Eps 2 Mayat Kesurupan Roh - Khu Lung
Baca online Mayat Kesurupan Roh - Khu Lung
Cersil Mayat Kesurupan Roh - Khu Lung.
Setelah berbelok beberapa kali di lorong geIap ini, sampailah mereka di suatu gua yang tak kelihatan ujungnya.
Di bawah sinar lampu perunggu yang terletak di lekukan dinding, kelihatan sekeliling gua itu penuh dengan meja batu, di setiap meja batu terdapat sebuah kotak besi hitam.
Peti besi yang tertaruh pada meja batu yang melintang di depan sana berbentuk pmjang sempit, di dalam peti tentu tersimpan pedang pusaka kebanggaan Sih Ih-jin, lalu benda apa pula yang tersimpan di peti-peti yang lain?
Sih Ih-jin mendekati peti panjang sempit itu dan memegangnva dengan hati hati, seakan-akan sudah lupa di samping masih ada Coh-Liu-hiang, ia benar-benar mencurahkan sepenuh perhatiannya terhadap pedangnya, hingga melupakan segalanya Mendadak Coh Liu-hiang merasa orang tua ini telah berubah sama sekali.
Waktu pertama kali melihatnya tadi, Coh Liu-hiang merasa Sih-Ih-jin ini seorang cendekiawan yang punya ciri khas, gaya seorang pertapa y"ng bosan pada kehidupan ramai, karena itu sikapnya menjadi rada hambar, tapi sama sekali tiada tanda-tanda membuat orang merasa tidak aman.
Waktu berjalan berendeng tadi.
Coh Liu-hiang juga merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan, sama saja seperti berjalan bersama seorang tua biasa.
Akan tetapi sekarang, belum lagi pedang terlolos dari sarungnya, lapat-lapat Coh Liu-hiang sudah merasakan hawa pedang yang dingin dan mengerikan.
Jelas hawa pedaog ini bukan timbul dari pedangnya.
Hawa pedang ini justru timbul dari tubuh Sih-Ih-jin sendiri.
Kin, Sih Ih-jin bukan lagi orang tua yang lagi ngomong iseng bersama petera-puteri dan besannya, begini masuk ke gua ini mendadak dia berubah kembali sebagai pendekar pedang nomor wahid yang pernah merajai dunia Kangouw dulu.
Di tempat ini tidak cuma tersimpan pedangnya, tapi juga menyimpan kenangan-kenangannya di masa lampau, sebab itu lah dia tidak pernah mengizinkan siapa pun masuk ke gua ini.
Tapi sebab apa pula dia justru membawa Coh Liu-hiang kesini?
************* Pelahan-lahan Sih Ih-jin membuka peti hitam yang panjang dan sempit itu dan mengeluarkan sebilah pedang.
Bentuk pedang ini sangat antik dan sederhana, batang pedang yang kehitam-hitaman itu bersemu hijau, tiada cahaya kemilau, namun Coh Liu-hiang yang berdiri sekian jauhnya dapat merasakan hawa dingin yang menusuk kulit.
"Cring", Sih Ih-jin menyelentik pedangnya sehingga menimbulkan suara mendenging nyaring "Pedang bagus,"
Seru Coh Liu-hiang. Berkilat sorot mata Sih Ih-jin, katanya kemidian.
"Apakah Coh-Hiang-swe kenal pedang?"
"Konon di zaman kerajaan Ciu, ada ayah beranak bernama Siau Khong dan Thay Khong, telah mengundang semua pandai besi di seluruh kolong langit ini dan mengumpulkan besi dari segenap penjuru, selama sepuluh tahun, hasilnya adalah sebilah pedang, yaitu pedang yang disebut Pat-hong-tang-kiam (pedang segenap penjuru)."
"Ya, benar pandangan yang tepat dan bagus!"
Puji Sih Ih-jin.
Meski di mulut ia memuji, namun air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu tanda perasaan apapun.
Lalu ia mengeluarkan sebilah pedang pula.
Pedang ini memakai sarung kulit yang sangat indah.
gagang pedang berbingkai batu permata dan diikat dengan benang emas, batang pedang seperti buatan emas, tapi berwama kuning ke merahmerahan.
"Bagaimana dengan pedang ini?"
Tanya Sih Ih-jin. Coh Liu-hiang memandangnya sejenak, katanya kemudian.
"Hampir setiap penguasa di zaman dahulu pasti memiliki pedang ternama seperti halnya Siau Khong dan Thay Khong tadi, pedang ini adalah hasil gemblengan Bu Ting, namanya Ciau-tan (pemberani) hanya sarung pedangnya telah banyak diberi hiasan oleh pemegangnya di kemudian hari.'' "Bagus, memang pandangan yang tajam,"
Puji Sih Ih-jin.
Meski tetap tenang-tenang saja, tapi sorot matanya sudah menampilkan perasaan kagum dan memuji.
Selang sejenak, pelahan-lahan ia mengeluarkan pula sebilah pedang.
Pedang ini memakai sarung kulit ikan hiu yang kasap, baru saja pedang terlolos sebagian, sudah nampak sinarnya yang hijau kelabu.
Sambil memegang pedang ini, sorot mata Sih Ih-jin tampak bertambah mencorong, Setelah menatap mata pedang yang tajam itu dan berdiam sekian lama, kemudian dia berucap sekata demi sekata.
"Silakan Coh Hiang-swe menilai pula , pedang apakah ini?"
Coh Liu-hiang memandangi pedang itu hingga cukup lama, habis itu baru menjawab pelahan.
"Ini pedang tanpa nama."
"Pedang tanpa nama?"
Alis Sih Ih-jin tampak menjengkit.
"Betul, pedang tanpa nama,"
Kata Coh Liu-hiang.
"Tapi, meski pedang tiada punya nama, namun orangnya jelas benama".
"Apa artinya ucapanmu ini?"
Tanya Sih Ih-jin.
"Tentu Locianpwe tahu ahli-ahli pembuat pedang pusaka zaman dahulu, antara lain seperti Kan Ciang dan Bok Sia.....?"
"Ya, Kan Ciang dan Bok Sia adalah ahli pedang di zaman dahulu, ceritanya pernah kubaca,"
Kata Sih Ih-jin.
"Padahal Kan Ciang dan Bok Sia adalah nama sepasang suami istri,"
Kata Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Tapi beberapa ratus tahun kemudian, bilamana nama mereka disebut, yang dimaksud adalah pedang gemblengan mereka dan bukan lagi orangnya."
"Betul, memang begitulah kebiasaan orang Bulim,"
Ujar Sih Ih-jin.
"Nah, meski pedang yang dipegang Cianpwe ini tidak bernama, namun yang dapat menggunakan pedang ini pasti orang yang lain dari pada yang lain."
"O? Darimana bisa diketahui hal ini?"
"Pedang ini bersinar gemerlapan, hawa membunuhnya mencorong terang, jika bukan tokoh kelas wahid, bila tidak memiliki kepandaian luar biasa, jelas tidak mampu menggunakan pedang ini, kalau tidak, mungkin sebaliknya akan terluka sendiri oleh pedang ini,"
Setelah tertawa, lalu Coh Liu-hiang melanjutkan.
"Bila mataku belum lagi lamur kuyakin pasti senjata pribadi Locianpwe waktu masih malang melintang di Kangouw dahulu."
Ucapan inipun tiada ubahnya seperti pujian kepada Sih-Ih-jin, maka keduanya saling pandang dengan tertawa , dalam hati masingmasing timbul rasa suka dan saling menghormat.
"Pandangan Coh Hiang-swe benar-benar setajam kilat, sunguh sangat mengagumkan,"
Kata Sih-Ih-jin kemudian.
"Sekarang, tahukah Coh Hiang-swe apa isi kotak-kotak di sekeliling ini?"
"Yang biasa tersimpan bersama pedang ternama, juga pasti benda yang luar biasa,"
Ujar Coh Liu-hiang.
Lalu Sih Ih-jin membuka sebuah kotak besi, di dalam kotak hanya terdapat sehelai baju panjang.
Baju warna putih mulus itu sudah kekuning-kuningan, suatu tanda sudah lama sekali tersimpan.
Waktu Sih Ih-jin mengebaskan baju itu hingga terbentang, baru Coh Liu-hiang melihat di bagian dada baju ada tapak bekas darah, bekas darah itu memanjang seperti lingkaran ular, di bawah cahaya lampu yang remang-remang tampak bekas darah itu menghitam.
"Tahukah Hiang-swe darah siapakah yang mengotori baju ini?"
Tanya Sih Ih-jin.
Meski dia menatap bekas darah di atas ba ju, tapi juga seperti memandang jauh ke sana.
Sedang agak lama barulah ia menyambung pula dengan tersenyum hambar "Itu kejadian yang sudah lama, mungkin Hiang-swe belum pernah mendengar nama orang ini, tapi pada tiga puluh tahun lalu, nama 'Sat-jiu-bu-siang' (si setan pembunuh) Hui Goan bukanlah tokoh sembarangan".
"Meski usia Wanpwe masih muda dan berpengetahuan cetek, tapi tahu juga Sat-jiu-bu-siang yang pernah menjagoi tujuh propinsi utara, sepasang gaetannya konon tiada tandingannya, tak tahunya kalau orang ini pun mati di tangan Locianpwe."
"Ya, peristiwa itu terjadi di Kau-lan-san......"
Tutur Sih Ih-jin, ia lantas terkenang kepada kejadian di masa lalu dan bercerita dengan pelahan.
Di depan mata Coh-Liu-hiang seakan terbayang lukisan pemandangan pegunungan dalam suasana tegang, dimana dua jagoan pedang berhadapan, Sih-Ih-jin yang berbaju putih mulus laksana salju itu berdiri memandangi Sat-jiu-bu-siang yang sedang mendekati, mendadak sinar pedang berkelebat, darah lantas berhamburan menciprat di bajunya....
"Kini tiga puluh tahun sudah berlalu, tapi darah mereka takkan lenyap untuk selamanya,"
Demikian ucap Sih Ih-jin pula.
"Darah mereka?"
Coh Liu-hiang menegas.
"Masa di dalam kotak-kotak besi ini semuanya......"
"Apakah Coh Hiang-swe tidak tahu darimana timbulnya sebutan Hiat Ih-jin?"
Tanya Sih Ih-jin.
Coh Liu-hiang memandang kotak-kotak besi yang tertaruh di meja di sekeliling gua itu, terpikir olehnya pada setiap kotak itu tersimpan sepotong baju putih berlepotan darah manusia, setiap titik darah itu pasti mengandung cerita yang menggetarkan sukma, setiap cerita pasti mengalami suatu pertarungan sengit dan banjir darah......
Terpikir semua ini, tanpa terasa timbul semacam rasa seram dalam hati Coh Liu-hiang.
Sorot mata Sih Ih-jin setajam sembilu, dengan sekata demi sekaia ia bicara pula, '"Orang tidak melanggar diriku, aku pun tidak melanggar orang lain.
Jika orang menggangguku, pedang tidak kenal ampun lagi.
Ya, pedang inilah, entah berapa banyak pedang ini telah minum darah manusia."
Sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, langsung ia tusuk Coh Liu-hiang.
Sudah banyak pengalaman Coh Liu-hiang Dahulu waktu bertemu dengan 'It-tiam-ang' (setitik merah), Coh Liu-hiang merasa kecepatan pedangnya tiada bandingannya di dunia ini.
Kemudian dia pernah bertemu dengan tokoh bernama Swe It-hoan.
Lalu, waktu bertemu dengan si sinting Sih Po-po, kembali Coh Liu-hiang merasa kecepatan Swe lt-hoan tiada artinya lagi.
Baru sekarang akhirnya Coh Liu-hiang tahu 'pedang kilat' yang sebenarnya.
(Baca seri ke-1, 2 dan 3 oleh Gan KH) Tusukan Sih Ih-jin itu sama sekali tidak terasa olehnya, seolaholah umpama bayangan, tanpa wujud, siapa pun tidak tahu cara bagaimana Sih Ih-jin melancarkan serangannya, dan Coh Liu-hiang sendiri tidak dapat mengelak sama sekali.
Cuma, serangan kilat itu setiba di depan tengorokan, kira-kira cuma satu centi saja jaraknya, lalu berhenti.
Cara berhentinya juga sama cepatnya seperti waktu menyerang, sama-sama terjadi dengan mendadak dan sukar dibayangkan.
Sungguh, cara berhenti menyerang mendadak ini jauh mengejutkan Coh Liu-biang daripada kecepatan menyerangnya tadi.
Jelas waktu menyerangnya tadi Sih Ih-jin tidak menggunakan seluruh tenaganya, kalau tidak tentu serangannya tak bisa berhenti mendadak.
Dan kalau serangannya yang tidak menggunakan sepenuh tenaga itu sudah sedemikian lihainya, lalu betapa hebat pula bilamana ia menyerang dengan sepenuh tenaga?.
Sih Ih-jin memandang Coh Liu-hiang lekat-lekat, agaknya ia pun terkesiap heran, jelas ujung pedangnya sudah berada di depan tenggorokannya, tetapi Coh Liu-hiang tetap tenang-tenang saja, bahkan mengedipkan mata saja tidak.
Ketenangan orang muda ini sudah mencapai tingkatan yang sukar dibayangkan pula, melulu daya ketenangan ini saja sudah cukup memadai seorang maha guru persilatan manapun juga.
Meski ujung pedang tidak sampai menyentuh kulit leher Coh Liuhiang, tapi hawa pedang yang dingin sudah terasa menyayat kulit namun Coh Liu-hiang tetap diam saja.
Bagi Coh Liu-hiang, kejadian ujung pedang mengancam di tenggorokan bukan cuma sekali saja.
Meski ia pun tahu, sekali ini jauh lebih cepat daripada pedang manapun juga dan tidak mungkin dapat dihindari.
Sil Ih-jin memandangnya dengan dingin, selang sejenak baru berkata pula.
"Apakah kedatanganmu mi karena mengincar pedangku ini?"
Coh Liu-hiang tertawa, jawabnya.
"Kaukira kedatanganku ini hendak mencuri pedangmu?"
"Nama harum Coh-Hiang-swe telah lama kukagumi "
Ujar Sih Ihjin.
"Jika begitu seharusnya kau tahu selamanya dia tidak pernah mengincar sesuatu barang sahabatnya."
"Segala apa tentu juga ada kecualinya, bisa jadi sekali ini pun terkecuali dari kebiasaanmu itu."
"Mengapa sekali ini harus kukecualikan?"
"Bukankah kau sangat tertarik dalam hal pedang, dan kau pun mempunyai pengetahuan yang sangat luas dalam bidang ini."
"Betul, urusan pedang memang sangat menarik bagiku, sama halnya aku tertarik untuk makan Ang-sio-bak, akan tetapi untuk itu aku kan tidak perlu mencuri seekor babi ke rumah dan diam-diam menyembelihnya?"
"Habis, untuk tujuan apa kedatanganmu ini?"
Sih Ih-jin bertanya dengan suara bengis.
"Bilamana tenggorokanku terancam oleh ujung pedang orang, biasanya aku tak suka berbicara dengannya,"
Jawab Coh Liu-hiang dengan tak acuh.
"Kau lebih suka kutusukkan pedangku ini?"
"Kalau Sih Ih-jin adalah manusia yang suka menyerang orang secara mendadak tanpa diketahui lawannya lebih dahulu, maka pasti akulah yang salah menilai dirimu. Dan kalau aku salah menilai dirimu, sekalipun aku mati di tanganmu juga tidak perlu penasaran, anggap saja mataku sendiri yang lamur?"
Sih Ih-jin menatapnya sekian lama pula, katanya kemudian dengan pelahan.
"Memangnya kau belum pernah salah menilai orang selama ini?"
"Apabila dapat kubiarkan seseorang berdiri di sampingku dengan pedang terhunus, maka aku pasti takkan salah menilainya,"
Ujar Coh Liu-hiang dengan tersenyum.
"Bagus, bagus!"
Sih Ih-jin bergelak "Nyata Coh-Liu-hiang memang seorang pemberani, sungguh hebat dan tidak bernama kosong."
"Creng", segera Sih Ih-jin sarungkan pedangnya Lalu dengan tersenyum ia berkata pula.
"Tetap bila kedatangan Coh Hiang-swe ini melulu karena urusan Hoa Kim-kiong, betapapun aku juga tidak percaya."
"Ya, aku sendiri pun tak percaya,"
Tukas Coh Liu-hiang. Senyum di wajah Sih lh-jin pelahan-lahan lenyap, katanya.
"Kunjungan Coh Hiang-swe ke Sih-keh-ceng jangan-jangan maksud tujuannya agar Hoa Kim-kiong membawamu menemui aku?"
Dengan tertawa Coh Liu-hiang menjawab.
"Sih-tayhiap sudah lama mengasingkan diri, kalau Cayhe ingin menemui orang yang luar biasa, terpaksa harus menggunakan cara yang luar biasa pula."
"Mengapa kau terburu-buru ingin menemui aku."
Tanya Sih Ih-jin dengan sorot mata gemerlap. Coh Liu-hiang berpikir sejenak, jawabnya kemudian.
"Dua tahun terakhir ini, di dunia Kangouw tiba-tiba muncul suatu komplotan pembunuh bayaran."
"Apa? Pembunuh bayaran?"
Sih Ih-jin menegas dengan melengak.
"Ya, orang-orang ini tidak membedakan salah dan benar, tidak peduli baik atau jahat, pekerjaan mereka hanya membunuh orang, siapa yang berani membayar dan mereka pun akan membunuh."
Setelah menghela napas gegetun, Coh Liu-hiang menyambung pula.
"Mereka membunuh tanpa peduli siapa yang menjadi sasaran, orang dari kalangan mana pun dapat mereka bunuh, sekalipun orang yang tiada sangkut paut dengan dunia persilatan juga dapat mereka bunuh. Sebab itulah aku menganggap mereka jauh lebih busuk dan lebih menakutkan daripada kawanan bandit, sebab kawanan bandit sedikitnya masih memilih sasaran dan tak mungkin turun tangan kepada sembarang orang."
Tampak tertarik juga Sih Ih-jin, katanya.
"Di dunia Kang ouw timbul orang macam begini, mengapa kabar mereka sedikitpun tidak pernah kudengar?"
"Komplotan ini sangat misterius dalam setiap gerakan, jika mereka tidak menyatroni diriku, sama sekali aku tidak tahu."
"Tetapi kalau mereka berani mengincar Hiang-swe, mungkin mereka pun sudah dekat dari tamat,"
Ujar Sih Ih-jin dengan tertawa.
"Komplotan itu sekarang memang telah banyak yang mati dan terluka, jelas mereka tidak bisa banyak beraksi lagi, cuma pemimpin mereka sampai saat ini masih bebas dari pencarianku."
"Siapakah pemimpin mereka?"
Tanya Sih Ih-jin.
"Sampai saat inipun aku tidak tahu siapa dia, hanya kutahu orang ini cerdik luar biasa, ilmu pedangnya juga maha tinggi,"
Tutur Coh Liu-hiang.
"Wah, maka Hiang-swe lantas mencurigai orang ini ialah diriku?"
Kata Sih Ih-jin dengan tersenyum. Coh Liu-hiang juga tersenyum, jawabnya.
"Jika tidak, tentu aku juga tidak akan datang kemari."
"Dan sekarang apakah Hiang-swe sudah mendapatkan tandatanda yang meyakinkan?"
Tanya Sih Ih-jin dengan sorot mata tajam.
"Seranganmu tadi memang ada tujuh bagian mirip dengan cara mereka,"
Jawab Coh Liu-hiang dengan tenang.
"Jika demikian, jadi kau anggap aku inilah pemimpin pembunuh bayaran itu?"
Tanya Sih Ih-jin dengan suara berat. Coh Liu-hiang tersenyum, jawabnya.
"Jika kau pemimpin komplotan pembunuh itu, tentu seranganmu tadi takkan kau tarik kembali"
Sih lh-jin tidak bicara lagi, pelahan ia membalik tubuh dan menyimpan kembali pedangnya ke peti panjang tadi, terlihat pundaknya bergerak naik turun, agaknya perasaannya sangat terguncang.
Selang agak lama barulah ia berkata dengan pelahan.
"Apakah kau tahu sebab apa hingga sekarang Cu Kin-hou belum kubunuh?"
Pertanyaan tiba-tiba dan tak terduga ini membuat Coh Liu-hiang melengak seketika.. Syukurlah tanpa menunggu jawaban, segera Sih lh-jin berkata pula.
"Sebabnya selama hidupku ini, tidak saja sangat sedikit sahabatku, bahkan musuh juga tak banyak, lebih-lebih musuh serupa Cu-Kin-hou itu, bilamana kubunuh dia tentu hidupku akan lebih kesepian lagi."
Meski Coh Liu-hiang tidak dapat melihat air mukanya, karena Sih lh-jin bicara menghadap ke sana, namun timbul juga rasa haru dan pedih melihat bayangan punggung orang yang agak kurus dengan rambut yang sudah ubanan itu, ucapnya dengan menghela napas.
"Sejak zaman dahulu, ksatria sejati memang banyak yang hidup kesepian. Seorang kalau masih berada di bawah selalu ingin menanjak ke atas, makin menanjak makin tinggi. Tapi kalau sudah terlalu tinggi, orang yang ikut naik ke atas semakin berkurang pula. Apabila diketahuinya di tempat ketinggian itu kini tinggal dia sendiri, maka sukarlah baginya untuk balik lagi ke bawah."
Tubuh Sih lh-jin yang jangkung itu tiba-tiba seperti rada-rada bungkuk, setelah termenung lama pula kemudian dia menghela napas panjang dan berkata pula.
"Namun lambat laun aku sudah tua, seorang kalau sudah mendekati ajalnya tentu ingin segera membereskan utang piutang semasa hidupnya, supaya tidak ikut masuk ke dalam liang kubur."
Coh Liu-hiang terdiam, sebab ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Maka Sih lh-jin menyambung pula.
"Sebab itulah aku sudah berjanji dengan Cu Kin-hou untuk duel pada malam penghabisan sebelum ganti tahun ini, bukan duel pribadi antara kami berdua saja, tapi duel bagi kedua keluarga Sih dan Cu. Sebab kedua keluarga kami telah bermusuhan selama beratus tahun, begitu lama sejarah permusuhan ini, hingga hampir membuat orang yang bersangkutan lupa mengenai sebab musabab permusuhan itu."
Coh Liu-hiang sangat tertarik, katanya.
"Mengapa Cu Kin-hou tidak memberitahukan padaku mengenai janji duel kalian ini?"
Sekarang ia pun paham sebabnya Cu Kin-hou buru-buru ingin menikahkan putrinya, sebab kalau anak perempuannya sudah menikah, itu bukan lagi anggota keluarga Cu dan tidak perlu ikut dalam pertarungan maut ini, nyata betapa cinta kasih seorang ayah terhadap puterinya terbukti dari timbang rasa Cu Kin-hou ini.
Mendadak Sih lh-jin membalik tubuh dan menatap tajam Coh Liu-hiang, lalu berkata.
"Tadinya kusangka kau telah diberi tahu urusan ini, maka kukira kedatanganmu ini adalah untuk membantu dia, untuk itu kau sengaja hendak menyelidiki keadaanku bagi Cu Kin-hou."
"Ya, menurut dugaanmu tentu kau mengira aku akan mencuri pedangmu,"
Ucap Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Memang, bilamana seorang hendak berduel dengan seekor harimau, paling efektif jika sebelumnya berusaha mencabut gigi sang raja hutan itu."
Dia merandek dan tertawa, lalu menyambung pula.
"Tapi seumpama Coh Liu-hiang adalah manusia rendah begini, jelas Cu Kin-hou tidak mungkin bertindak demikian, kalau tidak, tentu dia tidak ada harganya untuk menjadi musuh Sih lh-jin, Sih-tayhiap."
"Dan kalau Coh liu-hiang adalah manusia demikian, seumpama aku salah lihat akan dirimu, maka itupun salahku sendiri, mataku yang lamur, mana boleh menyalahkan orang lain, betul tidak?". Ucapannya ini tepat sama seperti apa yang dikatakan Coh Liuhiang kepadanya tadi. Memandangi wajah orang yang dingin itu lapat-lapat dalam hati Coh Liu-hiang timbul rasa hangat, sebab sekarang ia tahu bahwa orang tua itu sesungguhnya tidak sedingin sebagai mana terlihat dari wajahnya. Katanya kemudian.
"Jadi duel kalian di malam tahun baru sudah tidak dapat dihindarkan lagi?"
Sih Ih-jin terdiam sejenak, mendadak ia tertawa dan berkata.
"Ikan yang dimasak Hong-hong tentu sudah siap, marilah kita minum barang secawan dahulu."
Sesungguhnya Coh Liu-hiang bukan setan arak sebagaimana kawan karibnya, Oh Thi-hoa.
Biasanya ia jarang minum arak di siang hari, hanya pada waktu hatinya sedang sangat senang atau sangat berduka saja memang harus dikecualikan.
Dan sekarang juga suatu kekecualian bagi Coh Liu-hiang, tapi ia sendiri tidak tahu apakah sekarang ini dia teramat gembira atau sebenarnya bersedih.
Sesungguhnya banyak persoalan yang merundung pikirannya, bahkan persoalan yang rumit, ia ingin mencari waktu yang baik untuk merenungkannya.
Sebelum persoalan-persoalan itu terpikir jelas, urusan apapun takkan di lakukannya.
Rasa Loh-hi yang disajikannya sebenarnya memang cukup lezat, cuma Coh Liu-hiang menyangsikan masakan ini pasti bukan olahan Si-siaunaynay sendiri, sebab pada tangannya tidak nampak sedikitpun lepotan minyak.
Sudah banyak Coh Liu-hiang kenal perempuan yang tidak becus masak, tapi perempuan begitu justru sok pamer, pura-pura sembunyi di dapur, lalu mengeluarkan masakan yang sudah siap kepada tamunya serta berkata.
"Maaf, masakan tidak enak". Dengan demikian dia ingin memberi kesan kepada tamunya bahwa dia sendiri yang mengolah masakan itu. Maklum, perempuan yang sok begini, juga tahu bahwa mahir memasak bukan hanya kebanggaan seorang isteri, tapi juga kebanggaan sang suami. Benar seperti sudah diduga Coh Liu-hiang, dengan tertawa genit Si-siaunaynay lantas berkata.
"Mungkin kurang lezat masakan ikan ini, harap Hiang-swe jangan menertawakan diriku."
Sungguh sial bagi Si-siaunaynay alias Sih Hong-hong, belum lagi Coh Liu-hiang menjawab, sang ayah sudah menyela dengan hambar.
"Hakikatnya goreng telur saja kau tidak becus, masa kau mengaku masak ikan segala......"
Keruan Si-siaunaynay menjadi tersipu-sipu, belum habis ucapan Sih Ih-jin, terus saja ia mengeluyur masuk ke dalam. Hoa Kim-kiong lantas menanggapi dengan tertawa.
"Ah, tak kusangka Cinkehong juga suka berseloroh, mungkin hatimu menjadi senang setelah bertemu dengan Coh Hiang-swe, untuk ini engkau mesti berterima kasih kepadaku."
"Betul, apabila Si-cinkehong hadir, tentu akan kuhormati dia satu cawan,"
Kata Sih lh-jin. Melengak juga Hoa Kim-kiong, katanya kemudian sambil menyengir.
"Silakan Hiang-swe omong-omong dulu, biarlah ku cari Cinkehnio di belakang."
Setelah Hoa Kim-kiong pergi, Sih lh-jin menghela napas lega, katanya.
"Akhirnya dia dapat memahami arti ucapanku dan tahu kemana dia harus pergi. Sungguh tidak mudah untuk membikin mengerti orang perempuan."
"Ya, tidak mudah,"
Tukas Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Jika perempuan tidak dienyahkan, mana orang lelaki dapat minum arak dengan tenang. Marilah kita habiskan secawan!"
Coh Liu-hiang mengiringi ajakan tuan rumah, sekali tenggak mereka menghabiskan isi cawan masing-masing, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata dengan menyesal.
"Apabila antara keluarga Sih dan Cu tidak saling bermusuhan, tentu kau dan Cu Kinhou dapat menjadi sahabat yang baik."
Air muka Sih lh-jin tampak berubah, katanya.
"Kau memang kawan baik Cu Kin-hou, sekarang juga kawanku, cuma kuharap kau mesti paham satu hal, yakni permusuhan antara ke luarga Sih dan Cu tak mungkin didamaikan oleh siapa pun juga."
"Sebab apa?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Tahukah kau, selama seratus tahun ini betapa banyak korban dari keluarga Sih yang terbunuh oleh orang she Cu?"
"Kukira kematian di pihak keluarga Cu juga sama banyaknya,"
Ujar Coh Liu-hiang.
"Memang,"
Kata Sih Ih-jin.
"Justru lantaran inilah, maka permusuhan kedua keluarga juga bertambah mendalam, kecuali salah satu keluarga sudah hancur dan mati seluruhnya, kalau tidak, siapapun jangan berharap akan dapat mendamaikan permusuhan ini."
Ngeri juga Coh Liu-hiang, seketika ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya lagi. Pada saat itulah mendadak seorang berteriak.
"Bagus, kalian makan enak di sini tanpa mengundangku."
Seseorang lantas menerobos masuk, siapa lagi dia kalau bukan si sinting Sih Po-po.
Baju yang dipakainya sekarang ber warna merah dengan sulaman seekor kura-kura di depan dada nya.
Tampaknya Sih Po-po sudah tidak kenal Coh Liu-hiang lagi, tanpa permisi segala, segera ia ikut duduk di meja perjamuan itu, satu porsi ikan terus dipindahkan ke depan sendiri, tanpa cuci tangan, terus saja ia comot sepotong ikan dan dilalap begitu saja.
Sih Ih-jin berkerut kening, sambil menyengir ia perkenalkan Sih Po-po kepada Coh Liu-hiang.
"Inilah saudaraku Siau-jin, dia........."
Belum lanjut ucapannya. Sih Po-po yang mulutnya penuh ikan itu sembari menumpahkan duri ikan, ia pun menyela dengan tertawa.
"Sih Ih-jin adalah jago pedang nomor satu, Sih Siau-jin adalah jago gegares nomor satu. Sejak kecil Sih Siau-jin selalu kalah bila berkelahi dengan Sih Ih-jin, tapi kalau bertanding makan, betapapun Sih Ih-jin pasti angkat tangan dan menyerah."
"Siapa yang suruh kau datang kemari?"
Tanya Sih Ih-jin dengan gusar.
"Ini kan juga rumahku, mengapa aku tidak boleh kemari"
Jawab Sih Po-po dengan tertawa.
"Kau boleh memaki aku goblok, boleh memaki aku tidak becus, tapi kau kan tidak dapat bilang aku bukan anaknya ayah"
Sih Ih-jin menggeleng sambil menghela napas, katanya.
"Harap Hiang-swe jangan menertawakan, tadinya dia tidak begini, baru tujuh-delapan tahun yang lalu, entah mengapa mendadak dia...........dia berubah."
Diam-diam Coh Liu-hiang merasa gegetun.
Memang, setiap rumah tangga tentu mempunyai kesukaran sendiri-sendiri, setiap rumah tentu ada hal-hal yang tak diketahui orang luar.
Meski pendekar pedang nomor satu seperti Sih Ih-jin juga tiada ubahnya seperti orang biasa, ia pun mempunyai kemalangan dan kekesalan rumah tangga, hanya saja hal-hal demikian tertutup oleh namanya yang gemilang, orang luar cukup tahu nama Sih Ih-jin yang cemerlang, tapi lupa bahwa di bawah cahaya yang cemerlang itupun ada bayangan yang gelap.
******** Maksud kedatangan Coh Liu-hiang sebenarnya ingin menyelidiki rahasia pemimpin komplotan pembunuh bayaran yang penuh misteri itu, tapi sekarang tujuannya telah berubah.
Cu Kin-hou adalah sahabat baiknya, dia harus bantu menyelesaikan soal pelik ini.
Apalagi peristiwa 'mayat kesurupan roh' ini sesungguhnya sukar untuk dibayangkan, ia sendiri pun ingin membikin terang kejadian ini, maka sebelum tiba di Sih keh-ceng, sebenarnya sudah disiapkan macam-macam pertanya an yang akan diajukan kepada Sih Ih-jin, tapi sekarang mendadak ia merasa di balik persoalan ini masih banyak hal-hal lain yang perlu diselidiki dan dipelajari, maka ia ambil keputusan untuk sementara ini takkan banyak bicara.
Sih Ih-jin juga tidak menahannya, dia cuma menentukan pertemuan berikutnya dengan Coh liu-hiang, lalu mengantar tamunya keluar dan menyaksikan keberangkatannya hingga menghilang di kejauhan.
Sih Po-po menyaksikan kepergian Coh Liu-hiang juga, cuma dia tidak mengantar, melainkan sembunyi di belakang pintu sambil tertawa nyekikik.
Coh Liu-hiang tidak menumpang kereta, juga tidak naik kuda, baginya berjalan kaki terkadang otaknya bisa bekerja lebih jernih.
Sebab berjalan dapat membuat aliran darah bertambah lancar, aliran darah ke bawah bisa turun lebih cepat dan otakpun bisa lebih dingin dan tenang.
Maklum, pada saat ini dia sangat memerlukan otak yang tenang.
Sesungguhnya apa yang telah ditemukan olehnya?
Apa pula yang dipikirnya?
Setelah serangan pertama berhasil, segera si baju hitam bermaksud menusuk pula untuk kedua kalinya, tapi pada saat itu mendadak tertampak kabut putih bersemu merah berhamburan dari tangan Coh Liu-hiang, hidung pun mengendus bau harum semerbak.
Keruan ia terkejut, cepat ia menahan napas dan memejamkan mata, untuk menjaga segala kemungkinan dia putar pedangnya seperti kincir, berbareng itu ia pun menyurut mundur ke ambang pintu.
Waktu dia membuka mata dan dapat melihat jelas, tertampak Coh Liu-hiang masih berdiri tegak di tempatnya dan sedang memandangnya dengan tenang, malah mengulum senyum pula.
Namun jelas juga ujung pedangnya ada tetesan darah segar.
Jadi Coh Liu-hiang pasti juga sudah terluka.
Si baju hitam tertawa terkekeh-kekeh, katanya.
"Kecepatan reaksi Coh Hiang-swe sungguh tiada bandingnya di dunia ini, cuma sayang tetap tak mampu menghindarkan tusukanku tadi."
Coh liu-hiang tersenyum tak acuh, jawabnya, 'Sebenarnya aku sangat heran, siapakah gerangan yang dapat menyerang secepat ini, tak tersangka kiranya engkau adanya."
"Bukankah engkau sedang mencari jejakku?"
Tanya si baju hitam dengan tertawa.
"Memang betul, sudah sekian lama kucari kau, tak terduga kau benar-benar berada di sini."
"Jika kau berada di sini, dengan sendirinya aku pun berada di sini."
"O, jadi kau selalu menguntit aku?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Ya,"
Jawab si baju hitam.
Nyata dia inilah orang yang sedang diselidiki Coh Liu hiang, yaitu pemimpin komplotan pembunuh bayaran yang lihai itu (hal ikhwal tentang komplotan pembunuh bayaran ini dikisahkan pada seri Maling Romantis sebelumnya........oleh Gan K.L).
Dengan sorot mata tajam seperti mata elang, si baju hitam menatap Coh-Liu-hiang, dengusnya.
"Telah sekian lama kau mencari diriku, sekian lama pula kucari dirimu. Kau inginkan jiwaku, aku menghendaki jiwamu, di antara kita berdua memang cuma seorang saja yang berhak hidup terus."
Coh Liu-hiang tersenyum, jawabnya.
"Menurut pendapatmu, siapa yang berhak hidup terus?"
Sorot si baju hitam jatuh pula pada tetesan darah di ujung pedangnya, katanya dengan tenang.
"Sampai kini, masa kau masih ingin hidup lagi?"
Coh Liu-hiang tertawa jawabnya tak acuh.
"Kecepatan pedangmu memang luar biasa, cuma sayang......."
Mendadak si baju hitam menyela.
"Jika seranganku pertama tak dapat kau hindari, seranganku yang kedua pasti akan merenggut nyawaku."
"Betul, setelah terluka, dengan sendirinya aku tidak mampu mengelakkan lagi kecepatan pedangmu."
Kata Coh Liu-hiang dengan tersenyum.
"Akan tetapi seranganmu yang kedua apakah kiranya dapat kau lontarkan lagi?"
"Hm, untuk membunuh orang selamanya aku tidak kenal kasihan,"
Jengek si baju hitam.
"Ada pameo yang tersiar luas di dunia Kangouw, masa kau tidak pernah mendengarnya?"
"Pameo apa,"
Tanya si baju hitam. Coh Liu-hiang lantas tarik suara seperti orang bersenandung.
"Dupa perenggut nyawa si maling cakap, diam-diam akan merantas usus orang......"
Sekonyong-konyong terbelalak mata si baju hitam, serunya.
"Apa katamu? Dupa perenggut nyawa?"
"Betul, baru saja kau telah terkena Siau-hun-hiang (dupa perenggut nyawa) yang kutaburkan, tanpa pertolonganku, dalam waktu satu jam, racun akan bekerja dan tak tertolong lagi."
Untuk sejenak si baju hitam melototi Coh Liu-hiang, mendadak ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak pula. katanya.
"Hahahaha! Coh Liu-hiang, jangan kau harap akan dapat menipuku. Yang kau taburkan tadi tidak lebih hanya satu kotak pupur wangi yang biasa digunakan kaum wanita."
Coh Liu-hiang menghela napas menyesal, gumamnya.
"Pupur wangi kaum wanita? Di sini memangnya ada pupur wangi kaum wanita segala? Memangnya siang malam dan kemana pun pergi, senantiasa aku membawa pupur......?"
Makin bicara makin menjadi geli dan akhirnya ia pun bergelak tertawa Mendadak si baju hitam membentak dengan bengis.
"Pokoknya, selama kau masih hidup di dunia ini, maka selama itu pula aku akan tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur, betapapun kau harus kubunuh dulu."
"O, boleh silakan."
Jawab Coh Liu-hiang.
"Seumpama Siau hun-hiang yang kau katakan itu benar, maka padamu tentu juga ada obat penawarnya, setelah kucabut jiwamu, tentu pula obat penawarnya akan dapat kutemukan."
"Hahaha, pikiran yang bagus,"
Seru CohLiu-hiang sambil tersenyum.
Si baju hitam menggenggam pedangnya erat-erat, gigi gemerutuk saking menggeregetnya, meski ucapannya tegas dan garang, tapi hati menjadi ragu dan tangan terasa rada lemas, serangan kedua ternyata tidak dapat dilontarkan lagi.
"Kenapa engkau tidak lekas menyerang? Jika lebih cepat membunuhku, kan obat penawarnya juga lebih cepat kau dapatkan?"
Kata Coh Liu-hiang dengan tersenyum tenang.
"Ap....... apakah obat penawarnya tidak berada padamu?"
Tanya si baju hitam dengan sangsi.."Apa yang kukatakan toh takkan kau percaya, lalu untuk apa kau tanya padaku?"
Dengan gregetan si baju hitam berkata pula.
"Seumpama kulepaskan kau, tapi cara bagaimana kuyakin kau akan memberi obat penawarnya?"
"Ya memang tiada pegangan,"
Kata Coh Liu-hiang.
Mendadak sorot mata si baju hitam berubah tenang, ia menatap lekat-lekat wajah Coh Liu-hiang, sejenak kemudian barulah berkata pula "Jika aku tidak membunuhmu, apakah kau akan memberi obat penawarnya?"
"Kukira tukar menukar ini takkan merugikan siapa-siapa,"
Ujar Coh Liu-hiang.
"Kemudian?"
Tanya si baju hitam.
"Kemudian kau akan tahu apa yang harus kau lakukan lagi,"
Jawab Coh Liu-hiang.
"Akan kutulis cara menawarkan racun itu pada pohon pertama yang mudah kau lihat di luar sana, tapi hendaklah ingat betul-betul, kau harus menghitung sampai seribu bulat baru boleh keluar. Kalau tidak, maka gugurlah perjanjian ini."
Si baju hitam berpikir sejenak, katanya kemudian "Coh Liu-hiang selamanya tidak pernah ingkar janji, entah kabar ini benar apa tidak?"
Coh Liu-hiang tertawa, katanya.
"Benar atau tidak, dalam waktu singkat kau akan buktikan sendiri."
Segera ia melangkah lewat di samping si baju hitam, padahal cukup dengan sekali bergerak, pedang si baju hitam dapat menembus lehernya, namun Coh Liuhiang tidak gentar sedikit pun, bahkan memandang sekejap saja tidak kepada si baju hitam.
Pertaruhan kini sudah jadi, Coh Liu-hiang tahu, mau tak mau lawan pasti bertaruh dan menunggu sampai terbuka hasil pertaruhan ini.
Dengan melotot si baju hitam menyaksikan kepergian Coh Liuhiang, otot dagingnya serasa menegang.
Dilihatnya Coh Liu-hiang telah keluar dan merapatkan pintu.
Maka dengan mengepal kencang menahan perasaannya, ia mulai menghitung.
"Satu, dua, tiga, empat................."
Bukan soal sulit untuk menghitung satu sampai seribu, jika hitungnya cepat, hanya sekejap saja akan selesai.
Akan tetapi bagi si baju hitam, sekarang bilangan seribu itu seolah-olah tidak habishabisnya terhitung.
Sesungguhnya dia memang seorang petualang, seorang petaruh.
Cuma sekali ini taruhannya memang kelewat besar dan juga terlalu berbahaya, apabila ada sedikit pilihan baginya, tidak mungkin dia mau bertaruh secara demikian.
Karena itu ia mempercepat hitungannya.
"Sembilan ratus sembilan puluh empat................. sembilan ratus sembilan puluh delapan........"
Begitu hitungan seribu sudah lengkap, serentak si baju hitam membuka pintu dan melompat keluar.
Hanya beberapa kali lompatan saja, ia menuju ke pohon pertama yang dilihatnya.
Benar juga, di bawah pohon terdapat beberapa huruf yang dicoret dengan ranting kayu.
'Kau tidak keracunan!' demikian bunyi tulisan itu.
Tulisan yang lebih tepat dikatakan corat-coret itu seakan-akan sedang mengejek padanya.
Keruan si baju hitam melengak, setelah tertegun sejenak, akhirnya ia meludahi corat-coret itu disertai injakan dan menyapu dengan kakinya.
"Maknya dirodok, pukima, diamput........"
Demikianlah saking gregetan ia memaki habis-habisan, hampir segala kata makian dari daerah dihamburkan seluruhnya ke alamat Coh Liu-hiang.
Nyata ia telah kena dikibuli oleh orang she Coh itu.
Padahal tadi cukup hanya sekali lagi ayun pedang dan Coh Liu-hiang dapat dibinasakannya.
Sungguh tak habis terpikir olehnya mengapa tadi sedikit pun Coh Liu-hiang tidak memperlihatkan rasa gentar dan tegang.
Padahal kalau waktu itu tertampak setetes keringat saja di dahi Coh Liuhiang, mungkin saat itu juga pedangnya sudah bekerja.
"Bagus kau, Coh Liu-hiang."
Demikian si baju hitam bergumam sendiri dengan gemas.
"Tapi kau pun jangan keburu senang dulu, meski sekarang kau dapat lolos dari tanganku, akhirnya kau akan menjadi setan di bawah pedangku."
Tiba-tiba teringat olehnya Coh Liu-hiang sudah terluka parah, andaikan kabur pasti juga belum jauh, jika dikejar mungkin masih dapat menyusulnya.
Ia lihat diatas tanah memang ada beberapa titik darah yang sudah mengering, segera ia berjongkok dan mulai meneliti, seperti anjing pelacak saja, akhirnya ia dapat menemukan sederetan bekas kaki.
Lalu ia mengejar ke sana.
Jika ditimbang menurut luka Coh Liu-hiang yang cukup parah itu, sesungguhnya dia memang tidak mungkin dapat lari jauh dan dengan cepat pasti akan dapat disusul oleh si baju hitam.
Cuma sayang, si baju hitam telah salah sangka, kembali dia kena diingusi pula.
Sebab pada hakikatnya Coh Liu-hiang tidaklah lari pergi, dia justru sembunyi di atas pohon itu.
Maka dia dapat mendengar jelas semua kata makian si baju hitam tadi.
Mau tak mau ia hanya menyengir saja.
Selama hidupnya mungkin tidak pernah dimaki orang sedemikian rupa komplet seperti sekarang.
Dilihatnya si baju hitam sudah pergi jauh dan akhirnya lenyap dari pandangan, mata Coh Liu-hiang sendiri pun mulai terasa berkunang-kunang, tubuh terasa lemas, akhirnya ia jatuh terbanting ke bawah pohon.
Jika sekarang si baju hitam memutar balik, jelas Coh Liu-hiang tidak mampu melawan sama sekali.
Apapun juga dia manusia, manusia yang terdiri dari darah dan daging, kalau punggungnya tertusuk pedang seberat itu, tentu lukanya tidak boleh dibuat mainmain.
Coh Liu-hiang sendiri tidak dapat melihat luka di bagian punggung, tapi ia tahu lukanya sangat dalam, rasanya tertusuk hingga tulang punggung, darah yang mengalir dengan sendirinya juga tidak sedikit.
Dalam keadaan seperti sekarang, jelas dia tidak sanggup pulang ke Ceng-pwe-san-ccng.
Dengan napas terengah-engah dia bersandar pada batang pohon.
Selagi bermaksud mencari tempat sembunyi darurat mendadak didengarnya suara kresak-kresek orang datang menyusur hutan sana.
Napas Coh Liu-hiang serasa terhenti saking cemasnya.
Ia pikir kalau si baju hitam yang kembali, maka jiwanya pasti akan melayang.
Didengarnya suara orang sedang berkata.
"Di tempat begini mana ada cukong murah hati, tampaknya aku tertipu lagi olehmu."
"Untuk apa kutipu kau?"
Terdengar seorang lagi berkata.
"Yang jelas setiap kali kudatang, sekali mereka memberi, sedikitnya lima uang."
"Lima uang untuk pengemis, apakah orang itu sudah gila?"
Kata orang pertama tadi "Kau tidak tahu, pada umumnya lelaki sok pamer di depan orang perempuan, berlagak murah hati dan royal,"
Kata orang pertama dengan tertawa.
"Sudah tentu yang kumaksudkan bukanlah suami istri, tetapi kekasih, lelaki takkan royal di depan isterinya."
"Memangnya berada dimana kedua lelaki perempuan yang murah hati itu?"
Kata orang pertama dengan tertawa.
"Itu, di rumah kecil sana itu,"
Jawab orang kedua.
"Tampaknya mereka sedang mengadakan pertemuan gelap di sana."
Dari suaranya, jelas.kedua orang ini masih anak-anak.
Diam-diam Coh Liu-hiang merasa lega.
Waktu ia berpaling ke sana, dilihatnya dua pengemis berusia belasan tahun sedang mendatangi dengan tertawa-tawa.
Meski pakaian mereka compangcamping, tapi nampak riang gembira, yang di sebelah kiri bermuka burik, matanya besar, tampaknya sangat bengal dan suka mengacau.
Yang sebelah kanan berkepala gundul, tampaknya jauh lebih dugal lagi daripada si burik.
Gerak gerik kedua bocah ini kelihatan gesit, agaknya dasar ilmu silat mereka tidak lemah.
Selama hidup Coh Liu-hiang, hampir tidak pernah segembira sekarang demi melihat pengemis cilik ini.
Belum pernah terbayang olehnya bahwa dua pengemis cilik ini ternyata sedemikian menariknya.
Sementara si burik dan si gundul juga sudah melihat Coh Liuhiang, serentak mereka berhenti melangkah, dengan terbelalak mereka memandang Coh Liu-hiang yang berlepotan darah itu.
Coh Liu-hiang tertawa pada mereka dan menyapa.
"Kungfu bagian kaki kedua saudara cilik tampaknya tidak lemah, apakah kalian anak murid Kay-pang?"
Si gundul mengerling, jawabnya.
"Untuk apa aku harus menjawab?"
"Apakah kalian dapat membawaku menemui Liongthau-toako (saudara pimpinan) kalian?"
Tanya Coh Liu-hiang. Si burik mengerling dan menjawab.
"Untuk apa harus kubawa kau ke sana?"
Coh Liu-hiang berkata pula.
"Namaku Coh L.u-hiang, kupikir Liongthau-toako kalian pasti suka menemui aku."
"Apa itu Coh Liu-hiang......"
Belum lanjut ucapan si burik, mendadak mukanya dipersen sekali gamparan oleh si gundul. Keruan si burik berjingkat kaget, segera ia pun berteriak gusar.
"Kenapa kau memukul aku?"
Sambil mencibir si gundul menjawab.
"Jika Coh Hiang-swe saja kau tidak tahu, biarpun ditempeleng sepuluh kali juga belum cukup banyak."
Sambil meraba mukanya yang sakit, mendadak mata si buruk terbeliak, serunya.
"He, Coh Hiang-swe katamu? Apakah maksudmu Coh Hiang-swe yang terkenal sebagai Pendekar Harum itu?"
"Selain Coh Hiang-swe ini, darimana ada Coh Hiang-swe yang lain,"
Ujar si gundul.
"Plok", kembali muka si burik dipersen lagi satu kali gamparan, tapi bukan ditampar si gundul, melainkan ditampar oleh si burik itu sendiri.
"Wah, tolol benar aku ini......"
Demikian si burik menggerutu.
******* Di suatu kelenteng bobrok, tampak berkumpul belasan orang pengemis, semuanya berbaju compang-camping, tapi semangat mereka tidak seorang pun yang lesu, sekali pandang saja, orang akan tahu mereka pasti anak murid Kay-pang.
Di tengah ruangan kelenteng itu ada api unggun dengan sebuah kuali besar, terendus bau sedap daging rebus, tapi daging itu tidak sembarang daging melainkan daging anjing.
Andaikan di dunia ini ada anjing yang tidak menggigit pengemis, tapi jarang ada pengemis yang tidak makan daging anjing.
Ini sama halnya kalau waktu minum arak boleh tanpa makan daging anjing, tapi bila makan daging anjing, justru tidak boleh kekurangan arak Jadi pengemis, daging anjing dan arak, ketiganya seperti tidak pernah terpisahkan Pengemis-pengemis yang hadir dalam 'perjamuan' ini kebanyakan memanggul dua tiga buah kantong atau karung goni.
Satu di antaranya bermuka hitam manis dan berperawakan kecil, tapi karung goni yang dipanggulnya ada enam buah, pada pinggangnya tampak terselip sebuah bumbung besi, entah apa gunanya.
Setelah diperkenalkan, baru kemudian Coh Liu-hiang tahu si pendek kecil ini berjuluk 'Siau-hwe-sin' atau malaikat api kecil, dia inilah Liongthau-toako, pimpinan Kay-pang ranting setempat.
Waktu itu belasan pasang mata sedang memandangi Coh Liuhiang dengan penuh rasa hormat dan kagum serta penuh persahabatan, sebab setiap anggota Kay-pang (organisasi persatuan kaum pengemis) sama tahu Coh Liu-hiang adalah sahabat Kay-pang.
Inipun selalu ditonjolkan setiap anggota Kay-pang sebagai suatu kebanggaan.
Saat itu Siau-hwe-sin sedang mendampingi Coh Liu-hiang, dengan tertawa ia berkata.
"Sudah lama Tecu mengagumi nama kebesaran Coh Hiang-swe, sungguh mimpi pun Tecu tidak menyangka akan dapat berjumpa dengan Coh Hiang-swe sekarang, ini benar-benar suatu kehormatan besar bagiku dan juga kebanggaan bagi para saudara Kay-pang kami."
Sementara itu luka Coh Liu-hiang sudah terbalut dengan rapi, sekarang dia ikut duduk di lantai dan sedang menikmati tim daging anjing yang lezat dan bergizi itu.
"Sekarang kalian bangga dan suka padaku, jangan-jangan selanjutnya akan menjadi bosan dan jemu pula"
Demikian Coh Liuhiang berseloroh. Setelah menghirup kuah sop daging anjing lalu ia menyambung pula dengan tertawa.
"Kalian telah menjamu aku makan daging, tetapi kedatanganku justru akan membikin repot kalian."
Siau-hwe-sin tampak melengak, tanyanya dengan ragu-ragu.
"Apakah......apakah di antara saudara Kay-pang kami ada yang bersalah kepada Hiang-swe?"
"Mana bersalah padaku?"
Jawab Coh Liu-hiang tertawa "Malahan ada beberapa urusan ingin kuminta bantuan kalian."
Baru sekarang Siau-hwc-sin tahu duduknya perkara, ia menghela napas lega dan bertanya pula.
"Budi kebaikan Coh Hiangswe kepada Kay-pang sukar diukur, jangankan Cuma suruh kami bekerja sesuatu, sekalipun kami disuruh terjun ke laut juga kami lakukan tanpa pikir."
Kebanyakan anggota Kay-pang adalah lelaki yang gilanggemilang, Coh Liu-hiang tahu bila bicara sungkan-sungkan dengan mereka malah akan kelihatan kemunafikan sendiri.
Maka dengan serius ia lantas berkata.
"Ada beberapa urusan perlu kuminta bantuan kalian. Pertama, tolong selidikilah satu orang, orang ini aslinya bernama Yap Seng-lan, konon suka luntang-lantung di kotaraja dan cukup terkenal di sana. Tapi menurut perkiraanku, sejak beberapa hari ini dia pasti berada di sini. Kuharap kalian dapat mencari tahu dimana dia tinggal dan apa yang diperbuatnya, apakah ada orang lain pula yang tinggal bersama dia."
Mendengar urusannya cuma disuruh menyelidiki gerak-gerik seorang bernama Yap Seng-lan, Siau-hwe-sin jadi geli, ucapnya.
"Jangan kuatir Hiang-swe, mencari berita sesuatu adalah pekerjaan kami yang paling dapat diandalkan. Asalkan di dunia ini memang ada orang yang bernama Yap Seng-lan, maka berani kujamin pasti akan dapat diselidiki dengan jelas."
"Dan urusan kedua, kuharap kau menugaskan beberapa saudara antuk mengawasi gerak-gerik Sih-jikongcu. Sih Bun dari Sih-kehceng, juga seorang mak inang keluarga Si yang bernama Liang-ma, awasilah mereka, kemana pun mereka pergi harus dikuntit dan dicatat apa yang mereka lakukan."
"Inipun pekerjaan mudah,"
Kata Siau-hwe-sin.
"Urusan ketiga, kuharap kau mencari suatu akal untuk memancing Ting-lojj dari Ting-si-sianghiap (dua pendekar she Ting) yang waktu ini berada di Ceng-pwe-san-ceng supaya cepat pulang."
"Setelah berpikir sejenak, Siau-hwe-sin berkata.
"Urusan ini tanggung beres, pasti akan kami kerjakan dengan baik."
Coh Liu-hiang menghela napas lega, katanya kemudian.
"Dan urusan keempat terasa rada sulit."
"Asalkan pekerjaan yang Coh Hiang-swe serahkan pada kami, betapapun sulitnya juga pasti akan kami selesaikan,"
Ujar Siau-hwesin dengan terrtawa.
"Baiklah jika begitu,"
Kata Coh Liu-hiang.
"Harap kalian bersiapsiap malam nanti ikut aku pergi menggali kuburan."
Keterangan ini membuat Siau-hwe-sin melenggong benar-benar.
Ia heran mengapa Coh Liu-hiang yang dikagumi ini menjatuhkan incarannya pada orang mati dan bukan pada perempuan cantik?
Karena itu, untuk sejenak ia terkesima dan serba susah.
Mendadak si gundul berseru.
"Jika Toako tak berani pergi, biar aku saja yang ikut pergi."
Coh Liu-hiang tertawa, katanya.
"Kau benar-benar berani?"
"Jika orang lain yang menyuruhku menggali kuburan, mustahil kalau tidak kuajak perang tanding,"
Kata si gundul.
"Tapi sekarang Hiang-swe yang menyuruhku, maka aku pun menurut saja."
"Sebab apa?"
Tanya Coh Liu-hiang. Si gundul berkedip-kedip, katanya.
"Sebab kuyakin Hiang-swe tidak mungkin menyuruh kami berbuat kejahatan."
"Betul, aku pun ikut,"
Tukas si burik. Siau-hwe-sin menghela napas, katanya sambil tersenyum.
"Tampaknya kedua setan cilik ini jauh lebih tahu urusan dari padaku, juga lebih tahu tentang baik dan busuknya. Bilakah Hiang-swe menghendaki kami bekerja. Pada waktunya kami pasti siap sedia."
"Tengah malam nanti,"
Kata Coh Liu-hiang, lalu ia pegang tangan kedua pengemis cilik itu, katanya tertawa,"
Kalian adalah sahabat sejatiku, namun terkadang aku dapat membawa kalian melakukan hal-hal yang jahat.
Dua tahun lagi, apabila kalian sudah lebih dewasa, akan kuajak kalian minum dua tiga cawan dan akan kucarikan duan nona cantik untuk melayani kalian."
Setelah terbahak-bahak, lalu Coh Liu-hiang menyambung pula.
"Semua itupun bukan perbuatan baik, tetapi jelas lebih menarik daripada menggali kuburan "
Bahwa Coh Hiang-swe telah memandang mereka sebagai sahabat dan berjanji akan menjamu minum arak bagi mereka, keruan si gundul dan si burik kegirangan setengah mati.
Tiba-tiba Coh Liu-hiang berkata pula.
"Eh, tadi kalian mestinya hendak pergi ke rumah kecil itu bukan?"
"Ya, menurut si gundul, katanya di sana ada dua orang yang royal"
Tutur si burik.
"Ketika pertama kali si gundul ketemu mereka, sekaligus mereka telah memberinya satu tahil perak, waktu ketemu lagi kedua kalinya mereka memberi persen pula satu tahil."
"Tapi kepergianku ke sana bukan untuk memeras,"
Sambung si gundul.
"Waktu pertama kalinya, maksudku hanya ingin menangkap kupu-kupu dan kebetulan memergoki mereka keluar dari rumah kecil itu. Mereka sendiri berkeras memberikan uang padaku, kalau ada rezeki, masa kutolak?"
"Dan kedua kalinya? Apakah juga kebetulan saja?"
Tanya si burik. Si gundul melototi sekejap, lalu menjawab dengan tertawa.
"Selanjutnya aku pun cuma malas saja ke sana, tidak pernah ku ketuk pintu dan minta sedekah pada mereka, pula tidak setiap kali bertemu dengan mereka."
Si burik menjadi dongkol, jengeknya.
"Hm, katanya ada rezeki sama dirasakan, ada kesulitan sama dihadapi. Padahal sudah belasan kali kau ke sana, tapi tidak pernah mengajak diriku."
"Soalnya mukamu terlalu buruk, kukuatir mereka akan ketakutan,"
Ujar si gundul dengan tertawa. Keruan si burik berjingkrak gusar.
"Mukaku buruk, memangnya kau cakap?"
Hm gundul-gundul pacul......"
Coh Liu-hiang tertawa geli melihat perang mulut kedua bocah itu, tapi sorot matanya tampak mencorong, ia bertanya pula.
"Kedua orang itu terdiri dari lelaki dan perempuan bukan?"
"Ya, betul."
Tutur si gundul.
"Keduanya masih muda belia, pakaian mereka pun mentereng, sekali pandang saja dapat diketahui mereka adalah putera puteri keluarga hartawan, namun sikap mereka sangat ramah-tamah."
"Bagaimana bentuk mereka?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Keduanya biasa saja, tiada sesuatu yang istimewa, tapi juga tidak jelek, terutama nona itu, bila terawa lantas kelihatan lesung pipinya yang menarik"
"Bila bertemu lagi lain kali, apakah kau masih kenal mereka?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Tentu saja kenal,"
Jawab si gundul.
"Aku si gundul ini bukanlah manusia yang suka melupakan budi orang, siapa yang pernah berbuat baik kepadaku, selama hidupka takkan terlupakan."
Coh Liu-hiang menepuk pundak si gundul sambil memuji.
"Bagus, bagus sekali." ******** Petangnya, hari belum lagi gelap, Ciok Siu-hun sudah menunggu di tempat yang dijanjikan. Ia tidak tahu mengapa Coh Liu-hiang berjanji bertemu dengannya di sini, lebih-lebih tak terpikir olehnya bahwa dia akan mengadakan janji pertemuan dengan seorang lelaki yang baru dikenalnya di depan kuburan kakak kandungnya, akan tetapi ia toh datang juga ke sini. Ia heran mengapa hari ini sedemikian lambat datangnya tabir malam. Untung tempat ini sangat sepi, sepanjang hari juga tiada tampak bayangan orang berlalu di situ, apalagi sekarang hari sudah hampir gelap. Ia pandang makam kakaknya, seharusnya hatinya merasa pilu, merasa sedih, tapi sekarang bilamana teringat kepada Coh Liuhiang, hatinya lantas menjadi bahagia, terasa manis urusan lain sudah terlupakan semua. Kakinya memang masih sakit, namun sapu tangan sutera Coh Liu-hiang yang digunakan membalut luka kakinya itu sudah dibukanya dan disimpannya baik-baik., kini dia memakai sepasang sepatu baru bersulam bunga. Padahal kakaknya baru meninggal beberapa hari yang lalu dan dia telah memakai sepatu bersulam bunga, tindakan ini sebenarnya tidak pantas bagi orang yang sedang berkabung. Ia pun merasa dirinya salah, tapi sepatu baru itu toh dipakainya juga. Maklumlah, ia merasa pandangan Coh Liu-hiang senantiasa tertuju kepada kakinya, ia merasa bila sekarang dia memakai sepatu baru ini, tentu akan bertambah menarik. Akhirnya hari mulai gelap, angin pun meniup santer, Ciok Siuhun merasa tubuhnya membara luar biasa panasnya.
"Mengapa belum nampak muncul? Jangan-jangan dia tidak datang,"
Demikian ia pikir dengan gelisah. Ia menggigit bibir dan memandang bulan yang baru menongol, pikirnya.
"Bila bulan sudah sebatas dahan pohon sana dan dia masih belum muncul, akan kutinggal saja."
Tidak lama kemudian bulan sudah melampaui dahan pohon itu dan dia toh tetap menunggu di situ. Ia menunggu dengan termenung-menung, saat lain ia jadi mendongkol, pikirnya.
"Seumpama dia datang sebentar lagi juga, takkan kugubris dia."
Hati berpikir begitu, tetapi ketika bayangan Coh Liu-hiang nampak muncul, maka lupalah segalanya, secepat terbang ia berlarilari menyongsong ke sana.
Akhirnya Coh Liu-hiang datang juga, malahan membawa pengikut yang tidak sedikit.
Baru saja Ciok Siu-hun hendak menyongsong ke sana, mendadak ia urungkan maksudnya.
Dilihatnya Coh Lhi hiang sedang tersenyum padanya, senyuman yang lembut dan manis.
"Untuk apa kau membawa orang sebanyak ini?"tanya Ciok Siuhun, dengan mendongkol lantas ia berpaling dan melangkah pergi. Dia berharap Coh Liu-hiang akan menyusulnya, tapi justru tidak terdengar adanya suara orang berjalan, tanpa terasa ia mengndurkan langkahnya, ia ingin menoleh, tapi kuatir ditertawakan orang. Ia menjadi serba salah, ya mendongkol, ya gemas, ya duka, ya menyesal. Selagi bingung, tiba-tiba terdengar orang tertawa di sampingnya, entah sejak kapan Coh Liu-hiang sudah menyusul tiba dan memandangnya dengan tertawa, tertawa yang menggiurkan, tertawa yang menggemaskan, seakan-akan perasaannya telah dapat diselami olehnya. Muka Siu-hun menjadi merah. Sebelum Coh Liu-hiang menyusul tiba, ia sengaja berhenti menunggu, setelah Coh Liu-hiang menyusulnya, mendadak ia percepat pula langkahnya dan menerobos lewat di samping Coh Liu-hiang. Akan tetapi Coh Liu-hiang sempat menariknya dan menegur dengan suara lembut.
"Akan kemana kau?"
Siu-hun menggigit bibir dan menjawab dengan mendongkol.
"Lepaskan, biarkan kupergi, jika engkau tidak sudi bertemu dengan aku, untuk apa pula engkau mengganduli diriku?"
"Siapa bilang aku tidak suka bertemu dengan kau?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Jika begitu, anggaplah aku yang tidak suka bertemu dengan kau, nah biarkan kupergi,"
Kata si nona.
"Kalau kau tidak suka bertemu denganku, mengapa kau menungguku di sini?"
Tanya Coh Liu-hiang. Muka Ciok Siu-hun bertambah merah, matanya menjadi basah juga, ucapnya sambil membanting kaki.
"Ya, betul, aku memang ingin bertemu dengan kau. Lantaran kau tahu aku pasti menunggumu di sini, makanya kau membawa penonton sebanyak ini untuk membuktikan betapa kelihaianmu memikat anak perempuan, dimana-mana kau selalu ditunggu anak perempuan."
Coh Liu-hiang tertawa, katanya.
"Sesungguhnya aku pun tidak ingin membawa serta mereka, cuma ada ada suatu urusan, terpaksa aku harus minta bantuan mereka."
"Urusan apa?"
Si nona menjadi heran.
"Kuminta mereka menggali kuburan ini,"
Tutur Coh Liu-hiang.
"Apa katamu?"
Teriak Ciok Siu-hun.
"Ap......apa kau sudah gila? Untuk apa kau hendak menggali kuburan kakakku?"
"Ini bukan kuburan kakakmu,"
Jawab Coh Liu-hiang.
"Bilamana tidak keliru dugaanku, ini pasti cuma sebuah kuburan kosong belaka."
"Siapa bilang?"
Teriak Ciok Siu-hun.
"Dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan peti mati kakakku ditanam di sini......"
"Meski peti mati ditanam di sini, tapi di dalam peti pasti tiada isinya,"
Ucap Coh Liu-hiang sambil mengelus tangan si nona dengan pelahan, lalu katanya pula dengan lembut.
"Percayalah, aku pasti tidak berdusta padamu, kalau tidak, tentu aku tidak akan mengajakmu ke sini. Asalkan kau mau menunggu sebentar, tentu akan terbukti apa yang kukatakan memang tidak keliru." ********** Benar juga, setelah digali, di dalam peti mati memang tiada mayat segala, hanya berisi beberapa potong batu saja. Lalu kemana perginya mayat di dalam peti ini? Apakah benar mayat kesurupan roh dan telah hidup kembali? Gemetar sekujur badan Ciok Siu-hun, akhirnya ia tidak tahan dan menangis tergerung-gerung, ratapnya.
"O, Cici, kemana perginya Ciciku? Mengapa Ciciku beruban menjadi batu?"
Jerit tangis dan ratapan memilukan itu menggema jauh dan menimbulkan kumandang suara yang seram seperti tangisan setan dan juga seperti tertawa iblis, segala setan iblis di sekeliling tanah pekuburan ini seolah-olah.
membanjir keluar dalam kegelapan dan mengejek.
Menghadapi suasana yang seram ini, sekalipun anak murid Kaypang yang sudah biasa berkecimpung di Kangouw, juga merasa merinding.
Pelahan Coh Liu-hiang merangkul bahu Ciok Siu-hun katanya.
"Apakah kau pun menyaksikan sendiri mayat kakakmu dimasukkan ke dalam peti oleh mereka?"
"Ya, kusaksikan sendiri, kusaksikan dengan jelas."
Jawab Siuhun.
"Dan waktu peti mati ditutup dan dipantek, juga kau saksikan?"
"Waktu......waktu peti mati ditutup dan dipantek, mestinya aku juga ingin menyaksikan, tapi.....tapi bibi kuatir aku terlalu berduka, aku dipaksa kembali ke kamar."
"Apakah pamanmu sendiri yang memantek peti matinya?"
Tanya Coh Liu-hiang. Siu-hun mengiyakan sambil terisak-isak.
"Dan sekarang dimana pamanmu?"
"Pada hari kedua setelah Cici dikubur, paman lantas pergi ke kota."
"Kerja apa di kota?"
"Berbelanja tahun baru bagi keluarga Sih."
Tutur Siu-hun. Tugas belanja jelas adalah pekerjaan yang enak, di samping dapat pelesir ke kota, juga pasti dapat banyak kesempatan untuk korupsi. Maka terbeliaklah mata Coh Liu-hiang, tanyanya pula.
"Apakah tugas belanja tahun baru itu selalu jatuh pada diri pamanmu ""
"Tidak, tahun-tahun sebelumnya paman tidak pernah mendapatkan tugas itu."
Jawab Siu-hun. Tersembul senyuman Coh Liu-hiang yang penuh arti dan sukar diraba, ia berguman.
"Tahun-tahun sebelumnya tidak pernah, tapi tahun ini tugas baik ini mendadak jatuh padanya......Ehm, menarik, sunguh menarik peristiwa ini."
Sejenak kemudian, mendadak ia bertanya pula.
"Apakah tugas belanja itu diperolehnya dari Sih-jikongcu?"
"Betul, justru lantaran itulah, makanya aku bertambah yakin Cici pasti dicelakai oleh Sih-jikongcu,"
Kata Siu-hun.
"Agaknya dia ingin menebus dosa, maka sengaja memberikan tugas baik kepada pamanku.7* Coh Liu-hiang menghela napas, katanya.
"Mungkin bukan untuk menebus dosa, tapi......"
"Tapi apa?"
Sela Siu-hun.
"Persoalan ini sangat rumit, andaikan kukatakan sekarang juga kau takkan paham,"
Kata Coh Liu-hiang.
"Aku pun tidak perlu paham, aku cuma ingin tahu kemana perginya mayat Ciciku?"
Keluh Siu-hun sambil mencucurkan air mata. Coh Liu-hiang berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Apabila tidak meleset dugaanku, tidak sampai tiga hari, mayatnya pasti dapat kukembalikan kepadamu."
"Kau...... kau tahu dimana beradanya mayat Ciciku?"
Siu-hun menegas.
"Sampai detik ini, aku pun hanya menduga-duga saja dan belum pasti"
"Apakah......apakah mayatnya telah dicuri orang?"
"Ehm, bisa jadi,"
Coh Liu-hiang mengangguk.
"Siapa yang mencuri mayatnya? Memangnya untuk apa? Kan tiada sesuatu barang berharga yang ikut dikebumikan bersama Cici, apa gunanya orang itu mencuri mayat Ciciku?"
"Sebaiknya sekarang jangan kau tanya terlalu banyak,"
Ucap Coh Liu-hiang dengan suara lembut.
"Kuberjanji padamu, dalam waktu tiga hari pasti akan kujelaskan seluruh persoalannya." ******* Waktu Coh Liu-hiang pulang sampai di Ccng-pwe-san-ceng, sementara itu hari pun sudah hampir terang tanah. Meski Cu Kin-hou belum lagi bangun, tapi demi mendengar pulangnya Coh Liu-hiang, cepat-cepat ia mengenakan pakaian dan mendatangi kamar Coh Liu-hiang, begitu berhadapan segera ia pegang tangan sahabatnya itu dan berkata.
"Saudaraku sepanjang hari tak nampak bayanganmu, sungguh aku sangat cemas. Kemanakah kau sebenarnya? Adakah kau memperoleh susuatu berita?"
Coh Liu-hiang tertawa, ia tidak menjawab pertanyaan itu, malah balas bertanya "Bagaimana dengan Ting-jihiap?"
"Sejak tiba, Ting-loji terus mendesak padaku sehingga aku menjadi kehilangan akal,"
Tutur Cu Kin-hou.
"Tapi sampai semalam, entah mengapa mendadak, ia mohon diri dan pergi tanpa bicara apaapa. Melihat gelagatnya, mungkin terjadi sesuatu di rumahnya."
Setelah menghela napas, lalu ia menyambung pula sambil menyengir.
"Saudaraku, bukan maksudku mengharapkan kemalangan orang lain, tapi aku benar-benar berharap terjadi apaapa di rumahnya sehingga dia tidak sempat mendesak aku lagi."
"Dan bagaimana dengan nona?"
Tanya Coh Liu-hiang pula.
"Dia mau juga menurut perkataanmu, sepanjang hari dia mengurung diri di dalam kamar, tidak pernah keluar."
"Dia memang anak yang baik,"
Ujar Coh Liu-hiang.
"Akan...... akan tetapi, sebenarnya bagaimanakah urusannya? Apa yang harus kulakukan? Aku kan tidak dapat mengulur waktu terus menerus terhadap pihak keluarga Ting?"
Cu Kin-hou memegang erat-erat tangan Coh Liu-hiang, lalu menyambung pula.
"Saudaraku yang baik, betapapun kau harus berdaya upaya bagiku."
"Daya akal sih ada, cuma Jiko tidak boleh terburu napsu, kukira tidak lebih dari tiga hari urusannya pasti sudah dapat dipecahkan,"
Kata Coh Liu-hiang.
"Tiga hari, lagi-lagi tiga hari, memangnya di dalam tiga hari bisa bisa terjadi suatu mukjizat?"
Mestinya Cu Kin-hou ingin tanya lebih jelas, namun Coh Liu-hiang sudah mengantuk dan terpulas.
Esoknya pagi-pagi, baru saja Coh Liu-hiang bangun tidur diberitahu bahwa dua orang sedang menunggu di luar.
Seorang anak murid Kay-pang telah diundang ke kamar tamu Cu Kin-hou dan disuguhi teh.
Seorang lagi tidak mau menjelaskan maksud kedatangannya, malahan tidak mau masuk ke dalam, hanya menunggu saja di luar pintu.
Coh Liu-hiang mengerut kening demi mendengar keterangan ini, tanyanya.
"Bagaimana macam orang itu?"
Pelayan yang menyampaikan laporan itu bernama Cu Seng, orang kepercayaan Cu-jiya, dengan sendirinya juga cekatan dan gesit, ia mengingat-ingat sejenak, lalu menutur.
"Wajah orang itupun biasa saja, cuma gerak-geriknya mencurigakan, bahkan tidak mau bicara sejujurnya."
"O,"
Heran juga Coh Liu-hiang.
"Dia mengaku datang dari jauh,'' tutur Cu Seng pula.
"Tapi dari pakaiannya yang rapi dan bersih itu, hamba yakin dia pasti berdusta, apalagi kedatangannya juga tidak ada tanda-tanda habis menempuh perjalanan jauh.'' "Menurut pandanganmu, apakah dia mirip orang terlatih?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Langkahnya tampak enteng, gerakannya juga gesit, tampaknya memang memiliki sedikit kepandaian, tapi jelas bukan orang Kangouw, hamba berani garansi selama hidupnya pasti tidak pernah menjelajah seratus li di luar Siong-kang-hu."
Coh Liu-hiang tertawa, katanya.
"Pantas Cu-jiya suka memuji kecerdikanmu, melulu pandanganmu yang tajam ini sudah jarang ada bandingannya di dunia Kangouw."
"Ah, semua ini kan berkat ajaran Jiya dan Hiang-swe,"
Ujar Cu Seng dengan hormat.
"Dan dimanakah Jiya?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Jiya telah makan obat penenang pemberian Thio-losiansing dan baru masuk tidur dini hari, maka saat ini belum lagi mendusin,"
Jawab C u Seng.
"Lalu bagaimana dengan nona?"' "Air muka nona tampak baik baik saja, bahkan juga sudah mau makan, hanya orang dilarang masuk kamarnya sepanjang hari ia pun menutup diri di kamarnya......."
Cu Seng menghela napas, kemudian menyambung dengan suara tertahan,"Tentunya Hiang-swe tahu, dahulu nona tidak pernah bersikap begini, tidak pernah menutup diri di dalam rumah , hamba merasa persoalan ini rada........
rada aneh."
"Sebentar boleh kau laporkan kepada nona, katakan besok pasti ada kabar dariku, suruh dia jangan gelisah,"
Kata Coh Liu-hiang setelah berpikir.
"Apakah Hiang-swe sekarang akan menemui saudara cilik dari Kay-pang yang telah menunggu cukup lama itu?"
Tanya Cu Seng.
"Ya, akan kutemui dia,"
Kata Coh Liu-hiang. Jelas si gundul sedang gelisah karena sudah menunggu sekian lamanya, ketika melihat Coh Liu-hiang, segera ia menyongsong dan memberi hormat, katanya.
"Pekerjaan yang Hiang-swe serahkan kepada kami itu kini sudah ada hasilnya."
"Cepat juga cara kerja kalian,"
Puji Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Kemarin, begitu selesai Hiang-swe memberi pesan, segera Toako menyuruh segenap saudara di seluruh kota mencari berita di setiap pelosok, maka siang tadi masuklah kabar baik."
Coh Liu-hiang tersenyum dan menantikan cerita lanjutannya. Si gundul lantas menyambung.
"Tamu dari daerah utara yang masuk Siong-kang-hu akhir-akhir ini cuma ada beberapa orang saja, rata-rata adalah saudagar yang sudah berumur, tentu bukan orang yang hendak dicari Hiang-swe. Hanya dua orang diantaranya yang rada mencurigakan, yaitu terdiri dari pasangan suami isteri yang masih muda dan juga cakap, konon putra bangsawan kotaraja yang sedang berbulan madu dengan isterinya yang baru dinikahinya. Akan tetapi dari gerak-gerik mereka, biarpun pelayan hotel juga tahu kalau mereka berdusta."
"O, apa dasarnya?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Sebab, mereka mengaku sedang berbulan madu dan ingin pesiar, akan tetapi sepanjang hari mereka sembunyi di dalam kamar dan tidak berani keluar. Meski dandanan mereka sangat perlente, namun sangat pelit, sedikitpun tiada tanda-tanda tuan muda yang kaya.
"Apakah dia she Yap?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Menurut buku hotel, nama yang tercatat adalah Li Beng-seng,"
Tutur si gundul.
"Tapi nama kan dapat diubah."
"Betul, apa susahnya pakai nama palsu,"
Ujar Coh Liu-hiang.
"Di hotel mana mereka tinggal?"
"Hotel Hok-seng di gerbang timur,"
Kata si gundul.
"Baiklah, kalian berangkat dulu dan tunggu saja di sana, segera aku menyusul,"
Kata Coh Liu-hiang.
Dia masih harus menemui dulu orang kedua yang telah menunggunya di luar rumah.
Yaitu seorang berbaju hijau, berdiri di bawah pohon dengan seekor kuda pulih, tampaknya agak gelisah karena sudah menunggu sekian lama.
Coh Liu-hiang tidak kenal dia, tapi dia kenal Coh Liu-hiang, segera ia menyongsong dan memberi hormat.
"Ada keperluan apa?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Ada urusan penting, majikan mohon bertemu dengan Hiangswe,"
Jawab si baju hijau.
"Siapakah majikanmu?"
Tanya pula Coh Liu-hiang.
"Beliau adalah sahabat lama Hiang-swe."
Kata si baju hijau dengan tertawa.
"Bila sudah bertemu, tentu Hiang-swe akan tahu sendiri, kini beliau sedang menunggu di depan sana dan hamba disuruh mengundang Hiang-swe."
"Kenapa majikanmu tidak datang sendiri dan sebab apa pula kau tidak boleh menyebutkan namanya,"
Tanya Coh Liu-hiang.
Namun si baju hijau tidak mau bicara apa-apa lagi, ia hanya munduk-munduk sambil tertawa, namun jelas tertawa palsu, tertawa yang tak bermaksud baik.
Coh Liu-hiang juga lertawa, dengan lekat-lekat ia pandang si baju hijau, katanya kemudian "Sama sekali kau tidak mau menjelaskan apa-apa, cara bagaimana kau tahu aku akan ikut pergi bersamamu?"
"Jika Hiang-swe tidak ikut pergi kan berarti untuk selamanya engkau takkan tahu siapa siapa majikanku, untuk ini pasti Hiang-swe akan sangat menyesal,"
Ujar si baju hijau.
"Bagus, ternyata majikanmu dapat menyelami ciriku,,"
Kata Coh Liu-hiang sambil tertawa.
"Memang, jika tidak kutemui dia, mungkin aku takkan enak tidur."
"Majikan juga sudah bilang, di dunia ini tiada orang yang tak berani ditemui oleh Hiang-swe dan juga tiada tempat yang tak berani didatangi olehmu,"
Kata si baju hijau dengan tertawa, sembari melepaskan tali tambatan kuda, ia kebut-kebut debu diatas pelana lalu berkata pula sambil membungkuk tubuh.
"Silakan Hiang-swe."
"O, kuda ini untukku, lalu bagaimana dengan kau?"
Tanya Coh Liu-hiang. Hamba tidak diperlukan lagi, kuda ini sanggup membawa Hiangswe ke sana,"
Kata si baju hijau dengan tertawa.
Rupanya si baju hijau dapat menyelami watak Coh Liu-hiang, urusan yang semakin berbahaya dan semakin misterius, semakin menarik pula bagi Coh Liu-hiang.
Terkadang, meski sudah jelas diketahui di depan adalah perangkap, tapi dia malah sengaja terjun ke sana.
Begitulah lantas Coh Liu-hiang berangkat mengikuti kuda putih itu, ketika melintasi jembatan kecil sayup-sayup dapat didengarnya suara tertawa si baju hijau tadi, suara tertawa vang mengandung ejekan dan jahat.
Siapakah sebenarnya gerangan majikan si baju hijau?
Janganjangan si pemimpin komplotan pembunuh bayaran ini?
Namun Coh Liu-hiang sangat bergairah, sama riangnya seperti anak kecil yang sedang main sembunyi-sembunyian atau kucingkucingan, terasa permainan ini cukup merangsang dan menegangkan.
Lari kuda itu sangat kencang, jelas kuda yang sudah terlatih baik.
Coh Liu-hiang tidak memegang tali kendali, ia membiarkan kuda itu lari sesukanya, ternyata begitu saja ia menyerahkan nasibnya kepada kuda putih ini, malahan sama sekali tidak merasa kuatir.
Bahkan ia sengaja memejamkan mata, ia berharap bilamana nanti ia membuka mata, maka akan dilihatnya sesuatu atau seorang yang menarik.
Lama juga kuda itu berlari ke depan, mendadak kuda itu berhenti, lalu meringkik.
Habis itu suasana terasa sunyi senyap, namun ia tetap tidak membuka matanya.
Sejenak kemudian terdengarlah suara kresekan pelahan, suara orang berjalan yang sedang menuju kemari.
Langkah orang ini sangat enteng, sedemikian lirih suara yang ditimbulkannya, meski kakinya menginjak daun kering, kecuali Coh Liu-hiang, mungkin di dunia ini tiada orang yang mampu mendengarnya.
Masih berjarak belasan tindak, terasa oleh Coh Liu-hiang hawa pedang yang tajam, ia tidak terkejut, sebaliknya malah tertawa dan berkata.
"Kiranya kau, sungguh tak tersangka oleh ku,"
Yang berhadapan dengan Coh Liu-hiang sekarang ternyata Sih Ih-jin adanya.
Berdiri tegak dengan pakaiannya yang putih mulus melambai-lambai tertiup angin, di belakang punggung Sih Ih-jin menyandang pedang panjang bersarung kulit hitam, caranya pedang tersandang di punggungnya itu mempunyai gaya tersendiri, yaitu supaya pedang dapat di lolos pada waktu yang sesingkatsingkatnya.
Sekarang belum lagi pedang terlolos sarungnya, namun hawa tajam pedangnya sudah terpancar keluar.
Sorot matanya tiada ubahnya seperti hawa pedangnya, maklum pada hakikatnya ilmu pedang Sih Ih-jin sudah terlatih sedemikian rupa sehingga pedang dan pribadinya seolah-olah sudah melebur menjadi satu.
Dengan tenang dan tajam ia pandang Coh Liu-hiang, jengeknya.
"Tentunya sudah kau duga akan diriku bukan?"
"Betul, seharusnya kuduga akan dirimu, sampai-sampai Cu-Seng saja dapat melihat pesuruhmu itu bukanlah oarang yang dari jauh, orang Sih-keh-ceng mendatangi keluarga Cu sudah tentu tidak mau mengatakan namanya."
"Soalnya pertarungan maut sudah dekat waktunya, aku tidak ingin mencari perkara lagi dengan keluarga Cu."
"Tapi di hadapanku mengapa dia juga menolak untuk mengatakan maksud kedatangannya?"
"Sebab dia kuatir kau tidak berani ikut datang kemari"
"Tidak berani kemari? Kenapa tidak berani? Diundang sahabat, betapapun aku pasti akan datang."
"Tapi kemungkinan kau tidak berani datang, sebab kau sudah bukan lagi sahabatku,"
Ucap Sih Ih-jin sekata demi sekata dengan melotot. Coh Liu-hiang meraba-raba hidungnya, katanya dengan tertawa.
"Kan kemarin kita masih bersahabat, mengapa sekarang sudah bukan lagi?"
"Sebenarnya aku ingin bersahabat dengan kau, makanya kau kubawa ke ruangan senjataku, siapa tahu kau...."
Tiba-tiba Sih lh-jin menarik muka dan menyambung pula.
"Siapa tahu kau tiada harganya untuk dijadikan kawan."
"O, apa kau kira aku.....aku telah mencuri pedangmu?"
"Lantaran sudah kuperlihatkan tempatnya, dengan sendirinya kau sudah tahu jalannya, kalau tidak masakah kau dapat menggerayanginya?". Hampir merah hidung Coh-Liu-hiang tersosok-gosok, ucapnya dengan menyengir.
"Jadi....jadi pedangmu memang benar telah tercuri?"
Sih Ih-jin tidak menjawab, ia menunduk memandangi baju sendiri yang putih itu, lalu berkata pelahan.
"Baju ini buatan dua tahun yang lalu dan baru hari ini aku memakainya, sebab baru sekarang kutemukan orang yang harus kubunuh, orang yang pantas kubunuh."
Coh Liu-hiang menghela napas, katanya.
"Dan hari ini setelah aku berkunjung ke tempatmu dan pedangmu lantas dicuri orang, pantaslah bila engkau mencurigai diriku, akan tetapi bila kubunuh diri, maka selamanya engkau pun takkan tahu lagi siapa sesungguhnya pencuri pedangmu itu."
"Siapa lagi kalau bukan kau sendiri?"
Kata Sih Ih-jin.
"Memangnya aku sengaja memfitnahmu? Jika aku sudah berniat membunuhmu, kan tidak perlu mencari alasan segala?"
"Dengan sendirinya kau tidak memfitnahku, tapi ada orang lain lagi yang ingin memfitnah diriku. Dia mencuri pedangmu, tujuannya supaya kau membunuhku, masakah kau tidak pernah mendengar akal 'pinjam golok membunuh orang'?"
"Memangnya siapa lagi yang memfitnah dan ingin membunuhmu?"
"Bicara terus terang, orang yang ingin mencelakai diriku jumlahnya tidak sedikit."
Tutur Coh Liu-hiang sambil tersenyum getir.
"Kemarin aku malahan telah kena disergap orang dan terkena........."
"Kau terluka?"
Tukas Sih Ih-jin ragu.
"Terluka kan bukan sesuatu kebanggaan, kenapa aku harus berdusta?"
Jawab Coh Liu-hiang dengan gegetun.
"Siapa yang melukaimu?"
Tanya Sih Ih-jin.
"Ialah pentolan pembunuh bayaran yang kucari itu."
Sorot mata Sih Ih-jin yang tajam menyapu sekejap di tubuh Coh Liu-hiang, lalu bertanya pula.
"Terluka di bagian mana?"
"Punggung,"
Jawab Coh Liu-hiang.
"Hm, masakah orang menyerangmu dari belakang dan Coh Hiang-swe kita yang gagah berani sama sekali tidak tahu?"
Jengek Sih-Ih-jin. Memang, hal ini seharusnya tidak mungkin terjadi atas diri Coh Liu-hiang, akan tetapi kenyataan memang sudah terjadi. Ia meraba hidung pula dan menjawab.
"Waktu kutahu apa yang terjadi, namun sudah terlambat untuk mengelak."
"Kalau engkau seringkali disergap orang dan masih hidup sampai sekarang, sungguh perjuangan vang tidak mudah,"
Kata Sih Ih-jin.
"Cayhe memang tidak jarang disergap orang, akan tetapi untuk pertama kali inilah aku terluka,"
Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Apakah pedangnya sangat cepat?"
"Tentu saja cepat, bahkan cepat luar biasa, selama hidupku ini belum pernah melihat pedang secepat itu,"
Tutur Coh Liu-hiang dengan gegetun. Sih Ih-jin berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Ada jago pedang secepat itu, ehm, aku jadi ingin bertemu dengannya."
Kembali Coh Liu-hiang tersenyum, senyuman yang aneh dan penuh rahasia, ucapnya pula.
"Jika dia sudah datang ke sini, cepat atau lambat Sih Ih-jin pasti akan bertemu dengannya."
"Lalu apakah kaukira maling pencuri pedang ini ialah dia?"
"Dengan sendirinya hal ini sangatlah mungkin."
"Tapi darimana pula dia tahu kau pernah berkunjung ke ruangan pedangku dan dari mana diketahuinya tempat penyimpanan pedangku?"
Tanya Sih Ih-jin dengan bengis.
"Inilah yang tak dapat kupahami,"
Jawab Coh Liu-hiang.
"Tapi asalkan aku diberi tempo beberapa hari, kujamin pasti dapat menyelidiki duduk perkaranya hingga jelas."
"Kau terluka, untung bagimu........"
Habis berkata, mendadak ia mencemplak ke atas kuda, terus dilarikan secepat terbang. Coh Liu-hiang terdiam sejenak, lalu gumamnya.
"Apabila Li Beng-seng betul samaran Yap Seng-lan, barulah aku benar-benar beruntung." ******* Hotel Hok-seng menurut laporan si gundul itu adalah sebuah hotel tua, kamarnya juga ketinggalan zaman, suami isteri Li Bengseng yang dimaksudkan itu tinggal di sebuah kamar terpisah di bagian belakang. Waktu Coh Liu-hiang tiba di sana, dilihatnya kamar mereka itu tertutup rapat, bahkan daun jendela juga tidak dibuka, meski di siang hari mereka ternyata lebih suka sembunyi di dalam kamar.
"Mereka tidak keluar?"
Tanya Coh Liu-hiang kepada si gundul.
"Tidak, pasti berada di dalam kamar,"
Tutur si gundul.
"Sejak kemarin selalu ada kawan kita yang mengawasinya."
Coh Liu-hiang lantas menghadap ke sana dan mendadak berseru.
"Aha, mengapa Li-heng juga datang ke sini? Apakah tinggal di sini?"
Sembari bicara ia terus mendekati pintu dan menggedornya sambil berseru pula.
"Buka pintu!"
Segera terdengar suara kresek-kresek di dalam kamar, suara orang mengenakan baju dengan terburu-buru, selang agak lama baru terdengar seorang menjawab dengan kemalas-malasan.
"Siapa itu? Kau salah alamat?"
"Aku, Thio-losam"
Jawab Coh Liu-hiang dengan nama palsu.
"Masa Li-heng tidak kenal lagi suaraku?"
Selang sejenak pula barulah pintu itu terbuka sedikit, seraut wajah pucat dengan rambut kusut menongol keluar, itulah seorang pemuda, dia pandang Coh Liu-hiang dengan heran, lalu berkata.
"Kau siapa? Aku tidak kenal kau."
"Kau tidak kenal padaku, tapi aku kenal padamu,"
Jawab Coh Liuhiang tertawa sembari melangkah maju.
Air muka pemuda itu menjadi lebih pucat, cepat ia menarik tubuhnya ke dalam, tetapi sebelum pintu sempat ditutupnya, sebelah kaki Coh Liu-hiang sudah keburu melangkah masuk.
ia mendorong pelahan dan pintu itupun terpentang.
Pemuda itu terdorong hinga terhuyung-huyung ke belakang, dengan gusar ia berseru.
"He, apakah kau gila? Mau apa kau?"
"Aku mau apa, masa kau tak tahur?"
Jawab Coh Liu-hiang denagn tersenyum Di dalam kamar terdapat pula sebuah kamar samping yang pintunya tidak tertutup.
Sekilas pandang Coh Liu-hiang melihat tempat tidur terbaring satu orang dan tertutup rapat oleh selimut, hanya tampak sebagian kepalanya saja dan sedang mengintip.
Di depan tempat tidur ada sepasang sepatu perempuan dan di atas kursi di ujung sana tertaruh beberapa potong baju dan gaun warna jambon.
Muka si pemuda tadi pucat pasi, segera ia bermaksud merapatkan pintu kamar samping sana, namun Coh Liu-hiang keburu menyelinap maju mengadang di depannya, katanya dengan tertawa.
"Kalian sudah kutemukan, untuk apa pula berdusta padaku?"
Si pemuda tampak ketakutan, tanyanya dengan suara gemetar.
"Apakah keluarga Lim yang mengutusmu kemari?"
"Keluarga Lim?"
Coh Liu-hiang jadi melengak malah. Mendadak pemuda itu berlutut di depan Coh Liu-hiang dan memohon dengan sangat.
"O, hamba memang pantas mampus, mohon Toaya suka memberi jalan hidup bagi kami...."
Mendadak perempuan di tempat tidur tadi melompat turun, memang masih muda dan tampaknya sangat genit, tapi juga judas, hanya sehelai baju tipis menutupi tubuhnya sehingga hampir tembus pandang, sampai bagian paha juga remang-remang kelihatan.
Namun sama sekali ia tidak ambil pusing, ia menerjang ke depan Coh Liu-hiang, dengan bertolak pinggang ia berteriak.
"Jika kau ini utusan keluarga Lim, urusannya jadi lebih mudah lagi. Boleh kau pulang dan bentahukan si tua Lim, katakan aku sudah pasti akan ikut Cia cilik dan takkan pulang lagi ke sana. Meski aku membawa sekotak perhiasan, tapi semua ini adalah pemberiannya Boleh kau pikir, anak gadis seperti diriku rela hidup bersama dia selama beberapa tahun, kalau kuambil sedikit hartanya yang bau ini apakah tidak pantas? Hayo coba katakan ........... pantas tidak?"
Dasar perempuan bawel, cara bicaranya juga seperti berondongan mercon.
Seketika Coh Liu-hiang jadi melengak dan serba runyam.
Sekarang jelas diketahuinya dia telah salah sasaran.
Pemuda ini bukanlah Yap Seng-lan melainkan 'si Cia cilik' dan nona ini pun sama sekali bukan nona yang diperkirakannya itu.
Tampaknya perempuan ini adalah gundik orang she Lim yang minggat bersama gendaknya si Cia cilik ini.
Mungkin mereka kuatir ditemukan orang suruhan si tua she Lim, dengan sendirinya mereka tak berani keluar.
Sambil meraba hidung, Coh Liu-hiang bergumam.
"Urusan pribadi memang sukar dicampuri orang luar. Tapi kalau kalian ingin hidup dengan baik, kalian harus mencari pekerjaan yang pantas, mana boleh tidur melulu sepanjang hari?"
Muka si Cia cilik menjadi merah, berulang-ulang dia menyatakan terima kasih atas petuah itu. Coh Liu-hiang melangkah keluar kamar, mendadak seperti ingat sesuatu, ia berpaling dan bertanya pula..
"Jika kalian datang dari kotaraja, apakah kalian tahu seorang yang bernama Yap Seng-lan?"
"Yap Seng-lan?"
Tukas si Cia cilik.
"Apakah maksud Toaya si Yap cilik yang suka pegang peran utama di panggung sandiwara Hu-kuipan itu?"
Jantung Coh Liu-hiang berdebar, tapi ia tetap tenang saja dan menjawab.
"Ya, betul, memang dia yang kumaksudkan."
"Dua hari yang lalu baru saja aku melihat dia."
Tutur si Cia cilik.
"Dimana?"
Tanya Coh Liiu-hiang cepat.
"Dia seperti tinggal di gang depan sana, nomor berapa hamba tidak jelas, sebab gerak-geriknya kelihatan mencurigakan, seakanakan kuatir dilihat orang,"
Tutur si Cia cilik.
Dia hanya bercerita mengenai orang lain, tapi lupa pada dirinya sendiri yang juga main sembunyi dan takut dilihat orang..
Habis bicara, waktu dia menengadah, tahu-tahu orang di depannya sudah menghilang.
******* Keterangan si Cia cilik itu membuat Coh Liu-hiang gembira dan juga geli.
Tanpa terduga telah diperolehnya informasi yang menyenangkan.
Dugaannya juga tidak keliru, Yap Seng-lan ternyata betul sudah sembunyi di kota Siong-kang ini, yang tak tersangka olehnya ialah Yap Seng-lan itu seorang pemain sandiwara.
Gang yang ditunjuk si Cia cilik itu cukup panjang, lalu rumah yang manakah Yap Seng-lan bertempat tinggal?
Selagi Coh Liuhiang merasa bingung, tiba-tiba si gundul menepuk dada dan menyatakan dalam waktu dua jam pasti dapat diperoleh keterangan yang positif.
Sementara itu hari sudah hampir gelap.
Coh Liu-hiang masuk ke sebuah rumah makan, habis mengisi perut barulah pergi mencari Ciok Siu-hun.
Rumah nona Ciok adalah sebuah rumah kecil yang habis dikapur putih bersih, bahkan daun pintunya juga baru saja dicat.
Saat itu Ciok Siu-hun sedang menggiring ayam kembali ke kandang, dia memakai baju kasar, rambut juga tidak tersisir rapi, pakai bakiak, meski tak bersolek, namun cukup menggiurkan.
Coh Liu-hiang tidak lantas menegurnya, dia berdiri di luar pagar rumah dan mengamat-amatinya sejenak, habis itu barulah menyapa.
"Nona Ciok, nona Siu-hun!"
Si nona terkejut, cepat ia menoleh, seketika mukanya mejadi merah, tanpa bicara ia terus berlari masuk rumah, setiba di depan pintu baru dia memberi tanda agar Coh Liu-hiang menunggunya di situ.
Tidak lama kemudian barulah Ciok Siu-hun keluar, kini rambutnya sudah tersisir rapi, bajunya juga sudah ganti, sepatu baru bersulam warna merah itu pun dipakainya lagi.
Dengan tertawa Coh Liu-hiang memuji.
"Sepatumu ini sangat indah."
Tiba-tiba muka Ciok Siu-hun merah pula, sambil menggigit bibir ia mengomel.
"Mau datang kemari, mengapa tak memberi tahu sebelumnya?"
"Sebenarnya aku akan datang besok, tapi terpaksa malam ini juga aku harus kemari."
Tutur Coh Liu-hiang.
"Sebab apa?"
Tanya Ciok Siu-hun.
"Dimana bibimu?"
Tanya Coh Liu-hiang Si nona meliriknya sekejap, lalu menjawab.
"Bibi suka bangun pagi-pagi, maka sore-sore ia pun sudah tidur."
"Dapatkah kau keluar?"
"Sudah malam, untuk apa keluar?"
Walau demikian ucapnya, namun napasnya lantas memburu dan suara rada gemetar. Terguncang juga perasaan Coh Liu-hiang, tangan si nona lantas dipegangnya. Panas amat tangan yang halus itu.
"Lepaskan,"
Seru Ciok Siu-hun tertahan.
"Bila dilihat bibi, bisa jadi kakimu akan diserampang patah olehnya."
"Kenapa takut? Dia kan sudah tidur?"
Ujar Coh Liu-hiang sambil tertawa.
"Kau..... kau bukan orang baik-baik, aku tidak mau keluar, mau apa lagi kau?"
Tanya si nona.
"Jika kau tidak keluar, aku pun tidak mau pergi,"
Ujar Coh Liuhiang. Siu-hun meliriknya pula, katanya menghela napas menyesal.
"Ai, kau benar-benar penggoda kehidupanku, aku......."
Pada saat itulah mendadak dari dalam rumah ada seorang berseru.
"Siu-hun, apakah ada tamu? Kau bicara dengan siapa?"
"O, tidak, dengan anjing."
Jawab si nona tegang, ia melirik pula sekejap dan tertawa geli sendiri, dicubitnya tangan Coh Liu-hiang, lalu berbisik.
"Bila berhadapan denganmu, kutahu pasti konyol!"
Mendadak ia berlari keluar.
Memandangi wajah si nona yang manis dengan rambutnya yang terurai, terasa sedap hati Coh Liuhiang, terkenang olehnya masa remajanya dahulu, ketika diam-diam mengadakan pertemuan dengan anak perempuan tetangga di waktu bulan purnama.
Sementara itu Ciok Siu-hun sudah keluar, tapi hanya berdiri di ambang pintu dan tidak mau mendekat.
Coh Liu-hiang lantas mendekatinya dan merangkulnya serta menggigitnya pelahan.
"Ap..... apa yang kau lakukan?"
Omel si nona.
"Barusan bukankah kau bilang aku ini seekor anjing, kan biasa anjing menggigit orang"
Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Ya, kau bahkan anjing liar,"
Ujar Ciok Siu-hun sambil menggigit bibir.
Mendadak Coh Liu-hiang menggonggong menirukan anjing menyalak, Ciok Siu-hun mengikik tawa terus berlari ke sana serta dikejar oleh Coh Liu-hiang.
Bintang-bintang bertaburan di langit di antara langit dan bumi, penuh diliputi rasa hangat, angin malam meniup sepoi-sepoi, siapa bilang kehidupan ini menderita?
Ciok Siu-hun berlari sambil tertawa, lari dan berlari, akhirnya ia menjatuhkan diri di atas onggokan jerami di samping gudang sana, dengan napas terengah-engah ia menjerit tertawa.
"Tolong! Ada anjing gila hendak menggigit orang!"
Coh Liu-hiang sengaja menggonggong satu kali, lalu menubruk maju dan merangkul si nona, katanya dengan tertawa "Hayo, berteriaklah sesukamu.
Tidak mungkin ada orang menolong kau.
Biar kugigit putus dulu hidungmu, habis itu kupingmu, kemudian kugigit pecah bibirmu....."
Siok-hun berkeluh tertahan dan bermaksud mendorong, namun badan terasa lemas, terpaksa ia membenamkan kepala ke pangkuan Coh Liu-hiang sambil berkata.
"Ampunilah daku! Aku tidak berani lagi lain kali....."
Ia tidak dapat melanjutkan ucapannya karena bibirnya telah tergigit oleh Coh-liu-hiang.
Sekejap itu sekujur badan Siu-hun serasa cair dan tenggelam ke bawah, bumi raya ini seperti telah berubah menjadi danau dan dia tenggelam ke dasar danau.............
Bintang-bintang seolah sedang berkedip kepada mereka, angin malam seperti lagi tersenyum, sampai padi yang mengu ning di sawah itu pun menunduk seakan-akan rikuh menyaksikan cumbu rayu mereka.
Kehidupan ternyata seindah ini......
Entah sudah berapa lama, tiba-tiba Coh Liu-hiang berdiri, katanya dengan suara lembut.
"Sudah jauh malam, marilah kita berangkat."
Dengan lemas Ciok Siu-hun berbaring di onggokan jerami dengan pandangan yang sayu, tanyanya.
"Hendak pergi kemana lagi?"
"Akan kubawa kau pergi melihat sesuatu, setelah kau lihat tentu kau akan sangat heran dan terkejut,"
Kata Coh Liu-hiang.
Sudah tentu si nona tidak menolak.
Maka dibawalah si nona itu oleh Coh Liu-hiang dengan menggendongnya.
Siu-hun seperti melayang di awang-awang saja, deretan rumah dan pepohonan seakan-akan terbang lewat begitu saja di sampingnya.
Untuk pertama kalinya ia merasakan permainan yang aneh ini, ia merasa asalkan berada bersama Coh Liu-hiang maka kapan saja dan dimana pun pasti dapat terjadi hal-hal baru dan menarik.
Tidak lama kemudian mereka sudah berada di tengah sebuah taman yang luas, diam-diam mereka menyusuri hutan bambu dan tiba di suatu halaman kecil, tampak sebuah rumah mungil dengan pelita yang berkedip-kedip.
Di dalam rumah tiada orang, hanya ada sebuah peti mati.
Lilin sudah lumer terbakar, hanya tersisa setitik api yang bersinar remang-remang sehinggga menambah suasana menjadi lebih sunyi dan seram.
Pada meja sembahyang ada sebuah papan yang tertulis nama yang meninggal, yaitu 'Si In'.
"Apakah tempat ini Si-keh-ceng?"
Tanya Siu-hun dengna suara rada gemetar.
"Ya,"
Sahut Coh Liu-hiang.
"Untuk apa kau bawa aku ke sini?"
Tanya si nona.
Coh Liu-hiang tidak menjawab, tapi dia mendorong pintu dan menariknya masuk ke situ.
Seketika Siu-hun merasa tubuhnya kedinginan, katanya "Kau ini memang orang aneh, untuk apa kau bawa aku kesini?"
Coh Liu-hiang tertawa, tertawa yang aneh dan penuh tanda tanya, jawabnya.
"Supaya kau dapat melihat nona Si."
Keruan Ciok Siu-hun merinding, ucapnya dengan parau.
"Ti....... tidak, aku tidak mau melihatnya. Lekas kita pergi....pergi saja."
Tapi bukannya membiarkan si nona pergi, sebaliknya Coh Liuhiang malah menariknya ke samping peti mati.
Saking takutnya, hampir saja Siu-hun menjerit, namun suaranya sukar keluar dari kerongkongan, saking takutnya, sungguh tak terpikir olehnya mengapa Coh Liu-hiang memperlakukannya secara begini.
Dalam pada itu Coh Liu-hiang telah mulai membuka tutup peti mati.
Lantaran seluruh perhatiannya sedang tercurah ke dalam peti mati, sehingga Coh Liu-hiang tidak mengetahui ada seorang sedang mengintainya di luar jendela dengan sorot mata penuh rasa benci.
Mendadak Coh Liu-hiang memasukkan tangannya ke dalam peti mati untuk meraba muka mayat.
Gigi Ciok Siu-hun sampai gemerutuk saking takutnya, hampir saja ia jatuh pingsan.
Baru sekarang ia tahu Coh Liu-hiang benar-benar telah gila.
Tangan Coh Liu-hiang seperti mengusap muka mayat dan mengelotok selapis kulit tipis, habis itu ia berpaling dan berkata kepada si nona.
"Coba kemari, apakah kau kenal dia?"
Sudah tentu Ciok Siu-hun tidak mau, ia menggeleng keras-keras dan berucap.
"Ti....... tidak....... jangan......."
Namun Coh Liu-hiang membujuknya dengan suara lembut "Jangan takut, cukup kau melihatnya sekejap saja dan segera kau akan tahu untuk apa kuajak kau ke sini."
Sebenarnya masih diliputi rasa takut, tapi rasa ingin tahu mendorongnya melangkah maju.
Akhirnya Ciok Siu-hun melongok juga ke dalam peti mati.
Tapi hanya sekali pandang saja, mendadak si nona seperti kesurupan setan, ia menjerit keras-keras.
Ternyata mayat di dalam peti itu adalah Cici atau kakaknya yang telah meninggal beberapa hari yang lalu dan menghilang dari peti matinya, ketika kuburannya dibongkar Coh Liu-hiang kemarin.
Tapi sebelum suara jeritan Ciok Siu-hun tercetus, Coh Liu-hiang sempat mendekap mulutnya.
Pelahan ia mengelus punggung si nona, sesudah rasa kejutnya tenang kembali barulah ia berkata dengan suara halus.
"Jangan bersuara, agar tidak mengagetkan orang di sini, tahu?"
Siu-hun mengangguk, setelah Coh Liu-hiang melepaskan tangannya, air mata si nona lantas bercucuran, katanya dengan terguguk.
"Mengapa mayat Ciciku bisa lari ke sini?"
Mencorong sinar mata Coh Liu-hiang. ucapnya pelahan.
"Soalnya diperlukan mayat seorang untuk mewakili Si In, kebetulan Cicimu sedang sakit keras, maka pilihannya lantas jatuh atas diri Cicimu."
"Apakah orang....... orang ini telah bersekongkol dengan pamanku?"
Tanya Siu-hun.
"Jelas,"
Ujar Coh Liu-hiang dengan gegetun.
"Tapi maklumlah, siapa di dunia ini yang tidak kemaruk harta? Maka pamanmu juga tak dapat disalahkan."
Seketika Ciok Siu-hun hanya melongo, sungguh sukar di bayangkannya bahwa di dunia ini bisa terjadi hal-hal demikian. Selang sejenak ia coba bertanya pula.
"Jika isi peti mati ini adalah Ciciku, lalu kemana perginya Si In?"
Sekata demi sekata Coh Liu-hiang menjawab.
"Bila tidak meleset perkiraanku, selekasnya kau akan bertemu dengannya." ********** Sesudah Coh Liu-hiang dan Ciok Siu-hun pergi, orang yang mengintip di luar jendela itupun berlarian pergi dengan cepat. Di bawah cahaya bintang yang remang-remang kelihatan rambutnya yang beruban, kiranya orang ini adalah Liang-ma. Apakah, orang tua ini memang sudah tahu mayat di dalam peti mati itu bukan Si In? Lantas untuk apa dia berlagak berduka cita? Apakah mungkin nenek yang baik hati inipun mempunyai maksud tujuan tertentu? ********** Sementara itu Coh Liu-hiang sedang berlarian keluar taman dengan menggandeng Ciok Siu-hun, mereka berharap selekasnya meninggalkan tempat seram ini. Akan tetapi sebelum mereka sampai di pintu keluar, sekonyongkonyong seorang menegurnya.
"Nah, kau lagi, paman, kau telah menipuku. Orang tua mana boleh menipu anak kecil!"
Belum lenyap suaranya, tahu-tahu seorang telah mengadang di depan.
Orang ini berwajah kemerah-merahan, rambutnya sudah ubanan, tapi memakai baju merah bersulam bunga, baju anak-anak.
Siapa lagi dia kalau bukan si sinting.
Sih Po-po Ciok Siu-hun terkesima saking kagetnya, hendak lari pun tidak sanggup lagi.
Untung Sih Po-po tak memperhatikan dia, yang di pelototi hanya Coh Liu-hiang, katanya pula "Hayo, paman bintang di langit itu ternyata tidak berjumlah dua puluh sembilan ribu sekian."
Dalam pada itu Coh Liu-hiang telah membisiki Ciok Siu-hun agar lekas pergi dulu dan menunggunya di rumah saja. Habis itu barulah dia menanggapi teguran Sih Po-po.
"Apakah betul begitu? Ya, mungkin aku yang salah hitung."
"Orang tua mestinya tak boleh menipu anak kecil, tapi kau telah menipuku. Ehm, aku emoh..... aku..... hu..... uuh......"
Mendadak Sih Po-po mewekmewek, lalu duduk mengesot di tanah dan menangis seperti anak kecil. Kelakuan ini sungguh di luar dugaan Coh Liu-hiang, terpaksa ia menjawab dengan tertawa.
"Diamlah, jangan menangis, biar nanti malam kuhitung lagi bagimu dan besok akan kuka takan padamu jumlahnya yang tepat"
"Tidak, tidak mau,"
Seru Sih Po-po.
"Sekarang juga kau harus menemaniku menghitung bersama. Kecuali...... kecuali izinkan kuraba hidungmu, kalau tidak, takkan kulepaskan kau."
Coh Liu-hiang jadi melengak, tanyanya.
"Untuk apa kau ingin meraba hidungku?"
"Sebab hidungmu pasti sangat bagus dibuat main-main,"
Kata Sih Po-po.
"Masa hidungku sangat bagus dibuat mainan."
Ujar Coh Liuhiang dengan tertawa.
"Darimana kau tahu hidungku bagus untuk mainan?"
"Habis, kalau hidungmu tidak bagus buat mainan, mengapa kau sendiri selalu merabanya?"
Kata Sih Po-po, mendadak ia melompat maju dan berseru dengan manja.
"Hayo, aku pun ingin meraba hidungmu, lekas, coba kurabanya, kalau..... kalau tidak, kau harus menghitungkan bintang untukku."
Meski tidak enak juga hidungnya diraba orang, tapi apapun juga lebih baik daripada disuruh menghitung bintang.
Pula Coh Liu-hiang tidak ingin terhalang lebih lama oleh si sinting itu, terpaksa ia menjawab dengan menyengir.
"Jika hidungku sudah kau raba, lalu kau tidak merecoki aku lagi?"
Seketika Sih Po-po menjadi girang dan berhenti menangis, jawabnya.
"Ya, asalkan hidungmu sudah kuraba, segera kau boleh pergi."
"Baiklah, silakan meraba,"
Kata Coh Liu-hiang.
Sambil melonjak-lonjak girang, pelahan Sih Po-po menjulurkan tangannya ke hidung Coh Liu-hiang sambil tertawa-tawa, sebenarnya gerak tangan Sih Po-po sangat lambat, tapi sesudah dekat, mendadak ia tekan Gin-hiang-hiat di samping hidung Coh Liuhiang, seketika Coh Liu-hiang merasa tubuhnya kesemutan dan tak bisa berkutik lagi.
Segera Sih Po-po angkat tubuh Coh Liu-hiang sambil terkekehkekeh, katanya.
"Kau telah mengacaukan hitunganku, maka kepalamu akan kubenturkan hingga pecah."
Mendadak ia luruskan tubuh Coh Liu-hiang, terus dilemparkan ke gunung-gunungan sana.
Tampaknya kepala Coh Liu-hiang pasti akan remuk tertumbuk gunung-gunungan batu itu.
***** Sementara itu Ciok Siu-hun sudah berlari sampai di pintu taman, napasnya sudah senin-kamis, tadi dia digendong oleh Coh Liu hiang, untuk keluar sekarang dia harus membuka pintu.
Pintu taman tidak digembok, tapi terhalang oleh lonjoran besi itu, palang itu sudah karatan dan lengket, semakin gelisah semakin susah membukanya.
Tentu saja ia tambah kelabakan dan bingung sedangkan Coh Liu-hiang entah akan menyusulnya atau tidak.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang tertawa terkekehkekeh dan berkata.
"Kau sudah datang ke sini, maka boleh tinggal beberapa hari di sini, kenapa terburu-buru hendak pergi lagi?"
Tidak kepalang kejut Ciok Siu-hun, tanpa menoleh lagi ia lantas berlari pula.
Akan tetapi baru dua tiga langkah, tahu-tahu sebuah tangan seperti cakar setan telah mencekik lehernya.
Belum lagi sempat menjerit, pingsanlah dia.
***** Sementara itu Coh Liu-hiang juga tak berkutik menghadapi Sih Po-po yang sinting, lebih-lebih tak terbayangkan dirinya bisa mati di tangan orang sinting ini.
Ketika Sih Po-po mengayun tangannya, meluncurlah tubuh Coh Liu-hiang ke arah gunung-gunungan.
Meski dia lantas bisa bergerak kembali, namun untuk mengubah arah jelas tidak ke buru lagi.
Terpaksa ia dekap kepalanya dengan kedua tangan, dengan harapan akan dapat menahan benda yang akan ditumbuknya.
Namun ia cukup menyadari tumbukan ini andaikan tak membuatnya mampus, paling tidak juga akan mendelik dan sekarat, habis itu, si sinting tentu tidak akan tinggal diam pula.
Maka terdengar suara gemuruh yang keras, batu kerikil muncrat kemana-mana, ternyata kepala Coh Liu-hiang tidak pecah terbentur, sebaliknya gunung-gunungan itu malahan tertumbuk ambrol dan terbuka sebuah lubang besar.
Sungguh aneh bin ajaib, masakah kepalanya jauh lebih keras daripada batu?
Semula Sih Po-po sedang berkeplok tertawa gembira, kini mendadak ia pun melenggong, teriaknya.
"Wah celaka, kepala orang ini terbuat dari besi?"
Sembari berteriak ia terus berlari pergi secepat terbang.
Sekujur badan Coh Liu-hiang terasa sakit semua, kepala pun pening, ia sendiri tidak jelas apa yang terjadi sebenarnya, sayupsayup didengarnya di dalam gunung-gunungan itu ada jerit kaget orang.
Namun karena matanya berkunang-kunang, maka ia tidak dapat melihat jelas dimanakah orang itu.
Tiba-tiba didengarnya seorang menjerit kaget.
"He, bukankah ini Coh Liu-hiang......?"
Tajam melengking suara itu, jelas itulah suara Hoa Kim-kiong.
Coh Liu-hiang meronta bangun sambil kucek-kucek mata.
kemudian baru dapat melihat jelas sekitarnya.
Kiranya dia jatuh di atas buah ranjang ,di tepi ranjang ada seorang dengan tangan menutupi dadanya yang telanjang , siapa lagi dia kalau bukan Hoakiong.
Di sebelah ada pula seorang lelaki yang tampak meringkik ketakutan dan sedang memakai celana dengan gemetar.
Kiranya gunung-gunungan ini hanya kelihatan kukuh di bagian luarnya, di dalam ternyata kosong, lapisan gunung-gunungan inipun sangat tipis, bukan buatan dari batu, melainkan dibuat dengan adukan semen yang tipis dan dibangun jadi gunung-gunungan, lalu bagian luar ditimbun rerumputan.
Rupanya di dalam gunung-gunung inilah tempat pertemuan gelap Hoa Kim-kiong dengan gendaknya.
Coh Liu-hiang merasa geli, ia merasa dirinya masih mujur juga.
Dalam pada itu si lelaki tadi telah mengeluyur pergi.
Coh Liu-hiang lantas berdiri juga, katanya sambil memberi hormat.
"Maaf, maaf, lain kali bilamana kubentur batu lagi, sebelumnya pasti akan kuketuk pintu dulu."
Tapi Hoa Kim-kiong meraihnya dan meliriknya dengan senyum tak senyum, katanya.
"Masa kau akan pergi sekarang juga? Memangnya kedatanganmu bukan untuk mencariku?"
Sunggguh Coh Liu-hiang merasa risi untuk memandangi senyuman orang, lebih-lebih tak berani memandang tubuh orang yang telanjang itu.
Tentu saja ia kelabakan karena tidak tahu arah mana ia harus memandang, terpaksa ia menyengir dan berkata.
"O, aku memang datang untuk mencarimu....."
Belum habis ucapannya, Hoa Kim-kiong sudah lantas menubruk maju sambil tertawa nyekikik, katanya.
"Adik yang bagus, memang sudah kuduga, akhirnya kau pasti tidak tahan dan akan datang mencariku. Memang sudah kuketahui kau ini bukan manusia baikbaik. Mengingat pandanganmu yang bisa membikin semaput ini, baiklah kakak akan meluluskan kehendakmu sekali saja."
Tubuh yang telanjang itu tampak basah dan likat oleh keringat, meski hampir seluruh tubuhnya seakan-akan diguyur minyak wangi, namun tetap tak dapat menutupi bau keteknya yang sengak itu.
Untuk pertama kalinya Coh Liu-hiang merasa hidung yang ciri juga ada gunanya, paling tidak bau ketek Hoa Kim-kiong yang memuakkan, sekarang tak begitu terasa olehnya.
Walaupun begitu, ia pun merasa risi, cepat ia hendak mendorong perempuan tak tahu diri ini, tapi karena salah alamat, tahu-tahu tangannya menolak pada segumpal daging yang lunak.
Hoa kim-kiong tertawa terkikik, ucapnya.
"Hihihi, tanganmu juga tidak jujur......"
Coh Liu-hiang jadi mati kutu dan tidak berani bergerak lagi, katanya dengan menyengir.
"Sebenarnya aku hendak mencarimu, tapi sekarang mau tak mau aku harus lekas pergi lagi."
"Memangnya kenapa?"
Tanya Hoa Kim-kiong, jelas dia sangat kecewa.
"Masa kau tidak tahu bahwa Sih Po-po yang melemparkan diriku ke sini?"
Tutur Coh Liu-hiang.
"Sekarang dia sudah tahu aku berada di sini, tempat inipun sudah berlubang besar, apabila dilihat orang lain......."
"Aku tidak takut,"
Tukas Kim-kiong. Memang perempuan kalau sudah berhasrat, maka malu atau takut sudah tidak dikenalnya lagi.
"Akan tetapi kalau Sih Po-po datang mengacau lagi, kan runyam,"
Ujar Coh Liu-hiang.
"Tentunya kau kenal wataknya, orang seperti dia kan dapat berbuat apapun juga."
Dipikir memang juga benar, terpaksa Hoa Kim-kiong melepaskan pegangannya, katanya dengan gemas.
"Si gila ini, pasti takkan kuampuni dia."
Maka legalah hati Coh Liu-hiang, ia coba bertanya pula.
"Apakah dia benar-benar gila? Orang gila mana bisa memiliki kepandaian setinggi itu?"
"Sejak kecil dia merasa tersiksa oleh pengawasan kakaknya."
Tutur Hoa Kim-kiong.
"Sih Ih-jin selalu memaki dia tak becus. Orang lain menganggap gilanya karena keranjingan berlatih pedang, tapi kukira lebih benar gilanya karena tekanan batin."
Sekian lama Coh LSu-htang termenung, ucapnya dengan menyesal.
"Jika sang kakak terlalu terkenal, yang menjadi adik memang lebih banyak ruginya."
Tiba-tiba Hoa Kim-kiong menarik tangannya lagi, keruan Coh Liu-hiang terkejut hingga berkeringat dingin, jika si nenek memaksakan kehendaknya lagi, sekali ini pasti sukar melepaskan diri.
Syukur Hoa Kim-kiong tidak melanjutkan gerak aksi lainnya, dia cuma menatap tajam Coh Liu-hiang dan bertanya.
"Kau akan datang lagi atau tidak?"
Coh Liu-hiang berdehem beberapa kali, lalu menjawab.
"Su.......sudah tentu."
"Kapan?"
"Be........ besok atau lusa, pasti........ pasti kudatang lagi........."
Mendadak ia melonjak bangun dan berseru.
"Wah ada orang, aku harus lekas pergi......."
Belum habis ucapannya, lantas menerobos keluar seperti dikejar setan.
Untung juga dia angkat kaki pada waktu yang tepat, kalau tidak tentu akan timbul kesukaran lagi.
Baru saja dia pergi, segera terlihat belasan oraog berlari datang secepat terbang.
Ada yang membawa tenglong, ada yang bersenjata, yang berjalan paling depan adalah seorang gemuk tinggi besar, ia cuma memakai kaus kutang dan bercelana pendek, tangannya juga memegang golok, saking marahnya, mukanya tampak merah padam.
"Tangkap maling cabul itu!"
Teriak si kakek gemuk.
"Barang siapa yang berhasil menangkapnya, hadiah kontan seratus tahil emas. Tangkap, jangan sampai lolos!"
Diam-diam Coh Liu-hiang meraba hidung pila.
Tapi ia pun tidak marah meski dirinya didakwa sebagai maling segala.
Ia malah menaruh kasihan kepada kakek gemuk ini, sebab dia telah salah mencari menantu, malahan juga keliru ambil isteri.
Bahwa dia belum mati kaku menyaksikan tingkah dua perempuan bejat di rumahnya itu sudah harus dipuji.
Akan tetapi darimanakah Si Hau-liam mengetahui rumahnya kedatangan 'maling cabul' segala?
Apakah si sinting Sih Po-po yang menyampaikan info itu?
Makin lama Coh Liu-hiang merasakan si sinting itu benar-benar berbahaya, tapi juga semakin menarik........
****** Sebenarnya sudah berapa kali Coh Liu-hiang berkunjung ke Siong-kang-hu, namun jalannya sebegitu jauh belum lagi hapal.
Dia harus berputar kayun dahulu kian kemari untuk akhirnya baru dapat menemukan gang tempat tinggal Yap Seng-lan yang akan dicarinya itu.
Dilihatnya si gundul sedang berjongkok di pojok emper rumah sana dan sedang makan Siopia (panganan sebangsa roti bakar), sepasang matanya yang besar hitam itu sedang mengerling dalam kegelapan.
Sekali pandang saja Coh Liu-hiang lantas melihat si gundul.
Akan tetapi si gundul baru melihat Coh Liu-hiang setelah pendekar pujaannya ini berada di sampingnya.
Ia kaget sehingga Siopia yang masih sisa setengah potong itu terjatuh.
Tapi Coh Liu-hiang sempat meraih Siopia yang hampir terjatuh itu, dengan tersenyum Siopia itu dikembalikan kepada si gundul, katanya.
"Hari ini kau tentunya tidak sempat makan nasi, lain hari pasti akan kutraktir kau makan enak, eh, kau suka makan apa?"
Si gundul memandangnya penuh rasa hormat dan kagum, jawabnya.
"Aku tidak ingin makan apa-apa, yang kuharapkan ialah dapat belajar kungfu setinggi engkau dan puaslah hatiku."
Coh Liu-hiang menepuk pundaknya dan berkata dengan tertawa.
"Kungfu harus dipelajari, tapi nasi juga harus dimakan. Betapa tinggi kungtu seorang, tetap harus makan nasi."
Ia mengerling ke sana, lalu bertanya.
"Apakah sudah kautemukan?"
Si gundul menepuk dada dan menjawab "Sudah tentu ketemu, itulah tempatnya, rumah yang di depan pintunya ada sebuah tenglong kecil."
Dia jejalkan sisa Siopia ke dalam mulut dan ditelan, habis itu bicaranya baru bisa lebih jelas, katanya kemudian.
"Penghuni gang ini cuma mereka saja yang baru pindah kemari, bahkan cuma terdiri dari suami isteri berdua, tiada jongos dan tanpa babu. Sang isteri seperti penduduk setempat, yang lelaki berlogat utara."
"Apakah mereka berada di rumah?"
Tanya Coh Liu-hiang "Konon kedua suami isteri inipun selalu bersembunyi di rumah sepanjang hari, tidak pernah keluar berbelanja, apalagi bergaul dengan tetangga, tapi baru saja ada seorang datang mencari mereka."
"O, orang macam apa?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Seorang nenek, rambut sudah ubanan, tapi masih cekatan, hanya kelihatan rada gugup, sambil berjalan seringkali menoleh ke belakang, seakan-akan kuatir dikuntit setan."
Terbeliak mata Coh Liu-hiang, cepat ia bertanya pula.
"Bilakah nenek itu datang?"
"Baru saja,"
Jawab si gundul.
"Dia datang waktu aku mulai makan Siopia sampai sekarang, lima biji Siopia belum habis kumakan."
"Dia masih di dalam?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Ya, belum keluar lagi,"
Kata si gundul. Baru habis ucapan si gundul, tahu-tahu Coh Liu-hiang sudah melayang masuk ke rumah yang dimaksud. Si gundul melelet lidah, gumamnya.
"Jika tidak kulihat siapa dia sebelumnya, tentu akan kusangka seekor burung raksasa......" ***** Rumah itu tidak besar, di halaman depan ada dua pohon sedap malam yang sedang mekar semerbak. Di dalam rumah ada cahaya lampu, pintu dan jendela tertutup rapat. Dari bayangan yang kelihatan dari balik jendela itu tampak bayangan seorang perempuan tua berduduk di samping meja dengan kepala tertunduk, seperti lagi menulis, seperti juga sedang menyulam. Kini Coh Liu-hiang tidak berpikir tentang adat kesopanan lagi, sekuatnya ia menolak pintu hingga terbuka, kiranya orang yang berduduk di dalam itu sedang makan hubur. Karena terkejut, mangkuk terjatuh dan pecah berantakan. Orang tua itu berbaju hijau, rambut sudah beruban, kiranya Liang-ma adanya. Coh Liu-hiang tertawa dan menyapa.
"Hah, benar juga kau berada di sini."
Liang-ma menepuk-nepuk dada dengan napas terengah-engah katanya.
"Wah, hampir mati terkejut aku, kukira garong, tak tersangka Kongcu adanya. Mengapa Kongcu bisa datang ke sini?"
"Justru akulah yang ingin bertanya padamu, mengapa kau datang ke sini?"
Jawab Coh Liu-hiang, ia pandang sekeliling ruangan, yang menarik perhatiannya ialah di atas meja ada tiga pasang sumpit dan mangkuk. Dengan tertawa Liang-ma menjawab.
"Sebenarnya aku tidak sempat, tapi lantaran sudah lama tidak melihat mereka, aku ingin menjenguknya."
Gemerlap sinar mata Coh Liu-hiang.
"Mereka?"
Ia menegas.
"Siapa mereka?"
"Anak perempuanku,"
Jawab Liang-ma.
"Dan menantuku...."
"Apa betul?"
Jawab Coh Liu-hiang.
"Aku pun ingin melihat mereka."
Liang-ma tak menolak, segera ia berteriak.
"Toa-gu, Siau-cu, lekas keluar, ada tamu!"
Benar juga, segera muncul dua muda mudi, dengan air muka bersungut, malahan kedengarannya mereka menggerutu.
"Sudah jauh malam, orang tidur diganggu."
Kedua muda-mudi ini tampaknya belum lama menikah, yang perempuan tinggi besar seperti seekor kerbau, yang lelaki kurus kecil ketolol-tololan, mana ada tanda-tanda sebagai pemain sandiwara segala?
Jika pengamen jalanan mungkin benar."
"Kongcu ini ingin melihat kalian,"
Demikian kata Liang-ma dengan tertawa.
"Mungkin beliau tahu kalian terlalu melarat, maka ingin memberi sedekah pada kalian. Hayolah lekas kalian menyembah."
Cepat juga kedua orang itu berlutut dan menvembah, yang lelaki malah terus menyodorkan tangannya.
Keruan Coh Liu-hiang serba runyam dan terpaksa merogoh saku sambil bergumam, entah omong apa.
Habis itu lantas dia mengeluyur pergi.
Cepat Liang-ma merapatkan pintu.
Habis itu lantas ia tertawa terkekeh kekeh, katanya.
"Sekali ini Coh Liu-hiang benar-benar terjungkal habis-habisan."
Sembari menghitung uang persen Coh Liu-hiang, anak perempuan tadi berkata sambil tertawa.
"Wah, setiap biji satu tahil seluruhnya ada dua belas biji perak, hihihi, tak tersangka sang maling budiman kita semudah ini dikibuli, mencuri ayam tidak berhasil malah kehilangan segenggam beras."
Dalam pada itu Liang-ma telah merangkak ke atas meja, lalu mengetuk-ngetuk langit-langit rumah, serunya.
"Siauya dan Siocia, silakan turun, ia sudah pergi."
Selang sejenak, papan langit-langit rumah mendadak tersingkap, dua muda-mudi berturut-turut melompat turun.
Yang lelaki juga sangat tampan, juga lemah lembut seperti anak perempuan.
Setelah melompat turun, lelaki tampan itu lantas berkata dengan tertawa.
"Kami benar-benar harus berterima kasih kepada Liang-ma, entah cara bagaimana harus membalas kebaikanmu ini."
"Asalkan Siauya selalu baik kepada Siocia, maka cukuplah bagiku atas segala yang telah kulakukan ini,"
Kata Liang-ma dengan tertawa. Dengan mesra pemuda itu memandang anak perempuan di sebelahnya, ucap dengan lembut.
"Sekalipun Liang-ma menyuruhku berbuat buruk padanya, sukar juga bagiku melakukannya. Muka si anak perempuan menjadi merah, omelnya dengan tertawa.
"Coba, betapa manisnya mulutmu ini."
Lelaki yang ketolol-tololan tadi mendadak menimbrung dengan tertawa.
"Jika mulut Siauya tidak manis, mana bisa Siocia bertekad menikah dengannya."
Liang-ma melototnya sekejap, tapi ia sendiri pun tertawa geli. Si pemuda tampan berdehem dan berkata.
"Meski rintangan ini sudah kita lalui dengan baik, namun rumah ini bukan lagi tempat yang aman."
"Betul, Pendekar Harum tak bernama kosong,"
Ujar anak perempuan tadi.
"Pantas orang Kangouw sama bilang urusan apapun tak dapat mengelabui dia "
"Terima kasih atas pujian nona,"
Demikian tiba-tiba seseorang menanggapi dengan tertawa Seketika air muka semua orang berubah pucat.
"Sia......siapa itu?"
Jengek Liang-ma.
Padahal tanpa bertanya juga sudah diketahuinya siapa pendatang ini.
Pintu segera terbuka didorong orang, tampak seseorang muncul di ambang pintu dengan tertawa, siapa lagi dia kalau bukan Coh Liu-hiang?
Mendadak pemuda tampan tadi menubruk maju, sekaligus ia menendang dengan kedua kakinya ke dada Coh Liu-hiang.
"Hebat juga tendanganmu!"
Kata Coh Liu-hiang sambil mengegos.
Kungfu dalam hal tendangan mengutamakan kekuatan kudakuda.
harus kukuh dan mantap, tapi dalam hal kegesitan dan kelincahan dengan sendirinya kurang, sebab itulah tendangan berantai dengan dua kaki beruntun yang disebut 'Lian-hoan-wanyang-tui' ini sangat sukar dilatih.
Jika ditilik dari cara menendang anak muda itu, jelas tendangannya ini sudah cukup lihai.
Baca Juga: Iblis Dan Bidadari Kho Ping Hoo
Baca Juga: Manusia Aneh Dialas Pegunungan 3