. Maka Ciok Giok Yin segera bertanya dengan suara lantang.

"Mohon tanya apakah tempat ini adalah Tebing Memandang Suami?"

Hening tak terdengar suara apa pun.

Ciok Giok Yin mengerutkan kening dan bertanya dalam hati.

'Di sana hutan belantara.

Apakah yang bersuara tadi siluman wanita?' Tiba-tiba terdengar suara yang amat dingin.

"Siapa kau?"

"Aku bernama Ciok Giok Yin."

"Ciok Giok Yin?"

"Ya."

"Mau apa kau datang di Tebing Memandang Suami ini?"

"Tiga bulan yang lalu aku berjanji dengan seorang cianpwee...."

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, muncul sosok bayangan bagaikan arwah dari balik sebuah batu besar. Setelah saling memandang, justru sama-sama mengeluarkan suara.

"Ih!"

Ternyata seorang wanita berbaju hitam, wanita itu menatap Ciok Giok Yin dengan dingin seraya bertanya.

"Kau baru datang?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya. Karena terjadi sedikit halangan di tengah jalan, maka aku datang terlambat. Mohon cianpwee sudi memaafkanku."

Wanita berbaju hitam menatapnya lagi sambil bertanya.

"Ada urusan apa kau mencari Tiat Yu Kie Su?"

"Karena ada sedikit kesalahpahaman."

"Kini kesalahpahaman itu telah jernih."

Air muka wanita berbaju hitam berubah, kelihatannya dia agak emosi.

"Kalau begitu, kau sudah berhasil mencarinya?"

"Terus terang aku memang sudah bertemu dengannya,"

Sahut Ciok Giok Yin dengan jujur. Wanita berbaju hitam segera melangkah maju.

"Berada di mana dia sekarang?"

Ciok Giok Yin tidak tahu ada dendam kebencian apa antara wanita itu dengan Tiat Yu Kie Su, maka segera mundur selangkah mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi segala kemungkinan, kemudian menyahut.

"Bolehkah aku tahu siapa cianpwee?"

"Katakan di mana dia sekarang?"

"Aku akan mengatakan, namun terlebih dahulu kau harus menyebutkan namamu."

Wanita berbaju hitam menatapnya tajam, setelah itu barulah memberitahukan.

"Cu Sian Ling!"

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Hah? Cu Sian Ling?"

Wanita berbaju hitam mengangguk.

"Tidak salah. Sekarang kau harus beritahukan tentang jejaknya!"

Mata Ciok Giok Yin mulai bersimbah air.

"Dia sudah mati."

Seketika Cu Sian Ling menyambar baju Ciok Giok Yin.

Gerakan wanita itu cepat sekali, laksana kilat menyambar.

Maka Ciok Giok Yin tidak mampu berkelit.

Bahkan setelah itu Cu Sian Ling pun menotok jalan darah Hu Keng Hiat di bagian dada Ciok Giok Yin sambil membentak sengit.

"Kau yang mencelakainya?"

Begitu jalan darahnya itu tertotok, Ciok Giok Yin merasa sekujur badannya menjadi lemas, juga terasa seperti tertusuk ribuan jarum.

Bukan main sakitnya, sehingga sekujur badannya mengucurkan keringat dingin.

Ciok Giok Yin memang bersifat angkuh dan keras hati.

Dia berkertak gigi menahan sakit, tidak merintih sama sekali.

Akan tetapi sepasang matanya berapi-api, terus menatap Cu Sian Ling.

Sedangkan wajah Cu Sian Ling yang bengis itu saat ini bertambah bengis menyeramkan.

"Kalau kau tidak mau mengatakan akan kucabut nyawamu!"

Mendadak sekilas timbul suatu pikiran dalam benak Ciok Giok Yin, apakah Tia Yu Kie Su-Mok Ho menggunakan siasat meminjam tangan membunuh orang?

Kalau tidak, bagaimana mungkin Cu Sian Ling bersikap sedemikian bengisnya terhadapnya?

"Apabila benar demikian, dapat dibayangkan betapa kejamnya hati Tiat Yu Kie Su-Mok Ho itu.

Kelihatannya dendam antara gurunya dengan Kang Ouw Pat Kiat bukan karena....

Berpikir sampai di situ Ciok Giok Yin menahan sakit seraya berkata.

"Kau dan dia...."

"Kalau kau yang mencelakainya, maka kau harus ganti nyawanya!"

Sergah Cu Sian Ling. Mendengar itu Ciok Giok Yin merasa agak lega.

"Harap cianpwee lepaskan tangan dulu! Aku tidak akan kabur dan akan memberitahukan."

Cu Sing Ling mengerutkan kening, sepertinya sedang mempertimbangkan sesuatu. Kemudian dia mengendurkan cengkeramannya dan membentak.

"Cepat katakan!"

Ciok Giok Yin cepat-cepat menghimpun hawa murninya. Setelah itu dia menarik nafas lega karena tubuhnya tidak terasa ada kelainan sedikit pun.

"Dia mati di tangan Ban Hoa Tong Cu."

Katanya.

"Ban Hoa Tong Cu?"

"Ya."

Cu Sian Ling mengerutkan kening lalu menatap Ciok Giok Yin dengan tajam.

"Bagaimana kau tahu itu?"

Ciok Giok Yin segera menutur tentang perkenalannya dengan Lu Jin, setelah itu dia menambahkan.

"Dia mati demi diriku, maka aku pasti akan menuntut balas dendamnya."

Dia menarik nafas panjang.

"Sebelum menghembuskan nafas penghabisan, dia berpesan padaku agar mencari cianpwee."

Cu Sian Ling mendongakkan kepala memandang langit, lalu tertawa pilu. Setelah itu, wanita berbaju hitam itu pun bergumam.

"Kanda Mok...."

Dia tidak mampu melanjutkan ucapannya.

Ternyata air matanya telah meleleh deras membasahi pipinya.

Ketika menyaksikan sikap Cu Sian Ling, Ciok Giok Yin dapat menduga akan hubungan mereka berdua.

Namun dia tidak berani membuka mulut menghiburnya, hanya berdiri termangumangu di tempat.

Sementara air mata Cu Sian Ling terus mengucur dan dia tetap memandang langit.

Beberapa saat kemudian barulah Cu Sian Ling bergumam terisak-isak dengan air mata tetap terus berderai-derai.

"Kanda Mok, aku menunggu dua puluh tahun lebih tapi tidak disangka kau sudah tiada. Aku... masih punya harapan apa? Kanda Mok, kau...."

Sekonyong-konyong dia menoleh memandang Ciok Giok Yin seraya bertanya dengan serius.

"Kau bersedia menuntut balas dendam Kanda Mok?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya. Aku tidak akan melepaskan semua orang-orang Goa Ban Hoa Tong."

Ternyata Ciok Giok Yin juga teringat akan kematian Fang Jauw Cang, yang mati juga karena demi dirinya.

Ini sungguh merupakan dendam kesumat!

Cu Sian Ling sudah berhenti menangis.

Justru sungguh mengherankan, wajahnya tampak tenang sekali.

Akan tetapi saat ini dia pun tampak jauh lebih tua, mungkin lebih tua sepuluh tahun.

Berselang beberapa saat dia berkata lembut.

"Mengenai urusan kami kau tidak usah tahu. Terlebih dahulu aku mengucapkan terimakasih padamu atas kesediaanmu menuntut balas dendam."

Tiba-tiba dia menunjuk ke arah kiri.

"Lihat ada orang ke mari!"

Ciok Giok Yin langsung menengok ke arah yang ditunjuk wanita berbaju hitam, tapi tidak melihat seorang pun di sana. Di saat bersamaan terdengar suara seruan pilu.

"Ibu! Maafkan ananda yang tidak berbakti, ananda mau ikut...."

Sekonyong-konyong terdengar suara 'Plak!' Ciok Giok Yin cepat-cepat menoleh.

Tampak kening Cu Sian Ling telah pecah dan wanita itu terkulai dengan darah berlumuran di wajahnya.

Ternyata wanita berbaju hitam telah membunuh diri dengan cara memukul kepalanya sendiri, tepat di jalan darah Thian Ling Kay.

Terbelalak Ciok Giok Yin memandang mayat wanita berbaju hitam itu, namun amat berduka sekali.

Dia tidak dapat menduga, mengapa Cu Sian Ling dan Tiat Yu Kie So-Mok Ho tidak bisa hidup bersama?

Mereka saling mencinta, tapi mengapa harus berpisah?

Mereka saling merindukan dan akhirnya Tiat Yu Kie Su-Mok Ho mati, Cu Sian Ling pun membunuh diri menyusulnya.

Mendadak Ciok Giok Yin merasa ada serangkum angin menerjang ke jalan darah Cian Mo Hiatnya, membuat sekujur badannya menjadi ngilu.

Betapa terkejutnya Ciok Giok Yin!

Siapa penyerang itu?

Ilmu kepandaiannya amat tinggi sekali!

Karena orang itu sudah berada di belakangnya, tapi Ciok Giok Yin sama sekali tidak mengetahuinya.

Setelah jalan darah Cian Mo Hiatnya tertotok, Ciok Giok Yin menjadi seperti orang biasa.

Dia menengok ke sana ke mari, namun tidak tampak seorang pun berada di sekelilingnya, membuatnya bertambah terkejut.

Di sekelilingnya cuma tampak hutan rimba.

Ciok Giok Yin terperangah.

Ternyata tempat di sekelilingnya telah berubah, tidak seperti tempat semula yang didatanginya.

Dia cepat-cepat memandang ke samping.

Sepasang matanya bertambah terbelalak karena mayat Cu Sian Ling telah hilang.

Apa gerangan yang terjadi?

Sekujur badannya menjadi merinding!

Mendadak terdengar suara yang amat dingin dan menusuk telinga.

"Bagaimana putriku mati?"

Ciok Giok Yin tersentak.

"Siapa kau?"

Tanyanya.

"Aku adalah ibunya!"

"Bolehkah kau memperlihatkan diri untuk bercakap-cakap sebentar?"

"Jawab! Apakah kau yang membunuhnya?"

"Bukan."

"Kalau begitu, siapa?"

"Dia bunuh diri."

"Mengapa tiada sebab musabab dia bunuh diri? Dua puluh tahun lebih batinnya menderita, tak disangka akhirnya menjadi begini."

"Dia mendengar berita dariku, bahwa Tiat Yu Kie Su sudah mati...."

Terdengar seruan kaget memutuskan perkataan Ciok Giok Yin.

"Tiat Yu Kie Su sudah mati?"

"Ya."

Suasana berubah menjadi kening. Ciok Giok Yin cepat-cepat berkata.

"Lo cianpwee, aku bermaksud baik. Jauh-jauh aku kemari menyampaikan berita itu. Kini lo cianpwee menotok jalan darahku, sesungguhnya apa maksud lo cianpwee?"

"Aku akan membebaskan jalan darahmu, namun sementara ini kau tidak boleh pergi!"

Mendadak Ciok Giok Yin merasa sekujur badan menjadi nyaman.

Ternyata jalan darahnya yang tertotok itu telah bebas.

Tapi pemandangan di sekelilingnya masih tetap seperti tadi.

Saat ini tenaganya telah pulih.

Dia langsung mencelat ke atas ingin mencari tempat persembunyian orang itu.

Akan tetapi tiba-tiba Ibu Cu Sian Ling berkata dingin.

"Kau tidak usah membuang-buang tenaga! Sebab kau berada di dalam Khun Goan Tin (Formasi Yang Menyesatkan)! Dengar baik-baik beberapa pertanyaanku, barulah pergi tidak akan terlambat!"

Ciok Giok Yin tidak percaya.

Dia melesat ke sana ke mari.

Ketika berhenti dia melihat ke sekelilingnya, ternyata dirinya masih berada di tempat semula.

Itu membuatnya amat gusar dan timbul pula sifat angkuhnya.

"Lo cianpwee, aku tidak tahu di mana kesalahanku!"

Bentaknya.

"Kuberitahukan Tebing Memandang Suami ini belum pernah dijamah kaum lelaki! Kau adalah yang pertama, bahkan juga telah membawa pergi nyawa putriku!"

Ciok Giok Yin tidak menyahut.

"Berhubung aku amat membenci kaum lelaki, maka kubentuk formasi Khun Goan Tin di tempat ini! Ketika kau di sini, formasi itu masih belum bergerak, tapi kini telah berfungsi! Walau kau punya sayap, tidak akan dapat meninggalkan tempat ini!"

"Kalau begitu, lo cianpwee bermaksud mengurungku di sini?"

"Aku ingin tahu asal-usulmu!"

"Kalau aku tidak mau beritahukan?"

"Kau akan berada di tempat ini selamanya!"

Mendengar ucapan wanita itu, kegusaran Ciok Giok Yin menjadi memuncak.

Dia cukup lama tinggal bersama Sang Ting It Koay, sehingga ketularan sifat anehnya.

Sekonyong-konyong dia melancarkan sebuah pukulan ke arah suara itu, yaitu pukulan Soan Hong Ciang yang menggunakan lwee kang Sam Yang Hui Kang.

Bukan main dahsyatnya pukulan itu, menderuderu dan mengeluarkan hawa panas.

"Soan Hong Ciang!"

Seru wanita itu tak tertahan.

"Tidak salah!"

Sahut Ciok Giok Yin dingin.

"Siapa kau?"

"Ciok Giok Yin!"

"Ada hubungan apa kau dengan Sang Ting It Koay?"

Mendengar pertanyaan itu, tergerak hati Ciok Giok Yin.

"Suhuku!"

Sahutnya. Wanita itu tertawa sedih, lalu berkata.

"Baiklah! Selamanya kau akan tinggal di dalam formasi itu!"

"Siapa kau? Ada dendam apa dengan suhuku? Perlihatkan dirimu! Mari kita membuat perhitungan!"

Bentak Ciok Giok Yin.

Akan tetapi tiada sahutan.

Tentunya Ciok Giok Yin tidak rela dikurung di dalam formasi itu selamanya.

Maka dia menggunakan ginkang melesat pergi.

Berselang beberapa saat barulah dia berhenti.

Dia menengok ke sana ke mari, ternyata dirinya masih tetap berada di dalam rimba.

Ketika menundukkan kepala dia terbelalak karena dirinya masih tetap berada di tempat semula.

Ternyata tadi dia cuma melesat beberapa depa, dan juga hanya berputar-putar di tempat itu.

"Lo cianpwee, apa maksudmu mengurungku di sini? Kalau kau punya dendam dengan suhuku, aku pasti memikul tanggung jawab itu,"

Katanya memelas.

Tapi tetap tiada sahutan.

Ciok Giok Yin gusar bukan kepalang.

Saking gusarnya dia merasa lelah, akhirnya duduk bersila di tanah dan menghimpun hawa murninya.

Entah berapa lama kemudian mendadak dia merasa ada orang menarik lengan bajunya.

Dia langsung bangkit sekaligus mengikuti orang yang menarik lengan bajunya.

Tak seberapa lama pemandangan di tempat itu berubah semua.

Ternyata dia masih tetap berdiri di Tebing Memandang Suami.

Setelah itu dia mendongakkan kepala.

Tampak di hadapannya berdiri seorang wanita anggun berpakaian indah.

Ciok Giok Yin segera memberi hormat seraya berkata.

"Terima kasih atas pertolongan cianpwee. Bolehkah aku tahu nama cianpwee?"

"Kelak kau akan mengetahuinya,"

Sahut wanita anggun.

Usai menyahut, sepasang mata wanita itu menyorot tajam, menatap Ciok Giok Yin dalam-dalam.

Ketika beradu pandang dengan mata wanita anggun itu, Ciok Giok Yin langsung merasa merinding.

"Tahukah kau siapa Cu Sian Ling yang bunuh diri itu?"

Tanya wanita anggun. Ciok Giok Yin tertegun lalu menggelengkan kepala.

"Mohon cianpwee memberitahukan!"

Sahutnya. Wanita anggun tidak menjawab, melainkan balik bertanya.

"Suhumu adalah Sang Ting It Koay?"

"Ya."

"Tahukah kau namanya?"

Ciok Giok Yin tertegun lagi.

Sejak belajar ilmu kungfu pada Sang Ting It Koay, Ciok Giok Yin cuma tahu julukannya tidak tahu namanya.

Entah sudah berapa kali Ciok Giok Yin bertanya, tapi Sang Ting It Koay sama sekali tidak mau memberitahukan.

Kini wanita itu bertanya, membuat Ciok Giok Yin merasa serba salah sehingga wajahnya berubah menjadi kemerah-merahan.

"Aku... aku tidak tahu,"

Jawabnya terputus-putus.

"Itu bukan kesalahanmu, sebab seharusnya dia yang memberitahukan."

"Bolehkah cianpwee memberitahukan padaku?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Dia bernama Cu Hek,"

Sahut wanita anggun.

"Cu Hek?"

"Tidak salah."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Apa maksud cianpwee menyinggung nama suhuku?"

Tanyanya.

"Kau harus tahu, Cu Sian Ling adalah putrinya."

Bukan mari terkejutnya Ciok Giok Yin.

"Haaah? Dia... dia adalah suci (Kakak Perempuan Seperguruan)?"

Serunya tak tertahan.

"Kau memang harus memanggilnya demikian."

Kening Ciok Giok Yin berkerut-kerut. Dia memandang wanita itu seraya bertanya.

"Bolehkah cianpwee menjelaskan padaku?"

Wanita anggun manggut-manggut.

"Mengenai suhumu itu, sebetulnya aku tidak kenal, cuma mendengar saja."

Dengar-dengar ketika masih muda, dia amat tampan, sehingga banyak gadis tertarik padanya.

Untung dia bukan pemuda mata keranjang.

Pada suatu hari dia terkena racun musuhnya, menyebabkannya kehilangan kesadaran...."

Wanita anggun berhenti sejenak, kemudian menatap wajah Ciok Giok Yin, seraya melanjutkan.

"Waktu itu dia bersama seorang gadis persilatan. Lantaran kehilangan kesadarannya, maka terjadi hubungan intim dengan gadis tersebut. Oleh karena itu dia merasa menyesal dan malu, tiada muka menemui gadis persilatan itu lagi! Akhirnya... dia pergi secara diam-diam."

Ciok Giok Yin mendengarkan dengan penuh perhatian. Seusai wanita itu menutur, barulah dia bertanya.

"Siapa gadis persilatan itu?"

"Dia adalah ibu Cu Sian Ling, yaitu orang yang mengurungmu di sini."

"Haaah...?"

Seru Ciok Giok Yin tak tertahan. Wanita anggun melanjutkan penuturannya.

"Yang satu pergi lantaran merasa malu dan menyesal, sedangkan yang satu lagi justru hamil. Akhirnya gadis itu hidup menyendiri di tempat ini menunggu kelahiran anaknya."

"Anak itu adalah suciku?"

"Ng!"

"Lalu bagaimana urusan suciku dengan Tiat Yu Kie Su-Mok Ho?"

"Setelah subo (Isteri Guru)mu tinggal di sini, setiap hari dia berharap suhumu kemari mencarinya. Akan tetapi suhumu sama sekali tidak muncul. Apabila suhumu datang, dia akan mengurung suhumu di dalam formasi ini."

Wanita anggung menghela nafas panjang, setelah itu melanjutkan.

"Subomu juga melarang putrinya berkelana di dunia persilatan. Mereka berdua tinggal di Tebing Memandang Suami ini. Sudah pasti subomu yang menamai tebing ini. Akan tetapi segala urusan di kolong langit memang sulit diduga. Pada suatu hari, Cu Sian Ling bermohon pada ibunya agar memperbolehkannya ke dunia persilatan untuk melihatlihat. Mula-mula ibunya melarangnya, namun karena Cu Sian Ling terus mendesak, akhirnya ibunya memberi izin. Tapi ibunya berpesan, dilarang mendekati kaum lelaki."

Wanita anggun menghela nafas panjang lagi, kemudian melanjutkan.

"Beberapa hari setelah Cu Sian Ling berkelana di dunia persilatan, justru berkenalan dengan Tiat Yu Kie Su, kemudian mereka berdua saling jatuh cinta. Namun diketahui oleh ibunya, maka Cu Sian Ling dipaksa pulang ke Tebing Memandang Suami ini!"

Seusai wanita itu menutur, Ciok Giok Yin menghela nafas panjang seraya berkata.

"Tidak seharusnya aku menyampaikan berita duka itu, menyebabkan suci bunuh diri."

Wanita anggun itu tersenyum lembut.

"Soal itu kau tidak dapat disalahkan. Kau menerima titipan pesan dari orang, sudah pasti harus menyampaikannya secara jujur."

Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala.

"Tapi... hatiku merasa tidak tenang."

"Urusan sudah jadi begini, mau bilang apa?"

Mendadak Ciok Giok Yin bertanya.

"Oh ya! Bolehkah aku menemui subo?"

Wanita anggun itu menggelengkan kepala.

"Dia tidak mau menemuimu, kau boleh pergi."

"Tapi... aku harus memberitahukan pada subo, bahwa suhu telah meninggal."

"Aku sudah memberitahukan padanya."

Tiba-tiba terlintas sesuatu dalam hati Ciok Giok Yin, maka dia segera bertanya.

"Bagaimana cianpwee sedemikian jelas tentang urusan ini?"

Ternyata Ciok Giok Yin bercuriga, mungkin wanita anggun yang berdiri di hadapannya justru adalah subonya.

Wanita anggun tersenyum, seakan tahu apa yang dipikirkan Ciok Giok Yin.

Kemudian dia berkata lembut.

"Tadi aku bertemu subomu, dia yang memberitahukan padaku,"

Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Ooooh! Entah sudah berapa kali cianpwee menyelamatkanku. Aku tidak akan lupa selama-lamanya. Sampai jumpa!"

Ciok Giok Yin memberi hormat, lalu melesat pergi meninggalkan Tebing Memandang Suami itu.

Saat ini sudah larut malam.

Tampak ribuan bintang bertaburan di langit, bergemerlapan memancarkan cahaya.

Angin gunung terus berhembus mengeluarkan suara.

Huuuuuh!

Huuuuuu...!

Meskipun Ciok Giok Yin berkepandaian tinggi, namun dia seorang diri melakukan perjalanan di hutan belantara yang amat sepi itu membuatnya merasa agak merinding.

Dalam perjalanan dia pun mencari suatu tempat untuk berteduh.

Esok pagi dia baru melanjutkan perjalanan.

Mendadak samar-samar tampak sebuah bangunan tentunya amat menggirangkan hatinya.

Dia cepat-cepat melesat ke sana.

Setelah dekat, ternyata adalah sebuah kuil tua.

Di atas pintu kuil itu bergantung sebuah papan yang agak miring, yang tulisannya hampir tak dapat dibaca 'Gak Ong Bio' (Kuil Raja Gak).

Sedangkan kedua daun pintunya sudah roboh ke samping.

Dapat diketahui, bahwa kuil itu tak pernah diurus.

Ciok Giok Yin berdiri di hadapan kuil itu.

Berselang sesaat barulah dia melangkah ke dalam.

Ketika dia melangkah ke dalam, hatinya agak berdebar-debar.

Namun merasa lebih enak di dalam kuil tua itu dari pada harus bermalam di hutan.

Ciok Giok Yin duduk di bawah sebuah meja bobrok.

Di saat dia baru mau memejamkan matanya untuk beristirahat, mendadak terdengar suara nafas yang amat lirih, membuat bulu kuduknya bangun.

Dia cepat-cepat keluar dari kolong meja, sekaligus bangkit berdiri, kemudian menyebarkan pandangan ke sekelilingnya.

Tampak sesosok bayangan hitam di sudut dinding.

Dia segera mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi segala kemungkinan.

"Kau manusia atau hantu?"

Bentaknya. Bayangan hitam itu bangkit berdiri. Di saat bersamaan terdengar suara tawa yang amat nyaring dan sahutan.

"Terang di langit dan terang di bumi, bagaimana mungkin ada hantu?"

Saat ini Ciok Giok Yin baru melihat jelas. Bayangan itu ternyata seorang wanita berbaju hitam berusia duapuluh limaan.

"Siapa kau, mengapa bermalam di sini?"

Tanya Ciok Giok Yin sambil mengerutkan kening.

"Kuil tua di hutan belantara, apakah..."

Sahut wanita berbaju hitam. Ucapan wanita itu terhenti, karena tiba-tiba mulutnya menyemburkan darah segar.

"Phuuuuh!"

Setelah itu badannya terhuyung ke belakang. Ciok Giok Yin tertegun. Dia cepat-cepat menahan tubuh wanita itu agar tidak roboh, kemudian menaruhnya ke bawah.

"Kau terluka?"

Tanyanya. Mata wanita berbaju hitam sudah terpejam rapat-rapat.

"Memang benar aku terluka,"

Sahutnya. Ciok Giok Yin merasa iba padanya, lagi pula dia mengerti pengobatan. Maka dia segera mengeluarkan dua butir Ciok Kim Tan, lalu diberikan pada wanita itu.

"Telanlah pil ini, aku akan membantumu!"

Wanita berbaju hitam menatapnya sejenak, setelah itu menjulurkan tangannya mengambil kedua pil Ciak Kim Tan itu, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.

Di saat bersamaan, Ciok Giok Yin segera menempelkan telapak tangannya pada punggung wanita itu seraya berkata.

"Himpun hawa murnimu aku akan membantumu"

Ciok Giok Yin juga menghimpun hawa murninya, untuk membantu wanita berbaju hitam. Berselang beberapa saat luka wanita berbaju hitam sudah pulih. Dia menoleh memandang Ciok Giok Yin seraya bertanya.

"Apakah kau Ciok Giok Yin?"

Ciok Giok Yin terperangah, menatapnya seraya berkata dengan heran.

"Tidak salah, mohon tanya...."

Wanita berbaju hitam memutuskan perkataan Ciok Giok Yin.

"Jangan bertanya, kelak kita masih punya kesempatan untuk berjumpa, dan kau pun akan tahu. Mengenai budi pertolonganmu, cepat atau lambat aku pasti membalaskan, sampai jumpa!"

Badan wanita itu bergerak, ternyata dia sudah melesat pergi.

Sedangkan Ciok Giok Yin berdiri mematung.

Dia tidak habis pikir siapa wanita baju hitam itu?

Bagaimana dia tahu namanya?

Dan siapa yang melukainya?

Di dunia persilatan memang terdapat banyak hal aneh, Ciok Giok Yin membantunya dengan hawa murni agar dia segera pulih, namun wanita baju itu malah tidak mau memberitahukan namanya.

Sungguh keterlaluan!

Ciok Giok Yin terus berpikir.

Tak lama hari pun mulai terang.

Saat ini Ciok Giok Yin tidak mau memikirkan tentang wanita lagi, langsung melesat pergi.

Kini dia membulatkan hatinya untuk mencari Seruling Perak.

Mengenai kitab Cu Cian, Ciok Giok Yin yakin dan percaya kepada Bu Tok Sianseng.

Sudah satu hari satu malam, Ciok Giok Yin sama sekali tidak makan dan tidak minum tentunya merasa amat lapar.

Untung tak seberapa lama lagi dia sudah tiba di sebuah kota kecil.

Dia melangkah perlahan di sebuah jalan kecil sambil menengok ke sana ke mari.

Ketika hampir tiba di ujung jalan, dia melintas sebuah kedai makan.

Saat ini hari sudah siang.

Kedai makan itu sudah penuh sesak oleh para tamu sehingga boleh dikatakan tiada tempat duduk lagi.

Karena kedai makan itu penuh sesak maka Ciok Giok Yin pikir cukup beli nasi bungkus saja.

Akan tetapi, pemilik kedai makan segera berkata.

"Silakan masuk, Tuan! Aku akan menyediakan tempat untuk Tuan."

Ciok Giok Yin manggut-manggut, kemudian memandang ke dalam.

Ternyata seorang tamu sudah usai makan, berdiri sambil membayar rekening.

Pemilik kedai makan langsung membawa Ciok Giok Yin ke meja itu lalu mempersilakannya duduk.

Salah seorang pelayan cepat-cepat menghampirinya, maka Ciok Giok Yin memesan beberapa macam hidangan.

Setelah itu Ciok Giok Yin memperhatikan para tamu.

Beberapa orang di antaranya seperti kaum rimba persilatan.

Mendadak terdengar pembicaraan beberapa tamu yang kedengarannya agak serius.

Maka Ciok Giok Yin mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Pah Ong Cuang Cuangcu (Majikan Perkampungan Raja Jagoan) merayakan perkawinan putra kesayangannya, mengundang kaum rimba persilatan, baik golongan putih maupun golongan hitam, itu pasti ramai dan meriah sekali."

"Aku dengar perjodohan itu merupakan perjodohan paksaan."

"Jangan bicara sembarangan!"

Ketika berkata orang itu melirik semua tamu. Begitu melihat Ciok Giok Yin, orang itu menatapnya sejenak, kemudian berkata pada kedua temannya.

"Lebih baik kita minum arak saja. Peduli amat dengan urusan itu. Perjodohan paksa atau tidak, bukan urusan kita. Yang penting, malam ini kita pergi makan minum saja."

"Kau siap ke sana?"

"Tentu."

"Punya undangan?"

"Tidak punya, namun juga boleh ke sana karena aku ingin melihat kaum rimba persilatan golongan putih dan golongan hitam. Siapa tahu mereka akan memperlihatkan kepandaian masing-masing. Bukankah asyik sekali?"

Kebetulan saat ini hidangan-hidangan yang dipesan Ciok Giok Yin telah disajikan.

Dia mulai makan sambil mendengarkan pembicaraan mereka.

Akan tetapi ketiga orang itu sudah mengalihkan pembicaraan.

Ciok Giok Yin berkata dalam hati, 'Ini merupakan kesempatan baik, mengapa aku tidak ke sana?

Siapa tahu aku akan memperoleh informasi tentang Seruling Perak itu!' Usai makan dan membayar Ciok Giok Yin mengajukan beberapa pertanyaan kepada pemilik kedai makan, lalu pergi menuju pinggir kota.

Ciok Giok Yin mengikuti petunjuk pemilik kedai makan.

Ketika sampai di jalan yang agak kecil, dia melihat begitu banyak kaum rimba persilatan berjalan ke arah yang sama.

Dia tahu mereka pasti menuju perkampungan Pah Ong Cuang, untuk minum arak kebahagiaan di sana.

Ciok Giok Yin mengikuti mereka dari belakang, ingin mencuri dengar pembicaraan mereka.

Hasilnya memang benar Pah Ong Cuang Cuangcu menyelenggarakan pesta perkawinan putra kesayangannya.

Berdasarkan pembicaraan mereka, Ciok Giok Yin baru tahu bahwa putra Cuangcu berbadan bongkok dan hanya memiliki sebelah kaki.

Berselang beberapa saat, tampak sebuah rumah yang amat besar dengan beberapa lentera merah dan begitu banyak orang keluar masuk di sana.

Terdengar pula suara petasan yang memekakkan telinga, menambah semarak suasana di perkampungan itu.

Ciok Giok Yin mengikuti para tamu itu melangkah memasuki perkampungan sambil menengok ke sana ke man.

Matanya agak terbelalak karena melihat halaman yang amat luas.

Itu membuktikan bahwa majikan perkampungan Pah Ong Cuang tergolong orang yang kaya raya.

Ruang depan pun amat luas, penuh dengan meja kursi dan para tamu, sehingga kedengaran agak berbisik.

Di tengahtengah ruang itu terlihat seorang tua.

Wajahnya berseri-seri dan terus menjura kepada para tamu, sekaligus mempersilakan mereka ke tempat duduk masing-masing.

Karena Ciok Giok Yin tidak begitu terkenal, maka dia memperoleh tempat duduk di sudut ruangan.

Tanpa sengaja dia melihat beberapa anggota perkumpulan Sang Yen Hwee, karena bagian depan baju mereka bersulam sepasang burung walet.

Begitu melihat anggota-anggota perkumpulan itu, rongga dadanya menjadi penuh api kegusaran.

Namun dia tidak berani bertindak ceroboh, sebab hari ini adalah hari perkawinan putra perkampungan Pah Ong Cuang.

Bila ia bertindak ceroboh, akan membangkitkan kemarahan para tamu.

Mendadak dia mendengar seorang tamu berkata.

"Mempelai perempuan bernama Ie Ling Ling."

Ciok Giok Yin tersentak mendengar itu.

Kemudian dia bertanya dalam hati, 'Apakah dia?' Ternyata dia teringat akan pesan Cak Hun Ciu.

Sebelum mati Cak Hun Ciu menjodohkan putrinya yang bernama Ie Ling Ling dengan Ciok Giok Yin.

Apakah mempelai perempuan itu adalah dia?

Cak Hun Ciu memberitahukan padanya, bahwa Ie Ling Ling kehilangan jejak, jangan-jangan gadis itu tertangkap orang-orang perkampungan Pah Ong Cuang.

Kehadiran beberapa anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu membuktikan bahwa majikan perkampungan Pah Ong Cuang bukan tergolong orang baik-baik.

Karena itu, Ciok Giok Yin menoleh ke samping lalu bertanya pada seorang tamu berusia pertengahan.

"Mempelai perempuan itu bernama Ie Ling Ling?"

Orang itu mengangguk.

"Dengar-dengar ya."

"Orang berasal dari mana?"

Orang itu menggelengkan kepala "Tentang itu tidak begitu jelas."

Ciok Giok Yin merasa tidak enak untuk bertanya lagi.

Namun diam-diam dia mempertimbangkan dalam hati.

Kalau benar mempelai perempuan itu adalah Ie Ling Ling, lalu apa yang harus dilakukannya?

Apakah harus turun tangan merebutnya?

Ciok Giok Yin tidak dapat mengambil keputusan, sebab dia belum pernah bertemu Ie Ling Ling calon istrinya itu.

Apabila salah rebut, pasti fatal akibatnya.

Di saat Ciok Giok Yin sedang bimbang mengambil keputusan, mendadak tercium bau arak yang amat keras.

Ciok Giok Yin segera menoleh ke samping.

Sungguh di luar dugaan si Bongkok Arak telah duduk di sampingnya dan Ciok Giok Yin langsung memberi hormat sambil bertanya.

"Lo cianpwee juga ke mari?"

Si Bongkok Arak menatapnya dengan mata dipicingkan lalu balik bertanya.

"Apakah kau masih ingat akan pesan Cak Hun Ciu?"

Hati Ciok Giok Yin tergerak.

"Ingat."

"Kalau begitu kau terus bagaimana?"

"Justru masih dalam pertimbanganku."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Lo cianpwee pernah dengar apa yang dikatakan Cak Hun Ciu padaku?"

Si Bongkok Arak menggelengkan kepala.

"Aku sama sekali tidak pernah mendengarnya. Melainkan orang lain yang memberitahukan padaku."

Di saat mereka berdua sedang bercakap-cakap, mendadak salah seorang tamu yang duduk di dekat mereka menghela nafas panjang seraya berkata.

"Sungguh kasihan gadis cantik jelita itu! Dia harus menikah dengan seorang cacat yang menyerupai siluman. Sayang sekali di dunia persilatan sudah tiada keadilan lagi, tiada seorang pendekar pun yang mau mengulurkan tangan menolongnya."

Ciok Giok Yin memandang orang yang berkata itu.

Ternyata orang yang berdandan sastrawan berusia empat puluhan.

Sepasang mata Ciok Giok Yin langsung menyorot dingin.

Kemudian bangkit berdiri dan bertanya dengan suara dalam.

"Apa maksud Anda?"

"Aku berkata seorang diri tidak ada urusan denganmu."

"Yang kau katakan tadi adalah Ie Ling Ling, mempelai perempuan itu?"

Sastrawan itu tampak tertegun.

"Tentu."

"Dia adalah tunanganku, pasti aku akan menolongnya."

Sastrawan itu tertegun lagi. Sepasang bola matanya berputar sejenak, kemudian dia bertanya dengan suara rendah.

"Saudara Kecil, sungguhkah kau punya nyali sebesar itu?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Tentu."

Kini Ciok Giok Yin sudah yakin bahwa mempelai perempuan itu pasti Ie Ling Ling.

"Baik, akan kupertaruhkan seribu tael perak, lihat kau punya nyali sebesar itu apa tidak untuk menolong mempelai perempuan itu,"

Kata si Sastrawan. Usai berkata, dia lalu membaurkan diri dengan para tamu. Si Bongkok Arak segera berbisik.

"Kau jangan keliru lho! Nanti akan ditertawakan orang!"

"Tidak akan keliru, namanya memang Ie Ling Ling."

"Ingat! Banyak yang bernama sama di kolong langit!"

"Tidak peduli dia atau bukan, yang jelas itu adalah perjodohan paksa, maka aku harus turut campur."

Di saat sedang berkata, Ciok Giok Yin melihat ada sepasang mata memandangnya.

Ternyata seorang gadis berpakaian putih.

Wajah gadis itu pucat pias tak berperasaan, namun sepasang matanya amat indah dan jernih, sungguh memukau.

Ketika melihat Ciok Giok Yin memandangnya, gadis itu langsung memandang ke tempat lain.

Diam-diam Ciok Giok Yin berkata dalam hati, 'Bentuk gadis itu sepertinya aku pernah melihatnya, tapi tidak ingat di mana.' Mendadak terdengar suara jeritan.

Seorang tua yang duduk di meja di tengahtengah ruangan itu mulutnya menyemburkan darah, lalu dia roboh binasa.

Seketika suasana di ruangan itu menjadi kacau balau.

"Lu San Hu Siu (Orang tua Srigala Gunung Lu San)!"

Seru seseorang. Menyusul terdengar suara seruan lagi, yang bernada gusar.

"Kalau punya kepandaian silakan berdiri."

Sementara wajah Pah Ong Cuang Cuangcu tampak merah padam saking gusarnya, kemudian berubah menjadi kehijauhijauan.

Dia bangkit berdiri, sepasang matanya menyorot tajam dan dingin menyapu para tamu.

Setelah itu dia berkata dengan sengit.

"Hari ini adalah hari perkawinan putraku! Kalian para tamu yang terhormat, jauh-jauh kalian ke mari justru masih memandang mukaku! Tapi... tidak seharusnya cari gara-gara di sini! Maka, kuharap orang yang turun tangan bersedia berdiri untuk berbicara denganku!"

Suasana menjadi hening, namun tiada seorangpun yang bangkit berdiri.

Sedangkan Ciok Giok Yin dan si Bongkok Arak juga merasa heran, sebetulnya siapa yang turun tangan?

Pah Ong Cuang Cuangcu kelihatan semakin gusar.

"Kalau tiada yang mau mengaku, seusai upacara perkawinan putraku, aku akan melakukan penyelidikan!"

Bentaknya. Di saat bersamaan salah seorang maju ke hadapan Pang Ong Cuang Cuangcu seraya berkata.

"Cuangcu, sudah waktunya upacara!"

Pang Ong Cuang Cuangcu mengerutkan kening, kemudian berseru.

"Upacara dimulai!"

Saat ini mayat Lu San Hu Siu sudah digotong ke luar.

Sedangkan Ciok Giok Yin ketika mendengar seruan majikan perkampungan Pah Ong Cuang, sekujur badannya menjadi gemetar.

Dia bangkit berdiri lalu memandang ke tengah ruangan.

Tampak seorang pemuda berpakaian pengantin berjalan ke tempat upacara.

Dia memang bongkok, mulutnya agak miring dan hanya memiliki sebelah kaki.

Maka tidak heran ketika berjalan dia harus memakai tongkat penyanggah di bawah ketiaknya.

Tangannya memegang sehelai kain merah, diikuti mempelai wanita juga memegang ujung kain merah itu.

Wajahnya ditutupi kerudung merah dan tampak dua pelayan mendampinginya.

Karena wajahnya tertutup kerudung merah, maka Ciok Giok Yin tidak melihat wajahnya.

Pandangan para tamu yang ada di ruangan itu semuanya tertuju pada mempelai lelaki.

Dalam hati para tamu semuanya berkata, 'Sekunturn bunga indah justru ditancapkan di atas tahi kerbau.' Memang tidak salah.

Sebab mempelai lelaki itu bertampang buruk, bongkok, mulutnya miring, tidak mengerti ilmu silat dan kalau berbicara suaranya sumbang.

Akan tetapi majikan perkampungan Pah Ong Cuang amat kaya dan berkuasa, maka dia berupaya menikahkan putra kesayangannya itu.

Saat ini kedua mempelai sudah berdiri berhadapan di tengah-tengah ruangan.

Terdengar seruan lantang si pembawa acara.

"Mempelai lelaki dan mempelai perempuan...."

Seruan itu terputus karena mendadak terdengar suara bentakan mengguntur.

"Tunggu!"

Tampak sosok bayangan berkelebat ke tempat upacara.

Siapa orang itu, tidak lain adalah Ciok Giok Yin.

Dia tidak sabar lagi ketika melihat tunangannya akan resmi menjadi isteri orang lain maka langsung membentak sambil melesat ke tempat upacara.

Setelah sampai di sana dia langsung menyambar mempelai wanita sekaligus membawanya pergi.

Seketika kacaulah suasana di tempat itu.

Sedangkan majikan perkampungan Pah Ong Cuang sama sekali tidak menduga ada orang berani merebut mempelai wanita di hadapannya.

Dapat dibayangkan betapa gusarnya majikan perkampungan itu!

"Bocah, siapa kau?"

Bentaknya sengit. Ciok Giok Yin berhenti, lalu berkata dalam hati, 'Aku harus datang dengan bersih, pergi secara jelas."

"Dengar baik-baik, mempelai wanita ini adalah tunanganku, namun kalian berani memaksanya menikah! Kalian sudah jelas?"

Usai menyahut, Ciok Giok Yin mengempit mempelai wanita lalu melesat pergi. Majikan perkampungan Pang Ong Cuang segera membentak.

"Cepat halangi dia!"

Tampak beberapa bayangan orang berkelebat lalu melayang turun menghadang di depan Ciok Giok Yin.

"Ciok Giok Yin, kau masih ingin kabur?"

Bentak salah seorang dari mereka.

Di saat bersamaan Ciok Giok Yin merasa ada dua rangkum angin pukulan menerjang ke arahnya.

Dia mengerutkan kening sambil menoleh, ternyata dua anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

Seketika kegusaran Ciok Giok Yin memuncak.

Dia mengempit Ie Ling Ling erat-erat, kemudian sebelah tangannya melancarkan pukulan menangkis.

Terdengar suara menderu-deru dan pukulan yang dilancarkannya juga mengandung hawa panas.

Kedua anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu kelihatannya tahu akan kelihayan pukulan itu, maka mereka segera berkelit ke arah samping.

Justru di saat bersamaan, Ie Ling Ling merontaronta, memukul dan menggigit lengan Ciok Giok Yin.

Apa boleh buat Ciok Giok Yin terpaksa menotok jalan darahnya agar diam.

Bersamaan itu sudah muncul beberapa orang menghadang di depan Ciok Giok Yin.

Majikan perkampungan Pah Ong Cuang juga sudah berdiri di situ dengan sepasang matanya menyorot dingin.

"Bocah jahanam, cepat lepaskan dia!"

Bentaknya.

"Tidak! Sebab dia adalah tunanganku!"

Tindakan Ciok Giok Yin membuat para tamu merasa tidak senang.

"Siapa kau?"

Tanya salah seorang tamu.

"Ciok Giok Yin!"

Begitu mendengar nama tersebut, majikan perkampungan Pah Ong Cuang tertawa gelak.

"Ternyata kau! Belum lama ini kau membuat dunia persilatan menjadi tidak tenang! Serahkan nyawamu!"

Bentaknya sambil melancarkan pukulan. Ciok Giok Yin sudah siap menangkis pukulan itu, akan tetapi mendadak telinganya menangkap suara yang amat lirih.

"Kau cepat pergi, buat apa bertarung dengan mereka?"

Di saat bersamaan tampak sosok bayangan putih meluncur ke tempat itu bagaikan kilat, kemudian menerjang ke sana ke man membuat orang-orang menyingkir ke samping.

Ciok Giok Yin tidak berlaku ayal lagi.

Dia memanfaatkan kesempatan itu menerobos ke luar.

Terdengar suara-suara seruan di belakangnya.

"Kejar!"

"Jangan sampai bocah itu lobos!"

Makin lama suara seruan itu makin jauh, akhirnya tak terdengar sama sekali.

Namun Ciok Giok Yin masih terus melesat.

Tak lama tampak sebuah rimba di hadapannya.

Dia langsung melesat ke dalam rimba itu, kemudian menaruh Ie Ling Ling ke bawah.

Sedangkan Ie Ling Ling menatapnya dengan mata tak berkedip, ternyata kerudung merah yang menutupi mukanya telah terlepas, sehingga tampak wajahnya yang amat cantik.

Akan tetapi di balik wajah cantik itu tersirat berbagai macam perasaan.

Perasaan benci, gusar atau gembira?

Tiada seorang pun tahu.

Sedangkan hati Ciok Giok Yin juga berdebar-debar.

Dia berkata dalam hati, 'Benarkah dia adalah Ie Ling Ling?

Kalau benar, lalu harus bagaimana menjelaskan padanya?' Ciok Giok Yin merasa serba salah!

Tiba-tiba dia teringat sesuatu, maka langsung menjulurkan tangannya membebaskan jalan darah Ie Ling Ling, kemudian berkata terputus-putus.

"Ling... Ling...."

Dia tidak tahu harus bagaimana memanggil gadis itu.

Maka dia tidak melanjntkan ucapannya, melainkan berdiri tertegun di tempat.

Kini Ie Ling Ling sudah bisa bergerak.

Justru mendadak dia mengayunkan tangannya ketika bangkit berdiri.

Seketika terdengar suara 'Plak'.

Pipi Ciok Giok Yin kena tampar sehingga merah membengkak.

Di saat bersamaan, gadis itu pun membentak.

"Mau kau apakan diriku?"

Sepasang matanya yang indah jernih tampak berapi api. Sedangkan Ciok Giok Yin yang kena tampar tanpa sadar menyurut mundur dua langkah. Ie Ling Ling maju lagi selangkah seraya membentak.

"Cepat katakan!"

Ciok Giok Yin terpaksa memberitahukan.

"Setahun yang lalu ayahmu menjodohkanmu pada...."

"Omong kosong!"

Sergah Ie Ling Ling.

"Aku berkata sungguh-sungguh,"

Kata Ciok Giok Yin perlahanlahan. Ie Ling Ling tertawa dingin.

"Selama belasan tahun ayahku terus berbaring di tempat tidur, tidak pernah meninggalkan rumah! Bagaimana mungkin ayahku menjodohkanku padamu? Kau adalah iblis seks! Aku akan mengadu nyawa denganmu!"

Mendadak dia memukul Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin bertambah tertegun mendengar itu. Dia segera menangkap Ie Ling Ling.

"Sabar Nona, aku ingin bicara sebentar."

"Katakan!"

"Apakah ayahmu di dunia persilatan dijuluki Cak Hun Ciu?"

Sepasang mata Ie Ling Ling membara.

"Kentut!"

Ciok Giok Yin terbelalak, sebab sikap Ie Ling Ling amat kasar, dan tutur bahasanya juga tidak sopan. Itu membuatnya menjadi bimbang.

"Apakah itu tidak benar?"

"Tentu."

"Harap Nona sudi menjelaskan!"

"Julukan ayahku di dunia persilatan adalah Tan Ciang Keng Thian (Sebeiah Tangan Mengejutkan Langit) Yu Kang."

"Haah? Kalau begitu, margamu bukan Ie?"

Seru Ciok Giok Yin tak tertahan.

"Siapa bilang aku bermarga Ie?"

Sahut gadis itu ketus.

"Kalau begitu...."

"Aku bermarga Yu."

Itu membuat Ciok Giok Yin terbelalak dan mulutnya ternganga lebar, sebab nada Ie dan Yu memang hampir sama.

Kini Ciok Giok Yin telah melakukan kesalahan.

Lalu harus bagaimana mernperbaikinya?

Ciok Giok Yin berdiri termangumangu, tidak tahu harus berkata apa.

Justru di saat bersamaan, tampak sesosok bayangan berkelebat ke tempat itu bukan main cepatnya.

Begitu melihat kemunculan orang itu, Nona Yu langsung mendekap di dadanya, dan isak tangisnya pun meledak seketika.

Ciok Giok Yin segera menoleh, ternyata yang datang itu adalah sastrawan berusia empat puluhan, yang pernah bertemu di perkampungan Pah Ong Cuang.

Bahkan sastrawan itu juga mempertaruhkan seribu tael perak, maka tidak heran Ciok Giok Yin menjadi melongo.

Sastrawan itu menepuk bahu Nona Yu, seraya berkata lembut.

"Nak, jangan menangis! Untung Ciok siauhiap telah menyelamatkanmu!"

"Paman, selanjutnya Anak Ling tidak punya muka bertemu orang lagi."

"Itu tiada masalah."

Sastrawan itu tersenyum, kemudian menoleh memandang Ciok Giok Yin seraya berkata.

"Terimakasih atas pertolongan siauhiap. Kegagahan turun tangan menyelamatkan keponakan ini, tidak akan kami lupakan selamanya."

Saat ini Ciok Giok Yin betul-betul naik darah.

"Ternyata semua ini adalah rencana Anda!"

Bentaknya sengit.

"Maksudmu?"

"Aku mengira Nona Yu ini bermarga Ie, karena Ie Ling Ling adalah putri penolongku, bahkan juga menjodohkan putrinya padaku! Tidak tahunya... jadi kacau balau sekarang!"

Sastrawan itu menghela nafas panjang.

"Siauhiap, walau aku mendengar jelas tentang urusan ini, namun tidak memperhatikan pada suaramu. Akan tetapi aku tetap menganggap tindakanmu itu justru benar."

"Aku tidak mengerti, harap dijelaskan!"

"Keponakanku ini bernama Yu Ling Ling, putri kakak kandungku. Belasan tahun yang lalu, karena keliru melatih ilmu kungfu, dia menjadi cacat, terus berbaring di tempat tidur. Tak disangka beberapa bulan yang lalu, majikan perkampungan Pah Ong Cuang mengutus orang pergi melamar keponakanku ini. Siapa pun tahu bagaimana putra majikan perkampungan Pah Ong Cuang. Tentunya kakakku menolak lamaran itu. Bukan main gusarnya majikan perkampungan Pang Ong Cuang! Beliau segera mengutus beberapa orang ke rumah kakakku. Mereka mengatakan, kalau kakakku tetap tidak setuju, maka akan memusnahkan rumah kakakku, termasuk semua hewan piaraan. Karena ancaman itu, keponakanku terpaksa mengorbankan dirinya, setuju menikah dengan putra majikan perkampungan Pah Ong Cuang...."

Sastrawan itu berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.

"Kini urusan sudah menjadi begini, harap siauhiap sudi berkunjung ke rumah Yu untuk berunding harus bagaimana selanjutnya."

Setelah mendengar penuturan itu barulah Ciok Giok Yin paham, namun dia menolak.

"Maaf! Aku masih ada urusan lain, Kini Yu Ling Ling sudah bersamamu. Selanjutnya harus bagaimana, terserah kalian saja. Selamat tinggal!"

Usai berkata, Ciok Giok Yin langsung melesat pergi.

Di saat melesat pergi hatinya juga merasa kesal, sebab lantaran kurang seksama akhirnya bertindak begitu ceroboh.

Padahal dia ingin mencari informasi tentang Seruling Perak di perkampungan tersebut, namun sebaliknya malah bertindak ceroboh, sehingga menambah seorang musuh tangguh.

Ciok Giok Yin terus melesat, mendadak jauh di depannya tampak api dan asap membubung tinggi dan sayup-sayup terdengar pula suara pertarungan.

Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala.

'Lagi-lagi pertumpahan darah, karena dendam kesumat,' gumamnya.

Semula Ciok Giok Yin tidak mau ke sana, namun rasa ingin tahunya membuatnya melesat ke tempat tersebut.

Tak seberapa lama Ciok Giok Yin sudah mendekat tempat itu.

Rumah-rumah sedang dilalap api, terlihat pula begitu banyak orang bertarung, juga mayat-mayat bergelimpangan di tanah.

Ciok Giok Yin memperhatikan orang-orang yang sedang bertarung itu.

Mendadak sepasang matanya membara.

Dia membentak lantang, kemudian melesat ke arena pertarungan.

"Kalian memang harus mampus!"

Ternyata dia melihat para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee sedang membantai para pesilat.

Begitu sampai di arena pertarungan, dia pun melancarkan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Seketika terdengar suara jeritan menyayat hati.

Dan tampak darah muncrat ke mana-mana.

Ciok Giok Yin terus menyerang para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

Dia mengeluarkan jurus pertama dan jurus kedua ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang, namun tidak dapat mengeluarkan jurus ketiga karena merasa ada halangan di saat mengerahkan lwee kangnya.

Sekonyong-konyong terdengar suara terompet di tempat jauh.

Beberapa anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang tersisa segera melarikan diri.

Di saat Ciok Giok Yin baru mau mengejar mereka, mendadak terdengar seruan seseorang.

"Harap siauhiap jangan kejar mereka!"

Ciok Giok Yin menoleh, melihat seorang pesilat muda.

"Bagaimana kalian bergebrak dengan mereka?"

Tanyanya. Pesilat muda itu menghela nafas lalu menyahut.

"Di sini adalah gunung Kee Jiau San (Gunung Cakar Ayam), juga adalah markas partai Thay Kek Bun. Beberapa hari yang lalu muncul utusan perkumpulan Sang Yen Hwee menyampaikan sepucuk surat, yang isinya menyuruh ketua kami bernama Lokko Siang tunduk pada perkumpulan Sang Yen Hwee. Kalau tidak, darah pasti banjir di partai kami...."

Ucapan pesilat muda itu belum sesesai, tiba-tiba terdengar suara seruan pilu.

"Ayah! Ayah...!"

Air muka pesilat muda itu langsung berubah dan dia segera melesat ke arah suara seruan itu.

Ciok Giok Yin tidak mau ketinggalan.

Dia pun ikut melesat ke sana.

Di bawah cahaya api yang masih berkobar-kobar, tampak seorang gadis berjongkok di samping sesosok mayat.

Saat ini orang-orang yang bertarung tadi sudah berkumpul di situ.

"Bagaimana keadaan Bun Cu (Ketua)?"

Seru mereka tak tertahan.

Rupanya sosok mayat itu adalah ketua partai Thay Kek Bun.

Sementara pesilat muda yang berbicara dengan Ciok Giok Yin tadi, begitu melihat gadis itu pingsan, dia segera menjulurkan tangannya.

Akan tetapi Ciok Giok Yin cepat-cepat berseru.

"Tunggu!"

Pesilat muda itu manarik kembali tangan lalu memandang Ciok Giok Yin seraya bertanya.

"Ada apa, siauhiap?"

Ciok Giok Yin menyahut.

"Aku mengerti ilmu pengobatan. Dia tidak apa-apa, hanya terlampau sedih, sehingga darahnya bergolak di rongga dadanya. Apabila kau menyentuhnya akan fatal akibatnya."

Ciok Giok Yin bergerak cepat menotok beberapa jalan darah gadis itu kemudian bertanya.

"Siapa di antara kalian yang memiliki lwee kang tertinggi?"

Pesilat muda itu menengok ke sana ke mari, setelah itu menggeleng-gelengkan kepala seraya menyahut.

"Selain Bun Cu kami, tiada seorang pun memiliki lwee kang tertinggi. Kini ketua kami sudah mati, kami... harus bagaimana?"

Ciok Giok Yin menatap gadis itu sejenak, setelah itu bertanya.

"Gadis ini adalah putri ketua kalian?"

Pesilat muda itu mengangguk.

"Ya."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening sambil berpikir.

Berselang sesaat barulah dia duduk bersilat.

Telapak tangannya ditempelkan pada punggung gadis tersebut lalu mengerahkan Sam Yang Hui Kang ke dalam tubuhnya.

Tak seberapa lama gadis itu mengeluarkan suara.

"Uaaaakh...!"

Ternyata mulutnya memuntahkan segumpal darah kental.

Namun kemudian dia mulai siuman perlahan-lahan.

Setelah itu dia mulai menangis lagi.

Saat ini yang lain sudah pergi memadamkan api.

Ada juga yang mengobati luka masingmasing, dan mayat-mayat yang bergelimpangan itupun dibereskan.

Ciok Giok Yin bangkit berdiri, sekaligus menarik tangan gadis itu seraya berkata.

"Nona, jagalah kesehatanmu! Orang mati tidak akan bisa hidup lagi...."

Mendadak Ciok Giok Yin terbelalak dan ucapannya terhenti.

Ternyata dia melihat jelas wajah gadis itu, yang tidak lain adalah gadis yang bersama Thian Thay Sian Ceng, yang dipanggil 'Anak Ceh' "Nona adalah murid Thian Thay Sian Ceng?"

Tanyanya. Gadis itu berhenti menangis lalu mendongakkan kepala, Seketika matanya terbeliak lebar meskipun masih bersimbah air.

"Kau...."

Dia langsung mendekap di dada Ciok Giok Yin dan isak tangisnya pun meledak.

Pesilat muda itu tidak menyangka bahwa putri ketuanya kenal pada Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin menepuk bahu gadis itu seraya berkata lembut.

"Nona Lok, ayahmu sudah meninggal, kini kau memikul beban sebagai ketua partai Thay Kek Bun. Kalau kau terus menerus menangis, ayahmu pasti tidak tenang di alam baka."

Walau Ciok Giok Yin berkata demikian, gadis itu tetap menangis sedih.

Itu memang wajar.

Pesilat muda itu pun ikut menghibur gadis itu, tapi isak tangis gadis tersebut tetap tidak berhenti.

Mendadak terdengar suara seruan mengguntur.

"Kami mendukung nona jadi ketua!"

"Kami bersumpah menuntut balas dendam ketua lama!"

Ternyata para murid partai Thay Kek Bun yang berseru.

Mereka kelihatan sedih tapi amat bersemangat.

Lok Ceh mendongakkan kepala memandang mereka, kemudian menatap Ciok Giok Yin.

Setelah itu dia memandang lagi para murid Thay Kek Bun itu sambil berkata perlahan-lahan.

"Aku tidak pantas jadi ketua."

"Nona harus menerima beban itu, kau tidak boleh melihat partai Thay Kek Bun jadi bubar! Setelah dendam ayahmu terbalas kau masih bisa memilih ketua baru kan?"

"Kalau begitu kau bersedia tinggal di sini membantu kami?"

Sahut Lok Ceng terisak-isak.

"Aku masih ada urusan lain, kalau ada kesempatan aku pasti ke mari menengokmu."

Ciok Giok Yin menjura.

"Harap Nona jaga diri baik-baik, selamat tinggal!"

Tambahnya lalu melesat pergi.

"Tunggu!"

Seru Lok Ceh sambil melesat menyusul Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin segera berhenti lalu membalikkan badannya seraya bertanya.

"Nona ada pesan apa?"

Loh Ceh manatapnya sejenak, kemudian menyahut.

"Antara suhuku dan kau kelihatannya seperti terdapat dendam yang amat dalam. Apabila bertemu suhuku, harap kau berhati-hati!"

"Bolehkah Nona menjelaskannya?"

Lok Ceh menggeleng kepala.

"Mengenai itu aku memang tidak begitu jelas, tapi suhuku telah memberi perintah pada kami semua, harus bisa menangkap hidup-hidup atau membunuhmu."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening lalu menatap gadis itu seraya bertanya! "Betulkah begitu gawat?"

"Ya. Karena itu kau harus lebih berhati-hati."

Ciok Giok Yin menjura.

"Terimakasih atas petunjuk Nona, jaga dirimu baik-baik, sampai jumpa!"

Katanya lalu melesat pergi.

Lok Ceh terus memandang punggungnya hingga lenyap dari pandangannya.

Beberapa saat dia berdiri termangu-mangu.

Akhirnya dia mengambil keputusan, harus meneruskan kedudukan almarhum ayahnya sebagai ketua partai Thay Kek Bun, lalu berupaya menuntut balas kematian ayahnya.

Sementara itu Ciok Giok Yin terus melesat dengan perasaan tercekam.

Dia tidak habis pikir, ada dendam apa antara dirinya dengan Thian Thay Sian Ceng?

Mengapa Thian Thay Sian Ceng sedemikian membencinya?

Apakah Thian Sian Ceng punya dendam dengan suhunya?

Ataukah punya dendam dengan kedua orang tuanya?

Akan tetapi mengenai kedua orang tuanya, kecuali si Bongkok Arak dan Te Hang Kay, kaum rimba persilatan lain tidak ada yang tahu, bahkan dirinya sendiri pun tidak tahu jelas.

Lalu mengapa Thian Thay Sian Ceng sedemikian membencinya?

Ciok Giok Yin terus berpikir, tapi tidak menemukan jawabannya.

Di saat dia sedang berpikir, mendadak dua sosok bayangan meluncur bagaikan kilat ke arahnya.

Itu membuatnya terkejut sekali.

Jilid 14 Kedua sosok bayangan itu turun di hadapannya. Ternyata si Bongkok Arak dan Cou Ing Ing.

"Lo cianpwee!"

Seru Ciok Giok Yin.

Dia menatap Cou Ing Ing sejenak, tapi ingin memanggil gadis itu.

Oleh karena itu dia pilih diam.

Sedangkan si Bongkok Arak malah meneguk arak sampai beberapa teguk, kemudian baru membuka mulut.

"Kami telah salah melakukan satu hal."

Ciok Giok Yin tertegun.

"Hal apa?"

"Tentang kejadian di perkampungan Pah Ong Cuang."

Mendengar itu wajah Ciok Giok Yin langsung memerah, kemudian dia menghela nafas panjang dan berkata.

"Sebab itu kini bertambah satu musuh tangguh."

Si Bongkok Arak melotot seraya bertanya.

"Kau menyesal?"

"Menyesal pun telah terjadi."

"Hmm! Kau harus banyak istri agar bisa bersenang-senang dan hidup bahagia. Itu merupakan cara terbaik, bukan?"

Kata Cou Ing Ing seperti bergumam ditujukan kepada Ciok Giok Yin.

Dia berkata sungguh-sungguh atau menyindir, Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu.

Ciok Giok Yin menatapnya sejenak, kemudian tersenyum getir.

Namun dia tidak berani mengucapkan apa pun sebab dia tahu bahwa Cou Ing Ing masih dendam padanya lantaran tindakannya sehingga ayahnya mati bunuh diri.

Berselang sesaat si Bongkok Arak berkata.

"Perbuatan itu tidak perlu disesalkan, karena merupakan perbuatan seorang pendekar. Coba pikir, Nona Yu menikah dengan lelaki semacam itu bagaimana mungkin akan rela? Jangan-jangan dia akan membunuh diri. Kau merusak pernikahan itu, justru telah menyelamatkan Nona Yu, juga menyelamatkan putra majikan perkampungan Pah Ong Cuang. Sebab kalau tidak, kemungkinan besar Nona Yu akan membunuhnya."

Ciok Giok Yin berpikir sejenak kemudian manggut-manggut, sebab apa yang dikatakan si Bongkok Arak itu memang masuk di akalnya.

Mendadak Cou Ing Ing memandang ke langit lalu menambahkan beberapa patah kata.

"Kelak Nona Yu itu pasti membalas budi pertolongan tersebut, tentunya merupakan pasangan yang serasi."

Usai berkata, mulut gadis itu tampak cemberut. Ciok Giok Yin tersenyum getir.

"Adik Ing, aku bukan...."

"Siapa Adik Ingmu?"

Bentak Cou Ing Ing.

Sesungguhnya Cou Ing Ing ingin sekali akrab kembali dengan Ciok Giok Yin.

Namun ayahnya baru saja mati, bahkan secara tidak langsung mati di tangan Ciok Giok Yin.

Ditambah kali ini Ciok Giok Yin tidak bicara baik-baik dan lembut padanya, malah terus diam saja.

Karena itu kemarahannya menjadi bangkit kembali.

Setelah itu Cou Ing Ing membentak, hati Ciok Giok Yin menjadi panas, namun dia tetap sabar.

Menyaksikan itu, si Bongkok Arak segera berkata.

"Nona Cou, harap bersabar!"

Kemudian dia menoleh memandang Ciok Giok Yin seraya berkata.

"Kau harus memperoleh Seruling Perak secepatnya, agar dapat menguasai ilmu silat tertinggi di kolong langit."

"Seruling Perak?"

"Tidak salah."

"Lo cianpwee, apabila aku memperoleh Seruling Perak itu, justru hanya diserahkan kepada keturunan Hai Thian Tayhiap. Bagaimana mungkin aku bisa menguasai ilmu silat tertinggi di kolong langit?"

"Setelah kau menguasai ilmu silat tertinggi di kolong langit, barulah Seruling Perak itu kau serahkan kepadanya pun tidak akan terlambat."

"Bukankah itu berarti secara tidak langsung aku menyerakahi milik orang lain?"

Si Bongkok Arak tertawa gelak.

"Tidak jadi masalah. Pokoknya aku yang bertanggung jawab."

Sesungguhnya Ciok Giok Yin juga menginginkan demikian.

Apabila berhasil memperoleh Seruling Perak dan kitab Cu Cian, maka dia akan melatih ilmu silat tertinggi di kolong langit agar bisa menuntut balas dendam suhunya, kakak angkatnya mertuanya dan membasmi perkumpulan Sang Yen Hwee.

Maka dia bertanya kepada si Bongkok Arak.

"Apakah lo cianpwee telah memperoleh kabar tentang Seruling Perak itu?"

Si Bongkok Arak mengangguk.

"Tentu."

Hati Ciok Giok Yin tergerak.

"Di mana?"

"Sekarang kita harus ke kaki Gunung Cong Lam San."

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Ke kaki Gunung Con Lam San?"

"Ng!"

"Seruling Perak berada di sana?"

"Kita ke sana menunggu seseorang!"

"Menunggu seseorang?"

Mendadak si Bongkok Arak menyela.

"Orang itu menerima pesan dari Can Hai It Kiam. Dia akan menyerahkan sepucuk surat padamu, berhubungan dengan Seruling Perak dan asal usulmu. Tapi orang itu tertangkap oleh perkumpulan Sang Yen Hwee, lalu dipaksa harus memberitahukan jejak Seruling Perak."

"Hah? Surat?"

Seru Ciok Giok Yin tertahan.

"Yang kita harapkan adalah surat itu,"

Kata si Bongkok Arak. Sekonyong-konyong sepasang mata Cou Ing Ing menyorot dingin, kemudian dia membentak.

"Cepat buka bajumu!"

Perubahan yang mendadak itu sungguh membuat Ciok Giok Yin tertegun, namun di samping itu juga membangkitkan sifat angkuhnya.

"Apa maksudmu?"

Tanyanya.

"Sudah pasti ada sebab tertentu,"

Sahut Cou Ing Ing ketus.

"Aku tidak."

"Kau berani bilang tidak?"

"Aku sudah bilang tidak, lalu kenapa?"

"Mencabut nyawamu!"

Saking gusarnya, Ciok Giok Yin malah tertawa gelak.

"Apakah begitu gampang?"

Cou Ing Ing mengerutkan kening.

"Sungguhkah kau tidak bisa?"

"Tidak bisa."

Cou Ing Ing mulai mengangkat sebelah tangannya.

Wajahnya penuh diliputi hawa membunuh.

Mendadak dia bergerak secepat kilat, ternyata telah melancar sebuah pukulan.

Biar bagaimana pun Ciok Giok Yin tetap merasa bersalah terhadap Cou Ing Ing, maka dia tidak mau menangkis maupun berkelit.

Kelihatannya Ciok Giok Yin akan terhantam oleh pukulan itu.

Namun di saat bersamaan si Bongkok Arak cepat-cepat mendorong dan sebelah tangannya ke depan seraya berkata.

"Nona Cou, dia tidak akan palsu."

Cou Ing Ing segera menarik kembali pukulannya, sekaligus mundur dua langkah, namun sepasang matanya masih tetap menyorot dingin.

Justru itu membuat Ciok Giok Yin menjadi terperangah.

Si Bongkok Arak berkata.

"Saudara Kecil, tentunya kau juga tahu, kini di dunia persilatan terdapat seseorang memalsukan dirimu dan selalu melakukan kejahatan. Karena itu dia menghendakimu membuka baju, ingin tahu apakah di dadamu terdapat sebuah tahi lalat merah apa tidak."

Ciok Giok Yin betul-betul dibuat kewalahan.

"Lo cianpwee juga tidak percaya?"

Tanyanya kepada si Bongkok Arak.

"Tidak bisa tidak kemudian."

Apa boleh buat Ciok Giok Yin terpaksa membalikkan badannya menghadap si Bongkok Arak, kemudian membuka bajunya, agar si Bongkok Arak dapat melihat bagian dadanya. Si Bongkok Arak manggut-manggut.

"Kita cepat pergi!"

Katanya pada Cou Ing Ing lalu melesat pergi.

Cou Ing Ing melototi Ciok Giok Yin, kemudian melesat pergi mengikuti si Bongkok Arak.

Ciok Giok Yin menarik nafas dalam-dalam, setelah itu dia pun melesat pergi mengikuti mereka.

Ilmu ginkang yang paling rendah di antara mereka bertiga, tentunya adalah Ciok Giok Yin, maka dia tertinggal belasan depa.

Sedangkan si Bongkok Arak kelihatannya belum mengerahkan ginkangnya sepenuh tenaga, namun kecepatannya sudah seperti sambaran kilat.

Begitu pula ilmu ginkang yang dimiliki Cou Ing Ing, maka membuat Ciok Giok Yin amat terkejut dalam hati.

Ciok Giok Yin tidak habis pikir, bagaimana dalam beberapa bulan kepandaian Cou Ing Ing menjadi begitu tinggi?

Apakah dia menemukan suatu kemujizatan sehingga kepandaiannya bertambah begitu cepat?

Dia merasa amat malu dalam hati, sebab nafasnya sudah mulai tersengal-sengal.

Tapi dia berkertak gigi, terus melesat dengan sepenuh tenaga.

Ketika hari mulai sore mereka bertiga sudah tiba di kaki Gunung Cong Lam San.

Si Bongkok Arak yang berdiri di atas sebuah batu besar mendadak berseru.

"Celaka!"

Badannya mencelat ke belakang sambil melancarkan sebuah pukulan ke belakang. Seketika terdengar suara jeritan dan tampak seseorang terpental kemudian roboh binasa. Si Bongkok Arak menoleh ke belakang.

"Cepat pergi!"

Katanya.

Kemudian dia melesat ke dalam lembah, si Bongkok Arak terus melancarkan pukulan ke kiri dan ke kanan, bahkan kadang-kadang ke depan.

Terdengar suara jeritan di sana sini.

Ciok Giok Yin yang melesat di paling belakang melihat mayatmayat bergelimpangan.

Ternyata para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang mati terkena pukulan yang dilancarkan si Bongkok Arak.

Mendadak si Bongkok Arak melesat ke atas sebuah batu besar dan tinggi.

Dia melihat belasan anggota perkumpulan Sang Yen Hwee terpencar menjaga di sana.

Di tengah-tengah pelataran batu itu berdiri seseorang.

Dia adalah Cong Hoat (Kepala Pelindung) Perkumpulan Sang Yen Hwee.

Julukannya adalah Siau Bin Sanjin (Orang Gunung Wajah Tawa), bernama Li Mong Pai.

Di sudut pelataran batu itu tergeletak seorang berpakaian abu-abu.

Dia adalah Tui Hong Khek (Si Pengejar Angin) Cou Kiong dari partai Cong Lam Pai.

Ternyata tangan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai menekan jalan darah Pai Hwee Hiat Cou Kiong.

Begitu melihat kemunculan si Bongkok Arak, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai langsung tertawa dingin dan berkata.

"Sungguh cepat Anda memperoleh informasi ini!"

Si Bongkok Arak tertawa gelak lalu menyahut.

"Sepasang kakimu juga amat cepat."

Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa dingin lagi.

"Apakah Anda bisa memberitahukan nama asli?"

Si Bongkok Arak menyahut.

"Li Mong Pai, itu tidak perlu. Apabila kalian ingin meninggalkan tempat ini dengan selamat, lebih baik melepaskan orang itu!"

Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa kering dua kali lalu berkata.

"Anda jangan bermimpi, sebab kami masih belum memperoleh benda yang kami inginkan!"

Justru di saat bersamaan Cou Ing Ing melesat ke atas pelataran batu itu. Ketika menyaksikan keadaan pamannya yang mengenaskan, dia langsung berseru memanggilnya dengan pilu.

"Paman! Paman...!"

Ketika dia baru mau menghampiri Cou Kiong, mendadak Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa licik dan berkata.

"Kalau kau berani maju melangkah lagi, lohu pasti segera mencabut nyawanya!"

Usai berkata, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai mengerahkan sedikit lwee kangnya.

Seketika juga Cou Kiong merintih dan mulutnya menyemburkan darah segar.

Setelah itu dia memandang Cou Ing Ing dengan mata suram.

"Anak Ing...!"

Panggilnya lemah. Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai mengerahkan sedikit tenaga lagi, membuat Cou Kiong berkertak gigi menahan sakit.

"Lebih baik kau simpan sedikit semangatmu!"

Kata Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai sambil tertawa berkekeh-kekeh. Cou Kiong mengeluarkan suara rintihan.

"Emmmh!"

Bukan main sakitnya hati Cou Ing Ing menyaksikan itu.

Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali mengucurkan air mata dan berdiri termangu-mangu di tempat.

Begitu pula si Bongkok Arak, tak terpikirkan suatu cara untuk menolong Cou Kiong.

Tapi biar bagaimana pun dia harus menyelamatkannya.

Sebab kalau tidak, Seruling Perak pasti akan tiada yang tahu.

Kalau tidak berhasil memperoleh Seruling Perak itu, selamanya Ciok Giok Yin tiada punya kesempatan untuk membalas dendam.

Mendadak terdengar suara siulan panjang dan tampak sosok bayangan melesat ke pelataran batu.

Siapa orang itu?

Tidak lain adalah Ciok Giok Yin.

Begitu dia melihat para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee menjaga di situ, timbullah kegusarannya dan langsung menyerang mereka.

Yang digunakan adalah ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang, jurus pertama dan jurus kedua.

Terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

Ternyata telah terjadi pertarungan mati-matian.

Sementara Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai, ketika melihat kemunculan Ciok Giok Yin, sepasang matanya langsung memancarkan sinar tajam dan dingin, kemudian memandang para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

"Kalian harus menghalangi bocah keparat itu!"

Serunya dengan lantang.

Seruan itu merupakan perintah, maka para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu segera mengepung Ciok Giok Yin.

Di saat Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai berseru, tanpa sadar telapak tangannya yang menekan Cou Kiong mengendur.

Itu tidak terlepas dari mata si Bongkok Arak.

Karena itu kesempatan tersebut tidak disia-siakan.

Dengan gerakan yang amat cepat dia melesat ke arah Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai.

Perlu diketahui, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai juga berkepandaian amat tinggi dan bereaksi cepat.

Namun pukulan yang dilancarkan si Bongkok Arak sudah mendekati dadanya.

Maka dia harus menangkis kalau tidak, pasti akan terluka parah, bahkan mungkin juga nyawanya akan melayang.

Akan tetapi dia tidak gugup sama sekali, sebaliknya malah tertawa panjang sambil sebelah tangannya mendorong Cou Kiong.

Seketika terdengar suara jeritan dan badannya terpental beberapa depa lalu roboh.

Di saat bersamaan sebelah tangannya ingin menangkis pukulan yang dilancarkan si Bongkok Arak, tapi justru terlambat sedikit.

Plak!

Bahunya terkena pukulan.

Sehingga tulangnya remuk.

Dapat dibayangkan betapa sakitnya.

Phuuuuh!

Seketika itu juga mulutnya menyemburkan darah segar.

Badannya terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang dan kelihatan tak dapat berdiri tegak.

Betapa terkejutnya Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai, sebab dia tidak tahu siapa orang tua bongkok itu.

Dia tahu jelas bahwa orang tua bongkok itu telah membuatnya terluka dalam sehingga sulit baginya memberikan perlawanan.

Dia juga tahu bahwa nyawa Cou Kiong sudah sulit untuk diselamatkan.

Karena itu dia berkata dengan suara serak.

"Baik, kita sudah serah terima!"

Dia segera mundur dari tempat itu.

"Mari kita pergi!"

Para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee cepat-cepat meninggalkan pelataran batu itu.

"Li Mong Pai, aku selalu menunggu pembalasanmu!"

Kata si Bongkok Arak sambil tertawa terbahak-bahak lalu melesat ke arah Cou Kiong. Sedangkan Cou Ing Ing, ketika melihat Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai pergi, dia langsung mendekati Cou Kiong.

"Paman! Paman!"

Panggilnya sambil menangis.

Akan tetapi Cou Kiong sudah sekarat.

Tangan dan kakinya sedingin es.

Untung Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai cuma mendorongnya.

Kalau memukulnya, nyawanya pasti sudah melayang saat itu.

Cou Ing Ing terus menangis hingga suaranya menjadi serak.

Gadis itu teringat masa kecilnya.

Setiap kali Cou Kiong pulang ke rumah, pasti mengajarnya ilmu silat.

Tak disangka....

Ciok Giok Yin juga kenal Cou Kiong.

Maka ketika melihat para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee melarikan diri, dia sama sekali tidak mengejar, melainkan mendekati Cou Kiong.

"Paman Cou! Paman Cou!"

Panggilnya dengan air mata berlinang. Di saat inilah si Bongkok Arak melayang turun dan langsung menegur mereka berdua.

"Apa gunanya kalian berdua menangis dan memanggilnya? Biar kulihat sebentar!"

Dia memutar guci araknya yang tergantung di punggungnya di depan lalau meneguk beberapa kali. Setelah itu barulah dia menjongkokkan badannya.

"Lo cianpwee, tolong selamatkan pamanku!"

Kata Cou Ing Ing terisak-isak. Si Bongkok Arak mengangguk.

"Aku akan berusaha sekuat tenagaku."

Orang tua bongkok itu segera membangunkan Cou Kiong untuk duduk, kemudian dia sendiri duduk di belakangnya dan sepasang telapak tangannya ditempelkan pada punggungnya.

Ternyata si Bongkok Arak menyalurkan lwee kangnya ke dalam tubuh Cou Kiong.

Berselang beberapa saat ubun-ubun si Bongkok Arak mulai mengeluarkan uap putih dan dari keningnya merembes keluar keringat sebesar kacang hijau.

Itu membuktikan dia sedang menyalurkan lwee kang sepenuhnya.

Ciok Giok Yin dan Cou Ing Ing menyaksikannya dengan hati cemas.

Cou Ing Ing mencemaskan nyawa Cou Kiong.

Gadis itu berharap pamannya itu bisa selamat.

Sedangkan Ciok Giok Yin mencemaskan asal usul dirinya.

Apabila Cou Kiong mati, sudah barang tentu dia tidak akan tahu asal usul dirinya juga tidak akan tahu tentang Seruling Perak, bahkan tidak bisa belajar ilmu silat tertinggi di kolong lagit.

Lalu bagaimana dapat menuntut balas semua dendam itu?

Setelah Can Hai It Kiam mati, dia kira selamanya tidak akan tahu asal usulnya.

Siapa sangka justru muncul si Bongkok Arak memberitahukan tentang Cou Kiong.

Coba bayangkan bagaimana dia tidak cemas dan panik menyaksikan keadaan Cou Kiong yang sekarat itu?

Lewat beberapa saat si Bongkok Arak melepaskan sepasang telapak tangannya lalu menghela nafas panjang sambil berkata.

"Aku sudah berusaha sekuat tenagaku."

Dia menyeka keringat di keningnya, lalu memandang Cou Ing Ing.

"Sebentar lagi dia akan siuman. Manfaatkan kesempatan itu untuk menanyakan tentang Seruling Perak, jangan menyianyiakan kesempatan itu!"

Berselang sesaat Cou Kiong mengeluarkan suara lemah.

"Emmmmh...."

Cou Ing Ing cepat-cepat memanggilnya.

"Paman! Anak Ing di sini."

Ciok Giok Yin juga ikut memanggilnya.

"Paman Kiong! Paman Kiong pasti masih ingat padaku."

Kelihatan Cou Kiong mendengar suara mereka.

Sepasang matanya terbuka perlahan-lahan, namun amat suram.

Dia memandang Cou Ing Ing dan bibirnya bergerak.

Kemudian dia pun memandang Ciok Giok Yin.

Keningnya sedikit berkerut, sepertinya dia tidak mengenali Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin segera berkata.

"Belasan tahun yang lalu aku ikut Tioang Ciu Sin Ie pernah tinggal di rumah keluarga Cou beberapa waktu. Paman Cou coba ingat!"

Cou Ing Ing cepat-cepat menyambung.

"Paman, dia adalah Anak Yin."

Bibir Cou Kiong bergerak lagi, namun tidak mengeluarkan suara. Cou Ing Ing tampak gugup.

"Paman tahu asal-usul Anak Yin dan tentang Seruling Perak itu?"

Bibir Cou Kiong terus bergerak. Kelihatannya dia amat menderita, tapi akhirnya berhasil mengeluarkan suara yang amat lirih.

"Can... Hai... It... Kiam... dibunuh... oleh... Ciok... Giok... Yin...."

Cou Ing Ing segera menyela.

"Bukan dia. Orang lain yang menyamar sebagai dirinya membunuh Can Hai It Kiam. Anak Ing berani menjamin itu. Paman, cepatlah beritahukan tentang Seruling Perak!"

Sebetulnya Ciok Giok Yin juga ingin menjelaskan, tapi si Bongkok Arak langsung memberi isyarat padanya agar diam.

Berselang sesaat, bibir Cou Kiong bergerak lagi dan terdengar suaranya yang amat lirih.

"Sebelum... mati... Can... Hai... It... Kiam... berpesan padaku... mencari... Tiong... Ciu... Sin... Ie... menyerahkan... sesuatu...."

"Menyerahkan apa?"

Tanya Cou Ing Ing. Kelopak mata Cou Kiong mulai tertutup, namun mulutnya masih mengeluarkan suara lirih.

"Di... dalam... baju...."

Bibirnya masih bergerak, namun tidak mengeluarkan suara lagi. Sedangkan sepasang matanya sudah tertutup rapat. Ternyata dia telah mati.

"Dia belum memberitahukan Seruling Perak berada di mana?"

Tanya si Bongkok Arak sambil menghela nafas panjang. Ciok Giok Yin yang cerdas itu tiba-tiba teringat akan perkataan terakhir Cou Kiong 'Di dalam baju'. Karena itu dia segera berkata.

"Tadi Paman Kiong mengatakan di dalam baju, jangan-jangan rahasia itu berada di dalam bajunya, tentunya dijahit dari dalam."

Apa yang dikatakan Ciok Giok Yin, justru menyadarkan si Bongkok Arak dan Cou Ing Ing.

"Tidak salah. Memang tidak terpikirkan ke situ?"

Kata mereka serentak.

Cou Ing Ing segera membalikkan baju Cou Kiong, sekaligus memeriksanya dengan seksama.

Di balik baju itu memang terdapat jahitan benang kuning, tapi tidak terdapat apa pun.

Mereka bertiga terus memperhatikan jahitan benang kuning itu, tapi tetap tidak menemukan apa-apa.

Akan tetapi si Bongkok Arak yakin bahwa dalam jahitan benang kuning tersebut pasti tersimpan suatu rahasia yang menyangkut Seruling Perak.

Seandainya Cou Kiong bisa hidup beberapa saat, tentunya akan memberitahukan rahasia itu.

Cou Kiong pasti tahu sebab Can Hai It Kiam pasti telah memberitahukan padanya.

Si Bongkok Arak menyobek kain itu lalu diserahkan kepada Ciok Giok Yin.

"Cari akal untuk mengungkap teka-teki ini!"

Katanya. Ciok Giok Yin menerima kain itu dengan kening berkerut.

"Lo cianpwee, apakah masih ada orang di dunia persilatan yang dapat mengungkap teka-teki ini?"

Si Bongkok Arak meneguk araknya, sehingga terdengar suara 'Kruk! Kruk!' Setelah itu barulah dia menyahut.

"Biar kupikir sebentar!"

Keningnya tampak berkerut-kerut, kemudian kepalanya dimiringkan ke kiri dan ke kanan, kelihatannya dia memang sedang berpikir keras.

"Ada,"

Katanya kemudian.

"Siapa?"

Tanya Ciok Giok Yin. Si Bongkok Arak menyahut.

"Orang itu mahir dalam hal perbintangan, pengobatan, lukisan, musik dan lain sebagainya. Lagi pula ilmu silatnya sudah mencapai taraf kesempurnaan."

Walau si Bongkok Arak sudah berkata panjang lebar, tapi belum menyebut nama orang tersebut. Karena itu Cou ing Ing yang tidak sabaran dan langsung bertanya.

"Siapa orang itu?"

"Thian Thong Lojin (Orang Tua Menembus Langit),"

Sahut si Bongkok Arak.

"Thian Thong Lojin?"

Tanya Ciok Giok Yin tak tertahan. Si Bongkok Arak mengangguk.

"Ya."

"Beliau tinggal di mana?"

"Gunung Liok Pan San, di dalam lembah Tiang Cing Kok."

Ciok Giok Yin segera memberi hormat pada si Bongkok Arak seraya berkata.

"Terimakasih atas petunjuk lo cianpwee, sekarang aku akan ke sana,"

Usai berkata, dia membalikkan badannya. Namun ketika baru mau melesat pergi, si Bongkok Arak cepat-cepat berseru.

"Tunggu!"

"Lo cianpwee masih ada petunjuk lain?"

Si Bongkok Arak menyahut.

"Orang tua itu bersifat amat aneh, tidak pernah berhubungan dengan kaum rimba persilatan! Kau harus ingat satu hal, berlakulah sedikit sungkan terhadapnya!"

Dia berhenti sejenak.

"Kebetulan tiada urusan lain, biar aku menemanimu...."

Mendadak ucapannya terhenti lagi.

"Kalian tunggu di sini sebentar!"

Si Bongkok Arak langsung melesat ke puncak seberang.

Ciok Giok Yin yakin si Bongkok Arak pasti melihat sesuatu, sebab kalau tidak, bagaimana mungkin mendadak dia melesat pergi?

Kini di tempat itu tinggal Ciok Giok Yin dan Cou Kiong.

Mereka berdua adalah musuh, kawan atau...?

Sementara ini sulit dipastikan!

Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin mendekatinya untuk menghiburnya.

Namun wajah gadis itu tampak dingin sekali, sehingga membuat Ciok Giok Yin tidak berani mendekatinya.

Sedangkan Cou Ing Ing juga kelihatan tidak mau berdiri bersamanya.

Dia membungkukkan badannya merangkul mayat Cou Kiong, kemudian tanpa bersuara membawa mayat itu ke arah samping.

Kelihatannya gadis itu mencari suatu tempat untuk mengubur mayat Cou Kiong.

"Adik... biar aku bantu kau,"

Kata Ciok Giok Yin.

"Siapa membutuhkan bantuanmu?"

Sahut Cou Ing Ing dengan dingin.

Walau Cou Ing Ing menyahut ketus dan dingin, namun dalam hatinya tetap berharap Ciok Giok Yin mengikutinya.

Akan tetapi Ciok Giok Yin justru tidak beranjak dari tempatnya.

Karena dia tidak punya keberanian itu, lagi pula dia pun bersifat angkuh, maka dia tetap berdiri di tempat, tidak mengikuti Cou Ing Ing ke dalam lembah.

Beberapa saat kemudian dia menghempaskan kakinya seraya berkata.

"Urusanku sendiri, mengapa harus ditemani dan campur tangan orang lain?"

Usai berkata tanpa menunggu si Bongkok Arak kembali dia langsung melesat pergi ke arah utara.

Dia menuju Lembah Tiang Ciang Kok di gunung Liok Pan San menemui Thian Thong Lojin, untuk mengungkap teka-teki potongan kain itu.

Tak lama setelah dia melakukan perjalanan, hari pun sudah mulai gelap.

Sejauh mata memandang, yang tampak hanya pegunungan, sama sekali tiada asap dan orang.

Mendadak terdengar suara bentakan dan jeritan beberapa kali, bergema menembus angkasa.

Hati Ciok Giok Yin tersentak, kemudian dia cepatcepat melesat ke arah suara itu.

Tak lama, dia melihat sebuah kuil bertulisan 'Kuil Cing Hong Si'.

Kuil tersebut justru adalah biara Siauw Lim Pay.

Ciok Giok Yin mendorong daun pintu lalu melangkah ke dalam.

Betapa terkejutnya, karena dia.

melihat tujuh delapan sosok mayat biarawan tergeletak di dalam kuil.

Sekujur badan mayat-mayat itu kehitam-hitaman.

"Soan Hong Ciang!"

Serunya tak tertahan.

Biarawan-biarawan di kuil itu semuanya mati terpukul oleh Ilmu pukulan Soan Hong Ciang.

Tidak salah lagi orang yang turun tangan jahat itu memiliki ilmu pukulan yang serupa dengan ilmu pukulan miliknya.

Berdasarkan keadaan mayatmayat itu, dapat diketahui bahwa Sam Yang Hui Kang yang dimiliki orang itu telah mencapai tingkat kesempurnaan.

Mendadak dalam benak Ciok Giok Yin terlintas seseorang, tidak lain adalah murid murtad perguruannya yang bernama Chiu Tiong Thau.

Ketika berpikir sampai di situ, hatinya nyaris meloncat ke luar.

Setelah itu wajahnya berubah menjadi dingin dan diliputi hawa membunuh.

Ternyata dia teringat akan penderitaan suhunya di dalam lembah, hidup tersiksa belasan tahun.

Semua penderitaan dan siksaan yang dialami suhunya justru dikarenakan orang tersebut.

Kalau orang itu tidak dibasmi, bukan cuma suhunya tidak bisa tenang di alam baka, bahkan juga dunia persilatan tidak akan tenang selamanya.

Berdasarkan hasutannya terhadap Kang Ouw Pat Kiat untuk mengeroyok suhunya, membuktikan orang itu amat licik dan banyak akal busuknya.

Dari mayat-mayat biarawan Siauw Lim, siapa yang melihat pasti tahu mereka terbunuh oleh ilmu pukulan Soan Hong Ciang.

Rimba persilatan masa kini, selain Chiu Tiong Thau, sudah pasti dirinya yang memiliki ilmu pukulan tersebut.

Karena Sang Ting It Koay, suhunya pernah memberitahukan bahwa ilmu Sam Yang Hui Kang itu, adalah ilmu ciptaan Sam Yang Siu sucouwnya, berdasarkan sebuah kitab suci aliran Budha.

Ilmu tersebut hanya diwariskan kepada Sang Ting It Koay, tidak pernah diwariskan kepada orang lain.

Akan tetapi apabila menginginkan ilmu Sam Yang Hui Kang mencapai tingkat tertinggi, harus makan obat peninggalan sucouw, yaitu obat Peng Ting Tan.

Ketika itu walau Sang Ting It Koay bersifat aneh, namun amat membenci kejahatan.

Padahal dia boleh makan obat tersebut untuk menambah lwee kangnya.

Tapi dia justru tidak mau makan.

Ternyata dia ingin mencari seorang pewaris yang berbakat agar dapat mencemerlangkan perguruannya sekaligus mengembangkan Sam Yang Hui Kang.

Akhirnya dia bertemu Chiu Tiong Thau, lalu menerimanya menjadi murid.

Namun tak disangka Chio Tiong Thau justru berhati srigala.

Pada suatu hari ketika Sang Ting It Koay pergi, dia langsung mencuri makan obat Peng Ting Tan tersebut.

Lantaran khawatir Sang Ting It Koay mengetahui hal itu, maka dia kabur secara diam-diam.

Dia tidak diam sampai di situ, melainkan menghasut Kang Ouw Pat Kiat, sehingga Sang Ting It Koay dikeroyok oleh Kang Ouw Pat Kiat, menyebabkan Sang Ting It Koay hidup menderita dan tersiksa di dalam lembah.

Chiu Tiong Thau mengira Sang Ting It Koay telah mati.

Maka dia pergi ke puncak Gunung Hwa San, untuk ikut serta dalam pertemuan besar rimba persilatan.

Karena itu dia berhasil merebut gelar jago Nomor Wahid di kolong langit.

Dia pun pernah satu kali di puncak Gunung Muh San.

Setelah itu tiada kabar beritanya lagi.

Mengenai perbuatan Chiu Tiong Thau di puncak Gunung Muh San, Sang Ting It Koay tidak pernah memberitahukan pada Ciok Giok Yin, maka dia tidak tahu sama sekali.

Apa yang dikatakan Sang Ting It Koay berputar sejenak dalam benaknya.

Kemudian dia memandang mayat-mayat itu lagi.

Saat ini dia bertambah yakin, bahwa para biarawan itu mati akibat perbuatan Chiu Tiong Thau.

Namun apa maksudnya tiada sebab musabab membunuh para biarawan Siauw Lim?

Dia pun tahu bahwa saat ini kepandaiannya dibandingkan dengan Chiu Tiong Thau, boleh dikatakan bukit kecil bertemu gunung besar.

Kalau pun berlatih dua puluh tahun lagi, tetap tidak akan bisa menyamai kepandaian orang itu.

Berselang beberapa saat, barulah Ciok Giok Yin melangkah ke ruang dalam.

Dia ingin mencari seseorang yang masih hidup untuk menanyakan tentang peristiwa ini.

Di ruang dalam terdapat sebuah altar dan tampak sebuah lampu minyak masih menyala, maka ruang itu tidak begitu gelap.

Di sana terdapat pula beberapa sosok mayat yang semua mayatnya juga kehitam-hitaman terpukul oleh ilmu pukulan Soan Hong Ciang.

Di dalam ruangan itu agak remangremang, membuat suasana cukup menyeramkan.

Meskipun Ciok Giok Yin bernyali besar, namun sekujur badannya tetap merinding.

Di saat dia merasa merinding justru mendadak melihat dinding ruang dalam itu terdapat sebaris tulisan.

Dia segera mendekati dinding itu, sekaligus membaca tulisannya 'Pembunuhnya adalah Ciok Giok Yin' Huruf-huruf itu ditulis dengan darah.

"Haah? Pembunuhnya adalah Ciok Giok Yin ?"

Serunya tak tertahan. Di saat bersamaan sekonyong-konyong terdengar suara pujian mereka sang Buddha.

"Omitohud! Sian Cay Sian Cay!"

Ciok Giok Yin cepat-cepat membalikkan badannya.

Tampak berdiri belasan hweeshio, masing-masing menggenggam sebuah toya, menatap Ciok Giok Yin dengan penuh kebencian.

Yang berdiri di paling depan adalah Tay Yap Hui Su.

Tianglo dari ruang Pengawas Siauw Lim Pay.

Dengan wajah muram Tay Yap Su memandang mayat-mayat yang tergeletak di lantai, kemudian menatap Ciok Giok Yin dengan tajam dan dingin.

Beberapa saat kemudian barulah padri tua itu berkata.

"Siau sicu, sungguh sadis hatimu!"

Berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

"Para murid biara ini dendam apa denganmu? Mengapa kau membunuh mereka?"

Pada hal Ciok Giok Yin juga tidak tahu perbuatan siapa itu. Maka tidak mengherankan kalau hatinya menjadi gugup. Dia berjalan ke luar perlahan-lahan lalu berdiri di hadapan para hweeshio tersebut.

"Taysu! Harap Taysu jangan salah paham, aku juga baru tiba di sini..."

Katanya.

"Siau sicu, barusan aku dengar kau berkata, 'Pembunuhnya adalah Ciok Giok Yin'. Apakah itu juga salah paham?"

Sergah Tay Yap Hui Su.

Ketika Tay Yap Hui Su sedang berkata, ketujuh belas hweeshio lainnya terus menatap Ciok Giok Yin dengan mata berapi-api penuh dendam.

Serrrrt!

Mereka memutar toya masing-masing, kemudian membentuk semacam formasi mengepung Ciok Giok Yin.

Suasana di ruang itu mendadak berubah menjadi tegang mencekam, membuat orang akan merasa sesak nafas.

Menyaksikan suasana itu, diam-diam Ciok Giok Yin mengerahkan lwee kangnya.

Pada waktu bersamaan dia pun berkata dalam hati.

'Mana boleh diriku dijadikan kambing hitam?' Oleh karena itu dia segera berkata lantang.

"Taysu, secara tidak sengaja aku melihat tulisan di dinding, maka aku membaca tulisan itu. Kalau tidak percaya, Taysu boleh membacanya!"

"Membunuh orang meninggalkan tulisan, tentunya adalah perbuatanmu!"

Sahut Tay Yap Hui Su dingin. Ciok Giok Yin tertegun.

"Bagaimana Taysu menganggap begitu?"

Tay Yap Hui Su menatapnya tajam.

"Siu sicu tahu jelas dalam hati, mengapa masih bertanya?"

"Aku memang tidak mengerti!"

"Belum lama ini, kau selalu berbuat demikian!"

"Belum lama ini?"

"Apakah masih keliru?"

Mendengar itu, wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi dingin, kemudian dia berkata dengan dingin pula.

"Taysu, orang yang telah menyucikan diri harus menjaga mulut! Taysu terus menuduhku, lebih baik Taysu menjelaskan!"

Walau Tay Yap Hui Su sudah berusia lanjut dan cukup dalam pertapaannya, namun menyaksikan para murid perguruannya terbunuh, hatinya tidak terluput dari kegusaran.

Wajahnya yang welas asih itu tersirat pula hawa membunuh.

"Siau sicu, baru-baru ini kau melakukan perkosaan dan pembunuhan! Setelah itu kau pun meninggalkan namamu di dinding! Apakah itu palsu semua?"

Tay Yap Hui Su berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.

"Perbuatanmu itu, tidak dapat diampuni!"

Hati Ciok Giok Yin tersentak mendengar ucapan itu.

"Betulkah ada kejadian itu?"

"Memang betul!"

"Apa yang disaksikan Taysu?"

"Itu!"

Tay Yap Hui Su menunjuk mayat-mayat di lantai, lalu menunjuk ke arah dinding yang terdapat tulisan. Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Taysu menganggap itu adalah perbuatanku?"

Tay Yap Hui Su mengangguk.

"Berdasarkan bukti!"

"Maksud Taysu adalah tulisan di dinding itu?"

"Masih ada. Apakah aku harus mengatakannya?"

"Silakan!"

"Kau adalah murid Sang Ting It Koay! Ya, kan?"

"Tidak salah!"

"Seng Ting It Koay menguasai ilmu apa?"

"Sam Yang Hui Kang!"

"Ilmu pukulan apa?"

"Soan Hong Ciang!"

Tay Yap Hui Su manggut-manggut, sepasang matanya menyorotkan hawa membunuh yang amat berat.

Mendadak jubahnya mengembung, pertanda kegusarannya telah memuncak, sehingga mengeluarkan hawa membuat jubahnya mengembung.

"Omitohud! Para murid perguruanku mati karena apa?"

"Mati karena terpukul oleh ilmu pukulan Soan Hong Ciang!"

Sahut Ciok Giok Yin dengan jujur.

"Tidak keliru?"

"Tentu tidak!"

Tay Yap Hui Su maju tiga langkah sambil berkata.

"Siau sicu adalah murid Sang Ting It Koay, sudah pasti menguasai ilmu Sam Yang Hui Kang dan ilmu pukulan Soan Hong Ciang. Lalu apakah masih ada penjelasan lain?"

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Siau sicu, bagaimana pertanggungan jawabmu?"

Bentak Tay Yap Hui Su.

Ketika mendengar suara bentakan itu, Ciok Giok Yin merasa hatinya berdebar-debar tidak karuan.

Telinganya juga merasa ngung-ngungan tak henti-hentinya.

Ciok Giok Yin sama sekali tidak menyangka bahwa padri tua itu akan terus mendesaknya.

Memang benar para hweeshio Kuil Cing Hong Si itu terbunuh oleh ilmu pukulan Soan Hong Ciang, sedangkan Ciok Giok Yin justru menguasai ilmu pukulan tersebut, maka membuatnya sulit untuk menjelaskan.

Yang jelas, itu bukan perbuatannya.

Karena terdesak akhirnya Ciok Giok Yin berkata.

"Kalau begitu, Taysu pasti menganggap itu adalah perbuatanku?"

"Betul!"

"Aku memang memiliki ilmu pukulan Soan Hong Ciang, tapi belum mencapai ke tingkat seperti ini! Kini aku punya satu permintaan!"

"Permintaan apa?"

Tanya Tay Yap Hui Su.

"Apabila Taysu dapat mempercayaiku, beri aku waktu tiga bulan! Agar aku bisa mencari orang yang melakukan pembunuhan ini, lalu aku akan ke Kuil Siauw Lim Si untuk menjernihkan kesalahpahaman ini!"

"Siau sicu, percuma kau menggunakan siasat licik ini!"

"Kalau begitu, Taysu mau bagaimana?"

"Saat ini juga kau harus ikut ke Kuil Siauw Lim Si!"

Sahut padri tua itu dengan tegas. Ciok Giok Yin mulai gusar.

"Kalau tidak?"

Tanyanya kasar.

"Kalau tidak, siau sicu mau...."

Ketika Tay Yap Hui Su berkata sampai di situ, ketujuh belas hweeshio lainnya sudah memutar toya masing-masing, langsung membentuk sebuah lingkaran mengurung Ciok Giok Yin.

Melihat itu, kegusaran Ciok Giok Yin mulai memuncak.

Dia tertawa dingin lalu berkata.

"Taysu adalah Tianglo (Tetua) Siauw Lim Pay, namun tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah!"

Di saat Ciok Giok Yin sedang berkata, ketujuh belas hweeshio ditambah Tay Yap Hui Su sudah mulai melangkah maju.

Itu membuat hati Ciok Giok Yin tersentak.

Ternyata dia teringat akan Cap Pwe Lo Han Tin (Formasi Delapan Belas Arahat) Siauw Lim Si.

Sejak Tatmo Cousu menciptakan formasi terebut, hingga kini belum ada orang yang mampu memecahkannya.

Siapa yang terkurung di dalam Cap Pwe Lo Han Tin jangan harap bisa meloloskan diri.

Kini mereka justru mengurungnya dengan formasi tersebut, membuktikan mereka berniat membunuhnya.

Yang jelas Tay Yap Hui Su yang mengepalai formasi.

Mendadak padri tua itu berseru dan seketika juga ketujuh belas hweeshio berikut dirinya mulai berputar.

Makin lama makin cepat, kemudian berubah agak lamban.

Di saat bersamaan Ciok Giok Yin membentak mengguntur.

"Aku memang ingin belajar kenal dengan Cap Pwe Lo Han Tin yang amat tersohor itu!"

Mendadak dia melesat ke arah Tay Yan Hui Su.

Ternyata dia berpikir kalau berhasil mendesak padri tua itu ke luar, tentu formasi itu akan menjadi kacau balau.

Karena itu dia menyerang Tay Yap Hui Su menggunakan delapan bagian tenaganya..

Akan tetapi pada waktu bersamaan dia merasa tenaga yang amat lunak menangkis balik tenaga pukulannya.

Bum!

Terdengar suara ledakan dahyat.

Ciok Giok Yin terdorong mundur ke tempat semula dan seketika merasa sepasang lengannya kesemutan serta darah pun bergolak-golak tidak karuan.

Saat ini dia tidak melihat jelas bayangan orang, sepertinya cuma terlihat tembok abu-abu.

Selain itu juga merasa tenaga lunak terus menerjangnya.

Perlu diketahui, Cap Pwee Lo Han Tin Siauw Lim Pay memang sudah amat terkenal.

Siapa pun yang berkepandaian bagaimana tingginya, juga sulit menerobos ke luar dari formasi tersebut.

Lagi pula kedelapan belas hweeshio itu tergolong pesilat tinggi di dunia bersilatan.

Di saat mereka berputar, toya di tangan mereka juga ikut berputar sehingga menimbulkan semacam tenaga lunak.

Kalau orang yang berkepandaian tinggi, masih bisa menangkis tenaga lunak itu dengan pukulan.

Namun harus menggunakan tenaga lunak pula, baru bisa bertahan beberapa saat.

Apabila tidak, hanya menerjang ke sana ke mari secara tidak karuan dan membabi buta, justru akan membuat dirinya terserang oleh tenaga lunak tersebut.

Seandainya terus terserang oleh tenaga lunak itu, niscaya akan membuat tulang orang yang terserang itu menjadi remuk dan dagingnya pun akan hancur.

Akan tetapi kalau mereka cuma ingin menangkap orang yang terkurung itu hidup-hidup, tentunya tidak akan menyerangnya dengan sepenuh tenaga, maka orang yang terkurung hanya akan lemas tak bertenaga, lalu ditangkap.

Namun Tay Yap Hui Su sudah menganggap Ciok Giok Yin sebagai pembunuh.

Lagi pula tempo hari dia membunuh tiga tosu dari partai Gobi Pay, dan urusan itu pun belum beres.

Ditambah lagi belum lama ini di dunia persilatan telah terjadi kasus perkosaan dan pembunuhan, meninggalkan nama Ciok Giok Yin di dinding.

Sehingga padri tua itu mengambil keputusan untuk membasminya.

Sementara Ciok Giok Yin telah melancarkan sebuah pukulan yang tiada artinya sama sekali.

Dia berkertak gigi dan sepasang matanya membara.

Kemudian melancarkan dua jurus ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang yang menimbulkan suara menderu-deru dan mengandung hawa panas.

Terdengar suara ledakan dahsyat memekakkan telinga.

Bum!

Ciok Giok Yin terpental kembali ke tempat semula.

Sepasang lengannya terasa ngilu, tidak kuat diangkat lagi.

Di saat bersamaan diapun merasa serangkum tenaga lunak menerjang ke dadanya membuatnya terhuyung-huyung ke belakang.

Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Ciok Giok Yin!

Namun dia tidak rela menunggu maut menjemputnya.

Dia coba lagi mengerahkan lwee kangnya.

Namun ketika baru mau melancarkan sebuah pukulan, mendadak terdengar suara bentakan Tay Yap Hui Su.

"Kalau siau sicu mau mendengar nasihatku, lebih baik menyerahkan diri!"

"Aku tidak bersalah, mengapa harus menyerahkan diri?"

Sahut Ciok Giok Yin dengan dingin dan angkuh.

"Kalau begitu, kau tidak akan mengucurkan air mata sebelum melihat peti mati?"

"Kalian Siauw Lim Pay, menganggap sebagai ketua rimba persilatan lalu bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain!"

"Kau sudah terbukti bersalah, percuma berdebat!"

Kali ini kegusaran Ciok Giok Yin betul-betul telah memuncak.

"Kalian keledai gundul, silakan turun tangan!"

Tay Yap Hui Su menyebut nama Sang Buddha.

"Omitohud! Ini adalah kehendak sicu!"

Padri tua itu mulai menyerang Ciok Giok Yin dengan tenang lunak.

Begitu pula ketujuh belas hweeshio lainnya.

Mereka terus memutar toya masing-masing ke arah padanya.

Saat ini Ciok Giok Yin betul-betul terdesak!

Tapi dia masih menghimpun hawa murninya lalu menerjang ke luar.

Kini dia sudah nekat, tidak lagi memikirkan akibatnya lagi.

Yang jelas dia ingin membunuh para hweeshio itu.

Namun mendadak terdengar suara ledakan lagi.

Bum!

Pukulan yang dilancarkan Ciok Giok Yin, sepertinya membentur dinding baja, membuat matanya berkunangkunang dan darahnya terus bergolak.

Dia menghela nafas panjang, kemudian mundur ke tempat semula dan berdiri diam di situ sambil memejamkan mata menunggu mati.

Justru di saat itu terbayang kembali semua dendamnya dan segala apa yang dialaminya.

"Aku tidak boleh mati! Aku tidak rela mati penasaran!"

Serunya mendadak dengan suara parau. Terdengar suara sahutan Tay Yap Hui Su.

"Omitohud! Mereka yang kau perkosa dan kau bunuh, termasuk para hweeshio di sini, apakah mereka memang harus mati?"

Ucapannya berhenti sejenak, kemudian terdengar lagi.

"Siau sicu, kau harus menerima nasibmu!"

Kini Ciok Giok Yin semakin terdesak oleh tenaga lunak itu, sehingga nyaris tidak bisa bernafas.

Pandangannya mulai gelap dan sekujur badannya terasa sakit, seakan tulang-tulangnya mau remuk.

Perlahan-lahan nafasnya menjadi lemah dan sepasang bola matanya memerah serta mulutnya mengeluarkan buih putih.

Pada waktu bersamaan terdengar pula gemelutuk pada seluruh tulangnya, akhirnya dia roboh pingsan.

Ada pepatah mengatakan.

'Orang tidak harus mati, pasti selamat'.

Buktinya di saat bersamaan tampak sosok bayangan kuning melesat ke sana, bukan main cepat dan ringannya.

Bayangan kuning itu langsung melancarkan pukulan ke arah Cap Pwe Lo Han Tin itu!

Sedangkan kedelapan belah hweeshio itu, sama sekali tidak menduga bahwa akan ada orang menyerang dari luar.

Maka formasi itu menjadi kacau dan sudah barang tentu tenaga lunak itu pun buyar dengan sendirinya.

Seandainya kedelapan belasa hweeshio itu bersiap, tentunya orang yang baru muncul itu sulit menyerang mereka.

Orang itu justru menggunakan cara, menyerang selagi orang lengah.

Oleh karena itu Cap Pwe Lo Han Tin dapat dipecahkannya.

Orang itu tidak berlaku lamban.

Dia langsung melesat ke arah Ciok Giok Yin.

Sekaligus menyambarnya dan membawanya pergi.

Dalam waktu sekejap dia sudah menghilang di kegelapan malam.

Sementara itu Tay Yap Hui Su berdiri termangu-mangu.

Padahal Cap Pwe Lo Han Tin sudah hampir berhasil membasmi Ciok Giok Yin.

Namun tak disangka tiba-tiba muncul orang itu dan berhasil memecahkan Cap Pwe Lo Han Tin, bahkan sekaligus membawa pergi Ciok Giok Yin.

Sesaat kemudian barulah Tay Yap Hui Su melesat pergi bersama tujuh belas hweeshio lainnya.

Tentunya bertambah pula kebencian mereka terhadap Ciok Giok Yin.

Karena itu bagaimana mungkin mereka akan membiarkan kabur?

Akan tetapi Tay Yap Hui Su juga merasa amat malu, sebab kali ini Cap Pwe Lo Han Tin yang amat tersohor itu justru telah dipecahkan oleh orang tak dikenal, bahkan orang itu berhasil menyelamatkan Ciok Giok Yin.

Itu merupakan pukulan dahsyat bagi Siau Lim Pay.

Lagi pula, mereka pun tidak melihat jelas wajah orang itu.

Apabila tersiar ke rimba persilatan pasti akan membuat Siauw Lim Pay kehilangan muka.

Dan sudah barang tentu akan mengurangi kewibawaan Siauw Lim Pay.

Sementara Ciok Giok Yin yang ditolong orang berbaju kuning memakai kain penutup muka, entah berapa lama kemudian barulah siuman perlahanlahan.

Ciok Giok Yin membuka matanya.

Dia menemukan dirinya terbaring di atas sebuah batu besar.

Dia coba menghimpun hawa murninya, terasa baik-baik saja.

Justru membuatnya bercuriga, apakah dirinya masih berada di dunia?

"Apakah aku sudah mati?"

Gumamnya. Mendadak terdengar suara sahutan di samping nya.

"Kau belum mati, aku yang membawamu ke mari."

Begitu mendengar suara sahutan itu, Ciok Giok Yin segera bangun.

Dilihatnya seorang berbaju kuning memakai kain penutup muka berdiri di sampingnya sepasang matanya menyorot tajam.

Mendadak Ciok Giok Yin teringat akan orang itu.

Ternyata ketika dia terkurung oleh Bu Lim Sam Siu di depan Goa Sesat, orang tersebut yang menyelamatkannya.

Seketika Ciok Giok Yin memberi hormat padanya seraya berkata.

"Terimakasih atas pertolongan cianpwee, aku tidak akan lupa selama-lamanya."

"Itu cuma merupakan pertolongan yang tak berarti, tidak usah diingat dalam hati."

"Maaf, bolehkah aku tahu nama cianpwee?"

"Kita bertemu secara kebetulan, untuk apa aku harus meninggalkan nama dan marga?"

"Kita bertemu kedua kalinya,"

Kata Ciok Giok Yin sambil menatapnya.

"Tidak salah. Tempo hari aku pernah berkata, apabila Saudara Kecil sudah amat terdesak hingga tidak bisa menaruh kaki di dunia persilatan lagi, maka aku bersedia membawamu ke suatu tempat yang dapat menjamin keselamatan nyawamu."

Mendengar itu, Ciok Giok Yin merasa agak tidak senang. Namun terhadap orang yang telah menyelamatkannya, dia tidak berani mengutarakan ketidak senangan itu.

"Terimakasih atas perhatian Anda. Namun aku bukan orang yang takut mati. Lagi pula aku merasa tidak melakukan kejahatan di dunia persilatan. Karena itu aku tidak perlu menyembunyikan diri."

Sepasang mata orang berbaju kuning itu menyorotkan sinar yang penuh kelicikan. Lantaran mukanya tertutup kain, tentunya tidak dapat diketahui bagaimana air mukanya.

"Saudara Kecil, mengapa kau bertarung dengan para keledai Siauw Lim Pay itu?"

Ciok Giok Yin berkertak gigi lalu menyahut dengan sengit.

"Suhuku punya murid murtad, menyamar sebagai diriku, membunuh para hweeshio di Kuil Cing Hong Si. Karena itu mereka menganggap semua itu adalah perbuatanku."

Orang berbaju kuning memakai kain penutup muka manggutmanggut.

"Kalau begitu, dia adalah suhengmu?"

"Tidak salah."

"Kau tahu namanya?"

"Chiu Tiong Thau."

"Chiu Tiong Thau?"

"Ng!"

"Bagaimana kepandaiannya?"

"Suhuku pernah bilang, kepandaiannya sudah amat tinggi, boleh dikatakan tiada tanding di dunia persilatan."

Sepasang bola mata orang berbaju kuning memakai kain penutup muka tampak berputar sejenak, lalu dia berkata.

"Kau yakin kepandaianmu dapat menyamainya? Maka kau ingin membasmi murid murtad suhumu itu?"

Ciok Giok Yin berkertak gigi.

"Kalau benar dia yang membunuh para hweeshio Kuil Cing Hong Si, aku bukan tandingannya! Tapi... aku tetap berusaha membasminya!"

Sahutnya dengan mata berapi-api. Itu membuat badan orang berbaju kuning memakai kain penutup muka agak tergetar, namun cepat sekali kembali seperti biasa.

"Apa julukan suhumu?"

Tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Julukan suhuku adalah Sang Ting It Koay."

"Aku pernah dengar bahwa dia sudah mati belasan tahun yang lalu."

"Tidak."

"Kini suhumu masih hidup?"

"Sudah mati."

"Kapan suhumu mati?"

"Kira-kira setengah tahun yang lalu."

"Di mana makamnya?"

Ciok Giok Yin tertegun, 'Untuk apa orang ini menanyakan makam suhuku?' tanyanya dalam hati. Karena itu dia bertanya.

"Apa maksud cianpwee menanyakan makam suhuku?"

Sepasang bola mata orang berbaju kuning memakai kain penutup muka berputar, kemudian dia menyahut.

"Aku cuma sekedar bertanya, sebab dulu kami pernah bertemu. Maksudku, kalau sempat dan kebetulan melewati makamnya, aku akan ziarah. Saudara Kecil tidak usah bercuriga, aku tidak bermaksud apa-apa."

Mendengar itu, Ciok Giok Yin baru mau....

Mendadak teringat semasa hidupnya, Sang Ting It Koay pasti banyak musuh.

Kalau tempat makam Sang Ting It Koay tersiar ke rimba persilatan, mungkin akan ada musuh menggali tulang belulangnya.

Karena berpikir demikian, maka Ciok Giok Yin berkata.

"Mohon maaf! Sebelum suhuku mati, pernah berpesan padaku, jangan membocorkan tempat makamnya, sebelum membasmi murid murtad itu. Sebab itu, sementara ini aku tidak berani memberitahukan pada cianpwee."

Sepasang mata orang berbaju kuning memakai kain penutup muka menyorot tajam sekali.

Lengan kirinya tampak bergerak sedikit.

Namun cepat sekali sudah kembali seperti semula.

Ciok Giok Yin sama sekali tidak memperhatikannya cuma melihat sorot matanya, sehingga membuat sekujur badannya merinding.

Dia berkata dalam hati, 'Sungguh tinggi lwee kang orang ini!' Beberapa saat kemudian orang berbaju kuning memakai kain penutup muka berkata.

"Baik, aku tidak akan memaksamu!"

Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Saudara Kecil, aku masih tetap mengulangi perkataanku tempo hari! Apabila kau terdesak hingga tidak bisa menaruh kaki di dunia persilatan, aku pasti membantumu. Sampai jumpa!"

Dia langsung melesat pergi tanpa menunggu Ciok Giok Yin membuka mulut.

Ciok Giok Yin berdiri diam di tempat.

Tak dapat diduga sama sekali kepandaian orang itu boleh dikatakan amat tinggi.

'Sebetulnya siapa dia?

Mengapa dia selalu mengatakan kelak akan membantuku?' Ciok Giok Yin terus berpikir, namun sama sekali tidak menemukan jawabannya, sehingga membuatnya menggelenggelengkan kepala.

Para tokoh dunia persilatan memang misterius dan sulit diduga.

Seperti halnya orang itu, dua kali bertemu justru pada di saat kritis.

Dia tidak merasa takut akan bersalah terhadap Siauw Lim Pay, turun tangan menyelamatkannya.

Sungguh dia gagah berani!

Kelihatannya orang tersebut adalah pendekar berhati bajik.

Akan tetapi mengapa mukanya harus ditutupi kain sehingga membuat orang terkesan misterius terhadapnya?

Akhirnya Ciok Giok Yin teringat akan kejadian di Kuil Cing Hong Si.

Tidak salah lagi para hweeshio itu pasti dibunuh oleh Chiu Tiong Thau.

Berdasarkan itu, sudah pasti dia tahu tentang Ciok Giok Yin, maka sengaja menyamar sebagai dirinya untuk melakukan kejahatan di dunia persilatan.

Berpikir sampai di situ, sepasang mata Ciok Giok Yin berapi-api, rasa dendamnya terhadap Chiu Tiong Thau semakin dalam.

Namun kemudian teringat akan kepandaiannya sendiri, yang masih jauh dibandingkan dengan orang lain.

Apabila dia ingin menuntut balas, harus berhasil mencari Seruling Perak dan kitab Cu Cian.

Setelah berpikir begitu, barulah dia teringat akan tujuan utamanya.

Oleh karena itu dia langsung melesat pergi, tujuannya adalah Gunung Liok Pan San.

Akan tetapi mendadak terdengar suara tertawa dingin di belakangnya.

"He he! Ciok Giok Yin, tak disangka kita berjumpa lagi!"

Begitu mendengar suara itu, Ciok Giok Yin cepat-cepat membalikkan badannya.

Tampak ketua perkumpulan Sang Yen Hwee berdiri satu depa di hadapannya.

Justru amat mengherankan, kali ini dia tidak memakai kain penutup muka, maka terlihat wajahnya penuh diliputi hawa membunuh.

Seketika Ciok Giok Yin membentak sengit.

"Siluman yang tak habis dibasmi, aku...."

Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee segera memutuskan perkataan Ciok Giok Yin.

"Bocah, tempo hari kau dapat meloloskan diri, tapi takdirmu memang harus mati di tanganku, maka kita berjumpa di sini! Hari ini kau tidak akan bisa lolos dari tanganku!"

Usai berkata, dia langsung menyerang Ciok Giok Yin.

Namun mendadak semacam bau aneh menerobos ke dalam hidung ketua perkumpulan Sang Yen Hwee itu.

Dia baru menerjang ke depan, justru roboh gedebuk seketika!

Keningnya berkerutkerut, kelihatannya amat menderita sekali.

Padahal Ciok Giok Yin sudah siap menangkis serangannya.

Tapi saat ini dia menjadi melongo ketika menyaksikan keadaan orang itu.

Sesungguhnya Ciok Giok Yin melancarkan sebuah pukulan untuk menghabisi nyawa ketua perkumpulan Sang Yen Hwee itu.

Namun dia berjiwa ksatria, tidak mau berbuat begitu curang.

Karena itu dia tetap berdiri di tempat.

"Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, silakan turun tangan!"

Bentaknya sengit. Namun bagaimana mungkin ketua perkumpulan Sang Yen Hwee menghiraukannya? Dia berusaha bangun, kemudian menengok ke sekeliing seraya membentak.

"Orang pandai dari mana, jangan cuma berani turun tangan secara gelap! Cepat perlihatkan diri!"

Terdengar suara sahutan yang amat dingin.

"Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, barangku itu sudah harus kau kembalikan padaku!"

"Barang apa?"

"Kitab Cu Cian!"

Ciok Giok Yin yang berdiri tak jauh tentunya mendengar jelas perkataan itu.

"Kitab Cu Cian?"

Serunya lantang.

"Siapa kau?"

Tanya perkumpulan Sang Yen Hwee. Terdengar sahutan dingin.

"Kau ingin lihat?"

Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee menyahut dengan gusar.

"Punya kepandaian boleh berhadapan, jangan bertindak curang menyebarkan racun secara gelap! Itu terhitung orang gagah apa? Aku memang ingin lihat siapa kau?"

Tampak sosok bayangan berkelebat bagaikan roh, tahu-tahu di tempat itu sudah bertambah satu orang.

"Bu Tok Siangsang!"

Seru Ciok Giok Yin dan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee. Bu Tok Sianseng itu mengangguk pada Ciok Giok Yin, kemudian memandang ketua perkumpulan Sang Yen Hwee. Dia tertawa dingin seraya berkata.

"Ketua, kau telah terkena racunku, yaitu racun Cit Pou San (Racun Bubuk Tujuh Langkah)! Kalau kau ingin selamat, cepat kembalikan kitab Cu Cianku itu!"

"Kitab Cu Cian memang berada padaku, tapi kau harus berikan obat penawar racun dulu!"

Sahut ketua perkumpulan Sang Yen Hwee licik. Bu Tok Sianseng mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari dalam bajunya seraya berkata.

"Obat penawar ada di sini!"

Sepasang mata ketua perkumpulan Sang Yen Hwee menyorot aneh, terus menatap bungkusan kecil di tangan Bu Tok Sianseng, kelihatannya ingin sekali merebutnya.

"Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, kau tidak usah memikirkan yang tidak-tidak! Jarak di antara kita kira-kira delapan langkah. Sebelum kau melangkah sampai di hadapanku, kau sudah jadi mayat!"

Bagaimana ketua perkumpulan Sang Yen Hwee tidak akan paham akan hal tersebut?

Tapi dia telah memeras otaknya hingga memperoleh kitab Cu Cian dari tangan Bu Tok Sianseng.

Kini harus dikembalikan padanya, tentunya dia merasa tidak rela.

Sebab asal berhasil menemukan Seruling Perak, dia pasti dapat melatih ilmu silat tertinggi di kolong langit.

Setelah dipikir-pikir, dia berkesimpulan bahwa nyawanya jauh lebih penting dari pada kitab Cu Cian itu.

Maka walau merasa tidak rela, tetap harus mengeluarkan kitab tersebut dari dalam bajunya yang masih dibungkus rapi.

"Kita sudah boleh tukar menukar?"

Tanyanya. Bu Tok Sianseng mengangguk.

"Boleh."

Di saat bersamaan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee berpikir, asal aku memperoleh obat penawar itu, dan segera minum, pasti tidak takut lagi menghadapi Bu Tok Sianseng. Karena itu dia berkata.

"Kau lemparkan dulu obat penawar itu!"

Namun tak disangka Bu Tok Sianseng juga amat cerdik, tentunya tidak akan terjebak oleh akal busuk ketua perkumpulan Sang Yen Hwee.

Dia tertawa dingin, menatap ketua perkumpulan Sang Yen Hwee seraya berkata perlahan.

"Perhitunganmu memang jitu! Setelah memperoleh obat penawar ini, maka kau akan segera meneguknya, kemudian kabur seenaknya. Tapi sayang sekali lho! Aku tidak akan tertipu olehmu!"

Bukan main malunya ketua perkumpulan Sang Yen Hwee mendengar itu! Dia tidak menyangka Bu Tok Sianseng sedemikian cerdik.

"Bagaimana kalau kau macam-macam, tapi aku beritahukan dulu! Apabila kau berani menggunakan siasat licik, kau tidak akan bisa kabur sejauh sepuluh depa, sebab aku telah menaburkan racun Pek Pou Tui Hun (Racun Seratus Langkah), kau pasti sudah mendengar jelas!"

Bukan main terkejutnya ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, sehingga sekujur badannya menjadi dingin.

Sebab itu, bagaimana dia masih berani memikirkan akal busuk untuk menjebak Bu Tok Sianseng?

"Baik, kita lemparkan bersama!"

Katanya.

"Tepati janji."

"Tentu!"

Akan tetapi ketua perkumpulan Sang Yen Hwee masih khawatir Bu Tok Sianseng akan menggunakan cara licik. Maka dia menambahkan.

"Apa yang kukatakan pasti kulaksanakan!"

Bu Tok Sianseng mengangguk.

"Begitu pula aku!"

Kemudian mereka berdua, melemparkan benda di tangan masing-masing dalam waktu bersamaan.

Cepat sekali Bu Tok Sianseng melihat kitab Cu Cian itu, lalu segera dimasukkan ke dalam bajunya.

Setelah itu dia memberi isyarat kepada Ciok Giok Yin, lalu badannya bergerak melesat pergi.

Ciok Giok Yin tidak berani berlaku ayal, langsung melesat mengikutinya dari belakang.

Dia ingat kitab Cu Cian sudah berada pada Bu Tok Sianseng, maka tidak berani bergerak lamban, terus melesat laksana kilat mengikutinya..

Belasan mil kemudian, barulah Bu Tok Sianseng berhenti.

"Kau sudah tahu tentang jejak Seruling Perak itu?"

Tanyanya sambil menatap Ciok Giok Yin.

"Tidak tahu,"

Sahut Ciok Giok Yin sambil menggelengkan kepala.

"Walau memiliki kitab Cu Cian, tanpa Seruling Perak tiada gunanya,"

Kata Bu Tok Sianseng. Dia merogohkan tangan ke dalam bajunya untuk mengeluarkan kitab Cu Cian, lalu diberikan kepada Ciok Giok Yin."Simpanlah baik-baik!"

Itu sungguh membuat Ciok Giok Yin tertegun! Dia sama sekali tidak menjulurkan tangannya mengambil kitab itu, cuma menatap Bu Tok Sianseng dengan mata terbelalak lebar.

"Apakah kau bercuriga?"

Tanya Bu Tok Sianseng. Dia membuka bungkusan itu lalu memperlihatkan isinya, yang berupa sebuah kitab tipis kepada Ciok Giok Yin.

"Kitab Cu cian tiada hurufnya, maka harus menemukan Seruling Perak."

Ciok Giok Yin tercengang.

"Apakah Anda punya suatu syarat? Lebih baik beritahukan saja,"

Tanyanya.

"Tiada syarat apapun."

"Kalau begitu, Anda berjuang mati-matian demi memperoleh kitab Cu Cian itu, lalu secara cuma-cuma diberikan pada orang, bukankah merupakan hal yang amat di luar dugaan?"

"Kau tidak usah bertanya tentang itu."

"Aku harus paham."

"Kau akan paham kelak."

Ciok Giok Yin tidak melihat kepura-puraannya, maka menjulurkan tangannya menerima kitab Cu Cian tersebut.

Kemudian dibukanya kitab itu, namun tidak melihat sebuah huruf pun.

Ciok Giok Yin mengerutkan kening lalu bertanya.

"Sungguhkah ini adalah kitab Cu Cian?"

Bu Tok Sianseng mengangguk.

"Sedikit pun tidak salah."

"Anda tahu akan rahasia kitab Cu Cian ini?"

"Bukankah aku sudah bilang, kau harus menemukan Seruling Perak. Kalau tidak, kitab Cu Cian ini merupakan barang tak berarti."

Ciok Giok Yin percaya Bu Tok Sianseng tidak berbohong. Maka cepat-cepat disimpan kitab tersebut ke dalam bajunya, setelah itu dia memberi hormat seraya berkata.

"Kalau Anda punya suatu syarat, kapan pun boleh memberitahukan padaku, sampai jumpa!"

Badan Ciok Giok Yin bergerak melesat pergi.

Dia tidak habis pikir, mengapa Bu Tok Sianseng rela menyerahkan kitab Cu Cian padanya, bahkan tiada syarat pula?

Itu sungguh membingungkannya!

Berselang beberapa saat, mendadak tercium bau anyir yang amat menusuk hidung.

Dia mengerutkan kening, berkata dalam hati.

'Mungkin ada orang mati dan terluka!' Ciok Giok Yin mendekati tempat bau anyir itu.

Dilihatnya enam sosok mayat tergeletak di bawah sebuah pohon, yang semuanya mengenakan jubah pendeta Taoisme.

Mayat-mayat itu tampak agak kehitam-hitaman, jelas terkena pukulan Soan Hong Ciang.

Yang amat mengejutkannya, di pohon besar itu terdapat beberapa huruf yang ditulis dengan Kim Kong Ci (Ilmu Jari Arahat).

'Yang membunuh para Tosu Gobi adalah Ciok Giok Yin' Setelah membaca huruf-huruf itu, dapat dibayangkan betapa gusarnya Ciok Giok Yin.

Dia berkertak gigi hingga terdengar bunyi gemeletuk.

"Kalau aku tidak mencincang Chiu Tiong Thau, hatiku tidak akan puas!"

Gumamnya.

Mendadak terdengar suara orang berteriak minta tolong, yang kedengarannya amat memilukan.

Begitu mendengar suara itu sepasang mata Ciok Giok Yin menjadi membara dan dia langsung melesat ke arah suara itu.

Dia yakin orang yang berteriak minta tolong itu, pasti di bawah ancaman Chiu Tiong Thau.

Dia berani memastikan itu, karena berdasarkan mayatmayat tosu Gobi Pay yang belum lama mati.

Itu pun membuktikan bahwa Chiu Tiong Thau belum pergi jauh.

Tak lama Ciok Giok Yin sudah mendekati tempat suara teriakan minta tolong tadi.

Dia cepat-cepat bersembunyi di belakang sebuah batu besar, kemudian mengintip.

Dilihatnya seorang gadis tergeletak di tanah, sama sekali tidak mengenakan sehelai pakaian pun, alias telanjang bulat.

Bukan main putih mulus dan indahnya tubuh gadis itu, terutama sepasang payudaranya yang montok, ditambah....

Menyaksikan itu sekujur badan Ciok Giok Yin terasa panas dingin.

Di hadapan gadis telanjang bulat itu berdiri seorang pemuda berpakaian mewah.

Karena dia berdiri membelakangi Ciok Giok Yin, maka Ciok Giok Yin tidak dapat melihat wajahnya.

"Sampai aku jadi hantu pun tidak akan mengampunimu!"

Bentak si gadis. Pemuda berpakaian mewah tertawa terkekeh.

"Apakah aku Ciok Giok Yin tidak setimpal denganmu? Kalau kau mengabulkan permintaanku, aku akan segera membebaskan jalan darahmu yang tertotok itu! Kita...."

Sebelum pemuda berpakaian mewah itu usai berkata, gadis telanjang bulat sudah berseru tak tertahan.

"Ciok Giok Yin?"

"Ya!"

"Sungguhkah kau adalah Ciok Giok Yin?"

"Apakah aku palsu?"

Sepasang mata si gadis berapi-api.

"Kau... kau adalah maling cabul, aku..."

Bentaknva sambil menuding pemuda berpakaian mewah.

Namun dia tidak melanjutkan ucapannya.

Sedangkan Ciok Giok Yin yang bersembunyi di belakang pohon, sudah gusar sekali mendengar itu, sehingga sekujur badannya gemetar.

Saking tak tahan, dia melesat ke luar seraya membentak bagaikan guntur.

"Jahanam! Kau berani menyamar diriku!"

Pemuda berpakaian mewah membalikkan badannya, ternyata memang mirip Ciok Giok Yin.

"Bocah keparat! Kau justru berani menyamar sebagai diriku!"

Katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Dia langsung menyerang Ciok Giok Yin, mengarah pada jalan darah penting.

Saat ini kegusaran Ciok Giok Yin telah memuncak.

Tanpa menyahut dia segera menangkis dengan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Seketika terdengar suara benturan dahsyat.

Blam!

Disusul dengan suara jeritan.

Pemuda berpakaian mewah terpental satu depa.

Akan tetapi dia cepat-cepat bangkit berdiri lalu membentak sengit.

"Ciok Giok Yin, aku akan membuatmu sulit melangkah kelak!"

Usai membentak, dia langsung melesat pergi, lalu menghilang di sebuah tikungan.

Di saat Ciok Giok Yin baru mau melesat pergi mengejarnya, tiba-tiba teringat akan gadis telanjang bulat.

Dia khawatir akan muncul penjahat lain berbuat yang bukan-bukan terhadap gadis itu maka dia tidak berani pergi mengejar pemuda berpakaian mewah, melainkan segera membuka baju luarnya, lalu dilempar ke arah gadis itu.

Ciok Giok Yin berdiri membelakanginya.

"Harap Nona cepat berpakaian!"

Lama sekali Ciok Giok Yin menunggu, namun tidak mendengar suara apa pun.

Itu membuatnya bercuriga, maka perlahan-lahan dia membalikkan badannya.

Dilihatnya si gadis itu masih tergeletak di tanah.

Ciok Giok Yin cepat-cepat membaliknya badannya lagi seraya berkata.

"Nona harus segera berpakaian."

"Jalan darah Cian Mo Hiatku tertotok...,"

Sahut si gadis.

Ciok Giok Yin tersentak sadar, teringat perkataan pemuda yang menyamarkan dirinya, mengatakan akan membebaskan jalan darah gadis itu....

Apa boleh buat!

Ciok Giok Yin terpaksa membalikkan badannya, sekaligus bergerak cepat membebaskan jalan darah gadis itu.

Setelah itu dia pun menyambar baju luarnya, karena melihat pakaian gadis itu berada di situ, lalu membalikkan badannya.

Dilihatnya seorang gadis berbaju ungu berdiri di situ.

Ciok Giok Yin terbelalak karena merasa mengenalnya.

"Hah? Kau..."

Serunya tak tertahan. Gadis baju ungu menatap Ciok Giok Yin sambil mundur dua langkah dan berseru pula.

"Kau adalah...."

"Aku adalah Ciok Giok Yin asli."

"Apa buktinya?"

"Adik Yong, mungkin ayahmu telah memberitahukan padamu tentang perjodohan kita."

Ternyata gadis baju ungu itu adalah putri Seng Ciu Suseng-Seh Ing, bernama Seh Yong Yong. Kening Seh Yong Yong berkerut, kemudian dia tersenyum seraya bertanya.

"Ayah memang telah memberitahukan padaku. Tapi apakah di badanmu terdapat suatu tanda istimewa?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ada, di dadaku terdapat sebuah tahi lalat merah...."

Mendengar itu, Seh Yong Yong langsung menangis, sekaligus mendekap di dada Ciok Giok Yin.

Mereka berdua berjumpa secara kebetulan, membuat hati Ciok Giok Yin terasa pilu.

Dia pun tidak tahu, haruskah memberitahukan gadis itu bahwa Seng Ciu Suseng telah mati?

Ciok Giok Yin belum mengambil keputusan, namun membelainya seraya berkata lembut.

"Adik Yong, beritahukan padaku apa gerangan yang terjadi? Bagaimana kau berjumpa mating cabul yang menyamar diriku itu?"

Sekujur badan Seh Yong Yong tampak gemetar, dia masih menangis terisak-isak.

Isak tangis gadis itu membuat Ciok Giok Yin ikut mengucurkan air mata.

Karena teringat akan kematian Seng Ciu Suseng mertuanya itu, lagi pula dia pun teringat akan Kang Ouw Pat Kiat yang terhasut oleh Chiu Tiong Thau, akhirnya harus mengalami kematian yang mengenaskan.

Kini Kang Ouw Pat Kiat ada yang telah mati, ada pula yang kehilangan jejak, membuat Ciok Giok Yin merasa berduka.

Sementara Seh Yong Yong masih terus menangis.

Menyaksikan itu hati Ciok Giok Yin seperti tertusuk-tusuk, kemudian membelainya seraya berkata lembut.

"Adik Yong, ceritakanlah agar mengurangi kedukaan hatimu!"

Akan tetapi Seh Yong Yong masih terus menangis dengan air mata berderai-derai.

"Adik Yong, apakah kau..."

Tanya Ciok Giok Yin dengan hati kebat kebit. Walau Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya namun Seh Yong Yong adalah gadis yang cerdas, maka dia tahu tujuan pertanyaan yang terputus itu.

"Itu tidak, tapi kalau kau terlambat muncul selangkah saja...."

Usai menyahut Seh Yong Yong mulai menangis lagi.

"Adik Yong, seharusnya aku datang ke rumahmu mengunjungi ibu mertua..."

Kata Ciok Giok Yin sambil menyeka air mata gadis itu. Tak disangka ucapan Ciok Giok Yin malah membuat tangis Seh Yong Yong semakin menjadi. Ciok Giok Yin tertegun dan segera bertanya.

"Ada apa sebetulnya?"

"Sebulan yang lalu, seorang pemuda tak dikenal mengantar mayat ayahku ke rumah. Begitu melihat mayat ayahku, ibuku pun meninggal seketika,"

Sahut Yong Yong. Terbelalak Ciok Giok Yin.

"Hah? Siapa pemuda itu?"

"Dia tidak memberitahukan namanya, cuma mengatakan ayah telah mati, dan kau pun tahu itu."

Usai berkata, Seh Yong Yong mendongakkan kepala memandangnya.

Meskipun air mata masih meleleh, namun gadis itu tetap cantik jelita.

Ciok Giok Yin menggenggam tangannya erat-erat, menghela nafas panjang lalu menutur tentang kesalahpahaman suhunya dengan Kang Our Pat Kiat dan lain sebagainya.

Setelah itu, diapun menambahkan.

"Adik Yong, aku... aku sungguh bersalah padamu!"

Seh Yong Yong menatapnya dengan air mata berlinang-linang sambil berkata dengan lembut.

"Kau tidak bisa dipersalahkan dalam hal itu. Setelah aku mengubur kedua mayat orang tuaku, kemudian aku mencarimu. Namun tak disangka aku bertemu maling cabul itu di tempat ini dan dia berhasil menotok jalan darahku...."

"Jadi kau kira dia adalah diriku?"

"Semula dia tidak memberitahukan namanya. Setelah dia mengatakan namanya, barulah kukira kau, sehingga membuatku nyaris pingsan seketika."

"Aku bersumpah pasti membunuhnya!"

Katanya sengit sambil berkertak gigi. Seh Yong Yong menghapus air matanya yang membasahi pipinya, lalu bertanya.

"Kakak Yin, kini kau mau pergi ke mana?"

"Aku harus pergi ke Gunung Liok Pan San untuk menemui Thian Thong Lojin,"

Sahut Ciok Giok Yin dengan jujur.

"Thian Thong Lojin?"

"Ya. Karena ada sesuatu persoalan sulit, maka aku harus mohon petunjuk beliau."

"Aku temani kau ke sana."

Ciok Giok Yin merasa serba salah.

Bukan karena dia merasa enggan berjalan bersama tunangannya itu, melainkan merasa dirinya banyak musuh.

Itu sulit baginya melindungi tunangannya.

Apabila terjadi sesuatu, tentunya akan menyesal seumur hidup.

"Adik Yong, banyak bahaya dalam rimba persilatan, lebih baik kau pulang saja. Setelah aku kembali dari Gunung Liok Pan San, aku pasti menengok."

Ucapan Ciok Giok Yin membuat air mata gadis itu meleleh lagi.

"Seorang diri berada di rumah, bukankah akan lebih menderita?"

Katanya terisak.

Ciok Giok Yin berpikir sejenak.

Benar juga apa yang dikatakan Seh Yong Yong.

Akan tetapi dia justru merasa tidak leluasa membawanya serta.

Ini menyebabkan menjadi bimbang, tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Mendadak sesosok bayangan putih melayang turun di samping mereka, Ciok Giok Yin segera menoleh.

Betapa girang hatinya ketika dia melihat orang itu!

Jilid 15 Siapa yang baru muncul itu? Ternyata Ku Tian yang pernah bertemu Ciok Giok Yin di luar lembah markas perkumpulan Sang Yen Hwee. Ciok Giok Yin segera menyapanya seraya memberi hormat.

"Saudara Ku!"

Ku Tian menatap Seh Yong Yong sejenak, kemudian menyahut sambil tersenyum.

"Saudara Ciok! Nona ini adalah...."

Setelah itu sepasang bola mata Ku Tian berputar lagi ke arah Seh Yong Yong.

"Dia adalah..."

Kata Ciok Giok Yin dengan wajah agak kemerah-merahan.

"Dia adalah isterimu?"

Selak Ku Tian.

"Kami sudah bertunangan sejak masih kecil."

Sekilas wajah Ku Tian tampah berubah aneh, namun cepat sekali kembali seperti biasa!

Kalau tidak memperhatikannya, pasti tidak akan mengetahuinya.

Dia tidak bertanya tentang itu lagi, melainkan mengalihkan pertanyaan lagi.

"Saudara Ciok bertujuan ke mana?"

"Aku ingin pergi Gunung Liok Pan San."

"Ke Gunung Liok Pan San?"

"Ya."

"Ada urusan apa?"

"Mencari Thian Thong Lojin, untuk mohon penjelasan mengenai suatu persoalan rumit."

Ku Tian menggeleng-gelengkan kepala.

"Dengar-dengar orang tua itu bersifat amat aneh. Tempat tinggalnya juga dilengkapi dengan formasi aneh pula. Bagi orang yang tidak paham akan formasi itu sulit untuk masuk ke dalam."

"Biar bagaimana pun, aku harus ke sana,"

Kata Ciok Giok Yin tegas.

"Karena persoalan itu hanya beliau yang dapat memecahkannya."

Kening Ku Tian tampak berkerut.

"Aku akan menemanimu ke sana."

"Atas perhatian Saudara Ku aku amat berteri-makasih sekali. Namun dari sini ke sana kira-kira ribuan mil, lagi pula penuh bahaya, aku sungguh...."

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, Ku Tian sudah tahu akan maksudnya. Sengaja atau tidak dia melirik Seh Yong Yong sejenak, kemudian berkata.

"Rupanya dengan keikutsertaanku, akan membuat Saudara Ciok merasa kurang leluasa. Kalau begitu, Saudara Ciok harus menjaga diri baik-baik, semoga kelian berdua selamat sampai di tempat, sampai jumpa!"

Dia menjura pada Ciok Giok Yin, kemudian melesat pergi.

Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu memandang punggung Ku Tian.

Dia tidak menyangka Ku Tian begitu menaruh perhatian padanya.

Sesungguhnya Ciok Giok Yin amat senang Ku Tian menyertainya, namun merasa tidak enak merepotkannya, maka terpaksa menolak.

Saat ini Seh Yong Yong mendekatinya sambil berkata dengan lembut.

"Kakak Yin, lebih baik aku yang menemanimu ke sana."

"Adik Yong, di dunia persilatan penuh mara bahaya dan kelicikan. Maksudku lebih baik kau pulang saja, setelah aku pulang dari sana, pasti pergi menengokmu."

Air muka Seh Yong Yong tampak berubah. Dia melihat Ciok Giok Yin terus menolak, mengira dia tidak suka padanya. Karena itu air matanya langsung meleleh.

"Kau bisa pergi ke tempat itu mengapa aku tidak? Aku Seh Yong Yong juga tidak takut mati,"

Katanya terisak-isak.

Mendadak di dalam benak Ciok Giok Yin terlintas satu hal penting.

Yaitu dia telah makan Pil Api Ribuan Tahun, sehingga membuat tubuhnya tidak seperti orang biasa.

Apabila dia tidak dapat mengendalikan diri, bukankah akan....

Ketika memikirkan hal itu, wajahnya tampak kemerah-merahan, kemudian dia berkata dengan terputus-putus.

"Adik Yong, aku... aku...."

Walau Seh Yong Yong adalah calon isterinya, namun Ciok Giok Yin tetap merasa sulit untuk membuka mulut memberitahukan hal itu.

Justru membuat Seh Yong Yong salah paham.

Dia mengira Ciok Giok Yin sudah punya kekasih, dan itu membuatnya merasa cemburu.

"Apakah kau sudah punya kekasih ?"

Tanyanya dengan dingin.

Ciok Giok Yin tertegun ketika mendengar pertanyaan Seh Yong Yong itu.

Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Seh Yong Yong akan salah paham padanya.

Karena itu dia tertawa getir.

"Adik Yong, kau telah salah mengerti akan maksudku!"

Seh Yong Yong mendengus.

"Hm! Salah mengerti?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya."

"Itu cuma alasan!"

Ciok Giok Yin menggenggam tangannya sambil berkata dengan lembut.

"Adik Yong, perjodohan kita berdua justru ditentukan oleh kedua orang tua kita. Sudah pasti aku setuju, hanya saja aku tidak mau bepergian denganmu, karena... karena...."

Ciok Giok Yin tidak dapat melanjutkan ucapannya.

"Dikarenakan apa?"

Tanya Seh Yong Yong sambil menatapnya dengan tajam.

"Aku... aku merasa sulit memberitahukan padamu."

"Kita adalah calon suami isteri, mengapa kau masih harus merasa sulit memberitahukan padaku?"

Mendengar itu Ciok Giok Yin manggut-manggut. Memang benar apa yang dikatakan Seh Yong Yong. Ciok Giok Yin menggenggam tangannya erat-erat, setelah itu barulah berkata dengan suara rendah.

"Adik Yong, tahukah kau ada bagian tubuhku yang tak beres?"

Air muka Seh Yong Yong langsung berubah ketika mendengar pertanyaan itu.

Dalam benaknya terlintas suatu hal, 'Apakah dia mengidap penyakit dalam?

Kalau begitu, aku memang bernasib malang!' Di saat bersamaan dia teringat akan pesan ibunya sebelum mati.

'Nak, kau harus berusaha mencari anak Yin!

Setelah kalian berdua menikah, barulah ibu merasa tenang di alam baka.

Ingat, kau adalah anak satu-satunya keluarga Seh, maka kau harus punya anak, agar keluarga Ciok dan keluarga Seh tidak putus turunan!' Teringat akan pesan tersebut, seketika air mata Seh Yong Yong mengucur deras.

Dia paham akan maksud perkataan Ciok Giok Yin, yaitu tidak mampu melakukan hubungan intim antara suami isteri.

Kalau tidak, bagaimana mungkin perkataannya terputusputus?

Mereka berdua sudah dijodohkan sejak kecil, itu sudah merupakan takdir yang tak dapat diubah.

Oleh karena itu Seh Yong Yong harus menerima nasibnya itu.

Karena berpikir kemudian, wajah Seh Yong Yong menjadi tampak serius.

"Kakak Yin, maksudmu kau tidak bisa melakukan hubungan intim antara suami isteri?"

Tanyanya dengan suara rendah. Ciok Giok Yin tersenyum getir sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Adik Yong, kau salah paham lagi."

Seh Yong Yong tertegun. Gadis itu sama sekali tidak paham, apanya yang tidak beres pada tubuh Ciok Giok Yin. Dia menatap Ciok Giok Yin dengan mata terbelalak.

"Lalu kenapa?"

Tanyanya heran. Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Adik Yong, aku keliru menelan Pil Api Ribuan Tahun."

Walau Seh Yong Yong tergolong gadis rimba persilatan, pengetahuannya cukup luas, namun justru tidak tahu tentang pil tersebut.

"Pil Api Ribuan Tahun?"

"Ya."

"Apa hubungan Pil Api Ribuan tahun dengan tubuhmu?"

"Apakah Adik Yong tidak pernah mendengar tentang pil itu?"

"Tidak pernah."

Ciok Giok Yin memandangnya.

"Mari kita duduk, aku akan memberitahukan padamu!"

Mereka berdua duduk di atas sebuah batu. Ciok Giok Yin menarik nafas dalam, lalu menuturkan tanpa membaca tulisan yang tercantum di kertas itu. Usai menutur dia pun menambahkan.

"Adik Yong, aku cuma khawatir sewaktu-waktu tak dapat mengendalikan diri, maka akan mencelakai dirimu."

Mendengar itu wajah Seh Yong Yong menjadi kemerahmerahan, kemudian dia menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Sedangkan hatinya terus berdebar-debar tidak karuan.

Itu memang merupakan persoalan yang amat penting.

Tidak mengherankan Ciok Giok Yin melarangnya berpergian bersama, ternyata disebabkan persoalan tersebut.

Dalam pandangan Seh Yong Yong, terus berpikir, akhirnya menatap Ciok Giok Yin seraya bertanya.

"Kakak Yin, apakah tiada suatu cara untuk memecahkan persoalan itu?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ada."

Wajah Seh Yong Yong langsung berseri.

"Cara apa?"

Ciok Giok Yin memberitahukan tentang kitab Im Yang Cin Koy, kemudian melanjutkan.

"Adik Yong, aku sungguh sulit membuka mulut memberitahukan padamu."

"Bukankah sudah kukatakan tadi, kita sudah merupakan calon suami isteri, tiada sesuatu yang harus dirahasiakan di antara kita berdua?"

Ciok Giok Yin memandangnya.

"Adik Yong, meskipun kau paham akan kitab Im Yang Cin Koy, tapi tetap sulit melayani itu."

Seh Yong Yong mengerutkan kening.

"Lalu harus bagaimana?"

"Berdasarkan tulisan di kertas itu, aku harus punya beberapa isteri. Tentunya aku tidak bermaksud begitu. Setelah kubereskan semua urusanku, mungkin aku akan bunuh diri."

Mendengar itu bukan main terkejut Seh Yong Yong! "Kakak Yin, aku bukanlah gadis yang berpikiran sempit. Kalau ada gadis lain yang kurasa cocok, aku bersedia bersamanya mendampingimu."

"Adik Yong, sungguh besar jiwa!"

"Nyatanya memang harus demikian."

Ketika pembicaraan mereka berdua sampai di situ, mendadak Ciok Giok Yin teringat akan tujuannya ke gunung Liok Pan San.

"Adik Yong, kalau kau tidak mau pulang sekarang, aku pikir lebih baik kau pergi ke Gunung Kee Jiau San, markas partai Thay Kek Bun dan kau tinggal di sana untuk sementara waktu. Bagaimana?"

Seh Yong Yong mengerutkan kening.

"Tapi aku tidak kenal mereka."

Sekonyong-konyong terdengar suara yang amat dingin di belakang mereka.

"Aku bersedia mengantar dia ke sana."

Mendengar suara itu, seketika sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding.

"Bok Tiong Jin!"

Serunya tak tertahan.

"Tidak salah, kalian jangan membalikkan badan!"

Padahal Seh Yong Yong ingin membalikkan badannya, namun Ciok Giok Yin cepat mencegahnya.

Seh Yong Yong tidak berani membalikkan badannya, sebab mendengar seruan Ciok Giok Yin 'Bok Tiong Jin'.

Itu membuat sekujur badannya menjadi dingin.

"Bok Tiong Jin?"

Tanyanya dengan suara rendah. Ciok Giok Yin mengangguk.

"Manusia dan hantu tidak boleh bertatap muka, maka kau jangan membalikkan badanmu."

Badan Seh Yong Yong menggigil ketika mendengar katakatanya itu.

"Adik Yong, dia adalah penolongku. Kelak kalau ada waktu, akan kuceritakan padamu."

Seh Yong Yong mengangguk. Di saat bersamaan terdengar lagi suara Bok Tiong Jin.

"Kau tidak usah mencemaskan itu, aku akan memberitahukan padanya. Kau mau berangkat ke Gunung Liok Pan San, berangkatlah! Mengenai nona ini aku yang akan mengantarnya ke sana, dan kujamin dia tidak akan kehilangan sehelai rambut pun."

"Kalau begitu aku berhutang budi padamu lagi,"

Kata Ciok Giok Yin.

"Semakin banyak hutangmu padaku semakin baik, asal kau ingat akan janjimu itu, sudah cukup bagiku."

Seh Yong Yong tercengang ketika mendengar ucapan Bok Tiong Jin itu.

"Janji apa?"

Tanyanya kepada Ciok Giok Yin. Ketika Ciok Giok Yin baru mau memberitahukan, Bok Tiong Jin sudah mendahulinya.

"Nona tidak usah bertanya, mungkin akan kuberitahukan padamu."

Hening sejenak, kemudian terdengar Bok Tiong Jin melanjutkan ucapannya.

"Hai! Manusia! Aku dengar kau telah peroleh kitab Im Yang Cin Koy! Benarkan itu?"

Ciok Giok Yin tertegun.

"Kau sudah tahu itu?"

"Bagi hantu, tiada sesuatu yang tak tahu. Kau harus berikan pada tunanganmu itu, agar dia bisa membaca kitab tersebut. Buat apa kau simpan dalam bajumu, bagaimana kalau hilang?"

Ciok Giok Yin berpikir sejenak, lalu mengeluarkan kitab itu.

"Aku mohon kau sudi melindunginya sampai di tempat!"

"Tentang itu kau boleh berlega hati."

Ciok Giok Yin menyerahkan kitab itu pada Seh Yong Yong seraya berpesan.

"Adik Yong, kalau ada waktu kau boleh membacanya!"

Wajah Seh Yong Yong langsung memerah.

Dia tahu kitab tersebut amat penting bagi mereka, terutama dalam hal berhubungan intim.

Baca Juga: Mayat Kesurupan Roh 2

Baca Juga: Bara Maharani 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert